Eps 2 Bentrok Para Pendekar - Gu Long
Baca online Bentrok Para Pendekar - Gu Long
Cersil Bentrok Para Pendekar - Gu Long.
"Kunci ada di tangan Kongcu, kecuali dirinya siapa pun tak bisa membuka pintu!"
"Dimana dia?"
"Dia belum pulang,"
"Kok, belum pulang?"
"Karena menemani orang-orang itu mencari kalian. Tidak mungkin dia memberi tahu mereka bahwa dia yang menyuruh engkau masuk ke rumah ini."
"Sebetulnya apa maunya dia?"
"Dia suruh aku mengantar kalian pulang dulu."
"Pulang? Pulang ke rumah siapa?"
"Tentu rumah kita,"
Sahut Sim-sim cekikikan geli.
"Rumah kita?"
"Rumah Kongcu bukankah juga adalah rumah Hujin?"
"Cara bagaimana kita pulang?"
"Ya, naik kereta."
"Kau tak membuka pintu, cara bagaimana bisa naik kereta?"
"Lho, kita sekarang sudah di atas kereta."
"Jadi rumah ini sudah diangkat ke atas kereta?"
"Kereta besar yang ditarik delapan ekor kuda, cepat lagi kilat, dalam waktu tiga hari, kita akan tiba di rumah."
"Harus tiga hari naik kereta?"
"Paling tiga hari."
Mendadak Sim Bi-kun mengeluh lirih, tubuhnya mendadak melorot jatuh.
Kalau orang sudah kebelet, mana mungkin ditahan tiga hari, tapi apapun kalau dirinya harus buang air besar kecil bersama orang lain dalam satu ruang, berarti ingin menyiksa atau membunuhnya.
Saking tak tahan Hong Si-nio berteriak.
"Jadi kau akan mengurung kami berdua tiga hari lamanya?"
"Kurungan ini memang sempit tapi tidak jelek, kalau lapar akan kubuatkan makanan dan kuantar masuk, kalau dahaga juga kuantar minuman, di kereta ini kecuali air juga ada arak."
Bercahaya mata Hong Si-nio, serunya "Ada berapa banyak araknya?"
"Berapa yang kau minta?"
"Arak macam apa saja?"
"Arak apa yang kau minta?"
"Baik, berikan dua puluh kati Hoa-tiau."
Mabuk menghilangkan resah.
Ada kalanya mabuk malah lebih baik daripada sadar tapi runyam.
Dua puluh kati Hoa-tiau dimuat dalam enam bumbung bambu, diturunkan dari jendela kecil di bagian atas, diturunkan pula delapan jenis masakan.
Bentrok Para Pendekar 04 Karya Gu Long -Gan K.H.
Bagian 4 Bumbung bambu cukup besar, berisi tiga kati arak wangi.
Hong Si-nio mengangsurkan satu bumbung ke Sim Bik-kun.
"Mabuk menghilangkan resah, kalau tidak mabuk, entah bagaimana gejolak perasanmu selama tiga hari mendatang."
Sejenak bimbang, akhirnya Sim Bi-kun menerima bumbung arak itu.
"Habis satu bumbung arak ini, kau sudah mabuk belum."
"Ya, belum tahu,"
Sahut Sim Bik-kun.
"Kiranya kau juga biasa minum arak, sungguh tak kusangka."
"Sejak kecil nenek sering menyuruh aku menemaninya minum arak."
"Pernah mabuk?"
Sim Bik-kun memanggut.
"Aku yakin kau pernah mabuk, kalau sering bergaul dengan setan arak, tidak mabuk baru aneh."
Sim Bik-kun menunduk, hatinya seperti ditusuk jarum.
Dia pernah mabuk dua kali, karena kasmaran terhadap Siau Cap-it Long.
Lapat-lapat ia seperti mendengar dendang lagu yang penuh nada kepedihan, seperti mendengar denting suara cawan dipukul sumpit mengiringi dendang lagu itu.
"Siau Cap-it Long, di kala kau tak berada di sampingku, siapa di dunia ini yang dapat memahami derita dan kesepianmu?"
Mendadak Sim Bik-kun mengangkat bumbung, tiga kati arak sekaligus ditenggaknya habis.
Perempuan yang semula diagulkan sebagai gadis suci, mestinya tidak minum arak dengan cara demikian, tapi sekarang ...
peduli amat, peduli gadis suci?
Sepanjang hidupnya kini bukankah dirinya dibuat sengsara dan menderita gara-gara 'gadis suci', karena sebagai gadis suci yang harus menjadi contoh, sampai ia tidak berani mencintai atau membenci, dalam dua hal perasaan yang bertolak belakang inilah dirinya menjadi korban penasaran, kepada siapa ia harus membela diri?
Mengawasi Hong Si-nio, mendadak ia tertawa cekikikan.
"Eh, kau bukan gadis suci."
"Aku bukan, selama hidup aku tak sudi jadi gadis suci."
"Makanya hidupmu lebih riang dibanding aku."
"Hidupku memang jauh lebih riang dibanding kebanyakan orang."
Mulut bicara pikiran justru bertanya pada diri sendiri.
"Benarkah hidupku lebih riang dari orang lain?"
Ia tenggak habis arak satu bumbung. Seorang bisa tidak hidup riang gembira, bukan ditentukan oleh apakah ia adalah 'gadis suci'.
"Seorang kalau bisa hidup riang, pandangan terbuka, pasti hidupnya lebih ringan."
"Jika kau adalah aku,"
Demikian kata Sim Bik-kun.
"pikiranmu bisa terbuka?"
"Aku ...."
Hong Si-nio tak mampu menjawab.
Sim Bik-kun cekikikan geli, tawa yang rawan, tawa kecut, tawa pahit, lebih kecut daripada air mata.
Tapi dia masih terus tertawa dan tertawa.
Tiba-tiba Hong Si-nio bertanya.
"Kalau kali ini kau bisa bertemu Siau Cap-it Long, bisa tidak kau tinggalkan seluruhnya dan menikah dengan dia?"
Dalam keadaan biasa yakin Hong Si-nio tak berani bertanya, tapi sekarang, entah hasrat apa yang mendorong ia mengajukan pertanyaan itu. Sim Bik-kun masih tertawa, tawa cekikikan.
"Tentu aku akan menikah dengannya, kenapa aku tidak bisa menikah dengan dia? Dia mencintai aku, aku juga mencintai dia, kenapa kami tidak boleh hidup berdampingan sepanjang hidup?"
Mendadak tawanya berubah menjadi isak tangis yang memilukan, akhirnya sulit dibedakan ia menangis atau tertawa.
Kalau kali ini bertemu Siau Cap-it Long, apa benar dia bakal menikah dengannya?
Kalau tidak bakal menikah, buat apa mencarinya?
Kalau sudah bertemu memangnya kenapa?
Bukankah bakal menambah derita?
Sim Bik-kun menarik napas panjang, sepanjang hidup manusia sering kali terjadi apa boleh buat, tapi kalau kau ingin terus memikirkan persoalan itu, gundah gulana akan selalu menjadi beban kehidupanmu.
Daripada bertemu lebih baik tidak bertemu, memangnya mau apa setelah bertemu?
Bagaimana kalau tidak bertemu?
"Hihi, kau mabuk,"
Hong Si-nio menertawainya.
"Ya, aku mabuk,"
Lirih suara Sim Bik-kun.
Betul mabuk, malah cepat mabuk.
Seorang kalau ingin mabuk, begitu minum arak, tidak perlu banyak, lekas ia akan mabuk, sebab kalau tidak mabuk, tak mungkin berpura-pura mabuk.
Lucunya, seorang kalau selalu ingin mabuk setelah banyak minum, ia sendiri sukar membedakan apakah dirinya betul mabuk apa pura-pura mabuk.
Hong Si-nio menggeliat, lalu duduk di lantai.
"Aku tidak mencintai Nyo Khay-thay. Sebab dia terlalu jujur, pikirannya lapang tidak punya inisiatip."
"Aku tahu."
"Hoa Ji-giok justru tidak jujur, akalnya banyak dan licik."
"Kalau dia lelaki tulen, mau kau menikah dengan dia?"
"Tidak akan."
Kini seperti mendadak sadar, kalau benar dia mencintai seorang lelaki, umpama lelaki lain jauh lebih unggul, ia berjanji akan sepenuh hati mencintai pujaan hatinya itu.
Cinta memang sesuatu yang aneh, tidak bisa dipaksa juga tidak bisa pura-pura.
Mendadak Sim Bik-kun bertanya.
"Bukankah engkau juga ingin menikah dengan Siau Cap-it Long?"
"Kau keliru,"
Sahut Hong Si-nio.
"umpama seluruh lelaki di dunia ini mampus seluruhnya, aku tidak akan kawin dengan dia."
"Ah, kenapa?"
"Sebab yang dia cintai engkau bukan aku."
Mimiknya seperti tertawa, tapi tawa pilu.
"Maka kau terhitung tandinganku, lawan yang harus kubunuh."
Sim Bik-kun tertawa berderai.
Mereka cekakak-cekikik sambil terus minum, akhirnya mereka sendiri tidak tahu apa saja yang telah mereka lakukan, isi hati apa saja yang telah dilimpahkan.
Samar-samar mereka seperti melihai Siau Cap-it Long menampakkan diri, kejap lain berubah menjadi Lian Shia-pik, terakhir malah berubah jadi Nyo Khay-thay.
Dari ribuan Siau Cap-it Long berganti ribuan Lian Shia-pik, lalu berubah jadi Nyo Khay-thay.
Paling akhir berubah lagi menjadi Hoa Ji-giok.
Dengan tersenyum lebar Hoa Ji-giok berdiri di hadapan mereka, tawa nan manis lembut lagi mempesona.
Hong Si-nio meronta ingin berdiri, tapi kepala pusing dan sakit sekali, mulut juga kering getir.
"Hari ini kalian betul-betul mabuk,"
Kata Hoa Ji-giok kalem.
"sudah tiga hari tiga malam."
Hong Si-nio sungguh tidak tahu bagaimana keadaan mereka berdua selama tiga hari tiga malam ini. Tapi tidak tahu lebih baik daripada tahu? "Untung kalian sudah berada di rumah dengan selamat,"
Kata Hoa Ji-giok. Tak tahan Hong Si-nio bertanya.
"Rumah siapa?"
"Tentu rumah kita?"
Senyumnya makin manis.
"jangan lupa di hadapan orang banyak kau sudah menyatakan bahwa kau adalah biniku, menyangkal juga percuma."
"Aku hanya ingin bertanya, kenapa kau suruh aku menipu Sim Bik-kun dan menculiknya kemari?"
"Sebab dua tua bangkotan itu sukar dilayani. Dengan cara itu baru bisa kuundang dia kemari."
"Apa yang akan kau lakukan padanya?"
"Coba kau terka."
"Kau juga ingin mengambilnya jadi istrimu."
"Kau sendiri perempuan, buat apa punya bini banyak?"
"Aku perempuan?"
Hoa Ji-giok tertawa dengan mata terbelalak.
"siapa bilang aku perempuan?"
Hong Si-nio berjingkat.
"Memangnya bukan?"
"Jelas bukan, kalau ada orang bilang aku ini perempuan, pasti orang gila?"
Memang hampir gila Hong Si-nio dibuatnya, tak tahan ia berteriak.
"Memangnya kau ini laki atau perempuan?"
Dengan senyum di kulum mendadak Hoa Ji-giok membuka baju.
"Kau bisa membedakan bukan."
Hoa Ji-giok adalah laki-laki tulen, anak kecil juga pasti bilang dia adalah laki-laki. Hati Hong Si-nio seperti dibenamkan dalam lumpur.
"Tempo hari pada detik-detik yang menentukan itu aku surut dan mundur teratur, tujuanku adalah supaya kau percaya bahwa aku adalah perempuan. Kalau kau beranggapan aku bukan perempuan, dalam kondisi seperti itu, pasti kesempatan tidak kau abaikan."
Gemeratak gigi Hong Si-nio.
"Kau bukan perempuan, juga bukan manusia."
Tawa Hoa Ji-giok makin riang.
"Karena kau percaya aku ini wanita, maka kau mau membantu aku membawa Sim Bik-kun ke tempatku ini."
Sim Bik-kun tidak memberi reaksi, kondisinya memang sudah kaku.
"Tapi kali ini pasti takkan kubuang percuma kesempatanku."
"Aku sudah menyerah menjadi binimu, apalagi yang akan kau lakukan padaku?"
"Usiamu memang sedikit tua, tapi ada bagian-bagian tertentu punyamu masih lebih menyenangkan dibanding nona cilik."
Mata-nya menjelajah tempat-tempat tertentu di badan Hong Si-nio, sorot matanya seperti menikmati tubuh Hong Si-nio yang sudah telanjang. Hoa Ji-giok tertawa lebar.
"Kini aku sudah punya bini secantik bunga seputih batu giok, ditambah lagi nona cantik nomor satu di Bulim jadi gundikku, sungguh besar rezekiku."
Sorot matanya beralih ke tubuh Sim Bikkun. Mimik Sim Bik-kun kaku dingin, tanpa perubahan.
"Huh, jangan harap."
"Jangan harap maksudmu?"
"Berani kau menyentuh tubuhku, biar aku mati di depanmu."
"Di hadapanku kau tidak mungkin mati."
"Kalau begitu biar kau saja yang mampus."
Begitu ucapannya berakhir, dibarengi ulapan tangan, segenggam jarum emas melesat terbang.
Jarum emas keluarga Sim pernah menggetarkan kaum persilatan, diakui sebagai salah satu dari delapan senjata rahasia paling lihai di Bulim.
Bukan saja gaya serangan jarum ini berbeda, gerakan serangan dan hasilnya berakibat fatal bagi sang korban, begitu menyusup dalam tubuh, langsung mengalir mengikuti peredaran darah.
Hanya setengah jam, jarum menusuk jantung, malaikat atau dewa juga takkan bisa menolong.
Sayang sebagai gadis suci, cara turun tangan Sim Bik-kun tidak boleh keji, kepandaian menyambit jarum warisan keluarga paling hanya terhitung 'lempar' saja, tidak ganas juga kurang cepat.
Menyerang dengan senjata rahasia kalau tidak tega, apalagi lambat, betapapun hebat rahasia senjata itu, di tanganmu menjadi barang mainan belaka.
Sambil tertawa lebar, Hoa Ji-giok hanya membalik badan seenaknya, taburan jarum yang lebat itu lenyap seketika, jelas dia juga adalah tokoh lihai dalam permainan senjata rahasia, dibanding kemampuan Sim Bikkun tadi bedanya jauh sekali.
Hong Si-nio menggereget gemas.
"Dia bukan manusia, kita takkan mampu menghadapinya."
"Aku menyukaimu, bukan lantaran kau pintar, tapi juga karena tahu diri, sebab tidak banyak perempuan tahu diri yang bisa kumiliki."
"Apa benar kau menyukai aku?"
"Tentu betul."
"Kenapa masih mencari perempuan lain lagi? Kau tidak kuatir aku cemburu?"
"Perempuan cemburuan aku tidak suka."
"Umpama sekarang kau tidak menyukai aku juga sudah terlambat."
"Lho?"
"Baru saja menikah, kau sudah serong dengan perempuan lain, kelak apa tidak lebih ganas?"
"Maksudmu aku harus membebaskan dia?"
Hong Si-nio memanggut.
"Asal kau tidak menyentuh perempuan lain, aku rela menjadi binimu, atau ...."
"Atau bagaimana?"
"Atau ... akan kuberikan hajaran setimpal, kau takut?"
"Tidak takut."
"Tidak takut aku melabrakmu?"
"Aku sudah biasa dilabrak orang, dilabrak bini sendiri kan malah mesra."
Bicara sampai di sini, air mukanya mendadak berubah amat aneh, seperti murka juga amat menderita. Mengawasi perubahan aneh itu, Hong Si-nio jadi tidak tega.
"Siapa orang terakhir yang melabrakmu?"
Hoa Ji-giok menggenggam jari-jarinya.
"Siapa lagi, Siau Cap-it Long."
V. DIMANA SIAU CAP-IT LONG? Siau Cap-it Long, lagi-lagi Siau Cap-it Long. Semua persoalan buruk di dunia, sepertinya diborong olehnya. Hoa Ji-giok mendesis penuh dendam.
"Karena dia merebut pujaanku, maka aku juga merebut pujaannya."
"Dia merebut pujaanmu? Siapa?"
"Dia merebut Pin-pinku."
"Siapa Pin-pin itu?"
"Pin-pin adalah adik misanku, juga adalah calon istriku."
Kelihatan betapa gusar hatinya.
"Mentang-mentang ilmu silatnya lebih tinggi dibanding aku, Siau Cap-it Long merebut dan membawa adik misanku, orang lain melirik saja juga dilarang olehnya."
"O, jadi karena melirik padanya, dua biji mata Cia Thian-ciok dibikin buta, begitu?"
Hoa Ji-giok mengangguk, suaranya dingin.
"Kalau kalian menganggap dia baik, kalian bisa menyesal. Terhadap Pin-pin dia benar-benar baik, demi Pin-pin perbuatan apa saja bisa dia lakukan, Pin-pin menyuruh dia mencolok buta mata orang, tidak pernah ia membangkang."
"Aku tidak percaya,"
Teriak Hong Si-nio.
"Sepatah kata pun aku tidak percaya."
"Tidak percaya? Atau tidak berani percaya?"
"Mampus pun aku tidak percaya,"
Seru Hong Si-nio. Hoa Ji-giok menghela napas.
"Sepertinya kau ini tergiia-gila terus padanya."
"Dahulu aku juga pernah memfitnah, tapi sekarang aku sudah tahu, Siau Cap-it Long pasti dan yakin bukan orang macam itu, pasti takkan melakukan perbuatan seperti itu."
"Dahulu mungkin dia bukan orang macam itu, tiap orang bisa berubah kapan saja."
"Apapun yang kau katakan, apapun alasannya, aku tetap tidak percaya."
Berkilat bola mata Hoa Ji-giok.
"Kalau aku bisa membuktikan, bagaimana?"
Sim Bik-kun mengertak gigi.
"Kalau ada bukti dan nyata, apa pun kehendakmu terserah."
"Kalau aku bisa membuktikan, kau mau menikah denganku?"
Desak Hoa Ji-giok.
"Sudah kubilang, apapun kehendakmu, terserah."
"Janjimu bisa ditepati tidak?"
"Aku memang wanita, namun tidak pernah bohong tidak pernah ingkar janji."
"Bagus, aku percaya padamu."
Kata Hoa Ji-giok sambil bertepuk tangan.
"Cara bagaimana kau akan memberi bukti kepadanya,"
Desak Hong Si-nio.
"Akan kubawa dia pergi melihat Siau Cap-it Long dan Pin-pin."
"Melihat dimana?"
"Tay-hing-lau."
"Tay-hing-lau dimana?"
"Tempat untuk menghamburkan uang."
"Siau Cap-it Long ada di sana?"
"Beberapa hari ini aku yakin dia ada di sekitar Koh-soh, kalau sudah berada di sekitar sana, pasti pergi ke Tay-hing-lau."
"Masa begitu?"
"Sebab sekarang dia seorang kaya. Kalau tidak mengajak cewek pujaannya ke Tay-hing-lau mencari hiburan, sia-sia dia berada di wilayah Soh-ciu ini."
"Maksudmu kau juga akan membawa kami ke tempat itu?"
"Tapi kalian harus berjanji satu hal kepadaku."
"Coba jelaskan."
"Mata kalian boleh melotot mengawasi, tapi mulut tidak boleh bicara. Harus tutup mulut."
"Kenapa?"
"Sebab sekali kalian membuka mulut, segala pemandangan akan lenyap."
"Baik, aku terima syaratmu."
"Kau bisa terus tutup mulut tanpa bersuara?"
"Kau anggap aku ini wanita macam apa? Wanita cerewet?"
Hong Si-nio menjengek. Hoa Ji-giok tertawa geli.
"Kau bukan perempuan cerewet, tapi aku tidak percaya saat itu kau bisa menepati janji."
Hong Si-nio berjingkrak berdiri.
"Kalau bini sendiri tidak dipercaya, siapa yang kau percaya?"
Hoa Ji-giok menyeringai.
"Seorang lelaki kalau terlalu percaya bini, maka dia lelaki goblok. Nyo Khay-thay adalah bukti lelaki goblok itu. Kalau dia cerdik, mana bisa kau minggat dari kamar pengantinnya?"
Hong Si-nio menghela napas.
"Dia bukan orang goblok, dialah laki-laki sejati."
"Tapi aku bukan laki-laki goblok juga bukan laki-laki sejati."
"Jadi kau sudah memutuskan untuk tidak percaya padaku?"
Hoa Ji-giok berpaling ke arah Sim Bik-kun.
"Aku malah mempercayai dia, aku tahu dialah perempuan jujur tidak suka bertingkah."
"Maksudmu aku tidak jujur lagi suka bertingkah?"
"Dalam rumah ini orang jujur kurasa hanya dia seorang."
"Lalu apa keputusanmu, mau menjahit bibirku?"
"Menjahit bibirmu juga tak berguna, siapa tahu kau bakal bandel."
"Kau... apa langkahmu?"
"Akan kupikir caranya,"
Ujar Hoa Ji-giok dengan tersenyum penuh arti.
Kalau ingin perempuan seperti Hong Si-nio duduk diam, tidak banyak tingkah, memang harus diatasi dengan suatu cara yang luar biasa.
Dan sekarang Hong Si-nio sudah duduk diam, tidak banyak tingkah, sebab dia tidak bisa bergerak.
Hiat-to di sekujur badannya pada titik kontrol gerak-gerik kaki tangan sudah ditutuk, dikendalikan.
Mukanya ditutup kain merah, bentuk sanggul kepalanya juga diubah, malah mulutnya dijejal buah apel.
Cara ini bukan yang paling pintar, tapi paling berhasil.
Muka Sim Bik-kun juga ditutupi kain hitam.
Koh-soh terhitung kota yang masih mengukuhi adat lama, gadis atau nona-nona muda yang beraktivitas di luar rumah, semua pasti menutup muka dengan sari hitam atau jenis lain yang dirasa pantas.
Maka kehadiran mereka yang luar biasa itupun tidak menarik perhatian khalayak sekitarnya.
Dandanan mereka cukup perlente, pakaian dari bahan mahal, hiasan menghias sanggul kepala.
Sebab tempat ini memang sering dikunjungi para cukong yang berkantong tebal.
Awalnya tempat ini dinamakan Bok-tan-lau, namun sudah menjadi kebiasaan di sini, tiada Bok-tan, cari Tayhing pasti banyak.
Maka Bok-tan-lau berubah menjadi Tay-hing-lau.
Kini saatnya magrib.
Magrib umumnya adalah waktu yang tepat untuk menghamburkan uang, waktu yang paling pas untuk mengadu nasib dengan uang.
Mau menghamburkan uang di sinilah tempatnya, minum secangkir teh, kau harus merogoh kocek delapan tahil perak.
Benda atau barang apa saja yang dijual di sini, harganya sepuluh kali lebih mahal, celakanya tiada sesuatu yang istimewa di tempat ini.
Bunga Bok-tan sudah layu, di antara pot-pot bunga di luar loteng tertata rapi beberapa pot kembang seruni.
Bunga seruni sedang mekar semarak, warna-warni berbeda pula, tiap kuntum kembang yang enak dipandang.
Belasan meja di atas loteng, hampir penuh.
Tiap lelaki yang keluyuran di sini tentu bermuka riang, cerah, pakaian juga serba mewah dan mahal, ratarata naik kuda, ada juga yang naik kereta, menyoreng pedang di pinggang, sarung pedang dihiasi mutiara dan jamrud, beberapa di antaranya datang dengan menggoyang kipas bergambar, lukisan kipas digambar oleh tangan ahli, pelukis terkenal.
Para wanita yang berbaur di sini semua berdandan ayu, ke tempat ini bukan untuk makan, tapi untuk pamer kecantikan dan perhiasan.
Hong Si-nio bersama Sim Bik-kun duduk di pojok dekat jendela.
Hoa-ji-giok berpakaian hijau dengan topi kecil menutup kepala, dengan laku sopan berdiri di belakang mereka, menyamar jadi pelayan yang melayani sang nyonya dan gadisnya yang lagi pesiar.
Wanita yang datang ke tempat ini tidak wajib ditemani suami, gendak atau lelaki siapa saja.
Di Kangouw tidak sedikit orang kaya dari jenis wanita, di antaranya malah ada yang ingin memancing ikan.
Lelaki yang ada di Tay-hing-lau, semua adalah ikan kakap, ikan besar.
Ikan yang paling besar sekarang sedang duduk di depan mereka.
Umur lelaki ini sekitar empat-lima puluhan, memelihara jenggot kambing, mukanya bundar, kulitnya putih, putih susu, sepasang tangannya terawat amat baik, lebih baik dibanding jari-jari tangan gadis pingitan, jari tengah kanan kiri mengenakan cincin bermata kucing sebesar kelengkeng.
Perempuan yang mendampingi jelas adalah perempuan cantik, cantik menggiurkan, usianya paling enam belas, sepasang bola matanya indah, jelalatan mirip mata anak kecil yang rakus melihat banyak hidangan, mulutnya mungil bersungut, sebelum tertawa sering hidungnya bersungut-sungut, begitu aleman lagi genit.
Memang perempuan jenis inilah yang paling disukai lelaki setengah umur itu.
Semua lelaki yang ada di sekitar situ pasti melirik diam-diam, melirik sepasang anting yang menghias kupingnya, anting jade hijau pupus berbentuk amat indah.
Di wilayah Koh-soh sukar didapat anting yang sama.
Di belakang mereka selain gadis cilik pelayan dan kacung muda, dua lelaki menyoreng pedang berpakaian hitam bersiaga.
Kemana pun Liu-soh-ciu pergi pasti diikuti dua pengawal.
Empat pengawal Liu-soh-ciu jelas bukan tokoh silat kelas kambing.
Lelaki yang menyoreng pedang di sebelah kanan bernama Ko Kang dijuluki Tui-hong-kiam.
Tidak sedikit tokoh silat di Kangouw dijuluki Tui-hong-kiam.
Orang yang punya julukan, kepandaiannya tentu bukan mainmain.
Tapi tiap kali memandang dua orang yang duduk di meja seberang sana, sikap mereka kelihatan hormat.
Ilmu silat Ko Kang lihai dan cepat, terhitung tokoh Kangouw kawakan, ia kenal kedua orang itu.
'Pek-tiong-siang-hiap', murid terkenal dari perguruan ternama, beberapa peristiwa besar pernah mereka lakukan, mendapat acungan jempol dan pujian dari kaum persilatan.
Terutama Ji-hiap Auyang Bun-tiong, dia memperoleh warisan keluarga yang telah lama putus turunan, senjatanya adalah Cu-bo-le-hun-thoh.
Seperti diketahui, keluarga Auyang turun temurun adalah keluarga persilatan yang kaya raya, salah satu dari tiga keluarga persilatan yang disegani kaum persilatan.
Kedua saudara kakak beradik itu jelas juga adalah termasuk kaum Tay-hing.
Bagaimana dengan Siau Cap-it Long?
Siau Cap-it Long tidak terlihat bayangannya.
Sudah dua hari mereka nenunggu di sini, tiada berita juga bayangan Siau Cap-it Long muncul.
"Bila dia berada di sekitar Koh-soh, pasti datang."
"Bagaimana tahu kalau dia berada di sekitar Koh-soh?"
Hong Si-nio sudah malas menduga-duga, apalagi menunggu lebih lama, sungguh tak tahan lagi.
Tapi pada waktu itulah tiba-tiba Siau Cap-it Long menampakkan diri.
Begitulah kalau menunggu orang, makin ditunggu makin gelisah, makin lama setelah tidak betah dan ingin pergi, tahu-tahu orangnya datang.
Sebuah kereta serba baru warna hitam gelap ditarik delapan ekor kuda tahu-tahu berhenti di luar pintu.
Hong Si-nio yang sudah malang melintang di Kangouw, belum pernah melihat kereta segede semegah dan angker seperti kereta hitam ini.
Siau Cap-it Long datang naik kereta itu, malah bukan sendirian.
Selain dua anak laki-Iaki, empat genduk cilik dan kusir kereta yang semua berdandan rapi, ditemani pula seorang gadis rupawan yang berpakaian serba putih, rambutnya tampak hitam mengkilap.
"Dia inilah Pin-pin."
Dipandang dari loteng, wajah Pin-pin tidak terlihat jelas, yang terlihat hanya gelung rambutnya yang indah serta taburan mutiara yang besar sebagai hiasan sanggulnya.
Siau Cap-it Long melangkah dulu di depan, dengan sebelah tangannya sang nona memeluk lengan Siau Cap-it Long dan beranjak perlahan.
Mereka sudah turun dari kereta, melangkah ke pintu, dilihat dari atas wajahnya tidak terlihat jelas.
Betulkah dia itu Siau Cap-it Long?
Hong Si-nio dan Sim Bik-kun seperti berlomba membelalakkan bola mata, terasa detak jantung tiga kali lipat lebih kencang, dengus napas yang ditahan seperti akan putus saja.
Betapa besar keinginan mereka melihat Siau Cap-it Long, sekarang mereka malah berharap laki-Iaki itu bukan Siau Cap-it Long.
Derap kaki sudah berkumandang menaiki tangga loteng, jantung terasa berdegup lebih keras.
Mendadak mereka menahan napas, kini mereka sudah melihat sepasang matanya, benderang seperti cahaya bintang kejora yang memancar terang di malam musim rontok.
Ternyata orang itu betul adalah Siau Cap-it Long.
Siau Cap-it Long sudah datang.
Dalam hidup Siau Cap-it Long tidak mengutamakan pakaian, ada kalanya kaos saja tidak dipakai.
Tapi baju yang dipakai hari ini, seluruhnya dari bahan paling mahal, buatan tailor terkenal dengan mode terbaru, cocok pas dengan potongan badan, bajunya serba hitam, sehitam biji matanya yang bersinar terang.
Baju sutra yang lembut mengencang di tubuh, dengan perawakan tubuh yang gagah, tinggi tegap, pundaknya tidak begitu lebar, kaki juga tidak lencir panjang, di pinggang melilit sabuk kulit warna hitam pula, menyoreng miring sebatang golok.
Golok pendek yang bentuknya ganjil lagi aneh, sarung pedang mengkilap seperti terbuat dari emas, di tengahnya dihiasi tiga butir mutiara hitam, mutiara yang jarang dimiliki manusia umumnya.
Betapa tidak menyolok pandang orang-orang yang melihatnya.
Kecuali sebilah golok, tubuhnya tiada mengenakan perhiasan apa-apa, namun makin dipandang, orang merasa keagungan sikapnya yang menonjol.
Ternyata Siau Cap-it Long sekarang pandai memilih baju.
Sebetulnya Siau Cap-it Long adalah seorang laki-Iaki yang tidak suka berdandan, apalagi berhias, pernah beberapa hari ia tidak mandi, tidak mencukur jenggot dan kumis, tapi hari ini mukanya kelihatan kelimis, kuku jari juga digunting rapi, rambut juga disisir rapi, baju dan celananya halus rapi.
Hong Si-nio mengawasi dengan rasa kejut, kalau mulutnya tidak disumbat, dan Hiatonya tidak ditutuk, pasti tak tahan sudah berteriak keras, sungguh sukar dipercaya bahwa lelaki ini adalah orang yang dikenalnya sejak lama yaitu Siau Cap-it Long, kenapa kelihatannya lebih tua.
Kecuali golok di pinggang, Pin-pin merupakan hiasan tambahan yang menyolok juga, cewek ini masih sangat muda, sayang kulit badannya memutih pucat.
Sorot matanya mirip pandangan bocah jenaka yang masih murni dan polos, terbayang juga rona memelas.
Gadis belia di samping Liu-soh-ciu boleh terhitung nona cantik yang jarang ada bandingan, kalau dibanding dengan Pin-pin, bedanya amat menyolok.
Terasa oleh Hong Si-nio jenis kecantikan nona belia ini rada mirip kecantikan Sim Bik-kun, kalau Sim Bikkun lebih matang, nona ini lebih muda, lebih lemah.
Tidak setenang, lemah lembut seperti Sim Bik-kun.
Begitu nona belia berada dalam rumah, hadirin merasa nona muda ini amat angkuh dan congkak, kecuali Siau Cap-it Long, tiada manusia lain yang pantas dilirik, apalagi dipandang olehnya, umpama ada orang mampus di hadapannya, ia juga enggan melihatnya.
"Inilah Pin-pin."
Perasaan Sim Bik-kun seperti makin tenggelam "Demi Pin-pin, dia rela melakukan apa saja keinginannya, kalau Pin-pin ingin dia mengorek bola mata sendiri, tanpa sangsi akan ia lakukan."
Kaki tangan dingin, badan Sim Bik-kun juga basah oleh keringat dingin. Kini ia harus mengakui, Pin-pin adalah wanita yang membuat laki-laki mana pun rela berkorban baginya.
"Pin-pin setimpal jadi pasangan Siau Cap-it Long, dia masih muda belia, belum pernah menikah, pasangan yang tidak akan membuat Siau Cap-it Long kesal, risau dan salah."
Sim Bik-kun merasa sekujur badan dingin, tapi tidak kedinginan, mendadak ia sadar, mestinya ia tidak berada di tempat ini.
Siau Cap-it Long tidak boleh melihat dan tahu ia berada disini, ia tidak ingin membawa petaka, membuatnya ragu, membuatnya serba salah.
"Tanpa aku, mungkin hidupnya akan lebih bahagia,"
Demikian batinnya, dengan kencang ia menggigit bibir, tanpa terasa air mata membasahi pipi.
Siau Cap-it Long tahu orang banyak sedang mengawasi dirinya, mengawasi pakaiannya, goloknya dan cewek yang menggelendot di badannya.
Dia tidak peduli, biasanya ia segan diawasi orang, sekarang ia telah berubah, kelihatan ia puas malah, Siau Cap-it Long sudah berubah menjadi laki-laki yang suka pamer kekayaan seperti Liu-soh-ciu.
Dengan memeluk lengan Siau Cap-it Long, dengan badan ia menggelendot di tubuh orang, sedikitpun Pinpin tidak merasa ragu, malu atau sebaliknya memperlihatkan kemesraan.
Senyum manis khusus untuk Siau Cap-it Long saja, senyum mekar dan bangga.
Sebab seluruh perhatian hadirin di Bok-tan-lau kini sudah menjadi miliknya.
Mereka naik ke atas loteng, di belakang mengikut serombongan orang, mirip raja yang menggandeng permaisuri memasuki istana.
Pemilik rumah makan membuka jalan, sikapnya munduk-munduk dan tutur katanya menjilat.
"Di sana ada meja di pinggir jendela, tuan-tuan silakan duduk, segera kami suruh menyuguhkan teh panas."
Siau Cap-it Long mengangguk, hakikatnya ia tidak memperhatikan omongan orang, juga tak peduli semua orang yang hadir di loteng.
Seolah-olah ia hadir di dunia lain, dunia yang tidak perlu memperhatikan kepentingan orang lain.
Waktu lewat depan meja Liu-soh-ciu, mendadak Pin-pin berhenti, matanya mengawasi anting batu jade.
Gadis yang mengenakan anting itu tersenyum, syukur ia masih memiliki benda yang harus dibanggakan di depan nona lain.
Masih memeluk lengan Siau Cap-it Long, mendadak Pin-pin berkata.
"Menurutmu, bagaimana sepasang anting ini?"
Pandangan Siau Cap-it Long tetap ke depan, kepala juga tidak menoleh, tapi ia mengangguk.
"Kelihatannya bagus juga."
"Aku suka warnanya,"
Kata Pin-pin.
"Kau suka?"
Siau Cap-it Long menegas.
"Sangat suka, entah Cici ini sudi mengalah padaku tidak?"
"Pasti boleh,"
Ujar Siau Cap-it Long kalem. Muka Liu-soh-ciu berubah.
"Aku tahu dia tidak rela,"
Sanggahnya. Siau Cap-it Long tertawa, tawa yang sama, sikapnya masih bermalas-malasan, nadanya menyindir.
"Kau tahu kemauannya?"
"Sudah tentu tahu, sebab sepasang anting ini milikku."
"Kan sudah kau berikan padanya."
"Dia juga sudah jadi milikku."
"Omonganmu tidak kuatir membuatnya sedih?"
Liu-soh-ciu menarik muka, suaranya dingin.
"Sudah kubilang, dirinya juga milikku."
Nona itu menundukkan kepala, sorot matanya mulai mengunjuk rasa kuatir dan takut. Baru sekarang Siau Cap-it Long mengawasinya sekilas, tawanya tawar.
"Kau istrinya?"
Nona itu menggeleng.
"Putrinya?"
Nona itu menggeleng pula.
"Lalu kenapa dia bilang kau miliknya?"
Liu-soh-ciu berjingkrak, suaranya keras.
"Sebab aku sudah membelinya."
"Berapa duit kau membelinya?"
"Kau tidak perlu tahu!"
"Kalau aku ingin tahu?"
Liu-soh-ciu menggebrak meja, dampratnya gusar.
"Kau ini barang apa? Berani kurang ajar di depanku."
"Aku bukan barang, aku manusia."
Saking gusarnya, Liu-soh-ciu membesi kaku.
"Ko Kang,"
Serunya keras. Tangan Ko Kang menggenggam gagang pedang, hanya sedikit bergerak, mendadak menghadang di depan Siau Cap-it Long.
"Aku sebal melihat orang ini, suruh dia pergi!"
Dingin sorot mata Ko Kang.
"Dia bilang sebal melihatmu, kau sudah dengar?"
"Mendengar dengan jelas,"
Sahut Siau Cap-it Long.
"Tidak lekas kau menyingkir?"
"Aku suka di sini."
Ko Kang menyeringai.
"Jadi kau senang rebah di sini?"
"Kau ingin membuatku rebah di sini?"
"Betul."
Mendadak pedang tercabut, sinar gemerdep menusuk dada Siau Cap-it Long.
Sinar pedang bagai kilat, kecepatan Tui-hong-kiam memang hebat.
Yang hadir sudah ada yang menjerit, tusukan itu jelas akan amblas di dada Siau Cap-it Long.
Yang diserang tetap diam saja, hanya mengulur sebelah tangan menjentik di ujung pedang orang.
"Ting", pedang itu mendadak patah sepanjang delapan senti.
"Tring", suara potongan pedang jatuh di lantai. Berubah air muka Ko Kang, teriaknya.
"Kau ... kau siapa?"
"Aku she Siau,"
Sahut Siau Cap-it Long.
"Siau... Siau apa?"
"Siau Cap-it Long."
Nama besar itu bagai sebuah palu godam menghantam kepala Ko Kang. Dengan mata terbelalak ia mengawasi orang di depannya, dari kepala turun mengawasi golok di pinggang orang.
"Kaukah Siau Cap-it Long?"
"Ya, tulen bukan palsu."
Selebar muka Ko Kang basah oleh keringat, mendadak ia membalik.
"Dia bilang dia suka tinggal di sini."
Muka Liu-soh-ciu juga pucat pias.
"Aku sudah mendengar."
"Dialah Siau Cap-it Long."
"Aku tahu,"
Sahut Liu-soh-ciu. Tentu ia pernah mendengar nama kebesaran Siau Cap-it Long. Ko Kang berkata.
"Siau Cap-it Long berkata kalau dia ingin tetap di sini, maka tiada seorang pun berani menyuruhnya pergi."
Tangan Liu-soh-ciu saling genggam, wajahnya membesi.
"Kalau dia tidak mau pergi, kau saja yang pergi!"
Bilang pergi ya pergi, tanpa menoleh ia hengkang dari tempat itu.
Umpama nilai harga yang dijanjikan Liusoh-ciu cukup tinggi, jelas takkan lebih berharga dibanding kepala sendiri.
Apalagi disuruh pergi oleh Siau Cap-it Long, rasanya juga tidak terlalu memalukan.
Mengawasi orang turun dari tangga, Liu-soh-ciu menghela napas, tawanya dipaksakan.
"Sungguh aku tidak tahu tuan adalah Siau Cap-it Long."
"Sekarang kau sudah tahu?"
Tawar suara Siau Cap-it Long.
"Kau benar menyukai sepasang anting ini?"
"Apa yang dia sukai, serahkan kepadanya!"
"Jadi segala sesuatu yang dia sukai, kau berikan padanya?"
Perlahan Siau Cap-it Long mengangguk, mengulang ucapan orang dengan nada tegas.
"Semua benda yang disukai, aku serahkan kepadanya."
Liu-soh-ciu mengertak gigi.
"Baiklah, akan kuberikan kepadamu, selanjutnya kita bisa jadi sahabat."
"Aku tidak mau terima gratis, juga tak mau bersahabat."
Berubah air muka Liu-soh-ciu.
"Apa maumu?"
"Sepasang anting ini kau beli dengan uang?"
"Ya, dengan harga mahal."
"Berapa kau beli?"
"Delapan ribu tahil."
"Aku beli enam belas ribu tahil,"
Kata Siau Cap-it Long, hanya sekedar mengulap tangan, seorang kacungnya yang cerdik pandai segera maju menyodorkan cek.
"Inilah cek Goan-ki dari bank keluarga Nyo yang terkenal, tunai dan kapan saja boleh diambil."
Melotot mata Liu-soh-ciu, mendadak ia berpaling sambil berseru.
"Serahkan padanya!"
Merah mata gadis belia itu, perlahan ia mencopot anting dari kupingnya, lalu ditaruh di atas meja.
"Sekarang anting ini milikmu,"
Kata Liu-soh-ciu.
"kalau tiada urusan boleh silakan ambil."
Mendadak Siau Cap-it Long tertawa.
"Masih ada urusan lain."
Berubah pucat muka Liu-soh-ciu.
"Urusan apa?"
"Tadi kubilang, aku suka tempat ini."
"Kau ... aku harus menyingkir dari tempat ini?"
"Betul."
"Aku ... kalau tidak menyingkir?"
"Harus menyingkir,"
Tawar suara Siau Cap-it Long, tapi nadanya mulai mengancam.
Liu-soh-ciu menyingkir pergi, berhadapan dengan Siau Cap-it Long, bagaimana ia tidak mengalah?
Setelah duduk Siau Cap-it Long mengambil sepasang anting itu.
"Warna sepasang anting ini memang bagus."
Pin-pin tertawa.
"Tapi sekarang aku sudah bosan."
Siau Cap-it Long melenggong.
"Maksudmu kau tidak suka?"
"Barang ini membikin kau repot, aku tak mau menerimanya."
Sikap Siau Cap-it Long berubah manis, tawanya juga lembut dan gembira.
"Setelah kau merasa bosan, aku pun ikut bosan."
Sembari bicara mendadak ia mengayun tangan, anting seharga enam belas ribu tahil ia buang keluar jendela.
Pin-pin bersorak lirih sambil bertepuk tangan, tawanya riang.
Hong Si-nio justru hampir meledak dadanya saking jengkel, sungguh tak pernah terbayang olehnya sekarang Siau Cap-it Long sudah berubah sewenang-wenang, menindas yang lebih rendah.
Syukur ia tidak mampu bergerak, dalam keadaan biasa mungkin ia sudah memburu ke sana menampar mukanya.
Saking gemasnya ingin ia menuding hidungnya serta mencaci, memangnya sudah lupa kala hidupnya terlunta-lunta, makan semangkok mi bakso saja harus bon dulu dan lima minggu baru mampu membayar.
Akan ditudingnya pula apa dia sudah melupakan Sim Bik-kun, melupakan para wanita sahabatnya yang pernah rela berkorban bagi dirinya.
Sayang ia tidak mampu bersuara, terpaksa menyaksikan saja dengan pandangan melotot.
Dahulu Siau Cap-it Long selalu diomeli, kenapa tidak mau mandi?
Tidak mencukur kumis dan jenggot?
Kenapa suka memakai kaos kaki berlubang dan sepatu butut yang sudah pecah alasnya?
Kondisi Siau Cap-it Long sekarang jauh berubah, seperti telur rebus yang sudah dikuliti, kelihatan halus dan mengkilap.
Tapi perasaan yang terbenam dalam relung hatinya mengatakan bahwa Siau Cap-it Long yang dahulu tampak lebih gagah dibanding keadaannya sekarang.
Sim Bik-kun duduk tanpa bergeming, bagaimana perasaan hatinya?
Hong Si-nio tidak berani memikirkannya, melirik pun tidak tega.
Kalau dirinya menjadi Sim Bik-kun, mungkin sekarang sudah mampus karena sesak napas.
Awalnya Siau Cap-it Long seorang pemuda yang kenal kasih tebal budi, kenapa berubah sedemikian drastis?
Liu-soh-ciu sudah pergi, Pek-tiong-siang-hiap yang sudah duduk dan mulai minum arak mendadak menghentikan minumnya, setelah saling pandang, tanpa bersuara mereka berdiri.
Sekilas Pin-pin melirik ke arah mereka, lalu berseru.
"Apa kalian mau pergi?"
Kembali Auyang bersaudara beradu pandang, yang muda mengangguk dan menjawab.
"Nona berbicara dengan kami?"
"Ya,"
Sahut Pin-pin.
"Kami tidak kenal nona, entah ada petunjuk apa?"
Tanya Auyang Bun-tiong.
"Kalian tidak kenal aku, aku kenal kalian malah."
"O, ...."
"Kau bernama Auyang Bun-tiong, kakakmu bernama Auyang Bun-pek, dua saudara bukan barang baik."
Berubah air muka Auyang Bun-tiong. Sikap Auyang Bun-pek jadi beringas.
"Kami bersaudara dalam hal apa berbuat salah kepada nona?"
"Memangnya kalian tidak tahu?"
"Aku tidak tahu,"
Sahut Bun-tiong. Mendadak Pin-pin berpaling ke arah Siau Cap-it Long.
"Kau kenal mereka?"
"Tidak kenal,"
Sahut Siau Cap-it Long.
"Tapi mereka terus melotot kepadaku."
"Oya?"
"Aku tidak suka orang menatapku begitu."
"Kau tidak suka?"
"Malah menjijikkan."
Siau Cap-it Long menarik napas panjang, sedikit menoleh matanya melirik.
"Kalian dengar apa yang dia katakan?"
Membesi selebar muka kedua saudara Auyang, sekuat mungkin mengendalikan diri.
"Apa katanya?"
"Dia bilang benci mata kalian berdua."
"Mata ini tumbuh di kepalaku, peduli orang lain suka atau tidak."
"Orang lain membenci mata kalian, apa gunanya sepasang mata kalian?"
"Apa maksudmu?"
"Maksudku sudah jelas, kau belum paham?"
"Maksudmu kami harus mengorek keluar mata ini."
"Memang begitu maksudku."
"Kalau begitu silakan ambil sendiri!"
"Tadi kau bilang mata milikmu sendiri, kenapa harus aku yang mengambil?"
Auyang Bun-tiong tertawa keras.
"Orang ini menyuruh kita mengorek biji mata sendiri."
"Mengorek mata sendiri lebih enteng daripada dipenggal kepalanya bukan?"
Suasana Bok-tan-lau mendadak sunyi senyap, jantung hadirin berdegup kencang, semua berkeringat dingin.
Bahwa orang hanya sekilas memandangnya, lalu menyuruh mengorek biji mata sendiri.
Masih ada perbuatan sekejam ini di dunia?
Orang ini malah Siau Cap-it Long.
Hong Si-nio hampir tidak percaya kalau kejadian ini nyata, tapi kejadian ini memang nyata.
Dahulu bertaruh jiwa pun ia berani menentang omongan orang, kini kenyataan seperti betul; sesuai yang dibicarakan orang.
Hong Si-nio memejamkan mata, ia tidak mau melihat dan tak tega melihat, air mata meleleh membasahi pipi.
Sebetulnya Auyang-hengte sudah menyandang buntalannya, kini mereka letakkan di atas meja.
Entah apa isi buntalan itu, kelihatan cukup berat.
Mengawasi mereka lalu mengawasi buntalan di atas meja, Siau Cap-it Long tertawa.
"Thi-ping-yan-yen-kuai dan Cu-bo-le-hun-thoh?"
"Betul,"
Sahut Auyang Bun-tiong.
"Sejak kematian Kim-lojit si bangsat dari Cap-ji-lian-hoan-ou, sudah puluhan tahun tiada insan persilatan di Kangouw yang menggunakan senjata Cu-bo-le-hun-thoh lagi."
"Tidak salah,"
Auyang Bun-tiong menjawab.
"Konon senjata jenis ini banyak menyembunyikan tipu-tipu aneh luar biasa, jauh berbeda dengan senjata lemas jenis lain."
"Betul."
"Sebab jenis senjata ini tidak panjang, tidak pendek, tidak lemas juga tidak keras, untuk latihan saja perlu waktu lima belas tahun, setelah itu baru boleh dikata mahir memainkan senjata ini."
"Betul."
"Maka kaum persilatan yang mau memakai senjata jenis ini bisa dihitung dengan jari. Bila dia mahir menggunakan senjata ini boleh terhitung jago kosen."
Auyang Bun-tiong menyeringai.
"Pengetahuanmu ternyata tidak cetek."
"Thi-ping-yan-yen-kuai panjang pendek, termasuk senjata yang sukar dipelajari, di tengah permainan senjata ini masih bisa diselingi hamburan senjata rahasia. Konon Thay-ou-sam-kiat yang terkenal itu dulu juga mampus oleh sepasang senjata ini."
"Memangnya hanya Thay-ou-sam-kiat saja lawan yang mati di bawah Thi-ping-yan-yen-kuai,"
Jengek Auyang Bun-tiong.
"Kalian lahir dari keluarga ternama, senjata yang digunakan juga jarang serta ahli, aku yakin kepandaian kalian berdua tentu terhitung kelas wahid."
"Rasanya cukup berbobot."
"Baik sekali,"
Kata Siau Cap-it Long, perlahan ia bangkit serta menghampiri mereka, senyum tetap menghias wajahnya.
"Sekarang silakan kalian turun tangan bersama, bila kalian bisa melawan tiga jurus seranganku, aku akan ...."
"Kau mau apa?"
Desak Auyang Bun-tiong.
"Aku akan mengorek bola mataku sendiri untuk kalian."
"Bagus,"
Auyang Bun-tiong bergelak tertawa.
"gagah betul Siau Cap-it Long."
Siau Cap-it Long menegaskan.
"Baik buruk nama Siau Cap-it Long, apa yang diucapkan, belum pernah menjilat ludah sendiri."
"Kalau hanya tiga jurus kami bersaudara tidak mampu melayanimu, selanjutnya kami malu bertemu orang. Apa susahnya membikin buta mata sendiri, beres bukan?"
"Kalau demikian, apa pula yang kalian tunggu?"
Tantang Siau Cap-it Long.
"Betul kami hanya melayani tiga jurus seranganmu?"
"Betul, tiga jurus...."
Selama ini belum pernah ada orang yang mampu mengalahkan Pek-tiong-siang-hiap hanya dalam tiga jurus.
Yang pasti Auyang-hengte jago yang tidak mudah dilayani.
Kini Hong Si-nio yakin bahwa Siau Cap-it Long betul-betul sudah berubah, lebih pantas kalau dikata mirip si gila yang takabur.
Hadirin di loteng semburat ke pinggir.
Bukan didorong ke pinggir, tapi didesak semacam hawa membunuh yang tak terlihat, tiada orang rela menjadi korban sambaran senjata nyasar, namun keinginan menonton pertempuran hebat membatalkan niat mereka untuk berlari turun ke bawah.
Apa betul Siau Cap-it Long mampu mengalahkan Pek-tiong-siang-hiap yang menggetarkan dunia persilatan?
Siapa saja asal tidak buta, pasti ingin menyaksikan pertempuran hebat ini.
Auyang-hengte pelan-pelan membalikkan badan, membuka buntalan mereka.
Tiap gerak tangan mereka pelan dan penuh perhitungan, jelas menggunakan waktu yang pendek ini untuk berusaha menenangkan pikiran, meneguhkan hati, mempertimbangkan jurus dan tipu apa untuk melayani serangan musuh, kini mereka sadar lahir batin, sudah memperoleh ketenangan.
Duel tokoh kosen yang diutamakan hanya ketenangan, sekali gugup dan teledor, kematian akibatnya.
Memang tidak malu dua bersaudara ini memperoleh julukan jago kosen yang sudah ratusan kali bertempur tak pernah kalah.
Angin berhembus lewat jendela, semilir angin berubah dingin.
"Tring, ting, ting", di tengah gemerincing bunyi besi beradu, Auyang Bun-tiong menggentak tangan, bunyi nyaring beradunya dua senjata cukup menciutkan nyali orang.
"Membunuh orang dengan senjata jenis ini kelihatannya jauh lebih mudah."
"Memang tidak sukar."
"Kalau hari ini kalian mampu melawan tiga jurus seranganku, bukan hanya menggetarkan dunia, dua keuntungan sekaligus diraih, rasanya tidak akan ada kesukaran."
Auyang Bun-tiong hanya menyeringai dingin. Siau Cap-it Long berkata pula.
"Cuma tiada persoalan semudah dan segampang itu di dunia ini. Bahwa aku berani menantang engkau, jelas aku yakin mampu mengatasimu."
"Kalau dengan obrolanmu kau bermaksud mengganggu ketenangan kami, apa tidak salah?"
"Aku hanya ingin memperingatkan satu hal padamu,"
Enteng suara Siau Cap-it Long.
"Satu hal apa?"
"Kuharap kalian tidak lupa golok apa yang kupakai."
"Keh-lo-to?"
Terangkat alis dua bersaudara ini.
"Betul, Keh-lo-to."
Mengawasi golok di pinggang orang, sikap angkuh dua bersaudara ini tampak menurun tiga bagian.
"Kuyakin kalian tahu golokku ini amat tajam, besi bisa diiris seperti tahu. Biarpun Thi-ping-yan-yen-kuai enam puluh tiga kati beratnya, sekali tabas pasti putus."
Otot hijau tampak menonjol pada kedua lengan Auyang Bun-pek yang menggenggam senjata panjang pendek itu, ujung matanya juga kelihatan kedutan.
Hati yang mulai tenang kembali bergolak, perasaan berubah gundah.
Seperti tidak memperhatikan perubahan sikap mereka, Siau Cap-it Long berkata lebih lanjut.
"Maka kuanjurkan supaya tidak menangkis golokku dengan senjata kalian."
Jari-jarinya sudah menggenggam gagang golok, apakah goloknya sudah akan dicabut?
Mendadak Auyang-hengte menggeser kedudukan, tubuh mereka bergerak melintang, hanya dalam sekilas gerak mereka sambil mengucap dua patah kalimat.
"Hanya bertahan tanpa menyerang. Bergerak mundur untuk maju."
Lahir batin dua bersaudara ini terjalin rapat, gerak mereka juga serasi dan berpadu.
Melawan musuh bersama jelas bukan hanya sekali saja.
Asal dapat menghindar tiga jurus, berarti sudah menang.
Biar golokmu tajam luar biasa, bila tidak menangkis golokmu, memangnya tiga jurus saja tidak mampu menghindar atau menyingkir?
Begitu mengembangkan gerak tubuh, mereka bersiaga dalam jarak tujuh langkah di sekeliling Siau Cap-it Long.
Kalau tangan diulur panjang golok paling enam kaki, kalau ingin merobohkan mereka, Siau Cap-it Long harus bergerak menyerang.
Begitu golok bergerak berarti sudah satu jurus serangan dilancarkan.
Mengawasi aksi dua bersaudara ini, Siau Cap-it Long tertawa.
Auyang-hengte tidak melihat senyum di wajahnya, mata mereka hanya memperhatikan tangan yang memegang golok.
Perlahan-lahan Siau Cap-it Long menghunus goloknya, gerakannya amat lamban, goloknya memancarkan kemilau hijau, tiada gemerlap cahaya yang menyilaukan.
Tapi begitu golok itu terlolos, seolah-olah memancarkan hawa membunuh yang tidak terlihat, tapi terasa mendesak pernapasan.
Auyang-hengte saling tukar pandang, mereka terus berputar mengelilingi gelanggang.
Pelan-pelan Siau Cap-it Long mulai mengayun golok, lambat-lambat....
Pandangan Auyang-hengte ikut beralih mengikuti gerak golok, dengan sendirinya gerak langkah mereka ikut menjadi lambat.
Golok sudah gerak, satu gerakan berarti satu jurus, jadi masih ada sisa dua jurus.
Seperti sedang menikmati keindahan golok sendiri, Siau Cap-it Long berkata lirih.
"Inilah jurus pertama."
Gerak jurus demikian jelas dan pasti takkan bisa melukai lawan.
Padahal hanya tiga jurus, berarti satu jurus disia-siakan.
Apa betul orang ini sudah gila?
Sekonyong-konyong cahaya golok yang kemilau hijau itu melambung ke atas, bagai kilat menyambar ke arah Auyang Bun-pek.
Serangan golok ini hebat bagai geledek, perbawanya seperti tak tertahankan, jelas berbeda dengan jurus pertama tadi.
Air muka Auyang Bun-pek seperti mengkeret disinari cahaya golok.
Tongkat besi di tangan memang berat, namun ia tidak berani menangkis, terpaksa ia berkelit.
Auyang Bun-tiong kuatir sang kakak terancam jiwanya, melihat pertahanan bagian belakang Siau Cap-it Long terbuka, sepasang senjata panjang pendek langsung menggebuk ke punggung lawan.
Di luar tahunya gerak golok Siau Cap-it Long hanya gertak sambal belaka, ia sudah memperhitungkan bakal mengundang serangan dari belakang, mendadak pinggang menggeliat, dengan sigap tangan kiri bergerak menangkap Cu-bo-le-hun-thoh, lalu ditarik serta didorong ke depan.
Betapa kuat tenaga betotan dan dorongan itu, sungguh amat mengejutkan.
Terasa oleh Auyang Bun-tiong telapak tangannya pecah.
Pergelangan tangan juga terkilir, Cu-bo-le-hunthoh terlepas, tubuhnya ikut menyeruduk ke depan menumbuk sikut Siau Cap-it Long.
Seperti dipalu godam rasanya, mendadak pandangan menjadi gelap, darah segar menyembur dari mulutnya.
Tidak berhenti sampai di situ, senjata rampasan di tangan Siau Cap-it Long, dengan menggunakan tenaga serudukan lawan, ia lempar ke belakang.
Kebetulan gerak langkah Auyang Bun-pek persis ke arah sini, yang diperhatikan hanya menghindari golok di tangan kanan lawan, mimpi pun tak menduga tangan lawan sudah memegang senjata rampasan.
"Tring", dimana kilat menyambar disusul hamburan darah segar menyemprot ke mukanya. Menyusul Cu-bo-ie-hun-thoh juga menghantam dada. Bentrok Para Pendekar 05 Karya Gu Long -Gan K.H. Bagian 5 Tadi pandangan matanya sudah teraling oleh hamburan darah segar, jadi tidak melihat datangnya senjata berat adiknya yang menyerang dada, tapi telinganya sempat mendengar tulang dadanya yang patah. Yang menutup pandangan mata adalah darah sang adik, yang menghajar dadanya juga adalah gaman adiknya pula. Hanya tiga jurus, Siau Gap-it Long hanya menyerang tiga jurus. Semua penonton membuka mata lebar-lebar, menahan napas, dengan rasa terkejut mengawasi Auyanghengte roboh di tanah. Waktu mereka berpaling lagi, Siau Cap-it Long sudah duduk kembali di tempatnya, golok juga sudah kembali ke sarungnya. Dengan rasa bangga dan angkuh Pin-pin mengawasinya dengan bola matanya nan indah.
"Kulihat hanya satu jurus kau merobohkan mereka."
"Tiga jurus aku kalahkan mereka."
"Jurus pertama juga masuk hitungan?"
"Harus dihitung, tiap jurus harus dihitung."
Dengan tertawa ia menjelaskan.
"Jurus pertama untuk menarik perhatian, supaya seluruh perhatian ditujukan kepada golokku ini, dengan sendirinya gerakan mereka ikut mengendor."
"Lalu jurus kedua?"
"Jurus kedua untuk memaksa mereka bergerak menyatu, dengan dipaksa demikian, mereka tidak pernah membayangkan dan takkan menduga sodokan tangan kiriku."
"Jurus ketiga itulah serangan telak yang fatal akibatnya."
"Mereka masih hidup karena aku tidak ingin merenggut jiwa mereka."
"Jadi tiga jurus semua berguna, ucapanmu tadi pun patut diperhatikan."
"Tapi omongan orang tak mungkin merobohkan orang, juga bukan jurus yang bisa melukai lawan."
"Maka kau hanya menggunakan tiga jurus?"
Siau Cap-it Long memanggut.
"Ya, hanya tiga jurus."
"Sekarang mereka sudah kalah."
Sementara itu Auyang-hengte sedang merangkak berdiri dengan susah payah. Noda darah di muka Bun-pek belum kering, sementara muka Bun-tiong pucat pasi. Mendadak Pin-pin berpaling mengawasi mereka.
"Kalau kalian bersaudara tak mampu melawan tiga jurusnya, selanjutnya malu bertemu orang, biarlah kami korek saja biji mata itu, kalah ya kalah secara jantan,"
Jengek Pin-pin.
"Masih ingat siapa yang bilang?"
Auyang Bun-pek mengertak gigi manggut-manggut.
"Sekarang kalian mengaku kalah?"
Desak Pin-pin. Auyang Bun-pek tidak bisa menyangkal.
"Mengaku kalah, apa pula yang kalian tunggu?"
Tiba-tiba Auyang Bun-pek menengadah sambil tertawa sedih, suaranya beringas.
"Anggaplah kami bersaudara belajar silat tidak tamat, tapi kami bukan orang yang sudi menjilat ludah sendiri."
"Bagus, aku percaya kalian bukan orang yang tidak bisa dipercaya."
Sambil mengertak gigi, Auyang Bun-pek mengulur dua jari tangannya, bagai cakar elang saja mendadak mengorek biji mata sendiri, tapi lelaki mana pun kalau harus membikin buta mata sendiri, tangan akan menjadi lemas.
Dari samping Auyang Bun-tiong berkata lantang.
"Begini saja, kau mengorek mataku, aku mengorek matamu!"
Dua saudara kakak beradik ini siap saling membutakan mata mereka, yang tidak tega sudah berpaling muka, di ujung loteng sana seorang malah membungkuk badan muntah-muntah.
Tanpa bergeming Siau Cap-it Long tetap duduk di kursinya, sikapnya tidak berubah.
Mendadak seorang berteriak keras.
"Kalau kau ingin mereka mengorek matanya, harus kau korek dulu mataku!"
VI.
CINTA ADALAH PERSEMBAHAN Suaranya gemetar, nadanya sedih dan gusar, didengar telinga masih terasa merdu bagai hembusan angin sepoi musim semi.
Berubah air muka Siau Cap-it Long, detak jantung hampir berhenti, darah sekujur badan juga seperti membeku.
Ia mengenal suara itu, sampai mati takkan dilupakan suara itu.
Sim Bik-kun!
Itulah suara Sim Bikkun.
Sim Bik-kun yang tak mungkin terlupakan oleh Siau Cap-it Long, umpama mati seribu kali, selaksa kali sekalipun takkan pernah dilupakan.
Dia tidak melihat Sim Bik-kun, tadi di pojok sana seorang perempuan bercadar hitam tampak gemetar sekujur tubuhnya.
Apakah dia Sim Bik-kun, wanita pujaan yang ia rindukan, mimpi juga selalu bertemu, selama hidup takkan dilupakan.
Darah sekujur badan yang hampir membeku mandadak bergolak, jantungnya seperti hampir melonjak keluar.
Tapi ia tidak menghampiri, dia takut kecewa, putus harapan, sudah sering kali putus harapan.
Bola mata Pin-pin yang jeli juga sedang mengawasi perempuan bercadar hitam di sana, katanya dengan nada dingin.
"Jadi kau tidak ingin mengorek bola mata mereka? Pernah apa engkau dengan mereka?"
"Bukan sanak bukan kadang,"
Kata Sim Bik-kun.
"tapi aku rela mati, peristiwa ini akan kutentang."
"Kalau tiada hubungan apa-apa, kenapa kau harus pakai cadar, malu dilihat orang?"
"Sudah tentu aku punya alasan sendiri."
Siau Cap-it Long tetap duduk tak bergeming.
Mungkin dia sudah melupakan semuanya.
Hancur luluh hati Sim Bik-kun, raga ini seperti hancur lebur, berkeping-keping.
Tapi ia masih berusaha mengendalikan diri, memang dia adalah wanita kelahiran keluarga yang selalu menegakkan aturan dan tata krama.
"Kau tidak ingin menjelaskan alasanmu padaku?"
"Tidak!"
Sahut Sim Bik-kun. Pin-pin tertawa lebar.
"Aku justru ingin melihatmu!"
Perlahan ia berdiri kemudian menghampiri dan berkata dengan senyum manis.
"Kuduga kau juga seorang wanita cantik, sebab suaramu begitu merdu."
Senyum tawa Pin-pin memang begitu manis menggiurkan, begitu cantik rupawan, terhitung nona cantik yang tiada bandingan di seluruh negeri.
Memang setimpal menjadi pasangan Siau Cap-it Long.
Tapi kenapa hati dan pikirannya begitu jahat dan kejam?
Kenapa Siau Cap-it Long justru mau mendengar dan patuh padanya?
Gadis ini menghampiri, kenapa Siau Cap-it Long tetap duduk di tempat?
Memangnya kecuali gadis yang satu ini, tiada wanita lain lagi dalam hatinya?
Perasaan Sim Bik-kun seperti ditusuk-tusuk jarum, hatinya hancur berkeping, seperti tertusuk-tusuk jarum.
Pin-pin sudah berada di depannya, tawanya begitu manis, suaranya juga lembut.
"Boleh kau singkap cadarmu supaya aku bisa melihat wajahmu?"
"Ternyata dia tidak mengenal suaraku lagi, kenapa kubiarkan dia melihat aku?"
Demikian batin Sim Bik-kun.
"Kalau di hatinya sudah tiada diriku, buat apa kita bertemu lagi?"
"Masa kulihat sekilas saja tidak boleh?"
Tanya Pin-pin sedikit memaksa.
"Tidak boleh!"
Pendek tegas jawaban Sim Bik-kun.
"Kenapa?"
"Tidak ya tidak,"
Hampir Sim Bik-kun tak kuasa mengendalikan diri. Pin-pin menghela napas.
"Kau tidak mau menanggalkan cadarmu sendiri, biar kubantu kau menyingkapnya."
Benar-benar ia mengulur tangan. Tangan yang indah, seindah batu pualam. Sim Bik-kun mengawasi tangan itu terulur ke mukanya, hampir tak tahan hendak turun tangan.
"Jangan, jangan aku bertindak kasar,"
Demikian batinnya.
"jangan aku melukai perempuan pujaan hatinya. Selama ini dia sudah banyak berkorban bagiku, besar kasih sayangnya selama ini, kenapa aku harus membuatnya sedih?"
Dengan kencang Sim Bik-kun menggenggam tangan, terasa kuku jari sudah menusuk kulit daging. Tangan Pin-pin sudah menyentuh cadar di mukanya, mendadak ia urungkan niatnya.
"Sebetulnya tak perlu aku melihat wajahmu, dapat aku bayangkan bagaimana tampangmu."
"Kau tahu?"
"Entah berapa kali seorang bercerita padaku tentang bentuk rupamu."
"Siapa yang bilang padamu?"
"Tentu kau tahu siapa yang kumaksud."
"Kau ... kau juga tahu siapa aku?"
"Siapa lagi kalau bukan Sim Bik-kun, wanita tercantik dalam kalangan persilatan."
Seperti teriris hati Sim Bik-kun.
Kenapa dia membicarakan diriku dengan cewek ini?
Memangnya mau pamer, supaya orang tahu, dulu ada seorang wanita yang begitu mencintainya?
Genggaman tangan Sim Bik-kun makin kencang, tak tahan ia bertanya.
"Darimana kau tahu siapa diriku?"
"Kalau kau bukan Sim Bik-kun, mana mungkin dia berubah seperti itu."
Sambil bicara tangannya menuding ke belakang, menuding Siau Cap-it Long.
Perlahan Siau Cap-it Long mendatangi, dengan tajam ia mengawasi cadar muka Sim Bik-kun.
Tatapannya lurus seperti orang pikun.
Mendadak Sim Bik-kun berkata keras.
"Kau salah, aku bukan Sim Bik-kun."
"Kau bukan?"
"Siapa kenal Sim Bik-kun? Perempuan dogol, perempuan bodoh itu?"
Berkedip mata Pin-pin, dengan tertawa lebar ia berkata.
"Apa perlu aku menyingkap cadar mukamu?"
Kembali ia mengulur tangan hendak menyingkap cadar Sim Bik-kun.
Kini semua hadirin benar-benar mengharap dia betul-betul menyingkap cadar itu, siapa tidak ingin melihat betapa cantik perempuan nomor satu di Bu-lim.
Tak disangka Pin-pin kembali mengurungkan niatnya, ia berpaling ke arah Siau Cap-it Long.
"Kurasa lebih baik kau saja yang menanggalkan cadarnya, yakin kau ingin sekali melihatnya?"
Dengan kaku Siau Cap-it Long mengangguk, tentu ia ingin melihatnya, mimpi pun ia selalu berharap dapat melihat, apalagi bertemu. Tangan pun diulur.
"Singkirkan tanganmu!"
Mendadak Sim Bik-kun berteriak. Siau Cap-it Long tergagap linglung.
"Kau ... kau ...."
"Berani menyentuhku, biar aku mati di hadapanmu."
"Kau ...."
Siau Cap-it Long lebih kaget.
"kau tidak mengenalku lagi?"
Makin hancur hati Sim Bik-kun.
Aku tidak mengenalmu?
Demi kau, aku meninggalkan segalanya, mengorbankan nama baik, kekayaan, keluarga dan semua yang kumiliki.
Demi kau, aku menderita dan sengsara, entah berapa kali dicemooh, dinista, dipermalukan.
Sekarang kau tega mengatakan aku tidak mengenalmu?
Dengan keras ia menggigit bibir, terasa anyir darah merembes ke tenggorokan, dengan mengerahkan seluruh tenaga ia berteriak.
"Aku tidak mengenalmu, bahwasanya aku tak pernah mengenalmu."
Siau Cap-it Long mundur sempoyongan, seperti mendadak dadanya ditendang orang. Benarkah Sim Bik-kun berubah? Hoa Ji-giok berdiri diam menonton, mendadak Sim Bik-kun memeluk lengannya.
"Ayo kita pergi!"
Jadi pria ini yang membuatnya berubah?
Pria ini masih muda, cakap ganteng malah, penurut lagi, sejak tadi ia berdiri mematung di belakang.
Tak heran dua tahun sudah aku mencarinya dan tidak pernah ketemu, ternyata ia sudah tidak mau bertemu denganku.
Hati Siau Cap-it Long juga luluh.
Mereka sama-sama diracun kesan jahat, curiga dan cemburu.
Jari-jari Siau Cap-it Long mengepal kencang, mata melotot mengawasi Hoa Ji-giok.
Tanpa melirik sekali pun Sim Bik-kun bertanya pada Hoa Ji-giok.
"Kenapa tidak segera kita pergi?"
Perlahan Hoa Ji-giok menganggukkan kepala, dari belakang maju dua orang memapah Hong Si-nio.
Air mata Hong Si-nio terus mengalir, dengan mata berkaca-kaca ia mengawasi Siau Cap-it Long.
Ia harap Siau Cap-it Long bisa mengenali dirinya, bisa menjelaskan kepadanya bahwa semua kejadian itu hanya salah paham, salah pengertian.
Tapi melirik pun Siau Cap-it Long tidak memperhatikan dirinya, sebab mimpi pun tak pernah ia duga, perempuan yang digotong-gotong ini adalah Hong Si-nio, teman lama yang kini tertutuk bungkam tak mampu berbuat apa-apa.
Siau Cap-it Long hanya terlongong mengawasi luar jendela, seperti tidak melihat sinar bintang, juga tidak melihat cahaya lilin, hanya kegelapan terbentang di depan matanya.
Kalau bisa, ingin rasanya Hong Si-nio meratap, menangis tergerung-gerung, air mata membasahi hampir seluruh cadar penutup mukanya.
Pin-pin justru sempat memperhatikan cadar yang basah oleh air mata itu, serunya "Kau juga menangis?
Kenapa kau menangis?"
Demi Siau Cap-it Long, memangnya aku tidak sengsara?
Tidak menderita?
Pengorbananku mungkin adalah yang terbesar.
Gadis cilik ini malah bilang aku menangis bagi orang lain.
Ingin Hong Si-nio berontak dan berteriak histeris, sayang hanya kelopak matanya saja yang bisa bergerak, sekujur badan kaku lemas tak bisa bergerak.
Dua orang yang memapah dirinya mempercepat langkah.
Pin-pin hendak maju merintangi, sekilas dia ragu, lalu membiarkan mereka berlalu.
Hong Si-nio maklum akan kondisi Siau Cap-it Long saat itu, ia tidak ingin memperpanjang urusan.
Maka tanpa daya Hong Si-nio dibawa pergi lewat di depan Siau Cap-it Long.
Perlahan rombongan ini turun dari loteng, naik kereta.
Kereta bergerak cepat sekali, meninggalkan kepulan debu di belakang.
Mendadak Siau Cap-it Long berseru.
"Bawakan arak dua puluh kati, arak yang paling bagus!"
Pasti arak yang paling bagus. Arak paling bagus umumnya malah tidak bisa membuat orang mudah mabuk? Pin-pin mengawasinya, katanya lembut.
"Mungkin orang itu bukan Sim Bik-kun."
Setelah menenggak beberapa cawan arak, Siau Cap-it Long tergelak-gelak.
"Tak usah kau membujukku, aku tidak sedih."
"Betulkah?"
"Aku hanya ingin minum sepuas-puasnya, sudah lama aku tidak mabuk."
"Tapi Auyang-hengte diam-diam sudah ngacir."
"Aku tahu."
"Mungkin mereka akan balik kembali."
"Kau kuatir mereka datang membawa bantuan?"
"Aku sih tidak takut, Siau Cap-it Long yang mabuk, cukup mampu mengatasi Auyang-hengte dan kamratkamratnya."
"Omongan bagus, harus dihukum tiga cawan."
Tiga cawan besar arak ditenggaknya habis. Pin-pin ikut mencicipi seteguk, katanya kemudian.
"Aku sedang heran, siapakah perempuan lain yang ditutup cadar mukanya itu? Kenapa cadarnya basah oleh air mata?"
"Apa kau melihat dia menangis?"
"Dari cadar penutup mukanya yang basah, membuktikan kalau dia menangis."
"Mungkin dia sakit, seorang kalau diserang demam bisa saja menangis, apalagi seorang perempuan."
"Tapi aku tahu dia tidak sakit."
"Jalan saja tidak bisa, kau masih bilang dia tidak sakit?"
"Benar tidak bisa jalan, tapi bukan lantaran sakit."
"Orang yang sakit keras, kaki tangan bisa lumpuh, jadi tak bisa jalan, tapi tulang-tulang orang itu bisa ditekuk, sekujur badan justru kelihatan kaku."
"Ternyata kau lebih teliti dari aku."
"Jangan lupa, aku ini kan gadis jenius,"
Ujar Pin-pin dengan tawa mekar. Waktu memandang rona mata Siau Cap-it Long, seperti membayangkan rasa kuatir dan kasihan. Syukur Pin-pin tak memperhatikan sikapnya, katanya lebih jauh.
"Maka kuyakin dia tidak sakit."
"Maksudmu dia ditutuk jalan darahnya?"
"Mungkin sekali."
"Menurutmu karena apa dia melelehkan air mata?"
"Mungkin karena persoalan kalian, karena Sim Bik-kun."
"Siapa sudi melelehkan air mata lantaran urusan kami? Untuk bersyukur saja mending bagiku, umpama aku mati di jalan, takkan ada orang melelehkan air mata bagiku."
"Paling tidak aku ...."
Sebetulnya Pin-pin mau bilang "aku akan menangis".
Entah karena apa ia beralih ke persoalan lain, bola mata nan indah menampilkan makna kesedihan.
Memang hatinya rawan karena merasakan nasibnya yang jelek?
"Tapi dia meneteskan air mata, maka aku berkesimpulan, bukan saja dia kenal kalian, juga prihatin akan nasib Sim Bik-kun."
"Mungkin karena persoalan lain."
"Tadi di sini tiada persoalan lain yang bisa menimbulkan rasa sedih hingga orang mencucurkan air mata."
"Dari kesimpulanmu itu, kau berpendapat bahwa dia adalah teman Sim Bik-kun?"
"Pasti begitu."
Bola mata Siau Cap-it Long berbinar.
"Kalau dia ditutuk jalan darahnya, bukan mustahil Sim Bik-kun juga diancam orang itu."
"Maka sikapnya berubah drastis terhadapmu."
Memerah selebar muka Siau Cap-it Long, mulutnya menggumam.
"Mungkin bukan maksudnya menampilkan sikap sekasar itu kepadaku, kenapa tadi tidak kupikir hal ini?"
"Karena dalam hatimu ada seekor ular jahat?"
"Ular jahat?"
"Curiga dan cemburu adalah ular jahat itu,"
Ujar Pin-pin sendu.
"dari sini dapat disimpulkan, engkau masih belum bisa melupakan dia, kalau tidak, kenapa kau mencurigainya, kenapa kau cemburu terhadap lelaki tadi?"
Siau Cap-it Long diam saja, tidak bisa menyangkal.
"Bahwa kau tidak bisa melupakan dia, kenapa tidak kau cari dia saja? Jika sekarang kau menyusulnya, mungkin masih bisa tersusul!"
Siau Cap-it Long sudah berjingkrak berdiri, tapi pelan-pelan duduk kembali, tawanya kecut.
"Bagaimana aku harus mencarinya?"
Dalam kondisi seperti sekarang, ia tak punya akal lagi.
"Mereka tadi naik kereta."
"Kereta yang bagaimana?"
"Kereta hitam yang masih baru, kuda penarik kereta juga berbulu hitam legam, pemilik kereta pasti seorang yang punya kedudukan, kaya dan berpengaruh. Kereta seperti itu yakin tidak sukar mencarinya."
Siau Cap-it Long segera berdiri.
"Tapi kusarankan bertanya dulu pada Siau-song kusir kereta kita!"
"Kenapa?"
"Sesama kusir kereta pasti gampang bergaul, waktu menunggu sang majikan di luar, mereka tentu banyak mengobrol, mungkin yang diketahui Siau-song bisa lebih banyak dan komplit."
Gadis ini memang teliti lagi pintar.
Gadis secerdik ini, pantas kalau orang merasa bangga baginya.
Tapi tiap kali mengawasi nona jelita ini, kenapa sikap Siau Cap-it Long kelihatan seperti amat sayang dan sedih?
* * * * * Siau-song bercerita.
"Kusir kereta itu orang aneh, waktu kuajak mengobrol, dia selalu bersungut, disapa diam saja diajak bicara tak menjawab, seperti hutang tiga ratus tahil perak pada bapaknya."
Itulah penjelasan Siau-song tentang kusir kereta yang dinaiki Hoa Ji-giok.
Apa yang dijelaskan tak lebih banyak dari yang diketahui Pin-pin.
Siau Cap-it Long terlihat rada kecewa, mendadak Siau-song menambahkan.
"Selama tiga hari ini, pagi-pagi mereka sudah datang ke sini, malam baru pulang, seperti menunggu seseorang."
"Beruntun tiga hari mereka datang?"
"Ya, pelayan restoran menceritakan padaku."
"Kondisi mereka sudah menarik perhatian orang, beruntun datang tiga hari. Pemilik retoran mungkin tahu asal-usul mereka."
VII. TRAGEDI BOK-TAN-LAU Pemilik Bok-tan-lau she Lu. Lu-ciangkui bertutur.
"Dua nona bercadar hitam itu memang tiga hari beruntun telah datang, minta hidangan semeja penuh, tapi tiada yang mau makan, setelah restoran kami nyatakan mau tutup mereka baru pulang."
"Uang yang mereka bayarkan cukup banyak, maka semua pelayanku senang melayani mereka."
"Yang bayar rekening siapa?"
Tanya Pin-pin.
"Lelaki muda yang ikut datang itu,"
Sahut Lu-ciangkui.
"Kau tahu selama tiga malam ini mereka bermalam dimana?"
"Konon mereka menyewa villa di hotel Lian-hun, malah sudah bayar tunai untuk sepuluh malam"
"Keteranganmu dapat dipercaya?"
"Pasti dapat dipercaya, pemilik hotel Lian-hun adalah kakak isteriku."
Pemilik hotel Lian-hun she Gu. Gu-ciangkui bertutur.
"Dua nona yang mengenakan cadar itu memang aneh, siang hari terus berada di kamar, makan minum harus diantar ke kamar. Begitu magrib sudah siap-siap berangkat ke Bok-tan-lau. Tiga hari berada di sini, orang-orang yang berada di sini tiada seorang pun pernah mendengar mereka bicara."
"Mereka menempati kamar yang mana?"
"Di pojok timur sana, villa itu khusus untuk tamu-tamu kelas tinggi, seluruh komplek villa itu disewa semuanya."
"Malam ini mereka sudah pulang?"
"Baru saja tiba,"
Ujar Gu-ciangkui sambil menggeleng kepala.
"seharian mereka berada di Bok-tan-lau, restauran besar, tentu makan minum serba kenyang. Begitu tiba di kamar kembali pesan satu meja penuh hidangan dan arak."
"Hidangan semeja yang dipesan itu mungkin diperuntukkan bagi kita,"
Ujar Pin-pin tertawa riang.
"Mereka tahu kalian akan datang?"
"Tidak tahu."
Gu-ciangkui mengawasinya dengan pandangan kaget, seperti mendadak merasa tamu-tamu yang datang dan menginap di hotelnya adalah orang-orang aneh misterius.
Dalam kamar terang benderang, meja bundar dilembari taplak meja serba merah darah, dipenuhi hidangan dan botol arak.
Pemuda ganteng yang tadi di belakang seperti kacung itu, kini sudah berganti pakaian, baju ramping serba baru dan mahal, duduk memandang meja penuh hidangan itu, ia sedang menuang arak, beruntun mengisi tiga cawan, tiba-tiba menoleh ke jendela dan berkata sambil tertawa.
"Kalian sudah datang, kenapa tidak silakan masuk untuk minum dan makan bersama?"
Siau Cap-it Long memang berada di luar jendela.
"Ada yang mentraktir minum arak, tidak pernah aku menolaknya."
Jendela tidak dipalang, tiga kursi masih kosong.
"Silakan duduk!"
Sambut Hoa Ji-giok membungkuk badan. Dengan tajam Siau Cap-it Long mengawasi muka orang.
"Nona Sim datang ikut kau, apa kau tidak pernah mengundangnya untuk makan bersama?"
"Aku tidak mempersiapkan kursi untuk mereka, sebab mereka kini sudah tiada di sini."
Berubah muka Siau Cap-it Long. Biasanya tidak semudah itu air mukanya berubah, tapi mukanya kini tampak menakutkan.
"Apa mereka sudah pergi?"
"Ya, baru saja berangkat."
"Kau biarkan mereka pergi?"
Hoa Ji-giok tertawa ewa.
"Cayhe bukan berandal, bukan polisi, mereka mau pergi, mana bisa aku menahan mereka."
Siau Cap-it Long menyeringai dingin. Hoa Ji-giok berkata.
"Agaknya Siau-tayhiap tidak percaya?"
"Agaknya kau memang bukan berandal, tapi menilai orang bukan dari mukanya, kukira kau paham akan hal ini?"
"Berdasar apa Cayhe harus berbohong pada Siau-tayhiap?"
"Karena kau tidak senang aku bertemu mereka."
"Kalau aku tidak senang Siau-tayhiap bertemu mereka, kenapa aku kembali ke hotel ini lagi? Buat apa kupesan hidangan sebanyak ini untuk menyambut kehadiran Siau-tayhiap?"
Mulut Siau Cap-it Long terkunci.
"Sengaja Cayhe menunggu di sini, maksudku akan kujelaskan salah paham tadi."
"Apa ada salah paham?"
"Belakang ini nona Sim selalu dikawal oleh Ing dan Liu ber-dua cianpwe."
Terangkat kepala Siau Cap-it Long.
"Ang-ing-lok-liu?"
Hoa Ji-giok memanggut.
"Kalau Siau-tayhiap tidak percaya, kapan saja silakan tanya mereka, kedua Cianpwe itu pasti tidak berbohong!"
"Lalu kenapa bisa ikut engkau ke tempat ini?"
Tanya Siau Cap-it Long. Hoa Ji-giok bimbang, seperti serba salah untuk menjelaskan.
"Kau tidak mau menjelaskan?"
Desak Siau Cap-it Long.
"Bukan Cayhe tidak mau menjelaskan, hanya saja ...."
"Hanya saja apa?"
"Cayhe hanya takut setelah mendengar penjelasanku, Siau-tayhiap tidak senang hati."
"Kalau tidak kau jelaskan aku justru marah. Ketahuilah, kalau marah aku ini orang yang tidak kenal kompromi."
Agak lama Hoa Ji-giok kelihatan ragu, katanya kemudian.
"Berita yang tersiar di Kangouw mengatakan bahwa Lian Shia-pik juga berada di daerah ini, nona Sim mendengar berita ini, lalu mendesak Cayhe membawanya kemari."
Berubah air muka Siau Cap-it Long, penjelasan Hoa Ji-giok ibarat sebilah pisau tajam menusuk sanubarinya.
Mendadak ia merasa sekujur badan menjadi dingin.
Kalau Sim Bik-kun berubah karena orang lain, ia masih bisa menerima, tapi Lian Shia-pik....
Hoa Ji-giok menghela napas gegetun, seperti merasa simpati.
"Biar orangnya sudah pergi, arak masih banyak, silakan Siau-tayhiap menikmati beberapa cawan sambil menghabiskan waktu malam ini!"
"Baik, mari habiskan tiga cawan!"
"Silakan."
"Cawan ini tidak bisa dipakai,"
Kata Siau Cap-it Long.
"Kenapa tidak bisa dipakai?"
Tanya Hoa Ji-giok.
"Cawan ini terlalu kecil,"
Mendadak ia raih satu mangkuk besar berisi bakso kakap, semangkuk kaldu sirip ikan hiu, dan semangkuk sup sarang burung, semua dia tuang di lantai, tiga mangkuk yang sudah kosong ia tuangi arak yang tersedia.
"Kusuguh untukmu, silakan minum!"
Dengan sikap apa boleh buat Hoa Ji-giok menggeleng kepala.
"Baiklah,"
Katanya kemudian.
"aku minum."
Meski lambat, tiga mangkuk besar arak itu dia tenggak habis seluruhnya. Siau Cap-it Long juga menghabiskan tiga mangkuk besar arak.
"Kini giliranmu menyuguh padaku. Sebagai tuan rumah, kau minum dahulu."
"Minum tiga mangkuk lagi?"
Seru Hoa Ji-giok.
"Cayhe mungkin tidak mampu lagi."
Melotot mata Siau Cap-it Long.
"Aku menghormatimu, kau tidak menghargaiku, kau meremehkan aku?"
"Baiklah, aku balas suguhkan tiga mangkuk,"
Dengan menyengir ia habiskan tiga mangkuk arak itu.
Anehnya setelah menghabiskan mangkuk kedua, cara minumnya malah lebih cepat dan tuntas, mangkuk ketiga dlminum seperti minum teh saja.
Setelah Siau Cap-it Long menghabiskan tiga mangkuk lagi, Hoa Ji-giok tertawa.
"Hayo habiskan tiga mangkuk lagi, Siau-tayhiap silakan!"
Siau Cap-it Long melotot, katanya dengan suara mendesis.
"Ada dua hal perlu kuberitahu padamu."
"Cayhe siap mendengarkan."
"Pertama aku ini bukan Tayhiap, selamanya belum pernah jadi Tayhiap. Kedua, kalau kutemukan omonganmu ternyata bohong, akan kupotong lidahmu, mengerti?"
Hoa Ji-giok manggut-manggut.
"Aku mengerti, tapi kurasa ada yang tidak ku mengerti?"
"Soal apa yang kau tidak mengerti?"
"Bahwa dia datang karena Lian Shia-pik, kurasa dia pergi lagi juga lantaran Lian Shia-pik, kenapa tidak kau cari mereka, malah menumpahkan kekesalanmu kepadaku?"
Habis bicara tubuhnya melorot jatuh mendengkurdi lantai. Wajah Siau Cap-it Long membesi hijau, dengan taplak meja yang lebar warna merah, dia bungkus seluruh hidangan yang ada di atas meja.
"Sengaja kau ingin menjamu aku, hidangan tidak habis ini biar aku bawa pulang saja."
Hoa Ji-giok diam saja, karena begitu rebah di lantai langsung tidur pulas karena mabuk berat.
Siau Cap-it Long mengakak tiga kali sambil menengadah, buntalan besar itu ia panggul di punggung, tangan Pin-pin ditarik terus turun loteng.
Setelah bayangan mereka pergi jauh, dari balik kerai bambu seorang menyingkap masuk sambil mengomel.
"Tamu segarang itu sungguh jarang aku melihatnya."
Yang keluar ternyata adalah Sim-sim, mengawasi Hoa Ji-giok yang rebah di lantai, lanjutnya.
"Tamu jahat itu sudah pergi, hayo lekas bangun!"
Hoa Ji-giok segera membuka mata terus berdiri, katanya sambil menggeleng kepala.
"Orang itu lihai betul, hampir saja aku dibuatnya mabuk sungguhan."
Sim-sim tertawa manis.
"Sayang dia tidak tahu ukuran minummu ternyata jauh lebih banyak dari dugaannya semula."
"Satu hal yang nyata adalah pribadiku ini yakin jauh lebih bejat dibanding perkiraannya."
Sim-sim berkata.
"Kalau di Kangouw muncul lagi Cap-toa-ok-jin, satu di antaranya pasti engkau."
"Lalu engkau?"
"Jelas aku juga masuk hitungan."
"Apakah Sim Bik-kun betul sudah pergi?"
"Sudah kusuruh Pek-losam membawanya pergi, pesanmu juga sudah kusampaikan kepadanya."
"Perempuan gila itu?"
"Kuatir lelaki garang itu mencarinya ke belakang, maka kupersilakan dia istirahat di kolong ranjang."
"Sekarang boleh kau persilakan dia keluar!"
"Lalu akan kau suruh apa dia?"
"Kupersilakan dia mandi, lalu tugasmu mendandani dia!"
"Pernah kudengar bahwa seorang yang akan dimasukkan peti mati harus dirias dan didandani."
"Siapa bilang akan memasukkan dia ke dalam peti mati?"
"Kenapa tidak?"
"Sebab dia amat berharga."
"Memangnya engkau ingin menjualnya?"
"Ya."
"Dijual kepada siapa?"
Berbinar bola mata Sim-sim. Hoa Ji-giok tersenyum lebar.
"Tentu kujual kepada bangkotan tua yang kepincut paras cantik, sudah lama bangkotan tua ini amat merindukan dia."
Sim-sim cekikikan, katanya mengawasi.
"Memang pantas kalau kau jadi penjahat besar."
"Memangnya siapa bilang bukan?"
"Muslihat apa yang engkau rancang, yakin mimpi pun Siau Cap-it Long takkan menduga ...." * * * * * Siau Cap-it Long tidak pernah mau berpikir, yang dirasakan hanya kepalanya seperti kosong, hati hampa pikiran melompong, berjalan di jalan raya, rasanya seperti berjalan di tengah gumpalan mega. Ia berkukuh tidak mau naik kereta, ingin berjalan kaki saja, maka kereta disuruh pulang lebih dulu, terpaksa Pin-pin menemaninya berjalan. Setelah melewati simpang jalan di depan, mendadak ia bertanya.
"Perutmu lapar tidak?"
Pin-pin geleng kepala. Menggoyang buntalan besar di tangan, Siau Cap-it Long berkata.
"Aku hanya mengingatkan kau, dalam buntalan ini ada masakan enak dan mahal. Kalau perutmu lapar, silakan pilih bermacam masakan yang ada di sini."
Mengawasi buntalan besar yang basah oleh kuah dan sebagainya, Pin-pin ingin tertawa, tapi tak bisa tertawa.
Pin-pin bisa merasakan perasaan Siau Cap-it Long saat itu, begitu sedih, pilu dan rawan hatinya, tapi tak bisa menangis.
Mendadak Siau Cap-it Long mendeprok duduk di pinggir jalan, kepala mendongak mengawasi taburan bintang di langit dengan termangu-mangu, sesaat kemudian mulutnya mendesis.
"Mestinya tadi kucomot seguci arak, minum arak di tempat ini sungguh menyenangkan."
Pin-pin hanya mendengarkan saja, kembali Siau Cap-it Long berkata sambil menyengir.
"Tak apalah, dimana saja pasti ada arak dan bisa minum sepuasnya."
Tawanya tidak mirip tawa, orang yang melihat tawanya malah terharu ingin ikut menangis.
Kalau dia datang demi Lian Shia-pik, sekarang tentu pergi mencari Lian Shia-pik.
Lian Shia-pik diagulkan sebagai Kuncu, lelaki sejati yang welas asih dan bajik, mestinya mereka berdua memang pasangan suami isteri yang setimpal, saling cinta, umpama salah langkah dan ada salah paham, setelah dipikir dan dijelaskan, urusan tidak perlu ditarik panjang.
Akhirnya tentu disadari oleh Sim Bik-kun, hanya Lian Shia-pik seorang yang patut, kepada siapa ia bersandar hidup selanjutnya.
Dari buntalan kain kembali Siau Cap-it Long mencomot keluar paha ayam, setelah diamati mendadak dilempar ke pinggir.
Kini Pin-pin ikut duduk, mengawasinya dengan pandangan serba salah, tak tahan ia bertanya.
"Kau percaya apa yang dikatakan orang itu?"
"Satu patah kata saja aku tidak percaya,"
Sahut Siau Cap-it Long.
"Kalau tidak percaya, kenapa harus menyingkir dari sana?"
"Memangnya aku harus ikut dia tidur di lantai?"
"Kenapa tidak kau cari dia di belakang?"
"Dicari juga belum tentu ketemu."
"Belum dicari bagaimana tahu tidak ketemu?"
"Orang macam itu, kalau tidak mau bertemu, apa gampang ditemukan, bagaimana aku harus mencarinya?"
"Kau tahu dia seorang yang licik lagi licin?"
Siau Cap-it Long manggut-mangut.
"Pertama aku melihatnya, aku lantas ingat seseorang."
"Siapa?"
"Siau-kongcu, Siau-kongcu yang seratus kali lebih beracun dibanding ular beracun."
Tiap kali menyinggung nama Siau-kongcu, tampak kengerian di matanya, tanpa sadar ia bergidik ngeri.
"Orang itu jelas bukan Siau-kongcu."
Siau Cap-it Long mengangguk.
"Dia seorang lelaki."
Siau-kongcu adalah samaran gadis, seorang perempuan, mirip merpati jinak, tapi juga mirip elang ganas yang siap menerkam mangsanya.
Sampai sekarang Sim Bik-kun masih merasa ngeri, dalam mimpi sering bertemu, walau gadis ini sudah meninggal, mati di bawah pedang Lian Shia-pik.
Siau Cap-it Long berkata.
"Lelaki yang satu ini memang bertingkah mirip cewek, tapi pasti dia seorang lelaki tulen."
"Kau yakin?"
"Peduli dia perempuan menyamar lelaki, atau lelaki menyamar perempuan, aku punya cara menentukan dia lelaki atau perempuan."
"0, bagaimana caranya?"
"Caraku ini resep tunggal perguruan, tiap kali praktek tiap kali berhasil, seratus persen betul, belum pernah meleset sekalipun."
"Caranya bagaimana?"
"Merabanya sekali."
Merah jengah selebar muka Pin-pin.
"Tadi waktu kau tidak perhatian, aku sudah merabanya."
Dengan muka jengah Pin-pin berkata.
"Kulihat kau mabuk."
"Siapa bilang aku mabuk."
Melotot mata Siau Cap-it Long.
"aku sadar sesadar-sadarnya."
"Kalau tidak mabuk, ucapanmu tidak pernah sekotor itu."
Sejenak Siau Cap-it Long mengawasinya mendelong, akhirnya tertawa sambil memperlihatkan barisan giginya.
"Apa benar kau kira aku ini orang baik?"
Pin-pin menghela napas, suaranya lembut.
"Aku tidak peduli bagaimana orang menilaimu, hanya aku yang tahu, kau adalah ...."
Belum habis ia bicara, dari sana berkumandang derap lari kuda menarik kereta. Sebuah kereta besar warna hitam cepat sekali melesat di jalan raya di depan mereka. Pin-pin berteriak.
"He, itulah kereta yang dinaiki orang tadi."
"O, apa iya?"
"Tengah malam buta rata, mereka menempuh perjalanan sekencang itu, untuk keperluan apa?"
"Mungkin kereta itu kosong."
"Pasti ada penumpangnya."
"Kau melihat penumpangnya?"
"Ada banyak kepulan debu di belakang kereta, aku tahu apakah kereta itu berpenumpang."
"O, ternyata sepasang matamu jauh lebih lihai dari begal besar Siau Cap-it Long."
Pin-pin tertawa geli.
"Ya, sedikit lihai dibanding begal besar Siau Cap-it Long yang mabuk."
"Bagaimana kalau kita menyusulnya?"
Kata Siau Cap-it Long.
"Ingin aku tahu bocah itu sedang memerankan tokoh apa?"
Padahal kereta itu dilarikan kencang dan telah lenyap ditelan kegelapan, di tengah malam hening suaranya pun tidak terdengar lagi.
Siau Cap-it Long sudah melompat berdiri, tapi pelan-pelan duduk kembali.
Kalau sudah menyusul memangnya mau apa?
Bukankah dengan tegas dia telah menolak uluranku?
Dari buntalan taplak meja, Siau Cap-it Long merogoh keluar sepotong daging bebek, dengan rakus ia gerogoti daging itu seperti orang kelaparan.
Makan kadang memang bisa mengendalikan emosi seseorang, menenangkan pikiran menenteramkan gejolak hati.
Dengan merenung Pin-pin berkata.
"Aku yakin mereka tidak melihat kita, pasti menyangka kita sudah pergi naik kereta."
Siau Cap-it Long sedang sibuk mengunyah daging bebek. Biasanya dia memang makan bebek panggang, tapi daging yang dikunyah dalam mulut terasa seperti arang kayu layaknya.
"Kusir yang mengendaikan kereta, kulihat bukan lagi kusir kereta yang tadi,"
Kata Pin-pin lebih jauh, urusan sekecil ini ternyata juga masuk perhatiannya.
"Kereta itu jelas berpenumpang, tapi hanya satu orang saja."
Siau Cap-it long mulai merasa aneh.
"Kenapa hanya seorang?"
Pin-pin juga sedang keheranan. Mendadak ia berkata.
"Bagaimana kalau kita kembali ke hotel Lian-hun?"
Sudah tentu setuju.
Apa yang disarankan Pin-pin, Siau Cap-it Long jarang menolak apalagi menentangnya.
* * * * * Lampu-lampu masih menyala, tapi orangnya sudah pergi.
Rumah itu kosong, di ruangan tiada orang, di kamar juga senyap.
Bukan saja tiada penghuni, barang-barang bawaan juga tiada.
"Mereka sudah pergi semua,"
Ujar Siau Cap-it Long.
"Tapi kereta itu jelas hanya ada satu orang."
"Mungkin mereka berpencar?"
"Kalau datang bersama, kenapa tidak pulang berbareng?"
Berputar bola mata Siau Cap-it Long, dengan tertawa ia berkata.
"Mungkin mereka tahu kita bakal balik, diam-diam bersembunyi di bawah ranjang."
Mendadak ia melompat ke sana, dengan sebelah tangan ia angkat pinggir ranjang hingga tersingkap miring.
Kosong melompong, kecuali debu tiada benda lain, rasanya seperti mengumbar tenaga belaka.
Pin-pin malah melihat sebuah benda, benda yang warnanya mirip debu.
Pin-pin maju mendekat memungut benda itu, ternyata sebuah tusuk kondai kayu warna hitam mengkilap.
Mendadak diserobot Siau Cap-it Long, Sekali lihat berubah air mukanya.
Tiada persoalan genting apapun yang bisa merubah air mukanya.
"Kau pernah melihat tusuk kondai ini?"
Tanya Pin-pin.
"Hm, ya."
"Di tempat mana kau pernah melihatnya?"
"Di sanggul seseorang."
"Sanggul siapa? Nona Sim?"
Sambil geleng kepala Siau Cap-it Long menghela napas.
"Selamanya kau takkan bisa menebak siapa dia."
Berputar biji mata Pin-pin.
"Apa bukan Hong Si-nio?"
Siau Cap-it Long menarik napas.
"Tebakanmu benar."
"Wanita tak mampu berjalan itu, apa mungkin Hong Si-nio?"
Baru sekarang menyadari persoalan ini, langsung ia berjingkrak gugup.
"Ya, benar pasti dia, dia tadi ada di sini."
Warna tusuk kondai sudah kusam, sudah lama tak dipakai, tapi Hong Si-nio amat menyayangi benda itu, sebab benda itu adalah kenang-kenangan hadiah Siau Cap-it Long.
"Harta benda seperti mutiara atau perhiasan mahal lain miliknya malah lebih banyak tapi tusuk kondai kayu ini tak pernah tanggal dari sanggul kepalanya selama bertahun-tahun, kalau bukan karena dia ditawan, mungkin ditutuk jalan darahnya hingga tidak mampu bergerak, tak mungkin membiarkan benda kesayangan ini jatuh di bawah ranjang."
"Tusuk kondai ini ada di bawah ranjang, berarti badannya juga disembuyikan di situ."
"Betul, waktu kami meluruk datang tadi, Hong Si-nio pasti disembunyikan di bawah tempat tidur."
"Tapi bawah ranjang hanya cukup untuk bersembunyi satu orang saja."
"Di kereta itu juga hanya ada satu penumpang."
"Lalu mereka berada di mana?"
Siau Cap-it Long menjadi gemas.
"Apapun yang akan terjadi, yang penting sekarang kita temukan dulu bocah itu."
"Bila bisa menemukan kereta itu, pasti dapat menemukan dia."
"Sekarang juga kita cari,"
Ucap Siau Cap-it Long, mendadak ia buang buntalan taplak meja.
Waktu mengangkat kepala ia melihat seorang berdiri melongo di ambang pintu.
Gu-ciangkui baru saja beranjak masuk, ia mengawasi sisa hidangan yang berserakan di lantai, matanya mendelong.
Terpaksa Siau Cap-it Long tertawa menyengir.
"Kami orang kikir, suka berhemat, hidangan yang tidak habis dimakan biasanya kami bungkus dan bawa pulang."
Teipaksa Gu-ciangkui tertawa sambil manggut-manggut.
Sebetulnya dia sedang mengerahkan anak buahnya untuk bersih-bersih, sekaligus mencari keuntungan dari sisa hidangan yang dipesan para tamu.
Sungguh tak pernah terpikir olehnya rombongan ini pergi, rombongan lain balik lagi.
Siau Cap-it Long jadi sungkan sendiri, ia tarik tangan Pin-pin terus diajak pergi.
Mendadak Gu-ciangkui berkata.
"Apa kalian tidak ingin membungkus kembali sisa makanan di lantai ini untuk diantar ke seberang?"
Berhenti langkah Siau Cap-it Long, Pin-Pin malah menoleh.
"Seberang? Seberang itu tempat apa?"
"Lho kalian belum tahu? Dua nona tadi sudah dipindah di halaman belakang di seberang situ."
Bersinar mata Siau Cap-it Long, ia tepuk pundak Gu-ciangkui.
"Kau orang baik, aku senang mengenalmu. Hidangan ini semua kuserahkan padamu untuk makan tengah malam, tak usah sungkan."
Mengawasi hidangan yang sudah campur aduk di lantai, Gu-ciangkui melenggong sekian lama, mimiknya menjadi aneh, mau tertawa seperti juga ingin menangis, waktu ia mengangkat kepala, dua orang itu sudah lenyap entah kemana.
Kebetulan seorang pelayannya masuk, siap membersihkan ruang ini, Gu-ciangkui tepuk-tepuk pundaknya dan berkata padanya.
"Sisa hidangan ini kuberikan padamu untuk makan malam di rumah, semuanya ambil, jangan sungkan."
VIII.
GOLOK JAGAL RUSA Suasana di pekarangan barat sunyi senyap, gelap gulita, betulkah di sini tiada orang?
Pohon waru yang besar itu berdiri kokoh di tengah pekarangan, ditimpa sinar rembulan yang redup, bayang-bayang daunnya bergerak gemulai di daun jendela yang ditutup kertas.
Jendela ditutup rapat, demikian pula pintu kamarnya.
Sambil menarik tangan Siau Cap-it Long, Pin-pin berbisik.
"Dalam kamar begitu gelap, awas ada perangkap."
Siau Cap-it Long memanggut.
"Apa kita akan menerjang masuk begitu saja?"
Tanya Pin-pin. Siau Cap-it Long kipatkan tangan orang, dengan gerakan lincah ia melompat ke depan, di mana tinjunya bergerak.
"blang", pintu di jotosnya jebol. Di tengah kegelapan sana seorang berkata dingin.
"Berdirilah di situ jangan bergerak, atau kubunuh dia."
Siau Cap-it Long malah tertawa, katanya.
"Kau berani membunuhnya? Memangnya kau sendiri ingin mampus?"
Dalam situasi yang makin berbahaya, Siau Cap-it Long malah suka tertawa, sebab ia tahu, tertawa bukan saja bisa menenteramkan hati, bisa mengendalikan diri, lawan juga sukar menebak keadaannya.
Yang pasti orang di tengah kegelapan itu tidak berani bereaksi, jelas nada tawanya yang wajar justru memberi tekanan batin baginya.
Tapi ia sendiri juga tidak berani gegabah, diam di tempat tak berani bertindak sembarangan.
Mendadak kamar itu menjadi terang oleh cahaya dian.
Seorang muncul sambil mengangkat sebuah dian, cahaya dian menyinari wajahnya.
Sebuah wajah yang molek penuh senyum nakal, rambut gilap dikuncir dua, tawanya mekar seperti bunga di musim semi.
Hong Si-nio duduk di sebelahnya, berdandan mirip seorang pengantin, tapi duduk mematung seperti golekan.
Awalnya Sim-sim ingin membawanya pergi, sayang ia tidak mampu membuka tutukan jalan darahnya, menggendongnya pergi juga tidak kuat.
Umpana kuat juga takkan mampu lari jauh, akhirnya toh terkejar, berarti sia-sia usahanya.
Akhirnya Hong Si-nio melihat Siau Cap-it Long, Siau Cap-it Ling juga melihat Hong Si-nio.
Hong Si-nio tidak kelihatan tua, kelihatannya malah lebih muda dibanding dua tahun lalu.
Bola matanya masih cemerlang, dengan tajam ia mengawasi Siau Cap-it Long, sorot matanya menampilkan rona yang berbeda dan berubah-ubah, entah senang, duka atau lega?
Entah terharu atau mungkin gegetun?
Siau Cap-it Long tersenyum lebar, cukup lama mengawasi, mulutnya menggumam.
"Orang ini kenapa justru makin muda saja? Memangnya dia siluman perempuan?"
Siau Cap-it Long kembali menampilkan gayanya yang lama.
Penampilannya lebih ganteng cakap, pakaian yang membungkus tubuhnya jelas dari bahan pilihan, harganya tidak kurang seratus tahil perak, sikapnya yang kemalas-malasan, senyum nan mempesona, sepertinya langit ambruk juga tidak peduli.
Darah di sekujur badan Hong Si-nio justru sedang bergolak, rasa hati ingin berontak berdiri, lalu berlari menubruk ke dalam pelukannya, saking gemas ingin rasanya ia menggigit pundak orang serta menempeleng mukanya dengan keras.
Entah, ia sendiri tidak bisa menjelaskan, kenapa tiap kali berhadapan dengan perjaka yang satu ini, ia hampir sukar mengendalikan diri, apakah itu gejolak cinta?
Atau benci?
Hong Si-nio tidak bisa membedakan.
Bola mata Sim-sim juga membulat besar, dengan tajam mengawasi Siau Cap-it Long, setelah menghela napas ia berkata.
"Siau Cap-it Long eh Siau Cap-it Long, tak heran banyak cewek kepincut kepadamu, tapi tidak sedikit pula yang membencimu? Aku sendiri pun gemas."
Sekilas tadi Siau Cap-it Long sudah mengawasi orang ini, hanya sekilas pandang, tapi ia sudah melihat jelas dari kepala hingga kaki. Sim-sim berkata lagi.
"Bola matamu itu sungguh membuatku gemas sekali. Saat kau mengawasi orang, sepertinya orang yang kau pandang itu telanjang bulat di depanmu."
Siau Cap-it Long menghela napas.
"Sayang kau masih anak-anak, atau...."
Sim-sim membusungkan dada malah, katanya sambil melirik.
"Atau apa?"
Siau Cap-it Long menarik muka, suaranya kereng.
"Sebetulnya kau sudah mampus tiga kali."
Berubah muka Sim-sim, kejap lain sudah tertawa lebar.
"Sayang sekali, sebelum kau maju ke depan. Hong Si-nio juga sudah mampus tiga kali."
Siau Cap-it Long menyeringai.
"Kau juga berani membunuh orang?"
"Aku tidak berani,"
Ujar Sim-sim.
"aku takut gemuk, daging saja aku tidak berani makan, tapi kondisi sekarang memaksa aku tiap hari harus makan daging."
"O, jadi kau pernah membunuh orang?"
"Belum banyak orang yang kubunuh, sampai hari ini belum genap delapan puluh."
Siau Cap-it Long malah tertawa.
"Aku suka orang yang pernah membunuh."
"Kau suka?"
Tanya Sim-sim melengong.
"Ya, hanya orang yang pernah membunuh orang, baru bisa merasakan bagaimana deritanya dibunuh orang."
"Ya, memang menderita, sering kulihat mereka yang terbunuh celananya basah kuyup."
"Syukur kau mengerti, maka jangan kau paksa aku membunuhmu."
Senyum Sim-sim makin lebar malah.
"Siapa pun yang ingin membunuhku, pasti menimbulkan duka dalam hatiku. Terhadapmu pun demikian."
"Kalau begitu coba kita berunding."
"Berunding bagaimana?"
Tanya Sim-sim.
"Kalau sekarang kau mau menyingkir, aku tidak akan menahanmu. Siapa tahu kau bisa hidup lama sampai umur delapan puluh."
"Sepertinya anjuranmu cukup adil."
"Adil seadil-adiinya."
"Tapi aku juga ingin berunding dengan kau."
"O, coba jelaskan."
"Kalau sekarang kau ingin minggat, aku juga tidak akan merintangimu. Siapa tahu Hong Si-nio juga bisa berumur panjang, hidup sampai sembilan puluh tahun."
Siau Cap-it Long bergelak tawa.
"Agaknya usulmu ini juga amat adil."
"Jelas adil seadil-adilnya."
Siau Cap-it Long bergelak tawa panjang, seperti ingin bicara lagi, tapi gelak tawanya mendadak sirna. Kejap lain dari luar jendela seseorang berkata dengar kalem.
"Agaknya di sini sedang ada barter, setiap barter akan kuberi potongan tiga puluh persen."
Suaranya tidak keras, di alam nan sunyi, umpama dia hersuara dengan nada rendah juga bisa didengar orang sekelilingnya, apalagi tawarannya cukup menarik perhatian.
Diam-diam Siau Cap-it Long menarik napas panjang, hatinya maklum, kini ia harus berhadapan dengan orang yang sukar dihadapi.
Dandanan dan tindak-tanduk orang ini kelihatannya bukan orang yang sukar dihadapi, usianya belum tua, jelas juga tidak muda, pakaiannya tidak begitu mewah, tapi jelas dia bukan orang rudin, badannya tidak gemuk tapi bukan lelaki yang kurang makan, kalau bicara penuh sopan santun, sikapnya ramah lagi sabar.
Di setiap kota besar yang banyak penduduknya, tidak sukar kau berhadapan dengan orang seperti ini, ya, orang biasa yang tiada beda dengan manusia umumnya.
Pedagang yang biasa mondar-mandir dalam kalangannya, setelah punya kedudukan, setelah punya tabungan, punya bini yang bijak dan arif, ada tigaempat anak, di rumah dibantu dua-tiga babu, bukan mustahil dia adalah juragan kain yang buka toko di kota, mungkin juga juragan pemilik hotel terkenal.
Yang pasti tampang dan penampilan orang ini lebih juragan dibanding juragan Lu pemilik Bok-tan-lou atau juragan Gu pemilik hotel di tempat ini.
Awal bicara orang ini masih berada di luar jendela kecil di bilik belakang sana, tapi begitu selesai bicara, tahu-tahu orangnya sudah melangkah masuk.
Langkahnya tidak teramat cepat, tapi juga tidak lambat, setelah berada di samping Siau Cap-it Long, lalu berhenti.
Dengan senyum lebar ia bersoja.
"Aku she Ong, Ong Ban-seng."
Ong Ban-seng, nama yang sering dan biasa terdengar dimana saja, nama yang juga mudah dilupakan orang. Dengan senyum lebar Ong Ban-seng berkata.
"Yakin anda semua tidak pernah mendengar nama yang satu ini di kalangan Kangouw."
Siau Cap-it Long mengangguk.
"Tapi aku justru sudah kenal kalian,"
Ujar Ong Ban-seng.
"kalian tokoh-tokoh terkenal. Terutama Siau Cap-it Long dan Hong Si-nio."
Mendadak Sim-sim menyeletuk.
"Kau tahu berhadapan dengan Siau Cap-it Long, kini sedang bicara hitung dagang, berani kau hendak mengambil keuntungan tiga puluh persen."
Makin lebar senyum Ong Ban-seng.
"Umpama baginda raja sedang jual beli di sini, aku juga akan memungut pajak tiga puluh persen."
Berkedip bola mata Sim-sim.
"Tempat ini daerah kekuasaanmu?"
"Bukan."
"Lha kenapa kau harus menarik pajak tiga puluh persen?"
"Tiada alasan apa pun, yang pasti aku memungut tiga puluh persen."
"Awalnya kukira kau ini lelaki yang tahu tata krama, ternyata bertindak seperti perampok."
Bentrok Para Pendekar 06 Karya Gu Long -Gan K.H. Bagian 6
"Yang pasti aku bukan perampok, kalau perampok merampas seluruhnya, aku hanya menarik tiga puluh persen."
"Kau tahu jual beli apa yang sedang kami bicarakan?"
Tanya Sim-sim. Ong Ban-seng memanggut.
"Tentang Hong Si-nio bukan?"
"Persoalan begini juga kau tarik pajak tiga puluh persen?"
"Ya, tiga puluh persen yang kumaksud adalah salah satu pahanya, setengah dada dan sebuah mata."
Sim-sim cekikikan.
"Kau anggap Hong Si-nio seekor ayam?"
"Kalau betul dia seekor ayam, aku tidak mau mata, aku senang lehernya."
Bola mata Sim-sim berputar, mendadak ia berseru.
"Baiklah, apa yang kau inginkan silakan ambil saja."
"Nah, kan begitu, yang kuminta tidak banyak."
"Eh, aku ingin bertanya,"
Seru Sim-sim.
"yang kau minta paha kiri atau paha kanan?"
"Kiri kanan tidak jadi soal."
"Umumnya daging paha kiri lebih kencang, kalau paha kiri yang kau pilih, aku boleh memheri bonus telinga kiri juga."
"Tidak, terima kasih."
"Kau membawa pisau,"
Tanya Sim-sim "Tidak."
"Siau Cap-it Long pasti bawa, boleh kau pinjam pisaunya."
Ong Ban-seng berpaling ke arah Siau Cap-it Long, dengan tertawa ia berkata.
"Setelah kupakai pasti kukembalikan."
Siuw Cap-it Long diam mendengarkan, rona mukanya membeku sejak tadi, baru sekarang ia berkata tawar.
"Siapa pun yang ingin pinjam golokku, harus ada anggunannya."
"Anggunan apa yang kau minta?"
Tanya Ong Ban-seng.
"Hanya sepasang tangan dan setengah kepalamu,"
Jawab Siau Cap-it Long. Ong Ban-seng tetap tenang, katanya tersenyum.
"Kau juga harus menggunakan golok untuk memotongnya."
"Yang pasti golok milikku."
"Kenapa tidak kau potong saja,"
"Bagus,"
Tangan Siau Cap-it Long sudah menggenggam gagang golok. Pada saat itulah mendadak juragan Gu menorobos masuk seraya berteriak.
"Nanti dulu tuan-tuan, kalau ingin potong memotong, jangan di hotelku ini, pindahlah ke tempat lain, kalau terjadi pembunuhan di sini, memangnya siapa mau datang dan menginap di hotelku?"
Sembari bicara ia menghadang di depan Siau Cap-it Long sambil membungkuk badan seperti ingin menyembah layaknya.
"Mohon tuan-tuan berbuatlah baik, jangan bentrok dengan senjata di tempatku ini."
Belum habis bicara, di saat badannya membungkuk ke depan, dari balik baju di punggungnya mendadak melesat tiga batang panah pendek, dari lengan baju kanan kiri juga meluncur tiga papah berbulu, menyusul pergelangan tangan membalik, tangan kiri manimpukkan tiga mata uang, tangan kanan meluncurkan tiga batang Hwi-hong-ciok.
Lima belas batang senjata rahasia serempak menyerang berbareng, yang diincar lima belas Hiat-to di tubuh Siau Cap-it Long.
Jarak mereka tidak lebih tiga kaki, serangan senjata rahasia yang telak dan kencang, untuk menghindari sergapan mematikan ini, rasanya sesukar memanjat ke langit.
Siau Cap-it Long tidak berusaha berkelit atau menghindar, hakikatnya memang tidak mungkin berkelit.
Dimana sinar golok berkelebat, tiga batang panah, tiga Kim-ci-piau, tiga Hwi-hong-ciok, enam batang panah berbulu, sakaligus ditabasnya putus berhamburan.
Dimana sinar golok menukik turun ke bawah, tahu-tahu tenggorokan juragan Gu sudah terancam di ujung goloknya, mukanya seketika membesi hijau ketakutan.
Terdengar seorang berkata dingin.
"Golokku ini memang tidak sebanding Keh-lo-to, kalau hanya menggorok leher orang, gampangnya seperti membalik tangan."
Itulah suara juragan Lu, juragan Lu pemilik hotel Bok-tan-lau.
Sebilah golok berada di tangannya, mengancam leher Pin-pin.
Pin-pin mematung pucat, berdiri kaku tak berani bergerak.
Sementara itu Ong Ban-seng sudah berada di belakang Hong Si-nio, katanya tersenyum lebar.
"Tanpa pakai golok aku juga bisa membunuh orang, membunuh orang aku tidak biasa pakai golok."
Kelihatannya Siau Cap-it Long juga mematung kaku, badannya berkerut dingin, Sim-sim mengawasinya, katanya gegetun.
"Kali ini kurasa kau benar-benar terjungkal."
"Dan kau?"
Tanya Siau Cap-it Long.
"Aku juga kalah, tapi aku kalah dengan rela."
"O?"
Dengus Siau Cap-it Long. Sim-sim menghela napas.
"Sudan lima hari aku berada di sini, sedikitpun tidak tahu kalau dua juragan ini ternyata orang kosen, biarpun terjungkal, aku mengaku kalah dengan tulus, ya, apa boleh buat."
Ong Ban-seng berkata.
"Sekarang pihakku yang menang, hanya pemenang saja yang berhak bicara."
"Aku sedang mendengarkan,"
Sahut Siau Cap-it Long.
"Kau ingin mereka hidup?"
Tanya Ong Ban-seng.
"Ya, ingin sekali,"
Sahut Siau Cap-it Long.
"Nah, lepaskan dulu juragan Gu."
"Boleh", hanya sepatah kata, kejap lain goloknya sudah kembali ke dalam sarung.
"Serahkan pula golokmu."
"Boleh,"
Tanpa sangsi Siau Cap-it Long menanggalkan golok jagal rusanya terus diangsurkan ke depan, lekas sekali juragan Gu menerima golok itu, matanya bersinar membundar.
Golok inilah yang pernah membuat banyak orang gagah kabat-kebit, entah berapa banyak pula darah manusia pernah diisap golok itu.
Menggenggam golok sakti itu, perasaan juragan Gu bergolak, badan gemetar karena emosi, hampir tidak percaya akan kenyataan ini.
Sorot matanya menampilkan perasaan rakus, setelah menelan ludah, dengan gemetar ia berkata.
"Kalau ada orang demi diriku rela berkorban untuk golok sakti ini, umpama aku harus mati untuknya juga rela."
Ong Ban-seng bergelak tertawa, serunya.
"Siapa nyana Siau Cap-it Long adalah orang yang banyak menanam cinta dan mengagungkan kebenaran."
Sembari bicara, matanya menatap ke arah golok di tangan juragan Gu. Sejenak ragu-ragu juragan Gu baru beringsut sambil memegang golok.
"Eh, tunggu sebentar,"
Mendadak Siau Cap-it Long berseru.
Juragan Gu mana mau menunggu, gerak tubuhnya dipercepat melompat ke belakang, pada saat itulah sebuah tangan mendadak diulur datang, dengan enteng menyentil di siku tangannya.
Tanpa kuasa badannya mencelat mumbul ke atas, waktu ia berjumpalitan turun dan berdiri kembali, golok di tangannya sudah lenyap.
Golok sakti itu ternyata sudah bergda di tangan Siau Cap-it Long kembali.
Seenaknya ia menyerahkan golok, seenteng capung terbang, serta dengan gerakan apa, tahu-tahu goloknya telah direbut kembali, seperti orang main sulap saja.
Ong Ban-seng mengerut kening, jengeknya.
"Rasanya kau tidak rela?"
Siau Cap-it Long tertawa lebar.
"Golok ini bukan milikku, kenapa tidak rela?"
"Kalau rela, kenapa direbut kembali?"
"Aku bisa memberi juga bisa merebut kembali, setelah kurebut kembali bisa kuserahkan kembali."
"Baiklah,"
Seru Ong Ban-seng.
"Nanti dulu, ingin kutanya satu hal,"
Ujar Siau Cap-it Long.
"Kau boleh bertanya."
"Konon belakangan ini di Kangouw muncul seorang yang menakutkan, bernama Hamwan Sam-seng."
Ong Ban-song diam mendengarkan.
"Jual beli dari golongan hitam atau putih, peduli siapa saja, bila ia mendengar kabar dan tahu tempatnya, dia pasti datang dan menarik keuntungan tiga puluh persen. Siapa berani menentang kehendaknya, dalam tiga hari, jiwa melayang jenazah pun lenyap tidak keruan parannya."
"Wah, hebat benar orang itu!"
Seru Ong Ban-seng.
"Konon bukan saja lihai, kepandaiannya banyak ragamnya, jejaknya sukar dilacak, hanya sedikit orang yang pernah tahu siapa dia sebenarnya."
"Jadi kau ingin bertemu dengan dia?"
"Konon dia paling senang bertamasya di Koh-soh, apalagi di musim rontok di waktu perayaan Tiong-ciu, tiap tahun dia pasti berada di tempat ini."
"Maka engkau juga berada di sini."
"Aku juga ingin kontrak dagang dengan dia."
"Kontrak dagang apa?"
"Betapa banyak kontrak dagang diteken di kalangan Kang-ouw, kalau setiap kontrak dagang ditarik pajak tiga puluh persen, hanya sehari saja, hasilnya bisa menjadi jaminan hidup sepanjang abad. Yang kutahu, dia sudah menarik pajak selama dua tahun."
"Maksudmu kau akan memaksanya memberimu tiga puiuh persen, begitu?"
"Bukan tiga puluh,"
Tawa suara Siuw Cap-it Long.
"aku minta tujuh puluh persen."
"Hah, tujuh puluh persen?"
"Kalau dia hanya minta tiga puluh persen, akan kusisakan tiga puluh persen untuknya."
"Apa dia setuju?"
"Kalau tidak setuju, aku juga akan membuatnya mampus tanpa bekas dalam waktu tiga hari."
Ong Ban-seng tertawa besar.
"Untung aku bukan Ham wan Sam-seng, aku adalah Ong Ban-seng."
"Tapi aku yakin kau adalah orang kepercayaannya."
"Apa kau tidak keliru?"
"Tidak, karena kau juga hanya menarik tiga puluh persen."
Akhirnya Ong Ban-seng menghela napas.
"Dalam segala hal rasanya sukar mengelabui dirimu."
"Ya, jangan harap."
"Maksudmu minta aku mengajakmu bertemu dengan dia?"
Tanya Ong Ban-seng. Siau Cap-it Long manggut-manggut.
"Kau pikir aku akan mengajakmu ke sana?"
"Kalau menolak, sekarang juga aku bisa membuatmu mampus tanpa bekas."
Ong Ban-seng tertawa lebar.
"Kau tidak kuatir aku membunuh mereka lebih dulu?"
"Aku tidak kuatir."
Ong Ban-seng menarik muka.
"Potong dulu sebelah kuping nona Pin-pin. Coba dia bisa berbuat apa?"
Juragan Gu tertawa lebar.
"Golokku ini memang tidak setajam jagal rusanya, tapi untuk mengiris kuping rasanya mudah sekali."
Sembari bicara ia membalik golok terus mengiris kuping kiri Pin-pin.
Sejak tadi Pin-pin berdiri kaku tak bergerak, mirip itik yang sudah ditelikung akan disembelih.
Pada saat yang menentukan itulah mendadak sebelah kakinya beringsut ke samping berbareng tangan kiri menyanggah siku juragan Gu.
Tanpa kuasa mendadak juragan Lu terangkat badannya ke udara, tahu-tahu golok di tangannya sudah direbut Pin-pin.
Dimana sinar golok berkelebat, sebuah kuping berdarah jatuh di lantai.
Di kala badan juragan Lu melorot turun berdiri kembali di tempatnya, golok kembali diangsurkan Pin-pin ke tangannya, darah tampak berlepotan di ujung golok.
Kuping yang jatuh bukan kuping Pin-pin, tapi kuping juragan Lu.
Baru sekarang ia merasa kepalanya perih, sementara darah segar meleleh membasahi pakaiannya sambil mengeluh kesakitan, mendadak ia jatuh pingsan.
Di sebelah sana muka juragan Gu mulai membesi hijau.
Seorang kalau ketakutan, bukan lagi pucat pias, tapi menghijau kelam.
Muka Sim-sim juga berubah.
"Sungguh tak nyana, gadis jelita yang kelihatan lemah lembut ternyata seorang kosen yang lihai, rasanya bola mataku harus dikorek."
Pin-pin mengawasinya, suaranya lembut.
"Kau pun mau kukorek matamu?"
"Tidak,"
Seru Sim-sim menggeleng kepala. Pin-pin menarik muka.
"Aku tidak suka mendengar orang berbohong."
Tanpa bicara mendadak Sim-sim berlari sipat kuping, seperti kelinci yang kena panah menerjang keluar. Ong Ban-seng menggeleng kepala.
"Selama ini aku beranggapan hanya Hong Si-nio seorang perempuan yang paling ganas di Kangouw, ternyata kau tidak kalah dibanding dia."
"Kau masih ingin menyuruh orang memotong telingaku?"
"Tidak, batal saja."
"Kau mau mengajak kami bertemu dengan Hamwan Sam-seng tidak?"
"Tidak mau."
"Lalu apa kehendakmu?"
"Masih ada satu taruhan, aku ingin bertaruh dengan kalian."
"Apa taruhanmu?"
"Hong Si-nio,"
Kata Ong Ban-seng tertawa.
"kalau kubunuh Hong Si-nio, kau tidak akan sedih, tapi Siau Capit Long ... kau kan tahu Siau Cap-it Long adalah perjaka yang romantis."
Pin-pin tidak menyangkal.
"Kalau kau membunuh Hong Si-nio, kau pun akan mampus di sini."
"Nah, itulah. Tidak akan kubunuh dia, tapi dia akan kupertaruhkan dengan kau."
"Baik, taruhan apa?"
"Taruhan golokmu."
"Bertaruh cara apa?"
"Dalam tiga jurus dia mampu mengalahkan Pek-tiong-siang-hiap, mestinya dalam tiga jurus bisa mengalahkan aku, aku kan hanya seorang keroco."
Seorang kalau mengaku dirinya keroco, pasti bukan orang sembarangan, Siau Cap-it Long maklum akan hal ini, tapi keadaan menyudutkan dirinya tiada pilihan lain.
"Kalau aku menang,"
Demikian seru Ong Ban-seng.
"Hong Si-nio dan golokmu itu akan kubawa pergi."
"Kalau kalah?"
"Hong Si-nio kubebaskan, lalu membawamu mencari Ham-wan Sam-seng."
"Omonganmu boleh dipercaya?"
Ong Ban-seng menghela napas.
"Kalau aku kau kalahkan, memangnya ucapanku tidak kau percaya?"
Lalu dengan senyum lebar menambahkan.
"yang pasti aku percaya kau adalah orang yang dapat dipercaya."
"Tiga jurus?"
"Golok masih di tanganmu, kau boleh memakai golok."
"Kau pakai senjata apa?"
"Senjata apa di dunia ini yang mampu menandingi golok jagalmu itu, kenapa aku harus pakai senjata?"
"Bagus, sepatah kata, akur."
"Sepatah kata, akur"
"Siau Cap-it Long,"
Mendadak sebuah suara menyeletuk.
"kali ini kau pasti kalah."
Yang bicara ternyata Hoa Ji-giok adanya. Sambil menggendong tangan, dengan helaan napas panjang ia beranjak masuk, sikap dan mimiknya seperti amat yakin, Siau Cap-it Long pasti kalah dalam duel nanti.
"Berdasar apa kau bilang dia pasti kalah?"
Seru Pin-pin.
"Hanya satu,"
Ujar Hoa Ji-giok.
"Satu apa?"
Seru Pin-pin.
"Belakangan ini di Kangouw beruntun muncul empat-lima tokoh yang sukar dilayani. Hamwan Sam-seng adalah satu di antaranya."
"Aku tahu"
Jengek Pin-pin. Hoa Ji-giok mendelik.
"Tahukah kau bahwa orang ini adalah Hamwan Sam-seng."
Orang yang dimaksud adalah Ong Ban-seng, Ong Ban-seng adalah Hamwan Sam-seng. Pin-pin menghela napas.
"Sebetulnya sudah kuduga hal ini."
"Sayang sekali, kelihatannya dia bukan tokoh yang menakutkan itu."
"Karena tidak mirip itulah, yakin dia betul adalah Hamwan Sam-seng."
Hoa Ji-giok bertepuk tangan.
"Ya, masuk akal."
Mendadak ia bertanya.
"tahukah kau tadi aku berada dimana? Pin-pin geleng-geleng.
"Tadi aku pergi mencarinya,"
Ujar Hoa Ji-giok.
"Mencari Hamwan Sam-seng maksudmu?"
Hoa Ji-giok memanggut.
"Dia mengundangku, sebab ada rezeki ingin dibicarakan denganku ."
"Rezeki apa?"
"Dia minta supaya Hong Si-nio dijual kepadanya."
"Dia mengundangmu membicarakan rezeki, tapi dia berada di sini, setelah kau kembali ke sini, Hong Si-nio sudah jatuh di tangannya, bukan mustahil nona cantikmu itu juga jatuh di tangannya, kau justru harus keluar uang untuk membelinya."
Hoa Ji-giok menghela napas.
"Ya, baru sekarang aku paham, orang inilah manusia paling licik dan licin di dunia."
"Ya, wajah kelihatan jujur, padahal hati sejahat ular berbisa, wajah malaikat, tapi hati bangsat, sungguh orang yang paling menakutkan di dunia."
"Pernah kau dengar dahulu di Kangouw ada orang yang di-juluki Cap-toa-ok-jin?"
Pin-pin tahu, insan persilatan pasti tahu.
"Tahukah kau di antara sepuluh orang jahat itu, ada seorang bergelar Ok-to-kui Hamwan Sam-kong."
Pin-pin tahu.
Dia juga tahu masih ada Put-ciak-jin-thau Li Toa-jui, Jio-li-cang-to Ha-ha-ji, Poan-jin-poan-kui Im Kiu-yu dan Put-lam-put-li To Kiau, kecuali itu masih ada Kian-jin-put-le-ki Pek Khay-sim, Bit-si-lang Siau Mi-mi, Hiat-jiu To Sat dan kakak beradik Ting-tong yang selamanya tidak mau dirugikan.
Setiap insan parsilatan yang punya mata pasti pernah mendengar nama julukan mereka.
"Syukur mereka sudah mati semua. Aku tidak perlu kuatir bakal bertemu dengan mereka."
"Tapi kali ini kau akan bertemu dengan Hamwan Sam-seng."
"Apa hubungan Hamwan Sam-seng dengan Hamwan Sam kong?"
"Tiada hubungan apa-apa,"
Sahut Hoa Ji-giok.
"Dalam hal berjudi Hamwan Sam-seng jelas lebih ganas, lebih berani dibanding Hamwan Sam-kong."
"0, begitu?"
"Hamwan Sam-kong memang adalah Ok-tu-kui, tapi setiap kali berjudi pasti harus habis, orangnya habis dan uangnya habis. Maka setiap kali berjudi setelah kalah total baru berhenti."
"Benar,"
Ucap Pin-pin.
"kabarnya dia memang suka berjudi, padahal dia seorang yang lapang dada berjiwa terbuka."
"Tapi Hamwan Sam-seng bukan orang yang terbuka apalagi lapang dada, kalau tidak yakin sukses dia tidak akan sembarang berjudi."
Pin-pin tahu apa yang diucapkan Hoa Ji-giok bukan bualan belaka.
Kalau Hamwan Sam-seng tidak memiliki kepandaian hebat, mana mungkin orang rela memberinya rabat tiga puluh persen.
Lebih jauh Hoa Ji-giok berkata.
"Kalau dua orang ini berduel satu lawan satu, kepandaian Hamwan Samseng mungkin bukan tandingan Siau Cap-it ong. Tapi kalau hanya tiga jurus Siau Cap-it Long hendak mengalahkan dia ...."
"Maksudmu sesukar memanjat ke langit?"
Sindir Pin-pin.
"Sepuluh lipat lebih sukar dari memanjat ke langit,"
Tegas jawaban Hoa Ji-giok.
"Bagus sekali,"
Mendadak Siau Cap-it Long berseru lantang.
"Bagus sekali?"
Tanya Hoa Ji-giok.
"Selama hidup,"
Demikian jawab Siau Cap-it Long tegas.
"yang paling senang kukerjakan adalah perkara yang sepuluh lipat lebih sukar dari memanjat ke langit itu."
IX.
BERSUA KEMBALI Malam telah larut, pertengahan musim rontok.
Angin malam berhembus lembut, daun-daun pohon bergontai seperti seorang yang sedang meresapi hidup yang mengesankan.
Siau Cap-it Long berdiri tegak di bawah pohon.
Perlahan-lahan akhirnya Hamwan Sam-seng muncul dan beranjak ke depan.
Orang awam yang paling biasa ini, dalam pandangan mata orang lain mendadak menjadi orang yang luar biasa, bukan sembarang orang.
Karena, dia adalah Hamwan Sam-seng.
Dari dalam rumah ia memindahkan sebuah kursi, bergegas juragan Gu membimbing Hong Si-nio duduk di kursi itu.
Pandangan Hong Si-nio menampilkan rasa kuatir, prihatin dan takut.
Selama kenal Siau Cap-it Long, entah berapa kali dia membenci Siuw Cap-it Long, kenapa keadaannya sekarang berubah begitu rupa.
Membencinya kenapa bersikap baik dan menurut terhadap Pin-pin?
Kenapa ingkar terhadap Sim Bik-kun?
Tapi di kala ia tahu Siau Cap-it Long menghadapi bahaya, entah kenapa sikapnya berubah menjadi kuatir dan prihatin.
Sejenak Hoa Ji-giok mengawasinya, lalu barpaling mengawasi Siau Cap-it Long, katanya setelah menghela napas.
"Siau Cap-it Long oh Siau Cap-it Long. Kalau duel kali ini kau kalah, selama hidup Hong Si-nio akan membencimu sampai mati. Maka kau tidak boleh kalah, tapi keadaan jelas memutuskan kau bakal kalah total."
Malam nan gelap masih ada cahaya bintang, muka Hamwan Sam-seng nan biasa sepertinya mulai berubah menjadi luar biasa, nampak sekali perubahan rona mukanya.
Terutama sorot matanya, pandangannya begitu tenang kukuh seperti batu cadas di pucuk gunung.
Siau Cap-it Long mengawasinya.
"Kau dulu yang turun tangan? Atau aku dulu yang menyerang."
"Silakan kau dulu,"
Sahut Hamwan Sam-seng.
"Berarti kau menunggu seranganku?"
Tanya Siau Cap-it Long.
"Aku tidak akan meniru pengalaman Auyang-hengte yang konyol itu."
"Kelihatannya kau lebih tabah dibanding mereka."
"Sebetulnya aku ingin menggunakan caraku sendiri untuk menghadapi mereka, mengobral omongan untuk mengganggu konsentrasimu."
"Kenapa tidak, silakan kau putar bacot."
Hamwan Sam-seng tertawa lebar.
"Omongan yang ingin kubicarakan tadi sudah diucapkan Hoa Ji-giok."
Sambil menggendong tangan ia berputar.
"Yakin kau juga mengerti bahwasanya dia tidak prihatin akan dirimu, maksudnya jelas supaya hatimu gundah dan akulah yang menang."
"Aku mengharap kau menang?"
Tanya Hoa Ji-giok.
"Sebab untuk menghadapiku lebih gampang daripada kau manghadapi Siau Cap-it Long. Kalau aku menang kau masih ada kesempatan membawa Hong Si-nio dan golok jagal itu, namun sayang..."
"Sayang apa?"
Tanya Hoa Ji-giok "Sayang keadaan Siau Cap-it Long sekarang hakikatnya tidak Seperti orang gundah, maka ku anjurkan lekaslah kau minggat saja,"
Demikian ejek Hamwan Sam-seng.
"Kenapa aku harus minggat?"
Desak Hoa Ji-giok.
"Sebab kalau dia yang menang, seumur hidupmu jangan harap kau bisa keluar dari pekarangan ini."
"Yang pasti aku yakin dia tidak akan menang,"
Jengek Hoa Ji-giok.
"Berdasar apa kau bilang begitu?"
"Jadi kau sendiri tidak yakin?"
"Ada, hanya tiga puluh persen."
Hoa Ji-giok berjingkat kaget, matanya terbelalak, mendadak berkata keras.
"Ya, aku sudah mengerti, aku sudah mengerti, kau ...."
Belum habis ia bicara, Hamwan Sam-seng yang tadi mempersilakan Siau Cap-it Long turun tangan lebih dulu justru mendahului menyerang dengan jurus yang amat ganas.
Hoa Ji-giok mengerti soal apa?
Bahwasanya Hamwan Sam-seng akan bisa menghindari tiga jurus serangan Siau Cap-it Long dengan tipu daya tenang mengatasi gerakan.
Kenapa sekarang justru menyerang lebih dulu?
Bahwasanya Hamwan Sam-seng adalah orang biasa yang bertabiat kalem, tapi sergapannya kali ini betulbetul ganas, dahsyat dan telengas, gerak tangannya mengandung banyak perubahan yang susah ditebak, bagitu bergerak, beruntun ia melancarkan empat jurus serangan.
Sayang dia melupakan satu hal.
Serangan ganas lagi dahsyat kadang malah melupakan pertahanan, demikian halnya dalam serangan jurus tipu yang banyak mengandung perubahan, sering kali justru sukar menghindari kecerobohan, berarti memberi peluang lawan melihat sisi lubang pertahanan yang lemah itu.
Apalagi kali ini ia menyerang hanya dengan sepasang tangan kosong, sementara Siau Cap-it Long memakai gaman golok sakti yang tajam luar biasa.
Hanya satu jurus, satu bacokan.
Hamwan Sam-seng menyurut mundur sambil memegang pundak, badannya gemetar menempel dinding, napasnya tersengal, desisnya lirih.
"Bagus, golok kilat yang bagus."
Golok kembali ke sarung. Dengan tenang, tegar Siau Cap-it Long berdiri di tempatnya, mengawasinya, rona matanya membayangkan rasa heran. Hamwan Sam-seng tertawa getir.
"Aku mengaku kalah. Silakan kau bawa Hong Si-nio."
Wajah Hoa Ji-giok lebih pucat dibanding orang yang kalah dan terluka itu, mendadak ia berseru keras.
"Kau sengaja dikalahkan olehnya. Sejak awal aku sudah mengerti, jangan harap kau bisa menipuku."
"Kenapa aku harus mengalah kepadanya? Memangnya aku ini edan? Sudah pikun?"
Jengek Hamwan Samseng.
"Sebab kau ingin Siau Cap-it Long menghadapiku, sebab kau takut aku membuat perhitungan terhadapmu."
"O, masakah begitu?"
"Obrolanmu tadi sengaja mengagulkan kemampuan Siau Cap-it Long, sengaja menyerang lebih dulu supaya kau dikalahkan. Sebab kau paham, jika dia kalah, kau malah akan menghadapi banyak perkara."
"Kau kira aku tidak menginginkan Hong Si-nio, tidak mau golok jagal itu,"
Semprot Hamwan Sam-seng.
"Aku tahu kau ingin sekali. Tapi kau juga sadar setelah kau memiliki keduanya, mereka pasti tidak akan memberi peluang kepadamu, apalagi Hong Si-nio kan bukan milikmu. Walau duel kali ini kau dikalahkan, kau tidak menderita rugi sedikitpun."
Hamwan Sam-seng tertawa.
"Bagaimanapun urusan sudah terjadi, yang pasti aku dikalahkannya."
Hal ini memang kenyataan, siapa pun tak bisa menyangkal. Hamwan Sam-seng berkata.
"Hong Si-nio sudah kukembalikan, sekarang kalian juga sudah melihat dan berhadapan langsung dengan Hamwan Sam-seng."
Lalu ia mengawasi Siau Cap-it Long dan menambahkan.
"Setiap patah kata yang pernah kuucapkan pasti kutepati."
Siau Cap-it Long manggut-manggut.
"Sekarang aku sudah kalah dan terluka,"
Kata Hamwan Sam-seng.
"kau takkan mencari perkara lagi terhadapku, umpama ada persoalan penting, kau bisa bersabar menunggu lukaku ini sembuh. Aku yakin kau lelaki jantan yang boleh dipercaya, bukan orang yang biasa mengambil keuntungan."
Setelah menarik napas panjang ia melanjutkan.
"Maka sekarang lekas kalian memapahku pulang untuk istirahat."
Kalian yang dimaksud jelas adalah juragan Gu dan juragan Lu.
Bergegas kedua orang ini memapah Hamwan Sam-seng meninggalkan tempat itu.
Hoa Ji-giok hanya mendelong membiarkan mereka pergi.
Tidak mengejar juga tidak merintangi, sebab ia maklum Siau Cap-it Long takkan membiarkan dirinya pergi.
Sepasang bola mata nan tajam memang sedang menatap dirinya.
Hoa Ji-giok menghela napas, katanya dengan seringai kecut.
"Hamwan Sam-seng yang lihai, hari ini kau membiarkan dia pergi. Akan datang satu hari kau pasti menyesal."
Siau Cap-it Long tetap diam tak memberi reaksi.
"Pernah aku menyaksikan kiprahnya menghadapi orang lain,"
Demikian oceh Hoa Ji-giok.
"Ehm,"
Siau Cap-it Long bersuara dalam mulut.
"Dia adalah penggemar barang antik, terutama karamik kuno. Suatu hari Oh-samya yang tinggal di Po-khing tanpa sengaja mendapatkan botol kembang yang dinamakan 'Hi-kwe-thian-jing', botol ini termasuk salah satu barang antik buatan dinasti Tang yang mahal harganya. Dia minta Oh-samya menjual kepadanya, tapi Oh-samya menolak, sampai mati pun takkan menjual barang itu."
"Akhirnya Oh-samya mampus,"
Kata Siau Cap-it Long. Hoa Ji-giok manggut-manggut.
"Padahal Oh-samya adalah teman lamanya, karena keinginannya ditolak lima puluh tujuh anggota keluarga Oh-samya seluruhnya dibabat bersih, tiada satu pun yang ketinggalan hidup, semuanya dibakar jadi abu termasuk harta bendanya."
"Pernah aku mendengar cerita itu, tiap kali membunuh musuh, Hamwan tidak pernah segan, seluruh keluarga dibantai habis."
"Kecuali benda-benda antik, dia juga senang perempuan yang romantis, perempuan seksi,"
Demikian tutur Hoa Ji-giok lebih jauh.
"menurut apa yang aku tahu, Hong Si-nio adalah jenis perempuan yang paling disukainya."
"Kelihatnya dia ahli di bidang ini."
"Barang yang dia incar, dengan akal apa saja secara halal atau dengan kekerasan, harus menjadi miliknya,"
Kata Hoa Ji-giok gegetun.
"seperti halnya dia menginginkan Hong Si-nio."
Siau Cap-it Long hanya menyeringai getir.
"Maka ingat peringatanku ini. Hari ini kau melepasnya pergi, akan datang saatnya hari itu dia pasti tidak memberi ampun kepadamu."
Siau Cap-it Long menggeram dengan melotot.
"Kalau aku jadi kau, tadi sudah kubabat mampus dia."
Siau Cap-it Long berkata dingin.
"Kalau kau menjadi aku, mungkin tidak kubabat mampus Hoa Ji-giok?"
Hoa Ji-giok ternyata cukup tabah, tanpa bereaksi, sikapnya tetap tawar, katanya tersenyum.
"Tidak pantas kau membunuh Hoa Ji-giok."
"Kenapa?"
"Karena Hong Si-nio adalah sahabat karibmu. Memangnya kau tega membuat temanmu menjadi janda?"
Siau Cap-it Long tidak mengerti.
"Kalau aku membunuhmu, dia bakal jadi janda?"
Maka Hoa Ji-giok mengoceh lebih jauh.
"Memangnya kau belum tahu bahwa dia sudah menjadi biniku?"
"Lelaki di dunia ini belum mampus seluruhnya, kenapa dia harus kawin dengan banci?"
Dengan tetap tersenyum lebar Hoa Ji-giok terus mengoceh.
"Aku maklum kau tidak percaya, padahal pernikahanku dengan dia memang kenyataan."
"Kenyataan bagaimana?"
Desak Siau Cap-it Long.
"Orang-orang Kangouw sudah banyak yang tahu tentang perjodohan ini. Kau tidak percaya, boleh tanya lansung kepadanya, dia pasti tidak menyangkal."
Mau tidak mau Siau Cap-it Long harus percaya.
Orang sepintar Hoa Ji-giok pasti tidak akan mengobral cerita bohong yang justru akan membongkar kedok sendiri.
Tapi hal ini harus dibuktikan.
Maka dia membebaskan tutukan Hiat-to di badan Hong Si-nio.
Sekarang tiada orang yang bisa mencegah dia bicara.
"Apa benar kau sudah menikah dengan orang ini,"
Tanyanya.
Hong Si-nio tetap tidak bergerak, hanya menatapnya lekat, sorot matanya yang semula prihatin, kuatir dan takut kini berubah resah dan murka.
Demi dirimu entah betapa aku menderita, disalahkan dan dicerca, dianggap seongok barang dijejalkan ke kolong ranjang, kini aku disiksa begini, bertanya saja tidak, sepatah kata perhatian pun tiada.
Demi kepentinganmu, Sim Bik-kun banyak menderita dan sengsara, jejaknya pun sekarang tidak diketahui, kau pun tidak bertanya kepadaku, sepatah kata perhatian pun tidak kau ucapkan.
Dua tahun kita tidak bertemu, yang kau tanyakan hanya kentut belaka.
Memangnya kau tidak tahu isi hatiku?
Kau percaya kalau aku telah menikah dengan dia?
Hong Si-nio mengertak gigi, sekuat tenaga berusaha mengendalikan emosi, menahan air mata.
Siau Cap-it Long malah bertanya lagi.
"Betulkah kau sudah menikah dengan orang ini? Kenapa kau menikah dengannya?"
Hong Si-nio masih menatapnya, tak bersuara.
Kalau kau percaya padaku, seperti aku percaya kepadamu, kalau aku harus menikah dengan orang ini jelas karena terpaksa atau dipaksa.
Pantasnya kau merasa simpati pada nasibku, membelaku dan melampiaskan sakit hatiku.
Ternyata semua itu kau abaikan, malah mengobral pertanyaan menyebalkan.
Mendadak Hong Si-nio menggerakkan tangan.
"Plang", dengan keras ia gampar muka Siau Cap-it Long. Siau Cap-it Long melenggong. Sungguh tak pernah terpikjr olehnya, setelah dua tahun tak bertemu, perbuatan pertama yang dilakukan Hong Si-nio adalah menggampar mukanya. Hong Si-nio berjingkrak berdiri, pekiknya keras.
"Kenapa aku tidak boleh kawin dengannya? Senang kawin dengan siapa, aku kawin dengan dia, peduli amat dengan dirimu? Kau tidak perlu mengurus diriku."
Kembali Siau Cap-it Long dibuat menjublek di tempatnya.
"Aku kawin dengan dia, memangnya kau tidak terima?"
Damprat Hong Si-nio.
"memangnya kau kira seumur hidupku ini tidak laku kawin?"
Siau Cap-it Long tertawa getir.
"Hoa Ji-giok,"
Teriak Hong Si-nio pula.
"beri tahu padanya ...."
Suaranya tiba-tiba berhenti, baru sekarang ia sadar, secara diam-diam Hoa Ji-giok telah minggat.
Memangnya Hoa Ji-giok adalah manusia usil yang suka memanfaatkan setiap kesempatan.
Hong Si-nio berjingkrak pula, dengan sengit ia renggut baju dada Siau Cap-it Long.
"Kau ... kau ... kenapa kau biarkan dia pergi?"
"Bukan aku membiarkan dia pergi. Dia sendiri yang melarikan diri,"
Sahut Siau Cap-it Long.
"Kenapa tidak kau bekuk dia? Kenapa tidak kau bunuh dia?"
Pekik Hong Si-nio.
"Membunuhnya? Bukankah dia suamimu, kau ingin aku membunuhnya?"
"Siapa bilang dia suamiku?"
"Barusan kau sendiri yang bilang."
Hong Si-nio berjingkrak pula.
"Kapan aku pernah bilang demikian?"
"Barusan."
"Aku hanya bilang terserah aku senang menikah dengan siapa, lalu siapa yang pernah menikah dengan dia, itu pertanyaan kepadamu, kenapa aku tidak boleh menikah dengannya? Aku tidak bilang kalau dia suamiku?"
"Dua macam pertanyaanmu tadi apa ada bedanya?"
"Jelas berbeda, malah jauh bedanya."
Siau Cap-it Long bungkam dibuatnya, sungguh tak habis mengerti dan sukar membedakan dimana perbedaannya.
Syukur lekas ia sudah paham tentang satu hal.
Kalau Hong Si-nio bilang antara dua persoalan itu ada bedanya, tentu dan pasti berbeda, kalau Hong Si-nio bilang mentari itu persegi, maka matahari itu betul adalah persegi.
Kalau kau terus berbantah dengan dia, ibaratnya kau menumbukkan batok kepala sendiri ke tembok.
Hong Si-nio masih melotot sekian lama, akhirnya bertanya.
"Kenapa kau tidak bicara?"
Siau Cap-it Long menghela napas sambil mengelus pipi.
"Aku hanya menutup mulut saja, bukan tidak bicara."
"Tutup mulut dan tidak mau bicara apa ada bedanya?"
"Tentu saja berbeda, malah besar bedanya."
Dengan gemas Hong Si-nio masih melotot sekian lama, akhirnya cekikikan geli malah.
Kecuali betul-betul keki, dongkol dan penasaran, Hong Si-nio bukan perempuan yang tidak tahu aturan.
Bila dia marah juga tidak bertahan lama, hal ini sering terbentur dengan Siau Cap-it Long.
Siau Cap-it Long juga sedang mengawasinya dengan tertawa, lalu tanyanya.
"Tadi pernah aku bilang sepatah kata, entah kau mendengar tidak?"
"Kau bilang apa?"
Tanya Hong Si-nio.
"Aku bilang bukan saja kau tidak kelihatan lebih tua, malah kelihatan makin cantik dan lebih muda."
Hong Si-nio menahan geli, katanya.
"Aku tidak mendengar, aku hanya mendengar kau bilang aku ini siluman perempuan."
"Dua tahun kita tidak bertemu, tahu-tahu kau persen aku satu gamparan, ditambah satu tendangan, lima patah kata aku bilang kepadamu, sepatah kata pun kau tidak mendengar, memakimu sepatah kau mendengar jelas sekali."
Sampai di sini ia menggeleng kepala sambil menarik napas panjang.
"Hong Si-nio oh Hong Si-nio, ku-lihat kau memang tidak berubah."
Mendadak Hong Si-nio menarik muka.
"Tapi kau justru berubah."
"O, dalam hal apa aku berubah."
"Kau memang seorang bergajul, bergajulnya bergajul."
"Itu dulu, sekarang bagaimana?"
"Sekarang kau malah terhitung bergajul bangkotan,"
Amarahnya seperti berkobar pula, suaranya juga makin keras.
"Kutanya kau, kenapa kau paksa Cia Thian-ciok mencukil mata sendiri. Begitu pula kau paksa Auyang bersaudara mencolok mata mereka?"
Siau Cap-it Long menghela napas.
"Sudah kuduga, kau akan membela mereka."
"Sudah tentu aku harus membela mereka, kau sendiri pernah bilang lelaki punya mata, memangnya untuk memandang perempuan cantik, bahwa seorang perempuan cantik molek, apa salahnya buat tontonan kaum lelaki?"
Siau Cap-it Long mengangguk, dia memang pernah bilang begitu, dengan ujung mata Hong Si-nio mengerling kepada Pin-pin, jengeknya dingin.
"Lha kenapa dia justru tidak boleh dipandang? Kenapa orang memandangnya lebih lama, lalu bola matanya harus dibikin buta?"
"Itu kan hanya alasan belaka."
"Alasan katamu?"
"Umpama mereka tidak mengawasinya, aku tetap akan paksa mereka mencukil bola mata sendiri."
"O, apa alasanmu?"
Mendadak sikap Siau Cap-it Long berubah serius.
"Bahwa aku hanya menyuruh mereka mencukil bola matanya, terhitung hukuman ringan bagi mereka, karena hukuman yang setimpal adalah mati."
"Kenapa mereka harus mati?"
Tanya Hong Si-nio.
"Sudah tentu aku punya alasan."
"Alasan apa?"
"Apa alasannya, panjang ceritanya, kalau ingin mendengar penjelasanku, tenteramkan dulu hatimu, jangan marah-marah saja."
Mata Hong Si-nio melirik ke arah Pin-pin lagi.
"Amarahku justru akan terus berkobar."
Siau Cap-it Long menarik napas.
"Jika kau tahu sebab musababnya, kutanggung kau tidak akan marah."
Baca Juga: Kaki Tiga Menjangan 17
Baca Juga: Si Racun Dari Barat 8