Ceritasilat Novel Online

Hati Budha Tangan Berbisa 7

Eps 7 Hati Budha Tangan Berbisa - Gan KL

Baca online Hati Budha Tangan Berbisa - Gan KL

Cersil Hati Budha Tangan Berbisa - Gan KL.

Tidak lama menunggu pelayan itu telah kembali dengan berseri tawa, tujuh delapan kipas lempit dia taruh di atas meja.

"Kau pandai bekerja. kalau perlu nanti kupanggil kau lagi,"

Kata Ji Bun.

15.43.

Misteri Perkumpulan Ngo-hong-kau Pelayan itu mengundurkan diri sambil menutup pintu dari luar.

Sekenanya Ji Bun jemput sebatang kipas terus dibeber, dengan handuk basah dia basahi permukaan kipas hitam itu lalu menyelinap masuk ke kamar sebelah.

Kipas hitam yang basah segera dia tempel dan tekan pada cap kembang pupur di atas dinding itu.

Cap pupur kembang itu segera mengecap balik di atas kipasnya.

Sekembali di kamarnya dia keringkan kipasnya, lalu kipas itu dilempitnya pula, kemudian ia berjalan keluar.

Di jalanan Ji Bun sengaja pentang kipas hitamnya, bagian yang ada cap kembang sengaja dia unjuk ke depan, sambil jalan dia goyang-goyang kipas seperti pelajar umumnya, dia mondar mandir di jalan raya yang banyak dilalui orang.

Di antara sekian banyak orang-orang yang lewat tidak sedikit kaum persilatan.

Begitu melihat cap kembang di kipasnya, berubah air muka mereka dan cepat menyingkir pergi.

Seperti tidak terjadi sesuatu, Ji Bun putar kayun lalu mampir di sebuah warung teh yang berloteng.

Sambil menikmati air teh, sering dia gunakan kipas untuk menghilangkan rasa gerah badannya.

Aneh sekali, tamu lain satu persatu juga mengundurkan diri.

Ji Bun menunggu dengan sabar, didapatinya seorang tua baju hitam bersama seorang laki-laki kekar lainnya baru datang dan mengunjuk mimik heran dan kaget pada dirinya.

Mereka bisik-bisik sambil melirik ke arahnya, diam-diam girang hati Ji Bun, segera dia buka suara dan bersenandung.

Bait-bait syair yang dibawakan dalam senandungnya tidak serasi satu sama lain, namun laki-laki baju hitam itu berubah air mukanya, bergegas aia berdiri menghampiri Ji Bun, katanya sambil menyengir.

"Bolehkah Lohu duduk di sini?"

"Kenapa boleh?"

Ji Bun menyilakan. Setelah duduk orang ini mengawasi Ji Bun dengan curiga, lalu berkata dengan suara lirih sekali.

"Apakah kau duta pusat?"

Berdebar jantung Ji Bun, mungkin syair-syair senandungnya tadi secara tidak sengaja tepat mengenai sandi-sandi rahasia perkumpulan mereka.

Dari sini dia menarik kesimpulan bahwa cap kembang ini pasti merupakan tanda pengenal dari suatu perkumpulan di Bu-lim, maka dengan wajah serius dia mengiakan.

Terunjuk sikap gelisah pada wajah orang baju hitam, serunya tersipu-sipu.

"Hamba Tio Wi-kong, pejabat Hiangcu dari anak cabang kedua, tidak tahu kedatangan yang mulia, harap dimaafkan akan keteledoran ini,"

Sembari bicara iapun berdiri.

"Duduklah!"

"Hamba tidak berani ......"

"Aku yang suruh kau duduk"

"Kalau begitu, hamba memberanikan diri, maaf."

Otak Ji Bun bekerja cepat, orang pandang dirinya utusan dari markas pusat.

Ia menduga perkumpulan yang menggunakan tanda pengenal cap kembang ini pasti teramat besar dan mewah, kedudukan duta dari pusat juga teramat tinggi, maka dia cari daya untuk mengorek keterangannya dari mulut orang ini, namun dia harus hati-hati supaya tidak mengunjuk tanda-tanda yang mencurigakan.

Beberapa kali mulut Tio Wi-kong sudah terbuka hendak bicara, tapi selalu urung.

Ji Bun diam saja, ia pikir, gunakan titik kelemahan orang, mungkin bisa dikorek sedikit keterangan dari mulutnya.

Maka dia mencobanya.

"Apakah Tio-hiangcu ada waktu senggang?"

Serius wajah Tio Wi-kong, sahutnya.

"Mana berani, hamba bertanggung jawab terhadap semua mata telinga yang disebar di sini."

"Ehm, tugasmu cukup berat dan besar artinya, Hiangcu harus bekerja baik dan hati-hati."

"Ya, ya, mohon petunjuk."

Tidak tahu Ji Bun dengan cara apa dia harus mengorek keterangan orang, terpaksa sekenanya dia bicara.

"Mengenai peristiwa di hotel itu ........"

Sampai disini dia berhenti sambil mengawasi mimik muka orang, betul juga orang baju hitam tertegun sebentar, seperti sangsi dan heran, lalu sahutnya tergagap.

"Apakah duta tidak mengetahui ........"

Tahu pertanyaannya meleset dan menimbulkan curiga orang, lekas Ji Bun unjuk senyuman, katanya tawar.

"Tidak, hanya kutanya sekenanya saja, karena ......."

Sengaja tidak dia lanjutkan, supaya tidak salah omong. Sudah tentu Tio Wi-kong tidak berani tanya lagi, sekenanya ia berkata.

"Apakah Duta sudah bertemu dengan pimpinan anak cabang?"

"O, belum, aku tidak akan menemuinya, ada tugas lain yang harus kukerjakan."

"Apakah Duta tidak sejalan dengan kedua orang yang ditugaskan menggusur perempuan itu?"

Senang hati Ji Bun, tanpa ditanya orang menyinggung kepersoalan yang ingin diketahuinya, ia pura-pura bersikap penuh rahasia, katanya.

"Sudah tentu sejalan, namun aku ada tugas lain lagi, karena ......."

Kata-kata ini melanjutkan ucapannya tadi "karena pusat mensinyalir adanya seseorang yang mencampuri urusan ini, maka aku ditugaskan untuk menyelidiki."

Bualannya memang tepat dan masuk akal, maka Tio Wi-kong tidak menaruh curiga, katanya.

"Entah siapakah ....?"

Dengan serius Ji Bun berkata.

"Te-gak Suseng "

Kaget Tio Wi-kong, laki-laki berbaju hitam ini, serunya.

"Bukankah Te-gak Suseng sudah mati di Tong-pek-san?"

Ji Bun menggertak gigi, katanya.

"Siapa bilang, memangnya Tegak Suseng gampang mati, kuburannya itu palsu."

Melotot biji mata Tio Wi-kong, melenggong karena ucapan Ji Bun, sesaat baru dia berkata.

"Urusan ini cukup genting, hamba harus segera menyebar kaki tangan ........"

"Jangan hal ini kau bocorkan."

Tio Wi-kong mengiakan sambil munduk-munduk.

"Oleh karena itu, eh, ya, untung bertemu dengan kau, beritahukan rencana gerakan pihak sini supaya aku tidak susah-susah putar kayun lagi."

Tio Wi-kong melirik sekelilingnya dulu, setelah jelas tiada orang memperhatikan, lalu dengan suara lirih ia berkata.

"Kaucu sendiri yang turun tangan ........."

Sedikit berubah air muka Ji Bun.

Kaucu?

Kaucu dari mana?

Apakah Bwe-hoa-kau?

Jadi Sam-cay Lolo mati di tangan Kaucu mereka.

Tiba-tiba ia tersentak sadar, orang sedang mengawasi wajahnya, tahu dirinya telah mengunjuk gejala-gejala yang mencurigakan, maka cepat ia berkata;

"Coba lanjutkan."

"Ya, karena perjalanan cukup jauh, maka sementara digusur ke cabang, baru saja dua Duta datang, kata mereka mendapat tugas untuk menggiringnya besok pagi ke markas pusat, pihak kami cukup menyediakan sebuah kereta saja."

Ji Bun manggut-manggut, otaknya bekerja, tiba-tiba pikirannya tergerak, terpikir olehnya majikan yang pernah dikatakan Kwe-loh-jin itu mungkin adalah Kaucu ini?

Inilah kesempatan baik untuk menyelidiki, sekali-kali jangan diabaikan saja.

Ia coba tanya.

"Apakah Hiangcu ada di tempat sekarang?"

Agaknya Tio Wi kong merasa bangga karena berkesempatan menjilat kepada utusan dari pusat, lekas ia menjawab.

"Hamba sekalian siap menunggu perintah."

Ji Bun pura-pura berpikir, katanya kalem.

"Sebetulnya tiada urusan apa-apa, cuma Hiangcu orang sini apal seluk beluk, ada urusan kecil perlu bantuan ........"

"Tidak berani, silakan Duta katakan saja."

"Siapakah orang itu?"

Tanya Ji Bun sambil menunjuk dengan gerakan bibir ke arah laki-laki yang semeja dengan Tio Wi-kong tadi.

"O, dia seorang Thaubak pembantu hamba."

"Baik, kalian berdua boleh keluar kota ......."

"Apakah ke Lam-seng?"

"Betul, aku akan berangkat lebih dulu,"

Ji Bun lantas berdiri sambil merogoh saku.

"Silakan Duta berangkat saja, rekeningnya biar hamba yang bayar."

"Baiklah, kalian harus segera datang, jangan beritahu orang lain."

Setelah meninggalkan warung teh, Ji Bun langsung menuju ke selatan, memangnya dia tidak membawa bekal apa-apa, maka tidak perlu kembali ke hotel, baru saja dia membelok ke jalan besar, seorang pengemis tua mata satu tiba-tiba mendatangi dengan langkah terserot-serot.

"Eh, kau!"

Tiba-tiba pengemis itu berseru dan melotot, berhenti dan mencegat di depan Ji Bun. Ji Bun melengak, dilihatnya pengemis tua ini tidak pernah dikenalnya.

"Tuan ..... tuan ada perlu apa?"

Tanyanya. Pengemis tua itu unjuk senyum lebar, katanya "Hiante, masa kau tidak kenal suaraku lagi? Setengah tahun lamanya, hampir kedua kakiku patah mencari kau."

Seketika berkobar semangat Ji Bun, tak pernah disangkanya di sini dia bakal bertemu dengan Sian-tian-khek Ui Bing murid Biau-jiu Siansing.

"Siaute mohon maaf,"

Ji Bun berkata penuh sesal.

"Guruku mengerahkan puluhan orang, minta bantuan pihak Kay-pang pula,"

Demikian Ui Bing menjelaskan.

"jejakmu dicari di segala pelosok, gelagatnya kau malah, adem ayem saja, dimana kau selama setengah tahun ini?"

"Toako, sekarang aku ada urusan, nanti saja kita bicara lagi!"

Seorang pengemis tua yang kotor, berbicara dengan seorang pelajar yang berpakaian bersih dan cakap di tengah jalan raya, sudah tentu menarik perhatian banyak orang.

Ui Bing tahu diri lekas dia berbisik;

"Baiklah, kau berangkat lebih dulu."

Sambil bertopang tongkat Pak-kau-pang, dengan terserot-serot dia melangkah pergi.

Ji Bun mempercepat langkahnya, lewat jalan kecil yang lebih dekat, ia langsung menuju ke pintu selatan, ia menyusur jalan kampung terus naik ke atas gundukan tanah tinggi.

Saat mana menjelang kentongan ketiga, kalau di dalam kota masih ramai, di luar kota sebaliknya sudah sepi, tidak kelihatan ada bayangan orang.

Baru saja Ji Bun tiba di atas bukit, Ui Bing juga lantas tiba, memang tidak malu dia dijuluki Sian-tian-khek, namun bagi pandangan Ji Bun sekarang yang telah mempelajari ilmu tingkat tinggi Ban-tok-bun, kepandaian orang hanya biasa saja, tiada yang perlu dibanggakan.

Setiba di atas bukit Ui Bing segera bertanya.

"Ada apa Hiante?"

"Aku menunggu orang."

"Siapa?"

"Aku belum tahu siapa mereka, yang jelas dia adalah seorang Hiangcu dari pimpinan sebuah anak cabang dari suatu "Kau"

Entah apa namanya."

Ui Bing tampak kaget, katanya.

"Apakah mereka menggunakan tanda kembang Bwe?"

"Ya, kenapa? Toako tahu perkumpulan mereka?"

"Namanya Ngo-hong-kau, baru beberapa bulan ini timbul di kalangan Kangouw, namun gerakan, mereka sudah menggemparkan Bu-lim."

"Ngo-hong-kau? Siapakah Kaucunya?"

"Belum diketahui, kabarnya orangnya yang berhasil merebut Hud-sim."

"Bagaimana bisa diketahui bahwa Ngo-hong-kaucu adalah adalah orang yang berhasil merebut Hud-sim?"

"Masa kau belum tahu, Bu-lim sudah geger, memangnya di mana saja kau selama ini?"

Karena aturan perguruan yang keras, tidak mungkin Ji Bun menjelaskan rahasia Ban-tok-bun, maka ia menjawab seenaknya saja.

"Siaute mengalami hal yang aneh, terpaksa menyepi setengah tahun."

Lalu dia alihkan pembicaraan.

"Toako, anting-anting yang kutitip padamu untuk dikembalikan kepada keluarga Ciang, bagaimana akhirnya?"

"Aku dicaci maki oleh Ciang-lothau, masakah tanda pertunangan boleh sembarangan dikembalikan ........"

"Bagaimana reaksi Ciang Bing-cu?"

"Waktu itu dia hendak mencukur rambut menjadi Nikoh, untung berhasil dibujuk,"

Lalu dengan nada prihatin ia menyambung.

"Hiante, begitu besar dan luhur cinta nona Ciang, jangan kau menyia-nyiakan harapannya."

"Soal ini kelak dibicarakan saja, apakah yang terjadi belakangan ini, kenapa Bu-lim sampai geger?"

"Petaka di Bu-lim mulai bersemi, agaknya sukar dihindari bakal terjadi bencana berdarah ini,"

Ujar Ui Bing.

"Tiga bulan yang lalu, beruntun terjadi peristiwa besar di Bu-lim, semua yang terbunuh adalah tokoh-tokoh kenamaan dari aliran baik, di tempat yang ditinggalkan cap bunga Bwe, tak lama kemudian lantas muncul perkumpulan yang bernama Ngo-hong-kau ........"

"Langkah pertama mereka mencaplok Sin-eng-pang dan dijadikan cabang ketiga, disusul Ngo-lui-kong yang kini dinyatakan sebagai cabang utama dari Ngo-hong-kau, yang lain-lain umpamanya It-kiam-hwe, Ang-eng-pang dan sindikat-sindikat kecil lain, semua ditelan mentah-mentah."

"Tidak kecil ambisi mereka?"

"Ya, sampai keluarga Ciang di Kay-hong juga dirampok habis-habisan, untung paman Ciang dan puterinya sempat menyingkir."

Tergetar hati Ji Bun, tanyanya.

"Bagaimana selanjutnya?"

"Markas Wi-to-hwe diserbu, ratusan anak buahnya gugur, Bu-cing-so dan Jay-ih-lo-sat gugur, Thong-sian Hwesio terluka parah, untung isteri Wi-to-hwecu segera tiba, dengan gigih dia tempur Ngo-hong-kaucu, kalau tidak tentu Wi-to-hwe sudah ditumpas habis, tapi Ngo-hong-kau pasti tidak akan tinggal diam."

Jantung Ji Bun berdebar keras, Bu-cing-so dan Jay-ih-lo-sat berkepandaian tinggi, jiwa merekapun melayang, maka dapatlah dibayangkan betapa tinggi kepandaian Ngo hong-kaucu, sungguh amat menakutkan.

Untunglah Wi-to-hwecu dan Thong-sian Hwesio masih hidup, kelak masih sempat dia cari kesempatan untuk menuntut balas.

"Kini tinggal Kay-pang dan beberapa aliran besar saja yang belum diusik."

"Toako tahu, Sam-cay Lolo juga sudah mati dan Thian-thay-mo-ki diculik mereka."

"Ya, bagaimana tindakan Hiante?"

"Aku akan menolongnya."

"Kukira amat sulit."

"Siaute akan pertaruhkan jiwa raga."

"Di mana kira-kira sekarang dia disekap?"

"Ada, hubungannya dengan orang yang kujanjikan kemari ini. Toako tahu di mana letak markas cabang mereka di kota ini?.'' "Aku sendiri belum menemukan, tapi tidak sulit untuk menyelidiki."

"Nah, itulah mereka datang, Toako tak usah ikut bicara."

Dua bayangan orang tampak berlari naik ke atas bukit, gerak-gerik mereka cukup cekatan, agaknya berkepandaian lumayan.

Begitu tiba di bawah bukit, Hiangcu yang bernama Tio Wi-kong segera bersuara "Apakah Duta ada di atas?"

"Ya, aku di sini, kalian boleh kemari,"

Ji Bun mengiakan. Begitu tiba di atas bukit Tio Wi-kong berdua tertegun melihat kehadiran Ui Bing. Lekas Ji Bun berkata dengan angkuh.

"Orang sendiri, tidak usah kuatir."

Tio Wi-kong bersama anak buahnya segera memberi hormat kepada Ji Bun, dengan lirikan curiga dan tidak tenteram dia pandang Ui Bing yang menyamar jadi pengemis tua bermata satu, lalu Tio Wi-kong berkata penuh hormat.

"Duta ada perintah apa, silakan pesan saja."

Tujuan Ji Bun mengundang kedua orang ini adalah untuk mendapatkan keterangan supaya lebih leluasa menolong Thian-thay-mo-ki.

Sekilas dia melirik Ui Bing, lalu pandang laki-laki baju hitam di depannya dan katanya.

"Kau, siapa namamu?"

Seperti takut tapi juga senang sikap laki-laki ini dengan munduk-munduk sahutnya tergagap.

"Tecu ...... seorang Thaubak di bawah pimpinan Tio-hiangcu, bernama Ci Tay-khing, mohon Duta suka memberi bimbingan."

"Ehm,"

Dengus Ji Bun, lalu berkata dengan nada lebih kereng.

"Agaknya kau pintar dan cekatan bekerja, kelak pasti ada harapan ditarik ke markas pusat."

Laki-laki baju hitam munduk-munduk lagi, suaranya gemetar senang.

"Semua berkat bantuan Duta."

Ji Bun menunjuk Ui Bing, katanya.

"Dia ini Duta rahasia dari pusat. Dia ingin berhadapan langsung seorang diri dengan ketua cabang kalian, baru pertama kali dia kemari, belum tahu jalan dan seluk beluk di sini, supaya tidak terlalu banyak orang tahu jejaknya, kaulah yang ditugaskan menunjuk jalan baginya."

Laki-laki baju hitam mengiakan, lalu dia memberi hormat kepada Ui Bing, katanya.

"Silakan ikut hamba."

Sikap Ui Bing lebih sombong, tongkat penggebuk anjing di tangannya terangkat, suaranya keluar dari hidung.

"Ya, tunjukkan jalan."

Dengan langkah tergopoh-gopoh laki-laki baju hitam putar tubuh terus lari turun bukit kecil ini.

Ui Bing sedikit mengangguk, pertanda bahwa dia tahu maksud Ji Bun, lekas sekali dia melompat turun ke bawah pula.

Setelah kedua orang tak kelihatan bayangannya, sorot mata Ji Bun tiba-tiba mencorong, dengan suara dingin ia mendesis.

"Kau tahu siapa aku?"

Agaknya Tio Wi-kong belum tahu persoalan apa yang ditanyakan, seketika dia melenggong, sahutnya ragu-ragu.

"Entah siapakah nama Duta yang terhormat ......."

"Aku inilah Te-gak Suseng."

"Hah!"

Tio Wi-kong kaget setengah mati, mukanya pucat terus putar tubuh hendak lari.

"Jangan bergerak,"

Bentak Ji Bun.

"kau takkan bisa lolos, sekarang katakan, siapa Kaucu kalian? Dimana letak markas pusatnya?"

"Ini ....... tidak tahu."

Ji Bun berkata pula, suaranya bengis berwibawa.

"Orang she Tio, bicaralah terus terang ......."

Serta merta Tio Wi-kong menyurut mundur, wajahnya yang semula kelihatan pucat ketakutan kini berubah menyeringai, jari-jari tangannya mengusap ke mulut, katanya.

"Kau mau apa?"

"Jawab pertanyaanku."

"Te-gak Suseng, yang kau andalkan hanya Bu-ing-cui-sim-jiu, nah kau boleh coba atas, diriku."

Ji Bun tertegun malah, apakah orang ini tidak takut terhadap racun?

Kalau dia ini sekomplotan dengan Kwe-loh-jin dan lain-lain, maka tidak perlu dibuat heran.

Kini dia menjadi paham, jari-jari tangan orang mengusap mulut tadi mungkin menelan obat penawarnya, maka dia berani bicara besar dan garang.

Namun Ji Bun sekarang bukan Ji Bun setengah tahun yang lalu, katanya.

"Aku takkan menggunakan tangan beracun, kalau kau mampu melawan sejurus saja, kau boleh pergi sesukamu."

"Memangnya kau mampu menahanku di sini?"

Jengek Tio Wi-kong.

"Nah, cobalah,"

Ujar Ji Bun, sebelah tangannya terus memotong miring ke depan, kelihatannya gerakan tangan ini enteng dan tidak menggunakan tenaga, namun kekuatannya dahsyat luar biasa.

Tio Wi-kong memutar kedua tangan turun naik menyerang sambil bertahan.

Dinilai permainannya, memang dia terhitung jago kelas tinggi dikalangan Kang-ouw.

Baru saja serang menyerang kedua pihak berlangsung, tenaga yang dikerahkan telapak tangan Ji Bun tiba-tiba dimuntahkan, kekuatannya sungguh hebat dan tidak terbendungkan.

"Huuuuaaaah!"

Ditengah jeritan ngeri Tio Wi-kong muntah darah, kakinya mundur beberapa langkah, akhirnya jatuh terduduk.

Sesosok bayangan melayang turun dengan enteng, kiranya Sian-tian-khek yang menyaru jadi pengemis telah putar balik.

"Bagaimana Toako?"

Tanya Ji Bun.

"Jalan menuju ke markas cabang sudah kuketahui."

"Mana orang itu?'' "Sudah kuantar dia pulang ke neraka. Lihay juga dia, pandai main racun. Kalau aku tidak segera turun tangan, hampir saja aku dikibuli."

"Seeeer!"

Tiba-tiba sejalur api menyala menjulang tinggi ke angkasa.

Kiranya melihat gelagat tidak menguntungkan, dikala kedua orang bicara, diam-diam Tio Wi-kong menyambitkan panah berapi ke udara untuk minta bala bantuan.

Ji Bun mendengus sekali, tahu-tahu tubuhnya melejit tinggi, badannya berputar secepat kitaran, mumbul laksana roket meluncur, melampaui luncuran panah berapi dan mengebasnya jatuh di tengah angkasa, maka berpijarlah kembang api beterbangan di udara dan berjatuhan.

Cepat sekali dan seenteng kipas Ji Bun meluncur turun pula.

Lwekang tingkat tinggi yang berhasil dipelajarinya dari perguruan Ban-tok-bun dia kombinasikan dengan Ginkang pusaran angin lesus yang dia pelajari dari orang tua aneh Giok-bin-hiap Cu Kong-tam di dasar jurang itu, sekaligus dia demonstrasikan.

"Hiante,"

Seru Ui Bing terbelalak.

"terbuka mataku malam ini. Guruku terkenal oleh Ginkangnya yang tinggi, agaknya beliau takkan lebih unggul dari pada kau."

Ji Bun geleng-geleng, sahutnya.

"Ah, kau terlalu memuji."

Tio Wi-kong berdiri menjublek, sukmanya serasa terbang dari raganya, mulut melongo, mata terbeliak, hampir dia tidak percaya bahwa ini kenyataan. Ji Bun putar badan dan berkata dengan bengis.

"Sekarang jawablah beberapa pertanyaanku."

Tio Wi-kong menyurut mundur dengan ketakutan, namun dia masih bandel.

"Tiada yang harus kujelaskan."

Ji Bun mengertak gigi, katanya.

"Pernah kau pikir cara bagaimana kematianmu nanti?"

Gemetar Tio Wi-kong melihat sorot mata Ji Bun.

"Kuterima nasib. Jangan kau paksa aku."

"Memaksamu? Ha ha ha, sebaliknya sudah lama aku menahan diri, baru sekarang aku menemui sasaran yang tepat untuk menagihnya."

"Aku utang apa terhadapmu?"

"Boleh kau tanya Kaucu kalian."

"Apa yang hendak kau lakukan terhadapku?"

"Kau bicara terus terang, kuampuni jiwamu."

"Anak didik Ngo-hong-kau tidak gentar diancam dan disiksa, mau bunuh atau disembelih silakan lekas, pasti ada orang yang akan membuat perhitungan padamu nanti."

"Memangnya tulang-tulangmu sekeras besi?"

Tio Wi-kong balas dengan mendengus tanpa menjawab.

"Hiante,"

Sela Ui Bing.

"jangan membuang waktu, gerak gerik Ngo-hong-kaucu serba misterius. Anak buahnya sendiri tiada yang pernah melihat wajah aslinya. Kalau kita menemui ketua cabang mungkin bisa berhasil." 15.44. Duta Istimewa Ngo-hong-kau "Darimana kau bisa berpendapat demikian?"

Tanya Ji Bun.

"Ada seorang Tongcu dari Ngo-hong-kau yang tertawan oleh Wi-to-hwe, meski dikorek, hasilnya tetap nihil."

Ji Bun sudah angkat tangan hendak membunuh Tio Wi-kong, namun tiba-tiba dia ingat akan pantang perguruan, apakah ini juga termasuk membunuh secara semena-mena?

Yang terang orang ini memang belum setimpal dihukum mati, maka gerakan tangan yang membelah dia ubah jadi tutukan, ilmu orang dia punahkan, ditambah tutukan jalan darah menidurnya, lalu katanya kepada Ui Bing.

"Toako, berapa lama lagi akan kentongan kelima, marilah kita tunggu saja di sekitar luar pintu kota."

"Menunggu apa?"

Tanya Ui Bing.

"Mereka hendak menggusur Thian-thay-mo-ki ke markas pusat, antara kentongan kelima akan keluar dari pintu selatan."

"O, Hiante, kukira kita tidak perlu turun tangan tergesa-gesa."

"Kenapa?"

"Kuntit mereka, supaya tahu di mana letak markas mereka."

"Ya, akal bagus. Marilah!"

Mereka turun dari bukit langsung menuju ke selatan dan sembunyi di semak-semak.

Ayam sudah berkokok, lekas sekali fajar telah menyingsing, asap dapur sudah mengepul tinggi dari rumah-rumah penduduk dalam kota, namun sejauh ini tidak tampak sebuah keretapun yang keluar kota.

Ji Bun gugup dan naik pitam, dia merasa telah dikibuli, hawa marahnya menjadi berkobar, katanya kepada Ui Bing.

"Tunggulah sebentar di sini!"

Sekali lompat dia meluncur balik ke arah bukit kecil tadi, namun setiba di tempat, seketika dia menjadi lesu.

Tio Wi-kong yang ditutuknya tadi sudah tidak kelihatan bayangannya.

Setelah ilmu silatnya punah, di tutuk lagi sehingga tidur pulas, untuk siuman juga perlu berselang dua jam kemudian, agaknya dia telah ditolong orang.

Dengan adanya kejadian ini, sudah tentu pihak musuh akan berubah siasat, sebaliknya dirinya bersama Ui Bing menunggu angin secara sia-sia.

Diam-diam ia menyesal kenapa tadi bertindak kurang tegas, kalau Tio Wi-kong dibunuh, mungkin situasi tidak akan berubah, kejadian ini betul-betul ibarat "menyingkap rumput mengejutkan ular", urusan akan semakin rumit dan sukar dibereskan.

Ui Bing bilang Kaucu Ngo-hong-kau adalah orang yang berhasil rebut Hud-sim, namun menurut apa yang dia tahu Hud-sim akhirnya terjatuh ke tangan Kwe-loh-jin, ini membuktikan bahwa Ngo-hong-kaucu pasti majikan Kwe loh-jin dan laki-laki tak dikenal yang pernah membunuhnya tempo hari, maka persoalan sekarang bertambah ruwet.

Bukan saja harus menolong Thian-thay-mo-ki, ibunyapun berada di tangan mereka, mati hidupnya sukar diramal.

Keruan giginya berkerutuk saking gemas dan geram, hatinya panas dan gelisah seperti semut di dalam wajan.

Hari sudah terang tanah, lalu lintas sudah ramai di jalan raya.

Tak lama kemudian Ui Bing juga menyusul ke atas bukit.

Keduanya hanya saling pandang dengan melongo.

Sekonyong-konyong sebuah suara melengking dingin berkumandang.

"Te-gak Suseng, tibalah sekarang saat kematianmu."

Ji Bun dan Ui Bing kaget dan sama-sama menoleh, tampak dari balik pohon di belakang bukit sana muncul dua orang, ternyata dua pemuda berbaju sutera yang bermuka tirus dan kejam, usianya sekitar likuran tahun, satu diantaranya berhidung betet, matanya jalang sadis, seorang lagi kulit mukanya kasar dan beringas, keduanya tampak cekatan, langkahnya enteng.

Ji Bun menyapu pandang, jangeknya.

"Kalian pasti anak buah Ngo-hong-kau?"

Pemuda berhidung betet menjawab dengan suara sumbang.

"Betul, kami adalah Ngo-hong-su-cia."

"Ada petunjuk apa?"

"Akan memenggal batok kepalamu."

"Kalau kalian mampu, boleh ambil saja."

Ngo-hong-su-cia yang bermuka kasar ikut bicara.

"Te-gak Suseng, ada pesan apa lekas katakan kepadaku saja."

Terpancar sinar cemerlang dari biji mata Ji Bun, tanya garang.

"Dimana Thian-thay-mo-ki yang kalian tawan itu?"

"Kau ingin tahu? Sekarang dia sudah menjadi teman seranjang Kaucu kami."

Darah seketika tersirap ke atas kepala Ji Bun, hardiknya.

"Ingin mampus kau!"

Telapak tangannya segera tegak dan menabas, utusan Ngo-hong-kau yang bicara tadi memapak maju, dia menyambut secara kekerasan. Sementara temannya melompat menyingkir.

"Bluk!"

Suara menggelegar, keduanya sama-sama bertolak mundur setapak, hati Ji Bun mencelos, walau dirinya belum kerahkan seluruh kekuatan, namun musuh kuat melawan.

Betapa tinggi kepandaian anak muda ini sungguh amat mengejutkan.

Tampaknya tidak lebih lemah dari pada Siang-tian-ong dan lain-lain, tak heran Ngo-hong-kau berani bersimaharaja di Bu-lim.

Tapi kejut orang itu lebih besar, Lwekang Ji Bun agaknya di luar perhitungannya.

Cepat sekali keduanya sudah saling tubruk dan serang menyerang, pertempuran amat sengit dan dahsyat, dalam waktu singkat susah dibayangkan pihak mana bakal menang.

"Pengemis tua,"

Ujar utusan yang lain.

"biar kau kubereskan lebih dulu."

Tanpa banyak komentar segera dia menyerang Ui Bing.

Hanya tiga gebrakan saja Ui Bing sudah terdesak keripuhan, malah kemampuan untuk balas menyerangpun tiada, julukannya Sian-tian-khek, mestinya gerak-geriknya cukup hebat, maka begiitu melihat gelagat jelek, selicin belut segera dia menyelinap keluar gelanggang.

"Gerakan bagus, tapi jangan harap kau bisa lolos!"

Seru orang itu, tahu-tahu badannya berkelebat, Ui Bing dipukul mundur pula oleh gerakan lawan yang lihay, kalau dalam keadaan biasa, mungkin Ui Bing sudah lari, tapi Ji Bun masih berhantam dengan musuh, betapapun dia tidak tega lari seorang diri, namun kepandaian lawan teramat tangguh bagi dirinya, hanya sedetik dia bimbang dan meleng badannya sudah terpukul sekali.

Dengan menguak darah muntah dari mulut Ui Bing, tongkat ditangannyapun mencelat, terbang entah ke mana, maklum dia bukan orang Kay-pang, tongkat itu hanya pelengkap dari penyamarannya, hakikatnya tongkat itu bukan senjata andalannya.

Di sebelah sana kelihatan Ji Bun lebih unggul menghadapi orang itu, lawan didesaknya mundur berulang-ulang, namun untuk menamatkan jiwanya tidak mungkin dilakukan dalam dua tiga gebrakan saja.

Melihat Ui Bing terluka, hati Ji Bun gelisah.

Terdengar orang yang berhadapan dengar, Ui Bing tengah membentak.

"Pengemis tua, rebahlah kau!"

Jeritan ngeri segera bergema di lembah pegunungan menyusul suara bentakan tadi, Ui Bing terguling-guling roboh.

Ji Bun betul-betul kaget, kini tiada pilihan lagi, seraya menghardik, jurus pertama Kian-ciau-kwi-cau (burung terbang balik kesarang) dari Tok-jiu-sam-sek segera dia lancarkan.

Ban-Yu-siong, kakek gurunya itu pernah berpesan bahwa Tok-jiu-sim-sek terlalu ganas, sekali-kali tidak boleh dilancarkan kalau tidak terpaksa, kini demi menolong jiwa Ui Bing, terpaksa dia berlaku tegas melancarkan ilmu dahsyat ini.

Baru pertama kali ini Tok-jiu-sim-sek sejak diciptakan betul-betul digunakan untuk menyerang musuh, sampai di mana kehebatan dan keganasannya, Ji Bun sendiripun belum tahu.

Dengan gerakan aneh dan cepat menakjubkan tangan beracunnya tahu-tahu menembus bayangan pukulan lawan yang rapat tanpa setitik lubangpun, langsung mengincar ulu hati.

"Ngek"

Gerungan tertahan terdengar, suaranya rendah tapi menyayat hati, utusan itu terhuyung-huyung terus jatuh celentang, darah membasahi dadanya, jiwanya seketika melayang.

Ji Bun sendiri seketika berdiri menjublek melihat hasil keganasan serangannya.

Bu-ing-cui-sim-jiu sudah terampuh tiada duanya dalam dunia ini, apalagi kerjanya racun amat pesat, begitu racun bekerja di dalam badan, dewapun takkan bisa menolongnya.

Orang yang lain pecah nyalinya.

dengan ketakutan tanpa buka suara segera ia ngacir sipat kuping.

Ji Bun lari ke sana memapah Ui Bing tanyanya.

"Bagaimana Toako?"

Ui Bing sendiri juga melongo melihat kehebatan Ji Bun membunuh orang yang melukai dirinya itu sekian lama dia terlongong tidak mampu menjawab.

Terpaksa Ji Bun mengulangi pertanyaannya, Ui Bing baru tersentak dan tertawa getir, katanya.

"Jangan kuatir, aku takkan mati."

Dengan kedua tangan Ji Bun pegang kedua pundak Ui Bing, tiba-tiba Ui Bing berteriak kaget dan ngeri.

"Hiante, tangan kirimu ......."

"O,"

Ujar Ji Bun "tidak apa-apa!"

"Apakah ilmu beracunmu itu sudah punah?"

"Tidak."

"Wah, jiwaku bisa melayang?"

Ji Bun ragu-ragu sejenak, katanya.

"Tanganku ini sekarang bisa membedakan musuh dan kawan sendiri, kau takkan terluka, tidak usah kuatir."

"Ini ....... mungkinkah?"

"Toako, aku takkan menipumu, namun tak mungkin kujelaskan apa sebabnya, kuharap kau tidak tanya soal ini."

"Jadi ada hubungannya dengan rejeki nomplok yang pernah kau katakan itu? Agaknya jerih payah guruku akan sia-sia."

"Jerih payah gurumu apa maksudmu?"

"O, tidak, aku salah omong, maksudku jerih payah calon mertuamu Ciang Wi-bin ........"

"Jerih payah paman Ciang bagaimana?"

"Bukankah beliau pernah kirim kabar melalui guruku bahwa dia sudah mendapatkan resep untuk memunahkan ilmu beracunmu itu?"

"Ya, gurumu pernah menyinggung soal ini, kenapa?"

"Di dalam se

Jilid kitab kuno yang hampir rusak, Ciang Wi-bin memperoleh resep obat yang khusus untuk memunahkan macam racun, namun untuk lima macam di antara obat yang harus diraciknya, dia harus merogoh kantong membayar tiga ribu tahil uang emas, uang bagi dia tidak soal, tiga laksa tahil emas juga mampu dibayarnya ........."

"O,"

Tidak tenteram hati Ji Bun. Berkata Ui Bing lebih lanjut.

"Demi perjodohanmu dan puterinya, Ciang Wi-bin betul-betul sudah mempertaruhkan segala dayanya ......."

"Toako, hampir lupa kutanya padamu. Apa saja kerugian keluarga Ciang setelah dirampok oleh Ngo-hong-kau?"

"Beberapa pembantu keluarganya gugur, tapi mereka ayah beranak sempat menyingkir, sayang semua barang-barang antik dan barang-barang berharga lainnya telah dikuras habis."

"Dimana sekarang nona Ciang?"

"Entahlah, Ciang Wi-bin punya banyak tempat rahasia yang tersebar di mana-mana."

"Ehm, sampai di mana cerita Toako tadi?"

"Untuk melengkapi usahanya menolong kau, seorang diri beliau menuju ke barat naik ke Cong-lam-san."

Ji Bun merasa kikuk dan menyesal sekali, begitu besar perhatian orang terhadap dirinya, sebaliknya dirinya bersikap tawar. Tanpa terasa jidatnya dibasahi keringat dingin tanyanya.

"Obat apa yang hendak dicari paman Ciang di Cong-lam-san?' "Namanya Kim-sian-jau-koh, kecuali orang-orang yang ahli dalam bidang pengobatan tiada yang tahu bila di dunia ini ada buah bergaris emas ini, konon hanya tumbuh dan berbuah di Cong-lam-san di tepi 'danau iblis'. Sudah tiga bulan ia pergi, sampai sekarang belum kunjung pulang. Danau iblis hanya pernah kudengar dalam dongeng. Apakah beliau bisa menemukan tempat itu serta memperoleh buah yang diharapkan, hanya Thian yang tahu."

Gelisah perasaaan Ji Bun, katanya haru.

"Sudah tiga bulan beliau belum kembali?"

Ui Bing meringis menahan sakit, darah masih mengalir dari luka-lukanya, segera Ji Bun hendak menolongnya, tapi Ui Bing menolak, ia duduk di atas batu dan mengeluarkan obat-obatan yang diperlukan, lalu membalut lukanya sendiri.

JI Bun tak bersuara, dengan siaga dia berdiri di sampingnya, pikirannya kusut, hati tidak tenteram.

Selagi dia terlongong, tiba-tiba dilihatnya beberapa bayangan orang berlari-lari mendatangi dari beberapa arah, tujuan ke bukit ini.

Ji Bun menoleh, dilihatnya Ui Bing tengah bersimpuh mengerahkan hawa murni untuk berobat diri memulihkan kekuatan.

Cepat Ji Bun menerawang situasi sekelilingnya.

Cepat dia mundur dua tombak, dipilihnya posisi yang lebih enak dengan membelakangi tanah tandus yang meninggi di sebelah belakang.

Dari sini dia lebih leluasa bergerak, sekaligus untuk mengawasi Ui Bing dan memberi pertolongan bila perlu.

Orang-orang itu cepat sekali sudah berdatangan dan berdiri membundar dari lima tombak jauhnya, yang terdepan adalah seorang tua berwajah putih tidak berjenggot, mukanya segi tiga, bentuknya mirip kepala ular berbisa.

Disampingnya berdiri Ngo-hong-su-cia berhidung betet yang tadi melarikan diri.

Agaknya kedudukan orang tua ini lebih tinggi, yang lain-lain semuanya berseragam hitam.

Terlebih dulu laki-laki tua ini pandang mayat Ngo-hong-su-cia yang masih menggeletak di tanah berumput sana, sorot matanya yang tajam segera menatap muka Ji Bun.

Suaranya yang serak seperti gembreng pecah lantas berkata.

"Te-gak Suseng, berani kau membunuh Duta kami, memangnya kau sudah bosan hidup?"

"Siapa kau, sukalah perkenalkan diri?"

Tanya Ji Bun.

"Aku Duta istimewa Ngo-hong-kau Kian Ceng-san yang berkuasa di daerah barat ini."

Sudah tentu Ji Bun belum pernah kenal namanya.

"Kau meluruk kemari dengan sekian banyak orang, apa maksudmu?"

"Te-gak Suseng, sudah tahu jangan pura-pura tanya segala. Walau belum lama Ngo-hong-kau berdiri, namun belum pernah melepaskan seorang musuhpun."

"Kau begitu takabur. Kalau mampu, hayolah maju, tapi sebelumnya aku ingin tanya beberapa hal?"

"Coba katakan."

"Ada orang bernama Kwe-loh-jin, apakah dia anggota kalian?"

"Kwe-loh-jin? Belum pernah dengar."

Ji Bun melenggong, lalu tanya pula.

"Di mana sekarang Thian-thay-mo-ki yang tertawan kalian? Kian Ceng-san menyeringai lebar, gelak tawanya sengaja dibikin keras bagai srigala melolong, katanya "Dia, kini sudah menjadi isteri Kaucu kami."

Seperti disambar geledek kepala Ji Bun, rasa sakit hati seketika membakar dada, sorot matanya juga mencorong menakutkan, desisnya.

"Baik, akan kubuat perhitungan dengan Kaucu kalian."

"Memangnya kau setimpal?"

Desis orang itu.

"Masih ada sebuah pertanyaan, betulkah Kaucu kalian menahan seorang nyonya yang bernama Lan Giok-tin?"

Berubah hebat air muka Kian Ceng-san.

"Untuk apa kau tanya ini?"

Suaranya gemetar.

"Kau tidak perlu tahu, aku ingin mengunjungi Kaucu kalian, di mana letak markas pusat kalian?"

"Apa kau bermimpi. Sekarang kau tidak punya kesempatan."

"Kau mampu berbuat apa atas diriku?"

"Tidak perlu putar lidah, sekarang serahkan jiwamu,"

Sembari mengancam Kian Ceng-san meloncat tinggi ke atas, laksana burung elang tiba menukik menubruk ke arah Ji Bun, jari-jari kedua tangannya terpentang laksana cakar.

Ji Bun gerakkan kedua tangannya, hawa seketika bergolak dengan kekuatan bagai gugur gunung menerjang ke arah Kian Ceng-san.

Gerakan Kian Ceng-san seketika terbendung dan anjlok turun.

Kini keduanya berdiri berhadapan sejauh dua tombak, malah Ui Bing hanya delapan kaki disampingnya, keadaan amat berbahaya, bila tujuan lawan mencelakal jiwa Ui Bing, pasti dengan mudah dapat dikerjakannya.

Oleh karena itu Ji Bun tidak berani ayal, kaki melangkah, sekaligus dia lancarkan Kian-ciau-kui-cau, jurus pertama Tok-jiu-sam-sek, bagai kilat menyamber tangannya memotong ke depan.

Duta berhidung betet segera berseru memperingatkan.

"Awas serangan ganas!"

Kepandaian Kian Ceng-san memang hebat.

Hampir bersama dengan peringatan temannya, sebat sekali dia sudah mencelat mundur setombak lebih.

Ji Bun dibuat kaget malah, setiap kali jurus Tok-jiu-sam-sek dilancarkan pasti melukai musuh namun lawan yang satu ini berhasil meloloskan diri tanpa kurang suatu apa, terpaksa dia ulangi serangan yang pertama pula, Kian Ceng-san kembali menyurut mundur, namun dia sudah terdesak dan tak mampu balas menyerang.

Sementara itu, si hidung betet secara diam-diam menubruk ke arah Ui Bing yang masih duduk bersimpuh.

Perhatian Ji Bun tidak pernah kendor, mungkin karena dia harus membagi perhatian sehingga Tok-jiu-sam-sek tidak bisa membawa hasil seperti yang diharapkan.

Begitu melihat Duta hidung betet bergerak, tangan kanan segera menghantam dengan kekuatan cukup keras.

"Blang", si hidung betet terpukul telak dan terlempar bergulingan. Tapi dalam waktu yang sama, angin pukulan Kian Ceng-san juga menggulung ke arah Ji Bun. Lekas Ji Bun tarik tangan menutup diri, namun hanya terpaut setengah detik, kontan dia terdorong empat langkah, terasa olehnya Lwekang Kian Ceng-san tidak lebih lemah daripada Thong-sian Hwesio. Jantungnya seketika mengencang, dia maklum bahwa pertempuran kali ini cukup berbahaya dan amat menentukan langkah usaha selanjutnya. Tatkala itu Ji Bun tergentak sempoyongan dan Duta hidung betet belum berdiri tegak, tiga laki-laki yang berdiri di atas tanah tinggi sana mengira punya kesempatan turun tangan, serentak mereka melompat menubruk Ui Bing. Sedikit kerahkan tenaga, kaki Ji Bun menutul, bagai percikan api cepatnya tubuhnya berputar setengah lingkaran, tahu-tahu dia sudah berdiri ditempat semula.

"Bluuuk, huaaah!"

Jeritan secara beruntun. Ketiga laki-laki itu satu persatu tersungkur roboh, jiwa melayang seketika. Kejadian ini betul-betul amat mengejutkan semua hadirin, semuanya berdiri terbeliak.

"Te-gak Suseng,"

Bentak Kian Ceng-san.

"kau memang lihay dan bandel."

Kedua tangan bertepuk terus meraih membundar, dengan gerakan aneh tenaga serangannya bergulung-gulung dengan hebat.

Semakin tajam sorot mata Ji Bun.

Segera dia songsong pukulan lawan dengan kekerasan, diam-diam ia amat kaget karena Kian Ceng-san kebal akan racun Bu-ing-cui-sim-jiu.

Sudah tentu Duta hidung betet tidak mau membuang kesempatan.

Begitu Ji Bun berhantam dengan Kian Ceng-san, segera dia lontarkan Bik-khong-ciang, pukulan jarak jauh ke arah Ui Bing.

Kaget dan berubah air muka Ji Bun, jurus pertama Tok-jiu-sam-sek kembali dia lancarkan.

Kian Ceng-san sudah kapok dan tahu diri, lekas dia menyingkir, namun Ji Bun hanya bergerak setengah jalan, sebat sekali dia putar balik dan kebetulan menyongsong pukulan si hidung betet yang menerjang ke arah Ui Bing, pukulan angin ini cukup dahsyat.

"Blang". Dengan badannya Ji Bun menerima pukulan ini secara mentah-mentah. Keruan saja dia sempoyongan dan mulutnya menggerung kesakitan, namun jiwa Ui Bing telah diselamatkan. Kini dia harus ubah cara menghadapi lawan, dia mengadang di depan Ui Bing menghadapi kedua musuh tangguh. Orang lain sementara tidak dihiraukan, yang terang kepandaian mereka hanya sedang saja dan tak mungkin menimbulkan gara-gara. Ditengah hardikan mengguntur, Kian Ceng-san bersama si hidung betet serempak menyerang. Ji Bun mengertak gigi, dia menyongsong maju, tangan kanan menahan si hidung betet dan tangan kiri menggunakan jurus kedua dari Tok-jiu-sam-sek yang bernama Tok-liong-cam-kau (naga beracun membunuh ular).

"Hek,"

Kian Ceng-san terhuyung sambil meraba dada, mukanya pucat pasi.

Sementara Ji Bun dan si hidung betet sama-sama mundur setapak.

Dalam gebrakan ini, karena Ji Bun harus memencar kekuatan, maka jiwa Kian Ceng-san tidak sampai melayang.

Tapi hal ini sudah cukup membuat Kian Ceng-san jera, sekali ulap tangan segera dia mendahului lari mencawat ekor, agaknya luka-lukanya tak ringan, si hidung betet juga tidak berani bertahan, segera dia memberi aba-aba, cepat iapun mendahului melesat pergi, sudah tentu anak buahnya seperti anjing yang ketakutan lari pontang panting.

Nafsu Ji Bun masih berkobar, sekali jejak kakinya ia melambung tinggi meluncur beberapa tombak dan turun di antara rombongan orang-orang yang tengah berlari.

Di mana kaki tangan bergerak, jeritan saling susul, dalam sekejap puluhan orang telah rebah tak bernyawa.

Karena menguatirkan keselamatan Ui Bing, dia tidak berani mengejar lebih lanjut dan kembali ke atas bukit.

Ternyata Ui Bing sudah selesai semadi dan luka-lukanya banyak sembuh, melihat sekelilingnya, dia berdiri menjublek.

"Toako, kau tidak apa?"

Tanya Ji Bun.

"Hiante,"

Ujar Ui Bing terharu dan berterima kasih.

"syukur atas pertolonganmu. Siapakah mereka tadi?"

"Disamping pemuda yang lolos tadi, dia membawa Duta istimewa yang berkuasa di daerah barat sini bernama Kian Ceng-san."

"Hah, Kian Ceng-san?"

Seru Ui Bing.

"Toako kenal orang ini?"

"Julukannya 'ulat menggeragot mayat', semula dia diangkat sebagai Bengcu kalangan hitam, namun karena bertangan keji, tidak sedikit anak buah sendiri yang dibunuhnya, sehingga menimbulkan rasa dendam khalayak ramai. Akhirnya dia kabur ke luar daerah, tak tahunya sekarang telah menjadi antek Ngo-hong-kau."

"Tampangnya memang kejam menakutkan."

"Hiante, bagaimana langkah kita selanjutnya?"

"Beritahukan saja alamat markas cabang mereka padaku."

"Tidak, aku saja yang bawa kau ke sana."

"Jago-jago Ngo-hong-kau yang berkedudukan tinggi hampir rata-rata tidak gentar terhadap racun, hal ini akan kuselidiki dan Toako jangan ikut menempuh bahaya."

"Aku akan tunggu di luar saja dan memberi bantuan apabila perlu."

Ui Bing berpikir sejenak, lalu katanya pula.

"Begini saja, kau tunggu sebentar."

Lalu dia lompat ke semak-semak dalam hutan, hanya sebentar saja.

Pengemis tua mata satu tahu-tahu sudah berubah jadi seorang pelayan rumah makan dan berdiri dihadapan Ji Bun sambil membungkuk seraya berkata dengan tertawa.

"Siangkong, hamba unjuk hormat."

Ji Bun betul-betul kagum akan kepintaran orang menyamar.

"Hiante,"

Kata Ui Bing kemudian.

"nah, perhatikan, di sini letak cabang markas mereka. Kanan-kiri sama-sama ada jalan tembus, biar aku tunggu kau di sini."

Sembari menjelaskan Ui Bing mencoret-coret dengan ranting kayu di atas tanah, lalu diusap dengan telapak kakinya.

"Nah, aku berangkat lebih dulu,"

Sekali berkelebat bayangannya lenyap di balik bukit sana.

Ji Bun membetulkan pakaian yang kotor dan kusut, diapun berlari turun langsung menuju ke markas cabang Ngo-hong-kau yang ditunjuk Ui Bing tadi.

Banyak orang memperhatikan dirinya sepanjang jalan, tapi Ji Bun tak ambil pusing.

Kedatangannya ini ada tiga tujuan, pertama untuk membuktikan apakah Thian-thay-mo-ki masih disekap di markas cabang ini.

Kedua, mencari tahu meski harus secara kekerasan, di mana letak markas pusat mereka dan menolong ibunya.

Ketiga, dia berharap bisa bertemu dengan Kwe-loh-jin atau orang-orang lain yang pernah turun tangan terhadap dirinya.

15.45.

Lorong Rahasia Ngo-hong-kau Kira-kira semasakan air dia sudah tiba di tempat yang ditunjuk oleh Ui Bing.

Pintu besar tertutup rapat, suasana sunyi tidak kelihatan jejak manusia, mungkinkah markas cabang Ngo-hong-kau ada di sini?

Ji Bun menjublek di tempatnya.

Mungkin Ui Bing tertipu?

Tapi dia cukup cerdik dan cekatan, tak mungkin dikibuli orang.

Sesaat lamanya Ji Bun kebingungan, maju mundur serba salah.

Tampaknya gedung ini tempat tinggal keluarga besar, mungkinkah suatu cabang perkumpulan berada digedung yang sepi dan tidak terjaga ini.

Dilihatnya jalan raya ini hanya terdapat dua gedung besar dan luas.

Selagi Ji Bun berdiri bingung, tiba-tiba pintu besar yang bercat hitam itu pelan-pelan terbuka, seorang laki-laki tua reyot menongol keluar.

Begitu melihat Ji Bun berdiri di depan pintu, kepalanya lantas miring-miring mengamatinya sekian lama, tanyanya dengan suara serak.

"Kongcu ini mencari siapa?"

Serba susah Ji Bun menjawabnya, laki-laki tua ini tidak mirip seorang persilatan, namun tak mungkin dia tidak menjawab pertanyaan orang, maka dia berkata.

"Cayhe mohon bertemu dengan majikanmu."

"Majikanku? Apakah Kongcu tidak salah alamat?"

"Kukira tidak, betul gedung ini."

"Kongcu she apa? Pernah apa dengan majikan kami?"

"Setelah bertemu dengan majikanmu, dia tentu tahu."

"Majikanku takkan tahu untuk selamanya."

"Apa maksudmu?"

"Majikan sudah meninggal tiga tahun yang lalu, kini tinggal majikan perempuan dan puterinya berdua, siapa yang hendak Kongcu temui?"

Ji Bun menjublek tak bisa bicara lagi. Laki-laki tua itu segera menarik kepalanya sambil menggerutu.

"Blang", dengan keras dia menutup daun pintu. Ji Bun jadi geli sendiri, segera ia berlari-lari menuju ke tempat yang dijanjikan untuk bertemu dengan Ui Bing. Setiba di lorong jalan sana dia putar ke kanan, dipengkolan jalan dilihatnya Ui Bing sedang berdiri di depan sebuah rumah berloteng. Melihat Ji Bun lari mendatangi segera dia memberi isyarat kedipan mata, sebat sekali dia menyelinap masuk ke rumah. Ji Bun langsung memburu masuk, serunya.

"Salah alamat!"

Ui Bing berhenti di sudut yang gelap, katanya heran.

"Apa katamu?"

Dengan lesu Ji Bun ceritakan pengalamannya tadi.

"Ai."

Ui Bing membanting kaki.

"kau tidak tahu seluk beluk dunia persilatan, tempat itu tidak akan salah, mungkin di dalam markas cabang itu tiada jago yang mampu menghadapi kau, terpaksa mereka main kucing-kucingan."

Sungguh malu dan gusar Ji Bun dibuatnya, kejadian apapun pernah dialaminya.

Kini dirinya masih begini gegabah, kenapa mau percaya obrolan orang begitu saja.

Tanpa bersuara segera dia berlari kencang menuju ke tempat semula.

"Hiante, jangan tergesa-gesa, marilah bicaralah dulu,"

Teriak Ui Bing.

Ji Bun anggap tidak dengar, secepat kilat dia berlari ke lorong jalan sana.

Pintu besar bercat hitam masih tertutup rapat, suasana tetap sunyi senyap tidak kelihatan bayangan orang, namun keadaan Ji Bun berbeda dengan datangnya semula.

"Brak", begitu tiba langsung dia angkat tangan menghantam ke arah pintu. Suara gemuruh bergema di lorong jalan yang sepi ini. Pintu segera terbuka, yang muncul adalah laki-laki tua kurus tadi, dengan suara gemetar dia memaki.

"Memangnya kalau janda dan yatim boleh dihina dan dipermainkan begini?"

Ji Bun menubruk maju, laki-laki tua mengkerut sambil menutup pintu, namun sudah terlambat, tahu-tahu lengan kirinya terpegang kencang oleh Ji Bun.

Biji mata si orang tua yang semula pudar tiba-tiba berkilat tajam, sekuat tenaga dia meronta, namun sia-sia, tiba-tiba telapak tangannya menjojoh, jelas kepandaiannya cukup tangguh.

Namun sedikit menggerakkan jari telunjuknya, lengan kanan si orang tua seketika lemas.

Wajahnya yang tua keriput menjadi pucat kelabu.

"Anjing tua, kau sudah bosan hidup?"

Desis Ji Bun garang.

"Siau-hiap ..... ada urusan ..... apa ....?"

Suara si orang tua tergagap menahan kesakitan.

"Jangan cerewet,"

Bentak Ji Bun.

"bawa aku menemui pimpinan cabang kalian."

"Apa, cabang apa ..... aku ..... tidak tahu."

"Berani kau membual, kurobek mulutmu."

Ji Bun segera menjinjingnya masuk ke dalam.

Suara di luar sudah cukup gaduh, namun tetap tidak kelihatan ada orang lain muncul.

Lekas sekali Ji Bun sudah menyusuri serambi panjang memasuki sebuah ruang tamu yang dipajang amat megah, barang-barang antik merupakan pajangan utama di gedung ini.

Memang tidak mirip sebuah markas cabang suatu perkumpulan.

Ji Bun tampar orang tua tawanannya itu dan bentaknya beringas.

"Bawa aku menemui pimpinanmu."

"Siau-hiap ...... jangan kau ..... salah paham, gedung ini ditempati keluarga baik-baik."

Berkobar nafsu Ji Bun, sekali injak dia bikin lengan si orang tua patah dan remuk, keruan si orang tua berkaok-kaok kesakitan. Ji Bun mendesis berapi-api.

"Kau tidak akan kubunuh, tapi jangan kau pura-pura atau tangan kananmu akan kubuntungi."

Tiba-tiba air hujan beterbangan dari atap rumah, setiap tetes air yang menyentuh lantai seketika menimbulkan kepulan asap tebal, itulah cairan beracun yang amat jahat.

Si orang tua mengeluarkan jeritan yang mengerikan.

Tubuhnya berkelejetan sebentar lalu tak bergerak.

Cepat sekali badan yang utuh itu luluh menjadi cairan darah yang mengeluarkan bau amis.

Pakaian Ji Bun berlubang-lubang seperti sarang tawon.

Kecuali merasa sedikit gatal, Ji Bun tidak kurang suatu apa.

Ini membuktikan bahwa segala racun tidak mempan atas dirinya, namun situasi betul-betul amat mengejutkan.

Setelah hujan cairan beracun ini, suasana tetap sunyi.

Amarah Ji Bun berkobar, namun dia tidak menemukan sasaran untuk melampiaskan dendamnya.

Sekilas dia berpikir, matanya menjelajah sekelilingnya, lalu mundur keundakan sana.

Tenaga di kerahkan, kedua tangan terus menghantam ke arah belandar yang terletak di tengah.

"Blang", seluruh gedung besar ini bergetar. Genteng sama rontok berjatuhan, belandarpun ikut sempal. Mungkin tiga kali pukulan cukup untuk meruntuhkan seluruh gedung. Keadaan inilah akan menimbulkan reaksi yang diharapkan Ji Bun. Maka terdengarlah sebuah suara dingin menusuk telinga berkumandang di sebelah dalam.

"Te-gak Suseng, takabur benar kau ini!"

"Hayo menggelinding keluar!"

Bentak Ji Bun.

Bayangan seorang tiba-tiba muncul, ternyata Duta istimewa di daerah barat Kian Ceng-san adanya, mukanya yang pias menyeringai sadis.

Di belakang dan sekeliling gedung serempak muncul bayangan orang banyak.

Ji Bun terkepung.

Setiap orang yang muncul membawa senjata dan menggengam senjata rahasia.

Duta hidung betet juga muncul di samping Kian Ceng-san mengiringi seorang pemuda lain berpakaian jubah sutera.

Pemuda jubah sutera ini buka suara lebih dulu.

"Te-gak Suseng, apa maksudmu kemari?"

"Sebutkan dulu namamu,"

Desis Ji Bun kereng.

"Aku inilah pimpinan cabang di sini, Kiang Giok."

"Bagus sekali, lekas serahkan Thian-thay-mo-ki dan katakan dimana letak markas pusat kalian."

"Kau kira kami akan luluskan tuntutanmu?"

"Kalau tidak markasmu ini akan kusapu bersih dengan darah kalian."

Kian Ceng-san terloroh-loroh, katanya menyeringai.

"Te-gak Suseng, akulah yang akan menyobek dan meleburkan badanmu, kalau tidak belum terlampias dendamku."

"Kau ini ulat busuk pemakan bangkai, hari ini bangkaimu yang akan dimakan ulat,"

Balas Ji Bun. Berubah air muka Kian Ceng-san, tak pernah diduganya bahwa Ji Bun bisa menyebut nama julukannya, keruan dia mencak-mencak gusar, teriaknya.

"Anak keparat, hatimu akan kutelan mentah-mentah."

"Selama sisa hidupmu ini jangan kau harap,"

Jengek Ji Bun menghina.

"Hm, serang!"

Ditengah aba-aba itu, Kian Ceng-san dan Kiang Giok segera menyerang dengan kedua tapak tangan.

Dua jalur angin pukulan berkisar menjadi badai yang dahsyat menerpa datang, di samping itu berbagai senjata rahasia yang tak terhitung banyaknya serempak beterbangan dari berbagai penjuru, bagai hujan lebat mengincar Ji Bun.

Betapa hebat dan mengerikan kekuatan serangan gabungan ini, dari luncuran senjata rahasia yang mendenging kencang itu dapat dinilai bahwa semua orang, yang hadir sama berkepandaian tinggi.

Betapapun tinggi kepandaian seseorang, kalau tergencet oleh sekian banyak serangan, kalau tidak mati seketika juga pasti terluka parah.

Ji Bun bertindak tegas dan cepat meloncat.

Ia kembangkan Ginkang pusaran angin lesus, badannya mumbul ke atas berputar seperti kitiran, empat tombak tingginya badan terapung.

Semua senjata rahasia berseliweran lewat di bawah kakinya, ditengah udara badan Ji Bun berputar dua lingkaran, sekali kali memancal, badannya segera melesat ke arah serambi di luar sana.

Sasarannya menubruk ke arah Kian Ceng-san dan Kiang Giok yang sudah menyingkir keluar rumah lebih dulu.

Kiang Giok dan Kian Ceng-san berpencar ke samping, belum lagi badan Ji Bun meluncur turun, keduanya sudah melontarkan pukulan maut.

Pertempuran yang menentukan mati hidup kedua pihak, serangan mereka ini sungguh teramat lihay.

Ji Bun nekat, dia tidak hiraukan serangan Kiang Giok di sebelah kiri, dengan jurus kedua dari Tok-jiu-sam-sek dia sambut serangan Kian Ceng-san.

Lolong yang mengerikan sebelum ajal tiba seketika menggetarkan sanubari setiap orang yang hadir, tampak Kian Ceng-san roboh tengkurap dengan batok kepala remuk.

Punggung Ji Bun menerima pukulan Kiang Giok mentah-mentah, badannya terhuyung lima langkah baru berdiri tegak kembali, dua jalur darah meleleh dari ujung mulutnya.

Hanya sekali gebrak Kian Ceng-san sudah mampus, keruan Kiang Giok ketakutan setengah mati.

Dia berdiri menjublek lupa melancarkan serangan pula.

Tiba-tiba Ji Bun berputar menghadapinya, matanya memancarkan sinar yang tajam menyedot sukma orang.

Anak buah Ngo-hong-kau yang mengelilingi tak pernah melihat peristiwa sehebat ini, serasa copot nyali mereka.

Sebat sekali Ji Bun menubruk maju, sekali raih ia cengkeram pergelangan tangan Kiang Giok.

Anak buahnya sama berseru kaget, namun tiada yang berani bergerak.

Sedikit kerahkan tenaga, kelima jari Ji Bun ambles ke pundak Kiang Giok, darah segera meleleh dari sela-sela jarinya.

Pucat selebar muka Kiang Giok, sedikitpun dia tidak mampu bergerak lagi.

"Kiang Giok, sekarang kaulah yang harus buka mulut!"

Desis Ji Bun mengancam. Sebagai pimpinan cabang meski kaget dan ketakutan, betapapun dia tetap ingin mempertahankan wibawa dan keangkerannya, jawab Kiang Giok dengan mengertak gigi.

"Tiada yang bisa kukatakan."

Saking marah Ji Bun hampir gila dibuatnya, sikapnya mirip malaikat yang kebakaran jenggot saja. Setiap patah katanya tegas dan sekeras baja.

"Orang she Kiang, aku bisa membesetmu secara hidup-hidup."

Memang untuk membunuh Kiang Giok semudah Ji Bun membalik telapak tangan sendiri, namun tujuannya bukan membunuh orang, tapi menolong Thian-thay-mo-ki dan mencari jejak ibunya.

Kalau Kiang Giok dibunuh, demikian pula semua anak buahnya, urusan tetap tidak akan beres.

Kiang Giok sudah dibekuk, namun dia bandel tak mau mengaku, keruan hatinya gelisah dan risau.

Pada saat dia kebingungan itulah, tiba-tiba dilihatnya Kiang Giok mengangkat tangan kirinya ke arah mulutnya sendiri, air mukanya seketika pula berubah.

Ji Bun menjengek dingin.

"Kau hendak menelan racun bunuh diri? Dihadapanku, jangan kau harap bisa berbuat sesuka hatimu."

Sembari bicara beruntun dia menutuk tiga Hiat-to di dada orang, lalu merogoh sebutir pil dan dijejalkan ke mulut Kiang Giok.

Kiang Giok betul-betul mati kutu, ingin hidup sukar dipertahankan, minta mati juga tidak bisa.

Ji Bun kerahkan tenaganya pula, Kiang Giok segera merintih kesakitan, Hiat-to di pundaknya yang tercengkeram seketika melelehkan darah pula.

Betapa siksaan ini membuat keringat dinginnya gemerobyos, ototnya merongkol keluar, kulit mukanyapun berkerut berubah bentuknya.

"Jangan harap ada keajaiban muncul di sini, kecuali mengaku terus terang, tiada jalan lain yang bisa kau tempuh."

"Te-gak Suseng, aku tetap tidak akan tunduk padamu."

"Baiklah rasakan permainanku."

Pada saat itulah tiba-tiba di antara gerombolan anak buah Ngo-hong-kau tampil keluar seseorang yang mengempit seorang yang empas-empis.

Begitu mata Ji Bun melirik, seketika jantungnya hampir pecah, yang datang ternyata Duta hidung betet yang sempat melarikan diri itu.

Orang yang empas-empis dan dikempit di bawah ketiaknya adalah Sian-thian-kek Ui Bing.

Bahwa Ui Bing terjatuh ke tangan lawan, sungguh tak pernah terduga oleh Ji Bun.

"Te-gak Suseng,"

Duta hidung betet menyeringai kejam.

"kau kenal dia bukan?"

"Lepaskan dia!"

Bentak Ji Bun murka.

"Kau kira begitu mudah?"

"Kau ingin mampus?"

"Dia yang akan mati lebih dulu!"

Jengek Duta hidung betet sambil menuding kepala Ui Bing. Telapak tangannya mengarah tepat di ubun-ubun kepala Ui Bing.

"tidak sukar untuk mengepruk remuk batok kepalanya, betul tidak?"

Gigi Ji Bun berkeriutan, tidak sukar baginya untuk menubruk ke arah Duta bidung betet serta membinasakannya.

Tapi jiwa Ui Bing juga pasti melayang.

Ji Bun hampir gila dibuatnya, ibunda, kekasih dan sekarang teman yang terdekat menjadi tawanan musuh lagi, betapa dia takkan naik pitam?

Tegakah dia mengorbankan Ui Bing?

Tidak, kalau ibunda dan kekasihnya belum ajal kelak masih ada kesempatan untuk menolongnya.

Namun mati hidup Ui Bing hanya bergantung pada pendiriannya.

Sikap Ji Bun yang ragu-ragu sudah terasakan oleh Duta hidung betet.

Namun dia kuatir kalau Ji Bun berlaku nekat, tentu semua orang yang ada di sini bisa dibunuh seluruhnya, maka dia jambak rambut Ui Bing serta ditariknya mendongak, serunya.

"Te-gak Suseng sudah ambil putusan?"

Ji Bun membanting kaki, katanya mengertak gigi.

"Baik, sekali ini kalian beruntung, bisa lolos dari tanganku."

Duta hidung betet segera memberi aba-aba.

"Semua mundur!"

Seperti lolos dari renggutan el-maut, buru-buru anak buah Ngo-hong-kau berlari sipat kuping dan dalam sekejap saja sudah bersih.

Hampir meledak dada Ji Bun, namun dia tak bisa berbuat apa-apa.

Setelah anak buahnya mundur semua baru Duta hidung betet berkata pula pada Ji Bun.

"Te-gak Suseng, sekarang kau boleh lepaskan dia."

"Kau dulu yang harus melepasnya."

"Dihadapanmu yang jelas berkepandaian begini tinggi, memangnya aku bakal mungkir?"

"Betapapun aku tidak percaya padamu."

"Memangnya kau sendiri dapat dipercaya?"

"Te-gak Suseng selamanya tidak pernah melakukan perbuatan rendah dan kotor."

Sekilas Duta hidung betet berpikir, Ui Bing diturunkannya di atas lantai, lalu mundur tiga tombak, agaknya dia takut kalau Ji Bun tiba-tiba menyergap.

Begitu menyentuh lantai Ui Bing tampak menggeliat sambil merintih, kalau Hiat-to tidak tertutuk, tentu dia terluka dalam yang cukup parah.

"Orang she Kiang,"' ujar Ji Bun.

"hari ini kau yang beruntung."

Lalu dia lepaskan Kiang Giok dan melompat kesamping Ui Bing, dengan teliti dia memeriksa, ternyata Hiat-to Ui Bing memang tertutuk, lekas dia membebaskan tutukan itu.

Ui Bing mengeluh sekali, kemudian katanya.

"Hiante, aku menggagalkan usahamu ........"

"Toako,"

Ujar Ji Bun tertawa getir.

"syukurlah kalau kau selamat, kesempatan masih ada lain kali."

Waktu dia menoleh, orang she Kiang dan Duta hidung betet sudah tak kelihatan lagi bayangannya, gedung sebesar ini diliputi keheningan.

"Toako, bagaimana kau bisa ....."

"Sungguh harus disesalkan, memang akulah yang ceroboh. Dikala kau kembali menemui aku tadi jejakku dengan sendirinya sudah konangan mereka. Kalau aku segera pindah tempat, tentu takkan terjadi begini, namun kepandaianku memang bukan tandingan lawan, untung dia tidak turun tangan secara keji."

"Marilah kita geledah gedung ini."

"Nanti dulu, jangan gegabah, bukan mustahil mereka pasang perangkap di sini."

"Betul, Toako telan dulu obat ini, dia angsurkan sebutir pil kepada Ui Bing, dalam jangka setengah jam, segala racun tidak akan mempan terhadapmu."

Ui Bing menerima terus ditelan, berendeng mereka masuk ke ruang pendopo.

Begitu tiba diserambi yang menembus ke dalam, tiba-tiba Ui Bing menyurut mundur seraya berseru kaget.

Ternyata diserambi sana menggetetak kerangka manusia yang tinggal tulang belulang saja, kulit dagingnya sudah luluh menjadi cairan merah kental berbau amis dan busuk.

Kiranya mayat Kian Ceng-san pun dibubuhi racun yang meluluhkan mayatnya, betapa jahat racun yang digunakan lawan sungguh amat mengerikan.

Menuding kerangka tulang itu Ji Bun berkata.

"Toako, itulah kerangka Kian Ceng-san, Bengcu kalangan hitam dari Kwan-gwa."

Ui Bing bergidik ngeri.

"Kejahatan orang ini memang sudah kelewat batas, akhirnya dia memperoleh ganjaran yang setimpal."

Mereka melangkah masuk lebih jauh, geledah sana cari sini, tetapi tiada sesutu yang mereka temukan, bangunan gedung ini terdiri tiga lapis deretan ke belakang, sebelah samping kanan kiri juga terdiri bangunan yang terdapat banyak kamar, namun gedung sebesar ini tak kelihatan bayangan orang, banyak kamar kosong berdebu dan dihiasi sawang melulu, pertanda sudah lama tidak ditempati, memangnya ke mana penghuni gedung ini?

Menyesal tapi juga marah, Ji Bun terpaksa mereka harus membebaskan musuh yang telah ditawannya karena harus meugutamakan jiwa Ui Bing.

Kuatir Ui Bing berduka, sudah tentu sedapat mungkin dia bersikap biasa dan wajar.

Sebagai murid Biau-jiu Siansing, gembongnya maling, sudah tentu Ui Bing mempunyai kepandaian khusus dalam bidangnya.

Pintu yang tertutup rapatpun bisa ditembusnya, demikian pula segala alat rahasia dengan mudah bisa dipecahkan, seperti anjing pelacak saja dengan teliti dari satu tempat ke lain tempat dia memeriksa, sesuatu barang yang mencurigakan tidak lepas dari perhatiannya, entah diketuk, dipukul, diraba dan diputar ........

Akhirnya dia bersorak girang dengan penuh emosi.

"Nah, inilah di sini."

Tatkala itu mereka berada disudut sebuah gardu yang terletak di taman belakang.

Ui Bing sedang sibuk membongkar sebuah pintu angin yang cukup besar dan lebar.

Pintu angin ini berdiri di antara pintu kamar dan gardu, kelihatannya tidak menunjukkan sesuatu yang mencurigakan, keruan Ji Bun bertanya keheranan.

"Toako, apa yang kau temukan?"

"Mulut sebuah jalan rahasia."

"Darimana kau bisa menemukannya?"

"Lihatlah jejak kaki yang semrawut ini, semua berhenti di depan pintu angin ini?"

Mulut bicara tangan bekerja, dengan pelan dan hati-hati jari-jarinya meraba-aba.

Dikala jarinya menyentuh kepala seekor burung yang terpahat di atas pintu angin, seketika terdengar suara keresekan.

Terbangkit semangat Ji Bun.

Waktu dia menoleh, dilihatnya dinding sebelah kiri bergerak-gerak dan tampak sebuah lubang merekah diantara sudut dinding itu.

Segera dia maju mendekat, dilihatnya di belakang pintu rahasia terdapat undakan batu yang menjurus ke bawah.

Ada puluhan undakan banyaknya, lorong rahasia ini entah menembus ke mana.

Lebarnya cukup untuk dua orang jalan berdampingan.

Karena terlalu gelap, kekuatan mata Ji Bun tak kuasa melihat terlalu jauh.

Ui Bing mendekat, katanya.

"Kalau tempat ini bukan kamar rahasia di bawah tanah, tentu lorong rahasia yang menembus ke suatu tempat."

"Mari kita periksa ke dalam,"

Ajak Ji Bun.

"Hati-hati terhadap alat-alat rahasia,"

Kata Ui Bing. Sekenanya dia tarik kain gardu yang tebal dan berat terus dilempar ke dalam lorong sana, tapi tidak menimbulkan reaksi apa-apa.

"Marilah masuk, lorong ini tentu dibangun oleh pemilik gedung ini. Kalau dia bukan golongan persilatan, tak mungkin membangun jalan rahasia ini. Agaknya karena baru saja berdiri, maka Ngo-hong-kau menggunakannya ala kadarnya, sehingga belum diperbaiki dan dipasangi perangkap."

Segera Ji Bun mendahului berlari turun, Ui Bing mengikuti dari belakang.

Setiba di ujung undakan, mereka langsung menuju ke lorong datar yang gelap gulita, betapapun tajam pandangan orang kelima jari sendiri juga tidak kelihatan, hawa lembab dan berbau apek.

Untung Ji Bun sudah digembleng oleh kakek gurunya, namun dia hanya mampu melihat sejauh lima tombak.

Lekas Ui Bing keluarkan ketikan api lalu menyulut sebuah obor kecil.

Agaknya tidak sedikit perlengkapan yang selalu dibekalnya.

Kini ganti Ui Bing yang jalan di depan, mereka terus maju ke depan menyusuri lorong panjang ini, lorong ini seperti tak berujung.

Setelah belak-belok sekian lamanya, tetap tidak menemukan ujungnya, semakin dalam lorong ini ternyata malah lurus memanjang.

Sambil jalan Ui Bing berkata.

"Diukur dari kecepatan kita berjalan dan jauhnya lorong ini, agaknya kita sudah berada di luar kota."

"Luar kota?"

Ji Bun heran.

Tengah bicara tiba-tiba mereka dihadang tiga cabang lorong, seketika mereka menjublek bingung, ke arah mana mereka harus pilih?

Sementara itu Ui Bing sudah mengganti sebuah obor lain, dengan seksama dia memeriksa jejak-jejak kaki di tanah.

Lorong yang menembus kekanan kiri memang ada jejak kaki, namun tapaknya jelas hanya dilewati dua tiga orang, lain dengan jejak kaki orang banyak yang menuju ke lorong tengah ini.

"Toako, tunggu sebentar,"

Seru Ji Bun.

"coba lihat sebelah kiri ......"

Pada dinding yang menjurus ke kiri tergantung sebuah papan yang bertuliskan beberapa huruf warna merah darah berbunyi.

"Tempat terlarang, hukuman mati bagi yang melanggarnya."

"Maksud Hiante ........."

"Tujuan kita mencari orang, bukan mengejar jejak mereka, umpama berhasil menyandak mereka belum tentu ada manfaatnya, maka daerah terlarang ini jangan dilewati begini saja, betapapun harus kita selidiki."

Ji Bun mendahului menyusuri lorong ke kiri, tiga tombak kemudian, mereka membelok ke kanan dan dihadang sebuah pintu besi yang kelam, di atas pintu bertuliskan juga beberapa huruf merah darah yang berbunyi sama.

Ji Bun maju mendorong dengan tangan, segera dia berseru.

"Hebat, pintu ini dilumuri racun jahat."

Ui Bing kaget, katanya.

"Agaknya Ngo-hong-kau pandai juga main racun."

Sudah tentu kata-kata ini menusuk perasaan Ji Bun, dirinya kini adalah Ciangbunjin generasi ke-15 dari Ban-tok-bun, gembongnya golongan beracun.

Entah berapa banyak aliran dan perguruan yang pandai menggunakan racun di seluruh jagat ini?

Hanya yang diketahui cuma Cui Bu-tok dari Wi-to-hwe juga pandai dalam bidang ini, entah siapa lagi.

Jika ayahnya bukan calon pewaris generasi ke-14, maka beliau dari aliran lain, namun dari kepandaian Bu-ing-cui-sim-jiu, ini jelas bahwa ayahnya juga dari aliran yang sama.

Lalu Ngo-hong-kau termasuk aliran mana?

Sembari berpikir kembali dia mendorong dengan mengerahkan setaker tenaga, namun pintu besi ini tidak bergeming sedikitpun.

"Tang!"

Tiba-tiba diatas pintu terbuka lubang bundar, sebuah suara yang cukup mendirikan bulu kuduk orang berkata.

"Siapa berani melanggar daerah terlarang ini?"

Ui Bing padamkan obornya, sahutnya.

"Utusan dari pusat datang menginspeksi."

Dari lobang bundar ini muncul sepasang mata yang bersinar hijau tajam, di belakangnya remang-remang menyorotkan secercah sinar pelita.

Di balik pintu tentu terpasang lampu, dengan sendirinya di luar gelap di dalam menjadi terang, maka Ji Bun berdua dapat melihat agak jelas.

Suara orang dibalik pintu kedengaran agak curiga.

"Duta mana telah tiba?"

Ji Bun menyingkir ke samping, dia tiru suara Kian Ceng-san dan menjawab dengan nada dingin berwibawa.

"Di sini Kian Ceng-san."

Gertakan ini ternyata berhasil, segera terdengar suara berkeret, pelan-pelan pintu besi tebal itu lantas terbuka.

Di belakang pintu adalah sebuah kamar batu, di mana di pasang sebuah lentera minyak, maka keadaan di sini cukup terang.

Seorang laki-laki bertubuh besar dengan telanjang dada, tampak bulu dadanya lebat menghitam, kulit dagingnya berotot keras bagai badak, dengan bertolak pinggang dia berdiri di ambang pintu.

Begitu melihat wajah Ji Bun berdua segera dia menggerung murka."

Siapa kalian? Berani menyaru ......."

Cepat Ji Bun menyelinap masuk, mulutnya menjawab.

"Akulah Te-gak Suseng!"

Wajah laki-laki kekar itu menegang, bentaknya.

"Cari mampus!"

Telapak tangannya yang sebesar kipas terus menabok ke arah Ji Bun.

Ji Bun angkat tangannya, sekali raih dengan mudah dia pegang pergelangan tangan orang.

Tapi laki-laki besar itu meronta sekuatnya sehingga Ji Bun terseret maju sempoyongan.

Diam-diam dia terkejut akan kekuatan raksasa lawan, kelima jarinya memegang dengan lebih kencang.

Kontan laki-laki itu berkaok kesakitan.

Ji Bun pandang ke dalam kamar, di sisi kanan sana terdapat sebuah pintu kecil, di pojok terdapat sebuah balai yang dilembari kulit binatang, mungkin tempat tinggal laki-laki besar ini.

Sebaliknya pintu besi di sebelah kiri terkunci dengan gembok besar, rahasia pasti ada di belakang pintu itu.

Diam-diam Ji Bun membatin.

"Mungkinkah ibu atau Thian-thay-mo-ki yang terkurung di dalam sana?"

Segera dia membentak kepada laki-laki itu.

"Siapa yang dikurung di dalam?"

Karena pergelangan tangan terpegang, laki-laki ini mati kutu tiada tenaga untuk meronta lagi, namun sorot matanya ber-api-api sebuas binatang.

"Apa tujuan kalian?"

Tanyanya.

"Buka pintu itu. Kalau membangkang kubunuh kau."

"Kalau aku mati, kalian kelinci cilik ini jangan mengira bisa hidup."

Membara amarah Ji Bun, ia sungkan adu mulut lagi, sekali kepruk dia pukul pecah batok kepala laki-laki besar itu serta menendang mayatnya ke samping.

Di tempat ini Ui Bing kembali memperlihatkan keahliannya, entah dari mana dia sudah mengeluarkan sebatang kunci, segera dia maju kesana membuka gembok besar itu, begitu pintu terbuka, serentak Ui Bing didampar segulung angin kencang.

16.46.

Siapa Murid Angkatan-13 Ban-tok-bun ??

Begitu besar terjangan angin ini sampai Ui Bing tergentak mundur menubruk Ji Bun yang berada dibelakangnya.

Cepat Ji Bun menahan punggungnya, namun dorongan kekuatan begitu dahsyat sampai mereka sama tersurut tiga langkah lagi, maka dapatlah dibayangkan betapa hebat kepandaian orang yang menyerang.

Belum lagi hilang rasa kejut mereka, tampak di belakang pintu adalah sebuah kamar kurungan persegi, seorang tua baju hitam tengah melongo mengawasi mereka.

Tampak oleh Ji Bun, di belakang kamar sana terdapat pula sebuah pintu besi yang terkunci.

Terang laki-laki tua baju hitam ini adalah penjaganya.

Begitu besar dan ketat penjagaan orang ini, tentu di balik pintu sana tersembunyi sesuatu yang cukup penting artinya.

"Kalian mau apa ke sini?"

Tanya laki-laki baju hitam itu sambil menyeringai.

"Mau mencabut nyawamu!"

Desis Ji Bun.

Belum habis bicara tiba-tiba dia menubruk maju seperti harimau menerkam mangsanya, jurus Tok-jiu-sam-sek yang pertama dilancarkan, kontan laki-laki baju hitam menjerit sekali terus roboh binasa.

Ji Bun langsung lari ke arah pintu.

Untung pintu yang satu ini tidak terkunci, maka dengan mudah dia menariknya terbuka, di dalam adalah terali besi, sebuah kerangkeng.

Berkat sinar api dari luar, terlihat oleh Ji Bun di dalam kerangkeng meringkuk seorang laki-laki beruban.

Jadi bukan orang-orang yang diperkirakan oleh Ji Bun semula, keruan hatinya menjadi dingin.

Ui Bing ikut melongok ke dalam, katanya.

"Entah siapa yang dikurung di sini, kenapa sampai dijaga begini kuat dan ketat?"

"Ya, harus diselidiki biar terang persoalannya. Toako, tolong ambilkan obor itu,"

Lalu dia maju mendekat dan puntir putus rantai yang melingkar di antara jeruji-jeruji besi ini.

Bayangan orang yang meringkel di pojok sana tidak bergerak sama sekali.

Kini dia melihat lebih jelas, kiranya seorang tua kurus kering tinggal kulit membungkus tulang.

Ji Bun mendekatinya, tanyanya.

"Siapakah tuan ini?"

Orang tua itu bergerak sedikit, terdengar suaranya yang lemah, namun mengandung kebencian.

"Keparat, kau akan mendapatkan ganjaran setimpal"

Ji Bun tertegun, dia menoleh sekejap pada Ui Bing, lalu katanya.

"Cayhe bukan orang Ngo-hong-kau, silakan tuan bangun untuk bicara."

Dengan tangan menyanggah tanah pelan-pelan orang tua kurus itu meronta bangun, pandangannya pudar dan lesu.

Ji Bun berdua hampir menjerit kaget melihat wajah orang yang rusak tak menyerupai bentuk manusia.

"Siapakah tuan?"

Tanyanya.

"Kau ...... kau siapa pula?"

"Cayhe digelari Te-gak Suseng di kalangan Kangouw."

"Apakah keparat itu yang menyuruh kalian kemari?"

"Siapakah keparat itu? Cayhe mengejar seseorang masuk kemari, entah apa maksudmu?"

Pandangan orang tua yang redup kembali mengawasi wajah mereka sekian lamanya, suaranya dingin.

"Mau menolong Lohu keluar dari sini, betul tidak?"

"Sudah tentu,"

Sahut Ji Bun tanpa pikir.

"kalau sudah. kepergok olehku, masakah aku harus berpeluk tangan."

"Ada syaratnya?"

"Syarat? Ah, omongan apa ini."

"Masakah tanpa syarat?"

"Tidak pernah terpikir olehku. Siapakah tuan, tolong beri tahu lebih dulu."

"Kau ..... betulkah bukan utusan keparat itu untuk menyiksa diriku?"

"Siapakah keparat yang kau maksud?"

"Muridku!"

Desis orang tua itu dengan gemas.

"O,"

Ji Bun bersuara heran.

"kau dikurung oleh muridmu sendiri? Kenapa?"

"Tentu karena kepandaian dan rahasia pelajaranku."

Tak tertahan Ji Bun mengumpat.

"Durhaka terhadap guru, manusia terkutuk dan pantas disamber geledek."

Dengan mendelik gusar, orang tua itu berkata.

"Lohu bertahan hidup sampai sekarang, memangnya ingin menunggu dia mendapatkan ganjaran itu, sayang, ai .... mungkin takkan tercapai maksudku."

"Siapakah nama murid durhaka tuan?"

"Lohu tidak tahu."

"Apa tidak tahu?"

Sungguh berita aneh yang paling lucu di dunia ini, masakah seorang guru tidak tahu nama muridnya.

Orang tua mengertak gigi, mukanya yang kurus kering tidak mengunjukkan mimik apapun, hanya, biji matanya yang pudar tiba-tiba memancarkan rasa kebencian yang berkobar.

"Ya, sampai sekarang masih belum kuketahui namanya."

"Tapi asal-usulnya mungkin diketahui?"

"Yang terang dia adalah pemilik gedung ini."

"Pemilik gedung ini, itulah Kiang Giok pimpinan cabang Ngo-hong-kau di sini."

"Dia ..... dia bernama Kiang Giok? Kalian musuhnya?"

"Boleh dikatakan demikian."

Kedua biji mata orang tua yang cekung tiba-tiba meneteskan air mata, katanya penuh kepedihan.

"Kepandaian Lohu sudah dipunahkan, tidak ubahnya dengan sesosok mayat hidup yang bisa bernapas saja, aku tak ingin melihat sinar matahari lagi, cuma matipun aku takkan meram, sayang aku tak bisa memberi pertanggungan jawab bagi perguruan ........."

"Tuan dari perguruan mana?"

"Terbatas oleh peraturan perguruan, maaf tidak boleh kukatakan."

Ji Bun mengerut kening, katanya.

"Jadi nama dan gelaran tuan juga tak boleh diperkenalkan?"

Orang tua kurus itu mengangguk-angguk. Ji Bun menepekur sejenak, katanya.

"Bagaimana kalau tuan ikut kami keluar saja? Cayhe masih ada urusan penting yang harus segera dibereskan, tak bisa lama di sini. Bicara terus terang, akupun sedang mengejar jejak murid tuan.

"O,"

Orang tua kurus menatap tajam Ji Bun, sorot matanya berubah tak menentu, ini menandakan bahwa orang tua ini dirundung perasaan yang bergolak.

Semula Ji Bun berharap di dalam kamar tahanan ini ada disekap ibu atau Thian-thay-mo-ki, sekarang kenyataan telah menumbangkan harapan itu.

Sudah tentu pikirannya menjadi gundah dan melayang ke tempat jauh, terasa sedetikpun tak kuasa lagi tinggal di sini.

Menolong orang tua ini hanya sambil lalu saja disamping merasakan adanya kewajiban bagi seorang persilatan yang harus menolong sesamanya.

Kalau tidak, menghadapi sikap si orang tua yang serba bimbang dan seperti menyembunyikan sesuatu ini, sejak tadi dia tentu sudah tinggal pergi.

Ui Bing yang berpengalaman luas dalam seluk beluk kehidupan malah dapat bersabar, katanya kalem.

"Cianpwe, setiap urusan pasti ada beda ringan dan berat, sering pula terjadi perubahan, kau harus lekas ambil keputusan. Kalau kami tidak kebetulan menerobos kemari, bagaimana pula nasib Cianpwe? Urusan aliran dan perguruan orang luar memang tidak boleh tahu, tapi kalau Cianpwe merasa perlu minta bantuan kami, tentu kami akan bekerja sekuat tenaga."

Ji Bun sudah tak sabar lagi, tanyanya.

"Tuan sudah berpikir?"

Tiba-tiba orang tua itu geleng kepala, katanya.

"Lohu sudah berkeputusan tidak akan meninggalkan tempat ini "

Ji Bun melengak, tanyanya tak mengerti.

"Tuan tidak mau meninggalkan penjara seperti neraka ini?"

Nada si orang tua tegas.

"Ya, Lohu sudah berpikir masak, kecuali mati demi pertanggungan jawab kepada perguruan, tiada jalan lain yang harus kutempuh, hanya matiku ini tetap membuatku penasaran."

"Kalau kau tidak rela mati demikian saja, kenapa tidak mau meninggalkan tempat ini?"

"Aku mati penasaran tidak berarti takut mati, Soalnya tugas perguruan teramat berat."

Tugas berat apa, Ji Bun ingin tanya, namun melihat sikap si orang tua yang begitu patuh dan tunduk terhadap peraturan perguruannya, maka ia telan pertanyaannya.

Sebentar kemudian baru orang tua itu berkata pula.

"Urusan ini menyangkut peraturan perguruan, ada sesuatu tapi Lohu tidak bisa bicara terus terang ....."

"Sulit kalau begitu,"

Ujar Ui Bing menghela napas.

"apakah Cianpwe ada saudara seperguruan, kami bisa mengirim kabar kepada mereka?"

Orang tua diam saja, agaknya dia tenggelam dalam pemikiran, mungkin dia sedang berpikir secara mendalam cara bagaimana harus ambil keputusan.

Hati Ji Bun seperti dibakar, seperti semut dalam kuali panas, tak tahan ia berkata pula.

"Tuan, kami akan segera berangkat."

Dengan gerakan lemah tak bertenaga orang tua itu angkat tangannya, katanya.

"Nanti dulu, Lohu ada sebuah permintaan."

"Silakan bicara,"

Jawab Ji Bun.

"Kuharap saudara cilik suka wakilkan aku mencari keparat itu, bunuh dia untuk mencuci nama baik perguruanku ......."

"Membersihkan nama baik perguruanmu? Apakah tugas berat ini boleh diwakilkan kepada orang luar?"

"Tiada jalan lagi, perguruan kami memiliki sebuah Pit-kip (kitab pusaka) yang terjatuh ke tangan keparat itu, harap rebutlah kembali ........"

"Apa betul murid tuan bernama Kiang Giok, pimpinan cabang Ngo-hong-kau di sini?"

"Lohu hanya tahu dia pemilik gedung ini."

"Baiklah, untuk membuktikan asal usulnya, Harap tuan suka memberikan keterangan mengenai ciri-cirinya ......"

"Ciri-cirinya, dia ..... dia pandai menggunakan racun."

"Ya, Cayhe sendiri pernah merasakannya, hampir saja jiwaku ini melayang."

"Ya, tidak akan salah kalau begitu."

"Setelah Pit-kip perguruanmu itu berhasil direbut kembali, lalu kepada siapa harus kuserahkan?"

"Ini ....... entah saudara dari aliran mana?"

"Hal ini sukar kujawab."

