Eps 2 Neraka Hitam - Khu Lung
Baca online Neraka Hitam - Khu Lung
Cersil Neraka Hitam - Khu Lung.
"Rupa rupanya ia sudah berniat untuk membinasakan diriku. Kok See-piau memang sudah dipengaruhi oleh hawa nafsu membunuh, cuma ia masih ragu untuk mengambil keputusan, sekalipun tujuan dari kemunculannya kali ini adalah untuk mengadu kepandaian dengan Hoa Thian-hong, tapi entah mengapa dari dasar hatinya tiba-tiba muncul suatu perasaan takut yang sangat aneh, bukan lantaran kuatir akan kehebatan ilmu silat Hoa Thian-hong saja, tapi termasuk juga oleh kegagahan Hoa Thian-hong. Sebab itu, sekalipun berhadapan dengan Hoa In-liong ia merasa seakan-akan bertemu dengan Hoa Thian-hong waktu itu, hingga hawa nafsu membunuhnya segera berkobar. Seandainya bangsat ini benar-benar adalah seorang manusia hidung belang yang lebih suka bermain perempuan daripada menghadapi masalah besar, apalagi malam ini kewaspadaannya mengendor, jelas merupakan kesempatan baik bagiku untuk turun tangan cuma......... Baru berpikir sampai disjtu, mereka sudah tiba di depan pintu, maka iapun mengambil keputusan, apabila Hoa In-liong secara kebe tulan berjalan lewat dari sebelah sisi tubuhnya nanti, dia hendak melukai si anak muda itu dengan ilmu Kiuki-im-satnya yang maha sakti. Kiu-ki-im-sat atau hawa pukulan dingin dari istana Kiu-ci termuat dalam kitab pusaka Kiu-ci-cin-keng, pukulan itu bisa melukai isi perut orang tanpa disadari oleh sang korban sendiri, biasanya kendatipun pihak musuh memiliki tenaga sim-hoat yang sangat sempurna, pukulan tersebut sulit juga diatasi dan masa kerja dari luka itu biasanya menuruti kehendak hati si pelancar serangan, bila belum bekerja keadaan masih biasa tapi begitu mulai bereaksi maka dahsyatlah akibatnya. Sesungguhnya ilmu itu merupakan suatu llmu pukulan yang jahat sekali, apalagi setelah dicampur dengan ilmu pukulan beracun yang memang dimiliki Kok See-piau sebelumnya, hal ini semakin menambah ke dahsyatan pukulan itu. Akan tetapi Hoa In-liong selalu dua langkah berada dibelakangnya, saat itu dia sedang bertanya.
"Sobat-sobatku kini berada dimana?"
Kok See-piau berpikir.
"Seandainya bocah keparat ini benar-benar dapat menebak maksud hatiku sehingga sedia payung sebelum hujan, ia lebih-lebih tidak boleh diampuni lagi."
Dalam hati ia berpikir demikian, diluaran katanya.
"Sahabatmu sudah banyak sekali menangkapi anggota perkumpulan kami, mungkin mereka sedang bersembunyi dibalik hutan."
Kemudian sambil memperkeras suaranya ia berkata lagi diiringi gelak tertawa nyaring.
"Haahh.....haahh......haahh......Hoa kongcu sudah keluar dari gedung dengan selamat, silahkan kalianpun munculkan diri pula."
Gelak tertawa nyaring menggema pula dari balik hutan sana, dipimpin oleh Ho Kee-si an serentak kawanan jago itu munculkan diri dan berhenti kurang lebih lima kaki dihadapan kedua orang itu, dengan sorot mata tajam ia menyapu sekejap ke arah Hoa In-liong ketika dilihatnya si anak muda itu tetap sehat tidak kekurangan sesuatu apapun, legalah hatinya, menyusul kemudian setelah memandang sekejap ke arah Kok See-piau ia menghela nafas panjang.
"Adik In-liong, kau tidak apa-apa bukan?"
"Hey, siapakah orang yang berada disampingmu itu?"
Sambil berkata ia melompat lebih maju ke depan disusul kemudian oleh Si Jin-kiu, Yu Siau-lam dan lain lainnya, mereka berdiri dibelakang Ho Kee-sian sambil melotot ke-arah Kok See-piau.
Hoa In-liong tersenyum, katanya.
"Dia bukan lain adalah Hian-beng-kaucu kiu ci Sinkun!"
Sebenarnya Kok See-piau dengan orang-orang penting dalam tubuh Sin-ki-pang adalah kenalan lama, hubungan mereka tidak terlalu jelek, cuma kemudian hubungan itu kian lama kian bertambah renggang dan asing hingga pada pertemuan dua puluh tahun kemudian mereka harus berhadapan sebagai musuh bebuyutan.
Meskipun Kok See-piau berhati licik dan keji, tapi bayangan tubuh Pek Kun-gi dimasa muda dulu masih terbayang selalu dalam benaknya, sedikit banyak tertegun, juga untuk sesaat lamanya setelah bertemu dengan rekan-rekan lamanya ini.
Tapi hanya sejenak kemudian ia sudah sadar kembali dari lamunannya, ditatapnya sekejap sekeliling hutan itu dengan tatapan tajam, kemudian katanya lantang.
"Kawan-kawan yang bersembunyi di dalam hutan, kenapa tidak sekalian munculkan diri?"
Gelak tertawa nyaring menggelegar memecahkan kesunyian, bayangan manusia berkelebat lewat daun dan ranting bergoyangan, dalam sekejap mata Hoan TSong, Bu tim tootiang Cia Yu cong, Kongsun peng dan sekalian jago bermunculan dari mana-mana dan segera memenuhi sekeliling gedung tersebut, jumlah mereka diantara enam tujuh puluhan orang lebih.
Kiranya Hoo Kee sian dan Yu Siau-lam sekalian merasa tidak tega untuk membiarkan ia pergi penuhi janji sendirian, maka bukan saja rekan-rekan bekas seperkumpulannya dikumpulkan semua bahkan juga memberi kabar kepada Huan Thong Bu tim tootiang, Cia Yu cong dan Kongsun Peng sekalian agar segera berkumpul, tanpa perundingan lebih jauh semua jago itu diboyongnya menuju ke situ.
Diam-diam Hoa In-liong merasa amat berterima kasih atas kesetia kawanan rekan-rekan lainnya, dengan suara lantang dia lantas berseru.
"Urusan sekecil itupun harus merepotkan saudara sekalian untuk memburu kemari, sungguh membuat hatiku tak enak"
"Sebagai sesama umat persilatan sudah sepantasnya kalau saling bantu membantu, apa lagi urusan Hoa kongcu ini menyangkut masalah yang amat penting sekali artinya!"
Kongsun Peng segera menanggapi dengan lantang.
Bagi Kok See-piau sendiri walaupun gerombolan manusiamanusia tersebut masih belum dipan-dang sebelah mata pun olehnya, namun diam-diam ia merasa tercengang juga menyaksikan kesemuanya itu.
Tiba-tiba Ci Soat cu, Im sansiang koay dan sekalian jago muncul kembali dibelakang Kok See-piau, menyusul kemudian kawanan jago dari Hian-beng-kau lainnya ikut pula muncul dibelakang barisan Kok See-piau, seakan akan dua pasukan besar yang telah berhadapan muka siap bertempur.
Hoa In-liong berpikir sebentar untuk menghadapi keadaan tersebut, ia merasa inilah kesempatan yang terbaik baginya untuk meninggalkan tempat itu, maka sambil menjura kepada Kok See-piau katanya.
"Pertemuan pada hari ini biarlah kita akhiri sampai disini saja, aku tak mau mengganggu lebih lanjut"
Kok See-piau termenung sejenak, akhirnya dia pun mengangguk.
"Baiklah kalau dilihat situasinya sekarang, jelas pertemuan memang tak dapat dilanjutkan."
Sementara di hati kecilnya ia berpikir.
"Sayang........sayang,............aku telah membuang suatu kesempatan baik untuk turun tangan."
Dalam penggalian harta karun di bukit Kiu-ci-san tempo hari, Huan Tong sempat turut serta dalam peristiwa besar itu, ia pernah berjumpa dengan Kok See-piau dan mengetahui pula sampai dimana dalamnya permusuhan antar Kok Seepiau dengan keluarga Hoa, ketika dilihatnya jarak antara Hoa In-liong dengan Kok See-piau cuma dua depa tak sampai, dia kuatir si anak muda itu kena dilukai, maka segera teriaknya.
"Hoa Kongcu, cepat kemari kau!"
Hoa In-liong tersenyum, pelan-pelan dia maju menghampiri ke arahnya.
Sorot mata semua orang segera ditujukan ke arah Kok Seepiau, meskipun berulang kali Kok See-piau hendak nekad untuk membinasakan Hoa In-liong, tapi akhirnya ia menghela napas dan membuyarkan kembali hawa sakti Im-sat sinkangnya.
Ketika semua orang menyaksikan Hoa In-liong telah kembali dengan selamat, merekapun dapat menghembuskan napas lega.
Cia Cu cong segera tertawa terbahak-bahak.
"Haahh...hhaah.....hhhaaah..... rupanya saudara adalah Hian-beng-kaucu. Kok See-piau hanya mendengus sinis, ia berlagak seolaholah tidak mendengar teguran itu. Toa koay dari Im san siang koay segera mendengus dingin, katanya "Kau itu manusia apa? Belum berhak untuk berbicara dengan kaucu kami!"
Paras muka Cia Yu conG berubah hebat, lalu setelah tertawa dingin katanya.
"Dalam dunia persilatan dewasa ini belum ada seorang manusiapun yang bisa menandingi kemashuran Hoa tay hiap, tapi belum pernah didengar bahwa Hoa tayhiap bersikap sesombong itu seperti lagakmu ini."
Selama hidup Kok See-piau paling benci kalau mendengar ada orang mengatakan bahwa ia tak bisa menandingi Hoa Thian-hong mendengar ucapan tersebut, dengan sinar mata setajam sembilu ditatapnya wajah Cia Yu cong lekat-lekat.
Terkesiap pula Ci Yu cOng melihat ketajaman mata orang, dengan perasaan tercekat dia mundur selangkah.
Toa koay dari Im san siang koay menyeringai dan tertawa seram, kemudian katanya.
"Bajingan cilik, mulutmu kotor dan tak bisa diampuni, lebih baik lohu hantar kau pulang ke langit berat untuk menjumpai Ji-lay hud saja...."
Seraya berkata selangkah demi selangkah ia maju menghampirinya.
Hoa In-liong cukup mengetahui bahwa kepandaian Ci Yu cong masih selisih jauh bila dibandingkan dengan Im san siang koay, tentu saja ia tak akan membiarkan mereka sampai terlibat dalam pertarungan, tiba-tiba serunya.
"Sinkun, apakah kau menginginkan pertarungan mati-matian antara pihakmu melawan pihakku agar orang lain yang mendapat keuntungan dalam peristiwa ini?"
Kok See-piau mengernyitkan alis matanya, lalu memanggil.
"Sim lo, kembali!"
Toa koay tak berani membantah, terpaksa dengan uringuringan dia berjalan balik. Hoa In-liong kembali berpikir.
""Jika keadaan semacam ini dibiarkan berlarut-larut terus, suatu pertarungan massal sudah pasti akan berkobar, lebih baik cepat cepat pergi saja... Berpikir demikian ia lantas berkata.
"Terima kasih banyak atas petunjuk Sinkun tentang masalah pembunuhan tersebut, bila duduknya persoalan telah beres, lain waktu aku pasti akan berkunjung lagi kemari."
Kok See-piau memang berharap demikian, maka diapun berkata.
"Silahkan, silahkan!"
Dari pihak para pendekar, Hoa In-liong merupakan pemimpinnya karena dia hendak pergi maka orang lainpun tidak memberi komentar apa apa, mereka menelusuri jalan kecil dan mundur dari hutan tersebut.
Hoa In-liong kuatir Kok See-piau bertindak sesuatu yang tidak menguntungkan orang-orangnya maka bersama Coa Cong gi, Ho Kee siao dan lain-lainnya mereka berjaga dibelakang..
Sepintas lalu pertemuan antara Hoa In-liong dan Kok Seepiau cuma begitu saja padahal kedua belah pihak sama-sama menggunakan akal dan tipu muslihat yang disusun melalui pemikiran yang seksama, siapakah yang berhasil meraih keuntungan besar dari pertemuan itu, ini harus dilihat dalam perkembangan dihari-hari kemudian.
Dengan gencar Coa Cong gi mendesak Hoa In-liong agar menceriterakan keadaan yang telah terjadi, ini semua dijawab oleh si anak muda itu dengan senyuman dikulum.
Baru keluar dari hutan, tiba-tiba Hoa In-liong mendengar ada suara lembut seperti bisikan nyamuk berkumandang disisi telinganya.
"Liong ji, setelah menghantar pergi semua, secepatnya datang menjumpai diriku."
Dari suara orang itu Hoa In-liong segera mengetahui siapa dia diam-diam pikirnya.
"Paman dari See-ih berbicara melalui ilmu menyampaikan suara, rupanya ia enggan bertemu dengan semua orang, entah apa sebabnya?"
Ketika Coa Cong gi menyaksikan secara tiba-tiba pemuda itu menghentikan langkahnya dengan keheranan dia lantas bertanya.
"Ada urusan apa kau?"
Hoa In-liong tertawa.
"Ooh,... ada seorang cianpwe memanggilku harap kalian berangkat duluan........
"Cianpwe dari manakah itu? Kenapa tidak munculkan diri untuk menjumpai kami?"
Tanya Coa Cong gi keheranan.
Ho Kee sian juga kuatir kalau Hoa In-liong cuma menggunakan hal tersebut sebagai alasan agar bisa meninggalkan rombongan serta menyusup kembali ke dalam gedung Kok See-piau, dengan cepat selanya pula.
"Liong saunya! kenapa tidak kau undang cianpwe itu untuk berjumpa dirumah penginapan saja?"
Hoa In-liong tertawa lebar, cepat katanya.
"Empek Ho tak usah kuatir, dewasa ini tiada kepentingan bagiku untuk mencari kabar tentang Hian beng kau dengan menempuh bahaya, sebenarnya benar-benar memang ada seorang cianpwe memanggilku kesana."
"Kalau begitu aku ikut tetap tinggal disini,"
Kata Hoa Kee sian setelah merenung sejenak.
Ketika dilihatnya ia bersikeras ingin tetap tinggal disini, Hoa In-liong pun tidak banyak berbicara lagi, buru-buru disusulnya Huan-Thong sekalian yang sudah beberapa kaki jauhnya itu meninggalkan beberapa pesan.
Setelah itu bersama Ho Kee sian menembusi hutan dan menuju ke arah tenggara sejauh beberapa puluh kaki.
Benar juga, disana duduk bersila seorang laki-laki setengah umur yang berwajah gagah, orang itu bukan lain adalah pamannya dari wilayah See ih, siapa lagi kalau bukan Haputule.
Haputule adalah seorang jago yang berasal dari suku Fabuo diwilayah see ih, tiga puluh tahun berselang ia merupakan murid ter kecil dari seorang pendekar aneh yang pernah mengobrak-abrik dunia persilatan lantaran sebilah pedang emas kecil, yakni It ki-Lim kay tionggoan (pedang sakti yang meliputi daerah Tionggoan) Siang Tang lay.
Meskipun ilmu silat milik Siang Tang lay sangat tinggi, akan tetapi setelah dikeroyok dan disergap oleh pek Siau thian, Jin-Hian, Thian Ik-cu, Bu liang Sinkun dan Ciu It beng mengakibatkan ia menderita cacat seumur hidup, untung jiwanya ditolong oleh kakek Hoa In-liong yang bernama Hoa Goan liu dan di bawa pulang ke See ih.
Belasan tahun kemudian, ia muncul kembali didaratan tionggoan, sekalipun sakit hatinya berhasil dibalas, namun akhirnya ia sendiri tewas di tangan Pia Leng cu dari Thong thian-kau, keenam orang muridnya secara beruntun juga tewas dibunuh orang hingga akhirnya tinggal Haputule seorang yang masih hidup.
Semenjak itulah Haputule ikut Bun Tay-kun belajar silat selama lima tahun sebelum pulang ke See-ih, karena itu hubungan keluarga mereka boleh dibilang intim sekali.
Disamping Haputule duduk seorang kakek berjubah kuning, dalam sekilas pandangan saja Hoa In-liong segera mengenalinya sebagai kakek yang telah bertarung melawannya dengan mengandalkan senjata Jit-gwat-bu-hu an tersebut, tentu saja ia menjadi tertegun.
Sambil tersenyum Haputule segera menegur.
"Dia adalah Ting Ji-san cianpwe, Liong-ji! Cepat maju dan memberi hormat kepadanya."
Hoa In-liong buru-buru maju kedepan dan memberi hormat, katanya.
"Kenapa kau orang tua tak mau menjelaskan asal usulmu? Kalau bukan demikian, tentu akupun tak sampai bersikap kurang hormat kepadamu."
"Oooh....rupanya kalian sudah pernah saling bertemu!"
Kata Haputule tercengang. Hoa In-liong tertawa.
"Ting locianpwe malah sudah memberi pelajaran pula kepada keponakan!"
Katanya. Ting Ji-san segera mendengus.
"Hmm! Aku segan memberi pelajaran kepadamu."
Tiba-tiba ucapannya terhenti di tengah jalan dan tangannya diulapkan berulang kali.
"Liong-ji, kesalahan apa yang telah kau perbuat kepada cianpwee ini?"
Tegur Haputule. Dengan cepat Ting in san gelengkan kepalanya berulang kali.
"Ia tidak berbuat salah apa-apa akulah yang telah menjajal kepandaian silatnya."
"Yaa, mana Liong-ji berani melakukan perbuatan kurangajar kepada Ting locianpwe?"
Sambung Hoa In-liong cepatcepat. Haputule kembali tersenyum, ia lantas berpaling ke arah Ho Kee-sian seraya berkata.
"Ho Thongcu, selama Liong ji berbuat onar di kota Si-ciu, terima kasih banyak atas bantuanmu."
Buru-buru Ho Kee-sian goyangkan tangannya berulang kali, katanya sambil tertawa.
"Ilmu silat dan kecerdasan Liong sauya boleh dibilang amat luar biasa, bantuan apa lagi yang bisa kuberikan kepadanya?"
Setelah berhenti sebentar, katanya lagi sambil tertawa.
"Sejak dulu aku sudah bukan menjadi Thian-leng thongcu dari perkumpulan Sin-ki-pang, panggilan semacam itu lebih baik dihapuskan saja."
"Ooohho...kalau begitu maafkanlah aku bila sudah salah, berbicara!"
Haputule segera menjura sambil tertawa.
Ting Ji san dulunya juga pernah berjumpa dengan Hoa Kee siao, sekali pun antara mereka terlihat sedikit perselisihan karena urusan sudah lewat, maka merekapun tidak mempersoalkannya kembali, sambil saling menjura mereka hanya tertawa.
"Ada urusan apa paman mengundang keponakan kemari?"
"Soal ini nanti saja, sekarang ada baiknya kau jelaskan dulu apa arti dari "orang lain yang mendapat keuntungan"!"
"Yang kau katakan kepada Kok See-piau si gembong iblis itu? Apakah dibalik tewasnya Suma tayhap masih terdapat kejadian-kejadian lain yang mencurigakan?"
"Kejadian yang menyimpang sih tidak ada, cuma memang rada mencurigakan sekali."
Setelah berpikir sebentar, si anak muda itupun menceritakan apa yang dituturkan Kok See-piau dan Ci-soat cu tanpa mengurangi sepatah katapun. Haputule naengangguk tidak hentinya, ia berkata.
"Yaa, memang tak bisa dipercaya, memang tak bisa dipercaya."
Sedang Ting Ji-san tertawa dingin.
"Heehhh..heeehh....heeehh.. pada hakekatnya cuma memutar balikan duduknya persoalan, anak kecilpun tak akan kena ditipu."
Sementara Po Kee-sian berkata.
"Ucapan tersebut jelas merupakan kata-kata yang sengaja dicari cari, Kok See-piau kuatir ji kohnya turun tangan, maka diaturlah siasat tersebut.....
"Boanpwe mempunyai pendapat lain,"
Kata Hoa In-liong. Dengan kening berkerut Haputule lantas berkata.
"Sejak kecil kau memang banyak tipu muslihatnya, dalam bidang ini rasanya sudah cukup berpengalaman, coba katakan bagaimana menurut pendapatanmu?"
Hoa In-liong berpikir sebentar, lalu katanya.
"Menurut pendapat keponakan, Kok See-piau yang sekarang adalah seorang manusia dengan jalan pikiran yang lebih dalam dari samudra.."
Haputule mendengus dingin.
"Hmmm! Aku tidak percaya orang she Kok itu bisa memperoleh kemajuan sedemikian pesat, huuuuh..... paling banter juga tak lebih dari pada seorang bajingan tengik"
"Paman, kau jangan menganggap enteng orang itu,"
Kata Hoa In-liong sambil tertawa.
"cukup ditinjau dari kemampuannya untuk mengum pulkan jago lihay sebanyak itu, bisa diketahui bahwa orang itu bukan manusia sembarangan, semenjak tadi paman telah bersembunyi disamping arena, tentunya semua kejadian sudah diikuti dengan jelas, entah bagaimana pendapat paman tentang ilmu silat Kok See-piau?"
"Sebelum pertandingan dilakukan, dari mana aku bisa tahu?"
"Maaf kalau keponakan bicara kurangajar, tapi keponakan yakin bahwa paman masih bukan tandinggannya Kok Seepiau."
Haputule mengerutkan dahinya seperti tidak puas dengan perbandingan itu, tapi ujarnya juga sambil tertawa.
"Lebih baik urusan ini ditunda untuk sementara waktu, coba akan kudengarkan dulu pendapatmu."
Dengan otak Kok See-piau yang tajam, mana mungkin ia tidak tahu kalau dibalik kesemuanya itu masih terdapat banyak titik kelemahan?
Untuk menciptakan suatu pembicaraan yang sempurna sesungguhnya bukan pekerjaan yang menyulitkan untuk mereka, maka menurut dugaanku pastilah ucapan itu merupakan kenyataan, tentu saja ia selipkan juga rencana busuknya disana sini secara lembut.............."
Haputule tertawa terbahak-bahak memotong pembicaraannya yang belum selesai, katanya.
"Aku lihat kau adalah orang pinter yang menjadi keblinger, darimana datangnya tetek bengek semacam itu? Hanya ada sepatah kata untukmu, kau sudah ditipu Kok See-piau."
Hoa In-liong tertawa pula.
"Bagaimanapun juga tujuannya adalah menunda pertarungan yang bakal berlangsung, hal ini jelas sangat cocok dengan jalan pikiranku, jadi siapa yang sesungguhnya tertipu, hanya thianlah yang tahu."
Haputule menjadi tertegun.
Baginya mungkin saja menunda pertarungan yang bakal terjadi, tapi bagaimana pula dengan dirimu?
"Keengganan ayah turun gunung merupakan sebuah masalah bagiku dan mau tak mau memaksa aku untuk melakukan perlawanan, keponakan percaya bahwa tenaga dalamku masih kalah setingkat jika dibandingkan dengan milik Kok See-piau tapi kesempatan untuk maju jauh lebih menguntungkan bagiku dan rugi bagi Kok See-piau, kalau memang begitu kenapa kita tidak mengulur waktu terus terusan?"
Haputule gelengkan kepalanya berulang kali sambil mengeluh.
"Payah! Payah! Urusan sebesar inipun telah kau anggap sebagai permainan kawan kawan."
Tiba-tiba ia mengulurkan tangannya sambil membentak.
"Ulurkan tanganmu, aku ingin tahu sampai dimanakah kemajuan yang berhasil kau capai sehingga berani bicara sesombong itu!"
Sambil tersenyum Hoa In-liong segera menjulurkan tangannya, dan kedua orang itupun saling berjabatan tangan sebentar lalu masing masing menarik kembali tangannya.
"Aaah.......!"
Haputule menjerit tertahan.
"Sungguh tak kusangka tenaga dalammu telah peroleh kemajuan sedemikian pesatnya sungguh berada diluar dugaanku."
Ternyata dari biji mata orang dia sudah tahu kalau tenaga dalam Hoa In-liong telah memperoleh kemajuan, cuma ia tidak percaya kalau dalam waktu sesingkat itu ia bisa memperoleh kemajuan sedemikian pesatnya.
Ting Ji-san segera tertawa terbahak-bahak.
"Haahh.......,.haahn.........haahh.........aku yang terlibat dalam pertarungan sengit pun tidak berhasil mendapat keuntungan apa apa, lote, lebih baik jangan buang tenaga dengan percuma, kini ilmu silatnya sudah cukup bisa diandalkan asal mau berhati-hati rasanya bukan persoalan baginya untuk menembusi seluruh kolong langit."
Jilid 4 Tapi Haputule kembali mendengus.
"Hmm ....! Kebanyakan orang muda menjadi sombong karena menganggap ilmu silat kucing kaki tiganya sudah cukup untuk membuat keonaran dalam dunia persilatan, Ting lo! Kau tak usah membesar kesombongannya!"
Setelah termenung sejenak, ia lantas berkata.
"Sesungguhnya aku sangat tidak setuju dengan perbuatanmu yang berani menantang tiga perkumpalan besar untuk berduel, adapun kedatanganku kemari adalah untuk menghalangi niatmu itu, tapi sekarang, terserahlah apa yang hendak kau lakukan!"
"Bagaimana dengan hasil latihan dari kedua orang sute? Kenapa paman tidak mengajaknya serta untuk menambah pengalaman serta pengetahuan mereka?"
"Ilmu silat mereka masih terlampau rendah, aku kuatir mereka akan dibuat bingung oleh keme-gahan dan kemewahan dalam dunia persilatan, biarkan mereka berlatih tekun selama banyak tahun lagi di atas bukit yang terpencil"
"Untuk kebijaksanaan paman yang suka memandang tinggi segala persoalan keponakan merasa kagum sekali."
Haputule mendengus dingin, kemudian dengan wajah serius katanya.
"Aku ingin bertanya kepadamu, sepanjang hari kau menerbitkan keonaran saja dalam dunia persilatan, sudah lupakah kau dengan masalah pokok yang sebenarnya?"
Hoa In-liong agak tertegun, tanyanya dengan nada tercengang.
"Bukankah sekarang keponakan sedang menyelesaikan masalah pokok yang serius?"
"Hmm.......! Bagaimana penyelesaianmu tentang persoalan yang menyangkut Giok-teng Hujin?"
Hoa In-liong agak tertegun, lalu katanya sambil tertawa getir.
"Keponakan telah bertemu dengan bibi Ku, tapi..."
"Hmm.........!"
Tukas Haputule sambil tertawa dingin.
"dihari hari biasa aku pandai bermanis mulut, tentunya Giok teng hujin telah berhasil kau nasehati sehingga berbalik hati bukan?"
Hoa In-liong segera tertawa lebar.
"Paman, bukankah pertanyaanmu ini sama artinya sudah tahu tapi pura-pura bertanya lagi!"
Ho Kee siao yang selama ini cuma membungkam, tiba-tiba menyela.
"Bila seorang telah bertekad dalam suatu persoalan selama puluhan tahun, maka mungkinkah sepatah kata saja sudah dapat menggerakkan hatinya? Dalam masalah ini Liong sauya tak dapat disalahkan. Ting Jit san manggut-manggut.
"Betul sekali ucapan tersebut"
Katanya pula.
"Lo te, kau jangan terlalu menyalahkan dia."
Haputule menghela napas panjang.
"Aaiai........ kalian berdua terlalu melidunginya, jika begini terus keadaannya, entah sampai dimanakah sifat kebinalannya itu?"
Kemudian setelah mengawasi wajah Hoa In-liong dan termenung sebentar, ia bangkit seraya berkata lagi.
"Tak ada gunanya membicarakan soal-soal seperti itu dalam keadaan sekarang, lebih baik kau bicarakan dulu masalah Giok teng hujin itu denganku. Lantaran masalahnya menyangkut masalah urusan pribadi keluarga Hoa, sebagai orang luar, Ting Ji-san serta Ho Keesian merasa kurang enak untuk mencampurinya, maka merekapun mohon diri lebih dulu. Sedangkan Hoa In-liong mengikuti Haputule ke luar dari hutan berangkat menuju ke kota. Di tengah jalan Hoa In-liong bertanya.
"Apakah bibi Ku juga sudah tiba di kota di ciu?"
Haputule menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Yang akan kita jumpai sekarang adalah Pui Che-giok, kaucu dari perkumupulan Cian li kau, sampai kini aku belum pernah bertemu dengan Giok teng hujin."
"Oooh.....rupanya dia! Aku sudah pernah bertemu dengan cianpwe itu,"
Kata sang pemuda sambil tertawa. Tiba-tiba Haputule berseru dengan nada mendongkol.
"Semalam, ketika aku tiba di kota Si ciu sesungguhnya akan segera menemuimu, tapi secara kebetulan aku telah berjumpa dengan Pui Che-giok di tengah jalan. Waktu pertarungan di lembah cu bu kok, aku pernah bertemu sekali dengannya, meski sudah lewat banyak tahun, ternyata raut wajannya tidak mengalami banyak perubahan, maka sekilas pandangan saja aku dapat segera mengenalinya kembali, selesai memberi hormat aku segera mohon kepadanya agar bisa berjumpa dengan Ku Ing-ing, siapa tahu ia telah menampik permohonan ku itu, hmm.....hmm.....! Mungkin dia melihat aku adalah orang dari suhu Fibulo, maka dianggapnya bisa di permainkan kehendak hatinya."
Diam-diam Hoa In-liong tertawa geli, pikirnya.
"Dihari-hari biasa paman selalu tinggi hati dan permohonannya tak pernah ditampik orang, tak aneh kalau ia menjadi marah-marah, yaa, pasti baru pertama kali ini ia ketanggor batunya."
Cepat nian gerakan tubuh kedua orang itu, sementara pembicaraan masih berlangsung mereka sudah masuk ke dalam kota.
Haputule tidak menghentikan gerakan tubuhnya, dia langsung lari menuju ke kota sebelah barat, dalam waktu singkat sampailah mereka di depan sebuah gedung bangunan dengan loteng yang bertingkat, bangunan tersebut indah, megah dan kokoh, dalam sekilas pandangan saja Hoa In-liong segera mengenali sebagai bangunan yang dihuni oleh Cia Sauyan.
Haputule tidak langsung menuju ke pintu gerbangnya untuk mengetuk pintu, melainkan melompati pagar pekarangan dan langsung menuju ke depan sebuah ruangan mungil yang terang benderang bermandikan cahaya lampu lentera.
Hoa In-liong segera mengikuti pula dari belakang.
"Sahabat dari manakah yang telah berkunjung kemari?"
Bentakan nyaring segera menggelegar memecahkan kesunyian.
"Haputule beserta keponakanku Hoa yang datang untuk menjumpai pui kaucu!"
Jawab Haputule nyaring. Dari dalam bangunan mungil itu kembali berkumandang suara tertawa yang amat merdu.
"Oooh......."
Rupanya See-ih tayhiap, serta Hoa ji kongcu yang menggetarkan dunia persilatan telah berkunjung kemari, sungguh kami memperoleh kunjungan tamu yang langka!"
Bersamaan dengan ucapan tersebut, dari balik pintu ruangan muncul seorang nyonya cantik berbaju ungu yang bergaun panjang sekali, begitu munculkan dirinya lantas memberi hormat.
Haputule tertawa getir.
"Aku telah mengganggu ketenanganmu berulang kali, tidak pantas dikatakan sebagai tamu yang langka,"
Katanya.
"nona Pui......."
"Terlepas apakah See ih Tayhiap menaruh perasaan tak puas terhadap diriku, silahkan masuk ke dalam untuk minum teh lebih dulu sebelum melanjutkan pembicaraan ini,"
Tukas Pui Che giok sambil tertawa. Kemudian sepasang biji matanya yang jeli dialihkan kewajah Hoa In-liong yang berada dihadapannya.
"Buru-buru Hoa In-liong maju memberi hormat seraya panggilnya dengan mesra.
"Bibi Pui!"
Pui Che-giok segera menyingkir ke samping menghindari penghormatan tersebut.
"Aku tak berani menyambut penghormatan besarmu ini!"
Katanya.
"Aku rasa sambutan itupun tidak pantas untukku!"
Hoa In-liong berkerut kening, bibirnya segera bergerak seperti hendak mengucapkan sesuatu.
Tapi sebelum ia sempat mengutarakan sesuatu, dari dalam ruangan telah kedengaran suara dari Cia sau-yan menyela.
"Suhu, kau juga kebangatan, masa beginikah cara Cian-li-kau menyambut tamu kehormatannya? Mana kita boleh membiarkan mereka berdiri diluar pintu sambil minum angin. Pui Che giok tertawa geli. Oya, betul juga perkataan budak ini, saudara berdua silahkan masuk!"
Dengan wajah serius ia lantas mempersilahkan tamunya untuk masuk ke dalam ruangan.
Hoa In Hong dan Haputule saling berpandangan sekejap sambil tertawa, lalu mereka bersama-sama melangkah masuk ke dalam ruangan.
Indah dan megah ruangan tersebut, semua peralatan dan perabot diatur sangat arsistik dengan permadani berwarna merah menutupi lantai, tirai sutera melambai-lambai, semua alat perabot terbuat dari kayu esadana nomor satu, selain dari pada itu benda antik pun bertengger disana sini.
Belasan orang gadis sedang duduk dalam ruangan itu, ketika melihat kemunculan mereka berdua, serentak gadis gadis itu bangkit berdiri sambil memberi hormat.
Sambil tertawa Pui Che-giok lantas berkata.
"Murid muridku tidak kenal adat kesopanan, harap kalian berdua sudi memaafkan!"
Hipatule hidup membujang paling pusing kalau musti berhubungan dengan kaum perempuan, ma-ka begitu dilihatnya begitu banyak gadis yang berada dalam ruangan itu, dengan kening berkerut ia lantas berpaling ke arah Hoa In-liong, artinya ia minta si anak muda itu yang pegang peranan sebagai juru bicara.
Diam-diam Hoa In-liong tertawa geli, katanya kemudian.
"Paman dan keponakan bukan orang luar, harap bibi pui tak usah menggunakan segala macam tata cara, kita bersikap bebas saja."
Pui Che-giok manggut-manggut.
"Kalau memang ji-kongcu tidak keberatan, sudah barang tentu aku Pui Che-giok lebih senang lagi,"
Katanya.
Lantaran Cia In tidak berada disitu, maka diantara muridmurid Pui-Che-giok boleh dibilang Cia Sau-yan merupakan orang tertua, cepat cepat ia menitahkan adik adik seperguruannya agar memindahkan bangku-bangku kecil, menghidangkan air teh, dan mempersilahkan tamunya untuk duduk.
Setelah ketiga orang itu duduk, Cia Sau-yan sekalipun sama-sama berdiri di belakang Hui Che giok.
Hoa In-liong memandang sekejap gadis-gadis itu, lalu ujarnya kepada Pui Che-giok, Waaah.........kalau musti membiarkan cici sekalian berdiri, siaw tit jadi tidak tenteram hatinya."
Pui Che-giok tersenyum manis.
"Kalau begitu biar kuturuti kehendak-mu kongcu, hey budak sekalian, duduklah semua!"
Jelas hubungan diantara Hui Che-giok dengan muridmuridnya memang tidak dibatasi segala macam peraturan, apalagi mereka memang tidak menganggap Hoa In-liong dan Haputule sebagai orang luar, begi tu Pui Che giok mengutarakan maksudnya, serentak mereka mengiakan dan mencari tempat duduk masing-masing.
Setelah suasana hening, Haputule baru menggerakan bibirnya seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi niat tersebut akhirnya dibatalkan sambil menghela napas berpaling ke arah Hoa In-liong seraya katanya.
"Aaaai.... aku tidak tahu bagaimana musti mulai dengan pembicaraan ini, lebih baik kau saja yang pegang peranan!"
Hoa In-liong tidak langsung menjawab, hanya pikirnya dalam hati.
"Persoalan ini mana boleh disampaikan secara terburu-buru. Demi.... paman memang.... Tiba-tiba Pui Che giok berkata.
"Sebelum pembicaraan dimulai, terlebih dulu hendak ku singgungkan bahwa masalah apapun yang hendak kalian bicarakan, pasti akan kulayani dengan sebaik-baiknya, hanya soal yang menyangkut tentang nona kami, maaf kalau aku tak dapat menurutinya."
Cerdik amat perempuan itu untuk menjaga segala kemungkinan yang tidak diinginkan, ia telah menutup mulut kedua orang itu lebih dahulu.
Haputule menjadi amat gelisah, ia hendak membuka suara untuk mengucapkan sesuatu, tapi dengan cepat dicegah oleh Hoa In-liong dengan bisikan melalui ilmu menyampaikan suara.
"Harap paman legakan hati, biar keponakan yang hadapi mereka!"
"Apakah kau yakin pasti berhasil?"
Tanya Haputule cepat dengan ilmu menyampaikan suara pula.
"Persoalan ini harus dibicarakan pelan-pelan, keponakan percaya cepat atau lambat pasti akan berhasil"
"Kalau terlambat jelas tak mungkin, kira kira beberapa lama yang kau butuhkan?"
Hoa In-liong berpikir sebentar, kemudian jawabnya.
"Paman jangan gelisah, keponakan pasti akan mengusahakan secepat mungkin......"
Sekalipun Pui Che giok tidak dapat mendengarkan pembicaraan mereka berdua yang dilakukan dengan ilmu menyampaikan suara, tapi ia dapat menebak enam sampai tujuh bagian, segera pikirnya.
"Hmmm.... Asal kututup mulut rapat-rapat, akan kulihat dengan akal apa kalian hendak memancingku untuk berbicara?"
Sementara itu Hoa In-liong telah berpaling ke arahnya sambil tersenyum, lalu katanya.
"Bibi Pui, kau selalu menyebut Siau tit sebagai ji-kongcu, apakah kau bermaksud memperolok-olok keponakan?"
Haputule yang mendengar perkataan ini segera berpikir dalam hati kecilnya.
"Aku suruh kau menanyakan masalah tentang Giok teng hujin, kau malah mempersoalkan masalah lain...bagaimana sih bocah ini?"
Ia menggerakkan bibirnya seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi niat tersebut akhirnya dibatalkan. Pai Che giok sendiri pun agak tertegun, lalu sambil tertawa, jawabnya.
"Berbicara menurut kedudukanku, sebutan jikongcu adalah sebutan paling tepat dan cocok"
Hoa In-liong segera berpura-pura tercengang.
"Eeh... bukankah bibi Pui adalah adik angkat bibi Ku, lagipula kau adalah Cian-li kauci, siau-tit jadi merasa tak habis mengerti, dimanakah letak kecocokan tersebut?"
Pui Che-giok hendak menjawab, tapi niat itu segera di batalkan, setelah termenung dan berpikir sebentar katanya dengan ketus.
"Bibi Ku mu sesungguhnya adalah nona aku Pui Che Giok, mana berani menyebutnya sebagai kakak angkatku? Dengan sendirinyaa akupun tidak pantas untuk menerima sebutan "Bibi"
Dari ji-kongcu. Aku Pu Che-giok berasal dari tingkatan rendah aku tidak berani melupakan asalku dan tak berani pula bersikap sok, sekarang tentunya ji-kongcu sudah memahami bukan?"
Di balik ucapan tersebut jelas terkandung nada mendongkol dan marah, bahkan menyindir pula ketidak bertanggung jawaban Hoa Thian-hong, sebagai orang-orang pintar, sudah barang tentu Haputule serta Hoa In-liong dapat menangkap arti dari ucapan tersebut.
Tapi Hoa In-liong berlagak tidak mengerti, sambil mengernyitkan alis matanya dia berkata.
"Bibi Pui, kau demikian merendahkan dirimu, apakah sudah memikirkan juga bagi kepentingan para cici sekalian?"
Pui Che-giok tidak menyangka kalau secara tiba-tiba dia mengajukan pertanyaan tersebut, sambil berpaling diliriknya Cia Sau-yan sekalian sekejap kemudian katanya dengan hambar.
"Tentu saja akupun suruh mereka selalu teringat dengan tingkat kedudukan sendiri."
Setelah berhenti sebentar, katanya lebih lanjut.
"Sedangkan mengenai bagaimana sikap ji-kongcu terhadap mereka, soal ini aku tak mau turut campur"
Ucapan itu diutarakan secara tegas dan tandas, sedikitpun tidak memberi kesempatan kepada Hoa In-hong untuk bersilat lidah lebih lanjut, sementara dalam hatinya berpikir.
"Nona mengatakan kau cerdas dan berotak tajam, aku tidak percaya permainan busuk apa yang bisa kau lakukan dihadapanku."
Siapa tahu Hoa In-liong yang licik ternyata bertindak "mengembangkan layar mengikuti angin", katanya sambil tertawa.
"Waah, tidak bisa jadi, siau tit membahasai anak muridmu sebagai kakak atau adik, sudah sepantasnya kalau kusebut kau sebagai bibi sebab hal ini berturutan dan tak bisa dibiarkan dengan begitu saja....."
Pai Che giok tertegun, lalu gelengkan kepalanya berulang kali.
"Keinginan yang terlalu dipaksakan tanpa persetujuan kedua belah pihak dianggap tidak sah, aku tak dapat menerima konsepmu itu!"
"Nah.....naah.. ..sekarang kata-katanya mulai terpojok dan posisinya mulai terdesak"
Pikir Hoa In-liong.
"aku tak boleh memaksanya keterlaluan bagaimanapun juga sekali gagal lain waktu masih ada kesempatan, lama kelamaan pasti akan berhasil juga rencanaku ini. Haputule sendiripun merasa, kecuali berbuat demikian rasanya tiada jalan lain yang lebih baik, karena merasa kehadirannya disitu tak berguna maka ia memutuskan untuk berlalu lebih dulu. Sambil bangkit katanya kemudian.
"Anak Liong, kau tinggallah disini untuk berbicara pelan-pelan aku akan pergi dahulu."
Sekarang hari sudah larut malam, rasanya tidak baik kalau kita mengganggu Bibi Pui lebih jauh, siau tit rasa lebih baik ikut pergi,"
Kata Hoa In-liong sambil iku bangkit berdiri. Dengan paras muka membesi Haputula segera berkata.
"Tinggallah disini dengan tenang, rekan-rekan sealiran situ biar kuwakilimu untuk memberitahu-kannya!"
"Jelas paman bermaksud agar aku bisa pusatkan segenap kemampuanku untuk menasehati bibi Ku agar berubah pikiran,"
Pikir Hoa In-liong, tapi usaha untuk menumpas tiga perkumpulan besar adalah suatu usaha yang maha penting...... Berpikir sampai disitu ia menjadi ragu ragu, katanya kemudian.
"Sekarang Kiu im kau, Mo kau dan Hian-beng-kau telah bersatu padu, jumlah kekuatan mereka bertambah besar..,.......
"Tak usah kuatir"
Tukas Haputule.
"aku datang kemari karena mengikuti jejak dari si iblis tua Seng sut hay, jadi duduknya persoalan lebih jelas dari padamu, dalam waktu singkat mereka masih belum berani melakukan suatu tindakan yang tidak menguntungkan buat kita."
Hoa In-liong kembali berpikir.
"Kalau semua pihak memang telah berkumpul di kota Si-ciu, hal ini jelas bukan suatu hadangan besar untuk pihak kita."
Karena berpikir demikian, diapun mengangguk, katanya.
"Kalau begitu aku musti merepotkan paman?"
Tiba-tiba Pui Che-giok menyela sambil tertawa.
"Hey, kalian berdua masih belum bertanya kepadaku, bersediakah menyambut kedatanganmu atau tidak!"
Haputule tertegun setelah mendengar perkataan itu, sedangkan Hoa In-liong segera tertawa.
"Haaahh...haahh...haaahh.....bibi Pui, bagaimanapun juga kau harus menahan aku si tamu yang datang tanpa diundang!"
"Kalau aku menolak, mau apa kau?"
Katanya. Kembali Hoa In-liong tersenyum.
"Keponakan akan bersikeras tetap mengendon disini, akan kulihat bagaimana caramu untuk mengusir diriku. Tentunya kau tidak enak hati bukan untuk tidak menyiapkan hidangan bagi ku?"
Pui Che giok tertegun juga dibuatnya, dia sendiripun kuatir kalau Hoa In-liong menasehati dan mendesaknya setiap hari.
Tentu dia menginginkan si anak muda itu cepat-cepat pergi, siapa tahu pemuda itu malah bersikeras untuk mengendon disitu, pusing juga jadinya.
Sebagai anak gadis, yang masih berusia sangat muda, geli juga Cia Sau-yan dan Cia Wan sekalian setelah menyaksikan adegen ter sebut, kontak saja semua orang tertawa cekikikan.
Haputule sendiripun tersenyum, ia lantas memberi hormat kepada Pui Che giok untuk mohon diri, Hoa In-liong menghantarnya sampai keluar rumah.
Ketika Haputule melihat Pui Che-giok tetap tinggal dalam ruangan, dia termenung sejenak, kemudian katanya.
"Persoalan mengenai Giok teng hujin adalah masalah penting, mungkin kau masih kurang jelas"
Tiba-tiba ia menghela napas panjang, kemudian katanya lebih jauh.
"Aku sendiripun agak segan untuk membicarakan persoalan itu, pokoknya ringkasnya saja Giok teng hujin telah melepaskan budi kebaikkan yang amat besar untuk keluarga Hoa, kalian kau jangan lupa untuk menyanyangi Giok teng hujin berikut segenap anak buahnya, maka kau harus berusaha keras untuk mmbantu perkumpulan Cian li kau dalam segala bidang...."
"Liong ji akan mengingatnya selalu dalam hati,"
Kata Hoa In-liong dengan wajah serius.
Haputule manggut-manggut, dia lantas menggerakkan sepasang bahunya untuk melompat keudara, dalam beberapa kali lompatan saja tubuhnya sudah lenyap dibalik kegelapan malam.
Ketika Hoa In-liong balik ke dalam ruangan, ia temui Pui Che giok masih duduk termangu-mangu disana, ia kuatir perempuan itu tak senang hati maka dengan suara lembut katanya "Bibi Pui, apakah kau sedang mencari akal untuk mengusirku pergi?"
Pui Che giok tertawa geli.
"Kau si bocah binal kalau bisa ingin kugebuk dirimu setengah mati, tapi hatiku tak tega berbuat demikian."
"Aku tahu bibi pui dan bibi Ku memang selamanya menyayangi aku,"
Kata Hoa In-liong sambil tertawa. Tiba-tiba Pui Che giok waspada, kembali pikirnya.
"Bocah ini terlalu licik dan cerdik kalau terlalu banyak bicara, bisa jadi aku bakal tertipu."
Berpikir sampai disitu dengan wajah serius ia lantas barkata.
"Ji kongcu, meskipun kau berada disini bukan berarti setiap kali bisa berjumpa denganku, makanya aku berkata duluan agar ji kongcu jangan menuduh aku tidak menemani tamunya."
Ketika dilihatnya perempuan itu kembali menyebut Ji kongcu kepadanya, Hoa In-liong lantas berpikir.
"Ulet juga perempuan ini, tampaknya aku musti menguji kesabaran serta kecerdasanku!"
Sambil tertawa ia lantas berkata.
"Bagus sekali! Berkumpul dengan para cianpwe memang kurang leluasa, mana musti tunduk mana tak bisa berkutik, aku memang ingin bermain dengan cici sekalian!"
Pui Che giok tersenyum, ia lantas berpaling ke arah Cia Sau-yan sembari katanya.
"Perintahkan orang untuk membereskan ruangan sebelah barat, siapkan kelambu dan selimut, sementara waktu biar Hoa kongcu menginap di tempat itu........"
Cia Sau-yan segera membungkukkan badannya sambil mengiakan, Hoa In-liong pun tidak banyak bicara lagi, karena waktu sudah menunjukkan kentongan ke empat, mengikuti Cia Sau-yan ia melewati jalan beralas batu dihalaman tengah dan menuju ke halaman lain.
Tiba-tiba Hoa In-liong teringat dengan pesan Cia In yang hendak disampaikan oleh Cia Sau-yan kepadanya, ia lantas bertanya.
"Enci Yan, pesan apakah yang hendak kau sampaikan kepadaku dari sucimu itu?"
Sambil tersenyum Cia Sau-yan melirik sekejap ke arahnya kemudian berkata dengan murung.
"Kemarin pagi kau masih memanggil kepada kami, dan sekarang panggilanmu sudah semesrah itu, rupa rupanya kau hendak menggunakan kami untuk mencapai tujuanmu?"
"Waduuh..............enci Yan memdang pandai membikin orang menjadi penasaran, masa kau anggap siau-te adalah manusia semacam itu?"
Kata Hoa In-liong sambil tersenyum. Cia Sau-yan ikut tertawa.
"Sekalipun benar juga tidak mengapa, kenapa musti mungkir........."
Katanya lembut.
Hoa In-liong cuma tertawa-tawa dan tidak berbicara lagi.
Waktu itu mereka sedang menyeberangi sebuah jembatan kecil, tiba-tiba Hoa In-liong berhenti sambil mengawasi gardu di ujung jembatan sana dengan sinar mata tajam.
"Kenapa?"
Cia Sau-yan segera menegur dengan kening berkerut.
"masa cuma kata-kata gurauan semacam itu juga membuatmu menjadi marah?"
Hoa In-liong gelengkan kepalanya berulang kali sambil menatap terus ke muka dengan wajah serius tiba-tiba ia membentak dengan suara dalam dan berat.
"Mau apa kau datang kemari?"
Cia Sau-yan sangat terkejut, dengan cepat dia mengalihkan sorot matanya kea-rah yang dituju, ternyata dalam gardu tersebut entah sejak kapan telah duduk seorang kakek berlengan sepanjang lutut, bermuka kering dan berwajah menyeramkan.
"Oooh.....!"
Dengaa terkesiap gadis itu menjerit kaget, tapi setelah menyaksikan ikat pinggangnya yang bersimbol naga perak dan mengetahui bahwa orang itu adalah Seng To-cu, kakak seperguruan dari Tang Kwik siu, barulah hatinya menjadi lega.
Sementara itu Seng To cu sambil membentangkan sepasang matanya yang kecil berkata dengan suara menyeramkan.
"Kau tak usah takut, lohu tak akan melancarkan serangan terhadap seorang siau pwee (angkatan muda) seperti kau!"
"Aku orang she Hoa juga bukan manusia munafik yang jeri terhadap orang lain, silahkan turun tangan kalau ingin turun tangan, orang lain tidak akan menuduhmu menganiaya kaum siau pwe!"
Seng So-cu segera mendengus dingin.
"Hmm..! Kau masih belum pantas, dimana hwesio tua itu?"
Jengeknya sinis.
"Oooh.. rupanya ia sedang mencari Kongkong, jelas ingin menggunakan kesempatan dikala orang sedang lemah untuk mencari keuntungan bagi diri sendiri,"
Pikir Hoa In-liong. Agaknya Seng To cu dapat menebak suara hati Hoa Inliong, kembali katanya.
"Hey Siau pwe! Kau tak usah menduga yang bukan-bukan, toh tak nanti akan turun tangan terhadap seseorang yang belum pulih kembali tenaga dalamnya."
"Dia Orang tua tidak berada di kota Si-ciu tampaknya bakal membuat kekecewaanmu,"
Kata si anak muda itu ketus.
"Aku tidak percaya, hwesio tua itu telah menganggapmu sebagai calon menantunya keluarga Coa, masa ia tidak akan memperdulikan keselamatan jiwamu?"
Hoa In-liong segera tertawa.
"Lucu amat perkataanmu aku orang she Hoa juga bukan bocah yang berusia tiga tahun, masa aku tak dapat mengurusi diriku sendiri."
Setelah berhenti sejenak, katanya lagi sambil tertawa.
"Ayahku berada diperkampungan Liok-soat sanceng, bila kau ingin beradu kepandaian apa salahnya kalau langsung mencarinya dibukit Im tiong san,......!"
Jelas dibalik ucapan tersebut dia maksudkan bahwa Seng To cu jeri terhadap Hoa-Thian-hong.
Di atas wajah Seng To cu yang kaku dan tanpa emosi itu terlintas sedikit perubahan, sepasang matanya yang kecil segera dipentangkan lebar lebar, cahaya hijau yang menyeramkan segera memancar keluar, jelas ia sudah dibuat naik darah.
Hoa In-liong segera mangerahkan tenaga dalamnya bersiap sedia, pikirnya dalam hati.
"Sorot matanya mencurigakan, entah kepandaian iblis apa yang dia yakinkan?"
Timbul kewaspadaan dalam hatinya, dengan pancaran sinar tajam ia balas menatap wajah Seng To cu, sedikitpun tidak terlintas rasa takut dalam hatinya.
Beberapa kali Cia Sau-yan main memanggil rekan rekannya, tapi ia takut tindakan tersebut menimbulkan nafsu membunuh dalam hati Seng To-ca, hatinya menjadi masgul dan tak tahu apa yang musti dilakukan.
Setelah saling bertatapan sekian lama akhirnya Seng To cu menarik kembali sorot matanya, wajahnya pulih kembali menjadi kaku, tanpa emosi setelah membebaskan ujung bajunya, bayangan hitam berkelebat lewat dan tahu-tahu ia sudah lenyap tak berbekas.
Ia datang secara mendadak, pergi secara Tiba-tiba, pada hakekatnya para penjaga dari Cian li kau tidak mengetahui atas kehadiran maupun kepergiannya.
Kesal juga perasaan Hoa In-liong pikirnya.
"ilmu silat yang dimiliki gembong iblis ini sungguh amat lihay, wah kalau Mo kau sam pai ditunjang oleh jago selihay ini, bahaya juga pihak mereka itu!"
Cia Sau-yan menghembuskan napas lega, katanya.
"Pergi datangnya gembong iblis ini sangat tiba-tiba dan mengherankan,aaii....... perkumpulan kami benar-benar telah dipecundangi olehnya........."
Hoa In-liong tersenyum.
"Berbicara dari tingkat kepandaian silat yang dimiliki gembong iblis itu, sudah barang tentu para peronda biasa tak akan me-ngetahui jejaknya, untungnya para gembong gembong iblis tersebut tidak suka menganiaya siaupwee."
"Segera kulaporkan kejadian ini kepada suhu!"
Tidak usah, kini sudah kentongsn kelima lebih, besok saja baru dilaporkan."
Cia Sau-yan berpikir sebentar kemudian mengangguk, dia pun mengajak Hoa In-liong menuju ke ruangan sebelah barat, menanti para dayang selesai membereskan ruangan tersebut, hari pun mulai terang tanah.
Ketika dilihatnya gadis itu tidak menyinggung kembali pesan dari Cia In, Hoa In-liong pun tidak banyak bertanya lagi, meski diam-diam ia merasa agak keheranan.
Menunggu Cia Sau-yan telah mengundurkan diri, Hoa Inliong mendengar ayam jantan telah berkokok pertanda fajar telah menyingsing, diapun tidak tidur melainkan hanya duduk bersemedi sambil mengatur pernapasan.
Tanpa terasa sang surya sudah jauh diawang-awang Tiba-tiba dari jalan setapak terdengar suara langkah manusia, disusul suara dari Cia Lam ciau sedang bertanya dengan suara keras.
"Apakah siu sauya telah bangun?"
Hoa In-liong segera turun dari pembaringannya dan berjalan menuju ke pintu.
Di depan ruang kamar adalah sebuah kebun dengan aneka warna bunga yang amat indah, dibawah terpaan cahaya sang surya, tampak segerom bolan gadis cantik dengan baju yang beraneka ragam sedang memetik bunga dengan senyum manis dikulum, mereka muncul dari jalan-jalan kecil menuju keruang tengah.
Menyaksikan pemandangan yang sangat indah itu, tanpa terasa Hoa In-liong bersorak sambil bertepuk tangan.
Murid murid Pui Che giok yang menyaksikan sikap riang dari pemuda itu segera ikut tertawa cekikikan hingga menambah semaraknya suara waktu itu.
"Sauya!"
Kata Cia Wan.
"sarapan pagi telah disiapkan, cepat cuci muka dan cuci mulut, budak sekalian siap menanti perintahmu!"
Tak terasa Hoa In-liong maju menghampiri mereka, katanya.
"Enci Wan, sekalipun kau sedang bergurau tapi siaute tak kuasa untuk menerimanya."
Cia Wan tersenyum.
"Siapa yaag sedang bergurau? Semalam suhu minta kami semua agar ingat selalu dengan kedudukan sendiri, bukankah sauya juga ikut mendengarkan.... Hoa In-liong segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaah....haaahh.....haaah......sekarang bibi Pui berada dimana? Sudah sempatnya kalau kuberi hormat dulu kepadanya."
Cia Lam ciau tertawa cekikikan.
"Berhubung ada tamu jahat yang berkunjung tanpa permisi, terpaksa suhu harus menghindarkan diri."
"Enci Ciau, harap jangan bergurau....."
Seru Hoa In-liong dengan alis mata berkenyit.
"Suhu benar-benar sedang pergi,"
Tukas Cia Lam ciau cepat.
"sebelum berangkat ia pesan bahwa pemilik rumah ini sekarang adalah ji-kongcu, beliau suruh kami baik baik melayani dirimu."
OooooooOooooooo Mendengar jawaban tersebut, diam-diam Hoa In-liong lantas berpikir.
"Tampaknya bibi Pui memang sengaja menghindar....."
Sementara ia masih termenung, dua orang dayang yang melayaninya telah muncul sambil membawa baskom untuk cuci muka, handuk, alat untuk membersihkan mulut dan lain sebagainya, sementara murid-murid Pui Che giok telah masuk ke ruang depan.
Dalam ruangan tengah telah tersedia sarapan pagi, hidangannya amat mewah dan lezat.
Baru saja Hoa In-liong duduk, Cia Sau-yan telah mengambilkan semangkuk bubur sambil menghidangkan dihadapannya.
"Silahkan sauya!"
Katanya. Sambil tertawa Hoa In-liong gelengkan kepalanya berulang kali.
"Enci Yan, kenapa tidak menyuruh para dayang saja?"
Dengan cepat Cia Sau-yan tersenyum.
"Perintah dari suhu tak berani kuingkari sudah menjadi kewajibanku untuk melaksanakan apa yang telah dipesan suhu."
Secara lamat-lamat Hoa In-liong dapat merasakan meski mereka cuma main main tapi sesungguhnya mengandung maksud tertentu, dan rupanya Pui Che-giok ingin benar-benar membuktikan apa yang telah diucapkan semalam, kebulatan tekad mereka jelas susah dirubah lagi.
Diam-diam ia lantas berpikir.
"Aku tidak percaya bibi Ku dan kau bisa bersembunyi sepanjang masa, asal bertemu aku pasti punya akal untuk menaklukan kalian!"
Tiba-tiba ia teringat kembali akan diri Coa wiwi dan Wan Hong-giok, segera pikirnya.
"Keadaan adik Wi masih rada mendingan tapi Hong giok.......hidup sunyi seorang diri, kasihan benar nasibnya............"
Ia teringat betapa Wan Hong giok hanya mempunyai seorang guru, dengan punahnya tenaga dalam yang dimiliki, penderitaan tersebut tentu akan luar biasa beratnya, lain dengan keluarganya yang tiga generasi mengembara dalam dunia persilatan, dimana-mana selalu ada teman akrab yang membantu...
Makin dipikir ia merasa hatinya semakin tidak tenteram.
Ketika Cia Sau-yan menyaksikan wajah anak muda itu diliputi kesedihan, dengan heran ia lantas bertanya.
"Ada apa? Apakah merasa pelayanan kami Kurang memuaskan?"
Hoa In-liong tertawa paksa.
"Aaah.. apa...? Siapa yang bilang? Siaute malah merasa telah menodai nama baik cici sekalian."
"Oooh.. itu sih tidak terdengar,"
Seorang gadis yang berada di sisinya menyelah.
"asal kau bersedia tidak menyulitkan suhu dan su-pek kami, hal ini sudah lebih dari cukup untuk kami semua."
Hoa In-liong segera berpaling ke arah orang itu, ternyata dia adalah murid kesebelas dari Pui Che giok, melihat itu sambil menghela napas ia lantas berkata.
"Cici sekalian sudah sepantasnya kalau membantu aku untuk menasehati bib ku serta gurumu."
Tapi para gadis itu cuma menutup bibir sendiri sambil tertawa cekikikan, mereka tidak berbicara apa-apa.
Sekalipun sarapan pagi itu dihidangkan makanan yang serba lezat, akan tetapi lantaran takaran makan Hoa In-liong tidak terlalu besar, lagi pula ia hanya memikirkan bagaimana caranya untuk menjumpai Tiong heng To koh, maka hanya sedikit yang dia habiskan hidangan-hidangan tersebut.
Selesai bersantap, tiba-tiba muncul Ho lo cia yang pernah ditemui sebagai kusir keretanya Cia Im, sambil memberi hormat, katanya.
"Ruang depan dan ruang timur serta barat telah selesai dibersihkan silahkan ji kongcu melakukan pemeriksaan."
"Hei, mau membersihkan ruangan atau tidak toh urusan kalian, apa sangkut pautnya dengan aku?!"
Seru Hoa In-liong keheranan.
"Maksud guru kami,"
Kata Cia Sau-yan.
"untuk menyelenggarakan pertemuan besar para jago di kota Si ciu ini, daripada menginap te rus dirumah penginapan lebih baik gunakan saja ruangan depan dan ruang tenggara gedung ini untuk menampung mereka, sebab itulah gedung ini oleh guruku telah dihadiahkan untukmu, bila mereka telah berkumpul semua disini untuk berunding dan berkumpul pasti lebih leluasa, dan untuk itu kau harus pergi untuk memeriksanya sendiri, Siau ongya, kau pahami sudah bukan...."
Hoa In-liong yang mendengar perkataan itu segera berpikir.
"Walaupun bibi Ku dan bibi Pui tidak bersedia menjumpaiku, tapi mereka selalu memikirkan kepentingan, tentu saja kesemuanya ini lantaran ayahku......."
Berpikir sampai disini, ia segera meraba bahwa untuk menasehati Tiang beng To koh agar berubah pikiran sesungguhnya tidak lebih sulit dari apa yang dihadapinya kini, tanpa terasa semangatnya kembali berkobar diiringi para gadis merekapun berputar mengelilingi ruangan untuk mengadakan kontrol.
Menurut anggapan Hoa In-liong, bangunan itu cukup kokoh dan megah, peralatannya komplit dan sangat berlebihan untuk menampung para kawanan jago.
Akan tetapi anak muridnya Pui Che giok merasa sangat tidak puas, yang satu mengatakan kurang ini, yang lain mengatakan kurang itu, bahkan ada pula yang mengatakan peralatan semacam ini hanya akan ditertawakan orang persilatan saja.
Hoa In-liong pura-pura tidak mendengar, ia mengundang Cia Sau-yan menuju ketengah kebun lalu ujarnya.
"Enci Yan, sebenarnya apa yang hendak dikatakan oleh sucimu? Sekalipun bernada mendamprat, tolong katakanlah sejujurnya."
Cia Sau-yan tertegun, setelah termenung sejenak, katanya kemudian.
"Toa suci telah berpesan, katanya bila aku merasa tidak perlu untuk mengatakannya, maka aku tak usah mengatakannya."
Hoa In-liong menjadi keheranan, pikirnya.
"Kenapa ia raguragu untuk berbicara denganku? Aneh, pasti ada sesuatu yang tidak beres."
Semakin perempuan itu tak mau berbicara ia semakin mendesak berulang kali.
Cia Sau-yan termenung sejenak, tiba-tiba ia memetik setangkai bunga anggrek merah lalu dilumatnya dengan kedua belah tangan, setelah itu ditebarkan keudara, ada yang jatuh ditepi kolam, ada yang jatuh dalam kolam....
Sambil menunjuk bunga-bunga lumatan yang tersebar keempat penjuru katanya.
"Sudah kaulihat?"
"Sudah!"
Jawab Hoa In-liong. Cia Sau-yan menghela nafas sedih.
"Sudah tahu?"
Kembali ia berkata.
"Teka-teki ini tidak kupahami!"
Cia Sau-yan menghela nafas sedih, katanya.
"Bunga yang jatuh dari tangkainya akan mengalir mengikuti arus air, atau hancur menjadi tanah, kehidupan manusia tidak selalu kekal seperti berakar!"
Lamat-lamat Hoa In-liong dapat merasakan maksud dari perkataan itu. Terdengar Cia Sau-yan berkata lebih jauh.
"Aku rasa apa yang kuterangkan sudah cukup jelas, masakah kau tidak mengerti?"
Hoa In-liong semakin memahami lagi maksud ucapannya itu, sambil tertawa berat katanya.
"Bagaimanapun juga kehidupan manusia jauh berbeda dengan bunga sejak dulu sampai sekarang, Thian menciptakan manusia bukan bernasib seperti sekuntum bunga, nasib manusia tetap sebagai manusia."
"Aaah......perkataanmu terlampau kosong dan hampa,"
Kata Cia Siau-yan sambil menggelengkan kepalanya, mundur selangkah, seperti juga kalian jago-jago kenamaan, mana bila dibandingkan dengan kami perempuan-perempuan lemah?"
Setelah berhenti sejenak katanya lebih jauh dengan sedih.
"Coba bayangkan saja seperti adikmu, seperti adik dari keluarga Coa, semenjak dilahirkan mereka sudah ditakdirkan bernama dan terhormat, baik ilmu silat maupun ilmu sastra bisa diperoleh dengan gampang, mereka merupakan gadisgadis yang menjadi impian setiap pria di dunia ini, sebaliknya kami bersaudara.,...aai untuk disebut sebagai keturunan perguruan kenamaan saja tidak pantas"
Hoa In-liong gelengkan kepalanya berulang kali.
"Enci Yan, perkataanmu keterlaluan, selama orang lain tidak membicarakan masalah itu, keluarga Hoa kami tak sampai bisa me miliki jalan pemikiran seperti itu."
"Aah........kami ini betul-betul seorang teIur busuk cilik, berapa banyak keluarga Hoa yang ada di dunia ini? Tahukah kau apakah orang lain suka berpikir demikian?"
Hoa In-liong segera tertawa.
"Di dalam sepuluh langkah pasti ada rumput baru....."
"Aku tidak ingin mendengarkan perkataan semacam itu"
Tukas Cia Siau yan dengan cepat.
"aku hanya ingin bertanya kepadamu, apakah kau bermaksud memungut bunga? Apakah kau tidak keberatan untuk memungut bunga dalam jamban yang telah ternoda?"
Hoa In-liong menjadi tertegun, ia ragu-ragu untuk sesaat, lalu katanya.
"Dunia bukan selebar daun kelor, pasti akan ditemukan orang yang bersedia memungut bunga........"
Cia yau yan tertawa dingin, ia putar badan dan tanpa mengucapkan sepatah katapun segera berlalu dari situ.
"Enci Yan, harap tunggu sebentar!"
Buru-buru Hoa In-liong berseru dengan cemas. Cia Sau-yan menjejakkan kakinya ditanah dan berlalu tanpa berpaling lagi, sambil berjalan pergi, katanya.
"Toa suci suruh aku memberi tahukan kepada mu bahwa dia adalah seorang banyi buangan, shenya mengikuti gurunya she Pui dan bernama In-ang."
Habis berkata ia lantas melangkah pergi dari situ.
Dengan termangu-mangu Hoa In-liong mengawasi bayangan punggungnya hingga lenyap dari pandangan, kemudian menghela napas panjang.
Sekalipun perkataan dari Cia Sau-yan diutarakan secara lamat lamat, tapi sebagai orang yang cerdik tentu saja ia memahami maksudnya, timbul perasaan sedih dihati kecilnya, sambil berjongkok tangannya diceburkan ke dalam kolam dan membuyarkan rontokan bunga anggrek di atas permukaan.
Lama lama sekali, ia baru menghela napas panjang, bangkit dan berlalu dari situ.
Beberapa hari lewat dengan cepatnya, pihak-pihak Hianbeng-kau, Kiu im kau, Mo kau serta kawanan jago yang berada di kota si-cin sama-sama tidak melakukan gerakan apa-apa, kedua belah pihak sama-sa ma seperti lagi menantikan sesuatu, sehingga meski kendor suasana diluar, padahal diam-diam amat tegang.
Terutama sekali kawanan jago dari Kiu-im-kau yang dipimpin oleh bwe Su-yok, sejak masuk kota dan menetap dirumah keluarga Cho di selatan kota, hampir selama delapansembilan hari tak pernah keluar rumah, pintu gerbang mereka selalu berada dalam keadaan tertutup.
Setiap kali bila Hoa In-liong ingin melakukan pengintaian terhadap gerak-gerik Kiu im kau, bila terbayang kembali bagaimana jadinya bila bertemu dengan Bwe Su-yok nanti, akhirnya rencana tersebut tentu dibatalkan di tengah jalan.
Diatara mereka, kelompok pemuda yang dipimpin Kongsun Peng paling tak betah, berulang kali mereka mengusulkan agar me langsungkan pertarungan terbuka melawan Mo-kau tapi sambil tersenyum Hoa In-liong selalu menghalangi niat tersebut.
Peristiwa ini merupakan peristiwa yang paling mengemparkan dalam dunia perilatan.
sejak suasana tenang dua puluh tahun belakangan, bukan saja semua kelompok manusia berkumpul di kota Si ciu, malah para jago aneh yang sudah lama mengasingkan diri dipegunungan terpencilpun berdatangan semua kesitu.
Yang paling tenang diantara mereka sudah tentu keluarga Hoa sendiri, jangankan kelompok mereka melakukan sesuatu gerakan, berita mengenahi Hoa Thian-hong pun tidak kedengaran.
oooooOocooo Diluar pintu selatan kota Si-ciu terdapat sebuah warung teh kecil.
Biasanya hanya para pedagang kecil, pekerja kasar dan kuli-kuli kasaran yang mampir di tempat itu, biasanya setelah pagi sekali bekerja di kota maka tengah hari mereka beristirahat disitu sekalian mengisi perut dengan beberapa biji bakpao.
Tengah hari itu, ada dua penunggang kuda sedang melakukan perjalanan menuju ke kota pintu selatan.
Karena paginya telah turun hujan deras, air menggenangi jalan berbatu itu sehingga becek, ketika kuda-kuda itu berlari lewat, air lumpur segera memancarkan ke-empat penjuru dan mengenai tubuh beberapa orang lelaki yang kebetulan sedang berdiri di depan pintu warung.
Salah seorang diantara mereka malah tersiram wajahnya hingga kotor, ketika orang itu mengetahui bahwa penumpang kuda tersebut berbadan kecil seperti seorang perempuan, kontan saja ia mencaci maki.
"Perempuan peliaran anjing lonte busuk..... Tajam benar pendengaran perempuan di atas kuda itu, muski sudah berada beberapa kaki jauhnya, ternyata makian itu masih sempat terdengar olehnya. Mendadak tali les kuda ditarik, diiringi ringkikan panjang, kuda itu segera mengangkat sepasang kakinya ke atas, sementara perempuan itu sendiri dengan enteng dan cekatan lompat turun dari kudanya. Sekilas pandangan, dapat diketahui bahwa orang itu berilmu tinggi Penunggang kuda di depannya yang menyaksikan kejadian itu segera memutar balik kudanya sambil menghampirinya, dengan suara keras ia bertanya.
"Ji moay, kenapa, kau?"
Dua orang gadis itu berbaju ungu. kedua-duanya menggambol pedang dan berpakaian ringkas. Usianya belum melewati angka dua puluh. Gadis berbaju hijau yang dipanggil "ji moay"
Itu segera berkata.
"Tunggu sebentar toaci!"
Lalu dengan wajah dingin membesi, ia menatap ke arah warung teh itu sambil menegur dengan ke-tus.
"Siapa yang barusan memaki? Hayo keluar!"
Tampaknya laki-laki yang memaki tadi masih belum merasa kalau gelagat tidak menguntungkan, dengan angkuh dia menjawab.
"Mau apa kalau toayamu..."
Belum habis ucapan tersebut......
"Plok!"
Sebuah tamparan keras telah bersarang di pipi kirinya, lima buah bekas jari tangan membekas jelas di atas wajahnya.
Kontan saja para lelaki lainnya tertawa tergelak setelah menyaksikan kejadian tersebut.
Laki-laki merasa ya malu ya marah, setelah celingukan sekejap kembali makinya.
"Lonte busuk, toaya akan beradu jiwa denganmu!"
Mendengar perkataan itu, si nona berbaju hijau semakin naik pitam, dengan kening berkerut dan wajah diliputi nafsu membunuh. .........
"Criing!"
Ia meloloskan pedangnya dari sarung kemudian diacungkan ke hadapan lelaki tersebut.
Ketika laki-laki itu menyaksikan cahaya putih berkelebat dihadapan matanya, ia menjadi ketakutan dan pecah nyali, hawa amarahnya seketika lenyap tak berbekas, dan ia mundur berulang kali ke belakang.
Suasana dalam warung teh menjadi gempar, jeritan kaget berkumandang dari sana-sini.
Gadis berbaju ringkas warna ungu itu masih duduk di atas pelananya tanpa berkutik, agaknya ia merasa kalau adiknya telah mem besarkan persoalan kecil, baru saja ia berseru dengan kening berkerut.
"Ji moay....."
Tiba-tiba dari arah tembok kota sana berkumandang nyaring bentakan seseorang.
"Sahabat dari manakah yang hendak pamer kekuatan di kota Si-ciu? Aku Kong-sun Peng ingin menjumpainya."
Seorang pemuda berbaju ringkas dengan menggembol pedang tiba-tiba melayang turun dari atas dinding kota dengan kecepatan luar biasa.
Sebenarnya gadis berbaju hijau itu meloloskan pedangnya hanya bermaksud untuk menakut nakuti orang, tidak terlintas sama sekali niat untuk menyusahkan orang itu, akan tetapi setelah ada orang yang mencampuri urusan tersebut, ia menjadi naik darah, pedangnya malah sungguh-sungguh dibacokkan ketubuh orang itu.
"Ampuni selembar jiwanya nona!"
Bentakan serak basah kembali menggelegar.
"Traaang...........!"
Bunyi benturan nyaring berkumandang memecahkan kesunyian, tahu-tahu pedang di tangan gadis berbaju hijau itu terpukul miring ke samping.
Laki-laki yang diancam itu menjerit kaget kemudian roboh tak sadarkan diri.
Gadis berbaju hijau itu berpaling, ternyata pedangnya telah disampok miring oleh sebiji batu kecil oleh seorang kakek berjenggot panjang dan bermata jeli kurang lebih empat kaki dihadapannya sana, kenyataan ini membuat hatinya sangat terperanjat, segera pikirnya.
"Orang bilang kota Si ciu pada saat ini penuh tersembunyi orang pintar, dulu aku tidak percaya tapi sekarang........yaa, belum saja masuk kota, aku telah berjumpa dengan jago setangguh ini."
Berpikir sampai disitu, ia mulai menyesal kenapa dirinya terlalu banyak urusan.
Kong-sun Peng sebenarnya sedang cemas karena tak sempat menghalangi bacokan si gadis berbaju hijau itu, ia baru lega setelah kakek itu turun ringan mengatasi persoalan tersebut.
sambil memberi hormat kepada kakek itu segera ujarnya.
"Terima kasih banyak atas bantuan Ho cian-pwe!"
"Kongsun hiante tak usah banyak adat, sudah sepantasnya kalau kucampuri urusan ini, cegah kakek tersebut. Kongsun Peng lantas berpaling ke arah gadis berbaju hijau itu lalu ujarnya dengan marah.
"Sungguh keji hatimu budak, orang itu toh tidak lebih cuma seorang rakyat kecil, kendatipun kurang sopan dalam pembicaraan tidak seharusnya kau turun tangan sekejam itu."
Gadis berbaju hijau itu tertawa dingin, ia menggerakkan bibirnya seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi sebelum ia sempat berbicara, kakek she Ho itu sudah berkata sambil tersenyum "Kongsun hiante, kau telah salah menuduh nona itu, jurus Giok li si hian (gadis cantik memintal sutera) yang digunakan nona itu meski tertuju kejalan darah To long hiat namun ia sudah menghentikan gerakannya setengah mili dari sasaran, timpukan batu dari lolap tadipun hakekatnya cuma suatu tindakan yang berlebihan."
Lalu kepada gadis berbaju hijau itu katanya.
"Jurus pedang yang nona pergunakan adalah jurus tangguh dari aliran Hoa san, entah apa hubungan nona dengan Kiong tayhiap dari partai Hoa san?"
Gadis berbaju hijau itu tidak menyangka kalau jurus serangannya berhasil diketahui orang sebelum tusukan itu sendiri mengenai sasaran, iapun sadar bahwa kakek itu tentu seorang jago lihay.
Ia tak berani berayal, setelah mamberi hormat katanya.
"Dia adalah kakek kami!"
Dalam pada itu, nona berbaju ungu yang berada di atas kuda telah melompat turun sambil memberi hormat, katanya.
"Boanpwe bernama Kiong Gwat-hui, boleh aku tahu siapa nama besar locianpwe?"
Kakek itu tertawa tergelak.
"Haahh....haahh....haaahh.....aku adalah Ho Kee-sian, pernahkah nona sekalian mendengar namaku?"
"Ooooh.,..rupanya Hoan-thian-jiu (telapak sakti pembalik langit) Ho locianpwe sudah lama boanpwe mendengar nama besarmu,"
Sahut kedua orang gadis itu berbareng.
Waktu itu Kiong Thian-yu dan Pek Siau-thian mempunyai hubungan yang erat, setelah Pek Siau-thian mendirikan sia-cipang hubungan itu putus untuk sementara waktu tapi sejak penggalian harta di Kiu-ci-san, hubungan itu kembali berlangsung malah akhirnya semakin akrab.
Sudah barang tentu mereka pernah mendengar nama besar dari Ho Keesian.
Kembali Ho Kee-sian tertawa terbahak-bahak, katanya.
"Nona adalah....."
"Boanpwee bernama Kiong Gwat-lan!"
Sahut gadis berbaju hijau itu cepat-cepat.
Setelah mengetahui Kalau kedua orang gadis itu adalah kawan sendiri, Kongsun Peng mulai merasa tidak tentram atas perbuatannya tadi, buru-buru ia menjura kepada Kiong Gwatlan sambil katanya.
"Nona Kiong, bila barusan aku telah berbuat gegabah dan ceroboh, harap kau sudi memaafkan."
Kiong Gwat-lan segera tertawa dingin.
"Apa hubunganmu dengan Kongsun Kia locianpwee dari kota Kay-hong?"
"Dia adalah ayahku,"
Jawab Kongsun Peng sambil tertawa paksa.
"aku...aku..."
"Bagus sekali,"
Tukas Kiong Gwat-lan.
"Sudah lama sekali mendengar akan kehebatan dari It ci-hui-kim (pedang mulia satu harum), sayang selama ini tidak tersedia kesempatan baik, nah saudara ongsun, silahkan cabut keluar pedangmu!"
Kongcu Peng menjadi tertegun setelah mendengar perkataan itu, untuk sesaat dia tak tahu apa yang meski dikatakan.
"Adikku, jangan ngaco belo!"
Seru Kiong Gwat hui tiba-tiba. Kiong Gwat-lan segera tertawa dingin.
"Cici, kau bisa berkata begitu soalnya kau tidak melihat tampangnya yang sok tadi. Bagaimana juga, hari ini aku pasti akan menjajal sampai dimanakah taraf kepandaian It ci huikiamnya sehingga begitu berani berlagak sok dihadapan orang.
"Aaah.....aku masa berani bersikap sok kata Kongsun Peng terbata bata.
"berhubung Hoa kongcu kuatir banyak orang persilatan mencari gara-gara di kota Si-ciu ini berhubung pelbagai macam manusia berkumpul semua disini, maka di minta kepada semua enghiong di pelbagai tempat untuk ikut memperhatikan suasana di sekitar kota ini serta melerai segala kepincangan yang bakal terjadi."
Hmm, kau tak usah banyak bicara lagi."
Kata Kiong Gwatlan ketus.
"aku adalah seorang penganiaya rakyat kecil, kenapa Kongsun harap tidak cepat cepat turun tangan untuk menghukum diriku?"
Kongsun Peng semakin tersipu-sipu dibuatnya ia tak tahu bagaimana menjawab.
Kiong Gwat bui yang menyaksikana adiknya mendesak orang lain terus menerus, padahal keadaan sesungguhnya tidak serius itu, ia bermaksud maju melerainya.
Tapi sebelum ia tampil kedepan, tiba-tiba muncul seorang lelaki kekar yang segera menjura seraya berkata.
"Nona Kiong, bersediakah engkau mendengarkan beberapa patah kata ku.....?"
"Siapa namamu?"
Tanya Kiong Gwat-lan sambil menatap lelaki itu tajam tajam.
"Aku adalah Song Yan dari Huan yangi."
Ooeh..,. rupanya Son tokeng, maaf kalau aku tidak dapat mengenali dirimu. Merah jengah selembar Wajah Song Yan ketika mendengar di balik ucapan tersebut bernada sindiran, katanya dengan gusar.
"Nona kiong, sekalipun aku Song yan berasal dari kaum perampok yang rendah kedudukannya, tapi aku percaya ucapanku masih bisa dipercaya, aku masih dapat memegang peraturan kaum Liek lim dengan ketat, jangankan merugikan kaum rakyat kecil, memeraspun tidak...."
"Aku toh tidak menuduh dirimu yang bukan-bukan, kenapa Song tangkeh musti merasa sampai disitu?"
Tukas Kiong Hwatlan lagi Song yan benar-benar menjadi naik darah saking mendongkolnya untuk sesaat dia hampir tak mampu berkatakata.
Sebenarnya dia hendak melerai karena melihat ucapan Kiong Gwat-lan tidak pakai aturan, siapa tahu belumm sampai kata-kata tersebut disampaikan, beberapa patah kata dari gadis she Kiong itu sudah cukup membuat hatinya mendongkol setengah mati, Akan tetapi bagaimanapun juga dia adalah seorang jagoan dari Liok Lim yang sudah berpengalaman luas, dengan sekuat tenaga ia berusana mengendalikan hawa amarah yang berkobar dalam hatinya, kemudian sambil menjura ia berseru.
"Kalau begitu maaf jika aku orang she-Song terlalu banyak urusan!"
Selesai berkata ia lantas putar badan dan berlalu dari situ.
Kiong Gwat-lan cuma tertawa dingin tanpa mengucapkan sepatah katapun Kiong Gwat hui merasa tidak berkenan dengan kejadian tersebut, dengan cepat ia melompat kehadapan Song Yan, kemudian setelah memberi hormat katanya.
"Song tangke, adikku masih muda dan tak tahu urusan seandainya ia telah menyinggung perasaanmu, bersama ini siauli minta maaf. Buru-buru Song-Yan balas memberi hormat.
"Kiong toa-kohnio tak usah sungkansungkan, memang akulah yang terlalu lancang mencampuri urusan orang lain...."
Diluar ia berkata demikian, sementara dalam hatinya berpikir lain.
"Heran, sama-sama dilahirkan oleh seorang ibu, kenapa wataknya bisa jauh berbeda bagaikan langit dan bumi? Kalau sang enci lembut dan tahu sopan, dan adiknya angkuh, binal dan susah diatur......"
Dipihak lain, Kongsun Peng juga sedang berkata.
"Nona, masa terhadap urusan sekecil ini pun kau mempersoalkan terus, tindakan nona sungguh membuat aku menjadi tidak habis mengerti......"
Sambil tertawa dingin Kiong Gwat-lan segera menukas.
"Aku adalah seorang nona yang berpikiran picik dan berdada sempit, mengerti?"
"Kalau nona telah berkata demikian, aku-pun tak bisa berbuat apa apa lagi, entah apa yang musti kulakukan sehingga dapat meredakan rasa marah nona?"
Tanya Kongsun Peng kemudian dengan kening berkerut. Kiong Gwat-lan menggetarkan pedangnya kedepan tibatiba ujarnya kepada Kongsun Peng.
"Sejak tadi aku toh sudah berkata kepada mu, aku hendak minta petunjuk ilmu pedang mu!"
Tindakannya ini sangat menantang, sebagai anak muda yang berdarah panas tentu saja Kongsun Peng tidak tahan, hawa amarahnya kontan meledak, pikirnya.
"Budak ini benarbenar tidak tahu aturan, kalau tidak kuberi sedikit pelajaran kepadanya, dia pasti akan mengira aku, orang she Kongsun jeri kepadanya........."
Berpikir sampai disitu, dengan wajah serius, ia lantas berkata.
"Aku hanya tahu bahwa diriku bukan tandingan nona....."
"Aaah.. tak usah banyak cerewet cabut pedangmu!"
Seru Kiong Gwat-lan tampaknya tidak sabar lagi.
Ia sudah dipaksa terus menerus akhirnya tentu saja Kongsun Peng tidak tabu, pedangnya segera diloloskan dari sarungnya, Ho Kee sian hanya bisa gelengkan kepalanya berulang kali melihat mereka beribut bahkan hendak beradu senjata Cuma disebabkan soal kecil, segera selanya.
"Nona Kiong, dapatkah memandang diriku..... Kong Gwat-lan tahu bahwa ucapan selanjutnya pastilah.
"Dapatkah memandang di atas wajah saya untuk mengakhiri persoalan ini...?"
Andaikata Ho Kee sian biarkan menjatuhkan kata-katanya sudah pasti untuk menghormati atas Ho Kee sian dengan kakeknya, mau tak mau harus mengakhiri rencananya.
Sebagai gadis yang cerdik dapat cepat ia menukas pembicaraan orang sebelum perkataan itu berakhir, katanya.
"Ho locianpwe, jika kauingin mempergunakan kedudukanmu sebagai cianpwe untuk mencegah keinginan boanpwe, terpaksa boanpwe akan menuruti perintahmu itu."
Ho Kee sian tertegun, akhirnya ia berkata.
"Ooooh... aku hanya ingin bertindak sebagai penengah saja!"
"Bagaimana cara cianpwe bertindak sebagai penengah?"
Ho Kee-jian berpikir sebentar, ialu katanya.
"Sesungguhnya persoalan ini hanya suatu persoalan kecil yang sama sekali tidak berarti, menurut pendapatku lebih baik kita singkap masalahnya secara terbuka saja."
Kiong Gwat-lan tertawa merdu.
"Aku rasa pendapat locianpwe pasti tak akan salah pada boanpwe, merasa bahwa apa yang telah kulakukan tadi memang tidak pantas, sebagai seorang jago lihay sudah seharusnya Kongsun sauhiap memberi pelajaran yang setimpal kepadaku."
Diam-diam Kongsun Peng mendengus setelah mendengar perkataan itu, pikirnya.
"Hmm.....rupanya kau juga tahu diri."
Terdengar Ho Kee-sian berkata.
"Nona sama sekali tidak salah."
"Bila Boanpwe tidak bersalah, itu berarti Kongsun sauhiap yang bersalah, meskipun boanpwe tahu bukan tandingan Kongsun sauhiap, tapi......."
Berkobar hawa amarah dalam dada Kongsun Peng, ia segera tertawa terbahak-bahak.
"Haah.....haahh......haaahh....-ona tak usah banyak berbicara lagi, anggap saja akulah yang bersalah, silahkan turun tangan!"
Sejak tadi Kiong Gwat-lan memang sedang menantikan perkataannya itu, sambil tertawa merdu ia berseru.
"Bagus sekali, sambutlah seranganku ini!"
Tidak menanti Ho Kee-sian berbicara lagi, pedangnya langsung disapu kedepan, cahaya tajam berkilauan dan segera menyelimuti jalan darah penting didada Kongsun Peng.
"Sebuah jurus Hong-pa-jian-ho (angin semilir menggugurkan teratai) yang sangat bagus!"
Bentak Kongsun Peng.
Badannya berputar kencang, dari posisi menyerang segera berubah menjadi posisi bertahan, pedangnya dikembangkan dan digetarkan berulang kali melancarkan bacokan-bacokan maut.
Kiong Gwat-lan tidak mau tunjukkan kelemahan, iapun membentak dengan suara nyaring.
"It thio it si (sekali mengencang sekali mengendor) yang indah, ilmu pedang It cihui-kiam memang bukan nama kosong belaka!"
Ia semakin tak berani berayal lagi, dengan cepat jurus jurus maut dalam ilmu pedang Giok li kiam hoat dikembangkan sedemikian rupa.
Kendatipun tenaga dalamnya masih jauh dari ke sempurnaan, namun sungguh hebat ancaman tersebut, titik cahaya tajam serasa menyelimuti seluruh angkasa, bayangan pedang berlapis-lapis, keadaannya sungguh mengejutkan orang.
Kongsun Peng tidak menyangka kalau pihak lawan akan menyerang dengan sepenuh tenaga, seketika itu juga ia terdesak hebat sehingga harus mundur berulang kali ke belakang, dalam waktu singkat ia terdesak, berada dibawah angin.
Begitu berhasil dengan serangannya, Kiong Gwat-lan semakin bersemangat lagi, ia tak sudi melepaskan musuhnya dengan begitu saja, sambil tertawa terkekeh ejeknya.
"Hmm, locianpwe, kau harus tahu bahwa bukan aku yang minta tapi Kongsun suahiap yang mengajak aku beradu tenaga. Ho Kee sian merasa kurang enak untuk mencegah pertarungan tersebut, mendengar perkataan itu ia lantas bepikir.
"Budak ingusan, kau benar-benar sangat binal, tapi lucu dan menjengkelkan, baiklah akan kuperhatikan dirimu dari sisi gelanggang daripada pertarungan harus diakhirkan dengan luka dikedua pihak"
Berpikir sampai disitu sambil tertawa katanya.
"Kau jangan keburu bersenang hati lebih dulu, jangan dianggap kepandaian orang berada di bawah mu."
Kiong Gwat-lan tertawa merdu katanya.
"Aku lihat Kongsun sauhiap sudah tidak berkekuatan untuk melancarkan serangan balasan lagi, aku rasa kau telah salah berbicara!"
Pintu selatan merupakan tempat penting dari perhubungan lalu lintas, manusia melimpah manusia dengan terjadinya peristiwa tersebut maka semakin melimpah manusia yang menonton keramaian disi tu, tentua saja sebagian besar adalah kawanan jago yang menggembol senjata.
Kawanan manusia tersebut tidak ada yang mempersoalkan apa sebab pertarungan itu sampai terjadi, mereka hanya ingin menonton keramaian, semakin besar keramaian tersebut semakin baik apalagi Kiong Gwat-lan adalah seorang gadis cantik, sorak sorai ber kumandang dari mana-mana.
Kiong Gwat-lan merasa semakin bangga, sambil tertawa cekikikan ejeknya lebih jauh.
"Kongsun suhiap, masih ada kepandaian simpanan apa lagi? Hayo cepat dikeluarkan."
Tiba-tiba Kongsun peng membentak keras pedangnya, langsung menusuk kedepan dengan kecepatan luar biasa, begitu serangan pedang Kiong Gwat-lan tertangkis, tiba-tiba sepasang kakinya menjejak tanah dan melompat beberapa kali jauhnya, begitu lolos dari kepungan Kioang Gwat-lan, ia berdiri dengan wajah hijau membesi, pedangnya pelan-pelan diungkitkan ke atas.
"Kongsun sauhiap... buru-buru Ho Hee sian berseru.
"Harap Ho locianpwe jangan mencegah diriku lagi, tukas Kongsun Peng dengan suara dalam, terpaksa .... dilain waktu boanpwe minta maaf kepada kongcu suami istri."
Jelas perkataan itu dimaksudkan bahwa dia akan melancarkan serangan dengan sepenuh tenaga, sebelum Kiong Gwat-lan berhasil dilukai maka dia tak akan berhenti sampai disana saja.
"Hmm..........pantaskah kau berbuat demikian?"
Kembali Kiong Gwat-lan mengejek dengan sinis.
"Pantas atau tidak, nona segera akan mengetahuinya, harap kau perhatikan baik-baik"
Sekalipun di atas wajahnya Kiong Gwat-lan bersikap seolaholah tak pandang sebelah matapun terhadap lawannya, padahal ia tahu bahwa Kongsun Peng telah diliputi hawa kegusaran, dan serangan yang dilancarkan pasti pula luar biasa sekali.
Jilid 5 MAKA ia menarik kembali senyumannya dan pusatkan segenap perhatiannya untuk bersiap sedia menghadapi segala Kemungkinan yang tidak diinginkan.
Ho Kee sian hanya bisa gelengkan kepalanya berulang kali, dia tahu Kongsun Peng sudah dibikin marah oleh perbuatan gadis tersebut, pertarungan sudah pasti tak akan terhenti sampai disitu saja, terpaksa diapun harus memperhatikan jalannya pertarungan dengan lebih berhati-hati, sebab jika Kiong Gwat-lan sampai terluka maka akibatnya pasti akan memusingkan semua pihak.
Kiong Gwat hui juga berpikir dengan kening berkerut.
"Adik bukan seorang yang tak pakai aturan, sekalipun ia suka bergurau bukan berarti ia mau mencari menangnya sendiri, tapi kenapa hari ini ia bersikap demikian?"
Tiba-tiba terdengar Kongsun Peng membentak keras.
"Berhati-hatilah!"
Pedangnya segera diputar dan langsung menyerbu kedepan dengan cepat.
Pertarungan itu tak bisa dibandingkan dengan pertarungan sebelumnya, barusan Kong sun Peng masih mengalah tiga bagian kepada musuhnya, tapi setelah berulang kali disindir dan dicemooh, ia tidak sungkan sungkan lagi, begitu tiga jurus yang pertama sudah lewat, pedangnya diputar sedemikian rupa melancarkan serangkaian serangan maut yang benarbenar hebat.
Sekalipun Kiong Gwat-lan telah berusaha menangkis dengan sepenuh tenaga akan tetapi jelas terlihat bahwa ia sudah dipaksa dalam posisi yang kalah.
Sementara itu kawanan jago lihay yang ikut menonton jalannya pertarungan antara kedua orang itu, diam-diam manggutkan kepalanya, mereka merasa dengan usia mereka yang masih begitu muda, dapat memiliki kepandaian selihay itu sudah bukan terhitung suatu yang gampang.
Ratusan gerakan kemudian, bagaimanapun juga tenaga dalam yang dimiliki Kongsun Peng jauh lebih tinggi dari musuhnya, secara beruntun Kiong Gwat-lan sudah dua kali terancam bahaya maut, cuma untungnya meskipun Kongsun peng sedang diliputi kemarahan yang meluap, tapi perangainya makin lama semakin kendor, ia pun tidak menggunakan kesempatan yang ada untuk melukai lawannya.
Sebagai jago yang lihay, tentu saja Ho Kee sian dapat mengetahui juga kejadian tersebut, hatinya menjadi lega karena ia tahu bahwa tragedi tak akan sampai terjadi.
Tiba-tiba dari antara kerumunan manusia muncul empat orang pemuda yang ganteng dan gagah perkasa, mereka adalah Tan Kiat san, li Po-seng, Oh Keng bun serta Oh Keng bu.
Dengan suara lantang Tan Kiat kan segera berteriak.
"Saudara Kongsun, Hoa kongcu berpesan kepada kita agar melerai semua pertikaian yang terjadi, mengapa kau malah bertarung sendiri melawan seorang gadis?"
"Apa daya, siau-te-pun terpaksa harus berbuat demikian!"
Sementara berbicara demikian, permainan pedangnya juga ikut mengendor, rupanya dia bermaksud mengakhiri pertikaian tersebut.
Siapa tahu justru Kiong Gwat-lan telah manfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya ......Sreet!
Sreet!
Sreet!
secara beruntun ia melancarkan tiga buah serangan berantai.
Tindakannya itu sangat tidak menyenangkan Kongsun Peng, otomatis permainan pedangnya ikut mengencang.
Mendadak terdengar gelak tertawa panjang bergema memecahkan kesunyian, sesosok bayangan manusia dengan kecepatan tinggi ber kelebat menerjang lewat diantara kedua orang itu.
Para penonton hanya merasakan pandangan matanya menjadi kabur, dan tahu-tahu Kiong Gwat-lan serta Kongsun Peng sudah berpisah dan masing masing mundur ke elakang sedangkan seorang pemuda tanpan berusia lima enam belas tahun telah berdiri diantara mereka.
Kemunculan pemuda tersebut sangat mengejutkan semua orang, siapapun tidak, kalau mengajak pemuda sekecil itu sudah memiliki ilmu ulet yang amat lihay.
Pemuda itu segera menjura ke arah mereka berdua, katanya.
"Ilmu silat yang kalian berdua miliki sama-sama lihaynya, keadaanpun sama kuat, menurut pendapatku daripada pertarungan dilanjutkan lebih baik diselesaikan secara damai saja sampai disini, mau bukan?"
Tentu saja Kongsun Peng ingin mengakhiri pertarungan sampai disitu saja..... Berbeda dengan Kiong Gwat-lan, sambil mencibirkan bibirnya ia berseru.
"Hey siapa yang suruh kau campuri urusanku? Kau masih belum berhak untuk mencampuri persoalanku tahu?"
Sebenarnya pemuda itu mencampuri kejadian tersebut lantaran tidak tega membiarkan Kiong Gwat-lan terdesak dibawah angin, siapa tahu Kiong Gwat-lan tak sudi menerima kebaikan hatinya, ini membuat dia menjadi tertegun dan tak tahu musti maju atau mundur.
Tiba-tiba dari tepi gelanggang muncul seorang sastrawan berusia pertengahan yang berjubah biru, sambil menggoyangkan kipasnya ia berkata dengan Santai.
"Lo te, kau tak usah banyak urusan lagi, kalau memang orang lain tidak suka kau mencampuri persoalannya lebih baik kembali saja kemari."
Pemuda itu tertawa jengah, ia lantas putar badan dan berjalan kembali keluar kerumunan orang.
Pemuda tersebut rupanya baru pertama kali terjun ke dalam dunia persilatan, sehingga tindak tanduknya agak gegabah dan sama sekali tidak memakai perhitungan.
"Berhenti!"
Tiba-tiba Kiong Gwat-lan membentak. Pemuda itu agak tertegun, lalu sambil memutar badannya ia bertanya.
"Apakah dia adalah sahabatmu?"
Tanya Kiong Gwat-lan dengan wajah sedingin es sambil menuding sastrawan berusia setengah umur yang berdiri diluar arena.
"Betul!"
Pemuda itu manggut-manggut. Kontan saja Kiong Gwat-lan tertawa dingin.
"Heeehhh.....heeehh....heeehh...... sahabatnya Si-lu-kimnong (kumbang emas bermain di putik) Ou See tiong sudah pasti bukan manusia baik-baik...... hei, rupanya kau juga merupakan komplotnya."
Paras muka si anak muda itu berubah menjadi hijau membesi, rupanya ia masih belum paham apa yang dimaksukan.
Berbeda dengan sastrawan berusia setengah umur itu, paras mukanya agak berubah, lalu sambil berusaha menenangkan hatinya, ia menggoyangkan kipasnya dan berkata sambil tertawa.
"Nona, jangan sembarangan memfitnah orang baik-baik, aku bukan manusia yang kau maksudkan, aku she yang dan bukan Ou See-tiong seperti apa yang kau katakan tadi!"
Berbicara sampai disitu, biji matanya lantas berputar kian kemari, agaknya ia sedang mengatur rencana untuk melarikan diri.
Tan Kiat kan, Li Po seng serta dua bersaudara On saling berpandangan sekejap, lalu mereka melompat ke depan dan secara ti ba-tiba mengurung sastrawan berusia setengah umur.
Suasana menjadi gempar, semua orang sama-sama menyingkir ke samping untuk memberi tempat.
Dengan berlangsungnya peristiwa tersebut, maka perhatian semua orang lantas di alihkan ke wajah sastrawan setengah umur berbaju biru itu.
Secara otomatis pertarungan antara Kiong Gwat-lan melawan Kong sun ikut pula terhenti.
Perlu diterangkan disini, bahwa Siau-lui-kim-hong (kumbang emas bermain di putik) Ou See-tiong adalah seorang penjahat cabul yang ulung dan dikutuk semua orang.
Orang ini bukan cuma jay-hoa (pemetik bunga artinya pemerkosa) saja, seringkali setelah korbannya digagahi dan dibunuh barangnya ikut dirampok habis-habisan, sedikitpun tidak memperdulikan peraturan yang berlaku dalam dunia persilatan.
Orang ini bukan cuma dibenci oleh setiap orang, bahkan orang-orang dari kalangan Liok-lim sendiripun mengincar jiwanya.
Akan tetapi ilmu silat yang dimiliki Orang ini cukup lihay, ilmu meringankan tubuhnya tinggi, selama melakukan perbuatan terkutuknya ia selalu mengerjakan dengan rapi, dan jejak yang amat rahasia, ditambah lagi orangnya pandai menyaru, hal ini membuat jarang sekali ada orang yang mengenali dirinya.
Itulah sebabnya dengan begitu berani dia telah munculkan diri di kota Si ciu.
Sayang akhirnya toh kedok tersebut berhasil dibongkar oleh Kiong Gwat-lan.
Ho Kee-sian sudah lama mengasingkan diri, ia kurang begitu tahu tentang manusia tersebut tapi ditinjau dari julukannya bisa diduga manusia macam apakah orang itu.
Song Yan segera melompat kemuka, lalu bentaknya.
"Sobat, lebih baik terangkan asal-usulmu kalau tidak jika sampai mati penasaran jangan menyalahkan kami semua!"
"Song tangkeh buat apa membentak-bentak aku dengan nada kasar dan keras seperti itu? Siapa tahu kalau nnona Kiong lagi-lagi sedang mengajak kalian untuk bergurau Song Yan agak tertegun, dia lantas mengalihkan perhatiannya ke wajah Kiong Gwat hui, jelas meski tiada rasa marah atau tersinggung atas diri Kiong Gwat-lan, tak urung dia merasa ragu juga atas ulah si nona yang gemar mengacau itu. Oleh sebab itu sorot matanya lantas dialihkan ke wajah Kiong Gwat hui, sebab ia merasa bahwa nona ini jauh lebih dapat dipercaya, Kiong Gwat hui termenung sebentar, kemudian katanya.
"Aku sendiripun kurang begitu jelas!"
Setelah berhenti sejenak, dengan nada minta maaf ia melanjutkan.
"Adikku seringkah keluar rumah, banyak diantara persoalannya yang tidak kuketahui, agaknya aku akan membuat kecewanya Song tangkeh"
"Aaah.......! Nona terlalu sungkan,"
Kata Song Yan sambil tertawa. Diam-diam ia berpikir dihati.
"Agaknya Kiong Gwat-lan lagilagi sedang mengumbar ulahnya yang tidak karuan!"
Tiba-tiba kedengaran pemuda tadi berkata pula.
"Sudah lima hari aku melakukan perjalanan bersamanya, belum pernah selama ini kusaksikan ia melakukan perbuatan yang tidak genah, mungkin nona itu sudah salah menuduh orang."
Mendengar perkataan itu, para jago yang hadir di sekitar situ makin mengira kalau Kiong Gwat-lan lagi-lagi sedang bergurau.
Lega juga hati Ou See-tiong setelah menyaksikan keadaan tersebut, pikirnya cepat cepat.
"Sekarang kalau tidak kabur, mau menunggu sampai kapan lagi?"
Maka sambil tertawa terbahak-bahak ia menutup kembali kipasnya dan memberi hormat, katanya.
"Meskipun nona Kiong hanya salah menuduh, siaute merasa tak punya muka lagi untuk berdiam lebih lama disini."
Selesai berkata ia lantas putar badan siap menanggalkan tempat itu. Tiba-tiba bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu dengan pedang terhunus Kiong Gwat-lan telah menghadang jalan perginya.
"Hei, mau kabur dari sini?"
Ejeknya.
"Sialan betul budak busuk ini,"
Pikir Ou See tiong.
"baik, ingat saja kau! "Sekarang kau boleh mempermainkan aku tapi suatu saat Ou-ya mu pasti akan menikmati pula kehangatan tubuhmu........."
Dengan sikap sesopan mungkin ia lantas berkata.
"Nona, tidak cukupkah gurauanmu itu?"
Sekalipun Kiong Gwat-lan pernah bertemu dengan Ou See tiong, tapi karena soal ini, orang tersebut telah bersalin rupa, sulit baginya untuk membongkar kedok orang secara terang terangan, meski begitu, dia yakin kalau penglihatannya tidak keliru.
Pikirnya kemudian.
"Jika aku mengaku terus terang atas alasan tuduhanku, orang lain pasti tidak akan percaya."
Setelah berpikir sebentar, ia lantas berseru dengan ketus.
"Beranikah kau membiarkan orang menggeledah sakumu? Aku tahu dalam sakumu saat ini pasti membawa alat-alat pemabuk yang biasanya kau bawa dalam melakukan setiap operasimu."
Ou See tiong memang benar menggembol alat peraganya dalam saku, sudah barang tentu ia tak berani membiarkan orang lain menggeledah sakunya, dalam kejut dan paniknya ia pura-pura jadi marah.
"Aku orang she Kang adalah seorang lelaki setia, aku tidak akan menerima penghinaanmu ini dengan begini saja "
Demikian teriakannya. Semua orang merasa sependapat dengan alasan tersebut, suara bisik-bisik dan pembicaraan pun berkumandang memenuhi udara. Kiong Gwat-lan menjadi Kehabisan daya pikirnya.
"Jika aku turun tangan secara paksa, jelas tak ada orang yang akan membantuku, jika sergapanku meleset sehingga membiarkan ia kabur dari sini.....Wah! Bahaya......."
Makin berpikir ia merasa hatinya makin bingung. Mendadak kedengaran seseorang berseru dengan suara yang lembut dan bernada kekanak-kanakkan.
"Aku bisa membuktikan kalau dia adalah Ou See tiong."
Bersama dengan berkumandangnya ucapan itu, tampak seorang bocah cilik yang berbaju bersih tapi bertangan kotor berlepotan lumpur menerobos keluar dari kerumunan orang banyak.
Tercekat perasaan Ou See tiong, tapi begitu mengetahui kalau orang itu adalah seorang bocah cilik, lega juga hatinya.
"Haahh...... haahh........ haah..... bocah cilik, siapa yang memerintahkan kau mengaco-belo tidak karuan disini?"
Tegurnya sambil tertawa terbahak-bahak. Satu ingatan segera melintas dalam benak Kiong Gwat-lan, sambil menggapai bocah itu katanya.
"Saudara cilik, kemarilah! Darimana kau tahu kalau dia she Ou?"
Sambil tertawa cekikikan bocah itu menghampiri Kiong Gwat-lan lalu sambil menepuk dada sendiri ia berkata.
"Sebab Si lui kim hong tersebut berada dalam sakuku, mana mungkin aku tidak tahu? "
Mendengar perkataan itu tergelaklah semua orang karena geli, mereka semua mengira bocah itu lagi ngaco-belo pula. Kiong Gwat-lan sendiripun merasa agak kecewa, pikirnya.
"Waah......gelagat tidak menguntungkan bagiku, agaknya hari ini si bajingan terkutuk itu kembali berhasil kabur dari cengkeramanku."
Tampak bocoh cilik itu mengeluarkan secarik handuk kecil berwarna putih dari sakunya, lalu direntangkan lebar-lebar.
Sebagaian besar jago yang hadir di sekitar arena waktu itu adalah jago-jago berkepandaian tinggi, ketajaman mata mereka rata-rata cukup mengagumkan, begitu sapu tangan tadi dibentangkan maka tampaklah pada sudut kanannya tersulam sekuntum bunga botan, dimana pada putiknya terbang seekor kumbang emas.
Sulaman itu sangat indah dan hidup, bukan saja diberi warna yang indah bahkan amat menyolok, pada sisi sulaman tadi terukirlah tiga huruf kecil yang mencantumkan kata-kata.
"Ou See-tiong."
Itulah lambang dari Ou See-tiong dalam melakukan operasinya, dan julukannya Si-lui kim-hong (kumbang emas bermain di putik) justru diperoleh dari lambangnya itu.
Sambil menuding ke arah Ou Soe-tiong, bocah itu berkata lagi.
"Aku melihat sapu tangan itu jatuh dari sakunya, tulisan di atas sapu tangan tidak aku Siau-gou-ji pahami, tapi mendengar julukannya sebagai Si lui kim hong lalu dihubungkan dengan kuntum bunga serta kumbangnya, aku rasa ada hubungan juga dengan segala yang berbau roman........... Karena perkataan bernada kocak, kembali memancing gelak tertawa geli dari orang banyak. Paras maka Ou See-tiong berubah hebat tapi ia masih berusaha keras untuk mengendalikan perasaan tenangnya, katanya kemudian.
"Hmm...! Rupanya ada orang sedang memfitnah diriku, cara yang dipergunakan ini sungguh licik, rendah dan tak tahu malu. ... Hmm.....mana ada orang yang akan mempercayainya. Dalam kaget dan gugupnya Ou See tiong mencoba untuk berkelit kesamping, sayang keadaan sudah terlambat.
"Breet ...!"
Tahu-tahu sakunya sudah tersambar hingga robek amat besar, benda-benda berupa emas perak serta lainnya segera jatuh dan berhamburan dimana-mana.
Diantara sekian banyak barang yang berserakan ditanah, tampak sebuah benda tersebut dari perak yang berbentuk burung bangau sedang mementangkan sayapnya.
Itulah alat khusus yang biasanya dipergunakan untuk menghembuskan obat pemabuk bila hendak melakukan suatu operasi.
Kontan saja semua orang menjadi gempar.
Rupanya dengan suatu gerakan Giok Ii to sob (gadis suci memasukkan jarum) Kiong Gwat-lan melepaskan sebuah babatan pedang ke siku lawan, begitu serangannya berhasil dan, kedok Ou See tiong terbongkar, dengan perasaan lega dan senang ia lantas tertawa mengejek.
"Hei orang she Ou, demi menyelamatkan diri, she dari nenek moyangmu pun sampai kau tinggalkan, nah apa lagi yang bisa kau katakan sekarang?"
Setelah barang bukti tertera di depan mata, Ou See tiong tak bisa membantah lagi, pucat pias wajahnya, peluh dingin membasahi sekujur badannya sambil memegang kipasnya erat-erat dia mulai celingukan kesana-kemari berusaha mencari jalan keluar, sayang jalan untuk kabur telah tersumbat semua.
Kini semua orang sudah tidak ragu lagi, serentak mereka membentak keras dan maju kembali untuk melakukan pengepungan.
Rupanya Ou See tiong sadar bahwa ia tak akan sanggup melarikan diri dari kepungan, dalam ke-adaan demikian sebagai seorang penjahat ulung yang sudah kerap kali melakukan kejahatan bukan rasa menyesal yang timbul dalam putus asanya niat jahat malah timbul dalam hatinya.
"Maknya......."
Demikian ia berpikir.
"sekalipun aku bakat mampus, paling tidak modalku muski kuraih kembali, yang paling menjengkelkan terutama perempuan anjing she Kiong serta anak jadah kecil itu. Hmma..... Aku harus menyeret, mereka untuk berangkat bersama menghadap raja akhirat."
Berpikir sampai disitu, tanpa mengucapkan sepatah-kata, tiba-tiba kipasnya disodokkan ke arah Kiong Gwat-lan dan Siau Gou ji.
Segenggam jarum-jarum lembut yang beracun bagaikan hujan gerimis segera menyambar ke muka membawa kilatan cahaya biru ketika bertimpa sinar mentari, dalam dekejap mata jerit kesakitan berkumandang dari sana-sini, ada tujuh delapan orang segera roboh sebagai korban.
Rupanya di balik senjata kipasnya itu telah disiapkan lima sampai enam puluh batang jarum jarum beracun yang lembutnya seperti bulu kerbau, bila jarum jarum itu dibidikkan dengan mengenakan semacam alat pegait maka wilayah seputar dua kaki persegi akan tercakup dibawah ancaman senjata rahasia itu.
Bukan cuma ganas dan mematikan, bahkan boleh dikata sama sekali diluar dugaan orang.
Akan tetapi, baik Kiong Gwat-lan maupun Si Gou-ji yang merupakan sasaran incarannya sama sekali tidak roboh terluka seperti apa yang diduganya semula.
Kiong Gwat-lan memang seorang gadis yang cerdik dengan otak yang encer, jauh sebelum serangan tu dilancarkan ia telah menduga kalau musuhnya bakal melancarkan serangan yang mematikan kepadanya.
Oleh sebab itu begitu dilihatnya kipas tersebut disodokan ke arahnya, serta merta disambarnya tubuh Siau Gou ji dan diajak kabur sejauh beberapa kaki dari tempat semula.
Tapi dengan begitu, kasihan orang-orang yang berdiri dibelakang mereka, dalam suasana saling desak mendesak begini Sulit bagi orang-orang itu untuk menghindarkan diri, banyak diantara mereka yang terluka oleh serangan tersebut.
Bentakan bentakan nyaring menggelegar memecahkan kesunyian, Song Yang, Oh Keng bun, Oh Keng bu, Kongsun Peng serta Li Peng seng sekalian berlima serentak menubruk maju sambil melancarkan serangan.
Dengan geramnya, Song Yan melepaskan sebuah pukulan berat ke punggung Ou See tiong, sementara Kongsun Peng melancarkan sebuah tusukan kilat ke dada penjahat pemetik bunga ini.
Perasaan takut, ngeri dan gugup segera menyelimuti wajah Ou See tiong, ia merasa sukmanya bagaikan sudah melayang tinggalkan raganya, sudah barang tentu ancaman-ancaman itu tak sanggup ditangkis olehnya, kelihatannya ia bakal mampus di ujung pedang lawan............
Sesosok bayangan manusia tiba-tiba berkelebat masuk ke dalam gelanggang, dengan jurus Kim si cian wan (serat emas membelenggu tangan) telapak tangan kanannya digunakan untuk mencengkeram pergelangan tangan kanan Kongsun Peng, sementara telapak tangan kirinya dilontarkan kemuka menyambut serangan yang dilepaskan Song Yan.
Song Yan merasakan telapak tangan kanan-nya bergetar keras, tanpa disadari tubuhnya sudah mundur selangkah.
Kongsun Peng mengernyitkan alis matanya merasa datangnya ancaman, gerakan pedang itu lantas dirubah dengan jurus It sia cian Ji (sekali meleset seribu li) dibabatnya lengan kanan penyerang itu.
Orang itu tertawa angkuh, sepasang telapak tangan-nya di bacok ke muka secara beruntun, dengan pukulan demi pukulannya yang aneh tapi tangguh, seketika itu juga Kongsun Peng terdesak mundur ke belakang.
Siapa pun tidak menduga kalau ada orang akan menolong Ou See tiong, sebab penjahat pemetik bunga macam Ou See tiong adalah bajingan terkutuk yang dibenci oleh orang-orang golongan putih maupun orang-orang golongan hitam.
Setelah pertarungan berakhir, semua orang baru sempat mengamati raut wajah orang itu dia adalah seorang pemuda berbaju hijau yang mempunyai wajah tampan tapi diantara kerutan dahinya terpancar sinar sesat yang amat tebal.
Song Yan agak tertegun sejenak kemudian dengan gusar tegurnya.
"Siapa kau? Tidakkah kau ketahui bahwa orang she Ou itu adalah seorang penjabat cabul yang dosanya dikutuk oleh semua orang?"
Pemuda berbaju hijau itu berdiri membelakangi Song Yan tanpa berpaling, sambutnya.
"Kongcu mu bernama Ciu Hoa dae berurutan nomor delapan!"
Sesudah berhenti sejenak, dengan angkuh ia melanjutkan.
"Soal turut campur? Hmm.....aku merasa tidak leluasa menyaksikan kalian manusia-manusia yang menganggap dirinya sebagai kaum ksatria melakukan pengeroyokan dengan mengandalkan jumlah banyak"
"Hmm! Rupanya bajingan dari Hian-beng-kau, tak heran kalau tingkah lakunya sangat memuakkan!"
Teriak Kongsun Peng marah.
Sementara itu, Ou See-tiong yang nyaris terbunuh sekarang bisa berdiri sambil menghembuskan napas lega, manusia semacam ini selalu pandai mengikuti arah hembusan angin sambil memutar biji matanya dia lantas berpikir.
"Waah, rupanya asal kudapat menggaet orang she Ciu itu agar berpihak kepadaku, niscaya jiwaku bisa selamat pada hari ini."
Berpikir sampai kesitu, dia lantas memberi hormat kepada Ciu Hoa Lo-pat seraya ujarnya.
"Betapa terima kasihku atas budi pertolongan yang telah Ciu kongcu berikan kepadaku, selama hidup...,....... Ciu Hoa lo-pat melirik sekejap ke arahnya dengan dingin, kemudian tukasnya.
"Kau tak perlu berterima kasih kepadaku, akupun bukan bermaksud menolong jiwamu."
Ou See-tiong tertegun, kemudian sahutnya.
"Yaa, nyawa siaujin memang nyawa semut sudah barang tentu sama sekali tak ada harganya, sebaliknya kepandaian silat Ciu kong cu sangat lihay dan tiada tandingannya dikolong langit."
"Cukup, cukup, sungguh menjijikkan!"
Tukas Kiong Gwatlan dengan sinis dan muak setelah mendengar kata-kata umpakan tersebut.
"huuuh! Betul-betul seekor anjing yang pandai menjilat pantat, nama keluarga Ou-pun kena kau cemarkan!"
Setebal-tebalnya wajah Ou See-tiong, merah padam juga saat itu karena malu, tapi ia berpura-pura tidak mendengar.
Berbeda dengan Ciu Hoa lo-pat, dengan kurang sabar dia ulapkan tangannya berulang kali.
"Pergi, pergi! Pergi diri sini, kongcumu masih harus menjumpai manusia manusia tersebut"
Ou See tiong mengiakan dengan hormat buru-buru ia mundur tiga langkah dari gelanggang. Sementara itu, Ho Kee sian telah tampil pula kedepan, tegurnya dengan suara menggeledek.
"Ciu kongcu, apakah Hian-beng-kau berniat melindungi nyawa seorang penjahat cabul?"
Barang siapa berani melindungi bajingan cabul macam Ou See-tiong, namanya pasti akan ikut tercemar dan dikutuk setiap orang.
Tentu saja menghadapi resiko yang begitu besar, sekalipun Ciu-Hoa Lo pat angkuh dan jumawa, mau tak mau dia musti berpikir dulu tiga kali sebelum menjawab.
Sesudah sangsi sejenak, akhirnya secara diplomatis ia menjawab.
"Kongcu mu turun tangan lantaran merasa tak leluasa menyaksikan kalian mengandalkan jumlah yang banyak mengerubuti seorang manusia soal lain aku tak mau turut campur"
"Tepat sekali ucapan Pat te!"
Mendadak seseorang menyambung dari luar arena dengan suara yang dingin menyeramkan.
"barang siapa merasa tidak puas, silahknn mencari persoalan dengan kita bersaudara."
Tampaklah serombongan pemuda dengan dandanan yang mirip Ciu Hoa lo pat serta seorang kakek berwajah merah melangkah masuk ke dalam arena.
Tidak diragukan lagi, rombongan pemuda itu tak lain adalah Ciu Hoa sekalian, sedangkan kakek itu adalah Thamcu dari ruang Tee-ham, Tang Bong liang.
ooooooOooooo Bab 43 Tak terpikirkan rasa girang Ciu Hoa lo pat sesudah mendengar perkataan itu, senyumnya.
"Kebetulan sekali kedatangan para suheng, kita bersaudara sudah sepantasnya memberi sedikit pelajaran kepada manusia-manusia itu agar mereka tahu sampai dimanakah lihaynya ilmu silat Kiu ci kiong kita."
"Huuuh...... menyombongkan diri dengan kata-kata yang kosong, sungguh menggelikan ejek Kiong Gwat-lan. Mendadak seseorang berseru pula dengan suaranya yang merdu bagaikan burung nuri sedang berkicau, Ciu Hoa, menurut pendapatku, lebih baik tak usahlah kalian mencampuri persoalan ini."
Mendengar perkataan tersebut, tanpa terasa semua orang lantas berpaling ke arah mana berasal suara tadi.
Di atas dahan sebuah pohon waru berdiri seorang gadis cantik yang berwajah sedingin es, ia membawa sebuah tongkat berwarna hitam yang pada ujung toyanya berukirkan sembilan buah kepala setan.
Gadis itu mengenakan baju berwarna putih salju, berdiri dibawah hembusan sepoi-sepoi membuat ia tampak seperti bidadari yang turun dari kahyangan.
Dibelakang gadis itu berdiri pula dua orang kakek berbaju hitam yang berwajah menyeramkan.
Mendadak sontak suasana di sekitar gelanggang menjadi sepi, semua orang dibikin kaget oleh kecantikan wajahnya.
Tapi setelah menyaksikan toya berkepala sembilan setan itu, mereka semua pun lantas mengerti siapa gerangan yang telah datang, karena dia tak laim adalah Bwe Su-Yok, kaucu baru dari perkumpulan Kui im kau.
Ho Kee sian cukup mengetahui bobot toya berkepala sembilan setan itu, apalagi setelah menyaksikan cara berdirinya di atas dahan pohon itu, ia semakin menyadari sampai dimanakah taraf tenaga dalam yang dimiliki gadis itu, segera pikirnya.
"Tak heran kalau Liong sauya selalu memperingatkan agar jangan memandang enteng perempuan ini, ehmmm! Dia memang berwajah amat cantik......"
Dihari hari biasa Kiong Gwat-lan selalu membanggakan kecantikan wajah sendiri, akan tetapi sekarang mau tak mau ia merasa rendah diri juga, entah mengapa tiba-tiba timbul rasa dengki dalam hatinya.
Berbeda dengan Kiong Gwat hui, ia hanya merasa sayang kenapa gadis secantik itu menjadi kaucu dari Kau im kau.
Dalam pada itu Bwe Su yok telah memandang sekejap sekeliling area, tiba-tiba tegurnya dengan suara dingin.
"Entah bagaimanakah pendapat hian te sekalian?"
Seperti baru sadar dari lamunan, Ciu Hoa lo pat segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh........hhaahh......haaahhh........aku tidak mengerti akan maksud kata kaucu!"
Berkibat tajam sepasang mata Bwe Su yok, di tatapnya orang itu dengan pandangan dingin, namun ia tidak berkata apa apa. Kembali Ciau Hoa lo pat berkata.
"Bukankah Kiu im kau telah bersekutu dengan perkumpulan kami? Kini Bwe kaucu bukannya datang membantu, sebaliknya malah menentang usaha kami, entah apa maksudmu yang sebenarnya?"
Dihadapan umum bukan saja ia bicara tanpa tedeng alingaling bahkan menyinggung pula soal persekutuan, kendatipun semua orang sudah mengetahui hal ini dari Hoa In-liong, tak urung toh kembali merasa terkejut.
Bwe Su yok hanya mendengus dan tidak menjawab, sorot matanya lantas dialihkan ke wajah Tong Bong liang, katanya.
"Tang thamcu, anak murid Sinkun masih muda dan tak tahu urusan, kau sebagai seorang thamcu kenapa hanya berpeluk tangan belaka?"
Jangan melihat usianya masih muda, namun setiap perkataan yang diucapkan sangat berwibawa dan bernada teguran seorang kaucu terhadap anak buahnya.
Dalam keadaan demikian, walaupun Ciu Hoa sekalian merasa tidak puas, mereka toh tak berani juga membantah.
Buru-buru Tang Bong-liong memberi hormat, katanya.
"Apa yang diucapkan kaucu memang benar, apa mau dikata, persoalan telah terjadi, aku rasa tak mungkin bisa diselesaikan dengan begitu saja......"
Suasana menjadi hening, semua orang ingin tahu dengan cara apakah Bwee Su yok akan menyelesaikan masalah itu, sebab sebagai seorang kaucu dari suatu perkumpulan besar, apa yang diucapkan Bwe Su yok tentu akan di laksanakan.
Sebaliknya Tang Bong liang sekalian, jelas mempunyai maksud memandang enteng gadis itu sean-dainya kejadian ini sampai menggusarkan Bwe Su yok, sudah pasti persekutuan antara Kiu im kau dan Hian-beng-kau akan berantakan di tengah jalan, padahal memang itulah yang mereka harapkan selama ini.
Sekilas hawa nafsu membunuh sempat memancar keluar dari balik mata Bwe Su yok yang jeli, katanya dengan hambar.
"Kalau toh kalian berani berpendapat demikian Hmm! Akupun tak akan ribut dengan kalian, urusan ini akan kubiarkan sendiri dengan Siakun kalian."
Berbicara sampai disitu, sepasang matanya yang jeli dan tajam itu tiba-tiba dialihkan kewajah Ou See tiong.
Si lui kim hong (kumbang emas bermain di putik) Ou See tiong merasakan sepasang matanya itu tajam melebihi anak panah yang menembusi ulu hatinya, ia tercekat dan buru-buru menundukkan kepalanya.
"Tampaknya terpaksa aku musti turun tangan sendiri untuk mencabut nyawamu!"
Katanya. Ou See tiong menjadi ketakutan, teriaknya "Kaucu..."
Dua orang kakek berbaju hitam yang berdiri dibelakang Bwe Su-yok itu tak lain adalah Lei Kiu it serta Ke Thian tok. Saat itu Lei Kiu it tiba-tiba berkata.
"Untuk membereskan manusia bangsa celurut kenapa musti kaucu turun tangan sendiri, biar hamba yang melaksanakan tugas ini. Bwe Su yok manggut-manggut, baru saja dia akan menitahkan anak buahnya untuk turun tangan.
"Hoa kongcu telah datang!"
Tiba-tiba dari kejauhan sana berkumandang teriakan keras.
Bwe Su yok merasa jantungnya berdenyut lebih cepat, tanpa terasa dia alihkan pandangan matanya mengikuti para jago lainnya berpaling ke arah pintu kota.
Sesosok bayangan manusia sedang bergerak menuju ketempat itu, gerakan tubuhnya amat cepat, baru saja ia berada dimulut kota, tahu-tahu dalam waktu singkat sudah berada di depan mata.
Sungguh mengagumkan sekali ilmu meringankan tubuh yang dimiliki pemuda itu, mungkin saking cepatnya dia bergerak, sampai ada sebagaian manusia yang cetek tenaga dalamnya tak sempat melihat jelas raut wajahnya..........
Mereka hanya merasakan bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu seorang pemuda tampan yang membawa kipas emas telah melayang turun dihadapan mereka.
Sebelum berjumpa dengan Hoa In-liong tadi, Bwe Su yok telah mengambil keputusan untuk memandangnya sebagai musuh besar, setelah saling berjumpa, kembali ia merasakan pikirannya amat kalut.
Begitu munculkan diri, dengan nada gembira Kiong Cian lan segera menyapa.
"Hoa jiko!"
Hoa In-liong berpaling kearannya sambil tertawa.
"Kiong ji-moay, rupanya kau sudah datang, oya, Kiong toamoay juga datang, harap kalian tunggu sebentar, akan kuselesaikau dulu masalah disini."
Tiba-tiba Bwe Su yok merasa hatinya sakit, hawa murninya buyar dan nyaris ia terjatuh dari atas dahan, buru-buru hawa murninya dihimpun kembali dan sekuat tenaga berusaha mempertahankan ke-seimbangan tubuhnya.
"Kenapa? Kenapa ia tidak memperdulikan aku?"
Demikian pikirnya.
Lei Kiu it maupun Ke Thian tot kedua-duanya berdiri dibelakang kaucunya, tentu saja mereka pun dapat menyaksikan perubahan yang sedang dialami gadis itu, meski demikian mereka hanya bisa saling berpandangan sekejap tanpa bisa berbuat apa apa.
Padahal begitu masuk ke dalam arena tadi, pertama-tama Hoa In-liong sudah melirik ke arahnya, kendatipun matanya tidak tertuju kepada Bwe Su yok, sekarang perhatiannya masih tertuju ke arahnya, maka waktu hawa murnii Bwe Su yok membuyar dan nyaris terjatuh dari atas dahan, iapun dapat mengetahui dengan jelasnya.
"Aaaai... .kau jangan menyalahkan aku,"
Pikirnya dihati.
"setelah kau menerima jabatan Ku im kaucu, kedudukan kita ibaratnya musuh yang saling berhadapan tak urung kau musti teringat juga akan budi kebaikan gurumu bila bertemu entah bagaimana jadinya....... Berpikir sampai disitu, dia lantas tertawa nyaring serta berkata.
"Para enghiong yang terhormat, apa yang telah terjadi disini? Perlukah bantuan dari aku orang she Hoa?"
"Soal lain tak perlu dibicarakan yang penting Si kui-kian hong Ou See liong musti dibunuh lebih dulu!"
Sambil berkata gadis itu lantas menuding ke arah penjahat cabul itu. Song Yan ikut berseru pula dengan lantang.
"Yaa, harap Hoa kongcu menegakkan keahlian dan kebenaran untuk kita semua. Pihak Hian-beng-kau telah berusaha melindungi nyawa sampah tua penyakit itu!"
Sebetulnya Li Po seng hendak menuturkan kejadian yang sesungguhnya, tapi cukup dalam sekali pandang, Hoa In-liong telah memahami duduknya persoalan, iapun tidak menggubris Ciu Hoa dan rombongan-nya lagi.
Dengan kening berkerut katanya kepada Ou See liong.
"Rupanya kau yang bernama Kumbang emas bermain diputik Ou See tiong? Kalau begitu sembilan kasus perkosaan dan pembunuhan yang terjadi di Yan im tahun berselang juga merupakan hasil karyamu?"
"Soal ini......."
Ou See tiong menjadi gelagapan, peluh dingin membasahi sekujur tubuhnya.
"Aku lihat ada baiknya kau bunuh diri saja,"
Sela Hoa Inliong lebih lanjut.
"tunjukkan kejantananmu sekarang, mati nanti mati sekarang juga sama saja, aku orang she Hoa pasti akan mengu-burkan jenasahmu secara baik baik dan akan ku cegah pula orang-orang yang menjadi korbanmu menggali kembali kuburanmu."
"Hoa-ya,......"
Keluh Ou See tiong dengan suara gemetar. Ciu Hoa lo pat tidak tahan lagi, dengan gusar, segera bentaknya.
"Hei manusia yang bernama Hoa Yang, jangan mentang-mentang ilmu silatmu lihay lantas hendak paksa orang untuk bunuh diri, ksatria macam apakah kau ini?"
Hoa ln-liong berlagak tidak mendengar perkataan itu, kembali ujarnya dengan suara tajam.
"Bila kau enggan turun tangan sendiri, jangan salahkan jika aku orang she Hoa terpaksa akan turun tangan untuk melenyapkan bibit bencana bagi umat dunia."
Betapa gusarnya Ciu Hoa Lo pat karena ucapannya tidak digubris, tiba-tiba ia menyerbu ke depan sambil melancarkan sebuah sergapan, disusul Ciu Hoa lo sam ikut terjun pula ke arena untuk melakukan pukulan.
Hampir bersamaan waktunya, On See liong putar badan dan mengambil langkah seribu.
Hoa In-liong berpekik nyaring, suaranya keras bagaikan lengkingan naga, tubuhnya melijit ke udara dan secepat kilat mener jang ke arah penjahat cabul itu.
Dengan melejit perginya sasaran, maka serangan dari Ciu Hoa Lo-pat dan Ciu Hoa lo-sam pun mengenahi tempat kosong.
Kebetulan Tang Bong liang dan Ciu Hoa lotoa berada disamping Ou See tiong, meski mereka tiada maksud untuk menolong penjahat cabul itu, niat untuk melukai Hoa In-liong justru berkobar-kobar.
Ketika menyaksikan Hoa In-liong menerjang ke arah mereka, tanpa mengucapkan sepatah katapun Tan Bong liang menyiapkan jari tangannya dan Ciu Hoa lotoa mempergunakan sepasang telapak tangannya untuk menyerang ke arah pemuda itu dengan sepenuh tenaga.
Serangan itu dilancarkan bukan saja dengan cara yang licik, lagipula dari jarak yang amat dekat.
Menyaksikan itu Lo Kee sian maupun Li Po seng sekalian membentak gusar, tapi untuk menghalangi jelas tak sempat lagi.
Sementara itu Hoa In-liong telah berada dua depa dibelakang Ou See liong, telapak tangannya segera didorong ke muka menghantam punggung penjahat cabul itu.
Ou See tiong menjerit kesakitan, darah kental muncrat keluar dari mulutnya, bersama dengan terlemparnya kipas keudara, tubuhnya segera roboh tak berkutik di tanah.
Semua orang tahu, pukulan tadi telah meremukkan isi perutnya, jelas jiwa bajingan itu tak ketolongan lagi.
Dalam pada itu serangan -erangan maut dari Tang Bong liang dan Ciu Hoa lotoa sudah mendapat punggung Hoa Inliong, tampaknya sulit buat anak muda itu untuk menghindarkan diri.....
Paras muka Bwe Su yok berubah hebat, hampir saja ia tahan dan ingin melancarkan serangan.
Tang Bong liang maupun Ciu Hoa lotoa tak dapat menyembunyikan rasa girangnya lagi-dalam perkiraan mereka Hoa In-liong pasti akan mampus di tangan mereka.
Siapa tahu.....pada detik terakhir yang amat kritis, mendadak Hoa In-liong menjejak-kan kaki kirinya ke tanah lalu putar badan secepat gasingan, tangan kanannya selincah ular berbisa langsung menerobos kedepan....
Dalam detik yang teramat singkat inilah, ketujuh gerakan dari ilmu Ci yu jit ciat (tujuh kupasan dari Ci yu) telah ia gunakan secara beruntun....
Sebagai mana diketahui, Ci yu jit ciat merupakan ilmu Sakti yang oleh Siau-yau sian (dewa yang suka kelayapan) Cu Thong diwariskan kepada Hoa Thian-hong.
waktu itu kepandaian tersebut sudah tidak seutuh sekarang, apa yang di wariskan pun tak lebih hanya "menyerang sampai mati"
Yang terdiri dari tiga jurus.
Akan tetapi oleh karena serangan tersebut terlampau ganas dan keji, maka selama pindah di tangan Hoa Thian-hong belum pernah kepadaian itu dipakai secara sempurna.
Kemudian setelah penggalian harta karun dibukit Kiu ci sau, dimana Bong Pay berhasil mendapatkan separuh bagian "Ciyu-jit-ciat"
Yang hilang, kepandaian sakti itupun nenjadi utuh dan komplit kembali tentu saja ilmu sakti itupun selanjutnya diwariskan kepada Hoa In-liong.
Seperti diketahui, sejak penggalian harta dibukit liu ci san, suasana dalam dunia persilatan menjadi aman kembali, maka selama ini juga baik Hoa Thian-hong maupun Bong Pay tidak mendapat kesempatan untuk mencoba kehebatannya.
Tak tahunya ilmu sakti yang sudah lama lenyap itu akhirnya hari ini muncul kembali di depan umum.
Ketujuh jurus ilmu jari itu memiliki perubahan gerakan yang aneh tapi sakti dengan daya kekuatan yang luar biasa, kepandaian tersebut merupakan kepandaian yang sukar dicarikan tandingannya, apalagi kalau dipergunakan untuk melangsungkan pertarungan jarak dekat.
Tang Bong liang maupun Ciu Hoa tidak menyangka akan menghadapi ilmu silat yang maha sakti tersebut, dalam kejut dan paniknya mereka mencoba untuk berkelit, sayang tak sempat lagi, terpaksa mereka bulatkan tekadnya dan meneruskan serangan itu dengan jurus yang tak berubah, dengan harapan bisa sama-sama terluka.
Tiba-tiba Tang Bong liang mendengus tertahan, jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya tahu-tahu sudah patah menjadi dua bagian, sementara sepasang pergelangan tangan Ciu Hoa lotoa masing masing termakan sebuah totokan, di tengah jeritan kesakitan yang memilukan hati, ia mundur sambil menggigit bibir, sepasang lengannya terkulai lemas kebawah, jelas sudah cacad oleh pukulan itu.
Tdak sedikit jago berkepandaian tinggi yang menyaksikan jalannya pertarungan, mereka semua merasakan pula betapa gawatnya situasi ketika itu, akan tetapi setelah menyaksikan hasil dari pertarungan tersebut, tak urung mereka menghela napas juga karena kaget.
"Bocah keparat!"
Gumam Lei Kiu it.
"tak disangka ilmu silatnya secepat itu bisa memperoleh kemajuan, coba tahu begini, sungguh menyesal nyawanya tak jadi direnggut sewaktu terjatuh ke tangan kauucu tempo hari......."
Mendengar perkataan itu Bwe Su yok melirik sekejap ke arahnya dengan biji matanya yang jeli, tampaknya ia bermaksud hendak menegur.
Sesungguunya perasaan sang gadis waktu itu sungguh amat susah dilukiskan dengan kata-kata, jalan pikirannya hampir boleh dibilang saling bertentangan.
Padahal semakin tinggi ilmu silat Hoa In-liong seharusnya semakin besar niatnya untuk melenyapkan orang itu, tapi kenyataannya sekarang ia malah agak sukar untuk mengendalikan rasa gembiranya.
Sebagian besar jago yang hadir di kota Si ciu waktu itu rata-rata tahu kalau Hoa In-liong adalah putranya Thian-cukiam merekapun tahu kalau ilmu silatnya sangat tinggi, tapi siapapun tidak mengira kalau kesempurnaan ilmu silatnya Sudah mencapai taraf demikian tingginya.
Dengan hambar Hoa In-liong memandang sekejap ke arah Ciu Hoa sekalian, lalu kepada Li Po-seng katanya.
"Saudara Po-seng, tolong belikan sebuah peti mati dan kawallah jenazah Ou See ti ong untuk dikubur di tempat kuburan, jangan sampai mengganggu ketenteraman rakyat di sekitar sini. Li Po-seng mengiakan, dia lantas berlalu dari situ. Kiong Gwat-lan tampak kurang senang hati, sambil mencibirkan bibirnya ia berseru.
"Kenapa musti repot repot? Beli saja sebuah tikar bobrok untuk membuang bangkai anjing itu, aku rasa tikar pun sudah lebih dari cukup baginya! Dipihak lain, Tang Beng liong sedang berdiri dengan wajah hijau membesi, diam-diam pikirnya.
"Pesat benar kemajuan yang dicapai bangsat ini dalam hal ilmu silat, kalau dibiarkan hidup terus menerus, sepuluh tahun lagi pasti akan sulit ditemukan orang yang bisa menaklukannya, aku musti akan melaporkan kejadian ini kepada Sinkun agar ia cepat-cepat disingkir kan dari muka bumi....,"
Berpikir sampai disitu dengan suara keras ia lantas membentak.
"Hoa Yang, meskipun aku tidak puas, lain kali aku pasti akan minta petunjuk lagi. Sekarang kalau tak ada urusan lain, aku hendak pergi duluan."
Hoa In-liong mendengus dingin.
"Berbicara dari tenaga dalam, sesungguhnya dalam seratus jurus belum tentu aku bisa melukaimu maka jika kau tidak puas akupun telah menduganya, cuma kaupun musti tahu setiap serangan yang dilancarkan dengan Ci yu jit ciat akan menyebabkan korbannya pasti mati, oleh sebab ayahku menganggap ilmu itu terlalu keji, disana-sini telah mengalami perubahan, coba kalau kugunakan jurus aslinya.....Hmm, aku pikir kau tak dapat pergi dari sini dengan selamat"
"Baik! aku telah mengetahuinya, masih ada pesan lain?"
Seru Tang Bong-liang sambilt mengigit bibir. Dengar serius Hoa In-liong berkata.
"Tolong sampaikan kepada sindun, jika dia masih tak ingin melangsungkan pertarungan terbuka, tolong awasi baik-baik anak buahnya."
"Aku akan mengingatnya, sahut Tang Bang Iiang. Kemudian ia memberi tanda dan bersama Ciu Hoi sekalian berlalu meninggalkan tempat itu. Sebenarnya semua orang Bong liang serta Ciu Hoa sekalian disana, tapi ketika Hoa In-liong membiarkan mereka pergi dengan begitu saja, maka merekapun tidak banyak berbicara lagi. Setelah Tang Bong liang dan Ciu Hoa sekalian pergi, sinar mata semua orangpun kini sama-sama dialihkan ke arah Bwe Su yok yang berada di atas dahan pohon waru. Pelan-pelan Kiong Gwat-lan mendekati Hoa In-liong, kemudian bisiknya lirih.
"Hei jiko, coba lihatlah budak she Bwe itu, sungguh cantik menawan, apakah kau pernah bermesraan dengannya?"
"Ala.....kau cuma pura-pura sok serius!"
Katanya. Hoa In-liong tersenyum, dia lantas memberi hormat kepada Bwe Su yok sambil menyapa.
"Bwe kaucu, baik-baikkah kau?"
Bwe Su yok menundukkan kepalanya, kembali ia berpikir.
"Gadis itu begitu akrab dengannya, jangan jangan dia adalah gadis simpanannya."
Setelah membungkam sesaat, Bwe Su yok kembal mendongakan kepalanya memandang sekejap ke arah Hoa Inliong.
Waktu itu semua perhatian para jago tertuju kepadanya seorang, semua orang segera dapat merasakan bahwa dibalik tatapan matanya yang jeli sama sekali tidak terpancar lagi sinar keketusan, sebaliknya malah lamat-lamat menunjukkan sikap sedih dan murung, hal ini membuat semua orang menjadi tercengang.
Tiba-tiba Bwe Su yok menghela nafas panjang, tanpa mengucapkan sepatah-katapun ia berlalu dari situ.
Ke Thian-tok maupun Lei ciu it sama-sama tertegun, kemudian setelah melotot sekejap ke arah Hoa In-liong dengan gemas, mereka pun memutar badannya dan berlalu dari situ.
Sekali lagi semua orang dibuat tertegun oleh kejadian tersebut, siapapun tidak menyangka kalau Kiu im kaucu bakal berlalu dari situ tanpa meninggalkan pesan sepatah kata pun.
Kecuali termenung, ada pula diantara mereka yang diamdiam merasa kecewa karena Kiu im kaucu yang dikatakan berwajah dingin dan tidak berperasaan itu ternyata malah berbuat sebaliknya.
Tentu saja Hoa In-liong dapat meresapi maksud hatinya, diam-diam ia menghela napas, kepada dua bersaudara Kiong segera katanya.
"Adik berdua baru saja tiba di kota Si ciu, tentunya kalian belum ada tempat untuk menginap bukan? Bagaimana kalau untuk sementara waktu tinggal digedung kami?"
"Tentunya akan mengganggu Hoa jiko,"
Kata Kiong Gwatlan Sambil tertawa dan manggut-manggut. Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak.
"Haaahh............ aaahh.........haaahh......... padahal aku sendiripun meminjam gedung itu dari orang lain, mengangkangkan yang sewenangwenang atas rumah itu, membuat akupun secara terpaksa menjadi pula tuan rumah disitu."
Tiba-tiba pemuda yang pernah melerai pertarungan antara Kiong Gwat-lan melawan Kongsun Peng tadi maju menghampiri Hoa In-liong, lalu sapanya dengan suara lirih.
"Hoa jiko!"
Hoa In-liong berpaling kemudian serunya dengan tercengang.
"Hei saudaraku, kaupun datang kemari? Dimana sutemu?"
"Semalam kami sudah datang, kini sute masih menunggu di rumah penginapan.............."
Tiba-tiba Kiong Gwat-lan menyela sambil tertawa dingin.
"Hoa jiko, siapakah orang ini? Dia pasti bukan manusia baikbaik, kau tahu, dia berjalan bersama Ou See tiong."
Merah padam selembar wajah pemuda itu saking cemasnya, buru-buru dia membantah.
"Aku bernama Demor, datang dari See-ih, .........aku...........aku bukan orang jahat.........."
Dengan bahasa yang kurang lancar, dihari-hari bisa ia masih dapat menggunakan secara baik, tetapi sekarang lantaran cemas dan panik,ia menjadi gelagapan dan tak mampu berbicara.
Hoa In-liong segera tertawa.
"Kiong ji moay, kau jangan salah paham,"
Katanya.
"dia adalah muridnya suhuku yang ada di wilayah see ih, adik seperguruannya bernama Tehan, mungkin lantaran masih muda dan tak ada pengalaman, mereka kena dibohongi orang."
"Betul, cepat-cepat Demor menerangkan.
"kami bertemu dengan orang she Ou itu di kota koy-hong, karena sama-sama mau ke si ciu maka kami melakukan perjalanan bersama, siapa tahu kalau dia adalah seorang penjahat cabul"
Hoa In-liong termenung sebentar, kemudian tanyanya lagi.
"Jika kalian semua pergi, siapa, yang menjaga rumah?"
Dirumah masih ada beberapa orang pelayan, mereka pernah dididik suhu dengan ilmu silat, kemampuan mereka tidak selisih banyak dari aku serta sute, aku rasa mereka masih sanggup untuk menjaga rumah baik-baik!"
Hoa In-liong lantas mendengus.
Setelah sampai di Si-ciu, kenapa kalian belum mencari aku malah keluyuran sendiri?
Kau anggap aku tak tahu maksud kalian?
Baiklah, akupun segan banyak bicara, nanti akan kuselesaikan sendiri dengan paman.
Haputule amat ketat mengajari muridnya, kedatangan Demor dan Tehan kedaratan Tionggoan kali inipun diluar pengetahuan gurunya, tentu saja mereka tak berani menjumpainya.
Sesudah tergagap sekian lama, akhirnya Demor berkata.
"Jiko, kau berangkatlah duluan, aku dan sute segera akan menyusul kesitu!"
Paman memberitahukan kepadamu bahwa kalian ditinggal dirumah agar berlatih silat lebih tekun,"
Kata Hoa In-liong dengan wajah membesi, tak bisa diragukan lagi, kedatangan kalian berdua ke kota Si ciu adalah diluar pengetahuan gurumu.
"Kami cuma keluar untuk bermain-main sebentar, lalu segera kembali ke See-ih"
Ujar Demor ketakutan.
Secara diam-diam bermain ke Tionggoan memang bukan urusan besar, tapi berkumpul dengan manusia Ou See tiong adalah suatu kejadian yang tak boleh diampuni, untung ketahuan lebih awal, coba kalau sampai tercebur kelembah kenistaan, mungkin waktu itu kalianpun masih berada dalam impian.
Hmm Kini kau berani pula menghindari perjumpaan dengan gurumu, jangan harap kalian bisa kabur lagi, hayo cepat ikut aku menghadap paman agar diberi hukuman yang setimpal"
Dulu pernah Demor menyaksikan Hoa In-liong menegurnya dengan wajah sekeren sekarang, sedikit banyak ia sudah rada takut apalagi sekarang setelah mengetahui bahwa Hoa In
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com/ liong akan mengajaknya menjumupai gurunya, ia menjadi ketakutan setengah mati.
Dalam pada itu para penontonpun sudah mulai bubaran karena melihat Hoa In-liong sedang bercakap-cakap dengan Demor serta dua bersaudara dari keluarga Kiong.
Dengan demikian, disitu hanya tinggal Tim kiat kian, Ho See sian, dua bersaudara Oh dan Kongsun Peng, sedang Siau Gou ji seorang berjongkok sambil bermain burung bangau perak peninggalan Ou See tiong.
Mayat Ou Soe tiong tergeletak dipinggir jalan dalam keadaan yang mengerikan, darah masih bercucuran dengan derasnya, tapi setiap orang yang lewat disampingnya dengan penuh rasa benci dan menghina sama-sama melukahi tubuhnya.
Tiba-tiba kedengaran Kiong Gwat-lan berseru.
"Jalan raya bukan tempat untuk memberi pelajaran kepada seseorang, lagi pula dengan kedudu-kanmu masih belum pantas menasehati saudara cilik ini, hayo kita pergi saja!"
Gadis itu baru berusia tujuh delapan belas tahun usianya dengan Demor pun cuma selisih sedikit tapi dengan gayanya dia telah membasahi orang dengan saudara cilik, ini membuat Lim kiat kau se kalian diam-diam merasa geli.
Demor tidak merasakan hal itu, karena kelihatannya Kiong Gwat-lan membantunya berbicara, dengan penuh rasa terima kasih ia melirik sekejap ke arahnya.
Kiong Gwat-lan merasa lebih bahagia lagi sambil tertawa merdu ujarnya lebih jauh.
"Saudara cilik, kau jangan gelisah, meskipun aku belum berhak untuk ikut ambil bicara dihadapan gurumu, tapi aku rasa beberapa orang cianpwe pasti bersedia membantumu, tak pasti mereka akan membiarkan kau didamprat gurumu."
Kemudian sambil melirik ke arah Ho Kee sian dia berkata.
"Ho locianpwe, bersediakah kau?"
Ho Kee sian agak tertegun, lalu jawabnya.
"Aku kuatir tak punya muka sebesar itu!"
"Aku lihat kau orang tua sudah berusia setengah abad lebih, masa tidak punya?"
Kata Kiong Gwat-lan sambil cemberut.
"yaa, aku tahu, kau pasti enggan memberi bantuan makanya berkata demikian, pokoknya bagaimanapuu juga kau musti mengabulkan permintaanku ini!"
Kiong Gwat hui yang menyaksikan kejadian itu segera menarik ujung baju adiknya sambil berbisik.
"Adiku, jangan kelewat berandal"
Tapi Kiong Gwat-lan sama sekali tidak menggubris, malah matanya memperhatikan Ho Kee sian tanpa berkedip. Melihat itu Ho Kee sian lantas berpikir.
"Agaknya dalam menghadapi persoalan apapun nona ini merasa tak enak jika belum ikut ambil bagian, bila aku menyanggupinya mungkin dia akan mendesakku terus menerus..."
Berpikir demikian, sambil tertawa diapun berkata.
"Kalau cuma mengucapkan beberapa patah kata sih gampang, aku cuma kuatir tak ada gunanya."
Sementara itu Hoa In-liong juga sedang berpikir.
"Menghadapi setiap persoalan tampaknya budak ini cuma tahu mengumbar nafsu, melihat aku mendamprat Demor lantas dianggapnya hal ini tak adil, mana dia tahu kalau aku berbuat demikian lantaran mempunyai maksud tertentu."
Setelah berpikir sejenak, sambil tertawa nyaring segera ujarnya.
"Gara gara kau seorang nona binal, kota Si cui sudah menjadi ramai setengah harian, Kiong ji moy! Dalam perjalananmu masuk ke kota nanti jangan menimbulkan garagara lagi lho! Merah jengah selembar wajah Kiong Giok lan.
"Kau dibilang membuat gara-gara, perbuatanmu di kota Si ciu ini baru cocok disebut suatu pengacauan secara besarbesaran, membuat seluruh dunia persilatan menjadi kalut tak karuan, hmm! Aku sih masih ketinggalan jauh"
Berbicara sampai di situ, sorot matanya lantas dialihkan ke wajah Hoa In-liong yang cerdik segera dapat menduga beberapa bagian atas duduknya persoalan, ia lantas tertawa tergelak.
"Haaahhh............haaahhh......haahhh...... Kiong ji-moay kau toh sudah menyalahi saudara Kongsun, hayo cepat minta maaf!"
"Hoa kongcu, akulah yang telah mencari gara-gara dengan nona Kiong!"
Cepat cepat kongsun Peng berbisik dengan nada tersipu. Hoa In-liong gelengkan kepalanya sambil tertawa.
"Saudara Kongsun tak usah banyak bicara lagi,"
Katanya.
"sampai di manakah tabiatnya sudah siau-te pahami benar-benar, bagaimapun juga hari ini dia musti minta maaf kepada saudara Kongsun."
"Jangan mimpi!"
Sela Kiong Gwat-lan sambil berkerut kening. Hoa In-liong tersenyum kembali katanya.
"Kalau sudah menyalahi orang, punya kepandaian lagi, tidak minta maaf bukan persoalan, tapi kalau sudah tak punya kepandaian lagi, tidak minta maaf lagi, itu baru tak boleh"
"Lantas apa yang musti kulakukan baru bisa di katakan punya kepandaian....?"
Hoi In-liong menutar biji matanya, lalu sahutnya sambil tertawa.
"Akan kubuat sebuah lingkaran di dalam dan sebuah lingkaran di luar, lingkaran dalam luasnya dua depa lingkaran luar luasnya empat kaki, aku akan berdiri dalam lingkaran dalam dan kau boleh berkelit dilingkaran luar, jika dalam seperempat jam kau bisa menghindari tangkapanku, maka kau akan kuanggap punya kepandaian."
Kongsun peng menggerakkan bibirnya seperti hendak mengucapkan sesuatu tapi niat itu kemudian dibatalkan, pikirnya.
"Tampaknya kedua orang itu sudah terbiasa bergurau, buat apa aku musti banyak bicara?"
Karena berpikir demikian, maka diapun membungkam dalam seribu bahasa.
"Yaa, aku tahu ilmu meringankan tubuh dari keluarga Hoa memang sangat lihay dan diketahui semua orang di dunia, dengan mengandalkan tenaga dalam yang kau miliki tidak sulit untuk berganti, tiga empat gerakan di tengah udara, aku tahu bukan tandinganmu, aku tak sudi kau tipu kecuali kalau kau tak boleh melewati garis lingkaran."
Waktu itu Kongsun Peng, Ho Kee sian dan lainya berpendapat demikian pula, sebab menurut jalan pemikiran mereka kecuali berbuat demikian, tak mungkin Hoa In-liong bisa menangkap Kiong Gwat-lan dari dalam lingkaran.
Lain halnya dengan Hoa In-liong, dia lantas berpikir.
"Nah, bagaimanapun juga kau memang sudah terjebak dalam siasatku........ tinggal sekarang pelaksanaannya! Meskipun demikian, dia pura-pura menunjukkan wajah keberatan, serunya.
"Aku toh bukan dewa, kalau ilmu meringankan tubuh pun tak boleh dipergunakan, jangankan menangkapmu, untuk menjawil ujung bajumu pun bukan suatu pekerjaan yang gampang."
Dengan bangga Kiong Gwat-lan tertawa cekikikan.
"Huuuh.......begitupun masih mengakunya seorang enghiong, heran kau pingin ribut dengan aku seorang gadis, lebih baik lain kali tak usah berlagak sok"
Hoa In-liong segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaahh....haaahh...haaahh......baiklah, akan kuturuti perkata-anmu itu, mari kita buat garis lingkarannya."
"Biar aku saja yang membuatnya!"
Cepat Kiong Gwat-lan menyela.
Tanpa menanti persetujuan orang, dia lantas bungkukkan badan dan membuat dua buah lingkaran dengan pedang.
Bagi para jago yang terbiasa belajar silat pada umumnya bisa mengukur jarak dengan pas, siapapun mengetahui bahwa secara curang gadis itu telah menambah luas lingkaran luar dengan dua tiga depa, sebaliknya lingkaran dalam hanya satu depa lebih lima enam.
Cuma saja lantaran Hoa In-liong tidak berbicara apa-apa, maka semua orang pun tidak berbicara apa-apa.
Untung daerah di sekitar situ memang merupakan tempat yang sepi dan jarang dilewati orang, kendatipun demikian berkenyit juga sepasang alis mata Kiong Gwat hui, ia merasa adiknya sebagai seorang gadis perawan tidak sepantasnya melakukan perbuatan semacam itu, tapi karena dilihatnya gadis itu amat gembira, ia merasa kurang enak untuk mencegahnya, maka dengan sorot mata mengandung teguran ia melirik sekejap ke arah Hoa In-liong.
Setelan berdiri tegap dalam lingkarannya yang kecil, sambil putar badan Hoa In-liong berkata.
"Kiong ji moay, ayo cepetan dikit!"
Ketika dilihatnya pemuda itu begitu mantap dan menyakinkan, Kiong Gwat-lan sedikit banyak merasa agak ragu juga, pikirnya.
"Jangan-jangan aku sudah terperangkap dalam siasatnya? Aku musti lebih berhati-hati...."
Tapi pikiran lain segera melintas dalam benaknya, ia merasa selihay-lihaynya pemuda itu, tak nanti ia bisa ditangkap dengan mudah.
"Hati-hati kata Hoa In-liong kemudian sambil tertawa.
"aku hendak mempergunakan tiga macam kepandaianku untuk menangkapmu dalam keadaann hidup-hidup"
Kipasnya lantas dialihkan ketangan lain, kemudian telapak tangan kanannya diayun kedepan dan dua titik hitam segera meluncur ke arah tubuh gadis tersebut.
Daya luncur kedua titik hitam itu tidak begitu cepat, Kiong Gwat-lan dapat memperhatikan arah datangnya ancaman dan berkelit secara jitu, serunya.
"Satu macam kepandaian!"
Tapi baru selesai perkataan itu, mendadak desingan angin tajam menyambar lewat dari belakang, tanpa berpikir panjang lagi ia ber kelit tiga depa kesamping, meski demikian jaraknya dengan Hoa In Hong masih cukup jauh.
Tapi belum lagi kakinya berdiri tegak, kembali terasa ada semacam benda menyergap tubuhnya, dengan perasaan apa boleh buat terpaksa ia melompat maju delapan depa lagi, pikirnya.
"Jarakku denganmu masih terpaut satu kaki sampai dimanapun lihaynya ilmu Hwee hong jiu-hoat (cengkeraman angin berpusing), sia-sialah akhirnya jerih payahmu."
Tapi pikiran itu baru habis melintas lewat, Hoa In-liong telah tertawa terbahak-bahak.
Seketika itu juga Kiong Gwat-lan merasa munculnya segulung tenaga hisapan yang menyedot tubuhnya ke belakang.
Berada di tengah udara, gadis itu masih berusaha menahan badannya dengan ilmu bobot seribu, sayang tersambit, di tengah jeritan lengkingannya tahu-tahu ia sudah terhisap kekuatan itu dan melayang ke arah Hoa ln Hong berdiri.
Pukulan itu bernama Hu Im sin ciang, dulu nama aslinya adalah Kun siu-ci-tau (perlawanan bi-natang terkurung) yang merupakan ciptaan dari Ciu it bong.
Kemudian setelah kepandaian tersebut terjatuh ke tangan Hoa Thian-hong, apalagi setelah ia berhasil mempelajari ilmu Kiam keng boh kui yang merupakan peninggalan dari Kiam seng (malaikat pedang) Gi Ko, semua sifat asli ilmu pukulan tersebut baik dalam hal keras lembutnya, cepat lambatnya dan tipuan atau aslinya telah mengalami perubahan besar.
Jangankan Kiong Gwat-lan sekarang yang bertenaga masih lemah, kendatipun Pia Leng cu, se-orang tokoh Thong thian kau yang pernah tersohor dimasa lalupun tak sanggnp berkutik apa-apa di tangan Hoa Thian-hong waktu terjadi peristiwa di sungai Huang ho dulu.
Padahal tenaga dalam yang dimiliki Hoa In-liong sekarang belum tentu dibawah tenaga dalam ayahnya di waktu itu namun semenjak ia berhasil memperoleh warisan Khi khek teng heng sim boat dari Goa cing taysu yang kemudian digabungkan dengan sim boat keluarga Hoa-nya, hawa murni ditubuhnya malah mengalir lurus dan terbalik secara tidak beraturan, ini menyebabkan tenaga pukulan yang dilancarkan pun bisa dilontarkan bisa pula dihisap kembali.
Padahal waktu itu dia hanya bermaksud mencoba-coba, tapi hasil yang kemudian tercapai ternyata diluar dugaannya, sudah barang tentu orang lain lebih terperanjat lagi dibuatnya.
Hoa In-liong menjulurkan tangan kanannya dan segera merangkul pinggang Kiong Gwot lan, katanya sambil tertawa terbahak-bahak.
"Haaahh....haaah.......haaah.....bagaimana? Kau cuma menggunakan dua macam kepandaian!"
Dirangkul oleh seorang pemuda dihadapan orang banyak, sedikit banyak malu juga Kiong Gwat-lan dibuatnya, pipinya kontan saja menjadi merah padam, sambil meronta serunya manja.
"Lepaskan aku!"
Sambil tersenyum Hoa In-liong melepaskan gadis itu, katanya kemudian.
"Sekalipun permainan ini cuma termasuk guruan belaka, toh bagaimanapun jua kau sudah kalah, hayo cepat minta maaf kepada saudara Kongsun!"
Tiba-tiba Kiong Gwat-lan melompat ke Luar dari lingkaran tersebut. Seraya serunya sambil tertawa.
"Sekarang aku masih berada dilingkaran luar, kau kan tidak berhasil menangkapku?"
Hoa In-liong tersenyum.
"Kalau kau tetap mungkir, yaa, apa boleh buat lagi?"
Dalam hati ia berpikir lagi.
"Dengan tenaga dalamnya sekarang, meskipun ia berada di atas permukaan dan jaraknya mencapai satu kaki lebih lima depa, seandainya kucoba kepandaianku lagi, rasanya dia tak akan mampu mempertahankan diri Tiba-tiba terdengar Kongsun Peng berseru,
Jilid 6
"Hoa Kong Cu, aku hanya mohon maaf kepada nona Kiong atas gegabahanku tadi, dengan perbuatan Hoa kongcu, bukankah hal ini akan membuatku semakin tak punya muka?"
Sebenarnya Hoa In-liong sudah bersiap sedia untuk melakukan serangan kembali, tapi sesudah mendengar perkataan itu, diapun mem batalkan niatnya.
Bunyi roda kereta yang berputar berkumandang dari pintu kota, Li Po seng dengan membawa dua orang pegawai toko penjual peti mati telah datang menghantarkan peti mati, diapun lantas memerintahkan orang untuk membereskan jenasah tersebut, Setelah mayat Ou See tiong dimasukkan ke dalam peti, Hoa In-liong menyerahkan uang kepada pegawai tersebut dan menitahkannya untuk mengubur peti mati di luar kota.
Ia tahu kalau tidak memerintahkan orang untuk melaksanakan tugas tersebut, sudah pasti tak ada orang lain yang sudi mengurusi mayat Ou See tiong, akibatnya rakyat di sekitar situlah yang menjadi korban......
Kurang lebih dua puluh kaki baru kereta itu berjalan, tibatiba muncul beberapa orang jago per-silatan yang mengikuti dibelakangnya.
Menyaksikan kejadian tersebut, Hoa In-liong lantas berpikir.
"Selama hidupnya mungkin terlampau banyak kejahatan yang dilakukan Ou See tiong, sehingga setelah mati pun begitu banyak orang yang tak terima dan ikut kekuburan untuk membongkar peti matinya......"
Berpikir sampai disitu, diapun berseru dengan suara lantang.
"Saudara sekalian, setelah orangnya mati dendam pun ikut berakhir, sekalipun ada sakit hati yang bagaimanapun besarnya, lebih baik disudahi sampai disini saja, apa gunanya kalian mengikuti peti mati itu serta melakukan perbuatan tercela?"
Setelah mendengar itu, beberapa orang tersebut segera berhenti, mereka ragu-ragu sejenak, kemudian tiga orang diantaranya pergi meninggalkan tempat itu, sedangkan empat orang lainnya setelah menjura kepada Hoa In-liong mereka lanjutkan pengejarannya ke arah kereta pembawa peti mati tadi.
Sekali lagi Hoa In-liong berpikir.
"Kejahatan yang dilakukan orang she Ou selama hidupnya memang kelewatan, rasanya sebelum jenasah itu dicincang menjadi berkeping keping, tak lega perasaan beberapa orang itu, beginilah akhir dari seorang penjahat kalau melakukan perbuatan yang kelewat batas."
Sebagaimana diketahui, Kumbang emas bermain diputik Ou See tiong bukan hanya memperkosa anak gagis dan istri orang saja, biasanya setelah menikmati kehangatan tubuh perempuan-perempuan itu, korbannya lantas dibunuh dan harta kekayaannya dirampok habis habisan.
Tidak heran kalau keluarga korban menjadi dendam bukan kepalang terhadapnya, itulah sebabnya meski sudah mati orang-orang itu masih tak rela melepaskan musuhnya dengan begitu saja.
Semula Hoa In-liong mencegah perbuatan orang-orang itu atas dasar kasihan dan welasnya, tapi melihat ketenangan orang-orang itu diapun merasa tak enak untuk mencegah perbuatannya.
Begitulah, sambil menghela napas diapun mengajak dua bersaudara Kiong dan Demor kembali ke gedung hadiah Pui Che-giok, sedangkan Coa Cong gi, Kongsun Peng, sebagai besar bekas anggota Sin ci ping telah menetap semua disitu.
Walaupun dengan perasaan yang kurang tenteram terpaksa Demor mengikuti pula dibelakang.
Sebelum masuk ke dalam ruangan, Hoa In-liong berpaling sambil berkata.
"Paman sudah tinggalkan tempat ini, dalam tiga hari tak mungkin dia akan kembali disini, untuk sementara waktu kau boleh tinggal disini dengan tenteram."
Mendengar perkataan itu Demor benar-benar merasa hatinya lega, diam-diam ia menghembuskan napas panjang. Terdengar Hoa In-liong berkata lagi dengan serius.
"Undanglah Tehan untuk tinggal pula disini, kalau tidak bila ia sampai bergaul dengan orang jahat, bukan namanya saja yang hancur nama perguruan ikut ternoda, padahal perguruan pedang pendek kalian sejak Sucoumu sampai kini sudah memupuk nama besar, kalau sampai ternoda bukankah arwah Siang locianpwe di alam baka akan menjadi tidak tenang......?"
Diantara tingkatan yang sederajat, Demor paling mengagumi Hoa In-liong, maka ia mengiakan berulang kali. Menunggu pemuda itu telah selesai berkata dengan tergagap ia baru berseru.
"Suhu sana....."
Hoa In-liong segera tertawa.
"Soal paman, akan kubicarakan sedapat mungkin tapi selama disini kalian musti mendengarkan semua perkataanku, sebab kalau tidak paman pasti akan menegur kalian."
Setelah berhenti sebentar sambil melirik ke arah Kiong Gwat-lan katanya.
"Bukankah kau sudah berkenalan dengan seorang enci? Dia bisa membantumu dengan sepenuh tenaga bila yang menjadi enci enggan membantu sekecil ampun, lebih baik kau tak usah mengakuinya lagi. Demor tertegun, lalu sambil menjura kepada KiOng Gwatlan katanya.
"Harap Kiong......cici banyak memberi petunjuk"
"Oooh.....hal ini tentu saja akan kubantu, tapi kau jangan bingung dulu dengan soal itu, aku adalah ji-ci disitu masih ada toaci, hayo beri hormat dulu,"
Kata Kiong Gwat-lan sambil tertawa. Demor benar-benar maju ke depan dan memberi hormat kepada Kiong Gwat hui, katanya.
"Siau te menjumpai toaci!"
Kiong Gwat hui segera balas memberi hormat, ia seperti adiknya yang binal, dia suka bergurau, bagaimanapun juga sifatnya yang pendiam dan halus membuatnya bertindak menurut aturan.
Setelah itu Demor baru berkata.
"Sekarang juga aku hendak membatalkan kamar dan mengajak sute datang ke mari...."
Ia putar badan dan berlalu dari situ. Hoa In-liong hanya tersenyum, bersama rekan lainnya mereka masuk ke dalam gedung. Sesudah berada di ruang tengah, Li Po seng, dua bersaudara Oh sekalian bertanya.
"Apa masih ada ruangan kosong?"
Dua orang pelayan itu berpikir sebentar kemudian bayangan yang ada di sebelah kiri berkata.
"Disisi sebelah barat masih ada sebuah gedung kecil, bunga Botan sedang mekar-mekarnya disana, budak pikir nona berdua pasti akan senang dengan suasana disini."
Hoa In-liong manggut-manggut sambil berpaling dia lantas berkata.
"Adik berdua, coba lihat dulu kamar tersebut, puas atau tidak? Kalau dirasakan kurang cocok katakan saja kepadaku, nanti kupikirkan tempat yang lain!"
Kiong Gwat hui cukup tahu kalau pemuda tersebut amat sibuk, katanya dengan suara minta maaf.
"Kami tentu sudah mengganggu banyak diri ji-ko!"
Hoa In-liong segera tertawa, katanya.
"Memang lebih baik kalau Kioang toa moay kerasan tinggal disini, sebagai sesama persaudaraan, lebih baik kata-kata sungkan tak usah dibicarakan lagi."
"Kiu mengatakan gedung ini sebagai sumbangan dari orang lain, siapakah yang begitu baik hati dengan berbuat demikian kepadamu?"
Tiba-tiba Kiong Gwat-lan bertanya. Hoa In-liong termenung dan berpikir sejenak, lalu jawabnya.
"Pernahkah kau dengar tentang Cian li kaucu?"
Kiong Gwat-lan segera mencibirkan bibirnya sambil tertawa.
"Huuh.......! Untuk memberi jawaban atas pertanyaan itupun musti melewati dulu suatu pemikiran yang serius"
Katanya.
"jangan Kuatir aku pasti tak akan mengemukakan perasaanku."
Ucapan itu jelas bernada lain, dan kesannya terhadap perkumpulan Cian li kau juga kurang begitu bagus.
Perkataan itu diutarakan dengan cepat, Hoa In-liong mau mencegah tapi tidak sempat lagi, dengan kening berkerut ia lantas berpikir.
"Waaah..... payah ini, kesulitan telah tiba!"
Betul juga, tiba-tiba kedengaran suara tertawa merdu berkumandang dari belakang ruangan, me-nyusul munculnya Cia Sau-yan, sambil mengawasi Kiong Gwat-lan dari atas sampai ke bawah, kemudian dengan senyum tak senyum ia berkata.
"Entah bagaimanakah pandangan nona ini terhadap perkumpulan Cian li kau?"
"Aaah.... cuma urusan kecil kenapa musti di tanyakan lebih lanjut......?"
Tukas Hoa In-liong. Dengan kening berkerut Cia Sau-yan segera berkata.
"Semenjak didirikan dalam dunia persilatan, perkumpulan kami selalu mempunyai pandangan yang luas serta jiwa yang besar untuk menilai seseorang, siau sauya tak usah kuatir, memangnya orang-orang Cian li kau pikir sepicik dan sesempit itu jalan pemikirannya?"
Dibalik ucapan tersebut lamat-lamat diapun menuduh Kiong Gwat-lan sebagai seorang gadis berjiwa sempit.
Sebagai seorang gadis pintar, sudah barang tentu Kiong Gwat-lan dapat menangkap arti dari ucapan tadi, segera ia tertawa angkuh.
"Huuuh..... apa salahnya kalau kuucapkan keluar?"
Sesudah berhenti sebentar, ia melanjutkan.
"Seluruh anggota perkumpulan kalian sejak dari nona sekalian sampai para dayangnya semua berparas cantik jelita, lagipula berdaya tarik yang merangsang orang, Kiong Gwat-lan hanya kagum akan kehebatan kalian itu, lain tidak"
Nada dibalik perkataan itu jelas mengatakan bahwa orangorang Cian li-kau semuanya genit dan sesat, pandai merayu orang lelaki dan terdiri dari perempuan-perempuan tidak baik.
Diam-diam Kiong Gwat hui mendepakkan kakinya berulang kali ke atas tanah, tapi sebagai seorang gadis yang lemah lembut, ia merasa kurang pantas untuk turut serta dalam pembicaraan itu.
Betul juga, paras muka dua orang dayang yang berada disisi ruangan segera berubah hebat, mereka segera menunjukkan wajah gu sar dan tak senang hati.
Sedang Cia Sau-yan sedikitpun tidak marah, malahan sambil tertawa manis katanya.
"Perkumpulan Cian li-kau memang khusus memikat orang dengan kecantikan anggotanya, jual senyum menarik simpatik, padahal hal tersebut tak perlu terlalu diherankan."
Kiong Gwat-lan malah tertegun dibuatnya, diam-diam ia berpikir.
"Sikapnya begitu biasa dan seolah olah tak pernah terjadi suatu kejadian apapun, tampaknya memang jiwanya yang terlalu sempit dan tak bisa menahan diri....."
Timbul rasa sesalnya di dalam hati, cuma dengan wataknya yang keras kepala, ia merasa apa yang telah diucapkan tak mungkin bisa dirubah kembali.
Tiba-tiba muncul He lotia dari luar dengan langkah tergesagesa, kepada Hoa In-liong lapornya.
"Ji kongcu, diluar pintu datang seorang imam yang mengatakan hendak mencari derma!"
"Langsung layani saja orang itu,"
Sela Cia Sau-yan,! "saat ini Hoa kongcu sedang sibuk, mana ia punya waktu untuk mengurusi segala urusan tetek bengek?"
Ho lotia segera gelengkan kepalanya berulang kali.
"Tidak akan segampang itu!"
Serunya.
"sebab si imam mengatakan hanya akan mencari derma dari ji kongcu seorang....."
Mendengar itu Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak.
"Haaahh....haaahhh......haaahhh... tidak kusangka ada orang yang tertarik untuk menderma diriku, sungguh suatu kejadian yang sulit ditemui, siapa tahu setelah mendengar aku dia betul-betul akan pergi? Mari kita tengok keluar!"
Lapun lantas beranjak dan keluar dari ruangan.
Dengan kejadian ini, tanpa terasa telah memecahkan pula situasi kaku antara dua bersaudara Kiong dengan Cia Sau-yan.
Dengan perasaan ingin tahu, tiga orang gadis itu pun mengikuti di belakang Hoa In-liong menuju keluar pintu.
seorang tosu tua berwajah merah bercahaya sedang berdiri di depan pintu gerbang, wajah tosu itu amat istimewa, selain wajahnya seperti bayi, rambutnya putih sepanjang pinggang, alis matanya yang putih mencapai tiga inci panjangnya, ia mengenakan sebuah jubah imam yang banyak tambalannya, sebuah senjata hud-tim ada di tangan kanan, sedang sebilah pedang antik, tersoren dipunggung.
Ketika Hoa In-liong munculkan diri, dengan sinar mata tajam tosu itu memperhatikan si anak muda itu tajam-tajam, tampaknya ia sangat menaruh perhatian kepadanya.
Hoa In-liong segera tersekut sambil menjula, sapanya.
"Bolehkah aku tahu nama tootiang?"
Bukan menjawab, tosu tua itu malah balik bertanya.
"Apakah kau adalah Hoa In-liong, putra dari Shian cu kiam Hoa Thian-hong?"
"Betul, ada urusan apa tootiang datang ke mari?"
Diluar ia menjawab demikian, sementara dihati kecilnya diam-diam pemuda itu berpikir.
"Sudah jelas imam tua ini memiliki serangkai ilmu silat yang sangat lihay, padahal kudengar orang bilang banyak kaum iblis yang bermunculan kembali belakangan ini, bagaimanapun jua aku musti lebih waspada dan berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan yang tidak diinginkan,............"
Sementara itu tosu tua tadi telah berkata "Adapun maksud kedatangan pinto adalah untuk menyelesaikan suatu pekerjaan mulia."
"Oooh........! Pekerjaau mulia ini pastilah suatu usaha untuk kesejahteraan umat manusia, aku bersedia untuk mendengarkan penje lasannya lebih jauh"
Kata Hoa In-liong tertawa.
"Huuh.... berlagak main kuasa, bergaya sebagai harimau, padahal tak lebih hanya seperti sekumpulan lalat atau sekumpulan semut yang berebut makanan, apakah masih belum juga mau sadar?"
Tegur imam beralis putih itu mendadak.
"Aku tidak mengerti apa yang di maksudkan dengan tootiang?"
Tanyanya. Imam itu semakin mengerutkan dahinya, mencorong sinar tajam dari balik matanya, lalu berkata dengan suara keras.
"Pinto hanya ingin tahu, karena persoalan apa kau menimbulkan gelombang besar di-kota Si ciu ini? Apakah perbuatanmu itu tidak lebih hanya ingin menciptakan banjir saja dalam dunia persilatan?"
Hoa In-liong tertawa tawa.
Sepantasnya jika perkataan tootiang ini di tujukan kepada pihak Hian-beng-kau, Mo kau atau Kiu lin kau, seandainya mereka bersedia melepaskan ambisinya untuk merajai dunia persilatan, secara otomatis akupun akan lepas tangan.
Setiap persoalan pasti akan menjadi pertikaian seandainya ada lawan yang sama tangguhnya, coba kalau keluarga Hoa mengundurkan diri dari dunia persilatan, bukankah pertarungan ini bisa terhindari?
Setiap kejadian pasti ada sebabnya, lagipula keluarga Hoa toh sudah hampir dua puluh tahunan memimpin dunia persilatan?
Hoa In-liong tertawa terkekeh.
"Heeehh... .heeehh.....heeeehh.....perkataan totiang memang ada benarnya, sayang aku hanya manusia yang tak punya nama serta kedudukan, mungkin hanya akan menyianyiakan pula pembicaraan dari tootiang."
Tampaknya imam beralis putih itu dibuat gusar oleh ucapan tersebut, tiba-tiba ujarnya dengan suara dalam."
"Kalau kau terus menerus tak tahu diri, pinto pun tak ingin banyak berbicara lagi, bagaimana kalau dengan pertarungan, kita ten tukan menang kalahnya?"
Hoa In-liong kembali berpikir.
"Sudah jelas maksud kedatangan dari tosu tua ini adalah mencari gara-gara, memang ada baiknya kalau kucoba dulu sampai dimanakah taraf kepandaian silat yang dimilikinya."
Berpikir demikian, selangkah demi selangkah ia berjalan menuju kepelataran rumah.
"Bocah muda sambutlah seranganku ini!"
Imam beralis patih itu segera membentak nyaring, senjata hud-timnya dikebut ke muka menyongsong datangnya tubuh Hoa Inliong.
"Tosu ini benar-benar tak tahu adat!"
Batin Hoa In-liong.
Tanpa meloloskan senjatanya lagi dia berkelit ke samping, begitu lolos dari babatan hud-timnya itu, telapak tangannya kembali dibacokkan kedepan.........
Tosu beralis putih itu mendengus dingin, tiba-tiba hudtimnya diputar balik menyerang jalan darah penting dibawah ketiak si pemuda itu, sementara jari tangan kirinya seperti tombak langsung menyodok ke lengan musuh, satu jurus dengan dua serangan, suatu gerakan kombinasi yang amat lihay.
Hoa In-liong sekali lagi miringkan dadanya kemudian menerjang kemuka, dengan jurus Ji yong-bu-wi (dua kegunaan tanpa kedudukan) ia lepaskan sebuah serangan balasan.
Karena tak sempat untuk menghindarkan diri dari ancaman tersebut, terpaksa secara beruntun tosu beralis putih itu merebah dan jurus serangannya untuk membendung tibanya ancaman.
"Hmm...... memang tak malu menjadi putra Thian cu kiam!"
Pujinya dengan suara lantang.
Tiba-tiba ia mundur delapan sembilan depa dari posisi semula, hud-timnya dibuang ke tanah, se-mentara Hoa Inliong telah menghentikan serangannya, imam beralis putih itu telah melololoskan pedangnya sambil berkata dengan tertawa.
"Ilmu pedang keluarga Hoa tiada tandingannya dikolong langit, pinto dengan tak tahu diri ingin mencoba beberapa jurus!"
Hoa In-liong kembali berpikir "Tampaknya ia lebih mengandalkan ilmu pedangnya, aku musti berhati-hati....."
Pelan-pelan pedangnya pun diloloskan keluar.
"Silahkan tootiang!"
Serunya kemudian.
Tosu beralis putih itu tidak sungkan-sungkan lagi, ia segera menerjang maju ke depan, terasa serentetan cahaya tajam berkelebat lewat dan tahu-tahu ia sudah menyerang tubuh Hoa In-liong.
Si anak muda itu mengeryitkan alis matanya lalu membentak.
"Ilmu pedang bagus!"
Pedangnya diputar sedemikian rupa, lalu melepaskan serangan balasan ke depan.
"Traaang! Traaang! Traaang!"
Secara beruntun kedua orang itu saling beradu senjata sampai tiga kali, sedemikian kerasnya benturan itu menyebabkan timbulnya serangkaian suara dentingan yang disertai dengan percikan bunga api.
Dalam waktu singkat, kedua orang itu sudah terlibat dalam suatu pertarungan sengit, lima enam puluh jurus lewat tanpa terasa.
Ilmu silat kedua orang itu sama-sama telah mencapai puncak kesempurnaan, dibandingkan dua bersaudara Kiong dan Cia Sau-yan sekalian boleh dibilang mereka masih terpaut jauh sekali.
Terlihat dua orang itu bertarung dengan kecepatan luar biasa, cahaya pedang yang menyilaukan mata, membuat mata terasa amat ter tusuk, ini semua membuat para penonton jalannya pertarungan menjadi kuatir dan merasakan hatinya berdebar keras.
Pertarungan semacam ini boleh dibilang merupakan suatu pertarungan yang luar biasa, dengan ce-pat kejadian ini menarik perhatian orang banyak...
Sekarang Hoa In-liong telah mengetahui bahwa ilmu silat yang dipergunakan imam beralis putih itu adalah kepandaian silat aliran Tong thiao kau, satu ingatan lantas melintas dalam benaknya.
"Waah........jangan jangan dia?"
Pikirnya.
Berpikir sampai disitu, tenaga dalamnya semakin dihimpun lagi terutama pada ketajaman pen-dengarannya, ia dapat mendengar suara langkah kaki dari tosu tersebut, sekalipun langkahnya enteng dan pelan seperti langkah dari seorang lihay, tapi diantara benturan pedang yang memekikkan telinga, ia toh sempat menangkap juga suara benturan kayu dengan batu diantara langkah kakinya.
Hoa In-liong semakin yakin bahwa dugaannya tidak meleset, tiba-tiba ia membentak keras.
"Apakah tootiang adalah Tong-thian kaucu?"
Mendengar teguran itu, tosu beralis putih itu segera melepaskan sebuah serangan gencar lalu melompat mundur ke belakang, gumamnya dengan amat sedih.
"Aaai......sudah tua, sudah tua, aku memang sudah tak berguna lagi......"
Kepalanya didongakkan, kemudian memberi hormat kepada Hoa In-liong, katanya lebih jauh.
"Enghiong memang selalu muncul dikala masih muda, dengan usia Hoa kongcu sekarang ternyata sanggup menandingi pinto dengan posisi seimbang, pinto merasa bersyukur sekali atas keberhasilan Hoa tayhiap mempunyai keturunan yang bisa diandalkan!"
Tiba-tiba Bu tim tojin melompat keluar dari kerumunan orang banyak, lalu teriaknya keras-keras.
"Suhu!"
La Segera menjatuhkan diri berlutut di depan tosu beralis putih itu.
Menyusul kemudian muncul kembali dua orang imam setengah umur yang menggembol pedang, kedua orang itupun menjatuhkan diri berlutut di depan imam beralis putih itu.
Menyaksikan kesemuanya itu, imam beralis putih itu menghela napas panjang, sambil ulapkan tangannya, ia berkata.
"Bagaimana kalian semua?"
Setelah memberi hormat Bu-tim totiang sekalian bangkit berdiri.
Sekarang Hoa In-liong sudah tidak sangsi lagi, dia tahu imam beralis putih yang berada dihadapannya sekarang tidak lain adalah salah satu diantara tiga besar yang pernah menggetarkan dunia persilatan pada dua puluh tahun berselang, yakti Thian Ik-cu, ketua dari perkumpulan Tong thian-kau.
"Kemungkinan besar kedatangannya kali ini adalah bersahabat bukan bermusuhan.... pikirnya. Maka sambil menyarungkan kembali pedangnya, ia lantas menjura seraya berkata.
"Jalan raya tidak pantas sebagai tempat bercakap-cakap, silahkan masuk totiang, ijinkanlah boanpwe memberi hormat kepadamu!"
Thian Ik-cu manggut-manggut, bersama Hoa In-liong lantas masuk keruang dalam, sementara Bu-tim tootiang suheng-te beserta dua bersaudara kiong, He lotia dan Cia Sauyan sekalian mengikuti dibelakangnya.
Setelah masuk ke dalam ruangan dan mengambil tempat duduk, Thian Ik-cu ternyata menolak untuk menempati kursinya sebagai seorang angkatan tua, dalam keadaan demikian terpaksa Hoa In-liong harus menerimanya dengan pembagian atas tuan rumah dan tamu.
Bu-tim tojin suheng-te berdiri mengikuti dibelakang Thian Ik-cu.
Sesudah duduk, Thian Ik-cu mulai berkata.
"Pinto pernah berpesan kepada muridku bahwa aku tiada bermaksud untuk turun gunung lagi, tapi sekarang aku melakukan apa yang bertentangan dengan ucapanku itu, mungkin Hoa kongcu akan menganggap pinto berbuat demikian karena ada rencana untuk menerbitkan kembali keonaran dalam dunia persilatan??"
Hoa In-liong segera tersenyum.
"Boanpwe tidak berani menggunakan hati seorang siaujin untuk menuduh orang yang bukan-bukan!"
Mendadak terdengar seseorang tertawa tergelak sambil berseru.
"Haaahh.....haaahh.....haaahh...
hidung kerbau tua itu berbicara lain diluar lain dihati, lohu tidak percaya kalau kau betul-betul sudah bertobat dan tak ingin melanjutkan kembali ambisimu untuk merajai dunia persilatan."
Diantara berkumandangnya perkataan itu, dari balik ruangan muncullah Ting Ji-san serta Ho-Keh-sian. Thian Ik-cu segera bangkit sambil memberi hormat, kemudian katanya sambit tertawa.
"Haaahhh....haahh.. .haaahh.... setelah berjumpa dengan kenalan lama, sekalipun pinto bermaksud jahat, rasanya juga sulit untuk dilaksanakan lagi. Sebagaimana diketahui, Ting Ji sao serta Ho-Kee sian adalah musuh bebuyutan dari Tong thian kau dimasa lampau, kedua orang itu memang tidak percaya dengan niat Thian lk cu, sebab itu buru-buru mereka menyusul datang setelah mendapat laporan. Menanti kedua orang itupun sudah ambil tempat duduk, Thian Ik-cu baru berkata.
"Dengan ular sakti menggigit hati, pihak Mo kau berhasil menguasai sejumlah jago lihay, apakah Hoa kongcu telah mengetahui persoalan ini?"
Hoa In-liong segera tersenyum.
"Hoanpwe sendiri pun pernah merasakan akibat dari ilmu ular sakti menggigit hati itu katanya. Mendengar jawaban tersebut, Thian Ik-cu agak tertegun, dengan sepasang matanya yang tajam, diawasinya raut wajah anak muda itu tajam-tajam, kemudian katanya lagi.
"Hoa kongcu sama sekali tidak menunjukkan gejala keracunan ular beracun itu, apatah ibumu telah berhasil memunahkan pengaruh racun ular sakti menggigit hati?"
"Ibuku sendiri juga kurang begitu yakin dengan kemampuannya untuk memunahkan pengaruh racun itu,"
Jawab Hoa In-liong secara gamblang dan terus terang.
"adapun boanpwe bisa memunahkannya lantaran secara tidak sengaja aku berhasil mendesak racun itu ke dalam jalan darah Keng gwa-khi-hiat, kemudian dari situ racun tadi pelan-pelan di tempa sampai lenyap"
Ihian lk cu segera menunjukkan perasaan kecewa, katanya.
"Aaai... .padahal ibumu sudah menjadi ahli waris dari Kiu toksian ci, kalau dia-pun tidak sanggup, rasanya di dunia ini tak ada orang lain lagi yang sanggup memunahkan pengaruh racun itu."
"Tapi kejadian ini berlangsung kurang lebih tujuh delapan bulan berselang,"
Sela Hoa In-liong cepat.
"sedangkan ibuku selalu ber usaha untuk menemukan obat untuk memusnahkan pengaruh racun tadi, siapa tahu kalau sekarang ia telah berhasil dengan usahanya? Boanpwe mempunyai obat mustika yang bisa memunahkan pengaruh racun ular -sakti tersebut,"
"Kalau sudah tersedia obat mujarabnya, pinto pun tak usah kuatir lagi....."seru Thian Ik-cu kemudian dengan kegirangan. Diam-diam Hoa In-liong berpikir.
Baca Juga: Badik Buntung 10
Baca Juga: Kelelawar Tanpa Sayap 2