Ceritasilat Novel Online

Neraka Hitam 1

Eps 1 Neraka Hitam - Khu Lung

Baca online Neraka Hitam - Khu Lung

Cersil Neraka Hitam - Khu Lung.

NERAKA HITAM SERI BARA MAHARANI Lanjutan Rahasia Hiolo Kumala Karya . Khu Lung Diceritakan oleh Tjan ID

Jilid 1 DALAM cerita yang berjudul Rahasia hiolo kumala, dikisahkan bahwa Hoa In-liong sedang bercakap cakap dengan Si Leng jin membicarakan rahasia yang meliputi perkumpulan Hian-beng kau, sebuah batu kecil disambit ke dalam jendela oleh seseorang.

Setelah dilakukan pengejaran yang amat ketat, akhirnya dapat diketahui bahwa orang itu adalah seorang kakek berbaju hijau.

Dalam suatu perdebatan sengit yang kemudian berlangsung, Hoa In-liong bersikeras untuk menantang kakek itu berduel.

Karena mendongkol dan jengkel setelah di desak terus menerus, akhirnya kakek berbaju hijau itu berkata sambil tertawa keras.

"Bocah cilik! Tampaknya sebelum kau di beri penjelasan yang setimpal, kelatahanmu kini hari akan kian bertambah, baiklah! Akan kuterima tantanganmu itu."

Sinar keemasan emas tampak berkilauan di udara, tahutahu di dalam pergelanggan tangan si kakek berbaju hijau itu telah bertambah dengan dua buah gelang emas yang besarnya seperti mangkuk dengan permukaan luarnya rata, sedang permukaan dalamnya bergerigi.

Gelang itu tidak mirip gelang baja Liong hau kang-huan, juga tidak mirip dengan gelang pelindung tangan lu jiu huan, tapi yang jelas bentuk senjata tersebut merupakan suatu bentuk senjata yang aneh dan istimewa sekali.

Diam-diam Hoa In-liong berpikir setelah menyaksikan bentuk aneh senjata musuhnya "Bila dilihat dari bentuk senjata itu tam pak gerigi dibalik gelang khusus dipergunakan untuk mengunci pedang musuh, Hmm...

cuma kalau kau anggap ilmu pedang keluarga Hoa kami dapat diatasi dengan cara semacam itu, maka keliru besarlah penghitunganmu itu....."

Terdengar si kakek berjubah hijau berkata lagi.

"Jurus seranganku dalam mempergunakan senjata Jit gwat siang huan (sepasang gelang mata hari dan rembulan) ku ini mempunyai keistimewaan yang berbeda jauh dengan ke adaan pada umumnya kau musti lebih berhati-hati......"

"Tak usah kuatir, cuma akupun berharap agar kau lebih waspada pula sewaktu menghadapi ancaman pedangku."

Sekalipun nafsu membunuhnya sudah jauh berkurang anak muda itu masih tidak sudi untuk melepaskan si kakek musuhnya dengan begitu saja, maka setelah berpikir sebentar, tubuhnya segera menubruk ke muka, pedang antiknya langsung membabat ke pinggang lawan.

Jangan dianggap serangan itu amat sederhana dan biasa, hakekatnya dibalik kesederhanaan tersebut justru tersimpan suatu da ya kekuatan yang amat dahsyat.

Kakek berbaju hijau itu terperanjat, pikirnya.

"Hebat betul tenaga dalam yang dimiliki orang ini, tak malu kalau menjadi putranya Thian cu kiam."

Sementara otaknya berputar, dengan cekatan ia berkelit ke samping.

"Huuh.....semula kuanggap ilmu silatmu sudah lihay benar, tak tahunya cuma manusia yang pandai berkelit"

Ejek Hoa Inliong kemudian sambil tertawa. Betapa gusarnya kakek berbaju hijau itu mendengar ejekan tersebut, diam-diam ia menyumpah.

"Sialan betul kau si bocah latah, tampaknya aku harus memberi pelajaran yang setimpal kepadamu."

Dalam hati ia berpikir demikian, diluar katanya.

"Bagus sekali! Bukankah kau akan menjadi pemimpin umat persilatan? Ketahuilah jago-jago dalam Hian-beng-kau yang lebih li hay dari diriku banyaknya tak terhitung, jika tak mampu menangkan aku lebih baik enyah dari sini dan pulang saja ke perkampungan Liok-soat sanceng."

Sambil berkata sinar emas berkilauan diangkasa, bagaikan sebuah bukit emas, kedua buah senjata itu langsung menghantam ke atas batok kepala si anak muda itu.

Terkejut juga Hoa In-liong menghadapi keganasan serangan itu, tapi bukan berarti dia takut, pedangnya segera diputar untuk menyongsong datangnya ancaman tersebut.

"Traang......! Traang....!"

Benturan-benturan nyaring menggelegar di udara menyebabkan percikan bunga api, secara beruntun Hoa In-liong mundur tiga langkah ke belakang, tangan kirinya menjadi kaku dan kesemutan, ini semua membuat hatinya tergetar.

Ketika ia coba menengadah, tampaklah kakek berjubah hijau itu sudah mundur beberapa tombak dengan wajah terkejut pula, dia lantas berpikir.

"Hmm......rupanya diapun tidak berhasil mendapatkan apa-apa...... Sementara itu si kakek berjubah hijau ini sudah membentak nyaring dengan perasaan terkejut. Beradunya gelang emas menimbulkan suara tajam yang memekikkan telinga, tiba-tiba maju lagi melancarkan tubrukan, dengan sepasang gelang emasnya yang satu digunakan untuk menyerang jalan darah Pen-hwe-hia sementara yang lain dipakai untuk menyerang lambung. Hoa In-liong tetap tegak sekokoh batu karang.

"Sreet.....!"

Secepat kilat dia tusuk dada musuh. Kehebatan dari serangan ini justru terletak pada soal "kecepatan"

Sekalipun menyerang belakangan tapi tiba duluan sebelum ancaman dari kakek berjubah hijau itu mencapai sasarannya, pedang itu sudah tiba lebih dulu di depan dadanya.

Sungguh amat terperanjat kakek berjubah hijau itu pikirnya.

"Tak kusangka kalau ilmu pedang dari bocah ini sudah mencapai taraf setinggi ini."

Cepat dia tarik kembali serangannya dan bergeser ke sebelah kiri Hoa In-liong. In-liong bergerak mengikuti arah pedang, sambil memantek gerak maju kakek itu dengan pedangnya kembali, ia berpikir.

"Meskipun kemunculan kakek ini tidak mengandung maksudmaksud tertentu, tapi belum pernah kudengar kalau diantara rekan sealiran terdapat seorang jago yang menggunakan Jitgwat-siang-huan sebagai senjatanya, daripada kehujanan lebih baik aku sedia payung sebelum hujan. Bila fajar telah menyingsing dan Limpek Ngo serta saudara Cong gi sekalian mengetahui aku telah hilang, pencarian secara besar besaran pasti akan dilakukan, aku musti menyelesaikan pertarungan ini secepat cepatnya."

Sesudah mengambil keputusan, ia membentak keras lalu.......

"Sreet.....! sreet,...!"

Secara beruntun dia lancarkan dua buah serangan berantai yang amat dahsyat. Kakek berjubah hijau itu memberi perlawanan yang gigih, sambil bertarung ia berpikir.

"Bila dilihat dari sikapnya itu, jelas ia telah menganggapku sebagai musuh besar, perlu tidak kujelaskan asal usulku yang sebenarnya?"

Karena sangsi, posisinya segera didesak oleh Hoa In-liong sehingga kalang kabut.

Terdengar Hoa In-liong tertawa nyaring, secara beruntun ia lancarkan belasan buah serangan berantai, serangan itu amat dahsyat bagaikan gulungan air sungai yang susul menyusul.

Tenaga dalam yang di miliki kakek berjubah hijau ini cukup sempurna, terutama permainan sepasang gelang emasnya cukup menggetarkan sungai telaga, meski demikian untuk sesaat ia kerepotan juga untuk menangkis semua serangan yang tertuju ke arahnya, dalam keadaan begini tak mungkin lagi baginya untuk memecahkan perhatian soal lain kecuali pusatkan segenap kemampuannya untuk melawan musuh.

Keadaan si kakek berjubah hijau ibaratnya orang yang terjerumus dalam kubangan lumpur, gerak kaki dan tangannya menjadi terbatas dan tak dapat berbuat leluasa.

Beberapa kali dia mencoba untuk memperbaiki posisinya, tapi setiap kali selalu terdesak kembali ke tempatnya semula.

Sebagai orang yang beradat tinggi, ia lebih-lebih segan untuk memberitahukan asal usulnya yang sesungguhnya setelah menghadapi keadaan semacam ini.

Akhirnya setelah pikir punya pikir dia putuskan untuk menyerempet bahaya dengan membuka sebuah titik kelemahan dalam pertahanannya.........

Untuk pertarungan antar jago-jago lihay, suatu tindakan yang kurang berhati hati dapat mengakibatkan keadaan yang lebih fatal, hakekatnya perbuatan dari kakek berjubah hijau itu tak lain hanya menuruti emosi, padahal manfaat yang sesungguhnya kurang bisa dipertanggung jawabkan.

Tujuan Hoa In-liong dalam melakukan serangan itu tak lain adalah berusaha mengalahkan musuhnya, serta-merta dia keluarkan jurus Tay ho seng-sam (Bintang buyar di sungai besar) untuk menerobos ke dalam.

Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benaknya.

"Andaikan kulakukan serangan dengan jurus ini kalau bukan mampus paling sedikit dia bakal terluka. Pemuda itu menjadi sangsi untuk melanjutkan serangannya, tanpa sadar gerak seranganpun ikut terhenti di tengah jalan. Justru keadaan inilah yang sedang ditunggu tunggu kakek berjubah hijau itu, sambil tertawa nyaring gelang emasnya disodok ke depan dan menyerang secara bertubi-tubi, seketika itu juga Hoa In-liong kehilangan posisi baiknya. Dibawah timpaan sinar sang surya, terlihat sekilas cahaya hijau bergerak kian kemari di tengah gulungan cahaya emas, sinar itu tajam menyilaukan sementara deruan angin tajam dari sapuan gelang emas dan bacokan pedang antik sangat memekikkan telinga. Terkesiap juga Hoa In-liong menghadapi keadaan tersebut, pikirnya.

"Tidak salah kalau orang mengatakan bahwa orang pintar di dunia ini lebih banyak dari pada ikan mujair di sungai, kakek ini belum pernah ku kenal namanya, tapi kepanduan yang dimilikinya sangat luar biasa."

Tiba-tiba kedengaran kakek berjubah hijau itu menegur dengan suara dalam.

"Hoa Yang, masih belum mau menyerah?"

"Huuuh ... terlampau pagi perkataanmu itu!"

Jengek sang pemuda ketus.

"Traaang.......!"

Dalam pembicaraan tersebut pedang dan gelang emas saling membentur dengan nyaringnya, apalagi dalam senjata masing-masing disertai juga dengan tenaga yang tangguh, kontan saja kedua belah pihak sama-sama merasakan tangannya kesemutan.

Akibatnya pedang dalam genggaman Hoa In-liong tersampok ke samping hingga pertahanan bagian mukanya terbuka, sebaliknya gelang di tangan kakek berjubah hijau itu kena dipukul pula sampai mencelat.

Cahaya emas membumbung tinggi ke angkasa, kemudian sekilas pandangan lenyap tak berbekas.

Kakek berjubah hijau itu tak sempat untuk mencari kembali gelang emasnya, sambil tertawa terbahak-bahak, gelang emas di tangan kanannya ditancapkan ke depan menghantam lengan kiri pemuda itu.

Serangan itu dilancarkan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, Hoa In-liong sadar bahwa tak mungkin bisa menghindarkan diri lagi.

Maka tanpa menghindar ataupun berkelit, pedang antiknya bergerak dari kiri menuju ke kanan langsung menusuk ke pinggang kakek berjubah hijau itu dengan jurus Liong cian yu ya (Naga bertarung di tempat alas).

Tidak menunggu gelang emasnya menempel di ujung baju pemuda itu, si kakek berjubah hijau menarik kembali serangannya, keberhasilan ini boleh dianggap sebagai suatu kemenangan kecil baginya.

Meskipun begini, serangan musuh telah mencapai pula dihadapannya, kakek itu segera sadar bila ia tidak menarik diri, niscaya akan terjadi pertarungan adu jiwa, maka dalam keadaan apa boleh buat dia menarik kembali serangannya dan mundur dua kaki dari tengah arena.

Terdengar Hoa In-liong membentak keras, bagaikan bayangan ia menyusul dari belakang dengan ketat pedangnya mendadak ditusuk ke muka, begitu menempel pakaian, senjatanya ditarik kembali pula dan dimasukkan ke dalam sarung.

"Maaf bila boanpwe bertindak lancang!"

Katanya kemudian sambil memberi hormat. Dengan geram kakek berjubah hijau itu berkata.

"Bocah nakal, bila serangan gelangku tadi dilanjutkan dengan gerakan yang sesungguhnya, sekarang kemungkinan besar kau sudah merintih di atas tanah......."

Hoa In-liong tertawa.

"Buanpwe telah menduga kalau cianpwe adalah seorang angkatan tua yang terhormat, tentu saja serangan itu tak akan dilanjutkan untuk merobohkan aku."

Kakek berjubah hijau itu tertegun "Kalau hendak mungkir?"

Serunya. Kembali Hoa In-liong tersenyum.

"Apalagi aku tahu kedatangan cianpwe hanya ingin mencoba kepandaian silat serta kecerdasan boanpwe dalam menghadapi musuh tangguh, bila aku yang muda terlalu bertindak ceroboh dan begitu saja, bukankah tindakanku ini justru malah akan membuat cianpwe tidak senang hati?"

"Sungguh pintar bocah ini!"

Pikir kakek berbaju hijau itu. Sekalipun dalam hatinya memuji, diluar katanya dengan ketus.

"Sebagai seorang pemuda yang diutamakan adalah kejujuran aku lihat bukan saja kau binal dan banyak tipu muslihatnya, jadi orang tak bisa dipercaya, manusia semacam kau mana bisa diberi pertanggungjawaban untuk memikul beban berat? Sekarang Hoa In-liong semakin yakin kalau kakek berbaju hijau itu adalah seorang angkatan tuanya, cepat ia berkata.

"Nasehat dari kau orang tua akan boanpwe camkan dengan sebaik baiknya, terima kasih banyak atas kematian cianpwe!"

Sambil berkata, ia benar-benar menjatuhkan diri berlutut. Dengan cekatan kakek berbaju hijau itu berkelit ke samping.

"Aku pun tak berani menerima hormatmu!"

Katanya.

"Locianpwe, boleh aku tahu siapa namamu......?"

Hoa In-liong bertanya dengan wajah serius.

"Kau masih ingin menyayat kulit wajahku?"

Tukas si kakek berjubah hijau itu cepat. Hoa In-liong segera tertawa hambar.

"Aaah, tidak, aku yang muda kuatir kehilangan hormat!"

"Hmmm......semenjak tadi kau sudah kehilangan hormat"

Kakek itu mendengus dingin.

"Tiba-tiba ucapannya terhenti dan sorot matanya dialihkan ke dalam hutan lebat di sebelah kanan sana.

"Yang datang sahabat sendiri,"

Bisik Hoa In-liong. Kakek itu tertawa dingin.

"Kaum wanita?"

Ia mengejek. Hoa In-liong mengangguk.

"Sungguh amat sempurna tenaga dalam locianpwe masih sejauh itu pun sudah kau tangkap suara mereka!"

Paras muka kakek itu mendadak berubah membesi, katanya lagi.

"Bagus sekali, dimana-mana sudah ada teman, mmmm...hmmm.....aku tidak percaya kalau kau adalah putranya Thian-cu-kian."

Hoa In-liong merasakan hatinya bergetar keras tapi dengan cepat ia tertawa.

"Locianpwe......"

Tiba-tiba kakek berbaju hijau itu menggerakkan tubuhnya menerjang kemuka, setelah memungut kembali gelang emasnya yang mencuat, tanpa berhenti dia melanjutkan perjalanannya menuju ke timur.

"Ehh..... locianpwe, kau hendak kemana?"

Hoa In-liong segera berteriak keras.

"Aku hendak berkunjung ke perkampungan Liok-soat sanceng,"

Jawab kakek berbaju hijau itu dari tempat kejauhan.

"akan kusuruh ayahmu menyiapkan kayu yang paling besar untuk menghajar pantatmu!"

Berbareng dengan selesainya ucapan tadi, kakak itupun lenyap tak berbekas dari pandangan mata, Hoa In-liong lantas berpikir.

"Kalau dikatakan mau ke rumahku, seharusnya dia berangkat ke arah barat......ah, sudah pasti ucapan itu cuma gertak sambal belaka......"

Tiba-tiba seseorang menyapa dengan suara yang merdu.

"Hoa Kongcu!"

Hoa In-liong segera memutar tubuhnya, dari balik hutan sebelah kiri pelan-pelan muncul tiga orang gadis muda yang cantik jelita, sebagai pemimpinnya tak lain adalah murid kedua dari Pui Chi giok yang bernama Cia Sau-yan.

Sejak semula ia sudah mengetahui akan kedatangan ketiga orang itu, maka pemuda itu tidak nampak kaget ataupun tercengang, hanya katanya dengan hambar.

"Apakah gurumu dan Ku locianpwe juga ikut datang?"

Cia Sau-yan tertawa cekikikan.

"Wah........tampak tampaknya Hoa kongcu tidak pandang sebelah mata kepada kami? Masa melihat kedatangan kami, menyapapun tidak?"

Ucapan tersebut sungguh membuat Hoa In-liong tertawa tak bisa menangis pun sungkan, terpaksa ia memberi hormat.

"Aaah.....aku memang kehilangan adat, apakah nona-nona sekalian sehat semua?"

Dengan wajah yang serius Cia Sau-yan bertiga membalas hormat, kemudian sambil tertawa cekikikan mereka ikut bertanya.

"Apakah Hoa kongcu juga baik baik?"

"Aaa.......budak budak ini semuanya binal dan nakal, terlalu membuang waktu untuk bertanya secara langsung kepada mereka.... ..."

Pikir Hoa In-liong dihati kecilnya. Karena berpendapat demikian, sambil tersenyum dia pun bertanya.

"Berapa orang dari perkumpulan kalian yang telah datang?"

Cia Sau-yan tertawa cekikikan.

"Coba kau terka!"

Dengan sorot mata yang tajan Hoa In-liong memperhatikan sekejap beberapa orang gadis itu, lalu sambil tertawa katanya.

"Aku terka cuma ada dua orang yang kabur di luar pergerakan orang....... betul bukan?"

"Ngaco belo! Semuanya telah datang......"

Seru Cia San yan dengan wajah cemberut.

"Semua telah datang?"

Hoa In-liong membelalakkan matanya lebar lebar.

"Bukan begitu......bukan begitu maksudku, yang ku aturkan adalah semua kekuatan inti dari perkumpulan kami telah berkumpul semua di kota Si ciu."

"Cia Yu cong bukan orang mampus, masa gerombolan orang-orang yang begini menyolok mata tidak diketahui olehnya?"

Gumam Hoa In-liong kemudian. Tiba-tiba si nona berbaju kuning itu tertawa cekikikan.

"Hoa kongcu, kau jangan percaya dengan obrolan ji suci kami, sekalipun segenap kekuatan inti dari perkumpulan kami telah berangkat ke utara, namun baru kami berdua yang tiba paling dulu di kota Si-ciu ini."

Cia Sau-yan kontan saja mengerutkan alis matanya, lalu sambil berpaling makinya.

"Budak sialan, besar amat nyalimu, begitu berani bermusuhan denganku?"

Hoa In-liong mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

"Haaah.....haaahhh.....haaahhh......."

Kalau begitu, aku mohon diri lebih dahulu,"

Katanya sambil menjura.

"Hoa kongcu! Harap tunggu sebentar......"

Tiba-tiba nona berbaju merah itu berseru. Terpaksa Hoa In-liong menghentikan langkahnya.

"Apakah nona masih ada petunjuk lain?"

Tegurnya sambil tertawa.

"Hoa kongcu, kau begitu terburu-buru hendak pergi meninggalkan tempat ini apakah tidak sudi menggubris diri kami lagi?"

Omel nona berbaju merah itu manja. Hoa In-liong tertawa getir.

"Aaaah.... siapa bilang begitu? Aku toh tak pernah memandang rendah siapa pun juga!"

Katanya.

"Hoa kongcu, sekalipun kau berkata demikian, tapi kami rasa tentunya kongcu belum tahu bukan siapa nama kami........"

Hoa In-liong tertawa merdu.

"Daya ingatku memang sangat jelek dan memalukan sekali, seringkali apa yang telah kualami akan terlupakan kembali dengan begitu saja."

"Nah, betul bukan perkataanku?"

Langsung saja si nona berbaju merah itu berseru sambil tertawa.

"Tapi hanya nama nama bunga kenamaan di dunia ini yang tak pernah kulupakan,"

Lanjut Hoa In-liong dengan cepat.

"seperti bunga anggrek, bunga botan, bunga sedap malam......semua nama-nama itu, asal sudah masuk ketelingaku maka selama hidup jangan harap bisa terlupakan lagi."

Tiba-tiba nona berbaju kuning itu tertawa cekikikan.

"Kalau didengar dari ucapanmu itu, tampak-tampaknya kau seperti tahu dengan pasti, coba katakan, siapa namaku?"

Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak.

"Haahaehh.......haaahh.....haaahh,.....tak bisa diragukan lagi kalau nona semua sama-sama memakai nama marga Cia."

Sambil menunjuk ke arah nona berbaju kuning itu serunya.

"Nona mempunyai sebuah nama yang tunggal di belakang huruf Cin yakni Wan jadi lengkapnya nama Cin Wan!"

Kemudian Sambil menuding si nona berbaju merah tambahnya.

"Sedang nona ini bernama Cin Lam-yan, tidak salah bukan?"

Tiga orang nona itu segera tertawa cekikikan dengan gembiranya, Hoa In-liong ikut tertawa pula. Selang sesaat kemudian, Cia Sau-yan baru berkata.

"Sumoay berdua jangan bergurau, kita harus menyelesaikan dulu masalah yang sesungguhnya."

Tertawa geli Hoa In-liong mendengar perkataan itu, pikirnya.

"Huuuhhh...tak disangka kalau kalian juga tahu kalau urusan penting harus didahulukan. Hmm bergurau dulu dengan kalian baru membicarakan masalah yang sesungguhnya. Perbuatan ini pada hakikatnya tak tahu membedakan mana yang benar dan mana yang enteng.... Sementara itu Cia Sau-yan telah berkata.

"Hoa kongcu, tahukah kau, apa sebabnya kekuatan inti dari perkumpulan kami berangkat semua ke utara?"

"Apa lagi yang muski ditanyakan?"

Pikir Hoa In-liong.

"bibi Ku mempunyai hubungan persahabatan yang erat sekali dengan keluarga Hoa kami, sudah barang tentu kedatangannya adalah untuk membantu diriku."

Tentu saja apa yang dipikirkan tak sampai diutarakan keluar, katanya sambil tertawa.

"Rencana bagus dari perkumpulan kalian tentu diatur secara cermat dan rajin, dari mana kau bisa tahu?"

"Hmm.......akupun sudah tahu, bila kau sanggup untuk menebaknya kata Cia Sau-yan sambil tertawa merdu. Setelah berhenti sebentar terusnya.

"Ketika guruku mendapat kabar bahwa kau sedang mencatut nama ayah mu untuk berbuat onar di kota Si cin......

