Ceritasilat Novel Online

Amanat Marga 8

Eps 8 Amanat Marga - Khu Lung

Baca online Amanat Marga - Khu Lung

Cersil Amanat Marga - Khu Lung.

Kim-soat melompat ke atas kapal, dan pasang layar, ia datang sendirian, sekarang pun berlayar pulang sendirian, Datangnya tidak membawa apa-apa, pulangnya justru membawa hati yang luka ....

Di tempat lain Lamkiong Peng dan Tik Yang sedang berusaha menolong Tek-ih Hujin, namun peremptian itu tampak sudah payah karena luka terbakar.

Lamkiong Peng telah memberitahukan kepada Tik Yang bertiga tentang siapa Tek-ih Hujin.

Pelahan Tek-ih Huj in membuka mata, de-ngan sinar matanya yang guram ia mengerling Lamkiong Peng sekejap, lalu bertanya.

"Bwe ... Bwe Kimsoat, di ... di mana dia? "

Lamkiong Peng tidak menjawab. Dengan lemah Tek-ih Hujin menghela na-pas, katanya.

"Selama hidupku malang me-lintang di dunia kangouw dan banyak orang kosen yang telah kutipu, tak tersangka akhirnya aku juga kena ditipa oleh seorang perem -puan semacam Bwe Kim-soat. Wahai Bwe Kim-soat, hebat juga kau! "

"Hm, orang suka menipu tentu juga akan ditipu, kenapa.mesti menyesal? "

Jengek Ih Loh mendadak.

"Kautahu apa? "

Kata Tek-ih Hujin dengan gusar.

"Meski dia menipuku, tapi pada saat kulompat ke bawah tebing sudah dapat kuduga muslihatnya, ia cuma berlagak dingin terhadap Lamkiong Peng, sesudah aku tertipu dan tertawan, lalu dia akan bergabung lagi dengan Lamkiong Peng."

"Haha, tapi sekarang tenjata telah makan tuan, akhirnya kalian jadi tercerai-berai,betapapun rasa dendamku terlampias juga .... Hahahaha ...."

Di tengah gelak tawa latahnya, perempuan siluman ini mendadak mendelik.

sekujur badan lantas berkejang, lalu putus napasnya.

Tamat-lah riwayatnya yang penuh dosa itu.

Mendadak Lamkiong Peng berteriak sekali terus melepaskan diri dari pegangan Tik Yang.

serunya parau.

"Dia pasti masih berada disana ...."

Dengan langkah sempoyongan ia terus hen dak berlari ke tengah hutan yang sudah men-jadi lautan api itu. Tik Yang terkejut, cepat ia menarik tangannya.

"Lepaskan aku ...."

Teriak Lamkiong Peng. Pada saat itulah seorang kelasi perempuan tampak berlari datang sambil berteriak.

"Ja-lan ke pantai hampir tertutup seluruhnya oleh api, harap tuan dan nona lekas keluar dan sini, kalau tidak tentu sukar lagi meninggalkan pulau ini. Baru saja orang lain sudah ber-layar..."

"Hah, siapa yang berlayar? Siapa yang kaulihat? "

Tanya Tik Yang cepat.

"Waktu hamba pasang mata di atas puncak tiang layar, tertampak di ujung pulau sebelah sana meluncur sebuah kapal, sedangkan api telaah mengililingi seluruh pulau ini."

"Siapa penumpang kapal itu, terlihat jelas tidak? "

Tanya Tik Yang.

"Kapal layar itu mendapat angin buritan dan melaju dengan cepat. hanya sebentar saja sudah jauh sehingga sukar terlihat siapa penumpangnya, karena kuatir keselamatan nona, maka hamba Iantas lari kemari."

Tik Yang, Ih Loh danYap Man-jing saling pandang, dalam hati sama membatin tentu Bvve Kim-soat yang telah pergi dengan kapal layar itu.

Mereka sama memandang Lamkiong Peng, anak muda itu kelihatan pucat dan ber-diri termenung, mendadak tumpah darah dan jatuh pingsan.

Cepat Tik Yang mengangkat tubuh Lam-kiong Peng dan mengajak kawan-kawannya berlari ke pantai.

Setiba mereka di atai kapal, tempat berada mereka tadi pun mulai terjilat api.

Pelahan Lamkiong Peng siuman kembali, kapal mereka mengitari dulu pulau yang ter-bakar itu, mereka berharap dapat melihat ba-yangan kapa!

Bwe Kim-soat atau menemukan jejak Liong Po-si dan Lamkiong Eng-lok.

Namun tiada sesuatu yang mereka lihat.

Hampir sebulan kapal mereka berlayar kembali, Lamkiong Peng berkabung dengan sedih, sepanjang hari dia tidak bicara.

Orang lain ikut berduka dan tak berdaya.

Waktu kapal sudah dekat pantai, ken-daraan air yang berlalu lintas bertambah ba-nyak, Kapal layar mereka ini banyak menarik perhatian kapal Iain, namun tidak ada yang berani mendekat.

Menurut taksiran Tik Yang, tidak berapa lama lagi kapal pasti dapat menepi, dengan sendirinya hati terasa senang.

Beberapa saat ketnudian, tiba-tiba dari depan muncul sebuah kapal layar putih, ma-kin lama makin mendekat, meski kedua kapal seperti akan saling tubruk, namun kapal itu seperti tidak mau menghindar, bahkan tampak-nya sengaja menyongsong kedatangan kapal Tik Yang ini.

Tentu saja Tik Yang kaget dan heran, gumamnya.

"Mungkinkah kapal bajak? kalau tidak kenapa ...."

"Kuharap kapal ini memang kapal bajak laut, supaya aku dapat melemaskan otot melabrak mereka, sudah sekian lamanya aku-ke-sal."

Ih Loh tertawa cerah. Tidak lama kapal itu sudah dekat. di ha-luan berdiri seorang Iclaki berbaju biru se-dang mengayun-ayunkan sehelai kain putih sambi! berteriak.

"Apakah ,Tik-kongeu yang datang di kapal depan itu? Mohon turun layar sebentar, ada sedikit urusan hendak kubicara-kan."

Sel.agi Tik Yang merasa ragu, Ih Loh telah mendahului menjawab.

"Betul, sahabat ini siapa? Ada urusan apa? "

Layar kapal itu sudah diturunkan sehingga laju kapal menjadi lambat, Tik Yang Iantas memerintahkan juga menurunkan layar dan mengurangi laju kapalnya.

Setelah bersimpangan haluan, kedua kapal berdempetan, segera orang itu melompat ke geladak kapal Tik Yang sambil menatap para penumpangnya.

Dengan kurang senang Tik Yang berkata "Selamanya kita tidak berkenalan, dari mana sahabat tahu aku berada di kapal ini?"

Lelaki itu tersenyum, ia pandang Lam-kiong Peng sekejap, lalu menjawab."

"Tik-kongeu pesiar ke lautan bersama nyonya, hal ini sudah tersiar luas di dunia penilatan, teru-tama layar berwamawami kapal Tik-kongeu ini mudah dikenali oleh siapa pun."

"Sahabat sedemikian menaruh perhatian kepada kami, sesungguhnya ada urusan a pa? "

Jengek Tik Yang.

Orang itu tersenyum tanpa menjawab, ia memberi tanda tepukan tangan, segera di atas kapalnya dikerek naik belasan batang galah bambu panjang, pada ujung galah tergantung keranjang dan diantarkan ke kapal Tik Yang.

"Majikan kami tahu TiK-kongeu dan nyonya sudah sekian lama berlayar di lautan lepas, tentu kurang teratur dalam hal makan minum,maka hamba khusus ditugaskan mengantar sedikit hidangan sekadar memberi servis kepada Tik-kongeu."

"Siapa majikan kalian? "

Tanya Tik Yang.

"Majikan sedang menuggu di pantai akan kedatangan Tik-kongeu, setelah bertemu tentu Tikkongeu akan tahu siapa beliau."

Jawab orang itu dengan tertawa.

Habis berkata ia lantas mengundurkan diri dan kemball ke kapalnya sendiri, lalu layar berkembang dan kapalnya melaju lagi, Tik Yang saling pandang sekejap dengan Ih Loh, mendadak nyonya itu membuang be-lasan macam hidangan itu ke laut, untuk menghindari segala kemungkinan.

mereka ti-dak mau mengambil risiko makan hidangan itu.

Diam-diam semua orang berpikir apa maksed tujuan orang mengantarkan makanan itu.

Semalam tidak terjadi apa pun, esoknya selagi mereka berdiri di haluan kapal, dan jauh muncul lagi sebuah kapal layar.

Sesudah dekat, kembali dari haluan kapal prndatang itu ada orang berteriak.

"Adakah Tikkongeu di atas kapal situ? "

"Di sini aku berada, masa perlu tanya lagi? "

Jawab Tik Yang dengan tertawa. Tertampak orang yang berdiri di haluan itu bukanlah lelaki yang kemarin. Sikap orang ini terlebih hormat, oleh oleh yang diantarnya terlebih baik daripada kemarin.

"Semalam kalian baru saja mengantarkan makanan, pagi-pagi sekarang kalian sudah da-tang lagi, rasanya majikan kalian agak terlalu sungkan kepada kami."

Segera Ih Loh mendahului menegur. Lelaki itu tampak melenggong bingung ". jawabnya.

"Pang kami baru pagi tadi menerima kabar kepulangan Tik-kongeu suami-istri dan segera Pangeu kami mengirim kami kemari."

"Jadi yang datang kemarin itu bukan temanmu? "

Tanya Ih Loh. Lelaki berbaju panjang itu menggeleng.

"Siapa Pangeu kalian, bolehkah kami diberitahu? "

Tanya Ih Loh pula.

"Sesudah berhadapan tentu Tik-kongeu akan tahu sendiri."

jawab lelaki itu, tanpa banyak bicara kapalnya terus putar haluan dan berlayar pergi.

Kembali Tik Yang saling pandang dengan kawankawannya, mereka tidak tahu sebenarnya apa maksud pengantar makanan ini.

Kembali semua antaran itu dibuangnya ke laut.

Menjelang lohor, berturut-turut datang lagi empat kelompok pengantar hadiah, satu terlebih hormat daripada yang lain, antaran yang datang juga semakin bemilai, namun ti-ada seorang pun mau menceritakan asal-usulnya sendiri, semuanya menjawab nanti tentu tahu sendiri setelah bertemu.

Yang paling aneh adaiah orang-orang inii tiada satu pun yang kenal Tik Yang, mereka seperti mewakili setiap golongan atau perguru an masingmasing dan berusaha menarik Tik Yang ke pihaknya.

Lewat lohor dari jauh sudah kolihatan ba-yangan daratan, seketika semangat mereka ter-bangkit, para kelasi wanita itu pun bekerja ter-lebih giat agar selekasnya dapat mencapai pantai.

Cahaya senja indah permai, air laut ber kilauan dengan ombak yang mendebur banyak juga perahu nelayan sedang menuju ke tepi, Di pantai kelihatan bergerombolan puluhan orang, waktu diamati.

semuanya adalah orang perempuan.

' Sungguh aneh."

Ucap lh Loh dengan heran.

"Memangnya beberapa kelompok orang yang mengantar oleh-oleh itu sama hendak memungut dirimu sebagai menantu, kenapa sebanyak ini orang perempuan menanti ke-datanganmu? "

Tik Yang tertawa, pada saat itulah orang perempuan di pantai itu sama bersorak gembira sambil mengangkat tangan.

Rupanya pada saat itu berpuluh perahu nelayen telah merapat di pantai dan sama mendarat, lalu saling berdekapan dengan orang-orang perempuan itu, Maklumlah.

adat-istiadat penduduk pantai tidak sekolot orang pedalaman, hubungan antara lelaki dan perempuan terlebih bebas dan tidak banyak pantangan.

Tik Yang terbahak-hahak, serunya.

"Nah, sudah kaulihat jelas merska sedang menunggu suami masing-ajasing yang menangkap lkan di laut dan bukan menyambut kedatanganku."

Hanya sebentar saja kawanan nelayan itu sudah pergi semua bersama anggota keluarga masingmasing.

"Aneh juga, mengapa pengantar makanan kepadaku itu tidak muncul menyambut kedatangan kita? "

Gumarn Tik Yang dengan heran.

"Di balik urusan ini tentu tersembunyi sesuatu yang tidak beres."

Ujar Yap Man-jing.

Kecmpat orang lantas mendarat, dilihat-nya kota kecil tepi pantai ini cukup ramai, alannya rajin dan resik, setelah bertanya ba-ru diketahui kota ini cukup terkenal di pro-pinsi Ciatkang, yaitu Lokjing, berjarak tidak jauh dengan teluk Sam-bunwan, tempat me-reka berlayar semula.

Mereka lantas mencari rumah penginapan.

Meski tempat ini masih asing bagi mereka, namun kuasa hotel dari kawanan pelayan scakan-akan sangat ramah dan hormat kepada mereka.

Begitu datang mereka lantas disambut dengan perkataan.

"Selamat datang, Tik-kongeu! "

"Dari mana kalian tahu siapa diriku? "

Tanya Tik Yang dengan sangsi. Kuasa hotel tertawa misterius, ia berbalik tanya.

"Ada lima paviliun di hotel kami,semuanya sudah kami bersihkan dan siap untuk dihuni Tik-kongeu."

"Untuk apalima paviliun, kami hanya minta dua saja."

Kata Ih Loh.

"Agaknya Tik-kongeu tidak tahu, hari ini kami kedatanganlima juragan, masing-masing memesan sebuah paviliun bagimu, bahkan uang sewa sudah dibayar lipat dan tamu yang te-lanjur masuk lebih dulu disuruh pindah."

Tutur kuasa hotel itu "Hamba juga lagi heran, Tik-kongeu cuma satu keluarga. paviliun mana yangkan kalian gunakan? "

Tik Yang saling pandang sekejap dengan sang istri. Lalu Ih Loh berkata.

"Orang yang pesan kamar itu apakah meninggalkan sesuatu pesan lagi? "

"Hanya meninggalkan uang sewa dan tidak meninggalkan pesan."

jawab kuasa hotel dengan tertawa.

"Coba bolehkah kulihat uang yang mereka bayar kepadamu? "

Tukas Ih Loh. Kuasa hotel melenggak, tapi ia pun tidak berani menolak.

"Masakah dapat kautemukan sesuatu pada uang perak mereka? "

Tanya Tik Yang. Ih Loh Tertawa.

"Rupanya engkau tidak paham Setiap bentuk uang perak atau uang kertas tentu ada ciri-ciri asal-usulnya, sebab umumnya ginbio (uang kertas sebangsa cek) setiap tempat berlainan buatannya Dari uang mereka akan dapat ditemukan mereka datang dari mana "

"Tampaknya banyak juga urusan yang kauketahui."

Kata Tik Yang.

Maklurnlah, Ih Loh adalah adik perem-puan Ih Hong, tokoh Kai-pang atau kaum jembel di daerah perbatasan utara, gerombol-an mereka khusus membegal harta benda yang tidak halal dari kaum perampok, koruptor dan sebagainya.

Maka pengetahuan uang perak atau uang kertas dari berbagai tempat cukup dikuasai oleh.

Ih Loh, Tidak lama kemudian kuasa hotel mem-bawa keluar satu kotak tempat uang, isinya ada uang perak, ada uang kertas.

Lebih dulu Ih Loh mengamat amati sepotong uang perak lantakan.

Buatan lantakan perak itu agak kasar, namun kadarnya cukup mumi Hanya dipandang sekejap saja Ih Loh lantas berkata.

"Perak ini berasal dari daerah Jinghai, Sekong dan Tibet. Sungguh aneh, mengapa ada orang dari daerah terpencil itu sampai di tepi pantai sini? "

Lalu ia memeriksa lagi empat helai ginbio.

lembaran pertama keluaran , Wi-hong gin-ceng (sebangsa bank jaman kini), ginbio ini beredar luas di mana mana sehingga tiada sesuatu yang mencurigakan.

Ginbio kedua adalah keluaran daerah Sujoan, ginbio ketiga juga sering terlihat beredar di daerah Kanglam.

'Kenapa orang orang dari Sujoan yang jauh juga datang kemari, sungguh sukar dimengerti apa tujuannya?"

Ucap Ih Loh dengan gegetun Waktu ia periksa lagi ginbio keempat, ter-tampak bentuknya agak aneh, sekeliling uang kertas itu terlukis hiasan bunga wama wami.

Selagi Ih Loh merata heran, mendadak sebuah tangan merampas uang kertas itu Lamkiong Peng yang sejak tadi diam saja mendadak merebut uang kertas itu, sebab di kenali uang kertas itu semula adalah milik ke-luarga Lamkiong.

"Tak tersangka ada di antara orang orang ini membayar dengan ginbio keluarga Lamkiong."

Ucap Tik Yang dengan heran, sukar diketahuinya dari golongan mana orang itu.

"Siapa yang membayar dengan uang ini? "

Tanya Lamkiong Peng. Kuasa hotel rada ketakutan melihat sikap anak muda itu, jawabnya tergagap, ' O, ..dari tamu kedua , ..."

"Paviliun mana yang dipesannya? "

Tanya Lamkiong Peng.

"Akan kutunjukkan."

jawab si kuasa hotel.

Lamkiong Peng melemparkan ginbio itu ke dalam kotak, lalu ikut pergi bersama kuasa hotel.

Setelah menembus sebuah pintu yang membatasi antar halaman, tertampaklah sebuah paviliun dengan halaman yang indah, memang herbeda daripada di depan.

"Apakah Tuan hendak memakai paviliun ini? "

Tanya kuasa hotel.

"Betul."

jawab Lamkiong Peng dan mendahului masuk ke rumah itu, di situ ia berdiri termenung.' Melihat perubahan sikap pemuda itu, se-mua orang tidak berani bertanya.

Selagi mereka bergegas bendak istirahat, mendadak terdengar suara ramai-ramai di luar hotel serta suara riuh orang berlari.

Dengan sendirinya Tik Yang, In Loh dan lain semua ingin tahu apa yang terjadi.

Waktu mereka meloagok koluar hotel, tertampak di jalan raya orang berlari kian kemiiri sambil membawa keranjang, ember dan sebagaiiya,-semuanya menuju ke pantai.

Karena ingin tahu apa yang terjadi, Tik Yang dan Ih Loh coba ikut menuju ke tepi laut.

Hari sudah gelap, tertampak orang berjubel di pantai, semuanya bersorak gembira, ada kawanan pemuda sudah melepas baju dan terjun ke laut.

Waktu mereka mendesak maju ke tepi laut, sekilai pandang seketika mereka melengak.

Ternyata di tengah debur ombak terbawa cahaya gemerlip, yaitu gemerlip sisik ikan, na-mun ikan yaag beratus ribu terdampar ombak itu sudah mati semua.

Rupanya membanjirnya penduduk ke tepi pantai adalah untuk mencari ikan.

Sebagai kaum nelayan, menangkap ikan tanpa susah payah tentu sangat menggembirakan mereka, selama hidup mereka juga tidak pemah me-lihat ikan tebanyak ini.

Tik Yang saling pandang dengan Ih Loh, sebab mereka merasa munculnya bangkai ikan ini pasti ada sesuatu yang tidak beres.

Cepat Tik Yang menarik Ih Loh ke luar dari kerumunan orang banyak, katanya dengan pelahan.

"Dugaanmu memang tidak salah, untung kita tidak makan hidangan yang di antar orangorang itu, kalau tidak ...."

Setelah melihat bangkai ikan sebanyak itu, dapatlah diduga pasti kawanan ikan itu, telah makan berbagai makanan yang mereka buang ke laut itu dan mati keracunan, lalu bangkai ikan terdampar ke pantai ter-bawa arus.

Sungguh mengerikan melihat beratus ribu bahkan berjuta ikan mati itu.

"Keji amat racun mereka, siapakah yang sengaja hendak meracuni kita dengan obat racun sejahat ini? "

Gumam Ih Loh dengan ke-ning bekernyit.

"Tapi apakah semua pengantar makanan itu memberi racun atau cuma satu di antara mereka, hal ini juga tidak jelas."

"Pada suatu hari hal ini pasti dapat di-ketahui."

Ujar Tik Yang.

"Wah celaka! "

Teru Ih Loh mendadak.

"Ada apa? "

Tanya Tik Yang.

"Ikan ini mati keracunan, jika bangkai ikan ini diambil dan dimakan, bukankah yaug makan juga akan ikut keracunan? "

Tergugah juga hati Tik Yang, waktu ia memandang kesana , entah betapa banyak orang yang berjubel di pantai sekarang, cara bagaimana harus mencegah tindakan mereka yang hendak panen bangkai ikan itu.

Bisa jadi be-ribu orang ini pun akan menjadi korban racun.

"Wah, Bagaimana baiknya? Cara bagai--mana kita memberi keterangan kepada mereka supaya mereka mau percaya? "

Gumam Ih Loh dengan bingung.

Tik Yang juga tak berdaya, dilihatnya beberapa nelayan dengan menjinjing keranjang penuh ikan sedang beranjak pulang dengan riang gembira.

Selagi ia bermaksud mernburu maju untuk memberi penjelasan, tiba tiba dari kejauhan ada suara teriakan orang.

Beberapa lelaki berbaju kuning dengan rambut diikat tampak berlari datang sembari berteriak.

"Losinsian ada perintah, katanya ikan ini tidak bo!eh dimakan! "

Dalam sekejap segera orang-orang berbaju kuning itu di kerumuni orang banyak dan ditanyai.

Kawanan nelayan yang.akan pulang itu berputar balik untuk mencari tahu apa yang terjadi.

Salah seorang berbaju kuning itu berteriak pula.

"Saudara sekalian, lekas bangkai ikan itu ditanam saja dan janganlah sekali-kali dimakan."

Kenapa tidak boleh dimakan? "

Demikian ada orang bertanya.

"Losinsian bilang ikan ini beracun dan dikirim oleh kaum iblis untuk membikin celaka manusia, bila dimakan segera akan mati keracunan."

Seru si baju kuning. Berubah hebat air muka kawanan nelayan, ada yang berkata.

"Syukurlah Losinsian berada di sini, kalau tidak tentu banyak nyawa akan melayang.

" . Diam-diam Tik Yang merasa lega, mau-tak-mau ia pun merasa heran, ia tidak tahu "Losinsian "

Atau si dewa tua yang dimaksudkan mereka itu sesungguhnya orang macam apa, mengapa kaum nelayan sedemikian percaya kepadanya? Ia coba mendekati seorang nelayan dan bertanya.

"Numpang tanya, Losinsian yang disebut itu sebenaraya siapa? "

Nciayan itu mengamati dia sejenak, lalu menjawab dengan tertawa.

"Agaknya Anda ber-dua kaum pelancong dari tempat lain sehingga tidak tahu siapa Losinsian. Beliau seorang tua yang serba pintar, dari ilmu bintang sampai ilmu bumi semuanya dipahaminya, beliau boleh dikatakan serba tahu dan serba bisa, di dunia tidak ada bandingannya."

Tik Yang mengucapkan terima kasih, lalu mengajak Ih Loh pulang ke hotel.

"Losinsian ini tentu seorang kosen, kalau sempat ingin kutemui dia."

Kata Ih Loh-"Orang kosen apa. kukira cuma sebangsa dukun saja."

Ujar Tik Yang.

"Kalau dukun, cara bagainiana dia tahu bangkai ikan beracun dan menyuruh orang jangan memakannya."

Kata Ih"

Loh.

"Kawanan nelayan itu memang banyak yang tahayul, tapi tidak semuanya orang bodoh."

Tik Yang tidak membantah lebih lanjut Sepulang di hotel, tertampak Lamkiong Peng danYap Manjing duduk berhadapan dengan diam diruang duduk.

Segera Tik Yang men-ceritakan apa yang dilihatnya tadi.

Tentu saja orang yang memesankan kamar bagi mereka mengantarkan lagi berbagai Santapan, tapi setelah utusan ikan mati keracunan tadi, mana mereka berani makan.

Mereka menyuruh pelayan"

Membeli ratusan telur ayam' dan direbus untuk mengisi perut.

Meski mereka tidak banyak bicara lagi, tapi diam-diam sama merasakan urusan bertambah gawat, dengan perasaan tertekan me-reka kembali ke kamar masing-masing.

Tentu saja Lamkiong Peng tidak dapat pulas, pikirannya bergolak.

teringat olehnya akan kedua orang tua, terkenang juga kepada guru dan saudara seperguruan, juga kawan dan kerabat Iain.

Malam bertambah larut, namun tetap sukar pulas.

Selagi suasana sunyi senyap.

tiba-tiba terdengar suara mendesir di luar jendela, suara kain baju tertiup angin, menyusul ada suara "citcit "

Dua kali.

Tergerak hati Lamkiong Peng, cepat ia bangun, terdengar suara mencicit dua kali lagi di luar, suara seperti bunyi serangga di malam sunyi.

Ia masih ingat dahulu ketika dia baru saja masuk perguruan, di antara beberapa saudara seperguruan berkumpul main sembunyisembunyian untuk berlatih ginkang.

Waktu itu mereka sama masih muda belia, Liong Hui sudah meningkat dewasa, namun pikirannya masih serupa anak kecil, ia membawa para Sute dan Somoay bermain kucing-kucingan di hutan agar tidak dirasakan meecka sedang berlatih ginkang melainkan seperti perinainan biasa kanakkanak saja.

Seketika Lamkiong Peng terkenang kepada kejadian lalu, semua itu seperti baru terjadi kemarin "Hah, jangan-jangan Toasuheng yang da-tang?!

"."

Tlba-tiba timbul pikirannya.

Segera ia membuka jendela, dilihatnya se-sosok bayangan orang mendekam di emper ru-mah depanSana dan lagi menggapai padanya.

Tanpa pikir Lamkiong Peng keluar, dilihatnya bayangan orang itu sudah melompat ke halaman rumah lain dan berdiri di bawah pohon yang rindang.

Waktu Lamkiong Peng menyusul ke situ, dalam kegelapan samar-samar dapat dikenali-nya bayangan oraag ini ternyata Samsuhengnya yaitu Ciok Tim yang sudah lama berpisah itu.

Sungguh girang sekali Lamkiong Peng, cepat ia pegang tangan Ciok Tim dia berketa ' Simsuheng, engkau ...."

Seketika kerongkongan seperti tersumbat dan sukar bersuara Dalam kegelapan kelihatan Ciok Tim yang dulu gagah dan cakap itu sekarang sangat kurus, muka pucat, mata celling dan guram sinar matanya.

Duka, pedih dan girang pula Lamkiong Peng.

Didengarnya Ciok Tim berkata.

"Ku-dengar engkau datang kemari dan segera menyusul ke sini."

Suaranya kedengaran berat daa pelahan, tidak bersemangat lagi seperti dulu.

"Kalau sudah datang, mengapa Samsuheng tidak masuk kamarku? "

Tanya Lamkiong Peng. Giok Tim menggeleng, sorot matanya yang guram menampilkan rasa duka dan hampa, katanya.

"Aku tidak mau masuk, aku cuma ingin memberitahukan padamu, jangan kau-percaya kepada omongan orang, jangan me-nyanggupi sesuatu kepada siapa pun. Hanya ... hanya sekianlah pesanku."

Lamkiong Peng tertegun sejenak, katanya kemudian.

"Baik-baikkah selama ini, Sam-suheng? Tentu Toaso dan lain-lain juga berada denganmu?"

Ciok Tim termenung sambil memandang bintang di langit, jawabnya kemudian.

"Aku ini orang sial dan berdosa, selanjutnya jangan kauanggap lagi diriku sebagai Suhengmu, sebaiknya anggap aku sudah mati."

"Kenapa Suheng bicara seperti ini, apa pun juga cngkau adalah Suhengku."

Kata Lamkiong Peng dengan terharu. Ciok Tim menggeleng dan menghela napas.

"Engkau .... engkau tidak tahu .... Sudahlah, hendaknya kaujaga dirimu dengan baik, kupergi saja."

Habis bicara segera ia melayang pergi, hanya sekejap saja sudah menghilang dalam kegelapan.

Suasana sunyi, angin mendesir, Lamkiong Peng berdiri di halaman yang luas dan gelap, itu dengan perasaan tertekan.

Ciok Tim adalah salah seorang di antara.

lima saudara seperguruannya yang gagah dan tangkas tapi sekarang dia kelihatan lesu, sedih dan putus asa, jika tidak mengalami sesuatu pukulan batin tentu takkan membuatnya jadi begini.

Sejak berpisah di Hoa san dahulu antara sesama saudara,seperguruan mereka lantas ter-pencar dan sudah dekat setahun tidak pemah berjumpa, sekarang Ciok Tim terburu-buru tinggal pergi lagi, memangnya apa yang dihindarinya?

Begitulah perasaan Lamkiong Peng bergo-lak, pedih dan haru, tanpa terasa air mata pun meleleh, terutama bila mengingat pengalaman-nya sendiri.

Di bawah bayangan pohon yang bergerak tertiup angin, sekilas tertampak di sisinya su-dah bertambah dengan sesosok bayangan yang ramping.

' Cepat Lamkiong Peng berpaling, kiranyaYap Man-jing adanya, dengan tercengang si nona lagi menatapnya.

"engkau menangis? "

Tanya nona itu.

"Tidak.

"Cepat Lamkiong Peng memper-lihatkan senyumnya, namun tidak dapat me-nutupi bekas air mata pada pipinya.

"Malam dingin dan banyak embun, lekas pulang ke kamar saja."

Ucap Man-jing dengan lembut.

Lamkiong Peng memandangnya sekejap sambil mengangguk, lalu kembali ke kamar.

Ia duduk termenung dan seperti hilang rasa kantuknya.

Suasana sunyi senyap, pikirannya bergolak, berbagai urutan scakan-akan terbayang lagi olehnya.

Entah berapa lama ia melamun, sekonyongkonyong terdengar orang melangkah di serambi luar, sejenak kemudian mendadak terdengar fsara bentakan Yap .Man-jing.

"Lari kemana, bangsat! " -. Menyusul dua sosok bayangan orang me-layang lewat ke atas rumah terus kabur ke arah barat. Tanpa pikir Lamkiong Peng melompat ke-luar lagi melalui jendela dan memburu ke sana. Selama hampir setahun berdiam di Cu-, sin-to dan mempelajari berbagai ilmu sakti dari kitab pusaka yang dibacanya, kemajuan ginkangnya sekarang sudah sukar diukur. Maka hanya sekejap saja-kedua orang tadi sudah da-pat disusulnya. Waktu ia mengamati, yang lari di depan adalah seorang lelaki berpakaian ringkas, yang mengejar di belakang bertubuh ramping dan berambut panjang, jelas Yap Man-jing adanya. Lamkiong Peng mempereepat langkahnya, hanya sejenak saja jarak mereka tinggal belasan tombak saja. Tiba-tiba lelaki itu berhenti di depan pohon besar sana, begitu menubruk maju se-gera Yap Man-jing menyerang Catah kenapa, ia menyerang dengan ganas dan keji tanpa kenal ampun. Hanya beberapa gebrakan saja, dengan suatu serangan paacingan, menyusul telapak tangan Yan Man-jing dapat menabas pundak lawan, bahkan dada orang lantas dihantamnya lagi.

"Tahan dulu, nona Yap! "

Seru Lamkiong Peng.

Namun sudah terlambat, dada orang itu sudah kena digenjotYap Man-jing hingga tumpah darah dan terjungkal.

Lamkiong Peng memburu maju dan memeriksa pemapasan orang itu, ternyata sudah putus napas.

"Bangsat rendah mati pun murah baginya."

Damperat Yap Man-jing penasaran.

"Mestinya ditawan dulu uhtuk dimintai keterangan."

Ujar Lamkiong Peng.

"Sesungguhnya apa yang sudah terjadi sehingga engkau sedemikian marah? "' "Coba kauperiksa benda apa yang di-bawanya? "

Kata Man-jing.

Waktu Lamkiong Peng berjongkok, dikeluarkannya sesuatu dari baju lelaki itu, ternyata sebuah tempurung berbentuk ceret dengan leher panjang terbuat dari timbel.

Dari mulut leher ceret terendus bau harum yang aneh.

'O.

kiranya seorang maling cabul."

Ujar Lamkiang Peng.

Kiranya tempurung timbel berbentuk ce-ret itu berisi semacam asap bius, biasanya di-gunakan manusia rendah yang suka merusak orang perempuan, korbannya dibius lebih dulu lalu dikerjainya.

"Coba, bangsat kotor semacam ini buat apa dibiarkan hidup?' damperat Yap Man-jing pula. Lamkiong Peng berpikir sejenak, katanya kemudian.

"Tapi urusan tentu tidak sederhana begini. bukan mustahil orang ini ada hubungannya dengan kelima kelompok orang yang mengantar makanan kepada kita itu."

Sejenak kemudian mendadak ia berteriak pula, ' "Celaka. ayo lekas kembali ke hotel! "

Sembari bicara ia terus mendahului ber-lari kembali ke arah semula.

Seketika Yap Man-jing juga menyadari apa yang mangkin terjadi, tanpa ragu segera ia menyusulnya.

Setiba di hotel, cepat Lamkiong Peng mendatangi kamar Tik Yang suami istri dan ber teriak.

"Tikheng.............". Namun sampai beberapa kali ia bicara tetap tidak ada jawaban. Tanpa ayal ia men dobrak pintu dan menerjang ke dalam. Ternyata kamar sudah kosong, bayangan Tik Yang dan Ih Loh tidak kelihatan lagi, bahkan rangsal, senjata dan barang lain juga tidak kelihatan.

"Ke mana mereka?' tanya Man-jing. Bekernyit kening Lamkiong Peng, ia ter menung tanpa menjawab.

"Coba kaucium, rasanya masih ada bau harum khas itu."

Kata si nona pula.

"Ya, urusan ini agak janggal."

Ujar Lamkiong Peng.

"Rasanya tidak mudah untuk menyelidiki urusan ini."

"Rasanya kita harus mulai menyelidiki urusan ini dari kelima kelompok pengantar makanan itu."

Ujar Man-jing "Ya, dan hal ini pun jelas tidak mudah dan sederhana."

Kata Lamkiong Peng.

"Baru lewat tengah malam, percuma kita gelisah di sini, marilah kembali ke kamar dan besok kita mencari akal lagi."

"Esoknya setelah berundiug, Yan Man-jing sementara tinggal di hotel untuk mengawasi apa yang akan terjadi lagi. Lamkiong Peng yang keluar untuk mencari keterangan. Menjelang lohor baru Lamkiong Peng kembali ke hotel. Segera Yap Man-jing me-nyongsongnya dan bertanya adakah sesuatu yang ditemukan.

"Bawa senjatamu dan mari ikut pergi.

"kata anak muda itu. Cepat keduanya membawa pedang dan merapatkan pintu kamar lalu meninggalkan hotel, langsung mereka keluarkota dan berlari ke arah barat. Sembari. berlari Yap Man-jing tanya hen-dak pergi ke mana.

"Setahuku beberapa kelompok orang yang mengantar makanan dan pesan kamar bagi kita itu bukan Cuma ada sangkut pautnya dengan Yim Hong-peng, hilangnya Tik Yang dan Ih Loh juga berhubungan crat dengan dia."

Tutur Lamkiong Peng. Manjing mendongkol karena jawaban tidak cocok dengan apa yang ditanya, katanya.

"Yim Hong-peng kan tinggal di barat-laut yang jauh sana, kenapa sekarang dia lari ke daerah Kanglam? "

"Selama setahun ini siapa yang berani menjamin takkan terjadi perubahan? "

Ucap Lamkiong Peng.

"Bukan mustahil sekarang pengaruh Yim Hong-peng sudah merata sehingga daerah utara dan selatan sungai sini."

"Perubahan dan pengaruh Yim Hong-peng apa maksudmu? "

Tanya Man-jing.

Lamkiong Peng tertegun.

tapi segera teringat olehnya ketika di kota Tiang-an di barat laut dulu.

waktu Yim Hong-peng memberi keterangan bahwa Swe Thian-banga da niat me-rajai dunia persilatan, hal ini hanya didengar oleh Bwe Kim-soat, Tik Yang dan dirinya sen-diri.

Yim Hong-peng memang licik dan licin, segala usahanya dilakukan secara terselubung, makanya Yap Man-jing tidak tahu seluk-beluk-nya.

Maka Lamkiong Peng menjawab.

"panjang"

Sekali untuk menceritakan urusan ini, kelak tentu akan kuberitahu, sekarang lekas kita me-nuju ke Lamsan."

Segera mereka lari terlebih cepat. Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di lereng gunung, jalan setapak semakin sulit ditempuh. Lamkiong Peng coba berhenti, katanya kepadaYap Man-jing.

"Jalan ini memang sempit dan sukar dilalui, anak buah Yim Hong-peng pasti juga akan berhenti di tempat ini, biarlah kita menunggu di sini dan menyergap mereka. Sekarang kita istrrahat dan himpun tenaga, bisa jadi akan berlangsung pertempuran sengit nanti."

Habis bicara meraka lantas mencari tempat berlindung dan duduk di kaki batu karang yang terjal Tidak lama kemudian, benar juga ter-dengar suara gemertak dari kejuahan, suara roda kereta dan ringkik kuda yang makin mendekat.

Cepat Lamkiong Peng danYap Man-jing berbangkit dan menyelinap ke belakang batu.

Hanya sebentar saja suara kereta kuda itu sudah dekat.

Karena latihannya selama tinggal di Cu sin-to, kini ketajaman mata Lamkiong Peng memandang dalam kegelapan sudah serupa di siang hari.

Waktu ia mengawasi pendatang itu, tertampak sebuah kereta berkabin ditarik dua ckor kuda, di depannya ada tujuh orang pe-nunggang kuda.

Kira-kira tiga tombak di depan batu tem-pat sembunyi Lamkiong Peng segera ketujuh penunggang kuda itu berhenti.

Dua lelaki pengendara kereta melompat turun dan berlari ke samping kereta untuk membuka tabir hi-tam, lalu diseretnya turun dua orang.

Begitu melihat kedua orang yang diseret turun itu, seketika hati Lamkiong Peng tergetar kiranya kedua orang jtu adalah Tik Yang dan Ih Loh, keduanya kelihatan berlumuran darah rambut kusut, baju robek sehingga hampir se-tengah telanjang.

Lamkiong Peng tidak tahan, mendadak ia melompat keluar sambil bersuit panjang, sam-bil melolos pedang pusaka "Yao-siang-jiu-loh "

Ia terus menubruk maju. Yang mengepalai ketujuh penunggang kuda itu adalah seorang kakek berusia 50-an, sembari menghindari tusukan Lamkiong Peng ia berteriak.

"Hei, sahabat, selamanya kita tidak kenal, kenapa tanpa bicara kaumain serang? ' Mata Lamkiong Peng tampak merah mem-bara, dengan gencar ia menyerang lagi tiga kali. Kakek itu mengelak dan menyurut mundur sambil berseru.

"Apa pun juga hendaknya bicara dulu urusannya ...."

"Urusan apa, binasakan kalian dulu!'' teriak Lamkiong Peng dengan murka. Pedang pusaka berkelebat, dengan ilmu pedang Lam-hai-kiam-hoat yang dipelajarinya di Cu-sin-to yang menabas terlebih kencang. Sembari berkelit kian kemari, kakek itu tahu siasia saja ia bicara, cepat ia menanggal-kan senjatanya, yaitu cambuk sepanjang tiga meter, secepat kilat ia sabet pergelangan tang -an Limkiong Peng yang memegang pedang, dari bertahan ia balas menyerang. Lamkiong Peng tidak menduga kelihaian kakek ini. Namun anak muda ini pan bukan anak muda dahulu lagi, sekali pedang ber-putar, sambil mengelak cambuk lawan pedang terus menabas pinggang musuh. Si kakek tidak menduga anak muda itu dapat bergerak secepat itu, baru saja merasakan cambuknya mengenai tempat kosong, tahu-tahu pinggang sudah terancam. hendak melompat mundur pun tidak keburu lagi, kontan pinggang tertabas, darah berhamburan dan munerat ke mana-mana. Tanpa ayal Lamkiong peng terus menerjang maju lagi, serupa burung terbang ia tubruk ke tengah kawanan lelaki berbaju hitam. Kawanan lelaki itu juga telah di-terjang oleh Yap Manjing, walupun tidak sampai kocar-kacir, namun mereka pun kalang kabut menghadapi kelihaian Yap Manjing. Sakarang di tambah lagi Lamkiong Peng, keruan barisan mereka menjadi kacau, kontan dua orang terbinasa di bawah pedang Lam~ kiong Peng. Dua orang lagi sedang menjaga Tik Yang dan Ih Loh, mereka sembunyi di belakang ke-reta. melihat keadaan tidak menguntungkan, segera timbul pikiran untuk kabur. Dalam pada itu dua lelaki berbaju hitam yang lain tidak tahan kelihaian pedang Lamkiong Peng, kembali perut mereka di tembus pedang dan binasa. Sekali lompat Lamkiong Peng memburu kedua orang yang menjaga Tik Yang bersama istrinya itu. Tentu saja kedua orang itu kaget dan ce-pat melompat mundur. Selagi Lamkiong Peng hendak menubruk maju lagi. sekonyong-konyoug ada orang mem-bentak di belakangnya, ' "Berhenti! "

Tanpa terasa Lamkiong Peng berpaling, dilihatnya tidak jauh di belakang berdiri em-pat sosok bayangan tinggi besar.

Waktu itu sudah tengah malam, rembulan tepat menghias di tengah cakrawala sehingga menerangi keempat orang itu.

Ternyata seorang yang paling depan ialah Banli-liu-hiang Yim Hong-peng, dua orang di sebelah kirinya "

Adalah Bin-san-ji-yu.

kedua sahabat dari Bin-san, yaitu Tiangsun Tan dan Tiangsun Kong.

Sedangkan seorang di sebelah kanan tidak dikenalnya, seorang kakek kereng berbaju hitam panjang dengan rambut terikat tinggi di atas kepala, sepasang tombak pandak berwama emas terselip di pinggang..Kedatangan Yim Hong-peng sebenarnya sudah dalam dugaan Lamkiong Peng, sebab itulah dia tidak heran atau terkejut, sebaliknya Yim Hongpeng yang merasa heran, pelahan ia mendekati Lamkiong Peng dan menyapa.

"Selamat Lamkiong heng selama berpisah ini, Konon setiap orang yang masuk ke Cu-sih-to tidak pemah ada yang pulang dengan hidup, tampaknya Lamkiong-heng tergolong yang paling beruntung."

"Bilamana aku tidak dapat pulang ke sini, tentu Yim-heng merasa senang."

Jengek Lamkiong Peng.

"Ah, kenapa Lamkiong-heng bicara demi kian, sama sekali tidak ada pikiran begitu pa-daku."

Kata Yim Hong-peng.

"Harap Lamkiong heng jangan salah paham Justru suasana du-nia persilatan sekarang kacau-balau, ada mak-sudku mengajak Lamkiong-heng untuk me-ngadakan penataran ...."

Belum habis ucapannya Lamkiong Peng lantas memotong "Ah, apa kepandaianku, mana berani kuterima tugas berat itu, rasanya Yim-heng salah sasaran."

"Haha, kukira Lamkiong-heng terlampau rendah hati."

Seru Yim Hong-peng dengan tertawa.

"Bilamana mengingat tempo hari ketika Lamkiongheng mengalahkan Giok-jiu-sun-yang di restoran Thian-tiang-lau dan menerobos ke Boh-Hong ceng untuk mencari obat bagi Tik Yang, kemudian menuju ke Cu-sin-to dan pulang lagi dengan selamat, semua peristiwa ke-perkasaanmn sudah tersiar luas, tentang kecerdasan dan kemahiran kungfu Anda sudah lama dikagumi Swe-siansing, bila beliau dapat memperoleh bantuan Lamkiongheng, berani kukatakan daiam setahun saja dunia persilatan seluruh Tionggoan pasti akan dikuasainya."

Pada saat itulah mendadak terdengar Yap Manjing membentak sambil menubruk maju.

"Mau ke mana?! "

Waktu Lamkiong Peng menoleh, kiranya kedua lelaki berbaju hitam yang menjaga Tik Yang dan Ih Loh tadi diam diam hendak melangkah pergi.

Karena bentakan Man-jing, keduanya lantas berhenti dan memandang Yim Hong-pmg.

"Sungguh aku tidak mengerti sebab apakah Yimheng sampai memperlakukan Tik-heng dan istrinya dengan cara begini? "

Tegur Lamkiong Peng.

"Kawanan jembel Yu-leng-kun-kui sudah menggabungkan diri dengan Swee Thian-bang untuk bekerja sama, Ih Hong menghendaki adik perempuannya juga mengikuti jejaknya, maka aku diminta kemari untuk membawanya pulang ke utara."

Tutur Yim Hong-peng.

"Hm, kalau cuma menghendaki Ih Loh juga bergabung dengan Swe Thian-bang, meng-apa Yimheng perlu menggunakan dupa bius segala, sungguh aku tidak mengerti."

Cjek Lam-kiong Peng.

"Seluk-beluk urusan ini tidak dapat di-jelaskan dengan singkat, soalnya kukuatir me-nimbulkan salah paham, terpaksa menggunakan cara kurang terhormat itu."

jawab Hong-peng.

"Lantas bagaimana dengan Tik Yang, dia juga perlu kautawan? "

Jengek Lamkiong Peng pula.

"Mereka sudah terikat menjadi suami-istri, dengan sendirinya satu sama lain harus satu tujuan."

Kata Hong-peng.

"Aku cukup kenal jiwa dan kepribadian Tik heng, meski mereka sudah terikat menjadi suamiistri, jika persoalannya menyangkut kepribadian, tidak nanti dia mau ikut secara ngawur."

"Haha, mungkin Lamkiong heng tidak ta-hu bahwa ketika dulu Tik-heng keracunan dan mendekat ajal, syukurlah ditemukan Ih Loh dan berusaha menolongnya dengan sepenuh tenaga, jadi Tik Yang sesungguhnya utang budi kepada istrinya. Kalau Ih Hong sudah bergabung dengan Swe Thian-bang, dengan sendirinya Ih Loh takkan membangkang dan mengikuti jejak sang kakak, lalu Tik Yang apakah dapat mengingkari kehendak istri sendiri? "

"Kawanan jembel Yu-leng-kun-kai terkenal jujur lurus, sasaran mereka kebanyakan adalah orang kaya yang tidak berbudi atau pembesar korup, biasanya mereka juga membantu yang miskin dan menolong yang lemah, hal ini cu-kup dikelahui setiap orang kongouw, apalagi ih Hong terkenal tinggi hati dan menyendiri. masa dia rela menjual kehormatan sendiri dan bergabung dengan Swe Thian-bang? "

Man-jing tahu bilamana perang dingin akan segera berubah menjadi perang tanding, maka diam diam ia mendekati Lamkiong Peng. Yim Hong-peng memandang Man-jing se-kejap. katanya.

"Pada waktu Lamkiong-heng berangkat ke lautan dulu, pada waktu yang sama Leng-hiathuicu juga menghilang. Kawan kaugouw umumnya menyangka dia ikut berengkat bersama Lamkiongheng ke Cu-sin-to, siapa tahu yang pulang bersamamu ternyata nona Yap adanya. Apakah Leng-hiat-huicu memang betul telah hilang? " ' Lamkiong Peng bergelak tertawa.

"Hahaha, hal ini apakah sangat mengecewakan Yimheng? Bahwa Bwe Kim-soat tidak berada bersama sehingga maksud Yim-heng akan sekaligus menjaringnya tidak tercapai, maka cngkau menyesal bukan? "

V Mendadak anak muda itu berubah bengis dan berteriak.

"Yim Hong peng, berturut kau-kirim lima kelompok orang untuk mengantar makanan beracun dan bermaksud meracun Tik Yang, syukur muslihatmu dapat diketahui Tik Yang. Karena gagalnya rencana itu, kau-pasang perangkap lagi di hotel itu sehingga akhirnya Tik Yang suami-istri tertawan, un-tung aku dan nona Yap sempat lolos, soalnya sebeium ini engkau tidak menyangka aku akan ikut pulang dan tidak memberitahukan kepada anak buahmu yang memang tidak kenal diri-ku. Haha ternyata di antara anak buahmu terdapat juga kaum rendah yang suka menggunakan dupa bias sehingga dapat kubongkar kelicikanmu ...."

"Diam! "

Bentak Yim Hong-peng.

Orang-orang yang berdin di samping Yim Hongpeng sejak tadi tidak ada yang bersuara.

jelas karena disiplin Swe Thian-bang cukup tegas dan mereka harus tunduk kepada Yim hong-peng.

Sekarang kakek kereng berbaju hitam panjang dan bersenjata sepasang tombak pandak itu tampaknya tidak tahan lagi, ia melangkah maju dan membentak.

"Anak kurang ajar, kau-kira tidak ada orang berani menghadapimu di sini? "

Lamkiong Peng meliriknya sekejap, tanya-nya dengan tertawa kepada Yim Hong-peng.

"Apakah Cianpwe ini adalah jugo kepercayaan Swe Thianbang yang terkenal dengan se pasang tombak pencabut nyawa, Ko Tiong-hai, Ko-taihiap adanya? "

"Betul, beliau memang Ko-loenghiong."

jawab Yim Hong-peng.

"Sudah lama kudengar kedua tombak Ko taihiap maha sakti, sungguh beruntung bila hari ini dapat berkenalan,' "

Seru Lamkiong Peng dengan tertawa. Ko Tiong-hai memandang Yim Hong-peng sekejap agaknya minta persetujuannya sebelum turun Tangan. Namun Yim Hong-peng diam saja.

"Kenapa Yimheng tidak mengangguk?"

Cjek Lamkiong Peng.

Mendadak Ko Tiong-hai membentak terus menerjang maju.

dia tidak menarik tombak nya melainkan menggunakan kedua telapak tangan untuk menghantam sekaligus.

Lamkiong Peng sudah siap siaga, kedua tangan menangkis sambil meraih pergelangan tangan lawan, berbareng sebelah kaki menendang perut.

Kaget juga Yim Hong-peng melibat ke-tangkasan Lamkiong Peng, hanya setahun ter pisah ternyata kungfu anak muda ini sudah maju pesat.

Ko Tiong-hai tidak gentar, cepat ia menarik tangan dan menyurut mundur, menyusul telapak tangan memotong pula ke lambung lawan.

Di sebelahsana lantas terdengar juga bentakanYap Man-jing, rupanya ia pun mulai melabrak Bin-san-ji-yu.

Terkejut juga Ko Tiong-hai melihat pukulan Lamkiong Peng yang dasyat, cepat ia tangkis.

Tak tersangka sekali ini Lamkiong Peng hanya serangan pancingan saja, ia melancarkan "Ta-mo cap-pek-sik "

Yang pemah dipelajarinya di pulau itu, hanya saja dia belum menyelaminya secara mendalam, walaupun begitu untuk digunakan melayani KoTiong-hai tetap dapat membuatnya kelabakan dan terdesak mundur.

Yim Hong-Peng menyaksikan serangan Lamkiong Peng itu, teriaknya.

"Hah, Ta-mo-cap-pek-sik?! "

"Bagus, boleh kalian rasakan kelihaianku."

Jengek Lamkiong Peng.

"Kalau tahu gelagat hendaklah lekas lepaskan Tik Yang berdua sebelum terlambat."

Karena terdesak, dahi Ko Tiong-hai mulai berkeringat dan lagi mencari jalan untuk me matahkan serangan lawan.

Pada saat itulah mendadak terdengar bentakan Bin-san-ji-yu.

rupanya Yap Man-jing kelihatan kewalahan dikerubut mereka, sambil menangkis sebisanya ia terdesak mundur.

"Coba kaumampu bertahan berapa lama lagi! "

Teriak Tiangsun Kong sumbil melangkah maju, pedang berputar terui menabas pinggang lawan.

Tiangiun Tan tidak tinggal diam, berbareng ia pun mengitar ke samping, secepat kilat pedang menusuk punggungYap Man-jing.

Dalam keadaan diserang dari muka dan belakang.

tentu saja keadaan cukupgawat ba-giYap Man-jing, sedapatnya ia menangkis dan mengelak.

Namun sayang tenaganya sudah lemah, langkahnya sempoyongan sehingga pundak kanan tertusuk pedang Tiangsun Tan.

Ia bersuara tertahan, pada saat itu juga pedangnya terkacip oleh kedua pedang Tiang-sun Kong sehingga terlepas.

Tanpa ayal Tiangsun Kong terus menubruk maju, sekaligus ia tutuk dua hiatto si nona, kontan Man-jing ro-boh terkulai.

Tanpa berhenti Bin-san-ji-yu terus mem-buru ke sana dan mengerubut Lamkiong Peng bersama Ko Tiong-hai.

Lamkiong Peng menjadi murka, ia bersuit panjang, pedang Yap-siang-jiu-Ioh dilolosnya, sekali berputar, ketiga lawan didesak mundur.

Ko Tiong-hai tertawa dingin.

segera ia pun putar sepasang tombak cmas dan menyerang terlebih gencar.

Meski tinggi ilmu silat Bin-san-ji-yu, tapi bila dibandingkan Lamkiong Peng sekarang mereka rada kewalahan juga sehingga berulang terdesak mundur.

Untung Ko Tiong-hai terus menyerang dengan lihai sehingga Lamkiong Peng tidak dapat mendesak lebih lanjut.

Anak muda itu menyadari untuk lolos be-gitu saja rada sukar, apalagi dia harus me-mikirkan Yap Man-jing.

Dilihatnya di antara ketiga lawan hanya Tiangsun Tan yang paling lemah, segera ia ganti siasat, lawan paling 1emah itulah yang terus dicecar.

Tentu saja Ko Tiong hai dan Tiangsun Kong dapat meraba maksud Lamkiong Peng, keduanya seperti sudah berjanji Iebih dulu, serentak mereka pun menyerang terlebih gencar.

Belasan jurus pula, Lamkiong Peng mulai tidak tahan, dikerubut tiga tokoh kelas tinggi seperti itu, betapa tangkas anak muda itu juga kerepotan.

Yim Hong-peng tersenyum girang melihat kawannya berada di atas angin.

Mendadak Ko Tiong-hai membentak, kedua tombak cmas bekerja naik-turun, tombak tangan kanan segera menusuk iga kiri Lamkiong Peng, tombak tangan kiri secepat kilat menyabet tangan kanan anak muda itu yang berpedang.

Bin-san-ji-yu serentak juga menghujamkan pedang mereka ke tubuh Lamkiong Peng.

Dengan kalap Lamkiong Peng putar pe-dangnya.

"sret-sret-sret "

Tiga kali, berturut ia melancarkan tiga jurus serangan, walau tetap, sukar menghadapi kerubutan tiga tokoh tang-guh ini, tombak Ko Tiong-hai tertangkis, se-kuatnya pedang lantas menusuk dada Tiangsun Tan.

Tusukan ini cepat lagi di luar dugaan, lelagi Tiangsun Tan hendak melompat mun-dur.

namun sudah kasip, ia menjerit ngeri dan dada tertembus pedapg.

Lamkiong Peng tertawa seram sambil me-narik pedang, pada saat itu kedua pedang Tiangsun Kang juga sempat menabas sehingga membuat luka panjang pada bahu kirinya, da-rah lantas munerat.

Malahan tombak kiri Ko Tiong-hai pada saat yang sama juga menancap di paha kanan Lamkiong Peng.

Dengan nekat Lamkiong Peng ayun pe-dangnya dan mendesak mundur Tiangsun Kong dah Ko Tiong-hai yang henda menyerang lagi sehingga tombok emas tidak sempat ditarik Ko Tiong-hai dan masih menancap di paha.

Belum pemah Ko Tiong-hai melihat orang setangkas ini, seketika ia melenggong bingung.

Tiangsun Kong sangat sedih atas gugurnya sang adik, dengan meraung kalap ia me-nubruk maju lagi.

Mendadak Lamkiong Peng berteriak seram.

"Putsi-sin-liong, naga sakti tak termatikan! "

Berbareng ia cabut tombak emas yang menancap di pahanya itu, tanpa diperiksa terus dilemparkan ke belakang.

Kematian Tiangsun Tan membakar hati Tiangsun Kong sehingga terangannya yang kalap itu tidak terjaga sama sekali, apalagi ia mengira Lamkiong Peng pasti juga tidak mampu melawan lagi.

Siapa tahu mendadak tombak emas menyambar tiba, keruan ia kaget, cepat kedua pedangnya disilangkan untuk menangkis.

Namun tangkisannya ternyata meleset, tombak menerobos lewat dan "crat ", tepat me-nancap di bahu kirinya, kontan ia meng-geletak.

"Sungguh tidak malu sebagai murid Put-si-sinliong! "

Ucap Ko Tiong-hai dengan gegetun, pelahan ia mendekati Tiangsun Kong yang tak bisa berkutik itu. Yim Hong-peng juga gegetun, ucapnya.

"Bilamana mem punyai pembantu sehebat ini, mustahil dunia takkan kukuasai! "

"Jangan mimpi! "

Bentak Lamkiong Peng. Baru bersuara, kembali ia tumpah darah, langkahnya sempoyongan dan akhirnya tidak tahan.

"bluk ", ia pun roboh terkapar. Cepat Yam Hong-peng memburu maju, dengan beringas sebelah tangannya segera ter -angkat dan hendak dihantamkan pada Lamkiong Peng. Syukurlah sebelum pukulannya dilontar-kan, mendadak seorang membentak di belakangnya, ''Nanti dulu! "

Dengan terkejut Yim Hong-Peng berpaling, dilihatnya tidak jauh di belakangnya berdiri seorang lelaki setengah umur yang bertubuh pendek kecil dan wajah tidak menarik.

"Tunggu dulu, orang ini hendak kubawa pergi! "

Kata pendatang ini sambil melangkah maju. Ko Tiong-hai lantas melompat maju sam-bil membentak "Siapa kau?! "

Orang itu meliriknya sekejap dan berucap.

"Gunung besar tinggi di kejauhan! "

Yim Hong-peng dan Ko Tiong-hai me-Icngak, serentak mereka menjawab.

"Hujan angin menyebarkan harum! "

Orang itu lantas mengeluarkan sepotong kayu cendana kecil dan diangkat ke atas sambil membentak, 'Kalian kenal pening ini? "

"Kenal."

jawab Yim Hong peng dengan menunduk.

"Melihat pening ini serupa melihat orang-nya."

Kata orang itu "Sekarang hendak kubawa orang ini, kalian mempunyai pendapat "Tecu tidak berani."

jawab Yim Hong-peng.

Orang itu mendengus, didekatinya Lam-kiong Peng dan berjongkok, anak muda itu diangkatnya, tanpa berpaling lagi ia melang-kah pergi.

Setelah bayangan orang setengah umur yang pendek kecil itu menghilang dalam ke -gelapan barulah Yim Hong peng bicara de-ngan gegetun.

"Entah sejak kapan Swe-sian-sing menerima lagi tokoh pembantu serupa ini, kenapa kita tidak mengenalnya? "

"Sudah lebih setengah tahun kita keluar."

Ucap Ko Tiong-hai.

"Darah baru yang disedot Swesiansing tentu saja tidak kita kenal se-belum diberitahu."

Sementara itu orang tadi telah membawa lari Lamkiong Peng dengan cepat, kira-kira satu jam kemudian, sampailah di depan hutan yang lebat.

Di bawah cahaya rembulan kelihatan di bawah pohon besar sana dua ekor kuda asyik makan rumput, di samping kuda berdiri seorang perempuan cantik molek dengan wajah muram durja.

Siapa lagi dia kalau bukan Bwe Kim-soat.

Begitu orang setengah umur itu mendekat, segera Kim-soat menyongsongnya, dipandangnya sekejap Lamkiong Peng yang dipanggul itu sambil bertanya.

"Apakah parah lukanya? "

"Tenaga terkuras habis, darah keluar ter-lampau banyak."

jawab orang itu.

"Untung kudatang tepat waktunya, kalau tidak jiwanya pasti sudah melayang di bawah tangan Yim Hong-Peng."

Mata Lamkiong Peng terpejam rapat dan wajah pucat pasi, darah masih menetes dari punggung dan pahanya, keadaannya tampak kempas-kempis, tubuh kelihatan kaku, kecuali dadanya yang bergerak pelahan, hampir serupa dengan orang mati.

Dengan air mata berlinang Kim-soat ber-ucap dangan sedih.

"Begini parah lukanya, entah dia tahan sampai bertemu dengan guru-nya arau tidak? "

"Kuyakin dia bukan pemuda cekak umur."

Ucap orang setengah umur itu.

"Kupercaya pasti akan timbul keajaiban dan dapat kau-selamatkan dia "

Kim-soat tidak bicara lagi, ia pondong Lamkiong Peng dari tangan orang.

"Jaga dia dengan baik, nona, kupergi se-karang."

Kata orang itu.

"Adapun pening ini ...."

"Kayu itu untukmu saja, bagiku pun tidak ada gunanya."

Kata Kim-soat.

Orang itu mengucapkan terima kasih, se-gera ia mencemplak ke atas kuda dan dibedal pergi secepat terbang.

Kim-soat juga lantas naik kuda dan menyandarkan Lamkiong Peng di pangkuannya.

dengan pelahan ia melarikan kudanya.

Menjelang fajar, sampailah Kim-soat di Sambun-wan, langsung ia mendatangi sebuah hotel dan membawa Lamkiong Peng ke dalam kamar.

Di dalam kamar ada tiga dipan, dua di antaranya berbaring dua sosok tubuh, kiranya Put-si-sinliong Liong Po-si dan Cu-sin-tian-cu Lamkiong Eng-lok adanya.

Dengan pandangan cemas mereka menyaksi-kan Bwe Kim soat masuk membawa Lamkiong Peng.

"Anak Peng terluka? "

Tanya Liong Po-si dengan kuatir. Kim soat mengangguk, tanpa bersuara ia membaringkan Lamkiong Peng di tempat tidur yang kosong itu.

"Siapa yang melukai dia? "

Tanya Lamkiong Englok, ia merangkak bangun dan coba memeriksa keadaan Lamkiong Peng, katanya dengan lemah.

"Ehm, cukup parah lukanya. Tapi jangan kuatir, akan kusembuhkan dia dalam waktu dua hari."

"Tidak, jangan kausentuh dia."

Seru Liong Po-si. Lamkiong Eng-lok menjawab dengan gusar.

"Dia keponakanku sendiri, peduli apa dengan-mu? "

"Dia juga muridku."

Teriak Liong Po-si dengan parau.

"Sudahlah."

Dengan sedih Bwe K.im-soat memohon.

"keadaannya sangat payah, kenapa kalian malahan ribut sendiri."

Kedua orang tua itu saling melotot seke-jap, akhirnya tidak bicara lagi. Sampai sekian lama barulah Lamkiong Eng-lok berkata kepada Kim-soat.

"Selama belasan hari ini sudah kuajarkan seluruh ilmu pertabibanku kepadamu, melihat kecerdasan-mu pasti sudah kaukuasai dangan baik, kenapa sekarang tidak kaupraktekkan atas diri anak Peng? "

"Tapi aku hanya ... hanya menguasai teori saja dan belum pemah praktek, mung-kin ...."

Jawab Kim-soat dengan ragu.

"Aku mendampingimu, masa kuatir."

Ujar Lamkiong Eng-lok.

"Lekas kerjakan, keadaan-nya cukup gawat, tidak boleh ditunda lagi."

Kim-soat memandang LiongPo -ii sekejap, melihat orang tua itu hanya diam saja, akhir-nya Kim-soat berkata.

"Baik, akan kucoba."

Lamkiong Eng-lok tersenyum senang, ka-tanya.

"Sekarang kaupergi membeli sebuah ja-rum panjang. sebotol arak putih dan segulung benang, lekas jangan terlambat! "

Cepat Kim soat mengiakan dan pergi mem-beli barang yang diperlukan itu.

Sesudah segala keperluan siap, di bawah pengawasan Lamkiong Eng lok mulailah Bwe Kim soat menggunakan jarum untuk menusuk beberapa hiat-to penting di tubuh Lamkiong Peng, kemudian mencuci lukanya dengan arak dan menjahit lukanya.

Setelah sibuk sekian lamanya, akhirnya selesai pekerjaannya.

Keadaan Lamktong Peng ternyata cukup memuaskan, anak muda itu dapat tidur dengan nyenyak.

Saking lelahnya Kim-soat sendiri pun mengantuk dan mendekap di samping Lamkiong Peng dan terpulas.

Liong Po-si saling pandang dengan Lamkiong Eng-lok, keduanya tidak ribut mulut lagi.

Sampai lama, ketika pelahan Lamkiong Peng bergerak, Kim-soat terjaga bangun, waktu Lamkiong Peng membuka mata dan melihat Kim-soat berada di sampingnya.

tanpa terasa ia berseru.

"Hah, kau Kim-soat ...."

Karena bersuara dan lukanya terguncang, ia meringis kesakitan.

"Jangan bergerak dan jangan bicara."

Kata Kimsoat.

"Lukamu belum sembuh, boleh istirahat saja dengan tenang."

Sungguh kejut, girang dan terharu Lamkiong Peng mendadak melihat Bwe Kim-soat, kalau bisa sungguh ia ingin melompat bangun dan merangkulnya, maka dia memejam-kan mata lagi, dengan suara pelahan ia tanya.

"Kim-soat, apakah ini bukan dalam mimpi? "

"Jangan bicara dulu, istirahatlah dengan tenang,"

Ucap Kim-soat dengan lembut. Lamkiong Peng melihat pula Liong Po si berbaring di tempat tidur lain, perasaannya tambah terangsang, serunya.

"Ah, Suhu juga sudah pulang. Hai, Kim-soat, lekas ceritakan apa yang akan terjadi?' "Sungguh panjang kalau diceritakan, biar-lah setelah engkau sehat baru kuberitahukan, sekarang istirahat saja."

Kata Kim-soat satnbil menutuk hiat-to tidurnya. Setelah Lamkiong Peng tertidur pula baru-lah Liong Po-si membuka matanya, katanya de-ngan menghela napas.

"Sampai ribuan jurus aku bertempur dongan Lamkiong-loji di bawah hujan badai, kupukul dia beberapa kali, aku pun kena dipukulnya beberapa kali, tenaga mumi kedua orang sama terkuras habis, tak tersangka selagi terombang-ambing di lautan dapat ditemukan oleh nona sehingga diselamat-kan ke sini. Ai, selama hidup Put-si-sin-liong sudah sering menghadapi maut, tak terduga sekali ini aku benar-benar akan mati di sini. Meski aku tidak takut mati, tapi aku merasa penasaran bila beberapa urusan belum kita bereskan."

"Di dunia kangouw terkenal obat mujarab si tabib sakti Po Tan-Han dapat menghidup-kan orang mati, asalkan mendapatkan obat tersebut tentu Liong-cianpwee dapat disembuhkan."

Ucap Kim-soat.

"Obat mujarab si Po tua memang tangat bagus, namun ke mana akan mencari Po tua itu dan minta obatnya? "

Ujar Liong Po li de-ngan gegetun. Tengah bicara, pelayan mengetuk pintu dan memberitahu.

"Makan siang, tuan tamu! "

"Masuk! "

Teru Kim soat.

Habis pelayan mengantar santapan siang, mendadak masuk pula seorang tua.

Liong Po-si terkejut melihat pendatang ini, kiranya sa-habat sendiri yang sudah sekian lama, tidak berjumpa, yaitu Thi-cian-ang-ki Suma Tiong thian.

'Aha, baik-baik Suma-heng!"

Seru Liong Po-si kegirangan.

"Dari mana kautahu aku ber-ada di sini? "

Suma Tiong-thian menghela napas, katanya.

"Sesudah pertandingan di Hoa-san dahulu engkau lantas menghilang di dunia kangouw, tersiar macam-macam cerita mengenai dirimu, ada yang bilang engkau dikalahkan Tan-hong dan bunuh diri, ada yang mengatakan engkau putus asa dan mengasingkan diri. Malahan ada yang bilang engkau pergi ke Cu-sin-to se-gala dan tidak jelas yang mana yang benar."

Liong Po-si lantas menuturkan peng-alanvannya selama ini secara singkat.

"Wah, bilamana urusan ini tersiar, tentu dunia persilatan akan gempar."

Kata Suma Tiong-thian.

"Dan mengapa Sumaheng sampai di sini? "

Tanya Liong Po--i. Suma T'ong-thian lantas menceritakan beberapa kejadian yang menggemparkan dunia kangouw ltu serta piaukioknya yang telah dibubarkan. akhirnya ia berkata dengan menye-sal.

"Malahan keluarga Lamkiong yang ter-mashur juga tamat sekarang. Lamkiong Siang-ju mengasingkan diri di Thay-oh, aku dipesan Lamkiong-hujin untuk mencari kabar Lamkiong Peng, dalam perjalanan bertemu dengan Ban Tat yang dahulu suka numpang makan di rumah keluarga Lamkiong, dari dia diketahui Lamkiong Peng telah pulang ke sini, maka cepat kususul kemari."

Lalu Suma Tiong-thian menutur pula dengan suara pelahan.

"Dalam perjalanan dapat kulihat berkumpulnya orang kangouw yang ber-bondong bondong menuju kemari, entah urusan penting apa yang akan terjadi di sini? "

Belum lenyap suaranya, mendadak di luar jendela ada orang tertawa dingin. Keruan me-reka terperanjat.

"Siapa itu? "

Bentak Suma Tiong-thian, se-rentak in melompat keluar melalui jendela. Pada saat yang sama Bwe Kim-soat menyelinap ke dalam kamar dan berseru.

"Liong-locianpwe, keadaan cukup gawat ...-."

"Ada urusan apa, tampaknya nona begini gugup? "

Tanya Liong Po-si.

"Belum lagi Bwe Kim-soat menjelaskan persoalannya, msndadak terdengar pintu dige-dor orang, berubah air mukanya, cepat ia sambar pedang Lamkiong Peng yang terletak di tepi tempat tidur, lalu mendekati pintu dan membentak.

"Masuk! "

Waktu pintu terkuak, di depan pintu ber-diri seorang tua berusia antara 50-an, berjubah wama kelabu dengan wajah yang jelek.

"Siapa kau? Ada urusan apa? "

Bentak Kim-soat dengan kurang senang. Kakek itu terkekeh, jawabnya.

"Numpang tanya, bukankah di sini tinggal Put si-sin-liong Liong Po si dan Cu-sin tian-cu? "

"Betul."

jawab Kim-soat.

"Jika begitu, majikan kami ingin mengundangnya."

Kata kakek itu dengan khidmat sambil mengeluarkan sehelai kartu undangan wama hitam.

Kim-soat menerima kartu itu, pintu dirapatkan, lalu ia serahkan kartu itu kepada Liong Po si.

Terkesiap juga Liong Po-si setelah mem-baca tulisan pada kartu itu.

dengan singkat tertulis delapan huruf di situ yang berbunyi.

"Para dewa telah bubar, Sin-liong hendaknya menyerah! "

"Hahaha! "

Liong Po-si bergelak tertawa.

"Hebat benar, Sin-liong disuruh menyerah? Aku justru ingin tahu tokoh kosen dari mana-kah mampu menyuruh orang she Liong ini menyerah? "

Pada saat itu juga mendadak pintu ter-pentang dan seorang menerobos ke dalam di-ikuti belasan begundalnya.

"Enyah! "

Bentak Kim-ioat dengan murka. Tapi kakek tadi segera menghadapinya dan siap tempur.

"Nanti dulu! "

Tiba-tiba seorang setengah umur bermuka putih dan berdandan sastrawan membentak. Lalu katanya dengan tersenyum-"Maaf jika kawanku bersikap kasar."

"Siapa kalian!' bentak Kim-soat gusar.

"Caihe Sun Tiong-giok, putra Kun-mo-tocu."

jawab lelaki bermuka putih itu.

"Ini Ko Sat, satu di antara kesepuluh punggawa ayahku. Maaf, karena kami tinggal jauh di luar lautan sana sehingga mungkin kurang adat, untuk itu mohon dimaklumi."

Lalu ia berpaling kepada si kakek tadi dan memberi pesan.

"Kalian keluar saja, tanpa dipanggil dilarang masuk."

Si kakek yang disebut Ko Sat itu seperti sangat takut kepada Sun Tiong-giok, dengan mundukmunduk mengiakan dan mengundurkan diri bersama begundalnya.

"Anda ini tentu Put-si-sin-liong adanya, dan siapakah nona jelita ini? "

Tanya Sun Tiong-giok.

"Aku Bwe Kim-soat."

Sebelum Liong Po-ii brrsuara Kim-soat sudah meadahului men-jawab.

"Aha, kiranya Leng-hiat Huicu adanya, sebelum kuberangkat, ayah memang sudah memberi gambaran siapa-siapa yang mungkin akan kutemui di sini, sungguh kebetulan se-kaligus dapat berjumpa dengan Huicu di sini."

Kata Sun Ticnggiok dengan tertawa.

"Maksud ayah, hendaknya Liong-taihiap menyerah, un-tuk itu berarti perdamaian bagi dunia persilatan umumnya, kalau tidak, hehe ...."

"Tidak kepalang gusar Liong Po-si, men-dadak matanya mendelik dan darah tersembur dari mulutnya, Pada saat itu juga Suma Tiong-thian telah menerjang masuk lagi ke dalam kamar dan membentak.

"Jangan temberang, anak muda, sebe1um menghadapi Liong-taihiap, hadapi dulu diriku! "

Sun Tiong-giok meliriknya sekejap, jengek-nya.

"Tampaknya di sini terlalu ramai, biarlah tengah malam nanti kutunggu kalian di biara bobrok yang terletak di barat kota Sana."

Habis berkata, tanpa menanti jawaban ia terus melangkah pergi. Saking menahan gusar, kembali Liong Po-si tumpah darah.

"Engkau kenapa, Liong heng? "

Tanya Suma Tiong-thian.

"Karena banyak bicara, luka dalam tam-bah parah, rasanya tidak jauh lagi ajalku."

Ucap Liong Po-si dengan suara lemah.

"Jangan kuatir, Liong-heng."

Kata Suma Tiongthian.

"Akan kuantar engkau pulang ke Ci hausan-ceng, menjelajah ke ujung langit pun akan kucari Po tua unsuk mengobati lu-kamu."

Liong Po si tersenyum pedih.

"Keadaanku sekarang ibarat pelita kehabisan minyak, mumpung masih ada sisa tenagaku, sedapatnya akan kusalurkan semua tenaga mumi kepada anak Peng. Nah, kemarilah anak Peng ...."

"Jangan, Suhu."

Seru Lamkiong Peng.

"Tidak, kauperlu menyadari keadaan yang gawat."

Kata Liong Po-si dongan lemah.

"Saat ini musuh tangguh sudah mengintai di sekeliling kita, kawanan iblis membanjir dari barat, dunia persilatan Tionggoan terancam bahaya. Kautahu betapa berat tugas yang kauemban? Majulah sini, duduk di tepi ranjang! "

Lamkiong Peng tahu maksud sang guru, yaitu demi kepentingan dunia persilatan umumnya hendak menyalurkan segenap tenaga mumi kepadanya, agar kelak dapat digunakan untuk menghadapi musuh tangguh.

Dengan ragu ia pandang sang guru, cemas dan terharu.

"Seorang lelaki sejati harus bertindak ce-pat dan tegas, kenapa seperti anak kecil saja. Duduklah di sini, anak Peng."

Kata Po-si pula. Akhirnya Lamkiong Peng duduk juga di tepi ranjang. Lalu Liong Po-ti berkata kepada Suma Tiongthian dan Bwe Kim-soat.

"Pada waktu kukerahkan tenaga, harap kalian berjaga se-mentara, mungkin nanti aku tidak sempat lagi mohon diri, maka sekarang juga kuucapkan, terima kasih kepada kalian. Nah, anak Peng, pusatkan pikiran dan kerahkan tenaga . ..."

Lamkiong Peng menurut dan memusatkan segenap pikiran menerima anugrah lwekang sang guru ....

Dengan tegang Suma Tiong-thian dan Bwe Kim soat memandangi mereka, suasana sunyi senyap.

Setelah sekian lamanya, tubuh Liong Po-si tampak gemetar.

Selagi Suma Tiong-thian berdua berdebar, Sekonyang-konyong terdengar suara gemuruh, pintu kamar didobrak orang.

Dengan terleejut Suma Tiong-thian dan Bwe Kim soat melompat ke sana, tertampaklah serombongan orang me-nerjang ke dalam.

Dua orang paling depdii ternyata Ban-li-liu-hiang Yim Hong peng dan Toat beng-siang jiang Ko Tiong hai adanya.

Beberapa orang di belakang mereka adalah Thian hong-jit-eng yang kelihatan kaku itu.

Segera Kim-soat melolos pedang, Suma Tiongthian juga siapkan tombaknya dan ber-jaga di depan tempat tidur.

"Ah. nona Bwe, baik-baik selama berpisah?! "

Sapa Yim Hong-peng dengan tertawa sarnbil menggoyangkan kipasnya.

"Baik, terima kasih."

jawab Kim-soat dengan tersenyum. Sekilas lirik Yim Hong-peng melihat keadaan Liong Po-si dan Lamkiong Peng, ia kelihatan heran, tapi segera berkata pula dengan tertawa.

"Wah, sungguh cepat amat Lam-kiong-kongeu ini, belum lama baru saja ber-temu di Sam-bun wan, tahutahu sekarang sudah berada di sini."

"Dia terluka parah dan Liong taihiap sedang menyembuhkan dia."

Kata Kim soat dengan lagak sedih. Yim Hong peng melenggong, katanya.

"Tersiar kabar bahwa Put-si-sin-liong men-derita sakit parah, kenapa ...."

"Kabar burung dunia kangouw mana bo-leh dipercaya."

Ujar Kim-soat dengan tertawa.

"Kaulihat sendiri, dengan tenaga sakti beliau Liongtaihiap telah menolong murid kesayang-annya itu.

"Dia cukup cerdik, sedapatnya berbohong untuk mengulur waktu dan ternyata Yim Hong-peng dibuat jeri Tapi dengan tertawa Yim Hong peng berkata pula.

"Tahun lalu urusan yang kuberi tahukan itu tentu sudah nona pertimbangkan dengan baik, untuk itu nona pun menerima pening Hong-uhbiau-hiang dari Swec-sian sing, dan bagaimana keputusan nona? "

"Kayu itu sudah hilang."

jawab Kim-soat dengan tertawa genit. Air muka Yim Hong peng berubah men-dadak, Ko Tiong hai melangkah maju dan membentak.

"Jika pening itu kauhilangkan harus kauganti dengan nyawamul "

Kim-soat meliriknya sekejap, katanya ke-pada Hong peng.

"Eh. sejak kapankah Yim-taihiap memiara seekor anjing galak begini? "

Ko Tiong-hai menjadi murka, sambil meraung ia menubruk maju, kedua tangan menghantam berturut-turut.

Kim-$oat mendengus, sambil mengegos pe-dang terus menabas tangan lawan.

Begitu tangan lawan ditarik kembali, segera pula ia tusuk tenggorokan orang.

Keruan Ko Tiong-hai terkejut, cepat ia berkelit dan balas menyerang, dan begitulah terjadi pertarungan sengit.

"Untuk apa kalian berdiri saja?! "

Bentak Yim Hong-peng terhadap Thian-hong-jit-eng, kawanan elang pelangi langit.

Tampaknya Thian-hong jit-eng masih terpengaruh oleh obat sehingga kehilangan kesadaran, dengan kaku segera mereka menge-rubuti Suma Tiong thian.

Dengan sendirinya Tiong-thian tidak gen-tar, setelah beberapa jurus, segera ia cecar elang merah yang berkepandaian paling lemah.

Keruan clang merah Ang Hau-thian terkejut, sedikit gugup tahu-tahu kepalanya su-dah pecah kena tombak.

Kecnam elang yang lain tidak pe-duli seorang saudaranya telah menjadi korban, mereka tetap menyerang dengan gencar.

Walau-pun tangkas, dikerubut enam orang juga rada kerepotan, maka dalam waktu sungkat Suma Tiong-thiat, juga terkena dua-tiga kali pukulan dan tumpah darah.

Namun makin lama makin tangkas Suraa Tiongthian, sekali tombak berputar, kembali elang hijau kena ditusuknya hingga terguling.

Tapi pada saat yang sama bahu kirinya juga terpukul sehingga tombak kiri terlepas dari cekalan.

Tanpa ayal kelima clang yang lain me-nubruk maju, tapi sekali tombak kanan berputar, dapatlah Suma Tiong-thian memaksa lawan mundur.

Terdengar Ko Tiong-hai meraung murka dan menghantam beberapa kali, karena lengah, Bwe Kim-yoat tertabas oleh telapak tangan-nya dan tumpah darah serta jatuh terduduk.

Sambil menyeringai segera Ko Tiong-hai hendak menambahi suatu pukulan lagi, men-dadak seorang mrmbentak.

"Tunggu dulu! "

Ko Tiong-hai berpahng, kiranya rombongan Sun Tiong-giok muncul kembali .

Dalam pada itu mendadak terdengar juga jeritan Suma Tiong-thian, sambil tumpah darah jago tua itu kelihatan roboh terkapar, menyusal clang ungu juga ambruk dengan pe-rut tertancap tombak dan mengucurkan darah.

Kecmpat clang yang lain serentak me-nubruk maju hendak menyerang Liong Po-si dan Larnkiong Peng.

Bwe Kim-soat menjerit kuatir, segera Sun Tionggiok bertindak, ia melompak maju dan melancarkan pukulan dari jauh sehingga kecmpat elang itu dipaksa mundur.

Dengan lemah Kim-soat memandangnya sekejap dengan rasa terima kasih.

Segera Yim Hong-peng membentak.

"Hah, sejak kapan Kun-mo-to berkomplot dengan Put-si-sinliong' Selama ini Kun-mo-to dengan kami tidak ada permusuhan, kenapa kalian ikut campur urusan orang lain? "

"Hm, main kerubut, hanya berani karena menang jumlah banyak, peraturan dunia persilatan mana? Jika jantan sejati, ayolah keluar dan perang tanding di tempat yang luas! "

Tan-tang Sun Tiong-giok yang berwatak angkuh.

"Kematian sudah di depan mata, tetapi berani membual, memangnya siapa yang gen-tar padamu? "

Mendadak Yim Hong-peng ber-teriak.

"Mundur keluar! "

Dan begitulah berbondong bondong anak huah kedua pihak lantaj mundur keluar untuk bertempur.

Selagi pertarungan srngit berlangsung di luar, sementara itu penyaluran tenaga mumi Liong Po-si kepada Lamkiong Peng sudah ber-akhir.

Ketika mendadak Lamkiong Peng membuka mata, keadaan di dalam kamar yang di-lihatnya membuatnya terkejut.

Cepat ia melompat bangun dan memburu ke sampingBwe Kim-soat,ia coba memeriksa napasnya, ternyata masih bemapas, legalah hatinya.

Waktu ia periksa Suma Tiong-thian, mata jago tua itu kelihatan mendelik dan tangan tergenggam erat, ternyata sudah meninggal sejak tadi.

Mendadak terdengar suara tubuh roboh di tempat tidur, waktu Lamkiong Peng berpaling, tertampak Liong Po-si roboh terkulai di tempat tidur.

Cepat ia memburu ke tempat tidur dan berteriak.

"Suhu . ..."

Dengan lemah Liong Po-si membuka matanya yang buram, lalu terpejam pula dan ber-suara parau.

"Aku ... aku tidak ... tidak ta-han lagi, Anak ... anak Peng, hendaknya kau ...."

Belum habis ucapannya putuslah napasnya.

Sungguh tidak kepalang rasa duka Lamkiong Peng, ia ingin menangis sekerasnya, namun tidak keluar suaranya.

Tiba-tiba terdengar keluhan pelahan Bwe Kimsoat, cepat ia berpaling dan melompat ke sampingnya serta diangkatnya, serunya kua-tir.

"Kim-soat, bagaimana keadaanmu? "

Dengan lemah Kim-soat menjawab.

"Aku tahan, lepaskan aku. Lekas kaubantu orang yang lagi bertempur dengan Yim Hong-peng itu."

Selagi Lamkiong Peng hendak tanya lagi tiba-tiba terdengar suara jeritan ngeri di luar disertai suara robohnya tubuh.

Lamkiong Peng tahu keadaan cukup genting ia angkat Kim-soat dan dibaringkan ditempat tidur.

Lalu ia mengumpulkan jenazah Suma Tiong-thian dijajarkan dengan jenazah Liong Po-si Habis itu ia raih pedang Yap-siang-jiu-loh dan memburu keluar.

Keadaan di luar membuatnya terperanjat, mayat sudah bergelimpangan, pertempuran ma-sih berlangsung dengaa sengit, belasan anak buah Yim Hong-peng memasang barisan Thian-hong-gin-uhtin sedang mengepung musuh, cuma jumlah anggotanya sudah banyak berkurang, namun daya tempurnya tambah kuat, jelas barisan itu telah mengalami gemblengan baru dibandingkan waktu mengepung Lamkiong Peng dahulu.

Musuh yang terkepung di tengah barisan itu tinggal tiga orang, yaitu Sun Tiong-giok, Ko Sat dan seorang kakek tinggi besar.

Ketiga-nya tarn pa k beringas, rambut kusut, baju ro-bek dan mandi darah dan keringat, keadaan -nya tampak runyam, namun mereka masih terus bertempur dengan kalap.

"Berhenti semua! "

Bentak Lamkiong Peng dengan suara menggelegar.

Melihat yang datang ini adalah Lamkiong Peng, Yim Hong-peng mengeluh urusan bisa celaka.

Dalam pada itu Lamkiong Peng terus menerjang ke tengah barisan, sekali pedang ber-putar dan menabas, kontan tiga orang ber-seragam hitam roboh binasa dengan darah berhamburan.

Tanpa berhenti Lamkiong Peng terut ber-putar lagi ke samping, dalam sekejap tiga orang lain tertabas mati pula.

Dengan robohnya kcenam orang itu, barisan pengepung itu menjadi bobol, Sun Tiong-giok bertiga segera melancarkan serangan ba-lasan.

Ko Tiong-hai menjadi murka, sambil me-raung ia menerjang ke arah Lamkiong Peng dan melancarkan pukulan dahsyat.

Akan tetapi Lamkiong Peng sekarang sudah lain daripada Lamkiong Peng tadi dengan rambahan tenaga mumi dari sang guru, serangan Ko Tionghai itu tidak ada artinya ba-ginya.

Sedikit mengegos, berbareng pedang menabas, sebelum Ko Tiong hai sempat meng-gunakan tombaknya, tubuh jago andalan Swe Thian-bang ini telah terkutung menjadi dua oleh tabasan pedang Lamkiong Peng.

Tanpa ayal Lamkiong Peng terus mener-iang lagi ke depan, menuju Yim Hong-peng dan begundalnya.

Karena diserang dari kanan kiri, terpaksa Yim Hong-peng melompat mun-dur.

Lamkiong Peng memburu maju dan me-nusuk lagi.

Sun Tiong-giok juga gemas ter-hadap Yim Hong-peng yang telah menimbul-kan banyak korban di pihaknya, serentak ia pun menyerangnya dengan gencar.

Yim Hong-peng menyadari sukar melawan kedua jago kelas tinggi itu, diam-diam ia me-ngeluh dan berusaha mencari jalan lolos.

Sekonyong-konyong terdengar jeritan ngeri si clang kuning telah mati terbacok oleh sen-jata Ko Sat.

Tergerak hati Yim Hong-psng, timbul akal kejinya, mondadak ia mendesak maju, tangan kiri berlagak menghantam Sun Tiong-giok, sekaligus kipasnya menutuk Ki-bun-hiat di dada Lamkiong Peng.

Dengan sendirinya Lamkiong Peng berdua mengelak, kesempatan itu segera digunakan oleh Yim Hong-peng untuk melompat mundur dan kabur.

Serentak Lamkiong Peng dan Sun Tiong-giok membentak dan mongejar.

Secepat terbang Yim Hong-peng menyusup kedalam kamar.

Waktu Lamkiong Peng dan Sun Tiong giok menyusul ke dalam, dilihatnya se-belah tangan Yim Hong-peng mengempit Bwe Kim-soat yang parah itu dengan tangan kanan mengancam punggungnya.

Sambil menyeringai Yim Hong-peng membentak.

"Berhenti, maju lagi selangkah segera kubinasakan dia! "

Sungguh tidak kepalang murka dan gemas Lamkiong Peng, tapi apa daya. terpaksa ia berhenti dengan mendelik. Sun Tioag giok juga berdiri melenggong.

"Berani kauganggu scujung rambutnya, aku bersumpah akan mencencang tubuhmu hingga hancur lebur."

Teriak Lamkiong Peng dengan kalap.

Dalam pada itu suara pertempuran di luar juga Sudah mereda, mungkin sisa ketiga elang juga sudah terbunuh oleh Ko Sat dan kawannya si kakek tinggi besar Selagi Yim Hong-peng merasa terpojok dan mencari akal cara bagaimana meloloskan diri dengan menggunakan Bwe Kim soat se-bagai sandera, tiba-taba di luar ada orang tertawa nyaring, menyusul pintu kamar terbuka dan masuklah serombongan orang.

Begitu melihat pendatang ini, sungguh tak terkatakan girang Yim hong-peng.

Orang yang masuk paling dahulu ternyata Kwe Giok-he adanya, di belakangnya mengikut tiga orang kakek berbaju hitam.

Kening Lamkiong Peng bekernyit, dilihat-nya Kwe Giok-he mendekatinya dengan ter-senyum sambil menyapa.

"Bagaimana Go-te, baik-baik selama berpisah? "

Lamkiong Peng merasa tidak sabar, cuma mengingat Liong Hui, ia tidak berani bersikap kasar, terpaksa ia menjawab dengan hambar.

"Baik."

Dalam pada itu ketiga kakek berbaju hitam juga sudah berdiri di samping Yim Hong-peng, meski wajah ketiga kakek ini tidak luar biasa.

namun sinar mata mereka mencorong, jelas lwekangnya kelas satu.

Keadaan Lamkiong Peng sekarang berubah pada posisi tidak menguntungkan, namun ia tidak gentar, diam diam ia ambil keputusan akan bertempur mati-matian.

Sun Tiong-giok bertiga juga merasakan keadaan cukup gawat, mereka pun siap tem-pur.

Dengan tertawa Giok-he lantas berkata.

"Go-te, menurut berita dunia bangouw, kata-nya engkau pergi ke Cu-sin-to dan pulang dengan memperoleh kepandaian sakti, apa be-tul kabar itu? "

"Memang betul."

jawab Lamkiong Peng dengan aseran dan tetap menatap Yim Hong-peng.

"Eh, ada apakah antara kalian ini? "

Ucap Giokhe pula dengan lagak heran.

"Yim-tai-hiap berhasil menawan Leng-hiat Huicu, tam-paknya Go-te berbalik membela perempuan berdarah dingin ini? Memangnya kabar yang tersiar di dunia kangouw bahwa Go te bergaul erat dengan dia adalah kabar yang be-nar? "

"Aku cuma patuh kepada pesan Suhu untuk menjaganya, pula hatinya sebenarnya bajik, segala sesuatu kebusukannya hanya fitnah orang kangouw padanya."

Kata Lamkiong peng dengan nada gusar.

"Wah, tampaknya berita hubunganmu dengan dia memang tidak lalah."

Dengus Giokhe.

"Selaku kakak gurumu sekarang kuperintahkan agar engkau membiarkan Yim-taihiap membawa pergi Bwe Kim soat."

"Memangnya engkau dapat memerintahku lagi? "

Jawab Lamkiong Peng dengan tertawa.

"Kenapa tidak? "

Seru Giok-he dengan gusar. 'Engkau menhianati guru dan mengacau dunia pnrsilatan, nama baik Suhu telah kau cemarkan, hubungan kita sudah putus, ber-dasarkan apa berani kauberi perintah pada-ku? "

Jawab Lamkiong Peng.

"Kurangajar, kauberani melawan kakak guru sendiri?! "

Bentak Giok-he.

"Biarlah hari ini kuwakili guru melaksana haknya menumpas murid murtad."

Habis bicara segera ia melancarkan pukulan.

Gusar dan benci Lamkionp Peng, meski tetap mengawasi Yim Hong-peng, sebelah ta-ngan lantas digunakan menangkis.

Kwe Giok-he tidak menyangka Iwekang sang Sute sekarang sedemikian lihai, begitu kedua tangan beradu, kontan ia tergetar sem-poyongan.

Kejut dan gusar Giok-he, selagi hendak menerjang maju lagi, sekonyong-konyong sesosok bayangan orang melayang masuk, kiranya Ciok Tim adanya.

"Jangan takut, Go-te, kudatang membantu-mu! "

Seru Ciok Tim, berbareng ia terjang Kwe Giok he. Keruan Giok-he terkejut bentaknya.

"Hei, Ciok Tim, apa engkau sudah gila?! "

"Aku tidak gila."

jawab Ciok Tim.

"Sudah sekian lama aku mimpi, sekarang aku sadar. Kausendiri telah membuat malu Sin-liong-bun, Toako tidak berada di sini, sebagai wakilnya kugantikan Suhu memberi hajaran padamu."

Sembari bicara ia terus melancarkan pu-kalan, Terpaksa Giok-he menangkis dan balas menyerang.

Dalam sekejap saja kedua orang sudah bergebrak belasan jurus, Ciok Tim menyerang serupa harimau gila, semua jurus serangan mematikan tanpa kenal ampun.

Giok-he ter-desak hingga mundur ke pojok.

Pada saat gawat itulah mendadak seorang kakek berbaju hitam di sebelah kanan mem-bentak serentak menubruk ke arah Ciok Tim, Menyusul kedua kakek seragam hitam yang lain juga menerjang Lamkiong Peng, Lamkiong Peng tahu menghadapi lawan tangguh, cepat ia melompat ke samping, ber-bareng tangan kanan menghantam Yim Hong-Peng.

Yim Hong-peng tertawa terkekeh, segera angkat Bwe Kim-soat dan ditangkiskan pada serangan Lamkiong Peng itu.

Tentu saja Lamkiong Peng terkejut dan gusar, cepat ia menarik kembali serangannya dan menggeser ke samping, secepat kilat ia hantam lagi kedua kakek.

Kesempatan itu segera digunakan Yim Hongpeng untuk melompat ke pintu, baru saja ia hendak kabur, dengan kalap Lamkiong Peng memburu maju dan meraih pinggangnya.

Yim Hong-peng mendengus, sedikit ber-putar, kembali ia sodorkan tubuh Bwe Kim-soat sebagai tameng.

Karena berulang dijadikan alat penang-kis, luka Kim-soat tambah parah, seketika ia tak sadarkan diri.

taat itu kedua kedua kakek baju hitam pun sud.ih menubiuk tiba dari kanan dan kiri.

Terpaksa Lamkiong Peng putar balik untuk melayani mereka dan kesempatan itu se-gera digunakan Yim Hong peng untuk kabur keluar.

"Lari ke mana?! "

Bentak Lamkiong Peng dengan murka, kedua tangan menghantam se-kaligus, kedua kakek dipaksa melompat mun-dur.

Namun kakek itu memang bukan jago rendahan, begitu menyurut mundur segera me-nubruk maju lagi sehingga Lamkiong Peng su-kar melepaskan diri.

Mendadak terdengar Kwe Giok-he juga membentak, ia pun meninggalkan Ciok Tim dan lari keluar.

"Jangah kuatir, Lamkiong Peng, akan kurampas kembali nona Bwe."

Icru Sun Tiongsiok, berbareng ia pimpin Ko Sat dan si kakek tinggi besar mengejar ke sana.

Saking gemasnya Lamkiong Peng melan-carkan serangan maut To-mo-cap-pek-sik dilon-tarkan, keruan kedua Kakek itu kaget.

Kakek sebelah kiri belum sempat melancarkan pu-kulan sepenuhnya sudah tersodok lebih dulu iganya oleh lamkong Peng, ia hanya bersuara tertahan dan roboh binasa.

Kakek yang lain bermaksud menarik diri, namun Lamkiong Peng lantas membentak pula dan mendssak maju, sekali tutuk ia pun bikin lawan terguling.

Mendadak terdengar bentakan Ciok Tim, waktu Lamkiong Peng berpaling, dilihatnya kakek baju hitam di sebelah sana tergetar mun-dur sempoyongan, baju Ciok Tim juga robek dan muka pucat, jelas Suhengnya juga ter-luka.

Tanpa pikir Lamkiong Peng memburu maju dan menghantam.

Setelah mengalami berbagai kejadian ini, watak Lamkiong Peng yang biasanya halus itu berubah menjadi ga-nas pula.

Kakek itu tidak sempat menghindar, kontan terjungkal dan binasa.

Waktu Lamkiong Peng memandang ke de-pan, cahaya matahari senja kelihatan indah menyilaukan mata, mana ada lagi bayangan Yim Hong peng dan Kwe Giok-he?

Lamkiong Peng memandang mayat Liong po-si dan Suma Tiong-thian sekejap, lalu mendekati tempat tidur Lamkiong Eng-lok, waktu diperiksa, orang tua ini ternyata sudah kaku, rupanya sejak tadi sang paman juga sudah mengembuskan napas terakhir.

Pantas orang tua ini tidak memberi rcaksi apaapa meski di sektiarnya terjadi kegempar-an.

Meski tidak banyak kenal pribadi sang pa-man, namun apapun masih hubungan keluar-ga sedarah.

Memandangi jenazah orang tua yang hidupnya merana di pulau terpencil dan akhirnya meninggal di tanah air.

Gurunya juga meninggal, sahabat karib ayah dan gurunya, yaitu Suma Tieng-thian juga tewas Hanya da-lam satu hari tiga orang tua yang paling erat hubungannya telah meninggal seluruhnya, betapapun tidak tahan oleh pukulan batin ini.

Kalau saja hatinya tidak dibakar oleh rasa gusar dan dendam tentu sejak tadi ia runtuh.

Melihat anak muda itu diam saja, Ciok Tim coba mendekatinya, ia tidak kenal Lamkiong Eng-lok, terlebih tidak tahu bahwa orang tua inilah Cu-sintocu yang termasyhur dan disegani itu.

Melihat Ciok Tim, tiba-tiba timbul pikir-an Lamkiong Peng mengenai Tik Yang dan istrinya serta Yap Man-jing yang dibawa lari ke Lam-san oloh Yim Hong-peng itu.

Apalagi Bwe Kim soat tadi juga digondol oleh orang she Yim itu, sangat mungkin juga akan dibawa ke Lam san, bilamana sekarang juga me-nyusul ke sana, rasanya masih belum terlambat.

Karena itu segera ia berkata kepada Ciok Tim dengan menahan rasa dukanya.

"Sam-suheng, masih ada sesuatu urusan penting yang harus kuselesaikan, bilamana esok malam Siau-te tidak kembali ke sini, mohon Samsuheng membawa pulang dulu jenazah Suhu ke Ci-hau-ian-ceng."

Ciok Tim mengiakan dengan sedih sambil memandang jenazah sang guru.

Habis bicara Lamkiong Peng lantas mohon diri lebih dulu.

__o0O0o-Apa yang dimakiudkan Lam-san itu adalah sebuah perkampungan yang dibangun di lereng bukit yang dikelilingi dengan pepohonan yang rindang, kalau diperhatikan dengan cermat, setiap pohon yang ditanam itu scakan akan di-atur menurut perhitungan barisan tertentu.

Saat itu bulan sudah menghiasi langit, di bawah cahaya remang bulan kelihatan belasan sosok bayangan orang berlompatan di antara pepohonan yang teratur itu.

Dari gerak tubuh mereka yang cepat dan enteng itu, jelas semuanya menguasai ginkang yang amat tinggi, lamat-lamat kelihatan se-muanya berdandan sebagai kaum pengemis.

Dua orang yang di depan membawa tongkat bambu hijau.

Kiranya mereka adalah Kiong-sin Ih Hong dan Okkui Song Cing, si arwah rudin dan si setan jahat.

Tidak perlu dijelaskan lagi, kawanan pengemis ini adalah Yu-leng-kun-kai atau kawanan jembel arwah halus.

Suasana perkampungan yang megah itu kelihatan sunyi senyap.

namun dapat dirasakan ketegangan yang segera akan terjadi sesuatu.

Ih Hong mengamat amati keadaan sejenak, habis itu ia memberi tanda dan segera men-dahului melintasi pagar bambu yang mengelilingi perkampungan itu.

Sejenak kemudian mereka sudah berada di halaman yang luas, namun bangunan yang terlihat di depan semua-nya dalam keadaan gelap gulita.

Ih Hong dan Song Cing merasa sangsi, suasana terasa seram.

"Sekali sudah datang, masa kita mundur lagi? "

Kata Song Cing dengan tertawa.

"Me-mangnya Yuleng-kun-kai kita pemah gentar kepada siapa? Ayo kawan, biarpun neraka juga akan kita terjang."

Belum lenyap suaranya, sekonyong-konyong cahaya lampu menyala serentak dengan terang benderang, keruan kawanan pengemis seketika merasa silau.

Tertampak bayangan orang berkelebat di ruangan tengah, pintu lantas terbuka, seorang setengah umur bertubuh jangkung dan bermuka putih dengan jubah hitam melangkah keluar.

Sungguh kontras sekali muka orang yang putih dan berjubah hitam.

Setelah keluar.

dengan angkuh orang ini lantas menegur, Tengah malam buta kalian berkunjung kemari, entah apa keperluan kalian?"

Dia bicara dengan lembut serupa orang perempuan, kawanan pengemis itu lama melenggong, segera Ih Hong berseru.

"Apakah Anda tuan rumah di sini? "

"Ah, caihe cuma Congkoan dan perkam-pungan ini, Bi Pek-hiang adanya."

jawab orang itu.

"Kami ingin bicara dengan majikanmu."

Seru Ih Hong.

"Tengah malam buta tuan rumah tidak menerima tamu, ada urusan apa coba bicara saja denganku."

Kata Bi Pek-hiang.

"Hm, orang terang tidak perlu berbuat gelap."

Jengek Song Cing.

"Kukira kaupun tidak perlu berlagak pilon, kedatangan kami tiada lain adalah ingin minta orang. Adik Ih-pangeu dan Tik Yang suami-isri telah diculik kalian dan dibawa ke sini, kedatangan kami sekarang justru ingin minta kembali kedua orang ini."

Selagi Bi Pek-hiang hendak menjawab, mendadak dari ruangan dalam bergema suara seorang.

"Bi-congkoan, ada tamu datang dari jauh, kenapa tidak kausilakan masuk ke dalam,kan kurang hormat meladeni tamu di luar? "

Kawanan jembel sama melengak, sebalik-nya tikap Bi Pek-hiang lantas berubah, cepat ia berkata sambil membungkuk tubuh.

"Majikan menyilakan para tamu masuk ke dalam! "

Ih Hong saling pandang sekejap dengan Song Cing, mereka merasa orang yang bersuara di dalam itu seperti sudah dikenalnya.

Namun mereka tidak gentar, segera mereka ikut Bi Pek-hiang masuk ke ruangan tamu.

Cahaya lampu di dalam ruangan terang benderang, pada kursi besar yang terletak di tengah ruangaa berduduk seorang yang ber-tubuh sedang dengan muka pakai kedok sutera hitam.

Serentak orang berkedok itu berbangkit demi nampak rombongan Ih Hong masuk, katanya.

"Silakan duduk untuk bicara. Sungguh beruntung atas kunjungan kalian dari kejauhan, cuma sudah jauh malam sehingga tidak dapat memberi pelayanan yang layak."

"Ah, kukira tidak perlu bicara bertele-tele."

Ucap Ih Hong.

"Biarlah kukatakan lang-sung saja, kedatangan kami ini adalah minta orang padamu."

"Haha, Ih-heng sungguh orang yang tak sabar."

Kata orang berkedok itu dengan ter-tawa.

"Padahal setelah sekian lama berpisah dan sekarang dapat berkumpul pula, seharus-nya kita bercengkerama mengenang masa lalu."

Kawanan jembel Yu-leng-kun-kai sama melengak, dari nada ucapan orang berkedok ini, agaknya mereka adalah kenalan lama, tapi karena tertutup oleh kain kedok sehingga tidak kelihatan wajah aslinya.

Hati Song Cing tergerak, ia pun tertawa dan berseru.

"Aha, jika kita memang kenalan lama, kenapa Anda tidak menanggalkan kedok supaya kami dapat melihat jelas kawan lama yang mana? "

"Apa susahnya membuka kendok, soalnya belum tiba waktunya."

Kata orang berkedok dengan tertawa. Mendadak Ih Hong menjengek.

"Hm, ha-nya orang yang berdosa saja selalu menutupi wajah aslinya, mangkin Anda pun berlumuran dosa, makn harus manutupi muka sendiri untuk mengelabui mata orang."

Orang berkedok memandangnya sekejap, mendadak ia berpaling dan membentak ke dalam.

"Tamu agung sudah tiba, kenapa santap-an belum disiapkan? "

Ih Hong dan Song Cing sama melengak, mereka tidak tahu apa maksud tuan rumah, dengan tergelak Song Cing lantas berkata.

"Ka-lau tidak menerima berarti kurang hormat, lebih dulu kami mengucapkan terima kasih atas pelayanan Anda."

Orang berkedok itu tertawa dan menda-hului masuk ke ruangan tamu, segera Ih Hong dan iringannya ikut masuk ke dalam.

Ruangan tamu sudah berderet meja dengan hidangan dan arak.

Orang berkedok terus duduk di tempat tuan rumah dan menyilakan duduk para tamunya.

Kawanan pengemis itu pun tidak sungkan, cuma mereka menjadi ragu-ragu jangan jangan di dalam makanan dan arak itu diberi obat racun.

Terdengar oraug berkedok mengangkat ca-wan araknya dan berseru.

"Sungguh beruntung malam ini dapat minum bersama dengan para ksatria Kaipang, sebagai penghormatanku, marilah kita habiskan satu cawan! "

"Nanti dulu."

Kata Ih Hong tiba-tiba.

"Kedatangan kami ini bukan cari makan dan minum, akan tetapi ingin kutanya di mana adik perempuanku yang ditawan anak buah Swesiansing, bilamana nasib adikku dan Tik Yang sudah jelas belum lagi terlambat untuk mengiringi makan minum denganmu."

"Maksud Ih-heng hendak mengajak pulang nona Ih? "

Tanya orang berkedok.

"Memang begitulah."

jawab Ih Hong. Sembari menuang arak lagi orang berkedok berkata.

"Dan bila nona Ih tidak mau? "

"Omong kosong! "

Bentak Ih Hong aseran.

"Sebelum berhadapan, dari mana kautahu adikku tidak mau pulang."

Orang berkedok memandangnya sekejap, mendadak ia terbahak-bahak.

"Haha, kukira ksatria Kai-pang adalah tokoh gagah perwira, namun hidangan yang sengaja kusiapkan ter-nyata belum lagi disentuh. sebaliknya urusan kecil yang dipersoalkan."

Tiba-tiba Song Cing terkekeh, katanya.

"Hehe, memangnya kaukira kami tidak berani makan minum suguhanmu? "

Segera ia angkat cawan dan menenggak habis isinya. Melihat pemimpinnya sudah minum, jago pengemis yang lain segera ikut minum. Hanya Ih Hong saja berseru pula.

"Bagi-ku yang penting harus segera kaubebaskan adikku, sebelum itu aku tidak ada selera untuk makan minum."

"Apa susahnya jika ingin melihat adik-mu? "

Ujar orang berkedok. Mendadak ia tepuk tangan dan berseru.

"Silakan nona Ih me-nemui tamu! "

Bi Pek-hiang mengiakan dengan hormat dan menuju ke ruangan belakang.

Sejenak ke-mudian terdengarlah suara gemerincing per-hiasan orang perempuan, Ih Loh tampak me-langkah keluar dengan lemah gemulai.

Wajah-nya kelihatan cantik bercahaya, sedikit pun tidak ada tanda tersiksa sebagai tawanan.

Lega hati Ih Hong, segera.ia menyapa.

"Adik Loh! "

Ih Loh mengerlingnya sekejap, namun tidak memperlihatkan rasa girang sebagaimana layaknya kalau kakak bertemu dengan adik se-telah lama berpisah, ia malah mendekat ke samping si orang berkedok dan tersenyum ma-nis padanya.

Kawanan pengemis lama melengok, Ih Hong juga terkejut, katanya dengan suara ge-metar.

"Adik Loh, masa tidak ... tidak kau-kenal lagi kakak sendiri? "

"Mana mungkin aku tidak kenal kakak lagi."

Ucap Ih Loh dengan tertawa. Rada lega hati Ih Hong.

"Sekarang kakak datang untuk membawamu pulang."

"Aku cukup senang tinggal di sini, tidak perlu lagi kakak susah payah membawaku pu-lang jauh ke utara sana."

Ujar Ih Loh.

"Hah. apa engkau sudah gila? Masa eng-kau tidak ingat lagi kepada rumah dan ke-luarga kita sendiri?' seru Ih Hong dengan ku-rang senang.."Siapa bilang aku gila? "

Jawab Ih Loh."

Ai, sudahlah, aku masih ada pekerjaan, tak-dapat kutemui kakak lagi."

Mendadak Ih Hong membentak.

"Adik Loh?! "

Namun Ih Loh terus melangkah pergi tanpa berpaling. Ih Hong hendak menyusulnya, namun ke-buru ditahan oleh Song Cing, katanya.

"Sabar dulu, adik Hong, tampaknya urusan ini tidak beres, tentu ada tesuatu yang tidak benar."

Ih Hong kelihatan lesu, ia tuding orang berkedok dan mendamperat.

"Dengan ... dengan obat apa kaucekoki dia sehingga dia ke -hilangan kesadaran aslinya? "

"Pikirannya cukup jemih, masa terpengaruh obat apa segala? "

Jawab orang berkedok itu dengan tertawa. Mendadak Song Cing berseru.

"Sungguh orang she Song sangat kagum caramu menger-jai orang sehingga dapat membuat mereka kakak beradik serupa orang asing yang tidak saling kenal lagi. Cuma, orang terang tidak perlu berbuat gelap, bilamana Anda seorang kesatria, kenapa tidak membuka kedokmu supaya kami dapat melihat wajah aslimu yang terhormat."

"Jika kalian berkeras ingin tahu, apa salahnya jika kuperlihatkan."

Ucap orang ber-kedok itu sambil menarik kain kedoknya. Ketika kawanan pengemis itu melihat jelas wajah orang, mereka sama terkejut.

"Hah, jadi engkau ini Tik ... Tik Yang! "

Seru Song Cing kaget.

"Betul, memang akulah Tik Yang."

jawab orang berkedok itn dengan tertawa.

"Bangsat, kiranya kau manusia berhati binatang ini, kembalikan adik perempuanku! "

Teriak Ih Hong dengan kalap, serentak ia me-nubruk maju dan menyerang.

"Pantas kaupakai kedok segala, kiranya kau bangsat ini."

Teriak Song Cing sambil me-nerjang maju pula.

Akan tetapi Tik Yang tidak menghindar, mendadak kedua tangan menahan permukaan meja, segera terdengar suara gemuruh, orangnya berikut kursi sama anjlok ke bawah sehingga serangan Ih Hong berdua mengenai tempat kosong.

Selagi Ih Hong hendak menubruk maju lagi, tahu-tahu bagian yang ambles ke bawah tadi menjeblak ke atas lagi sehingga permukaan lantai rata kembali.

Segera Ih Hong mengangkat sebelah kaki dan menghentak sekuatnya, namun lantai tidak bergeming sedikit pun.

Malahan lantas terdengar suara keriat-keriut, waktu mendongak, tampak dari atas menurun jaring baja serupa kurungan, tahu -tahu mereka sudah terkurung.

"Celaka, kita terjebak."

Seru Song Cing.

Ia coba mendobrak kurungan baja itu, namun percuma, biarpun senjata tajam pun sukar membobolnya, apalagi bertangan kosong.

Bulan sudah condong ke barat, sesosok bayangan tampak menyelinap ke dalam perkampungan di lereng Lam-san itu, hanya se-kejap saja ia sudah melintasi beberapa deret rumah dan hinggap di wuwungan gedung induk.

Di bawah cahaya bulan kelihatan perawakannya yang keras dan wajahnya yang cakap.

Siapa lagi dia kalau bukan Lamkiong Peng.

Selagi anak muda itu mengawasi sekeliling-nya untuk bertindak lebih lanjut, tiba-tiba terdengar suara desir angin, tahu-tahu di be-lakangnya sudsh berdiri seorang lelaki setengah umur berwajah putih, tapi berjubah hitam mulus.

Dengan tersenyum orang ini menegur.

"Te-ngah malam buta Anda berkunjung kemari, barangkali ada keperluan yang mendesak? " 'Caihe Lamkiong Peng adanya, Anda sen -diri siapa? "

Tanya Lamkiong Peng. Orang bermuka putih itu tampak mele-ngak.

"Aha, kiranya Lamkiong-kongeu, caihe Bi Pekhiang, congkoan perkampungan ini,su-dah lama caihe menunggu kedatanganmu di sini atas perintah majikan."

"Siapa majikanmu? "

Tanya Lamkiong Peng.

"Setelah bertemu tentu Lamkiong-kongeu tahu sendiri."

jawab Bi Pek-hiang.

"Marilah ikut! "

Lamkiong Peng sudah bertekad akan menyelidiki keadaan perkampungan ini, maka tanpa pikir ia ikut melayang turun ke sebuah ruangan besar yang megah.

"Harap Lamkiong-kongeu menunggu seben-tar, segera caihe memberi lapor ke dalam "

Kata Bi Pekhiang setelah menyilakan Lem-kiong Peng duduk, lalu masuk ke belakang melalui pintu samping. Tidak lama kemudian muncul Tik Yang yang berkedok sutera hitam itu.

"Aha, Lamkiong-heng, selamat bertemu kembali."

Seru Tik Yang dengan tertawa. Lamkiong Peng merasa sudah kenal suara orang, tapi tidak tahu siapa, jawabnya dengan bingung, ' "Siapakah Anda? "

"Hah, baru berpisah beberapa hari masa Lamkinng-heng sudah tidak kenal diriku lagi? "

Sembari bicara Tik yang terua menanggalkan kedoknya.

Sungguh mimpi pun Lamkiong Peng tidak menyangka orang berkedok ini adalah Tik Yang, tentu saja ia kaget dan juga girang, ia memburu maju dan menjabat tangan Tik Yang sambil berseru.

"Ah, Tik-heng, kiranya engkau adanya!"

Tik Yang menepuk bahu Lamkiong Peng.

"Tak kauduga bukan?"

"Ya, sungguh mimpi pun tak terpikir oleh-ku."

Kata Lamkiong Peng.

"Tapi ... ai, ada yang tidak benar."

"Ada apa? "

Tanya Tik Yang. Dengan kening bekernyit Lamkiong Peng berkata.

"Bukankah Tik-heng bersama nona Ih ditawan Yim Hong-peng? Mengapa mendadak bisa menjadi majikan perkampungan Lam-san ini? "

Tik Yang tersenyum tanpa bicara.

"Dan di manakah nona Ih dan nona Yap?' tanya Lamkiong Peng.

"Sesungguhnya apa yang terjadi? "

"Kedua nona itu sedang tidar nyenyak."

jawab Tik Yang dengan tertawa.

"Perkampungan lam-san ini sudah menjadi milikku, keda-tangan Lamkiong heng ini sungguh kebetulan, marilah kita bekerja sama untuk membangun pekerjaan besar."

"Pekerjaan besar apa? "

Tanya Lamkiong Peng.

"Yaitu melaksanakan rencana sesuai apa yang digariskan oleh Swe-siansing, cara bagaimana merajai dunia bersilatan ini."

Tutur Tik Yang.

"Apakah engkau sudah gila, Tik-heng? Be-tul sudah kau masuk ke dalam organisasi Swe Thianbang? "

Tanya Lamkicng Perg dengan cmosi.

"Kautahu aku tidak pemah berdusta."

Seru Tik Yang.

"Dan bagaimana dengan nona Ih dan nona Yap?' tanya Lamkiong Peng.

"Mereka berdua juga sudah mengikuti jejakku."

"Omong kosong!' bentak Lamkiong Peng. Tapi segera terpikir olehnya jika orang se-macam Tik Yang saja juga rela bekerja bagi Swe Thian-bang. maka anak perempuan semacam Ih Loh dan Yap Man-jing tentu juga sangat mudah mengikuti jejaknya. Selagi merasa bimbang, tiba-tiba ter-dengar orang bergelak tertawa, di ruangan tamu sudah tambah seseorang. Waktu Lamkiong Peng mengawasi, terlihat orang ini berperawakan pendek kecil, muka penuh berewok, tapi kepalanya sebesar gantang sehingga sangat tidak seimbang dengan tubuhnya yang pendek kecil. Dia memakai baju wama kelabu gelap, sinar matanya mencorong, usianya antara 40-an. Begitu melihat orang ini, air muka Tik Yang dan Bi Pek-hiang sama berubah dan se-gera mereka memberi hormat sambil menyapa "Tong-toako!' Sikap orang yang dipangil Tong-toako itu sangat angkuh, ia hanya mengangguk saja, lalu mendekati Lamkiong Peng. Melihat sikap angkuh orang dan Tik Yang berdua sedemikian hormat padanya, Lamkiong Peng menduga orang tentu tokoh yang berkedudukan tinggi dan berkepandaian lihai. Didengarnya orang telah menegurnya.

"Apa-kah kau ini Lamkiong Peng? "

"Betul, dan siapa nama Anda yang terhormat "

Jawab Lamkiong Peng dengan ham-bar.

"Namaku Tong Goan, sahabat kangouw memberi julukan Soan-hong-tui-hun-kiam (si angin lesus danpadang pengejar sukma) pada-ku."

Jawab orang she Tong itu.

Diam diam Lamkiong Peng heran apa yang terjadi sehingga Swe Thian-bang mengerahkan tokoh-tokoh andalannya seperti Ko Tiong-hai, Yim Hong Peng dan Tong Goan ini ke daerah Kanglam.

Terdengar Tong Goan berucap pula.

"Atas perintah Swe-siansing, Lamkiong-kongeu diharap ikut berkunjung ke markas pusat kami."

"Maaf. Lamkiong Peng merasa terlampau hormat menerima undangan tersebut."

jawab anak muda itu dengan tidak kalah angkuhnya. Tong Goan tampak kurang senang, katanya.

"Dengan maksud baik Swe-siansing mengundangmu, memangnya engkau berani menolaknya? "

Sambil membentak Tong Goan melangkah maju, sebelah tangannya terus mencengkeram. Dengan gesit Lamkiong Peng mengegos ke samping dan balas menghantam. Ketika Tong Goan menangkis.

"blang ", terjadi adu tenaga pukulan dan keduanya sama tergetar mundur.

"Boleh juga anak muda."

Seru Tong Goan.

"Coba sekali lagi! "

Kedua tangan sekaligus didorong ke depan. Lamkiong Peng tahu tenaga dalam orang sangat lihai, ia tidak berani gegabah, ia pun mengerahkan tenaga dan menangkis.

"Blang ", kembali terjadi adu tenaga de-ngan dahsyat dan keduanya sama tergetar mundur lagi. Pertarungsn ini membuktikan tenaga da-lam kedua orang ternyata sama kuat. Keruan Tong Goan terkesiap, sama sekali tak terduga olehnya seorang anak muda memiliki kekuatan sehebat ini.

"Hm, ternyata Soan-hong-tui-hun-kiam yang termashur tidak lebih cuma begini saja."

Jengek Lamkiong Peng.

"Baik, sekarang boleh kita coba tenjata."

Kata Tong Goan.

"Silakan."

jawab Lamkiang Peng sambil melolos pedang.

Dengan prihatin Tong Goan mengeluarkan sebatang pedang lemas yang panjang dan sempit, batang pedang berwama putih, sedang ujung pedang berwama hitam gelap.

Lamkiong Peng tidak berani ayal.

ia siap menghadapi musuh dengan penuh perhatian.

Mendadak Tong Goan membentak, pedang disendal sehingga lurus dan langsung ia menusuk lawan.

Lamkiong Peng mengegos ke samping, berbareng pedang pusaka Yap-siang jiu-loh balas menusuk tiga hiat-to penting di bagian dada Tong Goan.

Terdengar Tong Goan mendengus sambil mendak ke bawah, pedang berputar dan kem-bali ia menusuk Koh-cing hiat di bahu kiri Lamkiong Peng.

Dan begitulah serang menyerang terus berlangsung dengan sama lihainya.

Keduanya sama tahu menghadapi lawan tangguh sehingga tidak berani lengah sedikit pun.

Mendadak Tong Goan membentak tertahan, secepat kilat pedang lemas menusuk lagi.

Tapi pada saat yang sama Lamkiong Peng juga membentak, sama cepatnya ia pun menusuk.

Terdengar suara "cring "

Sekali, kedua pedang seakan-akan lengket menjadi satu.

Tong Goan kelihatan bergirang, sedikit diangkat, ujung pedang yang hitam gelap tepat mengarah muka Lamkiong Peng.

Keruan anak muda itu terkejut, ia ber-maksud menarik kembali pedangnya, tetapi lantaran tenaga kedua orang sembabat sehingga seketika Yapsiang-jiu-loh sukar ditarik, Sambil menyeringai senang Tong Goan membentak.

"Lepas pedang! "

"Belum tentu bisa! "

Jawab Lamkiong Peng dengan angkuh.

Tapi baru saja ia berucap, ujung pedang lawan yang hitam gilap itu mendadak meletus dan menyambar ke muka Lamkiong Peng, ber-bareng ada cairan wama biru dan berbau amis munerat ke mukanya.

Begitu cepat serangan itu sehingga dalam sekejap saja ujung pedang dan cairan berbisa itu sudah berhambur sampai di depan mata Lamkiong Peng.

Di sinilah Lamkiong Peng memperlihatkan kemahirannya, secepat kilat ia mendoyong ke belakang, bahkan kedua kaki beruntun menendang pergelangan tangan lawan.

Cairan berbisa muncrat lewat kesana , terpaksa juga Tong Goan menarik kembali pedangnya.

Sambil menggeliat ke samping dapatlah Lamkiong Peng menegak kembali.

Tong Goan hanya tercengang sejenak, serentak ia membentak dan menubruk maju lagi, pedangnya yang berbentuk aneh segera membacok lagi.

Mendadak terdengar Bi Pek-hiang dan Tik Yang juga membentak sambil menerjang maju, serentak mereka pun menyerang.

Dikerubut tiga lawan tangguh, seketika Lamkiong Peng merasa kerepotan, hanya beberapa jurus saja keringat sudah memenuhi dahinya.

Lamkiong Peng menjadi nekat, sambil menggertak, tangan kiri menghantam Bi Pek-hiang, pedang di tangan kanan terus menyabat sehingga ketiga lawan terdesak mundur.

Selagi ketiga orang jtu melenggong, Lamkiong Peng lantas mengangkat tinggi pedangnya dengan kedua tangan, dengan sikap tegak beringas ia berteriak.

"Keparat, biarlah hari ini kubereskan kalian"

Walaupun tidak gentar melihat sikap kalap anak muda itu, tapi Tong Goan tarus menerjang maju lagi, begitu pula Tik Yang dan Bi Pek hiang serentak juga menyerang.

Dengan kedua tangan memegang pedang.

sekali bergerak tiga jurus, ia tahan serbuan ketiga lawan, menyusul lagi sekaligus menyerang tiga kali, ia keluarkan ilmu pedang Sin-Liong cap-pek-sik yang lihai, mau-takmau ketiga lawan terdesak mundur lagi dua tindak.

Pada saat itulah mendadak terdengar lagi suara bentakan nyaring orang perempuan, tertampak Yap Man-jing dan Ih Loh menerjang tiba, sesudah berhadapan, tanpa bicara lagi mereka terus mengerubuti Lamkiong Peng.

He, nonaYap dan nona Ih, masa kalian tidak kenal lagi padaku"

Seru Lamkiong Peng.

"Peduli siapa kau, sekarang kami adalah majikan di Lam san-piat-yap (perkampungan gunung selatan) sini. siapa pun dilarang main gila di sini,"

Seru Ih Loh. Sembari bicara ia terus menghantam pula, Lamkiong Peng menangkis serangannya sambil berkata.

"Kenapa kalian tidak terima penjelasanku?"

"Tidak perlu penjelasan, serahkan nyawamu!"

TeriakYap Man-jing sambil menyerang terlebih gencar.

Tik Yang juga tidak tinggal diam, ia pun menubruk maju dan ikut bertempur.

Di bawah kerubutan orang banyak, apalagi oleh kedua nona yang dikenalnya dengan baik, setika ia tidak dapat balas menyerang secara ganas, ingin melepaskan diri pun sulit.

Terpaksa ia keluarkan kepandaiannya untuk bertahan melulu.

Pada saat itu Tong Goan bertiga sudah mengundurkan diri ke dalam, terdengar suara tertawanya yang menusuk telinga.

Sejenak kemudian, Lamkiong Peng kembali terdesak ke tengah ruangan, setelah bertempur sekian lamanya.

betapa kuat tenaganya juga mulai lemas, ia sudah mandi keringat dan lelah, gerakgeriknya mulai lamban, jelas tidak tahan lagi ....

Didalam kamar tahanan berlapis bajasana kawanan pengemis Yu-leng-kun-kai sedang berdaya untuk meloloskan diri, namun tetap tidak menemukan sesuatu jalan, semuanya cemas dan gelisah.

Sekonyong konyong atap kamar tahanan itu berbunyi keriat-keriut.

kawanan pengrmis saling pandang dengan bingung dan mendongak.

Tertampak sepotong papan besi pada langit-langit kamar sedang tersingkap pelahan, dari situ terjulur seutas tali.

Song Ciong terkejut dan bergirang, cepat ia berseru.

"Ayo cepat!"

Segera ia mendahului melompat ke atas, tali itu dipegangnya terus merambat ke atas sehingga menerobos keluar.

Setiba di atas, segera dilihatnya di samping ruang berdiri seorang setengah umur berwajah putih dan berperawakan sedang, mukanya kaku dingin.

Song Giong tidak kenal orang ini, tapi dapat diketahuinya tentu orang inilah yang menolongnya keluar, segera ia memberi hormat dan menyapa.

"Banyak terima kasih atas pertolongan Anda, budi kebaikan ini takkan kami lupakan."

Sementara itu kawanan pengemit berturut-turut sudah melompat keluar dan berdiri di gamping Song Ciong. Ih Hong melangkah maju dan memberi hormat kepada orang itu, lerunya.

"Sungguh Kaipang utang budi atas pertolongan Anda, entah bolehkah mengetahui nama Anda yang mulia ...."

Dengan kaku orang itu menjawab.

"Aku cuma diminta oleh Thian-ah Totiang untuk menolong kalian, bilamana kalian mau berterima kasih boleh katakan saja kepada dia,"

"Thian-ah Totiang,"

Ih Hong bergumam dengan heran.

"Rasanya kami tidak kenal padanya?"

"Aku tidak urus? kalian kenal dia atau tidak, tujuanku menolong kalian keluar juga ada suatu permintaan,"

Kata orang itu.

"Silakan bicara saja, asalkan kami sanggup tentu akan kami laksanakan,"

Jawab Song Ciong.

"Kalian kenal Lamkiong Peng?"

Song Ciong menggeleng, tapi Ih Hong lantas berkata.

"Rasanya pemah kukenal dia."

"Saat ini dia juga terancam bahaya, hubungannya denganku sangat erat, tapi lantaran kedudukanku pribadi tidak leluasa untuk tampil menolongnya sehingga terpaksa kuminta bantuan tenaga kalian,"

Tutur orang itu.

"Mungkin kalian tidak tahu aiapa diriku."

"Kami tidak tahu,"

Kata Song Ciong.

"Aku adalah majikan yang sesungguhnya dari Lam-san piat-yap ini,"

Kata orang itu. Kejut dan heran kawanan psngemis itu, seketika mereka tidak bersuara. Dengan serius lelaki setengah umnr itu berkata pula.

"Aku masih ada urusan penting lain dan tidak dapat tinggal lama di sini, kuharap kalian tidak lupa pada janji kalian."

"Lamkiong Peng berada di mana sekarang?"

Tanya Ih Hong. Orang itu mengeluarkan sepucuksurat dan diserahkan kepada Song Ciong, katanya.

"Saat ini dia sedang bertempur mati matian di ruangan depansana , silakan kalian menyusul kesana dan berikansurat ini kepadanya. Sesudahsurat ini dibacanya hendaknya kalian melindungi dia meninggalkan tempat ini. Hanya sekian saja pesanku, urusan selanjutnya diharapkan bantuan kalian sepenuh tenaga."

Habis berkata ia lantas melayang pergi. Song Ciong dan Ih Hong saling pandang sekejap, segera Ih Hong berseru.

"Ayo berangkat!"

Segera ia mendahului berlari ke ruangan depan.

Dalam pada itu pertarungan di ruangan depan masih berlangsung dengan sengit.

Lamkiong Peng sudah mandi keringat dan terdesak ke pojok oleh ketiga pengerubutnya.

Sambil membentak Ih Hong terus menerjang ke tengah kalangan pertempuran, dengan jurus "Hing-sau jian-kun"

Atau menyapu seribu perajurit, langsung ia serampang pinggang Tik Yang dengan tongkatnya.

Melihat munculnya kawanan pengemis Tik Yang terkejut dan bingung, tahu-tahu tongkat bambu Ih Hong sudah menyerampang tiba dengan dahsyatnya, terpaksa ia melompat mundur.

Saat itu Song Ciong juga sudah memburu maju, kontan ia pun serangYap Man-jing.

Seketika daya tekan terhadap Lamkiong Peng menjadi ringan, begitu mendesak mundur Yap Man-jing, Song Ciong lantai menyodorkan surat itu kepada Lamkiong Peng lambil berseru.

"Surat untukmu, terimalah!"

Lamkiong Peng melenggong bingung, tapi diterima juga surat itu, Pada saat itu kawanan pengemis juga sudah menyerbu ke dalam, dua di antaranya menerjang Ih Loh, tapi bagian yang diserang mereka hanya tempat yang tidak fatal, paling-paling hanya untuk membuatnya pingsan.

Tong Goan dan Bi Pek-hiang yang telah mengundurkan diri juga kaget demi melihat datangnya kawanan pengemis, cepat mereka memburu maju lagi menyambut serbuan para pengemis, Pertempuran sengit seketika terjadi diruangan besar itu.

Sejenak kemudian dari luar membanjir tiba juga kawanan lelaki berseragam hitam.

Melihat keadaan tidak menguntungkan, cepat Song Ciong mendesak mundur Tik Yang, berbareng is berteriak kepada Lamkiong Peng.

"Lekas buka dan baca surat itu!"

Meski di tengah ruangan terjadi pertempuran gaduh, namun sementara ini Lamkiong Peng malah tidak mendapatkan lawan, cepat ia membuka sampul dan membaca suratnya, ternyata isinya berbunyi.

"Jiwa ibumu terancam bahaya, lekas pergi ke tepi timur Thay-oh dan mencarinya di Liu-im ceng, kalau terlambat mungkin bisa gawat, lekas berangkat."

Pcenanda tangan surat itu ialah Ban Tat.

Lamkiong Peng merasa sangsi, tapi tulisannya memang dikenalnya sebagai tulisan tangan Ban Tat.

Seketika ia terkesima dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Melihat anak muda itu bardiri mematung, Song Ciong teringat kepada pesan lelaki setengah umur sebelum pergi itu, segera ia membentak.

"Apa yang tertulis dalamsurat itu, kenapa engkau merasa sangsi? Inilah saatnya jika harus pergi dari sini! "Sia ... siapa yang menyerahkansurat ini kepadamu?"

Taaya Lamkiong Peng. Sekaligus Song Ciong menyerang tiga kali sehinggaYap Man-jing terdesek mundur, berbareng ia menjawab.

"Kuterima dari seorang lelaki setengah umur yang berwajah kaku dingin."

"Siapa namanya?' tanya Lamkiong Peng pula dengan kening bekernyit.

"Aku tidak tahu, ia cuma bilangsurat itu bnasal dari Thian-ah Totiang,"

Jawab Song Ciong.

Mendengar nama Thian-ah Totiang atau imam gagak, seketika berubah air muka Lamkiong Peng, sebab Thian-ah Totiang memang betul Ban Tat adanya.

Seketika Lamkiong Peng merasa sedih dan gelisah, teriaknya.

"Terima kasih atas bantuan kalian, budi kalian takkan kulupakan gelama hidap. Karena ada urusan penting, maaf ku-tinggal pergi dulu!"

"Mau pergi lekas pergi, tidak perlu banyak omong,"

Seru Song Ciong mendongkol.

Tanpa ayal lagi Lamkiong Peng berlari keluar.

Namun Tong Goan tidak tinggal diam, segera ia hendak menubruk maju untuk mencegat.

Tapi kawanan pengemis juga serentak menyerangnya sehingga dia terpaksa melompat mundur lagi.

Tarnpaknya segera Lamkiong Peng akan lari keluar ruangan itu, cepat Tik Yang ber teriak memberi perintah.

"Cegat orang itu!"

Serentak kawanan lelaki berseragam hitam merintangi jalan lari Lamkiong Peng.

Namun anak muda itu tidak sabar lagi, pedang berputar dan menyerang tanpa kenal ampun, terdengar suara jeritan ngeri di sana-sini, seketika beberapa orang dirobohkan, ia terjang keluar meninggalkan pertempuran sengit yang masih berlangsung ....

Sang surya sudah hampir terbenam, cahaya senja indah menghias langit.

Di restoran merangkap hotel Hong an-lo-tiam di kota Oheiu yang terlelak di utara propinsi Ciatkang, di sebuah meja yang dekat pin-tu masuk saat itu berduduk seorang pemuda cakap dan gagah didampingi dua orang kacung berusia 15 an.

Pemuda cakap itu berdandan ringkai dan menyandang pedang.

mata besar dan alis tebal, di antara kegagahannya kelihatan rada murung.

Meski dihadapannya sudah siap santapan lezat dan arak sedap namun tampaknya dia tidak bemafsu makan dan kelihatan menangung rasa sedih.

Dia bukan lain daripada Cian Tong-lai, murid Kun-lun-pai yang baru saja mulai Terjun ke dunia kang-auw.

Kedua kacung yang mengiringi dia adalah Pek-ji dan Giok-ji.

Cian Tong-lai metnegangi cawan arak daa !upa minum, sebentar-sebentar menghela napas.

Kiranya dia sedang rindu kepada Bwe Kim-soat yang sekali pandang telah menawan hatinya.

Sudah hampir setahun mereka berpisah, meski ketika bertemu dulu Bwe Kim-soat tidak menyatakan perasaannya, tapi juga tidak bersikap jemu kepadanya.

Cian Tong-lai yakin desngan tampang sen-diri dan kungfunya yang tinggi cukup memenuhi syarat untuk merebut hati si nona.

Akan tetapi Bwe Kimsoat justru tak acuh kepadanya Hal ini membuyarkan impiannya yang pemah dibayangkannya dengan muluk-muluk.

Melihat majikannya mengelamun dengan murung, Giok-ji dan Pek-ji ikat cemas.

Pada laat itulah tiba-tiba datang seorang sastrawan setengah baya berbaju panjang wama putih, pada bahu kanan berpegangan seorang gadis jelita dengan rambut terurai.

Di siang hari dan di depan umum seorang gadis menggemblok di pundak seorang lelaki dan masuk ke hotel yang banyak tamu ini, tentu saja membuat setiap orang yang melihatnya lama gem par membicarakannya.

Waktu Cian Tong-lai berpaling, serentak ia berdiri dan menyapa.

"Aha, Yim-heng kiranya, telamat bertemu pula!"

Kiranya saitrawan setengah umur ini adalah Yim Hong-peng yang membawa lari Bwe Kim-soat itu, ia menoleh dan menyengir setelah mengenali Cian Tong-lai, jawabnya hambar.

"Eh, kiranya Cian-heng, selamat bertemu."

"Kenapa Yim-heng membawa."

Belum lanjut ucapan Cian Tong-lai segera Yim Hong-peng memotong.

"Ah, dia saudara misanku, badan lagi kurang sehat dan harus kuantar pulang. maka terpaksa tidak kupikirkan sopan santun lagi."

Dengan sorot mata yang agak buram karena banyak minum arak, Cian Tong-lai coba mengamat-amati Bwe Kim-soat yang tertutup oleh rambutnya yang panjang itu.

Walaupun tidak terlihat jelas wajahnya, tapi dari garis tubuhnya dapat diketahui pasti seorang gadis cantik, malahan terasa sudah dikenalnya.

Dengan kening berkerenyit Cian Tong-lai berkata.

"Eh, sanak taudara Yim ini rasanya seperti pemah kulihat."

Berdebar hatiYim Hongpeng, ia sengaja mennjawab dengan tak acuh.

"Saudara ini memang sering juga berkelana di dunia kangauw, bisa jadi pemah kaulihat. Pada jaat itulah tiba tiba Bwe Kim-soat mengigau.

"Peng ... Peng cilik ...."

Meski Lirih suaranya tapi cukup jelas terdengar oleh Cian Tong-lai, walaupun sangsi, namun tak terpikir olehnya bahwa justru gadis inilah Bwe Kim-soat yang dirindukannya itu.

Cepat Yim Hong-peng mencari alas an akan mengantar pulang saudaranya dan langsung masuk ke kamarnya.

Dengan sangsi Cian Tong-lai berkomat-kamit pula.

"Aneh, seperti pemah Lulihat dia, juga suaranya ...."

Tiba tiba Pek-ji berkata.

"Kongeu, tidak-kah kaulihat nona yang sakit itu seperti nona Bwe?"

"Hus, jangan sembarangan omong,"

Ujar Giok-ji sambil menarik kawannya. Tapi Pek-ji lantai mengemel.

"Memang betul kulihat dia serupa nona Bwe."

Hati Cian Tong-lai tergetar, mendadak ia pegang pundak Pek-ji dan menegas.

"Kau-bilang apa? Coba ulangi!"

Pek-ji menjadi takut, jawabnya dengan tergagap.

"Hamba ...harnba bilang nona tadi seperti ...seperti nona Bwe."

"Ah, pintar juga kau,"

Se.ru Cian Tong-lai. Tapi ia lantas menggeleng kepala.

"Namun bukan, bukan dia." 'Ken ...kenapa Kongeu tidak coba menjenguknya kesana ?"' ujar Pek-ji. Ucapan ini menyadarkan Cian Tong-lai, katanya.

"Betul, kenapa tidak kulihat dia lagi?!"

Tanpa pikir lagi ia terus berlari menuju ke kamar Yim Hong-peng dan mengetuk pintu.

Waktu pintu dibuka dan melihat pendatang adalah Ciann Tong-lai, seketika air muka Yim Hong-peng berubah, ia coba tanya.

"Adaurusan apa Cian-heng?"

"O, baru saja teringat olehku tentang penyakit sanak keluarga Yim-heng, jelek-jelek Siaute pemah belajar ilmu pengobatan, kalau mau dapat kubantu ...."

"Ah, mana berani kubikin repot Gian heng,"

Sela Yim Hong-peng sebelum habis ucapan orang.

"Piaumoayku ini hanya masuk angin saja, sebentar lagi juga sembuh."

Pada saat itulah kebetulan Bwe Kim-soat membalik tubuh dan mengigau pula.

"Peng... Peng cilik ...."

Walaupun mukanya sebagaian tertutup oleh rambut namun sekilas Cian Tong Lai dapat melihatnya memang mirip benar dengan Bwe Kim-soat. Tentu saja ia tambah sangsi, bentaknya.

"Dia menyebut Pang siapa?" 'Dari mana kutahu siapa yang dimaksudkannya?"

Ujar Yim Hong-peng dengan tertawa.

"Tentu Lamkiong Peng yang dimaksudkannya, ah, betul, dia memang nona Bwe adanya,"

Seru Cian Tong-lai sambil menye-linap ke dalam kamar dan bermaksud mendekati nona yang berbaring di tempat tidur itu.

Tentu taja Yim Hong-peng tidak tinggal diam, cepat ia mendorong dengan kedua tangannya sambil membentak.

"Hendaknya tahu aturan sedikit, Cian-heng?!" 'Hm, apa maksudmu menawan nona Bwe ke sini?"

Damperat Cian Tonglai lambil mengelak, menyusul sebelah kaki lantas menendang.

Dan begitulah kedua orang lantas taling gebrak, baru belasan jurus, mulailah Yim Hong-peng merasa kewalahan, dahi sudah penuh keringat, napas pun tersengal.

Cian Tong-lai menyerang terlebih gencar dan ganas.

Mendadak Yim Hong-peng mengeluarkan kipasnya dan balas menyerang.

"Hm. memangnya bisa apa dengan kipasmu itu"

Ejek Cian Tong-lai. Yim Hong-peng diam saja, kipasnya terbentang dan merapat Ingi.

"jret", mendadak ia menutuk. Hahaah!"

Cian Tong lai tertawa ejek.

"Dalam 20 jurus akan kubikin kipasmu terkpas dari tanganmu!"

Habis bicara mendadak kedua kakinya menendang secara berantai, Yim Hong-peng terkejut, cepat ia tarik kembali kipasya sambil melompat mundur.

Dengan tertawa dingin segera Cian Tong -lai hendak menubruk maju tapi pada saat itulah leorang telah membentak.

"Berhenti!"

Pintu terbuka dan masuktah tiga orang.

Cian Tong-lai tidak kenal ketiga pen datang ini, tapi air muka Yim Hong-peng seketika berubah dan diamdiam mengeluh.

Kiranya mereka ini adalah Sun Tiong-giok dari Kun-mo-to btserta kedua kakek dari kesepaluh jago pengawalnya yang masih tersisa, yaitu Ko Sat dan Wi Gan.

Sambil tertawa Sun Tiong-giok tnendekati Yim Hong-peng dan menegur, ' Nah, coba sekali ini apakah dapat kaukabur lagi?"

Cian Tong-lai tinggi hati dan angkuh, ia tidak suka terhadap sikap Sun Tiong-giok itu, segera ia membentak.

"Kalian main terobos ke sini, bahkan bicara dengan kasar, sesungguhnya apa kehendakmu?"

"Hm, memangnya mau apa? Ingin campur urusanku?"

Jawab Sun Tiong-giok tidak kalah angkuhnya.

"Eeh, jangan ribut dulu. rasanya urusan ini semuanya punya andil,"

Seru Yim Hong-peng mendadak. Tentu saja Cian Tong-lai tidak mengerti.

"Apa artinya ucapanmu?"

Yim Hong-peng menyeringai, jawabnvat "Kankita bertiga satu tujuan, kauminta Bwe Kim-soat, dia juga mengincar Bwe Kim-ioat, apalagi aku. Nah, bukankah kita sama-sama punya andil?"

Dengan gusar Cian Tong lai segera hendak menyerang.

Tapi Sun Tiong-giok lantas mencegahnya, ' Nanti dulu!

Sebagian besar kesepuluh anak buahku telah menjadi korban keganasannya, utang darah ingin kutagih langsung dari dia, mana boleh sembarangan kaubunuh dia begitu saja."

"Hai, kau ini kutu apa, berani memerintahku?"

Tetiak Cian Tong-lai dengan gusar. Mendadak terdengar si kakek Wi Gaa membentak.

"Huh, mau lari?"

Berbareng itu ia menubruk kesana terus menghantam.

Kiranya pada waktu Cian Tong-lai ber-tengkar dengan Sun Tion-giok, diam-diam Yim Hong-peng hendak mengeluyur pergi.

tapi keburu dilihat Wi Gan.

Karena pukulan kakek itu, terpaksa Yim Hong peng menyurut mundur ke tempatnya semuia.

Waktu Sun Tiong-giok memandang ke sa-na, dilihatnya Bwe Kim-soat berbaringdi-tempat tidur.

meski berielimut, tapi jelas kelihatan dada dan perutnya bergerak lemah, napasnya seperti sesak.

Segera ia hendak mendekat kesana Akan tetapi Cian Tong-lai lantas merintanginya.

"Memangnya kaumau apa?"

Teriak Sun-Tiong-giok dsngaa gusar.

"Lekas menyingkir, memangnya dia apamu?"

Dengan angkuh Gian Tong-lai menjawab.

"Pokoknya berani kaumaju lagi, jagan menycial jika pedangku tidak kenal ampun."

"Hm hanya dirimu juga mampu merintagiku?"

Jengek Sun Tiong-giok.

"Boleh kaucoba,"

Jawab Gian Tong-lai ketus. Agar tidak mernbuang waktu, terpaksa Sun Tiong-giok menahan perasaannya dan berkata pula.

"Kautahu nona Bwe terluka dan keadaannya cukup menguatirkan?"

"Nona Bwe terluka atau tidak, apa sangkut pautnya denganmu?"

Tanya Cian Tong-lai.

"Soalnya aku telah barjanji kepada Lam-kiong Feng akan menyembuhkan nona Bws dan akan kuserahkan kembali kepadanya,"

Ujar Tiong-giok. Mendingan tidak tahu, demi mendengar bwe Kim-soat akan diserahkan kembali kepada Lamkiong Peng, seketika Cian Tong-lai men-jadi murka.

"Hm jadi maksudmu hendak membela Lamkiong Peng, rasakan dulu pukulanku ini!"

Tanpa pikir ia menghantam dengan dahsyat. Sejak tadi Sun Tiong giok bersabar, sekarang lawan mendahului mennyerang, maka ia pun tidak sungkan lagi, ia sambut pukulan lawan dengan sepenuh tenaga.

"Plak", kedua tangan beradu, Sun Tiong Giok tetap tegak di tempatnya, sebaliknya wajah Cian Tong-lai tampak pucat dan tergetar mundur selangkah.

"Ini, kaupun rasakan pukulanku,"

Tanpa ayal Sun Tong giok melancarkan pukulan sama dahsyatnya. Dengan beringas terpaksa Cian Tonglai menahan serangan lawan, ia pun menangkis sekuatnya.

"Brak,"

Kembali kedua tangan beradu, air muka Cian Tong-lai tambah pucat dan tergetar mundar lagi.

"Ini pukulan ketiga!"

Bentak Sun Tiong-Giok pula dan menghantam sepenuh tenaga. Keadaan Gian Tong-lai sudah payah, mata berkunang-kunang. namun terpaksa ia menangkis lagi.

"Blang,"

Wajah Sun Tiong giok kelihatan pucat dan tergetar mundur dengan dahi berkeringat.

Sebaliknya Cian Tong lai mencelat dun terbanting di tanah dengan mata terpejam.

Dengan kulit muka berkerut tersembul tenyuman kemenangan Sun Tiong-giok, pelahan ia mendekati tempat tidur dan mengangkat Bwe Kimsoat, katanya kepada kedua kakek.

"Ayo berangkat!"

Segera ia mendahului keluar.

Baru saja melangkah keluar kamar, mendadak darah segar tersembur keluar dari mulutnya ia pun terluka dalam cukup parah setelah tiga kali mengadu pukulan dengan Cian Tong-lai.

Merasa bukan tandingan orang, terutama kedua kakek Ko Sat dan Wi Gan, terpakia Yim Hong-peng hanya diam saja.

"Sementara jiwamu diampuni, bilamana Siau tocu sudah sembuh tentu kami bikin perhitungan lagi padamu,"

Jengek Wi Gan terhadap Yim Hong-peng, lalu mereka pun ikut pergi.

Waktu sennja pula, di suatu perkampungan yang dikelilingi pepohonan yangliu yang rin-dang dengan pagir tembok yang kurang terawat, suasana sunyi senyap seperti sudah lama perkampungan itu ditinggaikan penghuninya.

Sekonyong-konyong terdengar derap kuda lari, seekor kuda tampak membedal tiba, dari peluh yang memenuhi tubuh binatang itu dapat diduga kuda itu telah dilarikan dengan ce pat dan menempuh perjalanan jauh.

Begitu sampai di depan perkampungan itu, penunggang kuda lantas melompat turun dan pada saat itu juga kuda lantas roboh terkulai dengan lemas.

Tanpa menghiraukan kudanya orang itu terus berlari ke dalam perkampungan.

Kiranya dia adalah Lamkiong Peng yang diberitahu tentang keadaan gawat ayah-bunda-nya dan segera menuju ke Liu-im-ceng ini.

Langsung ia menggedor pintu gerbang perkampungan itu.

Sejenak kemudian baru terdengar suara orang bertanya di dalam.

Suaranya begitu berat dan parau, tapi ba-gi pendengaran Lamkiong Peng suara itu tidak asing lagi, jelas itulah luara yang sudah lebih setahun tak pemah didengarnya.

Suara sang ayah.

Segera ia berseru.

"Ayah, ayah! Aku anak Peng, anak Peng sudah pulang!"

Tak terduga karena jawabannya, ini, keadaan di dalam rumah lantas sunyi kembali.

Tentu laja ia ragu dan kuatir, tanpa pikir lagi ia mendorong pintu sehingga terpentang icrta berlari ke dalam, sekilas pandang dapatlah la menghela napas lega.

Dilihatnya ayah-bundanya duduk bersila berjajar di atas sebuah dipan di dalam ruangan sana , sorot mata mereka yang mancorong sedang menatapnya dengan terkesima, melihat gelagatnya keadaan kedua orang tua ini tidak seburuk berita yang diterimanya.

Setelah pikiran agak tenang, segera Lamkiong Peng memburu maju dan memberi sembah, katanya,"

Anak Peng yang tidak berbakti menyampaikan hormat kepada ayah dan ibu."

Mendadak Lamkiong Siang-ju menatap Lamkiong Peng dengan tajam, ucapnya.

"Anak Peng, apakah kaupulang dari Cu-sin-tiansana ?"

"Betul,"

Lamkiong Peng mengangguk.

"anak memang pulang darisana , cunva ...."

"Apakah Cu-sin-tiancu yang membebaskanmu pulang kemari"

Potong sang ayah.

"Bukan ... ."

Belum lanjut ucapan Lamkiong Peng tang ayah lantas memotong lagi.

"Binatang cilik yang tidak bisa pegang janji, memangnya sudah kaulupakan peraturan keluarga yang sudah turun temurunT"

Lamkiong Peng tidak tahu sebab apa ayahnya mendadak marah marah, dengan menunduk ia menjawab.

"Anak selalu mentaati psraturan keluarga dan mengutamakan setia kawan dan keluhuran budi,"

"Jika begitu mengapa kautinggalkan Cu-lin to dan pulang ke sini sehingga mengingkari janji keluarga kita yang sudah turun temurun?"

Damprat Lamkiong Siang-ju.

Baru sekarang Lamkiong Peng tahu sebab-nya sang ayah marah.

Namun kejadian selama setahun ini terlampau banyak, seketika sukar untuk diceritakan seluruhnya.

1a pun bingung harus bertutur mulai dari bagian mana, sejenak ia gelagapan.

"Anak Peng,"

Lekas Lamkiong-hujin me-nyela dengan suara lembut.

"sesungguhnya apa yang terjadi, bolehlah kau ceritakan dengan pelahan."

Lamkiong Peng memandang sekejap terhadap sang ibu yang lembut itu sesudah menenangkan diri barulah ia bereerita sejak berlayar sehingga pengalamannya di Cu-sin-to serta kejadian selanjutnya.

Setelah mengikuti pengalaman Lamkiong Peng itu, sejenak Lamkiong Siang-ju termenung.

akhirnya ia menghela napas dan berkata.

"Nak. Jika begitu ayah telah salah mengomeli dirimu. Tak tersangka dalam waktu setahun yang pendek ini telah kaualami berbagai kesukaran itu, sungguh kejadian di dunia fana ini memang sukar dibayangkan. Akhirnya Lamkiong Peng berkata pula.

"Setelah anak menerimasurat paman Ban yang memberitahukan ayah ibu terancam bahaya, maka cepat anak datang kemari. Tampaknya paman Ban hanya menakuti anak saja."

Tiba-tiba wajah Lamkiong Siang-ju ber-ubah muram, ia pandang istrinya sekejap, lalu berucap.

"Nak, memang betul keselamatan ayah dan ibumu dalam bahaya, paling .., paling lama kami hanya bertahan hidup dua-tiga hari lagi." 'Hah, mengapa bisa begitut"

Teriak Lam-Hong Peng dengan kaget dan pucat.

"Tidak, tidak mungkin! Bukankah ayah dan ibu baik-baik begini, mana bisa . , .."

Dengan pandangan tenang Lamkiong Siang-iu berucap.

'Meski dari luar ayah dan ibu kelihatan sehat walafiat.

tapi sebenarnya kami keracunan berat dan terluka dalam yang parah.

Untuk sementara kami dapat bertahan berkat Iwekang yang terlatih selama berpuluh tahun, harapan kami justru ingin bertemu denganmu untuk terakhir kali, mungkin lusa atau esok pagi kami akan...."

"Tidak, kenapa bisa jadi begini!"

Jeriak Lenakiong Peng &"ambil memburu maju dan memeluk lutut sang ibu, ratapnya.

"O, ibu, kenapa bisa terjadi begini, tidak .... anak tidak parcaya ...."

"Anak bodoh."

Ucap Lamkiong-hujin de-ngan menyesal.

"masa ayah dusta padamu."

"Jika begitu, mohon ... mohon diberi-tahu siapakah yang turun tangan keji terhadap ayah dan ibu?' tanya Lamkiong Peng dengan mendelik.

"Siapa lagi kecuali Swe Thian-bang yang sudah kausebut hendak merajai dunia per-silatan itu,"

Ucap Lamkiong Siang-ju dengan sorot mata mengandung dendam.

"Swe Thian-bang, kembali dia!"

Terii-k Lamkiong Peng sambil berbangkit.

"Sesungguh-nya ada permusuhan apa antara dia dengan kita, mengapa dia bertindak sekeji ini?"

"Entah cara bagaimana keparat itu dapat menyelidiki seluk-beluk urusanku dengan ibu, maka ia sendiri menemui kita agar mau ikut dalam organisasinya,"

Tutur Lamkiong Siang-ju dengan gemas.

'Dengan sendirinya ayah-ibu tidak sudi bekerja sama dengan dia sehingga kedua pihak bertengkar.

Tak terduga bangsat itu telah berbuat licik, pada waktu datang mereka sudah menyebarkan racun yang tak berwujud di luar tahuku, ketika ayah dan ibu bergebrak dengan dia baru merasakan ke-racunan, dengan sendirinya tenaga terganggu dan akhirnya terpukul luka olehnya ...."

Darah dalam tubuh Lamkiong Peng serasa mendidih, tangan terkepal kencang, teriaknya murka.

"Bangsat, kalau tidak kucincang dirimu hingga hancur lebur aku bersumpah takkan menjadi manusia ...."

Belum Ienyap luaranya tiba-tiba terdengar juara orang mendengus, sesosok bayangan me-nyelinap ke dalam rumah.

Di bawah keremangan senja Lamkiong Peng melihat pendatang ini seorang cendekia setengah baya, bermuka halus tanpa jenggot, perawakan jangkung.

Agaknya Lamkiong Siang-ju dan istrinya sudah monduga akan kedatangan orang sehingga mereka tidak terkejut dan tetap tenang saja.

Tapi Lamkiong Peng tidak dapat menahan emosi lagi, serentak ia membentak.

"Siapa kau?Ada keperluan apa?"

Orang itu memberi salam, jawabnya de-ngan tertawa.

'Gaihe Siau Bong-wan, kudatang menjengiuk Lamkiong kongeu, sekalian untuk mengantar mangkatnya ayah ibumu." 'Keparat, jadi kau ini begundal Swe Thian-bang,"

Teriak Lamkiong peng murka.

"Ah, Caihe tidak lebih hanya tangan kanan-kiri Swe-siansing saja,"

Ucap orang yang me-ngaku bemama Siau Bongwan itu.

"Creng"

Segera Lamkiong Peng melolos pedang pusaka Yap-siang-jiu-loh dan mem-bentak.

"Bedebah! Ayolah maju untuk terima kematian habis itu baru kubikin pehitungan dengan Swe Thian-bang.' Siau Borg-wan terkekeh.

"Hehe, garang amat Lamkiong-kongeu terhadap tamu. Apa kah mampu kaubunuh diriku atau tidak masih tanda tanya. Hanya ingin kutanya apakah keselamatan orang tua sudah tidak kaupikirkan lagi? Padahal jiwa ayah ibumu tinggal satu-dua hari saja, bagaimana nasibnya bergantung kepada keputusanmu sebarang."

Seketika Lamkiong Peng takdapat bicara. Betapapun keselamatan orang tua memang membuatnya sangsi untuk bertindak. Siau Bongwan tertawa licik, katanya pula.

"Keluarga Lamkiong kaya raya turun temurun sekian lamanya, ayah-bundamu juga pemah mengguncangkan dunia kangouw, jika sekarang mereka mengalami nasib seperti ini, memang-nya atas perbuatan siapa? Kongeu masih muda dan gagah perkasa, cngkau tidak berusaha membangun kembali keluarga Lamkiong dan mengembalikan kehormatannya dan menuntut balas pada sumbernya yang membuat runtuh-nya keluarga Lamkiong kalian, tapi sekarang Kongeu cuma memikirkan sakit hati pribadi tanpa menghiraukan keselamatan orang tua, pikiran sempit demikian sungguh sukar untuk dimengerti."

"Lamkiong Peng menjadi ragu dan bingung.Ucapan Siau Bong-wan memang juga betul, sebabnya keluarga Lamkiong sampai runtuh seperti ini adalah berkat tindakan Cu sin-tocu. namun jayanya keluarga Lamkiong juga boleh dikatakan berkat Cu-sin-to. Apaiagi sekarang Cu-sin-to sudah runtuh dan bubar, Cu-sin-to-cu Lamkiong Eng-lok juga sudah mening"gsl dunia, ke mana lagi dia harus menuntut ba-las? la menjadi bingung siapakah misuhnya yang sebenarnya, apakah Swe Thian-bang? Memang sekarang terbukti juga Swe Thian-bang telah membikin celaka orang tuanya, tapi umpama Swe Thian-bang dibunubnya apakah mungkin dapat memulihkan marga Lamkiong yang telah runtuh. Selagi kusut dan bingung pikiran Lamkiong Peng, tiba-tiba Lamkiong Siang-ju bergelak iertawa.

"Haha, jangan kaupercaya ocehannya, Anak Peng. Apa pun yang akan terjadi adalah kewajibanku sebagai ahliwaris marga Lamkiong. Swe Thiaa-bang adalah manusia culas dan keji, secara kejam dunia kangouw hendak ditaklukkannya, adalah kewajibanmu untuk menumpas kebatilan demi keamanan umum, apa yang kauragukan !agi, anak Peng?' Semangat Lamkiong Peng tergugah oleh seruan gang ayah, serentak ia membentak.

"Ayo, bangsat. majulah untuk menerima kematianmu!"

"Hehehe,"

Siau Bong-wan terkekeh.

"Orang bilang Lamkiongkongeu ahli waris marga ter-kemuka dan murid Sin-liong tak terkalahkan, tampaknya memang gagah perkasa tapi apakah tidak kaupikirkan lagi nyawa kedua orang tua yang terletak dalam genggamanku?"

Karena ancaman ini, kembali Lamkiong Peng merasa sangsi.

"Maju anak Peng, mampuskan bangsat itu!"

Teriak Lamkiong Siangju. Segera Lamkiong Peng hendak menubruk maju. Tapi Siau Bong-wan lantas berseru pula.

"Haha, obat penawarnya berada padaku, apakah benar engkau tidak peduli lagi akan mati-hidup ayahibumu"

Baru saja Lamkiong Peng kelihatan ragu, cepat Lamkiong Liang-ju berteriak.

"Tidak anak Peng, jangan kaulupakan amanat leluhur kita.Bila benar engkau taat kepada ajaran marga, lekas kaumampuskan bangsat ita tanpa meng-hiraukan kami."

Perasaan Lamkiong Peng seraia disayat sayat ia paham kebesaran jiwa sang ayah, tapi sebagai anak masa dia lega menyaksikan orang tua mati begitu saja "Tidak ayah, tak dapat ku . ..."

Belum lanjut ucapan Lamkiong Peng, mendadak Lamkiong Siang-ju mengangkat se-belah tangannya dan mengancam"

Anak Peng, jika kausangsi lagi segera kuhancurkan kepala ibumu din segera kubunuh diri pula. Daripada menyaksikan anak tak berbakti yang tidak tegas, lebih baik kami mendahului mangkat!"

"Jangan ayah, jangan ..."

Ratap Lamkiong Pong. Segera ia menambahkan dengan benrigas,"

Baik, ayah, anak siap melaksanakan perintahmu dan bersurnpah membalaskan sakit hatimu!"

Habis berkata, serentak ia menubruk maju sambil membentak.

"Bangsat, serahkan nyawamu!"

Melihat sikap beringas anak muda itu, segera Siau Bong-wan meraba sakunya dan bermaksud menghamburkan racun asap yang telah disiapkannya.

Akan tetapi sebelum dia bertindak, sekonyongkonyong sesosok bayangan melayang tiba secepat terbang, baru sajaSian Bong-wan berpaling, tahutahu pinggang terasa kesakitan dan roboh terkulai tanpa bisa berkutik lagi.

Kejut dan girangLamkiong Peng,ia urung menubruk maju serunya setelah melihat jelas penolong ini.

"Hah kiranya engkau orang tua!"

Kiranya penolong yang datang tepat waktuunya ini adalah seorang kakek botak dengan perawakan kecil dan bermuka jelek, dia bukan lain daripada Leh Ih-sian, salah seorang "Hong-timsam-yu"

Atau tiga sekawan pe-ngelana.

"Maaf kedatangan paman agak terlambat sehingga membuat susah kalian,"

Kata Loh Ih-sian terhadap Lamkiong Peng. Seketika timbul rasa duka anak muda itu demi teringat kepada nasib ayah bundanya, ucapnya dengan air mata berlinang.

"Ayah dan ibu mungkin ... ."

"Jangan kuatir, Hiantit (kemenakan yang baik),"

Ucap Loh Ih-sian dengan tertawa.

"Urusan ini kujamin beres"

Tengah bicara, dari luarsana kembali melayang tiba sesosok bayangan orang, sesudah berhadapan, kiranya seorang kakek psndek gemuk berdandan sebagai tabib kelilingan.

"Bagaimana, sudah beres semua"

Tanya Loh Ih-sian terhadap kakek gemuk itu. Tanpa bersuara kakek pendek gemuk itu hanya mengangguk aaja.

"Hiantit, inilah Toat-benglong-tiong (si tabib pencabut nyawa) Cui Beng-kui yang ter-mashur itu,"

Segera Loh Ih-sian memperkenalkan kawannya kepada Lamkiong Peng.

Sudah lama Lamkiong Peng kenal nama si tabib sakti itu, keruan ia kegirangan, cepat ia memberi hormat.

Sikup Cui Beng-kui tetap dingin saja, ia cuma mengangguk pelahan tanpa bersuara.

Lamkiong Peng tahu tabiat orang yang nyentrik, ia pun tidak tanya lebih lanjut, kata-nya terhadap Loh Ih-sian.

"Sungguh beruntung atas kedatangan paman, namun ...."

"Nanti dulu, biar kuperiksa saja ayah-bundamu,"

Sela Loh Ih-sian, diseretnya Siau Bong-wan, benama Cui Beng-kui mereka lantas masuk ke dalam.

Tatkala itu Lamkiong Siang-ju dan istrinya sudah tambah payah dengan napas terkembang kempis, tentu saja Lamkiong Peng sangat sedih Setelah menaruh Siau Bong-wan, kata Loh Ih-sian kepada Cui Beng-kui.

"Nah, sekarang giliranmu untuk memperlihatkan kemahiranmu,"

Tanpa bicar"t Cui Beng-kui mendekati Lamkiong Siang-ju, diperiksanya nadi suami-istri itu, lalu berucap.

"Tidak beralangan!"

Ia Santas mengeluarkan sebuah bungkusan kecil, diambil sebuah botol hitam kecil dan menuang dua biji pil serta dijejalkan ke mulut Lamkiong Siang-ju dan istrinya. lalu berkata pula.

"Selang setengah jam racun dalam tubuh mereka akan punah, habis itu baru akan ku-obati luka mereka."

Habis bicara ia terus menyingkir ke samping dan duduk bersila sambil memejamkan mata. Lamkiong Peng bergirang dan juga ragu, namun tidak enak untuk bertanya, terpaksa ia hanya memandang Loh Ih-sian.

"Jangan kuatir, Hiantit,"

Ucap Loh Ih -sian, '"Obat setan tua she Cui ini biasanya ces-pleng, kita percaya penuh kepada kemahiranya.

Kuterima berita dari Ban Tat tcatang keadaan ayah bundamu ini, cepat ku-ajak setan tua Cui Beng-kui kemari, kalau bukan teralang beberapa kroco di luar kampung tentu sejak tadi sudah berada di sini,"

Ia berhenti sejenak, lalu bertanya.

"Eh, bukankah kaupergi ke Cu sin-to, kenapa pulang kemari?"

Lamkiong Peng menghela napas panjang, lalu diceritakannya pengalaman selama setahun i ni.

Loh Ih sian menggeleng kepala deagan gegetun, katanya, 'Sungguh tak tersangka dalam waktu sesingkatnya ini bisa terjadi hal-hal seperti ini, nanti kalau ayah-ibumu sudah sembuh boleh kita berunding tentang cara bagaimana membangun kembali marga Lamkiong kalian yang jaya."

Tengah bicara, terdengar Lamkiong Siang-ju dan istrinya menarik napat panjang, rupanya sudah siuman. Dengan girang Lamkiong Peng memburu maju sambil berseru.

"Ayah. Ibu."

Lamkiong Siangju membuka mata dan memandang sekelilingnya sekejap, ia ternyum dan berkata dengan lemah.

"Kutahu tidak perlu kaujelaskan. tentu kedua saudaraku ini-lah yang telah menyelamatkan jiwa kami"

"Bukan jasaku, jika mau berterima kasih harus lautujukan kepada setan tua she Cui itu,"

Ucap Loh Ih-sian.

"Tidak perlu terima kasih segala, adalah tugasku menyembuhkan saudara sendiri,"

Seru Gui Beng-kui sambil berbangkit.

"Sekarang masih harus kuobati luka dalam kalian."

Sambil berkata la lantas mengeluarkan pula sebuah botol putih kecil dan menuang lagi dua biji pil putih serta disuruh minum Siang ju dan istrinya.

Lalu ia bantu menyalurkan tenaga dalam kepada Siang-ju berdua.

Tidak seberapa, lama, keluar keringat Siang ju dan badan terasa segar kembali Cui Bengkui tersenyum puas dan menyudahi pekerjaannya, ia beri lagi dua biji pil putih kepada suami-istri itu dan suruh mereka istirahat sebentar.

"Bangsat Swe Thian-bang itu sungguh keji,"

Kata Loh Ih-sian kemudian.

"Demi keamanan dunis persilatan Tionggoan umumnya, kita perlu menyiapkan siasat untuk menghadapi rencana kejinya."

Siang-ju menghela napas, ucapnya.

"Setelah kuberangkatkan anak Peng, mestinya kami bermaksud mengasingkan diri untuk menghabiskan hari tua, siapa tahu kami tetap tidak terlepas dari incaran gembong iblis semacam Swe Thian-bang itu. Bagaimana Loh dan Cuihiante, dari pengamatan kalian, dapatkah kalian memberi pendapat tentang kegiatan dan ambisi Swe Thian-bang?"

"Kami hanya tahu dia mempengaruhi tokoh dunia kangouw Tionggoan dengan obat racunnya serta cara-cara kotor dan rendah yang lain, kini ketujuh aliran dan golongan besar sudah terpengaruh olehnya dan tidak lama lagi akan mengadakan pertemuan besar untuk memilih ketua perserikatan dunia persilatan, hanya waktu dan tempatnya belum ditentukan. Apa Toako sendiri sudah mendapat keterangan lebih banyak tentang iblis itu?"

Siang-ju menggeleng kepala, tuturnya.

"Aku pun tidak banyak mengetahui gembong iblis itu. Jika orang she Siau ini mengaku se-bagai tangan kantin Swe Thian-bang, barang-kali dari dia bisa kita peroleh informasi seperlunya."

"Betui juga pendapat Toako,"

Seru Loh Ih-xian, segera ia menepuk dua kali di ping-gang Siau Bong-wan sehingga dapatlah orang itu bergerak, lalu ditanyai.

"Nah, sekarang kauingin hidup atau mati, coba jawab dulu."

Siau Bong-wan bermaksud berdiri, tapi baru saja badan terangkat, kontan ia roboh terguling pula dengan lemas Baru sekarang ia sadar tenaga sendiri belum dapat dikerahkan.

Namun dia tetap bandel.

Dengan menyeringai ia menjawab.

"Hm tidak perlu kauperas diriku. Jika kauingin keteranganku, lebih dulu kalian harus berjanji akan bekerja bagi Swe-siansing."

"Hm, mati sudah di depan mata, masih berani kepala batu,"

Jengek Loh Ih-sian.

"Tampaknya kaupilih mati daripada hidup. Baik, boleh coba kaurasakan Ban-gi-coan sim hoat yang sudah lama tidak pemah kuguna-kan."

Sembari bicara ia terus berjongkok dan menutuk beberapa hiat-to tertentu di tubuh Siau Bong-wan.

Dalam lekejap laja Siau Bong-wan lantas bergeliat dan melolong.

Namun dia memang bandel, meski menahan sakit ia tidak minta ampun sama sekali.

Loh Ihsian terkesiap juga.

"Hah, boleh juga kau!"

Sambil menjengek ia tambahi lagi dua kali depakan, seketika Siau Bong wan berkelojotan.

"Nah, waktunya tidak banyak lagi, hendaknya jawab pertanyaanku, kapan dan di mana Swe Thian bang akan menyelenggarakan per-temuan besar tokoh dunia penilatan?"

Tanya Loh Ih-sian. Sorot mala Siau Bong-wan yang semula beringas akhirnya berubah guram dan menunjuk rasa mohon kasihan, akhirnya tercetus juga dari mulutnya.

"Cihau ...."

Tapi cuma satu kata saja ucapannya, mendadak darah tersembur dari mulutnya, lalu roboh telentang dan tidak bergerak pula.

Loh Ih-iian melompat maju dan memeriksa pemapasan orang, ternyata sudah tak bernyawa lagi, ia menggeleng kepala dan berucap "Swe Thian-bang keji, anak buahnya juga nekat,"

"Ai, lantas bagaimana sekarang, sumber keteranganku sudah buntu. adakah jalan lain?"

Kata Lamkiong Siang-ju dengan menyesal. Loh Ihsian garuk garuk kepala tanpa bersuara. Mendadak Lamkiong Peng berseru.

"Dia menyebut Ci-hau, jangan-jangan maksudnya Ci-hau-sanceng ternpat guruku. Biar segera kuberangkat kesana ."

Loh Ih-sian manggut-manggut.

"Ya.meski Put-sisin-liong sugah mati, tapi pengaruhnya belum lagi surut, bukan mustahil Swe Thian-bang sengaja memilih tempat itu untuk menyelenggarakan pertemuan besar itu."

La berhenti dan mengeluarkan satu bungkkus kecil obat dan diserahkan kepada Lamkiong Peng, katanya.

"Jika Hiantit mau berangkat, bawalah obat berasal dari Cui-heng ini yang khusus dibuatnya untuk menghadapi racun andalan Swe Thian-bang, setiap korban racunnya dapat disembuhkan dengan obat ini."

Dengan senang hati Lamkiong Peng menerima obat itu, segera ia mohon diri kepada kedua orang tua dan bebenah seperlunya, lalu berangkat ke Cihau-san-ceng.

Malam sunyi senyap, angin meniup santar.Ci-hau-san-ceng yang termashur itu juga tenggelam dalam keheningan, hanya pada ruang tengah yang luas itu kelihatan ada cahaya lampu yang agak guram.

Di tengah ruangan berjajar tiga buah peti mati, di dalamnya berbaring untuk selamnnya Put-si-sin-liong Liong Po-si, Thi-cianang-ki Suma Tiong-thian dan Cu-sin-tocu Lamkiong Eng-lok Di kedua samping sebuah meja panjang di depan ketiga peti mati itu berduduk Liong Hui, Koh Ihhong dan Ciok Tim.

Ketiga orang itu sama duduk diam dengan khidmat.

Akhirnya terdengar Liong Hui menghela napas dan berkata.

"Adakah pendapat kalian, apa tindakan kita sekarang!"

Koh Ih-hong dan Ciok Tim saling pandang sekejap, mendadak Ciok Tim menggebrak meja dan berseru.

"Apa pun yang akan terjadi, Ci-hau-sanceng tetap harus kita pertahankan, tidak boleh kita bikin malu nama baik perguruan."

"Tentu saja aku setuju atas sikap Samko ini,"

Kata Koh Ih-hong.

"Namun melulu tenaga kita bertiga mungkin sukar menghadapi lawan."

"Biarpun tidak mampu melawan juga harus kita pertahankan mati-matian,"

Teriak Ciok Tim. Ketiga orang lantas bungkam dan termenung pula.

"Akirnya Liong Hui bergumam, ''Alangkah baiknya jika saat ini Gote hadir di sini ...."

Belum selesai ucapannya tiba-tiba terdengar orang berseru di luar.

"Toako, Samko dan Sici, inilah aku sudah pulang!"

Serentak Liong Hui bertiga berpaling, semusnya melonjak girang sambil berseru.

"Hah, Gote, sungguh sangat kebetulan!"

Pondatang ini memang Lamkiong Peng adanya. Sesudah berada di ruang besar, seketika mukanya berubah menghadapi peti mati itu.

"Inilah layau Suhu, paman Suma dan paman Lamkiong, Samte yang mengusungnya pulang kemari,"

Tutur Liong Hui. Dengan air mata berlinang Lamkiong Peng menyembah kepada masing-masing peti mati itu, habis itu barulah ia memberi salam hormat kepada para Suheng, katanya.

"Siaute menerima kabar ada kemungkinan Swe Thian-bang akan berbuat sesuatu terhadap Ci-hau-san-ceng, maka cepat kudatang kemari, entah Toako sudah menerima kabar atau belum?"

"Kenapa tidak,"

Jawab Liong Hui sambil menunjuk sepucuksurat di atas meja. Ternyata di atas meja ada sepucuksurat bersampul hitam, cepat Lamkiong Peng mengambil dan membacanya. seketika ia murka.

"Bangsat, sungguh terlalu menghina Ci-hau-san-ceng kita. Dan bagaimana tindakan Toako?"

"Justru kuharapkan kedatangan Gote untuk berunding dan cari jalan yang baik,"

Ja-wab Liong Hui.

"Menurut pendapatku, kekuatan nyata kita memang bukan tandingan gembong iblis itu bersama begundalnya,"

Ucap Lamkiong Peng.

"Akan tetapi perkembangan kekuatannya hanya mengandalkan pengaruh racun dan caranya yang kotor, jika dapat kita sadarkan orang yang terbius oleh racunnya dan membongkar kedok-nya yang keji itu, tentu kekuatannya akan memereteli sehingga tidak sulit untuk menghancurkan dia. Dan yang utama, tokoh ketujuh aliran dan golongan besar yang terpengaruh. Mereka itu harus kita rebut kembali lebih dulu."

Malam tambah larut, tengah bicara, tiba-tiba terdengar suara tetabuhan yang nyaring menggema angkasa malam sunyi, makin lama makin mendekat suara musik itu.

"HM, tampaknya kawanan iblis itu sudah datang, harap Toako juga siap menghadapi mereka,"

Kata Lamkiong Peng.

"Suruh membuka pintu, lihat saja apa yang akan dilaku-kan mereka."

Segera Liong Hui memberi perintah agar pintu gerbang dibuka.

Tidak lama kemudian di tengah kegelapan malamsana muncul berpuluh titik cahaya lentera yang terbagi men-jadi dua baris dan beriring-iring masuk ke Ci-nau-sanceng, Di bawah cahaya lampu kelihatan di de-pan adalah delapan anak pemain musik diikuti serombongan orang yang berdandan berbeda-beda, di belakangnya lagi kembali dua pembawa lentera kerudung mendampingi sebuah tandu berhias di bawah iringan sekawanan lelaki berbaju hitam.

Setiba di haiaman depan ruang tamu.

rombongan orang yang berdandan berbeda itu lantas berdiri tegak dan hormat di kedua samping.

Hampir sebagian besar dari rombongan orang ini dikenal Lamkiong Peng, mereka ialah Yim Hong-peng, keempat tokoh Tui-bun-si-kiam, Bin san.-ji-yu, Ko Hong dan jago Ngo-hou-toan to Pang Liat dan Iain-Iain.

Yang lebih mengejutkan lagi adalah di antara rombongan ini terdapat juga Yap Man-jing, Tik Yang.

Ih Lob dan Kwe Giok-he, de-ngan sendirinya mereka sama kelihatan ling-lung, sudah kehilangan pikiran warasnya dan rela diperalat musuh.

Diam-diam Lamkiong Peng pikir bilamana obat pemberian Cui Beng-kui nanti kehilangan khasiatnya, maka akibatnya sukar dibayangkan.

Dalam pada itu tandu tadi diusung ke de-pan, waktu kedua kacung itu menyingkap tabir, keluarlah teorang lelaki setengah baya dengan wajah putih tapi berwibawa.

Lamkiong Peng dan Iain-lain sama heran, lungguh tak terduga gembong iblis yang disegani ini ternyata belum lanjut usia, bahkan tidak mirip orang kaugouw umumnya.

Begitu menampakkan diri, dengan suara lantang Swe Thian-bang berseru.

"Sungguh sayang waktu hidupnya belum sempat berjumpa dengan Liong-tai hiap, sesudah beliau wafat baru dapat aku berkunjung kemari. Adalah pantas jika sekarang kuberi peng-hormatan kepadanya."

La lantas memberi hormat kepada Layon Liong Po ti, lalu ia berseru.

"Put-si-sin-liong sudah mati teterusnya Cihau-san-ceng harus dicoret dari dunia persilatan, kukira setiap orang yang hadir di sini sependapat dengan-ku?"

Serentak terdengar anak buahnya bersorak setuju.

"Diam!"

Bentak Liong Hui dengan mdotot.

"Gihau-san-ceng bersejarah ratusan tahun dan merupakan bintang kejora di dunia persilatan Tionggoan, memangnya kaum lblis semacam kalian ini ingin mengaduk di depan kaum ksa-tria yang hadir di sini, jangan mimpi!"

"Hehe, kematian sudah di depan mata, masih berani bicara besar,"

Jenget Swe Thian-bang.

"Hm, anak murid Sin-Hong, memangnya takut digertak?"

Jawab Liong Hui tegas "Ayo siap, anak murid Ci-hau-san-ceng!"

Serentak terdengar suara gemuruh beratui orang di luar ruangan, berbareng berpuluh obor pun dinyalakan sehingga terang ben-derang.

"Huh, hanya ratusan orang saja juga berani pamer kekuatan padaku? Cukup sekali tanganku bergerak saja ratusan orang kalian akan menjadi setan!"

Ejek Swe Thian-bang. Baru lenyap suaranya, tiba-tiba dari luar ruangan seorang menanggapi.

"Haha. begus, bagus! Justru kawanan pengemis yang kelapar-an ini sudah bosan hidup, kebetulan jika ada yang pandai membuat orang menjadi setan!"

Dari luaranya yang serak itu tegera Lam-kiong Peng mengenalnya sebagai Ih Hong, tentu saja ia sangat girang.

"Haha bagus jika kalian minta menjadi setan daripada hidup selalu kurang makan!"

Seru Swe Thian-bang.

Segera ia pun memberi tanda hingga para pengiringnya lama siap tempur.

Melihat gelagatnya, jelas pertarungan se-ngit sukar lagi dihindarkan, diam diam ia gelisah karena sejauh ini rombongan ayah-bunda-nya belum kelihatan muncul, padahal tenaga mereka sangat diperlukan.

Dalam pada itu Liong Hui juga sudah memberi tanda, terdengar suara barisan pemanah memasang panah dan membentang busur di sekeliling ruangan.

Diam-diam Yim Hong-peng mendekati Swe Thian-bang dan mengisiki apa yang didengarnya di luar itu.

Tampak air muka Swe Thian-bang sedikit berubah, segera ia pun memberi pesan kepada Yim Hong-peng agar menempati posisi yang sudah dilentukan dan siap bertindak.

Selagi ketegangan memuncak dan segera akan terjadi banjir darah, tiba-tiba ada anak buah Kai-pang berseru di luar.

"Hong-tim-sam-hiap datang!"

Girang sekali Lamkiong Peng mendengar kedatangan rombongan ayahnya, Dilihatnya Swe Thian-bang juga tersenyum senang, Sejenak kemudian tertampak Lamkiong Siaog-ju dan istrinya serta Loh Ih-sian masuk ke ruangan, segera Swe Thian-bang menyapa "Memang sudah kuduga kalian akan tiba tepat pada waktunya, kenapa Bong-wan tidak kelihatan ikut datang?"

Lamkiong Sian-ju memberi hormat, jawabnya.

"Kami suami-istri perlu mengajak ber-sama Lamte sehingga agak terlambat datang, harap dimaafkan. Mengenai Siau-siansing, dia ternyatakan ada sedikit urusan lain dan segera akan menyusul tiba."

Swe Thian bang tampak heran dan sangsi, tapi tidak tanya lebih lanjut, katanya.

"Syu-kurlah Lamkiong-taihiap sudah datang, sesung-guhnya kuharapkan adanya persepakatan antara sesama orang persilatan dan tidak perlu menimbulkan sengketa berdarah. Untuk ini mungkin sekali Lamkiong-taihiap mempunyai gagasan sesuai dengan rencana kita semula?"

Lamkiong Siang-ju tersenyum, ucapnya.

"Kami berterima kasih atas penghargaan Swe siaming terhadapku, adapun urusan sekarang sedapatnya akan kuselesaikan secara damai."

Lalu ia berpaling, katanya kepada Lamkiong Peng yang berdiri tercengang disana .

"Anak Peng, coba maju sini!"

Meski ragu, namun Lamkiong Peng yakin sang ayah pasti mempunyai maksud tertentu maka pelahan ia mengisiki Liong Hui dan Iain-lain agnr siap tempur, lalu mendekat ke depan sang ayah, ucapnya.

"Anak mohon petunjuk ayah!"

Dengan kereng Lamkiong Siangju berkata* "Anak masih muda, seharusnya belajar dari pengalaman orang itu.

Bahwa Swe -siansing bermaksud mempersatukan dunia penilatan demi kesejahteraan kaum kita, kebijaksanaan yang luhur ini harus kita dukung.

Lekas memberi horssat kepada Swe-siansing dan beri pen-jelasan lebih lanjut kepada kawan dan saudara seperguruanmu yang lain, sebentar lagi Kita masih akan bermusyawarah lobih lanjut."

Mestinya Lamkiong Peng bermaktud menyatakan pendapatnya, tapi segera ia paham di balik ucapan tang ayah tentu mengandung makna lain, maka ia hanya mengiakan saja, ia memberi hormat sekadarnya kepada Swe Thian-bang, lalu mengundurkan diri ke dekat rom-bongan Yap Manjing, Tik Yang, Ih Loh dan Kwe Giok-he.

Tak terduga mendadak Liong Hui berteriak dengan meadelik.

"Nanti dulu! Paman Lamkiong adalah tokoh pujaanku, sungguh sayang engkau bisa mengemukakan gagasan seperti ini. Bagi anak murid Sin-liong, lebih baik gugur sebagai ratna daripada hidup mengekor krpada kaum durjana?"

"Liong hiantit, kenapa kaubicara ceperti ini,"

Kata Lamkiong Siang ju dengan kereng.

"Bahwa Cihau-lan-ceng kini berada di bavvah pimpinanmu, tapi apakah tidak kaupikirkan kepeutingan orang banyak dan lebih suka menjadi orang berdosa bagi dunia persilatan umumnya?"

"Paman Lamkiong."

Teriak Liong Hui.

"Swe Thian-bang manusia berhati binatang, biarpun kita berdamai dengan dia akhirnya pasti akan dicaploknya juga."

"Kurang ajar!"

Bentak Swe Thian bang dengan gusar.

"Antara Lamkiong-taihiap dengan pihak kami iudah ada persetujuan, dengan hak apa kauberani ikut bicara, bahkan menghasut, apakah kautahu apa hukunianriya bagi dosamu ini."

"Sabar dulu, Swe-siansing,"

Sela Lamkiong Siang-ju.

"Seorang pemimpin, bilamana ingin orang lain tunduk lahir batin hendaknya berlaku bijaksana. Tapi melihat tindak tanduk Swe siansing sekarang, aku menjadi sangsi apakah pergerakanmu akan berhasil."

Seketika berubah hebat air muka Swe Thian-bang, bentaknya.

'"Hah, kaupun berani bicara demikian, apakah tidak kaupikir-kan lagi keselamatanmu, tidakkah kautahu apa akibatnya pembangkanganmu ini, Siau Bong-wan tidak pemah bicara padamu?"

"Haha,"

Siang ju tertawa.

"Siau Bong-wan jangan kausinggung lagi, dia takkan datang lagi untuk selamanya. Semula kusangka Swe-Siansing pasti ada kelebihan daripada orang lain, siapa tahu engkau Cuma mengandalkan obat racun saja untuk mengelabui mata telinga orang, baru sekarang terlihat jelas ke pribadianmu yang sesungguhnya, sungguh menertawakan dan pantas dikasihani."

Merah padam muka Swe Thian-bang saking geramya, teriaknya.

"Memangnya kaukira tanpa obat takdapat kutaklukkan kalian?"

"Itu perlu dibuktikan dulu,"

Jawab Lamkiong Siang-ju.

"Baik,"

Jengek Swa Thian-bang. Lalu ia berteriak.

"Mana Su-tai kim kong (empat jago otama)."

Serentak terdengarYap Man-jing, Tik Yang, Ih Loh dan Kwe Giok-he mengiakan sambi!

melangkah ke depan Swe Thian-bang.

Dengan tatapan tajam Swe Thian-bang berseru, ' Su-taikim-kong terima perintah, segera penggal kepala Lamkiong Siang-ju dan begundalnya yang membangkang!"

Tik Yang berempat kelihatan kaku, serupa terpengaruh obat bius.

Terdengar mereka mengiakan dan membalik tubuh, serentak mereka melolos pedang.

Akan tetapi meadadak mereka membalik tubuh pula, empat pedang menutuk sekaligus, bukan Lamkiong Siang-ju yang diserang melainkan Swe Thian-bung sendiri.

Sudah tentu kejadian ini lama sekali tak terduga oleh Swe Thian-bang, tanpa ampun dada dan perutnya tertusuk keempat pedang.

Namun dia memang tokoh maha tangkas, sebelah kakinya masih sempat balas menendang dan tepat mengenai bawah perut Kwe Giok-he.

Kontan Giok-he menjerit dan roboh terguling.

Swe Thian-bang juga tidak tahan lagi, sambil meraung ia pun roboh terjungkal dengan tangan memegang dada dan perutnya yang mengucurkan darah.

Kiranya tadi waktu Lamkiong Peng disuruh berdamai dengan bekas sahabat dan saudara seperguruannya oleh sang ayah, kesempatan itu telah digunakan olehnya untuk memberi obat penawar racun kepada Tik Yang berempat.

Sesudah pikiran sehat mereka jemih kembali, diam-diam Tik Yang berempat merencanakan tindakan balasan terhadap Swe Thian bang, terutama Kwe Giok-he yang merasa telah tersesat dan malu terhadap suami dan para adik seperguruan, ia menyerang paling ganas dan akibatnya ia sendiri pun tewas kena tendangan Swe Thian-bang Kejadian tak terduga ini seketika membuat begundal Swe Thian-bang menjadi panik mereka bingung dan tidak tabu apa yang harus berbuat serupa ular tanpa kepala.

Segera, Lamkiong Peng beneru.

"Ayo ka-wan, sikat kawanan durjana ini!"

Serentak orang banyak benorak ramai dan menerjang maju.

Dengan sendirinya Yim Hong-peng dan kawannya tidak tingsal diam, mendadak ia menyebarkan kabut putih, hanya sekejap saja kabut tebal telah memenuhi seluruh ruangan.

Lamkiong Peng pemah melihat kabut berbisa ini kian tahu berhahayanya, cepat ia berteriak.

"Awas kabut beracun, tahan napas dan mundur keluar!"

Karena tebalnya kabut itu, Lamkiong Siang-ju suami-istri dan jago lain tidak sempat lagi menerjang begundal Swe Thian-bang.

Beramai mereka berusaha menyingkir.

Hanya sekejap saja anak buah Swe Thian-bang sudah terlindung di tengah kabut dan bermaksud kabur.

Dengan menyesal Lamkiong Peng berucap.

"Sungguh sayang, meski biang keladinya sudah binasa, namun antek-anteknya sempat lolos!"

Belum lenyap suaranya, sekonyong-konyong terdengar gelak tertawa orang, sesosok bayangan melayang tiba dari luar didahului oleh cahaya bunga api wama biru yang gemerlapan di tengah kabut tadi, menyusul pendatang itu lantas membentak.

"Kawanan tikus semuanya perlihatan diri!"

Baca Juga: Rahasia Bukit Iblis 2

Baca Juga: Pengelana Rimba Persilatan 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert