Eps 9 Hati Budha Tangan Berbisa - Gan KL
Baca online Hati Budha Tangan Berbisa - Gan KL
Cersil Hati Budha Tangan Berbisa - Gan KL.
Kata Ciang Wi-bin Waktu Ji Bun angkat kepala, tahu-tahu dihadapannya telah berdiri seorang nenek reyot beruban, matanya bercahaya terang laksana lampu senter.
Inilah orang yang dipanggil Siau-bwe oleh Kwi-ouw Hujin tadi?
Sedikitnya usianya sudah mencapai 70-80 tahun, tapi namanya Siau-bwe atau si Bwe kecil, kok seperti nama genduk cilik saja.
"Yang mulia ini adalah Siau-bwe?"
Ji Bun bertanya.
"Ceriwis, namaku memangnya boleh sembarangan kau sebut."
"Silakan mulai kalau begitu!"
"Jangan sombong, kau boleh turun tangan lebih dulu."
Keruan Ciang Wi-bin gugup, bentaknya gusar.
"Ji Bun, kalau kau mampu sambut .......
"Ciang Wi-bin,"
Bentak Kwi-ouw Hujin keras.
"jangan kau langgar aturan di sini."
Dengan bersungut gusar terpaksa Ciang Wi-bin mundur ke samping.
Ji Bun tahu maksud baiknya, orang kuatir dirinya tak kuasa menghadapi tiga gebrakan.
tapi dia tenang saja tanpa menghiraukan sikap Ciang Wi-bin itu.
Nenek tua yang bernama Siau-bwe membentak.
"Hayo mulai!"
Menurut aturan Kang-ouw, orang yang usianya lebih tua tidak akan turun tangan lebih dulu, maka Ji Bun juga tidak banyak bicara, secepat kilat kontan dia lontarkan Tok-jiu-it-sek.
Si nenek berseru kaget, sebat sekali dia berkelit ke samping.
Tergerak hati Ji Bun, orang mampu meluputkan diri dari Tok-jiu-it-sek, maka dia ingin mengukur sampai di mana taraf kepandaiannya, tanpa memberi kesempatan lawan balas menyerang, Tok-jiu-ji-sek segera dilancarkan pula.
Kedua jurus serangan ini merupakan tumpuan kekuatannya, maka terdengar si nenek mengerang sekali, tubuhnya terhuyung ke belakang, wajahnya yang penuh keriput tampak menahan derita luar biasa.
Ji Bun tahu diri, dia tidak melanjutkan serangannya.
Di samping Ciang Wi-bin mengunjuk rasa kaget dan keheranan, Lwekang dan kepandaian Ji Bun betul-betul di luar dugaannya.
Pengalaman Ji Bun selama setengah tahun belakangan ini, hakikatnya dia memang tidak tahu.
"Locianpwe,"
Seru Ji Bun ke arah pintu.
"beruntung Wanpwe menang satu jurus."
Baru saja dia berkata, tahu-tahu suara dengungan berkumandang di depannya.
Seorang perempuan setengah baya berwajah ayu berdiri kereng di depan pintu.
Ji Bun kaget, apakah dia ini Kwi-ouw Hujin yang sudah berusia antara seabad itu.
"Hm, kau memang hebat, terlalu rendah penilaianku terhadapmu,"
Kata perempuan itu.
"Apa petunjuk Cianpwe?"
Tanya Ji Bun.
"Aku sendiri akan menyambut tiga jurus seranganmu, gunakanlah seluruh kekuatanmu."
"Menggunakan seluruh kekuatanku ......,"
Ji Bun ragu-ragu.
"Ya, aku takkan balas menyerang, aku hanya menyambut pukulanmu saja. Hayolah mulai!"
Serta merta Ji Bun melirik ke arah Ciang Wi-bin, dia ingin tahu reaksinya, namun wajah orang kelihatan bersungut lesu malah, naga-naganya tidak mengharap Ji Bun turun tangan, tapi bak panah yang sudah terpasang di busurnya, tidak bisa tidak harus dibidikkan, terpaksa ia pusatkan semangat dan menghimpun tenaga, pelan-pelan tangannya bergerak melancarkan Tok-jiu-it-sek.
Kwi-ouw Hujin juga angkat sebelah tangannya, secara aneh tangannya bergerak melingkar.
Dengan kaget Ji Bun menarik serangannya.
Ternyata gerakan membundar tangan lawan membuat serangannya sukar dilancarkan, keruan bukan main kagetnya.
Betapa tinggi Lwekang orang, agaknya masih lebih unggul dari Ngo-hong Kaucu, Hun-tiong Siancu pun tak mampu berbuat demikian.
Dasar wataknya keras, timbul hasrat Ji Bun untuk menang, maka Tok-jiu-ji-sek segera dilancarkan pula.
Tapi keadaan tetap sama, Ji Bun dipaksa menarik serangannya di tengah jalan.
Lekas Ciang Wi-bin angkat tangan, serunya.
"Hiantit, Lwekang Locianpwe tiada taranya, jangan kau semberono mencobanya lagi."
Kwi-ouw hujin berkata dingin.
"Sudah kukatakan tiga jurus."
Ciang Wi-bin diam saja, namun hatinya cukup lega, karena Kwi-ouw Hujin berjanji tidak akan balas menyerang.
Sudah tentu lain bagi penerimaan Ji Bun, dua jurus serangannya yang dahsyat dapat dipatahkan lawan.
Apakah jurus ketiga dapat berhasil, inilah merupakan tanda tanya pula.
Padahal ketiga jurus pukulan ini merupakan inti sari dari segala puncak ilmu Ban-tok-bun, kalau hari ini dikalahkan oleh Kwi-ouw Hujin, sungguh merupakan tamparan dan penghinaan bagi perguruannya, sebab ini membuktikan bahwa meski Kwi-ouw hujin tidak pernah mendirikan perguruan atau aliran, namun kenyataan ilmunya !ebih tinggi dari perguruan sendiri.
Sebenarnya saja latihan Ji Bun yang belum matang, kematangan latihan akan sangat penting artinya bagi perbawa ilmu yang dia lancarkan, kalau Lwekang bertambah tangguh, sudah tentu kekuatan jurus serangannya juga akan bertambah kuat.
Di samping itu, demi menjaga tata tertib perguruan, di waktu melancarkan serangan ini dia pantang menggunakan racun, sudah tentu keadaan menjadi jauh berbeda.
Apalagi kalau Kwi-ouw Hujin balas menyerang, akibatnya tentu amat mengerikan.
Sikapnya serius, sorot matanya berkilat laksana api yang mencorong panas.
"Sambutlah jurus ketiga!"
Di tengah hardikannya, Tok-jiu-sam-sek segera dilancarkan dilandasi seluruh kekuatannya.
"Ah,"
Walau lirih suaranya, namun semua orang mendengar keluhan ini, Kwi-ouw Hujin agak limbung dan tergetar mundur, segera ia mengayun tangan dan berkata.
"Kalian boleh pergi!"
Suaranya terasa pahit getir, sedih lagi.
Bayangkan, seorang tokoh Bu-lim yang sudah seabad usianya dikalahkan seorang tunas muda, sudah tentu bukan kepalang rasa kecewanya.
Ji Bun sendiri tidak menyangka jurus ketiga serangannya bakal berhasil, keruan iapun melenggong.
Setelah orang buka suara baru dia sadar dan lekas memberi hormat, katanya penuh rasa sesal.
"Locianpwe suka mengalah, terima kasih."
Tanpa bicara lagi Kwi-ouw Hujin putar tubuh terus berkelebat masuk ke dalam pintu, nenek tua yang dipanggil Siau-bwe tadi juga ikut lenyap ke dalam. Ciang Wi-bin tertawa kecut, katanya.
"Marilah kita pergi!"
Mereka berlari memasuki hutan dan menuju ke pinggir jurang. Ji Bun melongok ke bawah, katanya.
"Paman, cara bagaimana kau akan turun?"
"Ikatlah aku!"
Kata Ciang Wi-bin, setiba di celah-celah antara lekukan batu gunung, dari dalam lubang di bawah batu Ciang Wi-bin merogoh keluar dua gulung tali, pada ujung tali terpasang gantolan besi yang berbentuk cakar.
"Pakai ini!"
Katanya.
"Silakan paman turun lebih dulu, Siautit punya cara lain."
Ciang Wi-bin heran, seperti hendak bicara, tapi urung, sambil menggerakan kedua cakar besi di tangannya, segesit kera tubuhnya segera melorot turun ke bawah dan segera bayangannya ditelan gumpalan awan.
Ji Bun kerahkan tenaga, lalu dengan Ginkang angin lesus pelan-pelan iapun melayang turun ke bawah.
Setiba di bawah, bayangan Ciang Wi bin tidak kelihatan, ia merasa heran.
Secara beruntun mereka turun, jarak waktunya tidak terlalu lama, kenapa bayangannya tidak kelihatan?
Tak mungkin dia tinggal pergi begitu saja.
Mendadak ia melihat sebuah cakar yang dipakai Ciang Wi-bin tadi jatuh di antara semak-semak sana, di depan semak-semak tampak noda darah pula berceceran menuju ke arah kanan.
Keruan ia kaget, Ciang Wi-bin terang mendapat sergapan di luar dugaan, memangnya siapa yang pasang perangkap menjebaknya di sini?
Kenapa dirinya tidak mendengar keributan dari orang-orang yang berbaku hantam di sini?
Kepandaian silat Ciang Wi-bin cukup tangguh?
Dengan gelisah dia ikuti ceceran darah itu terus memasuki semak belukar, beberapa tombak kemudian ceceran darah itu berhenti dan lenyap tiada kelanjutannya.
Pandangannya di sini teraling dedaunan dan semak belukar, tidak bisa melihat ketempat yang jauh.
Tapi Ji Bun yakin, menurut waktu dia perhitungkan, peduli apa yang telah terjadi, pihak lawan pasti tidak akan lari jauh.
Maka dia melompat ke atas sebuah hatu yang tinggi letaknya, dari atas melihat kebawah, namun selepas matanya menjelajah tiada yang ditemukan sesuatu.
Kalau Ciang Wi-bin sampai mengalami nasib jelek, pasti bukan kepalang sesal hatinya, keringat membasahi jidatnya, hatinya gelisah seperti dibakar.
Disaat dia celingukan, tiba-tiba didengarnya sebuah suara herangan lemah seperti suara yang bergema dari bawah tanah, arahnya dari hutan yang tak jauh di sebelah depan sana, tanpa pikir Ji Bun lantas menubruk kearah datangnya suara.
Betul juga dilihatnya Ciang Wi-bin tertelikung tangannya, terikat pada batang pohon, mulutnya disumbat kain tebal, hanya sepasang matanya saja yang kelihatan.
Sekelilingnya sunyi senyap tidak terdengar suara apapun.
Berkobar amarah Ji Bun, bergegas dia menghampiri Ciang Wi-bin.
Sejak kelana berulang kali dia mengalami bencana, liku-liku kehidupan Kang-ouw yang serba berbahaya kenyang baginya, maka dia sudah meningkatkan kewaspadaan.
Kalau menuruti adatnya yang dulu, sejak tadi dia sudah menubruk ke arah Ciang Wi-bin serta membebaskannya.
"Uk, uk!"
Ciang Wi-bin bersuara dalam tenggorokan, Ji Bun berhenti, matanya menjelajah sekitarnya, lalu melangkah maju pula.
Biji mata Ciang Wi-bin mendelik sebesar kelereng, sayang mulut tersumbat sehingga tak dapat memberi peringatan bahaya apa yang bakal mangancam Ji Bun.
Tapi Ji Bun cukup mengerti akan sikapnya yang cemas dan kuatir itu.
Kalau tahu pasti ada perangkap, namun Ji Bun tetap melangkah mendekati Ciang Wi-bin.
Mendadak kedua kaki Ciang Wi-bin menggedok tanah, tanah dan daun serta ranting pohon yang kering sama ditendangnya bertaburan.
Di situkah perangkapnya?
Tiba-tiba Ji Bun tersadar, langkahnya diperlambat, sementara matanya meneliti dengan seksama sekelilingnya, daun-daun kering dan tetumbuhan rumputpun tidak lepas dari pengamatannya, ingin ditemukannya sesuatu yang mencurigakan.
Tiba-tiba sehuah suara yang amat lirih, sedemikian lirihnya kalau orang biasa pasti tak mendengarnya, tapi kuping Ji Bun yang tajam dapat menangkapnya dan tahu letaknya kira-kira lima tombak di semak pepohonan sana.
Dasar cerdik dan waspada Ji Bun lantas tahu kalau di sebelah sana pasti ada orang yang sembunyi sudah tentu tujuannya hendak membokong atau menyerang dirinya dengan cara apapun.
Kini barulah dirinya tahu apa maksud Ciang Wi-bin menggedok tanah dan melotot padanya, maksudnya jelas mencegah dirinya mendekat lebih lanjut.
"Sret!"
Laksana kilat menyamber di tengah angkasa, cepat sekali Ji Bun menubruk ke semak pohon sebelah sana.
"Blang'", pada waktu yang sama, tanah di mana barusan Ji Bun berpijak, meledak keras dengan memercikan lelatu api, asap tebal membubung tinggi ke angkasa.
"Ngek!"
Di tengah herangan kesakitan, tahu-tahu seorang pemuda baju sutera telah dicengkeram oleh Ji Bun.
"Ngo-hong-sucia! He he, sungguh tak kira kalian cakar-cakar iblis ini juga menguntit diriku sampai di pegunungan ini ........"
Belum selesai Ji Bun bicara, Ngo-hong-su-cia yang diringkusnya mendadak menjerit ketakutan.
"Ngo-lui-cu!"
Reaksi Ji Bun amat cepat dan tangkas, begitu lepas tangan, sebat sekali tubuhnya melompat tiga empat tombak ke samping, maka terdengar ledakan keras pula, diiringi pekik tertahan Ngo-hong-sucia yang mati dengan tubuh hancur lebur, asap tebal mengelilingi sekitarnya, daun dan dahan pohon sama rontok berjatuhan.
Beringas wajah Ji Bun, sekali lompat dan cengkeram, kembali dia berhasil membekuk seorang pemuda baju sutera.
Pengalaman merupakan pelajaran yang berharga, begitu berhasil membekuk seorang musuh, segera dia melompat ke tempat lain.
Maka bayangan orang segera bermunculan dari berbagai arah, semuanya berseragam baju sutera warna bijau ketat, kecuali yang sudah mati bersama yang ditawan di tangannya sekarang semuanya berjumlah delapan orang.
"Te-gak Suseng, hari ini kau pasti mampus!"
Seru seorang.
Ji Bun menoleh, dilihatnya dari balik pohon sebelah kanan sana muncul seorang aneh berambut merah, matanya yang cuma satu bersinar terang buas dan liar, badannya kurus kering seperti genter, jubah yang dipakainya panjang dan lebar kedodoran sehingga keadaannya mirip sekali setan gentayangan.
Laki-laki ini bukan lain adalah wakil Kaucu Ngo-hong-kau, jit-sat-sin Jiu Jing adanya, tempo hari dia pernah terluka oleh Tok-jiu-it-sek, untung dapat melarikan diri.
"Hu-Kaucu,"
Jengek Ji Bun sinis.
"selamat bertemu!" 19.57. Beberapa Misteri Mulai Terkuak "Aaaah!"
Pekik panjang yang mengerikan berkumandang di angkasa pegunungan.
Sebab cengkeram dan mengerahkan tenaga, secara hidup-hidup Ji Bun membetot protol tubuh pemuda baju sutera yang dibekuknya tadi, sekenanya terus dilemparnya mayat itu ke depan.
Berpijar mata tunggal Jit-sat-sin Jiu Jing saking murka, teriaknya seperti kebakaran jenggot "Te-gak Suseng, kalau hari tidak kuhancur leburkan tubuhmu, aku bersumpah tidak jadi manusia."
Ji Bun menyeringai, jengeknya.
"Kalau tidak jadi manusia, nah, pergilah jadi setan!"
Belum lenyap dia bicara, tahu-tahu ia sudah menubruk ke arah Jit-sat-sin.
"Jangan bergerak!"
Ji Bun kaget, lekas dia hentikan aksinya, tampak Jit-sat-sin sudah melompat sembunyi ke belakang Ciang Wi-bin, telapak tangannya menekan batok kepala Ciang Wi-bin. Dengan murka Ji Bun membentak.
"Jit-sat-sin, berani kau mengganggu seujung rambutnya, ayam anjingpun takkan kubiarkan hidup dalam Ngo-hong-kau."
Semua orang mengkirik mendengar ancaman tegas ini. Wajah Ji-sat-sin sendiripun berubah, katanya bergelak tawa.
"Anak muda, kau tiada punya kesempatan lagi."
"Belum tentu ......."
Tiba-tiba kedua kaki Ciang Wi-bin kembali menggedok-gedok tanah.
Ji Bun seketika sadar dan waspada, sigap sekali tiba-tiba dia membalik tubuh, dilihatnya seorang Sucia tengah mengayun tangan menimpukkan Ngo-lui-cu, kekuatan Ngo-lui-cu dapat mencapai beberapa tombak, betapapun cepat gerakan Ji Bun takkan lebih cepat dari pada ledakan Ngo-lui-cu itu.
Kalau Thong-sian Hwesio mampu menghentikan luncuran Ngo-lui-cu di tengah udara dengan ilmu Sian-thian-cin-khi, namun Ji Bun tak mampu berbuat demikian, soalnya masing-masing mempunyai keahliannya sendiri.
Waktu amat mendesak, tiada tempo buat Ji Bun mencari akal.
Secara refleks terpaksa dia kerahkan sepenuh kekuatannya menggempur dengan kedua telapak tangannya.
Setelah pukulan jarak jauh dilontarkan, cepat dia mendekam.
"Daaarl"
Karena kebentur oleh tenaga pukulan dari jauh sebelum jatuh menyentuh tanah sudah meledak di tengah udara, terdengar dua kali jeritan pula, ketiga Sucia sekaligus terjungkal mampus.
Ji Bun gunakan kesempatan baik ini, di saat Jit-sat-sin terpencar perhatiannya, selicin belut segesit kera tubuhnya tiba-tiba melenting ke belakang Jit-sat-sin, berbareng ia terus menutuk.
Jit-sat-sin tersadar dan kaget, namun sudah terlambat, kesempatan untuk menghantam batok kepala Ciang Wi-bin sudah tiada lagi, lebih perlu menyelamatkan jiwa sendiri, terpaksa dia berkelit.
Bahwa dia berhasil meluputkan diri dari tutukan lihay ini membuktikan bahwa kepandaian silatnya memang bukan olah-olah tingginya.
Benci Ji Bun luar biasa terhadap musuh yang ini, di mana tubuh orang berkelebat, sigap sekali iapun membayanginya, berbareng Tok-jiu-sam-sek dilancarkan.
Kontan Jit-sat-sin melolong ngeri, tubuhnya terjungkal roboh, namun dia masih kuat meronta bangun.
Kembali Ji Bun ayun tangannya dengan telak dada orang ditamparnya, tubuh orang kurus kering laksana genter itu seketika terlempar.
"Bluk", begitu terbanting di tanah lantas tak bergerak lagi. Empat Sucia lainnya yang ketinggalan pecah nyalinya, beramai-ramai mereka angkat langkah seribu alias melarikan diri. Ji Bun tak sempat mengejar dan membunuh mereka, menolong Ciang Wi-bin lebih penting. Ciang Wi-bin menggosok tangannya yang terikat kencang tadi, katanya sambil tertawa getir.
"Hiantit, sungguh berbahaya, hampir saja jiwa kita melayang."
"Paman tidak apa-apa?"
Tanya Ji Bun prihatin.
"Tidak apa-apa."
"Agaknya mereka sudah pasang perangkap dan menunggu kita di bawah gunung?"
"Mereka kemari karena menguntit jejakmu, tujuannya hendak membunuhmu"
"Darimana mereka tahu paman berada bersamaku? Paman sudah beberapa bulan terkurung di atas, setan atau malaikatpun tiada yang tahu, Siautit juga datang seorang diri, apalagi jarang orang Kangouw yang pernah melihat wajah asli paman ini ......."
"Kejadian ini tidak mungkin kebetulan, aku tiba di bawah sini, lantas disergap, malah Jit-sat-sin membuka kedok mukaku. Marilah duduk, ceritakan dulu pengalaman akhir-akhir ini padaku."
Ji Bun duduk di atas dahan pohon yang roboh, lalu menceritakan pengalamannya setengah tahun yang lalu, karena adanya larangan perguruan, maka dia hanya menjelaskan sekenanya tentang rejeki yang diperolehnya, seluk beluk Ban-tok-bun tidak dia ceritakan.
Ciang Wi-bin manggut-manggut, hatinya lega dan terhibur, katanya menghela napas.
"Hiantit, dengan kepandaianmu sekarang hanya beberapa gelintir orang saja yang mampu menandingimu."
Ji Bun geleng-geleng, katanya "Paman terlalu memuji, terhadap Kwi-ouw Hujin saja, kalau beliau mau melawan secara sungguh-sungguh, siapa unggul atau asor sulit ditentukan."
"Coba kau terka, siapa sebenarnya Kwi-ouw Hujin? Dia adalah Pek-pian-mo-li yang dulu pernah menggetarkan Bu-lim itu."
"O, tak heran wajahnya tidak cocok dengan usianya, ternyata iapun seorang gembong yang dalam bidang tata rias."
"Bukan begitu, apa yang kau lihat adalah wajahnya yang sebenarnya, Lwekangnya sudah sedemikian tinggi sehingga dapat mempertahankan kecantikan dirinya, secara serampangan akhirnya aku herhasil menemukan danau setan. Mengingat hubungannya dengan almarhum guruku Yu-ing-long-kun dulu, dia mau memberikan Kim-sian-jau-koh kepadaku, namun dia mengajukan syarat, bahwa aku harus berbakti kepadanya setengah tahun lamanya..."
"Berbakti? Jadi kacungnya maksud paman?"
"Ya, di samping itu dalam syarat yang ditentukan juga bahwa aku dilarang berbicara dengan siapapun yang datang dari luar."
"Kenapa demikian?"
"Dia kuatir aku membocorkan rahasia 'danau setan' ini."
"Sungguh orang aneh bertingkah ganjil pula."
"Memangnya. Eh, kau belum jelaskan kenapa kau tidak memerlukan buah itu lagi?"
"Tanpa sengaja kupernah mengalami suatu ke jadian aneh dan memperoleh rejeki nomplok, tangan beracun sudah bisa kukendalikan menurut kemauan hati, tanpa diobati, racun sudah kutawarkan sendiri. Sebaliknya jerih payah paman ini membuat hatiku tidak tenteram."
"Jangan kau singgung soal ini lagi ......... Kau masih ingat tentang janji sebulan pada setengah tahun yang lalu? Sekarang kau boleh tanya langsung."
Ji Bun menyeka keringat jidatnya, setelah tenangkan hatinya yang bergejolak, lalu buka suara.
"Bagaimana tentang mati hidup ayah?"
Sikap Ciang Wi-bin tampak berobah, katanya sambil menggigit bibir.
"Mungkin dia masih hidup."
"Hanya mungkin? Itu berarti belum tentu."
"Kemungkinan boleh diartikan masih hidup. Kau tahu siapa sebetulnya Jit-sing-ko-jin? Dia adalah duplikat ayahmu sendiri."
Laksana disamber petir kaget Ji Bun, matanya mendelik, suaranya gemetar.
"Tidak, tidak mungkin ......"
"Kenapa tidak mungkin?"
"Di puncak Pek-ciok-hong Siautit dipukulnya sampai terjungkal ke dalam jurang."
Ciang Wi-bin berjingkrak berdiri, serunya.
"Ada kejadian begitu? Mungkinkah ........"
"Kenyataan begitu, Siautit tidak membual."
Ciang Wi-bin mendelong sekian lamanya, mulutnya melongo tanpa bersuara.
Pikiran Ji Bun menjadi kalut, seorang ayah tanpa sebab hendak membunuh puteranya sendiri, siapa mau percaya?
Tapi apa yang diucapkan Ciang Wi-bin pasti bukan bualan, cuma di dalam persoalan ini pasti ada latar belakangnya yang sukar diraba, segera ia tanya.
"Paman, lalu bagaimana dengan kedua mayat di jalan raya ke Kay-hong itu?"
"Kalau Jit-sing-ko-jin adalah ayahmu, maka berani kupastikan ayahmu masih hidup."
"Dia ...... dia ....... kenapa bisa begitu?"
"Ya, untuk menghindari pengejaran Siangkoan Hong, karena dia sendiri atau Jit-sing-ko-jin merupakan sasaran utama pihak Wi-tohwe, maka dia mengatur muslihat ini."
"Tapi kenapa dia turun tangan terhadapku? Mungkinkah ada latar belakang yang serba rahasia?"
"Hal ini memang sukar diraba."
"Jadi kalau demikian, jadi ayah betul-betul belum mati? Paman pernah sehaluan dengan ayah bukan?'' "Ya, laki-laki tak dikenal dan Kwe-loh-jin yang berhasil merebut Hud-sim itu kuduga adalah samaran ayahmu, sayang aku tak berhasil memecahkan seluk-beluk ini."
"Keponakan sudah tahu, Kwe-loh-jin adalah Ngo-hong Kaucu."
"Apa?"
Tertak Ciang Wi-bin.
"Kwe-loh-jin adalah Ngo-hong Kaucu?"
"Ya, dia pula yang pernah menyamar jadi ayah, berjubah sutera dan berkedok, orang pertama yang pernah membunuh keponakan."
"Kau sudah mendapatkan bukti?"
"Bukti dan nyata."
"Kalau demikian aku bisa menyimpulkan bahwa Jit-sing-ko-jin yang memukulmu itu bukan samaran ayahmu, mungkin orang itu juga pandai rias diri, sebelumnya dia sudah mengintip dari tempat sembunyinya, maka dengan mudah ia turun tangan padamu?"
"Analisa paman tentu tidak meleset, lalu siapa orang ini?"
"Mungkin Kwe-loh-jin itu ......"
"Untuk ini keponakan yakin pasti bisa membereskannya, Hud-sim tercuri di rumah paman, sebetulnya dengan kemampuan paman ......"
Ciang Wi-bin geleng-geleng, katanya getir.
"Waktu mendapatkan Hud-sim, kudapat patung itu sudah kehilangan hatinya, kukira sudah tiada nilainya lagi, untuk menghindari bencana maka sengaja kubuat pajangan supaya dicuri orang, untuk mengaburkan salah sangka orang."
"O, kiranya demikian. Ibu tua Khong-kok-lan So Yan menempati gedung setan milik paman di kota Cinyang, hubungannya dengan ayah sudah retak ........"
"Liku-liku kejadiannya kau sudah tahu. Tentunya kau masih ingat kisah Hing-thian-kiam Gui Han-bun yang bermusuhan dengan ayahmu? Karena ibu tuamu minta perlindunganku, terpaksa aku menerimanya, aku menghargai dia dan simpatik padanya, soal ini ayahmu tidak tahu."
"Dan anak itu ......"
Terunjuk perasaan sedih pada wajah Ciang Wi-bin, katanya rawan.
"Dia adalan putera paman, ibunya meninggal waktu melahirkan dia, maka kutitipkan ibu tuamu untuk mengasuhnya."
Ji Bun manggut-manggut, katanya pula.
"Kalau ayah masih hidup, kenapa dia tidak menemuiku?"
"Mungkin dia punya perhitungan sendiri, mungkin ...... Ai, sebetulnya tak perlu kubicarakan soal ini, namun kau juga sudah tahu, betapa sepak terjang dan kelakuan ayahmu sebetulnya memang keterlaluan."
Anak pantang menista perbuatan ayah sendiri, apa pula yang bisa Ji Bun katakan? Maka dia alihkan pokok pembicaraan, katanya.
"Ibu diculik pihak Ngo-hong-kau, demikian pula Thian-thay-mo-ki ......"
Terbeliak mata Ciang Wi bin, katanya.
"Sejak Jit-sing-po hancur, selalu dia bersama ayahmu, bagaimana ......."
"Mungkin ayah dibunuh pihak Ngo-hong-kau?"
Seru Ji Bun kaget. Ciang Wi-bin menepekur, rona mukanya berubah ganti berganti.
"Paman,"
Kata Ji Bun pula.
"maaf, sebetulnya ada hubungan rahasia apakah antara paman dengan ayah?"
"Hubungan rahasia tiada, tapi ...... hal ini memang kau harus tahu, dulu aku bersahabat dengan ayahmu, sayang aku tidak menyelami watak dan karakternya, belakangan baru kudengar banyak perbuatannya yang tidak baik sehingga hubungan kami semakin renggang, sampai pada waktu kau menolong puteriku dari markas Cip-po-hwe, sejak itu puteriku sudah menaksir padamu ...... Kemudian baru aku kontak pula sama dia, kami masing-masing bertukar ilmu ........"
"Bertukar ilmu?"
"Ya, kuajarkan gerakan badan dan tata rias, sedang dia mengajarkan ilmu beracun, itulah sebabnya dia pandai menyamar dan akupun tidak gentar terhadap serangan tanganmu yang beracun."
"O,"
Dengan kaget Ji Bun mengiakan, sungguh hal ini tidak pernah dia bayangkan, secara langsung teka teki selama ini telah tersingkap pula. Tanyanya.
"Apakah paman tahu dari mana asal usul ayah mendapatkan ilmu beracun itu?"
"Katanya tanpa sengaja dia memperoleh se
Jilid Tok-keng ......"
"Tok-keng? Pernahkah ayah menceritakan bagaimana dia memperoleh Tok-keng ini?"
"Tidak. Memangnya kau sendiri tidak tahu?' "Keponakan diajarkan secara lisan, belum pernah melihat Tok-keng, entah bagaimana asal usulnya,"
Lalu ia menunduk memeras otak, mendadak dia angkat kepala sambil berseru;
"Ya, aku sudah mengerti sekarang."
"Kau mengerti apa?"
Tanya Ciang Wi-bin.
"Ngo-hong Kaucu adalah pemilik Tok-keng, mungkin di dalam suatu kejadian, ayah mendapatkan Tok-keng ini dari dia, sedang ibu terkurung di Ngo-hong-kau, kalau benar apa yang paman katakan bahwa ayah selalu bersama ibu, tentu ayah sudah terbunuh oleh pihak Ngo-hong-kau, kalau Ngo-hong-kau berusaha membunuh keponakan dengan macam-macam cara, tujuannya tentu hendak mencari kembali ilmu beracun itu ......."
"Kau yakin analisamu ini pasti tepat?"
"Umpama meleset juga tidak terlalu jauh."
"Apakah muridku Ui Bing sudah melaksanakan pesan yang kutinggalkan? Ketahuilah, tugas yang sedang dia kerjakan bakal membantu membongkar teka-teki ini."
Tergerak hati Ji Bun, sebetulnya dia ingin tanya tugas apa yang dikerjakan Ui Bing, namun dia urung bertanya. Ciang Wi-bin mengerut alis, katanya.
"Tapi bukan mustahil kalau komplotan Wi-to-hwecu Siangkoan Hong yang melakukannya."
"Kukira tidak mungkin, bukti tidak ada."
"Memang, tapi ketika Jit-sing-po hancur, Siangkoan Hong juga meluruk datang hendak menuntut balas, dendam Siangkoan Hong terhadap ayahmu sedalam lautan, apapun yang terjadi, dia takkan melepas ayahmu."
"Tapi dulu paman pernah berulang kali mencegah aku menuntut balas?"
"Bukan mencegah, soalnya aku merasa peristiwa ini rada janggal, kuharap setelah kau berunding dengan ayahmu baru bertindak, supaya tidak bekerja membabi buta dan menempuh bahaya yang tiada artinya. Tak kira sejauh ini jejak ayahmu tetap menghilang."
Ji Bun manggut dengan berat, katanya.
"Keponakan bersumpah untuk membongkar kejadian ini sejelas-jelasnya."
"Hiantit masih ada persoalan lain?"
"Sementara ini tidak ada."
"Baik, kini jawablah sebuah pertanyaan paman, tapi perlu kukatakan, kau tidak perlu rikuh, akupun tidak memaksa. Katakanlah terus terang ..... Kau menyukai Bing-cu tidak?"
Seketika Ji Bun menjublek tak mampu menjawab, kalau dikatakan tidak suka, ini bertentangan dengan sanubarinya, kalau menyatakan suka, jelas Ciang Wi-bin menuntut adanya ikatan nikah, lalu bagaimana dia harus memberi pertanggungan jawab kepada Thian-thay-mo-ki yang telah mengorbankan segala miliknya untuk dirinya?
Sekian lama Ji Bun mematung tak mampu bicara.
"Banyak persoalan dalam dunia ini yang tak mungkin bisa dikerjakan secara paksa oleh siapapun"
Demikian ujar Ciang Wi-bin menghela napas.
Kata-katanya laksana jarum menusuk hati Ji Bun, tapi apa yang dapat dia katakan?
Suasana sesaat menjadi hening, kikuk dan serba salah.
Setelah berpikir baru Ji Bun berkata.
"Paman, bagaimana kalau soal ini kujawab setelah Siautit berhasil menuntut balas?"
"Masing-masing orang mempunyai cita-cita hidup sendiri, cuma perlu kutegaskan, puteriku itu berkeras hati ......."
"Biarlah nanti Siautit sandiri yang bicara langsung dengan dia."
"Maksudmu soal jodoh ini sukar terlaksana?"
"Siautit punya kesulitan, tentunya adik Bing-cu dapat memaklumi."
Terbayang rasa masgul pada wajah Ciang Wi-bin.
Ji Bun sendiri juga merasa rikuh, serba salah dan menyesal, terasakan betapa agung dan besar perhatian keluarga Ciang pada dirinya, selama hidup takkan dilupakannya, malah kali ini demi perjodohan dirinya dengan putrinya, orang tua ini rela menempuh perjalanan jauh dan bahaya mencarikan obat penawar racun tangannya, kini harapannya yang dinanti-nanti akan sirna, betapa hati sang hartawan besar nomor satu dan tokoh aneh dari Kangouw ini takkan sedih dan menyesal?
"Paman Siautit sangat menyesal."
"Soal ini tak usah dibicarakan lagi. Bagaimana tindakanmu selanjutnya?"
"Siautit akan meluruk ke markas Ngo-hong-kau baru nanti pergi ke Wi-to-hwe."
"Perjalanan ke Ngo-hong-kau boleh ditunda, paman sudah mengatur suatu muslihat, biarlah kita lihat dulu hasil dari rencanaku itu baru nanti mengambil langkah selanjutnya."
"Langkah apakah yang telah paman atur?"
"Terlalu pagi untuk kujelaskan, akan kujelaskan setelah tiba saatnya."
"Kalau begitu Siautit akan pergi ke Tong-pek-san saja."
"Kenapa tidak ke Cinyang, temuilah Bing-cu di sana."
"O, ya, tentu ..... tentu Siautit akan ke sana."
"Baiklah, kita berpisah di sini, selamat bertemu di kota Cinyang."
Ji Bun tahu Ciang Wi-bin tidak mau muncul dengan wajah aslinya di muka umum, mungkin setelah berdandan baru akan menempuh perjalanan, maka Ji Bun juga tidak banyak bicara lagi.
"Silakan paman."
Katanya.
"Hati-hati terhadap orang Ngo-hong-kau, mungkin mereka mengatur perangkap dan main sergap."
Ji Bun mengiakan.
Ciang Wi-bin segera melayang pergi.
Ji Bun mendongak melihat cuaca, matahari telah jauh doyong ke barat, lekas dia berlari-lari menuju ke arah timur.
Beruntung perjalanan ke "Danau Setan"
Ini tidak sia-sia.
Ciang Wi-bin selamat, malah dia berhasil melihat muka orang yang asli, banyak persoalan rumit tersingkap pula, sayang mati hidup ayahnya masih merupakan tanda tanya.
Keselamatan ibunda dan Thian-thay-mo-ki juga masih mengganjel hatinya.
Bagaimana dia harus bicara langsung terhadap Ciang Bing-cu setelah tiba di kota Cinyang?
Inilah soal pelik yang menjadi pemikirannya sepanjang jalan.
Sehari semalam baru dia keluar dari pegunungan Cong-lam-san, semalam dia menginap di hotel, setetah, cukup istirahat dan memulihkan kesegaran badannya, esok pagi dia melanjutkan perjalanan menuju ke tenggara.
Hari itu dia tiba di Sip-san, di gunung inilah San-lim-li-sim bersemayam, mau tidak mau dia teringat pada Hun-tiong Siancu, jiwanya hampir mampus ditangannya, kalau dalam tubuhnya tiada darah Thian-thay-mo-ki yang pernah minum darah "naga batu", tentu sejak lama dirinya sudah mati.
Dendam lama ditambah sakit hati yang baru lalu, betapapun harus segera dibereskan.
Maka Ji Bun membelok meninggalkan jalan raya menuju ke arah bukit payung dimana tempat Hun-tiong Siancu bercokol.
Setelah tahu letaknya dan apal jalannya, dengan mudah dan cepat Ji Bun menuju ke puncak berbahaya dengan undakan batu tunggal menuju ke atas itu.
Di atas sanalah Hun-tiong Siancu berada.
Setelah diserbu pihak Ngo-hong-kau, adalah jamak kalau penjagaan lebih ketat dan kuat, lalu dirinya harus menerjang secara terang-terangan lewat undakan batu ini atau mumbul ke atas menggunakan Ginkang "pusaran angin lesus"
Saja. Sebelum Ji Bun berkeputusan.
"trang, trang", tiba-tiba didengarnya suara benturan senjata tajam dari pinggir hutan sana, bangkit rasa ingin tahu Ji Bun, lekas dia melenting ke arah datangnya suara. Keadaan di dalam hutan ternyata amat tegang dan mengejutkan. Seorang Siucay kampungan sedang berhadapan dengan seorang laki-laki baju sutera, keduanya bersenjata pedang, pedang laki-laki baju sutera menuding ke bawah, sedang pedang si Siucay melintang lurus ke depan, sementara tangan kiri melindungi dada. Kedua orang menunjuk gaya yang berlainan dari permainan ilmu pedang umumnya, keringat sudah membasahi jidat dan badan kedua orang, dada turun naik, agaknya mereka berhenti untuk mengatur napas dan menghimpun kekuatan. Pertempuran ini tampaknya menjelang babak terakhir, yang terang keduanya sama kuat alias setanding. Masih ada lima orang berbaju sutera ketat bersenjata pedang berjajar setengah lingkaran di luar gelanggang, masing-masing menduduki posisi yang mengurung, setiap pedang kelima orang ini memancarkan sinar kemilau yang berceceran darah. Di atas tanah dua belas mayat bergelimpangan. Ji Bun menyelinap maju lebih dekat, kedatangannya tidak diketahui, waktu dia menyapu pandang, segera iapun maklum. Orang-orang baju sutera itu adalah jago-jago kosen Ngo-hong-kau. Siucay tua ini pernah menawan dirinya dan belakangan menjadi anggota Wi-to-hwe pula. Asal-usulnya belum diketahui. Para korban itu ternyata adalah anak buah Wi-to-hwe.
"Trang, trang!"
Sinar pedang berkelebat kemilau laksana kilat menyambar, hawa pedang terasa dingin dan mengiris kulit, bayangan kedua orang berkutet sebentar lalu berpencar mundur, kembali keduanya bergaya dengan posisi semula.
Kepandaian ilmu pedang kedua orang ini jarang terlihat di kalangan Bu-lim.
Ji Bun pikir belum lama Ngo-hong-kau berdiri, namun berhasil menjaring jago-jago silat tinggi sebanyak ini, taraf kepandaian keenam orang jago pedang ini sudah terhitung kelas satu di kalangan Kangouw.
Tapi mata Ji Bun lebih banyak menatap pada si Siucay tua, beruntung hari ini bertemu di sini, perhitungan lama dibereskan nanti.
Terdengar laki-laki setengah umur baju sutera itu buka suara.
"Saudara betul-betul tidak mau memperkenalkan diri?"
"Tiada perlunya,"
Suara si Siucay tua rada gemetar.
"Tapi permainan pedangmu sudah membongkar asal usul dirimu .........."
"Kau sudah tahu?"
"Gui Han-bun, Hing-thian-it-kiam yang kau unjukkan barusan tentu dapat kukenali."
"Bagus, agaknya memang luas pengalamanmu?"
Jengek Siucay tua.
Mencelos hati Ji Bun, Hing-thian-it-kiam Gui Han-bun, bukankah dia ini suami atau kekasih ibu tua Khong-kok-lan So Yan?
Terbayang cerita yang dikisahkan Biau-jiu Siansing, agaknya Gui Han-bun tidak mati ketika terjungkal ke dalam jurang.
Ya, kini Ji Bun mengerti, kenapa tempo hari orang menculik dirinya dan mengompes keterangan di mana ayahnya berada, kiranya menyangkut urusan permusuhan lama ini.
Pertempuran berlangsung pula dengan sengit.
Pikiran Ji Bun sedang kusut.
Bicara kejadian nyata, perbuatan ayahnya dulu memang kotor dan memalukan.
Petaka yang menimpa sepasang kekasih ini memang sangat menyedihkan, siapapun pasti akan menaruh simpatik kepada mereka.
Tiba-tiba kelima pemuda baju sutera menghardik bersama terus terjun ke tengah gelanggang, jadi enam lawan satu kini, sudah tentu lekas sekali keadaan berubah.
Betapapun tinggi kepandaian Hing-thian-it-kiam Gui Han-bun, dalam beberapa gebrak saja sudah terancam maut, terang sekali Gui Han-bun bukan tandingan keenam musuhnya.
Entah berdasarkan perasaan apa, tiba-tiba Ji Bun menghardik diluar sadarnya.
"Berhenti!"
Sebat sekali dia melompat maju. Orang-orang yang tengah berhantam berbareng menghentikan gerakannya dan mundur, serempak mereka memandang ke arah datangnya suara.
"Te-gak Suseng!"
Mereka berteriakan kaget.
Melihat Ji Bun, Siucay tua memandangnya dengan sorot penuh kebencian.
Dengan langkah berat Ji Bun menghampiri, lalu menghadapi laki-laki setengah umur yang menjadi pemimpin anak buah Ngo-hong-kau, suaranya dingin.
"Apa kedudukanmu di dalam Ngo-hong-kau?"
Laki-laki itu menyurut selangkah, katanya.
"Te-gak Suseng, kuharap kau tidak bersikap bermusuhan dengan pihak kami."
"Akan kuberantas kalian setan iblis ini!"
Berubah roman keenam orang.
"Te-gak Suseng,"
Kata laki-laki setengah umur geram.
"jangan lupa akan keselamatan jiwa tawanan kami?"
Menyinggung ibunda dan Thian-thay-mo-ki, hal ini malah mengobarkan amarah dan kebencian Ji Bun, yang tak terkendali lagi, sorot matanya mencorong benderang, hardiknya kalap.
"Serahkan jiwa kalian!"
Kaki menjejak maju, kedua tangan bergerak dengan sepenuh kekuatan, telapak tangan tegak menabas lalu menggaris melintang, gelombang angin dahsyat bagai amukan ombak samudra menggulung maju.
Kepandaian laki-laki setengah umur memang lihay, tahu-tahu tubuhnya berkelebat miring menghindar ke pinggir, berbareng pedangnya terayun.
Sinar pedangnya memanjang delapan kaki, membabat dari samping ke arah Ji Bun.
Betapa lihay serangan ini sungguh amat mengejutkan.
Dalam waktu yang sama, kelima pedang lainnya juga menyerang dari berbagai arah.
Kedua tangan Ji Bun sudah terlanjur menyerang dengan kekuatan penuh maka kakinya mendesak maju pula sambil menekuk badan.
Laksana kilat tangannya bergerak, dua orang kontan menjerit ngeri pedang terlempar dan badannya tersungkur tak bergerak.
"Mundur,"
Laki-laki setengah umur memberi aba-aba. Dia mendahului lompat jauh, ketiga temannya keruan ketakutan setengah mati berlomba mereka putar badan terus angkat langkah seribu.
"Kalian takkan lolos!"
Bentak Ji Bun.
Secepat anak panah meluncur tiba-tiba Ji Bun menyusul ke arah laki-laki setengah umur, telapak tangan diselingi tutukan jari yang mengandung racun bekerja, menutuk sambil mencengkeram.
Kontan laki-laki setengah umur mengerang panjang, badannya yang tengah lari terbanting keras, kepalanya melesak ke dalam tanah, jiwapun melayang seketika.
Sebat sekali Ji Bun menjemput sebatang pedang dari tanah.
Sekali ayun dia menimpuk ke arah pemuda yang tengah lari sipat kuping ke arah kanan, begitu pedang meluncur, cepat sekali dia melejit mengejar ke arah pemuda yang lari ke arah yang berlawanan itu.
Lolong panjang berkumandang dari arah sana, pedang menembus punggung ke dada dan memanteknya di atas tanah, pemuda itupun melayang jiwanya, sementara kedua orang lagi tersusul Ji Bun.
Seperti menjinjing anak ayam, batok kepala kedua orang dia adu hingga pecah berantakan, hanya sekejap enam orang sudah tamat riwayatnya.
Ji Bun putar balik menghampiri Hing-thian-it-kiam, katanya.
"Orang she Gui, selamat bertemu!"
Gui Han-bun menyurut mundur, suaranya dingin.
"Te-gak Suseng, apa kehendakmu?" 20.58. Pembasmi Jit-sing-po Serba salah, bagi Ji Bun tidak sukar untuk merenggut jiwa orang, namun mengingat perbuatan kejam dan kotor ayahnya dulu terhadap orang ini, kalau sekarang dirinya membunuhnya pula, sungguh hatinya tidak tega dan lagi melanggar azas kemanusiaan. Sebaliknya kalau dibebaskan, permusuhan ini entah berlarut sampai kapan.
"Dulu aku lolos dari kematian, maka aku bersumpah menuntut balas kepada Ji Ing-hong,"
Demikian desis Gui Han-bun.
"Memangnya kau mampu?"
"Anak muda, kalau hari ini aku mati ditanganmu, mungkin itu sudah suratan takdir."
Berputar pikiran Ji Bun, katanya kemudian.
"Orang she Gui, permusuhanmu dengan ayah, bolehkah ditunda sementara?"
"Tidak mungkin"
"Kalau sekarang aku membebaskan dirimu ......."
"Anak muda, kalau aku mati memang itulah nasibku, orang she Gui pantang mengemis hidup kepada orang lain."
"Orang she Gui, kalau kuinginkan kau mati, memangnya kau bisa hidup?"
"Silakan turun tangan,"
Pedang ditangannya segera melintang, sikapnya tak acuh dan siap menghadapi detik-detik kematiannya.
Perang batin bergejolak dalam sanubari Ji Bun, kalau musuh dibunuh, urusan akan beres, namun sekarang dirinya sebagai seorang pejabat Ciangbun dari sebuah aliran, segala tindakan pantang menuruti keinginan hati sendiri.
Pada saat itulah, bayangan seorang mendadak berkelebat ditengah udara dan meluncur tiba.
Kiranya seorang laki-laki tua baju hitam, wajahnya seram menakutkan.
Seketika mendidih darah Ji Bun melihat orang ini.
Orang yang baru datang langsung menghampiri si Siucay, katanya dengan menyeringai.
"Gui Han-bun, tak kira kau belum mampus."
"Siapa kau?"
Desis Gui Han-bun kereng.
"Inilah Kwe-loh-jin."
"Kwe-loh-jin apa?"
Tukas Ji Bun.
"dia inilah Ngo-hong Kaucu."
Gui Han-bun mundur beberapa langkah, teriaknya.
"Ngo-hong Kaucu?"
Ngo-hong Kaucu berpaling ke arah Ji Bun, katanya.
"Urusan kita boleh ditunda sementara."
Belum mulutnya selesai bicara, tahu-tahu bayangannya sudah merangsak ke arah Gui Han-bun, betapa hebat dan keji cara orang turun tangan sungguh mengejutkan.
Entah menggunakan jurus apa, di tengah suara bentaknya tahu-tahu pedang Gui Han-bun terjatuh, dadanya terluka panjang, pucat pias wajah Gui Han-bun.
"Gui Han-bun,"
Ngo-hong Kaucu terkial-kial dan maju selangkah seraya mengancam.
"kini tibalah saat kematianmu!"
Bayangan tangan berlapis-lapis membentuk sebuah gulungan yang meninggi, tahu-tahu bayangan gulungan ini melintir terus menggaris maju.
Hing-thian-it-kiam Gui Han-bun pejamkan mata, hakikatnya dia tidak mampu menangkis atau menghindar dari serangan telapak tangan yang hebat dari Ngo-hong Kaucu ini.
"Tahan!"
Di tengah bentakan keras.
"Blang"
Suara keras berkumandang pula, tampak Ngo-hong Kaucu tersurut mundur, tahu-tahu Ji Bun sudah menghadang di antara kedua orang.
"Te-gak Suseng,"
Teriak Ngo-hong Kaucu murka, apa maksudmu ini?"
"Tidak apa-apa, kularang kau membunuhnya."
"Anak keparat, kau tidak tahu kalau dia ini adalah satu Houhoat Wi-to-hwe?"
"Ya, aku tahu!"
"Kenapa kau membantu musuh malah?"
"Bukan urusanmu,"
Ji Bun berpaling lalu menambahkan.
"Orang she Gui, kau boleh pergi."
Gui Han-bun melenggong bingung, Ji Bun tidak membunuhnya malah menolong jiwanya, sungguh hal ini sukar diselami, namun sikapnya tetap angkuh.
"Tek-gak Suseng, aku tak mau terima kebaikanmu."
"Terserah!"
Jengek Ji Bun.
Tanpa bersuara tiba-tiba Ngo-hong Kaucu menyerang Ji Bun.
Sergapan mendadak ini membuat Ji Bun keripuhan, kontan dia terdesak beberapa langkah.
Tujuan Ngo-hong Kaucu bukan menyerang Ji Bun, setelah bikin Ji Bun mundur, secepat kilat dia berbalik menubruk ke arah Hing-thian-it-kiam Gui Han-bun, agaknya besar tekadnya hendak menamatkan riwayat orang ini.
Serasa pecah dada Ji Bun, Ngo-hong Kaucu terlalu licik, Lwekang orang terpaut tidak jauh dengan dirinya, untuk menolong Gui Han-bun terang tidak sempat lagi.
Untunglah pada detik-detik yang gawat itu, sejalur angin lunak tajam meluncur dari arah samping mengancam pelipis Ngo-hong Kaucu.
Ngo-hong-kaucu cukup cekatan, ia tahu betapa hebat serangan angin lunak ini.
Kaki seperti terpaku di tanah, tahu-tahu pinggangnva meliuk, terus mendoyong badan ke belakang, serangannya terpaksa urung dilancarkan.
Sedikit peluang ini sudah cukup memberi kesempatan kepada Ji Bun, mendadak telapak tangannya menabas, bencinya sudah kelewat takaran, maka serangannya ini menggunakan tenaga penuh, di tengah jerit kesakitan, Ngo-hong Kaucu tersurut lima langkah jauhnya.
Cepat sekali dua sosok bayangan orang berdiri di tepi gelanggang, seorang laki-laki setengah umur dengan muka codet, seorang yang lain adalah nyonya muda yang berwajah ayu laksana bidadari.
Yang muncul bersama ternyata suami-isteri Wi-to-hwecu Siangkoan Hong dan Hun-tiong Siancu.
Pandangan mereka tertuju ke arah Ji Bun sekejap lalu berpaling ke arah Ngo-hong Kaucu.
Munculnya kedua orang ini sunqguh di luar dugaan Ji Bun, dua pihak musuh yang yang saling bertentangan hari ini sama kesaplok di sini, hati Ji Bun tidak keruan rasa, siapa biang keladi pembantaian di Jit-sing-po kini bisa diadu maka untuk membeberkan secara jelas.
Bagi Ngo-hong Kaucu kini bertambah satu dosa, yaitu murid murtad dari Ban-tok-bun.
Dengan suara mantap Siangkoan Hong berkata.
"Ngo-hong Kaucu, sungguh pertemuan yang tak terduga."
Ngo-hong Kaucu terkekeh-kekeh, ujarnya dingin.
"Ya, pertemuan yang tak terduga."
Hun-tiong Siancu menyela bicara.
"Tapi semua permusuhan lama dan baru kebetulan bisa dibereskan sekaligus sekarang."
"Sudah tentu,"
Ngo-hong Kaucu tertawa-tawa dingin, lalu dia berputar menghadapi Ji Bun, katanya.
"Anak muda, kalau kau ingin melaksanakan syarat itu, kini adalah saatnya yang terbaik, aku malah akan membantumu, bagaimana?"
Inilah pancingan dan tekanan yang berat bagi Ji Bun.
Dengan kekuatan Ji Bun dan Ngo-hong Kaucu berdua mungkin tidak terlalu sukar untuk memenggal kepala Siangkoan Hong suami istri, itu berarti ibu dan Thian-thay-mo-ki akan segera bebas dari cengkeraman iblis.
Tapi apakah Ngo-hong Kaucu dapat dipercaya dan mau menepati janji?
Dengan jiwanya yang culas, licik dan kejam, bukan mustahil dia akan janji dan melakukan perbuatan kotor pula.
Apalagi dirinya sebagai pejabat Ciangbun suatu aliran yang disegani.
Pantaskah tunduk dan terima diperintah oleh seorang murid murtad?
Siangkoan Hong mengejek.
"Kaucu ingin meminjam tangan Tegak Suseng untuk menghadapi kami suami isteri, setelah keinginanmu terlaksana lalu hendak merajai Bu-lim dan menguasai dunia, apakah caramu ini tidak terlalu kotor dan hina?"
Jawab Ngo-hong Kaucu tanpa mengunjuk perobahan air muka.
"Untuk mencapai cita-cita besar harus menggunakan cara yang luar biasa pula."
"Dengan cara luar biasa, pasti akan mendapat ganjaran yang luar biasa pula,"
Tiba-tiba Hun-tiong Siancu melengking tinggi. Ji Bun tidak sabar mendengar perang mulut ini, sekilas matanya menyapu para hadirin, lalu katanya dingin.
"Siapa sebetulnya yang melakukan pembantaian di Jit-sing-po?"
"Siangkoan Hong,"
Ngo-hong Kaucu segera bersuara.
"Kau tidak berani mengaku?"
Siangkoan Hong tertawa dingin, baru saja dia mau bicara, tiba-tiba Hing-thian-it-kiam Gui Han-bun tampil ke depan, katanya tegas.
"Ji Bun, akulah yang melakukan."
Tersirap darah Ji Bun, kepalanya terasa berat seketika, teriaknya.
"Kau?"
Sikap Hing-thian-it-kiam Gui Han-bun tampak amat menderita, katanya.
"Betul, akulah yang melakukan, sayang Ji Ing-hong sendiri dapat lolos."
Memuncak nafsu Ji Bun, sekian lamanya dia mengira biangkeladi pembunuhan orang-orang Jit-sing-po adalah Wi-to-hwe dan Ngo-hong-kau.
Kini teryata dugaannya meleset, yang melakukan adalah Hing-thian-it-kiam Gui Han-bun.
Walau diluar dugaan, sebetulnya kejadian inipun bisa diterima bila dipikir dengan sehat, karena Hing-thian-it-kiam ada alasan sendiri pula untuk melakukan pembantaian besar-besaran ini.
"Tuan sendiri yang melakukan? Kau ...... mampu?"
"Kenapa tidak mampu?"
"Dengan kekuatanmu seorang sanggup membunuh Jit-sing-lak-ciang dan lain-lain?"
"Ji Bun, bicara terus terang, dikala aku turun tangan, kebetulan Siangkoan Hwecu juga meluruk datang hendak menuntut balas kepada ayahmu, tapi kenyataan ayahmu sendiri menyembunyikan diri."
"Bagus, sekarang tibalah saat kematianmu sendiri, tentunya kau tidak akan menyesal."
"Nanti dulu ......."
Seru Siangkoan Hong sambil angkat tangan.
"Hwecu ada pendapat apa lagi?"
Tanya Ji Bun garang.
"Gui-Houhoat adalah anggota kami, sama-sama menghadapi musuh, pengalaman kamipun sama ......"
"Memang permusuhanku dengan kalian suami isteri juga belum beres?"
"Boleh diperhitungkan sekarang juga."
"Bagus sekali!"
Kata Ji Bun. Ngo-hong Kaucu menyeringai dingin, katanya. Ji Bun, seorang diri jangan harap kau bisa menuntut balas. Bagaimana kalau aku membantumu?"
"Tutup mulutmu, urusanku tak usah kau turut campur."
Ngo-hong Kaucu membuka tangan sambil angkat pundak, katanya mundur selangkah.
"Kalau begitu biarlah aku nonton saja."
Kalau Siangkoan Hong suami isteri bergabung dengan Gui Han-bun, pihak mana yang bakal gugur memang sukar diramalkan.
Tapi Ji Bun berwatak keras dan angkuh, betapapun dia tidak sudi dibantu orang luar, apalagi Ngo-hong Kaucu sendiri arus menyelesaikan dua persoalan dengan dirinya, ini lain dari kenyataan, sebetulnya dia harus menumpasnya lebih dulu.
Hing-thian-it-kiam Gui Han-bun memberi hormat kepada Siangkoan Hong, katanya.
"Hwecu, pertikaian ini biarlah kuselesaikan sendiri."
"Gui-Houhoat, bukan lantaran kau adalah Houhoat kami maka aku mencampuri urusan ini, tapi demi keadilan dan kepentingan umum."
Gui Han-bun bungkam.
Sebaliknya Ngo-hong Kaucu mendongak dengan gelak tertawa dingin yang panjang.
Ji Bun tambah waspada, kalau Gui Han-bun sudah mengaku sebagai biangkeladi dari pembataian besar di Jit-sing-po, tentu orang tidak akan melarikan diri, hal ini bisa diselesaikan menurut aturan Kangouw secara adil.
Lain halnya tengan Ngo-hong Kaucu yang kejam dan licik serta banyak muslihatnya ini.
Siapa dia sebenarnya masih merupakan tanda tanya.
Kalau hari ini dirinya tak sempat membekuk atau mengalahkan dia, perubahan apa yang akan terjadi kelak sulit diramalkan.
Mendadak dia melangkah ke arah Ngo-hong Kaucu, katanya.
"Marilah urusan kita selesaikan lebih dulu."
Ngo-hong Kaucu bersuara heran, tanyanya. Ji Bun, apa maksudmu?"
"Urusanku dengan kau lebih penting untuk segera dibereskan."
"Kau tidak ingin menolong tawananku dulu?"
"Jangan kau kira dapat memeras aku dengan para tawanan itu."
"Te-gak Suseng, kau tidak ingat sakit hatimu lagi, kau akan menyesal ......"
"Siangkoan Hwecu dan lain-lain adalah insan persilatan yang sejati, aku percaya kepada mereka, takkan melakukan perbuatan licik dan kotor,"
Jawab Ji Bun.
"Jadi kau tak percaya padaku?"
Dengus Ngo-hong Kaucu.
"Kalian hendak mengeroyokku?"
"Tua bangka, mereka tidak akan membantuku, namun betapa besar hasrat mereka untuk membunuhmu, umpama mereka turun tangan, aku juga tidak perduli."
Ngo-hong Kaucu menyurut mundur, suaranya gemetar jeri.
"Dengan cara apa kau selesaikan perhitungan ini?"
Ji Bun mengertak gigi, katanya.
"Sebelum turun tangan, aku ingin tanya, pernah apa ayahku dengan kau?"
Ngo-hong Kaucu terloroh-loroh, serunya.
"Darimana kau bisa bilang demikian?"
"Jangan mungkir, hatimu sendiri sudah tahu."
"Tahu apa?"
"Dari asal usul Tok-keng, kau pasti punya satu hubungan dengan ayahku."
Memancar terang biji mata Ngo-hong Kaucu, katanya menyeringai.
"Ji Bun, jadi kau sedang mengejar jejak Tok-keng itu? Baiklah biar kuberi tahu, Ji Ing-hong memang punya hubungan yang intim sekali dengan aku."
Bergetar tubuh Ji Bun, tanyanya mendesak.
"Kau pasti tahu di mana ayahku."
"Sudah tentu, kau ingin menemuinya? Kalau kau sudah melaksanakan syaratku, aku pasti beri sempatan untuk berkumpul dengan ayah bundamu."
"Jadi .... dia ....... juga kau kurung?"
"Ah, cuma jadi tamuku saja."
Siangkoan Hong, Hun-tiong Siancu dan Hing-thian-it-kiam Gui Han-bun sama bersuara kaget, mereka belum merasa lega sebelum membunuh Ji Ing-hong si durjana, kini setelah tahu dimana dia berada, keruan dalam hati mereka bersorak girang.
Terutama Ji Bun, hatinya dirangsang emosi yang meluap-luap sampai badannya gemetar, ternyata ayahnya masih hidup, dugaan Ciang Wi-bin ternyata tidak meleset.
"Tapi kau pernah bilang ayahku sudah gugur di tangan Thong-sian Hwesio."
"Ada kalanya membual akan ada faedahnya juga bagiku?"
"Hina, tidak tahu malu!"
"Kini bukan saatnya ngobrol, kau harus segera memberi keputusan."
Gemertak gigi Ji Bun, desisnya.
"Biar kubunuh kau lebih dulu,"
Tubuhnya segera menubruk ke arah, Ngo-hong Kaucu.
Ngo-hong Kaucu menggeram sekali, dengan mengerahkan seluruh kekuatannya kedua tangan terangkat, menyongsong maju.
Lwekangnya hasil ajaran dari Hud-sim, betapa hebat, kuat dan lihaynya tiada lawan lagi di seluruh jagat ini, kecuali Tok-jiu-sam-sek, tiada jurus ilmu manapun yang mampu mengatasinya.
"Plak,"
Keduanya tertolak mundur beberapa langkah.
Serempak Siangkoan Hong suami-isteri dan Gui Han-bun berlompatan terpencar menduduki posisi masing-masing, agaknya mereka ingin turun tangan dalam setiap kesempatan.
Ji Bun menyapu pandang mereka bertiga, katanya.
"Kalian jangan ikut campur ......"
Hanya karena lena sejenak untuk bicara ini, tahu-tahu bayangan Ngo-hong Kaucu berkelebat pergi dan lenyap ke dalam hutan.
"Lari kemana!"
Serentak berempat orang membentak, secepat kilat mereka berlomba mengejar.
Tak pernah terpikir oleh Ji Bun, bahwa sebagai seorang Kaucu, orang ternyata serendah dan sehina itu perbuatannya, keruan benci dan dongkolnya bukan kepalang, reaksinya amat cepat dan cekatan, namun hanya terpaut sedetik saja, ternyata Ngo-hong Kaucu sudah lenyap tanpa ketahuan parannya.
Di antara mereka berempat termasuk Hun-tiong Siancu yang memiliki gerakan tubuh paling aneh dan cepat, sayang peringatan Ji Bun tadi sedikit banyak memancarkan perhatian mereka.
Kalau tidak tak mungkin Ngo-hong Kaucu bisa lolos sedemikian mudah.
Hampir meledak dada Ji Bun, seperti orang kesurupan dia mengobrak-abrik hutan, lari kesana terjang kemari, seluruh pelosok hutan dijajaki, namun hasilnya tetap nihil.
Akhirnya dia kembali ketempat semula, baru memutar badan, tiga bayangan berturut-turut juga melayang datang, mereka Siangkoan Hong suami-isteri dan Gui Han bun.
Mereka tidak kabur, dalam hati Ji Bun diam-diam memuji akan sepak terjang mereka yang jujur dan dapat dipercaya.
Karena itu sikap Ji Bun tampak sedikit lunak, namun ini tidak menurunkan rasa dendamnya, ini hanya soal sikap dan tindakan saja.
Karena pengalaman yang berbeda-beda, watak Ji Bun beruntun ikut berubah pula, dan perubahan ini merupakan gemblengan sehingga Ji Bun sekarang menjadi insan persilatan yang sejati pula.
Siangkoan Hong berkata dengan nada serius.
"Ji Bun, berkat bantuanmu atas pertolongan terhadap isteri dan puteriku, kusampaikan ucapan terima kasih."
"Kukira tidak perlulah."
"Insan persilatan mengutamakan perbedaan antara dendam dan budi secara jelas."
"Hwecu ingin mencampuri urusanku dengan Gui Han-bun?"
"Pendirianku tadi sudah kuterangkan, mau tak mau aku harus ikut campur."
"Baik, perlu juga kutandaskan, siapa yang ikut campur, tetap kupandang sebagai musuhku?"
"Menurut kenyataan, memang antara kita ada ikatan permusuhan, walau ini buah hasil perbuatan jahat ayahmu."
"Bagus sekali, kini saatnya aku turun tangan!"
Habis berkata Ji Bun melangkah ke sana menghadapi Hing-thian-it-kiam Gui Han-bun.
Muka Gui Han-bun merah padam, benci dendam menjalari sanubarinya, meski hatinya tegang dan dilandasi emosi, namun dia tidak gentar menghadapi saat-saat akhir dari adu jiwa ini.
walau dia sendiri menyadari kepandaian sendiri adalah paling lemah di antara empat orang yang hadir.
"Ji Bun,"
Tiba-tiba Siangkoan Hong bersuara dengan angkat sebelah tangan.
"aku masih ingin bicara. Kenyataan tidak boleh disangkal, Gui-Houhoat bukan tandinganmu ......."
"Lalu kenapa?"
"Kau boleh robohkan kami berdua dulu baru jiwa Gui-Houhoat akan kuserahkan kepadamu."
"Jadi kecuali mati, urusan ini takkan selesai demikian saja?"
Kusut hati Ji Bun, ia bertekad membunuh Gui Han-bun untuk membalas kematian para korban di Jit-sing-po.
Terhadap Siangkoan Hong suami isteri, ia tidak berniat membunuh mereka, kini keadaan memaksa dirinya melawan tiga orang, tiada pilihan lain dia harus menggunakan ilmu beracun.
"Kalian maju bersama?"
Tanyanya.
"Menilai perbuatan ayahmu Ji Ing-hong, untuk menghadapi kau boleh menggunakan cara apapun, tapi kami tidak ingin menjadi buah tutur orang lain, marilah kita selesaikan pertentangan ini dengan aturan Kangouw, satu lawan satu."
Menyinggung perbuatan ayahnya, bicara soal permusuhan kedua pihak, ini merupakan derita yang tak terlukiskan dalam batin Ji Bun.
Setiap insan persilatan yang sejati lebih cenderung untuk menyelesaikan segala pertikaian dengan keadilan, kesetiaan dan kebijaksanaan.
Kini dirinya berada di pihak yang keliru, membela pihak yang salah, adalah jamak kalau merekapun berhak menggunakan cara apapun untuk menghadapi dirinya.
Kenyataan telah mendesak dirinya ke sudut, terpaksa dia harus menghadapi segala persoalan ini tanpa mengingat risikonya.
Sejenak dia terdiam, lalu berkata dingin.
"Siangkoan Hwecu, kalau bertanding satu lawan satu, kau tidak akan unggul dalam tiga gebrak."
Dalam dunia persilatan masa kini siapa yang berani bicara seangkuh dan sesombong begini terhadap Wi-to-hwecu, namun yang bicara adalah Te-gak Suseng, meski terlalu temberang, tapi siapapun tak berani menyangkal akan kebenaran ini.
Berubah rona muka Siangkoan Hong, katanya dingin.
"Te-gak Suseng, agaknya tiada orang lain yang terpandang olehmu?"
"Aku berani membuktikan ucapanku."
"Kau berani bertaruh dengan aku?"
Tiba-tiba Hun-tong Siancu menyela.
"Bertaruh apa?"
Sebelum bicara Hun-tiong Siancu melirik kearah Siangkoan Hong, maksudnya supaya tidak campur bicara, lalu katanya dengan nada berat.
"Apakah akupun tak kuasa menghadapi tiga jurus serangan?"
Terhadap Hun-tiong Siancu, Ji Bun tidak berani membual, namun dasar berwatak angkuh, sikapnya tetap keras.
"Mungkin saja,"
Jengeknya.
"Baiklah kita bertaruh dalam tiga gebrak,"
"Bertaruh bagaimana?"
"Akan kuterima tiga jurus seranganmu, kalau kalah, batok kepala kami bertiga boleh kau penggal sesuka hatimu ......"
Pertaruhan ini amat megejutkan, diam-diam Ji Bun sendiri merasa mengkirik.
"Tapi kalau beruntung aku sanggup menerima seranganmu ...... kau harus batalkan tuntutanmu terhadap Gui-Houhoat, biarlah dia sendiri membereskan perrmusuhannya dengan ayahmu."
"Dan kalian suami isteri?"
Tanya Ji Bun.
"Kami akan mencari ayahmu juga, tapi setiap saat kami tetap menerima tantanganmu."
Ji Bun berpikir sejenak, katanya tegas.
"Baik, kuterima tantangan ini."
"Jangan Siancu,"
Tiba-tiba Hing-thian-it-kiam Gui Han-bun tampil ke depan. Hun-tiong Siancu menoleh, katanya melengak "Ada pendapat apa Gui-Houhoat?"
"Aku keberatan akan pertaruhan ini,"
Kata Gui Han-bun.
"Apa yang telah kuucapkan tak boleh berubah lagi."
Sahut Hun-tiong Siancu.
"Tapi hatiku takkan tenteram selama hidup ini."
"Silakan mundur Gui-Houhoat, tak usah banyak bicara lagi,"
Suaranya lembut, namun siapa yang mendengar takkan berani melawannya.
Gui Han-bun mengertak gigi, apa boleh buat, terpaksa dia melangkah mundur, baru dia hendak bicara lagi, tiba-tiba Siangkoan Hong menggoyang tangan mencegahnya.
20.59.
Dendam Dibalas, Budi Pun Harus .....
Tadi sudah timbul hasrat Ji Bun hendak memberitahu Gui Han-bun tentang Khong-kok-lan So Yan, namun saat lain dia batalkan niatnya.
Soalnya dia tidak boleh membongkar rahasia Ciang Wi-bin, lagi peduli bagaimana asal usul dan sepak terjang Khong-kok-lan, betapapun dia semula adalah isteri resmi ayahnya, pertikaian ini memang sulit diselesaikan.
Tujuan hari ini membunuh Gui Han-bun adalah menuntut balas bagi seluruh penghuni Jit-sing-po yang menjadi korban.
"Te-gak Suseng,"
Ujar Hun-tiong Siancu.
"sekarang kau boleh siap turun tangan."
Tiba-tiba tergerak hati Ji Bun, katanya "Siancu mengandalkan ilmu Yan-hun-hu-deh ......."
"Ji Bun,"
Potong Hun-tiong Siancu sambil angkat sebelah tangannya.
"tiga jurus kuterima seranganmu tanpa menggunakan gerakan apapun."
Hati Ji Bun sudah mantap, katanya.
"Siancu boleh saja menggunakan gerakan tubuh itu, tapi cayhe perlu memperingatkan, seranganku mengandung racun yang amat jahat."
"Tanpa kau katakan juga aku sudah tahu,"
Sahut Hun-tiong Siancu tanpa pikir.
"Baiklah! Nah sambutlah pukulan pertama!"
Tok-jiu-it-sek segera dilancarkan dengan mengerahkan seluruh kekuatannya.
Lwekang Hun-tiong Siancu memang paling tinggi di antara mereka bertiga, jika dia tidak kuasa menerima tiga jurus serangan ini, sudah tentu Siangkoan Hong dan Gui Han-bun juga bukan tandingan Ji Bun pula, bahwa Hun-tiong Siancu mengadakan pertaruhan dengan tiga jurus serangan ini, maksudnya adalah untuk menghindari bentrokan habis-habisan, biarlah seorang berkorban daripada bertiga gugur bersama, apalagi bukan mustahil dirinya mampu menerima tiga jurus serangan Ji Bun.
Tanpa sengaja beruntun Ji Bun pernah menanam budi terhadap musuh-musuhnya.
Pertama dia menolong Siangkoan Hong yang keracunan, kemudian secara beruntun tiga kali menyelamatkan Siangkoan Hwi lagi.
Di tempat semayam Sam-lim-li-sin iapun bantu memberantas orang-orang Ngo-hong-kau yang menyerbu datang.
Setengah jam yang lalu iapun menolong jiwa Gui Han-bun dari renggutan elmaut Ngo-hong Kaucu.
Dengan berbagai alasan ini, maka Hun-tiong Siancu bertiga merasa rikuh dan tidak enak hati untuk mengeroyoknya.
Akan tetapi perbuatan jahat ayahnya memang kelewat takaran, bagaimanapun juga tidak terlampias sebelum mencacah tubuhnya.
Oleh karena itu, persoalan di antara mereka menjadi berkepanjangan.
Hal inipun dimaklumi oleh Ji Bun, maka begitu turun tangan segera dia kerahkan seluruh kekuatannya.
Penderitaan hidup Hing-thian-it-kiam Gui Han-bun memang harus dikasihani, namun dosa dan perbuatannya yang telah membantai seluruh penghuni Jit-sing-po betapapun takkan terampunkan, untuk membunuhnya, terpaksa Ji Bun harus mengalahkan Hun-tiong Siancu pula.
Maka pertempuran kali ini merupakan pertempuran mati hidup, jika Hun-tiong Siancu kalah berarti tiga batok kepala harus diserahkan mentah-mentah.
Oleh karena itu, Hun-tiong Siancu pun tidak berani lena, dia gerakkan kedua tangan, membundar terus menggaris ke depan.
"Blang, blung", benturan keras terjadi beberapa kali, dengan mudah ternyata Hun-tiong Siancu berhasil menyambut serangan pertama. Serasa membeku hati Ji Bun. Kepandaian perempuan ini memang amat mengejutkan, inilah lawan satu-satunya yang paling tangguh selama ini. Bukan saja tidak gentar terhadap serangan racun, dia pula orang pertama yang kuasa memunahkan serangan tangan beracun yang ampuh ini. Keringat mulai membasahi jidat Hun-tiong Siancu, hal ini menandakan betapa tegang hatinya. Begitu mundur, Ji Bun segera membentak.
"Sambutlah jurus kedua."
Tok-jiu-ji-sek segera dilontarkan pula.
Kali ini Hun-tiong Siancu rada menungging, mulutnya mengerang tertahan, kakinya tersurut tiga-empat langkah, wajahnya kelihatan pucat, namun jurus kedua ini dapat dia terima tanpa kurang suatu apa-apa.
Kini tinggal jurus terakhir, jurus yang menentukan mati hidup.
Saking tegang badan Gui Han-bun sampai gemetar, telapak tangan berkeringat dingin.
Demikian pula keringat Siangkoan Hwecu juga gemerobyos.
Tambah cemerlang sinar mata Ji Bun, pelan-pelan matanya menyipit, mulut terkancing rapat, sikap dan perbawanya amat menggetarkan nyali setiap orang yang menghadapinya.
Terdengarlah kata-kata berat, yang mengandung nafsu membunuh dari mulutnya laksana godam yang mendentam di sanubari orang.
"Jurus terakhir!"
Agak bergetar tubuh Hun-tiong Siancu, mukanya yang pucat membesi hijau, wajahnya nan molek jelita, menjadi guram dan sayu, butir-butir keringat bak mutiara nan berkilau menghiasi jidatnya.
Inilah jurus yang menentukan, Ji Bun sendiripun amat tegang.
Telapak tangan pelan-pelan bergerak ke atas, udara serasa membeku dan mencekam perasaan.
Terbeliak mata Gui Han-bun dan Siangkoan Hong, babak terakhir dari pertandingan yang jarang terjadi selama seratus tahun terakhir di Bu-lim akan berlangsung.
Telapak tangan Ji Bun terangkat tinggi tiba-tiba menggaris tegak dibarengi dengan pekik panjang yang mengerikan.
Inilah Tok-jiu-sam-sek -yaitu Giam-ong-san-khek.
Hun-tiong Siancu melintangkan kedua tangan, masing-masing menggaris setengah lingkaran lalu beradu di depan dada untuk bertahan, hawa seketika seperti teriris oleh pisau tajam sehingga mengeluarkan suara mendesis tajam.
"Huuaaah ....."
Di tengah jeritan ngeri, tampak Hun-tiong Siancu terlempar jatuh.
Siangkoan Hong bersama Gui Han-bun berteriak kaget sambil memburu maju.
Dalam sekejap itu Ji Bun sendiri merasa pening kepalanya, matanya berkunang-kunang, hawa dan tenaga murni yang ia kerahkan terlampau besar, mau tidak mau badannya gemetar, saking lelah langkahnya sampai sempoyongan.
Kalau Siangkoan Hong dan Gui Han-bun tidak hiraukan aturan Kang-ouw segala dan turun tangan bersama, Ji Bun sendiri menjadi ragu apakah dia mampu menghadapi kedua lawan ini.
Untunglah Siangkoan Hong hanya mendelik dengan pandangan murka luar biasa.
Sebaliknya Gui Han-bun juga tampak gemetar dan sempoyongan karena dirangsang emosi.
Disana Hun-tiong Siancu telah meronta bangun, namun baru setengah berdiri, tubuhnya tersungkur lagi.
Kalau dia mau menggunakan gerakan tubuhnya yang lihay atau balas menyerang, mungkin keadaan sekarang jauh berbeda.
Namun secara mentah-mentah dia terima tiga kali serangan, walaupun kalah, betapapun Ji Bun merasa kagum dan memuji dalam hati.
Seorang perempuan namun memiliki jiwa kesatria, siapapun akan tunduk dan merasa simpatik padanya.
Pandangan Ji Bun dari Siangkoan Hong beralih kearah Gui Han-bun dan berhenti.
Gui Han-bun mendongak sambil menghela napas panjang, katanya rawan.
"Hwecu, Siancu, biarlah Han-bun membalas budi kalian pada penitisan yang akan datang. Thian memang kurang adil, kenapa setan iblis dibiarkan merasuk jiwa manusia ....."
Betapa besar dendam dan kebencian hatinya, dirundung kepedihan dan kedukaan pula.
"Gui Han-bun,"
Seru Ji Bun.
"siaplah untuk mempertahankan dirimu, dengan tanganku akan kubunuh kau."
Dengan gemetar Hing-thian-it-kiam Gui Han-bun mundur setapak, suaranya gemetar "Silakan, aku akan bertahan sekuat tenaga."
Pada saat dulah tiba-tiba sebuah suara lemah berkata;
"Tahan, aku toh belum mati!"
Waktu Ji Bun menoleh, tampak Hun-tiong Siancu telah berdiri, wajahnya pucat pasi.
Memang dia tidak mati, namun terluka parah, lalu apakah dapat dianggap mampu terima serangannya atau tidak?
Sayang pada permulaan mengikat pertaruhan tiga jurus ini tidak dinyatakan secara tegas.
Kalau tidak mati berarti kuat menerima tiga kali serangan, demikian pula sebaliknya, kalau mati berarti kalah.
"Ji Bun,"
Seru Siangkoan Hong penuh haru, menurut aturan biasanya, ketiga jurus seranganmu terhitung sudah diterima dengan baik."
Ji Bun menggigit bibir, memang omongan ini tidak salah, sebab walau lawan roboh, namun masih kuat berdiri pula meski terluka parah. Tengah ia menimang-nimang.
"pluk", tiba-tiba dilihatnya Hun-tiong Siancu tersungkur jatuh pula, mukanya membiru, bibirnya terkancing kencang, lama sekali tak bergerak lagi. Sekilas pandang Ji Bun lantas mengerti jiwa orang tinggal menunggu waktu belaka kalau tidak segera diberi pertolongan, itulah tanda-tanda racun tengah bekerja ditubuh orang. Tangan beracun Ji Bun kini sudah bisa dilancarkan sesuka hatinya, dalam tiga jurus serangannya tadi iapun gunakan ilmu racun yang hebat. Setelah terluka, keracunan lagi, namun jiwa Hun-tiong Siancu tidak melayang seketika, betapapun hal ini amat mengejutkan sekali. Naga-naganya Hun-tiong Siancu sudah meyakinkan Hu-sin-sin-cin, semacam ilmu pelindung badan yang kebal dari segala racun, maka serangan jurus pertama dan kedua tidak membikinnya cedera apapun. Namun jurus ketiga dia terluka, pertahanan ilmu kebalnya pun dengan sendirinya menjadi bobol sehingga tak kuasa melindungi badan. Begitu racun menyerang dada, maka terjadilah keadaan yang menyedihkan ini. Sudah tentu Siangkoan Hong maklum akan hal ini.
"Siangkoan Hwecu,"
Ujar Ji Bun dingin.
"apa pula yang ingin kau katakan?"
Siangkoan Hong menggerung murka, serunya.
"Ini memang takdir, kaulah yang menang."
"Bagaimana janjimu?"
"Tentu akan kulaksanakan."
Ji Bun benar-benar diliputi emosi yang meluap-luap kematian Gui Han-bun sudah terhitung mengakhiri permusuhan kematian orang-orang Jit-sing-po.
Dengan membekal batok kepala Siangkoan Hong suami isteri, berarti dirinya dapat barter dengan keselamatan ibu dan Thian-thay-mo-ki, dan tugas selanjutnya adalah mencuci bersih nama baik perguruan, menumpas murid murtad, Ngo-hong Kaucu harus ditundukkan dan dibekuk untuk menerima hukuman sesuai peraturan perguruan.
Tersimpul senyum getir pada wajahnya, senyum getir yang mengandung, perasaan lega dari dendam dan penasaran.
Betapa susah untuk mencapai hasil ini.
"Omitohud!"
Sabda Buddha yang merdu nyaring tiba-tiba memecah kesunyian yang mencekam perasaan orang.
Tampak seorang Nikoh tua tiba-tiba muncul.
Waktu Ji Bun menoleh ke sana, napasnya seketika terasa sesak.
Yang muncul bukan lain adik sepupu Pek-ciok Sin-ni, yaitu Toh Ji-lan, yang dulu selalu berada di dalam tandu.
Tempo hari hampir saja jiwa Ji Bun melayang di tangan orang ini, untunglah mendadak Toh Ji-lan melihat tanda pengenal Ji Bun yang terjatuh, setelah tanya jawab berlangsung barulah diketahui bahwa Nikoh tua ini ternyata adalah kekasih Giok-bin-hiap Cu Kong-tan, alias orang tua aneh di dasar jurang yang pernah memberi ajaran Ginkang "angin lesus"
Serta menyalurkan seluruh Lwekang pada tubuhnya.
Kini Toh Ji-lan, si orang dalam tandu bisa muncul di tempat dan waktu ini, sungguh di luar dugaan Ji Bun.
Lekas Siangkoan Hong dan Gui Han-bun memberi hormat kepada Nikoh tua ini.
Nikoh tua itu menatap tajam ke muka Ji Bun.
Tersipu-sipu Ji Bun memberi hormat juga, katanya.
"Selamat bertemu Locianpwe, baik-baik saja selama berpisah?"
Nikoh tua mengiakan sambil angkat sebelah tangan di depan dada. Ji Bun bertanya pula.
"Apakah Cu-cianpwe juga baik-baik?"
Kelam wajah si Nikoh tua, katanya sambil memejamkan mata.
"Dia sudah meninggal dunia."
"Apa?"
Ji Bun kaget.
"Cu-cianpwe sudah meninggal dunia?"
"Ya, dia amat berterima kasih akan bantuanmu sehingga keinginannya tercapai, yaitu memberi kabar kepadaku. Disamping itu beliau juga memperhatikan sepak terjangmu sejak meninggalkan Pek-ciok-hong ......."
Sudah tentu Ji Bun maklum apa arti kata-kata ini, katanya sungguh-sungguh.
"Sejak mendapat saluran Lwekang dari Cu-cianpwe, selama ini Wanpwe takkan melupakan budi kebaikan ini, sungguh menyesal tiada jalan lain untuk membalas budi ini, namun Wanpwe juga yakin, selama ini tak pernah melukai orang yang tidak berdosa, apalagi salah membunuh orang."
"Bagus sekali, kalau tahu, tentu Cu-Kong-tam akan merasa lega dan tenteram di alam baka."
"Entah ada petunjuk apa pula akan kedatangan Cianpwe ini?'' "Kau tahu betapa perbuatan ayahmu?"
"Wanpwe tahu,"
Sahut Ji Bun mengertak gigi.
"Tentunya kau juga maklum betapa mengerikan dan penderitaan Siangkoan Hwecu dan Gui Han-bun karena perbuatan ayahmu?"
Ji Bun mengiakan sambil manggut-manggut.
"Menurut pendapatku, watak dan karaktermu jauh berbeda dengan ayahmu, kau berjiwa luhur dan bijaksana, sudilah kau mendengar sepatah kataku?"
"Mohon diberi pengertian."
"Sudikah kiranya kau membatalkan tuntutan balas dendam ini?"
Sejenak Ji Bun berdiam diri, lalu katanya dengan suara berat.
"Locianpwe, dalam keadaan seperti Wanpwe sekarang ini, kukira sulit?"
"Maksudku pertikaian angkatan tua, biarlah diselesaikan sendiri oleh orang tuamu."
"Tapi sebagai seorang putera yang harus berbakti terhadap orang tuanya, meski tahu sesuatu itu tidak pantas kulakukan, terpaksa harus kulakukannya juga!"
"Jadi kau harus memenggal kepala mereka bertiga?"
Ji Bun terkancing mulutnya, hatinya mendidih, resah dan gundah, sakit hati harus dibalas, budi juga harus dibalas.
Jika tiada Cu Kong-tam, tiada hari ini bagi dirinya, kalau menuruti nasihat Toh ji-lan membatalkan balas dendam ini, betapapun hatinya takkan tenteram sepanjang masa.
Sejenak berpikir, akhirnya ia berkata.
"Baiklah, mengingat Cu-cianpwe, Wanpwe berjanji untuk memberi kelonggaran sekali ini."
"Tidakkah mereka yang bermusuhan saja menyelesaikan sendiri urusan ini."
"Maaf, Wanpwe tidak bisa terima usul ini."
"Baik, kuturuti kehendakmu."
Tak nyana urusan bisa berakhir demikian, hati Ji Bun menyesal juga marah, namun apa boleh buat, katanya kemudian.
"Wanpwe mohon diri!"
Tubuhnya sudah berputar pergi, namun tiba-tiba merandek sambil merogoh kantong dan mengeluarkan sebutir pil terus dilemparkan ke arah Nikoh tua, serunya.
"Toh-locianpwe, inilah obat penawar untuk menolong Hun-tiong Siancu."
Nikoh tua menerima obat itu, serunya haru.
"Pin-ni akan selalu ingat kebaikkanmu ini."
"Tidak perlulah!"
Ujar Ji Bun, segera ia berlari pergi.
Ji Bun sendiri tidak mengerti kenapa dia berbuat demiklan, jelas musuh terluka parah, kenapa memberi obat untuk menolong jiwanya malah tiada penjelasan lain.
Inilah perbuatan seorang kesatria, kelakuan seorang laki-laki sejati, karena dia tak pernah lupa bahwa dirinya adalah pejabat ketua suatu aliran perguruan, sepak terjang dan perbuatan harus selalu menjunjung kebesaran dan kejayaan nama Ban-tok-bun.
Setelah berlari-lari sekian lamanya, entah berapa jauh telah ditempuhnya, gejolak hatinya mulai mereda, kini dia menerawang tindakan selanjutnya.
Ayahnya juga terkurung di Ngo-hong-kau, tidak heran selama ini tidak pernah mengadakan kontak dengan dirinya, pertama kali bertemu dengan ayahnya bilang pihak Wi-to-hwe biang keladi dari pembantaian orang-orang Jit-sing-po, padahal, si Siucay tua alias Hing-thian-it-kiam Gui Han-bun waktu itu belum masuk jadi anggota Wi-to-hwe, hal ini jelas serba bertentangan satu sama lain, mungkinkah ayahnya waktu itu juga hanya menduga-duga dan menaruh curiga belaka?
Kelicikan dan kemunafikan Ngo-hong Kaucu dirasakan amat sukar dihadapi, tapi toh harus ditumpas dan dibereskan juga oleh tangan sendiri.
Biau-jiu Siansing Ciang Wi-bin ada janji untuk bertemu di kota Cinyang, kini tiba saatnya untuk bertindak menurut langkah-langkah yang direncanakan.
Di Cinyang dia bisa berunding sama Ciang Wi-bin, mencari daya untuk menolong ayahnya, disamping memberi penjelasan langsung terhadap Ciang Bing-cu soal perjodohan mereka.
Seorang laki-laki harus menepati janji, soal ini harus selekasnya diselesaikan.
Mengenai permusuhannya dengan Siangkoan Hong untuk sementara biarlah ditunda dulu.
Demikianlah ia lantas menuju ke Cinyang.
Hari itu ia tiba di Cinyang, ia tahu pasti ada orang yang diam-diam menguntit dirinya, maka ia tidak perlu buru-buru menuju ke "gedung setan", langsung dia mencari hotel kelas rendah yang letaknya di gang kecil.
Setelah makan malam, dia rebahkan diri menghabiskan waktu.
Yang dia kuatirkan bila rahasia Ciang Wi-bin terbongkar dan mengalami petaka di luar dugaan, pihak Ngo-hong-kau jelas tidak akan menyia-nyiakan setiap kesempatan.
Kalau tidak, dengan kepandaiannya sekarang hakikatnya tidak perlu merahasiakan gerak-geriknya sendiri.
Kira-kira kentongan kedua, setelah meringkasi seperlunya, segera dia buka jendela dan melompat keluar langsung menuju luar kota.
Setelah yakin tiada orang yang menguntit baru, dia putar balik ke dalam kota, langsung menuju ke gedung setan.
"Gedung setan"
Yang hening dan seram itu sudah apal baginya.
Ji Bun langsung menuju ke pekarangan kecil di mana tempo hari dia pernah bersua dengan Khong-kok-lan So Yan.
Malam pekat, sunyi senyap, tiada sinar lampu, tidak terdengar suara manusia, diam-diam merinding bulu kuduk Ji Bun.
Menurut kebiasaan, kedatangan dirinya pasti sudah diketahui oleh penghuni rumah maka dia batuk pelan-pelan.
Tapi ditunggu sekian lamanya tiada sesuatu reaksi.
Aneh, mungkinkah telah terjadi sesuatu?
"Ssssst!"
Ji Bun kaget mendengar suara mendesis ini. Tapi jelas suara ini terdengar dari atas pohon yang rimbun daunnya. Maka dengan dingin dia membentak.
"Siapa?"
"Sssst! Kau Ji-seheng bukan?"
Mendengar suara anak kecil, Ji Bun lantas mengerti siapa yang bicara, cepat dia menyapa.
"Apakah Siau-po?"
"Betul, aku di atas pohon."
Ji Bun melejit ke atas pohon, dilihatnya sesosok bayangan kecil nongkrong dipucuk pohon, dengan enteng badannya berputar terus hinggap tanpa menimbulkan pantulan sedikitpun di dahan pohon sebelahnya.
"Adik Siau-po, apa yang terjadi?"
Tanya Ji Bun lirih.
"Malam ini ada tamu kemari."
"Tamu, siapa?"
"Kawanan kunyuk Ngo-hong-kau."
"Darimana kau tahu akan kedatanganku?"
"Ayah yang bilang padaku, katanya malam ini kau pasti kemari, aku disuruh menunggumu di sini. Begitu kau tiba, beliau lantas tahu."
"Kapan ayahmu pulang?"
"Kemarin."
"Mana beliau?"
"Ada di ruang bawah tanah."
"O, adik Siau-po, Tacimu ada? "Ada, barusan dia tanya tentang kau, boleh kupanggil kau Toako?"
"Sudah tentu boleh."
"Toako, apa benar kau hendak menikah dengan Toaci?"
Ji Bun gelagapan tak bisa menjawab, menghadapi bocah yang jenaka ini, apa yang bisa dia katakan?
Agaknya Ciang Wi-bin ayah beranak sudah pernah membicarakan soal dirinya, untung malam amat gelap, sehingga sikapnya yang kikuk tidak dilihat Siau-po.
"Siau-po, bicara dulu urusan yang lebih penting, sejak kapan orang-orang Ngo-hong-kau kemari?"
"Mereka mengejar ayah dan hendak membunuhnya."
"Rencana apa yang telah diatur oleh ayahmu?"
"Kata ayah, setelah Toako datang baru akan turun tangan sambil melihat gelagat, lebih baik kalau bisa membekuk pimpinannya untuk mengompes keterangannya."
Belum habis mereka bercakap-cakap, sebuah suara lirih lambaian pakaian yang memecah udara terdengar dari arah luar.
Lekas Ji Bun mendekap mulut Siau-po sambil memberi tanda supaya Siau-po tidak banyak ulah.
Dari suara desiran angin ini, Ji Bun tahu kepandaian pendatang ini amat tinggi.
Dengan cepat dua bayangan orang tanpa mengeluarkan suara telah melayang turun di pekarangan.
Mata Ji Bun amat jeli, walau di tempat gelap juga dapat melihat jelas bahwa yang datang ini adalah laki-laki yang berpakaian ketat dari kain sutera.
Ini sudah cukup menunjukkan asal usul mereka.
Terdengar salah seorang berkata.
"Menurut laporan, ada bayangan orang masuk ke dalam rumah, kenapa tidak kelihatan?"
"Mungkin bersembunyi."
"Kapan kita mulai bergerak?"
"Menunggu perintah komandan, mungkin setelah kentongan ketiga."
"Menghadapi seorang maling tua kenapa harus mengerahkan begini banyak jago-jago kosen?"
"Jangan kau pandang rendah Biau-jiu Siansing, sulit dilayani."
Ji Bun sudah tidak sabar lagi, dengan gerakan tangan dia memberi tanda kepada Siau-po supaya tidak bergerak, lalu seringan daun dia melayang turun.
Kedua orang itu agaknya berkepandaian tinggi, pendengarannya tajam, luncuran Ji Bun sudah diketahui, serempak mereka putar tubuh seraya bersiaga.
Tanpa membuka suara, laksana setan tahu-tahu Ji Bun sudah menubruk tiba sambil menggerakan kedua tangan.
"Plak, plok,"
Belum lagi kedua orang itu sempat melihat siapa yang menyerang, kontan badan mereka tersungkur roboh binasa, segera Ji Bun menyeretnya ke sudut tembok sana.
Tiba-tiba dari kamar di depan sana menyala secercah sinar pelita yang kuning redup.
Di atas pohon Siau-po segera berseru lirih.
"Toako, itulah tanda untuk memancing musuh."
Tergerak pikiran Ji Bun, cepat dia berkelebat masuk ke dalam kamar.
Kira-kira setengah jam kemudian, terdengar suitan panjang melengking dari arah tenggara, disusul sambung menyambung pada setiap sudut rumah bersahutan suitan panjang yang sama.
Agaknya gedung setan ini sudah terkepung oleh orang-orang Ngo-hong-kau.
Ji Bun membatin, kejadian sungguh amat kebetulan, jika Biau-jiu Siansing tidak sempat pulang dan dirinya tidak kebetulan tiba disini, rahasia gedung setan ini tentu bakal terbongkar oleh pihak Ngo-hong-kau, betapa akibatnya sungguh sukar dibayangkan.
Dari berbagai sudut rumah dan pekarangan, tampak bayangan orang mulai bergerak, semua perhatian tertuju ke arah sinar pelita di dalam kamar.
Empat bayangan orang mendadak menubruk maju ke depan kamar, masing-masing orang bersenjata pedang.
Setelah saling memberi tanda serentak menyerbu kedalam kamar.
"Waaah, aduh!"
Jeritan yang mengerikan memecah kesunyian malam, hampir bersamaan bayangan ke empat orang yang menerjang ke kamar tadi, sama terlempar keluar, semuanya rebah tak bergerak.
Agaknya orang-orang Ngo-hong-kau tidak kenal jeri dan kapok, mereka yakin dengan kekuatan yang dikerahkan malam ini dapat mencapai tujuan.
Sepuluhan bayangan orang tanpa diperintah berlompatan pula ke arah pekarangan kecil ini, yang terdepan adalah seorang tua baju sutera yang berjenggot uban, tentunya dia inilah yang disebut komandan oleh kedua orang yang pertama datang tadi.
Dengan suara kereng dan berat orang tua berjenggot panjang ini berkata ke arah kamar.
"Ciang Wi-bin, keluarlah dan jawab beberapa pertanyaanku."
Tiada reaksi, ditunggu pula sesaat lamanya tetap tiada jawaban, terpaksa laki-laki tua berjenggot mengulap tangan pada orang-orang bertubuh jangkung yang bersenjata pedang di belakangnya.
"Terjang ke dalam!"
Kedua ahli pedang serempak menghardik, dengan pedang melintang melindungi badan, sebelah tangan terangkat di atas kepala, secepat anak panah mereka melesat ke dalam kamar.
Tak tersangka, begitu bayangan mereka lenyap, tidak terdengar suara apa-apa lagi.
Akhirnya laki-laki tua berjenggot perintahkan enam orang bersenjata pedang memburu masuk pula ke dalam, tapi aneh bin ajaib, seperti batu kecemplung laut, keenam orang inipun lenyap tanpa suara.
Keruan orang-orang yang di luar merasa merinding, tapi juga gusar.
Melihat gelagat tidak menguntungkan, dengan suara gemetar si orang tua berjenggot membentak.
"Ciang Wi-bin, memangnya kau tidak berani keluar dan suka mengkeret seperti kura-kura?"
Sekarang baru ada jawaban dari dalam kamar.
"Tuan siapa, sebutkan dulu namamu?"
"Komandan Busu dari markas pusar Ngo-hong-kau, Ih Ciau."
"Apa maksud kalian datang kemari?"
"Atas perintah Kaucu, kami ingin undang saudara ke markas kami."
"Beginikah cara kalian mengundang tamu?"
"Lekas saudara keluar saja."
"Kalau aku tidak sudi keluar?"
"Gedung setan akan kami bumi hanguskan hingga rata dengan tanah."
"Kau yakin dapat melakukan? Berapa banyak orang yang kau kerahkan?"
"Tidak banyak, hanya seratus Busu saja."
"Ah, terlalu sedikit."
"Apa maksudmu?"
"Nafsuku sudah membara untuk membunuh, jiwa seratus orang belum cukup untuk melampias angkara murkaku."
Orang berjenggot terloroh-loroh, katanya.
"Ciang Wi-bin, jangan membual, kalau tidak lekas keluar, akan kuperintahkan menyulut api?"
"Orang she lh, kau yakin aku ini Ciang Wi-bin?"
"Jangan kau kira bisa mengelabui mata orang dengan samaranmu, aku yakin tidak akan salah."
"Baiklah, biar kau berkenalan dengan cara permainanku ...."
Ditengah-tengah kumandang kata-katanya, tampak delapan Busu yang tadi menerjang masuk ke kamar beriring berjalan keluar, tapi setiba di pekarangan, satu persatu mereka tersungkur roboh binasa.
Keruan kejadian ini cukup menggetar nyali semua orang.
Orang tua berjenggot segera maju memeriksa tiba-tiba dia menjerit kaget.
"Racun jahat penghancur jantung."
"lh Ciau"
Terdengar jengekan dari dalam kamar.
"ternyata kau juga kenal racun jahat ini,"
"Kau .... siapa kau sebetulnya?"
"Kenapa tidak omong-omong di dalam saja?"
Sejenak orang tua berjenggot melenggong, katanya.
"Jangan main teka-teki, aku sudah tidak sabar lagi."
"Memangnya kenapa kalau kau tidak sabar?"
"Kubakar habis seluruh gedung ini. Siap!"
Segera memberi aba-aba.
Bayangan orang serempak bergerak mundur tiga tombak, tangan setiap orang terangkat tinggi, jari masing-masing menyekal sebuah benda bundar.
Begitu si orang tua berjenggot bersuit, dari empat penjuru segera suitan balasan.
"Tunjukkan contohnyal"
Seorang Busu segera melemparkan benda bundar ditangannya ke rumpun bunga di depan sana.
"Dar!"
Semak-semak yang lebat itu segera berkobar terjilat api, seluruh pekarangan menjadi terang benderang.
Ternyata bola hitam itu berisi belerang dan sebangsa obat peledak, begitu meledak api segera menyala, entah berapa bekal bola hitam musuh.
Kalau setiap bola dilemparkan, gedung setan pasti akan menjadi lautan api.
"Hebat juga cara kalian!"
Sebuah bayangan tiba-tiba berkelebat keluar dari dalam kamar.
"Te-gak Suseng!"
Orang-orang yang mengepung itu sama menjerit kaget. Orang tua berjenggot seketika pucat mukanya, sorot matanya memancarkan sinar yang menakutkan, bentaknya beringas.
"Kiranya kau!"
"Ih Ciau,"
Ejek Ji Bun dingin.
"malam ini harus kutahan di sini."
Laksana kilat menyambar ia menubruk ke arah si orang tua berjenggot.
Agaknya lh Ciau komandan Busu Ngo-hong-kau ini maklum bahwa dengan kekuatan seluruh anak buahnya terang takkan mampu berhadapan dengan Te-gak Suseng yang terkenal kejam tanpa kenal ampun ini, maka sejak tadi dia sudah bersiaga.
Begitu Ji Bun bergerak, sebat sekali iapun melompat ke tempat gelap dan menghilang.
Ji Bun menubruk tempat kosong, keruan tidak kepalang penasaran hatinya.
Celakalah anak buah Ngo-hong-kau yang lain, ke mana kaki dan tangan Ji Bun bergerak, seperti membabat rumput saja, beberapa jiwa segera melayang seketika.
Di tengah keributan itulah, entah siapa yang melempar bola hitam.
"Dar, dar!"
Jago merah segera menyala dan menjilat pekarangan kecil sebelah kiri sana.
Cepat sekali pekarangan kecil serta bangunannya telah menjadi lautan api.
Serasa menguap kepala Ji Bun saking murka, segera ia kembangkan kecepatan gerak tubuhnya, bayangan berkelebat setiap orang yang kesamplok diganyang habis-habisan.
Kepandaian para Busu ini jauh lebih rendah dari pada tingkat para duta, jangan kata melawan, melarikan diripun tak sempat lagi, tahu-tahu jiwa sudah melayang di tangan Ji Bun.
Di tengah suara gemeretak yang gaduh dari api yang menyala-nyala itu, di sana sini berkumandang pula jerit dan pekik orang-orang yang terenggut nyawanya.
Tapi lebih banyak jumlahnya yang sempat melarikan diri.
"Toako,"
Mendengar seruan ini, mata Ji Bun yang sudah membara melihat Siau-po melayang datang ke sampingnya, maka dengan suara gugup dia bertanya.
"Siau-po, ayahmu dan lain-lain ........?"
"Beliau tidak kurang sesuatu apa, meski ada kebakaran tiga tahun juga tidak akan menjilat ke tempat sembunyi mereka.
"Tapi kebakaran ini tidak boleh dibiarkan menjalar ke tempat lain, ini di dalam kota."
"Paling pekarangan kecil ini yang terbakar habis, sekelilingnya tempat kosong, di sana terlindung oleh tembok tinggi lagi, cuma bangunan loteng di belakang itu harus dirobohkan walau terpaut satu gang kecil."
"Di mana?"
"Mari kutunjukkan tempatnya."
Waktu mereka tiba di belakang, api sudah menyala besar, loteng kecil itupun sudah hampir terjilat api.
Ji Bun segera memburu maju seraya suruh Siau-po menyingkir.
Tangan terayun segera dia menggempur ke arah saka, untung bangunan itu sudah cukup tua.
Sekall pukul, seluruh bangunan loteng bergetar.
Beruntun Ji Bun memukul tiga kali ketiga tempat, loteng kecil itu segera ambruk dengan mengeluarkan suara gaduh.
Siau-po tenang-tenang saja, segera ia tarik lengan Ji Bun, katanya.
"Toako, mari menemui ayahku."
Dengan menyeret Ji Bun, Siau-po berlari-lari kecil berputar kian kemari tujuh delapan kali ke kanan dan ke kiri, akhirnya menyelinap masuk ke tengah-tengah gunung buatan, di sini dia menekan sebuah tombol membuka pintu rahasia terus lari masuk ke lorong gelap yang menembus ke bawah.
Ternyata ruangan di bawah tanah dibangun dengan bentuk lain, pajangan di sini juga serba megah dan mewah.
Belum jauh mereka melangkah di antara lorong panjang, tampak Ciang Wi-bin menyongsong keluar, Ciang Bing-cu mengikuti di belakangnya.
Ciang Wi-bin tetap berdandan seperti hartawan kaya raya yang berjenggot panjang seperti dulu.
Setelah tergelak-gelak lalu berkata.
"Hiantit, kedatanganmu sudah kuperhitungkan dengan tepat."
"Paman, sayang sekali, Siautit kurang becus, pemimpinnya sempat melarikan diri."
"Peduli amat sama dia."
Ciang Bing-cu tampak sedikit kurus, namun pandangan matanya masih begitu jernih, pipinya bersemu merah kemalu-maluan, sedikit menekuk lutut memberi hormat, dia menyapa.
"Selamat bertemu Ji-seheng."
Panas muka Ji Bun, lekas dia balas menghormat dan menyapa.
"Marilah bicara di dalam,"
Ujar Ciang Wi-bin.
Lorong ini cukup panjang dan lebar, tiga orang bisa jalan berjajar, Ciang Bing-cu mengikuti di belakang, sejenak mereka sudah tiba di sebuah kamar batu yang besar.
Tampak Khong-kok-lan So Yan, si ibu tua tengah duduk di atas sebuah kursi besar berukir yang serba antik.
Melihat orang, timbul perasaan aneh dalam benak Ji Bun.
Sebagai isteri tua ayahnya, walau sekarang sudah jadi musuh, tata krama tidak boleh diabaikan, segera ia beranjak maju menyapa.
"Tay-bo (ibu tua) baik-baik saja .........?"
Sikap Khong-kok-lan So Yan kaku dingin.
"Tempo hari pernah kuperingatkan, panggil aku Cianpwe saja." 20.60. Pemberian Thian-thay-mo-ki "Selamat bertemu So-cianpwe."
"Silakan duduk."
"Terima kasih."
Setelah semua orang mengambil tempat duduk, sesaat suasana menjadi hening, karena adanya hubungan yang janggal antara Ji Bun dengan So Yan, siapapun menjadi kikuk untuk buka suara lebih dulu.
Setelah berdehem akhirnya Ciang Wi-bin membuka suara.
"Hiantit, kejadian apa yang kau alami di tengah jalan?"
"Di Sip-san, Siautit bersua dengan Ngo-hong Kaucu, sayang dia sempat melarikan diri, dari mulutnya, Siautit mendapat kabar tentang jejak ayah."
Berubah rona muka Khong-kok-lan So Yan, tapi diam saja. Ciang Wi-bin mengerut kening, tanyanya.
"Di mana ayahmu?"
"Bersama ibu mereka ditawan di markas pusat Ngo-hong-kau."
"Ngo-hong Kaucu sendiri yang mengatakan padamu? Apa maksudnya?"
"Sekarang belum diketahui, namun dia mengajukan syarat untuk membebaskan mereka."
"Syarat apa?"
"Dia minta barter dengan batok kepala Siangkoan Hong suami isteri."
"Hm, membunuh dengan pinjam tangan orang lain, muslihat Ngo-hong Kaucu memang terlalu keji. Lalu rencana apa yang hendak kau lakukan untuk memenuhi syarat ini?"
"Kukira sulit dilakukan."
"Ya, aku sudah mengatur rencana, kita harus mencari tahu asal usul Ngo-hong Kaucu, kuyakin tak lama pasti berhasil kuselidiki."
"Gi-heng,"
Tiba-tiba Khong-kok-lan So Yan buka suara.
"bahwa Ji Ing-hong masih hidup, tentunya kau tidak merintangi aku menuntut balas padanya bukan?"
Panggilan "Gi-heng"
Atau kakak angkat baru pertama kali ini Ji Bun mendengarnya.
Jelas, secara langsung So Yan tidak akan peduli lagi adanya hubungan lantara Ciang Wi-bin dengan Ji Ing-hong di masa lalu, bagi pendengaran Ji Bun sudah tentu amat menusuk kuping dan serba rikuh lagi.
Ciang Wi-bin melirik ke arah Ji Bun tanpa bersuara.
Ji Bun sendiri juga maklum, dalam pembicaraannya waktu pulang dari danau setan tempo hari, Ciang Wi-bin telah menarik kesan buruk terhadap perbuatan jahat ayahnya, malah ada maksud memutuskan hubungan, maka dapatlah dibayangkan kalau kedudukan dirinya sekarang menjadi serba susah.
Mendadak dia teringat kepada Hing-thian-it-kiam Gui Han-bun yang tidak mati seperti dugaan banyak orang.
Jit-sing-po pun telah dihancur leburkan, tapi dendam ibu tua ini agaknya sudah terlalu mendalam.
Betapapun So Yan pernah menjadi isteri ayahnya, lalu apa pula yang bakal terjadi bila satu sama lain berhadapan?
Maka Ji Bun berkata sambil menatap Ciang Wi-Bin.
"Paman, Siautit sudah menemukan biangkeladi yang membantai orang-orang Jit-sing-po."
Tiba-tiba bercahaya biji mata Khong-kok-lan So Yan, rona mukanya terunjuk senang dan kaget.
"Siapa?"
Ciang Wi-bin bertanya kaget. Sepatah demi sepatah Ji Bun menerangkan.
"Hing-thian-it-kiam Gui Han-Bun."
Kata-kata Ji Bun laksana geledek manyambar kepala, Khong-kok-lan berjingkat berdiri, mata mendelik dan mulut melongo, badannya gemetar seperti orang kedinginan.
Ciang Bing-cu terbeliak kaget mengawasi Ji Bun, lalu memandang So Yan.
Ciang Wi-bin juga berdiri.
"Siapa katamu?"
Tanyanya menegas.
"Hing-thian-it-kiam Gui Han-bun."
"Ini ...... ini ..... mana mungkin?"
"Peristiwa itu tak sampai merenggut jiwanya ......."
"Jadi ...... jadi dia masih hidup?"
"Ya, dia adalah Siucay tua yang baru-baru ini masuk jadi anggota Wi-to-hwe."
"Ah, sungguh di luar dugaan."
"Kau ..... apa yang kau lakukan atas dirinya?"
Tanya Khong-kok-lan So Yan dengan tergagap, suaranya tertelan dalam tenggorokan.
"Aku tidak membunuhnya, dia masih hidup, sekarang berada di Wi-to-hwe."
"Dari mana kau tahu dia adalah biangkeladi yang menghancurkan Jit-sing-po?"
"Dia sendiri yang mengaku."
Berkaca-kaca mata Khong-kok-lan So Yan, berita gembira di luar dugaan ini membuat hatinya senang, dan penuh emosi, dengan lunglai dia menjatuhkan diri ke atas kursi, napasnya agak memburu.
Setelah sekian lamanya baru tiba-tiba dia berdiri pula, katanya dengan suara gemetar kepada Ciang Wi-bin.
"Selama beberapa tahun ini, berkat budi kebaikan Gi-heng sehingga aku hidup tenteram di sini, tak perlu kiranya aku banyak kata dengan ucapan muluk-muluk, bila selama hayat masih dikandung badan, aku tak bisa membalas kebaikan ini, biarlah pada penitisan ......"
"Gi-moay, buat apa kau bilang begini ........"
"Sekarang aku mohon diri ......"
"Kau hendak ke mana?"
"Mencari Gui Han-bun."
"Dik, berpikirlah dengan kepala dingin, apakah Siau-po hendak kau tinggalkan?"
Dengan berlinang air mata Khong-kok-lan So Yan berkata.
"Po-ji, kelak kita pasti akan berkumpul lagi, sekarang kau sudah besar. Cici dan ayahmu akan menemanimu."
Siau-po menangis tergerung-gerung. Ciang Bing-cu ikut membujuk.
"Gi-bo (ibu angkat), apa engkau harus pergi?"
"Bing-cu aku harus menemuinya ......."
Ji Bun kebingungan, tidak tahu apa yang harus diiakukan, dalam keadaan demikian dia memang kehabisan akal dan tak dapat ikut bicara.
"Gi-moay,"
Ujar Ciang Wi-bin.
"permusuhan lebih mudah di tanam dari pada dilerai, maka kuharap setelah kau berkumpul dengan Han-bun mungkinkah ........"
"Gi-heng,"
Tukas Khong-kok-lan So Yan.
"kau tahu tak mungkin kubatalkan balas dendam terhadap Ji Ing-hong. Bagaimana nasib kami selanjutnya entahlah Gi-heng, Bing-cu, Siau-po, selamat tinggal!"
Habis berkata dia kipatkan tangan Siau-po terus berlari keluar.
Siau-po berjingkrak dan tangisnya gerung-gerung.
Bing-cu tersedu sedan.
Ciang Wi-bin membanting kaki dan menghela napas panjang sambil berkeluh kesah.
Ji Bun membesi muka, mulut terkancing dan mata melotot.
Untuk sesaat lamanya keadaan menjadi sunyi.
Tiba-tiba Ciang Wi-bin tarik lengan Siau-po, katanya gelisah.
"Kaki tangan Ngo-hong-kau pasti tidak ditarik seluruhnya, hayolah kita antar ibu angkatmu."
Ayah beranak segera berlari keluar, sebelum pergi Ciang Wi-bin menatap Ji Bun penuh arti.
Kini dalam kamar di bawah tanah yang serba mewah ini tinggal Ji Bun dan Ciang Bing-cu berdua.
Pandangan Ciang Wi-bin sebelum berlalu tadi merupakan isyarat.
Ji Bun maklum apa artinya, apa yang dikatakan mengantar ibu angkat hanya alasan belaka, yang terang tujuannya adalah memberi kesempatan pada dirinya untuk bicara dari hati ke hati dengan Ciang Bing-cu.
Seperti diketahui waktu perjalanan pulang dari "danau setan"
Ciang Wi-bin pernah berjanji menjodohkan puterinya kepada Ji Bun.
Ji Bun menjadi kebingungan, sesaat lamanya dia sukar membuka mulut.
Ciang Bing-cu sendiri agaknya juga tahu akan hal ini, wajahnya tampak malu-malu, kepalanya tertunduk dan kedua tangannya mengucek ujung baju, mulut terkancing tak bicara.
Akhirnya Ji Bun keraskan kepala, katanya.
"Adik Cu, kakak ada beberapa patah kata yang muugkin terlalu sembrono untuk kukatakan ......."
Sampai di sini dia berhenti, tak tahu kata-kata apa pula yang harus diucapkan. Ciang Bing-cu tetap menunduk, katanya dengan malu-malu.
"Ada omongan apa silakan kakak katakan saja."
"Betapa besar kasih sayang adik terhadap kakak, selama hidup terukir dalam sanubariku, sayang aku ditakdirkan hidup dalam keluarga yang terlibat dendam kesumat, bagaimana nasibku kelak, sukar diramalkan, oleh karena itu kumohon adik maklum akan keadaanku yang serba sulit ini, janganlah kau sia-siakan masa remajamu sendiri ......."
Tiba-tiba Ciang Bing-cu angkat kepalanya, wajahnya diliputi rasa marah dan penasaran, katanya sambil tertawa dingin.
"Ji Bun, aku tak pernah bilang harus menikah dengan kau."
Ji Bun tertegun, wajahnya merah dan tak dapat bicara lagi.
Suasana menjadi beku dan serba kikuk.
Sambil mengebas lengan baju Ciang Bing-cu berdiri, air mata berlinang, dengan langkah lemas ia beranjak ke arah kamar.
Ingin Ji Bun memanggilnya, tapi gerahamnya terasa kaku, mulut terpentang tapi tenggorokan seperti tersumbat.
Dia tahu betapa hancur luluh hati Ciang Bing-cu, malu lagi, akan tetapi Ji Bun tahu dirinya tak kuasa menghindari kenyataan ini, budi dan cinta Thian-thay-mo-ki sedalam lautan, kesetiaannya sekokoh gunung, betapapun dia tidak rela menyia-nyiakan kebaikan orang terhadap jiwa raga sendiri.
Sekarang urusan menjadi berkepanjangan, apa boleh buat, akhirnya dia menghela napas panjang.
"Hiantit, bagaimana hasil pembicaraan kalian?"
Tahu-tahu Ciang Wi bin melangkah datang, namun Siau-po tidak ikut masuk, agaknya sengaja disuruh jaga di luar. Ji Bun tertawa getir, katanya.
"Se-moay tidak memaklumi keadaanku."
"Lahirnya dia lemah lembut, yang benar iapun berwatak keras, aku yang jadi ayahnya pun tak kuasa membujuk dia. Tapi urusan masa depan tak boleh dibuat main-main, kuharap Hiantit bisa mempertimbangkan lagi."
Apa boleh buat Ji Bun menjawab sekenanya.
"Siautit akan berpikir lagi."
Ciang Bing-cu muncul pula, wajahnya tampak dingin kaku, katanya dengan nada sedih.
"Ayah, kenapa kau paksa orang, dia punya kesulitan ......."
"Bing-cu,"
Kata Ciang Wi-bin lembut.
"jangan kau mengumbar adat ......."
"Yah, puterimu bukan perempuan jalang dari kelas buangan, dia suruh Ui-suheng mengembalikan anting-anting, itu sudah jelas mengunjukkan sikapnya ........."
"Sebagai insan persilatan yang hidup di kalangan Kang-ouw, memangnya setiap orang mungkin saja terlibat dalam urusan yang sukar dimaklumi orang lain."
"Anak tidak senang menyinggung persoalan ini lagi."
"Se-moay,"
Kata Ji Bun sambil menyengir.
"kakak amat menyesal ......"
"Buat apa menyesal, Se-heng terlalu rendah hati."
Ciang Wi-bin mengulap tangan, katanya tegas.
"Baik, sampai di sini saja pembicaraan ini, sudah saatnya perut kita ditangsal."
Dalam keadaan yang serba kikuk ini, sebetulnya Ji Bun ingin mohon diri, namun dia merasa kurang enak, itu akan menandakan sikapnya kurang wajar, berjiwa dan berpikiran sempit.
Apalagi hubungan mereka tak mungkin dan tak boleh putus demikian saja.
Kalau sekarang dirinya tinggal pergi bila bertemu lagi kelak tentu serba runyam, pula kedua ayah beranak ini begini baik terhadap dirinya, keluhuran budi mereka tak boleh dihapus begini saja.
Maka sambil manggut-manggut ia beranjak keluar meninggalkan kamar besar ini.
Seperti bangunan gedung umumnya, ruang bawah tanah inipun ada pula kamar tidur, kamar makan dan kamar tamu.
Semuanya dipajang perabot serba antik dan mewah.
Dari sini dapat dinilai betapa besar jerih payah Ciang Wi-bin waktu membangun rumah bawah tanah ini.
Hidangan sudah disiapkan di kamar makan, mereka tangsel perut ala kadarnya, masing-masing jarang bicara, Siau-po pun jarang bicara, hanya Ciang Wi-bin saja yang bercerita panjang lebar tentang kejadian-kejadian di Kang-ouw masa silam, maksudnya hendak menambah gairah makan dan memulihkan hubungan kedua pihak.
Ji Bun tak berminat mendengar cerita, otaknya senantiasa berpikir cara bagaimana mencari daya untuk memecahkan persoalan pelik ini?
Sekonyong-konyong sebuah bayangan berkelebat memasuki kamar makan, itulah seorang pemuda berwajah putih cakap berpakaian sutera.
"Ngo-hong-su-cia!"
Bentak Ji Bun sambil berdiri. Pemuda baju sutera langsung memberi hormat kepada Ciang Wi-bin, katanya.
"Terimalah sembah sujud murid Suhu."
Mendengar suara orang, seketika Ji Bun melengong, yang datang ternyata adalah Sian-thian-khek Ui Bing.
Sungguh ia tak habis mengerti, apa sebetulnya tujuan Ui Bing menyaru jadi Ngo-hong-sucia, guru dan murid ini memang serba misterius, sepak terjang mereka sukar diselami.
Tak lupa Ui Bing menyapa Ciang Bing-cu dan Siau Po, lalu berputar kepada Ji Bun, katanya.
"Hiante, bagaimana keadaanmu?"
Ji Bun menjawab.
"Tidak apa-apa, silakan duduk Toako, minumlah sambil bercakap-cakap."
"Maaf, aku tidak punya waktu."
"Bagaimana perkembangannya?"
Tanya Ciang Wi-bin serius.
"Belum ada tanda-tanda terang, cuma ada satu hal cukup mencurigakan. Yaitu cara dia menggunakan tata rias, agaknya satu sumber dengan aliran kita ........."
"Itu tak perlu dibuat heran, ilmu tata rias dari tiga aliran yang ada di sini satu sama lain hanya sedikit perbedaannya, yang penting adalah membongkar kedok aslinya atau cari tahu asal usulnya."
"Sungguh amat sulit dan serba susah, dia cukup licik dan licin, banyak muslihatnya lagi, dengan kedudukan Duta, Tecu toh sukar sembarangan bergerak di markas pusat mereka."
"Betapapun sukarnya tetap harus kau kerjakan."
Ui Bing mengiakan.
"Toako,"
Ji Bun menyeletuk.
"Bagaimana kau bisa menyaru jadi Ngo-hong-su-cia?"
"Kebetulan akhir-akhir ini Ngo hong kau mengadakan pemilihan calon-calon Duta, syarat-syarat yang utama adalah bakat, kedua muda usia, ketiga adalah kepandaian silatnya. Dengan dandananku ini beruntung aku diterima disana."
"O, dari mana dapat dicari pemuda sebanyak itu, mana harus berkepandaian silat lagi."
"Asal punya dasar dan bakat, Kaucu sendiri yang mengajarkan ilmu silat, dalam jangka sebulan akan digembleng dengan hasil yang gemilang."
"Sejauh ini Toako masih belum tahu wajah asli Ngo-hong-kaucu?"
"Belum, kukira hanya beberapa orang saja yang tahu "
"Kenapa sampai sedemikian misterius?"
"Itulah perbedaan adanya lurus dan sesat, dari kalangan lurus yang diutamakan adalah keterus terangan dan kejujuran, sedang orang-orang dari aliran sesat, yang diutamakan hanya tujuan. Meski harus menggunakan cara kotor apapun, mereka tetap berani bertindak secara sembunyi serta menggunakan muslihat."
"Bagaimana kalau Siaute memberi sedikit sumber penyelidikan."
"Sumber penyendikan apa?"
"Ngo-hong-kaucu adalah orang yang pernah beberapa kali berusaha membunuh Siaute, yaitu Kwe loh-jin yang berhasil merebut Hud-sim."
"Bagus!"
Teriak Ui Bing.
"Anak muda,"
Ciang Wi-bin menyambung.
"Jangan semberono sehingga menunjukkan belangmu sendiri. Ada urusan apa lagi lekas katakan supaya segera kau dapat pergi"
"Hal ini ada hubungannya dengan Hiante,"
Ujar Ui Bing menatap Ji Bun.
"Ada hubungan dengan Siaute?"
Ji Bun menegas.
"Ya, coba kau lihat ini,"
Kata Ui Bing sambil mengulurkan sebuah lipatan kertas.
Ragu-ragu Ji Bun menerimanya dan dibuka, seketika air mukanya berubah, kedua tangan gemetar, firasat jelek segera menyentuh sanubarinya, kertas itu membungkus beberapa utas potongan rambut.
"Toako .... ini .... apakah ini?"
Dengan suara rawan Ui Bing berkata.
"Itulah pemberian Thian-thay-mo-ki untuk Hiante."
Badan Ji Bun limbung, suaranya gemetar.
"Pemberiannya? Toako sudah bertemu sama dia? Apakah dia baik-baik?"
Guram sorot mata Ui Bing tiba-tiba, katanya dengan menunduk pilu.
"Hiante, dia ..... dia sudah meninggal."
Seperti disamber petir Ji Bun tersentak mundur dan "bluk"
Jatuh terduduk di atas kursi, mukanya bergetar seram sehingga merubah bentuknya yang cakap, biji matanya melotot sebesar kelereng, mulutnya bergumam serak.
"Dia ..... sudah meninggal."
Ciang Bing-cu, Ciang Wi-bin, Siau Po sama pucat dan tegang. Ui Bing melangkah maju, tangannya memegang, pundak Ji Bun, suaranya penuh rasa iba dan simpatik.
"Hiante, orang mati tak dapat hidup kembali, kau harus tabah menghadapi kenyataan ini."
Mendadak Ji Bun berdiri, dengan kencang dia pegang kedua pundak Ui Bing, bentaknya bengis.
"Bagaimana dia bisa mati?"
Karena terlalu emosi, pegangannya begitu kencang, saking kesakitan Ui Bing sampai mengertak gigi dan keringat dingin berketes-ketes. Dengan meringis Ui Bing menjawab.
"Dia bunuh diri."
"Bunuh diri? Kenapa?"
"Karena kesuciannya dinodai oleh Ngo-hong Kaucu."
"Keparat, kubunuh dia!"
Teriak Ji Bun kalap.
Air mata meleleh dari kelopak matanya yang melotot, betapa seram dan mengerikan keadaannya, sungguh siapapun akan merinding dan kasihan pula.
Saking tak tahan karena pergelangan tangan diremas, terpaksa Ui Bing menjerit kesakitan.
Baru sekarang Ji Bun sadar, lekas dia lepas pegangannya.
"Hiantit,"
Ujar Ciang Wi-bin.
"tenangkan pikiranmu."
Dengan jari-jari gemetar Ji Bun remas bungkusan rambut itu serta mendekapnya di depan dada, air mata darah bercucuran dengan deras.
Dalam sekejap ini, hatinya serasa disayat-sayat, sukmanya seperti dibetot secara mentah-mentah dari raganya.
Kepedihan dan kesedihan yang luar biasa membuat pikirannya hampa.
Cinta bertepuk sebelah tangan, budi belum terbalas, ternyata si dia kini sudah pergi meninggalkan dunia fana ini, mati secara mengenaskan sesudah dikotori tubuhnya, dapatkah dia pergi dengan mata meram?
Kini dia sudah tiada, rambut peninggalan ini merupakan pertanda betapa besar cinta kasihnya yang terbawa ke liang kubur.
Tinggal kenangan abadi akan selalu terukir di dalam lubuk hatinya.
Hanya satu cita-citanya semasa masih hidup, terangkap jodoh menjadi suami isteri, dan cita-cita inipun tetap terkandung dalam hatinya sampai akhir hayatnya.
Sebetulnya Ji Bun sudah bersumpah untuk tidak lagi mengabaikan cinta murninya, akan tetapi semua ini sudah sirna, hanyut terbawa sang waktu.
Dia pergi membawa serta rasa kebencian yang tak terlampiaskan, derita yang tak terperikan dan jiwanya nan luhur, bagai bunga, sehalus sutera dan berakhir begitu saja.
Hawa seperti membeku, tiada buka suara.
Lama sekali, dengan kaku baru Ji Bun angkat kepala, suaranya serak, tanyanya pada Ui Bing.
"Toako, bagaimana kejadiannya?"
Dengan suara rendah Ui Bing mulai bercerita.
"Beberapa hari yang lalu, kebetulan Kaucu sedang keluar, untuk pertama kali aku ditugaskan berjaga di markas dalam. Sengaja aku cekoki para petugas lain sampai mabuk, diam-diam aku menyelundup ke belakang. Kudengar suara isak tangis seorang perempuan, waktu kuintip, ternyata dia ........"
"Segera aku memperkenalkan diri, maka dia memotong ujung rambutnya ini dan diberikan padaku dengan berpesan. Sampaikan pesanku kepadanya, hidup ini tak tercapai cita-citaku, biarlah pada penitisan mendatang kami hidup sebagai suami-isteri.
"Apa pula yang dikatakan?"
"Dia minta supaya, kau menjaga diri baik-baik, rambut ini ditinggalkan untuk kenang-kenangan sepanjang masa. Dia bilang, walau mati cintanya tetap takkan berubah, dan cinta itu tetap akan terbawa ke liang kubur, lalu dia ....... putuskan urat nadi sendiri membunuh diri."
Air mata darah kembali bercucuran, tiba-tiba Ji Bun menggembor kalap.
"Kau tidak berusaha mencegah dia bunuh diri?"
"Dia bilang, badan yang kotor ini tidak setimpal untuk menebus kematiannya, bahwa dia bertahan hidup selama ini adalah untuk mencari kesempatan mengirim kabar ini. Dia mengharap kau menuntut balas bagi kematian guru dan murid."
"Maksudku kenapa kau tidak cegah dia bunuh diri?"
"Tidak, sempat lagi."
"Kau terlalu mementingkan dirimu sendiri."
Ui Bing mundur setapak, katanya haru dan dongkol.
"Kenapa Hiante bilang begini, apakah aku orang demikian?"
Setelah berkata Ji Bun sadar telah kelepasan omong.
Secara tidak langsung kata-katanya merupakan pukulan batin dan penghinaan terhadap Ciang Wi-bin dan puterinya.
Namun untuk menarik balik kata-katanya tadi sudah tak keburu lagi.
Tapi rasa sesal ini hanya sekejap saja, lain kejap hatinya sudah dirundung kepedihan yang tak terperikan, katanya sesenggukan.
"Kau tahu kalau dia bakal menempuh jalan pendek, kenapa bilang tidak sempat?"
"Hiante, apakah aku harus membelah hatiku untuk diperlihatkan kepadamu? Hiante, aku tahu bagaimana perasaanmu sekarang, aku tidak menyalahkan kau."
"Di mana jenazahnya?"
Tanya Ji Bun.
"Sudah kukebumikan di hutan belakang markas."
"Di mana letak markas Ngo-hong-kau?"
"Kelukan ketiga yang terletak di belakang Siong-san, di sana ada tiga pucuk pohon siong yang berdiri segi tiga, masuk ke dalam kelukan terus menerobos ke dalam gua panjang, di sanalah letaknya."
"Hiantit,"
Kata Ciang Wi-bin kemudian.
"hatikupun ikut sedih, tiada yang bisa kukatakan cuma aku harap kau tenang. Thian-thay-mo-ki memang bernasib malang, tapi masih banyak lagi insan persilatan yang bernasib lebih jelek daripada dia. Dan tugasmu sekarang adalah menumpas kelaliman dan kejahatan untuk menolong mereka yang tertindas."
Dengan kaku Ji Bun manggut-manggut, katanya menatap Ui Bing.
"Toako, adakah kabar ayahku?"
Ui Bing terbeliak, tanyanya.
"Apakah ayahmu juga berada di Ngo-hong-kau?"
"Tidak salah, Ngo-hong Kaucu sendiri yang bilang padaku."
"Setelah kembali nanti akan kuselidiki.".
"Sekarang lekas kau pergi,"
Ujar Ciang Wi-bin.
"jangan membuat urusan menjadi berantakan."
Ui Bing mengiakan, dia beri hormat kepada guru, lalu menjabat tangan Ji Bun dengan kencang, katanya.
"Hiante, kata-katamu memang betul, seharusnya aku sadar akan kejadian itu, namun aku lalai, hal ini akan menjadikan sesal selama hidupku, tapi kuharapkan Hiante maklum. Aku tidak sengaja berpeluk tangan menyaksikan drama itu berlangsung,"
"Berat kata-kata Toako, Siaute menjadi malu diri."
"Sampai bertemu lagi,"
Ui Bing terus mengundurkan diri. Sesaat kemudian baru Ciang Bing-cu memecah kesunyian.
"Seheng, begitu besarkah cintamu terhadap Thian-thay-mo-ki?"
Ji Bun meliriknya sekejap, katanya sedih dengan cucuran air mata.
"Terlalu banyak yang kuterima dari dia, sebaliknya sedikitpun tak pernah aku membalas kebaikannya."
"Dia sangat cinta kepadamu?"
"Tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, cinta yang murni, cinta sejati, dia rela mengorbankan diri sendiri demi cinta. Semula sikapku terlalu menghina kepadanya, belakangan baru kutahu keluhuran budinya, kebesaran jiwanya, tapi ..... ai, semua itu sudah berakhir, sudah terlambat, dia tidak patut mati dalam usia semuda ini, dia ...... kenapa harus, berbuat senekat itu? Umpama betul dia sudah ternoda oleh durjana itu, sukma dan jiwanya, akan tetap suci dan agung, memangnya aku harus pedulikan semua ini ......"
"Bisa memperoleh cinta balasanmu, kukira iapun dapat tenteram di alam baka."
"Se-moay, dia tidak tahu, ha.... hatiku, aku tidak, pernah utarakan isi hatiku. Selama ini cintanya hanya bertepuk sebelah tangan, malah pertemuan kami yang terakhir terjadi pertengkaran dan berpisah dengan marah dan penasaran. Siapa tahu .... perpisahan ini berakhir untuk selamanya ......"
Jari-jari Ji Bun meremas rambut kepala sendiri, dia ingin menyiksa badan sendiri untuk mengurangi penderitaan batinnya.
Haru dan kecut perasaan Ciang Bing-cu, bukankah dirinyapun teramat mencintainya?
"Se-moay, kau harus tahu, tanpa dia mungkin aku takkan hidup sampai sekarang."
"Kenapa?"
"Suatu ketika aku dipukul luka parah oleh Ngo-hong Kaucu yang menyamar seperti ayahku. Dengan gunakan darahnya dia telah menolong jiwaku ....."
"Darahnya?"
"Ya, dia pernah minum getah naga batu (Ciok-liong-hiat-ciang). Dalam darahnya mengandung obat mujarab yang dapat menunjang nyawanya. Oleh karena itu, beberapa kali aku hidup kembali setelah terpukul mati ......"
"Hah!"
Ciang Wi-bin dan Ciang Bing-cu menjerit kaget, berbareng, sungguh berita yang belum pernah tersiar di kalangan Kang-ouw.
Apakah sebenarnya Ciok-liong-hiat-ciang atau getah naga batu itu, Ciang Wi-bin yang berpengalam luas cukup tahu, maka ia manggut-manggut, katanya dengan nada simpatik.
"Hiantit, aku dapat memahami perasaanmu."
Ciang Bing-cu juga terketuk sanubarinya, namun seorang gadis biasanya lebih kenal malu dari pada minta maaf, maka dia diam saja.
Namun sikapnya sudah menunjukkan bahwa hatinya menyesal dan ikut berduka.
Setelah membeberkan segala rahasia dan memperoleh pengertian mendalam dari Ciang Wi-bin dan puterinya, lega juga hati Ji Bun.
Namun dendam sakit hati ini harus selekasnya dibereskan.
Apalagi ayah bunda masih terbelenggu di tangan musuh, maka dia segera mohon diri.
"Kemana kau hendak perg?"
Tanya Ciang Wi-bin.
"Akan kuluruk ke markas pusat Ngo-hong-kau."
"Jangan bertindak sembrono."
"Tapi sedetikpun Siautit tak sabar lagi."
"Betapa banyak jago-jago Ngo-hong-kau, seorang diri Hiantit, menerjang sarang harimau ......"
"Siautit dapat berlaku hati-hati"
"Baiklah, aku akan berangkat bersamamu ....."
"Tidak,"
Ji Bun menggeleng.
Mendadak bayangan seorang tampak berlari masuk dengan langkah sempoyongan dan "Bluk", jatuh tersungkur di lantai.
Darah muncrat kemana-mana.
Siau Po menjerit kaget, Ciang Wi-bin ayah beranak dan Ji Bun juga terperanjat serta memburu maju.
Pendatang adalah pemuda berjubah biru, napasnya tampak empas-empis.
"Siapakah dia?"
Tanya Ji Bun kaget. Sebat sekali Biau-jiu Siansing, memburu ke samping pemuda baju biru, mulutnya menyahut.
"Inilah muridku yang kedua, Si Ke-siu."
Sembari bicara tangannya meraba urat nadi orang serta memeriksa luka-lukanya, teriaknya kaget.
"Terluka oleh pedang, keluar darah terlalu banyak, mungkin ......." 21.61. Mati .... Bagi Pengikut Ngo-Hong-Kau Ji Bun ikut berjongkok memeriksa, tubuh orang memang terluka di banyak tempat, darah membasahi seluruh tubuh, kulit badan boleh dikatakan sudah tiada yang utuh lagi, keadaannya amat mengerikan. Bercucuran air mata Ciang Wi-bin, ia sesenggukan tak mampu bersuara. Sementara itu Ciang Bing-cu bekerja dengan cekatan, lekas sekali dia sudah membawakan obat dan diberikan kepada ayahnya.
"Celaka,"
Tiba-tiba Ciang Wi-bin berteriak kaget.
"Apa yang celaka?"
Tanya Ji Bun heran.
"Mungkin Ke-siu terluka oleh jago-jago Ngo-hong-kau yang dipasang di sekitar gedung setan ini, dengan luka-luka separah ini, darahnya bertetesan lari kemari mungkin jejaknya akan konangan musuh ......"
"Biar kukeluar memeriksanya?"
Kata Ji Bun.
"Siau Po, tunjukan jalan bagi Toako, kau sendiri jangan unjukkan diri,"
Can Wi-bin berpesan.
Siau Po mengiakan, ia menarik tangan Ji Bun terus berlari keluar, yang ditempuh bukan jalan masuk tadi, kiranya ruang di bawah tanah ini masih ada jalan rahasia lain yang tidak sedikit jumlahnya.
Mereka dihadang oleh sebuah dinding, Siau Po entah gunakan benda apa, dia tekan-tekan, tahu-tahu dinding batu setebal dua kaki itu merekah di tengah selebar tiga kaki, segera Ji Bun menyelinap keluar.
"Toako,"
Kata Siau Po berbisik.
"aku akan menengok keadaan Si-suheng, sebentar aku menyambut kau di sini."
"Tak usahlah, aku bisa kembali sendiri."
"Toako, ganyang musuh sebanyak mungkin, jangan menaruh kasihan terhadap mereka."
"Jangan kuatir, Te-gak Suseng bukan laki-laki yang berhati lemah."
Setelah menyusuri lorong gelap sepanjang tiga tombak, Ji Bun tiba di deretan hutan bambu warna hijau yang rimbun, pelan-pelan, dia menyingkap dedaunan, tampak hutan bambu ini berada di tengah gunung buatan yang terletak di tengah-tengah empang besar, jaraknya ada empat tombak dari pinggir empang di seberang.
Diam-diam Ji Bun menghela napas lega dan kagum, pintu rahasia yang dibangun di tempat tersembunyi seperti ini memang sukar ditemukan orang biasa.
Di seberang empang sana tampak bayangan orang mondar mandir.
Dari kejauhan sayup-sayup terdengar suara kentongan empat kali, masih banyak waktu untuk bekerja sebelum terang tanah.
Cepat Ji Bun mundur ke dalam hutan terus melompat ke atas gunung buatan.
Dari tempat ketinggian ini dia kembangkan ginkang "angin lesus", tubuhnya berputar mumbul melayang dan seringan daun melayang, tanpa mengeluarkan suara dia hinggap di seberang.
Sejenak dia berdiri menerawang sekelilingnya.
Didapatinya anak buah Ngo-hong-kau yang di pendam di sekitar gedung setan ini tak terhitung banyaknya.
Agaknya tekad musuh teramat besar untuk membekuk dirinya dan Biau-jiu Sansing.
Kobaran api di pekarangan kecil sana sudah padam.
"Srek, srek!"
Dengan sengaja Ji Bun melangkah ke tanah lapang sana dengan menerbitkan suara.
"Siapa itu? Di larang sembarangan bergerak!"
Agaknya orang menyangka Ji Bun kawannya sendiri.
Tanpa pedulikan seruan orang, Ji Bun malah percepat langkahnya.
Segera tiga bayangan orang datang.
Tanpa perhatikan bagaimana bentuk rupa dan dandanan ketiga orang ini, kontan Ji Bun sambut mereka dengan pukulan tangan beracun.
"Plak, plak, plak!"
Di tengah nyaringnya tamparan tangannya, ketiga orang sama terjungkal roboh jiwa melayang tanpa sadar apa sebabnya.
Kegaduhan di sini mengejutkan orang-orang lain, orang yang terpendam di tempat lain bergegas berlari kemari.
"Siapa?"
Bentakan kumandang dari berbagai arah.
Kembali lima bayangan orang melayang tiba dari tempat gelap.
Dengan cara yang sama, begitu musuh melayang datang, kelima orang inipun ditamatkan jiwanya oleh Ji Bun.
"Kejam betul perbuatan saudara!"
Tiba-tiba sebuah suara membentak. Sebat sekali Ji Bun membalik badan, tampak seorang pemuda jubah sutera tahu-tahu sudah berdiri tidak jauh di belakangnya, maka dia mengejek dingin.
"Ngo-hong-su-cia?"
Mungkin baru sekarang pemuda ini dapat mengenali Ji Bun, seketika ia berteriak kaget dan seru.
"Te-gak Suseng!"
"Betul, inilah aku!"
Dingin dan mengancam suara Ji Bun.
Tanpa menunggu Ji Bun habis bicara, tiba-tiba pemuda baju sutera itu putar badan terus meluncur ke tempat gelap.
Agaknya dia tahu diri, tak berani bentrok secara langsung dengan Ji Bun.
Tapi Ji Bun sudah kadung benci terhadap musuh, mana dia mau tinggal diam.
Sebat sekali badannya berkelebat, tahu-tahu dia berkisar dari arah samping, begitu cepat laksana gerakan setan, baru lima tombak Ngo-hong-su-cia itu bergerak.
Ji Bun sudah menghadang di depannya.
"Kau mau lari?"
Ji Bun mendesis geram.
Tok-jiu-it-sek segera dilancarkan, baru saja Ngo-hong-su-cia sempat melolos pedang, mulutnya menguak, tubuhpun roboh binasa.
Suara suitan bersahutan dari sana sini.
Ji Bun bergerak cepat menubruk ke arah suara suitan itu, tetap musuh di ganyangnya habis-habisan, jerit dan pekik seram menyayat hati memecah kesunyian malam.
"Gedung setan"
Ini memang terkenal angker dan seram, kini betul-betul menjadi gedung setan sungguhan.
Kira-kira satu jam kemudian, suasana kembali hening, mayat-mayat malang melintang di mana-mana yang ketinggalan hidup sudah tentu sejak tadi ngacir.
Berapa jumlah anak buah Ngo-hong-kau yang gugur, agaknya pihak mereka sendiri juga tidak tahu.
Kembali Ji Bun mengadakan pemeriksaan satu lingkaran, baru kembali ke hutan bambu di tengah empang dan masuk ke ruang bawah tanah, ternyata Ciang Wi-bin sudah menunggu kedatangannya.
"Paman, bagaimana muridmu itu .........?"
"Luka dalamnya sangat parah, jiwanya tak tertolong lagi."
Dia pulang dalam situasi seburuk ini ........"
"Ya, dia pulang karena ada urusan penting."
"Urusan penting apa?"
"Seratusan murid Kay-pang ditahan orang-orang Ngo-hong-kau di dalam hutan sepuluh li di luar kota, sebelum fajar menyingsing mereka akan dibantai bersama ......"
"Kenapa orang-orang Kay-pang sampai tersangkut urusan dengan pihak Ngo-hong-kau?"
"Ngo-hong-kau menuntut Kay-pang agar menyerahkan seorang pengemis bermata satu ......."
"O,"
Ji Bun teringat akan penyamaran Ui Bing sebagai pengemis mata satu tempo hari. Tak nyana samarannya itu malah mendatangkan petaka bagi pihak Kay-pang.
"Urusan ini menyangkut Ui Bing ......"
"Siautit tahu. Biar Siautit pergi membereskan persoalan ini."
"Ya, terpaksa kau harus membantu ......"
"Kenapa paman omong demikian, inilah kesempatan baik untuk mengikis kekuatan Ngo-hong-kau, waktu amat mendesak, sekarang juga Siautit mohon diri."
"Selesai urusanmu Hiantit harus kembali untuk berunding lebih lanjut ......"
Belum habis Ciang Wi-bin bicara, bayangan Ji Bun sudah tidak kelihatan.
Dia maklum soal apa yang hendak dirundingkan dengan dirinya.
Sejak mendengar kabar kematian Thian-thay-mo-ki, duka cita membangkitkan amarah dan dendam Ji Bun semakin memuncak, sedetikpun tak tahan lagi.
Cap-li-lim terletak di luar kota Cinyang, kegelapan masih menyelimuti alam semesta.
Di dalam hutan gelap gulita, jari sendiripun tak terlihat, namun di luar hutan tampak bayangan orang mondar mandir.
Tiba-tiba dalam hutan menyala empat batang obor besar, di bawah pantulan sinar obor ini, kelihatan seratusan pengemis dangan pakaian compang camping sama berduduk di dalam hutan.
Ada tua muda, tinggi besar kurus gemuk, semuanya mendelik gusar, tapi tiada yang buka suara.
Di empat penjuru berdiri puluhan Busu berpakaian ketat, setiap lima seragam hitam berdiri pula seorang berpakaian sutera hijau.
Suasana hening dan tegang mencekam perasaan setiap orang.
Dari desa yang jauh letaknya di sebelah utara sana, sayup-sayup terdengar suara kokok ayam.
Seorang tua berjenggot putih kelihatan muncul, matanya menyapu pandang ke arah para pengemis, suaranya dingin tajam.
"Waktu yang ditentukan akan tiba, kalau Kay-pang tetap tidak menyerahkan orang yang kami tuntut, kalian harus siap menjadi korban."
Seorang pengemis tua ubanan dari deretan paling depan segera berdiri, teriaknya dengan beringas.
"Ngo-hong-kau merajalela berbuat kejahatan di Bu-lim, kaum persilatan yang tidak berdosa di bunuh secara kejam, hukum alam pasti akan mengganjar kalian ......."
"Tutup mulutmu!"
Bentak si orang tua jenggot putih.
"Nyo-huthocu, sekarang bukan saatnya kau memberi khotbah di sini. Begitu terang tanah, batas waktu yang kami tentukan sudah habis, awas jiwa kalian."
"Hm, kalau markas pusat kalian tidak lekas menyerahkan pengemis mata satu yang kami tuntut, kami masih mampu mengumpulkan seratus jiwa yang kedua dan ketiga dan seterusnya sampai pihak kalian menyerahkan orangnya, betapapun banyak anggota Kay-pang, akhirnya tentu habis juga terbunuh."
"Hakikatnya tiada orang yang kalian tuntut di dalam Kay-pang kami."
"Omong kosong belaka,"
Jengek si orang tua. Fajar telah menyingsing, sinar obor menjadi guram. Seorang Busu berbaju sutera segera berteriak lantang.
"Lapor komandan. Batas waktu telah tiba!"
"Siap!"
Laki-laki tua berjenggot putih segera berteriak.
"Sreng,"
Serentak semua Busu Ngo-hong-kau melolos senjata masing-masing.
Seratus orang Kay-pang juga serempak berdiri, sebentar saja suasana agak ribut, namun lekas sekali tenang kembali, walau semua orang sama mendelik gusar.
namun sebelum pimpinan mereka memberi perintah, tiada seorangpun yang berarti bertindak.
Ini menandakan anggota Kay-pang sangat berdisiplin, sekaligus memperlihatkan keluarbiasaan murid-murid Kay-pang yang patuh kepada pimpinannya.
Dalam saat-saat tegang dan hening itulah, sekonyong-konyong sebuah suara berkumandang dari tempat gelap di belakang gerombolan pohon sana.
"Ih Ciau, kau ingin mampus dengan cara apa?"
Ternyata orang tua berjenggot ini adalah Busu dari markas pusat Ngo-hong-kau yang ditugaskan menyerbu gedung setan, yaitu Ih Ciau adanya. Berubah air muka si orang tua alias Ih Ciau, bentaknya marah.
"Sahabat dari mana, silakan keluar!"
Semua busu yang telah menyoreng pedang sama kaget dan berubah pula air mukanya, tanpa berjanji semua orang memandang kearah datangnya suara.
Orang-orang Kay-pang juga kaget dan melongo, menurut dugaan mereka, tempat di mana mereka ditawan ini cukup dirahasiakan sehingga pimpinan pusat Kay-pang pun tidak tahu letaknya.
Di samping itu tiada jago sekosen ini di dalam Kay-pang, apalagi datang seorang diri untuk menolong mereka yang sekian banyak ini.
Bayangan seorang laksana setan melayang muncul dari balik pohon, ternyata seorang pemuda pelajar berjubah hijau dan berwajah tampan.
Enam jago pedang segera menubruk maju menghadang.
Tapi sekali pemuda pelajar itu ayunkan tangannya hanya sekejap saja keempat jago pedang itu menjerit ngeri terjungkal mampus.
Dua yang masih hidup melompat mundur dengan ketakutan.
"Te-gak Suseng,"
Ih Ciau menghardik dengan murka.
Suaranya terdengar agak gentar pula, suara ini mendatangkan bayangan kabut gelap bagi orang-orang Ngo-hong-kau.
Sebaliknya merupakan pancaran sinar harapan bagi murid-murid Kay-pang yang berada di ambang kematian.
Tanpa diperintah orang-orang Ngo-hong-kau segera mundur berkumpul sambil siaga.
Ji Bun mendekati Ih Ciau, katanya.
"Semalam kau berhasil lolos, beberapa jam kau bertambah hidup, sekarang habislah riwayatmu."
"Anak keparat, jangan takabur, siapa yang akan mampus, belum tentu?"
Teriak Ih Ciau murka.
Kedua tangan segera bergerak dengan gempuran sekuat tenaga.
Sebagai komandan busu dari markas pusat, tentu kepandaian Ih Ciau bukan olah-olah lihaynya.
Apalagi menghadapi mati dan hidup, mau tidak mau dia harus kerahkan setaker kekuatannya, maka dapat dibayangkan betapa dahsyat serangan kedua tangannya ini.
Tidak berkelit juga tidak menghindar?
Ji Bun malah menyongsong pukulan lawan dEngan gerakan maju pula.
"Plak"
Ditengah benturan keras, tampak kedua orang terpental mundur setapak.
Pada saat Ji Bun terpental mundur itulah puluhan pedang dari sepuluhan orang baju sutera yang punya kepandaian tinggi tiba-tiba menyerang dari berbagai arah dengan gencar dan ketat.
Mendengar samberan angin, sebat sekali Ji Bun membalik badan seraya geraki tangannya.
Dua orang menjerit roboh, namun tiga pedang berhasil menggores luka badan Ji Bun.
Rasa sakit dan perih menambah nafsu dan amarah Ji Bun, Tok-jiu-ji-sek segera dilancarkan.
Dua orang terjungkal mampus lagi.
Tanpa menimbulkan suara tiba-tiba Ih Ciau menubruk maju dan menyerang dari belakang, telapak tangan kiri dan cengkeraman jari-jari tangan kanan serentak menghantam dan menutuk ke Hiat-to mematikan dipunggung orang.
"Blang,"
Sambil mengerang tertahan badan Ji Bun tersungkur ke depan. Walau terkena pembokongan, namun kedua tangan Ji Bun tidak berhenti bekerja, tiga jago pedang baju sutera berhasil dirobohkan lagi.
"Serahkan jiwamu!"
Mulut menghardik, gerakan Ji Bun laksana kilat berkelebat, dia membalik menyambut pukulan Ih Ciau yang kedua.
"Plak", darah seketika menyembur dari mulut Ih Ciau, sambil menguak kesakitan tubuhnya sempoyongan ke belakang. Untung serangan pedang lain menghentikan serangan kepada Ji Bun lebih lanjut. Tangan kiri melingkar, tangan kanan menggenjot, Ji Bun menggempur balik semua pedang yang menyerang dirinya dengan angin pukulan yang dahsyat, gesit sekali seperti harimau menerkam mangsanya, tahu-tahu dia melompat ke depan mencengkeram si orang tua berjenggot, Ih Ciau. Ih Ciau mengerahkan sekuat tenaga dan meronta untuk melepaskan diri, ternyata usahanya berhasil, segera ia angkat langkah seribu.
"Berdiri!"
Bentakan Ji Bun laksana geledek berkumandang di tepi telinga Ih Ciau.
Tahu-tahu orangnya sudah menghadang di depannya, seketika pucat pasi muka Ih Ciau, dengan ketakutan dia menyurut mundur.
Sementara itu si pengemis tua beruban telah memberi aba-aba kepada anak murid Kay-pang, serentak mereka angkat senjata menyerbu maju.
Jago-jago pedang seragam hitam yang sejak tadi berbaris di luar garis hanya berjaga dan siaga saja, kini mereka terpaksa angkat senjata membendung serbuan para pengemis yang berontak dan melawan secara mati-matian.
Di hadapan Ji Bun mereka seperti telur menumbuk batu, tapi terhadap anak murid Kay-pang mereka laksana harimau kelaparan.
Murid Kay-pang yang menyerbu diobrak-abrik hingga kacau-balau.
Hanya sekejap kedua pihak bentrok, banyak korban telah berjatuhan di pihak Kay-pang.
Sementara itu hari telah terang tanah, entah sejak kapan oborpun telah padam.
Pertempuran besar secara membabi buta berlangsung terus dengan sengit di dalam hutan yang masih diselimuti keremangan kabut pagi.
Beberapa jago pedang baju sutera masih mengelilingi ajang pertempuran Ji Bun yang menggasak Ih Ciau itu dan siap terjun membantu pimpinan mereka.
Agaknya murid-murid Kay-pang juga tahu betapa kemampuan jago-jago pedang baju sutera ini, maka mereka hanya menggasak jago-jago pedang baju hitam saja.
Tiada yang berani mengusik jago-jago pedang baju sutera, oleh karena itu korban yang jatuh di pihak mereka bisa dikurangi.
Mata Ji Bun sudah membara, amarahnya tidak terkendali lagi, ia menggerung seperti singa kelaparan, dia tetap menggunakan Tok-jiu-ji-sek.
Ih Ciau diserangnya pontang-panting seperti kucing mempermainkan tikus.
"Huuuaaah!"
Di tengah teriakan panjang yang ngeri, Ih Ciau terlempar roboh binasa.
"Mundur!"
Salah seorang dari jago pedang baju sutera memberi aba-aba.
Ji Bun yang sudah telanjur marah, nafsunya sudah terkendali lagi.
Hanya sekali putar tubuh, pemuda baju sutera yang memberi aba-aba tadi seketika disapunya roboh binasa, menyusul seorang lagi tubuhnya mencelat dan menyungsang diatas pohon karena pukulan Ji Bun yang dahsyat.
Luluh semangat tempur para Busu baju hitam tanpa diperintah mereka berlomba ngacir menyelamatkan jiwa masing-masing.
Tapi murid-murid Kay-pang yang berjumlah lebih banyak telah mengerubut dengan ketat, dalam keadaan satu melawan lima orang atau lebih.
Betapapun tinggi kepandaian mereka, akhirnya banyak juga berguguran di antara mereka.
Lebih celaka lagi, setiap tangan Ji Bun bergerak tentu jiwa orang menjadi korban.
Sekilas Ji Bun menyapu gelanggang.
Busu tingkat baju sutera sudah tiada satupun yang ketinggalan hidup.
Busu tingkat baju hitam yang masih bertahan mati-matian juga tinggal dua puluhan orang saja.
Murid-murid Kay-pang yang berlipat jumlahnya tentu berkelebihan membabat mereka.
Cepat dia menjejak kaki meluncur pergi meninggalkan gelanggang, di dalam hutan dia menemukan sebuah sungai kecil.
Di sini ia membersihkan noda darah ditubuhnya serta membubuhi obat pada luka-lukanya, sekejappun Ji Bun tidak membuang waktu, bergegas dia berlari kencang menuju ke Siong san.
Kematian Thian-thay-mo-ki betul-betul menimbulkan pukulan yang amat hebat pada lahir batinnya, betapa dendam sakit hati sungguh tak terlampiaskan.
Dalam setengah hari dia sudah menempuh seratus li lebih.
Kibaran panji kuning yang bertulisan huruf "arab"
Dari sebuah warung makan menimbulkan selera makannya, memang perutnya sedang keroncongan.
Dia pikir, perut perlu diisi, setelah kenyang baru menempuh perjalanan pula.
Maka dia mampir ke warung makan ini, dipesannya sepiring daging rebus, seekor ayam goreng, dan dua poci arak.
Seorang diri dia habiskan masakan dan minuman yang dipesannya.
Arak yang masuk perutnya semakin mengobarkan dendam sakit hatinya.
Semula dia ingin sekedar istirahat dulu di warung makan ini, kini dia malah perlu arak lebih banyak.
Beberapa poci telah ditenggaknya, pikirannya kini semakin butek, pandangannyapun menjadi kabur.
Dengan ketajaman kuku jarinya dia coba menusuk kulit mukanya, terasa dan pati rasa, inilah pertanda taraf yang telah mendekati mabok.
Tiba-tiba bayangan Than-thay-mo-ki nan semampai berkelebat di depan matanya.
Ingin dia menjerit tangis sepuas-puasnya, dia ingin bunuh seorang untuk melampiaskan rasa penasaran ini, dia ingin melihat darah, darah merah menyolok dari badan para musuhnya.
Tiba-tiba pandangannya yang kabur melihat sesosok bayangan orang, seorang yang berkedok berjubah sutera biru.
Dia kira bayangan ini hanya dalam khayal belaka, setelah kucek-kucek mata, bayangan itu tetap tidak lenyap.
Arak yang masuk perutnya seketika gemerobyos keluar menjadi keringat dingin, dengan menahan meja dia berjingkrak berdiri, biji matanya melotot, mukanya beringas diliputi nafsu membunuh.
Suaranya yang kereng gemetar sepatah demi sepatah tercetus dari mulutnya.
"Murid murtad. kalau tidak kuleburkan tubuhmu, aku bersumpah tidak jadi manusia."
Seluruh perhatian tamu-tamu yang lain seketika tertuju kearahnya. Lekas pelayan memburu maju, katanya dengan menyengir kecut.
"Tuan tamu, harap bersabar, warung kami kecil ........"
"Minggir!"
Bentak Ji Bun sambil mendorong.
Pelayan itu sempoyongan mundur kepojok sana dan berdiri dengan melongo.
Suara yang telah amat dikenal serta diharapkan siang dan malam, tiba-tiba tercetus dari mulut orang berkedok jubah biru.
"Nak, kau ..... kenapa?"
Suaranya penuh diliputi rasa sedih dan kasihan. Bergetar sekujur badan Ji Bun, nafsu membunuh yang sudah menyala seketika padam. Kini hatinya berganti haru penuh emosi.
"Yah, kaukah ini?"
Serunya.
"Nak, masakah diriku tidak kau kenal lagi?"
"Betulkah kau ini?"
"Nak, marilah bicara di luar saja."
Semula Ji Bun curiga akan perbuatan Ngo-hong Kaucu yang licik dan licin itu.
Kini terbukti orang yang berdiri dihadapannya betul-betul adalah ayahnya, saking haru kaki tangan terasa lunglai tanpa terbendung air mata bercucuran.
Orang berkedok merogoh keluar pecahan uang perak dan ditaruh di meja sebagai pembayaran makan minum Ji Bun.
lalu putar badan mendahului keluar.
Seperti di dalam mimpi saja, dengan langkah bergontai Ji Bun ikut keluar.
Konon ayahnya dikurung di markas Ngo-hong-kau, cara bagaimana mendadak dia bisa lolos dan muncul di sini?
Berjalan tidak lama, akhirnya ia memasuki hutan di pinggir jalan.
Berhadapan dengan sang ayah yang berulang mengalami petaka ini, rasa curiga dan waspadanya tidak pernah lenyap, pengalaman getir beberapa kali yang telah terjadi menimbulkan syak dalam benaknya.
"Yah, bukankah kau terkurung di markas Ngo-hong-kau?"
Tanyanya kemudian.
"Ya, untung aku berhasil meloloskan diri."
"Bagaimana ibu?"
"Nak aku akan berusaha menolongnya."
"Apakah beliau tidak mengalami siksaan dan derita?"
"Di sana aku tidak pernah melihatnya."
"Yah, siapakah sebetulnya Ngo-hong Kaucu itu?"
"Ini ...... ayah sendiri juga tidak tahu."
"Ayah seharusnya tahu?"
"Kenapa aku harus tahu?"
"Darimana dulu ayah mendapat pelajaran ilmu beracun?"
"O, soal ini? ..... ayah belajar dari Ngo-hong Kaucu ....."
Ji Bun semakin heran dan curiga, suaranya gemetar.
"Tapi ayah bilang tidak kenal siapa dia?" 21.62. Ibumu .... Tok-keng .... Paderi Siau-lim ....
"Nak, dengarlah penjelasanku. Waktu itu tanpa sengaja aku berjumpa dengan dia. Dia seorang misterius, tak pernah mau memperlihatkan wajah aslinya, demikian juga asal usulnya tetap dirahasiakan sampai sekarang."
"Lalu kenapa dia mengurung kau?"
"Hendak menarik balik ilmu yang ia ajarkan padaku,"
Sembari bicara pelan-pelan tangan orang berkedok menepuk pundak Ji Bun serta menambahkan dengan sedih.
"Nak tentunya kau banyak menderita selama ini?"
Sudah tentu bergetar jantung Ji Bun, namun terasa oleh nalurinya bahwa tepukan tangan orang orang tidak bermaksud jahat, maka timbul rasa penyesalan dalam lubuk hatinya.
Entah sudah berapa lamanya, tak pernah dia diraba lagi oleh tangan-tangan ini, sebesar ini tak pernah pula dia memperoleh bujuk dan kata-kata halus yang sedemikian besar perhatiannya.
Sejak lama dia mengira selama ini takkan bertemu pula dengan ayah kandung sendiri, sungguh tak nyana secara ajaib hari ini dia berjumpa pula dengan beliau.
Rasa duka seketika merangsang hatinya, tak tertahan air mata berlinang-linang.
Banyak kata-kata yang ingin dilimpahkan, banyak persoalan yang ingin dia tanyakan.
tapi kejadian ini benar-benar di luar dugaan sehingga dia tak tahu dari mana dia harus mulai bicara, entah soal apa pula yang harus dibicarakan.
Berkata orang berkedok dengan suara lembut.
"Nak, kabarnya kepandaianmu sekarang teramat hebat, apakah kau ketiban rejeki?"
Ji Bun hanya manggut-manggut.
"Bisakah kau jelaskan kepada ayahmu?"
"Yah, dilarang oleh aturan perguruan, maaf anak tidak bisa menjelaskan,"
Bukan kepalang sesal hati Ji Bun.
Betapapun dia tak boleh membocorkan rahasia Ban-tok-bun, walau terhadap ayah kandung sendiri, aturan perguruan lebih penting.
Demi menghilangkan rasa canggung, cepat dia mengalihkan pembicaraan ke persoalan lain.
"Yah, dulu kau bilang yang membantai orang-orang Jit-sing-po kita adalah Siangkoan Hong dan orang-orangnya."
"Memang, kenapa?"
"Anak sudah menyelidiknya."
"Siapa pelakunya?"
"Hing-thian-it-kiam Gui Han-bun."
Orang berkedok menyurut mundur, teriaknya kaget.
"Mana mungkin? Dia ..... masih hidup?"
"Dia sendiri yang mengatakan kepadaku!"
"Di mana dia sekarang?"
"Di Wi-to-hwe."
"Kau tidak membunuhnya?"
"Ada sebab-sebab khusus terpaksa anak melepas dia, kelak pasti akan kuganyang dia ...."
Selama ini tangan orang berkedok masih berada di atas pundak Ji Bun, katanya setelah menghela napas panjang.
"Nak, perbuatan ayah dulu memang terlalu, aku ...... amat menyesal ......"
Inilah kata-kata yang diharap-harapkan oleh Ji bun, kini mendengar ayahnya mengaku salah dan bertobat, keruan hatinya amat terharu, katanya.
"Kejadian sudah berselang, tak perlu dibicarakan lagi."
"Nak, seorang hanya hidup sekali, jangan kau berbuat salah, sekali salah menyesal untuk selama-lamanya."
"Yah, tanggalkan kedokmu, biar aku melihat wajahmu?"
"Nak ......"
Tiba-tiba Ji Bun merasakan Bing-bun-hiat terkena tutukan jari yang amat keras, rasa sakit seketika merangsang badan dan menusuk ulu hati.
Belum lagi dia sempat berpikir apa yang terjadi, seketika dia menggerung roboh.
"Huaahaha..."
Orang berkedok tiba-tiba tertawa, suaranya bergelombang seperti bunyi kokok-beluk di malam sunyi, seperti serigala melolong kelaparan di malam hening, suaranya menusuk telinga.
Sebelum lenyap kesadaran Ji Bun, dada terasa seakan meledak saking gusar dan gemas.
Segalanya telah habis, sedikitpun ia tidak pernah menduga kesalahan yang pernah terjadi kini terulang kembali atas dirinya.
Hari ini dia betul-betul terjungkal di tangan musuh yang satu ini.
Sekuat tenaga dia berontak mempertahankan diri, namun dia tersungkur roboh pula, terasa bumi berputar, kepala pusing tujuh keliling.
Bagaimana mungkin orang bisa menyaru begini mirip ayahnya?
Mata Ji Bun beringas, suaranya serak.
"Kau ..... kau ...... hina dina ........"
"Nak,"
Ujar orang berkedok ketawa sinis.
"jiwamu memang rangkap dua belas, mati dapat hidup kembali, tapi hari ini keajaiban itu takkan terulang lagi ......"
"Tutup mulutmu, Ngo-hong Kaucu, kau sendiri akan memperoleh ganjaran setimpal."
"Ganjalan apa? Nak, ha ha ha ha ........"
Menyesal dan kebencian sekaligus menyiksa batin Ji Bun, kalau ayahnya betul sudah tertawan musuh, mana mungkin bisa melarikan diri dengan mudah?
Dan dirinya begini gampang ditipu oleh musuh yang licik dan licin, memang keajaiban takkan terulang kembali.
Kali ini dia betul-betul roboh habis-habisan.
Segala dendam dan budi akau lenyap ditelan masa dan dibawa ke liang kubur.
Satu hal yang membuatnya amat penasaran adalah Ban-tok-bun bakal putus turunan di tangannya dan ilmu beracun bakal menjadi alat terampuh bagi murid murtad ini untuk merajalela dengan segala kejahatan di Kang-ouw.
Para Suco dari beberapa generasi terdahulu akan menyesal di alam baka.
"Anak muda,"
Kata orang berkedok sinis dingin.
"sudah kuperintahkan untuk menukar ayah bundamu dengan batok kepala Siangkoan Hong beserta isterinya dan kau sengaja membangkang malah berusaha melawan, terpaksa aku harus bersiasat menamatkan riwayatmu."
Sedapat mungkin Ji Bun pertahankan hawa murni dalam tubuhnya yang sudah mulai buyar, teriaknya beringas.
"Semoga para Suco menjatuhkan sumpah dan kutukannya di alam baka, kelak kau akan mendapat ganjaran yang setimpal."
"Suco? Hehehe! Hahaha! Ji Bun, tak nyana bahwa kau telah masuk parguruan Ban-tok-bun, maka kau harus mampus lebih cepat lagi."
"Aaaaah ....."
Rasa sakit yang tak kepalang membuat Ji Bun menjerit sejadi-jadinya, darahnyapun menyembur dari mulutnya, begitu hawa buyar seketika dia jatuh semaput.
Betapapun penasaran dan kebencian masih mempertahankan daya hidupnya, dia tidak rela mati begini saja, dengan cepat ia sudah siuman kembali cuma keadaannya lemas lunglai.
Ngo-hong Kaucu terkekeh-kekeh, lalu herkata.
"Nak, demi hidupku, maka kau harus mati, ini merupakan hukum alam yang adil, mungkin takdir memang menghendaki nasibmu sejelek ini."
Ji Bun mencucurkan air mata berdarah.
Untunglah pada detik-detik yang gawat ini, beberapa bayangan orang tiba-tiba muncul bersama, lapat-lapat dia masih mengenali.
bayangan yang berlari mendatangi adalah Wi-to-hwecu Siangkoan Hong, Hun-tiong Siancu dan Thong-sian Hwesio, demikian pula orang dalam tandu Toh Ji-lan, masih ada pula yang tak dikenalinya lagi dan ....
akhirnya dia kehilangan kesadaran.
Entah berapa lama kemudian, pelan-pelan dia siuman kembali, bayangan orang banyak berkelebatan di depan matanya.
Lama sekali pandangannya yang semula remang-remang mulai jernih dan terang, dilihatnya orang-orang yaag mengelilingi dirinya ternyata adalah rombongan Siangkoan Hong.
Jadi dirinya tertolong oleh musuh?
Dengan menggertak gigi ia mendesis dan tanya.
"Mana Ngo-hong Kaucu? "Sayang dia berhasil lolos lagi,"
Ujar Hun-tiong Siancu gegetun.
Ji Bun pejamkan mata memulihkan tenaga dan memusatkan pikiran, dia maklum, kalau dalam tubuhnya tiada darah Thian-thay-mo-ki, setelah Bing-bun-hiat tertutuk, walau jiwa sendiri rangkap dua belas juga sudah lama mati.
Untunglah rombongan Siangkoan Hong keburu datang, kalau tidak hari ini pasti jiwanya betul-betul sudah melayang oleh kekejian Ngo-hong Kaucu.
Dia coba mengerahkan tenaga dan menyalurkan hawa murni yang telah buyar, syukurlah Lwekangnya masih ada, cuma teramat lemah.
Waktu ia membuka mata pula, dia berkata dengan tertawa getir.
"Kenapa kalian menolong aku?"
Dingin suara Wi-to-hwecu Siangkoan Hong.
"Anggaplah kita menghadapi musuh bersama."
Dengan mengertak gigi Ji Bun gunakan kedua tangannya menahan tanah, pelan-pelan dia meronta bangun. Setajam pisau pandang kilat Siangkoan Hong menyapu tubuh Ji Bun, katanya.
"Ji Bun, aku punya seratus alasan untuk membunuhmu."
"Lalu kenapa kau tidak turun tangan?"
Jengek Ji Bun.
"Memalukan jika kubunuh dalam keadaanmu sekarang, kaum persilatan akan mencercah perbuatanku dan lagi ..... maukah kau bekerja sama dengan kami?"
"Kerja sama apa?"
"Sementara kesampingkan dulu permusuhan pribadi antara kita, marilah kita bersama melenyapkan bisul dunia persilatan lebih dulu."
"Tidak!"
"Kau tidak mau?"
"Aku akan bertindak sendiri."
Hun-tiong Siancu mendengus, jengeknya.
"Ji Bun, mati hidup jiwamu sendiri kau tidak kuasa lagi?"
"Kalau kalian mau turun tangan, aku tidak gentar mati,"
Tantang Ji Bun.
"Ji Bun, angkuh dan sombong tak berguna bagimu."
"Aku tidak pernah pikirkan soal guna atau tidak berguna."
"Kau tahu betapa banyak orang yang ingin mencabut nyawamu?"
"Cayhe maklum, kebaikan kalian hari ini akan selalu terukir dalam benakku."
"Pendek kata saja. Kau mau bekerja sama?"
"Tak mungkin aku mengubah pendirianku."
"Kalau demikian, lekaslah pergi kau, aku tidak ingin membunuhmu sekarang."
"Terima kasih, selamat bertemu!"
Dengan langkah gontai Ji Bun melangkah ke dalam hutan.
Tujuannya ingin mencari tempat sepi dan tersembunyi untuk berusaha berobat diri.
Dalam keadaannya sekarang, kalau kebentur salah seorang jago Ngo-hong-kau, pasti jiwanya bisa celaka.
Tapi baru beberapa langkah, tiba-tiba terdengar suara Wi-to-hwecu berkata di belakang.
"Tunggu sebentar!"
Ji Bun menoleh, tanyanya.
"Hwecu menyesal melepas aku pergi? Atau ada petunjuk apalagi?"
"Racun yang kau gunakan, agaknya mirip dan satu sumber dengan Ngo-liong Kaucu?"
Mencelos hati Ji Bun, tidak boleh mengaku, namun juga sulit menyangkal. Sesaat dia melenggong lalu berkata.
"Betapa banyak manusia yang menggunakan racun di dunia ini, satu sama lain memang hampir mirip."
Wi-to-hwecu manggut-manggut, katanya pula dengan suara berat.
"Tentunya kau tidak menyangkal kalau Ngo-hong Kaucu merupakan bibit bencana bagi kaum persilatan? Oleh karena itu sebagai ketua Wi-to-hwe aku mengajukan permohonan padamu ......"
"Mengajukan permohonan kepada Cayhe?"
Ji Bun melengak.
"Ya, kalau Te-gak Suseng hidup demi kesejahteraan umat persilatan umumnya, kuharap kau menerima permohonanku ini."
"Coba Hwecu katakan?"
"Kuminta kau sudi memberitahu cara untuk mencegah keracunan."
Hal ini amat di luar dugaan, bahwa Wi-to-hwecu mengajukan permohonan kepada dirinya, berdiri di atas garis persilatan.
Demi jiwa beratus insan persilatan yang tidak berdosa, dia harus menerima permintaan ini, akan tetapi pemohon adalah musuh besarnya.
Berkata Wi-to-Hwecu lebih lanjut.
"Permohonanku ini kuajukan demi keadilan dan kebaikan insan persilatan umumnya, takkan menyangkut kepentingan pribadi."
Ji Bun berpikir, Ngo-hong Kaucu adalah murid murtad seperguruannya, kalau dia menggunakan racun mencelakai jiwa orang banyak, jelas melanggar aturan dan larangan perguruan.
Betapapun dirinya sebagai pejabat Ciangbun pantang berpeluk tangan, oleh karena itu segera ia mengangguk dan berkeputusan, katanya.
"Boleh!"
"Syukurlah, terlebih dulu kuucapkan banyak terima kasih."
"Tidak perlu. Tapi satu hal harus kutandaskan lebih dulu, pertikalan pribadi antara kita tetap harus diperhitungkan?"
"Sudah tentu, tadi juga sudah kukatakan, permohonan ini tidak menyangkut kepentingan pribadi."
Ji Bun merogoh obat-obatan pemberian kakek gurunya waktu dia mau turun gunung, ia lemparkan ke arah Siangkoan Hong, katanya.
"Sebutir saja masuk mulut, kasiatnya dapat menawarkan seratus macam racun."
Siangkoan Hong menerimanya, katanya.
"Kaum persilatan akan berterima kasih akan kesucian hatimu ini."
Tindakan dan sikap Ji Bun betul-betul membuat semua orang yang hadir ini amat terharu dan berterima kasih.
Sekilas Ji Bun menyapu pandang ke arah mereka baru pelan-pelan putar badan, tak keruan perasaannya.
Dia pernah menolong jiwa Siangkoan Hong dan puterinya, tapi Siangkoan Hong juga pernah menolong jiwanya.
Kelak dalam pertemuan yang akan datang, pihak sana tidak akan memberi keringanan sedikitpun terhadap ayahnya.
Sudah tentu sebagai putera yang harus berbakti terhadap orang tua, dirinya tidak boleh berpeluk tangan, permusuhan pribadi kaum persilatan memang luar biasa.
Ia dapat menemukan sebuah lubang dahan pohon besar, segera dia menyelinap masuk.
Ia mengerahkan hawa murni dan menjalankan penyembuhan menurut ajaran perguruan.
Kalau orang lain setelah Bing-bun-hiat ditutuk tentu sejak lama jiwanya sudah melayang, bahwa Ji Bun mampu bertahan hidup selama ini adalah karena darah yang mengandung "getah naga batu"
Yang disalurkan oleh Thian-thay-mo-ki.
Esoknya, pagi-pagi benar Ji Bun berhasil menyembuhkan diri.
Keluar dari lubang pohon dia menggeliat badan lalu menyapu pandang ke sekelilingnya, tiba-tiba dia menjerit kaget.
Tampak lima sosok mayat bergelimpangan tak jauh dari lubang pohon di mana semalam ia bersemadi.
Kelima mayat itu berpakaian sutera, dari seragam ini jelas bahwa mereka adalah anggota Ngo-hong-kau setingkat dengan Duta.
Bagaimana kelima orang ini bisa mati di sini?
Semalam suntuk dirinya sibuk bersemadi menyembuhkan luka-luka dalam sendiri, sedikitpun tidak merasakan adanya kegaduhan di luar.
Kalau kelima orang ini mencari jejaknya, itu berarti jiwanya telah lolos dari lubang jarum pula.
Lalu siapakah orang yang membantu secara diam-diam?
Kepandajan jago seragam sutera ini termasuk kelas wahid dalam kalangan persilatan, tak mungkin dibunuh oleh sembarangan orang, apalagi mereka berlima.
Lalu siapakah orang yang telah membunuh mereka?
Rombongan Siangkoan Hong?
Mendadak satu di antara kelima mayat tampak bergerak.
Agaknya jiwanya belum melayang.
Sekilas Ji Bun terbeliak, cepat dia menubruk maju, begitu jongkok segera ia memeriksa, pemuda yang belum putus napasnya ini.
Ternyata keadaannya jauh lebih parah dan mengerikan daripada keempat mayat yang lain.
Sebatang pedang menembus punggung ke depan dadanya, tubuhnya penuh luka-luka, sebaliknya empat mayat yang lain utuh tidak sesuatu luka apapun.
Dengan seksama dia memeriksa, kembali ia meloncat kaget, ternyata keempat mayat yang lain ini mati karena keracunan.
Sungguh luar biasa, mungkinkah yang menolong dirinya ahli racun?
Terbukti bahwa dugaanya semula meleset, karena Siangkoan Hong dan lain-lain tiada yang pandai menggunakan racun.
Walau Cui Bu-tok seorang ahli dalam bidang ini, tapi jago racun ini tiada dalam rombongan Siangkoan Hong, dan lagi dia hanya menyembuhkan orang-orang yang keracunan, tak pernah menggunakan racun untuk mencelakai jiwa orang.
Lalu siapakah yang melakukan ini?
Segera dia memeriksa lagi pemuda yang badannya tertembus pedang serta membalik tubuhnya.
"Haah!"
Tiba-tiba Ji Bun berteriak kaget, bulu romanya berdiri, napaspun terasa berhenti seketika.
Oh Thian, pemuda baju sutera yang tertusuk pedang dadanya ternyata adalah kakak angkatnya, Sian-tian-khek Ui Bing yang ditugaskan oleh gurunya menyelundup ke dalam Ngo-hong-kau itu, luka pedang yang begini parah, jelas jiwanya tak tertolong lagi.
Tubuh Ji Bun sampai limbung saking terpukul hatinya, sekian lamanya dia berdiri mematung.
Kaki tangan Ui Bing tampak bergerak-gerak.
"Toako, toako,"
Ji Bun berteriak-teriak dengan pilu.
Lekas dia tutuk beberapa Hiat-to ditubuh Ui Bing, lalu dia tekan urat nadinya dan salurkan tenaga ke tubuh orang.
Lambat laun wajah Ui Bing yang pucat bersemu merah, napaspun bertambah keras dan mulai teratur.
Kalau Ji Bun sedikit lena dan kurang berhati-hati jiwa Ui Bing pasti akan melayang seketika.
Dengan bercucuran air mata, dengan sabar dan tekun Ji Bun terus salurkan tenaga murninya.
Kira-kira setengah jam kemudian, pelan-pelan Ui Bing membuka mata, sorot matanya kuyu dan redup.
"Toako, Toako, aku Ji Bun, keraskan hatimu!"
Teriaknya sambil menggoyang pundak orang.
Pandangan Ui Bing yang redup akhirnya berhenti di wajah Ji Bun.
Lama sekali seolah-olah dia tak mengenali orang di depannya.
Kulit mukanya tampak bergerak, sekuatnya dia menggerakkan bibir, mungkin ingin bicara, namun suaranya tidak keluar, sorot matanya menampilkan penderitaan yang luar biasa.
Ji Bun terus salurkan tenaga murninya, dia berharap sedikitnya Ui Bing meninggalkan sesuatu pesan sebelum ajal.
Tak lama kemudian, tenggorokan Ui Bing mulai bersuara, namun kata-katanya lemah dan lirih seperti bunyi nyamuk, hampir tidak terdengar apa yang dikatakan.
Ibumu ....
ibumu ....."
Mendengar ibunya disinggung, mengencang jantung Ji Bun, napaspun menjadi sesak, katanya dengan cemas.
"Toako, bagaimana ibuku? Kenapa ibuku?"
Ui Bing tampak meronta, dia sedang berusaha sekuat tenaga, akhirnya beberapa patah kata tercetus pula dari mulutnya.
"Tok-keng ....... paderi Siau-lim ......"
Hampir melonjak keluar jantung Ji Bun, Tok-keng adalah kitab pusaka perguruannya, kini dirinya mengemban tugas perguruan untuk mencari pusaka ini, maka cepat dia mendesak.
"Tok-keng kenapa? Apakah terjatuh ke tangan paderi Siau-lim ......"
Tak terduga tiba-tiba kepala Ui Bing lantas doyong ke samping, jiwapun melayang.
Bagai terpeleset dan kejeblos ke jurang es yang dingin, sekujur badan Ji Bun seketika menggigil.
Ui Bing telah mangkat, namun meninggalkan teka-teki yang tak terpecahkan.
Dua murid Biau-jiu Siansing Ciang Wi-bin secara beruntun gugur dalam menunaikan tugas, mereka mati demi keselamatan kaum persilatan yang lain.
Entah berselang berapa lamanya barulah Ji Bun menangis gerung-gerung, untuk pertama kali sejak berkelana di dunia persilatan.
Dia menangis dengan pilu, sekaligus melampiaskan duka hatinya selama ini, namun tangis ini tidak bisa sekaligus melenyapkan penderitaan batinnya.
Belum genap setahun berkenalan dan angkat saudara dengan Ui Bing, namun Ui Bing tak ubahnya seperti saudara sekandung sendiri bagi Ji Bun.
Siapakah pembunuhnya?
Kalau pembunuh bertujuan menolong dirinya dan tidak mengetahui asal-usul Ui Bing, maka kematiannya sungguh terlalu penasaran.
Itu berarti kematian Ui Bing secara tidak langsung disebabkan dirinya pula.
Sudah tentu di samping sedih hatinyapun menyesal pula, derita hatinya bertambah getir.
Apapun yang terjadi, sebab dari semua peristiwa ini adalah akibat kejahatan yang dilakukan Ngo-hong Kaucu.
Satu jam Ji Bun berdiri terlongong baru dia menyeka air mata.
Di tempat itu juga dia menggali liang lahat mengebumikan jasad Ui Bing dengan jari tangan dia mengukir batu sebagai nisan.
Kuatir jenazah Ui Bing mengalami kerusakan karena diganggu orang, maka Ji Bun juga mengubur keempat mayat yang lain di tempat itu, tapi tidak membuat batu nisan, cukup ditutupi dengan dedaunan serta gundukan tanah tinggi saja.
Selesai bekerja dia berlutut dan memberi penghormatan terakhir di depan pusara Ui Bing, lalu dia duduk tenggelam dalam renungan yang mendalam.
"Ibumu ...... Tok-keng .... paderi Siau-lim ....."
Apa maksudnya?
Mungkinkah ibunya telah lolos dari cengkeraman jari-jari iblis serta membawa lari Tok-keng?
Lalu apa pula maksudnya "paderi Siau-lim"?
Tempat ini jauh dari Siong-san, bukan lingkungan yang dikuasai oleh orang-orang Siau-lim pula, apalagi pihak Siau-lim-pay selamanya tak pernah ikut berkecimpung dalam pertikaian orang-orang persilatan, murid-muridnya amat patuh pada peraturan agama.
Begitulah pikirannya hanya berputar dalam lingkaran ketiga persoalan ini.
Paderi Siau-lim?
Tok-keng?
Ya, maksudnya tentu Tok-keng terjatuh ke tangan paderi Siau-lim.
Sebagai murid tertua Biau-jiu Siansing, sudah tentu kepandaiannya dibidang teramat tinggi, umpama dia berhasil mencuri Tok-keng.
Kemudian Tok-keng itu terjatuh pula ke tangan paderi Siau-lim, ini mungkin sekali, mereka berlima mengalami bencana sehingga jiwa melayang, kebetulan paderi lewat, begitu melihat Tok keng, tentu saja mereka lantas mengambilnya.
Kemungkinan pula paderi itu adalah pembunuh kelima orang tujuannya merebut Tok-keng.
Beruntung dirinya sembunyi di dalam lubang pohon, malam gelap lagi sehingga jejaknya tidak diketahui orang.
Betapapun untuk membongkar rahasia ini harus mulai dari paderi-paderi Siau-lim, betapapun juga Tok-keng pantang jatuh ke tangan orang lain.
Tentang, ibunya yang disinggung Ui Bing, sejauh ini Ji Bun masih belum mampu memecahkan soalnya.
Biarlah hal ini ditunda setelah rahasia tentang Tok-keng dibongkar dari mulut paderi Siau-lim, bukan mustahil kunci dari semua perisiwa ini terletak di tangan paderi Siau-lim itu.
Namun paderi Siau-lim yang dimaksud hanya seorang atau ada beberapa orang, hal ini sukar diraba.
Menuju ke Siau-lim-si.
Dalam hati Ji Bun sudah berkuputusan.
Tujuan perjalanan kali ini sebetulnya menagih utang darah terhadap Ngo-hong-kau, markas Ngo-hong-kau ada di belakang puncak Siong-san, sedang Siau-lim-si berada di depan.
Jadi seperjalanan, sekaligus dia bisa menyelesaikan kedua persoalan ini.
Bergegas dia berdiri, di depan pusara Ui Bing ia menggumam.
"Toako, tenanglah istirahat aku akan pergi, persoalan akan kuselidiki supaya kau mati dengan tenteram ......"
Tak kuasa Ji Bun melanjutkan kata-katanya, air mata membuat pandangannya burem, duka cita membuat tenggorokannya tersumbat.
Tak lama kemudian Ji Bun sudah keluar dari hutan dan menempuh perjalanan ke arah timur.
Karena kepedihan yang luar biasa dan terangsang oleh pukulan lahir batin ini, Ji Bun sampai lupa tidak merasakan lapar dan dahaga.
Sehari semalam dia menempuh perjalanan tanpa istirahat, tidak berani berhenti, dia kuatir dirinya bisa gila dibuatnya.
Hari itu, menjelang magrib, Ji Bun tiba di depan gunung di mana Siau-lim-si berada.
Dua paderi setengah baya segera muncul menghadang, seorang merangkap tangan menyapa.
"Entah ada keperluan apa Sicu berkunjung ke biara kami?"
"Cayhe minta bertemu dengan Ciangbunjin kalian,"
Jawab Ji Bun dingin.
"Menemui Ciangbunjin? Tolong tanya ada keperluan apa?"
"Soal itu kau tidak perlu tahu."
Terunjuk rasa kuatir pada roman kedua paderi itu, salah satu paderi itu buka suara pula.
Baca Juga: Neraka Hitam 5
Baca Juga: Ular Belang Putih 1