Eps 10 Bara Maharani - Khu Lung
Baca online Bara Maharani - Khu Lung
Cersil Bara Maharani - Khu Lung.
"selama aku hidup si nenek tua paling segan bertempur secara tenang, bajingan-bajingan tengik ini kuserahkan semua kepadamu!"
Bambu mustikanya digetarkan kemuka menangkis beberapa buah senjata yang mengancam tubuhnya, kemudian ia enjotkan badan ke angkasa dan meluncur ke arah mulut gua.
Hoa Thian-hong jadi tertegun, pikirnya.
"Oooh....!rupanya nenek ini menggunakan akal licik...."
Belum habis ingatan tersebut berkelebat dalam benaknya, Tio Sam-koh sudah menyambar lewat dari atas kepalanya....
Sreeet!
Sebuah babatan bambu mengencam ke arahnya.
Hoa Thian-hong tahu bahwa nenek tua ini tidak pakai aturan, serangan yang dilancarkan pasti berat sekali, buru-buru badannya loncat ke samping dan berkelit dari ancaman tersebut.
Tio Sam-koh segera melayang ke atas tanah dan menghadang dimulut gua, sambil mengawasi tubuh Hoa Thian-hong dengan pandangan tajam, tegurnya cepat.
"Telur busuk cilik, siapa yang telah turun tangan melukai dirimu hingga separah ini?"
Tiba-tiba seperti teringat akan sesuatu, ia melirik sekejap ke arah balik gua dan segera membungkam kembali.
Hoa Thian-hong ikut melirik ke arah gua, tetapi ketika dilihatnya suasana disitu gelap gulita tak nampak sesuatu apapun, tanpa terasa sambil tertawa nyaring tegurnya.
"Hey orang tua, kenapa kalau bicara tersendat-sendat?"
Tio Sam-koh mendelik besar, makinya.
"Bocah keparat, kau tak tahu sopan!"
Sambil ayun bambu mustika itu bentaknya keraskeras.
"Ayoh cepat enyah yang jauh dari sini!"
"Hiiih.... hiiih.... orang tua, katanya kau hendak mencari ibuku, apakah sudah ketemu?"
"Hmm, ibumu benci karena kau tidak berbakti, ia sudah mati menggantung diri"
"Hey orang tua, kalau kau berani menyumpahi ibuku, jangan salahkan kalau aku akan kurang adat pula kepadamu!"
Teriak Hoa Thian-hong pura-pura gusar.
"Heeeh-heeeh-heeeh.... kau mau apa?"
Jengek Tio Sam-koh sambil tertawa dingin.
"akan kugaplok dirimu dua kali lagi, ingin ku lihat kau berani memberontak atau tidak?"
Mendengar ancaman itu Hoa Thian-hong jadi terkesiap, ia takut dirinya benar-benar digaplok orang, buru-buru telapak tangannya disilangkan di depan dada siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.
Tiba-tiba terdengar nenek dewa bermata buta membentak dengan suara berat.
"Tio Sam-koh, ayoh cepat menggelinding turun ke bawah, apakah engkau hendak menunggu sampai aku naik ke atas untuk menangkap dirimu?"
Ketika Hoa Thian-hong berpaling ke bawah, terlihatlah Cu Goan-khek dengan tubuh basah kuyup oleh keringat sedang duduk beristirahat disamping, sedangkan nenek dewa bermata buta sudah bangkit berdiri, telinganya dipasang baik-baik dan rupanya sedang mencari letak berdiri dari nenek baju abu-abu itu.
Tio Sam-koh segera mendengus dingin, dia meloncat turun ke bawah sambil serunya.
"Nenek buta, Tio Samkoh berada disini, apa yang hendak kau ucapkan kepadaku?"
Sebetulnya ketika itu Hoa In sedang bertempur sengit, ketika melihat si nenek buta sudah sadar pingsannya, ia segera menghentikan pertarungan dan mengundurkan diri ke samping, sedang Hoa Thian-hong pun batalkan niatnya untuk masuk ke dalam goa.
Sungguh lihay pendengaran nenek buta itu, ia segera alihkan pandangannya ke arah Hoa In sambil tegurnya.
"Orang ini memiliki ilmu silat yang sangat bagus, jago lihay dari manakah dia?"
"Aku Hoa In dari perkampungan Liok Soat Sanceng!"
Nenek dewa bermata buta agak tertegun, setelah hening beberapa saat lamanya dia mengangguk.
"Oooooooh....! Kiranya Loo koankee dari perkampungan Liok Soat Sanceng!"
Setelah berhenti sebentar, ia berpaling ke arah Hoa Thian-hong lalu bertanya.
"Dan siapakah dia?"
"Aku bernama Hoa Thian-hong!"
Cu Goan-khek maju selangkah ke depan sambil menambahkan.
"Dia adalah putra tunggal dari Hoa Goansiu, merupakan orang penting dalam pergolakan kali ini"
Air muka nenek dewa bermata buta agak berubah lalu mengangguk, tiba-tiba sambil berpaling ke arah gua bentaknya sambl menyeringai seram.
"Tio Sam-koh, sebenarnya jago dari manakah yang ada di dalam gua? Selamanya aku si nenek buta tak akan membiarkan orang lain mengambil keuntungan dariku, benarkah engkau hendak menanggung hutang ini?"
Tio Sam-koh tertawa dingin.
"Oooh.... jadi kau sibuta ingin membatas dendam atas kekalahanmu barusan? Huuh.... terus terang kuberitahukan kepadamu, bahwa orang yang ada dalam gua itu adalah seorang jago yang maha besar, kau tak mungkin bisa menuntut balas terhadap dirinya, lebih baik catat saja hutang hari ini atas namaku!"
"Oooh.... kiranya dia sendiripun tak tahu siapakah jago yang berada di dalam gua itu,"
Pikir Hoa Thian-hong dengan hati tercengang.
"orang itupun aneh sekali, kepandaian silatnya begitu lihay tapi apa sebab-nya ia tak mau unjukkan diri untuk bertemu dengan orang?"
Dalam pada itu, secara diam-diam Cu Goan-khek telah menilai situasi yang sedang dihadapinya waktu itu, dia merasa ilmu silat yang dimiliki nenek buta seimbang dengan ilmu silat dari Tio Sam-koh, sedang kekuatan Hoa Thian-hong berdua tidak berada di bawah kepandaian para jago-jagonya, andaikata terjadi pertarungan maka kedua belah pihak tentu akan samasama menderita kerugian.
Berpikir sampai disana, tanpa terasa alisnya berkerut kencang, pikirnya lebih jauh.
"Bangsat cilik she Hoa itu terluka dan keadaannya payah, sebetulnya suatu kesempatan yang bagus bagi kami untuk menghajar harimau sakit itu.... sayang di dalam gua masih ada penyakit lain, lagipula Hoa In kalau sampai nekad tentu sukar dihadapi...."
Sebagai orang yang licik, setelah mengetahui bahwa tiada keuntungan bagi pihaknya segera timbullah niat untuk mengundurkan diri dari tempat itu.
Dalam pada itu, nenek dewa bermata buta sudah berpekik keras, tubuhnya laksana kilat menerjang ke arah Tio Sam-koh.
Rupanya nenek baju abu-abu itu sudah mengenali watak nenek buta yang selamanya menyerang tanpa memberi tahu lebih dahulu itu, bambu mustikanya digetarkan lalu menyongsong ditangnya terjangan itu, sambil tertawa terbahak-bahak, serunya.
"Hey nenek buta, asal engkau bersedia angkat sumpah berat dan berjanji mulai hari ini tak akan melakukan pembunuhan lagi memandang di atas wajah itu aku suka mengembalikan bambu ini kepadamu"
Dalam waktu singkat kedua belah pihak telah melangsungkan pertarungan sebanyak dua puluh jurus lebih, dalam keadaan nekad nenek buta itu menyerang sekenanya, baik serangan telapak, serangan jari, rendangan maupun kepalan dipergunakan semua secara kombinasi, nekad bagaikan harimau gila yang sudah teluka hal ini membuat keadaannya benar-benar mengerikan sekali.
Tio Sam-koh sendiri berhubungan harus menggunakan senjata milik musuh yang enteng dan lunak, di mana senjata itu tidak sesuai dengan gerak ilmu silatnya, baru bertarung dua puluh jurus ia sudah keteter hebat dan beberapa kali terancam jiwanya....
Pertarungan tersebut benar-benar suatu pertarungan yang mencengangkan hati, para hadirin cuma bisa saling berpandangan sambil berdiri melongo.
Hoa Thian-hong mengerutkan alisnya melihat keadaan itu, diam-diam pikirnya.
"Kenapa sih sifat kekanak-kanakan pada nenek tua itu belum juga hilang....? Urusan menyangkut tentang mati hidupnya, kenapa dia malahan memandangnya sebagai permainan anak-anak?"
Seringkali dia merasa bahwa akhir dari pertemuan besar Pok beng Tay hwee merupakan pelajaran berdarah yang ditinggalkan generasi yang lalu kepada mereka semua, ia merasa seandainya suatu saat antara golongan hitam dan golongan putih terjadi kembali pertarungan yang menentukan, maka bila golongan putih menderita kekalahan total maka semua jago dalam dunia persilatan akan musnah dengan begitu saja.
Maka dari itu dia mempunyai suatu perasaan sayang terhadap setiap umat Bulim yang berpihak kepadanya, ketika menyaksikan Tio Sam-koh memandang keselamatan jiwanya seperti barang mainan, timbul rasa gelisah dan kuatir dalam hati pemuda itu.
Sedikitpun tidak salah, belum sampai empat puluh jurus, tiba-tiba nenek buta itu mengumbar hawa amarahnya, ia berpekik nyaring tangan kirinya menggaet menyambar bambu mustika di tangan Tio Sam-koh sedang tangan kanannya mendadak kirim satu pukulan dahsyat ke depan.
Keadaan nenek buta itu benar-benar mengerikan sekali, wajahnya menyeringai seram sedang giginya terkatup kencang, pukulan yang dilancarkan itu benarbenar mengerikan sekali.
Melihat keadaan tidak menguntungkan bagi dirinya, Tio Sam-koh segera melepaskan bambu mustika itu dan buru-buru loncat mundur ke belakang.
Setelah berhasil merampas kembali senjatanya, keadaan nenek buta itu bagaikan harimau tumbuh sayap, ia tertawa seram dan berseru.
"Tio Sam-koh, saat kematianmu sudah tiba."
Bambu mustika dari negeri Thiam tok itu menyerang bagaikan kitiran hujan badai, sekujur badan Thio Samkoh terbungkus dalam kepungan musuh.
Satu kali salah bertindak, posisi baik kena direbut orang dan nenek baju abu-abu itupun terdesak di bawah angin, hal ini membuat ia jadi gelagapan dan tak berdaya mempertahankan diri.
Dalam Waktu singkat, selapis bayangan cahaya warna hijau mendesak Tio Sam-koh ha us mundur ke belakang berulang kali, gelak tertawa nyaring, raung gusar serta teriakan keras bercampur aduk menjadi satu.
Para kerabat dari kedua belah pihak sama-sama gerakkan tubuhnya mendekat ke depan, Cu Goan-khek yang menyaksikan kemenangan berada dipihaknya jadi girang sekali, semangatnya berkobar-kobar kembali dan wajahnya berseri-seri.
Sebaliknya Hoa Thian-hong serta Hoa In jadi gelisah bercampur gelagapan, melihat jiwa Tio Sam-koh terancam, mereka ingin maju membantu, tetapi kedua orang itu merasa sungkan untuk main kerubut berhubung ke dua belah pihak yang bertempur samasama udah tua.
Walaupun sepasang mata nenek buta itu tak bisa melihat apa-apa, namun perasaannya tajam sekali, baru saja mendekati gua itu seketika ia sudah merasa, Sambil menggertak gigi dan menyeringai seram, bentaknya.
"Tio Sam-koh, kalau bukan engkau tentulah aku yang mati!"
Tubuhnya menerjang ke angkasa, bambu mustika menciptakan selapis bayangan hijau seluas beberapa tombak, diiringi suara desiran tajam memekikkan telinga langsung menerjang kemuka.
Jurus awan hitam menutupi sang surya ini merupakan salah satu jurus membunuh yang diandalkan nenek buta, Tio Sam-koh yang sudah memahami keadaan lawannya bukan cuma sehari saja itu segera mengetahui akan bahaya, melihat datangnya tekanan bayangan hijau dari atas kepala, buru-buru ia tekuk pinggangnya dan menyusup ke samping.
Siapa tahu baru saja Tio Sam-koh menekuk pinggangnya sampai separuh jalan, nenek buta itu sudah merasakan akan gerakan tersebut, ia mendengus dingin, bambu mustikanya menyapu keluar dan tibatiba membabat ke arah punggungnya.
Tio Sam-koh terkesiap dalam bahaya, ia buang tubuhnya sekeras-kerasnya ke samping ketika ujung bambu hampir mengenai tubuhnya ia sudah keburu berguling ke tanah dan melarikan diri ke samping.
Semua kejadian ini berlangsung dalam sekejap mata, setelah bergelinding ke samping Tio Sam-koh segera loncat bangun dan tanpa mengucapkan sepatah katapun mendadak menyusup masuk ke dalam gua.
Nenek dewa bermata buta pasang telinga lalu siapkan tubrukan, tetapi setelah teringat akan kelihayan orang yang berada dalam gua itu, dengan cepat dia urungkan kembali niatnya itu.
Pertarungan sengit yang berlangsung selama ini mendebarkan jantung setiap jago yang mengikuti jalannya pertarungan itu, se telah pertempuran mereda merekapun diam-diam hembuskan napas panjang.
Setelah menenangkan diri, Cu Goan-khek segera berkata.
"Sian poo, musuh yang kabur tak usah di kejar.... mari kita beristirahat ditepi seberang sana!"
Nenek dewa bermata buta tertegun, tiba-tiba teriaknya dengan gusar.
"Tio Sam-koh, benarkah engkau tak berani munculkan diri serta menjadi kura-kura yang ketakutan?"
Baru saja perkataan itu selesai diteriakan tiba-tiba Tio Sam-koh munculkan diri kembali dari balik gua yang gelap itu sambil membawa sebuah toya berkepala naga.
Dari ketukan tongkat di atas tanah nenek buta itu tahu kalau Tio Sam-koh telah munculkan diri, ia mendengus lalu tarik napas dan mundur beberapa tombak ke belakang.
Setelah keluar dari gua, Tio Sam-koh tancapkan toyanya ke atas tanah, sambil menatap wajah nenek buta itu tegurnya dingin.
"Nenek buta, akupun akan gunakan senjata! Kau adalah seorang perempuan yang cacad, kalau kau merasa aku mencari untung dari kecacadanmu itu, lebih baik pertarungan ini tak jadi dilanjutkan"
Nenek buta paling benci kalau ada orang menyinggung tentang cacadnya itu, meledaklah hawa amarah dalam dadanya sesudah mendengar ejekan tersebut, giginya saling beradu hingga menimbulkan gemertakan nyaring.
Lama sekali....
ia baru bicara dengan suara dingin.
"Anjing tua, ada keuntungan boleh kau cicipi sendiri, bila aku gagal menghancur lumatkan tubuh bangkotanmu itu, biarlah dalam penitisan yang akan datang aku tetap hidup sebagai orang cacad"
"Hmmmm! Kalau begitu cicipi1ah bagaimana rasanya kemplangan toya bajaku ini."
Weeessss....!
dengan penuh kegusaran Tio Sam-koh mengirim satu sapuan tajam ke depan.
Nenek buta tertawa dingin, ia menyingkir ke samping untuk lepaskan diri dari ancaman, bambu mustika digetarkan dan langsung membabat pergelangan musuh.
Dalam sekejap mata pertempuran sengit berkobar kembali di tengah gelanggang, kedua belah pihak saling menyerang dengan kerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya.
Pertempuran yang berlangsung pada saat ini jauh berbeda dengan keadaan semula, setelah menderita kekalahan rasa gusar dan mendongkol dalam dada Tio Sam-koh belum reda, saat itu toyanya diputar sedemikan rupa melancarkan serangan berantai dengan ilmu toya Ciat cing ci ang hoatnya.
Jurus bertemu jurus gerakan bertemu gerakan, satu gebrakan demi gebrakan berlangsung dengan teratur dan pakai aturan, kedua belah pihak sama-sama menyerang sambil bertahan, siapapun tak mau kasih peluang bagi musuhnya untuk rebut posisi baik.
Di tengah pertarungan sengit, tiba-tiba Tio Sam-koh berteriak dengan nada dingin.
"Nenek buta, tiga jurus lama akan kuperkenalkan kembali padamu, aku harap engkau suka memberi petunjuk"
Toya bajanya diputar kencang, diiringi suara dengungan nyaring segera mengirim serangan tajam ke arah depan.
Mendengar desiran tajam yang menderu-deru itu, nenek dewa bermata buta merasa hatinya tercekat, pikirnya.
"Ilmu toya yang dimiliki anjing tua ini benarbenar jauh berbeda dari keadaan dulu, rupanya waktu selama sepuluh tahun tidak dibuang dengan percuma...."
Bambu mustika Thiam toknya segera diputar dan menyongsong datangnya ancaman tersebut.
Toya baja berat dan bambu mustika enteng, seharusnya benda itu tak bisa digunakan untuk menangkis secara keras lawan keras, tetapi dibalik jurus serangan yang digunakan pada senjata bambu itu mengandung inti sari dari ilmu toya, ilmu pedang serta ilmu Golok, seandainya toya baja Tio Sam-koh benarbenar sampai terbentur dengan senjatanya, itu berarti nenek baju abu-abu mencari penyakit bagi diri sendiri, asal bambu itu disayat ke bawah maka jika Tio Sam-koh tidak lepas tangan, telapaknya pasti tersayat robek.
"Bagus!"
Bentak Tio Sam-koh, Dikala toya bajanya hampir membentur dengan bambu lawan, mendadak ujung toya berputar membentuk gerakan setengah lingkar busur lalu diiringi desiran angin tajam tiba-tiba menyapu ke arah pinggang musuh.
Nenek buta mengerutkan dahinya, tidak sempat lagi baginya untuk putar badan melakukan tangkisan, pada saat yang sangat kritis ia keluarkan simpanan tenaganya yang dilatih selama puluhan tahun lamanya tanpa menggerakkan anggota badan tiba-tiba tubuhnya mundur dua depa ke belakang.
Serangan dari Tio Sam-koh itu justru bertujuan untuk memaksa mundur musuhnya ke belakang, melihat nenek buta mundur, ia segera menerjang kemuka sambil membentak.
"Kena!"
Ujung toyanya tiba-tiba meluncur ke depan dan membacok batok kepala lawannya.
Tiga jurus ilmu toya berantai itu merupakan suatu serangan yang maha dahsyat pada saat pihak musuh memperlihatkan titik kelemahan karena desakan dua jurus yang pertama itulah, jurus ketiga air Huang-ho turun dari langit segera meluncur kemuka.
Bagi Tio Sam-koh, gerakan tersebut merupakan suatu gerakan lanjutan yang enak dan leluasa sekali, sebaliknya bagi musuh hal itu merupakan suatu ledakan yang diluar dugaan, sekalipun musuh lihay di bawah ancaman serangan berantai ini niscaya akan roboh atau terluka.
Nenek dewa bermata buta yang diteter terus secara hebat, baru saja berhasil meloloskan diri dari serangan kedua musuhnya, tiba-tiba ia merasa munculnya segulung desiran angin tajam menghajar batok kepalanya, hal ini membuat ia jadi terperanjat, buru-buru kakinya menjejak tanah loncat mundur ke belakang, sedang senjatanya sebisa mungkin melancarkan satu pukulan untuk membendung datangnya ancaman tersebut.
Keadaannya ketika itu sangat berbahaya, toya baja dari Tio Som koh bagaikan kilatan petir segera meluncur ke depan mendesak disisi tubuh nenek buta, asal miring beberapa dim lagi kesebelah kiri niscaya nenek tersebut akan menemui ajalnya atau paling sedikit terluka parah oleh hantaman toya lawan.
Air muka para hadirin yang mengikuti jalannya pertempuran itu dari sisi arena berubah hebat, kemudian meledaklah tempik sorak yang gegap gempita memenuhi seluruh angkasa....
Tapi kesemuanya itu hanya berlangsung sebentar saja, sebab suasana tiba-tiba berubah sunyi kembali....
Rupanya Tio Sam-koh sendiripun tak mengira kalau nenek buta sanggup meloloskan diri dari serangan mautnya, dalam kejut dan gusarnya tiba-tiba ia melihat bambu pusaka lawan bagaikan ular berbisa sedang menyerang lambungnya.
Dari gusar ia jadi gembira, toya bajanya digetarkan lalu menyapu ke atas senjata lawan.
"Aduuuuh....!"
Di tengah dengusan berat, bambu mustika tergesek oleh toya bambu itu sehingga membuat pergelangan sang nenek buta jadi tergetar keras, senjatanya hampir saja terlepas dari cekalan.
Dalam gugup dan gelagapanya buru-buru ia perkencang cekatannya, sementara sang badan termakan oleh tenaga dorongan lawan seketika terpelanting dan roboh terjengkang ke atas tanah.
Tio Sam-koh cepat memburu ke depan, tapi para jago dari perkumpulan Hong-im-hwie keburu bertindak, di tengah bentakan keras masing-masing orang mendorong telapaknya ke depan melancarkan satu pukulan dahsyat.
Pada dasarnya tenaga dalam yang dimiliki Cu Coan Kek cukup ampuh, ditambah pula bantuan dari jago-jago lainnya, angin pukulan yang maha dahsyat segera menyapu ke depan menerbangkan batu dan pasir.
Tio Sam-koh tak berani pandang enteng kelihayan lawannya, buru-buru ia loncat ke belakang dan mundur sejauh beberapa tombak dari tempat semula....
Menggunakan kesempatan itu nenek buta segera meloncat bangun, kepada Tio Sam-koh serunya ketus.
"Ayo maju! Kita tak usah menunggu pertemuan Kian ciau tay hwee lagi.... ini hari juga harus kita tentukan siapa yang lebih tangguh diantara kita berdua, kalau bukan kau yang mati akulah yang modar!"
Tio Sam-koh tertawa terbahak-bahak.
"Haaah.... haaah.... haaah.... sungguh beruntung sekali, ini hari aku harus kalah dalam keadaan keledai malas berguling, dan kau pun harus menelan kekalahan dalam keadaan anjing rakus menyikat kotoran, keadaan kita setali tiga uang.... rupanya kita memang berdua punya jodoh!"
Toyanya diputar dan sekali lagi menerjang ke depan, tapi....
mendadak ia hentikan gerakan tubuhnya dan berpaling ke arah seberang.
Melihat kejadian itu semua orang ikut berpaling, terlihatlah belasan sosok bayangan manusia dengan cepatnya sedang bergerak menuju ke tempat kejadian.
Nenek buta tak tahu duduk perkara yang sebenarnya, melihat musuhnya tidak jadi menyerang, dengan gusar ia berteriak.
"Nenek she Tio, kalau engkau segan untuk mulai, akulah yang akan turun tangan lebih dahulu!"
"Sian poo tunggu sebentar"
Terdengar Cu Goan-khek berteriak dengan nada kegirangan.
"Cong-Tang-kee kita telah datang"
Dalam pada itu belasan sosok bayangan manusia tadi telah loncat naik di atas jembatan batu dan meluncur datang.
Hoa Thian-hong sekalian segera dapat melihat bahwa orang yang berjalan dipaling depan bukan lain adalah Jin Hian ketua dari perkumpulan Hong-im-hwie, dibelakangnya mengikuti Co Ban Kui serta sepuluh orang pengawal golok emas.
Sungguh cepat gerakan tubuh Jin Hian, setelah tiba digelanggang ia sapu sekejap sekeliling tempat itu dengan pandangan tajam lalu setelah melirik pula ke arah gua karang, ujarnya kepada nenek dewa bermata buta sambil tertawa.
"Sian poo, sejak kapan engkau datang? terimalah salam dari aku orang she Jin!"
Nenek buta membalas hormat dan menjawab.
"Pagi tadi aku baru tiba, sudah lama pertarungan berlangsung namun tiada hasil apa pun.... aaai! hanya merusak pamor Hong-im-hwie saja"
"Haaah.... haaah.... haaah...."
Jin Hian tertawa nyaring.
"Tio Lo thay terkenal sebagai jago lihay dalam dunia peralatan yang sudah tersohor sejak enam pulun tahun berselang, bila Sian poo ingin rebut kemenangan tentu saja harus bertempur tiga sampai lima ratus jurus banyaknya"
Tio Sam-koh mendengar perkataan itu, dengan alis berkerut segera menyindir.
"Haah.... haah.... haaah....Jin Hian, aku lihat engkau baru termasuk manusia tak berguna, sungguh tak nyana seorang ketua dari perkumpulan Hong-im-hwie pandainya cuma jilat pantat orang belaka.... Huuuuh! rupanya aku sudah salah melihat"
Air muka Jin Hian berubah hebat, tapi sebentar kemudian telah pulih seperti sedia kala, katanya sambil tertawa hambar.
"Tio Lo thay, engkau terlalu tinggi memandang diriku"
"Siapa yang memandang tinggi dirimu? Hmm! engkau berkata bahwa namaku sudah tersohor di kolong langit sejak enam puluh tahun berselang, bukankah itu berarti bahwa kau sedang menjilat pantatku? Kemudian kau mengatakan kepada nenek buta itu bahwa untuk mengalahkan aku maka paling sedikit harus bergebrak tiga sampai lima ratus jurus, lalu bagaimana kalau tujuh sampai sembilan ratus jurus? Cukup bukan? Haaah.... haaah.... bukankah engkau sedang menjilat pantatnya si nenek buta?"
Jin Hian sama sekali tidak memberi komentar, dengan tenang ia dengarkan perkataan orang hingga selesai, kemudian sambil tersenyum memberi hormat kepada Hoa Thian-hong sambil tegurnya.
"Hoa Loo te, kau terluka di tangan siapa?"
Hoa Thian-hong balas memberi hormat dan menjawab.
"Oooob.... aku terluka di tangan iman tua dari Thong-thian-kauw, hanya luka luar saja dan kau tak usah kuatir"
Jin Hian tertawa, setelah menyapu sekejap sekeliling tempat itu ujarnya.
"Loo-ji, di tempat ini kecuali hadir beberapa orang sahabat, apakah masih ada orang lain?"
"Tuuh.... dalam gua masih ada seorang jago lihay"
Jawab Cu Goan-khek sambil menuding ke arah gua karang di atas bukit.
"siapakah jago lihay itu, siaute sendiripun kurang tahu"
Jin Hian mengerutkan dahinya, dengan sorot mata yang tajam bagaikan pisau belati ia tatap wajah Hoa Thian-hong, lalu tegurnya dengan suara berat.
"Hoa loo tee, ada satu pertanyaan hendak kuajukan kepadamu, apakah putri Pek Siau-thian yaitu Pek Soh-gie bersembunyi di dalam gua karang itu....?"
Hoa Thian-hong tertegun, pikirnya.
"Pek Soh-gie terperangkap dalam istananya Thong-thian-kauw, aku harus tutup rahasia ini ataukah menyiarkannya secara luas?"
Sebelum dia sempat menjawab, dengan nada dingin Jin Hian telah berkata kembali, Hoa loo tee, putraku Jin Bong mati secara mengenaskan di tangan Pek Soh-gie, budak terkutuk itu, orang lain tak tahu, engkau toh menyaksikan dengan mata kepala sendiri!"
"Jien Tang-kee, jangan berkata begitu!"
Teriak sang pemuda dengan alis berkerut, meskipun aku saksikan dengan mata kepala sendiri, tetapi setelah aku berjumpa dengan Pek Soh-gie maka terasalah olehku, bahwa raut wajah mereka meskipun mirip akan tetapi sifatnya jauh berbeda, kita tak boleh mencampur baurkan antara soal yang satu dengan soal yang lain"
Jin Hian tertawa dingin.
"Hmmm.... rupanya Hoa loote memang membela Pek Soh-gie mati matian tidak aneh kalau loote begitu tega menggunakan cara yang keji untuk menghukum mati beberapa orang saudara kami"
"Aku bukan seorang manusia yang suka pipi licin, semua perkataan dan perbuatan berani dibuka secara umum, sedang mengenai ketiga orang saudara itu...."
Ia berhenti sebentar lalu menghela napas panjang, sambungnya.
"Mereka memang musnah di tanganku, bila Cong Tang-kee tak rela aku pun tak dapat berbuat apaapa"
"Hmm!"
Jin Hian tertawa dingin.
"bagaimanapun Hoa loote toh pernah bergaul selama beberapa hari dengan para saudara dari Hong-im-hwie, sekalipun tidak memandang muka Buddha seharumnya kalau Loo te memberi muka kepadaku"
Hoa In jadi jengkel ketika dilihatnya orang itu menegur majikan mudanya terus menerus, dengan hati gusar selanya.
"Bertempur digelanggang tak bisa dihindari terluka atau mati...."
Buru-buru Hoa Thian-hong ulapkan tangannya mencegah Hoa In bicara lebih jauh, katanya sambil tertawa.
"Cong Tang-kee, engkau tahu bukan bahwa aku bukan seorang manusia yang suka membunuh, tetapi bila anak panah sudah di atas busur, bagaimanapun juga terpaksa harus dilepaskan, karena itu harap Tang-kee suka memakluminya!"
"Hmmm....Pek Soh-gie saat ini berada dimana? Apakah Hoa loote suka memberitahukan kepadaku?"
OooooOooooo PEK SOH-GIE hanya seorang gadis mada yang tak tahu urusan, sedang Tang-kee bermaksud jelek terhadapnya, kalau kuberitahukan jejaknya kepadamu bukankah kawan Bulim akan mentertawakan diriku?"
Setelah berhenti sebentar, tambahnya dengan lantang.
"Cuma aku berani menegaskan bahwa pembunuh putramu bukanlah Pek Soh-gie, karena itu aku setuju untuk mempertemukan cong Tang-kee dengan gadis itu"
Tertegun hati Jin Hian mendengar perkataan itu, serunya.
"Aku orang she Jin merasa kagum dengan pendapatmu yang tinggi, tolong tanya sekarang Pek Sohgie ada dimana?"
"Pek Soh-gie telah ditawan Thian Ik-cu dan sekarang dikurung dalam istana Yang sim tian, bila Cong Tang-kee ingin menjumpai dirinya aku rasa lebih baik rundingkan saja dengan Thian Ik-cu"
"Hoa loote, aku tidak percaya dengan perkataanmu itu!"
Seru Jin Hian sambil menggeleng.
"Semua perkataanku diucapkan sejujurnya kalau Cong Tang-kee tidak percaya akupun tak bisa berbuat apaapa"
Jin Hian tertawa seram.
"Hoa loote, sewaktu pihak Hong-im-hwie hendak menangkap Pek Soh-gie kau selalu menghalangi bahkan membunuh orang, sebaliknya waktu Thong-thian-kauw menangkap gadis itu, mengapa kau lepas tangan?"
Pertanyaan ini seketika membungkam Hoa Thianhong, matanya terbelalak dan mulutnya melongo, untuk beberapa saat lamanya ia tak tahu apa yang musti dijawab.
Melihat majikan mudanya malu, Hoa In tidak terima, dengan gusar serunya.
"Kami memang suka mencampuri urusan orang, kalau siapa merasa tidak puas boleh cari aku orang she Hoa untuk bikin perhitungan"
Jin Hian mendengus dingin, ia tidak perduli ucapan orang, sorot matanya yang tajam tetap menatap wajah Hoa Thian-hong tanpa berkedip. Tiba-tiba Hoa Thian-hong tertawa nyaring, ujarnya.
"Ketua Jin, engkau tak usah terlalu mendesak orang, sewaktu Thian Ik-cu menangkap Pek Soh Gi, aku telah berusaha sekuat tenaga untuk melindungi dirinya, sayang kepandaian silatku tak becus sehingga aku sendiripun malah kena tangkap"
Sebagai orang yang jujur, ia tak Ingin membohongi musuhnya, dan untuk memberikan keterangan yang sebenarnya, kejadian yang memalukan tentang diripun diucapkan keluar.
Sorot mata Jin Hian berkilat, ia melirik sekejap luka pada dada dan kakinya, lalu berpikir.
"Ditinjau dari badannya yang berpelepotan darah serta mukanya yang lesu, jelas baru saja ia langsungkan pertarungan berdarah rupanya apa yang dia katakan bukan kata-kata yang bohong....!"
Ia jadi setengah percaya setengah tidak, dengan nada dingin ujarnya kembali.
"Kalau benar Hoa lote ditangkap bersama-sama Pek Soh-gie, dan sekarang Loote berhasil lolos dari bahaya sedang Pek Soh-gie masih berada di dalam sarang harimau, apakah engkau tidak merasa kuatir?"
"Kami toh berkenalan hanya secara tidak disengaja dan menolong karena kebetulan kutemui kejadian tersebut, sekarang dalam ke nyataan kau tak mampu memberi penolongan kalau tidak ditinggal masa disuruh urus terus, perduli amat aku kuatir atau tidak"
Jin Hian tertawa hambar, tiba-tiba sambil melirik ke arah goa karang ujarnya kembali.
"Loote menurut anggapanmu mungkinkah Pek Soh-gie mendapat pertolongan dari seseorang seperti halnya dengan loote dan kemudian disembunyikan di dalam gua karang ini?"
Mula mula Hoa Thian-hong tertegun, kemudian pikirnya lebih jauh.
"Tua bangka ini memang banyak menaruh curiga....!"
Berpikir demikian lantas tertawa, jawabnya.
"Akupun mempunyai kecurigaan tersebut, sayang tak mampu memasuki gua tersebut untuk melakukan pemeriksaan"
"Hmmm! bangsat cilik.... terdengar Tio Sam-koh memaki dengan nada ketus"
Jin Hian angkat kepala dan laksana kilat memandang sekejap ke arahnya, kemudian berjalan menuju ke mulut gua.
Melihat ketuanya mendekati mulut gua tersebut, dengan cepat Cu Goan-khek loncat maju ke depan menghalangi jalan perginya, peristiwa pingsannya nenek bermata buta terhantam oleh pukulan dari gua pun segera di laporkan kepada ketuanya.
Air muka Jin Hian berubah hebat setelah mendengar laporan itu, serunya.
"Oooh.... ternyata disini ada seorang jago lihay sedang bersembunyi.... kita tak boleh bertindak kurangajar!"
Biji matanya berputar menyapu sekejap para jago yang hadir di tempat itu, kemudian kepada Co Bun Kui yang berada disampingnya ia berkata, Engkau pergilah kesana dan mohonlah bertamu, coba kita lihat jago lihay dari manakah yang berdiam disini, kalau dia adalah seorang Bu Iim cianpwee maka katakanlah nenek dewa bermata buta serta Jin Him dari perkumpulan Hong-imhwie mohon bertemu.
Co Bun Kui memberi hormat, setelah memberi tanda kepada pengawal pribadi, golok emas yang berada disisnya, dua orang segera tampil ke depan, mereka bertigapun segera berjalan mendekati gua karang tersebut, Bayangan manusia berkelebat lewat, tiba-tiba Tio Sam-koh menghadang di depan mulut gua tongkat disiapkan di tangan sedang mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.
Sepasang alis Ca Bun Kui langsung berkerut, sambil memberi hormat, tegurnya.
"Tio lo thay, mohon tanya engkau ada petunjuk apa?"
"Gua ini jauh lebih seram dari pada sarang naga harimau, apakah engkan tidak takut mati?"
Teguf Tio Sam-koh dengan dingin.
"Terima kasih atas petunjukmu, atas perintah atasanku, aku disuruh datang kemari untuk mohon bertemu dengan cianpwee dalam gua, sekalipun badan harus hancur aku tak akan ambil perduli....!"
Habis berkata segera ia melanjutkan, kembali langkahnya menuju ke depan.
"Kembali! tiba-tiba Tio Sam-koh membentak keras sambi1 ayunkan telapak tangannya. Segulung angin pukulan yang maha dahsyat segera memancar keluar diiringi deruan angin yang tajam dan dahsyat. Co Bun Kui serta dua orang pengawal pribadi golok emas yang berada di belakang segera mundur sejauh tujuh delapan depa dari tempat semula, senjata tajam segera diloloskan keluar dan untuk kedua kalinya mereka menerjang maju ke depan.
"Hey, sebenarnya apa yang hendak kalian lakukan? Bentak Tio Sam-koh dengan gusar. Co Bun Kui tertegun dan segera menghentikan langkahnya kurang lebih empat lima depa dihadapan perempuan itu, ia menjawab.
"Aku mendapat perintah dari atasanku untuk mohon bertemu dengan pemilik gua itu, jika Tio lo thay tidak menyingkir lagi, jangan salahkan kalau aku tidak akan berlaku sungkan-sungkan lagi"
Tio Sam-koh melotot besar, sambil anggurkan tangannya ia berseru.
"Kalau memang kalian bendak berkunjung secara hormat, bawa kemari kartu nama kalian!"
Co Bun Kui tahu bahwa ia hanya mempersulit dirinya, tapi diapun tabu bahwa nenek itu tidak mudah dilayani, maka sambil tetap menyabarkan diri jawabnya.
"Karena di dalam melakukan perjalanan maka kami tidak membawa serta kartu nama setelah bertemu dengan pemilik gua ini, aku pasti mohon maaf...."
Haaah.... haaahh.... itu sih tak perlu aku, si nenek tua adalah pemilik gua ini, ada urusan apa engkau mencari aku?"
Diam-diam Co Bun Kui merasa amat gusar, sumpahnya di dalam hati.
"Nenek busuk.... modarlah secepatnya, berani benar engkau permainkan diriku!"
Pergelangan digetarkan, dari punggung golok segera memancar keluar suara dentingan yang amat nyaring, Inilah kode rahasia dari para pengawa1 pribadi golok emas, perbedaan suaranya amat banyak dan masingmasing mengandung maksud yang saling berbeda, orang lain tidak merasa tapi para pengawal pribadi golok emas hapal diluar kepala, maju mundurnya semua mengikuti tanda tersebut.
Tampaklah dua orang pengawal yang berada di belakang segera maju ke depan dan berdiri sejajar dengan Co Bun Kui, tiga golok besar bersama-sama digetarkan dan membacok kemuka.
Angin desiran tajam menderu deru, dalam waktu singkat tubuh mereka dilindungi oleh cahaya golok langsung menerjang masuk ke dalam gua.
Tio Sam-koh sebagai seorang jago yang sangat lihay, tentu saja tidak pandang sebelah matapun terhadap ketiga orang itu, menanti golok emas sudah hampir mendekati tubuhnya dia baru mendengus dingin, toyanya diputar dan menyongsong datangnya ancaman tersebut.
Traaaaaang....!traaaang....!di tengah dentingan nyaring, ketiga bacokan golok emas itu bersarang di atas toya baja semua, begitu kerasnya bentrokan tersebut membuat lengan Co Buo Kui bertiga jadi sakit, linu dan kaku sekali, himpir saja goloknya terlepas dari tangan.
Dengan tak bisa dibendung lagi, dua orang pengawal itu tergetar mundur beberapa langkah ke belakang, sedangkan Co Bun Kui yang tenaga dalamnya jauh lebih sempurna dari dua orang anak buahnya hanya merasakan tubuhnya bergetar keras, di atas permukaan tanah di mana ia terpijak muncullah sebuah telapak kaki yang tajam dan nyata sekali.
Co Bun Km adalah pemimpin dari empat puluh pengawal pribadi golok emas, sebagai seorang jago yang berpengalaman dan bertanggung jawab atas keselamatan segenap anak buahnya tentu saja bukan manusia sembarangan, setelah berhasil menegakkan tubuhnya sambil putar golok, ia menerjang kembali ke arah depan.
Dentingan nyaring menggema di angkasa, delapan orang pengawal pribadi golok emas yang selama ini berdiri di belakang Jin Hian mendadak menerjang ke arah Tio Sam-koh dengan gencarnya.
Tio Sam-koh teramat gusar, sebenarnya ia tak sudi bertempur melawan beberapa orang itu, tetapi setelah dilihatnya empat bilah golok besar dengan memancarkan cahaya yang menyilaukan mata menerjang datang terpaksa dia angkat toyanya untuk menangkis.
Sreeet....!
Sreeet....!
Sreet....!
empat bilah golok memisahkan diri, dua orang loncat ke samping kiri dua lainnya ke kanan, sementara empat orang yang menerjang datang dari belakang dengan cepat mengisi kekosongan tersebut, cahaya golok berkilauan dan mereka menyerang pinggang perempuan tersebut.
Kegusaran Tio Sam ko memuncak, toya bajanya ditekan ke bawah lalu menyapu ke belakang.
Kawanan pengawal pribadi golok emas adalah jagojago yang terlatih, bukan saja ilmu golok mereka amat sempurna, kepandaian dalam bekerja samapun amat tinggi.
Baru saja Tio Sam-koh putar toyanya menyapu ke belakang, empat orang yang menyerang dari belakang telah mengundurkan diri kembali ke arah belakang, sementara empat orang dikiri kanannya bersama-sama membentak keras, cahaya golok memancar keempat penjuru dan laksana Kilat mereka menerjang kembali ke depan.
Kali ini tempat yang diarah keempat bilah golok emas itu berbeda satu sama lainnya, andaikata Tio Sam-koh tidak berusaha mundur ke belakang maka satu-satunya jalan adalah maju ke depan sambil balas melancarkan serangan atau dengan keras lawan keras ia tangkis semua serangan tadi.
Tio Sam-koh adalah seorang jago kawakan, ibaratnya jauh makin tua makin pedas, berada di depan mata prajurit-prajurit tak bernama tentu saja ia tak sudi mengundurkan diri ke dalam gua, ia mendengus dingin.
Toya bajanya bagaikan amukan ombak dahsyat segera berputar kencang.
Dalam sekejap mata tujuh delapan jurus sudah lewat, kedelapan orang pengawal pribadi golok emas itu maju mundur melancarkan serangan secara bergilir, sedang Tio Sam-koh dengan gagah beraninya memutar toya kesana kemari disertai deruan angin yang tajam, tanpa sadar ia semakin jauh tinggalkan mulut gua dan terjerumus ke dalam kepungan delapan orang jago.
Walaupun Tio Sam-koh adalah salah seorang jago lihay dalam dunia persilatan, tetapi kawanan pengawal pribadi golok emas itupun merupakan jago-jago lihay apalagi kerja sama mereka boleh dibilang luar biasa sekali, jika dia ingin menumpas mereka dalam tiga empat jurus tentu saja merupakan suatu hal yang sulit.
Dengan tenang Co Bun Kui berdiri di samping arena, menanti Tio Sam-koh sudah jauh tinggalkan gua dan tak mungkin balik lagi dalam waktu singkat, ia segera memanggil dua orang anak buahnya dan bersama-sama masuk ke dalam gua karang.
Walaupun Tio Sam-koh tak mampu menangkan musuh-musuhnya, tapi ia masih punya sisa tenaga untuk memperhatikan situasi di sekeliling tempat itu, tatkala dilihatnya Co Bun Kui akan masuk ke dalam gua, dengan penuh kegusaran ia segera membentak.
"Budak cilik, jaga mulut gua itu baik-baik!"
"Dia sedang panggil aku?"
Pikir Hoa Thian-hong tertegun, tanpa pikir panjang segera ia menghadang dimulut gua. Co Bun Kui jadi amat gusar, bentaknya.
"Hoa kongcu, apakah engkau sudah ambil keputusan untuk bentrok dengan perkumpulan Hong-im-hwie kami?"
Sebelum pemuda itu sempat menjawab, Tio Sam-koh telah berteriak kembali dengan suara lantang.
"Budak cilik kalau mereka sampai berhasil masuk ke dalam gua, lebih baik engkau gorok leher bunuh diri di depan mulut gua"
Hoa Thian-hong tak perrah menyangka kalau urusan begitu serius, tetapi setelah teringat bahwa orang yang memberi perintah adalah angkatan yang lebih tua dari pada dirinya, ia tak berani menampik.
Dalam pada itu terdengar Co Bun Kui sambil tertawa telah berkata lagi.
"Hoa kongcu, bagaimana keputusanmu? Mau menyingkirkan dari sini atau tidak....?"
"Antara aku dengan ketua kalian pernah terjalin hubungan sahabat, pernah terjadi pula suatu kesalahan pahaman, mau bentrok atau tidak terserah pada penilaihan ketua Jin sendiri, bila Bo heng masih teringat dengan hubungan kita maka aku harap kau tak usah masuk ke dalam gua ini lagi"
"Perintah atasan tak dapat dibantah, terpaksa aku harus nenyalahi dirimu...."
Seru Co Bun Kui kemudian, goloknya diputar dan segera membacok ke depan.
Saat ini Hoa Thian-hong hanya memakai pakaian dalam, dadanya sudah dibalut oleh kain, darah yang merah dan racun yang hitam ditambah keringat yang kuning menodai seluruh badan, air mukanya pucat karena kehabisan darah dan kehabisan tenaga, rambutnya kusut hingga keadaannya nampak mengenaskan sekali.
Meskipun Co Bun Kui tahu bahwa Hoa Thian-hong sangat lihay, tetapi setelah menyaksikan keadaannya yang begitu mengenaskan dan kegagahannya tempo hari sudah tak terlihat lagi, timbullah perasaan pandang rendah musuhnya.
Begitu turun tangan, goloknya segera diputar melancarkan serangan berantai yang bertubi-tubi, hawa pembunuhan menyelimuti seluruh angkasa, sedang dua orang rekannya pun segera mengikuti jejak pemimpinnya dan menyerang pula dengan sepenuh tenaga.
Menyaksikan datangnya serangan yang begitu dahsyat, diam-diam Hoa Thian-hong merasa amat terperanjat, buru-buru ia mengeigos ke-samping dan mundur setengah langkah ke dalam gua, tangan kirinya diputar melancarkan sebuah serangan dahsyat ke depan.
serangan ini ditujukan ke arah jago yang ada disebelah kanan, maksudnya adalah untuk melindungi diri di samping menghalangi musuhnya menerjang masuk ke dalam gua, tapi sayang tenaga dalamnya sudah lemah dan serangan Kun-siu-ci-tauw tersebut tak dapat mewujudkan kehebatan seperti dahulu lagi, Co Bun Kui yang melihat keadaannya, jadi sangat girang, dia menerjang maju ke depan goloknya dipatahkan di tengah jalan dan segera berganti jurus, secara tiba-tiba ia menyerang kembali ke depan.
"Hati-hati dibelakang, tiba-tiba Jin Hian membentak keras. Belum habis ia berkata, Hoa In bagaikan sukma gentayangan telah menerjang ke depan, tanpa mengucapkan sepatah katapun sepasang telapaknya diputar berbareng menyerang Co Bun Kui serta orang yang berada disebelah kiri itu. Sejak Hoa Thian-hong menderita luka parah, Hoa In selalu uring-uringan dan merasa tak senang hati, ketika melihat Co Bun Kui berniat membinasakan majikan mudanya, nafsu membunuh dalam hati Hoa In pun ikut bergelora, serangan yang kemudian dilancarkan bukan saja cepat bahkan dahsyat sekali, boleh dibilang baru pertama kali ini dia melancarkan serangan dengan nafsu membunuh yang amat hebat"
Pada saat yang bersamaan Jin Hian siap memberi pertolongan, tapi nenek dewa bermata buta sudah meluncur ke depan sambil membentak gusar, Serahkan orang ini kepadaku!"
Semua peristiwa itu berlangsung pada saat yang bersamaan, hanya saja Hoa In bertindak lebih dahulu, sedang nenek buta berhadang jalan perginya oleh Tio Sam-koh sekalian, maka ketika ia tiba digelanggang keadaan sudah terlambat.
Dengan serangan dahsyat yang dilancarkan Hoa In dalam keadaan gusar bisa dibayangkan sampai dimanakah kehebatannya, apalagi yang diserang adalah manusia sebangsa Co Bun Kui sekalian....
Dengusan berat bergema memecahkan kesunyian, Co Bun Kui serta orang yang ada di sebelah kiri segera terpukul mental sejauh beberapa tombak dari tempat semula, ketika jatuh ke tanah mereka tak berkutik lagi.
Pria yang ada disebelah kanan jadi bergidik hatinya ketika merasa datangnya desiran tajam dari arah belakang, karena terperanjat gerakan serangan yang dilancarkan pun agak terlambat.
Dengan jitu sekali pukulan telapak kiri dari Hoa Thian-hong segera bersarang di atas bahunya membuat ia jatuh terjengkang di atas tanah.
Menunggu suasana disini telah tenang kembali, nenek dewa mata buta baru tiba di tempat tujuan, bambu mustikanya langsung berkelebat memancarkan bayangan hijau dan langsung mengurung tubuh Hoa In.
"Siau Koan-jin mundur....!"
Seru Hoa In dengan gelisah.
Setelah mendesak mundur Hoa Thian-hong ke dalam gua, pelayan tua itu baru mendorong telapaknya ke depan mengirim sebuah pukulan dengan ilmu Sau yang ceng ki.
Blaaam....!
ledakan dahsyat bergeletar di angkasa, ketika bawa pukulan Sau yang ceng ki bentrok dengan hawa pukulan yang dipan carkan lewat bambu mustika nenek buta, tubuh Hoa In segera terdorong mundur ke belakang dengan badan tergoncang keras, sedangkan nenek buta itu sendiripun terhajar rontok ke atas tanah.
Suasana hening untuk beberapa saat lama nya, tibatiba nenek buta menengadah ke atas dan tertawa terbahak-bahak, suaranya melengking bagaikan jeritan kuntilanak, teriaknya.
"Oooh.... hoohooh.... rupanya Sau yang ceng ki! Kepandaian andalan dari Hoa Goan-siu pun masih tertinggal di kolong langit...."
"Kalau engkau kenal Sau yang ceng ki, tentu tahu bukan sampai dimanakah kelihayan dari toa-yamu!"
"Hmmm! Kepandaian silat dari Hoa Goan-siu segera akan lenyap dari atas permukaan bumi!"
Sambil putar bambu pusaka dari negeri Thian tok-nya, ia menerjang kembali ke depan.
Hoa In menjengek sinis, sepasang telapaknya berputar menyongsong kedatangan lawan dalam waktu singkat suatu pertarungan sengitpun segera berlangsung.
Tio Sam-koh yang melihat rekannya sudah terlibat dalam pertarungan yang amat sengit, tanpa terasa semangat tempurnya berkobar, daya tekanan yang dipancarkan dari toya baja pun berlipat ganda, memaksa delapan orang pengawal pribadi golok emas yang mengepung dirinya jadi kacau balau dan terdesak hebat.
Diam-diam Jin Hian meninjau sebentar pertarungan yang berlangsung didua sektor, mendadak ia membisikan sesuatu kepada Cu Goan-khek disusul orang she Cu itu dengan membawa belasan orang segera berjaga-jaga diluar kepungan terhadap Tio Sam-koh, sementara Jin Hian sendiri melayang kesisi gua dan dari situ dia membayangi nenek buta yang sedang bertempur.
Hoa In berdiri gagah di depan gua, sepasang telapaknya menarik kesana kemari melayani serangan serangan gencar dari bambu mustika milik nenek buta, ketika dilihatnya Jin Hian membayangi disana, penjagaan semakin ketat dan ia sama sekali tak bergeser dari tempat semula.
Tindakannya membuat mulut gua ini benar-benar hebat sekali akibatnya, bukan saja nenek buta tak mampu mendesak mundur dirinya, Jin Hian tak dapat turut campur bahwa Hoa Thian-hong pun tak mampu keluar dari gua itu.
Beberapa saat kemudian pertarungan yang berlangsung dikedua sektor itu berubah makin sengit dan bahaya.
Tio Sam-koh bertambah gusar ketika dilihatnya ada serombongan musuh membayangi pula dirinya dari luar kepungan, serangan yang dilancarkan semakin gencar dan ancaman ancamanpun makin berbahaya....Hoa Thin Hong yang menonton jalannya pertarungan itu dari dalam gua, diam-diam merasakan pula situasi yang makin berbahaya, pikirnya.
"Pihak lawan berjumlah banyak sedang pihak kami hanya ada dua orang yang mampu melangsungkan pertarungan, jika pertempuran ini dilanjutkan lebih jauh maka keadaan tidak menguntungkan pasti akan terjatuh pada pihakku, jika Hoa In sampai kalah maka Jin Hian pasti akan menerjang masuk ke dalam gua ini.... bukankah dalam gua ada jago lihay? Kenapa ia tak mau unjukkan diri sebaliknya malah takut ada musuh masuk ke dalam gua? Sungguh aneh...."
Ingin sekali pemuda itu masuk ke dalam gua untuk melakukan penyelidikan, tapi dia takut Hoa In tak mampu mempertahankan diri, untuk beberapa saat lamanya ia jadi bingung dan tak tahu apa yang musti dilakukan olehnya....
Hoa In adalah seorang jago kawakan yang banyak pengalaman, ia tahu situasi tidak menguntungkan bagi pihaknya, setelah berpikir sebentar ujarnya dengan nada serius.
"Siau Koan-jin, masuklah ke dalam dan lihatlah keadaan dalam gua itu, tapi kau harus berhati-hati dan jangan terlalu memaksa diri"
Hoa Thian-hong termenung dan berpikir sebentar, ia merasa bahwa pertarungan ini jelas tidak menguntungkan bagi pihaknya, kalau tidak melihat lihat dalam gua memang tiada jalan lain, maka ia segera ambil keputusan dan putar badan masuk ke dalam gua.
Suasana dalam gua itu gelap sekali, Hoa Thian-hong yang sedang bingung sama sekali tidak berniat memikirkan persoalan ini, dengan mata melotot besar ia masuk kedalam.
Beberapa saat kemudian ia merasa suasana gelap menyelimuti tempat itu bertambah tebal sehingga lima jari sendiripun tak dapat dilihat, bahkan secara lapatlapat hidungnya mencium bau belerang dan gas yang amat menusuk penciuman.
Pada saat itulah, mendadak dari dalam ruangan gua berkumandang datang suara pembicaraan dari seorang perempuan.
"Seng ji, majulah empat lima langkah lagi kemudian loncatlah ke depan, tapi kau harus melompat sejauh dua tombak...."
Seng ji adalah nama kecil Hoa Thian-hong, hanya ibunya yang manggil dia dengan sebutan tersebut, maka setelah mendengar panggilan itu dia berdiri tertegun, saat itulah bau gas yang tebal menyerang ke dalam hidung membuat dadanya sesak dan hampir saja ia jatuh tak sadarkan diri.
Buru-buru ia tutup semua pernapasan dan menenangkan hatinya lalu maju lima langkah ke depan, ia merasa jalan yang dilalui semakin menjorok ke bawah, maka sambil menutup mulut luka didadanya dengan tangan ia melompat ke arah depan.
Menanti ia menginjak kembali di atas permukaan tanah, terasa olehnya suasana di tempat itu meskipin masih gelap tapi jauh lebih terang dari keadaan semula, menanti ia menengok ke belakang maka tampaklah segumpal asap hitam mengepul dari atas tanah dan membubung kelangit langit gua, suara pertarungan diluar gua masih kedengaran jelas, pemuda itu pusatkan semua perhatian-nya dan meneruskan perjalanan ke depan.
Kurang lebih dua puluh tombak kemudian, terlihatlah seseorang sedang duduk bersila disebelah depan.
Ia berdiri terbelalak dengan mulut melongo sekuat tenaga ia berusaha memandang kedalam, tapi karena suasana yang gelap maka tak ada yang terlihat olehnya.
Sesaat kemudian ia maju kembali ke depan tegurnya.
"Siapakah engkau? Apakah engkau masih duduk bersemedi?"
Orang itu tetap duduk bersila di atas tanah tanpa bergerak barang sedikit pun, juga tidak menjawab pertanyaannya.
Hoa Thian-hong berjalan maju makin ke depan, tibatiba dia merasa potongan badan orang itu seperti dikenal olehnya, ketika diperhatikan lebih seksama mendadak hatinya bergetar keras dan hampir saja jatuhnya terlepas dari tempatnya.
"Siapakah Kau? Apakah ibu?"
Orang itu tetap duduk tak berkutik, di tempat semula, mulutnya tetap membungkam dan keadaannya tidak jauh berbeda dengan patung arca.
Pemuda itu membelalakkan matanya dan memperhatikan orang itu dengan lebih seksama lagi, ia melihat orang itu mempunyai rambut yang panjang dan digulung menjadi sanggul, mukanya persegi dan raut wajahnya mirip sekali dengan muka ibunya.
Tiba-tiba perempuan itu membuka matanya dan memandang ke arah pemuda itu dengan mata melotot, kemudian berkata.
"Aku adalah ibumu, aku tak bisa banyak bicara dan jangan ribut!"
Hoa Thian-hong seketika merasakan darah panah dalam dadanya bergolak keras, dengan gelagapan ia berseru.
"Ibu, apa yang sedang kan lakukan? Sedang melatih ilmu? Kenapa suaramu berubah....?"
Kiranya perempuan ini adalah ibu kandung Hoa Thianhong, isteri dari Hoa Goan-siu yang tersohor sebagai Hoa Hujien, sekarang ia sedang duduk bersila di atas tanah dengan tubuh sama sekali tak berkutik, Setelah membuka matanya tadi sekarang ia meram kembali.
Jilid 26.
Hek sat Ciang sang Maharani HOA THIAN-HONG jadi keheranan dan tak habis mengerti, setelah berdiri tertegun beberapa saat lamanya ia lantas meraba tubuh ibunya, terasa badan ibunya panas menyengat badan membuat rabaannya terpental kembali.
Ia jadi terkejut bercampur girang, guman-nya seorang diri.
"Tenaga dalam yang dimiliki ibu telah pulih kembali, apakah luka dalam yang ia derita telah sembuh?"
Buru-buru dari sakunya dia ambil keluar sebuah kotak kumala, selelah membuka kotak kumala itu lantas diangsurkan kehadapan ibunya sambil berkata.
"Ibu, aku mempunyai sebatang Leng-ci berusia seribu tahun, cepatlah kau makan!"
Hoa Hujien membuka matanya kembali, dari bau harum yang tersiar keluar dari dalam kotak tersebut membuktikan bahwa benda itu adalah Leng-ci yang sangat berharga, buru-buru serunya kembali.
"Aku tidak mau, aku dengar engkau terkena racun teratai!"
"Teratai racun empedu api telah kutelan, tapi keadaanku sudah tidak menguatirkan lagi!"
Tiba-tiba dari luar ruangan secara lapat-lapat berkumandang datang suara bentakan nyaring diikuti keadaan jadi sunyi dan hening. Dalam hati Hoa Thian-hong segera berpikir.
"Ibuku pasti sedang melatih sejenak ilmu silat yang sangat aneh dan pada saat ini tak boleh mendapat gangguan, kalau latihannya dihentikan di tengah jalan niscaya usahanya selama ini akan menemui kegagalan total, bahkan jiwanya akan terancam bahaya, oleh karena itulah Tio Sam-koh segera berjaga-jaga di depan gua dan mencegah pihak musuh masuk kedalam"
Berpikir sampai disini, hatinya jadi kuatir dan tidak tenang. Setelah meletakkan kotak kumala itu di atas tanah ujarnya.
"Diluar gua masih ada musuh tangguh, aku akan keluar dan menengok keadaan disitu"
Selesai berkata buru-buru ia berlalu dari sana.
Dia merasakan hawa murni di tubuhnya bergolak kencang dan ingin sekali mengerahkan tangan serta kakinya, setelah tiba di depan kabut hitam ia meloncat ke depan dan berjalan keluar dengan langkah lebar.
Menanti ia tiba diluar gua maka terlihatlah Hoa In serta nenek buta sedang duduk bersila saling berhadapan, sepasang telapak kanan mereka saling menempel satu sama lainnya, rupanya dengan andalkan tenaga dalam hasil latihan selama puluhan tahun mereka sedang melangsungkan pertarungan adu tenaga yang menentukan mati hidup mereka.
Keadaan dipihak lain jauh lebih mengerikan lagi, para jago perkumpulan Hong-im-hwie mulai dari Cu Goankhek ke bawah telah maju mengerubut Tio Sam toh seorang, ancaman-ancaman maut saling dilancarkan dengan harapan bisa merobohkan musuhnya secepat mungkin.
Ilmu silat yang dimiliki kelima orang jago lihay itu semuanya berada di atas kepandaian Seng Sam Hau serta Siang Kiat, Tio Sam-koh yang harus bertarung melawan nenek buta lebih dahulu kemudian harus menghadapi delapan orang pengawal pribadi golok emas, saat ini tenaga dalamnya sudah hilang separuh bagian, dalam keadaan begini harus bertarung lagi melawan lima orang jago lihay, tentu saja keadaannya payah sekali.
Terlihatlah serangan yang dilancarkan sudah mulai mengendor dan posisinya terdesak hebat, dalam keadaan begini jika dia ingin menerjang dari kepungan dan kabur dari situ mungkin masih bisa dilakukan, tetapi nenek tua itu tentu saja tidak mau berbuat begitu, ia melakukan perlawanan dengan gigihnya kendatipun jiwanya kian lama kian terancam.
Sementara itu Jin Hian dengan memmipin delapan orang pengawal pribadi golok emas sedang melewati nenek buta serta Hoa In sedang beradu tenaga dalam dan siap menerjang masuk ke dalam gua.
Pada saat itulah tiba-tiba mereka saksikan Hoa Thianhong muncul kembali dari dalam gua, hal ini membuat orang-orang itu segera menghentikan langkahnya.
Setelah mengetahui situasi yang terbentang di depan mata, Hoa Thian-hong merasakan darah panas dalam dadanya bergolak keras, hampir saja dari sepasang matanya memancarkan sinar berapi-api, tiba-tiba ia melihat pedang bajanya yang tersoren di pinggang Hoa In, sambil mencabut keluar bentaknya dengan gusar.
"Tahan!"
Dalam pada itu pertarungan tenaga dalam antara nenek buta dengan Hoa In sedang mencapai puncak ketegangan, tak mungkin mereka sudahi pertarungan tersebut sampai disitu saja, sedangkan Cu Goan-khek sekalian yang mengururg Tio Sam-koh sudah merasakan bahwa kemenangan hampir berhasil diraih oleh mereka, seorang musuh besar mereka yang amat tangguh sudah hampir berhasil dilenyapkan, tentu saja tak seorangpun yang sudi menuruti perkataan Hoa Thian-hong kendatipun suara bentakannya dapat didengar dengan jelas, bukan saja tidak menggubris bahkan serangannya dilancarkan semakin gencar.
Hoa Thian-hong semakin naik pitam, tiba-tiba bentaknya keras.
"Jin Hian! apakah engkau sudah tak ingin membalas dendam bagi kematian puteramu lagi?"
Mendengar seman itu Jin Hian tertegun, setelah merandek sejenak akhirnya ia membentak.
"Tahan!"
Meskipun bentakan itu tiada yang aneh namun Cu Goan-khek sekalian tak bisa tidak terpaksa harus menuruti, dengan cepat serangan ditarik kembali dan meloncat mundur ke belakang.
Tio Sam-koh sendiri, walaupun dia gagah dan pemberani tetapi setelah bertarung sampai keadaan begitu segenap tenaganya boleh dibilang terkuras habis.
Keadaan pada saat itu payah sekali, semua orang sudah merasakan kehabisan tenaga dan lelah sekali, napas terasa tersengal-sengal sedang keringat telah membasahi sesuruh tubuhnya, begitu pertarungan berhenti masing-masing orang segera mengatur pernapasan dan beristirahat.
Lain halnya dengan nenek buta serta Hoa In yang sedang beradu tenaga, dalam keadaan begitu kedua belah pihak tak dapat menyudahi pertarungan tersebut, mereka masih tetap menyalurkan hawa murninya untuk berusaha merobohkan lawannya.
Hoa Thian-hong merasa amat gelisah, pikirnya.
"Ibuku tak boleh dapat gangguan macam apapun juga, dipihakku hanya ada dua orang jago yang bisa bertarung sedang pertarungan beradu tenaga paling merugikan kekuatan tubuh, jika Hoa In sampai terluka bukankah keadaanku semakin terjepit?"
Ketika dilihatnya Jin Hian maju menghampiri dirinya, dengan cepat ia membentak keras.
"Cong Tang-kee, harap berhenti!"
"Ada apa?"
Tanya Jin Hian sambil berhenti,"apakah Loote takut aku membokong Hoa In?"
Hoa Thian-hong tertawa dingin.
"Cong Tang-kee kau seorang ketua dari suatu perkumpulan besar, tentu saja aku tak berani menaruh banyak curiga,"
Jawabnya. Jin Hian tertawa hambar, pikirnya di dalam hati.
"Tenaga Sau yang ceng ki yang dimiliki tua bangka ini sudah berhasil mencapai tujuh bagian kesempurnaan, jika pertarungan dilanjutkan maka nenek dewa tentu akan menderita kalah...."
Berpikir demikian sambil tersenyum ia la tas berkata.
"Seandainya aku hendak mencelakai Hoa In, sejak tadi kesempatan baik sudah kudapatkan, Loo te tak usah kuatir.... aku tak mungkin mencelakai dirimu, sekarang lebih baik kita pisahkan dahulu mereka berdua"
Sambil berkata ia melangkah maju kembali ke depan.
"Lain dulu lain sekarang, siapa yang tak tahu apa yang sedang kau pikirkan di dalam hati?"
Pikir Hoa Thian-hong di dalam hati. Pedang bajanya segera diayun kemuka dan ditempelkan di atas batok kepala nenek buta, ancamannya dengan suara dingin.
"Cong Tang-kee, kalau engkau berani maju selangkah lagi, maka pedangku ini segera akan kubacok ke bawah!"
Jin Hian kaget dan segera menghentikan langkahnya, dengan alis berkerut dia menegur.
"Hoa loo te, tadi engkau suruh semua orang menghentikan pertarungan, sebenarnya apa maksudmu?"
"Hmmm! tentu saja aku ada persoalan penting yang hendak disampaikan kepada kalian, cuma cara perkumpulan kalian melakukan pertarungan secara mengerubut benar-benar merupakan suatu tindakan yang terkutuk"
"Jamannya bertanding ilmu dan satu lawan satu sudah lewat, sekarang sudah tidak ada lagi cara semacam itu,"
Sahut Jin Hian tetap tenang. Setelah berhenti sebentar, ia melirik sekejap ke arah nenek buta serta Hoa In yang sedang beradu tenaga kemudian melanjutkan.
"Menurut Hoa loo te, apakah kedua orang itu harus bertarung sampai salah seorang di antaranya menderita kalah?"
"Aku tak mampu memisahkan mereka, apa kata Cong Tang-kee mempunyai cara untuk memisahkan kedua orang itu?"
Jin Hian segera terbungkam, tenaga dalam yang dimiliki kedua orang ini jauh berada diatasnya, jika dia harus memisahkan mereka berdua secara adil dan tidak berat sebelah tentu saja hal itu tidak mungkin bisa ia lakukan.
Tiba-tiba Tio Sam-koh sambil memegang toya bajanya maju mendekat, dengan alis berkerut Jin Hian segera menegur.
"Bagaimanakah? Apakah Tio Lo thay mempunyai kemampuan untuk memisahkan mereka berdua?"
"Sekalipun aku si nenek tua tidak mempunyai kemampuan tersebut, rasanya hal ini pun bukan merupakan suatu kejadian yang memalukan"
Jin Hian segera menghadang di tengah jalan.
"Kalau memang engkau tak punya kemampuan itu, harap Tio Lo-thay hentikan langkahmu disana saja, untuk sementara waktu engkau tak usah mendekat kemari!"
"Hmmm! aku si nenek tua manusia macam apa? Masa aku bisa kau bandingkan dengan manusia sebangsa kalian yang semuanya tak tahu malu?"
Meskipun berkata begitu, tapi ia hentikan juga langkahnya.
Pertarungan antara nenek buta dengan Hoa In telah mencapai pada puncaknya, keringat telah membasahi seluruh tubuh mereka, rambutnya pada berdiri bagaikan landak sedang otot hijau di atas wajahnya pada menonjol keluar, asap putih mengepul keluar dari atas ubun-ubun, agaknya pertarungan ini sudah mencapai pada puncaknya yang menentukan mati hidup mereka berdua.
Dalam pertarungan adu tenaga ini siapapun tak bisa mencuri dengan gunakan kelicikan, apabila salah seorang menderita kalah maka keadaannya pasti akan runyam.
Dihari hari biasa Hoa Thian-hong selalu mengumbar menurut kemauannya sendiri dan jarang sekali menuruti perkataan Hoa In, na mun dalam hati kecilnya ia amat menyayangi dan menghormati pelayan tuanya ini, ia merasa tak tega membiarkan pelayan tuanya itu menderita karena pertarungan adu tenaga yang melelahkan itu.
Makin dipikir Hoa Thian-hong merasa hatinya semakin murung, dalam gugupnya tak tahan lagi ia berseru.
"Cong Tang-kee, apa salahnya kalau engkau serta Tio lo thay bekerja sama Untuk melerai mereka berdua, kalau tidak maka jiwa nenek dewa pasti akan terancam mara bahaya!"
Jin Hian berpikir sebentar, lalu menjawab.
"Tentang soal ini, hmm! tak ada salahnya...."
Pada saat itulah tiba-tiba dari tempat kejauhan muncul tiga sosok bayangan manusia, gerak tubuh ketiga orang itu cepat sekali dan di dalam sekejap mata sudah menyeberangi jembatan batu itu.
Hoa Thiau Hong segera berpaling, ia temukan salah seorang diantara ketiga orang pendatang itu ternyata bukan lain adalah Pek Siau-thian, kedua dari perkumpulan Sin-kie-pang.
Dalam waktu singkat ketiga orang itu sudah tiba dihadapan mereka, Pek Siau-thian menyapu sekejap sekeliling tempat itu, sete lah memberi hormat kepada Jin Hian, ia berpaling ke arah Hoa Thian-hong dan bertanya.
"Putri sulungku telah tiba di wilayah Kanglam, tapi sampai sekarang jejaknya tidak terang, apakah Hoa Loo-tee tahu kemana perginya?"
"Putri kesayanganmu sudah ditangkap oleh Thian Ikcu, pagi tadi masih disekap di dalam kuil It-goan-koan tempat kediaman tosu tua itu"
Air muka Pek Siau-thian berubah bebat, sesudah tertegun sebentar sahutnya.
"Terima kasih atas petunjukmu!"
Kepada rekannya ia membentak.
"Ayoh berangkat!"
Dalam sekejap mata ketiga orang itu sudah menerobos lewat jembatan batu dan lenyap di tempat kejauhan.
Kedatangan ketiga orang itu cepat sekali pergipun cepat pula, tiba-tiba sikap Jin Hian berubah hebat, sorot matanya segera dialihkan ke arah mulut gua.
Dari tingkah lakunyva itu Hoa Thian-hong tahu bahwa ia sudah mempunyai niat jahat, buru-buru sambil menyilangkan pedang bajanya ia membentak.
"Jien Tang-kee, jangan bertindak gegabah!"
Rupanya Tio Sam-koh pun mengetahui bahwa Jin Hian ada maksud mencelakai Hoa In serta menolong nenek buta, dalam kejut dan gusarnya ia segera membentak keras, toyanya langsung diputar dan menghantam punggungnya.
Jaraknya antara dia dengan Jin Hian tidak begitu jauh, sedang panjang toya mencapai tujuh depa, dalam sekali ayunan ujung senjata tersebut sudah mengancam punggung orang she Jin itu.
Dari desiran angin tajam yang mengancam tubuhnya, Jin Hian sadar bahwa serangan ini bukan kepalang lihaynya, terpaksa ia putar badan menghindarkan diri dari babatan toya tersebut, kemudian sambil putar telapak balas melancarkan sebuah serangan.
Mendadak....
dari dalam goa berkumandang keluar suara seruan dari Hoa Hujien.
"Seng ji, secepatnya membacok nenek buta sampai mati!"
Mendengar perintah itu Hoa Thian-hong tertegun, ia rasa tindakan tersebut melanggar azas kependekaran, tetapi diapun merasa bahwa ibunya bisa memberi perintah demikian oleh alasan-alasan tertentu, maka tanpa berpikir panjang pedangnya diputar dan disertai desiran angin tajam langsung dibacokkan di atas batok kepala nenek buta.
Ketiga orang itu sama-sama menggerakkan tubuhnya pada saat yang hampir bersamaan, baru saja sekalian Cu Goan-khek merasa terkejut, pedang baja Hoa Thian-hong laksana kilat telah membacok ke atas kepala nenek buta tersebut.
Tetapi pada saat itu juga, nenek buta telah mengerahkan segenap kekuatan tubuhnya untuk menggetarkan telapak Hoa In, sedang tubuhnya dengan meminjam kesempatan itu pun segera mencelat mundur ke arah belakang.
Bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya, nenek buta itu mencepat sejauh tiga tombak dari tempat semula, kemudian menutul sepasang kakinya di atas tanah dan badannya berputar kembali beberapa lingkaran di angkasa, darah tak bisa dibendung lagi dan muntah dari mulutnya membentuk garis lingkaran di atas tanah.
Perubahan ini terjadi sangat mendadak sekali membuat semua orang berdiri tertegun, Jin Hian bagaimanapun merupakan seorang ketua suatu perkumpulan yang tangguh, melihat kejadian itu ia segera tinggalkan Tio Sam-koh dan dengan cepat menyongsong tubuh nenek buta serta memayang badannya sehingga tidak sampai roboh ke atas tanah.
Saat ini isi perut nenek buta sudah terluka parah, kepalanya terkulai dan mukanya pucat pias bagaikan mayat, tapi pikirannya masih sadar sebali, tangannya segera memberi tanda kepada Jin Hian agar mereka segera tinggalkan tempat itu.
Ketua dari perkumpulan Hong Im hwee ini dengan cepat ulapkan tangannya, Cu Goan-khek sekalian memburu maju ke depan, satu dikiri yang lain dikanan dengan cepat melayang tubuh nenek buta dan segera tinggalkan tempat kejadian.
Dalam Waktu singkat, Semua jago dari perkumpulan Hong-im-hwie telah berlalu semua dari sana, bahkan mayat dari salah seorang pengawal pribadi golok emas yang terkapar ditanahpun mereka bawa kabur.
Sang surya condong disebelah barat, senja pun menjelang tiba....
ketika Hoa Thian-hong berpaling sekeliling tempat itu ia temukan bukit yang terjal bersusun menjulang ke angkasa, sekarang dia baru sadar bahwa mereka berada dibalik lingkaran bukit.
Beberapa waktu kemudian ia menggeleng dan berbisik kepada Hoa In yang masih duduk bersila di atas tanah.
"Ibu ada disini!"
Setelah itu dia lari masuk ke dalam gua. Setibanya disisi Hoa Hujien, ia ikut duduk bersila di sampingnya sambil berkala dangan jengah.
"Ibu, nenek buta itu berhasil kabur.... Hoa Hujien tetap membungkam, beberapa-waktu kemudian dia baru buka matanya dan tarik napas tiga kali, setelah itu berkata.
"Perempuan tua itu gemar sekali membunuh manusia dia harus secepatnya dilenyapkan dari permukaan bumi, karena pertama dia adalah salah seorang musuh besar pembunuh ayahmu, kedua bulan tujuh tanggal lima belas sebentar lagi akan tiba, musuh berkekuatan besar sedang kekuatan dipihak kita lemah sekali, daripada lebih banyak se orang toh lebih baik kita kurangi seorang musuh yang harus dihadapi. Memang benar tindakanmu membokong dikala orang sedang tidak siap merupakan perbuatan yang kurang cemerlang, tapi justru karena perbuatan mu itulah jiwa seorang pendekar dari kalangan lurus berhasil kau selamatkan, sekalipun tidak cemerlang toh tindakanmu bukan tindakan yang terkutuk. Lain kali kalau bekerja engkau harus tegas dan cepat ambil tindakan, sebagai seorang lelaki sejati jangan sangsi berpikir dan ambil keputusan, karena sedikit lambat saja keadaan akan segera berubah"
Dengan wajahb merah padam karena jengah, Hoa Thian-hong mengangguk tiada hentinya, ia berkata.
"Luka dalam yang ia derita tidak ringan, mungkin bulan tujuh tanggal lima belas nanti dia masih belum mampu untuk turun tangan"
"Bagaimana dengan keadaan lukämu sendiri? tempo hari aku dengar tindak tandukmu masih rada mendingan, kenapa sekarang jadi begitu tak becus....?"
"Luka didadaku adalah hadiah dari seorang toojin perkumpulan Thong-thian-kauw, sebenarnya tidak mengapa tapi terhubung setiap tengah hari racun teratai dalam tubuhku pasti kambuh maka mulut luka ini mungkin sukar untuk merapat kembali"
Setelah berhenti sebentar, sambil tertawa sambungnya kembali.
"Dua hari belakangan ini aku selalu tertimpa sial dan malang terus menerus, setelah ananda pikir.... andaikata keadaan berlangsung begitu terus maka lama kelamaan titik kelemahanku bakal ketahuan semua"
"Yang dibutuhkan seorang lelaki sejati adalah keselamatan jiwa, sekalipun kepandaian tak becus asal tidak kehilangan jiwa jantan nya itu sudah lebih dari cukup"
"Perkataan ibu memang benar, anandapun sudah menemukan banyak penyakit pada diriku"
Hoa Hujien mengangguk, sambil melirik sekejap ke arah kotak kumala yang berada di atas tanah, ujarnya kembali.
"Aku mengetahui dengan jelas sifat-sifat dari racun teratai tersebut, sebenarnya racun itu tak dapat diobati dengan obat mujarab apa pun, tapi lain halnya dengan Leng-ci berusia seribu tahun ini, aku rasa lebih baik cepatlah kau makan obat mujarab itu!"
"Apakah luka dalam yang ibu derita sudah sembuh?"
"Aku sama sekali tidak membutuhkan Leng-ci berusia seribu tahun ini"
"Luka dalam yang ibu derita belum tentu sudah sembuh seratus persen,"
Pikir Hoa Thian-hong di dalam hati.
"apalagi obat mujarab ini sudah didapat, lebih baik aku simpan saja lebih dahulu"
Berpikir demikian, iapun berkata.
"Leng-ci berusia seribu tahun adalah obat yang bisa membangkitkan kembali mereka yang hampir mati, sekarang ananda be lum terancam jiwanya, untuk sementata lebih baik disimpan dulu, siapa tahu dalam pertarungan yang menentukan antara mati dan hidup, ada orang-orang kita yang terluka parah dan membutuhkan benda ini untuk menyelamatkan jiwanya"
Perkataan ini benar dan menitik besarkan kepentingan umum, Hoa Hujien sebagai seorang pendekar wanita tentu saja tak dapat memaksa lebih jauh, sekalipun dalam hati kecilnya ia merasa sedih.
Suasana hening untuK beberapa saat lamanya, tibatiba Hoa Hujien berkata kembali.
"Sam-koh bilang engkau cabul dan romantis sekali, engkau suka mengganggu dan menggaet perempuan orang lain, benarkah perkataan ini?"
Merah jengah selembar wajah Hoa Thian-hong, sambil tertawa dia bertanya.
"Yang disebut Sam-koh apakah Tio Lothay?"
"Aku menghormati dia sebagai seorang angkatan yang lebih tua, engkau harus panggil Sam poo (nenek ketiga) kepadanya"
Hoa Thian-hong mengangguk, lalu menggeleng pula, ujarnya.
"Ananda tidak pernah menggaet atau mempermainkan perempuan, Sam poo yang sengaja mempermainkan diriku"
"Hmmm! tiada angin tak akan ada ombak berapa banyak perempuan yang kau kenali selama ini?"
"Chin Wan-hong, Pek Kun-gie, Giok Teng Hujin, Pek Soh-gie, Biau-nia Sam-sian serta...."
Ketajaman Hoa Hujien melebihi puteranya, kalau pemuda itu tak dapat melihat jelas wajah ibunya maka Hoa Hujien dapat melihat jelas gerak bibirnya itu. Dengan alis berkerut ia segera menegur.
"Engkau turun gunung belum lama, kenapa jumlah perempuan yang kau kenal begitu banyak sehingga tak terhitung?"
Hoa Thian-hong tertegun, dengan kikuk sahutnya.
"Di wilayah Biau terdapat seorang jago yang bernama Kiu toksian-cui, dia mempunyai tiga belas orang murid dan ananda kenal semua...."
"Apa-apaan kau ini?"
Seru Hoa Hujien ambil geleng kepala, sekarang mumpung aku masih dapat bercakapcakap, coba kau katakanlah pengalamanmu selama dua tahun belakangan ini...."
Hoa Thian-hong mengangguk, tiba-tiba ia lihat sepasang telapak ibunya menekan terus di atas tanahnya dan tak pernah diangkat kembali, hal ini membuat hatinya tercengang dan tidak habis mengerti, tanyanya.
"Ibu,kenapa sepasang telapakmu menekan terus di atas tanah? Apakah engkau sedang melatih suatu ilmu?"
"Di atas tanah terdapat sebuah lobang dan lubang itu menembus sampai dasar tanah, dari dalam bumi mengumpul keluar asap beracun yang amat dahsyat, asal telapak ku diangkat maka gua ini segera akan tertutup oleh hawa racun!"
"Kepandaian apa sih yang sedang ibu latih?"
Tanya Hoa Thian-hong keheranan.
"Aku sedang melatih sejenis ilmu yang bernama Hek sat ciang, pada saat ini aku harus menggunakan kekuatan telapakku untuk menyumbat lubang gua agar hawa racun dari dasar tanah tak dapat mengepul keluar, di samping itu beberapa jam kemudian akupun harus mengerahkan tenaga dalam untuk memaksa hawa racun tersebut memancar keluar lewat lubang gua yang ada disebelah depan sana.
"Berapa lama yang dibutuhkan untuk melatih kepandaian ini? Masa ibu harus duduk terus dan selamanya tak boleh bangkit berdiri?"
"Bangun sih tak bisa, tetapi dengan telapak sebelahpun aku masih bisa berlatih ilmu "
Bagaimana dengan makan dan minum? Berapa lama ibu harus berlatih lagi disini?"
"Makan minumku disiapkan oleh Tio Sam-koh sehingga di tempat ini aku tak perlu kuatir kelaparan ataupun kehausan, paling sedikit aku harus berlatih empat lima hari lagi baru bisa dianggap kepandaianku berhasil"
"Ibu sudah hampir setengah tahun lamanya turun gunung apakah selama ini engkau berlatih ilmu terus di tempat ini?"
Hoa Hujien tersenyum.
"Boleh dibilang begitulah"
Setelah berhenti sebentar, sambil tertawa tambahnya.
"Nah, sekarang engkau boleh berbicara!"
Pengalaman yang didapat Hoa Thian-hong selama dua tahun ini boleh dibilang rumit sekali, dari seorang pemuda yang sama sekali tak berpengalaman berubah jadi seorang jago lihay yang menjadi incaran orang banyak, seluruh pengalamannya tak dapat diucapkan hanya sepatah dua patah kata belaka, tanpa terasa ia menghela napas panjang.
Dari gua yang sunyipun segera terdengar suara pembicaraannya seorang, sejak bertarung dengan Kok See-piauw di kota Keng ciu sampai mendapat penghinaan dari Pek Kun-gie, belajar silat dari kakek telaga dingin, menerima Tiong-sisam hau, mencuri teratai di perkampungan Liok Soat Sanceng, menyaksikan pembunuhan atas diri Jin Bong, menelan racun ditepi sungai Huang-ho, mendapat pertolongan di tebing Biau-nia, lari racun di kota Cha ciu, sampai terlibat dalam pertikaian tiga besar dan Pek Siau-thian mengajukan pinangan....
Semua pengalamannya diutarakan dengan cermat dan tak ada yang ketinggalan termasuK pula pengalamannya di kuil It-goan-koan serta hadiah Leng-ci berusia seribu tahun dari Giok Teng Hujin.
Menanti ia menyelesaikan ceritanya, entah berapa lama sudah dihabiskan tanpa terasa.
Tiba-tiba terdengar Tio Sam-koh menimbrung dari samping.
"Oooh....! Kiranya dayang itu adalah puterinya pedang sakti yang menggetarkan daratan Tionggoan, Siang Tang Lay, kalau begitu tujuannya menyusup ke tubuh perkumpulan Thong-thian-kauw adalah ingin membalaskan bagi ayahnya"
"Sam poo, sejak kapan kau masuk kedalam? Kenapa aku sama sekali tidak merasa?"
Seru Hoa Thian-hong tercengang. Diam-diam Tio Sam-koh menyeka air mata yang membasahi pipinya, kemudian menjawab.
"Budak sialan, sebenarnya hubunganmu dengan yang mana yang boleh dibilang paling akrab?"
"Hubungan apa?"
"Kurang ajar! engkau tak usah berlagak pilon!"
Bentak Tio Sam-koh dengan gusar.
"Apakah engkau ada maksud mempunyai tiga orang bini empat orang selir?"
Tiba-tiba Hoa Hujien menghela napas panjang.
"Aaaai.... nona she Siang itu adalah seorang gadis yang berwatak terbuka, sedang Seng ji sama sekali tidak mengindahkan adat istiadat, setelah ia mendapat budi dari orang, rasanya persoalan ini sulit untuk diselesaikan...."
Katanya. 000000000 IBU, harap perkataanmu itu dijelaskan lebih jauh, ananda kurang begitu mengerti,"
Kata Hoa Thian-hong.
"Engkau bukannya tidak mengerti, hanya jalan pikiranmu keliru. Bukankah menurut pandanganmu nona Siang adalah seorang gadis yang liar dan cinta kasihnya belum tentu bersungguh-sungguh hati?"
Hoa Thian-hong mengangguk.
"Ananda lihat orang itu tidak serius dan bukan tipe orang yang akan sengsara oleh putus cinta, maka akupun malas untuk menguatirkan persoalan tersebut"
"Padahal bukan begitu kenyataannya, justeru karena nona ini pandai membawa diri maka hal ini menunjukkah bahwa sebenarnya cinta kasihnya adalah bersungguhsungguh dan sangat berkobar dalam hatinya"
Tertegun hati Hoa Thian-hong mendengar ucapan itu, gumamnya.
"Waaah....! Kalau memang begitu, dugaanku sama sekali meleset...."
Setelah berhenti sebentar, ia menambahkan.
"Thian Ik-cu pernah mengatakan bahwa anda bukan seorang manusia yang terlalu mengingat akan dendam, apakah akupun tidak terlalu mengingat tentang cinta?"
Hoa Hujien tersenyum.
"Bukan.... bukan begitu artinya, Buddha pernah nasehati umat manusia untuk berbuat kebaikan dan welas asih terhadap orang lain, itu artinya janganlah terlalu mengingat tentang soal dendam. Tetapi toh tak ada orang yang menganjurkan orang untuk lupa budi dan tidak mengingat tentang cinta....
"Telur busuk cilik!"
Terdengar Tio Sam-koh berseru.
"kalau ingin membenci maka rasa bencinya harus meresap sampai dihati, dengan begitu dendam sakit hati baru dapat dibalas, kalau mau, maka harus cinta yang sungguh-sungguh dan tulus hati, dengan begitu cinta itu baru akan terwujud menjadi kebahagiaan, Chin Wanhong adalah seorang nona baik yang tak ada cacadnya lagi, diantara kedua orang ini sebenarnya kau hendak memilih yang mana?"
Hoa Thian-hong tertawa getir, sahutnya.
"Ibu, seandainya engkau akan mencarikan bini untukku, maka yang mana akan kau pilih?"
"Kedua duanya tak akan kupilih!"
Jawab Hoa Hujien setelah termenung sebentar. Mendengar jawaban tersebut, Hoa Thian-hong jadi amat terperanjat dan buru-buru berseru.
"Hong ji pernah melepaskan budi pertolongan kepada ananda, dia jujur sekali...."
Mendadak pemuda itu merasa ia telah salah bicara, dengan muka merah jengah karena malu, buru-buru ia tutup mulut kembali.
"Haaah.... haaa.... haaa.... bagus, bagus sekali!"
Seru Tio Sam-koh sambil tertawa tergelak, akhirnya monyet cilik mengaku juga rupanya kau lebih suka terhadap Hong ji!"
Hoa Thian-hong tertawa kikuk.
"Aku.... aku cuma merasa bahwa seorang manusia sudah sepantasnya kalau menyukai orang yang dikenalnya paling dulu"
"Benar!"
Seru Tio Sam-koh kembali sambil bertepuk tangan.
"siapa datang lebih dahulu dia adalah raja, siapa datang belakangan dia adalah patih. Menyukai yang baru bosan terhadap yang lama adalah penyakit paling parah bagi umat manusia"
Tiba-tiba dari luar gua berkumandang datang suara seruan dari Hoa In.
"Lapor Cu bo, makanan dan minuman sudah disiapkan, apakah Siau Koan-jin sudah lapar?"
"Aaai....! Selama ini engkau tentu sudah cukup sengsara, mulai hari ini urusan tetek bengek tak usah kau urusi lagi!"
Tidak menanti perintah dari ibunya, Hoa Thian-hong telah lari keluar dari gua, kemudian sambil membawa sekeranjang makanan dan minuman serta sebungkus pakaian dia muncul kembali didalam.
"Hoa In!"
Kembali Hoa Hujien berkata.
"engkau jangan terlalu jauh tinggalkan mulut gua, tempat ini sudah diketahui musuh dan mungkin kesulitan lain akan segera menyusul datang"
"Hamba mengerti!"
Hoa Thian-hong menyiapkan makanan di atas tanah, kemudian ujarnya.
"Ibu, engkau akan bersantap sendiri atau ananda yang menyuapi dirimu....?"
"Aku dapat menggunakan sebuah tanganku untuk bersantap, lebih baik aku turun tangan sendiri!"
Persiapan yang dilakukan Hoa In benar-benar komplit sekali, bukan saja ada nasi ada sayur bahkan disiapkan pula sepoci arak wa ngi.
Tapi berhubung Hoa Hujien Sedang berlatih ilmu, sedang Hoa Thian-hong sedang terluka maka hanya Tio Sam-koh seorang yang meneguk arak.
Hoa Hujien yang sudah lama berpisah dengan putranya ingin sekali cepat dapat berbicara lagi, maka santapan itu dilakukan dengan cepat dan terburu-buru....
Setelah menangsal perut dengar, muka yang ditebalkan Hoa Thian-hong berkata kembali.
"Ibu, kenapa engkau tidak setuju dengan nona Siang yang tak suka pada Hong ji?"
Hoa Hujien tertawa.
"Persoalan di dalam dunia persilatan toh belum selesai, apakah engkau sudah lupa dengan pesan ibu sebelum engkau turun gunung?"
"Ananda tak berani melupakannya, sekarang memang saatnya bagi kita untuk menyapu kaum iblis dari muka bumi, memang tidak sepantasnya kalau sekarang kita bicarakan soal perkawinan"
Setelah berhenti sebentar, ia berkata kembali.
"Ananda cuma bermain-main saja, toh racun teratai masih mengeram di dalam tubuhku, aku memang tak dapat mempunyai bini!"
Hoa Hujien menghela napas panjang.
"Aaaai.... di dalam pertemuan besar Kian siau Tay hwee yang akan diselenggarakan pada bulan tujuh tanggal enam belas nanti, andaikata pihak Sin-kie-pang, Heng Im Hwe serta Thong-thian-kauw bekerja sama untuk kedua kalinya, maka pihak kita tak akan mampu meenahan serangan-serangan gabungan dari mereka, untuk menghindarkan diri dari bencana kematianpun masih merupakan suatu tanda tanya besar, apalagi untukmembicarakan tentang soal lain...."
"Engkau tak boleh putus asa lebih dahulu, kalau tidak demikian lebih baik kita semua tak usah menghadiri pertemuan digunung Thian bok san lagi,"
Sela Tio Samkoh. Hoa Hujien tersenyum.
"Sudah tahu kalau tak dapat dilakukan tapi dilakukan juga, tak bisa dibilang kita putus asa atau tidak.... Tio Sam-koh membungkam dalam seribu bahasa.... tiba-tiba ia tertawa dan berkata kembali.
"Aku rasa bagaimana kalau engkau bersedia mengorbankan diri? Andaikata Seng ji kita kawinkan dengan Pek Kun-gie sehingga keluarga Hoa berbesan dengan keluarga Pek, aku rasa posisi yang kita hadapi dalam pertemuan besar ini tentu akan berubah, sebab pihak Sin-kie-pang tak mungkin akan memusuhi keluarga menantunya sendiri!"
Mendengar perkataan itu Hoa Hujien segera tersenyum.
"Benar-benar membingungkan!"
Serunya, Pek Siauthian berbuat demikian toh karena ia pertimbangkan Seng ji akan membantu pihaknya, engkau anggap dia bersungguh-sungguh akan mengawinkan puterinya?"
Sambil berpaling ke arah Hoa Thian-hong, ia menambahkan.
"Diantara sepuluh orang perempuan ada sembilan orang adalah bodoh, mengingat Pek Kun-gie adalah seorang gadis perawan maka kita harus menggunakan kebesaran jiwa kita sebagai keluarga Hoa untuk tidak mempersoalkan dendam atau permusuhan pribadi lagi, tetapi engkaupun tak usah berhubungan terlalu dekat lagi dengan dirinya, dari pada tenagamu dipakai orang untuk maksud-maksud pribadi"
Hoa Thian-hong mengangguk.
"Sejak dahulu aku memang selalu berusaha untuk menghindarkan diri dari dirinya,"
Ia menyahut.
"Sekalipun dengan Pek Soh Gi, engkaupun harus bersikap sama. Sebab kalaupun dia adalah seorang gadis yang berbudi luhur dan ibunya patut kita hormati, namun terlalu rapat berhubungan dengan mereka tetap tidak menguntungkan bagi kita semua, oleh karena itu lebih baik kita jangan berhubungan terlalu dekat"
"tentang persoalan ini, ananda sudah mengetahui jelas, bila kami bertemu lagi dilain waktu, aku pasti dapat menyadari keadaan diriku dan tidak bertindak secara gegabah lagi...."
Hoa Hujien mengangguk "Malam segera akan tiba dan aku harus berlatih ilmuku kembali, sebelum pertempuran sengit berlangsung, lebih baik engkaupun pergi beristirahat lebih dahulu"
Hoa Thian-hong mengiakan berulang kali, lewat beberapa saat kemudian Hoa Hujien serta Tio Sam-koh telah pejamkan mata duduk bersemedi, Hoa Thian-hong segera mengambil pakaian yang dibeli oleh Hoa In dan tukar pakaian di sudut gua, kemudian kembali lagi kesisi ibunya dan duduk bersemedi disitu.
Ketika kentongan keempat, kelima menjelang datang, mendadak di dalam gua berkumandang datang suara bisikan Hoa In yang amat lirih.
"Lapor Cu bo, ada jago lihay mendekati tempat ini, maksud kedatangannya belum diketahui!"
Tio Sam-koh membuka matanya, melihat Hoa Hujien sedang bersemedi mencapai puncak yang paling penting, buru-buru dengan ilmu menyampaikan suara ia memerintahkan.
"Sembunyi lebih dahulu, bila keadaan tidak terlalu paksa, jangan munculkan diri!"
Baru saja perkataan itu selesai diucapkan, dari luar gua tiba-tiba berkumandang datang suara gelak tertawa yang amat nyaring. Mendengar gelak tertawa itu Hoa Thian-hong tertegun, lalu bisiknya.
"Ooooooh....! rupanya yang datang adalah Ciu It-bong!"
Terdengar Ciu It-bong setelah tertawa tergelak beberapa saat lamanya, tiba-tiba berkata.
"Pek Soh Gi, kenalkah engkau dengan diriku?"
Beberapa saat kemudian, dari luar gua berkumandang suara sahutan dari Pek Soh Gi.
"Siapakah locianpwee? Siautit baru pertama kali melakukan perjalanan di tempat luaran sehingga tak ada jago lihay yang kukenal, harap locianpwee memaafkan"
"Haaah.... haaah....! haaaah.... aku adalah Ciu Itbong!"
"Ooh! Kiranya Ciu locianpwee, aku mengunjuk hormat bagimu!"
"Tak usah memberi hormat....! tak usah memberi hormat aku mencari engkau datang kemari, tujuannya bukan lain adalah ingin membinasakan dirimu, apa gunanya engkau memberi hormat kepadaku?"
Rupanya Pek Soh-gie dibikin tertegun oleh perkataan itu, lewat beberapa saat kemudian ia baru berkata.
"Thong-thian-kauweu memang bermaksud membinasakan diriku, apa sebab locianpwee bersusah payah membawa aku datang kemari? toh kalau aku tetap ditinggal di sana akhirnya jiwakupun akan melayang?"
Secara diam-diam Hoa Hujien pun mengikuti jalannya pembicaraan itu, hatinya jadi kagum selelah didengarnya nada suara Pek Soh Gi tetap tenang seperti sedia kala walaupun membicarakan tentang keselamatan jiwanya, tanpa terasa ia berpikir.
"Pek Soh Gi benar-benar seorang nona yang suci polos dan jujur.....ia mengagumkan"
Terdengar Ciu It-bong berkata kembali.
"Hidung kerbau tua itu belum tentu membunuh diriku, tetapi aku sudah memastikan diri untuk mencabut nyawamu, sekarang kau mengerti bukan?"
"Kalau memang hendak bunuh aku, sewaktu masih ada di dalam kuil bukankah engkau dapat mengirim satu pukulan ke tubuhku? Kenapa musti membawa aku datang kemari?"
"Haaah.... haaah.... haaah.... setelah membunuh orang dan mayatnya tidak dimusnahkan maka dari luka yang tertera di atas jenazah orang akan tahu siapakah pembunuhnya, mengertikah kau?"
Seru Ciu It-bong sambil tertawa terbahak-bahak.
"sekarang aku akan turun tangan, karena aku harus cepat pergi dari sini!"
"Jadi lociampwee hendak melenyapkan mayat untuk menghilangkan jejak....?"
Tanya Pek Soh-gie kembali.
"Tentu saja, dengan demikian maka bapakmu pasti akan minta orang dengan para tosu hidung kerbau itu dan satu pertarungan tentu tak akan terhindar, dalam keadaan demikian asal aku tambahi dengan satu dua pukulan maka urusan akan berubah semakin besar. Mengertikah kau?"
"Aku mengerti"
"Kalau mengerti itu lebih baik lagi, Nah sekarang aku akan turun tangan!"
Tiba-tiba terdengar Pek Soh Gi berseru kembali.
"Locianpwce, mengapa tidak kau gunakan telapakmu melainkan malah mencengkeram tubuhmu? Apa yang hendak kau lakukan?"
"Tiba-tiba aku melihat bahwa di dalam gua terdapat sebuah liang besar yang dalamnya tak terlihat dasarnya, sepanjang tahun dari dalam liang tersebut mengepul keluar hawa beracun yang menyebar kelangit-langit gua dan menyusup keempat penjuru, jika kubuang tu buhmu ke dalam liang tersebut maka sekalipun bapakmu membalik seluruh jagadpun tak nanti akan temukan mayatmu lagi!"
Hoa Thian-hong merasakan badannya jadi merinding dan bulu kuduknya pada bangun berdiri setelah mendengar perkataan itu, pikirnya.
"Benar-benar keji pikiran orang ini, rupanya rasa benci Ciu It-bong terhadap Pek Siau-thian telah merasuk ketulang sumsum!"
Sementara itu Pek Soh-gie telah menjawab.
"Aku sudah mengerti, silahkan locianpwee melemparkan tubuhku ke dalam liang tersebut!"
"Baik!"
Bentak Ciu It-bong, tiba-tiba ia bertanya lagi.
"Apakah engkau tak punya inginan untuk melanjutkan hidupmu?"
"Kedatanganku kedunia toh bukan saja permintaan dari diriku sendiri, kenapa sewaktu mati harus ajukan permohonan?"
Rupanya Ciu It-bong dibikin tertegun oleh ucapan tersebut, sesudah hening sesaat ia baru berkata lagi, Caramu berpikir benar-benar aneh dan istimewa sekali, tahukah engkau apa sebabnya aku hendak membunuh dirimu?
dan tahukah kau permusuhan apakah yang terkait antara aku dengan ayahmu?"
"Sudah belasan tahun lamanya aku tinggalkan bukit Ton pa san, dan sudah puluhan tahun lamanya belum pernah kutemui ayahku, sudah tentu persoalannya tak ada yang kuketahui"
"Kalau begitu aku akan memberitahukan kepadamu!"
Teriak Ciu It-bong dengan suara keras.
"Bapakmu hendak mendapatkan sebuah barang mustika milikku, dengan segala daya-upaya ia menipu diriku, sehingga akhirnya aku dijebak di dalam sebuah telaga yang sangat dingin, setiap hari kedinginan terhembus angin, basah kuyup tertimpa air hujan. Selama sebelas tahun aku harus hidup bagaikan binatang, akhirnya aku berhasil mendapatkan sebilah pedang baja dengan senjata itulah aku kutungi le-ngan kananku sendiri dan berhasil meloloskan diri dari kepungan, coba katakan pantaskah aku membalas dendam....?"
"Sudah sepantasnya kalau locianpwee melakukan pembalasan!"
Jawab Pek Soh Gi dengan suara serak.
"Engkau adalah korban yang harus menebus dosadosa itu!"
Teriak Ciu It-bong dengan suara keras.
"bila engkau penasaran maka tuntutlah kepada bapakmu sendiri"
"Aku sama sekali penasaran, ibuku selalu berharap bisa mengorbankan diri untuk meringankan dosa yang pernah dilakukan ayah ku, akupun bersedia menebus dosa-dosa yang pernah dilakukan ayahku"
"Aaaai....!"
Diam-diam Hoa Thian-hong menghela napas panjang dalam hati kecilnya berbuat kejahatan di kolong langit hanya akan mendatangkan bencana bagi anak keturunannya....
gadis itu benar-benar patut dikasihani!"
Tiba-tiba terdengar Ciu It-bong menengadah dan tertawa keras, lalu berteriak.
"Pek loji, lihatlah aku akan melemparkan putrimu ke dalam neraka!"
Jetitan itu tinggi melengking bagaikan teriakan setan, membuat Hoa Thian-hong bergidik dan ngeri sekali, gumamnya di dalam hati.
"Kenapa sih dengan Hoa In? Kenapa ia tidak turun tangan menolong jiwa gadis itu?"
Baru saja ingatan tersebut berkelebat lewat dalam benaknya, terdengar kembali seseorang membentak nyaring.
"Setan tua yang tak tahu malu, cepat lepaskan gadis itu!"
Tertegun hati Hoa Thian-hong mendengar suara itu, pikirnya di dalam hati.
"Siapakah orang ini? Kenapa suaranya begitu kukenal?"
Sementara itu Ciu It-bong telah tertawa keras dengan nada yang sangat aneh.
"Ha ha ha ha ha.... bocah cilik, siapa namamu?"
"Siau yamu she Bong bernama Pay, apa yang hendak kau lakukan?"
Begitu mengetahui bahwa orang itu adalah Bong Pay, Hoa Thian-hong jadi amat terperanjat sehingga loncat bangun dari atas tanah kemudian menerjang keluar dari gua.
Tetapi sewaktu ia mencapai diluar liang dalam yang mengepulkan asap hitam itu, tiba-tiba Hoa In unjukkan diri dari samping dan menarik lengannya.
Sementara itu Ciu It-bong sudah berseru kembali sambil tertawa seram, Bangsat cilik yang tak tahu diri, apakah engkau berasal dari perkumpulan Sin-kie-pang?"
"Hmm! Bong Pay mendengus gusar, Siau ya mu suci bersih, dari mana kau bisa mencium bau bajingan di atas tubuhku?"
"Eeei.... kalau begitu sungguh aneh sekali, kau si bajingan cilik toh sudah sedari tadi bersembunyi di dalam gua, sepantasnya engkau tahu apa sebabnya aku hendak membinasakan puteri Pek Siau-thian, kenapa? Apakah aku tidak pantas membalas dendam?"
"Membalas dendam sih harus membalas, cuma sayang caramu membalas dendam benar-benar amat rendah dan memalukan. Seseorang berani berbuat berani tangung jawab kalau punya kepandaian kenapa tidak langsung mencari Pek Siau-thian untuk bikin perhitungan? Menganiaya kaum gadis yang lemah...."
"Huuu! Siau ya merasa paling muak melihat perbuatan semacam ini"
Ciu It-bong kembali tertawa seram.
"Setan cilik, sampai di mana sih kemampuan yang kau miliki? perduli amat dengan urusanku, siapa suruh engkau turut campur? Rupanya kau sudah bosan hidup dan pingin modar?"
Sementara pembicaraan masih berlangsung, tiba-tiba ia mendengar Bong Pay mendengus berat.
Hoa Thian-hong tahu bahwa Ciu It-bong adalah seorang manusia yang berhati ganas dan keji, ia takut jiwa Bong Pay terancam ditangannya, mendengar dengusan berat itu dia segera menjejakkan kakinya di atas tanah siap menerjang ke depan.
Tapi lengannya kembali tergenggam orang kali ini yang mencekal lengannya adalah Hoa In serta Tio Samkoh.
Tiba-tiba terdengar Pek Soh-gie berkata.
"Ciu Locianpwee, engkau toh seorang Bulim cianpwee yang punya nama besar dalam dunia persilatan, kenapa engkau layani seorang pemuda yang tak bernama?"
"Hmm! Siapa suruh dia berani mengganggu aku? Akan kusuruh dia rasakan sampai di manakah kelihayanku, perduli amat dia masih bayi, masih muda atau sudah tua bangkotan. Dengusan napas Bong Pay yang keras dan terengahengah kedengaran amat nyata, diikuti ia menggembor penuh kegusaran.
"Setan tua! Pek Siau-thian tak berani kau usik, Jin Hian tak berani kau ganggu, kecuali mencari gara-gara dengan kaum perempuan apapun tak berani kau lakukan.... Huuh! Manusia terkutuk macam apakah dirimu itu?"
"Bajingan yang tak tahu diri, aku lempar dirimu ke dalam neraka!"
"Locianpwee.... terdengar Pek Soh Gi menjerit dengan hati gelisah. Hoa Thian-hong sekalian bertiga mengetahui bahwa Ciu It-bong hendak melemparkan tubuh Bong Pay ke dalam liang berhawa racun, mereka jadi tegang dan gelisah sekali, perhatiannya segera dipusatkan diluar dan semua orang bersiap-siap melakukan perto longan. Mendadak dari luar gua berkumandang kembali suara seseorang yang tinggi, lengking dan serak sekali.
"Ciu tua, jangan lemparkan kedalam.... lemparkan saja kemari, kami membutuhkan bocah itu!"
Mendengar seruan tersebut Hoa Thian-hong kembali berdiri tertegun, pikirnya"
"Sungguh aneh, kenapa bari ini di tempat yang terpencil dan gersang seperti ini secara beruntun telah kedatangan banyak orang"
"Bagus sekali!"
Terdengar Ciu It-bong berteriak sambil tertawa tergelak."
Rupanya Liong bun siang satpun sudah ikut datang kemari, ada apa? Mau laki mau perempuan semuanya tersedia, kalau kalian butuh silahkan datang sendiri kemari!"
Suara yang tinggi melengking dan serak tadi kembali berkata sambit tertawa keras.
"Ciu tua, tabiatmu yang dulu ternyata sampai sekarang belum berubah juga, rupanya ilmu silatmu sudah bertambah maju dan pen deritaan belum cukup kau rasakan"
"Hmm! ilmu silat sih masih seperti sediakala, cuma.... aku memang ingin mencicipi penderitaan lagi!"
Suara ujung baju tersampok angin bergema memecahkan kesunyian disusul desiran angin pukulan meledak di angkasa....
Dengan andalkan ketajaman pendengarannya, Hoa Thian-hong dapat membedakan desiran angin manakah yang merupakan serangan dari Ciu It-bong, bahkan diapun tahu gerakan manakah dari jurus Kun-siu-ci-tauw yang sedang dipergunakan olehnya, timbul keinginan di dalam hati pemuda itu untuk mengintip keluar.
Ketika orang itu hanya bertarung beberapa jurus saja untuk kemudian saling menarik kembali serangannya.
Tiba-tiba terdengar Ciu It-bong tertawa dingin dan berkata.
"Aku mengira kepandaian silat yang dimiliki dua bersaudara dari keluarga Sim sudah mendapat kemajuan pesat.... Hmmm! tak tahunya cuma begitu saja.... sungguh mengecewakan"
Sang loo-toa, Sim Kian tertawa seram.
"Heeehh.... heeehh.... heehh.... sedari dulu kami dua bersaudara she Sim memang begini-begini saja, tentu saja jauh berbeda dengan Ciu heng, meskipun lengan tinggal satu tapi masih bisa malang melintang dalam dunia persilatan tanpa seorangpun bisa menandinginya"
Ciu It-bong jadi teramat gusar, ia dapat menangkap maksud rangkap dari ucapan tersebut, sindiran yang tajam tadi dengan cepat mengobarkan nafsu ganasnya. Ia tertawa seram dan segera berteriak.
"Sim Loo-toa, pertemuan besar Kian ciau tay hwee yang akan diselenggarakan pihak perkumpulan Thong-thian-kauw akan dilang sungkan tujuh hari kemudian.... kalian berdua bukannya memperdalam latihanmu sebaliknya di tengah malam buta datang kemari, apa yang hendak kalian lakukan?"
Sembari berkata hawa murninya diam-diam di himpun ke dalam telapak kiri dan siap melancarkan serangan. Sim Kiam menengadah dan tertawa terbahak-bahak.
"Haaah.... haaah.... aku dengar di dalam gua sini ada tersembunyi seorang jago yang amat lihay, kami berdua merasa tidak puas dan sengaja datang kemari untuk minta petunjuk"
Mula-mula Ciu It-bong tertegun kemudian tertawa keras.
"Kalian.... berdua belum bisa terhitung sebagai seorang jago lihay.... haaaah.... haaaah.... kalau dibilang ingin mohon petunjuk, lebih baik tak usah saja"
Sim Kian tertawa terbahak-bahak.
"Haaa.... haaah.... Ciu heng terlalu memandang rendah kami.... bagaimana? Kami hendak minta kembali dua orang bocah itu, apakah engkau bersedia berikan kepadaku?"
"Kalian minta yang hidup ataukah yang mati?"
Tabiat Liong bun siang sat sungguh sabar, bukan gusar mereka malah tertawa.
"Kalau mati apa gunanya? tentu saja kami butuh yang hidup"
"Kalau tidak kuberi?"
"Kalau memang begitu, kami dua bersaudara terpaksa harus minta kepada Ciu heng secara kekerasan!"
"Coba saja kalau mampu!"
Blaaam....!
ledakan dahsyat bergeletar di udara, rupanya kedua belah pihak telah saling beradu tenaga satu kali.
Setelah saling berpisah suasana di tengah kalangan berubah jadi hening dan sepi sekali,rupanya kedua belah pihak sedang mengatur pernapasan untuk mempersiapkan serangan berikutnya.
Pada saat itulah dari tempat kejauhan tiba-tiba berkumandang datang suara panggilan yang amat nyaring.
"Hoa kongcu.... Hoa sauya.... Hoa kongcu.... Agaknya orang itu sambil berlari sambil berteriak sehingga suaranya terpatah-patah. Mendengar suara itu berkumandang dari satu tempat tidak jauh dari tempat itu, Ciu It-bong serta Liong bun siang sat yang telah bersiap-siap melancarkan serangan kembali itu segera membatalkan niatnya. Hoa Thian-hong yang berada di dalam gua pun pasang telinga baik-baik, akhirnya ia kenali suara orang itu sebagai suara dari salah seoang dari tiga harimau keluarga Tiong yakni si Harimau bisu Tiong Long. Cepat sekati gerakan tubuh Tiong Long, talam waktu singkat ia telah tiba di depan mulut gua. Gua karang itu terletak di atas jembatan batu dan gampang sekali di temukan, tetapi berhubung suasana di dalam gua yang luar biasa gelapnya maka apa bila seseorang tidak memiliki ketajaman mata yang luarbiasa, sulit untuk melihat sesuatu di dalam gua itu. Sambil berdiri dimulut gua, Harimau bisu Tiong Long segera berteriak lantang.
"Adakah seseorang di dalam gua?"
"Siapakah saudara? tiba-tiba Bong Pay menegur, ada urusan apa mencari Hoa kongcu?"
Begitu mendengar Bong Pay bisa bicara, legalah hati Hoa Thian-hong, dia tahu kendatipun ia sudah terhajar oleh Ciu It-bong namun keselamatan jiwanya tidak sampat terancam, diam-diam ia menghembuskan napas panjang.
"Aku bernama Tiong Long, siapakah kau? terdengar harimau bisu menjawab.
"Aku adalah Bong Pay, dan merupakan sahabat karib dari Hoa kongcu"
"Oooh.... rupanya Bong ya, tolong tanya apakah Bong ya mengetahui tentang jejak dari Hoa kongcu?"
"Aku sendiripun sedang mencari Hoa kongcu...."
Jawab Bong Pay.
Karena ia memandang dari dalam ke arah luar maka apa yang terlihat jauh lebih jelas daripada Harimau bisu Tiong Long yang memandang dari arah luar ke arah dalam, maka sewaktu melihat orang itu hendak berjalan masuk ke dalam gua, buru-buru ia berseru.
"Gua ini berbau busuk sekali, Tiong heng tak usah masuk kedalam!"
Tiong Long tak tahu kalau ia sedang memaki Ciu Itbong sekalian, mendengar perkataan itu ia segera ikut mencium keras, ketika dirasakan gua itu memang berbau agak busuk, ia segera memberi hormat sambil berseru.
"Maaf kalau aku telah mengganggu Bong ya, aku harus pergi mencari jejak Hoa kongcu, maaf kalau tak bisa berdiam terlalu lama."
Habis berkata ia putar badan dan siap berlalu dari sana. Tiba-tiba Pek Soh-gie berkata.
"Saudara, aku tahu jejak dari Hoa kongcu!"
Mendengar perkataan itu Harimau bisu Tiong Long segera putar badan dan bertanya.
"Tolong tanya nona, sekarang Hoa kongcu berada di mana?"
"Hoa kongcu telah ditangkap oleh Thong-thian Kaucu , sekarang ia disegap di dalam penjara batu dalam kuil Itgoan-koan"
"Siapa yang mengatakannya kepadamu?"
Teriak Bong Pay.
"apakah engkau menyaksikan dengan mata kepala sendiri?"
Karena cemas dan gelisahnya kelima jari tangannya bagaikan kuku garuda mencengkeram lengan gadis itu kencang-kencang membuat Pek Soh Gi jadi kesakitan dan hampir saja mengucurkan air mata.
Ketika Harimau bisu Tiong Long tidak mendengar jawaban, dengan cepat serunya kembali.
"Nona, tentang berita tertangkapnya Hoa kongcu oleh Thong-thian Kaucu , kau berhasil mendengarnya dari seseorang? Ataukah menyaksikan dengan mata kepala sendiri?"
"Aku serta Hoa kongcu ditangkap bersama-sama, peristiwa ini terjadi pagi tadi, setelah berada di kuil Itgoan-koan aku disekap di dalam ruangan loteng sedangkan Hoa kongCukatanya dijeblos ke dalam penjara batu"
Harimau bisu Tiong Long jadi amat gelisah, setelah mengucapkan terima kasih, ia putar badan dan berlalu dari situ, tetapi sampai di tengah jalan ia berpaling kembali sambil bertanya.
"Bolehkah aku tahu siapakah nama nona?"
"Aku bernama Pek Soh-gie!"
"Dia adalah putri kesayangan dari Pek Siau-thian, pangcu perkumpulan Sin-kie-pang"
Sambung Bong Pay dengan cepat.
"Oooh....! Kalau begitu perkataannya tak bisa dipercaya,"
Guman Tiong Long dengan cepat.
Hoa Thian-hong yang saat ini sedang berada di dalam gua jadi geli sekali dibuatnya oleh tingkah laku orangorang itu, teringat betapa kasarnya Bong Pay, betapa polosnya Tiong Long serta betapa jujurnya Pek Soh-gie, ternyata setelah terlibat dalam pembicaraan sampaisampai tiga orang gembong iblis yang berada disisi merekapun dilupakan sama sekali.
Ingin sekali pemuda itu loncat keluar, apa daya keselamatan ibunya merupakan ancaman yang sangat berat baginya, maka ia tak berani bertindak secara gegabah.
Tiba-tiba terdengar Harimau bisu Tiong Long berseru lagi.
"Selamat tinggal saudara berdua, aku harus segera melaporkan kejadian ini kepada nona"
Ia putar badan dan lari dari situ.... Kembali!"
Bentak Ciu It-bong dengan suara keras. Ketika didengar di dalam gua masih ada orang lain, Harimau bisu Tiong Long kelihatan agak tercengang, lalu sambil berpaling segera tegurnya dengan lantang.
"Saipakah engkau?"
"Perduli amat siapakah aku, aku ingin tahu siapakah nona kalian?"
"Perduli amat siapakah nona kami?"
Ciu It-bong mendengus gusar, ingin sekali telapaknya melancarkan sebuah pukulan, tetapi ia merasa malu untuk berbuat demikian dihadapan umum karena tindakan tersebut akan menurunkan derajatnya, maka ia hanya berkata.
"Heehh.... heehh.... laporkan kepada nona kalian, suruh dia pergi mencari Thian Ik-cu untuk minta orang, akan kulihat apa yang akan dia berikan kepada kalian"
"Ada apa?"
"Hoa Thian-hong sudah tidak berada di kuil It-goankoan lagi, engkau suruh Thian Ik-cu memberikan apa kepadamu?"
"Hoa kongcu berada dimana?"
"Dia sudah modar!"
Teriak Ciu It-bong dengan keras.
"Kentut busuk!"
Teriak Tiong Long dengan cepat.
"Kentut busuk!"
Teriak Bong Pay pula dengan segera.
Ciu It-bong sangat murka, sorot matanya menyapu sekejap ke arah dua orang itu dengan tajam, akhirnya dia ambil keputusan untuk menghukum harimau bisu Tiong Long lebih dahulu.
Ilmu silat yang dimilikinya sangat lihay, lengannya digetarkan ke depan, tahu-tahu separuh badannya sudah muncul dari mulut gua, ia segera mencengkeram ke tubuh orang she Tiong itu.
Ketika Harimau bisu Tiong Long merasa ada seseorang melancarkan serangan ke arah tubuhnya, tanpa berpikir panjang lagi tangan kirinya segera berputar setengah lingkaran dan melancarkan sebuah pukulan dahsyat ke depan.
"Eeei...."
Ciu It-bong berseru tertahan, dengan cepat ia cengkeram urat nadi dipergelangan Tiong Long dan menyeretnya kehada pan tubuhnya, kemudian dengan suara keras tegurnya.
"Ayoh jawab, mengapa Hoa Thian-hong mewariskan ilmu pukulan ini kepadamu....?"
Harimau bisu Tiong Long merasa tulang pergelangannya sakit sekali seperti mau retak, keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya dan hawa murni sama sekali tak dapat dikerahkan kembali, siksaan seperti ini benar-benar luar biasa sekali.
Tetapi nenek moyang Tiong Long pada dasarnya adalah manusia-manusia berwatak keras kepala, semakin ganas siksa Ciu It-bong semakin nekad ia mempertahankan diri, sambil menggertak gigi tak sepatah katapun yang diucapkan olehnya.
Meminjam sorot cahaya yang lemah diluar gua, Bong Pay dapat menyaksikan semua kejadian itu dengan amat nyata, sebagai seorang pemuda berdarah panas yang paling benci dengan kejahatan, setelah menyaksikan harimau bisu terjatuh ke tangan Ciu It-bong, tanpa berpikir panjang lagi menerjang maju ke depan, sepasang telapaknya serentak didorong ke depan melancarkan sebuah serangan yang dahsyat.
Ciu It-bong sangat gusar, hardiknya.
"Bajingan rupanya engkau sudah bosan hidup!"
Dengan tubuh yang gemilang ia bersiap sedia menyambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras, ia bermaksud menghantam mati Bong Pay dalam serangan itu.
Terdengar Sim Kian Loe toa dari Liong bun siang sat berseru sambil tertawa keras.
"Bocah, engkau memang cerdik!"
Tubuhnya berkelebat ke depan, lengan kiri digetarkan dan segera melemparkan tubuh Bong ya keluar gua, telapak kanan diayun menghantam tubuh Orang she Ciu itu.
"Sim to ji, engkaupun harus diberi giliran!"
Bentak Ciu It-bong pula dengan suara keras, Setelah melepaskan Tiong Long, ia putar telapak melancarkan pula sebuah pukulan ke arah depan.
Bong Pay Serta harimau bisu Tiong Long secara beruntun terlempar dari mulut gua, mereka saling berpandangan tanpa mengucapkan sepatah katapun, rupanya kejadian yang berlangsung barusan telah membuat hati mereka jadi dingin separuh.
Beberapa saat kemudian Harimau bisu Tiong Long berkata.
"Bong ya, aku harus mohon pamit lebih tiahulu"
"Mari kita melakukan perjalanan bersama-sama, mencari jejak Hoa kongcu adalah urusan yang sangat penting, pertarungan antara setan-setan ganas ini tak perlu kita lihat lagi."
Diam-diam dua orang itu mengeloyor pergi dari situ sementara pertarungan yang berlangsung di dalam gua sudah mencapai puncak yang amat seru, kiranya setelah Ciu It-bong melangsungkan pertarungan dengan Sim Kian, loji dari Liong bun siang sat segera melancarkan sebuah totokan yang merobohkan Pek Soh Gi dan melemparkan tubuhnya kesudut gua, kemudian sambil putar telapak dia ikut terjun pula ke dalam gelanggang pertarungan mengerubut Ciu It-bong seorang.
Anggota badan Ciu It-bong sudah ada yang cacad, tubuhnya tidak mencapai empat depa dengan potongan badan yang sangat aneh, kendatipun begitu ilmu silat yang dia miliki luar biasa sekali, di tengah pertarungan sengit nafsu membunuh menyelimuti seluruh ruangan.
Sepasang malaikat dari perguruan naga adalah manusia-manusia pelindung perkumpulan Hong-im-hwie, kedua orang ini kecuali mempunyai ilmu silat yang tinggi, hati mereka pun keji dan telengas sekali maka orang sebut mereka sebagai sepasang malikat.
Tiga orang jago lihay harus bertempur di dalam ruang gua yang sempit, bisa dibayangkan betapa serunya pertarungan tersebut.
Di tengah pertarungan, tiba-tiba terdengar malaikat tua Sim Kian berseru lantang.
"Ciu It-bong, pedang emas milik Siang Tay Lay toh sudah tidak berada ditanganmu lagi, apa salahnya kalau engkau mengaku terus terang benda itu sekarang berada dimana?"
Haaah.... haaah.... haaah.... aku bilang ada ya ada, bilang tak ada ya tak ada, kenapa musti ribut terus?"
Haruslah diketahui bahwa gua itu telah terbagi menjadi dua oleh lapisan lapisan kabut hitam yang mengepul keluar dari bawah tanah, Hoa Thian-hong yang bersembunyi di dalam gua dapat melihat jelas jalannya pertarungan diluar gua, sebaliknya orang diluar tak dapat melihat kedalam.
Ciu It-bong sendiri sejak terkurung didasar telaga dingin, sudah puluhan tahun lamanya ia bertarung melawan Pek Siau-thian, pada waktu itu lengan kanannya diikat di atas dinding karang dengan serat liur naga yang membuat badannya sama sekali tak dapat bergerak dan ilmu silat lama tak dapat digunakan lagi, dalam keadaan begitu terciptalah jurus Kun-siu-ci-tauw yang sangat lihay.
Kini setelah ia bebas, meskipun anggota badannya kurang tiga namun ilmu silat lama masih dapat digunakan kembali, bisa di bayangkan menggunakan jurus Kun-siu-ci-tauw tersebut tentu saja bertambah ampuh.
Liong bun siang sat adalah saudara sekandung, dan keluaran dari satu perguruan yang sama, dengan begitu permainan ilmu silat merekapun berasal dari satu aliran yang sama dalam melakukan pertarungan ini sekalipun mereka berdua melancarkan serangan dengan gencar namun ilmu Tay im sin jiau andalan mereka tidak dikeluarkan, karena itulah meskipun Ciu It-bong harus satu lawan dua namun ia masih tetap sanggup mempertahankan diri.
Di tengah pertempuran, tiba-tiba terdengar Sim Kian berseru dengan suara dingin.
"Loo ji, bocah she Bong itu sudah kabur"
"Tak mungkin lolos dari sini,"
Jawab Sim Cin loo-ji dari Liong bun siang sat sambil tertawa, setelah menganggur belasan tahun baru kali ini kita temukan musuh tandingan semacam Loo Ciu, hari ini kita harus baik-baik melepaskan otot kita yang telah kaku"
"Cari makmu saja kalau ingin melepaskah otot!"
Maki Ciu It-bong dengan marah.
Jilid 27 TUBUHNYA meluncur ke depan dan telapaknya segera diayun melancarkan sebuah pukulan.
Malaikat kedua Sim Ciu mengegos ke samping, telapaknya membacok pergelangan mu suh, kemudian mengirim satu tendangan kilat ke arah depan, Ciu Itbong berjungkir balik di udara melepaskan diri dari ancaman itu, telapaknya diayun dan manghantam ke arah malaikat pertama.
Suasana dalam gua gelap gulita, ketiga orang itu bertarung dengan andalkan desiran angin tajam, serangan telapak yang aneh da ri Ciu It-bong ini meluncur datang dengan kecepatan satu kali lipat dari keadaan biasa, merasa dirinya tak mampu untuk memunahkan datangnya ancaman tersebut, buru-buru malaikat pertama menjejakkan kakinya ke atas tanah dan meloncat mundur ke belakang.
Rupanya Ciu It-bong sudah tahu kalau serangan ini tak akan mampu melalui musuhnya, dan diapun telah menduga bahwa musuhnya pasti akan melompat mundur ke belakang menuju ke arah dalam gua, maka tubuhnya segera meluncur ke depan menghindari serangan dari malaikat kedua, dan untuk kedua kalinya dia menghantam malaikat pertama, Ketika malaikat pertama Sim Kim melihat bahwa Ciu It-bong hendak mendesak dirinya terjebur ke dalam liang beracun, diam-diam ia tertawa dingin, tubuhnya miring ke samping kemudian melancarkan sebuah pukulan dahsyat ke arah depan.
Ploook....!
Sepasang telapak saling membentur satu sama lainnya, kedua orang itu sama-sama terdesak mundur ke belakang.
Malaikat pertama Sim Kian yang melancarkan serangan secara tergesa-gesa segera terlempar ke belakang oleh bentrokan tersebut hingga punggungnya menumbuk di atas dinding gua, sedangkan Ciu It-bong sendiri pun terdesak sampai membentur dinding gua namun benturan itu sama sekali tidak menimbulkan suara, hal ini menunjukkan bahwa ia sudah bikin persiapan dan Sim Kian telah terpancing oleh siasatnya.
Semua peristiwa ini berlangsung dalam sekejap mata, tahu-tahu angin pukulan yang dilancarkan malaikat kedua Sim Ciu sudah mener jang datang dari sayap kiri.
Pada waktu itu punggung Ciu It-bong telah menempel di atas dinding gua, dalam keadaan begitu ia segera mengeluarkan kebiasa annya seperti waktu berada ditelaga dingin tempo hari, tangannya diputar dan segera menerjang dengan jurus Kun-siu-ci-tauw.
Menyaksikan datangnya serangan yang sangat aneh dan tak tahu bagaimana dari tubuhnya yang bakal diserang, buru-buru malaikat kedua Sim Ciu tarik kembali serangannya dan loncat mundur ke belakang.
Sim Ciu malaikat kedua dari Liong-bun Siang-sat ini berwatak berangasan sekali, melihat Ciu It-bong berhasil menduduki posisi di atas angin, dari malu dia jadi gusar, segera bentaknya.
"Lo toa, urusan dinas lebih penting, lebih baik kita cepat-cepat lenyapkan manusia cacad ini dari muka bumi!"
Sim Kiam jauh lebih licik dari saudaranya, mendengar ucapan tersebut ia segera menggeleng dan menyabut dengan suara dingin.
"Engkau tak usah keburu nafsu...."
Demikianlah, masing-masing pihak segera menghimpun tenaga dalamnya dengan maksud semakin mempertajam penglihatannya untuk mengawasi gerakgerik pihak lawan.
Tiba-tiba malaikat pertama Sim Kiaa sambil menyeringai seram berseru.
"Ciu tua, masih ingat bukan dirimu dengan ilmu cakar Tay im sin jiau dari kami berdua?"
Ciu It Hong tertawa dingin.
"Sudah terlalu banyak ilmu silat yang kuingat, ilmu Tay im sin jiaumu itu cuma terhitung sebagai suatu ilmu cakar anjing bela ka...."
Sim Kian bukannya gusar malah tertawa, kembali dia berkata.
"Ciu loji, ini hari engkau sedang bernasib sial, sehingga tak kau sadari harus berjumpa dengan kami Liong bun siang sat, bila engkau tahu diri ayoh cepat serahkan pedang emas dari Siang Tang Lay itu kepadaku, kami dua bersaudara berjanji akan melepaskan dirimu dalam keadaan hidup dan ikatan persahabatan diantara kitapun tak usah terancam punah"
"Heeehhh.... heeh.... heeehh.... pedang emas pedang perak semuanya berada dalam sakuku kalau engkau punya keberanian silahkan mengambil sendiri!"
Sim Ciu tidak sabaran lagi ia berseru keras.
"Lo-toa apa sih gunanya membuang banyak waktu? Bukankah pedang emas sudah beberapa kali berpindah tangan, engkau suruh manusia cacad ini bagai mana caranya untuk menyerahkan kepadamu?"
Mendengar dirinya berulang kali dipanggil sebagai manusia cacad, Ciu It-bong jad1 amat gusar dan mendendam malaikat kedua itu hingga merasuk ke dalam tulang sumsumnya, meskipun perasaan tersebut tidak sampai diperlihatkan di atas wajahnya, tapi diamdiam ia telah bersumpah untuk membasmi manusia usil tersebut dari muka bumi.
Sebenarnya tujuan Sim Kian mengungkap kembali persoalan pedang emas, tujuannya bukan lain adalah membuktikan apakah benda mustika itu masih berada disakunya atau tidak, sekarang setelah penyelidikannya tidak mendatangkan hasil ia segera mendengus, mereka berdua selangkah demi selangkah berjalan maju ke depan mendekati musuhnya.
Ilmu cakar maut Tay im sin jiau atau kepandaian yang paling diandalkan Liong bun siang sat selama ini, setelah menghimpun segenap kekuatan yang dimilikinya dan sang badan baru saja maju dua langkah ke depan, jari tangan mereka berdua tiba-tiba memanjang beberapa cun dari keadaan semula dan besarnyapun berlipat ganda, warnanya berubah jadi putih pusat sedikitpun tidak berwarna darah.
Sudah lama Ciu It-bong tahu akan kelihayan musuhnya, karena jiwanya terancam bahaya maka segenap tenaga dalam yang dimilikinya segera dihimpun di dalam telapak tunggalnya dan memandang gerak-gerik kedua orang itu dengan sorot mata berwarna biru.
Hoa Thian-hong yang bersembunyi di dalam gua, walau tak mampu menyaksikan sesuatu apapun, tapi ia dapat menduga bahwa situasi yang terbentang pada saat itu pasti tegang sekali, teringat akan hubungannya dengan Ciu It-bong dimasa silam, tanpa sadar jantungnya berdebar keras dan ia merasa kuatir bagi keselamatan kakak cacad tersebut.
0000O0000 MENDADAK Ciu It-bong bersuit nyaring, sebelum Liong bun siang sat sempat mendekati tubuhnya ia telah melancarkan serangan lebih dahulu, tubuhnya dengan ganas menerjang ke arah malaikat kedua Sim Ciu.
Orang itu jadi amat terperanjat, sebelum serangan Tay im sin jiau nya sempat di lancarkan, segulung angin pukulan yang maha dahsyat ibaratnya gulungan ombak di tengah amukan badai dengan cepat menyelimuti tubuhnya dan menyeret badannya ke dalam amukan angin tajam itu.
"Loo-ji! cepat menyingkir kesamping!"
Teriak Sim Kian malaikat pertama keras-keras.
Sepasang telapaknya didorong ke depan, dengan menggunakan kekuatan sebesar duabelas bagian dia cengkeram punggung Ciu It-bong.
Begitu melihat serangan yang dilancarkan pihak musuh amat dahsyat, Sim Ciu tak berani menghadapi secara sembarangan, terpaksa ia menyingkir ke arah samping, kesepuluh jarinya dipentang dan menyergap bagian bawah iga Ciu It-bong.
Sementara itu desiran angin tajam yang memekikkan telinga memancar keluar dari ujung jari Liong bun siang sat, Hoa Thian-hong yang bersembunyi di dalam gua segera merasakan dadanya gemetar dan jantungnya berdebar keras karena ikut merasa tegang.
Dengan berat Ciu It-bong dengan cepat menggema memecahkan kesunyian, suara bentakan gusar dari Sim Ciu bergabung dalam benturan angin pukulan yang amat dahsyat menggeletar di dalam gua kuno yang gelap gulita.
Lewat beberapa saat kemudian, suasana di dalam gua perlahan-lahan pulih kembali dalam ketenangan, bayangan tubuh Ciu It-bong sudah lenyap entah kemana perginya, malaikat kedua Sim Ciu duduk bersila di atas tanah dengan mata terpejam dan dada berombak, sorot matanya memandang ke tempat ke jauhan.
Lama....
lama sekali, malaikat kedua Sim Ciu baru membuka matanya kembali sambil menghembuskan napas panjang, serunya dengan nada benci.
"Terlalu enak kita lepaskan manusia cacad itu, bila kita sampai bertemu lagi dilain waktu paling sedikit jiwa anjingnya musti kita cabut....!"
"Hmm! engkau terlalu pandang enteng Ciu loo ji,"
Sahut Sim Kian dengan suara dingin, dengan andalkan sebuah lenganpun dia bisa hidup sampai ini hari, hal tersebut membuktikan bukan manusia sembarangan"
Malaikat kedua Sim Ciu mendengus, ia segera mendekati Pek Soh Gi dan ayunkan telapaknya untuk membebaskan jalan darahnya yang tertotok.
"Tunggu sebentar!"
Tiba-tiba Sim Kian berseru.
"Malam yang panjang akan mendatangkan impian yang banyak, apa yang musti kita tunggu lagi?"
"Apa yang telah dikatakan Jin Hian?"
Seru Sim Kian sambil tertawa dingin.... Mula mula Sim Ciu tertegun, kemudian sambil berpaling ke dalam gua teriaknya keras-keras.
"Tio Sam-koh, ayoh keluar memberi jawaban!"
Hoa Thian-hong yang bersembunyi dibalik kabut hitam merasa tertegun sesudah mendengar bentakan itu, ia merasa jarak antara mereka berdua dengan dirinya bertiga terpaut sejauh beberapa tombak, tak mungkin mereka bisa tahu dengusan napas mereka apalagi kabut hitam itu tebal sekali dan amat beracun sehingga sejak tadi mereka semua telah menutup pernapasan, tentu saja dalam keadaan begini tak mungkin mereka bisa tahu jejak mereka yang ada di dalam gua lewat pernapasan.
Begitulah, seruan dari Sim Ciu dengan cepat membuat semua orang tertegun dan merasa sedikit diluar dugaan.
Tio Sam-koh tertegun lalu menyinggung lengan Hoa Thian-hong memberi tanda kepadanya agar tidak menggubris.
Tiba-tiba terdengar Sim Kian berkata pula dengan nada dingin.
"Tio Sam-koh, kalau engkau tak mau unjukkan diri lagi, jangan salahkan kalau aku orang she Sim akan segera memasang api"
Terkejut hati Hoa Thian-hong mendengar ancaman tersebut, pikirnya.
"Aku rasa sepasang malaikat itupun tahu kalau gua ini tak boleh bertemu dengan api apa daya sekarang?"
Sementara itu Sim Ciu telah berkala pula.
"Loo-toa, perduli amat di dalam gua ada manusia atau setan, kita lepaskan api saja untuk membakarnya, bukankah dengan cepat kita akan tahu disana ada setannya atau tidak"
Mendengar sampai disitu, Tio Sam-koh segera menarik tangan Hoa Thian-hong serta Hoa In dan meloncat mundur ke belakang.
Hoa Thian-hong merasa terkejut bercampur curiga, buru-buru ia berkelebat kesisi ibunya.
Sepasang telapak Hoa Hujien masih menempel di atas tanah dan tubuhpun masih tetap duduk tak berkutik di tempat semula, pada saat itu ia membuka matanya dan berbisik.
"Kalian semua mundur ke belakang punggungku begitu melihat cahaya api segera lancarkan angin pukulan ke arah luar"
Gua tersebut gelap gulita sulit melihat kelima jari tangan sendiri ketika Hoa Hujien membuka sepasang matanya maka terlihatlah cahaya tajam yang amat menyilaukan mata seakan-akan bintang yang gemerlapan di udara gelap memancar keluar dari balik matanya.
Hoa Thian-hong amat terperanjas, ia tak mengira kalau tenaga dalam yang dimiliki ibunya telah mencapai taraf yang begitu sempurnanya, untuk beberapa saat lamanya kerena pengaruh emosi ia tak mampu mengucapkan separah katapun.
Hoa In sendiri, dia diam-diam merasa terperanjat, mereka bertiga segera berdiri di belakang Hoa Hujien, hawa murni disalurkan ke dalam telapak dan setiap saat menantikan perubahan.
Jarak antara gua bagian dalam dan gua bagian luar terpaut belasan tombak jauhnya bila melancarkan serangan dari dasar gua maka tenaga pukulannya sukar untuk mencapai mulut gua, keistimewaan di dalam hal ini tidak diketahui oleh Hoa Thian-hong serta Hoa In, merekapun tak berani banyak bertanya karena musuh tangguh sedang berada di depan mata, terpaksa sambil salurkan hawa murni dengan tenang mereka nantikan munculnya cahaya api dari luar gua.
Rupanya Jin Hian telah menduga bahwa orang yang bersembunyi di dalam gua itu pastilah Hoa Hujien, hanya saja karena ia gentar atas kecemerlangan nama besar Hoa Hujien di masa lampau, ditambah pula nenek buta sudah menderita kekalahan maka akhirnya dia ambil keputusan untuk menyelesaikan semua persengketaan ini dalam pertemuan besar Kian ciau tay hwee.
Sungguh kebetulan ketika mereka kembali ke markas, Liong bun Siang sat baru tiba, mendengar kisah tersebut mereka merasa tidak puas dan bersikeras akan datang menyelidiki duduk perkara yang sebenarnya, walau pun begitu merekapun mengetahui akan kelihayan dari Hoa Hujien, maka kewaspadaan merekapun dipertingkat.
Sebagian besar orang persilatan mengetahui bahwa dalam gua kuno itu mengandung udara gas yang amat beracun dan tak bisa didiami oleh manusia, kini dengan suatu gerakan yang manis Hoa Hujien berhasil memaksa pancaran gas beracun itu langsung membumbung kedinding bukit sehingga membuat gua kuno itu terbagi jadi dua bagian kejadian tersebut boleh dibilang merupakan suatu hal yang sama sekali tak terduga.
Liong bun siang sat sendiripun menduga bahwa Hoa Hujien masih bersembunyi di dalam gua, tapi karena mereka tak tabu keadaan yang sebenarnya dari gua kuno itu, untuk beberapa waktu kedua orang itu tak berani bertindak secara gegabah.
Setelah menunggu beberapa saat lamanya dan baik gua masih belum juga nampak adanya suatu gejala, rasa was-was dalam hati dua bersaudara itu makin berkurang.
Malaikat kedua Sim Ciu segera membentak nyaring.
"Nenek bangkotan she Tio, kalau engkau menyembunyikan diri terus menerus seperti kura-kura ketakutan, jangan salahkan kalau aku orang she Sim akan menyumpal delapan keturunanmu!"
Kedudukan serta nama besar Hoa Hujien di dalam dunia persilatan amat tinggi dan di hormati semua orang, rupanya mereka segan untuk secara langsung mencari gara-gara dengan dirinya, maka yang dicari adalah Tio Sam-koh.
Bisa dibayangkan betapa gusarnya Tio Sam-koh mendengar teriakan tersebut dengan cepat ia gerakkan tubuhnya siap menerjang keluar dari gua itu, mendadak ia teringat bahwa Hoa Hujien pada saat ini sedang mencapai keadaan yang paling kritis, ia takut jika keadaan bertambah seru maka mereka terpaksa harus tinggalkan tempat itu, andai kata hawa murni sampai buyar, bukan saja susah payahnya selama ini akan menemui kegagalan bahkan kemungkinan besar akan mengalami jalan api menuju neraka.
Mengingat betapa besarnya akibat yang bakal ditimbulkan, terpaksa Tio Sam-koh menahan amarahnya dan menghentikan gerakan tubuh yang sudah mencapai tepi gua itu.
Hoa Thian-hong mengetahui bahwa nenek itu berwatak berangasan, melihat ia berhasil menguasai diri dalam hati kecilnya pemuda ini merasa amat berterima kasih, segera bisiknya.
"Sam po, bersabarlah sebentar! cepat atau lambat Seng ji pasti akan bereskan manusiamanusia jahanam tersebut agar rasa dongkol sam po bisa terlampiaskan"
Bluuum....!
tiba-tiba kabut warna hitam yang amat tebal itu seakan-akan terhantam oleh segulung angin pukulan yang amat dahsyat dengan cepatnya menggulung ke dasar gua hingga jaraknya dengan dasar gua dimana mereka berada dekat sekali.
Hoa In dengan cepat bertindak, dia lancarkan sebuah pukulan dengan ilmu Sau yang ceng ki untuk memaksa kabut hitam itu meluncur kembali ke tempat semula.
Sementara itu Sim Ciu jadi semakin berani setelah dilihatnya angin pukulan yang dia lancarkan sama sekali tidak menunjukkan perubahan apapun juga, katanya.
"Mungkin saja mereka telah berlalu dari tempat ini!"
Dengan langkah lebar ia berjalan maju ke depan hingga tiba di depan gumpalan asap warna hitam itu, telapaknya diayun dan kembali dia lancarkan sebuah pukulan dahsyat kemuka.
Blaaam....
segulung angin pukulan yang amat dahsyat dengan cepatnya menerobos masuk melewati kabut hitam dan langsung menerjang ke dalam gua.
Tapi dari balik gua sama sekali tidak memperlihatkan reaksi apapun juga, tanpa terasa Sim Ciu mengerutkan dahinya.
"Loo toa!"
Ia berseru.
"rupanya gua ini kosong tak berpenghuni, biar aku masuk ke dalam untuk memeriksa keadaan disitu!"
"Tak usah diperiksa lagi,"
Tukas malaikat pertama Sim Kian dengan nada dingin.
"sudah lama kudengar bahwa kabut hitam itu segera akan terbakar bila terkena api, kita coba saja melepaskan api kedalam"
Habis berkata dia mengempit tubuh Pek Soh Gi yang masih tertotok jalan darahnya dan mengundurkan diri keluar gua.
Malaikat kedua Sim Ciu termenung sebentar, akhirnya dia mengundurkan diri sejauh dua tombak lebih dari tempat semula lalu mengambil api untuk kemudian dilemparkan kedalam.
"Blamm.... ketika cahaya api bertemu dengan udara gas berwarna hitam itu terjadilah ledakan keras yang disertai percikan cahaya api yang menerangi seluruh gua tersebut. Hoa Thian-hong yang bersembunyi di dalam gua, segera merasakan sengatan hawa panas yang luar biasa dahsyatnya, dalam keadaan demikian masing-masing orang segera melancarkan sebuah pukulan ke arah depan. Ilmu Sau yang ceng ki dari Hoa In merupakan kepandaian tenaga dalam yang sangat ampuh, tenaga dalam Tio Sam-koh yang mencapai enam puluh tahun hasil latihan serta tenaga dalam Hoa Thian-hong berkat kerja teratai racun empedu api bisa di bayangkan betapa mengerikannya tenaga gabungan dari ketiga orang tokoh sakti terse but. Baru saja cahaya api meletus di angkasa, angin pukulan yang amat dahsyat itu sudah menerjang keluar membawa percikan api yang menyengat badan keluar dari mulut gua. Malaikat kedua Sim Ciu amat terperanjat, dengan ketakutan ia loncat keluar dari gua tersebut. Dalam waktu singkat cahaya api segera padam dan suasana disekeliling tempat itupun putih kembali dalam kegelapan, bau gas yang amat tebal dan menusuk penciuman tersebar disekeliling tempat itu. Sepasang malaikat dari perguruan naga adalah gembong iblis yang berpengalaman luas, tentu saja mereka pun tahu bahwa pancaran api yang muncul keluar gua adalah berkat hasil pukulan dari Hoa Thianhong sekalian yang bersembunyi dalam gua. Sekarang dua orang bersaudara itu baru mengetahui bahwa di dalam gua masih terdapat sebuah ruang lain yang aman, dan Tio Sam-koh sekalian menyembunyikan diri disitu. Sepasang malaikat dari perguruan naga saling bertukar pandangan sekejap, sorot mata mereka berdua sama-sama memancarkan sikap ke ragu-raguan. Haruslah diketahui baik Tio Sam-koh mau pun Hoa In sama-sama merupakan jago lihay yang berkepandaian tinggi, sekalipun sepasang malaikat dari perguruan naga merasa yakin dapat menangkan mereka berdua, namun selisih kepandaian diantara mereka boleh dibilang tipis sekali, kendatipun kemenangan masih berada dipihaknya, itupun harus diperjuangkan secara matimatian. Andaikata Hoa Hujien benar-benar berada di dalam goa, dengan dua lawan tiga maka keadaan mereka dua bersaudara akan runyam. Keadaan mereka pada saat ini boleh dibilang ibaratnya menunggang di atas punggung harimau, mau turun tak berani mau tetap duduk disitupun sungkan.... sementara mereka masih berdiri dengan wajah kebingungan, tibatiba dari jembatan seberang berkumandang datang suara langkah manusia yang amat lirih. Liong bun siang sat sama-sama tertegun dan segera berpaling ke belakang, tampaklah belasan sosok bayangan manusia dengan kece patan bagaikan sambaran kilat sedang bergerak mendekat. Dalam waktu singkat seorang kekek berbadan tinggi kurus telah tiba lebih dahulu di tempat itu, dia bukan lain adalah Jin Hian ketua dari perkumpulan Hong-im-hwie, di sampingnya mengikuti seorang jago pula dan dia adalah salah seorang tulang punggung perkumpulan Hong-imhwie yang bukan lain adalah Yan-san It-koay. Diam-diam Liong bun siang sat merasa kegirangan melihat kehadiran jago-jago lihay tersebut, Sim Kian segera melemparkan tu buh Pek Soh Gi ke depan sambil serunya diiringi gelak tertawa berat.
"Sungguh kebetulan sekali kedatangan Cong Tang-kee di tempat ini, dialah putri sulung dari Pek Siau-thian, coba periksalah benarkah dia adalah pembunuh yang telah membinasakan Bong ji?"
Ketika tubuh gadis itu dilontarkan ke depan, jalan darahnya telah ditotok bebas, Jin Hian segera menangkapnya dan membentak dengan wajah menyeringai seram.
"Pasang obor!"
Dalam waktu sekejap, delapan orang pengawal golok emas yang dibawa serta oleh Jin Hian telah memasang obor dan menggangkat tinggi-tinggi, suasana disekeliling gua kuno pun menjadi terang benderangbagaikan berada disiang hari.
Dengan sorot mata yang tajam bagaikan sambaran kilat, Jin Hian menatap wajah Pek Soh-gie tanpa berkedip, di dalam ketajaman matanya terpancar keluar cahaya seram yang menggidikan hati, seakan-akan ia hendak menembusi isi hati gadis itu.
Pek Soh-gie tetap tenang dan air mukanya sedikitpun tidak beruba, mukanya yang cantik dengan biji matanya yang bening dan jeli memandang wajah Jin Hian penuh kehalusan dan ketenangan, begitu halus dan tenang keadaannya sehingga mengherankan semua orang yang hadir disitu.
Beberapa waktu kemudian, tangan Jin Hian yang mencengkeram bahu Pek Soh-gie nampak gemetar keras, cahaya matanya yang bengis bagaikan iblis kian lama kian bertambah kalut dan kacau tak karuan, mukanya berkerut kencang....
akhirnya dia menundukan kepala, menghela napas dan berdiri termangu-mangu, lama sekali tak mengucapkan sepatah katapun jua.
Tiba-tiba terdengar Yan sat It koay berseru.
"Pek Sohgie masih gadis psrawan, sedang Bong ji dengan pembunuh itu pernah melakukan hubungan badan.... aku rasa urusan ini agak sedikit tidak beres...."
Walaupun Pek Soh-gie berwajah cantik jelita bagaikan bidadari yang baru turun dari kahyangan, namun dandanannya sederhana dan biasa sekali, dari tubuhnya terpancar pula kehalusan budi serta keramah tamahan yang begitu meyakinkan, membuat barang siapa pun yang melihat tentu tak akan percaya kalau dia adalah seorang pembunuh.
Jin Hian berpengalaman luas dan berpandangan luas, tentu diapun mengetahui bahwa Pek Soh-gie masih perawan suci, atau dengan perkataan lain tak mungkin dia adalah pembunuh yang membunuh putranya serta mencuri barang berharga.
Dengan sepasang alis berkerut Sim kian segera berseru.
"Aku lihat di dalam persoalan ini tentu ada orang yang sengaja membolak balikkan duduk perkara...."
Tiba-tiba terdengar Pek Soh Gi berkata.
"Apakah engkau adalah Jin locianpwee?"
Jin Hian melototkan matanya bulat-bulat, setelah menenangkan hatinya dia mengangguk.
"Sedikirpun tidak salah, akulah Jin Hian engkau ada perkataan apa yang hendak disampaikan?"
"Boanpwee belum pernah menyeberangi sungai Huang-ho menuju keutara, dan akupun belum pernah membunuh orang...."
Jin Hian menggertak giginya kencang-kencang sehingga berbunyi gemerutukan, tiba-tiba ia berpaling ke arah gua kuno itu sambil bentaknya keras-keras.
"Hoa Thian-hong! Kalau engkau tak menunjukkan diri lagi, janganlah salahkan kalau aku akan bertindak kasar kepadamu!"
Rupanya pikiran jago tua ini sedang kacau sekali, selesai mengucapkan kata-kata tersebut dia segera ulapkan tangannya kepada seorang pengawal golok emas yang berada disisinya sambil membentak.
"Lepaskan anak panah!"
Kiranya kawanan pengawal golok emas itu kecuali menyoren sebilah golok bergagang emas yang besar, pada pinggang masing-masing menyandang pula gendewa serta anak panah yang berujung bulat telur, sekilas memandang siapapun tahu kalau anak panah yang mereka siapkan adalah panah-panah berapi.
Setelah mendapat perintah dari Jin Hian, buru-buru pengawal golok emas itu menyiapkan gendewa dan mengambil anak panah, setelah membakar ujungnya panah tersebut segera dibidikkan ke dalam gua, Sreeet....!
Serentetan cahaya api dengan cepat meluncur masuk ke dalam gua yang gelap itu.
Gelak tertawa berkumandang memecahkan kesunyian, sambil menjepit batang anak panah itu dengan ketiga jari tangannya, perlahan-lahan Hoa Thian-hong munculkan diri dari dalam gua diiringi Tio Sam-koh serta Hoa In dibelakangnya.
Pepatah mengatakan.
Budha harus memakai emas dan manusia harus memakai pakaian, kemarin baju yang dikenakan Hoa Thian-hong tidak komplit dan keadaannya mengenaskan sekali, sebaliknya hari ini dengan pakaian yang baru serta pedang baja tersoren di atas pinggang, keadaannya nampak begitu gagah dan mengagumkan.
Liong bun siang sat baru pertama kali ini bertemu dengan Hoa Thian-hong, menyaksikan sikapnya yang gagah tanpa terasa mereka mendengus dingin.
Pek Soh Gi segera mementang matanya yang jeli ketika menyaksikan kemunculan Hoa Thian-hong dari dalam gua, dengan hati kejut bercampur girang serunya.
"Oooh....! ternyata Hoa toako benar-benar terlepas dari mara bahaya, ketika Ciu locianpwee mengatakan hal itu kepadaku, aku masih tidak berani untuk mempercayainya!"
Hoa Thian-hong tertawa dengan wajah minta maaf, ujarnya.
"Aku tak mampu menyelamatkan jiwa nona, kalau diingat benar-benar menyesal sekali!"
"Hoa toako tak usah sungkan-sungkan"
Hoa Thian-hong segera memberi hormat kepada Jin Hian, lalu bertanya.
"Ketua Jin, kau memanggil diriku keluar entah ada urusan apa?"
Jin Hian tertawa seram.
"Heeeh.... heeeh.... heeeh.... harap Hoa Lo te suka menyampaikan kepada ibumu, katakanlah kalau aku ada urusan hendak bertemu dengan dirinya"
"Ketua Jin sebagai pemimpin dari suatu perkumpulan besar, sudah sepantasnya kalau ibuku menemui dirimu dengan segala kehormatan,"
Kata Hoa Thian-hong dengan wajah serius....
sayang sekali dia orang tua sedang berlatih suatu ilmu dan tak mungkin untuk keluar dari gua, karena itu aku mohon ketua Jin bisa memakluminya dan boanpwee mewakili ibuku minta maaf yang sebesar-besarnya"
Mendengar perkataan itu, Jin Hian segera berpikir di dalam hati.
"Jadi kalau begitu, orang yang bersembunyi di dalam gua benar-benar adalah bininya Hoa Goan Sin....!"
Berpikir sampai disini, sorot matanya segera menyapu sekejap ke arah Pek Soh Gi dan berkata kembali.
"Nasib aku orang she Jin memang benar-benar buruk, sudah begini tua harus kehilangan satu-satunya putera tunggalku.... aaai! Sampai sekarangpun aku masih belum mengetahui macam apakah pembunuhnya, apakah dia laki atau perempuan, cantik atau jelek.... kecuali Hoa loo te, tak ada orang lain yang, mengetahui lagi"
Hoa Thian-hong termenung dan membayangkan kembali keadaan pada saat terjadinya peristiwa itu, kemudian ia menjawab.
"Aku rasa pembunuh itu sudah mempunyai susunan rencana yang amat masak, pergi datangnya bukan saja menutupi raut wajah dengan kain hitam bahkan diapun minta kepada putramu untuk melarang semua orang melakukan pengintaian, dari sini memang bisa ditarik kesimpulan bahwa cuma aku seorang yang pernah mengetahui raut wajah aslinya"
Ia berhenti sebentar, sesudah termenung, sambungnya lebih jauh.
"Aaaai....! Meskipun aku pernah bertemu dengan raut wajah sang pembunuh, tapi kalau dipikir lebih seksama maka aku rasa belum tentu yang kusaksikan adalah raut wajahnya yang sebenarnya"
"Hmmm! apakah engkau punya mata tak berbiji?"
Sindir Sim Gui malaikat kedua dari Liong bun siang sat dengan nada dingin. Air muka Hoa Thian-hong berubah membesi, tegurnya.
"Aku rasa engkau tentulah malaikat kedua dari Liong-bun bukan? Huuh....! Sebagai seorang angkatan tua dari dunia persilatan, kalau bicara mengapa tak tahu adat dan sopan santun? Munekinkah engkau tak pernah mendapat pendidikan?"
"Hmmm! Kalau engkau menganggap aku tak tahu adat, panggil saja ibumu suruh dia yang menuntut kepadaku...."
Hoa Thian-hong tertawa dingin.
"Engkau anggap aku tak mampu untuk menuntut dirimu?"
Ejeknya.
Baik Liong bun siang sat maupun Yan-san It-koay semuanya merupakan jago-jago lihay yang mengerubuti Hoa Goan Sin ketika dilangsungkan pertemuan besar Pak beng Hwee, atau dengan perkataan lain mereka adalah musuh besar pembunuh ayahnya dari Hoa Thian-hong.
Walaupun pemuda itu tetap memegang teguh pesan ibunya yang mengharuskan dia mengesampingkan masalah pribadi lebih dahulu, akan tetapi setelah berjumpa dengan musuh besarnya tak urung hawa kegusaran bergelora juga di dalam dadanya.
Malaikat kedua Sim Kian sebagai seorang jago yang amat lihay tentu saja tidak pandang sebelah matapun terhadap diri Hoa Thian-hong, dengan sorot mata berkilat serunya sambil tertawa seram.
"Bajingan cilik yang tak tahu diri, akan kutangkap dirimu lebih dahulu.... akan kulihat ibumu akan unjukkan diri atau tidak?"
Sambil berkata ia menerjang maju ke depan, kelima jari tangannya bagaikan cakar garu dan segera mencengkeram dadanya.
Hoa In yang berada dibelakang, pemuda ini segera mendengus dingin, sambil ayun telapaknya melancarkan serangan ia segera menerjang maju ke depan.
"Hey, tua bangka! apakah engkau adalah Hoa In?"
Bentak Sim Ciu dengan alis berkerut. Tubuhnya menerjang maju ke depan, dan diapun mengirim satu pukulan pula kemuka.
"Hmm! Kalau benar, ada apa?"
Sementara pembicaraan masih berlangsung kedua orang itu sudah saling membentur satu sama lainnya untuk kemudian berpisah kembali, dalam benturan itu tubuh Sim Ciu terdesak mundur kembali ke belakang, sedangkan Hoa In tetap menghadang dimulut gua, sepasang kakinya terpantek di atas tanah dan sedikitpun tak bergeser.
Dalam pada itu, Jin Hian telah berpikir di dalam hati.
"Pek Soh Gi tidak mirip pembunuh yang melakukan pembunuhan berdarah tersebut, dan Bong ji sudah pasti bukan mati ditangannya.... kalau tidak urusan tentu tak akan beres-beres...."
Berpikir sampai disini, kepada Yan-san It-koay serta Sim Kian segera ujarnya.
"Aku harap lo koko berdua suka membayangi diriku dari samping arena, aku hendak bertempur beberapa gebrakan melawan Hoa loo-te tersebut"
"Cong Tang-kee, mengapa kau harus turun tangan sendiri?"
Seru Sim Kian dengan cepat.... biarlah aku orang she Sim yang mewakili dirimu!"
Habis berkata ia segera berjalan menuju kemulut gua.
Pada saat itu Hoa Thian-hong sekalian masih berdiri berjejer di depan mulut gua, meskipun pertarungan antara Hoa In melawan Sim Ciu berlangsung dengan serunya, namun tak seorangpun yang bersedia tinggalkan tempat kedudukan mereka, kalau ditinjau keadaan tersebut jelas membuktikan bahwa beberapa orang itu hendak mempertahankan mulut gua itu matimatian dan tidak memberi kesempatan pada musuhnya untuk masuk ke dalam gua.
Ketika menyaksikan Sim Kian berjalan menghampiri Hoa Thian-hong, tiba-tiba Tio Sam-koh menyikut si anak muda itu sambil membentak keras.
"Seng ji, mundur selangkah ke belakang!"
Luka yang diderita Hoa Thian-hong belum sembuh, ia tak berani secara gegabah menggunakan tenaga murni, lagipula pemuda itupun menyadari bahwa kekuatannya masih belum mampu menandingi Sim Kian, maka tanpa banyak bicara lagi ia mundur selangkah ke belakang dan bersembunyi di belakang Hoa In serta Tio Sam-koh.
Sementara itu perempuan she Tio yang berangasan ini tidak menunggu Sim Kian turun tangan lebih dahulu, ia segera putar sen jata toyanya dan disapu ke arah depan.
Permainan toyanya benar-benar dahsyat, ibarat harimau yang gila, desiran angin tajam menderu-deru memenuhi angkasa, ujung toya de ngan cepatnya meluncur keuepan dan menghantam dada Sim Kian.
Menyaksikan datangnya serangan yang begitu dahsyat, buru-buru orang she Sim itu meluncur ke samping dengan ilmu Tay im sin jiau ia balas melancarkan sebuah serangan.
Dalam waktu singkat Liong bun siang sat, Tio Sam-koh serta Hoa In terlibat dalam dua pertarungan yang amat seru, masing-masing pihak berusaha merebut posisi di atas angin dan merobohkan musuhnya dengan cepat, angin pukulan menderu-deru bayangan telapak berlapislapis, ilmu Tay im sin jiau dari Liong bun Siang sat menimbulkan desiran tajam yang memekikkan telinga, masing-masing pihak mengeluarkan kepandaiannya yang terampuh untuk merobohkan lawannya.
Hoa Thian-hong yang berdiri dimuka gua hanya terpaut tiga lima langkah dari keempat orang itu, sementara pandangan matanya terasa kabur dan memusingkan kepala....
tiba-tiba terdengar desiran angin tajam meluncur datang ke arahnya, tahu-tahu sebatang anak panah berapi telah melurcur di depan mata....Anak panah berapi itu meluncur datang dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, Hoa Thian-hong merasa amat terkejut dan buru-buru menyingkir setengah depa ke samping, tangannya dengan cekatan berkelebat kemuka menangkap gagang panah tersebut.
Sreeet....!
Sreeet....!
desingan tajam kembali berkumandang memecahkan kesunyian, puluhan batang anak panah berapi pada saat yang bersamaan meluncur datang, sekilas memandang terlihatlah panah-panah itu bagaikan bintang api yang meletus di udara membuat sekeliling tempat itu segera berubah jadi merah.
Hoa Thian-hong segera menggerakkan panah yang berada di dalam genggamannya untuk memukul rontok anak panah berapi yang berhamburan bagaikan hujan gerimis itu.
Ketika ia menengok ke arah depan, tampaklah para pengawal golok emas telah menancapkan obornya ke atas tanah, saat itu mereka semua sedang mementang gendewa dan membidikkan anak panah ke arahnya.
Haruslah diketahui para pengawal golok emas itu adalah jago-jago lihay yang sempurna di dalam hal tenaga dalam, dalam melepaskan bidikan anak panahnya itu mereka telah sertakan pula hawa murni yang amat besar.
Hoa Thian-hong berjaga dimulut gua dan sama sekali tak berani bergeser dari tempat semula, dengan sendirinya ia harus berusaha menyampok rontok setiap anak panah yang melurcur ke arahnya, pekerjaan semacam ini boleh dikata payah dan banyak memakan tenaga.
Jin Hian memberikan perintahnya dari samping, ketika menyaksikan semua panah yang dibidikan ke arah gua berhasil dipukul rontok semua, tiba-tiba ia meminta gendewa itu dari seorang anak buahnya dan langsung membidikkan sebatang anak panah ke arah si anak muda itu.
Sreeet....!
cahaya api berkilat diiringi desiran angin tajam, kepala panah dengan cepat menyambarnya lewat dari depan dada Hoa Thian-hong tidak lebih satu dua cun di atas tubuhnya.
Si anak muda itu berseru kaget, panah di tangannya segera digetarkan kemuka dan sekuat tenaga menangkis datangnya ancaman tersebut.
Kraaak....!
di tengah benturan keras, dua batang anak panah itu segera tergetar patah jadi puluhan bagian yang kecil dan berceceran di atas tanah.
Sreet!
Sreet!
di tengah berhamburannya hujan panah, Jin Hian kembali melepaskan pula dua bidikan ke dalam gua.
Cukup didengar dari desiran angin yang jauh lebih tajam dari panah-panah lain, Hoa Thian-hong mengetahui bahwa dua batang anak panah tersebut dibidikkan sendiri oleh Jin Hian, dalam gugupnya ia segera menyambar dua batang panah musuh yang sedang meluncur datang dan sekuat tenaga disambitkan ke arah panah-panah yang dilancarkan Jin Hian itu.
Traaang....!
empat batang anak panah kembali patah jadi beberapa bagian yang kecil.
Tiba-tiba....
sreet!
Sepasang panah berapi yang amat tajam meluncur datang melewati atas kepala Hoa Thianhong dan langsung meluncur masuk ke dalam gua....
Anak panah tersebut dibidik sendiri oleh Jin Hian, Hoa Thian-hong yang sedang ayun sepasang telapaknya untuk menyampok datangnya hujan panah sama sekali tak mampu menghadang datangnya desiian panah berapi yang sedang meluncur ke dalam gua itu.
"Blaaam....!"
Ledakan keras menggetarkan seluruh bumi, ketika hawa yang mengandung gas racun itu bertemu dengan jilatan api, se ketika terciptalah serentetan cahaya api yang menyelimuti seluruh angkasa.
Hoa Thian-hong terkejut bercampur gelisah, ketika ia sedang menguatirkan keselamatan dari ibunya, tiba-tiba dari dalam gua berkumandang keluar suara dari Hoa Hujien yang dingin dan berat.
"Minggir semua!"
Hoa Hujien adalah orang yang paling dihormati oleh Tio Sam-koh, Hoa Thian-hong serta Hoa In tentu saja tak usah dikatakan lagi, mendengar perkataan itu tanpa berpikir panjang lagi ketiga orang itu segera tinggalkan musuh-musuhnya dan meloncat ke samping.
Blaaaam....
ledakan dahsyat bagaikan meletusnya gunung api menggeletar di angkasa, hembusan udara panas yang bercampur dengan jilatan api segera meluncur keluar dari balik gua.
Liong bun siang sat sendiri meskipun mendengar seruan dari Hoa Hujien, namun ia tak pernah menyangka kalau dari balik gua bakal menyembur keluar cahaya api yang begitu panas dan dahsyat, dalam kejutnya, sekuat tenaga ia loncat mundur ke belakang.
Untung kepandaian silat yang dimiliki kedua orang ini sangat lihay dan luar biasa sekali, hingga badannya tidak sampai terjilat oleh hembusan api yang amat keras itu.
Dalam waktu singkat jilatan api yang berada di dalam gua itu sudah padam dan lenyap tak berbekas, akan tetapi rumput serta ilalang yang tumbuh diluar gua segera terjilat api dan terjadilah kebakaran besar.
Hoa Thian-hong serta Tio Sam-koh sekalian saling berpandangan dengan mulut melongo, meskipun mereka tahu bahwa kebakaran yang terjadi di sekitar tempat itu akan mengakibatkan kebakaran hutan yang hebat, tapi karena musuh tangguh ada di depan mata sementara angin gunungpun berhembus kencang, maka sekalipun ada maksud memadamkan kebakaran itu sudah tak bakal sempat lagi....
Liong bun siang sat sendiripun merasa terkejut bercampur curiga, dari pancaran api yang memantul keluar gua diiringi desiran angin tajam, mereka tahu bahwa hal ini pastilah disebabkan oleh dorongan tenaga pukulan seseorang yang amat keras, seandainya angin pukulan itu dilancarkan oleh Hoa Hujien maka dapat dibayangkan sampai dimanakah kelihayan perempuan itu, kendatipun Liong bun siang sat merasa yakin akan kemampuannya tak urung mereka merasa bergidik juga.
Jin Hian jauh lebih terperanjat lagi, teringat akan keadaan nenek buta yang terhantam sampai pingsan ketika nenek memasuki gua pagi tadi, diam-diam ia merasa bergidik dan rasa was-waspun semakin dipertebal.
Tetapi bagaimanapun juga dia adalah seorang pemimpin dari suatu perkumpulan besar, sebelum bertemu dengan Hoa Hujien dan mengetahui keadaan yang sebenarnya tentu saja ia tak mau mundur dengan begitu saja.
Setelah berpikir sebentar, ia segera memberi hormat ke arah gua dan berkata dengan suara lantang.
"Jin Hian dari perkumpulan Hong-im-hwie sengaja datang berkunjung, Hoa Hujien...."
Hoa Thian-hong sendiripun merasa terkejut bercampur curiga, ia tak tahu dengan cara apakah ibunya memaksa keluar jilatan api yang berkobar di dalam gua tersebut, dia ingin sekali masuk ke dalam gua untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya, maka ketika Jin Hian mengucapkan kata-kata itu, dia segera menukas.
"Sekarang ibuku masih bertapa, jika ketua Jin Hian bertemu harap tunggu sebentar, aku akan segera memberi laporan"
"Kalau begitu merepotkan,"
Ujar Jin Hian dingin.
Hoa Thian-hong segera masuk ke dalam gua, di tengah hembusan hawa gas yang menusuk hidung buruburu ia terjang masuk ke tempat ibunya bertapa.
Kabut hitam yang menyelimuti ruang gua membuat suasana bertambah gelap, sekalipun diluar gua suasana terang benderang tapi keadaan digua tetap gelap gulita sehingga lima jari sendiripun tak dapat dilihat.
Hoa Thian-hong segera jatuhkan diri berlutut disisi ibunya, lalu menegur dengan suara lirih.
"Ibu, bagaimana keadaanmu? tidak apa-apa bukan?"
Hoa Hujien geleng kepala.
"Aku sudah paksakan diri untuk menggunakan hawa murni, sekarang harus segera bersemedi untuk memulihkan kembali tenagaku, kalau tidak maka aku akan mengalami jalan api menuju neraka,"
Katanya serak. Setelah berhenti sebentar dia menengok sekejap keluar gua dan menyambung lebih jauh"
"Kebakaran telah melanda luar gua, hal itu akan memancing datangnya para jago dari perkumpulan Sinkie-pang serta Thong-thian-kauw, engkau berusahalah untuk mengulur waktu beberapa jam lagi, aku rasa sampai tengah malam nanti keadaan ku akan tidak berbahaya lagi"
Hoa Thian HoDg mengiakan berulang kali, tiba-tiba ia temukan kabut putih mengepul keluar dari atas ubunubun ibunya, keringat membasahi seluruh tubuhnya, cepat-cepat ia menyeka keringat ibunya dengan ujung pakaian kemudian muncul kembali dari balik gua, Ketika dilihatnya Hoa Thian-hong muncul kembali di mulut gua, dengan sepasang mata yang tajam Jin Hian menatap wajahnya tanpa berkedip.
Secara tiba-tiba pemuda itu merasakan pandangan mata orang ini buas bagaikan srigala dan sangat tak sedap dirasakan dalam hati, diapun segera menyadari bahwa Jin Hian adalah seorang manusia yang sangat berbahaya dan licik sekali, ancaman terhadap dirinya sama sekali tidak berada di bawah Thong-thian Kaucu .
Terdengar Jin Hian tertawa dan berkata.
"Hoa loo te, ibumu pasti masih mendendam kepada kami karena peristiwa di pertemuan Pak Beng hwee tempo dulu, sehingga sekarang tidak bersedia menjumpai kami manusia-manusia kasar dari dunia persilatan"
Dengan pandangan yang tajam Hoa Thian-hong melirik sekejap ke arah bukit karang di sekelilingnya, ketika dilihatnya di bawah kobaran cahaya api tak nampak sesosok bayangan manusiapun yang muncul disitu, dengan wajah serius segera ujarnya.
"Ketua Jin harap maklum, sebenarnya ibuku akan keluar dari gua untuk menyambut sendiri kedatanganmu, tapi berhubung saat ini beliau sedang berlatih ilmu maka maafkanlah bila ibuku tak bisa menemui kalian"
Bicara sampai disini ia segera memberi hormat dan melanjutkan.
"Ibuku memerintahkan aku untuk mewakili beliau menyambut kedatangan ketua Jin, harap ketua Jin suka masuk ke dalam gua, tapi karena tempat kami terlalu sempit dan tak bisa menyambut pula saudarasaudara yang lain, harap para enghiong lainnya suka memaafkan"
Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, Tio Samkoh dan Hoa In segera berdiri tertegun.
Mereka tidak habis mengerti, sekarang Hoa Hujien toh sedang berlatih ilmu kenapa Jin Hian dipersilahkan masuk kedalam?
Karena kebingungan dan tak habis mengerti, maka sorot mata yang tajam segera dialihkan ke arah si anak muda itu.
Hoa Thian-hong tetap berlagak pilon dan sama sekali tidak menggubris kedua orang rekannya, malahan dengan tenang ia menantikan Jin Hian untuk masuk ke dalam gua, Kendatipun Jin Hian adalah seorang jago kawakan yang banyak pengalaman, berada dalam keadaan begini diapun jadi ragu-ragu dan tak tahu apa yang musti dilakukan.
Diam-diam ketua dari perkumpulan Hong-im-hwie ini segera berpikir.
"Perempuan itu tersohor karena kekerasan hatinya, ketegasan tindakannya serta tingkah lakunya yang sukar diduga. Hmm! Hmm! ditinjau dari sikapnya siang hari tadi ketika dia memerintah bangsat ini untuk membokong nenek buta, tindakan tersebut sudah melanggar semangat jantan seorang pendekar ditambah pula ketika turun tangan membokong nenek buta yang merupakan tindakan melanggar peraturan Bulim.... sekarang ia hendak gunakan akal licik untuk mencelakai pula dirimu....Hmm....Hmm.... aku adalah manusia macam apa? tidak mungkin aku akan bersedia masuk perangkapmu"
Berpikir sampai disini sirnalah niatnya untuk memasuki gua, tetapi karena dia sendirinya yang bermaksud untuk menemui Hoa Hujien, bila tak berani masuk ke dalam gua tentu akan dipandang remeh orang, maka dalam keadaan yang serba salah ia segera berpaling ke arah Yan-san It-koay serta Liong bun Siang sat.
Kedudukan ketiga orang itu dalam perkumpulan bagaikan seorang tiongloo dalam perguruan.
kedudukannya tinggi dan sangat terhormat melebihi jabatan Jin Hian sendiri.
Sekarang ketika dilihatnya Jin Hian berpaling ke arah mereka dengan maksud bertanya, sorot mata dengan cepat saling bertukar pandangan cuma tiada sesuatu jalanpun yang berhasil mereka dapatkan.
Malaikat kedua Sim Ciu adalah seorang yang jumawa dan bengis, melihat Jin Hian dibikin serba salah dia jadi naik pitam dan kebuasannya menyelimuti seluruh wajah, dengan kepala diangkat ke atas ia maju ke arah mulut gua dan serunya dengan dingin.
"Sudah banyak manusia aneh dan pendekar sakti yang kutemui, Hujien ini benarbenar tidak pandang sebetah matapun terhadap kita semua"
Tio Sam-koh berjaga-jaga di depan Hoa In, melihat orang itu maju ke depan ia segera mengetahui banwa pihak lawan ada maksud hendak masuk ke dalam gua, dengan gusar ia lantas menatap wajah orang itu sementara suara tertawa dingin bergema tiada hentinya, bila Sim Ciu berani berjalan makin dekat maka segera dia akan turun tangan.
Hoa Thian-hong sebenarnya sedang menjalankan siasat untuk menakut-nakuti musuhnya, kendatipun Jin Hian berani menerima undangannya, dengan seorang diripun belum tentu ia ijinkan musuhnya masuk kedalam, apa lagi setelah dilihatnya orang yang mendekati gua adalah Sun Ciu, diam-diam hawa murninya dihimpun ke dalam telapak dan siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.
Siapa tahu Sim Ciu pun sedang berpikir di dalam hati.
"Perempuan itu bersembunyi di dalam gua entah permainan setan apakah yang sedang ia persiapkan? Nama besarku didapat dengan susah payah dan harus berjuang selama setengah abad lamanya, buat apa aku musti menempuh mara bahaya yang sama sekali tak ada gunanya itu? Bila bangsat cilik itu berhasil kutangkap, bukankah tidak sukar untuk memaksa dia untuk mengaku....?"
Berpikir sampai disini, ia segera mendekati Hoa Thianhong, tiba-tiba sambil tertawa seram dengan ilmu Tay im sin jiau ia lancarkan sebuah cengkeraman kilat kemuka.
Hoa Thian-hong tertawa dingin, ia mengegos ke samping meloloskan diri dari cengkeraman Sim Ciu, kemudian jari tangan kanannya dikeraskan bagaikan tombak dan balas menyerang ke depan.
Inilah jurus 'menyerang sampai mati' dari ilmu tujuh kupasan dari Ci yu, bukan saja lihay dalam serangan, hebat pula dalam tenaga.
Bagi kedua orang yang sama-sama mempunyai maksud tertentu, serangan yang dilancarkan bagaikan guntur membelah bumi di siang hari bolong ini masih belum terasa seberapa lain keadaannya dengan para penonton yang berada disisi arena, mereka jadi amat terperanjat sehingga air mukanya berubah hebat.
Di tengah desingan suara tajam, Hoa Thian-hong serta Sim Ciu bersama-sama loncat mundur ke belakang, kendatipun tidak sampai terluka, namun jantung mereka berdua sama-sama berdebar keras karena emosi.
Dengan cepat Hoa In loncat ke depan Hoa Thian-hong sambil tegurnya dengan suara gelisah.
"Siau Koan-jin, kenapa kau?"
"Aku tidak apa-apa!"
Sambil berkata, empat buah mata bersama-sama melirik ke arah pinggangnya, di atas jubah warna biru yane baru kini sudah bertambah dengan tiga buah bekas cakar tangan yang nyata.
Sedari tadi Hoa In sudah terkesiap sehingga keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, kini setelah rasa kagetnya agak berkurang dengan hawa amarahnya yang berkobar, ia membentak keras.
"Setan tua she Sim, kalau punya kepandaian ayoh adu kekuatan dengan diriku akan kusuruh engkau rasakan sampai dimanakah kelihayan dari ilmu silat perkampungan Liong soat Sanceng!"
"Huuuh....! engkau situa bangka bangkotan punya kepandaian apa?"
Ejek Sim Ciu dengan nada menghina, berani benar engkau menantang diriku untuk bertarung, rupanya engkau sudah bosan hidup?"
Hoa In mendengus dengan gusarnya, sepasang telapak diayun ke depan sementara tubuhnya menerjang dengan hebatnya.
Diluaran Sim Ciu bicara dengan enteng dan seenaknya, padahal ia tak berani bertindak gegabah, setelah mengenos dari serangan lawan tubuhnya berebut maju ke depan dan sekuat tenaga mendahului musuhnya dengan satu sodokan maut, dalam waktu singkat terjadilah suatu pertempuran yang amat seru, masingmasing pihak mengeluarkan segenap kemampuannya untuk berusaha merobohkan lawannya secepat mungkin.
Setelah mengikuti jalannya pertarungan itu beberapa saat, Hoa In Hong mengetahui bahwa pertarungan itu tak akan berakhir dalam satu dua ratus jurus, sinar matanya segera dialihkan ke arah yang lain, ia lihat fajar telah menyingsing di ufuk sebelah Timur, segera pikirnya.
"Ibu memerintahkan aku untuk mengulur waktu, sekarang fajar sudah hampir menyingsing, semoga saja dalam tiga jam terakhir jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan lagi"
Baru saja ingatan tersebut berkelebat lewat dalam benaknya, tiba-tiba dari tepi seberang muncul kembali belasan sosok bayangan manusia yang mana dengan cepatnya berlari mendekat.
Dalam pada itu kobaran api telah membakar rumput ilalang yang lebat dan tingginya mencapai sedada manusia, jilatan api yang amat besar menyebar keempat penjuru menimbulkan kebakaran yang amat besar, sepanjang pandangan mata yang terlihat hanya tanah gersang yang berwarna hitam karena hangus....
Dalam waktu singkat belaian orang yang munculkan diri itu sudah berada di depan mata, ternyara mereka adalah para jago lihay perkumpulan Sin-kie-pang.
Orang pertama yang memimpin rombongan para jago itu bukan lain adalah kunsu atau juru pikir dari perkumpulan Sin-kie-pang yakni Cukat beracun yau sut, dibelakangnya mengikuti dua belas orang jago yang semuanya terdiri dari para pelindung hukum perkumpulan.
Bsgitu tiba di tempat tujuan, dengan pandangan yang tajam Cukat beracun Yau Sut menyapu sekejap suasana disekeliling arena tersebut, kemudian sorot matanya yang tajam dialihkan ke atas tubuh Pek Soh-gie.
Begitu melihat hadirnya Yau Sut di tempat itu Hoa Thian-hong segera teringat kembali pengalamannya sewaktu berada ditepi sungai Huang-ho tempo hari, orang inilah yang telah menusuk tubuhnya dengan jarum pengunci sukma Soh hun sin ciam, dan ia pula yang memaksa dirinya menelan teratai racun empedu api untuk melakukan bunuh diri.
Tanpa terasa pikirnya di dalam hati.
Keadaan dari manusia berhati racun ini masih juga seperti sediakala, sayang tubuhku masih terluka....
kalau tidak aku ingin se kali memberi pelajaran kepadanya!"
Dalam pada itu, Cukat racun Sut telah memberi hormat dan menyapa sambil tertawa nyaring.
"Ketua Jin, baik-baik-baikah engkau? Sudah lama kita tak pernah berjumpa"
"Yau heng, selamat bertemu,"
Sahut Jin Hian sambil balas memberi hormat.
Sinar mata Cukat beracun Yau Sut menyapu sekejap wajah Yan-san It-koay serta Sim Kian, tapi ketika dilihatnya kedua orang itu sama sekali tidak menggubris dirinya bahkan malah menonton jalannya pertarungan antara Sim Ciu dengan Hoa In, maka diapun tidak menyapa kedua orang itu sebaliknya alihkan kembali sorot matanya ke arah Hoa Thian-hong, Sambil tertawa ia memberi hormat dan tegurnya.
"Hoa kongcu, sejak berpisah apakah engkau berada dalam keadaan baik-baik saja? Apakah masih ingat dengan aku orang she Yau?"
"Aku tak berani melupakan dirimu!"
Jawab Hoa Thianhong sambil tertawa hambar. Air muka Cukat beracun Yau Sut segera berubah amat serius, tiba-tiba ujarnya.
"Apakah nona ini adalah nona Pek Soh Gi dari perkumpulan kami?"
"Sedikitpun tidak salah"
Sahut Pek Soh Gi sambil membentangkan biji matanya yang jeli.
"keponakan bukan lain adalah Pek Soh Gi, siapa paman? Apakah engkau adalah Cukat beracun?"
Melihat gadis itu mendadak membungkam, Cukat beracun Yau Sut segera tertawa nyaring.
"Benar, aku adalah Cukat beracun Yau Sut, sudah lama aku mengabdi pada pangcu dan nona Gi dibesarkan oleh kami!"
"Oooh.... rupanya paman Yau, maaf kalau tit-li kurang hormat"
Sambil berkata Pek Soh Gi hendak maju ke depan, tapi pergelangannya terasa mengencang ketika ia berpaling maka terlihatlah orang yang mencekal pergelangannya bukan lain adalah Jin Hian.
Bentak-bentakan gusar berkumandang dari arah belakang, belasan orang jago yang berada di belakang Yau Sut dengan amat gusarnya siap melakukan terjangan ke arah depan.
Cukat beracun Yau Sut sendiri tetap tenang, dia melintangkan tangannya menghadang anak buahnya melakukan penyergapan.
Sejak ia tiba disitu situasi yang terbentang sudah terlihat olehnya, ia tahu Pek Soh Gi berada tidak jauh dari Jin Hian, asal dirinya turun tangan maka pihak lawan pasti akan mendahului dirinya, maka setelah menyaksikan pergelangan Pek Soh Gi sudah di cengkeram Jin Hian, ia semakin tak berani turun tangan secara gegabah.
0000O0000 SETELAH termenung sebentar Yau Sut segera mengerling sekejap ke arah kakek baju hijau yang berada disampingnya, kakek baju hijau itu mengangguk, dari sakunya dia ambil keluar sebuah bom udara dan segera dilepaskan ke udara.
Sreet....
blaam!
Serentetan cahaya merah membumbung tinggi ke angkasa dan meledak dengan kerasnya, serentetan bintang berwarna emas dengan cepat memancar keluar dan membentuk sebuah panji besar, perlahan kerlipan cahaya itu melayang ke bawah dan lama sekali baru lenyap.
Dalam sekejap mata dari tempat kejauhan berdentuman pula beberapa puluh ledakan bunga api yang berbentuk sama.
Sim Ciu yang sedang melakukan pertarungan tiba-tiba membentak keras, dia lancarkan dua pukulan dahsyat menggetar mundur musuhnya, kemudian diapun meloncat mundur pula ke belakang.
Hoa In tarik kembali serangannya dan segera menegur dengan suara dingin.
"Setan tua she Sim, menang kalah toh belum berhasil ditetapkan, kenapa kau mengundurkan diri di tengah jalan?"
Sim Ciu menyeringai seram.
"Tua bangka bangkotan, hanya mengandalkan beberapa jurus silat kasaranpun berani pentang bacot dihadapanku, suatu ketika akan suruh engkau merasakan kelihaianku"
Sorot matanya dialihkan ke atas wajah Cukat beracun Yau Sut, kemudian menambahkan.
"Engkaukah juru pikir dari perkumpulan Sin-kie-pang yang disebut orang Cukat beracun Yau Sut?"
Cukat beracun tersenyum.
"Mana nama.... aku memang bernama Yau Sut, kata beracun secara dipaksakan masih dapat kupakai, kalau kata Cukat sih tak berani kugunakan"
Ketika Hoa Thian-hong melihat Sim Ciu melepaskan Hoa In dan mencari gara-gara dengan Yau Sut, hatinya jidi amat girang, pikirnya.
"Andaikata kedua kekuatan besar itu saling bentrok dan bertempur sehingga waktu bisa terulur lebih lama lagi, ibu pasti akan berhasil melepaskan diri dari mara bahaya"
Tiba-tiba terdengar suara Sim Ciu berseru sambil tertawa seram.
"Yau Sut, kami Liong bun siang sat akan bernama kosong jika tindakan kami kalah beracunnya kalau dibandingkan dengan diri mu, aku ingin menjajal apakah engkau benar-benar beracun tidak?"
Mendengar perkataan tersebut semua orang merasa tercengang, mereka tak tahu dengan cara apakah Sim Ciu akau menjajal kepandaian Yau Sut, kecuali beberapa orang kepercayaan yang merasa kuatir atas kejadian ini, semua orang diam-diam merasa girang sekali dengan terjadinya peristiwa itu, sebab mereka ingin melihat Yau Sut dibikin malu.
Tapi Cukat beracun Yau Sut benar-benar lihay dan tidak malu menjabat kedudukan sebagai Kun su, orang lain tak dapat menebak maksud hati Sim Ciu sebaliknya ia sudah dapat menduga apa yang hendak dilakukan lawannya.
Tampak sepasang alisnya berkerut kencang dengan wajah murung serunya.
"Engkaupun merupakan seorang jago lihay yang amat tersohor di dalam dunia persilatan, kalau beraninya hanya melukai angkatan muda apakah engkau tak takut akan ditertawakan oleh para enghiong hoohan di kolong langit?"
Sim Ciu tertawa terbahak-bahak, dengan langkah lebar ia berjalan mendekati kesisi Pek Soh Gi, kemudian sambil menempelkan telapaknya di atas punggung gadis itu, serunya sambil tertawa seram.
"Yau Sut! aku perintahkan engkau untuk turun tangan membekuk batang leher bangsat cilik she Hoa itu di dalam seratus jurus, andaikata perintah ini dapat kau penuhi maka aku akan bertukar tawanan dengan dirimu, sebaliknya kalau engkau tak mampu, maka sekali bacok akan kubunuh mati budak ini sehingga Pek loo ji akan bikin perhitungan dengan dirimu...."
"Sim Ciu!"
Bentak Hoa Thian-hong dengan alis berkerut.
"aku orang she Hoa toh berada disini, mengapa kau tak berani turun tangan sendiri?"
Tio Sam-koh takut suasana jadi bertambah kacau, mendengar ucapan tersebut dengan nada dingin ia segera berseru.
"Siapa yang akan turun tangan toh sama saja, apakah kalau Pek Siau-thian kematian putrinya maka engkau yang harus mengganti nyawanya?"
Hoa Thian-hong segera alihkan sorot matanya ke arah Pek Soh Gi, diam-diam ia menghela napas dan berpikir.
"Aaai.... nona itu berbudi luhur dan lemah lembut, tak tahunya bencana yang menimpa dirinya ternyata beruntun.... ia benar-benar patut dikasihani...."
Walaupun berada dalam keadaan bahaya, sikap Pek Soh Gi masih tetap tenang sekali, air matanya sama sekali tidak berubah, sesudah berpikir sebentar tiba-tiba ia bertanya.
"Paman Yau, sekarang ayahku berada dimana?"
Pada saat itu Cukat beracun Yau Sut sedang putar otak mencari akal untuk mengatasi persoalan itu, mendengar pertanyaan tersebut segera menjawab.
"Pangcu mendengar engkau sudah terjerumus ke dalam kuil It-goan-koan, sekarang ia pergi mencari Thian Ik-cu untuk minta orang, menurut Thian Ik-cu engkau sudah di culik oleh Ciu It-bong, maka setelah bertempur sebentar kami berpisah untuk mencari diri mu...."
Baca Juga: Pendekar Binal 1
Baca Juga: Hina Kelana Balada Kaum Kelana 8