"Baiklah, di sini Lohu meninggalkan pesan tertulis dalam lipatan kertas ini, semoga setelah Pit-kip itu direbut kembali kau bisa bekerja menurut petunjuk yang tertera di kertas ini."

"Boleh saja."

Dari tumpukan rumput kering di bawah tubuhnya, si orang tua mengeluarkan secarik kertas tebal yang sudah kuning dan kotor, dengan hati-hati dan penuh prihatin dia sodorkan kepada Ji Bun, katanya.

"Inilah, kalau saudara bisa membereskan urusan ini, di alam baka Lohu akan istirahat dengan tenteram."

"Soal membersihkan perguruanmu itu ......"

"Sudah diterangkan di dalam tulisan ini. Saudara baru boleh membuka lempitan kertas ini setelah berhasil rebut kembali Pit-kip itu."

Ji Bun menerimanya, tanyanya.

"Tuan betul-betul sudah berkeputusan tak mau keluar? Untuk ini Cayhe mohon sukalah tuan memperkenalkan diri, ini tak melanggar aturan perguruanmu, bukan?"

"Baiklah, Lohu bernama Ngo Siang."

Ji Bun berjingkat kaget, mulutnya ikut berteriak.

"Ngo ..... Siang?"

"Betul saudara ........."

Berubah hebat air muka Ji Bun, katanya berpaling kepada Ui Bing.

"Toako, maaf, silakan kau tunggu sebentar di luar."

Dengan heran dan tak habis mengerti Ui Bing mengawasi Ji Bun, namun dia menurut, obor dia tancap di dinding pinggir pintu lalu melangkah keluar.

Orang tua yang bernama Ngo Siang juga mengunjuk keheranan dan kaget, tanyanya.

"Saudara, kenapakah kau?"

Dengan rasa haru dan penuh emosi Ji Bun berkata.

"Apakah guru tuan she Ban bernama Yu-siong?"

Muka si orang tua yang kurus keriputan itu kelihatan gemetar, bibirnya bergetar, matanya terbeliak, lama sekali baru dia kuasa mengendalikan emosinya, katanya tergagap.

"Kau .... kau ..... darimana bisa tahu?"

Ji Bun segera bertekuk lutut, serunya terharu.

"Murid generasi ke-15 Ji Bun, menghadap Suco."

"Apa? Kau ....... kau?"

"Tecu Ji Bun, berkat kemurahan hati dan kebajikan Suthayco telah diangkat sebagai penerus dari generasi ke-15."

"Ini .... mana ..... mana mungkin? Hah, Cosuya maha kuasa dan bermurah hati, Cosuya ....."

Kata orang tua alias Ngo Siang itu dengan terharu. Setelah menyembah, Ji Bun segera bersimpuh dan berkata.

"Harap Suco suka dengarkan liku-liku persoalan ini."

Tubuh Ngo Siang bergetar, inilah keajaiban yang tak pernah dimimpikan, kejadian yang terlalu mendadak, begitu aneh dan nyata sehingga orang sulit percaya dalam waktu sesingkat ini, mulutnya melongo, suaranya lemah hampir tidak terdengar.

"Kau ....... baiklah ...... katakan ......."

Segera Ji Bun ceritakan semua pengalamannya, tiba-tiba Ngo Siang menjatuhkan diri berlutut, matanya yang cekung mengalirkan air mata, teriaknya serak.

"Tecu tak berbudi ...... Tecu tidak becus ........."

Ji Bun segera membujuk.

"Suco, harap suka memperhatikan kesehatan sendiri."

Ngo Siang merangkak bangun dan duduk kembali ke tempatnya, lama dia menepekur dengan pandangan terlongong, katanya kemudian.

"Berikan kertas itu, tak berguna lagi."

Ji Bun segera merogoh lempitan kertas tadi serta diangsurkan dengan kedua tangan.

Ngo Siang lantas membebernya, ternyata lapisan dalam dari lipatan kertas ini adalah selembar kain sutera yang amat tipis, di atas kain yang sudah butut ini terdapat noktah darah yang sudah mengering, huruf-huruf yang tertulispun menggunakan tinta darah.

Ngo Siang menyobek kertas kain ini, lalu menjemput sebuah buntalan kain kecil dan ditimang-timang di telapak tangan, katanya setelah menghela napas.

"Aturan yang harus dilakukah bagi setiap murid angkatan kita dengan tulisan dalam kertas lipatan ini tentu kau sendiri juga sudah tahu, maka tugas selanjutnya untuk menumpas murid durhaka itu terpikul di atas pundakmu."

"Tecu menerima setiap petunjuk Suco."

"Generasi ke-14 tidak diangkat secara resmi oleh perguruan, karena dia juga telah mengkhianati perguruan, maka kau tidak perlu pandang dia sebagai angkatan yang lebih tua. Lebih penting kau melaksanakan aturan perguruan untuk menumpasnya dengan cara apapun. Demikian saja kata-kataku."

"Cucu murid ingin membawa Suco keluar dari sini, biarlah kita berusaha ......."

"Tidak usahlah."

"Bagaimana kehendak Suco?"

Tanya Ji Bun melengak. Lemah tapi tegas setiap patah kata Ngo Siang.

"Suco tidak berbakti, sejauh ini tidak mampu melaksanakan tugas yang kupikul, sehingga ajaran perguruan hampir putus di tanganku ....... maka kau harus dengar kata-kataku. Sesuai peraturan, waktu aku turun gunung mencari calon pengganti yang harus ikut juga digembleng dalam kebiasaan 'menyenggol rejeki", ternyata usahaku sia-sia belaka. Setiap pelosok Kang-ouw sudah kujelajahi, namun tetap tak berhasil kuperoleh seorang calon yang memenuhi syarat. Begitulah, dari tahun ke tahun sehingga aku akhirnya berpendapat bahwa Tok-keng

Jilid pertama kemungkinan tidak terjatuh ke tangan seseorang, namun aku tetap menunggunya dengan sabar, siapa tahu kalau terjadi suatu kemungkinan ........"

Setelah menghela napas dan berhenti sebentar Ngo Siang melanjutkan ceritanya.

"Tiga tahun yang lalu, karena terpaksa aku sengaja mendemonstrasikan ilmu perguruan kita, maksudku untuk mencari jejak apakah betul

Jilid pertama dari buku pelajaran perguruan kita itu sudah berada ditangan seseorang.

Betul saja, tidak lama kemudian aku lantas menemukan dia.

Semula aku hendak menyelidiki watak dan mencari tahu asal-usulnya secara diam-diam, tak tahunya malah dia mengenali asal-usulku lebih dulu.

Dia berkata bahwa ada seseorang sakit keras dan berpesan padanya supaya mencarikan orang-orang seperguruannya.

Katanya ilmu beracun yang dia pelajari didapat dari orang sakit itu.

Karena kurang teliti, aku percaya begitu saja.

Dia membawaku ke sebuah kamar rahasia di bawah tanah, sehingga aku terjebak ke perangkapnya.

Bukan saja ilmuku dipunahkan aku disekap di sini pula.

Sering keparat itu datang kemari menyiksa aku supaya menyerahkan atau mengajarkan ilmu tingkat tinggi perguruan kita ......."

Ji Bun naik pitam, katanya gusar.

"Tecu membakal Hoat-Wan, aku bersumpah akan menghukumnya sesuai hukum perguruan."

"Ya, tadi kau menceritakan pengalamanmu, katamu kau sudah mempalajari Bu-ing-cui-sim-jiu, apa betul kau diajar ayahmu secara lisan?"

Ji Bun mengiakan.

"Dari mana pula ayahmu bisa mendapatkan buku pelajaran ilmu rahasia perguruan kita?"

"Mati hidup ayahku sekarang masih merupakan teka teki, biarlah setelah berhasil membekuk Kiang Giok, pasti bisa membongkar rahasia ini."

Diam-diam Ji Bun amat bersyukur, semula dia berpendapat bahwa orang yang memperoleh

Jilid pertama Tok-keng itu adalah ayahnya, sedang dirinya harus menjalankan tugas membersihkan perguruan dari anasir penghianat, memangnya dia sebagai anak harus membunuh ayah kandung sendiri?

Kini sudah terbukti bahwa Kiang Giok adalah orang yang memperoleh buku itu.

Persoalan ini akan lebih mudah dibereskan.

Soal bagaimana ayahnya bisa mendapatkan pelajaran ilmu beracun, mungkin Kiang Giok sengaja hendak menjadi penghianat maka dia sengaja mengajarkan ilmu beracun itu kepada orang luar sehingga terjadilah buntut yang berlarut-larut ini.

Ngo Siang bertanya.

"Apa pula hubungan ayahmu dengan Kiang Giok?"

"Cucu muridpun tidak tahu."

"Siapa tahu kalau ayahmu justeru orang yang pegang rol di belakang layar?"

Tersirap darah Ji Bun, betul, ini bukan mustahil, maka dia mengertak gigi, katanya.

"Cucu murid akan menyelidikinya."

"Kalau kelak terbukti bahwa orang pertama yang memperoleh Tok-keng adalah ayahmu, bagaimana kau akan ambil tindakan?"

Terkesiap hati Ji Bun, katanya setelah berpikir.

"Cucu murid akan bekerja sesuai dengan hukum perguruan, demi kebenaran dan kebesaran nama baik perguruan, meski terhadap ayah sendiripun, aku akan tetap ambil tindakan."

"Bagus sekali semoga kenyataan tidak demikian,"

Ujar Ngo Siang. Tiba-tiba terlihat oleh Ji Bun orang tua itu tengah menggelinding sebutir pil Merah darah yang menyolok sekali, seketika dia berteriak kaget.

"Hoat-wan."

"Benar,"

Kata Ngo Siang.

"memang Hoat-wan, pil ini kubawa waktu aku disuruh turun gunung oleh Suco, sekarang tiba saatnya aku akan menggunakannya."

Saking gugup tanpa sadar Ji Bun ulur tangan hendak mengambilnya, mulutpun berteriak.

"Jangan Suco!"

"Jangan bergerak,"

Tiba-tiba Ngo Siang menghardik dengan bengis.

Kata-katanya begitu keras berwibawa, sehingga tanpa sadar Ji Bun menarik pula tangannya.

Dalam sekejap itulah Ngo Siang sudah menjejalkan pil merah itu ke dalam mulut terus di telan.

Tak pernah terpikir oleh Ji Bun bahwa Ngo Siang akan bertindak setegas ini, serasa pecah jantung Ji Bun.

Hoat-wan adalah obat warisan cikal bakal perguruan mereka yang digunakan untuk menghabisi nyawa sendiri, sejak diciptakan tak pernah dibuat obat penawarnya, maka setiap orang yang telan pil racun ini takkan tertolong lagi.

Itupun berarti sudah menunaikan bakti terhadap perguruan, umpama ada obat penawarnya juga tidak boleh ditolong.

Gaya duduk Ngo Siang sekarang berubah setengah berlutut, sorot matanya tenang dan tenteram.

Lekas Ji Bun juga berlutut, air mata lantas bercucuran, waktu dia angkat kepala pula, Ngo Siang sudah mangkat untuk selamanya.

Semua kejadian dan pengalaman ini bagai mimpi belaka, obor kecil milik Ui Bing sudah mulai guram, mungkin minyaknya sudah hampir habis.

Maka Ji Bun menoleh keluar serta memanggil.

"Toako, kau boleh masuk."

Tiada penyahutan, kembali ia berseru dengan suara lebih keras, namun tetap tiada reaksi.

Keruan hatinya gugup, mungkin Ui Bing mengalami sesuatu?

Bergegas dia melompat keluar, beruntun dia melewati dua kamar batu.

Setiba diujung lorong ini, tetap tidak kelihatan bayangan Ui Bing.

Sesaat dia berdiri melongo tak tahu apa yang harus dia lakukan?

Tak mungkin Ui Bing pergi tanpa sebab kecuali terjadi sesuatu.

Lekas dia berlari kembali ke dalam kamar mengambil obor, tapi baru saja dia putar balik hendak mencari Ui Bing pula ....

sekonyong-konyong suara gemuruh dengan getaran hebat.

Seluruh kamar batu itu bergoncang seperti dikocok oleh kekuatan yang dahsyat.

Bau belerang dan asap putih yang tebal seketika bergulung-gulung masuk ke dalam kamar.

Semua obor yang tersulut di dalam kamar seketika padam, keadaan menjadi gelap.

Saking kaget serasa terbang sukma Ji Bun.

Lama sekali baru dia berhasil menenteramkan hatinya.

Dia tidak tahu apa yang terjadi, lama sekali baru dia pelan-pelan menggeremet maju, dimana jari tangannya meraba.

Seketika dia mengeluh, ternyata lorong bawah tanah sudah tertimbun tanah dan buntu, batu-batu besar menyumbat mulut lorong.

Dia putar balik memeriksa lorong sebelah dalam, ternyata juga telah tersumbat, ternyata hanya kamar batu dimana dia berada saja yang masih utuh tidak ikut runtuh.

Sayang jenazah Suco telah terkubur disebelah dalam.

Sungguh suatu keberuntungan di dalam bencana ini.

Kalau dirinya tidak kebetulan balik ke kamar batu ini, mungkin dirinya juga terkubur hidup-hidup di lorong tadi.

Tapi dalam keadaan seperti ini, apa pula bedanya kalau dirinya tidak terkubur hidup-hidup di dalam kamar ini?

Panjang lorong ini ada beberapa tombak, cukup asal sebagian diledakkan, dewapun takkan bisa meloloskan diri, kamar batu ini dilapisi batu-batu tebal.

Entah berapa dalamnya letak kamar batu ini dari permukaan bumi, harapan untuk keluar dari timbunan tanah ini jelas nihil.

Siapakah yang meledakan lorong ini?

Tentunya orang-orang Ngo-hong-kau.

Adakah sangkut paut dengan menghilangnya Ui Bing?

Atau mungkin Ui Bing sendiri sudah terkubur juga ditempat lain?

16.47.

Dua Generasi Terkubur .......

??!!

Ji Bun betul-betul merasa putus harapan.

Kalau dia tidak bertemu dengan Suco Ngo Siang, sejak tadi tentu dia sudah pergi bersama Ui Bing.

Kini dua generasi terkubur sekaligus di dalam liang yang sama.

Dia pernah berulang kali mengalami bencana kematian namun kali ini dia betul-betul putus asa, kejadian gaib tak mungkin terjadi lagi.

Manusia, memangnya mungkin dia keluar dengan menerobos bumi.

Dengan lunglai dia duduk mendeprok di atas tanah, tiada yang dipikirkan lagi karena dia tahu berkelebihan untuk memikirkan sesuatu dalam keadaan seperti ini.

Tanpa merasa jari-jari tangannya meraba juga buntalan di kantongnya, dimana Hoat-wan pemberian Suthayco Ban Yu-siong dia simpan.

Dalam hati dia sudah berkeputusan bila dirinya tak tahan menghadapi siksaan hidup ini biarlah menghabisi jiwa sendiri dengan pil racun ini.

Nasib manusia memang sukar diramalkan, siapa pernah menduga dikala kepandaian silatnya sekarang sudah mencapai taraf yang sedemikian tinggi, harapan menuntut balas tinggal soal waktu saja, ternyata dia harus mengalami peristiwa tragis ini.

Dari seorang yang sudah putus asa, semua perasaan cinta, benci, suka duka sudah kehilangan arti sama sekali.

Waktu berjalan tanpa mengenal kasihan rasa lapar dan dahaga mulai merangsang dirinya.

Apalagi dalam keputus-asaan seperti ini, rasa lapar dan dahaga itu lebih terasa lagi.

Tak lama, ia tidak tahan lagi, ia pikir, nyawa sendiri bakal berakhir, lebih menderita juga tidak menjadi soal.

Beberapa kali dia hendak menelan Hoat-wan namun rasa ingin hidup tetap bertahan dalam sanubarinya.

Selama hayat masih dikandung badan, betapapun manusia harus tetap bertahan hidup.

Siksa derita lambat laun berubah pati rasa.

Ini membuktikan bahwa dirinya sudah cukup lama terkurung di dalam kamar batu ini.

Mendadak timbul sesuatu pikiran, ia lihat kamar batu ini dibawah tanah, lorong sudah buntu, semestinya untuk bernapaspun menjadi persoalan setelah terkurung sekian lama, namun sedikitpun dia tidak merasa sesak dan sumpek.

Mungkinkah ada celah-celah atau tempat untuk memasukkan hawa kedalam kamar ini?

Bergegas Ji Bun melompat bangun, penemuan inilah seperti selarik sinar harapan baginya untuk cari hidup.

Ia mulai bekerja dengan teliti, setiap tempat, celah-celah atau lekukan dinding dia raba dan diendus dengan hidung.

Setiap senti jengkal mulai diperiksanya dengan seksama, namun sedemikian jauh ia tidak menemukan apa-apa, tiada sesuatu tempat yang terasa membawa masuk hawa ke dalam kamar ini.

Tapi kenyataan hawa di dalam kamar ini tetap segar, tidak mungkin tiada sebabnya.

Maka ia putar otak, ia teringat akan atap kamar.

Maka dia melompat ke atas sambil sebelah tangan terulur ke atas, ternyata tangan meraba sebuah celah yang cukup besar.

Lekas jari tangannya berpegang pada batu-batu yang menonjol, sehingga dia bergelantung sedikit mengerahkan tenaga dia berusaha menempelkan badannya pada atap batu, jadi seperti cecak saja tubuhnya bergelantung.

Kembali hidungnya mengendus-ngendus, lalu menarik napas panjang.

Ternyata hawa segar mengalir di antara celah-celah ini.

Keruan senangnya bukan main, harapan hidup seketika berkobar.

Segera ia melayang turun ke bawah, kalau celah-celah ini ada hawa segar mengalir masuk, tentu kamar batu ini tidak terlalu dalam dari permukaan bumi.

Lalu tindakan apa yang harus dia lakukan sekarang?

Rasa senang luar biasa membuatnya gemetar, namun juga kebingungan seperti kehilangan akal.

Pikir punya pikir, hanya ada satu jalan untuk lolos keluar, yaitu menjebol atap dinding ini, namun dia juga harus mengambil resiko.

Kalau atap dinding ini runtuh, berarti dirinya akan terkubur seketika.

Daya tarik hidup betapapun !ebih besar dari pada resiko apapun yang harus dihadapinya.

Kalau tidak berani menyerempet bahaya bagaimana mungkin dirinya bisa hidup.

Lalu dia menggeremet mundur ke pintu besi, pintu besi ini sudah jebol dan miring keterjang batu sehingga merupakan suatu lubang yang cukup besar.

Jika atap kamar ini nanti ambruk, ke lubang besar di samping pintu besi inilah dia akan menyelinap dan menyelamatkan diri.

Maka dia berjongkok memasang kuda-kuda, kepalanya mendongak.

Setelah napas teratur dan tenaga penuh, mendadak dia berdiri tegak serta memukul, dengan kedua tangan ke atas.

"Blang", tak kalah keras dari pada ledakan pertama tadi. Batu pasir dan debu sama rontok berjatuhan, pandangan matanya menjadi terganggu, terasa debu pasir sama berjatuhan menguruk tubuhnya, badannya tertimbun setinggi dada. Setelah pikiran tenang dan pelan-pelan membuka mata, seketika dia berteriak kegirangan. Tampak sebuah lubang cukup besar di atas atap yang tergempur pukulannya tadi. Sinar sang surya menyorot masuk sehingga pandangannya menjadi silau. Dinilai dari tebalnya lubang besar ini, diperkirakan kamar batu ini terletak dua tombak di bawah permukaan bumi. Sungguh suatu keajaiban yang betul-betul sukar dipercaya. Waktu ia mengawasi sekelilingnya, kecuali guguran tanah yang tebal, tiada barang lainnya lagi. Jika lubang di atas atap yang gugur lebih banyak lagi, pasti dirinya ikut terkubur hidup-hidup. Namun demikian batu-batu saka yang menyanggah atap toh sudah bergoyang, mungkin tersentuh sedikit saja akan ambruk seluruhnya sungguh ngeri sekali. Sekali lagi dia terhindar dari malapetaka, pelan-pelan dia meronta naik dari timbunan tanah, sekali melejit lagi dia melesat keluar dari lubang besar di atas atap itu. Waktu pandangannya menjelajah sekelilingnya, didapati dirinya berada di tanah pekuburan yang liar dan sepi, namun tanah pekuburan ini berada tak jauh dari kaki tembok kota. Tak jauh di sebelah sana tampak jalan raya, rumah-rumah penduduk pun tampak dikejauhan sana. Waktu dia mendongak, sekarang kira-kira sudah menjelang tengah hari, ia pikir sedikitnya dirinya sudah sehari semalam terkurung di bawah tanah. Sekarang tugas penting, yang harus dia bereskan adalah mengisi perut serta ganti pakaian, maklum bajunya sudah hancur tinggal beberapa carik kain yang masih bergelantung dibadannya, kotor lagi. Kalau ketemu orang tentu dirinya dikira mayat hidup yang bangkit dari liang kubur. Untung barang-barang miliknya yang tersimpan di kantong pinggang serta obat-obatan tidak hilang, demikian pula Sam-cay-ciat milik Thian-thay-mo-ki yang dipungutnya di hotel juga masih ada. Untuk mengeduk jenazah Ngo Siang dari urukan tanah yang begini tebal, jelas tidak mungkin lagi, maka dia berlutut dan menyembah kearah lubang, tak lupa iapun berdoa, lalu berdiri dan berlari menuju ke salah sebuah rumah yang berdiri menyendiri dari kelompok rumah yang lain. Rumah yang didirikan dekat pekuburan ini terdiri tiga petak rumah atap, sekelilingnya dipagari tembok tanah yang sudah berlubang dan banyak yang gugur. Hanya beberapa kali lompatan saja Ji Bun sudah berada di luar tembok, sejenak dia berpikir lalu menghampiri pintu dan berkaok.

"Ada orang di dalam?"

Beruntun tiga kali dia berkaok-kaok, tetap tidak ada sahutan.

Ji Bun jadi ragu-ragu, mungkin rumah kosong yang tidak dihuni orang?

Tapi asap tampak mengepul dari cerobong dapur, dikaki tembok sana juga tampak tumpukan kayu kering, di atas gala bambu yang melintang di sana juga dijemur pakaian orang, tak mungkin rumah ini kosong, kecuali orangnya sedang keluar semua.

Sekilas dia berpikir, lalu memberanikan diri mendorong pintu melangkah masuk, serunya sekali lagi.

"He, ada orang tidak?"

Mulut berkaok kaki melangkah masuk, setiba di ambang pintu dia melongok ke dalam, pemandangan ngeri dan seram seketika terpampang dihadapannya, hampir saja dia menjerit kaget.

Tampak darah menggenang di situ, diantara genangan darah rebah empat sosok manusia, satu perempuan tiga laki-laki.

Darah masib belum membeku, ini pertanda bahwa empat orang ini belum lama terbunuh.

Pantas tiada sahutan orang, ternyata penghuninya terbunuh seluruhnya.

Siapakah pembunuh keluarga ini?

Musuh besarnya atau perampok biasa?

Ji Bun tak banyak pikir, tujuannya mencari pakaian untuk ganti, kalau pemiliknya sudah mati, tidak perlu kuatir apa lagi, langsung dia memasuki kamar di sebelah kiri sana.

Dari sebuah almari dia menemukan sebuah jubah hijau, ikat kepala.

Waktu dijajal ternyata pas dengan perawakan tubuhnya.

Dari dalam laci yang lain dia mengeluarkan pula sebuah celana sutera, langsung dia berganti dan berdandan ala kadarnya, lalu masuk dapur cari makanan dan mencuci muka.

Baru sekarang dia betul-betul merasa segar dan nyaman.

Sekonyong-konyong sejalur angin kencang terasa menerjangnya dari belakang.

Ji Bun agak kaget, kaki menggeser dan tangan bekerja.

"Hah, kau?"

Kedua orang sama-sama berteriak kaget dan girang. Ji Bun menarik tangannya, Ui Bing juga menurunkan pedangnya, keduanya saling berpandang sekian saat.

"Hiante,"

Kata Ui Bing.

"kau ....... tidak mati?"

"Ya, tidak mati, Toako bagaimana ...."

"Bukankah kau terpendam di bawah lorong itu?"

"Benar tapi Thian masih memberi berkah hidup padaku, kembali aku lolos dari renggutan maut."

"Lalu kau ..... bagaimana bisa keluar?"

"Menjebol atap kamar batu, itulah letaknya di tanah pekuburan sana."

"O, sungguh terima kasih kepada langit dan bumi, sekian lamanya aku menjadi kuatir dan kebingungan, bagaimana Hiante bisa berada di sini?"

"Mencari baju untuk ganti pakaian."

"Orang tua dalam kamar tahanan itu?"

"Sudah meninggal!"

Ui Bing tidak tanya Lebih lanjut, malah Ji Bun balas bertanya.

"Toako, kenapa kau mendadak menghilang dari bawah lorong itu?"

Ui Bing menghela napas, katanya.

"Kau minta aku menyingkir sementara, maka aku keluar menuju kamar batu di sebelah luar. Tidak lama kemudian kudengar langkah orang mendatangi, segera aku lari keluar. Setiba dipersimpangan jalan, kulihat dua bayangan orang berlari balik menuju ke lorong semula. Baru saja aku hendak mengejar kesana, mendadak kucium bau bahan peledak yang terbakar, ku tahu gelagat berbahaya, namun tidak berhasil kutemukan di mana letak bahan peledak itu dipendam, terpaksa aku berlari balik. Namun baru beberapa tombak, dinamit itu sudah meledak, lorong yang menuju kekurungan orang tua seluruhnya menjadi buntu. Aku sendiri hampir saja mampus teruruk tanah waktu itu, aku kebingungan, tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku juga kuatir kepergok musuh, kau tahu, jago-jago Ngo-hong-kau semua berkepandaian tinggi, aku jelas bukan tandingan mereka."

Ji Bun menuding keempat sosok mayat, tanyanya.

"Toako yang membunuh sekeluarga ini?"

"Ya, aku yang membunuhnya."

"Kenapa Toako bunuh mereka?"

"Kau kira siapa mereka? Kaki tangan Ngo-hong-kau! Mulut lorong di bawah tanah itu terletak di bawah meja dalam ruang tamu di bilik sebelah sana. setelah terjadi ledakan di bawah tanah itu, aku lalu lari keluar dan tiba di sini. Cukup payah juga aku membunuh keempat orang ini, untung aku tidak kepergok dengan Kiang Giok dan rombongannya."

Ji Bun manggut-manggut mengerti, tanyanya.

"Ke mana rombongan Kiang Giok itu?"

"Entah, dari salah seorang mereka yang kukompes keterangannya, setelah keluar dari sini, katanya mereka lantas berpencar."

"Terpaksa kita harus geledah gedung mereka itu?"

"Begitupun baik, mari kita masuk kota, tetap masuk dari pintu besar gerak-gerik harus lebih cekatan, lubang ini harus kita timbun dulu."

Keduanya lalu keluar, dengan pukulan beberapa kali, tiga rumah atap ini mereka pukul sampai ambruk, pagar tanahpun mereka gempur dan kebetulan untuk menyumbat mulut lorong di bawah meja.

"Toako", ujar Ji Bun setelah selesai bekerja.

"kukira kau tidak usah pergi, agak berbahaya bagimu."

"Hiante, kenapa kau bilang demikian."

"Toako, terus terang, persoalan ini menyangkut urusan dalam perguruanku, kuharap Toako maklum."

"Kalau urusan menyangkut perguruanmu, aku tak bisa bilang apa-apa, kepandaianmu memang cukup berlebihan untuk mempertahankan diri, namun pengalamanmu masih cetek, ini menguatirkan."

"Terima kasih akan perhatian Toako, Siaute akan bertindak hati-hati."

Urusan perguruan umumnya tidak boleh dicampuri orang lain, hal ini Ui Bing cukup maklum, karena Ji Bun tidak menjelaskan maka Ui Bing juga tidak berani tanya, meski dalam hati ingin tahu, terpaksa dia berkata dengan rikuh.

"Baiklah, tapi ingat, setelah urusanmu selesai, datanglah ke hotel itu, kutunggu di sana. Cukup katakan hendak mencari seorang tua, pemilik hotel akan tahu."

"Baiklah, oya, Siaute masih ingin tanya, di manakah gurumu sekarang?"

Ui Bing melengak, sahutnya.

"Guruku pergi ke suatu tempat yang jauh, dalam waktu dekat sukar kembali, ada apa?"

"Gurumu pernah berjanji untuk bertemu di rumah keluarga Ciang di Kay-hong sebulan kemudian, banyak persoalan rumit yang hendak dijelaskan padaku. Tak nyana karena kebentur suatu urusan aku pergi sampai setengah tahun sehingga tidak dapat menepati janji .........."

"Guruku pernah menyinggung soal ini, terpaksa kau harus menunggu beliau kembali."

"Baiklah, Siaute mohon diri sekarang."

"Jangan lupa setelah urusanmu beres, carilah aku."

Ji Bun mengiakan, sekali lompat dia berlari-lari menuju ke tanah pekuburan, sebentar dia berdiri celingukan, tiada bayangan orang lain, langsung dia lari masuk kota menuju gedung cabang Ngo-hong-kau.

Pintu besar yang bercat hitam hanya tertutup separo, keadaan di luar tetap sunyi.

Tanpa pikir dengan langkah lebar dia beranjak masuk.

"Siapa?"

Tiba-tiba sebuah bentakan berkumandang seorang laki-laki baju hitam muncul, melihat Ji Bun, tiba-tiba dia menjerit seram seperti melihat setan di siang bolong.

Cepat dia putar tubuh lari sipat kuping, tapi sekali berkelebat Ji Bun tangkap kuduk laki-laki itu, katanya dingin.

"Di mana pimpinan kalian?"

Saking ketakutan pecah nyali laki-laki itu, mana dia sanggup bicara, kuatir Kiang Giok mendengar suara gaduh dan melarikan diri, Ji Bun tidak banyak tanya lagi, dia tutuk Hiat-to orang.

Laki-laki itu menjerit sekali, terus roboh menggeletak tak bernyawa.

Ji Bun berlari masuk dan langsung menuju ke ruang pendopo, dilihatnya di dalam banyak bayangan orang tanpa mengeluarkan suara secepat kilat tiba-tiba dia menerjang ke dalam.

Agaknya kedatangannya terlalu mendadak, di samping gerak geriknya yang tarlalu cepat, tiada yang melihat jelas wajahnya.

Begitu tubuhnya berdiri tegak barulah orang-orang disekelilingnya sama menjerit kaget.

"Te-gak Suseng!"

Maksud Ji Bun semula hendak langsung membereskan orang-orang Ngo-hong-kau, tapi sekilas pandang, seketika dia berdiri melongo, karena keadaan dalam ruang besar ini agak ganjil.

Puluhan orang berkelompok menyendiri di sebelah sana, tampak Kiang Giok dibekuk oleh dua orang laki kekar, di sampingnya lagi berdiri Thong-sian Hwesio, Siang-thian-ong dan Siucay tua yang menggusur ke atas perahu itu.

Kalau demikian laki-laki baju hitam yang dia bunuh di luar tadi ternyata anak buah Wi-to-hwe.

Bahwa Siucay tua ini akhirnya masuk kelompok orang-orang Wi-to-hwe, hal ini sungguh di luar dugaan Ji Bun.

Seluruh perhatian dan pandangan hadirin dalam ruang pendopo ini tertuju ke arah Ji Bun.

Segera Ji Bun tahu apa yang telah terjadi di sini, agaknya Kiang Giok mengira dirinya sudah mampus tertimbun di lorong bawah tanah, maka dia balik ke gedungnya ini, tak nyana pihak Wi-to-hwe mendadak menggerebek tempat ini sehingga dia tertawan oleh jago-jago Wi-to-hwe yang berkepandaian tinggi.

Siucay tua segera melangkah maju dan berdiri mengadahg pintu, katanya sambil tertawa dingin kepada Ji Bun.

"Te-gak Suseng, kau belum mampus?"

"Kalau Cayhe mati, bukankah para cecunguk bakal merajalela?"

"Kebetulan kau kemari, Lohu tidak perlu membuang waktu mencarimu."

"Akupun hendak mencarimu, perlakuanmu setengah tahun yang lalu, memangnya harus kutelan."

"Takabur sekali kau, dengan cara apa kau hendak membalas diriku?"

"Gampang saja, kucabut nyawamu!"

Siucay tua itu mendengus, jengek.

"Anak serigala, boleh kau mencobanya."

"Baik, sambut pukulanku!"

Ditengah seruannya, Tok-jiu-it-sek dilontarkan.

Betapa dahsyat serangan ini, Siucay tua tahu datangnya bahaya, serasa terbang sukmanya, bukan saja dirinya tidak mampu membela diri, kesempatan untuk menyingkirpun tiada.

Thong-sian Hwesio menjerit kaget, pandangannya lebih tajam.

Dia lihat serangan Ji Bun ini betul-betul lihay, untuk membantu jelas tidak sempat lagi, dalam gugupnya timbul akalnya, sekali tangan bergerak sejalur angin kencang halus dan lunak membikin Siucay tua terdorong sempoyongan dua langkah.

Terpaut beberapa senti saja jiwanya hampir direnggut oleh serangan Tok-jiu-it-sek yang hebat.

Selama setengah tahun Ji Bun digembleng dan ditempa sehingga ilmu yang dipelajarinya sudah mencapai taraf tertinggi.

Kepandaiannya dapat digunakan sesuka hati, sebelum tenaga murninya dia salurkan, serangan hebat itu sudah ditariknya kembali.

Namun demikian Siucay tua itu sudah pucat pias mukanya saking jera, tak pernah terpikir olehnya dalam jangka setengah tahun saja Te-gak Suseng sudah mencapai sukses yang demikian besar dan mengejutkan.

Siang-thian-ong sendiri juga kaget dan ciut nyalinya.

Sorot mata Thong-sian terang tajam, wajah Ji Bun ditatapnya sekian saat, katanya dengan suaranya berat.

"Kelihatannya hari ini Pinceng harus membunuhmu."

Setengah tahun yang lalu dia berkata demikian bukanlah membual.

Namun sekarang keadaan sudah jauh berbeda sejak mempelajari ilmu tingkat tinggi dari Ban-tok-bun.

Kepandaiannya sekarang boleh dikatakan sudah sukar dicari tandingannya.

"Thong-sian Hwesio hendak membunuh aku,"

Jengek Ji Bun.

"kukira sukar terlaksana."

"Biarlah kenyataan akan membuktikan omonganku."

"Thong-sian Hwesio, ada beberapa pertanyaan kuharap kau suka menjawab sejujurnya."

"Coba katakan."

"Jit-sing-pocu Ji ing-hong, apa benar kau yang membunuhnya?"

"Apa? Darimana kau ........"

"Dua orang berkedok yang mati dipinggir jalan Kay-hong itu."

"Apakah itu Ji Ing-hong?"

"Ya, seorang yang lain adalah Jit-sing-ko-jin. Kau mengaku?"

"Omong kosong belaka. Jit-sing-ko-jin adalah duplikat ayahmu sendiri."

Ji Bun menyurut kaget, serunya gemetar.

"Thong-sian, kaulah yang membual."

"Ayahmu menyamar jadi Jit-sing-ko-jin, sekongkol dengan Biau-jiu Siansing dan merebut Sek-hud, belakangan dia menyamar jadi murid Ngo-lui-kiong dan membuat huru hara ke Tong-pek-san, semua ini kenyataan."

"Lalu siapa yang terbunuh di jalanan menuju Kay-hong itu?"

"Kau sendiri tentu tahu lebih jelas."

"Aku tidak tahu."

"Sulit dipercaya."

Ji Bun merasa bingung, apa yang diucapkan Thong-sian agaknya memang benar namun kalau betul Jit-sing-ko-jin duplikat ayahnya, kenapa dia berusaha membunuh dirinya?

Adakah seorang ayah tega membunuh puteranya sendiri?

Tidak mungkin.

Tanpa sadar Ji Bun menggembor sekeras-kerasnya.

"Tidak mungkin!"

"Thong-sian,"

Setelah tenangkan diri Ji Bun berkata pula.

"katakan saja, apakah kau yang membunuh kedua orang berkedok itu?"

"Bukan."

"Lalu berdasarkan apa kau berani mengatakan Jit-sing-ko-jin adalah duplikat ayahku?"

"Semua kenyataan hanya bisa mengelabuhi orang sementara, Pinceng kenal betul perawakan, sepak terjang dan kepandaian silatnya."

"Kau .... jadi kau hanya berdasar beberapa dugaanmu ini?"

"Kedua orang yang mati itu terkena racun, sedang ayahmu seorang ahli dalam bidang ini."

"Ayahku bukan seorang ahli racun."

"Lalu bagaimana pendapatmu?"

"Ayahku bukan Jit-sing-ko-jin, tapi kenyataan bahwa kedua orang tuaku dicelakakan."

Terbayang sorot bimbang pada pandangan Thong-sian, dia cukup berpengalaman, dari nada bicara dan mimik Ji Bun, dia yakin Ji Bun tidak membual, kalau betul apa yang dikatakan Ji Bun bahwa Ji Ing-hong belum mati, tidak mungkin Ji Bun mengawasinya dengan pandangan begitu benci dan dendam terhadap dirinya.

"Ji Bun,"

Katanya kemudian.

"Katakan kenapa Jit-sing-ko-jin bukan ayahmu?"

"Karena Jit-sing-ko-jin pernah mencelakai aku."

Semakin tebal bayangan ragu dan bimbang pada pandangan Thong sian. Dengan suara lantang Ji Bun melanjutkan.

"Siangkoan Hongkah yang membantai orang-orang Jit-sing-po?"

"Bukan,"

Jawab Thong sian.

Otak Ji Bun seperti dibalut kabut tebal, beruntun dirinya mencari balas kepada Wi-to-hwe, tapi kenyataan semuanya meleset dari dugaan dan analisa yang pernah dirangkainya, betapa rumit dan lika liku persoalan ini?

"Katamu, kau punya kesan mendalam terhadap ayahku?

Coba jelaskan."

"Betul, memang kau harus tahu, tentunya kau masih kenal cerita yang pernah dikisahkan Siangkoan Hong kepadamu bukan?"

Teringat akan cerita itu, bukan kepalang derita hati Ji Bun karena kesalahan memang terletak pada ayahnya.

Bukan saja rebut isteri orang, anaknya dibunuh pula, akhirnya daging isteri orang dimasak buat hidangan menyuguhi suaminya pula.

Perbuatan diluar perikemanusiaan ini seakan-akan bukan dilakukan oleh manusia sehat.

Namun sebagai seorang anak, betapapun jahat dan salah ayahnya, tidak mungkin dia mencercahnya, apalagi kini ayahnya sudah mati, maka dengan mengertak gigi dia manggut-manggut, sahutnya.

"Masih ingat, kenapa?"

"Dulu Siangkoan Hong terpaksa merusak wajahnya sendiri menyelundup ke Jit-sing-po dan diangkat sebagai salah seorang Jit-sing-pat-ciang. Tujuannya adalah untuk bertemu dengan isterinya yang direbut dan anak yang dikandung isterinya. Celakalah karena rahasianya terbongkar, jejaknya konangan ayahmu, maka isterinya dibunuh ........"

"Tidak usah kau lanjutkan,"

Tukas Ji Bun dengan suara serak. 16.48. Silat Tinggi .... Cetek Pengalaman Thong-sian Hwesio tertegun sebentar, lalu melanjutkan.

"Ayahmu mengutus tertua dari Jit-sing pat-ciang mengantar Siangkoan Hong keluar benteng, yang terang ayahmu memerintahkan Ciu Tay-lian untuk memenggal kepalanya. Namun Ciu Tay-lian sendiri sadar akan semua perbuatan ayahmu yang kelewat jahat, malah dia bersimpatik terhadap Siangkoan Hong, akhirnya mereka minggat bersama ....... (baca pembukaan cerita ini)."

"Siapa bisa membuktikan bahwa ceritamu ini berdasar kenyataan?"

Tanya Ji Bun.

"Pinceng sendiri. Karena pinceng menyaksikan semua peristiwa ini."

"Thong sian, kejadian ini mungkinkah disaksikan orang luar?"

"Kau tahu nama asli Pinceng?"

"Siapa kau?"

"Pinceng adalah tertua dari Jit-sing-pat-ciang yang dahulu she Ciu bernama Tay-lian."

"Kau ......"

Kepala Ji Bun seperti dipukul godam, badannya limbung dan sempoyongan.

Mimpipun tak pernah dia bayangkan bahwa Thong-sian Hwesio yang memiliki Lwekang dan kepandaian silat setinggi ini, dulu adalah tertua dari Pat-ciang yang menjadi andalan ayahnya.

"Ji Bun,"

Tiba-tiba Thong-sian berseru lantang.

"sudah tiada yang perlu diomongkan lagi, sekarang Pinceng mau turun tangan."

Ji Bun menyurut mundur, katanya.

"Thong-sian, lebih baik kau tidak turun tangan, kau bukan tandinganku." ''Mungkin, tapi sebagai seorang insan persilatan, demi membela kebenaran, meski gugur juga terasa bangga."

"Aku tidak ingin membunuhmu."

"Tapi Pinceng justeru akan membinasakan kau demi ketenteraman Bu-lim umumnya."

Ji Bun mundur lagi sampai keluar undakan, katanya.

"Boleh kau mencobanya?"

Thong-sian juga melangkah keluar, kedua orang berhadapan di serambi luar yang luas. Suasana seketika menjadi tegang dan mencekam.

"Silakan turun tangan!"

Tantang Ji Bun.

"Ji Bun, mestinja Pinceng tidak boleh menyerangmu, namun kenyataan memaksa ....."

"Tidak perlu kau pura-pura welas asih."

"Lihat pukulan!"

Tiba-tiba Thong-sian menghardik, berbareng lengan jubahnya mengebas. Segulung angin kencang seketika menungkup ke arah Ji Bun. Ji Bun mengertak gigi, iapun ayun kedua tangan menyambut serangan.

"Plok", seperti suara baja yang pecah berkeping-keping kedua orang tergentak mundur. Bayangan kedua orang hanya berpencar sekejap terus saling tubruk dan serang menyerang dengan seru. Ketika Ji Bun mengerahkan sepenuh tenaganya, ditengah suara yang memekak telinga, Ji Bun tergeliat sedikit, sebaliknya Thong-sian Hwesio mundur dua tindak. Semua hadirin sama terbelalak pucat. Thong-sian menggerung rendah, bayangan tangannya bergulung-gulung dan berlapis-lapis dari pukulan jarak jauh, kini dia menyerang sesungguhnya dengan kekuatan kepalannya. Ji Bun juga berseru melengking. Jurus Tok-jiu-it-sek tahu-tahu menembus bayangan telapak tangan orang yang berlapis-lapis dan langsung menjojoh ulu hati orang. Di tengah jeritan kaget orang ramai, tahu-tahu Thong-sian menyurut lima langkah, wajahnya tampak jera dan ngeri. Sebelum dia sempat bertindak lebih lanjut, Ji Bun sudah berkelebat maju pula, kini dia lancarkan Tok-jiu-ji-sek yang bernama To-liong-jan-kiau. Jeritan orang banyak kembali membuat suasana tegang semakin mencekam, hawa seolah-olah membeku dalam waktu sesingkat itu, setelah lenyap suara jeritan, keadaan menjadi sunyi senyap. Telapak tangan Ji Bun berhenti mendadak kira-kira tiga senti di atas, Hian-ki-hiat di tubuh Thong-sian. Telapak tangan malah sudah menempel ubun-ubun kepala Thong-sian yang gundul. Jelas ketika jiwa Thong-sian hampir terenggut oleh serangan Ji Bun itu mendadak dia menghentikan serangan. Semua hadirin sama melihat jelas, kalau gerakan tangannya tidak direm tepat pada waktunya, jiwa Thong-sian pasti sudah melayang. Terbayang perasaan ngeri dan seram pada wajah Thong-sian yang jiwanya telah berada ditepi jurang kematian, selebar mukanya pucat pasi.

"Bunuhlah, Pinceng menyerahkan jiwa ragaku."

Ji Bun menarIk tangan, katanya dingin.

"Aku pernah utang budi sekali padamu, sekarang utangku sudah kubayar, selanjutnya kita tiada utang piutang lagi."

Thong-sian menghela napas dengan lesu, dia tidak bicara lagi.

Ji Bun mundur dua langkah, sorot matanya tertuju ke ruangan menatap Kiang Giok tanpa berkesip.

Kiang Giok tertunduk, dia tahu, peduli Te-gak Suseng atau Wi-to-hwe, jiwanya bakal tak tertahankan lagi.

Ji Bun tiba-tiba berpaling ke arah Thong-sian, katanya.

"Serahkan dia padaku."

"Kukira tidak mungkin."

"Apa yang telah kukatakan tidak boleh ditentang."

"Te-gak Suseng,"

Semprot Siang-thian-ong.

"terlalu takabur kau!"

Tanpa melirik sedikltpun, Ji Bun menjengek.

"Bukan urusanmu, jangan cerewet."

"Anak srigala,"

Desis Siaucay tua penuh kebencian.

"kau ingin membawanya pergi, bunuh dulu semua hadirin di sini "

"Kalau perlu bisa saja kulakukan."

"Ji Bun,"

Lekas Thong-sian bersuara.

"apa tujuanmu membawa pergi?"

"Pertama, menyelidiki di mana letak markas pusat Ngo-hong-kau. Kedua ada urusan pribadi yang harus kubereskan."

"Tujuan pertama sejalan dengan maksud kedatangan kami, untuk ini ingin mengadakan perjanjian secara laki-laki .........."

"Perjanjian apa?"

Tanya Ji Bun.

"Bahan-bahan yang kau dapat dari mulutnya mengenai Ngo-hong-kau, pihak kami harus diberitahu juga,"

Agaknya Thong-sian bersedia mengalah.

Kini semakin jelas bahwa pihak Wi-to-hwe sebetulnya tiada permusuhan yang mendalam dengan dirinya, kini setelah kesannya jauh berubah, sudah tentu dia tidak ingin mengikat permusuhan lagi, maka dia manggut-manggut.

"Soal ini dapat kuterima."

"Baik, boleh kau membawanya pergi, yang lain-lain akan membereskan mereka."

Tujuan Ji Bun hanya Kiang Giok seorang, karena dia adalah murid murtad perguruannya, dirinya harus menjalankan perintah dan aturan mencuci nama baik perguruan, tentang orang-orang Ngo-hong-kau yang lain tidak perlu diurus.

Siucay tua dan Siang-thian-ong meski tidak terima, namun tiada seorangpun hadirin yang menjadi tandingan Ji Bun.

Kalau main kekerasan, akibatnya tentu fatal.

Thong-sian sebagai pimpinan dalam operasi ini sudah memberikan persetujuan kepada Ji Bun, sudah tentu mereka tidak enak menentangnya, meski hati uring-uringan dan mata mendelik, namun tidak berani banyak omong lagi.

Otak Ji Bun bekerja, ke mana dia harus membawa Kiang Giok?

Ia pikir lebih tepat dibereskan di tempat ini juga, maka ia berkata.

"Thong-sian, Kiang Giok ditinggalkan saja, yang lain terserah kalian hendak menghukumnya, silakan mundur dari ruangan ini."

Thong-sian berpikir sebentar, lalu mengulap tangan memberi perintah.

"Semua mundur, orang-orang ini gusur keluar!"

Murid-murid Wi-to-hwe bergegas keluar semua.

"Te-gak Suseng,"

Ancam Siucay tua sebelum pergi.

"urusanmu denganku belum selesai bukan?"

"Setiap saat aku menunggu kau,"

Tantang Ji Bun.

Setelah semua orang pergi, kini tinggai Kiang Giok bersama Ji Bun, dengan pandangan ngeri ketakutan dia mengawasi Ji Bun.

Ji Bun memasuki ruangan, sorot matanya setajam pisau seterang nyala bara, katanya menatap Kiang Giok.

"Kiang Giok, marilah kita bicara beberapa persoalan dulu baru membereskan urusan pokok, kuharap kau bicara terus terang dan blak-blakan, jangan kau paksa kugunakan siksaan untuk mengompes keteranganmu."

Kiang Giok jelas tertutuk Hiat-tonya, tak nampak gejala-gejala ingin melawan, wibawanya yang angker sudah sirna tak membekas, jauh berbeda dengan sikapnya semula waktu mereka berhadapan pertama kali.

Hening sekian lamanya, baru Ji Bun baka suara.

"Siapa yang membunuh Sam-cay Lolo di dalam hotel itu?"

"Kaucu sendiri yang turun tangan."

"Lalu di mana gadis itu?"

"Sudah di bawah ke markas pusat."

"Di mana letak markas pusat kalian?"

"Aku tidak tahu."

"Kau ingin merasakan siksaanku?"

"Penggal kepalaku juga tetap kubilang tidak tahu."

"Baik, soal ini kesampingkan dulu. Siapakah Kaucu kalian?"

"Entahlah."

Ji Bun naik pitam, hardiknya murka.

"Sekali lagi kau jawab tidak tahu, Awas!"

"Te-gak Suseng,"

Kata Kiang Giok mengertak gigi.

"Tak beruntung aku jatuh ke tanganmu, mau kau bunuh dan sembelih boleh, silakan. Ketahuilah, kau sendiri tidak akan berumur panjang, akan datang orang-orang kita mencari balas padamu."

"Kaucumu maksudmu?"

"Kau belum setimpal dihadapan beliau."

Hampir meledak dada Ji Bun, sekali ulur dia hendak tutuk orang, namun pikirannya tiba-tiba tergerak, dia hentikan gerakannya, Kiang Giok adalah murid generasi perguruan yang lebih tinggi dari dirinya, dia harus bertindak menurut undang-undang perguruan, kalau sampai menggunakan siksaan, itu sudah keluar dari batas-batas ketentuan, lawan belum tahu asal usul dirinya, kalau hubungan kedua pihak dia beber, tentu orang tidak bisa mungkir dari segala tanggung jawab lagi.

Maka dengan wajah kereng katanya tajam.

"Kiang Giok, sebutkan nama perguruanmu."

Kiang Giok diam saja, tidak perdulikan pertanyaannya.

"Dengan cara keji kau mengurung orang tua di bawah tanah itu, tahukah kau telah melanggar tata tertib?"

"Tata tertib apa?"

"Mendurhakai moyang menyalahi guru, mati hukumannya."

"Durhaka terhadap moyang dan berbuat salah terhadap guru?"

Kiang Giok menegas.

"Memangnya kau masih mau mungkir?"

Sekonyong-konyong sebuah suara yang seram mendirikan bulu kuduk berkumandang dari arah pintu.

"Anak muda, memangnya kau telan empedu biruang dan makan hati harimau, berani kau mencari setori pada Ngo-hong-kau?"

Waktu Ji Bun berpaling, seketika dia merinding, tampak di depan pintu berdiri mahluk yang lebih menyerupai setan daripada manusia, rambutnya merah panjang menjuntai kepundak, codet besar melintang di mukanya dari arah jidat kirinya mencoreng ke mulut kanan.

Mata kiri dan separo hidungnya lenyap tinggal lobang-lobang besar yang mengerikan, kulitnya hitam legam, badannya kurus seperti bambu, tak ubahnya seperti mayat hidup.

Mata kanannya memancarkan sinar hijau yang menyedot sukma orang, pakaiannya serba hitam, bunkan saja longgar juga kedodoran, mirip sekali dengan orang-orangan rumput yang tergantung di tengah sawah.

Ji Bun tenangkan diri, katanya.

"Tuan ini siapa."

"Akulah Hu-kaucu (wakil ketua) Ngo-hong-kau, Jit-sat-sin Jiu Jing."

"Kemari mengantar jiwa?"

"He he he, anak muda, Lohu akan membeset kulitmu hidup-hidup."

"Dengan tampangmu yang seram ini?"

"Anak muda, menggelinding keluar sini!"

Ji Bun tutuk Kiang Giok lebih dulu, katanya.

"Kiang Giok, aku mendapat perintah dari Suco agar mengadakan pembersihan, kau tunggu di sini saja."

Pelan-pelan dia beranjak keluar. Berkedip mata satu Jit-sat-sin Jiu Jing bergema suaranya yang pecah gemeratak.

"Anak muda, kau hendak mencuci nama baik perguruan mana?"

Ji Bun berhenti dihadapan orang, sahutnya dingin.

"Peduli apa dengan kau."

"Anak muda,"

Tanya Jit-sat-sin Jiu Jing.

"kau seperguruan dengan Kiang Giok? Tapi menurut apa yang kutahu, Kiang Giok tidak punya saudara seperguruan, kau anak muda ........."

"Tutup mulutmu, aku tiada tempo mengobrol dengan kau, jawab sepatah kata pertanyaanku, siapa Kaucu kalian?"

"Kau belum setimpal menanyakan beliau."

"Bagus sekali, kali terakhir inilah kau bisa membuka mulut,"

Dengan mengerahkan segenap tenaganya, kedua tangan segera membelah ke depan.

Ji Bun sudah bertekad di dalam tiga gebrakan jiwa lawan harus ditamatkan untuk selanjutnya mengompes Kiang Giok.

Betapa hebat kepandaian silat Ji Bun sekarang, serangannya sungguh bukan olah-olah lihaynya.

Jit-sat-sin Jiu Jing melengking aneh, seperti gasingan tiba-tiba tubuhnya berkisar ditempatnya, meski damparan angin pukulan sekeras gugur gunung, dia tetap mendesak maju.

Sepuluh jari tangannya yang kurus bagai cakar mengincar ulu hati dan muka Ji Bun.

Gerakan ini sungguh merupakan suatu ilmu mujijat yang jarang ada di dunia persilatan sehingga lawan yang diserang seakan-akan takkan mungkin membela diri atau meyingkir apalagi balas menyerang.

Ji Bun terkejut, sigap sekali kakinya melangkah minggir tiga kaki selicin belut.

Tapi gerakan jit-sat-sin seperti bayangan saja terus mengikuti, serangannya tetap membadai.

Tapi hanya memperoleh kesempatan sedetik menyingkir tadi, Ji Bun sudah dapat kesempatan untuk balas menyerang.

Tok-jiu-it-sek laksana kilat menggaris ke arah musuh, dengan menyerang dia hadapi serangan lawan pula.

Kini ganti Jit-sat-sin yang berteriak kaget sambil melejit mundur beberapa kaki, serangan ajaib dan kelihatannya mustahil ini sungguh membuat jantungnya bergetar kaget.

Ji Bun tidak beri kesempatan lawan ganti napas dan menempatkan diri pada posisi yang menguntungkan, Tok-jiu-ji-sek segera dilontarkan pula secara berantai.

"Ngek!"

Terdengar Jit-sat-sin Jiu Jing mengeluh tertahan, suaranya tenggelam dalam tenggorokan seperti anjing keselak tulang dikerongkongannya.

Badannya limbung sempoyongan beberapa tindak, dia mundur sampai di bawah serambi, rambut kepalanya yang gondrong merah seakan-akan berdiri, wajahnya yang buruk seram begitu beringas buas, terutama codet yang menakutkan itu bertambah mengerikan kelihatannya, hanya sekali melejit ia melambung tinggi ke wuwungan rumah terus berkelebat lenyap entah kemana.

Ji Bun juga terperanjat, sungguh tak nyana, lawan hanya terluka sedikit dan tidak roboh meski terkena serangan Tok-jiu-ji-sek, ini membuktikan bahwa Lwekang dan taraf kepandaian Jit-sat-sin betul-betul amat mengejutkan, naga-naganya masih lebih unggul dibandingkan Thong-sian Hwesio atau Kian Ceng-san yang dibunuhnya itu, tiada minatnya untuk mengejar.

Pikirannya tertuju kepada Kiang Giok sebagai murid murtad perguruannya.

Cepat ia lari masuk ke ruangan, namun seketika dia melongo, ternyata Kiang Giok sudah tidak kelihatan bayangannya.

Hiat-to Kiang Giok tertutuk, kalau tiada orang lain menolongnya tak mungkin dia bisa menjebol tutukan dan melarikan diri.

Ini membuktikan bahwa pihak lawan masih menyembunyikan jago-jago yang cukup diandalkan di dalam gedung ini.

Saking gusar dan gemas, serasa hampir meledak dada Ji Bun.

Jenazah Suco Ngo Siang belum lagi dikebumikan dengan semestinya, petuahnya bagai masih mengiang di tepi telinga, setimpalkah dia membiarkan murid durhaka itu bebas berbuat jahat lagi di luaran.

Sekali pukul dia bikin remuk pintu angin, tetap tidak kelihatan bayangan orang, setiap pintu kamar digempurnya runtuh, dari sekian banyak pintu-pintu kamar tiada satupun yang utuh, namun bayangan orang tetap tidak nampak.

Memuncak rasa gusarnya, namun tiada sasaran untuk melampiaskan murkanya.

Bahwa Kiang Giok berhasil lolos, itu berarti segala upaya bakal sia-sia belaka.

Nama baik perguruan tetap tak berhasil dia cuci bersih, nasib Thian-thay-mo-ki dan ibundanya tetap merupakan tanda tanya besar.

Ngo-hong-kau tidak menggunakan kode-kode rahasia khusus, kecuali mereka mencari setori pada dirinya, kalau tidak sulit menemukan jejak mereka.

Ji Bun jadi serba susah, maju mundur serba salah.

Kalau Ui Bing ada di sampingnya, tentu urusan tidak sampai runyam seperti ini, namun mengingat urusan perguruan sendiri betapapun pantang diketahui orang luar, maka dia berkeras tidak mengikut sertakan Ui Bing dalam melaksanakan tujuannya kali ini.

Sekarang baru betul-betul dia menyadari kesempitan pikiran dan ceteknya pengalaman, kalau tidak, urusan tidak akan gagal serunyam ini.

Sekian lamanya nuraninya diamuk emosi, lambat laun tenang juga pikirannya, diam-diam ia menerawang sikap dan tindakan apa yang harus segera dilaksanakannya.

Pertama, dia merasa penting untuk mengetahui letak markas pusat Ngo-hong-kau baru urusan lain bisa diselami satu persatu secara berantai, namun usahanya ini terang teramat sulit, dia hanya pasrah kepada nasib dan keberuntungan belaka.

Maka dengan lesu lunglai dia meninggalkan gedung ini, tanpa disadari dia telah keluar dari kota Bik-su.

Di jalanan dia keluntungan tanpa arah menentu, pikirannya selalu dikocok oleh usaha membalas dendam dan menumpas kejahatan.

Tiba-tiba pikirannya tergerak.

Menurut Ui Bing, Sin-eng-pang sudah dicaplok oleh Ngo-hong-kau, kini sudah dijadikan cabang kedua dari Ngo-hong-kau.

Kalau sekarang dia menuju ke markas Sin-eng-pang dulu, bukan mustahil disana bakal menemukan sesuatu yang diharapkan.

Maka dia percepat langkah menuju ke tempat Sian-eng-pang.

Hari ketiga, tidak lama setelah fajar menyingsing, Ji Bun tiba di Ciam-liong-kok, di mana markas Sin-eng-pang dulu didirikan.

Ciam-liong-kok (lembah naga sembunyi) adalah sebuah selat yang diapit gunung gemunung, kalau tidak apal jalannya sulit menemukan lembah ini.

Ji Bun berhenti di mulut lembah, sekian saat dia celingukan memeriksa sekelilingnya, tidak nampak ada sesuatu gerakan yang mencurigakan, diam-diam hatinya menggerutu.

Agaknya Ngo-hong-kau memang sebuah perkumpulan serba misterius, yang anggotanya bergerak seperti setan gentayangan.

Sejenak dia berpikir, lalu dia melangkah masuk ke dalam lembah.

Jalanan tidak lebar, sebuah jalanan lika-liku yang berputar kian kemari di antara tumpukan batu-batu aneh, Ji Bun menyusuri jalan-jalan lika-liku ini terus maju kedepan.

Kira-kira seratus tombak kemudian, tiba-tiba telinganya mendengar suara gemeretak yang cukup keras dan mencurigakan.

Waktu dia menoleh, dilihatnya asap tebal bergulung-gulung membubung tinggi ke angkasa, ternyata mulut lembah dari mana tadi dia masuk telah ditutup dan disumbat dengan kobaran api yang teramat besar.

Ji Bun maklum bahwa pihak lawan telah siaga, kedatangannya sudah direka oleh lawan, maka mereka memasang perangkap untuk menjebak dirinya, namun sikapnya tak acuh, langkahnya tetap maju ke depan.

Tiba-tiba asap tebal tampak berkobar pula disebelah depan, lekas sekali "jago merah"

Sudah menyala besar sekali sehingga depan dan belakang tersumbat atau terkurung oleh kobaran api yang mengganas.

Dedaunan dan rumput-rumput kering dalam lembah memang banyak, maka cepat sekali api merambat seperti mengejar mangsa.

Apalagi pihak lawan agaknya memang sudah sengaja mengatur sehingga dalam sekejap api sudah menjalar kian kemari.

Suhu panas dalam lembah seketika juga naik, lembah ini diapit tebing gunung yang tinggi dan curam.

Terkepung ditengah kobaran api seperti ini, agaknya nasibnya bakal terbakar hangus.

Keadaan cukup gawat, Ji Bun harus berusaha menyelamatkan diri.

kalau orang lain mungkin tak bisa berbuat apa-apa kecuali menanti ajal saja.

Tapi Ji Bun sudah siaga, walau menghadapi mara bahaya sedikitpun tidak menjadi gugup, pikiran tetap tenang dan jernih.

Giok-bin-hiap Cu Kong-tam, siorang tua aneh didasar jurang dulu pernah mengajarkan Ginkang pusaran lesus sehingga tubuhnya bisa melayang mumbul ke atas.

Jurang ratusan tombak di belakang Pek-ciok-hong dulupun bisa dicapai dengan mudah, apalagi tebing gunung di depannya ini, walau amat berbahaya, namun dia yakin, tingginya takkan melebihi jurang di belakang Pek-ciok-hong dulu.

Untuk meloloskan diri jelas bukan soal baginya, apalagi sekarang dia sudah ketambahan ilmu dari Ban-tok-bun.

Setelah melihat keadaan memang tak boleh tertunda lama lagi, segera ia menarik napas mengerahkan hawa murni, tenaga dikerahkan, kedua kaki lalu menjejak sekuatnya, seketika tubuhnya meluncur ke atas terus mengambang, dan berputar terus naik ke udara semakin tinggi, hanya sekejap saja, tempat dimana tadi dia berada sudah termakan jago merah menjadi lautan api.

Ji Bun menarik napas sekali lagi untuk menambah kekuatan sehingga tubuhnya seenteng bulu.

Cukup tujuh kisaran lagi, dia sudah berhasil tancap kaki di puncak gunung.

Waktu dia melongok ke bawah, lembah sesempit itu sudah merupakan lautan api yang mengganas, asap tebal bergulung-gulung menjulang tinggi ke langit.

Diam-diam Ji Bun merinding seram dan bersyukur bahwa jiwanya tidak sampai melayang.

Namun perasaan syukur ini lekas sekali dirangsang oleh dendam dan kebencian yang memuncak nafsunya berkobar tak kalah dahsyatnya dari kobaran api di dasar lembah itu.

Sekilas dia menerawang sekelilingnya, lalu berlari-lari mengikuti pinggiran jurang ke arah utara, lautan api kira-kira sepanjang satu li lebih.

Lekas sekali lembah yang dimakan api sudah dia tinggalkan di belakang.

Dari atas memandang ke bawah, karena adanya cahaya kobaran api dari lembah sebelah depan sana sehingga keadaan lembah di sebelah dalam remang-remang kelihatan.

Bayangan manusia tampak bergerak-gerak, rumah-rumah tampak mengepulkan asap dari dapur.

Jelas di sinilah letak markas pusat Sin-eng-pang dulu.

Bentuk Ciam-liong-kok ini depan sempit dalam lebar seperti botol yang panjang lehernya.

Sebentar dia mengukur keadaan di sini serta letak dirinya, kembali dia empos semangat dan hawa murninya.

Lalu seperti seorang atlit loncat indah dia terjun dengan kepala di bawah dan kaki ke atas, seperti elang menukik menerkam mangsa.

walau tubuhnya dapat menahan sebagian daya luncurannya, namun tubuhnya tetap anjlok ke bawah dengan cepat.

Kecuali Ji Bun, siapa berani menempuh bahaya dengan badan hancur lebur kalau terjatuh ke bawah, asal sedikit lena dan meleset mengatur napas, bukan saja jiwa melayang, badanpun pasti hancur luluh.

Untunglah dia selamat mencapai bumi, di mana dia tancap kaki dekat kaki gunung, seluruh perhatian orang dalam lembah tertuju ke arah kobaran api di sebelah depan sana.

Tiada yang menduga bahwa musuh yang hendak mereka bakar mati justeru telah melayang turun dari langit, jiwa mereka sendiri bakal menjadi bulan-bulanan musuh malah.

Ji Bun menyembunyikan diri di balik batu besar, matanya yang tajam dengan seksama menyapu ke arah rombongan orang banyak sejauh puluhan tombak sana.

Tampak orang-orang itu sudah tidak mengenakan seragam Sin-eng-pang, kini mereka berganti seragam hitam.

Ini membuktikan bahwa mereka betul-betul sudah dicaplok dan dijadikan anak buah Ngo-hong-kau.

Dengan teliti dia menjelajah, namun tak kelihatan ada bayangan Sin-eng-pangcu Ko Giok-hwa.

Kobaran api di depan lembah sudah mulai mereda, sinar sang surya yang baru menyingsing menggantikan kobaran api yang tadi menyala terang.

Lembah yang tadi gelap, pelan-pelan mulai remang-remang dan lekas sekali menjadi terang benderang.

Bagai dedemit yang menunggu mangsa, Ji Bun tetap sembunyi di belakang batu.

Dia harus mencari sasaran yang tepat baru akan unjuk diri, kalau mengusik rumput mengejutkan ular, urusan tentu akan berantakan.

Api sudah padam, tinggal asap masih mengepul.

Seorang tua baju putih tampak berlari mendatangi, rombongan baju hitam segara berpencar memberi jalan, sebentar celingukan melihat keadaan rombongan besar ini.

Si orang tua segera berseru memberi perintah.

"Bersihkan dan sapu lembah di depan, temukan abu tulang belulangnya!"

Sekonyong-konyong sebuah suara dingin berkumandang.

"Jangan repot-repot, aku ada di sini."

Serempak rombongan orang banyak itu menjerit kaget, tanpa sadar mereka sama berlari mundur, laki-laki tua baju putih menjadi pucat mukanya, kakinya seperti terpaku di tanah, mata terbelalak, mulut melongo lebar, suaranya tergagap.

"Kau ...... kau ......"

"Aku inilah Te-gak Suseng adanya!"

"Kau .... kau tidak .... tidak terbakar mampus?"

"Kalau gampang dibakar mati, bukankah sia-sia saja aku punya julukan Te-gak Suseng?"

"Kau ...... apa maksud kedatanganmu?"

"Pertama, kau harus sebutkan dulu siapa gelaranmu?"

Baru sekarang laki-laki tua ini menyurut mundur, sahutnya dengan suara galak.

"Lohu ketua hukum dari anak cabang di sini, Ang Jit."

"Aku hendak bertemu dengan ketua cabang kalian"

"Kau ingin bertemu dengan aku?"

Sebuah suara serak kasar berkumandang dari arah samping sana.

Waktu Ji Bun menoleh, tiga tombak di sebelah sana berdiri seorang muda sebaya dirinya, berpakaian sutera dan menyoreng pedang, wajahnya diliputi nafsu sadis, namun kelihatan juga rasa kaget dan jerinya.

Dandanan pemuda ini mirip sekali dengan para duta Ngo-hong-kau yang pernah dihajarnya pontang panting dulu itu.

Dia mengaku sebagai ketua cabang di sini, lalu di mana Ko Glok-wa?

Dibunuh atau .....

tapi tujuannya bukan ini.

Ji Bun segan berpikir panjang, sekilas dia memandangnya, lalu bertanya.

"Kau ketua cabang di sini?"

"Memang jabatanku bisa dipalsukan?"

"Sebutkan namamu?"

"Kho Tay-seng!"

"Dimana Ko Giok-wa?"

"Kau bermusuhan dengan dia?"

"Hanya kutanyakan sambil lalu saja."

"Orang she Ko itu bernasib jelek dan pendek umur, kini sudah mangkat."

"Membunuh orang dan merebut kedudukannya, memangnya perbuatan kalian orang-orang Ngo-hong-kau serba kotor dan hina dina, kejam dan keji."

"Karena itu kau kemari?"

Tanya Kho Tay-seng menyurut mundur.

"Memangnya kau kira aku ini suka iseng dan ingin mencampuri urusan ini?"

"Lalu untuk apa kau kemari?"

"Aku ingin menemui Kaucu kalian."

"Kau ingin bertemu dengan Kaucu? Kau belum setimpal."

"Kho Tay-seng,"

Desis Ji Bun dingin.

"berani sekali lagi kau berkata demikian .........."

Pemuda baju sutera terpengaruh oleh ancaman dan tatapan mata Ji Bun yang menyala berwibawa, kembali dia menggeremet mundur, katanya.

"Lalu kenapa?"

"Ciam-liong-kok akan kucuci dengan darah kalian, ayam anjing seekorpun takkan hidup."

"Kau mampu berbuat demikian?"

"Kenyataan akan menjawabnya nanti."

Pemuda baju sutera mundur semakin jauh.

"sret", dia melolos pedang. Sekali gerak dan bergetar, ujung pedangnya seperti mekar dan berbintik-bintik cahaya. Terang bahwa latihan ilmu pedangnya sudah cukup sempurna, serentak anak buahnya berkaok-kaok sambil melolos senjata dan memasang panah di busur, siap untuk bertempur. Rasa murka yang menggelora di dada Ji Bun sungguh tak terkendali lagi, maklumlah, kalau tidak mengandalkan sinkang tingkat tinggi yang mujijat itu, sejak tadi dirinya sudah terkubur menjadi abu di lembah sana. Walau dalam tata tertib perguruannya dilarang setiap muridnya melakukan pembunuhan, namun di samping persoalan pribadi yang penuh dendam, perbuatan orang-orang Ngo-hong-kau ini memang terlalu kejam. Mereka merupakan anasir-anasir jahat yang kelewat batas bagi insan persilatan umumnya, maka setimpal kalau dihukum mati. Karena keyakinan inilah, pelan-pelan dia menghimpun kekuatan pada kedua lengannya. Sorot matanyapun menyala semakin benderang, siapa saja yang menghadapinya pasti bergidik ketakutan. 17.49. Pembantaian Di Lembah Ciang-liong-kok "Hiaaat!,"

Ditengah lolong panjang dari mulut Kho Tay-seng, pedang di tangannya berkelebat bagai kilat menyambar Ji Bun.

Ji Bun mendengus pendek, Tok-jiu-it-sek bergerak dengan kecepatan yang sama tingginya menembus lingkaran cahaya pedang lawan.

Keruan bukan kepalang kaget dan takut Kho Tay-seng, lekas dia tarik pedang seraya melejit mundur sambil memberi aba-aba.

"Maju semua!"

Pertama-tama ketua hukum Ang Jit bersama empat anak buahnya ahli pedang merangsak bersama.

Nafsu Ji Bun sudah tak terbendung lagi, telapak kanan tegak membelah miring ke arah Ang Jit yang menyerang tiba itu, sementara telapak tangan kiri menggaris ke arah keempat orang bersenjata pedang.

Walau gerakan tangan kiri dan kanan saling susul, namun kecepatan geraknya sungguh seperti dilancarkan bersamaan.

Ang Jit menggeram rendah, keempat ahli pedang menguik seram, darah menyembur dari mulut Ang Jit yang terpukul terbang ke tengah udara dan terbanting, keempat ahli pedang itu lebih celaka.

Belum lagi pedang mereka dilancarkan, satu persatu sudah roboh terkapar tak bernyawa lagi.

Keruan semua anak buah Ngo-hong-kau yang hadir sama takut luar biasa, mereka mendelik dengan mulut melongo.

Ji Bun tidak berhenti begitu saja, tiba-tiba kakinya menggeser miring, tubuh berkelebat ke samping pula, tahu-tahu telapak tangan kanan sudah bekerja.

"Huaaak", Ang Jit yang baru bangun kena sekali pukulan pula, badannya kembali mencelat dan terbanting dengan keras, jelas jiwanya takkan tertolong pula. Kho Tay-seng menjerit kalap, seperti banteng ketaton dengan nekat dia ayun pedang, jaraknya delapan kaki, namun ayunan pedangnya menerbitkan sinar pedang yang memanjang sejauh tujuh kaki. Jarak ini cukup tiba untuk menggal kepala Ji Bun, betapa bebat lihay permainan ilmu pedangnya, sungguh aneh, keji dan ganas sekali. Memangnya siapa yang pernah dan mampu melawan ilmu pedang yang luar biasa ini. Apalagi serangan ini menggunakan setaker tenaga dan seluruh perbendaharaan ilmu yang pernah dia yakinkan, tekadnya hendak mengadu jiwa lagi. Keruan Ji Bun dibikin kaget juga, lekas dia mundur setapak.

"Cret", baju di depan dada tak urung tergores sobek sepanjang satu kaki. Mendapat angin, Kho Tay-seng bertambah beringas, sebat sekali gerak geriknya seperti bayangan, secepat kilat sekaligus dia lancarkan serangan membadai, setombak sekitar gelanggang, merupakan sasaran empuk bagi tajam pedangnya. Ji Bun dipaksa mundur tujuh kaki, demikian pula anak buah Ngo-hong-kau yang berkepandaian lebih tinggi juga menyurut mundur setapak, namun lekas sekali mereka sudah merubung maju, karena dikira mendapat peluang untuk mengerubut bersama. Hampir meledak dada Ji Bun, di saat lawan berhenti setelah habis melancarkan delapan belas kali serangan pedang, secepat kilat dia mendesak maju selicin belut menyelinap ke dalam liang, dia lancarkan Tok-jiu-ji-sek.

"Aduh ........"

Pekik kesakitan yang mengerikan terdengar, pedang terlempar, Kho Tay seng sendiri terjungkir balik.

Namun pada waktu yang sama, berbagai senjata tajam juga serempak menyambar ke arah Ji Bun selebat hujan badai.

Mendadak Ji Bun melambung tinggi ke tengah udara, maka terdengarlah suara berdering senjata yang beradu di bawah kakinya, di tengah udara tubuhnya terputar sambil meliuk, dengan gaya menukik dia menyerang dari atas, kekuatan serangan ini sungguh lihay luar biasa.

Jeritan menyayat hati memekak telinga, tujuh delapan orang kontan roboh mandi darah.

Begitu tubuh meluncur turun dan menancapkan kaki, segesit kera dia terus menubruk ke arah orang yang bergerombol lebih banyak, di mana kaki tangannya bergerak, seketika terjadilah pembantaian besar-besaran.

Pekik seram saling susul menegangkan urat syaraf.

Keruan anak buah Ngo-hong-kau yang masih hidup menjadi ketakutan, bagai tikus lari sipat kuping.

Nafsu Ji Bun sudah menggila, orang-orang Ngo-hong-kau ini tak ubahnya ayam dan anjing dalam pandangannya.

Di mana tangannya bergerak, di situ manusia terbabat roboh tak bernyawa.

Hanya sekejap saja suasana gaduh dari jerit tangis manusia seketika sirap.

Manusia bergelimpangan memenuhi lembah, semua tubuh sudah tak bernyawa lagi, untuk pertama kali inilah sejak Ji Bun mengembara di dunia persilatan membunuh orang sedemikian banyaknya.

Nafsu Ji Bun sudah kadung membara, tekadnya melampiaskan dendam masih belum padam, maka dia berlari ke arah rumah-rumah di belakang lembah sana.

Rumah-rumah di sini dibangun dengan dinding batu, pendek bangunannya dan amat kokoh.

Yang tengah dibangun cukup megah dengan ruang pendopo, di sini letak pusat pemerintahan cabang Ngo-hong-kau yang berkuasa penuh dilembah ini.

Di kanan kira pendopo merupakan deretan kamar berbentuk bundar, bangunan lain terletak di belakang ruang pendopo ini, dengan bentuk yang teratur dan rapi.

Begitu banyak dan luas bangunan rumah-rumah ini, tapi sekarang tidak kelihatan bayangan seorangpun.

Tentunya kekuatan mereka tadi tidak ditumplek seluruhnya untuk menghadapi dirinya, bukan mustahil ada yang menyembunyikan diri.

Tepat di tengah pendopo yang membelakangi tempat duduk kebesaran, di atas dinding dihiasi setabir sutera berwarna dasar hitam bersulam sekuntum kembang Bwe warna putih yang menyolok sekali, itulah pertanda khas dari Ngo-hong-kau.

Di bawah tabir besar ini adalah sebuah meja panjang, setabung panji segitiga kecil warna-warni menghiasi di atas meja, di belakangnya berderet tiga kursi kebesaran yang dilapisi kulit harimau, di kanan kiri sebelah luarnya masing-masing berderet lima kursi kayu cendana.

Agaknya susunan pimpinan cabang Ngo-hong-kau di sini tak ubahnya seperti perkumpulan Kang-ouw lainnya.

Ji Bun menerobos terus ke dalam, setelah melewati tujuh lapis bangunan, tetap tidak melihat bayangan seorangpun.

Keruan darahnya semakin mendidih, kedatangannya kali ini bukan saja hampir dihanguskan, boleh dikata tujuannya menjadi sia-sia pula, keruan hatinya amat dongkol dan uring-uringan.

Thian-thay-mo-ki dan ibunya berada di tangan mereka, mati hidup masih merupakan tanda tanya.

Menurut apa yang dia selidiki dari sepak terjang Kwe-loh-jin, jelas pihak Ngo-hong-kau yang membantai habis semua penghuni Jit-sing-po.

Sekarang dia merasa, menyesal kenapa tiada satupun yang dia tinggalkan hidup untuk dikompes keterangannya, kini sumber yang diharapkanpun telah putus.

Kiang Gok, si murid murtad pengkhianat perguruan juga lolos.

Ngo Siang, sang Suco terkubur di kamar tahanannya, di alam baka tentu dia takkan bisa meram.

Semakin dipikir semakin gemas hatinya, namun kenyataan sekarang dia tidak bisa berbuat apa-apa.

Namun dia tahu, tak mungkin Ciang-liong-kok ini hanya orang-orang yang terbunuh di luar tadi, lembah ini tiada jalan keluar lainnya, terang mereka menyembunyikan diri, entah di kamar rahasia atau di tempat lain yang tersembunyi.

Serang dengan api.

Pikiran ini berkelebat di benaknya.

Api pasti dapat paksa mereka yang sembunyi itu terbirit keluar.

Maka dia mulai mencari ketikan api, dari luar ke dalam, setiap tempat dia menyulut kain jendela atau barang-barang lain yang mudah terbakar.

Setelah api yang disulutnya mulai berkobar semua, baru dia keluar ke lapangan rumput di sebelah depan sana sejauh jarak panahan, di sini dia berpangku tangan menanti reaksi.

Cepat api berkobar, jago merah mengamuk hebat, segala benda dilalapnya tanpa ampun.

Bangunan-bangunan yang terdiri dari kayu itu walau kokoh, namun mudah terbakar, sebentar saja seluruh bangunan berlapis itu sudah terjilat api.

Betul juga, sesuai dugaan Ji Bun, hanya dalam sekejap, bayangan orang mulai tampak berseliweran lari kian kemari.

Ji Bun sudah ambil keputusan lihat satu bunuh satu, kepergok dua bunuh sepasang.

Maka di tengah kobaran api yang gemuruh itu diselingi suara jerit tangis, pekik teriakan campur aduk, suasana menjadi kacau balau.

Laki-laki yang berlarian kian kemari saling terjang dan hantam sendiri demi menyelamatkan jiwa, namun mereka menjadi makanan empuk bagi Ji Bun.

Akhirnya bermunculan juga perempuan yang menyeret anak-anak.

Betapapun besar murka Ji Bun, terhadap kaum lemah dan anak-anak yang tidak berdosa ini, dia tidak tega turun tangan, segera dia mundur ke samping.

Dengan tajam dia awasi setiap orang yang muncul.

Dia harus mencari sasaran di antara sekian banyak orang untuk didengar keterangannya.

Seorang kakek tua beruban dengan langkah, sempoyongan jatuh bangun ikut berlari keluar di antara rombongan perempuan dan anak-anak itu, sekian kelihatannya sudah loyo dan lemah karena usianya yang sudah lanjut.

Anak-anak berjerit tangis, kaum ibu sibuk mencari putera puterinya yang lari entah ke mana, terketuk juga hati nurani Ji Bun.

Sekonyong-konyong, tampak kakek ubanan itu berpaling sekilas sambil melirik ke arah Ji Bun.

Cukup lirikan, mata ini sudah memberi peringatan kepada Ji Bun bahwa kakek tua yang pura-pura loyo ini sebetulnya adalah seorang silat yang tinggi kepandaiannya.

"Hai, kau kemari!"

Gerakannya Ji Bun lebih cepat dari ucapannya, kata-kata terakhir baru diucapkan, bayangannya sudah menghadang di depan si kakek.

Kakek itu tiba-tiba angkat kepala, wajahnya yang penuh keriput seketika menarik tegang, mulutnya tergagap.

"Kau ...... orang tua loyo seperti akupun tidak kau lepaskan .........."

"Kau memang tua, tapi tidak loyo. Kemarilah!"

Dengus Ji Bun, gerakannya cepat sekali, tahu-tahu pergelangan tangan si orang tua sudah dipegangnya terus diseret ke samping, di mana terdapat batu-batu yang berserakan, setiba di tempat sepi dan tersembunyi, dia lepaskan pegangannya, dengan suara dingin gemetar diliputi emosi, dia hertanya.

"Tua bangka, bicaralah singkat, sebutkan dulu namamu!"

Bibir si orang tua yang kering tampak gemetar, sekian lama dia megap-megap tak mampu bicara. Ji Bun mengancamnya dengan nada bengis.

"Bicaralah terus terang atau kubunuh lebih kejam dari orang lain."

Si kakek ubanan manggut-manggut. Ji Bun bertanya.

"Belakangan ini adakah orang yang lari kemari?"

"Ke mana maksud kata-katamu itu?"

"Umpamanya ada jago-jago kalian dari cabang lain yang berkepandaian tinggi, atau ada menggusur orang luar kemari ......"

"Ya, memang ada."

"Siapa?"

"Pimpinan cabang kedua dari perkumpulan kami, yaitu Kiang Giok."

"Hm, Kiang Giok. Di mana dia sekarang?"

"Di dalam kamar rahasia di bawah lembah yang terlarang sana."

Berkobar semangat Ji Bun, agaknya perjalanan hari ini tidak sia-sia, kalau Kiang Giok si murid murtad dapat dibekuk, sebagian sudah tercapai tujuannya segala teka-teki bakal terbongkar seluruhnya, maka dengan suara haru dia bertanya.

"Letaknya di belakang barisan rumah-rumah itu?"

"Ya, tepat di bawah kaki bukit, di mana ada sebuah bangunan mungil, ada tanda papan yang menyatakan tempat itu terlarang bagi orang luar."

"Baik kau boleh pergi."

"Kau ....... tidak membunuhku?"

"Jiwamu kuampuni!"

Si kakek menyeringai, katanya.

"Te-gak Suseng, kau melepaskan Lohu, tapi Lohu tidak dapat mengampuni jiwa sendiri, tamak hidup tunduk kepada musuh, betapa aku harus berhadapan dengan para saudara yang sudah mendahuluiku di alam baka" ........

"plak"

Tiba-tiba tangannya terayun mengepruk pecah batok kepala sendiri, memang tidak malu kakek tua ini sebagai insan persilatan yang berjiwa kesatria, setelah sadar akan kesalahan, lebih baik mati dari pada hidup menjadi cercahan orang lain.

Ji Bun geleng-geleng kepala sambil menghela napas panjang, segera dia meluncur ke belakang kobaran api, dengan menerjang gulungan asap tebal yang mengadang jalan, dia terus melesat ke belakang, kakinya sedikit menutul, sekali lompat beberapa tombak jauhnya.

Lekas sekali dia sudah tinggalkan tempat kebakaran dan masuk ke dasar jurang.

Betul juga di antara bayang-bayang hutan di sebelah dalam sana lapat-lapat kelihatan sebuah bangunan mungil, di luar hutan berdiri sebuah papan batu yang bertuliskan "Daerah terlarang".

Letak rumah kecil ini terpaut beberapa puluh tombak dengan tanah lapang yang cukup luas, seluruhnya merupakan tanah yang berlapiskan batu cadas yang dibikin rata mengkilap, tiada rumput dan pepohonan tumbuh di sini, maka kobaran api meski teramat besar di sebelah depan, hutan di belakang lembah ini sedikitpun tidak terjilat api.

Jantung Ji Bun berdebur semakin ketas, dengan langkah mantap dia memasuki daerah terlarang.

"Siapa berani terobosan di daerah terlarang?"

Tiba-tiba berkumandang peringatan dari balik batu sana, dua orang baju putih segera muncul mengadang.

Tanpa buka suara, dengan langkah cepat Ji Bun menubruk maju, di mana tangan beracun bergerak, belum lagi kedua orang ini melihat jelas siapa yang datang, tahu-tahu sudah mengaduh terus roboh terkulai dan melayang jiwanya.

Bau khas yang merangsang hidung meyakinkan Ji Bun bahwa di dalam hutan terlarang ini ada ditaburi racun jahat yang tidak berwarna, namun Ji Bun yang sudah mempelajari ilmu tingkat tinggi Ban-tok-bun sudah kebal segala racun.

Sekali tendang ia singkirkan mayat kedua orang terus beranjak menyusuri jalan batu menjurus ke rumah kecil itu.

Rumah ini di kelilingi hutan, merupakan suatu pekarangan tersendiri dengan dipagari tembok batu, tepat di tengah dibuat pintu bundar, di dalam pintu dipajang beberapa perabot yang terbuat dari batu dan bambu.

Begitu Ji Bun tiba di pintu, empat orang baju putih, terdiri seorang tua dan tiga muda tahu-tahu menubruk tiba.

Pikiran Ji Bun hanya ingin selekasnya membekuk Kiang Giok si murtad, maka dia tidak peduli siapa orang-orang ini.

Kedua tangan segera bergerak menyongsong kedatangan orang-orang itu.

Segulung angin keras menerpa ke depan.

Keempat, orang bagai daun kering yang tersapu angin puyuh terjungkal sungsang sumbel.

Tanpa hiraukan mati hidup mereka, Ji Bun langsung menghampiri rumah mungil itu.

"Kau ....."

Di tengah teriakan kaget, sesosok bayangan orang jumpalitan keluar dari balik jendela dengan gemetar.

Dia bukan lain adalah Kiang Giok.

Terpencar cahaya kelam dari biji mata Ji Bun, suaranya kereng berwibawa.

"Kiang Giok, agaknya Suco memberkahi usahaku untuk menumpas kau."

Kiang Giok menyurut ke belakang bersandar dinding, wajahnya membesi kelabu, kelihatan dia terluka oleh Sian-thian-sin-kang Thong-sian Hwesio sampai sekarang belum lagi sembuh.

"Te-gak Suseng,"

Ujarnya.

"apa sebetulnya yang kau bicarakan?"

"Kiang Giok, bicara soal tingkatan, kau memang lebih tinggi dari padaku, namun, aku membawa pesan dan perintah Suco, maka aku harus menunaikan tugas melaksanakan tata tertib dan hukum perguruan secara tegas."

"Hukum perguruan? Apa maksudnya?"

"Menghadapi hukum perguruan ini, memangnya kau masih belum bertobat dan menyesal? Hm, Kiang Giok, aku ........."

"Terus terang, aku tidak tahu soal apa yang kau obrolkan?"

Kata Kiang Giok diliputi rasa heran, takut dan tak habis mengerti. Sikapnya ini menambah semangat Ji Bun malah, bentaknya.

"Berlututlah, terima pelaksanaan hukum perguruan ini."

Bergetar badan Kiang Giok, semakin tebal rasa bingung dari sorot matanya.

"Te-gak Suseng,"

Desisnya.

"kau ini orang apa, siapa pula aku dari mana kau hendak melaksanakan hukum perguruan atas diriku?"

"Kau masih berani mungkir?"

"Seorang laki-laki sejati berani berbuat berani tanggung jawab, aku terjatuh ke tanganmu, memang nasibku soal mungkir aku tidak sampai sepengecut itu."

"Baik, jawablah pertanyaanku, siapakah orang tua yang kau kurung di bawah tanah di gedungmu itu."

"Dia ..... siapa dia?"

"Aku justru tanya kau?"

"Aku tidak tahu?"

"Kentut! Kau murid durhaka menghadapi kematian masih belum mau bertobat."

Mulut Kiang Giok terpentang lebar, sikapnya hambar dan penasaran, jelas kelakuan ini bukan pura-pura belaka.

Keruan Ji Bun menjadi bimbang dan sangsi, mungkinkah dalam persoalan ini ada liku-liku yang sulit dijajaki pula?

"Kiang Giok, betulkah kau tidak tahu asal usul orang tua itu?"

"Tidak tahu."

"Lalu dari mana kau mempelajari ilmu beracun itu? Kenapa kau mengatur jebakan dan mengurung beliau, memaksanya mengajarkan ilmu dan hendak merebut kitab pelajarannya pula?"

"Pelajaran ilmu dari perguruanmu? Kau dari mana?"

"Jawab dulu pertanyaanku."

"Uh ........"

Tiba-tiba Kiang Giok-mengeluh seram, badannya tersungkur berkelejetan sebentar terus tak bergerak, jiwanya melayang seketika.

Kaget sekali Ji Bun, cepat dia membalik badan, di mana matanya memandang, darah seketika terbawa nafsunya membunuh membara pula.

Tampak seorang berdiri di ambang pintu, dia bukan lain daripada Kwe-loh-jin, musuh besarnya.

"Kwe-loh-jin."

Desis Ji Bun. ''sungguh kebetulan kau muncul sendiri."

Kwe loh-jin terkekeh dingin, jawabnya.

"Anak muda, agaknya nyawamu serap duabelas, sudah beberapa kali kau lolos dari kematian, kini pasti kuhancurkan kepalamu, ingin kulihat apakah betul kau memang tak dapat mati?"

Ji Bun tahan perasaannya, banyak persoalan yang harus dia tanyakan dulu sebelum bertindak.

"Kwe-loh-jin, jadi kau juga anggota Ngo-hong-kau?"

"Ya, tidak salah."

"Jadi majikan yang kau maksudkan itu ialah Ngo-hong-kaucu?"

"Tepat sekali,"

Sahut Kwe-loh-jin.

"Dan apa alasanmu selalu ingin membunuhku?"

"Pokoknya kau harus mati, tentang alasannya, kau tidak perlu tahu."

"Siapa sebenarnya Kaucu kalian?"

"Selama hidupmu kau takkan memperoleh jawaban."

"Kwe-loh-jin, agaknya semua pertanyaan tidak akan kau jawab dengan baik?"

"Terserah keadaan."

"Baik, sebuah pertanyaan lagi, kuingin bertemu dengan Kaucu kalian, sudilah kau membawaku kepadanya?"

"Kau hanya bercita-cita kosong belaka, ketahuilah Ciang-liong-kok ini bakal menjadi tempat kuburan."

"Tentunya kau juga ikut membantai orang-orang Jit-sing-po?"

Terpancar cahaya aneh dari mata Kwe-loh-jin, beberapa kali air mukanya berubah, lama sekali baru dia berkata dingin.

"Apakah Siangkoan Hong tidak memberi jawaban padamu?"

"Kau memfitnah mereka, apa tidak merasa malu dan hina?"

"Memfitnah? Anak muda, perlukah aku berbuat demikian?"

"Kenapa kau tidak berani mengaku?"

"Kenyataan memang begitu."

Kembali Ji Bun menghadapi pertentangan batin siapakah sebetulnya musuh besarnya?

Ngo-hong-kau atau Wi-to-hwe?

Karena kedua pihak sama tidak mau mengaku, namun kedua pihak sama patut dicurigai.

Dianalisa dari permulaan peristiwa ini, memang pihak Wi-to-hwe yang dipimpin Siangkoan Hong amat mencurigakan, ditambah pesan ayahnya waktu terakhir kali mereka berjumpa bahwa musuh besar keluarganya adalah komplotan Siangkoan Hong.

Tapi perkembangan selanjutnya dari berbagai kejadian yang dialaminya sendiri, satu persatu menumbangkan keyakinannya semula, berbalik dia yakin bahwa Ngo-hong-kaulah yang membantai seluruh penghuni Jit-sing-po.

Kematian ayahnya, ibunya diculik, beberapa kali peristiwa terbunuhnya diri sendiri, ketambahan Kiang Giok yang berselubung, teka teki bersama ayahnya, lebih menambah kerumitan persoalan ini.

Baca Juga: Bahagia Pendekar Binal 2

Baca Juga: Pendekar Setia 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert