Eps 4 Neraka Hitam - Khu Lung
Baca online Neraka Hitam - Khu Lung
Cersil Neraka Hitam - Khu Lung.
"Sejak kecil ia sudah kehilangan kasih sayang, ayahnya jauh pula darinya, seorang anak yang tanpa kasih sayang dari orang tuanya memang merupakan suatu kejadian yang tragis"
Terdengar Si Leng-jin berkata lagi sambil menangis terisak.
"Ketika aku berusia sepuluh tahun, tiba-tiba muncul Hianbeng-kaucu Ki ci Sinkun, dalam suatu pembicaraan yang kemudian terjadi merekapun bersahabat dan saling berjanji akan bersama-sama menguasai dunia"
Ketika berbicara sampai disini, mendadak ia mendongakkan kepalanya sambil menambahkan.
"Kau tahu ayahku......"
"Han Seng tek!"
Tukas Hoa In-liong sambil tertawa.
"bukankah dia adalah keturunan dari Tin wan ho yang ada hubungan famili dengan Bu seng pada tiga ratus tahun berselang?"
"Jadi kau sudah tahu?"
Tanya Si Leng-jin tercengang. Hoa In-liong kembali tersenyum.
"Gwakong yang memberitahukan kepadaku, dia orang tua adalah bekas ketua Sin-ki-pang dimasa lalu, katanya juga bahwa ayahmu sudah kena ditangkap orang......"
Setelah berhenti sebentar, kembali ujarnya.
"Menurut pembicaraan tadi, ayahmu dan Kok See-piau yang mengaku bernama Sinkun itu mempunyai hubungan yang intim, sesungguhnya apa yang telah terjadi?"
"Aaaai.......hubungan apa? Apalagi kalau bukan mengundang setan masuk rumah"
"Bersediakah kau memberi penjelasan lebih mendalam lagi?"
Si Leng-jin manggut-manggut.
"Peristiwa itu terjadi pada dua tahun berselang, entah dengan cara apa ternyata Kok See-piau berhasil menyuap seorang pelayanku yang bernama Si Thong pada waktu itu, diam-diam bangsat tersebut telah mencampuri makanan dan minuman ayahku dengan racun pembuyar tenaga yang bekerja lambat, menanti ayahku menyadari akan hal ini keadaan sudah terlambat, maka setelah membunuh penghianat tersebut, beliau menitahkan kepada Si Nio untuk mengajakku melarikan diri"
Sambil menggigit bibir tambahnya kemudian dengan nada penuh kebencian"
"Wajah Si Nio, telah hancur ditangan bajingan anjing she Kok tersebut!"
"Sungguh kejam hati Kok See-piau, sungguh busuk perbuatannya"
Kata Hoa In-liong kemudian sambil mengerutkan dahi.
"hmmm..., hmmm......aku ingin melihat perbuatan terkutuknya itu dapat bertahan sampai berapa lama?"
"Yaa, dendam berdarah ini bagaimanapun juga harus dituntut balas!"
Katanya. Hoa In-liong termenung sebentar, lalu katanya kemudian, Lantas dengan cara apakah kalian melewati penghidupan selama dua tahun belakangan ini?"
Mula-mula kami kabur kebarat lalu ketimur untuk mencari keselamatan, untungnya Kok See-piau tidak terlampau memandang serius atas diriku dan Si Nio, selain daripada itu sebagian anak buah Hian-beng-kau sekarang adalah anak buah ayahku, sejak ayahku tertangkap, mereka dipaksa untuk menggabungkan diri, sekalipun ada juga di antaranya yang rela berpihak kepada musuh tapi sebagian besar masih setia kepada kami, mereka terpaksa harus menjalankan perintah musuh lantaran ayahku masih berada ditangan mereka, sebab itulah merekapun tak berani memberontak, tapi kemudian......, Ketika berbicara sampai disitu, mendadak ia tutup mulut.
"Bagaimaaa selanjutnya?"
Tanya Hoa In-liong. Agak merah wajah Si Leng-jin karena jengah, katanya.
"Kok See-piau mengutus orang untuk menyampaikan pesan kepada kami yang katanya bila kami dapat membunuh salah seorang anak dari Thian-cu-kiam, maka dia akan segera membebaskan ayahku!" 0000O0000 Mendengar perkataan itu, Hoa In-liong segera berpikir.
"Oooh......... rupanya beginilah duduknya persoalan, tak heran kalau niat mereka untuk membunuh adalah begitu besar dan berkobar-kobar, terutama dalam perjumpaan yang pertama kalinya dulu........"
Berpikir demikian, diapun tertawa tergelak, lalu katanya.
"Kematianku sih urusan kecil cuma benarkah Kok See piu mau menepati janjinya?"
"Hei, orang kan sedang menyesal setengah mati, kenapa kau bicarakan kembali persoalan itu?"
Bisik Si Leng-jin. Setelah berhenti sejenak, ia berkata lagi.
"Cuma, aku rasa ia pasti akan menepati janjinya untuk melepaskan diri ayahku"
"Oya? Darimana kau bisa berkata demikian....?"
Tanya Hoa In-liong sambil tertawa"
"Kepandaian silat yang dimiliki ayahku telah punah sama sekali, hakekatnya beliau tak lebih hanya seorang cacad, jelas bukan merupakan suatu ancaman serius baginya, ditambah pula jika kami berhasil memenuhi syaratnya, itu berarti kami dengan keluarga Hoa telah saling berhadapan sebagai musuh bebuyutan, tentu saja dia tak usah kuatir kalau kami kabur ke pihakmu dengan membocorkan rahasianya, selain dari pada itu, ia berambisi menguasahi dunia persilatan, itu betarti ia harus memupuk kewibawaan baginya sendiri, jika tidak pegang janji, siapa pula yang akan bersedia menjual nyawa baginya?"
"Sungguh cermat sekali jalan pikirnya"
Pikir Hoa In-liong.
"agaknya ia tak akan melakukan segala tindakan secara gegabah"
Maka sambil tersenyum ujarnya.
"Tenaga dalam ayahmu telah buyar, seandainya kau berhasil menyelamatkan dirinya, apa pula yang hendak kau lakukan?"
Sahut Si Leng-jin dengan sedih.
"Seandainya Thian mengabulkan permintaanku dan membiarkan kami ayah dan anak bisa berkumpul kembali, Aku Si Leng-jin pasti akan mengajak ayahku untuk hidup mengasingkan diri, apa lagi yang bisa kuinginkan? Sekalipun ilmu silat ayahku telah punah, toh jiwanya masih dilindungi Thian, hal ini sudah merupakan suatu keberuntungan ditengah kemalangan. Diam-diam Hoa In-liong merasa kagum sekali atas kebaktian gadis itu terhadap ayahnya, mendadak ia seperti teringat akan suatu persoalan, segera tanyanya.
"Sebenarnya, siapakah pembunuh sebenarnya dari kasus pembunuhan atas keluarga Sumi? Apa bukan Yu si dan Cia Hoa yang turun tangan? Kok See-piau dan Kiu-im-kaucu mendalangi dari belakang?? Hoa In-liong termenung sejenak kemudian katanya.
"Kok See-piau dan Kiu-im-kaucu memang tak dapat terlepas dari persoalan ini, cuma kemungkinan besar masih ada latar belakang lainnya"
Setelah berhenti sejenak, katanya lebih lanjut dengan suara nyaring.
"Leng-jin, tentang persoalanmu sesungguhnya akan menjadi beres asal perkumpulan Hian-beng-kau berhasil dimusnahkan, cuma hal itu merupakan suatu pekerjaan yang sulit, maka lebih baik janganlah berbuat secara sembrono lebih dulu. Nah, sekarang aku hendak makan obat dulu untuk menyembuhkan lukaku"
Untuk pertama kalinya ini ia memanggil nama Si Leng-jin secara langsung, gadis itu segera merasakan hatinya menjadi hangat dan manggut berulang kali, iapun mencabut penutup botol itu dan mengeluarkan dua butir pil sebesar kelengkeng yang menyiarkan bau harum semerbak, sambil diangsurkan ke hadapan Hoa In-liong katanya.
"Pil mustika semacam ini kebanyakan akan hancur begitu kena air liur, percuma mengambil air sebagai pendorong, hayo telanlah obat ini dengan cepat"
Melihat tangan si nona yang halus dan lembut dan hampir sebanding dengan pil Yau ti wan tersebut, Hoa In-liong begera berseru memuji, Walaupun pil mustika itu mujarab tapi jauh lebih menyenangkan tangan yang halus itu, mari biar kurabahnya dulu.
Merah padam wajah Si Leng-jin karena jengah, serunya cepat.
"Kalau kau ngaco belo lagi, aku segera akan pergi dari sini dan perduli dengan mati hidupmu"
"Obat itu cukup sebutir saja, tolong kembalikan yang lain kedalam botol!"
"Lukamu begini parah, dua butir pil pun belum tentu sembuh, perduli amat dengan kawanan jago yang sedang keracunan itu? Apa lagi untuk membebaskan pengaruh racun jahat, toh belum tentu musti mempergunakan obat mustika ini"
Kata si nona manja. Dengan wajah serius Hoa In-liong berseru.
"Leng-jin, menjadi orang kita tak boleh terlalu mementingkan diri sendiri, kita jangan melupakan kepentingan umum, nah simpanlah baik-baik obat tersebut"
Melihat keseriusan orang, Si Leng-jin tak berani bergurau lagi, dia simpan baik-baik sebutir obat mustika itu dan memberikan yang lain kepada pemuda itu.
Setelah menelan pil Yau ti wan, Hoa In-liong pejamkan mata dan mulai duduk bersila sambil mengatur pernafasan.
Si Leng-jin duduk menanti di sampingnya, dengan wajah yang terang dan sinar mata yang tajam, ia awasi wajah Hoa In-liong lekat-lekat, rasa girang membuat wajahnya berseri, kesedihan dan kemurungan yang dulu menghiasi wajahnya kini tersapu lenyap tak berbekas.
0000O0000 Kota Wi Leng sian terletak dipantai selatan Hway-ho, tempat itu merupakan persimpangan lalu lintas penting yang menghubungkan kota Hway-im dengan Si ciu.
Suatu hari, dari selatan pintu kota Wi-leng sian telah muncul seorang kakek dan dua orang gadis muda.
Yang tua bertubuh kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang, mukanya penuh keriput, jenggot sepanjang dada, membawa tasbeh, memakai jubah abu-abu khas kependetaan dan bersepatu rumput, tampaknva dia adalah seorang pendeta tua yang hidup dengan berkeliling.
Sedangkan yang muda adalah dua orang gadis cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, mereka mengiringi ke kiri kanan pendeta tua tersebut.........
Gadis disebelah kiri memakai baju ungu dengan sanggul yang tinggi, gaun panjang dan berwajah lembut.
Sebaliknya gadis yang ada disebelah kanan mempunyai wajah yang luar biasa cantiknya, ia bermata jeli, berhidung mancung, berbibir kecil dan bertubuh ramping, suatu tipe gadis ideal yang sukar dicarikan keduanya didunia ini.
Ternyata ketiga orang itu tak lain adalah Goan cing taysu keturunan dari Malaikat silat beserta buyut perempuannya Coa Wi-wi dan murid Pui Che-giok, itu kaucu dari Cian li kau yang bernama Cia In.
Seorang pendeta tua melakukan perjalanan bersama-sama dua orang gadis muda hal ini sudah merupakan suatu pemandangan yang amat mencolok, ditambah lagi kecantikan Coa Wi-wi dan Cia In menawan hati orang, kehadiran mereka semakin banyak menarik perhatian orang yang bersama-sama mengalihkan pandangannya ke arah rombongan mereka.
Melihat itu, Coa Wi-wi mengerutkan dahinya sambil menyumpah.
"Huuuh, sialan!"
Kepada Cia In tambahnya.
"Betul bukan enci In?"
Cia In hanya tersenyum dan tidak memberi tanggapan. Melibat rekannya cuma diam saja, Coa Wi-wi segera berseru lagi dengan manja.
"Hmm, Makin lama enci In semakin membisu macam patung, seakan akan berubah menjadi orang lain saja, tidak bisa tidak, kau harus menjawab pertanyaanku dengan segera"
Lantaran didesak terus, terpaksa Cia In menyahut setelah tertawa-tawa.
"Kecantikan adik Wi bak bidadari dari kahyangan, tentu saja sepanjang kehadiranmu memancing perhatian mata para lelaki"
"Beeh..........tampaknya enci In lagi menyindir diriku? Kenapa tidak kau katakan kalau lantaran kau?"
Cia In tersenyum.
"Aku jelek dan berwajah tak sedap dilihat, mana berani dibandingkan dengan adik Wi?"
Katanya. Coa Wi-wi hendak mendebat lagi tapi Goan cing Taysu segera menukas.
"Anak Wi, jangan kau ganggu terus enci In mu itu!"
"Huuuh, semuanya ini adalah hasil pelajaran dari kongkong"
Seru Coa Wi-wi sambil mencibirkan bibirnya yang kecil.
"Kalau tidak, mana mungkin enci In dapat berubah menjadi begini rupa? Kalau lain waktu enci In masih saja disuruh membaca kitab Kim cong ceng atau sebangsa kitab sembayangan lainnya, akan kubakar buku-buku itu sampai habis......!"
"Ngaco belo!"
Bentak Goan cing taysu sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.
"kau tahu perbuatan itu dosa?"
"Aku tak ambil perduli dosa atau tidak, pokoknya aku tak mau kalau sepanjang hari enci In cuma membungkam melulu macam sebuah patung arca saja"
"Andaikata kongkong menerangkan terus isi pelajaran Buddha kepadaku mau apa kau? kata Cia In kemudian. Coa Wi-wi kontan saja melotot, serunya cepat "Aku akan memukul tambur disampingnya dengan keras akan kulihat dengan cara apa dia akan memberi pelajaran kepadamu"
Mendengar perkataan itu, baik Goan cing taysu maupun Cia ln segera tersenyum. Tiba-tiba muncul seorang laki-laki berdandan pelayan menghadang jalan pergi mereka, sambil memberi hormat katanya.
"Rumah makan kami mempunyai hidangan yang lezat, silahkan taysu mampir?"
Goan cing taysu diam diam berpikir.
"Ooh.....rupanya ada warung makan yang menarik pendeta untuk mengunjunginya?"
Pada dasarnya ia memang seorang pendeta yang tidak terikat ketat oleh peraturan, diapun tidak kuatir orang-orang itu main gila kepadanya, ia segera mengangguk.
"Harap tunjukan jalan kepada kami!"
Pelayan itu kembali memberi hormat.
"Harap taysu dan nona berdua mengikuti hamba. Cia In adalah seorang pendekar perempuan yang telah berkecipung dalam dunia persilatan semenjak kecil, sekilas pandang saja setelah mengetahui bahwa urusan agak kurang beres tapi ia tidak berbicara apa-apa. Sebaliknya Coa Wi-wi pada dasarnya memang tak berminat untuk mengurusi hal-hal tersebut maka tanpa mengucapkan sepatah katapun ia berjalan mengikuti dibelakang kongkongnya. Tak lama kemudian sampailah mereka didepan sebuah rumah makan yang mentereng sekali, kehadiran mereka diantar langsung oleh ciangkwe keatas loteng. Setelah ambil tempat duduk, ciangkwe itu lantas bertanya kepada Cia wi wi dan Cia In.
"Tolong tanya apakah nona berdua....."
"Akupun berpantang makan barang berjiwa"
Tukas Cia In cepat. Dengan suara rendah Coa Wi-wi segera berbisik.
"Hei, sepanjang jalan begini terus makan yang kau pesan padahal usiamu toh masih muda, kenapa musti begitu?"
Cia In pura-pura tidak mendengar, hal mana membuat Coa Wi-wi segera mencibirkan bibirnya yang kecil karena mendongkol. Sementara itu sang ciangkwe telah berpaling kearah Coa Wi-wi sambil bertanya.
"Dan nona pesan apa......."
"Sama seperti pesanan mereka!"
Seru Coa Wi-wi sambil ulapkan Tangannya dengan mendongkol, Ciangkwe pun mengiakan berulang kali dan mundur dari situ.
Tak lama kemudian hidangan telah siap dan mengalir datang dengan cepatnya, semua hidangan itu berbau harum dan tampaknya lezat, tempat sayurpun terbuat dari tembikar dan sendoknya terbuat dari perak.
Menyaksikan kesemuanya itu, dengan dahi berkerut Coa Wi-wi segera berseru.
"Buat apa sebanyak ini? Kami toh cuma bertiga saja"
Untuk menghormati keturunan dari Bu Seng, mana boleh hanya menghidangkan beberapa macam sayur saja"
Sambung Cia In sambil tertawa. Kemudian sambil menuding sendok-sendok itu terusnya.
"Coba lihatlah, untuk menghilangkan kecurigaan kami, sengaja mereka memakai sendok yang terbuat dari perak untuk kita"
Coa Wi-wi memang seorang gadis yang cerdik, begitu diingatkan diapun menjadi paham kembali dengan duduknya persoalan, dia lantas berbisik dengan lirih.
"Dari pihak Hianbeng-kau? Ataukah Kiu-im-kau?"
"Tempat ini dekat dengan Lu Lam, aku rasa lebih besar kemungkinannya dari pihak Hian-beng-kau"
Sahut Cia In sambil tersenyum.
"Nah, mereka sudah datang"
Tiba-tiba Goao cing taysu berkata. Coa Wi-wi pusatkan perhatiannya untuk memeriksa sekeliling tempat itu, kemudian katanya.
"Aaah benar, ada orang sedang bertanya kepada ciangkwe, kita ada dimana, Ciangkwe menjawab kita ada diruang nomor empat, ehm! Dia sudah naik keatas"
Buru-buru Cia In mengerahkan tenaga dalamnya ke telinga untuk ikut mendengarkan pembicaraan tersebut tapi tiada suara apapun yang terdengar, sambil tertawa ia lantas berseru.
"Waah, tampaknya tenaga dalam yang dimiliki orang itu jauh lebih tinggi daripada aku"
"Siapa suruh waktumu kau habiskan diatas kitab sembayangan daripada kemajuan yang kau capai...."
Tiba-tiba tirai disingkap orang dan masuklah seorang kakek berkulit merah dan bertubuh tinggi besar, Coa Wi-wi segera menutup mulutnya rapat-rapat.
Kakek bermuka merah itu memandang sekejap ketiga orang itu, kemudian memperhatikan pula wajah Coa Wi-wi sekejap, akhirnya sambil menjura kepada Goan cing taysu katanya.
"Hanya hidangan yang tak seberapa untuk menyambut kedatangan taysu, bila ada kesalahan mohon maaf"
Goan cing taysu segera membalas hormat sambil menyahut.
"Terima kasih atas sambutan dari sicu, maaf jika mata lolap........."
Sambil tertawa seram kakek bermuka merah itu menukas.
"Lohu adalah Tang Bong liang, atas kebaikan sinku kini menjawab di bagian bidang administrasi"
"Ooooh rupanya adalah Tong thamcu, maaf kalau lolap kurang hormat"
Setelah berhenti sejenak, ia bertanya lagi.
"Dengan maksud apa Tong thiamcu datang kemari?"
"Lohu sedang menjalankan tugas dari sinku untuk menyampaikan surat undangan. Dari sakunya ia mengeluarkan sepucuk surat undangan merah dan diangsurkan ke depan, katanya lagi.
"Sebenarnya sudah lama surat undangan ini di bagi, tapi berhubung kedudukan taysu berbeda maka sinkun khusus mengutus lohu untuk menyampaikan sendiri, sebab itulah tertunda sampai sekarang"
Melihat pihak lawan datang dengan sikap hormat, Gon cing taysu tak berani berayal, setelah menyambut uudangan tersebut sahutnya sambil tersenyum.
"Aaah, lolap tak lebih hanya manusia dari gunung, sikap atasanmu yang begitu memandang tinggi diriku sungguh membuat lolap merasa malu sendiri"
Undangan itupun dibuka dan terbaca tiga baris kata.
"Ditujukan untuk yang terhormat Gon cing taysu. Pada hari Toan yang nanti, kami hendak menyelenggarakan upacara peresmian perkumpulan kami di Ou gou penag dalam wilayah Ci mong mengharapkan kedatangan saudara"
Dibawahnya tertulis tanda tangan pengundang nya.
"Murid angkatan kedua dari Bu liang-san, ketua perkumpulan Hian-beng-kau, Kok See-piau"
Diam-diam Goan cing taysu berpikir.
"Sepanjang jalan sudah kudengar kalau Hian-beng-kaucu adalah Kok See-piau bekas murid Bu liang sin kun, padahal Li Bu-liang tewas ditangan Bun Tay kun, dengan dicantumkannya tulisan Bu liang san, jelas Kok See-piau bertekad hendak membalaskan dendam bagi kematian gurunya"
Sementara ia masih termenung, Tang Bong liang telah berkata lebih lanjut.
"Undangan nona Coa disertakan pada orang tuanya, sedang nona Cia turut dalam perkumpulan Cian li kau, oleh sebab itu undangan nona berdua tidak dihantar secara khusus"
Coa Wi-wi menyambut undangan dari tangan Goan cing taysu dan dilihatnya sekejap, kemudian sambil mendongakkan kepalanya ia berkata.
"Oooh, kalau itu sih urusan kecil, cuma ada beberapa persoalan yang membuatku tidak habis mengerti, apakah Tong thamcu bersedia memberi petunjuk?"
Tang Bong-liang segera tertawa terbahak-bahak.
"Haahh..........haaahhh........haaahhh.........harap nona katakan! "
"Konon perkumpulan anda akan diresmikan pada bulan empat tanggal enam, kenapa sekarang dirubah menjadi pada hari Peh-cun?"
"Yaa, karena persiapan yang terlambat terpaksa harus diundur sejauh itu"
Sahut Tong Bong liang sambil tertawa kering. Coa Wi-wi tertawa dingin, kembali katanya.
"Disini dicantumkan Bu liang san dan Kiu ci san, jelas nama-nama itu menunjukkan dua tempat yang berbeda, kenapa bisa kau kaitkan menjadi satu hal ini sungguh membuat orang tak habis mengerti"
Paras muka Tang Bong liang agak berubah setelah mendengar perkataan itu, tapi sebentar kemudian telah pulih kembali menjadi sedia kala, sahutnya.
"Sinkun mula-mula mendapat pelajaran dari Linkong Bu liang sinkun yang berdiam di Bu liang san, selanjutnya memperoleh warisan kitab silat dari Sinkun generasi berselang, karena tak ingin melupakan asal mulanya maka kedua nama itu dicantumkan menjadi satu"
"Pandai juga orang ini berbicara pikir Coa Wi-wi.
"dengan ucapannya tersebut seolah olah Hian-beng-kaucu benar-benar adalah seorang manusia berbudi yang tidak lupa dengan asalnya"
Bibirnya lantas bergetar hendak mengucapkan sesuatu lagi tapi Goan cing taysu tak ingin perdebatan itu berlangsung terus, sambil tersenyum katanya kemudian.
"Undangan untuk Hoa tayhiap apakah telah di sampaikan?"
"Perkampungan Liok soat san ceng adalah pusat kekuatan dunia persilatan, tentu saja perkumpulan kami tak akan lupa untuk mengundangnya"
Goan cing taysu kembali berpikir setelah mendengar perkataan itu.
"Kalau Hian-beng-kaucu tidak yakin dengan ilmu silatnya yang lihay sehingga berani mengundang kehadiran Hoa Thian-hong, sudah tentu ia mempunyai rencana busuk lainnya......"
Berpikir sampai disitu, sambil tertawa-tawa katanya kemudian.
"Lolap adalah manusia berwatak orang gunung, tulang belulangku sudah kaku dan enggan untuk kuatirnya aku hanya akan menyia-nyiakan harapan atasan kalian saja"
Ucapan itu jauh diluar dugaan Tang Bong liang, untuk sesaat ia menjadi tertegun.
"Taysu, bila kau tidak pergi sehingga dari pihak Malaikat Silat tak ada wakilnya, hal mana tentu akan mengurangi kesemarakannya upacara peresmian itu"
Goan cing taysu tertawa-tawa.
"Selama hidup lolap tak pernah melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, aku pun tidak mempunyai nama besar, hadir atau tidak sebetulnya tak usah dipersoalkan secara serius"
Diam-diam Tang Bong liang gelisah sekali, biji matanya segera berputar, lalu sambil sengaja tertawa angkuh ujarnya, Sinkun ada maksud untuk membuka suatu pertemuan ilmu silat dalam upacara peresmian itu, mengingat banyaknya manusia yang mencari nama dalam dunia persilatan, sudah barang tentu mereka yang mencabut nama besar belaka tak akan berani hadir pada waktunya........
Coa Wi-wi mendengus dingin, tiba-tiba selanya.
"Jadi kau ingin menyaksikan kehebatan dari Bu seng? Itu sih gampang, nah sambutlah sebuah pukulan ini."
Telapak tangannya sudah diangkat keatas siap untuk melepaskan sebuah pukulan. Tang Bong liang merasa terkesiap, segera pikirnya.
"Ditinjau dari beberapa kali pengalaman pertarungan yang berlangsung, agaknya ilmu yang dimiliki dayang ini jauh diatasku, apa lagi dengan demikian akan mengakibatkan terjadinya bentrokan langsung dengan keluarga Coa, aku harus menahan diri...,....."
Berpikir demikian ia tidak menyambut ataupun menghindar, sebaliknya malah mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
Sudah barang tentu Coa Wi-wi tak dapat turun tangan terhadap orang yang tidak membalas, dengan perasaan apa boleh buat terpaksa ia menarik kembali telapak tangan-nya sambil berkata.
"Kalau toh kau berani pandang remeh ilmu silat Bu seng, mengapa tak berari menyambut seranganku ini?"
"Aaah............siapa bilang kalau lohu pandang remeh?"
Kata Tang Bong liang sambil berhenti tertawa.
"Sudah jelas kau bilang.............."
Teriak Coa Wi-wi dengan gusar.
Mendadak is sadar bahwa dalam perkataan Tang Bong liang tadi meski ada nada memandang remeh, sesungguhnya yang dimaksud adalah mereka-mereka yang tidak menghadiri pertemuan yang akan dise-lenggara kan Hian-beng-kau, maka iapun berkata kembali.
"Apanya yang luar biasa dengan upacara peresmian perkumpulan Hian-beng-kau? Berani betul mengundang para enghiong dari seluruh kolong langit......?"
Tang Bong liang hanya tertawa-tawa belaka, sinar matanya segera dialihkan ke wajah Goan cing taysun.
Sementara itu Goan cing taysu termenung sebentar, tibatiba sepasang matanya dipentangkan dan memancarkan sinar yang amat tajam.
Ketika sinar mata Tang Bong liang saling membentur dengan sepasang mata Goan cing taysu, ia merasakan bahwa ketajaman mata pendeta itu ibaratnya dua bilah pisau yang tajam sekali menusuk ke ulu hatinya, ia merasa amat terkesiap.
"Tajam amat penglihatan hwesio ini"
Sempurna betul tenaga dalamnya..."
Demikian ia berpikir.
"Omitohud?"
Goan cing berseru memuji keagungan Buddha.
"lolap merasa tak berilmu dan tak berani menghadiri pertemuan semacam itu.....
"Jadi taysu bersedia untuk menghadirinya sekarang?"
Sela Tang Bong liang cepat.
"Tak usah kuatir Tong tham cu, sampai waktunya lolap pasti akan sampai....."
Diam-diam Tang Bong liang merasa girang, katanya kemudian.
"Kalau memang taysu bersedia datang, upacara peresmian perkumpulan kami nanti tentu akan berttambah semarak, para jago yang hadir dalam pertemuan ini pun dapat menyaksikan, kelihayan dari jurus silat malaikat silat.....hal ini akan merupakan suatu atraksi yang menarik"
Sinar matanya dialihkan kembali ke wajah Coa Wi-wi, kemudian ujarnya sambil tertawa.
"Nona Coa sekalian menempuh perjalanan melewati tempat ini apakah kalian hendak ke kota Si ciu?"
"Buat apa tanya-tanya?"
Kata Coa Wi-wi ketus. Tang Bong liang tertawa tergelak.
"Haah.....haaa....aaah....bi1a kalian bukan pergi mencari Hoa ji-kongcu, tentu saja lohu tak usah banyak bicara tapi kalau memang benar...... Coa Wi-wi dapat menangkap bahwa dibalik ucapannya masih ada perkataan lain, dengan perasaan tercekat dia lantas berseru.
"Kenapa dia?"
Paras muka Cia In pun berubah hebat, dengan sinar matanya yang jeli ia berpaling pula ke arah orang she Tang itu.
Tang Bong liang kembali tertawa terbahak-bahak "Haaah...
hahh.....haaah..
kurang lebih setengah bulan berselang, Tong thian kaucu Thian Ik-cu salah seorang pentolan dari tiga maha besar dunia persilatan muncul secara mendadak dikota Si ciu dan mencari Hoa kongcu, pertarungan seru yang berlangsung mendadak terhenti dan merekapun masuk ke dalam gedung sambil bergandeng tangan"
Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan.
"kemudian apakah Hoa kongcu dan Thian Ik-cu menjadi bersahabat atau bermusuhan terus lo hu kurang lebih tahu"
Meskipun Coi wi wi tidak begitu Jelas dengan manusia yang bernama Tiga pembawa bencana itu, tapi dari namanya bisa diketahui bahwa orang itu adalah seorang manusia jahat yang berhati busuk.
Berbeda dengan Cia In, gurunya Pui Che-giok dahulunya adalah dayang Giok teng hujin dan ikut menyusup dalam tubuh Tong thian kau, dia tahu bagaimanakah kebiasaan dari orang-orang perkumpulan tersebut, hatinya kontan bergetar keras sehingga tanpa sadar serunya?"
Tang Bong liang melirik sekejap kearahnya, lalu menyabut.
"Konon Hoa kongcu dan Thian Ik-cu telah berangkat secara rahasia pada malam harinya, kemana mereka pergi hingga kini belum ada kabarnya, itupun berbasil lohu ketahui sewaktu sedang membagi undangan"
Cia In dan Coa Wi-wi saling berpandangan sekejap, lalu sama sama memperlihatkan wajah yang murung. Terdengar Tang Bong liang berkata lebih berlanjut.
"Dari sini menuju ke utara, dalam setiap kota besar tentu ada rumah makan yang khusus disediakan perkumpulan kami untuk menerima tamu agung, saudara sekalian boleh makan minum dan menginap secara gratis"
Sampai disitu diapun menjura sambil menambah.
"Kini tugas lohu telah selesai, aku ingin mohon diri terlebih dahulu...."
"lolap tak akan mengantar lebih jauh lagi!"
Goan cing taysu merangkap tangganya balas memberi hormat.
Tanpa berbicara lagi, Tang Bong liang segera putar badan dan mengundurkan diri dari situ.
Sepeninggal jago dari Hian-beng-kau itu, Coa Wi-wi lantas bertanya.
"Kongkong, menurut pendapatmu mungkinkah jiko telah ketimpa musibah.....?"
Walapun dihati kecilnya merasa murung dan kuatir, senyuman masih tetap mengahiasi ujung bibir Goan cing taysu, sahutnya.
"Jangan lagi kepandaian dan keberesan Liong ji luar biasa, berbicara diri raut wajahnya dapat diketahui bahwa ia bukan manusia yang berumur pendek, harap kau tak usah kuatit"
Mendadak Cia In bangkit sambil berkata, Aku akan mencoba untuk mencari berita dari kantor cabang perkumpulan kami yang ada dikota ini.
"Ehm, cepatlah pergi dan cepat kembali"
Katanya. Buru-buru Cia In beranjak dan meninggalkan rumah makan itu, tak lama kemudian ia muncul kembali dengan wajah masih murung "Enci In, kabar apa yang kau peroleh?"
Coa Wi-wi segera berseru.
Cia In tertawa paksa, sahutnya, Orang-orang yang berada disini mempunyai jabatan yang terlampau rendah, mereka tidak begitu jelas, rasanya jika ingin tahu keadaan yang sebenarnya kita harus kekota Si ciu.
Goan cing taysu mengangguk.
"Yaa, dari sini sampai Si ciu hanya terpaut dua ratus li, asal berangkat sekarang sore nanti pasti telah sampai!"
Berbicara sampai disitu, mereka bertiga pun tidak banyak bicara lagi, tanpa bersantap mereka turun untuk membayar rekening, tapi ciangkwe tak mau menerima bayaran, karena enggan banyak ribut, Coa Wi-wi melemparkan sekeping uang kemeja lalu berlalu dari situ.
Setelah keluar dari pintu kota, mereka tidak ambil perduli lagi apakah jalanan ramai atau tidak, tanpa sangsi lagi mereka bertiga mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya untuk melakukan perjalanan.
Goan cing taysu kuatir tenaga dalam Cia In masih ketinggalan jauh, maka ia tarik tangan kanannya dan menyeret gadis itu untuk melakukan perjalanan dengan cepat.
Kepandaian silat yang dimiliki Coa Wi-wi memang betulbetul amat sempurna, apalagi kepandaian yang dimiliki Goan cing taysu, sore itu mereka telah sampai dikota Si Ciu.
Baru masuk kekota, mereka telah bertemu dengan Cia Sau yan, kontan saja Cia In bertanya.
"Hoa kongcu berada di mana?"
Cia Sau-yan tidak menjawab secara langsung, ia memberi hormat lebih dulu kepada Goan cing taysu, kemudian baru menyapa Coa Wi-wi.
"Tak usah banyak adat"
Katanya.
"Enci Yan, sebenarnya jiko berada di kota Si ciu atau tidak?"
Dengan tak sabar Coa Wi-wi bertanya. Cia Sau yan memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian sambil tertawa paksa katanya.
"Bila ada persoalan lebih baik kita bicara saja dalam rumah!"
Ia memutar badannya dan berjalan lebih dulu meninggalkan tempat itu.
Tak lama kemudian mereka berempat tiba digedung tersebut dan langsung masuk ke ruang dalam.
Waktu itu dua bersaudara Kiong sedang duduk dalam ruang tengah, ketika mendengar suara langkah manusia ia maju menyongsong ke depan pintu, tapi begitu menjumpai Coa Wi-wi mereka agak tertegun.
Secara ringkas Cia Siau yan memperkenalkan mereka semua, lalu tak sempat duduk lagi dia berkata.
"Setengah bulan berselang, Hoa In-liong dan Thian Ik-cu telah berangkat ke bukit Ho san di wan see"
"Mau apa dia kesana?"
Tanya Coa Wi-wi.
"Menurut perkataan Thian Ik-cu, katanya ada sekelompok jago dari daratan Tionggoan yang terkena racun jahat ular emas dan tersekap di bukit Ho San, mendengar berita itu Hoa kongcu segera berangkat untuk memberi pertolongan!"
"Apakah waktu itu Somoay juga hadir disana?"
Tiba-tiba Cia In bertanya.
"Yaa, aku hadir!"
Dengan dahi berkerut dan suara menegur, Cia in segera berseru.
"Sumoay, bukankah dihari-hari biasa suhu selalu memperingatkan kita bahwa Tong thian kau adalah sekawanan manusia licik yang banyak tipu muslihatnya, mengapa kau tidak mencoba untuk menghalanginya? Semuanya ini, kaulah yang salah"
Dengan wajah malu Cia Sau yan menundukkan wajahnya rendah-rendah.
Pergaulan selama beberapa hari ini diantara dua bersaudara Kiong dengan Cia sau yan membuat hubungan mereka bertambah intim, melihat keadaan itu, Kiong Gwat hui segera menyela, Dalam masalah ini enci Yan tak bisa disalahkan, waktu itu kami dua bersaudara, Siang huan toh mi (sepasang gelang pencabut nyawa) Ting Ji-san dan Ho Keesian dari Sin-ki-pang hadir pula ditempat tersebut, tapi ling dan Ho dua orang cianpwe sama sekali tidak bermaksud untuk menghalangi kepentingan"
"Ooooh..... begitu!"
Dengan nada minta maaf, coa In berkata kemudian.
"kalau begitu akulah yang telah salah menegur, harap sumoay sudi memberi maaf"
Cia Sau yan menghela napas panjang, katanya.
"Siau moay memang bersalah. Cuma siapakah yang bisa mengurusi persoalannya Hoa kongcu? Apalagi menurut pengamatan Siau moay atas tingkah laku Thian Ik-cu, kami benar-benar tidak menemukan sesuatu gejala yang mencurigakan"
"Tapi betapa jahatnya Thian Ik-cu itu?"
Seru Coa Wi-wi dengan cemas.
"bagaimanakah tingkah lakunya ketika itu?"
"Urusan yang lewat lebih baik tak usah dibicarakan lagi"
Kata Cia Sau yan kemudian setelah berpikir sebentar.
"biarlah kuceritakan kembali keadaan waktu itu"
Setelah berhenti sebentar, diapun mulai menceritakan bagian ketika Thian Ik-cu mendatangi kota Si ciu, menjajal kepandaian Hoa In-liong, lalu bagaimana masuk kerumah untuk berunding dan bagaimana berusaha untuk menolong orang.......
Ketika selesai bercerita, dengan sinar mata berkilat ia berkata kembali.
"Kakek nona Coa, Ting Ji-san dan Ho Keesian sekalian telah berangkat untuk memberi pertolongan, tapi sampai sekarang mereka masih belum juga kembali"
"Tentu saja"
Seru Coa Wi-wi.
"kalau engkohku sudah mengetahui akan urusan ini, sudah pasti dia tak akan berdiam diri saja"
Cia Sau yan berkata kembali.
"Murid Thian Ik-cu dengan suka rela bersedia disekap beberapa lama sampai ada kabar berita tentang gurunya dan Hoa kongcu"
"itu semua cuma urusan kecil"
Tukas Coa In.
"masih ada yang lain?"
Cia Sau yan ragu ragu sejenak, kemudian katanya.
"Menurut laporan Ho Kee-sian, Ting Ji-san locianpwe dan Coa kongcu telah berjumpa dengan Sing Tocu, suheng dari Tang Kwik-siu ditengah jalan, nyaris jiwa mereka melayang dengannya, terpaksa buru-buru mereka menarik diri"
Mendengar itu, Coa Wi-wi lantas berpaling ke arah Goan cing taysu dan berkata dengan cemas.
"Kongkong, apakah Jiko sanggup untuk menandingi Sing Tocu?"
Selama ini Goan cing taysu hanya duduk membungkam sambil mendengarkan pembicaraan mereka, ketika mendengar perkataan itu dengan ham bar sahutnya, Meskipun tak sanggup menandinginya, bukan suatu urusan yang susah baginya jika ingin kabur!"
"Kalau ia tak sudi kabur?"
Sambung Coa Wi-wi dengan perasaan cemas bercampur gelisah. Goan cing taysu segera tertawa.
"Liong ji adalah seorang manusia yang tahu diri, tak mungkin ia berani mengajak musuhnya beradu jiwa bila tiada manfaat apapun. Coa Wi-wi merasa sangat tak lega, serunya tiba-tiba.
"Kalau begitu biar ku berangkan kebukit Ho san"
Cia In berpaling sekejap memandang ke arah Goan cing taysu, meskipun tidak mengucapkan apa-apa tapi jelas kalau gadis inipun ingin menyusul ke sana. Goan cing taysu lantas berkata.
"Dari sini menuju ke bukit Ho-san ada seribu empat lima ratus li, sampai di wilayah Gi mong pun ada seribu li pula, padahal saat peresmian perkumpulan Hian-beng-kau telah tinggal belasan hari saja, tak sempat lagi......."
Coa Wi-wi segera mengerutkan dahinya.
"Wi ji ogah menghadiri peresmian itu, apa sih yang hebat untuk dilihat......?"
Serunya. Goan cing taysu gelengkan kepalanya berulang kali sambil berpaling katanya.
"Nona Yan, berapa orang yang mendapat undangan dari pihak Hian-beng-kau.....?"
Setelah membungkukkan badan memberi hormat sahut Cia Sau yan.
"Kau orang tua terlalu sungkan, boanpwe mana berani menerimanya"
Setelah berhenti sejenak, katanya lebih jauh.
"Boanpwe rasa setiap orang yang punya nama, baik ia masih berkelana atau telah mengasingkan diri, pihak Hian-beng-kau pasti telah menyampaikan undangan kepada mereka, yang tidak mendapat bagian undangan tapi i-ngin melihat keramaianpun sebagian besar sudah berangkat, dewasa ini tak sedikit jumlahnya manusia yang telah meninggalkan kota Si ciu.
"Apakah dari pihak keluarga Hoa telah melakukan suatu tindakan?"
"Bun tay kun belum melakukan tindakan apa-apa, Hoa tayhiap juga belum turun gunung, ketika urusan yang mengirim undangan tersebut tiba ditengah bukit ia telah dihadang oleh kuasanya, jadi belum sampai bertemu langsung dengan Hoa tayhiap. Setelah menghela napas, lanjutnya.
"Keluarga Hoa selalu dianggap sebagai keluarga pesilatan nomer satu didalam dunia persilatan tapi sikapnya yang sukar diraba ini benar-benar membuat umat persilatan didunia ini menjadi bingung dan tidak habis mengerti"
Kiong Gwat hui yang berada disampingnya tiba-tiba menyela.
"Sewaktu turun gunung, kali ini kami berdua sempat pula mengunjungi perkampungan Liok soat san ceng dan menyambangi Bun Tay kun, Hoa tayhiap dan dua orang Hoa hujin"
"Kalian telah bertemu?"
Tanya Goan cing taysu sambil tersenyum.
"Ketemu sih sudah ketemu, cuma saja Bun Tay kun sedang memusatkan semua perhatiannya untuk mendidik Suma Jin, putri pendiam Suma tayhiap, mengenai yang lain penghidupan berjalan biasa, hanya Koa toako Koa samet dan dua orang sumoay yang secara diam-diam membicarakan segala sepak terjang dan Hoa jiko, selain itu masih ada pula seorang Coa hujin.....
"Dia adalah ibuku!"
Kata Coa Wi-wi dengan mata mendelik.
"bagaimana dengan dia orang tua? "Ibumu dan kedua orang hujin bergaul dengan riang gembira, dan berpesan kepadaku bila datang ke timur maka kami diminta mampir di Kota Kiam leng dan mengajak kau bermain"
"Kenapa cici berdua tidak membicarakannya sejak tadi?"
Seru Coa Wi-wi sambil bertepuk tangan kegirangan. Kiong Gwat hui tertawa, sahutnya.
"Tadi kau buru-buru ingin mengetahui nasib Hoa jiko, kami mana berani untuk mengganggunya Sementara itu Goan cing taysu sedang berpikir, Wiji hanya menguatirkan keselamalan jiko nya, ilmu silat In-ji amat cetek, beberapa orang gadis inipun tak bisa menghadapi masalah besar ini dengan sempurna......."
Setelah berpikir sebentar, serunya kemudian.
"Anak Wi!"
Menyaksikan paras muka Goan-cing taysu amat serius, buru-buru Coa Wi-wi meluruskan tangannya ke bawah sambil bertanya.
"Kongkong ada pesan apa?"
"Upacara pembukaan perkumpulan Hian-beng-kau mempunyai arti penting bagi keselamatan umat persilatan didunia, karenanya aku harus berangkat untuk melakukan penyelidikan lebih dulu, kau boleh menyusul kemudian. Setelah berhenti sebentar, kembali ia berkata.
"Sedangkan urusan Liong ji, lebih baik kita pikirkan selesai upacara peresmian itu, mau kebukit Ho san juga tak bisa sekarang, aku harap kau dapat mengingat selalu pesan leluhur kita yang lebih mengutamakan kepentingan umum dari pada kepentingan pribadi. Begitu juga dengan anak ini!"
Selesai berkata, ujung bajunya segera dikebaskan dan tahu-tahu bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas.
Bagi Goan cing taysu yang sepanjang hidupnya berkelana diluar, kepergiannya tidak meninggalkan kesan apa-apa tapi berbeda dengan Coa Wi-wi dan Cia In.
mereka merasa seperti kehilangan sesuatu, sambil memburu ke tepi jendela, titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.
Tiba-tiba Kiong Gwat hui berkata.
"Ilmu silat yang kami berdua memiliki amat cetek, jarak dari sini sampai bukit Gi sanpun tidak dekat, bila ingin menghadiri pertemuan tersebut, kita harus melakukan perjalanan mulai sekarang"
Diam diam Co wi wi berpikir.
"Terpaksa persoalan tentang jiko harus ditunda untuk sementara waktu. Padahal bicara dari kepandaian yang di milikinya, tak mungkin sampai terjadi peristiwa, mungkin juga kita akan berjumpa dalam pertemuan nanti...."
Berpikir demikian ia lantas berkata.
"Enci Kiong, bagaimana kalau melakukan perjalanan bersama sama......?"
Kiong Gwat hui memegang tangan Coa Wi-wi dan tertawa merdu, serunya.
"Kau benar benar cantik jelita seperti bidadari yang turun dari kahyangan, kami berdua sungguh merasa tak sanggup untuk melakukan perjalanan bersamamu"
"Kau iri hati?"
Goda Kiong Gwat lan sam bil tertawa. Kiong Gwat hui ikut tertawa.
"Yaa, tentu saja iri sekali!"
"Kenapa?"
Tanya Coa Wi-wi sambil tertawa, sekalipun sedang menguatirkan keselamatan Hoa In-liong, sempat pula dia untuk bergurau.
Kiong Gwat hui dapat merasakan bahwa dibalik kecantikan gadis itu terkandung juga kepolosan dan kelembutan, sama sekali tidak menaruh rasa iri atau dengki, hal mana membuatnya menghela napas panjang.
Sambil menarik tangan Coa Wi-wi, katanya kemudian.
"Terus terang saja aku mengaku, bahwa aku merasa iri sekali ketika untuk pertama kalinya mengetahui akan dirimu, tapi sekarang semua kedengkian itu sudah lenyap tak berbekas"
Mendengar perkataan itu, Coa Wi-wi menjadi tertegun, ia tak habis mengerti kenapa gadis itu bisa menaruh perasaan dengki ketika berjumpa untuk pertama kalinya tadi.
"Malam ini kita beristirahat dulu, besok pagi baru melanjutkan kembali perjalanan kita"
Tiba-tiba Cia In berkata.
0000O0000 Jalan raya yang menuju ke Lu lam selama beberapa hari ini mendadak menjadi ramai, sebagian besar orang yang menempuh perjalanan disana adalah kawanan jago persilatan.
Pengaruh Hian-beng-kau memang benar-benar besar dan luas, dengan bukit Gi san sebagai pusat seribu li disekitar tempat itu telah tersebar tempat-tempat penyambutan, terutama sekali dikota-kota besar, baik rumah penginapan tersedia, makanan terjamin, yang melayani merekapun ratarata gadis cantik jelita yang bertubuh indah.
Alunan musik yang indah, tempat yang nyaman, hidangan yang lezat dan pelayan yang memuaskan, sungguh membuat siapapun menjadi kerasan.
Sudah terlalu lama dunia persilatan berada dalam keadaan tenang, banyak yang sudah lama tenangpun berbondongbondong memunculkan diri, sebagian besar adalah bermaksud untuk melihat keramaian, hanya sebagian kecil saja yang benar-benar menguatirkan ambisi orang yang bermaksud menguasai jagat.
Waktu itu, Coa Wi-wi, Cia In dan dua bersaudara Kiongpun sedang melakukun perjalanan ke utara, untuk menghindari tempat-tempat penyambutan yang disediakan pihak Hianbeng-kau, mereka khusus memilih jalanan yang kecil dan terpencil.
Empat orang gadis itu berencana akan tiba ditempat peresmian itu sehari sebelumnya, maka sepanjang jalan mereka banyak berpesiar dan bersantai-santai.
Senja itu mereka telah tiba diluar kota Gi sun shia, oleh karena empat orang gadis itu tak tahu dimanakah letaknya Ou gou peng, setelah berunding sejenak akhirnya diputuskan kalau malam itu akan mendatangi gedung penerima tamu guna melakukan penyelidikan.
Malam itu keempat gadis itu masuk ke dalam kota dan langsung menuju ke gedung penerima tamu dari Hian-bengkau.
Ditengah jalan, mendadak Coa Wi-wi berhenti dan berpaling ke arah sebelah kiri.
Melihat gadis itu berhenti, tiga orang lainnya pun ikut berhenti dengan wajah tertegun.
"Apa yangg terjadi?"
Kiong Gwat lan segera berbisik lirih.
"Bwe Su-yok telah datang!"
Sahut Coa Wi-wi sambil menatap terus ke depan"
Cia In dan dua bersaudara Kiong segera berpaling pula ke arah mana yang ditujukan. Tapi Coa Wi-wi gelengkan kepalanya sambil berkata.
"Ia sudah keluar dari kota, tidak terlihat lagi"
Cia In termenung sebentar kemudian ujarnya.
"Dibalik ucapan peresmian perkumpulan Hian-beng-kau kali ini sesungguhnya mereka bermaksud untuk menantang para jago dari kalangan lurus sebagai seorang ketua dari Kiu-imkau, sudah barang tentu Bwe Su-yok harusnya berada dimarkas Hian-beng-kau, daripada berkeliaran ditempat luaran"
"Jadi maksudmu, Bwe Su-yok sedang melakukan suatu pekerjaan?"
Tanya Kiong Gwat hui. Cia In mengangguk.
"Semestinya memang begitu!"
Sahutnya.
"Enci In, bagaimana kalau kita ikuti dirinya?"
Bisik Coa Wiwi mendadak dengan suara lirih, diantara keempat orang itu usia Cia In paling tua dan pengalamannya paling luas oleh sebab itu dalam menghadapi pelbagai persoalan, dia juga yang mengambil keputusan.
Padahal Cia In sudah jemu dengan persoalan tentang dunia persilatan, tapi dalam keadaan demikian mau tak mau dia harus juga membangkitkan semangat untuk menghadapinya.
Diam-diam Cia In berpikir.
"Kedatangan Bwe Su-yok ke tempat ini pasti karena urusan penting, seandainya ia memang bermaksud tidak menguntungkan untuk golongan kami, memang ada baiknya jika mencari kesempatan untuk mengacaunya"
Berpikir sampai disitu, diapun lantas mengangguk, sahutnya.
"Bagaimanapun juga kita memang tidak repot, tak ada salahnya untuk melihat-lihat. Mendengar ucapan tersebut, Coa Wi-wi segera berangkat lebih dulu untuk membawa jalan dan menuju kearah mana Bwe Su-yok melenyapkan diri. Sesaat kemudian sampailah keempat orang itu ditengah sebuah hutan yang lebat. Mendadak Coa Wi-wi berhenti sambil berbisik.
"Sudah sampai!"
"Dimana?"
Tanya Kiong Gwat hui karena tidak menyaksikan sesosok bayangan manusia pun. Baru saja akan menjawab, air muka Coa Wi-wi mendadak berubah, serunya kemudian dengan cemas.
"Cepat menyembunyikan diri!"
Meskipun agak keheranan, tiga orang itu tahu bahwa ucapan tersebut pasti ada alasan tertentu, maka masing-masing mencari sebatang pohon dan menyembunyikan diri.
Baru saja selesai bersembunyi, bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu ditempat mereka berada tadi telah muncul dua orang laki-laki bertubuh kekar.
Agak merah wajah Kiong Gwat-hui karena jengah, pikirnya kemudian, Yaa, pasti ucapanku terlalu keras tadi sehingga mengagetkan penjaga di sana......."
Dengan sepasang mata yang tajam, dua orang laki-laki kekar itu memeriksa sekejap sekeliling tempat itu, kemudian salah seorang diantaranya berkata.
"Lo tan, kentut busukpun tak ada, mungkin kau salah mendengar?"
"Tidak mungkin"
Jawab laki laki kekar yang bernama lo tan itu dengan suara berat.
"dengan jelas kudengar ada suara perempuan yang berkumandang dari sini......"
Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan.
"Sudah pasti orangnya bersembunyi, lo Thio, mari kita geledah sekeliling tempat ini!"
Ia mencabut keluar sebatang tombak pendek dan siap melakukan penggeledahan.
"Tunggu sebentar!"
Seru lo thio tiba-tiba sambil menarik lengan rekannya itu.
"Eeh... kenapa kau musti mengulur waktu terus? dengan gusar lo tan berteriak.
"coba kalau sampai urusan menjadi berantakan akan kulihat beberapa butir batok kepala yang kau miliki?"
Lo Thio mendengus dingin.
"Kalau begini cara penggeledahan yang kita lakukan, jika sampai terkena sergapan, siapa yang bakal rugi? Lebih baik kita melepaskan tanda bahaya saja untuk mengundang bala bantuan "Bajingan cilik!"
Diam-diam Kiong Gwat hui menyumpah.
Sambil menggigit bibir, ia tetap bersiap sedia untuk menyerempet bahaya dengan menaklukan ke dua orang itu.
Baru saja ingatan tersebut melintas dalam benaknya, tibatiba bayangan manusia berkelebat lewat, diam-diam Coa Wiwi menerjang turun ke bawah....
Ilmu silat yang dimiliki kedua orang laki-laki kekar itu memang bukan kepandaian sembarangan apalagi berada dalam keadaan siap siaga namun di bawah sergapan dari Coa Wi-wi ternyata tak sanggup untuk meloloskan diri.
Terdengar Lo Thio mendengus tertahan dan roboh ke tanah, sedangkan lo Tan menggerakkan tombaknya siap berteriak tapi sebelum sempat melanjutkan gerakannya, ia sudah ditotok jalan darah pingsannya oleh Coa Wi-wi dan roboh dan tak berkutik diatas tanah.
Setelah dua orang manusia ditaklukan, Kiong Gwat hui baru melompat keluar sambil memuji.
"Siapapun diantara kedua orang ini memiliki ilmu silat jauh diatas kepandaianku, tapi tanpa mengeluarkan sedikit tenagapun kau berhasil menaklukan mereka, bahkan menjeritpun tak sempat, ini membuktikan bahwa kau memang betul betul hebat"
Cia In tertawa ringan, katanya.
"Dua orang itu masih belum terhitung seberapa, ilmu silat sesungguhnya dari adik Wi belum pernah kau lihat, coba kalau sudah tahu.....tanggung kau akan kagum"
Kiong Gwat hui mengerdipkan sepasang matanya, kemudian berkata.
"Semoga saja pada malam ini bakal ada suatu pertarungan yang seru, sehingga menambah pengalaman"
Setelah menyembunyikan dua orang tawanan-nya, beberapa orang itu melanjutkan kembali perjalanannya untuk menyusup ke depan, tak sampai sepuluh kaki kemudian dengan dahi berkerut dan mengerahkan ilmu menyampaikan suaranya, Coa Wi-wi berbisik kepada ketiga orang itu.
"Semakin masuk kedalam, para penjaganya memiliki ilmu silat yang semakin tinggi, bila kita memaksa untuk maju lebih ke depan, niscaya jejak kita bakal ketahuan"
Baik Cia In maupun dua bersaudara Kiong sama-sama tak dapat berbicara dengan menyampaikan suara, merekapun tahu kalau gadis itu menguatirkan keselamatan mereka bertiga.
Maka setelah termenung sebentar, Cia In lantas berbisik ditepi telinganya.
"Bagaimana kalau kau masuk saja seorang diri?"
Coa Wi-wi mengangguk tapi menggeleng pula, bisiknya dengan ilmu menyampaikan suara "disinipun boleh juga, Aku duga Kiu-im-kau sedang memasang jebakan disini untuk meringkus seseorang, sebentar aku akan tahu siapakah sasarannya itu"
Cian In tahu kalau Coa Wi-wi kuatir bila ia dan dua bersaudara Kiong tak sanggup menandingi jago-jago dari Kiuim-kau, maka ia sengaja tetap tinggal disini. Pikirnya kemudian.
"Bila tujuan Kiu-im-kau memang sedang mencegat seseorang, berada disini pun sama saja dapat menyelidiki jejak mereka, baiklah ditunggu sebentar lagi,......"
Berpikir demikian, diapun mengangguk.
Ke empat orang itupun segera berhenti di sana sambil memasang telinga baik-baik untuk memperhatikan keadaan di sekitar sana.
Kurang lebih setengah jam kemudian, tiba-tiba Coa Wi-wi mendengar ada suara ujung baju yang tersampok angin berkumandang datang dari kejauhan dan makin lama makin mendekati tempat itu.
Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki orang itu tinggi sekali, dalam waktu singkat jaraknya tinggal sepuluh kaki saja.
Pada saat itulah tiba tiba terdengar seorang membentak keras,
Jilid 10
"Ku Ing ing, berhenti!"
Sinar lampu segera menerangi empat penjuru, menyusul kemudian bayangan manusia yang entah berapa banyak jumlahnya bermunculan disekeliling hutan itu.
Diam-diam terkejut juga Coa Wi-wi mendengar seruan tadi, pikirnya.
"Oooh.....rupanya bibi Ku yang sedang mereka hadang!"
Ketika berpaling, tampak olehnya Cia In pun sedang berada dalam keadaan tertegun dengan wajah kaget.
Ia mencoba pula untuk mengawasi sekeliling sana diatas sebatang dahan pohon sepuluh kaki dihadapannya sana, berdirilah seorang tokoh berusia setengah umur yang cantik jelita, tokoh itu membawa sebuah Hud tim bergagang pualam di tangan kirinya.
Meski hanya memakai sebuah jubah pendeta yang berwarna hijau, namun tidak menyembunyikan kecantikan wajahnya yang mempesonakan hati itu.
Dan dia memang bukan lain adalah Giok teng Hujin Ku Ing ing yang kini bernama Tiang heng Tokoh.
Hanya sebentar terkejut, Tiang heng Tokoh segera dapat menenangkan kembali hatinya, dengan sepasang biji matanya yang jeli ia mengawasi sekejap sekeliling tempat itu....
Disebuah tanah lapang didepan sana, tampaklah Bwe Suyok yang berwajah cantik tapi dingin itu berdiri angker sambil memegang tongkat kepala setannya, dikiri kanannya masingmasing berdiri Lei Kiu-it dan seorang kakek berbaju hitam yang bertubuh ceking sekali, sementara sayap kiri dan sayap kanan masing-masing berdiri dua baris anak buahnya.
Diarah kiri dan kanan masing-masing berdiri kawanan jago yang dipimpin Kek Thian tok, Seng Sin san dan Huan Tong untuk menghadang jalan mundur orang, kalau dilihat dari tampang-tampang kawanan jago dari Kiu-im-kau itu, bisa diketahui bahwa mereka bukan manusia manusia yang berilmu cetek.
Setelah menyaksikan keadaan tersebut, Tiang beng Tokoh baru merasa terkesiap pikirnya.
"Celaka, kalau dilihat dari posisi yang terbentang didepan mata sekarang, rasanya untuk kabur dari sini jauh lebih sulit dari pada mendaki ke langit!"
"Ku Ing-ing!"
Kedengaran Lei Kui it membentak.
"kenapa kau masih belum juga memberi hormat kepada Kiu-imkaucu?"
Setelah mengasingkan diri selama belasan tahun, kemampuan Tiang heng Tokoh untuk mengendalikan perasaan sungguh mengagumkan sekali.
la tertawa-tawa, sambil melompat turun dari atas dahan, dan memberi hormat kepada bwe Su-yok sapanya.
Bwe Su-yok berlagak tidak melihat, ia berdiri angkuh disitu sementara sinar matanya berkilat tajam, tampaknya terjadi pergolakan hebat di dalam hati kecilnya.
00000O0000 Ku Ing Ing, apakah kau sudah lupa dengan asalmu?"
Kakek berjubah hitam yang bertubuh ceking itu kembali membentak dengan suara dingin.
Tiang heng Tokoh mengalihkan sorot matanya ke arah orang itu, lalu tanyanya, Siapa kau?
maaf bila pintoi tidak mengenalinya!"
Lohu adalah Sik Bio Ciao pelinduag hukum dan kaucu angkatan kedua, sekalipun belum pernah berjumpa tentu pernah mendengar bukan?"
Kata kakek ceking berbaju hitam itu lagi dengan dingin. Terkesiap juga Tiang heng Tokoh sesudah mendengar nama tersebut, segera pikirnya.
"Ooooh... rupanya dia!"
Ternyata Sik Ban-cian si kakek ceking berjubah hitam itu adalah salah satu diantara empat orang pelindung hukum dari Kiu-im-kaucu angkatan kedua, dimasa itu empat orang pelindung hukum dari Kiu-im-kaucu ini disebut orang persilatan sebagai Kiu im su-ciat (empat yang luar biasa dari Kiu-im-kau cu).
Berbicara tentang kesuksesan Kiu-im-kau dimasa lampau, ada separuh bagian diantaranya adalah berkat perjuangan keempat orang itu, coba kalau keempat orang itu tidak tersekap dibukit Wu san pada lima tahun berselang tak mungkin Kiu-im-kau bakal di paksa orang untuk kabur ketengah samudra dan hidup terombang ambing tanpa tujuan.
Tiang heng Tokoh menjadi murid Kiu-im-kau justru disaat Kiu-im-kau sedang mengalami masa runtuh, diapun kemudian mendapat tugas untuk menyusup ke tubuh Tong thian kau sambil menunggu saat yang baik untuk muncul kembali dalam dunia persilatan.
Karenanya ia belum pernah berjumpa dengan keempat orang itu, tapi pernah mendengar kelihayan mereka berempat.
Maka sambil menghela napas diam-diam berpikir.
"Waah.......rupanya aku bakal mampus hari ini"
Tapi pertapaannya selama ini membuat hatinya setenang air, dengan sikap yang tenang ia memberi hormat kepada Sik Ban-ciau, la lu katanya.
"Rupanya kau adalah cianpwe pinni, maafkanlah bila Tiang heng bersikap kurang hormat kepadamu"
"Hmm, apa kau anggap setelah mengenakan jubah kependetaan maka urusan dimasa lalu bisa diselesaikan dengan begitu saja?"
Tiang heng tokoh tertawa hambar, sahutnya, Sudah lama pinni bukan anggota Kiu-im-kau lagi.
"Ku Ing ing, kau berani menghianati su-cou?"
Bentaknya.
Pinni bernama Tiang heng.
Ku Ing Ing sudah mati semenjak dua puluh tahun berselang.
Sekalipun Ku Ing ing belum mati, tapi setelah menjalankan hukuman Im-hwe-lian-hun (api dingin melelehkan sukma) aku sudah bu kan terhitung anak murid Kiu-im-kau lagi.
Ucapan tersebut membuat Sik Ban-cian tertegun, ia lantas berpaling ke arah Bwe Su-yok.
"Yaa, memang ada kejadian tersebut!"
Bwe Su-yok segera mengangguk tanda membenarkan.
Kiranya dalam peraturan Kiu-im-kau ada tercantum bahwa barang siapa telah menjalani hukuman Api dingin melelehkan sukma maka ia sudah bukan termasuk anggota Kiu-im-kau lagi.
Sebagaimana diketahui, siksaan Api dingin melelehkan sukma adalah siksaan paling kejam didunia ini, belum tentu setiap manusia bisa menahannya, barang siapa t lah menjalaninya selama tujuh hari tujuh malam tubuhnya akan berubah menjadi sesosok mayat kering.
Peraturano itu sebenarnya diujukan untuk anggota perkumpulan yang telah melakukan pelanggaran besar, agar setelah mati pun tak dapat menjadi murid Kiu-im-kau.
Siapa tahu dikala Giok teng hujin menjalani siksaan di kota Cho ciu, Hoa Thian-hong telah datang tepat pada waktunya, karena menguatirkan ilmu silat Hoa Thian-hong yang lihay, terpaksa Kiu-im-kaucu membatalkan hukuman-nya ditengah jalan, sebab itulah Giok Teng hujin bisa hidup sampai sekarang.
Kenyataan mana segera membuat Sik Ban-cian menjadi serba salah, sebab menurut peraturan setelah Giok teng hujin tidak menjadi murid Kiu-im-kau, maka peraturanpun tidak berlaku lagi baginya, atau dengan perkataan lain diapun tidak berhak lagi untuk menuntutnya.
"Ku lng ing"
Mendadak Lei Kiu-it membentak dengan dingin.
"hukuman api dingin melelehkan sukma yang semuanya berlangsung selama tujuh hari tujuh malam belum kau laksanakan hingga selesai, itu berarti kau masih belum terlepas dari ikatan peraturan perkumpulan kami"
Dengan langkah lebar ia lantas maju ke depan dan melepaskan sebuah pukulan ke arah Ku Ing ing, seraya membentak.
"Akan kulihat sampai dimanakah kemajuan yang berhasil kau capai selama beberapa tahun ini?"
Ku Ing ing tersenyum, hud tim ditangan kanannya menggulung keatas..
Terdengar suara benturan seperti benda retak, hawa pukulan langsung membuyar keempat penjuru dan membuat kobaran api obor menjilat-jilat tiada hentinya.
suasana dalam hutan itupun menjadi mengerikan sekali seperti ada setan-setan yang sedang bergentayangan.
Lei Kiu-it mundur selangkah dengan cepat sementara ujung baju Tiang-heng Tokoh berkibar keras terhembus angin.
Kejadian itu segera membuat semua anggota Kiu-im-kau menjadi terperanjat, dalam bentrokan yang baru terjadi terbukti bahwa kepandaian yang dimilikinya memang hebat.
Padahal sebagai seorang jago dibawah ruangan Yu beng thiam, kepandaian silat yang dimiliknya masih berada di bawah dua istana dan tiga ruangan, tapi kenyataannya dia masih berada diatas kepandaian Lei Kiu-it.
Tiba tiba Bwe Su-yok menegur dengan dingin, Lei tiamcu, apakah aku menitahkan kepadamu untuk turun tangan?
Paras muka Lei Kiu-it agak bsrubah, buru-buru ia memberi hormat kepada Bwe Su-yok sambil menyahut, Hamba melakukannya karena buru-buru ingin menangkap penghianat tersebut.
"Mundur kau!"
Tukas Bwe Su-yok cepat.
Lei Kiu-it agak ragu-ragu sejenak, kemudian setelah sangsi beberapa waktu diapun mengundurkan diri dari sana.
Bwe Su-yok mendengus dingin, setelah melirik sekejap kearah Sik Ban-cian katanya.
"Sik hu hoat, bagaimana menurut pendapatmu??"
Sik Ban-cian memberi hormat lalu sahutnya, Walaupun peraturan dalam perkumpulan kita memang berbunyi demikian, tapi menurut pendapat lohu, Ku Ing ing tak dapat dile paskan dengan begitu saja.
"Kalau peraturan yang telah adapun tidak dipegang teguh, perkumpulan macam apakah perkumpulan kita ini? Dan bagaimana pula bisa merajai dunia persilatan?"
Tegurnya. Mendengar itu diam-diam Sik Ban-cian berpikir.
"Kalau didengar dari perkataannya itu, agaknya dia berniat untuk melindungi Ku Ing ing perempuan rendah itu, hmm! Orang bilang dia ada main dengan bocah muda dari keluarga Hoa, rupanya perkataan tersebut tak bakal keliru lagi."
Berpikir demikian iapun lantas berkata.
"Menurut peraturan perkumpulan, orang harus menjalani hukuman api dingin melelehkan sukma sukma tujuh hari tujuh malam, walaupun tidak dicantumkan keterangan lalu tapi artinya sudah jelas, harap kaucu bersedia untuk memahaminya"
Paras muka Bwe Su-yok mulai tampak agak sangsi, namun diapun tidak banyak berbicara lagi. Diam-diam Tiang beng Tokoh berpikir kembali.
"Aaai...."
Keadaan telah berkembang menjadi begini, rasanya diapun tak akan mampu untuk membentak diriku lagi, janganlah lantaran persoalan membuat kewibawaannya dibadan anak buahnya merosot, semoga bocah ini dapat membawa perkumpulan Kiu-im-kau menuju ke jalan yang benar...."
Berpikir demikian, ia merasa enggan untuk menyulitkan Bwe Su-yok lagi dalam persoalan ini, ia lebih rela beradu iiwa daripada menyulitkan orang lain.
Maka sesudah berpikir sejenak, katanya sambil tersenyum.
"Kaucu....."
Setajam sembilu Bwe Su-yok berpaling, ketika dilihatnya paras muka Tiang heng Tokoh yang se-mula sedih kini berubah jadi cerah, dengan cepat ia dapat menebak suara hatinya, iapun lantas berpikir.
"Bila membiarkan ia mati dihadapanku, jika sampai diketahui olehnya, niscaya dia akan membenciku setengah mati!"
Walaupun sikapnya yang istimewa dimasa dalam pertemuan yang pertama dengan Tiang beng Tokoh, ia telah menyebutnya sebagai cianpwe dan sikapnya menunjukan penuh kesopanan dan rasa hormat mempunyai penjelasan tertentu, namun kesemuanya ini dia lakukan jelas disebabkan oleh Hoa In-liong.
Kalau tidak demikian, mungkin sedari tadi ia telah menuduh Tiang heng Tokoh sebagai seorang penghianat.
Maka dari itu ketika dilihatnya Tiang heng Tokoh ada maksud untuk mengakui kesalahannya di hadapan umum, ia menjadi cemas bercampur gelisah, tiba-tiba bentaknya dengan keras.
"Tutup mulut!"
Kemudian sambil berpaling kearah Sik tan cian, katanya lagi.
"Sik Hu hoat, dalam usaha penghadangan terhadap Ku Ing ing ini, kaulah yang memimpin langsung semua penjagaan disini, apakah cukup rapat dan kuat penjagaan di sekeliling tempat ini?"
Coa Wi-wi yang mendengar sampai disitu hatinya lantas bergerak, pikirnya.
"Jangan-jangan Bwe Su-yok memang bermaksud memancing ke-datanganku ke tempat ini"
Berpikir demikian, iapun melirik sekejap kearah Cia In, ketika empat mata saling bertemu, Cia In segera mengangguk, rupa nya mereka berdua mempunyai pendapat yang sama.
Sik Ban-cian agak tertegun setelah mendengar dibalik perkataan Bwe Su-yok masih ada perkataan lain, dengan tenaga dalam yang dimilikinya, asal memasang telinga baik baik maka tak sulit baginya untuk menemukan tempat persembunyian dari Cia ln serta dua bersaudara Kiong, maka sorot matanya lantas dialihkan ketempat persembunyian empat orang gadis itu kemudian tertawa panjang.
Sungguh amat sempurna tenaga dalam ysng di miliki Sik Ban-cian, gelak tertawanya melengking dan membelah keheningan malam hingga membuat Cia In dan dua bersaudara Kiong yang berada pada jarak agak jauhpun merasakan gendang telinganya menjadi amat sakit, kepalanya pusing tujuh keliling, hampir saja ia tak tahan.
Menyaksikan kejadian itu Coa Wi-wi menjadi amat gelisah, kontan saja ia membentak nyaring.
Dalami keadaan cemas dan gelisah bentakan tersebut telah disertai dengan tenaga dalam yang cu-kup empurna, bahkan saja berhasil mengimbangi gelak tertawa Sik Ban ciao, bahkan menusuk pendengaran lawan.
Bwe Su-yok maupun Lei Kiu-it yang sama sekali tidak bersiap sedia hampir saja merasakan dadanya bergolak keras apalagi murid-murid Kiu-im-kau lainnya, mereka merasa seperti disambar guntur, tubuhnya sampai bergoyang keras.
Dengan wajah tertegunn Sik Ban ciao tutup mulut tapi sejenak kemudian dengan suara dalam serunya.
"Rupanya ada jago tangguh yang berada disini, bagaimana kalau tampilkan diri sebentar?"
Coa Wi-wi tahu bahwa kemungkinan besar ia tak dapat mengundurkan diri dari situ dengan aman pada malam ini, maka dengan suara setengah berbisik katanya.
"Tiga orang saudaraku, jago-jago tangguh dari Kiu-im-kau telah berkumpul semua disini, kalian bukan tandingannya, maka jika sampai terjadi bentrokan nanti, lebih baik hindari jago-jago tangguh, cari saja para anak buahnya yang agak cetek kepandaian silatnya. Sebetulnya ucapan semacam ini pantang di utarakan keluar, sekalipun merupakan suatu kenyataan, untung saja ketiga orang gadis itu berhati polos dan tidak menaruh perasaan tak senang atau perasaan lainnya, mendengar perkataan itu serentak mereka manggut manggut.
"Jangan kuatir!"
Kata Giong Gwat lan sambil tertawa "sebetulaya aku memang cuma ingin berpeluk tangan belaka, ingin kulihat sampai dimanakah kehebatan ilmu silat yang kau miliki itu"
Coa Wi-wi tersenyum, diapun berjalan keluar lebih dulu dari tempat persembunyian nya disusul ketiga orang lainnya. Ketika Tiang heng Tokoh melihat Coa Wi-wi dari depan, dengan heran iaberseru.
"Anak Wi, rupanya kau!"
"Bibi Ku"
Kata Coa Wi-wi dcngsn manja.
"aku harus berterima kacih kepada pihak Kiu-im-kau karena berhasil mengurung dirimu disini kali ini aku tak akan biarkan kau kabur dengan begitu saja"
Tiang heng Tokoh tersenyum, sinar matanya pelan-pelan dialihkan kewajah Cia In serta dua bersaudara Kiong, kemudian sambil menggape katanya.
"Anak In, kau dan nona berdua dibelakangku saja"
Dalam sekilas pandangan saja, Sik Pan cian telah mengetahui bahwa kepandaian silat yang dimiliki keempat orang ini amat cetek, tapi setelah mengetahui bahwa orang yang membentak amat dahsyat tadi adalah seorang gadis belia yang cantik jelita, ia menjadi tercengang.
"Aaali.....!"
Serunya tertahan.
"Budak ini bernama Coa Wi-wi, keturunan dari Bu seng (malaikat ilmu silat)!"
Demikian Bwe Su-yok berkata dingin. Paras muka Sik Ban-cian berubah hebat, serunya dengan suara lantang.
"Wahai budak she Coa, ape hubungan mu dongan Coan cing si keledai tua gundul?"
Tak terkirakan rasa gusar Coa Wi-wi mendengar orang itu mengejek kakeknya, biji mata yang jeli berputar-putar, lalu sahutnya dingin.
"Setan tua, apa yang kau ngaco belokan?"
"Budak sialan!"
Teriak Sik Ban-cian penuh kegusaran, selanglah demi selangkah ia maju ke depan.
Coa Wi-wi tidak berani bertindak gegabah, diam-diam ia menge rahkan tenaga dalamnya untuk bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan, sementara Thian heng Tokoh mempersiapkan senjata Hud timnya untuk melancarkan Serangan.
"Setan tua, lihat toya saktiku!"
Mendadak seseorang berseru dengan suara lantang.
Belum lagi ucapan tersebut selesai diucapkan, sesosok bayangan hitam dengan membawa desingan angin tajam langsung menerjang kearah Sik Ban-cian.
Melihat datangnya ancaman, Sik Ban-cian memutar telapak tangan-nya melancarkan serangan balasan, tiba-tiba ia merasa keadaan tidak betul, bawa murninya segera ditarik kembali lalu dari pukulan merubahnya menjadi cengkeraman, ia cakar punggung bayangan hitam tersebut.
Benar juga ternyata orang itu adalah anggota Kiu-im-kau yang dilemparkan orang ke arahnya.
"Sik lo ku!, kau memang hebat"
Suara itu memuji lantang.
"untung matamu cukup jeli sehingga nyawa seorang anak buahmu berhasil diselamatkan Habis sudah kesabaran Sik Ban-cian, karena gusarnya ia tertawa terbahak-bahak, lalu menerjang ke atas sebatang pohon besar yang rimbun lebih kurang sepuluh kaki dihadapannya sana, bentaknya penuh kegusaran.
"Kawanan tikus darimana yang telah datang? Hayo cepat meng-gelinding keluar dari tempat persembunyianmu!"
Belum lagi tubuhnya menerjang tiba, sepasang telapak tangannya telah dilontarkan ke depan, gulungan angin pukulan yang maha dahsyat segera menyambar tubuh lawan.
"Blaaaar..........!"
Getaran keras yang memekik-kan telinga berkumandang memecahkan keheningan, batang pohon yang lima kaki tingginya itu segera terhantam telak sehingga patah menjadi dua dan roboh ketanah.
Diantara daun-daun dan ranting-ranting yang beterbangan diudara, terdengar gelak tertawa pan-jang yang memekikkan telinga berkumandang memecahkan keheningan, sesosok bayangan hitam melompat keudara lalu berseru sambil tertawa, Sungguh suatu tenaga pukulan yang amat hebat, cuma sayang hanya bisa dilampiaskan pada batang pohon.
Sik Ban ciat makin marah, teriaknya keras-keras.
"Manusia sialan, jangan kabur kau!"
Dia melompat keudara dan meluncur ke depan melakukan pengejaran..
Semua orang telah dapat melihat bahwa orang yang mengejek Sik Ban-cian itu memiliki ilmu silat yang maha hebat, sudah jelas kepergian Sik Ban-cian kali ini tak pasti akan berhasil menyusul lawan.
Diam-diam Tang heng Tokoh berpikir.
"Walaupun Sik Bancian berhasil dipancing pergi, tapi ketiga orang Thamcu dari Kin im kau serta Bwe Su-yok masih ada di sini, belum tentu anak Wi sanggup menghadapinya, lebih baik mumpung masih ada kesempatan aku kabur saja lebih dulu. Satelah mengambil keputusan, iapun berbisik.
"Anak Wi, buka jalan! Nona berdua dan anak In ditengah, mari kita berangkat!"
Coa Wi-wi mengangguk, ia bersiap-siap untuk berangkat mening-galkan tempat itu.
Mendadak terdengar suara pujian kepada sang Buddha berkumandang diudara, seorang, tauto (hwesio yang memelihara rambut) dengan rambut yang terurai sepundak, berwajah pualam dan berikat kepala perak, dengan memakai jubah pendata warna abu-abu dan membawa sebuah senjata sekop dari perak melayang turun ketengah arena.
"Siapa sebutanmu taysu?"
Tanyanya.
"Pinceng adalah Cu Im!"
Jawab si Tauto. Kemudin sambil berpaling kearah Tiang heng Tokoh, katanya.
"Nona Ku, apakah masih kenal dengan pinceng?"
Tiang heng Tokoh tertawa getir.
Budi kebaikan taysu dan suma tayhap yang jauh-jauh datang memberi bantuan tak akan Tiang heng lupakan untuk selamanya, mana mungkin pinceng lupa dengan taysu?!!
Tiba-tiba paras muka Cu Im taysu berubah menjadi amat sedih, dia berkata memuji keagunggan sang Buddha.
"Omintahud!"
Kini Suma loce telah berpulang kelangit barat sementara pinceng masih kelayappan dialam semesta.
Aai..Kejadian dalam dunia memang berubah dengan cepatnya.
Semuanya itu akan menambah kenanggan dan kepedihan dihati orang saja.
Tiba tiba Lei Kiu-it berkata dengan dingin.
"Cu Im tauto, tempat ini bukan tempat bagi kalian untuk mengenang kembali kejadian-kejadian dimasa silam, aku pikir bila kau sudah bersiap mencampuri urusan ini, tak berguna banyak bicara lagi, mari kitalangsung saja beradu kekuatan. Cu Im taysu tertawa-tawa.
"Lei sicu, cukup tajam perkataanmu itu, pinceng kagum sekali, cuma berilah kesempatan lebih dulu kepada pinceng untuk bercakap cakap dengan kaucu kalian"
"Taysu hendak membicarakan soal apa?"
Tanya Bwe Suyok. Cu Im taysu lantas berpaling, diawasinya sekejap wajah Bwe Su-yok, kemudian sambil merangkap tangannya didepan dada ia berkata.
"Bwe kaucu adalah seorang perempuan yang pintar dengan hati yang bijaksana, masa jaya Kiu-im-kau tak lama lagi pasti akan tiba, pinceng akan menyampaikan selamat lebih dahulu"
Bwe Su-yok terpaksa membungkukkan badan membalas hormat.
"Aku tak berani menerima ucapan selamat dari taysu"
Cepat sahutnya. Cu Im taysu menghela napas panjang, katanya.
"Bwe kaucu, dua puluh tahun berselang nona Ku sudah melaksanakan hukuman im hwe lian nun (api dingin melelehkan sukma) selama sehari dua malam, keadaannya mengerikan sekali......."
"Taysu!"
Tukas Bwe Su-yok.
"jika ingin mengucapkan sesuatu, katakan saja berterus terang, aku pikir kau tak perlu berbelok-belok lagi dalam pembicaraan"
"Pinceng hanya ingin berkata bahwa menurut peraturan, semestinya Kiu-im-kau sudah tidak berhak lagi untuk mencampuri urusan nona Ku, sebab nona Ku telah menjalankan siksaan tersebut"
Bwe Su-yok tertawa dingin.
"Heeehh.....heeeh....heeeh.....hebat betul taysu, rupanya kau pandai mengupas masalah peraturan dari pertarungan kami.
"Maksud Bwe kaucu....."
Cu Im Taysu mengernyitkan sepasang alis matanya. Tidak menanti ia menyelesaikan kata-katanya, dengau dingin Bwe Su-yok telah berkata.
"Semua persoalan tentang perkumpulan kami, tak akan mengijinkan orang lain untuk mencampurinya. Setelah kejadian berkembang jadi dingin, demi menjaga nama baik serta martabat Kiu-im-kau, terpaksa ia tak dapat mundur dengan begitu saja, padahal hati kecilnya merasa salah, coba kalau tidak terikat oleh budi kebaikan dari gurunya, ia sudah tinggalkan kedudukannya sebagai kaucu dan mengasingkan diri ditempat yang terpencil. Ketika mendengar perkataan itu, Lei Kiu-it sekalian segera merasakan semangatnya berkobar kembali, rasa antipati yang timbul dalam hati merekapun segera tersapu lenyap. Tiba-riba terdengar suara parau berkumandang memecahkan kesunyian.
"Hei hwesio tua, sekalipun kau berhati baik, sayang sekali si keras kepala enggan menganggukkan kepala, lebih baik simpan saja hati baikmu dan mengangkat senjata."
"Siapa disitu?"
Bentak Lei Kiu-it.
"Ciu Thian-hau dan gunung Hong-san"
Jawab orang itu dingin.
Paras muka semua jago dari Kiu-im-kau segera berubah hebat, sebab keadaan yang terbentang didepan mata mereka sama sekali diluar dugaan siapapun.
Kepandaian Giok teng Hujin sudah tidak seperti kepandaian yang dulu, ilmu silat Coa Wi-wi tiada tandingannya dan pernah dibuktikan sendiri oleh para jago Kiu-im-kau, kini Sik Ban-cian dipancing orang dan belum kembari, ditambah Ciu Thian-hau dan Cu Im taysu telah muncul dipihak lawan, sudah bisa dipastikan Kiu-im-kau berada dalam keadaan kalah.
Dalam pada itu, Kek Thian tok, Seng Sim san dan Huan Tong yang menyaksikan kepungan mereka tak mungkin mendatangkan hasil, dengan cepat mereka mundur ke samping Bwe Su-yok.
"Ciu Thian hau!"
Bentak Huan Tong dengan gusar "jelekjelek kau juga punya nama, kenapa tidak segera menampilkan diri? Memangnya malu untuk bertemu orang?"
Ciu Thian hau mendengus dingin.
"Hmm.....! Hanya kawanan setan gentayangan yang ada disitu, lohu malas untuk bertemu dengan kalian"
Menggunaakan kesempatan ketika Huan tong sedang bertanya jawab dengan Ciu Thian hau, Bwe Su-yok berpaling ke arah Kek Thian tok sambil bertanya dengan suara lirih.
"Bagaimana pendapat Kek tongcu?"
"Hamba rasa tiada berharga buat kita untuk beradu kekerasan"
Bisik Kek Thian tok.
"lebih baik kita tunggu saja sampai saat peresmian perkumpulan Hian-beng-kau, waktu itu sekalian kita turun tangan membasmi kawanan musuh besar kita ini* "Bagaimana dengan pendapat kalian?"
Bwe Su-yok berpaling ke arah para jago lainnya. Seng Sim sam menghela napas, katanya.
"Padahal rencana kita diatur sangat rahasia, entah kenapa mereka dapat mengetahui rahasia ini sehingga pada berdatangan kemari, kalau tahu begini keempat huhoat kita diajak kemari semua dengan kekuatan yang tangguh kita tak usah takut pada mereka lagi, yaa, apa boleh buat, terpaksa kita harus berbuat demikian"
Bwe Su-yok tersenyum, tiba-tiba ia maju lima langkah ke depan, dengan sorot mata yang tajam ia menatap sekejap wajah Tiang beng Tokoh, kemudian katanya.
"Ku..... Tiang heng Tokoh, jika kita langsungkan pertarungan, yakinkah kau dapat menangkan pertarungan ini?"
Tiang heng Tokoh agak tertegun, lalu pikirnya.
"Kek Thian tok merekapun bermaksud lepas tangan, kenapa kau malah tak mau mengundurkan diri?"
Dalam hati berpikir demiktar, diluar hati ujarnya sambil tersenyum.
"Masakah pinto dapat menandinggi kehebatan Kui im kaucu, tentu saja aku yang bakal kalah"
"Coa Wi-wi yang berada disisinya lantas berpikir.
"Jika bibi Ku sampai bertarung dengan Bwe Su-yok, dan karena tak beruntun sampai kalah, nama baiknya pasti akan ikut ternoda, hal ini sangat tidak berharga baginya"
Berpikir demikian, diapun menampilkan diri, seraya berkata.
"Bwe Su-yok, mana mungkin bibi Ku mau bertarung dengan seorang boanbwe seperti kau, kalau ingin bertarung, hayo kita saja yang bertarung"
Bwe Su-yok pura-pura tidak mendengar, kembali ujarnya.
"Sebelum pertarungan dilangsungkan, sukar untuk menentukan menang kalahnya, tapi berbicara menurut pendapat umum aku lebih banyak bera-da dipihak yang kalah dari pada menang"
Setelah berhenti sejenak, katanya kembali.
"Dalam pertarungan ini, bila kau dapat menang, sejak hari ini Kiu-imkau tak akan mencarimu lagi, tapi jika aku yang menang, maka terpaksa aku harus membawamu pergi"
Tiang heng Tokoh tidak langsung menjawab, diam-diam pikirnya kembali;
"Terhitung lumayan juga ia bisa berpikir sampai kesitu, cuma jelas aku tak boleh kalah, padahal sebagai seorang kaucu tak mungkin akan membiarkan dirinya sampai kalah"........ Berpikir sampai disitu, diapun melirik sekejap kearah Cu Im taysu, ia berharap paderi itu bisa membantunya berbicara. Cu Im taysu mengernyitkan, alis matanya, lalu berkata.
"Bwe kaucu!"
Bwe Su-yok tertawa angkuh, katanya.
"Apakah taysu bermaksud untuk memberi petunjuk kepadaku?"
Cu Im taysu tertawa.
"Pinceng sudah tua, enggan rasanya aku untuk bermain kekerasan, apalagi melangsungkan pertarungan dengan orang muda"
Setelah berhenti sebentar, ia berkata lebih jauh.
"Menurut pendapat pinceng, mumpung saat peresmian perkumpulan Hian-beng-kau tinggal beberapa hari, lebih baik kita selesaikan masalah ini dihadapan para enghiong hohan dari kolong langit, bukankah hal ini jauh lebih baik?"
Bwe Su-yok termenung dan tidak berbicara padahal memang itulah yang diharapkan, segera pikirnya.
"Dalam peresmian perkumpulan Hian-beng-kau nanti, seluruh jago dari pelbagai tempat bakal berkumpul semua disitu, keadaan nya pasti kacau balau tak karuan, bila ingin membereskan pertikaian dalam ke adaan seperti ini, jelas hal ini bukan suatu pekerjaan yang gampang..... Baru saja berpikir sampai disitu, tiba-tiba berkumandang suara pekikan nyaring yang memmbelah udara, Sik Bon cian bagaikan seekor burung raksasa melayang masuk ke dalam gelanggang. Di bawah cahaya api, tampak wajarnya berubah menjadi hijau membesi, ujung baju sebelah kanannya terpapas kutung sebagian. Ia melirik sekejap kearah Cu Im taysu kemudian sambil tertawa seram bentaknya.
"Cu Im, siau pwe darimanakah itu?"
"Haputule!"
Jawab Cu Im taysu dengan kening berkerut.
"Belum pernah kudengar nama orang itu, siapa gurunya?"
"Aku rasa kau pasti telah merasakan pedang mestika itu, pedang emas tersebut merupakan pedang paling tajam dikolong langit, rasa nya tidak sulit bukan bagimu untuk menebak asal perguruannya.
"Lohu tidak menyangka bakal....."tapi sampai ditengah jalan, Sik Ban-cian telah mengalihkan pembicaraannya ke soal lain "apakah dia muridnya It kiam kay tionggoan (Pedang sakti yang menyelimuti daratan Tionggoan) Siang Tang lay, si setan tua itu?"
"Huh, sungguh tak tahu malu"
Ejek Coa Wi-wi sambil tertawa dingin.
"tak mampu mengalahkan orang, berkaokkaok juga ditempat ini, kau pamerkan kepada siapa lagakmu itu?"
Kegusaran Sik Ban-cian ketika itu sedang mencapai pada puncaknya, mendengar perkataan itu ibaratnya minyak yang bertemu api, kontan saja ii menyeringai seram.
"Budak sialan!"
Teriaknya menahan geram, Coa Wi-wi sama sekali tidak menghindar atau pun berkelit, tetapi tangannya segera digetarkan dan langsung menyambut nya tubrukan lawan.
Kedua orang itu asma sama maagandalkan tenaga pukulan dingin yang bersifat lembut, apalagi serangannya sama-sama dilancarkan tanpa menimbulkan sedikit suarapun, maka ketika dua kekuatan saling bertemu........."Blaar!"
Pancaran hawa sakti menyebar ke empat penjuru.
Cu Im taysu yang berada didekat sana segera merasakan tenaga tekanan yang maha kuat menghantam dadanya, dengan hati terkejut ia awasi Coa Wi-wi beberapa kejap, kemudian pikirnya.
"Dengan tubuh yang begitu ramping dan lemah lembut ternyata memiliki tenaga dalam sehebat itu, sungguh merupakan suatu kejadian yang sama sekali diluar dugaan"
Dalam pada itu, Sik Ban-cian mendengus gusar, lengan kanannya diangkat, siap melancarkan serangan lagi, tapi ia segera berubah ingatan, pelan-pelan dihampirinya Bwe Suyok, lalu bibirnya berke mak-kemik entah apa yang diucapkan, sebab ia mengirim suaranya dengan ilmu menyampaikan suara.
Mendengar bisikan tersebut paras muka Bwe Su-yok berubah hebat, dengan cepat ia menengadah sambil berkata, Jika taysu memang berpendapat demikian, baiklah persoalan ini kita undur sampai diselengarakannya peresmian perkumpulan Hian-beng-kau nanti.
Tidak menunggu jawaban dari Cu Im taysu lagi, tongkat kepala setannya segera digetarkan lalu mengundurkan diri dari situ.
Sik Ban-cian serta Kek Thiann tok sekalian menyusul dibelakangnya, sementara para jago dari Kiu-im-kau samasama memadamkan obor dan mundur ke dalam hutan, sekejap kemudian tak seorangpun yang tertinggal disitu.
Dengan keheranan Coa Wi-wi lantas berkata.
"Mereka mundur dengan begitu tergesa gesa, jangan-jangan Kiu-imkau telah tertimpa suatu musibah?"
Cu Im taysu gelengkan kepalanya berulang kali "Entahlah pinceng sendiripun kurang jelas"
Kemudian sambil berpaling dengan wajah lembut katanya.
"Nona Coa......"
"Panggil aku anak Wi!"
Sela Coa Wi-wi manja. Cu Im taysu tersenyum, ujarnya.
"Baiklah, tiga puluh tahun berselang, pinceng pernah bertemu dengan kakekmu dan ayahmu sewaktu berpesiar ke kota Kiui leng, aku memang pantas memanggilmu sebagaia anak Wi!"
"Kenapa kau tak pernah mendengar ibuku membicarakan persoalan ini....?"
Tanya Coa Wi-wi sambil membelalakkan matanya yang jeli. Cu Im taysu tertawa.
"Waktu itu usia ayahmu maupun aku masih amat muda, ketika kakekmu mengetahui bahwa pinceng adalah orang persilatan, beliau enggan bersahabat lebih akrab denganku, Cuma saja lantaran ayahmu begitu dimerahasiakan dirinya, maka hingga kini pinceng baru tahu bahwa keluargamu adalah keturunan dari Bu seng,. Coa Wi-wi menggerakkan bibirnya hendak menjelaskan pesan dari Kakek moyangnya yang melarang anak keturunannya berkelana dalam dunia persilatan. Tapi ia sebelum ia sempat berbicara, tiba-tiba terdengar Tiang-heng Tokoh bertanya.
"Kenapa Ciu tayhiap masin belum juga munculkan diri?"
Cu Im taysu memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian sambil menghela nafas panjang, sahutnya.
"Karena kematian suma lote, ia telah bersumpah tak akan berjumpa dengan sahabat-sahabat lamanya sebelum pembunuh itu berhasil ditemukan dan lehernya digorok untuk membalas dendam"
Thiang heng Tokoh lantas berpaling ke arah hutan, kemudian serunya.
"Ciu tayhiap bisa begitu setia kawan, hal ini sungguh membuat Thiang heng merasa kagum, cuma saja tindakan semacam ini apakah tidak terlalu........"
"Percuma banyak bicara, mungkin ia sudah pergi meninggalkan tempat ini"
Sela Cu Im taysu dari samping.
"Cu pekya malahan merasa tak senang hati lantaran Ciu pekya enggan turun gunung!"
Sela Coa W i wi dengan manja. Sementara itu Thian heng Tokoh sedang berpikir.
"Jika tidak pergi meninggalkan tempat ini, aku akan sulit untuk kabur setelah direcoki budak tersebut."
Selama banyak tahun belakangan ini, dia selalu berusaha untuk menghindarkan diri dari pertemuan dengan sanak keluarga, maka ketika kemunculan Ciu Thian-hau justru mencocoki selera hatinya, maka sambil tersenyum katanya.
"Kalian bicaralah pelan-pelan disini, karena masih ada sedikit urusan, pinto harus mohon diri lebih dulu"
Lalu sambil berpaling kearah Cia In, katanya lagi.
"Anak In, guruku telah berangkat ke utara lebih dulu untuk menyelidiki gerak-gerik dari tiga perkumpulan besar, sepanjang jalan, ia meninggalkan tanda rahasia, pergi susullah dia, kalau bisa bergabung saja dengan gurumu! Cu Im taysu bukan orang bodoh, segera dia pun berpikir.
"Setelah kepergiannya, sudah pasti jejaknya akan semakin rahasia, selanjutnya kemana aku harus pergi untuk mencarinya?"
Berpikir demikian, buru-buru ia berkata.
"Nona ku, harap tunggu sebentar, Haputule dari See ih ingin bercakap-cakap denganmu"
"Lain kali saja!"
Jawab Thiang heng Tokoh. Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan.
"Pinto bernama Thiang heng, jika taysu masih juga memanggil nama ku dulu, maaf jika pinto tak akan menggubris lagi."
Haputule dan Hoa Thian-hong berhubungan lebih akrab dari saudara sendiri, sudah tentu ia lebih-lebih tak ingin berjumpa de ngannya, belum lagi kata-katanya selesai dia ucapkan, senjata Hud timnya telah dikebaskan siap meninggalkan tempat itu.
"Omintohud!"
Cu Im taysu berseru memuji keagunggan sang Buddha, senjata sekopnya langsung dilintangkan di depan dada, sepasang kakinya menjejak ketanah dan melayang turun bersamaan waktunya dihadapan Thiang heng Tokoh, sehingga jalan perginya segara terhadang.
Melihat itu, Thiang heng Tokoh mengerutkan dahinya, lalu berseru dengan nada yang tenang.
"Apakah taysu melarang pinto pergi dari sini?"
"Ah, mana pinceng, berani?"
Buru-buru Cu Im taysu menjawab.
"Kalau begitu, minggirlah dari situ!"
Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benak Cu Im taysu, untuk sesaat ia tak berhasil menemukan cara yang baik untuk menahan Thiang heng Tokoh disitu...... Tiba tiba Cia In berseru lantang.
"Oh supek! Bukankah kau telah berjanji dengan pihak Kiuim-kau untuk menyelesaikan pertikaian ini pada saat peresmian perkumpulan Hian-beng-kau....? Jika kau orang tua pergi, bukankah Cu Im taysu yang membuat perjanjian ini akan kehilangan kepercayannya?"
"Perkotaan sutit memang benar"
Cepat-cepat Cu Im taysu berseru dengan gembira.
"harap nona Ku jangan menyusahkan pinceng. Ia masih tetap memanggil Tiang heng Tokoh dengan sebutan "nona Ku"
Maksudnya dia hendak menginggatkan Giok teng hujin Ku lng ing bahwa hubungannya dengan keluarga Hoa sesungguhnya erat sekali. Diam-diam Thiang heng Tokoh merasa marah sekali, segera serunya.
"Budak sialan, kau berani barsekongkol dengan mereka untuk menghadapi aku?"
Cia In segera bertekuk lutut dan menjatuhkan diri berlutut dihadapan supeknya lalu sambil menengadah katanya dengan suara gemetar.
"Ooh supek, kenapa kau orang tua musti bersusah payah berbuat demikian? Keponakan murid rela dijauhi hukuman mati asal kau orang tua bersedia untuk bertemu dengan Hoa tayahiap!"
Dua bersaudara Kiong saling berpandangan sejejap, kemudian bersama-sama memberi hormat kepada Tiang heng Tokoh. Kata Kiong Gwat hui.
"Kiong Gwat hui dan Gwat lan dari perguruan MHa san memberi hormat buat cianpwe"
"Tidak berani"
Jawab Thiang heng Tokoh sambil tersenyum.
"baik baikkah kakekmu?"
"Dia orang tua ada dalam keadaan baik-baik dan boleh dibilang sehat walafiat"
Berbicara sempai disini, ia lantas mengedipkan matanya memberi tanda kepada Gwat lan untuk berbicara. Semenjak tadi Kiong Gwat lan telah berniat untuk berbicara, melibat itu buru-buru ia menyam-bung.
"Ku locianpwe, kejadianmu dimasa lalu yang penuh kegembiraan maupun kesedihan telah banyak kami dengar, hanya sayang boanpwe sekalian tak sempat menjumpaimu, sungguh beruntung malam ini kami bisa berjumpa muka...."
"Tak usah mengumpak"
Tukas Thiang heng Tokoh sambil tertawa, apa yang kau ucapkan katakan saja terus terang!"
Maaf cianpwe, apakah kau tidak merasa terlalu manja sekali?"
Kiong Gwat lan dengan wajah serius.
"Aaah, kalian anak kecil cuma tahu satu tak tahu dua, apa yang hendak kalian bicarakan?"
Dengan gusar Thiang heng Tokoh berseru.
Aku tak ambil perduli soal satu atau dua, seru Coa Wi-wi dengan capat, Pokoknya kau musti berjumpa dengan empek Hoa, kalau tidak tinggalkan alamatmu, aku pikir empek Hoa pasti akan berkunjung kesitu untuk minta maaf"
Melihat gelagat tak baik, Tiang beng Tokoh segera berpikir, Wah, mereka pada mengerubuti aku seorang, kalau begini terus caranya, tidak memakai sedikit akal jelas aku tak bakal bisa loloskan diri dari sini.
Berpikir demikian, diapun berkata.
"In jin, hayo bangun! Supek tak akan menyalahkan kamu lagi"
Cia In menyembah beberapa kaki kemudian baru bangkit berdiri, wajahnya kelihatan sedih, ia seperti mau mengucapkan sesuatu namun maksud tersebut kemudian diurungkan.
Diam-diam Thiang heng Tokoh menghela napas panjang sambil berpaling ke arah Cu Im taysu, katanya.
"Taysu, persoalan antara Kiu-im-kau dengan pinto biarlah diselesaikan saja pada ucapacara peresmian Hian-beng-kau nanti, kalau toh demikian untuk sementara waktu, bagaimana kalau jangan kita bicarakan lagi?"
"Apakah sampai waktunya, nona Ku pasti akan tiba?"
Cu Im taysu masih kelihatan sangsi.
"Yaa, sampai waktunya Ku Ing ing pasti akan datang!"
Begitu selesai berkata, ia lantas melejit ke udara dan melayang pergi dari situ.
Cu Im tsysu masih juga agak sangsi tapi terbayang bahwa orang persilatan selalu memegang janji yang telah diucapkan, apalagi Tiang beng Tokoh pun telah berjanji akan datang, maka dia tidak menghalangi lagi jalan perginya.
Sebab bagaimanapun juga cukup mengerti, apa bila ia sampai mengucapkan kata-kata yang ber-nada tak percaya akibatnya bisa terjalin perselisihan paham, karena itulah ia selalu tak berani mengucapkan kata-kata yang bermaksud menghalangi niatnya.
Setelah berjalan sejauh beberapa li, mendadak Tiang hen tokoh merasa gelagat tak benar, tiba-tiba ia berpaling kebelakang, maka tampaklah Coa Wi-wi dengan senyuman dikulum sedang mengikuti di belakangnya, jelas ia sudah cukup lama membuntuti disana.
Ketika Coa Wi-wi menjumpai jejaknya ketahuan, kontan saja ia tertawa cekikikan.
"Bibi Ku, aku ingin mengikutimu! Tiang heng Tokoh segera terhenti, serunya.
"Budak cilik,, kau berani tak pacaya dengan perkataanku?"
Coa Wi-wi tertawa cekikikan, serunya.
"Hei, apa yang kau katakan?"
"Aku bilang..."
Mendadak ia terbungkam.
Kembali Coa Wi-wi tertawa.
Biar aku saja yang mengatakannya untuk bibi Ku, waktu itu Bibi ku berkata bahwa Ku Ing ing pasti akan datang, padahal bibi Ku pernah berkata bahwa kau sudah bukan Giok teng hujin Ku Ing ing lagi, kalau memang demikian, itu berarti sudah tiada hubungannya lagi dengan Tiang heng Tokoh, sampai waktunya asal kau mengirim orang yang mengabarkan bahwa Giok teng hujin sudah tiada lagi, otomatis Thiang heng Tokoh tak perlu memenuhi janji tersebut.
Yaa, taysu itu terlampau jujur, tentu saja ia tak da-pat menangkap rencanamu itu"
Padahal memang begitulah rencana Tiang heng Tokoh, setelah rahasianya ketahuan, ia pun tak sanggup tertawa lagi.
"Anak Wi, kau memang pintar, tapi setiap orang mempunyai jalan pemikiran yang berbeda, buat apa kau memaksa terus......"
"Maka dari itu, aku sudah bertekad untuk mengikuti terus bibi Ku!"
Sambungnya. Tiang hieng Tokoh agak tertegun, tiba-tiba wajahnya berubah mem besi, kemudian serunya.
"Bila kau mengejar diriku lari, hati-hati kalau kuanggap dirimu sebagai musuh besarku."
Sepasang mala Coa Wi-wi berubah menjadi merah, katanya.
"Pukullah aku, pokoknya aku tak akan pergi!"
Karena gadis itu sudah tersengguh hendak menangis, buruburu Tiang heng Tokoh mengendorkan sikap kerasnya, sambil tertawa ia berkata.
"Ah, ucapan bibi Ku memang kelewat berat, anak Wi. Kenapa musti kau msukkan kedalam hati"
"Kalau bibi Ku mengijinkan aku mengikutimu"
Kata Coi Wi wi lagi sambil lertawa.
Tingkah polahnya yang tak menentu itu sungguh membuat Tiang heng Tokoh kehabisan akal, apa lagi Coa Wi-wi pada dasarnya memang polos dan lembut ibarat bidadari dari kahyangan, siapapun yang bertemu dengan nya lantas akan merasa cocok dan senang sekali untuk bergaul dengannya.
Betulkah, dengan perasaan apa boleh buat, Tiang heng Tokoh berkata sambil tertawa.
"Siapa yang berani melarangku?"
Tiba-tiba terdengar suara Haputule berseru.
"Setelah ada nona Coa yang mengiringi perjalanan, siaute akan mohon diri sampai disini saja!"
Sesosok bayangan hitam menerjang keluar dari balik hutan, lalu seperti seekor burung elang me-luncur ke arah barat laut. Tiang heng tokoh agak tertegun, kemudian serunya dengan lantang.
"Bagus sekal", hei Haputule! Kau berani bermain gila dengan pinto"
"Harap nona Ku suka memaafkan kesalahanku ini"
Jawaban dari Haputule datang dari kejauhan.
"siaute......"
Mungkin lantaran sudah amat jauh, suara selanjutnya tak dapat terdengari lagi dengan jelas. Melihat itu, Tiang heng Tokoh pun bergumam.
"Tampaknya ilmu silat yang di miliki sudah berhasil menyusul kehebatan gurunya ketika mengetarkan daratan Tionggoan tempo hari"
Lalu sambil berpaling ke arah Coa Wi-wi, katanya lagi sambil tertawa.
"Hei, budak cilik bukankah semenjak tadi kau sudah tahu kalau ia sedang menguntil di belakang ku?"
Coa Wi-wi tertawa cekikikkan.
"Masa kau tak bisa menangkap nada ucapannya? Muugkin sudah banyak waktu ia menguntil dibelakangmu, hanya saja kau tidak merasakan hal itu, kalau tidak kenapa Cu Im taysu dan Ciu tayhiap, bisa berdatangan kemari secara kebetulan"
Thiang heng tokoh gelengkan kepalanya sambil tertawa getir, katanya kemudian.
"Hayo kita berangkat!"
OooOooo Upacara perkumpulan Hian-beng-kau di selenggarakan ditebung Ui gou peng diatas bukit Gi san.
Nama Ui gou peng tersebut tak akan di kenal orang lain, sekalipun bertanya pada orang sedesa pun, rupanya nama tersebut diberikan sendiri oleh orang-orang Hian-beng-kau.
Menurut keterangan dari orang-orang Hian-beng-kau, letaknya berada disebelah selatan bukit Gi san, ditengah lekukan bukit yang bersusun dan menghadap ke arah bukit Mong-san, jaraknya kira-kira seratus li dari kota Gi sui shin.
Kira-kira mendekati akhir bulan empat, semua rumah penginapan yang berada dikota-kota sekitar bukit Gi mong san, seperti kota Gi sui shia, Leng hou shia, An khu shia, Mong im shia, hampir boleh dibilang penuh oleh tamu.
Setelah mengalami masa tenang selama banyak waktu dengan keluarga Hoa saja yang paling menonjol dalam dunia persilatan, sebagai besar umat persilatan merasa gembira sekali menyambut ter-jadinya peristiwa besar ini, berbondongbondong mereka berdatang dari segala penjuru tempat untuk ikut meramaikan suasana.
Ketika bulan lima tanggal satu, orang sudah mulai mendaki bukit, sepanjang jalan tentu saja orang-orang Hian-beng-kau sibuk menyiapian tempat penginapan dan hidangan untuk menjamu tamu-tamunya itu.
Hari ini adalah bulan lima tanggal empat, sebagian besar tamu sudah naik gunung ketika mende-kati senja, kembali ada sekelompok orang yang berdatangan.
Setelah menembusi sebuah jalan usus kambing yang dihimpit dua buah bukit karang menjulang ke langit, didepan sana adalah sebuah tempat terbuka yarg dikelilingi bukit dengan bentuk seperti kerbau, itulah sebabnya tempat itu dinamakan Ui gou peng.
Dikeliling puncak bukit terdapat sebuah tanah lapang yang bertumbuh pohon siang, kicauan burung berbunyi memeriahkan suasana, keadaan terasa nyaman sekali.
Didepan sana terbentang sebuah jalan batu yang lebar, dihadapannya berdiri sebuah tugu kumala putih yang bertulisan "Kun leng thian he" (Aku merajai kolong langit) empat huruf besar yang terbuat dan emas.
Tertimpa sinar senja, huruf-huruf itu memantulkan sinar emas yang amat menyilaukan mata.
Tiba-tiba salah seorang kakek berjubah hijau mendengus dingin, kemudian gumamnya.
"Hmm, takabur amat!"
"Tam tayhiap, persoalan apa yang membuatmu merasa kurang puas?"
Seseorang menegur menda-dak."
Ketika semua orang alihkan sinar matanya, tampaklah seorang kakek berjenggot cabang tiga de-ngan sinar mata yang tajam dan mengenakan jubah hitam berdiri disisi jalan.
Kakek berbaju hijau itu tampak agak terkejut, lalu pikirnya, Padahal aku sudah banyak tahun tak pernah muncul dalam dunia persilatan, tapi orang itu dapat segera menyebut namaku, Hian-beng-kau benar-benar bukan suatu perkumpulan yang boleh dianggap remeh.
Ternyata kakek berbaju hijau itu shi Tam bernama Si bin berasal dari perguruan Thian tay-pay dan terhitung kakak seperguruan dari Kanglam Sin-ih Yu Siang-tek, ilmu silatnya jauh melebihi adik seperguruannya.
Kalau Kanglam Sin-ih (tabib sakti dan Kanglam) lebih menitik beratkan perhatian-nya untuk memperdalam ilmu pertabiban-nya sehingga dalam ilmu silat ia ketinggalan jauh, maka Tam Si-bin menetap terus di Thian tay sambil berlatih ilmu dengan tekun.
Ketika Kanglam Sin-ih Yu Siang-tek diculik orang, seluruh partai Thian tay-pay menjadi gempar, sebagai orang yang berilmu paling tinggi dalam partai Thian tay, sudah barang tentu ia tak dapat berpeluk tangan belaka, maka di pimpinnya beberapa orang murid untuk turun gunung.
Kebetulan mereka menjumpai perayaan tersebut, maka kesempatan baik ini pun segera dimanfaatkan, mereka bermaksud menyelidiki markas besar Hian-beng-kau, sebab dengan kedudukannya sekarang, jelas sulit akan dikenali orang lain.
Siapa tahu, baru saja sampai di tengah jalan, indentitasnya sudah diketahui orang.
Dengan perasaan bergetar keras, dia pun bertanya.
"Siapa kau?"
"Aku bernama Cui Heng, menjabat kedudukan seorang Thamcu dari ruangan Tee it tham!"
Satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak Tam Sibin, segera ia menjura, lalu katanya.
"Oooh........rupanya kau adalah It pit kon hua (pit sakti penggaet sukma) dari wilayah tian liong yang termashur karena ketujuh puluh dua jurus ilmu Poan koan pit Kui seng tiam goan, maaf..... maaf!"
Pit sakti pengaet sukma Cui Heng segera menjura, katanya pula.
"Mana, mana, cukup memandang ilmu Kui goan sinkang dari Tam heng yang sudah beratus tahun lenyap dari peredaran dunia bisa disimpulkan bahwa partai Thian tay bakal merajai kembali dunia persilatan"
Semakin terkesiap Tam Si-bin setelah mendengar perkataan itu, pikirnya.
"Aku sudah tiga puluh tahun lamanya mengundurkan diri dari dunia persilatan untuk melatih ilmu sakti tersebut, bahkan anak muridku pun tak, kenapa Hianbeng-kau sudah bisa menyelidiki persoalan ini begitu jelasnya?"
Terdengar Cui Heng berkata lagi.
"Saudara Tam, bolehkah aku tahu, apakah pelayanan dari perkumpulan kami sepanjang jalan kurang sempurna sehingga tak berkenan dihatimu, harap saudara Tam katakan padaku dengan terus terang, siaute pasti akan menghukum berat mereka yang bersalah"
Tam Si-bin segera tertewa terbahak-bahak.
"Haaahh.....haaahh....haahh....pelayanan dari perkumpulan kalian cukup baik dan menyenangkan, masa siaute tidak merasa puas"
"Kalau begitu tolong tanya karena persoalan apakah saudara Tam tak senang hati?"
"Sialan betul orang ini"
Maki Tam Si-bin dalam bati.
"sudah tahupun pura-pura tidak mengerti, sialan!"
Maka sambil menuding huruf "Kun leng thian he"
Yang tercantum diatas tugu, ia tertawa terbabak-bahak, kemudian katanya.
"Siaute memang bodoh sekali, apakah Cui thamcu bersedia menjelaskan arti daripada ke empat huruf tersebut?" 0000000O0000000 Ciu Heng memutar sekejap matanya, lalu tertawa-tawa.
"Oooh, jadi saudara Tam tak senang hati karena persoalan itu"
Katanya.
Jika sekarang saudara Tam masih tak paham, maka selesai upacara nanti kau akan mengerti dengan sendirinya.
Sudah jelas arti lain dari perkataan itu adalah, sejak kini perkumpulan Hian-beng-kau bakal menguasahi seluruh kolong langit!
Tam Si-bin tertawa dingin, tiba-tiba sambil menjura ia berkata!.
"Dalam penemuan nanti siaute ingin mo hon petunjuk dari saudara Cui!"
"Siaute pasti akan melayaninya!"
Jawabnya.
Setelah memberi hormat, ia lantas putar badan dan berjalan menelusuri jalan kecil itu, sekejap kemudian bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas.
Tiba-tiba terdengar seseorang berkata sambil tertawa.
"Tam cianpwe, kionghi! kionghi! Rupanya ilmu sakti partaimu telah berhasil di kembangkan kembali!"
Ketika Tam Si-bin berpaling, maka tampaklah seorang lakilaki setengah umur yang berwajah bersih dan berdandan seorang sastrawan, dengan tangan kirinya membawa sebuah kipas yang terbuat dari baja, sedang berjalan menghampirinya.
Ia merasa teramat asing dengan orang itu, maka setelah ter-menung subentar, katanya sambil tertawa.
"Lote ini adalah........"
"Tam locianpwe, masih ingatkah kau dengan Yau Tiang li dari partai Tian cong?"
Sapanya. Tam Si-bin baru teringat kembali, segera pikirnya.
"Ooohhhh.............. rupanya dia!"
"Tiba-tiba paras mukanya menjadi dingin.
"Oh, ternyata adalah Yau lote, konon pada sepuluh tahun berselang kau telah menjadi seorang ketua dari suatu perguruan, ke jadian ini patut diberi selamat"
Lalu satelah memberi hormat, ia menambahkan.
"Disini banyak orang dan tidak leluasa untuk berbicara, maaf......"
Tak mau banyak berhubungan dengan orang ini, maka dengan membawa anak buah, segera melanjutkan kembali perjalanan menuju ke depan.
Bila sewaktu Tam Si-bin berbicara dengan Cui Heng tadi, sebagian besar jago pada ikut berhenti dan menonton keramaian, maka setelah berbisik-bisik sejenak, merekapun melanjutkan kembali perjalanan menuju ke dalam lembah, suasana pulih kembali dalam keheningan.
Kiranya partai Cian cong terhitung pula aliran kaum pemdekar, tiga puluh tahun berselang ketika mereka kekurangan orang berbakat, tiba-tiba diumumkan bahwa perguruan menutup pintu dan tak mengadakan hubungan lagi dengan dunia persilatan, walaupun ketika itu hawa jahat menyelimuti angkasa, kejahatan merajalela bahkan pertemuan besar Pak beng hwe maupun Kian-ciau tay-hwee, tidak hadir pula.
Karenanya Tam Si-bin memandang sinis orang tersebut.
Tiba tiba Yau Tiong-in berteriak kembali.
"Tam locianpwe, harap tunggu sebentar, silaukan kau dengarkan dulu perkataan dari aku Yau Tiong-in"
Tam Si-bin pura-pura tidak mendengar dan meneruskan perjalanannya menuju ke depan. Melihat itu, Yau Tiong-in mengerutkan dahinya, kemudian berseru dengan lantang.
"Tam locianpwe, masakah sepatah katapun tak kau ijinkan kami Tiam cong pay memberi penjelasan?"
Setelah berkata demikian, tentu saja Tam Si-bin tak bisa berpura-pura lagi, ia putar badan dan berkata dengan hambar.
"Apa lagi yang hendak kau katakan?"
Yau Tiong-in maju tiga langkah ke depan, ia saksikan hanya terpaut sedikit waktu saja mereka berdua telah tertinggal sejauh beberapa kaki dari rombongan lainnya.
Maka sambil maju menghampiri Tam Si-bin dengan serius dia berkata.
"Ketidakhadiran kami dalam penemuan Pak beng hwe, maupun Kiau ciau tay hwe bukau disebabkan karena takut mati, tapi sesungguhnya guru kami......"
Agaknya ia merasa sukar nntuk meneruskan perkataan itu tapi setelah berheeti sejenak, ia pun melanjutkan.
"Sesungguhnya guru kami telah dikalahkan oleh Bu liang Sinkun, oleh sebab itu partai kami harus menepati janji dengan menutup diri selama puluhan tahun lamanya"
Berkenyit sepasang alis mata Tam Si-bin setelah mendengar perkataan itu, cepat dia berseru.
"Oooh, kiranya begitu! Cuma pegang janjipun harus dibedakan atas urusan yang serius dan urunan yang tidak serius, jika persoalan su-dah menyangkut mati hidupnya dunia persilatan, tidak betul kalau partai Kalian hanya berpeluk tangan belaka, untung ada Hoa tayhiap dan ibunya coba kalau tidak demikian, entah bagaimanakah keadaan dunia persilatan dewasa ini....."
"Perkataan locianpwe memang benar!"
Tukas Yau Tiong-in sambil tertawa getir.
"sebenarnya suhu pun hendak berbuat demikian, beliau rela mengingkari janji dan ditertawakan orang, dari pada tidak turut serta dalam usaha melenyapkan hawa sesat dari dunia persilatan......"
Sesudah menghembuskan napas panjang, ia melanjutkan.
"Cuma saja, pada waktu itulah tiba-tiba kami temukan bahwa kecuali sebagian kecil anggota perguruan, hampir seluruhnya telah terkena racun jahat yang membuat kami kehilangan tenaga dan tak mampu bertarung lagi dengan orang lain"
Setelah mendengar sampai disini, dengan nada minta maaf buru-buru Tam Si-bin berseru.
"Oooh, selama ini lohu tak tahu duduk perkara yang sesungguhnya, jika telah melakukan kesalahan, harap Lote sudi memaafkan!"
"Partai kami tak pernah mengungkapkan persoalan yang sesungguhnya, tak heran kalau menimbulkan kesalahpahaman semua orang!"
Agaknya ia merasa amat murung dan sedih, setelah menghela napas panjang katanya lebih jauh.
"Akhirnya suhu kami nanti dengan membawa duka nestapa, sebelum meninggal beliau berpesan agar kami balaskan dendam sakit hati ini, tiga puluh tahun kemudian partai kami dapat muncul kembali dalam dunia persilatan, sesungguhnya dendam sakit hati ini hendak kami tuntut balas, tapi Bu Liang loji sudah keburu mampus ditangan Bun Tay-kun, partai kami tiada kesempatan lagi untuk membalas dendam, tak tahunya murid dari setan tua itu, Kok See-piau berani menyebar undangan untuk mendirikan perkumpulan disini, maka kehadiran partai kami kali ini pasti akan membalas dendam sakit hati itu dihadapan para enghiong hohan"
"Semoga saja usahamu itu berhasil!"
Kata Tam Si-bun sambil menghela napas panjang. Sesudah berhenti sebentar, ia menambahkan.
"Sudah tahukah kalian, siapa yang melepaskan racun keji itu sehingga membuat sengsara semua partai?"
Yau Tiong-in menggeretakan giginya kencang-kencang menahan luapan emosi, katanya.
"Sudah bisa dipastikan tak akan terlepas dari Bu-liang si bajingan tua itu!". Diam-diam Tam Si-bin lantas berpikir.
"Dendam sakit hati sedalam ini sudah pasti akan dituntun balas oleh semua kekuatan dari Thiam cong pay, itu berarti pertumpahan darah pasti akan menghiasi seluruh pertemuan ini"
Setelah berpikir sebentar, ia merasa tidak baik jika berhenti terlalu lama disitu, maka sambil berjalan ke depan, ia bertanya lagi.
"Berapa banyak jago yang telah kau bawa kali ini?"
Angkatan mudanya tidak dihitung, dari angkatanku saja ada sembilan orang, ditambah lagi dengan kedua orang susiokku!"
Mencorong sinar tajam dari balik mata Tam Si-bin, serunya dengan cepat.
"Asal Thiam cong siang kiam (sepasang pedang dari Thian cong) maka kekuatan kita untuk menumpas hawa sesatpun akan bertambah tangguh!"
Rupanya cianpwe terlalu tinggi menilai Hian-beng-kau!"
Tampak Si bin menghela napas panjang.
Aaaai...
pada mulanya lohu pun berpendapat demikian, sebagai seorang angkatan muda seberapa besar yang bisa dimiliki Kok See-piau dengan ilmu silatnya, tapi sekarang hatiku betul-betul amat murung.
Ternyata kehebatan Kok Seepiau jauh melebihi Kiu ci sin-kan dimasa lalu, bahkan lebih sulit dihadapi kami kalau Hoa tayhip hadir, aaai......!
andaikata ada Hoa jikongcu, paling tidak keadaanpun rada mendingan, sayangnya iapun tidak diketahui kemana perginya!"
Kiu Tiong in segera menunjukkan rasa tidak puasnya, ia berkata.
"Ilmu silat Hoa tayhiap tiada keduanya dikolong langit, hal mana sudah jelas diketahui setiap orang tapi Hoa ji kongcu masih muda, apakah locianpwe tidak menilai dirinya terlalu tinggi?"
Tam Si-bin tersenyum.
"Tidak, sama sekali tidak, kecerdasan Hoa ji kongcu tiada duanya didunia ini berbicara soal ilmu silat, secara diam-diam lohu pun pernah menjajalnya ketika hendak menghormati secawan arak kepadanya......."
"Sekalipun Hoa ji kongcu berasal dari keluarga persilatan yang termashur, masakah ia sanggup menandingi kehebatan cianpwe?"
Tukas Yau Tiong-in tidak percaya Tim Si bin gelengkan kepalanya berulang kali sambil tertawa, Sekalipun sepintas lalu orang mengira kekuatan kita seimbang, padahal lohu tahu bahwa tenaga dalam yang dimiliki Hoa ji kongcu jauh diatas kemampuanku"
Yau Tiong-in menjadi tertegun, segera pikirnya.
"Telaga dalamnya ini tergantung dari hasil latihan, usia Hoa yang paling banter berusia dua puluh tahunan, masa dia dapat menandingi mu, sudah tentu kau ingin memopulerkan namanya saja......."
Sementara itu mereka berdua telah tiba di ujung jalan berbatu itu, setelah melewati dinding tinggi, mereka pun menjadi tertegun.
Kiranya setelan melewati dinding tinggi maka semua pemandangan dalam lembah dapat terlihat dengan jelas.
Kiranya dihadapanya terbentang sebuah lapangan yang amat luas dengan ubin putih yang amat indah sebagai alasnya.
Sebuah bangunan istana yang bersusun-susun tertera nyata nun jauh didepan, pada pintu istana terukir empat buah huruf besar terbuat dari emas berbunyi "Kiu ci-piat-kiong"
Tempat ditengah tanah lapang, dibangun sebuah panggung tiga tingkat yang sangat besar, sebuah permadani berwarna merah darah menghiasi permukaan lantai dari pintu istana hingga bawah panggung tersebut, sementara dikiri kanannya masing-masing berdiri sebuah barak besar, sekalipun dibangun dengan tergesa-gesa namun tidak berkurang keindahanya.
Pada saat itu baik panggung upacara maupun barak besar tak nampak seorang menusia pun, di-tengah tanah lapang yang luaspun hanya ada belasan orang jago Hian-beng-kau yang berlalu lalang sehingga suasana terasa begitu lenggang.
Diam-diam kedua orang itu merasa terperanjat, mereka tidak mengira kalau Hian-beng-kau bisa membangun istana seindah ini ditengah bukit yang gersang, cukup melibat arsitek bangunan, bisa diketahui betapa besar biaya dan tenaga yang telah mereka hamburkan.
Tam Si-bin mencoba untuk memeriksa keadaan disekeliling tempat Itu, tiba-tiba ia menemukan bahwa dalam tebing Ui gou beng tersebut hampir boleh dibilang tiada jalan tembus lain kecuali jalan usus kambing tersebut, sekeliling lembah hanya ada dinding-dinding bukit yang terjal dan menjulang keudara.
Dengan hati terkesiap diam-diam dia pun berpikir, Seandainya terjadi pertarungan nanti, asal pihak Hian-bengkau menutup mulut lembah, sekalipun kita punya sayap juga tak mungkin bisa kabur dari sini dengan selamat.
Sementara mereka berdua masih mengamati keadaan, mendadak muncul dua orang bocah berbaju hijau yang menghampiri mereka.
Melihat langkah kaki kedua orang bocah berbaju hijau yang ringan itu, Tam Si-bin menjadi tertegun, kemudian pikirnya,
Jilid 11
"Hanya dua orang bocah cilikpun memiliki ilmu silat yang tidak lemah, hal ini menunjukkan kalau Hian-beng-kau memang benar-benar penuh dengan jago lihay"
Terdengar Yau Tiong-in berkata dengan hambar.
"Aku belum lelah, kalian boleh pergi dulu karena kami ingin berhenti sebentar disini."
Bocah yang ada disebelah kanan itu berkata.
"Kalau memang begitu biar hamba menunggu perintah disini!"
"Aku tidak menghendaki pelayan orang, lebih baik kalian segera berlalu dari sini!"
Dua orang bocah berbaju hijau itu segera berpaling ke arah Tam Si-bin, kemudian serunya berbareng, Loya-cu.............!"
Sambil mengelus jenggotnya Tam Si-bin tertawa, katanya.
"Lohu adalah tulang orang miskin, tidak terbiasa mendapat pelayanan orang lain, jadi kalian lebih baik pergi saja dari sini!"
Tapi setiap enghiong yang turut serta dalam pertemuan besar ini........
"Orang lain adalah orang lain, kami adalah kami, hayo cepat pergi!"
Bentaknya. Kedua orang bocah berbaju hijau itu segera menunjukkan wajah serba salah, mereka saling berpandangan sekejap, namun tetap berdiri ditempat semula.
"Kenapa?"
Teriak Yau Tiong-in lagi semakin gusar.
"jadi kalian hendak mengawasi gerak-gerik kami?"
"Persoalan apa sih yang telah menimbulkan rasa tak senang dihati Yau Ciangbun?"
Mendengar seruan tersebut, Tam Si-bin dan Yau Tiong-in segera berpaling, tapi dengan cepat mereka tercengang dengan wajah tertegun.
Ternyata dihadapan mereka telah berdiri seorang gadis cantik jelita berbaju putih, kecantikan gadis itu jarang sekali dijumpai dikolong langit, tapi bukan hal itu yang membuat mereka berdua terkejut, melainkan wajah gadis itu persis sekali dengan wajah ke dua orang putri Pek Siau-thian, bekas ketua dari Sin-ki-pang dimasa lalu.
Dengan cepat Tam Si-bin menjura kepada gadis itu, kemudian sapanya.
"Nona memakai marga Bong? Ataukah marga Pek?"
Gadis cantik itu tertawa cekikikan.
"Hei, apa yang terjadi? Heran benar, setiap kali bertemu orang, selalu pertanyaan itu yang diajukan kepadaku!"
Setelah berhenti sebentar, katanya.
"Aku bernama Kok Gi -pek!"
Baik Tam Si-bin maupun Yau Tiong-in menjadi tertegun, dalam hati pikirnya, Heran, jika dilihat dari raut wajahnya, ia mirip sekali dengan wajah Pek si hujin, kenapa bisa bukan putri dari Bong Pay dan Pek Soh-gi??
Walaupun heran, Tam Si-bin berkata juga.
"Kalau begitu nona adalah!........... Tidak menunggu ia menyelesaikan kata-katanya, dengan cepat Kok Gi-pek menukas.
"Hian-beng-kaucu adalah guruku!"
Diam-diam Tang Si bin dan Yau Tiong-in merasa sayang dihati, gadis secantik bidadari ternyata adalah murid si gembong iblis, yaa......ibaratnya sekuntum bunga tumbuh diatas kotoran kerbau.
Dalam pada itu Kok Gi-pek telah berpaling ke arah dua orang bocah berbaju hijau itu, kemudian tegurnya dengan dingin.
"Apakah kalian yang telah menggusarkan Yau tayhiap?"
Bocah berbaju hijau yang ada disebelah kiri itu menjadi gelagapan, serunya tergagap.
"Adalah.......adalah Yau tayhiap sendiri."
"Hmm! Setiap enghiong yang menghadiri pertemuan ini adalah manusia-manusia yang berjiwa besar"
Tukas Kok Gi-pek ketus, bila bukan kalian yang tak tahu sopan, masa dapat memancing ketidaksenangan Yau tayhiap? Kenapa tidak cepat mengaku salah?"
Sungguh tak terlukiskan perasaan Yau Tiong-in setelah mendengar perkataan itu, ia tertawa serak, lalu katanya.
"Nona telah salah menegur, persoalan ini sama sekali tiada hubungannya dengan mereka berdua"
Kok Gi-pek mengerling sekejap dengan sepasang biji matanya yang jeli, kemudian sambil tersenyum ia berkata.
"Aaah, kenapa Yau tayhiap berkata demikian? Kalau begini jadinya malah kami yang merasa tak enak sendiri!"
Lalu sambil menarik muka, katanya kepada dua orang bocah tersebut.
"Kaucu toh telah berpesan jangan menyalahi tamu agung yang menghadiri pertemuan ini? Sekarang kalian telah melakukan kesalahan, hayo sana menghadap toa kongcu untuk menerima hukuman"
Sekujur tubuh bocah-bocah berbaju hijau itu gemetar keras, agaknya mereka merasa ketakutan setengah mati, namun tidak berani pula banyak bicara maka setelah memberi hormat, sahutnya.
"Terima perintah!"
Ketika memutar tubuhnya hendak pergi, tak tahan lagi titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya. Yau Tiong-in yang menyaksikan kejadian itu menjadi tak tega, segera bentaknya.
"Tunggu sebentar."
Dua orang bocah berbaju hijau itu segera berhenti, kemudian berpaling kearah Kok Gi-pek. Kalau memang Yau tayhiap ada perintah, tetua saja kalian harus berhenti"
Ujar Kok Gi-pek. Lalu sambil berpaling kearah Yau Tiong-in, ujarnya sambil tertawa.
"Apakah Yau tayhiap merasa cara tersebut kurang dapat melampiaskan rasa gusarmu, sehingga ingin menghukum sendiri mereka berdua?"
"Tolong tanya, apakah kedua orang saudara cilik ini harus melaksanakan hukumannya?"
Tanya Yau Tiong-in dengan suara dalam. Kok Gi-pek segera tertawa hambar.
"Aneh benar pertanyaan dari Yau tayhiap, memangnya perintah dari perkumpulan Hian-beng-kau kami hanya permainan belaka?"
Merah padam selembar wajah Yau Tiong-in karena jengah, kembali ia bertanya.
"Entah hukuman apakah yang hendak dilaksanakannya?"
"Jika masuk ke ruang hukuman, berarti mereka harus mampus tapi jika mendapat pengampunan maka keputusan berada ditangan suheng kami, itupun paling enteng harus potong lengan"
Bergidik hati Tam Si-bin dan Yau Tiong-in setelah mendengar perkataan itu, kekejaman serta keketatan peraturan Hian-beng-kau boleh dibilang jarang ditemui didunia ini, sebab hanya dibilang melakukan kesalahan kecil pun hukumannya potong lengan, malah Kok Gi-pek mengucapkannya dengan begitu santai seolah-olah hukuman tersebut sudah merupakan suatu kejadian yang umum, hal mana cukup menggetarkan hati siapapun yang mendengar.
Yau Tiong-in segera memberi hormat, lalu katanya.
"Aku orang she Yau ingin memohonkan pengampunan bagi mereka!"
"Waaah, jika Yau tayhiap berkata demikian, hal ini malah justru akan menyusahkan kami!"
Kata Kok Gi-pek sambil mengerutkan dahinya.
Sebagai seorang jagoan dari golongan kaum pendekar, sudah barang tentu Yau Tiong-in merasa tak tega mengorbankan jiwa dua orang bocah cilik yang tak berdosa karena persoalannya, karena terpaksa maka diapun berkata.
"Nona Kok dalam persoalan ini akulah yang sebetulnya tidak benar karena hatiku sedang gundah dan murung maka semua kemarahan telah kulampiaskan pada dua orang saudara cilik ini, sesungguhnya mereka tak bersalah, tentu saja tak pantas dijatuhi hukuman, bila ingin menyalahkan seharusnya akulah yang pantas disalahkan"
Kok Gi-pek berseru tertahan, lalu sambil pura-pura tercengang, serunya kembali.
"Aaah, hal ini sama sekali tak masuk diakal"
Masa ada jago dari golongan lurus yang melampiaskan hawa amarahnya kepada orang lain"
Merah padam wajah Yau Tiong-in karena malu, diam-diam sumpahnya dalam hati.
"Budak sialan, tajam benar lidahmu!"
Dalam pada itu Kok Gi-pek telah ulapkan tangannya sambil berkata.
"Kalau memang kalian menjemukan dan bodoh sekali sehingga tidak berkenan dihati Yau tayhiap, kenapa tidak cepat pergi dari sini? Berdiri melulu disitu hanya membikin jemu orang saja"
Bocah berbaju hijau itu segera memberi hormat seperti memperoleh pengampunan, buru-buru mereka kabur meninggalkan tempat itu.
Kok Gi-pek mengerling sekejap ke arah dua orang tamunya, lalu berkata kembali.
"Para bocah pelayan itu memang bodoh dan tak tahu aturan, tentu saja sulit buat mereka untuk melayani orang pintar entah bagaimana kalau aku saja yang mengantar saudara berdua kembali ke tempat istirahat para tamu agung?"
Mana berani merepotkan nona?"
Seru Tam Si-bin.
"Ah, tidak menjadi soal"
Tidak banyak berbicara lagi ia putar badan dan berlalu lebih dulu dari situ.
Terpaksa Tam Si-bin dan Yau Tiong-in mengikuti pula di belakangnya.
Kok Gi-pek membawa dua orang itu berjalan melewati sisi lapangan dan berbelok ke sebuah jalan tembus.
Dalam perjalanan, tiba-tiba Kok Gi-pek berkata sambil tertawa.
"Yau tayhiap, apakah kau anggap perkumpulan kami terlampau miskin sehingga tak mampu menjamu tamu banyak?"
Pertanyaan tersebut segera membuat Yau Tiong-in menjadi tertegun, katanya.
"Maaf aku tidak paham dengan apa yang nona maksudkan?"
Kok Gi-pek tertawa cekikikan.
"Aaah, masa Yau tayhiap tidak mengerti?"
Tam Si-bin ikut tertawa tergelak, timbrungnya.
"Lebih baik nona jangan bermain teka-teki, apalah salahnya jika berbicara saja terus terang!"
Kok Gi-pek tersenyum manis, katanya kemudian.
"Yan tayhiap, susiokmu Tiang cong siang kiam, masa yang satu tinggal diruang kedua, yang lain tinggal di ruang ketiga, sementara suheng dan murid-muridmu malah menempati ruangan ke empat sampai ruang sembilan bukan saja tidak memakai nama asli, pun tidak menye-butkan asal perguruan asal mana, sungguh menyulitkan perkumpulan kami ataukah Yau tayhiap merasa malu karena membawa anggota perguruan yang terlalu besar jumlahnya, sehingga daripada ditolak masuk maka kalian gunakan taktik tersebut?"
Setelah berhenti sejenak, sambil tertawa ia melanjutkan.
"Harap Yau ciangbun legakan hati sekalipun dari perguruan kalian ada seribu orang yang datang, perkumpulan kami masih sanggup untuk menjamunya apalagi cuma lima puluh orang"
Ucapan tersebut kontan saja membuat paras muka Yau Tiong-in berubah menjadi pucat sebentar merah sebentar, sungguh tak terlukiskan rasa kaget dan terkesiapnya.
Ternyata partai Tiam cong memang telah mengatur rencana untuk membalas dendam dengan mempergunakan kesempatan itu, maka segenap ke kuuatan mereka telah dikerahkan datang.
Akan tetapi karena kuatir kekuatan tersebut ketahuan Hianbeng-kau, maka kecuali Yau Tiong-in seorang, yang lain segera menyaru dan menyusup masuk dengan cara menyebarkan diri, rencana mereka bila upacara peresmian nanti diselenggarakan, maka mereka akan lancarkan serangan secara mendadak....
Siapa tahu jejak mereka justru telah diketahui oleh pihak Hian-beng-kau, malahan jumlahnya tak kurang seorangpun, ucapan dari Kok Gi-pek tersebut semakin menunjukkan bahwa gerak-gerik mereka memang selalu diawasi.
Tam Si-bin yang menyaksikan kejadian itu segera kuatir kalau ia tak tahan diri, buru-buru menarik ujung bajunya lalu tertawa terbahak bahak.
"Haaahn.....haaah h...haaahhh............berita yang kalian peroleh sungguh amat tajam, sungguh mengagumkan!"
Kok Gi-pek mengerdipkan biji matanya yang jeli, lalu katanya.
"Tan cianpwe terlalu memuji partai kami...... Sambil tertawa Tam Si-bin segera menukas, Tiga orang suteku dan delapan orang keponakan muridku datang kemari secara berombongan, mungkin merekapun tidak menyebutkan nama yang sebenarnya, harap kalian suka memaafkan. Mendengar perkataan itu, diam-diam Kok Gi-pek berpikir, Jago kawakan memang biasanya lebih cerdik dan cekatan......... Maka ujarnya sambil tersenyum, Ah, ucapan Tam cianpwe terlalu serius. Para jago dengan tidak mengecilkan partai kami sebagai partai sesat telah sudi berkunjung kemari, hal ini sudah amat mengharukan hati kami, orang lain sedang berbuat bagaimana lantas bagaimana, tentu perkumpulan kami tak berani banyak bicara, pertama jangan kuatir kalau pelayanan kami kurang baik, kedua kuatir jika ada kawanan manusia rendah yang memanfaatkan kesempatan ini untuk memancing diair keruh maka mau tak mau terpaksa kami harus bersiap lebih waspada"
Meskipun perkataan itu mengandung sindiran, namun kedua orang jago tersebut tak mampu menanggapi walaupun hanya sepatah kata pun. Sementara itu Kok Gik pek telah berkata lagi setelah berhenti sejenak.
"Seandainya kali ini Jin tianglo dan Tiangsun tianglo dari perkumpulan kami tidak berhasil mengenali jagojago lihay dari partai kalian berdua jika hal ini sampai tersiar dalam dunia persilatan, bukankah orang lain akan mentertawakan kami orang orang Hian-beng-kau sebagai manusia yang punya mata tak berbiji"
Tam Si-bin segera tertawa terbahak bahak. Haahh......haahh.....haaahh......aku pikir Jin tianglo serta Tiangsun tianglo kalian pastilah jago-jago lihay dari dunia pesilatan.
"Tiangsun tianglo sudah lama mengasingkan diri dari keramaian dunia"
Kata Kok Gi-pek hambar.
"dia merupakan keturunan langsung dari seng jiu lu pan (Lu Pan bertangan malaikat) yang telah membangun istana Kiu ci kiong dari coucu kami tempo hari, kali ini keturunannya kembali berkerjasama dengan perkumpulan kami untuk membangun istana kedua........."
"Apakah dia adalah Tiangsun Poh?"
Tanya Tam Si-bin dengan perasaan bergetar keras.
"Betul!"
Kok Gi-pek manggut-manggut. Setelah berhenti sejenak, ia berkata lebih jauh.
"Sedangkan Jin tianglo, dia lebih termashur lagi, tentunya kalian berdua belum lupa bukan dengan Cong tausu dari perkumpulan Hong im hwee yang tersohor pada dua puluh tahun berselang?"
"Jin Hian maksudmu?"
Seru Yau Tiong-in kaget. Kok Gi-pek tertawa hambar.
"Yaa, itulah Jin tianglo"
Sementara pembicaraan berlangsung sampai disitu, mereka bertiga telah tiba disebuah bangunan rumah yang dikelilingi pagar tembok tinggi.
Bangunan rumah disana bersusun-susun dengan serambi yang saling berhubungan, ada pohon yang rindang, kolam air yang jernih, gunung-gunungan yang indah dan taman bunga dengan aneka tumbuhan yang berbau harum, sungguh tempat itu merupakan sebuah pemandangan yang sangat indah.......
Sepanjang serambi ruangan kecuali para jago dari empat penjuru yang datang menghadiri upacara, terlihat pula banyak gadis cantik yang berjalan hilir mudik.
Sambil menghentikan langkahnya Kok Gi-pek lantas bertanya.
"Kalian berdua ingin tinggal bersama orang-orang separtai, ataukah ingin tinggal secara terpisah?"
Tam Si-bin dan Yau Tiong-in saling berpandangan sekejap lalu diam-diam tertawa getir.
Baru saja mereka masuk ke wilayah Ui gou peng, sekalipun tahu kalau rekan-rekan seperguruannya telah masuk kedalam lembah tapi hingga kini belum mengadakan kontak, merekapun enggan menanyakan persoalan ini kepada pihak Hian-beng-kau, maka untuk sesaat menjadi bingung tidak memberi jawaban.
Kok Gi-pek segera tertawa cekikian, tiba-tiba ia bertepuk tangan pelan, segera muncul dua orang gadis cantik menghampirinya, setelah memberi hormat tanyanya.
"Ada urusan apa nona?"
Sambil menuding kedua orang itu, Kok Gi-pek berkata.
"Persiapkan segera baik-baik tempat menginap dua orang tayhiap ini, jangan tertindak kurang sopan!"
Dua orang pelayan cantik itu segera mengiakan, setibanya dihadapan Tam Si-bin dan Yau Tiong-in mereka memberi hormat kemudian ujarnya bersama.
"Menjumpai ya koan berdua!"
Sambil menuding dua orang pelayan cantik itu Kok Gi-pek kembali berkata.
"Yang disebelah kiri bernama Kim Kwi khusus melayani Tam loy cu, Sedangkan yang di kanan Cui Huan anggap saja untuk Yau tayhiap"
Setelah berhenti sebentar ia melanjutkan.
"Mulai sekarang, dua orang pelayan ini menjadi milik kalian berdua kecuali makan, hidup kalian berdua, mati hidup kedua orang pelayan inipun berada ditangan kalian, perkumpulan kami tidak akan berhak untuk menanyakan lagi, jika kalian memang setuju, selesai upacara nanti kedua orang pelayan itu boleh kalian bawa pergi"
Kontan saja Yau Tiong-in mencaci maki.
"Hmm! Tidak bermaksud baik, rupanya kau hendak menjebak orang"
Kok Gi-pek tertawa cekikikan.
"Arak itu tidak memabukkan adalah orang yang mabuk dengan sendirinya, emas tulen tak kuatir dibakar dengan api, hanya jago-jago tulen yang tidak kuatir perpengaruh oleh arak, perempuan, har ta dan kedudukan. Apakah Yau tayhiap kuatir imannya kurang tebal dan tidak tahan godaan...... Sepasang alis mata Yau Tiong-in langsung berkenyit, serunya dengan angkuh.
"Ako orang she Yau mana takut....."
Tiba-tiba Tam Si-bin mendeham pelan, kemudian dengan kening berkerut katanya.
"Lohu adalah orang dari gunung yang terbiasa hidup bebas, jika dilayani orang malah rasanya kurang leluasa, nona Kok, biarlah maksud baikmu itu kuterima dalam hati saja"
Ketika mendengar perkataan itu, paras muka dua orang pelayan cantik itu segera berubah hebat. Kok Gi-pek tersenyum, katanya.
"Tam cianpwe, kau harus tahu, seandainya suhengku atau para thamcu yang melayani kedatangan kalian sekarang, maka dua orang pelayan ini mungkin sudah tergeletak tak bernyawa lagi!"
Yau Tiong-in mendengus marah, serunya.
"Aku orang she Yau merasa kagum sekali dengan ketatnya peraturan Hian-beng-kau, cuma.......hmm, apakah kalian tidak merasa kebangatan dengan tindakan semacam itu?"
"Yaa, kalau tidak begini, mana mungkin perkumpulan kami bisa menegakan disiplin dan memperketat peraturan?"
Tam Si-bin benar benar tak dapat mengendalikan perasaannya lagi. dengan dingin ia berseru.
"Perbuatan perkumpulan kalian memang luar biasa sekali, waah, dengan cara kalian yang kejam dan tidak kenal perasaan begini rasanya memang tidak sulit bila ingin menguasahi seluruh jagad. Kok Gi-pek tidak membantah atau mendebat perkataan itu, pelan-pelan dia berjalan kehadapan dua orang pelayan itu, lalu setelah menghela nafas sedih ujarnya.
"Kalian baik-baiklah bertugas, seperti yang diketahui, peraturan dari perkumpulan kita sangat ketat, jika sampai melanggar peraturan tersebut, bahkan akupun tak akan sanggup menyelamatkan jiwa kalian."
Agak merah sepasang mata dua orang pelayan itu, mereka tundukkan kepalanya rendah-rendah. Dengan suara lirih Cui Huan lanias berkata.
"Terima kasih banyak atas kebaikan nona."
Kok Gi-pek menghela nafas panjang, dia berpaling kearah lain dan berkata lagi dengan dingin.
"Soal penyambut tamu agung sesungguhnya bukan urusanku, aku sampai berbuat demikian tak lebih karena ingin mengurangi jumlah kematian yang tak berguna, toh aku hanya bisa berbicara disini saja, untuk selanjutnya terserah pada kalian sendiri!"
Sambil putar badan ia bersiap meninggalkan tempat itu, tapi tiba-tiba ia berhenti.
Tam Si-bin dan Yau Tiong-in yang menyaksikan kejadian tersebut ikut berpaling.
Tampaklah dari tikungan jalan sebelah depan sana muncul tiga orang manusia, paling depan adalah seorang kakek berjenggot putih berwajah merah sedang dibelakangnya mengikuti seorang laki dan seorang perempuan yang jalan bersanding.
Kedua orang itu mirip suami istri, yang pria beralis tebal bermata besar dan bertubuh tegap, ia tampak gagah perkasa sedang yang perempuan berwajah cantik dan bersikap anggun, kedua-duanya ti dak membawa senjata.
Dalam sekilas pandangan saja Kok Gi-pek telah mengetahui siapakah kedua orang itu, ditatapnya perempuan cantik setengah umur itu sekejap, lalu pikirnya.
"Yaa, tak salah lagi aku memang mirip sekali dengannya......"
Entah mengapa tiba-tiba muncul suatu perasaan aneh dalam hatinya, kalau bisa ia ingin sekali menubruk kedalam pangkuan perempuan cantik setengah umur itu.
Ketika sepasang suami istri itu berjumpa dengan Kok Gipek, merekapun kelihatan agak tertegun, empat buah mata sama-sama menatap wajahnya tanpa berkedip.
Setelah tertegun beberapa saat lamanya, tiba-tiba perempuan cantik berusia setengah umur itu berjalan menghampiri Kok Gi-pek kemudian sapanya.
"Nona, bolehkah aku tahu siapa namamu?"
Keangkuhan Kok Gi-pek sama sekali lenyap tak berbekas, dengan amat sopan ia memberi hormat, lalu sahutnya.
"Boanpwe Kok Gi-pek!"
Mendengar perkataan itu, sang nyonya cantik itu tertawa kepada laki-laki kekar itu, ujarnya.
"Toako, sudah kau dengar? Aku tebak yang di maksudkan pastilah moay moay"
Laki-laki kekar mendengus rendah, sikap sinis menghiasi wajahnya.
"Nona berasal darimana?"
Kembali nyonya cantik itu bertanya lagi. Kok Gi-pek tidak menjawab, sebaliknya mala bertanya.
"Apakah cianpwa adalah Cu sim siancu (Dewi berhati bajik)?"
Nyonya cantik setengah umur itu tersenyum.
"Aaah, itu cuma sanjungan dari sahabat-sahabat persilatan, Pek Soh-gi mana pantas menerima julukan tersebut?"
Ternyata sepasang suami istri ini bukan lain adalah Bong Pay serta Pek Soh-gi.
Walaupun Pek Soh-gi adalah putri Pek Siau-thian, tapi sejak kecil dia ikut dengan ibunya Koa Hong bwe meninggalkan perkumpulan Sin-ki-pang dan tinggal dibukit Hoan keng san.
Sepanjang tahun dia makan makanan berpantang seperti ibunya dan tak pernah meninggalkan rumah barang selangkah pun, oleh sebab itu bukan saja tidak ternoda oleh kebiasaan orang-orang persilatan, kelembutan dan kehalusan budinya masih suci bersih, hingga siapapun yang berjumpa dengannya tentu menaruh simpati kepadanya.
Kemudian setelah menikah dengan Pek lek kun (pukulan geledek) Bong Pay, untuk menebus dosa ayahnya dan lebihlebih atas dorongan suaminya untuk banyak beramal, kelembutan dan kebaikan hatinya merebut simpati banyak orang, sekalipun ada musuh yang berniat ja hat, hawa sesatnya segera terpunahkan setelah berjumpa dengannya, sebab itulah orang persilatan menghadiahkan julukan "Cu sim Siancu kepada-nya, Bong Pay adalah murid Pek sian (Dewa geledek) dari Bu lim siang sian (sepasang dewa dari dunia persilatan) didalam pertemuan Pak beng-bwe, Pek lek sian menemui ajalnya dengan menanggung dendam, waktu itu ia masih muda dan hidup gelandangan dalam dunia persilatan, tapi untung dengan ketekunannya berlatih dan memperoleh bimbingan dari supeknya Siau yau sian (dewa yang suka keluyuran) Cu Thong serta Hoa Thian-hong, akhirnya ia berhasil juga mengangkat dirinya menjadi seorang pendekar besar yang menggemparkan dunia persilatan.
Semenjak kawin dengan Pek Soh-gi yang lemah lembut, ia banyak sekali berbudi sosial dan menolong orang apa lagi didampingi istrinya yang lemah lembut, hal mana membuat kewelasan hatinya bukan aja bertambah tebal, bahkan sifat berangasannya dimasa lalupun sudah banyak berubah.
Coba kalau bukan demikian, setelah mendengar perkataan dari Pek Soh-gi tadi, niscaya ia sudah memaki Kok See-piau dengan beberapa patah kata yang tajam.
Sejak ia masuk kedalam keluarga Pek, sebenarnya kursi kebesaran sebagai seorang pangcu dari perkumpulan besar itu menjadi miliknya, tapi ia adalah seorang yang tak suka kebesaran dan kedudukan, malah perjuangannya terhitung paling besar ketika membubarkan Sin-ki-pang, atas perbuatannya itu banyak jago dari kalangan lurus yang kagum dan memuji dirinya.
Dengan pandangan kagum Kok Gi-pek memperhatikan wajah Pek Soh-gi lekat-lekat, meski usianya telah mencapai empat puluh tahunan, ternyata kelembutan dan kecantikannya masih tertera jelas.
Makin dilihat, gadis itu merasa semakin simpati, sehingga akhirnya ia berkata.
"Aaah mana kecantikan cianpwe bagaikan bidadari, kelembutan hatinya bagaikan Buddha julukan Cu sim Siancu memang paling pantas untuk diri cianpwe"
"Soal itu tak usah dibicarakan lagi nona, apakah kau bersedia memberi tahukan kepadaku berasal dari mana?"
"Boanpwe berasal dari Cing-ciu!"
"Aaah......!"
Pek Soh-gi berseru tertahan, wajahnya segera diliputi oleh rasa kecewa yang mendalam sekali.
"Soh-gi, belum tentu dalam dunia ini terdapat kejadian yang begini kebetulan, sudahlah, lupakan saja!"
Tapi Pek Soh-gi segera gelengkan kepalanya berulang kali.
"Aku tidak terlalu percaya!"
Katanya. Tiba-tiba satu ingatan menggerakkan hati Kok Gi-pek, diam-diam pikirnya.
"Kalau diresapi maksud dari ucapannya itu, apa dia telah menganggapku sebagai putrinya..."
Sementara ia masih melamun, Pek Soh-gi telah bertanya lagi.
"Nona, apakah ayah ibumu masih sehat semua?"
Kok Gi-pek menggerakkan bibirnya hendak menjawab, tapi sebelum mengucapkan sesuatu, kakek berwajah merah berambut putih yang bukan lain adalah Toan bok Seeliang, Tamcu dari markas besar Hian-beng-kau telah manyela sambil mendehem ringan.
"Bong hujin, orang tua nona Kok tentu saja masih sehat wal"afiaat......"
Sebenarnya Bong Pay terhitung masuk anggota keluarga Pek, tapi berhubung Pek Soh-gi amat menghargai suaminya, dalam setiap persoalan Bong Pay yang mengatasi dan untuk meneruskan tali keturunan keluarga Bong, maka keturunannya semua memakai nama marga Bong, dan persoalan ini telah dirunding sebelumnya secara baik baik.
Pek Soh-gi sama sekali tidak memperdulikan jawaban kakek itu, kembali ia mengulangi pertanyaannya.
"Apakah ayah ibumu masih hidup?"
Kok Gi-pek manggut manggut "Terima kasih atas perhatian cianpwe hingga kini orang tuaku masih segar bugar"
Pek Soh-gi amat kecewa, pikirnya, Betul-betul aneh sekali, masa kolong langit bisa terdapat seorang anak yang bukan keturunannya tapi mempunyai type wajah yang begitu mirip?
Hal ini betul-betul mustahil!"
Dengan perasaan tergerak, ia bertanya lagi.
"Bolehkah kami suami isteri berdua bertemu dengan orang tuamu?"
Tiba-tiba Toan See liang menyela kembali.
"Bong hujin, ada pepatah mengatakan, jika tidak sepaham maka tak akan sekomplot, buat apa kalian musti berjumpa muka?"
Pek Soh-gi kembali pura-pura tidak mendengar.
"Aku pikir she Kok tersebut bukan nama warga nona yang sebetulnya, bolehkah aku tahu nona sebenarnya she apa? Kenapa mengikuti she gurumu? Percayalah bahwa aku bermaksud baik, maka akupun minta agar kau jangan berbohong"
Bong hujin!"
Tegur Toan bok See liang dengan kening berkerut.
"cara menyelidiki urusan pribadi nona Kok dari perkumpulan kami sudah merupakan perbuatan yang melanggar pantangan besar"
Sehabis berkata ia lantas melangkah pergi dari situ.
Bong Pay mengernyitkan alis matanya yang tebal, tiba-tiba ia rentangkan tangannya untuk menghadang jalan pergi kakek itu kemudian sambil tertawa ujarnya.
"Toan bok thamcu, terimalah salam hormat dari Bong Pay!"
Rentangan tangan itu memang kelihatan-nya sederhana dan tiada sesuatu yang aneh, padahal justru mengandung suatu kekuatan besar yang setiap saat siap dilontarkan bilamana Toan bok See liang nekad untuk menyerbu ke depan, maka serangan yang dahsyat dan mematikan itu segera akan meluncur keluar.
Sebagai seorang jago kawakan tentu saja Toan bok See liang cukup mengetahui kelihaiyan dari serangan tersebut, dengan wajah berubah ia segera berhenti, katanya dengan gusar.
"Bong tayhiap, kalian suami istri berdua datang kemari sebagai tamu, kenapa sikap kalian begitu kelewat batas?"
"Istriku toh cuma mengajukan beberapa buah pertanyaan saja kepada nona ini, apakah perbuatan semacam ini termasuk kebangetan"
Paras muka Toan bok See liang segera berubah menjadi hijau membesi, katanya kemudian.
"Baik, baik, apakah Bong tayhiap bermaksud untuk bertarung sekarang juga?"
"Oh, aku orang she Bong sebagai tamu pasti akan mengiringi keinginan tuan ramah!"
Kok Gi-pek yang melihat gelagat tak enak, dengan alis berkenyit segera menegur.
"Empek Toan bok, kenapa sih kau ini"
Toan bok See liang berkerut kening, tiba-tiba sambil tertawa tergelak katanya.
"Ternyata Bong tayhiap suami istri sangat memperhatikan murid sinkun perkumpulan kami, peristiwa ini betul-betul merupakan ke jadian yang baik, lohu merasa amat gembira"
Pek Soh-gi tersenyum ia bertanya lagi.
"Bagaimana pendapat nona?"
Pek Soh ikut tertawa.
"Cianpwe suami istri adalah jago-jago kenamaan dalam dunia persilatan, bila ada waktu, dengan senang hati orang tua kami pasti bersedia untuk bertemu dengan kalian"
Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan.
"Aku mengikuti nama marga dari guruku, ini dikarenakan guruku telah mendapat persetujuan dari ayahku, semenjak kecil sudah demikian"
Dengan kecewa Pek Soh-gi menghela napas panjang, setelah fakta berbicara demikian terpaksa ia harus urungkan niatnya sampai disitu.
Dengan penuh kasih sayang Bong Pay membelai bahu istrinya dan menghibur dengan kata-kata yang manis.
Tapi Pek Soh-gi gelengkan kepalanya berulang kali, dengan mata berkaca-kaca, tiba-tiba ia berseru.
"Ooh toako jika dia adalah putri kami, betapa senangnya aku!"
Kok Gi-pek merasakan hatinya bergetar keras, kalau bisa dia ingin menubruk ke dalam pangkuan Pek Soh-gi dan menghibur hatinya, Perasaan semacam itu memang aneh sekali, bahkan ia sendiripun agak tercengang oleh perasaan demikian, sambil mengendalikan diri iapun berpiir.
"Kalau diingat kembali, sebetulnya mereka dengan aku masih terhitung musuh besar tapi heran, kenapa kau bisa mempunyai perasaan semacam itu. Berpikir sampai disitu, ia lantas bungkukkan badan memberi hormat seraya ujarnya.
"Boanpwe ingin mohon diri lebih dulu, semoga saja dikemudian hari bisa banyak peroleh petunjuk dari cianpwe berdua"
Diam-diam Toan bok See liang menghembuskan napas panjang, cepat ia berkata pula sambil tertawa.
"Saat upacara peresmian sudah makin dekat, tamu yang datang makin banyak, maaf jika lohu muski mohon diri lebih dulu karena masih banyak tugas yang harus ku selesaikan"
Setelah memberi hormat kepada Bong Pay suami istri, menyusul dibelakang Kok Gi-pek diapun berlalu dari situ. Bong Pay segera menjura, Pek Soh-gi membalas hormat pula dengan memaksakan diri katanya.
"Nona Kok, semoga saja dalam waktu singkat kita bisa berjumpa kembali......"
"Semoga saja demikian, Boanpwe pun berharap bisa bertemu lagi"
Ketika sampai diujung jalan saja, gadis itu tak tahan telah berpaling kembali ketika dilihatnya Bong Pay suami istri menghantar kepergiannya, tiba-tiba iapun merasa agak berat hati untuk berpisah dengan mereka, setelah tertegun sejenak akhirnya ia baru beranjak dan pergi dari situ.
Menanti bayangan tubuh gadis itu sudah lenyap tak berbekas, Pek Sob gi baru berkata dengan sedih.
"Toako, bila Siau yu masih hidup, saat ini dia pun sudah dewasa seperti dia!"
Bong Pay menghela napas panjang.
"Aaai.....tapi ia punya orang tua, sedang jenasah Siau yu pun hingga kini telah...."
Tapi melihat kesedian yang melimuti wajab istrinya, tibatiba ia berganti pembicaraan, katanya dengan lembut.
"Dalam dunia yang begini lebar, segala kemukjijatan bisa terjadi dimana-mana, wajah yang mirip bukannya suatu hal yang tak mungkin terjadi tapi bila Kok See-piau sengaja mencarinya, diapun belum tentu bisa menemukan"
Kiranya sejak kawin dengan Bang pay, Pek Soh-gi telah melahirkan dua orang putra dan seorang putri.
Putra sulungnya Cong beng tahun ini telah berusia dua puluh tahun, ia merupakan anak yang dipersiapkan untuk meneruskan generasi keluarga pek.
Putra bungsunya Giok heng, tahun ini berusia lima belas tahun, ia adalah anak yang dipersiapkan untuk meneruskan generasi keluarga Bong.
Hanya seorang anak perempuannya yang paling dimanja dengan nama kecil Siau yu, ketika belum genap berusia setahun, ketika dibopong pelayan bermain-main di bukit Tay pa san, kedua-duanya ternyata terjerumus ke dalam jurang dan mati.
Keesokan harinya Bong Pay suami istri telah melakukan pencarian diseluruh lembah, akhirnya tidak berhasil menemukan jenasah pelayan dan putrinya, hal mana tentu saja amat menyedihkan hati Pek Soh-gi, hampir setengah tahun lamanya ia bermuram durja dan murung sepanjang hari.
Kemudian lambat laun pun pikirannya terbuka kembali, ia merasa ayahnya memang banyak melakukan kejahatan dimasa lalu sehingga karmanya sekarang terkena pada cucu perempuannya.
Untuk mengatasi kesedihan tersebut, sepa sang suami istri ini pun mempergiat usaha sosialnya menolong orang orang lain.
Untuk menghilangkan kenangan tersebut peristiwa ini sama sekali tidak mereka wartakan kepada Hoa Thian-hong suami istri, sebab itu Hoa In-liong pun tak tahu kalau ia sebenarnya mempunyai seorang adik misan yang telah mati sebelum genap berusia satu tahun.
Demikianlah, setelah peristiwanya berlangsung demikian, tak tahan lagi Tam Si-bin dan Yau Tiong-in maju ke depan menghampiri suami istri berdua.
"Bong tayhiap, masih ingatkah kau dengan si tua bangka dari bukit Thian tay?"
Bong Pay memutar badannya dan berpikir sebentar, kemudian sambil menjura ia berkata.
"Oh, kiranya adalah Tam cianpwe, dalam pertemuan Pak beng hwee...."
"Dalam pertemuan Pak beng hwee, beruntung sekali lohu berhasil menyelamatkan diri, sejak itu aku mengasingkan diri dari keramaian dunia untuk mendalami ilmu kui goan sinkang dari partai kami, siapa tahu begitu berlatih puluhan tahun telah lewat, coba kalau suteku tidak minta kembali kitab pelajaran itu, entah sampai kapan aku baru munculkan diri, yaa.....sampai-sampai dalam pertemuan Kian Ciau tay-hwee pun aku tak sempat menyumbangkan tenaga, tindakan ini pasti telah mengecewakan banyak sobat lama. Bong Pay tersenyum, kemudian berpaling ke arah Yau Tiong-in. Buru-buru Yau Tiong-in menjura sambil berkata.
"Yau Tiong-in dari partai Thiam cong merasa beruntung sekali bisa berjumpa dengan Bong tayhiap suami istri"
Bong Pay merangkap tangannya membalas hormat, Pek Soh-gi sendiri meski hatinya agak tergetar, toh ia membalas hormat juga dengan sopan.
"Bong hujin!"
Tam Si-bin berkata lagi sambil tertawa.
"jika Kok Gi-pek berdiri bersanding denganmu, maka siapa pun akan menduga kalian berdua sebagai ibu dan anak"
Pek Soh-gi gelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya.
"Tam cianpwe, bagaimana tanggapanmu mengenai watak nona Kok tersebut?"
Diam-diam Tam Si-bin berpikir dalam hati.
"Kalau dilihat dari sikapnya yang begitu memperhatikan Kok Gi-pek, memang mirip sekali hubungan mereka seperti hubungan antara ibu dengan anaknya"
Dalam hati berbicara demikian, diluar ujarnya, Menurut pendapat lohu, meskipun nona itu tumbuh jadi dewasa dalam kalangan sesat tapi watak nya termasuk baik, cuma sayang rada angkuh dan mulutnya terlalu tajam"
"Aku lihat ia begitu lembut, halus dan menawan hati"
Ujar Pek Soh-gi cepat dangan kening berkerut. Itu kan terhadap hujin"
Sela Yau Tiong-in.
"sikapnya kepada orang lain justru tidak demikian, terus terang ku beritahu kepada Bong hujin, sewaktu datang tadi aku orang she You telah merasakan sindirannya yang panas itu"
Ketika berbicara sampai disini, keempat orang itu segera merasakan hatinya agak bergerak, semua orang teringat dengan ucapan yang berbunyi, antara ibu dan anak mempunyai ikatan batin yang mendalam, hanya saja hal itu tak sampai diutarakan keluar.
Tiba-tiba Kim Kui, Cui Huan dan dua orang pelayan lainnya berjalan mendekat, lalu dipimpin oleh Kim Kui, kata mereka.
"Waktu magrib telah menjelang tiba, santapan malam tayhiap sekalian telah disiapkan dalam pagoda air, apakah sekarang juga akan bersantap?"
Keempat orang itu saling berpandangan sekejap lalu tanpa banyak berbicara lagi mereka berjalan menuju ke pagoda air dengan mengikuti dibelakan pelayan-pelayan tersebut.
Jika Tam Si-bin dan Yau Tiong-in, yang satu adalah jago silat yang sudah lama mengasingkan diri, yang lain jarang bergaul dengan masyarakat, tidak banyak kenalan yang mereka punyai.
Berbeda dengan Bong Pay suami istri yang hampir mendekati dua puluh tahun lamanya dikenal orang sebagai jago silat yang termashur, sekalipun banyak yang tidak mereka kenal, tapi tak sedikit yang menyapa dan memberi salam kepada mereka.
Sebab itulah meski jaraknya dekat, perjalanan ini memakan waktu yang cukup lama.
Selang beberapa saat kemudian, tibalah mereka disebuah pagoda air yang empat penjuru berjendela lebar, angin malam berhembus lewat membawa kesejukan, membuat ruangan yang terang benderang oleh sinar lampu itu terasa bertambah segar.
Dalam pagoda tiada orang lain, agaknya khusus disiapkan untuk mereka berempat, begitu keempat orang tersebut duduk, pelayan pun datang menghidangkan arak.
"Lebih baik kalian mengundurkan diri saja dari sini"
Tibatiba Bong Pay berkata. Sementara para pelayan itu masih tertegun, sambil tersenyum Pek Soh-gi telah berkata.
"Kami lebih suka makan minum sendiri secara bebas, nona sekalian boleh pergi beristirahat"
Cui Huan menjadi sangsi, bisiknya agak gelagapan.
"Terima perintah, cuma........"
"Bukankah nona sekalian ditugaskan kembali untuk melaksanakan perintah kami?"
Tukas Pek Soh-gi cepat.
"inilah perintah kami!"
Pelayan-pelayan itu masih kelihatan agak sangsi tapi akhirnya mereka letakkan poci arak ke meja dan mengundurkan diri dari pagoda tersebut, sebelum keluar mereka sempat merapatkan pula pintu pagoda itu.........."
Pek Soh-gi melirik sekejap kearah suami nya, Bong Pay segera mengangguk, maka diapun bangkit dan berjalan ketepi jendela lalu balik kembali kemeja sekalian memadamkan api lentera.
Dengan padamnya lampu maka suasana dalam pagoda itu hanya diterangi sinar rembulan yang memancar masuk lewat jendela pagoda, sekalipun agak lamat-lamat namun bukan halangan bagi beberapa orang jago tangguh tersebut.
Sambil mengangkat poci arak, Pek Soh-gi berkata sambil tertawa.
"Malam ini bulan bersinar purnama, minum arak dalam pagoda air dalam suasana begini memang cukup romantis, marilah ku penuhi cawan arak kalian berdua sebagai tanda mohon maaf"
Sekalipun Tam Si-bin dan Yau Tiong-in merasa agak kesal, namun mereka pun tahu bahwa perbuatan mereka pasti mengandung maksud tertentu, oleh karena orang tidak berkata, tentu saja merekapun enggan bertanya.
Sambil bangkit berdiri, buru-buru serunya.
"Aaah, mana berani menurunkan derajat hujin!"
Sambil tersenyum Pek Soh-gi memenuhi cawan arak, ternyata ada lima cawan yang dipenuhi olehnya, hal mana dengan cepat menyadarkan Tam Si-bin berdua bahwa mereka sedang menunggu kehadiran orang dan tanda rahasia baru saja dilepaskan.
Tiba-tiba Bong Pay berseru sambil tertawa.
"Paman Ho, bahkan cawan arak bagimu pun sudah dipenuhi oleh Toa moay cu, hayo masuklah!"
Desingan angin berhembus lewat, dan tahu-tahu dalam pagoda telah bertambah besar, orang itu bukan lain adalah Boan thian jiu (si tangan sakti pembalik langit) Ho Kee-sian adanya.
Sambil tertawa terbahak bahak ia berkata.
"Koh-ya, tenaga dalammu makin lama makin mengejutkan, lohu masih berada pada jarak lima kaki, jejakku sudah kau ketahui! Dengan langkah lebar ia menghampiri meja perjamuan dan duduk.
"Paman Ho, jangan buru-buru minum arak dulu, masih ada dua orang lain yang belum kau jumpai"
Kata Pek Soh-gi.
"Tidak usah!"
Sahut Ho Kee-sian sambil tertawa.
"dua orang ini, yang satu pernah beradu pukulan denganku sewaktu ada dalam pertemuan Pak beng hwee tempo hari, sedang yang lain datang bersama seluruh anggota partainya, tapi kurang rapat dalam merahasiakan jejaknya, Hian-bengkau saja sudah tahu, tentu saja akupun tahu"
Merah padam selembar wajah Yau Tiong-in karena jengah. Sedangkan Tam Si-bin sambil tertawa terbahak-bahak segera berseru.
"Saudara Ho, kapan aku baru ada kesempatan untuk mencoba pukulan sakti pembalik langitmu?"
"Aah, apa susahnya, aku si Ho tua........ Tapi sebelum ucapan tersebut selesai diucapkan, Pek Sohgi telah menyela lebih dulu.
"Paman Ho, bagaimana dengan persiapan kita? Apakah diketahui pihak Hian-beng-kau?"
"Masa masih ada persoalan?"
Jawab Ho Kee-sian sambil tertawa angkuh.
"dari rekan-rekan lama siapakah yang tidak memiliki ilmu yang tinggi dan pengalaman yang luas? Sampai waktunya, mungkin Kok See-piau si anjing keparat itu masih ada dalam impian" 00000O0000 Diam-diam Tam Si-bin dan Yau Tiong-in merasa malu dengan sendirinya setelah mendengar perkataan itu. Mereka tak menyangka kalau kedatangan Bong Pay suami istri kesitu telah disertai dengan suatu rencana yang matang, tidak seperti mereka berdua baru saja masuk kedalam lembah, rahasianya su dah diketahui oleh orang lain, Bong Pay rupanya tidak setuju dengan kata-kata Ho Kee-sian, segera ujarnya.
"Paman Ho, kau tak boleh terlalu gegabah, Kok Seepiau yang sekarang bukan Kok See-piau yang dulu lagi, kelicikkan dan kehebatannya tak bisa disamakan dengan pretasinya dimasa lalu"
"Sekalipun demikian, toh ia pun tidak punya sesuatu yaag patut dibanggakan"
Bong Pay mengernyitkan sepasang alis matanya yang tebal, kemudian pelan-pelan berkata.
Tidak sedikit jumlah tokoh sakti yang bergabung dengan pihak Hian-beng-kau, yang telah menampakkan diri sampai sekarangpun rata-rata berilmu tinggi, apa lagi yang masih belum muncul hingga seka-rang, entah sampai dimana taraf kepandaian yang dimilikinya....."
Tiba-tiba Yau Tiong-in menimbrung.
Bong tayhiap, taukah kau kalau Jin Hian serta Tiangsun Poh yang merencanakan penggalian atas harta pusaka dalam istana Kiu ci kiong telah menggabungkan diri dengan pihak Hian-beng-kau?"
Paras muka Bong Pay agak berubah, serunya dengan cepat.
"Haah masa terjadi peristiwa semacam ini? Dari mana saudara Yau mendapat tahu?"
"Nona yang bernama Kok Gi-pek itulah yang memberitahukan hal ini kepada kami, sahut Tam Si-bin. Aaaah, tidak mungkin!"
Kata Pek Soh-gi dengan kening berkerut, walaupun ada lima enam tahun paman Tiang-sun tak pernah berkunjung kebukit Tay pa-san, tapi dia adalah seorang laki-laki yang berjiwa lurus dan ksatria, mana ia sudi bertekuk lutut oleh ancaman?"
"Jin Hian adalah pentolannya Hong-im hwee dimasa lalu"
Kata Ho Kee-sian pula.
"meski perkumpulan Hong im hwee nya sekarang sudah bubar, dan ia dipaksa untuk mengasingkan diri hingga mati hidupnya tak ketahuan, tapi dengan kedudukannya sebagal seorang jago kawakan dari dunia persilatan yang pernah menguasahi sepertiga dari dunia persilatan, aku rasa tak mungkin ia rela diperintah oleh seorang angkatan muda macam Kok See-piau"
Untuk sesaat suasana menjadi hening, mereka sama-sama merenungkan kembali ada berapa bagian kemungkinan yang memungkinkan Ji Hian dan Tiangsun poh diserap pihak Hianbeng-kau.
Dalam keheningan tersebut, tiba-tiba Ho Kee-sian berkata, Menurut dugaanku, ada delapan bagian Kok See-piau merasakan lemahnya kekuatan sendiri, maka sengaja ia tiupkan berita sensasi agar mengacaukan pikiran para jago, bahkan Jin Huan sendiri siapa tahu kalau justru berada pada posisi bermusuhan dengan mereka?"
"Perkataan dari saudara Ho ini memang ada betulnya juga maka lebih baik jika kita selalu waspada sehingga tak sampai termakan oleh siasat busuk dari Kok See-piau"
"Tapi aku tidak percaya kalau paman Tiangsun bersedia membantu kaum durjana melakukan kejahatan"
Kata Pek Sohgi.
"Tiangsun cianpwe pribadi mungkin saja ksatria dan seorang laki laki sejati"
Ucap Yau Tiong-in "tapi seandainya Kok See-piau menyandera istrinya atau anaknya, bukankah mau tak mau ia musti tunduk juga dibawah ancamannya?"
Ketika Pek Soh-gi merasa hal ini ada kemungkinannya juga, ia menghela nafas panjang.
"Sayang dalam perjalanan menuju kemari aku tidak mampir dulu kebukit Bu-gi, untuk menengok keadaan paman Tiangsun, kalau tidak niscaya kecurigaan dan keraguan ini dapat teratasi"
Tiba-tiba Bong Pay tertawa, ujarnya.
"Besok adalah saat dilangsungkannya upacara peresmian, sampai dimana kekuatan sesungguhnya dari Hian-beng-kau, dengan sendirinya akan kita ketahui juga pada waktunya, buat apa kita musti main tebak secara ngawur dan membuang tenaga dengan percuma?"
Yau Tiong-in manggut-manggut.
Perkataan saudara Bong memang betul, lebih baik kita jangan gubris lagi persoalan itu.
Sampai disini, Bong Pay pun tersenyum, lalu sambil mengalihkan pokok pembicaraan, serunya kepada Ho Keesian, Sekarang Liong-ji berada dimana?
Ho Kee-sian tertegun, lalu pikirnya.
"Kalau aku bicara terus terang dengan mengatakan kalau dia dan Thian Ik-cu setelah kebukit Ho san tiada kabar beritanya, mereka pasti akan amat gelisah, lebih baik jangan kusinggung dulu untuk sementara waktu."
Sementara ia masih termenung, Pek Soh-gi telah bertanya lagi dengan gelisah.
"paman Ho, apakah keselamatan Liong ji terancam?"
Buru-buru Ho Kee-sian tertawa.
"Memangnya nona tidak kenal dengan tabiat Liong sauya?"
Ucapnya.
"kepergiannya begitu tiba-tiba, sampai lohu sendiripun tidak begitu jelas kemana ia telah pergi"
Hmm, bocah ini memang terlalu binal, masa menghadapi masalah besarpun sikapnya masih acuh tak acuh.....
"Sifat binalnya memang belum hilang, tapi mungkin juga ada sedikit persoalan yang hendak diselesaikannyaa sendiri, siapa tahu kalau ia menang bermaksud membuat surprise?"
Kata Pek Soh-gi lagi sambil tersenyum.
Tam Si-bin cepat menyambung pula sambil tertawa.
Hoa jin kongcu terkenal karena kecerdikan serta keberaniannya, tindakan yang ia lakukan pasti mengandung maksud tertentu, cuma ia memang gemar tertawa haha hihi dalam mengerjakan tiap persoalan, sikapnya yang santai tersebut memang cukup dikenal oleh setiap orang"
Bong Pay tersenyum. Tam locianpwe terlalu menyanjung keponakanku itu, ia masih muda, pengalamannya masih cetek, mana sanggup menanggung tanggung jawab sebesar ini?"
"Lohu bukannya memuji dan menyanjung dia lantaran dia adalah putra Thian cu kiam, tidak! Aku berbicara demikian karena setiap umat persilatan merasa berpendapat demikian"
Kata Tam Si-bin dengan wajah bersungguh-sungguh.
Hubungan Bong Pay dengan Hoa Thian-hong boleh dibilang melebihi saudara sendiri, Pek Soh-gi pun kakak dari Pek Kun gi, ibu Hoa In-liong, jadi hubungannya dengan keluarga Hoa boleh dibilang erat sekali.
Dengan eratnya hubungan ini, maka boleh dibilang mereka seringkali berkunjung ke perkampungan Liok soat san cong, sementara angkatan muda dari keluarga Hoa pun setiap waktu berkunjung ke tempat mereka, sebab itu pula dalam soal hubungan keluarga maupun dalam hal pelajaran silat, kedua keluarga ini berkaitan satu sama lain dengan eratnya, itulah sebabnya empat jurus terakhir dari ilmu Ci yu jit Ciat dapat berpindah pula ke dalam keluarga Hoa.
Jadi dalam anggapan Bong Pay suami istri, Hoa In-liong sama pula dengan anak kandung mereka sendiri.
Justru lantaran itu Bong Pay suami istri berdua amat risau menyaksikan watak Hoa In Hong yang suka bermain perempuan disana sini dengan tabiatnya yang binal sukar diurus, tapi ketika mengeta hui kalau diapun dipuji serta dikagumi umat persilatan, hatinya kembali terasa lega dan nyaman.
"Orang yang terlalu pintar dan suka bersikap acuh biasanya kurang baik dalam melakukan pekerjaan!"
Kata Pek Soh-gi tertawa. Tiba-tiba dari kejauhan sana lamat-lamat kedengaran suara pertarungan yang tampaknya sedang berlangsung amat seru. Dengan wajah tercengang Yau Tiong-in lantas berseru.
"Heran, siapa yang telah membuatr keonaran di dalam markas besar Hian-beng-kau?"
Ia bangkit berdiri dan berjalan menuju ke tepi jendela, beberapa orang lain pun ikut pula berpaling.
Sekeliling pagoda air itu merupakan jendela besar, jadi tanpa meninggalkan tempat duduk pun bisa melihat ke tempat kejauhan."
Terlihatlah pada sudut barat daya dari lembah itu berkobar cahaya merah yang membumbung tinggi keangkasa, suara pertarungan tersebut berlangsung dari tempat itu.
Dari balik bangunan bangunan lainpun segera bermunculan bayangan manusia yang pada menengok keluar jendela, tapi mereka hanya terbatas menengok belaka tanpa mendatangi tempat kejadian tersebut, hal ini pertama untuk menghindari kecurigaan orang, kedua suasana disekitar tempat kebakaran itu pasti kalut, salah-salah mereka bisa menerima serangan lawan malah..........
Pek Soh-gi segera berpaling kearah Ho Kee-sian, kemudian tanyanya, Paman Ho, mungkinkah ulah dari rekan-rekan bekas seperkumpulanmu?
Pasti bukan rekan-rekan kami, sudah lohu pesankan kepada mereka agar menyembunyikan diri diempat penjuru, sebelum melihat tanda rahasia, mereka tak akan bertindak sewenang-wenang.
Pek Soh-gi termenung sejenak, lalu katanya.
"Walaupun tiga perkumpulan besar telah berserikat, namun sesungguhnya mereka tidak akur satu sama lainnya walaupun begitu aku pikir kedua belah pihak lainnya tak mungkin akan menimbulkan kesulitan bagi Hian-beng-kau sebelum berlangsungnya upacara peresmian esok pagi"
Itu berarti dari pihak kaum luruslah yang bermaksud hendak melenyapkan kaum besar dari muka bumi"
Sambung Bong Pay, kita sebagai seorang manusia yang hidup didunia ini hanya akan bertindak secara terus terang dan terbuka, tak mungkin kaum hiap khek bersedia membakar rumah atau menimbulkan kekalutan dengan cara demikian.
Pek Soh-gi berpikir sebentar, lalu ujarnya lagi.
"Janganjangan perbuatan dari Ngote atau anak Liong?"
Bong Pay kembali berpikir.
"Yaa, Hoa Ngo dan Liong ji memang memiliki sifat suka mengaco orang, lagipula wataknya memang binal, kemungkinan sekali mereka memang ada niat untuk membuat malu Hian-beng-kau dihadapan para jago dari seluruh kolong langit. Ketika makin dipikir ia merasa makin benar, sambil melompat bangun segera serunya.
"Biar kutengok sebentar keadaan disana!"
Bagaikan seekor burung rajawali, secepat anak panah yang terlepas dari busurnya ia meluncur ke luar jendela, kemudian dengan meminjam daun teratai sebagai tempat berpijak, dalam dua tiga lompatan saja tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.
Pek Soh-gi mau menghalangi kepergian suaminya, tapi tak sempat, maka iapun cuma berdiam diri saja.
Menyusul kepergian Bong Pay, dari balik pagoda-pagoda air lainnya segera bermunculan pula bayangan-bayangan hitam lainnya, dalam waktu singkat ada dua tiga puluh orang yang telah pergi.
Tiba-tiba terdengar Yau Tiong-in bergumam.
"Aaah, bukankah itu adalah Suto susiok serta Ong dan Ko sute berdua........"
Buru-buru ia terpaling sambil berseru.
"Akupun akan ikut kesitu!"
Sekali berkelebat ia telah menyusul kawanan jago lainnya yang sedang memburu tempat kejadian itu. Menyaksikan kesemuanya itu. Tam Si-bin tertawa terbahakbahak.
"Haaahh..... haaahh.......... haahh.........betul betul sangat ramai, begini banyak orang telah menyusul kesana, suasana pasti bertambah kalut, tak bisa disangkal lagi kepergian mereka tentu akan membantu si pelepas api tersebut"
"Apakah locianpwe juga ingin menonton keramaian?"
Tanya Pek Soh-gi sambil tersenyum.
Tam Si-bin segera tertawa terbahak-bahak.
Haaahh.........Haahh......haaahh......kenapa musti kesana untuk menonton keramaian?
Menyaksikan dari tempat inipun tak mengurangi kegembiraan hatiku"
Pek Soh-gi tersenyum ia lantas berkata ke pada Ho Keesian.
"Setelah terjadinya peristiwa ini, pihak Hian-beng-kau pasti akan memperketat penjagaannya, orang-orang yang kita atur dalam lembah tampaknya sukar dipertahankan lebih jauh"
Ho Kee-sian berpikir sebentar, lalu kata nya.
"Persoalan ini memang cakup merisaukan cuma mereka semua rata-rata adalah jago kawakan yang sudah berpengalaman selama puluhan tahun semestinya merekapun tahu gelagat, siapa tahu kalau telah mengundurkan diri keluar lembah..... Sementara itu, kobaran api yang membumbung ke udara tadi sudah padam dengan cepat, suara pertarungan yang sedang berlangsungpun kini sudah tak kedengaran lagi. Melihat itu, sambil tertawa Tam Si-bin berkata.
"Kepandaian si orang yang melepaskan api memang luar biasa sekali, dalam waktu singkat ia dapat menimbulkan kebakaran sebesar ini, mungkin yang digunakan adalah apotas dan belerang sehingga begitu kena api lantas meledak. Cara Hianbeng-kau memadamkan api pun tak kalah cepatnya, entah si pelepas api itu berhasil ditangkap atau berhasil meloloskan diri?"
"Diatas bukit disebelah kiri lembah ini terdapat sebuah telaga besar kata Ho Kee-sian.
"asal air itu dialirkan ke bawah maka tidak sulit untuk memadamkan api yang berkobar, anggap saja nasib mereka masih mujur......."
Mendadak tampak sesosok bayangan manusia secepat kilat bergerak menuju ke gedung penerima tamu, Pek Soh-gi yang bermata tajam segera mengenali siapa gerangan orang itu, serunya tiba-tiba.
"Ngo te!"
Sebenarnya bayangan manusia itu hendak bergerak menuju kesamping pagoda, tapi setelah mendengar panggilan itu, tanpa ragu-ragu lagi ia berubah arah dan menyusup masuk kedalam.
Tampaklah orang itu berkulit hitam pekat dengan rambut yang kusut dan pakaian yang tak rapi, sepintas lalu usianya tampak baru tiga puluh tahunan, ia menggendong seorang pemuda berpakaian ringkas yang berwajah pucat dan memejamkan matanya rapat-rapat, noda darah mengotori ujung bibirnya, bila dilihat dari keadaannya jelas isi perutnya telah menderita luka yang cukup parah.
Napasnya tersongkal-songkal jelas suatu pertempuran sengit baru saja berlangsung, begitu masuk kedalam pagoda meskipun melihat ada Ho Kee-sian dan Tam Si-bin berada disitu, diapun tidak menyapa.
Dengan langkah tergesa-gesa ia baringkan pemuda itu disebuah pembaringan bambu didekat jendela sana, lalu serunya.
"Enso, cepat kau periksa keadaan, apakah luka yang diderita pemuda ini masih bisa ditolong?"
Pek Soh-gi sangat tenang, pelan-pelan ia berjalan mendekati pembaringan dan memeriksa denyutan nadinya, lalu kepada laki-laki itu katanya.
"Kau masih saja bertingkah seperti dulu saja, hayo cepat beristirahat dulu, minumlah secawam dua cawan arak untuk menghilangkano rasa kaget, serahkan pemuda ini kepadaku!"
Tiba-tiba Tam Si-bin berjalan mendekat seraya berkata.
"Pemuda ini bernama Yu Siau lam, dia adalah keponakan muridku, entah kenapa bisa menderita luka disini, mari biar lohu saja yang memeriksa keadaan lukanya?"
Dengan mata mendelik laki-laki setengah umur itu segera berseru.
"Sekalipun kau adalah supeknya, aku Hoa Ngo tidak percaya kalau ilmu pertabibanmu jauh lebih hebat dari kepandaian ensoku, sudahlah tak usah banyak urusan! Jangan karena sopan santun mengakibatkan nyawa orang melayang!"
Waktu itu Pek Soh-gi sedang memeriksa denyutan nadi pemuda tersebut, ketika mendengar ucapan itu, ia lantas menengadah sambil menegur.
"Ngo te, jangan kurang ajar, dia adalah Tam Si-bin locianpwe dari bukit Thian tay!"
"Kalau memang dari Thian tay lantas kenapa? Aku hanya membicarakan tentang persoalan bukan soal manusianya, aku rasa ia memang sedikit tak tahu keadaan"
Pek Soh-gi tidak menyangka kalau makin bicara ia makin tak karuan, dengan menarik wajahnya, ia berseru.
"Ngo te, kau terlalu kasar, apakah kau memang tidak memandang sebelah matapun kepada enso-mu?"
"Siau te mana berani!"
Jawab Hoa Ngo cepat-cepat dengan wajah agak takut.
"Kalau memang tidak berani, buat apa kau musti berdiri terus disitu...?"
Hoa Ngo ragu-ragu sejenak, akhirnya ia menjura kepada Tam Si-bin, bibirnya bergetar seperti hendak mengucapkan sesuatu, agaknya ia hendak minta maaf tapi tak tahu bagaimana musti berbicara.
Seperti diketahui sebenarnya dia adalah seorang anak yatim piatu yang hidup gelandangan dalam kota Lok-yang, sejak kecil ia sudah hidup sengsara dan sering kali merasa kelaparan dan kedinginan.
Suatu kali ia berjumpa dengan Hoa Thian-hong serta kedua orang hujinnya, karena merasa kasihan maka bocah itupun mereka bawa pulang keperkampungan liok soat san ceng.
Baca Juga: Bangau Sakti 28
Baca Juga: Pengelana Rimba Persilatan 6