Eps 1 Bunga Pedang Embun Hujan Kanglam - Khu Lung
Baca online Bunga Pedang Embun Hujan Kanglam - Khu Lung
Cersil Bunga Pedang Embun Hujan Kanglam - Khu Lung.
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com Bunga Pedang Embun Hujan Kanglam Judul Asli .
Kiam Hoa Ie Lioe Kanglam Karya.
Khulung Saduran .
Tjan ID BUNGA PEDANG, EMBUN HUJAN, KANGLAM LEBAH BUNGA THO BERWAJAH MANUSIA I Jian-jian menunduk rendah, melewati pintu gerbang, berjalan di atas permadani merah.
Rambutnya yang hitam tersanggul rapi terselip sebatang tusuk konde emas, mutiara di ujung tusuk konde bergoyang tiada hentinya.
Langkah kakinya selalu begitu ringan dan gemulai, tapi juga begitu berat.
Mereka berdelapan masuk bersama-sama, namun sorot mata semua yanghadir hanya tertuju pada dia seorang.
Ia tahu itu semua, tapi posisi dan ayunan kakinya takbeda sedikit pun dengan langkahnya ketika berjalan sendirian di tempat yang sepi.
Keseriusan dan kecantikan Jian-jian sama-sama mendapat pujian serta rasa kagum setiap orang.
Lilin merah di atas meja bersinar terang, menyilaukan huruf emas "Siu" (panjang usia) yang tertera besar di tengah ruangan, seterang kehidupan Lui Ki-hong, Lui lotaiya selama ini.
Kini, dengan wajah penuh senyuman ia awasi dayang kesayangan istrinya ini datang mengucapkan selamat panjang umur kepadanya.
Delapan orang bersama-sama menyembah hormat di hadapannya, tapi senyuman di ujung bibirnya seolah-olah hanya tertuju pada Jian-jian seorang.
Bagaimanapun ia tetap seorang pria.
Sinar mata lelaki berusia 60 tahunan tak ada bedanya dengan sinar mata pria berusia 16 tahunan.
Jian-jian tahu itu semua, namun dia tak membalas dengan senyuman.
Jarang ada orang melihatnya tersenyum apalagi tertawa.
Ia selalu memahami status dirinya, perempuan semacam dia tak mungkin ada kesenangan, dan tak boleh ada penderitaan, sebab termasuk selembar nyawa miliknya yang paling berharga pun sudah menjadi milik orang lain.
Oleh sebab itu mau tertawa atau pun melelehkan air mata, ia selalu lakukan setelah berada di tempat yang sepi, di tengah malam buta dan tak ada orang lain.
Jian-jian masih menunduk, melalui pintu gerbang, menelusuri serambi samping.
Hujan rintik musim semi sedang berderai di luar serambi, hujan rintik musim semi dari daerah Kanglam.
Hujan rintik memang gampang membuat hati gundah, terlebih untuk gadis berusia 17-18an tahun yang belum menikah, dalam musim seperti ini gampang muncul suatu perasaan sedih, masgul dan muram yang tak terlukiskan dengan kata-kata.
Jian-jian belurn pernah menikah, masih berusia 17-18an tahun, namun baginya, mau di musim apa dan berada di mana pun ia tetap harus bersikap tenang dan serius.
Setelah melalui serambi panjang, suara gaduh manusia tak kedengaran lagi, bunga bunga yang mekar di luar halaman kelihatan lebih indah dan segar di tengah terpaan hujan rintik.
Semua gadis mulai nampak lincah, mulai tertawa.
Biarpun mereka hanya berstatus dayang, bukan berarti tak berhak menikmati kegembiraan masa remaja mereka, maka lengan baju pun mulai digulung, menampilkan kulit lengan yang putih dan halus, pergi memetik bunga segar di luar pagar, pergi memetik masa remaja serta keceriaan mereka.
Hanya Jian-jian yang tak bergeming, melirik sekejap keluar pagar pun tidak, kepalanya masih tertunduk, meneruskan langkahnya dengan tenang.
Memandang bayangan tubuhnya yang gemulai makin menjauh, mulai terdengar suara tertawa dingin dari kalangan gadis-gadis itu, mulai ada yang menyindir dengan sinis.
"Dasar balok kayu, huhh... Dia bukan manusia!"
"Coba lihat dadanya yang rata, datar persis sebatang papan kayu... Begitu dibilang cantik... ? Huuh, coba aku pria, tak sudi memilih perempuan macam dia!"
"Memeluk gadis semacam dia, pasti rasanya seperti memeluk sebatang kayu balok. .."
Maka semua gadis pun mulai tertawa cekikikan, persis seperti serombongan lebah yang sedang bergembira.
II Dengan kepala tertunduk,pelan-pelan Jian-jian membuka pintu kamarnya.
Dia memiliki sebuah ruangan yang kecil, sangat nyaman, sangat bersih.
Di sinilah dunia bebas miliknya seorang.
Hanya di sini, tak seorang pun pernah datang mengganggu atau mengusiknya.
Ia mengunci pintu kamarnya, pelan-pelan memutar badan, bersandar di pintu dan memandang keluar jendela.
Wajah cantiknya yang semula pucat, tiba-tiba bersemu merah.
Hanya dalam sekejap, ia sama sekali telah berubah.
Dengan cepat dia melepas jubah luarnya yang tebal, di balik jubah yang tersisa hanya pakaian yang tipis lagi ketat.
Tusuk konde emasnya dicabut lepas, rambutnya yang hitam memanjang dibiarkan terurai di atas bahu, diliriknya cermin di atas meja sekejap, lalu tangannya merogoh ke balik pakaian ketat, melepaskan seuntai sabuk panjang berwarna putih Kemudian...
dadanya yang semula datar bagaikan lapangan secara tiba-tiba menggelembung...
meloncat keluar...
tahu-tahu muncul dua gundukan bola daging yang montok Sekarang dia baru menghembuskan napas lega, sambil memandang cermin membuat muka setan, kembali ia membuka lebar daun jendela, berlutut di atas ranjang sambil memandang keluar sana, ketika yakin tak ada orang di sekelilingnya, dengan sekali loncatan ringan, tahu-tahu ia sudah keluar dari kamar.
Senja musim semi di bulan ketiga, burung nuri beterbangan di atas rumput yang rimbun, tanah berumput nan hijau, nampak begitu lembut dan halus bagai rambut seorang kekasih di tengah rintikan hujan yang membasahi jagad.
Dengan sebelah tangan memegangi rambutnya yang panjang, tangan yang lain menenteng sepatu, Jian-jian dengan bertelanjang kaki berlarian di atas rerumputan yang hijau.
Ia tak perduli butiran air hujan membasahi rambutnya, ia pun tak perduli rumput hijau yang tajam menusuk telapak kakinya yang indah dan mungil, walaupun semuanya menimbulkan rasa geli dan kesemutan...
Kini, ia tak beda dengan seekor burung nuri yang baru lepas dari sangkar, apapun yang terjadi ia tak perduli, dalam hati kecilnya hanya terbayang satu...
pergi menemui kekasihmusim seminya.
Air sungai bening nan jernih, ketika titik air hujan jatuh di atasnya, tercipta lingkaran-lingkaran riak yang menggelora, persis seperti gelora perasaan gadis-gadis itu.
Ia berlarian menelusuri sungai, naik ke atas sebuah bukit, di sana terhampar sebidang hutan bunga tho yang luas.
Di balik pepohonan yang lebat, bergelantung seorang pemuda berbaju cerah, l Macam begitulah orang tersebut, tiap saat tiap waktu selalu ingin bergerak dan berubah, tak pernah bisa tenang walau sekejappun. Wajahnya begitu cerah dan tampan, dari balik matanya terpancar sinar kenakalan dan kepolosan seorang anak-anak. Jian-jian tertawa, begitu manis tertawanya, begitu cantik. Dia sudah meloncat turun dari pohon, bibirnya masih menggigit tangkai bunga tho, ia berdiri di sana sambil berkacak-pinggang. Setiap kali bertemu dengannya, nona ini tak pernah bisa menahan diri, ia tak dapat mengendalikan keinginannya untuk tertawa... Sambil melemparkan sepatunya, ia rentangkan lengannya lebar lebar, lari menghampirinya, memeluknya erat-erat, kemudian desisnya penuh kebahagiaan. "Siau Lui... Oooh... Siau Lui..." Tiap kali ia sedang memeluknya, ia merasa seolah-olah sedang memeluk segumpal bara api, ia merasa dirinya seolaholah telah berubah menjadi segumpal kobaran bara api. Mereka berdua sama-sama membara, saling membakar, saling melumat, seakan-akan berusaha untuk melumat habis lawannya. Tapi kali ini sangat berbeda, tubuh yang dipeluknya amat dingin, amat kaku, seakan-akan tiada reaksi sedikitpun. Hari ini adalah ulang tahun ke enam-puluh ayahnya, sepantasnya dia tetap tinggal di rumah. Sesungguhnya dia amat senang bergaul, suka berteman, suka akan keramaian, tapi kini ia lebih rela berada di tempat yang basah oleh rintikan hujan, dia rela berada di situ demi menanti gadis pujaannya. Membayangkan semuanya itu, perasaan haru dan gejolak hawa panasnya semakin membara, Jianjianmemeluknyakianerat, menggigit daun telinganya sambil berdesis meluapkan semua kerinduaan serta keresahan hatinya. Dadanya yang montok dan empuk melekat rapat-rapat di atas dadanya yang bidang. Dulu, setiap kali berada dalam posisi macam ini, gejolak napsu mereka pasti akan kian membara dan kian membakar. Tapi hari ini... Mendadak ia mendorong badannya. Jian-jian tertegun, bara api yang berkobar di dadanya langsung membeku, kini dia baru menyaksikan keanehan pada dirinya. Ceceran darah nampak melekat di sekujur badannya. Ceceran darah yang menodai pakaian berwarna cerah memang susah diketahui... Hanya orang yang paling teliti baru bisa menemukannya, hanya ketelitian seorang kekasih yang dapat menangkapnya. Berubah air muka Jian-jian "Lagi-lagi kau berkelahi dengan orang.. Siau Lui menggeleng. "Jangan coba menipuku!" Desis Jian-jian sambil menggigit bibir. "Pakaianmu penuh noda darah!" Siau Lui tertawa. "Masih ingat, darahmu juga pernah menodai pakaianku?" Tertawanya begitu dingin,begitu tawar, tajam amat menusuk hati, bagaikan sebilah pisau yang menghujam ke dalam lubuk hatinya. Tiba tiba sekujur tubuhnya terasa kaku, terasa membeku, Jian-jian merasa badannya seolah-olah terperosok ke kubangan salju. "Kau... kau.. ."matanya melotot lebar. "Apa kau sudah memiliki perempuan lain???" "Kenapa aku tak boleh memiliki perempuan lain?" Tawa Siau Lui masih kedengaran tawar, sangat hambar. Tubuh Jian-jian mulai gemetar keras, air matanya meleleh membasahi pipinya, air mata terasa lebih dingin daripada rintikan hujan di musim semi. "Tapi... apa kau sudah lupa... aku sudah mempunyai anak darimu...?" "Plookk...!" Tiba tiba Siau Lui meloncat ke depan dan menampar pipinya keras-keras, makinya sambil tertawa dingin. "Darimana aku tahu anak siapakah itu? Hmmm, ketahuilah, kau tak lebih hanya seorang dayang... Seorang babu!" Tertawanya begitu seram, lebih seram dari lolongan serigala liar. Jian-jian melotot besar, selangkah demi selangkah ia mundur ke belakang, tiba-tiba ia merasa seakan akan sedang berhadapan dengan seorang yang amat asing, seorang asing yang lebih tengik, lebih hina daripada seekor binatang. Air matanya mengering secara tiba-tiba, darah pun ikut mengering, Ia merasa dirinya saat ini hanya tinggal seonggok kerangka tubuh yang kosong, badan kasar yang tak memiliki jiwa lagi. "Aku rasa lebih baik kau cepat-cepat minggat dari sini!" Kembali Siau Lui merebahkan diri kemalas-malasan. "Minggatlah yang jauh... Makin jauh makin baik! Jangan ganggu janjiku dengan orang lain." Kuku jari Jian-jian sudah menembus ke dalam daging tubuhnya, tapi gadis itu sama sekali tidak merasa, tidak merasa sakit biar sedikitpun, matanya masih melotot besar, sepatah demi sepatah ujarnya. "Aku pasti pergi dari sini! Jangan kuatir, sejak detik ini aku tak akan datang menjumpaimu lagi! Tapi aku bersumpah, suatu hari kelak kau pasti akan menyesal..." Tiba-tiba ia membalik badannya dan lari meninggalkan tempat itu. Siau Lui tidak mendongak, melirik ke arahnya sekejappun tidak, hanya dua deret air mata tiba-tiba meleleh keluar membasahi pipinya. Air matakah? Atau hanya butiran air hujan di musim semi ini??? Entahlah... III Cahaya lampu dalam gedung masih terang-benderang menerangi seluruh sudut ruangan, hujan pun telah berhenti. Dengan langkah perlahan Siau Lui berjalan melalui halaman menuju ke dalam ruang gedung, sambil menyandarkan diri pada sebuah tiang, dipandangnya para tetamu yang sedang bermabukmabukan dengan pandangan dingin. Akhirnya ada juga tetamu yang mengetahui kehadirannya. "Aaah, tuan muda telah kembali, ayoh kita bersulang untuknya." "Hehehe... Kalian belum cukup minum?" Dengus Siau Lui sambil tertawa dingin. "Apakah kalianbaru rela pergi setelah minum sampai modal kembali?" Semua orang tertegun, seolah-olah ditampar orang secara keras... Entah siapa yang berdiri duluan, akhirnya semua orang berdiri dan berlalu tanpa menoleh lagi. "Lui Seng, buka pintu gerbang dan hantar tamu!" Kembali Siau Lui berseru dengan wajah dingin, membeku tanpa perasaan. Tak ada orang yang punya muka untuk tetap tinggal di sana, mau tak mau setiap tamu harus angkat kaki dari sana. Lui Lo-taiya yang baru saja beristirahat di ruang belakang, buru-buru datang ke ruang tengah dengan wajah hijau membesi. Siau Lui segera datang menyambut, menarik ayahnya menuju ke belakang ruangan. "Kau ingin membuat aku malu?" Teriak Lui Lo-taiya sambil menghentakkan kakinya, suaranya gemetar menahan emosi. "Tidak!" Siau Lui menggeleng. "Kau sudah edan?" Lui Lo-taiya semakin gusar. "Tidak!" Kembali Siau Lui menggeleng. "Kenapa kau lakukan perbuatan yang begitu memalukan?" Teriak Lo-taiya sambil mencengkeram pakaian putranya. Menengok dari balik ruangan, tampak semua tamu yang hadir dalam gedung telah bubar, tak tertinggal seorangpun. Setelah lewat lama sekali, sepatah demi sepatah Siau Lui baru berkata. "Karena malam ini tak seorang pun boleh tinggal di sini, mereka semua harus pergi dari tempat ini!" "Kenapa???" "Karena mereka telah datang!" "Siapa yang kau maksud?" Air muka Lui Ki-Hong tiba-tiba berubah. Siau Lui tidak menjawab, dari balik bajunya ia mengeluarkan sepotong tangan. Sepotong lengan yang telah terpotong putus mulai pergelangannya, darah telah membeku di atas potongan lengan itu. Di atas lengan yang telah mengering tertancap seekor lebah, seekor lebah berwajah manusia. Kulit lengan itu telah mengering, maka raut muka dari lebah berwajah manusia itupun telah berubah jadi kaku hingga nampak begitu misterius, begitu menyeramkan hingga sulit dilukiskan dengan kata-kata. Air muka Lui Ki-hong ikut berubah, berubah jadi kaku dan berkerut, mendadak ia seperti kehilangan keseimbangan hingga kemampuan untuk berdiri pun hampir tak sanggup. Buru-buru Siau Lui membimbing ayahnya, cekalan lengannya masih nampak tenang dan mantap. "Yang mau datang, cepat atau lambat akhirnya harus datang juga!" Suaranya masih kedengaran tenang dan mantap. "Betul" Dengan nada sedih Lui Ki-Hong mengangguk. "Kalau toh harus datang, memang lebih baik datang lebih awal!" Dia memang berbicara dengan tulus, dengan sejujurnya, sebab ia cukup menyadari bahwa menanti datangnya pembalasan dendam merupakan saat penantian yang paling menyiksa, paling menakutkan dan paling menderita "Tigabelas tahun... yaaa... sudah tigabelas tahun... Mereka berani datang kali ini berarti pasti sudah punya keyakinan penuh!" "Itulah sebabnya kecuali kita dari marga Lui, siapapun tak boleh tetap tinggal di sini, semua orang kang-ouw tahu, di mana mereka datang dan menyatroni,tak sebatang rumput pun akan tersisakan!" "Kalau begitu... kau pun harus pergi tinggalkan tempat ini, yang mereka cari hanya aku seorang," Seru Lui Ki-hong sambil menggenggam lengan putranya erat erat. Siau Lui tertawa, lolongan tertawanya sudah tak menyerupai lolongan serigala, lolongan tertawanya lebih mirip pekikan malaikat... Di balik suara tertawanya terkandung rasa percaya diri yang begitu kuat, semangat dan tekad yang begitu besar dan kuat, tekad untuk mengorbankan segala-galanya, tekad yang tak segan-segan menerima semua penderitaan, semua ganjaran dan semua cemoohan. Tentunya Lui Ki-Hong, sang ayah, sangat memahami perasaan putranya, maka ia genggam lengan putranya makin erat. "Paling tidak, marga Lui harus punya keturunan untuk meneruskan generasi kita..." Pintanya. "Keluarga Lui sudah memiliki keturunan!" "Di mana?" "Di tempat Jian-jian!" Lui Ki-Hong terperangah, terkejut tapi amat gembira, namun setelah menghela napas kembali tanyanya. "Tapi... di mana dia sekarang?" "Aku telah menyuruhnya pergi" "Dia mau pergi dari sini?" Siau Lui mengangguk. Baru sekarang dari sorot matanya terpancar penderitaan dan kesedihan yang amat mendalam. Justru karena ia tahu bahwa Jian-jian tak bakal tega meninggalkannya, maka ia tak segan menggunakan cara yang paling keji untuk menghancurkan hatinya, meremukkan perasaannya, agar ia patah hati. Perasaan dia sendiripun sama remuknya. Ia telah menyakiti hatinya, bahkan jauh lebih menderita ketimbang menyakiti diri sendiri. Lui Ki-hong mengawasi mata putranya, ia dapat merasakan kepedihan serta penderitaannya. "Kau... mana boleh kau biarkan ia pergi seorang diri?" "Aku telah menyuruh Touw Hong melindunginya diamdiam" Touw Hong adalah sahabat karibnya, bahkan ia bisa menyerahkan nyawa miliknya yang paling berharga kepada sahabat semacam ini. Dan sekarang, ia telah serahkan kehidupannya kepadanya! Dia percaya asal dirinya tidak mati, pasti ada saat untuk bertemu lagi dengan Jian-jian. Lui Ki-hong tarik napas panjang dan tidak berkata lagi, ia sudah memahami keputusan yang diambil putranya, ia tahu keputusan semacam ini tak mungkin bisa dirubah oleh siapapun. Semua pegawai dan pelayan telah dikumpulkan di ruang tengah, setiap orang sudah memperoleh sejumlah uang untuk menghidupi keluarganya. "Kalian cepat tinggalkan tempatini! Malam ini juga tinggalkan tempat ini, tak seorangpun boleh tetap tinggal di sini" Lui Ki-hong tidak menjelaskan apa sebabnya mereka harus pergi dari situ, tapi siapapun dapat merasakan, suatu perubahan serius telah menimpa keluarga Lui. Selama ini keluarga Lui bersikap sangat baik terhadap mereka, maka ada beberapa orang yang setia tetap ingin tinggal di situ, ingin sehidup semati dengan keluarga Lui. Sedangkan mereka yang tidak setia, agak rikuh juga untuk meninggalkan tempat itu kelewat cepat. Nyonya Lui memandangi mereka dengan air mata berlinang. Lui Hujin yang selama ini berdandan rapi dan sopan, kini telah berganti dengan pakaian ketat, sebilah golok Yan-ling-to terhunus di tangannya. Dengan wajah pucat pias, ia berkata sepatah demi sepatah. "Jika kalian masih tetap tinggal di sini, sekarang juga aku akan mati di hadapan kalian!" Perkataannya diucapkan tegas dan keras, sama sekali tidakmemberi peluang untuk dirubah, juga tak seorang pun yang menaruh curiga. Sambil menggertak gigi Lui Sin jatuhkan diri berlutut lalu. "Duk, duk, duk" Ia pay-kui tiga kali kemudian putar badan, tanpa mengucapkan sepatah katapun melangkah pergi dengan langkah lebar. Cuma, ketika membalikkan badan, air matanya telah jatuh bercucuran Dia adalah pembantu terbaik keluarga Lui, dan hanya dia seorang yang tahu bahwa apa yang telah dikatakan keluarga Lui pasti akan dilaksanakan. Karena itu dia tak bisa tidak harus pergi, pun tak berani tak pergi. Suasana di luar pintu gelap gulita, malam yang kelam dan berat tak berbeda dengan perasaan berat mereka semua. Semua orang berpaling dan memandang kearahnya... asal dia telah pergi berarti semua orang boleh pergi meninggalkan tempat itu. Memandang pembantunya yang paling setia pelan-pelan berjalan menjauh, memasuki kegelapan, Lui hujin merasa hatinya amat pilu dan pedih. Pada saat itulah, tiba tiba sekilas cahaya menyambar lewat, mendadak tubuh Lui Sin terbang kembali dari balik kegelapan. "Bluukk!" Tubuhnya roboh terlentang di atas lantai. Percikan darah menyebar ke empat penjuru, tatkala terjatuh ke lantai, tubuhnya sudah terpotong-potong jadi lima bagian. Darah yang merah kental pelahan-lahan meleleh dan mengaliri ubin lantai berwarna hijau keabu-abuan, mengalir hingga ke dasar kaki seseorang. Orang tersebut seperti terkena sambaran panah secara tiba-tiba, ia melompat bangun kemudian berlarian keluar sambil berteriak histeris. Kembali cahaya tajam yang menyilaukan mata menyambar lewat, orang itu segera terpental balik ke dalam ruangan, roboh terjengkang di lantai dan tubuhnya kembali terpotong jadi lima bagian. Darah yang berwarna merah dan segar, kembali mengalir di atas ubin lantai yang hijau. Suasana dalam ruangan menjadi sunyi senyap, begitu hening hingga cuma terdengar suara darah yang mengalir di lantai, semacam suara yang begitu mengerikan, begitu menggidikkan hati dan membuat bulu roma pada berdiri. Lui Ki-hong mengepal tinjunya kencang kencang, seakanakan dia sudah siap menyerbu keluar dan bertarung matimatian melawan iblis keji si pembunuh yang berada di balik kegelapan itu, tapi Siau Lui buru-buru menarik lengan ayahnya. Genggaman tangannya masih begitu kokoh dan tenang, ujarnya pelan-pelan. "Di mana Kiu-Yu-It-Wo-Hong (segerombol lebah dari neraka) muncul, seikat rumput pun tidak dibiarkan hidup, apalagi manusia!" Tiba-tiba terdengar seseorang tertawa dari balik kegelapan, suara tertawanya lebih mirip suara tangisan kuntilanak. Kalau bukan setan dedemit yang datang dari neraka, mana mungkin akan kedengaran suara tertawa yang begitu memilukan dan mengerikan hati? Di tengah suara gelak tertawa yang mengerikan, sesosok bayangan manusia muncul dari balik pintu, di atas bajunya yang berwarna kuning kecoklat-coklatan tampak sebuah pergelangan tangan kanan dengan sulaman bunga berwarna hitam terlilit selembar kain putih yang digantungkan di atas tengkuknya. Percikan darah menodai kain putih tersebut, sebatang lengan sudah terpapas kutung. Tak ada orang yang dapat melihat wajahnya. Ia mengenakan topeng tembaga pada wajahnya, topeng itu tidak kelewat menakutkan, yang mengerikan justru sepasang mata yang tampak terpancar keluar dari balik topeng tersebut. Sepasang mata yang penuh dengan sorotan benci, dendam dan keji. Pelan-pelan ia berjalan masuk, sorotan matanya tak pernah berkedip dari wajah Siau Lui. Kini semua orang sudah lari masuk ke sudut ruangan, bergerombol jadi satu. Kini tinggal tiga orang dari keluarga Lui yang masih berdiri di tengah ruangan, begitu sendiri, begitu sepi hingga terkesan satu rombongan manusia yang ditinggalkan, diasingkan tanpa bala bantuan. Manusia berbaju coklat itu sudah masuk melewati ruang lengah, berjalan ke hadapan Siau Lui, sorot matanya masih menatap wajahnya lekat-lekat. Sampai lama sekali, kemudian ia baru mengacungkan kurungan lengan tersebut sambil pelan-pelan bertanya. "Kau???" Siau Lui mengangguk. "Bagus!" Orang berbaju coklat itu mengangguk pula pelanpelan. "Kembalikan lenganku!" Nada suaranya datar, hambar dan dingin, tapi kobaran api yang terpancar dari balik matanya justru seakan-akan semburan api yang datang dari neraka. Siau Lui memperhatikan matanya sekejap, tiba-tiba ujarnya sambil tertawa. "Bagaimanapun, lengan ini toh sudah tak mampu dipakai untuk membunuh orang lagi, jika kau mau, ambillah!" Begitu tangannya diayunkan, kurungan lengan tersebut sudah tiba di tangan orang berbaju coklat itu. Dengan menggunakan tangan kirinya orang berbaju coklat itu menopang tangan kanannya, kemudian setelah diperhatikan sesaat mendadak ia gigit kurungan lengan miliknya itu. Setiap orang dapat mendengar suara gemerutuk yang terpancar keluar dari katukan giginya yang sedang menggigit kurungan lengan itu. Ada orang mulai muntah, muntah karena mual, ada pula yang sudah pingsan, bahkan Lui Hujin sendiripun tak tahan untuk menunduk sambilmengawasi golok di dalam genggamannya. Golok Yan-Ling-to sebening air di musim gugur, namun ujung golok tersebut kelihatan mulai gemetar. Hanya Siau Lui seorang masih memandang dengan begitu tenang, menyaksikan orang berbaju coklat itu menggertak putus kutungan lengannya, mengunyah kemudian menelannya bulat-bulat. Sesaat kemudian ia baru mendongak, mengangkat kepalanya memandang Siau Lui tajam-tajam, lalu katanya sepatah demi sepatah kata. "Sudah tak ada orang yang bisa membawa lari lengan itu lagi!" "Yaa, memang sudah tak ada," Siau Lui mengangguk. "Bagus!" Kembali orang berbaju coklat itu mengangguk. Ternyata ia tak mengucapkan perkataan lain lagi, dan segera balik badan pelan pelan berjalan keluar. Ia berjalan sangat lamban, namun tak ada yang berusaha mencegah atau menghalanginya. Walau ia berjalan sangat lamban, namun setiap langkahnya seolah-olah menginjak di atas ruas tulang setiap orang yang hadir di tempat itu. Ada orang yang mulai roboh ke lantai, roboh persis di atas bekas tumpahannya tadi, ruas-ruas tulang mereka serasa lemas, serasa tak mampu untuk berdiri lagi. Lui Ki-hong hanya mengawasi orang berbaju coklat itu pergi meninggalkan ruangan, diapun tidak bermaksud mencegah atau menghalanginya. Penantian selama tigabelas tahun membuat ia sudah terbiasa belajar sabar. Kesabaran yang ditempa selama tigabelas tahun membuat ia tahu bagaimana harus menantikan saat seperti ini Walaupun kini ia sudah melihat kemunculan si ular berbisa, namun belum menemukan titik kelemahan si ular berbisa itu, maka ia harus menunggu, wajib menanti. Jika dia harus menyerang, serangan tersebut harus tepat mengenai titik kelemahan ular beracun tersebut, ia takboleh memberi peluang kepada si ular beracun untuk balik mematuknya. Pada saat itulah mendadak terdengar... "Took, toook, toook, toook...!" Berbareng dengan menggemanya suara itu, dari atas dinding tembok di seberang ruangan meluncur masuk empat utas tali panjang yang langsung menyambar ke tengah ruangan, golok lengkung di ujung tali langsung "Took!" Menancap di atas tiang belandar di tengah ruangan. Menyusul kemudian ada empat sosok manusia meluncur masuk melewati tali panjang itu, empat sosok mayat manusia. Empat sosok mayat manusia yang sudah mati lama, mayat itu sudah kaku, kering dan mengeras tapi masih nampak utuh dan sempurna seperti diberi obat pengawet, rambut yang terurai di kepala mereka masih kelihatan hitam mengkilat. Tak ada orang bisa melihat wajah mereka, untung tak ada orang bisa memandang wajah mereka. Betapapun menakutkannya empat sosok mayat, tak akan lebih menakutkan daripada wajah-wajah mereka. Sudah tigabelas tahun lamanya mereka mati. Mati pada tigabelas tahun berselang, di suatu malam yang gelap gulita tanpa cahaya rembulan dan berangin kencang. Lui Ki-hong mengenali mereka, walau ia tidak sempat melihat wajah-wajah mereka, tapi ia tetap dapat mengenali mereka semua. Biarpun dandanan pakaian serta topeng yang dikenakan Kiu-Yu-It Wo-Hong kelihatannya serupa, namun sesungguhnya pada tiap topeng yang mereka kenakan tertera suatu pertanda atau lambang yang khas. Dalam sekali pandangan saja Lui Ki-hong dapat mengenali ciri khas mereka semua. Karena pada tigabelas tahun berselang ia pernah mencopot topeng-topeng yang dikenakan keempat orang itu dan mengamatinya sampai lama sekali. Keempat orang itu sudah mati di tangannya. Bahkan seorang di antara mereka adalah si ratu tawon dari gerombolan tawon dari neraka ini. Pada topeng yang dikenakan ratu tawon itu terukir sekuntum bunga tho kecil. IV Jin-bin-tho-hoa-hong, si Lebah Bunga Tho Berwajah Manusia, penjahat nomor wahid dari dunia persilatan. Lui Ki-hong telah melihat topeng bunga tho itu, sudah melihat bunga tho di atas topeng tersebut. Lambungnya mendadak mengerut kencang, nyaris isi perutnya menyembur keluar. Banyak orang dalam dunia persilatan tahu dia telah membunuhnya, namun tak seorangpun yang tahu ia pernah membayar dengan begitu banyak penderitaan dan pengorbanan yang menyakitkan hati. Hingga tigabelas tahun kemudian, setiap kali teringat akan kejadian pada malam itu, ia masih merasa begitu mual perutnya dan ingin muntah Malam itu mereka berangkat bersebelas, bersama-sama meluruk sarang lebah itu. Dari sebelas orang jago lihay dunia persilatan, hanya dia seorang yang masih tetap hidup hingga kini. Begitu sengit dan dramatisnya pertempuran itu membuat ia tak pernah berani membayangkannya kembali kendati kejadian tersebut sudah lewat banyak tahun. Untung saja si Ratu Lebah Berwajah Bunga Tho yang berada di hadapannya sekarang, tak lebih hanya sesosok mayat saja. Betapapun sempurnanya mengawetkan sesosok mayat, ia tak akan mampu membunuh orang lagi. Lui Ki-hong menepuk pundak putranya dengan perasaan amat bersyukur, karena nasib si anak muda itu ternyata jauh lebih baik ketimbang dirinya, beruntung tidak bertemu dengannya ketika ia masih dalam keadaan hidup. Pada jaman Ratu Lebah Berwajah Bunga Tho masih hidup, semua pemuda yang pernah berjumpa dengannya harus mati! Bahkan harus mati dalam cara yang paling istimewa. Asal kau telah mendengar suara tertawanya, sudah lebih dari cukup untuk menjerumuskan dirimu ke dalam neraka jahanam, dan tak pernah bisa ditiriskan kembali. Tentu saja orang yang sudah mati tak sanggup tertawa. Lui Ki-hong menghembuskan napas lega, tapi kemudian aliran darah dalam sekujur tubuhnya mendadak berubah jadi dingin dan membeku. Tiba-tiba saja ia mendengar ada orang sedang tertawa, begitu merdu dan manja suara tertawa itu, bagaikan bunga di musin semi, lebah yang berterbangan di antara bebungahan. Jin-bin-tho-hoa-hong telah tertawa. Tak seorang pun dapat melukiskan suara tertawa itu. Jelas tertawa itu bukan berasal dari sesosok mayat yang sudah mati lama, lebih-lebih tak mungkin suara tertawa itu datang dari dasar neraka jahanam... Seandainya hanya berada di dasar neraka baru bisa mendengar suara tertawa semerdu, semanja itu, pasti ada banyak orang yang rela datang ke neraka untuk mencarinya. "Siapa kau?" Bentak Lui Ki-hong. "Kau sudah tidak mengenali aku?" Suara tertawa itu makin manis dan merdu. "Tapi aku tak akan melupakan kau, tak akan melupakan kejadian di tengah hutan pada tigabelas tahun berselang" "Kau bukan dia, kau tak akan bisa menipu diriku. Dia sudah mampus tigabelas tahun berselang" "Benar, tigabelas tahun berselang aku sudah mati, karena itulah sekarang aku ingin kau mengembalikan nyawaku..." Suara tertawanya bagaikan suara seorang dewi, seorang malaikat, sedang suara dari ke tiga sosok mayat lainnya menyerupai tangisan setan penasaran dari dasar neraka. "Kembalikan nyawaku, kembalikan nyawaku..." Angin malam berhembus lewat. Mayat-mayat kaku itu mulai bergoyang di tengah hembusan angin. Mendadak Siau Lui melangkah maju ke depan, menghadang persis di depan tubuh ayahnya. "Maaf!" Suaranya masih begitu tenang dan mantap. "Tangan boleh dikembalikan, tapi sayang nyawa tak bisa dikembalikan." Jin-bin-tho-hoa-hong tertawa makin merdu, makin manis, sepatah demi sepatah ujarnya. "Kalau begitu gunakan sembilanpuluh-tujuh lembar nyawa yang berada dalam keluargamu untuk mengganti nyawa kami!" "Nyawa boleh saja dikembalikan kepadamu, cuma..." Suara Lui Hujin sangat dingin, sorot matanya pun setajam ujung goloknya. "Cuma kenapa?? " "Aku masih ingin mengajukan satu pertanyaan lagi." "Tanyakan!" "Sebenarnya apa yang sedang kalian lakukan di dalam hutan pada malam tigabelas tahun berselang?" "Tentu saja perbuatan yang tak boleh diketahui orang lain," Jawab Jin-bin-tho-hoa-hong sambil tertawa. "Sebagai seorang istri yang pandai, seharusnya berpura-puralah bodoh sekalipun sudah tahu dengan jelas, buat apa kau banyak bertanya lagi?" Tiba-tiba Lui Hujin membalikkan badannya, menghadap ke arah suaminya, dengan wajah pucat pias bagaikan mayat ia berkata. "Ternyata kau... selama ini kau membohongi aku, selalu menutupi kejadian ini, rupanya kau sama sekali tidak menghabisi nyawanya!" "Kau lebih percaya kepadanya atau aku?" Merah jengah wajah Lui Ki-hong. "Aku hanya ingin mengetahui kejadian yang sebenarnya!" "Kita sudah tigapuluhan tahun hidup bersama sebagai suami-istri, masa hingga sekarang kau masih sok cemburu?" Teriak Lui Ki-hong sambil menghentakkan kakinya saking jengkelnya. "Biarpun sudah puluhan tahun jadi suami-istri toh masih bisa cemburu," Jawaban Lui hujin dingin dengan wajah kaku. "Sekalipun kau ingin menunjukkan cemburumu, tidak seharusnya kau tunjukkan di saat seperti ini" "Aku tak ambil perduli saat apakah sekarang ini, jika kau enggan berterus terang, aku akan adu jiwa dulu denganmu!" Teriak Lui hujin makin sengit. Kalau wanita sudah cemburu, urusan apapun memang tak digubris lagi, betapa luasnya pengetahuan dan pengalaman seorang wanita, jika mulai dilanda rasa cemburu, ia bisa berubah jadi berangasan dan tak pakai aturan. Lui Ki-hong menghembuskan napas panjang, setelah tertawa getir ujarnya. "Baik, baik, kuberitahu kepadamu, pada malam itu..." Ketika berbicara sampai di situ, mendadak ia mengedipkan matanya kepada sang istri memberi kode. Suami-istri yang sudah hidup dan berjuang bersama puluhan tahun lamanya ini tiba-tiba turun tangan melancarkan serangan secara serentak. Dua bilah golok yang tajam langsung menusuk ke tubuh Jin-bin-tho-hoa-hong itu. Golok Yan-ling-to sebenarnya termasuk sejenis golok yang amat ringan, tapi berada dalam genggaman suami-istri dari keluarga Lui ini, kedahsyatannya ternyata luar biasa. Ilmu golok Peng-hii-to-hoat (ilmu golok kilatan halilintar) yang dimiliki Lui Ki-hong sudah diwariskan turun-temurun, bukan saja cepat dalam gerakan, penuh dengan perubahan bahkan kedahsyatannya luar biasa. Bagaikan kilatan bianglala yang saling menggunting, dua bilah golok itu menyambar kian-kemari. Perasaan mereka berdua yang telah menyatu membuat kerja sama ilmu golok yang mereka gunakan begitu rapat dan sempurna. Tubuh Jin-bin-tho-hoa-hong bergelantungan di atas tali panjang, nampaknya sulit baginya untuk menghindari serangan golokitu, tapi pada saat yang bersamaan, tali tersebut kelihatan bergetar kencang menyusul kemudian empat sosok tubuh yang bergelantungan di atas tali panjang tadi sudah melesat mundur dengan kecepatan bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya. Dalam waktu singkat, empat orang itu sudah lenyap di balik pintu dan tertelan dalam kegelapan malam. "Kejar!" Bentak Lui Hujin nyaring. "Jangan, jangan dikejar!" Sahut Lui Ki-hong dan putranya hampir berbarengan. "Tak usah dikejar!" Bayangan lilin bergoncang terhembus angin, dalam kilatan cahaya keempat sosok mayat yang bergelantungan di atas tali panjang tadi mendadak sudah meluncur masuk lagi ke dalam ruangan bagaikan kilatan bintang. Tubuh mereka masih tetap bergelantungan seperti orang bermain ayunan, tapi kecepatannya bergerak kian-kemari tak beda dengan kelebatan bayangan setan. Sambil tertawa dingin Lui Hujin mengayunkan goloknya, babatan ini lebih kencang dan cepat, di antara kilauan cahaya golok bagaikan bianglala di angkasa, ia songsong tubuh Jinbin-tho-hoa-hong itu dengan sebuah bacokan ganas. Kali ini Jin-bin-tho-hoa-hong tidak mundur. "Bluuk!" Mata golokmembelah persis di atas tubuhnya seperti membacok seikat rumput kering, tubuh si lebah tersebut terbelah jadi dua dan roboh ke tanah. Gumpalan asap berwarna merah segera menyembur keluar dari belahan tubuh itu, tatkala Lui Hujin sadar kalau dirinya terjebak, keadaan sudah terlambat, tubuhnya langsung roboh terjengkang ke belakang. Jin-bin-tho-hoa-hong ini selain bukan manusia hidup, juga bukan orang mati. Ketika tubuhnya meluncur mundur dari ayunan tali panjang tadi, ternyata ia sudah bertukar diri di balik kegelapan Waktu itu, mata golok Lui Ki-hong hampir saja membabat di atas sesosok mayat yang berada di hadapannya. Menyaksikan perubahan yang tak terduga itu, dengan paksa ia menarik kembali ayunan goloknya. Tak disangka kali ini bukan saja orang itu tidak mati, pun bukan orang palsu untuk menjebak Ketika Lui Ki-hong menarik paksa ayunan goloknya, tahu-tahu pergelangan tangannya sudah dicengkeram orang itu kencang-kencang, separuh badannya kontan menjadi kesemutan dan kaku. Siau Lui melompat ke depan dengan kecepatan tinggi, tapi dalam waktu bersamaan dua sosok mayat lain yang masih bergelantung di atas tali panjang itu sudah berayun mendekat, empat buah kaki melancarkan serangkaian tendangan berantai ke tubuhnya. Dengan tubuh berputar setengah lingkaran, ia berkelit dari tendangan berantai sepasang kaki itu, kemudian sambil membalik telapak tangannya ia babat pergelangan kaki dua kaki yang lain. "Bluuk!" Sebuah pergelangan kaki terbabat hingga hancur berantakan, tapi lagi-lagi segumpal asap merah menyembur keluar dari balik serpihan kaki yang hancur itu. Ternyata kedua orang itu satu asli satu palsu, kaki si orang palsu yang dipakai untuk menendang tadi dilancarkan dengan meminjam kekuatan ayunan kaki orang yang asli. Siau Lui berjumpalitan, bersalto beberapa kali di udara, lalu melejit mundur sejauh tiga kaki dari posisi semula. Walaupun ia berhasil menghindarkan diri dari semburan asap beracun itu, tapi sayang ayahnya sudah jatuh ke dalam cengkeraman lawan. Gelak tawa menggema di udara bagaikan tangisan setan penasaran, wajah Lui Ki-hong pucat pias bagaikan mayat, goloknya sudah terlepas dari genggamannya dankini terjatuh ke tanah, dengan pandangan tak berkedip ia pandang lambang mata setan yang terukir di atas topeng tembaga itu. Lebah Bermata Setan tertawa terkekeh-kekeh, teriaknya menyeramkan. "Kembalikan nyawaku!" Tubuhnya menyusut ke muka, nampaknya dia ingin menyambar Lui Ki-hong dan berusaha membawanya pergi dari situ, siapa tahu pada detik terakhir itulah mendadak tiga orang pelayan berbaju hijau yang semula sudah roboh tergeletak di tanah itu melompat bangun sambil mengayunkan tangannya bersamaan waktu, puluhan titik cahaya bintang yang berhawa amat dingin segera memancar ke muka bagaikan hujan gerimis. Tubuh si Lebah Bermata Setan seketika terhajar puluhan senjata rahasia itu hingga berubah bagaikan landak, untuk menjerit kesakitan pun tak sempat diutarakan. Lui Ki-hong membalik pergelangan tangannya, secepat kilat ia sambar golok yang pada saat bersamaan telah dilempar Siau Lui ke arahnya. Percikan darah segar menyembur ke empat penjuru ruangan, dua batang kaki yang berlumuran darah jatuh rontok dari tengah udara, dua batang kaki yang berdaging dan penuh berpelepotan darah segar. Orang yang kehilangan kedua kakinya itu menjerit kesakitan, cepat-cepat tubuhnya berayun pada tali dan melompat mundur ke belakang, semburan darah segar ikut menyembur keluar membasahi lantai, persis seperti kuntum kuntum-bunga sakura yang rontok dari rantingnya dan berguguran ke tanah. Waktu itu Siau Lui sudah melompat ke depan, berjongkok di samping ibunya. Paras muka Lui Hujin telah berubah pucat pias bagaikan mayat. "Bagaimana keadaanmu?" Tanya Lui Ki-hong dengan nada berat Siau Lui menggertak giginya kencang kencang, otot-otot di wajahnya menonjol keluar semua menahan emosi, ia marah dan sangat mendendam. Sementara itu ketiga orang pelayan berbaju hijau itu sudah melompat bangun dan berdiri berjajar menghadang di muka majikannya berdua, mereka bertiga telah menyingkap pakaian luarnya hingga kelihatan kantung-kantung kulit yang terikat rapi di pinggang mereka. Tangan mereka bertiga siap merogoh ke dalam kantungkantung kulit itu, jari jemari yang kurus dan panjang nampak runcing penuh tenaga, kuku mereka terpapas pendek. Sebagian besar tangan jago-jago kenamaan dalam penggunaan senjata am-gi, semuanya terawat bersih dan rapi. "Boan-Thian-Hoa-Yu (hujan bunga memenuhi angkasa)..." Seru orang dari balik kegelapan sambil tertawa melengking, suara tertawa yang amat memikat hati. "Tiga bersaudara keluarga Peng, sejak kapan kalian jadi begundal orang lain? Betul-betul sebuah kejadian yang tak disangka..." Paras muka tiga bersaudara dari keluarga Peng tetap dingin kaku, sama sekali tidak menunjukkan perubahan mimik apapun. Syarat utama untuk bisa melepaskan am-gi secara tepat adalah harus memiliki sepasang tangan yang sangat tenang dan kokoh, untuk bisa memperoleh tangan yang tenang dan kokoh harus dilatih syaraf dan semangat yang keras bagaikan baja. "Lui Ki-hong, kau memang si rase tua!" Suara tertawa Lebah Bunga Tho Berwajah Manusia tergetar tiada hentinya. "Tak disangka kau dapat membeli tiga bersaudara dari keluarga Peng secara rahasia dan menyembunyikan mereka di dalam rumah. Aku kagum kepadamu!" Suara tertawa perempuan itu meski merdu, sayang Lui Kihong tidak mendengarnya. Baginya tak ada suara lain yang lebih penting daripada dengus napas istrinya saat itu. Napas Lui hujin sudah amat lirih amat lemah. Siau Lui angkat wajahnya, memandang ke arah ayahnya. Waktu itu Lui Ki-hong telah berlutut, berlutut di sisi istrinya, sambil membungkuk ia berbisik. "Lebah Bunga Tho Berwajah Manusia sudah mampus tigabelas tahun berselang, yang datang kali ini pasti gadungan!" Paras muka Lui Hujin sudah kaku, sekaku batu, namun sorot matanya masih lembut, halus bagaikan aliran air. Ia memandang ke arahnya, dia bukan cuma suaminya, juga merupakan sahabat sehidup-sematinya. Ia selalu mempercayainya, seperti dia percaya pada diri sendiri. Kini dia tahu, sebentar lagi dia akan pergi meninggalkannya, namun tak terpancar rasa takut sedikitpun dari sorot matanya. Juga tak terpancar rasa sedih, apalagi rasa takut atau ngeri. Kematian bukan sesuatu yang menakutkan. Bagi seorang wanita, selama ia sudah mendapat seorang suami yang sepanjang hidup selalu setia kepadanya, apalah arti dari sebuah kematian??? Lui Ki-hong mengganggam tangannya dengan lembut, tapi sinar mata istrinya sudah dialihkan ke wajah putranya. Tiba tiba muncul setitik suara dari balik tenggorokannya... sejenis kekuatan luar biasa yang mendorong dia dapat mengeluarkan suara tersebut. Itulah kekuatan kasih-sayang seorang ibu terhadap anaknya. Dengan suara lirih Lui Hujin berbisik. "Kau tak boleh mati... Kau harus temukan Jian-jian, dia sangat baik... dia pasti bisa melahirkan seorang cucu yang gagah untukku." "Aku pasti dapat menemukannya" Siau Lui merebahkan kepalanya di atas dada ibunya yang lemah. "Aku pasti dapat membawa putra kami datang ke sini, menjumpai dirimu." Di tengah sorotan mata Lui Hujin yang lembut, tersungging secercah senyuman, dia seolah-olah ingin mengangkat tangannya, menggerakkan lengannya untuk memeluk putra tercintanya. Sayang ia tidak sempat menggerakkan lengannya, sepanjang masa tak pernah dapat dilakukannya lagi. Dada ibunya sudah lama menjadi dingin. Siau Lui masih berlutut di sana, berlutut tanpa bergerak sedikitpun. Tatkala dada ibunya mulai mendingin, perasaan hati putranya juga ikut mendingin. Titik air mata nampak bercucuran membasahi kelopak mata tiga bersaudara dari keluarga Peng, namun tak seorangpun yang berpaling. Mereka tidak bisa berpaling. Kembali ada empat orang berjalan masuk dari atas tali panjang, berjalan masuk dengan langkah sangat lambat. Siapapun tak tahu keempat orang yang baru muncul itu manusia sungguhan? Gadungan? Mayat hidup? Atau manusia hidup? Tiga bersaudara dari keluarga Peng memiliki senjata am-gi yang sangat beracun, tapi sayang mereka tak bisa memakainya untuk menyerang. Asap racun yang menyelimuti ruangan itu sudah kelewat jenuh, kelewat pekat. Mendadak Siau Lui menyambar golok milik ibunya, berjumpalitan di udara dan melesat sejauh empat kaki lebih, di antara kilatan cahaya golok, empat utas tali terbang itu terpapas putus semua Empat sosok manusia itu jatuh hampir bersamaan... "Blukk.." Semuanya terkapar di atas tanah tanpa bergerak sedikitpun, rupanya empat sosok manusia gadungan. Seandainya tiga bersaudara dari keluarga Peng melepaskan am-gi mereka tadi, niscaya asap beracun yang menyelimuti ruangan itu akan semakin menyesakkan napas. Biarpun serbuk bunga dari segerombolan lebah itu sangat harum, namun pantang tercium baunya... Biarpun serbuk bunga dari sang lebah sangat beracun, yang paling beracun justru sengatannya. Setelah terjerembab ke tanah, keempat sosok manusia itu tidak pernah bergerak lagi... mendadak cahaya lampu yang menerangi ruangan dalam rumah itu padam, suasana jadi gelap gulita. Menyusul kemudian terdengar jeritan lengking yang menyayat hati bergema dari balik kegelapan. Jeritan ngeri dari begitu banyak orang yang belum pernah terdengar sebelumnya, jeritan tersebut sudah tak mirip suara dari manusia tapi lolongan menyeramkan dari sekawanan binatang. Lolongan ngeri sekawanan binatang yang sedang sekarat, semacam irama suara yang membikin perut jadi mual, jeritan yang membuat otot pada kaku, susul-menyusul tiada hentinya. Mungkin, hanya ada satu suasana yang lebih menakutkan daripada suara tersebut... ketika semua suara mendadak berhenti berbunyi... Ketika suasana tiba-tiba tercekam dalam keheningan yang amat menyeramkan. Bagaikan suara irama musik yang tiba-tiba terhenti karena senarnya terbabat putus oleh bacokan golok, suara pisau yang sedang membabat di atas daging manusia, suara tulang yang sedang retak dan hancur... Suara tenggorokan yang mendadak tercekik dan dipatahkan. Namun seluruh suara tersebut tak pernah terdengar, karena semua suara itu tak pernah bisa didengar secara jelas, karena seluruh suara itu tenggelam oleh jeritan ngeri yang menyayat hati. Ketika jeritan ngeri itu terhenti, seluruh suara yang ada dalam ruangan pun ikut terhenti. Tak seorang pun yang tahu kenapa semua suara yang begitu menakutkan itu bisa berhenti secara tiba-tiba. Juga tak seorang pun yang tahu mengapa ruangan di tempat itu bisa berubah begitu gelap gulita, begitu senyap. Kenapa sampai suara napas manusia pun tak kedengaran? Entah berapa lama sudah lewat... Setitik cahaya lampu mendadak berkilat dari balik kegelapan Cahaya lampu yang berwarnah hijau pucat pelan-pelan melayang masuk dari luar pintu, seorang manusia bertubuh langsing yang memegang lentera tersebut. Ketika cahaya lentera baru saja menyinari pemandangan dalam ruangan itu, lentera yang berada di tangannya mendadak terjatuh ke lantai, terbakar di atas tanah, orang yang membawa lentera itu mulai muntah-muntah. Tak ada orang yang bisa menahan rasa mual bila menyaksikan pemandangan di tempat itu. Tak nampak seorang manusia hidup pun di dalam gedung. V Cahaya api yang sedang berkobar, memancar di atas wajah tiga bersaudara dari keluarga Peng, air muka mereka menunjukkan mimik wajah yang sangat aneh, seakan-akan mereka tak percaya bahwa dirinya bakal tewas di ujung senjata rahasia orang lain. Senjata rahasia itu berupa jarum beracun dari seekor lebah, lebah yang datang dari neraka dan kini sudah balik kembali ke dalam neraka. Ketika tubuh Lui Ki-hong roboh ke tanah, tangannya masih menggenggam golok Yan-ling-to miliknya, meski mata goloknya telah gumpil. Ia roboh persis di samping jenasah istrinya, seakan-akan hingga detik terakhir hidupnya ia enggan meninggalkan sisi istrinya walau setengah langkah pun. Siau Lui sendiripun roboh di tengah genangan darah, ceceran darah berwarna hitam, jelas darah yang mengandung racun. Empak sosok manusia yang meluncur turun dari atas tali terakhir tadi, kini tidak berada di posisi semula. Mereka bukan manusia gadungan, tapi sekarang telah berubah menjadi orang mati. Masih berapa banyak orang yang mati disitu? Pada saat itulah terbesit setitik cahaya api di luar jendela, api itu mulai membakar daun jendela, membakar bangunan loteng dan gedung tersebut. Tak ada yang tega saling memandang, karena memang tak mungkin saling memandang lagi... lentera yang tadi terbakar kini apinya telah padam. "Tak sejengkal rumputpun yang tersisa!" Hanya kobaran api yang tak berperasaan dapat mengubah tempat tersebut menjadi tak tersisa walau hanya sejengkal rumputpun. Entah berapa lama kembali berlalu, dari balik kilauan cahaya api kembali muncul sesosok bayangan manusia. Sesosok bayangan tubuh yang langsing dan indah, wajahnya i nengenakan sebuah topeng, sebuah topeng dengan sekuntum bunga tho... bunga tho yang nampak merah menyala karena terpantul cahaya api. la berdiri tenang di depan pintu, mengawasi tumpukan mayat yang berserakan di hadapannya dengan tatapan dingin, walau seluruh lantai berubah jadi lautan darah, ia tak sedikitpun muntah, ia bahkan tidak merasa mual. Mungkinkah ia bukan manusia? Mungkinkah ia benar-benar setan iblis yang hidup kembali dari dalam neraka? Lambat laun tempat tersebut berubah semakin panas, sepanas api jahanam dari dalam neraka. Kejam dan menyeramkan seseram suasana neraka, dan ternyata ia berjalan memasuki neraka itu. Perlahan-lahan ia berjalan masuk ke dalam ruangan, sepatu yang dikenakan telah basah berpelepotan darah, golok dalam genggamannya masih memancarkan cahaya yang menyilaukan mata. Sorot matanya berputar kesana-kemari seakan-akan sedang mencari sesuatu. Akhirnya pandangan matanya terhenti di atas batok kepala Lui Ki-hong. Itulah batok kepala dari musuh besarnya, dia harus membawa pulang batok kepala itu, untuk bersembahyang bagi arwah ibunya. Dendam kesumat! Ketika rasa dendam mulai membakar dalam lubuk hati seseorang, kobaran apinya akan lebih dahsyat ketimbang kobaran api yang membakar gunung, lebih menakutkan, lebih menyeramkan. Kalau Thian telah menganugerahkan rasa cinta dalam alam jagat ini, kenapa harus menebarkan pula bibit dendam kesumat disitu? Selangkah demi selangkah ia berjalan mendekati Lui Kihong, tak ada lagi manusia di dunia ini yang bisa menghalanginya. Tapi mungkin masih ada seseorang... Yaaa, hanya satu orang yang bisa menghalanginya! Mendadak muncul seseorang dari balik genangan darah, menghadang persis di hadapannya, menghalangi jalan perginya. Tampaknya orang itu mengenakan pula sebuah topeng di wajahnya, bukan topeng yang terbuat dari tembaga, tapi topeng yang penuh berlumuran darah. Darah segar bukan saja menyelimuti seluruh wajahnya, juga mengelamkan air mukanya, menutupi semua perasaannya, pikirannya. Dia bagaikan sesosok mayat, mayat hidup yang berdiri kaku di situ sambil mengawasi dirinya, meski tak dapat melihat wajah asli perempuan itu, paling tidak ia masih dapat melihat dengan jelas ukiran bunga tho yang terpampang di atas topeng wajahnya. Lama sekali ia berdiri di situ mengawasi lawannya, kemudian sambil tertawa seram yang menggidikkan bulu roma, katanya. "Rupanya kau belum mampus?" Yaa, dia memang belum mati, karena ia tak boleh mati. "Kedua orang-tuamu sudah pada mampus, apa artinya kau tetap hidup seorang diri? Lebih baik pergilah mampus!" Ia cukup tahu siapakah dia, tapi tidak cukup tahu manusia macam apakah dirinya. Hanya sedikit orang yang tahu manusia macam apakah dirinya, amat sedikit manusia yang benar-benar bisa memahami dirinya. Darah segar masih meleleh keluar membasahi wajahnya, di atas wajahnya sudah tak ada air mata, yang ada tinggal darah, cucuran darah segar. Dalam tubuhnya juga tak punya darah lagi, karena semua darah miliknya sudah mengalir keluar, yang ada dalam nadinya sekarang tinggal aliran kekuatan yang besar, mungkin saja semacam kekuatan yang terbawa dari dalam neraka, kekuatan yang muncul dari kekuatan rasa dendamnya. Kobaran api semakin membara, seluruh belandar dalam gedung itu sudah terbakar, terjilat kobaran api yang makin membara. Akhirnya perempuan itu menghela napas panjang, ujarnya pelan. "Kalau kau tak ingin mampus, pergilah! Toh yang kucari sebenarnya bukan dirimu. .." Yang dicari perempuan ini memang bukan dia, tapi sebelum ucapannya selesai diutarakan, ia sudah turun tangan, sabatan golok di genggamannya tak beda dengan sengatan beracun seekor lebah. Siau Lui tidak menghindar, juga tidak bergerak, ia biarkan mata golok yang tajam menembusi tulang iganya, ketika mata golok sudah terjepit di dalam tulangnya itulah tiba-tiba ia balas melancarkan serangan. "Krakkk....!" Bersamaan dengan patahnya tulang iga yang ditembusi mata golok pergelangan tangan perempuan itu ikut terhajar patah. Gerakannya bukan gerakan dari ilmu silat, di dunia ini tak ada ilmu silat semacam ini. Tindakan yang dilakukan olehnya saat itu tak ubahnya dengan pertarungan seekor hewan liar, bahkan lebih menakutkan dan lebih kejam daripada pertarungan hewan liar. Sebab pertarungan seekor hewan masih dilandasi untuk mempertahankan hidup, tapi baginya, ia sudah tidak memikirkan keselamatan sendiri, tak memikirkan kehidupan sendiri. Memang, kadangkala sifat manusia memang jauh lebih kejam daripada sifat seekor hewan. Hingga saat itulah sorot mata ngeri dan takut mulai terpancar keluar dari sorot mata perempuan itu, tiba-tiba teriaknya keras. "Kau ingin membunuhku?" "Betul!" Jawaban Siau Lui amat singkat, sesingkat mata golok yang meluntakkan tulang iganya. "Kenapa? Ingin balaskan dendam ayah-ibumu? Kau boleh membalaskan sakit hati orang-tuamu, kenapa aku tak boleh? Bila kau anggap tindakanku keliru, kaupun telah melakukan langkah yang salah!" Nada suaranya tinggi tajam seperti sayatan sebilah mata golok Makin kencang jari-jemari Siau Lui mencengkeram tulang pergelangan tangannya yang telah hancur, seluruh tubuh perempuan itu mulai gemetar, wajahnya mulai menampilkan perasaan kesakitan dan ngeri yang amat mendalam. Tapi ia masih dapat mempertahankan diri, sudah lama dia terbiasa menahan rasa penderitaan dan rasa ngeri yang dalam, katanya. "Lagipula aku toh tidak membunuh siapapun, tanganku belum pernah ternoda oleh darah siapapun, sebaliknya ibuku justru mati di tangan ayahmu, aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana mata goloknya menggorok leher ibuku, memenggal kepala ibuku..." "Kau menyaksikan dengan mata kepala sendiri?" Perempuan itu mengangguk, dengan sorot mata penuh kebencian dan rasa dendam yang dalam lanjutnya. "Kau ingin melihat wajahku?" Tiba tiba ia lepaskan topeng yang menutupi wajahnya, memperlihat raut muka aslinya. Tak dipungkiri sebenarnya dia memiliki sebuah wajah yang amat cantik, kecantikan wajahnya cukup membuat setiap lelaki berlutut di hadapannya, membuat setiap lelaki kehilangan sukma dan tergila-gila kepadanya. Tapi sekarang, sebuah bekas bacokan golok yang sangat dalam dan mengerikan membekas di wajah ayunya, menggurat dari ujung matanya hingga ke ujung bibirnya. Seperti sebuah lukisan wanita cantik yang ternoda oleh tinda hitam... Semua orang pasti akan merasa sayang bila melihat raut muka seperti ini, guratan golok tersebut bukan hanya menghancurkan paras mukanya yang cantik, meluluhlantakkan juga kehidupannya. Sambil menunjuk bekas bacokan golok di wajahnya dan tertawa dingin, kembali ia berkata. "Tahukah kau perbuatan biadab siapakah hasil karya ini? Dia tak lain adalah ayahmu... Padahal aku masih berusia lima tahun kala itu... Siapa yang mengira seorang pendekar besar golok sakti ternyata begitu tega menghancurkan kehidupan seorang gadis yang masih berumur lima tahun???" Siau Lui tertegun memandang wajahnya, genggaman tangannya yang semula kencang mulai mengendor, tiba tiba saja ia pingin muntah, perutnya mulai terasa mual. "Sekarang, apakah kau masih ingin membunuhku? Masih ingin balaskan dendam bagi ayah-ibumu?" Sepatah demi sepatah kata ia bertanya. Tiba tiba Siau Lui melengos, dia tak tega lagi memandangi wajahnya. Seluruh semangat dan kekuatan rubuhnya mendadak jadi runtuh. "Aku sengaja mengatakan semuanya ini tak lebih hanya ingin beritahu kepadamu bahwa Lui Ki-hong bukan seorang malaikat," Kembali ia bicara dengan suara dingin, sedingin es dari kutub. "la tidak sesuci dan sehebat apa yang kau bayangkan, dia ingin membunuh ibuku karena tak lain ingin..." "Enyah kau dari sini, cepat enyah dari sini!" Teriak Siau Lui tiba tiba. "Mulai detik ini aku tak ingin bertemu dirimu lagi!" Kembali ia tertawa, bekas luka golok yang membekas di ujung bibirnya membuat suara tertawanya seakan akan mengandung sindiran yang tak terlukis dengan kata-kata, ujarnya. "Kalau toh kau tak berani mendengar lagi, baiklah, aku tak usah lanjutkan perkataanku, sebab jika kuteruskan, perutku pun mulai ikut mual, pingin muntah!" Perlahan-lahan ia membalikkan tubuhnya, perlahan-lahan pergi meninggalkan tempat itu, ia tak berpaling lagi walau sekejap pun. Siau Lui juga tidak memandang ke arahnya, apalagi menghalangi Kepergiannya. Dia cuma berdiri termangu di situ seperti orang yang kehilangan sukma, seluruh pikiran dan peredaran darahnya seolah-olah jadi kosong dan hampa. Api masih berkobar dengan hebatnya, semua tiang belandar lelah terbakar patah, arang dan abu mulai berguguran ke atas tanah, mengotori sekujur badannya. Ia tidak berkelit juga tidak berusaha untuk menghindar, maka tubuhnya ikut roboh keatas tanah. Betapa hebatnya kobaran api yang membakar tempat itu, pada akhirnya padam juga. Sebuah perkampungan yang semula begitu kokoh dan angker kini sudah rata dengan tanah. Seluruh kehidupan, jenasah, tulang-belulang, ceceran darah segar, kini sudah tersapu bersih oleh kobaran api. Tapi hanya satu yang tak mungkin patah walau dibacok, tak habis terbakar walau dijilat kobaran api yang begitu dahsyat. Itulah perasaan manusia. Hutang budi, dendam kesumat, cinta,benci... Selama manusia masih hidup di dunia ini, semua perasaan itu tetap akan hidup. Rasa marah, rasa sedih, keberanian... semuanya muncul hanya dikarenakan perasaan tersebut. Kini, walau kobaran api sudah padam, namun cerita mengenai mereka justru baru saja dimulai. VI Matahari bersinar terik. Bunga tho berwarna merah yang tumbuh di bawah terik matahari kelihatan begitu merah bagaikan kobaran api. Bunga Tho masih tetap berkembang seperti sedia kala, tapi di manakah orang di bawah bunga itu? JIAN-JIAN I Jian-jian menundukkan kepala memandangi kaki sendiri. Noda darah membasahi kakinya yang mungil. Onak semak belukar yang tajam dan kerikil batu gunung yang runcing membuat ia amat tersiksa. Tapi, betapa pun beratnya luka luar yang dideritanya sekarang, jauh tak dapat menandingi kepedihan hatinya yang terluka dan tersayat sayat. Ia berlarian sampai di situ bagaikan kesetanan, lupa siang lupa malam, bahkan lupa arah jalan yang di tuju. Kesemuanya itu dapat ia lupakan, sayang ia susah melupakan diri Siau Lui. Kini perasaan hatinya sudah tercabik-cabik menjadi ribuan keping. Tapi dalam setiap kepingan yang hancur itu masih tertera bayangan dari Siau Lui. Bayangan yang begitu menarik tapi juga begitu menggeramkan, rasa benci yang lebih mendalam ketimbang rasa cinta. "Mengapa ia bersikap begitu kepadaku? Kenapa secara tiba-tiba ia begitu tega, begitu tak berperasaan kepadaku?" Ia tidak tahu, benar benar tidak paham. Tapi dia ingin mengetahui, ingin mencongkel keluar hatinya, agar bisa ditanya sampai jelas. Sayang ia tak punya kemampuan untuk berbuat begitu. Apa boleh buat, sumpah sehidup-semati yang pernah diucapkan dulu, cinta kasih yang lembut bagaikan buaian air, sekarang telah berubah menjadi luka sayatan yang begitu dalam menggores hatinya. Bisikan-bisikan mesra tempo dulu, juga rangkulan dan pelukan hangat di masa lalu, kini hanya tersisa kenangan yang penuh kegetiran dan penderitaan. Dia rela mengorbankan segalanya untuk ditukar dengan kemesraan dan kegembiraan seperti di masa lalu, walau itu hanya berlangsung sekejap pun. Sayang semuanya sudah berlalu, semuanya tak mungkin diulang kembali. Walau ia benturkan kepalanya ke atas dinding, walau dibenturkan hingga seluruh tubuhnya hancur lebur, semuanya tak mungkin terulang kembali. Inilah yang dinamakan kesedihan, kepedihan yang sesungguhnya, penderitaan yang sebenarnya. Penderitaan semacam ini dapat meresap langsung ke dalam peredarah darahmu, ke dalam tulang sumsummu. Musim semi, hembusan angin pagi dimusim semi masih terasa dingin. Ia hanya mengenakan seperangkat pakaian yang amat tipis, bertelanjang kaki. Pakaian tipis itu adalah seluruh harta yang di milikinya saat itu. Sisanya telah ia tinggalkan, Tinggalkan untuknya. Kini mungkin hanya kematian merupakan satu-satunya pelepasan baginya, tapi dia masih tak pingin mati. "Suatu hari nanti... Akan kubuat kau menyesal seumur hidup." Cinta yang kelewat mendalam dapat berubah menjadi kebencian dan dendam, semakin kau mencintai seseorang, semakin dalam rasa bencimu kepadanya. Oleh sebab itu dia harus tetap hiidup, dia harus membalas dendam, tapi dengan cara apa dia mempertahankan hidupnya? Dunia begitu luas, kemana ia harus pergi untuk tinggal sementara waktu? Dia tak ingin menangis tapi air mata jatuh berlinang tiada hentinya. "Jian-jian..." Tiba-tiba ia mendengar ada orang memanggil namanya dengan suara lirih. "Jian-jian... Jian-jian..." Ketika berada di depan bunga, di bawah sinar rembulan, dalam pelukan mesranya Siau Lui selalu memanggil namanya berulang-ulang. Dalam sekejap mata ia seperti melupakan seluruh kepedihan hatinya, semua rasa benci dan dendamnya, asal ia mau balik kepadanya maka diapun akan segera memaafkan seluruh kesalahan dan kesilafan yang telah dilakukan olehnya, ia akan segera menjatuhkan diri ke dalam pelukan mesranya. Tapi sayang dia kecewa, yang memanggil namanya bukan Siau Lui, dia adalah Kim Cwan. Kim Cwan seorang terpelajar juga seorang pendekar. Kim Cwan adalah seorang pemuda yang halus, lembut dan penuh sopan santun Rambutnya selalu disisir hingga kelimis dan rajin, pakaian yang di kenakan selalu bersih, modis dan ae suai dengan perawakan tubuhnya Dibandingkan dengan Siau Lui, mereka berdua sama sekali berbeda dan bertolak belakang. Tapi dia justru sahabat karibnya Siau Lui. Tentu saja Jian-jian kenal dengannya, sebab pemuda inipun tahu hubungan asmara antara dia dengan Siau Lui yang berjalin secara rahasia. "Jangan-jangan Siau Lui yang menyuruh dia datang mencariku jantungnya berdebar keras, tak tahan serunya. "Kenapa kau bisa muncul di sini?" "Datang mencarimu," Senyuman Kim Cwan lembut seperti senyuman seorang perawan "Mencari aku? Darimana kau tahu aku berada di sini?" "Sepanjang jalan aku selalui melindungimu!" Hati Jian-jian berdebar semakin kencang, iaberharap Kim Cwan mau memberitahukan kepadanya bahwa Siau Lui lah yang menyuruh dia melakukan semuanya itu. Tapi sayang pemuda itu tidak berkata demikian. "Apa kau melihat dia?" Sambil menggigit ujung bibir tak tahan Jian-jian bertanya lagi. Kim Cwan menggeleng. "Kau tahu... kami telah berpisah?" Kim Cwan tetap menggeleng. Perasaan hati Jian-jian semakin tenggelam, lama sekali ia menundukkan kepalanya sebelum diangkat kembali. Tiba tiba ia menemukan Kim Cwan sedang mengawasi kakinya, kaki mungilnya yang telanjang, putih mulus bagaikan pualam tapi penuh dengan goresan luka dan darah itu, sepasang kaki yang menimbulkan rasa iba bagi yang melihatnya. Lelaki manapun yang menyaksikan sepasang kaki itu, tentu tak akan bisa mengendalikan diri untuk mengamatinya lebih lama... karena kaki perempuan yang putih mungil itu seolaholah mengandung suatu misteri yang menarik, semacam hubungan perasaan yang amat aneh. Ia ingin sekali menarik pakaiannya untuk menutupi kakinya yang telanjang, tapi pada saat yang bersamaan tiba tiba terpancar sinar kebencian yang luar biasa dari balik matanya. "Aku pasti akan membuatnya menyesal... aku harus membalas sakit hati ini..." Hanya cinta yangkelewat dalam dapat berubah secara mendadak jadi kebencian yang luar biasa, yang dapat mengubah seorang gadis yang lemah-lembut dan berhati mulia menjadi beracun dan jahat, sejahat ular berbisa. "Kau tidak pulang?" Kembali Kim Cwan bertanya dengan suaranya yang merdu bagai seorang gadis. Jian-jian menunduk rendah, sahutnya sedih. "Aku tak punya rumah..." "Lantas... kau ingin ke mana?" Kepala Jian-jian menunduk semakin rendah, ia mengerti antara rasa kasihan dan rasa cinta seringkah susah dipisahkan satu dengan lainnya. Ia tahu dan mengerti bagaimana caranya membangkitkan rasa iba dan kasihan seorang lelaki terhadap dirinya. Betul juga, rasa iba dan kasihan segera muncul di wajah Kim Cwan, setelah menarik napas panjang katanya lagi dengan lembut. "Apapun akhirnya nanti, paling tidak aku harus temani kau untuk berganti pakaian bersih dan makan sampai kenyang." Ada satu hal yang tak boleh dilupakan kaum lelaki, pembalasan yang datang dari seorang wanita seringkali dilakukan dengan segala car dan menghalalkan cara apapun. II Bunga Tho di bawah terik matahari nampak merah bagaikan bara api, Ketika Siau Lui membuka matanya, terbentang bunga-bunga tho yang membara bagaikan kobaran api di atas ranting pohon di hadapannya. Seseorang berdiri bersandar di bawah pohon bunga tho, seorang berbaju putih yang berbadan langsing, bersanggul tinggi dan memakai sebuah cadar yang menutupi wajah putihnya. Merah bunga yang memenuhi seluruh hutan merangkul tubuhnya vang putih bagaikan salju, Seorang bidadari kah dia? Bidadari bunga tho? Siau Lui meronta ingin bangun dan duduk. Pakaian yang dikenakan sudah basah oleh embun pagi, namun sekujur badannya terasa panas bagai digarang di atas kobaran api yang membara. Dia ingin duduk, tapi rasa sakit yang luar biasa membuat seluruh badannya kejang dan sakit, begitu sakitnya nyaris membuat ia jatuh pingsan. "Kau terluka sangat parah," Ujar gadis berbaju putih itu sambil memandangnya dengan mata yang bening. "lebih baik berbaringlah dengan tenang jangan sembarangan bergerak." Suaranya lembut, merdu tapi dingin dan hambar seakanakan berasal dari suatu tempat yang jauh. Siau Lui coba pejamkan matanya, semua peristiwa yang dialaminya semalam kembali terlintas di depan matanya. Kilatan golok, bayangan darah, kobaran api... Kejadian terakhir yang masih diingatnya adalah jilatan api membara yang rontok ke arah tubuhnya, membuat sekujur badannya serasa terbakar hebar, membuat ia serasa terjerumus ke dalam neraka tingkat tujuhbelas. Tapi kini, angin lembut musin semi berhembus menggoyangkan rerumputan harum bunga semerbak mengalir bagaikan alur air jernih di selokan. Kicauan burung di antara dahan pohon merdu bagaikan bisikan mesra seorang kekasih. Sekali lagi Siau Lui membuka matanya. "Aku... bagaimana aku sampai di sini? Kau yang menolongku?" Gadis berbaju putih itu mengangguk. "Siapa kau?" Pelan-pelan gadis berbaju putih itu memutar badannya, begitu ringan gerak tubuhnya bagaikan gerak awan di kejauhan bukit sana. Ia petik sekuntun bunga tho lalu disisipkan di atas sanggulnya, bunga tho yang merah bagaikan darah, cadar yang putih bagaikan salju membuat gadis itu seperti sekuntum bunga merah yang sedang mengapung di tengah kabut. "Jin-bin-tho-hoa!" Tak tertahan Siau Lui menjerit. "Rupanya kau!" Gadis berbaju putih itu tertawa, suara tertawanya merdu bagaikan keleningan perak yang berdenting di tengah hembusan angin musim semi. "sudah kuduga, cepat atau lambat kau pasti akan mengenaliku" "Kau... mengapa kau menolongku?" Tiba-tiba Siau Lui merasa tubuhnya mengejang keras. "Bunuh orang itu melanggar hukum, masa menolong orang juga dianggap melanggar hukum?" Gadis berbaju putih itu tertawa. Kembali ia membalikkan tubuhnya dan mengeluarkan sebuah tangannya yang semenjak tadi disembunyikan di balik baju, sebuah tangan yang dibalut kain putih, tangan yang telah diremuk Siau Lui tadi malam. Siau Lui segera tertawa. "Ooh... kau ingin aku mengembalikan tanganmu itu? Ambillah!" "Sebenarnya kau hanya berhutang sebuah tangan kepadaku, tapi sekarang kau berhutang pula selembar nyawa kepadaku," Sahut gadis berbaju putih itu hambar. "Kalau mau, kau boleh ambil juga nyawaku!" Jawab Siau Lui dengan suara yang ringan dan datar, seakan-akan menyuruh seseorang mengambil sebuah pakaian rombeng saja. Gadis berbaju putih itu memandangnya sampai lama sekali, tiba tiba ia mengajukan satu pertanyaan yang sangat aneh. "Kau benar benar putranya Lui Lo-hong?" "Ehm!" "Kau tahu ayahmu sudah mati?" "Tahu!" "Kau tahu rumahmu sudah terbakar habis dan rata dengan tanah?" "Tahu!" Gadis berbaju putih itu menghela napas panjang. "Heran, kenapa wajahmu sama sekali tidak mirip orang sedih?" "Bagaimana baru kau anggap mirip? Harus memukul dada sambil menangis meraung-raung?" "Sekarang kau tak punya apa-apa lagi, yang kau miliki tinggal selembar nyawa," Kembali gadis itu berkata setelah memandangnya mkuplama. "Ooh..." "Tahukah kau, bagi siapa pun yang tertinggal kini hanya selembar nyawa?" "Tahu!" "Tahukah kau, setiap saat aku bisa mencabut nyawamu" "Tahu!" Kembali gadis berbaju putih itu menghela napas. "Tapi keadaanmu nampak sama sekali tak mirip!" "Pada dasarnya beginilah aku." "Dalam menghadapi persoalan lain keadaan apapun kau selalu demikian?" "Bila kau tak suka dengan sikapku sekarang, kau boleh tidak Melihatnya." "Sebetulnya kau itu manusia bukan?" "Rasanya manusia." Kembali gadis berbaju putih itu menatapnya tajam-tajam, kemudian setelah menghela napas, ia balikkan badan dan pergi dari situ. "Hey, tunggu sebentar," Teriak Siau Lui. "Tunggu apa? Masa kau suruh aku tetap tinggal di sini menemanimu?" "Kau bilang aku masih berhutang kepadamu, kenapa tidak kau ambil kembali?" Gadis berbaju putih itu segera tertawa. "Kau sendiri tidak memandang berharga nyawa sendiri, buat apa aku mesti mengambilnya?" "Tapi..." "Tunggu saja sampai hatiku lagi senang," Potong gadis itu cepat. "saat itu aku pasti akan mengambilnya kembali. Tunggu saja!" Selesai bicara ia betul-betul melangkah pergi tanpa berpaling kembali. Siau Lui termangu-mangu mengawasi bayangan tubuhnya yang ramping lenyap di balik pepohonan bunga tho. Dia masih berbaring di situ, tanpa bergerak sedikitpun. Tapi kini yang meleleh di atas wajahnya sudah bukan darah, melainkan air mata. Angin berhembus sepoi-sepoi, bunga tho berkuntumkuntum rontok di atas tubuhnya, wajahnya, la masih belum bergeming. Air matanya sudah lama mengering. "Kini kau tidak memiliki apa pun, yang tersisa tinggal selembar nyawamu." Gadis itu benar-benar telah merampas seluruh yang dimilikinya, tapi ia justru telah menyelamatkan nyawanya. Mengapa ia harus berbuat begini? Apa menginginkan ia hidup dalam penderitaan? "Kau sendiri tidak memandang berharga nyawa sendiri, buat apa aku mesti mengambilnya?" Sesungguhnya dia memang sudah tidak memandang berharga kehidupan sendiri. Gadis itu bukan saja telah merampas seluruh yang dimilikinya, dia juga telah menghancurkan idola paling suci yang dimilikinya selama ini, ayahnya memang merupakan idolanya selama ini. Berdiri di atas genangan darah ayahnya sambil mendengarkan gadis itu menguak rahasia masa lalunya, saat itu dia hanya ingin melepaskan semua siksaan batin dan penderitaannya dengan kematian. Tapi sekarang, walaupun gejolak perasaannya belum tenang kembali, paling tidak sudah tidak bergejolak seperti tadi, tiba-tiba saja ia menyadari bahwa dirinya belum boleh mati dalam keadaan demikian. "Kau harus menemukan kembali Jian-jian, dia adalah gadis baik, pasti dapat melahirkan bibit unggul bagi keluarga Lui kami." "Jian-jian... Jian-jian..." Dalam hati kecilnya ia menjerit, memanggil, hanya nama itulah satu-satunya pengharapan yang dimilikinya... Seluruh pengharapan yang ada dan tertinggal kini. III Air sungai mengalir amat jernih, berkuntum-kuntum bunga tho mengapung di atas permukaan air dan mengalir lambat jauh ke ujung dunia. Siau Lui menggertak gigi, bergulingan menuruni tebing berlantai rumput hijau dan menceburkan diri ke dalam selokan, Air dingin yang menyengat bukan saja mengurangi siksaan hawa panas yang menggerogoti sekujur tubuhnya, juga membuat pikirannya lebih tenang dan sadar, Ia berendam dalam air tanpa bergerak, dia berharap bisa melupakan segalanya, tidak memikirkan persoalan apa pun, tapi sayang ia tak mampu, Semua peristiwa masa lalu, semua kejadian mengenaskan yang telah dialaminya, tiba tiba melunak dan memenuhi seluruh pikiran dan perasaan hatinya, begitu berat menghimpitnya membuat hatinya nyaris hancur berantakan. Dia seakan-akan sedang menghindari kejaran sejenis makhluk jahat pembunuh manusia, melarikan diri terbirit-birit dari dalam air. Betapa dalamnya penderitaan yang dirasakan di tubuhnya masih dapat ia tahan. Ia lari kencang menelusuri aliran sungai, menembusi hutan bunga, kehijauan bukit tampak terbentang jernih nun jauh didepan sana. Di bawah bukit terdapat sebuah dusun kecil, dalam dusun terdapat sebuah rumah makan kecil, di sana Irrsedia arak wangi yang hijau hening bagaikan warna pegunungan nun jauh di depan sana. la pernah mengajak Jian-jian mengetuk pintu rumah makan itu di tengah malam buta, menunggu kedatangan sahabat karibnya Kim-Cwan. Kemudian mereka bertiga akan mulai meneguk air katakata bagai orang kesetanan, riang gembira seperti anak kecil, karena saat itulah saat paling gembira bagi mereka bertiga. Kekasih yang sehati, sahabat karib yang setia kawan, arak wangi yang harum semerbak... Apa lagi yang dicari bila orang hidup dalam keadaan demikian? "Bawalah Jian-jian ke situ, tunggu aku walau harus menanti berapa lama pun, kalian harus menunggu hingga kedatanganku. Biar dia ingin pergi meninggalkan tempat tersebut, kau harus berupaya untuk menahannya!" Itulah pesan yang ia sampaikan kepada Kim-Cwan semalam. Ia tidak berpesan banyak, tidak pula menjelaskan mengapa harus berbuat demikian. Kim-Cwan juga tidak banyak bertanya. Rasa saling percaya di antara mereka berdua seakan-akan seperti percaya pada diri sendiri. Bukit di depan mata terasa begitu jauh. Siau Lui berharap bisa menemukan sekor kuda dengan sebuah pedati... sayang tidak ada pedati... apalagi seekor kuda. Darah segar bercucuran di wajahnya, bercampur dengan peluh, sekujur tulang-belulang tubuhnya seolah-olah akan hancur berantakan saking sakit dan menderitanya. Betapa pun jauh dan menderitanya jalan raya yang harus ditempuh, asal kau berniat menelusurinya, suatu ketika akan tiba juga saatnya mencapai ujung jalan tersebut. Pohon Yang-liu nan hijau bergoyang terhembus angin, pada akhirnya ia dapat melihat sepucuk bendera hijau bertuliskan "Ciu" Berkibar di antara pepohonan liu nan lebat. Cahaya matahari senja memancarkan cahayanya di atas bendera yang tampaknya masih baru. Pagar yang terbuat dari bambu membiaskan cahaya hijau pualam di bawah sorotan matahari yang sendu. Pagar itu mengelilingi tiga-lima buah tiang bangunan. Ditinjau dari balik jendela kelihatan kalau tamu di rumah makan itu tak banyak. Tempat itu memang bukan jalan raya utama, bukan termasuk dusun yang ramai dan makmur. Hanya tamu yang tertarik dengan kesohoran tempat tersebut yang datang berkunjung. Walaupun arak yang dibuat kakek Sin Hoa-ang tidak bisa dibilang amat tersohor, paling tidak cukup untuk memabukkan orang. Kakek Sin Hoa-ang dengan rambutnya yang telah putih beruban sedang duduk santai di pinggir rumah makannya, memakai sebuah hud-tim ekor kuda mengusir lalat-lalat hijau yang muncul dari balik pepohonan liu. Di atas meja tersedia lima-enam macam sayur yang ditutup dengan sebuah tudung saji terbuat dari kain kasa hijau, bukan saja kelihatan lezat menggiurkan juga amat menyolok mata. Tuan rumah yang santai, tamu yang santai... Tempat ini sesungguhnya memang sebuah tempat santai yang amat sepi dan hening. Ketika Siau Lui melangkah masuk ke dalam, tuan rumah dan tamu-tamu segera memandangnya dengan rasa kaget dan terperana.... Melihat pandangan mata orang yang begitu terkejut, ia segera sadar betapa menakutkan wajah dirinya saat ini, betapa mengerikan dan kacaunya keadaan dia... Tapi ia tak ambil perduli. Bagaimanapun pandangan orang lain terhadap dirinya, ia tak perduli. Yang dia perdulikan sekarang hanya. "Kenapa Kim-Cwan dan Jian-jian tidak berada di situ? Ke mana mereka pergi?" Ia menerjang ke tepi meja. Sebenarnya kakek SinHoa-ang ingin memayangnya, tapi melihat betapa gerahnya anak muda itu, ia segera menarik kembali tangannya sambil menjerit. "Mengapa kau berubah jadi begini? Apa yang sebenarnya telah terjadi?" Tentu saja Siau Lui tidak menjawab, lebih banyak persoalan yang dia ingin tanyakan. "Kau masih ingat dengan kedua orang temanku yang datang mengetuk pintu di tengah malam buta tempo hari?" "Tentu saja masih ingat," Sahut kakek Sin Hoa-ang sambil tertawa pahit. "Mereka tidak datang kemari hari ini?" "Sudah, pagi tadi." "Di mana mereka sekarang?" "Telah pergi!" "Ada orang yang memaksa mereka untuk pergi dari sini?" Siau Lui menggenggam kencang tangan Sin Hoa-ang, nada suaranya agak berubah "Tidak ada! Mereka hanya makan bubur dua mangkuk, tak sempat minum arak, mereka segera pergi." "Mengapa mereka telah pergi? Mengapa tidak menungguku?" Sin Hoa-ang memandangnya dengan melongo, ia merasa pertanyaan ini sangat aneh... kelewat aneh, kenapa sikap anak muda ini macam orang sinting? Tidak waras otaknya? "Kalau mereka tidak menerangkan, darimana aku bisa tahu kenapa mereka pergi?" "Kapan mereka pergi dari sini?" Tanya Siau Lui sambil melepaskan genggamannya dan melangkah mundur "Sudah pergi lama sekali, mereka hanya beristirahat sejenak lalu pergi." "Pergi melalui jalan yang mana?" Sin Hoa-ang berpikir sejenak, lalu menggeleng dengan perasaan bimbang. "Mereka tidak meninggalkan pesan untukku?" Buru Siau Lui. "Tidak!" Jawaban Sin Hoa-ang tegas dan meyakinkan. Daun pohon liu berkibar lembut terhembus angin sepoisepoi, cahaya senja mulai memenuhi angkasa membuat suasana semakin sendu, asap mulai mengepul dari balik dusun, dari balik atap rumah. Lamat-lamat terdengar suara gonggongan anjing, tangisan bayi menggaung dari kejauhan, berbaur dengan suara istri yang memanggil suaminya agar pulang... Sebenarnya tempat ini merupakan sebuah tempat yang tenang, sebenarnya merupakan sebuah dunia yang hening, tapi bagi Siau Lui ibarat sebuah medan pertempuran berdarah yang penuh dengan jeritan tentara dan ringkikan kuda terluka. Ia sudah menjatuhkan diri duduk di atas bangku yang terbuat dari bambu, di hadapannya tersedia secawan air katakata yang baru saja dituang kakek Sin Hoa-ang untuknya. "Teguk dulu satu dua cawan air macan, siapa tahu mereka akan balik kemari?" Siau Lui tidak mendengar kata-kata itu, dia hanya mendengar pertanyaan yang diajukan suara hatinya kepada diri sendiri. "Kenapa mereka tidak menunggu? Kenapa Kim Cwan tidak berusaha menahannya? Ia sudah berjanji untuk melakukannya untukku!!!" Ia percaya dengan Kim Cwan, belum pernah Kim Cwan ingkar janji. Arak hijau nan semerbak ditenggaknya hingga habis, sayang rasanya getir, sepahit perasaaan hatinya kini. Penantian jauh lebih getir daripada rasa arak. Matahari senja sudah turun gunung, selimut kegelapan malam mulai membentang menyelimuti angkasa, rembulan mulai muncul dengan malu-malu dari balik ranting pohon liu yang ramping. Mereka tidak datang! Sebaliknya Siau Lui sudah dibuat mabuk oleh air kata-kata. Sayang mabuk tak bisa menyelesaikan persoalan, tak bisa mengurai simpul mati dalam hatinya, tak akan menyelesaikan masalah apapun. Kakek Sin Hoa-ang memandangnya dengan masgul, lamatlamat terpancar rasa kasihan dan rasa iba dari balik sorot matanya. Dengan pandangan matanya yang kenyang pengalaman, secara samar ia sudah bisa menduga apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi. "Perempuan... perempuan... kau selalu menjadi bibit bencana, wahai anak muda, kenapa kau tak pernah paham tentang ajaran tersebut? Mengapa kau selalu rela menderita dan tersiksa batin hanya dikarenakan perempuan?" Sambil menghela napas ia menghampirinya, duduk di hadapan Siau Lui lalu bertanya lagi secara tiba-tiba. "Temanmu itu dari marga Kim?" Siau Lui mengangguk. "Konon ia datang dari jauh, kemari untuk belajar silat dan sastra dan selama ini tinggal di kebun kecil belakang kuil Kwan-Im-bio?" Kembali Siau Lui mengangguk. "Mungkin saja mereka telah pulang, kenapa kau tidak ke situ mencari mereka?" Siau Lui tertegun, seolah-olah baru mendusin dari tidurnya, tiba-tiba ia lari keluar meninggalkan tempat itu. Memandang bayangan tubuhnya yang semakin menjauh, kakek Sin Hoa-ang menghela napas panjang, gumamnya. "Dua lelaki dengan seorang gadis cantik... aaai..., bagaimana tidak menimbulkan kerumitan dan kerepotan?" Bunga yang tumbuh di balik kebun kecil itu rimbun dengan air yang banyak, tapi semuanya sedang mekar memancarkan bau semerbak. Kim Cwan adalah seorang sastrawan berbakat, bukan saja ia pandai membuat syair bermain khim, dia pun menguasai banyak pengetahuan tentang tumbuhan dan tanaman. Pintu pagar bambu tertutup tanpa dikunci, tapi pintu rumah gubuk di baliknya terkunci rapat, ini menandakan tak mungkin ada penghuninya. Piikiran dan kesadaran Siau Lui sudah tak sempat melintas sampai dii situ, ia mendobrak pintu rumah keras-keras, dengan sekuat tenaga ia menerjang masuk ke dalam rumah, ia pernah kemari berulang-kali. Ruangan itu adalah sebuah kamar baca yang mungil tapi amat bersih, seperti juga Kim Cwan, mendatangkan rasa nyaman bagi yang memandang. Di sudut ruangan terdapat sebuah ranjang, di depan jendela ada sebuah meja, di atas meja berjajar buku, lukisan, catur dan khim, sedang di atas dinding tergantung sebuah pedang kuno. Tapi sekarang, semua benda tersebut telah tiada, yang tersisa hanya sebuah lentera, sebuah lentera yanlg tak ada apinya. Siau Lui menerjang masuk ke dalam, terduduk lesu di atas ranjang, memandangi dinding ruangan dengan pandangan masgul. Sinar rembulan memancar masuk dari luar jendela, menyinari lentera di atas meja, menyinari manusia kesepian yang duduk termenung di depan lentera. "Kim Cwan telah pergi, pergi bersama Jian-jian..." Ia tak percaya peristiwa ini menjadi kenyataan, terlebih tak percaya peristiwa semacam ini dapat menimpa dirinya. Tapi kini, mau tak mau dia harus mempercayainya, harus percaya bahwa peristiwa ini adalah sebuah kenyataan. Air mata membasahi kelopak matanya, terasa air mata itu lebih dingin daripada sinar rembulan, ia merasakan air mata itu tapi tidak membiarkannya meleleh keluar. Ketika seseorang sedang betul-betul menderita dan sedih, air mata jarang bisa meleleh keluar. Sebenarnya ia memiliki sebuah keluarga yang hangat dan hidup penuh kebahagiaan, memiliki orang tua yang saleh dan lembut, kekasih yang amat mencintainya, teman yang amat setia kepadanya... Tapi kini, apa yang masih dimilikinya? Selembar nyawa, yaa... Kini dia hanya memiliki selembar nyawa. Tapi, masih patut dan berhargakah nyawa itu untuk tetap dipertahankan hidup? Cahaya rembulan memancar terang di balik jendela, pelanpelan ia membaringkan diri di atas ranjang milik temannya... Seorang teman yang telah menghianatinya, sebuah pembaringan yang dingin dan beku. Angin masih berhembus sepoi, lentera tak pernah dihidupkan, mungkin minyak dalam lentera itu telah lama mengering... Musim semi macam apakah ini? Bulan purnama macam apakah ini? Kehidupan seperti apakah ini...? IV Pintu itu hanya dirapatkan, sewaktu angin berhembus lewat pintu itu segera menimbulkan suara "Nyiitt. Dan terbuka. Sesosok bayangan manusia muncul dari balik pintu, sesosok bayangan manusia yang ramping dan tinggi, memakai baju berwarna putih, seputih salju dimusin dingin. Siau Lui tidak bangkit dari tidurnya, juga tidak berniat untuk berpaling dan memandang ke arahnya, tapi ia tahu ada orang datang. Karena orang itu sudah melangkah masuk ke dalam, berjalan menghampiri pembaringan persis di hadapannya. Cahaya rembulan menyoroti tubuhnya yang ramping, menerangi kain cadar tipis yang menutup wajahnya, sorot mata di balik kaini cadar itu nampak jeli dan indah bagaikan sinar rembulan di malam yang hening. Alam jagat terasa begitu damai, dan tenang, entah berapa banyak perasaan orang yang melumer di tengah malam yang hening ini, juga tak tahu berapa banyak perasaan gadis yang melumer dalam pelukan hangat kekasihnya. "Jian-jian, Jian-jian... di mana, kau? Berada di mana kau? Di mana perasaanmu???" Ia tak pernah menyalahkan dia. Sudah kelewat dalam luka hati yang dideritanya, oleh karena itu apapun yang telah ia lakukan, sudah sepantasnya bila dia memaafkan. Ia yang teramat menderita mungkin tak pernah tahu mengapa dia harus menyakiti perasaan hatinya. Mungkin selamanya ia tak akan mengerti bahwa ia melakukan i semuanya itu terhadapnya tak lain karena dia kelewat mencintai dirinya. Seandainya ia bisa memahami hal tersebut, walau penderitaan yang harus dialaminya jauh lebih hebat pun ia tetap sanggup untuk menerimanya, bahkan termasuk penderitaan karena dikhianati sahabat karib sendiri. Gadis berbaju putih itu sudah duduk di tepi ranjang, jarijemarinya mash mempermainkan sekuntum bunga tho yang baru saja dipetiknya, namun yang ia pandang saat itu bukan bunga tho tersebut, ia sedang mengawasi anak muda itu. "Lelaki macam kau pasti memiliki seorang kekasih. Siapa dia?" Tiba-tiba gadis itu bertanya. Siau Lui memejamkan matanya, juga mengunci mulutnya rapat-rapat. Gadis itu tertawa. "Walau aku tak tahu siapakah gadis itu, tapi aku tahu kau telah berjanji dengannya untuk bertemu di dusun Sin-hoa-ang bukan?" "Apa lagi yang kau ketahui?" "Aku masih tahu kalau ia sama sekali tidak menunggumu di situ Itu karena kau masih mempunyai seorang sahabat karib." Setelah tersenyum lanjutnya. "Kini kekasihmu telah kabur bersama sahabat karibmu, selama hidup kau tak bakal tahu kemana mereka telah perg..i" "Kau tahu?" Tiba-tiba Siau Lui pentang matanya lebar-lebar. "Aku juga tak tahu, seandainya lalui juga tak bakal kuberitahu kepadamu." "Tentu," Pelan pelan Siau Lui mengangguk. "Tentu saja tak akan kau beritahu kepadaku." "Kini, kau masih memiliki apa lagi?" "Selembar nyawaku!" "Jangan lupa kalau nyawamu sudah menjadi milikku," Tukas gadis berbaju putih itu cepat. "Apalagi nyawa yang kau miliki sekarang paling tinggal separuh lembar." "Oh ya?" "Tulang igamu ada dua yang telah patah, belum terhitung berapa banyak luka bacokan dan luka bakar yang telah kau derita, bisa hidup sampai sekarang pun sudah terhitung suatu kemukjijatan." "Oh ya...!" "Bila aku jadi kau," Kata gadis berbaju putih itu lagi dengan suara yang lebih lembut. "Sekalipun ada satu juta orang yang berlutut dan memohon kepadaku, aku tak bakal hidup lebih lanjut." "Kau bukan aku, dan akupun bukan kau." "Oh, jadi kau masih ingin hidup terus?" "Ehm!" "Apakah hidupmu masih berarti?" "Tidak, sama sekali tidak berarti." "Kalau memang hidup tak berarti, apa yang hendak kau lakukan jika hidup terus?" "Tidak melakukan apa-apa." "Lalu, kenapa kau harus hidup terus?" "Karena aku masih hidup... Selama seseorang masih bisa hidup maka ia harus hidup terus," Nada suaranya masih begitu tenang, rasa tenang yang mendirikan bulu kuduk orang, rasa tenang yang begitu menakutkan. Gadis berbaju putih itu memandangnya sekejap, kemudian menghela napas panjang, kembali katanya. "Ada sepatah kata ingin kutanyakan sekali lagi kepadamu, boleh?" "Tanya saja!" "Sebetulnya kau ini manusia atau bukan? Apakah seorang manusia yang masih hidup?" "Kini sudah tidak!" "Lalu kau adalah apa?" "Semua bukan!" Jawab Siau Lui sepatah demi sepatah sambil memandang atap rumah dengan mata melotot lebar. "Semuanya bukan?" "Ehm!" "Apa maksud ucapanmu itu?" "Maksudnya, terserah apa pun yang kau katakan mengenai aku." "Kalau kukatakan kau adalah binatang?" "Kalau begitu anggap saja aku memang binatang." Mendadak ia tarik tangan gadis itu, sebuah tarikan yang sangat kuat. Gadis itu segera roboh, roboh ke dalam pelukannya. V Angin malam terasa semakin i dingin, dingin sampai menyayat tulang. Tapi tubuhnya justru lembut, hangat dan halus. Cahaya rembulan menerobos masuk lewat daun jendela, menyoroti baju putih di ujung ranjang sana, baju putih bagaikan hamparan salju, salju di musim semi. Musim semi yang sangat indah, cahaya rembulan yang indah, berapa orang yang tidak mabuk dibuatnya? Mungkin hanya satu orang yang tidak bergeming. Mendadak Siau Lui melompat bangun, berdiri di ujung ranjang sambil memandang tubuhnya yang lembut, ramping dan memancarkan cahaya itu. Tidak seharusnya ia bangun berdiri pada saat seperti ini, apalagi pergi meninggalkan tempat itu. Tapi secara tiba-tiba ia membalikkan badan lalu pergi meninggalkan tempat itu dengan langkah lebar. Gadis itu terperangah, tertegun, seperti tak percaya, serunya. "Kau akan pergi sekarang?" "Benar!" "Kenapa?" Tanpa berpaling jawab Siau Lui sepatah demi sepatah. "Karena aku teringat dengan codet di wajahmu, bekas bacokan itu membuatku muak!" Tubuhnya yang lembut, hangat dan halus itu mendadak berubah jadi dingin membeku, dingin kaku. la terhenyak. Waktu itu Siau Lui sudah keluar dari pintu ruangan dengan langkah lebar, berjalan masuk ke balik cahaya rembulan yang menyinari kegelapan, namun secara lamat-lamat dia masih sempat mendengar sumpah serapahnya. "Kau memang betul-betul bukan manusia, kau adalah binatang!" Siau Lui menyeringai sinis, suara tertawanya sangat hambar, sahutnya. "Yaa, aku memang binatang!" VI Angin bertiup di atas mulut luka di atas dadanya, rasanya sakit dan perih seperti disayat dengan pisau. Tapi Siau Lui masih bisa membusungkan dadanya. Ternyata ia masih bisa hidup, ternyata masih bisa berjalan sambil membusungkan dadanya, hal ini memang merupakan suatu kemukjijatan. Kekuatan apa yang telah menciptakan kemukjijatan ini? Apakah cinta? Atau dendam kesumat? Atau kepedihan hati? Atau rasa marah yang membara? Paling tidak, semua kekuatan tersebut telah berperan dalam penciptaan kemukjijatan ini. Dalam kuil Kwan-Im-bio masih tersisa cahaya lentera. Dalam ruang suci Buddha memang selalu tergantung sebuah lentera dengan cahaya api yang tak pernah padam. Ia menerobos masuk ke dalam, memasuki hutan bambu di depan kuil Kwan-Im, selamanya ia tak pernah percaya dengan Buddha, hingga detik ini pun ia tak pernah mau percaya dengan segala dewa, segala Sin-bin yang datang dari langit maupun dari dalam bumi. Tapi sekarang, ia sangat butuh dengan suatu kekuatan mukjijat yang dapat menunjang dirinya, sebab kalau tidak ia pasti sudah roboh ke tanah. Di kala seseorang berada dalam kesendirian, dalam keadaan sebatang kara tanpa bantuan, seringkali ia berusaha mencari suatu topangan untuk menunjang dirinya, sebab kalau tidak begitu, ada banyak orang sudah roboh terkulai di tanah. Di dalam halaman terbentang juga hutan bambu, lamatlamat ia dapat melihat cahaya lentera yang memancar dari balik ruang Buddha. Ia menerobos halaman itu, masuk ke dalam ruang utama. Patung Kwan-im yang saleh dan anggun berdiri tepat di tengah ruangan, patung yang bisa memberikan suasana tenang dan damai bagi setiap orang yang memandangnya. Ia maju ke depan altar dan menjatuhkan diri berlutut di depan patung itu, selain terhadap orang tuanya, selama hidup baru kali pertama ini ia berlutut di depan orang lain. Ketika tubuhnya berlutut, tak tahan air matanya jatuh berlinang, karena hanya dia sendiri yang tahu bahwa apa yang didambakan dan diinginkannya selama ini mungkin tak pernah bisa terwujud lagi untuk selamanya. Sekalipun yang dia dambakan bukan harta kekayaan, juga bukan keberuntungan, dia hanya berharap memperoleh ketenangan batin saja. Walaupun sesungguhnya hanya itu saja yang bisa dipersembahkan para dewa untuk umat manusia, tapi baginya... selama hidup tak mungkin bisa didapatkan lagi. Sepasang mata Kwan-lm Pouw-sat yang berada di atas meja altar seakan-akan sedang mengawasinya. ia merasa seolah-olah bukan hanya sepasang mata itu saja yang sedang mengawasinya di tempat tersebut. Tiba-tiba ia mulai merasa bergidik, suatu perasaan hawa dingin yang sangat aneh muncul secara mendadak dari tulang belakangnya, bukan yang pertama kali dia merasakan perasaan seperti ini. Ketika masih berusia tujuh tahun, ia sudah pernah merasakan perasaan seperti ini. Waktu itu ada seekor ular berbisa yang merangkak secara pelan-pelan dari balik semak di belakang tubuhnya, perlahanlahan merayap menghampirinya. Waktu itu ia sama sekali tidak, melihat ular tersebut, juga tidak mendengar setitik suarapun, tapi secara tiba-tiba ia merasakan suatu perasaan ngeri yang sukan dilukiskan dengan kata-kata, rasa! takut dan ngeri yang membuatnya! hampir saja tak dapat menahan diril untuk berteriak dan menangkis! keras-keras. Tapi ia memaksakan diri untuk menahan gejolak perasaan itu, meski sekujur badannya sudah membeku! dingin lantaran ketakutan, tapi ia tetap menggigit bibir menahan diril dia tunggu hingga ular tersebul merayap naik di atas kakinya, baru dengan sekuat tenaga mencengkeram titik kelemahan ular tersebul dan mencekiknya kuat-kuat Sejak peristiwa tersebut, beberapa kali ia pernah mengalami ancaman marabahaya serupa, setiap kali ancaman bahaya mulai menghampirinya, dia selalu akan merasakan perasaan yang sama seperti saat ini. Itulah sebabnya hingga kini ia masih tetap hidup. Yang muncul kali ini bukan seekor ular berbisa tapi tiga orang manusia, satu di antaranya yang memakai baju warna abu-abu, jauh lebih menakutkan ketimbang ular berbisa. Pekerjaan mereka yang utama adalah membunuh manusia, membunuh manusia di tengah kegelapan malam, menggunakan segala cara yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya untuk membunuh korbannya. Entah di mana pun mereka munculkan diri, di situ selalu muncul dengan satu tujuan yang sama, lalu mengapa mereka muncul diri sini pada saat seperti ini? Tiga pasang mata yang dingin menggidikkan hati mengawasinya lekat-lekat, dari sorot mata tersebut seolaholah mereka sudah menganggap dirinya hanya sesosok mayat, sesosok bangkai yang kaku. Siau Lui berusaha mengendurkan seluruh otot tubuhnya berlagak santai, lalu sambil tertawa ia bertanya. "Kedatangan kalian bertiga untuk membunuh aku?" Dengan cepat manusia berbaju abu-abu itu bertukar pandangan dengan rekan lainnya, lalu satu di antara mereka menjawab. "Belum tentu!" "Belum tentu?" Siau Lui mengernyitkan dahinya. "Kami hanya minta kau balik." "Minta aku balik? Balik ke mana?" "Balik ke dalam ruangan di mana baru saja kau tinggalkan." "Mau apa ke sana?" "Menunggu seseorang." "Siapa?" "Seseorang yang telah memberi uang." "Memberi uang kepada kalian?" "Ehm!" "Buat apa aku menunggu kedatangannya?" "Untuk membunuhmu!" "Dia ingin membunuhku dengan tangannya sendiri?" Kembali Siau Lui mengerdipkan matanya berulang-kali. "Kalau bukan begitu, kini kau sudah menjadi sesosok mayat" Siau Lui tertawa. "Tapi... kenapa aku harus menunggu orang lain datang membunuhku?" Katanya. "Karena kami yang menyuruh kau menunggu." "Selama ini kau yakin bisa melaksanakan keinginanmu?" "Selamanya begitu, apalagi menghadapi manusia macam kau." "Kau tahu, manusia macam apa aku ini?" "Semacam manusia yang satu tingkat lebih rendah daripada diriku." "Oh ya?" Sorot mata manusia berbaju abu-abu itu makin dingin dan menyeramkan, sepatah demi sepatah katanya lagi. "Paling tidak aku tak pernah menghianati sahabat sendiri, paling tidak aku tak pernah mencuri uang sebesar delapanratus ribu tahil perak yang dititipkan sahabat karib untuk dibawa kabur." Tiba tiba Siau Lui tertawa terbahak-bahak, seakan-akan baru saja ia mendengar satu cerita yang paling lucu di dunia ini. Yaaa, kejadian ini memang teramat lucu. Bukan yang pertama kali ini dia difitnah dan dituduh orang secara semena-mena. Tapi ia tak pernah sudi memberi penjelasan apapun di hadapan seseorang yang sama sekali tak dipandang sebelah mata olehnya. "Sekarang kau pasti sudah mengerti bukan, siapa yang suruh kami datang mencarimu?" Kembali manusia berbaju abu-abu itu berkata dengan suara yang dingin dan menatap wajahnya tajam-tajam. Siau Lui menggeleng. "Kau mau balik tidak?" Kembali orang berbaju abu-abu itu menegaskan. Sekali lagi Siau Lui menggeleng. "Jadi kau paksa kami untuk menggotong balik dirimu?" Hardik orang berbaju abu-abu itu. Siau Lui masih terus mengeleng, hanya kali ini di kala ia sedang menggeleng, secara tiba-hba badannya sudah melejit ke depan, bagaikan anak panah yang baru terlepas dari busurnya, dia meluncur ke arah manusia berbaju abu-abu yang bicara paling banyak tadi. Biasanya di kala seseorang sedang berbicara, titik perhatiannya selalu akan terpencar, oleh sebab itu orang yang berbicara paling banyak akan menjadi sasaran yang paling baik bagi orang lain. Sebilah pedang tajam berada dalam genggaman orang itu. Entah dikarenakan ia sudah terbiasa mengasah lidahnya kelewat tajam hingga pedang yang berada dalam genggamannya menjadi lamban, ketika Siau Lui sudah menerjang sampai di hadapannya, ia baru menggerakkan senjatanya. Di saat cahaya pedang berkelebat lewat, Siau Lui sudah menerjang masuk ke balik cahaya senjata. Ia sama sekali tidak mengepal tinjunya, luka golok yang menyayat dadanya telah membuat dia kehilangan tenaga untuk mengepalkan kembali tinjunya. Namun terjangan tubuhnya bagaikan sebuah martil besi yang sangat berat, menumbuk persis di dada orang itu keraskeras. Cahaya pedang berkilau, namun senjata itu malah terlepas dari genggamannya dan mencelat ke udara. Tubuh orang itu terlempar ke arah rekannya yang lain. Ketika masih di tengah udara, darah segar telah menyembur keluar dari mulutnya, hingga sewaktu tubuhnya sudah terjatuh kembali ke lantai, semburan darah segar itu persis jatuh berhamburan di tubuhnya sendiri bagai percikan hujan gerimis membasahi dadanya yang sudah melengkung gara gara tumbukan tersebut. Darah segar membasahi juga tubuh Siau Lui. Gara-gara tumbukan yang keras tadi, mulut luka di dadanya kembali robek besar, tapi ia masih berusaha untuk berdiri tegak. Dua bilah pedang telah menempel di tengkuknya, hawa senjata yang dingin menggidikkan membuat bulu kuduknya pada berdiri, rasa ngeri terlintas dipiikirannya. Di kala kedua orang itu meluncur datang tadi, sebenarnya ia mempunyai cukup waktu dan tenaga untuk berkelit, melompat ke samping. Tapi sayang kekuatan yang tersisa itu sudah ikut mengucur keluar bersama kucuran darah dari mulut lukanya, bahkan tengkuknya juga mulai melelehkan darah segar. Bahkan sekarang ia sudah dapat merasakan rasa sakit akibat tusukan benda tajam yang menempel di tengkuknya itu, merasakan kekakuan akibat hawa dingin yang memancar dari mata pedang yang sangat tajam. Walau begitu, pinggangnya tetap berdiri lurus dan tegak, biar sampai mati pun ia tak bakal membungkukkan pinggangnya. Manusia berbaju abu-abu yang terkapar di tengah genangan darah itu kini sudah berhenti bernapas. Tapi orang berbaju abu-abu yang berada di belakang tubuhnya justru menghardik keras dengan nada yang dingin menyeramkan. "Kembali!" Tidak seharusnya Siau Lui menggeleng sebab ia sudah tak dapat menggelengkan kepalanya lagi. Asal dia menggeleng maka kedua mata pedang yang menempel kuat di tengkuknya akan menyayat kulitnya dan menusuk ke dalam badannya. "Hrnm! Akan kulihat kau akan menggeleng atau mengangguk kali ini..." Ejek orang berbaju abu-abu yang lain sambil tertawa dingin. Siau Lui tertawa terbahak-bahak. Di saat sedang tertawa ia sudah menggelengkan kepalanya, di saat menggeleng, darah segar pun segera bercucuran keluar, meleleh jatuh dari mata pedang yang mengiris kulit tengkuknya. "Aku selalu akan pergi ke mana aku senang pergi," Katanya sambil tertawa. "Hmm... hmm... sayang sekali kali ini kedua kakimu sudah tak bisa mengikuti perintah hatimu," Kembali orang itu tertawa dingin. Siau Lui segera merasakan lekukan kakinya teramat sakit, tahu-tahu ia sudah jatuhkan diri berlutut dengan kaki sebelah. "Mau balik tidak?" Mata pedang yang satunya lagi masih menempel ketat di atas tengkuknya. "Tidak!" Jawaban Siau Lui tetap singkat. "Tampaknya orang ini pingin mampus!" Teriak orang berbaju abu-abu itu sengit. "Yaa, tampaknya dia memang jauh lebih enak mati di tangan kita ketimbang mati ditangah Liong-su!" ""Hmmm, aku justru tak akan biarkan ia mampus secara mudah, aku akan paksa dia untuk balik!" Mata pedangnya mulai bergeser menekan dibelakang punggung Siau Lui, menekannya hingga memaksa tubuh anak muda itu melengkung ke bawah. Hampir saja kepalanya menempel di atas tanah karena tekanan mata pedang yang sangat kuat itu. "Mau kembali tidak?" Kembali orang itu menghardik. "Tidak!" Tiba tiba Siau Lui membuka mulutnya, menggigit pasir bercampur kerikil yang berserak di hadapannya lalu menyemburnya kuat kuat. Jawabannya masih tetap mengulang kata-kata yang sama, tak seorangpoun dapat memaksanya untuk mengubah jawaban itu. Sekalipun tubuhnya bakal dicincang hingga hancur berkeping selama ia masih dapat bicara, jawabannya akan tetap sama dan tak akan berubah. Otot tangan orang berbaju abu-abu yang menggenggam pedang itu sudah mulai menonjol keluar, mulai gemetar keras menahan emosi yang meledak di dalam dadanya. Ujung pedang yang menempel di punggung pemuda itu pun ikut bergetar dan gemetar keras. Tetesan darah segar mengalir keluar tiada hentinya menelusuri mata pedang yang bergetar itu, ujung pedang yang tajam semakin menusuk ke dalam rubuhnya dan mulai menembusi tulang punggungnya. Menyaksikan kucuran darah yang meleleh keluar dari punggung pemuda tersebut, tiba-tiba sorot mata manusia berbaju abu-abu yang semula dingin kaku itu mulai membara. "Kendorkan tanganmu!" Mendadak orang berbaju abu-abu yang lain berteriak. "Ingat, yang diminta si pemesan adalah orang hidup!" Manusia berbaju abu-abu itu tertawa dingin. "Hmm, jangan kuatir, kalau hanya satu-dua jam tak bakalan membuat dia kehilangan nyawa." "Tapi kalau kau lanjutkan perbuatan itu, rasanya akan sulit baginya untuk hidup lebih lanjut." Manusia berbaju abu-abu itu tertawa seram. "Aku justru akan buat dia..." Belum habis ucapan tersebut tiba-tiba ia tutup mulut. Saat itulah dari kejauhan terdengar suara derap kaki kuda yang ramai, dua ekor kuda sedang berlari mendekati tempat tersebut, satu di antaranya bahkan sudah berada enam kaki dari situ dan mulai memperlambat larinya. Sedang seekor kuda yang lain bergerak jauh lebih cepat, ia lari sampai di luar tembok pekarangan baru menghentikan geraknya. Diiringi suara ringkikan kuda yang panjang, seekor kuda besar berwarna hitam pekat telah melompati pakar tembok setinggi delapan depa itu dan meluncur masuk bagaikan kuda yang sedang terbang di angkasa. Cahaya emas berkilauan dari atas kuda, memancarkan sinar yang menyilaukan mata. Kembali terdengar suara ringkikan kuda yang panjang, kuda itu maju tiga langkah lagi ke depan lalu mengangkat kakinya berdiri tegak. Seorang kakek berambut putih duduk tegak lurus di atas pelana kuda itu. Seiring dengan hilangnya cahaya emas, terlihat sebuah tombak sepanjang satu koma empat kaki berada di dalam genggamannya. "Criiing!" Tombak itu ditancapkan ke atas lantai, menancap masuk sampai empat depa dalamnya. Kuda jempolan bagaikan naga yang sedang terbang itu segera berhenti pula gerakannya, seolah-olah ikut terpantek oleh tancapan tombak di lantai itu. Pita merah yang tergantung di ujung tombak berkibar oleh hembusan angin, bila digabungkan dengan rambut putih milik si kakek yang berwarna keperak-perakan membuat ia tampak seperti seorang jenderal langit yang baru turun dari kahyangan. "Aaah, akhirnya tiba juga!" Orang berbaju abu-abu itu menghembuskan napas lega. Baru selesai ia bicara, kembali berkelebat masuk sesosok bayangan manusia dari luar dinding rumah, ketika masih melayang di tengah udara, orang itu membentak keras. "Di mana orangnya?" "Ada di sini!" Jawab orang berbaju abu-abu itu sambil menekan semakin ketat cahaya pedangnya. "Masih hidup atau sudah mati?" Tanya kakek berambut putih itu setelah menyaksikan kucuran darah yang membasahi tubuh Siau Lui. "Kalau pesananmu hidup, kami pun akan serahkan manusia hidup untukmu," Jawab orang berbaju abu-abu itu. Sambil menarik kembali pedangnya ia layangkan sebuah tendangan keras ke rusuk Siau Lui, seluruh badan anak muda itu segera mencelat ke udara dan meluncur ke hadapan kakek berambut putih itu. Gerakan tubuh manusia yang sedang meluncur masuk dari balik tembok itu bukan hanya cepat dan lincah, gerak tangan pun amat cepat dan hebat. Orang ini tak lain adalah Piau-kek (si pengawal barang) Ouyang Ci yang sudah tersohor karena kecepatan gerak tubuhnya dan paling ulet cara kerjanya. Tidak menanti sampai tubuh Siau Lui terjerembab ke lantai, ia menerobos maju ke muka dan menyambar tubuh anak muda itu dan mencengkeramnya kuat-kuat. Mendadak paras mukanya berubah hebat, teriaknya tertahan. "Aduh celaka, keliru...!" "Apanya yang keliru?" Tanya kakek berambut putih itu dengan wajah ikut berubah. "Salah orang!" Mencak Ouyang Ci sambil menghentakkan kakinya dengan gemas. "Tidak mungkin salah orang," Seru manusia berbaju abuabu itu cepat. "hanya dia yang muncul dari dalam rumah itu, di sana sudah tak ada pria lain kecuali dia seorang!" Ouyang Ci membanting tubuh Siau Lui kuat-kuat ke atas tanah sambil hardiknya. "Siapa kau? Kenapa bisa berada dalam kamarnya Siau-kim? Di mana dia sekarang?" Siau Lui hanya memandang wajahnya dengan sorot mata dingin, wajahnya yang penuh belepotan darah sama sekali tidak menunjukkan perubahan mimik apa pun. "Mau bicara tidak?" Kembali Ouyang Ci menghardik dengan gelisah. Kembali Siau Lui memandang sekejap wajahnya, tiba-tiba sahutnya sambil tertawa tergelak. "Kalian sendiri yang salah menangkap orang, kenapa mesti tanya aku?" Ouyang Ci tertegun. Betul juga jawaban ini, meski saat ini dia gelisah bercampur gusar, tapi jawaban tersebut betul-betul membuatnya terbungkam dan tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Daging dan otot ujung bibir Siau Lui kini sudah mengejang keras saking menahan rasa sakitnya yang tak terhingga. Darah juga masih bercucuran keluar dengan derasnya, tapi dia masih sanggup tersenyum, kembali ujarnya. "Jika sudah tahu salah tangkap, semestinya sikap kalian harus lebih sungkan dan hormat kepadaku, masa lagakmu masih begitu kurang ajar?" Ouyang Ci termenung sambil mengawasi wajahnya, cengkeraman juga telah mengendor, tapi secara mendadak ia menghardik lagi. "Bagaimana pun juga, kau toh tetap sahabatnya." Siau Lui menghela napas panjang. "Yaa, aku memang temannya, masa kau bukan sahabatnya?" Sekali lagi Ouyang Ci tertegun, kini ia sudah melepaskan cengkeramannya dan tanpa sadar mundur dua langkah dengan sempoyongan. Saat itu manusia berbaju abu-abu itu justru maju ke depan sambil menyodorkan tangan ke hadapannya seraya berseru. "Bawa kemari." "Apanya yang bawa kemari?" "Sepuluh ribu tahil perak!" "Sepuluh ribu tahil perak? Sudah salah tangkap sasaran masih menuntut sepuluh ribu tahil?" Manusia berbaju abu-abu itu tertawa dingin, katanya hambar. "Semuanya ini toh kesalahanmu, bukan salahku. Bukankah yang kau minta adalah orang yang berada di rumah ini dan harus diserahkan hidup-hidup. Kini telah kuserahkan dia hidup-hidup kepadamu, berarti kami tidak salah." "Tapi..." "Bayar saja!" Tukas kakek berambut putih itu tiba-tiba. Merah padam paras muka Ouyang Ci saking gelisahnya, kembali dia membantah. "Tapi Siau-kim belum ditemukan, masa kita mesti serahkan sepuluh ribu tahil perak..." "Bayar mereka!" Kembali kakek berambut putih itu menghardik. Ouyang Ci jengkel sekali, ia hentakkan kakinya berulangkali dengan perasaan mendongkol, meski begitu, ia lepaskan juga sebuah buntalan yang nampaknya sangat berat dari ikat pinggangnya. Dengan jari tangannya yang kuat manusia berbaju abu-abu itu menerima buntalan tadi, lalu setelah mengerling Siau Lui sekejap katanya. "Orang ini kah yang sedang kalian cari?" "Bukan." Manusia berbaju abu-abu itu manggut manggut. "Kalau memang bukan," Katanya. "biar kami bawa pergi orang tersebut." "Kenapa?" "Dia telah membantai orangku, jadi dia mesti mampus di ujung pedangku," Sahut manusia berbaju abu-abu itu sambil menyeringai seram. "Tidak bisa!" Mendadak kakek berambut putih itumemotong. "Dia harus hidup terus!" "Siapa yang bilang?" Orang berbaju abu-abu itu angkat kepalanya sambil melotot. "Aku!" Lama kemudian orang berbaju abu-abu itu baru manggut, ujarnya. "Tombak bagai kilatan petir, kuda bagaikan naga terbang, setiap kata Liong Kong, Liong Suya memang selalu ditepati dalam dunia persilatan." "Hmm!" "Tapi kenyataan dia telah membantai orang kami, jadi ia mutlak harus mampus!" "Siapa pula yang berkata demikian?" Wajah Liong Su makin suram. "Loya yang bilang begitu, jadi apabila anda tidak serahkan orang tersebut kepadaku, mungkin kami tak bisa memberi pertanggungan-jawab di depan loya." "Lalu bagaimana baru bisa mempertanggung-jawabkan?" "Terpaksa..." Belum selesai ia berkata, manusia berbaju abu-abu itu telah menggetarkan pedangnya lalu sambil melejit ke udara dan menerjang ke depan kakek tadi, teriaknya. "Aku harus cabut nyawamu..." Liong Su sama sekali tak bergeming walaupun menyaksikan cahaya pedang menyambar ke tubuhnya dengan kecepatan bagai sambaran kilat. Ia tetap duduk tenang di atas pelananya. Tangan kanannya yang menggenggam tombak mendadak membetot senjata tersebut ke belakang kemudian secara tibatiba melepaskan genggamannya. Tombak itupun segera memental balik dan meluncur ke muka dengan kekuatan dahsyat. Ujung tombak yang berkilauan terang ditambah pita merah yang berkibar bagai perakan darah, persis menyongsong datangnya manusia berbaju abu-abu yang sedang menerjang tiba itu. Cepat-cepat manusia berbaju abu-abu itu menarik pinggang sembari melintangkan pedangnya ke depan. "Criinggg...!" Benturan keras menggelegar di angkasa diiringi percikan bunga api ke empat penjuru. Tahu-tahu pedang itu sudah terlepas dari genggaman, telapak tangan manusia berbaju abu-abu itu robek merekah lantaran getaran keras tadi, separuh badannya jadi lumpuh terkena getaran dahsyat. Ketika roboh ke lantai, untuk berapa saat lamanya tak sanggup berdiri kembali. Ternyata tombak panjang seperti ular sanca ini sedari ujung hingga gagang tombaknya terbuat dari baja murni yang keras dan kuat Ujung tombak masih bergetar tiada hentinya menimbulkan suara dengungan yang memekik telinga, untaian pita merah juga masih berkibar dengan gagahnya. "Bagaimana?" Bentak Liong Su dengan nada berat. "Tentunya kau sekarang sudah bisa memberi pertanggunganjawab bukan?" Orang berbaju abu-abu itu hanya menggertak gigi sembari memandangi kucuran darah yang membasahi telapak tangannya, ia seperti sudah tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Pedang itu meluncur jatuh dari tengah udara, kilatan cahaya pedang yang berkilauan memancar ke atas wajahnya yang sebentar memucat sebentar menghijau. la menarik napas panjang panjang, mendadak sambil membalikkan badan ia sambar pedang yang sedang jatuh dari tengah udara itu. Kali ini ia sama sekali tidak menyerang Liong Su, di antara kilatan cahaya pedang, senjata tersebut ternyata menusuk langsung ke tubuh Siau Lui. Kondisi Siau Lui saat itu sudah teramat parah, badannya lemas tak bertenaga, tak ada kemampuan sedikitpun baginya untuk menghindari serangan maut itu. Pada detik yang amat kritis inilah mendadak terdengar suara bentakan keras menggelegar bagaikan suara guntur, sekali lagi tombak Liong Su menyambar lewat bagaikan kilatan petir. "Braakk...!" Suara benturan keras mengiringi kilauan cahaya yang menyambar lewat. Baca Juga: Pengelana Rimba Persilatan 6 Baca Juga: Legenda Bulan Sabit Khu Lung