Eps 9 Dendam Iblis Seribu Wajah - Khu Lung
Baca online Dendam Iblis Seribu Wajah - Khu Lung
Cersil Dendam Iblis Seribu Wajah - Khu Lung.
"Sahabat di luar berdiri terus tentu bisa kedinginan, kalau memang berminat, mengapa tidak masuk saja ke dalam dan ikut ngobrol bersama? Mengendap-endap di luar jendela orang dan mencuri dengar pembicaraan orang lain, benar-benar perbuatan yang tidak sopan serta melanggar peraturan Bulim!"
Baru saja ucapannya selesai, rekannya yang lain segera menolehkan wajahnya menghadap jendela.
Ternyata memang seperti ada bayangan yang berkelebat di sana.
Ban Jin Bu terkejut setengah mati, dia mendorong meja dan bangkit berdiri.
Baru saja dia ingin menerjang keluar untuk menangkap orang itu, tiba-tiba terdengar suara tertawa yang dingin menyusup ke dalam telinga.
Dalam waktu yang bersamaan, si pengemis cilik mengulurkan tangan menahan dirinya.
Bibirnya tersenyum lebar.
"Percuma kau keluar, orangnya sudah lari!"
Mendengar kata-katanya, Goan Yu Liong kesal sekali.
Dengan menahan rasa mendongkol dalam hatinya, dia terpaksa duduk kembali.
Sam Po Hwesio mengangkat cawannya terus menerus dan secara berturut-turut dia telah menghabiskan arak sebanyak dua belas kati.
Tiba-tiba wajahnya menjadi serius, dia meletakkan cawannya di atas meja dan bertanya kepada Cu Cia.
"Hei, tukang minta-minta...! Apakah orang-orang yang kau katakan tinggal di dalam taman itu justru tiga bidadari yang menunggang elang raksasa dua malam yang lalu?"
Si pengemis cilik menganggukkan kepalanya.
"Tidak salah, masih ada lagi si laki-laki kasar dan pelajar berwajah putih. Apabila semuanya digabungkan, jumlahnya tepat lima orang. Satupun tidak kurang dari jumlah hidangan yang mereka pesan. Sedangkan empat puluh kati daging mentah, tentu saja makanan si elang raksasa itu. Si pengemis cilik sendiri tahu bahwa penyelidikan kita nanti memang sangat berbahaya. Si laki-laki kasar dan rekannya yang pelajar itu sudah cukup repot dihadapi. Sedangkan kedua gadis cilik yang berkepang itu, apabila mereka ingin meringkus kami, tentu mudah sekali seperti membalikkan telapak tangan sendiri. Dan gadis berpakaian putih yang duduk di punggung elang raksasa itu adalah majikan mereka, tentu saja ilmu silatnya lebih mengerikan lagi. Kalau bukan dewa pasti siluman pedang. Kepergian kita kali ini mungkin benar-benar tidak sulit apabila ingin langsung naik ke atas surga."
Mendengar keterangannya, beberapa orang yang lain juga ikut tersadar.
Di dalam hati mereka masing-masing seakan terselip sesuatu perasaan yang tidak mereka mengerti.
Entah rasa takut, tegang atau penasaran.
Rasanya ingin sekali melihat apakah mereka benar-benar tamu yang dimaksudkan, namun rasanya tidak berani.
Tetapi seluruh anggota badan seperti dihinggapi penyakit gatal-gatal.
Duduk salah berdiripun salah.
Rasanya lama sekali waktu berlalu, akhirnya di luar jendela terdengar suara kentungan sebanyak tiga kali.
Si pengemis cilik menekuk pinggangnya yang terasa pegal, setelah itu dia mendorong meja dan bangkit berdiri.
"Baiklah, kita sudah boleh pergi sekarang."
Biar bagaimana usia Ceng Lam Hong lebih tua dari yang lainnya. Dalam segala hal pertimbangannya lebih matang. Mendengar ucapannya, sepasang alisnya yang indah langsung mengerut.
"Tengah malam begini mengendap-endap ke ruangan orang lain menyelidiki kehidupan pribadi orang, bukan hal yang dilakukan oleh kita dari golongan lurus. Menurut pendapatku, sebaiknya kalian kembali saja ke kamar untuk beristirahat. Jangan suka ikut campur urusan orang lain atau mencari kesulitan bagi diri sendiri."
Sam Po Hwesio merekahkan secercah tawa yang lebar.
Baru saja dia ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba sepasang alisnya terjungkit ke atas dan indera pendengarannya dipertajam.
Rupanya dari tengah ruangan terdengar suara langkah kaki yang lirih mendatangi.
Tanpa terasa dia mengeluarkan suara batuk kecil kemudian membungkam kembali.
Rekannya yang lain tahu bahwa suara batuknya tadi merupakan isyarat agar mereka jangan bersuara.
Kemudian dari luar halaman terdengar suara yang nyaring dan lantang.
"Pendekar pedang tingkat Lima dari Tiong-goan, Tan Ki sengaja datang untuk mengakui kesalahan!"
Tengah malam suasana sunyi sekali, suara itu menjadi semakin jelas terdengar.
Keenam orang yang ada di dalam ruangan besar sama-sama terperanjat mendengar suara itu.
Mereka benar-benar merasa sangat terkejut.
Hitung-hitung si pengemis cilik yang lebih cekatan dan cepat tanggap.
Dia segera bergerak membuka jendela lalu mengintip keluar.
Begitu pandangannya dipusatkan, dia melihat seseorang berdiri di bawah cahaya mentari yang dingin, siapa lagi kalau bukan Tan Ki?
Ceng Lam Hong sampai merasa terkejut sekaligus gembira melihatnya.
Yang membuatnya terkejut adalah kesalahan yang tadi diakui oleh Tan Ki.
Dia tidak mengerti putra kesayangannya berbuat kesalahan apa, sehingga tengah malam datang ke tempat orang mengaku dosa.
Yang membuatnya gembira justru dapat bertemu dengan putranya meskipun telah menempuh perjalanan sejauh ini.
Baru saja dia melangkah maju dengan maksud memanggilnya, tiba-tiba terdengar suara Cu Cia yang berat.
"Pek-bo jangan bersuara dulu. Biar kita dengar dulu apa maksud ucapan Ki-heng tadi. Kalau sampai tampak keadaan membahayakan, kita baru memanggil juga belum terlambat!"
Ceng Lam Hong merenung sejenak, dia merasa apa yang dikatakan si pengemis cilik masuk akal juga.
Oleh karena itu, dia segera membatalkan niatnya dan memperhatikan gerak-gerik Tan Ki secara diam-diam.
Sementara itu dia juga sudah mengerahkan tenaga dalamnya, asalkan ada sesuatu yang kira-kira membahayakan diri putra kesayangannya, dia akan segera menerjang keluar untuk memberikan bantuan.
Tampak pintu ruangan seberang di dalam taman terbuka, keluar dua orang laki-laki dan berdiri di depan Tan Ki.
BAGIAN XL Si pengemis cilik segera memusatkan perhatiannya.
Ternyata tebakannya memang tidak salah.
Kedua orang itu tidak lain dari laki-laki kasar yang menimpuk Goan Yu Liong dengan senjata rahasia serta si pelajar berwajah putih.
Meskipun dalam hati anak muda ini memang bimbang terhadap ketiga gadis yang seperti bidadari dari khayangan, kadang-kadang terasa seperti kawan tetapi kadangkadang juga seperti lawan.
Tetapi melihat Tan Ki yang muncul secara tidak terduga-duga, bahkan mengucapkan kata-kata bahwa kedatangannya untuk mengakui kesalahan, tanpa dapat ditahan lagi dia merasa terkesiap dan heran.
Untuk sesaat dia malah jadi termangumangu.
Tampak kedua laki-laki itu berjalan keluar lalu berhenti di depan Tan Ki.
Perasaan si pengemis cilik semakin cemas dan panik.
Tanpa berpikir panjang lagi dia langsung mengeluarkan suara bentakan, tubuhnya menerjang ke depan melesat keluar lewat jendela.
Melihat tindakannya, yang lainnya segera mengikuti.
Di bawah cahaya rembulan terlihat bayangan tubuh berkelebat, suara angin berdesir, boleh dibilang dalam waktu yang bersamaan, di samping Tan Ki telah berdiri lima enam orang.
Sikap masing-masing serius sekali, mereka seakan ingin melindungi Tan Ki dari kiri kanan.
Tampaknya Tan Ki sendiri merasa heran dan terkejut atas kemunculan ibu serta si pengemis cilik.
Tetapi sesaat kemudian tampangnya sudah pulih kembali.
Hanya tampak sepasang alisnya yang bertaut dengan erat dan wajahnya kusut seperti orang yang habis bekerja keras.
Mungkin juga dalam beberapa hari ini dia tidak dapat tidur dengan nyenyak.
Sepasang matanya merah membengkak.
Melihat kemunculan beberapa orang itu, seolah-olah banyak sekali kata-kata yang ingin diutarakannya, tetapi setelah bibirnya bergerak-gerak dua kali, tiba-tiba dia tertawa sumbang.
Mulutnya malah membungkam namun sikapnya tampak kurang wajar.
Ceng Lam Hong tertawa sendu.
"Aku kira kau bertekad untuk membalas dendam sehingga mengikuti permintaan Oey Kang bertemu di Pek Hun Ceng, siapa nyana kita justru bisa bertemu di tempat ini..."
Berkata sampai bagian yang sedih, tanpa dapat ditahan lagi dua bulir air mata jatuh membasahi pipinya. Tan Ki memaksakan dirinya tersenyum. Matanya mengalih kepada Cu Cia.
"Yang ini mungkin murid utama Cian Locianpwe yang mendapat julukan si penge mis cilik Cu-heng?"
Cu Cia menggaruk-garuk kepalanya sambil tertawa lebar.
"Bagus sekali, bagus sekali. Karena pertandingan di atas panggung, hati si pengemis cilik jadi kagum bukan main terhadap dirimu, bahkan beberapa sahabat ini ikut-ikutan rela menjadi pendukung yang paling setia."
Saat itu juga dia memperkenalkan Yang Jen Ping, Ban Jin Bu dan Goan Yu Liong bertiga kepada Tan Ki. Tan Ki langsung menjura ke kiri kanan kemudian dia baru berkata.
"Kesalahan tangan ketika pertandingan, benar-benar bukan suatu kesengajaan. Di sini Siaute menyatakan menyesal dan mohon maaf."
Selesai berkata, dia segera membungkukkan tubuhnya rendah-rendah.
Sam Po Hwesio mengelus-elus kepalanya yang gundul.
Baru saja dia ingin menanyakan maksud kedatangan Tan Ki, tiba-tiba terdengar suara tertawa dingin dari si pelajar berwajah putih.
"Apakah kau anak muda yang memukul Liok Giok sehingga terbuka?"
"Tidak salah. Memang Cayhelah orangnya. Harap Saudara berdua masuk ke dalam dan laporkan kepada majikan kalian bahwa Pendekar tingkat lima dari Tionggoan, Tan Ki mohon dapat bertemu."
Pelajar yang tampan itu mendonggakkan wajahnya menatap warna langit.
"Saat ini baru memasuki kentungan pertama, majikan kami sedang berlatih ilmu. Mungkin memerlukan waktu kurang lebih satu kentungan lagi, baru selesai. Kau boleh pergi dulu ke tempat lain dan kembali lagi pada kentungan ketiga nanti."
Mendengar kata-katanya, sepasang alis Tan Ki langsung menjungkit ke atas, tampaknya dia mulai merasa kesal. Oleh karena itu dia segera menyahut dengan suara lantang.
"Yang suruh aku datang kalian, sekarang yang mencari alasan menunda-nunda waktu kalian juga. Apakah kalian kira aku ini manusia yang mudah dipermainkan? Disuruh pergi langsung pergi, disuruh datang cepat-cepat datang? Melihat tingkah laku kalian lyang menyebalkan ini, entah apa sebenarnya yang terkandung dalam hati kalian?"
Wajah si laki-laki bercambang perlahan-lahan mulai berubah.
"Buat apa kau berteriak keras-keras, apakah kau sengaja ingin mengganggu majikan kami yang sedang melatih ilmu? Kalau kau tidak senang, boleh keluarkan senjatamu dan kita berdua berkelahi sebanyak tiga ratus jurus dan lihat siapa di antara kita yang lebih unggul!"
Ceng Lam Hong melihat hawa kemarahan mulai berkobar di antara keduanya. Mungkin setiap saat bisa meledak menjadi pertikaian besar, cepat-cepat dia menarik tangan Tan Ki dan tersenyum lembut.
"Anak Ki, jangan berkeras sehingga timbul masalah dengan orang. Lebih baik kita ikuti saja kata-katanya. Sekarang kita kembali dulu ke ruangan yang kita sewa, nanti kentungan ketiga baru kita kembali lagi."
Tan Ki memandang si laki-laki kasar dengan tatapan marah.
Dia seakan tidak dapat menahan kegeraman di dalam hatinya, tetapi dalam hatinya ada sesuatu yang dipertimbangkan sehingga akhirnya dia cuma menarik nafas panjang.
Setelah menghentakkan kakinya di atas tanah keras-keras, dia mengikuti Ceng Lam Hong dari belakang menuju ke ruangan yang disewa oleh rombongan rekan-rekannya.
Telinganya menangkap suara tertawa dingin yang terpancar dari belakang punggungnya.
Saking kesalnya dia sampai menggertakkan gigi erat-erat dan hampir saja air matanya mengalir keluar.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah duduk di dalam ruangan tamu.
Usia Goan Yu Liong paling muda dan dalam segala hal selalu tergesa-gesa.
Cepat-cepat dia menyatakan kehendak hati mereka yang ingin mengangkat persaudaraan dengan Tan Ki.
Siapa nyana anak muda itu menggelengkan kepalanya sambil tertawa getir.
"Setelah kentungan ketiga nanti, selembar nyawaku ini entah masih dapat dipertahankan atau tidak, masih belum jelas. Perasaan adik Liong yang tulus, Siaute hanya dapat memendamnya dalam-dalam di hati."
Si pengemis cilik melihat tampang Tan Ki muram sekali, tetapi bukan seperti sengaja dibuat-buat, diam-diam hatinya jadi terkesiap. Tetapi di luar dia masih berlagak santai seakan tidak ada apa-apa.
"Kata-kata Ki-heng ini benar-benar membuat si pengemis cilik jadi tidak mengerti. Keadaan Ki-heng sekarang kan baik-baik saja, mengapa mengucapkan kata-kata yang bukan-bukan seperti tadi?"
Mata Tan Ki perlahan-lahan mengedar ke beberapa orang di dalam ruangan tersebut.
Dia melihat wajah mereka menunjukkan rasa ingin tahu serta penasaran apa sebetulnya yang terkandung dalam ucapannya barusan.
Tanpa dapat ditahan lagi dia menarik nafas panjang dan menuturkan apa yang dialaminya.
Rupanya si pengemis sakti Cian Cong sebagai panitia penyelenggara Bulim Tayhwe memang paling sulit disuruh duduk berdiam diri.
Sejak pagi dia sudah duduk di belakang meja dan tidak pernah bergerak sedikitpun.
Hal ini membuat seluruh tubuhnya menjadi tidak enak seperti orang yang dipenjara saja.
Melihat Tan Ki secara berturut-turut berhasil menjalankan enam kali pertandingan dengan angka lima menang satu kali seri sehingga akhirnya mendapat gelar Pendekar pedang tingkat lima, hatinya merasa terhibur juga.
Siapa tahu ketika menjelang malam, pertandingan akan dimulai lagi, bayangan anak muda itu malah tidak kelihatan.
Tanpa dapat ditahan lagi, baik Cian Cong maupun Yibun Siu San jadi kelabakan setengah mati.
Begitu paniknya kedua orangtua itu sampai keringat dingin bercucuran.
Akhirnya Cian Cong terpaksa meninggalkan panggung pertandingan untuk mencari Tan Ki.
Setelah ubek-ubekan kurang lebih dua kentungan lamanya, akhirnya Cian Cong menemukan tulisan atau pesan yang ditinggalkan oleh Cu Cia.
Kali ini, Cian Cong benar-benar memaki-maki muridnya sendiri sebagai manusia paling goblok di dunia ini.
Biarpun tokoh tua ini terkenal panjang akalnya, namun saat itu dia juga kebingungan.
Sepasang alisnya sampai mengerut terus menerus.
Hatinya menyimpan kasih sayang yang besar terhadap Tan Ki.
Dia berharap anak muda itu akan menjadi seekor naga sakti di dunia Kangouw dan merebut kedudukan Bulim Bengcu.
Oleh karena itu, diam-diam dia berpesan kepada Cu Cia dan Sam Po Hwesio agar mengintil di belakang Tan Ki dan memperhatikan gerak-geriknya.
Di satu pihak untuk mengawasi, di lain pihak juga untuk melindungi.
Tetapi justru pada hari pertama diadakan pertandingan silat, kedua orang itu malah kehilangan sasarannya.
Setelah berpikir bolak-balik, akhirnya dia mengambil keputusan untuk pergi ke Pek Hun Ceng seorang diri.
Tokoh tua ini memiliki ilmu silat yang tinggi serta bernyali besar.
Selama malang melintang di dunia Kangouw selama tujuh puluhan tahun, belum pernah dia mendapat tandingannya.
Meskipun dia sadar bahwa Oey Kang disebut sebagai Raja iblis nomor satu di dunia serta memiliki berbagai macam kepandaian, termasuk ilnri racun.
Juga ilmu Mo Hun Cap Pek-cao atau Delapan Jurus Meraba Awan, yang membuat namanya terkenal di dunia persilatan.
Dengan mengandalkan sepasang telapak tangannya serta tenaga dalamnya yang sudah hampir mencapai taraf kesempurnaan, dia juga tidak memandang sebelah mata terhadap lawannya itu.
Cepat-cepat dia meninggalkan sebaris tulisan untuk Yibun Siu San kemudian berangkat menuju Pek Hun Ceng.
Ilmu ginkang si pengemis sakti ini tak perlu ditanyakan lagi sampai di mana ketinggiannya.
Mendaki gunung, melintasi bukit bagai tanah datar saja.
Gerak tubuhnya laksana seekor burung besar yang terbang pesat.
Pada hari kedua dia sudah sampai di Pek To San.
Dia sudah pernah datang ke Pek Hun Ceng satu kali.
Jalanan di sekitar tempat ini telah dikenalnya dengan baik.
Dengan mengambil arah memutar lewat hutan kecil, dia menerobos masuk ke dalam perkampungan tersebut.
Begitu pandangan matanya beredar, dia melihat cahaya pedang berkilauan dari arah padang rumput kecil di sebelah kiri.
Ada dua orang yang sedang bertarung sengit di sana.
Setelah diperhatikan dengan seksama, ternyata kedua orang itu bukan Oey Kang dan Tan Ki.
Malah si perempuan yang rela mengorbankan diri bagi Tan Ki, yakni Liang Fu Yong dan seorang laki-laki berpakaian putih yang tampangnya seperti mayat hidup dan kurusnya seperti tengkorak kering.
Liu Mei Ling justru berdiri di tepian dan memandang jalannya pertarungan sambil berdiri dengan pedang siap di tangan.
Si pengemis sakti Cian Gong pernah dengar bahwa pada malam pengantinnya, Tan Ki pernah bertarung melawan empat orang Hu-hoat dari perkumpulan Pek Kut Kau asal Si Yu.
Melihat jalannya pertarungan ini, dia menjadi terperanjat.
Diam-diam dia berpikir di dalam hati.
"Tokoh-tokoh sesat dari Si Yu mengapa bisa tiba-tiba muncul di tempat ini?"
Selagi pikirannya masih tergerak, tiba-tiba dia mengeluarkan suara bentakan, tangannya terangkat ke atas dan timbullah serangkum angin kencang dan dengan keras dia memisahkan kedua orang yang sedang bertarung dengan sengit itu.
Tampak keringat sudah membasahi seluruh tubuh Liang Fu Yong.
Rupanya pertarungan ini sudah menguras tenaganya habis-habisan.
Sedangkan si mayat hidup berpakaian putih segera mencelat ke belakang.
Sepasang matanya yang menyeramkan menatap Cian Cong lekat-lekat, mulutnya tidak mengucapkan sepatah katapun.
Entah apa yang terkandung dalam hatinya.
Cian Cong tersenyum lembut.
"Kalian dua bocah perempuan ini, baik-baik di Tok Liong Hong kok tiba-tiba bisa muncul di perkampungan setan ini?"
Liu Mei Ling mengedip-ngedipkan matanya yang besar. Bibirnya tersenyum simpul.
"Abang Ki juga datang ke mari, tentu saja kami segera menyusul." . Mendengar ucapannya yang tidak berujung pangkal, si pengemis sakti Cian Cong jadi kebingungan. Tanpa dapat ditahan lagi sepasang alisnya jadi berkerut-kerut. Melihat keadaan ini, Liang Fu Yong segera tampil ke depan menjelaskan...
"Tadinya kami ingin mencari Tan Ki merundingkan suatu hal, tanpa sengaja menemukan pesan yang ditinggalkan murid Locianpwe..."
Sepasang mata Cian Cong langsung mendelik, dia berkata dengan nada dingin.
"Lalu kalian takut Tan Ki akan menemui kesulitan sehingga cepat-cepat menyusul ke mari bukan?"
Orangtua ini selamanya paling suka bergaul dengan orang muda, candanya selalu terdengar dan hampir tidak pernah benar-benar marah.
Tetapi nada ucapannya kali ini begitu datar dan dingin sehingga terasa seperti menyalahkan kedua gadis itu.
Hati Liang Fu Yong dan Mei Ling jadi ciut mendengarnya.
Tiba-tiba terdengar Cian Cong menarik nafas panjang dan wajahnya pulih kembali seperti biasa.
"Aih, sebetulnya dalam hal ini kalian juga tidak dapat disalahkan. Yang satu mencemaskan suaminya, yang satu lagi mengkhawatirkan kekasih hatinya. Sekarang kalian sudah datang ke perkampungan setan ini, si pengemis tua terpaksa berusaha sekuat kemampuan untuk mengajak kalian keluar dari tempat ini!"
Kata-katanya mengandung makna yang dalam.
Hati Mei Ling yang polos masih tidak merasakan apa-apa.
Liang Fu Yong yang mendengarnya justru menjadi merah padam wajahnya dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Melihat sikapnya yang tersipu-sipu seperti gadis belasan tahun, si pengemis sakti Cian Cong seperti teringat akan sesuatu hal.
Dia mendongakkan wajahnya dan tertawa terbahak-bahak.
"Si hidung kerbau Tian Bu Cu tempo hari menyuruh kau menyampaikan sepucuk surat, si pengemis sakti sudah membacanya. Melihat sikapmu akhir-akhir ini yang terus berusaha mengubah diri, biar masa lampau kau terkenal jahat dan dikatakan segala macam yang buruk, si pengemis sakti tetap akan membantumu sekuat tenaga. Tetapi jangan sampai telinga tua ini mendengar lagi kisah yang tidak menyenangkan tentang dirimu. Perlu kau ketahui bahwa si pengemis tua paling menentang segala macam kejahatan. Sepasang telapak besi ini tidak pernah membiarkan seorang penjahatpun yang berhasil meloloskan diri..."
Belum lagi ucapannya selesai, terdengar suara Krok!
Yang panjang dan mengerikan seperti raungan setan.
Manusia berpakaian putih itu tiba-tiba menghentakkan sepasang kakinya dan mencelat ke udara sejauh dua depa, sepasang tangannya tegak lurus ke depan dan dengan membawa serangkum angin"
Yang dingin dia menerjang ke arah pengemis sakti Cian Cong. Sepasang alis Cian Cong langsung terjungkit ke atas. Mulutnya memperdengarkan suara tertawa yang dingin.
"Lagakmu bisa benar, sepasang tangan pakai direntangkan ke depan dan jalanpun meloncat-loncat seperti mayat beneran. Tapi sayang si pengemis tua selamanya tidak percaya setan atau hantu gentayangan!"
Sembari berbicara, lengannya bergerak dan sebuah pukulan yang mengandung kekuatan dahsyat langsung dihantamkan ke depan.
Manusia berpakaian putih itu melihat serangan Cian Cong demikian hebat dan mengandung tenaga dalam yang tidak terkirakan, dirinya sadar bahwa tenaganya sendiri tidak akan sanggup menyambut serangan tersebut, tiba-tiba dia mengeluarkan suara pekikan yang aneh, di atas udara tubuhnya berjungkir balik kemudian menghindar ke samping.
Dengan gerakan yang ringan, dia sudah berdiri kembali di tempatnya semula.
Namun tindakannya itu hanya sekejap mata, mendadak tubuhnya mencelat lagi ke udara dan kembali menerjang ke arah Cian Cong.
Si pengemis sakti Cian Cong tertawa terbahak-bahak.
Tangannya terulur dan segulung angin kencang langsung menerpa ke depan.
Si manusia berpakaian putih langsung terdesak mundur ke belakang.
Manusia aneh berpakaian putih itu merupakan orang yang wataknya keras kepala.
Melihat terjangannya dua kali tidak membawa hasil, dia menjadi marah sekali.
Mulutnya terus-terusan mengeluarkan suara pekikan yang mendirikan bulu roma dan terjangannya juga semakin kalap.
Dengan demikian, serangan yang dilancarkan oleh si pengemis sakti Cian Cong semakin lama juga semakin gencar.
Kedua belah pihak terus menerjang dan menyerang.
Sampai kurang lebih sepeminum teh, mendadak terdengar suara siulan yang panjang, nadanya lebih mirip lolongan srigala di malam hari.
Begitu menusuk telinga dan tidak enak didengar.
Diam-diam hati si pengemis sakti Cian Cong jadi tergetar.
Mendadak dia mengeluarkan suara bentakan nyaring dan melancarkan dua buah serangan yang hebat ke arah tubuh manusia berpakaian putih yang sedang menerjang datang ke arahnya.
Serangannya kali ini, secara berturut-turut dilancarkan sebanyak dua kali.
Jarak waktunya hanya terpaut sekian detik.
Sebelumnya si pengemis sakti sudah menghimpun hawa murninya kemudian menyalurkan tenaga dalam ke bagian sepasang lengan.
Begitu dilancarkan, serangannya bagai ombak yang bergulung-gulung kemudian berkumpul menjadi satu lalu melanda dahsyat ke depan.
Dalam keadaan panik, tampaknya si manusia berpakaian putih tidak menyangka pihak lawan sudah mengerahkan tenaga dalam dan secara mendadak melancarkan dua buah serangan berturut-turut.
Ilmu lwekang yang mengandung daya kekerasan ini, apabila diserang oleh pihak lawan, bagaimanapun harus bisa dihindarkan.
Kalau tidak, bisa muntah darah dan mati seketika.
Si manusia berpakaian putih juga bukan tokoh yang tidak tahu bahaya.
Dengan rasa terkejut, dia menggerakkan sepasang lengannya untuk menjaga keseimbangan tubuh sambil menarik nafas dalam-dalam.
Dengan berusaha segenap kemampuan dia menarik kembali tubuhnya yang sedang meluncur ke depan dan bergerak mundur sejauh dua depaan.
Cian Cong tertawa dingin, Hawa murninya dikerahkan dan tenaga dalamnya ditambah, serangannya yang sudah hebat bukan main sekarang malah jadi berlipat ganda.
Tubuh si manusia berpakaian putih sedang melayang di udara, meskipun cara menghindarkan dirinya sudah termasuk cepat tetapi serangan Cian Cong lebih cepat lagi mengejar gerakan tubuhnya.
Tahu-tahu dia merasa bagian punggungnya terhantam oleh tenaga yang kuat, tubuhnya langsung bergetar.
Setelah berjungkir balik di udara sebanyak dua kali berturut-turut, hawa murninya tidak dapat dihimpun lagi.
Otomatis tubuhnya melorot turun kemudian menghempas keras di atas tanah dengan menimbulkan suara berdebum yang memekakkan telinga.
Boleh dibilang tepat pada saat si manusia berpakaian putih terhempas di atas tanah dalam keadaan terluka parah, terdengar suara angin berdesir serta kibaran pakaian.
Di atas padang rumput itu telah bertambah empat orang lainnya.
Yang pertama-tama adalah seorang laki-laki berjubah hitam longgar, matanya sipit mulutnya tebal serta lebar.
Tinggi badannya kurang lebih lima kaki.
Sehingga kelihatan gemuk dan pendek dan tidak enak dilihat.
Di belakangnya mengikuti dua manusia berpakaian hitam dan seorang manusia berpakaian putih yang kemungkinan rekan dari manusia berpakaian putih yang tergeletak dalam keadaan terluka parah.
Tetapi kalau dilihat dari sikap mereka, tampaknya si manusia berjubah longgar itulah yang menjadi pimpinan rombongan itu.
Si pengemis sakti Cian Cong melihat gerakan tubuh si manusia berjubah hitam seperti terbang.
Sikapnya pun angkuh serta congkak.
Diam-diam hatinya menjadi tercekat.
Cepatcepat dia menarik nafas panjang dan segera mengerahkan tenaga dalamnya.
Dari luar penampilannya tetap biasa-biasa saja malah menunjukkan tertawa yang santai.
"Apakah yang datang ini Kaucu dari Pek Kut Kau yang menguasai wilayah Si Yu?"
Manusia berjubah hitam langsung mende-ngus dingin satu kali.
"Kalau ditilik dari tampangmu, tampaknya kau ini si kepala pengemis Cian Cortg?"
Begitu bertemu, keduanya sudah tidak ada, yang mau mengalah.
Ucapan mereka seperti saling berdebat.
Melihat keadaan ini, hati Liang Fu Yong dan Mei Ling langsung merasa tidak tenang.
Dua pasang mata yang indah sebentar-sebentar melihat ke arah Kaucu Pek Kut Kau dan sejenak kemudian beralih lagi kepada si pengemis sakti Cian Cong.
Suasana sedemikian mencekam sehingga menimbulkan rasa tegang yang membuat sulit bernafas.
Terdengar si pengemis sakti Cian Cong tertawa terbahak-bahak.
"Semangka buntet tidak pergi ke tempat lain malah mengunjungi perkampungan setan ini, apakah ingin menggaet si iblis tua agar mau bekerja sama dengan pihak kalian?"
Kaucu Pek Kut Kau menyahut dengan nada dingin.
"Perkiraanmu hebat sekali, sedikitpun tidak salah!"
Cian Cong tertawa dingin. Mimik wajahnya langsung berubah menjadi serius.
"Kalian golongan sesat dari Si Yu ini menganggap diri sendiri memiliki beberapa jurus ilmu yang lumayan langsung ingin naik ke atas langit. Segala kejahatan bersedia dilakukan, tidak perduli akibat tindakan kalian ini berapa banyak orang yang akan menjadi korban. Tidak perduli terjadi pertumpahan darah di mana-mana. Malah menggabungkan diri dengan pihak Lam Hay yang kebusukannya tidak kalah dengan kalian. Segala bencana yang akan terjadi semuanya berkat keserakahan hati kalian sendiri..."
Kaucu Pek Kut Kau tidak memberi kesempatan kepadanya untuk melanjutkan lebih jauh, dia segera menukas ucapan orangtua itu.
"Bukan roda nasib di bumi saja yang berputar, tetapi roda takdir dari atas langit juga sama saja. Wilayah Tionggoan demikian luas, memang merupakan daerah yang paling cocok bagi kami pihak Kaucu Pek Kut Kau maupun Lam Hay untuk mengembangkan sayapnya. Setiap manusia mencari kemajuan, bagaimanapun caranya. Di dalam menunjukkan kekuasaan, tidak heran kalau ada yang harus berkorban. Kau kira dengan mengandalkan beberapa orang jago dari Tionggoan yang kau kumpulkan akan berhasil menghalangi niat kami dan pihak Lam Hay. Jangan bermimpi! Siapa yang tidak tahu bahwa di dalam daerah Tionggoan sendiri setiap saat timbul pertikaian untuk mencari nama dan saling berusaha untuk menguasai. Kau juga sudah tua, tidak perlu melelahkan diri sendiri dengan urusan tetek bengek seperti ini. Bisa-bisa akibatnya malah kehilangan selembar n.yawa!"
Mendengar kata-katanya, Cian Cong kesal sekali sehingga rambutnya yang putih berjingkrakan ke atas. Matanya mendelik lebar-lebar.
"Semangka buntet tidak perlu menjual omongan di sini. Hari ini di dalam perkampungan setan kita boleh bertarung sepuas hati. Lihat siapa diantara kita yang lebih unggul. Kalau bukan si pengemis sakti yang terkubur di dalam perkampungan ini maka kaulah yang akan mati terkapar dengan seluruh tubuh bermandikan darah!"
Selesai berkata, dia mengeluarkan pedang bambu dari selipan ikat pinggangnya.
Tetapi dia tidak langsung melancarkan serangan.
Malah menyurut mundur setengah langkah.
Sikapnya keren sekali, karena dia sendiri sudah melihat bahwa gerakan kaki Kaucu Pek Kut Kau itu demikian ringan.
Di kedua keningnya terlihat sedikit urat bertonjolan.
Hal ini membuktikan bahwa tenaga dalam orang itu sudah nencapai taraf yang tinggi sekali.
Oleh karena itu, dia tidak berani memandang ringan lawannya sama sekali.
Dengan sikap serius, dia berdiri menggenggam pedang bambunya dan mengeluarkan gaya tokoh kelas tinggi yang siap menghadapi tantangan lawan.
Hati Kaucu Pek Kut Kau juga tergetar melihat sikap Cian Cong, wajahnya langsung berubah kelam, sikap angkuhnya agak berkurang namun dia tetap berdiri dengan sepasang tangan kosong.
Untuk sekian lamanya kedua orang itu berdiri berhadap-hadapan.
Pek Kut Kaucu mulai kehabisan rasa sabarnya, kakinya maju satu langkah ke bagian pusat.
Dengan jurus Menerobos Awan Memetik Rembulan, dia melancarkan sebuah serangan yang diiringi gelombang angin yang kencang.
Sepasang kaki Cian Cong langsung menutul di atas tanah, tubuhnya mencelat ke udara.
Kaucu Pek Kut Kau tidak memberi kesempatan baginya untuk membalas serangan.
Jurus kesatu belum selesai dijalankan, dia sudah melancarkan jurus kedua.
Angin yang timbul dari totokan jari tangannya meluncur ke arah pundak si pengemis sakti Cian Cong.
Terdengar Cian Cong mengeluarkan suara tawa terbahak-bahak.
Telapak tangan kirinya melancarkan sebuah pukulan dan pedang bambu di tangan kanannya digetarkan.
Tam-pak bunga-bunga berjatuhan dalam bentuk bayangan dari gerakan pedang bambunya.
Dengan gencar meluncur ke arah dada Kaucu Pek Kut Kau tersebut.
Melihat serangan pukulannya yang dahsyat, Kaucu Pek Kut Kau itu tidak berani memandang ringan.
Bayangan yang timbul dari gerakan pedang bambunya demikian hebat.
Meskipun kedua serangan itu dilancarkan, pada saat yang berlainan, tetapi begitu cepatnya sehingga seperti terjadi dalam waktu yang bersamaan.
Hatinya langsung tergetar melihat kenyataan itu.
Diam-diam dia berpikir.
"Tidak heran si pengemis tua ini sombongnya setengah mati, ternyata dia benar-benar memiliki ilmu yang hebat. Baik tenaga dalam maupun kecepatan gerakannya, kalau bukan orang sudah berlatih keras selama puluhan tahun. Tentu tidak mungkin melancarkan dua buah serangan dalam waktu yang hampir bersamaan."
Tadinya Kaucu Pek Kut Kau lah yang melakukan serangan.
Menghadapi serangan serta kibasan pedangnya yang begitu dahsyat, mau tidak mau dia menyelamatkan dirinya terlebih dahulu.
Lengan kanannya ditarik secara mendadak dan dengan kekerasan dia menyimpan kembali serangan yang telah dilancarkannya.
Pergelangan tangannya memutar.
Dengan jurus Burung Kecil Mengais Pasir, kembali dia menangkis serangan pedang Cian Cong.
Sementara itu, tenaga dalam yang terhimpun dalam telapak kirinya meluncur keluar menyerang si pengemis sakti dengan gencar.
Sulit sekali melukiskan bagaimana yang terjadi sebenarnya dalam pertarungan kedua orang itu.
Selain gerakannya yang terlalu cepat, setiap jurusnya mengandung perubahan yang tidak terkirakan hebatnya.
Tiba-tiba terdengar suara benturan tenaga dalam yang keras.
Blam!
Dua rangkum kekuatan yang dahsyat mengakibatkan pasir dan batu-batu kerikil beterbangan di udara.
Cian Cong mendapat kesempatan lebih dulu memukul lawan, dengan demikian dia masih dapat mempertahankan diri dan menang segaris.
Tubuhnya hanya terhuyung-huyung beberapa saat, sedangkan Kaucu Pek Kut Kau itu tidak berhasil meraih peluang sehingga tubuhnya terdesak dan tergetar mundur sejauh tiga langkah.
Mendapat kesempatan menjaga keseimbangan tubuhnya terlebih dahulu, dia langsung melancarkan serangan kembali.
Pedang bambunya berkelebat dengan gencar sehingga menimbulkan angin yang menderu-deru.
Dalam waktu yang singkat dia telah menyerang sebanyak empat belas jurus secara berturut-turut.
Apabila dua tokoh kelas tinggi bertarung, tidak boleh terjadi kesalahan sedikit juga.
Secara gencar Cian Cong melakukan penyerangan, semuanya mengandung jurus-jurus yang keji.
Dia seakan tidak memberi kesempatan bagi Kaucu Pek Kut Kau untuk membalas menyerang.
Saat ini manusia berjubah longgar itu hanya mendapat kesempatan menangkis dan lambat laun keadaannya bisa tidak menguntungkan dirinya sendiri.
Tampak bayangan pedang bambu bergulung-gulung bagai badai juga cepat bagai kilat.
Sasarannya selalu bagian yang mematikan.
Begitu terdesaknya Kaucu Pek Kut Kau sampai terpaksa berputaran ke sana ke mari.
Semakin lama semakin sulit dia menghadapi si pengemis sakti yang benar-benar sakti ini.
Tetapi biar bagaimana, manusia berjubah longgar ini adalah ketua sebuah perkumpulan yang mempunyai wilayah kekuasaannya sendiri.
Walaupun mula-mula dia agak terdesak, tetapi berkat ilmunya yang tinggi dan pengalaman bertempurnya yang sudah banyak, lambat laun dia dapat menguasai diri dan mengikuti keadaan.
Setelah dua puluh jurus lebih berlalu, kondisinya sudah kembali seperti semula dan mulai dapat mengimbangi serangan yang dilakukan si pengemis sakti.
Gerakan Cian Cong semakin lama semakin cepat, serangannya semaian lama juga semakin keji.
Kelebatan tubuhnya bagai seekor naga perkasa yang mengibaskan ekor di langit.
Tetapi gaya si Kaucu Pek Kut Kau juga tidak kalah indahnya.
Perubahan jurusjurusnya selalu mengejutkan dan tidak terduga-duga.
Cian Cong melihat dia dapat menahan bahkan membalas serangannya dengan kecepatan yang hebat.
Ternyata orang ini benar-benar salah satu tokoh tertangguh yang pernah dihadapinya seumur hidup.
Oleh karena itu, dia segera mengeluarkan suara siulan panjang.
Tubuhnya berkelebat dan gerakannya pun berubah.
Dia telah mengerahkan ilmu Delapan jurus Pedang Pengejar Sukma yang membuat namanya menjulang tinggi di dunia persilatan.
Jangan dilihat kalau ilmu ini hanya terdiri dari delapan jurus, tetapi justru Cian Cong menciptakannya dengan memeras otak selama sembilan tahun.
Setiap kekurangannya diperbaiki perlahan-lahan sehingga akhirnya menjadi satu ilmu yang sempurna.
Di dalamnya terkandung perubahan-perubahan yang dahsyat.
Anehnya justru delapan jurus ilmu pedang itu seperti berantai sehingga dapat dimainkan terus tanpa berhenti.
Dari jurus pertama sampai jurus kedelapan, lalu kembali lagi ke jurus pertama tanpa disadari oleh lawannya.
Cian Cong telah berkecimpung di dunia persilatan selama berpuluh-puluh tahun.
Dia jarang mengerahkan Delapan Jurus Pedang Pengejar Sukma, tetapi keadaan sekarang tidak dapat disamakan.
Musuh tangguh sudah di depan mata.
Sedangkan sampai saat ini Oey Kang masih belum kelihatan, mati hidup Tan Ki masih menjadi tanda tanya baginya.
Oleh karena itu, sejak semula dia sudah bertekad untuk melakukan pertarungan dengan cara kilat.
Setelah suara siulannya sirap, Delapan Jurus Pedang Pengejar Sukma pun segera dikerahkan.
Pedang bambunya menimbulkan angin dahsyat bagai topan yang melanda.
Tampak persis seperti badai di tengah lautan yang menghempas-hempas tinggi.
Pedangnya seperti berubah menjadi ribuan batang yang menusuk ke depan.
Kaucu Pek Kut Kau melihat gerakan tubuh si pengemis sakti ini tiba-tiba berubah.
Pedang bambunya menimbulkan bayangan berkotak-kotak yang tidak terhitung jumlahnya.
Diam-diam hatinya menjadi tergetar.
Dia sendiri termasuk tokoh paling hebat di wilayah Si Yu, ilmu yang dipelajarinya khusus menggunakah kecepatan mengincar yang lambat.
Begitu gerakan tubuh Cian Cong berubah, tiba-tiba saja di hadapan matanya bagai muncul berpuluh-puluh Cian Cong yang lain dan juga pedangnya seperti berubah jadi tidak terhitung banyaknya.
Baru saja dia merasa keadaan kurang menguntungkan dirinya, tahutahu orangnya sudah terkurung oleh bayangan pedang tersebut.
Dua manusia berpakaian hitam dan seorang lagi manusia berpakaian putih melihat keadaan Kaucu mereka terjerumus dalam bahaya, kalau dibiarkan pasti akan celaka.
Mereka tidak memperdulikan lagi peraturan dunia Bulim.
Setelah mengeluarkan suara pekikan yang aneh, ketiga orang itu langsung menerjang ke depan.
Masing-masing meluncurkan sebuah serangan yang sama dahsyatnya, sehingga timbul angin yang bergulung-gulung.
Manusia berpakaian putih itu pernah kehilangan sebelah lengannya di tangan Tan Ki.
Tetapi gabungan ketiga orang itu benar-benar tidak dapat dianggap enteng.
Cian Cong merasa ada serangkum angin kencang yang menerpa dari samping tubuhnya.
Dia segera tahu bahwa dirinya dibokong oleh anak buah Kaucu Pek Kut Kau tersebut.
Cepat-cepat dia menarik kembali serangannya lalu mencelat mundur sekitar satu depa.
Lengan kanannya bergerak dan dikirimkannya sebuah pukulan ke samping.
Blam!
Terdengar suara benturan yang keras.
Hawa panas beterbangan menyelimuti bumi dan pasir pun berhamburan ke mana-mana.
Reaksi si pengemis sakti Cian Cong cepat sekali, tetapi dia merasa tubuhnya bagai diterpa oleh serangkum angin yang dingin.
Diam-diam hatinya menjadi tercekat.
Untung saja tenaga dalamnya tinggi sekali, dan hanya sapuan angin yang melanda bagian depan tubuhnya.
Cepat-cepat dia mengatur pernafasannya dan segera dia merasa pulih kembali.
Tetapi untuk sesaat sempat juga dia tertegun.
Meskipun wilayah Si Yu terkenal dengan golongan sesatnya, tetapi ilmu silat yang mereka kuasai benar-benar tidak dapat dipandang ringan.
Begitu pikirannya tergerak, mulutnya langsung mengeluarkan suara tertawa terbahakbahak.
"Bagus sekali! Dasar sesat selamanya memang sesat. Kalian ingin main keroyok? Silahkan turun tangan semuanya, si pengemis tua paling benci orang yang suka main bokong dari belakang!"
Pedang bambunya digetarkan, tampak beribu-ribu bayangan memenuhi seluruh tubuhnya.
Dengan kesal dia meluncurkan sebuah serangan yang dahsyat ke depan!
Kaucu Pek Kut Kau menggeser langkahnya ke kiri, tubuhnya memutar setengah lingkaran, sambil menghindarkan diri dari serangan Cian Cong, mulutnya membentak.
"Menggelinding mundur semuanya! Siapa yang suruh kalian ikut campur. Cian Locianpwe merupakan tokoh sakti di daerah Tiong-goan, hampir belum pernah dia menemukan tandingan. Dengan mengandalkan beberapa jurus kasar yang aku ajarkan kepada kalian, lalu kalian kira bisa memberikan bantuan yang berarti? Apakah kalian benar-benar ingin menjatuhkan pamorku sebagai ketua sebuah partai?"
Suara Kaucu Pek Kut Kau itu tajam menusuk.
Ketiga orang yang mendengarnya sampai merasa ngilu ulu hati mereka, tetapi tidak ada seorangpun yang berani membantah.
Serentak mereka mengundurkan diri ke tempat semula.
Cian Cong tertawa terbahak-bahak.
"Saudara memang tidak malu sebagai seorang ketua sebuah partai besar. Berani bersikap terus terang dan sportif. Hari ini si pengemis sakti melupakan nyawa sendiri menemani seorang kuncu bertarung mati-matian."
Tangannya kembali bergerak dan menimbulkan serangkum angin yang dahsyat.
Kaucu Pek Kut Kau juga menghimpun hawa murni dalam tubuhnya.
Secara berturutturut dia melancarkan dua buah pukulan yang mengandung hawa dingin.
Dalam sesaat keduanya sudah mengerahkan hawa murni masing-masing.
Terdengar suara angin yang menderu-deru.
Begitu hebatnya pertempuran itu sehingga dedaunan di atas pohon bergetaran dan sebagian besar rontok jatuh di atas tanah.
Kaucu Pek Kut Kau langsung merasa aliran darahnya mengedar dengan cepat, matanya seperti berkunang-kunang.
Sedangkan si pengemis sakti Cian Cong juga sampai tergetar mundur sejauh empat lima langkah.
Watak si pengemis sakti Cian Cong selamanya terkenal tidak mau mengalah.
Mana sudi dia mengunjukkan kelemahan dirinya.
Setelah keseimbangannya pulih kembali, tubuhnya langsung mencelat ke udara.
Tangan kiri mengirimkan serangan dengan gencar, tangan kanannya yang menggenggam pedang bambu mengibas ke sana ke mari bagai orang kalap.
Angin yang timbul dari kelebatan pedangnya panas dan tajam menusuk.
Kaucu Pek Kut Kau mendengus satu kali, sepasang tangannya direntangkan ke depan dan dengan keras dia menyambut serangan lawan.
Kali ini masih juga keras lawan keras.
Tubuh Kaucu Pek Kut Kau tergetar oleh dorongan tenaga Cian Cong yang hebat sehingga melayang sejauh satu depa lebih.
Di udara tubuhnya berjungkir balik dua kali dan kemudian terhempas jatuh di atas tanah.
Sedangkan Cian Cong juga termakan pukulan Kaucu Pek Kut Kau tersebut sehingga tergetar mundur sejauh tujuh delapan langkah, akhirnya dia jatuh terduduk di"atas tanah.
Kedua orang itu bertarung dengan cara keras lawan keras.
Setelah dua jurus berlalu, wajah mereka sama-sama berubah hebat.
Keringat bercucuran membuat tubuh mereka basah kuyup.
Padahal mereka sama-sama menyadari kalau bertarung dengan cara ini terus menerus, pasti ada satu yang mati dan lainnya terluka parah.
Siapapun tidak ada yang keluar sebagai pemenang.
Baik Liu Mei Ling maupun Liang Fu Yong dan anak buah Kaucu Pek Kut Kau itu sampai termangu-mangu sekian lama menyaksikan pertarungan hebat yang sedang berlangsung.
Untuk beberapa saat tidak ada seorangpun yang sanggup membuka suara.
Saat ini tampak Cian Cong menumpu sepasang tangannya di atas tanah dan tubuhnya kembali mencelat ke udara.
Mulutnya malah mengeluarkan suara tertawa yang terbahakbahak.
"Kaucu Pek Kut Kau... hari ini kalau bukan kau yang mati, maka aku yang mampus. Kalau kau memang hebat, terima lagi satu pukulan si pengemis tua ini!"
Justru suara tertawanya masih berkumandang, tangannya sudah meluncur keluar mengirim sebuah pukulan lagi.
Setelah bertarung sekian lama dengan si pengemis sakti Cian Cong, diam-diam nyali Kaucu Pek Kut Kau itu menjadi agak ciut.
Pukulannya yang selama ini membuat dirinya menjadi tokoh paling terkemuka di wilayah Si Yu ternyata tidak sanggup melukai si pengemis tua itu.
Hatinya sudah enggan mengadu kekerasan lagi, seandainya Cian Cong tidak terlalu mendesak, dia juga enggan mengerahkan tenaga dalamnya menyambut pukulan itu.
Serangan yang dilancarkan si pengemis sakti Cian Cong kali ini mengandung seluruh tenaga dalam yang ada pada dirinya.
Akibatnya hawa amarah dalam dada Kaucu Pek Kut Kau itu jadi meluap juga.
Setelah mengeluarkan suara pekikan seperti setan di neraka, dia juga mengulurkan tangannya dan menyambut pukulan itu dengan segenap kekuatan.
Liang Fu Yong, Liu Seng serta ketiga anak buah Kaucu Pek Kut Kau itu sama-sama dapat melihat keadaan yang genting itu.
Serentak mereka mengeluarkan teriakan.
"Tidak boleh...!"
Ucapan tercetus, orangnyapun bergerak.
Lima sosok bayangan secepat kilat menerjang ke depan, tetapi tetap saja gerakan mereka agak lambat sedikit.
Sekali lagi terdengar suara ledakan yang memekakan telinga, kedua tenaga dalam kembali sudah berbenturan di udara.
Dalam gebrakan kali ini, keduanya mengerahkan hawa murni serta segenap tenaga dalam yang ada.
Kaucu Pek Kut Kau mendengus berat satu kali.
Matanya berkunangkunang dan telinganya berdengung.
Isi perutnya seakan hampir termuntah keluar saking hebatnya kena getaran pukulan si pengemis sakti Cian Cong.
Tubuhnya terhuyung-huyung dan memaksakan dirinya jangan sampai terjatuh di atas tanah.
Matanya segera dialihkan.
Dia melihat Cian Cong memejamkan sepasang matanya, wajahnya pucat seperti selembar kertas dan keringat sebesar-besar kacang kedelai terus menetes di keningnya.
Pada saat itu, para anak buah Kaucu Pek Kut Kau itu sudah terlebih dahulu sampai di hadapan majikannya.
Salah seorang di antaranya memperdengarkan suara tertawa dingin, tahu-tahu tangannya terulur dan tubuhnya menerjang ke arah si pengemis sakti Cian Cong.
Untuk sesaat orangtua itu sampai lupa bahwa keadaannya sudah hampir seperti lampu yang kehabisan minyak.
Tenaga dalamnya hampir terkuras habis dan hawa murninya buyar terlalu banyak.
Tubuhnya terluka di bagian dalam.
Melihat orang itu melancarkan sebuah serangan, dia merasa dirinya masih sanggup menyambut pukulan itu.
Tetapi sayangnya sudah agak terlambat.
Untung saja kesadarannya masih ada, pikirannya masih belum kacau.
Setelah melancarkan sebuah pukulan, tubuhnya terdorong oleh tenaga pukulan lawan.
Dia masih sempat menyurutkan sedikit tenaga yang dilancarkan dalam telapak tangannya.
Tetapi meskipun demikian, terhantam pukulan yang datangnya secara tidak terdugaduga ini, tubuh si pengemis sakti sampai terpental sejauh dua depaan.
Tiba-tiba dia merasa kepalanya pening.
Mulutnya membuka dan memuntahkan segumpal darah segar kemudian baru terhempas jatuh di atas tanah.
Si manusia berpakaian putih melihat ada kesempatan emas di depan mata, mana mungkin dia melepaskan begitu saja.
Tubuhnya meluncur dari atas.
Dengan jurus Mencari Jarum di Dalam Lautan, lima jarinya membentuk cengkeraman dan meluncur ke arah dada si pengemis sakti Cian Cong!
Dia memang sudah berniat melenyapkan tokoh sakti ini.
Gerakan serangannya bagai kilat.
Cian Cong yang melihat serangan dahsyat sudah di depan mata sempat panik sesaat, kemudian dia memejamkan matanya serta kembali memuntahkan segumpal darah segar.
Namun muntahan darahnya kali ini lain dengan yang sebelumnya.
Kali ini merupakan muncratan yang bagai senjata rahasia besar kecil meluncur ke arah wajah si manusia berpakaian putih tersebut.
Si manusia berpakaian putih tampaknya tidak menyadari bahwa Cian Cong yang dalam keadaan terluka parah dapat memuntahkan darah yang digunakan sebagai senjata untuk menghadapi dirinya.
Hal ini benar-benar di luar dugaannya, apalagi jarak di antara mereka begitu dekat.
Mana mungkin dia masih sempat menghindar?
Cepat-cepat dia memejamkan sepasang matanya dan menjaga agar bagian yang paling penting itu jangan sampai terluka akibat semburan darah tersebut.
Jangan dikira segumpal darah itu gumpalan darah yang biasa-biasa saja.
Memang tidak dapat disamakan dengan senjata rahasia lainnya yang tajam bukan main, tetapi semburan itu dilakukan oleh Cian Cong dengan sisa tenaga dalamnya yang masih ada, kecepatannya bagai kilat.
Selembar wajah si manusia berpakaian putih itu sampai terpecah-pecah kulitnya akibat semburan darah tersebut.
Hampir dalam waktu yang bersamaan, terdengarlah suara jeritan yang histeris serta menyeramkan dari mulut si manusia berpakaian putih.
Darahnya sendiri berbaur dengan darah yang disemburkan oleh Cian Cong sehingga terus menetes dan membasahi seluruh pakaiannya.
Dengan sisa tenaga yang tinggal sedikit, Cian Cong mengeluarkan suara bentakan dan kembali menghantamkan sebuah pukulan ke depan.
Wajah si manusia berpakaian putih terluka cukup parah, belum lagi rasa terkejutnya hilang.
Kembali Cian Cong menggunakan salah satu jurus terkeji dari ilmu Delapan Jurus Pedang Pengejar Sukma untuk melakukan serangan.
Tiba-tiba dia merasa matanya berkunang-kunang, dadanya sekali lagi terhantam pukulan orangtua itu.
Di daerah perkampungan yang sunyi itu kembali berkumandang suara jeritan yang menyayat hati.
Suara itu mirip lolongan serigala, kumandangnya bergema terus di sepanjang lembah dan menggetarkan hati siapapun yang mendengarnya.
Seiring dengan suara jeritan yang menyeramkan itu, tangan si manusia berpakaian putih mengibas.
Sepuluh batang jarum beracun segera melesat keluar bagai kilat.
Cian Cong sudah mulai merasa payah, urat nadinya bagai tergetar sehingga seluruh tubuhnya terasa lemah.
Mana bisa lagi dia menghindarkan diri dari serangan yang tidak terduga-duga itu, tetapi dia masih sempat mengangkat sepasang lengan bajunya menutupi bagian mata dan wajah.
Dari sepuluh batang jarum beracun itu, lima batang langsung mengenai tubuhnya dengan telak.
Tiga di pundak kanan, dua lagi di pundak kiri.
Di daerah yang terluka itu langsung terasa kebal.
Sebagai orangtua yang sudah banyak pengalaman dan makan asam garam, dia segera tahu bahwa jarum itu mengandung racun yang cukup keji.
Diam-diam hatinya jadi tercekat.
Wajahnya berubah hebat.
Tetapi dalam waktu yang singkat, rasa terkejutnya sudah hilang dan tampangnya pun pulih kembali.
Dia malah mendongakkan wajahnya sambil tertawa terbahak-bahak.
"Satu nyawa diganti dengan satu nyawa. Si pengemis tua sama sekali tidak rugi. Matipun tidak perlu di khawatirkan!"
Belum lagi ucapannya selesai, manusia berjubah hitam yang pendek gemuk itu sudah memperdengarkan suara tawanya yang dingin.
"Kau ingin mati begitu saja? Tidak begitu mudah. Aku akan membuat kau merasakan hukuman terberat yang ada dalam perguruan kami sehingga tulang belulang dalam tubuhmu hancur lebur tetapi nafasmu masih belum berhenti!"
Tadinya dia bersama-sama rekannya yang lain sedang memapah tubuh Kaucu Pek Kut Kau.
Tetapi ketika berbicara, dia segera menyerahkan majikannya kepada rekannya, sedangkan tubuhnya sendiri mencelat ke udara lalu langsung menerjang ke arah si pengemis sakti Cian Cong.
Apa yang dituturkan di atas merupakan kejadian yang berlangsung dalam sekejap mata saja.
Pada saat ini, tubuh Liang Fu Yong dan Liu Mei Ling ikut melesat keluar.
Liang Fu Yong tidak banyak bicara lagi, pedangnya langsung bergerak dengan jurus Sambil Tersenyum Menunjuk ke arah Selatan.
Tampak cahaya pelangi berpijar dari pedangnya, gerakan secepat kilat meluncur ke arah tubuh manusia berpakaian hitam yang sedang menerjang datang.
Manusia berpakaian hitam itu mengeluarkan suara dengusan dingin satu kali.
Tubuhnya bergerak memutar kurang lebih lima cun.
Pedang yang membawa hawa dingin melintas di depan dadanya.
Jaraknya dekat sekali, tetapi orang itu sama sekali tidak menghentikan gerakannya.
Dia tetap menerjang ke arah Cian Cong.
Liu Mei Ling melihat gerakan tubuh lawan gesit dan aneh, namun dengan mudah ia berhasil menghindarkan diri dari serangan Liang Cici.
Diam-diam hatinya tergetar.
Setelah membentak nyaring, pergelangan tangannya menggetarkan tenaga.
Dengan jurus Menghindari Gunung Jatuh ke Laut, dia melancarkan sebuah serangan ke depan.
Sejak kecil dia memang sudah belajar ilmu silat.
Meskipun tampaknya serangan itu hanya sebuah jurus yang sederhana, tetapi dalam keadaan panik karena ingin menolong orang maka kehebatannya tidak dapat dianggap enteng.
Angin yang timbul dari kelebatan pedangnya menimbulkan suara suitan panjang.
Manusia berpakaian hitam itu mendengus satu kali.
Dia menghimpun hawa murninya dan sepasang lengannya langsung menyapu ke depan.
Serangkum tenaga yang dahsyat berbenturan dengan badan pedang, begitu keras getarannya sehingga lengan Mei Ling terasa kesemutan.
Hampir saja pedang pusakanya terlepas dari genggaman dan melayang di udara, otomatis serangan yang dilancarkannya melemah.
Di saat yang sama lawan mengangkat tangannya dan meneruskan serangan ke dada Cian Cong.
Cepatnya bagai sambaran kilat di musim hujan.
Setelah tiga kali berturut-turut mengadu tenaga dalam dengan Kaucu Pek Kut Kau, Cian Cong sekali lagi dihantam oleh seorang manusia berpakaian hitam lainnya.
Isi perutnya sudah tergetar dan memuntahkan darah segar.
Hanya mengandalkan kekuatan tenaga dalam yang telah dilatihnya lebih dari tujuh puluh tahun, dia masih sanggup mempertahankan diri.
Dengan sisa tenaga terakhir dia berhasil membunuh manusia berpakaian putih.
Hawa murni dalam tubuh Cian Cong benar-benar terkuras habis.
Meskipun orang lain tidak turun tangan, tokoh sakti yang namanya sudah menggetarkan seluruh rimba hijau dan sungai telaga ini juga tidak mungkin bisa hidup lebih dari dua puluh empat kentungan lagi.
Apalagi ketika dia melancarkan serangan kepada manusia berpakaian putih, sepasang pundaknya juga terkena sambilan jarum beracun sebanyak lima batang.
Bila saat ini ia dihantam lagi oleh manusia berpakaian hitam, sudah pasti Cian Cong tidak dapat lagi menghindarkan diri apalagi menangkis.
Oleh karena itu, dia segera menarik nafas panjang dan menutup matanya rapat-rapat menunggu datangnya malaikat elmaut.
Tiba-tiba sesosok bayangan membawa desiran angin yang kencang melayang turun dari udara.
Belum lagi serangan si manusia berpakaian hitam mengenai tubuh Cian Cong, orang itu sudah sampai lebih dahulu.
Dia menghadang di depan Cian Cong, lengan pakaian sebelah kanannya yang longgar langsung mengibas ke depan, serangkum angin yang kencang segera menghempas keluar.
Manusia aneh berpakaian hitam itu mengulurkan tangannya menyambut.
Siapa yang lebih kuat langsung terlihat saat itu juga.
Orang yang baru melayang turun itu sama sekali tidak bergeming dari tempatnya sedikit-pun.
Sementara itu si manusia berpakaian hitam segera merasa kedua telinganya berde-y ngung, seluruh tubuhnya terpental bahkan melayang di udara.
Setelah berputar dua kali, baru ia terhempas jatuh di atas tanah.
Orang yang baru muncul itu rupanya seorang tojin.
Dalam satu gebrakan saja dia sudah berhasil mementalkan seorang tokoh tingkat tinggi dari wilayah Si Yu.
Bahkan sekaligus menyelamatkan selembar nyawa si pengemis sakti Cian Cong.
Liang Fu Yong dan Liu Mei Ling tidak banyak bicara, mereka segera maju ke depan untuk memapah tubuh si pengemis sakti itu.
Manusia berpakaian hitam itu menenangkan perasaannya sesaat.
Setelah itu baru dia mendongakkan kepalanya melihat.
Tampak orang itu sudah tua sekali, rambutnya sudah berwarna putih, jenggotnya yang panjang berwarna keperakan.
Wajahnya bersih dan enak dilihat.
Penampilannya anggun serta berwibawa, sorot matanya tajam namun lembut.
Hal ini membuat orang yang melihatnya menaruh rasa hormat yang tinggi.
Tanpa dapat ditahan lagi si manusia berpakaian hitam jadi terma-ngu-mangu sekian lama.
Beberapa waktu kemudian baru dia membentak dengan nada marah...
"Tenaga dalam totiang ini hebat sekali! Hal ini membuktikan bahwa totiang pasti bukan tokoh sembarangan. Mohon tanya di mana kuil totiang dan apa nama gelarannya, mungkin suatu saat aku yang rendah bisa menyempatkan diri berkunjung untuk meminta pelajaran barang beberapa jurus lagi!"
Tosu itu tersenyum lembut.
"Seumur hidup pinto hanya tahu menenangkan diri memperdalam ilmu agama, memahami sabda Buddha yang mengandung arti dalam. Selamanya tidak pernah bertikai dengan siapapun. Tetapi kalau kau tetap ingin mengunjungi Pinto, tentu saja kesempatan seperti itu pasti ada. Meskipun dunia ini luas tetapi semuanya tetap merupakan tetangga, mana mungkin tidak bisa bertemu. Di puncak Yang Sim An, pinto setiap saat setiap waktu dengan senang hati menerima kedatangan Si-cu."
Ketika orangtua ini sedang berbicara, Liu Mei Ling dan Liang Fu Yong sudah menjatuhkan diri mereka berlutut di hadapannya.
"Tecu, Liu Mei Ling dan Liang Fu Yong menanyakan kesehatan Locianpwe!"
Tosu itu mengibaskan lengan bajunya, serangkum tenaga yang dahsyat langsung menahan diri kedua gadis itu sehingga mereka tidak dapat menekuk lututnya lebih dalam.
Orangtua itu mengembangkan seulas senyuman yang lembut dan bibirnya berkata.
"Di sini bukan tempat yang sesuai untuk bercakap-cakap, kalian juga tidak usah banyak peradatan."
Mei Ling dan Liang Fu Yong tahu kalau Locianpwe yang hatinya bijaksana dan mulia ini tidak suka segala macam peradatan, terpaksa mereka menurut dan berdiri.
Mereka tetap memapah tubuh si pengemis sakti Cian Cong dari kiri dan kanan.
Tosu tua memperhatikan wajah si pengemis sakti Cian Cong dengan sinar matanya yang tajam bagai kilat.
Matanya lalu beralih kepada Kaucu Pek Kut Kau yang sedang memejamkan matanya mengatur pernafasan.
Perlahan-lahan dia menganggukkan kepalanya.
"Orang ini sudah terluka parah, Pinto sebagai orang yang beragama selalu mementingkan kedamaian hati dan jiwa yang bersih. Harap saudara melihat muka Pinto dan melepaskan selembar nyawanya, tentunya saudara tidak keberatan, bukan?"
Manusia aneh berpakaian hitam itu mengerlingkan matanya satu kali kemudian menundukkan kepala merenung beberapa saat.
"Apa yang totiang katakan seharusnya aku turuti, tetapi si pengemis tua she Cian ini sudah melukai majikanku. Sebelumnya dia juga sudah membunuh dua orang rekanku. Totiang lihat sendiri, yang mati ada yang terlukapun ada. Meskipun Boanpwe bersedia melepaskan selembar nyawanya, tetapi bagaimana Boanpwe harus bertanggung jawab kepada majikan serta kedua kawanku itu? Untuk hal ini Boanpwe terpaksa minta maaf kepada totiang. Cayhe sendiri menyadari bahwa ilmu silat yang Cayhe miliki masih terlalu rendah, otomatis bukan tandingan Locianpwe yang sakti, tetapi di dalam wilayah Si Yu kami terdapat banyak pendekar-pendekar yang berilmu tinggi dan pemberani..."
BAGIAN XLI Tosu tua ini mempunyai watak yang lembut.
Hatinya juga sangat pengertian terhadap siapa saja.
Dia maklum manusia berpakaian hitam ini hanya pura-pura gagah padahal dalam hatinya sudah timbul rasa ngeri.
Tetapi dia juga tidak ingin menjatuhkan harga dirinya di depan orang banyak.
Bibirnya mengembangkan seulas senyuman yang bijaksana.
"Kalau dihitung dari jumlah korban yang jatuh di kedua belah pihak, memang tidak seharusnya pinto mengajukan permintaan ini. Tetapi di balik urusan ini terselip persoalan budi dan dendam yang masih ada kaitannya dengan diri pinto sendiri, oleh karena itu pinto terpaksa ikut campur. Kalau kau memang merasa kurang puas, silahkan datang ke Yang Sim An di Bu Tong San dan mencari pinto, Tian Bu Cu untuk membuat perhitungan."
Seraya bicara, tosu tua itu memalingkan wajahnya dan berpesan kepada Liang Fu Yong dan Mei Ling.
"Kalian bawa dulu Cian Locianpwe, sebentar lagi aku akan menyusul!"
Kedua gadis itu segera mengiakan.
Mereka langsung mengangkat tokoh tua tersebut, setelah itu mereka membalikkan tubuh dan berlari pergi.
Terdengar suara angin berdesir, bayangan tubuh mereka berkelebat bagai kilat.
Dalam sekejap mata saja sudah menghilang dari pandangan.
Tian Bu Cu menunggu sampai kedua gadis itu sudah pergi agak jauh baru dia menjura pada Kaucu Pek Kut Kau sambil mengembangkan seulas senyuman.
"Pohon berbuah ada masanya, sama sekali tidak dapat dipaksakan. Sicu merupakan seorang kepala pemimpin yang mempunyai wilayah sendiri, selamanya tidak pernah mencari ikatan benci atau dendam di daerah Tiong-goan. Lalu, mengapa harus melumurkan darah mengotori tangan, yang akhirnya hanya menimbulkan kesulitan bagi diri sendiri? Kata-kata pinto hanya sekian saja, makna yang terkandung di dalamnya, hanya Sicu sendiri yang harus mencari pengertiannya."
Mendengar ucapannya, Kaucu Pek Kut Kau itu mengerlingkan matanya beberapa kali kemudian tiba-tiba membelalak, seakan ingin membalas sindiran Tian Bu Cu.
Akhirnya dia hanya mendengus keras-keras dan kembali memejamkan matanya.
Meskipun Tian Bu Cu berniat mengembalikan Kaucu Pek Kut Kau itu dari jalan yang sesat, namun melihat orang tidak memberikan reaksi apa-apa atas ucapannya, akhirnya dia hanya bisa menarik nafas panjang kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut.
Sementara itu, Liang Fu Yong dan Mei Ling memapah tubuh si pengemis sakti Cian Cong yang nafasnya tinggal satu-satu.
Mereka berlari dengan kencang, mendaki bukit bagai berjalan di tanah datar saja.
Dalam waktu singkat mereka sudah memasuki lembah pegunungan.
Di kedua sisi tampak puncak gunung menjulang tinggi, mungkin mencapai ribuan depa.
Mereka menembus celah-celah yang sempit lalu mengitari beberapa belokan terjal.
Tiba-tiba pemandangan jadi berubah.
Di depan mata sekarang terlihat sebidang tanah luas dengan rerumputan yang subur tumbuh di atasnya.
Kecuali jalan setapak yang mereka lalui pertama-tama, seluruh area di sana merupakan daerah perbukitan yang indah.
Liang Fu Yong dan Mei Ling saling lirik sekilas, mereka lalu merebahkan si pengemis sakti Cian Cong di tanah rerumputan.
Saat ini hari sudah mulai gelap, sedangkan tempat seperti itu hawanya lebih dingin dari dataran rendah.
Liang Fu Yong khawatir orangtua itu akan kedinginan sehingga menambah parah luka yang dideritanya.
Lantas saja dia cepatcepat mencari ranting pohon dan batang bambu yang sudah agak kering lalu menyalahkan api unggun untuk memperoleh sedikit kehangatan.
Liu Mei Ling malah duduk di atas sebuah batu hijau yang besar dan menatap si pengemis sakti Cian Cong dengan tampang kebingungan.
Tiba-tiba orangtua itu membuka matanya perlahan-lahan.
Tampak sinar matanya sudah mulai redup tanpa cahaya yang berkilauan seperti biasanya.
Melihat kedua gadis cantik duduk di sampingnya, dia langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tempat apa ini, mengapa kalian membawa si pengemis tua ke mari? Isi perutku sudah tergetar hebat sehingga terluka parah, belum lagi ditambah lima batang jarum yang beracun. Biar bagaimana aku pasti sulit melewati malam ini. Meskipun ada obat mujarab yang dapat mengembalikan selembar nyawa si pengemis tua ini, kalian juga tidak perlu bercapai diri lagi."
Melihat orangtua itu masih dapat berbicara, hati Liang Fu Yong jadi agak gembira.
Wajahnya, yang tadinya bermuram durja sekarang jadi mulai berseri.
Dia segera menuangkan semangkok air dan menyodorkannya ke hadapan orangtua itu.
"Meskipun luka yang Locianpwe derita cukup parah, tetapi dengan kedatangan Tian Bu Cu Locianpwe, maka pasti dapat disembuhkan. Minumlah dulu air ini, dia orangtua sebentar lagi akan menyusul ke mari."
Cian Cong mengerlingkan matanya ke sana ke mari, tampangnya seperti orang yang bimbang.
"Si hidung kerbau itu paling susah disuruh meninggalkan Bu Tong San, mengapa tibatiba bisa datang ke mari?"
Rupanya luka Cian Cong tadi terlalu parah.
Ketika dia memejamkan matanya menanti ke-matian di tangan manusia berpakaian hitam, tahu-tahu dia tidak dapat mempertahankan diri lagi sehingga jatuh tidak sadarkan diri.
Oleh karena itu, dia sama sekali tidak tahu bahwa Tian Bu Cu yang telah menolong dirinya dari maut.
Sepasang mata Liang Fu Yong mulai mengembangkan air.
Dia langsung menceritakan kembali bagaimana Tian Bu Cu mementalkan si manusia berpakaian hitam sampai akhirnya mereka disuruh membawa Cian Cong pergi meninggalkan tempat si iblis Oey Kang.
Dari seorang perempuan yang binal, Liang Fu Yong berubah menjadi perempuan yang baik budi dan suka menolong orang lain.
Biarpun dirinya memang sudah bertekad untuk merubah jalan hidupnya, tetapi dia juga banyak menerima wejangan dari mulut si pengemis sakti Cian Cong.
Sambil berbicara, air matanya terus mengalir, bahkan semakin lama semakin deras.
Cian Cong tertawa sumbang melihatnya.
"Kau bocah perempuan ini memang keterlaluan, buat apa menangis? Hidup ada tempatnya, menangispun harus ada alasannya. Semua yang ada di dunia ini telah ditakdirkan garisnya oleh Thian yang kuasa. Seumur hidup si pengemis tua ini berkeliaran di dunia Kangouw, orang yang terbunuh oleh sepasang tangan ini juga sudah tidak terkira banyaknya. Kalau usia sudah di atas tujuh puluh tahun, buat apa lagi menyesalkan datangnya kematian..."
Berkata sampai di sini, tiba-tiba ucapannya terhenti.
Liang Fu Yong dan Mei Ling segera mendongakkan wajahnya.
Mereka melihat mata si pengemis sakti Cian Cong sudah terpejam rapat, kali ini rasa terkejut dalam hati mereka tak perlu ditanyakan lagi.
Serentak mereka memanggil dengan suara lirih...
"Locianpwe!"
Kedua orang itu memanggil beberapa kali berturut-turut, Sin-kai (si pengemis sakti) Cian Cong sudah tidak mempunyai tenaga untuk menjawab.
Dia hanya menggerakan matanya sedikit kemudian terpejam lagi rapat-rapat.
Begitu paniknya kedua gadis itu sehingga air mata mereka bercucuran dengan deras.
Justru ketika sedang kelabakan setengah mati dan tidak tahu apa yang harus diperbuat, tiba-tiba telinga mereka menangkap suara langkah kaki mendatangi.
Dari jalan setapak yang mereka lalui tadi, tampak si tokoh sakti dari Bu Tong Pai, Tian Bu Cu dan seorang pemuda yang tampan namun berwajah murung serta kusut, yakni Tan Ki, sedang menuju ke tempat mereka berada.
Sudah pasti Tan Ki telah mendapat kabar tentang Cian Cong yang terluka parah dari mulut Tian Bu Cu.
Di hadapan si pengemis sakti Cian Cong yang sedang terluka parah, Liang Fu Yong dan Mei Ling tidak berani menunjukkan perasaan rindunya kepada Tan Ki.
Hal ini pasti bisa menimbulkan kesalahpahaman bagi Tian Bu Cu yang melihatnya.
Mereka hanya mengerling sekilas ke arah pemuda itu lalu menundukkan kepalanya kembali.
Tian Bu Cu segera maju ke depan melihat keadaan Cian Cong.
Dia mengulurkan tangannya meraba dada kemudian nadi orangtua itu.
Sepasang alisnya langsung berkerut.
Dari dalam lengan jubahnya yang longgar, dia segera mengeluarkan sebutir pil berwarna merah lalu memerintahkan Tan Ki menyuapkannya ke mulut Cian Cong.
Setelah itu baru dia memeriksa luka luarnya dengan hati-hati.
Pada saat itu, racun yang terdapat pada lima lubang luka di kedua pundak si pengemis sakti sudah mulai bereaksi.
Setiap lukanya sudah berubah menjadi bundaran seperti logam berwarna ungu.
Tian Bu Cu langsung menghimpun hawa murninya lalu menempelkan telapak tangannya di luka tersebut untuk menyedot keluar kelima batang jarum beracun tersebut.
Dia lalu menaburkan obat seperti bubuk di atas luka-luka itu.
Akhirnya dia menyuruh Tan Ki mengambil air dan menjerangkan air panas.
Tan Ki segera melaksanakan apa yang diperintahkan.
Sesaat kemudian tampak anak muda itu sudah menghadapi api unggun sambil memasak air panas.
"Kalau menurut penglihatan Locianpwe, apakah luka yang Cian Locianpwe derita ada harapan besar untuk sembuh kembali seperti sediakala?"
Tian Bu Cu menggelengkan kepalanya.
"Isi perutnya sudah tergetar hebat, ilmu silatnya hampir musnah. Lagipula dia menggunakan sisa hawa murninya yang terakhir untuk melakukan penyerangan. Hal ini membuat hawa murninya yang memang hanya tinggal sedikit itu jadi membuyar. Apakah nyawanya masih bisa diselamatkan, masih merupakan suatu pertanyaan. Meskipun dia bisa hidup kembali, tetapi tenaga dalamnya sudah pasti lenyap. Untuk seumur hidup, jangan harap dapat berlatih ilmu silat lagi."
Tampang Tan Ki semakin sedih dan kuyu.
"Benarkah tidak ada harapan sama sekali? Cian Locianpwe justru datang ke Pek To San karena ingin mencari Ki-ji. Kalau dikatakan, justru Ki-ji yang mencelakainya sehingga terluka sedemikan parah. Kalau dia tidak bisa disembuhkan lagi, Ki-ji pasti akan menyesal seumur hidup. Locianpwe, carilah akal untuk menolongnya agar pulih kembali."
Ketika mengucapkan kata-kata yang terakhir, tanpa dapat ditahan lagi, air mata Tan Ki berderai dengan deras, wajahnya menunjukkan rasa-panik yang tidak terkirakan. Tian Bu Cu menarik nafas panjang.
"Kau ini memang paling-paling. Kalau masih bisa ditolong, masa aku hanya duduk saja diam-diam?"
Dia berhenti sejenak, kemudian sepasang tangannya dikibaskan.
"Kalian bertiga jalan-jalan dulu ke belakang bukit sana. Biar aku menenangkan pikiran mencari jalan keluar..."
Tanpa menunggu jawaban dari Tan Ki, orangtua itu langsung menjatuhkan dirinya di samping Cian Cong dan duduk bersila dengan mata terpejam.
Mendengar ucapannya, mula-mula Tan Ki agak tertegun.
Kemudian dia mengiakan dan mengajak gadis itu berjalan menuju belakang bukit.
Pemandangan malam di daerah perbukitan mempunyai keindahan tersendiri.
Apalagi saat ini, hari belum seluruhnya gelap.
Di ujung langit masih tersisa segaris cahaya keemasan.
Begitu mempesonakan laksana selembar lukisan karya seniman-seniman terkenal.
Angin sejuk bertiup dari arah depan, pikiranpun menjadi nyaman seketika.
Tan Ki merasa kelelahannya selama beberapa hari berturut-turut karena mengalami berbagai kejadian hebat menjadi lenyap seketika.
Dia memalingkan wajahnya menatap Mei Ling kemudian beralih lagi memandang Liang Fu Yong.
Yang satu berwajah cantik dan halus seperti anak-anak, bertubuh padat tapi tidak gemuk.
Sedangkan yang satunya lagi agak kurus namun menampilkan kesan kecantikan seorang wanita yang sudah matang.
Kedua-duanya semakin dilihat semakin menawan.
Tanpa terasa dia mengulurkan sepasang tangannya dan menggandeng kedua gadis itu di kiri kanan.
Bibirnya mengembangkan seulas senyum kebahagiaan.
"Dapat memperoleh cinta kasih serta perhatian cici berdua, siaute rasanya ketiban rembulan dan bagai hidup dalam surga tingkat sembilan..."
Liang Fu Yong mencibirkan bibirnya.
"Lihat tebalnya mukamu itu, kata-kata seperti itu sanggup dicetuskan. Dendam kematian ayah belum terbalas, beban berat masih belum terlepas dari pundak. Semua orang sudah dibikin sibuk sedemikian rupa, ceroboh sedikit saja malah ada bahaya yang menyangkut selembar nyawa. Dalam keadaan sekarang, Cian Locianpwe justru memikirkan keselamatan dirimu sehingga tidak memperdulikan dirinya yang menjabat sebagai panitia penyelenggara Bulim Tayhwe, menyusulmu ke Pek To San. Saat ini ia malah terluka begini parah, tetapi kau masih mempunyai kegembiraan hati memikirkan..."
Mata Tan Ki membelalak lebar-lebar. Melihat mata Liang Fu Yong yang sudah mengembangkan air mata, dia langsung terlonjak kaget.
"Cici, kenapa kau menangis? Aku hanya teringat cinta kasih dan perhatian yang kau berikan padaku beberapa waktu yang lalu dan tanpa sengaja mencetuskan perasaan hati. Aku sama sekali tidak berniat membuat Cici menjadi sedih sedemikian rupa."
Air mata Liang Fu Yong malah mengalir semakin deras mendengar perkataannya.
"Kalau kau masih bisa mengingat kenangan yang lalu, seharusnya kau tahu siapa diriku ini..."
Tan Ki menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Saat dulu sudah lewat, sekarang lain lagi. Masing-masing mempunyai situasi yang berbeda. Kau tidak boleh membanding-bandingkannya lagi. Apakah kau tahu apa isi surat yang diberikan oleh Tian Bu Cu Locianpwe agar kau sampaikan kepada Cian Locianpwe?"
Liang Fu Yong menggelengkan kepalanya.
"Aku masih ingat dengan jelas. Tian Bu Cu Locianpwe menyuruh aku menyampaikannya pada Cian Locianpwe. Benda milik orang lain, mana boleh sembarang kita membuka dan membaca isinya. Tentang apa yang tertulis di dalamnya, sudah barang tentu aku tidak dapat menduga."
Tawa Tan Ki semakin lebar.
"Biar aku memberitahukannya kepadamu. Di dalam surat itu tertulis jelas bahwa Cian Locianpwe harus memperhatikan gerak-gerikmu. Apabila kau benar-benar dapat berubah menjadi orang baik-baik dan tidak mengulangi lagi perbuatanmu yang dulu, maka orangtua itu berniat menerima engkau sebagai muridnya."
Mendengar kata-kata Tan Ki, tubuh Liang Fu Yong langsung bergetar sedikit. Hatinya merasa terkejut sekaligus gembira.
"Apakah semua yang kau katakan ini benar?"
Beberapa kata yang singkat tercetus dari mulutnya, namun memerlukan waktu yang cukup lama karena dia menanyakan dengan sepatah-sepatah.
Hal ini membuktikan bahwa perasaan gadis ini demikian terharunya sehingga hampir tidak sanggup mengucapkan kata-kata dengan sempurna.
Sekali lagi Tan Ki tersenyum lembut.
"Selamanya Siaute paling tidak suka berdusta. Penjelasan terperincinya bagaimana, kelak kau akan tahu sendiri dan bagaimana kau bisa bertemu dengan Locianpwe ini?"
Mula-mulanya aku bersama Liang Cici melihat pesan yang ditinggalkan oleh si pengemis cilik Cu Cia.
Saking paniknya kami sampai menangis kebingungan.
Kau ini memang paling egois, melakukan hal apapun selalu tidak pernah berpikir panjang dulu, juga tidak perduli bagaimana perasaan orang mengetahui kau tiba-tiba mengikuti Oey Kang ke Pek To San."
Kata Mei Ling sambil pura-pura mendelik kepadanya. Tan Ki tertawa getir.
"Sejak aku tahu siapa musuh besarku yang sebenarnya, hawa amarah di dalam dada ini hampir meledak. Rasanya aku tidak dapat mengendalikan perasaanku lagi. Ingin sekali aku menghantam mati Oey Kang dalam satu gebrakan, sehingga aku dapat membalaskan dendam bagi kematian ayahku yang tragis. Tetapi aku benar-benar tidak tahu kalau iblis itu sudah mempunyai rencana yang jahat. Dia sengaja memanas-manasi hatiku, agar aku terperangkap dalam siasat yang dijalankannya. Dia tahu ibuku pasti mencemaskan keadaanku dan tanpa berpikir panjang lagi akan menyusul aku ke Pek To San."
Perlahanlahan dia menarik nafas panjang baru kemudian melanjutkan kembali.
"Saat itu, aku hanya mengikuti hawa emosi yang ada di hati. Tanpa memperdulikan hal lainnya, kuikuti Oey Kang yang mengajakku bertarung di Pek To San. Sebelum aku sempat masuk ke pintu gerbang perkampungan tersebut, Tian Bu Cu Locianpwe tiba-tiba muncul di sana dan memerintahkan agar aku berhenti sebentar. Kemudian orangtua itu memberitahukan kepadaku tentang rencana jahat Oey Kang. Dengan demikian aku baru tersadar. Aih, seseorang apabila sudah mengalami sesuatu, pengetahuannya serta pengalamannya baru bisa bertambah. Siaute tidak menyangka karena urusan ini malah membuat Cici berdua jadi berduka, lain kali aku tidak akan sembrono lagi."
Liu Mei Ling mendengar nada bicaranya begitu polos dan kekanak-kanakan, tanpa dapat ditahan lagi dia jadi tertawa geli.
"Sekarang kau baru mengucapakan kata-kata seperti itu, bukankah sudah agak terlambat. Karena urusanmu, Ibu cepat-cepat menyusul. Kemungkinan besar mereka sudah sampai di Pek To San sekarang."
Mendengar kata-katanya, Tan Ki tiba-tiba teringat akan sesuatu hal.
"Tadi kalian bilang bahwa kalian bisa menyusul ke tempat ini karena menemukan pesan yang ditulis oleh Cu Hengte. Kalau begitu seharusnya Ibu dan Cu Hengte sekalian lebih dahulu sampai di Pek To San daripada kalian. Mengapa sekarang berbalik mereka yang tertinggal di belakang, sedangkan kalian sudah sepanjang hari sampai di sini, memangnya kalian bisa terbang?"
Tanyanya penasaran.
"Apa yang kau duga sedikitpun tidak salah. Ketika aku dan Liang Cici baru meninggalkan Tok Liong-hong, kami berdua menemui suatu kejadian yang ajaib. Ada seorang gadis cilik berusia kurang lebih enam belasan tahun. Dia menunggang seekor elang raksasa yang warna bulunya indah sekali. Dialah yang mengantar kami ke Pek To San..."
Belum lagi ucapannya selesai, tiba-tiba dari atas kepala terdengar suara panggilan yang merdu.
"Nona...! Nona...!"
Tan Ki dan Mei Ling mendongakkan kepalanya dalam waktu yang bersamaan.
Tampak seekor burung kakaktua yang bulunya berwarna hijau berkilauan sedang bertengger di atas sebatang pohon yang jaraknya tidak jauh dari tempat mereka berada.
Tan Ki melihat burung itu sangat lucu dan pandai pula berbicara bahasa manusia.
Saat itu juga jiwa kekanak-kanakannya timbul kembali.
Dia mengeluarkan sebuah bola besi berbentuk kecil dari dalam sakunya.
"Mei Ling, burung itu sungguh indah, biar aku timpuk dia supaya jatuh ke bawah dan akan kuhadiahkan sebagai mainan untukmu."
Wajah Mei Ling langsung berubah mendengar ucapannya.
"Tan Koko, jangan...!"
Baru mengucapkan sepatah kata, namun sudah terlambat.
Senjata rahasia di tangan Tan Ki sudah disambitkan keluar, melesat bagai bintang yang meluncur dan bercahaya terang serta dengan cepat terbang ke atas.
Burung kakaktua itu masih belum tahu kalau ada seseorang yang membokong dirinya.
Apalagi Tan Ki menimpuknya dengan tenaga dalam yang sudah dikerahkan ke pergelangan tangan.
Ketika burung kakaktua itu menyadari adanya bahaya, ia segera mengepakkan sayapnya terbang ke atas, tetapi senjata rahasia yang meluncur cepat itu sudah mencapai sasarannya.
Dengan tepat menghantam sayap kirinya.
Tampak kilauan berwarna hijau bergerak, beberapa helai bulunya langsung rontok dan berjatuhan ke bawah.
Hembusan angin membuat bulu-bulu itu melayang-layang, indah sekali.
Begitu sayapnya terkena senjata rahasia Tan Ki, tubuh burung kakaktua itu agak limbung kemudian jatuh ke bawah kurang lebih lima depa, tetapi dalam sekejap mata dia mengepakkan sayapnya kembali dan langsung terbang pergi.
Tan Ki berlari ke depan kemudian memunguti beberapa helai bulu yang terjatuh di atas tanah, dia melihat ada bekas darah pada bulu-bulu itu.
Dia jadi menarik nafas panjang berkali-kali.
"Sayang sekali, tidak disangka burung sekecil itu memiliki tenaga demikian kuat. Dalam keadaan terluka dia masih sanggup mengepakkan sayapnya untuk melarikan diri. Aku justru tidak berani menimpuk bagian tubuh yang membahayakan..."
Di saat berkata tanpa sengaja dia mendongakkan wajahnya, tiba-tiba dia melihat Mei Ling berdiri memandanginya dengan termangu-mangu.
Wajahnya murung sekali dan matanya tidak berkedip menatap ke arah bulu-bulu di tangannya.
Melihat sikap istri yang baru dinikahinya itu, Tan Ki merasa heran sekali.
"Mei Ling, kenapa kau?"
Perlahan-lahan Mei Ling menarik nafas satu, kali. Sepasang alisnya mengerut.
"Kau sudah mendatangkan bencana besar!"
Tan Ki jadi tertegun.
"Apa? Masa menimpuk seekor burung dengan senjata rahasia saja bisa mendatangkan bencana besar?"
Liang Fu Yong mengulurkan tangannya menyambut beberapa helai bulu dari tangan Tan Ki.
Lambat laun mimik wajahnya menjadi kelam luar biasa.
Tan Ki semakin heran melihat sikap kedua gadis itu.
Baru saja dia ingin bertanya, tiba-tiba Liang Fu Yong sudah mendongakkan wajahnya dan mengajukan pertanyaan kepada Mei Ling.
"Apakah adik Ling sudah melihat dengan jelas bahwa burung tadi sama dengan burung yang kita lihat itu?"
Mei Ling menganggukkan kepalanya dengan tegas.
"Malam itu ketika bertemu dengan si gadis berpakaian putih yang misterius, Siaumoay sudah menanam kesan yang dalam. Burung kakaktua bernama Liok Giok yang bertengger di atas bahunya lebih-lebih tidak pernah Siaumoay lupakan. Sayangnya Tan Koko bergerak terlalu cepat sehingga Siaumoay tidak keburu lagi mencegahnya."
Sekali lagi dia menarik nafas panjang-panjang. Melihat mimik wajah Liang Fu Yong yang menyiratkan kepanikan dan saat ini sedang memejamkan matanya merenung, Mei Ling melanjutkan lagi kata-katanya.
"Siaumoay dengar dari budaknya yang bernama Mei Hun bahwa majikannya ingin pergi ke Thai San melihat matahari terbit. Mengapa orangnya sudah pergi, burungnya malah tetap tertinggal di sini?"
Liang Fu Yong menggelengkan kepalanya.
"Manusia-manusia yang aneh seperti kaum dewata ini, selalu melakukan tindakan yang tidak terduga oleh pikiran kita. Apalagi gadis berpakaian putih yang wajahnya tertutup cadar itu. Dirinya benar-benar mirip dengan dewi-dewi yang sering kita lihat dalam lukisan-lukisan. Penampilannya begitu anggun dan suci. Mungkin Tian Bu Cu Locianpwe yang disebut manusia setengah dewa juga tidak dapat menandinginya. Sekarang urusan sudah terlanjur. Ibarat nasi sudah menjadi bubur, yang dapat kita lakukan hanya melihat perkembangannya saja. Tetapi sebelumnya lebih baik kita ceritakan urusan ini kepada Tian Bu Cu Locianpwe, mungkin kita bisa merundingkan sesuatu sebagai jalan keluar yang baik. Orangtua itu berpengetahuan luas, hampir seluruh wilayah di Tionggoan ini sudah dijelajahinya. Siapa tahu majikan pemilik burung kakaktua itu pernah berjodoh dengannya sehingga saling mengenal atau setidaknya Tian Bu Cu Locianpwe pernah mendengar tokoh yang satu ini."
Tan Ki mendengar kedua gadis itu berbicara, setiap ucapan mereka seakan mengandung makna yang dalam.
Lagipula wajah mereka begitu murung sehingga sekali lihat saja dapat diketahui bahwa mereka benar-benar mencemaskan suatu masalah yang serius.
Tanpa dapat ditahan lagi matanya membelalak lebar-lebar.
Dia menatap Mei Ling beberapa saat kemudian tatapan matanya beralih kepada Liang Fu Yong.
Wajahnya menampilkan kesan seperti orang yang kebingungan.
Liang Fu Yong memandang Tan Ki sambil tersenyum simpul.
"Adik Ki, burung yang tadi kau timpuk dengan senjata rahasia bernama Liok Giok. Burung itu merupakan peliharaan seorang manusia yang sangat misterius. Malam itu ketika kami mencari jejakmu, kami berlari sejauh empat puluh li dan sampai di sebuah lembah yang terpencil. Kebetulan kami bertemu dengan seorang gadis berpakaian putih dan pelayannya yang sedang duduk beristirahat. Karena kebaikkannya, kami diantarkan ke Pek Hun-ceng dengan menunggang seekor elang raksasa. Perjalanan sejauh ribuan li dapat ditempuh oleh binatang itu dalam waktu yang singkat. Bahkan Cian Locianpwe yang sudah berangkat lebih dulu setengah hari sebelum kami, masih belum sampai juga."
Mendengar nada ucapan Liang Fu Yong, tampaknya dia sangat menghormati si gadis berpakaian putih.
Hatinya mulai merasa urusan ini memang luar biasa sekali.
Sejak berkecimpung di dunia persilatan sampai sekarang, waktunya sudah lebih dari setengah ta-hun.
Secara berturut-turut dia menemui tokoh-tokoh yang aneh dan memiliki ilmu tinggi.
Wataknya tidak sekeras dan seangkuh dulu lagi.
Setelah mendengar keterangan Liang Fu Yong, sepasang alisnya langsung terjungkit ke atas.
"Meskipun Siaute menimpuk burung peliharaannya sehingga terluka, tetapi aku bukan melakukannya dengan sengaja. Seandainya dia memang seorang locianpwe yang termasuk tokoh sakti dan misterius. Rasanya masih bisa dijelaskan secara baik-baik."
Seraya berbicara, ketiga orang itu berjalan menuju tempat semula.
Tampak si pengemis sakti sedang bersandar pada sebuah batu besar dan beristirahat dengan mata terpejam.
Wajahnya yang pucat pasi menandakan bahwa luka yang dideritanya masih belum menunjukkan perubahan apa-apa.
Sedangkan Tian Bu Cu duduk di sampingnya termenung-menung tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Sejak mengetahui bahwa tokoh aneh yang memiliki ilmu tinggi ini sedang menguji ketabahannya dengan maksud ingin menerimanya sebagai murid, Liang Fu Yong terlebih-lebih tidak berani banyak bertingkah.
Dengan sopan dan tenang dia berdiri di samping dan membiarkan Mei Ling yang menceritakan tentang diri Tan Ki secara tidak sengaja menimpuk Liok Giok sehingga terluka.
Mei Ling mengisahkan semuanya secara terperinci dan juga memberitahukan raut wajah dan tampang si gadis berpakaian putih beserta pelayannya.
Tentu saja Mei Ling tidak dapat melihat jelas wajah si gadis berpakaian putih karena tertutup sehelai cadar yang tipis.
Tian Bu Cu memejamkan matanya menguras otak beberapa saat, tetapi dia tetap tidak dapat menduga asal-usul gadis tersebut, kemudian dia membuka matanya kembali sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kalau benar apa yang kalian katakan, maka gadis berpakaian putih itu pasti mempunyai riwayat hidup yang hebat. Asal-usulnya pasti luar biasa sekali. Tetapi saat ini, di seluruh sungai telaga, baik utara maupun Selatan, rasanya tidak ada tokoh seperti yang kalian..."
Berkata sampai di sini, tiba-tiba sepasang alisnya berkerut dan ucapannya langsung terhenti.
Tiba-tiba dari angkasa terdengar suara pekikan yang aneh, kumandangnya terdengar sampai jauh dan suaranya bening nyaring.
Wajah Liu Mei Ling dan Liang Fu Yong berubah seketika mendengarnya.
Cian Cong dan Tan Ki tampaknya sudah merasa kehadiran sesuatu yang mengejutkan.
Menyusul kemudian suara siulan yang panjang dan tidak terhenti-henti.
Di balik suara tersebut juga terdengar suara keliningan yang terus berdenting.
Tian Bu Cu mengibaskan lengan pakaiannya lalu melonjak bangun.
Dalam sekejap mata, di antara pepohonan yang lebat di sebelah selatan terdengar suara seorang gadis yang bening dan kekanak-ka-nakkan.
"Siapa orangnya yang melukai Liok Giok peliharaan majikanku? Cepat keluar dan jawab pertanyaanku!"
Sepasang alis mata Tan Ki langsung terjangkit ke atas.
Baru saja dia ingin membuka mulut, Liang Fu Yong sudah menarik lengannya dengan gugup.
Gadis itu membisikkan beberapa patah kata, akhirnya Tan Ki dapat juga menahan hawa emosi dalam hatinya.
Kemudian terdengar suara angin kencang menderu-deru.
Di hadapan mereka telah berdiri seorang gadis remaja dengan rambut dikepang dua dan mengenakan pakaian berwarna hijau.
Wajahnya cantik sekali, usianya paling banter enam belasan tahun, bibirnya merah dan mungil.
Tetapi ketika dia melihat Mei Ling dan Liang Fu Yong yang berdiri di samping Tian Bu Cu, perasaan marah langsung tersirat di wajahnya.
Matanya mendelik lebar-lebar.
"Aku kira siapa orangnya, ternyata rombongan kalian. Malam itu di lembah yang terpencil, dengan baik hati kami mengantarmu ke mari. Sekarang air susu malah dibalas dengan air tuba. Dasar manusia tidak mengenal budi. Memangnya apa kesalahan Liok Giok kepada kalian sehingga kalian sampai hati melukainya sedemikian rupa. Kalian benar
benar tidak boleh diberi ampun! Siapa yang melukainya cepat menggelinding keluar, aku akan mematahkan sebuah lengannya untuk membalaskan dendam bagi Liok Giok!"
Tian Bu Cu mendengar ucapan gadis remaja itu sangat ketus dan tajam menusuk. Sikapnya malah semakin tenang dan lembut.
"Mohon tanya kepada Nona kecil ini, entah siapa nama majikanmu yang mulia? Entah berasal dari perguruan mana? Siapa tahu Pinto dengan dia pernah berjodoh sehingga pernah saling mengenal di suatu tempat. Kalau Nona kecil ini bisa memberitahukan, biar Pinto yang tampil dan menjelaskan urusan ini kepadanya. Jangan sampai gara-gara seekor burung saja, hubungan persahabatan jadi retak."
Sepasang mata gadis itu mengerling ke sana ke mari sekilas. Kemudian berhenti pada wajah Tian Bu Cu.
"Majikanku tidak mungkin saling mengenal dengan kalian. Kau juga tidak usah ikut campur dalam urusan ini. Aku juga tidak ada waktu bersilat lidah denganmu. Pokoknya siapa yang melukai Liok Giok, cepat keluar! Jangan sampai aku melukai orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini!"
Ucapannya ini benar-benar menusuk, boleh dibilang sangat menghina. Tan Ki yang mendengarnya tidak dapat menahan kesal lagi. Dia segera melangkah lebar ke depan dan berdiri dengan dada membusung.
"Berapa sih harganya seekor burung? Mengapa kau demikian kasar dan sombong. Kalau burung itu memang peliharaan kalian, seharusnya kalian kurung dia dalam sangkar dan jangan biarkan dia bebas berkeliaran ke mana-mana. Cayhe memang yang menimpuknya dengan senjata rahasia, tetapi aku tidak sengaja. Apakah majikanmu orang yang sama sekali tidak ada pengertiannya?"
Sahutnya dengan nada sinis.
Gadis berpakaian hijau itu mendengus dingin satu kali.
Tampak tubuhnya berkelebat dan tahu-tahu orangnya sudah menerjang datang.
Dengan jurus Angin Menghembus Dedaunan Rontok, serangannya dengan hebat meluncur ke arah Tan Ki.
Gerakannya gesit dan ringan, kecepatannya bagai kilat.
Tan Ki hanya merasa ada segulung angin berbau harum yang menerpa ke arahnya.
Gadis itu sudah menerjang ke arahnya.
Dalam sesaat itu apabila dia ingin mengerahkan jurus menangkis, tentu tidak sempat lagi.
Cepat-cepat dia memiringkan tubuhnya kemudian menerobos keluar ke sebelah kiri.
Tian Bu Cu mengibas lengan jubahnya, serangkum angin yang kencang langsung terpancar keluar.
Meskipun gadis berpakaian hijau itu memiliki berbagai ilmu serta kepandaian yang aneh-aneh, tetapi dia belum mengerahkannya.
Satu hal yang pasti, kekuatan tenaga dalamnya masih terpaut jauh apabila dibandingkan dengan Tian Bu Cu.
Begitu angin pukulan memancar, kain pengikat pinggangnya sampai melambai-lambai, orangnya sendiri sampai tergetar mundur satu langkah.
Seandainya Tian Bu Cu tidak melihat keadaan yang mendesak sehingga terpaksa turun tangan, kemungkinan besar Tan Ki sulit meloloskan diri dari pukulan gadis tersebut.
Gadis berpakaian hijau itu tampaknya tidak menyangka kalau tosu tua yang ada di hadapannya mempunyai kekuatan tenaga dalam yang begitu dahsyat.
Untuk sesaat dia jadi termangu-mangu.
Tian Bu Cu mengembangkan seulas senyuman yang lembut.
"Usiamu masih begitu muda, mana boleh sembarangan bergerak melukai orang? Melukai seekor burung kakaktua, meskipun merupakan binatang peliharaan yang paling disayangi oleh majikanmu, tetap harus dilihat dari alasannya. Masa benar-benar ingin orang menggantinya dengan selembar nyawa?"
Sejak mengetahui urusan, si gadis berpa-kain hijau belum pernah menemukan lawannya.
Kecuali sering dikalahkan oleh majikannya sendiri, mana pernah dia kena batunya seperti sekarang ini?
Begitu kesalnya gadis itu sehingga kelopak matanya menjadi merah dan hampir mengeluarkan suara tangisan yang meraung-raung.
Setelah membentak keras, tubuhnya kembali menerjang ke depan.
Sasarannya kali ini bukan lagi Tan Ki, melainkan tokoh sakti dari Bu Tong San, Tian Bu Cu.
Tangan kiri mengerahkan jurus Naga Mengibaskan Ekor, sedangkan tangan kanan mengerahkan jurus Petir Menyambar Atap Ramah.
Kedua serangan itu dilancarkan dalam waktu yang bersamaan.
Baru saja terlihat pakaiannya yang berwarna hijau berkelebat, tahu-tahu kedua serangannya sudah meluncur tiba.
Tian Bu Cu melihat gerakan tangannya begitu gesit dan cepat bagai kilat.
Tanpa terasa hatinya juga bergetar.
Cepat-cepat dia mengangkat jubahnya dan mencelat mundur sejauh tiga langkah.
Tiba-tiba terlihat gadis berpakaian hijau itu melesat ke udara.
Di tengah-tengah tubuhnya berjungkir balik dengan kepala di bawah dari kaki di atas.
Dia meluncur turun dengan gerakan berputar dan melintir-lintir seperti gasing dan tahu-tahu bayangan tubuhnya seperti menjadi banyak bahkan tak terhitung jumlahnya.
Meskipun Tian Bu Cu merupakan seorang tokoh Bulim yang dapat dianggap sebagai salah satu yang tersakti saat ini dan mempunyai pengetahuan yang maha luas, namun dia tidak dapat menduga jurus apa yang dimainkan gadis itu.
Terpaksa dia mengibaskan lengan jubahnya dan mengerahkan sebuah jurus yang telah membuat namanya menjadi terkenal yakni Kibasan Lengan Besi.
Serangkum angin yang kencang terpancar keluar dari kibasan lengan jubahnya dan dihantamkan ke arah bayangan-bayangan yang terlihat di udara.
Kibasan Lengan besi merupakan salah satu ilmu pusaka dalam Bu Tong Pai.
Seluruh kekuatan tenaga dalam dikerahkan ke lengan baju sehingga kaku bagai lempengan besi.
Bukan hanya kekuatannya yang hebat dan aneh, setiap kali sudah mendekat pasti sulit dihindari, lagipula angin yang terpancar keluar juga tajam bagai gunting.
Lawan yang terhantam tenaga tersebut, besar kemungkinan akan melayang nyawanya.
Watak gadis itu terlalu sombong, dia tidak sudi mengalah begitu saja.
Saat ini diamdiam dia mengerahkan tenaga dalamnya ke telapak tangan sehingga memberat ke bawah dan bagai kilat dia menyambut serangan tersebut.
Begitu kedua kekuatan saling membentur, hati gadis berpakaian hijau itu langsung tergetar.
Hampir saja dia tidak dapat mempertahankan diri.
Sekarang dia baru sadar bahwa kekuatan tenaga dalamnya masih terpaut jauh dengan tosu tua tersebut.
Cepatcepat dia menghimpun hawa murninya untuk melindungi tubuh dan berjungkir balik sekali lagi.
Dengan membiarkan dirinya didorong oleh kekuatan tenaga Tian Bu Cu,,tubuhnya melayang lagi ke atas, kemudian pada jarak kurang lebih tiga empat depaan baru melayang turun kembali.
Meskipun ilmu Kibasan Lengan Besi milik Tian Bu Cu ini mempunyai pengaruh kekuatan yang hebat, tetapi juga memboroskan hawa murni.
Selesai mengerahkannya, wajah orangtua itu tampak agak berubah.
Cepat-cepat dia menarik nafas panjang-panjang kemudian memejamkan matanya sambil mengatur pernafasan dan tidak berani langsung melancarkan serangan.
Tiba-tiba setitik sinar terang sepert berkelebat dalam benaknya.
Dia teringat akan seseorang dan sepasang matanya langsung terbuka lebar-lebar.
"Apakah kau murid dari Ming San Sinni (Rahib suci dari Ming San) Fu Goat Taisu?"
Tampak si gadis itu agak tertegun beberapa saat.
"Ilmu agama Sinni tiada batasnya, bagaimana mungkin beliau mempunyai seorang murid seperti aku ini? Aku..."
Tiba-tiba, dia menghentikan kata-katanya, seolah ada sesuatu yang kurang tepat.
Cepat-cepat dia menghentikan ucapannya dan mengibaskan kepang rambutnya ke belakang.
Setelah terdiam beberapa saat dia melanjutkan kembali katakatanya.
"Kau tidak usah perduli siapa diriku ini. Aku hanya ingin membawa orang yang melukai Liok Giok. Kalau kau tosu tua masih mencoba menghalangi, aku benar-benar akan mengadu jiwa denganmu!"
Tian Bu Cu tersenyum lembut. Belum lagi sempat dia membuka mulut, Tan Ki sudah berjalan keluar dengan mimik wajah menunjukkan kemarahan hatinya.
"Kau gadis cilik ini memang hebat sekali. Entah ke mana kau akan membawa diriku?"
"Liok Giok adalah burung kesayangan majikanku. Orang dari rombongan kalian yang melukainya, sedangkan luka yang dideritanya parah sekali. Aku telah melayani majikanku selama bertahun-tahun, tetapi belum pernah "aku melihat beliau begitu marah. Tadi kau sudah menyambut jurus seranganku, mungkin dalam hati kau sendiri mengerti. Meskipun tenaga dalamku belum cukup sempurna, tetapi dalam gerakan maupun jurus-jurus, aku tidak kalah olehmu. Kalau pertarungan kita diteruskan, belum tentu aku akan mengalami kekalahan."Seandainya aku tidak dapat membawa orang yang melukai Liok Giok, sebentar lagi beliau tentu akan datang sendiri, pada waktu itu urusan semakin sulit diselesaikan. Biarpun kalian beberapa orang bergabung jadi satu, rasanya juga bukan tandingan majikanku itu. Aku pikir, lebih baik suruh orang yang melukai Liok Giok itu mengikuti aku menemui majikan. Paling-paling juga hanya mendapat sedikit hukuman darinya. Kata-kata yang kuucapkan ini keluar dari hati yang tulus. Kalau kalian tetap tidak percaya, boleh saja coba-coba!"
Mendengar keterangannya, Tian Bu Cu menjadi serba salah.
Apabila membiarkan Tan Ki pergi seorang diri menghadap majikan gadis ini, otomatis hatinya khawatir sekali.
Kalau dia mencegah Tan Ki pergi, sebentar lagi apabila majikannya benar datang, kemungkinan akan terjadi pertumpahan darah baru bisa menyelesaikan urusan.
Gadis berpakaian hijau itu hanya salah seorang budaknya, tetapi ilmu silat yang dikuasainya sudah demikian tinggi.
Hal ini membuktikan bahwa majikannya pasti seorang tokoh yang luar biasa.
Pikirannya terus bekerja.
Semakin lama hatinya semakin bingung.
Kedua pilihan itu sama-sama berat baginya.
Untuk sesaat, tokoh aneh yang memiliki ilmu tinggi ini juga jadi kebingungan dan tidak tahu keputusan apa yang harus diambilnya.
Dia menundukkan kepalanya merenung dan untuk sekian lama tiT dak mengucapkan sepatah katapun.
Justru ketika dia merasa serba salah, tiba-tiba terdengar Tan Ki tertawa terbahak-bahak dan berkata kepada si gadis berpakaian hijau.
"Kalau kau sudah berkata demikian, aku akan mengikutimu untuk menemui majikanmu itu. Aku ingin lihat bagaimana dia akan menghukum diriku!"
Mendengar Tan Ki bersedia ikut dengannya, wajah gadis itu yang tadinya menunjukkan kemarahan langsung berubah menjadi berseri-seri. Dia mengembangkan seulas senyuman yang manis sekali.
"Kalau kau sudah bersedia ikut denganku, maka segala kesulitan tidak mungkin sampai terjadi. Jangan sampai dipaksa dengan kekerasan yang akhirnya menimbulkan adu senjata tajam. Aku juga percaya kalau kau adalah seorang Kuncu (Laki-laki sejati). Sekarang ini tidak mungkin aku membawamu menemui majikan. Malam ini ketika rembulan tepat berada di atas kepala, kita akan bertemu lagi!"
Dengan suara rendah kembali gadis itu kembali menjelaskan kepada Tan Ki arah yang harus diambilnya dan tempat di mana mereka harus bertemu nanti malam.
Setelah itu dia menjura dalam-dalam kepada Tian Bu Cu, lalu membalikkan tubuh berlari ke depan.
Ketika baru berjalan kurang lebih dua puluh depaan, tiba-tiba dia menolehkan kepalanya kembali dan berkata kepada Tan Ki.
"Ingat, ketika kau pergi nanti malam, jangan ajak siapapun. Majikanku paling benci bertemu dengan kalian kaum laki-laki...!"
Suaranya terdengar dari jelas sehingga menjadi sayup-sayup kemudian menghilang.
Orangnya sendiri sudah membelok ke dalam sebuah lembah dan tidak terlihat lagi.
Kemudian terdengar lagu suara angin berderu-deru yang meninggi ke atas.
Beberapa orang itu segera mendongakkan kepala, entah dari sebelah mana tiba-tiba melayang terbang dengan kecepatan tinggi seekor elang raksasa.
Sayapnya mengepak-ngepak sehingga menimbulkan suara angin yang keras.
Kecepatannya bagai kilat yang menyambar di musim hujan.
Dalam sekejap mata saja, burung itu hanya tinggal sebuah titik hitam yang kemudian menghilang di kejauhan.
Saat ini, Tian Bu Cu serasa lega kembali.
Dia menghembuskan nafas panjang-panjangdan berjalan perlahan-lahan mendekati Cian Cong.
Tanpa sengaja dia mendongakkan wa?
jahnya.
Tampak Mei Ling dan Liang Fu Yong masih mengerutkan sepasang alisnya dan mimik wajah mereka menyiratkan perasaan khawatir yang dalam.
Orangtua itu tahu mereka mencemaskan diri Tan Ki yang telah berjanji akan bertemu dengan majikan si gadis cilik itu malam nanti.
Apakah dirinya akan selamat atau bahaya masih sulit dipastikan.
Dia tersenyum kecil, tetapi tidak mengatakan apa-apa.
Perlahan-lahan dia kembali memejamkan matanya dan merenung memikirkan cara untuk menyelamatkan nyawa si pengemis sakti Cian Cong.
Waktu di pegunungan lebih cepat berlalu.
Sebentar saja sudah masuk kentungan pertama.
Tan Ki memohon diri kepada Tian Bu Cu dan yang lainnya.
Dia juga memberitahukan tujuan yang akan didatanginya nanti, serta tempat di mana majikan gadis itu berada.
Seorang diri dia meninggalkan padang rumput tersebut dan bersiap-siap menemui gadis berpakaian putih.
Tidak disangka ketika dia baru masuk ke dalam rumah penginapan, dia telah bertemu dengan rombongan si pengemis cilik dan kawan-kawan.
Setelah mendengar cerita Tan Ki dari awal hingga akhir, sepasang alis si pengemis cilik Cu Cia langsung mengerut.
Hatinya gelisah sekali.
"Kalau Tan-heng sudah mengadakan perjanjian dengan Tian Bu Cu Locianpwe untuk bertemu di tempat ini, maka secara langsung atau tidak, pasti dapat mengurangi berbagai kesulitan. Tetapi luka yang diderita suhuku demikian parah, aku takut dia tidak sanggup bertahan lebih lama lagi."
Sam Po Hwesio mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
"Kau benar-benar banyak berpikir hal yang bukan-bukan sehingga mendatangkan kesulitan bagi diri sendiri. Tenaga dalam Cian Su-pek telah dilatih sampai taraf yang tidak terkirakan tingginya. Sedikit luka kecil seperti itu mana mungkin berakibat apa-apa bagi dirinya. Di dalam dunia Kangouw saat ini, kecuali Tian Bu Cu Locianpwe, tidak ada orang kedua lagi yang lebih hebat darinya. Siau Hente berani menjamin bahwa luka itu tidak mungkin sampai merenggut nyawanya."
Tiba-tiba Ceng Lam Hong bangkit berdiri. Dia membungkukkan tubuhnya rendahrendah kepada si pengemis cilik Cu Cia.
"Watak Hiantit benar-benar berjiwa besar. Setiap hari selalu tersenyum riang. Benarbenar seorang sahabat yang susah dicari keduanya. Belum lagi kegagahanmu dalam membantu orang lain. Rasanya aku tidak perlu bercerita panjang lebar lagi. Apalagi Suhumu yang disebut sebagai salah satu tokoh teraneh di dunia saat ini. Demi anakku yang tidak berbakti ini, dia orangtua sampai terluka demikian parah, keselamatan jiwanya saat ini masih belum dapat dipastikan. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kukatakan kepadamu."
Ceng Lam Hong menarik nafas panjang satu kali. Ia lalu menoleh kepada Tan Ki dan membentak dengan nada keras.
"Anak tidak tahu budi! Masih tidak lekas-lekas ucapkan terima kasih atas budi yang diberikan oleh Cu-heng dan suhunya?"
Mendengar bentakan ibunya, Tan Ki segera mengiakan dan ternyata dia benar-benar menjatuhkan diri berlutut di hadapan si pengemis cilik Cu Cia.
Tampak dia menyembah beberapa kali.
Begitu seriusnya sampai selembar wajah si pengemis cilik jadi merah padam.
Dia juga ikut-ikutan menjatuhkan diri berlutut di atas"
Tanah.
"Tan-heng, jangan begitu. Perbuatanmu ini benar-benar ingin membuat si tukang minta-minta jadi orangtua secara tiba-tiba! Sambil berkata, dia juga menyembah kepada Tan Ki. Seakan menerima penyembahan dari orang lain benar-benar akan membuat dia menjadi tua beberapa tahun sehingga hatinya menjadi ketakutan. Tan Ki sudah cukup lama berkecimpung dalam dunia persilatan, dia tahu orang yang sikapnya angin-anginan dan ugal-ugalan seperti Cu Cia ini justru mempunyai hati yang mulia dan tidak suka berhitungan. Meskipun dirinya belum lama mengenal si pengemis cilik Cu Cia, tetapi dia juga tidak mau sengaja membuatnya marah, yang akibatnya malah akan merusak hubungan persahabatan mereka. Akhirnya terpaksa dia tersenyum simpul dan berdiri lagi. Hati Goan Yu Liong tidak pernah lupa masalah mengikat tali persaudaraan dengan Tan Ki. Melihat kedua orang itu saling menjatuhkan diri berlutut di atas tanah dan pakai acara menyembah segala macam dengan mimik wajah serius, tiba-tiba dia tersadar dan menepuk tangannya keras-keras.
"Ini baru hebat! Suatu kebetulan yang sulit ditemukan. Koko tukang minta-minta mewakili kita berempat menyembah kepada Tan-heng, dengan demikian kita tidak perlu mengadakan upacara yang rumit lagi!"
Mendengar teriakannya, mula-mula Tan Ki heran sekali.
Untuk sesaat dia tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Goan Yu Liong dengan kata-katanya tadi.
Akibatnya dia jadi termangu-mangu dan memandang anak muda itu dengan mata membelalak lebarlebar.
Kemudian dia mengedarkan pandangannya ke beberapa orang yang lain dengan tatapan mengandung pertanyaan.
Yang Jen Ping langsung tertawa lebar melihat sikapnya.
"Setelah pertandingan di atas panggung, kami semua sudah melihat kehebatan ilmu silat Tan-heng. Rasanya orang lain juga mempunyai pendapat yang sama. Lagipula sikap Tanheng saat itu demikian gagah dan meyakinkan. Hal ini menimbulkan perasaan kagum setiap orang. Goan Yu Liong demikian kagum terhadap ilmu Tan-heng yang tinggi dan terus berpikir untuk mengajak Tan-heng mengikat tali persaudaraan. Bahkan aku serta Ban Jin Bu juga mempunyai pikiran yang sama. Kami berharap seusai pertandingan nanti, kami bisa menjalin tali persaudaraan yang lebih erat sehingga melewati suka duka bersama-sama."
Wajah Tan Ki jadi merah padam. Dia segera menjura dalam-dalam.
"Karena aku seorang, kalian jadi menempuh perjalanan demikian jauh, hal ini saja sudah membuat pikiran Siaute menjadi tidak enak. Kalau Yang-heng berkata begitu, kelak aku pasti merasa lebih berat lagi. Dapat mengikat tali persaudaraan dengan kalian, sungguh merupakan suatu keberuntungan Siaute yang besar sekali, namun malam ini..."
Berkata sampai di sini, tiba-tiba ia seolah merasakan sesuatu hal, sepasang alisnya bertaut erat dan mulutnya langsung membungkam.
Si pengemis cilik orangnya lebih cerdas.
Dia yang pertama-tama melihat mimik wajah Tan Ki agak aneh.
Oleh karena itu dia segera bertanya.
"Ada apa?"
Meskipun mulutnya bertanya, tetapi sepasang matanya langsung berputar ke seluruh ruangan dan secara diam-diam mengerahkan tenaga dalam untuk menjaga segala kemungkinan.
Setelah mempertajam indera pendengarannya sesaat, Tan Ki baru menggelengkan kepalanya.
"Orangnya sudah pergi. Tidak ada suara apapun yang dapat dijadikan bahan penyelidikan. Mungkin salah seorang tamu dari ruangan depan yang ingin ke kamar kecil."
"Aku selalu merasa bahwa penginapan yang satu ini memang rada aneh. Perlukah kita keluar menyelidikinya sebentar?"
Tan Ki menggelengkan kepalanya.
"Tidak usah. Besok sebelum matahari terbit, Tian Bu Cu Locianpwe pasti sudah menyusul ke mari. Dia orangtua mempunyai hati yang lapang, pengetahuannya juga luas sekali. Apabila dalam penginapan ini ada orang yang merencanakan apa-apa, pasti tidak terlepas dari pandangan mata beliau. Sekarang ini urusan kita sendiri cukup rumit. Lebih baik jangan sampai timbul lagi persoalan yang lain."
Berkata sampai di sini, tiba-tiba telinganya mendengar suara langkah kaki yang ringan.
Begitu pandangan matanya dialihkan, dia melihat si gadis berpakaian hijau sedang melangkah ke dalam ruangan di mana mereka berada.
Tampak sepasang matanya yang indah mengedar ke setiap orang.
Kemudian dia mendengus dingin satu kali dan berkata kepada Tan Ki.
"Kau ikut denganku sekarang!"
Mendadak tampak Yang Jen Ping ikut berdiri.
"Tan-heng, Siaute akan menemanimu ke sana. Sekalian lihat-lihat gadis berpakaian putih yang menunggang elang raksasa itu. Siapa tahu aku mendapat kesempatan berkenalan dengannya!"
"Tidak bisa!"
Tukas gadis berpakaian hijau.
"Kalau kau ikut dengannya, malah bisa menimbulkan masalah besar. Majikanku paling tidak suka bertemu dengan kalian kaum laki-laki."
Wajah Ceng Lam Hong masih tampak murung. Dia juga ikut berbicara.
"Kalau begitu, aku kan seorang wanita, tentu aku boleh menemaninya ke sana?"
"Tetap saja tidak boleh. Majikanku hanya mengijinkan aku membawa orang yang telah melukai Liok Giok...!"
Mendengar ucapannya, Tan Ki segera membusungkan dada.
"Majikanmu adalah seorang tokoh yang sakti, tentunya manusia seperti itu mempunyai pengertian yang dalam. Cayhe melukai Liok Giok tanpa sengaja, kalau beliau memang hanya mengijinkan aku seorang yang menemuinya. Mari kita berangkat sekarang juga."
Dia merandek sejenak dan kemudian berkata lagi kepada Ceng Lam Hong.
"Ki-ji akan pergi bersamanya. Kalau majikannya benar-benar tidak tahu aturan dan tetap ingin aku mengganti kerugian yang diderita burung kakaktua tersebut, paling-paling Ki-ji kehilangan selembar nyawa. Tetapi kalau dia memang seorang tokoh Cianpwe yang aneh, tentu tidak akan memperpanjang persoalan sekecil ini. Pokoknya Ibu tidak perlu khawatir segala macam."
Tiba-tiba terdengar suara siulan yang memecahkan keheningan malam. Tampak gadis berpakaian hijau itu mengerutkan sepasang alisnya.
"Cepat jalan, kalau sampai terlambat...!"
Tampaknya dia gugup sekali.
Tidak diberinya kesempatan untuk tan ki membantah sedikit-pun, tiba-tiba dia mengulurkan tangannya mencekal Tan Ki dan mengajaknya keluar dari ruangan tersebut.
Mungkin dia mendapat isyarat dari suara siualan tadi, tangannya yang mencekal Tan Ki diperketat dan dia menyeret anak muda itu berlari secepat kilat.
Tujuannya sudah tentu taman bunga tersebut.
Di bawah cahaya rembulan, tampak bunga-bunga bermekaran dan membawa serangkum bau harum yang menyegarkan.
Setelah melewati gunung-gunungan yang ada di tengah-tengah, mereka masuk lagi ke dalam sebuah halaman besar.
Gadis berpakaian hijau itu menarik Tan Ki menuju ke deretan kamar yang ada di sebelah Utara.
Tampaknya gadis itu sudah menghapal daerah ini dengan baik, meskipun melangkah dengan tergesa-gesa tetapi dia sama sekali tidak bingung atau berhenti memperhatikan keadaan di sekitarnya.
Dia langsung menying kapkan tirai yang membatasi ruangan dan melangkah masuk.
Diam-diam Tan Ki memperhatikan keadaan dalam ruangan itu.
Penataannya sangat asri dan apik.
Di depan ruangan yang membatasi kamar utama terdapat untaian tirai berwarna putih yang terbuat dari kerang-kerangan.
Pada bagian luar diletakkan beberapa buah kursi yang disandarkan pada tembok.
Di sebelah kiri duduk seorang gadis berpakaian mini dengan sebagian pundak terbuka.
Tampaknya usia gadis itu lebih muda sedikit dari si gadis berpakaian hijau.
Dalam pelukannya terbaring Liok Giok yang sedang terluka parah.
Ketika melihat si gadis berpakaian hijau membawa seseorang pulang bersamanya, dia segera berdiri dan tersenyum manis.
"Cici Mei Hun, apakah orang ini yang melukai Liok Giok?"
Tanyanya dengan suara lirih. Gadis berpakaian hijau itu menganggukkan kepalanya.
"Mana Cujin? Ke mana perginya?"
Tanyanya dengan suara rendah. Gadis berpakaian mini itu menunjuk ke arah kamar utama.
"Melihat luka yang diderita Liok Giok begitu parah, kelihatannya Cujin marah bukan main. Siang tadi, beliau sendiri yang mengoleskan obat dan mencekoki setengah bungkus Bubuk Penyelamat Jiwa Penyambung Tulang."
Selesai berkata, dia mendelik kepada Tan Ki dengan mata terbelalak lebar-lebar.
"Bencana yang kau timbulkan sungguh besar. Luka yang diderita oleh Liok Giok mungkin harus diganti dengan nyawamu sendiri!"
Katanya ketus.
Mendengar ucapannya, Tan Ki jadi gusar.
Untuk sesaat dia jadi lupa di mana dia berada.
Sepasang alisnya terjungkit ke atas dan dia sudah hampir meledakkan kemarahannya.
Melihat tampangnya yang garang, kemungkinan setiap saat Tan Ki dapat mengumbar rasa amarahnya, si gadis berpakaian mini takut dia akan membentak atau berteriak keraskeras sehingga mengejutkan majikannya yang sedang bersemedi.
Tanpa dapat ditahan lagi hatinya menjadi panik.
Tangan kanannya te tap memeluk Liok Giok sedangkan tangannya terulur ke depan dan secepat kilat menotok ke arah kepala Tan Ki.
Angin yang terpancar dari jari tangannya kencang sekali sampai menimbulkan suara berdesir.
Tan Ki merasa dirinya memang bersalah, oleh karena itu dia tidak berani menyerang terlebih dahulu.
Sebab hal ini membuktikan dirinya sebagai manusia yang tidak tahu aturan.
Namun begitu gadis itu menggerakkan "tubuh dan menyerang kepadanya, dia langsung membalikkan tangannya dan mengerahkan jurus Lengan Besi Menahan Air Sungai.
Sasarannya malah pergelangan tangan gadis itu.
Gadis berpakaian mini itu dapat melihat gerakan Tan Ki mengandung tenaga yang kuat lagi pula jurusnya agak aneh.
Dia merasa bahwa anak muda ini bukan orang sembarangan juga.
Cepat-cepat dia menekan lengan kirinya agar bobotnya lebih berat.
Totokannya berubah menjadi tepukan, dikerahkannya ilmu Lwekang taraf tertinggi dengan gerak tangan seperti bunga teratai.
Sekali lagi dia melancarkan sebuah serangan ke dada Tan Ki.
Dalam pertandingan di atas panggung beberapa waktu yang lalu, Tan Ki berhasil tnencapai peringkat Pendekar pedang tingkat lima.
Hal ini tidak didapatkannya dengan mudah.
Melihat serangan gadis berpakaian mini itu yang demikian keji, tanpa dapat ditahan lagi hawa amarah dalam dadanya jadi meluap.
Setelah mengeluarkan suara bentakan, tangannya yang terulur ke depan membentuk cakar dan meluncur ke arah pergelangan tangan kiri gadis itu.
Siapa nyana begitu dia mengerahkan serangannya, Mei Hun juga terkejut setengah mati.
Dia tahu apabila seseorang sedang bersemedi, maka hal yang paling dibenci adalah gangguan dari luar.
Tadi Tan Ki membentak dengan suara keras, dia takut majikannya akan terkejut.
Oleh karena itu, tanpa sadar dia menerjang ke depan dan dengan jurus Menggunting Bunga Bwe Sembarangan, kedua jari tangannya meluncur ke depan dan menotok bagian ubun-ubun Tan Ki.
Anak muda itu langsung merasa tubuhnya seperti kesemutan dan tenaga dalamnya lenyap seketika.
Baru saja dia mendengus satu kali, tubuhnya langsung terkulai di atas tanah dalam keadaan pingsan.
Ubun-ubun merupakan salah satu bagian yang terpenting dalam diri manusia.
Urat-urat syaraf yang utama semua berkumpul di daerah tersebut.
Kalau sampai tertotok, orang itu tidak hanya akan merasa ngilu dan tidak sadarkan diri.
Bila totokannya agak berat malah bisa membahayakan jiwa seseorang.
Apabila tidak sampai mati, lama kelamaan pasti bisa berubah menjadi tidak waras.
Mei Hun tadinya hanya ingin menotok Tan Ki agar anak muda itu tidak lagi berteriak keras-keras, yang ditakutkan akan mengganggu semedi gurunya.
Setelah majikannya selesai semedi baru dia membebaskan totokan anak muda tersebut.
Siapa tahu dalam keadaan panik dia tidak "membedakan bagian mana yang ditotoknya dan turun tangannya pun agak berat sedikit.
Akibatnya Tan Ki malah jatuh tidak sadarkan diri di atas tanah.
Begitu matanya memandang, dia melihat anak muda itu rebah di atas tanah dengan sepasang mata terpejam rapat.
Giginya juga mengatup kuat-kuat seakan menahan penderitaannya yang tidak terkirakan.
Wajahnya yang pucat terus mengerut-ngerut.
Mei Hun sejak kecil tinggal di daerah pegunungan.
Hatinya masih polos sekali.
Sepanjang perjalanan tadi dia terus menarik tangan Tan Ki.
Saat itu dia masih belum merasakan apaapa.
Sekarang tubuhnya setengah membungkuk dan dia sedang memperhatikan keadaan Tan Ki dengan seksama.
Dia merasa bahwa anak muda ini berbeda dengan laki-laki "lainnya.
Seakan seluruh bagian dari dirinya tidak ada setitik-pun yang tidak enak dipandang...
Setelah memperhatikan sejenak, tanpa hujan tanpa angin wajahnya jadi merah padam.
Dia mendongakkan kepalanya menatap si gadis berpakaian mini.
"Cici Ciu Hiang, coba lihat tampangnya, kasihan sekali. Lebih baik kita bebaskan saja totokan pada dirinya."
"Selamanya aku belum pernah melihat Cujin begitu marah. Tampaknya dia tidak akan melepaskan anak muda itu begitu saja."
Hati Mei Hun jadi tergetar mendengar ucapannya.
"Cici Ciu Hiang, kalau menurut pendapatmu, mungkinkah Cujin sampai menginginkan nyawanya?"
Ciu Hiang tersenyum simpul.
"Ini... bagaimana aku bisa tahu?"
Tiba-tiba dia seperti teringat akan sesuatu hal. Dia mengejapkan matanya beberapa kali dan tersenyum manis.
"Cici Mei Huh, tampaknya kau sangat mengkhawatirkan anak muda ini?"
Wajah Mei Hun jadi merah padam mendengar pertanyaannya. Matanya mendelik satu kali kepada gadis itu lalu menyahut.
"Mengapa kau bisa mengoceh sembarangan? Aku hanya melihat tampangnya mengenaskan sekali. Ubun-ubun merupakan bagian yang terpenting di bagian tubuh manusia. Kalau agak lama dibiarkan, dia pasti tidak dapat menahannya. Kalau sampai terjadi sesuatu padanya sebelum Cujin mengajukan pertanyaan, bagaimana kita harus bertanggung jawab?"
BAGIAN XLII Selesai berkata, Mei Hun tidak menunggu sampai Ciu Hiang menjawab, dia segera mengulurkan tangannya dan membopong bangun tubuh Tan Ki.
Tangan kanannya segera mengurut-urut bagian belakang leher anak muda itu.
Setelah peredaran darahnya lancar, kembali dia menepuk perlahan-lahan menepuk bagian punggungnya.
Terdengar Tan Ki mengeluarkan suara batuk-batuk kecil.
Tiba-tiba sepasang matanya membuka.
Melihat sebagian dirinya ada dalam pelukan Mei Hun, hatinya merasa heran sekali.
Sepasang alisnya mengerut seketika.
Dia menatap Mei Hun sambil berkata.
"Kalau kau sudah menotok jalan darahku, mengapa sekarang kau malah menyelamatkan aku kembali?"
Tanpa hujan tanpa angin dia mengajukan pertanyaan, saat itu juga wajah Mei Hun jadi merah padam.
Sepasang matanya yang besar dan indah mengejap beberapa kali, akhirnya dia dapat juga memberikan jawaban.
"Aku takut jalan darahmu tertotok terlalu lama sehingga dapat mengakibatkan kematian."
Belum lagi suaranya sirap, Ciu Hiang tidak dapat menahan diri lagi, dia langsung tertawa terkekeh-kekeh. Mei Hun mendongakkan kepalanya dan memandanginya dengan mata mendelik.
"Apa yang kau tertawakan? Memangnya aku tak takut kalau dia mati? Kalau dia benarbenar sampai mati, setelah selesai bersemedi, Cujin pasti akan mengajukan pertanyaan kepadanya. Coba apa yang akan kau katakan waktu itu?"
Tiba-tiba dia menundukkan kepalanya dan melihat tubuh Tan Ki masih berada dalam sandarannya.
Kepala Tan Ki tepat menempel pada sepasang payudaranya.
Kalau dia tidak melihat masih tidak apa-apa.
Begitu melihat, tubuhnya seperti mendadak dialiri arus listrik.
Tanpa terasa dia menggigil dan cepat-cepat dia menegakkan tubuh Tan Ki dan berkata dengan suara lirih.
"Kau duduk di sini dulu sebentar beristirahat, jangan mempunyai niat untuk kabur. Sebentar lagi majikanku akan mengajukan beberapa pertanyaan kepadamu."
Tiba-tiba dari kamar utama terdengar suara gerakan yang halus.
Ciu Hiang tahu majikannya sudah selesai bersemedi.
Dengan memeluk Liok Giok, dia cepat-cepat berjalan menuju kamar utama tersebut.
Mei Hun melihat dia berjalan menuju kamar utama kemudian masuk ke dalamnya.
Di luar hanya tinggal dia bersama Tan Ki berduaan.
Entah mengapa, tiba-tiba saja dia mengkhawatirkan keselamatan anak muda itu.
Tanpa sadar dia mendekati Tan Ki dan berbisik di samping telinganya.
"Nanti kalau majikanku mengajukan pertanyaan kepadamu, kau harus mengatakan bahwa kau tidak sengaja melukai Liok Giok, dan kau bersedia menerima hukuman. Kalau beliau menyuruh aku atau Ciu Hiang mencambuki dirimu, kau tidak boleh mengerahkan tenaga dalam melawan atau berteriak kesakitan..."
Sepasang alis Tan Ki langsung terjungkit ke atas mendengar kata-katanya.
"Kalau dia benar-benar ingin memberi hukuman, aku tentu saja keberatan menerimanya. Kecuali kalau dia sama seperti engkau, totok dulu jalan darahku sehingga aku tidak berdaya. Bila tidak, Tan Ki bukan manusia yang dapat dihina begitu saja!"
Mei Hun melihat anak muda ini demikian keras kepala, dia jadi semakin panik. Tiba-tiba dari dalam kamar utama terdengar suara teriakan Ciu Hiang.
"Cici Mei Hun, cepat bawa orang yang melukai Liok Giok ke sini! Cujin ingin menanyainya sendiri!"
Mendengar suara itu, sekali lagi sepasang alis Tan Ki terjungkit ke atas.
Telapak tangannya menekan lantai dan melonjak bangun.
Mei Hun tahu watak anak muda ini sangat keras lagi angkuh.
Pasti dia sudah ingin mengumbar kemarahannya lagi.
Cepatcepat dia menarik lengan anak muda itu.
Dia menggigit bibirnya sendiri perlahan-lahan lalu berkata lagi.
"Setelah bertemu dengan majikanku, jangan sembarangan mengumbar adatmu. Akhirnya nanti kau sendiri yang merasakan kesulitannya. Mengertikah kau apa yang kukatakan?"
Suaranya begitu lembut, wajahnya menunjukkan permohonan yang dalam.
Matanya yang besar dan bulat memandangi Tan Ki tanpa berkedip sedikitpun.
Sinar matanya menyiratkan perhatian yang besar dan kecemasan yang tidak terkirakan.
Tan Ki melihat gadis remaja itu begitu panik melihat keadaan dirinya, akhirnya anak muda itu jadi tidak tega.
Dia menganggukkan kepalanya dan mengembangkan seulas senyuman yang manis.
Wajahnya sama sekali tidak menyiratkan kemarahan lagi.
Melihat Tan Ki telah mengabulkan permintaannya, hati Mei Hun gembira sekali.
Wajahnya yang cantik dan berona merah jambu langsung berseri-seri.
Dia juga membalas senyuman Tan Ki dengan senyuman yang tidak kalah manisnya.
Kemudian dia menarik tangan anak muda itu dan mengajaknya masuk menuju kamar utama.
Begitu tirai berwarna putih disingkapkan, tampaklah sebuah ruangan yang ditata indah dan bersih.
Sekali pandang saja membuat perasaan orang menjadi segar dan nyaman.
Seorang gadis berpakaian putih dengan rambut panjang terurai sampai di bahu.
Dia berdiri menghadap jendela.
Tan Ki hanya dapat melihat bayangan punggungnya saja.
Tetapi dia sudah dapat merasakan keanggunan gadis itu.
Ciu Hiang yang memeluk Liok Giok "berdiri di samping gadis itu, tetapi wajahnya menghadap Tan Ki.
Mei Hun menarik tangan Tan Ki masuk ke dalam dan berhenti pada jarak kurang lebih lima langkah dari gadis berpakaian putih itu.
Dia membungkukkan tubuhnya memberi hormat.
"Budak Mei Hun sudah membawa orang yang melukai Liok Giok. Harap Siocia memberikan keputusan."
Gadis berpakaian putih itu sama sekali tidak menolehkan kepalanya.
"Tinggalkan saja dia di sini. Ada beberapa pertanyaan yang ingin aku ajukan. Untuk sementara kau dan Ciu Hiang keluar dulu. Kalau aku sudah memanggil, kalian baru boleh masuk lagi."
Setelah mendengar ucapannya, Mei Hun dan Ciu Hiang menjadi tertegun serentak.
Dua pasang mata menatap majikan mereka lekat-lekat.
Kemudian pandangan mereka beralih kepada Tan Ki.
Namun mereka tidak berani banyak bertanya.
Kedua-duanya segera mengiakan kemudian mengundurkan diri.
Di kamar utama sekarang hanya tinggal Tan Ki bersama gadis berpakaian putih tersebut.
Tiada satupun di antara mereka yang mengucapkan kata-kata.
Untuk sesaat suasana jadi hening mencekam.
Hati Tan Ki merasa bingung bukan kepalang.
Dia berdiri memandangi bayangan punggung gadis berpakaian putih itu dengan termangu-mangu.
Bentuk tubuhnya sungguh indah.
Angin musim semi menghembus lewat jendela, mengibarkan pakaiannya yang putih bersih.
Penampilannya saat itu persis seorang dewi dari kahyangan yang menanti kedatangan kekasihnya.
Hal ini membuat perasaan seseorang menjadi kagum dan menaruh rasa hormat yang dalam.
Terdengar suaranya yang merdu dari bibir gadis itu.
"Murid siapa kau ini? Burung bukan binatang buas yang suka mencelakai manusia, mengapa kau sampai hati menggunakan senjata rahasia melukainya?"
Tan Ki mendengar suaranya begitu bening dan enak didengar, namun kata-kata yang diucapkannya bagai sebilah pisau yang menusuk hati anak muda itu. Diam-diam dia berpikir dalam hati.
"Gadis ini sungguh sombong!"
Tetapi dia tidak menunjukkan perasaannya dari luar, mulutnya malah menyahut.
"Aku bernama Tan Ki. Pernah mendapat pelajaran silat barang beberapa hari dari si pengemis sakti Cian Lociapwe serta dari pamanku yang ketiga. Kesalahan tangan melukai Liok Giok, sebetulnya hanya karena rasa penasaran yang timbul sesaat. Sama sekali bukan kesengajaan. Lagipula aku juga tidak tahu kalau burung itu merupakan peliharaan seseorang."
Gadis berpakaian putih itu mengeluarkan suara deheman sekali.
"Rupanya kau mengandalkan kebesaran nama si pengemis tua Cian Cong yang besar sehingga banyak lagak dan bertingkah semena-mena. Meskipun burung kakaktua itu bukan manusia, tetapi tidak ada seorangpun yang berani menyentuh sehelai bulunya. Cian Cong sendiri juga belum tentu berani mengganggu binatang peliharaanku. Sekarang kau sudah berani melukainya, maka sepatutnya menerima hukuman. Tetapi aku tidak sudi mengatakan apa-apa kepadamu. Aku akan mencari Cian Cong untuk memperhitungkannya. Biar dia mengganti dengan selembar nyawanya atas kesalahan yang dilakukan oleh muridnya yang tidak becus!"
Sepasang alis Tan Ki langsung menjungkit ke atas. Kemudian dia mengeluarkan suara tawa yang dingin.
"Akulah yang melukai burung itu, apa hubungannya dengan Cian Locianpwe? Aku, Tan Ki bersedia menanggungnya seorang diri. Nona boleh menghukum aku sampai mati sekalipun. Meskipun aku tahu ilmu silatmu tinggi sekali dan kepandaianku yang hanya terdiri dari beberapa jurus ini sudah barang tentu bukan tandinganmu. Namun sudah pasti aku tidak akan menerima kematian begitu saja!"
Gadis berpakaian putih itu mendongakkan kepalanya sedikit dan memperdengarkan suara tawa yang merdu.
"Kalau mendengar nada ucapanmu, tampaknya kau ingin berkelahi denganku?"
"Hati Nona mengerti sendiri, aku sama sekali tidak ada niat seperti itu. Tetapi kalau Nona masih belum bisa menerima juga bahwa aku memang tidak sengaja melukai Liok Giok, Tan Ki bersedia menerima kematian lewat jalan pertarungan!"
Gadis berpakaian putih itu tertawa ringan.
"Bagus sekali! Bukankah kau selalu membawa senjata dalam lengan pakaianmu? Sekarang coba kau serang dulu aku barang dua jurus. Kalau kau dapat menghantam mati aku dalam satu jurus, tentu tidak ada lagi orang yang mencari kesulitan dengan Cian Cong atau paman ketigamu!"
Kali ini hati Tan Ki benar-benar tergetar.
Sejak dia masuk ke dalam kamar utama ini, si gadis berpakaian putih belum sekalipun menolehkan kepalanya, tetapi dia bisa tahu bahwa di dalam lengan bajunya ada sebatang pedang suling.
Meskipun hatinya merasa terkejut, tetapi dari luar dia tidak menunjukkan perasaannya, dia malah mengembangkan seulas senyuman.
"Dari getaran lengan bajuku ini, Nona bisa mengetahui ada senjata yang tersembunyi di dalamnya, kekuatan indera pendengaranmu itu benar-benar membuat aku kagum sampai ke lubuk hati yang paling dalam. Meskipun aku, Tan Ki merupakan orang baru dalam dunia Bulim dan ilmu kepandaian Nona pun jauh melebihi aku, namun aku tidak suka menyerang orang dari belakang. Harap Nona keluarkan senjatamu. Biarpun harus mati, Tan Ki tidak akan penasaran lagi."
Gadis berpakaian putih itu tetap membelakangi Tan Ki dan memperdengarkan suara tawanya yang merdu.
"Kalau tidak ada keyakinan seratus persen, mana mungkin aku menyuruhmu menyerang dari belakang. Kau tidak perlu khawatir. Coba saja. Asal kau sanggup membuat aku bergeser setengah langkah saja dari tempatku sekarang ini, urusan melukai Liok Giok akan disudahi sampai di sini, sekaligus aku juga akan melepaskan Cian Cong dan paman ketigamu dari segala tanggung jawab!"
Meskipun kata-kata ini diucapkan dengan wajar dan lembut, namun di dalamnya terkandung keangkuhan yang tidak terkirakan.
Tan Ki yang mendengarnya sampai merasa panas.
Diam-diam dia berpikir dalam hatinya.
"Meskipun kepandaianmu tinggi sekali, tetapi kau juga tidak seharusnya bersikap begitu sombong. Seakan tidak memandang sebelah mata kepada orang lain sama sekali. Biar aku coba saja. Aku tahu bagaimana kau menghindar dari gabungan ilmu Tian Si Te-sa yang hebat itu!"
Berpikir sampai di sini, kegagahannya timbul seketika. Dia segera mengeluarkan senjatanya yang berbentuk pedang suling.
"Kalau Nona memang demikian mengalah kepadaku, tentu saja aku harus menurut. Harap pusatkan perhatian, aku akan mulai menyerang sekarang."
Lengan kanannya telah mengerahkan tenaga dalam.
Tangannya bergerak mengerahkan salah satu jurus Te Sa Jit-sut, yakni Mengibas Pasir di Atas Tanah.
Dengan cepat serangannya meluncur ke arah punggung gadis itu.
Pada dasarnya ilmu silat Tan Ki sekarang tidak dapat dibandingkan dengan beberapa bulan sebelumnya.
Dia sudah mendapat kemajuan berkat bimbingan kedua orangtua yang mengasihinya.
Dapat dibayangkan sampai di mana kehebatan serangannya itu.
Namun tampaknya si gadis berpakaian putih itu tidak takut sama sekali.
Ternyata dia tidak menolehkan kepalanya sekalipun.
Sikapnya seperti orang yang tidak menyadari datangnya serangan.
Tetapi ketika pedang suling Tan Ki mulai memainkan jurusnya yang hebat, tubuhnya terlihat bergetar sejenak.
Tampaknya ilmu Tan Ki yang tinggi sempat membuatnya terkejut juga.
Namun hal ini hanya terjadi dalam sekejap mata saja.
Penampilannya kembali tenang, tetapi meskipun waktu yang sangat singkat, Tan Ki sudah sempat melihat rasa terkejutnya.
Justru di saat itulah, pedang sulingnya tinggal dua tiga centi saja dari punggung gadis berpakaian putih itu.
Tiba-tiba setitik ingatan melintas di benaknya, seolah mendadak teringat suatu hal.
Akhirnya dia tidak sanggup meneruskan serangannya.
Dengan panik dia menghimpun hawa murni dalam tubuhnya dan menekan tenaganya pada telapak tangan sehingga tidak terus meluncur ke depan.
Dengan demikian serangannya keburu ditarik kembali.
Untung saja ilmu silat Tan Ki sudah cukup tinggi.
Serangannya dapat dilancarkan kemudian ditarik kembali sesuka hati.
Tetapi meskipun dia masih sempat menarik kembali serangannya, namun tubuhnya yang menerjang ke depan justru sulit ditahan.
Akibatnya dia membentur punggung gadis berpakaian putih itu.
Tiba-tiba, serangkum bau harum menerpa hidung Tan Ki.
Dia merasa ada segulung tenaga yang lembut menahan tubuhnya yang sedang meluncur ke depan.
Begitu dia memperhatikan, entah sejak kapan gadis berpakaian putih itu sudah menolehkan kepalanya.
Punggungnya menghadap jendela dan ternyata dia tetap berdiri tegak di tempatnya semula.
Hanya setengah badannya saja yang berputar.
Tampak gadis itu tersenyum simpul.
"Mengapa di tengah jalan tiba-tiba-kau mengubah keputusanmu, padahal pedangmu kan sedang menyerang ke arah punggungku?"
Setelah melihat wajah si gadis berpakaian putih, hati Tan Ki langsung bergetar.
Tampak bulu matanya lentik dan alisnya tebal.
Hidungnya mancung dipadu dengan bibir yang mungil.
Kecantikannya boleh dibilang seimbang dengan Mei Ling atau Lok Ing, tetapi di balik kecantikannya masih terkandung keanggunan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Sepasang matanya yang besar bersinar terang serta menyiratkan kewibawaan yang besar.
Orang yang melihatnya pasti timbul perasaan hormat.
Perempuan yang cantik memang banyak.
Tetapi kecantikan yang disertai berbagai macam kesempurnaan seperti yang diuraikan.
di atas, boleh dibilang dari seribu belum tentu ketemu satu.
Tan Ki yang melihatnya sampai termangu-mangu.
Akhirnya dia menjadi jengah sendiri dan cepat-cepat menundukkan kepalanya tidak berani melihat lagi.
Melihat Tan Ki tidak menjawab pertanyaannya, sekali lagi gadis berpakaian putih itu tersenyum simpul.
"Mengapa kau tiba-tiba menahan pedangmu dan tidak menyerang terus? Katakanlah! Apakah kau tidak mendengar jelas apa yang kutanyakan tadi?"
Katanya lembut. Tan Ki cepat-cepat menenangkan hatinya.
"Dia mendongakkan kepalanya dan menyahut.
"Aku tahu kesalahan ada di pihakku, meskipun aku melukai burung peliharaan nona tanpa sengaja. Oleh karena itu, tiba-tiba aku merasa perbuatanku sangat tidak pantas dan tidak berani meneruskan serangan tadi."
Sepasang mata gadis berpakaian putih yang indah itu menatap Tan Ki lekat-lekat.
Sejenak kemudian tampak senyumannya mulai sirna dan dia memejamkan matanya rapatrapat kemudian membalikkan tubuhnya kembali menghadap jendela.
"Kalau kau sudah tahu salah, aku juga tidak akan memperpanjang urusan ini. Mengingat kelakuanmu yang menarik kembali serangan di tengah jalan, urusan Liok Giok kita sudahi saja. Tetapi ada satu hal lain yang harus kau tutup rahasianya. Laki-laki di dalam dunia ini, yang pernah melihat wajah asliku hanya engkau seorang. Kau harus berjanji bahwa kau tidak akan menceritakan apa yang kau lihat dan apa yang kita bicarakan hari ini kepada siapapun!"
"Hati nona sungguh lapang, aku Tan Ki merasa kagum sekali dan sangat berterima kasih. Apa yang nona pesankan, sudah seharusnya aku turuti."
Sekali lagi si gadis berpakaian putih itu membalikkan tubuhnya perlahan-lahan dan mengembangkan seulas senyuman.
"Kita dapat bertemu, terhitung ada jodoh juga. Tiga bungkus Bubuk Penyelamat -Jiwa Penyambung Tulang ini dapat menghilangkan segala macam racun dan menyambung kembali urat yang sudah terputus, juga dapat menyambung tulang yang retak. Dapat pula digunakan untuk menyembuhkan luka dalam. Aku hadiahkan kepadamu agar kau dapat menggunakannya di saat genting."
Selesai berkata, tangannya mengulur ke depan dan diserahkannya tiga bungkus obat itu.
Tan Ki melihat tangannya yang halus dan indah menggenggam tiga bungkus obat, dia segera menyambutnya dan membungkukkan tubuhnya dalam-dalam sembari mengucapkan terima kasih.
Gadis berpakaian putih itu tampaknya sudah tidak memiliki perkataan apa-apa lagi yang ingin ia sampaikan.
Bibirnya bergerak dengan maksud memanggil Mei Ling dan Ciu Hiang.
Tiba-tiba Tan Ki teringat kata-kata yang diucapkan oleh Tian Bu Cu.
Oleh karena itu dia segera menggunakan kesempatan itu menanyakannya.
"Apakah nona yang bernama Fu Goat Taisu dan berjuluk Ming San Sinni? Tecu benarbenar tidak mempunyai mata, apabila ada kesalahan, harap Locianpwe sudi memaafkan."
Tan Ki menekuk kakinya dengan maksud berlutut menyembah gadis itu.
Tampak gadis itu mengibaskan lengan pakaiannya, segera terasa ada serangkum kekuatan yang lembut menahan diri Tan Ki yang berniat menjatuhkan diri berlutut.
Bibirnya tersenyum simpul.
"Sinni adalah guruku yang mulia. Aku adalah murid tunggal beliau."
Terdengar suara seruan terkejut dari bibir Tan Ki. Diam-diam dia sendiri merasa geli.
"Mengapa hari ini aku jadi linglung, lihat dari caranya berpakaian saja seharusnya aku sudah dapat menduga bahwa dia bukan seorang rahib..."
Hatinya berpikir demikian, tanpa terasa bibirnya mengembangkan seulas senyuman.
Siapa nyana sepasang mata gadis itu juga sedang memperhatikan dirinya.
Kali ini sinar yang tersorot dalam matanya tidak lagi mengandung kemarahan malah menyiratkan perasaannya yang lembut.
Dua pasang mata bertemu, mereka sama-sama merasakan hatinya tergetar.
Gadis berpakaian putih itu cepat-cepat memalingkan wajahnya, Tan Ki sendiri dengan gugup menundukkan kepalanya rendah-rendah.
Untuk sesaat suasana di dalam kamar itu jadi hening.
Di wajah gadis berpakaian putih yang cantik itu dalam waktu sekejap tersirat berbagai mimik yang berlainan.
Kadangkadang tampak sepasang alisnya mengerut, kadang-kadang pula dia mendongakkan kepalanya merenung.
Seakan dia sedang memikirkan suatu masalah yang serius.
Tiba-tiba dia menggertakkan giginya erat-erat.
Wajahnya kembali datar seperti semula.
Dengan tegas dia berkata kepada Tan Ki.
"Sekarang juga aku akan menyuruh Mei Hun mengantarkan engkau ke tempat semula. Tapi kau harus ingat apa yang telah kau janjikan. Jangan sekali-kali kau ceritakan apa yang kau alami hari ini kepada siapapun!"
Selesai berkata, dia tidak memberi kesempatan bagi Tan Ki untuk menyahut.
Segera dipanggilnya Mei Hun dan Ciu Hiang.
Ketika kedua gadis itu masuk kembali ke dalam kamarnya, gadis berpakaian putih itu langsung berkata.
"Kau antarkan dia kembali ke tempat semula, setelah itu cepat kembali lagi ke sini. Kita akan segera berangkat kembali ke Ming San!"
Mei Hun tidak berani banyak bertanya.
Dia langsung mengiakan dan mengajak Tan Ki keluar dari kamar tersebut.
Ketika berjalan sampai di depan pintu, entah mengapa, Tan Ki tidak dapat menahan perasaan hatinya untuk menoleh menatap gadis berpakaian putih itu sekejap.
Sepasang mata si gadis berpakaian putih juga sedang memandang kepadanya lekat-lekat.
Kembali kedua pasang mata bertemu, Tan Ki merasa hatinya berdebar-debar.
Si gadis berpakaian putih juga memalingkan wajahnya dengan gugup.
Meskipun wajahnya menoleh ke arah yang lain, tetapi Tan Ki dapat melihat sorot matanya yang mengesankan seperti orang yang berat ditinggalkan.
Mei Hun mengajak Tan Ki keluar dari kamar dan mengantarkannya kembali ke taman bunga.
Tiba-tiba Tan Ki menghentikan langkah kakinya dan memandang Mei Hun.
Hatinya ingin sekali mengucapkan terima kasih karena nasehatnya tadi.
Tetapi belum sempat dia membuka suara, Mei Hun sudah berkata duluan.
"Setelah perpisahan ini, entah kapan kita dapat berjumpa kembali. Mungkin dalam seumur hidup ini, kita tidak mempunyai kesempatan untuk bertemu lagi. Tan Siangkong, harap jaga dirimu baik-baik..."
Berkata sampai di sini, dia tidak meneruskan ucapannya.
Meskipun wajahnya mengembangkan senyuman, namun Tan Ki dapat melihat ada semacam kesedihan menjelang perpisahan yang tersirat di mimik wajahnya.
Perasaan anak muda ini jadi terharu.
Tadinya dia ingin mengucapkan beberapa patah kata untuk menghibur hati gadis ini, tetapi seribu satu kata bagai tercekat dalam tenggorokannya.
Dia tidak tahu apa yang harus dikatakan dan bagaimana mengucapkannya.
Sampai sekian lama dia berdiam diri seperti orang yang termangu-mangu.
Akhirnya dia mengeluarkan suara batuk kecil dan berkata.
"Harap... kau juga... jaga diri baik-baik. Aku... mohon diri sekarang."
Perlahanlahan dia membalikkan tubuhnya dan melangkah keluar dari halaman tersebut. Tiba-tiba terdengar suara panggilan Mei Hun.
"Tan Siangkong...!"
Mendengar panggilan itu, Tan Ki langsung menghentikan langkah kakinya. Dia menolehkan kepalanya dan mengembangkan seulas senyuman.
"Apakah nona masih ada perkataan lain?"
Mei Hun melihat dia tiba-tiba menolehkan kepalanya, untuk sesaat jadi tertegun.
Tampaknya dia tidak menduga kalau mendengar panggilannya, Tan Ki akan menghentikan langkah kakinya seketika dan menolehkan kepala serta mengembangkan seulas senyuman yang lembut.
Sebetulnya dia tidak ada perkataan apa-apa.
Panggilannya tadi hanya karena luapan emosi sesaat dan dilakukannya tanpa sengaja.
Sekarang dia justru kebingungan sendiri.
Tidak tahu apa yang harus dikatakannya.
Setelah berdiam diri beberapa saat akhirnya dia mencetuskan kata-kata yang terpikir di benaknya saat itu juga...
"Apabila ada waktu, aku akan mengunjungimu!"
Sesudah kata-kata itu diucapkan, dia baru merasa tersipu-sipu.
Rasanya tidak pantas seorang gadis mengucapkan kata-kata seperti itu.
Wajahnya jadi merah padam seketika.
Seperti seekor kelinci yang ketakutan, dia langsung lari terbirit-birit meninggalkan tempat itu.
Tan Ki merasa terharu sekali atas sikap gadis itu terhadap dirinya.
Dia memandangi bayangan punggung Mei Hun dengan terma-ngu-mangu.
Penampilan si gadis berpakaian putih yang begitu anggun laksana bidadari, lembut bagai dewi benar-benar telah meninggalkan kesan yang sangat indah di dalam hatinya.
Entah berapa lama sudah berlalu, tiba-tiba dia mendengar suara Yang Jen Ping yang tahu-tahu sudah berdiri di sampingnya.
"Tan-heng, kapan kau kembali? Mengapa kau berdiri termenung seorang diri? Apakah gadis berpakaian putih itu tidak jadi menghukum dirimu?"
Tanyanya bertubi-tubi. Tan Ki menggeleng-gelengkan kepalanya. Baru saja dia ingin menjawab, mendadak dari tempat yang tidak seberapa jauh berkumandang lagi suara tawa seseorang.
"Si pengemis cilik sudah mengatakan bahwa tidak bakal ada kejadian apa-apa, tetapi kalian tetap tidak percaya! Coba lihat! Bukankah dia berdiri di sana dalam keadaan baikbaik saja? Si pengemis cilik kalau disuruh berkelahi memang paling tidak becus, tetapi soal ramal meramal sudah terkenal sampai ke seluruh penjuru dunia!"
Tan Ki tidak sempat lagi menjawab pertanyaan Yang Jen Ping.
Begitu pandangan matanya dialihkan, dia melihat beberapa orang yang sedang berjalan ke arahnya.
Yang paling depan sudah pasti si pengemis cilik Cu Cia.
Di belakangnya mengikuti Ban Jin Bu, Goan Yu Liong dan Sam Po Hwesio.
Seperti semut yang melihat gula, mereka langsung mengerumuni Tan Ki dan semuanya mengajukan pertanyaan mengenai apa yang dialaminya barusan.
Tan Ki menggelengkan kepalanya sambil tersenyum simpul.
"Nona yang bernama Mei Hun itu mengajak aku menemui majikannya. Ternyata majikannya itu orang yang penuh pengertian. Dia tidak menjatuhkan hukuman apapun pada diriku. Hanya mengajukan satu dua pertanyaan, kemudian melepaskan aku kembali..."
Kata-kata ini diucapkan dengan nada terpaksa sehingga membuat orang sulit mempercayainya.
Seumur hidupnya Tan Ki memang jarang berdusta, apalagi dia juga merasa berat mengelabui beberapa orang sahabat baiknya ini.
Tetapi dia sudah berjanji kepada si gadis berpakaian putih untuk merahasiakan apa yang dialaminya, terpaksa dia berkata asal-asalan saja.
Si pengemis cilik mengibas-ngibas rambut-N nya yang memang sudah acak-acakan.
Bibirnya tersenyum simpul.
"Tan-heng, apa yang kau katakan ini benar-benar sulit dipercaya! Apakah cerita lama di taman bunga keluarga Liu terulang kembali?"
Hati Tan Ki langsung tergetar. Wajahnya langsung berubah hebat.
"Cu Hente, mana boleh kau sembarangan menduga yang bukan-bukan? Gadis itu adalah seorang tokoh..."
Tadinya dia ingin mengatakan bahwa gadis itu adalah seorang tokoh sakti yang mendapat didikan langsung dari Ming San Sinni.
Tetapi sampai di tengah jalan, dia teringat kembali akan janjinya.
Oleh karena itu dia cepat-cepat menghentikan kata-katanya dan langsung membungkam.
Dirinya malah berdiri termenung sekian lama.
Justru di saat dia termangu-mangu seperti itu, mendadak dari kejauhan terdengar suara langkah kaki yang mendatangi.
Geng Lam Hong berjalan dengan tergesa-gesa dalam sekejap mata dia sudah tiba di hadapan beberapa orang itu.
"Mengapa kalian masih berdiri di sini santai-santai? Tian Bu Cu Locianpwe dari Bu Tong Pai sudah membawa Cian Locianpwe datang ke mari. Liu Mei Ling dan Liang Fu Yong juga ikut datang!"
Tan Ki mendongakkan kepalanya menatap warna langit.
Saat itu belum lagi sampai kentungan kelima, ternyata Tian Bu Cu sudah menepati janjinya menyusul ke mari.
Dengan demikian dia menolehkan kepalanya kepada Cu Cia.
"Gurumu datang ke mari dalam keadaan terluka, entah bagaimana keadaannya. Lebih baik kita cepat-cepat kembali melihatnya!"
Tan Ki memang sengaja menghindari pertanyaan mereka yang berbelit-belit.
Selesai berkata, dia langsung mengerahkan ginkangnya dan lari ke depan.
Saat ini si pengemis sakti Cian Cong sedang duduk bersandar di atas kursi beristirahat.
Begitu si pengemis cilik Cu Cia dan yang lainnya masuk ke dalam kamar, mereka segera dapat melihat wajah orangtua itu yang kekuning-kuningan.
Tampangnya kuyu dan kusut.
Mereka terkejut sekali melihatnya.
Hati si pengemis cilik jadi pilu, dia segera menjatuhkan dirinya berlutut di atas tanah dan memanggil dengan dengan suara parau...
"Suhu...!"
Air matanya bagai curah hujan yang turun dengan deras membasahi pipinya.
Cian Cong segera membuka sepasang matanya.
Dengan sinarnya yang sudah pudar dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
Kemudian terdengar orangtua itu tertawa terbahak-bahak.
"Dasar orang tidak berguna! Masa di depan sahabat-sahabat baikmu menangis seperti anak kecil. Hei, si pengemis tua ini belum mati! Hayo cepat bangun!"
Baru berkata sampai di sini, tiba-tiba dia merasa dadanya sakit sekali.
Mungkin lukanya kambuh kembali.
Ternyata tokoh paling aneh di dunia ini juga hampir tidak sanggup menahan penderitaan yang demikian hebat.
Dia langsung menekap dadanya dan mengatur pernafasan.
Sampai kurang lebih sepeminuman teh, baru rasa sakitnya agak berkurang.
Melihat keadaannya, si pengemis cilik tidak berani membantah lagi.
Sambil menahan air mata yang masih ingin mengalir, dia langsung berdiri dengan kepala tertunduk.
Cian Cong memejamkan matanya dan beristirahat beberapa saat.
Setelah itu baru dia membuka matanya kembali.
Dia menunjuk ke arah tosu tua yang duduk di sampingnya.
"Tosu ini merupakan tokoh sakti dari Bu Tong Pai yang bersama-sama si pengemis tua mendapat julukan dua manusia paling aneh di dunia. Kalian sudah tentu pernah mendengar namanya bukan? Memang betul, beliau adalah Tian Bu Cu Locianpwe. Si pengemis tua masih dapat hidup sampai sekarang, semuanya merupakan berkat pertolongan dan rawatannya..."
Berkata sampai di sini, tiba-tiba dia memejamkan sepasang matanya kembali dan membungkam seribu bahasa.
Si pengemis cilik, Sam Po Hwesio, Yang Jen Ping, Ban Ji Bu dan Goan Yu Liong cepatcepat maju ke depan dan memberi hormat dengan berlutut di atas tanah.
Tian Bu Cu mengibaskan lengan bajunya.
Serangkum tenaga yang tidak berwujud langsung terpancar keluar dan menahan tubuh beberapa orang itu sehingga tidak dapat menekuk kakinya lebih jauh.
"Pinto adalah orang gunung yang kasar, tidak biasa menerima segala macam penghormatan. Kalian berdirilah!"
Sementara itu, Tan Ki menuangkan dua cawan teh untuk kedua orangtua itu.
Diamdiam dia memasukkan sebungkus Bubuk Penyelamat Jiwa Penyambung Tulang pemberian si gadis berpakaian putih ke dalam cawan teh Cian Cong.
Setelah itu dia menyodorkannya kepada mereka.
Ketika Cian Cong meneguk air teh itu, dia merasa teh yang disediakan oleh Tan Ki harum luar biasa.
Tadinya dia mengira bahwa teh itu memang dari jenis daun teh yang baik sehingga warnanya saja yang lebih pekat dari biasanya.
Oleh karena itu dia tidak banyak bertanya.
Diminumnya teh itu sampai kering.
Tetapi biar bagaimanapun orangtua ini merupakan salah satu dari dua tokoh tersakti di dunia jaman itu.
Pengalamannya banyak dan pengetahuannya luas sekali.
Dia segera merasa ada sesuatu yang tidak beres begitu teh itu diteguknya sampai kering.
Dia merasa aliran darah dalam tubuhnya bertambah cepat, serangkum hawa panas mengalir ke seluruh urai nadinya.
Kurang lebih setengah kentungan kemudian, perasaannya terasa lebih bersemangat, wajahnya yang tadi pucat kekuning-kuningan sekarang berubah menjadi merah jambu.
Saat itu juga, dia merasa terkejut dan rada curiga.
Diam-diam dia mengerahkan hawa murni dalam tubuhnya, sekarang dia bukan saja tidak merasa sakit lagi, tetapi luka dalam tubuhnya juga terasa sembuh seketika.
Malah hawa murninya beredar lebih lancar daripada sebelum terluka.
Ketika hari sudah terang dan pelayan penginapan mengantarkan sarapan pagi, mereka segera menyantapnya dengan lahap.
Setelah itu Tian Bu Cu kembali memeriksa denyutan urat nadinya.
Hati orangtua itu terlonjak seketika.
Tiba-tiba dia menemukan bahwa luka dalam yang diderita Cian Cong sudah sembuh sama sekali.
Bahkan gejala keracunanpun sudah tidak ada.
Dalam keadaan kurang yakin, Tian Bu Cu sampai memeriksanya berkalikali, tetapi kenyataannya tetap sama.
Sama sekali tak ada tanda-tanda seperti orang yang pernah terluka.
Bukan saja kesehatan Cian Cong sudah pulih, bahkan kesehatannya lebih baik dari pada sebelum terluka.
Bagaimana Tian Bu C u tidak menjadi bingung dan penasaran melihat kenyataan yang aneh ini?
Peristiwa yang tidak terduga-duga ini membuat kedua tokoh sakti tersebut terlongongldngong sekian lama dan tidak dapat mengucapkan sepatah katapun.
Mereka lalu berusaha menyelidiki apa yang telah terjadi.
Saat itu Tan Ki baru menceritakan urusan gadis berpakaian putih yang menghadiahkan tiga bungkus obat kepadanya.
Tian Bu Cu mendengarkan dengan seksama.
Wajahnya tampak serius sekali.
Setelah Tan Ki selesai bercerita, tampak orangtua itu menarik nafas panjang.
"Sudah hampir empat puluh tahun pinto tidak pernah mendengar kabar dari Ming San Sinni. Tidak disangka dia masih hidup di dunia ini dan mempunyai seorang murid yang demikian sakti. Bubuk Penyelamat Jiwa Penyambung Tulang merupakan obat pusaka bagi dunia persilatan. Kelak entah berapa banyak tokoh Bulim yang akan tertolong nyawanya berkat obat mujarab ini. Anak Ki, kau harus simpan baik-baik dua bungkus sisa Bubuk Penyelamat Jiwa Penyambung Tulang ini. Kelak pasti ada faedahnya dan dapat menolong orang di saat genting."
Tan Ki mengejap-ngejapkan matanya sambil tersenyum.
"Locianpwe, benarkah obat ini demikian mujarab? Tadi ketika sarapan pagi, diam-diam Boanpwe memasukkan sebungkus ke dalam air teh adik Mei Ling. Boanpwe pikir dia kesalahan minum racun sehingga tubuhnya berpenyakit parah. Mungkin obat ini dapat menawarkan racun yang mengendap dalam tubuhnya. Sekarang hanya sisa satu bungkus lagi."
Cian Cong menghentakkan kakinya keras-keras ke atas tanah.
"Dasar bodoh! Berbuat apa-apa selalu tanpa pakai pertimbangan! Obat semacam ini, beberapa generasi juga belum tentu dapat menemukannya lagi. Kau malah sembarangan menggunakannya tanpa menanyakan pendapat orang lain. Ilmu pengobatan si hidung kerbau ini sudah mencapai taraf yang tinggi sekali. Racun yang diidap Mei Ling hanya termasuk penyakit kecil baginya, pasti dia dapat menyembuhkannya dengan mudah. Kau malah melihat penyakit ringan sebagai penyakit yang parah, sampai menghabiskan sebungkus Bubuk Penyelamat Jiwa Penyambung Tulang!"
Tian Bu Cu tertawa lebar mendengar gerutuannya.
"Ada sebab ada akibat, segala di dunia ini sudah ditakdirkan oleh Yang Kuasa. Kita manusia hanya mengikuti jalannya saja. Apa yang sudah terjadi tidak perlu disesali lagi. Anak muda ini kan masih pengantin baru, tentu saja hatinya panik mengetahui dalam tubuh isterinya mengendap racun jahat. Dalam hal ini dia juga tidak dapat disalahkan. Sudah pasti dia ingin isterinya lekas sembuh. Satu-satunya jalan sekarang ini hanya berharap agar dia mempergunakan sisa sebungkus Bubuk Penyelamat Jiwa Penyambung Tulang itu dengan baik-baik."
Beberapa orang itu masih merundingkan berbagai hal lainnya.
Perlahan-lahan waktu merayap dan matahari semakin tinggi.
Luka yang diderita Cian Cong sudah sembuh secara keseluruhan.
Tidak ada alasan lagi bagi mereka untuk menunda waktu.
Sebelas orang itu segera meninggalkan penginapan tersebut dan kembali ke Tok Liong Hong di mana pertandingan untuk memperebutkan Bulim Bengcu masih berlangsung.
Baru beberapa saat mereka meninggalkan Suang Eng Lau, tiba-tiba di angkasa sampai tiga ekor burung merpati pos terbang melintas.
kepala mereka.
Kecepatannya bagai sambaran kilat, arah merekapun berlainan.
Ada yang menuju timur, selatan dan yang terakhir terbang menuju utara.
Tian Bu Cu memperhatikan ketiga ekor burung merpati itu terbang jauh.
Dia melihat dengan seksama kecepatan dan arah yang diambil ketiga ekor burung itu.
Mendadak suatu ingatan seolah melintas di benaknya.
Tampak sepasang alis orangtua itu mengerutngerut.
Untuk sekian lama dia berdiam diri tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Cian Cong malah hampir kehabisan rasa sabarnya.
Terdengar dia tertawa dingin dan menggumam seorang diri.
"Ternyata golongan sesat dari Lam Hay juga sudah bisa menggunakan merpati pos untuk menyelidiki jejak si pengemis tua..."
Suaranya semakin lama semakin lirih sehingga kata-katanya yang terakhir tidak terdengar lagi.
Orang lainnya sudah tentu tidak mengerti apa maksud ucapannya itu.
Menjelang malam hari, kesebelas orang itu sampai di Tok Liong Hong.
Tampak asap mengepul-ngepul memenuhi udara.
Di depan pintu gerbang berdiri delapan orang laki-laki bertubuh kekar.
Wajah mereka tampak serius.
Bekali.
Sekali pandang saja, orang dapat menduga bahwa di atas puncak bukit itu mungkin telah terjadi sesuatu yang gawat.
Keadaan yang terlihat sangat tidak wajar dan lain sekali dengan sebelumnya.
Suasana di sekitar tempat itu juga terasa tegang mencekam.
Watak Cian Cong paling tidak bisa diam serta ugal-ugalan.
Dia langsung merasa sebal melihat keadaan seperti itu.
Oleh karena itu, sepasang alisnya segera menjungkit ke atas.
Sesaat kemudian dia sudah berlari sekencang-kencangnya ke ruang pertemuan.
Di atas puncak bukit Tok Liong Hong ini memang sudah dibangun berbagai sarana yang diperlukan selama terselenggaranya pertemuan besar tersebut.
Liu Seng sudah bekerja keras demi terselenggaranya pertandingan untuk memperebutkan kedudukan Bulim Bengcu ini.
Dia mengumpulkan berpuluh-puluh tukang yang ahli dan membangun semua ruangan serta panggung dalam waktu yang singkat.
Untung saja dua hari sebelum pertandingan dimulai semuanya sudah beres.
Berhubung situasi sedang mendesak, mereka menggunakan strategi yang membangun ruangan-ruangan dengan mengikuti susunan tanah bukit itu sendiri.
Ilmu ginkang Cian Cong sudah mencapai taraf yang tinggi sekali.
Tidak berapa lama kemudian dia sudah sampai di depan ruang pertemuan.
Begitu menaiki undakan batu di halaman, dia sudah melihat bahwa di dalam ruangan itu telah berkumpul belasan rekannya.
Wajah setiap orang tampak kelam dan serius.
Tidak ada seorangpun yang berbicara.
Masing-masing seolah sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri.
Tampaknya mereka sedang merundingkan masalah yang genting dan belum mendapatkan jalan pemecahannya.
Mereka semua bermuram durja dan menunggu dengan sabar.
Begitu heningnya ruangan itu sehingga batang jarum jatuh pun mungkin akan terdengar jelas.
Kali ini sepasang alis Cian Cong mengerut semakin erat, tangannya tanpa terasa tergerak mengambil kendi araknya dan sebagaimana biasanya dia langsung meneguk beberapa tegukan besar sehingga terdengar suara.
Glek!
Glek!
Grook!
Dari tenggorokannya.
Baru saja dia ingin bertanya, Yibun Siu Sari sudah berdiri dan menyongsongnya.
"Pengemis tua, nasib kita memang lagi sial. Baru saja kau meninggalkan tempat ini, aku terpaksa menyelenggarakan pertandingan ini seorang diri. Siapa nyana di malam kedua tiba-tiba terjadi sesuatu. Hampir saja aku tertimpa bencana besar. Dari pihak Lam Hay dan Si Yu menyelinap beberapa orang utusannya yang ingin menyelidiki keadaan di tempat kita ini. Hampir sepanjang malam aku dikerjai oleh mereka sampai letihnya tak perlu dikatakan lagi. Boleh dibilang aku bermain petak umpet dengan mereka. Untung juga ada beberapa sahabat yang membantu sehingga tidak sempat terjadi apa-apa yang hebat. Kalau tidak, mungkin terpaksa aku membenturkan kepala di ruangan depan untuk mendapat hukuman mati atas dosa besar. Apabila sampai jatuh korban banyak. Meskipun beberapa sahabat kita merupakan tokoh-tokoh tua yang sudah banyak pengalaman, namun kaum penjahat itu licik sekali. Mereka menimbulkan suara di timur, tetapi menyerang di sebelah barat. Beberapa bangunan kita sempat dibakar oleh mereka. Dari pihak mereka yang datang adalah jago-jago yang jarang terlihat di dunia Kangouw. Dalam satu malam saja ada tujuh delapan orang pihak kita yang terluka. Aku justru sedang kebingungan karena kita kekurangan tenaga. Untung saja kau cepat-cepat kembali ke mari. Begini saja, tugas yang berat ini aku kembalikan lagi kepadamu. Malam ini kalau mereka datang lagi, aku pasti harus melawan mereka agar orang-orang jahat itu tidak meremehkan kemampuan kita orang-orang Tionggoan!"
Wajahnya selalu ditutupi sehelai cadar yang tipis.
Hal ini membuat orang tidak dapat melihat mimik perasaannya.
Sejak berkenalan dengannya, Cian Cong selalu melihat sikapnya yang tenang dan riang.
Belum pernah ditemuinya penampilan seperti sekarang ini yang begitu kesal.
Sepasang matanya terus menyorotkan sinar yang berkilauan.
Hal ini membuktikan bahwa hawa amarah dalam hatinya benar-benar telah meluap.
Kemungkinan besar beberapa malam yang lalu dia dipermainkan musuh sedemikian rupa sehingga kekesalan dalam hatinya terpendam dalam-dalam dan tidak menemukan suatu hal yang dapat menjadi salurannya.
Mendengar perkataan Yibun Siu San, untuk sesaat si pengemis sakti Cian Cong tidak enak hati untuk mengatakan apa-apa.
Di saat dia sedang menguras otak bagaimana merundingkan masalah ini dengan baik-baik, Tian Bu Cu melangkah masuk dengan tenang diiringi beberapa orang lainnya.
Pandangan mata Cian Cong beredar ke sekitar ruangan.
Cepat-cepat dia memperkenalkan tokoh sakti itu kepada rekan-rekannya yang lain.
Dengan demikian, dia sekaligus dapat menghindari desakan Yibun Siu San.
Perlu diketahui, meskipun nama Tian Bu Cu sangat terkenal di dunia Kangouw, tetapi ia, selalu menyendiri dan lebih banyak tinggal di Yang Sim An, Bu Tong San.
Meskipun disebut sebagai salah satu dari dua tokoh tersakti di dunia, orang yang pernah melihat orangnya hanya beberapa gelintir saja.
Bahkan sampai di mana ketinggian ilmu silatnya, orang-orang dunia Kangouw hanya mendengar dari selentingan di luaran saja.
Kenyataannya sendiri, mereka belum tahu pasti.
Dengan demikian para tamu yang hadir di Tok Liong Hong, walaupun tahu di dunia ada tokoh seperti dia, tetapi selama ini hanya dapat membayangkannya saja.
Begitu diperkenalkan oleh Cian Cong, Liu Seng beserta Kok Hua Hong, Ciong San Suang Siu, Goan Siang Fei, Heng Sang Si dan tujuh delapan orang lainnya segera mengalihkan pandangan mereka kepada orangtua ini.
Mata mereka memperhatikan Tian Bu Cu lekat-lekat dan mulut mereka mengeluarkan suara pujian kagum yang tidak berhenti-henti.
Watak Tian Bu Cu memang selalu merendahkan diri.
Dia senang bergaul dengan siapa saja meskipun namanya sudah sangat terkenal.
Oleh karena itu dia segera menghampiri setiap tamu yang hadir dan menyalami mereka satu per satu untuk kemudian duduk bersama-sama mereka.
Tan Ki beserta rekan-rekan lainnya yang sebaya berdiri di belakang guru dan angkatan tua masing-masing.
Mereka tidak berani langsung duduk bersama para hadirin yang merupakan tokoh-tokoh tua.
Tian Bu Cu mengulurkan tangannya mengangkat cawan teh dan dengan lambat menghirupnya beberapa teguk.
Bibirnya tersenyum lebar.
"Apa yang diperbuat pihak Lam Hay maupun Si Yu sekarang boleh dibilang sudah terang-terangan. Kemungkinan besar tidak lama lagi akan terjadi bencana besar yang akan mengakibatkan pertumpahan darah besar-besaran. Entah bagaimana rencana saudara-saudara dalam menanggulangi masalah ini?"
Liu Seng segera menjura dan tersenyum.
"Mohon tanya bagaimana pendapat totiang sendiri?"
"Ular tidak bisa tanpa kepala, burung tidak bisa terbang tanpa sayap. Hari ini para sahabat yang hadir di Tok Liong Hong ini, kalau bukan seorang yang ilmunya tinggi, berjiwa bijaksana serta mempunyai kecerdasan melebihi orang lain dan sanggup membuat setiap orang menaruh rasa hormat serta kagum, tentu sulit membuat semuanya tunduk. Meskipun orang yang hadir di Tok Liong Hong ini jumlahnya banyak sekali, tetapi setiap tokoh ini mempunyai kelebihan masing-masing. Bila dikumpulkan, kemungkinan malah akan timbul masalah baru. Yang paling penting bagi kita orang dunia Kangouw, justru nama besar dan ketenaran serta kemakmuran hidup. Memang tidak semuanya bersikap demikian, namun apabila kita mau mengakui secara jujur, di antara sepuluh orang, mungkin ada sembilan yang lebih mementingkan nama besar daripada hal lainnya di dunia ini. Apabila pihak Lam Hay maupun Si Yu berhasil mengetahui kelemahan kita ini, mereka bisa menggunakan siasat mengadu domba sehingga terjadi pecah perang saudara di antara kita sendiri. Hal inilah yang harus kita cegah pertama-tama!"
Apa yang dikatakan oleh Tian Bu Cu benarbenar bagai jarum tajam yang menusuk hati setiap orang.
Sampai-sampai para hadirin saling menatap satu dengan lainnya dan diamdiam, mereka memuji ketelitian pertimbangan tokoh Bu Tong Pai ini.
Tampak Yibun Siu San tertawa kecil.
"Apa yang totiang katakan mengandung makna yang dalam. Baik pengalaman maupun pengetahuan juga membuat orang kagum. Tetapi sampai hari ini, dalam pertandingan yang sudah lalu, telah terpilih tiga belas orang pendekar pedang tingkat delapan dan tiga puluh lima orang pendekar pedang tingkat tujuh. Ilmu mereka semuanya dapat dibilang sudah cukup tinggi. Besok siang kita sudah dapat memilih seorang Bulim Bengcu dari tiga belas orang pendekar pedang tingkat delapan ini."
Berkata sampai di sini, ucapannya terhenti, sepasang sinar matanya melirik ke arah Tan Ki sekilas. Beberapa saat kemudian baru dia melanjutkan kembali.
"Karena dalam perebutan kedudukan Bulim Bengcu kali ini, kita terbentur berbagai kesulitan. Juga disebabkan waktu yang sangat mendesak, mungkin masih banyak tokoh lain yang tidak keburu datang. Ada juga yang karena halangan lainnya tidak dapat hadi r pada waktu yang tepat. Oleh karena itu, aku dan si pengemis sakti Cian Cong telah merundingkan hal ini baik-baik dan akhirnya mendapatkan suatu keputusan. Kami membuat peraturan baru bagi para sahabat yang tidak keburu sampai pada waktunya atau karena urusan pribadi sehingga pertandingannya tertangguh. Seandainya orang itu mempunyai syarat yang cukup, maka kami memberinya kesempatan untuk menandingi lawan-lawan lainnya. Umpamanya pendekar pedang tingkat empat tertangguh dalam pertandingan, dia masih boleh mengikuti pertandingan lain. Apabila secara berturut-turut dia mengalahkan dua lawan dari tingkat yang sama, maka tingkatannya pun akan naik menjadi pendekar pedang tingkat lima. Begitu pula seterusnya. Seandainya dia berhasil mengalahkan lawan-lawan berikutnya sampai mencapai gelar pendekar pedang tingkat kedelapan, maka orang ini boleh memperebutkan kedudukan Bulim Bengcu. Setelah semua orang ini mengikuti lagi ujian kebijaksanaan dalam mengambil ke-putusan serta kecerdasan otaknya, rasanya Bulim Bengcu dapat terpilih dari salah satu orang-orang ini."
Terdengar suara mendesah dari mulut Tian Bu Cu, kemudian dia memejamkan matanya merenung beberapa saat. Setelah itu baru dia berkata dengan perlahan-lahan.
"Kalau begitu, besok adalah hari terakhir dalam penyelenggaraan Bulim Tayhwe ini."
Tampaknya hati orangtua ini sedang digelayuti semacam pikiran yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri.
Meskipun mulutnya menggumamkan kata-kata, tetapi sepasang matanya masih terpejam rapat-rapat.
Yibun Siu San menganggukkan kepalanya berkali-kali.
"Betul. Hanya tinggal satu hari lagi. Dalam pengujian kebijaksanaan maupun kecerdasan, cayhe sudah mempunyai sedikit pertimbangan. Apabila ada waktu senggang, cayhe ingin merundingkannya kembali dengan Cian-heng serta Tian Bu Cu Locianpwe."
Tiba-tiba sepasang mata Tian Bu Cu terbuka lebar.
Sinar yang terpancar keluar begitu tajamnya, seperti sengaja juga tidak, dia melirik Liang Fu Yong sekilas.
Dalam waktu yang singkat dia seolah telah memutuskan suatu masalah yang besar.
Dengan demikian hatinyapun menjadi lega.
"Baiklah, besok saja kita tentukan!"
BAGIAN XLIII Cian Cong mendengar orangtua itu seperti menggumam kepada dirinya sendiri.
Nada suaranya begitu tegas, seolah dalam ucapannya terkandung maksud tertentu.
Walaupun lukanya baru sembuh, tetapi wataknya tetap tidak berubah.
Dia masih periang dan ugalugalan seperti biasanya.
Oleh karena itu dia langsung tertawa terbahak-bahak.
"Hidung kerbau, sebetulnya setan apa yang kau sembunyikan dalam hati kecilmu itu? Bicara seperti menggumam kepada diri sendiri sehingga orang lain dibuat kebingungan setengah mati. Bolehkah kau menjelaskan dengan terperinci, hal apa sebenarnya yang sedang terpikir oleh benakmu itu?"
Tian Bu Cu tersenyum simpul melihat ketidaksabaran si pengemis sakti Cian Cong.
"Pinto hidup mengasingkan diri di Yang Sim An, selama enam puluh tahun boleh dibilang tidak pernah berkelana di dunia Kan-gouw. Oleh karena itu pengetahuan pun dangkal sekali. Dalam perebutan Bulim Bengcu kali ini, Pinto tidak bisa memberikan pendapat apa-apa. Lagipula ilmu silat adalah pelajaran yang paling rumit. Dengan kata lain tidak ada batas tertentu yang dapat dijadikan patokan. Setiap cabang ilmu mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pinto juga tidak berani memutuskan ilmu kepandaian siapa yang berhak menjabat kedudukan Bulim Bengcu. Resikonya terlalu besar. Selama beberapa bulan terakhir ini, pinto sudah mengadakan penyelidikan secara teliti. Memang ada satu orang yang cukup memenuhi syarat. Baik ilmu silatnya maupun mutu orangnya serta kecerdasan otaknya, boleh dibilang cukup memuaskan. Pinto adalah seorang beragama yang sudah lama mengasingkan diri, nama besar bagi Pinto tidak berarti apa-apa. Tetapi aku mempunyai niat untuk membantu orang ini menjadi tokoh besar yang mempunyai nama di dunia persilatan. Siapa tahu dia bisa merebut kedudukan Bulim Bengcu kali ini."
Mendengar kata-katanya, untuk sesaat si pengemis sakti Cian Cong jadi termangu-mangu.
Kemudian kesadarannya seakan tersentak sehingga dia mendongakkan kepalanya tertawa terbahak-bahak.
Tangan kanannya mengangkat hiolo araknya dan sebagaimana biasanya dia meneguk beberapa tegukan besar.
Tampaknya hati si pengemis sakti ini tibatiba jadi gembira bukan kepalang atas kepu-tusan Tian Bu Cu.
Wajahnya berseri-seri dan bibirnya terus tersenyum simpul.
"Apakah yang dikatakan si hidung kerbau ini benar adanya? Si pengemis tua paham sekali watakmu yang suka menyimpan rahasia dalam-dalam. Paling tidak suka memamerkan diri di hadapan orang lain. Padahal ilmu silatmu sudah mencapai taraf yang tinggi sekali. Apalagi Naga Sakti Delapan Jurusmu yang menggetarkan dunia persilatan itu, terlebih-lebih kau anggap sebagai pusaka. Kalau dibandingkan dengan ilmu ciptaan si pengemis tua Delapan Jurus Pedang Pengejar Sukma, boleh dibilang masih menang satu tingkat. Waktu terus berlalu, rambutpun dengan cepat menjadi putih. Selama enam puluh tahun ini, boleh dibilang si pengemis sakti tidak mendapat kemajuan apa-apa. Sedangkan kau setiap hari bersemedi menghadap tembok. Ilmu Naga Sakti Delapan Jurus-mu itu pasti sudah bertambah hebat karena setiap saat kau tambal kelelahannya serta mengubah gerakannya menjadi sempurna. Entah sahabat mana yang mendapat rejeki demikian besar sehingga memperoleh perhatianmu dan akan mewarisi ilmu hebat yang pernah mengalahkan si pengemis sakti itu?"
Tian Bu Cu tetap tersenyum simpul.
"Cian-heng memang suka merendah."
Sekali lagi Cian Cong mengangkat hiolonya dan meneguk arak di dalamnya. Kemudian tangannya mengusap sisa arak yang masih ada di sudut bibir. Setelah itu kembali dia tertawa terbahak-bahak.
"Siapa orangnya yang mendapat perhatianmu yang besar, rasanya si pengemis sakti dapat menebak sebanyak delapan bagian. Tetapi ada baiknya kau katakan sendiri sehingga dugaan si pengemis sakti dapat terbukti."
Tian Bu Cu tersenyum lembut mendengar kata-kata si pengemis sakti Cian Cong yang lebih pantas disebut pancingan.
"Orang yang mendapat perhatian Pinto, tidak lain tidak bukan dari si gadis malang yang berniat kembali ke jalan lurus, nona Liang Fu Yong!"
Begitu kata-kata ini tercetus dari bibirnya, bukan hanya Yibun Siu San yang tertegun, bahkan si pengemis sakti Cian Cong yang mempunyai kebiasaan tidak mau mengalah kepada siapapun ikut-ikutan terkesima karena keputusan Tian Bu Cu benar-benar di luar dugaannya.
Tanpa sadar, tubuhnya bergerak dan mencelat ke atas kurang lebih tiga kaki.
"Apakah kata-kata yang kudengar tadi tidak salah? Mungkinkah telinga si pengemis tua tiba-tiba jadi pekak sehingga pendengaran jadi kurang jelas? Kau ingin menerima Liang Fu Yong sebagai murid? Tadinya aku mengira orang yang kau maksudkan adalah pendekar pedang tingkat lima, Tan Ki!"
Tian Bu Cu tertawa lebar.
"Tenaga dalam Cian-heng sudah mencapai taraf tertinggi, selama ini selalu berlatih dengan keras. Dengan demikian baik indera penglihatan maupun pendengaran pasti lebih peka dari orang lain, mana mungkin Cian-heng salah dengar? Sebelum kata-kata ini tercetus dari mulut Pinto, sejak semula pinto sudah memikirkannya matang-matang. Selamanya Pinto tidak sembarang bertindak apabila belum yakin. Kalau gadis ini benarbenar berniat merubah tabiatnya dan tabah terhadap segala penderitaan, mungkin dalam perebutan Bulim Bengcu besok, dia masih mempunyai kesempatan untuk mencoba-coba."
Dengan tenang dan santai dia mengucapkan kata-kata ini, nada suaranya cukup tegas.
Orang yang mendengarnya tidak dapat mengetahui rahasia apa yang terselip di dalam hatinya.
Namun para hadirin yang mendengar ucapan itu, hampir semuanya memandang orangtua ini dengan mata terbelalak dan mulut terbuka lebar-lebar.
Beberapa saat kemudian tampak mereka saling lirik dengan wajah penasaran.
Tampak Tan Ki tersenyum simpul.
Dia melirik ke arah Liang Fu Yong yang ada di sampingnya.
Sorotan matanya seakan mengatakan.
"Benar bukan apa yang kukatakan tempo hari?"
Dengan demikian dia juga seakan membuktikan bahwa dirinya tidak mendustai perempuan itu.
Kebetulan saat itu, Liang Fu Yong juga sedang mengerling ke arahnya.
Dua pasang mata bertemu.
Persis seperti besi berani yang saling menarik.
Untuk sekian lama keduanya saling memandang tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Hati masing-masing digelayuti perasaan yang berbeda.
Pada saat itu juga Tan Ki tiba-tiba merasa Liang Fu Yong yang ada di sampingnya jauh lebih cantik dari sebelumnya.
Penampilannya begitu lembut mempesona, begitu menawan.
Liang Fu Yong juga merasa bahwa dalam sinar anak muda itu terkandung perhatian yang besar serta kasih sayang yang dalam.
Hal ini belum pernah ditemui perempuan itu sebelumnya.
Biasanya dia hanya melihat sinar iba di dalam mata Tan Ki.
Untuk sesaat hatinya seperti sangat terhibur.
Seakan pengorbanannya selama ini tidak sia-sia.
Saat itu juga, dia membalas senyuman Tan Ki dengan seulas senyuman yang tidak kalah manisnya.
Setelah itu, perlahan-lahan dia menundukkan kepalanya rendah-rendah.
Telinganya kembali mendengar suara Tian Bu Cu yang welas asih dan penuh kelembutan.
Bagi perempuan, suara orang tersebut seakan tiba-tiba menjadi musik yang paling merdu yang pernah didengarnya dalam seumur hidupnya.
"Yibun-heng kali ini menjadi panitia penyelenggara pertandingan ini. Dapatkah Yibunheng menyediakan sebuah ruangan kosong untuk pinto?"
Yibun Siu San langsung berdiri dari tempat duduknya. Dia menjura sambil mengembangkan seulas senyuman.
"Totiang sudah terbiasa hidup menenangkan diri dalam tempat yang sunyi seperti Yang Sim An. Aku justru sedang khawatir kalau tempat di Tok Liong-hong tidak sesuai untuk totiang. Orang banyak tentu sangat bising, mungkin tidak akan kerasan di sini. Kalau ternyata Totiang tidak mencela tempat ini dan bersedia tinggal, hal ini merupakan rejeki besar bagi aku, Yibun Siu San."
Selesai berkata, dia segera memerintahkan seorang lakilaki bertubuh kekar untuk membersihkan sebuah ruangan untuk orangtua tadi.
Setelah itu baru dia mengibaskan tangannya agar orang itu langsung mengundurkan diri dan melaksanakan apa yang diperintahkannya.
Tampak Tian Bu Cu merenung sejenak.
"Tapi..."
Baru mengucapkan sepatah kata, seakan ada sesuatu hal yang teringat olehnya sehingga ucapannya tidak diteruskan.
Namun siapa memangnya Yibun Siu San.
Orang ini juga mempunyai pengalaman yang cukup banyak.
Melihat Tian Bu Cu agak bimbang, dia segera dapat menduga bahwa orangtua itu masih ada permohonan yang lainnya, hanya saja ragu-ragu dicetuskan.
Oleh karena itu dia langsung mengembangkan seulas senyuman yang ramah.
"Apabila Totiang masih ada permintaan yanglain, harap jangan sungkan-sungkan. Katakan saja. Seandainya masalahnya sangat besar, di hadapan begini banyaknya sahabat, pasti ada jalan untuk menyelesaikannya."
"Pinto juga minta disediakan dua orang jago berilmu tinggi untuk berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan."
Tiba-tiba terdengar si pengemis sakti Cian Cong menukas.
"Si pengemis tua tidak percaya. kalau dalam semalaman saja kau dapat membuatnya menjadi jago dan sanggup mengikuti pertandingan."
Mendengar ucapannya, tampak sepasang mata Tian Bu Cu mengeluarkan sinar yang tajam tetapi sekejap kemudian dia sudah biasa kembali. Wajahnya masih tetap mengembangkan senyuman.
"Enam puluh tahun sudah berlalu, tetapi sikap keras kepalamu tetap saja tidak berubah. Apa yang terpikir dalam hatimu langsung saja kau cetuskan. Selamanya tidak pernah dipertimbangkan terlebih dahulu. Dalam satu hari, apabila ingin membuat seseorang menjadi tokoh yang terkenal, di dengar sepintas lalu oleh kalian semua seakan sebuah dongeng yang mustahil menjadi kenyataan. Tetapi perlu diketahui bahwa ilmu silat itu demikian luas dan dalamnya sehingga tidak ada batas tertentu atau tingkat tertentu. Apalagi ilmu Lwekang yang sejati. Jangan kata tiga atau lima tahun, biar dua puluh tahun atau tiga puluh tahun juga tidak pernah berhasil menggali sampai dasarnya yang paling dalam. Seandainya seseorang memiliki kepandaian tinggi, tentu bukan hal yang bisa dicapai dalam sekejap mata. Meskipun di dunia ini sering dijumpai orang yang berusia muda namun ke-pandaianya sudah tinggi sekali. Namun biasanya orang itu menemui keajaiban yang langka, atau kebanyakan bersifat ilmu dari golongan sesat yang setengah dipaksakan. Biarpun bisa mencapai taraf yang cukup tinggi, tapi biasanya juga ada efek sampingan yang kelak akan mencelakai diri sendiri..."
Tiba-tiba dia menghentikan kata-katanya.
Sepasang matanya menyorotkan sinar tajam, pandangannya perlahan-lahan menyapu ke arah para hadirin yang berkumpul di ruangan tersebut.
Tampak mereka mendengarkan dengan penuh perhatian, tanpa sadar bibirnya mengembangkan seulas senyuman.
Setelah itu dia baru meneruskan lagi kata-katanya...
"Umumnya ilmu silat tidak dapat dipilih-pilih jenis tertentu, misalnya ilmu tinju atau pukulan saja. Karena pengaruhnya kurang hebat sehingga mudah dikalahkan lawan. Juga tidak mungkin sekali belajar langsung bisa, kecuali seperti yang pinto katakan di atas tadi. Umpamanya orang itu menemui suatu keajaiban, boleh dibilang tidak ada cara untuk belajar semacam ilmu dalam waktu yang cepat. Namun selama ini pinto hidup mengasingkan diri di Yang Sim An. Pernah satu kali ketika sedang bersemedi, tanpa sengaja pinto menemukan pengetahuan bahwa ilmu silat dari perguruan manapun mempunyai kelebihan dalam menghadapi lawan. Untuk memecahkan rahasia tersebut, bagi orang yang berotak cerdas tentu tidak sulit untuk memahaminya. Setelah memahami rahasia tersebut, bukan saja waktunya dapat dipersingkat, bahkan pengaruhnya boleh dibilang sangat ajaib. Bukan hal yang dapat dibayangkan oleh orang biasa, Waktu semalam, bagi Pinto sudah lebih dari cukup. Orang yang mempelajarinya dan ingin memahami rahasianya harus memusatkan perhatian yang sepenuhnya, tubuh dan pikiran harus menyatu. Persis seperti seorang pertapa yang masuk dalam detik kehampaan. Tidak boleh terkena sedikitpun rasa terkejut atau gangguan di saat tersebut. Apabila hal ini sampai terjadi, bukan saja ilmu silatnya dapat menyurut, namun ada kemungkinan urat nadi dalam tubuhnya membengkak sehingga darahnya mengalir secara terbalik. Dengan demikian orang itu akan menjadi cacat seumur hidup. Justru karena sebab inilah, pinto memberanikan diri meminta perlindungan dari dua orang jago berilmu tinggi untuk berjaga-jaga berhadap segala kemungkinan."
Mendengar kata-katanya yang demikian berat serta serius, Yibun Siu San dapat membayangkan pentingnya masalah ini.
Meskipun pada dasarnya dia orang yang cerdas dan banyak akal, tetapi setelah mendengar ucapan Tian Bu Cu yang sangat serius itu, untuk sesaat dia tidak bisa menentukan siapa yang cocok mendapat tugas yang berat ini.
Lagipula dia juga tidak enak hati menunjuk seseorang yang belum tentu rela melakukannya.
Hanya sepasang matanya yang mengedar kepada paya hadirin.
Cu Mei yang merupakan salah satu dari Ciong San Suang Siu melihat para hadirin semuanya merenung tanpa mengucapkan sepatah sepatah katapun.
Dia sendiri juga menundukkan kepalanya berpikir sejenak, ke-mudian dia mendongakkan kepalanya kembali menatap abang angkatnya Yi Siu.
Setelah itu tampak bibirnya mengembangkan seulas senyuman.
"Cayhe dua kakak beradik bersedia menjadi pelindung Totiang untuk satu malam..."
Belum lagi ucapannya selesai, tampak Liang Fu Yong berjalan keluar dari tempatnya dengan langkah gemulai.
Ketika sampai di hadapan Tian Bu Cu, dia langsung menjatuhkan dirinya berlutut di hadapan orangtua tersebut.
Dari mulutnya terdengar suara yang lembut dan merdu.
"Tecu menghadap Insu (guru yang budiman)."
Tian Bu Cu tersenyum simpul. Lengan pakaiannya dikibaskan, serangkum tenaga yang lembut segera terpancar keluar dan menahan tubuh Liang Fu Yong yang akan menjatuhkan diri berlutut di hadapannya.
"Sekarang masih belum waktunya upacara penyembahan menghadap guru, kau bangunlah."
Liang Fu Yong jadi tertegun mendengar ucapannya.
Dia benar-benar tidak mengerti apa sebenarnya yang terkandung dalam hati tokoh sakti tersebut.
Terang-terangan dia sudah berani mengumumkan di depan orang-orang bahwa dia akan menerimanya sebagai murid, tetapi mengapa dia tidak mau menerima penghormatannya?
Tetapi biar bagaimana Liang Fu Yong tidak berani lancang menanyakan hal tersebut.
Perlahan-lahan dia berdiri dan berjalan kembali ke tempatnya semula dengan kepala tertunduk.
Saat ini Cu Mei sudah mendorong mejanya dan bangkit dari tempat duduk.
Dia menjura kepada Tian Bu Cu dan berkata.
"Silahkan!"
Dia langsung membalikkan wajahnya dan mengajak Yi Siu berjalan keluar.
Tian Bu Cu juga menjura ke sekeliling ruangan itu untuk menyalami para hadirin.
Kemudian dia menggapai kepada Liang Fu Yong agar mengikutinya.
Tampak jubahnya yang longgar berkibar-kibar ketika kakinya melangkah.
Tampaknya santai-santai saja tetapi dalam sekejap mata sudah berada jauh dari pandangan.
Setelah keempat orang itu tidak terlihat lagi, Yibun Siu San baru menanyakan pengalaman Tan Ki beserta yang lainnya selama meninggalkan Tok Liong Hong.
Ketika mendengar cerita Tan Ki, si pengemis cilik serta Liu Mei Ling yang bertemu dengan si gadis berpakaian putih, sepasang alisnya langsung mengerut.
Yibun Siu San sendiri termasuk orang yang periang.
Jarang terlihat dia bermuram durja kecuali ada sesuatu yang gawat sekali.
Terdengar suara mendesah dari bibirnya.
Untuk beberapa lama dia menundukkan kepalanya merenung.
Matanya terpejam rapat-rapat, tampaknya dia ingin memusatkan seluruh pikirannya untuk menebak asal-usul si gadis berpakaian putih.
Tetapi sampai cukup lama dia masih tidak terpikir siapa tokoh terkenal di dunia Kangouw ini yang memelihara seekor elang raksasa.
Cian Cong melihat dia memejamkan matanya dan menundukkan kepalanya merenung sekian lama.
Bahkan hampir sepeminuman teh lamanya, sang sahabat tidak mengucapkan sepatah katapun.
Tanpa terasa hatinya juga terasa pilu dan getir, karena dia juga seorang tokoh Bulim yang sudah mempunyai nama besar.
Mula-mula mendengar cerita Tan Ki tentang si gadis berpakaian putih, dia juga menguras otaknya berpikir sampai lama sekali.
Namun seperti juga Yibun Siu San saat ini, dia tidak ingat ada seorang Cianpwe seperti yang dikatakan oleh Tan Ki.
Dengan demikian, dia paham sekali bagaimana penasarannya perasaan hati Yibun Siu San saat ini.
Melihat keadaan ini, dia merasa iba terhadap rekannya itu, tetapi Tan Ki pernah memohon agar tidak mengatakan siapa gadis itu kepada orang lain, kecuali kalau keadaan benar-benar mendesak.
Oleh karena itu dia langsung mendongakkan kepalanya tertawa terbahak-bahak.
Dia sengaja ingin mengalihkan pikiran Yibun Siu San.
Setelah itu terdengar dia berkata dengan suara keras.
"Setelah mendengar kalian berunding tadi, tampaknya setelah si pengemis tua meninggalkan Tok Liong-hong, telah terjadi suatu urusan yang hebat. Bahkan si pengemis tua melihat kau sampai mencak-mencak dan seperti cacing kepanasan saja. Sedikit-sedikit mengatakan ingin mengadu jiwa dengan orang. Sebenarnya urusan apa yang membuat kalian demikian panik tidak karuan?"
Mendengar suara tawanya yang memekakkan telinga, Yibun Siu San langsung tersentak dari lamunan.
Mulutnya mengeluarkan suara seruan terkejut seakan baru teringat lagi akan masalah itu.
Perlahan-lahan dia menepuk batok kepalanya sendiri kemudian tertawa getir.
"Kalau diceritakan sejak awal, tentu memakan waktu yang cukup panjang. Rekan-rekan yang hadir di sini tadinya sudah mempersiapkan diri berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan, tetapi pada saat kejadian, mereka sendiri mendapat lawan yang setimpal. Aih, diungkit kembali masalah ini hanya mengesalkan saja. Lebih baik tidak usah diceritakan lagi."
Sepasang mata Cian Cong memancarkan sinar yang tajam.
"Benarkah orang-orang dari Lam Hay dan Si Yu mempunyai nyali demikian besar sehingga berani mengacau di puncak Tok Liong-hong?"
"Apabila Cian-heng ingin melihat buktinya, malam ini atau besok malam ada kemungkinan mereka akan menyelinap lagi ke mari. Pada saat itu Cian-heng dapat"melihat sendiri sampai di mana besarnya nyali mereka. Malah mungkin engkau dan aku terpaksa harus bertarung mati-matian untuk mempertahankan selembar nyawa tua ini."
Berkata sampai di sini, tiba-tiba terdengar Cian Cong mendengus dingin.
Hatinya jadi tercekat.
Dia maklum sekali kalau orangtua yang satu ini mudah sekali terbakar hatinya.
Mungkin ucapannya tadi tanpa sadar telah membangkitkan sikapnya yang keras kepala dan tidak mau mengalah kepada siapapun.
Oleh karena itu, Yibun Siu San cepat-cepat menghentikan kata-katanya dan membungkam seribu bahasa.
Sejenak kemudian dia barumenoleh ke arah Tan Ki dan si pengemis cilik lalu melanjutkan kata-katanya...
"Orang-orang dari angkatan muda ini pasti lelah sekali setelah melakukan perjalanan yang demikian jauh. Mana wajah mereka begitu kotor seperti sudah satu minggu tidak membasuh diri. Sudah seharusnya kita sebagai yang tua membiarkan mereka beristirahat dan membersihkan tubuh masing-masing. Berdiri di sini mendengarkan orang-orang tua berceloteh tentu mereka tidak biasa. Setelah makan malam nanti, baru kita bagi tugas kepada mereka."
Si pengemis cilik dan Hek Lohan memang sejak tadi sudah menunggu kata-katanya ini.
Mereka cepat-cepat menjura kepada Yibun Siu San dan Cian Cong.
Setelah itu mereka mengajak Yang Jen Ping, Ban Jin Bu dan Goan Yu Liong keluar dari ruangan tersebut.
Tan Ki melirik sekilas kepada Liu Mei Ling, kemudian dia mengajaknya kembali ke kamar mereka.
* * * * Ketika Mei Ling selesai membasuh diri, dia sudah mengganti pakaiannya dengan gaun berwarna putih yang indah sekali.
Di bawah cahaya lentera yang remang-remang, kesan yang ditampilkan gadis ini benar-benar demikian anggun laksana seorang dewi kahyangan.
Semakin diperhatikan rasanya semakin menawan.
Tan Ki sampai memandangnya dengan terpesona.
Dia merasa isterinya itu semakin cantik dan dewasa setelah mengalami berbagai kejadian yang hebat.
Untuk sesaat dia tidak dapat mempertahankan diri lagi dan menghampirinya dengan tergesa-gesa lalu memeluk pinggangnya yang ramping.
Dua pasang mata bertemu.
Untuk beberapa saat mereka saling pandang.
Tidak ada seorangpun yang mengucapkan sepatah kata karena di saat seperti ini, kata-kata sama sekali tidak diperlukan.
Dari sinar mata mereka sudah terpancar seribu kalimat.
Kedua pemuda pemudi itu berdiri berpelukan dengan penuh perasaan.
Entah berapa lama sudah berlalu.
Tiba-tiba Tan Ki menggerakkan tangannya dan merangkul Mei Ling erat-erat.
"Ling Moay, sudah waktunya kita beristirahat."
Begitu dia menundukkan kepalanya, dia melihat wajah isterinya itu merah jengah dan tersipu-sipu.
Matanya menyorotkan sinar yang lembut.
Setelah pandangan mereka bertemu, cepat-cepat dia menundukkan kepalanya.
Sikapnya seperti pemalu sekali.
Namun mengandung kejinakan seperti seekor domba.
Kepalanya menyandar di bahu Tan Ki.
Tan Ki langsung memondongnya menuju tempat tidur...
Saat itu merupakan hari keempat pernikahan mereka.
Tetapi baru sekarang mereka mendapat kesempatan berkasih-kasihan sebagaimana layaknya sepasang pengantin baru.
Pasti dapat dibayangkan gairah yang bergejolak dalam dada mereka.
Waktu berlalu bagai kuda yang dipecut, sebentar saja sudah kurang lebih kentungan kedua.
Rembulan yang sejak tadi menyembunyikan diri berusaha mengintai dari balik awan tebal.
Cahayanya begitu redup dan angin musim semi bertiup semilir melambaikan dedaunan yang berguguran.
Seluruh Tok Liong-hong dicekam keheningan.
Pada saat seperti ini seharusnya setiap orang sudah pulas dalam mimpi indah.
Suasana di sekitar bukit tersebut gelap gulita.
Tak terlihat setitikpun sinar penerangan.
Sebetulnya keadaan seperti itu sudah biasa selama pertandingan berlangsung.
Para hadirin maupun orang-orang yang mengikuti pertandingan tentunya sudah merasa letih dan ingin istirahat yang cukup.
Namun suasana malam ini memang agak berlainan karena diliputi ketegangan sejak ada gangguan malam yang lalu.
Terasa ada bahaya yang mengintai di mana-mana sehingga tidak ada seorangpun yang dapat tidur dengan nyenyak.
Tiba-tiba di bawah sinar rembulan yang remang-remang tampak sesosok bayangan berkelebat.
Gerakannya bagai seekor burung yang sangat lincah.
Dalam waktu yang singkat, dia sudah berada di pertengahan bukit Tok Liong-hong tersebut.
Sekali loncat saja dia dapat mencapai jarak sejauh enam tujuh depa.
Kalau ditilik dari kecepatannya, tampaknya kepandaian orang ini tidak dapat dipandang ringan.
Bahkan Kok Hua Hong dan Ban Jin Bu yang bersembunyi di kegelapan menjadi terkejut bukan kepalang.
Kemungkinan besar ilmu orang itu malah lebih tinggi dari pendekar pedang tingkat tujuh.
Justru ketika Kok Hua Hong masih menimbang-nimbang, orang yang muncul itu sudah sampai di atas puncak bukit Tok Liong-hong.
Hati Kok Hua Hong menjadi panik.
Walaupun sadar dirinya bukan tandingan orang itu, tetapi biar bagaimana dia mendapat tugas untuk menjaga pos pertama.
Urusannya bisa gawat sekali.
Oleh karena itu dia tidak berpikir panjang lagi, mulutnya segera membentak...
"Siapa yang nyalinya besar berani menyelinap ke puncak bukit Tok Liong-hong ini?"
Tubuhnya melesat ke bawah, dia meloncat turun dari gerombolan dedaunan pohon siong yang lebat.
Di tengah udara dia mengeluarkan senjatanya yang berbentuk pancingan.
Begitu sampai di atas tanah, tanpa membuang waktu lagi, dia melancarkan sebuah serangan ke arah orang yang menyelinap tadi.
Tampak orang itu menggeser tubuhnya sedikit, lengan jubahnya yang longgar dikibaskan.
Segera terasa ada serangkum arus tenaga yang kuat terpancar keluar dan menahan datangnya serangan Kok Hua Hong.
Hati Kok Hua Hong diam-diam tercekat.
Dia tidak berani melancarkan jurus kedua.
Tubuhnya menjungkir balik ke belakang dan tahu-tahu dia sudah mencelat mundur sejauh tujuh delapan depa.
Begitu pandangan matanya dipusatkan, dia melihat Yibun Siu San sudah mengganti pakaiannya dengan jubah panjang yang longgar.
Di belakang pundaknya tersampir sebatang pedang pusaka.
Pinggangnya diikat dengan sehelai selendang yang lebar, wajahnya tetap ditutup dengan sehelai cadar tipis.
Justru karena penampilannya yang berbeda, maka Kok Hua Hong sampai tidak mengenalinya tadi.
Sepasang matanya menyorotkan sinar yang tajam, bibirnya tersenyum lembut.
"Tentunya kau terkejut sekali."
Katanya. Setelah tertegun sejenak, Kok Hua Hong baru pulih kembali. Dia segera menjura sambil tertawa lebar.
"Tadinya aku mengira gerombolan penjahat itu balik lagi, hampir saja..."
Belum lagi ucapannya selesai, tiba-tiba tampak dua titik asap api melesat ke angkasa dari jarak beberapa li di kaki bukit.
Setiap cahaya api itu ada tiga titik.
Begitu melesat ke angkasa, titik api itu meletus menjadi percikan seperti bintang yang berkilauan, sejenak kemudian baru luruh kembali ke bawah bagai curah hujan.
Melihat pihak Si Yu kembali menggunakan cahaya api sebagai isyarat, Yibun Siu San segera tahu bahwa mereka kali ini ingin berkun-jung secara terang-terangan.
Tanpa dapat ditahan lagi hidungnya mengeluarkan suara dengusan yang berat.
Dia menoleh kepada Kok Hua Hong seraya berkata.
"Bersiap-siaplah, lakukan seperti rencana semula. Sebelum datangnya hujan dan badai, pasti cuaca terang dan keadaan tenang. Aku akan memeriksa tempat lainnya!"
Selesai berkata, dia tidak menunggu jawaban dari Kok Hua Hong.
Tampak tubuhnya berkelebat.
Secepat kilat dia melayang pergi meninggalkan tempat itu.
Setelah Yibun Siu San pergi, Kok Hua Hong mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat tersebut.
Setelah yakin tidak ada sesuatu yang mencurigakan.
Dia baru menggerakkan tubuhnya melesat ke atas pohon serta kembali menyembunyikan diri di balik gerombolan dedaunan yang lebat.
Pohon Siong ini tingginya kurang lebih tujuh delapan depa, orang yang bersembunyi di atasnya dapat melihat pemandangan di selatar lembah tersebut sementara jejaknya sendiri tidak mudah diketahui oleh lawan.
Baru saja dia duduk dengan tenang di atas sebatang ranting pohon.
Tiba-tiba telinganya menangkap suara siulan panjang yang tidak berhenti-henti.
Nadanya kadang melengking kadang rendah, hal ini membuktikan bahwa pihak musuh sama sekali tidak berniat menutupi kedatangan mereka.
Setelah beberapa saat suara siulan tadi terdengar, suasana kembali sunyi seperti semula.
Tetapi di balik keheningan ini terselip hawa ketegangan yang mencekam hati.
Angin menderu-deru melambai-lambaikan rerumputan.
Terdengar suara desiran yang lembut, membuat suasana semakin menyeramkan.
Meskipun Kok Hua Hong termasuk tokoh tua yang sudah banyak pengalaman dan Ban Jin Bu adalah seorang pemuda yang pemberani, namun dalam keadaan seperti ini, mereka juga merasa agak ngeri dan jantungpun berdebar-debar.
Justru ketika kedua orang itu merasa tegang dan mulai tidak sabar.
Tiba-tiba di puncak bukit terlihat belasan sosok bayangan berkelebat.
Gerakan mereka begitu ringan laksana angin yang berhembus.
Hal ini menandakan bahwa di antara rombongan ini tidak ada satupun yang kepandaiannya lemah.
Kok Hua Hong yang melihatnya sampai merasa panik.
Tanpa dapat ditahan lagi sepasang alisnya mengerut ketat.
Diam-diam hatinya berpikir.
"Tampaknya orang-orang yang datang ini semuanya berilmu tinggi. Apabila mereka nanti menyerbu dengan kekerasan, pos pertama ini pasti sulit dipertahankan lebih lama. Ketika pikirannya masih bekerja, tiba-tiba telinganya kembali menangkap suara siulan yang panjang. Kali ini nadanya lebih melengking dari yang tadi. Suaranya bagai gerungan seekor naga sakti yang demikian memekakkan telinga. Mendadak belasan sosok bayangan itu berpencaran ke segala penjuru. Setiap rombo ngan terdiri dari tiga orang. Semuanya ada empat kelompok yang dalam waktu bersamaan berpencar ketiga penjuru, yakni utara, timur dan selatan. Hal ini terjadi dalam sekejap mata. Rombongan yang pertama berlari secepat kilat dan sebentar saja mereka sudah mendekati tempat persembunyian Kok Hua Hong dan Ban Jin Bu. Terdengar Kok Hua Hong mengeluarkan suara tawa yang panjang. Tubuhnya melesat turun dari atas pohon. Senjatanya sudah siap di tangan dan dia menghadang di hadapan rombongan orang itu. Telinganya mendengar suara kibaran pakaian yang mendesir. Ternyata Ban Jin Bu juga sudah ikut melayang turun dan mendarat tepat di sampingnya. Begitu pandangannya diedarkan, dia melihat salah satu dari orang-orang tersebut hanya bermata satu dan bibirnya sumbing. Dia adalah seorang tua yang wajahnya jelek sekali. Di sebelah kanannya berdiri seorang laki-laki setengah baya berusia kurang lebih empat puluh lima tahun, tubuhnya kekar dan berpakaian seperti tukang pukul. Orang di sebelahnya merupakan orang yang paling pendek dalam rombongan mereka. Tingginya kurang dari satu setengah meter. Dilihat sepintas lalu seperti gelundungan bola saja. Begitu bulatnya sehingga tampak menggelikan. Wajahnya persis orang yang baru keluar dari tong oli. Hitamnya sampai mengkilap. Begitu gelapnya kulit orang itu sehingga sulit bagi orang untuk menaksir usianya yang tepat. Di bahunya terselip sepasang golok, sedangkan di pinggangnya menggantung serenceng pisau terbang dan piauw. Hal ini menandakan bahwa orang ini mempunyai keahlian dalam bidang senjata rahasia. Pengetahuan maupun pengalaman Kok Hua Hong cukup luas. Melihat tampang orangorang itu yang luar biasa lagipula pandangan matanya menyorotkan sinar tajam, dia langsung sadar bahwa masing-masing orang ini mempunyai kepandaian yang tinggi dan istimewa. Diam-diam dia bersiap sedia terhadap segala kemungkinan. Setelah memperhatikan orang itu satu per satu, tampak dia menggetarkan senjatanya yang berbentuk bambu pancingan.
"Saudara bertiga malam-malam menyelinap ke puncak bukit tanpa menyebutkan nama masing-masing dan juga tidak memberitahukan terlebih dahulu. Entah maksud apa yang terkandung dalam hati kalian?"
Bentaknya keras. Orangtua yang wajahnya jelek sekali dan rambutnya sudah memutih itu mengeluarkan suara tertawa yang dingin.
"Lohu bernama Ho Tiang Cun, menjabat sebagai Tongcu dari Lam Hay Bun. Selama ini hanya ada orang lain yang memberitahukan ataupun mengirim undangan apabila ingin berkunjung. Lohu sendiri belum pernah melakukan yang sebaliknya, apalagi meminta ijin memasuki suatu wilayah."
Kok Hua Hong langsung mendengus dingin mendengar kata-katanya yang pongah.
"Cukup besar juga mulutmu itu!"
Sindirnya.
"Lumayan! Lumayan!"
Melihat orangtua itu baru datang saja sudah begitu sombong, tanpa terasa hawa amarah dalam dada Kok Hua Hong meluap juga.
"Di puncak bukit Tok Liong-hong ini sedang berkumpul para jago kelas tinggi dari daerah Tionggoan. Nama mereka sudah terkenal di mana-mana. Kalau dibandingkan dengan berdirinya dunia Bulim kami yang sudah ratusan bahkan ribuan tahun, satu Lam Hay Bun saja belum berarti apa-apa. Apalagi hanya seorang yang menjabat kedudukan Tongcu, benar-benar bagai seekor katak dalam tempurung yang belum pernah melihat luasnya bumi tingginya langit, sehingga berani mengacaukan daerah Tionggoan!"
Ho Tiang Cun mendongakkan wajahnya tertawa terbahak-bahak.
"Justru karena hal inilah, maka lohu tidak perduli perjalanan sejauh ribuan li untuk melihat buktinya sendiri. Kau juga tidak perlu menghalangi kegembiraan hati lohu ini. Cepat minggir!"
Baru saja ucapannya selesai, tahu-tahu tubuhnya sudah berkelebat menerjang ke depan.
Kebesaran nyalinya dan kecepatan gerakan tubuhnya benar-benar di luar dugaan Kok Hua Hong maupun Ban Jin Bu.
Wajah Kok Hua Hong langsung berubah hebat.
Dia benar-benar terkejut sekali.
Baru saja dia bermaksud menggeser kakinya menghindar untuk kemudian baru memikirkan cara menghadapi orang ini, tiba-tiba dia melihat cahaya berkelebat dan suara angin yang mendesir.
Rupanya Ban Jin Bu yang berjiwa muda tidak dapat menahan kemarahan hatinya lagi melihat lagak orangtua yang menyebalkan ini.
Tanpa berpikir panjang, dia sudah menggerakkan golok pusakanya menyambut ke depan.
Tampak Ho Tiang Cun tertawa terbahak-bahak.
"Anak baru gede sudah cari mati!"
Telapak tangan kanannya terulur ke depan.
Dengan jurus Naga Mencengkeram Dari Balik Awan, serangkum tenaga dahsyat langsung terpancar keluar dan menerjang pergelangan tangan Ban Jin Bu yang menggenggam golok.
Golok milik Ban Jin Bu ini benar-benar merupakan pusaka yang diwariskan turun temurun dalam keluarganya.
Bukan saja sangat tipis, tetapi apabila digerakkan akan menimbulkan daya tolak yang lembut.
Pengaruh yang terpancar sangat ajaib, namun mempunyai daya yang sangat ringan sehingga orang yang menggenggamnya tidak merasa berat sebagaimana golok biasanya yang mempunyai bobot berat.
Jurus-jurus serangannya pun jauh berbeda dengan ilmu golok umumnya.
Ho Tiang Cun mengira tenaga dalamnya yang sudah dilatih kurang lebih tujuh puluh tahun pasti tidak dapat ditahan oleh pemuda ingusan itu.
Dari segi pengalaman saja pasti ia jauh lebih banyak daripada Ban Jin Bu.
Gerakan serangannya kali ini begitu cepat sehingga sulit diikuti pandangan mata yang kurang tajam.
Dia sudah yakin bahwa serangannya kali ini pasti akan mencapai sasaran dengan telak.
Entah bagaimana, tibatiba terlihat golok di tangan Ban Jin Bu berputaran.
Gerakan golok itu berubah tepat di saat serangannya hampir mengenai pergelangan tangan Ban Jin Bu.
Perubahan yang mendadak itu benar-benar di luar dugaannya.
Tahu-tahu golok itu malah mengincar pergelangan tangannya sendiri!"
Rasa terkejutnya kali ini benar-benar luar biasa.
Tetapi biar bagaimana dia adalah seorang pemimpin dari rombongan tersebut.
Ilmunya termasuk paling tinggi di antara ketiga orang itu.
Tentu memalukan baginya apabila dia sampai tersungkur roboh dalam satu jurus di tangan anak yang baru gede pula.
Wajahnya mengeluarkan suara siulan yang keras.
Telapak tangan kanannya menekuk sedikit, dengan jurus Burung Bangau Mematuk Ikan dia menyambut datangnya serangan golok Ban Jin Bu.
Ketika dia melancarkan serangan ini, kejadiannya benar-benar cepat sekali, kekuatan yang terpancar sungguh dahsyat, Kok Hua Hong yang melihatnya sampai tertegun, diamdiam hatinya berpikir.
"Mengapa dia menyambut serangan golok dengan tangan kosong, malah menggunakan cara keras lawan keras pula, bukankah ini yang dinamakan gilagilaan?"
Tiba-tiba terdengar suara benturan senjata yang terbuat dari logam.
Tanpa dapat di tahan lagi dia segera mendongakkan wajahnya memandang.
Tampak golok Ban Jin Bu tertangkis oleh orangtua itu begitu kuat.
Anak muda itu sampai merasa lengannya kesemutan dan dadanya seperti diselimuti hawa panas, orangnya sendiri berdiri dengan termangu-mangu.
Dari luar memang tampaknya Ho Tiang Cun ini menghadapi lawan dengan tangan kosong dan tidak berbekal senjata apapun.
Tetapi sebetulnya tangan kiri orang itu memakai sebuah sarung tangan yang terbuat dari besi.
Dengan demikian, selain dia dapat melindungi telapak tangannya, juga dapat digunakan untuk menangkis senjata tajam.
Kalau bukan orang yang mawas sekali, tentu tidak akan tahu kalau tangan itu memakai sarung besi.
Karena mula-mula Ho Tiang Cun memandang ringan lawannya, hampir saja dia terkena serangan Ban Jin Bu.
Justru karena hal ini pula, hawa pembunuhan dalam dadanya bangkit seketika.
Saat ini melihat Ban Jin Bu masih berdiri dengan terkesima, dengan jurus Bintang Mengejar Rembulan, sarung tangan besinya kembali menghantam ke depan.
Ditangkis dengan tenaga yang kuat oleh Ho Tiang Cun, golok di tangan Ban Jin Bu hampir saja terlepas.
Kali ini melihat serangan orangtua itu malah lebih hebat dari yang pertama, mana mungkin dia berani menyambut lagi dengan kekerasan.
Tubuhnya mencelat ke udara, setelah berjungkir balik satu kali, dia melayang mundur sejauh satu depa lebih.
Si gemuk pendek berwajah hitam dan laki-laki bertubuh kekar tiba-tiba bergerak dan menghambur ke atas, mereka lewat di samping tubuh Kok Hua Hong dengan niat menyelinap ke puncak bukit.
Kok Hua Hong segera merentangkan bambu pancingannya yang panjang.
Mulutnya memperdengarkan suara tawa terbahak-bahak.
"Tunggu dulu, tunggu dulu! Walaupun anak muda itu tidak begitu becus, masih ada aku si tua b angka ini!"
Sembari berkata, dia menghentakkan bambu pancingannya di udara sehingga berputaran dua kali.
Saat itu juga tampak gulungan bayangan yang timbul dari pancingannya dan seakan menyelimuti sekitar dirinya.
Tenaga dalam Kok Hua Hong sudah termasuk tinggi juga.
Meskipun hanya sebuah pancingan yang biasa-biasa saja bahkan halus sekali, namun berkat hentakan tenaga dalamnya yang kuat, maka pancingannya itu dapat menjadi sebatang senjata yang hebat, begitu digerakkan terdengar suara angin menderu-deru.
Si gemuk pendek berwajah hitam dan laki-laki kekar tadi terdesak sedemikian rupa sehingga membatalkan niatnya mendaki puncak bukit.
Mereka terpaksa membalikkan tubuh lalu menangkis serangan Kok Hua Hong tersebut.
Ilmu silat kedua orang itu boleh dibilang sebanding dengan pendekar pedang tingkat delapan, sedangkan Kok Hua Hong sendiri juga ditaksir oleh Yibun Siu San mempunyai kepandaian yang setara.
Dengan satu melawan dua musuh, tadinya hanya ia lakukan karena emosi sesaat.
Dia tidak berpikir panjang lagi.
Dengan segenap kemampuan dia menghadapi dua orang lawan itu.
Tetapi lama kelamaan, dia mulai kewalahan, keringat sudah membasahi keningnya.
Bayangan yang timbul dari pancingannya mulai memudar, kalau tadinya menyelimuti sampai sejauh satu depaan, sekarang hanya kurang dari setengah depa saja.
Si gemuk pendek dan laki-laki kekar pada dasarnya memang orang yang licik.
Melihat kesempatan yang bagus itu, mereka segera menggencarkan serangannya.
Begitu terdesaknya Kok Hua Hong sampai ia terpaksa menahan di kanan menangkis"di kiri.
Keadaannya mulai terperangkap dalam bahaya.
Ban Jin Bu melihat keringat dingin terus menetes dari kening Kok Hua Hong, selembar wajahnya pun sudah basah oleh keringat.
Nafasnya tersengal-sengal.
Tahu situasi orangtua itu mulai genting, hatinya menjadi panik sekali.
Meskipun dia sadar kepandaiannya sendiri masih tidak berarti apa-apa dibandingkan mereka bertiga, tetapi dia tidak sempat mempertimbangkan lebih banyak lagi.
Golok di tangannya berputar, dia berniat menerjang ke depan dan mengadu jiwa dengan kedua orang dari pihak musuh itu.
Tiba-tiba telinganya menangkap suara tawa yang keras dan memekakkan telinga, sesosok bayangan hitam melesat datang lewat atas kepalanya.
Orangnya belum sampai, sebatang pedang bambu yang ada di tangannya sudah meluncur bagai kilat ke arah laki-laki bertubuh kekar.
Kecepatannya tidak kalah dengan hembusan angin, kekuatan yang terpancar dari pedang bambu itu dahsyat sekali.
Laki-laki bertubuh kekar dan bercambang lebat itu langsung tergetar mundur dua langkah oleh serangan yang datangnya mendadak ini.
Kok Hua Hong sendiri segera merasa bebannya jauh lebih ringan karena satu lawannya sudah tergetar mundur.
Semangatnya juga terbangkit kembali.
Sepasang lengannya digetarkan dan pancingannyapun berputaran di udara.
Dengan jurus "Bangau Membentangkan Sayap"
Dan Im Yang Memutar Arah, sekali gerak dia melancarkan dua jurus serangan.
Saat itu juga bayangan pancingannya bergulung-gulung bagai ombak di lautan.
Laki-laki gemuk pendek berwajah hitam itu juga melihat semangat Kok Hua Hong sudah terbangkit kembali.
Suara yang timbul dari pancingannya menggetarkan hati orang itu.
Untuk sesaat dia malah tidak berani menyambut serangan Kok Hua Hong.
Dari menyerang sekarang dia malah mempertahankan diri.
Kakinya mencelat mundur sejauh lima langkah.
Tampak tangannya bergerak ke belakang, terlihatlah cahaya putih yang berkilauan, sepasang golok yang tersampir di punggungnya sudah dicabut keluar.
Kok Hua Hong tertawa terbahak-bahak.
"Sekarang kita duel satu lawan satu. Berarti setali tiga uang, pokoknya belum ada yang rubuh tidak boleh berhenti. Harus bertarung sampai tarikan nafas yang terakhir!"
Pancingannya dihentakkan, dengan sengit dia menyapunya ke depan.
Saat itu juga terlihat cahaya golok berpijar-pijar, bayangan pancingan bergulung-gulung.
Keduanya merupakan pendekar pedang tingkat delapan.
Siapapun mencari peluang untuk melancarkan serangan terlebih dahulu.
Dari lambat mereka bertarung, semakin lama semakin cepat.
Setelah sepuluh jurus ke atas, sulit lagi membedakan mana kawan dan mana lawan.
Sementara itu, Ho Tiang Cun sudah melihat jelas orang yang tadi muncul memberikan bantuan kepada Kok Hua Hong.
Rambut serta jenggotnya sudah memutih.
Pakaiannya lusuh serta penuh tambalan.
Baik tampang maupun penampilannya menyebalkan.
Tangan kanannya menggenggam sebatang pedang bambu, di pinggangnya tergantung sebuah hiolo arak.
Kalau ditilik dari semuanya ini, mirip dengan si pengemis sakti Cian Cong yang pernah didengarnya ketika masih di Lam Hay.
Oleh karena itu dia segera memperdengarkan suara tawa yang dingin.
"Apakah si tukang minta-minta tua ini Cian Cong sendiri adanya?"
Tanyanya datar. Cian Cong memperlihatkan senyuman yang angkuh.
"Kalau melihat tampang mukamu itu, masih belum pantas kau menanyakan siapa adanya aku ini!"
Selama hidupnya Ho Tiang Cun terkenal orang yangf tinggi hati.
Mana pernah dia menerima penghinaan dari orang lain.
Mendengar kata-kata si pengemis sakti Cian Cong, saking kesalnya sampai-sampai seluruh tubuhnya bergetar, wajahnya yang jelek berubah hebat.
Sekali lagi dia tertawa dingin.
Matanya yang hanya satu ini mengerling ke sana ke mari.
Kemudian dia menatap Cian Cong lekat-lekat.
Diam-diam dia mengerahkan tenaga dalamnya dan siap melancarkan serangan.
Tentu saja hal itu tak luput dari perhatian si pengemis sakti.
Sebenarnya dia sudah tahu kalau Ho Tiang Cun diam-diam mengerahkan tenaga dalamnya, tetapi ilmunya sangat tinggi dan nyalinya besar sekali.
Dia sengaja menatap ke atas langit seakan merenungkan sesuatu dan tetap pura-pura tidak menyadari.
Sikapnya yang acuh tak acuh justru membuat orangtua bermata satu itu menjadi semakin waspada.
Dia merasa heran atas ketenangan Cian Cong dan untuk sesaat dia sempat termangu-mangu.
Hatinya menjadi bimbang dan tidak berani langsung turun tangan.
Tiba-tiba terdengar suara siulan yang bening berkumandang semakin lama semakin mendekat.
Dia segera menolehkan kepalanya.
Di bawah cahaya rembulan yang redup, tiba-tiba tampak tiga sosok bayangan berkelebat.
Persis seperti kijang yang berlari dengan kencang mendatangi ke arah mereka.
Dia langsung sadar bahwa bala bantuan pihak lawan sudah berdatangan.
Namun dia masih berdiri dengan angkuh tanpa rasa gentar sedikitpun.
Bahkan terdengar suara dengusan dingin dari hidungnya.
Tampaknya dia sangat yakin sekali dengan kekuatan pihaknya.
Pada dasarnya gerakan yang mereka lakukan malam ini memang melalui rencana yang matang.
Apalagi mereka mempunyai mata-mata di bagian dalam yang akan memberikan pertolongan seandainya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Pokoknya mereka telah dijanjikan akan dilindungi secara diam-diam.
Rombongannya ini memang bertugas untuk memencarkan perhatian pihak lawan sehingga kelompok lain yang menuju ke utara, selatan dan timur dapat melaksanakan kewajiban mereka dengan lancar.
Tujuan mereka yang terutama adalah merusak tempat pertandingan tersebut dan kalau bisa membunuh pihak musuh sebanyak-banyaknya.
Lebih bagus lagi kalau pihak jago musuh bermunculan semua di tempat tersebut.
Meskipun rombongan Ho Tiang Cun ini hanya terdiri dari tiga orang dan tidak dapat dibandingkan dengan jumlah orang-orang gagah yang berkumpul di puncak bukit Tok Liong-hong, yang rata-rata sudah mempunyai nama besar di Tionggoan, tetapi ketiga orang ini semuanya merupakan tongcu (kepala bagian) dalam perguruan Lam Hay Bun.
Ilmu mereka tinggi sekali.
Ho Tiang Cun menjabat tongcu penasehat, kedudukannya tinggi sekali.
Boleh dibilang kedudukan itu hanya di bawah ketuanya sendiri yang menguasai empat puluh delapan pulau besar kecil.
Laki-laki kekar yang berusia setengah baya bernama Miao Fei Siong itu menjabat sebagai tongcu upacara, dan si gemuk pendek berwajah hitam merupakan tongcu bagian penyimpanan kitab ilmu silat.
Dia juga yang mengurus para murid Lam Hay Bun serta memperhatikan mereka apabila sedang berlatih.
Seandainya ketiga orang ini digabungkan menjadi satu, walaupun belum dapat dikatakan jago-jago yang tidak terkalahkan atau sanggup menguasai dunia persilatan, namun sudah lebih dari cukup untuk menghadapi pendekar pedang tingkat delapan saja.
Bagi mereka tentu bukan masalah yang berat.
Oleh karena itu, begitu Ho Tian Cun melihat bala bantuan dari pihak musuh sudah datang, dia sama sekali tidak merasa gentar.
Dengan tenang dan angkuh dia berdiri tegak di tempat semula.
Terdengar suara bentakan yang keras menyusup ke dalam telinga seiring dengan hembusan angin.
Kok Hua Hong dan Miao Fei Siong sudah terlibat dalam pertarungan yang sengit.
Keadaan kedua orang itu sudah mencapai titik puncak.
Mereka sama-sama mengerahkan segenap kemampuannya dalam menghadapi lawan.
Tampak cahaya golok memijar, bayangan pancingan berkelebat ke sana ke mari.
Masing-masing berusaha mendahului lawannya mencari kesempatan untuk melancarkan serangan yang dahsyat.
Apabila ada salah satu saja yang terpencar sedikit perhatiannya, tentu akan terjadi pertumpahan, darah atau terkapar mati di atas tanah.
Cian Cong melihat kedua orang itu semakin bertarung semakin sengit, setiap saat malah ada kemungkinan terjadi hal yang celaka.
Meskipun mereka merupakan lawan yang sebanding, sulit menentukan siapa yang lebih unggul di antara mereka.
Baca Juga: Pedang Dan Kitab Suci 1
Baca Juga: Pendekar Binal 6