Eps 3 Neraka Hitam - Khu Lung
Baca online Neraka Hitam - Khu Lung
Cersil Neraka Hitam - Khu Lung.
"Dengan hasil latihan selama ini, sepantasnya kalau luapan emosi dapat dikendalikan, tapi terhadap masalah ini ia tak bisa menyembunyikan rasa murung dan gembiranya, ia menunjukan betapa seriusnya masalah tersebut, jangan jangan dikarenakan adanya sekelompok jago lihay yang keracunan itu?"
OoooOooooo Bab 44 Sementara itu Thian Ik-cu telah termenung beberapa saat lamanya tiba-tiba ia berkata.
"Hoa kongcu, apakah kau bersedia mempercayai pinto?"
"Maksud tootiang?"
Hoa In-liong balik bertanya sesudah tertegun sejenak lamanya. Dengan wajah serius Thian Ik-cu berkata.
"Berbicara sesungguhnya semua perbuatan dan tindak tanduk Tong hian kau dimasa lalu adalah perbuatan yang menimbulkan kebencian dan kutukan orang banyak, tiga puluh tahun berselang dalam pertemuan Pak beng hwe pun pinto pernah mengerubuti dan melukai leluhur Hoa kongcu, sekalipun atas keberesan jiwa ayahmu ia memberi sebuah jalan kehidupan untukku, aai....! Siang maupun malam pinto selalu merasa bahwa perbuatanku ini sangat berdosa....."
Perkataan itu diucapkan pelan-elan dan penuh dengan perasaan menyesal, bahkan sama sekali tidak menunjukan kalau ucapan itu hanya pura-pura atau alasan saja.
Andaikata tidak disaksikan dengan mata kepala sendiri, siapa yang menduga kalau seorang gem-bong iblis yang pernah di benci orang dulu, sekarang benar-benar telah bertobat dan menyesali semua perbuatannya?
"Urusan yang sudah lewat biarkan lewat, kenapa tootiang mesti mengungkapnya kembali?"
Sesudah berhenti sebentar, dengan nada seperti baru memahami, ia berkata lebih jauh.
"Oooh. ..tampaknya karena boanpwe tidak menjawab langsung pertanyaan tootiang maka kau berkata begitu, padahal siapa bilang kalau boanpwe tidak mempercayai dirimu?"
"Kalau begitu, pinto lah yang sudah terlalu banyak curiga,"
Kata Thiao Ik-cu tertawa lirih. Kemudian dengan wajah serius katanya lebih lanjut.
"Kalau toh Hoa kongcu mempercayai pinto, baiklah pinto berbicara secara terus terang, dapatkah Hoa kongcu membawa obat obat mustika itu dan mengikuti pinto untuk menyelamatkan kawan jago lihay yang keracunan itu.....?"
Ketika ucapan tersebut diutarakan keluar, dua bersaudara Kiong dan Cia Sau-yan masih tidak merasa seberapa mereka mengira kebusukan hati Tang thian kaucu sesungguhnya tidak seperti apa yang disiarkan dalam dunia persilatan selama ini.
Berbeda dengan Ting Ji san dan Hoa Kee si-an yang termasuk orang "Lama"
Mereka tertegun dan saling berpandangan sekejap dengan wajah ragu-ragu.
Dalam anggapan mereka tak nanti, Thian Ik-cu akan mempunyai pikiran untuk menolong orang, kedua orang itu justru kuatir kalau tosu tua itu hanya mempergunakan katakata manis untuk membohongi Hoa In-liong, kemudian di tengah jalan membunuhnya serta merampas obat mustika miliknya.
Tiba-tiba Tiang Ji san berkata.
"Diantara kawanan jago lihay kena dikendalikan musuh itu, sesungguhnya terdapat jagoan macam apa saja, sehingga tootiang begitu memandang serius pada urusan ini?"
Thian Ik-cu bukan orang kemarin sore, sudah barang tentu diapun mengetahui akan kecurigaan Ho Kee sian serta Ting Ji san, iapun tertawa hambar.
"Menurut apa yang pinto ketahui, diantaranya terdapat ciangbunjin dari keluarga Wi di kota Wan ciu....... sam suan ni (tiga singa sakti) Can Kian-liong dan sebagainya, sekalipun secara dipaksakan masih bisa terhitung jagoan kelas satu, pinto masih belum tergerak hatinya tapi pinto justru menemukan bahwa salah seorang diantaranya justru memiliki ilmu silat jauh di atas kepandaian pinto sendiri."
Agak tergerak perasaan semua orang setelah mendengar perkataan itu, sebagaimana diketahui kedudukan Thian Ik-cu Pek Siau thian dari perkumpulan Sin-ki-pang, Jin Hian dari Hong im hwee disebut tiga kekuatan besar dalam dunia persilatan tempo dulu, ilmu silat mereka boleh dibilang sudah mencapai tingkatan yang amat tinggi.
Dalam pemunculan untuk kedua kalinya muski kepandaian mereka masih belum sanggup me-nandingi kehebatan dari Tang Kwik siu maupun ketua dari Hian-beng-kau, namun boleh dibilang juga cukup hebat.
Tapi kenyataanya sekarang, pihak Mo kau berhasil menguasai begitu banyak jago lihay dari dunia pesilatan, boleh dibilang kejadian ini sangat mengejutkan siapa pun.
Diam-diam Hoa In-liong berpikir.
"Jangan-jangan yang dimaksudkan adalah Coa? Hanya dia seorang yang memiliki kepandaian se-dahsyat itu, apalagi sebagai keturunan dari Bu seng (malaikat ilmu silat)......"
Berpikir sampai disitu, diapun lantas bertanya.
"Tootiang, macam apakah raut muka orang itu?"
Ketika kesana, pinto saksikan orang itu penuh bercambang lebat, jelas tampaknya sudah terkurung lama sekali mukanya kurang begitu jelas, tapi kalau dilihat dari rambutnya hitam pekat serta nada suaranya, ia jelas ia masih muda."
"Kalau dilihat dari usianya, memang rada mirip dengan empek Cou..."
Pikir Hoa In-liong.
Sekalipun ia tidak tahu berapakah usia Coa Go-an hau tahun ini, tapi atas dasar usia Kwan bun sian, ia tahu kalau umurnya kira kira setengah baya......
Ketika Thian Ik-cu menyaksikan pemuda itu lama sekali membungkam, sambil menghela napas lantas katanya.
"Apakah Hoa kongcu merasa penjelasan pinto kurang lengkap....."
"Oooh tidak, harap tootiang jangan salah paham,"
Buruburu Hoa In-liong menukas.
"sebenarnya Boanpwe bermaksud menitipkan obat mustika itu kepada tootiang, tapi setelah mendengar uraian tadi terpaksa aku harus mengunjunginya sendiri, entah lang Kwik siu menyekap kawanan jago lihay itu dimana?"
"Tempat itu terletak di sebelah kiri kota Thong-shia, letaknya termasuk diwilayah Ci.
"Tidak heran kalau beberapa kali kuselidiki kebun keluarga Can yang dihuni Tang Kwik-siu sama sekali tidak menempatkan hasil apapun, rupanya Tang Kwik-siu telah menyembunyikan kawanan jago itu di atas bukit Cian sani......."
"Lohu juga ingin ikut!"
Tiba-tiba Ho Kee-sian menimbrung. Dengan kening berkerut Hoa In-liong berpaling ke arahnya, lalu berkata.
"Empek Ho, bekas anak buah Sin ki-pang berada dibawah pimpinanmu, dalam menghadapi perserikatan tiga perkumpulan aku sangat mengandalkan kekuatan kalian semua, mana boleh bertindak secara sembarangan dan gegabah?"
"Lohu seorang diri tanpa sanak tanpa keluarga, apapun urusannya bukan menjadi tannggunganku, biar aku saja yang menemanimu,"
Sela Ting Ji san pula dengan suara dingin. Kembali Hoa In-liong gelengkan kepalanya berulang kali.
"Aku sangat membutuhkan bantuan cian-pwe untuk mengadakan kontak dengan kawanan agar locianpwe tak boleh sembarangan bertindak,"
Katanya dengan cepat. Ting Ji san segera mendengus dingin.
"Kau.....! Kau sebagai komandan yang memegang tampuk pimpinan, kenapa pula boleh sembarangan bertindak?"
Perlu diterangkan di sini, sekalipun Hoa In-liong adalah seorang pemuda yang binal dan nampak aneh, kendatipun para cian-pwe menatap keren dan tegas kepadanya, padahal mereka semua amat menyayanginya, hakekatnya pemuda itu merupakan naga diantara manusia, sudah barang tentu mereka tak akan tega membiarkan, ia pergi seorang diri mendampingi seorang jago lihay yang sudah tersohor karena kelicikan serta kekejiannya.
Hoa In-liong tertawa, katanya.
"Tiang locianpwe terlalu menyanjung diriku, padahal sekalipun kehilangan boanpwe seorang tapi begitu banyak jago lihay berhasil dilepaskan, bukankah hal ini justru lebih menguntungkan?"
Diluar ia berkata begitu, sementara dengan ilmu menyampaikan suara ia berbisik.
"Thian Ik-cu benar-benar ada maksud untuk bertobat, tidak seharusnya kita selalu mencurigainya sehingga menggusarkan hatinya dan malah membuatnya berpikiran jauh, kalau sampai begitu jadinya kita menyesal sepanjang masa. Lagipula locianwee juga tak akan bertindak sembarangan, bukan suatu pekerjaan, yang gampang bagi Thian Ik-cu jika ingin mencelakai aku!"
Thiang jisan dan Ho Kee sian lalu terbungkam dalam seribu basa, sebabnya mereka masih kuatir kalau Thian Ik-cu menaruh maksud jahat terhadap pemuda itu, tapi bila teringat akan kecerdasan serta, kemampuan ilmu silatnya, hati merekapun menjadi lega.
Hoa In-liong segera bangkit berdiri, katanya.
"Persoalan ini tak bisa ditunda-tunda lagi, harap tootiang beristirahat sejenak, bila hari sudah gelap nanti kita baru berangkat"
Lain kepada Cia Sau-yan dan dua bersaudara Kiong, katanya pula.
"Kepergianku ini harus dilakukan diluar dugaan, jejakpun musti dirahasiakan, makin sedikit orang tahu semakin baik, dengan de mikian dalam lima sampai tujuh hari, belum tentu Tang Kwik-siau akan tahu kemanakah aku telah pergi."
Cia Sau-yan berpikir sebentar, lalu ujarnya.
"Kalau memang begitu, lebih baik aku berangkat lebih dulu dan membawa kuda tersebut keluar kota, kau boleh berganti kuda di kota Siok sian, Luciu serta Hway-wan, di mana berada kantorkantor cabang kami. Sekalipun menunggang kuda agak pelan sedikit, jika dibedal secepat-cepatnya pun tidak akan sampai lambat sekali, apalagi sepanjang jalan pasti ada orang yang coba menyergapmu, menjaga keselamatan diri adalah penting sekali."
Hoa In-liong diam-diam merasa kagum sekali dengan kecermatan jalan pemikirannya, ia manggut-manggut.
"Kalau begitu laksanakanlah!"
Thian ik cu melirik sekejap wajah Cia Sau-yan, tiba-tiba dengan paras muka berubah, katanya dengan suara dalam.
"Nona cilik, apa hubunganmu dengan Ku Ing ing?"
Cia Sau-yan amat terkejut, pikirnya.
"Tajam benar sepasang mata orang ini, tidak malu ia disebut, salah seorang pimpinan jago persilatan."
Karena sadar bahwa tak mungkin persoalan itu dirahasiakan lagi, dengan ketenangan hati ia memberi hormat lalu jawabnya.
"Guruku adalah Pui Che giok, boanpwe Cia Sau-yan menjumpai cianpwe!"
"Kini Ku Ing ing ada dimana? Tentunya kau tahu bukan?"
Kembali Thian Ik-cu bertanya.
Cia Sau-yan tertawa genit.
Dengan memberanikan diri boanpwe ingin berkata, bahwa cianpwe meski sudah lama hidup mengasingkan diri, ternyata jiwa keduni awianmu belum juga hilang, kalau memang begitu, tak ada salahnya kalau kau membalas sakit hati itu di atas diri cianpwe.
Tiba-tiba Thian Ik-cu menghela nafas panjang, kepada Hoa In-liong, Ting Ji-san dan Ho Kee sian ia memberi hormat, lalu katanya "Bila pinto sudah bertindak kasar, harap saudara sekalian jangan mentertawakannya."
Aaah...... sudah sewajarnya kalau manusia bersikap demikian,"
Kata Hoa In-liong sambil tertawa. Thian Ik-cu gelengkan kepalanya berulang kali, ia lantas berpaling ke arah Cia sau-yan sambil katanya.
"Nona ciiik, tajamm amat selembar mulutmu yaa, pinto memang masih sangat terpengaruh oleh keduniawian tapi tak nanti aku akan me nyulitkan seorang cianpwe seperti kau. Lagi pula Hoa tay hiap telah memberi sebuah jalan hidup baru kepadaku, bila pinto masih ingat terus dengan sakit hati lama, bukankah aku betul-betul tak pantas menjadi manusia?"
Sesudah berhenti sejenak, ia menambahkan lebih jauh.
"Tolong sampaikan kepada Giok teng hu Jin, semua hutang piutang dimasa lampau ku hapuskan sampai disini saja."
Berbicara sampai disini, ia pun tidak berkata-kata lagi dan duduk dikursi sambil memejamkan mata.
Ketika Ling Ji san dan Hoo kee sian mendengar ketulusan hatinya dalam pembicaraan tersebut, kecurigaan mereka pun jauh berkurang banyak.
Tempo dulu, Giok teng hujin Ku Ing ing mendapat perintah dari Kiu im kaucu untuk menyusup ke dalam perkumpulan Thong thian kau sebagai mata mata, kemudian ia pun merintahkan Pui Che giok dengan jalan menyaru membunuh putra Jin Hian serta mencuri pedang emas yang mengakibatkan per-pecahan diantara tiga perkumpulan besar.
Kemudian dalam pertemuan, thian ciau tay hwee, Thian Ikcu menanam obat peledak dalam lembah Cu bu kok dengan maksud jika kemenangan gagal diraih, dia akan menyulut sumbu bahan peledak dan meledakkan seluruh anggota persilatan yang berkumpul disana.
Tapi kemudian, rencana besarnya itu berhasil digagalkan oleh Giok teng hujin, sudah barang tentu dendam sakit hati ini luar bi asa besarnya, jadi seandainya Thian Ik-cu dapat melepaskan niatnya untuk membalas sakit hati ini, berarti pula hatinya benar-benar sudah bertobat.
Menjelang malam, Hoa In-liong dan Thi an Ik-cu segera menggunakan ilmu meringan kan tubuhnya berangkat ke kota sebelah selatan dimana He lotia dan Cia Sau-yan telah menyiapkan kuda, air minum serta rangsum kering.......
Setelah mengucapkan terima kasih, berangkatlah kedua orang itu melakukan perjalanannya.
Sepanjang jalan menuju keselatan, mereka selain memilih jalanan yang sepi dan terpencil, yang mereka lewati sebagian besar adalah dusun kecil, tak seorang jago persilatan pun yang dijumpai.
Malam ketiga, mereka telah tiba diluar kota Lu-ciu, setelah berganti kuda di kantor cabang Ci li kau, mereka tidak masuk kota melainkan menginap di sebuah rumah penginapan diluar kota.
Penginapan itu mencakup pula rumah makan kecil, ruangannya tidak terlampau luas dan terdiri dari empat lima buah meja, dua orang itu memilih tempat yang jauh dari keramaian dan memilih hidangan.
Sementara sedang bersantap, tiba-tiba Hoa In-liong mendengar Thian Ik-cu sedang berbisik dengan ilmu menyampaikan suara.
"Hoa tiongcu, sudah kau perhatikan dua orang yang baru masuk ke warung itu?"
Hoa In-liong segera memperhatikan secara diam-diam, ia dengar langkah kaki dua orang itu amat lirih jelas merupakan seorang persilatan yang berilmu tinggi karena ia duduk membelakangi pintu, maka pemuda itu lantas berpalingg sekejap ke belakang, terlihat dua orang kakek sedang melangkah masuk ke dalam warung.
Orang di sebelah kanan adalah seorang kakek bermuka merah dengan jidat yang menonjol tinggi, pipinya sempit dan rambutnya digulung menjadi satu di atas kepala, jubahnya berwarna abu abu.
Sedang orang di sebelah kiri adalah seorang yang bercodet dipipi kirinya, jidat maupun dagunya melengkung ke dalan, matanya hitam kosong sehingga wajahinya tampak mengerikan.
Setelah menyaksikan orang yang berada di sebelah kiri itu, Hoa In-liong merasakan hatinya bergetar keras, pikirnya.
"Menurut cerita Ci Soat cu dari Hian-beng-kau dikatakan bahwa salah satu jago yang ikut serta dalam pembunuhan atas diri Suma siok ya terdapat manusia dengan bentuk wajah semacam ini, jangan-jangan memang dialah orangnya,.....?"
Karena ingin tahu, tak tahan lagi ia bertanya dengan ilmu menyampaikan suara.
"Apakah kau tahu asal usul diri kedua orang ini?"
Sambil tundukkan kepala pura-pura bersantap, jawab Thian Ik-cu dengan ilmu menyampaikan suaranya.
"Kalau dibicarakan sebenarnya, kedua orang ini mempunyai hubungan permusuhan yang sangat mendalam dengan ayahmu, orang yang ada di sebelah kiri itu bernama Sui sim jin (tangan sakti penghancur hati) Gui-Gi-hong, codet pada pipi kirinya diperoleh dari bacokan pedang kakekmu ketika berlangsungnya pertemuan Pak-beng-hwee. kemudian setelah berhenti sejenak, terusnya, Walaupun pukulan penghancur hati dari Gui Gi hong sangat lihay, pinto masih sanggup menangkan dia, tapi orang yang ada di sebelah kanan itu memiliki ilmu silat yang jauh berada di atas kepandaian pinto. Hoa In-liong merasa terkejut sekali, pikirnya.
"Waah......kalau gembong-gembong iblis itu sudah bermunculan semua, bahaya sekali posisiku kini."
"Orang itu bernama Kiong Hau, lantaran masa kemunculannya dalam dunia persilatan amat singkat, maka sekalipun ilmu silatnya sangat lihay, tidak banyak yang mengetahuinya sejak tiga kali pertarungannya dengan kakekmu, dengan kesudahan tiga kali menderita kekalahan total, ia mengasingkan diri dari keramaian dunia persilatan dan tidak diketahui jejaknya lagi."
Sementara pembicaraan berlangsung, Kiong bun dan Sui sim jiu (tangan sakti penghancur hati) Gui Gi Hong telah duduk disamping sebuah meja dan memesan sebuah hidangan.
Oleh karena Hoa In-liong dan Thiao Ik-cu duduk di tempat kegelapan, lagi pula mereka bersantap dengan tertunduk, senjata yang digembolkan tersembunyi dibalik pakaian, serta susah ditemukan, maka Kiong Hao maupun Tangan sakti penghancur hati Gui Gi bongg tidak menyangka kalau di dalam warung yang, terpencil ini bakal menjumpai jago-jago lihay.
Sejak masuk ke dalam warung sampai ambil tempat duduk, kedua orang itu sama sekali tidak memperhatikan keadaan di sekelilingnya.
Ketika sang pelayan menyaksikan raut wajah Gui Gi bong menyeramkan, ia meresa agak takut, tapi tak berani pula bertindak lancang, terpaksa sambil tertawa paksa katanya.
"Yaya berdua, entah kalian ingin pesan apa?"
Kiong Hou dan tangan sakti penghancur hati Gui Gi-hong adalah dua orang gembong iblis yang berilmu tinggi, tapi terhadap rakyat kecil mereka tidak menunjukkan kebengisanya.
Dengan hambar Gui Gi hong berkata.
"Ada apa saja hidangkan keluar tak usah banyak cerewet lagi!"
Pelayan itu menghembuskan napas lega, buru-buru memberi hormat dan mengundurkan diri untuk menyiapkan hidangan.
Lewat beberapa Saat kemudian tiba-tiba kedengaran Tangan sakti penghancur hati Gui Gi hong berkata.
"Menurut pendapat saudara Kiong bagaimana anggapanmu dengan apa yang dikatakan Jin Huan?"
"Rasa takut Jin loji terhadap Hoa Thian-hong sudah terlampau mendalam, sikapnya yang ragu-ragu tak menentu dan tiada tujuan, jelas bukan suatu tindakan yang tetap, jawab Kiong Hou hambar. Diam-diam Thian Ik-cu berbisik dengan ilmu menyampaikan suaranya.
"Ambisi Jin loji untuk merajai kolong langit belum padam, tampaknya ia bermaksud membangun kekuatan kembali untuk melanjutkan cita-citanya yang tempo hari terbengkalailai di tengah jalan!!"
Hoa In-liong hanya teersenyum dan tidak menjawab. Terdengar Gui Gi-hong berkata lebih jauh.
"Jin Hian memang sudah lemah dan tak bersemangat lagi, tapi kekuasaan keluarga Hoa justru kian lama kian meluas kendatipun Hian Kiu im kau dan Seng sut pay bekerja samapun belum tentu sanggup menumbangkan kekuasaannya, menurut penilaianku lebih baik biarkan saja mereka saling bertarung sampai sama-sama terluka kemudian kita baru mendobrak diri tengah, ini baru suatu tindakan yang sangat bagus"
"Aaahh....aku rasa belum tentu demikian,"
Kata kiong Hau dengan suara hambar.
"tempo hari bukankah Kiu im kau juga munculkan diri dari isolasi disaat kaum pendekar dengan Tong-thian-kau Sio ki pang dan Hong im hwee sudah menjadi lemah karena saling bertemu, kejadian ini sudah pernah berlangsung satu kali tak boleh sampai berlangsung untuk kedua kalinya, tidak mungkin mereka tanpa persiapan apalagi bagaimanapun juga Kiu-im kau toh akhirnya kalah juga di tangan Hoa Thian-hong."
"Kalau memang begitu, lebih baik kita tak usah munculkan diri kembali dalam dunia persilatan kata Sui im sim jiu Giu Gi hong.
"Itupun tidak perlu,"
Jawab Kiong Hau dengan suara ketus.
"siasat adalah hasil pemikiran manusia, semua makhluk adalah sama semua, kenapa kitapun tidak manfaatkan kelebihan kita masing masing?"
"Hmm..tampaknya mereka adalah sekelompok manusia yang enggan hidup tenang...."
Pikir Hoa In-liong. Terdengar Tangan sakti penghancur hati Gui Gi hong telah berkata kembali.
"Aku rasa saudara Kiong tentu mempunyai siasat bagus, dapatkah kudengarkan rencaramu itu?"
Tanpa terasa Thian Ik-cu dan Hoa In-liong sama-sama pasang telinga untuk menyadap pembicaraan tersebut, sebab jika rencana mereka sampai diketahui, maka sewaktu melakukan pembersihan nanti merekapun tak usah membuang tenaga terlalu banyak.
"Saudara Gui, kenapa kau demikian tololnya?"
Kata Kiong Hiu segera.
"Tempat apakah ini? Dinding bertelinga, kau kira tempat semacam ini cocok untuk dipakai membicarakan semacam itu?"
Di tengah pembicaraan tersebut, sinar matanya yang biru dan tajam mendadak memandang sekejap ke arah Hoa Inliong serta Thian ik cu.
Hoa In-liong tahu bahwa musuhnya sudah mulai waspada, ia tersenyum sambil menahan pinggiran meja dan bangkit berdiri, bisiknya kepada Thian Ik-cu.
"Dalam berapa gebrakan tootiang bisa membentak manusia she Gui itu?"
Mendengar perkataan itu, Thian Ik-cu segera tahu bahwa Hoa In-liong ada niat untuk bertarung melawan Kiong Hiu, sahut-nya.
"Bukan pinto tiada keyakinan untuk membekuk orang itu, tapi menolong orang lebih penting, lebih baik kau berangkat duluan, biar pinto yang menghadang mereka sebentar, segera kususul dirimu nanti."
Ia mengibaskan ujung bajunya, lalu bangkit berdiri.
Agaknya Tangan sakti penghancur hati Gui Gi-hong merasakan juga bahwa ke dua orang itu berilmu tinggi, ia tertawa seram lalu mengangkat lengan kanannya.
Kiong Hou sendiri sama sekali tidak menunjukkan reaksi apa-apa, seakan-akan tak pernah terjadi suatu kejadian apapun, ditekannya lengan kanan Gui Gi hong, kemudian ujarnya kepada Thian ik cu dan Hoa In-liong.
"Sahabat berdua, mengulur waktu tiada kegunaan untuk kalian berdua, apa salahnya kalau berbicara secara terus terang saja? Hey sobat yang memukai jubah pendeta, mengapa tidak kau perlihatkan tam-pangmu?"
Buru-buru Thian Ik ci berseru dengan ilmu menyampaikan suara.
"Hoa kongcu harap merahasiakan dulu asal usulmu, pinto akan mencoba untuk mengatasi masalah ini, seandainya tidak dapat di rahasiakan lagi, belum terlambat rasanya untuk bertarung lebih jauh"
Hoa In-liong pun diam-diam berpikir.
"Kedua orang itu bukan lawan enteng, bila sampai bentrok tak mungkin pertarungan itu bisa diakhiri dalam waktu singkat, kalau sampai kejadian ini meng-akibatkan rencana ku untuk menolong orang menjadi gagal, wah sudah pasti tindakanku ini bukaan suatu tindakan yang cerdik"
Ia bukan termasuk seseorang yang terlampau keras mempertahankan pendapatnya maka setelah berpikir sebentar dia pun mengangguk.
Thian ik cu tidak banyak berbicara lagi sambil memutar tubuhnya ia tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh........haaahh.........haaahhh....... saudara Kiong, saudara Gui, sudah lama kita tak berjumpa, masih ingat dengan pinto?"
Sui sim jiu Gui Gi-hong melototkan sepasang matanya lebar-lebar, lalu serunya.
"Oooh..........rupanya kau adalah Tong-thian kaucu, sungguh tak disangka kita dapat berjumpa kembali di kedai ini. Haaahhh..... haaahhh.......... haahhh, selama dua puluh tahun terakhir ini to-heng telah tersembunyi di mana......?""
Diam-diam Thian Ik-cu agak girang, sahutnya.
"Kejadian yang sudah lewat tak akan berulang lagi, lebih baik tak usah kau singgung kembali. Justru dari pembicaraan saudara Gui dan saudara Kiong dapat kudengar bahwa kau ada niat untuk membangun kembali kejayaan tempo hari, teringat sampai kepersoalan tersebut hatiku gatal, aku jadi ingin pula mengikuti jejak kalian. Cuma..........aku pikir tenaga yang diandalkan saudara Kiong dan saudara Gui masih terlampau minim."
Kalau masa jayanya tiga perkumpulan bessar dulu, sekalipun pekerja kasar juga mengetahui nama mereka tapi setelah mengalami masa damai selama dua puluh tahunan, nama besar mereka hampir boleh dibilang sudah dilupakan orang, maka pembicaraan antara kedua orang itu sama sekali tidak menarik perhatian para tamu lain-nya dalam warung.
"Bila to-heng bersedia membantu, masalah besar ini pasti tak sulit untuk diselesaikan!"
Setelah berhenti sebentar, katanya lagi sambil tertawa.
"Terus terangnya saja to-heng, aku dan Kiong heng telah bersekutu."
"Tunggu sebentar saudara Gui!"
Tiba-tiba Kiong Hui menukas. Dengan wajah tertegun Gui Gi-hong menatap wajah rekannya. Sementara itu Kiong Hau telah alihkan sinar matanya kewajah Hoa In-liong, lalu tegurnya dingin.
"Siapakah orang yang berjalan bersama-sama to-heng itu??"
Agak tercekat juga perasaan Hoa In-liong ketika dilihatnya sampai saat itu Kiong Hau masih tetap duduk tak berkutik dengan wajah tanpa emosi, pikirnya.
"Orang ini benar-benar luar biasa......"
Setelah berpikir sebentar, ia merasa jika dirinya membungkam terus hal ini malah akan menimbulkan kecurigaan orang, diapun tak ingin Thian Ik-cu mencari nama palsu baginya maka sambil tertawa ujarnya.
"Bila kau ingin mengetahui siapakah aku, apa salahnya kalau dicari dari kepandaian silat yang dimiliki?"
Maksud lain dari ucapan itu jelas adalah menantang Kiong Hau untuk berduel. Menyaksikan ulah pemuda itu, Thian Ik-cu lantas mengerutkan dahinya dan berpikir.
"Dasar anak muda, kau anggap Kiong Hau adalah seorang manusia yang gampang dilayani?"
Mencorong sinar tajam dari balik mata Ki ong Hau, katanya.
"Anak muda, semangatmu memang cukup boleh dipuji, tapi biar lohu periksa dulu apakah kau pantas untuk berduel denganku aku tidak?"
"Silahkan!"
Kata Hoa In-liong sambi!
tersenyum.
Sepasang alis mata Kiong Hau yang tebal berkerut kencang lalu sambil tertawa dingin sepasang tangannya disodok kedepan.
Dua buah cawan arak dengan cepat melayang ke arah Hoa In-liong seakan akan ada orang yang membawanya.
Ketika menyaksikan adegan tersebut, semua tamu dalam warung hampir seluruhnya menjerit kaget kemudian suasana menjadi hening dan sepi, sinar mata semua orang tertuju pada dua buah cawan tadi bahkan ada pula yang berdiri dengan mata terbelalak dan mulut melongo sehingga keadaan-nya lucu sekali.
Sesaat kemudian kedua buah cawan arak itu sudah melewati dua buah meja ketika tiba pada jarak lima enam depa dari Hoa In-liong, mendadak cawan yang ada di sebelah belakang mempercepat gerakannya meluncur ke depan dan menyusul cawan yang berada di depan.
Seandainya kedua cawan arak itu sampai dibiarkan saling membentur antara yang satu dengan lainnya, niscaya cawan itu akan pecah dan akibatnya arak akan berhamburan membasahi tubuh Hoa In-liong.
Sejak awal tadi Hoa In-liong sudah tahu kalau kepandaian yang dipergunakan Kiong Hau adalah Yen yang siang bui (sepasang burung meliwis terbang bersama) pada dasarnya dia memang ada minat untuk unjukkan kehebatannya, maka hawa murninya dihembuskan lewat tiupan........
Cawan arak yang sedang melayang dibelakang itu segera tersambar bagaikan termakan oleh segulung tenaga pukulan yang dahsyat, mendadak berubah menjadi serentetan cahaya putih dan meluncur keluar dari pintu kedai lalu lenyap tak berbekas.
Sementara sisa cawan yang terakhir dikebut dengan ujung bajunya, dengan suatu gerakan yang pelan dan tenang, tahutahu sudah melayang turun di atas meja tanpa tumpah barang setetespun.
Gui Gi hong menjerit kaget, sementara sinar mata Kiong Hau semakin tajam, bahkan Thian Ik-cu sendiripun tidak menyangka kalau Hoa In-liong memiliki tenaga dalam sedemikian sempurnanya.
Terdengar Hoa In-liong berkata dengan wajah serius.
"Kalau toh engkau telah unjukkan kepandaian, dengan menggunakan kesempatan ini aku yang tak becuspun ingin pula menjajal kepandaian sakti saudara......"
Tidak menanti jawaban dari Kiong Hau, lagi ia menjepit sebuah piring kosong lalu di lemparkan ke arah orang itu.
Dibalik piring kosong tersebut tersembunyilah tenaga murni yang sangat kuat, secepat kilat dengan gerakan berputar meluncur ke muka.
Menyaksikan hal tersebut, Kiong Hau segera menyentilkan segulung desingan angin tatam ke depan, dengan cepat angin tajam itu menghantam bagian tengah piring.
Karena penggunaan tenaganya dilakukan sangat cepat, maka ia bermaksud mementalkan kembali piring tersebut, kemudian sekalian diberi sedikit permainan busuk agar pemuda tersebut kehilangan muka.
Siapa tahu, justru Hoa In-liong telah melakukan pula sedikit permainan busuk pada piring tersebut, begitu termakan angin pukulan dari luar .....
"Praaak.....!hancurlah piring itu menjadi hancur berkeping keping, lalu seperti hujan gerimis langsung mengurung sekujur badan kiong Hua malah Gui Gi hong yang berada di sampingnya ikut pula terkena hancuran piring itu. Tampaknya Kiong Hua sulit menghindarkan diri lagi, tibatiba ia menggulung ujung bajunya ke depan, hancuran piring itu menjadi berubah arah, seperti ikan paus menghisapp air, selaksa kambing kembali kesarang, serentak semua hancuran piring itu terhisap kebalik ujung baju kiri Kiong Hau. Padahal d antara hancuran piring tersebut Hoa In-liong telah menyertakan tenaga dalamnya yang amat sempurna, tentu saja dalam keadaan tergesa-gesa tak mungkin bagi kiong Hau untuk menghisap seluruh pecahan piring itu, salah satu diantaranya dengan telak menghantam di atas bahu kanannya. Tenaga dalamnya cukup sempurna, sekali pun pecahan piring itu menembusi jubahnya tapi tidak sampai menimbulkan luka, tapi dengan kedudukannya yang tinggi ternyata kena dipecundangi oleh seorang angkatan muda, sedikit banyak hal ini sangat menurunkan martabatnya. Tampak Kiong Hau bangkit berdiri, ujung bajunya dikebaskan kemeja dan hancuran piringpun segera berhamburan kemeja, matanya memancarkan sinar merah, hawa nafsu membunuh menyelimuti wajahnya. Thian Ik-cu dan Hoa In-liong kuatir dalam malunya ia menjadi gusar dan melancarkan serangan mematikan, serentak tenaga dalam yang mereka miliki di himpun menjadi satu untuk bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan. Sementara itu Sui sim jiu Gui Gi hong berbuat pula menghindarkan diri dari pecahan piring, serunya.
"Toheng, sungguh lihay ke pandaian silat yang kau miliki, aku orang she Gui dengan tak tahu diri ingin memohon beberapa petunjuk darimu. Saudara Gui akulah yang telah salah tangan, sudah sepantasnya aku pula yang menghadapi mereka harap saudara Gui jangan mencampuri urusan ini, tiba-tiba Kiong Hau berka. Gui Gi hong tertegun, terpaksa ia menghentikkan langkah kakinya sambil menjawab.
"Kalau memang begitu, siau te akan menjadi penonton yang baik saja..."
Sementara itu, para tamu yang ada dalam warung telah merasakan pula hawa pembunuhan yang menyelimuti sekeliling tempat itu, tapi karena Kiong Hui dan Gui Gi hong duduk dekat pintu kedai, maka tak seorangpun diantara mereka yang berani melewati dari sampingnya, terpaksa sambil mengeluh mereka semua berkumpul disudut ruangan.
Hoa In-liong mengerling Ik-cu, kemudian sambil perpaling katanya.
"Kiong Hau, jika kau ingin beradu kepandaian denganku lebih baik kita langsungkan pertarungan diluar dusun, jangan karena ulah kita mengakibatkan orang lain yang terluka."
Jubah yang dikenakan Kiong Hau bergoncang keras meski tidak berhembus angin, jelas Kemara-hannya sudah memuncak tapi sejenak kemudian wajahnya telah putih kembali menjadi tenang, ia berkata.
"Hari ini lohu mengaku kalah lain kali dimana kita berjumpa, distu kita bikin perhitungan, nama saudara, kita persoalkan lain kali saja."
Lalu sambil berpaling ia berseru.
"Saudara Gui, hayo berang kat!"
Ujung bajunya dikebaskan iapun putar badan dan berjalan keluar dari ruangan kedai.
Menyaksikan sikap rekannya itu Sui sim jiu Gui Gi hong agak tertegun kemudian setelah melirik sekejap ke arah In-liong dan Thian Ik-cu, ia tertawa dingin, setelah melemparkan sekeping uang perak ke atas meja dan menekannya pada permukaan, iapun putar badan dan menyusul rekannya.
Sesungguhnya suatu pertarungan sengit tak akan terhindarkan, tapi secara aneh telah batal dengan begitu saja, sekarang para tamu dalam warung, baru bisa menghembuskan napas lega.
Sebaliknya Hoa In-liong pun merasa amat kagum dengan cara Kiong Hau yang berani mengaku kalah secara terus terang tanpa berusaha bermain curang.
Cuma dengan terjadinya peristiwa ini, mereka berdua pun tak berani menginap disitu lagi, selesai membereskan rekening kedua orang itu segera menitahkan pelayan untuk menyiapkan kuda.
Tampak ciangkwe kedai itu dengan wajah bermandi peluh sedang berusaha mengorek keluar uang perak yang ditekan masuk ke dalam permukaan meja oleh Gui Gi hong itu, tapi sudah mengorek setengah harian pun tidak ada hasilnya.
Melihat itu Hoa In-liong segera tersenyum, di hampirinya orang itu, kemudian tangannya menekan pinggiran meja dan hawa murni disalurkan keluar, secara tiba-tiba saja uang perak itu melompat keluar dengan sendirinya......
Kejadian ini malah mengakibatkan ciangkwe ketakutan setengah mati, dengan sempoyongan dia mundur tiga langkah dari posisi semula.
Keluar dari kedai, dua orang itu melompat naik ke atas kuda dan membedalnya meninggal tempat itu.
Sesudah keluar dari wilayah kota Lu ciu, Thian Ik-cu baru berkata sambil tertawa terbahak-bahak.
"Haaah.....haaahh.....haaahh....selama hidupnya Kiong loji selalu latah dan tinggi hati tapi berulang kali pula dia musti jatuh pecundang di tangan orang-orang keluarga Hoa, dulu kakeknya kini cu cunya, kalau dia sampai mengetahui tentang persoalan ini, entah bagaimanakah jalan pemikirannya waktu itu?"
Hoa In-liong gelengkan kepalanya berulangkali.
"Kekalahan yang dialami Kiong Han barusan adalah akibat dari kegegabahannya sendiri, coba kalau kita bicarakan dari caranya melepaskan senjata rahasia tadi, bisa diketahui bahwa ilmu silatnya betul-betul sudah mencapai setingkatan yang luar biasa, andaikata sampai betul-betul terjadi pertarungan mungkin bonnpwe masih bukan tandingan-nya. Thian Ik-cu termenung sebentar, kemudian ujarnya.
"Kalau begitu sewaktu bertarung melawan pinto tempo hari, Hoa kongcu belum menggunakan segenap kekuatan yang kau miliki?"
Hoa In-liong tersenyum.
"Dan tootiang sendiri? Masa kau telah menggunakan seluruh kekuatanmu.....?"
Ia balik bertanya. Setelah berhenti sejenak, katanya lebih lanjut.
"Kalau diperhatikan paras muka Kiong Hau dan Gui-Gi hong ketika pergi tadi, tampaknya bahkan tootiang pun ikut dibenci, bila tootiong sampai berjumpa lagi dengan mereka dikemudian hari, harap kau bersikap lebih hati-hati."
"Aaah..... pinto tak akan sampai jeri kepada mereka,"
Jawab Khian Ik-cu angkuh.
"Untuk satu lawan satu, Kiong Hau tidak berani kukatakan, tapi kalau orang she Gui sudah jelas tak akan mampu menahan seratus jurus seranganku, sekalipun mereka turun tangan bersama, pinto juga masih sanggup untuk angkat kaki dari situ."
"Tootiang, tahukah kau semasa masih hidupnya dulu apakah Suma siok ya pernah terlibat dalam suatu pertikaian atau hubungan dendam sakit hati dengan Kiong Hau atau Gui Gi hong?"
Tiba-tiba Hoa In-liong bertanya secara serius. Thian Ik-cu termenung sejenak, kemudian sambutnya.
"Sudah terlalu banyak jago kalangan hitam yang dibunuh Suma tayhiap semasa masih hidupnya, ia boleh dibilang merupakan sumber pembunuh nomor satu dari golongan para hiap khek, sudah barang tentu permusuhan tak bisa dihindari, mungkin saja mereka pernah terikat oleh suatu dendam..."
Setelah berhenti sebentar, terusnya.
"Apakah Hoa kongcu menaruh curiga bahwa Suma tayhap tewas di tangan Kiong Hau dan Gui Gi hong sekalian?"
Hoa In-liong mengangguk.
"Kok See-piau telah cuci tangan bersih-bersih dari keterlibatannya dalam peristiwa pembunuhan Suma siok-ya, sekalipun boanpwe tidak mempercayainya seratus persen, persoalan inipun musti di selidiki sampai jelas, agar putri Suma siok ya dapat secara langsung membalas sendiri sakit hatinya.
"Sebagai seorang anak yang berbakti, nona Suma memang sepantasnya berbuat demikian, kalau tidak bagaimana mungkin sukma Suma tayhiap suami-istri yang ada dialam baka bisa beristirahat dengan tenang?"
"Yaa......tampaknya bila ada kesempatan berjumpa lagi dengan Kiong Hau, aku musti menanyakan persoalan ini secara langsung ke padanya, aku rasa mereka sebagai seorang jago kelas satu dalam dunia persilatan pasti tidak akan bohong, sebaliknya kalau menyangkal, salah seorang diantara mereka tentu adalah pembunuhnya, asal diselidiki secara seksama, rasanya tidak sulit untuk menemukannya."
"Pada akhirnya persoalan ini, pasti akan menjadi beres dengan sendirinya, waktu itu mungkin saja pinto masih hidup mungkin juga telah berpulang ke alam baka, aku tak lain hanya bisa mengucapkan sela-mat kepada nona Suma, semoga saja ia berhasil menuntut balas bagi sakit hatinya...."
"Boanpwe mewakili Jin Kokoh mengucapkan banyak terima kasih!"
Setelah memeriksa cuaca sejenak, ia lebih jauh.
"Kiong Hau dan Gui Gi-hong tampaknya tak ada hubungan dengan ketiga buah perkumpulan besar, sekalipun belum mengenali asal usul boanpwe, tapi kitapun harus sedia payung sebelum hujan, lebih baik menggunakan keadaan gelap untuk melanjutkan perjalanan, menolong orang lebih penting dari segala galanya, entah bagaimana menurut pendapat tootiang?"
"Segala sesuatunya terserah pada keputusan Hoa kongcu, pinto tidak mempunyai usul lain."
Hoa In-liong tahu bahwa tosu tua ini selalu teringat dengan budi kebaikan yang pernah diterima dari ayahnya, maka ia selalu berusaha membalas budi kebaikan itu.
Maka tanpa banyak berbicara lagi dia mengempit perut kuda dan melarikan binatang tunggangnya cepat-cepat ke depan.
Malam itu mereka berdua sudah memasuki daerah pegunungan, karena harus melakukan perjalanan ratusan li jauhnya non stop, kuda-kuda itu sudah mulai berbuih putih, napasnya ngos -gosan dan sukar untuk meneruskan perjalanan lagi, dalam keadaan demikian terpaksa mereka turun dari kuda dan melanjutkan perjalanan naik bukit dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya.
Thian Ik-cu berjalan di paling depan diikuti Hoa In-liong dari belakangnya, di tengah jalan ia sama sekali tidak bertanya kepada Thian Ik-cu, dimanakah Tang Kwik siu menyekap jago-jago lihay yang berhasil ditawannya itu, atas kepercayaan pemuda itu kepadanya Thian Ik-cu merasa sangat berterima kasih.
Setelah mendaki bukit melewati jeram, mendekati fajar sampailah mereka di atas sebuah puncak gunung.
Sambil menunjuk ke lembah bukit di sebelah bawah sana Thian ik cu lantas berkata.
"Kawanan jago lihay itu mereka sekap dalam lembah tersebut"
Hoa In-liong coba menengok ke bawah, ia saksikan lembah dibawah bukit situ bentuknya seperti sebuah kupu-kupu, tengah lebar dengan kedua buah mulut lembahnya sempit, pada tiap mulut lembah berdirilah sebuah pagar kayu yang tingginya mencapai lima kaki.
Dalam lembah, setiap jarak tertentu berdiri pula sebuah pagar kayu yang banyaknya mencapai empat lapis, di atas pagar kayu tadi ber dirilah kawanan jago Mo kau yang berjubah kuning sedang melakukan perondaaan, sementara bagian tengah lembah dekat tebing curam berdirilah serangkaian bangunan rumah.
Setelah memandang sekejap dengan terburu-buru, sambil berpaling katanya.
"Tampaknya penjagaan disana ketat sekali, tempo hari dengan cara apa tootiang berhasil masuk ke dalam?"
"Tempo hari pinto berhasil masuk ke dalam karena menguntit di belakang serombongan murid Mo kau yang ditugaskan keluar gunung untuk membeli bahan makanan, karena orang-orang itu tengah malam buta baru kembali ke dalam lembah, maka pinto menyembunyikan diri dalam sebuah kereta.
"Lantas kawanan jago lihay itu disekap dimana?"
Tanya Hoa In Liong lebih lanjut.
Jilid 7 Sambil menunjuk ke arah rangkaian bangunan rumah dibawah sana, jawab Thian Ik-cu.
"Dibelakang bangunan rumah itu terdapat sebuah gua yang tembus ke lambung bukit, didalam gua itulah kawanan jago tersebut di sekap, dalam gua terdapat dua buah pintu masuk"
Meminjam sinar fajar yang hampir menyingsing, Hoa Inliong mencoba untuk memeriksa keadaan disana, sekalipun ketajaman matanya melebihi orang lain, sayang gua itu tidak tertampak karena tertutup oleh bangunan rumah, maka diamdiam pikirnya.
"Kalau dilihat dari penjaga yang berlapis-lapis, rasanya bukan suatu pekerjaan yang gampang bila ingin menolong orang dalam gua tanpa diketahui para penjaga"
Sementara ia masih termenung, Thian Ik-cu telah berkata lagi.
"Ketika tempo hari pinto berhasil menyusul ke dalam gua, hal itu sesungguhnya lantaran nasibku yang sedang mujur dan akhirnya pada pintu gerbang kedua jejakku ketahuan, setelah berlangsungnya suatu pertarungan seru, akhirnya aku baru berhasil kabur dengan selamat"
Hoa In-liong mengerutkan dahinya rapat-rapat, katanya kemudian.
"Kalau toh totiang berhasil mengetahui rahasia mereka, mungkinkah Tang Kwik-siu masih akan menyembunyikan tawanannya disini?"
Thian Ik-cu kembali termenung sejenak, lalu sahutnya.
"Menurut dugaan pinto, bangunan markas semacam ini bukan bisa dibangun dalam sehari semalam, tidak mungkin Tang Kwik-siu akan melepaskan bangunan tersebut dengan begitu saja, karena pernah munculnya jejak musuh disitu, aaai.......... kalau Tang Kwik-siu benar-benar telah mengangkut pergi semua orang orang itu, hingga kedatangan kita hanya sia-sia belaka, pintolah yang akan menjadi orang berdosa"
"Tidak perlu totiang terlalu menyesali diri sendiri, bila kedatangan kita hanya sia-sia belaka, anggap saja hal ini sebagai nasib, maka kalau ingin menyalahkan, kita hanya bisa menyalahkan akan kelicikan Tang Kwik-siu"
Lalu setelah memeriksa sekali lagi seluruh lembah tersebut, ia berkata lebih jauh.
"Entah jago-jago lihay darimana saja yang berada dalam lembah ini......"
"Sekalipun ada jago lihay disitu, dengan andalkan kekuatan kita berdua rasanya masih cukup untuk menghadapinya, yang kutakuti justru adalah kelicikan orang-orang Mokau bila mereka tahu bukan tandinganmu lalu menutup pintu gua dan melawan secara nekad, kitalah yang bakal kesulitan bahkan yang lebih ku kuatirkan lagi adalah seandainya mereka bunuh jago-jago yang terkurung itu....."
Ketika berbicara sampai disitu, mendadak ia membungkam. Agaknya Hoa In-liong juga mendengar suara yang mencurigakan, ia lantas berbisik.
"Hayo kita menyingkir dulu"
Thian Ik-cu mengangguk, dengan posisi tak berubah mereka melompat keatas dan mencari tempat persembunyian.
Hoa In-liong melompat naik ke atas sebuah batang pohon yang lebar, sementara Thian Ik-cu bersembunyi diatas pohon siong.
Tak selang beberapa saat kemudian, muncul dua orang imam setengah umur yang mengenakan jubah kuning, mereka langsung berjalan lewat sambil membicarakan sesuatu dengan suara rendah.
Dari sorot mata mereka berdua yang tajam dan berkilat, Hoa In-liong tahu bahwa tenaga dalam mereka tidak lemah, diam-diam segera pikirnya dalam hati.
"Yang meronda gunung saja sudah merupakan jago-jago sehebat ini, apalagi yang menjaga gua........tampaknya urusan ini memang rada gawat........ aku musti lebih berhati-hati."
Karena berpikir demikian maka diapun pasang telinga baikbaik untuk menyadap pembicaraan kedua orang itu. Terdengar anggota Mokau yang ada di sebelah kiri itu sedang berkata dengan suara nyaring.
"Ciu suheng, siaute rasa cingnbun suhu terlalu bertindak hati-hati, padahal toasupek sudah selesai dengan semedinya, dengan tiga perkumpulan besarpun kita sudah bersekutu, menjagoi dunia persilatan hanya soal gampang untuk kita dewasa ini, kenapa musti jeri terhadap seorang manusia yang bernama Hoa Thian-hong?"
Terdengar Ciu suheng menjawab dengan suara dalam.
"Wan sute, lantaran kau tidak turut serta dalam peristiwa penggalian harta di bukit Kiu ci san, maka kau tidak tahu akan kehe batan dari Hoa Thian-hong......."
Tiba-tiba ia rasakan ucapannya terlalu menyanjung kehebatan orang dengan merendahkan kedudukan sendiri, maka cepat-cepat ujarnya lagi.
"Selama dua puluh tahun belakangan ini, pengaruh dan daya kekuasaan keluarga Hoa sudah mengakar dan mendarah daging dalam dunia persilatan, cukup dengan perbuatan putra Hoa Thian-hong di kota Si-ciu pun segera berdatangan begitu banyak orang yang bersedia menjual nyawa kepadanya, dari pada terjadi sesuatu yang tidak dingin kan kita memang musti bersiap lebih hatihati"
Tampaknya Wan sute seperti dapat merasakan pula makna dari ucapan itu, segera ujarnya pula.
"Hwesio tua yang kita jumpai sewaktu di kota Kim Leng dulu juga hebat sekali, ilmu silatnya tiada tandingan bahkan toa supek sendiripun dipaksa berada dibawah angin, apa mau dibilang sampai ini hari Coa Goan hau belum juga mau tunduk, kalau ia sampai bekerja sama dengan keluarga Hoa, wah! Semakin silit untuk menghadapi mere ka"
Hoa In-liong semakin menaruh perhatian lagi setelah mendengar orang orang itu membicarakan soal Coa Goan hau. Terdengar Ciu suheng berkata dengan dingin.
"Aaah...... belum tentu demikian, asal Tok liong wan (pil naga beracun) berhasil dibuat, hemm.....hemm..... lihat saja hasilnya nanti......!"
"Ciu suheng, benarkah Tok liong wan itu manjur sekali?"
Wan sute bertanya. Co suheng tertawa angkuh.
"Resep yang diwariskan Cosu ya mana mungkin bisa salah, asal orang-orang yang bandel itu sudah dicekoki, ditanggung mereka akan tunduk seratus persen dibawah perintah Kita"
Mendengar ucapan tersebut, Hoa In-liong merasa amat tercekat, hampir saja dia hendak turun tangan untuk membekuk kedua orang itu, tapi niat tersebut kemudian ditahan, ia merasa bukan kesempatan yang baik baginya untuk melakukan segala tindakan yang diluar perhitungan.
Sementara itu, kedua orang anggota Mokau itu makin lama sudah semakin jauh dari sana, akhirnya bayangan tubuh mereka lenyap dibalik tikungan jalan sana.
Dengan seksama Hoa In-liong mengawasi kembali sekeliling tempat itu, setelah ia yakin kalau sepuluh kaki disekeliling tempat itu tiada seorangpun, ia baru memanggil Thian Ik-cu untuk turun dari atas pohon.
Ketika Thian Ik-cu sudah berada disisi Hoa In-liong, dengan perasaan tak sabar pemuda itu lantas bertanya.
"Totiang, tahukah kau benda apakah Tok liang wan itu?"
Dengan wajah serius Thian Ik-cu menggelengkan kepalanya.
"Belum pernah kudengar tentang obat tersebut, tapi kalau didengar dari nada pembicaraan mereka berdua, jelas obat itu merupakan sejenis obot pemabuk yang membuat orang hilang pikiran, aaai... kalau dibicarakan kembali sungguh memalukan, tempo dulu perkumpulan kamipun pernah membuat orang semacam itu......"
"Kalau begitu, bukan terhitung satu hal yang aneh"
Tukas Hoa In-liong kemudian. Thian Ik-cu tertawa.
"Hoa kongcu, kau musti tahu bahwa obat penghilang pikiran itu beraneka ragam banyaknya, obat pemabuk biasa hanya bikin orang hilang ingatan tapi ilmu silat yang dimikilinya bagaimanapun hebat dan tingginya tak bisa dipergunakan lagi, para korban biasanya menjadi lambat dalam gerak-gerik, sama sekali tak berpendirian dan pada hakekatnya adalah seorang manusia yang tak berguna. Hoa In-liong seperti menyadari akan sesuatu, segera serunya.
"Yaa, seandainya terdapat sejenis obat pemabuk yang dapat menghilangkan pikiran orang, bisa memerintahnya sekehendak hati dan ilmu silatnya tidak terpengaruh...."
"Itulah yang pinto takuti"
Sambung Thian Ik-cu agak kuatir, Tok liong wan adalah obat pemabuk dari jenis ini"
Hoa In-liong menjadi sedih dan murung dengan perasaan kuatir serunya.
"Waaah.....kalau sampai mereka berhasil membuat obat tersebut, umat persilatan pasti akan terancam marah bahaya, kita harus berusaha untuk membasmi mereka dari muka bumi"
"Tapi darimana kau tahu obat-obat tersebut di bikin dimana?"
Kata Thian Ik-cu dengan wajah yang murung pula.
"kalau ingin tahu, terpaksa kita harus menangkap seseorang untuk ditanyai!"
Setelah berhenti sejenak, lanjutnya.
"Untungnya hari ini kita akan menolong orang-orang itu. sekalipun Tang Kwik-siu bermaksud tidak menguntungkan terhadap kawanan jago itu, aku pikir dia bakal dibuat gelagapan juga"
Mendadak satu ingatan melintas dalam benak Hoa In-liong, diam-diam pikirnya.
"Kalau begitu ditangkapnya empek Yu pasti di maksudkan untuk membuat obat tersebut tapi dengan sifat empek Yu yang jujur dan gagah perkasa, mana ia sudi membantu mereka untuk membuat obat racun seperti itu? Cuma beberapa bulan berselang anggota Hian-beng-kau telah mencuri sebuah botol porselen dari rumah empek Yu, kalau bukan empek Yu yang memberitahukan tempat penyimpannya, siapapun tak akan mendapatkannya, janganjangan ia telah melakukan suatu persetujuan dengan gembong-gembong iblis itu? Sewaktu dilembah bukit Siong san, akupun sempat mendengar nama-nama seperti Su bok thian wi sekalian, mungkin saja itulah bahan-bahan penting untuk pembuatan bahan obat Tok liong wan......"
Sementara ia masih termenung, mendadak terdengar Thian Ik-cu berkata.
"Hoa kongcu, kini udara masih terang benderang, suasana semacam ini tidak cocok untuk menolong orang, mari kita atur napas dulu untuk pulihkan tenaga, menanti hari sudah gelap nanti kita baru mulai bekerja?"
Hoa In-liong menarik kembali lamunan-nya dan memandang sekeliling tempat itu, betul juga dalam cuaca terang benderang be gini, seluruh benda yang berada dalam lembah itu dapat terlihat dengan jelas, itu berarti bukan suatu hal yang mungkin terjadi untuk menyusup kedalam lembah tanpa di ketahui orang.
Sudah barang tentu, jangankan menolong orang dalam gua, untuk berdiri disana tanpa ketahuan orang pun mustahil.
Karena itu dia lantas mengangguk.
Bersama Thian Ik-cu, kedua orang itu melampaui puncak bukit dan mencari sebuah gua yang kering dan tinggi untuk atur pernapasan sambil menanti tibanya malam hari.
Kurang lebih pukul lima sore, kedua orang itu menyelesaikan semedinya, untuk mengisi waktu, Thian Ik-cu mengisahkan kembali pengalaman tempo hari, lalu merundingkan cara penyergapan nanti serta menentukan jalan mundurnya.
Tebing-tebing karang dilembah itu kebanyakan menjulang tinggi keangkasa, yang paling rendah mencapai empat lima puluh kaki, malah dibagian tengah sana mencapai enam tujub puluh kaki lebih.
Bagi jago-jago biasa, mungkin mereka akan keder dan ketakutan, tapi tidak sampai menyusahkan Hoa In-liong, muski demikian untuk menghindari segala sesuatu yang tak diinginkant, mereka toh membuat juga seutas rotan yang panjangnya mencapai enam puluh kaki lebih.
Dinding tebing karang itu curam dan amat terjal, ditambah pula gersang tiada tumbuhan apapun, sungguh merupakan suatu tempat yang berbahaya.
Untungnya malam itu udara berawan dan tiada cahaya bintang serta rembulan, pelan-pelan kedua orang itu merambati rotan dan meluncur turun ke bawah.
Baru saja Hoa In-liong hendak meloncat turun, mendadak dalam jarak dua kaki dibagian bawah tubuhnya secara lamat-lamat kedengaran suara lirih, ia menjadi teperanjat dan segera berpikir, Sungguh berbahaya!
Ternyata dibawah dinding tebing sanapun ada orang yang menyembunyikan diri.
Dengan sinar mata tajam, diapun memeriksa letak tempat persembunyian orang itu.
Kemudian ia memberi tanda kepada Thian Ik-cu yang berada diatas, dan dengan suatu gerakan cepat, tubuhnya melayang tiga kaki jauhnya ke depan, kebetulan tubuhnya tiba disudut pojok dari antara tempat persembunyian orang.
Terdengar hembusan angin lirih berkumandang dari arah belakang, ia tahu pasti Thian Ik-cu yang telah menyusul itu.
Penjagaan dalam lembah memang amat ketat dan keras, Thian Ik-cu sendiripun merupakan bekas ketua dari suatu perkumpulan besar sudah barang tentu pengetahuan serta pengalamannya luar biasa tidak mengalami kesulitan, selang sesaat kemudian sampailah mereka didepan gua yang dimaksudkan.
Dibawah dinding tebing tersebut sebuah mulut gua yang pintunya terturup rapat, disebelah kanan pintu batu itu terbuka sebuah lubang kecil seluas setengah depa, di depan gua berderet rumah-rumah batu, lampu lentera tergantung disudut ruangan dan menerangi wilayah seluas beberapa kaki disekitar tempat itu.
Beberapa orang anggota Mokau dengann senjata lengkap mondar-mandir melakukan penjagaan, sedemikian ketatnya penjagaan disitu membuat seekor burungpun sukar melewitinya.
Sementara Hoa In-liong masih termenung sambil memikirkan cara untuk menembusi penjagaan itu, tiba-tiba kedengaran Thian Ik-cu berbisik dengan ilmu menyampaikan suaranya.
"Bila pinto melakukan sesuatu gerakan di sebelah sana untuk menarik perhatian mereka, harap Hoa kongcu segera mulai bertindak, bilamana perlu kita lukai mereka tanpa ampun!"
Hoa In-liong manggut-manggut tanda mengerti, pikirnya.
"Satu-satunya cara untuk mengatasi keadaan ini memang memancing harimau turun gunung............"
Betul juga, tak lama kemudian dari jarak seratus langkah disebelah kiri terdengar suara lirih, agaknya ada batu disambit, pemuda itu segera bersiap sedia untuk menerjang masuk ke dalam ru mah batu tersebut.....
Mendadak terdengarlah gelak tertawa nyaring, Tang Kwiksiu berkata dengan suara langlang.
"Hoa Yang, kau tidak menyangka bukan, jauh-jauh datang kemari ternyata tak lebih hanya mengantarkan dirimu sendiri? Haaahh.... haaaahh....haaah.....Thian Ik-cu, lohu musti mengucapkan banyak terima kasih kepadamu atas jasamu membawa orang she Hoa itu datang kemari"
Terkejut dan merah muka Hoa In-liong menghadapi kejadian ini, segera pikirnya.
"Heran, darimana Tang Kwik-siu bisa tahu kalau malam ini aku bakal datang kemari?, Janganjangan Thian Ik-cu sengaja menipuku?"
Berpikir sampai disitu, ia pun lantas berseru, Tang Kwik-siu, kata-kata yang bersifat mengadu domba lebih baik jangan dibicarakan, kalau toh aku orang she Hoa sudah terjatuh ke tanganmu, kenapa kalian tidak segera menampakkan diri?"
"Pasang lampu!"
Bentaknya.
Suara mengiakan berkumandang dari sekeliling tempat itu, mendadak cahaya api berkelebat lewat seluruh tempat, sekeliling tempat itu menjadi terang benderang.
Hoa ln liong mencoba untuk memeriksa keadaan disekeliling tempat itu, dia jumpai Thian Ik-cu sedang berdiri kurang lebih tujuh delapan kaki disampingnya dengan wajah gugup dan kaget, sementara sekeliling tempat itu sudah dipenuhi oleh jago-jago Mokau yang mengangkat obornya tinggi-tinggi.
Tang Kwik-siu yang berikat pinggang naga emas berdiri ditengah arena, sementara Leng hoa ki dan Lenghou yu, kakak beradik yang memakai ikat pinggang naga perak berada di kedua belah sisinya, selain itu masih ada juga Huyan Kiong serta Hong Liong.
Thian Ik-cu menghela nafas panjang, tiba-tiba ia meloloskan pedangnya sambil berkata kepada Hoa In-liong.
"Hoa kongcu, pinto tak sanggup memberi penjelasan kepadamu, tampaknya hanya ada satu jalan.....
"Haaahhh.......haahhh.........haahh........buat apa to-heng mengelabuhi si bocah dari keluarga Hoa lagi?"
Tiba-tiba Tang Kwik-siu berseru sambil tertawa tergelak.
"siaute telah mengambil keputusan untuk mengajak bocah itu bertarung secara adil, kami tidak akan melakukan tindak penyergapan.."
Tak terlukiskan rasa gusar Thian Ik-cu menghadapi kejadian tersebut, bentaknya penuh kegusaran.
"Tutup mulutmu!"
Tang Kwik-siu segera pura-pura tercengang, katanya.
"Sekarang siaute toh sudah terlanjur membongkar perasaan to-heng, apa gunanya to-heng musti berlagak terus?"
Kemarahan Thian Ik-cu tak terbendungkan lagi, kalau bisa dia ingin menerjang ke depan dan beradu jiwa dengannya.
Rasa sedih dan sesalnya kali ini boleh dibilang belum pernah dialami sebelumnya, dia tak menyangka kalau cerita tentang di sekapnya kawanan jago disana sesungguhnya hanya suatu tipu muslihat belaka, apa lacur, dimasa lampau ia memang bernama busuk, ditambah lagi dia pula yang mengajak Hoa In-liong kesitu, dengan keadaan seperti ini sekalipun ia hendak memberi penjelasan, belum tentu orang akan mempercayainya.
Tiba-tiba Hoa In-liong berkata dengan suara dalam, Boanpwe percaya kepada totiang, buat apa kita musti menggubris taktik Tang Kwik-siu yang hendak memecah belah kekuatan kita?
Harap totiang pusatkan pikiran untuk menghadapi musuh.
Tak nyana kalau keturunan keluarga Hoa pun sangat bijaksana dan berjiwa besar, sekalipun harus mati pinto tak akan menyesal.
Sesungguhnya dia hendak bunuh diri untuk membuktikan kebersihan dirinya, tapi sekarang ia berubah pendapat, ia rela beradu jiwa dengan musuh demi menyelamatkan jiwa Hoa Inliong.
Sementara itu Hoa In-liong sendiri masih tetap tenang dan seakan-akan tak pernah terjadi suatu kejadianpun, ditatapnya Tang Kwik-siu sekejap kemudian katanya.
"Sekarang aku orang she Hoa belum dibekuk, lebih baik kaucu jangan keburu merasa senang!"
Setelah berhenti sejenak, kembali katanya.
"Sampai kini aku orang she Hoa cuma merasa keheranan, darimana kaucu bisa tahu kalau aku bakal berkunjung kemari?"
Ketika dilihatnya pemuda itu masih tetap tenang dan tertawa, sekalipun keadaannya sudah terkepung dan untuk kabur sudah tak mungkin lagi, timbul juga perasaan sayang dihati Tang Kwik-siu.
Wajahnya yang berseri segera berubah menjadi serius, katanya sambil tertawa.
"Hal ini kami musti berterima kasih kepada Tong thian kaucu!"
Hoa In-liong tertawa dingin.
"Buat apa kaucu berusaha mengadu domba terus? Bocah berumur tiga tahun pun tak akan percaya, apa kau tidak kuatir kehilangan ke-wibawaanmu sebagai seorang ketua?"
Diam-diam Tang Kwik-siu menyumpah dalam hati.
"Bajingan terkutuk, akan kulihat sampai kapan kau dapat bersilat lidah terus?"
Dia lintas memberi tanda, lalu bersama dua bersaudara Lenghou, Huyan Kiong dan Hong Liong melompat turun ke bawah. Seluruh anggota Mokau lainnya tetap memperketat pengepungan disekeliling tempat itu"
Setelah melompat turun dari atas atap rumah, Tang Kwiksiu berpaling ke arah Thian Ik-cu, kemudian ujarnya sambil tertawa.
"Keadaan situasi yang terbentang didepan mata sekarang sudah cukup jelas, jika To heng bersedia untuk bekerja sama dengan kami, siaute akan menyambutnya dengan senang hati, kalau enggan bekerja sama, kamipun mengingikan to-heng untuk pergi jauh ke ujung dunia, buat apa kau musti melakukan perjalanan bersama-sama bocah dari keluarga Hoa ini........?"
Dengan kukuh Thian Ik-cu menggelengkan kepalanya.
"Pinto sudah bersumpah akan mati atau hidup bersama Hoa kongcu!"
Katanya serius.
"Hidung kerbau tua!"
Teriak Hong Liong dari samping dengan wajah menyeramkan.
"tak kusangka kalau kau dapat begitu setia mengabdi untuk orang lain, Hmm! Rupanya cara keluarga Hoa dalam membohongi orang memang cukup hebat!"
Thian Ik-cu berpaling dan memandang sekejap kearah Hoa Liong dengan pandangan dingin.
Menyaksikan sikapnya itu, Tang Kwik-siu segera tahu bahwa dibujuk lebih jauh pun tak ada gunanya, maka sambil berpaling lagi ke arah Hoa In-liong, ujarnya sambil tertawa.
"Dengan mengandalkan kepandaiannya Hoa Thian-hong mengangkangi seluruh dunia, lohu merasa sangat tidak puas kepadanya, tapi kau dengan usia yang begitu muda teryata bisa menaklukan Tong thian kaucu yang tersohor namanya sehingga bersedia menjual nyawa untukmu, untuk keberhasilan ini lohu merasa kagum sekali"
Hoa In-liong segera menjura, katanya hambar.
"Aku binal dan bodoh, tingkah lakuku hanya menambah kerisauan orang tuaku saja, Tang Kwik kaucu terlalu memuji"
Tang Kwik-siu tertawa angkuh, katanya.
"Hoa Yang, kalau meninjau situasi yang terbentang dihadapan matamu sekarang, bagaimanakah penilaianmu? Hoa In-liong tertawa hambar.
"Bila hari ini aku orang she Hoa ingin mundur dari sini dengan selamat, rasanya memang teramat sulit, cuma anggota kaucu pun pasti akan banyak yang jatuh korban, mungkin juga diantara sutemu ada satu dua orang yang akan mengiringi kepergianku menuju ke sorga atau neraka"
Huyan Liong teramat gusar melihat cara pemuda itu berbicara, apalagi senyuman yang selalu menghiasi bibirnya, kendatipun keadaan jiwanya sudah terancam. Sambil tertawa dingin segera ujarnya.
"Bocah cilik dari keluarga Hoa, kali ini tak akan ada bajingan baju putih yang akan menolongmu lagi, ada pesan terakhir tidak? Kalau ada lekas diucapkan, memandang pada wajahmu mungkin saja aku bersedia merawat mayatmu!"
Yang dimaksudkan sebagai bajingan baju putih adalah sastrawan baju putih Swan Wi yakni hasil penyamaran dari Coa Wi-wi.
Oleh serangan racun ular keji yang dilepaskan Huyan Kiong tempo hari, tidak sedikit penderitaan yang telah di alami Hoa In-liong selama ini, mendengar ia buka suara, amarahnya segera berkobar.
sambil marah serunya.
"Huyan Kiong, keluar kau! Dengan mengandalkan sepasang kepalanku ini, aku orang she Hoa ingin melayanimu, jika dalam lima puluh gebrakan tidak berhasil menangkapmu, aku rela kau jatuhi hukuman"
Huyan Kiong tidak tahan menerima tantangan tersebut, dengan langkah lebar ia segera maju ke depan. Ketika mendengar perkataan itu, Tang Kwik-siu merasa amat girang, pikirnya.
"Untuk menangkap bocah diri keluarga Hoa dalam keadaan hidup, jelas merupakan suatu pekerjaan yang sulit, untuk membinasakannya merupakan suatu perbuatan yang terpaksa, kalau aku bisa menawannya hiduphidup, hemm.....hehhm........waktu itu Thian Ik-cu pasti akan menyerah juga, bukan suatu pekerjaan yang gampang untuk menangkap dua orang jago lihay sekaligus......."
Berpikir sampai disitu, karena kuatir Hoa In-liong menyesal, ia lantas berseru lantang.
"Hoa Yang, seandainya dalam lima puluh gebrakan kau dapat menangkan sute ku, lohu ijinkan kau keluar dari lembah ini"
OooooOooooo Baik, kita berjanji dengan sepatah-kata ini, kalau aku gagal menangkan sutemu dalam lima puluh gebrakan, aku akan menyerahkan diri kepadamu!"
Huyan Kiong benar-benar amat gusar, sambil tertawa dingin serunya.
"Orang she Hoa, masuk hitungan tidak perkataanmu itu?"
"Belum pernah keturunan keluarga Hoa bicara menclamencle, apa yang pernah diucapkan tak pernah akan diingkari lagi!"
Sambil tersenyum, Tang Kwik-siu segera menyela.
"Janji dari orang keluarga Hoa bisa diandalkan, Ngo sute tak perlu sangsi lagi!"
Sebaliknya Thian Ik-cu merasa amat murung, sebab ucapan seorang kuncu bagaikan sebuah cambukan diatas tubuh kuda, sekali sudah lari sukar ditarik kembali, andaikata Hoa In-liong gagal menangkan Huyan Kiong dalam lima puluh gebrakan, untuk mempertahankan nama baik keluarganya terpaksa ia harus memenuhi janji.
Kini urusan telah berkembang jadi begini sekalipun dia ada maksud untuk beradu jiwa juga tak ada artinya.
Diam-diam ia merasa murung sekali, tapi dalam pergaulannya selama beberapa hari, diapun tahu kalau Hoa In-liong bukan seseorang yang bertindak gegabah, tanpa keyakinan yang masak tak mungkin anak muda itu akan mengambil tindakan tersebut.
Sementara itu para anggota dari Mokau rata-rata menganggap Hoa In-liong pasti akan kalah dalam pertarungan itu.
Sebagaimana diketahui, Huyan Kiong adalah adik seperguruan dari Tang Kwik-siu, tentu saja ilmu silat yang dimiliki olehnya sangat hebat sekali, jangankan orang lain, Tang Kwik-siu sendiripun tidak berkeyakinan bisa meraih kemenangan dalam lima puluh gebrakan.
Semua orang tahu bahwa keluarga Hoa mengandalkan ilmu pedangnya yang tiada tandingan, tapi Hoa In-liong sekarang melepaskan kesem-patannya untuk menggunakan pedang dan malah memilih menggunakan ilmu pukulan, hal ini sangat tidak menguntungkan posisinya.
Yang penting lagi dalam pertarungan dibukit Yan san setengah tahun berselang, sekalipun dalam ratusan gebrakan Hoa In-liong berhasil menangkan Huyan Kiong dengan sebuah serangan jari, bicara soal tenaga dalam sesungguhnya mereka seimbang, mustilah kalau Hoa In-liong dapat peroleh kemajuan yang pesat hanya didalam tujuh delapan bulan.
Tang Kwik-siu adalah seorang manusia licik yang banyak tipu muslihatnya, dari sikap Hoa In-liong yang tenang dan mantap, diam diam ia lantas berpikir.
"Sebodohnya bajingan ini, tak mungkin ia memilih jalan kematian untuk diri sendiri, jangan-jangan ia memang punya pegangan?"
Sekalipun demikian, ia toh cukup merasa bahwa Hoa In Iiong telah melangkah diatas jalan kematiannya sendiri.
Semenjak tadi Huyan Kiong sudah tak tahan untuk menghadapi sikap pandangan enteng musuhnya, sambil tertawa seram segera teriaknya.
"Hoa loji, lohu ingin tahu kepandaian sakti apakah yang belakangan ini berhasil kau latih?"
Sambil maju ke depan, sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan ketubuh anak muda itu.
Hoa In-liong berkelit kesamping sambil membacok pergelangan tangan musuh, sebuah tendangan dikirim menghajar pusar Huyan Kiong sambil serunya dingin.
"Ilmu silat mah cuma seperti dulu, tapi ini sudah lebih dari cukup untukmu!"
Diam-diam Huyan Kiong merasa amat gusar, badannya berkelebat dan ganti menyerang sayap kiri anak muda itu, tubuhnya bergerak maju mengikuti gerak pukulan, makin menyerang semakin ganas, suatu pertarungan sengit pun segera berkobar.
"Beruntun beberapa gebrakan kemudian, suatu bentrokan tak dapat dihindari lagi, dua orang itu sama-sama saling beradu sekali, a-kibatnya Hoa In-liong tetap berdiri ditempat semula, tapi Huyan Kiong terdorong sejauh tiga langkah ke belakang. Kejadian ini cukup menggemparkan orang-orang Mokau, paras muka semua orang hampir saja berubah hebat, lebihlebih Huyan Kiong sendiri, saking kagetnya ia sampai tertegun, ia tak habis mengerti mengapa tenaga dalam Hoa In-liong bisa peroleh kemajuan sepesat itu. Hoa In-liong mendengus dingin, sepasang bahunya bergerak, sekali lagi ia menerjang ke muka. Huyan Kiong merasa mendongkolnya bukan kepalang, terpaksa sambil menggertak gigi ia layani serangan musuh. Mendadak terdengar Tang Kwik-siu berseru.
"Sute, perketat posisi pertahanan layani serangan-serangan dengan hati yang tenang"
"Mendengar seruan itu, Hoa In-liong berpikir pula dalam hati. Sebagai ketua dari Seng-sut pay yang merupakan aliran sesat, Tang Kwik-siu termasuk seorang jago yang licik dan banyak tipu mus lihatnya, sekalipun aku dapat ungguli Huyan Kiong dalam lima puluh gebrakan, belum tentu ia bersedia pegang janji. Berpikir sampai disitu, timbullah niatnya untuk satu lawan satu dan baik buruk menghancurkan dulu sebagian dari tenaga inti pihak Mokau. Berpikir sampai disitu, berkobarlah hawa nafsu membunuhnya, dia memutuskan untuk menyelesaikan pertarungan secepat mungkin, dengan wajah sedingin es, Hoa In-liong segera merubah gerakan pukulannya dan meneter Huyan Kiong habis-habisan. Selama tinggal dikota Si ciu, boleh dibilang Hoa In-liong telah mendalami ilmu Thian-hua cahi ki serta melatihnya dengan tekun, karenanya setiap jurus serangan yang ia pergunakan selalu berhasil mematahkan serangan dari Huyan Kiong ditengah jalan. setelah berulang kali menghadapi mara bahaya, Huyan Kiong merasa terkejut bercampur takut, jurus serangannya segera dirubah, dengan mengandalkan ilmu Ngo-kui-im hongjiau (cakar angin dingin lima setan) dan Tong pit mo ciang (ilmu pukulan iblis lengan panjang) dari perguruan, ia berusaha memperbaiki posisinya. Hoa In-liong tertawa tergelak, ilmu Ci-yu jit ciat (tujuh kupasan dari Ci yu), Hu im ciang hoat (ilmu pukulan naga tunggal) serta Su siu hua heng ciang (pukulan empat gajah berubah bentuk) dari keluarga Coa di pergunakan silih berganti, jurus-jurus aneh digunakan tiada habisnya dengan perubahan perubahan yang tak terhitung banyaknya. Dalam waktu singkat, napas Huyan Kiong sudah terengahengah dibuatnya, ia semakin payah dan keteter hebat. Tempo hari sewaktu Hoa Thian-hong berjumpa dengan Tang Kwik-siu untuk pertama kalinya di kota Lok-yang, dengan mengandalkan aneka macam ilmu pukulan dari Thianhua-cha-ki itulah Tang Kwik-siu pernah diserang, mendadak Hoa Thian-hong sehingga tak punya tenaga untuk melancarkan serangan balasan dan kini sejarah terulang kembali cuma posisinya justru kebalikan. Menyaksikan hal tersebut, Tang Kwik-siu lantas jadi teringat kembali dengan peristiwa lama dibukit Kiu ci san tempo hari, ia teringat dengan dendam sakit hatinya ketika dipaksa Hua Thian Hong untuk menyerahkan kitab Thian hua coa ki kepadanya, Sekalipun demikian, sebagai seorang jago yang berhati licik, ia dapat menekan rasa dendamnya yang membara itu, pikirnya.
"Bila Huyan sute dapat menahan sepuluh gebrakan lagi, lima puluh jurus akan segera tercapai, akan kulihat apa yang bisa dikatakan lagi oleh bajingan dari keluarga Hoa!"
Sementara itu kedengaran Hoa In-liong sedang membentak dengan suara berat.
"Huyan Kiong, coba akan Kulihat kau bisa bertahan beberapa gebrakan lagi?"
Diantara seruan tersebut tangan kirinya mendadak melancarkan sebuah serangan dahsyat, jari tangannya menotok jalan darah Ki bun hiat di tubuh Huyan Kiong, sementara tangan kanannya dengan mengandung tenaga penuh melepaskan sebuah pukulan dahsyat ke muka.
Waktu itu Huyan Kiong sudah bermandi keringat karena kepayahan, ketika secara tiba-tiba ia jumpai titik kelemahan diatas iga kiri lawan, tanpa berpikir panjang lagi, dengan jurus Siau kui tui mo (setan cilik mendorong gilingan), ia menyergap ke depan.
Tiba-tiba pandangan matanya terasa kabur, bayangan tubuh Hoa In-liong lenyap tak berbekas, sebagai gantinya segalung desingan angin tajam meluncur ke bawah ketiak kirinya.
Huyan Kiong sadar bahwa ia tak sanggup menghindarkan diri lagi, dengan mempertaruhkan keselamatan jiwanya ia maju sambil menyodok, lalu telapak tangannya dibalik menghantam bahu kanan lawan.
Dengan mengandalkan ilmu Gi hiat ki khi ceng han (menggeser jalan darah menghimpun tenaga pantulan) yang dimilikinya, dalam keadaan terpaksa ia dapat menggeserkan letak jalan darahnya ke samping lain, selain daripada itu iapun bisa memantulkan tenaga serangan musuh yang bersarang ditubuhnya.
Semakin keras pukulan musuh semakin besar pula tenaga pantulan yang akan dihasilkan, cuma kalau berjumpa dengan jago yang memiliki kekuatan melebihi dirinya, sekalipun dapat memukul balik serangan musuh, akibatnya ia sendiripun akan terluka.
Oleh karena itulah sengaja dia menjajal kekuatan tenaga dalam lawan, kemudian setelah mengetahui taraf kepandaian yang di miliki musuhnya baru mengambil tindakan berikutnya.
Sekarang keadaan sudah mendesak sekali, diapun tahu bahwa tenaga pukulan musuhnya sangat kuat, dengan perasaan apa boleh buat ia bersiap sedia untuk beradu jiwa, dalam pemikirannya asal kedua belah pihak terluka itu berarti pertarungan seri.
Siapa tahu sejak pertarungan dibukit Yan san tempo hari, Hoa In-liong telah menyelidiki secara khusus cara untuk memecahkan ilmu Gi-hiat ki khi ceng itu, ia merasa kepandaian tersebut ada miripnya dangan ilmu Hui sin kang dari keluarga Hoa, maka dengan dasar kecerdasan otaknya tak lama kemudian ditemukanlah cara penang-gulangannya.
Kedengaran Hoa In-liong tertawa dingin, lalu serunya.
"Akan kucoba kepandaian saktimu yang tidak mempan tenaga pukulan itu....!"
Totokan yang hampir bersarang ditubuh lawan mendadak berubah menjadi serangan kebasan, ia menyapu bahu kiri Huyan Kiong.
Kontan saja Huyan Kiong merasakan desingan hawa murni yang menyusup kedalam tubuhnya dan langsung menyerang jalan darah Tay yang sam ciau, Yang beng tay cong serta Tay yang sing cong, tiga buah nadi penting didalam tubuh.
Tidak ampun lagi ia mendengus tertahan dan roboh tak sadarkan diri.
Dengan cepat Hoa In-liong menyambar tubuhnya dan mengempit Huyan Kiong dibawah ketiak.
Bayangan manusia secara berkelebat lewat, dengan suatu gerakan yang sangat cepat, Tang Kwik-siu menerjang ke muka, kelima jari tangannya seperti cakar setan langsung mencengkeram tubuh Hoa In-liong, Thian Ik-cu membentak marah sambil mengeluarkan pedangnya, ia ikut menerkam pula ke depan.
Lenghou Ki bersuit nyaring, sebuah pukulan dahsyat dibacokkan ke tubuh Thian Ik-cu, sementara Lenghou Yu, dan Huyan Liong menerjang ke arah Hoa In-liong.
Thian Ik-cu mendengus dingin, pedangnya digerakkan keatas lansung merotok jalan darah Tay yang-hio ditubuh Huyan Liong, ditengah jalan, mendadak serangan itu berubah menyambar tubuh Leng Hoa ki, lalu serangannya ditarik dan gantian membacok Lenghou Yu.
Lenghou Yu dan Hong Liong seperti didesak balik ke posisi semula, sedangkan Lenghou Ki pun terpaksa buru-buru menghindari serangan.
Thian Ik-cu sebagai bekas ketua Tong thian kau dimasa lalu memang memiliki pengalaman yang cukup luas dalam pertarungan, dalam satu gebrakan dengan tiga gerakan, ternyata dalam waktu singkat ia berhasil memaksa tiga orang jago lihay seng sut-pay sama sekali tak mampu berkutik.
Sementara Hoa In-liong sudah melompat tiga depa ke samping untuk menghindarkan diri dari sergapan Tang Kwiksiu, lalu dengan gusar ia membentak.
"Tahan!"
Tang Kwik-siu pura-pura tidak mendengar, secepat kilat ia menubruk ke depan sambil melepaskan sebuah pukulan.
Dengan ilmu Hu-im ciang hoat, Hoa In-liong menyambut serangan dahsyat itu dengan tangan kanannya.
"Plaaak...........!"
Meminjam tenaga dorongan yang sangat kuat itu badannya melompat, mundur sejauh beberapa kaki, setelah berhasil menekan pergolakan hawa darah didalam dada, bentaknya keras.
"Tang Kwik-siu! Kau sudah tidak mau nyawa sutemu lagi?"
Mendengar ancaman tersebut, terpaksa Tang Kwik-siu harus menghentikan serangannya, sambil tertawa serak ia berkata.
"Hoa kongcu, kalau ada persoalan mari kita bicarakan secara baik baik, tolong lepaskan dulu suteku!"
"Hoa In-liong melirik sekejap kearah Thian Ik-cu, ketika dilihatnya tosu itu terdesak hebat dibawah kerubutan dua bersaudara Lenghou dan Hong Liong, sambil tertawa dingin ia lantas berkata.
"Harap kaucu perintahkan dulu orang-orang untuk menghentikan serangan, setelah itu kalau mau bicara baru berbicara lagi!"
Tang Kwik-siu termenung sejenak, akhirnya ia berpaling sambil membentak keras.
"Berhenti!"
Sesungguhnya Hong liong dan dua orang bersaudara Lenghou ada maksud untuk menyingkirkan Thian Ik-cu lebih dulu, tapi sesudah mendengar bentakan itu terpaksa mereka menarik kembali serangannya sambil mundur, menggunakan kesempatan itu Thian Ik-cu segera melompat ke depan dan berdiri berdampingan dengan Hoa In-liong.
Menanti Thian Ik-cu sudah berdiri disampingnya, Hoa Inliong baru berkata dengan hambar.
"Tang Kwik-siu apakah perjanjian kita barusan sudah dibatalkan?"
Tang Kwik-siu segera tertawa hambar.
"Lohu bukan seorang manuusia yang mengingkari janji, silahkan saja pergi dari sini!"
Katanya, Tapi setelah berhenti sebentar, sambil tertawa licik ia menambahkan "Cuma Thian Ik-cu terpaksa muski tinggal disini, sebab ia tidak terhitung dalam perjanjian kita tadi"
Hoa In-liong berpikir sebentar, betul juga, apa yang dikatakan memang tidak salah, diam-diam ia lantas menyumpah dihati.
"Tua bangka sialan, kau memang betulbetul licik sekali!"
Tiba-tiba terdengar Thian Ik-cu berkata.
"Hoa kangcu, harap kau keluar dulu dari tempat ini, pinto segera akan menyusulmu!"
Tentu saja Hoa lu liong tahu bahwa ia cuma menghibur hatinya belaka, dengan jumlah anggota Mokau yang begitu banyak sementara Thian Ik-cu hanya seorang diri, mana mungkin ia dapat meloloskan diri?
Sementara itu Tang kwik Siau telah menegur.
"Hoa Inliong, bagaimana denganmu?"
"Seandainya aku bersikeras hendak melakukan perjalanan bersamanya, bagaimana pendapat kaucu?"
Hea In liong balik bertanya dengan alis mata berkedip, kontan saja Tang kwik Siau tertawa dingin.
Kalau begitu, berarti kau hendak mengingkari janji, tentu saja lohu akan berusaha untuk menghalanginya!"
Menyaksikan keadaan yang terbentang di hadapan mukanya, Thian Ik-cu segera menghela nafas panjang, Hoa kongcu, silahkan kau pergi seorang diri, pinto merasa masih sanggup untuk menjaga diri.
Hoa In-liong berpikir kembali.
"Jika aku menggunakan keselamatan Huyan Kiong sebagai sandera, takutnya Tang Kwik-siu akan menyerangku tanpa memperdulikan keselamatan sutenya, sekalipun aku hendak pergi seorang diri, dengan keganasan wataknya, Hemm! Mungkin juga akan turun tangan, saat ini paling juga ia sedang memancingku masuk jebakan!"
Meskipun usianya masih muda, tapi otaknya encer dan ia cukup memahami segala kelicikan serta kebusukan hati orang, kalau tidak karena kelebihan tersebut, tak mungki Bu Tay-kun berani mengutusnya turun gunung untuk menyelidiki sebab sebab kematian Suma liang cing dan melimpahkan tanggung jawab itu diatas bahunya.
Begitulah, setelah berpikir sejenak dia memutuskan untuk coba menyerempet bahaya dengan mencobanya.
Dengan ilmu menyampaikan suara ia berbisik kepada Thian Ik-cu.
"Totiang. Ingat baik baik! Jika kau tidak berhasil meloloskan diri, selembar jiwa boanpwe pun akan ikut berkorban!"
Thian Ik-cu tertegun. Sebelum ia sempat berbuat sesuatu, Hoa In-liong telah berkata kepada Tang Kwik-siu.
"Boleh saja kulakukan seperti yang dijanjikan, cuma sutemu itu baru akan kulepaskan setelah sampai dimulut lembah nanti!"
Semua orang menjadi tertegun, siapapun tidak menyangka kalau dia akan berkata demikian. Dengan marah Lenghou Yu berkata.
"Huuh! anggota keluarga Hoa ngakunya saja seorang pemimpin persilatan yang gagah perkasa, tak tahunya cuma manusia-manusia yang takut mampus"
Tiba-tiba Hoa In-liong membentak keras.
"Totiang, serbu!"
Badannya berkelebat lewat dan melompat naik keatas atap rumah.
Thian Ik-cu tak berani bertindak gegabah, cepat-cepat dia menyusul dari belakangnya.
Kawanan jago Mokau disekitar gelanggang yang menyaksikan kejadian itu serentak menggerakkan senjata dan pukulan mereka untuk menyerang Hoa In-liong, untuk sesaat lamanya bentakan nyaring menggelegar diangkasa, hembusan angin pukulan dan bayangan senjata tajam berkilauan dimana-mana, keadaan sungguh mengerikan.
Hoa In-liong cukup mengerti, andaikata dia sedikit teledor saja akibatnya Tang Kwik-siu pasti sudah menyusul kesitu, waktu itu kesempatan untuk kabur tentu sulit sekali.
Sebab itulah tidak berayal lagi ia gunakan tubuh Huyan untuk menghadapi serangan-serangan itu.
Akibat lantaran kuatir melukai tubuh Huyan Kiong, kawanan jago dari Mokau itu tak berani sembarangan berkutik, buruburu mereka buyarkan serangan dan melompat kebelakang.
Hoa In-liong dan Thian Ik-cu segera manfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya, secepat kilat mereka menerobos keluar dari kepungan.
Setelah berlangsungnya pertarungan, kedudukan Tang Kwik-siu, dua bersaudara Lenghon dan Hong Liong berubah jadi membelakangi rumah batu, waktu itu Tang Kwik-siu mengira ikan yang masuk jaring tak akan terlepas lagi, maka mereka kurang begitu merasakan kuatir.
Siapa tahu justru keadaan semacam itulah telah dimanfaatkan Hoa In-liong dan Thian Ik-cu dengan sebaikbaiknya.
Kemarahan Tang Kwik-siu betul-betul memuncak, segera bentaknya keras keras.
"Hoa Yang, mau kemana?"
Ia berusaha melakukan pengejaran, tapi jalan perginya justru terhalang oleh anak buahnya yang bersiap-siap diatas atap rumah.
Lenghoa hengte dan Hong Liong ikut membentak keras sambil melakukan pengejaran.
Tampaklah Hoa In-liong dan Thian Ik-cu dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat meluncur ke arah mulut lembah.
Anak murid Mokau yang berada disepanjang jalan buruburu berusaha menghadang jalan pergi mereka, tapi semuanya dapat di halau oleh Hoa In-liong yang berjalan dipaling muka sambil memutar tubuh Huyan Kiong.
Jangankan melancarkan serangan secara langsung, senjata rahasiapun tak berani di lepaskan secara sembarangan.
Kenyataan tersebut semakin mengobarkan kemarahan Tang Kwik-siu, ia berteriak-teriak seperti orang kalap.
"Orang she Hoa kau punya muka tidak"
Dengan garangnya ia menerjang ke muka.
"Jangan ribut dulu!"
Seru Hoa In-liong sambil mencibirkan bibirnya.
"pokoknya setelah sampai dimulut lembah nanti, sute mu pasti akan kulepaskan....."
Dalam waktu singkat, suasana dalam lembah itu menjadi kacau balau, kawanan jago dari Mokau bersama-sama melakukan pengejaran dan penghadangan-penghadangan, suara bentakan dan makian bersimpang siur, bayangan manusia berkelebat, bayangan golok berkilauan.......
Apa lacur semua murid kepercayaan Tang Kwik-siu ditugaskan menjaga gua, padahal ilmu silat mereka terhitung lihay dan luar biasa, kini yang tergabung dalam penjaga lembah hanya mereka yang berilmu kelas dua, sudah barang tentu tiada kegunaan sama sekali kekuatan mereka ini.
Dalam waktu singkat kedua orang itu sudah melewati dua buah pos penjagaan, asal melewati dua pos penjagaan lagi, niscaya mereka sudah akan tiba diluar lembah.
Waktu itu naga telah kembali ke samudra, burung terlepas dari sangkarnya, Tang Kwik-siu hanya bisa menggigit jari saja.
Untunglah ia tak malu disebut seorang pemimpin dari suatu perguruan besar, dalam kejut dan marahnya ia berusaha mengendalikan golakan emosi itu dengan suara lantang segera teriaknya.
"Semua anggota perkumpulan, dengan cara apapun hadang jalan pergi bujingan licik dari keluarga Hoa serta Thian Ik-cu si tosu bangsat, kalian tak usah mamperdulikan lagi keselamatan jiwa Huyan susiok sekalian.
"Sreet......! Sreet......! Sreet.....!"
Berbareng dengan turunnya perintah dari Tang Kwik-Siu, serentak orang orang Seng sut-pay mulai turun tangan, senjata rahasia berhamburan ke arah mereka berdua ibaratnya hujan badai yang menderu-deru.
Dalam keadaan demikian, sekalipun Hoa In-liong menyandera Huyan Kiong yang juga tak ada gunanya, maka tubuh huyan Kiong yang lemas tak bertenaga itu dibuang keatas tanah, setelah itu sambil tertawa terbahak-bahak ejeknya.
"Haaah..... haaah...... haaah..... Tang Kwik-siu tampaknya hubungan persaudaraan kalian kurang akur? Maka sudah tidak memper-dulikan keselamatan dari Huyan Kiong lagi"
Setelah merontokkan senjata rahasia yang menuju ketubuhnya, ia melayang kemuka melampaui pagar kayu ketiga, bentaknya garang.
"Siapa berani menghadang jalan pergiku, mampus!"
Kawanan jago dari Mokau yang berdiri berderet diatas pagar kayu tak berani kabur dari situ, kendatipun mereka tahu kelihaiyan musuhnya, penghadangan toh tetap dilakukan.
Salah seorang diantaranya, sambil mengayunkan goloknya dengan gaya Thay-san-ya-ting (gunung Thay san menindih kepala) langsung membacok batok kepala anak muda itu dengan buasnya.
Hoa In-liong segera memutar telapak tangan kanannya, dengan jurus "menyerang sampai mati"
Ia melancarkan sebuah serangan dari Ci yu jit ciat tersebut, dua orang itu langsung termakan serangan dan mampus seketika itu juga.
Dipihak lain Thian Ik-cu telah bertindak pula dengan garang, pedangnya kembali membacok mampus seorang musuh.
Dalam repotnya Hoa In-liong sempat berpaling kebelakang, ia saksikan Tang Kwik-siu sudah makin mendekat tiga kaki dari jarak mereka karena penghadangan tersebut, matanya mencorong sinar tajam, rupanya merasa gusar sekali.
Dua bersaudara Lenghou dan Hong Liong justru berada dua kaki dibelakang ketuanya.
Hoa In-liong tidak berani berayal lagi, dia mengeluarkan sekeping uang perak, memencetnya sampai remuk lalu disebarkan ke be lakang, kemudian tubuhnya melompat turun dari pagar kayu dan bersama sama Thian Ik-cu kabur menuju ke mulut lembah.
Dalam beberapa kali lompatan saja mereka telah tiba di pos penjagaan pertama, baru saja Hoa In-liong enjatkan badan untuk melewati pagar kayu itu, mendadak terdengar suara bentakan dari Tang Kwik-siu yang menyeramkan itu telah berkumandang dari belakang.
"orang she Hoa, mau kabur kemana kau?"
Sambil berkata, Hoa In-liong merasakan tibanya segulung angin pukulan yang sangat digin bagaikan es menyergap punggungnya.
Sianak muda itu merasa sangat terkejut, berada ditengah udara tanpa berpling lagi pedangnya diputar lalu ditusuk ke belakang, ke tika ujung pedang mencapai jarak tiga empat depa dari tubuh Tang Kwik-siu, segulung desingan angin tajam menyerang alis matanya.
Sungguh bebat serangan hawa pedang dari Hoa In-liong ini, serangan tersebut merupakan salah satu hasil ciptaan Hoa Thian-hong selama dua puluh tahun belakangan ini.
Dalam kejut dan ngerinya Tang Kwik-siu tidak menjadi gugup, buru-buru badannya menyingkir ke samping untuk menghindarkan diri, tapi dengan demikian angin pukulan yang ia lepaskan pun ikut miring ke samping dan menyambar lewat dari atas bahu kanan Hoa In-liong.
Akan tetapi justru lantaran Hoa In Iiong harus mempergunakan serangan hawa pedang yang belum berhasil dikuasainya dengan sempurna itu untuk menghalau serangan lawan, hawa murninya menjadi buyar, tubuhnya yang sudah berada lima kaki dari ujung pagar kayupun gagal dilewati.
"Aduuh celaka!"
Pekik si anak muda itu dalam hatinya, Padahal Thian Ik-cu melompat bersama-samanya, tapi oleh karena Tang Kwik-siu amat membenci Hoa In-liong hingga merasuk ketulang sum sumnya, hal ini malah justru menguntungkan dirinya, dengan mudah ia berhasil melampaui pagar kayu itu.
Tosu itu agak kaget juga melihat tubuh Hoa In-liong merosot kebawah karena kehabisan tenaga, dengan suatu gerakan cepat ujung bajunya segera dikebaskan kebawah kaki Hoa In-liong, meminjam tenaga sapuan tersebut anak muda itu segera melompati pagar kayu dan kabur menuju ke luar lembah, Thian Ik-cu menghimpun tenaga murninya dan ikut melompat turun, mendadak kaki kanan-nya terasa kaku menyusul kemudian terdengar seseorang mengejek sambil tertawa seram.
"Heeehh.....heeehh.....heeehh..... Thian Ik-cu tosu bajingan, kau sudah terkena jarum Ngo-tok-ci at mia ciam (jarum lima racun pencabut nyawa) dari perguruan Kami, nyawamu sudah tak akan berta han lebih lama lagi......!"
Sambil menggigit bibir, Thian Ik-cu melompat turun dan siap memutar badannya untuk beradu jiwa, tapi tiba-tiba saja ia teringat dengan pesan Hoa In-liong pikirnya.
"Kalau aku yang mampus masih mendingan tapi kalau gara-garaku sampai menyeret pula dia.... wah, akulah yang akan menjadi orang paling berdosa didunia ini!"
Karena berpikir demikian diam-diam dia mengerahkan tenaga dalamnya untuk melawan daya kerja racun jahat itu, kemudian buru-buru menyusul si anak muda itu kabur keluar lembah.
Ketika Tang Kwik-siu sekalian menyaksikan rencana mereka mengalami kegagalan total, tentu saja tak rela melepaskan musuhnya dengan begitu saja, dengan sinar mata berapi-api, ia memerintahkan Lenghou hengte dan Hong Liong sekalian untuk melakukan pengejaran terus secara ketat.
Akan tetapi bukit itu penuh diliputi hutan yang lebat, ketika Hoa In-liong dan Thian Ik-cu berhasil menyusup kedalam hutan itu, jejak mereka seketika itu juga lenyap tak berbekas.
Makin dipikir Tang Kwik-siu semakin naik darah, sekalipun ia tahu harapannya untuk mengejar ke dua orang itu tipis sekali, tapi ia toh memerintahkan juga segenap anak murid Seng sut-pay dengan lima orang membentuk satu kelompok untuk melakukan penggeledahan secara besar-besarn di sekitar lembah.
Sementara itu Hoa In-liong dan Thian Ik-cu sedang menyusup ke dalam hutan lebat, mendadak tosu tua itu mendengus tertahan dan roboh diatas tanah.
"Totiang, bagian mana dari tubuhmu yang kurang enak?"
Thian Ik-cu membuka matanya sambil tertawa getir.
"Sungguh hebat racun itu, tampaknya pinto sudah tak dapat bertahan lebih lama lagi!"
"Dimanakah letak lukamu itu?"
Tegurnya Thian Ik-cu segera menuding kearah kaki kanan-nya seraya tertawa.
"Tuh dikakiku! Pinto sudah termakan oleh permainan busuk tua bangka tersebut!"
Dengan sangat hati-hati Hoa jubah pendeta Thian Ik-cu, tampaklah bagian bawah lututnya telah disambung dengan kayu, tapi pada pahanya tertancap sebatang jarum yang setengah bagian diantaranya masih berada diluar.
Jarum itu berwarna kebiru-biruan, jelas mengandung sejenis racun yang jahat sekali.
Diam-diam ia lantas berpikir"
"Sepasang kakinya sudah cacad, tapi gerak geriknya masih tetap lincah dan gesit, bagi orang yang tidak mengetahui latar belakangnya, mereka pasti tak akan percaya kalau dia itu seorang yang cacad!"
Berpikir sampai disitu, diapun Lantas bertanya.
"Siang locianpwe sudah tewas banyak tahun, sampai sekarang apakah totiang masih mendendam kepadanya?"
Thian Ik-cu segera tertawa terbahak bahak.
"Haaahh......haaahh........haah sayang sekali kaki yang dilenyapkan Siang lo ji dimasa lampau adalah kaki kiriku dan bukan kaki kanan, coba kalau kebalikannya, hari ini akupun pasti akan terhindar pula dari bencana ini"
Hoa In-liong kembali berpikir.
"Sekalipun nyawanya sudah berada diujung tanduk, ia masih bisa bergurau secara wajar, kebesaran jiwanya benar-benar amat mengagumkan, siapapun tidak akan percaya kalau manusia semacam ini sesungguhnya adalah bekas ketua Tong thian kau yang tersohor itu!"
"Karena berpikir demikian, rasa hormatnya semakin meningkat beberapa bagian, katanya sambil tertawa.
"Aku pikir kalau cuma racun dari Seng-sut-pay sih masih terhitung luar biasa hebatnya"
Dari sakunya dia lantas mengeluarkan dua botol porselen setelah jarum racun itu dicabut keluar, dengan cepat ia taburkan bubuk Pah-tok-san disekitar mulut luka, lalu menggeluarkan pula dua butir Cing-hiat wan dan menyuruh Thian Ik-cu menelannya.
Begitu bubuk Pah-tok san ditaburkan di sekitar mulut luka, Thian Ik-cu segera merasakan tubuhnya menjadi segar kembali, buru-buru Cing-hiat Wan ditelan ke dalam perut, kemudian ujarnya.
"Obat ini betul-betul mujarab sekali, yaa lagi-lagi selembar nyawaku berhasil direbut kembali"
Karena harus mengerahkan segenap tenaganya untuk kabur, ia tak bisa menggunakan sepenuh kekuatannya untuk melawan racun, ketika itu hawa racun ada sebagian yang sudah menyusup ke dalam isi perut maka setelah menelan pil mujarab buru-buru ia pejamkan matanya untuk mengatur pernapasan.
Mendadak Hoa In-liong mendengar suara dedaunan yang disingkap orang ditempat kejauhan sana, alis matanya kontan berkeryit, bisiknya.
"Sungguh tak kusangka Tang Kwik-siu masih juga melakukan pengejaran tiada hentinya, mari boanpwe menghantarmu untuk mencari sebuah tempat yang sepi dan aman!"
Tidak menunggu jawaban dari Thian Ik-cu lagi, ia segera membopong tosu tua itu dan kabur menuju ke tenggara.
Tak lama kemudian ia berhasil menemukan sebuah gua yang tersembunyi letaknya, setelah meletakkan Thian Ik-cu diatas tanah untuk mengatur pernapasan, si anak muda itu sendiri segera duduk bersila pula di mulut gua itu.
pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya, ketika terbayang kembali petualanganya ketika kabur dari kepungan tadi sekalipun ia bernyali besar tak urung hatinya merasa terkejut juga.
Padahal ia tahu ilmu silat yang dimiliki Tang Kwik-siu jelas berada diatas kepandaiannya, dua bersaudara Lenghou, Hong Liong serta Huyan Kiong juga terhitung jago-jago silat yang berilmu tinggi, coba kalau Huyan Kiong tidak terlalu mengandalkan ilmu Gi-biat-ki-khi ceng-han tay-hoat tersebut, mungkin agak sulit bagi Hoa In-liong untuk berhasil membekuknya.
Selain itu, diapun tahu diantara kawanan jago Mokau masih terdapat banyak sekali jago-jago kelas satu, maka kalau dibilang ia bisa lolos dengan selamat dari kepungan mereka kali ini, hal tersebut benar-benar merupakan suatu keberuntungan.
Berpikir sampai disana, iapun mulai merenungkan kembali kecurigaannya terhadap Tang Kwik-siu yang tahu akan jejaknya sehingga sebelum itu mengadakan persiapan dahulu untuk menjebaknya, ia berpikir.
"Tidak mungkin kalau rahasia kepergianku ini dibocorkan oleh Ting Ji-san, Ho Kee-sian, Cia Sau yan atau dua bersaudara Kiong, yaa, dipikir pikir maka kecurigaan terbesar berada pada murid-murid Thian Ik-cu sendiri!"
"Ia pun berpikir juga bahwa kehadiran Thian Ik-cu tempo dulu disarangnya telah mempertingkat ke waspadaan Tang Kwik-siu, atau mungkin juga lantaran jejaknya sewaktu melakukan perjalanan telah diketahui mereka, maka Tang Kwik-siu lantas menduga arah kepergian mereka berdua. Sementara ia masih terpikir tiba-tiba dari luar gua berkumandang suara teguran seseorang dengan suara yang menyeramkan.
"Hoa yang, keluar kau!"
Hoa In-liong sangat terkejut, ia mencoba untuk berpaling memandang keadaan thian Ik-cu, tampak asap putih dengan mengepul dari atas batok kepalanya, itu menandakan semedinya sedang mencapai pada keadaan yang paling kritis.
Terpaksa sambil menggigit bibir, ia meninggalkan beberapa tulisan diatas dinding gua, kemudian baru melompat keluar dari gua itu.
Dibawah cahaya bintang, tampak seorang kakek berjubah kuning yang kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang, dengan lengan yang panjang melewati lutut dan mengenakan ikat pinggang naga perak telah berdiri dihadapannya bagaikan sesosok sukma gentayangan.
Hoa In-liong berusaha keras untuk menenangkan hatinya sambil berpikir.
"Ketika ada di lembah Yu, kok tadi aku tidak berjumpa dengan kemunculan Seng Tocu. Tidak disangka kalau gembong iblis inipun telah datang pula disini"
Kedengaran Seng Tocu dengan suaranya yang mengerikan sedang berkata.
"Hoa Yang, tahukah kau bahwa pada malam ini lohu pun berada didalam lembah?"
Hoa In-liong tertegun lalu berseru dengan nada keheranan.
"Kalau remang begitu, kenapa kau tidak ikut turun tangan? Asal kau munculkan diri, niscaya aku sulit untuk melepaskan diri diri kepungan orang banyak"
"Mengembut dengan mengandalkan jumlah banyak bukan perbuatan lohu!"
Kata Seng Tocu dingin "Ooooh...! Kalau begitu kau menang lebih berjiwa ksatria dari pada sute-sutemu itu!"
Setelah terhenti sejenak, ia melanjutkan.
"Sekarang kau telah datang seorang diri, apakah kau bermaksud hendak mengajakku untuk berduel satu lawan satu?"
Seng Tocu mengangguk.
"Sebenarnya lohu belum sampai memandang sebelah mata kepadamu, tapi sejak kemunculan di markas besar kami didaratan Tionggoan malam ini, tiba-tiba saja aku merasa bahwa membiarkan kau tetap hidup didunia ini sesungguhnya merupakan suatu tindakan yang keliru"
Suara pembicaraannya sangat hambar, seakan-akan baginya pekerjaan untuk membunuh Hoa In-liong adalah suatu pekerjaan yang gampang sekali.
Hoa In-liong mengerutkan dahinya ia bermaksud untuk balas mengejek lawannya, tapi setelah berpikir sebentar tibatiba ia mengangguk.
"Berbicara dari dasar kepandaian yang kau miliki, ucapan semacam itu memang pantas kau ucapkan cuma seandainya aku tak mampu untuk menandingimu, toh aku masih dapat melarikan diri!"
Seng Tocu menjadi tertegun sesudah mendengar perkataan itu, sebab bagi kebiasaan orang persilatan, mereka lebih suka mati dimedan pertarungan dari pada angkat kaki untuk melarikan diri, tapi sekarang Hoa In-liong telah mengucapkan kata-kata tersebut secara wajar, bahkan sama sekali tidak merasa malu, tak heran kalau hal ini malah mencengangkan jago lihay tersebut.
Setelah termenung sejenak, katanya kemudian dengan hambar.
"Jika akau ingin kabur dengan hutan belantara yang terdapat disekitar tempat ini, tentu saja lohu tak akan bisa berbuat apa-apa, tapi Thian Ik-cu belum selesai dengan semedinya, aku pikir kau pasti tak akan kabur dengan meninggalkan kawan bukan?"
Mendadak ia menyingsingkan ujung bajunya, lalu melemparkan sebilah pedang pendek ke arah Hoa In-liong seraya berkata.
"Lohu telah berhasil juga menangkap seorang majikan dan seorang pelayan dari keluarga Si, apakah kau hendak menjumpai mereka?"
Dalam sekilas pandangan saja Hoa In Hong telah kenali pedang pendek itu sebagai milik Si Leng-jin, cepat ia menerima sambitan tersebut.
Tapi seketika itu juga ia merasakan telapak tangannya menjadi panas, nyaris pedang tersebut terlepas kembali dari tangan nya, diam-diam hatinya merasa terkejut sekali.
"Aku lihat, kau sebagai seorang cianpwe mempunyai kedudukan yang tinggi sekali"
Katanya sambil tertawa dingin.
"masa seorang cianpwe sudi sudinya menghina kaum perempuan?"
Seng Tocu mendengus dingin.
"Pokoknya asal kau bersedia bertarung seorang lawan seorang denganku tanpa bermaksud melarikan diri, lohu siap melepaskan mereka dari cengkeramanku! Sekali lagi Hoa In-liong merasakan hatinya tercekat, pikirnya.
"Dengan segala daya upaya dia memaksaku untuk bersedia melayani pertarungannya, jangan-jangan ia memang bermaksud untuk membunuh aku?"
Sementara ia masih termenung, Seng Tocu telah berkata lebih jauh.
"Terus terang saja kukatakan kepadamu meskipun tenaga dalam yang dimiliki Goan-cing hwesio jauh diatasku, tapi sejak kehilangan banyak tenaganya, selama tiga sampai lima tahun tidak mungkin baginya untuk memulihkan kembali seluruh kekuatan tubuhnya seperti semula, kendatipun berhasil, dengan usianya yang sudah begitu lanjut, masa kematiannya pun semakin dekat, manusia semacam itu masih bukan terhitung suatu ancaman bagi kami, sebaiknya ayahmu Hoa Thian-hong meski berilmu tinggi dan berjiwa gagah, itupun hanya terbatas pada ia seseorang"
Setelah berhenti sejenak, terusnya.
"Tapi kau, bukan saja otaknya cerdas, punya bakat, punya nyali dan punya rejeki, temanmu juga banyak, maka lohu,......"
"Mau apa kau?"
Seru Hoa In-liong tanpa terasa. Dengan hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, sepatah demi sepatah kata jawab Seng Tocu.
"Demi kejayaan serta kecemerlangan nama Seng Kut pay, terpaksa lohu tak akan mengijinkan manusia berbakat seperti kau untuk melanjutkan hidupnya didunia ini"
"Aku merasa bangga sekali bisa mendapat perhatian khususmu!"
Seru Hoa In-liong kemudian dengan kening berkerut.
"Apa yang hendak kau lakukan sekarang"
"Akan kuusahakan untuk membantu terwujudnya cita-cita kalian itu!"
Mencorong sinar tajam dari balik mata Seng Tocu, tampaknya ia merasa agak gusar tapi kemudian setelah mendengus, tanpa mengucapkan sepatah katapun ia berlalu dari sana.
Hoa In-liong juga sadar bahwa pertarungan yang bakal berlangsung nanti lebih banyak bahayanya daripada keberuntungannya tapi bagaimanapun juga ia tak tega membiarkan Si Leng-jin terjatuh ke tangan orang-orang Mokau, maka setelah menghela napas panjang ia segera menyusulnya sambil berseru,
Jilid 8
"Seng Tocu! Kau tidak membawa serta orangnya? Tanpa berpaling Seng Tocu menjawab.
"Aku hendak menitahkan segenap anggota Mokau agar kembali ke markas, masalah tentang Thian Ik-cu juga tak perlu kau risaukan"
Mendengar perkataan itu, Hoa In-liong berpikir didalam hati.
"Gembong iblis ini tak sudi mengandalkan jumlah banyak untuk meraih kemenang an, diapun enggan menunggangi kesempatan dikala orang lagi kesulitan, jiwa gagah semacam ini sungguh amat sulit dijumpai dalam kalangan kaum sesat macam dia."
Gerakan tubuh Seng Tocu benar benar amat cepat seperti terbang, sekalipun Hoa In-liong telah mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya, itupun hanya bisa mengi kuti secara paksa.
Dengan dasar ilmu meringankan tubuh yang dimiliki kedua orang itu, tak selang beberapa saat kemudian mereka telah melewati tebing itu dan tiba di sebuah hutan bambu, setelah menerobosi hutan bambu sam pailah mereka disebuah tanah kosong, diatas tanah kosong berdiri sebuah rumah gubuk.
Tiba tiba Seng Tocu menghentikan langkahnya, sambil berpaling ia berkata.
"Jalan darah mereka dalam keadaan terto tok dan berada dalam rumah itu, lohu akan menanti kedatangan dipuncak bukit sana!"
Selesai berkata, tanpa mengucapkan sepatah kata lagi ia lantas berlalu dari situ. Hoa In-liong termenung sejenak, akhirnya ia mendekati rumah gubuk itu, mendorong pintunya dan.......
"Krek!"
Pintu rumah terbentang lebar.
Suasana dalam ruangan itu gelap gulita, tapi dengan ketajaman mata, Hoa In-liong masih dapat melihatnya dengan jelas.
Rumah itu terdiri dari sebuah ruangan tengah, diruangan itu hanya terdapat sebuah meja dengan dua buah kursi, d sudut dinding terletak sebuah pembaringan kayu, diatas pembaringan berbaring dua sosok tubuh manusia.......
Orang yang berbaring di sebelah luar adalah Si Leng-jin, bibirnya yang mungil, hidungnya yang man cung menambah kecantikan raut wajahnya.
Meskipun ia dalam keadaan berbaring, sepasang biji matanya yang bening dan jeli sedang meman dang kearah luar dengan termangu-mangu, tampak nya dia pun sudah mendengar suara napas manusia, biji matanya tampak berputar putar.
Orang yang berbaring menghadap ke dalam adalah Si Nio yang mukanya penuh dengan luka, ia berada dalam keadaan pulas.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Hoa In-liong berjalan mendekatinya, lalu tangannya ditepuk diatas jalan darah Thian leng hiat ditubuh Si Leng-jin untuk membebaskan jalan darahnya yang ter-totok.
Si Leng-jin segera merasakan segulung hawa panas mengalir turun lewat jalan darah Pek-hwe hiat, dimanca aliran hawa panas itu mengalir lewat, seluruh tubuhnya menjadi segar dan semua jalan da rah yang tertotok secara otomatis bebas dengan sendirinya.
Gadis itu segera melejit bangun dan duduk ditepi pembaringan Dengan terbiasanya berada diruang gelap, lamat-lamat gadis itu dapat pula menyaksikan bentuk tubuh Hoa In-liong, seketika itu juga perasaannya terasa tersumbat, seakan akan ada beribu kata terkandung dalam hatinya namun tak sepatah katapun sanggup diutarakan keluar, mukanya termangumangu persis seperti seseorang yang baru sadar dari impian.
Menyaksikan keadaan dara itu Hoa In-liong segera menghela napas panjang, katanya.
"Nona apa yang kau rasakan sekarang?"
Mendengar pertanyaan itu tiba-tiba butiran air mata jatuh berlinang dari mata Si Leng-jin. Hoa In Hong segera berpikir.
"Sudah pasti kedua orang ini mempunyai penga laman hidup yang amat getir, apalagi setelah bertemu dengan gembong iblis macam Seng Tocu, tentunya banyak sudah pengalaman seram yang di rasakan........"
Berpikir sampai disana, timbul perasaan iba dan kasihannya dengan lembut ia berkata.
"Pertolonganku datang agak lambat tentunya nona sudah banyak mengalami kejadian yang mengejutkan hati"
"Hoa kongcu......"
Bisiknya.
Untuk sesaat dia tak tahu apa yang musti diucapkan, air mata bercucuran amat deras, kalau bisa ia ingin menangis sepuasnya Tapi dia adalah seorang gadis yang berhati sekeras baja, air matanya segera dibesut dan ia berusaha keras untuk menahan rasa pedih didalam hatinya.
Mendadak Hoa In-liong teringat kembali akan janjinya dengan Seng Tocu, hatinya merasa amat terkejut, ia merasa sudah membuang waktu terlalu lama, pikirnya.
"Dalam pertarunganku melawan Seng Tocu sembilan puluh persen jiwaku tiada harapan bisa selamat, padahal obat Yau-ti-wan ini menyangkut jiwa dari beribu-ribu orang jago du nia persilatan, aku harus mengatur segala sesuatunya secara tepat."
Berpikir sampai disitu, dengan wajah serius ia lantas berkata.
"Nona Si, aku ada satu persoalan ingin minta tolong kepadamu, apakah kau bersedia membantu?"
"Kongcu ada pesan apa?"
Tanya Si Leng-jin dengan air mata bercucuran.
"Sesungguhnya persoalan ini menyangkut mati hidupnya seluruh dunia persilatan......"
Mendadak ia berhenti ditengah jalan, pikirnya kembali.
"Ilmu silat yang dimiliki Si Leng-jin tidak terlalu tinggi, kalau suruh dia yang membawa pusaka ini rasanya terlampau berbahaya......"
Rupanya Si Leng-jin dapat menduga jalan pemikiran pemuda itu, segera ujarnya.
"Kalau Kongcu dapat mempercayai diriku apa yang kau pesankan pasti akan kulakukan dengan sebaik-baiknya"
Setelah berhenti sejenak ia menyambung.
"Cuma ilmu silatku amat cetek, aku kuatir tak dapat melaksanakan tugas itu dengan sebaik-baiknya"
Hoa In-liong segera tersenyum, ia telah mengambil keputusan didalam hati, sambil mengeluarkan botol porselen yang berisi pil Yan ti-wan itu dan menyerahkan kepada Si Leng-jin, ia berpesan.
"Isi botol porselen ini adalah obat mustinya, dari sini harap nona menuju ke barat dan melewati dua buah bukit, diujung sebuah lembah terdapat sebuah gua yang tertutup oleh tumbuhan rotan, temuilah Thian Ikcu........."
"Thian Ik-cu?"
Seru Si Leng-jin dengan wajah terkejut.
"Harap nona jangan kaget, kini Thian Ik-cu sudah bertobat dan kembali ke jalan yang benar!"
Mendengar jawaban tersebut, Si Leng-jin tertegun sejenak, kemudian katanya pula.
"Kalau toh cuma sedekat ini, kenapa Hoa kongcu tidak menyerahkan sendiri kepada Thian Ik-cu?"
Hoa In-liong tertawa-tawa.
"Saat ini pihak Seng-sut-pay sedang melakukan penggeledahan bukit secara besar-besaran, nona musti bertindak hati-hati, andaikata Thian Ik-cu tidak berhasil ditemukan, mintalah tolong kepada temanku untuk mencarinya sampai ketemu!"
Selesai berkata dia letakan botol porselen itu ke tanah, lalu pedang pendek Si Leng-jin ikut pula diletakkan disana, sehabis menotok bebas jalan darah Si Nio, ia melompat keluar dari rumah, menerobosi hutan bambu dan berangkat ke puncak bukit.
Kendatipun tingkah laku pemuda itu tetap tenang dan wajar, toh Si Leng-jin merasakan juga sesuatu yang tak beres, dia segera memburu keluar rumah, kemudian teriaknya keraskeras.
"Hoa kongcu!"
"Harap nona baik-baik menjaga diri!"
Seru Hoa In-liong kedengaran dari kejauhan.
Si Leng-jin merasa tertegun, dengan cepat ia memburu ke dalam rumah, menyambar botol porselen itu dan masukkan ke sakunya, lalu menyelipkan pedangnya ke pinggang dan siap keluar lagi dari rumah itu.
Mendadak ia batalkan niatnya itu, sambil berpaling diawasinya Si Nio sekejap, ketika dilihatnya perempuan itu masih tertidur pulas, butiran air mata jatuh berlinang membasahi pipi Si Leng-jin, gumamnya dengan suara lirih.
"Selama banyak waktu ini, aku betul-betul telah menyiksa dirimu......"
Akhirnya sambil menggertak gigi, ia melompat keluar dari rumah gubuk itu dan berangkat kearah dimana Hoa In-liong berlalu.
Sementara itu Hoa In-liong telah berlarian menuju kepuncak bukit dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang sempurna, tak selang seperminuman teh kemudian ia sudah tiba ditempat tujuan.
Dengan sikap yang mengerikan seperti sesosok sukma gentayangan, Seng Tocu berdiri diatas puncak, sekalipun disekelilingnya sangat indah, tapi dengan kehadirannya disana membuat suasana puncak tersebut seakan-akan diliputi selapis hawa setan, membuat siapapun merasa bergidik.
"Maaf kalau kau harus menunggu agak lama!"
Katanya. Seng Tocu memicingkan matanya.
"Lohu sedang heran kenapa begitu cepat kau sudah datang kemari. Sudah kau atur baik-baik kekasihmu itu?"
Katanya.
Hoa In-liong menjadi meringis ketika melihat orang itu salah mengira Si Leng-jin sebagai kekasihnya, namun diapun enggan memberi penjelasan, maka sambil ulapkan tangannya, ia berkata, Lebih baik tak usah membicarakan hal yang bukanbukan, bila kau ingin mencoba kelihaiyan dari ilmu silat Lioksoat-san-ceng kami, sekarang sudah boleh dimulai.
Pedangnya lantas dicabut keluar dan dilintangkan didepan dada, sekokoh batu karang ia berdiri disana, dalam waktu singkat semua masalah tentang rejeki atau bencana, mati atau hidup tersapu lenyap dari benaknya, apa yang dipikirkan sekarang adalah bagaimana caranya mempertahankan diri serta bagaimana caranya merobohkan musuh.
Seng Tocu tak berani memandang enteng musuhnya, sepasang mata yang biasanya dipejamkan rapat-rapat kini mencorong sinar yang tajam sekali.
Seketika itu juga kabut pertarungan menyelimuti seluruh puncak bukit tersebut.
Mendadak Hoa In-liong membentak keras, pedangnya digetarkan dan hawa pedang memancar melancarkan serangannya yang pertama.
Serangan ini cukup dahsyat dan mematikan, andaikata orang tak berilmu tinggi niscaya akan terluka diujung senjatanya.
Bocah muda, belum terhitung hebat ilmu pedangmu itu!"
Sambil maju kemuka dia melepaskan sebuah serangan hebat, seakan-akan ia sama sekali tak terpengaruh oleh kehebatan ilmu pedang lawan.
Siapa tahu, ketika pedang itu sampai, ditengah jalan mendadak hawa pedangnya sirap, kemudian tanpa menimbulkan sedikit suara pun mengancam pinggang orang itu.
Seng Tocu amat terkejut, buru-buru ia tarik nafas panjang tanpa berkutik lain sambil bergeser tiga depa kesamping, pujinya.
"Bocah muda! Kau memang pantas melangsungkan pertarungan melawan diriku"
"Kau terlampau menilai tinggi dirimu sendiri!"
Dengus Hoa In-liong. Sementara dihati kecilnya ia berpikir.
"Tenaga dalam yang dimiliki gembong iblis Ini memang betul-betul hebat sekali hanya mengandalkan tarikan nafas saja tubuhnya dapat bergeser tempat, bahkan sempat berbicara juga, aku tak boleh menilai terlalu rendah musuhku yang ini."
Setelah berlangsungnya pertarungan pertama, kedua belah pihak sama-sama telah mengetahui kehebatan dari ilmu silat masing-masing, hal ini menambah semangat bagi kedua belah pihak untuk melangsungkan pertarungan lebih jauh.
Setelah dipaksa berada diposisi bawah angin, Seng Tocu merasa penasaran sekali, timbul rasa ingin menang dihatinya, sambil mendengus ia menerjang kemuka sambil melepaskan pukulan.
Dalam sekejap mata, suatu pertarungan sengit yang jarang terjadi dalam dunia persilatan pun berlangsung dengan serunya.
Setelah sepuluh jurus lewat, Hoa In-liong, mulai terdesak dibawah angin, melihat posisinya ini, pemuda itu segera mengambil pedang, dimainkan sedemikian rupa sehingga menciptakan selapis dinding baja yang airpun tak tembus, sementara tiap kali ada kesempatan ia melancarkan serangan balasan.
Tujuh delapan puluh jurus serangan telah dilancarkan Seng Tocu.
akan tetapi dia belum berhasil juga mengalahkan Hoa In-liong, hal ini menimbulkan perasaan malu dalam hatinya.
Ia merasa dengan usianya sekarang, andai kata dalam seratus gebrakan tidak berhasil mengalahkan anaknya Hoa Thian-hong, maka peristiwa ini akan sangat mempengaruhi nama baiknya, Berpikir demikian, tiba-tiba serunya.
"Hoa Yang, dalam sepuluh jurus lohu akan mengalahkan dirimu!"
Ditengah pembicaraan tiba-tiba serangan nya berubah, ia bergerak mengitari disekeliling badan Hoa In-liong, sepasang telapak ta ngannya diayunkan berulang kali menghantam tempat-tempat kosong disekeliling tubuh si anak muda itu.
Hoa In-liong tidak habis mengerti dengan tindakan-nya itu, namun ia tak berani bertindak gegabah, sebaliknya pertahanan disekitar tubuhnya malahan diperketat.
Sungguh hebat tenaga dalam yang dimiliki Seng Tocu, dalam waktu singkat ia sudah mengitari anak muda itu sebanyak dua tiga puluh kali lingkaran, kemudian tubuhnya menerobos keposisi tiong-kiong dan sebuah pukulan segera dilontarkan ke depan.
Hoi In liong memutar pedang antiknya membacok kebawah, tapi dengan cepat ia merasakan sekeliling tubuhnya seakan-akan telah membeku, bacokan pedangnya yang mengarah tubuh lawan pun segera meleset kesamping.
Pertarungan antara jago lihay mana boleh meleset seincipun?
Terdengar Seng Tocu tertawa terkekeh-kekeh, sebuah pukulan dahsyat segera di lontarkan ke dada lawan.
Sesungguhnya serangan ini sulit sekali untuk di hindari, untungnya Hoa In-liong cerdas dan ilmu silatnya sudah mencapai kesempurnaan, apalagi pengalamannya yang cukup selama berkelana dalam dunia persilatan, membuat ia tidak panik dalam menghadapi bahaya maut.
Dalam keadaan kritis, telapak tangan kirinya diayun ke depan menyongsong datangnya ancaman tersebut.
"Plaak.....!"
Sepasang telapak tanpanrya segera menempel antara yang satu dengan lainnya.
Tujuan Seng Tocu yang sebenarnya memang demikian, maka serentak hawa murninya disalurkan keluar dengan dahsyatnya untuk menerjang tubuh Hoa In-liong.
Buru-buru si anak muda itu mengerahkan tenaga dalamnya untuk melakukan perlawanan sementara pedang ditangan kanannya langsung membacok ke bawah.
Seng Tocu bergerak cepat, tangan kirinya segera diayun ke depan untuk mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan Hoa In-liong.
Telapak tangan kiri Hoa In-liong yang digunakan untuk melawan tekanan hawa murni dari Seng Tocu hampir telah mempergunakan segenap kekuatannya, karena keadaan terdesak terpaksa ia membuang pedangnya dan berganti menotok jalan darah tay-ciu-hiat pada belakang telapak tangan Seng Tocu.
Sebelum pedang yang terjatuh mencapai tanah, kedua orang itu sudah melangsungkan pertarungan sebanyak empat lima jurus dengan menggunakan segenap kekuatan yang dimilikinya.
Harus diketahui bahwa tenaga dalam yang dimiliki Seng Tocu jauh lebih hebat dibandingkan Hoa In-liong, hal ini sudah merupakan kenyataan yang terbukti, sudah barang tentu Hoa In-liong yang mengetahui kelemahannya berusaha keras untuk menghindari suatu pertarungan beradu kekuatan, sayang posisi Seng Tocu berada diatas angin, sehingga mau tak mau mereka harus menempelkan kembali sepasang telapak tangannya untuk beradu tenaga.
Betapa girangnya Seng Tocu karena niatnya tercapai, segenap kekuatan tubuhnya segera dikerahkan keluar dengan maksud untuk membinasakan anak muda itu dalam sekali pukulan, siapa tahu tiba-ti ba ia merasakan hawa murninya tergelincir kearah samping lain hilang lenyap tak berbekas.
Kejadian ini sangat mengejutkan hatinya, ia lantas berpikir.
"Tenaga dalam apaan ini?"
Haruslah diketahui bahwa pertarungan adu tenaga dalam merupakan suatu pertarungan yang paling jujur, orang tak mungkin bisa menggunakan akal muslihat untuk peroleh kemenangan.
Tapi kenyataanya Hoa In-liong sanggup mengalihkan kekuatan musuhnya kearah lain, kejadian aneh semacam ini hakekatnya belum pernah terjadi dalam dunia persilatan, tak heran kalau Seng Tocu dibikin terperanjat oleh kejadian itu.
Akan tetapi dia bukan manusia sembarangan, begitu hawa murninya dihimpun, kembali Hoa In li ong segera merasakan sepasang telapak tangannya seperti menahan bukit Tay san, sukar baginya untuk melenyapkan Kembali daya kekuatan tersebut Kendatipun begitu, Seng Tocu sendiripun tidak berhasil merobohkan Hoa In-liong, ia merasakan betapa anehnya tenaga dalam yang dimiliki si anak muda itu, setiap kali kalah sebagaian maka kekuatannya akan bertambah besar sebagaian, makin sulit pula baginya untuk mendesak anak muda tersebut.
Akan tetapi tenaga dalam memang merupakan urusan terpenting dalam pertarungan ini, tak sampai seperminum teh kemudian, peluh telah membasahi seluruh badan Hoa In-liong, pakaian yang di kenakan telah basah kuyup dibuatnya.
Selama pertarungan berlangsung, secara diam-diam Seng Tocu memperhatinkan terus paras muka Hoa In-liong, ia saksikan sinar matanya memancarkan cahaya berkilat, tampaknya makin bertarung semakin kuat, hal ini segera mengingatkannya akan suatu peristiwa, tiba-tiba timbul perasaan menyesal dalam hatinya.
"Rupanya si hwesia tua itu kehilangan hawa murninya sewaktu ada di Yu hoa-tay karena mewariskan kekuatannya kepada bocah ini, kalau pertarungan adu tenaga ini dilanjutkan niscaya aku akan kehilangan banyak tenaga, dan tindakanku ini sama artinya seperti membantu bocah ini mencapai kesuksesan....."
Keadaan sekarang ibarat menunggang dipunggung harimau, mau berhenti ditengah jalanpun tak mungkin bisa, maka kuputuskan mumpung Hoa In-liong belum berhasil meresapi inti kekuatan yang diwariskan Goan-cing taysu kepadanya, ia akan membunuhnya lebih dulu, sebab kalau menunggu sampai inti kekuatannya telah menggabung dengan kekuatannya, menang kalah akan semakin sulit untuk ditentukan.
Karena berpikir demikian, dengan mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya ia segera menyerang dengan hebatnya.
Hoa In-liong yang didesak terus menerus betul-betul keteter hebat, akan tetapi ia tetap melawannya dengan gigih, sedikitpun tiada tanda-tanda hendak menyerah kalah.
Dalam waktu singkat dua jam sudah lewat, kedua orang itu masih juga saling menempel antara yang satu dengan lainnya, air muka Hoa In-liong ketika itu sudah berubah menjadi merah padam, peluh sebesar kacang membasahi sekujur tubuhnya sedangkan Seng Tocu telah menarik pula wajahnya yang kaku dan tanpa emosi itu.
Pada saat itulah dari bawah tebing sebelah barat merangkak naik seorang gadis berbaju hitam, tubuhnya ramping dan wajahnya cantik, sebilah pedang pendek tergantung di pinggangnya, dia tak lain adalah Si Leng-jin......
Ternyata ia menyusul Hoa In-liong kesana, tapi berhubung ilmu silatnya selisih jauh bila dibandingkan pemuda itu, maka sampai sekarang ia baru sampai disana.
Dengan sepasang matanya yang jeli dia perhatikan keadaan disekeliling tempat itu, akhirnya dibawah cahaya bintang ia saksikan ada dua orang berdiri saling berhadapan dengan sepasang telapak tangan saling menempel antara satu dengan lainnya, kejadian itu membuatnya tertegun.
Apalagi setelah mengetahui Hoa In-liong berada di posisi bawah angin, dalam kagetnya tanpa berpikir panjang ia cabut keluar pedangnya dan menubruk ke depan, pedangnya langsung ditusukkan ke punggung Seng Tocu.
Mendadak Hoa In-liong membentak keras, Seng Tocu mendengus pula dengan dingin, bukan saja pedangnya itu tak berhasil menusuk punggung Seng Tocu, bahkan muncul segulung tenaga dahsyat yang menyusup lewat pedangnya menghantam gadis itu.
Si Leng-jin menjerit tertahan, kulit tangannya pecah, dan pedang pendeknya mencelat dari pegangan, kemudian dengan sempoyongan badannya mundur sejauh lima enam langkah, lengannya linu dan kaku, hampir saja tak sanggup digerakkan lagi, ditambah telinganya mendengung keras dan rasanya sakit sekali.
Belum habis rasa kaget dan takutnya, telapak tangan kedua orang yang saling menempel itu sudah berpisah dan masingmasing mundur dua langkah.
Seng Tocu hanya tergetar sedikit tubuhnya lalu berdiri tegak kembali.
Sebaliknya Hoa In-liong dengan wajah pucat pias seperti mayat melirik gadis itu sekejap, tiba-tiba ia muntah darah segar, lalu roboh terjengkang ke atas tanah.
Si Leng-jin agak tertegun sejenak, kemudian sambil menangis tersedu-sedu teriaknya.
"Ooh, Hoa kongcu!"
Seperti dua buah sungai, air matanya bercucuran dengan derasnya, ia maju menghampirinya lalu berlutut disisi Hoa Inliong dan bermaksud membopong tubuhnya.
Waktu itu sebenarnya Seng Tocu sedang memejamkan matanya sambil mengatur pernapasan, tiba-tiba ia membuka matanya sambil membentak.
"Jangan dibopong!"
Si Leng-jin agak tertegun, lalu sambil berpaling teriaknya.
"Menyingkir kau dari situ!"
Agaknya dia tak tahu kalau Seng Tocu adalah seorang gembong iblis yang berilmu tinggi, setelah membentak kembali, ia berpaling dan siap membopong anak muda itu lagi.
Kemarahan Seng Tocu langsung berkobar, lengan kanannya segera diangkat siap dihantamkan keatas batok kepala Si Leng-jin akan tetapi ketika dilihatnya wajah sinona begitu mengenaskan ia menjadi tak tega.
Serangan bacokan dirubah menjadi tenaga lembut yang membawa tubuh Si Leng-jin mencelat ke samping.
"Kau tahu isi perutnya sekarang telah bergeser dari tempat kedudukannya semula?"
Demikian ia menegur ketus.
"kini hanya tinggal segulung hawa murni yang melindungi jantungnya, bila kau gerak-kan tubuhnya maka ia akan tewas seketika itu juga"
Si Leng-jin menjadi tertegun, tiba-tiba ia mendekam ditanah sambil menangis tersedu-sedu.
"Budak ingusan, apa yang kau tangisi?"
Kata Seng Tocu dengan hambar.
"berbicara sesungguh nya bocah muda she Hoa itu bisa menjadi begitu adalah gara-gara perbuatanmu"
Mendengar perkataan itu, Si Leng-jin segera menghentikan tangisannya dan menengadah memandang ke arah Seng Tocu, wajahnya menampilkan rasa kaget dan tidak habis mengerti.
Melihat gadis itu sudah mengalihkan perhatian kepadanya, Seng Tocu berkata kembali.
"Perhatikan baik-baik, selama hidup lohu paling tak ambil perduli terhadap segala kebaikan, kejahatan ataupun segala kedengkian tapi terhadap segala persoalan selamanya aku tak pernah merahasiakan keadaan yang sebenarnya"
Ia memandang sekejap Hoa In-liong yang pucat pias dalam keadaan sekarat itu, kemudian melanjutkan.
"Demikian terhadap keadaan sesungguhnya dari pertarungan malam ini, akupun tak ingin merahasiakannya kepada orang lain"
Si Leng-jin membelalakkan sepasang matanya sambil berpikir.
"Menang kalah dari pertarungan ini sudah jelas tertera, kenyataan apa lagi yang hendak dia bicarakan?"
Tiba-tiba teringat kembali dengan perkataan dari Seng Tocu yang mengatakan bahwa dialah yang telah mencelakai Hoa In-liong, segera hatinya bergetar keras. Terdengar Seng Tocu berkata kembali.
"Mula-mula lohu merasa yakin kalau tenaga dalamku amat sempurna dan jauh diatas kekuatan bocah dari keluarga Hoa itu, mala sengaja kupaksa dirinya untuk melangsungkan ada kekuatan tenaga dalam, siapa tahu kenyataannya.... Tiba tiba wajahnya memancarkan sinar keraguan, tanyanya kemudian.
"Hei budak cilik, tahukah kau tenaga dalam yang dipelajarinya itu berasal dari perguruan mana?"
"Tentu saja pelajaran dari keluarganya!"
Jawab Si Leng-jin.
Seng Tocu segera gelengkan kepalanya berulang kali.
Meskipun lohu tidak begitu memahami Gin hoat tenaga dalam dari keluarga Hoa, tapi aku yakin tenaga dalam yang dipelajarinya bukan berasal dari aliran keluarga Hoa, sebab tenaga dalamnya sangat kuat bagaikan gelombang yang berlapis-lapis, gelombang yang satu jauh lebih hebat dari gelombang berikutnya, lagipula aliran hawa murninya itu sebentar mengalir secara lurus sebentar mengalir kembali secara terbalik, tenaga dalam aliran keluarga Hoa tidak mempunyai gejala semacam ini.
"Soal ini boleh tak usah kita bicarakan, dengan mengandalkan tenaga dalam yang sangat aneh ini Hoa Inliong ternyata sanggup mempertahankan diri dari seranganku, bahkan semakin lama pertarungan berlangsung ternyata tenaga dalam yang dimilikinya semakin dahsyat dan kuat........"
"Aneh sekali!"
Seru Si Leng-jin tanpa terasa.
"Saat itulah lohu baru sadar bahwa ia telah mencapat bimbingan dari seorang jago lihay"
Kata Seng Tocu lebih jauh.
"bila ditinjau dari keadaan itu, kemungkinan besar ilmu yang sedang dipelajarinya adalah ilmu sebangsa Tin goan ing tok (bimbingan tenaga dalam untuk menyeberang) yang justru kesempatan semacam itu merupakan kesempatan yang terbaik baginya untuk membaurkan tenaga murni yang didapat dengan tenaga murni yang telah dimiliki dalam tubuhnya........"
"Apakah yang disebut Tin goan ing tok tersebut?"
Tanya Si Leng-jin tiba-tiba. Seng Tocu memandang sekejap kearahnya kemudian menjawab.
"Sebenarnya dalam soal ilmu tenaga dalam, kemajuan hanya bisa dicapai bila seseorang tekun melatihnya, tapi lain ceritanya jika dia mempunyai sebangsa obat yang dapat mengganti tulang merubah otot, selain daripada itu jika ada seorang tokoh sakti yang rela menghadiahkan tenaga dalam hasil latihannya kepada orang lain tentu saja hal inipun bisa terjadi, dan cara yang terakhir inilah yang dinamakan sebagai Tin-goan-ing-tok tersebut.
"Apa susahnya ini?"
Pikirnya.
Tampaknya Seng Tocu dapat menebak suara hatinya, dengan dingin ia berkata, Cara semacam ini tampaknya saja gampang padahal jauh lebih sulit prosesnya daripada mempergunakan obat mustika, sebab pertama sedikit kesalahan saja akan berakibat fatal, kedua, tokoh sakti semacam ini sukar ditemukan didunia ini, yang lebih penting lagi orang-orang itu biasanya enggan memberikan hasil yang luar biasa kepada muridnya tanpa si murid harus bersusah payah.
Tampaknya Seng Tocu merasa bahwa pembicaraannya sudah terlanjur terlampau jauh cepat-cepat katanya kembali, Berbicara kembali kesoal kami tadi, waktu itu lohu merasa menyesal sekali, aku tahu jika keadaan ini dibiarkan berlangsung terus maka pada akhirnya bocah dari keluarga Hoa itulah yang bakal peroleh kemenangan mutlak.
"Lantas dia.......kenapa dia....?"
Seng Tocu segera ulapkan tangannya, bukan menjawab dia malah balik bertanya.
"Kaukah yang menyergap diriku?"
Waktu itu Si Leng-jin sudah tidak terlampau merisaukan kesel-amatan diri, mendengar pertanyaan itu dia lantas mendengus dingin.
"Hmm! Sudah tahu pura-pura bertanya lagi!"
Bukannya menjadi gusar, Seng Tocu malahan tertawa terbahak-bahak.
"Haaahh......haaahh.......haaahh.........hei budak, tahukah kau ketika lohu dan bocah muda she Hoa itu sedang melangsungkan pertaru ngan adu tenaga, sekeliling tubuh kami telah dilapisi hawa murni pelindung badan? Apabila dari luar ada serangan yang datang maka akan memancarlah tenaga gabungan dari kami berdua, siapakah didunia ini yang sanggup menerima tenaga gabungan dari kami berdua ini? Bukankah kau mencari jalan kematian buat diri sendiri?"
"Tapi aku toh masih hidup segar bugar?"
Seng Tocu segera mendengus dingin.
"Kau masih hidup segar bugar?"
Katanya.
"Kau tahu? Kenapa sampai sekarang kau masih tetap segar bugar?"
Tidak menanti jawaban dari Si Leng-jin, dengan marah ia berkata lebih lanjut.
"Kau tahu? Seseorang yang hampir saja tiada tandingannya dikolong langit, telah hancur lebur dan lenyap tak berbekas, gara-gara perbuatanmu itu?"
Suaranya keras dan tegas, sama sekali berubah dari sikap semulanya yang hambar dan berbau hawa setan itu. Si Leng-jin termenung sebentar, mendadak dengan wajah berubah hebat serunya.
"Jangan, jangan......"
"Betul!"
Tukas Seng Tocu.
"gara gara ingin menyelamatkan jiwamu dan lagi diapun tak ingin menangkan aku dengan cara tak adil, akhirnya ia malah berubah menjadi begini rupa"
Dibalik ucapannya itu lamat-lamat kedengaran pula nadanya yang bersedih hati.
Haruslah diketahui, barang siapa telah menjadi seorang ahli dalam suatu kepandaian, tentu akan timbul suatu perasaan sayangnya terhadap genera si penerus yang memiliki bakat bagus.
Selama hidupnya boleh dibilang Seng Tocu ha nya terjun dalam bidang ilmu silat, sudah barang tentu dia menaruh rasa sayang terhadap setiap o-rang yang berbakat bagus dan berilmu tinggi.
Sayangnya Hoa In-liong bukan berasal dari Seng-sut-pay, malahan merupakan musuh tangguh partainya, rasa dengki telah menindas rasa sayangnya.
Akan tetapi disaat keadaan Hoa In-liong terancam bahaya, rasa dendamnya seketika lenyap tak berbekas, sebagai gantinya timbul rasa sayang dan kasihannya.
OOOOOOOOOOOOOO Dengan tatapan sinar kosong Si Leng-jin memandang awan di angkasa, lama sekali ia berdiri termanggu, lalu dengan wajah yang sedih, guman-nya lirih.
"Aku............ akulah yang telah mencelakainya................tak kusangka.....tak kusangka.....!"
Tiba-tiba sinar matanya membentur dengan pedang antik yang tergeletak ditanah, tanpa berpikir panjang lagi ia menyambar senjata itu dan menggorok keleher sendiri.
Kelihatannya pedang itu segera akan melukai tenggorokan si nona dan gadis yang cantik jelita segera akan berpulang ke alam baka....
Mendadak Seng Tocu merampas pedang itu sambil ujarnya dengan suara yang dingin.
"Sampai kini orang she Hoa itu belum mati, buat apa kau buru-buru hendak mampus"
Si Leng-jin tertegun, mendadak ia menengadahkan kepalanya sambil berkata.
"Apakah kau dapat menyelamatkan jiwanya?"
"Seng Tocu hanya dapat menyelamatkan jiwanya selama sepuluh hari, bila ingin menolong jiwanya kecuali kau bisa mendapat jin som berusia seribu tahun atau bahan obat mujarab lain seperti Leng ci dan lain sebagainya....."
"Ke mana aku harus mencari Jin som berusia seriba tahun dan Lengci itu?"
Tanya Si Leng-jin lagi dengan wajah penuh pengharapan. Seng Tocu mengerutkan dahinya, lalu menjawab.
"Bendabenda yang langka didunia ini hanya bisa ditemukan dan tak mungkin diharapkan tapi bagaimana caranya untuk menemukan benda-benda mustika itu?"
Tiba tiba satu ingatan melintas dalam benaknya, katanya kemudian.
"Keluarga Hoa tersohor didunia persilatan sebagai tempat yang dimiliki pelbagai mustika, siapa tahu dirumahnya tersedia bahan obat-obatan seperti itu? Cuma saja sekalipun ada, jaraknya dari sini menuju ke bukit Im tiong san ada tiga empat ribu li, dalam sepuluh hari tak mungkin bisa tiba ditempat tujuan kecuali terbang, apa lagi dirumahnya toh belum tentu ada benda tersebut.........?"
Mendengar ucapan itu tiba-tiba Si Leng-jin seperti teringat akan sesuatu, ia teringat dengan botol porselen yang baru saja diserahkan Hoa In-liong kepadanya itu, siapa tahu kalau isi botol porselen itu adalah obat mujarab?
Dengan cepat botol itu diambil keluar, tapi baru saja hendak membuka penutupnya, sebagai seorang gadis yang cukup berpengalaman dan mengetahui bahayanya orang persilatan, dengan cepat ia teringat kalau disana masih ada Seng Tocu, andaikata isinya betul-betul adalah obat mustika, lalu Seng Tocu hendak merampasnya, apa yang bisa dia lakukan?
Seng Tocu bukan manusia kemarin sore, dari sikap si nona yang mengeluarkan sebuah botol berbentuk aneh tapi segera membatalkan niatnya untuk membuka penutup botol itu, dengan cepat ia dapat menebak suara hatinya.
Sambil mendengus dingin katanya kemudian.
"Kau anggap Lohu ini manusia macam apa? Tak akan kurampas benda milikmu, baiklah! Memandang Hoa yang sebagai seorang lelaki ksatria, lohu akan memperpanjang umurnya selama sepuluh hari"
Begitu selesai berkata, tanpa menantikan jawaban dari Si Leng-jin lagi ia lantas maju ke depan dan secara beruntun melepaskan tujuh belas buah pukulan keatas dada Hoa Inliong.
Si Leng-jin dapat menyaksikan bahwa dalam setiap pukulannya itu selalu disertakan tenaga yang cukup kuat, tempat yang di incarpun merupakan jalan darah penting, berdebar juga jantungnya menyaksikan kejadian itu, untuk sesaat ia hanya bisa memperhatikannya tanpa berkedip.
Dengan sebuah kebutan ujung bajunya, Seng Tocu membalikan tubuh Hoa In-liong, kemudian menotok pula beberapa buah jalan darah penting di punggungnya itu, secara beruntun ia lepaskan lima belas buah pukulan, hanya kali ini gerakannya dilakukan lambat sekali.
Pukulannya yang terakhir itu ditujukan pada jalan darah Thian-teng hiat ditubuh Hoa In-liong, setelah itu ia baru menghembuskan napas panjang dan membesut keringat yang telah membasahi jidatnya.
Sekarang Si Leng-jin baru tahu bahwa Seng Tocu telah mengor-bankan banyak sekali tenaga dalamnya untuk memperpanjang usia Hoa In-liong selama sepuluh hari, bagaimanapun juga gadis itu tercengang juga oleh tindak tanduk gembong iblis tersebut yang ternyata bersedia berkorban demi musuhnya........
Sementara itu Seng Tocu telah memutar balik tubuh Hoa In-liong, dari sakunya ia mengeluarkan sebuah botol porselen berwarna hijau dan mengeluarkan sebutir pil warna hitam yang besarnya seperti gundu.
"Eeh, obat itu terbuat dari bahan apa saja? Kenapa jelek amat warnanya................?"
Tiba-tiba Si Leng-jin menegur. Suara itu amat lirih, seakan akan sedang bergumam seorang diri. Seng Tocu segera mendengus dingin, sahutnya.
"Jika lohu berniat untuk mencelakainya buat apa musti melakukan banyak perbuatan yang tak ada gunanya? Ia membungkuk dan membuka mulut Hoa In-liong lalu masukkan pil berwarna hitam itu ke mulutnya, kemudian sambil membopong tubuh si anak muda itu ia siap berlalu dari sana. Si Leng in menjerit kaget, sambil melompat bangun teriaknya.
"Hei, mau apa kau?"
Seng Tocu menghentikan langkah kakinya seraya berpaling, lalu dengan nada tak sabar katanya.
"Hmm......! Dengan mengandalkan sedikit kepandaian yang kau miliki itu dianggapnya bisa membawa turun seorang yang terluka parah dengan selamat? Lohu akan menghantarkannya ke rumah gubuk itu, urusan selanjutnya terserah padamu."
Setelah berhenti sebentar ia menambahkan.
"Dasar pikiran perempuan memang selalu picik tubuhnya cuma curiga melulu............. Hmm! Brengsek!"
Merah padam selembar wajah Si Leng-jin karena jengah, ia segera maju dua langkah seraya berkata.
"Kalau begitu harap locianpwe sudi membawa serta diriku!"
Tanpa mengucapkan sepatah katapun Seng Tocu menyambar tubuh Hoa In-liong dengan tangan kanan dan menggenggam lengan Si Leng-jin dengan tangan kirinya. Tiba-tiba gadis itu berseru lagi.
"Eeeh....tunggu sebentar!"
Seng Tocu mengernyitkan alis matanya seperti tidak sabar, tapi ia toh melepaskan juga genggamannya.
Si Leng-jin segera menghampiri pedang milik Hoa In-liong dan mengambilnya, lalu mencari pula pedang pendek miliknya sendiri, tapi pedang itu lenyap tak berbekas, tahukah nona itu ada kemungkinan pedangnya sudah terjatuh ke bawah jurang.
Sebagaimana diketahui, pedang pendek itu tajamnya luar biasa, selama ini ia selalu menyayanginya, kini setelah terbukti hilang sedikit banyak nona itu merasa sayang juga, tapi karena lebih menguatirkan keselamatan Hoa In-liong, maka buru-buru ia kembali ke tempat semula.
Seng Tocu sudah tak sabaran lagi, lengan kanannya segera disambar dan dibawanya turun ke bawah tebing.
Separjang jalan Si Leng-jin hanya merasa desingan angin kencang menyambar lewat dari sisi telinganya, pemandangan alam di sekitarnya sukar di perhatikan dan kakinya seakan akan tidak menempel tanah, diam-diam terkejut juga si nona itu oleh kebebatan ilmu silat yang dimiliki Seng Tocu "Bila dilihat dari kepandaian silat yang dimiliki iblis ini tak mungkin kemenangan bisa kuraih bila terjadi pertarungan yang saling berhadapan muka, mumpung sekarang ada kesempatan lebih baik kutusuk punggungnya secara diamdiam dengan begitu dendam sakit hati Hoa kongcu pun bisa terbalas, toh bagaimanapun juga yang bakal celaka juga aku seorang, kenapa tidak beradu jiwa dengannya?"
Berpikir sampai disini dengan hati-hati sekali dia mengangkat pedangnya, karena sudah punya rencana, maka pedang itu tidak dikembalikan kepada Hoa In-liong, sebaiknya digenggang ditangan kirinya, Tiba-tiba ia teringat pula bahwa tindakannya ini pasti akan berakibat tewasnya Hoa In-liong pula, sekalipun kini nyawa anak muda tinggal sepuluh hari Saja tapi baginya sepuluh hari itu adalah wak tu-waktu yang berharga sekali, ini semua menyebabkan ragu-ragu untuk melanjutkan rencananya itu.
Belum lagi keputusannya diambil, tiba-tiba mereka sudah berhenti dan Seng Tocu telah melepaskan tangannya, ternyata mereka telah tiba di depan rumah gubuk itu.
Diam-diam ia menyesal karena telah menyia-nyiakan suatu kesempatan baik.
Tiba tiba terdengar Seng Tocu berkata.
"Hei budak cilik tadi kenapa kau tidak jadi menusuk punggungku?"
"Oh rupanya dia sudah tahu!"
Pikir Si Leng-jin. Ia menjadi sangat mendongkol, dengan gusar serunya.
"Aku hanya merasa bahwa selembar jiwamu itu sekalipun hidup seratus tahun lagi juga tidak menangkan kehidupan Hoa kongcu sendiri, bukan berarti aku jeri kepada ilmu silatmu"
Seng Tocu tidak gusar sebaliknya malah tertawa, katanya.
"Budak cilik ternyata kau memang betul-betul sedang mabuk cinta, cuma lohu tidak mengerti, kenapa kau masih memanggil bocah muda itu sebagai Hoa kongcu?"
Walau pun Si Leng-jin merasa girang dihati, merah padam juga selembar wajahnya karena jengah, buru-buru ia berseru.
"Kau tak usah ngaco belo tak karuan, aku dengan Hoa kongcu sama sekali tak punya hubungan apa-apa"
"Hmm! Lain dimulut lain dihati"
Dengus Seng Tocu. Si Leng-jin menjadi marah katanya.
"Hmmm, Dia adalah putra Thian cu kiam, asal usulnya tersohor dan punya kedudukan terhormat, sebaliknya aku tak lebih cuma seorang gadis yang tak dikenal....."
Teringat dengan asal-usulnya sendiri, rasa sedih segera menyelimuti perasaannya, apalagi teringat keadaan Hoa Inliong yang terluka parah, seketika itu juga ia menangis terisak.
"Aku enggan mengetahui apa hubunganmu dengan bocah muda dari keluarga Hoa ini"
Seng Tocu berkata.
"baik-baiklah biarkan dia hidup selama beberapa hari, bila ada pesan-pesan lebih baik dikatakan pula sejak sekarang"
Lalu setelah melirik sekejap wajah Hoa In-liong, ia menambahkan.
"Sekarang isi perutnya sudah bergeser, untuk mengharapkan penyembuhan hanya ibarat orang bermimpi. Daripada dikirim balik ke perkampungan Liok-soat-san ceng lebih baik temanilah dia hidup selama beberapa hari disini, lohu akan pergi menghalangi orang-orang yang mungkin akan datang mengacau"
Selesai berkata, ia letakkan tubuh Hoa In-liong keatas tanah dan sekali berkelebat tubuhnya telah lenyap dari pandangan mata. Buru-buru Si Leng-jin membopong tubuh Hoa In-liong sambil menyumpah.
"Seng Tocu setan tua, kau betul-betul menggemaskan! Kau toh mengerti kalau Hoa In-liong lagi terluka parah, masa ditengah malam buta yang berkabut tebal kau geletakkan tubuh ke tanah dengan begitu saja?"
Baru habis ia berkata, pandangan matanya menjadi kabur dan tiba-tiba Seng Tocu teah muncul kembali dihadapan-nya. Sesudah memandang sekejap wajah si nona, pelan-pelan katanya.
"Bila dia telah sadar nanti, katakanlah bahwa lohu sangat berharap agar lukanya cepat sembuh, sebab lohu ingin sekali dapat bertarung sekali lagi dengannya"
"Aku pasti akan menyampaikan kepadanya, sekarang kau boleh pergi dari sini!"
Terhadap sikap kasar dari Si Leng-jin ini, ternyata Seng Tocu tidak merasakan reaksi apa-apa, dia hanya mendengus dingin lalu berkelebat pergi dari situ, sekejap mata kemudian bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.
Tiba-tiba terdengar suara dari Si Nio berkumandang dari samping.
"Nona, bagaimana dengan Hoa kogcu?"
Sambil menahan rasa sedih dalam hatinya, Si Leng-jin berpaling lalu sahutaya.
"Seandainya ia tewas, maka ia tewas lantaran aku........"
Air matanya kembali bercucuran membasahi pipinya, ia menjadi sesunggukan dan sambil membopong tubuh Hoa Inliong masuk ke dalam ruangan.
Diatas wajah Si Nio yang penuh kerutan tampak agak gemetar keras, dia ikut melangkah masuk ke dalam ruangan.
Dengan sangat hati-hati, Si Leng-jin membaringkan tubuh Hoa In-liong diatas pembaringan, lalu melepaskan sarung pedangnya, menya rungkan pedang dan menggantungkan diatas dinding.
Setelah itu ia melepaskan sepatu dan kaus kaki dari Hoa Inliong, dan menutupi badannya dengan selimut.
Si Nio mengira ia sudah selesai bekerja, baru saja akan bersuara mendadak dilihatnya gadis itu berdiri termenung sejenak lalu membetulkan kembali letak bantal, ternyata gerak geriknya amat le mah lembut dan penuh perhatian.
Ketika semuanya telah selesai dan dilihatnya Hoa In-liong tidak berbaring dalam keadaan tak enak, ia baru duduk ditepi pembaringan dan memandang wajahnya dengan termangu, lama sekali ia tetap membungkam dalam seribu bahasa.
Si Nio yang menanti disampingnya, lama kelamaan menjadi tak sabar, ia lantas menegur.
"Nona!"
Lima depa disisi Si Leng-jin, semestinya siapapun akan mendengar panggilan tersebut, akan tetapi gadis itu tetap tak berkutik, ia sama sekali tak mendengar panggilan dari pelayan setianya ini.
Terpaksa Si Nio harus mempertinggi suara panggilannya.
"Nona..."
Tanpa berpaling Si Leng-jin ulapkan tangannya "Sst....jangan berisik!"
Si Nio betul betul dibikin tertegun, agaknya kecuali Hoa Inliong ketika itu ia sudah melupakan segala persoalan yang ada didunia ini.
Satu ingatan segera melintas dalam benak pelayan tua itu, tiba-tiba ujarnya!.
"Setelah sadar nanti apa yang dibutuhkan Hoa kongcu? Apakah nona perlu mempersiapkannya?"
Ternyata ucapan itu manjur juga, Si Leng-jin segera menjawab.
"Ehhmm....coba periksalah apakah didapur masih ada makanan, kalau ada bawa saja kemari!"
Sekalipun mulutnya menjawab, sepasang matanya yang jeli itu masih mengawasi wajahnya Hoa In-liong tanpa berkedip. Diam-diam Si Nio berpikir.
"Ai...orang she Hoa ini betulbetul penyakit, kalau nona begini terus keadaannya bagaimana jadinya nanti?"
Setelah berpikir sebentar, terpaksa ia menuju kedapur.
Tak lama kemudian ia telah muncul kembali sambil membawa sebuah baki yang berisi dua mangkuk bubur panas serta tiga macam sayur.
Setibanya dibelakang Si Leng-jin, perempuan itu berseru.
"Nona, hidangan telah tiba!"
"Nanti saja,"
Jawab si nona.
"ia toh masih belum sadar!"
Sekali lagi raut wajah Si Nio yang jelek bergetar keras, katanya setelah merenung sejenak.
"Nona, lebih baik kau makan lebih dulu!"
"Tidak usah!"
Kembali Si Nio menjadi tertegun, akhirnya dia menghela napas panjang, dengan perasaan apa boleh buat terpaksa ia menarik meja itu ke sisi pembaringan lalu setelah meletakkan baki ke atas meja ia duduk dibangku dan memperhatikan gerak gerik majikannya.
Dalam kebeningan malam yang mencekam diantara tiga orang yang ada dalam ruangan, dua duduk berjaga satu tidur dengan pulasnya, tanpa terasa fajar mulai menyingsing.
Tiba-tiba Hoa In-liong menghembuskan napas panjang dan pelan-pelan membuka mulutnya.
Leng-jin girang, Si Leng-jin menyaksikan kejadian itu, segera serunya.
"Kau telah sadar?"
Diam-diam Hoa In-liong mencoba untuk mengatur hawa murni yang dimilikinya sudah tak ada, iapun menemukan isi perutnya sudah tergeser dan jiwanya terancam bahaya maut, diam-diam ia merasa terkejut sekali.
Kendatipun demikian, sambil tertawa hambar ia toh berkata juga.
"Kemana perginya Seng Tocu?"
Dengan sikutnya menyangga badan, ia mencoba untuk bangkit dan duduk. Buru-buru Si Leng-jin menahannya sambil berkata.
"Lukamu sekarang parah sekali lebih baik jangan sembarangan bergerek dan terbaring saja"
Ketika Hoa In-liong mencoba menggadakan tenaga, ia segera merasakan kepalanya pusing dan dadanya sesak, ia sadar tak boleh banyak berkutik lagi, maka sambil berpaling kembali katanya seraya tertawa.
"Waahh..... baru pertama kali ini kurasakan keadaan seperti ini, hitung-hitung aku punya jodoh juga dengan keadaan seperti ini"
Si Leng-jin yang menjumpai anak muda itu sama sekali tidak memperhatikan mati hidup sendiri, apalagi teringat dengan ucapan Seng Tocu yang mengatakan bahwa nyawa Hoa In-liong tinggal sepuluh hari lagi, hatinya menjadi sedih sekali bagaikan disayat-sayat dengan pisau, air matanya segera bercucuran membasahi pipinya.
Hoa In-liong tersenyum,kembali ujarnya.
"Aku tahu waalaupun keras hati dan gagah, di hari-hari biasa jarang sekali melelehkan air mata, persoalan apakah yang membuat kau bersedih hati......?"
Sekalipun dalam keadaan terluka, ternyata ucapan-nya masih lemah lembut, Si Leng-jin benar-benar tak kuat mengendalikan emosinya lagi, tiba-tiba ia menjatuhkan diri berlutut dan membenamkan kepalanya ke pembaringan sambil menangis tersedu-sedu.
Si Nio bangkit berdiri sambil membuka mulutnya seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi ia segera membatalkan niatnya, setelah menghela napas sedih, dengan air mata membasahi pipinya diam-diam ia mengundurkan diri dari situ.
Hoa In-liong palingkan wajahnya kearah si nona, lalu dengan lembut katanya.
"Persoalan apa yang telah menyedihkan hatimu? Coba ceritakanlah kepadaku"
"Aku benci!"
Seru Si Leng-jin sambil menangis tersedusedu.
"Membenci siapa"
Tanya Hoa In-liong sambil menggerutkan dahinya.
"Aku membenci Seng Tocu"
Hoa In-liong segera tertawa, katanya.
"Ia pernah menganiaya diriku, melukai aku pula, kau memang pantas membencinya"
Dengan suara tersendat-sendat Si Leng-jin melanjutkan kembali kata-katanya.
"Aku lebih membenci pada diri sendiri!"
"Waah......... ini tidak boleh terjadi, mana ada orang yang membenci diri sendiri? kata pemuda itu sambil tersenyum.
"Akupun membenci dirimu!"
Sambung gadis itu gemetar. Hoa In-liong mengernyitkan alis matanya, tapi setelah membenarkan letak tubuhnya ia mengangguk.
"Yaa, pastilah aku telah membuat kesalahan kepadamu"
Si Leng-jin menengadahkan kepalanya, dengan air mata bercucuran ia berkata.
"Aku membenci dirimu, membenci kepada mu kenapa terlalu memikirkan keselamatan jiwaku? seharusnya kau gunakan kesempatan itu untuk membunuh Seng Tocu si iblis tua itu, aku mati juga tidak mengapa, daripada hidup sengsara didunia ini"
Hoa In-liong segera tertawa.
"Pepatah kuno mengatakan. Daripada mati secara baik-baik lebih baik hidup agak sengsara, meskipun didunia ini penuh dengan orang jahat, namun tidak mengurangi kecantikannya, meski aku harus mati secara mengenaskan, itupun kulakukan dengan hati yang berat, sebaliknya kau masih muda, mana cantik lagi, kenapa musti mengucapkan kata-kata yang begitu tak sedap didengar?"
Si Leng-jin menundukkan kepalanya sambil menangis tersedu-sedu ia tidak berbicara pun tidak berhenti menangis.
Melihat gadis itu tak bisa dihibur diam-diam Hoa In-liong berkerut kening, tapi setelah berpikir sebentar ia lantas berkata.
"Coba dongakkan kepalamu!"
Dengan lemah lembut Si Leng-jin mendongakkan kepalanya, meski ia tidak habis mengerti dengan maksud tujuan pemuda itu.
Dengan sinar mata yang cerah Hoa In-liong mengamati sekejap wajahnya yang basah oleh air mata itu, kemudian dengan wajah bersungguh-sungguh ujarnya, Sewaktu kau lagi menangis ternyata jauh lebih menarik daripada sewaktu kau lagi tertawa, dulu aku tak punya kesempatan untuk memperhatikannya, sekarang bisa mendapat rejeki besar seperti ini, rasanya lukaku ini pun ada harganya"
Si Leng-jin tidak mengira kalau dalam keadaan seperti ini pemuda itu masih punya kegembiraan untuk menggodanya, ia menjadi tersipu-sipu dibuatnya.
Ketika itulah Si Nio muncul sambil membawa sebuah baki penuh dengan bubur yang masih mengepul panas, bubur yang telah dingin tadi diambilnya kembali.
Setelah digoda oleh Hoa In-liong barusan, rasa sedih di hati Si Leng-jin menjadi jauh berkurang, ketika mencium bau harumnya bubur ia terasa lapar sekali, segera pikirnya.
"Dia pasti merasa lapar sekali!"
Berpikir demikian, iapun membimbing bangun anak muda itu, letak bantalnya dibelikan sehingga pemuda itu dapat setengah berbaring, lalu diambilnya bubur dan secara telaten menyuapi anak muda itu.
Diam-diam Hoa In-liong lantas berpikir.
"Padahal ia sendiri sedang lapar, tapi aku yang diurusi lebih dulu"
Maka sambil gelengkan kepalanya dia berkata.
"Lebih baik kau makan duluan, aku belum lapar!"
Si Leng-jin mengerutkan dahinya, dengan wajah cemberut ia berseru.
"Kalau kau tidak makan duluan, mana aku tega untuk makan?"
"Sebaliknya kalau kau tidak makan, aku pun merasa tak enak untuk makan lebih dulu"
Sambung Hoa In-liong sambil tertawa. Tiba-tiba Si Leng-jin mengucurkan air mata kembali, katanya dengan sedih.
"Kau bisa menjadi begini, semuanya adalah gara-gara aku........"
"Baik, baiklah aku makan duluan!"
Buru-buru Hoa In-liong menukas sambil tertawa.
Ia mencoba untuk mengambil mangkuk sendiri, ternyata lengannya terasa lemas sekali, sewaktu di angkat ternyata lengan itu gemetaran keras.
Si Leng-jin teramat sedih melihat kejadian itu, hatinya serasa disayat-sayat dengan pisau, nyaris ia melelehkan air matanya.
Ia tak mengira seorang jago silat yang tak terkalahkan dalam dunia dewasa ini, kini berubah jadi begitu lemah sehingga untuk menggerakkan lengan sendiripun susah sekali.
Akan tetapi lantaran ia kuatir Hoa In-liong tak senang hati maka buru-buru ia berpaling ke arah lain sambil diam-diam menyeka air matanya, kemudian sambil tertawa paksa katanya.
"Lebih baik kau jangan mempersoalkan segala tata cara yang tetek bengek, biar kusuapin untukmu!"
Hoa In-liong tertawa getir, terpaksa ia biarkan Si Leng-jin menyuapi untuknya.
Sambil menyuapi bubur untuk pemuda itu, secara ringkas Si Leng-jin menceritakan apa yang telah terjadi setelah pemuda itu tak sadarkan diri, hanya soal usia yang tinggal sepuluh hari ia rubah menjadi harus beristirahat sehingga dapat sembuh seluruhnya.
Tentu saja hal tersebut tak dapat mengelabuhi diri Hoa Inliong, cuma ia pun tidak membongkar rahasia itu.
Ketika dua mangkuk bubur sudah habis, ceritapun telah berakhir, sambil menghela napas Hoa In-liong lantas berkata.
"Ternyata Seng Tocu bersedia mempergunakan ilmu Thian mo hu ti sinkang untuk menyembuhkan lukaku, hal ini betul-betul merupakan suatu kejadian yang sangat aneh"
"Thian mo hu ti?"
Kata Si Leng-jin dengan dahi berkerut, kok kedengarannya berbau hawa setan? Jangan-jangan secara diam-diam ia telah melukai dirimu?"
Hoa In-liong segera tertawa.
"Walaupun kedengarannya tak sedap, sesungguhnya ilmu itu adalah cara pengobatan yang paling hebat dari pihak Mokau, tidak mungkin Seng Tocu akan bertindak pengecut seperti itu"
Setelah berhenti sejenak, ia menambahkan.
"Dikemudian hari, akupun harus menolong jiwanya satu kali!"
Mendengar itu Si Leng-jin lantas berpikir".
Nyawamu saja tinggal beberapa hari lagi mana mungkin bisa menolong orang lain??
Dengan perasaan yang amat pedih seperti diiris-iris dengan pisau, ia mencoba tertawa paksa, kemudian katanya.
"Sekalipun mampus, iblis tua itu juga rada keenakan, buat apa kau musti menolongnya?"
"Yaa, barang siapa telah berhutang budi, apakah tidak pantas untuk membalas budi itu?"
Katanya.
Tapi kalau dibiarkan hidup terus, entah berapa banyak orang yang bakal dicelakai oleh iblis tua itu??
"Tidak mungkin, aku tahu bahwa dia adalah seorang yang tinggi hati, tak mungkin ia akan mau turun tangan terhadap orang biasa, asal orang itu bisa ditaklukan, dia pasti akan mengasingkan diri, tak nanti akan mencelakai dunia"
Ketika Si Leng-jin menyaksikan pemuda itu sudah menunjukkan tanda-tanda lelah setelah berbicara sekian lama, buru-buru katanya sambil tertawa.
"Bagaimana kalau kau berbaring dulu, aku hendak bersantap"
Dalam keadaan terluka parah, keadaan Hoa In-liong memang lemah sekali, ia merasa agak lelah setelah bercakapcakap sekian lamanya, maka diapun mengangguk.
Si Leng-jin buru-buru memayangnya untuk berbaring kembali.
Tak lama kemudian Hoa In-liong sudah pulas dengan nyenyaknya.
Dengan termangu-mangu Si Leng-jin mengawasi terus wajah pemuda itu, ia tidak bersantap dan entah apa saja yang dipikirkan, sebentar senyuman dikulum sebentar lagi parasnya berubah dan air mata bercucuran, tapi karena kuatir menyadarkan Hoa In-liong dari tidurnya ia tak berani menangis hingga bersuara.
Selama ini Si Nio hanya mengawasi terus dari luar pintu, menyaksikan keadaan tersebut dia segera lari masuk sambil serunya.
"Nona, kalau begini terus keadaanmu, bagaimana jadinya nanti?"
Si Leng-jin menghela napas sedih, sahutnya dengan lirih.
"Si Nio, jika ia mati akupun mati!"
Dua patah kata "mati"
Itu ibaratnya martil berat yang mengetuk hati Si Nio, kontan saja ia menjerit sekeraskerasnya.
"Mati? Nona, kau sudah gila?"
Si Leng-jin berpaling, wajahnya menunjukkan kekerasan hatinya yang telah bulat.
"Tidak, aku tidak gila! Aku waras dan segar bugar"
"Nona tak ada harganya kau berbuat demikian"
Kembali Si Nio berseru dengan perasaan gelisah.
"Kenapa tak ada harganya?"
"Sebab bocah muda dari keluarga Hoa ini pada hakekatnya adalah seorang kongcu romantis yang suka bermain perempuan..."
"Jangan kau hina dirinya dengan kata-kata yang tak senonoh!"
Hardik Si Leng-jin marah. Si Nio agak tertegun, lalu serunya lagi.
"Tapi ia memang menebarkan bibit cintanya kepada siapapun, belum tentu dalam hatinya terdapat bayangan nona!"
Perkataan itu diucapkan dengan suara keras dan nyaring.
Si Leng-jin segera kuatir kalau ucapan itu menyadarkan Hoa Inliong dari tidurnya, ia berpaling sekejap kearahnya, ketika dilihatnya Hoa In-liong masih tertidur pulas, hatinya baru merasa lega.
katanya kemudian.
"Pergilah beristirahat, lebih baik persoalan ini tak usah dibicarakan lagi"
Si Nio tertegun dan berdiri melongo, tapi bagaimanapun juga dia adalah pelayan dari keluarga Si, dengan mata kepala sendiri dia saksikan Si Leng-jin tumbuh jadi dewasa, karena itu diapun tahu bahwa keputusan yang telah diambil selamanya tak dapat dirubah kembali.
"Semua ini timbul gara-gara karena lelaki hidung bangor itu, lebih baik kubunuh saja Hoa In-liong"
Berpikir sampai disitu, hawa nafsu membunuh segera memancar keluar dari sorot matanya, tanpa sadar diapun berpaling dan melotot sekejap kearah sianak muda itu.
Si Leng-jin yang menyaksikan keadaan tersebut menjadi gelisah sekali, tiba-tiba dia berkata.
"Bila kau berani berbuat sesuatu yang tidak menguntungkan bagi Hoa kongcu, seketika itu juga aku akan mati. Seluruh kulit wajah Si Nio yang menyeramkan itu mengejang keras, ia menggertak gigi dan tidak menjawab. Si Leng-jin segera berkata.
"Kau anggap aku cuma bermain-main saja?"
"Nona, apakah kau lupa dengan Joya-cu?"
Tiba tiba Nio menjerit keras.
Mendengar jeritan itu, Si Leng-jin merintih pelan, sepasang tangannya menekan dadanya keras-keras seperti menahan rasa sakit yang luar biasa, kemudian hembuskan nafas panjang katanya dengan sedih.
"Kau boleh keluar lebih dulu, aku.....akan.....kupikirkan kembali....akan kupikirkan lagi"
Si Nio amat sedih sekali hingga air matanya bercucuran, tapi ia pun tidak berbicara lagi dan segera keluar dari ruangan itu.
Selama lima hari berikutnya Si Leng-jin tak pernah bergeser dari tempatnya semula, ia selalu menjaga ditepi pembaringan, kalau lelah iapun tidur di bawah kaki Hoa In-liong, sekalipun anak muda itu berulang kali mencegahnya tapi percuma saja, maka akhirnya diapun tidak banyak bicara lagi.
Selama ini semua kebutuhan makanan dan minuman diurusi oleh Si Nio, untungnya Seng Tocu telah menyiapkan bahan makanan yang cukup disitu, sehingga mereka tidak takut kekurangan.
Sepanjang hari Hoa In-liong selalu duduk bersila sambil mengatur pernapasan dengan harapan bisa menyembuhkan luka yang dideritanya, sayang tiada perkembangan apapun, hanya secara dipaksakan dapat mencegah keadaannya berubah menjadi makin buruk.
Hari itu ia merasa hawa murninya sudah betul-betul tak terhimpun lagi, bahkan urat-urat pentingnya mulai tersumbat dan ia merasa amat mederita, dalam keadaan demikian pemuda itupun berpikir.
"Tampaknya keadaan lukaku tak bisa disembuhkan lagi dengan mengandalkan kekuatan sendiri, yaa apa boleh buat, terpaksa aku harus mempergunakan obat Yau ti wan tersebut untuk menolong diri"
Berpikir sampai disitu, dia lantas berpaling hendak minta botol berisi Yau ti wan itu dari Si Leng-jin akan tetapi ketika dilihatnya gadis itu sedang tidur dengan nyenyaknya, ia menjadi tak tega untuk membangunkannya kembali.
Karena iseng, diam-diam ia amati wajah gadis itu dengan seksama ketika dilihatnya gadis itu jauh lebih kurus dengan mata yang membengkak setelah kelelahan selama beberapa hari ini, dengan perasaan terharu pikirnya.
"Aaai....... selama beberapa hari ini ia terlalu payah dan menderita....... kasihan betul....."
Sementara ia masih melamun, tiba-tiba dilihatnya Si Lengjin mengernyitkan alis matanya lalu mengigau.
"Ayah, cepat kemari........ In liong, Jangan pergi....... tolonglah aku....."
Hoa In-liong menjadi tertegun, pikirnya.
"Ia mempunyai asal-usul yang amat mengenaskan, saat ini penghidupannya amat sengsara dan penuh penderitaan........ kalau dilihat dari igauannya yang memanggil namaku, terbukti bahwa ia sangat mempercayaiku, bagaimana pun juga aku harus membantu tenaga untuk melepaskan nya dari lautan kesengsaraan....."
Dengan perasaan sayang diapun berbisik lembut.
"Jangan kuatir aku tak akan pergi!"
Tiba tiba Si Leng-jin tersentak bangun dari tidurnya dan terduduk dengan termangu, kemudian setelah berhasil menenangkan hatinya, ia baru bertanya dengan suara lirih.
"Barusan apa yang kau katakan?"
"Tempo hari karena ada persoalan pembicaraan kita terhenti ditengah jalan lalu selama beberapa hari ini karena perhatianku tertuju untuk meyembuhkan luka, aku selalu tak sempat menanyakan asal usulmu, mumpung sekarang ada waktu bersediakah kau memberitahukan soal ini kepadaku?"
Si Leng-jin menghela napas panjang.
"Aaii.....soal ini lebih baik kita bicarakan lagi sesudah lukamu sembuh nanti"
Hoa In-liong manggut-manggut.
"Baiklah, apakah botol porselen yang kutitipkan kepadamu itu masih ada....?"
"Masih"
Sabut Si Leng-jin setelah tertegun sejenak.
"mau apa kau?"
Dari sakunya ia mengeluarkan botol itu dan di serahkan kepada Hoa In-liong, kemudian katanya lagi.
"Sebenarnya sejak semula obat ini hendak kuberikan kepadamu, tapi berhubung Seng Tocu ada disamping dan kaupun tak mampu berkutik maka niatku ini kemudian kubalalkan"
Hoa In-liong tertawa hambar.
"Kini apakah lukaku bisa disembuhkan atau tidak, terpaksa kita harus menggantungkan pada kemujaraban obat ini"
"Obat mustika apakah itu? Bagaimana kemanjurannya?"
Tanya Si Leng-jin tercengang.
"Pil ini bernama Yau ti, dibuat oleh Bu seng (malaikat ilmu silat) pada tiga ratus tahun berselang"
"Malaikat ilmu silat?"
Tanya Si Leng-jin sambil membelalakan sepasang matanya lebar-lebar.
"Yaa, malaikat ilmu silat Im locianpwe yang namanya pernah tersohor dalam dunia persilatan pada tiga ratus tahun berselang..... ..."
Sahut Hoa In-liong sambil tertawa.
"Kenapa aku tidak mengetahui tentang lo-cianpwe ini"
Tukas Si Leng-jin tiba-tiba,"
Padahal persoalan sekitar keturunan malaikat ilmu silat tak ada yang lebih jelas dari pada keluargaku"
Mendengar ucapan tersebut, hati Hoa In-liong segera tergetak, pikirnya kemudian.
"Aaaa, kalau begitu dia pastilah keturunan dari Tin Hoo yang ada diluar perbatasan, kalau tidak kenapa ia mengucapkan kata-kata ini?"
Jilid 9 Tiba-tiba terdengar Si Leng-jin berseru.
"Kalau toh kau mempunyai obat mujarab ini kenapa tidak kau makan sejak dulu dulu?"
Hoa In-liong menghela napas panjang.
"Aaaai..... kau tidak tahu, obat ini sebenarnya hendak kugunakan untuk menolong kawanan jago yang terkena racun ular putih dari Mokau, bila kugunakan sekarang, hal ini sesungguhnya karena keadaan yang terlalu terpaksa"
"Sekalipun demikian, semestinya kau terangkan dulu kepadaku!"
Si Leng-jin kembali menegur. Hoa In-liong tertawa.
"Seandainya kuterangkan kepadamu, maka kau pasti akan memaksaku untuk minum pil itu, padahal aku lebih suka mengobati luka itu dengan caraku sendiri dari pada membuang obat mustika itu secara percuma"
Kejut dan girang Si Leng-jin setelah mengetahui bahwa pemuda itu bakal tertolong jiwanya, dia hanya menggerutu karena pemuda itu tak mau bicara sejak semula, dikerlingnya sekejap dengan cemas.
Kembali Hoa In-liong tersenyum katanya.
"Dalam obat ini terkandung juga jin som berusia seribu tahun, Hu-leng dan bahan obat lain.....
"Aku tahu obat ini adalah obat mustika yang dibuat Bu seng pada tiga ratus tahun berselang"
Tukas Si Leng-jin cepat.
"dengan obat mustika semacam ini, lukamu seratus persen pasti akan sembuh"
Tiba-tiba suatu perasaan masgul muncul dalam hatinya, untuk sesaat ia merasa hubungannya dengan Hoa In-liong menjadi terpaut jauh sekali.
Sebagaimana diketahui Si Leng-jin adalah seorang gadis yang tinggi hati dan angkuh, pemandang remeh soal hubungan cinta antara muda mudi, tapi perempuan semacam ini bila sekali jatuh cinta maka ukurannya adalah mati dan hidup.
Sudah beberapa kali ia berjumpa dengan Hoa In-liong, berjumpa yang berulang membuatnya jatuh hati oleh kegagahan serta kejantanan-nya itu, dengan lagi terlukanya Hoa In-liong kali ini adalah gara-gara ulahnya, diam-diam ia telah bersumpah kehendak hatinya, maka ia melupakan ketinggian hatinya dan tanpa ragu-ragu merawat si anak muda itu dengan penuh kesabaran, dalam pembicaraan pun penuh perasaan cinta dalam pemikirannya asal Hoa In-liong sudah meninggal maka diapun akan bunuh diri untuk menyusulnya.
Tapi dikala Hoa In-liong secara tiba-tiba bisa tak usah mati, meskipun ia merasa gembira tapi sedikit banyak timbul juga perasaan bahwa pada akhirnya mereka bakal berpisah.
Sesungguhnya perasaan itu kan ia sendiri hampir saja tidak merasakannya.
Mendadak Si Leng-jin tersentak bangun dari lamunannya, dengan suara rendah ia berkata.
"Biar kuambilkan air untukmu, harap kongcu segera menelan obat itu sehingga kesehatanmu cepat pulih kembali seperti sedia kala"
Selesai berkata, ia lantas bangkit dan menuju ke dapur. ketika secara tiba-tiba mendengar gadis itu merubah panggilannya menjadi "Kongcu", Hoa In-liong agak tertegun, lalu pikirnya.
"Kenapa secara tiba-tiba ia malah bersikap asing padaku? Entah apa sebabnya?"
Sementara ia masin berpikir, Si Leng-jin sambil membawa air teh dan sebuah botol masuk ke dalam ruangan, air teh ia letakkan di meja dan penutup botolpun dibuka, bau harum semerbak segera tersiar ke seluruh ruangan membuat orang jadi segar rasanya.
Hoa In-liong segera menunjuk ke tepi pembaringan sambil berkata dengan serius.
"Cepat atau lambat menelan pil ini kasiatnya toh sama saja, lebih baik kau duduk dulu, aku ingin bercakap-cakap denganmu"
Mendengar ucapan tersebut dengan kaku Si Leng-jin duduk kembali ketepi pembaringan dan menutup botol itu. Lama sekali suasana dalam keheningan, akhirnya Hoa In-liong bertanya dengan suara lirih.
"Apakah aku telah membuat kesalahan kepadamu?"
Si Leng-jin gelengkan kepalanya dan tidak berbicara.
"Kalau begitu kau merasa tidak puas kepadaku?"
Kata si anak muda itu lebih lanjut. Si Leng-jin berdiam diri beberapa saat lamanya, kemudian menjawab dengan hambar.
"Bagiku kau adalah segala budi kebaikan, jika aku tidak puas lagi kepadamu, maka aku jauh lebih rendah dari binatang"
"Kalau begitu aku menjadi tidak habis mengerti....."seru Hoa In-liong dengan kening berkerut.
"Kau tidak perlu mengerti, tukas si nona. Tiba-tiba ia letak-kan botol obat itu dimeja, keluar dari ruangan itu. Ia merasa hatinya amat gundah dan masgul, kalau bisa ia ingin menangis sepuasnya. Setelah keluar dari ruangan, gadis itu kabur ke hutan bambu, ketika tiba ditanah lapang, ia menjatuhkan diri, menangislah gadis itu sejadinya. Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya ia berhenti menangis, dadanya terasa lebih nyaman dan lega. Pada saat itulah terdengar Si Nio memanggil dengan lirih.
"Nona!"
Ketika Si Leng-jin berpaling maka terlihatlah sendiri entah dari kapan Si Nio telah berdiri dibelakangnya, buru-buru ia menyeka air mata dan bangkit berdiri. Si Nio menghela napas panjang katanya.
"Kalau memang jiwanya sudah tidak terancam lagi mari kita tinggalkan tempat ini"
"Tidak!"
Si Leng-jin gelengkan kepalanya berulang kali "sekalipun hendak pergi, kita harus menunggu sampai lukanya betul betul sembuh kembali!"
Si Nio menggerakkan bibirnya seperti hendak menggucapkan sesuatu, tapi belum sempat berbicara Si Lengjin telah berkata lagi.
"Dahulu sifat terlalu mementingkan diri sendiri ku terlalu berat kini aku sudah mulai sadar kembali. Asal masih bisa berjuang dengan kekuatan sendiri, aku orang she Si tidak akan memohon kepada orang!"
Saking emosinya mungkin, perkataan itu diucapkan sampai beberapa kali banyaknya. Menyaksikan sikap nonanya, terpaksa Si Nio berkata.
"Baiklah segala sesuatunya terserah kepada nona Setelah berhenti sejenak ia menambahkan.
"Aku lihat orang she Hoa itu lumayan juga, baik kecerdasan maupun ilmu silatnya tak ada yang cacad, walaupun waktunya terlalu binal itupun bukan suatu cacad benar....."
"Bahkan akupun sudah menjadi paham, kenapa kau malah tak habis mengerti?"
Tukas Si Leng-jin. Setelah tertawa getir ia melanjutkannya.
"Benar, aku mencintainya tapi bagaimana sikapnya kepadaku aku tak dapat dan tak ingin mengetahuinya sekarang.....lebih baik persoalan ini tak usah dibicarakan lagi, mari kita pergi?"
"Sekarang, bagaimana pula dengan nona?"
Tanya Si Nio kebingungan. Si Leng-jin tertawa katanya.
"Biarpun sikapku terlalu tak sopan, sekarang aku hendak minta maaf kepadanya"
Melihat diantara senyumannya terselip kegetiran, Si Nio tertegun, ketika dilihatnya gadis itu sudah maju ke depan, buru-buru ia mengikuti dibelakangnya.
Tiba tiba Si Leng-jin menghela napas panjang, lalu berkata.
"Si Nio, demi keluargaku kau telah mengorbankan segalagalanya, sebaliknya keluarga kami sama sekali tidak pernah membalas budi kebaikanmu itu.....
"Nona, mengapa kau mengucapkan kata-kata semacam itu?"
Seru Si Nio dengan cemas.
"sekali pun aku harus mati seratus kali demi majikan tua itu pun sudah sepantasnya"
Si Leng-jin sedih, ia melanjutkan langkahnya masuk ke dalam ruangan gubuk itu. Si Nio sambil mengikuti dibelakangnya, diam-diam berpikir.
"Watak nona selalu keras kepala, kesulitan apapun selalu hanya disimpan dihati, kalau dilihat dari mimik wajahnya itu rupanya ia telah mengambil suatu keputusan, semoga saja jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, kalau tidak dimana aku musti taruh wa jahku bila bertemu dengan arwah majikan di alam baka nanti?"
Pikir punya pikir akhirnya semua kesalahan ia limpahkan keatas pundak Hoa In-liong, diam-diam sumpahnya.
"Sialan betul bajingan muda itu, kalau nona sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, aku pasti akan beradu jiwa denganmu!"
Selang sesaat kemudian mereka sudah tiba kembali didepan rumah gubuk itu.
Si Leng-jin segera menerobos masuk kedalam ruangan, ia jumpai Hoa In-liong masih berbaring dipembaringan, obat itu belum di makan dan botolnya masih berada ditempat semula."
Ketika menjumpai gadis itu berjalan masuk ke dalam ruangan, sambil tertawa ia lantas berkata.
"Aku mengira kau tidak akan kembali lagi"
Si Leng-jin tertegun, bibirnya bergetar seperti ingin mengucapkan suatu tapi tenggorokannya serasa tersumbat dan tak mampu mengucapkan sepatah katapun, tiba-tiba ia menubruk ke dalam rangkulan Hoa In-liong dan memeluknya erat-erat.
"Belum pernah ada orang yang begitu memperhatikan diriku....."
Bisiknya sambil menangis, Dengan penuh kasih sayang, Hoa In-liong membelai rambutnya, lalu berbisik lembut.
"Aku tahu kau sangat menderita, banyak persoalan yang telah menyiksa dirimu selama ini"
Sambil menangis tersedu-sedu Si Leng-jin berkata.
"Ketika aku berusia lima tahun, ibu telah tiada, ayah mempunyai ambisi yang sangat besar untuk membangun suatu kekuasaan besar didunia, ia tak punya cukup waktu untuk berkumpul denganku......."
Diam-diam Hoa In-liong berpikir.
Baca Juga: Pedang Ular Emas 11
Baca Juga: Medali Wasiat 7