Ceritasilat Novel Online

Dendam Iblis Seribu Wajah 12

Eps 12 Dendam Iblis Seribu Wajah - Khu Lung

Baca online Dendam Iblis Seribu Wajah - Khu Lung

Cersil Dendam Iblis Seribu Wajah - Khu Lung.

Hati Tan Ki sudah bertekad, apabila memang tidak ada harapan untuk memenangkan pertarungan ini, paling tidak dia harus mati sebagai seorang pendekar sejati dan meninggalkan nama yang harum bagi negaranya sendiri.

Justru ketika Tan Ki ingin maju menghadapi lawan dicegah oleh Yibun Siu San, tampak Ciong San Suang Siu dan Mei Ling menghambur ke depan.

Mei Ling segera mengangkat tubuh ayahnya untuk memberikan pertolongan, sedang kedua orang Ciong San Silang Siu langsung menerjang ke arah Hua Pek Cing.

Baik telapak tangan maupun kipas yang digunakan sebagai senjata oleh Yi Siu bergerak dalam waktu yang bersamaan.

Hua Pek Cing langsung memperdengarkan suara tertawa yang dingin.

"Apakah kalian ingin menggunakan cara bergiliran agar tenaga lawanmu terkuras habis?"

Sembari berkata, tubuhnya bergeser ke samping.

Dengan gesit dia menghindarkan diri dari pukulan Cu Mei.

Pergelangan tangan kanannya dalam waktu yang bersamaan menjulur keluar, langsung terlihat bayangan jari tangan yang tidak terhitung jumlahnya.

Yi Siu menjadi terdesak sedemikian rupa sehingga terpaksa menarik kembali serangan kipasnya, kemudian mencelat mundur sejauh tiga langkah.

Kali ini tampaknya Hua Pek Cing tidak sungkan lagi, tubuhnya bergerak ke depan, tangan kanannya diangkat ke atas sedikit dan dilancarkannya sebuah totokan ke arah teng-gorokan Yi Siu.

Si pendek gemuk Cu Mei melihat keadaan mulai tidak beres, cepat-cepat dia mengeluarkan suara bentakan keras lalu menerjang ke punggung Hua Pek Cing.

Lengan kirinya berputar dan telapak tangan kanannya menghantam.

Ternyata dalam satu jurus, dia melancarkan dua buah serangan yang berbeda.

Namun Hua Pek Cing seperti tidak menyadari datangnya bahaya.

Serangan yang ditujukan kepada Yi Siu masih tetap meluncur.

Ketika rangkuman angin yang terpancar dari pukulan Cu Mei mulai terasa, lengan kirinya tiba-tiba ditarik kembali tanpa memalingkan kepalanya sedikitpun atau melirik sekilaspun, seakan di punggungnya tumbuh sepasang mata saja.

Dia dapat mengetahui jarak Cu Mei dengan tepat.

Kedua jari telunjuk dari jari tengahnya langsung dijulurkan ke depan.

Dalam waktu yang bersamaan, dia menundukkan kepalanya sedikit sehingga pukulan yang dilancarkan Cu Mei lewat di atas kepalanya.

Tetapi Cu Mei sendiri justru terdesak sedemikian rupa sehingga terpaksa mencelat mundur ke belakang.

Perubahan jurus yang dilancarkan sudah termasuk cepat, tetapi ternyata gerakan Hua Pek Cing terlebih cepat lagi.

Tangannya baru terlihat diangkat ke atas, ternyata urat darah Yi Siu telah tertotok, dan hampir dalam waktu yang bersamaan, kakinya menindak mundur setengah langkah kemudian berputar satu kali.

Tubuh Cu Mei baru berdiri dengan mantap, tahu-tahu dia melihat Hua Pek Cing sudah mendesak ke arahnya.

Telapak kanan anak muda itu langsung menepuk jalan darah yang terdapat di pundak Cu Mei.

Tangan kirinya membentuk cakar serta mencengkeram ke bawah pusar orang gemuk pendek itu.

Cu Mei langsung terdesak hebat oleh dua buah serangan yang dilancarkannya sekaligus.

Hatinya tercekat bukan kepalang, cepat-cepat dia mencelat mundur.

Tetapi gerakan tangan kanan Hua Pek Cing yang lambat tiba-tiba berubah menjadi cepat.

Dalam sekejap mata sudah mengejar di belakangnya.

Kejadiannya berlangsung secepat kilat, baru saja Cu Mei bermaksud mengundurkan diri tetapi tidak keburu lagi.

Tahu-tahu dia merasa pundaknya seperti kesemutan dan tenaganya lenyap seketika.

Kontan tubuhnya terjengkang ke belakang kemudian rubuh di atas tanah.

Dalam beberapa gebrakan saja ternyata Hua Pek Cing sanggup mengalahkan dua orang pendekar pedang tingkat delapan.

Semua orang yang hadir di tempat itu merasa terkejut setengah mati.

Bahkan kedua orang Bun Bu-siang dan ketiga orang tongcu dari Lam Hay Bun sendiri sampai memandangnya dengan terpana.

Perasaan merendahkan dan tidak senang yang tadinya masih tersisip di sudut hati sekarang sirna seketika.

Mereka malah merasa malu, kagum dan aneh bukan kepalang.

Pada saat itu, orang yang paling merasa serba salah sudah tentu Tan Ki.

Maju salah, tidak maju salah.

Dari awal hingga akhir hatinya terus dilanda kebimbangan.

Melihat Hua Pek Cing yang setelah mengalahkan Ciong San Suang Siu masih berdiri dengan mengulumkan seulas senyuman, perasaannya semakin gundah.

Pihak lawannya masih begitu muda, ilmunya sudah mencapai taraf yang demikian tinggi.

Setelah bertarung dua kali, orangnya masih keren dan berwibawa.

Tidak tampak wajahnya menyiratkan perasaan lelah.

Bahkan saat itu Hua Pek Cing sedang menatapnya sembari tersenyum simpul.

Hal ini membuat hawa amarah dalam dada .Tan Ki jadi meluap.

Dia menolehkan kepalanya menatap Yibun Siu San sambil berkata dengan suara lirih.

"Keponakan tidak sanggup menahan kesabaran lagi. Harap Siok-siok mewakili aku mengatur anggota yang lainnya."

Sembari berkata, dia langsung melangkahkan kakinya lebar-lebar dan dengan membusungkan dada berjalan keluar.

Sebetulnya dia khawatir Yibun Siu San akan mencegahnya lagi, oleh karena itu tanpa menunggu jawaban dari pamannya itu, dia langsung berjalan ke depan.

Terdengar suara tarikan nafas panjang dari belakang punggungnya.

Sudah tentu Yibun Siu San sedang menyesalkan dirinya sendiri yang tidak keburu mencegah tindakan Tan Ki.

Hati Tan Ki jadi tertekan, sekonyong-konyong dia merasakan kegagahannya surut secara tidak terduga.

Oleh karena itu, dia segera mendongakkan wajahnya dan menarik nafas dalam-dalam agar hatinya dapat tenang kembali.

Biar bagaimana dia merupakan seorang Bulim Bengcu.

Pertarungan yang akan dihadapinya ini, meskipun merupakan persoalan harga dirinya seorang, tetapi sebetulnya menyangkut kesejahteraan dunia Bulim yang sudah berlangsung selama ribuan tahun.

Tampak wajah Tan Ki serius dan berwibawa.

Perlahan-lahan dia melangkah ke depan.

Otomatis pandangan mata orang-orang dari kedua belah pihak segera terpusat pada dirinya.

Suasana semakin tegang dan mencekam.

Hua Pek Cing langsung tertawa lepas.

"Kalau saudara lebih cepat sedikit turun ke tengah arena, tentu mengurangi jumlah anggotamu yang terluka. Cayhe sudah lama sekali mendengar kehebatan ilmu silat dari daerah Tionggoan. Justru ingin sekali melihat dengan mata kepala sendiri seorang tokoh yang benar-benar sakti!"

Tan Ki tidak menyahut sepatah katapun.

Terhadap ucapan yang congkak itu, dia seperti tidak mendengarnya sama sekali.

Ketika jarak keduanya kurang lebih tinggal tujuh langkah, tiba-tiba dia menghentikan langkah kakinya.

Sepasang matanya menyorotkan sinar yang berkilauan dan menatap Hua Pek Cing lekat-lekat.

Melihat sikapnya yang keren dan penuh wibawa, tanpa dapat ditahan lagi hati Hua Pek Cing dilanda perasaan tegang.

Kurang lebih sepeminuman teh mereka saling menatap tanpa mengucapkan sepatah ka-tapun.

Hal ini malah membuat suasana yang hening semakin mencekam.

Rasanya udara begitu pengap sehingga nafas orang-orang yang berkumpul di tempat itu menjadi sesak.

Bahkan keringat dingin telah membasahi kening mereka.

Setelah menunggu beberapa saat, tampak kesabaran Hua Pek Cing mulai habis.

Kaki kirinya maju ke depan satu langkah.

Perlahan-lahan dia mengangkat sepasang lengannya, dia menggenggam gagang sepasang pedangnya yang disampirkan di belakang punggung.

Tetapi dia masih belum menghunusnya, matanya menatap Tan Ki sembari mengembangkan seulas senyuman.

"Tampang saudara kurang segar, apakah semalam tidak dapat tidur dengan nyenyak?"

Untuk sesaat Tan Ki sempat tertegun. Tetapi tangan kanannya tetap menggenggam pedang Penghancur Pelangi, tubuhnya tidak bergerak sedikitpun. Kembali terdengar suara Hua Pek Cing berkata.

"Pada saat ayahmu menemukan kematiannya secara mengenaskan malam itu, mungkin kau sudah tahu gerak-gerik ibumu, rasanya tidak perlu Cayhe menceritakannya lagi secara panjang lebar. Tetapi sebetulnya ada orang yang pernah melihat ibumu bersandar dalam pelukan seorang laki-laki..."

Mendengar kata-katanya, tanpa dapat ditahan lagi sepasang alis Tan Ki menjungkit ke atas.

Baru saja dia ingin membantah kata-kata Hua Pek Cing, tiba-tiba suatu ingatan melintas di benaknya.

Dia teringat tulisan yang pernah dibacanya dalam sebuah kitab ilmu silat.

Apabila berhadapan dengan seorang musuh tangguh, biar lawanmu mengatakan hal yang bagaimana menyakitkan hati, kau sama sekali tidak boleh menyahutnya.

Kalau tidak, begitu emosi dalam dadamu terbangkit, pasti lawanmu akan mempergunakan kesempatan baik tersebut untuk melakukan penyerangan yang tidak terduga-duga!

Pikirannya tergerak, Tan Ki langsung mendengus dingin.

Sepasang kakinya bagai terpantek di atas tanah, sikapnya tetap menunggu dengan tenang dan perhatian serta kewaspadaannya dibangkitkan.

Secara berturut-turut Hua Pek Cing mengeluarkan ucapan yang menyakitkan hati.

Tetapi sejak awal hingga akhir, Tan Ki tidak menyahut sepatah katapun.

Bahkan dia tidak menunjukkan reaksi apa-apa.

Melihat Tan Ki tidak terpengaruh oleh kata-katanya, hati Hua Pek Cing malah berbalik jadi tidak tenteram.

Keringatnya mengucur deras bagai curahan hujan.

Rupanya sikap Tan Ki yang berdiri tegak dengan menggenggam pedangnya erat-erat, merupakan pembukaan jurus dari Kiam-sut tingkat tertinggi.

Hal ini membuat orang yang melihatnya merasa sikapnya itu demikian angker dan tidak mudah ditaklukkan.

Dalam suasana yang tegang dan mencekam, kedua orang itu masih saling menunggu beberapa saat.

Tetapi waktu yang tidak seberapa lama ini justru bagai berabad-abad bagi keduanya.

Serasa menit demi menit panjang sekali berlalunya.

Dalam keheningan, tiba-tiba Hua Pek Cing mengeluarkan suara bentakan keras, sepasang pedangnya dihunus, tampak cahaya melesat bagai pelangi, serentak dikirimkannya serangan ke depan.

Justru ketika dia mulai bergerak dari lambat berubah menjadi cepat, lengan kanan Tan Ki tiba-tiba bergerak.

Langsung terlihat kilatan cahaya berkilauan yang melesat keluar dengan kecepatan tidak terkirakan, namun orangnya sendiri hampir dalam waktu yang bersamaan, mencelat mundur ke belakang kurang lebih setengah kaki.

Serangan yang dilancarkan Tan Ki ini mengandung kecepatan yang sulit diuraikan dengan kata-kata, begitu melancarkan serangan orangnya langsung mencelat ke belakang.

Dia berdiri tegak kembali dengan tangan menggenggam pedang Penghancur Pelanginya erat-erat.

Orang lain sama sekali tidak sempat melihat jurus apa yang digunakannya barusan.

Kedua orang itu baru bergebrak satu jurus tiba-tiba memencar kembali, tetapi orangorang yang hadir di tempat itu sudah dapat melihat bahwa mereka sama-sama mengerahkan ilmu pedang tingkat tertinggi.

Dan mereka saling melancarkan sebuah serangan kepada lawannya masing-masing.

Begitu pandangan mata dialihkan, tampak pedang di tangan kiri Hua Pek Cing merentang di depan dada, sedangkan pedang di tangan kanannya terangkat di atas kepala.

Nafasnya mulai tersengal-sengal, namun di kening sebelah kirinya justru terlihat luka sepanjang jari tengah orang dewasa.

Baik keringat dan darah mengucur deras dalam waktu yang bersamaan.

Melihat keadaan yang berlangsung, terdengar Tian Bu Cu menarik nafas panjang.

"Pedang terhunus, darah mengalir. Ini benar-benar yang disebut ilmu pedang tingkat tertinggi. Hari ini pandangan mata pinto mendapat pengalaman baru lagi!"

Si pengemis sakti Cian Cong mengejap-ngejapkan matanya. Mulutnya merekah tertawa lebar.

"Untung barusan Tan Ki yang maju ke depan, kalau digantikan dengan si pengemis tua, rasanya belum sanggup menghadapi ilmu pedang Hua Pek Cing yang sudah mencapai taraf demikian tinggi. Apabila sampai turun tangan juga, sudah pasti pihak pengemis tualah yang mengalami kekalahan. Tampaknya ilmu pedang benar-benar tidak ada batasnya. Kedua bocah ini baru berusia dua puluhan, tetapi ilmu pedang mereka justru sudah jauh lebih tinggi dari si pengemis tua."

Sembari berkata, kembali dia menggelengkan kepalanya sambil menarik nafas panjang.

Namun wajahnya justru berseri-seri.

Tokoh sakti yang sifatnya angin-anginan ini sangat memperhatikan diri Tan Ki dan menyayanginya bagai putra kandung sendiri.

Begitu pandangan matanya beralih lagi ke tengah arena, dia melihat kedua orang itu sudah bertarung kembali dengan sengit.

Tampak secarik cahaya berwarna putih yang berkilau-kilauan serta guratan sinar seperti pelangi yang berwarna kehijauan saling berkelebat memenuhi angkasa.

Demikian terangnya cahaya yang terpancar dari ketiga batang pedang tersebut, sehingga tubuh keduanya bagai terbungkus rapat-rapat.

Hawa pedang menyelimuti sekitar mereka.

Tetapi tidak terdengar suara benturan senjata mereka sedikitpun.

Kurang lebih satu kentungan kemudian, tampak cahaya berwarna hijau semakin lama semakin melebar.

Tiba-tiba terdengar suara benturan logam yang nyaring dan membuat gendang telinga serasa ngilu.

Kemudian disusul dengan tubuh Hua Pek Cing yang rubuh di atas tanah.

Tubuh Tan Ki sendiri terhuyung-huyung.

Secara berturut-turut, kakinya tergetar mundur sejauh lima langkah.

Darah segar tampak mengalir dari bahu kirinya, jatuh menetes membasahi tanah.

Bun Bu-siang Cia Tian Lun dan Tong Ku Lu segera menghambur keluar dari barisan mereka.

Dipondongnya tubuh Tocu muda mereka.

Di lain pihak Cian Cong dan Yibun Siu San juga berlari ke depan kemudian memapah tubuh Tan Ki.

Tangan kanan Yibun Siu San langsung terjulur ke depan mengirimkan sebuah totokan ke pundak Tan Ki agar darah yang mengalir dapat dihentikan.

Kemudian dia mengeluarkan obat luka dari balik pakaiannya dan diborehkannya ke luka Tan Ki.

Terdengar dia berkata dengan suara lirih.

"Apakah kau masih sanggup bertahan beberapa saat?"

Tan Ki mengembangkan seulas senyuman yang sendu.

"Kalau aku tidak mempertahankan diri supaya jangan sampai terjatuh, bukan hanya pamorku yang jatuh, tetapi akan mempengaruhi nama baik dunia Bulim kita. Pokoknya, biarpun harus kehabisan darah, aku harus mempertahankan diri dan memenangkan babak final ini!"

Yibun Siu San mengulurkan tangannya menggenggam siku Tan Ki erat-erat. Tampak dia tertawa getir.

"Bagus sekali bila kau dapat memahami maksud hati pamanmu ini."

Nada suara yang tercetus dari bibirnya terdengar mengandung perhatian dan kasih sayang yang dalam.

Sementara itu, terdengar suara tertawa dingin dari mulut Tong Ku Lu.

Dia berjalan keluar dengan langkah lebar.

"Ilmu pedang saudara sungguh hebat sekali. Tenaga dalampun demikian tinggi sehingga isi perut tocu muda kami sampai tergetar hancur. Biarpun orang she Tong ini tidak becus, tetapi ingin sekali meminta pelajaran beberapa jurus dari saudara ini!"

"Apakah dia sudah mati?"

Tanya Tan Ki terkejut. Tong Ku Lu mendengus satu kali.

"Kata-kata yang saudara ucapkan ini, tampaknya seperti sudah tahu tapi masih bertanya juga. Apakah kau kira kami ini orang-orang bodoh yang tidak tahu apa maksudmu? Tocu muda kami terkena serangan pedang saudara, meskipun dari luar tidak terlihat luka yang berarti, tetapi sebetulnya hanya tinggal sedikit nafasnya, rasanya tidak jauh lagi dari ambang kematian...!"

Tiba tiba saja ucapannya dihentikan.

Dia merasa apabila ucapannya diteruskan, toh hanya mencoreng muka pihak Lam Hay Bun sendiri.

Setelah berhenti sejenak, maka dia tidak meneruskan lagi kata-katanya tadi.

Malah dia mengeluarkan suara batuk-batuk kecil, sepasang pergelangan tangannya berputar.

Terdengar suara dentingan logam, cahaya berkilauan langsung menusuk pandangan mata.

Tangannya sudah menggenggam sepasang gelang baja.

Terdengar dia berkata kembali.

"Orang she Tong mohon petunjuk!"

Tiba-tiba Yibun Siu San maju ke depan dan menukas.

"Jangan khawatir, biar cayhe saja yang menemani!"

Pergelangan tangannya bergerak dan tahu-tahu pedang panjangnya telah terhunus.

Dengan cepat dia menyongsong ke depan.

Sepasang lengan Tong Ku Lu telah mengerahkan tenaga dalam, dengan sebuah jurus yang keji dia melancarkan serangan.

Terdengar suara benturan logam yang memekakkan telinga.

Timbul percikan api yang memenuhi angkasa.

Dalam waktu yang bersamaan kedua orang itu mencelat mundur dua langkah.

Bergebrak satu jurus saja, mereka sama-sama menyadari bahwa telah menemukan lawan yang seimbang.

Wajah mereka tampak kelam.

Keduanya berdiri tegak dan bersiapsiap melancarkan serangan berikutnya.

Dengan mata saling mendelik, mereka berdiam diri beberapa saat.

Sampai sekian lama masih belum tampak salah seorang akan melakukan serangan.

Suasana di sekitar tempat itu bagai diliputi ketegangan yang tidak terkirakan.

Setiap menit yang berlalu bagai mengandung marabahaya yang tidak terkirakan...

Setelah menunggu lagi beberapa saat, tampaknya Yibun Siu San mulai merasa tidak sabar.

Tiba-tiba dia mengeluarkan suara siulan yang panjang dan tubuhnya mencelat ke udara.

Orang berikut pedangnya membentuk cahaya putih yang melingkar, dengan sengit dilancarkannya serangan dari atas ke bawah.

Melihat serangan yang dilancarkan Yibun Siu San begitu hebat, Tong Ku Lu semakin waspada, dia tidak berani memandang ringan lawannya.

Sepasang gelang bajanya dibagikan ke tangan kiri dan kanan.

Yang satu menangkis datangnya serangan dan yang satu lagi langsung diluncurkan ke bagian yang penting di tubuh Yibun Siu San.

Dalam waktu yang bersamaan, sepasang gelang bajanya melakukan dua gerakan yang berbeda.

Gebrakan kedua orang itu kali ini saima-saraa menggunakan kecepatan yang tidak terkirakan dan jurus-jurus maut.

Masing-masing mencari peluang untuk mendahului lawannya.

Tampak cahaya pedang membentuk lingkaran dan menyilaukan mata.

Semakin lama pertarungan antara keduanya berlangsung semakin cepat.

Setelah belasan jurus, sulit lagi membedakan sosok tubuh keduanya.

Sejak Yibun Siu San dan Tong Ku Lu mulai bergebrak, sebelah tangan kanan Cia Tian Lun terus menempel di punggung Hua Pek Cing.

Dia bahkan tidak melirik sekalipun ke arena pertarungan di mana rekannya sedang bertempur dengan sengit.

Tampaknya menang atau kalahnya babak pertarungan tersebut, sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya sendiri.

Diam-diam si pengemis sakti memperhatikan keadaan kedua belah pihak.

Dia menimbang-nimbang kekuatan yang masih ada.

Di antara ketiga orang tongcu dari pihak Lam Hay Bun, sudah ada satu yang terluka.

Sudah tentu Ho Tiang Cun tidak dapat bertempur lagi untuk sementara ini.

Sisa yang duanya lagi tidak terlalu mengkhawatirkan.

Sedangkan salah satu dari Bun Bu-siang saat ini sedang bertarung melawan Yibun Siu San, sisanya yakni Cia Tian Lun sedang mengerahkan hawa murninya untuk mempertahankan selembar nyawa tocu mudanya.

Tentu dia tidak dapat memencarkan dirinya untuk sementara waktu.

Dari pihak lawan, tampaknya hanya sisa Kaucu Pek Kut Kau yang agak telengas dan perlu dipertimbangkan.

Apabila orang yang satu ini dapat dikuasai, mungkin pihak mereka dapat meraih kemenangan...

Pikirannya bagai kincir angin yang terus berputar.

Kemudian tampak dia membisikkan beberapa patah kata di samping telinga Ceng Lam Hong, setelah itu dia mendongakkan kepalanya tertawa terbahak-bahak.

Dengan langkah lebar dia maju ke depan dan menjura kepada Kaucu Pek Kut Kau.

"Setan keling, bagaimana kalau kita juga bermain-main beberapa jurus?"

Sembari berbicara, tangannya sudah mengeluarkan pedang bambu yang terselip di pinggangnya.

Kaucu Pek Kut Kau mendengus dua kali.

Tiba-tiba tubuhnya bergerak keluar perlahanlahan.

Wajahnya yang seram sungguh tidak enak dipandang.

Dia malah tidak mengucapkan sepatah katapun.

Matanya yang memancarkan sinar dingin menatap Cian Cong tanpa berkedip sekalipun.

Sepasang mata Cian Cong menyorotkan sinar tajam melihat sikapnya yang sedemikian rupa, dia tahu lawannya secara diam-diam telab.

mengerahkan tenaga dalam sepenuhnya dan siap melancarkan serangan.

Tetapi dia tidak menunjukkan perasaan apa-apa, mulutnya malah tertawa lebar.

"Aku ingat ketika di Pek Hun Ceng tempo hari, si pengemis tua bertarung secara konyol dengan dirimu sampai kedua-duanya terluka. Saat itu masih belum sempat menentukan siapa yang lebih unggul diantara kita. Kesempatan ini sulit ditemui, oleh karena itu jangan sampai terlewatkan. Si pengemis tua ingin meminta petunjuk dari ilmu sakti keluarga daerah Si Yu kalian!"

Sepasang mata Kaucu Pek Kut Kau terus mengejap-ngejap.

Tiba-tiba dia mengeluarkan suara tawa yang aneh dan mengilukan gendang telinga.

Suaranya itu lebih mirip ratapan setan gentayangan di tengah malam.

Tanpa terasa hati Cian Cong jadi tergetar.

Perhatiannya jadi terpencar.

Justru ketika dia masih termangu-mangu, tiba-tiba Kaucu Pek Kut Kau menggunakan kesempatan itu untuk melakukan penyerangan.

Lengan kanannya diangkat ke atas, langsung terasa datangnya serangkum angin yang kencang sekali.

Dengan gencar serangannya meluncur ke depan.

Cian Cong mengulurkan tangannya menyambut, dalam waktu yang bersamaan, pedang bambu di tangan kanannya menjulur ke depan.

Dengan jurus Kura-Kura Mencari Mutiara, dia langsung melancarkan tikaman ke bagian dada Kaucu Pek Kut Kau.

Terdengar mulut Kaucu Pek Kut Kau mengeluarkan suara tertawa terkekeh-kekeh sebanyak dua kali.

Tubuhnya memutar setengah lingkaran.

Dielakkannya serangan Cian Cong yang ditujukan ke bagian dada.

Sekaligus tangan kanannya bergulung-gulung ke depan, kadang-kadang menotok, kadang-kadang pula dia menepuk.

Secara berturut-turut dia mengerahkan delapan sembilan jurus.

Cian Cong mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk menahan serangan yang gencar itu.

Hampir dalam waktu yang bersamaan dia melancarkan tiga jurus sebagai balasan.

Meskipun Kaucu Pek Kut Kau mempunyai ilmu yang tinggi, tetapi pedang bambu di tangan Cian Cong justru dilancarkan dengan tenaga lwekang murni.

Setiap kali pedang Cian Cong melancarkan sebuah serangan, ketajamannya tidak kalah dengan sebatang pedang pusaka.

Dalam sekejap mata, keduanya sudah mengerahkan segenap kepandaian masing-masing.

Serangan yang dilancarkan semakin lama semakin cepat.

Tenaga dalam yang terpancar semakin lama semakin dahsyat.

Angin yang kencang segera menerpa sampai sekitar sepuluh depaan.

Tan Ki memperhatikan dengan seksama keempat orang itu terbagi menjadi dua kelompok dan bertarung dengan sengit.

Dalam waktu yang singkat tampaknya sulit menentukan siapa yang lebih unggul.

Diam-diam sepasang alisnya mengerut, sembari diam-diam dia memperhatikan kekuatan kedua belah pihak.

Pikirannya bekerja memikirkan cara memenangkan pertarungan ini.

Justru ketika dia masih termenung-menung, tiba-tiba dari sebelah timur terdengar langkah kaki mendatangi.

Perasaan Tan Ki sangat peka.

Cepat-cepat dia menghentikan lamunannya dan mengalihkan pandangan matanya.

Tiba-tiba seluruh tubuhnya bergetar, darah panas dalam dadanya seperti bergejolak.

Hampir saja dia tidak dapat menahan emosi di hatinya.

Perasaannya ingin langsung menerjang ke depan.

Tetapi akhirnya dia menarik nafas panjang-panjang dan berdiri dengan tenang.

Tampak Oey Kang berlari menghampiri tempat itu dengan memondong seorang gadis berpakaian merah.

Di belakangnya mengikuti serombongan laki-laki kekar berpakaian hitam.

Jumlahnya mungkin mencapai tiga puluhan orang.

Kalau ditilik dari langkah kaki mereka yang ringan dan lincah, tampaknya orang-orang berpakaian hitam itu memiliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi.

Kalau dilihat dari arah datangnya, mungkin orang-orang itu baru saja keluar dari ruang pertemuan dan saat ini menghambur ke sini untuk bergabung dengan pihak Lam Hay dan Si Yu.

Menghadapi musuh besar pembunuh ayahnya, hati Tan Ki diliputi kegusaran yang tidak terkatakan.

Emosi dalam dadanya bergejolak.

Tetapi dia merupakan seorang Bulim Bengcu saat ini, biar bagaimana dia harus menjaga sikapnya dan menghadapi persoalan dengan kepala dingin.

Terpaksa cuma matanya saja yang mendelik memperhatikan Oey Kang yang melewati dua kelompok yang sedang bertarung dengan sengit kemudian berhenti di hadapan Cian Tian Lun.

Untuk sementara dia tidak dapat membalaskan kematian ayahnya dan menyelesaikan dendam di antara mereka berdua.

Pada saat ini, tiba-tiba dia menyadari, meskipun kedudukan Bulim Bengcu sangat tinggi dan setiap orang bermimpi untuk mendapatkannya, tetapi begitu berhasil diraihnya, dirinya bagai dirantai oleh gembok yang besar dan gerak-geriknya jadi tidak bebas.

Hal apapun yang akan dilakukannya harus dipertimbangkan matang-matang...

Berpikir sampai di sini, tiba-tiba dia merindukan kembali kehidupannya di alam bebas.

Untuk sesaat pikirannya jadi melayang-layang.

Diam-diam dia berjanji dalam hatinya apabila dendam kematian ayahnya telah terbalaskan, dia ingin mencari tempat yang terpencil dan tenang serta hidup mengasingkan diri sampai menjelang akhir hayatnya.

Orang-orang yang berkumpul di tempat tersebut saat ini sedang memperhatikan gerakgerik Oey Kang, untuk sesaat mereka tidak melihat perubahan di wajah Tan Ki.

Gerakan tubuh Oey Kang bagai awan yang berarak menghambur ke tempat di mana Hua Pek Cing berada.

BAGIAN LIII Hua Pek Cing terkena serangan hawa pedang yang dilancarkan oleh Tan Ki.

Hawa murni dalam tubuhnya membuyar seketika, isi perutnya tergetar.

Meskipun lukanya sangat parah, tetapi setelah mendapat bantuan tenaga dari Cia Tian Lun, orangnya perlahanlahan siuman dari pingsan.

Ketika dia membuka sepasang matanya, dia melihat Oey Kang berdiri di hadapannya dengan memondong seorang gadis berpakaian merah.

Dia segera mengembangkan seulas senyuman yang tipis.

"Bibikah yang kau pondong itu?"

Nada suaranya begitu dingin seakan tidak perduli siapa-pun yang digendong oleh Oey Kang saat itu. Oey Kang mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Dia sudah mati."

Sahutnya perlahan. Hua Pek Cing tidak memberi komentar, matanya malah dialihkan ke arena pertempuran. Tiba-tiba sikapnya menjadi sendu. Dia menarik nafas panjang sembari berkata.

"Dengan kekuatan yang besar dan nama yang menjulang tinggi menyerbu ke daerah Tiong-goan, aku selalu beranggapan bahwa rencana ini akan berhasil dengan gemilang dan wilayah Tionggoan dapat kita kuasai dengan mudah. Tetapi kalau ditilik dari keadaan sekarang ini, tampaknya kekuatan tokoh-tokoh Tionggoan benar-benar tidak dapat dipandang ringan. Seandainya kita ingin mencapai keuntungan, mungkin kita terpaksa harus menggunakan cara yang licik."

Oey Kang tersenyum simpul mendengar kata-katanya.

"Tiga puluh enam Jendral Langit lohu masih belum terjun ke lapangan, bagaimana kau bisa mengatakan sulit menguasai daerah Tionggoan?"

Hua Pek Cing tertawa sumbang.

"Kalau kau tidak mempunyai kesanggupan, terpaksa aku meminta suhu turun tangan sendiri. Kita persiapkan diri kembali untuk melakukan penyerbuan berikutnya."

Luka yang dideritanya sangat parah.

Setelah mengucapkan beberapa kalimat, seluruh anggota tubuhnya terasa lemas, aliran darah dalam tubuhnya bagai tersumbat.

Cepat-cepat dia mempertahankan tubuhnya yang terhuyung-huyung kemudian bersandar pada pundak Cia Tian Lun.

Dengan demikian perasaannya menjadi lebih nyaman.

Diam-diam Oey Kang memaki dalam hatinya.

"Mulut bocah ini sungguh sesumbar, dikiranya siapa Oey Kang itu? Memangnya aku mendapatkan julukan si raja iblis dengan begitu saja?"

Tampak dia membalikkan tubuhnya dan meletakkan mayat Kiau Hun di atas tanah, setelah itu dia berjalan sejauh delapan langkah.

Sepasang matanya menyorotkan sinar yang tajam.

Sekonyong-konyong dia menggapai tangannya di atas kepala sebanyak dua kali.

Tiga puluhan laki-laki kekar segera berpencaran keluar, mereka berdiri berbaris di sudut.

Entah sejak kapan, tahu-tahu tangan masing-masing orang itu sudah menggenggam sebuah tabung emas yang ukurannya kira-kira tiga mistar.

Pandangan mata orang-orang"itu kosong melompong, mereka berdiri dengan kaku dan tidak pernah mengucapkan sepatah katapun.

Diam-diam Tan Ki menghitung jumlah laki-laki kekar berpakaian hitam tersebut.

Tidak lebih tidak kurang, jumlah semuanya ada tiga puluh enam orang.

Tampak posisi berdiri mereka seakan tidak menentu dan tidak kentara perbedaan tinggi rendahnya kedudukan.

Tetapi gerak-gerik mereka begitu gesit dan tampaknya sudah mendapat latihan yang matang.

Di dalam perkampungan Pek Hun Ceng, Tan Ki sudah pernah bertemu dengan barisan ini.

Diam-diam hatinya tergerak.

"Ini merupakan barisan Jendral Langit yang dibina Oey Kang dengan segenap kemampuannya. Tampaknya tabung yang digenggam dalam telapak tangan mereka merupakan Ban Hua-tong (Tabung selaksa bunga) yang dikatakan oleh cici Liang..."

Pikirannya tergerak, sepasang matanya-pun menyorotkan cahaya yang berkilauan.

Matanya menatap lekat-lekat pada diri Oey Kang dan kewaspadaannya pun segera ditingkatkan.

Oey Kang mengeluarkan suara tawa terbahak-bahak.

Mendadak dia berteriak.

"Liang Fu Yong, cepat kau ke mari!"

Melihat si raja iblis itu tiba-tiba mengeluarkan suara teriakan, ingatannya, langsung melayang ke peristiwa menyakitkan yang dialami oleh cici Liangnya.

Wajahnya langsung berubah hebat.

Dia menolehkan kepalanya dan membentak.

"Cici Liang, tidak usah digubris ocehannya!"

Kakinya menghentak di atas tanah, tubuhnya pun melesat di udara.

Ketika dia mendarat kembali, jaraknya dengan Oey Kang tinggal empat lima tindak saja.

Gerakannya begitu pesat seperti lintasan cahaya kilat.

Tampaknya Ceng Lam Hong dan Mei Ling tidak menyangka kalau mendadak Tan Ki akan menghambur ke depan.

Untuk sesaat kedua-duanya jadi termangu-mangu.

Mereka tidak sempat lagi berteriak mencegahnya.

Liang Fu Yong terus berdekatan dengan suhunya.

Hatinya tetap saja merasa khawatir.

Tanpa dapat ditahan lagi dia bertanya kepada Tian Bu Cu.

"Suhu, coba kau lihat, apakah Tan Ki sanggup melawan si raja iblis Oey Kang?"

Sepasang mata Tian Bu Cu memperhatikan sikap Tan Ki.

"Apabila Oey Kang bertarung dengannya dengan menggunakan ilmu yang sejati, walaupun Tan Ki belum tentu menang, tetapi lebih dari cukup untuk menjaga dirinya sendiri. Tetapi lawannya ini justru seorang manusia yang maha licik. Akal busuknya banyak sekali. Takutnya dia menggunakan racun dalam menghadapi Tan Ki..."

Terdengar desahan dari mulut Liang Fu Yong. Wajahnya menyiratkan perasaan panik yang tidak terkirakan. Saat itu kembali Oey Kang memperdengarkan suara tawanya yang terbahak-bahak.

"Kau berhasil merebut kedudukan Bulim Bengcu yang mulia, hatiku ikut merasa gembira. Apabila ayahmu yang ada di alam baka dapat mengetahui kejadian ini, tentu arwahnya juga terhibur dan merasa bangga sekali..."

Tan Ki tertawa dingin. Dia segera menukas ucapan Oey Kang yang belum selesai.

"Kalau aku bisa melepaskan kepalamu dari batang lehermu itu, tentu almarhum ayahku akan merasa lebih senang lagi...!"

Sepasang alis Oey Kang langsung menyiratkan hawa pembunuhan yang tebal.

Sejenak kemudian keadaannya sudah pulih lagi.

Mendengar ucapan Tan Ki yang setiap patah katanya mengandung kebencian yang tidak terkirakan, dia malah tertawa terbahak-bahak.

"Meskipun kita sudah pernah bergebrak, tetapi boleh dibilang belum sempat mengerahkan kepandaian yang sejati. Seharusnya kita bertarung sengit untuk menentukan siapa yang berhak hidup dan siapa yang harus terkapar di atas tanah. Saat ini begitu banyak tokoh-tokoh persilatan yang hadir di tempat ini, bagaimana kalau kita melanjutkan kembali pertarungan kita yang sempat tertunda tempo hari?"

Tan Ki mengeluarkan suara tertawa bebas. Tangannya bergerak menghunus pedang penghancur pelanginya. Kemudian dia berkata dengan gagah.

"Pertarungan kita hari ini, kalau bukan jiwaku yang melayang maka engkau yang harus mati di bawah serangan pedangku."

Sembari berkata, kakinya melangkah mundur setengah tindak.

Sikapnya begitu angker dan berwibawa.

Oey Kang melihat dia berdiri tegak dengan pedang direntangkan di depan dada.

Tanpa dapat ditahan lagi hatinya jadi tergerak.

Diam-diam dia berpikir.

"Sikap yang ditunjukkannya ini merupakan pembukaan gerak seorang tokoh pedang berilmu tinggi. Rasanya aku tidak boleh memandang ringan bocah ini..."

Baru saja pikirannya masih tergerak, tiba-tiba dia melihat cahaya seperti pelangi melintas di depan matanya, angin yang dingin menerpa wajah.

Tiba-tiba Tan Ki menjulurkan pedangnya melancarkan sebuah serangan.

Terasa ada segulung hawa pedang yang tajam melesat datang dengan gencar.

Kipas di tangan Oey Kang langsung direntangkan, tubuhnya bergerak cepat menerjang ke depan.

Baru setengah jurus dikerahkan, sekonyong-konyong dia menarik kipasnya kembali.

Rupanya mendadak dia ingat bahwa senjata di tangan lawannya menyinarkan cahaya yang berkilauan.

Hal ini membuktikan bahwa pedang anak muda tersebut merupakan sebatang pedang pusaka.

Dia takut kipasnya tidak sanggup beradu dengan pedang tersebut sehingga ada kemungkinan patah.

Oleh karena itu, baru mengerahkan setengah jurus, mendadak dia menarik kembali kipasnya.

Tenaga dalam Tan Ki bukan saja ajaib, ilmu pedangnyapun demikian aneh sehingga sulit ditahan.

Melihat kesempatan yang baik ini, mana mungkin dia melepaskannya begitu saja.

Dengan demikian dia membentak dengan suara lantang, serangannya langsung dilancarkan.

Sekaligus lima enam tikaman dikerahkannya sehingga Oey Kang terdesak mundur enam tujuh langkah.

Untuk sesaat dia tidak mendapat kesempatan membalas menyerang.

Kedua belah pihak yang berkumpul di tempat itu tidak ada satupun yang tidak memperhatikan ilmu pedang Tan Ki dengan seksama.

Mereka melihat bahwa setiap perubahan jurus yang dikerahkannya mengandung keajaiban yang tidak terkirakan.

Dilihat sepintas lalu mirip dengan ilmu pedang Go Bi Pai ataupun Kun Lun Pai.

Namun setelah dilihat dengan teliti, ternyata bukan dari aliran keduanya.

Ilmu pedang anak muda itu jauh lebih dahsyat dari ilmu pedang keluaran kedua partai tersebut.

Hal ini membuat mereka hanya dapat meraba-raba dan tidak bisa mendapatkan kepastian.

Diam-diam sebagian besar merasa kagum sekali.

Oey Kang menahan serangan Tan Ki yang gencar, sekonyong-konyong dia melancarkan serangan balasan.

Tampak bayangan telapak tangannya bergulung-gulung.

Kecepatannya bagai lintasan kilat.

Apabila dalam jangka waktu yang sama orang lain hanya dapat mengerahkan satu jurus serangan, maka dia sudah melancarkan beberapa jurus.

Serangan yang bukan main gencarnya ini berbalik membuat Tan Ki terdesak dan gerakan pedangnya jadi lambat.

Tiba-tiba jurus yang dikerahkan kipas Oey Kang berubah, dengan tidak terduga-duga dia melancarkan serangan.

Jurus yang dikerahkannya sungguh keji dan sanggup membunuh lawannya seketika.

Meskipun tangan Tan Ki menggenggam sebatang pedang pusaka, tetapi dia tidak sanggup merebut kembali peluang untuk melakukan penyerangan terlebih dahulu.

Lagipula jarak mereka sedemikian dekatnya sehingga dirinya terasa kalang kabut dan banyak jurusnya yang aneh-aneh tidak sempat dimainkan.

Dengan susah payah dia menggerakkan pedangnya dengan sekuat tenaga, dengan demikian bagian dadanya jadi terlindung dan dia-pun menggunakan kesempatan itu untuk mencelat mundur ke belakang.

Baru saja dia menghindarkan diri sejauh beberapa depa, Oey Kang sudah berdiri tegak kembali di tempatnya semula, dia sama sekali tidak mengejar Tan Ki.

Tiba-tiba mulutnya mengeluarkan suara seperti gerangan, tangannya menjulur ke depan menghantam.

Serangannya kali ini mengandung tenaga dalam yang bukan main dahsyatnya.

Ilmu yang digunakannya justru sengaja diciptakan untuk menyerang musuh dari jarak beberapa depaan.

Diam-diam hati Tan Ki jadi tercekat.

Pedangnya digeser ke samping sedikit.

Ternyata dia berhasil menahan serangan Oey Kang yang hebat, tetapi tubuhnya tergetar sedemikian rupa sehingga terhuyung-huyung kemudian terdesak mundur ke belakang setengah langkah.

Dalam beberapa jurus yang berlangsung, kedua orang itu selalu saling menyerang kemudian mencelat mundur.

Tetapi orang-orang yang hadir di tempat itu dapat merasakan bahwa dalam pertarungan itu selalu terselip bahaya yang mengintai setiap saat.

Perasaan mereka begitu tegang sehingga setiap orang menyaksikan jalannya pertarungan dengan menahan nafas.

Terdengar Oey Kang berkata dengan suara yang tajam.

"Ilmu pedangmu merupakan hasil curian dari Ti Ciang Pang. Memang sangat hebat dan jarang ditemui. Tetapi kalau ditilik dari tenaga dalam yang kau miliki, tampaknya kau masih belum sanggup mengadu jiwa denganku...!"

Wajah Tan Ki menyiratkan keangkeran. Dia berdiri tegak dengan pedang merentang di depan dada.

"Manusia she Oey, kau tidak perlu mengangkat-angkat dirimu sendiri. Orang lain boleh mengatakan bahwa tenaga dalammu sudah mencapai taraf tertinggi, ilmu yang kau kuasai keji sekali. Tetapi di bawah serangan pedangku yang gencar, suatu ketika keburuk-anmu pasti akan terlihat!"

Mendengar nada kata-katanya yang sombong, Oey Kang mendongakkan wajahnya tertawa terbahak-bahak.

Tiba-tiba tubuhnya mendesak ke depan dan menerjang.datang.

Dengan jurus Pelangi Menghias Angkasa yang hebat, dia melancarkan sebuah totokan.

Pedang di tangan Tan Ki mengibas.

Dengan keras dia menyambut jurus itu.

Terdengar suara benturan logam, pedang dan kipas sama-sama tergetar dan terhuyung-huyung sebanyak dua kali.

Tan Ki melihat pedang pusaka di tangannya ternyata tidak sanggup mematahkan kipas Oey Kang.

Malah dirinya tergetar sehingga pergelangan tangannya terasa kesemutan serta kakinya goyah.

Hampir saja dia tidak dapat mempertahankan diri.

Untuk sesaat dia malah jadi termangu-mangu.

Oey Kang adalah seorang manusia yang bukan main liciknya.

Melihat adanya kesempatan bagus, mana mungkin dia sudi melepaskan begitu saja.

Tiba-tiba mulutnya mengeluarkan suara bentakan keras, tubuhnya merapat maju.

Justru ketika pikiran Tan Ki masih melayang-layang, dia sudah melancarkan serangan.

Hatinya yaiig jahat berniat menggunakan kesempatan itu untuk membunuh Tan Ki.

Tan Ki merasa serangannya yang gencar ini mengandung kekuatan yang dahsyat.

Jurus yang dikerahkan oleh kipasnya begitu ajaib sehingga sulit dihadapi.

Dia bagai dikurung dari delapan penjuru.

Hatinya terkejut setengah mati.

Terpaksa dia merentangkan pedangnya untuk melindungi bagian dada dan dalam waktu yang bersamaan mencelat ke belakang.

Kedua orang itu saling menyerang dan menahan.

Yang satu maju yang lainnya pasti mundur.

Tampaknya dalam waktu yang singkat sulit menentukan siapa yang lebih unggul dan siapa yang lebih lemah.

Orang-orang yang hadir di tempat itu melihat keduanya saling mengerahkan kelebihan masing-masing dan menutupi kelemahan mereka.

Setelah bergebrak beberapa jurus kedudukan mereka masih seimbang.

Dengan usianya yang masih begitu muda, Tan Ki berhadapan dengan raja iblis nomor satu di dunia saat itu, keadaannya meskipun agak terdesak tetapi sama sekali tidak memalukan.

Diam-diam mereka bersyukur bahwa kelak dunia Kangouw ada generasi penerus yang dapat diandalkan.

Tetapi hati Tan Ki justru tidak merasa gembira karena hal ini.

Dia selalu mempunyai pikiran.

"Dendam selama berpuluh tahun terus terpendam. Sekarang musuh besar sudah di depan mata, rasanya ingin sekali menikam jantungnya dalam sekali gerak agar mati seketika. Tetapi setelah bergebrak beberapa jurus, bukan saja ilmu sejati pihak lawan sudah terlihat jelas, rasanya dalam ribuan juruspun belum tentu dapat menentukan siapa yang lebih unggul di antara kami berdua..."

Semakin dipikirkan hatinya semakin tertekan.

Perasaannya demikian panik sehingga keringat dingin mulai membasahi keningnya.

Emosi dalam hatinya seakan terus bergejolak.

Entah sejak kapan, tahu-tahu ketiga puluh enam laki-laki kekar berpakaian hitam sudah mengambil posisi membentuk barisan dan mengurung Tan Ki di tengah-tengah.

Tian Bu Cu yang melihat keadaan itu segera merasakan situasi Tan Ki yang mulai gawat.

Dia langsung berteriak dengan suara lantang.

"Hati kiri kananmu!"

Justru ketika suara teriakannya baru terdengar, tiba-tiba bunga api berpijar dan melesat keluar ke seluruh bagian tubuh Tan Ki.

Rupanya tabung yang digenggam ketiga puluh enam laki-laki bertubuh kekar itu merupakan Ban Hua Hwe-tong yang tidak pernah ia temui sebelumnya.

Tabung api selaksa bunga itu dapat menyemburkan asap beracun yang keji.

Orang-orang yang melihat api berwarna kehijauan melesat keluar, segera dapat merasakan betapa berbahayanya senjata semacam itu.

Dalam waktu yang bersamaan, mereka mengeluarkan suara pekikan terkejut dan terasa seluruh bulu kuduk di tubuh mereka merinding.

Dengan segenap kemampuannya Tan Ki mencelat ke atas, jangkauan loncatannya mungkin mencapai lima kaki lebih.

Tetapi dirinya langsung terdesak oleh serangan Oey Kang sehingga mau tidak mau dia berjungkir balik di udara dan mendarat kembali di atas tanah.

Sepasang alisnya langsung menjungkit ke atas.

Matanya menyorotkan sinar yang berkobar-kobar, mimik wajahnya menunjukkan perasaan yang gusar tidak kepalang.

Hampir saja dia membuka mulut memaki Oey Kang.

Tetapi sekejap kemudian dia hanya mendengus dengan berat dan mencelat ke samping sejauh tujuh tindak.

Baru saja kakinya berdiri dengan tegak, lima carik cahaya kehijauan melesat tiba di tempatnya berdiri tadi.

Seandainya Tan Ki tidak keburu menghindar, sungguh sangat ngeri membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya.

Panah api itu mengandung kekuatan yang dahsyat.

Meskipun Tan Ki berhasil mengelakkannya, namun percikan apinya mencapai jarak dua depaan, setelah itu baru padam kembali.

Namun tempat di mana api tersebut mendarat, baik rumput maupun bebatuan langsung terbakar.

Saat itu juga terendus bau bunga dan rumput yang terbakar.

Tan Ki berteriak dengan suara lantang, pedangnya digetarkan kemudian dihunjamkan ke depan.

Tampak secarik cahaya berkilauan yang mengiringi percikan darah, disusul dengan rubuhnya seorang laki-laki berpakaian hitam.

Tabung di tangannya menggelinding di atas tanah dan segera ada beberapa batang panah api yang melesat keluar dan membakar rerumputan, di mana senjata rahasia itu mendarat.

Rumput-rumput yang terbakar layu menguning seketika.

Hati Tan Ki diam-diam tercekat melihatnya.

"Rupanya panah api yang menyembur keluar dari tabung emas itu bukan saja mengandung kekuatan yang dahsyat tetapi juga mengandung racun yang keji!"

Tiba-tiba tampak laki-laki berpakaian hitam itu memancarkan diri mereka.

Tabung di tangan mereka kembali digerakkan.

Kali ini melesat keluar asap api berwarna kebirubiruan yang kemudian bergabung menjadi satu seperti air terjun yang deras meluncur ke arah Tan Ki.

Rupanya di dalam tabung itu tidak hanya terisi panah api beracun, tetapi berbagai jenis senjata rahasia beracun lainnya.

Apabila setiap laki-laki kekar itu memakai senjata rahasia yang berlainan untuk menghadapinya, entah bagaimana kelabakannya Tan Ki menghadapi mereka.

Tan Ki menggertakkan giginya erat-erat.

Sekonyong-konyong dia menggerakkan pedang penghancur pelanginya lalu menerjang kepada laki-laki berpakaian hitam yang ada di sebelah kiri.

Dalam waktu yang bersamaan, dia mengibaskan pedangnya ke sana ke mari untuk menangkis panah beracun yang melesat ke arahnya.

Tan Ki sadar panah-panah api yang melesat keluar dari tabung emas di tangan laki-laki berpakaian hitam itu mengandung racun yang keji.

Apabila dirinya sampai terkena, bukan cuma daging serta kulit tubuhnya yang merasa sakit, sulit pula mencari obat penawarnya.

Oleh karena itu, dia tidak berani lengah sedikitpun.

Tubuhnya berkelebat ke sana ke mari.

Tampak asap api dan panah beracun terus berkelebat lewat di samping tubuh dan atas kepalanya.

Dari jauh tampak segulungan asap yang besar membungkus tubuh anak muda itu.

Namun ketiga puluh enam Jendral Langit asuhan Oey Kang ini bukan orang-orang sembarangan.

Mereka terbagi dalam tiga kelompok yang berjumlah masing-masing dua belas orang.

Sedangkan ketiga kelompok itu menggunakan jenis senjata rahasia yang berlainan.

Tan Ki menerjang beberapa kali berturut-turut.

Tetapi baru menerjang beberapa depa, terpaksa dia berhenti lagi.

Pedang penghancur pelanginya bergerak sehingga menimbulkan lingkaran cahaya berkilauan yang mana melindungi seluruh tubuhnya.

Begitu gerakan tubuhnya terhenti, kembali panah beracun, asap beracun dan piau beracun menyerang dirinya dari segala arah!

Kali ini keadaan dirinya benar-benar gawat, menangkis sulit, melancarkan serangan tidak mungkin.

Kedua belah pihak yang melihat keadaan diri, Tan Ki saat itu, dapat merasakan bahaya yang mengintai dirinya setiap saat.

Sepasang mata Tian Bu Cu menyorotkan sinar yang berkilauan.

Kakinya bergerak maju setengah langkah.

Diam-diam dia telah mengerahkan tenaga dalamnya sebanyak delapan bagian dan siap dilancarkan apabila situasi sudah mendesak sekali.

Pandangan mata Yibun Siu San dan Cian Cong terus melirik ke sana ke mari, meskipun sedang berhadapan dengan musuh, mereka tetap memperhatikan situasi di sekitar.

Begitu melihat ke arah Tan Ki, tentu saja mereka paham bahwa Tan Ki saat itu sudah terkurung rapat dalam barisan Jendral Langit binaan Oey Kang dan sulit meloloskan diri.

Tetapi keadaan mereka sendiri saat ini sedang menghadapi lawan yang tangguh.

Sudah barang tentu Kaucu Pek Kut Kau dan Tong Ku Lu tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk menolong Tan Ki.

Melihat keadaan anak muda itu yang sedemikian berbahaya, tanpa dapat ditahan lagi keringat dingin mengucur membasahi kening kedua orangtua tersebut.

Namun mereka tidak dapat berbuat apa-apa.

Kadang-kadang malah mereka terdesak oleh lawan masing-masing karena perhatian mereka yang terpencar serta mengkhawatirkan keadaan Tan Ki.

Kedua tokoh ini merupakan orang-orang yang berpengetahuan luas.

Mereka sadar bahwa Ban Hua Hwe-tong yang ada di tangan ketiga puluh enam laki-laki berpakaian hitam itu mempunyai pengaruh yang hebat.

Jangkauannya jauh sekali, bahkan lebih kuat satu kali lipat dari pukulan seorang pesilat biasa.

Dalam waktu setengah kentungan saja belum tentu apinya dapat dipadamkan.

Kecuali kalau daya kerja senjata rahasia itu sendiri yang sirna dengan sendirinya.

Pokoknya hampir tidak ada jalan untuk menolong Tan Ki keluar dari kesulitan tersebut.

Justru ketika kedua orang itu masih mengkhawatirkan keadaan Tan Ki, tubuh anak muda itu telah dikelilingi kobaran api.

Dalam jarak sepuluh depaan seperti terjadi kebakaran hebat dan boleh dibilang tidak ada tempat kosong lagi bagi Tan Ki untuk menghindarkan diri.

Tiba-tiba terdengar suara ratapan yang menyayat hati...

"Tan Koko! Adik Ki!"

Mei Ling dan Liang Fu Yong langsung menghambur ke depan dengan pipi berderai air mata.

Sementara itu, mendadak terdengar suara pekikan burung rajawali yang lantang sekali.

Seekor burung rajawali yang bentuk badannya besar sekali menukik ke bawah dengan kecepatan yang tidak terkirakan.

Timbul serang-kum angin yang kencang laksana badai topan yang melanda.

Demikian hebatnya kepakan sayap rajawali tersebut sehinga kobaran api padam seketika dan asap putih kebiru-biruan memenuhi angkasa.

Hati Oey Kang langsung curiga.

Cepat-cepat dia mendongakkan kepalanya.

Tampak segurat cahaya berwarna keputihan melesat dari punggung rajawali tersebut.

Kecepatannya bagai kilat.

Baru saja Oey Kang berniat mengangkat kipasnya ke atas untuk menangkis, tahu-tahu serangkum angin yang kencang menerpa wajahnya.

Kipas di tangannya sudah terkutung menjadi dua bagian.

Tampak cahaya putih berkelebat, tiba-tiba di samping tubuh Tan Ki telah berdiri seorang gadis berpakaian putih.

Kecantikan gadis ini sungguh luar biasa.

Sepasang matanya bening bagai air sungai di musim semi.

Alisnya lebat dan bentuknya indah.

Wajahnya bersih terang mempesona.

Orang-orang yang ada di tempat itu seakan terpikat oleh kecantikannya yang bak dewi kahyangan itu.

Apalagi saat ini bibirnya merekah mengulumkan seulas senyuman yang manisnya sulit diuraikan dengan kata-kata.

Hal ini malah membuat sukma orang-orang itu seperti melayang-layang di awang-awang.

Serasa pandangan mata tidak bisa dialihkan ke tempat lain.

Sepasang mata gadis berpakaian putih yang indah itu mengedar ke sekeliling.

Melihat pandangan mata orang-orang di sana sedang menatap diri nya dengan terkesima, tanpa dapat ditahan lagi pipinya menjadi merah padam.

Cepat-cepat dia menundukkan kepalanya rendah-rendah.

Terdengar suara desiran angin, hanya satu kali lalu berhenti.

Di belakang gadis berpakaian putih telah berdiri dua gadis cilik berusia empat belas atau lima belas tahunan.

Keduanya mengenakan pakaian hijau.

Hanya yang satu hijau tua, sedangkan yang lainnya hijau muda.

Kedua gadis cilik ini juga mempunyai wajah yang rupawan sekali.

Begitu gadis berpakaian putih itu muncul di samping Tan Ki, boleh dibilang sebagian besar tokoh daerah Tionggoan tidak ada yang mengenalinya.

Tetapi orang-orang dari pihak Lam Hay Bun serta rombongan Pek Kut Kau justru pada berubah hebat wajah mereka.

Tanpa dapat ditahan lagi kaki mereka tergetar mundur dua langkah.

Seperti mendadak melihat malaikat elmaut sehingga perasaan hati menjadi tidak tenang dan jantung berdebar-debar.

Dalam satu jurus serangan saja, gadis berpakaian putih itu sanggup mematahkan kipas yang biasa digunakan sebagai senjata oleh Oey Kang.

Orangnya sampai berdiri termanguma-ngu beberapa saat.

Sejenak kemudian dia baru pulih kembali.

Tetapi tampaknya dia merasa takut sekali kepada si gadis berpakaian putih, dia tidak mengucapkan sepatah katapun, hanya tangannya saja yang bergerak memberikan isyarat.

Setelah itu dia membalikkan tubuh dan menghambur pergi secepat kilat.

Dalam sekejap mata bayangannya sudah tidak terlihat lagi.

Melihat perubahan yang tidak terduga-duga ini, Mei Ling dan Liang Fu Yong jadi tertegun.

Beberapa saat kemudian mereka baru mengenali si gadis berpakaian putih.

Tanpa dapat ditahan lagi, bibir mereka mengembangkan senyuman dan tawa terkekehkekeh.

Kemudian keduanya menghambur ke depan untuk mengucapkan terima kasih atas kedatangannya yang memberi pertolongan kepada Tan Ki.

Gadis berpakaian putih itu hanya tersenyum simpul.

Tiba-tiba tubuhnya berkelebat dan tahu-tahu sudah menghilang dari pandangan.

Gerakan tubuhnya itu demikian cepat sehingga orang-orang yang hadir di tempat itu tidak melihat bagaimana dia tahu-tahu sudah ada di samping Tong Ku Lu.

Terdengar suara gerungan pendek.

Tubuh Tong Ku Lu terhuyung-huyung bagai orang mabuk kemudian tergetar mundur sejauh lima enam langkah.

Sebatang kipas di tangannya sudah terkutung menjadi dua bagian.

Begitu terkejutnya orang ini sehingga wajahnya berubah pucat pasi seketika..

Dalam satu jurus serangan saja, gadis berpakaian putih itu kembali mendesak Cia Tian Lun hingga mengundurkan diri, kemudian tampak dia berjungkir balik lalu melayang datang bagai terbang.

Tampak cahaya pedang berkilauan, Kaucu Pek Kut Kau yang sejak tadi terus berkutat dengan si pengemis sakti Cian Cong mendadak mengeluarkan suara raungan yang aneh.

Sebelah tangannya mendekap pundak dan mundur dengan terhuyung-huyung.

Tanah di mana kakinya melangkah terdapat tetesan darah segar yang mengalir dari pundaknya yang terluka.

Wajahnya yang hitam malah berubah merah padam.

Sekali turun tangan si gadis berpakaian putih langsung menyerang tiga tokoh paling sakti di dunia saat ini.

Ilmunya yang begitu ajaib serta gerakan tubuhnya yang demikian cepat membuat orang-orang yang melihatnya sampai melongo dan mendelikkan mata mereka lebar-lebar.

Sampai sekian lama tidak ada seorangpun yang membuka mulut.

Hua Pek Cing sudah pernah kena batu di tangan pelayannya, Mei Hun.

Sekarang dia melihat gadis berpakaian putih itu menyerang tiga tokoh berilmu tinggi secara berturutturut tanpa menemui kesulitan sedikitpun.

Perasaannya menjadi kecut.

Diam-diam dia berpikir dalam hati.

"Meskipun ditilik dari keadaan, pihak kami masih mempunyai jago-jago yang dapat diandalkan, tetapi ilmu kepandaian gadis ini benar-benar hebat. Mungkin tidak ada seorang pun yang sanggup menghadapinya."

Begitu pikirannya tergerak, cepat-cepat dia memberi perintah kepada Cia Tian Lun dengan suara lirih.

"Mundur!"

Begitu kata-katanya terucapkan, ternyata pengaruhnya masih demikian besar.

Para jago dari Lam Hay dan Si Yu serentak mengundurkan diri turun dari bukit tersebut.

Dalam waktu sekejap mata, semuanya sudah meninggalkan tempat itu.

Hawa pembunuhan yang tadinya menyelimuti seluruh bukit itu, saat ini menjadi buyar seketika.

Tan Ki menatap kepergian orang-orang itu sampai menghilang dari pandangan mata.

Dia tidak memerintahkan anggota perkumpulannya untuk mengejar.

Dia tahu pihak Lam Hay dan Si Yu hanya tergetar oleh ketinggian ilmu yang dimiliki oleh gadis berpakaian putih.

Bukan karena mereka sudah kalah.

Kalau tanpa berpikir panjang lagi dia memerintahkan orang-orangnya untuk mengejar, bisa-bisa pihak Lam Hay dan Si Yu merasa terdesak sedemikian rupa sehingga nekat mengadu jiwa.

Begitu pandangan matanya dialihkan, dia melihat wajah Yibun Siu San dan Cian Cong menyiratkan perasaan ingin tahu, mata mereka menatap si gadis berpakaian putih itu lekat-lekat.

Tampaknya banyak perkataan yang ingin mereka ucapkan, namun terpaksa ditahan.

Mereka duduk bersila di atas tanah, kemudian memejamkan matanya rapat-rapat untuk mengatur pernafasan.

Meskipun kedua Cianpwe itu tidak terluka sama sekali namun pertarungan yang berlangsung tadi cukup membuyarkan hawa murni dalam tubuh mereka.

Walaupun di dalam hati banyak sekali perkataan yang ingin mereka ucapkan, tetapi mereka tidak berani memencarkan perhatian untuk sementara.

Akhirnya keduanya duduk bersila mengatur pernafasan.

Begitu rombongan musuh meninggalkan tempat itu, para anggota perkumpulan Ikat Pinggang Merah segera turun tangan membersihkan sisa-sisa pertempuran.

Dengan sepasang tangan menggenggam pedang, Tan Ki maju ke depan dan menjura dalamdalam.

"Pedang pusaka meskipun tajam dan sakti, tetapi hanya sesuai untuk orang yang cocok. Dalam pertempuran di bukit Tok Liong-hong kali ini, cayhe sudah cukup mengandalkan pedang ini untuk menghadapi musuh, tetapi cayhe merasa sulit menerima pemberian dari nona ini."

Gadis berpakaian putih tersenyum tipis.

"Barang yang sudah dihadiahkan, tidak mungkin aku tarik kembali. Pedang Penghancur Pelangi ini memang merupakan sebatang pedang kuno yang luar biasa tajamnya. Tetapi aku sudah menghadiahkannya kepada Mei Hun. Barang ini sudah menjadi haknya. Kalau dia ternyata menghadiahkannya lagi kepadamu, hal ini tidak ada sangkut pautnya lagi dengan diriku."

Suaranya begitu merdu sehingga orang yang mendengarnya sulit membantah apapun yang dikatakannya.

Mendengar ucapannya, tanpa terasa sepasang tangan Tan Ki terkulai ke bawah.

Tetapi sesaat kemudian, dia mengangkatnya kembali.

"Apalagi pedang pusaka, seharusnya dimiliki oleh orang yang tepat. Cayhe adalah seorang desa yang kasar. Seandainya membawa pedang ini, malah membuat orang tidak percaya kalau pedang ini merupakan sebatang pedang pusaka. Kalau nona berkeras hati tidak mau menerimanya kembali, namun cayhe juga enggan menggunakannya, lama kelamaan malah menjadi barang rongsokan. Sebaiknya nona hadiahkan saja kepada orang lain."

Sepasang mata si gadis berpakain putih menatap diri Tan Ki lekat-lekat.

Sejak muncul di tempat itu bibirnya selalu mengembangkan senyuman.

Tetapi setelah mendengar katakata Tan Ki, matanya langsung menyorotkan cahaya seperti kilat.

Tetapi sekejap kemudian sudah pulih kembali.

Namun senyuman yang diperlihatkannya sekarang ini tidak semanis tadi lagi.

Sepasang alisnya menyiratkan kemarahan yang terpendam.

Perlahan-lahan dia berkata lagi dengan nada sendu.

"Kalau memang begitu kemauan siangkong, tentu aku tidak enak hati mengatakan apa-apa lagi."

Dia memalingkan wajahnya kemudian berkata lagi.

"Mei Hun, Ciu Goat, mari kita kembali ke Tian San!"

Ucapan ini seakan dicetuskan dengan tergesa-gesa.

Tampaknya dia ingin terbang meninggalkan tempat itu secepatnya.

Mei Hun dan Ciu Goat yang mendengarnya jadi tertegun.

Entah mengapa majikan mereka yang datang dengan kegembiraan yang meluap-luap, tiba-tiba merubah pendiriannya.

Meskipun hati mereka merasa aneh, tetapi keduanya tidak berani bertanya.

Setelah saling"

Lirik sekilas, mereka melesat naik ke atas punggung rajawali.

Gadis berpakaian putih itu tidak melirik Tan Ki sekilaspun.

Tangannya menyambut pedang Penghancur Pelangi.

Tidak terlihat jelas bagaimana tubuhnya bergerak, hanya terendus serangkum bau harum yang menerpa hidung.

Orangnya sendiri sudah melesat ke atas punggung burung rajawalinya dan berdiri membelakangi Tan Ki.

Dengan termangu-mangu Tan Ki memandangi bayangan punggung ketiga gadis itu.

Dia tidak mengucapkan sepatah katapun.

Orang lain juga tidak dapat menebak apa yang dipikirkannya saat itu.

Sebetulnya, bukan Tan Ki tidak mau berbicara, tetapi kedatangan dan kepergian gadis berpakaian putih itu demikian tergesa-gesa.

Meskipun di dalam hatinya terdapat ribuan kata-kata yang ingin diucapkan, namun dia justru tidak tahu bagaimana harus memulainya.

Untuk sesaat, dia malah berdiri termangu-mangu tanpa bergerak sedikitpun.

Tiba-tiba, kembali terendus serangkum bau yang harum menerpa datang.

Tahu-tahu Mei Hun sudah berdiri di hadapannya.

Tampak sepasang alis gadis itu menjungkit ke atas dan wajahnya menunjukkan perasaan tidak senang.

Tan Ki tertegun sesaat, kemudian menjura dalam-dalam.

"Entah ada petunjuk apa lagi yang ingin nona sampaikan?"

Tanyanya sopan. Mei Hun mengeluarkan suara tertawa yang dingin.

"Kau memang pandai sekali menjadi orang!"

Apa yang dikatakannya malah tidak ada hubungannya sama sekali dengan pertanyaan Tan Ki. Mendengar ucapannya, sekali lagi Tan Ki tertegun. Hatinya merasa bingung.

"Harap nona tidak mengucapkan kata-kata yang menyakitkan hati, entah Cayhe berbuat kesalahan apa..."

Mei Hun segera menukas dengan nada yang dingin.

"Kalau kau berbuat kesalahan terhadap diriku, mungkin masih bisa dimaafkan, tetapi menyalahi nona kami, rasanya tidak mungkin begitu mudah diselesaikan!"

Begitu kata-katanya terucap keluar, Yibun Siu San dan Cian Cong yang sedang memejamkan mata mereka mengatur pernafasan, saat ini tiba-tiba membuka mata serentak.

Mereka melirik sekilas kepada Mei Hun, seakan ingin mengatakan sesuatu namun membatalkannya, kemudian tampak mereka memejamkan matanya kembali.

Terdengar Mei Hun berkata lagi perlahan-lahan.

"Barang yang aku hadiahkan kepadamu, sama sekali tidak berniat diambil kembali. Kau justru tidak tahu kebaikan orang, dengan keras kepala tetap ingin mengembalikannya kepada nona kami..."

Mendengar sampai di sini, perasaan hati Tan Ki semakin bingung. Tanpa dapat ditahan lagi dia menukas.

"Memang apanya yang salah?"

Mei Hun menghentakkan kakinya di atas tanah keras-keras.

"Apanya yang salah? Siapa kau kira nona kami itu? Kau kira dia sudi menjilat kembali ludah yang telah dikeluarkan dari mulutnya? Meskipun pedang Penghancur Pelangi itu adalah sebatang pedang pusaka yang harganya tidak ternilai, namun nona kami tidak memandang sebelah matapun. Kau seenaknya saja mengembalikan barang yang sudah dihadiahkan kepadamu, harga dirinya benar-benar bagai dicampakkan. Tadinya nona kami sudah berniat masuk menjadi anggota perkumpulan Ikat Pinggang kalian, sekarang keinginan itu jadi sirna. Apakah orang seperti dirimu ini pantas menjabat sebagai Bulim Bengcu? Demi engkau, nona kami sampai..."

Berkata sampai di sini, tiba-tiba dia merasa ucapannya tidak patut diteruskan.

Cepatcepat dia membatalkannya dan membungkam.

Melihat sikapnya yang garang itu dan betul-betul marah, tampaknya Mei Hun bukan sedang bergurau.

Diam-diam dia juga mulai merasakan bahwa urusannya jadi tidak beres.

Sepasang tangannya saling meremas dengan gelisah.

Hatinya panik sekali.

"Aku betul-betul tidak berniat melukai hati nonamu itu..."

Si budak Mei Hun sejak kecil hidup di pegunungan Ming San yang terpencil.

Hatinya masih polos sekali.

Melihat keringat dingin membasahi kening Tan Ki dan bicaranya yang gagap gugup, hatinya jadi melemah.

Perlahan-lahan dia menundukkan kepalanya dan berusaha memikirkan jalan keluar bagi Tan Ki.

Tiba-tiba dia mendengar suara teriakan Ciu Goat yang tidak henti-hentinya.

"Cici Mei Hun, Siocia ingin kita berangkat secepatnya!"

Mei Hun mendongakkan wajahnya menatap sekilas ke arah si gadis berpakaian putih, tiba-tiba dia menarik nafas panjang.

"Demi urusanmu, tanpa perdulikan segala macam penderitaan, nona kami menempuh perjalanan jauh dari Ming San ke mari, lagipula dia menunjukkan wajah aslinya. Dia membantumu menghalau musuh. Perasaan sayang yang begitu dalam, orang lain mungkin ingin membalasnya masih belum sempat, kau malah mengucapkan kata-kata yang menyakitkan hatinya. Seandainya dia merasa terhina lalu dengan perasaan kesal menggabungkan diri dengan pihak musuh, aku benar-benar tidak tahu nasib mempermainkan manusia atau kau memang sengaja mengharapkan kejadiannya jadi demikian!"

Setelah memaki Tan Ki beberapa patah kata, tampaknya hati gadis cilik itu masih dilanda kebimbangan.

Selesai mengucapkan kata-katanya, dia mendelik sekali lagi kepada Tan Ki".

Tampak pundaknya bergerak sedikit, dengan kecepatan kilat dia sudah naik di atas punggung burung rajawali.

Terdengar kembali suara pekikan burung itu yang memekakkan telinga.

Kemudian angin kencang laksana badai topan kembali memenuhi sekitar tempat tersebut.

Debu dan pasir-pasir beterbangan.

Burung rajawali yang besar sekali itu sudah mengepakkan sayapnya dan terbang ke atas.

Dalam sekejap mata saja hanya terlihat sebuah titik hitam di langit bagian barat daya.

Lama kelamaan semakin mengecil dan menghilang dari pandangan mata.

BAGIAN LIV Tan Ki memandang kepergian majikan dan pelayannya yang dalam keadaan marah.

Hatinya seperti kehilangan sesuatu yang berharga.

Dengan termangu-mangu dia menatap ke atas langit dan wajahnya tampak kelam sekali.

Untuk sekian lama dia tidak mengucapkan sepatah katapun.

Tiba-tiba dari belakang punggungnya terdengar suara tarikan nafas yang berat.

"Benar-benar seorang gadis sakti yang berwatak tinggi hati dan angkuh!"

Mendengar suara itu, Tan Ki segera menolehkan kepalanya.

Entah sejak kapan, Yibun Siu San dan si pengemis sakti Cian Cong sudah berdiri di belakangnya.

Terdengar Cian Cong melanjutkan kembali kata-katanya...

"Ilmu yang dimiliki gadis ini benar-benar sudah tidak terukur tingginya. Si pengemis tua kagum bukan main. Tetapi karena sedikit salah paham langsung pergi tanpa berpikir panjang lagi, tampaknya jiwa gadis ini kurang lapang."

Tan Ki menarik nafas perlahan-lahan.

"Semuanya merupakan kesalahan anak Ki. Karena ulahku, perkumpulan Ikat Pinggang Merah kembali kehilangan seorang tokoh sakti yang dapat diandalkan. Meskipun paman dan Cian Locianpwe tidak mengatakannya secara terus terang. Hati anak Ki justru tambah tertekan dan tahu telah berbuat kesalahan lagi."

Sembari berkata, sepasang matanya sudah mulai membasah. Setetes demi setetes air matanya jatuh di atas tanah. Yibun Siu San segera tertawa lebar.

"Masih lumayan, dalam pertempuran kali ini, pihak kita tidak sampai mendapat kerugian banyak. Meskipun dia sekarang pergi dalam keadaan marah, tetapi pasti ada saatnya untuk bertemu lagi. Kau juga tidak perlu merasa menyesal dan menyalahkan dirimu sendiri terus menerus. Jaga baik-baik sikapmu sebagai seorang Bulim Bengcu. Jangan sedikitsedikit menangis seperti orang perempuan."

Ketika mereka berbincang-bincang itulah, orang-orang gagah yang berkumpul di tempat itu sudah membersihkan keadaan tempat itu yang kocar kacir.

Bekas-bekas darah disiram sampai bersih.

Bekas kebakaran juga dirapikan, rumput-rumput yang hangus dan layu dicabut sehingga semuanya kembali seperti sedia kala.

Tiba-tiba salah seorang anggota perkumpulan mereka berlari mendatangi dengan tergesa-gesa.

Sesampainya di hadapan Tan Ki, dia segera membungkukkan tubuhnya dalam-dalam.

"Para ketua dari lima partai besar yakni Siau Lim, Bu Tong, Cing Ceng, Kun Lun dan Go Bi Pai beserta sejumlah anak muridnya sudah hadir di kaki bukit. Mohon tanya penyambutan bagaimana yang harus kita lakukan?"

Mendengar keterangannya, Tan Ki seperti orang terkena pukulan bathin berat.

Tubuhnya bergetar hebat tetapi sekejap kemudian dia sudah pulih kembali seperti sebelumnya.

Dia segera mengulapkan tangannya sambil berkata.

"Lima partai besar dengan perkumpulan kita sama-sama menegakkan keadilan bagi dunia Bulim. Tentu saja kita harus menyambut mereka dengan penyambutan tamu agung yang terhormat!"

Liang Fu Yong mendadak menghampiri Tan Ki dan berkata kepadanya dengan suara rendah.

"Adik Ki, tidakkah lebih baik kalau kau mengganti dulu pakaianmu?"

Rupanya dalam pertarungan tadi, Tan Ki diserang dengan gencar oleh tiga puluh enam Jendral Langit asuhan Oey Kang.

Meskipun orangnya sendiri tidak sampai terluka, tetapi pakaiannya sudah bolong di sana sini terkena percikan api.

Biar bagaimana dia adalah seorang Bulim Bengcu yang disegani.

Seandainya mengenakan pakaian yang koyak menyambut tamu, rasanya kurang pantas.

Liang Fu Yong selalu mengkhawatirkan nama baik Tan Ki.

Itulah sebabnya dia menanyakan persoalan itu.

Tan Ki menundukkan kepalanya dan memperhatikan keadaan pakaiannya.

Dia langsung memperlihatkan secercah senyuman yang getir.

"Lima partai besar sudah dalam perjalanan menuju ke sini. Dengan demikian tidak ada waktu lagi mengganti pakaian menyambut tamu agung. Lagipula saat ini yang kupikirkan bukan masalah pakaianku yang pantas atau tidak..."

Mendengar nada suaranya yang begitu berat, seakan hatinya masih bimbang dan terselip kegundahan yang besar, Liang Fu Yong segera teringat keadaannya saat ini.

Matanya menatap Tan Ki lekat-lekat dengan tertawa sendu.

Tan Ki dapat merasakan bahwa tawa yang diperlihatkan Liang Fu Yong seperti hendak menghibur hatinya yang gelisah.

Juga mengandung permintaan maaf yang tidak terkirakan.

Sebab, meskipun dia mengetahui isi hati Tan Ki seperti orang yang mengenali jari tangannya sendiri, tetapi dia tidak dapat memberikan bantuan apa-apa...

Dalam keadaan yang hening dan mencekam, kedua orang itu saling pandang beberapa saat.

Tan Ki segera membangkitkan keberaniannya, kegagahannya tergugah.

Dengan demikian dia langsung mengibaskan tangannya dan berkata dengan suara lantang.

"Lima partai besar datang lebih awal ke markas kita di puncak bukit Tok Liong-hong ini. Persahabatan yang tulus ini sungguh tidak mudah ditemukan. Harap saudara-saudara sekalian menyambutnya sesuai dengan tingkatan masing-masing!"

Kemudian, dengan Tan Ki sebagai pimpinan, Yibun Siu San, Cian Cong dan Tian Bu Cu mengiringi di belakang.

Para anggota perkumpulan Ikat Pinggang Merah langsung memencarkan diri dan berbaris menjadi dua kelompok.

Sikap yang mereka tunjukkan penuh hormat dan berdiri di tempat masing-masing dengan khidmat.

Kurang lebih sepeminuman teh kemudian, dari batas puncak bukit tampak seseorang berkepala botak berjalan mendatangi.

Kemudian disusul dengan seseorang yang mengenakan jubah pertapa berwarna abu-abu, lalu seorang laki-laki tinggi besar dan gagah, serta berusia pertengahan abad.

Lambat laun, yang menuju ke tempat mereka semakin banyak.

Sudah tentu yang berkepala pelontos tadi, ketua Siu Lim Pai sendiri, yakni Pun Sang Taisu.

Di belakangnya mengikuti kepala bagian hukuman Pun Bu Taisu dan ketua pendopo Tat Mo-goan, Pun Sing Taisu dan beberapa murid lainnya dari angkatan Pun.

Di sebelah kiri dipimpin oleh Ciang Bunjin (Ketua perguruan) Bu Tong Pai, Sia Hai Cinjin, serta beberapa muridnya.

Juga ketiga partai lainnya yang membawa sejumlah murid berjalan mendatangi dengan langkah lebar.

Jumlah mereka mencapai tujuh puluhan orang.

Ketika jarak di antara mereka tinggal beberapa depa, serentak mereka menghentikan langkah kakinya.

Gerakan kaki mereka demikian ringan dan berbaris rapi.

Dengan tampang berwibawa Tan Ki melangkah maju ke depan, kemudian merangkapkan sepasang kepalan tangannya menjura.

"Baru saja terjadi pertempuran besar sehingga keadaan di tempat ini masih kacau balau. Meskipun perkumpulan kami merupakan wadah bersatunya berbagai tokoh dari dunia Bulim, tetapi tetap saja merasa kurangnya tenaga sehingga sulit menghadapi musuh yang tangguh. Sekarang beruntung sekali kami mendapat bala bantuan dari pihak lima partai besar. Ini yang dinamakan nasib baik bagi kami dan hari kiamat bagi para golongan sesat."

Sepasang alis Pun Sang Taisu yang panjang bergerak-gerak sedikit.

Matanya menyorotkan cahaya tajam dan berkilauan.

Dia memperhatikan Tan Ki sejenak kemudian menyebutkan nama Buddha dengan suara rendah.

"Apakah saudara ini yang menjabat sebagai Bulim Bengcu?"

Tan Ki tertawa lebar.

"Jangan sungkan."

Sahutnya sopan. Pun Sang Taisu mendadak memejamkan sepasang matanya dan menarik nafas panjang.

"Dalam keadaan dilanda huru hara, apabila dunia Bulim dapat memperoleh seorang pemimpin seperti saudara ini, persoalan apa lagi yang tidak bisa diatasi dan golongan sesat mana yang tidak bisa terusir?"

Hwesio tua yang bijaksana dan berilmu tinggi ini sudah lama mendengar kegagaban Tan Ki.

Diapun tahu ilmu kepandaian Tan Ki sudah mencapai taraf sedemikian tinggi balikan pernah menghalaujago-jago dari Lam Hay dengan sebatang pedang sulingnya.

Setelah bertemu muka, dia semakin merasa bahwa penampilan anak muda ini demikian gagah.

Wajahnya tampan dan tampangnya berwibawa.

Hatinya yang sudah lama ingin menjumpai tokoh muda ini, sekarang malah timbul kesan yang baik dan dalam.

Dia benarbenar kagum terhadap Tan Ki.

Tampak Tan Ki tersenyum simpul.

"Apabila kita ingin menghindarkan bencana bagi dunia Kangouw serta mengusir musuh yang berniat menjajah kita, cayhe benar-benar mengharapkan uluran tangan tokoh-tokoh seperti Taisu yang bersedia merasakan penderitaan bersama-sama."

Pun Sang Taisu tersenyum lembut sembari memperkenalkan keempat Ciang Bunjin lainnya kepada Tan Ki.

Sementara itu, Cian Bunjin dari Bu Tong Pai, sejak bertemu dengan Tan Ki langsung melangkah maju beberapa tindak.

Dia melewati samping anak muda itu kemudian terus melangkah mendekati Tian Bu Cu.

Sepasang tangan Sia Hai Cinjin dirangkapkan di depan dada dan membungkuk sedikit dengan hormat.

Terdengar suaranya yang sopan dan mengandung keseganan yang dalam.

"Semoga Susiok dalam keadaan baik-baik saja."

Tian Bu Cu merasa tidak ada yang harus dikatakannya.

Oleh karena itu dia hanya menganggukkan kepalanya sedikit sambil tersenyum lembut, kemudian membalas penghormatan yang diberikan sutitnya.

Tiba-tiba Sia Hai Cinjin menekan suaranya rendah-rendah dan berkata lagi.

"Apakah Su-siok tahu riwayat hidup dan asal-usul Bengcu yang baru terpilih ini?"

Tampak Tian Bu Cu tidak menyangkanyangka dia akan mengucapkan pertanyaan seperti itu.

Untuk sesaat dia jadi tertegun.

Dia melihat wajah Sia Hai Cinjin kelam sekali, sikapnya serius dan tidak mungkin mengajukan pertanyaan seperti itu apabila tidak ada alasan yang kuat.

Tanpa dapat ditahan lagi, malah dia balik bertanya...

"Apa maksud ucapan hiantit ini?"

"Pertama kali melihat Bulim Bengcu ini, hati sudah timbul kecurigaan. Sutit merasa bahwa dia bukan orang yang berjiwa pendekar atau secara kasarnya bukan manusia baikbaik."

Sepasang alis Tian Bu Cu langsung berkerut mendengar ucapannya.

"Kau menjabat sebagai Ciang Bunjin sebuah partai besar. Seharusnya menimbang segala hal dengan akal sehat dan kebijaksanaan besar. Ditilik dari ucapanmu barusan, sudah terbukti bahwa pandangan matamu demikian dangkal. Menilai seseorang hanya berdasarkan tampang wajahnya saja, apakah tidak menjadi bahan tertawaan sahabatsahabat di dunia?"

Suara pembicaraannya ditekan serendah mungkin, seakan takut terdengar oleh orang lain.

Juga menjaga pamor dari perguruannya.

Tetapi nada yang terkandung di dalamnya seakan menyalahkan Sia Hai Cinjin yang menilai orang secara sembarangan.

Mendengar gerutuan orangtua itu, hati Sia Hai Cinjin merasa kurang senang.

Tetapi dia juga termasuk seorang yang keras kepala dan kukuh pendiriannya.

Meskipun emosinya agak bergejolak, tetapi dari luar dia mempertahankan ketenangannya.

"Kalau hanya menilai orang dari tampangnya, aku juga tidak pantas menjabat sebagai Ciang Bunjin dari Bu Tong Pai, Bulim Bengcu yang ada di hadapan kita ini, mungkin hanya murid keponakan partai kita yang dapat mengenali wajah aslinya."

Tian Bu Cu melihat hati keponakannya ini seakan ada yang diandalkan sehingga terus tidak mau menyudahi masalah ini.

Tanpa dapat ditahan lagi dia jadi merenung beberapa saat.

Dia sadar bahwa urusan ini tidak main-main besarnya.

Di antara kedua belah pihak apabila terjadi kesalahan sedikit saja, kalau bukan perkumpulan Ikat Pinggang Merah yang bubar, mungkin nama besar Bu Tong Pai yang akan tersapu bersih.

Malah bisa terjadi pertumpahan darah besar-besaran.

Setelah berpikir bolak-balik, Tian Bu Cu berkata lagi dengan suara rendah.

"Apakah kau benar-benar mempunyai bukti yang kuat? Perlu kau ketahui bahwa urusan ini tidak boleh dijadikan permainan. Kalau sampai terjadi keributan, kita sama-sama mendapatkan kesulitan yang tidak kepalang besarnya."

Baru saja Sia Hai Cinjin ingin memberikan jawaban, tiba-tiba terdengar suara tawa yang panjang.

"Bolehkah si pengemis tua ikut mendengarkan sedikit? Entah bukti apa yang tergenggam dalam tangan si hidung kerbau?"

Sia Hai Cinjin sadar bahwa pembicaraan antara dirinya dengan sang Susiok sudah tertangkap oleh telinga si pengemis sakti Cian Cong.

Tanpa terasa wajahnya jadi merah padam.

Dia memaksakan dirinya untuk mengembangkan seulas senyuman.

"Ternyata Cian Locinpwe juga tertarik dengan urusan ini."

Sepasang mata Cian Cong mendelik lebar-lebar. Dia membentak dengan suara keras.

"Cacing dalam perut si pengemis tua justru sedang kegatalan karena menagih arak. Siapa yang sempat mencuri dengar pembicaraan orang lain? Siapa suruh kau berkasakkusuk di samping si pengemis tua? Sekarang kau mengatakan bahwa kau tahu asal-usul sebenarnya dari Bulim Bengcu kita, telinga si pengemis sakti justru sudah gatal ingin mendengarkan!"

Sia Hai Cinjin mengira bahwa Cian Cong memang sengaja berteriak keras-keras agar perhatian para anggota perkumpulan Ikat Pinggang Merah serta orang-orang yang hadir di tempat itu jadi tertarik perhatiannya.

Ternyata, orang-orang yang berkumpul di tempat itu, tidak mengerti apa yang telah terjadi.

Wajah mereka segera dipalingkan kepada ketiga orang tersebut.

Sebetulnya bukan karena dia pernah bertarung tiga hari tiga malam dengan Tian Bu Cu, maka si pengemis sakti ini sengaja mencari gara-gara.

Tetapi karena dia terlalu mengkhawatirkan Tan Ki.

Setelah mendengar serentetan pembicaraan antara Susiok dan Sutit itu, tanpa dapat menahan emosi dalam dadanya lagi, dia mengeluarkan kata-kata dengan suara yang keras.

Dengan sikap panik Tan Ki berdiri di sudut.

Kepalanya mendongak ke atas menatap langit.

Dia tidak mengucapkan sepatah katapun.

Tampangnya seakan orang yang mendadak menemukan masalah besar namun tidak dapat dipecahkannya.

Terdengar suara Sia Hai Cinjin yang lantang.

"Ceng Hong, kemarilah!"

Dari rombongan Bu Tong Pai, keluar seorang Hwesio yang usianya masih muda.

Terdengar dia mengiakan satu kali kemudian menghambur ke depan.

Gerakan tubuhnya ringan dan gesit.

Dalam sekejap mata dia sudah sampai di hadapan Sia Hai Cinjin dan berdiri dengan sikap hormat.

Sia Hai Cinjin melihat pandangan mata orang-orang yang berkumpul di tempat itu seluruhnya terpusat pada dirinya.

Untuk sesaat dia malah dilanda ketegangan yang tidak terkirakan.

Kepercayaan dirinya menyurut.

Dan dia bertanya kepada si Hwesio muda dengan nada suara selirih mungkin.

"Coba kau perhatikan lagi baik-baik. Benarkah dia orang yang kau maksudkan?"

Dengan pandangan mata yang mengandung kebencian, Ceng Hong Hwesio melirik ke arah Tan Ki sekilas.

"Meskipun dia sudah berubah menjadi seonggok tulang belulang, tecu masih dapat mengenalinya..."

Nada suaranya demikian tegas sehingga tidak dapat diganggu gugat lagi. Mendengar ucapannya, Sia Hai Cinjin baru sanggup menghembuskan nafas lega.

"Orang ini pandai sekali ilmu menyamar. Dalam waktu yang singkat dia bisa berubah menjadi orang yang tidak dikenali..."

Sepasang mata Ceng Hong Hwesio menyorotkan sinar yang tajam menusuk. Dengan nada yang pasti terdengar dia berkata kembali.

"Urusan ini menyangkut kesejahteraan seluruh Bulim. Meskipun tecu mempunyai sepuluh nyawa, juga tidak berani bercanda di hadapan tokoh-tokoh sakti ini. Atau semba-rangan mengoceh yang hanya akan menjatuhkan nama baik partai kita sendiri."

Sia Hai Cinjin mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali.

"Bagus, kau memang tidak malu menjadi murid Bu Tong Pai..."

Perlahan-lahan dia berjalan maju beberapa langkah.

Kemudian berhenti di belakang punggung Tan Ki.

Menghadapi peristiwa yang tidak terduga-duga ini, orang-orang yang berkumpul di tempat itu malah tidak ada yang membuka suara sedikitpun.

Beratus pasang mata tertumpu perhatiannya pada diri Sia Hai Cinjin.

Suasana menjadi tegang tidak terkirakan.

Sia Hai Cinjin mengeluarkan suara batukbatuk kecil kemudian berkata dengan perlahanlahan.

"Apakah saudara ini Tan Sauhiap yang sekarang menjabat sebagai Bulim Bengcu?"

"Benar. Entah petunjuk apa yang ingin diberikan oleh Totiang. Silahkan cetuskan saja semuanya dengan terus terang. Tetapi harap tidak usah bersikap misterius sehingga orang lain menjadi penasaran."

Meskipun mulutnya memberikan sahutan, tetapi dia tidak membalikkan tubuhnya atau menolehkan kepalanya melirik Sia Hai Cinjin sekilas. Sikapnya begitu dingin dan membawa keangkuhan yang besar.

"Kalau begitu kemauan saudara, pinto terpaksa berterus terang. Dan tidak perlu lagi berbicara berbelit-belit!"

Tiba-tiba dia menghentikan kata-katanya. Wajahnya tampak serius. Kemudian terdengar dia melanjutkan kata-katanya dengan tajam...

"Setengah bulan yang lalu, saudara pernah menolong seorang perempuan siluman di sebelah tenggara Pek Hun Ceng kurang lebih pada jarak enam puluh li, benar atau tidak?"

Suaranya begitu ketus seakan sedang menanya kepada seorang pesakitan.

"Sama sekali tidak salah!"

"Hari itu saudara menunjukkan kehebatan ilmumu dengan seorang diri melawan tiga orang. Setelah bergebrak beberapa jurus dengan murid Bu Tong Pai kami, kau malah membunuh salah seorang murid partai kami yang bergelar Ceng Bok Hwesio, benar atau tidak?"

"Kejadian ini memang benar demikian adanya!"

Sia Hai Cinjin melihat Tan Ki terus mendongakkan wajahnya menatap langit. Namun mengakui semua yang ditanyakan olehnya. Nyalinya jadi besar dan melanjutkan kembali kata-katanya.

"Ilmu saudara sangat tinggi. Dalam waktu yang singkat berhasil membunuh Ceng Bok Hwesio, pinto hanya dapat menyalahkan murid kami sendiri yang tidak becus, serta tidak dapat menjaga nama baik Bu Tong Pai kami. Tetapi ucapan yang kau keluarkan tempo hari, benar-benar membuat pinto terkejut. Urusan ini menyangkut kesejahteraan seluruh Bulim. Pinto terpaksa mementingkan kepentingan umum dan melupakan sejenak dendam pribadi. Dengan demikian ingin mengungkit kembali persoalan lama!"

Dengan katakatanya ini, dia ingin membuat perhatian para hadirin tergugah pada dirinya.

Oleh karena itu dia segera berkata dengan suara yang keras.

Terdengar kumandang suaranya yang lantang menyusup ke dalam gendang telinga.

Melihat sikap hwesio itu mengajukan pertanyaan demikian serius dan angker, biar bagaimana Cian Cong merupakan seorang tokoh yang berpengetahuan luas dan sudah banyak pengalaman.

Lambat laun si pengemis sakti mulai merasakan gentingnya urusan ini.

Tetapi perasaan hatinya sangat mengkhawatirkan diri Tan Ki.

Tanpa dapat ditahan lagi dia bertanya.

"Ucapan apa sih yang dikatakannya hari itu, sehingga membuat kau begitu penasaran?"

Sia Hai Cinjin tertawa dingin.

"Nama Locianpwe sudah terkenal di seluruh dunia, sinar mata pun lebih tajam dari orang lain. Ternyata selama ini tidak menyadari bahwa ada seorang penjahat atau iblis yang selalu mendampingi di sisi tubuh. Benar-benar menggelikan!"

Untuk sesaat pikiran si pengemis sakti Cian Cong seakan menjadi buntu.

Mendengar sindirannya yang tajam, dia malah jadi termangu-mangu, tidak tahu apa yang harus ia ucapkan.

Dia sendiri tidak dapat mengatakan apakah saat ini hatinya merasa kesal atau marah mendengar ucapan Sia Hai Cinjin itu.

Yibun Siu San dan Tian Bu Cu seperti menemukan suatu hal sehingga pandangan mata mereka menatap diri Sia Hai Cinjin lekat-lekat.

Keduanya berdiam diri tanpa ikut campur dalam masalah ini.

Tetapi wajah Tian Bu Cu mulai menyiratkan perasaan paniknya.

Sedangkan hati Yibun Siu San bukan main tegangnya.

Terdengar Sia Hai Cinjin kembali berkata dengan suara lantang.

"Hal yang membuat hati Pinto terkejut setengah mati adalah ucapan saudara tempo hari yang mengaku diri sendiri sebagai Cian Bin Mo-ong yang tiba-tiba menghilang selama beberapa bulan terakhir ini. Entah benarkah apa yang pinto ucapkan ini?"

Begitu ucapannya keluar dari mulut, segera timbul reaksi dari orang-orang gagah yang berkumpul di tempat itu.

Wajah mereka menunjukkan mimik terkejut yang tidak kepalang besarnya.

Diam-diam timbul kecurigaan di dalam hati mereka.

Beratus pasang mata terpusat pada diri Sia Hai Cinjin.

Sejenak kemudian beralih pada diri Tan Ki.

Setelah itu kembali lagi menatap Sia Hai Cinjin.

Demikian mereka mengalihkan pandangan secara bergantian sampai beberapa waktu.

Mereka seakan ingin menyelidiki kebenaran dari mimik wajah kedua orang itu.

Apakah pemuda yang sanggup menaklukkan hati orang-orang gagah ini benar-benar si raja iblis Cian Bin Mo-ong?

Atau Sia Hia Cinjin yang mengada-ada?

Hati mereka diselimuti berbagai pertanyaan, mereka hanya dapat menduga-duga menurut pandangan masing-masing.

Begitu tegangnya suasana yang terasa di tempat itu sehingga mereka menunggu jawaban Tan Ki dengan menahan nafas.

Dengan tubuh membelakangi orang-orang, Tan Ki seakan sedang memperhatikan keadaan di sekitarnya secara diam-diam.

Kurang lebih sepeminuman teh kemudian, baru terdengar Tan Ki berkata dengan perlahan-lahan.

"Apa yang totiang katakan semuanya merupakan kenyataan. Cayhe memang Cian Bin Mo-ong sebagaimana dugaanmu. Apa kiranya yang hendak totiang lakukan sekarang?"

Kata-kata ini diucapkan dengan nada yang panjangnya tidak terkirakan.

Setiap kalimat seakan mengandung kekuatan yang hebat.

Serta tajam bagai pisau.

Sia Hai Cinjin yang mendengarnya, tanpa dapat ditahan lagi meremang semua bulu kuduk di tubuhnya.

Kakinya tergetar mundur satu langkah.

Perlu diketahui bahwa bagaimanapun Tan Ki sudah terpilih sebagai Bulim Bengcu saat ini.

Lagipula tokoh-tokoh yang bergabung di bawah benderanya terdiri dari berbagai kalangan.

Tidak sedikit yang berwatak kasar dan garang.

Kalau hati merasa kurang senang, kemungkinan bisa menebas lehermu dengan golok tanpa berpikir panjang lagi.

Pokoknya perintahmu langsung diabaikan oleh mereka.

Tetapi apabila hati mereka sudah takluk kepada seseorang, mereka tidak segan mengorbankan apa saja.

Kesetiaan mereka tidak perlu diragukan lagi.

Kalau ditilik dari keadaan di depan mata, setelah mendengar ucapan Tan Ki, mereka masih berdiri tegak dengan mata memperhatikan mereka berdua.

Bahkan sikap mereka seakan sedang menunggu sesuatu.

Seandainya nafsu membunuh dalam hati Tan Ki terbangkit, sekali menurunkan perintah, pasti dalam sekejap mata akan terjadi pertumpahan darah besar-besaran.

Oleh karena itu, meskipun hati Sia Hai Cinjin merasa benci sekali kepada anak muda ini, tetapi mau tidak mau dia harus mempertimbangkan situasi di sekelilingnya.

Terdengar dia mengeluarkan suara tawa yang kering.

"Kalau saudara sadar tanganmu berlumuran dosa, lebih baik kau lepaskan dirimu secepatnya dari jabatan ini. Biar bagaimana pinto..."

Tiba-tiba tampak sesosok bayangan berkelebat keluar dari rombongan Tan Ki secepat kilat.

Dalam waktu yang bersamaan terendus segulung bau harum yang terpancar dari tubuh seorang wanita.

Begitu dia mengalihkan pandangan matanya, ternyata Ceng Lam Hong yang menghambur keluar dari rombongan orang banyak itu.

Hatinya tercekat, tetapi sesaat kemudian dia justru merasa lega.

Karena Tan Ki adalah seorang pimpinan, kekuasaan di tangannya besar sekali.

Asal dia menurunkan perintah, para anggotanya pasti berbondong-bondong keluar dengan senjata masing-masing di tangan.

Lagipula kedudukannya sebagai seorang Bulim Bengcu, memang hanya Ceng Lam Hong seorang yang dapat mengendalikan dirinya...

Tepat ketika pikirannya masih melayanglayang.

Tampak Ceng Lam Hong menggerakkan pergelangan tangannya sambil memaki.

"Anak tak tahu diri!"

Begitu kata-katanya diucapkan, air matanya pun mengalir dengan deras.

Hal ini membuktikan bahwa perasaan wanita itu sedang dilanda kepedihan yang tidak terkirakan.

Emosi dalam dadanya bergejolak hebat.

Tetapi pukulannya kali ini rupanya mengandung kekuatan yang cukup besar.

Tampak pipi kiri Tan Ki merah bengap dan tergetar mundur setengah langkah.

Di sudut bibirnya terlihat bekas darah.

Matanya mengejap-ngejap, seakan ada sesuatu yang ingin dikatakannya.

Tetapi akhirnya dia menahan semuanya dalam hati.

Sepasang kakinya ditekuk dan dia menjatuhkan diri berlutut di hadapan Ceng Lam Hong.

Melihat keadaan itu, sepasang alis si pengemis sakti Cian Cong langsung berkerutkerut.

Dengan langkah lebar dia berjalan menghampiri Ceng Lam Hong.

Sementara itu, baik Mei Ling maupun Liang Fu Yong langsung menghambur keluar.

Terdengar yang satu memanggil "Ibu!"

Dan yang satunya lagi menyebut "Pek Bo!"

Keduanya berhenti di hadapan Ceng Lam Hong.

Hati kedua perempuan ini sudah barang tentu memihak kepada Tan Ki.

Setelah saling melirik sekilas, keduanya serentak menjatuhkan diri berlutut di hadapan Ceng Lam Hong.

Liang Fu Yong menggigit bibirnya sendiri perlahan-lahan.

Setelah merenung sejenak, tampak dia mendongakkan wajahnya yang sudah penuh dengan deraian air mata.

Suaranya begitu pilu dan sendu.

"Apabila Pek Bo ingin menghukum adik Ki, lebih baik hajar saja keponakanmu ini sebagai gantinya. Karena keadaan diri adik Ki sudah lama kuketahui, justru karena takut hal ini akan mempengaruhi masa depan serta namanya yang mulai naik, selama ini aku selalu ragu-ragu dan belum sanggup menyatakannya di hadapan umum..."

Mei Ling mengeluarkan tawa yang pilu. Dia langsung menukas perkataan Liang Fu Yong.

"Sudah tahu salah tetapi berniat merubah, justru merupakan hal yang sulit dilakukan orang lain. Meskipun Tan Koko mempunyai dosa yang besar, tetapi karena dia sudah menyadari kesalahannya sendiri dan dengan berani merubah sikapnya, harap Ibu dapat memaafkannya kali ini saja."

Ceng Lam Hong adalah seorang wanita berhati lembut. Mendengar ucapan kedua "perempuan itu, hatinya jadi melemah. Perlahan-lahan dia menarik nafas panjang. Kemudian terdengar dia berkata.

"Apa yang kalian pikirkan dalam hati, aku mengerti semuanya. Sayangnya bukan aku yang berhak memutuskan masalah ini. Apakah anak yang tidak tahu diri ini harus mati atau dibiarkan hidup, terpaksa menyerahkan keputusannya pada para sahabat yang hadir di tempat ini."

Sembari berkata, dia membangunkan kedua perempuan itu. Kemudian kepalanya menoleh kepada Sia Hai Cinjin dan menjura dalam-dalam.

"Totiang merupakan orang pertama yang berhasil mengungkap rahasia diri anak yang tidak tahu diri ini. Dengan demikian, harap kau juga yang mengambil keputusan. Apapun hukumannya, aku tidak akan turut campur."

Selesai berkata, ternyata dia benar-benar mengundurkan diri tiga langkah ke belakang.

Dengan ucapan yang sederhana, dia sudah menyerahkan seluruh tanggung jawab pada diri Sia Hai Cinjin.

Matahari sudah di atas kepala.

Begitu teriknya sehingga udara terasa sesak.

Suasana di tempat itu demikian mencekam.

Hanya Tan Ki seorang yang menunggu hukuman dengan berlutut di atas tanah tanpa bergerak sedikit-pun.

Sepasang mata Sia Hai Cinjin mengedar ke seluruh tempat tersebut.

Tiba-tiba dia tertawa dingin dan berkata dengan nada berat.

"Ibumu menyerahkan tanggung jawab ini kepada diri Pinto, sebetulnya merupakan urusan yang tidak mudah diselesaikan. Harap saudara jangan melakukan perlawanan apapun. Mengingat kedudukan dirimu sebagai seorang Bulim Bengcu, pinto hanya akan melenyapkan seluruh ilmu yang kau miliki..."

Belum lagi ucapannya selesai, tiba-tiba terdengar suara bentakan yang keras.

"Walaupun bocah ini bersedia menerima hukuman, tetapi harus lihat dulu apakah si pengemis tua ini merasa senang atau tidak!"

Telapak tangannya menghantam ke depan, langsung terasa ada serangkum tenaga yang kuat melanda datang.

Sia Hai Cinjin mencelat ke belakang setengah langkah.

Kemudian telapak tangannya mendorong keluar dan menyambut serangan Cian Cong dengan kekerasan.

Begitu kedua gulung tenaga beradu, mereka sama-sama tergetar tubuhnya dan terhuyung-huyung seperti orang mabok.

"Lwekang yang bagus!"

Bentak Cian Cong.

Sembari berkata, tiba-tiba tubuhnya mendesak ke depan.

Segulung serangan dan tendangan dilancarkan.

Secara berturut-turut dia melancarkan sembilan jurus.

Sia Hai Cinjin tidak mengira bahwa si pengemis tua ini benar-benar hendak mengadu jiwa dengannya.

Diam-diam hatinya tercekat sekali.

Cepat-cepat dia mengerahkan ilmu Bu Tong Pai yang hebat, tangan kiri menangkis, tangan kanan menahan.

Sembilan jurus telah berlalu, dirinya sendiri tidak kurang tidak lebih tergetar mundur sejauh sembilan langkah.

Para murid Bu Tong Pai melihat Ciang Bunjin mereka menghadapi musuh tangguh.

Segera terlihat keadaannya yang semakin lama semakin terdesak.

Tanpa terasa hati mereka jadi khawatir.

Tampak mereka mengeluarkan senjata masing-masing dan siap maju ke depan memberikan pertolongan.

Justru di saat suasana menjadi panas itulah, terdengar suara bentakan seseorang.

"Berhenti!"

Suaranya begitu keras, bergema memekakan telinga.

Bahkan Cian Cong dan Sia Hai Cinjin sampai menghentikan gerakan tubuh mereka dan mencelat ke sudut.

Begitu pandangan mata dialihkan, tampak Tian Bu Cu berjalan keluar dengan wajah kelam.

Pada jarak enam langkah dari diri Tan Ki, dia menghentikan langkah kakinya.

Sepasang matanya menyorotkan sinar yang tajam.

Pertama-tama dia melirik sekilas kepada si pengemis sakti Cian Cong, kemudian beralih kepada Sia Hai Cinjin dan terakhir pandangan matanya berhenti pada diri Tan Ki.

"Apakah kau sudah sadar akan dosamu?"

Tanyanya dengan nada berwibawa. Tan Ki menarik nafas panjang. Wajahnya tampak kelam sekali.

"Ketika mula-mula berkecimpung di dunia Kangouw, karena sedikit kesalahpahaman, serta pandangan yang picik, Boanpwe melanggar pantangan membunuh. Dari awal hingga akhir, tokoh-tokoh yang mati di tangan Cian Bin Mo-ong, kecuali murid Bu Tong yang disebutkan tadi, seluruhnya ada dua puluh tujuh orang. Boanpwe sadar pengetahuan diri sendiri terlalu dangkal, pandangan hidup pun demikian picik, sehingga salah membunuh orang. Dengan tangan yang berlumuran darah ini, tidak mungkin boanpwe berani menyandang tanggung jawab berat. Hal ini sering membuat hati boanpwe jadi tidak tenteram..."

Berkata sampai di sini, ucapannya terhenti. Dia melepaskan ikat pinggang merahnya dan menyodorkan ke hadapan Tian Bu Cu dengan hormat. Kemudian terdengar lagi suaranya yang pilu.

"Ilmu silat boanpwe masih kurang becus, dengan demikian juga tidak pantas memikul tanggung jawab yang berat ini. Tetapi saat ini, golongan sesat dari luar samudera akan melakukan penyerangan besarbesaran. Boanpwe terpaksa menyerahkan jabatan ini kepada orang lain. Semoga Bengcu yang akan terpilih nanti dapat memikirkan kesejahteraan dunia Bulim melebihi kepentingan dirinya sendiri. Mengenai diri Boanpwe sendiri yang membunuh orang-orang tidak bersalah dengan nama Cian Bin Mo-ong, memang merupakan suatu dosa yang besar. Oleh karena itu, boanpwe rela menerima hukuman apapun yang diberikan oleh para Cianpwe..."

Selesai berkata, kembali dia menarik nafas panjang-panjang. Tampangnya saat itu sungguh mengenaskan. Seakan seorang pendekar besar yang menemui jalan buntu.

"Apakah kau ingat bahwa dendam kematian ayahmu masih belum terbalas?"

Mendengar kata-katanya, tubuh Tan Ki langsung tergetar hebat. Dia mendongakkan wajahnya sambil bertanya.

"Pada saat seperti ini Locianpwe tiba-tiba mengajukan pertanyaan yang menyangkut kematian ayahku, entah maksud apa sebenarnya yang terkandung dalam hati locianpwe?"

Mata Tian Bu Cu beredar, dia segera melihat orang-orang gagah yang berkumpul itu sedang berkasak-kusuk dan berdebat di sana sini. Diam-diam dia berpikir di dalam hatinya.

"Kalau ditilik dari keadaan sekarang ini, apabila pinto menjelaskan niat yang sebenarnya, pasti ada saja orang yang merasa kurang senang. Kemungkinan malah bisa terjadi kekacauan yang tidak diinginkan. Lebih baik aku menyatakan secara terbuka apa yang dipesankan oleh Yibun Siu San tadi, mungkin dengan cara demikian, mereka malah akan terharu terhadap keadaan Tan Ki..."

Dia langsung tersenyum lembut.

Tampaknya dia sudah mengambil suatu keputusan.

Tangannya terulur dan dikeluarkannya sebuah botol kecil yang terbuat dari batu kumala.

Dibukanya tutup botol itu kemudian dituangkannya isi berupa pil berwarna kuning dan merah ke dalam telapak tangan.

Kemudian dijumputnya sebutir pil yang berwarna merah dan lalu tersenyum simpul.

"Ini merupakan pil beracun yang reaksinya sangat cepat. Kalau kau merasa menyesal karena telah membunuh orang-orang yang tidak berdosa, bagaimana kalau kau telan obat beracun ini?"

Mendengar kata-katanya, mula-mula Tan Ki agak tertegun.

Kemudian tampak dia tertawa getir dan menyambut pil berwarna merah tersebut.

Melihat gerak-geriknya ini, tampaknya Tan Ki telah mengambil keputusan yang besar.

Orang-orang gagah yang melihatnya sampai berubah wajah mereka.

Otomatis mereka menyayangkan apabila tokoh yang begini muda dan berilmu tinggi harus mati begitu saja.

Tiba-tiba Mei Ling menghambur keluar dari rombongan Tan Ki.

Dia berlutut di samping suaminya dengan air mata berderai.

"Tan Koko, apakah kau benar-benar akan menelan racun itu?"

Sekali lagi Tan Ki menarik nafas panjang.

"Kecuali begini, tidak ada cara lain lagi untuk menyatakan penyesalan hatiku. Selama hidup ini, aku telah banyak berbuat dosa. Saat ini aku dapat mati di hadapan para orangorang gagah sedunia, rasanya tidak perlu disayangkan juga!"

Mei Ling mengusap air matanya kemudian tersenyum lembut. Namun orang-orang dapat merasakan kegetiran yang menyayat hati terselip di balik senyumannya.

"Apakah obat itu benar-benar mengandung racun yang ganas?"

Tan Ki adalah seorang pemuda yang cerdas, tetapi untuk sesaat dia juga tidak menangkap apa maksud pertanyaan Mei Ling itu. Mendengar pertanyaannya, dia malah jadi termangu -mangu.

"Tentu saja racunnya sangat ganas."

Sahutnya kemudian. Mei Ling mengulurkan tangan kanannya sambil tersenyum.

"Berikan setengah dari pil itu kepadaku. Seandainya kau mati, aku toh masih bisa mendampingi di sisimu!"

Nada suaranya begitu datar dan tenang, seakan dia juga sudah bertekad untuk mengiringi kematian Tan Ki.

Tidak setitik gejolak emosipun yang terlihat.

Hal ini membuktikan bahwa keputusannya sudah tidak dapat diganggu gugat.

Hati Tan Ki tercekat mendengar ucapannya.

Tubuhnya sampai tergetar.

Kemudian dia menggelengkan kepalanya berkaji-kali.

Dikembangkannya secercah tawa yang getir.

"Urusan ini timbul dari diriku sendiri. Sudah sepatutnya aku sendiri yang menanggung resiko ini!"

Sembari berkata, dia langsung menggerakkan tangannya, mulutnya terbuka dan berniat menelan pil beracun itu.

Justru di saat yang genting di mana pil beracun itu hampir masuk ke dalam mulutnya, tiba-tiba terdengar seseorang menyebutkan "Omitohud!"

Kemudian membentak.

"Tunggu dulu!"

Suaranya sirap, orangnya pun muncul, dia adalah Ciang Bunjin Siau Lim Pai, Pun Sang Taisu.

Matanya menyorotkan sinar yang lembut, begitu kakinya mendarat di atas tanah, tangannya secepat kilat mencengkeram perge-langan tangan Tan Ki.

Tokoh ini merupakan Cian Bunjin Siau Lim Pai, sekaligus tokoh tersakti dari generasi Pun.

Gerakan yang dilakukannya secepat kilat, orang lain pasti sulit meloloskan diri dari cengkeramannya.

Tetapi Tan Ki bukan tokoh sembarangan.

Melihat kedatangannya yang sekonyong-konyong itu, dia sudah dapat menduga apa maksud hwesio tua ini.

Hatinya saat ini sudah bertekad untuk menebus dosa dengan kematian.

Mana mungkin dia membiarkan Pun Sang Taisu merebut pil beracun itu.

Oleh karena itu, dia segera membentak dengan nada suara yang keras.

"Taisu, hati-hati!"

Sembari berkata, lengan kanannya telah mengerahkan tenaga dalam yang dahsyat.

Disambutnya serangan Pun Sang Taisu yang hebat.

Dalam waktu yang bersamaan, telapak tangan kanannya terangkat ke atas dan langsung dimasukkannya pil beracun itu ke dalam mulut serta menelannya ke dalam perut.

Terdengar suara benturan dua gulung tenaga yang dahsyat.

Dalam jarak tujuh langkah, debu-debu beterbangan.

Bahkan orang-orang yang ada di sekitarnya ikut tergetar, pakaian mereka berkibar-kibar.

Timbul serangkum angin yang kencang sekali.

Serangan ini dilancarkan Tan Ki dengan perhatian terpencar.

Oleh karena itu kekuatan yang terkandungnya tidak sehebat biasa.

Begitu beradu dengan pukulan Pun Sang Taisu, kakinya langsung goyah kemudian tampak terhuyung-huyung mundur satu langkah.

Watak Pun Sang Taisu sangat welas asih, tadinya dia hendak mencegah Tan Ki menelan pil beracun tersebut.

Setelah itu dia ingin menyatakan di hadapan umum jasajasa yang pernah dibuat Tan Ki sehingga timbul belas kasihan mereka, Kemungkinan dirinya akan lolos dari hukuman mati.

Tidak tahunya pikiran Tan Ki sudah bertekad untuk menebus dosanya dengan kematian.

Hatinya merasa tertekan sekali.

Wajahnya kelam.

Sepasang telapak tangannya dirangkap di depan dada dan terdengar mulutnya menyebut nama Bud-dha.

"Omitohud!"

Nada suaranya mengandung penyesalan yang dalam. Tan Ki tertawa getir.

"Kasih sayang Taisu kepada Boanpwe, hanya dapat Boanpwe simpan dalam-dalam di sanubari ini. Sayangnya dosa yang Boanpwe lakukan terlalu besar sehingga tidak berani menerima belas kasihan dari Taisu."

Pun Sang Taisu memejamkan sepasang matanya.

"Apapun yang dilakukan oleh Tian Bu Cu, pasti mengandung makna yang dalam. Pinceng tidak seharusnya bertindak ceroboh dan mengacaukan urusan ini..."

Tiba-tiba orangtua ini seakan teringat suatu masalah besar.

Kata-katanya pun tidak jadi diteruskan.

Perlahan-lahan dia melangkah mundur tiga tindak dan menyaksikan perkembangan selanjutnya dari samping.

Meskipun dia tidak melanjutkan kata-katanya, tetapi orang-orang gagah yang berkumpul di tempat itu tahu bahwa hwesio tua ini mempunyai pemikiran yang dalam.

Saat ini dia pasti sedang merenungkan suatu masalah yang besar.

Tan Ki melihat dia mengundurkan diri dengan mata menyorotkan sinar kesenduan.

Diam-diam hatinya merasa terharu.

Ingin sekali dia maju ke depan dan menyatakan terima kasihnya.

Tiba-tiba dia merasa sesuatu yang aneh dalam tubuhnya.

Serangkum hawa panas mengalir di seluruh peredaran darahnya.

Kemungkinan pil yang ditelannya tadi mulai menunjukkan reaksinya.

Hawa panas semakin lama semakin membara dalam tubuhnya.

Meskipun tenaga dalam Tan Ki sudah mencapai taraf yang tinggi sekali, namun dia tetap merasakan tenggorokannya menjadi kering sampai menelan ludahpun sulit.

Panasnya hampir tidak tertahankan.

Keringat mulai membasahi kening leher bahkan dadanya.

Hatinya terkejut setengah mati.

Kakinya yang baru maju beberapa langkah segera dihentikan.

Diam-diam dia mengerahkan hawa murni dalam tubuhnya, tetapi dia tidak merasa sakit ataupun gatal.

Dia pernah mendapat penjelasan dari Yibun Siu San, bahwa obat beracun, semakin ganas, semakin tidak terasa.

Hatinya tergetar.

Diam-diam dia berpikir.

"Apa yang dikatakan Tian Bu Cu Locianpwe ternyata tidak salah. Racun yang terkandung dalam obat ini keji sekali. Tampaknya aku tidak mati secara gagah di bawah ancaman pedang atau golok, tetapi malah mati dengan sebutir pil beracun. Benar-benar menggelikan!"

Hatinya merasa kecewa, tanpa sadar mimik wajahnya menunjukkan perasaan hatinya yang putus asa. Tiba-tiba telinganya mendengar suara Tian Bu Cu yang bening dan lembut.

"Apakah kau menganggap cara pinto ini terlalu keji?"

Wajah Tan Ki langsung berubah, tampak dia menggelengkan kepalanya.

"Mana mungkin Boanpwe berani mempunyai pikiran seperti itu?"

Tian Bu Cu tertawa lebar.

"Aku rasa dalam keadaan seperti ini, kau memang tidak berani mempunyai pikiran yang bukan-bukan. Tetapi, ada satu hal yang ingin pinto tanyakan kepadamu... kau merasa lebih baik mati dengan tenang seperti ini, atau lebih baik mati dengan gegap gempita?"

Tan Ki menundukkan kepalanya merenung sejenak.

"Seorang manusia hidup di dunia, apabila tidak dapat melakukan suatu hal yang besar, setidaknya kehidupan ini dilewatkan dengan berharga. Boanpwe hidup di dunia Bulim yang keras, sudah tentu memilih mati dengan gegap gempita. Apabila kita sudah mati, tetapi masih ada sebagian orang yang menarik nafas panjang menyesalkannya, setidak-tidaknya hidup kitja itu sudah berarti."

Kenyataan di depan mata sekarang ini, dosa yang pernah kau perbuat terlalu besar.

Meskipun harus menerima hukuman mati dengan diseret lima ekor kuda, rasanya masih pantas.

Tetapi keadaan sekarang ini justru sedang gawat-gawatnya.

Pihak Lam Hay dan Si Yu tidak mungkin menyudahi urusan ini begitu saja.

Kami sebetulnya membutuhkan orang yang berilmu tinggi seperti dirimu ini.

Oleh karena itu, pinto terpaksa mencari sebuah jalan keluar.

Kalau kau bersedia mengorbankan diri, bukan saja hidupmu menjadi berarti, malah namamu tetap harum dipandang sebagai pahlawan bangsa!"

Kata-kata yang diucapkannya ini mengandung makna yang dalam.

Rasa ingin tahu orang-orang gagah yang berkumpul di tempat itu jadi tergugah.

Beratus-ratus pasang mata terpusat pada diri Tian Bu Cu.

Sikap mereka menunjukkan ketegangan yang tidak terkirakan.

Tian Bu Cu mengeluarkan suara batuk-batuk kecil.

Kemudian terdengar dia melanjutkan kata-katanya dengan perlahan.

"Menurut penyelidikan keponakan Sia Hai Cinjin, saat ini pihak Lam Hay dan Si Yu berkumpul di sebuah lembah yang jaraknya delapan puluh li di sebelah tenggara. Tempat itu sangat terpencil dan tidak mudah mengadakan penyelidikan. Tetapi kalau ditinjau dari ilmu yang kau miliki sekarang ini, hal ini pasti tidak menjadi persoalan bagi dirimu. Oleh karena itu, pinto memberanikan diri mengambil keputusan. Pinto telah memberimu sebutir pil beracun yang baru akan bereaksi setengah bulan kemudian. Apabila kau ingin menebus dosamu dengan membuat jasa, maka kau boleh membawa batok kepala pemimpin Lam Hay Bun itu dan kembali kemari menemui Pinto. Kalau bukan sampai jejakmu yang kepergok orang, pinto harap kau tidak mati dengan sia-sia. Paling tidak kau harus membunuh salah seorang tokohnya sebagai temanmu di alam baka nanti!"

Tan Ki belum pernah mendengar Tian Bu Cu mengucapkan kata-kata yang begitu sadis. Untuk sesaat dia malah jadi termangu-mangu. Terdengar si pengemis sakti Cian Cong tertawa dingin.

"Entah maksud apa yang terkandung dalam hati si hidung kerbau ini. Kepergian anak Ki ini sama saja dengan menghadapi musuh seorang diri. Meskipun ia mempunyai kepandaian membalikkan bumi ini, tetap tidak mungkin kembali dalam keadaan hidup. Si pengemis tua paling suka menempuh bahaya, biar aku menemani dia pergi!"

Tian Bu Cu tahu adat si pengemis yang angin-anginan. Dia tertawa lebar mendengar ucapannya.

"Kalau urusannya mudah seperti membalikkan tangan sendiri, Pinto juga tidak akan menyuruh dia pergi. Perlu kau ketahui, kepergiannya yang seorang diri memang tampaknya menghadapi bahaya yang besar, bisa pergi tidak mungkin kembali lagi. Tetapi apabila dia bisa bertindak sesuai dengan perkembangan dan kesempatan, mungkin dia mempunyai peluang besar untuk berhasil. Apalagi dia masih mempunyai waktu setengah bulan sebelum racun dalam tubuhnya menunjukkan reaksi. Menang, kalah, hidup atau mati, semua tergantung dari kecerdasan otaknya. Seandainya Cian-heng menemani dia, secara tidak langsung malah menjadi beban. Jejaknya lebih mudah dipergoki musuh. Berhasil belum tentu, kalah sudah pasti. Pinto sama sekali tidak setuju dengan pendapat ini!"

Sembari berkata, dia membalikkan tubuhnya kembali dan membentak dengan suara keras.

"Fu Yong, kau hendak ke mana?"

Liang Fu Yong menyeret tangan Mei Ling dan baru berjalan satu langkah.

Niatnya ingin melarikan diri secara diam-diam.

Mendengar suara bentakan gurunya, tampak wajahnya berubah hebat.

Cepat-cepat dia menghentikan langkah kakinya dan menyahut dengan gugup...

"Ti... tidak..."

Mata Tian Bu Cu yang menyorotkan sinar tajam menatap wajahnya lekat-lekat. Hati Liang Fu Yong jadi tergetar. Terdengar Tian Bu Cu berkata lagi dengan nada berat.

"Kau ingin belajar seperti dulu lagi, meninggalkan pegunungan secara diam-diam dan membantu Tan Ki? Kau harus tahu bahwa murid Bu Tong Pai harus mengikuti peraturan yang ketat. Siapa yang berani melanggarnya, harus menerima hukuman berat. Kalau kau memang tidak takut dituduh sebagai murid murtad, silahkan pergi, tidak apa-apa!"

Isi hatinya tertembus oleh Tian Bu Cu, wajah Liang Fu Yong langsung berubah merah padam.

Tanpa terasa kepalanya tertunduk rendah-rendah dan tidak berani menyahut sepatah katapun.

Setelah memarahi muridnya, pandangan mata Tian Bu Cu kembali beralih kepada Sia Hai Cinjin.

"Kemarikan kantong bekalmu itu. Biar dibawa oleh Tan Ki!"

Orang-orang yang biasa berkelana di dunia Kangouw selalu membawa kantong bekal dalam perjalanan.

Dengan demikian, apabila mereka berjalan di daerah yang terpencil atau hutan di mana tidak terdapat rumah makan maupun penginapan, mereka mempunyai persiapan untuk mengisi perut.

Sia Hai Cinjin dan anggota para lima partai besarnya berangkat dari perguruan masing-masing menuju Tok Liong-hong untuk memberikan bantuan kepada perkumpulan Ikat Pinggang Merah, sudah tentu mereka membawa bekal dalam jumlah yang cukup banyak, paling tidak untuk seminggu perjalanan.

Setelah mendengar perkataan Tian Bu Cu, dia segera mengeluarkan kantong bekalnya kemudian menyodorkannya kepada Tan Ki.

Dengan membawa sebatang pedang, Ceng Lam Hong menghampiri putranya.

Wajahnya menyiratkan kepedihan hatinya.

"Pedang pendek ini milik Kiau Hun yang digunakan untuk mematahkan pedang sulingmu tempo hari, bukan senjata biasa. Kau benar-benar tidak tahu kebaikan orang. Pedang penghancur pelangi yang sudah dihadiahkan kepadamu, malah kau kembalikan kepada si gadis berpakaian putih. Kalau tidak membawa senjata tajam di sampingmu, keadaan dirimu semakin berbahaya. Bawa saja pedang pendek ini..."

Biar bagaimanapun, Ceng Lam Hong adalah seorang ibu yang sangat menyayangi putranya.

Walaupun dosa Tan Ki sangat besar karena membunuhi orang-orang yang tidak berdosa, bahkan menimbulkan kegemparan di dunia Bulim, tetapi menjelang perpisahan yang entah masih dapat berjumpa lagi atau tidak, tanpa dapat ditahan lagi air matanya jatuh bercucuran.

Berkata beberapa patah, dia tidak sanggup meneruskan lagi, suaranya tersendat-sendat karena isak tangis yang pilu.

Tiba-tiba dia memalingkan kepalanya, lengan bajunya diangkat ke atas untuk menutupi wajah dan memaksakan dirinya untuk berkata.

"Jaga dirimu baik-baik..."

Belum lagi suaranya sirna, orangnya sendiri langsung membalikkan tubuh dan berlari pergi secepat kilat.

Tentu saja dia hampir tidak sanggup menahan kepedihan hatinya mengingat perpisahan kali ini merupakan perpisahan hidup dan mati.

Yibun Siu San menarik nafas panjang.

"Anak Ki, kau bukan tidak punya peluang untuk hidup. Baik-baiklah kau gunakan kecerdasan serta akal sehatmu dalam melakukan tugas. Bertindak mengikuti keadaan, harus bisa menahan penderitaan yang bagaimanapun beratnya. Dengan demikian kau baru pantas disebut orang yang berakal budi. Aku harap kau akan kembali menemuiku dalam keadaan hidup."

Selesai berkata, dia tidak menunggu jawaban dari Tan Ki.

Tubuhnya berkelebat mengejar di belakang Ceng Lam Hong.

Kata-kata yang diucapkannya tadi mengandung makna yang dalam.

Hati Tan Ki bukan main terharunya, sepasang matanya menatap bayangan Yibun Siu San dan Ceng Lam Hong lekat-lekat.

Untuk sesaat, seakan ada sesuatu yang dirasakannya.

Dia tidak mengucapkan sepatah katapun, tetapi di sudut bibirnya tersungging seulas senyuman.

Kurang lebih sepeminum teh kemudian, baru dia mengalihkan kembali pandangan matanya.

Tatapannya beredar kepada orang-orang gagah yang berkumpul di sana sekilas.

"Cayhe mohon diri."

Katanya sambil membungkukkan tubuhnya dalam-dalam, setelah itu dia membalikkan tubuhnya meninggalkan tempat itu.

Orang-orang yang ada di sana dapat mendengar nada suaranya yang berat.

Seperti ucapan seorang pendekar yang pergi tanpa kembali lagi, diam-diam hati mereka terasa tertekan...

Sementara itu, Mei Ling menghambur ke depan mengejarnya.

Sepasang alisnya mengerut ketat.

Wajahnya sendu sekali, air mata berderai membasahi pipi.

Dengan suara yang menyayat hati dia berteriak...

"Tan Koko!"

Mendengar panggilannya, langkah kaki Tan Ki terhenti.

Dia langsung menolehkan kepalanya.

Dua pasang mata bertemu pandang.

Dia melihat sorot kepedihan terpancar jelas dari mata istrinya.

Tiba-tiba saja hatinya seakan dilanda tekanan bathin yang hebat.

Langkah kakinya malah dipercepat dan dalam sekejap mata dia sudah menghambur pergi.

Meskipun sudah menelan pil beracun pemberian Tian Bu Cu, tetapi racun itu tidak berpengaruh sama sekali terhadap ilmu silatnya.

Begitu dia mengerahkan ilmu ginkangnya, tubuhnya bergerak bagai hembusan angin dan melayang terus ke depan.

"Tan Koko!"

Dari belakangnya terus berkumandang suara panggilan.

Nadanya bagai ratapan seorang isteri yang ditinggal mati suaminya.

Begitu pilu dan mengenaskan.

Kumandangnya bergema di seluruh bukit.

Tan Ki merasa suara panggilan itu bagai beribu batang pedang yang menusuk jantungnya.

Hatinya sakit bukan kepalang.

Hampir saja dia menghentikan langkah kakinya dan melepas rasa rindu dengan isterinya.

Namun akhirnya dia menggerakkan giginya eraterat dan menahan rasa pilu di hatinya.

Tanpa memalingkan kepala sekalipun dia terus berlari sekencang-kencangnya.

Angin sejuk berhembus dari depan, menerpa wajahnya yang penuh dengan air mata...

Kurang lebih setengah kentungan kemudian, suara panggilan di belakangnya tidak terdengar lagi.

Tanpa terasa langkah kakinya diperlambat.

Pandangan matanya segera beredar.

Rupanya dia sudah sampai di sebuah lembah yang terpencil dekat bukit Tok Liong-hong.

Rumput-rumput tumbuh liar, bunga serta pepohonan membisu.

Pemandangan ini menimbulkan rasa pilu bagi orang yang melihatnya.

Tampak dia menarik nafas dalam-dalam.

Kemudian wajahnya mendongak ke atas dan menghembuskan nafasnya panjang-panjang.

Terlihat olehnya cakrawala membentang tanpa batas.

Awan putih berarak, sekonyong-konyong dadanya terasa lapang.

Segala macam kepedihan yang tadi membaur dalam hatinya sirna seketika.

Kegagahannya terbangkit.

Setelah menentukan arah yang tepat, dia langsung berlari menuju bagian tenggara.

Tampak padang rumput yang luas dengan tanah kuning berhamparan.

Di hadapannya terlihat sebuah makam baru.

Kalau dilihat dari tanahnya yang berserakan, kemungkinan besar jenazah di dalamnya baru dikubur dan bahkan dilakukan dengan tergesa-gesa.

Pada dasarnya Tan Ki merupakan seorang pemuda yang cerdas.

Setelah merenung sejenak, dia segera dapat menduga asal-usul kuburan itu.

Pasti tempat ini dilalui rombongan Lam Hay dan Si Yu.

Tukang kereta yang umum jarang melintasi daerah ini.

Orang mati yang baru dikubur itu, pasti orang dari pihak Lam Hay yang mati dalam pertarungan tadi.

Mereka digebah pergi oleh kehebatan ilmu si gadis berpakaian putih.

Oleh karena itu, orang ini tidak sempat dikubur dengan layak, apalagi pakai upacara segala macam.

Itulah sebabnya mereka mengambil jalan pintas dengan menguburkannya di tempat ini.

Meskipun Tan Ki tidak tahu siapa orang yang dikubur itu, tetapi mengingat kepergiannya kali ini menempuh bahaya sedemikian besar, pikirnya mungkin dia tidak bisa kembali lagi dan berubah menjadi mayat seperti orang yang baru dikubur ini...

Melihat pemandangan yang menyedihkan ini, tiba-tiba muncul perasaan senasib dengan orang yang mati itu.

Tanpa terasa dia membungkukkan tubuhnya dalam-dalam memberi penghormatan terakhir kepada orang mati yang ada di dalam makamnya.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendatangi dari belakang punggungnya, tetapi sekejap kemudian berhenti lagi.

Kemungkinan orang itu melihat bayangan punggung Tan Ki sehingga terkejut dan menghentikan langkah kakinya.

BAGIAN LV Suara langkah kaki itu demikian ringan dan lirih.

Kalau bukan orang yang pendengarannya tajam sekali, pasti tidak akan merasakannya.

Hati Tan Ki langsung tercekat.

Cepat-cepat dia menolehkan kepalanya sembari mengerahkan tenaga dalam secara diam-diam untuk menjaga segala kemungkinan.

Kira-kira enam langkah dari dirinya, berdiri tegak adik seperguruan Kaucu Pek Kut Kau, Kim Yu.

Tampaknya orang itu bermaksud melancarkan sebuah pukulan, lengan kanannya sudah terangkat ke atas.

Tetapi ketika Tan Ki menolehkan kepalanya, cepat-cepat dia menurunkan tangannya kembali.

Wajahnya tersipu-sipu seperti orang yang tertangkap basah.

Saat ini Tan Ki bukan tokoh sembarangan lagi.

Sekali lihat saja, dia sudah tahu apa yang terkandung dalam hati Kim Yu.

Oleh karena itu dia mengeluarkan suara tertawa yang dingin.

"Sejak kapan saudara belajar membokong orang dari belakang? Berani-beraninya kau mencuri kesempatan di saat orang lengah. Kalau memang hebat, coba kau lancarkan serangan dari depan sekarang juga!"

Kim Yu menaikkan sepasang bahunya sambil tersenyum simpul.

"Bagus sekali, bagus sekali!"

"Hari ini kita mempunyai kesempatan bertemu di sini. Tadi kita belum sempat bergebrak. Sekarang di sini tidak ada seorangpun. Tempatnya juga tenang, sesuai bagi kita untuk berkelahi sebanyak tiga ratus jurus dan tidak ada seorangpun yang menganggu!"

Kim Yu tertawa terkekeh-kekeh dua kali.

"Mati hidup dalam sebuah pertarungan adalah hal yang jamak. Apabila saudara mempunyai kegembiraan seperti itu, seharusnya aku mengiringi kemauanmu. Sayangnya saat ini aku masih mempunyai tugas yang lain sehingga harus memohon diri terlebih dahulu. Apabila kita mempunyai jodoh, di lain kesempatan baru kita perhitungkan hutang piutang di antara kita, bagaimana?"

Wajah Tan Ki langsung berubah mendengar perkataannya. Dari sinar matanya terpancar hawa pembunuhan yang tebal. Dia memperdengarkan suara tawa yang dingin.

"Kata-kata saudara sungguh enak didengar. Tetapi aku justru tahu bahwa kau hanya terlihat gagah di luar, namun dalamnya kering kerontang. Sebetulnya hatimu sudah merasa gentar terhadapku, mungkin karena siang tadi kau sudah melihat kepandaianku yang sebenarnya, bukan?"

"Tidak salah, kepandaianmu memang hebat sekali!"

"Kalau begitu aku akan turun tangan mencabut selembar nyawamu!"

Selesai berkata, tanpa memberi kesempatan sedikitpun kepada Kim Yu, dia langsung menjulurkan tangannya mengirim sebuah pukulan.

Kim Yu mengangkat telapak tangannya menyambut, langsung terasa dadanya menjadi panas.

Cepat-cepat dia mencelat mundur sejauh tiga langkah.

Ternyata tenaga dalam yang telah dipupuknya puluhan tahun masih tidak sanggup menahan pukulan lawannya.

Dia merasa ilmu kepandaian Tan Ki seperti mengikuti waktu yang berlalu, semakin hari semakin hebat...

Sedangkan Tan Ki sendiri saat itu merasa bahwa obat beracun yang diberikan Tian Bu Cu hanya mengandung hawa panas yang memenuhi dadanya.

Selain itu tidak ada rasa aneh sedikitpun yang dia rasakan.

Justru pada saat pukulan Tan Ki menggetarkan Kim Yu sehingga mundur beberapa langkah, dari kejauhan terdengar suara siulan panjang sebanyak dua kali.

Sumbernya dari dua arah yang berlawanan.

Diamrdiam Kim Yu merasa senang.

Dia mengira-ngira dalam hati.

"Bala bantuan sudah datang!"

Begitu pikirannya tergerak, nyalinya pun menjadi besar.

Diam-diam dia mengerahkan tenaga dalamnya kemudian dengan posisi menahan di depan dada, dia menghantamkan sebuah serangan.

Perlahan-lahan sepasang alis Tan Ki menjungkit ke atas.

Dia tahu bahwa suara siulan panjang yang terdengar sebanyak dua kali tadi keluar dari mulut seorang tokoh yang tenaga dalamnya hebat sekali.

Kalau dia tidak menggunakan waktu yang ada sebaikbaiknya dengan membunuh Kim Yu, bisa-bisa dirinya sendiri yang diringkus oleh musuh.

Hatinya sudah bertekad untuk melakukan pertarungan dalam jangka waktu cepat.

Oleh karena itu, tanpa mempertimbangkan lama-lama, dia langsung mengerahkan jurusjurusnya yang paling keji.

Tampak tubuhnya dengan gesit menghindarkan serangan Kim Yu.

Entah bagaimana caranya, tahu-tahu dia menerobos ke dalam bayangan dan angin kencang yang terpancar dari pukulan Kim Yu.

Tangan kanannya langsung menjulur ke depan dengan kekuatan dahsyat.

Secepat kilat dia menghantam dada lawannya.

Tampaknya Kim Yu sama sekali tidak menyangka kalau Tan Ki memiliki gerakan tubuh yang begitu aneh sehingga berani menerobos ke dalam bayangan pukulannya.

Hatinya tercekat bukan kepalang!

Kejadiannya berlangsung dengan cepat.

Meskipun ada niat Kim Yu untuk mengelakkan diri dari serangan Tan Ki, tetapi tidak keburu lagi.

Dia merasa seperti ada sebuah palu besar yang menghantam dadanya.

Saat itu juga aliran darahnya bagai membalik.

Dia tidak sanggup berdiri dengan tegak lagi.

Begitu keras getarannya sampai tubuh orang itu melayang di udara kemudian terhempas jatuh pada jarak satu depaan.

Tan Ki tidak membuang waktu.

Dia mengerahkan lagi hawa murninya dan menerjang ke depan.

Dia takut pukulannya tidak cukup kuat sehingga lawannya belum mati, tetapi hanya terluka parah.

Oleh karena itu, orangnya baru sampai di hadapan Kim Yu, kembali dia melancarkan sebuah pukulan.

Ketika rangkuman tenaga yang dahsyat itu sudah mereda, ternyata tubuh Kim Yu tidak bergerak lagi.

Beberapa tetes darah masih mengalir dari sudut bibirnya.

Kematiannya cukup mengenaskan.

Meskipun selama hidupnya Tan Ki sudah sering membunuh orang, tetapi melihat pemandangan di depannya, ternyata dia juga merasa tertekan.

Udara di sekitar tempat itu seperti tiba-tiba menjadi dingin.

Tanpa dapat ditahan lagi tubuhnya bergetar dan bulu kuduknya merinding.

Tepat pada saat itu, kembali terdengar suara siulan yang berkumandang datang.

Kali ini sumber suara itu sudah tidak sejauh tadi lagi.

Kemungkinan besar jarak orangnya sudah mendekat.

Tan Ki mendongakkan wajahnya kemudian mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling.

Setelah yakin tidak ada seorangpun yang memperhatikan gerakgeriknya, cepat-cepat dia memondong tubuh Kim Yu dan membawanya ke balik sebatang pohon siong yang besar.

Gerakannya sangat cepat.

Baru saja dia menyembunyikan dirinya dengan baik.

Di atas padang rumput tersebut secara berturut-turut melayang turun dua sosok bayangan.

Orang yang pertama mengenakan pakaian yang penuh dengan tambalan di sana sini, janggutnya sudah putih dan panjangnya kira-kira tiga cun.

Ditilik dari keadaannya, dapat dipastikan bahwa dia adalah seorang pengemis.

Orang yang kedua merupakan seorang laki-laki setengah baya berpakaian hitam.

Matanya sipit dan mulutnya lebar.

Tampangnya angker sehingga timbul kesan yang menyeramkan.

Kedua orang ini bukan lain dari si pengemis sakti Cian Gong dan Kaucu Pek Kut Kau dari daerah Si Yu.

Mulut si pengemis sakti Cian Cong selamanya tidak pernah melewatkan kesempatan untuk mengejek orang.

Ketika melihat Kaucu Pek Kut Kau juga sudah sampai di tempat itu, dia langsung mendongakkan wajahnya tertawa terbahak-bahak.

"Kalau bukan musuh, justru susah bertemu muka. Sekarang kita justru berjumpa di sini dengan tidak terduga-duga!"

Wajah Kaucu Pek Kut Kau yang hitam legam dari awal hingga akhir selalu terlihat datar dan dingin.

Kalau diperhatikan baik-baik, dia seperti sesosok mayat yang tidak memperlihatkan perasaan apapun.

Entah dia merasa senang atau marah mendengar katakata Cian Cong.

Sikap Cian Cong berangasan.

Melihat Kaucu Pek Kut Kau itu tidak menyahut sepatah katapun, kesabarannya jadi habis.

Matanya mendelik lebar-lebar.

"Hei! Apakah kau bertemu dengan pangcu kami?"

Dengan dingin Kaucu Pek Kut Kau malah berbalik bertanya kepadanya.

"Aku justru baru ingin bertanya kepadamu, apakah kau melihat adik seperguruanku?"

Mendengar sahutannya yang bagai sindiran itu, untuk sesaat Cian Cong jadi tertegun.

Dia mengangkat tangannya lalu menggaruk-garuk kulit kepalanya, seakan sedang memikirkan kata-kata yang harus diucapkan.

Tampak lengan baju Kaucu Pek Kut Kau yang lebar itu berkibar-kibar, sekonyongkonyong dia maju ke depan tiga langkah.

Serangkum angin yang kencang langsung terpancar keluar dari dalam lengan bajunya itu.

Kedua orang itu merupakan tokoh-tokoh berilmu tinggi yang jarang ada di dunia Kangouw.

Oleh karena itu, terhadap serangannya yang dahsyat ini, Cian Cong sama sekali tidak berani memandang ringan.

Tubuhnya menggeser sedikit ke sebelah kiri kurang lebih dua langkah.

Lengan kanannya terangkat perlahan-lahan, kemudian melancarkan sebuah serangan balasan.

Kemarahan Hua Pek Cing jadi terbangkit.

Dia membentak dengan suara keras kemudian melancarkan beberapa serangan berturut-turut.

Setiap jurus yang dikerahkannya mengandung kekejian yang tidak terkirakan.

Serangannya langsung dilancarkan ke bagian tubuh yang mematikan.

Sementara itu, dari balik sebatang pohon yang besar tiba-tiba muncul sesosok bayangan.

Gerakannya begitu cepat, sehingga dalam sekejap mata sudah sampai di dekat kedua orang yang sedang bertarung dengan sengit itu.

Terdengar dia berteriak dengan suara lantang...

"Suheng, harap mundur! Biar aku yang melawan orang ini!"

Seraya berkata, dia langsung melancarkan sebuah pukulan yang dahsyat dan menghantamkannya ke depan!

Cian Cong melihat adik seperguruan Kaucu Pek Kut Kau, Kim Yu muncul secara mendadak.

Hatinya jadi tercekat.

"Bagus sekali. Si setan hitam juga sudah bisa mencari bala bantuan!"

Telapak kanannya bergerak, sebuah serangan yang mengandung tenaga dalam hebat langsung dihantamkan ke depan menyambut serangan Kim Yu.

Dia mengira lawannya itu adalah adik seperguruan Kaucu Pek Kut Kau, tentu saja tenaga dalam yang dimiliki tidak bisa menandingi suhengnya sendiri.

Kekuatan Kaucu Pek Kut Kau saja hampir seimbang dengan dirinya.

Apabila dia menyambut pukulannya ini dengan kekerasan, walaupun tidak sampai terluka, paling tidak lengannya akan merasa kesemutan dan tergetar mundur sejauh lima langkah.

Siapa nyana kenyataannya justru jauh berbeda dengan dugaannya.

Ketika dua gulung kekuatan beradu, sepasang alis Cian Cong langsung berkerut.

Dia tergetar mundur sejauh tiga langkah.

Rupanya ketika mereka mengadu tenaga dengan kekerasan, dia langsung sadar bahwa tenaga dalam lawannya masih menang satu tingkat dibandingkan dengan dirinya.

Kejadian ini benar-benar di luar dugaannya.

Meskipun Cian Cong mempunyai pengetahuan yang luas dan pengalaman segudang serta ketenangan yang sulit disamai oleh orang lain, tetapi peristiwa ini sempat membuatnya termangu-mangu beberapa saat.

Bahkan Kaucu Pek Kut Kau juga terkejut setengah mati sehingga termangu-mangu.

Sepasang matanya yang seram, menatap diri adik seperguruannya tanpa berkedip sedikitpun.

Dia benar-benar tidak mengerti.

Mengapa adik seperguruannya yang selama ini selalu kalah bila mengadu tenaga dalam dengannya, tiba-tiba menjadi demikian kuat hanya dalam waktu beberapa kentungan saja.

Bahkan kekuatannya begitu mengejutkan.

Justru ketika kedua orang itu masih kebingungan, tiba-tiba Kim Yu menggerakkan tubuhnya menerjang ke depan.

Telapak tangannya menghantam, kakinya menendang.

Dalam waktu yang singkat dia memainkan delapan sembilan jurus serangan.

Diam-diam hati Cian Cong tercekat melihat gerakannya yang hebat.

Dia segera membentak.

"Siapa kau sebenarnya?"

Seraya bertanya, sepasang telapak tanganya menjulur ke depan, dia menangkis sambil mengelak ke sana ke sini.

Setelah kalang kabut beberapa waktu, akhirnya dia baru dapat mempertahankan diri dari serangan Kim Yu yang gencar.

Kim Yu tertawa lebar.

"Aku memang Kim Yu!"

Sahutnya sambil melancarkan sebuah serangan.

Cian Cong mengulurkan telapak tangannya menyambut serangan itu.

Tiba-tiba suatu ingatan melintas di benaknya.

Cepat-cepat dia mencelat mundur dan membentak.

"Tunggu sebentar!"

Kim Yu masih juga tersenyum simpul.

"Kalau kau mempunyai pesan terakhir yang ingin disampaikan, cayhe bisa memberimu waktu sedikit."

"Soal mati atau hidup, si pengemis tua selamanya tidak pernah ambil hati. Saudara juga tidak perlu mengucapkan kata-kata yang demikian..."

Dia merandek sejenak. Kemudian baru melanjutkan kembali.

"Si pengemis tua ingin minta sedikit petunjuk."

"Kalau memang cayhe tahu yang kau tanyakan, pasti cayhe jawab dengan sebenarbenarnya."

Sahut Kim Yu sambil tertawa.

"Apakah kau pernah bertemu dengan pang-cu perkumpulan kami?"

"Ada."

"Di mana dia sekarang?"

"Sudah mati!"

Hati Cian Cong langsung tergetar.

"Betul?"

Tanyanya dengan nada bimbang.

"Cayhe selamanya paling tidak suka berdusta, apalagi mengoceh sembarangan. Kalau kau tetap tidak percaya, apa boleh buat?"

Mendengar keterangan yang tidak diduga-duganya ini, hatinya lebih sedih daripada dihina oleh orang.

Mengingat Tan Ki adalah seorang pemuda yang gagah dan bermasa depan cerah, bahkan sudah berhasil merebut kedudukan Bulim Bengcu, berarti sejak sekarang diri anak muda itu sudah disegani di mana-mana.

Siapa sangka Thian sungguh tidak adil.

Belum selesai persoalan yang satu, datang lagi masalah yang lain.

Dunia Bulim benar-benar tidak mempunyai rejeki.

Justru di saat namanya mulai menjulang tinggi, dia malah...

hati Cian Cong terasa pilu, air matanya jatuh bercucuran.

Dia berdiri dengan terma-ngu-mangu untuk beberapa saat.

Kemudian bertanya lagi dengan suara sendu.

Bagaimana kau bisa tahu?"

Dia berharap Kim Yu akan mengakui kata-kata yang diucapkannya tadi hanya gurauan belaka.

Oleh karena itu, meskipun hatinya sedang merasa sedih bukan kepalang, dia tetap menyelidiki hal ini.

Tentu saja dia juga ingin tahu bagaimana Tan Ki menemui kematiannya.

Terdengar Kim Yu mengeluarkan suara tawa yang menyeramkan.

"Cayhe bertaruh dengannya, sama berdiri tanpa bergerak dan saling menyerang sebanyak tiga kali tanpa boleh bergeser ataupun menangkis. Tetapi aku yang memulai terlebih dahulu..."

Sepasang mata. Cian Cong langsung menyorotkan sinar berapi-api. Dengan marah dia membentak.

"Pengalamannya masih dangkal. Kau justru menjebaknya dengan cara yang licik dan mengakali dia agar jangan membalas!"

Kim Yu tersenyum simpul.

"Kalau tidak begitu, tenaga dalam maupun kepandaian cayhe memang bukan tandingannya. Apalagi di dalam dunia Kangouw, yang paling penting justru harus licik. Semakin licik malah semakin baik. Cayhe sadar sampai di mana kemampuan diri sendiri, terpaksa menggunakan akal untuk mengelabuinya. Kalau kau ingin melihat dia, coba kau pergi ke belakang pohon besar itu!"

Sambil berbicara, tangannya menunjuk ke arah pohon besar dari mana dia muncul tadi.

Cian Cong mendelik kepadanya sekilas.

Tubuhnya berkelebat menuju pohon besar yang ditunjuk Kim Yu.

Dalam sekejap mata, dia sudah melesat kembali, tampak wajahnya menyiratkan kegusaran yang tidak terkirakan.

Rambut dan jenggotnya seakan berdiri tegak.

Tampangnya seperti ingin menelan lawannya hidup-hidup.

Sungguh tidak enak dipandang.

Kaucu Pek Kut Kau tahu kemarahannya sudah benar-benar meluap.

Setiap saat orang ini bisa mengamuk atau menimbulkan kesulitan.

Di samping itu dia juga takut sutenya berhasil dikalahkan oleh Cian Cong.

Diam-diam dia mengerahkan tenaga dalam dan maju setengah langkah.

Dia menghadang di depan Kim Yu dengan sikap melindungi.

Suasana yang tegang terasa menyelimuti tempat itu.

Tiba-tiba Kim Yu berkata kepada suhengnya dengan suara rendah.

"Sekarang si makhluk tua ini hanya seorang diri. Kalau kita bergabung melawannya, tentu tidak sulit menghabiskan selembar nyawanya. Bagaimana pendapat suheng tentang usul siaute ini?"

Sepasang mata Kaucu Pek Kut Kau memperhatikan lengan Cian Cong lekat-lekat.

"Hal ini mungkin bisa menjatuhkan derajat kita. Menangpun tidak terasa gemilang."

"Kalau begitu, kita tidak perlu bergebrak lagi dengannya. Kita pulang saja!"

Dengan demikian, kedua kakak adik seperguruan membalikkan tubuhnya dengan maksud meninggalkan tempat itu.

Tiba-tiba pada saat itu, Cian Cong mengeluarkan suara raungan dan menerjang datang.

Sekaligus dia melancarkan beberapa buah serangan.

Kekuatannya demikian dahsyat, persis seperti seekor harimau yang mengamuk.

Tubuh Kim Yu berkelebat.

Bukannya mundur dia malah maju ke depan.

Dengan jurus Palu Emas Mengetuk Lonceng, dia langsung melancarkan serangan dengan gencar.

Demikian terdesaknya Cian Cong sehingga mau tidak mau dia harus memikirkan keselamatan dirinya sendiri terlebih dahulu.

Kakinya mencelat mundur berkali-kali.

Dua kali Kim Yu menyerang, Cian Cong terus mencelat mundur ke belakang.

Melihat keadaan ini, hati Kaucu Pek Kut Kau semakin dilanda kebingungan.

Tiba-tiba dia merasa bahwa ilmu kepandaian adik seperguruannya secara mendadak maju demikian pesat...

Setelah berhasil mendesak mundur si pengemis sakti Cian Cong, Kim Yu sama sekali tidak berniat mengejar.

Dia seperti orang yang tergesa-gesa karena urusan lain, dengan menarik tangan Kaucu Pek Kut Kau, keduanya menghambur pergi dari tempat itu.

Di tempat itu hanya tinggal Cian Cong seorang.

Dia seperti orang yang kehilangan sesuatu dan berdiri termangu-mangu sekian lama...

Angin sejuk berhembus semilir, keadaan makam baru dihadapannya masih seperti sedia kala.

Sedangkan mimik wajahnya menyiratkan perasaan pilu yang mengenaskan.

Entah berapa lama telah berlalu, tiba-tiba terdengar dua kali suara tawa panjang dari balik pohon yang besar.

Tampak bayangan manusia berkelebat, secara berturut-turut muncul dua orang di hadapan Cian Cong.

Mereka adalah Yibun Siu San dan si tokoh sakti Bu Tong San, Tian Bu Cu.

Ternyata mereka mengejar jejak Cian Cong sehingga sampai di tempat tersebut.

Tampak Tian Bu Cu tertawa lebar.

"Cian-heng berdiri seorang diri di sini, kalau dilihat dari tampangnya seperti orang yang sedang sedih sekali. Entah apa sebabnya?"

Cian Cong menarik nafas panjang-panjang.

"Anak Ki sudah mati."

Sahutnya lirih. Yibun Siu San tertawa lebar.

"Yang mati bukan dia, kalau Cian-heng ingin tahu kejadian yang sebenarnya, harap ikut dengan Hengte."

Seraya berkata, orangnya sudah membalikkan tubuh, arahnya tetap pohon yang besar itu. Mendengar nada suaranya yang demikian pasti dan tidak seperti orang yang berdusta, diam-diam hatinya berpikir.

"Mayat yang tadi kulihat terang-terangan Tan Ki adanya, mengapa sekarang dia malah mengatakan bahwa yang mati bukan Tan Ki?"

Begitu pikirannya tergerak, hatinya semakin bingung.

Tanpa terasa langkah kakinya mengikuti Yibun Siu San dari belakang.

Begitu pandangan matanya memperhatikan dengan seksama, orangtua yang terkenal sakti ini langsung mengeluarkan suara seruan terkejut.

Rupanya mayat yang tergeletak di balik pohon itu, benar-benar Kim Yu adanya.

Hanya wajah bagian depan dan belakang berlainan, bajunya sendiri tetap milik Tan Ki.

Setelah melihat sekali lagi, untuk sesaat hatinya dilanda kebingungan.

Dia mengangkat tangannya menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.

Kemudian terdengar dia menggumam seorang diri.

"Benar-benar aneh sekali. Tapi siapa orang yang barusan bergebrak dengan si pengemis tua?"

"Ada suatu hal yang terlupa oleh Cian-heng."

"Apa yang terlupakan oleh si pengemis tua?"

"Bukankah kau tahu bahwa anak Ki mempunyai sebuah gelar yang lain, yakni Cian Bin Mo-ong? Dia bisa merubah wajahnya dalam sekejap mata saja. Mungkin karena waktunya yang tidak cukup, dalam keadaan tergesa-gesa dia hanya mengoleskan obat secara asalasalan saja pada wajah Kim Yu. Dengan demikian khasiatnya juga hanya bereaksi sebentar. Namun kau sempat dikelabui olehnya."

Kata-kata itu seakan menyadarkan Cian Cong dari mimpi panjang. Mulutnya mengeluarkan suara desahan terkejut. Tangannya ditepuk keras-keras. Dia langsung tertawa terpingkal-pingkal.

"Betul, betul! Rupanya begitu! Tidak heran tenaganya begitu kuat sehingga hampir saja si pengemis tua kalah di tangannya...!" Sementara itu, Tan Ki yang pandai menyamar dan Kaucu Pek Kut Kau terus berlari berdampingan. Perlu diketahui bahwa ilmu menyamar Tan Ki diperoleh dari seorang tua tanpa nama, dia sanggup merubah wajahnya dalam sekejap mata saja. Sedangkan samarannya begitu sempurna sehingga persis dengan orang yang ditirunya. Meskipun sepasang mata Kaucu Pek Kut Kau sangat tajam, setelah lewat sekian lama, dia masih tidak menemukan kejanggalan. Tetapi biar bagaimanapun, dia merupakan seorang tokoh sakti yang perasaannya peka. Pengetahuan maupun pengalamannya luas sekali. Terhadap ilmu silat adik seperguruannya yang mendadak maju demikian pesat, sedikit banyaknya dia merasa curiga juga. Setelah berjalan beberapa saat, tiba-tiba Kaucu Pek Kut Kau melambatkan langkah kakinya.

"Kim Yu, suheng mempunyai sedikit persoalan yang tidak dimengerti, ingin bertanya kepadamu."

Melihat tampangnya yang angker, Tan Ki berusaha bersikap sewajar mungkin.

"Silahkan suheng tanyakan saja."

Sahutnya.

"Suheng melihat kau melawan si makhluk tua tadi, tampaknya kekuatanmu jauh lebih hebat dibandingkan sebelumnya. Dengan demikian, hati suheng merasa agak heran."

Hati Tan Ki diam-diam tergetar.

"Urusan ini kalau diceritakan panjang sekali..."

Mulutnya menyahut, dalam waktu yang bersamaan pikirannya terus berputar mencari alasan yang tepat.

Kaucu Pek Kut Kau melihat matanya terus mengerling ke sana ke mari, hatinya semakin curiga.

Oleh karena itu, wajahnya juga tampak semakin kelam.

"Ada apa dengan dirimu?"

Tanyanya.

"Suheng, tentu saja kau sudah menduga bahwa siaute menemukan sebuah peristiwa yang luar biasa. Tetapi kalau harus diceritakan dalam sesaat, rasanya bingung bagaimana harus memulainya. Oleh karena itu, siaute harus menyusun dulu uraian yang tepat agar dapat menceritakannya dengan jelas dari awal hingga akhir. Apalagi kau tahu selamanya siaute tidak pandai berbicara..."

Wajah Kaucu Pek Kut Kau berubah agak lunak mendengar kata-katanya. Dia menganggukkan kepalanya berkali-kali.

"Cukup beralasan juga kata-katamu itu."

Sementara mereka berbincang-bincang, kedua-duanya sudah berlari sejauh lima puluhan li.

Tiba-tiba terlihat sebuah lekukan di bagian depan.

Bentuk tempat itu agak aneh, di kiri kanan mereka terdapat bukit bebatuan yang tinggi.

Keadaan tempat itu pun sepertinya agak berbahaya.

Ada kemungkinan tiba-tiba terjadi tanah longsor.

Apabila benar demikian, tidak ada tempat lagi untuk melarikan diri sehingga mereka bisa terkubur hidup-hidup di tempat tersebut.

Setelah membelok di lekukan tadi, mereka memasuki lembah yang terjal.

Di depan pintu masuk lembah itu, terdapat empat orang laki-laki bertubuh kekar dan bersenjata tajam menjaga di sana.

Melihat keadaan ini, Tan Ki tahu mereka sudah sampai di tempat tujuan.

Matanya mengerling dua kali, tiba-tiba timbul sebuah akal bagus di benaknya.

"Suheng, kita sudah sampai di markas sementara, begitu masuk ke dalam pasti banyak orang-orang dari Lam Hay Bun. Kalau siaute menceritakan kejadian aneh yang siaute temui, mungkin akan berpengaruh terhadap nama baik pihak kita. Jangan-jangan mereka berpikir bahwa para tokoh Si Yu hanya mengandalkan penemuan ajaib saja baru mempunyai ilmu yang tinggi.. Dengan demikian pamor Pek Kut Kau kita jadi merosot."

Mendengar kata-katanya sepasang alis Kaucu Pek Kut Kau langsung menjungkit ke atas.

"Masa begitu hebat pengaruhnya?"

"Sebelum beristirahat malam nanti, siaute akan menceritakan semuanya sampai jelas. Suheng nanti pasti akan mengerti sendiri benar tidaknya ucapan siaute ini."

Terhadap kata-kata Tan Ki, Kaucu Pek Kut Kau itu seakan ikut bergairah.

Dia percaya sepenuhnya apa yang diucapkan anak muda tersebut.

Oleh karena itu, dia juga tidak mendesak lebih lanjut.

Setelah berjalan kurang sepenanakan nasi, mereka memasuki celah yang sempit, kemudian masuk ke dalam sebuah jalan berbentuk terowongan.

Keadaan langsung berubah, di hadapan mereka terdapat sebuah ruangan batu yang luas sekali.

Di sana sudah banyak berkumpul orang-orang dari kedua pihak, tetapi melihat munculnya Kaucu Pek Kut Kau dengan adik seperguruannya, mereka segera membalikkan tubuh dan menjura dengan hormat.

Sembari berjalan, secara diam-diam Tan Ki memperhatikan keadaan di dalam goa itu dengan seksama.

Tempat mana kira-kira yang terdapat alat rahasia atau perangkap.

Semuanya dihapal luar kepala.

Seandainya dia gagal dalam tugas, mungkin masih ada harapan untuk mengundurkan diri.

Sementara dia sedang memperhatikan keadaan tempat itu dengan seksama, suasana di hadapannya jadi berubah.

Keadaan di hadapannya terang benderang, rupanya mereka sudah sampai di sebuah tanah kosong yang cukup luas.

Di sekitar tumbuh rumput-rumput liar dan ada beberapa pondok yang dibangun asal-asalan.

Mungkin hanya sebagai tempat perlindungan untuk sementara.

Tetapi siapa yang menyangka bahwa di lembah yang terpencil ini justru berdiri markas orang-orang Lam Hay Bun.

Sepasang mata Tan Ki memperhatikan dengan seksama pondok yang ada di tengahtengah.

Pondok yang satu ini jauh berbeda dengan pondok-pondok di kiri kanannya.

Tampaknya pondok tersebut jauh lebih kokoh dari yang lainnya.

Ukurannya juga jauh lebih besar.

Dia segera menduga bahwa pondok yang satu ini merupakan tempat tinggal sementara si tocu sakti dari Lam Hay Bun yang belum pernah bertemu muka dengannya, namun selalu berhasrat mencabut nyawanya itu.

Ternyata dugaannya memang tidak salah.

Kaucu Pek Kut Kau langsung mengajaknya menuju pondok tersebut.

Kalau Tan Ki bukan seorang pemuda bernyali besar, pasti hatinya dilanda ketegangan yang tidak terkirakan masuk ke sarang harimau ini.

Tetapi sejak awal hingga akhir, penampilannya masih begitu tenang dan wajar.

Dulu dia sudah sering menyamar sebagai berbagai tokoh yang berlainan.

Tua, muda, bungkuk, pincang, semua pernah dicobanya.

Kali ini menyamar sebagai Kim Yu, hanya mengulangi apa yang sudah dilakukannya dulu.

Pokoknya dia harus bertindak sesuai perkembangan yang terjadi.

Di depan pondok juga terdapat empat orang laki-laki kekar bersenjata tajam yang menjaga.

Sikap mereka seperti orang yang akan menyambut musuh tangguh.

Begitu masuk ke dalamnya, langsung timbul perasaan yang janggal.

Begitu pandangan matanya dialihkan, dia melihat kedua Bun Bu-siang dan ketiga orang tongcu dari Lam Hay Bun duduk di atas selembar permadani yang tebal.

Mereka sedang memejamkan mata dengan kepala tertunduk tanpa mengucapkan sepatah katapun, seakan sedang menguras otak memikirkan suatu masalah yang rumit.

Sikap mereka juga seperti menunggu kedatangan seseorang.

Tampang mereka semuanya serius.

Juga menunjukkan penampilan yang sopan.

Melihat situasi ini, hati Tan Ki sempat bimbang sesaat.

Di samping itu dia juga khawatir kalau terlalu banyak bicara malah mendatangkan bencana.

Kemungkinan kedoknya bisa terbuka.

Terpaksa dia mengikuti Kaucu Pek Kut Kau berjalan ke depan tanpa mengucapkan sepatah kata atau menyapa siapapun.

Mereka mencari tempat yang kosong dan duduk di sana.

Setelah menunggu kurang lebih sepenanakan nasi kemudian, tiba-tiba terdengar suara dentingan logam yang menyusup ke dalam gendang telinga.

Sumbernya dari luar pondok dan semakin lama semakin mendekat.

Kemungkinan tujuannya memang pondok yang satu ini.

Mendengar suara dentingan ini, orang-orang yang tadinya duduk di atas permadani dan beberapa buah kursi di samping langsung berdiri serentak.

Mereka menghadap ke depan pintu.

Sikap mereka menunjukkan hormat yang tidak terkirakan.

Meljhat sikap mereka, Tan Ki sempat merasa bingung.

Tetapi akhirnya terpaksa dia ikut berdiri seperti orang-orang lainnya.

Terdengar suara lonceng berbunyi sebanyak tiga kali, sedangkan suara dentingan logam tadi langsung berhenti.

Kemudian terdengar lagi seseorang berteriak dengan lantang.

"Toa Tocu tiba!"

Diam-diam Tan Ki memaki dalam hati.

"Huh! Sungguh besar lagak si Toa Tocu itu!"

Orang yang berjalan di bagian depan merupakan seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun, tubuhnya gemuk pendek, telinganya besar dan matanya bulat.

Kalau ditilik dari penampilannya, kemungkinan dia inilah sang tocu yang misterius itu.

Di samping kirinya mengiringi Hua Pek Cing yang berwajah pucat seperti orang sakit parah.

Sedangkan di samping kanannya berjalan dua orang gadis, mereka adalah kakak beradik Cin Ying dan Cin Ie.

Begitu orang-orang ini masuk ke dalam pondok, suasana semakin hening mencekam.

Tampak anggota Lam Hay Bun berdiri dengan dada membusung, tangan lurus ke bawah dan bernafas pun tidak berani keras-keras.

Menunggu sampai Toa Tocu itu duduk di atas singgasananya yang terdapat di tengah-tengah, baru mereka duduk kembali di tempat masing-masing.

Tan Ki menggunakan kesempatan ini memperhatikan Toa Tocu tersebut lekat-lekat.

Yang paling ditelitinya justru sinar mata orang itu, karena sampai di mana tingginya tenaga dalam seseorang biasanya dapat terlihat dari sinar matanya yang menyorot tajam.

Tetapi ketika pandangannya menatap sinar mata Tocu itu, untuk sesaat tanpa dapat ditahan lagi dia jadi tertegun.

Ternyata Tocu yang berambisi besar itu mempunyai sinar mata yang tidak berbeda dengan orang biasa.

Namun bola matanya justru lebih bening dan berkilauan daripada bola mata seorang gadis.

BAGIAN LVI Sekonyong-konyong...

sepasang alis Toa Tocu itu berkerut-kerut, dia berkata dengar nada suara yang berat.

"Aneh sekali, di sini terdapat serangkum hawa pedang yang tajam!"

"Hawa pedang?"

Mendengar kata-katanya, tanpa sadar mereka serentak mengulangi kata-kata Toa Tocu tersebut.

Rupanya mereka tercekat oleh ucapan Toa Tocu tadi.

Perlu diketahui bahwa kepandaian Toa Tocu dari Lam Hay ini sudah mencapai taraf yang tidak terkirakan tingginya.

Hawa pedang yang dikatakan olehnya merupakan kiasan bahwa tempat tersebut mengandung hawa pembunuhan yang tebal!

Oleh karena itu, para hadirin yang ada di dalam pondok itu menjadi tergetar hatinya.

Untuk sesaat mereka malah termangu-mangu.

Tampak Toa Tocu itu berdiri dari tempat duduknya perlahan-lahan.

Matanya menyapu ke arah para hadirin.

"Aku bisa mengatakan pada saudara-saudara sekalian, bahwa di dalam pondok ini terdapat seseorang yang mempunyai niat tidak baik..."

Begitu kata-katanya terucapkan, orang-orang yang ada di dalam pondok itu langsung saling pandang antara yang satu dengan yang lainnya.

Tidak ada seorangpun yang berani menyahut.

Mendadak Tong Ku Lu merangkapkan sepasang kepalan tangannya dan berdiri menjura dalam-dalam.

"Apakah Tocu sudah menemukan siapa adanya orang itu?"

"Untuk sementara ini masih sulit dipastikan. Hawa pedang ini terasa sangat mendesak dan tajam sekali. Kalau bukan karena aku sudah mempelajari ilmu Kiu Coan Sikang atau ilmu ketajaman Indera Sembilan Putaran, mungkin aku sendiri juga tidak akan merasakannya."

Mendengar ucapannya, hati Tan Ki malah menjadi lega.

Di samping itu otaknya juga berputar mencari jalan untuk menghadapi musuh agar tugasnya dapat berhasil.

Mendadak sebuah ilham muncul di benak kepalanya, dia teringat suatu cerita legenda yang pernah dibacanya.

Diam-diam dia berpikir dalam hatinya.

"Mengapa aku tidak meniru perbuatannya yang menggunakan kesempatan membunuh kaisar?"

Pikirannya tergerak, perlahan-lahan dia berdiri.

"Mendengar kata-kata Toa Tocu yang mengatakan hawa pedang yang tajam, aku jadi teringat suatu hal."

Sembari berkata, dari selipan ikat pinggangnya dia mencabut sebatang pedang, kemudian terdengar dia melanjutkan kata-katanya.

"Pedang ini aku dapatkan dari tubuh Bulim Bengcu wilayah Tionggoan, Tan Ki. Karena perasaan suka, aku menyimpannya. Kemungkinan hawa pedang yang Toa Tocu maksudkan terpancar dari pedang pendek ini."

Toa Tocu melirik ke arahnya sekilas. Kemudian terdengar dia mendengus dingin.

"Aku mengenali pedang tersebut sebagai hadiahku untuk Kiau Hun!"

Tan Ki tersenyum simpul.

Dia berjalan ke depan dua langkah.

Sepasang tangannya menyandang pedang tersebut dan perlahan-lahan melangkah mendekati Toa Tocu.

Tidak seorangpun yang tahu hatinya saat ini sudah merencanakan suatu kejahatan.

Segulung angin topan sebentar lagi akan melanda...

Tampak sinar mata orang-orang yang ada dalam pondok itu terpusat pada diri Tan Ki.

Mereka tidak mengerti apa maksud perbuatan Tan Ki ini.

Justru ketika hati mereka masih bertanya-tanya, kembali Tan Ki menghentikan langkah kakinya.

Jaraknya dengan Toa Tocu itu hanya tinggal tiga langkah saja.

Setelah tersenyum ramah, dia menggerakkan pedang itu ke depan, tampak segurat sinar berwarna hijau yang berkilauan, pandangan mata menjadi samar dan serangkum hawa dingin menyelimuti pondok tersebut.

Sembari tertawa Tan Ki berkata.

"Mata Toa Tocu tajam bagai kilat, apakah Toa Tocu dapat melihat kejanggalan yang ada pada pedang ini?"

Sembari berkata, dia menyodorkan pedang itu ke hadapan Toa Tocu, tetapi arahnya justru dada sang Tocu tersebut.

Siapa kiranya Toa Tocu itu?

Melihat cara Tan Ki menyodorkan pedangnya, sepasang alisnya langsung menjungkit ke atas.

Cara Tan Ki menyodorkan pedangnya jauh berbeda dengan cara yang digunakan orang biasa.

Justru saat itu di hatinya sudah timbul perasaan curiga...

Mendadak Tan Ki membentak dengan suara keras.

Tangannya yang menyodorkan pedang sekonyong-konyong menjadi cepat.

Ca-haya berkelebat, dia langsung melancarkan sebuah serangan ke bagian urat darah yang mematikan di dada Toa Tocu.

Perubahan yang tidak disangka-sangka ini begitu mengejutkan, sehingga orang-orang yang hadir dalam pondok itu menjerit kaget.

Serentak mereka melonjak berdiri dari tempat duduk masing-masing.

Kejadiannya hanya sekejap mata.

Tiba-tiba Toa Tocu menghentakkan tubuhnya ke belakang, orang dengan kursinya sekaligus menggelinding mundur.

Tampak gerakan pedang di tangan Tan Ki mengandung kecepatan yang tidak terkirakan.

Meskipun ilmu Toa Tocu sudah mencapai taraf yang tinggi sekali, tetapi dia juga tidak sempat menghindar.

Secarik cahaya lewat di depan matanya, pundak kirinya terasa dingin, tahu-tahu terlihat darah segar menetes di atas tanah.

Kaucu Pek Kut Kau yang melihat adik seperguruannya tiba-tiba melancarkan serangan pada Toa Tocu dari Lam Hay Bun, tanpa dapat ditahan lagi hatinya menjadi tercekat.

Dia segera membentak dengan suara keras.

"Kau sudah gila!"

Sepasang kakinya menutul, tubuhnya berkelebat ke depan.

Sampai saat ini dia masih tidak tahu bahwa adik seperguruannya itu merupakan samaran orang lain.

Ketika dia melesat ke depan, tiba-tiba dia melihat Tan Ki memutar tangannya dan menikam kepadanya.

Angin kencang menderu-deru, bagian wajahnya terasa diterpa hawa dingin.

Rupanya serangan Tan Ki kali ini telah menggunakan tenaga dalamnya sebanyak tujuh bagian.

Terdesak oleh serangan Tan Ki yang begitu hebat, Kaucu Pek Kut Kau terpaksa menarik kembali serangannya dan mencelat mundur.

Untuk sesaat, hatinya merasa kesal juga marah.

Akhirnya dia malah jadi termangu-ma-ngu.

Tidak sepatah katapun sanggup diucapkannya.

Keadaan di dalam pondok itu menjadi agak kacau karena perubahan yang mendadak ini.

Hua Pek Cing tergesa-gesa maju ke depan dan membangunkan gurunya.

Sedangkan kedua Bun Bu-siang, Tong Ku Lu dan Cia Tian Lun langsung mengepung Tan Ki.

Sementara itu ketiga Tongcu saling lirik sekilas kemudian berdiri di belakang punggung Tan Ki.

Apabila dia hendak melarikan diri, mereka akan menggunakan serangan secepat kilat untuk menahannya.

Bokongannya yang tidak membawa hasil tadi malah menjerumuskan dirinya dalam perangkap.

Saat ini hati Tan Ki sudah bertekad untuk gugur sebagai pahlawan.

Lagipula racun yang diberikan oleh Tian Bu Cu hanya dapat memperpanjang hidupnya sebentar lagi.

Daripada mati tanpa diketahui oleh seorang-pun, lebih baik mengamuk di markas musuh.

Apabila dapat membunuh beberapa orang jago dari pihak lawan, berarti dia juga sudah meringankan rekan-rekan Bulim yang lain.

Oleh karena pemikiran itulah, gayanya saat ini begitu tenang serta tidak terlihat kegentaran sedikitpun.

Toa Tocu mengerahkan hawa murninya untuk menghentikan darah yang mengalir.

Setelah itu tampak dia maju ke depan dua langkah dan membentak dengan suara tajam.

"Kau mendapat perintah dari siapa sehingga berani demikian kurang ajar terhadap diriku?"

Tan Ki tertawa lebar.

"Aku selamanya bertindak seorang diri. Tidak pernah ada orang yang berani memerintah diriku, juga belum pernah ada orang_ yang sanggup membuat aku takluk pada perintahnya!"

Toa Tocu itu tertegun sejenak.

"Mengapa nada bicaramu jauh berbeda dengan dulu?"

"Tentu saja. Kim Yu adalah Kim Yu, aku adalah aku! Bagaimana dua orang yang berlainan dapat dibandingkan persamaannya?"

Mendengar ucapannya, sekali lagi Toa Tocu tertegun. Dengan heran dia bertanya.

"Lalu siapa kau sebenarnya?"

"Kalau kau ingin tahu boleh saja, tetapi jangan kau kira pikiranku sudah kurang waras!"

Sambil berkata, Tan Ki mengangkat tangannya lalu mengulapkan tangan itu ke wajahnya.

Puluhan pasang mata seperti terhipnotis, mata mereka membelalak lebar-lebar.

Semuanya memperhatikan Tan Ki lekat-lekat.

Seakan sebentar lagi akan terjadi suatu keajaiban.

Perlahan-lahan...

selembar wajah yang tampan dan gagah muncul dalam pandangan orang-orang yang ada dalam pondok itu.

Otomatis hati mereka tergetar, rasa terkejutnya kali ini tak perlu ditanyakan lagi.

Terutama Cin Ying dan Cin Ie, mereka lebih heran dari pada orang lainnya.

Karena mimpipun mereka tidak menyangka bahwa pada saat dan tempat seperti ini Tan Ki bisa muncul di hadapan mereka.

Pikiran Cin le lebih polos, baru saja pundaknya bergerak sedikit, maksudnya ingin melesat ke depan, tahu-tahu Cin Ying telah menarik tangannya.

"Jangan gegabah! Dengan seorang diri Tan Siangkong menempuh bahaya seperti ini, pasti mempunyai alasan tersendiri. Lebih baik kita perhatikan dulu keadaannya baru mencari jalan. Kalau tidak, begitu kau keluar, mereka pasti akan mengetahui bahwa selama ini kita ada hubungan dengan orang-orang wilayah Tionggoan!"

Ketika mereka sedang berbicara itulah, tiba-tiba terdengar suara bentakan yang keras.

Serentak mereka memalingkan kepalanya, tampak Tan Ki sudah mulai bergebrak dengan salah satu Bun Bu-siang, Tong Ku Lu.

Kepandaian kedua orang itu hampir seimbang.

Selisihnya tipis sekali.

Begitu kekuatan mereka beradu, tubuh keduanya langsung terhuyung-huyung, kemudian tergetar mundur sejauh setengah langkah.

Hati Tan Ki sudah bertekad untuk mengadu jiwa di markas musuh ini.

Pokoknya dia ingin membunuh lawannya sebanyak mungkin.

Oleh karena itu, tanpa mengatur pernafasannya lagi, dia langsung menerjang kembali.

Dengan jurus Kuda Berlari di Tengah Pegunungan, dia langsung melancarkan -sebuah serangan yang dahsyat.

Miao Fei Siong melihat anak muda ini langsung menerjang ke arah Tong Ku Lu tanpa memperhatikan sekitarnya.

Dia mengira ini merupakan kesempatan yang bagus baginya untuk membokong.

Tanpa bersuara sedikit-pun, dia langsung mendesak dari arah kiri.

Telapak tanan kanannya terangkat dan secepat kilat dia menghantam ke depan.

Sepasang alis Tan Ki perlahan-lahan menjungkit ke atas.

Dia menggeser ke kanan setengah langkah.

Dengan jurus Naga Kuning Mengibaskan Ekor, dia menyambut datangnya serangan Miao Fei Siong dengan kekerasan.

Pedang di tangan kanannya masih tetap pada posisi semula, yakni menikam ke arah Tong Ku Lu.

Jurus yang satu ini dikerahkannya dengan menempuh bahaya, karena perhatiannya harus terbagi kepada dua orang lawan.

Dengan demikian tenaga dalamnya juga harus diatur agar seimbang.

Sembari membalas dengan sebuah serangan, tangannya yang satu lagi harus menyambut bokongan yang lain pula.

Dalam waktu sekejap mata, benturan tenaga dan senjata langsung terjadi.

Terdengar suara keluhan dan dengusan dingin yang berturut-turut.

Bayangan tubuh manusia terus menerus berkelebat.

Tong Ku Lu maupun Miao Fei Siong sama-sama terpental ke belakang.

Tan Ki sendiri masih berdiri tegak bagai gunung yang kokoh.

Tubuhnya tidak bergeser sedikitpun, tetapi di sudut bibirnya terlihat darah mengalir.

Sudah barang tentu, meskipun Tan Ki memiliki tenaga dalam yang hebat, namun menghadapi gabungan tenaga dua lawan tangguh yang mempunyai kekuatan dahsyat, tubuhnya tergetar sedemikian rupa.

Dia merasa isi perutnya seperti membalik.

Telinganya berdengung dan matanya berkunang-kunang.

Pada saat itu dia memang sudah bertekad gugur sebagai pahlawan.

Dia tidak memikirkan keselamatan dirinya lagi.

Ia juga sadar, apabila pertarungan ini diteruskan, kesempatannya untuk hidup tipis sekali.

Namun dia tidak putus asa.

Teringat akan harapan si pengemis sakti Cian Cong dan pamannya Yibun Siu San yang besar, semangatnya jadi semakin berkobar-kobar.

Apalagi sebelumnya dia sudah menelan sebutir pil beracun pemberian Tian Bu Cu.

Walaupun dia sanggup meloloskan diri dari tempat ini, tetap saja tidak sanggup meloloskan diri dari kematian.

Berpikir sampai di sini, tanpa dapat ditahan lagi bibirnya menyunggingkan seulas senyuman.

Tetapi senyuman itu begitu mengenaskan dan pilu.

Tiba-tiba Tan Ki mendongakkan wajahnya mengeluarkan suara siulan yang panjang.

Nadanya melengking tinggi sehingga menggetarkan gendang telinga.

Kemudian pergelangan tangannya berputar.

Dengan jurus Bunga-Bunga Berguguran, pedangnya menimbulkan desiran angin yang bergulung-gulung.

Sasarannya kali ini salah satu dari ketiga Tongcu Lam Hay Bun yang lihai, Ho Tiang Cun.

Telapak tangan kirinya memainkan sebuah jurus yang hebat, yakni Mengais Pasir di Atas Tanah.

Dalam waktu yang bersamaan dia melancarkan sebuah serangan kepada Tio Hui.

Satu jurus dua gerakan, masing-masing menggunakan tenaga dalam yang berlainan.

Hawa pedang dan angin yang terpancar dari pukulannya seperti menuju jalan masingmasing.

Laksana dua orang yang menggunakan jurus berlainan, tetapi melancarkan serangannya dalam waktu yang bersamaan.

Ho Tiang Cun dan Tio Hui melihat serangannya begitu gencar dan dahsyat.

Untuk sesaat mereka malah tidak berani menyambutnya dengan kekerasan.

Pinggang meliuk dan kaki menggeser.

Masing-masing mencelat mundur sejauh tiga langkah.

Sinar mata Tan Ki menyorotkan hawa pembunuhan yang tebal.

Secara berturut-turut kembali dia melancarkan tiga belas jurus serangan.

Cahaya berkilauan timbul dari pedang di tangannya.

Pancarannya begitu kuat sehingga memenuhi jarak sekitar satu depaan.

Tiga orang tongcu, dua orang Bun Bu-siang dan Kaucu Pek Kut Kau dalam waktu seketika menjadi kalang kabut karena serangan Tan Ki yang dahsyat.

Mereka terdesak mundur sehingga keadaan di dalam pondok itu menjadi kacau balau.

Tiba-tiba Tan Ki mengeluarkan suara bentakan yang keras.

Kakinya bergerak mengejar Miao Fei Siong dari belakang.

Tampak pedang pendek di tangannya meluncur cepat menikam ke depan.

Dalam sekejap mata, dia menarik kembali jurus serangan yang telah dilancarkannya.

Jurus ini dikerahkan dengan kecepatan yang tidak terkirakan.

Baru saja pedangnya bergerak ke depan, tahu-tahu sudah ditarik kembali.

Begitu cepatnya sehingga orang-orang yang ada dalam ruangan itu tidak sempat melihat jelas bagaimana cara tangannya melakukan gerakan.

Justru ketika dia melancarkan pedangnya kemudian menarik kembali, dalam waktu yang bersamaan terdengar suara jeritan yang menyayat hati.

Darah memercik ke manamana.

Tubuh Miao Fei Siong terhuyung-huyung ke belakang seperti orang mabuk, kemudian terhempas di atas tanah dengan nyawa melayang.

Orang-orang di dalam pondok itu melihat gerakan tubuh dan tangan Tan Ki demikian hebat sehingga sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Hati mereka tercekat bukan kepalang.

Wajah mereka menyiratkan perasaan ngeri yang tidak terkirakan.

Toa Tocu dari Lam Hay sendiri juga melihat cara Tan Ki yang begitu cepat sehingga sanggup membunuh salah seorang jagonya dalam sekejap mata, tetapi dia hanya mengeluarkan suara tawa yang dingin serta menyaksikan dari samping.

Tampaknya dia menganggap Tan Ki seperti seekor ikan di dalam jala.

Tentu saja dia tidak perlu turun tangan sendiri.

Biar bagaimanapun sulit baginya untuk meloloskan diri dari tempat itu.

Oleh karena itu, dia juga tidak perduli melihat salah seorang jagonya dapat terbunuh oleh Tan Ki dalam seke-japan mata.

Sementara itu, gerakan Tan Ki terlihat melemah.

Tong Ku Lu segera menggunakan kesempatan itu untuk membalas menyerang.

Biar bagaimana orang ini merupakan salah satu Bun Bu Siang dari Lam Hay Bun.

Ilmunya tinggi sekali.

Begitu jurus serangannya dikerahkan, segera terasa ada serangkum angin kencang yang menimbulkan suara siulan panjang.

Tubuh Tan Ki berkelebat, dia menghindarkan dirinya dari pukulan Tong Ku Lu.

Belum sempat dia membalas menyerang, tanpa menimbulkan suara sedikitpun Ho Tiang Cun menerjang datang dari sebelah kiri.

Pukulan dihantamkan ke depan sekaligus jari tangannya melancarkan sebuah totokan.

Secara berturut-turut dia mengerahkan tiga jurus serangan.

Tio Hui seakan mengimbangi pukulan yang dilancarkan oleh Ho Tiang Cun.

Dia melancarkan dua buah pukulan dan sebuah tendangan.

Menghadapi serangan yang gencar ini, mau tidak mau Tan Ki mencelat mundur berkalikali.

Kesempatannya melancarkan serangan terlebih dahulu hilang, keadaan jadi berbalik.

Dia merasa situasi di hadapannya saat ini bukan main gawatnya.

Apalagi saat ini dia tidak mempunyai peluang lagi untuk membunuh Toa Tocu, diam-diam hatinya merasa panik.

Ketika pikirannya sedang gelisah, tiba-tiba terdengar Tong Ku Lu berteriak dengan lantang.

"Siapkan Tian Si Liok-tou (Enam Bintang Penggetar Langit)!"

Mendengar teriakannya, Tan Ki justru jadi tertegun.

Rupanya setelah bergebrak dengan Tan Ki sebanyak beberapa jurus, Tong Ku Lu sadar tenaga dalam mereka hampir seimbang.

Tetapi jurus serangannya justru kalah aneh dan keji.

Apabila pertarungan ini diteruskan, meskipun mereka dapat menggabungkan tenaga beberapa orang untuk meringkus Tan Ki, tetapi paling tidak harus melewatkan lima ratusan jurus.

Oleh karena itu, pikirannya segera tergerak.

Dia berniat menggunakan barisan Lam Hay Bun yang terkenal untuk mengepung Tan Ki.

Setelah itu mereka tinggal menggunakan obat bius atau senjata rahasia untuk merubuhkannya.

Mendengar kata-katanya, Cia Tian Lun beserta rekan-rekannya yang lain langsung duduk bersila di atas tanah.

Hua Pek Cing juga mencelat, keluar dan di bagian pusat.

Dia menggantikan kedudukan Miao Fei Siong yang sudah mati terbunuh oleh Tan Ki.

Barisan yang terdiri dari enam orang itu sudah dipersiapkan.

Daya kerjanya langsung dilancarkan.

Sebagai pembuka jalan, Kaucu Pek Kut Kau yang pertama-tama menghantamkan sebuah pukulan ke depan.

Indera penglihatan Tan Ki sangat tajam sekali.

Otaknya juga cerdas.

Setelah melihat sekilas, dia segera mengetahui bahwa keenam orang itu membentuk barisan dengan telapak tangan saling menempel.

Seperti orang yang mengerahkan hawa murninya untuk menyembuhkan luka dalam.

Tanpa dapat ditahan lagi hatinya segera tergerak.

Dengan cara saling menempelkan telapak tangan seperti itu, mereka dapat menggabungkan tenaga enam orang pada satu orang.

Setiap serangan yang dilancarkan berarti merupakan kekuatan enam orang yang tentu saja dapat dibayangkan kehebatannya.

Diam-diam hati Tan Ki tercekat.

Di samping itu dia juga ingin membuktikan dugaannya sendiri.

Oleh karena itu dia segera menghimpun hawa murninya dan mendorong telapak tangannya ke depan menyambut serangan Kaucu Pek Kut Kau.

Begitu kedua telapak tangan saling beradu, Tan Ki langsung merasa jantungnya bagai dihantam oleh sebuah palu yang besar.

Tubuhnya terpental ke atas satu kali, kakinya goyah dan sepasang pundaknya terhuyung-huyung.

Wajah Tan Ki perlahan-lahan berubah.

Diam-diam dia berpikir di dalam hati.

"Sungguh barisan Tian Si Liok-tou yang hebat!"

Sementara pikirannya masih tergerak, tiba-tiba Cian Tian Lun yang posisinya di tengahtengah kembali melakukan penyerangan.

Tenaga dalamnya bagai gunung yang rubuh, demikian dahsyatnya sehingga membuat hati Tan Ki tergetar.

Anak muda itu tahu, apabila dia menyambut lagi serangan Cia Tian Lun ini, pasti keadaannya tidak berbeda dengan sebelumnya.

Berarti dia mengadu tenaga dalam dengan enam orang lawan sekaligus.

Paling tidak dia akan terluka parah.

Oleh karena itu, untuk sesaat dia tidak berani menyambut dengan kekerasan.

Dia menggeser ke sebelah kiri satu langkah, pedang di tangannya digetarkan.

Dengan sebuah jurus yang hebat, pedang di tangannya menimbulkan lingkaran cahaya dengan ukuran besar kecil.

Serangannya ditujukan kepada salah satu Bun Bu-siang dari Lam Hay Bun, yakni Tong Ku Lu.

Menghadapi serangannya yang begitu dahsyat, Tong Ku Lu malah seperti menganggap remeh.

Dia tetap bersila di tempatnya tanpa bergerak sedikitpun.

Justru Ho Tiang Cun dan Hua Pek Cing yang masing-masing menghantamkan sebuah pukulan menahan serangan pedang Tan Ki.

Hawa amarah dalam dada Tan Ki jadi meluap.

Jurus-jurus yang aneh serta keji dilancarkannya secara gencar.

Saat itu juga, kilauan pedang memijar-mijar dan mendesak kepada enam orang tersebut.

Tidak tahunya Tian Si Liok-tou itu merupakan ilmu tingkat tertinggi dalam perguruan Lam Hay Bun.

Ilmu itu merupakan cip-taan tocu sebelumnya, Gin Tong yang menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk merampungkannya.

Orang yang diserang justru tidak mengelakkan diri ataupun menangkis, tetapi telapak tangannya ditempelkan pada telapak tangan rekan di sebelahnya dan rekannya itulah yang melancarkan serangan balasan.

Hal ini berarti orang yang pertama itu menerima saluran tenaga dalam dari rekan lainnya sehingga kekuatannya menjadi dahsyat.

Meskipun ilmu pedang Tan Ki aneh dan dapat menimbulkan hawa pedang yang tajam, tetapi setelah melancarkan serangan beberapa kali berturut-turut, tetap saja dia tidak sanggup melukai satu orangpun dari pihak lawan.

Diam-diam hatinya menjadi panik, keringat dinginnya terus mengucur dengan deras.

Dia merasa setiap kali melancarkan sebuah serangan, musuh tidak menghindar ataupun balas menyerang, tetapi malah mempertahankan diri.

Lambat laun dirinya sendiri yang terperangkap dalam barisan itu.

Walaupun pedang pendek di tangannya masih bisa digerakkan ke sana ke mari, tetapi wawasan dirinya sendiri semakin lama semakin simpati.

Setelah lewat beberapa jurus, dia merasa bagian depan belakang kiri atau kanan tubuhnya bagai ada lingkaran kekuatan tanpa wujud yang mendesak dirinya sehingga udara terasa pengap.

Dengan demikian gerakan tubuhnya juga jadi lambat dan tidak bisa berputar atau bergeser secara leluasa.

Dia pun merasa sulit melangkahkan kakinya.

Walaupun akhirnya dia sanggup menindakkan kakinya satu langkah, namun dia harus menguras tenaga yang banyak.

Hatinya sadar bahwa apabila pertarungan ini diteruskan, dirinya tentu tidak luput dari bencana.

Begitu pikirannya tergerak, tiba-tiba muncul niatnya untuk melarikan diri...

Siapa nyana baru saja niat itu muncul, tiba-tiba lingkungannya terasa semakin sempit.

Barisan Tian Si Liok-tou itu sudah bergerak sekaligus.

Apalagi barisan itu seperti dipimpin oleh orang yang ada di tengah-tengah.

Karena di kiri kanannya ada orang lain yang melindungi, maka tidak mudah bagi lawan untuk mencari peluang menyerangnya.

Sementara itu gerakan barisan tersebut semakin lama semakin cepat.

Baru saja Tan Ki mengerahkan jurus Cahaya Keperakan di Atas Lautan dengan gerakan seperti mengundurkan diri, tiba-tiba terdengar suara bentakan Hua Pek Cing yang langsung melancarkan sebuah serangan.

Dia pernah tergetar isi perutnya karena serangan hawa pedang Tan Ki.

Sebetulnya keadaan anak muda itu sudah sedemikian parah, bahkan ilmu silatnya sempat musnah.

Tetapi toa tocu dari Lam Hay bukan hanya seorang yang berilmu tinggi, ilmu pengobatannya juga hebat sekali.

Ke manapun dia pergi, dia selalu membawa Hiang Lianjau (Rumput teratai harum) yang merupakan keluaran Lam Hay Bun.

Setelah dipadu dengan bantuan saluran tenaga dalam dari beberapa bawahan gurunya, dalam waktu tiga kentungan saja mereka sudah berhasil menarik Hua Pek Cing dari jurang kematian.

Hanya saja tubuhnya masih lemas dan tenaga dalamnya sudah jauh melemah dibandingkan dengan sebelumnya.

Serangannya kali ini yang merupakan tenaga gabungan dari kelima orang lainnya, tentu saja tidak dapat dipandang ringan karena memang dahsyat sekali.

Serangan yang dilakukan oleh Hua Pek Cing tepat sekali.

Dengan tepat dia menghadang jalan mundur Tan Ki.

Keadaan jadi berbahaya.

Begitu terdesaknya Tan Ki sehingga dia cepat-cepat mengempos semangatnya, kemudian tangannya mendorong ke depan menyambut serangan tersebut.

Terdengar suara benturan kedua telapak tangan yang menggelegar memekakkan telinga.

Bagian atas tubuh Hua Pek Cing bergoyang-goyang, sedangkan Tan Ki yang terhantam dorongan tenaga demikian dahsyat tidak dapat mempertahankan injakan kakinya lagi di atas tanah.

Akhirnya setelah terhuyung-huyung beberapa kali, kakinya terpaksa menindak ke depan satu langkah.

Keadaan yang demikian genting ini membuat perasaan hati Cin Ying dan Cin Ie yang melihatnya sampai terkejut setengah mati.

Tanpa terasa mereka maju satu langkah.

Begitu melihat Tan Ki dalam keadaan bahaya, tanpa memperdulikan segalanya mereka bersiap melesat ke depan memberikan pertolongan.

Tampak bayangan telapak dan hawa pedang bergulung memenuhi sekitar tempat tersebut.

Semakin lama pertarungan mereka berlangsung semakin cepat.

Justru ketika dia tidak tahu bagaimana harus berbuat, tiba-tiba dari luar pondok terdengar sayup-sayup suara pekikan rajawali.

Nadanya melengking tinggi sehingga membuat gendang telinga menjadi ngilu.

Kemudian terdengar suara siulan panjang mengiringi pekikan rajawali tadi.

Namun suara siulan itu demikian lembut seakan mengandung kerinduan hati seorang kekasih yang sudah lama berpisah...

Orang-orang yang ada dalam pondok itu sampai termangu-mangu mendengarkannya.

Mereka seperti terpengaruh oleh suara siulan tadi.

Hawa pembunuhan yang menyelimuti pondok tersebut serasa menyurut cukup banyak.

Tiba-tiba Tan Ki mengeluarkan suara bentakan keras, secara berturut-turut dia melancarkan tiga serangan.

Dia sadar bahwa saat ini merupakan kesempatan emas baginya.

Kalau dia tidak mencari akal menerobos keluar dari barisan tersebut, mungkin dia terpaksa mati oleh serangan keenam orang yang berilmu tinggi-tinggi itu.

Oleh karena itu, serangannya yang gencar ini mengandung tenaga dalam yang bukan main dahsyatnya.

Dia tidak memberi kesempatan bagi lawan untuk melancarkan serangan balasan.

Dengan jurus "Ikan Lele Melompat-lompat", tubuhnya berjungkir balik di udara kemudian melesat keluar dari barisan tersebut.

Tan Ki tidak pernah membayangkan bahwa dia dapat menerjang keluar tanpa menemukan kesulitan sedikitpun.

Oleh karena itu gerakannya juga tidak terlalu cepat.

Di samping itu secara diam-diam dia juga mengerahkan hawa murninya menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi.

Tetapi urusannya benarbenar di luar dugaan Tan Ki.

Baik Tong Ku Lu maupun Hua Pek Cing tidak ada yang turun tangan mencegahnya.

Begitu pandangan matanya dialihkan, entah sejak kapan, di depan pintu telah berdiri seorang gadis berpakaian hijau.

Rambutnya dikepang dua dan kecantikannya luar biasa.

Gadis ini sama sekali tidak asing dalam pandangan Tan Ki.

Dia adalah pelayan si gadis berpakaian putih yang selalu menunggang burung rajawali, yakni Mei Hun adanya.

Kepala Tan Ki berpaling ke arah yang lain.

Pandangan mata orang-orang di dalam pondok itu seakan terkesima terhadap kecantikan si gadis cilik yang baru muncul ini.

Sekonyong-konyong suatu ingatan melintas di benak Tan Ki.

Dia segera berkata kepada Mei Hun.

"Tempat ini merupakan markas sementara golongan sesat, sedangkan kau berani-beraninya muncul di sarang harimau."

Mei Hun mengerlingkan matanya sebanyak dua kali. Bibirnya tersenyum manis.

"Maksudmu, tempat ini sangat berbahaya bukan?"

"Kalau kedatanganmu ini tidak diiringi majikanmu, sudah tentu berbahaya bagi dirimu!"

Senyum Mei Hun semakin lebar.

"Belum tentu."

Katanya santai.

Orangnya sendiri memang sudah cantik bukan main, begitu tersenyum, otomatis terlihat semakin menawan.

Tampak tubuhnya bergerak dengan lemah gemulai.

Selangkah demi selangkah dia berjalan masuk dan terus menuju tempat Toa Tocu dari Lam Hay Bun.

Kemunculannya yang tidak tersangka-sangka sudah mengejutkan orang-orang yang ada di dalam pondok tersebut.

Ternyata dia malah berani menghampiri Toa Tocu.

Besarnya nyali gadis itu benar-benar sulit disamakan oleh orang lain.

Mereka merasa gerak-gerik gadis ini begitu misterius, maksud kedatangannya membingungkan.

Tanpa dapat ditahan lagi, orang-orang yang ada di di dalam pondok itu merasa tidak paham sehingga saling menukar pandangan.

Hua Pek Cing yang pernah kena batunya, terlebihlebih merasa gelisah melihat kemunculannya itu.

Sepasang alis Tan Ki menjungkit ke atas.

Pedang ditangannya digenggam erat-erat.

Pandangan mata Toa Tocu menyorotkan sinar yang berkilauan.

Tiba-tiba wajahnya menjadi kelam.

Dia membentak dengan suara keras.

"Untuk apa kau datang ke mari?"

Mei Hun mengembangkan seulas senyuman yang sangat manis.

"Tentu saja untuk mengambil batok kepalamu!"

Mendengar perkatannya, Toa Tocu segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

"Sungguh seorang budak cilik yang bermulut tajam! Kau kira siapa aku ini?"

"Aku tidak perduli siapa dirimu. Tetapi karena aku sudah menaksir batok kepalamu, meskipun tidak sudi menyerahkannya kau juga tidak bisa melarangku."

Toa Tocu mengeluarkan suara tawa yang dingin.

Tampangnya seperti orang yang marah tetapi juga geli mendengar ucapan Mei Hun tadi, sungguh tidak enak untuk dipandang.

Tan Ki melihat di balik senyumnya yang dingin terselip kegusaran.

Segurat hawa kehijauan muncul di wajahnya.

Demikian samarnya sehingga tidak dapat terlihat oleh orang yang pandangan matanya kurang tajam.

Melihat tampangnya yang aneh dan tidak enak dilihat, wajah Mei Hun langsung berubah.

Dia mengeluarkan suara tawa yang dingin.

"Rupanya kau sudah mempelajari ilmu Hawa Sesat dari Mayat yang Seram!"

"Tampaknya kau juga bukan orang tanpa asal-usul. Karena sekali lihat saja kau sudah dapat menebak dengan tepat rahasiaku. Mengingat usiamu yang demikian muda, yang mestinya belum mengerti apa-apa, aku juga malas berdebat panjang lebar denganmu. Cepat katakan asal perguruanmu dan kau boleh segera tinggalkan tempat ini!"

Kata Toa Tocu.

"Biarpun kau mengusir aku, belum tentu aku bersedia meninggalkan tempat ini."

Sepasang mata Toa Tocu tiba-tiba menyorotkan sinar yang berkilauan.

Seperti dua buah lentera berwarna hijau yang menyeramkan sehingga membuat hati orang tergetar.

Ditambah lagi dengan hawa hijau yang menyelimuti wajahnya, semakin membuat hati orang menjadi gelisah dan tercekat.

Terdengar dia mengeluarkan suara tawa yang seram.

"Kalau aku berniat mengambil nyawamu, mudahnya seperti membalikkan telapak tangan sendiri...!"

Mei Hun tidak memberi kesempatan kepada Toa Tocu tersebut untuk melanjutkan katakatanya, dia langsung menukas.

"Lalu mengapa kau tidak mencobanya? Lihat apakah membuktikannya mudah atau bicaranya saja yang mudah?"

Toa Tocu adalah seorang pimpinan, di wilayah Lam Hay Bun yang paling disegani.

Mendengar sindirannya yang begitu tajam, tentu saja dia tidak dapat menahan kemarahan dalam hatinya lagi.

Oleh karena itu, dia langsung mendongakkan wajahnya dan mengeluarkan suara tawa yang mirip dengan pekikan burung hantu di tengah malam.

Tan Ki merasa suara tawa sang tocu tersebut seakan membawa hawa dingin yang menyusup ke dalam dada.

Bukan saja tidak enak didengar, malah membuat tubuh orang menggigil seperti tiba-tiba saja turun salju yang deras sehingga menutupi seluruh pondok tersebut.

Bulu kuduknya merinding seketika.

Justru di saat Tan Ki merasa gelisah, tiba-tiba suara tawa sang tocu sirap.

Dia langsung maju ke depan sejauh dua langkah.

"Aku akan mengalah kepadamu sebanyak tiga jurus..."

Ucapan ini apabila tercetus dari mulut orang lain, tentu orang-orang yang mendengarnya akan merasa bahwa tocu ini sombongnya bukan main.

Tetapi tocu ini bukan sembarang tocu.

Ilmunya sudah mencapai taraf yang demikian tinggi sehingga sulit diukur lagi.

Mereka merasa kata-kata itu wajar sekali terdengar dari mulutnya, tidak seorangpun yang merasa dia tidak pantas berkata seperti itu.

Tampaknya Mei Hun seperti sengaja mengulur waktu.

Ternyata dia tidak langsung melancarkan serangan.

Dengan tampang yang dingin dan datar dia berkata.

"Kalau kau memang berniat mengalah tiga jurus kepadaku, maka kau tidak boleh melancarkan serangan balasan!"

"Tentu saja!"

Sahut sang Toa Tocu.

"Apakah kau tidak berpikir bahwa tiga jurus ini mungkin dapat membuat kau rubuh di atas tanah bermandikan darah?"

Wajah Toa Tocu tiba-tiba menjadi serius.

"Aku tidak sudi berdebat terus denganmu! Pokoknya kau lancarkan saja serangan secepatnya!"

Mei Hun tersenyum simpul.

"Meskipun ilmu sesat yang kau pelajari itu mengandung racun yang ganas serta pengaruh yang dahsyat, tetapi kau tidak sanggup mempertahankan hawa murnimu dalam waktu yang terlalu lama. Kalau waktu terus berlalu, kau terpaksa mengendurkan hawa murni yang kau kerahkan. Begitu ilmu beracun itu buyar, kau akan segera berubah menjadi orang yang tidak berguna. Seandainya aku mengucapkan beberapa patah kata lagi untuk mengulur waktu, maka aku akan..."

Toa Tocu mendengar kata-katanya yang semakin lama semakin membuka rahasia yang ada pada dirinya. Hatinya menjadi marah dan terkejut. Dia langsung membentak dengan suara keras menukas ucapan Mei Hun.

"Tutup mulutmu! Kalau kau masih belum mau melancarkan serangan, jangan salahkan apabila Toa Tocumu ini menarik kembali katakata yang sudah diucapkan dan berbalik turun tangan menyerangmu!"

Mei Hun menggerak-gerakkan sepasang kepang di belakang kepalanya. Bibirnya masih juga tersenyum manis.

"Sekarang bukan saatnya mengadakan pertarungan dengan tergesa-gesa. Kedatanganku ini sebenarnya karena mendapat tugas yang maha berat. Kalau kau berniat mendengarkannya, maka kau harus memberi waktu agar aku dapat mengatur kata-kata yang baik dan mengatur pernafasan sejenak."

Toa Tocu melihat gadis itu seperti mengemban tugas penting yang ingin disampaikan.

Tampangnya juga bukan seperti orang yang sedang bergurau.

Diam-diam hatinya tergerak.

Tetapi biar bagaimanapun dia merupakan seorang tokoh yang licik.

Kemarahan atau kesenangan yang dirasakannya tidak mudah terlihat dari mimik wajahnya.

Meskipun kedatangan gadis ini begitu misterius dan ia ingin mendengar apa yang akan disampaikan olehnya.

Namun dari luarnya dia justru pura-pura gusar.

"Kalau ada ucapan yang ingin kau sampaikan, harap katakan secepatnya. Aku tidak ada waktu bersilat lidah denganmu!"

"Baiklah, aku akan mengatakannya..."

Baru mengucapkan beberapa patah kata, tiba-tiba dia berhenti lagi.

Sepasang matanya perlahan-lahan dipejamkan.

Seakan sedang merenung bagaimana harus menyampaikan pesannya.

Sampai sekian lama dia tidak berkata-kata lagi.

Orang-orang yang ada di dalam pondok itu merasa apa yang ingin disampaikan oleh Mei Hun pasti suatu masalah yang serius.

Tanpa terasa hampir seluruh pandangan mata terpusat pada diri gadis itu.

Mereka menunggu dengan nafas tertahan dan tidak ada seorangpun yang membuka suara.

Keheningan yang mencekam menyelimuti suasana di dalam pondok tersebut.

Kembali waktu selama sepeminuman teh berlalu.

Sekonyong-konyong Tan Ki melihat hawa kehijauan yang tergurat di wajah Toa Tocu semakin lama semakin samar.

Sinar matanya yang dingin juga tidak menyorotkan sinar setajam tadi lagi.

Diam-diam hatinya merasa bingung.

Tetapi tangannya tetap menggenggam pedang erat-erat seakan tidak berani gegabah menghadapi situasi yang ada.

Tiba-tiba terdengar lagi suara Mei Hun yang merdu...

"Di luar samudera ada empat puluh delapan pulau. Sebelumnya sudah banyak tokohtokoh dari wilayah ini yang menggemparkan daerah Tionggoan, tetapi tokoh-tokoh ini mempunyai pikiran yang panjang dan jiwa yang lapang. Mereka tidak berani sembarangan menginjakkan kakinya ke daerah Tionggoan meskipun hanya satu langkah saja. Selama ratusan bahkan ribuan tahun, ilmu silat terus berusaha dikembangkan, siapapun ingin menciptakan ilmu yang paling tinggi di dunia ini. Selama ratusan balikan ribuan tahun, hubungan antara Lam Hay dengan Tionggoan juga biasa-biasa saja. Boleh dibilang saling menghargai sehingga tidak ada pihak manapun yang berusaha menguasai pihak lainnya. Bahkan bekas Bengcu yang lama, yakni Cin Tong juga tidak berani bertindak gegabah. Meskipun beliau sering menginjakkan kakinya ke wilayah Tiong-goan dan bertukar pikiran tentang ilmu silat dengan tokoh-tokoh sakti dari wilayah Tiong-goan kami. Tetapi sejak awal hingga akhir, hubungan mereka bagai sahabat yang hanya saling menjajaki ilmu masing-masing. Belum pernah terjadi pertikaian atau sengketa yang menyangkut budi ataupun dendam. Seandainya kau memiliki sepersepuluh dari jiwa besar dari Cin Losiansing, maka kau tidak mungkin berambisi demikian besar sehingga berniat menguasai wilayah Tionggoan."

Toa Tocu memperdengarkan suara tawa yang dingin.

"Aku mempunyai kelebihan dibandingkan dengan manusia biasa. Ambisiku memang ingin menyatukan seluruh Bulim agar tunduk di bawah sebuah bendera yang sama, dengan demikian tidak akan terjadi lagi perebutan kekuasaan antara satu wilayah dengan lainnya. Mengapa hal ini tidak boleh dilakukan?"

"Apakah kau benar-benar berniat membubarkan setiap partai yang ada dan membuat mereka takluk di bawah benderamu?"

Tanya Mei Hun.

"Aku memang mengandalkan kekuatanku dan berusaha menguasai seluruh dunia ini..."

Berkata sampai di sini, tiba-tiba dia seperti teringat suatu hal yang serius.

Setelah mendengus dingin satu kali, dia tidak melanjutkan kata-katanya lagi.

Rupanya ketika keduanya terlibat dalam pembicaraan itulah, hawa hijau yang tersirat di wajahnya lambat laun menjadi sirna.

Kemunculan Mei Hun yang secara tidak terduga-duga di markas pihak Lam Hay ini, memang menerima tugas dari seseorang.

Melihat hawa hijau yang tersirat di wajah Toa Tocu sebelumnya sekarang sudah lenyap.

Dia maklum bahwa hawa racun yang dikerahkannya juga sudah surut.

Apabila dia ingin turun tangan, waktunya justru dalam beberapa menit ini.

Sebab beberapa menit kemudian, hawa murni dalam tubuh Toa Tocu tersebut bisa dihimpun kembali dan diapun sanggup mengerahkan ilmu beracunnya lagi.

Oleh karena itu, dia segera mengembangkan seulas senyuman yang manis.

"Aku tahu, biar bagaimana kau merupakan seorang tokoh yang paling disegani di wilayah Lam Hay ini. Kata-kata yang kau ucapkan seberat gunung. Niat yang sudah ada dalam hatimu sulit diubah. Seandainya ambisimu memang demikian besar, ingin menguasai seluruh dunia ini di bawah benderamu, aku juga tidak dapat mengatakan apaapa lagi. Semoga kau dapat mementangkan sayapmu selebar-lebarnya dan berhasil mendapatkan apa yang kau inginkan. Di sini juga aku memohon diri."

Dia segera membalikkan tubuhnya dan menarik tangan Tan Ki, kemudian mengajaknya menghambur keluar dari ruangan tersebut.

Mei Hun datang secara tidak terduga-duga, sekarang malah mau pergi seenaknya.

Seakan tidak memandang sebelah mata kepada orang lain.

Toa Tocu itu pada dasarnya adalah manusia yang tinggi hati, mana mungkin dia sanggup menahan kekesalannya menghadapi tindak-tanduk Mei Hun ini.

Pandangan matanya langsung beralih kepada Cia Tian Hun dan membentak dengan suara keras.

"Tahan dia!"

Nada suaranya begitu berat seakan mengandung kegusaran yang tidak terkirakan.

Cia Tian Lun langsung mengiakan.

Tubuhnya langsung berkelebat ke depan.

Tangan kirinya menjulur keluar, tangan kanannya membentuk cakar, timbul angin yang menderuderu dan melanda ke arah Mei Hun dan TanKi.

Meskipun kedudukan orang ini hanya sebagai salah satu dari Bun Bu-siang, tetapi ilmu silatnya benar-benar tidak dapat dianggap enteng.

Mei Hun merasa cengkeraman yang dilancarkannya mengandung tenaga dalam yang dahsyat.

Orangnya belum sampai, anginnya sudah melanda datang.

Tanpa dapat ditahan lagi, hatinya merasa tercekat.

Pergeangan kanannya memutar.

Dengan sebuah jurus yang hebat, dia mengibas ke depan.

Siapa sangka Cia Tian Lun memang mengharapkan dia melakukan gerakan tersebut.

Tiba-tiba lengannya membalik dan tenaga yang terpancar pada cengkeramannya langsung lenyap.

Dari lambat gerakannya menjadi cepat.

Begitu tangannya bergerak sekali lagi, tahu-tahu pergelan-gan tangan Mei Hun sudah tercekal olehnya.

Ketika kibasan tangannya menemui kekosongan, Mei Hun merasa ada yang tidak beres.

Niatnya ingin mengibas sekali lagi, tetapi waktunya sudah tidak keburu.

Tiba-tiba dia merasa pergelangan tangannya seperti kesemutan dan bagai dijepit oleh sepasang capitan besi yang kuat.

Seluruh tenaga dalamnya langsung lenyap seketika.

Namun ilmu silat Mei Hun diajarkan langsung oleh si gadis berpakaian putih yang sakti.

Dalam keadaan seperti itu, kesadaran pikirannya tetap terjaga.

Diam-diam dia mengerahkan hawa murni dalam tubuhnya dan langsung menutup seluruh jalan darah yang ada di pergelangan tangannya.

Meskipun dia merasa tulang pada pergelangan tangannya itu agak sakit, tetapi dalam sekejap mata tenaga dalamnya sudah pulih sebanyak tujuh bagian.

Dia langsung mengeluarkan suara bentakan, tubuhnya agak membungkuk sedikit dan kaki kirinya menendang depan.

Sasarannya jalan darah di bagian pinggang Cia Tian Lun.

Jurus serangannya ini mengandung keajaiban yang tidak terkirakan, lebih-lebih dilancarkan secara tidak terduga-duga.

Cian Tian Lun tidak menduga bahwa pergelangan tangannya yang sudah tercekal masih bisa mempunyai tenaga untuk melancarkan serangan balasan.

Jarak di antara mereka juga demikian dekat, apabila mengulurkan tangan ke depan, jalan darah utama pada seluruh tubuh lawan dapat terjangkau.

Hal ini bukan main gawatnya.

Tetapi pengetahuan maupun pengalaman Cia Tia Lun sangat luas.

Tentu saja dia sadar betapa bahaya kedudukannya saat itu, terpaksa dia melepaskan kesempatan yang baik dengan mengendurkan cekalan tangannya kemudian mencelat mundur.

Mei Hun masih berdiri di tempatnya semula.

Dia juga tidak mengejar lawannya.

Hanya terdengar dia berkata dengan bibir tersenyum.

"Ilmu silatmu belum seberapa hebat."

Selesai berkata, dia langsung membalikkan tubuhnya berjalan pergi.

Mungkin ilmu silatnya yang aneh dan ajaib telah membuat orang-orang di dalam pondok itu merasa terkejut.

Ternyata tidak ada seorangpun yang menghadang kepergiannya.

Bahkan Toa Tocu sendiri seperti mempunyai rencana yang lain sehingga tidak bergerak setengah langkahpun.

Tampaknya Mei Hun sendiri pura-pura gagah di hadapan musuh.

Jalannya juga tenang sekali.

Tetapi begitu keluar dari pintu, dia segera berkata kepada Tan Ki dengan suara yang lirih.

"Cepat lari! Kita tidak boleh berlama-lama di sini!"

Tan Ki juga tidak mengerti mengapa tiba-tiba niatnya berubah.

Melihat sepasang alisnya yang indah menjungkit ke atas dan langsung menghambur ke depan secepat kilat, dia juga segera mengerahkan ilmu ginkangnya dan menyusul dari belakang.

Setelah berlari beberapa saat, keduanya melihat tidak ada orang yang mengejar mereka.

Oleh karena itu, merekapun melambatkan gerakan kakinya.

Setelah sampai di mulut lembah yang sempit, mendadak Tan Ki menghentikan langkah kakinya.

Dia segera merangkapkan sepasang kepalan tangannya dan menjura dalam-dalam kepada Mei Hun.

Dengan perasaan rendah diri dia berkata.

"Cayhe sudah berulang kali berbuat kesalahan terhadap majikan nona, tetapi nona sama sekali tidak menyimpan dendam dalam hati. Malah membalas kebencian dengan budi. Sekarang Cayhe kembali mendapat bantuan dari nona, hati ini sungguh-sungguh merasa malu."

"Yang menolong engkau bukan aku, saat ini aku hanya menjalankan perintah saja."

Meskipun mulutnya menyahut tetapi gerakan kakinya tidak berhenti sama sekali.

Dia terus melangkah ke depan, tetapi nada suaranya seperti orang yang menahan kekesalan hati.

Mendengar ucapannya, Tan Ki sempat tertegun sejenak.

Dia lalu melangkahkan kakinya mengejar dari belakang.

"Apakah nona mendapat perintah dari majikanmu sehingga sengaja datang untuk menolong aku?"

"Kalau kau kira majikanku masih merindukan dirimu, boleh saja kau menganggap demikian."

Hati Tan Ki tergetar. Untuk sesaat dia tidak tahu bagaimana harus menjawab perkataan Mei Hun."

Padahal Tan Ki adalah seorang pemuda yang cerdas, tetapi dalam keadaan ruwet seperti ini, pikirannya seperti tersumbat.

Suasana menjadi hening.

Kedua orang itu berlari lagi beberapa saat.

Melihat Tan Ki terus merenung tanpa mengucapkan sepatah katapun, sepasang alis Mei Hun jadi mengerut-ngerut.

Tiba-tiba dia bertanya.

"Mengapa kau tidak berbicara lagi?"

Tan Ki menarik nafas perlahan-lahan.

"Cayhe benar-benar kehabisan kata-kata."

Tampaknya Mei Hun merasa tidak puas dengan jawabannya itu.

Wajahnya menyiratkan mimik yang dingin dan datar.

Tiba-tiba langkah kakinya dipercepat dan dia berlari terus ke depan secepat kilat.

Melihat sikap Mei Hun yang kadang-kadang dingin dan kadang-kadang ramah itu, Tan Ki benar-benar tidak tahu bagaimana tanggapan gadis itu terhadap dirinya.

Untuk sesaat dia jadi serba salah.

Mengejar rasanya salah, tidak mengejar juga salah.

Dia malah berdiri termangu-mangu di tempatnya.

Gerakan tubuh Mei Hun benar-benar cepat sekali.

Dalam sekejap dia sudah membelok pada sebuah lekukan dan tidak terlihat lagi.

Udara yang menyebar di sekitar tempat itu masih menyebarkan keharuman yang terpancar dari tubuh seorang gadis, tetapi keharuman yang terendus ini justru membuat hatinya semakin tertekan.

Matanya memandang pemandangan lembah yang sunyi sambil menarik nafas dalam-dalam sekali lagi.

Dia sendiri tidak mengerti mengapa harus menarik nafas panjang.

Hatinya seperti merasa kehilangan sesuatu yang sangat disukainya.

Dia merasa dirinya begitu sunyi tiada teman dan sanak keluarga...

Untuk sekian lama dia berdiri termangu-mangu.

Rasanya sulit menentukan pilihan.

Tiba-tiba tubuhnya tergetar, urat nadi di pergelangan tangannya yang utama telah dicekal oleh seseorang.

Gerakan orang itu begitu cepat bagai kilat.

Meskipun ilmu kepandaian Tan Ki sekarang sudah tinggi sekali, tetapi karena perhatiannya terpencar dan tidak berjaga-jaga sama sekali, dia tidak sempat lagi mengelakkan diri, bahkan tidak merasa sama sekali.

Perlu diketahui bahwa urat nadi pergelangan tangan merupakan salah satu dari tiga puluh enam urat terpenting yang terdapat pada tubuh manusia.

Aliran darahnya bagai tersumbat, sebagian dirinya kesemutan dan tidak bertenaga untuk mengadakan perlawanan.

Telinga Tan Ki mendengar nada suara seorang tua yang berat berkumandang dari belakang punggungnya.

"Meskipun ke ujung langit, lohu tetap akan mencarimu. Siapa tahu Thian memang mempunyai mata sehingga mempertemukan kita di tempat ini."

Mendengar nada suaranya itu, Tan Ki segera mengetahui siapa adanya orang itu.

Orang itu tak lain adalah Pangcu Tian Ciang Pang, Lok Hong.

Tanpa dapat ditahan lagi hatinya menjadi gusar.

Baru saja dia ingin meluapkan kemarahannya, mendadak hati anak muda ini tergerak.

Diam-diam dia berpikir.

"Urat nadi pergelangan tanganku sudah tercekal olehnya. Dengan demikian seluruh tenagapun menjadi lenyap. Kalau aku sampai mengucapkan kata-kata yang membuatnya marah, sudah pasti dia akan melukai aku."

Begitu pikirannya tergerak, cepat-cepat dia menekan kemarahan dalam hatinya dan tersenyum ramah.

"Cara Locianpwe ini sungguh mengejutkan, entah apa kesalahan Boanpwe?"

Wajah Lok Hong menjadi merah padam. Dia menjawab dengan rasa jengah.

"Selama hidup ini lohu tidak pernah mempunyai niat untuk membokong siapapun. Tetapi keadaan sekarang jauh berlainan dengan biasanya. Biar bagaimana kau merupakan seorang pangcu dari perkumpulan Ikat Pinggang Merah. Meskipun belum tentu lohu merasa gentar terhadapmu, tetapi ilmu silatmu saat ini sudah termasuk jago pedang tingkat sembilan. Terpaksa aku meringkusmu dengan tidak terduga-duga sehingga dapat menghemat waktu."

Seraya berbicara, cekalan tangannya semakin diperkuat.

Tan Ki merasa tulang pergelangan tangannya nyeri sekali.

Keringat telah membasahi seluruh tubuhnya.

Tetapi kegagahannya benar-benar tidak dapat disamakan dengan orang lain.

Dia mengkertakkan giginya erat-erat tanpa mendengus sedikitpun.

Lok Hong tahu keberanian Tan Ki besar sekali.

Meskipun pergelangan tangannya sudah tercekal dan menahan sakit tanpa merintih sedikitpun, tetapi apabila perhatiannya terpencar sedikit saja, dia tidak bisa menjamin kalau Tan Ki tidak akan berbuat macammacam.

Oleh karena itu, dia segera mengulurkan tangannya dan menotok dua jalan darah pada tubuh Tan Ki.

Tubuh anak muda itu terhuyung-huyung sebentar.

Dia langsung membentak dengan nada marah.

"Entah apa maksud Locianpwe mendesak orang sedemikian rupa?"

Walaupun hiat to alias jalan darahnya telah tertotok sehingga tenaga dalamnya lenyap sama sekali, tetapi yang ditotok oleh Lok Hong bukan urat bisu, sehingga mulutnya masih dapat berbicara sebagaimana biasa.

Loh Hong memperdengarkan suara tawa yang dingin sekali.

"Nyawa cucu kesayanganku sedang di ambang maut. Rasanya tidak mungkin dapat diselamatkan lagi. Kalau dia sudah mati, apa artinya hidup lohu di dunia ini? Tetapi sebelum Ing-ji menghembuskan nafasnya yang terakhir, aku akan mencari seseorang untuk menemaninya."

"Kalau ditilik dari keadaan sekarang, tampaknya orang yang kau maksudkan itu diriku, bukan?"

Sekali lagi Lok Hong tertawa dingin.

"Bencana ini, kalau ingin dicari dalangnya, terpaksa lohu menunjuk dirimu!"

Sepasang alis Tan Ki langsung menjungkit ke atas.

"Orang yang mencari gara-gara engkau sendiri, yang membuat cucumu terluka parah juga dirimu sendiri. Mengapa Locianpwe menuduh yang bukan-bukan dan menyalahkan diriku dalam hal ini?"

Terhadap sindiran Tan Ki yang tajam, untuk sesaat Lok Hong seperti kehilangan katakata untuk memberikan jawaban.

Sempat dia termangu-mangu cukup lama.

Kemudian perasaan malu dalam hatinya berubah jadi gusar.

Tangannya bergerak ke kiri dan kanan.

Secara berturut-turut dia menempeleng sepasang pipi Tan Ki.

"Kalau kau masih berani mengeluarkan kata-kata yang membuat aku marah, jangan salahkan apabila aku menurunkan tangan keji. Sebelum bertemu dengan cucu perempuanku, aku akan menyiksa dirimu dulu secara perlahan-lahan."

Seraya berkata, lengan kirinya menjulur ke depan.

Tahu-tahu tubuh Tan Ki sudah berada dalam gendongannya.

Seperti mengangkat seekor anak ayam, dia langsung mengerahkan ilmu ginkangnya.

Dalam dua kali loncatan saja, dia sudah mencapai jarak sejauh tiga empat depa.

Justru ketika belum lama kedua orang itu pergi dari tempat itu, di mulut lembah tibatiba melesat keluar dua sosok bayangan.

Pakaiannya berwarna hijau dan satunya lagi merah.

Mereka mengedarkan pandangannya ke sekitar.

Kedua orang itu adalah gadisgadis pelayan yang melayani si gadis berpakaian putih yang sakti, yakni Mei Hun dan Ciu Hiang.

Tampang Mei Hun menyiratkan perasaan hatinya yang panik.

Matanya celingak-celinguk ke sana ke mari.

Ciu Hiang juga mengedarkan pandangan matanya.

Tiba-tiba dia menghentikan langkah kakinya.

"Di sini juga tidak ada. Ke mana dia sebetulnya?"

Mei Hun merasa sedih dan gugup.

"Bagaimana aku bisa tahu? Tadi aku merasa jengkel sehingga menyindirnya dua patah kata. Aku kira biar bagaimana dia akan mengejar aku dan pergi menemui cujin bersamasama. Tidak tahunya orang ini benar-benar tinggi hati dan angkuh. Ternyata dia pergi secara diam-diam. Kalau cujin sampai tahu urusan ini dan menyelidiki sebab musababnya, aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kukatakan."

Sambil berkata, secara berturutturut dia menghentakkan kakinya di atas tanah dua kali. Dia merasa panik juga kesal bukan main.

"Urusan toh sudah jadi begini. Terpaksa kita mencari jalan. Kalau sampai buntu juga, sebaiknya berterus terang saja."

Sahut Ciu Hiang.

Mei Hun mengiakan dengan lirih.

Untuk sesaat dia tidak mengatakan apa-apa.

Dia menundukkan kepalanya merenung sesaat.

Tiba-tiba dia membungkukkan tubuhnya dan menempelkan telinganya di atas tanah.

Dia segera mengerahkan ilmu Te Ting-sut (Ilmu mendengarkan tanah).

Ilmu ini merupakan ilmu pendengaran kelas tinggi.

Orang yang menguasainya sanggup mendengarkan gerak-gerik di sekitar dari getaran di atas tanah.

Orang yang sudah berpengalaman dapat mengetahui gerakan musuh dalam jarak sepuluh li.

Sejak kecil Mei Hun tinggal di pegunungan Ming San.

Dia sering menggunakan ilmu ini untuk mengincar binatang-binatang liar.

Sekarang dia mengerahkan ilmu yang sama dan mendengarkan untuk beberapa saat.

Ternyata dia menemukan suara langkah pada jarak tiga li di sebelah tenggara.

Ciu Hiang menunggu sejenak.

Dia melihat wajah Mei Hun berseri-seri.

Tanpa dapat ditahan lagi dia langsung bertanya.

"Bagaimana? Apakah kau menemukan jejaknya?"

Mei Hun mengulurkan jari tangannya menunjuk ke sebelah tenggara.

"Dia menggunakan ilmu ginkang tingkat tinggi dan lari ke sebelah sana!"

Seraya berkata, dia melonjak bangun.

Dia seakan merasa bahwa bagaimanapun dia harus menemukan Tan Ki.

Tanpa menunggu jawaban dari Ciu Hiang, dia langsung mengerahkan hawa murninya kemudian melesat ke arah tenggara.

Di bawah sinar mentari yang terik, dua sosok bayangan berlari bagai terbang.

Tubuh keduanya bagai gulungan kabut yang terhembus angin.

Namun, biar bagaimana kedua gadis ini merupakan orang-orang yang kurang pengalaman.

Meskipun ilmu mereka sangat tinggi, tetapi pengetahuan tidak cukup luas.

Selama ini mereka memang jarang berkecimpung di dunia Kangouw.

Keduanya hanya berpikir untuk mengejar Tan Ki.

Dengan demikian keadaan di sekitar mereka tidak diperhatikan lagi.

Entah sejak kapan, di belakang mereka ternyata mengikuti dua orang gadis bercadar hitam.

Sementara itu, Lok Hong yang menggendong tubuh Tan Ki terus berlari.

Setelah kurang lebih sepenanakan nasi kemudian, tiba-tiba dia berganti arah.

Dia tidak lagi berlari ke arah tenggara, tetapi menuju sebelah selatan.

Tampak pepohonan seperti mundur ke belakang.

Dalam waktu yang singkat dia sudah melewati tiga turunan yang curam dan sampai di depan sebuah goa alami.

Di dalamnya terlihat remang-remang, sehingga sulit melihat pemandangan yang ada.

Kemungkinan goa ini sangat besar dan dalam.

Lok Hong yang memondong tubuh Tan Ki secara berturutturut melalui tiga buah lekukan, tetapi masih juga belum sampai di tempat tujuan.

Tiba-tiba dia menghentikan langkah kakinya.

Di hadapannya terdapat sebuah ruangan batu yang tinggi dan besar.

Tempat ini tertutup oleh sinar mentari.

Itulah sebabnya keadaan di sana jauh lebih gelap daripada di depan tadi.

Hawa di dalam ruangan itu pun terasa lembab sehingga menimbulkan pera-saanyang tidak enak.

Sepasang alis Tan Ki langsung berkerut-kerut.

Terdengar dia tertawa dingin.

"Di dalam goa yang gelap dan menyeramkan ini, apabila ingin membunuh seseorang, pasti sulit diketahui orang dan buktinya mudah dilenyapkan."

"Kalau lohu memang berniat membunuhmu, mudahnya seperti membalikkan telapak tangan sendiri. Meskipun si pengemis tua yang datang sendiri ke mari, juga harus lihat dulu suasana hatiku. Melepaskan dirimu atau tidak, pokoknya orang lain tidak berhak menentukan!"

Seraya berkata, dia langsung melangkah masuk ke dalam ruangan batu tersebut.

Begitu pandangan matanya dialihkan, tampak seseorang berbaring di atas sebuah balai-balai yang mungkin dibuat dalam keadaan darurat karena buatannya asal-asalan saja.

Di atas dinding yang terdapat di sampingnya tergantung empat buat obor, cahayanya mulai suram dan menyoroti wajah orang itu.

Dia adalah seorang gadis.

Tan Ki tidak merasa asing terhadapnya.

Dia memang cucu kesayangan Lok Hong, yaitu Lok Ing adanya.

Wajahnya begitu pucat, tubuhnya seakan demikian lemah.

Meskipun saat ini dia sedang tertidur pulas, tetapi siapapun yang melihatnya pasti menyadari bahwa gadis itu sedang sakit parah.

Boleh dibilang ia sudah sekarat dan berada di ambang kematian.

Melihat keadaan luka Lok Ing yang ternyata demikian parah, hati Tan Ki menjadi pilu seketika.

Gadis yang selama ini malang melintang di Sai Pak dan tidak ada yang berani mencari perkara dengannya ini sudah seperti lampu yang hampir kehabisan minyak, sekarat menunggu datangnya malaikat elmaut...

Pikirannya melayang-layang, tanpa dapat ditahan lagi dia teringat dirinya sendiri yang juga sudah menelan obat beracun.

Bunga api dalam hidupnya juga hanya dapat menyala selama setengah bulan lagi.

Setelah itu, dirinya akan menjadi sama seperti keadaan Lok Ing sekarang, terbaring di atas tempat tidur, sendirian, tak berdaya menunggu datangnya kematian.

Berpikir sampai di sini, tanpa terasa timbul perasaan iba yang dalam terhadap gadis ini.

Sepasang matanya dipejamkan dan mulutnya mengeluarkan suara tawa yang getir.

Tiba-tiba telapak kakinya terasa menyentuh sesuatu yang keras.

Ternyata dia sudah diturunkan oleh Lok Hong di atas tanah.

Kemungkinan orangtua itu takut menimbulkan suara yang keras sehingga cucu kesayangannya akan tersentak bangun.

Oleh karena itu, ketika menurunkan Tan Ki di atas tanah, dia melakukannya dengan hati-hati sekali.

Menghadapi tindakannya yang menyatakan sampai di mana kasih sayang terhadap Lok Ing, Tan Ki sempat tertegun juga.

Diam-diam dia berpikir dalam hatinya.

"Orangtua ini sangat mementingkan kehidupan cucunya. Terhadapku malah kadang-kadang dingin, kadang-kadang baik, benar-benar membuat orang tidak mengerti bagaimana perasaan hati orangtua ini yang sesungguhnya."

Oleh karena itu, Tan Ki pura-pura tenang . menghadapi situasi di hadapannya.

"Entah apa maksud Locianpwe mengajak aku datang ke sini?"

"Kau toh mempunyai mata, mengapa tidak kau lihat saja sendiri?"

"Lihat apa?"

Tanya Tan Ki pura-pura.

Baca Juga: Kelelawar Tanpa Sayap 3

Baca Juga: Pedang Langit Dan Golok Naga 16

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert