Eps 11 Dendam Iblis Seribu Wajah - Khu Lung
Baca online Dendam Iblis Seribu Wajah - Khu Lung
Cersil Dendam Iblis Seribu Wajah - Khu Lung.
Perlahan-lahan dia melangkah mundur empat tindak dan berdiri dengan tangan memeluk pedang pemberian Mei Hun. Kiau Hun tertawa dingin mendengar percakapan mereka.
"Tambur sudah berbunyi sebanyak tiga kali. Kedudukan Bulim Bengcu sudah menjadi hak diriku, apalagi yang ingin kalian perebut kan?"
Liang Fu Yong mengejap-ngejapkan sepasang matanya yang lebar. Bibirnya tersenyum simpul.
"Aku hanya merasa kurang puas. Lagipula nona menggunakan sebatang pedang pusaka untuk menghadapi kedua orang tadi. Andaikata menang juga tidak ada yang perlu dibanggakan."
Sepasang alis Kiau Hun langsung menjungkit ke atas. Hal ini menandakan hawa amarah dalam dadanya sudah terbangkit saat itu juga.
"Kau sengaja ingin mencari gara-gara? Lagipula, apakah kau lupa bahwa dalam perebutan kedudukan Bulim Bengcu kali ini, lima partai besar tidak boleh ikut serta. Sedangkan kau merupakan murid Tian Bu Cu dari Bu Tong Pai yang termasuk anggota lima partai besar. Dengan demikian kau tidak mempunyai peluang untuk..."
Liang Fu Yong tetap tersenyum lembut.
"Sayangnya aku merupakan murid tidak resmi dari orangtua itu, jadi bukan anggota dari kelima partai besar. Dalam hal ini kau tidak mempunyai alasan untuk melarang aku mengikuti pertandingan ini. Kalau kau masih tidak mau turun tangan juga, jangan salahkan kalau aku memaksa dengan kekerasan!"
Begitu ucapannya selesai, pergelangan tangannya langsung memutar.
Dengan jurus Gadis Menghias Wajah, dia melancarkan sebuah serangan.
Kiau Hun marah sekali melihat tingkah lakunya yang seakan memaksa itu.
"Budak hina berani sesumbar! Aku justru tidak percaya dalam semalaman saja Tian Bu Cu bisa mengajarkan ilmu sakti kepadamu!"
Pedang pendeknya bergerak, tampak cahaya hijau berkilauan.
Tenaga dalam yang terpancar kuat bukan main.
Dia melancarkan serangan sambil menangkis, terdengar suara benturan logam yang berdenting tiada hentihentinya.
Percikan api karena gesekan kedua senjata berpijaran di udara.
Masing-masing tergetar mundur sebanyak satu langkah.
"Ilmu pedang yang bagus!"
Teriak Liang Fu Yong.
Tubuhnya menggeser sedikit, kemudian dengan berani dia menerobos ke dalam sinar pedang Kiau Hun.
Pedangnya sendiri menimbulkan bayangan bunga-bunga yang tidak terhitung jumlahnya.
Dia menebas dari atas ke bawah.
Kiau Hun melihat serangan perempuan itu demikian gencar, dia sendiri tidak berani menganggap remeh.
Cepat-cepat dia mengempos tenaga dalamnya dan sekonyongkonyong mencelat mundur ke belakang sejauh tiga langkah.
Liang Fu Yong terus mendesak ke depan, pedangnya menyabet ke sana ke mari, dalam waktu yang singkat secara berturut-turut dia melancarkan tiga serangan.
Terdengarlah serentetan suara benturan logam, tubuh kedua orang itu kembali mencelat mundur sejauh beberapa langkah.
Pertarungan antara kedua orang itu baru berlangsung beberapa jurus, tetapi orang-orang yang hadir di tempat itu dapat merasakan bahwa perkelahian mereka sengit sekali.
Keduanya telah mengerahkan segenap kemampuan masing-masing.
Tampaknya saja setiap jurus yang mereka mainkan tidak mengandung keistimewaan apa-apa, tetapi sebetulnya justru serangan yang ditujukan kepada lawannya sangat keji.
Hidup dan mati bagai telur di ujung tanduk yang dapat ditentukan setiap saat.
Wajah Kiau Hun yang tadinya tenang mulai kelihatan kelam.
Dengan memusatkan seluruh perhatiannya, dia berdiri tegak dengan pedang melintang di depan dada.
Liang Fu Yong juga berdiri di hadapannya kurang lebih lima langkah dengan sepasang mata memperhatikan lawannya lekat-lekat.
Sikapnya juga serius sekali dan tidak berani ayal menghadapi musuh yang tangguh ini.
Rupanya gebrakan yang beberapa jurus itu, membuat keduanya sadar bahwa hari ini masing-masing telah menemukan lawan yang seimbang.
Seandainya tadi malam Liang Fu Yong tidak mendapat warisan ilmu dari Tian Bu Cu yang membuat tenaga dalamnya bertambah satu kali lipat dan jurus-jurus ilmu pedangnya jauh lebih matang, mungkin saat ini dia sudah terluka parah di bawah pedang Kiau Hun.
Tempat yang luas itu menjadi sunyi senyap tanpa terdengar suara sedikitpun.
Tan Ki yang sejak tadi memperhatikan jalannya pertarungan juga mulai merasa gelisah.
Hatinya khawatir sekali.
Tangan kirinya mengenggam Pedang Penghancur Pelangi erat-erat.
Keringat dingin terus mengucur membasahi keningnya.
Liang Fu Yong menarik nafas panjang-panjang, baru saja dia mengerahkan tenaga dalamnya secara diam-diam dan siap melancarkan sebuah serangan, tiba-tiba telinganya mendengar suara Kiau Hun yang merdu dan lembut.
"Kau sudah terluka oleh pukulan Telapak Dingin milikku. Kalau tidak cepat-cepat mengerahkan hawa murni mendesak keluar racun dingin tersebut, dalam dua belas kentungan seluruh urat darah dalam tubuhmu akan mulai membeku. Tidak sampai tiga bulan racun dingin akan menyerang jantung dan jiwamu tidak akan tertolong lagi!"
Nada suaranya begitu dingin dan menyeramkan, membuat orang-orang yang mendengarnya timbul perasaan tidak enak.
Perasaan Liang Fu Yong sendiri sampai tergerak mendengar suaranya.
Dia mendongakkan kepalanya menatap gadis itu, tampak Kiau Hun berdiri di hadapannya dengan tampang keren serta berwibawa bagai sebuah patung dewi khayangan.
Matanya memandang Liang Fu Yong lekat-lekat dan tidak berkedip sedikitpun.
Pandangan mata mereka bertemu, tiba-tiba jantung Liang Fu Yong berdebar-debar.
Serangkum hawa dingin seperti merasuk dalam hatinya.
Tanpa sadar tubuhnya menggigil dan bulu kuduknya meremang semua.
Telinganya kembali terdengar suara yang dingin seperti es itu.
"Racun dalam tubuhmu parah sekali. Apabila kau tidak duduk dan mengerahkan hawa murni secepatnya, dalam waktu dua kentungan, pasti kau akan merasakan penderitaan yang hebat karena urat nadi dalam tubuhmu mulai membeku!"
Mendengar kata-katanya, tanpa sadar sekali lagi Liang Fu Yong mendongakkan wajahnya menatap Kiau Hun.
Dua pasang mata bertemu pandang, kembali jantungnya berdebar-debar.
Serangkum hawa dingin meluap dalam dadanya.
Tampak Kiau Hun tersenyum simpul.
Namun di balik senyumannya terkandung keseraman yang mengerikan.
Saat itu juga seluruh tubuh Liang Fu Yong terasa lemas, hatinya bergidik.
Tan Ki merasa sikap Liang Fu Yong semakin lama semakin kurang beres.
Pandangan mata perempuan itu begitu kosong seakan orang yang kesadarannya hilang.
Namun dia justru melotot tanpa berkedip sekalipun.
Wajahnya menunjukkan keletihan yang tidak terkirakan.
Diam-diam dia mengerutkan sepasang alisnya.
Kemudian dia mengerahkan hawa murni dalam tubuhnya dan berteriak sekeras mungkin.
"Cici Liang!"
Suaranya begitu lantang sehingga menggelegar dan menggetarkan gendang telinga bagi orang yang mendengarnya.
Pikiran Liang Fu Yong seperti tersentak, matanya yang mendelik lebar-lebar segera dipejamkan.
Dia mengatur pernafasannya untuk beberapa saat.
Kemudian terdengar dia membentak dengan suara nyaring.
Pedangnya digerakkan, timbul bayangan bunga-bunga dan cahaya dingin.
Dengan cepat dia mengirimkan sebuah serangan.
Kiau Hun segera memainkan jurus Im dan Yang Berbalik Arah.
Ditahannya serangan Liang Fu Yong yang dahsyat, orangnya sendiri malah mencelat ke belakang.
Matanya mendelik ke arah Tan Ki lebar-lebar.
Mulutnya kembali berbicara dengan nada dingin.
"Lukamu parah sekali. Kalau kau masih tidak mau mendengar nasehatku untuk duduk dan beristirahat, jangan menyesal apabila sudah terlambat!"
Begitu mendengar nada suara yang menyeramkan itu, setiap patah katanya bagai menggetarkan kalbu.
Tiba-tiba seluruh kekuatannya lenyap.
Otomatis serangan yang ia lancarkan pun jadi melemah.
Hatinya sadar bahwa Kiau Hun menggunakan semacam ilmu untuk mempengaruhi pikirannya.
Dia sendiri tidak sanggup memberontak, sedangkan pengaruh suara itu semakin menjadi-jadi.
Jantungnya berdebar-debar, tubuhnya lemas sekali.
Kapan waktu saja dia bisa terkena serangan Kiau Hun.
Oleh karena itu dia segera berteriak dengan gugup.
"Adik Ki, cepat ke mari! Aku tidak sanggup lagi...!"
Belum lagi suaranya sirap, tiba-tiba dia melihat tubuh Kiau Hun berkelebat, dengan kecepatan kilat lawannya itu menerjang ke arahnya.
Pedang pendek di tangan Kiau Hun menimbulkan cahaya kehijauan, serangannya digerakkan dari atas ke bawah.
Belum lagi pedangnya sampai, segulung demi segulung hawa dingin sudah menerpa wajah Liang Fu Yong.
Sinar mata Kiau Hun yang aneh membuat tubuh Liang Fu Yong lemas dan tidak bisa mengerahkan tenaga dalamnya sedikitpun.
Serangan Kiau Hun yang dahsyat ini sudah pasti dia tidak sanggup menahannya.
Melihat cahaya hijau bertebaran dan memenuhi atas kepalanya, tanpa sadar Liang Fu Yong menarik nafas panjang.
Dia memejamkan matanya menunggu datangnya dewa kematian.
Justru pada saat yang kritis ini, terasa ada serangkum angin kencang menerpa menerjang di sisi tubuhnya.
Telinganya mendengar suara benturan logam.
Dalam waktu sekejap mata, angin tadi tidak terasa lagi dan keadaan menjadi normal kembali.
Begitu dia membuka matanya, Tan Ki sudah berdiri di sampingnya dengan pedang terentang seakan melindungi dirinya.
Wajah Kiau Hun langsung berubah hebat.
Dengan nada dingin dia berkata.
"Tampaknya kau memang selalu menghalangi apapun yang kuperbuat. Entah apa maksudmu yang sebenarnya?"
Tan Ki menolehkan kepalanya dan berkata kepada Liang Fu Yong.
"Lebih baik cici beristirahat dulu, biar aku saja yang menghadapinya."
Liang Fu Yong mengiakan dengan suara lirih.
Perlahan-lahan dia mengundurkan diri dari arena pertandingan.
Tan Ki menunggu sampai dia keluar dari arena tersebut, kemudian baru mendongakkan wajahnya.
Bibirnya mengembangkan seulas senyuman.
"Tidak perlu berbicara hal yang tidak penting. Yang kita perebutkan adalah kedudukan Bulim Bengcu, lebih baik diselesaikan secepatnya agar sama-sama merasa puas!"
Tiba-tiba Kiau Hun menyimpan pedang pendeknya ke dalam selipan ikat pinggangnya.
Bibirnya tersenyum manis.."Aku tidak ingin menggerakkan pedang atau golok dengan dirimu yang bisa mengakibatkan terjadinya pertumpahan darah yang mengenaskan."
Tan Ki sudah tahu bahwa pihak Lam Hay telah bergabung dengan pihak Si Yu dan akan melakukan penyerangan sore nanti.
Meskipun saat ini di bukit Tok Liong-hong telah berkumpul dua ratusan tokoh hitam putih yang berilmu cukup tinggi, tetapi seekor ular tidak mungkin hidup tanpa kepala.
Kalau tidak cepat-cepat memilih seorang Bulim Bengcu, kumpulan orang-orang itu bagai domba yang kehilangan gembalanya.
Pasti mereka tidak akan berhasil menahan datangnya serangan musuh.
Begitu pikirannya tergerak, cepatcepat dia memasukkan kembali Pedang Penghancur Pelangi-nya dan tersenyum simpul.
"Waktu sangat berharga. Setiap detik harus dipergunakan sebaik mungkin. Aku tidak ingin berdebat dengan dirimu. Kalau kau memang tidak bersedia menggunakan pedang, biar kita bertarung dengan tangan kosong saja!"
Seraya berkata, diam-diam dia mengerahkan tenaga dalamnya kemudian tanpa menunda waktu lagi dia melancarkan sebuah serangan.
Serangkum angin yang tidak berwujud menerpa ke depan, orangnya sendiri ikut melesat bagai kilat.
Kiau Hun mengira ucapannya tadi meskipun dikeluarkan dengan tenang tetapi mengandung sindiran yang tajam, tentu dia berhasil mendesak Tan Ki sehingga kehabisan alasan untuk bergebrak dengannya.
Dengan demikian kedudukan Bulim Bengcu pasti berhasil diraihnya dengan mudah.
Dia tidak menyangka kalau Tan Ki malah menyimpan pedangnya dan menyerangnya dengan tangan kosong.
Untuk sesaat dia jadi termanguma-ngu.
Dia merasa ada hawa panas yang berkobar dalam dadanya.
Hatinya merasa marah sekali.
Diam-diam dia berpikir.
"Padahal aku hanya mengingat hubungan kita di masa lalu. Oleh karena itu aku selalu mengalah kepadamu. Kau kira aku benar-benar takut kepadamu?"
Sepasang alisnya langsung menjungkit ke atas.
Kedua tangannya langsung dihantamkan ke depan, dengan keras dia menyambut datangnya angin serangan Tan Ki yang dahsyat.
Tan Ki merasa getaran tenaga tolakan Kiau Hun begitu kuat, diam-diam hatinya merasa kagum.
"Tidak disangka dia juga mempunyai tenaga dalam yang begitu kuat, tidak heran di depan Pek Hun Ceng dengan mudah dia dapat melukai Ciu Cang Po."
Dia mendongakkan kepalanya memandang, tampak Kiau Hun sedang mendelikkan sepasang matanya menatap ke arahnya lekat-lekat.
Pandangan mata mereka bertaut, tanpa dapat ditahan lagi hatinya tergetar.
Tan Ki merasa ada sesuatu yang aneh terpancar dari matanya.
Begitu tajamnya sehingga menusuk kalbu hatinya.
Jantungnya langsung berdebar-debar, cepat-cepat dia memejamkan dan mengerahkan hawa murninya agar dapat mempertahankan kesadarannya.
Tenaga dalamnya kuat sekali, begitu hawa murni dalam tubuhnya dikerahkan, hatinya menjadi tenang kembali.
Diam-diam dia berpikir.
"Ilmu apa ini? Apakah di dalam pelajaran silat juga ada ilmu sihirnya?"
Tepat di saat pikirannya sedang tergerak, tiba-tiba dia merasa ada serangkum angin yang kuat menerpa ke arah dadanya.
Siapa kiranya Tan Ki itu, berkecimpung di dunia Kangouw selama setengah tahun, dia sudah menggetarkan hati para jago.
Nalurinya lebih tajam dari orang biasa, tanpa sempat membuka sepasang matanya, dia langsung mengambil posisi menahan di depan dada dan melancarkan sebuah serangan.
Meskipun rangkuman tenaga dalam Kiau Hun cukup dahsyat, tetapi ketika didorong oleh tenaga dalam Tan Ki, ternyata serangannya memental kembali.
Baru saja anak muda itu bermaksud mengirim sebuah serangan kembali, tiba-tiba telinganya mendengar suara tawa Kiau Hun yang merdu.
Suara itu merdu namun agak seram bila didengarkan lama-lama.
Begitu dinginnya sehingga mendirikan bulu roma dan menggetarkan jantung.
Tubuh Tan Ki tampak menggigil hebat saat itu juga.
Begitu suara tawa itu terhenti, kembali terdengar suara Kiau Hun berkata kepadanya.
"Tan Ki, aku mengingat ilmu silatmu didapatkan dengan cara yang tidak mudah. Oleh karena itu aku tidak tega melukaimu. Kalau kau tidak cepat-cepat mengaku kalah, jangan salahkan apabila aku menurunkan tangan ke-ji!"
Tan Ki terus memejamkan sepasang matanya.
Dia tidak berani membukanya biar sekejap saja.
Hal ini disebabkan rasa terkejutnya melihat sinar mata Kiau Hun yang aneh.
Setiap kali bertemu pandang dengannya, hati Tan Ki langsung bergetar, tenaga dalamnya seakan menjadi lemah.
Siapa nyana biar dia memejamkan matanya, tetap saja dia merasa gelisah mendengar suara Kiau Hun.
Untuk sesaat dia merasa sulit mengendalikan perasaannya.
Untung saja tenaga dalam Tan Ki sudah mencapai taraf yang tinggi sekali.
Ketenangannya juga melebihi orang lain.
Meskipun dia terpengaruh oleh suara gadis itu, tetapi dia terus mempertahankan diri agar kesadarannya tetap terjaga.
Cepat-cepat dia mengerahkan hawa murninya dan mengedarkannya ke seluruh tubuh.
Sementara itu pikirannya terus berputar mencari jalan menghadapi situasi di hadapannya.
Diam-diam dia berpikir dalam hatinya.
"Satu-satunya jalan yang bisa dilakukan saat ini, hanya menyerangnya dengan gencar. Pokoknya tidak boleh memberi kesempatan sama sekali baginya untuk membuka mulut."
Pikirannya tergerak, diam-diam dia mengerahkan tenaga dalamnya dan menyalurkannya ke seluruh tubuh.
Dia sengaja memperlihatkan tampang seperti orang yang letih dan mengantuk.
Dengan demikian dia berharap perhatian Kiau Hun akan terpencar dan tidak dapat menduga apa yang akan dilakukannya.
Keadaan di seluruh arena itu menjadi demikian hening.
Namun di balik kesunyian tersebut terselip ketegangan yang tidak terkirakan.
Telinganya kembali menangkap suara Kiau Hun yang dingin seperti es.
"Tan Ki, apakah masih ada kata-kata yang ingin kau sampaikan untuk ter..."
Tiba-tiba Tan Ki mengeluarkan suara bentakan yang keras, dengan demikian kata-kata Kiau Hun jadi terputus.
Sepasang matanya membelalak lebar-lebar dan tahu-tahu tubuhnya berkelebat menerjang ke depan!
Kiau Hun benar-benar tidak menyangka sama sekali tindakan Tan Ki ini.
Sepasang kakinya menutul di atas tanah, orangnya sendiri langsung mencelat ke udara dan melompat mundur sejauh tiga langkah.
Sejak tadi Tan Ki sudah memperhitungkan semuanya dengan matang.
Mana mungkin dia membiarkan Kiau Hun menguras otaknya mencari akal licik lainnya.
Sepasang tangannya menghantam ke depan dengan tenaga dalam yang dahsyat.
Dalam waktu yang singkat secara berturut-turut dia melancarkan sepuluh pukulan.
Tiba-tiba diserang secara gencar oleh Tan Ki, Kiau Hun sampai kelabakan setengah mati.
Hampir saja dia tidak dapat menahan dirinya.
Tubuhnya terhuyung-huyung mundur ke belakang.
Sepasang mata Tan Ki menyorotkan sinar yang tajam.
Baru saja dia bermaksud mengerahkan ilmu Tian Si Sam-sut dan Te Sa Jit-sut-nya yang hebat, sekonyong-konyong terdengar suara siulan yang panjang.
Begitu kerasnya sampai memekakkan telinga.
Tampak tiga batang senjata rahasia meluncur ke arahnya dengan kecepatan kilat.
Tan Ki segera membentak dengan suara keras.
"Oey Ku Kiong, apakah kau juga ingin main-main denganku?"
Hawa murni dalam tubuhnya segera dikerahkan.
Sepasang telapak tangannya menghantam ke depan.
Tahu-tahu ketiga batang senjata rahasia itu telah tersam-pok jatuh di atas tanah.
Seiring dengan tenaga dalam yang dipancarkannya, tubuh Tan Ki mencelat ke udara setinggi satu depaan.
Laksana seekor elang yang mengincar anak ayam, tubuhnya kembali menukik ke bawah dan mengirimkan sebuah serangan kepada Kiau Hun yang baru saja berdiri tegak.
Dengan nama Cian Bin Mo-ong, Tan Ki telah menggetarkan dunia Kangouw.
Otomatis ilmu silatnya tidak dapat dibandingkan dengan tokoh Kangouw umumnya.
Tubuhnya mencelat dan menukik ke bawah dengan kecepatan yang tidak terkirakan.
Meskipun Kiau Hun tidak berniat bertarung dengannya dari jarak yang dekat, tetapi dalam keadaan seperti ini, terpaksa dia mengerahkan tenaga dalamnya dan sepasang telapak tangannya menghantam ke depan.
Tidak ada waktu lagi baginya untuk menghindarkan diri.
Pikirnya, dia ingin menghentakkan tubuh Tan Ki ketika dia belum sempat mendarat di atas tanah.
Kemudian dengan jurus Suara Bergema Mengguncangkan Sukma, dia akan menghantam dada Tan Ki sehingga terluka di bagian dalam.
Siapa nyana tubuh Tan Ki yang menukik ke bawah justru menggunakan sebuah jurus yang paling hebat dari Te Sa Jit-sutnya.
Baru saja telapak tangan Kiau Hun terulur ke depan, tahu-tahu bayangan tubuhnya berkelebat, dari melancarkan serangan tiba-tiba dia menarik kembali tubuhnya dan menjungkir balik satu kali di udara.
Tanpa mendarat lagi di atas tanah, tangannya langsung menerjang ke depan menyambut serangan Kiau Hun.
Perubahan jurus yang dikerahkannya begitu cepat sehingga sulit diuraikan dengan kata-kata.
Bahkan orang-orang yang hadir di tempat itu tidak satupun yang dapat melihatnya dengan jelas.
Hanya bayangan tubuh kedua orang itu yang berkelebat ke sana ke mari, kemudian dua rangkum tenaga dalam saling beradu.
Dalam waktu hanya sekedipan mata saja, tubuh Tan Ki sudah mendarat turun pada jarak tujuh delapan langkah.
Wajahnya tampak merah padam, nafasnya tersengal-sengal dan keringat membasahi keningnya, terus menetes ke wajahnya.
Tubuh Kiau Hun justru terhuyunghuyung kemudian tergetar mundur sejauh empat lima langkah.
Dia seperti orang yang baru saja minum arak dalam jumlah yang banyak.
Kakinya tidak dapat berdiri dengan mantap.
Kemudian tampak mulutnya terbuka dan dia memuntahkan darah segar seperti melesatnya sebatang anak panah.
Tidak syak lagi bahwa Tan Ki menggunakan ilmunya yang hebat untuk melukai Kiau Hun.
Tetapi dirinya sendiri juga kehilangan cukup banyak hawa murni dalam tubuhnya.
Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan yang riuh memecahkan keheningan di seluruh arena tersebut, seruan gembira dan pujian gegap gempita....
Kiau Hun memandang Tan Ki dengan termangu-mangu.
Sesaat kemudian tampak wajahnya menyiratkan dendam membara dan mata menyorotkan kebencian yang dalam.
Dia menghentakkan kakinya di atas tanah dan berkata dengan nada ketus.
"Bagus sekali perbuatanmu!"
Tanpa menunda waktu lagi dia segera membalikkan tubuhnya dan menghambur pergi meninggalkan tempat tersebut.
Ternyata pada saat terakhir, hanya karena satu jurus saja dia berhasil dikalahkan oleh Tan Ki.
Tidak perlu dikatakan lagi bahwa kedudukan Bulim Bengcu otomatis terjatuh ke tangan anak muda itu.
Rencananya yang ingin menjadi matamata bagi pihak Lam Hay jadi buyar seketika.
Dia merasa kekalahan ini benar-benar membuatnya kehilangan muka.
Bahkan harga dirinya bagai tercampak...
Tiba-tiba terlihat sesosok bayangan berkelebat dan mengejar ketat di belakang Kiau Hun.
Orang itu sudah pasti Oey Ku Kiong yang tergila-gila kepadanya.
Kedua orang itu berlari secepat kilat.
Satu di depan dan yang lainnya di belakang.
Mereka meninggalkan arena yang bising itu sejauh-jauhnya.
Angin pagi masih terasa sejuk, cahaya matahari tidak terlalu terik.
Keadaan di bukit itu masih sama seperti sediakala.
Rumput-rumput melambai-lambai seakan menyambut kedatangan setiap pengunjung.
Tetapi pemandangan ini bagi penglihatan Kiau Hun bahkan seperti sedang menertawakan dirinya.
Hatinya merasa benci dan pedih.
Semua yang ada di hadapannya bagai benda-benda mati yang tidak mempunyai daya tarik sama sekali.
Tiba-tiba dia menghentikan langkah kakinya dan membentak.
"Untuk apa kau mengikuti diriku?"
Tampaknya dia ingin menumpahkan segala kekesalannya pada diri Oey Ku Kiong.
Suara bentakannya itu begitu ketus dan dingin.
Boleh dibilang tanpa perasaan sama sekali.
Terdengar Oey Ku Kiong menyahut dengan suara gugup.
"Aku hanya ingin melihat kau tersenyum kembali kemudian..."
Kiau Hun langsung menukas dengan nada yang lebih dingin lagi.
"Kemudian apa? Kau toh tidak sanggup membantu aku meraih kedudukan Bulim Bengcu. Dari pagi sampai malam seperti seekor anjing yang mengikuti majikannya ke mana-mana. Namun apa yang bisa kau berikan kepadaku? Kecuali kesulitan dan keruwetan... Hm... boleh dibilang seperti..."
Begitu kesalnya dia sampai kata-katanya tidak sanggup diteruskan lagi, tetapi Oey Ku Kiong dapat membayangkan bahwa apa yang ingin diucapkannya pasti tidak enak didengar.
Oleh karena itu dia hanya tertawa sumbang dan berkata dengan nada perlahanlahan.
"Kiau Hun, asal aku dapat melihat senyumanmu seperti biasanya, meskipun harus mati aku rela. Kalau kau merasa tidak senang, hatiku juga terasa sedih sekali."
Kiau Hun sengaja memamerkan seulas senyuman. Namun suaranya tetap dingin seperti es.
"Nah, aku sudah tertawa sekarang. Apakah kau sudah merasa senang?"
Selesai berkata, kembali wajahnya cemberut dan datar seperti semula. Dia melanjutkan katakatanya dengan nada yang ketus.
"Laki-laki seperti engkau ini hanya mirip dengan kumbang yang mencari bunga. Malah lebih menyebalkan dari pada kaum Jay Hwa-eat (penjahat pemetik bunga). Kalau bukan disebabkan ayali angkatmu yang baru-baru ini ikut bergabung dengan Lam Hay Bun, huh! Sekarang aku ingin menampar pipimu sampai bengap!"
Kata-katanya itu bagai sebilah pisau yang tajam menikam hati Oey Ku Kiong, tetapi dia menahan diri sebisanya dan menelan semua ucapan yang menyakitkan itu.
Hanya tubuhnya yang bergetar hebat dan perasaannya pedih sekali.
Tetapi sejenak kemudian kembali bibirnya tersenyum simpul.
Perasaan hati seseorang memang demikian anehnya.
Apalagi cinta kasih antara pemuda dan pemudi, lebih sulit lagi diuraikan dengan tulisan maupun kata-kata.
Oey Ku Kiong bagai seekor kupu-kupu yang terjerat pada sarang labalaba.
Cinta kasihnya yang tulus dicurahkan pada diri Kiau Hun sehingga dia tidak sanggup mengendalikan dirinya lagi.
Semakin ketus sikap Kiau Hun kepadanya, hatinya semakin mengkeret dan tidak berani membantah.
Seorang laki-laki apabila jatuh cinta sampai tahap seperti ini, sebetulnya patut dikasihani juga.
Sementara itu, tiba-tiba terdengar suara tawa yang lantang dan panjang.
Sumbernya dari rumput ilalang yang tinggi.
Sesosok bayangan berlari mendatangi bagai terbang.
Kemudian terdengar mulutnya berkata.
"Nona Ceng harap jangan gusar. Apabila putraku yang tidak berbakti itu berbuat kesalahan, bagaimana kalau lohu saja yang memintakan maaf baginya?"
Setelah melihat jelas orang yang datang, Oey Ku Kiong segera menjatuhkan dirinya berlutut di atas tanah.
"Gi-hu."
Panggilnya. Oey Kang mengulapkan tangannya.
"Di hadapan Ceng Kouwnio tidak perlu kau bergaya lemah lembut seperti ini. Bangunlah!"
Kiau Hun tersenyum simpul kepadanya.
"Kedatangan Oey Locianpwe di atas bukit Tok Liong-hong ini, pasti bukan tanpa sebab. Mungkin Toa Tocu ada menitipkan pesan kepadamu?"
Oey Kang tertawa terbahak-bahak.
"Kecerdasan Ceng Kouwnio selalu dipuji oleh Toa Tocu. Tampaknya bukan hanya itu saja, nalurimu juga jauh lebih tajam dari orang lain. Sekali lihat saja, semuanya dapat diduga dengan tepat."
Kiau Hun tertawa lebar mendengar pujiannya.
"Terima kasih, terima kasih. Entah apa pesan Toa Tocu kali ini?"
Oey Kang mengeluarkan sepucuk surat dari balik pakaiannya. Kemudian dari sakunya dia mengambil sebuah botol sebesar jempol. Bentuknya seperti hiolo yang biasa digunakan untuk mengisi arak.
"Keterangan selengkapnya ada di dalam surat. Yang penting kau mengikuti petunjuk yang tertera di dalamnya saja. Apabila sudah berhasil nanti, Toa Tocu akan memberikan hadiah besar untukmu!"
Kiau Hun mengulurkan tangannya menyambut surat dan botol tersebut.
Tampaknya dia tidak terlalu ambil hati karena dia sama sekali tidak meliriknya sekilaspun.
Langsung saja dimasukkannya ke dalam saku pakaian.
Oey Kang mendongakkan wajahnya tertawa terbahak-bahak.
"Oey Ku Kiong, kemarilah!"
Panggilnya. Oey Ku Kiong segera mengiakan. Dia segera menghampiri ayah angkatnya itu. Oey Kang mengulurkan tangannya menepuk-nepuk pundak putra angkatnya. Dengan nada menghibur dia berkata.
"Sejak kehilangan jejakmu di Pek Hun Ceng, ayah persis seperti seekor anjing gila yang mencari ke mana-mana. Sementara itu ayah juga khawatir apabila kau sampai dicelakai oleh orang atau dibunuh secara diam-diam. Hampir seluruh perkampungan ayah kelilingi, setiap jengkal tanah ayah gali, tetapi tetap saja tidak menemukan dirimu ataupun mayatmu. Ayah sama sekali tidak menyangka kalau kau demikian cerdik dan mempunyai pikiran yang luas sehingga bergabung lebih duluan dengan pihak Lam Hay..."
Sepasang mata Oey Ku Kiong menatap wajah ayah angkatnya lekat-lekat.
Tadinya dia ingin mengatakan bahwa dia tidak memperdulikan segalanya karena jatuh cinta kepada Kiau Hun.
Itu pula sebabnya dia meninggalkan Pek Hun Ceng.
Tetapi kata-katanya hanya sampai di ujung bibir, akhirnya dia tidak sanggup juga mengucapkannya keluar.
Terdengar kembali suara tawa Oey Kang yang keras.
"Ceng Kouwnio merupakan selir kesayangan Toa Tocu, kau bisa mengikutinya ke manamana, pasti merupakan suatu keberuntungan bagi dirimu. Lagipula sore nanti kita akan menyerbu ke puncak bukit Tok Liong Hong ini, paling tidak kau harus memberikan bantuan kepada Ceng Kouwnio dengan melihat-lihat situasi. Kesempatan yang bagus ini harus kau pergunakan baik-baik. Jangan sampai membuat ayahmu ini kecewa."
Seraya berkata, dia memberi salam kepada Kiau Hun kemudian membalikkan tubuhnya meninggalkan tempat tersebut.
Oleh karena itu, Kiau Hun dan Oey Ku Kiong pun kembali ke ruang pertemuan di atas puncak bukit Tok Liong Hong.
Terdengarlah suara tawa yang keras dan dentingan cawan yang saling beradu.
Suasana di dalam ruang pertemuan itu bising sekali.
Rupanya ketika Tan Ki berhasil merebut kedudukan Bulim Bengcu, Liu Seng langsung menyatakan akan merayakannya saat itu juga.
Para hadirin minum arak dan makan hidangan yang disediakan dengan perasaan gembira.
Begitu masuk, Kiau Hun melihat kesempatan untuk melaksanakan tugas dari Toa Tocu sudah ada di depan mata.
Tampak sepasang alisnya menjungkit ke atas dan menyiratkan hawa pembunuhan yang tebal.
Dia memberi isyarat kepada Oey Ku Kiong dengan menganggukkan kepalanya.
Kemudian berjalan menuju tempat duduk tamu-tamu wanita.
Di sekeliling meja yang paling depan saat itu duduk Ceng Lam Hong, Mei Ling, Liang Fu Yong, Lok Ing serta dua orang gadis bercadar hitam.
Semuanya berjumlah tujuh orang.
Tanpa sungkan lagi Kiau Hun langsung duduk di sebuah kursi yang masih kosong.
Setelah itu dia mengangkat cawan yang ada di hadapannya dan sekaligus meneguk sampai kering arak yang terisi di dalamnya.
Orang-orang yang hadir dalam ruangan itu sebagian besar merasa kagum juga terhadap ilmu silat Kiau Hun yang tinggi.
Melihat dia yang sudah pergi meninggalkan tempat itu tahu-tahu balik kembali, tanpa dapat ditahan lagi kepala mereka semua menoleh kepadanya dan ratusan pasang matapun terpusat pada dirinya.
Tetapi Kiau Hun justru seakan tidak melihat pandangan mata mereka, dia tidak melirik sekilaspun dan tetap meneguk araknya dengan santai.
Sikapnya yang membingungkan ini malah membuat kaum wanita yang duduk di sekitarnya merasa tidak tentram.
Tan Ki yang duduk di bagian paling tinggi saat itu tiba-tiba bangkit berdiri.
Kemudian terdengar dia berkata dengan suara lantang.
"Saudara-saudara sekalian, mohon dengarkan perkataanku ini!"
Kata-kata ini diucapkan dengan mengerahkan hawa murni dalam tubuhnya.
Dengan demikian suaranya menjadi lantang dan bergema ke seluruh tempat tersebut.
Setiap patah kata yang diucapkannya dapat terdengar dengan jelas dan suara bising yang memenuhi tempat itu jadi tertutup oleh ucapannya.
Dalam sekejap mata suara tawa terhenti dan cawan-cawan arak diletakkan kembali ke atas meja masing-masing.
Suasana jadi hening seketika.
Ratiisan pasang mata sekarang tertuju pada dirinya.
Sikap mereka tampak serius sekali seakan ingin mendengar apa yang akan dikatakan oleh Tan Ki.
Terdengar lagi kumandang suara Tan Ki yang lantang.
"Aku mempunyai niat dalam hati yang sudah tersimpan cukup lama. Sekarang dengan adanya kesempatan ini, ingin sekali kucetuskan agar dapat didengar oleh semuanya. Tetapi entah saudara-saudara sekalian mempunyai kesabaran mendengarkannya atau tidak?"
Terdengar sahutan dari orang-orang gagah yang berkumpul di tempat tersebut.
"Silahkan Bengcu katakan saja, kami sekalian bersedia mendengarkannya!"
Tan Ki menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Bagus! Kalau saudara-saudara sekalian demikian memandang tinggi diriku ini, maka aku, Tan Ki akan mengatakannya terus terang!"
Matanya yang bersinar tajam menyapu ke para hadirin yang berkumpul di tempat itu. Sesaat kemudian dia melanjutkan kembali kata-katanya.
"Di dalam dunia Kangouw saat ini di mana-mana terjadi pembunuhan dan perampokan. Sebelumnya tokoh-tokoh Bulim berpencaran di setiap daerah. Masing-masing menjagoi wilayah sendiri-sendiri. Dengan demikian setiap orang bagai raja di wilayahnya dan banyak yang bertindak semena-mena. Untung saja tidak sampai terjadi pertikaian besar-besaran. Sekarang di puncak bukit Tok Liong Hong ini berkumpul para jago dari segala penjuru, dan saat ini juga telah berhasil memilih seorang Bulim Bengcu. Sekarang setiap tokoh dari manapun berdiri di bawah satu bendera yang sama. Yang perlu kita jaga adalah jangan sampai terjadi perselisihan dan dapat bersatu menghadapi segala bencana...!"
Si pengemis sakti Cian Cong menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan ucapan Tan Ki.
"Ucapan yang tepat sekali! Seandainya dunia Bulim dipimpin oleh seorang kepala yang bijaksana, maka tidak akan terjadi keributan yang tidak diinginkan. Apabila tidak seperti sekarang ini, seandainya terjadi pertikaian, tentu sulit diselesaikan dengan sempurna."
Tan Ki tersenyum lembut.
"Selama ratusan tahun di dunia Bulim orang selalu menyelesaikan setiap peristiwa dengan kekerasan. Budi dan dendam seakan tidak ada habis-habisnya. Apalagi kita yang hidup sebagai orang-orang Kangouw, hal itu lebih menyolok lagi. Dengan demikian tanpa terasa dunia Bulim kita terbagi menjadi dua golongan, yakni golongan lurus dan sesat. Orang yang menggunakan ilmu kepandaiannya untuk melindungi rakyat kecil dan membasmi kejahatan, serta memeras orang kaya yang lalim lalu dibagikan kepada kaum fakir miskin, kita menyebutnya sebagai golongan lurus. Mereka selalu menganggap apa yang mereka lakukan merupakan perbuatan yang mulia. Sedangkan golongan yang lain adalah orang yang hidup dalam kekerasan, setiap perbuatan selalu diakhiri dengan pertumpahan darah dan biasanya menguasai sebuah wilayah sebagai raja kecil. Mereka bahkan tidak segan-segan memperkosa ataupun merampok. Orang-orang ini disebut sebagai golongan sesat atau golongan hitam. Hal ini merupakan ketentuan yang berlaku bagi golongan lurus di dunia Bulim sejak ratusan tahun yang silam. Sebetulnya, perampok pun mempunyai peraturannya sendiri. Asal apa yang dilakukan ada tujuannya, mengapa tidak boleh dilakukan? Apakah yang tidak dilakukan manusia di dunia ini? Adakah manusia yang tidak pernah berbuat dosa? Kebetulan aku, Tan Ki, mendapat perhatian serta kasih sayang yang besar dari saudara-saudara sekalian sehingga mendapatkan jabatan Bulim Bengcu hari ini. Aku merasa bahwa seseorang hidup di dunia ini, yang paling penting harus berbuat segala macam hal dengan terang-terangan dan jangan menyimpang dari kata hati sendiri. Dengan demikan hidup ini barulah ada gunanya dan tidak sia-sia. Demi merubah pandangan orang-orang di dunia ini terhadap kehidupan tokoh-tokoh Kangouw kita, demi mempertahankan kedudukan dunia Bulim kita yang telah berlangsung selama ratusan tahun, hari ini Tan Ki ingin mempersatukan semua golongan di dunia ini untuk menghadapi golongan pemberontak dari pihak Lam Hay serta Si Yu yang akan menyerbu daerah kita. Setidak-tidaknya kita harus mempersiapkan diri dengan baik supaya jangan sampai terjadi kekalahan di pihak kita. Oleh karena itu, meskipun aku Tan Ki bukan manusia yang maha pintar, tetapi aku mencoba menentukan empat macam peraturan yang harus ditaati semua kalangan..."
Untuk sesaat suasana menjadi hening mencekam.
Beratus pasang mata terpusat pada diri Tan Ki.
Di seluruh tempat tersebut seakan ada terselip hawa ketegangan yang tidak terkirakan.
Selama hidupnya Tan Ki belum pernah menghadapi suasana seperti ini.
Otomatis hatinya jadi berdebar-debar.
Perlu diketahui bahwa sebagian besar orang-orang yang hadir di tempat tersebut merupakan tokoh-tokoh yang mempunyai wilayah kekuasaan masing-masing.
Dengan demikian membunuh orang adalah pekerjaan mereka sehari-harinya.
Mereka selalu melakukan apa saja yang disenanginya.
Selama ini belum pernah mereka diatur oleh orang lain.
Yang namanya hukum atau pengadilan boleh dibilang tidak dipandang sebelah mata oleh mereka.
Apabila secara tiba-tiba ada beberapa peraturan yang harus mereka taati, mungkin hati mereka tidak dapat menerimanya dengan tulus.
Bahkan bisa juga terjadi perselisihan besar-besaran karena masalah ini.
Mereka su-uah terbiasa berbuat semaunya, apabila ada sedikit saja hal yang membuat mereka kurang senang, maka pertemuan kali ini malah bisa berubah menjadi pertumpahan darah...
Tan Ki merenung beberapa saat.
Dia berusaha memilih kata-kata yang tepat untuk mencetuskan isi hatinya...
sesaat kemudian terdengar dia tertawa keras-keras dan melanjutkan ucapannya.
"Seandainya ada diantara kalian yang keberatan mengikuti peraturan tersebut, sekarang masih ada waktu untuk mengundurkan diri. Sore nanti pihak Lam Hay sudah akan menyerbu kita. Dengan demikian aku juga tidak berharap terjadinya pengorbanan yang sia-sia!"
Beberapa kali berturut-turut dia mengajukan pertanyaan tersebut.
Rupanya para hadirin merasa takluk juga dengan kewibawaan yang diperlihatkannya.
Oleh karena itu sampai sekian lama tidak ada orang yang memprotes.
Wajah Tan Ki tampak serius sekali, sepasang matanya yang menyorotkan sinar yang tajam.
Dia mengedarkan pandangannya ke se keliling tempat tersebut.
"Segala kejahatan di dunia ini perlu dibasmi. Cayhe merasa peraturan pertama yang harus ditetapkan adalah tidak boleh menodai gadis keluarga baik-baik atau memperkosa sampai terjadi jatuh korban jiwa. Sedangkan larangan membunuh orang yang tidak berdosa dan berbuat tidak adil terhadap sesamanya merupakan peraturan yang kedua!"
Baru saja kata-kata ini diucapkan, ternyata ada reaksi dari para hadirin. Salah satu orang di antara kerumunan tersebut segera berteriak dengan suara keras.
"Apakah peraturan Bengcu yang satu ini tidak terlalu keras? Kita merupakan orang-orang yang sehari-harinya bergerak di dunia Kangouw. Kitapun mencari makan dari golok serta pedang tajam. Kalau kita tidak membunuh lawan, mungkin diri kittalah yang akan terbunuh secara mengenaskan."
Belum lagi ucapannya selesai, sesosok bayangan langsung berkelebat datang dan mengeluarkan suara tawa yang keras.
"Maksud Bengcu, kita tidak boleh membunuh orang yang tidak berdosa atau tidak sanggup memberikan perlawanan!"
Kata-katanya selesai, orangnya pun mendarat di atas tanah, dia tidak bukan dan tidak lain dari Pendekar Baju Putih, Oey Ku Kiong.
Tan Ki melihat orang itu hanya berjarak lima enam langkah dari dirinya, tetapi tiba-tiba langkah kakinya berhenti.
Meskipun hatinya mengandung kecurigaan, namun bibirnya tetap mengembangkan seulas senyuman.
"Kedatangan Oey-heng sungguh kebetulan sekali. Silahkan duduk dan minum dulu beberapa cawan arak."
Katanya mempersilahkan.
Oey Ku Kiong juga memamerkan senyuman yang ramah.
Dengan penuh hormat dia membungkukkan tubuhnya.
Kemudian mencari sebuah tempat yang kosong dan duduk di sana.
Dengan wajah menyiratkan ketenangan, Tan Ki mengangkat cawan araknya.
Setelah itu dia berkata lagi dengan perlahan-lahan.
"Sebelum aku menentukan peraturan yang ketiga, ada beberapa patah kata lagi yang ingin kusampaikan kepada saudara-saudara sekalian. Pertemuan di puncak bukit Tok Liong Hong kali ini, khusus untuk melawan pihak Lam Hay dan Si Yu yang ingin berlaku semenamena kepada pihak kita. Meskipun telah terpilih seorang Bulim Bengcu, tetapi kita tidak mungkin tidak mempunyai sebutan. Dengan memberanikan diri, aku memberi nama Perkumpulan Ikat Pinggang Merah kepada golongan kita ini. Setiap jago pedang tingkat sembilan, harus mengenakan ikat pinggang merah setebal sembilan cun. Sedangkan pendekar pedang tingkat delapan, memakai ikat pinggang merah setebal delapan cun dan demikian seterusnya sampai tingkat kesatu. Dengan cara ini pula kita dapat menentukan tingkatan masing-masing sekaligus merupakan tanda pengenal kita di hadapan orang lain."
Selesai berkata dia meneguk isi cawannya sampai kering.
Para hadirin langsung bertepuk tangan dengan gemuruh dan menyambut ucapan Tan Ki dengan mengeringkan cawan masing-masing.
Si pengemis sakti Cian Cong terkenal sebagai setan arak.
Cawan yang ada di tangannya juga luar biasa besarnya dan jauh berbeda dengan orang-orang lainnya.
Tampak dia mendongakkan wajahnya dan meneguk isi cawannya sampai kering.
Siapa nyana baru saja arak tersebut masuk ke dalam perutnya, tampak kening orang itu langsung berkerut.
Boleh dibilang Cian Cong adalah seorang peminum sejati.
Selama puluhan tahun ini, di sisinya selalu ditemani oleh sebuah hiolo arak.
Entah sudah berapa jenis arak yang pernah diisi dalam hiolonya itu.
Terhadap keras atau ringannya setiap jenis arak, boleh dibilang dia sudah hapal luar kepala.
Saat ini, begitu arak yang diminumnya masuk ke dalam perut, dia langsung merasa arak tersebut keras sekali, malah ada sedikit keanehan yang mencurigakan.
BAGIAN XLIX Tiba-tiba saja Cian Cong merasa ada yang tidak beres dalam arak itu.
Tetapi melihat Tan Ki sedang mengumumkan peraturan-peraturan yang harus ditetapkan oleh dirinya sebagai seorang Bulim Bengcu yang baru terpilih, tentu saja dia merasa tidak enak mengganggunya dengan kecurigaan yang tidak beralasan.
Apalagi para hadirin tampaknya sedang menyambut ucapannya dengan gembira.
Orangtua ini selalu melakukan segala hal dengan perhitungan yang matang.
Oleh karena itu, dia segera mengerahkan hawa murninya dan mendesak racun tersebut di ujung tenggorokannya.
Apabila Tan Ki sudah selesai bicaranya, baru dia mengemukakan kecurigaannya itu.
Suasana di tempat itu terasa demikian hening dan mencekam.
Wajah setiap orang menyiratkan keseriusan yang tidak terkirakan.
Mereka mendengar kelanjutan kata-kata Tan Ki tentang peraturan yang ditentukannya.
"Meskipun cayhe sudah menentukan untuk memberi nama Perkumpulan Ikat Pinggang Merah pada golongan kita ini, maka setiap anggota kita harus memakai sehelai ikat pinggang berwarna merah sebagai tanda pengenal. Tetapi orang-orang kita sekarang ini sudah tidak menghargai kepercayaan yang diberikan dan menganggap remeh sebuah persahabatan. Dengan demikian, di antara satu orang teman dengan lainnya sering menggunakan akal licik atau saling memanfaatkan. Mulut mengucapkan janji saja sering diingkari tanpa merasa malu atau menyesal sedikitpun. Apabila bertemu dengan teman lainnya yang dapat memberikan keuntungan lebih banyak, sering orang-orang dunia Bulim kita mengkhianati persahabatan tanpa perduli apa yang akan terjadi dengan temannya itu, yang akhirnya timbul perselisihan dan kemudian menjadi dendam. Oleh karena itu, kepercayaan dan kesetiakawanan menjadi peraturan ketiga yang harus ditaati!"
Dia menghentikan kata-katanya sejenak, melihat tidak ada seorangpun yang membantah, baru dia meneruskan kembali ucapannya.
"Di depan tadi telah kita tetapkan tiga buah peraturan. Satu, tidak boleh memperkosa atau menodai gadis baik-baik. Kedua, tidak boleh membunuh orang yang tidak berdosa ataupun tidak sanggup mengadakan perlawanan. Tiga, harus menghargai kepercayaan seseorang dan tidak boleh mengkhianati persahabatan demi keuntungan diri sendiri. Tetapi aku maklum bahwa dunia ini sangat luas. Negara kita saja mempunyai tiga belas propinsi yang terbagi dari utara sampai selatan. Tempat yang begini luas tentu tidak mudah untuk dipersatukan, apalagi takluk di bawah satu pimpinan. Seandainya ada satu orang saja yang tidak mengikuti peraturan yang ditentukan, pasti yang lainnya akan terpengaruh untuk melakukan hal yang sama. Apabila kita ingin menghindari persengketaan yang sudah berlangsung di dunia Bulim selama ratusan tahun ini, maka kita harus menghukum orang yang membangkang perintah dan ditentukan sebagai peraturan keempat. Peraturan ini juga mencakup bahwa anggota kita tidak boleh menghasut rekannya yang lain untuk berkhianat atau berpihak pada negara lain. Keempat peraturan ini telah kupertimbangkan baik-baik sejak menjabat kedudukan sebagai Bulim Bengcu, dengan harapan bahwa dapat disetujui oleh saudara-saudara sekalian. Tetapi sebelum peraturan tersebut diresmikan, kalian, masih mempunyai kesempatan untuk mempertimbangkannya. Tentu saja aku berharap tidak ada orang yang keberatan dan bersedia bekerja sama dengan segenap kemampuan diri masing-masing!"
Tiba-tiba Oey Ku Kiong berdiri dari tempat duduknya.
"Dari keempat peraturan yang ditentukan oleh Bengcu, dapat diketahui bahwa beliau mempunyai pengetahuan yang luas dan berpikir panjang demi dunia Bulim kita. Cayhe adalah yang pertama-tama menyatakan kesetujuannya. Apabila saudara-saudara sekalian juga mempunyai pikiran yang sama, mari kita minum arak ini sama-sama sebagai tanda sepakat!"
Selesai berkata, dia mengangkat cawannya tinggi-tinggi lalu diedarkan ke sekeliling kemudian meneguknya sampai kering.
Melihat gerak-geriknya yang sangat menghormati Bengcu mereka, para hadirin yang lain segera mengangkat cawannya masing-masing dan meneguk arak di dalam cawan sampai kering.
Cian Gong adalah manusia yang peka perasaannya dan pikirannya cerdas.
Melihat Oey Ku Kiong bertindak sebagai orang pertama yang mengajak orang lainnya meminum arak sebagai tanda penghormatan, diam-diam dia sudah merasa aneh.
Cepat-cepat dia memalingkan wajahnya melihat ke arah Kiau H u r, sekilas.
Tampak gadis itu mengangkat cawannya ke atas tetapi untuk sekian lama dia tidak juga meneguk araknya, bahkan bibirnya mengembangkan seulas senyuman licik.
Pikirannya terus bergerak.
"Kedua manusia ini sangat licik. Tentunya mereka bersekongkol, tetapi entah apa yang mereka rencanakan kali ini?"
Semakin dipikir, otaknya semakin ruwet.
Dia tidak dapat menduga maksud hati Kiau Hun dan Oey Ku Kiong.
Tanpa dapat ditahan lagi sepasang matanya terus mengawasi gerak-gerik kedua orang itu dengan seksama.
Kembali terdengar suara Tan Ki yang lantang.
"Apabila saudara-saudara sekalian tidak ada yang merasa keberatan, maka harap kalian makan dan minum sepuasnya. Besok aku akan meresmikan peraturan yang telah kita tentukan!"
Selesai berkata, kembali dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
Tampak orangorang itu mengangkat cawannya masing-ma sing dengan wajah serius.
Dia tahu bahwa orang-orang ini sudah terbiasa hidup bebas tanpa kekangan orang lain.
Seandainya dalam sesaat ingin mereka mentaati berbagai peraturan, tentu bukan hal yang mudah.
Sudah pasti mereka ingin mempertimbangkannya baik-baik.
Oleh karena itu, dia segera mengembangkan seulas senyuman kemudian duduk kembali di atas kursinya.
Tan Ki baru saja berhasil merebut kedudukan Bulim Bengcu, dari luar tampangnya memang tenang-tenang saja, tetapi sebetulnya dalam hati dia merasa tegang bukan main.
Seandainya keempat peraturan yang ditetapkan menimbulkan perasaan berontak dari orang-orang ini, meskipun dia berhasil mendapatkan jabatannya ini dari menang pertandingan, tetapi tetap saja sulit melawan demikian banyak orang yang memberontak.
Takutnya sebelum pihak Lam Hay dan Si Yu menyerbu nanti sore, di antara kalangan sendiri telah terjadi bentrokan yang tidak kepalang besarnya.
Mengingat seriusnya masalah ini, hati Tan Ki semakin tertekan.
Duduk salah berdiri pun salah.
Sepasang matanya menyorotkan kecemasan dan terus beredar ke para hadirin.
Diperhatikannya baik-baik reaksi yang mereka perlihatkan.
Seandainya ada seseorang yang memperlihatkan gerak-gerik mencurigakan, lebih baik ringkus dulu orang itu sebelum dia berhasil menghasut yang lainnya.
Justru ketika hatinya masih merasa tegang menunggu reaksi dari para hadirin, tiba-tiba telinganya menangkap suara jeritan yang menyayat hati.
Begitu seramnya suara itu sehingga membuat bulu kuduk jadi meremang.
Seiring dengan suara jeritan tersebut, tampaknya ada seseorang yang rubuh di atas tanah.
Boleh dibilang ketika suara itu baru sirap, dari timur barat dan utara kembali terdengar suara jeritan lainnya yang serupa.
Suara-suara itu bagai ratapan burung hantu di malam hari.
Dalam waktu yang bersamaan, tampak tujuh delapan orang bangkit dari tempat duduknya dengan sepasang tangan menekan bagian perut.
Mereka seperti sedang menahan rasa sakit yang tidak terkirakan.
Tetapi dalam sekejap mata, ketujuh delapan orang itu rubuh di atas tanah dengan panca inderanya mengalirkan darah.
Suara raungan mereka semakin menggetarkan hati.
Bahkan ada yang berguling-guling di atas tanah sehingga meja serta bangku terbalik semua.
Meskipun Tan Ki mempunyai ketenangan yang luar biasa, namun menghadapi perubahan yang tidak disangka-sangka ini, dia juga terkejut setengah mati sampai wajahnya berubah hebat.
Jantungnya berdebar-debar.
Dalam keadaan yang menegangkan ini tiba-tiba terjadi peristiwa yang demikian mengerikan, hal ini benar-benar membuat mereka tercekat dan tidak sempat lagi memberikan pertolongan.
Tiba-tiba si pengemis sakti Cian Cong mengeluarkan suara tawa yang panjang.
Dia mendorong meja di hadapannya dan bangkit berdiri.
Mulutnya terbuka dan segera terlihat air arak memuncrat keluar bagai melesatnya sebatang anak panah.
Arak beracun yang sejak tadi ditahannya dalam tenggorokan sekarang dimuntahkannya.
Kemudian terdengar suara dengusan dari hidung Lok Hong, cawan araknya didekatkan ke bibir dan dia mengerahkan hawa murni dalam tubuhnya lalu ikut memuntarikan arak beracun yang baru diminumnya tadi.
Arak itu tertuang kembali ke dalam cawan.
Hal ini membuktikan bahwa tokoh tua yang menjabat sebagai pangcu Ti Ciang Pang ini juga sudah tahu bahwa arak yang disediakan mengandung racun yang ganas.
Sikapnya dingin dan mimik wajahnya tidak enak dilihat.
Hawa amarah dalam dadanya sudah meluap-luap.
Tampak beberapa sosok bayangan berkelebat, secara berturut-turut beberapa orang melayang keluar.
Yibun Siu San, Cian Cong dan tokoh sakti Bu Tong Pai, Tian Bu Cu menghambur ke arah orang-orang yang terserang racun.
Pengetahuan ketiga tokoh ini luas sekali.
Pengalaman pun sudah banyak.
Niat mereka sekarang sama, yakni ingin melihat dengan jelas keadaan para korban.
Ternyata orang-orang itu tidak sempat mengerahkan hawa murninya untuk menunda beredarnya racun dalam tubuh dan mati dalam sekejap mata.
Racun apa sebetulnya yang dimasukkan dalam arak tersebut sehingga daya kerjanya begitu keji?
Terdengar suara gabrukan yang membisingkan pendengaran.
Meja dan kursi terbalik di sana-sini.
Kembali beberapa orang rubuh di atas tanah.
Begitu diperhatikan ternyata semuanya mati dengan keadaan mengerikan.
Darah terus mengalir dari ketujuh panca indera mereka.
Suasana di dalam arena tersebut menjadi demikian menyeramkan karena banyaknya mayat yang bergelimpangan.
Tampak Mei Ling, Liang Fu Yong dan kedua gadis bercadar hitam segera menghambur ke dekat Tan Ki dan menanyakan apa yang sebenarnya telah terjadi.
Meskipun warna pakaian yang dikenakan keempat orang perempuan itu berlainan warnanya, tetapi sorot mata mereka semuanya mengandung perhatian yang sama besarnya.
Tan Ki menggelengkan kepalanya sambil tersenyum simpul.
"Aku tidak apa-apa."
Hatinya maklum bahwa kedua gadis becadar hitam itu adalah dua kakak beradik, Cin Ying serta Cin Ie.
Guna menghindari sorotan mata Kiau Hun yang bertugas menjadi mata-mata, mereka sengaja menggunakan cadar hitam untuk menutupi Wajah.
Keadaan di depan mata demikian mengkhawatirkan, oleh karena itu Tan Ki tidak ingin banyak bicara.
Dia hanya mengucapkan kata-kata yang pendek itu saja.
Liang Fu Yong menarik nafas panjang dengan wajah sendu.
"Setegukan arak saja dapat menghancurkan jantung orang dan melumatkan usus. Kau baru saja terpilih sebagai Bulim Bengcu, tanggung jawabmu berat sekali. Kau sama sekali tidak boleh bertindak ceroboh sehingga menimbulkan bencana di kemudian hari. Meskipun kau masih bisa bicara dengan santai, tetapi aku tetap mencemaskan dirimu. Ada baiknya kau coba kerahkan hawa murni dalam tubuhmu dan lihat apakah merasakan sesuatu kelainan..."
Tan Ki langsung menukas ucapannya dengan tersenyum.
"Arak ini hanya kutempelkan di ujung bibir sebagai syarat dan penghormatan bagi tokoh-tokoh lainnya saja. Aku belum benar-benar meminumnya. Tetapi atas perhatian cici yang besar, tetap saja aku merasa berterima kasih sekali."
Selesai berkata dia membalikkan tubuhnya dan berjalan ke sebelah kiri.
Tampak si pengemis cilik dan rekan-rekannya yang lain sedang mengerutkan sepasang alis mereka dengan ketat.
Gigi mereka diker-takkan erat-erat seakan sedang menahan rasa sakit yang tidak terkirakan.
Wajah mereka juga menyiratkan penderitaan yang dalam.
Tiba-tiba saja Tan Ki teringat beberapa hari yang lalu, kelima orang itu berlari ke sana ke mari demi dirinya tanpa mengenal rasa lelah sedi-kitpun.
Namun mereka tidak menginginkan apapun, kecuali rasa persahabatan yang telah mereka bina selama ini.
Mereka membela dirinya tanpa memperdulikan situasi yang bagaimana gawatnya sekalipun.
Persahabatan yang dalam ini membuat Tan Ki terharu.
Sekarang melihat keadaan mereka yang demikian mengenaskan, seperti mengalami penderitaan yang tidak terkirakan, hatinya menjadi pedih karena tidak sanggup mengulurkan tangan memberi bantuan.
Air mata tampak membasahi pelupuk matanya dan hampir saja menetes turun.
Tiba-tiba terdengar bentakan seseorang dari belakang punggungnya.
"Berhenti!"
Suara itu bagai geledek yang menggelegar.
Tan Ki yang mendengarnya sampai tercekat.
Tanpa terasa dia menghentikan langkah kakinya.
Begitu kepalanya ditolehkan, dia melihat Lok Hong sedang menatapnya dengan mata mendelik lebar-lebar.
Sikap Lok Hong itu membuat perasaan Tan Ki tergetar.
Diam-diam dia mengerahkan hawa murni dalam tubuhnya dan berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan, namun bibirnya tetap mengembangkan seulas senyuman.
"Entah apa maksud Locianpwe memanggil cayhe?"
"Apakah pesta ini diurus oleh dirimu sendiri?"
Tanya Lok Hong.
"Yibun Sam-siok yang mempersiapkannya..."
Tiba-tiba saja kata-katanya terhenti. Dalam benaknya terlihat suatu masalah yang rumit. Tanpa dapat ditahan lagi sepasang alisnya berkerut. Setelah sesaat dia baru bertanya.
"Apakah Locianpwe mencurigai diri cayhe?"
Lok Hong tertawa dingin.
"Walaupun kau tidak melakukan hal ini, tetapi tetap saja sulit bagimu untuk melepaskan diri dari tanggung jawab!"
Sepasang mata Tan Ki menyorotkan sinar yang tajam menusuk. Tetapi sesaat kemudian pulih kembali seperti biasanya. Bibirnya malah mengembangkan seulas senyuman.
"Harap Locianpwe jangan memandang segala hal dari sudut mata orang yang jiwanya rendah. Apabila cayhe memang berniat mencelakai orang, rasanya juga tidak perlu begitu menyolok. Lagipula..."
Tadinya dia ingin mengatakan secara terus terang bahwa dirinya pernah menggemparkan dunia Kangouw dengan nama Cian Bin Mo-ong, tetapi tiba-tiba saja suatu ingatan melintas dalam benaknya.
Tidak sepatutnya dia menceritakan hal tersebut dalam keadaan seperti ini.
Cepat-cepat dia menghentikan kata-katanya dan membungkam.
Tampaknya kemarahan Lok Hong jadi terbangkit mendengar ucapannya.
Dia langsung memperdengarkan suara tawa terbahak-bahak.
Nada suaranya bagai singa yang sedang meraung, memekakkan telinga orang-orang yang mendengarnya.
Keadaan di tempat itu menjadi kacau balau.
Para hadirin merasa cemas.
Kecuali para tamu wanita yang tidak minum arak, beserta beberapa orang lagi yang tenaga dalamnya cukup tinggi, boleh dibilang hampir sebagian besarnya keracunan.
Suasananya menjadi tegang dan menyeramkan...
namun di balik ketegangan serta keseraman pemandangan yang terlihat di tempat tersebut, terselip rasa pilu dan mengenaskan melihat banyaknya mayat-mayat yang mati secara mengerikan.
Walaupun orang-orang gagah yang hadir di tempat tersebut sadar bahwa dirinya keracunan, tetapi melihat Tan Ki dan Lok Hong mulai bersitegang, mereka segera dapat merasakan bahwa ada segelombang badai yang dahsyat akan melanda.
Beratus pasang mata serentak beralih pada diri kedua orang itu.
Sudah pasti Tan Ki maklum bahwa termangu-mangu terus juga tidak dapat menyelesaikan persoalan yang dihadapinya.
Biar bagaimana dia merupakan seorang pemuda yang cerdas serta banyak akalnya.
Setelah merenung sejenak, dia merasa bahwa perdebatan dengan Lok Hong hanya menambah masalah yang sudah ada.
Oleh karena itu, dia langsung tersenyum simpul dan berkata dengan nada lembut...
"Biarpun Cayhe mengerti bahwa telah terjadi kesalahpahaman dalam hati Locianpwe, tetapi untuk sesaat juga tidak dapat dijelaskan. Lebih baik biarkan Boanpwe mencari jalan agar dapat menemukan orang yang menyebarkan racun tersebut, bagaimana?"
Kata-kata ini diucapkan dengan nada wajar.
Tidak sombong juga tidak merendahkan derajatnya sendiri.
Mendengar kata-katanya, Lok Hong jadi termangu-mangu untuk sekian lama.
Biar bagaimana dia merupakan seorang tokoh tua yang sudah mempunyai nama besar.
Tentu tidak enak baginya apabila terlalu mendesak tanpa bukti yang konkret.
Tiba-tiba terdengar desiran angin yang disebabkan oleh kibaran pakaian seseorang.
Kiau Hun bagai sekuntum bunga tho di bawah cahaya matahari berdiri di antara kedua orang itu.
Bibirnya mengembangkan senyuman.
"Berapa usia Locianpwe tahun ini?"
Tiba-tiba saja dia mengajukan pertanyaan kepada Lok Hong.
Suaranya begitu merdu dan lembut sehingga membuat orang yang mendengarnya merasa tidak enak hati apabila tidak memberikan jawaban.
Demikian pula Lok Hong, dia terpaksa menyahut pertanyaan gadis itu.
"Tahun ini Lohu berusia tujuh puluh enam tahun. Entah apa maksud nona menanyakan hal ini?"
Kiau Hun tersenyum manis.
"Itulah, kalau usia Locianpwe sudah sedemikian tinggi, pengetahuan maupun pengalaman pasti sudah luas sekali. Tetapi setelah bertemu sekarang, ternyata Locianpwe masih kalah pintar dengan seorang gadis muda seperti diriku."
Mendengar sindirannya, wajah Lok Hong langsung berubah. Perlahan-lahan dia mendengus kemudian bertanya.
"Hal apa yang membuat kepintaran nona melebihi lohu, coba kaujelaskan secara terang-terangan!"
Kembali Kiau Hun memamerkan seulas senyuman.
Dia menolehkan kepalanya memandang Tan Ki yang berdiri di sampingnya dengan mata melotot serta sepasang alis berkerut-kerut.
Kemudian dia berkata dengan, tenang.
"Apabila Locianpwe seorang yang cerdas, tentu bisa mengetahui kata-kata yang diucapkannya tadi rada kurang beres. Seandainya dia benar-benar ingin menyelidiki masalah ini, entah darimana dia harus memulainya? Lagipula dia tidak memberikan batas waktu yang tepat untuk membuktikan kata-katanya. Dengan demikian dia bisa mengulur waktu sesuka hatinya sendiri. Apabila Locianpwe ingin mengetahui kejadian yang sebenarnya, mungkin harus menunggu sampai tubuh membungkuk dan rambut menjadi putih semua juga belum tentu ada hasilnya. Hal ini membuktikan bahwa dia sengaja mempermainkan dirimu karena menganggap kau tidak tahu apa-apa. Bila orang lain dapat dikelabuinya begitu saja, maka tidak begitu mudah kalau sasarannya diriku."
Perlahan-lahan Lok Hong menepuk batok kepalanya sendiri.
"Betul juga apa yang kau katakan!"
"Mumpung orangnya masih ada di depan mata, mengapa Locianpwe tidak menanyakannya sampai jelas sekarang juga?"
Lok Hong mendongakkan wajahnya kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Apa lagi yang perlu ditanyakan?"
Sebelah telapak tangannya terulur ke depan dan langsung dihantamkan ke dada Tan Ki.
Tadinya Tan Ki bermaksud mengecilkan masalah sehingga tidak bertambah ruwet, sehingga dia sengaja mengalah.
Tiba-tiba Lok Hong melancarkan sebuah serangan yang mengandung tenaga dahsyat serta menimbulkan suara angin yang menderu-dem, dia segera sadar bahwa paling tidak orangtua itu menggunakan delapan bagian kekuatannya.
Oleh karena itu kegagahannya jadi terbangkit, dia segera mengeluarkan suara bentakan yang lantang, tubuhnya memutar setengah lingkaran kemudian membalas sebuah pukulan ke depan.
Serangannya begitu kokoh bagai gunung yang menjulang tinggi, dengan gerakan laksana ombak yang bergulung-gulung menyapu ke arah Lok Hong.
Terdengar orangtua itu mengeluarkan suara tawa yang dingin.
"Bocah kemarin sore berani-beraninya memamerkan sedikit kepandaian yang tidak berarti. Jangan kira baru mendapatkan jabatan Bulim Bengcu saja, aku akan mengkeret menghadapimu!"
Sembari berkata, dalam waktu singkat dia melancarkan dua belas pukulan.
Setiap jurus yang dikerahkannya mengandung kekejian yang tidak terkirakan.
Semuanya ditujukan ke urat darah di tubuh Tan Ki yang penting.
Tan Ki baru saja menjabat sebagai Bulim Bengcu, mana mungkin dia sudi memperlihatkan kelemahannya di hadapan orang banyak.
Meskipun ilmu kepandaiannya didapatkan dari hasil curian dalam goa makam para leluhur Ti Ciang Pang, tetapi dia sudah menggabungkannya dengan ilmu yang diajarkan oleh Yi-bun Siu San dan mendapat pengarahan pula dari si pengemis sakti Cian Cong.
Dengan demikian kepandaiannya sekarang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan sebelumnya.
Begitu dia mengerahkan ilmunya, tidak ada sejuruspun yang dimainkan sampai habis.
Hal ini dapat membingungkan lawannya karena dalam setiap jurus yang dijalankan, kadang-kadang dia melancarkan pukulan kemudian tiba-tiba bisa berubah menjadi totokan.
Angin yang kencang terpancar dari serangannya sehingga bebatuan serta rerumputan terpental dan melambai-lambai.
Pertarungan di antara mereka berlangsung sengit sekali.
Yang satu adalah ketua Ti Ciang Pang yang menguasai wilayah Sai Pak, sedangkan yang satunya merupakan pendekar muda yang baru berhasil merebut kedudukan Bulim Bengcu.
Meskipun baru kali ini mereka benar-benar bergebrak, tetapi serangan yang dilancarkan menggunakan kecepatan yang tidak terkirakan.
Masing-masing pihak berusaha mendahului lawannya mendapatkan peluang untuk menyerang terlebih dahulu.
Dalam sepuluh jurus kemudian, tampak bayangan pukulan berkibar-kibar, angin yang terpancar bagai auman seekor harimau.
Bayangan tubuh keduanya sulit lagi dibedakan.
Apabila diperhatikan sepintas lalu, gerakan tangan mereka bagai berubah menjadi ratusan pasang yang saling melilit kemudian memencar kembali.
Ilmu silat Tan Ki merupakan hasil curian, sebelum bertarung saja hatinya sudah berdebar-debar.
Kadang kala dia sampai kalang kabut diserang oleh Lok Hong.
Keadaan dirinya sempat terperangkap dalam bahaya beberapa kali.
Tetapi setelah lewat beberapa jurus, dia melihat bahwa tenaga dalam Lok Hong tidak lebih tinggi dari dirinya sendiri.
Dengan demikian nyalinya jadi besar dan tiba-tiba dia membentak dengan suara keras.
Serangannya berubah menjadi gencar, secara berturut-turut dia membalas serangan Lok Hong dengan empat lima jurus.
Begitu hebatnya serangan Tan Ki sampai Lok Hong mulai terdesak dan mencelat ke belakang sejauh tiga langkah.
Lama kelamaan dia malah berada di posisi yang semakin gawat.
Sekarang ini, Tan Ki mulai merasa bahwa ketakutannya terhadap Lok Hong di masa yang silam benar-benar merupakan hal yang menggelikan.
Dia sama sekali tidak sadar bahwa Lok Hong bisa menjadi ketua sebuah perguruan dan menguasai wilayah Sai Pak sekian lama, tentu bukan hal yang mudah.
Tentu saja dia mempunyai ilmu yang sangat tinggi.
Hanya saja dia jarang berkecimpung di dunia Kangouw sehingga pengalaman bertarungnya tidak cukup banyak.
Lagipula sejak semula Tan Ki sudah merasa gentar karena merasa ilmu yang dimilikinya berasal dari perguruan orangtua tersebut.
Dengan demikian jurus apapun yang dikerahkannya, tentu Lok Hong sudah paham sekali serta tahu bagaimana menangkisnya.
Oleh karena itu, sebelum bertarung saja hatinya sudah gentar terlebih dahulu.
Dalam keadaan gugup, otomatis ilmu seseorang tidak dapat dikerahkan dengan lancar.
Untung saja dia berhasil mendapat didikan dari Yibun Siu San dan Cian Cong sehingga tenaga dalamnya jauh lebih kuat dan pikirannya juga jauh lebih peka.
Melihat hasutannya membuahkan hasil, sudah barang tentu hati Kiau Hun gembira bukan kepalang.
Tetapi setelah memperhatikan sejenak, dia dapat melihat bahwa meskipun tenaga dalam Lok Hong cukup hebat, namun apabila ingin melukai Tan Ki dalam waktu yang singkat, bukan hal yang mudah.
Matanya mengerling ke sana ke mari sejenak, kemudian dia berteriak dengan nada lantang.
"Lok Locianpwe, bagaimana kalau aku membantumu?"
Sebetulnya dia tidak perlu mengucapkan kata-kata itu, karena pembicaraannya belum selesai, tubuhnya sudah melesat ke depan tanpa rnemperdulikan Lok Hong akan setuju atau tidak dengan tindakannya itu.
Tampak cahaya hijau berkilauan, dia meluncurkan serangannya ke arah telapak tangan Tan Ki yang sedang melesat datang.
Baru saja serangannya dilancarkan, tampak bayangan berkelebat, tahu-tahu Tan Ki sudah mencelat mundur sejauh lima langkah.
Rupanya dia sadar bahwa pedang pendek di tangan Kiau Hun tajamnya bukan main.
Oleh karena itu dia tidak berani menyambut dengan kekerasan.
Terpaksa dia mengerahkan salah satu jurus dari ilmu Te Sa Jit-sut yang paling hebat dan menghindar dari serangan Lok Hong.
Dalam waktu yang bersamaan tubuhnya mencelat ke belakang, tetapi sekonyong-konyong telinganya mendengar desiran angin yang menyapu lewat di depan dadanya.
Hatinya langsung tergetar.
Melihat serangan Kiau Hun yang begitu keji, dia segera sadar bahwa perempuan itu memang benar-benar ingin menghabisi nyawanya.
Hatinya tergerak, sepasang matanya langsung mendelik lebar-lebar.
"Kiau Hun, tindakanmu ini...!"
Dia tidak sanggup meneruskan kata-katanya, hatinya terasa pilu dan gusar.
Tubuhnya gemetar dan wajahnya merah padam.
Tiba-tiba terdengar lagi suara serangkum angin yang menerpa ke arahnya.
Tan Ki tidak sempat berpikir panjang lagi.
Dia segera mengulurkan tangannya dan menyambut datangnya serangan Lok Hong.
Kedua gulung tenaga yang dahsyat saling berbenturan, suaranya menggetarkan hati, namun tampak kaki keduanya agak limbung dan tubuh merekapun sempoyongan.
Untuk beberapa saat mereka tidak sanggup berdiri dengan tegak.
Kiau Hun mendekat ke sampingnya dan berkata dengan suara yang lirih.
"Apabila dua negara berkecimpung, masing-masing berpihak pada rajanya sendirisendiri. Tentu kau tidak dapat menyalahkan diriku bukan?"
Di saat berbicara, keduanya sudah saling melancarkan enam jurus serangan.
Tampak sinar berwarna hijau yang timbul dari pedang pendek Kiau Hun menyilaukan pandangan mata.
Begitu beradu selalu memencar kembali.
Tidak ada sejuruspun yang tidak mengandung kekejian.
Orang-orang yang menyaksir kan jalannya pertarungan itu merasa jantung-ihya berdebar-debar dan bahkan ada yang sampai menahan nafas.
Tan Ki merasa serangan yang dilancarkan gadis itu demikian gencarnya.
Tiba-tiba dia melihat Lok Hong maju selangkah ke depan dan ikut mengirimkan sebuah pukulan.
Tan Ki sadar bahwa serangan pukulan Lok Hong itu membawa serangkum angin yang tajam sehingga belum tentu sanggup ditangkisnya.
Tentu saja Tan Ki tidak mau mati konyol begitu saja dengan mencoba-coba, terpaksa tubuhnya mencelat ke belakang dan menghindarkan diri sejauh satu depa lebih.
Baru saja kakinya mendarat di atas tanah, Kiau Hun sudah menerjang datang lagi ke arahnya, tampak cahaya hijau berkilauan dan menghunjam dari atas kepala ke bawah.
Entah siapa orangnya, justru pada saat itu ada yang menimpukkan tiga batang senjata rahasia berwarna putih dan bersinar terang.
Kecepatannya pun jangan ditanyakan lagi, sasarannya adalah salah satu urat mematikan di tubuh Tan Ki.
Gerakan ketiga batang senjata rahasia itu begitu cepat, seakan mengimbangi serangan Kiau Hun yang dahsyat.
Baik saat maupun tenaga yang terkandung di dalamnya berpadu dengan kompak.
Mendapat serangan dari depan belakang, untuk sesaat Tan Ki merasa tidak sanggup menahannya.
Cahaya berwarna hijau melesat dari depan, sedang ketiga batang senjata rahasia justru ditujukan ke bagian kanan, kiri dan tengah.
Biar dia mengelak ke manapun, tetap saja dirinya menjadi sasaran empuk.
Tetapi karena keadaan sudah demikian mendesak, Tan Ki terpaksa menempuh bahaya untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Sepasang tangannya merentang dan tubuhnya mencelat ke udara.
Mula-mula dia menghindar dari serangan bagian belakang tubuhnya.
Sebetulnya dia maklum bahwa dengan mencelat ke udara seperti itu, bagian tubuhnya malah terbuka semua, seakan memberi peluang bagi musuh.
Meskipun jurus yang digunakannya saat itu merupakan salah satu jurus terhebat dari Tian Si Sam-sut, tetapi dengan tangan kosong menyambut pedang pendek di tangan Kiau Hun adalah hal yang gila bukan main.
Oleh karena itu di tengah udara tiba-tiba ia merubah jurus serangannya sehingga timbul banyangan pukulan yang tidak terkirakan banyaknya.
Hal ini membuat pandangan mata Kiau Hun jadi berkunang-kunang dan kebingungan.
Di hadapannya tibatiba saja seperti ada delapan sembilan Tan Ki yang menukik ke bawah.
Tadinya Tan Ki bermaksud memencarkan perhatian Kiau Hun sehingga lengan.
Siapa tahu tangan kanan gadis itu menggenggam pedangnya erat sedangkan jari tangan kirinya menuding ke atas.
Saat itu dia sedang menatap tubuh Tan Ki yang meluncur turun tanpa mengedipkan matanya sekalipun.
Sikapnya itu seakan tidak mengandung keistimewaan sama sekali, tetapi sebetulnya merupakan gerakan seorang ahli pedang yang menggunakan cara tingkat tinggi dalam menghadapi musuh.
Ketika pukulan kedua pihak hampir saling beradu, tiba-tiba Kiau Hun mengeluarkan suara bentakan keras.
Telapak tangan kirinya menghantam ke depan, dia mementalkan kembali sebatang senjata rahasia yang dikibas Tan Ki yang kemudian malah meluncur ke arah dirinya sendiri.
Tampak pedangnya bergerak dan menimbulkan cahaya seperti pelangi.
Kebetulan tubuh Tan Ki sedang melesat ke arahnya dan dia menyerang bagian pundak anak muda itu.
Gerakannya ini dari lambat tiba-tiba berubah menjadi cepat, persis seperti cahaya kilat yang melintas.
Begitu cepatnya sehingga orang-orang sulit melihat jurus apa yang dikerahkannya.
Mata mereka menjadi silau karena cahaya berkelebat.
Terdengar suara benturan yang memekakkan telinga berturut-turut sebanyak beberapa kali.
Kemudian disusul dengan suara siulan yang panjang serta gerungan dalam waktu yang bersamaan.
Di tengah udara tubuh kedua orang itu bagai dua buah layangan yang putus kemudian melayang turun di atas tanah satu per satu.
Begitu pandangan mata dialihkan, tampak pinggang kiri Tan Ki telah terkena goresan pedang.
Lukanya sepanjang tiga cun dan terus mengalirkan darah.
Kiau Hun malah seperti orang yang minum arak kebanyakan.
Kakinya goyah kemudian terhuyung-huyung mundur sejauh tiga empat langkah.
Ternyata lengan kanannya terkena pukulan Tan Ki sehingga pedang pendeknya terjatuh di atas tanah.
Dia memegangi lengannya sambil mundur.
Tampaknya sampai saat ini dia baru sadar sampai di mana tingginya ilmu kepandaian Tan Ki, matanya menatap Tan Ki lekat-lekat dengan wajah termangu-mangu.
Untuk sekian lama dia tidak mengucapkan sepatah katapun.
Kedua orang itu bergebrak di tengah udara dan boleh dibilang dalam waktu yang singkat sama-sama terluka.
Jurus serangan yang dilancarkan begitu cepat sehingga sulit diikuti dengan pandangan mata.
Dalam sekali bentrokan saja terselip bahaya yang mengintai, orang-orang yang melihatnya diam-diam jadi memuji kepandaian kedua orang itu.
Baru saja kaki Tan Ki mendarat di atas tanah dan bermaksud mengerahkan hawa murninya agar darah yang mengalir dapat segera dihentikan, sekonyong-konyong dia melihat Lok Hong menerjang ke arahnya dengan kecepatan yang tidak terkirakan.
Telapak tangannya terulur ke depan mengirimkan sebuah pukulan.
Sepasang alis Tan Ki langsung menjungkit ke atas.
Tiba-tiba ingatannya melintas di masa lalu ketika berkali-kali dirinya menerima hinaan dari Lok Hong.
Entah berapa kali pipinya ditempeleng oleh orang ini.
Sekarang bukan saja sikapnya tidak berubah, tetapi masih keras kepala seperti sediakala.
Dia seakan ingin mendesak Tan Ki terus menerus.
Otomatis jiwa mudanya jadi tergugah dan rasa tidak ingin kalah ikut terbangkit.
Tadinya dia masih berharap Yibun Siu San, Cian Cong, Tian Bu Cu atau yang lainnya akan menengahi masalah ini, tetapi sekarang dia tahu harapannya tidak mungkin terkabul.
Diam-diam dia berpikir dalam hati.
"Kalau aku tidak menggunakan ilmuku yang sejati untuk melawanmu, mungkin sampai tiga ratusan jurus, kau juga belum mau berhenti!"
Pikirannya tergerak, kegagahannya timbul.
Sepasang lengannya satu per satu menjulur ke depan dan mengirimkan serangan dengan gencar.
Gerakannya ini sungguh jarang terlihat di dunia Kangouw.
Sepasang tangannya bukan menghantam ke depan sekaligus, tetapi melancarkan serangan satu per satu.
Tenaga yang terkandung di dalamnya juga berbeda dan arahnya pun berlainan.
Persis seperti dua orang yang berilmu serupa dan melancarkan serangan dalam waktu yang bersamaan.
"Ilmu yang digunakan budak ini sungguh aneh, yang pasti bukan ilmu dari perguruan lohu."
Kata Lok Hong seperti kepada dirinya sendiri.
Lengan kanannya mengibas dan dengan jurus Lengan Baju Menyapu ke Wajah, dia menyambut datangnya serangan Tan Ki.
Terdengar suara benturan yang memekakan telinga.
Tiba-tiba Tan Ki mencelat munt dur ke belakang sejauh lima langkah.
Ternyata tenaga dalam Lok Hong begitu kuat.
Ketika beradu, Tan Ki langsung merasa tidak mudah menyambut pukulan lawannya dengan kekerasan.
Lok Hong langsung tertawa dingin.
Tubuhnya kembali mendesak ke depan, dengan posisi tangan menahan di depan dada, dia melancarkan sebuah pukulan.
Pertarungan kedua orang itu baru berlangsung beberapa jurus, tetapi orang-orang yang melihatnya dapat merasakan bahwa duel di antara mereka demikian sengit dan membahayakan.
Setiap serangan yang dilancarkan seperti ingin merenggut jiwa masing-masing lawan.
Pengetahuan Lok Hong sangat luas, dia tahu tenaga dalamnya lebih tinggi sedikit dari pada Tan Ki.
Justru jurus serangannya yang tidak dapat menandingi keanehan jurus-jurus yang dikerahkan oleh Tan Ki.
Lama kelamaan ada kemungkinan bahwa dia yang akan terdesak oleh ilmu anak muda itu yang ajaib.
Sejak semula hatinya sudah berniat untuk menyelesaikan pertarungan secepatnya, kemudian meringkusnya untuk menanyakan dari mana asalnya racun yang ada di dalam arak.
Sekaligus dia juga ingin memamerkan kehebatan ilmu Ti Ciang Pang agar orang-orang yang hadir di tempat itu merasa kagum.
Meskipun orangtua ini tidak berminat merebut kedudukan Bulim Bengcu, tetapi dia ingin nama Ti Ciang Pang yang sudah terkenal sejak ratusan tahun yang lalu dapat dipertahankan.
Oleh karena itu pula, serangannya makin lama makin cepat, tenaga dalam yang dipancarkan semakin lama semakin kuat, dia sengaja menambah, kelebihannya dan menutupi kekurangannya.
Dengan tenaga dalam yang lebih kuat dia berusaha mendesak Tan Ki menyambut serangannya dengan keras.
Serangan yang cepatnya tidak terkirakan ini membuat Tan Ki tidak mempunyai waktu lagi untuk menghindar.
Terpaksa dia menggertakkan giginya erat-erat dan mengerahkan seluruh tenaga dalamnya guna menyambut serangan Lok Hong dengan keras.
Dua rangkum tenaga dalam yang kuat saling beradu, timbullah gelombang angin yang kencang.
Kedua orang itu tergetar hebat sehingga pakaian yang mereka kenakan berkibarkibar laksana air yang bergejolak.
Begitu beradu tenaga dalam dengan kekerasan, Tan Ki langsung merasa hawa murni di dalam tubuhnya membuyar cukup banyak, tampak dadanya naik turun dan nafasnya tersengal-sengal.
Keringat mengucur dari keningnya bagai curahan air hujan.
Lok Hong memperdengarkan suara tawa yang dingin.
"Bagaimana kalau kau sambut lagi sebuah pukulan lohu ini?"
Terdengar suara angin menderu dan rupanya orangtua itu benar-benar melancarkan sebuah pukulan lagi ke depan.
Tan Ki menggertakkan giginya erat-erat.
Sepasang tangannya pun dihantamkan ke depan.
Meskipun dia tidak ingin terjadi sesuatu hal yang mengenaskan baik pada dirinya sendiri atau pada diri Lok Hong, tetapi karena orangtua itu terus-terusan mendesaknya sedemikian rupa, kesabarannya juga mulai habis.
Begitu sepasang tangannya menghantam keluar, secara diam-diam dia telah mengerahkan segenap tenaga dalamnya dan bersiap mengadu jiwa dengan Lok Hong.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari mulut seorang gadis.
"Jangan berkelahi lagi!"
Tubuhnya melesat dan ternyata dengan berani dia menerobos di antara kedua orang itu.
Tenaga dalam Lok Hong sudah mencapai taraf yang tinggi sekali.
Pukulannya dapat dilancarkan dan ditarik kembali sesuka hatinya.
Melihat cucu kesayangannya secara mendadak menghadang di depan mereka berdua dan mencegah mereka bertarung lebih lanjut, hatinya tercekat bukan kepalang.
Cepat-cepat dia menarik kembali tenaga dalam yang terpancar pada telapak tangannya dan dengan susah payah mencelat mundur satu langkah.
Tetapi pukulan yang dilancarkan oleh Tan Ki justru digerakkan dalam keadaan marah.
Walaupun dia melihat dengan jelas Lok Ing menerobos datang dan menghadang di hadapan mereka, tetapi untuk sesaat dia tidak sanggup menarik kembali serangannya.
Hatinya masih merasa terkejut setengah mati dan belum sempat memikirkan bagaimana caranya mengatasi hal tersebut, telinganya sudah mendengar suara jeritan yang menyayat hati.
Rupanya pukulan yang ia lancarkan telah menghantam telak tubuh Lok Ing sehingga gadis itu terpental melayang di udara sejauh tujuh delapan langkah.
Kali ini rasa terkejut di dalam hati Tan Ki jangan ditanyakan lagi!
Dia seakan merasa dadanya ditinju dengan keras oleh seseorang, tubuhnya bergetar hebat dan sekonyongkonyong dia seperti orang yang kehilangan kesabarannya.
Setelah mengeluarkan suara teriakan yang keras, orangnya sendiri langsung menghambur ke depan.
Tiba-tiba terasa ada serangkum angin kencang yang menghadang di depannya.
Terpaksa Tan Ki menghentikan langkah kakinya.
Setelah melancarkan sebuah pukulan, Lok Hong segera membungkukkan tubuhnyamenggendong Lok Ing.
Begitu dia menundukkan kepalanya, dia melihat wajah Lok Ing yang biasanya bersemu dadu kini menjadi pucat pasi seakan tidak ada darahnya.
Bahkan di sudut bibir terlihat darah segar mengalir turun membasahi pakaiannya.
Tanpa perlu memeriksa denyut nadinya, sekali lihat saja sudah dapat diduga bahwa setiap waktu nyawanya bisa melayang.
Dalam usia tuanya, Lok Hong hanya mempunyai seorang cucu yang disayanginya setengah mati.
Dalam waktu yang singkat ternyata dia melihat dengan mata kepala sendiri bahwa cucu kesayangannya mungkin tidak lama lagi akan meninggalkan dirinya, terasa ada serangkum kepedihan yang menyelinap dalam hatinya.
Dia memandang wajah Lok Ing dengan termangu-mangu dan mulutnya seperti menggumam seorang diri.
"Anak bodoh, mengapa harus berbuat demikian? Benar-benar tolol, tolol sekali..."
Beberapa patah ucapan yang sederhana tercetus dari mulut orangtua itu, namun makna yang terkandung di dalamnya justru seperti aliran air matanya dan ratapan hatinya yang sedih tidak terkirakan.
Orang-orang yang mendengarkannya ikut merasa pilu, hati mereka terharu sekali sehingga untuk sesaat sampai lupa bahwa keadaan mereka sedang menghadapi bahaya.
Tampak Yibun Siu San, Tian Bu Cu dan Cian Cong berjalan menghampiri.
Ketiga orang itu seakan dapat menduga apa yang akan terjadi.
Mereka berhenti pada jarak kurang lebih lima langkah dari tempat Lok Hong berdiri.
Mereka mengerti sekali apabila seseorang yang terkena pukulan bathin sedemikian rupa, tetapi tidak menangis atau meraung-raung, berarti memendam kemarahan dan kepedihannya dalam hati.
Tetapi kalau sudah tidak tertahankan, maka endapan emosi dalam dadanya langsung meluap keluar.
Seandainya hal itu sampai terjadi maka dapat dibayangkan bagaimana dahsyatnya, mungkin seperti gunung berapi yang meletus.
Paling tidak dia akan membunuh orang untuk melampiaskan kekesalan hatinya.
Sedangkan saat ini mereka justru sedang menghadapi pihak Lam Hay dan Si Yu yang akan menyerbu datang sore nanti, mereka sangat memerlukan bantuan orang yang mempunyai ilmu tinggi seperti Lok Hong.
Oleh karena itu, ketiga orangtua itu takut Lok Hong akan melakukan perbuatan yang bodoh karena perasaannya yang kelewat sedih.
Mereka malah tidak berani dekat-dekat dengan dirinya tetapi berdiri di sudut dan mengikuti perkembangan yang akan terjadi.
Tiba-tiba sepasang mata Lok Hong mengalirkan dua bulir air mata.
Sungguh mengenaskan keadaan orangtua tersebut.
Dia mendongakkan wajahnya mengeluarkan suara siulan yang panjang, sekonyong-konyong tubuhnya mencelat ke depan dan dalam sekejap mata dia sudah menghilang dari pandangan.
Yibun Siu San menarik nafas panjang-panjang.
"Anak Ki, kau benar-benar telah menimbulkan bencana..."
Wajah orangtua ini selalu ditutupi sehelai cadar hitam.
Tentu saja sulit melihat bagaimana mimik wajahnya saat itu.
Tetapi dari sorotan matanya, Tan Ki dapat melihat kepedihan yang tersirat di sana.
Diamdiam hatinya merasa tergetar...
re "Keponakan melukainya tanpa sengaja.
Dalam keadaan seperti tadi, perasaan hati hanya ingin mengadu jiwa karena orangtua itu terus-terusan mendesak.
Namun keponakan sungguh tidak menyangka akhirnya bisa seperti ini."
Yibun Siu San mendongakkan kepalanya sembari membentak.
"Dengan tindak tandukmu yang demikian ceroboh, mana pantas menjabat sebagai Bulim Bengcu. Apabila tiga ratusan jiwa yang ada di puncak bukit Tok Liong-hong ini diserahkan kepada dirimu, mungkin suatu hari nanti bisa menjadi korban karena keteledoranmu!"
Sebelumnya Tan Ki belum pernah melihat paman Yibunnya marah sedemikian rupa.
Untuk sesaat dia malah jadi termangu-mangu, kemudian kepalanya ditundukkan dalamdalam.
Dia tidak berani menyahut sepatah kata-pun.
Cian Cong mengeluarkan suara batuk-batuk kecil, kemudian terdengar dia menukas...
"Orangtua jangan mengumbar adat. Kakak beradik Cin Ying dan Cin Ie sudah mengejar si keras kepala itu. Apakah persoalan ini akan menjadi budi atau dendam, mungkin segera akan terlihat hasilnya."
Yibun Siu San menarik nafas panjang.
"Aku bukan takut menjadi perselisihan dengan Lok Hong. Tetapi justru memikirkan kekuatan pihak kita. Di hadapan mata sekarang, sebentar lagi akan terjadi hujan badai. Kita memerlukan orang yang mempunyai kepandaian tinggi seperti si tua bangka itu. Dengan demikian kedudukan kita lebih kokoh dari sekarang ini..."
Tiba-tiba seperti ada suatu ingatan yang melintas di benaknya, tampak dia menggeleng-gelengkan kepalanya dan membungkam seribu bahasa.
"Sekarang bukan waktu yang tepat untuk mendebatkan persoalan ini. Lebih baik kita mencari akal menyelamatkan orang-orang yang keracunan!"
Tukas Tian Bu Cu yang sejak tadi berdiri di sampingnya berdiam diri.
"Apa yang dikatakan oleh Totiang memang tepat sekali. Namun racun yang dimasukkan dalam arak ternyata adalah Coa-cio (cairan ular) meskipun kita tahu cara menyelamatkan mereka, namun dengan tidak adanya obat penawar, boleh dibilang sia-sia saja."
Begitu kata-katanya tercetus keluar, Tian Bu Cu dan Cian Cong saling lirik sekilas serta berdiam diri tanpa mengucapkan sepatah ka-tapun.
Suasana menjadi hening seketika, hati mereka sama-sama merasa tertekan.
Yibun Siu San menggapaikan tangannya kepada Tan Ki.
"Kau kembalilah ke kamar serta ajak Mei Ling untuk beristirahat. Biar aku yang mengurus masalah di sini. Tetapi kalau kau sampai berbuat yang tidak-tidak. Aku tidak segan-segan menghukum dirimu, mengerti?"
Tan Ki mengiakan dengan suara lirih kemudian meninggalkan tempat tersebut.
Sementara itu, si pengemis sakti Cian Cong memejamkan matanya sekian lama untuk merenung.
Beberapa saat kemudian mendadak dia membuka matanya kembali.
"Apabila ada sesuatu hal yang aneh terjadi, tentu ada sebab musababnya atau ada dalang yang melakukannya. Seandainya orang itu menyusup di dalam orang-orang kita, kemungkinan itu bisa saja terjadi. Apabila kita dapat meringkus orang itu, mungkin tidak sulit bagi kita mendapatkan obat penawar tersebut."
"Apakah kau sudah tahu siapa orang itu?"
Tanya Yibun Siu San. Sinar mata Cian Cong menyapu sekilas kepada Kiau Hun yang sedang memungut pedang pendeknya. Mulutnya tertawa ringan.
"Apa yang dipikirkan si pengemis tua hampir tidak berbeda dengan si bocah Tan Ki. Perempuan itu tiba-tiba saja mempunyai ilmu yang tinggi, lagipula jurus serangannya kebanyakan terdiri dari aliran sesat dan bukan dari daerah Tionggoan. Hal ini mencurigakan sekali. Tetapi apabila kita menuduhnya sebagai orang yang memasukkan racun, kita masih belum mempunyai bukti yang nyata. Tetapi dia memang tersangka utama..."
Yibun Siu San merenung sejenak.
"Ini..."
Cian Cong jadi panik melihat sikapnya.
"Tua bangka jangan ini itu lagi. Sekarang ini waktu sangat berharga. Menunda sampai siang nanti, kita harus merundingkan cara menghadapi pihak Lam Hay dan Si Yu yang akan melakukan penyerbuan. Saat itu kita tidak mempunyai waktu lagi meringkus perempuan ini."
Yibun Siu San menarik nafas panjang.
"Sikap Cian-heng seperti kuda liar yang lepas kendali. Apa-apa maunya terburu-buru saja. Hengte sendiri juga ingin menyelesaikan masalah ini secepatnya, juga ingin meringkus si penjahat itu. Tetapi..."
Dia menghentikan kata-katanya sejenak, kemudian baru melanjutkan kembali ucapannya.
"Keadaan sekarang ini tidak dapat disamakan dengan kemarin-kemarinnya. Kau dan aku tidak bisa sembarangan menurunkan perintah atau mengambil keputusan sendiri dalam suatu hal. Perlu kau ketahui bahwa Tan Ki baru saja menjabat kedudukan Bulim Bengcu. Meskipun kau dan aku merupakan angkatan tua baginya, tetapi tetap saja kita tidak boleh lancang menentukan apa-apa. Biar bagaimana harus mendapat persetujuan darinya, baru kita boleh bertindak. Dengan demikian kewibawaannya tidak jatuh di mata orang-orang lainnya."
Sepasang alis Cian Cong langsung berkerut mendengar ucapannya.
"Kalau ditilik dari ucapanmu, bagaimana kita harus menolong orang-orang yang keracunan? Seandainya tidak cepat-cepat mendapatkan obat penawar atau meringkus pelakunya, si pengemis tua tidak tahu lagi apa yang kau inginkan."
Sepasang mata Yibun Siu San yang bersorot tajam seperti sengaja juga tidak, melirik sekilas kepada Tian Bu Cu.
Rupanya orang-orang yang hadir di tempat itu merupakan tokoh-tokoh Bulim yang sudah berdiri di bawah kekuasaan Tan Ki.
Hanya Tian Bu Cu seoranglah yang tidak termasuk karena orangtua itu merupakan tokoh dari lima partai besar.
Hanya dia yang bukan termasuk anggota Perkumpulan Ikat Pinggang Merah.
Apabila ingin meringkus pelaku kejahatan tersebut, hanya dia seorang pula yang paling cocok melaksanakan tugas tersebut.
Tetapi bagaimanapun orangtua itu merupakan tamu terhormat, tentu saja Yibun Siu San merasa tidak enak hati memintanya melakukan hal tersebut.
Oleh karena itu, dia terpaksa menyatakan maksudnya dengan lirikan mata yang mengandung makna tertentu.
Mata Tian Bu Cu sangat tajam.
Memangnya dia tidak mengerti maksud Yibun Siu San.
Hatinya merasa tidak enak menolak.
Oleh karena itu dia segera mengembangkan seulas senyuman.
"Nyawa manusia lebih penting daripada segalanya, hal ini Pinto maklum sekali. Maaf kalau Pinto terpaksa mengunjukkan ilmu yang buruk."
Sembari berkata, tiba-tiba dia membalikkan tubuhnya.
Gerakannya seperti awan yang berarak melesat ke arah Kiau Hun.
Kiau Hun melihat jubah orangtua itu berkibar-kibar dan menerjang datang ke arahnya.
Diam-diam hatinya menjadi tercekat.
"Apa yang ingin kau lakukan?"
Tian Bu Cu tertawa sumbang.
"Hati-hati menyambut beberapa jurus serangan Pinto!"
Katanya.
Jubah tosunya dikibaskan, segera terasa ada serangkum angin yang kencang melanda datang ke arah Kiau Hun.
BAGIAN L Baru saja Kiau Hun menggerakkan pedangnya untuk menangkis, tahu-tahu serangan Tian Bu Cu sudah ditarik kembali.
Rupanya baru saja dia melancarkan serangan, sekonyong-konyong dia mengingat bahwa dirinya merupakan seorang angkatan tua di dunia Bulim sehingga rasanya tidak pantas melancarkan serangan terlebih dahulu kepada seorang gadis dari generasi muda.
Oleh karena itu, di tengah jalan dia menarik kembali serangan yang telah dilancarkannya.
Kiau Hun justru menggunakan kesempatan itu baik-baik.
Pedang pendeknya digetarkan, sehingga menimbulkan cahaya seperti pelangi.
Dengan kecepatan yang tidak terkirakan dia segera mengirimkan sebuah tikaman ke depan.
Serangan itu tampaknya biasa-biasa saja dan tidak terlihat keistimewaan sedikitpun, tetapi gerakannya begitu cepat dan pedangnya memancarkan hawa dingin yang menusuk.
Begitu dilancarkan timbul suara mendengung-dengung seperti ada sekelompok lebah yang terbang memenuhi tempat tersebut.
Hal ini membuktikan bahwa jurus yang digunakannya benar-benar tidak dapat dianggap enteng.
Selama ini Tian Bu Cu mengasingkan diri di Yang Sim An.
Waktunya kebanyakan dihabiskan dengan bersemedi.
Oleh karena itu, boleh dibilang lebih dari separuh hidupnya dia jarang bertarung dengan orang.
Tetapi karena keadaan yang mendesak di mana ada tiga puluhan orang lebih yang keracunan hebat, maka mau tidak mau dia harus turun tangan.
Apalagi masalah ini menyangkut ketentraman dunia Bulim di masa yang akan datang.
Belum lagi sore nanti pihak Lam Hay dan Si Yu akan menyerbu tempat tersebut.
Dalam keadaan terpaksa, dia menawarkan diri meringkus orang pertama yang dicurigai.
Melihat serangan Kiau Hun begitu gencar dan mengandung kekejian, hati tosu tua ini merasa tidak senang.
Masih begitu muda saja sudah berwatak demikian licik dan jahat, apalagi kalau usianya sudah lanjut dan ilmunya jauh lebih tinggi dari sekarang ini.
Oleh karena itu, terdengar dia menyebutkan pembukaan doa agama To kemudian mencelat mundur sejauh enam langkah.
Kiau Hun membentak nyaring, pedangnya digetarkan kemudian mengejar ke depan.
Ketika tangannya bergerak, cahaya berwarna hijau langsung tampak memijar, persis seperti sinar mentari yang baru terbit di ufuk timur, cahayanya memenuhi sekitar tempat itu dan bagai titik hujan yang jatuh dari langit.
Sepasang lengan Tian Bu Cu direntangkan, seperti seekor walet yang ketakutan dia mencelat ke samping sejauh lima enam langkah.
Kiau Hun melihat orangtua itu menghindarkan serangannya berkali-kali, diam-diam hatinya merasa heran.
Kalau ditilik dari namanya yang sudah menggetarkan kolong langit, tidak semestinya dia terus mengundurkan diri seperti sekarang ini.
Pikirannya tergerak, kembali dia melancarkan sebuah serangan.
Tampak Tian Bu Cu tetap tenang-tenang saja.
Bibirnya malah menyunggingkan seulas senyuman.
Ketika pedang Kiau Hun sudah meluncur ke arahnya dan tinggal jarak setengah meter, dan tidak mungkin bisa merubah jurusnya lagi, tiba-tiba lengan kirinya bergerak dengan kecepatan kilat dan mengibas ke depan.
Kiau Hun merasa seperti ada serangkum tenaga tidak berwujud yang menahan ketika serangan pedangnya meluncur ke depan.
Bukan saja dia tidak sanggup meneruskan serangannya tetapi menariknya kembali pun sulit.
Hatinya terkejut bukan kepalang.
Justru ketika otaknya berputar mencari jalan keluar, tahu-tahu pundaknya terasa kesemutan, seluruh tenaga dalamnya lenyap seketika.
Setelah mengeluarkan suara keluhan, tubuhnya terkulai di atas tanah.
Terdengar suara berden-tangan, ternyata pedang pendeknya juga terlepas jatuh.
Melihat keadaan itu, Yibun Siu San dan si pengemis sakti Cian Cong segera menghambur datang.
Dia segera menjura dalam-dalam sambil berkata.
"Atas bantuan Totiang meringkus perempuan ini, cayhe mengucapkan banyak terima kasih."
Tian Bu Cu cepat-cepat membalas penghormatannya dengan rendah diri.
"Jangan sungkan terhadap orang sendiri."
Sahutnya.
Semua kejadian ini tidak terlepas dari pandangan mata Oey Ku Kiong.
Hatinya tercekat sekali.
Tanpa sadar dia langsung berdiri dari tempat duduknya.
Namun sekejap kemudian tampak dia duduk kembali seperti tidak merasakan apapun.
Anak muda ini mencintai Kiau Hun sejak lama.
Melihat perempuan itu berhasil diringkus, dia merasa terkejut sekali sehingga wajahnya langsung berubah.
Hampir saja dia berpikir untuk menerjang ke depan dan mengadu jiwa untuk menolongnya.
Tetapi biar bagaimana dia merupakan seorang manusia yang cerdas.
Begitu memperhatikan sejenak, dia langsung sadar bahwa situasi saat itu sangat tidak menguntungkan dirinya.
Dengan kekuatannya seorang diri, sudah pasti bukan tandingan ketiga orang Cianpwe tersebut.
Jangan kata menolong Kiau Hun, bisa-bisa selembar nyawanya terbuang secara percuma.
Begitu pikirannya tergerak, dia segera duduk kembali dan mengikuti perkembangan selanjutnya sambil mencari akal menolong Kiau Hun.
m Tiba-tiba telinganya mendengar suara langkah kaki yang mendatangi.
Begitu pandangan matanya dialihkan, tampak Liang Fu Yong berlari datang dengan langkah tergesa-gesa.
Tampaknya ada suatu masalah yang sedang menggelayuti hatinya sehingga tampangnya begitu gugup dan wajahnya penuh dengan keringat.
"Ada apa?"
Tanya Tian Bu Cu.
Wajah Liang Fu Yong tampak merah padam.
Keringat membasahi keningnya dan masih terus menetes turun.
Tetapi setelah mendengar pertanyaan Tian Bu Cu, dia malah menggelengkan kepalanya dan tidak menyahut sepatah katapun.
Tampaknya Tian Bu Cu melihat sesuatu pada dirinya.
Sepasang matanya menyorotkan sinar yang tajam serta dingin.
Dia memandang Liang Fu Yong lekat-lekat.
Tiba-tiba alisnya yang panjang mengerut ketat, dia seakan ingin mengajukan pertanyaan tetapi akhirnya ditahan.
Namun melihat tampangnya, hati Liang Fu Yong sudah berdebar-debar tidak karuan.
Rupanya ketika Yibun Siu San menyuruh Tan Ki mengajak Mei Ling kembali ke kamar untuk beristirahat, dia juga ikut serta.
Kamar tidur yang disediakan untuknya memang bersebelahan dengan kamar Tan Ki dan Mei Ling.
Pada dasarnya Mei Ling memang istri resmi Tan Ki, sedangkan dirinya hanya dijanjikan oleh Tan Ki kelak akan diangkat menjadi selir.
Tentu saja janji semacam ini hanya dinyatakan dengan ucapan saja.
Melihat sepasang suami istri itu masuk ke dalam kamar, terpaksa dia kembali ke kamarnya sendiri untuk beristirahat.
Tadinya dia ingin tidur sampai puas.
Rasanya kelelahan selama beberapa hari itu ingin dihilangkannya dengan tidur yang panjang.
Tetapi entah mengapa, meskipun dia telah bergulingan ke sana ke mari sekian lama, tetap saja matanya tidak mau dipejamkan.
Tiba-tiba telinganya mendengar suara tawa sepasang laki-laki dan perempuan.
Hatinya menjadi tergerak.
Perasaan ingin tahunya terbangkit seketika.
Setelah mendengarkan dengan seksama, dia baru sadar bahwa suara tertawa itu terpancar dari kamar sebelah di mana Tan Ki dan Mei Ling beristirahat.
Biar bagaimana Liang Fu Yong pernah menempuh kehidupan sebagai wanita jalang yang tiap malam mencari seorang laki-laki untuk menemaninya.
Bahkan dia mendapat julukan Siau Yau Sian-li karena hal ini juga.
Kemudian dia diberi nasehat oleh Tan Ki yang akhirnya membuatnya berniat merubah kelakuannya serta menjadi orang baik-baik.
Akhirnya dia malah diterima sebagai murid tidak resmi oleh Tian Bu Cu yang maha sakti.
Tanpa menyayangkan hawa murni dalam tubuhnya yang terkuras banyak, dalam waktu semalaman dia merubah Liang Fu Yong menjadi seorang tokoh berilmu tinggi.
Namun manusia mempunyai watak yang dibawa sejak lahir, pepatah mengatakan "Gunung bisa dirubuhkan, namun hati manusia sulit dirubah".
Begitulah keadaan Liang Fu Yong, dari seorang perempuan jalang tiba-tiba dia berubah jadi orang baik-baik.
Meskipun hari demi hari dilaluinya tanpa menemui kesulitan sedikitpun, tetapi kenangan masa lalunya sering terbayang di depan pelupuk mata.
Pada malam hari dia sering merasa kesepian.
Seperti sekarang ini, hatinya sedang merasa tertekan dan gundah, tiba-tiba telinganya menangkap suara cekikikan sepasang suami isteri.
Otomatis pikirannya melayang ke hal yang satu itu.
Suara itu hanya terdengar dalam waktu sekejap, kemudian ruangan sebelahnya kembali sunyi senyap dan mencekam.
Di depan pelupuk mata Liang Fu Yong seakan melintas berpuluh-puluh pasangan laki-laki dan perempuan dalam keadaan telanjang bulat.
Bayangan yang tidak-tidak saat itu memenuhi seluruh benaknya.
Sesaat kemudian, dia merasa seluruh tubuhnya jadi panas membara.
Gairah dalam dadanya terbangkit.
Seluruh tubuhnya gemetar hebat dan dengan keadaan hampir tidak dapat menahan diri, dia melonjak bangun dari tempat tidurnya.
Bayangan masa lalu kembali menggelayuti pikirannya.
Saat ini dia tidak sanggup lagi mengerahkan lwekangnya untuk menahan hawa nafsu yang berkobar-kobar.
Pandangan matanya beredar ke sekeliling, begitu sepinya keadaan dirinya seakan di dalam dunia ini hanya ada dirinya seorang yang masih hidup.
Segulung harapan yang besar menutupi kesadarannya, pikirannya mulai kacau.
Dia hanya tahu bahwa dirinya saat ini hanyalah seorang perempuan yang kesepian!
Apabila di dalam kamar itu ada seorang laki-laki, tidak perduli tua atau muda, mungkin dia langsung menerjang orang itu untuk menghilangkan rasa dahaga dalam hatinya...
Meskipun dia telah bertekad untuk merubah dirinya menjadi orang baik-baik, tetapi pada dasarnya bakat jalang di dalam dadanya masih sering bergejolak dengan kuat.
Sebelumnya dia bergolek di atas tempat tidur dengan gelisah.
Begitu melonjak bangun, tanpa memperdulikan apa-apa lagi, dia langsung melesat keluar dari kamarnya bagai seekor kelinci yang tidak mempunyai pikiran.
Begitu pandangan matanya dialihkan, dia melihat seorang bocah laki-laki berusia kurang lebih empat belas tahunan sedang berjalan ke arahnya.
Tampaknya bocah itu bekerja sebagai pelayan yang menghantarkan hidangan atau arak bagi para tamu.
Saat itu tangannya membawa sebuah nampan dengan dua mangkok bubur di atasnya yang masih mengepulkan asap.
Rupanya dia hendak mengantarkan makanan untuk Tan Ki dan istrinya.
Di pelupuk mata Liang Fu Yong terbayang langsung hal yang romantis.
Tiba-tiba dia menggertakkan giginya erat-erat dan melancarkan sebuah totokan ke arah punggung bocah itu.
Dalam waktu yang bersamaan tangannya yang sebelah lagi langsung menyambut nampan yang hampir terlepas dari tangan bocah tersebut.
Mungkin bocah itu mimpipun tidak menyangka kalau Liang Fu Yong tiba-tiba akan menyerangnya.
Tiba-tiba dia merasa bagian punggungnya kesemutan dan tidak sadarkan diri terkulai di atas tanah.
Sebelah tangan Liang Fu Yong langsung terulur meraih tubuhnya yang hampir jatuh.
Dia segera memondong tubuh bocah tersebut.
Dia takut timbul suara yang akan mengejutkan Tan Ki yang mempunyai pendengaran tajam.
Baik melancarkan totokan, menyambut nampan maupun meraih tubuh si bocah, semuanya dilakukan dengan hatihati.
Perlahan-lahan dia meletakkan nampan tadi di sebuah bangku rotan yang terdapat di ujung koridor.
Kemudian sepasang kakinya menutul dan dengan gerakan ringan dia membawa bocah tersebut meninggalkan tempat itu.
Sekali loncat saja, jaraknya mencapai tiga de-paan.
Dalam waktu sekejap mata dia sudah sampai di taman bunga.
Harum bunga semerbak terendus seiring dengan hembusan angin.
Setelah memperhatikan sekelilingnya, Liang Fu Yong baru merebahkan bocah itu di balik sebuah gunung-gunungan yang dibuat sebagai dekorasi taman tersebut.
Dia tahu saat ini para hadirin sedang berkumpul di ruang pertemuan.
Sedangkan sebagian yang lainnya dikumpulkan dekat ruang peristirahatan karena terkena racun ganas.
Dalam waktu yang singkat tidak mungkin ada orang yang muncul di taman bunga ini.
Perlahan-lahan dia meletakkan bocah itu di atas tanah.
Sepasang matanya yang jeli menatap bocah itu lekat-lekat.
Seakan sedang menilai setiap lekuk tubuh dan wajah anak tersebut.
Perlu diketahui bahwa orang-orang zaman itu rata-rata bertubuh tinggi besar.
Meskipun pelayan itu baru berusia empat belas tahunan, tetapi karena tubuhnya yang bongsor, dia jadi terlihat lebih tua dari usia yang sebenarnya.
Apalagi wajahnya yang demikian putih bersih.
Benar-benar membuat orang yang melihatnya merasa gemas.
Jalan darahnya ditotok oleh Liang Fu Yong, dengan demikian kesadarannya hilang.
Dalam sekejap mata saja, pakaiannya sudah dibuka oleh gadis itu.
Bentuk tubuhnya kekar, wajahnya yang terlelap dalam tidur sungguh manis dipandang.
Liang Fu Yong yang memandangnya sampai merasa tegang.
Keringatnya bercucuran.
Tangannya gemetar dan gairah dalam dadanya meluap-luap.
Semacam perasaan yang aneh membaur dalam hatinya.
Sekian lama dia memandangi bocah itu dengan termangu-mangu.
Tiba-tiba dia melonjak bangun dan menindih tubuh anak itu.
Kulit mereka saling bersentuhan.
Dia merasa seperti ada aliran semacam kilat yang menyambar dirinya.
Sekonyong-konyong tubuhnya menggigil dan pikirannya menjadi agak sadar.
Dia langsung melonjak bangun.
Liang Fu Yong mengangkat tangannya dan menepuk kepalanya sendiri.
Mulutnya menggumam seorang diri.
"Mengapa aku demikian rendah? Bukankah aku bisa mencelakai seorang anak yang baru tumbuh dewasa? Setelah mendapat nasehat dari adik Ki dan menerima warisan dari suhu, ternyata aku masih belum berubah juga... Ya Tuhan, apakah aku Liang Fu Yong sejak lahir memang telah ditakdirkan menjadi perempuan jalang?"
Air mata yang sebesar kacang kedelai terus menetes membasahi pipinya.
Dia merasa apapun yang ada di hadapannya menjadi samar-samar.
Tanpa sadar dia teringat setengah bulan yang lalu sempat mengorbankan diri demi Tan Ki di taman bunga keluarga Liu.
Mengingat ketampanan dan kegagahan anak muda itu, hatinya kembali tergetar.
Dia merasa bingung dengan keadaannya sendiri.
Padahal dia sempat tersadar dan bertekad untuk berubah.
Mengapa di saat seperti ini, hampir saja dia tidak dapat menahan diri dan melakukan hal yang rendah itu?
Dengan demikian, pikirannya kembali melayang ke masa di mana dia bertualang mencari kesenangan setiap malam.
Perbuatannya begitu rendah.
Meskipun di saat menjalankannya dia sempat mendapatkan kepuasan lahiriah, tetapi setelah semuanya berlalu, dia tetap merasa jiwanya kosong melompong.
Dia malah merasa begitu kesepian seakan dia tidak pernah mempunyai siapa-siapa di dunia ini.
Apabila saat ini dia tidak bisa mengendalikan hasrat dalam hatinya dan tetap melakukan perbuatan yang rendah itu, setelah bocah itu tersadar, tentu seluruh bukit itu akan gempar mendengar perbuatannya.
Namun, haruskah demi kesenangan sekejap, dia musti membunuh anak yang tidak berdosa itu agar tidak membuka mulut?
Semakin dipikirkan, Liang Fu Yong semakin bimbang.
Semakin lama perasaannya juga semakin takut.
Untuk sesaat benci dan menyesal berbaur menjadi satu dalam hatinya.
Dia benci kepada dirinya sendiri yang masih belum berubah juga.
Di samping itu dia juga menyesali apa yang hampir dilakukannya.
Tiba-tiba tangannya diangkat ke atas kemudian dia menempeleng pipinya sendiri keras-keras.
Angin bertiup semilir, air matanya yang mengandung penyesalan tidak terkatakan terus mengalir membasahi pakaiannya.
Dia juga menghentakkan kakinya di atas tanah dengan kesal.
Setelah menangis beberapa saat, cepat-cepat dia mengenakan kembali pakaian si pelayan cilik itu.
Kemudian kakinya menendang membuka totokan pada jalan darahnya, dalam waktu yang hampir bersamaan, tubuhnya berkelebat pergi secepat kilat.
Meskipun pikirannya sudah sadar kembaji, tetapi untuk sesaat dia masih merasa bingung menentukan arah yang harus ditujunya.
Hatinya juga merasa agak berat seakan baru saja kehilangan suatu benda yang disukainya.
Dengan perasaan hati yang galau, tanpa sadar dia kembali lagi ke kamarnya sendiri.
Tetapi dia seperti menghindarkan diri dari sesuatu sehingga kamarnya sendiri pun tidak berani dimasukinya.
Tanpa tujuan yang pasti dia meneruskan langkah kakinya.
Ketika dia melewati kamar Tan Ki, tiba-tiba terdengar suara bisikan yang mesra, tidak syak lagi sepasang suami isteri itu sedang bersenda gurau dengan gembira.
Hatinya kembali tergetar.
Tiba-tiba saja dia mempercepat langkahnya dan lari meninggalkan tempat itu.
Beberapa saat kemudian, dia sudah sampai di ruang pertemuan.
Meskipun telah lewat beberapa waktu, tetapi wajahnya masih merah padam.
Tentu saja Tian Bu Cu tidak tahu bahwa dia tadi sempat pergi kemudian kembali lagi, sedangkan keadaannya sudah berubah banyak.
Tetapi dia merupakan seorang tokoh yang sakti.
Sejak melihat sepasang alis Liang Fu Yong yang menunjukkan kegairahan yang berkobar-kobar, dia langsung tahu bahwa perempuan itu sedang terbangkit nafsu birahinya.
Namun wajah Liang Fu Yong yang menyiratkan ketakutan dalam itu justru membuatnya bingung apa yang telah terjadi.
Sepasang matanya yang menyorotkan sinar tajam terus memandang diri Liang Fu Yong lekat-lekat.
Melihat tampangnya yang berwibawa itu, jantung Liang Fu Yong semakin berdebardebar.
Perasaannya menjadi tidak tenang seperti orang yang menunggu jatuhnya hukuman.
Tiba-tiba terdengar Yibun Siu San berkata.
"Harap Totiang mengajak muridmu itu kembali ke kamar. Sore nanti kita akan menguras banyak tenaga menghadapi golongan Lam Hay dan Si Yu. Setidaknya kita perlu istirahat yang cukup agar semangat dapat terjaga."
Tian Bu Cu merangkapkan sepasang tangannya memberi salam.
Kemudian dia membalikkan tubuh meninggalkan tempat itu.
Justru karena perkataan Yibun Siu San, Liang Fu Yong seakan terlepas dari intaian mata Tian Bu Cu yang tajam.
Cepat-cepat dia mengikuti di belakang suhunya pergi secepat kilat.
Cian Cong menatap bayangan punggung kedua orang itu sampai menghilang di kejauhan.
Kemudian dia berkata dengan suara lirih.
"Tua bangka, bagaimana caranya mengurus perempuan ini?"
Sembari bertanya, tangannya menunjuk kepada Kiau Hun.
"Sikap perempuan ini tenang sekali. Meskipun sudah terjatuh ke tangan kita, tetapi dia bukan orang yang mudah dihadapi. Apalagi dia seorang perempuan, tentu tidak pantas apabila kau atau aku menggeledah tubuhnya. Oleh karena itu, aku rasa sebaiknya kita serahkan saja kepada Ciu Cang Po. Pokoknya dengan cara lembut atau keras, kita harus berhasil mengetahui di mana dia menyimpan obat penawar racun itu. Ini merupakan satusatunya jalan apabila kita ingin menolong orang secepatnya."
Cian Cong langsung tertawa lebar mendengar ucapannya.
"Akal yang bagus!"
Katanya sembari berjalan ke arah Ciu Cang Po yang sedang memejamkan matanya mengatur pernafasan.
Sejak jalan darahnya tertotok oleh Tian Bu Cu, Kiau Hun segera memejamkan matanya dan mendengarkan pembicaraan orang-orang itu dengan seksama.
Sikapnya begitu tenang dan sejak awal hingga akhir dia tidak mengucapkan sepatah katapun.
Dia bukan saja tidak memperlihatkan tampang ketakutan, bahkan seakan tidak ambil perduli tentang mati hidupnya sendiri.
Yibun Siu San dapat merasakan gadis itu sudah mengambil keputusan untuk tidak memperdulikan mati hidupnya sendiri.
Diam-diam dia merasa kagum sekali.
"Tampangnya yang wajar dan tenang membuat orang tidak menduga bahwa dia sudah bertekad menunggu datangnya malaikat el-maut. Meskipun seorang tokoh berilmu tinggi atau pendekar yang gagah perkasa, biasanya juga merasa gentar apabila tahu dirinya akan mendapat hukuman mati. Rasanya tidak mungkin ada yang sanggup memperlihatkan ketenangan seperti gadis ini."
Pikirnya dalam hati.
Sesaat kemudian dia memanggil orang-orang yang tidak keracunan untuk mengangkat mayat-mayat yang berserakan untuk dikuburkan secara layak.
Sementara itu, dia mengambil beberapa macam obat untuk menahan kerjanya racun agar jangan sampai menyebar ke jantung.
Kurang lebih memakan waktu dua kentungan, semuanya baru berhasil dibersihkan dan keadaan di tempat itu menjadi pulih kembali seperti sedia kala.
Tidak lama kemudian, kurang lebih dua puluh lebih tokoh-tokoh yang memegang peranan penting dan sebagian lagi yang belum keracunan, termasuk Ceng Lain Hong dan Oey Ku Kiong berkumpul lagi di ruang pertemuan.
Si pengemis cilik beserta rombongannya dari angkatan muda tetap berdiri di belakang para Cianpwe masing-masing.
Tampak wajah mereka serius sekali bahkan menyiratkan ketegangan yang tidak terkatakan.
Mereka seperti sedang menunggu suatu peristiwa besar yang akan terjadi sebentar lagi.
Suasana di dalam ruangan itu menjadi demikian hening.
Dua puluh lebih tokoh kelas tinggi dunia Bulim duduk di tempat masing-masing dengan wajah kelam.
Tampaknya mereka merasa gelisah menunggu kehadiran Bengcu mereka.
Kurang lebih sepeminuman teh kemudian, terdengar suara langkah kaki mendatangi.
Rupanya Tan Ki dan Mei Ling yang masuk ke dalam ruangan itu.
Pada jarak lima langkah dari meja bundar di depan, tiba-tiba Tan Ki menghentikan langkah kakinya, namun Mei Ling tetap berjalan terus ke depan.
Setelah mengitari sebuah meja, istrinya itu berdiri di belakang Ceng Lam Hong.
Sepasang matanya yang indah terus dipusatkan pada diri Tan Ki.
Hatinya sadar, meskipun Tan Ki sudah meraih kedudukan Bulim Bengcu tetapi dia masih harus melewati dua ujian lainnya, yakni kebijaksanaannya dalam memutuskan suatu persoalan dan kecerdasan otaknya berpikir.
Dengan demikian dia baru dinobatkan sebagai Bulim yang resmi.
Ujian-ujian ini mengandalkan daya pikir yang sempurna, tapi tampaknya Mei Ling mempunyai keyakinan yang besar terhadap suaminya itu.
Biar bagaimana sulitnya persoalan yang diajukan nanti, Tan Ki pasti berhasil lulus dengan mudah.
Oleh karena itu, mimik wajahnya tidak menunjukkan kepanikan sama sekali.
Dia malah mengembangkan senyuman yang manis dan gayanya santai.
Terdengar suara Yibun Siu San yang berkata dengan nada rendah...
"Dengan usiamu yang begitu muda, kau berhasil mengalahkan sejumlah tokoh-tokoh kelas satu di dunia Bulim dan berhasil merebut kedudukan Bulim Bengcu. Oleh karena itu orang-orang gagah yang hadir di puncak bukit Tok Liong-hong ini merasa kagum sekali dengan ilmu pedangmu. Tetapi setelah aku perhatikan sepanjang hari, caramu menangani persoalan terlalu ceroboh. Begitu menghadapi suatu masalah, kau tidak mempertimbangkan segalanya dengan matang dan tidak menggunakan cara yang baik untuk menyelesaikannya. Apabila membiarkan kau menjabat kedudukan penting ini dan menyerahkan tanggung jawab yang besar terhadap dunia Bulim, mungkin akibat perbuatanmu malah ribuan nyawa bisa menjadi korban. Apabila setiap tindak-tanduk yang kau ambil tidak memakai akal sehat dalam menjalaninya, apakah kau dapat membayangkan bencana apa yang akan terjadi?"
Tan Ki menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dia menyahut tidak tahu.
Hatinya malah diam-diam merasa heran.
Biasanya paman Yi-bun justru khawatir kalau aku tidak berhasil merebut kedudukan Bulim Bengcu, mengapa hari ini terus-terusan mempersalahkan dirinya.
Apabila dia bukan melakukannya dengan sengaja, Tan Ki benar-benar tidak mengerti apa alasannya...
Baru saja pikirannya tergerak, tiba-tiba terdengar kembali suara Yibun Siu San...
"Demi kelangsungan hidup dunia Bulim kita yang akan datang, terpaksa aku menguji kebijaksanaanmu dalam menyelesaikan persoalan. Tetapi dalam bidang yang satu ini, Kok Hua Hong dan Ciong San Suarig Siu ketiga Cianpwe menjamin bahwa kau dapat melewatinya dengan mudah. Aku juga menceritakan bagaimana kau melawan dua laki-laki dan perempuan bercadar di dalam goa. Oleh karena itu mereka setuju untuk tidak menguji kebijaksanaanmu..."
Mata Tan Ki mengesar ke sekeliling ruangan, kemudian mengembangkan seulas senyuman.
"Mengenai kecerdasan pikiran, harap Siok-siok ungkapkan saja biar keponakan mencobanya. Meskipun keponakanmu ini orang yang bodoh, tetapi ingin juga mencoba peruntungan, siapa tahu Thian yang kuasa memberikan bantuan-Nya."
"Tadinya aku sudah mempersiapkan dua persoalan mengenai kebijaksanaan dan kecerdasan otak. Tetapi agar tidak dianggap memilih kasih, aku merundingkannya terlebih dahulu dengan Tian Bu Cu, Lok Hong dan Cian Cong Locianpwe bertiga. Akhirnya kami mengambil keputusan untuk tidak menguji kebijaksanaanmu lagi. Namun kecerdasan otak, biar bagaimanapun kau harus berusaha melaluinya."
"Apabila keponakan tidak sanggup menjawabnya dengan baik, apa yang akan terjadi?"
Tanya Tan Ki.
"Mengikuti perkembangan dan mengambil keputusan secepatnya setiap kali menghadapi masalah, merupakan tindak-tanduk orang yang bijak. Apabila kau tidak sanggup melakukannya, hal ini bukan menyangkut dirimu saja, tetapi kesejahteraan seluruh Bulim. Seandainya kau gagal dalam ujian ini, terpaksa kami memilih Bulim Bengcu yang lain."
Kata-katanya yang terakhir diucapkan dengan tegas.
Hati orang-orang yang hadir dalam ruangan itu sampai ikut tergetar.
Semua menolehkan kepalanya melirik sejenak ke arah Yibun Siu San.
Tetapi karena wajah orang itu selalu ditutupi sehelai cadar, maka orang-orang tidak dapat melihat bagaimana mimik perasaannya saat itu.
Tan Ki segera menjura dengan penuh hormat.
"Harap Siok-siok uraikan."
"Kau harus mendengarkannya baik-baik! Aku hanya mengucapkannya satu kali saja dan tidak akan mengulanginya kembali!"
"Aku mengerti!"
"Baik. Dengarkanlah. Beberapa hari yang lalu, ada seorang kakek penjual telur melewati kota Tiang An. Tangan kanannya menjinjing sebuah keranjang sayur, entah berapa banyak telur yang terisi di dalamnya. Kebetulan dia bertemu dengan seorang nyonya muda. Perempuan itu membeli sebagian telurnya dan setengah butirnya lagi. Tidak berapa lama kemudian dia bertemu lagi dengan seorang pelayan keluarga hartawan yang kemudian membeli telurnya sebagian dan setengah butirnya lagi. Terakhir kembali ada seorang tukang masak, orang itu juga membeli sebagian telurnya ditambah setengah butir lagi. Sekarang coba kau tebak berapa butir jumlah telur yang ada dalam keranjang kakek itu?"
Sepasang alis Tan Ki langsung berkerut mendengarnya. Dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Orang jual telur mana ada yang hanya setengah butir?"
Yibun Siu San tersenyum simpul.
"Anehnya justru terletak di bagian ini. Si kakek tua itu secara berturut-turut menjual telurnya sebanyak tiga kali. Setiap kali dia menjual sebagian dan setengah butirnya lagi. Kebetulan semuanya habis terjual."
Orang-orang gagah yang mendengar ucapannya, diam-diam menggunakan hitungan langit, bumi, manusia dan tumbuhan yang biasa terdapat dalam kitab-kitab zaman itu.
Setelah menghitung beberapa saat, tetap saja menemukan kesulitan.
Mereka merasa pertanyaan itu tidak terlampau sulit didengarnya, namun ternyata tidak mudah dipecahkan.
Sebetulnya merupakan sebuah soal yang tidak dapat dihitung dengan rumus biasa.
Suasana semakin lama semakin menegangkan.
Mereka menunggu dengan hati berdebar-debar.
Kurang lebih sepeminuman teh kemudian, sepasang mata Tan Ki yang tadinya terpejam merenung, tiba-tiba membuka kembali.
"Kalau menghitung telur, tidak mungkin ada setengah butir. Tampaknya di balik soal ini terselip sesuatu..."
Sekonyong-konyong dia mengulurkan tangannya menepuk kepalanya sendiri.
Kata-katanya pun terputus.
Rupanya saat itu, tiba-tiba suatu ilham muncul di benaknya.
Matanya terpejam kembali.
Dengan hati-hati dia mengingat-ingat dalam hatinya.
Sesaat kemudian tampak dia membuka matanya kembali dengan bibir mengembangkan seulas senyuman.
"Apabila ingin memecahkan soal ini, maka kita harus menghitungnya dengan rumus jari tangan, yakni mulai dari angka satu."
Yibun Siu San tertawa lebar mendengar ucapannya.
"Dengan demikian berarti kau sudah tahu rahasia soal ini."
Begitu kata-katanya diucapkan, semua orang yang hadir di tempat itu lantas memusatkan perhatian mereka pada diri Tan Ki. Tiba-tiba terdengar suara teriakan Tan Ki...
"Aku berhasil menghitungnya! Jumlah telur yang ada dalam keranjang si kakek tua itu semuanya ada tujuh butir!"
"Bagaimana kau bisa mengatakan bahwa jumlahnya ada tujuh butir?"
Wajah Tan Ki merah jengah, dengan malu-malu dia menjawab pertanyaan Yibun Siu San.
"Jawaban dari soal ini perlu dimengerti secara mendalam. Tidak mudah diuraikan dengan kata-kata. Apabila Siok-siok menanyakan bagaimana keponakan dapat mengetahuinya, mungkin tidak mudah menerangkannya secara jelas."
"Jawabannya sudah benar, tetapi coba kau terangkan dengan cara..."
Baru saja mengucapkan beberapa patah kata, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendatangi.
Dengan demikian kata-katanya jadi terhenti.
Begitu pandangan mata dialihkan, dia melihat seorang laki-laki kekar yang dikenalnya sebagai salah seorang penjaga di depan masuk ke dalam dengan tergesa-gesa.
Pada jarak lima langkah dari tempat Tan Ki, dia segera menghentikan langkah kakinya.
Tubuhnya membungkuk dalam-dalam memberi hormat.
"Sute dari Kaucu Pet Kut Kau mohon bertemu di luar."
Mendengar laporannya, wajah orang-orang yang hadir dalam ruangan itu langsung berubah.
Mereka saling lirik kemudian berbisik-bisik antara rekan masing-masing.
Sepasang alis Yibun Siu San langsung berkerut ketat.
"Persilahkan dia masuk!"
Katanya. Selesai berkata, dia langsung berdiri. Kemudian dia menyodorkan tempat duduknya untuk Tan Ki dan tersenyum.
"Kau dapat menjawab soal tadi dengan baik, maka orang-orang yang hadir di sini juga merasa puas telah memilih kau sebagai Bulim Bengcu. Harap mulai sekarang ini, dalam menangani masalah apapun kau harus menggunakan akal sehat. Jangan memilih kasih, serta tegas dalam memberikan hadiah maupun hukuman. Jangan sampai menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan oleh saudara-saudara kita."
Tan Ki segera menjawab dengan sopan.
"Anak Ki mempersembahkan diri ini untuk dunia Bulim. Rela berkorban jiwa dan raga demi kelangsungan dunia Bulim. Apalagi dalam menghadapi pihak Lam Hay maupun Si Yu. Anak Ki rela berkorban apapun asal mereka dapat terusir pulang ke negaranya sendiri!"
Yibun Siu San langsung tertawa lebar mendengar perkataannya.
"Sekarang Kim Yu datang menemui kita sebagai wali dari pihak Lam Hay. Ini merupakan pertama kalinya kau bertemu muka dengan orang ini sebagai seorang pimpinan. Kami semua ingin melihat bagaimana kau menghadapinya."
Baru saja ucapannya selesai, tampak seorang laki-laki bertubuh kurus dan berpakaian putih masuk ke dalam ruangan diiringi seorang pelayan tua.
Tan Ki segera mengenali orang tersebut sebagai adik seperguruan dari Kaucu Pek Kut Kau yang bernama Kim Yu.
Tampak sepasang tangannya memegang sehelai kartu seperti undangan yang berukuran besar.
Kepalanya tertunduk, namun langkah kakinya cepat sekali.
Dalam sekejap mata dia sudah berhenti pada jarak tiga langkah dari tempat Tan Ki.
Tan Ki melihat jubahnya berkibar-kibar seakan tidak membawa senjata apapun.
Dia segera mengembangkan seulas senyuman.
"Kambing masuk ke dalam goa harimau, apakah tidak takut mendapat hinaan?"
Sepasang mata Kim Yu yang tajam mengedar ke sekelilingnya sejenak. Kemudian dia mengeluarkan suara tertawa terkekeh-kekeh.
"Kedatanganku saat ini merupakan utusan. Apabila saudara tidak takut ditertawakan orang-orang sedunia, silahkan turun tangan sesuka hatimu!"
Sepasang tangannya terulur ke depan, terasa ada serangkum tenaga yang kuat menekan datang ke arah Tan Ki.
Anak muda itu melihat dia mengerahkan tenaga dalamnya sambil menyodorkan surat undangan di tangannya.
Diam-diam dia merasa geli.
Namun kedudukannya sekarang adalah seorang Bulim Bengcu, perbuatan apapun yang dilakukannya harus serius dan tidak boleh menunjukkan sikap kekanak-kanakan.
Oleh karena itu bibirnya tetap tersenyum lembut.
"Cayhe tidak berani menerima penghormatan sebesar ini."
Tangan kanannya mengibas, gayanya seperti sedang meminta Kim Yu tidak perlu banyak adat, tetapi sebetulnya dia telah mengerahkan tenaga dalamnya dan menyambut datangnya kekuatan yang dilancarkan Kim Yu dengan keras.
Dua gulung tenaga yang dahsyat langsung beradu saat itu juga.
Timbul angin yang kencang dan menerpa ke sekitar kedua orang itu.
Bahkan pakaian beberapa orang yang duduk dekat dengan mereka langsung berkibar-kibar.
Setelah kedua gulung tenaga beradu, Tan Ki tetap duduk di tempatnya semula tanpa bergeming sedikitpun.
Sedangkan jubah Kim Yu melambai-lambai, kakinya goyah dan tubuhnya terhuyung-huyung tiga kali.
Sampai cukup lama dia tidak dapat menegakkan tubuhnya.
Keadaannya saat itu seperti orang yang baru minum arak dalam jumlah yang banyak.
Akhirnya tanpa dapat mempertahankan diri, dia tergetar mundur sejauh tiga langkah.
Tampak lantai batu di mana kakinya berpijak tadi, sekarang retak dan debu-debu beterbangan ke mana-mana.
Baru saja mengadu kekuatan satu kali, hati Kim Yu sudah tercekat tidak kepalang.
Diam-diam dia berpikir.
"Baru beberapa hari tidak bertemu, rasanya tenaga dalam orang ini sudah bertambah hebat."
Pikirannya tergerak, terdengar mulutnya berkata.
"Usia saudara masih muda tetapi tenaga dalam yang kau miliki ternyata sudah demikian tinggi. Benar-benar membuat hati ini menjadi kagum."
Dia segera menyodorkan surat di tangannya ke depan. Kemudian terdengar dia melanjutkan kata-katanya.
"Hengte mendapat perintah dari Suheng dan Toa Tocu untuk mengantarkan surat ini. Harap saudara membacanya kemudian sekalian mengirimkan balasannya."
Tan Ki langsung menyambut surat itu. Dia melihat di bagian atasnya tertulis.
"Menurut berita yang tersebar, saudara berhasil mengalahkan jago-jago lainnya dan berhasil merebut kedudukan Bulim Bengcu. Hal ini benar-benar mengejutkan pihak kami. Lagi pula kau langsung menyatakan tentang berdirinya Perkumpulan Ikat Pinggang Merah..."
Membaca sampai di sini, Tan Ki langsung mengeluarkan suara tawa dingin.
"Cepat sekali berita ini tersebar!"
Selanjutnya dia membaca lagi isi surat tersebut.
"Dengan demikian, kedua Bun Bu-siang serta tiga orang tongcu serta anggota dari Kaucu Pek Kut Kau mengambil keputusan untuk mengunjungi bukit Tok Liong-hong sore ini untuk melihat serta meminta pelajaran ilmu dari wilayah Tionggoan yang konon hebat sekali. Karena takut mengganggu dan dianggap tidak sopan, maka kami sengaja mengirim Kim Yu sebagai utusan untuk mengantarkan surat ini. Sekalian ingin menanyakan apakah saudara setuju dengan, waktu dan tempat yang telah kami tetapkan?"
Di bawahnya tertera tanda tangan Toa Tocu dari Lam Hay dan Kaucu dari Pek Kut Kau.
Setelah membacanya sampai selesai, Tan Ki segera menyodorkan surat itu kepada Yibun Siu San agar dibaca oleh orangtua itu.
Bibirnya tetap tersenyum simpul.
"Kalau kalian sudah mengambil keputusan untuk menyerbu bukit Tok Liong-hong ini sore nanti, buat apa membuat letih tangan sendiri dengan menulis surat ini? Apabila kalian mempunyai kegembiraan seperti itu, tentu saja aku akan mengirimkan juga balasannya."
Dia langsung memanggil seorang penjaga untuk mengambilkan alat-alat tulis. Tanpa menunda waktu lagi dia langsung menggerakkan pit di atas kertas dan menjawab surat yang dibawakan oleh Kim Yu itu.
"Saudara sudi menempuh perjalanan yang demikian jauh untuk menyambangi para tokoh dari Tionggoan kami, tentu saja pihak kami akan menyambut dengan senang hati. Dengan demikian kami menyatakan bahwa kami tidak akan bergeser dari puncak bukit Tok Liong-hong ini walau kapanpun kalian akan datang menyambangi."
Kim Yu melihat tulisan tangan Tan Ki kokoh dan rapi. Namun isinya singkat saja. Dalam waktu sekejap mata dia sudah selesai membacanya. Diam-diam dia memaki dalam hatinya.
"Sombong benar ucapan yang tertulis di dalamnya!"
Kim Yu merupakan manusia yang sangat licik.
Meskipun hatinya mendongkol membaca surat balasan Tan Ki, tetapi dari luar dia menampilkan sikap yang biasa-biasa saja.
Namun mata Tan Ki yang tajam sempat melihat perubahan wajahnya.
Tan Ki ingin menjaga sikapnya sebagai seorang Bulim Bengcu, diapun tidak ingin mempermalukan orang ini di hadapan umum.
Oleh karena itu dia pura-pura tidak tahu dan tetap berkata dengan suara yang lembut.
"Dua negara berunding, tidak boleh melakukan kekerasan terhadap utusan yang dikirimkan. Aku tidak ingin tersebar berita yang tidak enak didengar atau menyulitkan dirimu. Sebaiknya kau pulang saja secepatnya dengan membawa surat balasan ini. Tetapi apabila lain kali bertemu lagi, kita sama-sama telah menjadi musuh bebuyutan. Aku rasa kau sendiri mengerti apa yang harus dilakukan."
Tan Ki melipat kertas surat itu kemudian menyodorkannya ke hadapan Kim Yu.
Saat ini jarak antara keduanya hanya setengah depaan lebih.
Dengan mengulurkan tangan saja dapat mencapai tubuh lawannya.
Kim Yu melihat Tan Ki mengulurkan tangannya ke depan dengan wajar, seakan tidak berjaga-jaga sama sekali, hatinya sekonyong-konyong tergerak.
Cepat-cepat dia menarik nafas dan diam-diam mengerahkan seluruh tenaga dalamnya.
Dia berpikir ingin menggores tangan Tan Ki dengan jarinya yang mengandung racun ketika menyambut surat balasan tersebut, Apabila berhasil, goresan luka di tangannya pasti terkena racun dan dalam waktu yang singkat menyebar ke seluruh tubuh serta mati seketika.
Beberapa hari yang lalu, Kim Yu justru menggunakan jari kukunya yang beracun itu melukai Tan Ki sehingga hampir saja nyawa anak muda itu melayang.
Begitu pikirannya tergerak, tangannya segera terulur keluar menyambut surat tersebut, sepasang matanya menatap Tan Ki lekat-lekat seakan ingin melihat perubahan wajah anak muda itu.
Kebetulan pada saat itu, pandangan matanya bertemu dengan sepasang mata Tan Ki yang juga sedang menatap kepadanya.
Dua pasang mata bertemu pandang, Kim Yu segera merasa bahwa di dalam sinar matanya terkandung kewibawaan yang dalam.
Sorotannya tajam menusuk, seperti mengandung pengaruh yang tidak dapat ditolak.
Mimik wajah anak muda itu begitu angker sehingga tanpa terasa hatinya berdebar-debar.
Pikirannya yang jahat hilang seketika, dia tidak berani meneruskan niat hatinya.
Tanpa berkata sepatahpun, dia langsung menerima surat balasan tersebut dan memasukkan ke balik pakaian.
Tetapi saat itu dalam hatinya telah timbul perasaan ngeri sehingga dia langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan ke depan beberapa langkah.
Tiba-tiba dia seperti teringat pada suatu persoalan yang besar sekali.
Tanpa menghentikan langkah kakinya dia menolehkan kepalanya dan mengedarkan pandangan matanya.
Sepasang alisnya langsung menjungkit ke atas, wajahnya menyiratkan perasaan bimbang, tetapi akhirnya dia meneruskan juga langkahnya meninggalkan tempat tersebut.
Rupanya ketika dia menolehkan kepalanya tadi, dia merasa tidak menemukan bayangan Kiau Hun di antara para tokoh-tokoh yang hadir di tempat itu.
Biar bagaimana perempuan itu merupakan mata-mata yang dikirim pihak Lam Hay Bun untuk menyelidiki perkembangan di daerah Tionggoan.
Ilmunya sangat tinggi karena mendapat didikan langsung dari Toa Tocu.
Seandainya dalam pertandingan dia tidak sanggup merebut kedudukan Bulim Bengcu, tetapi berdasarkan kepandaiannya, paling tidak perempuan itu pantas menyandang gelar pendekar pedang tingkat sembilan.
Kali ini orang-orang yang hadir dalam ruangan merupakan anggota Perkumpulan Ikat Pinggang Merah, tetapi sebagai salah seorang peserta pertandingan, seharusnya Kiau Hun juga termasuk anggota perkumpulan itu, mengapa saat ini bayangannya malah tidak kelihatan?
Jangan kata orang itu pergi dengan hati bertanya-tanya, Tan Ki sendiri sudah dapat memastikan bahwa dia akan menceritakan apa yang dilihatnya kepada Suheng serta sang Tocu.
Setelah Kim Yu meninggalkan tempat itu, Tan Ki segera berdiri dengan bibir menyunggingkan senyuman.
"Saat ini waktu masih ada tiga kentungan sebelum sore hari. Sahabat-sahabat dari perkumpulan kita ini sebagian sudah terserang racun. Mereka tentu saja tidak dapat menghadapi musuh. Harap kalian menggunakan waktu yang singkat ini untuk beristirahat agar semangat pulih kembali. Pertarungan yang akan berlangsung senja nanti menyangkut nasib dunia Bulim kita. Cayhe hanya mengandalkan bantuan dari saudara-saudara sekalian..."
Belum lagi ucapannya selesai, tiba-tiba terdengar seseorang berteriak menukas.
"Bengcu tidak perlu rendah diri, pihak Lam Hay dan Si Yu bergabung untuk menyerbu kita, cara mereka licik dan keji. Kitapun tidak perlu sungkan menghadapi manusia-manusia seperti itu. Meskipun harus bertarung sampai titik darah penghabisan, pokoknya kita rela mendengar perintah Bengcu. Tetapi, hamba mempunyai suatu masalah yang mengganjal dalam hati, yang mungkin tidak enak didengar apabila diungkapkan...!"
Tan Ki melirik orang itu sejenak kemudian tersenyum ramah.
"Silahkan saudara katakan saja terus terang, siaute justru ingin mendengarnya."
Orang itu merenung sesaat, seakan sedang mencari kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan isi hatinya. Beberapa waktu kemudian dia baru berkata dengan perlahanlahan...
"Meskipun di dalam dunia Bulim kita sering terjadi budi dan dendam yang berakhir dengan pembunuhan, tetapi selama ratusan tahun boleh dibilang masih saling memperhatikan. Setiap kabar berita cepat tersebar. Meskipun orangnya belum pernah bertemu, kebanyakan namanya saja sudah pernah terdengar. Hamba sendiri seorang pesilat kasar yang sudah puluhan tahun berkecimpung di dunia Kangouw. Boleh dibilang banyak hal yang sudah dialami ataupun dengar dari sana sini! Dalam pesta yang berlangsung tadi, puluhan rekan kita mati secara mengenaskan karena terserang racun yang dimasukkan dalam arak. Walaupun hamba tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan orang-orang itu, namun hati ini tetap merasa pedih melihat mereka mati dengan cara demikian. Hamba merasa marah dan seakan menuntut keadilan bagi mereka. Oleh karena itu, hamba memberanikan diri menanyakan kepada Bengcu, entah cara apa yang akan diambil untuk menindak sang pelaku kejahatan tersebut?"
Mendengar ucapannya, untuk sesaat Tan Ki termangu-mangu. Kemudian dia malah berbalik tanya kepada orang itu.
"Bagaimana menurut pendapat saudara sendiri?"
Sepasang mata orang itu mengedar ke sekeliling ruangan dan melihat sekilas kepada orang-orang yang hadir, kemudian dia baru berkata lagi dengan perlahan-lahan.
"Apabila orang itu memang pelaku kejahatan tersebut, harap Bengcu perintahkan orang untuk membawanya keluar dan tentukan hukuman yang harus diterimanya di hadapan para sahabat ini. Sekaligus menyelidiki di mana obat penawar racun itu disimpan sehingga kita bisa memberi pertolongan lebih awal kepada rekan-rekan yang sekarat."
Baru saja perkataannya selesai, terdengar suara-suara yang menyatakan kesepakatan mereka.
Melihat emosi para anggotanya sudah mulai terbangkit, sepasang alis Tan Ki langsung menjungkit ke atas.
Sejenak kemudian dia sudah pulih kembali seperti sediakala.
"Baiklah, saudara boleh persilahkan Ciu Cang Po membawanya keluar."
Orang itu mengiakan kemudian langsung menghambur pergi.
Tidak lama kemudian, dia kembali lagi dengan diiringi oleh seorang nenek berambut putih, yakni Ciu Cang Po yang menyeret seorang gadis berpakaian merah.
Ketiganya masuk ke dalam ruangan dan berhenti pada jarak lima langkah dari tempat duduk Tan Ki.
Pandangan mata anak muda itu segera dialihkan, dia melihat sepasang pipi Kiau Hun yang biasanya mulus dan putih, sekarang sudah membengkak dan penuh dengan guratan bekas tamparan jari tangan.
Rambutnya acak-acakan.
Walaupun belum sampai satu kentungan dia dibawa oleh Ciu Cang Po, tetapi tampaknya mendadak saja dia menjadi kurus banyak, wajahnya kuyu, langkah kakinya tertatih-tatih.
Tidak diragukan lagi, bahwa dia telah dihajar cukup keras oleh si nenek tua bekas gurunya itu.
Melihat keadaannya, hati Tan Ki terasa serba salah.
Dia tidak dapat mengatakan bagaimana perasaannya saat itu, entah pilu atau pedih.
Dia menatap wajah Kiau Hun yang bengap itu dengan termangu-mangu.
Kembali terdengar suara orang tadi berkata kepada Tan Ki.
"Hamba menuruti perintah Bengcu dan sudah membawa si tersangka utama ke dalam ruangan ini. Harap Bengcu tentukan keputusannya."
Saat itu Tan Ki sedang mengenang masa lalunya.
Meskipun suara pembicaraan orang itu sangat lantang, tetapi dia seperti tidak mendengarnya.
Dia tidak mengucapkan sepatah kata atau bergeming sedikitpun dari tempat duduknya.
Saat itu juga bayangan Kiau Hun yang menempuh bahaya menolong jiwanya bahkan sampai diusir dari pintu perguruan seakan melintas di depan pelupuk matanya.
Akhirnya gadis itu terpaksa mencari jalan keluar sendiri untuk mengangkat derajatnya sehingga dia rela menjadi selir Tocu Lam Hay Bun.
Dari awal sampai akhir, meskipun Kiau Hun telah salah langkah sehingga sekarang memetik hasilnya sendiri.
Tetapi kalau dipikirkan dengan seksama, semua ini timbul akibat dirinya.
Perlu diketahui bahwa Tan Ki adalah seorang yang berwatak tinggi hati.
Seorang diri dia berkelana di dunia Kangouw dan selamanya tidak suka menerima budi orang lain.
Teringat olehnya cinta kasih Kiau Hun yang dalam dan budi yang tidak mudah dilunasi olehnya.
Hatinya menjadi tertekan.
Dia merasa harus menolongnya satu kali ini agar hutang piutang antara mereka menjadi impas.
Tetapi kesalahannya justru berat sekali.
Dia menggunakan racun yang ganas dan memasukkannya dalam arak sehingga begitu banyak korban yang jatuh.
Caranya ini memang terlalu keji.
Meskipun Tan Ki berniat menolongnya, tetapi mungkin dia tidak sanggup membendung kemarahan orang-orang gagah yang hadir dalam ruangan itu.
Bahkan kemungkinan masa depannya sendiri akan hancur dan nama besar yang baru berhasil diraihnya jatuh seketika.
Semakin dipikirkan, hati Tan Ki semakin galau.
Dia merasa serba salah, entah jalan mana yang harus dipilihnya Oleh karena itu, meskipun orang tadi berkata dengan suara lantang, di telinganya hanya bagai dengungan-dengungan yang tidak jelas.
Apa yang sebenarnya dikatakan oleh orang itu, dia benarbenar tidak tahu.
BAGIAN LI Orang itu melihat sang Bengcu tidak memberikan jawaban sedikitpun dan tampangnya seakan menyiratkan bahwa dia sedang menguras otaknya memikirkan suatu hal, maka terpaksa dia mengulangi sekali lagi perkataannya.
Pikiran Tan Ki jadi tersentak sadar, mulutnya mengeluarkan suara desahan kemudian dia mengulapkan sebelah tangannya.
"Kalian berdua harap duduk dulu."
Sambil berkata, sepasang matanya menyapu ke arah para hadirin sekilas.
Tampak wajah mereka menyiratkan keseriusan yang tidak terkatakan.
Saat itu mereka juga sedang menatap kepadanya.
Dia mengerti mereka ingin tahu bagaimana Bengcu yang baru terpilih ini menyelesaikan masalah tersebut.
Diam-diam hatinya merasa tegang dan setelah menenangkan dirinya sejenak, dia mengeluarkan suara batuk-batuk kecil.
"Apakah kau yang bernama Kiau Hun dan pernah melayani nona Mei Ling di keluarga Liu?"
Tanyanya sebagai pembuka kata.
"Apakah kau ingin menyelidiki masalah ini atau ingin tahu duduk perkara yang sebenarnya? Kalau kau memang ingin tahu siapa aku ini, baiklah. Aku akan mengatakan terus terang bahwa aku memang seorang budak yang rendah dan dihina oleh setiap orang!"
Kata-kata yang diucapkannya itu seperti ingin mengumbar kemarahan dalam hatinya.
Oleh karena itu, nada suaranya juga begitu ketus dan menusuk perasaan.
Sepasang alis Tan Ki langsung menjungkit ke atas, tiba-tiba nalurinya yang tajam melintaskan sebuah pikiran.
Terdengar dia berkata kembali...
"Baiklah. Aku akan mengajukan beberapa pertanyaan lagi. Apabila benar, kau boleh menganggukkan kepalamu sebagai pernyataan iya. Kalau tidak, kau gelengkan kepalamu. Tetapi kau tidak boleh menyahut yang bukan-bukan atau mengoceh sembarangan. Mengerti?"
Tanpa menunggu jawaban dari Kiau Hun dia segera melanjutkan lagi ucapannya.
"Tiga bulan yang lalu, demi menolong selembar nyawaku, kau sampai diusir oleh gurumu dan meninggalkan gedung keluarga Liu. Karena kau seorang gadis yang sebatang kara, seorang diri berkelana di dunia Kangouw, tentu pikiranmu menjadi gundah dan kau menganggap hidup ini tidak berarti bukan?"
Kiau Hun merasa apa yang dikatakannya memang benar.
Oleh karena itu dia menganggukkan kepalanya.
Dia tidak tahu kalau Tan Ki berniat menolongnya.
Di pihak yang satunya, dia ingin menekan Kiau Hun dengan kata-kata agar dia tidak sembarangan mengoceh.
Di pihak yang lain dia ingin orang-orang yang hadir dalam ruangan itu merasa iba atas nasib Kiau Hun.
Apabila mereka sudah merasa kasihan terhadap nasib gadis itu yang malang, meskipun seberapa berat dosanya, tentu tidak perlu sampai dihukum mati.
Ternyata setelah dia mengucapkan kata-katanya, perhatian para hadirin langsung terpusat pada diri Kiau Hun.
Perlahan-lahan Tan Ki melanjutkan kata-katanya kembali...
"Seseorang yang dalam keadaan putus asa, baik pikirannya maupun keberaniannya jadi melemah. Aku rasa dalam keadaan bingung kau bertemu dengan Toa Tocu, kemudian dengan kata-katanya yang manis dia merayu dirimu agar kau terpengaruh untuk berpihak padanya. Tentunya dalam keadaan seperti dirimu saat itu, tanpa berpikir panjang lagi kau segera terbujuk untuk menuruti apa yang dikatakannya, betul bukan?"
Siapa nyana Kiau Hun malah tertawa sumbang dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Dalam keadaan sebatang kara dan tidak ada yang dapat diandalkan, mungkin orang lain akan merasa putus asa dan memilih jalan pendek. Tetapi aku bukan orang seperti itu, justru kemauanku untuk hidup semakin kuat, karena aku ingin membalas dendam. Apa yang tidak dapat diperoleh oleh orang lain, aku malah harus mendapatkannya. Perlu kau ketahui bahwa aku diusir dari pintu perguruan oleh Ciu Cang Po, justru karena derajatku yang rendah dan tidak berharga setengah keping uangpun baginya. Dengan membawa perasaan hati yang pesimis serta pedih, aku berkelana seorang diri. Diam-diam aku bersumpah dalam hati bahwa aku rela mengorbankan apapun untuk mendapat kedudukan yang tinggi dan harus sanggup mengangkat derajatku sendiri, agar orang-orang yang pernah menghina aku atau orang yang menganggap rendah diriku tahu siapa diriku ini sebenarnya. Ketika mula-mula bertemu dengan Toa Tocu dari Lam Hay Bun, aku hanya mencoba-coba peruntunganku saja. Sebab aku tahu bahwa manusia seperti dia justru merupakan pasangan yang paling ideal bagi diriku. Dia dapat memberiku segala hal yang kuinginkan. Tetapi kejadiannya justru jauh berbeda dengan apa yang kau bayangkan. Bukannya dia yang merayu diriku atau mempengaruhi diriku agar bersedia memihak kepadanya. Malah aku yang bersandiwara di hadapannya sehingga dia menaruh perasaan iba. Dengan tidak berpikir panjang, aku mengorbankan kecantikan serta kesucian-ku agar dirinya terpikat. Akhirnya dia benar-benar tertarik pada diriku dan mengajarkan aku berbagai ilmu yang tinggi dalam waktu tiga hari tiga malam. Belakangan aku malah diangkat menjadi selir kesayangannya..."
Wajah orang-orang yang hadir di dalam ruangan itu langsung berubah hebat mendengar keterangannya.
Bahkan Tan Ki sendiri juga tidak menyangka dia akan seberani itu mengatakan hal yang sebenarnya.
Tidak dapat ditahan lagi dia jadi tertegun sekian lama.
Diam-diam dia merasa khawatir.
Tampak orang-orang yang hadir di tempat itu saling berbisik satu dengan lainnya.
Suasana semakin tidak beres dan jauh dari harapannya.
Oleh karena itu dia segera menggebrak meja keras-keras, begitu kencangnya sehingga meja bergetar hebat dan cawan-cawan yang ada di atasnya terbang melayang tinggi.
"Aku hanya menyuruh kau menganggukkan kepala dan menggeleng, tidak perlu banyak omong. Sekarang kau malah berani mengoceh panjang lebar di hadapanku. Mana orang? Harap beri tamparan dua kali biar dia tahu rasa!"
Bentaknya. Wajah Kiau Hun semakin dingin mendengar ucapannya. Bibirnya malah mengeluarkan suara tawa terkekeh-kekeh.
"Jalan darahku toh telah tertotok, tenaga dalam tidak dapat dikerahkan sedikitpun. Jangan kata hanya ditampar, biar dibunuh sekalipun, aku juga tidak dapat memberikan perlawanan. Memangnya kau kira perbuatanmu itu gagah sekali?"
Hati Tan Ki semakin tertekan melihat keberanian Kiau Hun.
Tadinya dia memang sengaja menyuruh orang menempeleng pipinya agar kemarahan para hadirin yang mendengar ceritanya agak reda.
Perlahan-lahan dia baru mencari akal menolong gadis itu.
Siapa sangka Kiau Hun sama sekali tidak mengerti maksud hati Tan Ki.
Dia kira anak muda itu sengaja menghinanya di depan orang banyak.
Akhirnya Tan Ki jadi serba salah.
Belum lagi dia sempat mengatakan apa-apa, tiba-tiba telinganya mendengar suara dengusan dingin.
Kumandangnya menggidikkan hati sehingga orang yang mendengarnya seperti diguyur air dingin.
Begitu pandangan matanya beralih, dia melihat Ciu Cang Po melesat ke depan secepat kilat dan berhenti di hadapan Kiau Hun.
"Kalau kau memang sudah kepingin mati, si nenek tua akan mengabulkan permintaanmu!"
Bentaknya marah.
Lengannya yang kurus kering terjulur keluar dan sebuah pukulan dihantamkannya ke dada Kiau Hun.
Tampak Kiau Hun memejamkan matanya menunggu kematian.
Tiba-tiba dia merasa ada serangkum angin yang kencang melanda sampingnya.
Tahu-tahu pukulan yang dilancarkan oleh Ciu Cang Po tertahan bahkan tubuhnya sampai tergetar oleh rangkuman angin yang kencang tadi.
Telinganya mendengar suara seseorang yang bening dan lantang.
"Harap Locianpwe jangan turun tangan sembar angan!"
Hati Ciu Cang Po terkejut setengah mati.
Cepat-cepat dia menarik kembali serangannya lalu mencelat mundur ke belakang.
Dia menolehkan kepalanya melihat, rupanya orang yang bersuara tadi justru Bengcu yang baru terpilih, Tan Ki.
Meskipun namanya sudah jauh lebih lama terkenal dari pada anak muda itu, tetapi dia sadar bahwa Tan Ki menemukan berbagai keajaiban sehingga ilmunya tinggi sekali.
Malah kalau ditilik dari keadaannya sekarang, mungkin ilmu Tan Ki sudah jauh lebih hebat dari dirinya.
Meskipun wataknya sangat picik dan tidak pernah mau mengalah kepada siapapun, tetapi untuk saat ini dia juga tidak berani mengumbar adatnya yang keras kepala.
Apalagi Tan Ki sudah menjabat sebagai Bulim Bengcu yang harus dihormati, oleh karena itu tampak nenek tua itu tertawa sumbang lalu berkata.
"Tindakan apa yang akan diambil oleh Bengcu?"
Tan Ki tersenyum lebar.
"Kita toh belum berhasil mengetahui di mana dia menyimpan obat penawar racun itu. Harap kau jangan mengganggu dia lebih dahulu."
Ciu Cang Po melihat Tan Ki dapat melancarkan serangan tetapi orangnya sendiri langsung mengikuti di belakang pukulannya.
Kecepatan serangan yang dilancarkan oleh anak muda itu belum tentu dapat dilakukan orang lain.
Diam-diam hatinya tergetar dan kemudian mengundurkan diri dengan perasaan apa boleh buat.
Tan Ki melihat pandangan mata orang-orang gagah saat itu tertumpu pada diri Ciu Cang Po, cepat-cepat dia berkata dengan suara lirih.
"Apabila kau mempunyai obat penawar itu, cepat keluarkan. Aku akan mencari akal menolongmu terlepas dari kesulitan ini."
Mata Kiau Hun menyorotkan kepedihan hatinya. Bibirnya mengembangkan seulas senyuman yang pilu.
"Biarpun ada, asal kau membuka mulut memohon kepadaku, pasti akan kuserahkan kepadamu."
Tan Ki menghentakkan kakinya di atas tanah keras-keras.
"Aih, kau ini memang tidak mengerti perasaan orang...!"
Tiba-tiba suatu ingatan melintas di benaknya. Dia segera merubah pokok pembicaraannya.
"Aku tahu Oey Ku Kiong sudah lama jatuh hati padamu, mungkin dia juga tahu persoalan ini dan merasa sedih karenanya."
Mendengar kata-katanya, bibir Kiau Hun mencibir seakan mengejek.
"Apapun yang dia lakukan, aku toh tidak pernah memaksanya. Tetapi perlu kau ketahui bahwa aku tidak tertarik sedikitpun kepadanya, meskipun untuk mengambil hatiku dia rela mengorbankan apa saja dan berani menempuh segala kesulitan serta selalu memikirkan keselamatan diriku. Ditilik dari luar, dia memang seorang pemuda yang romantis. Bodohnya sampai patut dikasihani, tetapi sebetulnya orang seperti dia itulah yang dinamakan sudah tahu malah mencari kesulitan untuk diri sendiri. Aku justru memegang kelemahannya dan memperalat dia untuk sementara waktu. Apabila pihak Lam Hay berhasil menguasai Tionggoan, maka aku tidak memerlukan dirinya lagi, pada saat itu aku akan menyepaknya jauh-jauh. Obat penawar dari racun Cairan Ular yang berharga itu, mana mungkin aku serahkan kepada orang seperti dia?"
Hati Tan Ki sampai tercekat mendengar kata-katanya.
"Sungguh keji perempuan ini."pikirnya diam-diam. Kiau Hun melihat sepasang alis Tan Ki terus berkerut, dia mengira hati anak muda itu sedih memikirkan obat penawar yang tidak berhasil didapatkannya. Oleh karena itu, dia malah mengembangkan seulas senyuman yang santai.
"Bersedih terus juga percuma saja, obat penawar dari racun Cairan Ular hanya dimiliki oleh Toa Tocu seorang, percuma kau menguras otakmu sedemikian rupa!"
Mata Tan Ki menyorotkan sinar yang tajam.
"Biar bagaimana aku merupakan Bulim Bengcu zaman ini. Apakah aku melihat orangorangku mati keracunan begitu saja tanpa berusaha sedikitpun?"
Bentaknya marah.
Dalam keadaan kesal, kesadarannya jadi terganggu, tanpa terasa kata-katanya itu diucapkan dengan nada keras.
Diam-diam hati Kiau Hun tergetar.
Dia seperti seorang yang menerima hinaan berat.
Air matanya langsung mengalir dengan deras.
"Orang-orang yang keracunan, tidak mungkin bisa bertahan sampai esok hari. Meskipun sekarang ada orang yang berangkat ke Lam Hay secepatnya untuk mencuri obat penawar itu, dalam satu hari juga tidak mungkin sanggup menempuh perjalanan sejauh itu."
Sepasang mata Tan Ki memandang Kiau Hun dengan mendelik.
Setelah menatap sekejap, tiba-tiba dia menarik nafas panjang.
Kepalanya tertunduk dalam-dalam.
Dia bukan sedang memikirkan cara menyelamatkan orang-orang yang keracunan.
Tetapi merasa tidak berdaya menghadapi Kiau Hun yang keras kepala itu.
Justru ketika dia masih merasa serba salah, entah siapa tiba-tiba berteriak dengan suara keras.
"Kalau memang tidak dapat memperoleh obat penawar dari diri perempuan itu, membiarkan dia hidup hanya meninggalkan bencana di kemudian hari. Lebih baik bunuh saja sekalian membalaskan dendam kematian rekan-rekan kita!"
Seseorang yang lain langsung menukas ucapan orang yang pertama tadi...
"Watak perempuan itu sungguh keji. Dengan tenang dia sanggup meracuni orang sebanyak ini. Benar-benar lebih beracun dari ular berbisa, lagipula membuat orang tidak merasa iba sedikitpun terhadapnya. Cayhe mohon Bengcu mengambil keputusan yang tegas, jangan sampai menimbulkan penyesalan di kemudian hari...!"
Satu dua orang buka mulut, yang lain ikut menyambar.
Saat itu suasana di dalam ruangan menjadi bising.
Terdengar suara setuju dari kanan kiri.
Melihat keadaan ini, hati Tan Ki semakin tertekan.
Dia mulai merasa bahwa keadaan Kiau Hun semakin lama semakin membahayakan.
Tanpa sadar dia memandang Yibun Siu San, Cian Cong serta si tokoh sakti dari Bu Tong San, yakni Tian Bu Cu dengan mata mengandung permohonan agar mereka memberikan jalan keluar kepadanya.
Siapa nyana mereka malah memejamkan matanya rapat-rapat seakan tidak bersedia ikut campur dalam urusan ini.
Oleh karena itu, dia segera menarik nafas panjang-panjang dan ikut memejamkan matanya merenung.
Dia baru diangkat menjadi Bulim Bengcu, dengan demikian juga ia sadar bahwa dirinya harus menggunakan akal sehat menangani masalah ini.
Dia harus mengambil keputusan tegas sehingga orang-orang yang hadir dalam ruangan itu dapat merasa puas.
Kurang lebih sepeminuman teh kemudian, mendadak dia membuka matanya kembali, sikapnya serius dan wajahnya tampak kelam.
Dia menepukkan tangannya tiga kali agar para hadirin menghentikan pembicaraan mereka.
Kemudian tampak dia mengangkat telapak tangan kanannya dan berhenti di atas kepala Kiau Hun kurang lebih tiga mistar.
Diam-diam dia telah mengerahkan dua bagian tenaga dalamnya dan siap-siap dilancarkan.
Tenaga dalam Tan Ki saat ini sudah mencapai taraf yang tinggi sekali.
Asal menggunakan sedikit kekuatannya saja, bagian otak Kiau Hun pasti akan tergetar dan mati seketika.
Begitu melihat Tan Ki mengangkat tangannya dan berhenti di atas kepala Kiau Hun, suara bisikan maupun pembicaraan berhenti seketika.
Suasana menjadi hening serta mencekam.
Semua mata terpusat pada diri kedua orang itu dan menunggu dengan hati tegang.
Mereka membuka mata lebar-lebar seakan takut hilang kesempatan menyaksikan kejadian besar ini.
Bahkan saking tegangnya mereka sampai menahan nafas sekian lama.
Keringat dingin juga mulai membasahi wajah Tan Ki.
Hatinya bimbang bukan main.
Dia merupakan seorang pemuda yang mempunyai sifat welas asih.
Apabila orang meminta dia membunuh seorang gadis yang tidak sanggup memberikan perlawanan, sebenarnya tidak sampai hati dia melakukannya.
Tetapi karena keadaan yang mendesak, lagipula sebagai seorang Bengcu dia harus bertindak tegas, terpaksa dia harus turun tangan dengan keras agar hati orang-orang yang hadir dalam ruangan itu merasa puas.
Dua macam pemikiran yang bertentangan terus berkecamuk dalam hatinya.
Perasaannya semakin lama semakin gelisah.
Serangkum rasa pedih menyelinap dalam kalbunya "dan untuk sesaat dia tidak sanggup turun tangan...
Tiba-tiba Tan Ki menggertakkan giginya erat-erat.
Hatinya dikeraskan dan siap-siap turun tangan...
Sekonyong-konyong telinganya mendengar suara Kiau Hun yang sendu.
"Tan Koko, benarkah kau tega membunuh diriku?"
Beberapa patah kata yang tercetus dari mulutnya itu benar-benar keluar dari hatinya yang tulus.
Setiap kalimatnya diucapkan dengan nada yang panjang ditambah lagi dengan wajahnya yang basah oleh air mata.
Tampangnya sungguh mengenaskan dan mengandung daya tarik seorang wanita yang dalam.
Setelah mendengar nada suaranya yang sendu, dadanya seperti ditinju keras-keras oleh seseorang.
Tubuhnya bergetar hebat sehingga tenaga dalam yang sudah dikerahkan serta siap dilancarkan seakan tertahan oleh suatu kekuatan yang tidak berwujud.
Tanpa terasa telapak tangannya merenggang dan dia malah memandang Kiau Hun dengan termangumangu.
Suara Kiau Hun yang lembut kembali mendengung di telinganya...
"Boleh dibilang hari ini aku baru benar-benar mengenal siapa dirimu. Lucunya selama ini aku terus mencintaimu dengan sepenuh hati. Sudah salah tafsir, masih begitu bodoh sehingga apapun yang kau katakan, aku menaruh kepercayaan sepenuhnya."
Suaranya yang tadi begitu lembut semakin lama semakin dingin dan datar.
Perasaan Tan Ki jadi bergejolak mendengarkan kata-katanya, tanpa sadar dia malah menarik kembali telapak tangannya.
Kiau Hun melihat Tan Ki mulai terpengaruh oleh kata-katanya, tentu saja diam-diam merasa senang.
Asal dia terus mempengaruhi anak muda itu, mungkin tidak sulit baginya untuk meloloskan diri dari tempat tersebut.
Sayangnya seluruh tenaga dalamnya saat itu sudah lenyap sehingga dia tidak dapat mengerahkan ilmu Pembetot Sukmanya untuk memikat Tan Ki...
Justru ketika pikirannya masih melayang-layang, tiba-tiba dia melihat wajah Tan Ki perlahan-lahan mulai berubah.
Sepasang matanya menyorotkan sinar yang tajam.
Tanpa terasa hatinya jadi tercekat.
Pada saat itu juga dia merasa ada serangkum tenaga yang menekan dari atas kepala.
Kali ini rasa terkejutnya benar-benar tidak terkirakan, tubuhnya bergetar bagai disambar kilat dan bagian kepalanya langsung terasa gatal.
Dia maklum Tan Ki hanya mengerahkan dua tiga bagian tenaganya, tetapi apabila dihantam ke ubunubun kepalanya, cukup untuk membuat jiwanya melayang.
Apalagi jalan darahnya dalam keadaan tertotok, tubuhnya tidak dapat bergerak sedi-kitpun.
Oleh karena itu terpaksa dia memejamkan matanya menunggu kematian.
Tiba-tiba telinganya mendengar suara benturan yang keras.
Dua rangkum tenaga beradu di atas kepalanya.
Kekuatannya demikian dahsyat sehingga rambut Kiau Hun terurai dan melambai-lambai.
Kemudian dia mendengar suara kibaran pakaian, tanpa dapat mempertahankan diri lagi dia membuka sepasang matanya.
Dia melihat Oey Ku Kiong tergetar oleh tenaga dalam Tan Ki yang kuat sehingga kakinya menjadi goyah dan tubuhnya terhuyung-huyung mundur ke belakang dua langkah.
Oey Ku Kiong tiba-tiba turun tangan menolong Kiau Hun, benar-benar merupakan hal yang tidak diduga-duga oleh Tan Ki.
Dia melihat wajah anak muda itu menyiratkan kepedihan, namun tidak mengandung niat jahat sedikitpun.
Kesannya terhadap Oey Ku Kiong memang cukup baik.
Setelah termangu-ma-ngu beberapa saat, ternyata dia tidak sanggup marah kepada anak muda ini.
Terdengar dia berbicara dengan nada yang berat.
"Apa yang dikatakan oleh perempuan ini tadi merupakan ucapan yang keluar dari hatinya yang paling dalam. Dia begitu memandang rendah Oey Ku Kiong dan menghinamu sedemikian rupa, mengapa kau masih berusaha menolong dirinya?"
Oey Ku Kiong langsung menjura dalam-dalam. Tampak dia tertawa getir.
"Perasaan cinta memang selalu menjerat manusia dalam perangkapnya. Sedangkan orang yang sudah terjerat sulit lagi apabila ingin melepaskan diri. Karena hengte sudah jatuh cinta kepadanya, terpaksa menerima dia apa adanya. Baik atau jahat, untuk selamanya hati ini tidak akan berubah. Meskipun hente sudah tahu bahwa diri ini hanya bertepuk sebelah tangan dan hanya menjadi permainannya saja, tetapi perasaan hati ini tetap tidak bisa melupakan dirinya..."
Jiwanya bagai terkena pukulan bathin yang berat.
Kata-katanya lebih mirip gumaman.
Rasanya apabila diteruskan hanya merendahkan derajatnya sendiri.
Oleh karena itu dia hanya tertawa sumbang dan membungkam seribu bahasa.
Tampak Tan Ki menarik nafas dalam-dalam.
"Kau benar-benar bodoh sekali. Sudah tahu lubang di depan mata, masih rela terjun ke dalamnya. Tampaknya sampai matipun perasaanmu tidak dapat dirubah lagi."
"Pandangan hidup setiap orang memang berbeda-beda. Meskipun hengte bukan orang baik-baik, tetapi mendengar ucapan Tan-heng tadi, hati ini benar-benar terhibur. Justru karena kau sudi memaki diriku sedemikian rupa, hal ini membuktikan bahwa kau menganggap aku seperti saudaramu sendiri."
Tan Ki mengulapkan tangannya menghentikan kata-kata Oey Ku Kiong.
"Katakanlah apa yang tersimpan dalam hatimu sekarang ini."
Rahasia hati Oey Ku Kiong bagai tersingkap oleh Tan Ki.
Wajahnya menjadi merah padam.
Cepat-cepat dia mengangkat lengan bajunya menutupi mulut dan mengeluarkan suara batuk-batuk kecil.
Setelah itu dia baru berkata.
"Tentunya Tan-heng sudah tahu perasaan hati hengte yang masih mengkhawatirkan diri Ceng Kouwnio. Hengte rasa apabila dia sanggup memasukkan racun ke dalam arak, tentu dia juga mempunyai akal untuk mendapatkan obat penawarnya. Harap Tan-heng ajukan syarat sebagai pembebasan dirinya, biar hente yang menggantikannya menjadi sandera Tan-heng."
Mendengar kata-katanya, Tan Ki merasa tercekat. Diam-diam dia berpikir dalam hatinya.
"Apa maksud ucapannya ini? Terang-terangan kau ingin aku mewujudkan harapanmu yang rela berkorban demi menukar selembar nyawa Kiau Hun. Apakah dia akan kembali membawa obat penawar atau tidak, tentu kau tidak memusingkannya sama sekali..."
Pikirannya bagai kincir angin yang terus berputar. Belum sempat dia membuka suara, tiba-tiba tampak Liu Seng berdiri dari temoat duduknya kemudian menukas.
"Dengardengar kau adalah putra angkat Oey Kang, bukan?"
Oey Ku Kiong membalikkan tubuhnya dan menjura dalam-dalam.
"Boanpwe memang putranya."
Sahutnya sopan. Liu Seng mengeluarkan suara dengusan perlahan. Wajahnya menunjukkan perasaan kurang senang.
"Apakah kau tahu jejak ayahmu akhir-akhir ini?"
Oey Ku Kiong menarik nafas panjang.
"Gi-hu mempunyai pandangan hidup tersendiri. Kalau tidak salah dia sudah bergabung dengan pihak Lam Hay..."
"Itu dia.... kalau Oey Kang memegang peranan penting karena bergabung dengan Lam Hay Bun, sedangkan kau mempunyai hubungan sebagai anak dan ayah dengannya. Tentu dia tidak akan turun tangan keras terhadapmu. Apabila kau ingin menolong nona Ceng, lebih baik kau saja yang diutus ke Lam Hay Bun untuk mendapatkan obat penawar. Sebelum racun dalam tubuh rekan-rekan kami bereaksi, dan kau dapat kembali tepat pada waktunya, selembar jiwa nona Kiau Hun pasti masih dapat dipertahankan. Apabila kau ingin menggantikan kedudukan nona Kiau Hun, hal ini sama sekali tidak boleh terjadi!"
Kata Liu Seng dengan nada tegas.
Kata-kata yang diucapkannya persis seperti sebatang paku yang dipantekkan dalamdalam pada dinding batu.
Biar bagaimana tidak bisa dirubah kembali.
Diam-diam hati Oey Ku Kiong tergetar.
Dia menundukkan kepalanya merenung sejenak.
Kemudian tampak dia menggertakkan giginya erat-erat dan wajahnya menunjukkan bahwa dia sudah mengambil keputusan yang bulat.
"Hengte rela menempuh bahaya mencobanya. Tetapi harap sebelum matahari terbit, apabila aku berhasil, aku masih sempat melihat wajah nona Ceng dalam keadaan hidup!"
Sembari berkata, matanya yang mengandung kasih sayang melirik Kiau Hun sekilas.
Kemudian dia menghentakkan kakinya di atas tanah, kemudian membalikkan tubuh meninggalkan tempat itu.
Kiau Hun melihat anak muda itu tidak memperdulikan mati hidupnya sendiri berusaha menolong jiwanya.
Hatinya merasa terharu sekali.
Bibirnya bergerak-gerak seakan ingin memanggil Oey Ku Kiong untuk menghiburnya beberapa patah kata.
Tiba-tiba dia seperti mengingat suatu masalah yang penting sekali sehingga mendadak wajahnya berubah datar dan mulutnya mengeluarkan suara tertawa dingin.
Dia tidak jadi memanggil anak muda itu.
Suasana di dalam ruangan itu semakin mencekam.
Liu Seng menunggu sampai bayangan punggung Oey Ku Kiong sudah menjauh, diamdiam dia mempersiapkan sebatang pisau terbang dalam genggaman tangannya.
Kemudian terdengar dia memanggil.
"Anak Ki, kemarilah sebentar."
Tan Ki segera mengiakan dan berlari ke arahnya.
Baru saja kakinya maju ke depan beberapa langkah, sekonyong-konyong dia melihat tangan kanan mertuanya mengibas keluar, cahaya dingin memijar sehingga membentuk carikan sinar berwarna keputih-putihan dan melesat secepat kilat.
Tanpa dapat ditahan lagi dia jadi tertegun.
Justru ketika dia menolehkan kepalanya untuk melihat lebih jelas, tiba-tiba telinganya mendengar suara jeritan yang menyayat hati.
Dia melihat sepasang alis Kiau Hun mengerut dengan ketat.
Sepasang tangannya mendekap dada, wajahnya menyiratkan penderitaan yang tidak terkirakan.
Rupanya di tengah-tengah jantung Kiau Hun saat itu sudah menancap sebatang pisau terbang.
Yang terlihat hanya gagangnya yang berukuran dua cun.
Darah mengalir dengan deras dari tangkai pisau itu kemudian menetes membasahi tanah.
Mula-mula Tan Ki terkejut setengah mati.
Sesaat kemudian dia baru mengerti maksud hati mertuanya.
Rupanya orang itu takut tindakannya akan dicegah oleh Tan Ki apabila anak muda itu tetap berdiri di samping Kiau Hun.
Dengan ketinggian ilmu yang dimilikinya saat itu, kemungkinan tersebut bisa saja terjadi.
Oleh karena itu, dia pura-pura memanggilnya.
Ketika Tan Ki melangkah ke depan dan perhatiannya terpencar, dia menimpukkan pisau terbang yang sudah dipersiapkannya dan dengan tepat menembus jantung Kiau Hun.
Melihat darah segar berceceran di atas tanah, hatinya merasa pedih tidak terkatakan.
Kalau kedudukannya sekarang bukan seorang Bulim Bengcu, rasanya dia ingin menghambur ke dekat Kiau Hun dan menangis sepuas-puasnya.
Hal ini bukan karena Tan Ki menyayangkan kematian Kiau Hun.
Tetapi dia merasa bersalah terhadap Oey Ku Kiong, apalagi dia belum sempat membalas budi yang ditanamkan gadis itu pada dirinya...
Dengan susah payah Tan Ki menahan air matanya yang hampir mengalir turun.
Orangnya sendiri seperti sebuah patung batu dan memandang Kiau Hun dengan termangu-ma-ngu.
Tidak sepatah katapun terucap dari mulutnya.
Saat itu wajah Kiau Hun sudah berubah pucat pasi, tubuhnya terhuyung-huyung.
Dia berusaha mempertahankan dirinya, tapi keadaannya sudah seperti lampu yang hampir kehabisan minyak.
Tan Ki melihat bibirnya bergerak-gerak seakan ingin mengatakan sesuatu.
Namun dia sudah lemah sekali, untuk sesaat dia tidak sanggup membendung keperihan hatinya, kakinya langsung melangkah ke depan menghampiri Kiau Hun.
Tangan kanan Tan Ki terulur ke depan meraih pinggang Kiau Hun.
Dalam waktu yang bersamaan dia berkata dengan suara lirih.
"Apakah ada sesuatu yang ingin kau katakan?"
Sepasang mata Kiau Hun yang mulai redup membuka dan menatapnya sejenak.
Kemudian dia memejamkan matanya kembali, bibirnya bergerak-gerak beberapa kali akhirnya terdengar juga suaranya yang seperti dengungan nyamuk.
"Pertikaian Cin merupakan takdir, daun Tong rontok sedikit... de... mi... se... di... kit..."
Entah apakah ucapannya hanya demikian saja atau masih ada kelanjutannya.
Tetapi kepala Kiau Hun tiba-tiba terkulai dan jiwanya pun melayang.
Dengan mata tidak berkedip sedikitpun Tan Ki melihat seorang gadis cantik mati dalam pelukannya, tiba-tiba hidungnya terasa perih dan air matanya jatuh bercucuran.
Perlahan-lahan dia meletakkan mayat Kiau Hun di atas tanah, kemudian membungkukkan tubuhnya dalam-dalam.
Ini merupakan penghormatan dari hatinya yang paling dalam sebagai tanda penyesalan dirinya.
Orang-orang yang hadir di dalam ruangan itu juga merasa iba melihat nasib gadis itu.
Wajah mereka tampak kelam.
Perih dan sesal membaur dalam hati mereka.
Bahkan Yibun Siu San, Cian Gong serta Tian Bu Cu yang mempunyai kekerasan hati melebihi orang lain juga berubah mimik wajah mereka.
Suasana dalam ruangan itu demikian mencekam, kematian Kiau Hun yang mengenaskan itu tampaknya menimbulkan kepiluan yang tidak terkirakan.
Sekali lagi Tan Ki menarik nafas panjang.
Baru saja dia ingin memanggil beberapa orang untuk mencari tempat yang tenang untuk mengubur mayat Kiau Hun, tiba-tiba suatu ingatan melintas di benaknya.
Mendadak dia ingat bahwa kata-kata yang diucapkan Kiau Hun menjelang akhir hidupnya pernah didengarnya dan juga merupakan syair yang menghalau Cia Tian Lun pergi meninggalkan mereka.
Hatinya sadar bahwa syair itu merupakan pesan yang dititipkan kepada ibunya oleh kakak beradik Cin Ying dan Cin Ie.
Meskipun tidak persis sama, tetapi makna yang terkandung di dalamnya hampir serupa.
Tentu saja Tan Ki tidak mengerti apa maksudnya.
Hanya hatinya merasa heran mengapa menjelang akhir hidupnya Kiau Hun bisa mengucapkan kata-kata itu.
Oleh karena itu, pandangan matanya langsung ditujukan kepada kakak beradik Cin yang berdiri di belakang ibunya.
Bibirnya bergerak-gerak seakan ingin mengatakan sesuatu, tetapi kemudian dibatalkannya kembali.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang mendatangi dengan tergesa-gesa.
Seorang penjaga menghambur masuk ke dalam ruangan dan berhenti di hadapan Tan Ki.
Kemudian orang itu menekuk sebelah kakinya dan memberikan laporan...
"Regu depan melaporkan, bagian timur dan selatan sudah terlihat munculnya jejak musuh. Harap Bengcu segera menurunkan perintah!"
Sepasang alis Tan Ki langsung menjungkit ke atas.
"Bagus sekali! Mereka tidak perlu makan dan beristirahat lagi langsung datang menyerbu?"
Tangannya mengibas sebagai isyarat agar penjaga itu mengundurkan diri.
Kemudian dia berjalan perlahan-lahan ke tempat duduknya semula.
Orang-orang yang hadir dalam ruangan itu melihat dia tidak mengucapkan sepatah kata-pun dan menundukkan kepalanya merenung.
Mereka tahu bahwa saat itu dia sedang menguras otaknya memikirkan cara menghadapi musuh.
Oleh karena itu, mereka menahan nafas dan tidak berani bergerak sedikitpun.
Mereka menunggu keputusan yang akan diambil oleh Tan Ki.
Orang-orang itu tahu bahwa Tan Ki mempunyai otak yang sangat cerdas, tetapi kali ini mereka menghadapi musuh yang tangguh dari pihak Lam Hay dan Si Yu.
Seandainya terjadi kesalahan sedikit saja, maka seluruh pasukan akan terpengaruh.
Pertumpahan darah akan terjadi secara mengerikan.
Hal ini menyangkut seluruh dunia Bulim sehingga diam-diam hati mereka merasa tegang sekali.
Kurang lebih sepeminuman teh kemudian, tiba-tiba Tan Ki mendongakkan wajahnya dan menarik nafas panjang-panjang.
Dia seakan melampiaskan kekesalan dan kegundahan hatinya.
Semangatnya seperti terbangkit kembali.
Orangnya sendiri langsung berdiri.
"Para Jendral di zaman dahulu mempunyai sebuah pedoman.
"Air datang, tanah menghadang. Prajurit datang, Jendral menantang!"
Perkumpulan Ikat Pinggang Merah mewakili golongan hitam dan putih dari dunia Bulim.
Dengan demikian kita harus menghadapi gabungan pihak Lam Hay dan Si Yu.
Meskipun kekuatan musuh di depan mata lebih kuat dari kita, tetapi pertarungan ini menyangkut nasib seluruh Bulim kita.
Aku rasa saudara-saudara sekalian dapat bersatu menghadapi musuh-musuh yang tangguh ini."
Terdengar sahutan serentak dari orang-orang yang hadir di dalam ruangan tersebut.
"Kami rela menerima perintah Bengcu dan bersatu menghadap musuh-musuh yang ingin menanamkan kekuasan di daerah Tionggoan kita."
Tan Ki tertawa lembut.
"Kalau begitu hatiku baru merasa tenang. Meskipun kekuatan kita kalah banyak, tetapi semangat kita jauh melebihi mereka. Demi kesejahteraan dunia Bulim kita di masa yang akan datang, setiap tetes darah harus mengalir dengan imbalan yang sesuai."
Dia menghentikan kata-katanya sejenak, baru kemudian melanjutkan kembali.
"Ada suatu berita lainnya yang harus kusampaikan terlebih dahulu kepada saudara-saudara sekalian. TianlBu Cu Locianpwe tadi mengatakan kepadaku bahwa lima partai besar sudah tahu golongan sesat dari luar samudera akan menyerbu kita. Asal kita bersatu dengan segenap kemampuan serta mempertahankan diri sampai besok siang, maka para ketua, pimpinan maupun angkatan tua dari lima partai besar akan keburu sampai di sini memberikan bantuan."
Berkata sampai di sini, tiba-tiba suatu ingatan melintas di benaknya.
Tanpa sadar sepasang alisnya berkerut, ucapannya terhenti.
Wajahnya menunjukkan perasaannya yang gundah.
Tiba-tiba terdengar suara tambur dipukul bertalu-talu, kemudian disusul dengan tepukan tangan yang riuh rendah.
Rupanya orang-orang yang hadir menyambut ucapan Tan Ki dengan riang gembira.
Semangat mereka juga terbangkit seketika.
Mereka malah tidak memperhatikan mimik.
wajah Tan Ki yang aneh.
Liang Fu Yong mempunyai sepasang mata yang tajam.
Dia sangat mencintai Tan Ki sehingga selalu memperhatikan gerak-gerik anak muda tersebut.
Melihat wajah anak muda itu mendadak berubah kelam, dia langsung teringat suatu rahasia yang besar.
Ketika baru terjun ke dunia Kangouw, boleh dibilang secara berturut-turut Tan Ki membunuh dua puluh tujuh tokoh hitam putih dunia Bulim.
Kemudian dirinya malah sempat bertikai dengan orang-orang dari pihak lima partai besar.
Setelah lewat satu tahun dia baru tahu bahwa pembunuh ayahnya yang sebenarnya adalah paman keduanya, Oey Kang.
Tetapi dia sudah terlanjur membunuh sekian banyak orang, hatinya menyesal sekali.
Orang-orang yang mati di tangannya hanya tahu bahwa dirinya adalah Cian Bin Moong, si raja iblis yang menggemparkan dunia Kangouw.
Meskipun sampai hari ini rahasianya masih belum terbongkar, tetapi hati kecilnya terus merasa bersalah.
Dia selalu merasa tidak tenang.
Oleh karena itu, setiap hal yang dilakukannya selalu mengandung kebimbangan.
Begitu tahu bahwa tidak lama lagi dia akan berhadapan dengan orang-orang dari lima partai besar, hatinya menjadi agak kecut.
Apalagi dirinya terus digelayuti kisah asmara yang melibatkan beberapa orang gadis.
Meskipun Tan Ki adalah seorang pemuda yang cerdas, tetapi dalam waktu yang bersamaan harus menghadapi begitu banyak persoalan, pikirannya menjadi galau juga.
Justru ketika pikiran Liang Fu Yong melayang-layang dan hatinya merasa gelisah.
Tibatiba telinganya menangkap suara Tan Ki yang sengaja dicetuskan seriang mungkin.
"Baru saja Perkumpulan Ikat Pinggang Merah kita didirikan, ternyata kita sudah harus menghadapi cobaan yang demikian berat. Satu tangan tentu sulit melakukan pekerjaan yang banyak. Aku harap saudara dapat bersatu menghadapi musuh, dengan demikian baru kita menjadi kuat."
Meskipun hatinya sedang gelisah, tetapi di hadapan sekian banyak anggota Perkumpulan Ikat Pinggang Merah, dia terpaksa menunjukkan sikapnya yang optimis dan gagali.
Dia harus menjaga wibawanya sebagai seorang Bulim Bengcu.
Selesai berkata, dia langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut.
Terdengar suara dorongan meja dan kursi yang membisingkan telinga.
Rupanya saat itu orang-orang yang ada dalam ruangan berdiri dari tempat duduknya serentak dan mengikuti Tan Ki berjalan keluar.
Dalam waktu yang singkat, ruangan yang tadinya penuh sesak jadi kosong melompong.
Hanya ada sesosok mayat yang mulai mendingin menggeletak di atas tanah...
Sukma seseorang telah meninggalkan raganya dan kembali ke alam asalnya.
Orangorang yang melihatnya segera timbul rasa pilu yang tidak terkirakan...
Beberapa saat kemudian, Tan Ki membawa orang orang yang terdiri sebagai anggota perkumpulannya menuju pintu gerbang.
Begitu pandangan matanya mengedar, dia melihat suasana di sekitarnya sunyi senyap.
Sama sekali tidak terlihat jejak musuh.
Ketika mengedarkan pandangannya, Tan Ki sempat melirik sekilas kepada Liu Seng.
Meskipun mulutnya tidak mengatakan apa-apa, tetapi diam-diam dia sudah mengambil sebuah keputusan dalam hati.
Dia seakan menyalahkan Liu Seng yang tanpa meminta persetujuannya lagi langsung membunuh Kiau Hun dengan pisau terbang.
Apabila Oey Ku Kiong yang menempuh bahaya mengambil obat penawar dapat kembali tepat pada waktunya dan berhasil, bagaimana dia harus menyatakan tanggung jawabnya?
Ketika pertama-tama menerima jabatan sebagai Bulim Bengcu, dia sudah menentukan bahwa "Harus menjaga kepercayaan orang lain dan menepati janji"
Sebagai peraturan ketiga yang tidak boleh dilanggar.
Ternyata belum satu hari saja, Liu Seng sudah melanggar peraturan tersebut.
Hal ini justru membuat Tan Ki jadi serba salah dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Perlu diketahui bahwa Tan Ki sekarang merupakan seorang Bulim Bengcu.
Baik perkataan maupun tindak tanduknya mempunyai pengaruh yang besar terhadap dunia Bulim.
Dia harus bersikap tegas agar para anggotanya benar-benar takluk dan tidak memilih kasih.
Sekarang dengan seenaknya Liu Seng melanggar peraturan yang ditentukan.
Sudah seharusnya Tan Ki memberi hukuman kepadanya agar yang lain tidak ikut-ikutan melakukan hal yang sama.
Tetapi justru hubungannya dengan orang itu merupakan mertua dan menantu...
Semakin dipikirkan hati Tan Ki semakin kesal.
Dia merasa pikirannya saat itu seperti buntu dan tidak dapat menentukan jalan yang harus dipilihnya.
Kalau Oey Ku Kiong tidak berhasil mendapatkan obat penawar, mungkin urusannya tidak begitu rumit.
Namun nyawa para anggotannya yang sedang sekarat...?
Mungkin lebih baik kalau Oey Ku Kiong berhasil mendapatkan obat penawar tetapi waktunya lebih dari batas yang telah ditentukan, dengan demikian dia masih dapat mengemukakan berbagai alasan...
Justru ketika pikirannya masih bergerak, tiba-tiba dari seberang bukit terdengar suara siulan yang panjang.
Kemudian disusul dengan belasan sosok bayangan yang muncul.
Di bawah cahaya matahari yang terik, tampak mereka melesat datang dengan cepat.
Mata Tan Ki menyorotkan sinar yang tajam, tangannya terangkat ke atas dan menggapai sebanyak dua kali.
Orang-orang yang mengikutinya segera memencarkan diri dan mengambil posisi melebar seperti sayap burung rajawali yang direntangkan.
Gerakan mereka sangat kompak seperti orang-orang yang sudah lama dilatih.
Barisan mereka pun teratur sekali.
Tiba-tiba tampak cahaya merah menerpa pandangan mata, rupanya secara diam-diam orang-orang gagah itu sudah menyiapkan sehelai ikat pinggang merah untuk diri mereka masing-masing dan saat itu langsung digunakan untuk mengikat pinggang mereka.
Panjang pendeknya tidak sama, mungkin karena diselesaikan dengan tergesa-gesa.
Hanya Tian Bu Cu seorang yang merupakan kekecualian.
Dia tetap berdiri tidak bergerak di tempatnya semula.
Baru saja mereka selesai mempersiapkan diri, pihak lawan sudah mencapai puncak bukit Tok Liong-hong dan berdiri pada jarak tiga depa dari hadapan mereka.
Di sebelah kiri berbaris tiga orang, mereka adalah ketiga tongcu dari Lam Hay Bun, yakni Ho Tiang Cun, Miao Siong Fei dan Tio Hui.
Di belakang mereka berbaris lagi lima atau enam belasan orang yang mungkin merupakan jago-jago dari pihak Lam Hay Bun.
Sedangkan di sebelah kanan dipimpin oleh Kaucu dari Pek Kut Kau, di sampingnya berdiri tegak adik seperguruannya, Kim Yu.
Kemudian berbaris di belakangnya sepasang siluman berpakaian putih dan beberapa orang lainnya lagi.
Di tengah-tengah berdiri seorang pelajar berpakaian hijau, alisnya tebal berbentuk melengkung seperti golok.
Di pundaknya terselip sepasang pedang yang gagangnya berukuran tiga cun.
Di pinggangnya menggantung sebuah kantong kulit yang biasa digunakan untuk menyimpan senjata rahasia.
Sikapnya tenang dan penampilannya keren.
Di sisi kiri kanannya berdiri kedua Bun Bu-siang, yakni Gia Tian Lun dan Tong Ku Lu.
Kedua orang itu seakan melindungi si pelajar tadi.
Melihat bentuk barisan pihak lawan, Ciu Cang Po benar-benar merasa di luar dugaan.
Terdengar mulutnya terus mengucapkan kata "Aneh...!"
Berkali-kali. Si pengemis sakti Cian Cong melirik kepadanya sekilas. Sepasang alisnya langsung mengerut ketat.
"Apa sih yang mulutmu ocehkan itu?"
Tanyanya kesal. Ciu Cang Po langsung tertawa dingin.
"Si nenek tua mempunyai kegembiraan tersendiri. Apapun yang ingin kulakukan, tidak perlu kau mengurusnya. Tiga bulan yang lalu, si nenek tua menerima sebuah pukulan dari-mu, sampai sekarang masih belum dapat dilupakan. Semoga dalam pertarungan kali ini, kaki atau tanganmu jangan sampai patah. Nanti kita cari kesempatan untuk memperhitungkan hutang piutang kita."
Sikap nenek ini benarbenar keras kepala dan tidak pernah mengalah kepada siapapun. Cian Cong tidak merasa aneh lagi dengan sikapnya itu. Dia mengembangkan seulas senyuman yang lembut dan menyahut.
"Seandainya si pengemis tua beruntung tidak mati dalam pertarungan ini, kapan waktu saja aku siap menyambut tantanganmu."
Begitu pandangan matanya dialihkan, saat ini sikap kedua belah pihak sama-sama serius dan tegang.
Biar bagaimana kedua belah pihak mempunyai maksud hati tersendiri.
Yang satu ingin memamerkan kekuatannya dan berusaha menguasai dunia Bulim, sedangkan pihak yang lainnya justru ingin mempertahankan kelangsungan dunia Bulim agar tetap seperti sekarang ini.
Dengan demikian, sebetulnya mereka tidak perlu menggerakkan lidah karena masing-masing sudah maklum kehendak hati lawannya.
Oleh karena itu, sejak bertemu muka, tidak ada yang mengucapkan sepatah katapun.
Dari awal hingga akhir mereka hanya saling menatap dengan mata mendelik lebar-lebar.
Tan Ki menjabat kedudukan sebagai Bengcu.
Seorang diri dia mewakili seluruh Bulim di daerah Tionggoan.
Dia merasa dengan berdiam diri begini terus, tentu persoalan tidak dapat diselesaikan.
Oleh karena itu, dia segera membusungkan dadanya dan berjalan keluar ke depan tiga langkah.
Kemudian dia menjura kepada si pelajar berpakaian hijau sebagai salam penghormatan.
Terdengar suaranya yang bening dan lantang...
"Apakah saudara sendiri yang dipanggil sebagai Toa Tocu dari Lam Hay Bun?"
Pelajar berpakaian hijau itu memperlihatkan tawa yang datar.
"Nama saudara telah menggetarkan seluruh Tionggoan, ternyata pandangan matanya demikian rabun!"
Setelah mengucapkan kata-katanya, dia tertawa terkekeh-kekeh dua kali. Mendengar ucapannya, Tan Ki justru tertegun untuk beberapa saat, kemudian baru dia melanjutkan kata-katanya.
"Kalau ditilik dari kata-katamu, tampaknya Toa Tocu sendiri masih belum muncul. Cayhe sudah lama mendengar bahwa tocu tersebut berilmu sakti. Sekarang kesempatan sudah ada, tetapi malah belum bisa bertemu muka, hati ini benar-benar merasa kecewa."
Si pelajar berpakaian hijau tertawa lebar.
"Kau anggap siapa guruku itu? Mana mungkin dia sudi bergebrak dengan seorang angkatan muda yang tidak berarti apa-apa seperti dirimu. Itulah sebabnya beliau mengutus aku, Hua Pek Cing sebagai wakilnya mengunjungi kalian."
Mendengar kata-katanya yang tajam menusuk, hati Tan Ki mulai merasa tidak senang "Apapun yang dikehendaki oleh kita masing-masing tentunya kita sama-sama sudah paham.
Apabila pertumpahan darah memang tidak dapat dielakkan lagi, lebih baik secara terang-terangan saja kita nyatakan cara bertarung yang akan dilangsungkan.
Buat apalagi kita berbicara panjang lebar?"
Bibir Hua Pek Cing tetap mengembangkan seulas senyuman.
"Apa yang saudara katakan memang tidak salah sedikitpun. Lebih baik kita langsung bergebrak agar pihak mana yang unggul atau kalah akan segera ketahuan. Lihat siapa yang berhak menguasai daerah seluas laksaan li ini!"
Mendengar sampai di sini, Tian Tai Tiau-siu Kok Hua Hong tidak dapat mempertahankan kesabarannya lagi. Dia langsung membentak dengan suara keras.
"Kentut busuk!"
Tubuhnya melesat ke depan dan dia langsung mengirimkan sebuah pukulan yang dahsyat.
Sikap Hua Pek Cing tetap tenang sekali.
Tampaknya dia malah tidak perduli dengan serangan Kok Hua Hong yang dahsyat itu.
Kejadian itu berlangsung dengan cepat.
Serangan Kok Hua Hong yang sengit belum sempat mencapai tubuh Hua Pek Cing, tibatiba telinganya mendengar suara bentakan marah.
"Ilmu silat daerah Tionggoan hanya omong kosong saja. Kau kira dirimu pantas bergebrak dengan Sau Tocu (Tocu muda)?"
Serangan yang meluncur datang ini mengandung kekuatan yang bukan main hebatnya.
Begitu beradu dengan pukulan Kok Hua Hong, segera terasa isi perut Kok Hua Hong tergetar.
Kakinya goyah dan ternyata dia tidak sanggup menahan serangan orang itu.
Oleh karena itu, dia cepat-cepat menarik nafas panjang dan mencelat ke belakang.
Baru saja kakinya berdiri dengan mantap, tiba-tiba tampak seorang kakek kurus mengeluarkan suara tawa yang menyeramkan dan menerjang datang secepat kilat.
Orang itu adalah salah satu dari Bun Bu-siang pihak Lam Hay, yakni Tong Ku Lu.
Telapak tangan kirinya menjulur ke depan dan tangan kanannya menyusul mengirimkan sebuah serangan.
Dalam satu jurus, ternyata orang itu menggunakan dua macam gerakan.
Begitu tergetar mundur oleh rangkum angin yang kencang, Kok Hua Hong segera sadar bahwa tenaga dalam lawannya tinggi sekali.
Apalagi ilmu silat pihak Lam Hay kebanyakan terdiri dari ilmu-ilmu golongan sesat.
Meskipun gerakan tubuhnya sangat cepat, tetapi tenaga dalam yang terpancar tidak seberapa terasa.
Mana mungkin Kok Hua Hong berani memandang ringan lawannya.
Cepat-cepat dia mengerahkan hawa murni dalam tubuhnya, kemudian melancarkan pukulan dengan posisi mendorong dari arah dada.
BAGIAN LII Sepasang telapak tangan Kok Hua Hong menghantam ke depan dengan posisi menahan di depan dada.
Tadinya dia berpikir ingin menahan serangan Tong Ku Lu, oleh karena itu tenaga dalam yang dikerahkannya dahsyat sekali.
Tiba-tiba dia melihat Tong Ku Lu menarik kembali sepasang lengannya, tubuhnya malah mendesak ke depan.
Dengan jurus Kerbau Menyeruduk Gunung, sekonyong-konyong dia menghantamkan pukulan ke depan.
Kok Hua Hong sudah mengerahkan segenap tenaga dalamnya, dia sama sekali tidak menyangka kalau Tong Ku Lu mendadak merubah gerakannya dan meluncurkan serangan kembali.
Dalam keadaan panik dia tidak sempat mengganti jurusnya lagi, tanpa dapat ditahan lagi hatinya tercekat.
Cepat-cepat dia menggunakan jurus Ikan Lele Melompat-lom-pat.
Tubuhnya mencelat ke atas lalu berjungkir balik ke belakang.
Tong Ku Lu mengeluarkan suara bentakan yang keras, kaki kirinya mengirimkan sebuah tendangan ke depan.
Kok Hua Hong segera merasakan ada serangkum kekuatan yang seperti batang besi membentur punggung sebelah kirinya.
Tubuhnya langsung tergetar kemudian menggelinding di atas tanah seperti sebuah hiolo.
Sampai jarak dua belas langkah, baru tubuhnya berhenti menggelinding.
Kemudian dia membuka mulut dan memuntahkan segumpal darah segar lalu jatuh tidak sadarkan diri.
Hanya dalam dua jurus saja Tong Ku Lu berhasil melukai dengan parah seorang jago sedang tingkat delapan.
Wajah Tan Ki beserta Rombongannya langsung berubah hebat.
Mereka merasa sedih dan marah.
Si pengemis cilik Cu Cia dan Goan Yu Liong segera menghambur ke depan dan memapah Kok Hua Hong agar dapat segera diberikan pertolongan.
Hua Pek Cing melihat pihaknya berhasil meraih kemenangan dan pertama kali bergebrak langsung mendesak pihak Tionggoan, diam-diam dia merasa puas sekali sehingga tanpa sadar bibirnya menyunggingkan seulas senyuman.
Dia mengibaskan tangannya sambil berkata.
"Tong Sian-sing, setelah berhasil lekas kembali ke tempatmu, biar orang lain yang melayani babak berikutnya!"
Mendengar ucapannya, tanpa terasa sepasang alis Tong Ku Lu berkerut-kerut.
Biar bagaimana dia merupakan seorang Bun Bu-siang dari Lam Hay Bun, kedudukannya tinggi sekali.
Boleh dibilang hanya di bawah Toa Tocu seorang.
Dia juga merupakan seorang tokoh yang dihormati oleh seluruh kalangan di daerah Lam Hay.
Bahkan Hua Pek Cing seharusnya menyebut orangtua itu sebagai Supek, karena dia memang benar-benar Suheng dari Toa Tocu.
Tetapi Hua Pek Cing justru menyebutnya Sian-sing (Tuan) di hadapan kedua belah pihak.
Diam-diam dia merasa pamornya jatuh.
Hatinya menjadi kurang senang.
Tetapi dia tahu bahwa Sutenya merupakan seorang tokoh yang selain berilmu tinggi juga cerdas sekali.
Setiap melakukan hal apapun selalu mempunyai pertimbangan yang matang.
Apabila dia rela menyerahkan tugas seberat ini kepada muridnya, tentu saja dia mempunyai alasan yang kuat.
Begitu pikirannya tergerak, dia terpaksa menahan kemarahan dalam hatinya dan mengundurkan diri ke tempatnya semula.
Kemudian terdengar suara tongkat besi yang dihentakkan di atas tanah.
Dengungannya memekakan telinga.
Seorang nenek tua berjalan keluar ke tengah arena.
"Si nenek tua sudah lama mendengar bahwa Lam Hay mempunyai ilmu yang sakti. Entah apakah Hua Kongcu sudi memberikan pelajaran barang beberapa jurus?"
Sembari berkata, sepasang matanya yang menyorotkan sinar tajam bagai kilat menatap diri Hua Pek Cing lekat-lekat.
Tidak syak lagi dia ingin membalas kekalahannya tempo hari!
Tiba-tiba Ho Tiang Cun yang menjabat sebagai Tongcu dalam Lam Hay Bun berkelebat keluar.
Bibirnya mengembangkan senyuman.
"Kau kira siapa adanya tocu muda kami? Mana sudi dia turun tangan memberi pelajaran kepadamu. Aku Ho Tiang Cun, seorang saja sudah cukup membuat kau mati dengan mata terpejam!"
Orang ini teria hi r dengan bibir sumbing dan mata sebelah.
Lagi pula wajahnya penuh dengan bekas bacokan golok.
Jeleknya sungguh seimbang dengan Om Cang Po.
Kalau bukan dalam keadaan genting seperti ini, orang-orang lain pasti tertawa melihat kedua orang sama jeleknya itu berdiri berhadapan.
Mendengar ucapannya, Ciu Cang Po gusar sekali.
Dia langsung melonjak ke atas dan mengirimkan sebuah pukulan.
Dengan tangan kiri, Ho Tiang Cun menangkis serangannya, dalam waktu yang bersamaan terdengar suara terkekeh-kekeh dari mulutnya.
"Kalau tidak mengingat bahwa kau pernah terluka di tangan Tocu muda kami, dengan berani menampilkan diri menantang saja, kau sudah patut dihukum mati!"
Hawa amarah dalam dada Ciu Cang Po benar-benar meluap mendengar ucapannya.
"Kentut busuk!"
Tubuhnya berkelebat, telapak tangan kiri menghantam dan tongkat di tangan kanannya mengibas ke depan.
Dalam waktu yang singkat dia melancarkan tujuh pukulan dan empat serangan tongkat.
Tangan kanan Ho Tian Cun dibungkus de-ngan sebuah sarung tangan besi.
Tentu saja dia tidak gentar menghadapi senjata apapun, Setelah menangkis sebuah serangan Ciu Cang Po, wajahnya berubah jadi serius.
Kaki tangannya segera bergerak cian melancarkan serangan dengan gencar.
Kedua orang ini merupakan tokoh-tokoh berilmu tinggi.
Baru bergebrak beberapa jurus, serangan yang dilancarkan semakin lama semakin keji.
Tenaga dalam yang dipancarkan pun semakin dahsyat.
Angin yang terpancar dari serangan mereka menderu deru, bayangan tongkat bagai layar yang berkibar-kibar.
Masing-masing tidak ada yang sudi mengalah.
Sekejap mata saja mereka sudah bergebrak sebanyak empat puluh jurus.
Tibatiba tampak tongkat di tangan Ciu Cang Po melancarkan dua buah serangan.
Setelah itu tubuhnya mencelat mundur sejauh setengah depa, sekaligus telapak tangan kirinya menghantam ke depan.
Ho Tiang Cun tahu ke marahan, nenek itu telah berkobar, serangannya mengandung tenaga dalam sepenuhnya seakan hendak mengadu jiwa dengan dirinya.
Dia juga langsung mengerahkan kekuatannya dan menyebarkannya ke sepasang lengannya.
Sebelah matanya menatap diri Ciu Cang Po lekat-lekat, dia sudah bersiap-siap menyambut serangan nenek tua itu dengan kekerasan.
Mata kedua orang itu tampak garang sekali.
Mereka menatap lawannya masing-masing tanpa berkedip sekalipun.
Keduanya saling menunggu.
Hal ini malah membuat suasana menjadi hening serta mencekam.
Sementara itu, telapak tangan Ciu Cang Po telah menghantam ke depan.
Ketika tangan kirinya berputar, terasa ada serangkum angin yang kencang dan gencar melanda ke arah Ho Tiang Cun.
Sejak semula Ho Tiang Cun sendiri sudah menunggu musuhnya, melihat nenek tua itu melancarkan serangan, dia langsung mengerahkan tenaga dalam yang sudah dipersiapkannya secara diam-diam dan didorongnya ke depan untuk menyambut serangan Ciu Cang Po dengan kekerasan.
Dua gulung tenaga yang kuat langsung saling beradu.
Kaki Ciu Cang Po terlihat goyah.
Dia tidak dapat berdiri dengan mantap, tubuhnya terhuyung-huyung beberapa kali kemudian terpaksa mundur ke belakang kurang lebih tiga langkah.
Ho Tiang Cun sendiri juga tergetar oleh hantaman tenaga dalam nenek tua itu yang kuat sehingga bagian tubuh sebelah atas limbung dan bergoyang-goyang.
Jubahnya yang panjang tampak berkibar-kibar.
Ciu Cang Po mengeluarkan suara dengusan dingin.
Ternyata nenek tua itu memang nekat sekali.
Tanpa mengatur pernafasannya lagi, lengan kirinya berputaran dan sekaligus dilancarkannya empat buah pukulan.
Ho Tiang Cun sendiri juga cukup keji.
Dia tidak mengelak maupun menghindar, secara berturut-turut disambutnya pukulan Ciu Cang Po yang empat kali itu dengan kekerasan.
Situasi jadi panas, angin yang terpancar dari pukulan mereka bergulung-gulung.
Yang seorang melancarkan empat pukulan, lawannya menyambut empat pukulan.
Wajah keduanya mulai berubah.
Nafas Ciu Cang Po tersengal-sengal, sedangkan keringat telah membasahi seluruh wajah Ho Tiang Cun.
Setelah menyambut empat kali pukulannya, Ciu Cang Po melihat keadaan Ho Tiang Cun masih biasa-biasa saja.
Hal ini benar-benar membuat kemarahannya meluap.
Dia segera membentak dengan suara keras, tubuhnya berkelebat ke depan dan langsung dikerahkannya lwekang kelas tinggi serta melancarkan serangan dari atas.
Pengalaman Ho Tiang Cun sebagai salah seorang Tongcu di Lam Hay sudah banyak sekali.
Begitu melihat gerakan Ciu Cang Po, dia sadar nenek tua itu sudah mengerahkan lwekang kelas tinggi seakan hendak mengadu jiwa dengannya.
Tanpa terasa sepasang matanya menyorotkan api amarah yang berkobar-kobar.
"Bagus sekali. Rupanya kau benar-benar hendak mengadu jiwa denganku?"
Teriaknya dengan suara melengking tajam.
Tangan keduanya yang telah diisi dengan tenaga dalam sepenuhnya langsung menghantam keluar menyambut serangan Ciu Cang Po yang dahsyat.
Cara bertarung yang menggunakan kekerasan ini benar-benar tidak dapat dianggap main-main.
Lagipula jauh berbeda dengan cara yang digunakan orang-orang biasanya.
Terdengar suara benturan yang menggelegar, baik Ciu Cang Po maupun Ho Tiang Cun sama-sama tergetar mundur sejauh empat langkah.
Tubuh keduanya sama-sama terkulai di atas tanah kemudian memuntahkan segumpal darah segar.
Perubahan yang tidak disangka-sangka langsung terjadi, keduanya sama-sama rubuh di tengah arena.
Ciong San Suang Siu segera maju ke depan memapah tubuh Ciu Cang Po, sedangkan di pihak lawan tampak Miao Siong Fei dan Tio Hui menghambur ke depan membangunkan Ho Tiang Cun.
Terdengar Miao Siong Fei bertanya dengan suara rendah.
"Ho Tongcu, bagaimana keadaan lukamu?"
"Sejak semula aku sudah mengerahkan hawa mumi untuk melindungi isi perut. Darah yang kumuntahkan tadi hanya karena tergetar oleh ilmu lwekangnya yang hebat sehingga terdesak keluar. Apabila dia masih bisa melakukan penyerangan, mungkin aku akan mati saat itu juga. Tetapi aku tahu bahwa dia sudah terhantam oleh lwekang yang kupancarkan. Bukan saja dia tidak sanggup bertarung lagi, luka dalamnya bahkan jauh lebih parah dari diriku."
Selesai berkata, senyumannya ditarik kembali.
Cepat-cepat dia menarik nafas panjang satu kali kemudian melepaskan diri dari bim-bingan tangan Miao Fei Siong serta Tio Hui.
Dengan langkah lebar dia kembali ke tempatnya semula.
Hua Pek Cing melihat pihaknya secara berturut-turut telah menang di atas angin.
Tetapi salah satu jagonya yang paling diandalkan juga sempat terluka.
Sepasang alisnya langsung menjungkit ke atas, perlahan-lahan dia melangkah maju ke depan.
Para jago dari pihak Lam Hay melihat Tosu muda mereka tampil ke depan seakan ingin turun tangan sendiri menghadapi lawan.
Secara berbondong-bondong mereka juga berebutan berjalan keluar.
Bahkan Kaucu Pek Kut Kau dari Si Yu juga ikut-ikutan berjalan keluar dari barisan mereka.
Para jago dari Perkumpulan Ikat Pinggang Merah takut pihak lawan akan menyerbu secara mendadak, dengan demikian mereka tentu kewalahan menghadapinya.
Cepatcepat mereka mencabut senjata masing-masing dan menyongsong ke depan.
Para jago dari kedua pihak berbondong-bondong keluar, suasana menjadi tegang tidak terkirakan.
Tempat itu bagai telah ditanami puluhan mesiu yang siap meledak setiap saat.
Jarak antara kedua pihak semakin mendekat, tampaknya sebuah pertempuran besarbesaran segera akan berlangsung di depan mata.
Tiba-tiba Hua Pek Cing menghentikan langkah kakinya serta mengibaskan tangannya.
"Kalian semua mundur!"
Kata-kata itu diucapkan dengan datar, namun pengaruhnya besar sekali.
Para jago dari pihak Lam Hay dan Si Yu ternyata langsung mengundurkan diri masing-masing.
Hanya Kaucu Pek Kut Kau saja yang masih berdiri di tempat semula.
Hua Pek Cing maklum bahwa orang itu menjaga gengsinya sehingga dia juga tidak ambil hati, bibirnya mengembangkan seulas senyuman yang datar.
Kemudian dia membalikkan tubuhnya kembali dan maju beberapa langkah lagi.
Dia segera menjura kepada Tan Ki dan berkata.
"Di dunia Bulim banyak sekali macam ragamnya. Sulit menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Masing-masing mempunyai pandangan hidup tersendiri. Guruku yang berbudi menyimpan harapan ingin menguasai dunia Bulim, sebetulnya bukan untuk dirinya sendiri. Beliau ingin mempersatukan seluruh Bulim di bawah benderanya sehingga tidak ada lagi yang mendirikan partai masing-masing. Oleh karena itu, tanpa memperdulikan jalan apapun yang harus ditempuhnya, beliau ingin menciptakan kebahagiaan untuk dunia Bulim sampai ratusan tahun yang akan datang. Tetapi ditilik dari keadaan yang ada, ternyata niat ini malah menimbulkan persengketaan. Mungkin hanya dengan ilmu kepandaian kita dapat menentukan siapa yang lebih kuat atau siapa yang berhak hidup. Namun hal ini merupakan urusan kita berdua yang telah terpilih sebagai pemimpin. Oleh karena itulah, segalanya kita yang berhak menentukan. Barusan telah terjadi dua babak pertarungan, meskipun ada menang dan ada yang kalah, tetapi babak ketiga ini lebih baik kita saja yang turun tangan sendiri agar urusan ini dapat diselesaikan secepatnya!"
Dikiranya siapa Tan Ki itu, mana mungkin dia sudi menunjukkan kelemahannya.
Pergelangan tangannya memutar dan Pedang Penghancur Pelangi sudah tergenggam dalam telapak tangannya.
Segera terpancar hawa yang dingin dari pedang itu.
Baru saja dia hendak melangkah keluar.
Liu Seng sudah mencelat ke depan dan menolehkan kepalanya.
"Kau merupakan Pangcu dari sebuah perkumpulan, jangan sembarangan turun tangan kalau tidak mendesak sekali. Biar aku yang hadapi dulu babak ini, nanti baru lihat lagi perkembangannya!"
Tan Ki agak bimbang sejenak, kemudian dia berpesan dengan suara rendah.
"Ilmu silat pihak Lam Hay selamanya terkenal ganas dan keji. Harap. Yok-hu berhati-hati."
Liu Seng tersenyum sambil menganggukkan kepadanya.
Dengan langkah lebar dia berjalan ke hadapan Hua Pek Cing.
Sembari berjalan, dia mengeluarkan pedang besinya yang berat dan telah membuat namanya terkenal di dunia Kangouw.
Hua Pek Cing tersenyum simpul kepadanya.
"Rupanya Lok Yang Sin-kiam, tuan Liu, Hua Pek Cing sudah lama mengagumi dirimu. Hari ini beruntung dapat bertemu muka, cayhe akan menghadapimu satu lawan satu untuk melihat sampai di mama kedahsyatan ilmu silat daerah Tionggoan dengan tangan kosong menemanimu bermain-main barang beberapa jurus!"
Mendengar sesumbarnya yang begitu besar, untuk sesaat Liu Seng tidak menyangkanya sehingga termangu-mangu.
"Apa?"
Dia bertanya sekali lagi seakan tadi telinganya masih belum mendengar ucapannya dengan jelas. Hua Pek Cing tertawa lebar.
"Menghadapi seorang Cianpwe yang namanya sudah menjulang tinggi seperti dirimu ini, rasanya kurang seru apabila menggunakan senjata. Seandainya tuan Liu dapat bertahan dua puluh jurus bergebrak denganku, biarlah babak ini anggap dirimu yang menang."
Kata-kata yang diucapkannya ini terdengar biasa-biasa saja, tetapi makna yang terkandung di dalamnya justru tajam menusuk.
Sepasang alis Liu Seng sampai menjungkit ke atas.
Bahkan wajah para jago dari pihak Lam Hay dan Si Yu pun sampai berubah.
Liu Seng sudah berkecimpung di dunia Kangouw kurang lebih tiga puluhan tahun.
Sebatang pedang besi yang beratnya mencapai dua belas kati itu pernah menggetarkan sungai telaga.
Mana boleh dia disamakan dengan tokoh sem-barangan.
Sedangkan Hua Pek Cing mengucapkan kata-kata yang sesumbar di hadapan para jago kedua belah pihak.
Dengan tangan kosong dia ingin menghadapi sebatang pedang tua Liu Seng, hal ini benar-benar membuat orang merasa bahwa dirinya sudah lebih dari keterlaluan.
Perlu diketahui bahwa kedua Bun Bu-siang dan ketiga tongcu dari Lam Hay merupakan orang-orang yang usianya sudah setengah baya bahkan ada yang sudah tua sekali.
Kedudukan mereka sangat tinggi dan sudah sejak lama nama mereka terkenal.
Tiba-tiba mereka disuruh menerima perintah dari seorang bocah yang baru menginjak dewasa, meskipun mulut mereka tidak mengatakan apa-apa, tetapi dalam hati pasti merasa tidak senang.
Tetapi karena pengaruh tocunya yang terhormat, mereka tidak berani memprotes secara terang-terangan.
Sedangkan Hua Pek Cing juga seorang pemuda yang cerdas.
Dia maklum bahwa dengan usianya yang begitu muda, sekarang dia harus mengendalikan para jago dari dua partai, tentu sulit meminta mereka merasa takluk begitu saja.
Oleh karena itu, dia sengaja tidak mengijinkan para tongcunya turun tangan lagi.
Dalam hatinya dia berniat melukai beberapa jago dari pihak lawan agar nyali musuh tergetar lebih dahulu.
Sekaligus memamerkan sedikit ilmunya yang sejati agar para jagonya atau jago dari pihak Si Yu tidak berani memandang remeh dirinya.
Sementara itu, Liu Seng yang mendengar kata-katanya, langsung memicingkan matanya.
Meskipun dia merupakan seorang tokoh yang sudah mengalami banyak hal, tetapi saat itu hawa amarah dalam dadanya terasa meluap juga mendengar ucapan anak kemarin sore yang begitu menyakitkan.
"Benar-benar mulut yang besar sekali! Lohu berkecimpung di dunia Kangouw selama puluhan tahun, tetapi belum pernah bertemu dengan orang yang begitu menganggap remeh orang lain seakan dirinya sendiri yang paling hebat!"
Pedang panjangnya diangkat ke atas, dengan jurus Menggetarkan Lonceng Besar, dia menikam ke depan.
Hua Pek Cing tersenyum simpul.
Tiba-tiba tubuhnya bergerak mendesak ke arah Liu Seng, ketika pergelangan tangannya bergerak, dengan telak dia melancarkan sebuah totokan ke salah satu urat darah Liu Seng yang mematikan.
Gerakan tubuhnya yang aneh itu mengandung kecepatan yang tidak terkirakan.
Orangorang yang hadir di tempat itu tercekat bukan kepalang.
Liu Seng tidak sempat menarik kembali serangannya, terpaksa dia mencelat mundur sejauh tujuh delapan langkah.
Sedangkan Hua Pek Cing masih berdiri di tempatnya semula.
Dia tidak mengejar lawannya.
Penampilannya tenang dan keren.
Bibirnya mengulumkan seulas senyuman.
"Bagaimana kalau yang tadi itu dihitung sebagai jurus pertama?"
Kata-katanya itu bagaikan sebilah pisau yang menikam jantung Liu Seng.
Dia berkecimpung di dunia.
Kangouw selama puluhan tahun, mana pernah dia menerima hinaan sehebat ini?
Begitu marahnya laki-laki setengah baya ini, sehingga dia langsung meraung keras, secepat kilat dia menerjang lagi ke depan, pedang besinya digetarkan.
Timbul angin yang kencang dan kilatan cahaya yang dingin.
Serangannya kali ini hebat bukan main.
Hua Pek Cing mengelakkan dirinya sedikit, tampaknya seperti menghindarkan serangan musuh, tetapi sebenarnya dia malah balas menyerang.
Jari tangannya meluncur ke depan mengirimkan sebuah totokan.
Jurus yang dikerahkannya seakan mengandung keajaiban.
Bukan saja dia berhasil mengelak dari serangan Liu Seng, bahkan dalam waktu yang bersamaan dia mendesak maju dan mengirimkan sebuah totokan.
Begitu terdesaknya Liu Seng sehingga terpaksa"
Mencelat mundur sejauh tiga tindak. Dengan demikian dia baru berhasil menghindarkan diri dari serangan Hua Pek Cing yang dahsyat. Dengan gaya yang bukan main santainya, Hua Pek Cing tertawa-tawa.
"Yang ini terhitung jurus kedua. Kau masih mempunyai kesempatan delapan jurus untuk meraih kemenangan!"
Begitu selesai berkata, kembali dia tertawa lebar.
Matanya menyorotkan sinar yang bercahaya terang, tetapi dari sepasang alisnya justru tersirat hawa pembunuhan yang tebal.
Mei Ling dan Tan Ki menyaksikan pertarungan di antara kedua orang itu dengan seksama.
Setelah lewat beberapa jurus, bukan saja mereka dapat melihat kelemahan orang-tuanya, tetapi semakin lama justru semakin terdesak di bawah angin.
Jangan kata perbandingan tenaga dalam di antara keduanya, jurus-jurus yang dikerahkan Hua Pek Cing demikian ajaib dan aneh sudah cukup membuat Liu Seng kalang kabut.
Kalau dia benar-benar bertarung dengan serius, mungkin dalam sepuluh jurus saja, Liu Seng sudah rubuh di atas tanah bermandikan darah.
Ternyata sesumbar yang dicetuskan mulut Hua Pek Cing bukan sekedar bualan saja.
Tanpa dapat ditahan lagi hati sepasang suami isteri itu jadi mengkhawatirkan keadaan Liu Seng.
Secara diam-diam mereka mengerahkan tenaga dalamnya dan berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan.
Apabila keadaan Liu Seng terlihat berbahaya, tentu mereka akan segera turun tangan memberikan bantuan.
Terdengar Hua Pek Cing mengeluarkah suara tawa terbahak-bahak.
"Cayhe sudah lama mendengar bahwa pedang besi tuan Liu mempunyai jurus serangan yang sakti dan dapat mengalahkan lawan sampai takluk. Tetapi apabila melihat kenyataan hari ini, tampaknya berita itu terlalu dibesar-besarkan. Kalau pertarungan ini tetap diteruskan, rasanya tidak seru lagi. Lebih baik tuan Liu mengundang beberapa rekan yang lain agar cayhe merasa lebih puas melanjutkan pertarungan ini, bagaimana?"
Apabila kata-kata ini tercetus dari mulut orang lain, pasti orang-orang dari kedua belah pihak merasa ucapan seperti itu keterlaluan dan tidak pantas diucapkan.
Wajah Liu Seng sampai merah padam mendengar perkataannya.
Tiba-tiba dia meraung marah dan tubuhnya mencelat ke udara, pedang besi yang be?
ratnya mencapai dua belas kati itu langsung melancarkan serangan yang tidak terkirakan dahsyatnya.
Tampak pedangnya laksana naga sakti yang meliuk-liuk di angkasa serta mengi baskan ekornya dengan marah.
Serangannya kali ini dilancarkan dalam keadaan marah, dia sudah bertekad menghabiskan nyawa Hua Pek Cing di bawah serangan pedangnya.
Dengan demikian hinaan yang diterima jadi terbalas.
Oleh karena itu, setiap jurus yang dikerahkannya selalu mengandung kedahsyatan yang luar biasa kejinya.
Hua Pek Cing tertawa panjang.
Tubuhnya bergerak perlahan, jubahnya yang panjang berkibar-kibar.
Dia menerobos masuk ke dalam bayangan pedang yang bergulung-gulung.
Gerakan tubuhnya bagai seekor kupu-kupu yang menyelinap ke dalam gerombolan bunga.
Dia berkelebat ke sana ke mari dalam bayangan pedang Liu Seng.
Secara berturut-turut empat belas jurus telah berlalu.
Sebatang pedang Liu Seng seperti hujan yang diterpa angin kencang, melesat ke kiri dan kanan.
Tetapi dari awal hingga akhir tetap saja dia tidak sanggup menyentuh ujung pakaian Hua Pek Cing, apalagi tubuh orang itu.
Boleh dibilang dalam empat belas jurus tersebut, Hua Pek Cing hanya menghindarkan diri saja.
Dia tidak membalas serangan Liu Seng.
Setelah memperhatikan sejenak, orang-orang yang ada di tempat itu segera sadar bahwa ilmu Tocu muda itu memang tinggi sekali...
Setelah empat belas jurus terlewatkan, tiba-tiba Hua Pek Cing tertawa panjang.
Sepasang lengannya berputaran secepat kilat dan menimbulkan angin yang kencang.
Sekonyong-konyong dia melancarkan serangan.
Tampak gerakan tangannya begitu aneh dan belum pernah dilihat selama hidupnya oleh Liu Seng.
Untuk sesaat Liu Seng menjadi kalang kabut dan bingung bagaimana harus menghadapi anak muda itu.
Tahu-tahu salah satu jalan darahnya telah tertendang oleh Hua Pek Cing.
Tidak sempat mendengus sekalipun, tubuhnya langsung terkulai dan jatuh tidak sadarkan diri di atas tanah.
Gerakan Hua Pek Cing terlalu cepat.
Meskipun Tan Ki sudah berjaga-jaga sejak tadi, tetapi dia tetap tidak keburu memberikan pertolongan.
Tanpa dapat ditahan lagi sepasang alisnya menjungkit ke atas.
Dia mendengus dingin satu kali kemudian berjalan keluar perlahan-lahan dengan niat hendak menghadapi musuh itu dengan tangannya sendiri.
Tiba-tiba terasa ada serangkum tenaga yang kuat menahan tubuhnya.
Begitu menolehkan kepalanya, dia melihat Yibun Siu San memberikan isyarat dengan gerakan tangannya mencegah tindakannya.
Sepasang mata orangtua itu menyorotkan sinar yang penuh perhatian "serta kasih sayang.
Tan Ki adalah seorang pemuda yang cerdas, tentu saja dia mengerti maksud hati pamannya.
Biar bagaimana sekarang kedudukannya merupakan Bulim Bengcu.
Yibun Siu San khawatir kalau dia sempat terluka parah di tangan Hua Pek Cing.
Diam-diam Tan Ki merasa terharu sekali.
Setelah menarik nafas panjang-panjang.
Dia segera menghentikan langkah kakinya.
Hatinya sendiri sedang gundah.
Mana mungkin dia tidak paham bahwa sebagai seorang Bulim Bengcu, pertama kali bergebrak melawan musuh, apabila dirinya sampai mengalami kekalahan, tentu nama besarnya akan hancur seketika.
Kepercayaan yang diberikan oleh para anggotanya juga sirna begitu saja.
Dan yang paling parah, justru bisa mempengaruhi seluruh Bulim di daerah Tionggoan yang pasti akan dihina secara habis-habisan.
Tetapi baru beberapa jurus ilmu yang dipamerkan oleh Hua Pek Cing, sudah membuktikan bahwa kepandaiannya sudah mencapai taraf sedemikian tinggi sehingga sulit dibayangkan.
Begitu kuatnya sehingga di luar dugaan orang-orang dari kedua belah pihak.
Kalau ditilik dari kekuatan kedua belah pihak, hanya si pengemis sakti Cian Cong, Yibun Siu San dan Tian Bu Cu yang ilmunya paling tinggi, sedangkan orang-orang seperti Ciong San Suang Siu, Goan Siang Fei atau mertua Tan Ki sendiri, hanya termasuk pendekar pedang tingkat delapan.
Kalau Liu Seng tidak sanggup menghadapi Hua Pek Cing.
Mungkin hanya mengorbankan nyawa secara sia-sia apabila dipaksakan juga.
Tetapi Yibun Siu San dan Cian Cong merupakan angkatan tua bagi Tan Ki, sedangkan Tian Bu Cu malah seorang tamu yang hadir atas kehendaknya sendiri.
Tentu saja dia merasa tidak enak hati meminta ketiga orang Cianpwe tersebut maju ke depan menghadapi musuh.
Setelah dipikir bolak-balik, mungkin kalau dirinya sendiri yang tampil menghadapi lawan, baru bisa mencegah jatuhnya korban yang lebih banyak lagi.
Baca Juga: Anak Naga 15
Baca Juga: Rajawali Sakti Dari Langit Selatan Sin