Eps 10 Dendam Iblis Seribu Wajah - Khu Lung
Baca online Dendam Iblis Seribu Wajah - Khu Lung
Cersil Dendam Iblis Seribu Wajah - Khu Lung.
Tanpa terasa sepasang alisnya menjungkit ke atas.
Diam-diam dia merasa khawatir akan keselamatan Kok Hua Hong.
Ho Tiang Cun merupakan orangtua yang licik.
Melihat perhatian Cian Cong terpencar, dia segera menggenggam kesempatan emas itu sebaik-baiknya.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, sepasang telapak tangannya menghantam ke depan.
Dua arus tenaga yang saling susul menyusul terasa begitu dahsyat menerjang ke arah si pengemis sakti Cian Cong!
Serangannya ini dilancarkan dalam kemarahan yang meluap serta pertimbangan yang matang.
Dengan demikan dapat dibayangkan sampai di mana kehebatannya.
Hantaman telapak tangannya sampai menimbulkan suara angin yang menderu-deru, benar-benar sebuah serangan yang tidak boleh dianggap remeh.
Namun ilmu silat Cian Cong sudah mencapai taraf yang tinggi sekali.
Kalau dilihat dari luar, tampaknya dia tidak mengadakan persiapan sama sekali.
Padahal sejak semula dia sudah mengerahkan tenaga dalam dan berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan yang tidak diinginkan.
Ketika Ho Tiang Cun melancarkan serangannya, tiba-tiba tubuh orangtua itu juga berkelebat.
Dalam waktu yang bersamaan, tangan kanannya bergerak membalas sebuah serangan yang tidak kalah dahsyatnya!
Terdengar suara dengusan Ho Tiang Cun yang berat, dia mengempos semangatnya dan tenaga dalamnya pun di tambah lagi satu bagian.
Dengan berani dia menyambut serangan si pengemis sakti Cian Cong.
Terdengar suara benturan dua gulung tenaga dalam.
Blammm!
Tubuh mereka samasama tergetar dan menindak mundur sejauh satu langkah.
Ho Tiang Cun langsung memperdengarkan suara tawa yang dingin.
"Rupanya tenaga dalam si pengemis tua tidak lemah juga!"
Cian Cong tertawa terbahak-bahak.
"Terima kasih, terima kasih. Kau makhluk tua ini juga lumayan."
Mata Ho Tiang Cun yang tinggal sebelah mengedar ke kiri dan kanan. Dia marah sekali mendengar sebutan Cian Cong pada dirinya.
"Bersilat lidah panjang lebar tidak ada gunanya! Coba kau sambut lagi dua buah seranganku ini!"
Sembari berkata, telapak tangan kirinya diangkat ke atas.
Dengan tenaga dalam yang telah tersalurkan, kembali dia melancarkan sebuah serangan.
Segulung angin yang kencang segera terpancar keluar seiring dengan gerakan tangannya.
Kekuatannya bagai tanah longsor yang menimbulkan suara keras kemudian menghantam ke depan.
Cian Cong melihat serangan lawan kali ini begitu dahsyat, bahkan lebih hebat dari yang pertama.
Sebagai orang yang wataknya keras, tentu saja dia tidak sudi menunjukkan kelemahannya.
Lengan kirinya mengulur ke depan dan diapun menyambut serangan itu dengan kekerasan.
Sekali terdengar suara benturan tenaga dalam yang memekakkan telinga.
Dua rangkum tenaga dalam yang tidak berwujud kembali beradu, pasir dan debu di atas tanah beterbangan memenuhi udara.
Kedua orang itu lagi-lagi tergetar mundur sejauh satu langkah, rupanya mereka masih sama-sama kuat.
Setelah beradu kekerasan sebanyak dua kali, hawa murni di dalam kedua tokoh berilmu tinggi ini sama-sama banyak terhambur.
Untuk sesaat keduanya berdiri di tempat masingmasing tanpa bergerak sama sekali, mata mereka dipejamkan rapat-rapat dan segera mengatur pernafasan agar tenaga dapat pulih kembali secepatnya.
Tampak dada mereka bergerak turun naik menandakan nafas mereka yang tersengal-sengal.
Keringat dingin membasahi kening dan masih terus menetes membasahi seluruh wajah.
Dari sini terlihat bahwa untuk beberapa saat mereka tidak punya tenaga untuk mengadakan perlawanan.
Keduanya menggunakan kesempatan yang terbatas itu sebaik-baiknya.
Siapa yang lebih cepat memulihkan tenaga dalamnya, tentu berhasil memenangkan pertarungan ini.
Usia Ban Jin Bu masih muda dan pengalamannya masih cetek.
Selama hidupnya dia belum pernah melihat pertarungan yang demikian hebat.
Setelah Cian Cong dan Ho Tiang Cun mengadu kekerasan sebanyak dua kali, dia melihatnya sampai terlongong-longong.
Matanya terasa berkunang-kunang.
Hatinya berdebar-debar, tetapi dia pernah mendengar dari mulut beberapa orang Cianpwe bahwa mengadu tenaga dalam dengan cara demikian menghamburkan banyak hawa murni dalam tubuh.
Sekarang dia melihat nafas Cian Cong tersengal-sengal dan keringat terus mengucur dengan deras.
Dia tahu saat ini orangtua itu tidak sanggup bertarung lagi untuk sementara.
Sementara itu laki-laki setengah baya bertubuh kekar yang berdiri di belakang Ho Tiang Cun bersikap mencurigakan.
Sepasang alisnya menampakkan hawa pembunuhan yang tebal.
Matanya menatap lekat-lekat ke arah Cian Cong.
Orang yang bermata awas sekali pandang saja pasti akan mengetahui bahwa orang itu mempunyai niat yang jahat.
Berpikir sampai di sini, hatinya semakin khawatir.
Diam-diam dia berpikir...
"Laki-laki bertubuh tinggi besar ini entah punya maksud apa. Bila dia melakukan sesuatu yang melanggar peraturan dunia Kang-ouw, dengan membokong secara tiba-tiba. Cian Locianpwe pasti hanya punya harapan tipis untuk mempertahankan selembar nyawanya. Kalau aku maju ke depan memberikan bantuan, dengan mengandalkan sedikit kepandaian yang kumiliki ini, sama saja membenturkan kepala ke batu dan mengantarkan nyawa dengan percuma. Namun melihat adanya bahaya tetapi diam saja, bukan pula sikapku pada dasarnya."
Pikirannya persis seperti kincir angin yang berputar dengan cepat.
Namun belum sempat ia memutuskan langkah apa yang harus diambilnya, tiba-tiba tampak laki-laki bertubuh kekar itu menggerakkan tubuhnya ke atas setinggi lima depaan.
Di tengah udara sepasang kakinya berputaran kemudian berjungkir balik dengan kepala di bawah, orangnya sendiri laksana seekor burung yang menukik turun serta melancarkan sebuah serangan!
Ban Jin Bu melihat serangannya begitu cepat bagai kilat, jantungnya seakan berhenti berdetak.
Serangan orang itu demikian dahsyat.
Apabila sampai mengenai si pengemis sakti Cian Cong, dapat dipastikan nyawa orangtua itu pasti melayang.
Kekuatannya paling tidak mencapai ribuan kati.
Keadaan sudah demikian mendesak, tidak sempat lagi Ban Jin Bu berpikir panjang.
Meskipun hatinya masih agak bimbang, namun mulutnya langsung membentak dengan keras.
Lengannya disentak dan tubuhnya mencelat ke udara Dengan jurus Naga Murka Menerjang Langit, goloknya segera menimbulkan lingkaran bayangan yang tidak terhitung jumlahnya.
De.
ngan kecepatan yang tidak terkirakan, dia menerjang ke arah Miao Fei Siong.
Jurus serangannya ini memang sudah sangat hebat, ditambah lagi suasana hati Ban Jin Bu yang gugup karena ingin menolong orang.
Serangannya ini bukan main dahsyatnya.
Dia telah menggunakan segenap kekuatannya dan otomatis pengaruhnya juga ikut bertambah hebat.
Tiba-tiba terdengar suara tertawa dingin dari mulut Miao Fei Siong.
Telapak tangannya menghantam ke depan.
Entah bagaimana caranya, tahu-tahu dia sudah berhasil menghindar dari kilatan golok Ban Jin Bu, posisinya sendiri masih belum berubah, dia tetap menerjang ke arah si pengemis sakti Cian Cong.
Ban Jin Bu hanya merasa ada serangkum tenaga yang kuat menahan gerakan goloknya.
Dia segera merasa dadanya agak tergetar dan lengannya kesemutan.
Golok pusaka di tangannya melayang seketika.
Tubuhnya sendiri terpental sejauh tiga depaan.
Untung saja sejak kecil dia sudah mendapat latihan ilmu Silat dengan keras.
Dalam keadaan seperti itu dia tidak menjadi panik.
Cepat-cepat dia menarik nafas dalam-dalam dan merentangkan sepasang lengannya sehingga dengan gerakan yang indah dan perlahan-lahan dia melayang turun kembali di atas tanah tanpa terluka sedikitpun.
Dia segera memusatkan pandangan matanya.
Tampak Miao Fei Siong yang menahan goloknya dengan kekerasan hanya menjadi jambat sedikit gerakannya, namun dia tetap menerjang ke arah si pengemis sakti Cian Cong.
Jaraknya sudah begitu dekat, andaikata Ban Jin Bu berniat memberikan pertolongan, rasanya hanya sia-sia saja.
Begitu paniknya hati anak muda ini, sampai-sampai air matanya hampir mengalir keluar.
Dia hanya memandang lekat-lekat sambil menghentakkan kakinya di atas tanah keras-keras.
Tiba-tiba terdengar suara siulan yang beliung dan nyaring.
Kemudian disusul dengan perangkum angin kencang yang menghempas lewat di atas kepala Ban Jin Bu.
Sesosok bayangan berwarna hitam menerjang cepat ke arah Miao Fei Siong.
Suara tawa yang panjang dan dengusan berat terdengar dalam waktu yang bersamaan, matanya agak berkunang-kunang.
Dua sosok tubuh melayang turun di atas tanah saat itu juga.
Ban Jin Bu segera menenangkan hatinya lalu memusatkan perhatian.
Tampak Lok Yang Sin Kiam Liu Seng sudah menghadang di depan si pengemis sakti Cian Cong.
Sepasang matanya menyorotkan sinar yang dingin.
Wajahnya menyiratkan kegusaran yang tidak terkirakan.
Hal ini membuktikan bahwa laki-laki setengah baya yang ilmunya setingkat dengan pendekar tingkat delapan ini sudah meluap hawa amarahnya karena tindakan pihak Lam Hay dan Si Yu yang berkali-kali menyerbu ke Tok Liong-hong dengan berani.
Cian Cong masih memejamkan matanya mengatur pernafasan.
Tubuhnya tidak bergerak sama sekali, tetapi bukan berarti dia tidak tahu bahwa ada orang yang mencoba membokongnya lalu kemudian ada orang pula yang memberikan bantuan kepadanya.
Tiba-tiba dia membuka sepasang matanya dan mendelik ke arah Miao Fei Siong sekilas.
Setelah itu cepat-cepat dia memejamkan matanya kembali.
Sementara itu, dari belakang Ban Jin Bu terdengar suara kibaran pakaian, rupanya Mei Ling dan Tan Ki juga sudah sampai di tempat tersebut.
Dia menolehkan kepalanya memandang ke arah mereka.
"Tan-heng, bagaimana keadaan di puncak bukit?"
Tanyanya gembira. Tampaknya hati Tan Ki juga sedang diliputi kegusaran yang tidak terkirakan, mendengar pertanyaan itu sepasang alisnya langsung mengerut-ngerut.
"Paman Heng Sang Si beserta dua orang pendekar tingkat delapan yang tidak kuketahui namanya dan ada lagi enam orang pendekar pedang tingkat tujuh yang menjaga bagian penyimpanan ransum..."
Belum lagi ucapannya selesai, di bagian utara bukit tersebut tiba-tiba terlihat segumpal cahaya berwarna kemerahan, tingginya mencapai sepuluh depaan sehingga seluruh bukit bagai diselimuti awan merah.
Dilihat dari kejauhan bagai matahari yang berbentuk setengah lingkaran.
Kalau ditilik dari cahaya itu saja, dapat dipastikan bahwa di bagian tersebut sedang terjadi kebakaran hebat dan rasanya sulit dipertahankan lagi.
Tan Ki memperdengarkan suara tawa yang dingin.
Dia menunjuk ke arah kobaran api dan berkata.
"Beginilah akibatnya, meskipun paman Heng Sang Si sudah mempertahankan bagiannya mati-matian dan sekaligus menghadapi tiga orang lawan, namun rekanrekannya yang merupakan pendekar pedang tingkat delapan sudah tewas satu sedang yang lainnya terluka parah. Enam orang dari pendekar pedang tingkat tujuh juga sudah ada empat yang rubuh. Untung saja Sam Siok Yibun Siu San cepat mendengar kabar dan segera menyusul tiba. Bagaimana kejadian berikutnya aku tidak tahu lagi. Dengar-dengar di tempat Tian Bu Cu Locianpwe menutup diri juga sudah terlihat adanya jejak musuh..."
Ban Jin Bu menjadi tertegun beberapa saat mendengar keterangannya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Perlahan-lahan Tan Ki menarik nafas panjang.
"Kau kira hati giheng-mu ini tidak panik sebagaimana keadaanmu sekarang? Orangorang dari pihak Lam Hay dan Si Yu yang muncul malam ini bukan golongan kelas teri atau pesilat murahan. Dari tiap kelompok ada tiga orang, salah satunya pasti mempunyai ilmu yang tinggi dan sebanding dengan pendekar pedang tingkat sembilan. Aku benarbenar tidak berani membayangkan bencana apa yang akan terjadi di bagian belakang bukit. Tetapi paman Yibun sudah mengutus empat orang pendekar pedang tingkat delapan untuk memberikan bantuan kepada Ciong San Suang Siu..."
Kebetulan pada saat itu Mei Ling sudah memungut golok Ban Jin Bu yang terjatuh di atas tanah dan menyodorkannya kembali kepada anak muda itu.
Sementara itu hati Tan Ki mengkhawatirkan keadaan mertuanya sehingga ia tidak jadi melanjutkan kata-katanya.
Begitu pandangan matanya dialihkan, di tengah arena terlihat dua pasang manusia sudah terlibat dalam pertarungan yang sengit.
Kok Hua Hong dan Tio Hui sudah bertarung selama setengah kentungan.
Baik sepasang golok maupun bambu pancingan melakukan penyerangan dengan jurus-jurus yang keji dan cepat.
Lama kelamaan, keduanya tetap mempertahankan diri masing-masing dan berusaha menyimpan tenaga dalam untuk akhir pertarungan nanti.
Di pihak Liu Seng dan Miao Fei Siong, yang satu mengarahkan ilmu pedangnya yang cepat dan gesit.
Sedangkan yang satu menggunakan sepasang senjata berbentuk sayap burung dan terbuat dari emas.
Perhatian keduanya terpusat pada senjata lawan, cara bertarung mereka agak berlainan dengan Kok Hua Hong yang sedang melawan Tio Hui.
Gerakan mereka jauh lebih lamban.
Setiap kali salah satu dari mereka melakukan penyerangan, yang satunya bertindak mundur dengan perlahan.
Seolah-olah mereka bukan bertarung secara sungguh-sungguh tetapi bagai dua orang yang sedang berlatih.
Namun bagi orang yang mempunyai mata tajam serta berilmu tinggi, tentu tahu bahwa cara bertarung seperti mereka ini malah lebih banyak menggunakan hawa murni sehingga keadaannya juga jauh lebih berbahaya apabila dibandingkan dengan duel antara Kok Hua Hong dengan Tio Hui.
Suasana yang tegang meliputi sekitar tempat tersebut.
Setiap saat ada kemungkinan terjadi pertumpahan darah.
Kurang lebih sepenanakan nasi kemudian, nafas Liu Seng maupun Miao Fei Siong mulai tersengal-sengal.
Yang satu matanya merah membara seakan mengandung kobaran api yang besar.
Sedangkan yang satunya mengucurkan keringat terus dan rambutnya seakan berjingkrakan karena menahan kegusaran hatinya.
Sepasang alis Mei Ling tampak mengerut ketat melihat keadaan itu.
Perlahan-lahan dia menyenggol lengan Tan Ki.
"Tan Koko, coba kau lihat apakah keadaan ayah membahayakan?"
Mata Tan Ki memperhatikan jalannya pertarungan tanpa berkedip sekalipun.
"Aku tidak tahu, Yok-hu (ayah mertua) merupakan pendekar pedang tingkat delapan. Ilmu pedangnya sudah mencapai taraf yang cukup tinggi, tetapi senjata lawannya berbentuk aneh dan rasanya sudah dilatih sampai matang. Setiap jurus serangannya mengandung kekejian yang tidak terkirakan. Masing-masing ada kelebihannya tersendiri. Untuk sesaat sulit menentukan siapa yang lebih unggul."
Tiba-tiba terdengar suara siulan yang nyaring dan dengusan yang berat dalam waktu bersamaan, saat itu juga Kok Hua Hong dan Tio Hui sama-sama rubuh di atas tanah.
BAGIAN XLIV Rupanya setelah bertarung sekian lama, Tio Hui yang merasa dirinya mengemban tugas penting, ingin segera menyelesaikan pertarungan tersebut.
Sepasang goloknya berkelebat ke sana ke mari dengan gencar.
Kadang-kadang menangkis kemudian tiba-tiba melakukan penyerangan.
Tampaknya orang itu sudah nekat untuk berduel habis-habisan dengan Liu Seng.
Lama kelamaan Kok Hua Hong menjadi kehabisan sabar, dia menggenggam bambu pancingannya erat-erat.
Segera dikerahkannya jurus Tiga Puluh Enam Kail Pengejar Angin yang membuatnya terkenal di dunia Kangouw.
Tenaga dalamnya yang mengandung kekuatan ribuan kati dikerahkan secara keseluruhan di tangkai bambu pancingannya, setiap gerakan mengandung angin yang kencang.
Saat itu juga timbul bayangan pancingannya yang tampak menyapu ke kiri dan kanan.
Pengaruhnya langsung bertambah hebat, pada jarak kurang lebih sepuluh depaan diselimuti oleh bayangan pancingannya, bahkan tubuh Tio Hui seakan terkurung di dalamnya.
Melihat gerakan senjata Kok Hua Hong tiba-tiba berubah, cahayanya memercik bagai curah hujan yang deras, Tio Hui merasa ada gelombang dahsyat yang melanda ke arahnya.
Dalam keadaan seperti ini, mau tidak mau dia mengerahkan seluruh kekuatannya menghadapi lawan.
Sepasang goloknya langsung diputar, timbullah gulungan hawa dingin yang menyinarkan cahaya berkilauan, dengan demikian dirinya jadi terlindung dari serangan Kok Hua Hong.
Namun Kok Hua Hong menyerang semakin gencar.
Sedikitpun ia tidak memberi kesempatan bagi Tio Hui untuk menangkis.
Hal ini membuat hawa amarah dalam hati Tio Hui jadi meluap.
Dia langsung mengeluarkan suara bentakan yang menggelegar, lengannya bergerak setengah melingkar.
Dengan jurus Delapan Langkah Kembali Kosong, dia menerjang ke depan tanpa memperdulikan keadaan dirinya yang berbahaya.
Tampak pancingan Kok Hua Hong bergerak cepat menuju pundak kiri Tio Hui.
Dalam waktu yang bersamaan kakinya melangkah maju mendesak ke depan tiga langkah, tahu-tahu dia sudah sampai di hadapan Tio Hui.
Keberanian Kok Hua Hong dalam melakukan serangan kali ini benar-benar di luar dugaan Tio Hui.
Untuk sesaat sempat dia tertegun, sekejap mata kemudian dia menggerakkan sepasang goloknya menangkis serangan Kok Hua Hong sekaligus menahan tubuh orang itu yang mendesak ke arahnya.
Cahaya goloknya putih bagai salju, hawa yang terpancar dingin sekali.
Dalam serangannya kali ini,, baik kecepatan, waktu, kekuatan semuanya terpadu dengan baik.
Sambil menangkis, dia tetap mencari kesempatan melukai lawannya.
Cahaya golok memijar menyambut datangnya pancingan, dalam waktu sekejap mata lagi pasti akan saling beradu.
Tiba-tiba Kok Hua Hong menghimpun hawa murni dalam tubuhnya dan merubah gerakannya.
Dengan hentakan yang keras dia menarik kembali pancingannya yang sedang meluncur ke depan.
Terdengar suara desiran yang keras, pancingannya menyapu ke arah golok yang sedang meluncur ke arahnya.
Jurus ini begitu anehnya sehingga orang yang melihatnya sampai terkesima.
Hal ini benar-benar di luar dugaan Tio Hui sendiri.
Hatinya tergetar, apabila saat itu dia bermaksud mencelat mundur, tentu sudah tidak keburu lagi.
Tiba-tiba dia merasa pergelangan tangannya tergetar karena sapuan pancingan Kok Hua Hong.
Pangkal lengannya terkoyak dan darah segera menetes jatuh di atas tanah.
Wajah Tio Hui yang hitam langsung berubah hebat, tubuhnya sempoyongan seperti orang yang habis meneguk arak secara berlebihan.
Setelah terhuyung-huyung mundur sejauh tiga langkah baru dia dapat berdiri tegak kembali.
Perlu diketahui bahwa orang yang satu ini biar bagaimana merupakan salah satu tongcu dari Lam Hay Bun.
Sehari-harinya dia bertugas mendidik para anak murid berlatih ilmu silat.
Dapat dibayangkan bagaimana berwibawanya orang ini di daerah asalnya sendiri.
Kedudukannya sangat tinggi.
Belum pernah ada orang yang menghina dia sedemikian rupa.
Sapuan pancingan Kok Hua Hong sempat membuat lengannya terluka, meskipun tidak parah tetapi justru menimbulkan hawa pembunuhan dalam dirinya.
Dia merasa kejadian ini benar-benar menjatuhkan pamornya.
Dia lalu mengeluarkan suara siulan yang mengandung kegusaran hatinya.
Pergelangan tangannya memutar, tiba-tiba dia mencelat mundur sejauh empat langkah.
Dibuangnya golok yang ada di tangan kiri.
Kok Hua Hong mengira dia akan melancarkan serangan, tahu-tahu orang itu malah mencelat mundur kemudian membuang golok di tangannya.
Untuk sesaat dia jadi tertegun, tetapi biar bagaimana dia merupakan seorang tokoh tua yang sudah banyak pengalamannya.
Hatinya merasa curiga atas tindakan Tio Hui itu.
Diam-diam dia mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, matanya menyorotkan sinar yang tajam dan berdiri tegak menanti.
Justru di saat itulah dia melihat Tio Hui mengibaskan tangan kirinya, dua carik sinar berwarna keputihan melesat ke depan!
Kok Hua Hong tertawa terbahak-bahak.
"Segala macam besi rongsokan juga dipamerkan!"
Sindirnya.
Pancingannya segera menyapu ke depan, terdengar suara.
Ser!
Ser!
Sebanyak dua kali.
Disusul dengan suara benturan antara logam dengan batang pancingannya, dua batang piau yang disambitkan Tio Hui langsung tersampok jatuh oleh kibasan pancingannya.
Tio Hui tertawa dingin.
"Yang pertama tadi hanya salam perkenalan saja. Seumpamanya melempar batu meninjau ke dalam sumur, sekarang boleh kau coba lagi Jarum Emas Pengincar Nyawa ini, lihat apakah kau masih berani bermulut besar?"
Sembari berkata, tangannya dikibaskan ke depan beberapa kali.
Tubuhnya melesat ke udara dalam waktu yang bersamaan.
Di bawah cahaya rembulan yang redup terlihat tiga titik sinar seperti bintang meluncur, satu menyusul yang lainnya sehingga seperti barisan yang rapi.
Kecepatannya bagai kilat melesat ke arah Kok Hua Hong.
Tiga batang senjata rahasia ini bentuknya kecil sekali, tetapi sinarnya justru berkilauan.
Tiga-tiganya meluncur di udara bagai anak panah, tetapi tidak ada suara sedikitpun yang terdengar.
Diam-diam Kok Hua Hong menduga dalam hati bahwa ketiga batang am gi (senjata rahasia) tersebut adalah sejenis Bwe Hua-ciam (jarum bunga bwe).
Ilmu Kok Hua Hong sudah cukup tinggi dan namanya juga terkenal di dunia Kangouw, mana mungkin dia memandang sebelah mata pada senjata rahasia seperti mainan anak-anak ini?
Dia segera mendongakkan wajahnya tertawa terbahak-bahak, tangannya menghantam ke depan mengirimkan sebuah pukulan.
Tiga titik sinar tadi langsung memental kembali terkena angin pukulannya yang dahsyat, cahaya keperakan tadi berkilauan beberapa kali kemudian lenyap ditelan kegelapan.
Namun tepat ketika dia menyampok ketiga batang senjata rahasia itu, tiba-tiba di atas kepalanya terasa angin berdesir, sesosok bayangan menerjang ke bawah dengan kecepatan yang tidak terkirakan.
Rupanya ketika tubuh Tio Hui melesat ke udara, perhatian Kok Hua Hong terpusat penuh pada tiga batang senjata rahasia yang disambitkan lawan.
Dalam benaknya saat itu hanya tertinggal sedikit kesan pada orangnya sendiri.
Sekarang begitu tahu lawannya masih melayang di tengah udara dan dia baru saja menyampok tiga batang senjata rahasia tersebut, ingatannya masih belum tenang sama sekali.
Dengan licik Tio Hui sudah memperhitungkan segalanya.
Dia tahu Kok Hua Hong pasti belum mengadakan persiapan, cepat-cepat dia mengibaskan tangannya sekali, dua puluh empat batang paku beracun diluncurkan dalam perbedaan waktu sekian detik.
Tubuhnya yang di tengah udara menghentakkan kakinya keras-keras dan menerjang ke bawah secepat kilat.
Kejadiannya cepat sekali.
Baru saja Kok Hua Hong sadar akan datangnya marabahaya, dua puluh empat batang paku beracun sudah mengincar semua bagian tubuhnya.
Luncuran senjata rahasia itu begitu pesat.
Ketika dia mendongakkan wajahnya, jaraknya hanya tinggal tujuh belasan centi.
Kali ini serangan Tio Hui benar-benar beda dengan yang tadi.
Senjata rahasia itu bagai mempunyai mata yang mengincar setiap bagian yang berbahaya, suara yang timbul terdengar berdesir-desir.
Pandangan mata Kok Hua Hong seakan dipenuhi paku beracun tersebut, sedangkan waktunya sudah demikian sempit untuk menghindar.
Dalam keadaan yang demikian gawat, mungkin seorang pendekar pedang tingkat sembilan pun sulit menghindarinya, apalagi Kok Hua Hong yang ilmunya lebih rendah sedikit dan baru terhitung pendekar tingkat delapan.
Untung saja pengalaman dan pengetahuannya cukup luas.
Dia maklum bahwa pada saat seperti ini waktu sangatlah berharga.
Seandainya dia bisa menggenggam sedikit kesempatan sebelum paku-paku beracun itu mengenainya, mungkin saja masih ada peluang untuk menyelamatkan diri dari maut.
Cepat-cepat dia gelindingkan tubuhnya di atas tanah dan bergulingan beberapa kali, kemudian dia mencelat ke samping sejauh lima langkah.
Baru saja tubuhnya bergerak, dia merasa pundak kiri dan pinggang kirinya terasa kesemutan.
Dia langsung tahu bahwa bagian tersebut sudah terkena serangan paku beracun tersebut.
Namun Kok Hua Hong termasuk seorang tokoh yang gagah berani juga keras kepala, dia tidak mengeluh sedikitpun, tubuhnya yang baru saja terjerembab di atas tanah langsung bangkit kembali dengan tumpuan tangannya.
Baru saja berhasil berdiri tegak, dia langsung merasakan kepalanya berat dan matanya mulai berkunang-kunang, sedangkan dari atas kembali ada serangkum angin kencang yang menerpa ke bawah.
Kok Hua Hong mengangkat matanya sedikit untuk memandang.
Tanpa dapat ditahan lagi sepasang alisnya mengerut ketat.
Dia sadar Tio Hui yang licik kembali menggunakan kesempatan ketika dia terkena paku beracun untuk menyerangnya kembali.
Memang orang itu pandai sekali memperhitungkan setiap kemungkinan, sedangkan posisi Kok Hua Hong kurang menguntungkan.
Ke manapun dia menghindar, tubuh Tio Hui yang ada di udara tetap saja dapat menyerangnya dengan telak.
Untuk sesaat hawa amarah dalam dadanya meluap-luap, dia jadi jengkel melihat Tio Hui yang seakan tidak memberi kesempatan hidup sedikitpun kepadanya.
Tanpa berpikir panjang lagi, dia langsung bertekad mengadu jiwa.
Dengan jurus Api Berkobar Menjulang ke Atas Langit, tampak bayangan pancingannya bergulung-gulung.
Ia menyapu dengan keras ke dada Tio Hui yang sedang meluncur turun itu.
Tiba-tiba tangan Tio Hui terulur, tubuhnya meluncur makin cepat ke bawah.
Dengan ringan dia berhasil menangkap pancingan Kok Hua Hong.
Dalam waktu yang bersamaan telapak tangannya yang satu lagi mengulur ke depan dengan kerahan tenaga seberat ribuan kati dan serangan itu ditujukan ke arah ubun-ubun kepala Kok Hua Hong.
Serangannya kali ini keji bukan main, tenaganya hebat dan suara pukulannya menderuderu.
Jelas dia berniat menghabisi nyawa Kok Hua Hong sehingga serangan yang dilancarkannya sama sekali tidak dapat dianggap remeh.
Meskipun Kok Hua Hong sudah mengambil keputusan untuk mengadu jiwa namun melihat serangannya yang keji itu, mau tidak mau hatinya tercekat juga.
Cepat-cepat dia miringkan kepalanya, lengan kirinya mengulur ke depan dalam waktu yang bersamaan, telapak tangannya ditekuk sedikit membentuk cakar dan secepat kilat dia mencengkeram pundak kiri Tio Hui.
Terdengar suara siulan marah dan dengusan berat dalam waktu yang bersamaan.
Pundak kiri Kok Hua Hong yang sudah terkena paku beracun kembali terkena hantamannya sehingga tulang bagian itu remuk seketika.
Saat itu juga ia memuntahkan darah segar, tubuhnya terkulai di atas tanah.
Meskipun dia sudah terluka parah, namun cengkeramannya pada pundak Tio Hui sama sekali tidak dilepas, malah bertambah erat.
Dengan gerakan yang tidak kalah keji, dia menghentak keras-keras jari tangannya.
Di bawah cahaya rembulan yang redup, tampak darah memercik ke mana-mana.
Pada bagian di mana jari tangan Kok Hua Hong mencengkeram, terlihat segumpal daging yang besar tergenggam erat-erat.
Rupanya orang itu benar-benar sudah marah sehingga tanpa kepalang tanggung dia mencengkeram daging di pundak Tio Hui sehingga terkoyak sepotong besar.
Tepat pada saat itu juga Kok Hua Hong sendiri ikut jatuh tidak sadarkan diri di atas tanah.
Pertarungan kali ini benar-benar sengit dan merupakan duel maut.
Kedua belah pihak sama-sama terluka.
Namun kalau dibandingkan sudah pasti luka Kok Hua Hong jauh lebih parah.
Paku beracun yang mengenai pundaknya malah mendesak ke dalam karena hantaman Tio Hui.
Kemungkinan besar malah tertancap di tengah-tengah tulang yang remuk.
Rasanya paku beracun itu tidak mudah dikeluarkan lagi.
Sementara itu, tampak si pengemis sakti Cian Cong membuka sepasang matanya.
Dia seperti menggumam seorang diri.
"Sungguh cara turun tangan yang keji! Selama hidup si pengemis tua ini entah sudah membunuh berapa banyak orang. Segala kelicikan juga sudah pernah kutemui, tetapi kalau dibandingkan, masih jauh sekali dengan tindakan saudara-saudara ini!"
Tiba-tiba di belakang punggungnya terasa angin berdesir, cepat-cepat dia menolehkan kepalanya melihat.
Tampak Tan Ki, Mei Ling dan Ban Jin Bu berlari dengan tergesa-gesa ke arah Kok Hua Hong.
Melihat adanya mereka yang mengawasi Kok Hua Hong, hati Cian Cong menjadi agak tenang.
Pandangannya dialihkan kepada Ho Tiang Cun.
"Makhluk tua, apakah kau sudah selesai mengatur pernafasanmu?"
Ho Tiang Cun langsung tertawa lebar. Sepasang matanya juga membuka kembali.
"Terima kasih atas perhatian Cian-heng, hengte sejak tadi sudah pulih kembali."
"Bagus sekali. Kalau begitu kita boleh bertarung lagi sebanyak tiga ratus jurus!"
Terdengar suara angin berhembus, dengan posisi tangan menahan di depan dada, si pengemis sakti melancarkan sebuah serangan.
Tampak Ho Tiang Cun menggeser tubuhnya perlahan-lahan, dalam sekejap mata dia sudah berhasil menghindarkan diri.
Tangan kanannya bergerak dalam waktu yang bersamaan dan dikirimkannya sebuah serangan balasan.
Kedua orang itu yang satu maju yang lainnya mundur.
Masing-masing sudah mengerahkan sebuah serangan.
Bila dilihat dari luar sepertinya tidak ada keistimewaan apa-apa, padahal dalam setiap serangan terkandung Lwekang sejati dan perubahannya yang membahayakan posisi lawannya.
Kalau bukan orang berilmu tinggi yang mempunyai pandangan awas, tentu sulit menemukan kehebatan serangan mereka masing-masing, di mana dalam setiap perubahan terkandung lagi perubahan lainnya.
Telapak tangan Cian Cong mengulur ke depan dan dikibaskannya angin pukulan Ho Tiang Cun.
Dia lalu bersiap-siap melancarkan sebuah serangan lagi, niatnya ingin menyelesaikan pertarungan tersebut secepat-cepatnya.
Tiba-tiba telinganya mendengar suara teriakan Tan Ki.
"Cian Locianpwe, cepat ke mari! Keadaan Tian Tai Tiau-siu genting sekali!"
Cian Cong jadi tertegun.
Cepat-cepat dia mencelat mundur sejauh tujuh langkah, dengan demikian apabila Ho Tiang Cun tiba-tiba mengirimkan sebuah pukulan, dirinya tidak akan terjangkau.
Setelah itu baru dia menolehkan kepalanya ke arah Tan Ki.
"Bagaimana keadaan si tua Kok Hua Hong itu?"
Tampak wajah Tan Ki menyiratkan kepanikan.
"Dia terkena pukulan musuh sehingga tulang.pundaknya remuk, ditambah dengan dua batang paku beracun yang mengenai pundak serta pinggangnya. Justru paku beracun itu sekarang sudah melesak ke dalam dan ujungnya pun tidak kelihatan sehingga Boanpwe tidak berhasil mencabutnya keluar!"
Cian Cong terkejut sekali mendengar kata-katanya, dia langsung menghentakkan kaki di atas tanah keras-keras.
"Dasar kutu busuk! Sudah tahu paku-paku itu beracun, mana boleh sembarangan dicabut keluar. Kalau dipaksakan juga racun itu akan bertambah cepat kerjanya. Seandainya berhasil kau cabut tadi, kemungkinan besar nyawa si tua Kok Hua Hong itu sekarang sudah melayang ke surga!"
"Ilmu senjata rahasia yang dilatih oleh Tio Tongcu semuanya hebat tidak tertandingi. Paku beracun yang digunakannya dilumuri dengan tiga belas jenis rumput yang paling ganas racunnya. Sembilan hari direndam kemudian sembilan hari dijemur. Pengaruh racun itu boleh dibilang, lihat darah langsung bekerja. Kalau kau, si tukang minta-minta ini, ingin menolong dia, satu-satunya jalan hanya dalam waktu tiga kentungan menemukan tiga belas jenis obat yang dapat menawarkan rumput-rumput beracun tersebut. Asal dia minum semuanya sekaligus, baru bisa disembuhkan. Obat-obatan biasa-biasa saja tidak ada gunanya. Satu racun dapat dibasmi, masih ada dua belas racun jenis lainnya. Oleh karena itu, biarlah lohu berbaik hati menasehati kalian agar jangan meneruskan impian kosongmu itu!"
Tukas Ho Tiang Cun sambil cengar-cengir. Cian Cong mendongakkan wajahnya tertawa terbahak-bahak.
"Racun keluaran Lam Hay Bun tiada duanya di dunia ini, bahkan konon tidak ada obat penawarnya. Tetapi perlu kalian ketahui bahwa daerah Tionggoan justru kaya dengan berbagai obat-obat mujarab yang khusus menawarkan racun, walau dari jenis yang paling berbahaya sekalipun. Kalau kau tidak percaya, tunggulah barang sepenanakan nasi, si pengemis tua akan membuka matamu lebar-lebar agar kau lihat betapa luasnya dunia ini. Semacam obat yang biasa-biasa saja namun pengaruhnya mengejutkan."
Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kemudian berhenti pada diri Liu Seng yang sedang bertarung melawan Miao Fei Siong.
Diam-diam dia meninjau jalannya pertarungan di antara kedua orang itu.
Setelah itu baru dia menggapai tangannya memanggil Tan Ki.
"Bubuk penyelamat nyawa penyambung tulang yang kau miliki cukup untuk menyembuhkan luka Kok Lau Tao alias si tua bangka Kok. Mungkin malah bisa menambah tenaga dalamnya, dari bencana berbalik menjadi beruntung. Tampaknya pertarungan antara mertuamu dengan laki-laki tinggi besar itu masih bisa bertahan. Sedangkan orang yang dipanggil Tio Tongcu itu kalau ditilik dari keadaan lukanya, untuk sementara pasti tidak sanggup bertarung lagi. Kalian juga tidak perlu menyesakkan tempat ini lebih lama lagi, lebih baik kalian kembali ke puncak bukit memberi bantuan kepada yang lainnya!"
Mula-mula Tan Ki agak bimbang, dia mendongakkan kepalanya memperhatikan pertarungan antara Liu Seng dengan si laki-laki bertubuh kekar.
Ternyata mertuanya lebih banyak menyerang daripada mempertahankan diri.
Hal ini membuktikan bahwa keadaan orangtua itu sedang di atas angin dan tidak perlu terlalu dikhawatirkan, oleh karena itu hatinya pun menjadi lega.
Setelah mengiakan, dia mengajak Ban Jin Bu dan Mei Ling kembali ke puncak bukit.
Di bawah cahaya rembulan yang redup tampak tiga sosok bayangan berlari bagai terbang.
Dalam waktu singkat mereka sudah sampai di puncak bukit Tok Liong Hong.
Begitu pandangan mata dipusatkan, tampak di luar ruangan pertemuan mayat-mayat berserakan, ada yang lengannya putus dan darah berceceran di mana-mana, sungguh suatu pemandangan yang menyeramkan, tanpa sadar hati mereka menggidik dan bulu kudukpun ikut meremang melihat keadaan tersebut.
Tan Ki mengenali bahwa mayat-mayat tersebut adalah para tamu dari dunia Bulim yang ikut meramaikan perebutan Bulim Bengcu kali ini.
Diantaranya yang tiga orang malah merupakan pendekar pedang tingkat tujuh.
Ketika matanya menelusuri mereka satu per satu, dia tidak melihat seorang asingpun di antaranya.
Kecuali mayat-mayat yang berserakan itu, ternyata seluruh ruangan sunyi senyap sehingga tidak terdengar sedikit suarapun.
Tanpa dapat ditahan lagi sepasang alis Tan Ki menjungkit ke atas.
"Mari kita pergi! Kita harus memeriksa bagian penyimpanan ransum!"
Suaranya begitu berat, nadanyapun tegas sekali, hal ini membuktikan bahwa hawa amarah dalam dadanya telah benar-benar meluap.
Tiba-tiba Mei Ling menghentikan langkah kakinya, tampaknya perempuan itu sedang digelayuti suafcu pikiran yang berat.
"Tan Koko, lebih baik kita lihat dulu bagaimana keadaan ibu."
Katanya nada lirih. Mula-mula Tan Ki tertegun, kemudian dia sadar Mei Ling pasti mengkhawatirkan keselamatan ibunya. Tanpa terasa dia langsung mengembangkan seulas senyuman.
"Ibu juga putri seorang pesilat yang terkenal, nyalinya besar dan jiwanya tidak kalah gagah dengan kaum laki-laki. Beberapa tahun ini beliau mendapat didikan lagi dari paman Yibun Siu San, rasanya lebih dari cukup untuk membela diri saja. Kau tidak perlu khawatir, lagipula bagian penyimpanan ransum penting sekali bagi para tamu yang hadir di Tok Liong Hong kali ini. Kalau sampai pihak Lam Hay maupun Si Yu membakarnya, masa besok pagi kita semua harus merebutkan kedudukan Bu-lim Bengcu dengan perut kosong?"
Seraya berkata, dia mendahului yang lainnya berlari ke depan.
Gerakannya bagai seekor kuda liar yang lepas kendali, setiap kali mencelat, jaraknya sampai sejauh lima enam de-paan.
Liu Mei Ling dan Ban Jin Bu saling lirik sekilas.
Tanpa sempat berkata-kata lagi, mereka langsung mengikuti di belakang Tan Ki.
Kurang lebih sepenanakan nasi kemudian, mereka sudah melihat kobaran api di bagian depan.
Cahayanya berwarna merah membara dan suara peletekan terdengar seiring dengan hembusan angin.
Wajah setiap orang dan rumah-rumah darurat yang didirikan di tempat tersebut jadi menyala terang.
Dua ratus lebih tamu-tamu yang hadir di Tok Liong-hong membagi diri mereka menjadi tiga baris dan saling mengoperkan ember-ember untuk memadamkan api tersebut.
Wajah mereka tampak kelam sekali, kecuali suara desiran angin, tidak ada suara lainnya yang terdengar.
Ketika ketiga orang itu sampai di hadapan bagian penyimpanan ransum, tiba-tiba telinga mereka mendengar suara jeritan yang menyayat hati.
Begitu melengkingnya sampai memecahkan keheningan malam.
Mereka segera mengalihkan pandangannya, seorang laki-laki berusia lanjut rubuh terkulai di atas tanah setelah mengeluarkan suara jeritan ngeri tadi.
Mulutnya terus menerus memuntahkan darah segar dan sekejap waktu saja nyawanya sudah melayang.
Tan Ki segera mengenali orangtua tersebut adalah salah satu dari pendekar pedang tingkat tujuh yang ambil bagian dalam perebutan Bulim Bengcu kali ini.
Bahkan Yibun Siu San pernah menyatakan rasa kagumnya terhadap orang ini.
Hatinya tercekat, rasa terkejutnya tak perlu ditanya lagi.
Setelah menenangkan diri beberapa saat, dia baru melihat di samping kiri orangtua yang mati itu, kira-kira berjarak tiga tindak, berdiri seorang laki-laki berwajah tenang dan berpakaian putih dari bahan yang agak kasar.
Tangannya menggerak-gerakkan sebatang kipas dan usianya kurang lebih lima puluh tahunan.
Sikapnya yang kalem itu hampir membuat orang tidak percaya bahwa dia baru saja membunuh seseorang.
Bibirnya malah mengembangkan seulas senyuman yang riang.
Di belakang laki-laki setengah baya yang tenang ini, berdiri seorang tosu dan seorang nyonya berusia pertengahan.
Ingatan Tan Ki sangat tajam, sekali lihat saja dia sudah mengenali mereka sebagai Im Ka Tojin dan Lu Sam Nio yang pernah menculik Mei Ling.
Wajah Lu Sam Nio yang jeleknya tidak kepalang tanggung itu paling sulit dilupakannya.
Mengingat kejadian tempo hari yang mengakibatkan Mei Ling kehilangan kesadarannya, hawa amarah dalam dada Tan Ki meluap seketika.
Dia mendelikkan matanya lebar-lebar kepada kedua orang itu.
Beberapa saat kemudian baru dia mengalihkan pandangannya.
Diam-diam dia memperhitungkan kekuatan yang ada di pihaknya.
Kalau ditilik dari beberapa mayat yang tergeletak di atas tanah, ada beberapa yang merupakan pendekar pedang tingkat delapan.
Biarpun dia belum menyaksikan dengan kepala sendiri sampai di mana tingginya ilmu orang itu, tetapi dia sudah membayangkan bahwa kepandaian si lakilaki setengah baya yang terus tersenyum simpul itu sama sekali tidak dapat dipandang ringan.
Tampak Heng Sang Si memimpin belasan orang jago dan berdiri membentuk setengah lingkaran dengan senjata masing-masing di tangan.
Wajah setiap orang menyiratkan kegusaran yang tidak terkirakan, alis mereka menyorotkan hawa pembunuhan yang tebal.
Tampaknya setiap saat ada kemungkinan bisa meledak.
Udara yang diliputi amis darah yang tebal membuat suasana semakin mencekam.
Bintang-bintang mengerjap samar-samar seakan ikut merasa pilu, cahayanya menyoroti mayat-mayat yang bergelimpangan di atas tanah.
Hati mereka yang memandangnya ikut merasa ngeri.
Angin yang dingin berhembus, perasaan Tan Ki serta yang lainnya bergidik, bulu kudukpun meremang semua.
Perlahan-lahan Mei Ling menghembuskan nafas panjang, nadanya sendu sekali.
"Tan Koko, lihatlah mayat-mayat yang berserakan di atas tanah itu, kasihan sekali bukan? Aku benar-benar tidak berani membayangkan bahwa perasaan keluarga mereka apabila mendengar berita kematian sanak saudaranya ini."
"Golongan sesat tengah merajalela, mereka berusaha menguasai daerah Tionggoan kita. Ketiga orang ini gugur sebagai pahlawan yang mempertahankan negaranya, mereka mati dengan gemilang. Tidak ada yang perlu disesalkan. Aku rasa, keluarga mereka bahkan merasa bangga. Apa yang akan terjadi kelak bukan hal yang dapat diduga oleh kita semua. Kau juga tidak perlu membayangkan hal yang jauh-jauh."
Meskipun mulutnya berkata, tetapi sepasang matanya yang menyorotkan sinar tajam menatap gerak-gerik si laki-laki setengah baya dengan penuh perhatian.
Dia malah tidak menolehkan kepalanya.
Baru saja ucapannya selesai, tiba-tiba terlihat sesosok bayangan berkelebat.
Seseorang menerjang keluar ke tengah arena.
Dia adalah seorang tua yang punggungnya sudah membungkuk dan mengenakan pakaian dari bahan kasar.
Saat ini dia berdiri di hadapan laki-laki setengah baya itu dan wajahnya menyiratkan kebimbangan.
Jaraknya dengan orang itu masih kurang lebih tiga langkah.
Laki-laki setengah baya itu menggerak-gerakkan kipasnya dengan santai.
Bibirnya menyunggingkan seulas senyuman.
"Apakah kau juga terhitung pendekar pedang tingkat delapan?"
Tanyanya tenang. Dua kali berturut-turut orangtua bungkuk itu mendengus berat. Dengan angkuh dia menyahut.
"Lohu sendiri belum menanyakan nama Saudara yang mulia."
Laki-laki setengah baya itu tertawa makin lebar.
"Pertemuan kita ini hanya sepintas lalu, sama-sama belum saling mengenal secara mendalam, untuk apa menanyakan nama segala? Kita toh bukan ingin menjalin hubungan sebagai mertua dan menantu, buat apa membuat lidah menjadi kaku. Sayang sekali cayhe tidak mempunyai seorang putri. Seandainya ada, tentu dengan senang hati mempersembahkannya kepadamu supaya dapat dijadikan istri."
Mendengar ucapannya yang berupa sindiran tetapi dikatakan dengan tersenyum simpul, saking kesalnya orangtua itu sampai mendelikkan matanya lebar-lebar.
Rambutnya yang sudah penuh uban seperti berjingkrak semua ke atas, sepasang lengannya yang sedang berkacak di pinggang seakan mengembung satu kali lipat.
Si laki-laki setengah baya tersebut melihat orang mengerahkan tenaga dalamnya secara diam-diam, tampaknya sudah siap melancarkan serangan setiap saat.
Dia segera mengatupkan kipasnya dan senyumannya pun sirna seketika.
Sepasang matanya yang menyorotkan sinar tajam menatap lekat-lekat pada diri si orang tua berpunggung bungkuk tersebut.
Pada dasarnya laki-laki setengah baya ini berilmu sangat tinggi.
Pengetahuan maupun pengalamannya luas sekali.
Melihat telapak tangan si orangtua bungkuk luar biasa besarnya dan jauh dibandingkan dengan orang lain, belum lagi warnanya yang kehitamhitaman itu, dia langsung maklum bahwa orangtua ini menghabiskan waktu yang banyak khusus untuk melatih ilmu pukulan.
Kalau bukan Ang Sa-Ciang (Telapak pasir merah), kemungkinan Hek Sa-ciang (Telapak pasir hitam) yang biasanya mengandung racun keji.
Pokoknya sepasang telapak tangannya itu sudah direndam berbagai jenis obat-obatan karena kukunya pun berwarna hitam.
Tan Ki berdiri diam-diam di samping keduanya.
Tiba-tiba dia melihat senyuman si lakilaki setengah baya sirap seketika, sikapnya menjadi serius tidak terkirakan, tidak mengucapkan sepatah katapun.
Hatinya merasa heran dan curiga.
Tiba-tiba terdengar suara bentakan yang lantang, pukulan menimbulkan suara menderu-deru.
Rupanya si orangtua bungkuk sudah mulai melancarkan serangan, suara tadi timbul dari pukulannya yang dahsyat.
Si laki-laki setengah baya mengibaskan kipasnya sehingga terbuka kembali.
Dengan jurus Memuja Bunga Hati, dia membalas serangan orangtua itu dengan serangan pula.
Terasa serangkum angin kencang menerpa datang, tenaganya yang kuat menerjang ke arah si orangtua bungkuk.
Tenaga dalam orang ini sudah mencapai taraf yang tinggi sekali, jurus yang dikerahkannya juga sangat matang.
Hal ini membuktikan bahwa dia sudah berlatih keras selama ini.
Ketika dia menggerakkan kipasnya, yang terlihat justru jurus yang tidak ada keistimewaan apa-apa, namun sebetulnya mengandung kecepatan yang keji, bayangannya bergulung-gulung dan suara yang ditimbulkannya pun menderu-deru.
Justru pada detik-detik ketika pukulan keduanya hampir berlalu, si orangtua bungkuk merasa tenaga dalam yang terkandung dalam serangan si laki-laki setengah baya begitu dahsyatnya sehingga bagai jarum emas yang menusuk tajam.
Bahkan gulungan tenaganya sendiri sampai terterobos dan hal ini membuatnya terkejut setengah mati.
Dia benar-benar tidak menyangka kekuatan lawan jauh lebih hebat dibandingkan dirinya sendiri.
Cepatcepat dia menggeser tubuhnya sedikit dan menggerakkan tangannya ke samping, otomatis dia tidak berani menyambut serangan laki-laki setengah baya itu dengan kekerasan.
Satu jurus sudah berlalu.
Keduanya masih belum bergebrak secara sungguh-sungguh, namun sukma si orangtua bungkuk seakan sudah melayang karena terkesiap melihat tingginya ilmu lawan.
Keadaannya sudah di bawah angin.
Dari serangan yang pertama saja dia sudah dapat membayangkan bahwa kepandaian si laki-laki setengah baya jauh lebih hebat dibandingkan dengan ilmunya sendiri.
Begitu perhatiannya dipusatkan, entah sejak kapan si laki-laki setengah baya sudah merentangkan kipasnya kembali.
Dia menggerakkan dengan perlahan-lahan seolah-olah seseorang yang sedang menikmati pemandangan dengan santai.
Wajahnya merekahkan senyuman yang lebar, sikapnya begitu tenang seakan tidak sedang berhadapan dengan musuh atau sedang bertarung dengan lawan.
Siapa tahu perasaan si orangtua bungkuk ini memang angkuh dan mudah tersinggung.
Melihat orang berdiri menggoyangkan kipasnya sambil tersenyum simpul, dia langsung mengira si laki-laki setengah baya itu sedang mengolok-olok dirinya dan memandang rendah kepadanya.
Hawa amarah dalam dadanya jadi meluap, rasa malu dan benci berbaur menjadi satu.
Saat itu juga mulutnya mengeluarkan suara bentakan yang lantang, tubuhnya bergerak mencelat ke udara.
Tampak sepasang lengannya terentang ke depan dan menimbulkan bayangan bagai bunga salju yang berderai.
Dia melancarkan serangan dengan gencar, secara berturut-turut dia mengerahkan enam belas jurus.
Laki-laki setengah baya itu mendengus dingin.
Dia segera menghimpun hawa murninya dan kipas di tangannya dikibaskan.
Segulung cahaya berwarna putih langsung tampak berkilauan, dengan gesit dan lincah dia menyambut serangan si orangtua bungkuk.
Pertarungan antara dua tokoh kelas tinggi ini berlangsung dengan sengit.
Mati dan hidup dapat ditentukan setiap saat.
Di bawah cahaya rembulan yang semakin redup, tampak telapak tangan membentuk bayangan yang tidak terkira banyaknya, sedangkan kipas di tangan si laki-laki setengah baya berkelebat ke sana ke mari sehingga menimbulkan cahaya yang berpijar-pijar.
Suara angin yang timbul dari serangan kedua orang itu berdesiran, rumput-rumput melambai-lambai.
Debu-debu beterbangan.
Dalam waktu yang singkat bayangan tubuh kedua orang itu sulit lagi dibedakan.
Bahkan orangorang yang menyaksikan jalannya pertarungan tidak dapat lagi menentukan yang mana kawan yang mana lawan.
Mata mereka berkunang-kunang.
Mereka sampai menahan nafas saking tegangnya, juga ada sebagian yang mengkhawatirkan keselamatan rekan masingmasing.
Sementara itu, Ban Jin Bu berjalan menghampiri Tan Ki.
Dengan perasaan ingin tahu dia bertanya.
"Tan-heng, coba kau perhatikan, siapa yang akan memenangkan pertarungan kali ini?"
Tan Ki memalingkan kepalanya dan melirik Ban Jin Bu sekilas.
Bibirnya bergerak-gerak seakan ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya ia batalkan.
Dia hanya tertawa getir sambil menggelengkan kepalanya, namun tidak memberikan sahutan sedikitpun.
Ban Jin Bu jadi tertegun.
Hatinya semakin penasaran.
"Tan-heng, tampaknya sedang banyak pikiran yang mengendap dalam bathinmu. Bolehkah kau memberitahukannya kepada siau-te sehingga kita dapat membahasnya bersama-sama?"
Tan Ki menarik nafas panjang satu kali.
"Coba kau perhatikan baik-baik, bagaimana menurut pendapatmu ilmu laki-laki setengah baya itu?"
"Jurus serangan yang dilancarkan orang ini selalu mengandung kedahsyatan yang keji. Ilmunya sudah mencapai taraf yang tinggi sekali, rasanya lebih tinggi dari pendekar pedang tingkat delapan. Kemungkinan besar sebanding dengan si pengemis sakti Cian Locianpwe, Yibun Siu San maupun Lok Hong. Meskipun ilmu silat si orangtua bertubuh bungkuk itu lumayan juga, tetapi kalau dibandingkan dengan si laki-laki setengah baya itu, rasanya masih terpaut jauh. Setelah ratusan jurus, kemungkinan besar dia akan terkena serangan orang itu sehingga terluka parah."
Mendengar kata-kata Ban Jin Bu yang persis sama dengan dugaan hatinya sendiri, pikiran Tan Ki semakin ruwet. Tanpa dapat ditahan lagi sepasang alisnya menjungkit ke atas.
"Justru hatiku sejak tadi merasa tidak tenang karena telah mempunyai pandangan yang sama. Perlu kau ketahui bahwa dalam perebutan Bulim Bengcu kali ini, meskipun lima partai besar yang hadir, tetapi para pesilat yang lain jumlahnya cukup banyak. Bahkan mereka terdiri dari golongan sesat dan lurus. Saat ini semuanya berkumpul di puncak bukit Tok Liong-hong. Aku selalu menganggap dengan adanya orang-orang yang mempunyai nama besar ini, pihak Lam Hay dan Si Yu pasti tidak berani berbuat macam-macam. Apalagi sebagian besar dari orang yang hadir ini mempunyai ilmu yang tinggi. Namun dugaanku ternyata salah besar, boleh dibilang hari ini mataku benar-benar terbuka. Pihak musuh hanya mengirim empat kelompok orang yang jumlah keseluruhannya tidak lebih dari tiga belas orang, tetapi mereka sanggup membuat kocar-kacir para pendekar pedang tingkat delapan sehingga bertarung sampai mengadu jiwa. Berapa banyak korban dari pihak kita yang jatuh? Keadaan yang memalukan ini sudah cukup membuktikan bahwa pihak Lam Hay dan Si Yu merupakan musuh yang tidak dapat dianggap enteng. Para pendekar dari Tionggoan seolah menjadi bahan permainan bagi mereka. Kelompok ini masih terhitung jago kelas dua di wilayah mereka, sedangkan pemimpin yang sebenarnya masih belum muncul. Kecuali kita bergabung dengan lima partai besar, rasanya dalam satu hari saja Tok Liong-hong ini sanggup diratakan jadi tanah oleh pihak mereka."
Ban Jin Bu menarik nafas perlahan-lahan.
"Baik bakat maupun kecerdasan Tan-heng, memang melebihi orang lain. Siaute benarbenar mengaku tidak sanggup menandingi. Tetapi ada satu hal yang membuat siaute tidak habis pikir, kalau Tan-heng sejak semula sudah mempunyai pandangan demikian, mengapa tidak berusaha memberitahukan Cian Lo-cianpwe atau sam-siokmu, setidaknya mereka bisa menyediakan payung sebelum hujan?"
Tan Ki tertawa getir mendengar pertanyaannya.
"Urusan ini memang mudah kalau dibicarakan, tetapi pelaksanaannya justru sulit tidak terkirakan. Lima partai besar terletak di wilayah yang berjauhan. Apabila mengutus orang mengirimkan undangan, perjalanan pulang pergi saja mungkin lebih dari setengah bulan. Air yang jauh tidak mungkin memadamkan api yang dekat. Seandainya menunggu sampai pihak lima partai besar berdatangan, pasti semuanya sudah terlambat. Kecuali kalau Siau Lim, Bu Tong, Kun Lun, Cing Ceng dan Go Bi selalu mengirimkan muridnya untuk menyelidiki keadaan di dunia Kangouw, dan pada saat ini mereka sudah mendengar kabar serta mengirimkan jago-jagonya untuk memberikan bantuan ke mari. Kalau benar demikian, tentu tidak banyak waktu yang terbuang, dan kedatangan mereka tepat waktunya sehingga tidak terjadi pertumpahan darah yang demikian mengerikan."
Berbicara sampai di sini, tiba-tiba terdengar suara siulan yang bening memecahkan keheningan malam.
Otomatis kata-kata Tan Ki jadi terhenti, cepat-cepat dia mengalihkan panda ngan matanya.
Tampak Heng Sang Si sedang menggerakkan tubuhnya mencelat ke udara setinggi tiga empat depa dan dia menerjang ke tengah arena.
Gerakan tubuh orang itu bagai seekor rajawali sakti yang mementangkan sayapnya dengan lebar, kecepatannya bagai kilat.
Ketika tubuhnya masih melayang di tengah udara, senjatanya telah dikeluarkan, sepasang bola besi itu menimbulkan bayangan berwarna kehitaman dan menyapu datang dengan dahsyat.
Hampir bersamaan dengan senjata Heng Sang Si yang meluncur ke depan, terdengar suara jeritan ngeri yang menggidikkan hati.
Disusul dengan sesosok tubuh yang terpental di tengah udara dan berputaran dua kali sebelum menghempas keras di atas tanah.
Percikan darah dan debu-debu yang beterbangan membuat pandangan mata Tan Ki jadi samar-samar.
Hatinya segera merasa tertekan tidak terkirakan.
"Lagi-lagi seorang pendekar pedang tingkat delapan mati di tangannya. Dalam pertarungan malam ini, entah berapa banyak pendekar pedang tingkat tujuh dan delapan yang jatuh menjadi korban. Rasanya..."
Membayangkan hal yang menyakitkan hati itu, tanpa terasa matanya jadi memerah, hampir saja jatuh bercucuran.
Tiba-tiba dia merasa tangannya disenggol oleh seseorang, entah sejak kapan Mei Ling sudah berdiri di sampingnya dan memandangnya dengan wajah menyiratkan kepanikan.
"Tan Koko, lihatlah!"
Tan Ki menenangkan perasaannya sejenak kemudian mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Mei Ling.
Siapa nyana lebih baik tidak melihat.
Begitu matanya menatap apa yang ditunjuk oleh isterinya itu, hawa amarah dalam dadanya jadi meluap.
Tangannya mengepal erat-erat dan tubuhnya terus bergetar.
Rupanya si laki-laki setengah baya menggunakan ilmu Lam Hay Bun yang keji dan mengandung kekuatan dahsyat untuk menghancurkan urat dalam jantung si orangtua bungkuk.
Kebetulan waktu itu Heng Sang Si mengayunkan sepasang bola besinya.
Entah bagaimana caranya, tahu-tahu serangan Heng Sang Si mengenai tempat yang kosong.
Bayangan kipas bergulung-gulung dan terpencar kedua arah.
Bibir si laki-laki setengah baya tetap mengembangkan senyuman, sikapnya tenang sekali.
Dia masih tetap berdiri di tempatnya semula tanpa bergeser sedikitpun.
Heng Sang Si mengeluarkan suara dengusan yang berat, tubuhnya terhuyung-huyung kemudian tergetar mundur sejauh empat langkah.
Lengan pakaiannya yang sebelah kiri seakan terkena serangan si laki-laki setengah baya sehingga koyak berderai tertiup angin dan lengannya yang kekar pun terlihat jelas.
Tampaknya Heng Sang Si sampai termangu-mangu karena tergetar mundur dalam satu jurus saja.
Tetapi sesaat kemudian dia sudah pulih kembali.
Sementara itu si laki-laki setengah baya itu menggerakkan kipasnya beberapa kali dengan gaya santai.
Bibirnya lagi-lagi tersenyum simpul.
"Hai, jurus yang akan datang nanti, harap kau berhati-hati! Aku akan mengoyak pakaian di depan dadamu!"
Katanya sombong. Mendengar ucapannya yang sesumbar itu, Heng Sang Si mendongakkan wajahnya dan tertawa marah.
"Ilmu silat pihak Lam Hay ternyata memang hebat. Tetapi kau juga tidak perlu demikian sombong dan menertawakan orang lain. Hengte sadar kepandaian sendiri masih tidak dapat menyamai dirimu, tetapi setidaknya aku mempunyai jiwa yang gagah. Kalau tidak percaya, boleh kau bunuh diriku sesuka hatimu!"
"Hebat sekali! Aku, Cia Tian Lun ikut mengepalai empat puluh delapan pulau, tetapi belum pernah melihat orang segagah dirimu!"
Heng Sang Si kembali mendengus satu kali.
"Ilmu kepandaian saudara benar-benar membuat orang kagum, tetapi sikapmu yang sombong itu juga merupakan orang yang pertama pernah hengte lihat seumur hidup!"
Tiba-tiba sikap Cia Tian Lun berubah mendengar perkataan Heng Sang Si.
Dia mendengus dingin satu kali, kipas di tangannya direntangkan kembali.
Tubuhnya berdiri tegak tanpa bergeming sedikitpun.
Sepasang matanya menyorotkan sinar tajam menatap diri Heng Sang Si lekat-lekat.
Sejenak kemudian bibirnya tersenyum lagi.
"Mendapat pujian dari saudara, seharusnya aku mengucapkan terima kasih sedalamdalamnya!"
Mendadak kipasnya dikibaskan, tubuhnya menerjang ke depan dengan jurus Datang Awan dari Luar Langit.
Angin yang timbul dari gerakan kipasnya bergulung-gulung, dia mengirimkan sebuah totokan ke dada Heng Sang Si.
Sepasang bola besi Heng Sang Si langsung dipencarkan, dia mengarahkan seluruh tenaga dalamnya.
Dengan jurus Pohon Tua Mengganti Akar, dia menerjang kipas Cia Tian Lun yang sedang meluncur ke arahnya.
Tangan kanannya memutar bola besi sehingga menimbulkan bayangan melingkar, angin yang kencang segera terpancar dan kali ini sasarannya lengan atas Cian Tian Lun.
Cia Tian Lun melihat kemarahan Heng Sang Si benar-benar terpancing sehingga melancarkan serangan, bahkan kali ini mengandung kekuatan yang dahsyat.
Dia langsung memperdengarkan suara tawa yang panjang.
Tiba-tiba tangannya ditarik kembali dan gerakannya berubah.
Tubuhnya memutar setengah lingkaran dan tahu-tahu dia menerobos ke dalam angin kencang yang timbul dari sepasang bola besi Heng Sang Si.
Gerakan tubuhnya demikian cepat dan gesit, sehingga orang-orang yang menyaksikan tidak sempat melihat bagaimana caranya dia melakukan hal itu.
Mereka juga tidak dapat menduga ke arah mana sebetulnya tubuh orang itu menghindar.
Heng Sang Si sendiri hanya merasa sepasang bolanya mengenai tempat kosong, matanya berkunang-kunang dan pandangannya menjadi samar.
Justru di saat itu tubuh lawannya sudah berdiri tegak di hadapannya.
Rasa terkejutnya kali ini benar-benar tak terkatakan.
Tetapi biar bagaimanapun Heng Sang Si merupakan seorang tokoh yang sudah banyak pengalaman di dunia Kangouw, meski keadaannya sangat gawat sekali, namun pikirannya tidak menjadi kacau.
Cepat-cepat dia mengerahkan jurus Ikan Lele Melompat-lompat, sepasang pundaknya ditarik ke belakang dan diapun mencelat mundur sejauh delapan sembilan langkah.
Ilmu silat Heng Sang Si sudah cukup tinggi, perubahan gerakannya juga cepat sekali, tetapi tetap saja dia tidak sanggup mengejar waktu yang hanya sekian detik itu.
Ia hanya merasa mendadak ada serangkum angin yang menerpa wajahnya dan tahu-tahu bagian dadanya terasa sejuk.
Begitu dia menundukkan kepalanya, dia melihat dadanya yang tegap sudah terbuka.
Rupanya pakaian bagian dadanya benar-benar telah terkoyak oleh kipas di tangan Cia Tian Lun.
Sobekan pakaiannya bahkan masih melayang tertiup angin.
Tanpa dapat ditahan lagi wajahnya jadi hijau membesi.
Perasaan malu dan marah berbaur menjadi satu dalam hatinya.
Rupanya Cia Tian Lun tidak mengerahkan tenaga sepenuhnya pada kipas di tangannya itu.
Niatnya memang hanya ingin mempermalukan Heng Sang Si.
Dengan ringan dia menggores bagian depan pakaian laki-laki itu sehingga terkoyak namun ujung kulitnya tidak tersayat sedikit juga.
Hal ini malah membuat rasa malu Heng Sang Si tidak tertahankan, rasanya dia tidak mempunyai muka lagi untuk berhadapan dengan orang lain.
Sementara itu, Cia Tian Lun malah menelingkup sepasang tangannya di belakang dan memandangnya dengan tersenyum simpul.
Perlu diketahui bahwa para tokoh di dunia Kangouw sangat memandang tinggi kemashyuran nama dirinya sendiri.
Seumur hidup Heng Sang Si berkecimpung dalam dunia kekerasan, selamanya dia tidak pernah takut dengan kata kematian.
Tetapi dia justru tidak sanggup menerima penghinaan di hadapan orang banyak.
Saat itu juga dia merasa serangkum rasa pilu melanda dalam bathinnya.
Matanya yang besar memerah, dua bulir air mata langsung jatuh berderai membasahi pipinya.
Tubuhnya seperti orang yang kehilangan tenaga, kakinya goyah serta tidak dapat berdiri tegak.
Hampir saja dia terjatuh di atas tanah.
Para hadirin yang menyaksikannya ikut merasa pedih dan iba.
Mereka merasa kasihan sekali melihat keadaan laki-laki itu yang demikian mengenaskan.
Tiba-tiba terdengar mulutnya meraung keras, kepalanya mendongak ke atas dan dia langsung memuntahkan darah segar sebanyak tiga kali berturut-turut.
Sepasang matanya mendelik lebar-lebar lalu yang terlihat hanya putihnya saja.
Tanpa dapat dipertahankan lagi, tubuhnya jatuh terkulai di atas tanah.
Dengan panik Tan Ki berlari menghampirinya.
Dia segera membungkuk dan memeriksa keadaan Heng Sang Si.
Sejenak kemudian dia mendongakkan kepalanya lagi, wajahnya menyiratkan perasaan duka yang dalam.
Perlahan-lahan dia bangkit berdiri dan menarik nafas panjang.
"Tidak ada harapan lagi, dia sudah menggigit putus lidahnya sendiri..."
Belum lagi ucapan Tan Ki selesai, segera terlihat berbagai reaksi dari orang-orang gagah yang berkumpul di tempat tersebut.
Ada yang membentak marah, ada yang menarik nafas panjang, ada yang menghentakkan kakinya di atas tanah keras-keras.
Ada juga beberapa orang yang berjalan ke depan namun menghentikan langkah kakinya kembali...
Dari sini dapat dibuktikan bahwa cara membunuh orang tanpa turun tangan sendiri yang diperlihatkan Cia Tian Lun barusan benar-benar menimbulkan perasaan marah orang-orang gagah.
Tetapi ilmunya yang sangat tinggi juga merupakan hal yang membuat orang-orang gagah ragu mengambil tindakan...
Sepasang mata Tan Ki yang tajam menyapu sekilas kepada orang-orang gagah.
Ia melihat mereka semuanya seakan siap mengadu jiwa dengan Cia Tian Lun, tetapi masih merasa gentar terhadap ilmunya yang sangat tinggi.
Sebagian besar malah sudah melangkah ke depan namun membatalkan niatnya kembali.
Akhirnya dia menggertakkan giginya erat-erat, tangannya terulur dan merogoh ke dalam lengan baju yang satunya lagi.
Begitu tangannya mengibas keluar, tampak secarik cahaya berwarna putih berkilauan sehingga timbul bayangan seperti bunga-bunga yang bermekaran.
Setelah itu dia berdiri tegak dengan senjata melintang di depan dada.
Cia Tian Lun melihat anak muda itu sudah mengeluarkan senjatanya yang berupa pedang suling, tampaknya Tan Ki sudah mengerahkan tenaga dalam serta siap melancarkan serangan.
Tanpa dapat ditahan lagi bibirnya menyunggingkan seulas senyuman.
"Kau juga ingin mencoba beberapa jurus ilmuku ini?"
Tanyanya tenang. Dengan wajah serius Tan Ki menyahut.
"Cia Siansing (Tuan Cia) melihat usiaku masih terlalu muda sehingga tidak pantas bergebrak denganmu?"
Cia Tian Lun tertawa lebar.
"Ilmu silat tidak dapat ditentukan dari usia tua maupun muda, pokoknya siapa yang menanglah yang dipersoalkan. Tetapi ditilik dari usiamu yang demikian muda, seandainya sampai...."
Tan Ki tidak memberi kesempatan kepada orang itu untuk meneruskan ucapannya, dia segera menukas.
"Seandainya sampai mati di bawah serangan kipasmu, rasanya patut disayangkan bukan?"
Cia Tian Lun mengangkat sepasang bahunya. Bibirnya tersenyum makin lebar.
"Orang-orang muda memang lebih mudah emosi. Kalau kau sudah mengungkapkan apa yang tersirat dalam hatiku, aku juga tidak ingin menyangkalnya. Namun apabila kau tetap ingin menjajal barang beberapa jurus, di sini terlalu banyak orang yang hadir. Mungkin mereka akan menganggap aku yang tua menghina kaum muda dan mengatakan aku tidak tahu aturan. Usiaku jauh lebih tinggi dibandingkan dirimu. Bagaimana kalau aku mengalah tiga jurus kepadamu dan tidak membalas sama sekali?"
I Wajah Tan Ki tetap datar dan kaku.
"Dalam tiga jurus ini, kemungkinan besar aku bisa mengambil nyawamu. Dalam perguruan Lam Hay Bun, rasanya kedudukan Cia Siansing tinggi sekali. Bagaimana kalau karena sesumbar sesaat lalu kalah di tangan seorang anak muda, rasa malunya mungkin sanggup kau terima?"
Terhadap kata-kata sindirannya yang tajam itu, tampaknya Cia Tian Lun benar-benar merasa di luar dugaan.
Untuk sesaat dia jadi tertegun, kemudian dia memperdengarkan suara tawanya yang panjang.
Padahal dalam hati dia memuji kecerdasan anak muda ini.
Dia tahu Tan Ki sengaja memanasi hatinya dan dengan demikian dia tentu tidak enak menarik kembali perkataannya.
Sebetulnya hal ini hampir sama dengan caranya menghadapi Heng Sang Si tadi, jadi boleh dibilang dia sudah kena batunya sekarang.
Oleh karena itu suara tawanya begitu melengking sehingga memekakkan telinga orang yang mendengarnya.
"Kalau kau memang punya kepandaian seperti itu, silahkan lakukan saja. Baik ilmu tenaga dalam, senjata rahasia atau akal licik apapun, aku akan menemani dengan senang hati. Pokoknya tiga jurus kemudian, kau harus berhati-hati menjaga selembar nyawamu sendiri!"
Sementara itu, belasan tamu yang mengikuti perebutan Bulim Bengcu, Im Ka Tojin, Lu Sam Nio semuanya memusatkan perhatian kepada diri Cia Tian Lun dan Tan Ki.
Mereka sudah dapat membayangkan kalau pertarungan yang akan berlangsung ini hebatnya bukan main.
Belasan pasang mata seakan tidak ingin berkedip sedikitpun karena takut kehilangan kesempatan menyaksikan pertarungan yang seru.
Suasana yang mencekam semakin terasa karena diselipi dengan ketegangan.
Selain api yang masih berkobar menimbulkan suara ple-tekan oleh hembusan angin, boleh dibilang di tempat yang luas itu begitu sunyi sehingga nafas merekapun dapat terdengar dengan jelas.
Hal ini membuat perasaan mereka semakin tidak tenang dan pengap.
Tampak sepasang mata Tan Ki mengeluarkan sinar bagai kilat.
Sikapnya serius sekali.
Tangan kanannya diangkat ke atas perlahan-lahan bagai seseorang yang menggenggam suatu benda dengan bobot berat mencapai ribuan kati.
Gerakannya yang lambat dan penampilan sikapnya yang agak tegang malah membuat hati orang-orang gagah ikut tergerak, jantung mereka berdebar-debar.
Tanpa terasa tangan mereka sampai basah karena keringat dingin bahkan menatapnya pun sambil menahan nafas.
Cia Tian Lun melihat sepasang mata Tan Ki menyorotkan sinar yang tajam serta menatapnya lekat-lekat tanpa berkedip sekalipun.
Tan Ki masih berdiri tegak dengan tangan menggetarkan peuang sulingnya yang menimbulkan bayangan putih berkilauan, tanpa dapat ditahan lagi hatinya agak tercekat.
Diam-diam dia berpikir.
"Sikapnya serius dan berwibawa, tangannya diangkat dengan gerakan lamban. Ini merupakan gaya yang dilakukan tokoh kelas tinggi sebelum memulai sebuah serangan, tampaknya anak muda ini..."
Belum lagi pikirannya selesai bekerja, tiba-tiba telinganya menangkap suara siulan yang memekakkan telinga.
Di depan matanya terlihat cahaya putih berkelebat, rupanya Tan Ki sudah menerjang ke arahnya dengan sebuah totokan yang ditujukan ke bagian dada.
Cia Tian Lun mengangkat kipasnya menahan.
Terdengar suara dentingan logam saling membentur.
Orangnya sendiri mencelat mundur ke belakang dalam waktu yang bersamaan dengan tangkisan nya barusan.
Sepasang mata Tan Ki membuka lebar-lebar, tubuhnya bergerak mengejar ke depan.
Di tengah udara pergelangan tangannya digetarkan dan pedang sulingnya diangkat ke atas.
Segera dilancarkannya sebuah serangan.
Gerakannya dari lambat berubah menjadi cepat.
Tampak cahaya berwarna putih memijar-mijar, hawa dingin terpancar dari pedang sulingnya.
Jurus yang dikerahkannya merupakan salah satu dari petikan ilmunya yang ajaib, yakni Awan Berkabut Menyorotkan Cahaya Keemasan.
Serangannnya kali ini mengandung kekuatan tenaga yang sudah diperhitungkan matang-matang.
Hawa yang terpancar dari pedangnya tajam bergulung-gulung bagai ombak di lautan, dengan dahsyat menerjang datang laksana angin topan!
Cia Tian Lun merasa sekitarnya dipenuhi hawa pedang berkilauan yang menusuk pandangan mata.
Seluruh tubuhnya bagai diselu-supi hawa dingin.
Meskipun pandangan matanya sangat awas dan pendengarannya tajam sekali, tetapi yang terlihat maupun terdengar hanya hawa pedang di tangan Tan Ki.
Begitu hebatnya hawa pedang tersebut sehingga seluruh tubuhnya bagai terkurung rapat.
Dia tidak dapat menduga ke arah mana pedang itu mengincar, dan jalan darah mana yang akan ditotok oleh ujungnya.
Tanpa terasa hatinya tercekat.
Tangan kanannya menggerakkan kipas dengan jurus Menggempur Delapan Penjuru di Malam Hari.
Bayangan kipasnya bergulung-gulung melindungi bagian atas kepalanya, orangnya sendiri langsung mencelat mundur ke belakang sejauh beberapa langkah.
Telinganya menangkap suara keresekan yang halus, kedengarannya hanya satu kali saja.
Kemudian terdengar pula suara bentakan nyaring dan ada pula yang menarik nafas panjang.
Beberapa macam suara membaur di telinganya...
rupanya ketiga jurus inilah yang membuat orang-orang gagah tahu sampai di mana tingginya ilmu silat Tan Ki.
Cia Tian Lun menundukkan kepalanya melihat.
Rupanya di antara lengan dan pergelangan tangannya terdapat sayatan sepanjang tiga cun.
Tampaknya dia sudah terkena serangan pedang suling Tan Ki sehingga tangannya terluka.
Kalau saja tenaga yang terkandung di dalamnya lebih berat sedikit, ada kemungkinan sebelah tangannya itu menjadi putus atau cacat seumur hidup.
Tanpa terasa bulu kuduknya jadi meremang dan sikapnya berubah hebat.
Tetapi biar bagaimana pada mulanya dia sudah sesumbar menjual omong besar, urusannya menyangkut muka serta nama baiknya sendiri.
Dengan demikian dia tidak dapat menyesal sehingga dirinya akan dipandang hina oleh orang-orang gagah yang hadir di sana.
Belum lagi anak buahnya sendiri.
Akhirnya terpaksa dia mendongakkan kepalanya dan menebalkan kulit wajahnya dengan berlagak santai.
Bibirnya kembali mengembangkan seulas senyuman.
"Dua jurus sudah berlalu, sekarang kau masih mempunyai satu jurus lagi!"
BAGIAN XLV Baru saja ucapan Cia Tian Lun selesai, Tan Ki sudah mengeluarkan suara siulan panjang lagi.
Tubuhnya kembali mencelat ke udara dan cahaya putih tampak berkilauan.
Dalam sekejap mata orangnya sudah berdiri tegak lagi di tempat semula.
Gerakannya ini merupakan serangan yang mendadak.
Cepatnya bagai kilasan cahaya, begitu berkelebat tahu-tahu sudah diam kembali.
Dari berpuluh pasang mata orang-orang yang hadir di tempat itu, ternyata tidak ada seorangpun yang sempat melihat bagaimana cara tubuhnya bergerak.
Entah bagaimana dia turun tangan lalu tahu-tahu sudah berdiri kembali di tempat semula.
Maju dan mundurnya Tan Ki demikian cepat sehingga dia seakan tetap berdiri tegak dengan tangan menggenggam pedang suling.
Begitu pandangan mata dialihkan, tubuh Cia Tian Lun yang tadinya tidak bergerak sudah berubah posisinya.
Lengan kanannya terangkat sedikit ke atas dan telapak tangan kirinya mengambil posisi seperti menahan di depan dada.
Sikapnya seperti orang yang sedang menangkis sebuah serangan.
Cahaya api yang terang benderang menekan sinar rembulan yang redup.
Kali ini tampak jelas bahwa pergelangan tangan kanannya telah tersayat cukup dalam sehingga darah segar terus menetes membasahi tanah dekat kakinya berpijak.
Kalau serangan Tan Ki yang pertama hanya menggores ujung kulitnya serta tidak sampai mengeluarkan darah banyak, maka kali ini lukanya cukup dalam.
Hal ini membuktikan bahwa serangan Tan Ki yang secepat kilat sudah membuat Cia Tian Lun yang sombong karena ilmunya tinggi terluka di bawah gerakan pedang sulingnya.
Saat itu juga terdengar suara tepuk tangan yang riuh dan suara pujian yang gegap gempita dari mulut para orang-orang gagah.
Suara desiran angin dan percikan api masih tidak dapat menahan suara gemuruh tersebut.
Setelah tertegun beberapa saat, akhirnya Cia Tian Lun menarik nafas panjang.
"Dalam seumur hidup ini, jarang sekali aku menemukan tandingan yang setimpal, kecuali dua puluh tahun yang lalu, aku dikalahkan oleh Tocu Lam Hay Bun, selamanya belum pernah ada orang lain yang dapat bertahan seratus jurus seranganku. Tetapi malam ini, aku mendapat pelajaran yang baru. Usia adik ini masih demikian muda, penampilannya pun biasa-biasa saja, ternyata ilmu yang dikuasai sudah sedemikian tinggi sehingga aku, Cia Tian Lun, salah pandangan..."
Dia menghentikan kata-katanya sejenak. Tampaknya dia sedang mengerahkan hawa murninya untuk menahan darah yang terus mengalir dari pergelangan tangannya. Sesaat kemudian terdengar dia berkata kembali.
"Dalam tiga jurus kau dapat membuat aku terdesak bahkan terluka. Mungkin kecuali Toa Tocu kami, di dunia ini tidak ada orang yang sanggup menandingimu lagi."
Tan Ki mendengar kata-kata yang diucapkannya seakan keluar dari hati yang tulus, bahkan sikap angkuhnya juga sudah jauh berkurang.
Tanpa dapat ditahan lagi, bibirnya segera mengembangkan seulas senyuman yang ramah.
"Di dunia ini terdapat banyak tokoh berilmu tinggi, tetapi kebanyakan sudah mengasingkan diri dan tidak bersedia mencampuri urusan dunia yang rumit ini. Sayangnya saudara belum menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Padahal ilmu Cayhe ini masih belum terhitung apa-apa..."
"Kalau kau tidak percaya, tentu saja aku juga tidak dapat berkata apa-apa lagi. Pada suatu hari nanti, mungkin kau dapat membuktikannya sendiri. Aku bukan orang yang selalu terkurung di Lam Hay Bun. Banyak sudah aku menyaksikan berbagai keajaiban di dunia ini. Oleh karena itu kata-kata yang kuucapkan bukan asal cetus saja. Kelak apabila ada kesempatan untuk bertemu dengan tocu kami, waktu itu kau baru menyadari benar tidaknya ucapanku ini. Sekarang aku merupakan prajurit yang kalah perang, baik nama ataupun kecemerlangan wajahku ini sudah sirna, oleh karena itu aku ingin memohon diri!"
Sepasang matanya yang tajam menyapu sekilas kepada mayat-mayat yang berserakan di atas tanah. Sesaat kemudian baru dia melanjutkan lagi kata-katanya...
"Dua regu tentara berperang, pasti ada korban yang jatuh. Tetapi kalau adik kecil ini merasa tidak puas karena aku telah membunuh beberapa orang dari pihakmu, tentu saja aku mengerti peraturan dunia Kangouw yang menyatakan "hutang darah dibayar dengan darah! Ada dendam harus dibalas. Adik kecil boleh menahan aku di sini. Ingin bunuh, ingin cincang, silahkan. Pokoknya aku tidak akan membalas!"
Mendengar kata-katanya yang tegas, Tan Ki jadi serba salah.
Di dalam ucapannya yang lembut terkandung kekerasan hatinya yang gagah.
Hal ini membuktikan bahwa orang ini sebetulnya termasuk seorang pendekar berjiwa lapang sehingga menyatakan bahwa dirinya yang sudah kalah dan tidak berniat mengadakan pertarungan lagi.
Tentu saja Tan Ki boleh maju ke depan dan membunuhnya langsung.
Tetapi tentara yang sudah mengibarkan bendera putih tanda mengaku kalah, di negara mana pun tidak boleh dibunuh lagi.
Bukan saja Tan Ki tidak ingin melakukan hal tersebut, lagipula pandangan orang terhadap dirinya menjadi rendah.
Namun apabila dia melepaskannya begitu saja, sedangkan di sana hadir demikian banyak orang gagah yang menyaksikan bagaimana Cia Tian Lun membunuh rekan-rekan mereka dan mayat-mayatnya pun masih berserakan di atas tanah, keputusan apa yang harus diambilnya agar terlihat tidak berat sebelah?
Tan Ki menundukkan kepalanya merenung.
Untuk sesaat dia merasa begini salah begitu salah.
Hatinya bimbang memilih keputusan yang harus diambilnya.
Sesaat kemudian dia mendongakkan kepalanya menatap Cia Tian Lun kemudian pandangannya kembali beredar kepada orang-orang gagah.
Akhirnya dia malah berdiri termangu-mangu tanpa tahu apa yang harus diperbuatnya.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang mendatangi.
Rupanya Ceng Lam Hong dan Lok Ing berlari ke arah mereka dan berhenti di samping Tan Ki.
Tampaknya kedua perempuan ini sudah melalui pertarungan yang sengit.
Wajah mereka menyiratkan perasaan letih dan nafaspun masih tersengal-sengal.
Malah di lengan kanan Ceng Lam Hong terlihat bekas darah dan lengan pakaiannya terdapat dua buah lubang bekas tusukan pedang, untung saja tidak tampak parah.
Namun rambutnya awut-awutan dan tangannya menggenggam sebatang pedang yang sudah, terkutung setengahnya.
Melihat ibunya terluka, Tan Ki merasa terkejut sekali.
Bibirnya bergerak-gerak seakan ingin mengajukan pertanyaan, tetapi Ceng Lam Hong sudah menggoyangkan tangannya seperti memberi isyarat agar dia jangan berkata apa-apa.
Sementara itu, dia menoleh kepada Cia Tian Lun.
"Apakah siangkong ini yang menjabat sebagai Bun Bu Co-siang (Menteri kiri bagian ilmu surat dan ilmu silat) Cia Siansing adanya?"
Cia Tian Lun tertegun sejenak mendengar pertanyaannya.
"Bagaimana kau bisa tahu sebutan diriku?"
Tanyanya kembali. Ceng Lam Hong tersenyum ramah kepadanya.
"Kau juga mendapat gelar Pelajar Maut, bukan? Bagus sekali! Jadi aku tidak perlu berlari ke sana ke mari untuk mencarimu. Lagipula kalau menyampaikan pesan lewat orang lain, kadang-kadang justru tidak disampaikan."
Dia berhenti sejenak, tiba-tiba suaranya diperkecil sehingga terdengar lirih sekali.
"Ramalan Cin menembus langit, daun Tong menebarkan keharuman yang semerbak."
Suaranya lembut dan lirih sekali.
Mungkin hanya Tan Ki yang ada di sampingnya dapat mendengar dengan jelas.
Mendengar kata-katanya, dada Cia Tian Lun bagai tergetar seperti dipukul oleh seseorang.
Tubuhnya bergetar hebat.
Tergesa-gesa dia bertanya.
"Cepat beritahukan kepadaku, di mana dia sekarang?"
Sekali lagi Ceng Lam Hong tersenyum simpul.
"Putrinyalah yang ingin aku sampaikan kepadamu agar kau meninggalkan tempat ini secepatnya!"
Cia Tian Lun menghembuskan nafas panjang-panjang.
"Aku kira orang yang sudah mati sudah bisa hidup kembali. Toakoku itu sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu. Mengapa di saat ini dan tempat ini bisa menyampaikan pesan kepadaku, rupanya budak cilik itu..."
Berkata sampai di sini, tiba-tiba dia seperti tersadar.
Matanya yang menyorotkan sinar tajam menyapu sekilas kepada Im Ka Tojin dan Lu Sam Nio yang ada pada jarak satu depa di belakangnya, kemudian dia mengeluarkan suara batuk-batuk kecil dan menghentikan kata-katanya.
"Dia juga ingin aku sampaikan kepadamu, apabila ada kesempatan, dia ingin menemuimu secara langsung!"
Cia Tian Lun menundukkan kejaalanya merenung sejenak, kemudian tampak dia tersenyum.
"Ada baiknya juga. Saat ini lebih baik Cayhe turuti saja perkataannya dan mohon diri sekarang juga."
Sembari berkata, dia menoleh kepada Tan Ki. Sekali lagi bibirnya mengembangkan senyuman yang ramah.
"Kau kuat sekali. Biarpun aku kalah di bawah pedang sulingmu, tetapi kekalahan ini kuterima dengan ikhlas."
Tanpa menunggu jawaban dari Tan Ki, dia segera membalikkan tubuhnya kemudian kakinya menghentak.
Tubuhnya, bergerak bagai seekor burung yang mengembangkan sayapnya dan melesat ke depan bagai terbang.
Sekali loncat saja jaraknya mencapai lima enam depaan.
Dalam waktu yang singkat, Cia Tian Lun, Im Ka Tojin dan Lu Sam Nio sudah berkelebat pergi kemudian menghilang dadam kegelapan malam.
Tan Ki tertegun beberapa saat, kemudian dia menolehkan kepalanya kepada Ceng Lam Hong.
"Ibu, apa sebetulnya makna ucapanmu tadi?"
Ceng Lam Hong tersenyum simpul mendengar pertanyaannya.
"Kelak kau akan mengerti sendiri."
Wajah Tan Ki menyiratkan perasaan ingin tahu.
Hatinya masih merasa penasaran, tetapi dia tidak berani banyak bertanya.
Oleh karena itu dia menundukkan kepalanya merenung sejenak kemudian baru melanjutkan lagi kata-katanya.
"Apakah Ibu ada bertemu dengan Cin Ying dan Cin Ie? Keadaan malam ini sangat gawat. Apabila mereka sampai tertangkap oleh pihak Lam Hay atau Si Yu, kemungkinan mereka akan mendapatkan kesulitan yang besar."
"Kau tidak perlu khawatir, aku justru mendapat tugas dari Sam-siokmu Yibun Siu San agar mengajak si pengemis cilik Cu Cia, Sam Po Hwesio, dan beberapa jago pedang tingkat tujuh dan delapan untuk memeriksa daftar nama para peserta Bulim Tayhwe kali ini, juga diminta menyimpan baik-baik beberapa dokumen penting di dalam ruang baca. Kurang lebih kentungan kedua, tiba-tiba aku melihat tiga sosok bayangan hitam berkelebat..."
Sepasang alis Tan Ki langsung menjungkit ke atas mendengar keterangan ibunya.
"Mereka pasti jago-jago dari Lam Hay dan Si Yu?"
Ceng Lam Hong menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Tebakanmu memang benar. Yang datang memang Bun Bu Yu-siang (Menteri kanan bagian ilmu surat dan baca) dari Lam Hay Bun, Tong Ku Lu beserta bawahannya kakak beradik keluarga Fu. Aku dan Tong Ku Lu sempat bergebrak beberapa jurus, namun aku langsung merasa kurang beres. Ilmu silat orang itu tingginya benar-benar di luar dugaanku, sedangkan tenaga dalam yang terpancar dari telapak tangannya, mungkin tidak kalah dengan Sam-siokmu sendiri. Setelah belasan jurus, aku mulai terdesak dan tidak mempunyai tenaga untuk melakukan serangan balasan lagi. Untung saja di saat yang genting, tiba-tiba datang dua orang gadis bertopeng. Ilmu silat mereka aneh sekali, lagi pula gabungan keduanya begitu kompak dan serasi sehingga pengaruhnya bertambah hebat. Tepat sepenanakan nasi kemudian, Tong Ku Lu terdesak mundur sehingga lari meninggalkan tempat tersebut. Setelah itu, si gadis yang usianya lebih tua meminta aku menyampaikan kata-kata tadi kepada Cia Tian Lun. Mungkin kau sudah dapat menduga bahwa kedua gadis itu adalah kakak beradik Cin Ying dan Cin Ie."
Mulut Tan Ki mengeluarkan suara "Oh"
Yang panjang.
Tiba-tiba ingatannya melayang ke peristiwa sewaktu dia keracunan tempo hari.
Pada saat itu dia menitipkan ibunya agar dirawat oleh Cin Ying, tanpa sadar perasaannya menjadi sedih.
Ternyata putri bekas Bengcu dari Lam Hay ini orang yang memegang teguh perkataannya.
Apa yang sudah dijanjikannya pasti ditepati.
Hal ini justru membuat perasaan hati Tan Ki menjadi tidak enak.
Biar bagaimana dia pernah berjanji akan mengambil adiknya yang ketolol-tololan itu sebagai selir.
Meskipun sekarang dia sudah beristeri, tetapi kalau Cin Ie dibandingkan kakaknya, satu seperti gadis desa yang bodohnya minta ampun, sedangkan yang satunya begitu cerdas dan cantik bagai dewi kahyangan.
Perbandingannya begitu menyolok sehingga Cin Ying bagai rembulan di langit yang memancarkan cahayanya sampai jauh.
Seandainya kedudukan Cin Ie diganti dengan kakaknya, tentu merupakan hal yang menggembirakan sekali...
Berpikir sampai di sini, dia sendiri merasa terkejut, perlahan-lahan dia mengetuk batok kepalanya sendiri dan berkata dalam hati.
Aku selalu merasa diriku sebagai seorang lakilaki sejati, mengapa tiba-tiba bisa mempunyai pikiran seperti itu?
Kalau sampai ada orang yang mengetahuinya, mana aku ada muka lagi merebut kedudukan Bulim Bengcu?"
Dengan membawa pikiran seperti itu, cepat-cepat dia menarik nafas panjang dan menghentikan renungannya.
Tiba-tiba dia melihat Ceng Lam Hong membalikkan tubuhnya dan berkata kepada orang-orang gagah yang ada di tempat tersebut.
"Wajah saudara-saudara sekalian seakan menyiratkan perasaan kurang senang. Tentu karena aku membiarkan tokoh Lam Hay tadi meninggalkan tempat ini begitu saja. Sebetulnya, ilmu silat orang itu kalian sudah saksikan sendiri, taraf kepandaiannya sudah mencapai tingkat yang tinggi sekali. Dalam Lam Hay Bun dia menjabat kedudukan sebagai Bun Bu Cuo-siang. Jabatan itu sangat tinggi, boleh dibilang hanya di bawah Tocunya sendiri. Dia juga merupakan salah satu angkatan tua yang paling setia selama mengepalai empat puluh pulau di daerah Lam Hay. Dia juga merupakan sahabat karib Bengcu lama, yakni Cin Tong. Pertemuan yang kebetulan ini sebetulnya sulit diharapkan. Tetapi aku berani menjamin kepada saudara-saudara sekalian, kelak orang ini pasti akan meninggalkan Lam Hay Bun dan bersahabat dengan pihak Tionggoan kita. Di balik semua ini terkandung sebuah rahasia besar. Untuk sesaat sulit dijelaskan dengan terperinci. Harap saudara-saudara sudi bersabar sehingga datang saatnya yang tepat serta lihat sendiri buktinya nanti!"
Tiba-tiba seorang laki-laki tua berlengan tunggal menukas dari antara orang-orang gagah.
"Meskipun seandainya suatu hari nanti Cia Tian Lun bisa memihak kepada kita, tetapi memangnya dendam para sahabat yang sekarang sudah menjadi mayat berserakan di atas tanah ini tidak perlu dibalas lagi?"
Ceng Lam Hong mengerti saat ini emosi orang-orang gagah masih meluap-luap.
Meskipun ribuan kata-kata diucapkan, tetaplah sulit membuat mereka paham.
Lebih baik menghindari persoalan besar dan membuatnya sekecil mungkin.
Oleh karena itu dia segera mengembangkan seulas senyuman yang lembut dan berkata.
"Urusan ini akan kita bicarakan lagi perlahan-lahan kelak. Pokoknya suatu hari pasti ada jawaban yang memuaskan hati saudara sekalian, sekaligus dapat memadamkan api kemarahan dalam hati kalian itu."
Sepasang mata Lok Ing yang mengandung sinar romantis itu berulang kali melirik ke arah Tan Ki.
Tampaknya dia seperti mempunyai banyak kata-kata yang ingin dibicarakan, namun sampai saat ini tidak ada kesempatan sama sekali.
Hanya sepasang alisnya yang terus mengerut, namun sejak awal hingga akhir, dia tidak mengucapkan sepatah kata-pun.
Setelah Ceng Lam Hong menyelesaikan ucapannya, baru dia berkata.
"Pek Bo, kita sudah boleh pergi sekarang."
Ceng Lam Hong menoleh kembali kepada Tan Ki.
"Anak Ki, kau harus berhati-hati. Mulai sekarang kau tidak boleh bertindak sembrono, apalagi sembarangan menempuh bahaya sehingga membuat orang khawatir. Sekaligus kau harus berbaik hati kepada..."
Berkata sampai di sini, perempuan setengah baya itu seakan teringat akan sesuatu hal sehingga ucapannya tidak jadi diteruskan. Sepasang mata Tan Ki melirik sekilas ke arah isterinya kemudian berkata.
"Anak akan menurut apapun perkataan ibu, mulai sekarang tidak akan sembrono lagi."
Baru saja ucapannya selesai, terasa ada segulung angin yang berdesir kencang.
Ceng Lam Hong dan Lok Ing sudah meninggalkan tempat itu, gerakan mereka laksana kepulan asap yang tertiup angin, mereka menuju ke arah timur.
Tiba-tiba hati Tan Ki jadi tergerak.
Diam-diam dia berpikir.
"Lok Ing biasa malang melintang di daerah Sai Pak, dia sudah terkenal sebagai gadis yang keras kepala dan selalu tidak pakai aturan. Mengapa tanpa hujan tanpa angin dia mendekati ibu dan bersikap begitu baik terhadapnya? Jangan-jangan di balik semua ini terselip apa-apanya."
Berpikir sampai di sini, dia jadi termangu-mangu.
Untuk sekian lama dia memandangi punggung Lok Ing sampai menghilang di kejauhan.
Dia tahu gadis itu bertepuk sebelah tangan dalam mencintainya.
Meskipun hatinya mempunyai maksud tertentu, rasanya bukan urusan yang akan merugikan diri ibunya, itulah sebabnya Tan Ki tidak terlalu memusingkan hal itu.
Saat itu rembulan yang tinggal sepenggal itu semakin suram cahayanya, sedangkan di langit bagian timur mulai tampak secarik garis berwarna keemasan.
Mungkin sepenanakan nasi lagi matahari akan terbit secara keseluruhan.
Kurang lebih seratus orang turun tangan membantu memadamkan api yang menyala di gudang darurat penyimpanan ransum.
Lambat laun api mulai melemah.
Kecuali debu-debu sisa kebakaran yang masih beterbangan, di atas langit masih terlihat gumpalan asap putih.
Rasanya keadaan cukup parah dan sulit diperbaiki dalam waktu yang singkat.
Tan Ki mengedarkan pandangannya sambil menyimpan kembali pedang sulingnya.
Baru saja dia berniat memberikan bantuan kepada yang lain untuk membereskan mayat-mayat yang berserakan, tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara panggilan.
"Tan-heng!"
Yang tidak henti-hentinya berkumandang.
Dua sosok bayangan berlari secepat kilat mendatangi.
Begitu pandangan matanya beralih, tampak seorang gemuk dan yang seorang lagi bertubuh kurus menghampiri ke arah mereka.
Kedua orang itu adalah Hek Lohan Sam Po Hwesio dan si pengemis cilik Cu Cia.
Dalam sekejap mata mereka sudah sampai di hadapan Tan Ki.
Lengan kiri si pengemis cilik Bulim dibalut dengan kain putih, rembesan darah terlihat jelas.
Tampaknya luka si pengemis cilik ini tidak ringan juga.
Namun sikapnya yang periang masih kentara jelas.
Dia langsung tertawa terbahak-bahak begitu melihat Tan Ki.
"Tan-heng, paman ketigamu Yibun Siu San meminta kau segera datang ke ruang pertemuan!"
Tan Ki jadi tertegun mendengar kata-katanya.
"Aku?"
Cu Cia tertawa lebar.
"Benar, memang engkau yang dimaksud!"
Sam Po Hwesio mengelus-elus kepalanya yang gundul. Bibirnya tersenyum simpul.
"Dalam pertandingan malam ini boleh dibilang pihak kita mengalami kerugian besarbesaran. Mayat berserakan, seluruh bukit bagai diselimuti hawa kedukaan yang tebal. Untung saja tidak sampai rata menjadi tanah. Sedangkan kau di sini juga memenangkan pertarungan dengan cemerlang. Hal ini sudah tersebar luas di seluruh bukit. Siapapun tahu bahwa tiga jurus ilmu pedang sulingmu berhasil melukai Bun Bu Cuo-siang dari Lam Hay. Meskipun tidak parah.
"i namun merupakan suatu hal yang patut dibanggakan. Hwesio cilik ini tidak sampai mati, sejak semula sudah mengambil keputusan untuk minum sampai puas guna merayakan kemenangan Tan-heng!"
Katanya sambil tertawa tergelakgelak. Si pengemis cilik Cu Cia ikut tersenyum simpul.
"Si pengemis cilik sendiri sampai terluka lengan kirinya. Mestinya orang yang terluka harus merasa sedih dan tidur beristirahat. Tetapi asal masih mempunyai sedikit nafas, walaupun orang-orang mengatakan minum arak bisa memperbanyak darah yang mengalir, masa bodoh. Kemenangan Tan-heng yang sedikit tetap merupakan peristiwa yang menggembirakan. Meskipun harus mati, si tukang minta-minta ini tetap ingin minum sampai mabuk."
Beberapa orang itu bercakap-cakap sambil berjalan.
Tanpa terasa sebentar saja mereka sudah sampai di ruang pertemuan.
Tampak bayangan orang berjalan mondar-mandir membereskan tempat yang berantakan itu.
Mayat-mayat telah dipindahkan, sedangkan bekas darah sudah dibersihkan.
Dengan wajah masih tertutup cadar, Yibun Siu San berdiri di bagian yang tinggi, sedangkan si pengemis sakti Cian Cong duduk di atas kursi besar dengan wajah serius, tangannya yang satu mengangkat hiolo arak tinggi-tinggi dan meneguknya seperti orang yang kehausan.
Setelah minum arak dalam jumlah yang banyak, semangatnya malah seperti terbangkit.
Di sebelah kanannya duduk Pangcu Ti Ciang Pang, yakni Lok Hong.
Wajahnya juga kelam sekali.
Sepasang matanya terpejam rapat seperti orang yang sedang beristirahat.
Dia seolah tak menyadari sama sekali kehadiran Tan Ki dan yang lainnya.
Orangnya sedikitpun tidak bergerak, bahkan matanya tidak terpicing sedikitpun.
Goan Yu Liong dan Yang Jen Ping berdiri di belakang punggung Goan Siang Fei, dua baris bagian depan duduk berkeliling Kok Hua Hong serta pendekar pedang tingkat delapan lain.
Yibun Siu San menggapai tangannya memberi isyarat agar Tan Ki duduk di tempat yang kosong.
Anak muda itu sampai kelabakan dan cepat-cepat menjura dalam-dalam.
"Para Cianpwe sedang duduk berkumpul, mana boleh anak Ki tidak tahu aturan duduk bersama. Biar anak Ki berdiri saja."
Katanya.
Tiba-tiba Lok Hong mendongakkan kepa-lanya dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
Matanya yang bersinar tajam menatap Tan Ki sekilas.
Kemudian dia tersenyum simpul dengan wajah menyiratkan perasaan kagum.
Setelah itu dia memejamkan matanya kembali.
Yibun Siu San tertawa lebar.
"Pertarungan malam ini, membuat kau pantas duduk bersama para Cianpwe ini. Kau juga tidak perlu rendah diri lagi, duduklah. Kalau sampai kau dianggap sombong kan malah tidak baik."
Tan Ki bimbang sejenak.
Baru kemudian dia membungkukkan tubuhnya dengan penuh hormat dan duduk di tempat yang ditunjuk oleh Yibun Siu San.
Mei Ling, Ban Jin Bu, Sam Po Hwesio serta si pengemis cilik Cu Cia berdiri berbaris di belakangnya, seakan menjadi pengawal bagi Tan Ki.
Ketika bara duduk saja, pandangan mata Tan Ki sudah mengedar ke orang-orang gagah yang ada di sekelilingnya.
Tiba-tiba hatinya jadi tergerak.
Diam-diam dia berpikir.
"Rasanya masih ada beberapa orang yang belum hadir."
Dengan membawa pikiran seperti itu, dia langsung menanyakannya kepada Yibun Siu San.
"Siok-siok, apakah Ciong San Suang Siu, kedua pengawal Cianpwe, masih menjaga goa di bagian belakang bukit di mana Tian Bu Cu Locianpwe sedang menutup diri?"
Tampak sinar mata Yibun Siu San mengeluarkan cahaya yang berkilauan. Dia mendengus satu kali.
"Goa di belakang bukit itu letaknya agak terpencil sehingga tidak mudah ditemukan. Ketika Tian Bu Cu Locianpwe menyatakan hendak menutup diri menurunkan ilmu kepada Liang Fu Yong, orang yang tahu hanya segelintir saja. Entah bagaimana caranya ternyata malah bisa didatangi oleh tiga orang laki-laki dan seorang perempuan. Kecuali Kaucu Pet Kut Kau dan adik seperguruannya Kim Yu. Laki-laki yang satu lagi mengenakan pakaian serba hitam dan tubuhnya kurus seperti tinggal tengkorak saja, tetapi ilmunya sangat tinggi dan rasanya tidak di sebelah bawah Kaucu Pek Kut Kau. Aku sendiri sempat bergebrak dengannya sampai ratusan jurus, tetapi tidak sanggup meraih keuntungan sedikitpun. Malah kadang-kadang aku sampai terdesak mundur oleh kekuatan tenaga dalamnya yang dahsyat serta jurus serangannya yang aneh. Kemudian aku baru mengetahui bahwa orang ini merupakan Bun Bu Yu Siang dari pihak Lam Hay Bun, yakni Tong Ku Lu."
Tan Ki agak tertegun mendengar keterangannya.
"Ketika Tong Ku Lu menyatroni ruang baca, bukankah dia sudah diusir oleh dua gadis bertopeng? Mengapa dia bisa kembali lagi dan malah menuju ke bagian belakang bukit di mana Tian Bu Cu Locianpwe menutup diri?"
Sekali lagi Yibun Siu San mengeluarkan suara dengusan berat dari hidungnya.
"Kalau Tong Ku Lu sempat datang lebih awal sedikit saja, mana mungkin Ciong San Suang Siu bisa bertahan lebih dari lima puluh jurus? Untung sebelum aku datang memberi bantuan, Lok Lo Pangcu sudah sampai terlebih dahulu dan menahan Kaucu Pek Kut Kau. Dengan demikian Tian Bu Cu Locianpwe serta Liang Fu Yong yang menutup diri di dalam goa tidak sampai mengalami peristiwa yang membahayakan."
Tan Ki seperti teringat akan sesuatu hal, tiba-tiba saja dia bertanya.
"Siapa perempuan yang satunya lagi?"
Yibun Siu San menggelengkan kepalanya.
"Tidak tahu. Dia juga sama seperti aku ini, mengenakan cadar untuk menutupi wajahnya. Dengan demikian wajah aslinya jadi tidak kelihatan. Sejak awal hingga akhir dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Namun dari bentuk badannya dapat diduga bahwa perempuan ini usianya masih muda sekali."
Mulut Tan Ki mengeluarkan suara "oh"
Yang panjang.
Biji matanya mengerling ke sana ke mari.
Sepertinya ada suatu hal yang sedang ia pertimbangkan dalam hatinya.
Kelima jari tangan kirinya mengetuk-ngetuk meja di hadapannya.
Matanya terpejam dan merenung beberapa saat, tetapi dia tidak bersuara sedikitpun.
Telinganya kembali mendengar suara Yibun Siu San yang berbicara dengan perlahan-lahan.
"Meskipun usia gadis ini masih muda, tetapi tampaknya dia justru yang menjadi pimpinan orang-orang ini. Dia yang menurunkan perintah dan juga sangat licik. Ciong San Suang Siu kedua-duanya terluka di tangan gadis ini. La-gipula gadis itu sepertinya memahami sekali seluk beluk daerah di belakang bukit, begitu sampai dia langsung menuju goa di mana Tian Bu Cu Locianpwe sedang menutup diri..."
Kata-kata yang diucapkannya seperti ditujukan kepada Tan Ki, juga merupakan peringatan kepada orang-orang gagah yang hadir di tempat tersebut.
Setiap patah kata diucapkannya dengan berat dan lambat sehingga menimbulkan peraaan tidak tenang di hati mereka.
Begitu mata dipejamkan, yang terbayang di pelupuk mata justru diri seorang gadis bercadar yang samar-samar seakan berkelebat ke sana ke mari...
Tiba-tiba si pengemis sakti Cian Gong menepuk meja di hadapannya dan tertawa terbahak-bahak.
"Ditilik dari kata-kata si tua Yibun Siu San tadi, tampaknya dia ingin memperingatkan bahwa di antara kita terdapat seorang mata-mata. Kalau tidak, pihak Lam Hay maupun Si Yu tidak mungkin secara kebetulan atau begitu cepat menemukan goa di belakang bukit. Apabila kita renungkan secara seksama, tampaknya serangan Lam Hay dan Si Yu yang Secara mendadak tadi seolah ingin memamerkan kekuatan dan mengacaukan keadaan kita. Tetapi sebetulnya tujuan utama mereka adalah jiwa Tian Bu Cu. Kalau serangan ini sampai berhasil dan si hidung kerbau itu mati di puncak bukit Tok Liong Hong, akibatnya tentu dapat dibayangkan. Sudah pasti mereka akan menggunakan cara yang licik dengan menyebarkan berita di luaran bahwa si hidung kerbau mati karena ulah kita. Dengan demikian, meskipun kita mempunyai seribu lidah ataupun alasan, pihak lima partai besar belum tentu mau mengerti. Akhirnya pasti timbul bentrokan antara pihak kita dengan para partai besar. Kemungkinan malah bisa timbul pertumpahan darah yang hebat. Sedangkan saat itu mereka tinggal berdiri di samping menyaksikan keramaian dan kemudian memungut hasilnya."
Mendengar kata-kata si pengemis sakti Cian Cong, orang-orang gagah langsung mengeluarkan suara seruan terkejut.
Mereka bagai tersentak dari mimpi dan wajah masing-masing menyiratkan perasaan gusar yang sulit diuraikan dengan kata-kata.
Memang dari pihak lima partai besar, kali ini yang memberikan bantuan hanya Tian Bu Cu seorang.
Apabila sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada diri orangtua itu, akibatnya kemarahan pihak lima partai besar pasti terbangkit.
Cian Cong mengangkat hiolo araknya dan meneguk dua tegukan besar.
Matanya yang bersinar tajam menyapu ke sekeliling sekilas.
Perlahan-lahan dia berkata lagi.
"Sebentar lagi hari sudah pagi, saudara sekalian sudah letih berkutat sepanjang malam. Untuk sementara persoalan ini tidak usah terlalu dipikirkan. Biar kita selidiki perlahanlahan, suatu hari nanti urusan ini pasti bisa mendapat penjelasan yang memuaskan dan mata-mata tersebut pasti ketahuan siapa orangnya. Dengan demikian kita bisa membalaskan dendam untuk para sahabat yang gugur hari ini. Setelah sarapan pagi nanti, pemilihan Bulim Bengcu akan dimulai kembali. Sekarang harap saudara-saudara sekalian dapat mempergunakan waktu yang singkat ini untuk beristirahat sebaik-baiknya sehingga dapat hadir dalam pertandingan final nanti."
Selesai berkata, dia segera berjalan keluar mendahului yang lain.
Langkah kakinya ringan sekali, dalam sekejap mata dia sudah menghilang dari pandangan mata.
Tamutamu yang lainnya mulai bangkit dari tempat duduk masing-masing, dengan berbondongbondong mereka keluar dari ruangan tersebut.
Dalam waktu yang singkat, di dalam ruangan itu hanya tinggal Yibun Siu San, Lok Hong, Tan Ki dan istri yang baru dinikahinya, Liu Mei Ling, berempat.
Tampak Yibun Siu San memejamkan matanya, mendengarkan dengan seksama.
Setelah yakin orang-orang gagah lainnya sudah keluar dari ruangan tersebut, dia baru berkata dengan nada suara berat.
"Anak Ki, kau pernah mengatakan kepadaku bahwa di antara pihak kita telah diselusupi mata-mata dari Lam Hay dan Si Yu. Hal ini membuktikan bahwa sejak semula kau sudah tahu siapa adanya orang ini. Sekarang di dalam ruangan ini hanya tinggal aku dan Lok Locianpwe, beliau bukan orang luar bagi kita, kau boleh mengatakannya terus terang dan tidak perlu ditutupi lagi."
Mendengar kata-katanya, untuk sesaat Tan Ki tertegun.
Kemudian dia menolehkan kepalanya kepada Mei Ling.
Tampak sepasang mata istrinya itu juga menyiratkan perasaan ingin tahu yang dalam.
Dia sedang menatap Tan Ki lekat-lekat dengan bibir menyunggingkan senyuman, seolah perasaannya langsung menjadi tenteram asal berada dekat suaminya itu.
Mungkin apabila ada yang mengatakan gunung Thai San akan roboh, dia juga tidak merasa gentar.
Tan Ki menarik nafas panjang.
"Ling Moay, sebelum aku mengatakan siapa adanya orang ini, aku harap kau menjaga perasaanmu agar jangan sampai terkejut..."
Mei Ling menanggukkan kepalanya sambil tersenyum simpul. Tan Ki berpikir sejenak sebelum berkata.
"Orang ini belum lama kukenal..."
Lok Hong tampaknya kurang sabar mendengar ucapan Tan Ki. Wajahnya agak berubah. Dia segera menukas.
"Mengapa sih kau ini suka bertele-tele? Bicara nama seseorang saja pakai putar-putar segala. Lohu tidak perduli bagaimana kau bisa mengenal orang ini, asal kau katakan saja secara terus terang siapa orangnya. Coba apakah orang yang kau sebutkan sama dengan orang yang kucurigai dalam hati? Segala macam tetek bengek lebih baik dihilangkan saja!"
Tan Ki jadi tertegun mendengar kata-katanya yang ketus. Diam-diam dia berpikir di dalam hati.
"Perasaan hati orangtua ini maunya tergesa-gesa, padahal orang yang ingin mengetahui kejadian yang sebenarnya seharusnya justru bersabar. Dia malah mendesak orang sedemikian rupa. Hm! Aku, Tan Ki, toh bukan orang yang takut menghadapi urusan apapun."
Meskipun dia menggerutu dalam hati, di luarnya dia tidak berani menunjukkan perasaan kurang senangnya.
"Kalau Locianpwe berkata begitu, Boanpwe terpaksa mengatakannya secara langsung saja. Orang yang Boanpwe curigai sebagai mata-mata adalah bekas budak keluarga Liu yang bernama Cen Kiau Hun!"
Sepasang alis Lok Hong langsung terjungkit ke atas mendengar keterangannya.
"Lohu pernah mendengar berita bahwa si raja iblis Oey Kang sudah bergabung dengan pihak Lam Hay. Oleh karena itu di dalam hati Lohu selalu menduga bahwa mata-mata yang menyelusup ke pihak kita kali ini pasti putra angkatnya Oey Ku Kiong. Orang ini sangat mencurigakan. Belakangan ini dia malah seakan berpihak kepada kita. Sekarang tiba-tiba kau mengatakan mata-mata itu justru bekas budak keluarga Liu, Kiau Hun. Entah bukti apa yang sudah tergenggam dalam tanganmu sehingga kau berani mengatakan bahwa dialah mata-mata yang dimaksud?"
Tan Ki menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Bukti sih belum ada. Tetapi Boanpwe pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa dia mewakili pihak Lam Hay Bun seorang diri mengadakan pertemuan di sebuah kuil tua. Sedangkan tujuannya saat itu adalah mengadakan perundingan tentang persoalan penting dengan adik seperguruan Kaucu Pek Kut Kau. Sayangnya Locianpwe tadi buru-buru menukas perkataan Boanpwe sehingga banyak kata-kata yang sebetulnya ingin dijelaskan jadi terlupa. Kalau tidak, tanpa perlu Locianpwe menanyakan pun, Boanpwe bisa menerangkan semuanya sampai jelas."
Mata Lok Hong mendelik lebar-lebar mendengar ucapannya. Tampaknya orangtua itu mulai merasa marah.
"Sepertinya engkau ini memang sengaja ingin mencari gara-gara dengan Lohu?"
Tan Ki tertawa lebar.
"Tidak berani, tidak berani! Locianpwe merupakan seorang pimpinan di daerah Sai Pak. Nama Locianpwe sudah terkenal di mana-mana dan semua orang mengetahui jiwamu yang gagah. Sedangkan Boanpwe hanya seorang Bu Beng Siau-cut, bukan ilmunya saja yang masih rendah, pengetahuan pun cetek sekali. Diri Boanpwe sendiri menyadari bahwa sinar kunang-kunang tidak mungkin lebih terang dari cahaya rembulan. Locianpwe sekalisekali jangan salah paham terhadap ucapan Boanpwe."
Mendengar kata-katanya, mata Lok Hong menyorotkan sinar yang tajam menusuk. Tiba-tiba dia menggebrak meja keras-keras, kemudian bangkit dari tempat duduknya sambil tertawa terbahak-bahak.
"Kata-kata yang kau ucapkan semakin lama semakin kentara bahwa kau memang sengaja mencari perkara dengan Lohu!"
Suara tawanya mengandung keangkuhan yang tidak terkirakan, namun begitu kerasnya sehingga mirip geledek yang bergemuruh, Mei Ling sampai merasa jantungnya bergetar dan cepat-cepat menutup kedua telinganya erat-erat.
Yibun Siu San melihat sikap keduanya secara bergantian.
Yang satu matanya menyorotkan sinar dingin seakan ingin melampiaskan penghinaan yang diterimanya selama sebulan belakangan ini, sedangkan rambut si orangtua sampai berjingkrakan ke atas menandakan kemarahan hatinya.
Dia juga melihat Lok Hong secara diam-diam telah mengerahkan tenaga dalamnya seperti siap melancarkan serangan.
Suasana saat itu terasa pengap dan menegangkan.
Cepat-cepat dia membuka mulut membentak Tan Ki.
"Anak Ki tidak boleh kurang ajar. Biar bagaimana Lok Locianpwe merupakan Pangcu dari sebuah perkumpulan besar. Baik nama besar maupun kedudukannya jauh lebih tinggi daripadamu, mana boleh kau sembarangan mengoceh di hadapannya? Malam ini kita mendapat banyak bantuan darinya. Berterima kasih saja belum, kau sudah berani berkatakata yang tidak enak didengar di hadapanku! Tenaga dalam Lok Locianpwe sudah mencapai taraf yang tinggi sekali. Asal dia turun tangan, jangan harap selembar nyawamu masih dapat dipertahankan. Cepat minta maaf kepada dia orangtua, apakah kau benarbenar sudah tidak menyayangkan jiwamu sendiri?"
Tan Ki malah tersenyum simpul mendengar omelannya.
"Apa yang dikatakan keponakanmu ini setiap patahnya merupakan kata-kata yang sebenarnya, sama sekali bukan ocehan yang tidak benar bukan?"
Begitu kesalnya Lok Hong sehingga dia menggebrak meja di hadapannya keras-keras.
Saat itu juga terdengar suara yang menggelegar, cawan teh di atas meja pecah berhamburan, air teh yang di dalamnya pun muncrat ke mana-mana.
Tan Ki masih tetap tersenyum.
"Locianpwe merupakan seorang pimpinan di daerah tertentu, tidak usah pura-pura marah. Boanpwe hanya ingin mengingatkan sedikit. Seandainya aku sanggup meraih kedudukan Bulim Bengcu, entah janji yang pernah Locianpwe ucapkan masih terhitung atau tidak?"
Wajah Lok Hong merah padam, sepasang matanya bagai mengandung kobaran api yang membara.
"Memangnya kau kira siapa diri Lohu ini? Mana mungkin aku menghilangkan rasa percaya kepada seorang angkatan muda? Tapi kau juga harus ingat baik-baik! Apabila kau tidak sanggup merebut kedudukan Bulim Bengcu, sepasang telapak besi Lohu ini tidak akan melepaskan orang yang mencuri ilmu leluhur kami begitu saja!"
Mendengar kata-katanya, Tan Ki langsung berdiri sambil tertawa panjang.
"Baiklah, kita tentukan demikian saja. Sesudah sarapan nanti, kita bertemu lagi di arena pertandingan!"
Selesai berkata, dia langsung mengajak Mei Ling meninggalkan tempat pertemuan tersebut.
Telinganya menangkap suara dengusan dingin sebanyak dua kali, tetapi dia tidak memperdulikan sama sekali.
Kemungkinan, ketika Tan Ki memejamkan matanya merenung tadi, dia telah mempunyai keyakinan atas dirinya sendiri dalam perebutan kedudukan Bulim Bengcu.
Sedangkan barusan tanpa sadar dia seakan telah menyatakan isi hatinya.
Baru saja Tan Ki dan Mei Ling meninggalkan tempat itu, tampak dua sosok bayangan berkelebat masuk ke dalam ruangan pertemuan.
Rupanya yang datang adalah Ceng Lam Hong beserta Lok Ing berdua.
Entah apa sebabnya, sikap Lok Ing yang keras kepala dan tidak tahu aturan sama sekali tidak terlihat lagi.
Tampak wajahnya yang cantik selalu mengembangkan senyuman yang lembut.
Saat itu sambil berjalan dia berkata kepada Ceng Lam Hong.
"Pek Bo, kau lihat sendiri sikap Tan Koko kepada kakekku kurang ajar sekali, sungguh menyebalkan. Tetapi Pek Bo hanya memperhatikan tanpa mengatakan apa-apa. Seharusnya kau orangtua mengajar adat sedikit kepadanya."
Ceng Lam Hong tersenyum simpul.
"Anak baik, kau tidak perlu khawatir. Pek Bo pasti mengikuti kemauan hatimu, pokoknya sampai hatimu puas. Tetapi sekarang masih belum tepat waktunya, asal kau sabar saja dulu sedikit."
Ucapannya itu mengandung dua makna, nada suaranya tenang dan terselip sesuatu hal yang lainnya.
Wajah Lok Ing jadi merah padam.
Cepat-cepat dia menghambur ke belakang Lok Hong.
Begitu pandangan mata dialihkan, tampak mata Yibun Siu San maupun Lok Hong terpejam rapat-rapat.
Mereka duduk di atas kursi berbentuk singa dan tidak mengucapkan sepa-tah katapun.
Hatinya menjadi berdebar-debar.
Entah apa yang terjadi pada diri kedua orang ini.
BAGIAN XLVI Ceng Lam Hong segera menghampirinya.
"Kedua orang itu sedang menghimpun hawa murni dalam tubuh agar keletihan dapat dihilangkan secepatnya. Sepanjang malam mereka sudah banyak mengeluarkan tenaga, jangan bersuara, nanti mereka terkejut."
Katanya lirih.
Lok Ing menghembuskan nafas panjang-panjang.
Cepat-cepat dia mengusap keringat dingin yang membasahi keningnya.
Tadi dia sempat panik karena mengira telah terjadi sesuatu pada diri kakeknya dan Yibun Siu San.
Lewat keterangan Ceng Lam Hong, perasaannya jadi tenang kembali.
Bibirnya tersenyum.
"Tit-li (keponakan) juga menduga demikian. Pek Bo, duduk saja di sini."
Dia langsung menarik sebuah kursi dan mempersilahkan Ceng Lam Hong duduk.
Dia sendiri menemani duduk di sebelah kirinya kemudian memejamkan mata beristirahat.
Perlu diketahui bahwa seseorang yang mempelajari ilmu silat dapat bertahan tidak tidur meskipun tiga hari tiga malam lamanya.
Apabila dalam pertarungan terkena luka dalam atau bagian luar yang terluka, asalkan mengerahkan hawa murni dalam tubuh lalu beristirahat sejenak, maka keadaannya bisa segera pulih kembali.
Yibun Siu San dan Lok Hong adalah tokoh-tokoh Bulim yang memiliki kepandaian tinggi.
Tenaga dalam mereka juga sudah mencapai taraf yang hebat, tetapi kali ini mereka sampai memerlukan waktu dua kentungan untuk memejamkan mata beristirahat.
Setelah itu tampak keduanya membuka mata dan kesehatan sudah pulih seperti sedia kala.
Hal ini membuktikan bahwa pertarungan tadi malam cukup banyak menguras hawa murni dalam tubuh mereka.
Sementara itu, terdengar suara langkah kaki mendatangi.
Mereka segera menolehkan kepalanya.
Tampak si pengemis cilik Cu Cia beserta Sam Po Hwesio berjalan masuk dengan berendengan.
Melihat kehadiran kedua orang itu, Yibun Siu San langsung bertanya.
"Apakah semuanya telah disiapkan?"
"Suhu si tukang minta-minta sudah membereskan arena pertandingan sampai rapi serta siap dipakai. Para pendekar tingkat delapan, kecuali Heng Sang Si dan empat rekan lainnya yang meninggal beserta delapan orang pendekar pedang tingkat enam, semuanya sudah berkumpul di arena pertandingan. Asal Susiok serta Lok Locianpwe sudah hadir, rasanya pemilihan Bulim Bengcu sudah bisa dimulai."
Yibun Siu San menganggukkan kepalanya berkali-kali.
Sejenak kemudian tampak dia berdiri dari kursinya kemudian mengajak Lok Hong menuju arena pertandingan.
Ceng Lam Hong dan Lok Ing berjalan lemah gemulai mengikuti di belakang mereka.
Paling akhir mengiringi si pengemis cilik Cu Cia dan Sam Po Hwesio, tetapi sepasang mata kedua orang ini terus mengerling ke sana ke mari.
Diam-diam mereka merasa heran mengapa sampai saat ini masih belum terlihat bayangan Tan Ki dan istrinya.
Dalam waktu singkat keenam orang itu sudah sampai di ruangan pertandingan.
Kerumunan manusia bergerak-gerak, angin pagi menghembus membawa kesegaran.
Pakaian yang berwarna-warni pun melambai-lambai seperti bendera yang berkibaran.
Mereka mengambil jalan mengitar.
Di tengah-tengah arena bagian atas tampak duduk si pengemis sakti Cian Cong.
Orangtua itu sedang menggerogoti paha ayam sambil sekalisekali meneguk arak dari hiolonya.
Wajah Cian Cong sudah merah padam, matanya terlihat sayu sehingga kentara jelas bahwa orangtua itu sudah mulai mabuk.
Kemungkinan sebelum menuju ke tempat tersebut dia sudah minum arak dalam jumlah yang banyak.
Orangtua ini memang mempunyai kebiasaan yang aneh, belum pernah dia minum air putih atau air teh.
Biar makanpun yang diminumnya tetap arak.
Setiap minum pasti mabuk.
Oleh karena itu dari tubuhnya tidak sedetikpun tidak terpancar bau arak yang menusuk.
Sedangkan pikirannya semakin terang kalau sudah mabuk.
Saat ini dia duduk di bagian atas dengan sepasang mata mengedar ke sana ke mari.
Tetapi mulutnya tidak mengucapkan sepatah katapun.
Yibun Siu San mengulapkan tangannya mempersilahkan Lok Hong duduk di bagian kanan.
Dia sendiri tanpa sungkan lagi duduk di tengah-tengah.
Ceng Lam Hong dan si pengemis cilik Cu Cia berdiri di belakang mereka.
Di seluruh arena yang luas itu tidak terdengar sedikit suarapun.
Suasana demikian serius seakan mereka sedang menantikan berlangsungnya pertandingan dengan hati tegang.
Yibun Siu San duduk di tempatnya sambil mengedarkan sepasang matanya yang tajam.
Dia memperhatikan sekelilingnya dengan seksama.
Sekonyong-konyong tampak sepasang alisnya menjungkit ke atas.
Dia menolehkan kepalanya kepada Cian Cong.
"Mengapa anak Ki masih belum hadir juga? "Si pengemis tua kan bukan inang pengasuhnya, bagaimana bisa tahu mengapa dia masih belum datang juga? Tetapi Hek Lohan si Hwesio cilik dan Yang Jen Ping melihat dia berjalan sambil bercakap-cakap dengan istrinya. Entah apa yang mereka kasak-kusukkan. Meskipun mereka melihat, tetapi kan tidak enak rasanya mengganggu sepasang pengantin baru yang sedang memadu kasih?"
Yibun Siu San jadi tertegun mendengar kata-katanya.
"Arah mana yang mereka ambil?"
Tanyanya kembali. Cian Cong merenung sejenak.
"Kemungkinan ke bagian belakang bukit. Sam Po Hwesio mengatakan bahwa si setan cilik itu mungkin mengkhawatirkan keadaan Liang Fu Yong. Semalam mereka sudah terlibat berbagai pertarungan, sedangkan dia masih belum mendapat bukti yang nyata bagaimana keadaan mereka yang sedang menutup diri."
Wajah Yibun Siu San tampak kelam sekali.
"Pertandingan sudah hampir dimulai, dia toh sudah pergi cukup lama, kan seharusnya sudah kembali. Apakah dia tidak tahu setelah lewat pagi ini, berarti dia tidak mempunyai kesempatan lagi ikut dalam perebutan Bulim Bengcu?"
Mendengar nada bicaranya, tampaknya Yibun Siu San mengkhawatirkan keadaan Tan Ki dan perhatiannya terhadap anak muda itu juga besar sekali. Cian Cong tertawa lebar.
"Si pengemis tua dengan dirimu tiada bedanya. Kita semua mengharapkan si setan cilik itu dapat melewati tiga macam ujian dalam pertandingan ini dan sanggup menghadapi lawan yang lain agar kedudukan Bulim Bengcu berhasil diraihnya tanpa susah payah. Tetapi kita justru tidak mengerti apa sebenarnya yang dikehendaki bocah ini. Waktu pertandingan sudah hampir dimulai, dia malah tidak muncul. Sedangkan seratus lebih tokoh Bulim sudah berkumpul di sini menantikan jalannya pertandingan. Kita toh tidak mungkin menunda waktu lebih lama hanya karena urusan pribadi. Sekarang sebaiknya kita mulai saja acara ini sambil mengutus orang untuk mencari si setan cilik itu."
Yibun Siu San menarik nafas panjang.
"Aku justru khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada dirinya, padahal tidak ada orang yang dapat disuruhnya mencari bantuan."
Sambil berkata, dia menggapaikan tangannya kepada si pengemis cilik Cu Cia, juga Hek Lohan Sam Po Hwesio.
Dia berbisik kepada mereka dengan suara lirih kemudian baru berdiri dengan perlahan-lahan.
Dengan suara keras dia mengumumkan bahwa pertandingan final perebutan Bulim Bengcu tersebut segera di mulai.
Di antara delapan orang jago yang diandalkan, Liu Seng tidak berminat mencari nama sehingga mengundurkan diri.
Sedangkan Kok Hua Hong baru sembuh dari luka yang parah, untuk sementara tenaganya tidak boleh terkuras.
Ciong San Suang Siu sedang menjaga goa di mana Tian Bu Cu sedang menutup diri menurunkan ilmu kepada Liang Fu Yong.
Tugas mereka bukan saja berat, namun tanggung jawabnya pun tinggi sekali.
Dengan demikian mereka juga tidak dapat turut dalam pertandingan tersebut.
Oleh karena itu, dari antara pendekar pedang tingkat delapan, yang tersisa hanya Goan Yu Liong beserta tiga orang lainnya.
Lihat siapa diantara mereka yang berhak menjabat kedudukan sebagai Bulim Bengcu.
Begitu pertandingan dimulai, empat orang pendekar pedang tingkat delapan itu langsung dibagi menjadi dua kelompok dan segera melangsungkan pertarungan sengit.
Masing-masing mengerahkan segenap kemampuannya untuk memenangkan pertarungan.
Untuk sementara kita kembali kepada si pengemis cilik Cu Cia dan Sam Po Hwesio yang ditugaskan oleh Yibun Siu San untuk mencari Tan Ki.
Kedua orang itu tidak menunda waktu lagi, mereka segera meninggalkan arena pertandingan dan lari dengan cepat.
Gerakan tubuh mereka bagai awan yang berarak.
Yang tertangkap oleh pandangan mata mereka hanya pepohonan dan rerumputan yang tinggi.
Semakin jauh mereka berlari, jalanan yang dilewati pun semakin sulit ditempuh.
Ranting-ranting pohon serta batu-batu besar kecil menghalangi jalan.
Kerikil-kerikil tajam juga berserakan di mana-mana sehingga menimbulkan perasan tidak enak dalam hati.
Pikiran Cu Cia sedang ruwet, dia tidak memperdulikan jalanan yang banyak liku-likunya itu.
Sepanjang perjalanan dia terus berlari secepat kilat.
Dalam sekejap mata dia sudah mencapai jarak setengah li.
Setelah melewati sebuah lekukan, tiba-tiba dia melihat ada jurang yang dalam sehingga jalanan menjadi buntu.
Bagian kiri terdapat pepohonan siong yang lebat, dedaunannya juga rimbun sekali.
Sedangkan di bagian kanan persis bersebelahan dengan jurang terdapat sebuah goa alami namun sudah dibersihkan oleh beberapa orang gagah atas perintah Yibun Siu San.
Suasana di sekitar begitu tenang sehingga menimbulkan perasaan tenteram.
Memang sebuah tempat yang cocok sekali apabila digunakan untuk menutup diri berlatih ilmu.
Seiring tiupan angin yang lembut, tampak rumput-rumput melambai-lambai.
Pinto goa yang entah seberapa tebalnya justru tertutup rapat-rapat.
Keadaan di sekeliling pun sunyi senyap tanpa terlihat bayangan seorangpun.
Sam Po Hwesio mengelus-elus kepalanya yang gundul.
Dia menunjuk ke arah pintu goa sambil berkata.
"Apakah goa ini yang digunakan Tian Bu Cu Locianpwe untuk menutup diri?"
Cu Cia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Wajahnya menyiratkan perasaannya yang sedang kebingungan.
"Memang goa ini yang dimaksud, tetapi entah ke mana perginya Ciong San Suang Siu yang bertugas menjaga di sini?"
Mendengar kata-katanya, Sam Po Hwesio jadi termangu-mangu. Matanya mengedar ke sekeliling tempat itu.
"Rasanya sedikit aneh. Tukang minta-minta, biasanya kau paling banyak akal bulus. Apakah kau bisa menebak apa sebetulnya yang telah terjadi?"
"Si pengemis cilik kan bukan setan penjaga lembah ini, juga bukan tukang ramal. Tanpa hujan tanpa angin menghadapi urusan seperti ini, mana bisa aku menduga sembarangan saja. Asal mulanya bagaimana saja aku tidak tahu, rasanya...."
Tiba-tiba dia seperti menemukan sesuatu.
Kata-katanya terhenti seketika.
Sepasang matanya menatap ke depan lekat-lekat.
Sikapnya serius dan waspada.
Sam Po Hwesio tahu sikap rekannya ini sehari-harinya bebas tanpa banyak pemikiran apa-apa.
Sepanjang hari selalu tertawa lebar.
Sebelumnya dia tidak pernah melihat tampang si pengemis cilik seperti sekarang ini, tanpa dapat ditahan lagi dia jadi termangudari dalam goa.
Cu Cia jadi termangu-mangu beberapa saat.
Kemudian terdengar dia berkata kembali...
"Apakah wajah saudara ini dipenuhi dengan bekas cacar atau lidah saudara yang telah dipotong oleh mertua, sehingga tidak berani menemui orang dan bahkan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun? Si pengemis cilik berkelana di dunia Kangouw, bukan baru dua tiga tahun ini, tetapi belum pernah menemui manusia yang menyembunyikan kepala memperlihatkan ekor seperti dirimu ini. Apabila saudara mempunyai kepala dan wajah, ada she serta nama, seharusnya tidak perlu menyembunyikan diri di tempat gelap seperti setan gentayangan. Meskipun selembar nyawa si tukang minta-minta ini tidak seberapa nilainya, namun hanya mati di tangan seorang pendekar sejati baru merasa puas!"
Si pengemis cilik mengira kata-katanya yang keras dan tajam ini pasti bisa menimbulkan kemarahan orang yang bersembunyi itu sehingga mengunjukkan diri.
Paling tidak dia akan membuka suara memberikan sahutan.
Dengan demikian tidak sulit baginya untuk menentukan bagian mana orang itu menyembunyikan dirinya.
Setelah itu urusan timenjaga segala kemungkinan, sekonyong-konyong dia merasa ada serangkum angin yang menerpa dari depan.
Keadaan di dalam goa itu begitu gelap sehingga kelima jari tangan sendiripun tidak terlihat.
Meskipun pandangan mata Cu Cia lebih tajam daripada orang biasa, dalam keadaan seperti ini dia tidak dapat melihat senjata rahasia apa yang sedang meluncur ke arahnya.
Hatinya menjadi tercekat, mulutnya mengeluarkan suara teriakan keras.
"Ada senjata rahasia!"
Sepasang lengannya direntangkan ke depan, seiring dengan suara teriakannya, tubuh si pengemis cilik pun mencelat ke samping dengan gerakan secepat kilat.
Tanpa menunda waktu dia pun meloncat mundur ke belakang tiga langkah.
Terdengar suara benturan logam dan batu, Cu Cia tahu senjata rahasia itu sudah mengenai dinding goa di sampingnya.
Suaranya saja sampai bergema ke seluruh goa dan kumandangnya seperti sahut menyahut.
Cu Cia merasa marah sekali terhadap bo-kongan itu.
"Siapa yang menimpukkan senjata rahasia? Kalau sahabat dari dunia Bulim seharusnya memberi peringatan terlebih dahulu!"
Untuk sekian lama tetap tidak ada sahutan sumbernya dari bahwa tanah, suaranya sendiri gemuruh memekakkan telinga.
Kurang lebih setengah menit kemudian sepasang pintu yang tadinya tertutup rapat mulai membuka.
Si pengemis cilik Cu Cia merentangkan pedang pendeknya di depan dada kemudian mendahului Sam Po Hwesio menerjang ke dalam.
Dengan bantuan cahaya matahari yang sedang bersinar terang, dia mengedarkan pandangannya.
Tampak tinggi goa itu mencapai satu depa setengah.
Keadaan di dalamnya luas sekali.
Tetapi karena lama sekali tidak pernah dimanfaatkan, maka di dalamnya masih terasa ada hawa yang lembab.
Tiba-tiba terdengar suara yang menggelegar, rupanya sepasang pintu goa yang tadi telah terbuka sekarang merapat kembali.
Kalau waktu membukanya agak lama, tutupnya justru cepat sekali.
Otomatis ruangan goa tersebut kehilangan penerangan dan menjadi gelap gulita.
Sam Po Hwesio meleletkan lidahnya sambil tertawa lebar.
"Amit-amit! Kalau saja si hwesio cilik terlambat masuk satu detik saja, tubuh ini pasti tergencet pintu yang tebal ini dan bisa-bisa gepeng seperti perkedel!"
Si pengemis cilik mengerutkan sepasang alisnya, dia berkata dengan suara lirih.
"Jangan banyak bicara! Menurut pandangan si pengemis cilik, di dalam goa pasti bersembunyi seorang tokoh yang berbahaya. Keadaan sekarang tidak menguntungkan bagi kita, apalagi si pengemis cilik masih belum menemukan seorang tukang minta-minta perempuan yang dapat dijadikan isteri, dengan demikian ketu-runanpun belum ada. Siapa yang ingin mati konyol di tempat ini?"
Mulutnya berkata, langkahnya mulai bergerak.
Perlahan-lahan dia berjalan masuk ke dalam goa.
Sam Po Hwesio melepaskan tasbeh yang mengalungi lehernya.
Digenggamnya erat-erat tasbeh itu di tangan.
Dia mengikuti belakang Cu Cia dengan ketat seakan takut ketinggalan oleh sahabat karibnya itu.
Berduaan mereka masuk ke dalam goa dengan hatihati.
Selangkah demi selangkah mereka bertindak.
Setelah berjalan kurang lebih tiga puluh depaan, mereka mulai merasa tanah yang diinjak menjadi kasar dan penuh dengan batubatu kecil.
Semakin lama semakin sulit ditempuh.
Baru saja dia ingin mengingatkan Sam Po Hwesio agar mengerahkan tenaga dalamnya goa ini tanpa sebab musabab yang pasti!"
Sam Po Hwesio merenung beberapa saat.
Dia merasa apa yang dikatakan si pengemis cilik Cu Cia memang beralasan.
Sekali lagi dia mengedarkan pandangannya.
Setelah yakin tidak ada hal yang mencurigakan, tubuhnya langsung berkelebat ke depan goa dan memeriksa keadaan di sana dengan teliti.
Sejenak kemudian terdengar suara teriakan Sam Po Hwesio.
"Apa yang diduga oleh si tukang minta-minta ternyata sedikitpun tidak salah. Di tempat ini terdapat banyak jejak kaki. Rumput-rumputan terkulai karena bekas injakan. Tampaknya malah telah terjadi pertarungan yang sengit, sehingga banyak bekasnya yang serabutan. Sedangkan bekas jejak kaki ada yang dalamnya sampai tiga senti, lagipula satu di antaranya kecil sekali. Tidak salah lagi jejak kaki seorang perempuan..."
Si pengemis cilik tidak mengucapkan sepa-tah katapun.
Tiba-tiba tubuhnya berkelebat ke depan goa, tangannya mengulur ke depan dan menekan suatu benda yang bentuknya bulat kecil.
Dalam waktu yang bersamaan, tangan kanannya langsung mengeluarkan sebatang pedang pendek berukuran tiga mistar.
Terdengar suara rantai berderak-derak, mangu untuk beberapa saat.
"Apakah kau menemukan sesuatu?"
Tangan si pengemis cilik menunjuk ke arah goa batu.
"Hek Lohan, coba kau perhatikan. Di depan batu goa itu ada tiga batang senjata rahasia, entah siapa yang menjatuhkannya di sana. Juga terdapat sepasang golok. Rasanya telah terjadi sesuatu belum lama ini. Kalau jatuhnya tadi malam, setelah terkena embun pagi, cahayanya pasti tidak demikian berkilau lagi. Di rerumputan bagian timur juga terdapat beberapa senjata rahasia, juga secarik koyakan baju berwarna abu-abu. Aku masih ingat dengan jelas bahwa Yi Siu Locianpwe mengenakan pakaian dari,bahan yang persis dan warnanya pun sama pula!"
Hati Sam Po Hwesio tergetar mendengarnya.
"Maksudmu di depan goa ini telah terjadi suatu peristiwa pagi ini?"
Cu Cia menganggukkan kepalanya berkahkah.
"Secara kasarnya memang demikian. Kalau tidak, Ciong San Suang Siu Locianpwe yang sudah tahu tugas serta tanggung jawabnya sangat berat, tidak mungkin meninggalkan dak begitu sulit lagi diselesaikan. Kalau tidak, posisi dirinya sungguh tidak menguntungkan. Musuh di tempat gelap, sedangkan dirinya di tempat terang. Setiap gerak-geriknya dapat diketahui oleh lawan sehingga dia kehilangan peluang melakukan penyerangan. Orang bodoh juga mengerti bahwa kedudukannya sekarang sudah kalah set. Oleh karena itu, selesai berkata dia segera mempertajam indera pendengarannya dan mendengarkan dengan seksama. Dalam keadaan seperti ini, walaupun sebatang jarum jatuh di atas tanah pada jarak sepuluh depa, pasti masih dapat terdengar jelas olehnya. Siapa nyana setelah mendengarkan beberapa saat tetap saja tidak ada suara sedikitpun. Akhirnya hawa amarah dalam dada si pengemis cilik jadi meluap. Dia berteriak dengan suara keras.
"Hei, kalau kau masih tidak mengunjukkan diri juga, si pengemis cilik akan memaki-maki delapan keturunan dari nenek moyangmu!"
Baru saja ucapannya selesai, tampaknya pihak lawan sudah mulai kehabisan perasaan sabarnya.
Tiba-tiba terdengar suara angin berdesir, tiga batang senjata rahasia meluncur ke arahnya secepat kilat.
Cu Cia mengeluarkan suara dengusan berat satu kali.
Lengan kanannya bergerak dan tenaga dalam langsung terpancar keluar.
Begitu ketiga batang senjata rahasia itu agak mendekat, sekonyong-konyong Cu Cia mengibaskan tangannya dengan jurus Angin Menangkap Bayangan.
Tampak pedangnya berkilauan dan menimbulkan bayangan seperti bunga-bunga yang menerjang ke atas.
Terdengar suara berdentang beberapa kali berturut-turut.
Tiga batang senjata rahasia tersampok jatuh di atas tanah oleh pedang si pengemis cilik.
Pendengaran si pengemis cilik Cu Cia sangat tajam, apalagi sejak semula dia memang sudah memusatkan seluruh perhatiannya.
Ketika telinganya mendengarkan dengan seksama, dia segera dapat menduga dari mana ketiga batang senjata rahasia itu dilemparkan.
Tempatnya kurang lebih dua belas langkah di sebelah kiri.
Dengan demikian dia segera tertawa terbahak-bahak.
"Si pengemis cilik juga mempunyai sedikit hadiah untukmu, sambutlah!"
Tangan kirinya mengibas, dua butir batu kecil melayang ke depan.
Rupanya ketika berbicara tadi, secara diam-diam dia sudah menyediakan dua butir batu dalam genggaman tangannya.
Kedua butir batu tersebut melayang secepat kilat karena dilemparkan dengan tenaga dalam yang kuat.
Terdengar suara desiran pakaian yang sekejap mata sirap kembali.
Kemudian terdengar suara.
Plok!
Plok!
Dua kali dari jarak kurang lebih satu depaan.
Kedua butir batu itu mengenai dinding goa sehingga menimbulkan gema yang berkumandang di seluruh goa.
Tentu saja orang itu sudah berpindah tempat ketika ia menimpukkan senjata rahasia.
Untuk sesaat Cu Cia jadi termangu-mangu.
Diam-diam dia berpikir di dalam hatinya.
"Entah siapa orang ini? Ternyata ilmu meringankan tubuhnya begitu tinggi. Seandainya dia sengaja menggunakan senjata rahasia mempermainkan aku, jangan harap aku dapat menggeser setengah langkah saja. Tampaknya kalau begini terus, keadaan Tian Bu Cu Locianpwe semakin lama bisa semakin berbahaya. Lagipula aku tidak tahu ada berapa jago kelas tinggi yang bersembunyi di dalam goa ini."
Pikirannya bekerja cepat bagai kincir angin, setelah berputaran beberapa kali, hati Cu Cia semakin panik.
Matanya menatap ke arah dalam goa dengan termangu-mangu.
Dia sendiri bingung apa yang harus diperbuatnya.
Tiba-tiba terdengar suara tawa Sam Po Hwesio.
"Hidup ada tempatnya, mati ada suratan nasibnya. Bila Giam Lo-ong (Malaikat elmaut) sudah menentukan ingin mengambil jiwa kita berdua di tempat ini, mau lari pun tidak mungkin. Saat sekarang ini yang paling penting justru menolong orang. Kita terpaksa berusaha dengan menempuh bahaya!"
Sambil berkata, tampak tubuhnya yang gemuk berkelabat.
Sepasang lengan bajunya menimbulkan desiran angin, dia melesat lewat di samping Cu Cia kemudian menerjang ke depan.
Sekonyong-konyong terdengar suara bentakan dari dalam goa.
"Berhenti! Kalau kau masih berani maju terus, jangan salahkan apabila aku turun tangan melukaimu!"
Sam Po Hwesio tertawa terbahak-bahak.
"Maaf sekali kalau si Hwesio cilik tidak dapat menuruti permintaanmu!"
Sepasang kakinya dipercepat, dua kali loncatan dia sudah mencapai sembilan langkah lebih.
Cu Cia yang melihat Sam Po Hwesio menerjang ke depan tanpa memperdulikan bahaya langsung mengerutkan sepasang alis karena perbuatan rekannya itu benar-benar ceroboh.
Mudah sekali apabila lawan hendak membokongnya secara tiba-tiba.
Tetapi saat itu sudah terlambat baginya mencegah, terpaksa dia mengerahkan hawa murninya dan mengejar ke depan.
Siapa nyana baru saja dia melesat ke depan, telinganya sudah mendengar suara dengusan berat Sam Po Hwesio.
Orangnya sendiri bagai disengat aliran listrik.
Setelah gemetar sebentar, dia langsung terkulai jatuh di atas tanah.
Si pengemis cilik telah bersahabat karib dengannya cukup lama.
Selama beberapa tahun ini mereka bergembira bersama, apabila ada kedukaan pun dibagi bersama, boleh dibilang mereka berdua seperti orang dengan bayangannya yang tidak pernah berpisah sekejap matapun.
Hubungan mereka demikian erat seperti kelima jari tangan sendiri.
Sam Po Hwesio terkulai di atas tanah, kejadiannya begitu cepat.
Cu Cia tahu dia telah dibokong oleh seseorang.
Saat itu juga perasaan amarah dalam dadanya jadi meluap.
Wajahnya menyiratkan kegusaran yang berbaur dengan rasa sedih.
Dia langsung mengeluarkan suara siulan yang panjang, pedang bambunya mengerahkan jurus Menyerang Delapan Penjuru di Malam Hari.
Timbul berpuluhpuluh bayangan dari pedang bambunya yang digunakan untuk melindungi diri, orangnya sendiri menerjang ke depan dalam waktu yang bersamaan.
Dalam keadaan marah, kecepatan tubuhnya bagai terbang.
Dalam sekejap mata saja dia sudah sampai di tempat Sam Po Hwesio terkulai.
Dari dalam goa panjang dan gelap, kembali berkumandang suara yang dingin tadi.
"Kalau kau ingin mati kan mudah saja!"
Cu Cia menggetarkan lengan kanannya, tubuhnya yang sedang menerjang ke depan sekonyong-konyong berubah posisi.
Pedangnya menimbulkan suara angin yang menderuderu dan dilancarkannya langsung ke arah sumber suara barusan.
Entah mengapa, tiba-tiba dia merasa bagian pahanya kesemutan, peredaran darah di bagian bawah tubuhnya bagai tersumbat, tenaganya lenyap dan hampir saja dia terkulai jatuh.
Cepat-cepat dia menghimpun hawa murni dalam tubuhnya dan dengan keras dia menghentakkan sepasang pundaknya ke belakang, gerakan tubuhnya pun terhenti.
Tetapi untuk beberapa saat dia sempat terhuyung-huyung seperti orang mabuk.
Apabila pada saat itu orang yang bersembunyi dalam goa kembali menimpukkan sebatang senjata rahasia, biarpun ilmu Cu Cia lebih tinggi lagi dari sekarang, tetap saja sulit baginya untuk menghindarkan diri.
Entah apa sebabnya, ternyata orang itu tidak melakukan tindakan apa-apa.
Seluruh ruangan goa yang gelap gulita itu menjadi hening sekali.
Bahkan terasa ada serangkum hawa tegang yang menyelimuti keadaan di dalamnya.
Hal ini membuat perasaan orang semakin tidak tenang.
Ketika Cu Cia mengerahkan hawa murni dalam tubuhnya, dia merasa aliran hawa tersebut seakan tersumbat, paha kirinya sulit digerakkan.
Dia langsung tahu bahwa barusan dirinya telah terkena senjata rahasia lawan yang mengandung racun.
Meskipun nyali anak muda ini sangat besar dan selamanya menganggap remeh terhadap kematian, tetapi kali ini hatinya tercekat juga.
Dia segera mendongakkan wajahnya dan membentak dengan suara lantang.
"Hei, siapa kau sebenarnya? Keluarlah dan biar si pengemis cilik melihat tampangmu, dengan demikian matipun tidak menyesal!"
Orang itu mengeluarkan suara dengusan dingin dari hidungnya.
"Sebelum masuk ke dalam goa ini, cahye sudah menutupi wajah dengan sehelai cadar. Seandainya saat ini aku keluar menemuimu, kau juga tidak dapat melihat wajah asliku!"
Cu Cia sengaja merenung sejenak. Sesaat kemudian baru dia berkata kembali.
"Si pengemis cilik maklum ilmu silatku masih tidak dapat menandingi dirimu, tetapi aku rela mati di bawah tanganmu. Apabila ada beberapa temanmu yang lain di dalam goa, ada baiknya suruh mereka turun tangan sekalian, agar si pengemis cilik mati dengan puas!"
Sembari berbicara, tangannya terulur ke depan meraba-raba tubuh Sam Po Hwesio.
Dia ingin memeriksa keadaan sahabatnya, apakah masih hidup atau sudah mati.
Tindakannya ini dilakukan dengan cepat sekali, baru saja teraba dia sudah menarik tangannya kembali.
Sementara mulutnya sedang berbicara, Cu Cia mengira lawannya pasti berhasil dikelabui.
Tiba-tiba terdengar orang itu mengeluarkan suara tertawa terbahak-bahak.
"Teman baikmu itu hanya tertotok jalan darahnya, dalam waktu satu kentungan lebih tidak mungkin mati. Kau tidak perlu khawatir, lagipula cayhe sama sekali tidak berniat melukai orang, maka cara turun tanganpun ringan sekali. Sekarang ini lebih baik kau berdiri diam-diam di tempatmu itu, jangan mempunyai pikiran yang bukan-bukan. Cahye sendiri juga tidak ingin mencari kesulitan."
"Siapa kau sebenarnya? Apakah Ciong San Suang Siu telah terbunuh olehmu?"
Tanya Cu Cia semakin penasaran. Sekali lagi orang itu tertawa terbahak-bahak.
"Tidak perlu mencapaikan diri beromong kosong, kurang lebih setengah kentungan kemudian, semua urusan akan menjadi terang!"
Hati Cu Cia tergetar mendengar perkataannya, tiba-tiba saja dia membayangkan diri Tian Bu Cu yang entah selamat atau tidak. Tanpa dapat ditahan lagi dia langsung bertanya kepada orang itu.
"Apakah Tian Bu Cu Locianpwe juga sudah..."
Belum lagi ucapannya selesai, sekonyong-konyong telinganya mendengar suara benturan senjata.
Nadanya melengking membuat telinga menjadi ngilu.
Sumbernya dari dalam goa.
Cepat-cepat dia menolehkan kepalanya, tampak di dalam goa yang tertangkap pandangan mata hanya kegelapan.
Jarak lebih dari tiga langkah sudah tidak kelihatan apaapa lagi.
Meskipun Cu Cia memusatkan pandangan matanya, tetap saja dia tidak menemukan jejak apa-apa.
Sementara itu, tidak jauh dari tempatnya berdiri terdengar suara desiran angin yang timbul dari pakaian seseorang, semakin lama semakin menjauh.
Sesaat kemudian suara itu tidak terdengar lagi.
Cu Cia yakin orattg yang bersembunyi tadi sudah meninggalkan tempat tersebut.
Apabila pendengaran Cu Cia tidak cukup tajam, tentu dia tidak dapat mendengar suara gerakan orang itu yang demikian ringan.
Dia maklum situasi saat ini sangat gawat, menunda waktu satu detik satu menit saja, kemungkinan menyangkut keselamatan jiwa seseorang.
Dia tidak sempat memeriksa keadaan luka Sam Po Hwesio lagi, tubuhnya langsung bergerak, berkelebat masuk ke dalam goa.
Sayang sekali pahanya sendiri juga terluka, gerakannya menjadi kaku dan tidak gesit seperti biasa.
Oleh karena itu, jalannya juga tidak dapat terlalu cepat.
Kurang lebih seminuman teh kemudian, dia menikung pada sebuah belokan.
Telinganya kembali mendengar suara benturan senjata.
Dia segera menduga ada orang yang sedang mengadakan pertarungan.
Cepat-cepat dia melonjak dua kali berturut-turut.
Dengan menahan rasa nyeri di pahanya, dia terus menerjang maju ke depan.
Setelah lewat lagi sebuah tikungan, tiba-tiba pemandangan di depan matanya jadi terang.
Di kiri kanan dinding goa terdapat beberapa batang obor besar yang menyala, sinarnya berkibaran sehingga matanya yang sejak tadi melihat keadaan gelap menjadi silau.
Untuk sesaat dia tidak berani membuka matanya.
Namun dia sadar musuh kuat sedang di hadapan mata, setiap waktu bisa menyebabkan peristiwa yang tidak diinginkan.
Oleh karena itu, setelah memejamkan mata beberapa saat, perlahan-lahan dia membukanya kembali.
Begitu pandangan matanya sudah terbiasa, dia melihat Ciong San Suang Siu duduk berdampingan di depan tumpukan kayu bakar.
Wajah mereka pucat pasi dan keringat membasahi seluruh tubuh mereka.
Tampang mereka menyiratkan penderitaan yang dalam seakan sedang menahan rasa sakit yang tidak terkirakan.
Di bagian pundak, pinggang maupun paha mereka terlihat tanda luka yang cukup dalam.
Darah segar masih terus menetes.
Tampaknya kedua orang itu saja melangsungkan pertarungan sengit dengan pihak musuh dan akibatnya terluka cukup parah.
Mei Ling sedang berjongkok di bawah tanah mengobati kedua orangtua tersebut.
Meskipun dia tahu di belakangnya ada orang yang berlari mendatangi, tetapi dia tidak menolehkan kepalanya atau melirik sekilas.
Seorang laki-laki berpakaian putih dengan wajah ditutupi sehelai cadar berdiri di samping dengan tangan menggenggam sebatang pedang.
Diam-diam Cu Cia memperhatikan orang ini.
Mungkin dialah yang menimpukkan senjata rahasia di tengah goa tadi.
Tanpa dapat ditahan lagi hidungnya mengeluarkan suara dengusan dingin.
Setelah itu baru dia mengalihkan pandangannya.
Siapa nyana begitu melihat, dia langsung merasa jantungnya berdebar-debar dan hatinya menjadi panik bukan main.
Dia melihat sebelah lengan Tan Ki terulur ke depan dengan wajah kelam.
Dengan pedang sulingnya dia menahan pedang panjang di tangan seorang gadis berpakaian merah.
Gadis itu juga menggunakan cadar untuk menutupi wajahnya.
Hanya dari bentuk tubuhnya dapat dipastikan bahwa usianya masih cukup muda.
Saat ini kedua orang itu saling mengadu kekuatan tenaga dalam lewat senjata masing-masing, tubuh mereka tidak bergerak sedikit-pun.
Tampak keringat sudah membasahi kening keduanya, dada mereka turun naik dan nafas-pun tersengal-sengal.
Masing-masing mengerahkan tenaga dalamnya yang disalurkan lewat pedang dan berusaha mendesak lawannya.
Keduanya mengerahkan tenaga dalam sepenuhnya untuk mendesak lawannya.
Hal ini membuat kedua batang senjata mereka hampir tidak bisa dipertahankan.
Tampak cahaya dari percikan api yang timbul dari senjata mereka memijar-mijar.
Kedua senjata saling bergesekan dan seperti mengandung aliran listrik.
Timbul suara yang membuat pendengaran menjadi ngilu.
Kurang lebih sepeminuman teh kemudian tampak wajah Tan Ki semakin kelam, keringatnya mengucur bagai curah hujan.
Tiba-tiba terdengar suara keluhan dari mulut gadis itu, tubuhnya terhuyung-huyung seakan sudah mulai tidak kuat mempertahankan diri.
Mungkin sebentar lagi dia akan terdesak mundur.
Laki-laki berpakaian putih yang wajahnya juga ditutupi cadar seakan tergetar melihatnya, tanpa sadar kakinya melangkah ke depan setengah tindak.
Cu Cia melihat laki-laki itu ingin maju ke depan memberikan bantuan kepada si gadis berpakaian merah.
Dia segera memperdengarkan suara tawa yang dingin.
"Saudara harap jangan keburu nafsu! Jangan lupa masih ada si pengemis cilik di sini!"
Tiba-tiba semangat si gadis berpakaian merah sepertinya terbangkit kembali.
Tubuhnya bergerak ke sana ke mari.
Entah bagaimana caranya, tahu-tahu di tangannya sudah bertambah sebatang pedang pendek.
Meskipun ukuran pedang itu pendek, tetapi cahayanya justru berkilauan sekali.
Begitu digerakkan terasa ada serangkum hawa dingin yang menyebar.
Kalau dibandingkan dengan pedang panjang di tangan kanannya, mungkin ketajamannya melebihi beberapa kali lipat.
Sepasang alis Tan Ki langsung menjungkit ke atas.
Diam-diam dia menghimpun hawa murni dalam tubuhnya dan memperhatikan tindakan yang akan diambil oleh gadis tersebut.
Tampaknya gadis itu mengatur pernafasannya sejenak, tiba-tiba tubuhnya kembali berkelebat dan menerjang datang ke arah Tan Ki.
Kedua orang itu kembali bergerak dengan menggunakan jurus-jurus serangan yang dahsyat serta kecepatan bagai kilat.
Orang lain jangan harap dapat melihat bagaimana mereka menggerakkan senjata masing-masing, yang tampak hanya cahaya berwarna hijau dan sinar putih yang berkilauan menusuk pandangan mata.
Untuk sesaat bayangan manusia laksana menari-nari di tengah kabut yang tebal.
Terasa hawa yang terpancar dari pedang menyebar sejauh lima langkah di sekeliling mereka.
Bahkan obor api yang tertancap di kanan kiri dinding goa ikut melambai-lambai karena terpaan angin yang kencang.
Kadang sinarnya menyala terang, sekejap kemudian redup kembali.
Tan Ki khawatir suara pertarungan mereka mengejutkan Tian Bu Cu yang sedang menutup diri.
Oleh karena itu, dia berusaha sebisa mungkin untuk tidak menimbulkan suara bising.
Cu Cia sampai mengeluarkan keringat dingin menyaksikan pertarungan tersebut.
Diamdiam dia berpikir dalam hatinya.
"Tampaknya ilmu pedang memang benar tidak ada batasnya. Suhuku sendiri terkenal di dunia Kangouw dengan ilmu pedang Delapan Pedang Pengejar Sukma-nya. Tetapi kalau dibandingkan dengan ilmu yang digunakan Tan-heng sekarang, kemungkinan malah sudah kalah satu garis. Usia Tan-heng paling-paling lebih tua satu dua tahun dibandingkan denganku, ternyata dia sudah berhasil melatih ilmu pedangnya sampai taraf sedemikian tinggi sehingga dapat melukai orang dari jarak sepuluh langkah tanpa wujud sama sekali..."
Justru di saat Cu Cia sedang merenung, teryata telah terjadi perubahan di arena pertarungan.
Tampak cahaya hijau semakin lama semakin membesar.
Hawa yang terpancar dari pedang seperti mengandung kegusaran.
Tiba-tiba terdengar kembali suara logam beradu, timbul secarik sinar bagai pelangi yang hanya sepenggal.
Bayangan manusia pun memencar, sebatang pedang suling di tangan Tan Ki yang langka ternyata kutung putus oleh cahaya hijau yang tajam tadi.
Di lain pihak pedang panjang di tangan kanan si gadis berpakaian merah juga patah menjadi dua bagian, dari lengannya terlihat darah mengalir.
Tetapi karena wajahnya ditutupi dengan cadar, jadi tidak tampak bagaimana tampangnya saat itu.
Tampaknya dia tergetar oleh tenaga dalam Tan Ki yang kuat.
Kalau saja gerakannya kurang cepat, mungkin sebelah lengannya juga ikut terpapas putus.
Untungnya dia cepatcepat menahan serangan Tan Ki dengan pedang panjangnya.
Dalam hati dia sadar bahwa apabila pertarungan ini tetap diteruskan, dia juga bukan tandingan Tan Ki.
Rencana yang telah diperhitungkan matang-matang tampaknya tidak mungkin terwujud lagi.
Tanpa menunda waktu lagi gadis itu mengeluarkan suara siulan yang panjang kemudian menghambur keluar dari goa tersebut.
Cu Cia dapat melihat bagaimana liciknya gadis ini.
Saat itu sang gadis melesat lewat di sampingnya, dia segera mengambil kesimpulan bahwa dia harus menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya.
Tetapi biar bagaimana dia merupakan seorang murid yang dididik oleh tokoh lurus.
Tentu saja dia tidak sudi membokong orang secara diam-diam, oleh karena itu mulutnya segera mengeluarkan suara bentakan nyaring.
"Sambut seranganku ini!"
Pergelangan tangannya memutar, pedangnya langsung dijulurkan ke depan.
Dengan jurus Ular Putih Memuntahkan Bisa, dia melancarkan sebuah tikaman.
Serangan ini dikerahkan setelah mempertimbangkan baik-baik.
Dengan demikian kehebatannya tidak dapat dianggap ringan.
Suara yang timbul dari serangannya menderuderu.
Kecepatannya bagai kilat menyambar.
Punggung si gadis berpak un merah seakan mempunyai mata, tanpa memalingkan kepala, lengannya sudah terulur dan menghantam ke belakang.
Kalau dikatakan memang aneh juga, serangannya itu ternyata dengan telak menahan pedang kayu Cu Cia yang sedang meluncur ke arahnya.
Cu Cia melihat dia melancarkan serangan balasan tanpa menolehkan kepalanya sedikit pun.
Bahkan langkah kaki gadis itu tidak berhenti sama sekali.
Tampaknya dia memang tidak memandang sebelah mata kepada Cu Cia.
Karena usia si pengemis cilik itu masih relatif muda, otomatis emosi dalam dadanya gampang meluap.
Saat itu juga dia menjadi gusar, kecepatan pedang bambunya dipertambah, serangkum angin yang kencang langsung terpancar keluar.
Namun baru saja dia maju dua langkah, pedang bambunya telah tertahan oleh tenaga dalam yang tidak berwujud.
Hatinya tercekat, tangannya yang menggenggam pedang terasa panas dan hampir saja dia tidak dapat mempertahankan diri.
Akhirnya pedang bambu di tangannya terjatuh di atas tanah kerena terlepas dari pegangannya.
Matanya menatap lekat-lekat bayangan punggung si gadis berpakaian merah yang terus melesat pergi.
Tanpa terasa dia jadi termangu-mangu.
Seandainya gadis itu memang berniat melukainya, asal tenaga dalamnya tadi ditambah sedikit lagi, Cu Cia pasti tidak sanggup mengundurkan diri dalam keadaan utuh.
Berpikir sampai di sini, tanpa dapat ditahan lagi tubuhnya bergetar.
Bulu kuduknya merinding semua membayangkan kehebatan ilmu silat gadis itu.
Sementara itu, Tan Ki membungkukkan tubuhnya memungut kembali pedang sulingnya yang sudah terkutung sebagian.
Dia memasukkannya ke dalam saku pakaian.
"Kedatangan Cu-heng sungguh kebetulan. Harap kau menjaga diri Tian Bu Cu Locianpwe yang sedang merawat lukanya!"
Melihat orang habis berkata sudah berniat pergi, Cu Cia malah jadi tertegun.
"Memangnya Tan-heng sendiri hendak ke mana?"
"Aku ingin menyelidiki jejak orang-orang tadi!"
Tanpa memberi kesempatan bagi Cu Cia untuk mengajukan pertanyaan lagi, Tan Ki langsung melesat keluar dari goa tersebut.
Tampak bayangan tubuhnya berkelebat bagai hembusan angin dan dalam waktu sekejap mata dia sudah menghilang dari pandangan mata.
Sepasang alis Cu Cia langsung mengerut-ngerut.
Diam-diam dia berpikir dalam hati.
"Tingkah lakunya seperti orang yang tergesa-gesa, malah keringatpun belum sempat dihapus. Mungkinkah di dalam hatinya telah tersimpan suatu kecurigaan sehingga dia ingin membuktikan benar tidaknya?"
Seraya berpikir, kakinya melangkah ke depan untuk memungut pedang bambunya yang terjatuh di atas tanah.
Tangannya yang sebelah lagi mengeluarkan sebotol obat luka dan dia segera membantu Mei Ling membalut luka Ciong San Suang Siu.
Tidak berapa lama kemudian, terdengar suara langkah kaki mendatangi.
Begitu pandangan matanya ditolehkan, dia melihat sosok tubuh Sam Po Hwesio yang gemuk sedang berjalan masuk mendekati mereka.
Belum lagi Cu Cia sempat menanyakan keadaan lukanya, si Hwesio cilik itu sudah terlebih dahulu mengajukan pertanyaan.
"Siapa laki-laki dan perempuan yang baru menerjang keluar dari dalam sini? Keadaan di tengah-tengah goa begitu gelap, kawan atau lawan sampai sulit dibedakan. Biarpun hati si Hwesio cilik sedang mendongkol sekali, tetapi tetap saja tidak berani sembarangan turun tangan. Si pengemis cilik Cu Cia hanya tertawa getir. Dia sengaja tidak menjawab pertanyaan Sam Po Hwesio, namun menolehkan kepalanya kepada Mei Ling.
"Liu Kouwnio, sebetulnya bagaimana kejadiannya sampai Ciong San Suang Siu kedua Locianpwe bisa sampai terluka sedemikian rupa?"
Mei Ling meletakkan bekas sobekan lengan pakaian sisa membalut luka Ciong San Suang Siu di atas tanah. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku sendiri juga kurang jelas. Tadinya aku dan Tan Koko hanya berniat melihat keadaan Liang Cici, sekalian jalan ke arah ini. Tetapi baru masuk ke dalam goa, kami sudah melihat laki-laki berpakaian putih yang mengenakan cadar tadi. Dia sedang berusaha membuka pintu ini. Aku dan Tan Koko bertanya kepadanya dengan suara keras sampai beberapa kali, tetapi mereka tidak menyahut sedikitpun. Malah si gadis berpakaian merah langsung menyerang Tan Koko sehingga terjadi pertarungan sengit."
"Kalah dan menang masih belum ketahuan, mengapa si laki-laki berpakaian putih tibatiba mengundurkan diri dan mencegat kami di lorong goa? Dia toh bukan tukang ramal, bagaimana dia bisa tahu kalau aku dan Sam Po Hwesio akan datang ke mari?"
Mei Ling tersenyum mendengar kata-katanya.
"Dia sama sekali belum bergebrak dengan Tan Koko, tentu saja bebas ke mana saja. Begitu masuk ke mari, Tan Koko langsung terlibat perkelahian dengan gadis berpakaian merah. Pada saat itu Ciong San Suang Siu kedua Locianpwe justru sedang mempertahankan diri sekuatnya agar mereka jangan sampai menerobos masuk ke dalam. Meskipun sudah terluka parah tetapi mereka masih terus bertahan. Seorang diri saja, apabila dia hendak merobohkan Ciong San Suang Siu kedua Locianpwe dalam waktu yang singkat, memangnya gampang. Apalagi setelah kedatangan kami, tampaknya dia tidak ingin menyaksikan pertarungan antara gadis berpakaian merah itu dengan Tan Koko. Oleh karena itu, dia segera berjalan keluar dan kemungkinan dia bersembunyi di lorong sempit sekaligus mencegah apabila ada pihak kita yang datang memberikan pertolongan atau bisa jadi dia menunggu di sana sebagai pembuka jalan seandainya gadis itu ingin mengundurkan diri."
Cu Cia menaikkan sepasang bahunya.
"Ciong San Suang Siu kedua Locianpwe mempertaruhkan nyawa menjaga pintu batu ini. Untung saja pihak lawan belum sempat membobolnya. Apabila hal ini terjadi, Tian Bu Cu Locianpwe yang sedang menutup diri pasti akan terkejut, akibatnya sungguh tidak dapat dibayangkan, bahkan Liang Fu Yong juga mungkin..."
Tiba-tiba dia seperti teringat sesuatu hal yang mencurigakan, kata-katanya terhenti.
Sepasang alisnya mengerut ketat dan kepalanya mendongak ke atas seakan sedang memutar otaknya.
Kurang lebih sepeminuman teh kemudian, baru terdengar dia menarik nafas panjang.
Lalu dia berkata dengan lirih seperti sedang mengguman seorang diri.
"Si pengemis cilik sungguh tidak mengerti, bagaimana kedua orang ini bisa tahu cara membuka alat rahasia yang digunakan untuk menutup goa. Apakah ada orang yang mengkhianati kita dan membeberkan rahasia kepada pihak musuh...?"
Bukan hanya Cu Cia yang mengandung kecurigaan yang dalam.
Demikian pula halnya dengan Tan Ki yang sedang mengejar sepasang manusia tadi.
Setelah memungut kembali pedang sulingnya yang patah ia langsung mengejar mereka.
Kecepatannya jangan ditanyakan lagi.
Dalam waktu yang singkat dia sudah keluar dari goa yang gelap itu.
Begitu pandangan matanya beredar, dia melihat sekitar bukit tersebut sunyi senyap.
Angin berhembus semilir menggoyangkan rerumputan yang tumbuh liar.
Tidak terlihat bayangan seorangpun.
Tanpa dapat ditahan lagi dia menggaruk-garuk kepalanya, diam-diam dia berpikir dalam hati.
"Di seluruh bukit ini entah terdapat berapa banyak celah-celah yang terpencil, ke mana aku harus mencari mereka?"
Begitu pikirannya tergerak, dia merenung sejenak.
Kemudian dia menggertakkan giginya erat-erat dan mengerahkan ilmu ginkangnya menghambur ke arah barat.
Dia sadar cara berlari tanpa memperhitungkan arah ini dan hanya mengandalkan nasib serta peruntungan, sebetulnya sulit untuk dapat menyandak kedua orang tadi.
Siapa nyana baru saja berlari sejauh empat lima depa, secercah warna menyolok sudah tertangkap pandangan matanya.
Gadis berpakaian merah itu ternyata sedang berdiri membelakanginya dengan bersandar pada sebatang pohon siong.
Angin pagi menghembuskan ikat pinggangnya yang menjuntai ke bawah.
Gelang tangannya yang diganduli bola-bola emas ukuran kecil berdentingan karena saling beradu.
Warna pakaiannya sungguh kontras dengan pemandangan di sekitar.
Untuk sesaat Tan Ki malah jadi tertegun.
Tempat ini merupakan sebidang tanah kosong yang tidak jauh dari jurang yang dalam.
Rerumputan serta pepohonan agak jarang, dengan demikian pemandangan jadi lapang.
Selain sebatang pohon siong yang disandarinya, boleh dibilang tidak ada lagi tempat untuk menyembunyikan diri.
Tetapi Tan Ki tetap khawatir kalau si laki-laki berpakaian putih tetap melindungi gadis itu secara diam-diam.
Meskipun kakinya melangkah ke depan, namun tanpa menyolok dia sudah mengerahkan tenaga dalamnya untuk berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan.
Sikapnya hati-hati dan waspada.
BAGIAN XLVII Ketika jaraknya dengan gadis berpakaian merah tinggal empat lima langkah, tetap tidak terjadi apapun.
Entah mengapa, terang-terangan si gadis itu tahu ada seseorang yang sedang berjalan ke arahnya, namun dia tidak menolehkan kepalanya atau melirik sekilaspun.
Dengan punggung membelakangi Tan Ki, dia menatap ke arah pemandangan yang jauh.
Tiba-tiba Tan Ki menghentikan langkah kakinya.
Jaraknya sekarang hanya tinggal setengah depa saja.
Begitu dekatnya sehingga apabila Tan Ki mengulurkan tangannya, dia pasti dapat meraba gadis itu.
Tetapi dia malah sengaja mengeluarkan suara batuk-batuk kecil.
"Kiau Hun!"
Panggilnya.
Secara langsung dia menyebut nama gadis itu, tadinya dia mengira paling tidak gadis itu akan menolehkan kepalanya dengan terkejut.
Siapa tahu gadis itu hanya mengembangkan sedikit senyuman sambil menyahut.
"Baguslah kalau kau sudah tahu!"
"Aku ingin menanyakan sesuatu hal kepadamu!"
Kiau Hun tertawa datar.
"Lihat dulu apakah hatiku sedang gembira atau tidak menjawab pertanyaanmu!"
Tan Ki jadi termangu-mangu.
"Kiau Hun, mana boleh kau berbicara ketus seperti itu denganku?"
Mendengar kata-katanya, sekonyong-konyong Kiau Hun membalikkan tubuhnya.
"Aku baru mengucapkan sepatah kata saja, kau sudah anggap ketus? Pernahkah kau sendiri berpikir, berapa banyak sudah kau mendatangkan penderitaan kepada orang lain. Tentu kau sendiri tidak merasakannya bukan?"
Wajahnya masih ditutupi sehelai cadar.
Dengan demikian sulit melihat bagaimana tampangnya saat itu.
Tetapi dari nada suaranya dapat diduga bahwa hatinya saat ini merasa pedih sekali.
Perlahan-lahan Tan Ki menarik nafas panjang.
"Apa yang terjadi di masa lalu, masih terbayang jelas di depan mata. Aku Tan Ki beberapa kali menerima budi pertolonganmu, biar bagaimana aku tidak akan melupakannya. Tetapi aku tidak mengerti mengapa kau harus merendahkan dirimu menjadi mata-mata bagi pihak Lam Hay. Tadi di dalam goa, kalau aku tidak keburu datang tepat pada waktunya, mungkin saat ini Tian Bu Cu Locianpwe beserta cici Liang sudah terkapar di atas tanah bermandikan darah. Keduanya pasti mati di bawah pedang hijaumu itu. Untung saja jurus yang kau gunakan tadi pernah kulihat satu kali ketika di Pek Hun Ceng, dengan demikian aku segera mengenali dirimu. Entah bagaimana perasaanku tadi, boleh dibilang kesal dan panik bercampur menjadi satu, tetapi sejak mula hingga akhir, aku tetap tidak tega turun tangan kejam terhadap dirimu..."
Kiau Hun langsung menukas dengan nada dingin.
"Sekarang Oey Ku Kiong tidak ada di sini, kau boleh turun tangan menghantam diriku sampai mati!"
Tan Ki semakin gugup menghadapinya.
"Aku hanya ingin bertanya sampai jelas, mengapa kau bisa beralih ke pihak Lam Hay Bun?"
Kiau Hun mendongakkan wajahnya tertawa terbahak-bahak. Suaranya melengking memecahkan keheningan dan membuat telinganya jadi ngilu. Wajah Tan Ki langsung berubah hebat melihat tingkah lakunya.
"Apa yang kau tertawakan?"
Bentaknya kesal.
"Aku menertawakan pertanyaanmu yang begitu kekanak-kanakan. Kalau di daerah Tionggoan aku selalu mendapat hinaan karena keadaan diriku yang hanya seorang budak di keluarga Liu dan di mana-mana yang terlihat hanya cibiran orang, mengapa aku tidak boleh mencari jalan mengangkat derajatku sendiri?"
"Oleh karena itu kau sengaja mendekati Tocu Lam Hay Bun dan memikatnya dengan kecantikanmu itu?"
Kiau Hun tertawa dingin.
"Ini merupakan salah satu jalan bagiku untuk membalas dendam!"
Sepasang alis Tan Ki langsung menjungkit ke atas mendengar kata-katanya.
"Kepada siapa kau ingin membalas dendam?"
"Siapa saja, pokoknya setiap orang yang pernah memandang rendah diriku dan pernah menghina aku. Termasuk orang-orang yang sudah merebut kekasih hatiku!"
Tan Ki tertawa getir mendengarnya.
"Bagus sekali! Sekarang aku toh ada di hadapanmu, kau boleh membalaskan dendammu yang pertama!"
Kiau Hun mendengus dingin satu kali. Tangannya bergerak, tahu-tahu sebatang pedang pendek telah tergenggam di tangannya. Cahayanya berwarna hijau dan berkilauan.
"Apa yang kau katakan memang tidak salah. Dalam daftar orang-orang yang ingin kubalaskan dendam dalam hati ini, kau menduduki urutan pertama. Demi engkau, aku tidak perduli segala macam bahaya, bahkan dengan mempertaruhkan nyawa aku pernah menolong dirimu. Akibatnya aku malah ditendang keluar dari pintu perguruan. Sebagai seorang gadis yang sebatang kara tanpa sanak saudara seorangpun, aku berkelana ke mana-mana. Apakah kau pernah membayangkan betapa mengenaskannya keadaanku saat itu? Tetapi aku tidak merasakannya sama sekali. Siapa sangka hatiku yang tulus ini ternyata dipersembahkan kepada seorang laki-laki buaya. Bukan saja aku tidak dihibur sedikitpun, kau malah menghancurkan seluruh perasaanku. Dalam keadaan putus asa, setiap orang pasti mempunyai pikiran pendek. Apalagi jiwa kami kaum perempuan yang jauh lebih lemah daripada kalian laki-laki. Biasanya sedikit-sedikit ingin bunuh diri. Tetapi aku bukan orang bodoh yang mau mati begitu saja. Aku ingin menggunakan tubuh yang sudah tidak mempunyai perasaan ini sebagai imbalan untuk membuka jalan agar aku dapat membalas dendam. Siapa saja yang pernah menganggap remeh diriku atau menghindari aku, aku akan mencincang tubuhnya sampai hancur berkeping-keping!"
Sambil berbicara, pedang pendek di tangannya bergerak, cahayanya berkilauan dan saat ini sudah di tempelkan di depan dada Tan Ki.
Asal dia mengerahkan sedikit saja tenaganya, sudah pasti selembar nyawa Tan Ki sulit dipertahankan.
Sikap Tan Ki masih tenang seperti semula.
Dia seakan tidak merasa gentar sedikitpun menghadapi pedang pendek tersebut.
"Pendirianmu yang demikian picik, akhirnya hanya akan menghancurkan dirimu sendiri. Meskipun aku mempunyai niat membantu, tetapi aku tidak mempunyai kesanggupan seperti itu. Hany dirimu sendiri yang dapat menyadarkan pikiranmu yang sesat serta kembali ke jalan yang benar!"
Sekali lagi Kiau Hun tertawa dingin.
"Sayangnya aku ini selalu mengikuti apa kata hati, biarlah penyesalan datang di kemudian hari!"
Pergelangan tangannya bergerak, pedang pendeknya dihunjamkan sedikit ke dalam daging di dada Tan Ki.
Tampak sepasang alis anak muda itu mengerut-ngerut, tetapi dia tetap menahan rasa sakit dan tidak mengeluarkan suara keluahan sedikitpun.
Darah segar mengalir dari ujung pedang tersebut.
Pedang pendek di tangan Kiau Hun ini pernah mematahkan pedang suling Tan Ki ketika bertarung di dalam goa.
Tajamnya jangan ditanyakan lagi.
Tampak wajah Tan Ki tetap menyiratkan ketenangan seakan tidak merasakan apa-apa.
Dia seperti orang yang tidak memperdulikan mati hidupnya sendiri.
Sepasang matanya menatap Kiau Hun lekat-lekat tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Angin yang sejuk berhembus semilir, pakaian kedua orang itu mengibar-ngibar.
Suasana begitu hening dan mencekam.
Tiba-tiba Tan Ki merasa tangan Kiau Hun terus gemetaran, di cadar yang menutupi wajahnya juga terlihat rembesan air.
Tidak diragukan lagi bahwa emosi gadis itu telah tergugah dan keringat terus menetes membasahi wajahnya.
Tan Ki menarik nafas panjang perlahan-lahan.
"Mengapa kau tidak meneruskan tusukan-mu?"
Pertanyaan ini seakan memberi pukulan bathin yang hebat kepadanya.
Tiba-tiba tangannya merenggang dan dia menutup wajahnya sambil menangis tersedu-sedu.
Perubahan yang tidak terduga-duga ini justru membuat Tan Ki jadi termangu-mangu.
Meskipun dia merupakan seorang pemuda yang berotak cerdas, tetapi setiap kali menghadapi air mata seorang perempuan, dia malah tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Dia berdiri terpana di samping tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Untuk sesaat suasana jadi hening.
Tan Ki hanya membungkukkan tubuhnya memungut pedang pendek Kiau Hun yang terjatuh di atas tanah.
Setelah menangis beberapa lama, tampaknya emosi di dalam hati Kiau Hun sudah agak reda.
Perlahan-lahan suara isak tangisnya semakin lirih dan dilepaskannya cadar penutup wajahnya.
"Aku benar-benar tidak mengerti. Mengapa setiap orang yang terjatuh di tanganku, dapat kubunuh tanpa mengedipkan mata sedikitpun. Hanya engkau laki-laki yang tidak berbudi ini yang justru membuat aku tidak sampai hati untuk turun tangan."
Beberapa lama dia terdiam, kemudian baru melanjutkan kembali kata-katanya.
"Mungkin tanpa kusadari sebetulnya aku masih menaruh hati kepadamu."
Diam-diam Tan Ki berpikir di dalam hati.
"Aku sudah menikahi Mei Ling, belum lagi janjiku untuk mengambil Liang Fu Yong dan Cin Ie sebagai selir. Di samping itu masih ada dua gadis lain yang diam-diam memperhatikan aku, yakni Lok Ing dan Cin Ying. Sekarang aku sudah cukup bingung, bagaimana mungkin ditambah lagi dengan dirimu?"
Meskipun hatinya berpikir demikian, tetapi dia justru tidak tahu bagaimana mengutarakannya.
Wajahnya menyiratkan perasaan bimbang.
Kedua orang itu terdiam untuk sekian"lama, mereka saling pandang tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Tan Ki merasa dengan berdiam diri seperti ini, rasanya bukan tindakan yang baik.
Akhirnya dia mengungkit kembali masalah yang tadi.
"Mengapa kau tidak meninggalkan jalan yang sesat dan kembali menjadi orang baikbaik saja?"
Kiau Hun tertawa getir.
"Sekarang baru mengatakan semua ini, memangnya masih belum terlambat? Meskipun aku mempunyai niat demikian, tetapi pelaksanaannya justru tidak semudah berbicara saja.
"Mengapa sulit? Apakah mereka mengancam dirimu sehingga kau tidak dapat melepaskan diri dari pihak Lam Hay Bun?"
"Tidak juga."
"Sebetulnya apa yang terkandung dalam hatimu, aku benar-benar tidak dapat menduganya."
Kiau Hun tersenyum tipis. Dia mengusap bekas air mata yang masih membasahi pipinya.
"Kalau kau dapat menduga apa yang kupikirkan, tentu kau tidak akan menikahi Liu Mei Ling, bekas nonaku itu."
Mendengar kata-katanya, sekali lagi Tan Ki tertegun. Dia merasa seperti ada sebuah batu yang berat menggelayuti hatinya sehingga dia tidak sanggup mengutarakan bagaimana perasaannya saat itu.
"Apakah kau merasa hatimu gundah sekarang ini?"
Tanya Kiau Hun kembali. Tan Ki menarik nafas panjang-panjang.
"Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan."
Sahutnya terus terang. Baru saja ucapannya selesai, tiba-tiba dari mengejar si gadis yang mengenakan cadar tadi?"
Tan Ki membalikkan tubuhnya. Dia sengaja mengalihkan pokok pembicaraan.
"Bagaimana keadaan di dalam goa?"
"Masih lumayan. Setelah diborehkan obat, luka Ciong San Suang Siu kedua Locianpwe tidak mengalirkan darah dan tidak perlu dikhawatirkan lagi. Sedangkan Yang Jen Ping, Goan Yu Liong dan Ban Jin Bu juga sudah menyusul ke sana."
Tan Ki hanya menganggukkan kepalanya. Si pengemis cilik kembali melanjutkan katakatanya.
"Si pengemis cilik tidak ingin banyak bicara. Tetapi Sam-siokmu meminta aku menyampaikan kepadamu bahwa pertandingan perebutan kedudukan Bulim Bengcu sudah di mulai. Kau harus muncul di sana secepatnya. Apabila kesempatan ini terlewati, maka harapanmu untuk merebut kedudukan itu tipis sekali. Cepatlah ke sana, urusan lainnya kau tidak perlu ikut campur lagi."
"Tian Bu Cu Locianpwe sedang menutup diri, tugas menjaga pintu batu terpaksa kuserahkan kepada Cu-heng."
Kata Tan Ki.
Baru saja ucapannya selesai, tubuhnya sudah berkelebat pergi menuju ruang pertandingan.
Dalam sekejap mata, dari kejauhan sudah terlihat kerumunan orang banyak.
Jumlahnya mungkin di atas seratus orang.
Tetapi meskipun tempat itu dipenuhi orang ramai, tetapi suasananya justru begitu mencekam tanpa terdengar suara sedikitpun.
Tan Ki menyeruak di antara kerumunan orang banyak.
Sambil mengatur pernafasannya dia memperhatikan beberapa saat.
Ada beberapa orang yang sempat melihat bagaimana dia melukai utusan pihak Lam Hay dengan sebatang pedang sulingnya.
Orang-Orang ini segera membagi diri menjadi dua bagian dan membuka jalan agar dia dapat lewat.
Hal ini menandakan rasa kagum di dalam hati mereka.
Seraya memberi salam kepada orang-orang itu, Tan Ki terus berjalan sampai barisan terdepan.
Begitu pandangan matanya di alihkan ke tengah arena, dia melihat Goan Siong Fei dengan pecut lembutnya sedang menghadapi seorang kakek bungkuk bersenjatakan sebatang potlot besi.
Mereka sedang bertarung dengan sengit.
Cahaya yang terpancar dari ujung pecut Goan Siong Fei yang diganduli oleh sebuah logam berwarna keputihan dan bayangan potlot besi memenuhi tengah arena.
Kedua orang ini merupakan pendekar pedang tingkat delapan yang sudah mempunyai nama di dunia Kangouw.
Tenaga dalam mereka sudah mencapai taraf yang cukup tinggi.
Jurus-jurus yang mereka kerahkan telah dilatih dengan matang.
Baik pecut lemas maupun potlot besi selalu ditujukan ke arah jalan darah yang penting di bagian tubuh lawan.
Semakin lama gerakan mereka semakin cepat, sehingga orang-orang yang menyaksikannya merasa pandangan mereka seperti berkunang-kunang.
Tepat pada saat itu, dari luar masuk seorang nenek yang rambutnya sudah penuh dengan uban.
Setiap kali ia melangkah, tongkat besinya menimbulkan suara berdentum di atas tanah.
Gerakannya seperti orang yang santai, tetapi dalam sekejap mata dia sudah sampai di hadapan Yibun Siu San.
Orang ini sama sekali tidak asing bagi Tan Ki.
Dia adalah pendekar pedang tingkat sembilan yang selama beberapa hari ini tidak kelihatan batang hidungnya, juga merupakan bekas guru Kiau Hun dan Mei Ling, yakni Ciu Cang Po.
Melihat tampangnya yang dekil dan wajahnya yang penuh debu, dapat diduga bahwa dia baru saja kembali dari perjalanan yang cukup jauh.
Tan Ki segera merasa bahwa kepulangan Ciu Cang Po ini pasti membawa berita yang sangat penting, cepat-cepat dia menghambur ke depan mendekati nenek itu.
Cian Cong langsung mengeluarkan suara tawanya yang bebas.
"Si nenek pengemis ini pasti sudah letih sekali!"
Yibun Siu San segera memerintahkan orang mengambil lagi sebuah kursi dan mempersilahkan nenek itu duduk di sana.
Siapa nyana nenek itu malah menggelengkan kepalanya dan tidak bersedia langsung duduk.
Wajahnya tampak kelam sekali.
"Nenek tua menerima tugas berat dan menyampingkan dendam pribadi dengan meninggalkan bukit Tok Liong-hong ini. Aku menghubungi pihak lima partai besar agar segera mengirimkan bala bantuan ke sini sekaligus mengintai gerak-gerik pihak Lam Hay serta Si Yu. Beberapa hari pertamanya, aku masih bisa keluar masuk dengan bebas, tidak ada seorangpun yang sempat memergoki perbuatanku itu. Tidak tahunya beberapa hari yang lalu, ketika aku sedang menyelidiki seorang diri..."
Sepasang alis si pengemis sakti Cian Cong langsung berkerut-kerut mendengar ceritanya.
"Apakah si nenek pengemis menemui kesulitan?"
Ciu Cang Po langsung mendengus dingin.
"Sampai di mana tingginya ilmu si nenek tua ini, dapatkah kau jelaskan dengan terperinci?"
Rupanya si pengemis sakti Cian Cong tidak menduga kalau akan mendapat pertanyaan seperti ini. Untuk beberapa saat dia jadi tertegun, kemudian dia memejamkan matanya merenung sebentar.
"Tinggi rendahnya ilmu kepandaian si nenek pengemis, apabila hendak dijelaskan secara terperinci sebetulnya sulit sekali. Tetapi si pengemis tua mengakui bahwa kau memang bernyali besar dan banyak akalnya. Sedangkan tenaga dalammu hampir seimbang dengan si pengemis tua. Tempo hari di atap gedung Cui Sian-lau, si pengemis tua kebetulan mendapat peluang bagus dan dengan jurus Lengan Pakaian Beterbangan Masuk ke Dalam Hutan, baru bisa memaksakan diri mengalahkan dirimu. Secara kasarnya, boleh dibilang kepandaianmu itu di bawah tiga orang, di atas laksaan orang."
Wajah Ciu Cang Po yang sudah penuh keriput jadi merah jengah mendengar pujiannya.
"Kalian semua tentunya sudah tahu bahwa watak nenek tua ini picik dan ingin menang terus. Terhadap siapapun tidak sudi mengalah. Tetapi beberapa malam yang lalu ketika kepergok, ternyata aku dikalahkan dalam tujuh jurus saja."
Sembari berkata, dia mengangkat lengan kirinya.
Begitu pandangan mata orang memperhatikan, ternyata lengan pakaiannya sudah koyak sepanjang empat cun.
Setelah lewat dua hari bekas luka berdarah masih menimbulkan warna kehitaman.
Wajah Yibun Siu San jadi kelam seketika.
"Siapa sebetulnya yang melukaimu itu?"
Hatinya memang terkejut setengah mati, orang yang dapat melukai Ciu Cang Po dalam tujuh jurus benar-benar tidak dapat dianggap enteng.
Tetapi dia memang tidak malu disebut sebagai tokoh tua yang sudah banyak pengalaman di dunia Kangouw.
Meskipun terkejut, tetapi penampilannya masih menunjukkan ketenangan.
"Dia adalah seorang pemuda yang berusia kurang lebih dua puluh tiga tahunan. Aku melihat Bun Bu-siang Cia Tian Lun, Tong Ku Lu beserta tiga tongcu lainnya bersikap hormat sekali kepada orang ini. Tadinya aku mengira dialah sang tocu dari Lam Hay Bun pribadi. Tetapi kenyataannya bukan, dia merupakan murid tunggal tocu besar tersebut, namanya Hua Pek Cing."
Mendengar kata-katanya, tanpa dapat ditahan lagi berpasang-pasang alis dari para jago tingkat sembilan dan Tan Ki langsung menjungkit ke atas.
Serentak mereka menundukkan kepala merenung.
Sebab mereka tahu pasti bahwa watak Ciu Cang Po sangat keras dan tidak sudi mengaku kalah kepada siapa saja.
Tanpa alasan yang pasti, dia tidak mungkin mengucapkan kata-kata yang merendahkan derajatnya sendiri.
Kalau Hua Pek Cing memang murid tunggal Toa Tocu, tetapi hanya dalam tujuh jurus dia berhasil melukai Ciu Cang Po, dengan demikian Yibun Siu San, Cian Cong beserta Lok Hong yang hanya menang satu garis dari Ciu Cang Po, tentu masih terpaut jauh apabila dibandingkan dengan tocu dari Lam Hay Bun sendiri.
Tan Ki pribadi juga mempunyai pikiran bahwa apabila pihak Lam Hay dan Si Yu bergabung menjadi satu kekuatannya tidak dapat dianggap main-main, pengaruhnya pasti besar sekali.
Kalau ditilik dari tokoh-tokoh yang datang tadi malam saja, paling tidak masih ada empat tokoh tingkat sembilan yang belum menampakkan diri.
Sedangkan jago-jago lainnya entah masih berapa banyak lagi.
Ditinjau dari keadaan ini, seandainya kedua pihak berhadapan secara terang-terangan, meskipun di puncak bukit Tok Liong-hong banyak jago-jago daerah Tiong-goan, kemungkinan tetap masih bukan tandingan pihak Lam Hay.
Satu-satunya jalan hanyalah mengajak lima partai besar ikut bergabung melawan golongan sesat yang ingin menguasai Tionggoan tersebut.
Namun siapa yang sanggup melawan pimpinan mereka yang paling lihai itu?
Tan Ki berusaha mengingat satu per satu tokoh berilmu tinggi yang pernah diketahuinya.
Tanpa dapat ditahan lagi dia tertawa pahit, karena meskipun orang berilmu tinggi di puncak bukit Tok Liong-hong ini cukup banyak, namun orang yang benar-benar dapat menandingi tocu besar dari Lam Hay Bun itu, kemungkinan hanya tokoh sakti dari Bu Tong San, yakni Tian Bu Cu Locianpwe.
Sejak tadi Lok Hong duduk di samping tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Tiba-tiba terdengar dia mengajukan pertanyaan kepada Ciu Cang Po.
"Kau mengatakan bahwa jejakmu berhasil dipergoki pihak musuh, malah setelah terjadinya pertarungan sengit, kau terluka dalam tujuh jurus. Entah bagaimana kau bisa melarikan diri belakangan?"
"Si nenek tua mengira pertarungan tersebut boleh dibilang untuk yang terakhir kalinya. Meskipun sudah terluka, aku tetap tidak mau mengaku kalah. Aku pikir lebih baik mengadu jiwa dengan orang itu. Rupanya walaupun tenaga dalam cukup tinggi, tetapi dalam gerakan dan jurus-jurus serangan, aku masih bukan tandingan Hua Pek Cing. Baru bertarung dengan nekat sebanyak tiga jurus, ujung pedangnya sudah menunjuk ke bagian yang penting di dadaku."
Mendengar sampai di sini, hati orang-orang gagah tidak ada satupun yang tidak tercekat.
Meskipun sekarang ini orangnya sendiri masih berdiri dalam keadaan sehat di depan mata, tetapi membayangkan kejadian yang dialaminya saat itu, hati mereka tidak urung bergidik juga.
Setelah berhenti sejenak, Ciu Cang Po melanjutkan kembali kata-katanya.
"Keadaan waktu itu gawat sekali. Si nenek tua sendiri maklum bahwa tidak mungkin bisa meloloskan diri dari kematian. Meskipun ada niat mengadu jiwa dan mengorbankan diri dalam pertarungan, namun semuanya sudah terlambat. Baru saja aku memejamkan mata menunggu datangnya malaikat elmaut, tiba-tiba telinga ini mendengar suara benturan logam, nadanya begitu keras sehingga hatipun ikut terguncang. Bunga api memercik ke mana-mana. Aku segera menenangkan hatiku dan memperhatikan dengan seksama. Hua Pek Cing yang berilmu aneh dan dalam sepuluh jurus sanggup merenggut selembar nyawaku, ternyata terdesak mundur sejauh empat langkah oleh seorang gadis ingusan!"
Mulut Cian Cong sampai terbuka lebar-lebar. Pandangan matanya menyiratkan rasa penasaran yang tidak terkatakan.
"Masa ada kejadian seperti itu?"
Ciu Cang Po tertawa dingin.
"Si nenek tua dapat meloloskan diri dari tangan malaikat elmaut sehingga selembar nyawa tua ini dapat dipertahankan, justru berkat pertolongan si gadis cilik itu. Percaya atau tidak, terserah. Si nenek tua juga tidak ingin mengoceh banyak-banyak!"
Yibun Siu San maklum di antara kedua orang ini masih tersimpan rasa mendongkol karena pertarungan tempo hari.
Dia khawatir urusan akan jadi panjang dan timbul perteng-karan yang tidak diinginkan.
Oleh karena itu, cepat-cepat dia mengembangkan seulas senyuman.
"Cayhe percaya sepenuhnya atas apa yang kau katakan. Tentu semuanya diucapkan dari hati yang paling dalam. Tetapi gadis cilik itu ternyata berilmu demikian tinggi dan sanggup menggetarkan pedang Hua Pek Cing, sebetulnya memang membuat orang terkejut mendengarnya."
"Seandainya gadis cilik itu hanya menolong aku pergi dari tempat itu dan tidak ada urusan lainnya lagi, tentu orang-orang juga belum tentu percaya atau merasa terkejut."
Sinar matanya yang tajam menyapu ke sekeliling sekilas kemudian berhenti pada wajah Tan Ki. Dia melanjutkan kembali kata-katanya.
"Gadis cilik itu menitip pesan kepada si nenek tua. Dia mengeluarkan sebatang pedang pusaka yang selalu dibawanya dan meminta aku menyerahkannya kepada Tan Ki sebagai hadiah darinya. Dalam waktu yang bersamaan dia juga menitipkan sepucuk surat agar dibaca olehnya."
Seraya berkata, dari dalam lengan bajunya yang longgar dia mengeluarkan sebatang pedang kuno berwarna kehitam-hitaman.
Kalau diperhatikan, mungkin usia pedang itu sudah lebih dari dua ratus tahunan.
Telapak tangannya menggenggam sepucuk surat berwarna merah jambu yang kemudian diserahkannya kepada Tan Ki.
"Gadis cilik itu pasti mengenal baik dirimu. Tanpa merasa berat sedikitpun dia menghadiahkan pedang pusaka ini kepadamu. Meskipun si nenek tua mendapat pertolongan darinya, tetapi sebetulnya dia melakukannya karena memandang dirimu."
Tan Ki segera membuka surat itu dan membacanya.
Dia melihat di atas kertas berwarna putih tertera tulisan yang indah dan rapi.
Secara garis besarnya, isi surat itu menyatakan.
Peristiwa melukai Liok Giok yang tanpa sengaja sudah berlalu dan tidak usah dipikirkan lagi.
Dia sudah mengikuti majikannya kembali ke Tian San, Kali ini mereka menuju ke selatan dengan maksud mengambil rumput obat-obatan.
Tanpa sengaja menolong Ciu Cang Po merupakan kejadian yang tidak terduga olehnya sendiri.
Mendengar dari nenek itu bahwa Tan Ki masih ada di puncak bukit Tok Liong-hong untuk ikut dalam perebutan Bulim Bengcu dan dia terpaksa harus memohon diri secepatnya.
Dia sendiri tidak mempunyai apa-apa sebagai hadiah kecuali sebatang pedang pusaka itu.
Pedang itu sendiri merupakan pemberian majikannya yang diberi nama Pedang Penghancur Pelangi.
Apabila ada kesempatan, dia akari berusaha menemui Tan Ki.
Tan Ki melihat isi surat itu mengandung ketulusan hati yang tidak terkirakan.
Bahkan setelah mengetahui bahwa dia akan ikut dalam pertandingan perebutan kedudukan Bulim Bengcu, gadis itu tidak perduli akan mendapat omelan dari majikannya dengan menghadiahkan pedang pusaka.
Perasaan hati yang tulus ini membuat hati Tan Ki terharu sekali.
Sepasang tangannya sampai gemetar dan hampir saja surat itu terlepas dari genggaman tangannya.
Sambil melihat perkembangan yang terjadi di atas arena pertandingan, Yibun Siu San juga memperhatikan tampang wajah Tan Ki saat itu.
Melihat wajahnya menyiratkan rasa haru yang dalam, tanpa dapat menahan diri lagi dia segera bertanya.
"Apakah kau mengenal gadis cilik itu?"
Tan Ki menganggukkan kepalanya berkali-kali.
"Dialah pelayan si gadis berpakaian putih yang merupakan pemilik Liok Giok yang pernah dilukai keponakanmu ini tanpa sengaja."
Terdengar suara desahan dari mulut Yibun Siu San.
"Tampaknya perempuan yang kau kenal tidak sedikit juga jumlahnya."
Wajah Tan Ki jadi merah padam. Dia tidak berani menyahut sepatah pun.
"Apa yang tertulis dalam suratnya itu?"
Tanya si pengemis sakti Cian Cong.
"Hal yang biasa-biasa saja, tidak ada keistimewaan apa-apa."
Tiba-tiba terdengar Ciu Cang Po menukas.
"Apakah nona cilik itu tidak mengungkit soal Lam Hay dan Si Yu yang akan menggempur Tok Liong-hong?"
Tubuh Yibun Siu San dan Cian Cong agak bergetar mendengar kata-katanya. Serentak mereka bertanya.
"Kapan mereka akan menggempur kita?"
"Sore ini!"
Sahut Ciu CangPo sambil mengalihkan wajahnya bertanya kepada Tan Ki.
"Apa lagi yang dikatakannya?"
"Tidak ada lagi, dia hanya mengatakan apabila ada kesempatan akan menemui Boanpwe."
Tiba-tiba terdengar suara benturan senjata yang memekakkan telinga.
Ternyata pecut lemas Goan Siong Fei dan potlot si orangtua bungkuk putus dalam waktu yang bersamaan.
Kedua sosok tubuh mereka juga langsung memencar.
Rupanya Goan Siong Fei mengadu kekerasan dengan orangtua bertubuh bungkuk itu.
Keduanya sama-sama mengerahkan tenaga dalam ke arah senjata masing-masing sehingga kedua senjata tidak dapat mempertahankan diri lalu putus menjadi dua bagian.
Perubahan yang mengejutkan ini benar-benar di luar dugaan, dengan demikian katakata Tan Ki jadi terhenti.
Baik Yibun Siu San, Lok Hong, Cian Cong dan Ciu Cang Po segera memalingkan wajahnya melihat ke tengah arena.
Sementara itu, Ceng Lam Hong yang berdiri di belakang Yibun Siu San tampak maju ke depan.
Dia mengambil Pedang Penghancur Pelangi pemberian Mei Hun dan diserahkannya kepada Tan Ki.
"Simpanlah pedang ini baik-baik, mungkin nanti kau memerlukannya."
Sembari tersenyum simpul, Tan Ki menyambut pedang itu.
Pandangan matanya kembali beralih ke tengah arena.
Rupanya Goan Siong Fei sudah, berniat menyelesaikan pertarungan secepat mungkin.
Pecut lemasnya yang terputus segera dibuang ke atas tanah.
Dalam waktu yang bersamaan, telapak tangan kirinya menjulur keluar dan mengirimkan sebuah serangan.
Kakek tua bertubuh bungkuk itu menggeser tubuhnya sedikit.
Dia mengelak dari serangan Goan Siong Fei, mulutnya mengeluarkan suara bentakan.
Dengan jurus Awan Bergerak Menutupi Rembulan, dia membalas serangan Goan Siong Fei.
Terdengar suara benturan, kedua orang itu mengadu tenaga dalam dengan kekerasan.
Masing-masing tergetar mundur sejauh satu langkah.
Goan Siong Fei bernyali besar, begitu mundur dia langsung maju lagi.
Sepasang telapak tangannya dirapatkan.
Dengan jurus Dua Rangkum Angin Menerpa Telinga, dia melancarkan sebuah serangan.
Dalam waktu yang bersamaan, kaki kanannya mengirimkan sebuah tendangan.
Sasarannya bagian perut si kakek bungkuk.
Sekali maju dia mengerahkan dua jurus sekaligus.
Serangannya hebat bukan main.
Diam-diam hati si kakek bungkuk merasa terkejut bukan kepalang, pikirannya tergerak.
Orang ini pemberani sekali, benar-benar manusia yang jarang terlihat di dunia ini.
Ketika mengadu kekerasan tadi, kelihatannya tidak ragu sama sekali.
Padahal tenaga dalamnya tidak lebih tinggi dari diriku, tetapi mengapa tanpa mengatur pernafasan sama sekali, dia berani melancarkan serangan kembali?"
Justru ketika pikirannya masih tergerak, sepasang telapak tangan dan tendangan Goan Siong Fei sudah hampir mencapai dirinya.
Apabila si kakek bungkuk ingin mengelakkan serangan tersebut, pasti sudah terlambat.
Akhirnya dia terpaksa menghimpun hawa murninya dan dengan posisi menahan di depan dada, dia menghantamkan sepasang telapak tangannya ke depan.
Dengan jurus Dua Naga Mencipratkan Air, dia merentangkan sepasang tangannya.
Sekali dia menyambut serangan Goan Siong Fei dengan kekerasan.
Dalam waktu yang bersamaan, kaki kanannya juga menyapu ke depan, dengan berani dia menyambut tendangan Goan Siong Fei.
Terdengar lagi suara keras yang menggelegar, dua pasang tangan dan sepasang kaki kembali beradu.
Tenaga dalam kedua orang ini boleh dibilang seimbang.
Orang-orang gagah yang melihatnya sampai tercekat.
Diam-diam mereka berpikir dalam hati.
"Cara berkelahi tanpa memperdulikan mati hidup diri sendiri, benar-benar baru terlihat kali ini saja..."
Terdengar suara tertawa dingin dan dengusan berat dalam waktu yang bersamaan.
Kedua orang itu sama-sama tergetar mundur sejauh tiga langkah.
Secara berturut-turut sebanyak dua kali mereka mengadu kekerasan.
Hal ini membuat hawa murni dalam tubuh mereka terkuras banyak.
Aliran darah beredar semakin cepat dan nafaspun tersengalsengal.
Keringat membasahi seluruh wajah mereka dan terus menetes turun.
Tan Ki yang menyaksikan hal ini diam-diam mengerutkan sepasang alisnya.
Selama beberapa bulan terakhir ini, dia sudah menjumpai banyak kejadian aneh.
Pengetahuannyapun semakin luas.
Dia tahu ilmu kedua orang itu setali tiga uang.
Sulit membedakan siapa yang lebih unggul.
Apabila terus bertarung dengan mengadu kekerasan seperti sekarang ini, paling-paling kedua pihak sama-sama rubuh dalam keadaan terluka.
Hatinya berniat memecahkan masalah mereka, tiba-tiba telinganya mendengar suara siulan yang panjang.
Nadanya bagai burung merak yang melengking murka.
Tanpa dapat ditahan lagi dia segera mendongakkan kepalanya.
Justru dalam waktu sekejap mata itulah, di samping Goan Siong Fei sudah bertambah seorang gadis berpakaian merah.
Tampak gadis itu berkulit halus dengan sepasang bibir yang menantang.
Pakaiannya yang berwarna merah membungkus tubuhnya dengan ketat sehingga setiap lekuk tubuhnya kentara jelas.
Kecantikannya menyiratkan kematangan.
Gadis ini sama sekali tidak asing bagi Tan Ki.
Dialah Kiau Hun yang memihak ke Lam Hay Bun.
Setelah melihat jelas, hati Tan Ki tercekat bukan kepalang.
Dia segera mengedarkan pandangan matanya.
Ternyata dia melihat Oey Ku Kiong dengan pakaian putih berdiri di antara kerumunan orang banyak.
Hanya saja saat ini dia sudah melepaskan cadar penutup wajahnya.
Kemunculan Kiau Hun yang tidak terduga-duga itu tampaknya membuat Goan Siong Fei beserta si kakek bungkuk jadi tertegun beberapa saat.
Otomatis telapak tangan mereka ditarik kembali kemudian keduanya mencelat mundur ke belakang.
Kiau Hun menatap kedua orang itu sambil tersenyum simpul.
Senyumannya mengandung gaya yang kenes dan matanya menyorotkan sinar tajam menusuk sehingga kedua laki-laki yang memandangnya merasa jengah sendiri.
Mereka cepat-cepat memalingkan wajahnya dan tidak berani melihat lebih lama.
Telinga mereka menangkap suara yang merdu.
"Dengan segenap kemampuan kalian terus bertarung. Apalagi sama-sama menyambut serangan, musuh dengan kekerasan. Tentunya hawa murni di dalam tubuh kalian sudah banyak membuyar dan tubuhpun letih sekali. Mungkin sudah waktunya kalian beristirahat sebentar."
Goan Siong Fei mendengar nada suaranya begitu lembut dan merdu.
Seluruh tubuhpun benar-benar terasa letih.
Matanya terasa mengantuk.
Begitu dia menolehkan kepalanya, dia melihat juga terpikat oleh suaranya yang lembut.
Matanya hampir tidak bisa dibuka Tiba-tiba hatinya jadi tergerak, cepat-cepat dia mengeluarkan suara bentakan dan mencelat ke atas.
"Perempuan siluman berani main-main, lihat seranganku!"
Telapak tangannya langsung menghantam ke depan. Kiau Hun mencelat mundur ke belakang. Bibirnya mengembangkan seulas senyuman.
"Kau benar-benar sudah letih, jangan sembarangan mengumbar hawa amarah dalam hatimu."
Sekonyong-konyong kepala Goan Siong Fei terasa pening.
Tenaga dalamnya tidak dapat dikerahkan lagi.
Hatinya terkejut setengah mati, cepat-cepat dia menghimpun hawa murninya dan mengeluarkan suara siulan yang panjang.
Dengan demikian pikirannya menjadi jernih kembali.
Telapak tangan kirinya langsung mengerahkan jurus Membangun Jembatan Besi, dilancarkannya sebuah serangan ke depan.
Dalam waktu yang bersamaan kaki kirinya melayang, sekaligus dia mengerahkan dua buah serangan.
Sementara itu, si kakek bungkuk juga baru tersentak sadar.
Dia segera menyadari gadis berpakaian merah itu menggunakan semacam ilmu yang disebut Ilmu Pembetot Sukma, dengan demikian dia dan Goan Siong Fei seperti dihipnotis.
Untung saja tenaga dalamnya cukup kuat, pengetahuannya juga luas sekali.
Begitu merasa curiga, dia langsung menenangkan pikirannya.
Mulutnya juga mengeluarkan bentakan yang keras dan dengan posisi tangan menahan di depan dada, sepasang telapak tangannya mengirimkan serangan ke depan!
Empat buah tangan dan sebuah kaki yang mengirimkan serangan segera menimbulkan suara angin yang menderu-deru.
Serangan ini mengandung tenaga yang kuat, sasarannya bagian dada, pinggang dan perut Kiau Hun.
Kiau Hun memperdengarkan suara tawa yang dingin.
"Cepat juga kalian tersadar."
Sindirnya.
Meskipun kata-kata itu diucapkan dengan datar, namun terdengar di telinga justru tajam menusuk.
Tampak pakaiannya yang merah berkibar-kibar.
Semua serangan yang ditujukan kepadanya ternyata mengenai tempat yang kosong.
Debu-debu beterbangan, rumputrumput di sekitar mereka melambai-lambai.
Tahu-tahu orangnya sudah mencelat ke samping sejauh lima langkah.
Goan Siong Fei jadi termangu-mangu.
Sesaat kemudian tubuhnya mencelat ke udara, telapak tangannya yang kanan menghantam dan jari tangan kirinya mengirimkan totokan.
Dalam waktu yang singkat dia melancarkan serangan sebanyak dua belas jurus.
Sedangkan si kakek bungkuk mengimbangi serangannya dengan melancarkan tiga buah pukulan.
Kedua orang itu dari musuh malah menjadi kawan.
Mereka bergabung menghadapi seorang lawan.
Tampak telapak tangan membentuk bayangan dalam jumlah yang tidak terkirakan, angin yang terpancar dari serangan mereka tajam sekali.
Setiap jurus yang dikerahkan mengandung kedahsyatan yang tidak terkirakan.
Sasarannya selalu bagian tubuh yang membahayakan.
Mereka maklum kemunculan Kiau Hun di tengah arena tentunya mengandung niat ikut merebut kedudukan Bulim Bengcu, tetapi tidak seharusnya dia menggunakan ilmu sesat begitu terjun ke tengah arena.
Dia menghipnotis kedua lawannya agar terpengaruh pada apa yang dikatakannya.
Oleh karena itu, hawa amarah Goan Siong Fei dan si kakek bungkuk jadi meluap dan dari musuh keduanya malah bersatu menghadapi Kiau Hun.
Tampak Kiau Hun tersenyum simpul, bibirnya kembali bergerak-gerak mengucapkan kata-kata yang bernada merdu.
"Kalian boleh menyerang sesuka hati. Kalau dalam sepuluh jurus aku tidak dapat mengalahkan kalian sampai merasa takhluk, otomatis aku akan mengundurkan diri!"
Seandainya ucapan ini dicetuskan oleh orang lain, tentu tidak ada orang yang menganggap sebagai kata-kata yang pongah.
Tetapi karena yang mengucapkannya justru seorang gadis yang demikian muda, orang-orang gagah yang mendengarnya tidak ada satupun yang tidak mengerutkan alisnya dan berubah wajahnya.
"Perkataan nona tidak perlu demikian congkak. Aku si orangtua sudah lama berkecimpung di dunia Kangouw, tetapi belum pernah bertemu dengan seorang gadis yang begitu sombong dan menganggap dirinya hebat sekali seperti engkau ini!"
Wajah Kiau Hun langsung berubah mende ngar perkataannya. Tampangnya dingin dan datar.
"Karena ucapan yang kau keluarkan ini, aku malah akan mengutungkan sebelah telingamu sebagai hukuman!"
Tangan kirinya menekuk sedikit.
Entah bagaimana caranya dia melakukan gerakan, tahu-tahu sebilah pedang pendek yang berkilauan telah tergenggam dalam telapak tangannya.
Walaupun pedang itu sangat pendek, tetapi cahayanya justru terang sekali.
Saat itu juga, orang-orang gagah merasa ada serang-kum hawa dingin yang menyebar dari tengah arena.
Goan Siong Fei memalingkan kepalanya menatap ke arah si kakek bungkuk.
Mulutnya mengembangkan tawa yang getir.
Kedua orang itu sudah lama berkecimpung di dunia Kangouw, bukan saja pengetahuan mereka luas sekali, pengalamanpun banyak tidak terkirakan.
Sekali lihat saja, mereka segera mengetahui bahwa pedang pendek di tangan Kiau Hun tajam sekali dan pasti dapat memotong besi dalam sekali tebasan.
Oleh karena itu, mereka segera meningkatkan kewaspadaan dan berhati-hati menghadapi lawannya.
Tiba-tiba terdengar suara bentakan dari mulut si kakek bungkuk.
Tubuhn3ra berputar satu kali kemudian melesat ke depan.
Tangan kanannya mengirimkan sebuah pukulan, suara angin yang ditimbulkannya berdesir-desir.
Sementara itu telapak kirinya mengerahkan jurus Sungai Membeku Menjadi Es.
Serangannya membawa suara siulan angin yang mendesing, dengan sengit ditujukannya ke dada Kiau Hun.
Melihat hal itu Yibun Siu San menggeleng-geleng kepalanya sambil menarik nafas panjang.
Dia menggumam seorang diri.
"Meskipun serangannya keji dan dahsyat, tetapi menghadapi senjata lawan yang tajam dan langka itu, belum apa-apa dia sudah kalah satu tingkat."
Ternyata apa yang diduganya sama sekali tidak salah.
Walaupun Kiau Hun merasa rada terkejut melihat dia masih sanggup melancarkan serangan yang begitu hebat meskipun sudah bertarung dengan si kakek bungkuk, cukup lama, tetapi dia tidak bergerak atau mencelat mundur sama sekali.
Hanya perge-langan tangannya saja yang memutar, ujung pedang yang memancarkan hawa dingin meluncur ke depan sehingga si kakek bungkuk terdesak mundur dan tidak berani menyambut dengan kekerasan.
Tan Ki mulai tidak sabar melihat keadaan itu, dia menoleh kepada Yibun Siu San.
"Siok-siok, cara bertarung seperti ini sama sekali tidak adil."
Sekali lagi Yibun Siu San menarik nafas panjang.
"Dengan tangan kosong kedua orang itu menghadapi lawan yang menggunakan senjata pusaka, tentu saja tidak adil. Tetapi dengan dua melawan satu orang, apabila mengerahkan segenap kemampuannya, boleh dibilang seimbang juga."
"Namun, kita tidak boleh membiarkan dia mendapatkan kedudukan Bulim Bengcu!"
"Mengenai hal ini aku tahu, pihak Lam Hay dan Si Yu akan menyerang kita sore ini juga. Bukan saja kita harus secepatnya memilih seorang Bulim Bengcu agar dapat merundingkan masalah ini dan mengatur persatuan menghadapi musuh, kita juga harus membuat peraturan baru supaya posisi kita lebih kuat. Tetapi, kecuali engkau seorang, pamanmu ini benar-benar tidak tahu siapa lagi yang cocok menduduki jabatan tersebut. Justru tergantung dari dirimu sendiri berhasil atau tidaknya."
Tan Ki mendongakkan wajahnya dan menghembuskan nafas panjang.
"Keponakan akan berusaha sekuat tenaga, kalah atau menang terpaksa melihat nasib!"
Tiba-tiba terdengar Lok Hong menukas pembicaraan mereka.
"Kau mendapatkan ilmu silatmu dengan mencuri dari dalam goa leluhur lohu. Apabila kau sampai gagal merebut jabatan Bulim Bengcu, lohu akan mempereteli tulang belulang di dalam tubuhmu dan meminta kembali ilmu silat yang kau miliki!"
Justru pada saat mereka berbincang-bincang, ternyata keadaan di tengah arena telah terjadi perubahan yang besar.
Goan Siong Fei dan si kakek bungkuk sudah bertarung cukup lama, hawa murni dalam tubuh mereka sudah terkuras banyak.
Di lain pihak, sebilah pedang pusaka di tangan Kiau Hun bagai naga sakti yang mengamuk, hal ini menambah kekuatannya.
Di mana ujung pedangnya yang memancarkan hawa dingin menyerang, kedua orang itu tidak berani langsung menyambutnya.
Apabila bukan mencelat mundur, mereka pasti menghindarkan diri ke samping.
Dengan demikian mereka menjadi sulit mendekati tubuh Kiau Hun.
Empat jurus telah berlalu.
Bukan hanya orang-orang gagah yang menjadi penonton yang merasakan bahwa senjata di tangan Kiau Hun sangat tajam dan kedudukannya menjadi kuat, bahkan Goan Siong Fei dan si kakek bungkuk juga sudah merasa bahwa mereka tidak mempunyai harapan untuk menang.
Walaupun mereka bersatu menghadapi lawan dan tenaga dalam yang ada lebih hebat satu kali lipat lagi dari sekarang, tetap saja sulit menghadapi kedahsyatan pedang pendek tersebut.
Hati mereka sudah merasa was-was.
Menilik dari keadaan mereka sekarang ini, kemungkinan tidak sampai sepuluh jurus mereka akan berhasil dikalahkan oleh si gadis berpakaian merah itu.
BAGIAN XLVIII Sementara itu, tampak Kiau Hun menyapu ke depan dengan pedang pendeknya, cahaya hijau berpijar-pijar.
Secarik sinar memanjang sampai satu depan, persis seperti pelangi yang menggantung di langit, gerakannya dengan cepat meluncur ke arah si kakek bungkuk.
Si kakek bungkuk memang tidak berani menghadapi senjata lawan secara berhadapan, tubuhnya berputar setengah lingkaran kemudian melesat mundur ke belakang dua langkah.
Tampaknya Kiau Hun sejak semula sudah menduga bahwa dia akan melakukan gerakan ini.
Tiba-tiba mulutnya mengeluarkan suara bentakan yang nyaring, gerakan pedang di tangannya tahu-tahu berubah arah dan meluncur ke urat nadi di dada Goan Siong Fei.
Dalam satu jurus, sekaligus dia melancarkari serangan kepada kedua orang itu.
Perubahan gerakannya begitu cepat dan serangannya keji bukan main.
Orang-orang gagah yang berkumpul di sana melihatnya sampai mata mereka membelalak dan mulut melongo.
Hatipun terasa bergidik.
Goan Siong Fei dan si kakek bungkuk adalah tokoh-tokoh yang sudah mempunyai nama di dunia Kangouw.
Sekarang mereka melihat kenyatan bahwa biarpun bergabung, tetap saja mereka tak sanggup menghadapi seorang gadis muda.
Rasanya pamor mereka jatuh dan tidak ada muka menghadapi orang lain.
Rasa malu dan marah membaur menjadi satu dalam dada.
Tanpa sadar mereka berdua saling melirik sekilas, tiba-tiba muncul keinginan untuk mengadu jiwa dengan gadis ini.
Mula-mula Goan Siong Fei membentak dengan suara keras, tubuhnya berkelebat dan melesat ke depan.
Tangan kanannya membentuk cakar, dengan keji dia melancarkan cengkeraman ke dada Kiau Hun, sedangkan telapak tangan kirinya membawa serangkum angin yang kencang.
Dengan jurus Mencari Jarum di Dasar Lautan, dia menghantam ke arah pusar gadis tersebut.
Wajah Kiau Hun menjadi merah padam melihat serangannya yang keji.
"Ke mana tujuan seranganmu? Kurang ajar!"
Pedang pendek di tangannya langsung digetarkan, segera terlihat cahaya kilat yang dingin dengan ukuran besar sekali.
Begitu terangnya sehingga menyilaukan mata, serangannya yang dahsyat membentuk perisai yang berkilauan dan menghantam ke arah wajah Goan Siong Fei.
Sepasang mata Goan Siong Fei yang tajam sekali ternyata sulit menentukan ke bagian mana serangan itu ditujukan.
Tadinya dia sudah bertekad untuk gugur secara perkasa sehingga serangan yang dilancarkannya tidak main-main, kalau bisa kedua belah pihak sama-sama terluka.
Dengan demikian meskipun kalah, pamornya tidak sampai jatuh.
Tahu-tahu Kiau Hun memaki dirinya dengan wajah merah padam dan mungkin kemarahan gadis itu jadi meluap dan menyerangnya dengan jurus yang tidak kepalang tanggung kejinya.
Dia sendiri bagai tersentak sadar bahwa kedua serangannya tadi bisa dianggap kotor dalam, pandangan orang lain.
Begitu pikirannya tergerak, cepat-cepat dia menjungkirbalikkan tubuhnya.
Dengan jurus Ikan Lele Melompat-lompat, dia langsung mencelat mundur sejauh delapan sembilan langkah.
Baru saja kakinya mendarat di atas tanah, dia segera mengalihkan pandangan matanya.
Tampak sinar kehijauan melesat secepat kilat dan menimbulkan hawa dingin yang terasa menyusup ke dalam tulang.
Kemudian ketika pedang itu ditarik kembali, terlihatlah hujan darah yang memercik ke mana-mana, disusul segera dengan suara jeritan ngeri si kakek bungkuk.
Orangtua itu mencelat mundur sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Darah segar masih merembes dari tangan kirinya dan jatuh menetes ke atas tanah.
Kiau Hun memperdengarkan suara tawa yang dingin sekali.
Pedangnya menuding ke arah si kakek bungkuk.
"Aku memotong sebelah telingamu sebagai peringatan! Lihat apakah lain kali kau masih berani sembarangan mengoceh dan bersikap kurang sopan terhadap diriku!"
Mendengar nada kata-katanya yang ketus dan sombong, orangtua bungkuk itu terpaksa menahan sakit dan kesal dalam hatinya.
Seluruh tubuhnya sampai tergetar hebat dan untuk beberapa lama dia malah berdiri dengan wajah termangu-mangu.
Sesaat kemudian tampak dia menghentakkan kakinya di atas tanah dan berkata dengan nada penuh kebencian.
"Lohu hari ini kalah di bawah pedang nona, aku hanya dapat menyalahkan kepandaian sendiri yang tidak bisa menandingi ilmu yang dimiliki orang lain. Mulai sekarang di dunia Kangouw tidak ada lagi manusia seperti aku ini. Sisa hidupku biar dilewatkan di tempat terpencil dan hanya ditemani batu-batu serta rerumputan!"
Sembari berkata, tubuhnya melesat, tahu-tahu dia bukan maju ke depan malah mencelat ke belakang sejauh satu depa lebih.
Setelah itu baru dia membalikkan tubuhnya, terdengar suara raungan yang pilu seiring dengan bayangan punggungnya yang semakin menjauh.
Sekali turun tangan saja Kiau Hun berhasil menggetarkan Goan Siong Fei dan melukai si kakek bungkuk sehingga mengundurkan diri dari arena pertandingan tersebut.
Orangorang gagah yang berkumpul di tempat itu sampai saling pandang dan suasana hening mencekam.
Tidak terdengar suara sedikitpun.
Kedua tokoh yang menghadapi Kiau Hun tadi merupakan pendekar pedang tingkat delapan yang sudah mempunyai nama besar di dunia Kangouw.
mereka juga merupakan pesertapeserta yang mempunyai harapan besar untuk meraih kedudukan Bulim Bengcu.
Ternyata dalam beberapa jurus saja, satu dapat dikalahkan dan yang lainnya terluka.
Kejadian ini menimbulkan perasaan kagum juga di hati orang-orang gagah akan ketinggian ilmu silat yang dimiliki Kiau Hun.
Kenyataan ini merupakan hal yang belum pernah mereka dengar apalagi saksikan dengan mata kepala sendiri.
Sinar mata Kiau Hun perlahan-lahan mengedar ke arah orang-orang gagah yang berkumpul di tempat tersebut.
Melihat pandangan mata mereka menyiratkan perasaan kagum, tanpa dapat ditahan lagi bibirnya mengembangkan senyuman manis.
Sikapnya sengaja dibuat sekenes mungkin dan berkali-kali dia merapikan rambutnya yang terurai karena tiupan angin.
"Siapa lagi yang berniat terjun ke arena memberi pelajaran kepada Siauli?"
Suaranya sudah berhenti agak lama, tetapi tetap tidak ada seorangpun yang memberikan reaksi.
Suasana di sekitar hanya diliputi kesunyian yang mencekam.
Seakan di tempat yang begitu luas tidak terdapat seorang ma-nusiapun.
Angin berhembus semilir, tiba-tiba terdengar suara tambur ditalu satu kali.
Nadanya begitu keras sehingga memecahkan keheningan yang mendirikan bulu roma itu!
Ini merupakan peraturan yang telah ditetapkan dalam penyelenggaraan pertemuan kali ini.
Apabila tambur berbunyi sampai tiga kali, tetap tidak ada orang yang turun ke tengah arena menantang gadis itu, maka kedudukan Bulim Bengcu kali ini jatuh ke tangan Kiau Hun.
Hal ini tidak bisa diganggu gugat lagi.
Ceng Lam Hong menyenggol tangan anaknya dan berkata dengan suara lirih.
"Anak Ki, suara tambur sudah terdengar, mengapa kau masih diam di sini dan tidak turun ke tengah arena?"
"Ibu..."
Hatinya bagai diliputi kebimbangan yang dalam, namun dia tidak tahu bagaimana harus mengutarakannya di hadapan ibunya itu.
Setelah memanggil satu kali, tiba-tiba dia menggelengkan kepalanya dan tidak jadi meneruskan ucapannya.
Ceng Lam Hong bertambah panik melihat sikapnya itu.
"Kau anak ini memang keterlaluan! Entah apa yang dipikirkan dalam hatimu, aku sungguh tidak mengerti. Kau harus tahu bahwa dendam kematian ayahmu masih belum terbalas. Hanya dengan mendapatkan kedudukan Bulim Bengcu kau baru dapat membasmi si raja iblis Oey Kang!"
Tan Ki tetap menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Pernahkah ibu mendengar orang menyebut nama Cian Bin Mo-ong?"
Tanyanya dengan suara rendah.
"Pernah Yibun Sam-siokmu menceritakannya sedikit. Dalam keadaan gawat seperti sekarang ini, kau malah bertanya yang bukan-bukan!"
"Aku khawatir dia ada di antara kerumunan orang banyak dan mungkin akan ikut dalam perebutan Bulim Bengcu."
Sepasang alis Ceng Lam Hong langsung menjungkit ke atas mendengar kata-katanya.
"Apakah kau mengenal orang itu?"
Tan Ki hanya tertawa pahit, dia sengaja tidak menyahut pertanyaan ibunya. Telinganya kembali menangkap suara Kiau Hun.
"Pertemuan seperti ini langka sekali, apakah saudara-saudara sekalian benar-benar kehilangan rasa percaya diri untuk menghadapi seorang gadis muda seperti aku?"
Ucapannya selesai, tetap tidak ada orang yang menyahut sepatah katapun.
Tong!
Sekali lagi suara tambur berbunyi, kumandangnya sampai lama sekali menyusup di telinga orang-orang gagah yang hadir di tempat tersebut.
Waktu perlahan-lahan merayap, sinar mata orang-orang gagah menyorotkan keraguan hati mereka, tangan mereka sampai berkeringat dingin.
Mereka memperhatikan tengah arena dengan menahan nafas.
Setiap detik yang berlalu lebih mencekam daripada sebelumnya ketika Kiau Hun bertarung dengan Goan Siong Fei dan si kakek bungkuk.
Sebab tiga menit lagi, seandainya tidak ada orang yang terjun ke tengah arena, maka di dunia Bulim untuk pertama kalinya muncul seorang Bulim perempuan.
Perasaan hati Tan Ki galau sekali, tangan kirinya menggenggam Pedang Penghancur Pelangi pemberian Mei Hun.
Tampaknya dia ragu-ragu mengambil keputusan.
Yibun Siu San, Cian Cong dan Lok Hong menatap ke arahnya dengan perasaan khawatir.
Hal ini m alah membuat hati Tan Ki semakin bimbang.
Beberapa ratus pasang mata memperhatikan diri Kiau Hun.
Dalam hati orang-orang gagah merasa saat sekarang ini suasana terasa tegang bukan main.
Laki-laki yang memukul tambur mendongakkan kepalanya menatap langit.
Perlahan-lahan tangannya terangkat ke atas dan dipukulnya tambur di hadapannya!
Tong!
Suara tambur kembali terdengar untuk ketiga kalinya.
Nadanya begitu keras sehingga hati orang yang mendengarnya menjadi tergetar.
Lambat laun secercah senyuman lebar menghias di wajah Kiau Hun.
Wajahnya tampak berseri-seri.
Justru di saat tambur baru dipukul, tiba-tiba tubuh Tan Ki berkelebat.
Dia melesat ke depan secepat kilat.
Saat ini ilmu silat anak muda itu sudah tergolong jago kelas satu.
Pikirannya baru tergerak dan dia langsung mengambil keputusan, tubuhnya segera melesat ke depan dan tahu-tahu sudah berdiri di hadapan Kiau Hun.
Boleh dibilang dalam waktu yang bersamaan, dari luar arena terdengar suara siulan panjang.
Nadanya melengking dan berkumandang ke dalam gendang telinga.
Tahu-tahu pandangan mata menjadi samar, suara angin berdesiran, sesosok bayangan bagai bintang jatuh melayang turun dengan kecepatan kilat.
Tan Ki menjadi tertegun, cepat-cepat dia mengalihkan pandangan-matanya.
Orang yang baru muncul sama sekali tidak asing baginya.
Dialah Liang Fu Yong yang mendapat warisan ilmu dalam satu malam oleh Tian Bu Cu, si tokoh sakti dari Bu Tong San.
Tampak wajahnya bersinar terang, matanya menyorot tajam.
Dibandingkan dengan sebelumnya bagai dua orang yang berlainan.
Tan Ki tahu dia mendapat ilmu sakti dari Tian Bu Cu dalam semalaman saja.
Sudah pasti tenaga dalamnya berlipat ganda dibandingkan dengan sebelumnya.
Cepat-cepat dia menenangkan perasaan hatinya dan mengembangkan seulas senyuman manis.
Kiau Hun tertawa dingin menatap kedua orang itu.
"Untuk apa kalian naik ke atas panggung pertandingan ini?"
Liang Fu Yong mengulurkan tangannya ke belakang punggung dan mencabut sebatang pedang berwarna hijau. Dia menolehkan kepalanya kepada Tan Ki.
"Adik Ki, lebih baik kau berbincang-bincang saja dengan suhuku. Babak ini biar aku yang mencobanya terlebih dahulu."
Tan Ki memalingkan kepalanya, dia melihat tampak Tian Bu Cu pucat pasi.
Tampaknya orangtua itu telah menguras pikiran dan tenaga untuk mewariskan ilmu kepada Liang Fu Yong.
Wajahnya seperti orang yang baru sembuh dari sakit parah.
Langkah kakinya lambat dan saat itu sedang menuju ke tempat duduk yang ada di dekat Yibun Siu San.
Si pengemis cilik Cu Cia, Sam Po Hwesio dan dua orang gadis bercadar hitam berdiri di belakang para Cianpwe ini.
Tan Ki segera menggelengkan kepalanya dan tersenyum simpul.
"Dalam waktu satu malam Tian Bu Cu Lo-cianpwe mewariskan ilmu sakti kepadamu. Tentunya hawa murni dalam tubuhnya banyak terkuras. Aku tidak ingin mengganggu ketenangan beliau. Apabila kau tetap ingin bertanding dalam babak ini, biar aku berdiri di samping sebagai penonton saja."
Baca Juga: Neraka Hitam 6
Baca Juga: Anggrek Tengah Malam Khu Lung