Ceritasilat Novel Online

Pendekar Kembar 11

Eps 11 Pendekar Kembar - Gan KL

Baca online Pendekar Kembar - Gan KL

Cersil Pendekar Kembar - Gan KL.

Maklumlah, pulau kecil ini memang betul tandus, gundul, datar, lapang, sepotong batu yang agak besar saja tidak ada, cara bagaimana orang akan dapat berteduh dari panas sinar matahari.

Padalal saat ini tepat lohor, sang surya berada di tengah cakrawala, Yu Wi merasakan hawa sangat panas, rasanya seperti dipanggang, lebih-lebih batu karang yang didudukinya, rasanya pantat bisa hangus terbakar.

Anehnya, dilihatnya Yap Jing bertiga yang berbaring di tanah berpasir itu iusteru dapat tidur dengan sangat nyenyak, diam-diam Yu Wi merasa kasihan Kepada ketiga nona itu, selama sebulan ini mereka benar-benar kelelahan dan tidak pernah tidur nyenyak seperti sekarang ini.

Ia berbangkit dan menuju ke perahu, mengambil satu ember air tawar.

Mungkin sudah haus karena sibuk bercerita tadi, Giok-bin-sin-po lantas menceduk satu gayung air dan diminum hingga habis.

setelah membasahi kerongkongan, lalu nenek itu bertutur lebih lanjut.

"Waktu oh It-to menyebut nama Ho-lo-to, diam-diam kami heran HHo-lo-to macam apakah, mengapa tidak pernah kami dengar nama pulau demikian?

serentak pandangan kami lantas terpusat kearah Auyang Liong-lian.

Maklumlah, Auyang Liong-lian adalah raja laut (Hay liong-ong) yang terkenal, pengalamannya berlayar sangat luas, boleh dikatakan segenap pelosok samudera raya pernah dijelajahinya, hanya dia saja yang kenal nama pulau aneh ini.

Tapi Auyang Liong-lian kelihatan gugup karena pandangan kami, cepat ia menggoyang tangan dan berkata.

'Jangan kalian tanya padaku, akupun tidak tahu dimana letak Ho-lo-to, setahuku di dunia ini tidak ada pulau bernama demikian.' -Dengan sendirinya kami tidak percaya, tapi kami pun tidak bertanya lagi melainkan cuma tersenyum saja.

Kami pikir tak apalah jika kau tidak mau bicara.

siapa lagi yang tidak tahu Hayliong-ong merajai lautan dan pasti tahu setiap pulau.

hanya saja tidak kau katakan terus terang.

Agaknya Auyang Liong-lian tahu jalan pikiran kami, cepat ia bersumpah, 'Aku benar-benar tidak tahu, jika kutahu dan tidak kukatakan, biarlah aku keparat, anak jadah.' -Wi-san-tayhiap dan Lau Tiocg-cu lantas percaya padanya, tapi aku tetap tidak percaya.

Aku lantas memberi macam-macam sindiran, kutuduh dia ingin mendatangi HHo-lo-to sendiri, maka tidak mau menerangkan di mana letak pulau itu agar kami tidak mencari lagi.

Lantaran urusan ini, dia telah ribut denganku, karena kedua pihak sama ngotot, hampir saja kami berkelahi.

Kalau kupikirkan sekarang, kejadian itu memang bukan salahnya, hanya setan yang tahu di mana letak Ho-lo-to ini.

Rupanya pulau ini meundapatkan nama Ho lo berbubung bentuknya terupa Ho lo.

Apabila tadi kalian tidak bilang pulau ini berbentuk serupa Ho-lo, mungkin tidak kuperhatikan bahwa pulau sekecil ini adalah tempat kediaman guru oh It-to, akan tetapi, ai ...."

Yu Wi tahu apa sebabnya nenek itu menghela napas, meski pulau ini sudah ditemUkan, tapi tidak ada tanda-tanda pulau ini pernah didiami manusia,jadi percuma saja meski sudah ditemukan, kitab pusaka Hian-ku-cip tidak mungkin tersimpan di pulau tandus ini.

Terdengar Giok-bin-sin-po berkata pula.

"Karena dilarang oleh Wi-san-tayhiap.

maka aku dan Auyang Liong-lian tidak jadi berkelahi.

Lalu oh It-to menyambung ceritanya, 'Dari nada ucapan Bubeng lojin itu, kutahu beliau berharap kupergi mencarinya di pulau yang disebutkan itu, maka dengan tertawa kunyatakan kelak pasti akan mencari beliau.

Cuma tujuanku mencarinya bukan untuk belajar kungfu yang tertera dalam kitab pusaka Hian-ku-cip melainkan hanya untuk menjenguknya saja sebab apa pun juga beliau terhitung guruku.

setelah belajar kungfunya.

adalah pantas jika kuakui beliau sebagai guru.' -Tapi Bu-beng-lojin lantas menjengek dan menjawabnya, 'Hm,justeru kalau sudah timbul keinginanmu untuk mencari diriku, kukira tujuanmu bukan untuk menyambangi sang guru, tapi cuma ingin mencari dan belajar kungfu dalam kitab Hian-ku-cip.' -oh It-to hanya tertawa saja atas ejekan kakek tak bernama itu, ia tak membantah atau memberi penjelasan, sebab saat itu sama sekali tak terpikir olehnya betapa memikatnya kungfu ynng tertera dalam Hian-ku-cip itu, sama halnya seperti dia tidak berminat terhadap kedelapan

Jilid ilmu golok pemberian si kakek waktu itu.

Kemudian Bu-beng-lojin berkata pula kepada oh It-to dengan serius, 'Kelak boleh saja kau datang menemui aku, tapi ada satu peraturan, yaitu.

bila kau sudah berusia seratus tahun baru boleh kau datang ke Ho-lo-to, tatkala mana tentu aku sudah lama kumati, jadi bukan maksudku menyuruh kau jenguk diriku kesana.

Akan tetapi kau harus tetap ingat, baru boleh datang ke Ho-lo-to setelah kau genap berumur seabad.' -oh It-to tidak mengerti apa maksud Bu-beng-lojin itu, ia coba tanya alasannya.

setelah mendapat penjelasan barulah diketahui bahwa kungfu dalam Hian-ku-cip itu terlalu lihai, kakek itu kuatir setelah oh It-to menguasai kungfu dalam kitab pusaka itu, lalu digunakannya untuk malang melintang di dunia Kangouw dan disalah gunakan sehingga tidak ada orang lain yang mampu mengatasinya, Tapi kalau dia sudah berumur satu abad.

sudah kakek-kakek.

tentu hasratnya untuk unggul sudah hilang.

lalu mulai belajar kungfu dalam Hian-ku-cip.

hasilnya tentu tidak akan digunakan untuk membikin susah sesamanya.

-Waktu itu Bu-beng-lojin mengharuskan oh It-to bersumpah bahwa dia akan taat kepada pesan kakek itu Menurut pikiran oh It-to, apabila dirinya nanti berumur seratus tahun, berjalan saja sudah susah, mana ada hasrat lagi untuk mencari Ho-lo-to, padahal umpama dia mau mencari pulau itu juga sukar dan bergantung pada nasib atau secara untung-untungan, buktinya seperti Auyang Liong-lian yang sudah berpengalaman di bidang pelayaran saja, sudah hampir 50 tahun dia berusaha mencari dan sampai sekarang belum juga menemukan pulau ini.

Maka oh It-to menutur pula, 'selesai Bu-heng-lojin mendengarkan sumpahku.

tampaknya dia merasa puas, tapi diam-diam aku merasa geli, kupikir usiamu sekarang masih jauh dari seratus tahun dan sudah jatuh sakit begini dan hampir mati, tapi kau suruh aku bersumpah baru boleh mencari dirimu bila sudah berumur seabad.

Andaikan kungfu yang terkumpul di dalam Hian-ku-cip itu benar bisa membuat orang awet muda dan panjang umur.

mengapa kau sendiri tidak berlatih supaya sehat dan kuat?' -Dengan sendirinya rasa sangsinya tidak diucapkan, sebelum berangkat Bu-beng-ojin berkata lagi kepada oh It-to, 'setelah perpisahan ini kutahu hidupku tidak tahan lama lagi, sukar bertemu pula bagi kita, kelak bila kau datang ke Ho-lo-to aku sudah berubah menjadi seonggok tulang belaka, mungkin dalam hatimu kaupikir mengapa aku tidak bisa panjang umur, padahal aku memiliki Hian-ku-cip dengan isinya yang ajaib itu?

setelah menghela napas menyesal kakek itu berkata pula kepada oh It to, supaya kau tidak penasaran, biarlah kujelaskan bahwa persoalan ini memang ada sebabnya, kelak bila kau datang di Ho-lo-to tentu segalanya akan kau ketahui, tatkala mana asalkan kau latih kungfu dalam Hian-ku-cip.

jangankan umurmu sudah seratus tahun, untuk hidup lagi beberapa puluh tahun tentu juga tidak menjadi soal.' -setelah oh It-to mengantar kepergian Bu-beng lojin, pesan orang tua itu tidak diperhatikannya.

Dilihatnya isi kedelapan

Jilid kitab ilmu golok itu memang rada menarik, maka bila ada waktu luang ia lantas melatihnya.

-Menurut cerita oh It-to, begitu ilmu golok itu mulai dikuasainya, tanpa terasa ia jadi tenggelam dalam keasyikan berlatih, selama lima tahun tanpa kenal lelah ia berhasil meyakinkan ilmu golok itu.

setelah itu, segera teringat olehnya akan kungfu yang tertera dalam Hian-ku-cip seperti ceritera si kakek.

la tidak tahu kungfu macam apakah yang dikatakan bisa membikin awet muda dan panjang umur itu?

Masakah bisa lebih lihai daripada ilmu golok?

-sang waktu terus berlalu, hasratnya mengunjungi Ho-lo-to untuk mencari Hian-ku-cip bertambah mendesak, ia bilang, kalau saja dia tidak bersumpah.

tentu dia sudah berangkat mencari pulau itu.

sekarang, hanya dengan beberapa jurus ilmu goloknya itu dapatiah dia mengalahkan empat tokoh besar ilmu silat, maka secara terus terang ia berkata kepada kami bahwa dia benar-benar tergila pada kungfu yang tertera dalam Hian-ku-cip.

kalau bisa ia ingin segera mendatangi Ho-lo-to.

-Maka aku lantas berkata, Jika demikian, 'ayolah kita berangkat sekarang juga untuk mencarinya, harus kita baca kungfu mujizat apa yang tercantum dalam kitab pusaka itu.' -Tapi oh It-to lantas menjengek, 'Biarpun aku keranjingan untuk mendapatkan kitab pusaka itu, tapi aku tidak berani melanggar sumpah, tahun ini umurku baru 55, harus 45 tahun lagi, setelah umurku genap seratus baru dapat kupergi mencari Ho-lo-to.' -Auyang Liong-lian mengejek kebodohan oh It-to itu, 'kalau tunggu sampai berumur seratus, andaikan berhasil menemukan kitab itu lalu apa faedahnya?

sumpah juga harus dibedakan, apakah masuk di akal atau tidak?' -Mendengar olok-olok Auyang Liong-lian itu, air muka oh It-to seketika berubah, serunya, ' orang she oh memang bukan manusia baik-baik, tapi selama hidup tidak pernah mengingkari janji, apa lagi melanggar sumpah.

sekali sudah sumpah, betapapun tidak menyesal.

sebagai seorang maha guru suatu aliran tersendiri, masakah Auyang-heng malah memandang ringan sumpah?' -Ucapan Auyang Liong-lian memang bertujuan memancing oh It-to agar mau berangkat untuk mencari Ho-lo-to, supaya dia melanggar sumpah lebih dulu.

sebab meski kami juga sudah disuruh bersumpah, tapi oh It-to belum lagi mengemukakan syaratnya, tahulah kami maksudnya menyuruh kami bersumpah, dan sekarang kalau dia melanggar sumpah sendiri, dengan sendirinya kami pun tidak perlu mematuhi sumpah dan boleh ikut pergi mencari Ho-lo-to.

-Benar juga, segera oh It-to menyuruh kami mematuhi syaratnya tadi, katanya.

'Mengingat kedudukan kalian yang tinggi dan terhormat, tentunya kalian takkan melanggar sumpah sendiri, kalau tidak.

apa bedanya kalian dengan kaum pengecut yang rendah dan kotor?' -Padahal di antara kami berempat, kecuali keparat Auyang Liong-lian saja yang tidak bisa pegang janji, kami bertiga tidak nanti melanggar sumpah, mestinya dia tidak perlu bicara demikian.

-oh It-to menambahkan pula.

"Tempat kediaman Bu-beng-lojin telah kukatakan kepada kalian, tapi sekarang kuharuskan kalian mematuhi dua syaratku sebagaimana kalian sudah janji tadi. Pertama, urusan ini hanya diketahui kalian berempat saja dan tidak boleh lagi diceritakan kepada orang kelima tentang adanya Ho-lo-to segala. Kedua, siapa pun dilarang pergi mencari Ho-lo-to ... -Mendingan syarat yang pertama, tapi syarat kedua ..."

Tiba-tiba Yu Wi menghela napas dan berkata.

"Padahal syarat pertama saja tidak dipatuhi oleh Cianpwe sendiri"

"Kenapa tidak kupatuhi?"

Tanya Giok-bin-sin-po dengan kurang senang.

"oh It-to minta kalian jangan diceritakan lagi kepada orang kelima tentang Ho-lo-to, maksud oh It-to adalah supaya tempat kediaman gurunya itu tidak lagi diketahui orang lain. Tapi sekarang cianpwe telah bercerita padaku. bukankah ini berarti telah melanggar sumpah?"

"Memang betul, akan tetapi oh It-to telah berdusta pada kami, untuk apa kami harus patuh pada sumpah ingi?"

Teriak Giok-bin-sin-po dengan gusar.

"Cara bagaimana oh-tayhiap dustai kalian?"

Tanya Yu Wi.

"Sudah 45 tahun Auyang Liong-lian berusaha mencari,"

Demikian tutur Giok-bin-sin-po.

"berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya yang luas apabila di dunia ini benar ada suatu pulau semacam Ho-lo-to ini, dia pasti mampu menemukannya. Akan tetapi dia tidak berhasil menemukannya, sebaliknya malah dapat kita temukan secara tidak sengaja. Bilamana keterangan oh It-to itu betul, Ho-lo-to yang dimaksudkannya pastilah pulau tandus ini, sekarang pulau ini jelas tidak ada penduduknya, bukankah oh It-to telah membohongi kami, bisa jadi pulau yang dikatakan Bu-beng-lojin itu bukanlah Ho-lo-to.' "Tapi menurut peikiraanku. oh-tayhiap tidak mungkin berdusta,"

Kata Yu Wi.

"Akupun berpikir demikian,"

Ujar Giok-bin-sin-po dengan gegetun.

"waktu itu oh It-to bicara dengan jujur dan setulas hati, siapa pun tidak menyangka dia akan berdusta. Tapi sekarang fakta terpampang di depan mata, apakah ada yang percaya lagi kepada keterangannya? "

Setelah menggeleng kepala dan menghela napas, lalu nenek itu menyambung lagi.

"setelah dia menerangkan syaratnya yang kedua, kami menjadi sangat kecewa.Jika sumpah tidak boleh dilanggar, maka siapa pun tidak berani lagi berusaha mencari Ho-lo-to. Padahal orang yang belajar silat seperti kita siapa yang tidak keranjingan ingin mendapatkan kungfu ajaib?Jika oh It-to bisa menjadi jago nomor satu didunia hanya dengan kedelapan jurus ilmu goloknya. maka kungfu yang tersimpan dalam Hian-ku-cip sukarlah dibayangkan hebatnya, coba, siapa yang tahan untuk tidak mencarinya? Biarpun WUsan-tayhiap adalah seorang pendekar besar yang paling jujur, tidak urung beliau juga menggeleng dengan menyesal, katanya, 'sayang, sungguh sayang, bila mana Hian-kucip dapat kubaca, biarpun mati juga tidak menyesal.' -Lau Tiong-cu juga berkata,'Tampaknya Hian-ku-cip akan terpendam untuk selamanya di Ho-loto. dan kalau kitab pusaka dengan ilmu maha sakti ini sampai terbuang begitu saja, sungguh hal ini harus disesalkan dan disayangkan. Maka dari itu, kuharap semoga oh-tayhiap dapatlah panjang umur dan hidup sampai seratus tahun. lalu dapat berkunjung ke Ho-lo-to dan menemukan kitab pusaka Hian-ku-cip serta diwariskan kepada angkatan yang akan datang, walaupun juga ada kemungkinan ilmu maha sakti itu akan dipelajari oleh orang jahat sehingga akibatnya bisa membikin susah sesamanya, akan tetapi seperti halnya air yang dapat menenggelamkan kapal, tapi air juga dapat dilayari kapal, jadi bagaimana jadinya nanti, apakah akan mendatangkan bencana atau keberuntungan bagi sesamanya masih belum dapat dipastikan' -Selagi semua orang merasa bimbang. oh It-to berkata pula. 'Aku sendirijuga tidak tahu apakah sanggup hidup sampai berumur seratus, kiasan Lau-tayhiap memang betul, air dapat menenggelamkan kapal juga dapat mengapungkan kapal. Maka kukira syaratku yang kedua perlu diubah sedikit.' -Rupanya hati oh It-to tergerak juga oleh perkataan Lau Tiong-cu tadi dan tidak sampai hati membiarkan Hian-ku-cip terpendam hilang di Ho-lo-to, maka dia bersedia melunakkan syaratnya yang kedua yaitu kami diperbolehkan datang ke Ho-lo-to untuk mencari kitab pusaka tersebut. Akan tetapi larangan itu tetap berlaku untuk sementara, larangan itu baru batal bila dia sudah berumur satu abad. baik dia sudah meningga dunia atau belum pada waktu itu, Dengan perubahan syaratnya yang kedua itu, maka Hian-ku-cip ada harapan akan beredar dijaman baru nanti dan tidak sampai hilang begitu saja, sebab usia Wi-san-tayhiap dan kami rata-rata lebih muda daripada oh It-to, umpama oh It-to tidak dapat hidup sampai berumur seratus tahun, kami juga tidak pasti akan cekak umur dan mati lebih dulu, dengan demikian tentu di antara kami berempat ada yang sempat mencari Hian ku-cip. -Lalu oh It-to berkata pula, Bu-beng-lojin telah memberi batas umur seratus tahun pad aku, pada waktu itulah baru diperbolehkan mencari kitab pusaka itu, tapi orang lain kan di luar pembatasan tersebut, setiap saat kan boleh pergi mencarinya. Maka bila umurku sudah lewat satu abad, silakan kalian berangkat mencarinva, hal mana tidak dapat dianggap melanggar sumpahku lagi.' -Dan begitulah kami telah bersepakat, semuanya menyatakan setuju. Waktu itu umur oh It-to sudah 55 tahun, maka kami berjanji lewat 45 tahun lagi akan bersama-sama pergi mencari Hianku-cip. -secara berkelakar oh It-to berkata pula, 'Mudah-mudahan aku dapat hidup sampai seratus tahun, lalu pergi mencari Hian-ku-cip bersama kalian, berbareng itu akupun berziarah ke makam Bu-beng lojin di Ho-loto.' -Tapi sayang seribu sayang, oh It-to ternyata tidak berumur panjang, hanya lima tahun kemudian setelah pertemuan di Hoa-san itu, kami lantas menerima berita kematiannya. Dengan menyesal Yu Wi manukas.

"Ya, dia mati diracun oleb sumoay Toa supek."

Giok-bin-sin-po merasa heran, tanyanya.

"Dari mana kau tahu Thio Giok-tin yang meracun mati oh It-to?"

"Kudengar dari keturunan lurus oh It-to sendiri, yaitu Pek-po-pocu oh Ih-hoan,"

Tutur Yu Wi. Giok-bin-sin-po manggut-manggut, katanya.

"Pantas kalau begitu. sebab sedikit sekali orang yang mengetahui hal ikhwal kematian oh It-to itu, kecuali kami, memang cuma keturunan keluarga oh sendiri saja yang tahu. Kasihan, sesudah mati, kedelapan

Jilid kitab ilmu golok yang diterima oh It-to dari Bu-beng-lojin itu telah dicuri oleh Thio Giok-tin, sejak itu keluarga oh lantas runtuh dan sukar bangun kembali.

Kejayaan leluhur mereka yang gilang gemilang di dunia Kangouw pada jamannya tidak pernah kembali lagi pada keluarga oh mereka."

"Tapi Thio Giok-tin juga tidak menerima manfaatnya setelah berhasil mencuri kedelapan

Jilid kitab ilmu golok itu,"

Tutur Yu Wi.

"Setelah pertemuan Hoa-san, kemudian aku lantas mengasingkan diri di Thian-san dan jarang berkecimpung pula di dunia Kangouw, kabarnya Thio Giok-tin berhasil mengubah kedelapan jurus ilmu golok itu menjadi ilmu pedang, mengapa kau katakan dia tidak mendapatkan manfaat dari kitab yang dicurinya itu?"

Yu Wi lantas menceritakan seluk beluk setelah Thio Giok-tin berhasil mengubah ilmu golok menjadi ilmu pedang, tapi mengakibatkan diri sendiri mengalami kesukaran, iapun bercerita pengalamannya mendapatkan ajaran keenam jurus Hai-yan-kiam-hoat.

"Sungguh tak tersangka bahwa kaum wanita tidak dapat meyakinkan Hai-yan-to-hoat, jadi yang beruntung ialah dirimu yang secara kebetulan berhasil belajar enam jurus ilmu pedang itu. Coba apabila kedua tanganmu tidak terikat, lalu kau mainkan keenam jurus ilmu pedangmu itu, pasti Auyang Liong-lian akan kau kalah kan"

Tapi Yu Wi lantas menggeleng, katanya.

"Tidak bisa jadi, Auyang-losiansing adalah maha guru suatu aliran tersendiri, biarpun Wanpwe menguasai keenam jurus ilmu pedang sakti itu juga bukan tandingannya."

"Tapi jangan kau lupakan, dahulu Auyang Liong-lian hanya mampu menahan lima jurus serangan oh It-to. meski sudah lewat berpuluh tahun tapi kungfunya juga tidak kelihatan banyak lebih maju, maka kuyakin keenam jurus ilmu pedangmu pasti mampu mengalahkan dia."

"Daya tempur Hai-yan-kiam-hoat yang lihai harus meliputi kedelapan jurus secara lengkap. meski Wanpwe menguasai enam jurus di antaranya, tapi belum dapat memahaminya secara mendalam, tentu sangat jauh bila dibandingkan oh It-to, kukira tidak sanggup kulawan Auyangsiansing,"

Demikian Yu Wi tetap rendah hati.

"Oo, kalau begitu, kedua jurus Hai-yan-kiam-hoat yang lain tidak boleh tidak harus kau pelajari, sesudah berhasil tentu kau akan merupakan jago nomor satu di dunia, tatkala mana akupun tidak dapat menandingi kau."

Yu Wi menanggapi, ia pikir kitab pusaka itu kini berada pada Nikoh bangsat Thio Giok-tin, untuk mempelajarinya jelas tidak mungkin terjadi.

Apa lagi dirinya bertekad akan membunuhnya untuk membalas sakit hati Ang-bau-kong dan Lam-si-khek.

mana mungkin dirinya memohon padanya agar suka memberikan kitab ilmu pedang itu?

sinar matahari semakin panas sehingga membuat orang tidak tahan berduduk lagi di situ.

"Locianpwe, marilah kita berteduh ke atas perahu saja,"

Ajak Yu Wi. Perahu itu beratap dan tidak perlu kuatir akan jemuran sinar matahari. Giok-bin-sin-po menyatakan setuju dan berbangkit. Anehnya dilihatnya Yap Jing bertiga masih tidur dengan nyenyaknya.

"He, kenapa mereka dapat tidur sepulas itu tanpa terganggu oleh terik sinar matahari?"

Ucap nenek itu dengan heran-Yu Wi coba menggoyangi tubuh Yap Jing agar nona itu mendusin, tapi meski sudah didorongdorong belum juga bangun, Begitu juga Kan Hoay soan, didorong-dorong tetap tidak mendusin.

"Kiranya mereka pingsan terjemur sinar matahari,"

Kata Giok-bin-sin-po dengan tertawa.

Segera Yu Wi menutuk Jin-tiong-hiat Yap Jing dan Kan Hoay-soan, yaitu Hiat-to atas bibir dan bawah hidung.

sejenak kemudian barulah kedua nona itu mendusin, begitu bangun mereka lantas berkaok-kaok.

"Wah, alangkah panasnya? sungguh panas sekali"

"Kalau kalian tak dibangunkan, mungkin kalian akan terjemur hangus,"

Ujar Giok bin-sin-po. selagi Yu Wi hendak membangunkn juga Hana dengan cara yang sama, tiba-tiba dilihatnya Hana telah mendusin sendiri, bahkan lantas berseru dengan tertawa.

"Wah, nyenyak benar tidurku. Eh, apakah mau berangkat?"

Yu Wi melengak melihat keadaan Hana yang segar bugar itu Giok-bin-sin-pojuga heran dan bertanya.

"Kau tidak kepanasan?"

"Kukira tidak terlalu panas, kalau tidak terburu-buru mau berangkat, malahan aku ingin tidur lagi,"

Kata Hana dengan tertawa.

Yu Wi merasa bingung, padahal Hana tidak mahir ilmu silat, mengapa nona ini lebih tahan panas daripada dirinya dan Yap Jing serta Kan Hoay-soan?

sungguh janggal, Giok-bin-sin-po tidak tahu Hana tidak mahir ilmu silat, disangkanya nona itu memiliki ilmu gaib, dengan tertawa ia lantas berkata.

"Pulau ini tidak ada makanan dan air minum, tiada gunanya kita tinggal disini, lebih baik cepat pergi saja, mau tidur boleh tidur saja di atas perahu."

"Guncangan perahu terlalu keras, tidak enak untuk tidur,"

Kata Hana.

"Nanti kalau ketemu pulau besar yang banyak pepohonan rindang, boleh kau tidur sepuasnya disana,"

Ujar Yap Jing dengan tertawa.

Di tengah senda gurau mereka lantas ikut Giok-bin-sin-po menuju ke tempat tambatan perahu Sudah sekian jauh mereka berjalan, Yu Wi ternyata tidak ikut berangkat, ia malah mendekati tempat berbaring Hana tadi, ia berjongkok di situ dan meraba tanah berpasir itu, sekali diraba seketika ia berseru keheranan.

"Aneh, sungguh aneh...."

Mendengar suara anak muda itu. Giok-bin--in-po menoleh dan bertanya.

"Aneh apa?"

"Coba Cianpwe kemari dan memeriksanya,"

Seru Yu Wi. Cepat Giok-bin-sin-po putar balik ke tempat semula dan ikut meraba tempat berbaring Hana tadi. Merasa tanah yang dirabanya itu dingin segar, ia berseru heran dan girang.

"Hah, di bawah sini ada aliran air di bawah tanah, inilah mata air."

Cepat ia menggaruk tanah pasir itu dengan tangan, segera Yu Wi bantu mengeduk, hanya sekejap saja sudah segundukan tanah pasir tergali, mendadak terpancurlah air sumber sehingga badan mereka tersemprot basah kuyup, dengan kaget mereka melompat mundur.

Air yang menyembur keluar itu ternyata sangat dingin melebihi es.

Cepat ketiga nona menyusul tiba, melihat pancuran air sumber itu, mereka coba meraupnya dengan tangan, tapi tangan segera ditarik kembali demi terasa air itu sangat dingin, serentak mereka berteriak.

"He, sungguh aneh! Air apakah ini?"

Pantas tidurku sangat nyenyak seperti tidur di atas kasur air, kiranya di bawah situ ada mata air, apabila airnya mendadak menyembur keluar, mungkin aku bisa mati beku,"

Seru Hana dengan tertawa. Giok-bin-sin-po menggunakan ember untuk menadahi air mancur itu. lalu dijemur sebentar, ketika air diceduk dan dicicipi, rasanya ternyata tawar. Segera ia berseru kegirangan.

"Hah, bagus sekali! Sekarang kita mendapatkan air tawar, kita isi seperahu penuh dan cukup bagi kita untuk sebulan lamanya, andaikan sementara sukar menemukan daratan juga tidak menjadi soal lagi."

"Eh, jika betul air tawar, kuyakin Bu-beng-lojin pasti bertempat tinggal di pulau ini,"

Seru Yu Wi tiba tiba. Giok-bin-sin-po pikir ucapan anak muda itu memang betul, katanya.

"Tak tersangka di bawah pulau kecil ini ada sumber air tawar, bahkan sumber air dingin yang sukar dicari. maka soal Bubeng-lojin bertempat tinggal di sini tidak perlu di sangsikan lagi."

"Tapi apakah mungkin, di mana dia akan tinggal di pulau setandus ini?"

Ujar Yap Jing.

"Mungkin kakek itu tinggal di dalam gua yang terahasia,"

Kata Yu Wi.

"Betul,"

Giok-bin-sin-po berkeplok.

"pasti ada gua di pulau ini, bahkan di dalam gua pasti ada sumber air dingin yang besar, Bu-beng-lojin tidak saja menggunakan sumber air dingin ini untuk air minum, juga digunakannya untuk berlatih kungfu. Sungguh tempat ini suatu tempat tinggal yang teramat bagus."

Begitulah kelima orang lantas berpencar untuk mencari dimana beradanya gua karang, tapi sampai magrib tiada seorang pun menemukan sebuah lubang, apalagi gua.

Mereka lantas berkumpul lagi untuk berunding.

tapi tidak dapat menyimpulkan apa pun.

Sementara itu hari sudah gelap.

Yu Wi mengambil rangsum dari perabu, habis makan berkatalah Yap Jing.

"'Pulau ini tandus dan datar, tiada sesuatu yang aneh sehingga tidak mungkin ada gua, kecuali menggali gua di bawah tanah dan tinggal di situ."

"Kan bisa mati sesak napas tinggal di dalam gua bawah tanah?"

Ujar Yu Wi dengan tertawa. Kan Hoay-soan juga tertawa, katanya.

"Gua galian mudah ditemukan, padahal sekeliling pulau ini sudah kita periksa dan tidak ada tanda-tanda gua galian. Umpama habis digali, ditutup kembali tanpa meninggalkan suatu bekas. hal ini sama juga seperti mengubur dirinya sendiri."

"Sekalipun dapat ditutup lagi gua galian itu juga harus dilakukan orang lain, Orang yang sudah berada di dalam mana bisa mengurung dirinya sendiri lagi dari luar?"

"Hanya tukang batu yang mampu berbuat demikian,"

Ujar Hana seperti anak kecil.

"Walaupun betul, masakan setelah Bu-beng-lojin mengurung dirinya sendiri di dalam, lalu tidak keluar lagi?"

Ujar Yu Wi. Karena tidak masuk akal percakapan mereka, Giok bin-sin-po lantas berkata.

"Sudah lelah semua, ayolah tidur, bicara lagi besok!" =o-00O00 -00O00 -o= Besoknya. masih remang-remang Yu Wi sudah bangun, dilihatnya yang lain masih tidur dengan nyenyaknya. Ia berjalan ke ujung pulau sana dan duduk di tanah memandangi lautan luas yang tak berujung itu. Selagi Yu Wi termenung sendiri, tiba-tiba seorang menegurnya dari belakang.

"Mengelamun apa Toako?"

"O, adik Soan, kau sudah bangun?"

Sapa Yu Wi sambil menoleh. Kan Hoay-soan duduk di samping anak muda itu.

"Pulau sekecil ini terletak di tengah samudera raya ini, pulau ini ibaratnya satu butir pasir di tengah gurun,"

Ujar Yu Wi.

"Toako,"

Kata Hoay-soan tiba-tiba.

"kulihat pulau ini tidak mirip Ho-lo."

"Di mana letak bedanya?"

Jawab Yu Wi dengan tertawa.

"Ho-lo kan juga ada mulutnya, tapi pulau ini tidak ada mulut,"

Kata si nona.

"O, aku tidak memperhatikan hal ini,"

Sahut Yu Wi.

"Bentuk pulau ini memang serupa Ho-lo muka dan belakang besar, kecil bagian tengah. Bentuk Ho-lo juga demikian, bagian yang paling luas sana mirip pangkal Ho-lo."

Yu Wi mengiakan saja dengan tak acuh.

"Jadi tempat kita berada sekarang seharusnya letak mulut Ho-lo, tapi coba kau lihat, bagian ini terputus tidak mirip mulut Ho-lo, kalau memanjang sedikit, lalu mencuat ke atas, jadinya akan mirip sebuah Ho-lo."

Yu Wi berduduk di tepi laut, ia pandang ke bawah.

dilihatnya di bawah memang serupa sebuah ujung pulau yang terpotong putus.

Ia pandang kedasar laut.

tiba-tiba teringat ucapan Hoay-soan yang menyatakan "mencuat atas', ia pikir kalau "mencuat kebawah"

Kan juga bisa terjadi?

Kalau sebuah labu yang ujungnya agak serong ditaruh ditempat rata, ujung serong itu akan mencuat ke bawah.

Berpikir demikian, tanpa bicara lagi mendadak ia terjun ke dalam laut.

Keruan Kan Hoay-soan terkejut, ia pikir apakah Toako sudah gila, masakah pagi-pagi buta tanpa lepas baju terjun ke laut, memangnya mau apa?

Ingin berenang kan juga harus membuka baju?

Segera ia berteriak-teriak.

"Toako, Toako! Lekas naik! Air laut terlalu dingin!"

Tapi dilihatnya Yu Wi terus menyelam ke dasar laut.

"He. jangan!"

Teriak Hoay-soan pula dengan kuatir.

"ada ikan hiu. lekas kembali!"

Karena teriak-teriakannya itu, Giok-bin-sin-po, Yap Jing dan Hana jadi terjaga bangun dan beramai-ramai memburu tiba, tanya mereka.

"Ada apa?"

Hoay-soan menunjuk ke dalam laut dan berseru.

"Entah kenapa, mendadak Toako menyelam kelaut."

Dengan sendirinya Yap Jing dan lain-lain juga tidak berdaya, terpaksa mereka hanya menunggu saja.

Tapi sampai sekian lamanya Yu Wi tetap tidak kelihatan naik kembali, ketiga nona menjadi gelisah dan berteriak.

"Toako! Toako! ...."

Akan tetapi tidak ada suara jawaban dan pertanda apa pun, Yu Wi seolah-olah telah ditelan bulat-bulat oleh samudera raya itu.....

TAMAT Bagian Pertama = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = "Pembaca yang mulia, = Tugas Yu Wi belum selesai, dia masih mengemban amanat penderitaan keluarga, sakit hati ayahnya belum terbalas, kewajiban lain juga masih menunggu, misalnya dia masih harus menyelesaikannya urusan pribadinya dengan para nona yang mengelilinginya.

= Yu Wi adalah pemuda yang berdarah panas, Impati dan penuh rasa tanggung jawab, segala persoalan pasti diselesaikannya dengan tuntas, oleh kareua itu kisah lanjutannya akan kita berikan dengan judul.

PENDEKAR SETIA =Penemuan aneh apa dibawah pulau tandus itu dan cara bagaimana Yu Wi akan mengatasi persoalan cinta yang serba kompleks itu, silakan ikuti cerita baru tersebut di atas.

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

Baca Juga: Pedang Kayu Cendana 2

Baca Juga: Pendekar Pemanah Rajawali 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert