Eps 5 Pendekar Kembar - Gan KL
Baca online Pendekar Kembar - Gan KL
Cersil Pendekar Kembar - Gan KL.
Terpaksa Aloyato harus melindungi Asnatuci dan mundur ke dalam istana, ia tidak sempat lagi mengejar Yu Wi.
Dengan sendirinya para prajurit Turki bukan tandingan Yu Wi, sekali ia membentak dan putar pedangnya, kontan mayat terkapar dan darah muncrat.
Belum pernah prajurit Turki melihat orang seperkasa ini, mereka sama menyingkir dengan ketakutan sehingga lupa memanah.
Belasan tokoh persilatan yang berhasil merebut mutiara mestika itu menyadari perbuatan mereka pasti tidak nanti diampuni, untuk tinggal lagi di negeri ini jelas tidak mungkin, Maka beramai-ramai mereka lantas menerjang keluar kepungan dan melarikan diri.
Hanya Asnatuya saja yang tidak tinggi ilmu silatnya, beberapa anak panah hinggap di tubuhnya, ia menggeletak di tanah sambil merintih, sebiji mutiara yang berhasil direbutnya juga telah dirampas oleh salah seorang tokoh persilatan tadi.
Sementara itu Yu Wi telah menerjang ke luar dari kepungan musuh, dengan Ginkangnya yang tinggi ia terus kabur secepatnya.
Ia berlari-lari sekian lamanya, mendadak terdengar seorang penunggang kuda mengejar dari belakang.
Karena menggendong Bok ya, dengan sendirinya kecepatan larinya berkurang terdengar si pengejar makin mendekat.
Yu Wi merasa heran, siapakah orang ini, mengapa cuma sendirian dan mengejar terus menerus.
Meski tenaganya belum pulih seluruhnya akibat terlalu banyak tenaga yang terkuras digunakan membetot pintu terali di penjara gua itu, namun hanya seorang pengejar saja ia pikir tidak perlu ditakuti.
Segera ia membalik tubuh dan menunggu kedatangan orang.
Kira-kira belasan tombak di depannya, pengejar itu lantas berhenti dan melompat turun dari kudanya sambil berseru.
"Yu-heng, aku Li, Tiau!"
"Mau apa kau?"
Tanya Yu Wi kurang senang. Dilihatnya Li Tiau berpakaian ringkas, hanya menyandang sekantung anak panah dan sebuah busur. Dia melangkah maju dan berkata pula.
"Atas perintah Sri Baginda, mohon Ko-siocia ditinggalkan di sini!"
"Jangan kau mendekat kemari, kalau tidak aku tidak sungkan lagi padamu,"
Ancam Yu Wi dengan gusar.
"Aku bersalah padamu, kau memang tidak perlu sungkan padaku,"
Kata Li Tiau.
Habis berkata, ia mencabut sebatang anak-panah terus membidik ke arah Yu Wi, Karena tahu kelihayan ilmu memanah orang, terkesiap juga Yu Wi.
Dengan cermat ia memperhatikan sambaran panah itu, dilihatnya panah itu meluncur dengan sangat perlahan, meski mengincar ke arah dada Yu Wi namun dengan mudah dapat di hindarinya.
"Dia sengaja memanah dengan lambat,"
Jawab Bok-ya dengan tertawa.
"Siapa bilang sengaja?"
Seru Li Tiau."
"Yu Wi, jika Ko-siocia tidak kutinggalkan di sini, panah berikutnya tentu takkan meleset lagi."
"Kau benar-benar menghendaki kutinggalkan Ya-ji?"
Tanya Yu Wi dengan menyesal.
"Betul, mau tak mau Ko-siocia harus kau tinggalkan,"
Jawab Li Tiau tegas. Segera ia melolos sebatang panah dan membidik pula, sambaran panah ini sangat pesat, Cepat Yu Wi menyambutnya dengan pedang, Tapi segera terdengar suara "ser-ser-ser"
Beruntun tiga kali, Tiga anak panah dalam bentuk satu garis menyambar tiba sekaligus, kecepatannya sukar dibandingi senjata rahasia manapun.
Yu Wi merasa tidak mampu menyampuk rontok ketiga panah itu, dengan gusar ia balas membidik Li Tiau dengan anak panah pertama yang ditangkapnya tadi.
Segera pula ia berusaha menyampuk ketiga anak panah itu, tapi hanya dua panah yang rontok, punah ketiga mengenai bahu kiri.
Tentu saja ia kesakitan, tapi waktu menunduk, ternyata bahu kiri yang terkena panah in tidak terluka Tentu saja ia sangat heran.
Dalam pada itu didengarnya Li Tiau lelah menjerit kesakitan panah yang disambitkan Yi Wi itu dengan tepat mengenai dadanya.
Cuma lantaran disambitkan dengan tangan, panah itu tidak dalam menancap di dada Li Tiau, hanya dua senti saja dalamnya dan tidak parah.
Melihat orang sama sekali tidak berusaha menghindar, seakan-akan sengaja menyodorkan dadanya untuk dipanah, Yu Wi menjadi heran, serunya.
"Kenapa kau tidak mengelak?"
Li Tiau tertawa, katanya.
"Dengan demikian barulah aku ada alasan untuk bertanggung-jawab terhadap Sri Baginda."
Tergetar hati Yu Wi, ia coba menjemput anak panah yang disampuknya rontok tadi, dilihatnya ujung panah telah dipatahkan anak panah itu hanya batangnya saja, pantas tidak dapat melukainya.
Maka pahamlah Yu Wi akan duduknya persoalan.
Rupanya panah pertama memang sengaja dibidikkan dengan lambat oleh Li Tiau agar mudah ditangkap olehnya, lalu dirinya dipancing supaya marah dan balas menyerangnya.
Padahal Li Tiau tidak bermaksud melukainya dengan panah, sebaliknya dirinya malah melukainya, hati Yu Wi merasa tidak enak, cepat ia memburu maju dan berkata.
"Li-heng, biar kubantu mencabut panah itu"
Tapi Li Tiau lantas menyurut mundur, katanya sambil menggeleng.
"Jangan, jangan dicabut, sekali dicabut akan hilanglah bukti pertanggungan jawabku terhadap Sri Baginda."
"Li-heng, kau terluka olehku, sungguh hatiku tidak tenteram,"
Ujar Yu Wi dengan menyesal.
"Tidak apa-apa, hanya luka ringan saja,"
Ka ta Li Tiau dengan tertawa.
"Bila panah itu, mengenai tempat yang berbahaya, sungguh aku merasa berdosa besar,"
Kata Yu Wi pula.
"Akulah yang berdosa padamu, tidak ada kesalahanmu kepadaku,"
Kata Li Tiau dengan sungguh-sungguh.
"Yu-heng, lekaslah kalian pergi, selekasnya Aloyato akan menyusul kemari dengan pasukannya!"
"Kau takkan dicurigai setelah pulang ke sana?"
Tanya Yu Wi.
"Aku sudah terluka, mereka pasti takkan curiga,"
Kata Li Tiau dengan tertawa.
"Selama hidup ini takkan kulupakan budi kebaikan Li-heng,"
Kata Yu Wi sambil memberi hormat "Semoga kelak dapat berjumpa pula."
"Kau pandang diriku sebagai sahabat karib, sebaliknya aku sudah menjebak kalian dengan Pek jit-cui, apakah kejadian ini dapat kau maafkan?"
"Sebelum ini sudah kumaafkan kau,"
Jawab Yu Wi dengan tertawa, Habis berkata ia terus berlari pergi secepat terbang. Tertinggal Li Tiau yang diliputi tanda tanya.
"Mengapa sebelum ini dia sudah memaafkan didiku?"
Ia tidak tahu apabila bukan lantaran lukisan pemujaan leluhur di rumahnya itu serta percakapannya terhadap saudaranya malam itu, mungkin jiwanya sudah lama melayang di tangan Yu Wi.
-00X00--00X00 -Kuatir A'oyato akan menyusulnya, Yu Wi menyadari bukan tandingan paderi Thian-tiok itu karena dirinya harus menggendong Ya-ji, jalan yang paling baik sekarang harus mencari suatu tempat sembunyi yang aman bagi Bok-ya.
Karena itulah ia berlari secepat-cepatnya, tanpa terasa yang tertuju adalah lereng gunung Kimsan.
Kim-san atau gunung emas yang dimaksud adalah gunung Altai yang kita kenal sekarang, lereng pegunungan ini terbentang sangat luas, kalau sembunyi di lereng gunung ini tentu tidak mudah diketemukan.
Yu Wi terus berlari ke atas gunung, ia mendapatkan sebuah gua, begitu berada dalam gua, ia terus menurunkan Bok-ya, ia sendiripun lemas dan terengah-engah.
"Kau sangat lelah, Toako?"
Tanya Bok-ya dengan penuh kasih sayang. Yu Wi hanya mengangguk sambil berbaring, tenaga untuk bicara saja rasanya tidak ada lagi. Pelahan Bok-ya membelai dahi anak muda itu dan berkata.
"Kita takkan berpisah lagi untuk selamanya, begitu bukan, Toako?"
Yu Wi tidak menjawabnya.
WaktU Bok-ya menunduk, kiranya dalam waktu sesingkat itu Yu Wi sudah terpulas.
Bok-ya menghela napas pelahan, ia mendekap di atas tubuh Yu Wi, sejenak kemudian iapun tertidur.
Esok paginya, cuaca cerah.
Yu Wi terjaga bangun oleh suara kicauan burung, kelelahan semalam terasa sudah lenyap seluruhnya setelah tidur nyenyak semalam, ia mengulet, lalu bangun berduduk.
Ia pandang sekelilingiiya, Ya-ji tidak kelihaian berada di situ, disangkanya si nona berada di luar gua, ia coba berseru memanggilnya.
"Ya-ji, Ya-ji. Apa yang sedang kau lakukan?"
Sampai sekian lama tidak ada suara jawaban, Keruan Yu Wi terkejut, ia pikir kaki si nona belum dapat bergerak dengan leluasa, untuk berjalan paling-paling hanya beberapa tindak saja dan tidak dapat mencapai jauh, kalau tidak berada di luar gua, lalu ke mana perginya?
Masih disangkanya si nona sengaja menggodanya dan tidak mau menjawab panggilannya, meski kuatir tapi tidak cemas, pelahan ia melangkah keluar gua, tapi di luar benar-benar tidak tertampak bayangan Ya-ji.
Sekali ini dia baru benar-benar kuatir, mukanya menjadi pucat, teriaknya keras-keras.
"Ya-ji... Ya-ji!"
Suaranya bergema di lereng pegunungan itu sampai sekian lamanya, tapi tetap tiada suara jawaban si nona, saking gelisahnya Yu Wi terus berlari kian kemari sambil berteriak-teriak.
"Ya-ji! Ya-ji!... Di mana kau?...."
Sampai sekian lamanya ia berlari tetap tidak menemukan Bok-ya, akhirnya ia berlari kembali ke tempat semula, ia menerjang ke dalam dengan harapan si nona sudah kembali, Akan tetapi di dalam gua tetap kosong melompong tiada terdapat apapun.
Ko Bok-ya menghilang tanpa bekas apapun seperti ditelan hantu malam.
Yu Wi masih ingat benar ketika semalam dirinya tertidur, nona itu masih terus menqerocos dan menyatakan takkan berpisah lagi selamanya, Mengapa sekarang bayangannya saja tidak kelihatan, jelas bukan Bok-ya sengaja meninggalkannya.
Kalau si nona tidak sengaja meninggalkan dia, lalu ke mana perginya?
Jangan-jangan....
Segera Yu Wi ingat akan Aloyato, hanya paderi Thian-tiok itu saja yang mungkin telah menculik Bok-ya, hanya dia pula yang bisa menggondol nona itu dari sampingnya tanpa meninggalkan sesuatu tanda yang mencurigakan.
Setelah mantap berpikir demikian, Yu Wi menengadah dan berseru.
"Wahai Aloyato! aku bersumpah takkan berdamai dengan kau!"
Ia terus berlari turun gunung dan menuju ke arah datangnya semalam, Kini dalam hatinya hanya berpikir pasti Aloyato yang telah menculik Bok-ya, tapi tak terpikir pula bila benar perbuatan Aloyato, mengapa paderi Thiau-tiok itu tidak membekuknya sekalian sewaktu dia tertidur nyenyak?
Sampai di kota kemarin, dilihatnya tidak ada orang berlalu di jalan raya, hanya sedikit prajurit Turki yang meronda kian kemari.
ia coba memasuki beberapa rumah penduduk, semuanya kosong tanpa penghuni.
Ia coba mendatangi istana itu, juga tidak ada orang, ia coba menangkap seorang penjaga dan ditanyai dengan bahasa Turki.
"Kemana perginya orang di sini?"
Penjaga itu meringis kesakitan karena dicengkeram dengan keras oleh Yu Wi, jawabnya dengan gemetar.
"Orang si... siapa?"
"Dengan sendirinya penghuni istana ini?"
Bentak Yu Wi dengan gusar.
"Semuanya pergi... pergi ke pa.. padang rumput!"
"Untuk apa pergi ke padang rumput?"
Dengan menahan rasa sakit penjaga itu berkata.
"lep... lepaskan dulu diriku agar... agar aku dapat bicara..."
Karena menguatirkan keselamatan Ko Bok-ya, perangai Yu Wi berubah menjadi aseran, tapi dilepaskan juga cengkeramannya dan membentak pula.
"Lekas katakan, untuk apa mereka pergi ke padang rumput?". Penjaga itu ketakutan, terpaksa ia bercerita.
"Raja kami pergi ke padang rumput raya untuk menyambut kedatangan raja Iwu."
Baru sekarang Yu Wi tahu.
seluruh orang yang tinggal dikota ini sama ikut Asnatuci ke padang rumput untuk menyambut kedatangan seorang raja dari negeri lain, Dan entah Ya-ji disembunyikan di mana?
Segera ia bertanya pula.
"Apakah kulihat seorang nona bangsa Han?"
Penjaga itu menggeleng dan menyalakan tidak tahu.
Yu Wi pikir sukar lagi mengorek keterangan dari penjaga ini, jalan satu-satunya adalah ikut pergi ke padang rumput raya untuk mencari Aloyato.
Segera ia tutuk Hiat-to penjaga itu agar tak dapat bersuara untuk waktu sementara, lalu berlari menuju ke padang rumput.
Padang rumput raya adalah daerah peternakan paling besar di sekitar Kim san, juga pangkalan sebagian besar pasukan Turki, betapa luasnya padang rumput ini, seyojana mata tak tertampak tapal batasnya.
Setiba di padang rumput yang luas itu, dilihatnya perkemahan tersebar di mana-mana, penjaga berkuda berlari kian kemari, Melihat Yu Wi berdandan sebagai orang Turki, disangkanya rakyat gembala sekitar padang rumput sehingga tidak ada yang menegurnya.
Kemah, yang memenuhi padang rumput itu beribu-ribu jumlahnya, jika ingin mencari tenda Asnatuci di tengah perkemahan sebanyak itu jelas tidak dapat diketemukan dalam waktu singkat.
Apalagi Yu Wi tidak berani bertanya kepada perajurit Turki, kuatir dicurigai.
Selagi bingung, tiba-tiba terdengar suara terompet tanduk bertiup sahut menyahut di sana sini, dalam sekejap suara "tut-tut"
Berkumandang memecah angkasa padang rumput raya.
Segera terdengar pula gemuruh gerakan pasukan yang beramai-ramai menuju ke pusat padang rumput, Sampai sekian lamanya suara gemuruh itu baru mereda.
Pasukan-pasukan yang tadinya terpencar di berbagai tempat ini kini telah berkumpul di suatu tempat.
Hanya tersisa beberapa kelompok kecil prajurit Turki yang menjaga perumahan kosong yang ditinggalkan.
Yu Wi pikir tempat berkumpulnya pasukan itu tentu tempat kediaman Asnatuci, segera iapun berlari menuju ke pusat padang rumput itu.
Setelah dekat, tertampak beratus ribu perajurit Turki berbaris di sekeliling sana dengan rajin dan teratur, orang sebanyak itu tiada terdengar suara gaduh sedikitpun, hanya terkadang terdengar suara ringkik kuda di sana sini.
Betapa ketat disiplin dan terlatihnya pasukan perang ini, sungguh sangat mengejutkan dan juga mengagumkan.
Diam-diam Yu Wi heran mengapa berpuluh laksa perajurit Turki itu berbaris diam saja tanpa bersuara.
Tak terduga, mendadak terdengar suara sorak sorai yang gegap gempita, belasan laksa prajurit seperti suara seorang yang serentak berteriak.
"Hidup Sri Baginda! Hidup...."
Suara teriakan itu menggema di angkasa hingga lama, kedengarannya sangat khidmat dan berwibawa. Diam-diam Yu Wi membatin.
"Mungkin saat inilah Asnatucj baru muncul di depan pasukannya!"
Sejenak kemudian suara sorak-sorai ini baru mereda, suasana di padang rumput raya itu kembali tenang.
Sesudah dekat, Yu Wi melihat prajurit yang berbaris itu semuanya berdiri tanpa bergerak, semuanya tegak seperti patung.
Dengan sendirinya dia tidak dapat melihat keadaan di sebelah dalam sana, segera ia melompat ke atas, dengan ginkang yang tinggi ia melayang lewat ke sana dengan topi perang para perajurit Turki sebagai batu loncatan.
Meski kaget para prajurit yang kepalang merasa terinjak, namun semuanya tetap tidak bergerak dan tiada mengeluarkan suara sedikitpun seperti halnya tidak melihat Yu Wi melayang lewat di atas kepala mereka.
Kira-kira beberapa puluh tombak jauhnya Yu Wi turun ke tanah dan menghunus pedang kayu, dilihatnya lapangan yang dikelilingi pasukan Turki itu ada ratusan tombak persegi, di kejauhan kelihatan Asnatuci berdiri di bawah pengayoman payung besar, di belakangnya berdiri serombongan orang, di antaranya terdapat pula Aloyato.
Di sebelah kanan sana juga ada sebuah payung raksasa, di bawah payung terdapat seorang tua berpakaian aneh, di belakangnya juga mengiringi serombongan pengikut dengan pakaian aneh serupa.
Orang tua itu bermuka lebar dan bertelinga besar, dengan langkah pelahan sedang menuju ke arah asnatuci.
Dalam jarak kira-kira 30 tombak, Asnatuci tampak berdiri dengan angkuh, tanpa bergerak dan tidak menyapa, mirip seorang tuan yang sedang menerima kunjungan anak-buahnya.
Yu Wi pikir orang tua berpakaian aneh itu pasti raja Iwu, pantas beratus ribu perajurit tidak ada yang bersuara, kiranya di sini sedang berlangsung upacara penyambutan resmi.
Hendaklah dimaklumi bahwa menurut adat kebiasaan suku bangsa asing, semakin besar pasukan yang dipamerkan, semakin hormat pula berlangsungnya upacara penyambutan itu.
berbeda dengan kerajaan Tionggoan yang menyambut secara ramah-ramah dengan adat yang halus.
Tatkala mana kekuatan pasukan Turki tergolong paling kuat, hampir semua negeri suku bangsa kecil di daerah barat sama takluk kepada bangsa Turki sehingga Asnatuci boleh dikatakan pemimpin nomor satu bagi semua suku bangsa di daerah barat.
Melihat upacara yang khidmat itu, Yu Wi berdiri saja di samping dan tak berani mengganggu maksudnya hendak menunggu selesainya upacara itu untuk kemudian baru mencari Aloyato dan melabraknya.
Meski sangat khidmat upacara penyambutannya, namun berlangsung dengan sangat sederhana.
Si kakek berpakaian aneh itu mendekati Asnatuci dan bercakap sejenak, lalu upacara penyambutan itupun dianggap selesai.
Tengah kedua raja itu bercengkerama, seorang Turki yang tinggi besar berlari ke tengah lapangan, lalu berteriak lantang.
"Hidup persekutuan Turki dan Iwu!"
Keras sekali suara teriakannya hingga menjelma jauh, serentak beratus ribu perajurit juga menyambut dengan teriakan yang sama.
"Hidup persekutuan Turki dan Iwu!"
Suara beratus ribu orang berkumandang berpuluh li jauhnya, seketika seluruh pelosok padang rumput raya itu sama mengetahui bahwa di antara kerajaan Turki dan Iwu telah bersekutu!
Melihat suasana yang luar biasa itu, diam-diam Yu Wi gegetun, ia pikir kerajaan Turki sekarang telah bertambah lagi suatu negeri sekutu, hal ini berarti suatu kerugian besar bagi Tionggoan, entah bagaimana nanti paman Ko akan menghadapi serbuan Turki yang bertambah kuat ini.
Belum lenyap suara teriakan yang gegap gempita itu, mendadak seorang penunggang kuda berlari kemari, setiba di depan Yu Wi, penunggang kuda itu melompat turun dan menegurnya.
"Yu-heng, untuk apa kau datang ke sini?"
Setelah mengamatinya, kiranya orang ini adalah Li Tiau, Dengan serius Yu Wi menjawab.
"Liheng, hari ini betapapun kau tidak boleh merintangi tindakanku,"
Secara di bawah sadar Li Tiau meraba luka di dadanya, jawabnya dengan menghela napas "Biarpun ingin kurintangi kau juga tidak mampu!"
"Lukamu tidak beralangam bukan?"
Tanya Yu Wi dengan menyesal.
"Asalkan tidak kugunakan untuk menarik busur, sebulan lagi kukira dapat sembuh,"
Kata Li Tiau.
Yu Wi pikir keadaan sangat menguntungkan Li Tiau belum dapat memanah, sungguh suatu kesempatan baik baginya untuk beraksi.
sebentar bila melabrak Aloyato, andaikan Li Tiau membantunya dengan panah tentu dirinya akan kalah, Akan tetapi sekarang Li Tiau tidak dapat menggunakan busurnya, umpama dia tidak ikut membantu, tentu juga takkan menimbulkan curiga Asnatuci.
Dalam pada itu suara teriakan tadi sudah reda, kuatir Asnatuci akan memperhatikan ke arah sini, cepat, Yu Wi berkata.
"Lekas kau pergi saja, aku akan mencari Aloyato untuk mengadu jiwa!"
"Yu-heng,"
Mohon Li Tiau.
"janganlah kau berbuat sesuatu yang tidak menguntungkan Sri Baginda."
Yu Wi tahu jiwa setia orang, dengan gegetun ia berkata.
"Kupasti takkan bertindak sesuatu yang merugikan Asnatuci, jangan kuatir!"
Jilid 09 Setelah mendapat janji Yu Wi, Li Tiau merasa lega, katanya.
"Baiklah, hendaklah Yu-heng berhati-hati."
Habis berkata ia lantas melarikan kudanya kesebelah Asnatuci sana. Selang sejenak barulah Yu Wi menuju kedepan Asnatuci dengan langkah lebar. Melihat Yu Wi, terkejut Asnatuci, tegurnya.
"Kau berani datang kesini?"
"Kenapa tidak berani,"
Jawab Yu Wi dengan gagah perkasa. Aloyato segera bersikap membela disamping Asnatuci, dampratnya.
"Keparat! Hari ini kau hanya bisa datang dan tak dapat pergi lagi."
Waktu pertama kali melihat Yu wi, air muka raja Iwu kelihatan terkejut, setelah mengetahui kedatangn anak muda itu tidak bermaksud baik, segera ia menyingkir kesamping untuk mengikuti perkembangannya.
Dengan suara keras Yu Wi lantas berteriak.
"Bisa datang dan tak dapat pergi apa? Aloyato! Pendek kata, jika Ya-ji tidak segera kau serahkan, aku bersumpah takkan ada perdamaian denganmu."
"Bukankah Ya-ji telah kau bawa lari?"
Tanya Asnatuci dengan heran.
"Betul, tapi telah digondol lari lagi oleh Hwesio bangsat ini,"
Teriak Yu Wi dengan sedih. Asnatuci menjadi girang, ia tanya Aloyato.
"Bukankah demikian?"
"Tidak, tidak pernah terjadi,"
Jawab Aloyato sambil menggeleng.
"Bocah ini sengaja memfitnah."
Tampaknya Asnatuci sangat kecewa, katanya terhadap Yu Wi.
"Suhuku tidak mungkin membohongi kau."
"Aloyato,"
Seru Yu Wi pula, 'apakah kau berani bersumpah tidak menculik Ya-ji pada waktu aku tertidur."
"Huh, menjaga seorang wanita saja tidak mampu, masakah punya muka untuk tanya padaku,"
Ejek Aloyato. Tiba-tiba Li Tiau menyeletuk.
"Alo-taysu, orang beragama tidak boleh berdusta."
Aloyato melirik Li Tiau sekejap, dengusnya.
"Tidak nanti kudustai Tuci,"
"Wah, jika betul Ya-ji lenyap, kita harus lekas mencarinya, barang siapa menemukannya akan diberi hadiah besar!"
Seru Asnatuci dengan penuh perhatian terhadap hilangnya Bok-ya.
Melihat sikap lawan, Yu Wi pikir mungkin sekali Ya-ji tidak diculik oleh Aloyato.
Tapi kalau bukan dia, lantas siapa?
Li Tiau lantas tanya Yu Wi.
"Dimana hilang Ko-siocia?"
"Di Kim-san!"
Jawab Yu Wi dengan menyesal.
Asnatuci lantas memberi pesan dengan suara bisik-bisik kepada seorang panglima Turki yang berdiri dibelakangnya.
Setelah menerima perintah, segera panglima itu memimpin suatu regu pasukan menuju Kim-san untuk mencari Ko Bok-ya.
Dengan gemas Aloyato lantas berkata.
"Bocah keparat, kau berani memaki diriku sebagai Hwesio bangsat didepan umum, lekas kau potong lidahmu sendiri sebelum kutindak."
"Kau memang Hwesio bangsat, mengapa tidak boleh kumaki?"
Jawab Yu Wi. Aloyato berjingkrak murka, dampratnya.
"Kurang ajar! Ayo, tidak perlu bersilat lidah, kalau berani, cobalah beberapa gebrakan denganku!"
"Kedatanganku justeru hendak mencari kau untuk mengadu jiwa,"
Jawab Yu Wi dengan mendelik. Asnatuci yakin Yu Wi pasti bukan tandingan gurunya, maka dia sengaja berlagak murah hati, katanya.
"Yu Wi, jika kau mampu menandingi Suhu sama kuta, akan kuampuni kematianmu."
Dengan gusar Yu Wi menjawab.
"Kau tidak lebih hanya orang tak beradab dari daerah terpencil, dengan hak apa kau bisa menentukan kematianku?"
"Kau sembarangan menerobos kesini, menurut peraturan harus dihukum mati,"
Jawab Asnatuci.
"Tapi aku bukan bangsa Turki kalian, aku tidak terikat oleh peraturan kalian,"
Ujar Yu Wi dengan tertawa. Aloyato lantas menjauhi Asnatuci kira-kira belasan tombak sebelah sana, lalu berkata dengan pandangan menghina kepada Yu Wi.
"Ayolah, katamu ingin mengadu jiwa denganku, lekas mulai!"
Dengan tenang Yu Wi melangkah kesana.
"Yu Wi,"
Seru Asnatuci dengan tertawa.
"bertarunglah se-baik2nya dihadapan tamu agung, bila pertarunganmu cukup gemilang dan menarik, meski kalah juga jiwamu dapat kuampuni."
Saking gusarnya Yu Wi berbalik tertawa, katanta.
"Oo, jadi dengan pertarungan maut ini akan kau gunakan untuk menghibur tamu agung kalian?"
Asnatuci hanya tersenyum saja tanpa menjawab, tapi lantas berkata terhadap raja Iwu.
"Konon banyak juga jago ilmu silat di negeri anda, jika dikehendaki, silakan para ahli silat kalian ikut menyaksikannya."
Si kakek berpakaian aneh itu memberi tanda dan memanggil dua orang tua tinggi kurus dibelakangnya, lalu berkata dengan tertawa.
"Ah, dinegeri kami mana ada ahli silat segala. Biarlah kedua orang ini saja kusuruh mereka mendampingi guru Yang Mulia!"
Kedua kakek tinggi kurus itu lantas maju kesana dan berdiri disamping Aloyato, dengan sorot mata tajam mereka memandang Yu Wi.
Ketika sinar mata kebentrok dengan pandangannya, katanya terhadap Aloyato.
"Tahukah kau, sebab apa ingin kuadu jiwa dengan kau?"
"Tidak perlu banyak omong, ayolah turun tangan dulu!"
Damperat Aloyato. Yu Wi tidak menghiraukannya, dengan suara lantang ia berseru.
"mendiang ayahku, 'Ciangkiam-hui' meninggal oleh pukulan Han-tok-ciang, maka sekarang puteranya hendak menuntut balas bagi ayahnya!"
"Hah, kau anak Yu Bun-hu?"
Aloyato terkejut. Asnatuci juga terkejut, serunya.
"Jika betul dia anak Yu Bun-hu, se-kali2 tidak boleh dilepaskan!"
Yu Wi yakin Han-tok-ciang yang mengakibatkan kematian ayahnya itu pasti perbuatan Aloyato, maka segenap duka nestapanya telah berubah menjadi kekuatan maha besar, tanpa bicara lagi pedangnya lantas menabas.
Segera Aloyato menghadapi anak muda itu dengan Han-tok-ciang, sembari menyerang sambil berkata.
"Biarlah kau pun rasakan Han-tok-ciangku!"
Kini ilmu pedang Yu Wi sudah terlatih dengan baik, meski menghadapi Han-tok-ciang yang maha lihai juga dapat menangkisnya dengan sama tangguhnya tanpa ada tanda-tanda akan kalah.
Tiba-tiba raja Iwu tanya Asnatuci.
"Masa dia anak Ciang-kiam-hui Yu Bun-hu?"
"Dia she Yu, juga mengaku sendiri putera Yu Bun-hu, kukira tidak salah."
Jawab Asnatuci.
"Banyak juga jagoan negeri kami yang menjadi korban kekejian Yu Bun-hu, sebentar harap diperbolehkan orangku membantu Alo-taysu,"
Kata raja Iwu. Asnacuti tertawa, jawabnya.
"meski dia putera Yu Bunhu, tapi pasti bukan tandingan Suhuku."
"Tapi, apabila tak dapat menandingi dia?"
Masih kuatir juga raja Iwu.
Asnatuci pikir dahulu Yu Bun-hu juga pernah membunuh para pembunuh yang dikirimnya untuk mengincar jiwa Ko Siu, sekarang anaknya tidak boleh dibiarkan lolos pulang dengan hidup.
Maka ia lantas menjawab.
"Baiklah, boleh suruh kedua ahli kalian itu bertindak menurut keadaan."
Raja Iwu lantas mendekati kedua kakek tinggi kurus tadi dan memberi pesan agar setiap saat menaruh perhatian istimewa terhadap gerak-gerik Yu Wi, bila Aloyato kelihatan kewalahan harus segera memberi bantuan.
Setelah bertempur sekian lama, daya tekan Han-tok-ciang yang dilancarkan Aloyato bertambah besar, Yu Wi merasa hawa dingin sekelilingnya semakin berat dan banyak mempengaruhi permainan ilmu pedangnya.
Karena itulah gerak pedangnya mulai lamban, daya serangannya banyak berkurang.
Aloyato terkekeh-kekeh, katanya.
"Sekarang biarpun ayahmu hidup kembali juga bukan tandinganku, apalagi kau... ."
Teringat kepada kematian sang ayah yang mengenaskan, hati Yu Wi menjadi seperti dibakar, ia pikir sekeliling musuh belaka, kalau tidak mengeluarkan segenap kemahiran kungfunya tentu sukar membalas sakit hati, sebaliknya jiwa sendiripun sukar diselamatkan.
Angin pukulan Aloyato men-deru2, tenaganya bertambah kuat, setiap kali memukul selalu membawa daya tekanan yang lihai, pedang Yu Wi selalu tergetar menceng, ia pikir bila pertarungan berlangsung lebih lama lagi dan anak muda itu tetap tak dapat dikalahkan, hal ini akan berarti memalukan dirinya.
Segera ia mengumpulkan segenap tenaga pada kedua tangannya terus mendorong kedepan sekuatnya sambil membentak.
"Lepaskan pedangmu!"
Tapi Yu Wi juga membentak.
"Belum tentu mampu!"
Mendadak permainan pedangnya berubah, ia keluarkan jurus "Bu-tek-kiam", Sekali jurus serangan ini dikeluarkan, seketika pukulan Aloyato mengenai tempat kosong.
Selagi paderi Hindu itu merasa heran mengapa serangannya bisa meleset, se-konyong2 dirasakan sinar pedang bertaburan mengurung tiba dari atas.
Betapapun Aloyato sudah berpengalaman dan tahu kwalitas lawan, ia berteriak.
"Celaka!"
Benarlah, baru lenyap suaranya.
"prak", tahu-tahu tulang pundaknya sudah tertutuk remuk, ia kehilangan tenaga murni dan tidak sanggup bertempur lagi, cepat ia melompat mundur untuk menyelamatkan jiwa. Yu Wi tidak memberi kelonggaran kepada lawan, segera ia menyusuli satu serangan lagi. Tampaknya serangan susulan ini pasti dapat membinasakan Aloyato, pada saat itulah mendadak ada orang memanggilnya dibelakang.
"Yu Wi, jangan bertempur lagi!"
Suara ini terasa dingin seram, begitu mendengar Yu Wi lantas teringat kepada sorot mata tajam kedua kakek tinggi kurus tadi, tanpa terasa ia menahan serangannya dan berpaling kebelakang, secara dibawah sadar, seperti ada sesuatu tenaga gaib telah menyuruhnya memandang sinar mata orang.
Kedua kakek tinggi kurus itu memang sedang menunggu berpalingnya Yu Wi, begitu sorot mata kedua pihak kebentrok, kedua kakek itu lantas berkata pula dengan suara tertahan.
"Yu Wi, kepalamu terasa pening bukan?"
Benarlah, segera Yu Wi merasa kepalanya pening dan berat.
Pada detik yang gawat itu, seketika teringat olehnya sorot mata Sam-yap Siangjin yang buram dan seperti orang linglung di istana Peng-ma-tayciangkun dahulu, serentak teringat juga olehnya Bok-ya pernah bilang tentang ilmu "hipnotis", diam-diam ia mengeluh.
"Wah, celaka! Kedua kakek ini mahir hipnotis!"
Cepat ia menggigit ujung lidah dan berusaha menghindari pandangan lawan, namun dalam hati se-akan2 terbetot untuk memandangnya lagi.
Ia tidak berani tinggal lebih lama lagi disitu, cepat ia angkat langkah seribu dan berlari kedepan sekuatnya.
Di sekelilingnya adalah pasukan Turki, tapi dia putar pedang kayunya, dengan jurus "Bu-tekkiam"
Yang tidak ada tandingannya itu ia membuka sebuah jalan berdarah untuk meloloskan diri.
Terdengar suara jeritan ngeri perajurit Turki bergema berulang-ulang, hanya sebentar saja Yu Wi berhasil menerjang keluar kepungan.
Sesudah lolos keluar kepungan, Yu Wi merasa pening kepalanya belum lagi lenyap, dalam hati masih tetap timbul hasrat untuk memandang sinar mata kedua kakek jangkung tadi.
Dalam pada itu suara pengejar dari belakang tidak pernah terputus, Yu Wi berlari sebisabisanya.
Tidak lama kemudian, waktu ia memandang kedepan, ternyata didepan juga penuh dengan kepala manusia, pasukan Turki telah mengepung lagi dari sebelah sana.
Kini semangat tempur Yu Wi telah hilang, ia tahu bila terkepung lagi dirinya pasti akan roboh pingsan.
Ia heran mengapa didepan ada pasukan lagi, bukankah dirinya sudah menerjang keluar kepungan tadi?
Ia tidak tahu bahwa beratus ribu perajurit Turki itu telah diberi komando agar mengepung lagi dari kedua sayap kanan dan kiri, sekalipun Yu Wi dapat menerjang keluar lagi tetap akan dikepung pula dari kedua sisi.
Maklumlah, pasukan sebanyak itu dan sudah terlatih baik, adalah terlalu mudah bila dikerahkan untuk menangkap satu orang saja.
Terpaksa Yu Wi berhenti, tampaknya sukar baginya untuk menerjang pula, ia harus mencari jalan lain.
Tiba-tiba dilihatnya disebelah kanan sana ada perkemahan.
Cepat ia berlari kesana.
Tujuannya ingin mencari suatu tempat sembunyi yang baik.
Setiba disana, pasukan yang mengejarnya juga sudah dekat.
Yu Wi memandang kesana dan melongok kesini, sungguh celaka, tidak ditemukan sesuatu tempat yang baik untuk bersembunyi.
Disitu hanya ada belasan tenda besar.
karena sudah kepepet, tiada jalan lain, tanpa pikir terus menerobos masuk ketenda yang paling besar disampingnya.
Baru saja ia menyembunyikan diri, dari luar tenda itu berlari masuk beberapa anak perempuan dan berseru.
"Kongcu, Kongcu! Ada musuh lari ketempat kita sini!"
Mendadak dari pembaringan melompat bangun sesosok tubuh yang ramping, omelnya.
"Musuh apa? Tempat panas seperti neraka ini masa ada musuh segala?"
Beberapa anak perempuan itu sama menjawab.
"Ya, ada musuh, pasukan yang mengejarnya sudah mendekati perkemahan kita ini."
Bayangan tubuh yang ramping itu berseru kaget.
"He, apa betul? Lekas ditahan diluar, siapa pun tidak boleh masuk! Kuganti pakaian dulu!"
Buru-buru ia meraih sepotong baju dan menuju kebalik pintu angin, tanpa melihat apa yang terdapat dibelakang pintu angin, terus saja tubuh yang mengiurkan itu mulai menanggalkan bajunya sehingga tertinggal pakaian dalam saja.
Setelah membuka baju tidur yang tipis sehingga tersisa beha dan celana dalam, kalau menurut istilah sekarang hanya pakaian begini saja yang dikenakannya, dia tidak segera memakai baju, tapi berseru.
"Siau Tho, ambilkan baju dan celana!"
Siau Tho adalah nama pelayannya, genduk itu berlari masuk dari luar tenda, lalu mengambilkan seperangkat baju dan celana dan diangsurkan kebelakang pintu angin.
Bayangan tubuh yang ramping itu menerima pakaian itu dan ditaruh dibangku samping, lalu menguap kantuk, kemudian membuka kutang sehingga kelihatan dadanya yang bmontok dan putih mulus.
Dak-dik-duk hati Yu Wi menyaksikan tontonan gratis tersebut, kebetulan tempat sembunyinya itu adalah dipojok belakang pintu angin, tapi tidak diperhatikan oleh perempuan itu.
Saat itu si perempuan akan membuka lagi celana dalamnya, Yu Wi tidak tahan lagi, cepat ia berseru tertahan.
"He, jangan buka!"
Baru sekarang perempuan itu menoleh dan dilihatnya dibelakang bangku berjongkok seorang lelaki, lantaran setengah badannya ter-aling2, sehingga waktu dia masuk kesitu secara terburuburu tidak diperhatikannya.
Segera ia hendak menjerit, tapi demi melihat wajah Yu Wi, seketika ia urung bersuara, melainkan berseru kaget dengan suara tertahan.
"He, kau?!"
Mendadak teringat olehnya dirinya dalam keadaan telanjang, mana boleh bertemu dengan orang.
Keruan mukanya merah jengah dan baju tadi cepat diraihnya untuk menutupi tubuhnya.
Dalam benak Yu Wi masih terbayang sorot mata kedua kakek kurus yang aneh tadi, kini tanpa terasa ia memandang mata jeli si nona dengan termangu.
Nona itu menjadi malu, cepat ia menutupi mukanya dan berseru.
"Jangan memandang, jangan Lihat!"
Karena tidak lagi melihat sorot mata yang membetot sukma seperti sorot mata kedua kakek tadi, pikiran Yu Wi seketika menjadi jernih kembali, segera ia tanya.
"Tolong tanya, siapakah nona?"
Nona itu mengenakan bajunya, lalu menjawab dengan kurang senang.
"Aku Hana, masakah kau tidak lagi kenal padaku?"
"Kepalaku terasa pening,"
Ucap Yu Wi sambil meraba dahinya.
"Aku tidak tahu siapa kau."
"Ah, kau terkena Jui-bin-sut (ilmu Hipnotis)!"
Seru Hana kaget. Pada saat itulah mendadak terdengar Siau Tho berkata diluar.
"Kongcu panglima Turki membawa pasukannya hendak menggeledah semua tenda yang berada disini."
"Mereka berani?"
Teriak Hana dengan gusar.
"Kata panglima, atas perintah Sri Baginda kita."
Kata Siau Tho pula. Hana memandang Yu Wi, omelnya dengan suara tertahan.
"Kenapa kau bikin marah kepada Ayah Baginda? Wah, lantas bagaimana baiknya?"
Air muka Yu Wi berubah, dengan langkah lebar ia bertindak keluar kemah. Cepat Hana memburu maju dan bertanya.
"He, akan kemana kau?"
"Kemana pun boleh, yang jelas aku tidak boleh tinggal disini sehingga membikin susah padamu."
Kata Yu Wi. Meski tidak berat kau terpengaruh oleh Jui-bin-sut, tapi makin lama daya tempurmu makin lemah, kalau tidak istirahat dengan baik, bila keluar tentu kau akan tertangkap,"
Kata Hana.
Yu Wi juga merasakan tubuhnya sekarang sangat lemah, tidak kuat seperti waktu menerjang kepungan untuk pertama kalinya tadi, kalau keluar memang besar kemungkinan akan tertawan.
Tapi wataknya memang keras dan tidak sudi menyerah, ia hanya menyengir saja dan berucap.
"Biarlah kalau mesti tertangkap biarkan tertangkap!"
Habis berkata ia terus hendak melangkah lagi. Cepat Hana menghadang didepannya dan berkata.
"Wah, bagaimana jadinya nanti bila Toakongcu dari Thian-ti-hu yang terhormat sampai tertangkap oleh perajurit Turki?"
"Kau jangan keliru, aku tidak she Kan, tapi she Yu, bukan Toa-kongcu apa segala, jangan kau salah wesel,"
Ujar Yu Wi. Hana mengira anak muda itu sengaja bergurau, dengan tertawa ia berkata pula.
"Baiklah, anggap saja kau she Yu, Sekarang ingin kubantu kau satu kali kau mau tidak?"
Watak Yu Wi memang suka yang lunak dan tidak doyan pada yang keras, karena orang bersikap ramah, ia lantas menjawab.
"Cara bagaimana akan kau bantu diriku?"
Hana tidak lantas menjawab, ia bertepuk tangan dan memanggil.
"Siau Tho, kalian masuk kemari!"
Waktu tabir tenda tersingkap, masuklah tujuh anak perempuan berpakaian aneh, rambut mereka sama digelung tinggi keatas dan memakai topi bundar, berpakaian ketat bedah lengan kanan dan memakai mantel kulit.
Waktu bersembunyi dibelakang pintu angin tadi Yu Wi hanya mendengar suara mereka, kini melihat dandanan mereka yang aneh ini, ia terkejut dan heran.
Para anak perempuan yang berpakaian aneh itu pun terkejut ketika diketahuinya dalam kemah mendadak telah bertambah seorang lelaki.
Rupanya Siau Tho kenal tamu yang tak diundang ini, dengan tertawa ia menyapa.
"Kongcu, bilakah engkau datang ketempat Kongcu kami ini?"
Supaya dimaklumi, Kongcu dan Kongcu ada dua, yang satu artinya putera lelaki keluarga terpandang, yang laian artinya Tuan Puteri.
Begitulah, Yu Wi menjadi tercengang karena Siau Tho fasih berbahasa Han.
Selagi ia hendak menjawab, mendadak Hana menyela.
"Lekas kalian mendadani dia sebagai perajurit wanita kita."
Seketika ketujuh anak perempuan itu tertawa ngikik, Cepat seorang mengeluarkan seperangkat pakaiannya sendiri, tanpa banyak omong ketujuh gadis itu bekerja keras, Yu Wi segera didandani.
Demi mendengar dirinya akan dirias menjadi perempuan, cepat Yu Wi menggoyang tangan dan berkata kepada Hana.
"Wah, jangan, jangan! Mana boleh Ku....."
Tapi Hana lantas memotong dengan tertawa.
"Ada pribahasa Tionggoan yang bilang. Seorang lelaki harus bisa mulur dan bisa mengkeret. Kalau sekarang kau merendahkan diri sekedar menjadi perajuritku, memangnya kenapa? Masa kau tidak mau?"
Diam-diam Yu Wi berpikir orang tidak kenal dirinya, tapi dengan maksud baik hendak membantunya, masa dirinya harus jual mahal?
Apa halangannya menyamar menjadi perajurit wanita untuk mengelabui musuh, yang penting tenaga sendiri harus dipuluhkan dulu.
Begitulah dengan cepat ketujuh gadis itu telah dapat merias Yu Wi dalam waktu singkat.
Ketika Yu Wi menunduk, ia lihat keadaannya sekarang tiada ubahnya seperti ketujuh gadis itu, baru sekarang ia tahu ketujuh gadis ini adalah perajurit Hana.
Tapi bila melihat lengan kanan sendiri yang tidak tertutup itu dan berbeda daripada lengan ketujuh gadis itu, betapapun hatinya merasa kikuk.
Untung juga setelah berlatih Thian-ih-sin-kang, kini kulit badannya telah bertambah putih, lengan kanannya yang menonjol diluar pakaian itu bahkan lebih putih daripada lengan ketujuh gadis asing itu sehingga sukar dibedakan apakah dia lelaki atau perempuan.
Disebelah sana Hana juga sudah selesai berdandan, iapun memakai baju panjang bedah lengan kanan, bagian lengan kanan juga terbuka.
Teringat oleh Yu Wi dandanan aneh si kakek agung yang dilihatnya dipadang rumput raya sana bersama rombongan orang yang berdandan aneh dibelakangnya itu, kini baru diketahui bahwa memang demikianlah kebiasaan orang Iwu berpakaian, semuanya telanjang lengan kanan.
"Nah, sekarang kau adalah perajuritku, kau harus tunduk kepqada perintahku,"
Kata Hana dengan tertawa. Melihat gerak-gerik Hana serupa Ko Bok-ya, Yu Wi jadi teringat kepada nona itu, entah dimana dia sekarang? Entah hidup atau mati? Tanpa terasa ia menghela napas pelahan.
"He, ada apa kau menarik napas?"
Tanya Hana. Yu Wi menggeleng dan tidak menjawab. Dengan tertawa Hana berkata.
"Jangan kuatir, keadaanmu sekarang sukar dikenali oleh siapapun juga."
Tengah bicara, dari luar tenda berlari masuk seorang perajurit wanita lain dan memberi lapor.
"Kongcu, panglima Turki telah menggeledah sampai disini."
Hana pikir kalau tempat ini juga digeledah, sungguh dirinya terlalu tidak dihormati. Maka ia lantas mendengus.
"Hm, biarkan saja digeledah, kalau tidak menemukan apa-apa, usir saja mereka!"
Pada saat itulah mendadak seorang berseru diluar tenda.
"Loko dari Turki mohon berjumpa pada Kongcu!"
"Masuk!"
Jengek Hana.
Tabir pintu kemah terbuka dan masuklah seorang panglima perang berbaju kulit, tanpa memberi hormat kepada Hana terus celingukan kian kemari, dilihatnya hanya dibalik pintu angin saja adalah tempat sembunyi yang baik, segera ia melangkah kesana dan melongok kebelakang pintu angin, tapi tidak ditemukan apa-apa, segera ia menyurut mundur dan bertanya.
"Adakah Kongcu melihat seorang lelaki masuk kesini?"
"Ada!"
Jawab Hana dengan muka masam.
"Ah, dimana dia?!"
Seru Loko dengan girang.
"Dimana lagi? Tentu saja disini!"
"Tapi tidak... .tidak ada kulihat?"
Ucap Loko dengan tergegap dan ragu.
"Siapa bilang tidak ada."
Jengek Hana.
"Memangnya Ciangkun sendiri seorang perempuan?"
Baru sekarang Loko tahu lelaki yan dimaksudkan adalah dirinya, ia menjadi kikuk dan berkata.
"Ah, Kongcu salah....."
"Salah apa?"
Kata Hana dengan gusar.
"Tempat kediamanku selamanya tidak boleh didatangi lelaki liar, sekarang kau berani masuk kemari, maka kau harus lekas menggelinding keluar."
Anggap dirinya adalah seorang panglima negara yang lebih besar, Loko tidak pandang sebelah mata terhadap Puteri kerajaan Iwu, tanpa bicara lagi segera ia hendak melangkah keluar.
Tapi mendadak kawanan perajurit wanita mengadang didepannya, Siau Tho lantas menegur dengan tertawa.
"Tuan Puteri kami menyuruh kau menggelinding keluar dan bukan menyuruh kau melangkah keluar."
"Siapa berani menyuruhku menggelinding keluar."
Bentak Loko dengan gusar.
"Siapa lagi, tentu saja Tuan Puteri kami!"
Ucap Siau Tho, berbareng sebelah kakinya lantas mendepak dan tepat mengenai dengkul Loko.
Depakan Siau Tho ini cepat lagi jitu, meski kekar dan kuat, tapi Loko hanya pandai ilmu perang biasa dan tidak mahir ilmu silat, kontan dia jatuh terkapar, baru saja dia hendak bangun, menyusul kaki Siau Tho menendang lagi pada dengkulnya yang lain.
Kedua dengkul ditendang, Loko tidak sanggup berdiri lagi, merangkak juga tidak dapat, sebab dengkul akan kesakitan bila menyentuh tanah.
"Nah, tidak lekas menggelinding keluar? Apakah minta kudepak keluar?"
Ancam Siau Tho.
Setelah merasa lihainya tendangan Siau Tho, apabila kena didepak keluar benar-benar, tidak mati juga akan terluka parah, karuan Loko ketakutan, tanpa pikir ia terus menggelinding keluar.
Melihat tingkah orang yang lucu dan konyol itu, para perajurit wanita sama bergelak tertawa.
Yu Wi bercampur ditengah perajurit wanita dan tidak dilihat oleh Loko, setelah kawanan perajurit wanita itu puas tertawa, lalu ia memuji.
"Siau Tho, kedua kali tendanganmu tadi sungguh kuat!"
"Ai, jangan mengumpak diriku,"
Jawab Siau Tho dengan tertawa.
"Didepan Kongcu kami, kedua kali depakanku itu boleh dikatakan tidak ada artinya."
Yu Wi lantas memberi hormat kepada Hana dan berkata.
"Atas pertolongan Kongcu, Yu Wi merasa sangat berterima kasih."
Melihat Yu Wi berdandan sebagai perempuan, tapi memberi hormat dengan gaya lelaki, tampaknya sangat lucu, maka tertawalah Hana, ucapnya.
"Sudahlah, jangan terima kasih apa segala! Yang jelas telah bikin susah kau harus menjadi perempuan."
Melihat keadaan Yu Wi itu, para perajurit wanita juga tertawa geli. Dasar muka tipis, Yu Wi menjadi rikuh ditertawai anak perempuan sebanyak itu, cepat ia berkata.
"Sekarang Yu Wi ingin mohon diri saja... ."
Seketika Hana berhenti tertawa, ia menghela napas pelahan dan berkata.
"Masa segera kau akan pergi?"
"Eh, Kongcu belum boleh pergi,"
Tiba-tiba Siau Tho menukas.
"Sebab apa?"
Tanya Yu Wi.
"Silakan Kongcu melihatnya sendiri keluar tenda,"
Kata Siau Tho.
Yu Wi coba melongok keluar, dilihatnya disekitar perkemahan ini penuh dikelilingi pasukan Turki yan bersenjata lengkap, komandan pasukan tampak hilir mudik, jelas ada penjagaan yang sangat ketat.
"He, kenapa bisa begini?"
Ujar Hana dengan terkejut.
"Menurut keterangan panglima Turki tadi, katanya musuh yang dicari berada disekitar sini."
Tutur Siau Tho.
"Bisa jadi mereka melihat Kongcu lari kesini, maka berkeras ingin menggeledah perkemahan kita."
"Wah, lantas bagaimana baiknya,"
Kata Hana kepada Yu Wi.
"Kukira sekarang kau tidak bisa pergi."
Yu Wi menyadari tenaga sendiri sekarang memang belum sanggup untuk menerjang keluar kepungan musuh, dengan sedih ia berkata.
"Ya, apa boleh buat! Terpaksa menerjang matimatian!"
Cepat Hana menggeleng, katanya.
"Jangan! Mana boleh begitu! Keadaanmu belum pulih akibat pengaruh Jui-bin-sut, sedikitnya perlu istirahat beberapa hari baru dapat sehat kembali. Selama beberapa hari ini lebih baik kau tinggal disini dan tetap menjadi perajuritku."
Yu Wi pikir menyelamatkan jiwa lebih penting, terutama bila mengingat masih banyak tugas penting yang perlu diselesaikannya kelak, selain itu, bila tetap menyamar sebagai perajurit wanita tentu akan lebih mudah untuk mencari jejak Ya-ji yang hilang itu.
Terpaksa ia menjawab.
"Baiklah, cuma akan membikin repot Kongcu saja."
"Tidak, tidak repot... ."
Jawab Hana.
Yang diharapkannya semoga Yu Wi mau tinggal disitu, mana bisa merasa repot?
Begitulah Yu Wi, Siau Tho dan Hana lantas masuk lagi kedalam kemah.
Baru saja mereka berduduk, diluar ada perajurit melapor lagi.
"Ongya (Yang Mulia, Sri Baginda) datang!... ."
Hana terkejut.
"Wah, Hu-ong (ayah baginda) datang, bagaimana baiknya?"
"Ongya kenal Kongcu, perlu menyingkir dulu."
Kata Siau Tho. Dan baru saja Hana menyembunyikan Yu Wi dibelakang pintu angin, raja Iwu, Fuan Syah sudah melangkah masuk tenda. Cepat Hana memberi sembah.
"Terimalah hormat puterimu Ayah Baginda!"
"Bangun!"
Seru Fuan Syah dengan tertawa.
"Tidak perlu pakai adat konyol didepan ayahmu."
"Ai, Ayah ini, anak memberi hormat malah dimarahi,"
Omel Hana dengan manja. Fuan Syah mengelus jenggotnya, katanya dengan tertawa.
"Biasanya tidak kau beri penghormatan demikian kepada ayahmu, kelakuanmu sekarang ini sungguh lain daripada biasanya."
Berdebar jantung Hana, tak terpikir olehnya lantaran urusan Yu Wi, tingkah laku sendiri menjadi luar biasa. Cepat Siau Tho menutupi keganjilan Tuan Puterinya itu, katanya.
"Tadi Kongcu baru bicara dengan hamba tentang tata adat orang Tionggoan, tiba2 Ongya tiba, tanpa terasa Kongcu lantas memberi hormat seperti apa yang baru saja dipelajarinya tadi."
Fuan Syah memandang Siau Tho dan manggut-manggut, seperti memuji dustanya itu. Cepat Hana membelokkan pokok pembicaraan.
"Bilakah kita pulang, Ayah?"
"Baru saja datang, masa ingin segera pulang?"
Ujar Fuan Syah.
"Hawa disini terlalu panas, lebih baik pulang saja."
Hana sengaja berlagak manja.
"Semula kau ribut dan ingin ikut kemari, sekarang ribut lagi ingin pulang. Tahu begini, tidak nanti kubawa kau kesini,"
Kata Fuan Syah sambil menggeleng kepala. Hana tertawa, tanyanya.
"Persekutuan Ayah dengan pihak Turki sudah selesai, kenapa tidak lekas pulang saja?"
"Mau pulang juga tidak perlu terburu-buru,"
Ujar Fuan Syah.
"Ayah ingin mempertemukan kau dengan Tuci."
Mendadak Hana bersungut, katanya sambil menggeleng.
"Anak tidak suka melihat orang asing."
"Ayah telah membicarakan dirimu didepan Tuci,"
Ujar Fuan Syah dengan sungguh-sungguh.
"Dia sangat ingin bertemu denganmu dan ayah pun sudah menyanggupi. Betapa pun kau harus ikut pergi!"
"Ya, sudahlah!"
Ucap Hana dengan ogah-ogahan. Melihat anak perempuannya tidak senang, Fuan Syah tertawa dan berkata.
"Jangan murung, biar kuberitahukan sesuatu yang sangat kebetulan, kau tahu, tadi ayah melihat Kan-kongcu dari Thian-ti-hu... ."
"Hah, betul dia Kan-kongcu?... ."
Seru Hana dengan girang. Mendadak air muka Fuan Syah berubah, tanyanya.
"Dia? Dia siapa? Siapa dia?"
Setelah berucap barulah Hana menyadari salah omong, jawabnya dengan gelagapan.
"Oo... .ti... tidak... ."
"Tidak apa?"
Tanya pula Fuan Syah dengan air muka kurang senang. Saking kelabakan, Hana menangis, katanya.
"Ayah, benar-benar tidak ada....."
Hati Fuan Syah menjadi lunak melihat anak perempuannya menangis, ia menggeleng dan berucap.
"Masa hendak kau kelabui ayahmu? Sekali tebak saja ayah lantas tahu, tentu kau yang menyembunyikan Yu Wi sehingga panglima Turki tadi tidak dapat menemukannya."
Mana Hana berani menyangkal lagi, ia hanya menangis pelahan dan tidak bersuara.
"Hendaklah kau tahu orang itu bukanlah Kan-kongcu, tapi putera Ciang-kiam-hui Yu Bun-hu,"
Ucap Fuan Syah pula.
"Kan-kongcu adalah sahabat kita, sedangkan orang she Yu ini adalah musuh kita."
Meski sambil menangis pelahan, namun Hana mengikuti setiap ucapan ayahnya, diam-diam ia membatin, nyata dia memang bukan Kan-kongcu, tapi mengapa wajahnya serupa benar dengan Kan-kongcu?
Jangan-jangan mereka bersaudara?
Fuan Syah menyambung pula ucapannya.
"Ayah Yu Wi itu selalu memusuhi kita, kalau tidak ada dia, tentu sudah lama Ko Siu terbunuh, Kalau sejak dulu Ko Siu terbunuh, tentu negeri Tionggoan sukar dipertahankan, sekarang Ko Siu belum lagi mati, fondasi kerajaan Tionggoan tambah kuat sehingga sukar bagi kita untuk menyerbu kedaerah Tionggoan, semua ini adalah gara-gara perbuatan mendiang ayahnya dahulu."
"Untuk apakah kita menyerbu Tionggoan?"
Kata Hana dengan air mata meleleh.
"Kalau tidak menyerbu kesana kan kitapun tidak perlu bermusuhan dengan ayah Yu Wi?... ."
"Ini urusan besar kenegaraan, anak perempuan seperti kau tentu saja tidak paham,"
Kata Fuan Syah.
"Tentang pemuda Yu Wi, Tuci bertekad harus menangkapnya, Nah, dimana dia? Lekas katakan kepada ayah!"
"Aku tidak tahu! Aku tidak tahu!... ."
Hana menangis pula. Karena terlalu sayang kepada anak perempuannya, Fuan Syah menjadi kewalahan, ia alihkan sasarannya, bentaknya kepada Siau Tho dengan bengis.
"Tentu kau tahu, Nah, lekas katakan!"
Karena takut kepada sang raja, dengan gemetar Siau Tho menjawab.
"Di... .di... ."
"Kau berani sembarangan omong, Siau Tho!"
Bentak Hana mendadak. Cepat Siau Tho ganti haluan dan berkata.
"Di... dimana dia, hamba pun tidak tahu."
Fuan Syah menjadi gusar, damperatnya.
"Jika kau berani berdusta dan akhirnya ketahuan, tentu akan kuhukum berat padamu!"
Dengan menangis Hana berseru pula.
"Ayah, mengapa engkau menakuti Siau Tho, masa engkau tidak percaya kepada keterangan anak....."
"Hana,"
Kata Fuan Syah.
"Hendaknya kau turut kepada perkataan ayah, sayang!"
"Anak memang sudah menurut,"
Jawab Hana.
"Ayah menyuruh anak menemui Tuci, anak juga menurut."
Fuan Syah menggeleng kepala dan menyesali dirinya sendiri yang terlalu memanjakan anak perempuan ini, sungguh tidak mudah kalau sekarang ingin memaksa dia bicara sebenarnya.
Terpaksa harus diselidiki dengan pelahan.
Maka akhirnya ia barkata.
"Baiklah, lekas berdandan, sebentar ayah membawa kau menemui Tuci."
Habis berkata ia lantas meninggalkan tenda. Setelah Fuan Syah pergi, dengan heran Siau Tho bertanya.
"Jika dia (maksudnya Yu Wi) musuh kita, mengapa Kongcu melindunginya dengan lawan perintah Ongya."
Hana hanya menggeleng dan menjawab.
"Kau tidak tahu, jangan tanya."
Dengan sendirinya Siau Tho tetap tidak mengerti sebab apakah sang tuan Puteri membela Yu Wi mati-matian.
Sekali pun pemuda ini ialah Kan-kongcu, antara mereka pun cuma bertemu beberapa kali saja, pantasnya tidak perlu membelanya secara begini.
Nyata ia tidak tahu apa yang dipikir Hana sama sekali berbeda daripada jalan pikirannya.
Apabila Hana membayangkan dirinya kepergok oleh Yu Wi yang sembunyi dibelakang pintu angin, waktu itu dirinya dalam keadaan hampir telanjang bulat, maka mau-tak-mau timbul semacam perasaan yang aneh.
Meski dia anak perempuan dari suku bangsa kecil yang tidak kukuh pada adat kolot daerah Tionggoan, namun apapun juga tahu akan rasa malu.
Ia merasa tubuh sendiri sudah dilihat seluruhnya oleh Yu Wi, detik-detik yang sukar untuk dilukiskan itu mana dapat dilupakan olehnya.
Meski Fuan Syah dan Hana berbicara dalam bahasa Iwu, tapi lantaran bahasa Iwu hampir sama dengan bahasa Turki, maka sedikit banyak Yu Wi dapat menangkap percakapan mereka ditempat sembunyinya.
Ketika mendengar Fuan Syah menyatakan Kan Ciau-bu adalah sahabat mereka, diam-diam Yu Wi sangat heran, ia pikir leluhur Kan Ciau-bu turun temurun tiga angkatan selalu menjabat perdana menteri, mengapa Kan Ciau-bu sendiri bisa berhubungan dengan bangsa asing?
Begitulah didengarnya Hana lagi memanggilnya.
"Yu-kongcu, sekarang bolehlah kau keluar!"
Yu Wi lantas keluar dari tempat sembunyinya, katanya dengan sangat berterima kasih.
"Atas pertolongan Kongcu, sungguh Yu Wi merasa....."
"Sudah, sudah! Jangan terima kasih lagi."
Seru Hana dengan tertawa.
"Orang bilang orang Tionggoan mengutamakan adat penghormatan, tampaknya memang betul bila melihat caramu sebentar2 berterima kasih ini."
"KOngcu,"
Kata Siau Tho tiba-tiba.
"engkau perlu berdandan sekarang."
Hana lantas berduduk, Siau Tho mengeluarkan kotak rias, disisirnya rambut sang Tuan Puteri, dilukis alisnya.
Karena tidak ada pekerjaan, Yu Wi hanya duduk diam disamping dan menyaksikan orang bersolek.
Selesai merias, Hana berdiri kehadapan Yu Wi dan bertanya.
"Bagaimana, baik tidak?"
Setelah bersolek, wajah Hana memang bertambah sangat cantik, mau-tak-mau Yu Wi memuji.
"Bagus sekali!"
"Apa betul bagus?"
Tanya Hana dengan senang.
"Masa aku bohong."
Ujar Yu Wi dengan tertawa.
"Apakah secantik perempuan Tionggoan?"
Tanya Hana pula. Karena orang bertanya dengan lugu, maka Yu Wi pun menjawab dengan sejujurnya.
"Meski cantik molek perempuan Tionggoan, tapi tidak ada kecantikan alamiah seperti dirimu."
"Kau suka?"
Tanya Hana. Yu Wi jadi melengak sehingga sukar menjawab.
"Kau tidak suka?"
Hana menegas. Yu Wi menggeleng kepala.
"Jadi kau suka?"
Kata Hana pula dengan tertawa. Tapi Yu Wi tidak lagi mengangguk. Pada saat itulah terdengar suara Fuan Syah berseru diluar tenda.
"Hana, siap belum?"
Hana menghela napas pelahan, pesannya kepada Yu Wi.
"Biarlah Siau Tho menemani kau disini, jangan sembarangan keluar, tunggu kupulang kemari."
Waktu mau keluar, dengan perasaan berat berulang-ulang Hana menoleh. Yu Wi duduk iseng didalam tenda, ia keluarkan cabikan kulit pemberian Bu-bok-so dan dibentangnya, tulisan pada kulit itu berbunyi.
"Jurus ilmu pedang ini bernama Hong-sui-kiam (ilmu pedang air bah), diberi nama ini mengingat dahsyatnya yang serupa air bah yang tak dapat dibendung....."
Melihat Yu Wi lagi belajar, Siau Tho tidak berani mengganggunya.
Tiba waktu makan siang barulah Siau Tho memanggilnya dan melayani anak muda itu dahar.
Selesai makan, Yu Wi melanjutkan pelajaran Hong-sui-kiam itu.
Ketika matahari terbenam, jurus Hong-sui-kiam sudah dapat dipahami oleh Yu Wi, ia siap untuk melatihnya esok dan yakin dalam waktu beberapa hari dapat menguasainya dengan baik.
SEperginya Hana, beberapa kali perajurit Turki menggeledah disekitar perkemahan itu, tapi tidak berani merecoki kemah Hana, mungkin mereka sudah kapok karena kelihayan Siau Tho.
Waktu Siau Tho hendak meladeni Yu Wi makan malam, saat itulah Hana baru pulang.
Begitu masuk kedalam tenda, dengan marah ia lantas berduduk disamping sana dengan mulut menjengkit dan tidak bicara.
Siau Tho mengundangnya makan juga tak digubris oleh Hana.
Akhirnya Siau Tho saja yang makan bersama Yu Wi.
Lampu sudah dipasang didalam tenda.
Selesai makan, teringat oleh Yu Wi soal tidur nanti, terpaksa ia mendekati Hana dan bertanya.
"Apa yang menyebabkan Kongcu marah?"
Tiba-tiba Hana mencucurkan air mata, katanya.
"Aku marah atau tidak toh takkan mendapatkan perhatian orang....."
Hati Yu Wi jadi terharu, ucapnya dengan menyesal.
"Apakah siang tadi Tuci menyakitkan hatimu?"
Hana mengusap air mata dan mengangguk.
"Dengan cara bagaimana dia menyakitkan hatimu?"
Tanya Yu Wi dengan gusar. Seperti melapor kesusahannya kepada orang yang paling akrab, bertuturlah Hana.
"Waktu ayah membawaku ke istananya, dengan simpati dia melayani kami. Tapi waktu ayah memperkenalkan diriku padanya, dia hanya melirik sekejap saja tanpa memandang secara lurus padaku. Memangnya Hana tidak berharga untuk dipandang olehnya, sungguh terlalu!"
Tadinya Yu Wi mengira ada kejadian apa-apa, kini baru diketahuinya soalnya cuma menyangkut lirik dan pandang saja, lalu menimbulkan rasa marah si nona.
Ia pikir hati perempuan memang aneh, hanya urusan sekecil ini perlu dirisaukan.
Maka ia lantas membujuknya.
"Sudahlah, dia tidak mau memandangmu juga tidak apalah, hendaklah Kongcu makan dulu , jangan sampai kelaparan dan jatuh sakit nanti."
Tiba-tiba Hana tertawa manis, katanya.
"Sebenarnya akupun tidak suka dipandang olehnya, yang kugemasi adalah sikapnya yang angkuh dan acuh-tak-acuh itu. Tapi sekarang aku tidak marah lagi, sebeb kutahu kau suka padaku."
Mendengar ucapan terakhir ini, cepat Yu Wi berkata.
"Lekaslah kau makan dulu."
Maka Siau tho lantas menyiapkan lagi santapan bagi sang Tuan Puteri. Sembari makan Hana bertutur pula.
"Siang tadi tidak kau katakan, tapi sekarang kutahu pasti kau suka padaku, apakah kau tahu sebebnya?"
Yu Wi tahu watak gadis bangsa daerah barat ini tidak kikuk dan malu-malu seperti anak perempuan Tionggoan, apa yang terpikir lantas diucapkan secara blak2an.
Tapi Yu Wi tidak suka bicara mengenai hal-hal demikian dengan si nona cepat ia menyimpang.
"Harap Kongcu makan yang kenyang!"
"Eh, jangan kau sengaja membelokkan pembicaraanku."
Kata Hana dengan tertawa manis.
"Kutahu kau memperhatikan diriku, kalau kau tidak suka padaku, tentunya takkan memperhatikan diriku, bukan?"
"Wah, celaka!"
Keluh Yu Wi dalam hati.
Ia pikir gadis asing terlalu mudah main cinta, selanjutnya perlu lebih hati-hati, jangan sampai terperosok kedalam jaring cinta dan menusuk perasaan Bok-ya.
Selesai Hana makan, Siau Tho membersihkan seperlunya, lalu Yu Wi berkata pula dengan tergegap.
"Kongcu, di... dimana tempat istirahatku?"
"Kami ada belasan tenda, semua penghuninya adalah perajurit wanita anak buah Kongcu, dimana Kongcu ingin tidur, boleh sesukamu!"
Kata Siau Tho tiba-tiba dengan tertawa.
"Wah, mana boleh."
Ujar Hana.
"Jika Yu-kongcu ingin tidur ditenda kalian, sedangkan mereka tidak tahu keadaan Yu-kongcu, bukan mustahil akan terjadi apa-apa, kukira bolehlah Yu-kongcu tidur disini saja."
"Wah, jang... .jangan!... ."
Cepat Yu Wi menggoyang-goyang tangan.
"Jangan bagaimana?"
Ujar Hana dengan tertawa.
"memangnya kau takut kucaplok dirimu jika tidur disini "Baiklah kusiapkan tempatnya jika Kongcu akan tidur disini."
Kata Siau Tho. Tanpa menghiraukan Yu Wi mau atau tidak, segera ia bebenah seperlunya. Yu Wi tidak dapat mencegahnya, ia hanya kelabakan sendiri. Pikirnya.
"Biarlah melihat keadaan nanti, betapapun tidak boleh kutidur satu tenda bersama dia."
Kebiasaan suku bangsa kecil di daerah barat umumnya tidur dilantai.
Siau Tho membentang sebuah permadani sebagai kasur bagi Yu Wi.
Waktu itu hari masih dini, tapi rakyat gembala di daerah padang rumput biasa tidur lebih dini.
Setelah memasak sepoci teh susu, Siau Tho lantas mohon diri kepada sang Tuan Puteri dan kembali ketenda sendiri.
Yu Wi duduk termenung dalam perkemahan.
Hana tertawa memandang anak muda itu, tegurnya.
"Tidak tidur?"
Yu Wi menggeleng.
"Kau tidak tidur, biar kutidur lebih dulu,"
Kata Hana.
Dia tidak menghiraukan Yu Wi berada disebelahnya, ia melepaskan perhiasan dan menanggalkan baju panjang.
Hawa udara di daerah barat sangat dingin bila malam hari, sebaliknya siang hari hawa panasnya luar biasa.
Baru saja baju dilepaskan, terus saja Hana menyusup masuk kedalam selimut kulit yang sudah dibenahi Siau Tho tadi.
Tempat yang disediakan bagi Yu Wi terletak didepan Hana, Yu Wi tidak tidur, sebaliknya memandang keluar tenda, ia pikir sebaiknya keluar saja dan duduk semalam suntuk diluar.
Hana sangat cerdik, sekali pandang lantas tahu maksud Yu Wi, katanya dengan tertawa.
"Kau ingin keluar, bukan?"
Yu Wi tidak bersuara, katanya dalam hati.
"Nanti kalau dia sudah tidur nyenyak barulah kukeluar, kalau kukeluar sekarang tentu akan menyinggung perasaannya."
Mendadak Hana berkata dengan menyesal.
"Kau tidak suka tidur disini, tidak kusalahkan dirimu. Tapi kalau kau hanya duduk semalaman diluar, bila kesehatanmu terganggu, siapa yang akan merawat kau?"
"Silakan Kongcu tidur saja, sebentar lagi akupun akan tidur,"
Jawab Yu Wi.
Dalam hati ia sudah mengambil keputusan akan keluar bila si nona sudah tidur.
Kalau tidur bersama satu tenda dengan dia, kecurigaan ini biarpun dicuci dilaut juga takkan bersih.
Hana tidak bicara lagi.
Suasana dalam tenda menjadi sunyi senyap.
Yu Wi duduk membelakangi Hana, sampai sekian lama ia berduduk, disangkanya Hana sudah pulas, ia coba menoleh dan meliriknya, ia pikir akan menguluyur keluar bila si nona sudah tidur.
Siapa tahu Hana justeru lagi memandangnya dengan mata terbelalak.
"He, ken... kenapa kau belum tidur?"
Tanya Yu Wi terkejut.
"Kau tidak tidur, akupun tidak dapat tidur,"
Jawab Hana dengan perasaan hampa.
Mendadak ia berdiri, selimut tersingkap sehingga kelihatan tubuhnya yang putih seperti salju.
Cepat Yu Wi berpaling kearah lain.
Teringat apa yang dilihatnya siang tadi, kembali jantungnya berdetak keras.
Didengarnya Hana mendekatinya dan menyodorkan sepotong baju kulit, katanya.
"Hawa semakin dingin, lekas kau tidur saja!"
Yu Wi memang merasa dingin, ia terima baju kulit itu dan dipakainya sambil mengucapkan terima kasih.
"Tidak usah terima kasih,"
Kata Hana sambil menghela napas.
"Jika kau tidak tidur, biarlah kutemani kau."
Lalu ia duduk di sisi Yu Wi. Melihat si nona hanya mengenakan baju tipis, cepat Yu Wi berkata.
"Kongcu lekas tidur saja, jangan sampai masuk angin."
"Tidak apa-apa, akan kutemani kau mengobrol."
Kata Hana. Yu Wi lantas berdiri dan berkata.
"Kongcu lekas tidur, kalau tidak, rasanya tidak enak kududuk disini dan terpaksa keluar saja."
Terpaksa Han berdiri dan kembali berbaring kebawah selimutnya.
"Silakan Kongcu tidur baik-baik, kukeluar sebentar,"
Kata Yu Wi.
Setiba diluar kemah, angin dingin meniup dari depan dan membuatnya menggigil.
Dilihatnya disekelilingnya lampu berkedip-kedip, nyata pasukan Turki belum lagi mundur, tapi memasang tenda disekitar situ.
Kuatir mengejutkan musuh, Yu Wi tidak berani sembarangan bergerak, ia lantas duduk disepan kemah.
Tapi baru saja berduduk, segera terdengar Hana berkata didalam kemah.
"Apakah kau enggan tidur bersamaku didalam kemah?"
"Demi menghindarkan prasangka yang tidak-tidak, terpaksa kuberbuat begini, mohon Kongcu sudi memaafkan."
Kata Yu Wi.
"Menghirdari prasangka apa? Apa halangannya kau tidur didalam kemah?"
Ujar Hana.
"Meski diantara kita tidak persoalan apa-apa, tapi omongan orang sangat menakutkan, bila tersiar, tentu akan merugikan nama baik Kongcu."
Kata Yu Wi.
"Aku tidak peduli nama baik apa segala, orang mau omong apa boleh saja omong, aku tidak takut."
Kata Hana.
"Lekas kau tidur didalam saja, kalau tidak, sebentar aku bisa marah."
"Aku sudah memutuskan akan duduk semalaman diluar sini, hendaknya Kongcu tidak banyak bicara lagi."
Jawab Yu Wi tegas.
"Baik, kau menghina diriku, maka tidak sudi tidur sama kemah bersamaku,"
Ucap Hana dengan gusar.
"Ya, kutahu orang Tionggoan kalian terikat oleh macam-macam adat istiadat yang aneh, tapi kau tidak mau tidur didalam kemah, itu berarti kau menghina diriku."
Sembari bicara, terdengar nona itu menangis pelahan.
Pada saat itulah mendadak tabir tenda tersingkap, sesosok bayangan orang melayang masuk kesitu.
Hana mengira Yu Wi yang masuk, dengan girang ia menengadah.
Tapi yang terlihatnya bukanlah Yu Wi melainkan seorang pemuda berbaju putih.
"Ck-ck-ck!"
Demikian mulut pemuda baju putih itu berkecek-kecek.
"Gadis secantik ini, siapa yang berani menghina dirimu? Lekas katakan padaku, akan kuhajar adat padanya. Apakah anak tolol yang duduk diluar itu?"
Dengan terkejut Hana berseru.
"Siapa kau? Lekas enyah!"
Dia bangun berduduk dengan memakai baju tipis, lekas-lekas ia menarik selimut untuk menutupi tubuh sendiri.
"Hah, percuma, tidak ada gunanya! Sudah kulihat dengan jelas!"
Seru pemuda baju putih dengan tertawa. Hana menjadi gusar bercampur malu, damperatnya.
"Ayo enyah, kalau tidak, segera aku berteriak!"
Yu Wi asyik duduk diluar dan tidak memperhatikan apa yang terjadi, tadi ia hanya merasa pandangannya kabur, segera ia tahu kedatangan tokoh silat kelas tinggi.
Kuatir terjadi apa-apa atas diri Hana, cepat ia menyusul kedalam kemah dan menegur.
"He, siapa anda? Silakan bicara diluar!"
"Kau sendiri siapa? Lelaki atau perempuan?"
Jawab pemuda baju putih.
"Lelaki atau perempuan ada sangkut-paut apa dengan dirimu?"
Kata Yu Wi.
"Anda sembarangan menerobos masuk kesini, yang empunya rumah sudah mengusir, masakah masih ingin berdiam lebih lama lagi disitu?"
"Dengan sendirinya aku ingin tinggal disini, bukan saja cuma tinggal, malah akan kutemani perempuan cantik ini."
Kata pemuda baju putih dengan tertawa, lalu ia berpaling dan berkata kepada Hana.
"Dia tidak mau menemani kau tidur dalam kemah, biarlah aku saja yang menemani kau."
Hana menjadi gusar, damperatnya.
"siapa kenal kau? Lekas enyah!"
Tapi pemuda baju putih itu tetap cengar-cengir dan berkata.
"Kenal atau tidak kau tidak menjadi soal, asalkan aku cinta padamu, kusuka menemani kau didalam kemah, kan jauh lebih baik dibandingkan seorang anak tolol yang tidak jelas jantan atau betinanya. Yang harus kau enyahkan seharusnya dia."
Meski anak perempuan suku bangsa kecil yang tidak tahu macam-macam adat pembatasan antara lelaki dan perempuan, tapi demi mendengar lelaki yang baru pertama kali dilihatnya ini berani menyatakan "aku cinta padamu", mau-tak-mau Hana melengak dan merasa tingkah laku orang ini keterlaluan.
Yu Wi juga merasakan kejanggalannya, ia pikir apakah orang ini sudah gila?
Kalau bukan orang gila mana bisa mengucapkan kata-kata sinting seperti itu?
Pemuda baju putih itu ternyata tidak sungkan-sungkan, ia mendekati kasuran dan menanggalkan baju, ia benar-benar hendak menemani Hana tidur didalam tenda.
"He, he, tempat ini bukan untukmu?"
Seru Hana.
"Bukan untukku, habis untuk siapa?"
Pemuda itu berlagak bodoh.
"Untuk dia,"
Kata Hana sambil menunjuk Yu Wi.
"Lekas kau keluar!"
"Tapi dia tidak mau tidur bersamamu disini apa mau dikatakan lagi?"
Ujar pemuda baju putih itu dengan tertawa sambil tetap membuka pakaian.
Melihat pakaian orang sudah terlepas hingga tinggal baju dalam saja, bahkan segera menyusup kedalam selimut, dengan gusar Hana lantas berteriak.
"Yu-kongcu, apakah benar-benar tidak suka tidur didalam tenda?"
Yu Wi berdiri membelakangi Hana dan berkata kepada pemuda baju putih.
"Darimana anda tahu aku tidak mau tidur didalam tenda."
"Kuping orang she Ciang tidak tuli."
Ujar pemuda baju putih dengan tertawa.
"Jelas kudengar tadi ada seorang bocah tolol menyatakan ingin berduduk semalam suntuk diluar kemah, memangnya aku bisa salah dengar?"
"Ya, kau salah dengar!"
Kata Yu Wi dengan tegas dan pasti. Pemuda baju putih terbahak, baju luar dikenakannya pula, ucapnya dengan menyesal.
"Sayang aku tidak disuruh tidur disini, sebaliknya seorang tolol yang dipaksa tidur malah. Dasar tolol tetap tolol, kalau tidak mau tidur disini, biarpun dipaksa juga tiada gunanya."
Dengan gusarnya Yu Wi mendamprat.
"Anda menyebut tolol terus menerus, siapa yang kau maksudkan?"
"Kalau kau bukan orang tolol, siapa lagi?"
Jawab pemuda baju putih. Hana lantas menukas.
"Yu-kongcu bukan orang tolol, tampaknya kau sendirilah seorang dungu."
"Hihihi,"
Pemuda baju putih itu tertawa ngikik.
"anak lelaki di dunia ini jarang ada yang dungu. Namaku Ciang Ti, Ti artinya dungu, menjadi orang dungu kan tidak apa-apa bukan?"
"Anda bernama Ciang dungu, aku she Yu tapi tidak tolol, silakan anda mengaku dungu, tapi aku bukan orang tolol,"
Kata Yu Wi.
"Haha, masa kau tidak mengaku tolol."
Kata pemuda itu dengan tertawa.
"Gadis secantik ini disediakan didepanmu, tapi kau tidak suka. Kalau aku, tanpa diminta pun aku suka padanya. Coba, apakah kau tidak tolol?"
Melihat cara bicara orang yang sinting tapi tidak bermaksud jahat, mesi berulang-ulang menyebut dia tolol, namun Yu Wi tidak lagi marah, ia malah sengaja menggodanya.
"Eh, bagaimana kalau disini masih ada seorang gadis yang lebuh cantik, kau mau?"
"Masih ada lagi gadis yang lebih cantik? Mana? Dimana?"
Tanya pemuda berbaju putih yang mengaku bernama Ciang Ti itu dengan antusias.
"Aku hanya bilang kalau, janganlah anda terburu nafsu,"
Kata Yu Wi.
"Jika benar ada gadis yang lebih cantik, tentu aku akan lebih suka padanya."
Seru Ciang Ti.
"Dan kalau disini ada selusin gadis cantik, lalu bagaimana?"
"Jika benar ada, seluruhnya akan kusukai."
Kata Ciang Ti. Diam-diam Yu Wi membatin orang ini benar-benar dungu alias dogol. Segera ia membujuknya.
"Lekaslah kau keluar, jangan lagi sembarangan mengoceh disini dan membikin marah si cantik. Hendaklah tahu, dia adalah Tuan Puteri kerajaan Iwu dan bukan gadis biasa."
"Tuan Puteri dan gadis biasa apa bedanya? Jika kau suka padanya, peduli dia Tuan Puteri atau gadis kampung."
Yu Wi merasa ucapan orang yang terakhir ini ternyata tidak dungu. Biarpun kelakuan orang ini sok gila2an, tapi masih berdarah seorang lelaki sejati. Tiba-tiba Hana berseru.
"Ciang Ti, jika tidak lekas pergi, segera kupanggil orang mengusir kau!"
"Sebenarnya aku mau pergi, tapi sekarang tidak jadi pergi."
Kata Ciang Ti.
"Seb...sebab apa tidak jadi pergi?"
Tanya Hana dengan terkejut. Ciang Ti tertawa, katanya.
"Aku perlu tanya lagi kepada si tolol itu apakah dia benar-benar cinta padamu, kalau tidak, aku tidak jadi pergi."
Lalu ia berpaling dan tanya Yu Wi.
"Eh, kau cinta padanya atau tidak?"
Seketika Yu Wi tak dapat menjawab. Maka Ciang Ti berkata pula.
"Jika kau menyangkal takkan duduk semalam suntuk diluar kemah, tentunya kau akan tidur didalam kemah. Dan kalau tidur didalam kemah, kan berarti kau cinta padanya, begitu bukan?"
Diam-diam Yu Wi mendongkol oleh ocehan orang yang angin2an ini. Melihat Yu Wi belum lagi menjawab, dengan malu Hana berkata.
"Yu-kongcu, lekas... lekas kau... .kau jawab pertanyaannya... ."
Sudah tentu dia sangat berharap Yu Wi akan menjawab.
"Ya, benar, aku cinta padanya! Lekas kau pergi saja!"
Tapi mana Yu Wi dapat menjawab demikian, dalam keadaan demikian sungguh serba salah baginya.
Kata-kta yang berlawanan dengan hati nuraninya tidak mungkin diucapkannya, sebaliknya kalau menyatakan tidak cinta, dikuatirkan akan melukai perasaan Hana.
Dalam keadaan serba susah itu, mendadak dari luar tenda melayang masuk pula satu orang, seorang pemuda berbaju hitam, usianya sebaya dengan Ciang Ti, antara 27-28 tahun.
Begitu masuk dan melihat Hana, seketika ia berkerut kening dan berkata.
"Go-ko (kakak kelima) pantas kucari setengah harian tidak ketemu, kiranya kau kembali terpelet oleh siluman rase (poyokan bagi perempuan yang suka menggoda lelaki)."
"Kiranya Lak-te (adik keenam),"
Ujar Ciang Ti dengan tertawa.
"Hendaklah kau pulang dan katakan kepada Toako bahwa besok tentu aku akan berkumpul lagi dengan kelompok kita."
Semakin rapat kening pemuda baju hitam itu terkerut, ucapnya.
"Perempuan bangsa asing ini tidak sedikitpun menarik, mengapa Go-ko sampai terpikat? Toako bilang ada urusan penting perlu dirundingkan bersama, hendaklah Go-ko lekas pulang."
Hana merasa tidak senang karena dirinya dianggap sebagai "siluman rase", kini dicela pula sama sekali tidak menarik, keruan ia menjadi gusar, segera ia mendamperat.
"Lekas keluar! Lekas enyah!"
Ciang Ti tidak berani ayal karena diberitahu sang Toako ada urusan penting yang perlu dirundingkan bersama, terpaksa ia berkata dengan gegetun.
"Lak-te, baiklah kita pergi saja!"
Sebelum melangkah keluar tenda, pemuda baju hitam itu sempat menoleh dan menjengek.
"Hm, kalau marah, tambah buruk!"
Perempuan, terutama perempuan muda, paling pantang dikatakan buruk rupa oleh kaum lelaki.
Karuan Hana sangat mendongkol, ia menjatuhkan diri dikasurnya dan menangis.
Selagi Yu Wi hendak menghiburnya, mendadak terdengar suara gemuruh diluar, waktu ia mendengarkan dengan cermat, kiranya perajurit Turki yang mengepung di sekeliling perkemahan itu sedang ber-teriak2.
"Itu dia! Musuh lari keluar!... ."
Rupanya waktu Ciang Ti dan pemuda baju hitam itu menyelinap masuk ketenda Hana tidak diketahui oleh pasukan Turki, tapi waktu keluar mereka telah kepergok.
Karena itulah mereka disangka musuh yang sedang dicari dan hendak kabur lagi.
Yu Wi pikir kejadian ini sangat kebetulan baginya, jika pasukan Turki menyangka dirinya sudah kabur, kepungan mereka besok pasti akan dibubarkan, dan dirinya dapat meninggalkan tempat ini dengan aman.
Dilihatnya tangis Hana bertambah keras, kuatir menimbulkan hal-hal yang tidak terduga, Yu Wi lantas merebahkan diri diatas kasur yang telah disediakan baginya itu dan tidur tanpa membuka baju.
Esok paginya, ia merasa semangat sudah pulih kembali, sedikitpun tiada tanda lelah seperti kemarinnya.
Diam-diam ia anggap keterangan Hana agak berkelebihan bahwa tenaganya baru akan pulih beberapa hari kemudian akibat disihir.
Ia tidak tahu bahwa ilmu lwekang yang dilatihnya memang lain daripada yang lain dan kini pun bertambah sempurna.
Ia lihat Hana belum mendusin, maka pelahan ia menanggalkan seragam perajurit wanita Iwu yang dikenakannya itu sehingga pulih kembali dalam bentuk lelaki sejati.
Kebetulan Siau Tho masuk, melihat keadaan Yu Wi itu, ia menegur dengan terkejut.
"He, Kongcu hendak pergi?"
Yu Wi tidak menjawab, tapi malah bertanya.
"Apakah pasukan Turki sudah ditarik mundur?"
Siau Tho mengangguk. Yu Wi lantas berkata pula.
"Ya, aku akan pergi."
Mendadak Hana bangun berduduk, terlihat matanya merah bendul, Siau Tho terkejut dan bertanya.
"Urusan apakah yang membuat Kongcu berduka?"
Hana hanya menggeleng saja tanpa menjawab. Dengan gusar Siau Tho berkata.
"Apakah Yu-kongcu menyakiti Kongcu?" -Ia berpaling dan menegur Yu Wi.
"Besar amat nyalimu, berani berbuat tidak sopan terhadap Kongcu kami?"
"Ti... tidak, jangan sembarangan omong."
Jawab Yu Wi dengan agak gelagapan.
"Aku tidak berbuat apa-apa terhadap Kongcu kalian."
Hana menghela napas, ia berbangkit dan mengenakan bajunya, Siau Tho lantas bantu mendandani sang Tuan Puteri.
Yu Wi berdiri diam disamping.
Sejenak kemudian, selesai bersolek, Hana berpaling dan bertanya.
"Apakah benar kau hendak pergi?"
"Tenagaku sudah pulih, tidak berani merepotkan Kongcu lagi."
Kata Yu Wi.
"Kutahu sukar untuk menahanmu disini, tapi entah sekarang kau hendak kemana?"
"Untuk sementara ini aku pun tak dapat meninggalkan Kim-san, sebab ada seorang kawanku menghilang disini secara misterius, harus kutemukan dia lebih dulu baru akan pulang ke Tionggoan."
"Ayah baginda juga belum bisa segera pulang kenegeri kami, kalau sempat kuharap akan kedatanganmu pula."
"Baik."
Jawab Yu Wi dengan tulus.
"Sekarang kumohon diri."
Baru saja sampai dipintu tenda, mendadak Hana memanggilnya.
"Tunggu sebentar."
Yu Wi berhenti dan berpaling. Hana lantas mengeluarkan sepotong pening yang berwarna-warni dan diberikan kepada anak muda itu, katanya.
"Ini adalah pas jalan negeri Iwu kami, dengan tanda pengenal ini, kelak boleh kau datang kenegeri kami dan tiada seorang pun berani merintangi kau. Selain itu, bila bertemu dengan kedua Koksu (imam negara) kami, yaitu Mo-gan-liap-hun (mata iblis pencabut nyawa) Goan-si hengte (Goan bersaudara), bila mereka hendak mempersulit dirimu, katakan pening ini adalah pemberianku, tentu mereka tak berani rewel lagi padamu."
Yu Wi tahu maksud tujuan pemberian pening sebagai pas jalan itu adalah karena Hana berharap dirinya menjenguknya kenegeri Iwu.
Diam-diam ia berpikir jiwa sendiri hanya bertahan dua tahun saja, mana ada waktu lagi untuk berkunjung kenegeri si nona.
Mestinya akan ditolaknya, tapi demi mendengar nama "Mo-gan-liap-hun", segera ia tanya.
"Goan-si-hengte"
Yang kau maksudkan apakah kedua kakek kurus tinggi itu?"
"Betul,"
Jawab Hana sambil mengangguk.
"Kedua orang itu mahir ilmu sihir, kau pun pernah terkena Jui-bin-sut mereka, maka selanjutnya harus hati-hati terhadap mereka."
Yu Wi menerima pening itu dan berkata.
"Aku tidak pasti dapat berkunjung ke negerimu, tapi terhadap Goan-si-hengte sesungguhnya aku tidak berdaya melawannya, terpaksa kugunakan pening ini untuk menghadapi mereka. Untuk itu lebih dulu terima kasihku kepada Kongcu."
Tiba-tiba Siau Tho menimbrung.
"Seumpama Yu-kongcu tidak sempat berkunjung lagi kenegeri kami, se-tidak2nya juga dapat mengirim sesuatu berita kepada Kongcu kami, janganlah setelah berpisah lantas lupa sama sekali."
Yu Wi menghela napas panjang, katanya.
"Yu Wi tidak nanti melupakan Kongcu, dua tahun lagi, asalkan tidak mati, tanpa mengirim berita atau surat, pasti aku akan berkunjung kenegeri kalian untuk menjenguk Kongcu."
Hana tertawa senang, katanya.
"Jika begitu, dua tahun lagi akan kusambut kedatanganmu."
"Cuma, tatkala mana bisa jadi aku sudah tidak hidup didunia ini lagi,"
Ucap Yu Wi dengan pedih.
Habis berkata ia terus berlari pergi secepat terbang dan meninggalkan Hana yang penuh diliputi rasa sesal yang tak terhingga.
Yu Wi terus berlari kearah Kim-san, diam-diam ia mengambil keputusan, sekalipun seluruh Kim-san harus diaduknya hingga merata.
Ko Bok-ya harus diketemukan kembali.
Ia berlari sekian lamanya, tiba-tiba didengarnya dikejauhan sana ada oran berteriak.
"Yu Wi anakku, betapa susah kucari kau! Yu Wi anakku, dimana Kau!... ."
Suara itu sambung menyambung tak terputus, se-olah2 kalau Yu Wi tidak diketemukan maka teriakan itupun takkan berhenti.
Diam-diam Yu Wi merasa gusar, ia pikir orang gila dari manakah tang berteriak-teriak secara ngawur begitu?
Tanpa terasa ia berlari menuju kearah suara itu, makin lama makin dekat, terdengar suara teriakan itu lantang keras penuh rasa duka, mirip benar seorang ayah yang sedang mencari anak kesayangannya.
Waktu membelok ketikungan tanjakan sana, muncul tujuh sosok bayangan orang, masingmasing mengenakan baju yang berbeda warnanya, yaitu terdiri dari warna biru, ungu, kuning, putih, hitam, kelabu dan merah.
Orang yang berteriak-teriak itu memakai baju berwarna kelabu, Yu Wi kenal orang yang berbaju putih dan hitam itu adalah kedua pemuda yang semalam dilihatnya didalam kemah Hana itu, Kelima orang yang lain tidak pernah dilihatnya sebelum ini.
Usia ketujuh orang itu rata-rata baru tiga puluh lebih, wajah mereka tidak jelak, semuanya berdandan sebagai Kongcu, Yu Wi tidak kenal Kongcu berbaju kelabu itu, entah sebab apa dia berteriak-teriak begitu?
Segera Yu Wi melompat kedepan mereka, tegurnya.
"Hendaknya kalian berhenti sejenak!"
Dengan wajah murung sibaju kelabu bertanya.
"Siapa kau? Untuk apa kau mengadang jalan kami? Jangan-jangan kau tahu jejak anakku Yu Wi?"
Ciang Ti, sibaju putih, berkata dengan tertawa.
"Kukenal dia, namanya Yu Wi."
"Eh, Anda juga she Yu?"
Sela Kongcu baju biru dengan tertawa gembira.
"Ya, Cayhe memang Yu Wi adanya,"
Jawab Yu Wi dengan agak mendongkol.
"Apa, kau inikah Yu Wi?!"
Seru si baju kelabu.
"Tahukah kau betapa susah payah kami mencari dirimu."
Dengan gusar Yu Wi menjawab.
"Cayhe tidak kenal kau, kalau bicara hendaknya jangan kau menghina mendiang ayahku!"
Kongcu berbaju kuning yang berwajah serba susah itu menimbrung.
"Wah, Sam-ko (kakak ketiga), sekali ini kau telah menimbulkan petaka. Sudah kukatakan jangan sembarangan berteriak, sekarang orangnya telah muncul, coba cara bagaimana akan kau selesaikan?"
Si baju ungu ikut bicara dengan marah-marah.
"Apanya yang susah diselesaikan? Kalau dia tidak terima, mau berhantam juga boleh!"
Tapi si baju kelabu lantas menanggapi dengan tetap murung.
"Cara kupanggil dia ini hanya bermaksud baik, mana bisa berhantam segala, malahan dia harus berterima kasih padaku."
Si baju biru lantas menambahkan dengan tertawa.
"Yu-heng, cara Samte memanggil kau itu memang bermaksud baik, hendaknya jangan kau marah."
Diam-diam Yu Wi berpikir apakah kawanan Kongcu ini semuanya serupa Ciang Ti, semuanya sinting? Pada dasarnya Yu Wi memang berwatak pelapang dada dan pemaaf, dengan sabar ia berkata.
"Biarpun bermaksud baik juga tidak pantas memanggil diriku dengan cara begitu?"
Dengan wajah sedih si baju kelabu berkata pula.
"Kalau tidak kupanggil kau cara begitu, mana bisa kau memburu kemari? Kau tahu, urusan yang dipesan It-teng Sin-ni tidak boleh tidak kami kerjakan, sedangkan Kim-san seluas ini, kemana harus kami cari dirimu? Karena itu, timbul gagasanku untuk mencari dirimu dengan akal bagus ini, dan ternyata sangat manjur, begitu mendengar suaraku segera kau muncul."
"He, It-teng Sin-ni katamu?"
Seru Yu Wi terkejut.
"Urusan apa yang beliau pesankan kepada kalian?"
"Jika ingin tahu, lekas panggil ayah kepada Samko!"
Kata si baju hitam dengan suara garang. Yu Wi menjadi gusar.
"Mau bicara lekas katakan, tidak mau bicara juga tidak menjadi soal. Yang pasti orang she Yu bukan orang yang boleh dihina, jika kalian menyinggung lagi kehormatan orang tuaku, terpaksa Cayhe tidak sungkan-sungkan lagi."
Mendadak Kongcu baju ungu berseru dengan beringas.
"Kurang ajar! Kau berani bertingkah didepan kami? Ini, rasakan kepalanku!"
Habis berkata, kontan ia menghantam ulu hati Yu Wi dengan kepalannya.
Tapi Yu Wi sempat menangkis sambil balas menangkap tangan orang.
Ia pikir tabiat orang ini sungguh buruk, harus diberi hajaran setimpal, maka cara turun tangan Yu Wi tidak kenal ampun lagi, yakni dengan salah satu jurus dari ketiga puluh jurus ilmu pukulan ajaib yang lihai itu.
Sama sekali Kongcu baju ungu tidak menyangka Yu Wi akan turun tangan selihai ini, sedikit lengah, kontan pergelangan tangannya terpegang oleh Yu Wi.
Ketika Yu Wi perkeras cengkeramannya, kontan tangan Kongcu baju ungu tak bisa berkutik, saking kesakitan ia menjerit minta tolong.
Kongcu baju kuning terperanjat, serunya.
"Wah, celaka! Jiko (kakak kedua) akan tamat riwayatnya, kita bukan tandingannya!"
Habis berkata ia putar haluan terus hendak kabur. Tapi sibaju kelabu keburu menariknya, katanya dengan tetap murung.
"Kita bersaudara sudah biasa ada rejeki dibagi bersama, ada petaka dipikul bersama. Kau tidak boleh lari!"
Si baju kuning ketakutan hingga gemetar, katanya.
"Petaka ditimbulkan olehmu, biar kau dan Jiko saja yang memikulnya bersama, bukan urusan kami....."
"Jangan membikin malu, Siko,"
Seru Ciang Ti.
"Bocah ini tidak perlu ditakuti... ."
Tapi si baju kuning masih gemetar, katanya.
"Bocah ini kawan It-teng Sin-ni, kepandaiannya pasti sangat tinggi, jalan paling selamat bagi kita adalah lekas lari saja!"
"Lari apa? Berdirilah disitu!"
Ucap si baju biru dengan tertawa.
Meski Kongcu baju biru ini bicara dengan tertawa, tapi ada semacam wibawa yang tak kelihatan yang dapat menguasai Kongcu baju kuning, dia benar-benar berdiri disitu dan tidak lagi berusaha lari.
Pembawaan wajah Kongcu baju biru itu memang selalu tertawa gembira, tanpa sedih tanpa duka, dia mendekati Yu Wi dan memohon.
"Yu-heng, sudilah kau lepaskan Jiteku."
Merasa si baju ungu sudah cukup dihajar adat, Yu Wi tidak ingin membikin susah orang, segera ia lepaskan cengkeramannya.
Tak terduga, bukannya berterima kasih, sebaliknya si baju ungu lantas menghantam pula dengan tangan yang lain.
Yu Wi tahu tabiat si baju ungu sangat keras dan buas, waktu lepaskan cengkeramannya iapun sudah berjaga-jaga, maka cepat ia melompat mundur sehingga pukulan si baju ungu mengenai tempat kosong.
Segera si baju ungu hendak menerjang lagi, tapi si baju biru keburu mencegahnya dengan tertawa.
"Berhenti, Jite!"
Cepat sekali serangan si baju ungu, tapi caranya menarik kembali serangannya terlebih cepat.
Baru saja lenyap suara si baju biru, serentak si baju ungu sudah mundur kebelakang si baju biru dan melototi Yu Wi dengan gusar.
"Watak Jiteku sangat buruk, mohon Yu-heng sudi memaafkan,"
Kata si baju biru dengan tertawa. Karena sikap ramah orang, Yu Wi tidak enak untuk bersikap ketus, ia menjawab.
"Cara turun tanganku agak kasar, hendaknya suka dimaafkan pula."
"Tabiat kami bertujuh saudara memang mempunyai ciri anehnya masing-masing."
Kata si baju biru dengan tertawa.
"Sebab itulah tindak-tanduk kami menjadi agak lain daripada yang lain. Bila tindakan Jiteku tadi kurang sopan padamu, sekali lagi orang she Un mohon maaf."
Habis berkata, kembali ia membungkuk tubuh, Lekas Yu Wi balas menghormat. Lalu si baju biru berkata pula dengan tertawa.
"Kemarin kami bertemu dengan It-teng Sin-ni, beliau memberi pesan agar menyampaikan sesuatu hal kepada Yu-heng."
Yu Wi pikir It-teng Sin-ni adalah guru Bok-ya, pesannya tentu sangat penting, maka cepat ia tanya.
"Urusan apakah, mohon memberitahu?"
"Beliau bilang....."
Belum lanjut ucapan si baju biru, mendadak si Kongcu baju hitam memotong.
"Toako, sementara ini jangan memberitahukan kepadanya."
"Memangnya Lakte ada persoalan apa?"
Tanya si baju biru dengan tertawa. Si baju hitam melangkah maju, katanya.
"Tunggu setelah kukalahkan dia barulah Toako beritahukan padanya,"
Lalu ia berpaling kepada Yu Wi dan berkata.
"Karena kurang hati-hati sehingga Jiko terpegang olehmu, kalau mampu, cobalah tangkap lagi diriku si Kat Hin ini."
"Selama ini kita tidak kenal dan tiada permusuhan apapun, untuk apa kutangkap dirimu?"
Jawab Yu Wi. Dengan gemas si baju hitam alias Kat Hin berkata.
"Aku bermaksud menghantam dirimu, dengan sendirinya akan menimbulkan permusuhan."
Benar juga, segera ia menjotos muka Yu Wi.
Cepat Yu Wi berkelit kesamping.
Melihat orang tidak balas menyerang, Kat Hin tidak sungkan sedikitpun, kembali ia menghantam, sekali ini kedua kepalan digunakan sekaligus dan menjotos dengan cepat secara bergantian.
Namun Yu Wi tetap tidak balas menyerang, ia hanya menggunakan Ginkangnya untuk menghindari pukulan Kongcu baju hitam itu.
Karena serangannya tidak mengenai sasarannya, saking gemasnya si baju hitam alias Kat Hin berjingkrak dan berkaok-kaok.
"Berhenti, Lakte,"
Seru si baju biru dengan tertawa.
"Kedatangan kita ini bukan untuk mencari dia, buat apa buang-buang tenaga percuma."
"Bukan dia yang dicari, apakah kami yang kalian cari?"
Demikian jengek seorang, tahu-tahu dari balik tanjakan sana muncul dua orang. Cepat Kat Hin menghentikan serangannya dan melompat mundur sambil berseru.
"Goan-sihengte!"
Kedua orang yang baru muncul ini sudah dikenal Yu Wi, yaitu kedua Koksu kerajaan Iwu, kedua Goan bersaudara yang berjuluk "Mo-gan-liap-hun" (mata iblis pencabut nyawa).
Si baju biru berpaling dan berkata.
"Sangat kebetulan kedatangan kalian, kami tidak perlu lagi mencari kalian."
Meski berhadapan dengan musuh, namun wajah si baju biru masih tetap tertawa.
Kakek jangkung yang sebelah kiri adalah sang kakak, namanya Goan Su-cong, kakek yang sebelah kanan adalah adik, namanya Goan Su-bin.
Goan Su-cong lantas mengejek.
"Beberapa tahun yang lalu Jit-ceng-mo sudah keok ditangan kami, mana sekarang kalian berani berlagak gagah didepan kami?"
Kiranya ketujuh Kongcu dengan warna baju yang berbeda-beda ini masing-masing mempunyai watak yang aneh, didunia Kangouw mereka terkenal sebagai Jit-ceng-mo (iblis tujuh perasaan), yakni girang, gusar, duka, takut, cinta, benci dan nafsu.
Sesuai urutan tersebut, iblis girang adalah sang kakak tertua, paling dihormati dan disegani keenam orang yang lain.
Segera iblis girang Un Siau berkata dengan tertawa.
"Dahulu kami kalah karena ilmu sihir kalian, kedatangan kami sekarang bukan lagi Jit-ceng-mo yang dulu, kalau mampu, ayolah kita coba-coba dengan kepandaian sejati."
"Hehe, apakah Jit-ceng-mo sekarang sudah tidak takut lagi kepada Jui-bin-sut?"
Jengek Goan Su-cong. Go Bun, si iblis gusar, tidak sabar lagi demi berhadapan dengan musuh, segera ia berteriak.
"Jui-bin-sut adalah ilmu sihir yang sesat, sedikit kepandaian yang tak berarti itu masakah perlu kami takuti?"
"Di mulut bilang tidak takut, tapi hari ini Jit-ceng-mo tetap akan keok dibawah ilmu sihir yang tidak berarti ini!"
Ejek Goan Su-cong.
"Ngaco-belo!"
Bentak Kat Hin, si iblis pembenci.
"Kalau tidak percaya, boleh saja dicoba."
Jawab Goan Su-bin.
Mendadak kedua Goan bersaudara melancarkan serangan.
Serentak Jit-ceng-mo berdiri menjadi satu baris, masing-masing memegang pundak orang didepannya dengan tangan kiri, seketika Jit-ceng-mo berubah seakan-akan cuma satu orang saja, hanya iblis girang Un Siau yang berdiri paling depan yang menyambut serangan kedua Goan bersaudara.
Baru saja gebrakan pertama, segera Goan-si-hengte merasakan kekuatan Un Siau besar luar biasa dan sukar untuk dilawan.
Mereka tahu tenaga ketujuh orang itu sebagian besar berkumpul dalam tubuh Un Siau, apabila bergebrak berhadapan, hanya beberapa jurus saja mereka pasti akan kalah.
Mereka cukup paham teori ilmu silat, mereka menyadari tak mampu melawan dari depan, segera mereka memencar dan menyerang Jit-ceng-mo dari kedua sisi.
Dengan sendirinya Un Siau tidak mampu menghadapi serangan dari kanan dan kiri, mendadak ia berteriak.
"Berputar jadi lingkaran!"
Orang yang paling belakang adalah Tio Ju, si iblis nafsu, yaitu si baju putih.
Dengan cepat ia menyambung kesebelah Un Siau, dengan demikian barisan mereka lantas berubah menjadi satu linkaran, dengan demikian, pertahanan yang paling lemah, yaitu sebelah kiri karena tangan kiri masing-masing digunakan memegang pundak kawannya, kini tidak perlu dikuatirkan lagi karena terletak disisi dalam.
Bagian luar sekarang adalah sebelah kanan dan tangan kanan Jit-ceng-mo bebas untuk menghadapi serangan musuh.
Kedua Goan bersaudara tidak lagi menyerang Un Siau, tapi selalu menyerang keenam orang lain.
Tak tersangka, meski kekuatan keenam orang itu tidak sehebat Un Siau, tapi juga tidak lemah dan sukar untuk dilawan mereka.
Setelah belasan jurus, Goan-si-hengte menyadari tenaga gabungan mereka memang sangat hebat, tak peduli siapa yang diserang, keenam orang yang lain tentu membagi tenaga masingmasing untuk membantunya.
Barisan melingkar ini sangat lihai, Goan-si-hengte tidak dapat menyelami cara bagaimana ketujuh orang itu saling menyalurkan tenaga untuk saling membantu.
Diam-diam mereka menyadari sukar untuk memperoleh kemenangan dengan kungfu sejati, bahkan kalau meleng bisa jadi akan kalah malah.
Ketika Goan Su-cong melancarkan suatu serangan dan tergetar mundur beberapa langkah, ia menghela napas dan berkata.
"Hari ini tampaknya kita harus mengaku terjungkal."
"Kalian memang sudah ditakdirkan harus kalah."
Tukas Un Siau dengan tertawa. Mendadak Goan Su-bin pura-pura menyerang, lalu melompat mundur, katanya.
"Tapi kalau satu melawan satu, tidak lebih dari sepuluh gebrakan pasti dapat kubinasakan salah seorang diantara kalain."
"Ah, juga belum tentu bisa,"
Jawab Un Siau tetap dengan tertawa.
Melihat yang bicara hanya Un Siau saja, keenam lainnya hanya mendelik belaka dan cuma mengikuti gerak Un Siau.
Tergerak hati Goan Su-cong, ia berusaha memancing bicara Go Bun si pemarah, katanya.
"Apabila Go bun sendirian melawan diriku, kuyakin sekali gebrak saja dapat kurobohkan dia."
Tujuannya memancing kemarahan Go Bun, siapa tahu iblis pemarah ini tidak mau terpancing, ia seperti tidak mendengar apa yang diucapkan Goan Su-cong.
Diam-diam Goan Su-cong terkejut, ia pikir kalau Go Bun yang pemarah saja tak dapat dipancing bicara, tentu saja yang lain lebih-lebih sukar terpancing.
Jadi sulit sekali jika hendak memancing mereka agar mau bertempur dengan satu lawan satu.
Setelah pura-pura menyerang lagi dua tiga kali, mendadak Goan Si-bin berucap dengan menyesal.
"Toako, mengapa mereka mengetahui akan kedatangan kita kesini?"
Goan Su-cong tahu maksud adiknya, iapun berlagak heran dan menjawab.
"Ya, memang aneh! Selama ini kita tinggal dinegeri Iwu, kedatangan kita kesini sangat dirahasiakan, entah cara bagaimana mereka mendapat tahu?"
Mendadak ia melompat kedepan Un Siau dan bertanya dengan lagak tidak habis mengerti.
"Eh, mengapa bisa terjadi begini?"
Dia bicara sambil memandang Un Siau dengan sorot mata yang tajam, Un Siau menyambut sorot mata lawan yang tajam itu, jawabnya dengan tertawa.
"Hal ini sangat sederhana untuk dijelaskan. Kami datang kenegeri Iwu dan mencari keterangan tentang kalian, katanya kalian ikut raja Iwu berkunjung kesini, maka kami lantas menyusul kemari. Biarpun gerak-gerik kalian sangat dirahasiakan, tapi raja Iwu kan sasaran yang mudah dicari, dengan sendirinya kalian pun dapat kami temukan."
"Hah, jadi jauh-jauh kalian menguntit kesini?"
Ucap Goan Si-cong dengan terkejut. Tanpa terasa Un Siau menjawab.
"Ya, penguntitan yang sangat jauh."
Jilid ke-10.
"Dan tentunya kalian sudah merasa letih, bukan?"
Ujar Goan Su-cong dengan tertawa.
"Ya, sudah letih... sudah letih, kami memang sudah letih... ."
Tanpa terasa Un Siau seperti bergumam.
Melihat keadaan demikian Yu Wi tahu Goan-si-hengte sedang menggunakan lagi ilmu sihir mereka, kalau Un Siau tidak disadarkan tentu akan terperangkap.
Maka cepat ia membentak.
"Awas, Jui-bin-sut!"
Suara yang keras ini menyadarkan Un Siau yang sudah rada terpengaruh oleh kekuatan gaib musuh, segera teringat olehnya akan Jui-bin-sut, cepat ia pejamkan mata.
Meski mata terpejam, namun gerak tubuh Un Siau tidak menjadi lambat, bahkan menyerang dan bertahan dengan lebih hebat.
Goan-si-hengte tidak dapat lagi menggunakan ilmu sihir mereka terhadap lawan, terlihat keenam orang yang lain tidak memejamkan mata, sebaliknya terbelalak lebih lebar.
Diam-diam kedua Goan bersaudara merasa geli, mereka pikir apa gunanya jika cuma kau sendiri yang memejamkan mata.
Segera mereka berganti sasaran, yang dipandang mereka sekarang adalah si iblis pemarah dan si iblis berduka.
Mereka pikir asalakan salah seorang dapat dipengaruhi dengan kekuatan gaib mereka, tentu barisan pertahanan musuh akan bobol dengan sendirinya.
Begitulah beruntun-runtun mereka lantas menyerang secara berantai, tapi mata Go Bun si iblis pemarah sama sekali tidak berkedip, bahkan balas menyerang dengan tidak kalah kuatnya, Goan Su-cong tidak berani menangkis hantaman lawan yang hebat, sedapatnya ia mengelak.
Goan Su-bin juga menatap si iblis berduka, katanya.
"Setiap hari kau selalu murung saja, tapi namamu justeru Bok Pi (jangan sedih), kan bertentangan nama dan kelakuanmu, sungguh menggelikan. Biarlah sekarang kuganti namamu menjadi Bok SUi (jangan tidur) saja, supaya setiap hari kau ingin tidur melulu."
Ia sengaja perkeras pada kata "ingin tidur melulu", bila orang biasa akan terpengaruh oleh ilmu gaibnya, siapa tahu Bok Pi sama sekali tidak kelihatan mengantuk, sebaliknya malah tambah bersemangat.
Begitu diserang segera ia balas menyerang dengan lebih dahsyat.
Setelah mencoba beberapa kali dan tetap tidak berhasil mempengaruhi si iblis pemarah dan iblis berduka, mau-tak-mau Goan-si-hengte menjadi gelisah.
Disebelah lain, meski mata Un Siau terpejam, tapi berdasarkan penglihatan keenam kawannya dan gerakan barisan mereka, serangan mereka malah bertambah lihai, kekuatan merekapun bertambah dahsyat.
Beberapa kali hampir saja Goan-si-hengte terkena pukulan mereka.
Cepat Goan-si-hengte menggunakan Ginkang mereka dan ikut berputar menuruti gerakan barisan melingkar musuh, mereka berusaha tidak berhadapan dengan Un Siau, sasaran mereka sekarang beralih pada si iblis berduka tadi, tapi kedua orang inipun tidak mempan disihir.
Keruan Goan-si-hengte menjadi rada kelabakan, mereka tidak percaya ilmu gaib mereka bisa gagal total.
Segera mereka ganti sasaran lagi terhadap si iblis pembenci dan iblis nafsu.
Haslnya tetap nol besar, musuh tetap tidak terpengaruh.
Sampai disini barulah mereka mengakui Jui-bin-sut mereka benar-benar tidak efektif terhadap keenam iblis perasa itu.
Hanya terhadap iblis girang Un Siau saja ilmu gaib mereka dapat bekerja, tapi Un Siau tetap memejamkan mata, sukar lagi untuk mempengaruhi dia dengan ilmu gaib.
Pada saat itulah mendadak Un Siau tertawa dan berkata.
"Haha, Jui-bin-sut memang betul ilmu permainan anak kecil yang tidak ada artinya."
Nadanya menyindir kedua lawan yang tak dapat berbuat apa-apa terhadap mereka.
"Hm, kau kira dengan barisanmu ini lantas tidak gentar lagi terhadap Jui-bin-sut?"
Jengek Goan Su-cong. Dengan tertawa Un Siau menjawab.
"Dengan menciptakan barisan ini, sebelumnya sudah kami bayangkan ilmu sihir kalian pasti akan berubah menjadi permainan yang tidak berguna. Setelah dicoba sekarang ternyata perhitungan kami tidak meleset."
Sembari menghindari angin pukulan Un Siau, Goan Su-cong berkata pula.
"Sebenarnya pertahanan barisan kalian sangat sederhana, intinya terletak pada himpunan kekuatan keenam kawanmu yang tercurah pada tubuhmu, sampai semangat merekapun hilang, sebab itulah mereka tidak terpengaruh oleh Jui-bin-sut."
"Sekalipun kau tahu teori ini juga tidak dapat mematahkannya, terpaksa kalian harus menerima nasib kekalahanmu."
Kata Un Siau, segera ia perkeras daya pukulannya dan menyerang lebih gencar. Sebisanya Goan Su-cong mengelak dan mulut tetap bicara.
"Meski keenamsaudaramu tidak takut Jui-bin-sut lagi, tapi kau sendiri masih bersemangat, kami masih dapat menggunakan kau sebagai sasaran ilmu kami."
"Haha, kalau perlu kupejamkan mata, lalu cara bagaimana akan kalian pengaruhi diriku dengan ilmu sihir kalian?"
Un Siau bergelak tertawa.
"Kau kira dengan memejamkan mata, lantas kami tidak berdaya terhadapmu?"
Tukas Goan Subin.
"Ya, kalian memang tak berdaya, kalau bisa, kan sejak tadi orang she Un sudah kalian robohkan?"
Ujar Un Siau.
"Hm, kan belum terlambat jika sekarang kami menguasai dirimu!"
Jengek Goan Su-bin.
"Haha, kembali membual, janganlah kalian membikin muak Yu-heng sehingga dia tidak betah tinggal disini, ketahuilah kami masih ada urusan penting yang yang harus dibicarakan dengan dia."
Kata Un Siau.
"Sesungguhnya urusan apakah maksudmu?"
Tanya Yu Wi.
"Jangan terburu-buru, sabar dulu."
Ujar Un Siau dengan tertawa.
"Sebentar kalau kedua tua bangka she Goan ini sudah kami tundukkan dan minta ampun barulah akan kukatakan padamu."
Habis berkata, mendadak ia gerakkan barisannya dengan lebih cepat, daya serangan mereka juga tambah dahsyat.
Dengan mata terpejam Un Siau dapat membedakan tempat lawan, kearah mana Goan-sihengte menghindar tentu disusul kesana dan barisannya selalu menutup jalan mundur mereka.
Dengan tenaga pukulan gabungan tujuh orang, maka betapa kuat serangan Un Siau itu dapatlah dibayangkan.
Hanya sebentar saja Goan-si-hengte sudah terdesak sehingga bermandi keringat.
"Berhenti!"
Mendadak Goan Su-cong membentak.
Karena itulah serangan Un Siau menjadi sedikit merandek, kesempatan itu segera digunakan Goan Su-cong untuk mendorong punggung Goan Su-bin.
Karena mendapat bantuan tenaga tolakan saudaranya, cepat Goan Su-bin melompat keluar dari tekanan pukulan lawan.
Un Siau dapat mendengar salah seorang lawan berhasil lolos dari lingkaran serangan mereka, namun ia tidak menghiraukannya, katanya dengan bergelak.
"Haha, kini tertinggal kau sendiri, tidak lebih dari sepuluh jurus pasti dapat kutangkap dirimu. Habis itu baru kami tangkap pula kawanmu yang lolos itu. Masa kalian nanti takkan berlutut dan minta ampun?"
Goan Su-cong menghela napas, katanya.
"Lima tahun yang lalu, karena terdorong oleh emosi, kami telah mengalahkan kalian bertujuh. Jika sekarang kami harus minta ampun, biarlah aku saja yang minta ampun padamu, watak saudaraku itu sangat keras kepala, hendaklah kalian sudi membebaskan dia."
Wajah Goan Su-cong kelihatan menampilkan senyuman memikat, katanya.
"Aku tidak mampu bertahan lagi, dengan sendirinya benar."
Pelahan gerak-gerik Un Siau mulai lamban, katanya dengan tertawa.
"Asal saja kau mau minta ampun, tentu kami takkan banyak urusan."
Senyuman Goan Su-cong tampak semakin aneh dan penuh daya pikat, katanya.
"Cara bagaimana aku harus minta ampun?"
Un Siau menjawab.
"Dahulu kalian berdua telah menutuk Hiat-to penting kami satu persatu, dengan susah payah akhirnya kesehatan kami dapat pulih kembali. Sekarang hanya kau sendiri saja yang akan menanggung kesalahan kalian dahulu, maka bolehlah kau patahkan jarimu yang kau gunakan menutuk kami itu."
Serangan Un Siau sekarang ternyata tidak sepenuh tenaga, karena itulah Goan Su-cong dapat menghindar dengan mudah. Karena Goan Su-cong tidak bicara lagi, Un Siau lantas bertanya.
"Bagaimana kau tidak mau terima syaratku?"
Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar suara alat musik bergema dengan nada yang penuh duka nestapa.
Waktu Un Siau mendengarkan sekejap, seketika ia terpengaruh oleh suara alat tiup itu, gerak-geriknya semakin lamban lagi.
Kiranya setelah melompat keluar dari lingkaran kekuatan pukulan lawan, Goan Su-bin lantas mengeluarkan sebuah seruling dan mulai meniupnya dengan nada sedih.
Lagunya biasa-biasa saja, tapi daya pikatnya bagi yang mendengar justeru besar luar biasa.
Makin lama makin lambat gerak-gerik Un Siau.
Kini Goan Su-cong juga tidak lagi merasa terancam oleh daya serangan lawan, dengan mudah ia melompat keluar dari lingkaran serangan musuh, ia mendekati Goan Su-bin dan duduk disamping saudaranya itu.
Suara seruling yang ditiup oleh Goan Su-bin mesih terus berbunyi, Goan Su-cong bicara mengikuti irama seruling.
"Un Siau, silakan kau pun berduduklah!"
Benar juga, Un Siau lantas berhenti bergerak dan berduduk. Keenam iblis yang lain juga mengikuti gerak-gerik Un Siau, merekapun ikut berduduk. Lalu Goan Su-cong berkata pula.
"Suara seruling saudaraku tiada bandingannya didunia, kalian harus mendengarkan dengan baik, kesempatan ini jangan dolewatkan dengan sia-sia."
Un Siau hanya diam saja tanpa menjawab, jelas ia sedang mendengarkan dengan cermat.
Mendengar suara seruling yang berirama sedemikian seduh, tanpa terasa Yu Wi juga mendengarkan dan maikn mendengar makin terasa sedih, lambat-laun keempat anggota badan terasa lemas tak bertenaga, akhirnya iapun ikut berduduk.
Tiba-tiba Goan Su-cong bernyanyi, lagunya sendu seirama dengan suara seruling sehinga menambah rasa duka pendengarnya.
Lambat-laun Yu Wi merasa kelopak matanya menjadi berat, rasanya ingin tidur, dalam hati seolah2 berkata.
"Tidur, tidurlah! Jangan lagi mendengarkan lagu sedih demikian... ."
Keadaan ini serupa benar dengan kejadian waktu disihir dipadang rumput kemarin, teringat kepada kejadian kemarin, serentak Yu Wi terjaga, baru disadarinya bahwa Goan-si-hengte sedang melancarkan ilmu gaibnya, hanya saja caranya berbeda sehingga membikin orang terjebak tanpa terasa.
Makin lama makin letih rasanya, Yu Wi ingin menutup telinga agar tidak mendengar apa-apa, tapi sukar dilakukannya.
Cepat ia mengerahkan Thian-ih-sin-kang, ia berharap dengan kekuatan Lwekang yang hebat itu untuk menghalau rasa letihnya.
Tak terduga, meski Thian-ih-sin-kang itu sangat hebat, tapi sukar menghalau kekuatan gaib suara seruling, rasa letih itu hanya dirasakan untuk sementara tidak tambah berat, namun sama sekali tidak berkurang.
Jika bertahan dalam keadaan demikian, akhirnya pasti juga akan terpengaruh oleh ilmu gaib lawan.
Setelah Thian-ih-sin-kang tidak berhasil digunakan, Yu Wi lantas teringat kepada Ku-sit-taykang, ilmu Lwekang ajaran ayahnya yang maha sakti itu cuma tidak diketahui akan berguna atau tidak.
Tanpa terasa ia lantas mengerahkan Ku-sit-tay-kang yang telah dikuasainya itu.
Baru saja tenaga dalam itu dikerahkan, sejenak suara seruling yang didengarnya itu terasa tidak lagi membetot sukma, sedikitpun tidak terpengaruh, rasa letih tadi juga lenyap sama sekali.
Sungguh tak terpikir olehnya bahwa Ku-sit-tay-kang mempunyai daya-guna sebesar ini untuk melawan serangan ilmu dan gaib dan sama sekali berbeda daripada ilmu Lwekang lain, sampai Thian-ih-sin-kang yang terkenal sebagai Lwekang maha sakti juga tak dapat membandinginya.
Yu Wi terus mengerahkan tenaga dalam sehingga beberapa kali putaran dan terasa tiada halangan apapun, rasanya biarpun tidak mengerahkan tanaga Lwekang lagi juga takkan terpengaruh oleh kekuatan gaib lawan, maka ia lantas berhenti mengerahkan tenaga.
Tak terduga, pada saat yang sama Goan Su-bin juga berhenti meniup serulingnya.
Dengan gembira Goan Su-cong berdiri, katanya dengan tertawa.
"Un Siau, wahai Un Siau! Meski matamu terpejam, tapi telingamu tidak kau tutup, biarpun kami tidak menggunakan daya pandang, dengan daya pendengaran juga kami dapat menguasai perasaan kalian."
Mendadak Yu Wi berdiri dan berseru lantang.
"Ah, juga belum tentu benar, buktinya aku tidak terpengaruh oleh sihir kalian?"
Cepat Goan Su-cong berpaling, melihat Yu Wi berdiri dengan gagah perkasa, ia terkejut dan berseru.
"He, kau ti... .kau tidak tertidur?"
Melihat Jit-ceng-mo dalam keadaan tertidur pulas seluruhnya, diam-diam Yu Wi benci terhadap kekejian ilmu gaib lawan, dengan gusar ia mendamperat.
"Hm, menang dengan ilmu jahat, sungguh rendah dan kotor!"
Goan Su-bin mendesak maju dan menjengek.
"Kau berani lagi mencaci kami rendah dan kotor?"
"Kenapa tidak berani,"
Teriak Yu Wi sambil menatap lawan.
Dilihatnya mata orang memancarkan cahaya aneh, ia tahu lawan sedang menggunakan sihirnya lagi.
Semula Yu Wi rada takut, tapi setelah saling pandang dan tidak menimbulkan sesuatu kelainan perasaan, ia tahu khasiat Ku-sit-tay-kang masih menimbulkan daya-guna yang kuat.
Diam-diam hatinya menjadi mantap, ejeknya.
"Biarpun kau bertambah sepuluh pasang mata juga aku takkan terkena sihirmu!"
Mau-tak-mau Goan Su-bin terkejut, serunya.
"He, Toako, ken...kenapa dia tidak...tidak takut lagi kepada Jui-bin-sut kita?"
"Entah, aku pun tidak tahu!"
Jawab Goan Su-cong sambil menggeleng.
"Hm, sekarang lekas kalian menolong Jit-ceng-mo dan menyadarkan mereka,"
Jengek Yu Wi. Goan Su-cong balas mendengus.
"Hm, jangan kau berlagak, kami tidak dapat kau ancam."
"Jika mampu, boleh kalian mengalahkan mereka dengan kungfu sejati, tapi menjatuhkan mereka dengan ilmu gaib, biarpun menang juga kotor dan rendah."
Ejek Yu Wi.
"Kemenangan demkian, biarpun terjadi seribu kali juga takkan dianggap adil oleh setiap orang persilatan didunia ini."
"Peduli adil atau tidak, yang jelas, saat ini juga kami mampu mencabut nyawa ketujuh iblis perasaan ini, sebaliknya apakah mereka mampu menguasai jiwa-raga kami?"
Jawab Goan Su-cong. Meski mereka tidak mampu, tapi kalian pun tidak mampu mencabut nyawa mereka."
Jawab Yu Wi tegas dan kereng. Goan Su-bin menengadah dan bergelak tertawa, serunya.
"Hahaha! Jadi maksudmu, jika kami hendak mencabut nyawa mereka, kau akan merintangi tindakan kami, begitu?"
"Ya, memang begitulah maksudku!"
Jawab Yu Wi tegas.
"Ham, berdasarkan apa kau berani omong besar?"
Jengek Goan Su-cong. Yu Wi meloloskan pedang kayunya, diselentiknya batang pedang itu, katanya.
"Berdasarkan pedang ini."
"Hahahaha!"
Goan Su-bin bergelak tertawa.
"Hanya sebatang pedang kayu saja, apanya yang hebat?"
Tapi Goan Su-cong cukup waspada, ucapnya.
"dengan pedang kayu ini kau dapat mengetuk remuk tulang pundak Aloyato, kungfumu pada pedang kayu ini memang sangat hebat."
"Tapi dalam pandangan kami hanya kepandaian yang tidak berarti."
Sambung Goan Su-bin.
"Baik, biarlah dengan kepandaian yang tak berarti ini akan kubelajar kenal dengan kepandaian kalian."
Jawab Yu Wi dengan kepala dingin.
"Jika kau kalah, lalu bagaimana?"
Tanya Goan Su-bin.
"Terserah sesukamu untuk memperlakukan diriku,"
Jawab Yu Wi tanpa pikir. Tapi segera ia menambahkan pula.
"Dan bagaimana bila Cayhe menang?"
"Apa kehendakmu?"
Tanya Goan Su-cong.
"Cukup kalian menyadarkan Jit-ceng-mo dan tidak melukai mereka sediktpun,"
Jawab Yu Wi. Memangnya ada hubungan apa antara dirimu dengan Jit-ceng-mo?"
Tanya Goan Su-ong dengan heran.
"Tiada hubungan apapun."
Jawab Yu Wi dengan lantang dan terus terang.
"O, jadi tindakanmu ini hanya untuk membela mereka belaka?"
Jengak Goan Su-bin.
"Sungguh terlalu! Ayolah maju, biar kusendiri melayani kau!"
Goan Su-cong jauh lebih sabar dan prihatin daripada adiknya, cepat ia membisiki saydaranya.
"JIte, harus hati-hati sedikit, jangan gegabah."
Goan Su-bin tertawa mengejek, pesan kakaknya itu dianggap angin lalu saja, ia pikir bocah ini masakah punya kemampuan, andaikata dirinya mengalah sepuluh jurus padanya juga tidak berlebihan.
Melihat lawan bertangan kosong dan memandangnya dengan sikap meremehkan, diam-diam Yu Wi juga mendongkol, serunya.
"Lekas keluarkan senjatamu jika ingin bertempur."
Goan Su-bin menjengek.
"Menghadapi bocah ingusan seperti kau masakah perlu pakai senjata?"
"Anda ingin menghadapi diriku dengan bertangan kosong?"
Tanya Yu Wi. Dengan pongah Goan Su-bin menjawab.
"Jembatan yang kulintasi lebih panjang dari pada jalan yang kau lalui, apa halangannya kulayani kau dengan bertangan kosong? Tidak perlu banyak bicara, ayolah mulai, seranglah lebih dulu!"
"Jika kau layani diriku dengan bertangan kosong, cukup satu jurus saja dapat kukalahkan kau!"
Ucap Yu Wi dengan tegas dan gagah.
"Kentut!"
Bentak Goan Su-bin dengan gusar. Begitu selesai ucapan orang, kontan pedang kayu Yu Wi menabas. Yang digunakan adalah jurus "Tay-gu-kiam"
Ajaran Can-pi-so si kakek buntung tangan.
Seperti diketahui, jurus pedang ini diperolehnya ketika dia bertemu dengan kakek cacat tangan itu di Siau-ngo-tay-san, kini jurus pedang ini sudah dilatihnya hingga lancar dan cukup sempurna.
Ketika pedang ini menabas kepinggang lawan, tampaknya pelahan dan tiada sesuatu yang istimewa, tapi dalam gerakan menabas ini sebenarnya mengandung gerak perubahan yang sukar diraba.
Karuan Goan Su-bin terkejut, cepat ia melompat keatas untuk menyelamatkan diri.
Akan tetapi, sekali Tay-gu-kiam sudah dimainkan, mana bisa lagi dia mengelak, seketika tulang betisnya terasa kesakitan, waktu turun kebawah, ia tidak sanggup berdiri lagi dan terbanting jatuh sehingga sekujur badan berlepotan debu.
Bersambung jilid-10.
Jilid 10 Akan tetapi, sekali Tay-gu-kiam sudah dimainkan, mana bisa lagi dia mengelak, seketika tulang betisnya terasa kesakitan, waktu turun kebawah, ia tidak sanggup berdiri lagi dan terbanting jatuh sehingga sekujur badan berlepotan debu.
Cepat Goan Su-cong memburu maju dan membangunkan saudaranya sambil bertanya.
"He, Jite, bagaimana kau?"
Butiran keringat tampak menghiasai jidat Goan Su-bin, katanya.
"Men... .mendingan serangannya kenal batas, tulang kakiku tidak sampai terketuk remuk....."
Sungguh tidak terpikir oleh Goan Su-cong bahwa hanya satu jurus saja Yu Wi dapat merobohkan saudaranya.
Dipandangnya Yu Wi sekejap, ia pikir dirinya pasti juga tidak sanggup menahan serangan tadi, untuk membunuh Jit-ceng-mo hari ini rasanya tidak mungkin terkabul dengan kehadiran anak muda ini, segera ia angkat tubuh saudaranya dan dibawa pergi.
"Berhenti!"
Bentak Yu Wi dengan gusar. Goan Su-cong berpaling, air mukanya tampak masam, tanyanya.
"Kau sudah menang, mau apa lagi?"
"Kau pegang janji tidak pada ucapanmu sendiri?"
Damprat Yu Wi.
Teringat kepada apa yang telah disanggupinya, terpaksa Goan Su-cong menurunkan saudaranya, didekatinya Jit-ceng-mo.
Yu Wi ikut mendekat kesana dan mengawasinya dengan ketat, dia kuatir kalau diam-diam lawan menggunakan cara licik untuk mencelakai Jit-ceng-mo.
Goan Su-cong mendengus, Hm, hari ini kau dapat mengalahkan adikku, hal ini adalah saudaraku sendiri yang kurang tinggi belajar kungfu, tapi kau paksa kutolong Jit-ceng-mo, hal ini takkan kami lupakan selama hidup."
"Tidak perlu kau bicara mengancam, yang pasti sesuai persetujuan kedua pihak tadi, bila kumenang maka harus kau tolong Jit-ceng-mo hingga sembuh, prihal apa yang akan kau lakukan kelak, silakan kau catat saja dan perhitungkan denganku, tidak menjadi soal bagiku."
Dengan dendam Goan Su-cong berkata pula.
"Meski kami bukan tandinganmu, tapi pasti ada orang lain yang mampu mengatasi kau. Tatkala mana bila kau jatuh ditangan kami, janganlah kau menyesal bila kami bertindak keji dan tidak kenal ampun."
Tiba-tiba Goan Su-bin yang menggeletak di tanah itu menukas.
"Permusuhan kami dengan Jitceng-mo tak dapat diceritakan dengan singkat, secara kebetulan mereka jatuh ditangan kami dan dapatlah kami lampiaskan dendam masa lalu, jika kau berkeras membela mereka, kukira terlalu mahal bagimu untuk ikut campur urusan kami ini."
"Kukira ada persoalan besar apa, tak tahunya cuma urusan ingin menang saja antara kedua pihak,"
Kata Yu Wi.
"Urusannya tidak sederhana sebagaimana kau duga,"
Kata Goan Su-cong.
"Kau sendiri yang bilang, lantaran emosi seketika sehingga kalian melukai Jit-ceng-mo, sekarang mereka datang menuntut balas kepada kalian, sayang mereka tetap kalah. Apa namanya jika bukan urusan ingin menang saja?"
Kata Yu Wi.
"Tidak, Jit-ceng-mo bukanlah manusia yang mudah didekati, kalau tidak , tentu mereka takkan disebut Mo (iblis), kalau tidak ada sebab musababnya, memangnya kau kira dahulu kami sampai melukai mereka hanya karena dorongan emosi yang timbul seketika itu?"
Ujar Su-cong.
"Habis apa sebabnya jika bukan terdorong oleh rasa ingin menang?"
Tanya Yu Wi. Goan Su-cong menghela napas, jawabnya.
"Tidak dapat kukatakan padamu."
"Masa tidak dapat kau ceritakan?"
Desak Yu Wi.
"Ya, sekali tidak tetap tidak!"
Teriak Goan Su-bin dengan gusar, seperti apa yang terjadi dahulu itu memang menyakitkan dan sukar untuk diceritakan kepada orang lain.
"Baiklah jika kalian tidak mau menjelaskan."
Kata Yu Wi.
"Tapi janji tetap janji, lekas kalian menyadarkan dulu ketujuh orang itu."
"Baik, akan kusadarkan mereka."
Ucap Goan Su-cong dengan gemas.
Lalu ia berjongkok dan ber-turut2 menutuk tubuh Jit-ceng-mo.
Tertampaklah tubuh ketujuh orang itu sama ber-gerak2, seperti segera akan siuman kembali.
Goan Su-cong berdiri, ia angkat pula tubuh saudaranya dan hendak melangkah pergi.
Tapi Yu Wi lantas menghadangnya pula dan berkata.
"Tunggu sebentar, setelah mereka siuman barulah kalian boleh pergi."
Goan Su-cong menjadi gusar, teriaknya.
"kau tidak percaya padaku?"
Goan Su-bin yang terlentang dalam rangkulan kakaknya juga mengunjuk rasa gusar.
Yu Wi pikir menjadi orang memang tidak boleh keterlaluan, betapapun harus juga percaya kepada orang lain.
Maka katanya dengan tulus.
"Baik, kupercaya Jit-ceng-mo sudah kalian sembuhkan, bolehlah kalian pergi."
Waktu melangkah pergi, Goan Su-cong sempat bersenandung.
"Setiap urusan hanya karena sok ikut campur, akhirnya mendatangkan malapetaka bagi dirinya sendiri... ."
Ketika suaranya terputus, orangnya juga sudah tidak kelihatan lagi.
Hati Yu Wi merasa tidak enak demi mendengar kalimat yang biasa digunakan orang Kangouw untuk berolok-olok kepada orang yang suka ikut campur urusan orang lain itu, pikirnya.
"Masa akibat kubantu Jit-ceng-mo ini akan mendatangkan malapetaka bagiku? Sesungguhnya ada permusuhan apa diantara mereka ini?"
Tiba-tiba terlihat Jit-ceng-mo mulai sadar satu persatu, ber-turut2 mereka melompat bangun, tampaknya penuh bersemangat, ternyata Goan Su-cong dapat memegang janji dan telah menyadarkan mereka tanpa kurang suatu apapun.
"Yu-heng, dimanakah Goan-si-hengte?"
Tanya Un Siau segera.
Yu Wi pikir Goan-si-hengte mungkin bukan orang jahat, tapi lantaran sakit hati, maka mereka mencari Jit-ceng-mo untuk menuntut balas.
Berpikir demikian, tanpa terasa timbul rasa menyesalnya terhadap kedua Goan bersaudara.
Dengan lesu ia menjawab pertanyaan Un Siau.
"Ya, mereka sudah pergi."
Tio Ju, si iblis nafsu berseru.
"Mereka benar-benar sudah pergi?"
"Ya. benar,"
Jawab Yu Wi. Si iblis duka Bok Pi, berucap dengan suara sedih.
"Tapi aku tidak percaya mereka mau melepaskan kami secara begini saja."
Si iblis penakut Ciong Han, berkata dengan suara gemetar.
"Ya, kukira tidak...tidak mungkin terjadi... ."
Ciang Ti, si iblis cinta yang berbaju putih itu menimbrung.
"Kenapa tidak mungkin? Tentunya setelah kita pingsan, lalu Yu-heng telah menyelamatkan kita dari tangan mereka."
Segera Un Siau menjura kepada Yu Wi, katanya dengan tertawa.
"Budi pertolongan Yu-heng takkan kami lupakan untuk selamanya."
Dengan mata mendelik si iblis pemarah, Go Bun berkata.
"Masa kau yang menyelamatkan kami dari tangan Goan-si-hengte?"
Kat Hin, si iblis pembenci juga menjengek.
"Hm, aku tidak percaya dia mampu menyelamatkan kita dari tangan kedua orang tadi."
Mendongkol hati Yu Wi, serunya dengan gusar.
"Tidak percaya juga tidak menjadi soal, aku kan tidak minta kalian harus percaya!"
Cepat Un Siau berkata dengan tertawa.
"Lakte kurang sopan, harap Yu-heng jangan marah. Kita sama-sama tahu didalam hati, Yu-heng adalah seorang tokoh yang mempunyai kemampuan besar, untuk itu Siaute cukup maklum."
"Ah, aku mempunyai kemampuan apa? Paling-paling hanya beberapa jurus cakar kucing saja."
Jawab Yu Wi dengan rendah hati.
"Janganlah Yu-heng sungkan... ."
Seru Un Siau dengan tertawa. Setelah suara tertawa orang lenyap, Yu Wi bertanya.
"Cara bagaimana kalian mengikat permusuhan dengan Goan-si-hengte?"
SEketika Un Siau melenggong, jawabnya.
"Tidak, tidak ada permusuhan apa-apa?!"
"Hanya soal unggul dan asor ilmu silat masing-masing dan kedua pihak sama-sama tidak mau tunduk, begitu saja,"
Tukas Ciang Ti, si iblis cinta. Yu Wi menggeleng, katanya.
"Tidak, aku tidak percaya, sesungguhnya apa sebab musababnya?"
"Sudahlah jika kau tidak percaya."
Seru Go Bun mendadak. Melihat gelagat tidak baik jika percakapan demikian dilanjutkan, cepat Un Siau berkata.
"Itteng Sin-ni memberi pesan....."
"Pesan apa?"
Yu Wi menjadi tegang.
"Lohor kemarin waktu kami bertemu dengan It-teng Sin-ni, terlihat beliau memondong seorang gadis cantik... ."
"Ya, sungguh cantik, cantik luar biasa,"
Sela Ciang Ti si iblis cnta.
"sungguh gadis cantik yang tidak pernah kulihat, cukup melihatnya satu kali saja aku lantas jatuh cinta padanya."
Si iblis nafsu, Tio Ju berucap dengan menyengir bangor.
"Waktu kulihat gadis cantik begitu, sungguh jari jemariku bergerak-gerak ingin menjamahnya... ."
Melihat caranya bicara, mungkin waktu itu dia sangat tertarik sehingga mengiler.
"Apakah... .apakah gadis itu ber... berwajah lonjong potongan daun sirih?"
Tanya Yu Wi dengan suara rada gemetar.
"Aku tidak jelas melihatnya,"
Jawab Un Siau ragu-ragu.
"tunggu sebentar, coba ku-ingat2 dulu. .."
"Tapi aku melihatnya dengan jelas, sangat jelas,"
Seru Tio Ju.
"raut wajahnya mirip... ."
Pada saat itulah, mendadak terdengar suara bentakan orang yang menggelegar.
"Bedebah! Kiranya berada disini, akhirnya dapat kutemukan juga!"
"Wah, celaka, maut datang!... ."
Kontan Tio Ju terus angkat kaki hendak kabur. Tapi Yu Wi sempat memburu maju dan mencengkeram punggungnya, dengan suara tegang ia bertanya.
"Raut wajahnya mirip apa? Apakah serupa... ."
"Lepaskan, lepas!"
Teriak Tio Ju sambil meronta-ronta.
"Kalau tidak melepaskan diriku, segera akan kumaki!"
"Sebelum kau jelaskan takkan kulepaskan kau!"
Kata Yu Wi.
"Betul, sekali-sekali jangan melepaskan dia!"
Tukas suara bentakan tadi, kini sudah mendekat. Sekujur badan Tio Ju menggigil ketakutan, serunya.
"Wah, celaka! Tamatlah riwayatku sekali ini! Toako, lekas kalian menolong diriku!"
"Jangan kuatir, Jit-te, betapapun tak nanti kami membiarkan kau disakiti orang."
Seru Un Siau dengan tertawa.
"Siapa berani menyakiti kau, biar kami mengadu jiwa dengan dia!"
Teriak Go Bun si iblis pemarah.
Habis bicara, serentak keenam orang lantas mengelilingi Tio Ju.
Yu Wi menyangka mereka hendak bertindak padanya, siapa tahu mereka berdiri membelakanginya, kiranya yang akan dihadapi adalah orang yang bersuara tadi.
Terlihatlah pendatang ini ada dua orang semuanya sudah tua, berjenggot panjang putih, usianya rata-rata sudah diatas tujuh puluhan, namun sama sekali tidak kelihatan loyo, keduanya tampak tangkas dan bersemangat.
Orang yang berada disebelah kiri lantas berseru dengan suara nyaring.
"Kalian berani membelanya?"
Dari suaranya segera Yu Wi tahu orang inilah yang membentak tadi, entah sebab apa dia mencari Tio Ju, dan entah sebab apa pula Tio Ju lantas ketakutan seperti tikus ketemu kucing demi mendengar suaranya tadi.
Orang yang berada disebelah kanan tidak bicara apa pun, dia hanya memandang kearah Yu Wi seperti lagi mengawasi Tio Ju kalau-kalau mendadak dia hendak kabur lagi dan segera akan ditubruknya untuk ditangkap kembali.
Tapi dilihatnya Tio Ju berada dalam cengkeraman Yu Wi, maka mereka tidak perlu kuatir sehingga tidak segera menerjang maju untuk menangkapnya.
Dengan tertawa Un Siau lantas menjawab.
"Dia adalah saudara kami, dengan sendirinya harus kami bela."
"Ah lo (Kakek bisu), mereka omong apa?"
Tanya si kakek sebelah kiri. Kakek sebelah kanan memberi isyarat tangan kepada kawannya, maka kakek sebelah kiri lantas membentak pula dengan gusar.
"Saudara macam begini, lebih baik dibinasakan saja, untuk apa dibela?"
Un Siau menjawab.
"Orang Kangouw menyebut kami Jit-ceng-mo, kami bertujuh selamanya sehidup semati, jika kau hendak membunuh dia, lebih dulu harus kau bunuh kami, kalau tidak, jangan harap dapat kau bunuh dia."
Kakek sebelah kiri lantas tanya lagi kakek sebelah kanan apa yang dikatakan Un Siau, setelah kakek sebelah kanan menjelaskan pula dengan isyarat tangan, lalu kakek sebelah kiri berteriak lagi.
"Kalian mengira kami tidak berani membunuh ludes kalian bertujuh?"
Sampai disini, tahulah Yu Wi bahwa kedua kakek ini adalah orang tua cacat, kakek yang sebelah kiri hanya bisa bicara dan tak dapat mendengar, ia seorang tuli.
Sedangkan kakek sebelah kanan dapat mendengar tapi tak dapat bicara, seorang bisu.
Dengan mata melotot Go Bun lantas berseru.
"Orang budek, jika mampu boleh coba kau bunuh kami!"
"Jangan-jangan tidak berhasil membunuh kami, sebaliknya sisa hidup sendiri ikut amblas malah."
Tukas Bok Pi si iblis berduka. Ciong Han si iblis penakut, ikut bicara dengan berlagak tidak gentar.
"Ya, tidak nanti kami takut kepada dua orang tua bangka cacat."
Meski dimulut bilang tidak takut, tapi buktinya kedua kakinya kelihatan gemetar. Si Kakek bisu lantas menjelaskan lagi dengan isyarat tangan, segera si kakek tuli membentak.
"Tidak takut bolehlah kita coba-coba berhantam, lihat saja sisa hidup siapa yang bakalan amblas!"
Dari cerita Tio Ju sebelum ini Un Siau tahu kelihaian si kakek tuli, diam-diam ia berpikir dengan tenaga gabungan mereka bertujuh belum tentu dapat mengalahkan lawan, maka jalan paling baik adalah berdamai saja dari pada main gebrak.
Dengan tertawa ia lantas berkata.
"Untuk apa Lo-siansing bergusar? Segala urusan kan dapat dirundingkan dengan baik-baik dan tidak perlu harus pakai kekerasan."
Setelah diberi tahu apa yang diucapkan Un Siau, si tuli lantas menjawab.
"Urusan lain boleh dirunding, hanya urusan ini tidak ada kompromi. Dosa Tio Ju terlalu besar, jauh-jauh dari Tionggoan kukejar dia kesini, tidak boleh tidak harus kubunuh dia."
Meski wajah Un Siau masih tertawa, tapi hatinya menjadi gusar, katanya.
"Benar-benar hendak kau bunuh dia."
Dengan perasaan sendiri si tuli dapat menangkap maksud ucapan Un Siau itu, segera ia membentak.
"Sudah tentu benar akan kami bunuh dia, jika kau berani membelanya, semuanya akan kami bunuh pula!"
Yu Wi tidak tahu apa kesalahan Tio Ju, ia bertanya.
"Coba katakan, sebab apa mereka sangat gusar padamu?"
"Tidak perlu kau ikut campur."
Jawab Tio Ju dengan wajah pucat.
"Aku takkan ikut campur! Lekas kau katakan bagaimana wajah gadis yang dibawa It-teng Sinni?"
Kata Yu Wi. Dengan licik Tio Ju menjawab.
"Nanti setelah mereka pergi baru kukatakan, kalau tidak, sampai kapanpun takkan kukatakan."
Sementara itu keenam kawannya sudah berjajar menjadi satu baris, Un Siau berkata.
"Jit-te, lekas kau juga jaga belakang garis!"
Tio Ju meronta, tapi tak dilepaskan Yu Wi. Dia meronta sekuatnya dan tetap tak dapat membebaskan diri dari cengkeraman Yu Wi.
"Setelah kau katakan segera kulepaskan kau."
Ujar Yu Wi.
"Toako, dia tak mau melepaskan diriku!"
Seru Tio Ju kepada Un Siau. Terpaksa Un Siau berkata kepada Yu Wi.
"Yu-heng, kami menghadapi musuh tangguh, harap lekas kau lepaskan dia."
Melihat mereka bertujuh hendak menempur dua orang kakek cacat, dengan tegas Yu Wi menjawab.
"Tidak, tidak kulepaskan dia!"
Un Siau tidak berani membikin marah Yu Wi sehingga mendapat musuh baru yang kuat, ia pikir kalau pihaknya kekurangan seorang mungkin tidak menjadi soal, dengan tenaga gabungan enam orang kekuatan mereka tetap sukar dilawan, dengan tertawa lantas ia berkata.
"He, tuli, boleh coba kau bunuh dia!"
Si kakek tuli berkepandaian tinggi dan bernyali besar, ia tunggu setelah barisan lawan sudah siap barulah menjengek.
"Hm, kalian hendak menempur kami dengan Thian-ceng-tin-hoat, serangan kami tentu juga takkan sungkan-sungkan lagi."
Habis berkata, kontan kepalan menjotos dan kaki menendang. Melihat lawan kenal barisannya yang dapat bekerja sama dengan rapat itu, diam-diam Un Siau bertambah prihatin, pikirnya.
"Biarpun ilmu pukulanmu maha dahsyat, kalau tidak kulayani kau secara berlari kian kemari, tapi selalu kami sambut dengan keras lawan keras, mustahil kalian mampu menahan tenaga gabungan kami berenam. Maka ketika kepalan dan tendangan si tuli dilontarkan, tanpa memandang ia pun balas menjotos kemuka si tuli. Agaknya si tuli juga tahu kelihaian hantaman lawan, ia tidak berani menangkis secara keras lawan keras, tapi terus terus melompat mundur. Segera Un Siau mendahui menggerakkan barisannya, menyusul ia lantas menjotos pula dengan kedua tangannya secara bergantian, semuanya dengan tenaga gabungan enam orang, ia main hantam terus tanpa bertahan. Seketika si kakek tuli jadi terdesak sehingga mundur melulu dan tidak sanggup balas menyerang. Percuma dia mempunyai kungfu lihai, tapi tidak sempat dimainkan. Lama-lama si kakek tuli menjadi gemas, pikirnya.
"jika kau ingin keras lawan keras, biarlah kusambut dengan keras lawan keras, betapapun kuat tenaga habungan kalian berenam juga akan kucoba."
Maka disambutlah pukulan Un Siau satu kali, terdengarlah suara 'blang' yang keras, tubuh si tuli tidak bergeming, sebaliknya barisan Un Siau berenam tergetar rada kacau.
Diam-diam si kakek tuli bergirang, pikirnya.
"Kiranya tenaga gabungan kalian berenam juga tidak lebih kuat daripada diriku yang cacat ini."
Sekarang ia tidak mau mundur lagi, tapi terus mendesak maju dan menyerang pula.
Mau-tak-mau Un Siau mengeluh, ia tahu tenaga dalam si tuli kuat luar biasa, tenaga gabungan mereka berenam ternyata masih kalah setingkat.
Sayang mereka kurang satu orang, kalau tidak tentu kekuatan mereka yang akan lebih unggul.
Tidak seberapa lama, kedua pihak sudah saling gebrak delapan kali, ketika bergebrak untuk kesembilan kalinya, mendadak si kakek tuli membentak sekerasnya disertai tenaga pukulan yang maha dahsyat.
Begitu adu pukulan segera Un Siau tahu pihaknya bisa celaka.
Benarlah, barisannya tergetar mundur beberapa langkah, menyusul keenam orang tidak sanggup berdiri tegak lagi, semuanya jatuh terduduk lemas.
Kini mereka berenam benar-benar kehabisan tenaga, lengan pegal dan linu, tidak mampu berdiri untuk bertempur lagi.
Si kakek tuli tertawa panjang, pelahan ia mendekati Yu Wi dan berkata.
"Anak bagus, serahkan Tio Ju kepadaku."
"Mengapa harus kuserahkan padamu?"
Jawab Yu Wi.
Si kakek tuli melengak karena tidak tahu apa yang diucapkan Yu Wi, ia menoleh kearah si bisu, Segera si kakek bisu memberi isyarat tangan untuk menjelaskan arti ucapan Yu Wi.
Si tuli menjadi gusar, teriaknya.
"Tidak kau serahkan padaku, jangan-jangan kaupun hendak membelanya?"
"Betul."
Kata Yu Wi.
"sebelum dia menjawab pertanyaanku, betapapun tidak boleh kau tangkap dia dan membawanya pergi."
Setelah diberitahu maksud perkataan Yu Wi, si tuli bertambah gusar, bentaknya.
"Jadi kaupun ingin berkelahi dulu dengan kami baru mau melepaskan dia?"
Dengan suara lantang Yu Wi menjawab.
"Jika kau hendak merampasnya secara kekerasan, bisa jadi terpaksa harus berkelahi."
"Tahukah kau apa dosa Tio Ju?"
Tanya si kakek tuli.
"Biarpun penjahat yang tak berampun juga tak dapat kuserahkan padamu."
Jawab Yu Wi.
Ia pikir watak si kakek tuli sangat keras, kalau Tio Ju diserahkan padanya bisa jadi akan segera dibunuhnya, lalu keterangan yang ingin diketahuinya tentu sukar diperoleh, sebab itulah ia berkeras tidak mau menyerahkan Tio Ju kepadanya, baru akan diserahkannya bilamana Tio Ju sudah menjelaskan bagaimana raut wajah gadis yang dibawa It-teng Sin-ni itu.
Si kakek tuli mengira Yu Wi sengaja melindungi Tio Ju, dengan murka ia lantas membentak.
"Kau lepaskan dia dan boleh coba kita berkelahi!"
"Aku tidak mau berkelahi dengan kau."
Jawab Yu Wi sambil menggeleng. Ia menarik Tio Ju kesamping, baru saja ia hendak bertanya, mendadak si kakek tuli menghantamnya sambil berseru.
"Kau berani membela Jay-hoa-cat (maling perusak bunga, maksudnya penjahat tukang merusak anak perempuan), betapapun takkan kuampuni kau!"
Serangannya ternyata sangat dahsyat, Yu Wi sudah menyaksikan kehebatan pukulannya tadi, ia menyadari sukar menahan pukulan sekuat itu, segera ia mencabut pedang kayu untuk menangkis.
Tapi si kakek tuli se-olah2 tidak melihatnya, kakinya melangkah secara aneh, pukulannya tetap menerobos kedepan dan tidak dapat ditahan oleh Yu Wi.
Tidak kepalang kejut anak muda itu, cepat ia melompat mundur.
Meski Yu Wi menghindari puklan lawan, tapi si kakek tuli pun sempat meraih si iblis nafsu Tio Ju.
Tio Ju memang sudah tercengkeram oleh Yu Wi, kini kena dicengkeram lagi oleh si kakek tuli, tentu saja tambah tak bisa berkutik, dengan suara gemetar ia berteriak.
"Tolonmg, Yu-heng!... Tolong, Yu-heng!... .akan kukatakan wajah gadis cantik itu... ."
Dengan sendirinya si kakek tuli tidak tahu apa yang diucapkan Tio Ju, tapi ia mengerti tawanannya itu sedang berteriak mina tolong, dengan tertawa ia mengejek.
"Haha, percuma kau berkaok-kaok, siapapun tak dapat menolong kau. Hari ini kau harus mengganti nyawa kaum wanita yang telah kau perkosa dan kau bunuh itu!"
Kiranya iblis nahsu Tio Ju adalah paling buruk prilakunya diantara ketujuh iblis perasaan itu.
Tidak saja gemar merusak perempuan, juga suka main bunuh tanpa kenal ampun, setiap perempuan yang diperkosa olehnya tiada satupun yang terhindar dari kematian.
Perbuatannya itu dusah tentu dibenci oleh siapapun juga.
Tapi lantaran tindak-tanduknya sangat misterius dan dirahasiakan, maka belum diketahui oleh orang persilatan daerah Tionggoan.
Satu kali dia mengganas di kota Kangleng, setelah memperkosa dan membunuh puteri Tihu (bupati) kota Kangleng, perbuatannya dipergoki si kakek tuli.
Terjadilah pertarungan sengit ditengah malam buta, walau sekuatnya Tio Ju melawan, tak urung ia kewalahan dan akhirnya ia berhasil kabur.
Si kakek tuli mendapat tahu Tio Ju adalah si buncit dari Jit-ceng-mo, maka ia terus mengubernya kemanapun perginya.
Kebetulan Jit-ceng-mo datang kedaerah perbatasan di baratlaut untuk menuntut balas kepada Goan-si-hengte, seketika si kakek tuli tidak berhasil menemukan jejaknya, baru sekarang Tio Ju dapat dipergoki dan ditangkapnya.
Tio Ju hendak berteriak pula, si tuli menjadi gusar.
"plak-plok", kontan ia persen dua kali tamparan pada muka Tio Ju sehingga membuatnya kepala pening dan mata berkunang-kunang, darahpun muncrat dari mulutnya. Kuatir Tio Ju akan dihajar hingga mampus, cepat Yu Wi menyerang dengan pedang kayu. Ia tahu si kakek tuli sangat lihai, kalau ilmu pedang biasa pasti tidak berguna, maka sekali menyerang segera menggunakan jurus "Bu-tek-kiam."
Si tuli kenal jurus serangan ini, dia tidak berani menangkis, tapi melompat mundur.
Yu Wi juga tidak bermaksud melukai si kakek tuli, segera ia mencengkeram kembali Tio Ju dan ditanyai dengan tidak sabar.
"Coba katakan, lekas, bagaimana raut wajah gadis yang kau lihat itu?"
Dasar licin dan licik, Tio Ju tahu keenam saudaranya dalam keadaan tak bisa berkutik, satusatunya orang yang dapat menyelamatkan jiwanya hanya Yu Wi saja, agar orang ini mau menolongnya, terpaksa ia harus memancingnya dengan raut wajah sigadis yang dibawa It-teng Sin-ni itu.
Dengan sendirinya takkan diceritakan begitu saja, ia sengaja menjawab dengan gelagapan.
"Wajahnya... .wajahnya mirip... .mirip... ."
Pada saat itulah mendadak si kakek tuli berteriak menegur Yu Wi.
"He, Siaucu, apakah Ji Pekliong gurumu?"
Yu Wi hanya menjawabnya dengan mengangguk saja, tapi tidak memandang kearah si kakek tuli, sebaliknya ia mendesak Tio Ju agar bicara lebih jelas.
"Bagaimana wajahnya? Mirip apa?.
"Mirip...mirip..."
Tio Ju berlagak takut.
"Anak busuk,"
Mendadak si kakek tuli membentak lagi.
"Sekalipun kau ini murid Ji Pek-liong juga tidak boleh bersikap angkuh dihadapanku."
Sembari bicara, dalam sekejap ia melancarkan tiga pukulan.
Ketiga kali pukulan ini sangat hebat, Yu Wi dipaksa melepaskan Tio Ju.
Akan tetapi Yu Wi tidak mau melepaskannya, ia pikir segera jejak Bok-ya akan diketahuinya, siapapun tidak boleh merintangi.
Maka pedang kayunya lantas berputar, dengan jurus "Put-boh-kiam"
Yang tak terpatahkan itu ia berjaga sekelilingnya. Jurus "Put-boh-kiam"
Adalah jurus bertahan yang paling lihai didunia ini, cukup dengan satu jurus ilmu pedang ini Ji Pek-liong pernah bertahan dan tak terkalahkan.
Sekarang jurus ini dimainkan Yu Wi, seketika ketiga kali serangan si kakek tuli seperti batu kecemplung kelaut, dipatahkannya tanpa suara dan tanpa bekas.
Si tuli menjadi gusar, teriaknya.
"Keparat, jurus andalan Ji Pek-liong telah kau kuasai seluruhnya, ya!"
Pada saat itu Yu Wi coba tanya Tio Ju pula.
"Bagaimana wajah gadis itu?"
"Wajahnya seperti... ."
Dengan licik Tio Ju sengaja menarik panjang suaranya. Dalam pada itu si tuli berkata lagi.
"Sekalipun kau adalah murid Ji Pek-liong, jika kau tetap membela penjahat cabul ini, tentu akupun tidak sungkan lagi padamu, janganlah kau menyesal bila cara turun tanganku tidak kenal ampun lagi."
Yu Wi mengira Tio Ju hampir memberi keterangan, tapi terputus oleh ucapan si tuli, dengan gusar ia lantas berkata kepada kakek tuli itu.
"Cayhe menghargai dirimu sebagai kaum Cianpwe, kuharap kau jangan mengganggu dulu."
Dalam hati Yu Wi sekarang sudah tahu jelas bahwa kedua kakek cacat yang dihadapinya ini adalah kakek tuli dan kakek bisu dari Jit-can-so.
Melihat Yu Wi bersikap marah padanya, si tuli mengira anak muda ini tidak mau mengalah padanya lantaran mendapat dukungan sang guru.
Panas juga hati si kakek tuli itu.
Maklumlah, watak kakek tuli ini terhitung paling keras diantara ketujuh kakek cacat itu, ia pun sangat benci kepada kejahatan, segala urusan diselesaikannya berdasarkan perasaannya sendiri.
Kini, sekali dia sudah gusar, keadaan menjadi sukar dilerai lagi.
Ia lolos pedang dari punggung salah seorang Jit-ceng-mo, lalu membentak.
"Kau berani membela dia, untuk ini harus kubunuh kau!"
Setelah mengetahui Yu Wi mahir dua jurus Hai-yan-kiam-hoat, si tuli tahu dirinya sukar melawannya dengan bertangan kosong, maka sekarang dia hendak menggunakan jurus Hai-yankiam-hoat yang lain untuk membunuh Yu Wi dan merampas Tio Ju.
Si kakek bisu juga mnendapatkan pedang salah seorang Jit-ceng-mo, kakek tuli bertanya.
"Hendak kau bantu diriku?"
Kakek bisu mengangguk. Tertawalah kakek tuli, serunya.
"Meski bocah ini mahir dua jurus, betapapun dia masih muda, tidak nanti dia mengalahkan diriku."
Berulang-ulang si kakek bisu memberi isyarat tangan.
"Huh, maksudmu tenaga dalam bocah ini sangat kuat dan lain dari pada yang lain, begitu?"
Jengek si tuli. Si bisu manggut-manggut lagi. Si tuli bergelak tertawa, ucapnya.
"Semakin kuat tenaganya, semakin tidak kutakut padanya. Ayo, Siaucu, seranglah!"
Belum lenyap suaranya, kontan pedangnya lantas menusuk.
Yu Wi menusuk Hiat-to lumpuh Tio Ju dan diseret kebelakang, mendadak ia putar pedang kayu.
Sekali pandang saja si kakek tuli lantas kenal jurus "put-boh-kiam"
Yang hebat itu, ia pikir kalau dirinya tidak mampu membobol jurus ini ketika dimainkan Ji Pek-liong, sekarang cuma seorang abak muda, masakah dirinya juga tidak mampu mematahkan pertahanannya.
Rupanya dia tidak percaya Yu Wi akan kuat bertahan, Tak tahunya, ketika pedangnya kontak dengan tabir sinar pedang Yu Wi, seketika ia merasa ditolak oleh suatu arus tenaga yang aneh dan maha dahsyat, tanpa kuasa pedang sendiri ikut berputar.
Keruan si tuli terkejut dan berteriak.
"Siaucu hebat, memang luar biasa!"
Cepat ia menarik sekuatnya, Untung tenaga dalamnya lebih tinggi daripada Yu Wi, kalau tidak pedangnya pasti terpuntir lepas oleh daya pusaran yang timbul dari jurus Put-boh-kiam itu.
Segera si kakek bisu melangkah maju hendak membantu.
Tapi dengan gusar si tuli berteriak.
"Jangan maju dulu saudaraku, Aku tidak percaya dia mampu menahan 'Sat-jin-kiam'(jurus pedang membunuh orang)!"
Yu Wi merasa heran, tanyanya.
"Sat-jin-kiam apa?"
Melihat perubahan air muka anak muda itu, si tuli tahu jalan pikirannya, dengan tertawa ia berkata.
"Jurus Hai-yan-kiam-hoat ini tiada tandingannya didunia, sekali kumainkan pasti membinasakan orang. Maka bernama Sat-jin-kiam. Nah, Siaucu, serahkan nyawamu!"
Terkejut juga Yu Wi, mendengar ilmu pedang lawan juga Hai-yan-kiam-hoat, ia tidak berani ayal sedikitpun, dengan penuh perhatian ia menatap si kakek.
Melihat anak muda itu diam saja, segera si kakek tuli berteriak.
"Ayo, tidak putar pedangmu untuk bertahan?"
Tapi Yu Wi masih tetap tidak bergerak.
Si kakek tuli mengira anak muda itu meremehkan Sat-jin-kiamnya, dianggapnya seperti permainan pedang biasa, ingin menunggu serangannya baru akan mengeluarkan jurus Put-bohkiam untuk bertahan, Diam-diam kakek tuli merasa geli, pikirnya.
"Bocah ini tidak tahu baik buruk keadaan dan berani meremehkan diriku, kalau mati juga tak dapat menyalahkan aku."
Kini dia yakin sekali Sat-jin-kiam dilontarkan, Yu Wi pasti kena dan binasa. Padahal sama sekali Yu Wi tidak pernah lengah dan tidak meremehkan dia, ia justeru lagi berpikir.
"Kakek tuli ini jauh lebih kuat daripada diriku, Put-boh-kiam belum tentu mampu menahan serangan Hai-yan-kiam-hoatnya, apabila tidak sanggup bertahan, akibatnya pasti akan terluka atau terbunuh olehnya, tatkala mana nasib Tio Ju juga pasti akan dibinasakan oleh kakek tuli ini. Tapi...tapi apapun juga Tio Ju tidak boleh....tidak boleh mati... ."
Mendadak dilihatnya tangan si tuli sudah mulai terangkat, sinar pedang gemerlapan.
Cepat Yu Wi bertindak, ia bersiul panjang, ia tidak bertahan lagi melainkan menyerang.
Ia pikir lebih tepat menyerang untuk mengatasi serangan lawan barulah jiwa Tio Ju dapat dipertahankan.
Sama sekali si kakek tuli tidak menyangka Yu Wi tidak bertahan dengan Put-boh-kiam, sebaliknya malah mendahului menyerang.
Ia bergelak tertawa, serunya.
"Hahaha! Bu-tek-kiam, masa kutakut?!"
Habis itu, tambah dahsyat jurus Sat-jin-kiam dilontarkannya.
Ia pikir tenaga dalam sendiri lebih kuat, mustahil tak dapat mengalahkan anak muda itu.
Selagi kedua pihak hampir mengadu pedang, mendadak Yu Wi tarik kembali pedangnya dan ganti jurus serangan.
Si kakek tuli merasa heran, sebab jurus serangan Yu Wi sekarang bukan lagi Bu-tek-kiam.
Tapi si kakek tuli menjadi girang, pikirnya.
"Kau tidak menyerang dengan Bu-tek-kiam berarti kau cari mampus sendiri!"
Segera jurus Sat-jin-kiam dikeluarkan, seketika Yu Wi seperti terkurung oleh tabir pedang dan sukar meloloskan diri.
Yu Wi tidak menghindar, sebaliknya ia terus menusuk dengan jurus serangan baru.
Si kakek tuli melihat anak muda itu pasti akan terluka oleh serangannya, siapa tahu mendadak sinar pedang Yu Wi terpancar terus membabat kepinggangnya malah.
Sekilas berpikir segera diketahuinya biarpun anak muda itu dapat dilukainya, namun dirinya sendiri juga pasti akan tertabas mati sebatas pinggang oleh pedangnya.
Sama sekali tak terpikir oleh si tuli bahwa Yu Wi dapat mengeluarkan jurus serangan lain yang mempunyai kekuatan setingkat dengan jurus Sat-jin-kiam, ia tidak ingin terluka bersama, cepat ia tarik kembali pedangnya untuk menangkis.
Saat itulah mendadak Yu Wi berganti serangan pula, tertampak jurus serangan baru ini menyambar dengan dahsyat laksana gelombang ombak yang bergulung-gulung.
Sekali ini si kakek tuli kenal jurus serangan ini, serunya kaget.
"He, Hong-sui-kiam!"
Baru lenyap suaranya, tahu-tahu ujung pedang Yu Wi sudah mengamcam dadanya, dalam keadaan demikian jelas tidak mungkin baginya untuk menghindarkan serangan ini, untuk balas menyerang dengan jurus Sat-jin-kiam juga tidak keburu lagi.
Tampaknya dada si kakek tuli pasti akan tertembus oleh pedang kayu Yu Wi.
Syukur sebelumnya si kakek bisu sudah ber-jaga2 disamping, begitu melihat bahaya, cepat pedangnya juga menusuk sehingga Yu Wi tertahan.
Maklumlah, jurus Hong-sui-kiam itu belum terlatih sempurna oleh Yu Wi, sedangkan jurus serangan si kakek bisu juga salah satu jurus dari Hai-yan-kiam-hoat, namanya Tay-lok-kiam, jurus maha gembira.
Jurus serangannya ini jauh lebih lihai daripada Hong-sui-kiam, maka jiwa si kakek tuli dapat diselamatkan, bahkan daya serangnya masih terus menerobos kedada Yu Wi.
Cepat Yu Wi berganti serangan pula, dengan jurus Put-boh-kiam dapatlah ia mematahkan jurus Tay-lok-kiam si kakek bisu.
Pucat pasi muka si kakek tuli saking kagetnya, serunya.
"Hong-sui-kiam! Hong-sui-kiam!... ."
Dia bergumam sendiri, sudah jelas jurus serangan itu memang Hong-sui-kiam, tapi tetap tidak percaya dapat dikuasai oleh Yu Wi.
Ia pikir Hong-sui-kiam adalah ilmu pedang andalan Bu-bok-so, si kakek buta, tidak mungkin diajarkan kepada murid Ji Pek-liong.
Sementara itu si kakek bisu juga telah menarik kembali pedangnya, ia tahu sukar untuk mengalahkan Yu Wi, maka mundur teratur.
Si tuli lantas tanya si bisu.
"Apakah betul jurus serangannya memang Hong-sui-kiam?"
Dengan pasti si bisu mengangguk. Maka si tuli tidak sangsi lagi, segera ia membentak kepada Yu Wi dan bertanya.
"Ada hubungan apa antara Bu-bok-so dengan dirimu?"
Teringat kepada kakek buta yang malang itu, Yu Wi mencucurkan air mata, jawabnya.
"Beliau adalah guruku... ."
Terkejut si kakek bisu demi mendengar keterangan ini, ia merasa tidak habis mengerti mengapa Ji Pek-liong dan Bu Bok-so bisa sekaligus menjadi guru bocah ini, Maka dengan isyarat tangan ia memberitahukan hal ini kepada si tuli.
Tentu saja si kakek tuli juga tidak percaya, ia menegas.
"Apakah betul si buta itu gurumu?"
Yu Wi mengangguk. Dengan heran si tuli memandang si bisu, katanya dengan menyengir.
"Sungguh aku tidak mengerti mengapa Bu Bok-so bisa menjadi gurunya."
Dilihatnya si bisu memberi isyarat tangan lagi lalu si tuli terkejut dan berseru.
"Apa? Kau bilang dia juga mahir ilmu pedang Can-pi-so?"
Si bisu mengangguk pelahan.
Kakek tuli jadi teringat kepada Yu Wi waktu berubah serangan tadi memang jurus itu serupa ilmu pedang andalan Can-pi-so atau si kakek buntung tangan.
Kalau tidak tentu tidak mampu menahan jurus Sat-jin-kiamnya yang lihai itu.
Maka ia lantas tanya pula.
"Masakah Can-pi-so juga gurumu?"
Yu Wi mengangguk, katanya.
"Sehari menjadi guruku, selama hidup tetap guruku, Can-pi-so memang betul juga guruku."
Setelah jelas bahwa Can-pi-so juga mengajarkan jurus Tay-gu-kiam kepada Yu Wi, si tuli menghela napas gegetun, ucapnya.
"Bocah yang hebat, sekaligus kau ternyata menguasai empat jurus Hai-yan-kiam-hoat, Liong-so (kakek tuli) mengaku bukan tandinganmu, biarlah kuserahkan Tio Ju kepadamu. Tapi ingin kuberitahukan padamu, kejahatan yang diperbuat orang ini sudah kelewat takaran, dosanya tidak terampunkan."
Yu Wi mengucapkan terima kasih, lalu Tio Ju dicengkeramnya dan ditanyai pula.
"Ayo, sekarang tidak perlu ber-tele2 lagi bicaramu, lekas katakan bagaimana bentuk wajah gadis itu?"
Tiba-tiba Un Siau berkata.
"Tidak perlu kau tanya dia lagi, biarlah kukatakan padamu. Nama gadis itu pernah kami dengar dari It-teng Sin-ni, beliau memberi pesan bila mana kau tanya supaya kami memberitahu nona itu bernama Ko Bok-ya."
"Hah, benar Ya-ji, dia benar Ya-ji!"
Teriak Yu Wi, saking gembiranya hingga mencucurkan air mata.
"Jika dia dibawa pergi gurunya, aku tidak perlu kuatir lagi."
Tapi hatinya menjadi bimbang dan risau pula, selanjutnya entah kapan baru dapat bertemu dengan gadis itu.
Jika dalam waktu dua tahun tak dapat berjumpa, maka selama hidup inipun takkan bertemu lagi dengan dia.
Betapa sedihnya bila dirinya mati begitu saja sebelum bertemu lagi dengan Ya-ji.
Diam-diam ia mengambil keputusan, apapun juga, sebelum mati dirinya akan berusaha mencari dan bertemu dengan nona itu.
Dia lantas menyerahkan Tio Ju kepada Liong-so atau si kakek tuli.
Tio Ju berteriak-teriak minta tolong.
"Yu-heng! Tolong Yu-heng! Masih ada pesan lain It-teng Sin-ni yang perlu kuberitahukan kepadamu, lekas kau tolong diriku dan segera akan kukatakan."
"Tidak, watakmu licik dan licin, lebih baik kutanyai Toakomu saja."
Kata Yu Wi. Liong-so bergelak tertawa, katanya.
"Maling cabul, kau berkaok-kaok apa lagi? Jika bersuara pula, sekali hantam kuremukkan kepalamu, coba kau mampu bersuara atau tidak?"
Tapi Tio Ju masih terus berteriak.
"Tolong Toako! Tolong!... ."
Si kakek tuli menjadi gusar, selagi ia hendak menghajar Tio Ju,mendadak sekeliling terdengar suara gemuruh sehingga bumi serasa bergetar.
Meski tidak dapat mendengar juga kakek tuli itu dapat merasakan gelagat tidak enak, sebab dari getaran bumi dapatlah dirasakan ada beratus ribu perajurit sedang menyerbu tiba.
"Pasukan Turki!"
Teriak Yu Wi terkejut.
Dia sudah merasakan betapa celakanya terkepung oleh pasukan besar.
Ia pikir untuk melawan serbuan beratus ribu perajurit berkuda, biarpun mempunyai ilmu maha sakti juga sukar menahannya.
Dari suara gemuruh ini, jelas pasukan Turki ini ada berpuluh ribu orang banyaknya, tentu Goan-si-hengte yang mengerahkannya kesini.
Liong-so tidak tahu lihainya serbuan pasukan besar itu, ia membentak.
"Kura-kura Turki yang datang ini, hari ini biarlah kulanggar pantangan membunuh secara besar-besaran."
Mendengar yang datang adalah pasukan Turki, Tio Ju menggigil ketakutan.
"Hm, cepat atau lambat kau pasti mati, kenapa takut?"
Jengek si kakek tuli, sekali hantam ia bikin tubuh Tio Ju mencelat beberapa meter jauhnya dan menggeletak tak bisa berkutik, mungkin Hiat-to yang tertutuk tadi belum terbuka, tampaknya bila serbuan pasukan musuh tiba, dia pasti akan terinjak-injak hingga hancur lebur.
Dalam pada itu pasukan Turki yang menyerbu dari segenap penjuru sudah mendekat, yang kelihatan hanya berkelebatnya senjata dan bayangan tubuh seperti semut merayap, suasana sungguh sangat menakutkan, bagi orang yang bernyali kecil, jangankan hendak bertempur, melihat serbuan pasukan sebanyak ini saja bisa jatuh pingsan.
Ciong Han, si iblis penakut yang pada dasarnya memang bernyali kecil, ia tergeletak ditanah dengan gigi gemertuk, keluhnya.
"O, hati ini jiwa...jiwaku pasti akan...akan amblas dan meng... menghadap Giam-lo-ong!"
Dengan muka murung si iblis berduka Bok Pi berkata.
"Apakah kita sampai mati dibawah kaki kuda pasukan Turki, kan penasaran hidup kita ini?"
Go Bun, si iblis pemarah memandang Liong-so dengan mata melotot gusar, katanya.
"Setelah kumati tentu aku akan berubah menjadi setan iblis untuk merenggut jiwamu si tua bangka ini!"
Dengan sendirinya Liong-so atau si kakek tuli tidak tahu apa yang diucapkan orang, tapi dapat diduganya orang sedang mencaci maki padanya.
Mau-tak-mau timbul juga rasa menyesalnya, ia pikir sebabnya mereka tidak sanggup berbangkit untuk bertempur adalah gara-gara serangan dirinya yang dahsyat tadi dan telah melukai mereka, tapi untuk menyembuhkan mereka dengan cepat juga tidak mampu, terpaksa harus menyaksikan mereka mati terbunuh oleh pasukan musuh.
Un Siau si iblis tertawa, kini pun lenyap senyuman yang selalu menghiasi wajahnya, katanya dengan menyesal.
"Seorang lelaki harus mati secara gilang gemilang, kalau mati konyol ter-injak2 oleh pasukan Turki secara begini, matipun kami tidak dapat tenteram dialam baka."
Melihat wajah Un Siau yang tersenyum pedih itu, seketika darah panas dalam dada Yu Wi bergolak, teriaknya.
"Asalkan Yu Wi masih hidup, sekuat tenaga akan kubela kalian sehingga tidak sampai terbunuh oleh pasukan Turki!"
Tak terhingga rasa terima kasih Un Siau, serunya terharu, Yu-heng....."
Pada saat itulah pasukan pelopor Turki sudah menyerbu tiba.
Cepat Liong-so mengayun pedangnya, sekali tabas kontan kaki belasan ekor kuda musuh tertabas putus, para perajuritnya sama jatuh terjungkal.
Menyusul kakek tuli menyabat lagi beberapa kali, para perajurit yang jatuh terjungkal kebawah itu sama terpenggal kepalanya dan mati dengan mengerikan.
Namun pasukan yang menyerbu tiba itu tidak menjadi takut, bahkan terus membanjir laksana air bah yang tak tertahankan.
Kembali pedang Liong-so menabas kaki kuda, belum sempat perajurit musuh yang jatuh itu dibinasakan, pasukan yang lain sudah keburu menerjang maju lagi.
Ia menoleh dan melihat Ah-lo atau si kakek bisu berdiri melenggong dengan pedang terhunus, cepat ia membentak.
"Ayolah maju, bunuh saja! Untuk apa berlagak kasihan dalam keadaan demikian?"
Sedapatnya Ah-lo membayangkan kekejaman pasukan Turki yang membunuhi rakyat jelata yang tak berdosa, seketika timbul nafsu membunuhnya, segera pedangnya berputar, hanya beberapa kali tabas saja para perajurit yang terbanting jatuh itu telah dibinasakannya.
"Nah, begitulah baru puas! Sungguh menyenangkan! Hahahaha!..."
Teriak Liong-so dengan tertawa.
Ditengah gelak tertawanya kembali ia menabas putus kaki belasan kuda musuh, perajurit yang jatuh belum sempat berdiri sudah lantas dibunuh oleh gerak cepat si kakek bisu.
Kedua kakek itu, yang satu menabas kaki kuda, yang lain membunuh perajuritnya yang jatuh, keduanya bekerja sama dengan rapi dan cepat.
Hanya sebentar saja ratusan perajurit musuh mati dibawah pedang mereka.
Namun begitu serbuan pasukan musuh masih terus membanjir.
Yu Wi berada dilingkaran dalam dan melindungi Lak-mo (Keenam iblis), sementara itu Tio Ju si iblis nafsu, sudah lenyap tak karuan perannya, jenazahnya sudah lenyap, mungkin sudah hancur lebur dibawah kaki kuda pasukan musuh yang tak terhitung jumlahnya itu.
Betapapun lihainya si kakek tuli dan bisu juga tak dapat membendung serbuan pasukan musuh sebanyak itu, kini pasukan musuh yang menyerbu tiba sudah semakin banyak sehingga Yu Wi dan kedua kakek itu terkepung ditengah.
Untuk menyelamatkan Lak-mo, mau-tak-mau Yu Wi harus main bunuh.
Ia terus berlari kian kemari disekeliling Lak-mo, bila ada perajurit musuh menyerbu maju, segera pedangnya bergerak dan memecahkan kepala musuh.
Dengan gesit dan cekatan, dalam sekejap saja berpuluh orang telah dibinasakan oleh Yu Wi.
Tidak terlalu lama, disekeliling Yu Wi dan kedua kakek bisu-tuli telah menggunung mayat perajurit Turki yang dibinasakan mereka.
Untuk menerjang maju lagi, pasukan Turki yang baru menyerbu tiba itu harus menyingkirkan lebih dulu gundukan mayat itu, Tapi setelah gundukan mayat disingkirkan, dalam waktu singkat mayat baru menggunung lagi.
Barisan pelopor Turki yang berjumlah ribuan orang telah terbunuh semua oleh mereka.
Menyusul yang menyerbu tiba adalah pasukan berjalan kaki, infantri, begitulah istilah jaman kini.
Pasukan infantri ini semuanya membawa tombak panjang, selapis demi selapis, sebaris demi sebaris, dibunuh baris depan, baris belakang lantas membanjir maju lagi.
Sedikit lengah malah diri sendiri yang akan tertusuk oleh tombak mereka.
Sampai akhirnya, karena terlalu banyak untuk menabas, pedang kedua kakek yang semula cukup tajam kini menjadi tumpul, tubuh mereka sendiri penuh luka tusukan tombak.
Kalau begini terus menerus, akhirnya meraka pasti akan binasa juga.
Keadaan Yu Wi lebih konyol lagi, dia harus melindungi Lak-mo, pikir sini lena sana, bela sini kena sana.
Akhirnya sekujur badan sendiripun berlumuran darah, kecuali bagian muka, hampir sekujur badan terluka tombak musuh.
Melihat cara anak muda itu membela mereka dengan mati-matian, terima kasih Lak-mo tak terhingga.
Sampai Kat Hin si iblis pembenci yang tidak pernah suka kepada orang lain juga banyak berubah pandangannya terhadap Yu Wi, berulang-ulang ia berseru.
"Yu-heng, lekas kau lari sendiri saja, jangan urus kami lagi... ."
Kedua kakek bisu-tuli juga sudah nekat, melihat pasukan musuh yang menyerbu tiba semakin banyak dan tidak habis-habis, mereka tahu bila bertempur lebih lama, setelah tenaga habis, untuk menerjang keluar lebih-lebih tidak mampu, maka si kakek tuli lantas berseru kepada Yu Wi.
"He, Siaucu, kita terjang keluar saja!"
Tapi Yu Wi menyadari tidak berguna biarpun berusaha menerjang, sebab ia sudah berpengalaman kepungan pasukan musuh sedemikian rapat, betapa terjang juga sukar menembus lapisan pasukan sebanyak ini.
Akan lebih baik bertahan saja disini, bisa bunuh satu tambah untung satu, bisa bunuh lebih banyak berarti lebih banyak mengabdi bagi negara dan bangsa.
Hakikatnya ia tidak berpikir untuk hidup lagi.
Setelah berteriak belasan kali dan tetap tidak mendapat jawaban Yu Wi, si kakek tuli coba berpaling, dilihatnya anak muda itu masih membela Lak-mo dengan mati-matian, segera ia berseru pula.
"He, Siaucu, marilah kita lari dengan membawa mereka."
Sekarang ia tahu Yu Wi sangat setia kawan, kalau Lak-mo tidak dibawa lari sekalian, tidak nanti ia kabur sendirian.
Ia tidak ingin Yu Wi mati konyol dimedan perang ini, sebab dalam pandangannya kini Yu Wi adalah satu2nya orang didunia ini yang mahir memainkan keempat jurus Hai-yan-kiam-hoat, ia pikir mungkin Ji Pek-liong dan lain-lain sudah dekat ajalnya, maka sama mengajarkan ilmu pedang andalan masing-masing kepada anak muda ini, kalau tidak, mustahil mereka mau mengajarkan ilmu pedangnya kepada bocah ini dan lebih suka ingkar janji dan tidak menghadiri pertemuan di Ma-siau-hong nanti.
Dan sekarang kalau Yu Wi mati, tentu keempat jurus ilmu pedang sakti itupun akan ikut lenyap, untuk belajar Hai-yan-kiam-hoat secara lengkap menjadi tidak mungkin lagi.
Hanya bila Yu Wi tidak mati barulah mereka ada harapan untuk belajar keempat jurus itu.
Karena pikiran tamak akan menarik keuntungan bagi diri sendiri inilah, si kakek tuli lantas mengajak kakek bisu menerjang kearah Yu Wi, Lwekang mereka sangat tinggi, meski sudah bertempur sekian lamanya masih tetap gagah perkasa, pelahan dapatlah mereka menggeser kesamping Yu Wi.
Mendadak si kakek tuli berteriak.
"Angkat Lak-mo!"
Bersama si bisu cepat mereka berjongkok, masing-masing lantas mengepit dua orang, tertinggal Un Siau dan Ciang Ti saja yang masih menggeletak disitu.
Baca Juga: Pendekar Patung Emas 6
Baca Juga: Jaka Galing Kho Ping Hoo