"Eeehh.....aku bukan lagi menerbitkan keonaran, aku sedang melaksanakan tugas yang sungguh-sungguh amat serius"

Tukas Hoa In-liong sambil tertawa lebar. Cia Sau-yan mencibirkan bibirnya dan ikut tertawa.

"Guru pun segera mengumpulkan kami semua sambil berkata, ,Bocah keparat yang binal dan nakal itu sedang menerbitkan kekacauan dalam masyarakat, coba menurut pendapat kalian apa yang musti kita lakukan?"

Maka akupun menjawab.

"Apa sukarnya? Biar dia mau mampus atau mau hidup, apa sangkut pautnya dengan kita?""

"Ohooh.....betapa kejinya hati nona!"

Pekik Hoa In-liong sambil tertawa lebar. Cia Wan atau si nona berbaju kuning itu tertawa cekikikan.

"Jangan keburu mendamprat dulu, ada yang lebih keji lagi!"

Serunya.

"Siapakah dia?"

Tanya Hoa In-liong melebar sepasang matanya dan tertawa.

"Siapa lagi? Tentu saja aku!"

"Bagaimana pula dengan kau?"

Cia Sau-yan ikut tertawa cekikikan, katanya pula.

"Kau tanya tentang dia? Dia berkata begini caranya terlalu keenakan dia, kalau dia memang ingin memancing terjadinya badai pertarungan dalam dunia persilatan, lebih baik kita bantu dia untuk menuntun keluar semua gembong gembong iblis yang ada di empat penjuru dunia, agar dia membereskan mereka satu per satu dan mengangkat dirinya menjadi tersohor"

"Suatu ide yang sangat bagus!"

Seru Hoa In-liong sambil tertawa.

"cuma kuatirnya, sekalipup nama besar bisa didapat, apa mau dibilang umurnya malah pendek"

"Huuuh.........malah mengucapkan kata-kata yang bernada tak baik,"

Omel Cia Sau-yan. Tiba-tiba wajahnya berubah amat serius, katanya lebih jauh.

"Meskipun perkataan dari ji sumoay bernada gurauan, tapi memang demikianlah kenyataannya Hoa kongcu, suhuku benar-benar mengandung maksud untuk membantumu."

"Apakah tidak kalian pikirkan, sanggupkah kau untuk menerima semua percobaan ini?"

Kata Hoa In-liong dengan dahi berkerut.

"Hoa kongcu toh bakal mendapat bantuan dari banyak orang, apa lagi yang musti dirisaukan? Bukankah di kota Si ciu sudah berkumpul sangat banyak kawan sealiran yaug siap membantumu?"

"Sekalipun kawan sealiran yang berkumpul disini tak sedikit jumlahnya tapi sebagian besar merupakan mereka-mereka yang berilmu silat amat rendah"

Setelah berhenti sebentar katanya lagi sambil tertawa.

"Mungkin saja sobat sobat karib ayahku menganggap aku terlampau tak becus sehingga enggan untuk memberikan bantuannya."

Cia Sau-yan tertawa cekikikan.

"Ilmu silat yang kami miliki juga termasuk golongan kaum lemah, mungkin kurang mendapat sambutan dihati Hoa kongcu?"

"Aaaa.....siapa bilang, aku akan menyambut kalian dengan senang hati...."

Sahut Hoa In-liong dengan wajah berseri.

"boleh aku tahu saat ini nona sekalian tinggal di mana?"

Tiba-tiba Cia Lam yan menimbrung sambil tertawa.

"Pokoknya dari tempat kami menginap masih sempat menyaksikan kasak-kusuk antara Hoa kongcu dengan si nona berbaju hitam itu."

Mendengar jawaban tersebut Hoa In-liong tertegun, segera pikirnya.

"Bicara menurut tenaga dalam yang mereka miliki tak mungkin aku tak merasakan jejak mereka bila mendekati diriku ......"

Anak muda itu lantas termenung dan berpikir sejenak, akhirnya ia menduga bahwa gadis-gadis tersebut tentunya menginap dimuka rumah penginapan Oug-keh, mungkin karena ia terlampau teledor waktu itu sehingga lupa untuk memperhatikan keadaan disana.

Dengan sepasang biji matanya yang jeli dan penuh dengan daya pikat itu Cia Sau-yan mengawasi Hoa In-liong beberapa saat lamanya, kemudian sambil ketawa genit ia berkata.

"Hoa kongcu, aku pengen tahu tempo hari apa yang kau lakukan di dalam kamar gelap bersama gadis itu?"

"Sungguh besar nyali budak ini,"

Batin Hoa In-liong, sampai-sampai perkataan semacam inipun berani dikatakan. Ia lantas tersenyum dan menjawab.

"Dalam kamar aku memegang sebuah lentera, masa nona tidak melihatnya...?"

Tapi itu kan terjadi setelah kamar berada dalam keadaan gelap cukup lamaa kata Cia Sau-yan sam-bil tertawa, Hoa In-liong tidak berminat berdebat terus dengan mereka, maka ujarnya kemudian.

"Aku hendak pulang ke rumah penginapan, soal ini kita bicarakan nanti bila aku berkunjung ke penginapan kalian, setuju?"

"Kitapun mau pulang ke kota, bagaimana kalau kita jalan bersama? Hoa kongcu tentunya tidak keberatan bukan?"

Pinta Cia Wan sambil tertawa lebar.

"Haaahh.. .haaahh.....haaahh...."

Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak.

"aku paling suka kalau ditemani cewek cewek cantik, kenapa muski keberatan?"

Begituah, merekapun pulang berempat ke kota secara bersama-sama.

Dalam perjalanan pulang, Hoa In-liong menggunakan ilmu meringankan tubuhnya sebesar tiga empat bagian, rupanya itupun su dah cukup membuat Cia Sau-yan bertiga kepayahan, makin lama mereka tertinggal makin jauh.

Akhirnya Cia Wan tidak tahan, ia berteriak dengan suara lantang.

"Hei, kalau kau kabur terus macam dikejar anjing gila, jangan salahkan kalau aku mulai mencaci maki."

Sesudah didamprat, Hoa In-liong baru berpaling, sekarang ia baru tahu kalau ketiga orang nona itu sudah ketinggalan sejauh tujuh delapan tombak lebih, terpaksa dia memperlambat larinya sedemikian rupa sehingga tiga orang itu berhasil menyusulnya.

Dengan susah payah perjalanan dilanjutkan.

Akhirnya kota Si-ciu muncul di depan mata, serentak mereka memperlambat larinya dan masuk kota lewat pintu utara.

Tiga orang nona cantik melakukan perjalanan bersamasama seorang pemuda ganteng, inilah suatu pemandangan yang sangat menyolok, apalagi yang pria begitu ganteng dan gagah, sedang yang perempuan bak bidadari dari kahyangan, siapakah yang tidak melayangkan pandangan ke arah mereka?

Suasana dalam kota ketika itu ramai banyak orang yang berlalu lalang disitu, mereka berjalan sambil berdesak desak, akan tetapi dikala ke empat orang muda itu munculkan diri, serentak semua orang menyingkir ke samping memberi jalan, tentu saja hal ini disebabkan karena Hoa In-liong sudah menjadi orang yang termashur dalam kota Si-ciu.

Tiba di depan penginapan yang memakai merek "Ong keh"

Cia Sau-yan menyapu sekejap sekeliling tempat itu dengan sepasang biji matanya yang jeli, kemudian katanya sambil tertawa.

"Waaah........bisa melakukan perjalanan bersamasama Hoa-ya, nilai dari siau-li sekalian benar-benar mengalami kenaikan beratus-ratus kali lipat.........."

Hoa In Hong melirik sekejap gedung bangunan itu, ia lihat pepohonan yang rimbun tumbuh di sekeliling bangunan, suatu tempat penginapan yang tenang dan segar.

Dia lantas berpaling, lalu katanya sambil tertawa.

"Benarbenar tenang dan nyaman tempat tinggal kalian, aku jadi kepingin untuk pindah pula kemari!"

"Silahkan!"

Seru Cia Lam-yan.

"suatu kejutan bila Hoa-ya sudi pindah kemari."

Hoa In-liong tersenyum.

"Hanya kalian bertigakah dari perkumpulan kalian yang datang kemari?"

Tiba-tiba ia bertanya. Cia Sau-yan tahu bahwa pemuda itu menguatirkan kekuatan mereka yang terlalu minin, maka cepat katanya.

"Kau tak usah kuatir, sebelum pihak Hian-beng-kau, Kiu im kau dan Mo kau membereskan dirimu, aku rasa tak mungkin mereka sudi mengganggu kami manusia-manusia kecil yang tak ada artinya."

Hoa In-liong segera berpikir sesudah mendengar perkataan itu.

"Bila didengar dari nada ucapannya, seakan-akan keluarga Hoa kena dirobohkan, niscaya dari pihak golongan lurus tak ada manusia lain yang bisa diandalkan lagi. Sementara dia masih termenung, sambil tertawa, Cia Wan telah berkata lagi.

"Agaknya dari pihak perkumpulan kami tiada jago-jago tangguh yang bisa diandalkan, rata-rata kepandaian silat mereka cetek dan tak becus seperti juga kami-kami ini."

Hoa In-liong tidak bicara lagi, sambil tertawa dia memberi hormat dan berlalu.

Baru beberapa langkah dia berjalan, tibatiba terdengar suara langkah berkumandang dari arah belakang, ketika ia berpaling maka tampaklah Cia Sau-yan sedang menyusul dirinya.

"Hoa Kongcu!"

Terdengar nona itu berseru.

"Ada urusan apa nona yan?"

Hoa In-liong berpaling sambil bertanya.

Cia Sau-yan menggetarkan bibirnya seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi niat itu kemudian diurungkan.

Tindak tanduknya yang sangat aneh ini sangat mencengangkan Hoa In-liong, pikirnya kemudian.

"Mungkinkah mereka masih ada persoalan yang sulit untuk diutarakan keluar?"

Sementara itu Cia Sau-yan beberapa saat kemudian dengan wajah serius katanya.

"Hoa kongcu toa Suci kami titip pesan dan menyuruh aku untuk menyampaikan kepadamu."

"Oooya? Apa pesannya?"

"tanya pemuda itu sambil tersenyum. Ketika ia mendongakkan kepalanya, kebetulan pemuda itu lihat seorang laki-laki setengah umur sedang menyembunyikan diri ke belakang kerumunan orang banyak dengan sikap yang mencurigakan. Hoa In-liong mempunyai daya ingatan yang cukup baik hanya sebentar ia merenung, segera teringat olehnya bahwa orang itu mirip sekali seperti dengan salah seorang anggota Hian-beng-kau..... Kontan saja ia bergerak cepat dengan menerjang ke arahnya lalu sekali tangannya berkelebat tahu-tahu bahu lakilaki setengah umur itu sudah kena cengkeram olehnya. Laki-laki setengah umur itu hanya merasakan pandangan matanya menjadi kabur, tahu-tahu tubuhnya sudah kena tangkap. Dalam kejut dan takutnya, ia meronta dengan sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari cengkeraman orang........... Sayang, kemampuan Hoa In-liong dalam mencengkeram bahunya memiliki kelebihan dari siapapun, semakin keras ia meronta, semakin kencang cengkeraman tersebut, ia merasa bahunya seperti dicengkeram dengan jepitan besi yang amat kuat, sakitnya sampai merasuk ke tulang sumsum.

"Hayo jawab!"

Bentak Hoa In-liong kemudian.

"siapa saja dari perkumpulan kalian yang telah datang?"

Peluh sebesar kacang kedelai sudah membasahi seluruh jidat laki-laki setengah umur itu, saking kesakitannya ia cuma bisa menggertak gigi menahan diri, tentu saja sepatah katapun tak mampu diucapkan.

Terpaksa Hoa In-liong melepaskan cengkeramannya, lalu berkata lagi.

"Hayo bicara dulu, kau pasti akan kulepas!"

Laki-laki setengah umur itu tetap membungkam diam seribu bahasa, mendadak telapak tangannya disodok ke depan menghantam dada Hoa In-liong...........

Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak, dengan cekatan ia cengkeram urat nadi pada pergetangan tangan laki-laki itu, kemudian sambil menggencetnya keras-keras, ia membentak.

"Hayo cepat jawab!"

Mungkin saking kerasnya tenaga gencetan tersebut, lakilaki setengah umur itu tak kuat menahan diri, aliran darahnya menjadi tersumbat dan ia menjerit melengking karena kesakitan, tak ampun pingsanlah orang itu,.......

"Tak kusangka kalau orang ini macam gentong nasi, tak ada gunanya!"

Keluh Hoa In-liong sambil menggelengkan kepalanya berulang kali. Terpaksa ia melepaskan cengkeramannya, kemudian sambil menyapu sekejap sekeliling tempat itu, katanya pula.

"Masih adakah sahabat-sahabat dari Hian-beng-kau yang berada di sekitar tempat ini? Silahkan menggotong pergi sobat ini, aku menjamin tak akan membikin susah"

Tapi orang-orang yang berada di sekitarnya cuma saling berpandang pandangan, tak seorang manusiapun yang tampilkan diri, dan tak ada pula yang pergi meninggalkan tempatnya, rupanya mereka kuatir kalau dicurigai sebagai anggota Hian-beng-kau.

Tunggu punya tunggu tak seorangpun yang munculkan diri, akhirnya Hoa In-liong mengejek dengan sinis.

"Huuuh........tak kusangka kalau anggota Hian-beng-kau adalah manusiamanusia yang tak punya kesetiaan kawan....."

Setelah berhenti sejenak, lanjutnya.

"Baiklah aku orang she Hoa menjamin tak akan mengirim orang untuk melakukan pengejaran, tentunya sudah berani bukan untuk tampilkan diri.......?"

Setelah mendapat jaminan, maka muncullah seorang lakilaki dari kerumunan orang banyak, tanpa mengucapkan sepatah katapun ia membungkukkan badan membopong lakilaki setengah umur yang pingsan itu kemudian siap meninggalkan tempat itu.

"Tunggu sebentar! tiba-tiba Hoa In-liong membentak. Dengan perasaan tercekat laki-laki itu menghentikan langkahnya, kemudian memutar badan dan memandang ke arah Hoa In-liong dengan sinar mata terperanjat.

"Beritahu kepada majikan kalian,"

Demikian Hoa In-liong berkata dengan suara dalam.

"lebih baik lain kali jangan mengirim orang yang begini tak becus untuk memata-mataiku, bukan saja bikin malu, akupun ikut merasa malu baginya."

Sewaktu mengucapkan kata-kata tersebut, gayanya amat sok dan seakan akan sedang memberi perintah pada anak buahnya sendiri, bahkan begitu selesai mengucapkan kata tersebut, dia mengulapkan tangan.

"Nah, sekarang pergilah!"

Ia berseru Laki-laki itu tak berani banyak berbicara lagi, bagaikan mendapat ampunan, cepatcepat ia kabur dari situ.

Tiba-tiba Cia Sau-yan memberi tanda kepada dua orang sumoaynya, Cia wan manggut-manggut seperti memahami maksudnya.

Sementara itu Hoa In-liong tanpa berpaling telah berkata sambil tertawa lebar.

"Nona Yan, lebih baik tak usah membuang tenaga dengan percuma!"

Masa kau sudah mengutus orang untuk membuntutinya? bisiknya. Hoa In-liong kembali tertawa, dia putar badan berlalu dari sana seraya berkata.

"Bila air ludah sudah disemburkan keluar tak nanti akan kujilat kembali ludahku itu, masa aku akan mengutus orang untuk mengikuti jejaknya? Cuma.......sekalipun aku tidak berbicara, pasti ada orang yang melakukan tugas itu buat kita. Kontan saja Cia Sau-yan tertawa cekikikan. Kau betul-betul seorang manusia yang licik, kalau begitu lain hari aku musti berhati-hati daripada kena jebak.....

"Apa pesan Moa suci kalian?"

Tanya Hoa In-liong. Cia Sau-yan melirik sekejap sekeliling tempat itu, lalu dengan alis berkenyit ia menjawab.

"Aku rasa kita bicarakan dilain hari saja!"

Hoa In-liong tidak terlampau bernafsu untuk mengetahui pesan apa yang hendak disampaikan kepadanya, maka merekapun lantas berpisah.

Ketika Cia Sau-yan bertiga sudah masuk ke dalam gedung, diapun berkunjung ke rumah penginapan Ong-keh, tapi disitu tak ada yang dijumpainya, Si Leng-jin dan Si Nio telah, pergi tanpa meninggalkan pesan.

Kenyataan ini membuat anak muda itu merasa amat menyesal, disamping perasaan gelisah, tapi apa boleh buat, nasi telah menjadi, bubur, terpaksa ia pulang lebih dulu ke rumah penginapan.

Baru melangkah masuk, dari pintu gerbang, Coa Cong gi yang sedang berjalan mondar-mandir di ruang depan segera menyerbu kehadapannya sambil berseru nyaring.

"Hei, kemana saja kau semalam? Tahukah kau kalau Hian-beng kaucu telah meninggalkan surat untukmu?"

Sungguh terkejut Hoa In-liong sesudah mendengar perkataan itu. serunya tanpa terasa.

"Apa?"

Dengan dahi berkerut kata Coa Cong gi.

"Pagi-pagi tadi, baru saja fajar menyingsing, telah datang seorang tua bangka She Beng yang mengganggu nyenyaknya orang tidur, ia membawa sepucuk surat dari hian-beng kaucu yang mengundangmu untuk melakukan suatu pertemuan, katanya pertemuan tersebut tanpa diembel-embeli dengan maksud jahat. Lantaran kau tidak ditemukan, maka untuk sementara waktu diterima oleh Ngo locianpwe, sekarang mereka sedang berkumpul di ruang muka sambil merundingkan persoalan ini, aku segan ikut dalam rapat, ini maka seorang diri kunantikan kedatanganmu.

"Tanpa menimbulkan gerak-gerik yang mencurigakan, Hian-beng kaucu telah melakukan persiapan di kota Si-ciu ini, cukup ditinjau dari hal ini sudah dapat diketahui bahwa dia memang manusia yang luar biasa,"

Pikir Hoa In-liong dalam hati.

Undangan dari Hian-beng-kaucu ini sangat di luar dugaan siapapun termasuk pula pemuda itu sendiri, untuk sesaat dia jadi kebingungan dan tak tahu apa yang musti dilakukan untuk menghadapi kejadian tersebut.

Dengan gelisah Coa Cong-gi segara berkata.

"Hayo kita cepat masuk, mungkin keadaan mereka sudah ibaratnya semut-semut di atas kuali panas."

Dengan langkah cepat mereka berdua kembali ke ruang belakang, waktu itu Hoa Keh-sian, Yu Siaw lam dan kawan jago lainnya sedang duduk mengelilingi meja, ketika melihat anak muda itu munculkan diri, serentak mereka bangkit dan menyambut.

Hoa In-liong tak ada waktu untuk bersungkan-sungkan, langsung lagi di sambarnya surat di atas meja dan membaca dengan seksama.

Surat itu berbunyi begini.

"Ditujukan untuk Ji-kongcu dari keluarga Hoa. Magrib nanti kunantikan kedatangan anda untuk membicarakan situasi dalam dunia persilatan dewasa ini, memandang atas kegagahan kongcu, jangan kuatir kalau kami bernit jelek kepadamu, tertanda. Hiang beng kaucu."

Selesai membaca isi surat itu, Hoa In-liong segera mendongakkan kepalanya sambil berkata.

"Apa pendapat saudara sekalian tentang persoalan ini?"

Kata Ho Keh-sian dengan dahi berkerut.

"Nada surat itu mengandung siasat memanaskan hatimu, sama sekali tiada kata-kata jaminan yang menyebutkan bahwa jiwa mu sama sekali tidak akan diganggu."

"Tapi bukankah orang she Beng itu mengatakan bahwa mereka tidak mengandung maksud jahat?"

Sela Ko Siongpeng. Ho Keh-sian segera tertawa.

"Orang she Beg itu bukan seorang pentolan, masa perkataannya dapat dipercayai? "Perduli amat apa yang hendak mereka lakukan seru Coa Cong gi dengan luapan emosi, mari kita pergi bersama, mau minum arak kita minum sepuasnya, mau berkelahi.........hmm, siapa yang takut kepada mereka?"

Hoa In-liong tersenyum.

"Sampai di dimanakah kekuatan yang dimiliki Hian-bengkau, hingga kini masih merupakan suatu tanda tanya besar, yang bisa kita ketahui bahwa Hian-beng-kau dapat menjadi pemimpin kaum iblis, hal ini berarti kepandaian silat yang mereka miliki lihay sekali, ditambah lagi dengan anak buahnya yang amat banyak, kendatipun jago-jago tua sekalipun ikut terjun dalam pertarungan ini, aku kuatir kilau kerugian masih tetap berada dipihak kita."

Kecuali Ho Keh-sian, sudah ada tiga orang jago bekas anggota Sin-ki-pang tempo hari yang hadir disitu, mereka semua membungkam diri dalam seribu bahasa.

Di tengah keheningan inilah, tiba-tiba seorang kakek bertampang buruk buka suara, katanya.

"Siapakah Hian-bengkaucu itu? Kenapa Liong Siuya memandang begitu tinggi akan dirinya?"

Orang ini bernama Si Jin kiu, dengan ilmu pek kut cui sim ciang (pukulan tulang putih penembus hati)nya ia pernah mengalahkan si malaikat pertama dari Liong bun siang sat yang tersohor akan keganasannya dulu, dia merupakan salah seorang diantara jago-jago andalan perkumpulan Sio ki-pang.

"Aku sendiripun kurang begitu jelas siapa gerangan nama sesungguhnya dari gembong iblis itu,"

Kata Hoa In-liong.

Kemudian setelah berpikir sebentar, apa yang diketahui tentang Hian-beng-kaucu pun segera dibeberkan secara terperinci, secara sambil lalu diapun mengungkapkan soal yang menimpa Si Leng jin serta nona berbaju putih"

Selesai mendengarkan penuturan itu, tiba-tiba Ho Keh-sian bertanya.

"Liong siauya, kau pernah mengatakan Si Leng jin memiliki sebilah pedang pendek yang tajamnya luar biasa, apakah dapat kau lukiskan bentuk senjata tersebut dengan lebih terperinci?"

Hoa In-liong lantas berpikir.

"Mungkin dari senjata tersebut dapat diduga asal usul Si Leng jin...... Maka sesudah termenung dan berpikir sebentar, diapun menerangkan.

"Pedang pendek itu panjangnya dua depa, bentuknya istimewa, pada gagangnya terdapat sebuah pelindung tangan, sedang dipegangannya seperti tampak ukiran dua huruf......"

Setelah berhenti sejenak untuk berpikir sebentar, dia melanjutkan sambil tertawa.

"Tampaknya tulisan itu adalah huruf "Hong-im", cuma benar atau tidak aku tak berani terlalu memastikan."

Hoa Keh-sian mengernyitkan sepasang alis matanya.

"Liong sau ya, sungguhkah dia she Si?"

Desaknya. Hoa In-liong jadi tertegun.

"Apakah ada sesuatu yang tak beres? Aku rasa tak bakal salah lagi nama itu,"

Katanya. Dengan suara dalam Hoa Keh-sian lantas berkata.

"Dua puluh tahun yang lalu, pentolan dari Hong im-hwe yang bernama Jin Hian pernah juga menggunakan pedang pendek itu."

Ia lantas berpaling dan memandang sekejap ke arah rekanrekannya.

Si Jin kui bertiga segera manggut-manggut tanda membenarkan.

Hoa Keh-sian berpaling kembali ke arah Hoa In-liong sambil berkata lebih lanjut.

"Gadis itu mengandung maksud-maksud yang sukar ditebak, harap liong sau-ya suka bertindak lebih waspada lagi terhadap dirinya."

Hoa In-liong merasa tidak senang dengan perkataan itu, namun ia tak mau banyak membantah, pokok pembicaraan pun segera dialihkan ke persoalan lain.

"Bagaimana pendapat kalian tentang undangan dari Hianbeng kaucu ini......?"

Katanya. Ho Keh-sian mengira Hoa In-liong merasa kasian dan tak tega terhadap gadis itu, diam-diam ia lantas berpikir.

"Jika watak romantis dari Liong sauya tidak mengalami perubahan, di kemudian hari ia bisa menderita kerugian di tengah kaum wanita....."

Hal ini membuat jago lihay dari Sin-ki pang tersebut makin lama semakin merasa kuatir.

"Bagaimana pula pendapat adik In-liong sendiri?"

Tanya Yu Siau-lam.

"Undangan tersebut tentu saja harus dipenuhi, bahkan aku punya rencana untuk memenuhi undangan tersebut seorang diri."

Li poh-seng termenung sebentar, lalu katanya pula.

"Yaa, dari pada dianggap orang penakut, undanngan ini memang harus dipenuhi!"

"Apakah kita harus mementangkan mata untuk menderita kerugian di tangan si cucu kura kura?"

Teriak Coa Cong-gi. Hoa In-liong segera tertawa.

"Tentu saja tidak, meskipun Han-beng kaucu yang menjuluki diri sebagai Kiu-ci Sinkun tersebut mempunyai dendam kusumat yang amat dalam dengan keluargaku, hakekatnya tujuan yang sesungguhnya tak lain adalah ambisinya untuk merajai seluruh jagad, untuk mencapai cita cita tersebut, mau tak mau dia mesti menjaga martabat dan gengsinya, maka menurut pendapat siau-te, kesempatan untuk berkelahi amat kecil. Tiba-tiba dari luar pintu menongol sebuah kepala kecil yang memanggil dengan lirih.

"Hoa.....toako.....!"

Melihat orang itu adalah Siau-gou-ji, Hoa In-liong menghampirinya sambil tertawa.

"Ada urusan apa saudaraku??" 00000O00000 Bab 40 ADA seorang nona.....ehmm, cantik dan baik sekali, mengenakan sebuah gaun berwarna putih mulus sedang menantimu di rumah makan seberang jalan sana.

"Masa dia yang datang?"

Hoa In-liong segera berpikir.

"kita berhadapan sebagai musuh, mau apa dia datang kemari?"

Sambil tertawa segera tanyanya.

"Siapa namanya??"

Siau gou ji menjadi terbelalak gugup.

"Aku....aku tidak tahu........"

Katanya. Tapi sesudah berhenti sebentar tambahnya.

"Dia bilang toako pasti tahu seolah melihat potongan tubuhnya!"

"Ehmm, aku sudah tahu!"

Hoa In-liong manggut-manggut. Kemudian sambil tersenyum katanya lagi.

"Lain kali kau musti bertindak lebih cekatan dan pintar, jangan disebabkan menerima kebaikan dari orang maka kau memuji orang sebagai orang baik, coba lihat matamu sampai keblinger hingga siapa kawan siapa lawanpun tak bisa dibedakan."

Merah padam wajah Siau gou ji menerima dampratan itu, katanya agak jengah.

"Sudah terlampau banyak orang baik dan jahat yang pernah kujumpai, siapapun jangan harap bisa membodohi sepasang mataku."

Lalu sambil memutar sepasang biji matanya yang jeli ia bertanya pula.

"Masakah dia adalah musuh?"

Kembali Hoa In-liong tertawa.

"Secara pribadi dia adalah sahabatku, tapi secara umum dia adalah musuhku!"

Secerdik cerdiknya Siau gou ji, usianya masih terlampau muda, ia masih kurang begitu memahami persolan tentang budi dendam, musuh dan sahabat, apalagi sejak kecil ia dibesarkan dalam lingkungan yang berbeda, soal dendam dan budi boleh dikata merupakan suatu hal yang masih asing.

Maka setelah mendengar perkataan itu, dengan keheranan dan tidak habis mengerti, kembali tanyanya.

"Sesungguhnya dia adalah sahabat kita atau musuh kita??"

Tiba-tiba Coa Cong gi berteriak keras.

"Hei, ngomong terus tak ada habisnya, sesungguhnya kalian bisa berhenti berbicara atau tidak?"

Hoa In-liong lantas berkata.

"Pokoknya, kalau kau anggap dia sebagai seorang sahabat, maka perbuatanmu ini tak bakal salah lagi......"

Berbicara sampai disitu dia lantas putar badan dan berjalan balik keruang tengah, katanya lagi.

"Empek berempat, saudara berempat aku hendak keluar sebentar, ada seorang teman mengundangku untuk berjumpa di rumah makan seberang jalan sana."

"Kenapa tidak undang dia kemari saja?"

Tanya Coa Cong-gi dengan wajah tercengang. Hoa In-liong tertawa. Dia adalah seorang nona, lagipula berasal dari pihak musuh, rasanya kurang leluasa untuk mengundangnya kemari.

"Apakah kau tidak beristirahat dulu?"

Tanya Yu Siau-lam.

"bagaimana pula dengan undangan dari Hiang-beng kaucu?"

Ho In-liong termenung sebentar, kemudian sahutnya sambil tertawa.

"Bagai manapun juga undangan tersebut harus dipenuhi, aku pikir semakin persoalan ini dipikirkan semakin merisaukan hati kita, lebih baik tak usah dibicarakan lagi, setelah beristirahat sebentar, aku rasa tenagaku dapat pulih kembali seperti sedia kala."

Ketika Ho Keh-sian berempat orang tua mengetahui bahwa nona itu berasal dari pihak lawan, kontan saja mereka mengerutkan dahinya, apalagi setelah menyaksikan sikapnya yang begitu santai meskipun musuh telah berada di ambang pintu, hati mereka lebih-lebih murung lagi.

Tapi mereka cukup mengenali tabiat dari Hoa In-liong, mereka tahu sekalipun dinasehati juga tak ada gunanya, maka mereka cuma berpesan beberapa patah kata saja.

Tentu saja Hoa In-liong cuma mengiakan belaka semua pesan itu, cepat-cepat dia memberi hormat lalu keluar dari penginapan itu.

Baru masuk ke pintu gerbang rumah makan, seorang pelayan telah menyambut kedatangannya sambil berkata.

"Hoa-ya, silahkan naik ke atas loteng."

Hoa In-liong manggut-manggut dan naik ke loteng dengan langkah lebar, sinar matanya yang tajam menyapu kesana kemari.

Baru saja dia hendak menanyakan kepada sang pelayan, dalam ruang manakah nona berbaju putih itu menunggunya tiba-tiba dari sebuah bilik dekat jendela sana berkumandang suara dari si nona berbaju putih itu.

"Aku ada disini!"

Hoa In-liong segera membatin.

"Kalau didengar suaramu, seakan akan hendak ajak berkelahi,...uuuh, kasar benar..."

Dengan langkah lebar ia lantas menuju ke ruangan tersebut, buru-buru pelayan tadi menyingkapkan kain gorden.

Terlihatlah nona berbaju putih itu berdiri dekat jendela, ia sedang bergendong tangan sambil menatap ke arah jalan raya dengan termangu, meskipun tahu kalau pemuda itu telah datang, ternyata ber paling pun tidak.

"Ambil semua hidangan di meja dan ganti yang baru!"

Perintahnya kemudian dengan suara datar.

"Nona, arak dan hidangan masih hangat!"

Kata sang pelayan keheranan. Tiba-tiba nona berbaju putih itu berpaling seraya berseru dengan penuh kemarahan.

"Cerewet amat kau? Disuruh ganti cepat ganti, kau anggap aku tak mampu membayarnya?"

Hoa In-liong melirik sekejap ke arah hidangan di meja, benar juga masih kelihatan asap putih dari hidangan itu, segera pikirnya.

"Jelas ia lagi mendongkol kepadaku lantaran harus menunggu terlalu lama, maka dicarinya alasan lain untuk melampiaskan rasa marahnya."

Berpikir sampai disitu sambil tertawa nyaring dia lantas ulapkan tangannya untuk mengundurkan pelayan itu, kemudian sambil memberi hormat, katanya.

"Terima kasih banyak atas perhatian nona, maafkanlah aku jika.......

"Kau adalah seorang toa enghiong, aku pikir tak mungkin bukan lantaran ingin mencari tahu kea-daan Hian-kongbeng yang sebenarnya maka kau gunakan kesempatan ini untuk mendesak seorang gadis seperti aku?"

Mula mula Hoa In-liong menggeleng kemudian mengangguk pula.

"Hei, apa maksudmu?"

Seru gadis berbaju putih itu keheranan. Hoa In-liong tertawa.

"Aku bukan seorang toa-enghiong, aku hanya kuatir bila sampai menyinggung perasaan nona sekarang, maka banyak kesulitan yang akan kuhadapi dalam perjamuan malam nanti."

Nona berbaju putih itu menutup bibirnya dan tertawa cekikikan, tiba-tiba ia menundukkan kepalanya dan menghela napas sedih.

Dalam sekilas pandangan, Hoa In-liong dapat menyaksikan bahwa sikapnya sekarang jauh berbeda dengan sikap tempo hari, dalam hati dia lantas berpikir.

"Besar amat nyali gadis ini untuk melanggar perintah gurunya dan bersahabat dengan orang-orang dari keluarga Hoa."

Setelah mereka ambil tempat duduk, Hoa In-liong baru mengangkat cawan araknya seraya berkata.

"Aku dengar antara gurumu dengan keluarga Hoa terikat dendam kematian gurunya?"

"Bukan itu saja, bahkan terhitung suatu dendam kesumat yang sangat mendalam!"

Sahut gadis itu dengan wajah murung. Hoa In-liong tertawa.

"Boleh aku tahu nama gurumu........"

Dengan cepat gadis itu gelengkan kepalanya.

"Dalam perjamuan malam nanti, guruku pasti akan memberitahukan hal tersebut kepadamu, apa gunanya kau bertanya kepadaku?"

Hoa In-liong termenung dan berpikir sebentar, tiba-tiba katanya.

"Apakah gurumu bernama Si Biau?"

Ketika mengucapkan kata "Si Biau", sengaja ia membacanya dengan nada sengau.... Kontan saja si gadis berbaju putih itu membelalakkan sepasang matanya.

"Dari mana kau bisa tahu?"

Serunya. Hoa In-liong tidak langsung menjawab, kembali pikirnya.

"Hian-beng kaucu yang menyebut dirinya Kiu-ci siukun bernama Si Biau, padahal dalam dunia persilatan belum pernah ada orang yang bernama itu.........ah betul........sudah tentu namanya mempunyai bunyi yang hampir sama dengan huruf Si Biau tersebut........."

Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benaknya, dengan cepat ia menyadari akan sesuatu, sambil menengadah pemuda itu tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh.......haahhhhaaa........nona Kok, rupanya gurumu She Kok.........!"

Kok Gi pek atau si nona berbaju putih itu mula-mula agak tertegun, selanjutnya dia baru tahu kalau pemuda itu sesungguhnya belumn tahu nama gurunya.

Merasa dirinya kena dijebak, gadis itu merasa jengkel bercampur mangkel, serunya.

"Hmm! Kau tak usah berbangga hati, terus terang kuberitahukan kepadamu, semakin cepat Kau mengetahui soal ini semakin cepat pula ajalmu akan tiba."

Hoa In-liong tersenyum, sekarang ia sudah tahu Hian-bengkaucu yang menamakan dirinya Koa ci Sinkun itu tidak lain adalah bekas muridnya Bu liang Sinkun dimasa lalu yang bernama Kok See pian.

Tentang persoalan yang menyangkut diri Kok See-piau, selain ia pernah mendapat keterangan dari ibunya, Pek Kun gi, pemuda ini pun pernah mendapat keterangan yang lebih terperinci dari ayahnya Hoa Thian-hong.

Tepo dulu ketika Kok See-piau mendapat perintah dari gurunya, Bu liang Sinkun untuk membuat perhitungan dengan keluarga Chin si hijin, di kota Cin ciu, Hoa Thian-hong mendapat perintah dari ibunya untuk membalas budi kepada keluaran Chin.

Pertemuan kedua orang ini menyebabkan terjadinya pertarungan antara Kok See-piau melawan Hoa Thi hong Ketika itu Hoa Thian-hong masih bernama Hong-po Seng, ilmu silatnya amat cetek dan masih bukan tadingan Kok Seepiau, sebuah pukulan Kiu pit sin ciang dari Kok See-piau nyaris merenggut selembar jiwanya ...Kemudian dikala Hoa Thian-hong melakukan jari racun di kota Cho-ciu, Pek Kun ci melepaskan rasa permusuhannya dan berubah menjadi sahabat, tindikan tersebut menyebababkan Kok See-piau menjadi cemburu, ia datang mencari Hoa Thianhong untuk mengajarnya, siapa tahu dia dikalahkan hingga terpaksa harus pulang kebukit Bu liang san.

Dalam pertemuan besar Kian ciau Tay hwte di lembah Cu bu kok, Bu Liang Sinkun berhasil di bunuh oleh Bun Tay kun, dengan menahan rasa dendamnya, Kok See-piau melarikan diri kemudian ia menggabungkan diri dengan perguruan Seng sut-pay dengan mengangkat Tang kwik Sia sebagai gurunya.

Tapi kemudian dalam penggalian harta karun dibukit Kiu ci san, komplotan dari Tang kwik Siu kena dihajar kocar kacir sehingga musti melarikan diri terbirit-birit, semenjak itulah jejak tentang Kok See-piau lenyap tak berbekas....

(Untuk mengetahui kisah cinta segitiga antara Kok Seepiau, Hoa Thian-hong dan Pek Kun-gi, silahkan membaca BARA MAHARANI.) Diam-diam Hoa In-liong lantas berpikir.

"Sungguh tak kusangka Kok See-piau telah menjadi Kiu-ci Sinkun, lebih-lebih tak kusangka kalau dia akan menerbitkan kembali badai darah dalam dunia persilatan, untung keluarga Hoa kami masih berdiri tegak, jangan harap kau bisa berbuat onar seenaknya dengan begitu saja!"

Sementara itu si nona baju putih atau Kok Gi-pek menjadi sedih lantaran pemuda itu lama sekali tidak berbicara, dia mengira anak muda itu menjadi tak senang hati karena ucapannya tadi.

"Malam ini, lebih baik kau jangan pergi memenuhi undangan tersebut......!"

"Perjamuan itu diselenggarakan oleh guru mu, kenapa nona melarang aku pergi memenuhinya?"

Kata Hoa In-liong dengan kening berkerut. Dengan dingin Kok Gi pek berkata.

"Sekarang kau telah mengetahui siapakah guruku, apakah tidak kau ketahui dengan jelas bahwa guruku mempunyai dendam sedalam lautan dengan keluarga Hoa kalian? Bila kau berani memenuhi undangannya, maka jangan harap kau bisa pulang dengan selamat"

Hoa In-liong tersenyum, diangkatnya cawan arak itu dan dicicipinya setegukan, tiba-tiba ia merasa lidahnya sakit seperti ditusuk tusuk jarum tajam, pemuda itu segera mengetahui bahwa dalam arak telah dicampuri dengan racun jahat yang mematikan.

Kejadian itu amat menggusarkan hatinya, ia berpikir.

"Bagus sekali! Tak kusangka kaudapat menggunakan cara serendah ini untuk mencelakaiku."

Sekalipun dalam hati kecilnya ia berpikir demikian, air mukanya sama sekali tidak menunjukkan perubahan apapun. Cawan itu segera diangsurkan ke hadapan Kok-Gi pek, kemudian sambil tersenyum katanya.

"Nona, bagaimana kalau kaupun mencicipi arak ini barang setegukan.............?"

Paras muka Kok Gi-pek kontan berubah menjadi merah padam, ia melompat bangun dan berseru dengan gusar.

"Kau menganggap aku sebagai manusia macam apa?"

Tapi sebentar kemudian ia telah menghela napas sedih, katanya lebih jauh.

"Baiklah, kalau toh kau menyuruh aku minum arak ini, baiklah akan kuminum setegukan untukmu!"

Dia lantas ulurkan tangannya untuk menerima cawan tersebut dan mendekatkannya ke tepi bibir.

Hoa In-liong dapat menyaksikan bahwa rasa sedih dan murung yang tercermin di wajah gadis itu bukan seperti berpura-pura, rasa sangsi segera menyelimuti benaknya, ia berpikir.

"Tampaknya bukan dia yang mencampurkan racun itu dalam arak minumanku, tapi tempat ini tak ada orang lain............"

Ketika dilihatnya gadis itu sudah siap minum arak tersebut, dengan cepat cawan itu direbut kembali, kemudian katanya sambil tertawa tawa.

"Ternyata rumah makan ini dibuka oleh orang-orang dari perkumpulan kalian, jadi akulah yang bertindak kurang hati hati!"

Cawan tadi diletakkan kembali ke atas meja.

Kok Gi-pek bukan seorang yang bodoh, sebagai gadis cerdik ia lantas menduga kalau dalam arak tentu ada sesuatu yang tak beres.

Kontan saja alis matanya berkenyit.

"Siau Kui!"

Tiba-tiba teriaknya dengan suara lantang.

Dalam marahnya teriakan-teriakan tersebut disertai tenaga dalam yang amat sempurna, bukan saja seluruh ruangan mendengung nyaring, bahkan setiap orang yang berada dibawah loteng dapat mendengar teriakan tersebut dengan amat jelasnya.

Hoa In-liong berpura-pura tidak melihat, dengan sikap yang santai seperti tak pernah terjadi sesuatu apapun pikirnya.

"Tenaga dalam yang dimilikinya sungguh amat sempurna, tampaknya jauh lebih hebat bila dibandingkan dengan beberapa orang suhengnya!"

Beberapa saat kemudian terdengar suara langkah manusia yang ramai berkumandang memecahkan kesunyian, menyusul kemudian tirai disingkap orang dan muncullah seorang laki-laki berusia lima puluh tahunan yang berdandan sebagai seorang pedagang.

Begitu masuk ke dalam ruangan, dengan ketakutan ia lantas memberi hormat, katanya ragu-ragu.

"Persoalan apakah yang membuat nona menjadi marah?"

Kok Gi pek tertawa dingin.

"Haahaa.....haahhhh......... kau juga tahu kalau akupun bisa marah?"

"Hamba....hamba....."Laki-laki tua yang bernama Siau Kui itu menjadi gelagapan. Hoa In-liong yang menyaksikan kejadian tersebut diamdiam berpikir kembali.

"Tak kusangka gadis yang tampaknya lemah lembut terutama ketika ia harus menahan rasa penasarannya tadi, ternyata setiap jago dari Hian-beng-kau begitu takut kepadanya."

Sementara itu Kok Gi pek sambi mengernyitkan alis matanya, telah berkata dengan suara dingin.

"Huu.....aku tahu tak nanti kau begitu bernyali berani melakukan perbuatan tersebut, hayo katakan siapa yang telah menitahkan kau berbuat demikian?"

Untuk sesaat Siau Kui menjadi gelagapan ia tak tahu bagaimana musti menjawab pertanyaan tersebut. Kok Gi pek semakin marah, teriaknya dengan gemas.

"Baik,"

Secepat sambaran kilat ia sambar cawan berisi arak racun itu lalu tangannya diayun ke depan menyiramkan isi cawan tersebut ke arah Siau Kui.

Hoa In-liong yang selama ini hanya berdiam diri, tiba-tiba mengayunkan telapak tangan kanannya, segulung angin pukulan yang lembut segera menghantam isi cawan tersebut dan membuat hujan arak memuncrat ke atas lantai serta membasahi permukaan seluas tiga empat depa persegi.

Sungguh lihay racun dalam arak itu, begitu menempel di atas permukaan tanah....."Ceesss.....!, seketika itu juga separuh bagian lantai itu menjadi terbakar dan hangus.

Sungguh tak terkirakan rasa kaget dan ngeri perasaan Siau Kui setelah menyaksikan kejadian itu, peluh dingin membasahi hampir sekujur badannya.....

Hoa In-liong mengerutkan dahinya menyaksikan kejadian itu, sedang Kok Gi pek rupanya tak pernah menyangka kalau racun tersebut sejahat itu, setelah tertegun sesaat hawa amarahnya makin memuncak, ia tertawa seram........

Baru saja dia hendak mendamprat, tiba-tiba dari luar ruangan berkumandang suara teguran seseorang dengan nada yang serak tapi lantang.

"Harap nona jangan marah, peristiwa ini tiada sangkut pautnya dengan Siau kui, akulah yang bertanggungjawab atas kejadian ini!"

Menyusul perkataan itu, muncullah seorang kakek bermuka merah bertubuh tinggi kekar dari luar pintu.

Begitu menjumpai kakek tersebut, Kok Gi pek segera mengernyitkan sepasang alis matanya, kemudian berkata dengan dingin.

"Kalau toh empek Tang yang memerintahkan Siau Kui melakukan perbuatan ini, gengsi seorang yang berkekuasaan tinggi tentu saja keponakan tak dapat berkatakata lagi."

Rupanya kakek She Tang itu tidak mengira kalau Kok Gi pek bakal mendampratnya di depan orang, ia tertawa terbahak-bahak untuk menutupi rasa malunya.

Kemudian sambil memberi hormat kepada Hoa In-liong katanya.

"Aku rasa saudara ini tentulah Ji kongcu dari Hoa tayhiap, aku Tang Bong liang menyampaikan hormat. Ketika tangannya menjura itulah segunung tenaga pukulan berhawa dingin tetapi menimbulkan sedikit suara, langsung menyergap ke atas dada Hoa In-liong. Diam-diam anak muda itu mendengus, dengan cepat dia pun merangkap tangannya membalas hormat.

"Ah, aku orang she Hoa masih muda, mana berani untuk menerima salam hormatmu itu."

Menggunakan gerakan itulah diapun melepaskan segulung angin pukulan untuk menyongsong datangnya ancaman tersebut.

Mereka berdua berdiri dihalangi oleh sebuah meja, dengan cepatnya dua gulung tenaga pukulan itu bertemu tepat di atas meja perjamuan.

Dalam perkiraan Kok Gi-pek semula, adu tenaga antara kedua orang itu pasi akan mengakibatkan mangkuk cawan beterbangan di udara, siapa tahu tiada sesuatu yang istimewa terjadi, tiada pula angin badai yang memancar kemana-mana, yang ada cuma segulung angin lirih yang menggoyangkan kain tirai belaka.

Menyaksikan kejadian ini, gadis itupun berpikir.

"Tampaknya tenaga dalam yang dimilik1 kedua orang ini sudah mencapai taraf sempurna yang bisa dikendalikan oleh perasaan. Sorot matanya segera dialihkan ke tengah arena, ia saksikan sepasang bahu Hoa In-liong sedikit bergetar, sebaliknya tubuh Tang Bong liang tergetar sampai mundur tiga langkah, papan lantai yang diinjak sampai berbunyi gemerincingan saking beratnya menahan tekanan."

Ia cukup menyadari sampai dimanakah taraf tenaga dalam yang dimiliki Tang Bong liang, tapi dia tak mengira kalau tenaga dalam dari Hoa In-liong telah mencapai taraf yang sedemikian rupa, kembali pikirnya.

"Kalau toh tenaga dalamnya telah mencapai taraf sedemikian tingginya, suhu lebih lebih tak mungkin akan membiarkan dia tetap hidup di dunia ini...."

Makin dipikir gadis itu semakin sedih, sehingga wajahnya jauh lebih murung. Tang Bong liang sendiripun amat terperanjat menghadapi Kenyataan tersebut, sambil tertawa segera katanya.

"Sudah lama aku dengar orang berkata bahwa Hoa kongcu bukan saja memiliki tenaga Iwekang yang sangat sempurna, kaupun memiliki kepandaian istimewa untuk menolak racun, sebab kurang percaya maka sengaja aku telah mencobanya dengan mencampurkan racun di dalam arak, sebagai seorang pemuda yang berjiwa besar, tentunya Hoa kongcu tidak akan marah kepadaku bukan??"

"Aaah..! Belum tentu...."

Jawab Hoa In-liong sambil tertawa.

"apabila ada orang berniat mencelakai jiwaku, terpaksa aku harus bertindak kejam pula kepadanya. Kok Gi-pek yang berada di sampingnya tiba-tiba berkata.

"Empek Tang, begitukah perbuatanmu? Apakah kau tak sudi memberi muka kepada keponakanmu?"

"Kalau nona berkata demikian, aku menjadi tak tahu apa yang musti dilakukan,"

Jawab Tang Bong-liang dengan dahi berkerut.

"Hmm..........! Sepantasnya keponakanlah yang tak tahu apa yang musti dilakukan."

Ucapan tersebut bukan saja bernada ketus bahkan sangat menyudutkan posisi orang itu, tentu saja hal ini membuat Tang Bong liang menjadi serba salah.

Siau Kui yang berada disampingnya lebih lebih tak berani berkutik, ia menyurut mundur ke sudut ruangan dan membungkam diri dalam seribu basa disana.

Jilid 2 Tiba-tiba Hoa In-liong tertawa lantang, lalu selanya.

"Nona Kok, silahkan duduk! Urusan sekecil ini buat apa musti diributkan terus?"

Mendengar ucapan tersebut Kok Gi-pek tertawa dingin, tapi ia menurut, tidak banyak bicara lagi.

Ambil contoh Kok Gi pek ini, sesungguhnya bersama Tang Bong-liang mereka adalah sesama anggota Hian-beng-kau, bahkan Hoa In-liong merupakan musuh besar perkumpulan mereka, tapi kenyataannya dia ribut dan bahkan hampir bergebrak dengan rekannya sendiri, sebaliknya dengan Hoa In-liong bukan saja bersikap bersahabat, bahkan kelihatan begitu tunduk dan penurut.

Tang Bong liang yang menyaksikan kejadian ini segera berpikir.

"Sudah jamak kalau hati perempuan condong keluar, semenjak dulu sudah kuanjurkan kepada Sinkun agar jangan menerima murid perempuan, buktinya sekarang......"

Berpikir sampai disitu, sambil tertawa dia lantas berkata.

"Hoa kongcu, kau betul-betul seorang pendekar muda yang berjiwa besar dan bijaksana."

Hoa In-liong tertawa hambar.

"Tahukah kau kalau kaucumu telah mengirim surat undangan kepadaku?"

Katanya. Tang Bong liang manggut-manggut.

"Mana mungkin aku tidak tahu......."

Sebetulnya Hoa In-liong ingin menyindir musuhnya dengan beberapa patah kata pedas tapi setelah berpikir sebentar ia membatalkan niatnya itu, katanya kemudian.

"Kalau memang begitu, akan kumohon petunjukmu setelah sampai pada waktunya nanti."

Sesudah menjura dan memberi hormat, kembali katanya kepada Kok Gi pek.

"Aku ingin mohon diri lebih dahulu."

"Tapi....tapi......secawan arak pun belum aku minum masa kau..... kau akan pergi dengan begitu saja....,"

Kata Kok Gi pek dengan perasaan gelisah.

"Maksud baik nona biar kuterima di hati saja,"

Tukas Hoa In-liong sambil tertawa lebar.

Betapa gelisahnya Kok Gi pek menghadapi kejadian tersebut apa mau dikata ia teringat kembali kedudukan mereka yang saling bermusuhan, sudah barang tentu tak mungkin baginya untuk meraba pemuda itu secara lembut.

Dalam keadaan begini ia cuma bisa melotot ke arah Tang Bong liang serta Siau Kui dengan sinar mata penuh kebencian.

Buat Tong Bong liang yang berkedudukan tinggi delikan mata itu masih tidak mendatangkan perasaan apa-apa, berbeda dengan Siau Kui yang kedudukannya memang rendah bergidik sekujur tubuhnya karena ngeri, cepat cepat ia tundukkan kepalanya rendah-rendah.

Bagaimanapun juga soal cinta memang nomor satu di dunia, hal itu paling aneh, paling sensitip dan sukar diduga, kadangkala dari musuh mereka bisa berteman, kadangkala pula dari teman bisa menjadi musuh bahkan orang hidup-pun bisa menjadi orang mati.

Perjumpaan Kok Gi-pek dengan Hoa In-liong secara diamdiam tentu saja bukan cuma satu kali, tapi pertemuannya secara resmi termasuk baru ini boleh dibilang baru kedua kalinya, jadi kalau dibilang ia sudah jatuh cinta, ditinjau dari wataknya yang tinggi hati serta cara berpandangannya yang sempit, hal ini tak mungkin terjadi.

Tapi justru karena kebiasaan memandang rendah orang lain dan kecuali suhunya, ia selalu menganggap orang lain di dunia ini sebagai sampah yang tak berguna maka sejak kekalahan demi kekalahan yang dideritanya di tangan Hoa Inliong, hal ini membuat watak tinggi hatinya terpukul keras.

Mula-mula kejadian itu sangat menjengkelkan hatinya malah mendendam lagi, sepulangnya ke rumah ia berlatih lebih tekun dan berencana pada suatu ketika ilmu silatnya harus melampaui kemampuan Hoa In-liong.

Tapi beberapa hari kemudian, rasa bencinya makin menawar, meskipun hati kecilnya masih kangen pada Hoa In-liong, namun jauh berbeda seperti beberapa hari berselang yang kalau bisa ingin sekali ia mencincang tubuh si anak muda itu.

Apa yang terbayang dalam benaknya ketika itu adalah ketampanan serta kegagahan anak muda itu, terutama dibalik kekocakannya terselip kegagahan yang tak terbantahkan.

Gadis itu sadar bahwa perintah gurunya tak mungkin bisa dilanggar, tak mungkin ia bisa bersahabat dengan pemuda itu, tapi entah mengapa secara diam-diam ternyata ia telah mengundang kehadiran pemuda itu.

Sesudah bertemu tadi, ia tak tahu bagaimana harus membuka pembicaraan tersebut, kemudian dikacau pula oleh Tang Bong liang serta Siau Kui yang menyebabkan pemuda itu segera mohon diri, kejengkelan demi kejengkelan yang diterimanya ini akhirnya menimbulkan kemarahan yang meluap, hanya saja ia tak tahu bagaimana cara pelampiasannya Tiba-tiba air mata mengembang dalam kelopak matanya, dengan jengkel ia berseru.

"Pergilah, pergilah, aku tak akan menahan mu!"

Sambil menjejakkan sepasang kakinya ke tanah, ia menerobos keluar lewat jendela, lalu tanpa memperdulikan kecengangan orang di sekitar jalan raya, ia kabur, secepatcepatnya meninggalkan tempat itu.

Hoa In-liong sendiri meskipun tahu bahwa urusan itu tak ada sangkut paut dengannya, tapi sebagai seorang pemuda romantis, ia paling pantang kalau melihat ada perempuan menangis.

Baginya tangisan seorang gadis akan membuat perasaannya tidak tenteram, maka ketika dilihatnya Kok Gi pek kabur sambil menangis, tiba-tiba ia ikut mengejarnya sambil berteriak!

"Nona Kok........!"

Tanpa memperdulikan pandangan kaget dari para pedagang dan rakyat yang berada di sekitar jalan raya, dua orang itu berlarian sambil mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya, untung kejadian tersebut tidak menimbulkan kepanikan sebab belakangan ini kota Si ciu memang sudah mulai terbiasa dengan adegan-adegan semacam itu.

Sebagaimana diketahui, ilmu silat yang dimiliki Hoa In-liong jelas lebih tangguh daripada kepandaian Kok Gi Pek, dalam dua tiga kali lompatan saja ia berhasil menyusul gadis itu.

Tiba-tiba Kok Gi pek berpaling sambil mendengus.

"Mau apa kau susul diriku?"

Sekalipun nada suaranya masih uringuringan dan tak senang hati, toh langkah kakinya mulai mengendor.

"Ehmm...hawa amarahmu itu datang tanpa alasan,"

Batin Hoa In-liong dalam hati. Ia lantas berkata dengan lembut.

"Nona, aku bermaksud untuk mengundang nona pindah ke rumah makan yang lain saja!"

Kok Gi pek segera berhenti, tegurnya dengan ketus.

"Bukankah kau bermaksud untuk mohon diri? Hoa In-liong ikut menghentikan tubuhnya ia menjawab sambil tertawa.

"Aku kuatir nona tak mau memberi muka kepadaku, maka terpaksa kugunakan siasat ini agar berhasil."

Dalam pada itu, Hoa In-liong berdua sedang berdiri di atas atap sebuah rumah, meskipun tempat itu letaknya jauh sekali dari jalan raya barat yang teramai, toh banyak juga manusia yang berlalu lalang disitu, tentu saja dengan pandangan tercengang mereka perhatikan sepasang muda-mudi yang berada di atas atap rumah itu.

Setelah rasa sedih dan kesalnya berkurang, Kok Gi pek baru merasakan bahwa tindakannya ini kurang baik, cepat ia melayang turun ke dalam kolong yang sepi diikuti Hoa In-liong dari belakang.

"Aku ingin mencari suatu tempat yang sepi dan terpencil"

Kata Kok Gi pek kemudian.

"Baik!"

Hoa In-liong menyetujuinya sambil mengangguk, mau tempat yang terpencil tidak sulit, yang susah justru tempat yang sepi dan terlepas dari gangguan sebab biasanya makin terpencil tempat itu kemungkinan semakin gaduh suasananya...!"

"Tidak menjadi soal, bagiku asal jauh dari gangguan manusia-manusia yang menjemukan itu."

Yang dimaksudkan sang gadis sebagai "manusia manusia yang menjemukan"

Itu jelas tak lain adalah para jago dari perkumpulan Hian-beng-kau. Hoa In-liong segera tersenyum.

"Kalau begitu mari kita berjalan menelusuri jalan ini!"

Ajaknya. Baru saja pemuda itu akan beranjak, tiba-tiba Kok Gi pek menarik ujung bajunya sambil berbisik.

"Eeeh.....jangan menuju ke arah sana!"

"Kenapa?"

Tanya Hoa In-liong sambil berpaling setelah tertegun sesaat lamanya.

"Seingatku baru saja kita datang dari arah selatan, kalau sekarang kita menuju ke sana lagi bukankah sama artinya dengan berjalan balik ke tempat semula? Seharusnya kita menuju kemari."

"Huuu... urusan sepele pun dibicarakan terus tidak ada hentinya,"

Pikir pemuda itu dalam hati. Maka sambil tersenyum katanya.

"Baiklah, akan kuturuti kemauanmu....."

Ia lantas putar badan dan menuju ke arah yang ditunjuk.

Sekulum senyuman secerah bunga yang baru mekar menghiasi wajah Kok Gi-pek, dengan wajah berseri-seri karena gembira gadis itu mengikuti dari sampingnya.

Lorong itu walaupun sempit tapi panjang dan lurus, kurang lebih setengah li sudah dilewati namun ujung jalan belum juga kelihatan.

Ko Gi pek mulai celingukan kesana kemari, akhirnya ia temukan sebuah warung mie ditepi jalan, segera ditariknya ujung baju Hoa In-liong sambil berbisik.

"Bagaimana kalau di tempat ini saja?"

Hoa In-liong berpaling ke arah yang ditunjuk, ia saksikan warung mie itu gelap kotor dan sempit dengan alis berkernyit katanya.

"Buat aku sih tak menjadi soal....."

"Kalau begitu kita bersantap disini saja!"

Tukas Kok Gi pek dengan cepat.

Selincah burung walet yang terbang di angkasa, gadis itu melompat masuk ke dalam warung dan mencari tempat duduk.

Sudah barang tentu dalam keadaan begini tak ada pilihan bagi Hoa In-liong daripada mengikuti kehendak si nona dan masuk dalam warung.

Pemilik warung mie itu adalah seorang kakek yang wajahnya penuh keriput, ketika secara tiba-tiba ia saksikan dalam warungnya kehadiran sepasang muda-mudi yang cakep masuk, sesaat kemudian tertegun dan mengucak-ucek matanya berulang kali.

Semenjak kecil sampai tua belum pernah ia jumpai pemuda yang tampan dan gagah seperti ini belum juga menjumpai gadis yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, tak heran kalau kakek itu melongo dan tak tahu apa yang meski dilakukan.

Setelah berada di dalam warung, Hoa In-liong jumpai warung tersebut gelap kotor, kecuali tiga buah meja kasar, hanya terdapat delapan buah bangku bambu, waktu itu tak seorang manusia pun bersantap disana.

Tapi Kok Gi pek tidak ambil perduli terhadap keadaan tersebut, ia mengambil dua buah bangku dan lantas duduk.

"Hayo duduklah!"

Ia berkata manja. Hoa In-liong ikut duduk, kemudian katanya sambil tertawa.

"Agaknya kau sudah jemu bersantap di rumah makan terkenal? Sehingga warung mie macam beginipun kau datangi."

Kok Gi-pek tertawa.

"Kau sendiri juga bukan untuk pertama kali bersantap di tempat semacam ini bukan?"

Katanya. Hoa In-liong gelengkan kepalanya berulang kali.

"Tidak. Sewaktu masih kecil dulu aku sering turun gunung, warung-warung kecil semacam ini banyak tersebar di sekitar bukit Im-tiong-san, bukan cuma satu kali saja aku bersantap di warung kecil semacam ini."

"Tapi aku dengar perkampungan Liok-soat sanceng kalian kaya raya dan hartanya menandingi sebuah negeri, masa dirumah tak ada makanan sampai kau musti jajan di warung kecil?"

Kata Kok Gi pek sambil membelalakkan sepasang matanya. Mendengar perkataan itu, Hoa In-liong segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah..... haaah... haaah...... bandit-bandit kecil, gelandangan-gelandangan kecil yang hidup di sekitar bukit Im tiong san merupakan anak buahku semua, setiap hari kami selalu berkumpul dan main bersama, tentu saja komplotan manusia semacam kami tak pantas untuk jajan di sebuah rumah makan besar yang mentereng."

Ketika mendengar cerita tersebut Kok Gi-pek seolah-olah membayangkan pula kebinalannya dikala masih kecil dulu, sekulum senyuman segera tersungging di ujung bibirnya.

Tiba-tiba ia merasa kakek pemilik warung itu sama sekali tidak menyapa mereka, sambil berpaling segera bentaknya!

"Hei, tauke!

Ada tamu yang datang bersantap kenapa tidak kau perdulikan sama sekali."

Mungkin lantaran baru pertama kali ini warungnya dikunjungi sepasang muda-mudi secakep itu, si kakek pemilik warung menjadi takut untuk menyapa, apalagi maju mendekatinya.

Setelah ditegur oleh si nona yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan itu, dengan gelagapan baru katanya.

"Siau loji............"

"Soal yang lain tak usah dibicarakan lagi,"

Tukas Kok Gi pek sambil ulapkan tangannya.

"disini ada makanan apa yang dijual?"

"Nona suka makan apa?"

Kakek itu balik bertanya setelah tertegun beberapa saat lamanya. Kok Gi pek kembali tertawa merdu.

"Makanan yang kusukai tak mungkin ada disini!"

Katanya.

"Coba nona sebutkan, mungkin aku si tua bisa mengusahakannya........."

Kok Gi pek segera memutar biji matanya yang jeli, lalu jawabnya satu persatu.

"Aku gemar makan Telapak tangan beruang, tonjolan daging punggung unta, bibir gorilla, ikan mujair bersirip empat dan masih beraneka macam masakan lainnya, apakah disini tersedia hidangan semacam itu?"

Diam-diam geli juga Hoa In Hong mendengar perkataan itu pikirnya.

"Kalau dalam perjumpaan yang lalu ia tampak seperti searang gadis yang matang dengan segala tipu daya yang sempurna, maka sikapnya sekarang tak lebih dari seorang gadis remaja yang masih polos lucu dan binal lagi...."

Tentu saja kakek itu terbelalak lebar matanya setelah mendengar nama nama hidangan yang termasuk mewah itu ia menjadi gelagapan sendiri.

"Kalau ini.... kalau ini..."

"Makanya tak usah membicarakan yang muluk muluk"

Tukas Kok Gi pek sambil tertawa.

"sebutkan saja nama-nama bakmi yang kau jual disini!"

Seperti baru saja mendapat pengumuman dari hukuman mati, buru-buru kakek itu menyebutkan semua nama bakmi yang dijual dalam warung itu.

Kok Gi pek termenung dan berpikir sebentar, kemudian sambil berpaling ke arah Hoa In-liong katanya.

"Nama dari masakan bakmi lainnya tidak kupahami, cuma nama Yang cun mie saja..."

Tersenyum juga Hoa In-liong menyaksikan tingkah laku gadis itu, pikirnya.

Beginilah kalau di hari-hari biasa sebagai murid dari Hianbeng kaucu harus makan aneka macam hidangan yang lezat dan mewah, sehingga terhadap makanan yang sederhana dan umum tidak dipahami."

Maka katanya kemudian sambil tersenyum.

"Kalau Yang cun-pek-soat tentunya kau tahu bukan?"

Kok Gi-pek tertawa geli.

"Oooh............jadi yang dimaksudkan Yangcun-mie adalah bakmi putih? Baiklah, mari kita cicipi mie putih!"

Katanya. Kemudian sambil menatap wajah Hoa In-liong dengan biji matanya yang jeli, gadis itu bertanya lagi lembut.

"Kau sendiri suka makan apa?"

Hoa In-liong tertawa.

"Apa yang kau sukai akupun suka, mari kita bersama-sama mencicipi Yang cun-mie!"

Kok Gi-pek tertawa manis, ia lantas memberi tanda kepada kakek itu untuk membuatkan pesanannya.

Waktu itu tengah hari sudah menjelang tiba, tapi belum ada tamu yang bersantap disana, Hoa In-liong mencoba untuk menengok ke depan, ia temui belasan orang yang berada diluar warung sedang menengok ke-arah mereka berdua.

Perlu diterangkan disini, tungku tempat masak dari warung mie ini letaknya ada di dekat pintu masuk, waktu itu si kakek sambil menyiapkan mie sering kali harus menyapa pula rekanrekannya.

Tiba-tiba muncul seorang laki-laki kekar yang menghampiri kakek itu, lalu membisik kan sesuatu disisi telinga.

Sebagai seorang jagoan yang berilmu tinggi, Hoa In-liong sempat mendengar orang itu sedang menyebutkan nama sendiri.

Benar juga, dengan terperanjat kakek itu menengok kembali ke arah tamunya, tanpa ia sadari perasaan kagum dan hormat segera muncul menghiasi wajahnya, sedang lakilaki tadi setelah membisikkan sesuatu segera mengundurkan diri kembali dari warung itu.

Hoa In-liong mengerti bahwa laki-laki yang berkerumun di muka warung mungkin adalah sekawanan rakyat kecil yang hidup melarat.

Lantaran mereka menjumpai Hoa Ji kongcu berada disana, maka tak seorangpun yang berani masuk ke warung untuk makan bersama.

Sesungguhnya pemuda itu bermaksud untuk memanggil mereka masuk dan dan makan bersama, sehingga dagangan warung mie ini tidak terganggu tapi menyaksikan kegembiraan Kok Gi pek waktu itu ia menjadi tak tega.

Pikirnya.

"Persahabatan diantara kami mungkin hanya berlangsung kali ini saja....."

Ai, kalau toh ia mengharapkan suasana yang tenang, lebih baik kubiarkan dia makan dengan tenang dan tenteram, asal kubayar lebih banyak untuk kakek ini urusan toh akan beres dengan sendirinya."

Tak lama kemudian kakek itu sudah datang menghidangkan dua mangkuk mie sambil berdiri disamping, katanya agak tergagap.

"Hoa ya, bakmi ini....bakmi ini....."

"Soal ini tak usah kau urusi pergilah mengundurkan diri!"

Kata Hoa In-liong sambil ulapkan tangannya.

Kakek itu mengira sedang muda-mudi itu adalah sepasang kekasih yang sedang bercinta-cintaan dan tak ingin diganggu orang, cepat-cepat mengundurkan diri dari sana.

Kok Gi pek bersantap dengan nikmatnya, sedang Hoa Inliong ikut menyupit bakmi itu dan melalapnya beberapa kali, pikirnya kemudian.

"Heran apa enaknya dengan bakmi ini....."

Hubungan antara pria dan wanita memang sangat aneh dan ajaib, dikala tiada kecocokan meski hidangan lezat yang mahal harganya sukar rasanya ditelan, sebaliknya bila muncul bibit cinta, maka sekalipun makanan yang paling tak enakpun, kalau dimakan rasanya juga nikmat.

Terdengar Kok Gi pek berkata dengan lembut.

"Bagaimana rasanya?"

"Ehm,.... lumayan juga!"

Jawab Hoa In-liong sambil tertawa. Kok Gi pek seperti ingin mengucapkan sesuatu, tapi niat itu kemudian dibatalkan. Selang beberapa saat kemudian baru katanya lagi.

"Apakah malam nanti kau bertekad untuk menghadirinya?"

Hoa In-liong tahu, yang dia maksudkan adalah undangan dari Kok See pian, katanya sambil tertawa.

"Apa lagi yang musti kukatakan?"

"Aaaai....tahukah kau bahwa beberapa orang suteku, Beng Wi-cian serta Toan-bok See-liang mereka semua mendesak terus kepada guruku guna melenyapkan kau dalam perjamuan tersebut?"

Kata Kok Gi pek sambil tertawa.

"Lantas bagaimana pendapat gurumu?"

Tanyanya.

Guruku cuma tertawa tanpa menjawab, aku rasa keadaannya sangat gawat dan sangat membahayakan jiwamu, lebih baik kau jangan pergi kesana.

Hoa In-liong termenung sejenak, lalu katanya, Walaupun aku belum pernah bersua dengan gurumu, tapi dapat kuduga dalam perjamuan tersebut gurumu pasti akan menyambut ke datanganku dengan hormat dan sungkan.

Kok Gi pek menghela nafas panjang setelah mendengar perkataan itu, ujarnya kemudian.

"Kalau memang begitu kau harus berhati-hati!"

Setelah berpikir sebentar, tiba-tiba katanya lagi.

"Guruku berhasil meyakinkan sejenis tenaga pukulan yang mampu menyalurkan hawa beracun ke dalam isi perut lawan tanpa disadari oleh sang korban sendiri, daya kerja racun itu keras dan kuat. Dewasa ini belum ada tandingannya di dalam dunia....."

"Aku tidak mempan terhadap segala jenis racun, jadi tak usah kuatir...."

Tukas Hoa In-liong sambil tertawa.

"Terhadap racun kau boleh tidak takut, tapi tenaga pukulan itu bisa menembusi lapisan pelindung badan yang bagaimana kuatnya, orang akan terluka isi perutnya tanpa ia sendiri menyadarinya."

Setelah berhenti sejenak ia menambahkan sambil tertawa sedih.

"Aaaai... padahal sesungguhnya tak boleh kuberitahukan segala sesuatunya kepadamu."

"Nona tak usah kuatir, tidak akan memanfaatkan pemberitahuan nona itu bagi kepentingan ku!"

"Kau...!"

Seru Kok Gi-pek dengan kesal. Kepalanya segera ditundukan rendah-rendah dan mulutnya membungkam dalam seribu bahasa.

"Bagaimana kalau kita pergi?"

Kata Hoa In-liong kemudian sambil bangkit berdiri.

Tanpa, mengucapkan sesuatu apapun Kok Gi-pek bangkit berdiri dan mengikuti pemuda itu keluar dari warung.

Sebelum pergi, Hoa In-liong meninggalkan sekeping uang perak ke atas meja sambil katanya.

"Sobat-sobat diluar, kujamu kalian semua."

Hoa-ya, uangmu kebanyakan..............paling-paling cuma beberapa rence yang tembaga........"

Seru kakek itu gugup.

Tapi sebelum ia menyelesaikan kata-katanya, Hoa In-liong sudah bertegur sapa dengan sekalian orang diluar warung, kemudian bersama Kok Gi-pek pergi meninggalkan tempat itu, sekejap kemudian bayangan tubuh mereka sudah lenyap di ujung lorong.

Beberapa saat kemudian, mereka berdua sudah keluar dari pintu kota selatan.

Hoa In-liong segera berhenti sambil katanya.

"Selamat jalan nona, aku tidak menghantar lebih jauh!"

Kok Gi-pek menghela napas panjang. Aaaai........apakah kita masih boleh berkawan?"

Tanyanya.

"Sekarang bukankah kita sedang bersahabat?"

"Tapi bagaimana selanjutnya?"

Tanya Kok Gi pek sambil mendongakkan kepalanya. Diam-diam Hoa In-liong berpikir dalam hati.

"Kalau gurumu bersikeras ingin membalaskan dendam bagi kematian gurunya, sudah barang tentu keluarga kami tidak akan membiarkan kau bertingkah sekehendak hatinya dimuka umum, dalam keadaan begini hubungan kita ibaratnya api dan air mana mungkin persahabatan ini bisa terjalin lebih jauh.......?"

Ketika berpikir sampai disini, ia sudah akan membuka suara untuk memberi jawaban akan tetapi ketika dilihatnya Kok Gi pek dengan sepasang biji matanya yang bening dan jeli sedang menatapnya tajam-tajam bahkan tubuhnya yang ramping kelihatan agak gemetar, pemuda itu menjadi ragu untuk melanjutkan kata-katanya.

Karena itu setelah termenung dan berpikir sejenak, sahutnya sambil tertawa.

"Asal kau tak ingin membunuhku, tentu saja kita boleh bersahabat terus untuk selama-lamanya."

Sungguh lega perasaan Kok Gi pek ia tertawa manis. Jago-jago lihay dari perkumpulan kami sebagian besar berkumpul dalam sebuah gedung besar lebih kurang belasan li di kota bagian selatan,"

Bisiknya lirih.

"sedangkan jago yang berada dalam tingkatan kedua berkumpul dalam sebuah gedung dekat kota, jika dalam surat undangan tidak dicantumkan alamatnya itu berarti perjamuan akan diselenggarakan dalam gedung yang agak jauh letaknya dari kota, cuma.....yaa dalam perjamuan itu mungkin aku tidak ikut munculkan diri."

Hoa In-liong tersenyum.

"Aku sendiripun tak ingin berjumpa dengan kau dalam suasana dan keadaan seperti itu,"

Katanya pula.

Sambil putar badan ia maju beberapa langkah, tapi ia berpaling kembali, dan dilihatnya Kok Gi pek masih berdiri di tempat semula sambil memandang bayangan punggungnya dengan termangu-mangu.

Hoa In-liong ulapkan tangannya bermaksud agar nona itu cepat pergi, siapa tahu bagaikan burung walet yang kembali ke sarangnya, Kok Gi-pek malahan menerjang kehadapannya sambil memanggil.

"In-liong..."

Setelah berhenti sejenak, ia menambahkan.

"Bolehkah aku memanggil namamu dengan sebutan tersebut?"

Hoa liong manggut-manggut.

"Ada apa?"

Ia bertanya. Kok Gi-pek tertawa jengah, agak tergagap ia menjawab.

"Oooh...tidak apa-apa..."

Hoa In-liong tertawa lebar, dan segera putar badan meninggalkan tempat itu, pikirnya Kalau begini terus-terusan pasti tiada akhirnya.

Rasa cintanya terhadap Kok Gi-pek boleh dibilang tersendat-sendat dan tidak berani berlangsung secara bebas, bukan saja ia teringat kembali akan diri Coa Wi-wi, pemuda itupun menyadari bahwa permusuhan antara keluarga Kok dan keluarga Hoa cepat atau lambat pasti akan berakhir, sekalipun menu-rut anggapannya cinta adalah cinta, dendam adalah dendam dan satu sama lainnya tak bisa dipersatukan, namun dia cukup mengerti pandangannya belum tentu bisa sama dengan pandangan orang.

Baginya untuk melukai hati seorang gadis secantik itu bukan menjadi wataknya, maka sebelum segalanya terlanjur dia harus bertindak lebih berhati hati lagi.

Sementara masih berpikir, tahu-tahu ia sudah tiba dimuka rumah penginapan, waktu itu Coa Cong-gi dan Yu Siau-Lam sekalian telah keluar rumah, sedangkan Ho Keh-sian, Kok Hiong-seng dan beberapa orang kakek tetap tinggal disana.

Dengan suara lantang Hoa In-liong segera berteriak.

"Empek Ho, saudara Siau-lam sekalian telah pergi kemana?"

Dengan kening berkerut, kata Ho Keh-sian.

"Karena sampai tengah hari kau belum pulang juga, mereka merasa tak tenang dan segera keluar rumah untuk mencarimu."

Hoa In-liong tertawa. Kesetiaan kawan mereka sangat terpuji, cuma mereka lupa, bahwasanya aku bukan seorang manusia yang gampang dipecundangi orang. Setelah berhenti sejenak, kembali tanyanya.

"Apakah orangnya Cia Yu-cong sudah datang?"

Ho Keh-sian manggut-manggut.

"Menurut orang itu, setelah dua orang anggota Hian-bengkau diikuti secara diam-diam, dapat diketahui bahwa mereka masuk ke dalam sebuah gedung kurang lebih beberapa li diluar kota sebelah timur"

Sambil tertawa Hoa In-liong gelengkan kepalanya berulang kali.

"Tempat itu bukan gedung yang dihuni Kok See-piau, sebab mereka berada sepuluh li di selatan kota."

"Hei, mengapa kau singgung pula soal Kok See-piau si bajingan tengik itu?"

Tegur Ho Keh-sian keheranan.

"Kini Kok See-piau telah menjadi seorang gembong iblis yang mengerikan, ia menyebut dirinya sebagai Kiu ci Sinkun, setelah mendirikan Perkumpulan Hian-beng-kau, ia dipanggil orang sebagai kaucu!"

"Aaaah... mana si bajingan tengik itu sudah berhasil mencapai kelihaian yang sedemikian hebatnya?"

Seru Ho Kehsian dengan perasaan amat terkejut.

Sebagaimana diketahui, sewaktu jaman jaya-jayanya perkumpulan Sin ki-pang, pek Siau thian mempunyai hubungan persahabatan yang akrab sekali dengan Bu-liang sinku.

Dalam masa-masa tersebut Kok See-piau sering kali berkunjung ke bukit Tay-pa-san sebagai tamu agung, tidak heran kalau semua anggota Sin-ki Pang kesal dengannya.

Diantara sekian banyak orang, cuma Kok Liong seng seorang yang tidak menunjukkan reaksi apa apa, karena dia yang jarang terjun dalam dunia persilatan tidak mengenali siapakah Kok See-piau itu.

Kedengaran Si Jin-kiu berkata dengan dingin.

"Semua saudara-saudara kami telah dikumpulkan untuk berjaga diluar perkampungan, bila gelagat tidak menguntungkan nanti, kami siap untuk menyerbu ke dalam guna memberi bantuan."

"Perkataan dari Si lote betul juga....."

Ho Keh-sian manggut-manggut.

"Dendam kesumat Kok See-piau terhadap keluarga Ji kongya memang menumpuk bagaikan sebuah bukit, dari pada Liong sauya pergi seorang diri, memang ada baiknya kalau mempersiapkan bala bantuan diluar gedung, siapa tahu kalau waktu itu tenaga kami sangat dibutuhkan?"

Hoa In-liong tertawa.

"Empek sekalian jangan terlalu pandang rendah dirinya. Kok See-piau yang sekarang berbeda de-ngan Kok See-piau dulu, cukup dilihat dari ambisinya yang setinggi langit dapat diketahui bahwa manusia ini tak bisa diangap enteng."

Kok Hong seng tertawa terbahak-bahak, dia ikut menimbrung.

"Haaah.....haaah.....haaahh...... sungguh tak kusangka Han beng kaucu berasal satu marga denganku. Wah.... kalau begitu aku musti berkenalan lebih akrab lagi dengannya."

Tentu saja yang dimaksudkan sebagai "perkenalan yang lebih akrab"

Adalah suatu tantangan untuk berduel dengan Kok See-piau.

Sementara semua orang masih berseloroh tiba-tiba terdengar suara langkah manusia berkumandang dari luar ruangan, manusianya belum muncul suara dari Coa Cong gi sudah berkumandang dengan lantang.

"Hai permainan setan apa yang sesunggunya sedang kau lakukan? Bukankah sudah dibilang hanya pergi ke rumah makan sebentar? Kemana lagi kau pergi?"

Dengan langkah lebar ia masuk dulu ke dalam ruangan dikuti Yu Siau Lim, Li Poh seng dan Kok Siong-peng.

"Dalam kepergianku kali ini berhasil kuketahui asal usul dari Hian-beng kaucu, dan kalian?"

Kata Hoa In-liong. Coa Cong-gi tertegun mendengar perkataan itu, segera serunya.

"Siapakah bajingan keparat itu? Cepat beritahukan kepada kami!"

Dengan ogah-ogahan Hoa In-liong menggeliat, lalu katanya.

"Lebih baik tanyakan sendiri kepada congkoanmu, karena dia adalah sanak keluarganya Kok congkoan!"

Dengan mata melotot besar Coa Cong-gi segera berpaling, kepada Kok Hong-seng segera teriaknya.

"Bagus sekali! Hei Kok congkoan! Tak ku sangka kalau kau adalah anak keluarganya gembong iblis itu."

Tentu saja keadaan ini menggelisahkan Kok Hiong-seng, ia benar-benar di bikin runyam mau tertawa tak bisa mau menangis pun sungkan.

"Eeeh.........eeeh....nanti dulu, nanti dulu, walaupun gembong iblis itu berasal dari marga Kok tapi bukan sanak keluargaku. Ji-kong cu cuma bergurau saja."

Hoa In-liong tetap tenang-tenang saja walaupun melihat kepanikan orang, seakan akan tak pernah terjadi sesuatu ia lantas memberi hormat sambil berkata.

"Untuk menghadapi pertemuan magrib nanti, aku membutuhkan tenaga dan kondisi badan yang baik, maaf kalau aku muski pergi beristirahat lebih dulu......."

Selesai berkata dia lantas meninggalkan ruangan itu kembali ke kamarnya sendiri, dimana ia duduk bersemedi sambil mengatur pernapasan, ia cukup tahu betapa seriusnya pertemuan magrib nanti, maka persiapan yang dilaksanakan tak berani dilakukan secara gegabah.

Rekan-rekan lainnya tak ada yang berani mengganggu ketenangan pemuda itu, mereka semua berkumpul di ruang depan untuk merundingkan cara yang terbaik dalam melindungi keselamatan pemuda tersebut.

Ketika Hoa In-liong membuka matanya kembali, sore telah menjelang tiba, ia mendengar suara dari Beng Wi thancu dari ruang Thian ki di dalam perkumpulan Hian-beng-kau sedang berkumandang diluar, maka bergegas ia keluar dari kamarnya.

Ketika Beng Wi-thancu menjumpai kemunculan anak muda itu, ia segera memberi hormat sambil berkata, Waktu sudah tidak pagi lagi, bagaimana kalau sekarang juga kita melakukan perjalanan?"

"seharusnya memang demikian!"

Jawab anak muda itu. Dengan sorot matanya yang tajam Beng Wi-cian menyapu sekejap kawanan jago yang berada di sekeliling tempat itu, lalu kembali berkata.

"Begini banyak sahabat Hoa kongcu yang berkumpul disini, mau berangkat bersama ataukah kau hendak penuhi undangan tersebut seorang diri?"

Coa Cong gi segera membuka mulutnya seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi niat itu kemudian dibatalkan.

Hoa In-liong lantas menduga bahwa mereka sudah mempunyai rencana tertentu, sebab kalau tidak demikian, dengan waktu Coa Cong gi yang berangasan mana mungkin ia bisa menahan diri?

"Tentu saja aku berangkat seorang diri!"

Katanya kemudian.

"Kalau begitu, silahkan!"

Kata Beng Wi cian sambil mengelus jenggotnya dan tertawa, ia melangkah lebih duluan meninggalkan ruang tersebut.

sebelum berangkat tiba-tiba Hoa In-liong berpaling dan katanya dengan wajah bersungguh sungguh.

"Empek Ho, aku harap kalian jangan berjaga jaga diluar gedung, sebab kalau sampai ketahuan mereka, tentu mereka akan mentertawakan orang-orang keluarga Hoa kami yang dinilainya sebagai penakut semua."

Ho Kek sian yang mendengar perkataan itu menjadi tertegun, baru saja ia hendak mengucapkan sesuatu, Hoa Inliong sudah pergi jauh.

Setelah keluar dari rumah penginapan, ia jumpai ada beberapa orang anggota Hian-beng-kau sedang menuntun kuda, salah seekor diantaranya berbulu hitam pekat dan sama sekali tak ada campuran warna lain, dari kepala sampai keekor panjangnya satu koma dua tombak, tinggi besar dan kekar sekali, jelas seekor kuda jempolan.

"Kuda bagus!"

Puji Hoa In-liong tanpa sadar. Wu-im-kay soat (awan hitam menyelimuti salju) ini adalah kuda mustika kesayangan kaucu kami,"

Demikian Beng Wi cian menerangkan.

"oleh karena Hoa kongcu adalah seorang yang terhormat, sengaja kami jemput kedatangan kongcu dengan kuda ini. Dari sini bisa diketahui bahwa kaucu kami sangat menaruh perhatian terhadap diri Hoa kongcu."

Hoa In-liong coba memperhatikan kuda itu dengan seksama, betul juga keempat buah kakinya putih mulus bagaikan salju, maka ia cuma tersenyum belaka tanpa mengambil komentar, dengan enteng tubuhnya melompat ke atas punggung kuda itu.

Pada umumnya kuda mustika semacam ini hanya kenal dengan majikannya, barang siapa berani mendekatinya dia selalu berontak dan berusaha melemparkan orang asing itu dari punggungnya.

Begitu juga halnya dengan kuda ini, baru saja Hoa In-liong melompat ke atas punggungnya, kuda itu segera meringkik panjang, sepasang kaki depannya diangkat ke atas, punggungnya disentakkan ke belakang dan berusaha melemparkan tubuh Hoa In-liong ke udara.

Ringkikan panjang itu cukup nyaring dan menggetarkan selaput telinga, kontan saja para penjalan kaki yang berada di sekitar tempat itu mengundurkan diri ke belakang, rupanya mereka kuatir jika kuda tersebut mengumbar sifat liarnya.

Wu-im-kay-soat atau awan hitam menutupi salju adalah sejenis kuda jempolan yang langka di dunia ini, biasanya jika ia sedang marah maka kuda kuda lainnya akan menjadi ketakutan dan pada kabur dengan badan bergemetaran.

Diam-diam Beng Wi cian tertawa sinis, pikirnya.

"Akan kulihat dengan cara apa kau hendak menaklukan kuda ini....."

Haruslah diketahui, bagi orang-orang yang berilmu silat tinggi bukan menjadi masalah Untuk menundukkan kuda macam "Wu im kay soat"

Ini kendatipun kuda itu lebih hebat beberapa kali lipat, cuma untuk menaklukan secara manis bukanlah suatu perbuatan yang gampang, apalagi di tengah kota yang ramai, apalagi kuda itu sampai melukai orang sudah pasti Hoa In-liong akan merasa kehilangan muka.

Siapa tahu Hoa In-liong memang sudah menduga maksud busuk orang-orang itu, menaklukan kuda bukan sesuatu yang aneh bagi pemuda ini, apalagi dirumahnya terdapat pula "Liong ji"

Sejenis kuda berkeringat darah yang lebih susah ditaklukkan maka menaklukkan kuda liar bagi Hoa In-liong adalah suatu pekerjaan yang bisa dengan pengalaman yang matang.

Maka begitu badannya melayang turun di atas pelana, sepasang kakinya segera menjepit perut kuda itu keras-keras, hawa murnipun disalurkan untuk memberatkan bobot tubuhnya.

Dengan berbuat demikian, maka kuda "Wu im-kay soat"

Tersebut segera merasakan punggungnya seperti ditindih dengan bukit karang yang berat sekali, sekalipun ia sudah berusaha untuk meronta kesana kemari dan mencoba untuk melemparkan penumpangnya ke udara, usahanya itu selalu gagal total.

Lama kelamaan rupanya kuda itu mulai sadar bahwa orang yang dihadapinya cukup tangguh, sambil meringkik panjang ia lantas berusaha menerjang maju ke depan.

Apabila kuda "Wu im kay soat"

Tersebut sempat menerjang ke muka secara kalap, tak bisa dihindari lagi tentu banyak orang yang akan terluka terlanggar kakinya, suasana seketika menjadi gempar dan semua orang melarikan diri tercerai berai.

Disaat saat yang paling kritis itulah, Hoa In-liong melompat turun ke atas tanah, dengan sepasang tangan-nya yang kuat ia memeluk tengkuk kuda itu lalu ditekannya ke bawah.

Dengan marah kuda Wu im kay soat memberontak, kakinya dijejakkan kesana kemari sambil meronta dengan sepenuh tenaga, pasir dan debu sampai beterbangan memenuhi angkasa tapi tubuhnya tak bisa berkutik.

Selang beberapa saat kemudian suara ringkikan kuda "Wu im kay soat"

Makin melemah, Hoa In-liong segera membentak keras.

"Binatang! Kau belum juga mau takluk?"

Diam-diam hawa murninya diperbesar dua bagian kuda Wu im kay soat itu meringkik panjang lalu tak berkutik lagi dengan kepala yang digoyang goyangkan dan ekor yang dikebaskan kesana kemari binatang itu menunjukkan sikap mohon belas kasihan.

Setelah berada dalam keadaan begini tempik sorak mulai menggelegar dari empat penjuru semua orang pada bertepuk tangan sambil memuji tiada hentinya.

Diam-diam Beng Wi cian pun merasa sangat kagum, sambil mengelus jenggotnya dan tertawa ia berkata.

"Tenaga dalam yang dimiliki Hoa kongcu benar-benar mengagumkan, kecuali kaucu kami belum pernah ada orang kedua yang sanggup menaklukkan kuda jempolan ini semudah sekarang ini."

Dengan muka yang tidak merah, nafas tidak tersengkal kata Hoa In-liong dengan hambar.

"Kepandaian macam begitu bukan terhitung kepandaian jempolan, harap jangan kau tertawakan."

Beng Wi cian tidak banyak berbicara lagi ia lantas naik ke atas kudanya diikuti beberapa orang anggota Hian-beng-kau yang lain kemudian mereka bersama-sama berangkat ke luar dari kota selatan.

Hoa In-liong jalan bersanding dengan Beng Wi cian, sesaat kemudian sampailah mereka di depan sebuah gedung.

Gedung itu besar sekali dan berdiri di tengah hutan yang lebat, meskipun luas bangunannya tidak mentereng, jauh berbeda dengan gedung-gedung yang biasa dihuni oleh kaum hartawan.

Waktu itu pintu gerbang terbuka lebar, sepanjang jalan dari pintu gerbang sampai di luar ruang tengah, kedua sisi jalannya penuh berdiri dengan laki-laki berbaju ungu yang menyandang golok, jumlah mereka mencapai tiga puluh orang lebih.

Kawanan jago itu berbaris sangat rapi, masing-masing membawa sebuah obor yang diangkat tinggi tinggi sehingga suasana dalam gedung terang benderang bagaikan di tengah hari.

Sekalipun demikian, suasana tetap tenang dan tak kedengaran sedikit suarapun, dibalik kehening-an lamat-lamat terselip pula hawa pembunuhan yang mengerikan.

Ketika Hoa In-liong melompat turun dan kudanya, seorang anggota Hian-beng-kau segera maju menyambut tali les kudanya.

00000O00000 Bab 41 Silahkan masuk Hoa kongcu kata Beng Wi-cian kemudian sambil memberi hormat.

"kaucu Kami sudah menunggu semenjak tadi."

Sambil tersenyum Hoa In-liong melangkah masuk ke dalam ruangan. Laki-laki kekar yang berdiri dikedua belah sisi jalan itu segera teriak bersama.

"Hoa kongcu tiba......"

Tenaga dalam yang dimiliki lima enam puluh orang ini ratarata cukup sempurna, apalagi berteriak secara serempak, hebatnya melebihi guntur yang membelah bumi di siang hari bolong sungguh memekikkan telinga.

Tapi Hoa In-liong tetap tenang, terpengaruh barang sedikitpun tidak dia malah bersikap seakan-akan tak pernah menyaksikan sesuatu apapun, sementara dalam hati kecilnya ia berpikir.

"Hian-beng-kau merupakan suatu organisasi yang lain dari pada yang lain dengan perkumpulan lainnya dalam dunia persilatan, tak mungkin rasanya mereka akan mencoba musuhnya dengan menggunakan barisan golok atau sebangsanya...."

Sementara masih melamun, ia sudah tiba di depan ruangan besar, tampaklah seorang laki-laki berjubah panjang warna merah memelihara jenggot bercabang tiga, bermuka putih tapi keren berdiri dibarisan terdepan.

Meskipun ia cuma berdiri biasa, namun sorot matanya yang melebihi ketajaman burung elang itu cukup membuat orang melihatnya menjadi ngeri dan bergidik.

Hoa In-liong segera mengerti, kecuali Kok See-piau sedang mengamati wajah Hoa In-liong dari ujung rambut sampai ujung kakinya, sinar mata itu buas dan mengandung nada kebencian, sampai Hoa In Hong yang tersohor karena keberaniannya ikut bergidik juga jadinya.

"Sungguh tak kusangka rasa bencinya terhadap keluargaku sudah mencapai tingkatan sedemikian hebatnya....."

Demikian ia berpikir. Cepat cepat ia pusatkan kembali seluruh perhatiannya, lalu setelah memberi hormat katanya.

"Aku yang muda Hoa Inliong khusus datang untuk menyambangi siokun."

Ia menyebutkan dengan kata "siukun"

Bukan kaucu, hal ini dikarenakan dibalik ucapan itu masih terkandung maksud lain yakni ia sudah mengetahui asal usul dari Kok See-piau. Tiba-tiba Kok See-piau tertawa terbahak-bahak lalu katanya.

"Haaah...haaahh,...haaahh...,betul juga, kalau ayahnya harimau anaknya tentu ikut harimau, sungguh gembira aku orang she Kok menyaksikan sobat lamaku bisa mempunyai keturunan sehebat ini Dengan hormat ia mempersilahkan masuk. Dengan tenang Hoa In-liong mengikuti dibelakangnya masuk ke dalam ruangan, sementara dihati kecilnya merasa terkejut sekali atas ketenangan serta kelicinan Kok See-piau. Kalau suasana diluar ruangan tadi jelek, tua dan tak sedap dilihat maka suasana dalam ruangan itu berputar 180 derajat, bukan saja tiang-tiangnya terdiri dari tiang besar dengan ukiran yang indah, lampu keraton merah darah yang halus melapisi permukaan lantai, bukan begitu saja, alat-alat makan dan minum yang tersedia di meja perjamuan rata-rata indah dan mahal harganya, mungkin suasana itu lebih mewah dari keraton kaisar. Setelah Hoa In-liong dan Kok See-piau masing-masing mengambil tempat duduk, kawanan jago lainpun ikut menempati kursinya masing-masing, diantara sekian banyak orang hanya delapan orang pemuda yang berdiri dibelakang Kok See-piau, empat diantaranya adalah para Ciu Hoa yang pernah dijumpai Hoa In-liong, jadi jelas mereka semua adalah murid-muridnya Kok See-piau. Seperti apa yang pernah dikatakan Kok Gi pek, ternyata dalam perjamuan ini dia benar-benar tidak menampakkan diri tapi Toan-bok See-liang, Beng Wi-cian serta Tang Bong-liang ikut hadir dalam ruangan. Terdengar Kok See-piau berkata.

"Hoa kongcu, kau cerdas hebat dan luar biasa, sekalipun aku orang she Kok berusaha untuk merahasiakan jejaknya, rupanya hal ini tak mungkin bisa mengelabui dirimu......"

Ketika berbicara sampai disitu, ucapannya terhenti sejenak dan ditatapnya wajah anak itu tajam-tajam.

"Hebat benar orang ini pikir Hoa In-liong dihati kecilnya. Sambil tertawa dia lantas berkata.

"Jejak Sinkun amat rahasia dan susah dicari, akupun musti melacaki sedikit demi sedikit, setelah melakukan penyelidikan sekian lama cuma garis besarnya saja yang bisa ku ketahui."

"Kalau begitu, permusuhan antara aku Orang she Kok dengan pihak ayahmu pasti sudah Hoa kongcu ketahui dengan jelas bukan?"

Kata Kok See-piau lagi pelan-pelan. Hoa In-liong segera mengerutkan dahinya.

"Apakah Sinkun hendak menggunakan kesempatan ini untuk melakukan penyelesaian atas hutang-hutang lama kita?"

"Hmm.......jangan kau pandang begini rendah karakter aku orang she Kok........."

Hoa In-liong tidak berbicara lagi, sinar matanya segera dialihkan mengamati sekejap orang-orang yang berada di sekelilingnya.

Ia menyaksikan orang pertama yang duduk di sebelah kiri Kok See-piau adalah seorang kakek tinggi besar berjubah panjang, disampingnya adalah kakek berambut keperakperakan dan berwajah merah seperti bayi, sebaliknya Toan bok See liang sebagai Cong thamcu dan Beng Wi cian dari Thian ki thamcu rupanya bukan termasuk manusia manusia penting, ini terbukti dari tingkat kedudukan mereka yang rendah.

Diam-diam terkejut juga anak muda itu, segera pikirnya.

"Kalau dilihat dari pancaran sinar mata mereka, jelas orang

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com/ orang itu adalah kawanan jago yang berilmu tinggi, padahal yang datang sekarang cuma segelintir manusia belaka..,..."

Berpikir sampai disitu, sambil tersenyum ia lantas berkata.

"Aku yakin semua orang yang hadir di tempat ini sekarang adalah kawanan jago yang berilmu tinggi, sayang yang bodoh dan tidak mengenali mereka satu persatu, dapatkah Sinkun memperkenalkan mereka kepada ku.......?"

"Seharusnya memang demikian!"

Sahut Kok See-piau sambil mengangguk berulang kali. Tiba-tiba kakek nomor satu di sebelah Kok See-piau itu menyela dari samping.

"Sinkun, maafkanlah daku, harap nama hamba jangan disebutkan dihadapan orang lain."

Kok See-piau segera mengangguk.

"Pun Sinkun dapat memahami maksud hati dari Hu-kaucu!"

Ia lantas berpaling sambil berkata lebih lanjut.

"Setelah Hu kaucu kami memberi pertanyaan yang keberatan jika namanya disebutkan, Pun Sinkun tak bisa memaksa lebih jauh, harap Hoa kongcu bisa memakluminya."

Tiba-tiba Hoa In-liong bangkit berdiri dan menjura kepada kakek itu, katanya.

"Ga bu kaucu, masa cuma nama pun mesti di rahasiakan? Apakah aku Hoa Yang memang belum pantas untuk mendengar nama mu?"

Setelah mengucapkan kata-kata tadi, si kakek yang dipanggil sebagai "Wakil ketua"

Tadi pejamkan kembali matanya dan duduk tak berkutik. Tapi sekarang tiba-tiba saja matanya melotot besar dan memancarkan sinar mata setajam sembilu, ditatapnya Hoa In

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com/ liong sekejap, kemudian katanya.

"Nama besar Hoa kongcu memang bukan cuma kosong belaka, untuk mengetahui nama margaku saja tidak banyak anggota perkumpulanku yang mengetahuinya......"

Setelah berhenti sejenak, ia menambahkan.

"Aku bernama Go Tang-cwan!"

Selesai berkata kelopak matanya terpejam, kembali dan sinar tajampun seketika lenyap tak berbekas. Hoa In-liong segera berpikir.

"Manusia yang bernama Go Tang-cwan ini pastilah suaminya Thia Siok-bi kemungkinan besar lantaran ia menggabungkan diri dengan perkumpulan Hian-beng-kau, dalam jengkelnya I hia losianpwe lantas mengasingkan diri menjadi pendeta."

Dalam pada itu Kok See-piau telah menuding kakek bermuka merah seperti bayi itu sambil memperkenalkan.

"Dia adalah Lau-san-in-siu (pertapa sakti dari bukit Lau-san)!"

Mendengar nama itu, Hoa In-liong seperti merasakan hatinya bergetar keras dengan cepat ia memberi hormat seraya berseru.

"Ooooh.......... rupanya Ui Shia-ling Locianpwe, sudah lama kudengar akan nama besarmu."

Lau san in sia Ui Sin Ling sambil tersenyum segera balas memberi hormat..

"Hoa kongcu masih muda belia tapi sangat lihay dan tersohor sampai dimana mana, sudah lama aku pun mengagumi nama besarmu!"

Hoa In-liong tersenyum.

"Aku lihat rupanya ketenangan Ui locianpwe dalam pertapaan sudah mulai terganggu?"

Sindirnya.

Pertapa sakti dari bukit Lau san Ui Shia ling cuma tertawa tawa dan tidak memberi komentar apa-apa.

Ketika Hoa In-liong menyaksikan sindirannya tidak mendapatkan reaksi apa apa, segera sadarlah anak muda itu bahwa Lau san in sia Ui Shia ling adalah seorang manusia yang sukar dihadapi.

Menyusul kemudian secara beruntun Kok See piku memperkenalkan pula tiga orang jagoan tangguhnya, yakni seorang iman tua berjilbab kuning yang bernama "Ci Siau cu", dan dua orang iman tua berjubah hitam yang tampaknya seperti bersaudara sebagai Im san siang koay (sepasang manusia aneh dari bukit Im san), jelas mereka adalah o-rang orang yang berasal dari luar perbatasan.

Empat orang sisanya adalah Cong thamcu dari Hian-bengkau, Thamcu dari Ruang langit serta bumi, lalu Toan bok See liang dan akhirnya adalah Beng Wi ciau.

Hoa In-liong sudah mengetahui bahwa Tang Bong liang adalah Thumcu dari ruang Jin tham, sedang yang seorang lagi seorang kakek kurus kering adalah Thamcu dari ruang Tee tham yang bernama Cui Heng.

Diam-diam Hoa In-liong berpikir.

"Kalau ditinjau dari segala sesuatu yang tertera di depan mata sekarang, tampaknya kekuatan yang dimiliki Hian-beng-kau jauh di atas kekuatan dari Kia im kau maupun Mo kau, aku tak boleh gegabah dan musti bertindak sangat hati hati............."

Setelah ucapan perkenalan selesai, dengan lantang Hoa Inliong berkata.

"Malam ini, aku Hoa Yang bisa berkenalan dengan sekian banyak jago tangguh dari perkumpulan saudara, hal ini sungguh merupakan suatu kebanggaan bagi diriku, cuma kalau boleh aku ingin tahu ada maksud apa Sinkun mengundang kehadiranku ini?"

"Sesungguhnya tak ada urusan lain, cuma kalau toh Hoa kongcu telah berkata demikian, Pun Sinkun ingin mengungkapkan tentang suatu persoalan kecil."

"Harap Sinkun terangkan!"

Kok See-piau tertawa berat.

"Tahukah Hoa kongcu, julukan Sinkun yang kugunakan sekarang ini berasal dari siapa?"

Hoa In-liong segera tertawa ringan.

"Sejak dulu sampai sekarang hanya ada Kiu-ci Sinkun seorang dalam dunia persilatan. Tentu saja aku tahu,"

Jawabnya.

Kembali Kok See-piau tertawa dingin.

Heeehh......heeehh.....heeehh.........kalau aku orang she-Kok bisa mewarisi ilmu silat mendiang guruku, apakah hasil karya dari mendiang guruku boleh juga Pun Sinkun teruskan?

Sebagai muridnya, tentu saja hasil karya dari mendiang gurunya boleh dipergunakan.

Diluar ia berkata demikian, sementara dalam hati kecilnya diam-diam tertawa dingin.

Heeeh...heeehh....heeeh ....padahal semua orang tahu, obat mustika maupun kitab pusaka yang dimiliki Kiu ci Sinkun didapatkan dari hasil merampok sungguh tak kusangka kau Kok See-piau begitu tebal muka dan mengaku barang barang itu sebagai hasil karya gurunya.....Huuh, sungguh tak tahu malu.

Sementara ia masih termenung, Kok See-piau telah berkata lagi.

"Kalau memang kau telah berkata demikian, maka aku ingin bertanya kepadamu, konon sebuah tempat alas duduk guruku yang terbuat dari kemala kini berada di rumahmu, dapatkah Sinkun men dapatkannya kembali, Hoa In-liong bukan orang bodoh, tentu saja ia dapat menangkap nada sindiran yang terkandung di balik perkataan itu, dimana seolah olah Kok See-piau mencemooh keluarga Hoa yang dikatakan telah mencuri barang milik orang.

"Haaah...,haaahh.....haaahh"..Tentu saja setiap waktu Sinkun dapat memperolehnya kembali, cuma aku kuatir kalau terlampau berat!"

Ciu Hoi lotoa yang berdiri dibelakang Kok See-piau tiba-tiba menyela dengan ketus"

"Hmmm... sebuah alas duduk kemala sekecil itu masih lebih berat dari sebuah bukit Thay san? Hakekatnya kau sedang mengaco belo tak karuan... Hoa In-liong tidak menjawab, dia hanya memandang ke arah Kok See-piau sambil tersenyum. Dengan suara yang menggeledek Kok See-piau Segera membentak.

"Disini tak ada kesempatan bagimu untuk ikut menimbrung tahu? Tutup bacotmu!"

Ketika menyaksikan gurunya naik darah, Ciau Hoa lotoa segera menutup mulutnya dan tak berani berbicara lagi, dia hanya melotot ke arah Hoa In-liong dengan gemasnya.

Paras muka Kok See-piau kembali berubah menjadi tenang kembali, ia tertawa tawa.

"Aku tahu, jago tangguh yang berkumpul dalam gedung rumahmu sangat banyak tak terhitung jumlahnya, apalagi ilmu silat ayah mu memang tidak tandingannya dikolong langit, tentu saja alas duduk kursi itu tak mungkin bisa diangkut oleh siapapun juga."

Dengan pengakuannya yang berterus terang bahwasanya ia tak mampu mengangkut alas duduk kumala sebagai "Yang dipertuan dalam dunia persilatan"

Itu, sama pula artinya bahwa di dunia persilatan dewasa ini tak ada yang mampu menandingi kelihayan keluarga Hoa, kontan saja ke delapan orang menunjukan rasa tidak puas, cuma mereka tak berani ikut ambil bicara Hoa In-liong mulai menyadari bahwa bekas murid Bu Liang siokun dan Kini menjadi Kui ci sin-kuo ini hakekatnya memang seorang pemimpin yang hebat dalam dunia persilatan, jauh berbeda dengan bayangannya semula sebagai seorang siaujin yang sok bergaya dan sombongnya luar biasa.

Kewaspadaan semakin dipertingkatkan dalam benaknya sambil tertawa ia lantas berkata.

"Yang Kumaksudkan bukanlah demikian!"

"Oooh.....Lantas bagaimanakah yang kau maksudkan? Pun Sinkun merasa tidak habis mengerti,"

Kata Kok See-piau sambil tertawa. Hoa In-liong mengerutkan dahinya, lalu setelah termenung sebentar katanya dengan lantang.

"Tahukah Sinkun bahwa hati manusia di dunia ini lebih berat dari jagad....?"

Paras muka Kok See-piau agak membesi sesudah mendengar perkataan itu, lama sekali ia cuma membungkam diri tanpa mengucapkan sepatah katapun.....

Tiba-tiba Ciu Hoa kedelapan yang berada dibelakang Kok See-piau tertawa katanya.

"Heehh....... heeeh........ heeeh........ kalian orang-orang dari keluarga Hoa tidak lebih cuma segerombolan manusia munafik yang pura-pura berhati mulia, dengan kebijaksanaan dan kegagahan yang palsu kalian membohongi rekan persilatan dalam dunia agar memihak kalian, apanya yang patut dibangga-kan dengan perbuatan semacam itu?"

Hoa In-liong berpaling, ia lihat Ciu Hoa yang berbicara itu agaknya adalah Ciu Hoa lo pat, tampangnya ganteng dan perawakan tubuhnya gagah, bahkan sorot matanya memancarkan sinar berkilat, dalam sekilas pandangan saja ia sudah mengetahui bahwa tenaga dalam yang dimiliki orang ini jauh lebih sempurna dari pada rekan-rekan lainnya.

Dengan suara lantang Kok See-piau segera menegur.

"Hei, Lo pat! Sampai dimana sih kepandaian silat yang kau miliki? Berani betul memberi pandangan dan kesimpulan yang menuruti suara hatimu sendiri? Hayo cepat minta maaf kepada Hoa kongcu!"

Diam-diam Hoa In-liong berpikir lagi.

"Kalau didengar dari nada pembicaraan Kok See-piau, rupanya ia menaruh rasa sayang dan manja kepada muridnya yang paling kecil ini, jangan-jangan dia memang me nirukan sejarah lama yang menimpa diri Kiu ci Sinkun?"

Sambil menahan rasa mendongkol dan marahnya yang meluap-luap, Ciu Hoa lo-pat menjura sambil berkata.

"Aku masih muda dan tak punya pengalaman, harap Hoa kongcu sudi memaafkan kesalahanku tadi."

Sambil tertawa Hoa In-liong balas memberi hormat.

"Orang yang kelewat banyak memang susah dikontrol, ucapan dari Pat kongcu pasti akan kami perhatikan sebaikbaiknya dan keluarga Hoa kami pasti akan semakin ketat mengontrol diri, terima kasih banyak atas perhatianmu."

Betapa gemas dan jengkelnya Ciu Hoa lo-pat, sinar mata kebencian yang disertai hawa nafsu membunuh memancar keluar dari balik matanya, sambil menggertak gigi ia tertawa dingin tiada hentinya.

Sikap permusuhan yang luar biasa ini segera mencengangkan Hoa In-liong, dia lantas, berpikir.

"Tampaknya ia sangat benci kepadaku, kalau dibilang lantaran sakit hati perguruan, rasanya tidak mirip........."

Pikir punya pikir tiba-tiba bayangan tubuh dari Kok Gi-pek melintas dalam benaknya,ia lantas menyadari akan sesuatu, kembali pikirnya.

"Kalau dilihat dari potongan mukanya serta kepandaian silatnya, jelas ia paling punya harapan untuk mempersunting sumoaynya, yaa dia pasti sudah mengetahui tentang sikap Kok Gi-pek kepadaku, maka timbul rasa dendam dalam hatinya..........kalau begitu orang yang meracuni arakku tentu dia pula biang keladinya, yaa sekarang aku baru tahu, rencana untuk mengundangku ke sinipun pasti muncul dari idenya."

Ternyata apa yang diduga Hoa In-liong sembilan puluh persen memang benar, dalam anggapan Ciu Hoa lo pat, dengan tampangnya yang ganteng dan ilmu silat yang paling menonjol diantara sesama saudara seperguruan, ia mengira dialah yang pasti akan menarik perhatian sumoaynya Kok Gi pek, malah dia menganggap untuk mempersunting sumoaynya, hal ini lebih gampang dari membalikkan telapak sendiri.

Siapa tahu kebiasaan bergurau dan bercanda yang setiap hari mereka lakukan tiba-tiba berubah sama sekali sekembalinya dari bepergian beberapa hari terselang.

Bahkan sepulangnya dari bepergian ia mohon kepada gurunya agar mewariskan ilmu silat yang le-bih hebat kepadanya, kemudian mengasingkan diri dan tak mau berjumpa dengan siapapun.

Mula-mula ia menaruh curiga, tapi setelah mengetahui bahwa somoaynya amat membenci kepada Hoa In-liong dan bermaksud untuk membalas dendam, kewaspadaan dan kecurigaannya jauh berkurang.

Siapa tahu belum sampai beberapa hari menutup diri, tibatiba Kok Gi Pek pergi lagi tanpa pamit, hasil penyelidikannya kemudian menunjukkan bahwa adik seperguruannya sedang mengadakan janji dengan Hoa In-liong seorang musuh besar perguruan mereka, betapa cemburu dan marahnya pemuda itu.

Ia lantas menitahkan kepada Tang Bong liang untuk mencelakai Hoa In-liong dengan mencampurkan racun Hwe cian tin dan Im leng dalam minumannya, sekalipun sebelum kejadian itu ia su-dah mendengar bahwa Hoa In-liong kebal terhadap segala macam racun, tapi ia tidak terlampau percaya.

Malam ini setelah ia berjumpa sendiri dengan Hoa In-liong, biasanya kalau ia menganggap dirinya sebagai seorang laki

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com/ laki tampan maka setelah menyaksikan kegantengan Hoa Inliong yang ber lipat lipat kali melebihi ketampanannya, timbul rasa rendah diri di hati kecilnya, secara otomatis rasa dengkinya pun semakin menebal.

Dengan sorot mata yang dingin Kok See-piau memandang sekejap wajah Hoa In-liong dan muridnya, diam-diam ia mengeluh sebab bila dibandingkan ji kongcu dari keluarga Hoa ini, maka muridnya ketinggalan jauh sekali......

Sementara ia masih termenung, Hoa In-liong telah menjura sambil berkata.

"Ada suatu hal ingin kutanyakan kepada Sinkun, aku harap kau bersedia untuk menerangkan."

"Katakan puo Sinkun siap mendengarkan pertanyaanmu!"

"Aku ingin tahu tentang peristiwa sekitar pembunuhan berdarah atas keluarga Suma siek ya ku."

Kok See-piau segera tertawa hambar.

"Istri Suma siok ya mu yang bernama Kwa Gi hun adalah bekas anggota Kiu im kau, tahukah Hoa kongcu tentang hal ini?"

Katanya. Hoa In-liong mengangguk. Yaa, aku pernah mendengar tentang hal ini.

"Kalau memang begitu, kenapa tidak Hoa kongcu tanyakan langsung kepada Kiu-im kau Ci? Tindakanmu menuntut kepada pun-sikun bukan suatu tindakan yang tepat!"

Hoa In-liong segera berpikir.

"Kalau ditinjau dari caranya berbicara, persoalan ini tampaknya terdapat banyak hal yang mencurigakan."

Berpikir sampai disitu, ia lantas berkata.

"Sudah kutanyakan persoalan ini kepada Kiu im kaucu...."

"Kalau memang begitu, semua duduk persoalan kan sudah menjadi jelas, kenapa engkau musti menuntut lagi kepadaku?"

Tukasnya.

"Ia bilang perkumpulan Hian-beng-kau terlibat juga dalam peristiwa pembunuhan ini, lagipula apa yang diterangkan kurang jelas, maka terpaksa aku musti bertanya pula kepada Sinkun."

"Ia benar-benar berkata demikian?"

Seru Kok See-piau dengan wajah agak gusar.

"Kalau Sinkun tidak percaya, kenapa tidak mengutus orang untuk menyelidikinya?"

Hawa amarah masih menghiasi di atas wajah Kok See-piau, ia termenung sejenak lalu katanya kemudian.

"Kalau begitu jika Hoa kongcu hendak menuntut balas atas peristiwa tersebut, tak ada salahnya. Diam-diam Hoa In-liong menaruh curiga katanya lagi.

"Sinkun aku dengar dibalik perkataanmu masih terkandung maksud lain, dapatkah kau terangkan."

"Dibicarakan memang bukan menjadi persoalan, tapi belum tentu Hoa kongcu mau mempercayainya, maka apa pula gunanya untuk banyak bicara yang tak berguna?"

"Mungkinkah dibalik peristiwa ini terdapat latar belakang la innya?"

Pikir Hoa In-liong kemudian. Ia lantas berkata.

"Dengan kedudukan Sinkun yang terhormat masa kau akan membohongi diriku? Tentu saja aku percaya."

Kok See-piau segera tertawa.

"Ucapan Hoa kongcu terlalu berlebihan, sudah menjadi rahasia umum kalau seseorang menggunakan kata-kata bohong untuk menutupi perbuatannya, bukan cuma aku, siapapun juga bisa melakukan hal ini."

Setelah berhenti sejenak, dengan wajah serius, dia lantas berkata lebih jauh.

"Percayalah Hoa koasen bila Pun Sinkun katakan bahwa dalam peristiwa kematian Suma Tiang-sing, pihak perkumpulan kami sama sekali tidak terlibat? Sekalipun muridku pernah menyebarkan bubuk racun di dalam peti mati, hal itu kami lakukan sesudah peristiwa pembunuhan itu berlangsung?"

Diam-diam Hoa In-liong berpikir lagi setelah mendengar jawaban tersebut.

"Ahh.... kalau kata-kata macam begitu sih tak bisa dipercayai, jelas ia sudah disisipkan pengakuan bohong dalam kata-katanya itu. sebab menurut data yang berhasil dikumpulkan, justru pihak Hian-beng-kau yang paling mencurigakan dalam peristiwa ini."

Berpikir sampai disitu, dia lantas berkata.

"Masa aku tak percaya dengan ucapan dari seorang ketua perkumpulan yang terhormat? Cuma kalau berbicara dan ucapan Sinkun barusan, jadi dalam peristiwa itu hanya orang-orang dari Kiu-im kau yang terlibat....?"

Kembali Kok See-piau tertawa.

"Menurut pendapatku, peristiwa berdarah itu bukan hasil pekerjaan dari Kiu-im kau, juga bukan perbuatan dari Mo-kau"

Hoa In-lioag menjadi tertegun, serunya tercengang.

"Masakah kecuali Hian-beng-kau, Kiu im kau dan Mo-kau masih ada perkumpulan keempat? Aku rasa Sinkun pasti mempunyai data tentang peristiwa tersebut, dapatkah Sinkun memberi sedikit petunjuk kepadaku agar apa yang membingungkan diriku selama ini bisa terbuka?"

Kok See-piau mengangkat cawan araknya, lalu tersenyum.

"Dendam sakit hati antara keluarga Hoa dengan diriku telah diketahui setiap orang dalam dunia persilatan, cepat atau lambat pertarungan tak bisa dihindari lagi, maka akupun rasanya tak usah berbicara bohong. Meskipun sudah lama kupersiapkan segala sesuatunya untuk bertarung dengan keluarga Hoa, tapi sebelum aku yakin bisa memenangkan pertarungan itu, hubungan tak ingin ku bikin retak sendiri mungkin, karena itu antara perkumpulan kami dengan pihak Kiu-im-kau dan Mo-kau sudah terjalin kesepakatan untuk tidak bertindak secara gegabah. Sebab itu tak mungkin kubunuh Suma Siok ya mu sehingga rencanaku terbengkalai? Nah, kalau dugaanku tidak salah, pasti ada orang yang sengaja hendak mengadu domba kita, agar ia bisa menjadi nelayan yang beruntung dan tinggal memetik hasilnya."

Perkataan dari Kok See-piau ini diucapkan cukup gamblang sekalipun Hoa In-liong tidak mempercayainya seratus persen, toh timbul juga kecurigaan dalam hatinya.

Ia tak menyangka kalau sebelum duduknya persoalan menjadi jelas, pembunuhnya belum berhasil dilacaki, kini, timbul kembali perubahan yang sama sekali tak terduga.

Jilid ke 3 Tapi ia tidak menjadi gelisah atau panik karenanya, sebab dengan dasar hiolo kumala yang diperoleh disisi mayat Suma Tiang cing, ia bisa minta keterangan dari Giok teng hujin yang kini sudah merubah nama menjadi Tiang heng Tokeh, sekalipun belum tentu pembunuhnya bisa ditemukan, paling sedikit ia bisa mengorek keterangan tentang nyonya Yu dan Si Leng jin.....

Berpikir sampai disitu, sadarlah pemuda kita bahwa Kok See-piau memang sengaja berkata demikian karena mengandung maksud-maksud tertentu, cuma apa maksudnya tidak berhasil ditebak olehnya.

Setelah termenung sebentar, katanya kemudian sambil tertawa.

"Dalam dunia persilatan dewasa ini hanya ada tiga perkumpulan besar yang menjadi motornya, bila ada orang ingin beradu akal dengan Kui im kaucu, hakekatnya perbuatan orang itu adalah perbuatan dari seorang manusia goblok"

Lau san in siu Ui Shia leng yang selama ini cuma membungkam, tiba-tiba ikut menimbrung.

"Pada umumnya orang lebih suka mengbaikan fakta atau bukti yang telah berada di depan mata dengan mencari fakta yang jauh darinya, mungkin orang itu memahami akan hal tersebut sehingga secara berani melakukan tindakan diluar peri kemanusiaan itu."

"Haaahh...haaah...haaahhh.. Kaucu kalian adalah seorang manusia berbakat yang sangat cerdik, mana boleh menyamakan dia dengan orang-orang biasa."

"Jadi Hoa kongcu menaruh kecurigaan dan sangsi terhadap apa yang diucapkan oleh Sinkun barusan?"

Tanya Ci Siucu. Hoa In-liong segera berpaling, kemudian katanya dengan wajah bersungguh sungguh.

"Kaucu kalian adalah seorang manusia yang jempolan, tokoh yang terhormat, mana mungkin orang terhormat semacam dia sengaja menciptakan kabar bohong untuk menipu orang? Tentu saja aku sangat mempercayai perkataannya itu dan sekarang justru aku sedang siap menantikan penjelasan berikut-nya dari Sinkun. Selama ini Kok See-piau hanya mengamati mimik wajah Hoa In-liong dari samping ternyata ia gagal menemukan perubahan wajah anak muda itu, sehingga dia sendiripun tak tahu apa yang sedang diper-timbangkannya sekarang, tak kuasa lagi dampratnya di dalam hati.

"Huuh....licik amat bajingan cilik ini!"

Sementara itu terdengar Hoa In-liong berkata kembali.

"Ketika Suma siok-ya suami istri terbunuh, mayat mereka telah kuperiksa dengan seksama, kalau ditinjau dari bekas gigitan yang begitu rata pada tenggorokannya, jelas mereka tewas karena gigitan sejenis makhluk buas, kemudian akupun telah berjumpa dengan seorang perempuan she-Yu yang membopong seekor kucing hitam, orang itu jelas adalah anak buah dari Kiu-im kau...."

"Yu-si memang amat mencurigakan, cuma ia bukan pembunuh yang sesungguhnya,"

Kata Kok See-piau.

"Aneh benar orang ini......"

Hoa In-liong lantas berpikir.

"kenapa ia berusaha keras membersihkan Kiu im kau dari keterlibatan peristiwa ini? Entah apa maksud dan tujuannya?"

"Hoa kongcu!"

Ci Soat-cu lantas berkata "sepanjang perjalanan pinto pulang kedaratan Tionggoan dari luar samudra, telah kujumpai beberapa orang manusia baju hitam berkerudung yang mencurigakan sekali gerak geriknya, ilmu silat mereka sangat tinggi, jelas merupakan jago-jago tangguh berilmu tangguh!"

"Ah....masa benar?"

Tegur Hoa In-liong.

"Benar, aku berbicara apa adanya!"

Ci Soat-cu menegaskan kembali dengan wajah serius. Dapatkah tootiang memberi penjelasan lebih lanjut? Ci Soat cu termenung dan berpikir sebentar, kemudian katanya.

"Tahun berselang ketika pinto sedang berada di luar kota Ciok kun, tiba-tiba kusaksikan ada sesosok bayangan manusia bergerak lewat, aku merasa tertarik sekali dan segera menyusulnya......."

Tootiang, sebagai murid Sim-cing koang masih besar amat rasa ingin tahumu!"

Sindir Hoa In-liong sambil tertawa.

Hmm...!

Keturunan orang kaya ternyata kebanyakan memang tak tahu sopan santun, damprat Toa-koay dari Imsiang kay dengan nada ketus".

Tapi Hoa In-liong pura pura berlagak tidak mendengar, sorot matanya masih tetap tertuju ke arah toosu tadi.

Ci Soat-cu sendiri juga tidak terlalu memperhatikan sindiran tadi, sambil tertawa tergelak katanya.

"Bukan berarti pinto sangat besar rasa ingin tahunya, adalah karena Sinkun berpesan agar sepanjang perjalanan bertindak lebih berhatihati maka dari itu setelah menjumpai kejadian tersebut, tentu saja pinto tak dapat melepaskannya dengan begitu saja."

Setelah berhenti sebentar, kembali lanjutnya.

"Setelah pengejaran dilakukan sekian lama akhirnya sampailah di depan sebuah rumah gubuk di dalam hutan, bayangan hitam itu berkelebat masuk ke dalam rumah dan pintopun segera menyusul ke situ, ternyata di dalam rumah telah berkumpul lima orang manusia berbaju hitam, cuma kain cadar mereka telah dilepaskan, sayang pinto terlalu jarang berkelana dalam dunia persilatan, jadi orang-orang itu tidak kukenali pula siapa nama-nama mereka, meski demikian raut wajahnya sempat kuinngat selalu, beberapa orang itu berusia sekitar lima puluh tahunan, mukanya sangat biasa cuma salah seorang diantaranya bercodet pada pipi kirinya mungkin pernah tersambar tusukan pedang hingga mata kiripun ikut lenyap, ia berjenggot dan ru panya merupakan pemimpin rombongan."

Hoa In-liong sendiripun tidak dapat menduga, apakah jago persilatan dengan raut wajah semacam itu, maka pikirnya.

"Hmmm.......? Siapa tahu kalau kau cuma mengarang saja yang bukan bukan............?"

"Setelah berbicara beberapa patah kata masalah ringan, mereka mulai berunding."

Ci Soat-ca melanjutkan.

"Pinto yang berhasil menyadap pembicaran mereka merasa amat terkejut, ternyata dalam pembicaraan itu mereka berencana hendak memusuhi tiga perkumpulan besar serta keluarga Hoa kongcu, bahkan bila perlu mereka hendak mengajak beradu jiwa sehingga musuhmusuhnya dapat dilenyapkan satu persatu.........."

"Dapatkah tootiang menjelaskan pembicaraan diantara kelima orang itu secara lebih terperinci?"

Sela Hoa In-liong tiba-tiba. CiSoat-cu tertegun, kemudian katanya.

"Pinto sudah tidak terlalu ingat lagi!"

"Aaah..........! Masa terhadap masalah penting seperti itu, dengan kecerdasan totiang-pun bisa terlupakan?"

Ci Soat-cu tahu kalau Hoa In-liong menaruh curiga terhadap pembicaraannya dan ingin menemukan titik kelemahan dari balik perkataannya, maka ia cuma tersenyum dan tidak menanggapi.

Ji-koay dari Im san siang-koay tidak terima dengan cepat katanya.

"Lupa adalah suatu kejadian yang umum dijumpai dalam kehidupan manusia, apa yang musti diherankan?"

Hoa In-liong segera tertawa nyaring.

"Haaahh.......haaahhh..........haaahh........maklumlah, lantaran urusan ini sangat luar biasa, jadi jangan salahkan kalau terpaksa aku orang She Hoa musti berhati-hati."

Setelah berhenti sebentar, katanya lagi dengan suara dalam.

"Dengan kepandaian silat yang dimiliki tootiang, kenapa tidak kau tangkap seorang diantara mereka untuk diperiksa?"

Ci Soat cu tertawa getir.

"Apa yang musti kulakukan? Pinto merasa menyesal karena dihari-hari biasa telah melantarkan pelajaran silatku, aaai.......! Ketika Pinto telah menginjak patah ranting pohon, dengan cepat jejakku diketahui oleh kelima orang tersebut. Sungguh amat hebat ilmu silat mereka, dibawah kerubutan mereka berlima, Pinto harus berjuang mati matian untuk menyelamatkan diri, bisa kabur dari kepunganpun sudah termasuk untung, apa lagi berbicara soal menangkap salah seorang diantara mereka untuk diperiksa?"

Hoa In-liong tertawa.

"Sejak rahasia mereka tertahan, orang-orang itu tentu semakin menghilangkan jejak mereka dalam dunia persilatan,"

Katanya. Lau-san in siu Ui Shia ling segera terbahak-bahak.

"Haa-h.....haah.....haaahh.....sejak dulu sampai sekarang orang-orang yang menganggap dirinya cukup tangguh dan berilmu, selamanya tak suka mengasingkan diri hidup menyendiri, bagi mereka berlaku prinsip lebih baik mampus daripada tidak melakukan sesuatu pekerjaan yang besar dan cemerlang."

Hoa In-liong manggut-manggut.

"Betul, kemungkinan besar mereka malah melaksanakan perbuatan tersebut secara terbuka!"

Tiba-tiba Kok See-piau menyesal dengan hambar.

"Kalau toh Hoa kongcu tetap menaruh curiga, banyak bicara juga tak ada gunanya, untung saja kata-kata tersebut bukan sengaja dibuat buat dengan dasar kecerdasan Hoa kongcu asal mau menaruh perhatian secara khusus, rasanya tidak sulit untuk menemukan gejala gejala tersebut."

Ci Soat cu mengebalkan senjata Hud timnya dan menyahut.

"Ucapan Sinkun ada benarnya juga, baiklah pinto akan mengakhiri ceritaku sampai disini saja."

Hoa In-liong yang menyaksikan kejadian tersebut, diamdiam berpikir dalam hati.

"Kebanyakan perbuatan mereka itu cuma sandiwara yang telah diatur terlebih dulu, hmm.......! Memang kalian anggap aku orang she Hoa adalah orang bodoh yang gampang dikelabuhi? Jangan bermimpi disiang hari bolong ... ....!"

Berpikir sampai disitu, katanya sambil tersenyum.

"Sesungguhnya aku ingin mohon petunjuk, cuma tidak kuketahui bagaimana caranya untuk buka suara!"

Sambil mengelus jenggotnya Ci Soat cu tertawa.

"Waaah....pinto sama saja, dibuat harus mengingkari katakata sendiri, silahkan Hoa kongcu bertanya,"

Hoa In-liong berpikir sebentar, tiba-tiba katanya sambil tertawa.

"Dari pembicaraan orang-orang itu , tootiang berhasil menemukan soal apa yang dirasakan penting?"

Ci soat cu berpikir sebentar, kemudian sahutnya.

"Sesungguhnya tidak terlalu banyak yang berhasil pinto dengar, aku hanya sempat mendengar sebutan Cong tongkeh sebanyak beberapa kali."

Mendengar itu, Hoa In-liong manjadi sangat terkejut.

"Oooh...jadi Hong im hwe hendak munculkana diri kembali dalam dunia persilatan."

"Pinto sendiripun pernah menduga sampai ke situ!"

Hoa In-liong kembali berpikir.

"Kemungkinan besar Hong im hwa hendak munculkan diri kembali ke dalam dunia persilatan dan mungkin saja Hian-beng-kau diminta untuk menyelidiki gejala gejala dalam dunia persilatan pada umumnya..."

Berpikir sampai disini, dia lantas mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain, katanya.

"Dalam surat undangan sie-kun mengatakan hen dak Cu ciu lun kiam (minum arak sambil membicarakan ilmu pedang), entah dengan cara apakah kalian hendak membicarakan soal ilmu pedang?"

"Ilmu silat Hoa kongcu sangat lihay, aku rasa pasti sudah memperoleh seluruh kepandaian warisan ayahnya bukan?"

Kata Kok See-piau dengan kening berkerut. Ilmu silat Sinkun merajai seluruh dunia, aku mengaku masih bukan tandingannmu, entah pertandingan ini akan dilakukan secara lisan saja ataukah........

"Sebenarnya hendak diselenggarakan secara lisan saja,"

Tukas Kok See-piau sambil tertawa.

"sayangnya ilmu silat aliran Kiu ci ki Ong sangat aneh dan asing bagi pendengaran orang, aku kuatir sekalipun jurus-jurus serangan kusebutkan, belum tentu orang luar mengetahuinya."

"Kalau begitu pertandingan akan diselenggarakan dimana? Silahkan Sinkun memberi petunjuk."

Kok See-piau ikut bangkit lalu katanya sambil tertawa.

"Umum kalau pemuda itu berdarah panas, jadi kalau ingin cepat-cepat angkat nama bukan lagi suatu kejadian aneh."

Sesudah ketuanya bangkit Ui-san-in-siu, Lau-san-siangkoay dan jago-jago lainnya ikut bangkit berdiri, dipimpin oleh Kok See-piau yang jalan bersanding dengan Hoa In-liong, berangkatlah mereka tinggalkan ruangan tersebut.

Turun dari ruang tengah mereka melalui sebuah jalan sempit dan tiba disebuah tanah datar yang beralaskan batubatu hijau, luasnya cuma sepuluh kaki, dan suasananya terang benderang karena kawanan jago Hian-beng-kau telah mengelilingi sekitar sana sambil mengangkat tinggi oborobornya.

Jika Hoa In-liong ingin menjajal kepandaian Kok See-piau, maka Kok See-piau ingin mengetahui taraf kepandaian silat Hoa Thian-hong dari kepandaian yang dimiliki Hoa In-liong sekarang, dengan demikian kedua belah pihak sama-sama berhasrat untuk menyelidiki taraf kemampuan masing-masing pihak.

Setelah berada di tengah lapangan batu, dua orang itu berdiri saling berhadapan, kemudian berkatalah Hoa In-liong.

"Apakah Sinkun sendiri yang hendak memberi petunjuk kepadaku??"

Sebenarnya lohu ingin turun tangan sendiri tapi akupun kuatir kalau orang mengatakan aku si-tua menganiayai simuda.

Sementara itu Go Tang cuan, Ci Soat cu, Ui Shia-ling dan sekalian jago telah berdiri pula di sekitar gelanggang, tiba-tiba Ciu-hoa lompat tampil kedepan, setelah memberi hormat kepada Kok See-piau katanya.

"Suhu, kenapa kau musti turun tangan sendiri? Tecu bersedia mewakili dirimu."

"Tapi kau masih bukan tandingan Hoa kongcu..."

Kata Kok See-piau dengan kening berkerut. Hoa In-liong putar otak dengan cepat, tiba-tiba ia menengadah dan tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh......,haaahhh,....haaahhh........maaf kalau aku orang she Hoa terpaksa omong besar, pada hakekatnya ke delapan orang murid Sinkun tak akan mampu menahan tiga puluh gebrakan seranganku, tapi jika kalian tidak percaya dengan pendapatku orang she Hoa, tentu saja tidak ada halangannya jika muridmu dipersilahkan turun kearena."

Ciu Hoa sekalian menjadi gusar sekali setelah mendengar perkataan itu, ditatapnya Hoa In-liong dengan sepasang mata melo tot besar, kalau bisa mungkin mereka ingin menelan si anak muda itu bulat-bulat.

Kok Shee piau juga bukan orang bodoh diam-diam ia lantas berpikir pula.

"Aneh, kenapa secara tiba-tiba bajingan cilik ini menjadi takabur? Sudah pasti ada sebab musababnya!"

Berpikir sampai disitu dia lantas siapkan tangannya sambil berkata.

"Kalau begitu terimalah ketiga puluh jarus serangannya, kalau sudah kalah cepat mundur, jangan dipaksakan terus"

Ciu Hoa lo pat memberi hormat sambil menerima perintah. kemudian ia memutar badan sambil maju dua langkah katanya dengan suara menyeramkan.

"Hoa kongcu, maaf!"

"Silahkan!"

Kata Hoa In-liong sambil megulapkan tangannya, sikapnya sangat santai seakan akan musuhnya tak dipandang sebelah mata pun.

Semenjak tadi Ciu Hoa lo pat sudah menahan rasa cemburu dan irinya yang meluap-luap, tentu saja ia tidak sungkan sungkan lagi, telapak tangannya segera dikepalkan dan langsung menghantam ke dada lawan.

Hoa In-liong miringkan badannya ke samping menghindari ancaman itu, kemudian telapak tangan kanannya disodok ke depan menangkis datangnya ancaman musuh itu.

Sejak gerakan yang pertama Kok See-piau sekalipun sudah mengetahui bahwa ilmu silat yang di miliki Hoa In-liong jauh melebihi kepandaian Ciu Hoa lo pat, dalam tiga puluh gebrakan kemungkinan Ciu Hoa lo pat memang bisa dikalahkan, bergetar juga perasaan batinya.

"Jika seorang bocah muda dari keluarga Hoa pun memiliki ilmu silat setangguh ini, apalagi Hoa Thian bong pribadi?"

Demikian pikirnya.

Ciu Hoa lo-pat sendiripun merasakan juga betapa tangguhnya ilmu silat lawan, akan tetapi ia enggan mengundurkan diri dengan begitu saja, sambil membentak keras ia keluarkan ilmu Kiu-ci-sin ciang (pukulan sakti dari istana Kiu ci) yang maha sakti itu, jurus demi jurus semuanya dilancarkan dengan gerakan aneh.

Hoa In-liong masih tetap bersikap santai dengan entengnya ia sambut semua serangan demi serangan, pikirnya.

"Kelihatanrya ilmu pedang mereka diciptakan berasal dari ilmu pukulan, wah, kalau begitu ilmu kepandaian tersebut bisa juga di bandingkan dengan ilmu Su-siu-heng huan ciang dari keluarga Coa."

Tapi si anak muda itu sama sekali tidak mengeluarkan ilmu pukulan Su-siu-huan heng ciang, dia hanya melayani serangan-serangan musuh dengan ilmu Sian kici lip dan Mie tiong toa jiueng yang, tercatat dalam kitab Thian-bua-cha-ki, rupanya selama beberapa hari belakangan ini, sebagai persiapan untuk menghadapi Mo Kau ia khusus melatih ilmu silat tersebut sebagai bekal.

Dalam waktu singkat dua puluh gerakan sudah lewat, Hoa In-liong yang teringat bahwa ia telah sesumbar dengan mengatakan akan mengalahkan muridnya Kok See-piau dalam tiga puluh gebrakan, segera membentak keras, ilmu pukulannya lantas berubah dengan jurus Kuo sia ci tau (perlawanan binatang terkurung) ia menghantam tubuh lawan.

Dari deruan angin pukulan yang begitu dahsyat Ciu Hoa lo pat sudah tahu bahwa sulit baginya untuk menahan ancaman tersebut, padahal kepandaian silatnya merupakan yang tertinggi diantara ketujuh orang saudara seperguruannya, jelas bukan kepandaian sembarangan.

Maka dengan jurus Moay im kiu-huan (bayangan iblis berubah sembilan) telapak tangannya menyambar dari samping mengancam iga kiri Hoa In-liong, sementara tubuhnya berkelabat lewat meng-hindari serangan dahsyat musuh itu.

Secara beruntna Hoa In-liong menyerang musuhnya dengan tiga jurus Kun siu ci tau.

kemudian secara tiba-tiba gerakkannya berubah menjadi jurus It yong bu wi (satu kegunaan tak berkedudukan), tubuhnya menerjang ke muka dan jari tangannya menekan di atas jalan darah Hiat bun siang ki ditubuh Ciu Hoa Lo pat, setelah itu sambil tertawa ringan ia menarik kembali serangannya sambil mundur ke belakang.

Jurus jurus serangan itu semuanya dilancarkan secara bersambungan antara yang satu dengan lainnya, sedikitpun tidak ditemukan tanda-tanda yang bisa ditunggangi oleh lawan, sekalipun Goau cing taysu yang menyaksikan sendiri, tak urung akan memuji juga, apalagi Kok See-piau sekalian, mereka lebih lebih tertarik lagi.

"Apakah sudah melampaui jurus ketiga puluh?"

Tanya Hoa In-liong sambil putar badan dan tertawa.

"Baru jurus yang ke dua puluh sembilan jawab Kok Seepiau hambar. Merah padam selembar wajah Ciu Hoa lo pat, tiba-tiba ia membentak keras lalu menerjang ke depan, dengan sekuat tenaga ia lancarkan sebuah pukulan ke tubuh lawan dengan jurus Hun yu-kiu yu (sukma bergentayangan ke neraka tingkat sembilan) sebuah jurus tangguh dari ilmu pukulan Kiu ci sin ciang.

"Hmmm..... manusia yang tak tahu diri!"

Hardik Kok Seepiau gusar. Secepat sambaran kilat ia cengkeram bahu kiri Ciu Hoa lo pat, lalu....

"Plok! Plok!"

Ia tempeleng wajah muridnya keras-keras, lalu sambil melemparkun tubuhnya ke luar gelanggang hardiknya.

"Enyah kau dari sini!"

Ciu Hoi Lo pat terlempar jatuh diluar lapangan berbatu, secara beruntun ia harus mundur beberapa langkah sebelum akhirnya berhasil berdiri tegak secara paksa, ia berpaling dan melotot sekejap ke arah Hoa In-liong dengan penuh kebencian kemudian putar badan dan kabur ke halaman belakang....

Air muka Kok See-piau tetap tenang dan tidak menunjukan perubahan apa apa katanya malah.

"Muridku tidak tahu kalau Hoa kongcu telah mengampuni selembar jiwanya, maka untuk kelancangan serta ketidak tahuanya itu itu lohu mohon maaf pula untuk diri Hoa koagcu."

"Apakah Siukun telah bersedia untuk memberi petunjuk sendiri kepadaku.....? Kok See-piau tersenyum, dengan mata memancarkan sinar tajam jawabnya.

"Lohu akan mohon petunjuk lima puluh jurus dari kongcu."

Arti dari kata-kata tersebut adalah dalam lima puluh jurus pasti ia akan berbasil mengalahkan Hoa In-liong.

Terkesiap pula si anak itu, pikirnya!

Dalam pertempuran barusan, aku belum mempergunakan segenap kekuatanku, tapi Kok See-piau berani mengatakan bahwa dalam lima puluh gebrakan ia bisa mengalahkan diriku, bila tiada kenyakinan sebesar tujuh delapan puluh persen tak nanti ia berani bicara sesumbar, apalagi sebagai ketua dari suatu perguruan besar, tentu saja dia tak mau kalau perkataannya sampai dibuat bahan tertawa orang lain..."

Karena berpikir, ia segera memusatkan segenap pikiranya untuk menghadapi lawan, katanya sambil memberi hormat.

"Silahkan."

"Lohu sudah siap menantikan petunjukku?"

Kok See-piau memberi hormat pula. Tiba-tiba Lau san in sin Ui Shia ling berteriak.

"Hoa kongcu!! Siokun! Harap tunggu sebentar!"

Sambil berkata ia lantas memburu maju ke depan dan menghadang di tengah antara Kok See-piau dengan Hoa Inliong, kemudian sambil memberi hormat kepada ketuanya dia berkata.

"Tiba-tiba saja hamba merasa gatal tangan, bolehkah aku beradu kepandaian dengan Hoa kongcu?"

Kok See-piau mengerutkan dahinya.

"Selayaknya Ui lo boleh saja melayani dia jika kalau benar merasa gatal tangan, akan tetapi dengan demikian bukankah sama artinya bahwa pun sin-kuo telah melayani Hoa kongcu dengan cara ber gilir?"

"menurut pendapat bodoh hamba, lebih baik pertarungan, antara Siakun melawan Hoa kongcu ditunda sampai lain waktu saja. Hoa In-liong yang menyaksikan kejadian tersebut, kembali berpikir dalam hatinya.

"Agaknya Ui Shia-ling dan Ci Soat-cu sekalipun tidak yakin jika Kok See-piau sanggup mengalahkan diriku dalam lima puluh gebrakan, maka sengaja mereka tampilkan diri untuk menggantikan kedudukkannya."

Sorot matanya segera dialihkan kembali ke tengah gelanggang, dia ingin tahu apakah Kok See-piau mengijinkan permintaan tersebut atau tidak.

Tampak Kok See-piau termenung dan berpikir sebentar, kemudian seraya berpaling katanya sambil tertawa.

"Bagaimana pula dengan pendapat Hoa kongcu?"

Hoa In-liong tertawa.

"Buat aku sih sama saja......"

Diluar berkata begitu, dalam hati pikirnya.

"Sudah pasti Kok See-piau tidak mempunyai keyakinan untuk menangkan aku dalam lima puluh gebrakan, sedang kata-kata sumbarnya hanya di pakai untuk mencari kembali mukanya yang hilang, coba kalau berganti Ting Kwik siu dan Kiu im kaucu, sekalipun bisa menangkap diriku juga bukan urusan gampang, masa dia sehebat itu?"

Berpikir sampai disitu, lagi ia merasa bahwa Kok See-piau yang dihadapinya sekarang mempunyai jalan pikiran yang lebih dalam dari samudra, jelas manusia semacam ini tak boleh dihadapi secara gegabah.

Sementara itu Ui Shia ling telah berkata lagi sambil memberi hormat.

"Hoa kongcu dengan tak tahu diri, lolap ingin memohon petunjuk ilmu silat dari Liok-soat sanceng, semoga kau bersedia mengampuni selembar jiwa tuaku dalam setangan seranganmu nanti."

"Aaah......kepandaian silatku amat terbatas, justru Ui locian pwelah yang harus mengampuni jiwaku..............."

Kata Hoa In-liong dengan cepat sambil tertawa lebar.

Sesungguhnya ucapan ucapan dari Ui Shia ling tadi hanya merupakan kata-kata untuk sopan san-tun, siapa tahu Hoa Inliong sebagai anak muda yang belum lama terjun ke dalam dunia persilatan telah menganggapnya sungguhan, ini membuatnya menjadi tertegun.

"Lantas menurut anggapan Hoa kongcu......."

Katanya. Hoa In-liong tertawa nyaring.

"Haahhh.... haahhh... haahh... dalam suatu pertempuran sang anak tak akan mengenali sang ayah, aku rasa segala macam kata-kata sopan santun lebih baik jangan dibicarakan."

Sungguh amat gusar Ui Shia ling mendengar perkataan itu, makinya di dalam hati.

"Sombong amat bocah keparat ini!"

Tapi diluar wajahnya ia tetap tersenyum ramah, katanya kemudian sambil mengelus jenggotnya.

"Kalau begitu, biarlah kuturuti saja kehendak Hoa kongcu."

Kok See-piau sendiri telah mengnndurkan! diri ketepi arena, pikirnya.

"Konon meski bocah ini binal dihari biasa, tak pernah sikapnya sombong atau tinggi hati sewaktu berhadap dengan musuh, kenapa secara tiba-tiba sikapnya berubah sesombong itu? Dia maksudnya ingin memancing amarah pun sinku agar kau mendapat kesempatan untuk mencuri lihat tinggi rendahnya ilmu silatku, maka anggap saja keinginanmu itu cuma sia-sia belaka."

Sementara ia berpikir sampai kesitu, Hoa In-liong sudah berkata.

"maaf"

Lalu menyerbu kemuka dan sebuah pukulan langsung di lontarkan ke depan tapi sebelum mencapai pada sasarannya serangan itu telah berubah menjadi serangan jari."

Hoa In-liong tahu bahwa Ui shia-ling pastilah salah seorang diantara lima orang jago paling tangguh dalam perkumpulan Hian-beng-kau, ia tak berani bertindak gegabah, begitu maju melancarkan serangan, ia langsung mempergunakan "Menyerang sampai mati bagian pertama"

Dari ilmu Ci yu-jit-ciat (tujuh kupasan jari Ci yu) Ui Shia ling adalah seorang jago tangguh yang bermata tajam, dalam sekilas pandangan saja ia sudah tahu kalau serangan pertama adalah serangan kosong sedang ancaman yang mematikan berada di belakang, maka ketika menyaksikan datangnya serangan jari yang begitu dahsyat, ia segera membentak nyaring.

"Bagus!"

Telapak tangan kirinya menyambar ke depan mengancam pergelangan tangan lawan, kelima jari tangannya menyentil bersama dan desingan angin tajam pun menderu-deru menembusi angkasa langsung menyambar ketubuh lawan, sedemikian hebatnya ancaman tersebut, sungguh tak malu disebut sebagai seorang jago tangguh.

Jurus serangan Hoa In-liong kembali berubah, ibu jarinya direntangkan kaku, desingan angin tajam langsung menerobos kedepan mengancam jalan darah Tay-ik-hiat di tubuh Ui Shialing.

Sebelum melepaskan serangan tadi, Ui Shia-ling telah menyiapkan jalan mundur bagi diri sendiri, ia segera tertawa terbahak-bahak, disaat yang kritis tiba-tiba badannya bergeser setengah depa ke samping menghindari ancaran desingan jari tangan musuh, kemudian pikirnya.

"Rangkaian ilmu jari ini benar-benar merupakan serangkaian ilmu silat yang amat hebat!"

Dalam waktu singkat kedua orang itu sudah terlibat dalam suatu pertarungan sengit yang betul-betul amat seru.

Tenaga dalam yang dimiliki kedua orang itu boleh dibilang sudah mencapai puncak kesempurnaan, Kok See-piau sebagai seorang tokoh persilatan yang maha sakti segera dapat mengetahui bahwa pertarungan tersebut merupakan sebuah pertarungan menarik, seluruh perhatiannya segera di tujukan untuk memperhatikan gerakan serangan dari Hoa In-liong.

Siapa tahu empat puluh gerakan kemudian Hoa In-liong masih tetap berada dibawah angin meskipun dengan mengandalkan satu dua macam gerakan aneh ia berhasil mempertahankan diri, namun wajahnya tampak begitu cemas dan gelisah.

Setelah mengikuti jalannya pertarungan sekian lama Go Tang cuan lantas berbisik kepada Kok See-piau dengan ilmu menyampaikan suara.

"Jelas si bocah cilik dari keluarga Hoa sengaja sedang menyembunyikan ilmu silatnya."

Kok See-piau manggut-manggut, lalu menggunakan ilmu menyampaikan suara katanya pula.

"Menurut pendapatmu, berapa hebatnya ilmu silat bocah itu?"

Go lang cuan mengalihkan kembali sinar matanya ke tengah gelanggang dan memperhatikan sekejap gerakan tangan Hoa In-liong, lalu seraya berpaling sahutnya.

"Aku rasa tidak berada dibawah kepandaiaan Ui Kim."

"Kalau begitu pandanganmu......."

Kok See-piau manggutmanggut. Setelah berhenti sebentar, katanya lagi.

"Kalau begitu, tenaga dalam yang dimiliki Hoa Thian-hong tentu berkembang jauh lebih hebat lagi."

"Bagaimana kalau Siakun lukai secara diam-diam si bocah tersebut dengan ilmu Kiu ci im jiu (Tangan pembunuh dari Kiu ci), dari pada meninggalkan bibit bencana dikemudian hari?"

"Kurang cocok!"

Kok See-piau menggeleng "orang pandai dari keluarga Hoa sangat banyak, bocah itu sendiri, juga bukan manusia sembarangan, sulit rasanya untuk bertindak tanpa meninggalkan jejak, padahal persiapan kita sekarang belum sempurna, tidak baik jika menimbulkan perpecahan dengan pihak keluarga Hoa terlalu awal"

"Lantas bagaimana dengan kejadian hari ini? Apakah hendak dilaksanakan seperti apa yang kita rencanakan semula?"

Sementara Kok See-piau sedang termenung untuk mengambil keputusan, tiba-tiba muncul seorang anggauta perkumpulan yang menghampiri Toan bok See-liang secara tergesa-gesa, kemudian katanya.

"Lapor kaucu, diluar perkampungan ditemukan segerombolan besar jago persilatan yang menyembunyikan diri dibalik hutan, sudah enam tujuh buah pos penjagaan kita yang kena dibereskan oleh mereka."

"Kawanan manusia macam apakah yang telah datang?"

Tanya Toan-bok See-liang dengan kening berkerut.

"Hamba belum melakukan pemeriksaan yang seksama!"

"Berapa besar jumlah kekuatan mereka?"

Sela Heng Wi-cian tiba-tiba.

"Paling sedikit juga mencapai dua sampai tiga puluh orang!"

Beng Wi-cian lantas berpaling ke arah Toan-bok See liang seraya berkata pula.

"Kemungkinan besar mereka adalah sahabat sahabat dari si bocah dari keluarga Hoa, padahal letak perkampungan kita cukup rahasia, selama kita bawa bocah itu menuju kemari, sepanjang perjalananpun su-dah dilakukan pengawasan serta pengamatan yang amat teliti serta rahasia, kenapa begitu cepat pihak lawan bisa mengetahui tempat kita ini? Tong-boa Heng, lebih baik kita laporkan saja kepada siakun... Padahal Kok See-piau sudah mendengar pembicaraan mereka, seraya berpaling dan tertawa tawa katanya.

"Orangorang pandai dipihak mereka sangat banyak, kejadian ini tak perlu diherankan."

"Berbicara atas dasar kekuatan kita sekarang, sesungguhnya tidak sulit untuk melenyapkan semua musuh yang menyerang datang Sinkun...."

"Jika ingin menggunakan kekerasan, kenapa kita mesti menunggu sampai sekarang?"

Tukas Kok See-piau.

"sama sekali tak boleh kita lakukan segala tindakan secara gegabah."

Setelah berhenti sejenak, kepada Tang Bong liang katanya pula.

"Tang bong liang, cepat turunkan perintah, jangan sampai bentrok secara langsung dengan para pendatang."

Tang Bong liang membungkukkan badan menerima perintah, kemudian mengundurkan diri dari situ.

Toan bok See liang dan Beng Wi cian meski merasa tindakan tersebut terlampau melemahkan semangat sendiri, akan tetapi setelah Kok See-piau memutuskan demikian tentu saja mereka tak berani banyak berbicara lagi.

Berbeda hanya dengan Lau san siang koay (sepasang manusia aneh dari Lui san) ini, sebagai tamu agung dalam perkumpulan Hian-beng-kau, mereka lebih bebas bergerak dan tak perlu menguatirkan apa apa, ketika menyaksikan kejadian itu langsung saja Toa koy berteriak.

"Sebagai orang utara aku adalah manusia yang punya sepatah kata mengucapkan sepatah kata ha-rap Sinkun jangan menjadi gusar. Sesungguhnya sampai dimanakah kelihayan Hoa Thianhong? Kenapa Sinkun musti jeri kepadanya?"

Kok See-piau segera tersenyum.

"Meskipun Hoa Thian-hong itu sangat lihay Pun Sinkun tak sampai jeri kepadanya. Cuma selama dua puluh tahun terakhir ini daya pengaruh serta kekuasaan keluarga Hoa sudah mulai berakar dalam du nia persilatan, segala yang telah berakar biasanya sukar dihilangkan, maka tanpa rencana serta perhitungan yang matang lebih baik jangan bertindak sekehendak hati sendiri."

Tiba-tiba dari tengah arena berkumandang suara bentakan Ui Shia ling yang amat nyaring, Lohu tidak percaya kalau tak sanggup memaksamu untuk menggunakan segenap kekuatan tubuh yang kau miliki.

Kata terakhir belum diucapkan, tiba-tiba ia mengeluarkan ilmu simpanan dari aliran Lau-san yang disebut ilmu pukulan Hay-eng kun-hoat, setiap jurus pukulan yang dilancarkan selalu disertai dengan tenaga dalam yang cukup sempurna, ibaratnya gulungan ombak di tengah samudra, segulung demi segulung datang menerjang tiada hentinya.

Dalam waktu singkat, Hoa In-liong sudah terjebak dalam posisi yang sangat membahayakan jiwanya, suasana menjadi gawat...

Hoa In-liong mengernyitkan sepasang alis matanya, tibatiba diapun mengembangkan ilmu pukulan saktinya secara beruntun ia per gunakan jurus-jurus Pian-tong-put-ki (berubah tidak menetap), Jit gwat-siang-tui (matahari dan saling mendorong) dan To-yau-siu jut (pompa angin keluar masuk).

Dalam waktu singkat semua pukulan dari Ui Shia ling terbendung dan tidak mampu dikembangkan kembali, dari posisi di atas angin seketika itu juga ia malah berbalik ada dibawah angin.

Semenjak semula Kok See-piau sudah mendapat laporan dari Beng Wi cian tentang kehebatan ilmu pukulan tersebut, maka ketika dilihatnya si anak muda itu mengembangkan permainannya dengan mempergunakan kehebatan ilmu pukulan itu, dengan sinar mata yang tajam dan perhatian yang terpusatkan menjadi satu, ia memperhatikan perubahan gerak dari kepandaian tersebut maksudnya ia berusaha menemukan bagian-bagian dari ilmu pukulan tadi.

Hoa In-liong meski berada dalam keadaan yang gawat, akan tetapi setiap detik dan setiap saat ia selalu memperhatikan gerak-gerik Kok See-piau, menyaksikan keadaan itu segera pikirnya.

"Hmm.....! Kau anggap ilmu silat maha sakti peninggalan dari malaikat ilmu silat bisa kau tebak dengan begitu saja? Jangan bermimpi disiang hari bolong. Cuma......akupun tak boleh terlalu menyolok!"

Berpikir sampai disini ia lantas menyerang dengan jurus kuo siu ci tau, kemudian dengan ilmu langkah Gi beng huan wi (mengeser badan berganti tempat) dia berkelebat mundur beberapa kaki jauhnya.

Aku orang she Hoa mengaku kalah!"

Serunya.

Ui Shi ling sebagai seorang jago lihay dari angkatan tua, hampir boleh dibilang telah mempergunakan segenap kekuatan tubuhnya untuk menggencet lawan, tapi ia selalu gagal untuk mengalahkan si anak muda itu, terutama setelah di desak mundur pada beberapa jurus serangan yang terakhir, batinya semakin tak puas.

Mendengar perkataan itu ia lantas tertawa dingin, lalu katanya, Hoa kongkcu, membuat apa kau menyindir diri ku?

Sudah terang aku yang tak sanggup menandingimu, cuma...

Ui Shi ling tak tahu diri, aku ingin mohon beberapa petunjuk lagi.

Tiba-tiba Kok See-piau berteriak.

"Kalau memang Hoa kongcu enggan memberi petunjuk lagi kepadamu, Ui-lo! Silahkan kembali saja!"

Padahal Ui Shia-Iing sendiripun tahu bahwa kesempatannya untuk merebut kemenangan tipis cuma dia tak mau mundur dengan begini saja karena kuatir kehilangan muka, dan kini setelah memperoleh kesempatan baik, cepat katanya.

"Setelah kaucu berkata demikian, baiklah akupun mengaku kalah!"

OO000O000OO Bab 42 Hoa In-liong tertawa ewa.

"Aaah............ mana mungkin aku bisa menandingi kelihayan Ui lo?"

Katanya merendah. Sementara itu Kok Seepiau telah berkata.

"Diluar perkampungan telah kedatangan sejumlah jago lihay tampaknya mereka adalah sahabatsahabat Hoa kongcu, untuk menghindari segala kesalahpahaman, bagaimana kalau Hoa kongcu mempersilahkan mereka masuk ke dalam perkampungan?"

Hoa In-liong tahu bahwa gerombolan jago yang muncul diluar perkampungan itu sudah pasti adalah Ho Kee siau, Coa Cong gi dan kawan-kawannya yang kuatir Hian-beng-kau bersikap tidak menguntungkan baginya maka bersiap-siap diluar perkampungan untuk menghadapi segala kemungkinan.

Lantaran diapun kuatir kalau mereka sampai menyerbu ke dalam perkampungan Karena lama tidak melihatnya keluar dari perkampungan sehingga keadaan waktu itu tak terlainkan, segera katanya pula.

"Yaa, aku memang harus menjumpai mereka apakah Sinkun juga ingin bertemu dengan kawan kawan persilatan?"

Kok See-piau termenung sejenak, lalu katanya sambil tertawa.

"Salah satu tujuan dari kemunculanku kembali di dalam dunia persilatan adalah menjumpai kawan kawan lama, tentu saja setiap ke sempatan baik seperti ini tak akan kulepaskan dengan begitu saja."

"Yaa, jejak dari empok Hoo sekalian sudah tentu tak bisa mengelabui Kok See-piau,"

Pikir Hoa In-liong.

Dengan tenang diapun melangkah pergi dari tanah lapang tersebut.

Kok See-piau miringkan tubuhnya ke samping memberi jalan lewat, lalu dia ulapkan tangannya, tiba-tiba saja Ci Sooat cu, Ui Shian ling dan Ciu Hoa sekalian membungkukan badannya memberi hormat dan membubarkan diri ke serambi samping, para jago Hian-beng-kau yang membawa obornya tanpa menimbulkan sedikit suarapun membubarkan diri.

Sejak awal sampai akhir kecuali Ciu Hoa lo pat seorang yang kena dampratan Kok See-piau hampir boleh dikata sama sekali tidak menunjukkan perubahan aneh atau gerak-gerik yang mencurigakan, jelas semua orang-orang itu sudah pernah memperoleh pendidikan disiplin yang ketat.

Dalam sekejap mata lapangan berbatu itu sudah pulih kembali dalam kegelapan, hanya sebuah lampu kecil dibawah serambi sana yang memancarkan sedikit sinar yang redup.

Hu kaucu dari Han beng kau, Go Tang cuan masih tetap berdiri kaku dibawah ruang tengah sana.

Ketika kedua orang itu masuk ke dalam ruangan, Go Tang cuan baru mundur setengah langkah.

Kok See-piau melirik sekejap meja perjamuan dalam ruangan, lalu katanya sambil tertawa.

"Sebenarnya aku ingin mengaajak Hoa kongcu minum arak sambil membicarakan soal para eng-hiong dalam dunia persilatan..... Hoa In-liong tertawa nyaring.

"Haaahh......haaahh......haaahh....... entah manusia macam apakah yang dapat disebut sebagai enghiong dalam hati Sinkun?"

Waktu itu dari bawah ruangan sampai ke-pintu gerbang gedung telah berjajar barisan laki-laki berbaja ungu, di tangan kiri membawa obor di tangan kanan mereka membawa golok, suasananya jauh berbeda dengan sewaktu masuk ke dalam gedung tadi, cahaya golok menyiarkan suasana yang menggidikkan hati.

Menyaksikan adegan tersebut, diam-diam ia lantas berpikir.

"Situasi yang diatur Kok See-piau sekali ini sungguh menggelikan sekali."

Terdengar Kok See-piau telah berkata.

"Menurut pandanganku yang bodoh, yang di maksudkan sebagai enghiong adalah orang yang berjiwa besar, berlapang dada, berotak cerdas berilmu silat tinggi dan mempunyai bakat, kebijaksanaan serta pengetahuan yang amat luas."

"Waah.....jika harus mengikuti apa yang diucapkan Sinkun, dewasa ini sulit sekali untuk menemukan seorang enghiong semacam itu."

Tiba-tiba Kok See-piau menghentikan langkahnya, Hoa Inliong tertegun dan segera ikut berhenti pula, terlihatlah Kok See-piau dengan sinar mata yang amat tajam, sepatah demi sepatah sedang berkata.

"Selama beratus tahun belakangan ini hanya ayahmu yang dapat disebut sebagai engbiong sungguhan, seorang manusia yang jantan betul-betul hebat....."

"Ayahku pernah berkata bahwa pujian orang luar terhadapnya pada hakekatnya terlalu berlebihan kata Hoa Inliong dengan nada serius.

"padahal beliau sendiri merasa bahwa ia tidak memiliki ke ampuhan apa apa yang bisa disebut sebagai seorang enghiong oleh karena itulah seringkali ia memberi nasehat agar anak cucunya bisa berbuat apa yang bisa dilakukan sebagai manusia."

Kok See-piau menarik kembali sinar matanya sambil melanjutkan perjalanan ke depan, katanya sambil tertawa hambar.

"Sifat ketidak puasan pada diri sendiri yang di miliki ayahmu juga sudah menjadi rahasia umum dalam dunia persilatan."

Hoa In-liong ikut beranjak mengikuti disampingnya, diamiam ia berpikir.

"Sekalipun ia membenci ayahnya hingga merasuk ke tulang sumsum tapi dimulutnya selalu memuji ayah setinggi langit, mungkin inilah yang disebut sebagai imbauan hati nurani, tapi jelas dia bukan termasuk seorang manusia yang berjiwa besar......."

Sekalipun dia mengikutii terus disisi tubuhnya kemanapun ia pergi, namun tubuhnya selalu ketinggalan setengah langkah di belakang, hal ini sebagai persiapan untuk menghindari sergapan maut dari Kok See-piau.

Kok See-piau sendiri berpura-pura tidak menyadari, kembali katanya.

"Ayah harimau anaknya tentu harimau juga, enghiong yang akan datang sudah pasti akan menjadi milik Hoa kongcu."

"Sinkun terlalu memuji!"

Kok See-piau tertawa berat katanya.

"Apalagi berbicara dari ulah Hoa kongcu sewaktu ada di kota Si-kiu, dari kegagahanmu itu terbuktilah sudah bahwa perkataanku ada benarnya juga......."

Tiba-tiba Hoa In-liong merasakan nada aneh dibalik perkataan Kok See-piau, terkesiap hatinya, segera ia berpikir.

Baca Juga: Seruling Samber Nyawa Chin Yung

Baca Juga: Pedang Dan Kitab Suci 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert