Ceritasilat Novel Online

Bunga Pedang Embun Hujan Kanglam 2

Eps 2 Bunga Pedang Embun Hujan Kanglam - Khu Lung

Baca online Bunga Pedang Embun Hujan Kanglam - Khu Lung

Cersil Bunga Pedang Embun Hujan Kanglam - Khu Lung.

Ujung tombak yang kemilauan bermandi cahaya kini sudah menusuk tembus tulang pi-pa-kut di bahu kanan orang berbaju abu-abu itu, seluruh badannya kini sudah terangkat ke udara.

Untaian pita merah di ujung tombak kembali menggelegar, seluruh rubuh orang berbaju abu-abu itu segera terlempar keluar, jatuh terjerembab jauh di luar dinding pekarangan, di balik rimbunnya kebun bambu berwarna ungu.

"Duukk. .."

Kembali tombak itu menancap di atas tanah, menancap sedalam empat depa lebih.

Liong Su masih duduk tak bergeming di atas pelana kudanya sambil memegangi tombak emasnya, kini dengan mata melotot tegurnya kepada orang berbaju abu-abu yang lain.

"Bagaimana? Sekarang sudah dapat mempertanggungjawabkan bukan?"

Pucat pias wajah orang itu bagaikan mayat, tanpa ba atau bi, ia membalikkan tubuh dan segera ngeloyor pergi dari situ.

Ouyang Ci segera membalikkan badan, tampaknya dia ingin mengejar kepergian orang itu.

"Tidak usah, biarkan dia pergi,"

Cegah Liong Su tiba tiba.

"Mana boleh kita biarkan ia pergi?"

Seru Ouyang G gelisah.

"Yang pantas dibunuh harus kita bunuh, yang tak pantas dibunuh biarkan saja pergi, ini menyangkut masalah hidup dan mati maka kita tak boleh salah menafsirkan perbedaan yang amat minim ini."

"Tapi... jika kita biarkan orang itu pergi, maka banyak kerepotan dan kesulitan yang bakal kita hadapi,"

Seru Ouyang Ci sambil menghentakkan kaki sakingjengkel-nya. Tiba-tiba Liong Su mendongakkan kepalanya sambil tertawa terbahak-bahak.

"Sejak kapan kita sebagai dua bersaudara takut menghadapi kerumitan, bahkan kesulitan sekalipun?"

Menggelegar suara tertawa itu bagaikan genta yang dibunyikan bertalu-talu, namun dalam pendengaran Siau Lui seolah-olah berasal dari tempat yang sangat jauh, sangat buram, amat samar-samar.

Dia seolah-olah mendengar Liong Su sedang berpesan kepada Ouyang Ci.

"Bawa pulang sahabat ini, dia tidak bersalah, jadi diapun tak boleh dibiarkan mati."

Menyusul kemudian ia merasa ada orang sedang memayangnya untuk bangun.

Ia ingin sekali meronta dari rangkulan orang itu, dia sangat ingin bangkit dan berdiri sendiri.

Kalau mesti berdiri, dia harus lakukan sendiri.

Kalau tidak, lebih baik sepanjang masa tetap berbaring di lantai.

Ingin sekali ia berteriak, memberitahu kepada mereka bahwa selama hidup ia tak pernah membiarkan orang lain menolongnya, tak akan biarkan orang lain membantunya dalam hal apapun.

Sayang sekali kondisinya saat ini sudah tak terkendali, keempat anggota badan serta lidahnya sudah tidak berada dalam kemampuan kontrol pribadi.

Bahkan termasuk sepasang matanya juga mengalami kondisi yang sama.

Ingin sekali ia membuka matanya lebar-lebar, tapi kegelapan yang amat pekat seolah-olah telah menyelubungi seluruh badannya.

Di tengah kegelapan yang tak herujung dan tak bertepian, seolah-olah ia melihat munculnya setitik cahaya, di balik cahaya itu seakan-akan terdapat bayangan tubuh seseorang.

"Jian-jian... Jian-jian..."

Dia ingin meronta, ingin menggeliat dan menghambiri bayangan tersebut...

namun sayang setitik cahaya yang terakhir pun tiba-tiba ikut hilang, lenyap tak berbekas.

Dia meronta, berteriak keras, menjerit...

Sayang setitik cahaya yang terakhir telah hilang lenyap tak berbekas.

Yang tersisa hanya kegelapan yang pekat, yang tak berujung dan tak bertepi.

Tak seorangpun yang tahu sampai kapan cahaya terang baru akan muncul kembali di sana.

VII "Tak malu orang ini disebut seorang lelaki sejati."

"Tapi ia seperti menyimpan suatu penderitaan batin yang tak terhingga..."

"Penderitaan batin seorang lelaki sejati biasanya akan lebih banyak dibandingkan orang lain, cuma biasanya ia akan menyimpan dalam dalam penderitaan tersebut hingga sulit bagi orang lain untuk melihatnya."

Hanya kata-kata terakhir itu yang terdengar olehnya.

Kata terakhir itu diucapkan oleh Liong Su, tapi kedengarannya begitu samar, begitu jauh...

meski begitu, kata-kata itu justru menimbulkan perasaan yang hangat dalam lubuk hatinya, satu perasaan terharu dan rasa terima kasih yang mendalam.

Ia sadar, paling tidak ia belum hancur dan musnah sama sekali, masih ada orang di dunia ini yang bisa memahaminya.

Oleh sebab itu iapun amat yakin dan percaya, betapa dalamnya kegelapan, betapa lamanya kepekatan menyelimuti dirinya, cahaya terang pasti akan muncul pada akhirnya, entah cepat atau lambat...

Habis gelap pasti akan muncul terang.

Selama rasa hangat danberharu masih muncul dalam perasaan seseorang, masa terang pasti akan muncul juga pada akhirnya.

WANITA CANTIK BAGAI PUALAM I Jian-jian menundukkan kepala-nya, mendengarkan detak jantung dalam tubuh sendiri.

Detak jantung Kim Cwan juga berdebar, bahkan detakannya jauh lebih cepat dari detak jantung gadis itu.

Ia tahu mengapa saat ini detak jantungnya berdebar begitu cepat, diapun tahu apa yang sedang dipikirkan di dalam hatinya.

Tempat ini adalah sebuah losmen kecil yang sepi dan terpencil letaknya, walau sangat kecil namun semua perabotnya indah, lagipula amat bersih.

Memandang keluar lewat jendela, kita dapat menyaksikan kehijauan dari pegunungan nun jauh di sana, juga terendus bau harum bunga yang terbawa hembusan angin.

Apalagi dalam suasana senja seperti saat ini, pegunungan nan biru berdiri di balik cahaya senja yang merah membara, langit nan biru yang muai meredup menyongsong datangnya kegelapan malam.

Kau dapat duduk di tepi jendela, menanti kehadiran malam, menunggu munculnya bintang yang bertaburan di angkasa.

Dalam suasana seperti ini, kau akan menyadari betapa indahnya dunia ini.

Seorang lelaki perjaka membawa masuk seorang gadis ke dalam tempat semacam ini, apa gerangan rencana yang tersembunyi di dalam pikirannya?

"Tempat ini sangat tenang dan sepi, kau dapat beristirahat baik-baik di sini."

"Aku akan tetap tinggal di sini, agar setiap saat dapat merawat dan memperhatikan dirimu."

Perkataan yang diucapkan Kim Cwan selalu begitu lembut, hangat dan penuh perhatian.

Jian-jian masih tertunduk, tapi ia menangkap semua perkataan itu, sinar keharuan dan penuh rasa terima kasih memancar dari balik sorot matanya.

Namun di hati kecilnya dia merasa sangat geli.

Kini, ia sudah bukan termasuk seorang bocah.

Mungkin dia jauh lebih mengerti dan paham tentang apa yang sedang dipikirkan seorang pria terhadapnya, dibandingkan perempuan-perempuan lain.

Kegelapan malam yang kelam telah menyelimuti seluruh angkasa, api lentera juga telah disulut untuk menerangi ruangan.

Kim Cwan membaca buku di bawah sinar lentera, ia nampak sedang asyik menikrnati bukunya itu.

Tapi berani taruhan ia pasti tak tahu apa yang tertulis di buku itu, malah mungkin tak sepatah tulisan pun yang terbaca olehnya.

Dia memang sengaja berlagak serius macam begitu, tujuannya tak lain sebagai alasan agar ia bisa tetap tinggal di kamar itu.

Selama dia masih dapat tinggal di sisi perempuan itu, cepat atau lambat kesempatan emas pasti akan datang juga.

Jian-jian tidak berminat membongkar kedok rahasianya, dia pun tak punya maksud untuk mengusirnya pergi dari situ.

Sebab dia masih sangat membutuhkan dirinya kini, dia masih ingin memperalatnya, menggunakan dia untuk balas dendam terhadap Siau Lui, memperalatnya sebagai perkakas untuk melanjutkan hidupnya.

"Hei... siapa bilang mudah bagi seorang perempuan sebatang kara untuk hidup tenteram seorang diri di dunia ini?"

Jian-jian masih menundukkan kepalanya, ia mulai melanjutkan pekerjaannya, menjahit pakaian yang dikenakan.

Pakaian ini bukan miliknya, milik Kim Cwan.

Padahal baju itu sama sekali tidak robek, ketika membantu mengemasi pakaiannya tadi, dia memang sengaja merobeknya sedikit secara diam-diam.

Bila seorang wanita ingin tunjukkan perasaan cintanya terhadap seorang lelaki, tindakan apa lagi yang jauh lebih mudah ketimbang menjahitkan pakaian baginya?

Kim Cwan sedang menggunakan ujung matanya untuk melirik perempuan itu secara diam-diam.

Jian-jian tahu hal itu.

Memang sejak awal dia ingin membantunya menciptakan kesempatan emas, memberinya sedikit semangat dan keberanian dan kini kesempatan tersebut nampaknya sudah tiba.

Cahaya lentera menyorot di atas wajahnya, pipi dan bibirnya nampak semu merah karena tersipu-sipu.

Dia memang sengaja berbuat demikian, agar pemuda itu tahu bahwa ia sudah mengetahui bahwa ia sedang curi-curi melirik dan memandang ke arahnya.

Itulah sebabnya wajahnya berubah jadi semu merah, bukan wajahnya saja yang merah, perasaan hatinya ikut kalut, maka karena kurang hati-hati ujung jarum melukai ujung jarinya.

Betul juga, Kim Cwan segera membuang bukunya dan lari mendekat, ia lari dengan terburu-buru, penuh perhatian dan rasa kuatir.

Mungkin lantaran terlalu terburu napsu dan penuh rasa kuatir, maka tak tahan lagi ia geng-gam tangannya erat-erat seraya berseru.

"Coba lihat... kenapa kau tidak hati-hati? Sakit tidak?"

Jian-jian menggeleng, paras mukanya semakin memerah begitu merah hingga menyerupai cucuran darah yang meleleh dari ujung jarinya.

Kim Cwan menggigit ujung bibirnya kuat-kuat, dia seperti ingin melukai juga bibirnya agar ikut berdarah.

"Mana mungkin tidak sakit? Coba lihat begitu banyak darah telah bercucuran keluar..."

"Hanya sedikit berdarah, tidak apa-apa,"

Sahut Jian-jian lirih. Ia meronta pelahan, seakan-akan ingin meronta agar lepas dari genggaman tangannya, tapi rontaan itu tidak terlalu bertenaga. Genggaman Kim Cwan semakin kencang, kembali katanya.

"Kau terluka demi aku, aku... mana mungkin hatiku tenang?"

Jian-jian tertunduk, pelan-pelan ia hisap darah yang mengucur dari ujung jarinya itu.

Sekujur badannya seolah-olah jadi lemas secara mendadak, ia mulai merintih lirih, dua titik air mata jatuh bercucuran membasahi punggung tangannya.

"Kau... Kau menangis?"

Kim Cwan mendongak dengan wajah melengak.

"Kenapa? Kenapa kau menangis?"

"Aku... Aku sedang berpikir..."

Jian-jian menunduk semakin rendah.

"Berpikir apa?"

"Aku sedang berpikir, sekalipun aku telah mengorbankan sebuah lenganku deminya, belum tentu dia akan pikirkan di dalam hati"

Kim Cwan menghela napas sedih, dia seolah-olah hendak mencarikan kata yang pas untuk membelai "dia,"

Tapi tak ditemukan kata-kata yang cocok untuk itu. Jian-jian ikut menggigit bibirnya kuat-kuat, dengan air mata yang bercucuran kembali ujarnya.

"Seandainya dia bisa sebaik dirimu walau hanya setengahnya saja, aku rela mengorbankan kedua tanganku deminya..."

"Aku tahu... aku mengerti..."

Kim Cwan ikut berkaca-kaca matanya, air mata seakan-akan ingin mengucur keluar, tiba

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com tiba katanya dengan suara meninggi.

"Tapi... Tahukah kau... asal kau bersedia baik kepadaku hanya setengahnya saja dibandingkan dengan dia, aku... akupun rela mati demi kau."

Agaknya ia sudah tak sanggup mengendalikan dirinya lagi, tiba-tiba ia jatuhkan diri berlutut di hadapannya, ia peluk sepasang lutut perempuan itu kuat-kuat.

"Jangan..."

Pinta Jian-jian dengan tubuh mulai gemetar.

"aku mohon... Jangan... jangan berbuat begitu..."

Kim Cwan semakin histeris, dia peluk perempuan itu semakin kencang, bahkan suaranya ikut berubah jadi parau karena luapan emosinya yang tak terkendali.

"Kenapa? Kenapa tak boleh... ? Apa kau masih teringat dia...? Mengapa kita tak mencoba untuk melupakannya? Kenapa kau rela menderita selama hidup hanya demi dirinya?"

Dalam hati kecil Jian-jian mestinya ingin menolak tubuh pemuda itu, tapi ingatan lain tiba-tiba terlintas, kini ia justru menjatuhkan diri bersandar di badannya dan mulai menangis sesenggukan.

Dengan penuh kelembutan Kim Cwan membelai rambutnya yang hitam lembut, lalu bisiknya dengan suara yang hangat penuh kelembutan bagai angin musim semi yang berhembus lewat.

"Asal kau mau, kita masih bisa hidup terus dengan penuh kegembiraan, kita coba melupakan seluruh penderitaan yang pernah dialami di masa lampau."

"Aku mau... aku mau..."

Sahut Jian-jian dengan mata yang sembab merah.

"Kita pasti dapat hidup dengan lebih bahagia."

Tak kuasa lagi ia peluk pemuda itu erat-erat, merangkul dengan kedua belah tangannya.

Cahaya terang memancar dari balik mata Kim Cwan, ia coba mengangkat wajahnya, menciumi butiran air mata yang membasahi kelopak matanya, lalu berbisik.

"Aku bersumpah, akan kurawat dirimu baik-baik sepanjang masa, aku tak pernah akan biarkan kau mengucurkan walau sebutir air mata pun!"

Wajah Jian-jian mulai membara, panas bagai kobaran api yang bergelora.

Bibir Kim Cwan pelan-pelan mulai bergeser, bergeser seinci demi seinci, mencari di mana letak bibir mungil perempuan cantik itu.

Bibir Jian-jian yang mungil semakin membara, merah merekah penuh tantangan.

Tapi...

Pada saat itulah tiba-tiba ia melompat bangun lalu mendorong tubuh pemuda itu kuatkuat.

Kim Cwan nyaris jatuh terjerembab,sambilmemaksakandiri untuk berdiri kembali, serunya dengan penuh rasa terperanjat.

"Kau... kau berubah pikiran lagi?"

"Tidak, aku tidak berubah pikiran,"

Jian-jian tertunduk malu.

"tapi... tapi jangan malam ini..."

"Kenapa?"

"Masih banyak waktu bagi kita untuk berkumpul di kemudian hari, aku... aku tak ingin kau memandangku sebagai wanita murahan, wanita gampangan,"

Air matanya nyaris bercucuran bagai hujan.

"Jika kau... kau bersungguh hati menyukai aku... mestinya paham bukan dengan maksudku ini?"

Lama sekali Kim Cwan memandangnya dengan termangu, tapi akhirnya dia mengangguk juga, sambil tertawa paksa sahutnya.

"Yaaa, aku paham maksudmu."

"Kau tidak marah bukan?"

"Kau berbuat demikian toh demi kebaikan kita bersama di kemudian hari, masa aku harus marah padamu?"

Jian-jian tersenyum manis.

"Asal kau bisa memahami perasaan hatiku, cepat atau lambat, tubuhku... akhirnya toh tetap menjadi milikmu,"

Bisiknya. Ia seperti tak dapat menahan diri untuk membungkukkan badan dan menciumi rambut pemuda itu, tapi dengan cepat ia berusaha mengendalikan diri, kembali ujarnya dengan lembut.

"Aku mau tidur, bagaimana kalau kau balik dulu ke kamarmu? Besok, pagi sekali aku akan pergi mencarimu."

Kim Cwan manggut-mangut, digenggamnya sekali lagi tangan perempuan itu lalu setelah menepuknya pelan, ia segera ngeloyor pergi dari situ sekalian merapatkan pintu kamar.

Kim Cwan tidak berniat memaksakan kehendaknya atas perempuan itu.

Sebab dia tahu, jika kau ingin mendapatkan seorang wanita seutuhnya, kadangkala memang diperlukan kesabaran yang amat besar.

Bila tidak, walaupun dengan cara kekerasan kau berhasil memperoleh tubuhnya, tapi selama hidup akan kehilangan hatinya.

Hasil yang dapat di raihnya hari ini memang tidak terhitung besar, tapi sudah lebih dari cukup baginya.

Asal perkembangan selanjutnya bisa semacam ini, cepat atau lambat perempuan tersebut pasti akan menjadi miliknya.

Cahaya bintang berkerdipan di angkasa, malam semakin kelam dan udara terasa makin dingin.

Malam ini adalah malam terindah yang pernah dialaminya sepanjang hidup, malam musim semi yang amat indah.

Ia mulai tertawa, kilauan giginya yang putih memancarkan biasan cahaya yang mengerikan di balik kegelapan malam, menyeringai seperti deretan gigi serigala.

Jian-jian masih menundukkan kepalanya, mengawasi ia pergi dari situ, mengawasi dia merapatkan pintu kamarnya.

la tahu, selangkah demi selangkah secara pasti lelaki itu mulai masuk ke dalam jeratannya...

ketika ia menganggap perempuan tersebut telah berhasil ditaklukan, dia sendiri justru sudah makin dalam terbelenggu oleh jeratannya.

Begitulah pikiran dan perasaan seorang lelaki.

Asal kau mengerti dan memahami kejiwaan seorang lelaki, maka kau akan menemukan bahwa bukan suatu pekerjaan yang terlalu sulit untuk mengendalikan dan menjeratnya.

Ia ingin sekali tertawa di dalam hati, tapi lambungnya justru sangat mual, kepingin tumpah.

Ia benar-benar memandang rendah lelaki semacam ini, memandang hina lelaki yang begitu tega menghianati sahabat sendiri.

Namun ia harus hidup terus.

Dia harus hidup lebih layak, hidup lebih baik, hidup untuk diperlihatkan di hadapan Siau Lui.

Dia yakin dirinya memiliki kemampuan seperti ini.

"Suatu hari nanti, aku akanbikin dia menyesal..."

Kembali ia tertawa, namun ketika tertawa, air matanya ikut jatuh bercucuran.

Memang bukan suatu pekerjaan yang gampang bagi seorang wanita yang harus hidup dan berjuang seorang diri di dunia ini.

II "Orang ini betul-betul seorang lelaki sejati!"

Tapi, siapa pula yang tahu, berapa banyak dan berapa besar pengorbanan yang harus dibayar untuk menjadi seorang lelaki sejati?

Siau Lui membuka matanya, cahaya matahari telah memancar masuk lewat jendela, menerangi seluruh ruangan.

Akhirnya kegelapan malam telah sirna, cahaya terang kembali muncul di hadapannya.

Rambut uban yang dimiliki Liong Su kelihatan bagai serat perak yang berkilauan di bawah sinar matahari yang cerah.

Kerutan di bawah matanya kelihatan sangat dalam dan panjang, ia nampak agak murung, agak kelelahan.

Namun ketika ia duduk di bawah cahaya matahari, kakek itu terlihat seperti penuh tenaga, penuh kekuatan hidup, seakan akan tak pernah akan jadi tua untuk selamanya.

Sorot matanya yang tajam sedang mengawasi wajah Siau Lui lekat-lekat, mendadak ia berkata.

"Sekarang kau sudah bisa bicara?"

"Bisa"

"Kau dari marga Lui?"

"Benar!"

"Kau tahu nama sebenarnya dari Kim Cwan?"

"Tidak!"

"Tapi bukankah kau sahabatnya?"

"Benar."

"Kau bahkan tidak tahu manusia macam apakah dia sebenarnya, tapi masih menganggapnya sebagai sahabatmu?"

"Benar."

"Kenapa?"

"Aku berhubungan dengannya karena orangnya, bukan asal-usulnya, apalagi nama aslinya."

"Kau juga tak perduli perbuatan-perbuatannya di masa lampau?"

"Perbuatannya di masa lampau telah berlalu."

"Bagaimana sekarang? Dia masih tetap sahabatmu?"

"Benar"

"Meski dia telah menghianatimu, kau masih tetap menganggapnya sebagai sahabat?"

"Benar."

"Kenapa?"

"Karena dia adalah sahabatku."

"Karena itu, apapun perbuatan yang telah ia lakukan, kau tetap akan memaafkannya?"

"Mungkin dia memiliki suatu kesulitan atau rahasia yang memaksanya berbuat begitu... setiap orang tentu memiliki masalah yang memaksanya melakukan sesuatu."

"Termasuk dia menghianatimu, melarikan barang yang paling kau cintai, kau tetap tak acuh?"

Pertanyaan ini lebih tajam daripada tombaknya, begitu tajam dan telengas tanpa ampun.

Paras muka Siau Lui mulai berkerut, perasaan hatinya juga mulai menyusut, sampai lama kemudian ia baru menjawab, sepatah kata demi sepatah kata.

"Sesungguhnya aku tak perlu menjawab semua pertanyanmu itu, walau sepatah kata pun!"

"Yaa, aku mengerti,"

Liong Su manggut-manggut.

"Aku bersedia menjawab semua pertanyaanmu bukan lantaran aku takut kepadamu, juga bukan lantaran berterimakasih kepadamu karena telah menyelamatkan jiwaku."

"Karena apa kau berbuat begitu?"

"Karena aku merasa bahwa kau masih terhitung sebagai seorang manusia."

Berkilat sepasang mata Liong Su-ya.

"Jadi sekarang kau sudah tak bersedia menjawab pertanyaanku lagi?"

Tanyanya.

"Pertanyaanmu sudah terlampau banyak."

"Tahukah kau mengapa aku mengajukan begitu banyak pertanyaan kepadamu?"

"Tidak!"

Tiba tiba Liong Su menghela napas panjang, katanya.

"Aku pun pernah merasakan dikhianati olehnya!"

"Oh ya?"

"Oleh sebab itu aku dapat menyelami betapa sakit dan menderitanya seseorang yang telah dikhianati oleh sahabat yang paling dipercaya olehnya."

"Ooh..."

"Aku sengaja mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut lantaran aku ingin tahu, apakah kau pun sama-sama merasakan sakit hati dan penderitaan semacam itu."

Setelah menatap Siau Lui sampai lama, kembali dia menghela napas panjang sambil melanjutkan.

"Kini aku baru tahu, aku kalah darimu, juga kalah darinya... sungguh beruntung dia bisa bersahabat dengan seorang teman macam kau."

Siau Lui turut mengawasinya lekat-lekat, sementara cahaya matahari masih bersinar terang di luar jendela.

Tapi sekarang ia nampak jauh lebih tua daripada sebelumnya, kerutan-kerutan di ujung matanya nampak lebih dalam dan gu-ratannya makin panjang.

Arak tersedia di atas meja, Liong Su angkat cawannya dan sekali teguk menghabiskan isinya, kembali katanya sembari menghela napas panjang.

"Selama ini aku selalu menganggap diriku sebagai seorang lelaki yang berlapang dada, tapi setelah bertemu kau, aku baru sadar ternyata aku masih belum dapat memaafkan orang lain, bahkan aku tak pernah berpikir mungkin saja dia mempunyai kesulitan yang memaksanya berbuat demikian."

"Bagaimana sekarang?"

"Kini aku sudah tahu, bila kau rela memaafkan orang lain maka perasaan hatimu akan menjadi lebih lega dan lapang, seluruh kegundahan, penderitaan dan kepedihan akan segera tersapu bersih hingga tak berbekas."

"Apakah kau merasa dulu telah melakukan kesalahan?"

Tanya Siau Lui dengan sinar mata berkilat.

"Benar!"

"Sebetulnya kau tidak salah."

Liong Su termenung sedih.

"Sesungguhnya dikhianati oleh teman merupakan suatu penderitaan yang tak mungkin terlupakan untuk selamanya,"

Lanjut Siau Lui perlahan.

"Tapi ada sementara orang yang lebih suka sembunyikan semua perasaan hatinya itu di dalam hati, biar sampai mati pun tak sudi diutarakan keluar."

Dengan perasaan terkejut bercampur heran Liong Su memandang wajahnya tak berkedip, sampai lama sekali ia tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Kembali Siau Lui menyambung.

"Bukan suatu perbuatan yang gampang untuk mengakui semua kesalahan dan penderitaan yang dialaminya di hadapan orang lain, bukan saja dibutuhkan jiwa yang lapang dan terbuka, juga harus memiliki keberanian yang luar biasa."

Liong Su termenung lagi sampai lama, tiba-tiba katanya.

"Padahal kaupun tak perlu mengucapkan kata-kata seperti itu."

"Yaaa,benar,"

Sambil manggut-manggut Siau Lui menghela napas.

"Memang tak perlu kuucapkan perkataan tersebut."

"Kecuali seseorang memiliki kebesaran jiwa dan keberanian yang luar biasa... apa kata-kata itu pun tidak perlu diungkap?"

"Kau salah menilai aku,"

Jawab Siau Lui hambar. Tiba-tiba Liong Su melompat bangun, sambil tertawa keras ujarnya.

"Aku salah menilaimu? Mana mungkin aku salah menilaimu. ..? Bisa bersahabat dengan seorang teman macam kau, biar aku Liong Su harus mati pun tak akan menyesal!"

"Tapi kita bukan sahabat,"

Potong Siau Lui dingin.

"Mungkin saat ini masih belum, tapi di kemudian hari..."

"Tak akan ada di kemudian hari,"

Kembali Siau Lui menukas dengan nada dingin.

"Kenapa?"

"Karena ada sementara orang yang tak memiliki masa di kemudian hari."

Dengan langkah lebar mendadak Liong Su datang menghampiri pemuda itu, digenggamnya lengan anak muda itu kuat-kuat, katanya.

"Saudara, kau masih begitu muda, kenapa harus menghancurkan diri sendiri?"

"Aku bukan saudaramu,"

Paras muka Siau Lui berubah sangat hambar nyaris tanpa perasaan, dia meronta dan seolah-olah akan segera pergi meninggalkan tempat itu.

Liong Su tertawa paksa, masih menahan bahu anak muda itu ujarnya.

"Sekalipun kau bukan saudaraku, apa salahnya tinggal berapa saat lagi di sini?"

"Kalau toh akhirnya harus pergi, buat apa tinggal terlalu lama di sini?"

"Sebab...aku...masih ada perkataan yang hendak kusampaikan kepadamu "

Siau Liu termenung berpikir sebentar, akhirnya ia kembali merebahkan diri katanya dengan suara hambar.

"Baik katakan aku siap mendengarkan "

Liong Su ikut termenung, agaknya ia berusaha mencari persoalan yang, paling cocok untuk disampaikan,agar Siau Lui bersedia mendengarkan lebih lanjut. Lewat lama kemudian ia baru berkata.

"Sebenarnya nama Kim-cwan bukan nama aslinya, nama sebenannya adalah Kim Giok-ou, dia adalah putra tunggal samko-ku, semenjak samko meninggal, aku..."

"Aku tahu sangat jelas hubungan kalian semua,"

Tukas Siau Lui tiba tiba.

"Oh ya?"

"Kau adalah congpiautau dari Tionggoan Su toa-piaukiok (empat piaukiok terbesar di daratan Tionggoan). Dahulu, dia bersama Ouyang Ci adalah tangan kanan dan tangan kirimu. Suatu hari ia mendapat tugas mengawal harta sebesar delapan ratus ribu tahil perak dari ibu kota menuju Kousiok. Di tengah jalan bukan saja barang kawalannya hilang lenyap, semua pengawal yang ikut dengannya juga kedapatan mati terbunuh, karena dia merasa tak punya muka untuk bertemu lagi denganmu maka ia hidup mengasingkan diri di sini."

Liong Su tidak komentar, dia cuma mendengarkan. Kembali Siau Lui menyambung.

"Tapi selama ini kau justru menuduhnya telah menganglap barang kawalan tersebut, kau menganggap dia telah mengkhinatimu, maka kau menyebar berita ke seluruh penjuru dunia bahwa kau tak akan melepaskan dirinya."

Liong Su tertawa getir. Kembali Siau Lui berkata.

"Kali ini, tampaknya secara tak sengaja Ouyang Ci menemukan jejaknya di sini, maka ia terburu-buru pulang memberi laporan kepadamu, takut ia keburu kabur maka dengan membayar upah sebesar sepuluh ribu tahil perak kau menyewa ketiga orang itu untuk mendatangi kamar tidurnya. Siapa nyana karena ada suatu kejadian di luar dugaan yang terjadi secara tiba tiba, ia telah pergi meninggalkan tempat ini jauh sebelum kehadiran ketiga orang itu."

Suaranya masih kedengaran begitu tenang, seakan-akan sedang mengisahkan suatu kejadian yang sama sekali tak ada hubungannya dengan mereka berdua, namun ketika mengucapkan kata "kejadian di luar dugaan,"

Pancaran sinar pedih dan penderitaan yang mendalam mengalir keluar dari balik sorot matanya.

"Dia yang menceritakan semua kejadian ini kepadamu?"

Tanya Liong Su dengan sorot mata tajam "Benar."

"Tak nyana ia mau membeberkan rahasia ini kepadamu, tak heran kau menganggapnya sebagai sahabat karib."

Tidak memberi kesempatan Siau Lui untuk berbicara, kembali ia melanjutkan.

"Kalau begitu kau sudah tahu kalau ketiga orang itu telah salah mencari orang semenjak kehadiran mereka?"

"Benar."

"Kenapa kau tidak berusaha menjelaskan kesalahpahaman ini?"

"Sebab mereka belum pantas untuk tahu,"

Jawab Siau Lui sambil tertawa dingin.

"Manusia macam apa yang pantas untuk tahu?"

"Mungkin ada sementara orang yang semenjak lahir sudah punya watak keledai, rela disalahpahami orang lain sejuta kali ketimbang memberi penjelasan satu kalipun."

Tiba-tiba terdengar seseorang berteriak dengan suara keras.

"Kalau begitu orang itu bukan keledai tapi seekor keledai goblok!"

Belum habis perkataan itu diutarakan, Ouyang Ci sudah menerjang masuk kedalam ruangan.

Kedatangannya selalu cepat bagaikan hembusan angin topan, begitu juga caranya berbicara selalu bersambungan macam berondongan tembakan yang bertubi-tubi, begitu hebatnya hingga ada sepuluh orang bicara bersama pun tak sanggup memotong pembicaraannya.

"Terang-terangan dia sudah menghianatimu, kenapa kau masih tetap mempercayainya?"

"Semua anak buah dan pengikutnya sudah habis mati terbantai, kenapa hanya dia seorang yang masih hidup segarbugar?"

"Liong Su selalu menganggap dia seperti anak kandung sendiri, sekalipun ia benar-benar lalai dalam tugas hingga kehilangan barang kawalannya, sepantasnya dia pulang ke rumah untuk memberi penjelasan, kenapa ia justru kabur dan menyembunyikan diri?"

"Tahukah kau apa sebabnya rambut Liong Su bisa berubah jadi putih beruban? Gara-gara mesti ganti barang kawalan milik orang sebesar delapanratus ribu tahil perak, biarpun seluruh anggota piaukiok mati gantung diri juga belum sanggup untuk melunasinya!"

Beruntun dia mengutarakan tujuh-delapan macam persoalan sebelum akhirnya berhenti untuk tarik napas panjang.

Siau Lui hanya mengawasinya dengan pandangan dingin, menunggu hingga dia selesai bicara baru katanya.

"Darimana kau tahu kalau dia telah menghianatiku? Apa yang kau saksikan?"

Sekali lagi Ouyang Ci tertegun. Kembali Siau Lui melanjutkan.

"Sekalipun kau telah menyaksikan dengan mata-kepala sendiri, bukan berarti semua yang kau katakan itu benar. Sekalipun dia benar-benar telah menghianatiku kali ini, bukan berarti hal ini membuktikan ia telah menganglap delapanratus ribu tahil perak barang kawanannya."

Sekali lagi Ouyang Ci tertegun, lama kemudian ia baru menghela napas panjang, gumamnya.

"Kelihatannya di dunia ini benar-benar terdapat manusia berwatak keledai..."

III "Tempat apakah ini?"

"Losmen!"

"Kenapa lakon dalam kisahmu selalu tak bisa lari dari rumah penginapan?"

"Karena sesungguhnya mereka adalah kaum pengembara."

"Mereka tak punya rumah?"

"Ada yang tak punya rumah, ada yang rumahnya telah musnah, ada pula yang punya rumah tapi tak bisa pulang."

Bila kau termasuk orang yang sedang mengembara di dunia jagat, maka kau pun tak dapat terlepas dari rumah makan, losmen, dusun terpencil, losmen remang-remang, biara, kuil...

Terlebih tak dapat melepaskan diri dari segala macam pertikaian dan perselisihan, tak bisa lari dari kehampaan dan kesepian.

Di tengah halaman luas dalam rumah penginapan, di manamana tampak kereta pengawal barang yang parkir memenuhi ruangan, barang kawalan telah diturunkan dari kereta dan teronggok dalam tiga buah bilik yang dijaga sangat ketat.

Tigapuluh tiga orang piausu dan tukang pukul yang sudah kaya dengan pengalaman terbagi dalam tiga rombongan secara bergilir menjaga ketiga ruangan itu secara bergantian.

Di luar pintu gerbang terpancang sebuah bendera yang bersulamkan empat warna, di atasnya tersulam seekor naga emas dengan kelima cakarnya.

Ketika bendera itu berkibar terhembus angin, lukisan naga itu nampak gagah perkasa berkibar mengikuti hembusan angin.

Itulah bendera naga emas Hong-Im Kim-Liong-ki yang sejak dulu telah menggetar sungai telaga baik dari kalangan putih maupun dari kalangan hitam.

Sayang secara beruntun Hong-toa, Im-ji, Kim-sam telah berpulang ke alam baka.

Kini tinggal Liong-su yang masih tetap bertengger di sungai telaga.

Malam semakin kelam, pintu dan jendela ruang timur sudah tertutup rapat, cahaya lampu pun ikut meredup.

Kecuali suara benturan golok yang tak sengaja, sama sekali tak kedengaran suara lain.

Biarpun malam ini malam musim semi, namun suasana dalam halaman itu penuh diliputi keseriusan dan ketegangan yang tinggi.

Tak ada yang tahu bagaimana cara hidup para orang gagah yang sepanjang hari hidup di ujung golok yang penuh belepotan darah dan saban hari diguyur air kata-kata itu.

Tak ada yang tahu setegang apa kehidupan mereka dan sesulit apa perjuangan mereka.

Tak mudah menemukan satu-dua hari dalam kehidupan sepanjang tahun suasana yang santai, yang dapat mengendorkan ketegangan, dan hidup tenang bersama anakistri di rumah.

Itulah sebabnya sebagian besar dari mereka tak punya rumah, juga mustahil punya rumah.

Perempuan yang cerdik tak akan sudi kawin dengan pengembara yang tiap saat hidup menyerempet maut, setiap saat siap hidup menjanda.

Namun ada kalanya kehidupan dalam dunia persilatan pun penuh diwarnai dengan keaneka ragaman hiburan yang bikin orang susah untuk melupakannya.

Itulah sebabnya masih ada banyak orang yang rela mengorbankan kebahagiaan serta ketenangan hidupnya untuk ditukar dengan secerca kebanggaan.

Di halaman gedung sebelah barat masih ada sebuah kamar yang daun jendelanya tetap dibiarkan terbuka.

Liong Su dan Ouyang Ci sedang duduk minum arak di bawah jendela.

Sudah cukup banyak air kata-kata yang mereka tenggak, seolah-olah mereka ingin menggunakan pengaruh air kata-kata untuk menghilangkan semua kemasgulan, keruwetan dan kesedihan yang menyelimuti perasaan mereka.

Mengawasi deretan kereta barang yang parkir memenuhi halaman, tiba tiba Ouyang Ci berkata.

"Perjalanan kita sudah tertunda hampir empat hari di sini."

"Yaaa, empat hari,"

Sahut Liong Su.

"Jika kita tunda terus perjalanan ini, mungkin saudarasaudara lain akan mulai berjamur saking kesalnya."

Liong Su tertawa.

"Jangan kau sama-ratakan orang lain dengan watak berangasanmu yang tak sabaran itu..."

"Tapi... Sehari barang hantaran ini tidak sampai di tempat tujuan, berarti beban yang menekan bahu saudara semua akan semakin berat. Dalam hati kecil mereka tentu sudah terbayang kapan bisa minum air kata-kata sepuasnya sambil membopong pipi licin yang bisa dijadikan guling sepanjang malam. Aku tahu mereka tak berani mengutarakan niat tersebut, tapi yang pasti perasaan mereka tentu jauh lebih gelisah ketimbang aku."

Makin berbicara kata-katanya semakin cepat, kemudian setelah meneguk habis air kata-kata dari cawannya kembali ia lanjutkan.

"Lagipula orang toh sudah menerangkan sejelas-jelasnya bahwa barang hantaran mesti sudah sampai menjelang akhir bulan, jika sampai terlambat sehari saja berarti kita kena denda tigaribu tahil. Bila kita sampai tertunda dua-tiga hari lagi, ditambah uang sepuluhribu tahil perak yang terbuang siasia, bukankah berarti perjalanan kita kali ini cuma kerja bakti belaka?"

"Aku paham dengan maksudmu, tapi..."

"Tapi luka yang diderita orang she-Lui itu belum sembuh, jadi kita mesti tetap tinggal di sini menemaninya?"

Sambung Ouyang Ci cepat. Liong Su menghela napas panjang.

"Jangan lupa, orang bisa terluka separah itu bukankah lantaran ulah kita juga?"

Ouyang Ci ikut menghela napas, ia bangkit berdiri dan berjalan keliling berapa kali dalam ruangan, namun akhirnya tak tahan ujarnya lagi.

"Padahal menurut penilaianku luka yang dideritanya sudah sembuh sebagian besar, kalau mau pergi semestinya sudah bisa berangkat, kenapa..."

"Jangan kuatir!"

Potong Liong Su sambil tersenyum.

"Dia bukan termasuk orang yang dengan sengaja berbaring malas di sini. Bila dia sudah berniat pergi, biar kita ingin menahannya pun belum tentu bisa menahannya di sini."

"Lantas sampai kapan dia baru akan pergi?"

Perlahan-lahan Liong Su meneguk habis isi cawannya, lalu katanya.

"Hampir, bisa jadi sebelum malam nanti... Atau bahkan sekarang juga."

Sinar matanya dialihkan keluar jendela, mimik mukanya menunjukkan perubahan yang sangat aneh.

Buru buru Ouyang Ci berbalik sambil ikut menengok keluar jendela, ia jumpai seseorang sedang berjalan keluar dan sebuah kamar di bagian belakang, dengan langkah yang amat lambat berjalan keluar dari halaman.

Walau langkah kakinya amat lambat tapi ia berjalan sambil membusungkan dada, seolah-olah dalam situasi dan kondisi macam apa pun dia tak sudi membungkukkan pinggangnya.

Mengawasi bayangan punggung orang itu kembali Liong Su menghela napas panjang, gumamnya.

"Dia betul-betul seorang lelaki keras hati!"

Mendadak Ouyang Ci tertawa dingin, tubuhnya seakanakan hendak menerjang keluar dari ruangan. Dengan sekali sambar Liong Su mencekal lengannya, lalu tegurnya.

"Mau apa kau? Masa ingin menahannya di sini?"

"Aku ingin mengajukan berapa pertanyaan kepadanya."

"Apa lagi yang mau ditanyakan?"

"Sikapmu begitu baik terhadapnya, jelek-jelek begini kau sudah selamatkan jiwanya, masa tanpa permisi atau berterima kasih atau bahkan ba atau bi sudah pergi meninggalkanmu begitu saja? Teman macam apa dia?"

Kembali Liong Su menghela napas panjang, katanya sambil tertawa getir.

"Sejak awal dia memang tak pernah menganggap kita sebagai sahabatnya..."

"Lantas buat apa kita bersikap begitu baik terhadapnya?"

Teriak Ouyang Ci gusar. Pelan-pelan Liong Su mengalihkan pandangan matanya ke tempat kejauhan, setelah menarik napas sahutnya.

"Mungkin dikarenakan orang semacam dia sudah tak banyak lagi dijumpai dalam dunia persilatan."

Tidak membiarkan Ouyang Ci berbicara, kembali ia melanjutkan.

"Lagipula, sesungguhnya ia bukannya tak mau bersahabat dengan kita, ia sengaja berbuat begini agar tidak menyusahkan kita dengan masalahnya."

"Ohh..."

"Bukan saja dia telah mengalami tragedi yang memilukan, yang sangat menyayat perasaan hatinya, bahkan bisa jadi ia mempunyai kepedihan yang sulit untuk diberitahukan ke orang lain. Itulah sebabnya dia tak ingin bersahabat dengan siapa pun!"

"Kau bilang dia tak ingin menyusahkan dirimu, padahal sejak awal dia sudah menyusahkan kau, masa ia tak sadar akan hal ini?"

Liong Su geleng kepalanya.

"Ada sementara persoalan, aku justru tak ingin dia tahu."

"Demi dia, kau tak segan melukai para pendekar dari perguruan Hiat-yu-bun (Perguruan Banjir Darah), masa dia tak menyadarinya? Sekali Hiat-yu-bun bermusuhan dengan seseorang, mereka pasti akan meluruk tak berkesudahan, masa ia tak pernah mendengar perkataan ini?"

Lama sekali OongSu termenung, kemudian baru katanya.

"Jangan lagi dia, yang tak lebih cuma seorang pemuda yang baru terjun ke sungai telaga, ada sementara masalah mungkin kau sendiripun tidak tahu."

"Soal apa?"

Tiba tiba sorot mata Liong Su berubah jadi merah membara, penuh sinar kebencian, kegusaran dan dendam kesumat yang tak terhingga, sepatah demi sepatah katanya.

"Tahukah kau bagaimana kisah kebinasaan Hong-toako sekalian?"

Bergidik seluruh bulu tubuh Ouyang Ci menyaksikan sorot mata seseram itu, tiba-tiba serunya tertahan.

"Jadi... jadi mereka pun tewas di tangan Hiat-yu-bun?"

Liong Su tidak menjawab.

"Prakkkk! "

Cawan arak yang berada dalam genggaman tangannya tiba-tiba remuk dan hancur berkeping-keping.

"Darimana kau tahu?"

Teriak Ouyang Ci sambil melompat maju ke depan.

"Kenapa baru hari ini kau beritahu aku?"

"Karena aku takut kau pergi mencari mereka dan menuntut balas."

"Kenapa tak boleh balas dendam?"

"Brakkk!"

Kembali Liong Su menggebrak meja kuat-kuat, serunya.

"Kalau budi belum dibalas, mana mungkin kita boleh balas dendam?"

Gemetar sekujur tubuh Ouyang Ci, terhuyung-huyung ia mundur ke belakang hingga jatuh terduduk di bangku, keringat sebesar kacang kedele jatuh bercucuran membasahi wajahnya.

Pelan-pelan Liong Su membuka kepalan tangannya, cucuran darah mengalir dari mulut lukanya yang panjang dan membasahi kepingan cawan arak di atas lantai.

Mengawasi darah yang membasahi telapak tangannya, sepatah demi sepatah kata kembali ujarnya.

"Hutang darah tetap harus dibayar dengan darah, tapi bukan berarti hutang budi tak dibayar sama sekali. Bisa saja kita beradu nyawa dengan Hiat-yu-bun hingga titik darah penghabisan, tapi siapa pula yang akan membayar budi kita kepada mereka?"

"Aaah, mengerti aku sekarang,"

Teriak Ouyang Ci sambil bangkit berdiri.

"Kita bayar dulu hutang budi itu kemudian baru balas dendam!"

"Benar!"

Sahut Liong Su sambil gebrak meja dan tertawa keras.

"Begitulah tindakan nyata seorang lelaki sejati yang sesungguhnya!"

IV Tak ada kata perpisahan, tak ada pula ucapan terima kasih, bahkan tak sepatah kata pun yang diucapkan Siau Lui.

Ia ngeloyor pergi begitu saja meninggalkan rumah penginapan.

Yang terbentang di hadapannya kini hanya selapis kegelapan yang pekat.

Tapi ketika tiba di kaki bukit, sinar fajar kembali telah muncur di ufuk timur.

Kabut putih yang pekat bagai susu ibu menyelimuti seluruh permukaan bumi, secerca sinar emas yang dipancarkan sang matahari pelan-pelan mulai mengintip dari balik bukit.

Perlahan-lahan ia berjalan mendaki ke atas bukit.

Masih seperti saat meninggalkan rumah penginapan tadi, ia berjalan sambil membusungkan dada.

Mulut luka bekas bacokan golok masih meninggalkan rasa sakit dan pedih yang bukan alang kepalang.

Seandainya dia mau sedikit membungkukkan badan sambil berjalan, mungkin rasa sakit yang menyayat itu akan berkurang.

Tapi ia tak sudi berbuat begitu, ia masih berjalan dengan membusungkan dada.

Menelusuri selokan kecil masuk ke dalam hutan bunga tho.

Pepohonan dengan bunga tho yang harum semerbak masih berdiri utuh seperti sedia kala, tapi ke mana penghuninya?

Dibawah pohon bunga tho yang paling semerbak dan rimbun itu seolah-olah masih terendus bau harum semerbak yang dipancarkan tubuh Jian-jian.

Tapi di manakah dia sekarang?

Bunga yang rontok terbawa air selokan terhanyut ke kaki bukit sana, tapi bunga akan tumbuh dan berkembang kembali.

Tapi Jian-jian...

Ia telah pergi, mungkin selama hidup tak akan muncul kembali di sana.

Siau Lui semakin membusungkan dadanya, ia menarik dadanya makin keras, mulut luka pun semakin robek besar dan mendatangkan rasa sakit yang luar biasa.

Tapi ia tak perduli.

Dia tak takut mengucurkan darah tapi sangat takut mengalirkan air mata.

Dengan langkah lebar ia tinggalkan hutan bunga tho itu, tanpa berpaling sekejap pun.

Di hadapannya sekarang adalah kebun rumah tinggalnya.

Dahulu, tempat tersebut adalah tempat yang paling hangat dan penuh kebahagiaan.

Tapi kini telah berubah tinggal puingpuing yang berserakan.

Dia tak tega balik ke situ, tak berani kembali ke sana.

Tapi mau tak mau dia harus kembali ke tempat tersebut.

Betapa menakutkan dan mengerikannya suatu kenyataan, pada akhirnya pasti ada saat di mana kau harus menghadapi dan menerimanya sebagai suatu kenyataan.

Melarikan diri dari kenyataan, bersembunyi dari kenyataan bukan suatu penyelesaian yang betul dan lagi tak ada gunanya.

Lagipula tak ada persoalan di dunia ini yang tak bisa diselesaikan untuk selamanya.

Apalagi baginya yang benar-benar harus dihindari bukan orang lain, melainkan dirinya sendiri.

Tak ada orang yang bisa menghindari diri sendiri.

Sambil menggertak gigi ia melanjutkan langkahnya menelusuri jalan.

Jalan setapak menuju ke rumahnya masih seperti sedia kala, tapi jenasah orang tuanya mungkin sudah terbakar hangus saat ini.

Pasti susah untuk dikenali lagi.

Dan kedatangannya kali ini tak lain untuk menunjukkan rasa baktinya sebagai seorang anak terhadap orang-tuanya.

Mungkin di masa lampau ayahnya sudah banyak melakukan kesalahan, mungkin ia pernah merasa amat sedih dan pedih setelah mengetahui kisah tersebut.

Tapi kini, semuanya telah berlalu...

Semuanya telah berlalu, kobaran api yang membakar tempat tersebut telah membersihkan seluruh noda tersebut, di atas perbukitan dengan hamparan rumput nan hijau kini telah bertambah dengan beberapa gundukan tanah pekuburan baru.

Seorang kakek bungkuk berambut putih sedang bersembahyang di depan kuburan.

Siau Lui tertegun menyaksikan semuanya ini.

Siapa yang telah mewakilinya melakukan pekerjaan ini?

Bagaimana caranya ia membalas budi kebaikan setinggi bukit ini?

Pelan-pelan kakek bungkuk itu berpaling, secerca senyuman getir tersungging di wajahnya yang telah penuh keriput itu..

Sin Hoa-ang!

Ternyata orang yang punya rasa setia kawan yang luar biasa ini tak lain adalah Sin Hoa-ang, kakek pembuat arak yang memiliki gerai arak tersebut.

Termangu Siau Lui mengawasi wajahnya, ia merasa tenggorokannya seolah-olah tersumbat, tak sepatah kata pun yang sanggup diucapkan.

Sin Hoa-ang berjalan menghampirinya dengan langkah perlahan, butiran air mata masih membasahi ujung matanya, sambil tertawa paksa dan menepuk-nepuk bahunya ia berkata.

"Ooh, rupanya kau sudah datang, bagus... bagus sekali... akhirnya kau datang juga."

"Aku..."

Siau Lui menggigit bibir.

"Aku paham dengan perasaanmu sekarang, jadi kau tak perlu mengatakan apa pun, juga tak usah berterima kasih kepadaku karena bukan aku yang melakukan semuanya ini."

"Bukan kau? Lantas siapa?"

Tak tahan Siau Lui bertanya.

"Dia tak ingin aku beritahu kepadamu juga tak ingin kau berterima kasih kepadanya, tapi aku..."

Setelah menghela napas panjang, lanjutnya.

"Sudah puluhan tahun lamanya aku tak pernah berjumpa dengan seorang hohan yang begitu setia-kawan dan begitu berjiwa besar macam dia. Bila aku tidak mengatakan siapakah orang itu dan menghilangkan kesempatan baik bagimu untuk berkenalan dengannya, aku betul-betul merasa sangat tak tenang!"

"Siapakah orang itu sebenarnya?"

Seru Siau Lui sambil menggenggam bahunya.

"Liong Su!"

"Dia?"

Dengan wajah tertegun Siau Lui mengendorkan genggamannya. Sin Hoa-ang menghela napas panjang.

"Dari akulah dia mencari tahu asal-usulmu. Tapi bila aku tetap merahasiakannya kepadamu maka selama hidup mungkin kau tak akan tahu betapa besarnya perhatiannya terhadap dirimu."

Siau Lui mendongakkan kepalanya memandang angkasa sambil menarik napas panjang, gumamnya.

""Kenapa ia harus berbuat begini? Kenapa..."

"Sebab dia anggap kau pun terhitung seorang lelaki sejati, dia ingin berteman dengan orang gagah macam kau!"

Siau Lui menggenggam kepalannya kencang-kencang, entah dengan cara apa ia mengendalikin gejolak perasaannya, butiran air mata yang telah membasahi kelopak matanya tidak dibiarkan meleleh keluar.

Entah berapa lama sudah lewat...

akhirnya perlahan-lahan ia berjalan ke hadapan sederet kuburan baru itu dan jatuhkan diri berlutut.

Di atas batu cadas berlumut hijau tertera beberapa huruf yang kentara masih baru diukir, tapi ia tak melihat jelas apa tulisan yang tertera di situ, matanya telah berkaca-kaca, telah dibuat kabur...

Termangu-mangu Sin Hoa-ang mengawasi anak muda itu, tiba tiba bisiknya.

"Menangislah, kalau ingin menangis, menangislah. Di dunia yang fana ini tak akan ada seorang lelaki yang benar-benar bisa menahan gejolak hatinya. Menangislah sepuas-puasnya!"

Siau Lui mengepal tinjunya semakin kencang, kuku jarinya telah menembus ke dalam daging, mulut luka di dadanya semakin merekah membuat darah semakin bercucuran deras.

Dadanya turun naik bergelombang, merahnya darah telah membasahi hampir seluruh pakaian yang dikenakan, tapi air matanya masih tertahan di dalam mata, tertinggal di dalam hati, tertinggal di suatu tempat yang tak akan terlihat orang lain.

Baginya, lebih baik darah bercucuran daripada air mata yang berlinang.

Ya, kejadian apa lagi yang bisa lebih mengenaskan daripada air mata yang tidak terlihat meleleh keluar?

Angin berhembus sepoi-sepoi, udara tidak terasa kelewat dingin.

Diam-diam Sin Hoa-ang membesut air mata yang membasahi pipinya sambil berpaling ke arah lain, mengawasi puing-puing sisa kebakaran yang berserakan di sana-sini.

Bau harum bunga terbawa angin dari kejauhan sana, juga membawa serta benih yang datang dari kejauhan.

Sin Hoa-ang termenung, kemudian gumamnya.

"Haiii... Tak akan menunggu terlalu lama, bila musim semi tahun depan telah tiba, tanah gosong yang gersang ini pasti akan menghijau kembali, berkuntum-kuntum bunga pasti akan berserakan lagi di mana-mana. .."

Memang, selama tempat itu masih ada tanah dan angin, maka selamanya umat manusia masih punya harapan.

Sekalipun ada suatu kekuatan yang begitu menakutkan mengancam tempat tersebut, tak mungkin akan lenyap takberbekas.

V Malam semakin kelam, tiada manusia di atas bukit.

Lamat-lamat terdengar suara tangisan yang mendengung dibawa angin malam, begitu pilu tangisan tersebut seperti lolongan serigala yang saling bersahutan...

seperti juga jeritan monyet yang sedang berkejaran di pucuk pohon.

Sambil memegang tongkatnya Sin Hoa-ang berdiri termangu di bawah kaki bukit, di tengah kegelapan malam, kerutan memanjang menghiasi wajahnya yang penuh kerutan itu.

Ia benar-benar tak paham dengan pemuda keras kepala ini.

Isak tangis masih bersambungan tak ada habisnya, seolaholah pemuda itu ingin menangis semalam suntuk di tempat itu, ingin meluapkan seluruh kepedihan hatinya dan menghabiskannya dalam semalaman saja.

Sin Hoa-ang tertunduk sedih, gumamnya.

"Anak bodoh, kenapa kau harus menunggu hingga tak ada orang baru mulai menangis? Buat apa kau harus menyiksa diri sendiri...?"

PERSAHABATAN I Jian-jian dengan kepala tertunduk menghirup arak dalam cawannya.

Arak itu berwarna hijau pupus.

Cahaya lampu berwarna merah memancar keluar dari balik kain cadar tipis menyinari di atas tangannya.

Sebuah tangan yang putih, mulus dan indah.

Sepasang mata Kim Cwan masih terpancang kaku di atas tangannya yang lembut itu, mengawasinya tanpa berkedip.

Kini dia sudah tak perlu mengintipnya secara sembunyisembunyi.

Apapun yang ingin dia lihat, dia akan memandangnya secara langsung.

Kini, waktu tinggalnya di kamar gadis tersebut makin lama semakin panjang, sudah bukan pekerjaan yang gampang untuk mengusir pemuda tersebut dari tempat itu.

Lambat laun gadis itu sudah dianggapnya sebagai barang milik pribadinya.

Jian-jian masih tertunduk mengawasi pakaian yang dikenakannya.

Pakaian hijau muda yang bening bagai air telaga, bordiran berwarna hijau menghiasi sisi pakaiannya.

Bukan cuma terbuat dari bahan yang mahal harganya, jahitannya pun sangat rapi dan indah.

Itulah pakaian pemberian Kim Cwan kepadanya.

Selama berapa hari belakangan, apa yang dimakan, yang dipakai, yang digunakan, semuanya berasal dari kocek di pinggang pemuda itu.

Kini ia semakin sadar, semakin tak gampang baginya untuk menyingkirkan pemuda tersebut dari hadapannya.

Apalagi pada malam ini, tampaknya ia sudah memutuskan untuk tetap tinggal dalam kamar itu, ia sudah kelewat banyak menenggak air kata-kata.

Entah siapa pun orangnya, bila ingin mendapatkan sesuatu maka ia harus rela mengorbankan segala apa pun.

Khususnya bila kau membiarkan seorang pria rela mengorbankan diri demi dirimu, maka kau pun wajib mengorbankan sesuatu demi dirinya.

Dalam hati Jian-jian menghela napas, ia sudah siap melakukan pengorbanan.

Tapi...

berhargakah pengorbanan tersebut?

Sinar lampu menyoroti juga wajah Kim-cwan, terus terang ia terhitung juga seorang lelaki tampan yang menarik hari, selain ganteng dan lembut.

Ia pun mengerti mengambil hati seorang wanita, tahu bagaimana caranya membuat gembira seorang perempuan.

Dia kelihatan seakan-akan selamanya bersih.

Namun di balik kerangka tubuhnya yang kelihatan bersih itu sebenarnya tersembunyi sebuah hati macam apa?

Jian-jian tak berani membayangkan, ia kuatir jadi muak bila memikirkan persoalan tersebut.

Apa yang harus dipikirkan sekarang adalah, bisa dipercayakah lelaki ini?

Sungguhhatikah dia melindungi dirinya?

Benarkah dia berasal dari keluarga yang baik, yang bisa diandalkan?

Secara sembunyi-sembunyi ia coba melirik kantung goanpo yang tergantung di pinggangnya.

Selama berapa hari belakangan boleh dibilang seluruh pengeluarannya berasal dari dalam kantung kulit itu.

Kim Cwan bukan termasuk orang pelit, tapi kini masih tersisa berapa banyak isi kantung goanpo tersebut?

Membayangkan hal semacam ini, ia mulai merasa muak dan pingin tumpah, tapi bagaimana pun jua ia mesti memikirkan masalah tersebut.

Boleh saja ia tidak memikirkan kepentingan pribadi, tapi ia mesti berusaha mencarikan seorang ayah yang bisa dipercaya bagi jabang bayi yang masih berada dalam rahimnya.

Tentu saja beda bila pengorbanan tersebut demi Siau Lui.

Demi dia, ia rela tidur dalam istal kuda, rela minum air putih saja tiap hari, karena ia sangat mencintainya.

Demi lelaki yang dicintainya seorang perempuan memang rela merasakan penderitaan macam apa pun.

Entah berapa besar siksaan yang harus mendera dirinya, berapa berat beban yang harus dipikulnya, ia rela menerima semuanya itu tanpa berkeluh kesah.

Tapi bila ia harus berkorban demi seorang lelaki yang sa ma sekal i tak dicintainya, maka semuanya itu harus dibayar dengan suatu imbalan yang setimpal.

Dalam situasi seperti ini, perempuan selalu berpikir lebih cermat, lebih matang dan lebih jauh ketimbang seorang lelaki, dan biasanya lebih berkepala dingin.

Jian-jian masih menunduk mengawasi cawan kosong di hadapannya dengan termangu.

Kim-cwan juga lagi mengawasinya, tiba-tiba tegurnya sambil tertawa.

"Apa yang sedang kau pikirkan? Ingin mengusir aku dari sini?"

"Mana berani aku mengusirmu?"

Sahut Jian-jian semakin tertunduk rendah.

"Tapi..."

"Tapi kenapa?"

"Aku... aku selalu merasa ... kita tak boleh gegabah dan tergesa-gesa dalam memutuskan masalah sebesar ini, kau seharusnya pulang dulu dan beritahu persoalan ini kepada orang-tuamu."

Kim Cwan termenung.

"Aku mengerti, mungkin kau anggap aku kelewat bawel, kelewat banyak urusan,"

Sambung Jian-jian lagi.

"Tapi... Aku hanya seorang perempuan sebatang kara yang tak punya apaapa, tak punya teman, tak punya sanak, jika di kemudian hari..."

Tiba tiba wajahnya berubah jadi merah padam, sambil menggigit bibir terusnya.

"Jika di kemudian hari kau jahat padaku, membuat aku menderita... paling tidak aku masih punya satu jaminan."

Perkataan itu diutarakan sangat lirih, amat mengenaskan, tapi artinya sangat jelas, yaitu bila kau pingin dapatkan aku maka orang-tuamu harus jadi jaminan, orang-tuamu harus melamarku secara resmi dan menikah secara resmi pula.

Sesungguhnya prasyarat semacam ini tidak termasuk berlebihan, siapapun itu orangnya, bila seorang wanita sudah bersiap siap melakukan pengorbanan, mereka tentu akan mengajukan juga syarat yang sama.

Kembali Kim Cwan termenung, sampai lama kemudian ia baru menghela napas panjang, katanya.

"Tampaknya aku belum pernah bercerita tentang asal usulku selama ini?"

"Yaaa, belum pernah."

"Aku sama seperti kau, seorang yatim-piatu yang sudah kehilangan ayah dan ibu, bahkan teman pun hanya ada satu dua."

Jian-jian merasa hatinya seolah-olah tenggelam, bagai seseorang yang tenggelam di tengah samudra luas, tiba-tiba saja ia merasa balok kayu yang hendak dipegang sebagai penopang hidupnya ternyata hanya balok kayu keropos yang kosong dan nyaris hampir tenggelam pula di tengah laut.

Kim-cwan kembali memandang ke arahnya sambil menyeringai, menampilkan sekulum senyuman yang amat licik, tapi dengan nada suara yang tetap lembut ia berkata.

"Justru karena kita sama-sama orang yang terlunta dan sebatang kara, maka kita wajib saling menopang, bukan begitu?"

Jian-jian tidak menjawab, ia tak tahu harus berkata apa?

Saat itulah tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda dan suara keleningan nyaring bergema dari kejauhan, irama keleningan itu amat merdu bagaikan pualam.

Berdetak keras jantung Jian-jian mendengar suara tersebut, ia tahu siapa yang telah datang.

Sore tadi sewaktu mereka sedang beristirahat minum teh, ia sudah bersua dengan kelompok manusia tersebut.

Padahal hanya satu orang yang dilihatnya.

Usia orang itu belum terlalu banyak, dibandingkan dengan yang lain malah kelihatan paling muda, tapi siapapun yang memandang ke arahnya, dalam sekilas pandang saja pasti akan tahu bahwa dia adalah majikan dari kelompok manusia tersebut.

Ini bukan dikarenakan pakaian yang dikenakan lebih mewah dan halus ketimbang orang lain, bukan disebabkan keleningan emas yang tergantung di kudanya, juga bukan lantaran pedang bertaburkan batu pualam yang tergantung di atas pelananya.

Kesemuanya ini hanya disebabkan pancaran sinar matanya, penampilannya dan gerak-geriknya.

Ada sementara orang yang seolah-olah selalu tampil lebih anggun dan berwibawa ketimbang orang lain, dan dia termasuk manusia macam ini.

Perawakan tubuhnya tinggi, tatkala berdiri dalam kerumunan manusia, ia seperti burung bangau berdiri di tengah kerumunan ayam.

Wajahnya termasuk tampan, gerak-gerik dan tindaktanduknya selalu pakai aturan dan tata krama, namun pancaran sinar matanya menampilkan hawa kesombongan yang tak terlukiskan dengan kata, seolah-olah ia tak pernah pandang sebelah mata pun terhadap orang lain.

Namun sejak pandangan matanya yang pertama ditujukan ke arah Jian-jian, sorot mata tersebut seakan-akan selalu mengawasi gerak-gerik gadis itu, ia seperti tak perlu merasa kuatir, tak perlu takut dan tak merasa harus berpantang melakukan tindakan macam itu.

Biasanya bila seseorang sudah memandang orang lain dangau pancaran mata semacam ini, bila dia ingin mendapatkannya maka dengan cara apapun ia pasti akan berusaha untuk mendapatkannya.

Apakah dia ingin mendapatkan Jian-jian?

Debaran jantung Jian-jian semakin keras.

Tadi, secara jelas ia menyaksikan gerombolan manusia itu bergerak menuju ke arah yang berlawanan, mengapa sekarang bisa balik lagi kemari?

Mungkinkah dia balik lantaran dirinya?

Kim Cwan juga telah mendengar suara keleningan yang bergema dari luar kamar, tiba-tiba ia bangkit berdiri, menurunkan tirai jendela dan mengunci pintu kamar rapatrapat.

Paras mukanya kelihatan telah berubah jadi pucat kehijau-hijauan.

Tiba tiba Jian-jian teringat kembali, sore tadi sewaktu ia bertemu pemuda tersebut Kim-cwan juga menunjukkan perubahan wajah semacam ini, malah dengan cepat ia tarik tangannya, mengajaknya masuk ke dalam kereta.

Mungkinkah dia sangat takut dengan orang ini?

Tapi siapakah dia?

Waktu itu Jian-jian seperti mendengar orang lain memanggilnya sebagai "Siau Ho-ya,"

Tapi secara lamat-lamat diapun sempat membaca huruf "Tio"

Yang amat besar tersulam di atas sarung golok para pengikut yang menyertainya.

Waktu itu ia tidak mendengar terlalu jelas, juga tidak melihat terlalu jelas, tak baik bagi seorang perempuan macam dia untuk memperhatikan gerak-gerik pria lain secara berani dan terang-terangan.

Tapi, bila ia betul-betul tidak mendengar, benar -benar tidak melihat, darimana bisa mengetahui persoalan tersebut?

Kuda telah berhenti berlari, suasana di luar kamar sudah mulai tenang kembali.

Paras muka Kim Cwan yang pucat pias kini sudah berubah normal kembali.

Sesudah meneguk beberapa cawan arak dan terbatuk ringan, katanya.

"Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku tadi?"

"Tadi... Tadi... Kau bicara apa?"

"Manusia macam kita berdua sudah ditakdirkan untuk hidup dan kumpul bersama, jika bukan aku yang baik kepadamu, siapa lagi yang akan baik kepadamu...? Masa kau masih ragu dan menguatirkan hal lain?"

Tiba-tiba Kim Cwan menggerakkan tangannya dan menggenggam tangan gadis itu erat-erat.

Jian-jian tidak meronta, ia biarkan tangannya digenggam pemuda itu, bagaimana pun jua ia tak boleh bersikap kelewat dingin dan hambar terhadapnya.

Tapi...

ternyata gerak tangannya diikuti dengan gerakan rubuhnya, dengan memakai tangannya yang lain Kim Cwan merangkul pinggang Jian-jian kuat-kuat, bisiknya.

"Jian-jian. .. tahukah kau, sejak pandangan mata pertama dulu aku sudah jatuh cinta kepadamu...? Aku sudah amat menyukaimu."

Dengan suara yang lebih lembut dan halus, kembali lanjutnya.

"Semenjak hari itu, aku tak pernah bisa melupakan kau walau hanya sedetik pun... bahkan sampai waktu bermimpi pun aku selalu memimpikan dirimu... aku sering bayangkan seandainya kau..."

Di tengah malam yang dingin, dalam ruang kamar yang sepi, dalam redup cahaya lampu yang remang-remang, berapa banyak wanita yang bisa melawan bujuk rayu seorang lelaki terhadapnya?

Tapi dengan sigap Jian-jian memotong rayuannya itu.

"Jadi kau selalu berharap aku bisa segera ribut dengan Siau Lui? Segera berpisahan dengan Siau Lui agar kau mendapat kesempatan untuk mendapatkan aku?"

Berubah hebat wajah Kim Cwan, tapi masih memaksakan diri untuk tertawa sahutnya.

"Kau kan sudah berjanji tak akan mengungkitnya lagi selamanya, tak akan memikirkannya lagi selama hidup?"

Paras muka Jian-jian yang semula lembut tiba-tiba ikut berubah jadi dingin beku bagaikan salju, katanya.

"Sebenarnya aku memang tak ingin memikirkan dia lagi, tapi setiap kali aku melihatmu secara otomatis akan teringat pula dengannya, karena kalian berdua adalah sahabat karib, tidak sepantasnya kau berbuat demikian terhadapku."

Kini paras muka Kim Cwan benar-benar berubah hebat, dia merasa seolah-olah ditampar keras wajahnya secara tiba-tiba.

Jian-jian tertawa dingin, memandangnya dengan pandangan sinis.

Semestinya dia tak pantas mengucapkan kata-kata semacam ini, seharusnya ia menahan diri, merelakan dirinya sedikit tersiksa, sedikit menuruti kemauannya, demi penghidupan.

Demi masa depan jabang bayi yang dikandungnya, seharusnya dia mau menerima semua penderitaan termasuk mengorbankan tubuhnya uni u k pemuda tersebut Bukankah banyak perempuan di dunia ini yang rela badannya diacak-acak lelaki hidung belang hanya disebabkan demi kehidupan diri?

Tapi sekarang tampaknya situasi telah berubah secara tiba-tiba.

Timbul suatu perasaan yang aneh dalam hati Jian-jian waklu itu, ia merasa mendapat kesempatan emas untuk meraih sesuatu yang lebih tinggi, sesuatu yang lebih berharga ketimbang yang sudah ada di depan mata sekarang.

Sejak kapan perasaan aneh semacam ini muncul dalam hatinya?

Ia sendiri juga tak jelas.

Perempuan memang seringkali bisa muncul perasaan aneh macam ini, semacam naluri hewan buas atas buruannya.

Tanpa memiliki kelebihan semacam ini memang sulit bagi kaum wanita untuk hidup tenang di dunia milik lelaki macam ini.

Jian-jian sudah tidak menunduk, dia angkat kepalanya tinggi-tinggi.

Kim Cwan sangat geram, dengan mata yang melotot besar penuh garis-garis merah darah dia awasi gadis itu tanpa berkedip, serunya.

"Kau bilang tidak sepatutnya aku berbuat demikian? Tahukah kau, kenapa aku bisa berbuat begini kepadamu?"

"Kenapa?"

"Karena kau! Kaulah yang suruh aku berbuat demikian, sejak awal hingga kini kau selalu merayuku, selalu memancingku, menjebakku!"

Jian-jian tertawa, tertawa dingin...

bila seorang wanita sudah menjawab ucapanmu dengan tertawa dingin, jika kau seorang lelaki cerdas, lebih baik cepatlah angkat kaki dan tinggalkan dia jauh-jauh!

Sayang Kim Cwan sudah tidak merasakan hal itu, seolaholah dia tak mendengar tertawa dingin gadis itu, kembali katanya.

"Bila kau tidak menjebakku, tidak merayuku, kenapa kau buatkan pakaian untukku? Kenapa secara diam-diam kau robek bajuku dan kemudian pura-pura menambalkan?"

Jian-jian tertegun. Tiba-tiba Kim Cwan tertawa keras, tertawa kalap, sambil menuding gadis itu teriaknya.

"Kau anggap aku tak tahu apaapa? Kau kira aku goblok? Seorang lelaki dungu yang tak punya otak? Kau anggap aku benar-benar sudah terpikat oleh rayuan dan kemolekan tubuhmu?"

Jian-jian hanya memandangnya, dia merasa seperti lagi memandang seorang asing yang belum pernah dijumpai sebelumnya.

Ia memang baru pertama kali ini melihat jelas manusia macam apakah dia itu.

Ternyata hati yang tersembunyi di balik rongga tubuhnya yang bersih dan rapi itu bukan saja jauh lebih memuakkan, jauh lebih menyebalkan daripada yang dibayangkan semula, hatinya juga lebih kejam dan sadis dari perkiraannya semula.

Apa yang menyebabkan semua kedok kemunafikan dan kepura-puraannya terbongkar?

Arakkah?

Atau ia sudah sampai pada taraf di mana mustahil untuk mendapatkannya lagi dengan segala akal muslihat?

Bagaimana pun juga, belum termasuk kelewat terlambat gadis itu mengetahui kedok kemunafikan serta kebohongannya.

Dengan tenang Jian-jian berdiri di situ, kini hubungan mereka sudah buntu, sudah tak mungkin untuk berbicara lagi, sudah tiba saat baginya untuk pergi dari situ.

Walau ia tahu dengan pasti, begitu keluar dari situ berarti sulit baginya untuk hidup terus, tapi ia tetap harus pergi dari situ.

Karena perasaan hatinya terhadap pemuda itu sudah mati, sudah membeku.

"Kau masih ingin pergi?"

Tiba tiba Kim Cwan menghardik sambil melotot.

Jian-jian tertawa, hambar sekali tawanya.

Dalam kondisi dan situasi semacam ini, suara tertawanya lebih banyak mengandung nada kesal, menyesal dan mencemooh.

Ia melanjutkan langkahnya pergi meninggalkan ruangan, tiba-tiba Kim Cwan melompat ke depan, menyambar pinggangnya dan memeluk erat-erat.

Kini tangannya sudah mulai kurang-ajar, mulai tak pakai aturan lagi.

Dia mulai menggerayang, meraba sekujur tubuh gadis itu, dengan napas terengah-engah dan menyeringai seram katanya.

"Kau memang seharusnya menjadi milikku, jangan salahkan kalau aku akan berbuat kasar... Aku harus menikmati tubuhmu..."

Jian-jian meronta keras, tapi pelukan itu terlalu kuat, ia tak sanggup melepaskan diri. Akhirnya tak tahan ia mulai berteriak keras.

"Lepaskan aku... biarkan aku pergi..."

Pada saat itulah tiba-tiba pintu kamar dibuka orang.

Padahal pintu itu sudah terkunci dari dalam, tapi saat ini, entah karena apa ternyata kunci itu seperti lapuk, sama sekali tak berguna.

Cahaya lentera menyorot keluar dari balik pintu, menyinari tubuh seseorang.

Orang itu berperawakan jangkung, bajunya putih bersih bagai salju, sebuah ikat pinggang pulih kemala yang lebar melilit di alas pinggangnya,kecuali itu tak nampak perhiasan lain di tubuhnya.

Ia memang tak butuh perhiasan apa pun untuk menghiasi tubuhnya.

Sambil bergendong tangan ia berdiri tenang di luar pintu, mengawasi Kim Cwan dengan sinis, sinar matanya memancarkan tigapuluh persen perasaan menghina dan tujuhpuluh persen rasa muak dan sebal, katanya hambar.

"Sudah kau dengar perkataannya?"

Berubah hebat paras muka Kim Cwan setelah menyaksikan kehadiran orang itu, sekujur tubuhnya seolah-olah berubah jadi kaku secara tiba-tiba, sampai lama kemudian ia baru mengangguk dengan terpaksa.

Jantung Jian-jian ikut berdebar keras, ternyata perhitungannya tidak meleset, ia betul-betul balik ke situ mencarinya, dan ternyata muncul tepat waktu.

Dia pun sadar, setelah kemunculannya kembali di situ, ia tak mungkin melepaskan dirinya begitu saja.

Tuan "Siau Ho-ya,"

Tiga huruf kata yang penuh rangsangan, penuh godaan, cukup bikin bergetar perasaan anak gadis manapun.

Apalagi ia masih terhitung seorang lelaki tampan yang gagah dan menarik hati.

Jian-jian pejamkan matanya, apa yang didoakan, yang diharapkan kini sudah muncul di depan mata, belum pernah sedekat ini pada masa yang silam.

Kehidupan yang serba mewah, serba terhormat, sandangpangan yang berlimpah, harta kekayaan yang menumpuk setinggi bukit...

gemerlapan cahaya intan berlian mutu

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com manikam...

dia seolah-olah sudah melihatnya di depan mata, seolah-olah sudah dapat menyentuh dan merasakannya.

Tapi entah kenapa, tiap kali ia pejamkan matanya, yang muncul dalam perasaan hatinya hanya bayangan seseorang.

Seorang lelaki yang keras kepala, terasing, sombong, tak mau tunduk dan menyerah kepada siapa pun...

Siau Lui!

Dia telah mendapatkan semua yang ada di dunia ini.

Tapi, asal Siau Lui menggapai ke arahnya maka dia rela meninggalkan semuanya itu, rela hidup berkelana bersamanya hingga ke ujung dunia.

Semakin dendam perasaan seseorang, semakin dalam pula perasaan cinta terhadapnya.

Bagaimana cara ia menerima semua siksaan ini bila cinta dan dendam telah menggurat dalam dalam di hatinya?

"Aku tak boleh memikirkannya lagi, saat ini bukan saat yang tepat untuk memikirkan dia!"

Yaaa, kesempatan emas telah tiba, dia harus pandai pandai memegang dan memanfaatkannya.

Kim Cwan telah melepaskan genggamannya, cepat-cepat Jian-jian lari ke depan, bersembunyi di belakang Siau Ho-ya, lalu sambil merangkul kencang lengannya ia berbisik dengan suara gemetar.

"Suruh dia pergi, suruh dia cepat-cepat pergi..."

"Sudah kau dengar perkataannya?"

Tegur Siau Ho-ya dingin, ia mengawasi Kim Cwan dengan pandangan sinis.

Kim Cwan menggertak gigi kencang-kencang, perasaan marah, benci dan dendam terpancar keluar dari sorot matanya, tetapi ia tak berani membantah.

Akhirnya dengan terpaksa ia mengangguk.

"Apa yang dia katakan?"

Kembali Siau Ho-ya bertanya.

"Dia... dia suruh aku pergi dari sini..."

Ketika selesai mengucapkan perkataan tersebut, sekujur badannya telah gemetar keras karena menahan perasaan marah, benci dan penderitaan yang luar biasa.

Begitu keras ia gemetar persis seperti seekor anjing yang baru ditarik keluar dari kubangan salju.

Sekarang ia dapat mencicipi bagaimana rasanya dikhianati orang, akhirnya dapat ia sadari betapa sakit dan menderitanya perasaan tersebut.

"Kalau toh sudah tahu harus segera pergi dari sini, kenapa kau tidak segera menggelinding pergi?"

Kembali Siau Ho-ya berkata.

Kim Cwan mengepal tinjunya kuat-kuat, kalau bisa dia ingin sekali menjotos wajah pemuda yang sombong dan menghina itu hingga babak belur.

Siau Ho-ya sama sekali tak ambil perduli kepadanya, bahkan memandang sekejap pun tidak, ia berpaling dan mulai mengamati wajah Jian-jian.

Mengawasi butiran air mata yang masih membasahi wajah Jian-jian, sorot matanya yang dingin tiba-tiba berubah jadi begitu halus dan hangat Jian-jianmasih terus melelehkan air matanya, entah buat siapa ia mencucurkan terus air matanya itu?

Asal Siau Lui mau memandangnya sekejap saja seperti pandangan pemuda ini, asal...

Perasaan hatinya makin tertusuk, semakin sakit rasanya...

Mendadak dia peluk kencang lengan anak muda itu dan mulai menangis tersedu-sedu.

Siau Ho-ya tidak berkata apa-apa, dia ambil keluar sebuah saputangan dan mulai mengusap bekas air mata di pipinya, bagi mereka, seolah-olah dalam ruangan itu tak ada orang ketiga selain mereka berdua.

Kim Cwan menggertak kencang bibirnya, melotot ke arah mereka dengan sorot mata penuh kebencian, seluruh badannya seperti mau meledak.

Tapi pada akhirnya ia dapat mengendalikan diri, pelanpelan mengendorkan kepalan tinjunya, lalu dengan kepala tertunduk katanya.

"Baiklah, aku pergi dari sini..."

Sedetik sebelum semua peristiwa ini terjadi, apa pun yang berada dalam kamar itu masih menjadi miliknya seorang.

Tapi secara tiba-tiba segala sesuatunya telah berubah, segals sesuatu yang berada dalam ruangan itu kini sudah tak ada sangkut-paut dengan dirinya.

Orang yang seharusnya bakal menjadi bini kesayangannya, kini memandangnya dengan pandangan menghina, seakan-akan sedang mengawasi seekor anjing...

Seekor anjing yang sangat asing baginya.

Bintang bertaburan di angkasa, dinginnya malam semakin menusuk tulang.

Dengan kepala tertunduk Kim-cwanberjalan keluar dari situ dengan langkah lambat...

Berjalan melalui sisi tubuh mereka berdua.

Tak ada yang menggubrisnya, juga tak seorang pun yang memandangnya lagi, walau hanya sekejap saja.

Hanya angin malam yang berhembus dari kejauahan, meniup di atas wajahnya, mendatangkan rasa dingin yang membeku dan menusuk tulang.

Dia seakan-akan sudah ditinggalkan oleh dunia ini, ditinggalkan semua yang ada di dunia fana ini.

Ternyata begini pedih, begini menderita dan begini sakit bila dikhianati orang, ditinggalkan orang yang dikasihi.

Sekarang ia sudah paham, sudah mengerti, tapi tak setitik perasaan menyesal pun yang muncul dalam hatinya.

Yang tinggal hanya kebencian, hanya rasa benci dan dendam.

Dia pun ikut balas dendam.

Kegelapan menyelimuti seluruh kota, mendekam semua jalanan.

Sekilas memandang, seolah-olah tak nampak setitik cahaya lentera pun di sana.

Di pinggir jalan masih kelihatan sebuah kedai penjual teh, dalam poci masih tersisa sedikit air teh, sayang airnya sudah dingin.

Kim Cwan berjalan menghampiri, ia duduk di bangku panjang dekat tiang tenda.

Angin berhembus menggoyangkan dedaunan pohon yang tumbuh di tepi jalan, seekor anjing liar berjalan keluar dari balik bayangan pohon sambil mengempit ekornya.

Anjing itu seperti mau menggonggong, tapi setelah memandang pemuda itu berapa saat, kembali ia ngeloyor pergi.

Mengapa dunia begitu kejam terhadapnya?

Siapa yang menciptakan akibat seperti ini?

Apakah dirinya sendiri?

Tentu saja dia tak akan berpikir begitu, hanya orang yang paling pintar dan paling jujur yang akan mencoba introspeksi diri setelah mengalami pukulan dan penderitaan hebat semacam ini.

Mungkin saja ia termasuk anak muda pintar, tapi sayangtidak jujur.

"Terserah bagaimana sikap orang lain terhadapku, paling tidak aku toh masih memiliki..."

Berpikir sampai kesitu, tak tertahan sekulum senyuman penuh rasa bangga dan puas tersungging di ujung bibirnya.

Tanpa sadar tangannya merogoh ke dalam kantung kulit yang tergantung di pinggangnya.

Dalam saku kulit itu tersimpan butiran-butiran mutiara yang memancarkan sinar tajam serta setumpuk kertas uang yang masih baru.

Tangannya yang tengah merogoh ke dalam saku itu terasa begitu enggan untuk ditarik keluar kembali, sebab semuanya itu merupakan pengharapan terbesar yang dimilikinya saat ini, satu satunya pengharapan yang dimilikinya.

Asal tangannya masih bisa menyentuh benda-benda tersebut, perasaan hangat dan puas segera akan muncul menyelimuti perasaan hatinya, dari ujung jari tersalur hingga ke lubuk hatinya yang terdalam.

Perasaan semacam ini bahkan jauh lebih nikmat ketimbang perasaan di kala jari-jemarinya meremas buah dada seorang gadis cantik.

Ia betul-betul sudah terjerumus dalam perasaan tersebut, benar-benar merasa mabuk...

dia mulai berkhayal...

seolaholah ada sepasang payudara yang montok dan bulat sedang muncul di hadapannya dan mulai diremas...

II Siau Lui masih berbaring di atas lantai, dia tak tahu sudah berapa lama menangis di situ.

Ketika ia mulai mendengar suara isak tangis sendiri tadi, bahkan dirinya pun ikut terperanjat.

Mimpipun ia tak mengira dirinya bisa menangis hingga bersuara, terlebih tak menyangka kalau suara tangisannya bisa begitu menakutkan.

Entah berapa tahun berselang ia pernah mendengar suara yang sama seperti itu.

Ia menyaksikan ada tiga ekor serigala liar sedang dikejar sekelompok pemburu, terkejar hingga ke tempat yang buntu dan terpojok di mana hujan panah sedang terarah ke tubuh binatang tersebut dengan derasnya.

Serigala jantan dan serigala betina berhasil bersembunyi di dalam gua, terhindar dari kejaran maut.

Tapi seekor serigala muda yang telah kehabisan tenaga agak terlambat menyelamatkan diri, hingga akhirnya tertembus tiga batang anak panah.

Rupanya serigala betina itu adalah ibunya, tanpa memperduli keselamatan jiwanya ia terobos keluar dari gua ingin menarik putranya yang terluka itu ke tempat yang aman.

Tapi pada saat yang bersamaan pemburu itu telah melompat ke hadapannya dan sekali tebas goloknya membabat persis di punggungnya.

Walau tubuhnya sudah roboh bermandikan darah, namun serigala betina itu masih coba meronta sambil tidak melepaskan gigitan di tubuh putranya.

Sayang sekali tenaganya lenyap mengikuti kucuran darah yang mengalir deras, walaupun tinggal dua depa dari mulut gua, ia sudah tak sanggup melarikan diri lagi.

Ketika melihat bininya meronta kesakitan di tanah, serigala jantan itu nampak sangat masgul, sepasang matanya yang abu-abu memancarkan sinar keputusasaan.

Penderitaan serigala jantan itu semakin hebat, tubuhnya mulai gemetar keras, tiba-tiba ia menerobos keluar dari dalam gua dan sekali tubruk menggigit persis di leher serigala betina itu, dia berniat membantu bininya melepaskan diri dari penderitaan.

Tapi sayang para pemburu telah mengepung tempat tersebut.

Ketika memandang bangkai bininya tiba tiba saja serigala itu melolong panjang, suaranya sangat mengerikan...

Begitu menyeramkan suara lolongan itu membuat kawanan pemburu itu pun ikut terkesiap.

Kini Siau Lui merasa, suara tangisan yang muncul dari dirinya tadi persis sama seperti suara lolongan sedih serigala itu, membayangkan semuanya ini hampir-hampir saja dia tumpah.

Air mata telah mengering, tapi darah justru mulai mengalir kembali.

Menangis, memang termasuk sejenis olah raga yang membutuhkan banyak tenaga.

Jika seseorang benar-benar sedang menangis sedih, bukan saja dia akan menangis dengan segenap perasaannya, bahkan seluruh tenaga yang dimiliki pun ikut digunakan.

Siau Lui dapat merasakan bekas luka bacok di dadanya yang semula sudah menutup, kini mulai robek dan berdarah lagi, tapi dia tak ambil perduli.

Wajahnya yang tergesek batu dan pasir ketika dirinya rebah di tanah tadi juga mulai berdarah, tapi dia tak perduli.

Kegelapan malam telah lewat, hari terang pun sudah menjelang, ia tak tahu sudah berapa lama tidak makan maupun minum, tapi dia tak perduli.

Benarkah ia tak perduli dengan semua persoalan disekelilingnya?

Lalu...

Mengapa dia menangis?

Dia bukan binatang juga bukan sebatang balok kayu, dia tak lebih hanya ingin memaksa diri agar bisa menerima nasib yang lebih tragis daripada nasib seekor binatang, memaksa diri agar orang lain menganggapnya sebagai sebuah balok kayu walau semuanya ini tidakmudah.

Tiba-tiba terendus bau harum yang terbawa angin, bukan harumnya pepohonan, juga bukan bau harum bunga dari bukit di kejauhan sana.

Cepat dia mendongak, tampaklah seorang gadis berbaju putih bersih telah berdiri tegak persis di depan nisan kuburan, gadis itu muncul dengan sikapnya semula, dingin, angkuh dan hambar.

Sorot matanya yang indah sama sekali tidak memancarkan rasa iba atau kasihan, dia hanya mengawasinya dengan pandangan dingin.

Ketika melihat ia angkat wajahnya, gadis itu baru menegur dengan suara dingin.

"Sudah cukup tangismu?"

Siau Lui tertegun, ia tak mampu menjawab apa pun, tubuhnya kaku bagaikan sebuah balok kayu.

"Bila kau sudah cukup menangis, sekarang berdirilah!"

Kembali gadis berbaju putih itu berkata. Siau Lui bangkit berdiri. Sekujur badannya terasa amat lemas bagai seorang bayi yang baru dilahirkan dari rahim ibunya, tapi dia berdiri juga...

"Tak nyana hewan pun bisa menangis"

Kembali gadis berbaju putih itu mengejek sambil tertawa dingin. Pelan-pelan Siau Lui mengangguk.

"Yaaa, hewan bisa menangis, anjing betina pun bisa menangis,"

Sahutnya.

"Anjing betina?"

"Aku hewan dan kau anjing betina!"

Pucat pias wajah si gadis berbaju putih itu, namun ia tidak marah, malah katanya sambil tertawa.

"Bila semua perempuan yang kau kenal adalah anjing betina, mungkin kau tak perlu menangis sesedih ini."

Siau Lui hanya mengawasinya tanpa berkata, ia belum jelas apa yang dimaksud perempuan itu. Kembali gadis berbaju putih itu berkata.

"Paling tidak anjing betina masih tahu setia dengan tuannya, paling tidak dia tak akan lari dengan orang lain."

Tiba-tiba Siau Lui melotot besar, dengan wajah yang berubah jadi seram selangkah demi selangkah ia maju ke depan lalu mencekik leher perempuan itu keras-keras.

Gadis berbaju putih itu tidak bergerak, menghindar pun tidak.

Dengan senyuman dingin masih tersungging di ujung bibirnya, kembali gadis itu berkata ketus.

"Kau telah patahkan sebelah lenganku, juga telah cukup menghina dan mencemooh aku, memang tak keliru jika sekarang kau cekik aku sampai mati!"

Kuku jari Siau Lui yang kotor karena lumpur dan pasir itu sudah mulai menembus kulit tengkuk si gadis yang putih mulus, tapi keringat dingin justru bercucuran membasahi jidat sendiri.

Kembali gadis berbaju putih itu berkata.

"Tahukah kau mengapa kubiarkan kau patahkan lenganku, biarkan kau mencemooh menghinaku, rela kau cekik hingga mampus?"

Siau Lui tak sanggup menjawab, tak ada orang yang bisa menjawab.

Sejujurnya dia memang mempunyai banyak kesempatan untuk menghabisi nyawanya, tapi...

mengapa ia rela dihina olehnya?

Mengapa ia berbuat begitu?

"Aku berbuat demikian karena aku kasihan kepadamu,"

Terdengar gadis itu berkata lagi hambar.

"Karena kau sudah tak berharga lagi untuk kubunuh..."

Tiba tiba Siau Lui mengencangkan cekikkannya, gadis berbaju putih itu segera tercekik hingga otot-otot wajahnya pada menonjol keluar, napasnya kian lama kian bertambah susah.

Walau begitu senyuman yang tersungging di ujung bibirnya masih begitu mengejek dan menghina.

Setelah tertawa dingin, dengan suara yang agak dipaksa sepatah demi sepatah katanya.

"Kau sudah tak bernilai untuk dibunuh orang lain, karena kau telah menghancurkan dirimu sendiri, ketika orang lain sedang tertawa cekikikan di atas ranjang, kau justru mengkaing-kaing bagai anjing budukan di tempat ini!"

"Krekkk... kreekk..."

Tenggorokan Siau Lui ikut berbunyi keras, seolah-olah dia pun sedang dicekik sepasang tangan yang tak terlihat dengan mata telanjang.

"Orang lain... siapa yang kau maksud?"

"Seharusnya kau tahu siapa yang dimaksud."

"Kau... kau telah melihat mereka?"

"Sekarang yang kulihat hanya sepasang tanganmu yang sedang mencekikku!"

Sahut gadis berbaju putih itu sambil menggertak gigi dan napas tersengal-sengal.

Siau Lui memandang tangan sendiri, mengawasi lumpur dan pasir yang masih melekat di kuku jari tangannya, akhirnya dia kendorkan cekikan itu.

Ketika mengawasi tangan sendiri tadi ia merasa seperti lagi mengawasi tangan milik seorang asing, hampir saja ia tak percaya kalau tangan itu milik sendiri.

Seandainya ia dapat melihat diri sendiri, apakah dalam hatinya akan timbul juga perasaan yang sama?

Apakah dia pun tak akan percaya kalau orang itu adalah diri sendiri?

Gadis berbaju putih itu duduk bersandar di atas kuburan dengan napas tersengal, ia meraba pelan bekas jari tangan yang membekas di tengkuk sendiri.

Lewat lama kemudian ia baru berkata lagi sambil tertawa.

"Aku telah melihat mereka, juga telah melihat dia... yaaa, dia masih terhitung seekor anjing betina, seekor anjing betina yang sudah amat kelaparan!"

Siau Lui angkat tangannya, tapi tangan itu tidak digunakan untuk menampar wajah gadis itu.

Tiba-tiba dia pergi meninggalkan tempat itu.

Sewaktu menurunkan kembali tangannya, ia seperti sedang membuang ingus dari hidungnya, kemudian balik badan dan ngeloyor pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Tindakan semacam ini terasa jauh lebih kejam ketimbang sebuah bacokan yang bersarang di wajah gadis itu.

Melihat Siau Lui pergi menjauh, tiba-tiba air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya.

"Sekalipun kau enggan menyentuhku, tak sudi bicara denganku, paling tidak kau harus tanya namaku..."

"Mau anggap aku kekasihmu atau bahkan menganggapku sebagai musuh besar pun tak soal, tapi... paling tidak kau harus tanya siapa namaku..."

"Apakah dalam hatimu, aku hanya seorang yang sama sekali tak ada nilainya?"

"Apakah kau benar-benar telah melupakan semua budi dan dendam di antara kita berdua?"

Dalam hati dia menjerit, mengeluh dan berteriak sementara air mata bercucuran makin deras.

Tiba-tiba dia angkat wajahnya.

Terhadap awan yang melayang di udara, terhadap angin gunung yang berhembus dingin ia berteria k keras.

"Aku juga manusia, aku punya nama... Namaku Ting Jan-coat. .."

III Bendera Piaukiok berkibar terhembus angin, bendera yang berkibar tertancap di atas batang sebuah pohon setinggi lima kaki.

Kuda serta penunggangnya telah lama beristirahat di dalam tenda di bawah pohon.

Dalam tenda berjajar enam-tujuh buah meja dan kini sudah penuh ditempati kawanan pengawal barang itu.

Sekarang mereka sedang beristirahat melepaskan lelah sambil minum-minum karena dalam tenda ini selain tersedia air teh, tersedia juga air kata-kata dan aneka hidangan.

Liong Su duduk di bagian paling luar, bersandar pada tiang bambu sambil mengawasi awan yangbergerak di angkasa, entah apa yang sedang dipikirkan.

Ouyang Ci masih tetap berangasan dan tak sabaran seperti semula, saat itu dia sedang merecoki pelayan kedai untuk segera menghidangkan sayur dan arak.

Di kala sayur dan arak baru saja dihidangkan itulah mereka melihat kehadiran Siau Lui.

Bekas darah yang telah membeku di wajah Siau Lui ditambah pasir dan lumpur yang membekas di sekujur tubuh pemuda itu membuat ia kelihatan seperti seorang gelandangan.

Namun di dalam kelopak matanya justru terpancar sinar teguh, ulet dan tak mau tunduk yang sangat kuat.

Ia memang kelihatan sangat letih, sangat kusam dan sangat hancur penampilannya.

Namun keangkuhan dan keras kepalanya sama sekali tidak berubah.

Tak seorang pun dan persoalan apa pun dapat merubah hal ini.

Liong Su segera berseri begitu melihat kehadirannya, cepat dia melompat bangun dan menggapai seraya berteriak keras.

"Saudara...Saudara Lui... Liong Su ada disini!"

Tak perlu dipanggil pun Siau Lui sudah datang menghampir, sahutnya dingin dari luar tenda kedai.

"Aku bukan saudaramu!"

"Aku tahu,"

Jawab Liong Su masih tertawa.

"Kita bukan teman juga bukan saudara, tapi mau kah masuk untuk minum satu-dua cawan arak?"

"Boleh!"

Dengan langkah lebar ia masuk ke dalam tenda kedai, duduk lalu katanya lagi tiba-tiba.

"Aku memang datang untuk mencarimu."

"Mencari aku?"

Liong Su tertegun, sama sekali di luar dugaannya, tapi ia segera tertawa, tertawa kegirangan.

Termangu-mangu Siau Lui mengawasi cawan di hadapannya, lewat lama kemudiania baru berkata sepatah demi sepatah.

"Aku tak pernah mau hutang budi kepada siapa pun."

"Kau tak berhutang kepadaku,"

Tukas Liong Su cepat.

"Tidak, aku berhutang!"

Setelah angkat wajahnya mengawasi Liong Su lekat-lekat, kembali dia menyambung.

"Hanya saja, orang-orang keluarga Lui yang telah mati tak perlu kau orang she Liong yang menguburkan."

Liong Su gelengkan kepalanya berulang-kali, katanya sambil tertawa getir.

"Hai, sejak awal sudah kuduga si tua bangka itu pasti banyak mulut... tampaknya makin lama semakin sedikit orang di dunia ini yang betul-betul bisa menyimpan rahasia!"

Belum selesai ucapan itu diutarakan, Ouyang Ci sudah mencak-mencak kegusaran sambil berteriak keras.

"Bagaimana pun juga masalah ini toh bukan suatu masalah yang memalukan. Kalau seandainya ada orang yang membantu menguburkan keluargaku, aku pasti akan sangat berterima kasih"

"Lain kali, seandainya ada anggota keluargamu yang mati walau berapa banyak pun, aku pasti akan menguburkan untukmu"

Sahut Siau Lui ketus, bahkan melirik sekejap ke arahnya pun tidak. Merah padam seluruh wajah Ouyang Ci, ia jadi salah tingkah, mau duduk salah mau berdiri pun tak benar. Kembali Siau Lui berkata.

"Sayang sekali aku bukan kau, selamanya aku tak punya kebiasaan semacam ini."

"Kau... kau mau apa? Masa keluargaku benar-benar harus mati berapa puluh orang agar bisa kau kuburkan mereka dan membayar impas hutang ini?"

Siau Lui tidak menggubris, kembali ia menatap Liong Su sambil ujarnya.

"Aku telah berhutang budi kepadamu, seandainya aku miliki berapa ratus tahil perak tentu akan kubayarkan kepadamu. Tapi aku tak punya, maka aku datang mencarimu"

Dengan suara yang keras dan tegas bagaikan paku baja, sepatah demi sepatah kembali lanjutnya.

"Apapun yang kau inginkan pasli akan kulakukan, katakan saja tenis terang!"

Liong Su tertawa terbahakk-bahak.

"Mau anggap kau berhutang budi kepadaku juga boleh, tidak berhutang juga tak apa-apa. Yang penting asal kau mau menemani aku minum berapa teguk arak,aku Liong Su sudah merasa puas sekali!"

Siau Lui mengawasi wajah orang itu dengan termangu, sampai lama, lama sekali, ia baru menggebrak meja seraya berseru.

"Ambilkan arak!"

Arak itu pedas rasanya, Siau Lui penuhi terus cawan besarnya dengan arak, tangannya tak pernah berhenti, arak juga tak pernah berhenti, semangkuk demi semangkuk sekaligus dia habiskan tigabelas mangkuk besar arak.

Dari tigabelas cawan arak itu paling tidak sudah ada enamtujuh kati arak yang mengalir masuk ke perutnya.

Biarpun enam-tujuh kati arak yang pedas dan panas telah masuk perut, paras mukanya sama sekali tidak berubah.

Ouyang Ci mengawasi pemuda itu dengan pandangan tertegun bercampur kagum, tiba-tiba ia menggebrak meja sambil berteriak keras.

"Hei orang gagah, dari takaran arak yang kau miliki, aku Ouyang Ci patut menghormati kau dengan tiga mangkuk arak!"

"Hahaha... Tak nyana ada juga saatnya kau takluk kepada orang lain!"

Seru Liong Su sambil tergelak.

"Takluk yaaa takluk, tidak takluk yaaa tidak takluk!"

Seru Ouyang Ci mendelik.

"Bagus! Memandang ucapanmu itu, aku juga patut menghormati kau dengan tiga mangkuk arak!"

Kembali enam mangkuk arak mengalir masuk ke dalam perut, paras muka Siau Lui masih tetap pucat pias bagai mayat, namun sinar matanya tetap teguh dan keras.

Ia sudah bukan lagi minum arak tapi menenggak arak.

Semangkuk demi semangkuk arak yang pedas dan panas bagaikan bara api dengan begitu saja mengalir masuk ke dalam perutnya.

Memang begitulah macam orang gagah yang berkeliaran di sungai telaga, kawanan pegawai pengawal barang sudah mulai datang merubung, paras muka mereka rata-rata menunjukkan perasaan kagum yang tak terhingga.

Mendadak ada seseorang menerobos masuk dari balik kerumunan orang, ia merangsek masuk ke dalam kedai tersebut, dia adalah seorang kakek pendek kurus-kering berambut putih.

Ia menjinjing sebuah buntalan panjang berwarna kuning, tampaknya di situ ia sembunyikan senjatanya.

Salah seorang anggota piaukiok segera menghampirinya seraya menegur.

"Sahabat, mau apa kau kemari?"

"Memangnya aku tak boleh kemari?"

Kata kakek itu sambil menarik muka.

"Apa isi buntalanmu itu?"

"Apa kau bilang?"

Kakek itu tertawa dingin.

"Paling tidak seharusnya senjata yang pernah dipakai untuk bunuh orang!"

"Ooh, rupanya sahabat sengaja ingin cari gara-gara, kalau begitu gampang sekali,"

Kata anggota piaukiok itu sambil tertawa dingin.

Ia merangsek maju ke depan lalu berusaha menyambar buntalan yang berada di tubuh kakek itu.

Baru saja tangannya bergerak ke depan, tiba-tiba kakek itu sudah menyodorkan buntalan tersebut ke arahnya seraya berteriak.

"Tak heran banyak orang bilang pengawal barang tak bedanya dengan perampok, jika menginginkan barang ini... Nih, kuhadiahkan kepadamu!"

Sambil berteriak, ia segera lari sipat kuping. Pengawal itu seperti hendak mengejar, tapi Liong Su sudah menghardik sambil berkerut dahi.

"Biarkan dia pergi, periksa saja apa isi buntalan itu?"

Isi buntalan itu hanya sebuah gulungan lukisan, di atas gulungan lukisan itu dipenuhi banyak debu.

Pengawal itu segera membuka gulungan tersebut, tapi sebelum melihat jelas isinya tiba tiba ia bersin berulang-kali, mungkin ada debu yang telah masuk ke lubang hidungnya.

Liong Su terima gulungan lukisan tersebut, setelah memandangnya sekejap, tiba-tiba paras mukanya berubah hebat.

Gulungan lukisan itu berisi lukisan seorang kakek berambut putih yang memakai baju warna hijau, seorang diri ia sedang berjalan di jalanan perbukitan, tangannya menenteng sebuah payung kertas.

Mendung gelap terlihat menyelimuti udara, hujan rintikrintik muncul di balik awan, sebuah cakar naga tampak muncul dari kegelapan diikuti sebuah ekor naga yang tinggal sebelah, agaknya ekor itu sudah terbabat kutung hingga mengucurkan darah, titik darah jatuh di atas payung kertas yang berada di tangan si kakek.

Dari balik hujan rintik kelihatan juga bintik darah sehingga air hujan berubah menjadi kemerah-merahan.

Kakek dalam lukisan itu kelihatan sangat santai, ia sedang mendongak melihat langit sambil mengulumkan senyuman di bibir.

Ketika wajahnya dilihat lebih teliti lagi, ternyata persis seperti wajah si kakek kurus pendek yang muncul membawa buntalan tadi.

Hijau membesi paras muka Liong Su, termangu mangu dia awasi lukisan si kakek dalam gulungan lukisan tersebut.

Sorot mata Ouyang Ci juga ikut berubah memerah, hawa membunuh sudah menyelimuti wajahnya, dengan kepalan dikencangkan gumamnya seraya tertawa dingin.

"Bagus, akhirnya datang juga... awal juga kehadirannya..."

Belum selesai ia bergumam, pengawal tadi sudah menjerit tertahan sambil roboh ke tanah, paras mukanya menampilkan rasa takut dan ngeri yang luar biasa, ternyata ia tak mampu lagi untuk menarik napas.

"Kenapa kau?"

Seru Ouyang Ci dengan wajah berubah.

"Kroook... krooook..."

Dari tenggorokan pengawal itu hanya mengeluarkan suara aneh, tak sepatah kata pun sanggup diucapkan keluar.

"Dia pasti kena angin duduk dalam perjalanan tadi,"

Seru Liong Su dengan wajah serius.

"Cepat gotong pergi untuk istirahat, sebentar juga akan baikan."

Ouyang Ci seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi Liong Su serta berkedip memberi tanda agar tidak bicara.

Siau Lui masih meneguk arak semangkuk demi semangkuk, dia seolah-olah tidak perduli dengan urusan orang lain.

Tiba tiba Liong Su tertawa tergelak, katanya.

"Lui Kongcu, takaran arakmu betul-betul hebat dan tiada tandingan. Sayang cayhe sudah tak bisa menemani lagi!"

Walaupun bicara sambil tertawa namun panggilannya telah berubah, sikapnya juga berubah lebih dingin dan hambar.

Siau Lui tidak menjawab, dia angkat gentong arak lalu meneguknya hingga habis isinya, lalu...

"brakkk!"

Dia banting gentong itu hingga hancur berkeping, setelah itu sambil bertepuk tangan dan bangkit berdiri serunya.

"Baik, kita boleh berangkat!"

"Silahkan Lui kongcu!"

"Apa maksudmu silahkan?"

Liong Su tertawa paksa.

"Antara Lui kongcu dengan cayhe tak ada hubungan apaapa, kita bukan berasal dari aliran yang sama, tak ada perjamuan yang tak bubar, sekarang sudah waktunya buat kita untuk berpisah."

Siau Lui menatapnya tajam-tajam, lama... lama kemudian tiba-tiba ia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahakbahak.

"Bagus, sahabat sejati... Liong Kong, Liong Su, kau betul betul seorang sahabat sejati"

Serunya.

"Kita bukan sahabat!"

Tukas Liong Su sambil menarik muka.

"Kita sahabat!"

"Bukan!"

"Perduli amat kita bersahabat atau bukan, pokoknya aku sejalan dengan kau..."

"Tidak!"

"Ya!"

Liong Su menatapnya tak berkedip, sampai lama kemudian ia baru menghela napas panjang, katanya.

"Kenapa kau harus memaksa untuk jalan sealiran denganku?"

"Karena sejak lahir watak keledaiku memang begini,"

Sahut Siau Lui, kemudian setelah menepuk bahu Ouyang Ci, lanjutnya.

"bukan begitu?"

"Bukan!"

"Yaa!"

"Tak ada manfaatnya jadi keledai..."

Sela Liong Su.

"Paling tidak masih ada sedikit kebaikan!"

"Oya...?"

"Paling tidak seekor keledai tak akan mengkhianati sahabatnya. Bila sahabatnya menghadapi ancaman mara bahaya, dia tak akan ngeloyor pergi menyelamatkan diri, sekalipun kau cambuk dia dengan cambuk keledai, jika dia bilang tak akan pergi, sampai mati pun tak bakal pergi!"

Liong Su mengawasinya dengan mata berkaca-kaca, kelopak matanya telah dipenuhi air mata hangat, tiba-tiba ia menggenggam tangan Siau Lui dan dipegang erat-erat.

Mereka tidak berkata lagi.

Yaa, apa yang perlu dikatakan lagi terhadap sebuah tali persahabatan yang begitu mulia dan murni?

DARAH DAN AIR MATA I Jian-jian menundukkan kepalanya, seakan-akan ia tak berani memandang Siau Ho-ya yang sedang duduk persis di hadapannya, ia hanya menjawab dengan suara lirih.

"Aku dari marga Cia."

II Seorang kakek berambut putih yang memakai baju hijau sedang berjalan sendirian di jalanan sebuah perbukitan, sekulum senyuman yang licik dan penuh misterius tersungging di ujung bibirnya.

Tiba-tiba halilintar membelah awan mendung yang menyelimuti udara, cahaya petir yang menyambar turun dari balik awan terang sekali bagaikan seekor naga emas.

Di tengah hiruk-pikuk ramainya suara ringkikan kuda, rombongan pengawal barang itu segera menghentikan perjalanannya.

Rambut Liong Su telah basah kuyup oleh guyuran air hujan, butiran hujan setes demi setetes mengalir ke bawah membasahi baju di balik jas hujannya.

Tubuhnya sama sekali tak bergerak, seolah-olah terpaku di atas pelana kudanya, sementara sepasang mata yang tajam mengawasi si kakek berbaju hijau yang sedang berjalan mendekat.

Orang tua itu seakan-akan sama sekali tidak melihat kalau ada satu rombongan besar kereta kuda menghadang jalan perginya, dia hanya menengadah ke atas memeriksa keadaan cuaca lalu bergumam.

"Aneh, katanya ada naga sedang terbang di angkasa, kenapa aku tidak melihatnya? Masa hanya seekor naga mampus yang ada di situ?"

"Naga itu belum mampus!"

Bentak Ouyang Ci keras keras.

Di tengah bentakan nyaring, cambuk kuda yang berada di tangannya telah diayunkan ke tubuh kakek itu.

Benar juga, sambaran cambuknya persis seperti seekor naga berbisa yang sedang terbang di angkasa.

Jarak antara mereka berdua masih selisih dua kaki lebih, tapi cambuk hitam itu panjangnya justru empat kaki, sambaran ujung cambuk tadi persis melilit di atas tengkuk kakek tersebut.

Si kakek masih berjalan ke depan dengan langkah lambat, ketika ujung cambuk tiba di hadapan mukanya tiba-tiba ia tarik ke belakang payung kertasnya kemudian diputar ke bawah, dengan tepat ia tahan sambaran cambuk tersebut.

Dalam waktu singkat ujung cambuk telah melilit tiga lingkaran di atas payung kertas itu.

Tiba-tiba kakek itu merentangkan payungnya...

"Blaaakk!"

Diiringi suara nyaring tahu tahu cambuk lemas itu telah putus menjadi tujuh-delapan bagian.

Berubah paras muka Ouyang Ci, begitu juga Liong Su.

Sambil memandang kutungan cambuk yang tersebar di tanah dengan matanya yang sipit, gumamnya lirih.

"Aku rasa naga yang ini sudah waktunya untuk mampus!"

"Coba lihat yang ini..."

Hardik Ouyang Ci nyaring.

Seraya menjejakkan kakinya pada pelana, ia segera melejit ke udara setinggi satu kaki, lalu setelah berjumpalitan beberapa kali tangannya segera diayun ke depan, puluhan titik cahaya bintang serentak memancar keluar dari balik punggung, siku, tangan, ujung baju serta kakinya.

Jangan dilihat piausu nomor wahid dari perusahaan Tionggoan Su Toa-piaukiok ini punya watak yang berangasan dan kasar, ilmu silat yang dimiliki justru amat tinggi dan sempurna, bahkan masih terhitung seorang jagoan dalam hal senjata rahasia.

Memang bukan satu pekerjaan yang gampang bagi siapa pun untuk melepaskan puluhan jenis senjata rahasia dalam saat yang bersamaan.

Kakek berbaju hijau itu masih memandang lawannya dengan mata yang sipit, dari ujung kaki hingga ujung kepalanya ia sama sekali tak bergerak, namun payung kertas yang berada dalam genggamannya justru diputar bagaikan gangsingan.

Terciptalah selapis lingkaran cahaya yang amat menyilaukan mata.

"Cringg... criing... criing..."

Di antara serangkaian suara denting yang nyaring, dalam sekejap mata puluhan titik cahaya bintang itu sudah terpental balik ke empat penjuru Ouyang Ci mempunyai banyak cara untuk melepaskan senjata rahasianya, ada yang berputar bagai gangsingan, ada yang terbang beriring, ada yang cepat, ada yang lambat, ada yang duluan ada juga yang belakangan bahkan ada pula yang saling membentur di angkasa.

Sebaliknya cara yang digunakan kakek berbaju hijau itu untuk merontokkan senjata rahasia hanya ada satu, namun cara yang tunggal itu justru paling manjur dan bermanfaat.

Tidak perduli dengan cara apapun kau lepaskan senjata rahasia itu, asal terbentur dengan payung kertasnya, seluruh senjata amgi itu akan terpental dan mencelat ke empat penjuru.

Bahkan ada sebagian dari senjata rahasia itu yang berbalik menyerang tubuh Ouyang Ci...

Tentu saja tak akan benar benar mengenai tubuh orang tersebut.

Buru buru Ouyang Ci melejit kembali ke atas pelana kudanya sambil mengawasi payung kertas di tangan lawannya itu dengan mata melotot, Kini siapa pun sudah dapat melihat dengan jelas, payung tersebut tentu saja bukan terbuat dari kertas.

Dengan wajah serius tiba tiba-Liong Su berseru.

"Rupanya anda adalah Giam lo-san, si payung dari neraka Tio Hui-liu, Tio-losianseng!"

"Hmm, tak nyana Liong Su masih memiliki ketajaman mata yang mengagumkan!"

Sahut kakek itu sambil tertawa ringan. Liong Su tertawa dingin, kembali katanya.

"Sungguh tak disangka Tio losianseng sudah bergabung dengan Hiat-yubun, benar-benar di luar dugaan!"

"Mungkin masih banyak lagi urusan yang tak kau duga,"

Tukas Giam-lo-san cepat. Tiba-tiba ia membalikan tangannya menunjuk ke arah dinding bukit di tepi jalan sambil katanya;

"Coba kau perhatikan lagi siapakah dia?"

Dinding tebing itu tegak lurus lagi gersang, tak sedikitpun tumbuhan yang tumbuh di situ. Mana orangnya? Tapi baru saja perkataannya selesai diucapkan, mendadak terdengar "Traaang!"

Percikan bunga api menyebar ke empatpenjuru.

Sejenis benda tiba-tiba meluncur datang dari samping dan langsung menancap di atas batu karang yang keras bagaikan baja itu, benda tersebut tak lain adalah sebuah kampak besar.

Menyusul kemudian dari atas tebing bukit di seberang sana meluncur kembali sebuah cambuk panjang yang langsung melilit di atas ujung kampak tadi hingga tertarik tegang, tali panjang itu langsung menutup seluruh jalan tadi.

Cambuk panjang yang berwarna hitam itu berkilauan memancarkan sinar di bawah curahan hujan gerimis, tidak jelas terlihat cambuk itu terbuat dari bahan apa.

Empatsosok bayangan manusia pelan-pelan berjalan turun melalui atas tali panjang tadi, mereka berjalan amat santai seolah-olah sedang berjalan di tanah datar.

Orang pertama bermata besar dan berewokan, ia biarkan pakaian bagian dadanya terbuka lebar hingga nampak bulu dadanya yang hitam lebat.

Dia seolah olah memang sengaja mempamerkan bulu dadanya itu agar tampilannya nampak lebih jantan.

Orang kedua bertubuh jangkung dengan wajah yang putih bersih tanpa kumis atau janggut, sebilah pedang tergantung di pinggangnya, ia berjalan sedikit lengggak lenggok, persis seperti seorang wanita.

Kalau dilihat wajahnya, ketika masih muda dulu pasti masih terhitung seorang lelaki tampan, sayang kini telah berusia empatpuluh lima tahun sehingga walau sebersih apapun kau cukur kumis dan janggutnya, namun tak bisa menutupi kerutan-kerutan di wajahnya yang menandakan ketuaan.

Orang ke tiga adalah seorang lelaki berwajah kuning yang kurus lagi jangkung, sebilah golok berkepala setan tergembol di punggungnya.

Orang ke empat bukan hanya jangkung sekali, tubuhnya juga kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang, dia tak ubahnya seperti seorang setan beneran.

Melihat kehadiran ke empat orang itu, sambil tertawa dingin Ouyang Ci segera berseru.

"Hmm, rupanya lima setan neraka dari lima istana (Ngothian Giam-lo) telah bergabung semua dengan Hiat-yu-bun. Selamat... selamat!"

Tio Lo-sianseng tertawa lirih, sahutnya.

"Setelah melihat kehadiran Giam-lo San si Payung neraka, semestinya kau bisa menduga kalau Kampak neraka Giam-lo Pouw, Giam-lo Kiam si Pedang neraka, Giam-lo To si Golok neraka dan si Pecut neraka Giam-lo Pian juga telah hadir semua di sini"

"Tempat ini bukan neraka, buat apa begitu banyak raja neraka yang berkunjung kemari?"

"Mau apa? Tentu saja untuk membegal kereta barang dan bendera perusahaan kalian"

"Aaaah, tidak banyak, tidak banyak, kalian masih minta apa lagi?"

"Asal semua kereta dan bendera perusahaan kalian tinggalkan, lalu setiap orang meninggalkan sebelah tangan dan sebelah kakinya, hutang piutang kalian dengan Hiat-yubun kami anggap lunas!"

"Kalau tidak?"

"Kalau tidak maka tiga puluh enam butir batok kepala milik kalian harus ditahan di sini!"

Ouyang Ci segera mendongakkan kepalanyadantertawa terbahak-bahak, serunya.

"Baik, kalau begitu silahkan ambil batok kepala kami yang masih menempel ini!"

"Hmm, apa sulitnya..."

Jengek Tio Lo-sianseng dingin. Liong Su masih duduk tak berkutik di atas pelana kudanya, ia duduk bagai sebuah arca, tiba-tiba saja ia julurkan tangannya seraya menghardik.

"Tombak!"

Sebuah tombak sepanjang satu koma empat kaki dengan ujung tombak berwarna merah darah.

"Toookkk!"

Senjata itu ditancapkan ke tanah dalam-dalam. Dengan suara nyaring Liong Su berseru.

"Sudah lama aku orang she Liong ingin menjajal sampai di mana kehebatan ilmu silat yang dimiliki Ngo-thian Giam-lo! Ayoh, siapa yang ingin maju duluan?"

"Kami berlima!"

Sahut Tio Losianseng cepat. Lalu sambil menuangkan mata tersenyum licik, lanjutnya.

"Jangan kau anggap kejadian ini sebagai pertandingan ilmu silat. Kami datang untuk menghadang dan merampok kalian, jadi semua peraturan sungai telaga tidak berlaku di sini, toh jumlah kalian masih delapan-sembilan kali lipat lebih banyak ketimbang jumlah kami!"

Ketika kata terakhir baru meluncur keluar dari mulutnya, Giam-lo Kiam yang berada di atas tali mendadak melayang ke udara, di antara kilatan cahaya tahu-tahu ia sudah menyerbu ke tengah rombongan kereta barang.

Di antara kilatan cahaya pedang, jeritan ngeri bergema memecahkan keheningan.

Di tengah muncratan darah segar seorang pengawal telah roboh bersimbah darah.

Jangan dilihat cara berjalan orang ini terseok-seok macam seorang banci, begitu turun tangan ternyata serangannya begitu ganas, tajam dan cepat.

Bersamaan waktu, Giam-lo To si lelaki bermuka kuning melejit juga ke tengah udara, goloknya langsung membacok ke tubuh Ouyang Ci.

Giam-lo Pian segera menghentakkan tali panjangnya.

Kampak yang semula menancap di atas dinding karang segera melejit ke tengah udara.

Giam-lo Pouw melompat maju menyambut senjatanya, lalu dengan sekali putaran badan ia ayun mata kampaknya langsung membabat kepala kuda yang ditunggangi Ouyang Ci.

Baru saja OuyangCi berkelit dari bacokan golok, kuda tunggangannya sudah meringkik kesakitan lalu roboh terkapar di tanah.

Dalam pada itu Giam-lo Pian telah menghentakkan senjatanya langsung menyambar ke arah panji perusahaan yang terpancang di atas kereta barang terdepan.

Di sisi lain Tio Lo-sianseng telah bertempur sengit melawan tombak Liong Su.

Biarpun gerakan tombak itu cepat bagaikan seekor naga sakti, sayang kecepatan tersebut tak bisa mengimbangi kegesitan dan kelincahan Tio Lo-sianseng.

Dia seolah-olah memang sangat ahli dalam mencari peluang kosong hingga untuk sesaat ilmu tombak yang dimainkan Liong Su tak sanggup dikerahkan semaksimal mungkin.

Apalagi selain harus melindungi anak buah sendiri, dia pun harus selamatkan kuda tunggangannya dari bokongan musuh.

Sementara itu Giam-lo Pouw telah menyerbu ke tengah rombongan piausu.

Di satu sisi pedang menyambar, di sisi lain kampak membacok, satu keras satu lunak...

jeritan ngeri bergema silih berganti, kembali ada lima orang roboh bermandikan darah.

Pecut panjang dari Giam-lo Pian telah menyambar persis di depan panji perusahaan.

Seorang piausu segera menyongsong kehadiran senjata itu, dengan tubuhnya ia melindungi panji dari sergapan musuh, siapa sangka di detik terakhir itulah mendadak pecut panjang itu mengait ke atas dan langsung melilit tenggorokannya.

"Kraaakkk!"

Terdengar suara gemerutuk keras, tahu-tahu batok kepala itu sudah terkapar lemas ke samping, disusul kemudian tubuhnya ikut roboh lemas ke atas tanah.

Ngo-thian Giam-lo (lima raja neraka dari lima istana) telah maju dan menyerang bersama, kerja sama mereka betul-betul luar biasa, serangannya fatal dan sangat mematikan.

Apalagi dalam pertempuran kali ini, waktu, tempat semua adalah pilihan mereka.

Setiap langkah setiap jengkal tanah telah mereka rencanakan sebelumnya dengan sangat teliti.

Oleh sebab itu begitu turun tangan, posisi mereka segera berada diatas angin.

Berbeda sekali dengan posisi Liong Su, pertarungan semacam ini sangat sulit dan tidak menguntungkan pihaknya.

Siau Lui masih duduk tenang di atas pelana kudanya, ia cuma menyaksikan pertarungan itu tanpa melakukan reaksi apapun.

Walaupun pertempuran berdarah sudah dimulai, tapi entah kenapa ternyata tak sebuah senjata pun yang mampir di tubuh atau ke arah kuda tunggangannya.

Atau mungkin hal ini dikarenakan dandanannya yang kelewat kotor, kelewat rudin sehingga orang lain anggap dia tak berharga untuk diserang?

Dia masih tetap duduk, mengikuti jalannya pertempuran tanpa bergerak sedikit pun, biarpun kuda tunggangannya meringkik terus dan melompat kesana-kemari, namuniamasih belum juga bergerak, bahkan sepasang mata pun sama sekali tak berkedip.

Kalau bukan otot dan syaraf di dalam tubuhnya terbuat dari kawat baja, mungkin pemuda ini sudah dibuat kaku karena kejadian ini.

Jika memang tak mau melakukan apa-apa, buat apa dia ikut datang ke situ?

Mungkinkah dia sedang menunggu kesempatan emas?

Cahaya pedang si Pedang neraka Giam-lo Kiam berkilauan memancarkan sinar tajam ke seluruh angkasa, tiba-tiba ia mundur tiga langkah kemudian sambil membalikkan tubuh, senjata itu langsung menusuk ke iga Siau Lui.

Akhirnya apa yang ditunggu tiba juga, ternyata mereka memang tak akan lepaskan dirinya...

tiga puluh enam lembar jiwa semuanya harus ditahan di situ.

Siau Lui berkerut kening, belum sempat dia menghindar tiba-tiba cahaya merah menyambar lewat, sebuah tombak telah menyapu di hadapannya menangkis datangnya bacokan pedang itu.

"Dia bukan anggota Piaukiok kami!"

Hardik Liong Su keraskeras.

"Kalian tak boleh melukainya..."

Belum selesai hardikan tersebut, darah segar telah menyembur keluar dari kaki kirinya.

Walaupun ia berhasil menangkis serangan pedang yang ditujukan ke tubuh Siau Lui, namun kaki kirinya justru telah tersambar ketajaman payung sakti milik Giam-lo San sehingga tergores mulut luka sepanjang tujuh inci.

Seandainya kuda tunggangannya tidak berpengalaman dalam pertempuran, mungkin kaki itu sudah terpapas kutung.

Siau Lui menggigit bibir kencang kencang, air mata telah membuat sepasang matanya berkaca-kaca.

Sementara itu si Kampak neraka telah terjerumus dalam kepungan musuh.

Melihat itu Giam-lo Kiam segera menghentakkan tubuhnya menerjang ke depan, senjatanya diayunkan ke kiri-kanan berusaha membuka sebuah jalan berdarah.

Pecut yang berada di tangan Giam-lo Pian akhirnya sudah berhasil melilit panji yang berada di atas kereta barang.

Dengan sekali hentakan, panji itu segera mencelat ke udara mengikuti gerakan pecut yang mencengkeramnya.

Jika panji perusahaan ini sampai terjatuh ke tangan orang lain, maka nama baik perusahaan boleh dibilang sudah hancur setengahnya.

Merah membara sepasang mata piausu yang sedang memburu panji tersebut, sambil berteriak keras sontak dia meluruk ke arah jatuhnya panji perusahaan tersebut.

Giam-lo Pian mendengus sinis, ia getar senjatanya ke angkasa, lalu bagaikan seekor ular sanca yang besar langsung melilit ke arah tenggorokannya.

Dengan satu balikan tangan, Giam-lo Pian mencengkeram panji perusahaan itu dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya membetot kuat-kuat, pecut yang telah melilit di tenggorokan piausu itu segera mengangkat seluruh tubuh korbannya ke udara kemudian membantingnya keras-keras ke tanah.

Lidah yang menjulur keluar membuat mayat piausu itu nampak sangat menyeramkan.

Giam-lo Pian sama sekali tidak melirik ke arah korbannya, tanpa berhenti sekejap pun kembali dia ayunkan pecut panjang di tangan kanannya sementara matanya mengawasi panji perusa-haan yang berhasil dirampasnya di tangan kiri dengan pandangan penuh kepuasan.

Senyum bangga menghiasi ujung bibirnya.

Merah membara sepasang mata Ouyang Ci, sambil meraung keras ia meluruk maju ke depan.

Giam-lo To tidak memberi kesempatan musuhnya berbuat sekehendak sendiri, golok setannya membabat gencar ke sekujur tubuh musuhnya, dalam waktu singkat ia telah melancarkan tujuh-delapan bacokan maut.

Pada saat itulah di tengah kilatan caha golok dan bayangan pedang tiba-tiba sesosok bayangan manusia meluruk maju ke depan dengan kecepatan tinggi, dengan sekali ayunan tangan ia cengkeram urat nadi pada pergelangan tangan Giam-lo Pian.

Waktu itu Giam-lo Pian sedang merasa sangat bangga dan gembira, tangan kirinya menggenggam panji perusahaan yang berhasil direbutnya sementara tangan kanannya menggenggam senjata pecut.

Mimpi pun dia tak menyangka dalam situasi seperti ini dari atas udara akan muncul serangan maut dari seorang jagoan sakti.

Belum lagi dia melihat jelas wajah musuhnya, tahu-tahu urat nadi pada pergelangan tangannya telah dicengkeram kuat-kuat, dalam kagetnya cepat-cepat tangan kirinya berputar kencang lalu dengan tombak pendek di ujung panji tersebut ia rusuk dada musuhnya.

Sayang sekali separuh badan sebelah kanannya terasa kesemutan lalu jadi kaku, gerak tangan lorinya sudah tidak selincah sebelumnya, baru saja ujung tombak panji menusuk keluar, pergelangan tangan kirinya ikut tercengkeram kuatkuat bahkan secara tiba-tiba badannya terangkat ke tengah udara Akhirnya Siau Lui berhasil mendapatkan kesempatan emas yang dinanti-nantikan.

Begitu berhasil menguasai Giamlo Pian, ia segera menghardik keras.

"Coba kalian lihat, apa yang berada di tanganku ini?"

Tio Lo-sianseng berpaling, begitu tahu apa yang terjadi, paras mukanya segera berubah hebat.

Ia bersalto beberapa kali di udara dan mundur sejauh dua kaki dari medan pertarungan.

Serangan golok, pedang dan kampak hampir serentak berhenti gerakannya.

Masing-masing mundur sejauh dua kaki sementara paras muka mereka bertiga pun menampilkan rasa kaget, heran dan tercengang yang tak terhingga Siapapun tidak menyangka seorang pemuda rudin yang sama sekali tak menyolok mata ternyata memiliki kepandaian silat yang begitu hebat.

"Lepaskan dia!"

Bentak Tio Losianseng dengan wajah serius.

"Kami akan melepaskan juga dirimu!"

"Hmm, jika aku ingin pergi dari sini, aku sudah pergi sejak tadi!"

Sahut Siau Lui hambar.

"Mau dilepas tidak?"

"Bila kau jadi aku, harus kulepas tidak?"

Baca Juga: Legenda Pendekar Ulat Sutera 6

Baca Juga: Anak Naga 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert