Eps 11 Hikmah Pedang Hijau - Gu Long
Baca online Hikmah Pedang Hijau - Gu Long
Cersil Hikmah Pedang Hijau - Gu Long.
Di tengah kesibukan itu, diam2 para jago ketujuh aliran besar sama mohon diri Hou-bok-cuncia dan Sin-kun-teh-sing Bu In-hui ingin cepat pulang ke Siau-lim-si untuk memberi laporan, sedangkan jago2 dari perguruan lain mau pulang untuk mengundang teman2 lain.
Beberapa hari kemudian dunia persilatan dibikin gempar oleh tersiarnya beberapa macam berita, seluruh jagat terasa bergolak dan orang jadi tak tenang rasanya.
Berita pertama yang mengetarkan Kangouw adalah tantangan Lam-hay-bun untuk berduel dengan kawanan jago seluruh dunia pada bulan sembilan tanggal sembilan nanti di Siau-lim-si.
Untuk menyelenggarakan pertemuan besar Enghiong-tay-hwe ini bukan saja mengundang kawana Bu-lim dan Bu-lim-su-kongcu, bahkan orang2 persilatan di tepi perbatasanpun ikut diundang.
Berita kedua yang lebih menggemparkan membuat orang lupa pada peristiwa pertama yang akan menentukan nasib dunia persilatan itu.
Kiranya maksud baik Tian Pek akan mengajarkan ilmu dari Soh-kut-siau-hun-thian-hud-pit-kip ciptaan Ciah-gan longkun pada dua ratus tahun yang lalu itu telah tersiar luas di dunia persilatan.
Ketika berita itu tersebar, semua jago Kangouw bergolak, hampir semua orang lupa soal Eng-hiong-tay-hwe, mereka tidak lagi memikirkan nasib dunia persilatan, tapi ber-bondong2 berangkat ke Hin-liong-tin untuk melihat kehebatan kitab pusaka itu.
Hanya beberapa hari saja semua rumah penginapan di kota kecil Hin-liong-tin telah dipenuhi oleh jago2 persilatan, malahan banyak di antaranya tidak kebagian tempat penginapan dan terpaksa menginap di luar kota, mondok di kuil, bahkan ada pula yang berdiam di hutan terbuka.
Peristiwa ini memang luar biasa dan belum pernah terjadi, karena jago persilatan yang berkumpul di situ jumlahnya kelewat batas, suasana jadi tegang dan sering terjadi pertengkaran dan perkelahian.
Tian Pek, pemuda yang polos dan berjiwa besar itu tak pernah menyangka maksud baiknya itu, akan menimbulkan bencana sebesar ini.
Hakikatnya pada malam hari pertama di situ sudah terjadi peristiwa yang tak diinginkan.
Malam itu setelah Sin-liong-taycu mengumumkan akan diadakannya Enghiong-tay-hwe di Siongsan dan berlalu dari sana bersama begundalnya, semantara itu haripun terang tanah.
Setelah sibuk seharian, selesai bersantap malam semua orang lantas pergi beristirahat ke tempat masing2.
Guna bersiap menerima pelajaran dari Tian Pek pada keesokan harinya.
Malam itu Tian Pek dan paman Lui mendapat satu kamar, Tay-pek-siang-gi dan Ji-lopiautau bersatu kamar.
Buyung Hong dan Wan-ji menempati kamar yang lain, ketiga kamar ini letaknya berjajar pada sebuah serambi yang sama.
Setelah berada di dalam kamar, baru habis minum secawan air teh, tiba2 kamar Tian Pek diketuk orang, karena kamar tak terkunci, paman Lui lantas berseru.
"Masuk!"
Pintu didorong orang dan muncul Buyung Hong.
Ia mengenakan baju panjang warna hitam dengan ikat pinggang sutera, rambutnya terurai di bahu, kulituya yang putih bersih kelihatan kontras sekali dengan baju berwarna hitam.
Agaknya ia baru membersihkan badan, meskipun tidak memakai pupur namun di bawah cahaya lampu mukanya tampak menawan hati.
Setelah masuk kamar, Buyung Hong melirik sekejap ke arah Tian Pek, lirikan yang penuh rasa cinta mesra, lalu ia memberi hormat kepada paman Lui.
Sebagai seorang tua, paman Lui lantas tahu kedua calon suami isteri itu hendak bicara urusan pribadi, ia merasa tak enak hadir disitu, setelah berdehem, ia berkata.
"Kalian duduk2lah disini, aku mau keluar sebentar!"
Tapi Buyung Hong yang cerdik segera paham maksud paman Lui, dengan muka merah cepat ia berseru.
"Paman, kau jangan pergi, justeru ada urusan penting hendak kurundingkan dengan paman!"
"Urusan apa?"
Tanya paman Lui sambil berpaling.
"Titli tak bermaksud menyalahkan dia karena tindakannya membocorkan rahasia kitab itu,"
Kata Buyung Hong sambil melirik Tian Pek "Tapi yang pasti hal ini sudah menimbulkan kecurigaan sebagian kawanan jago itu!"
"Ai, biar curiga juga percuma,"
Sahut paman Lui sambil menghela napas.
"bagaimanapun kitab itu memang tak boleh diperlihatkan kepada mereka, justeru karena ingin menyelamatkan dunia persilatan dari malapetaka, maka Tian hiantit bersedia mengajarkan ilmu silat yang maha sakti itu kepada mereka. Berbicara sesungguhnya, tindakan Tian-hiantit ini sungguh luar biasa sekali, kalau masih ada yang tamak, diberi segobang minta seringgit, ya apa boleh buat lagi, itu menandakan mereka tak tahu diri!"
Jilid 25
"Titli pernah melihat sendiri isi kitab itu, sesungguhnya kitab tersebut memang tak pantas diperlihatkan kepada umum ... ."
Kata Buyung Hong, sampai disini tanpa terasa ia terkenang kembali peristiwa masa lampau, ketika ia merampas kitab itu dari tangan Tian Pek di gua rahasia di bukit Siau-kut san, bila membayangkan kembali isi kitab itu, merahlah muka nona itu.
Tapi dengan cepat ia menyadari betapa gawatnya masalah yang sedang dihadapi, ujarnya lebih jauh.
"Tanpa sengaja Titli mendengar orang sedang berunding untuk merampas kitab itu dan melakukan tindakan yang tidak menguntungkan engkoh Tian, maka malam ini paman dan engkoh Tian harus hati-hati!"
Tian Pek tertegun, ia tak menyangka maksud baiknya akan mendatangkan banyak persoalan dan berbagai kesulitan bagi diri sendiri, ia berseru keheranan.
"Ah, masa ada kejadian semacam itu?"
"Siapakah orangnya? Berasal dari perguruan mana?"
Tanya paman Lui dengan muka serius.
"Tadi secara kebetulan Titli lewat depan sebuah kamar rahasia di halaman belakang sana, tanpa sengaja kudengar samar2 seorang sedang berkata. 'Kitab nomor satu di kolong langit itu ....harus kita rampas...bila perlu orang she Tian itu...aku ingin mendengarkan lebih lanjut, tapi rupanya merekapun cerdik, seorang lagi lantas mengalangi rekannya berbicara lebih jauh, karena itu akupun tak tahu siapa yang berkumpul di ruang rahasia itu!"
"Siapa yang bertugas ronda di sekitar tempat ini?"
Tanya Tian Pek.
"Anak murid perkumpulan pengemis!"
Dengan wajah serius paman Lui bangkit berdiri, tiba2 katanya.
"Aku akan mencari Hong-jan-sam-kay dan menanyakan soal ini, ingin kuketahui siapakah yang bermaksud menimbulkan keonaran ini?"
Pada saat itu tiba-tiba Wan-ji masuk dan mencegah niat paman Lui, katanya.
"Paman jangan tegur mereka, bukan pihak perkumpulan pengemis saja yang mempunyai maksud jahat, boleh dibilang semua orang bermaksud busuk, asal malam ini kita berjaga-jaga dengan ketat, kukira cukuplah."
Setelah bersemadi seharian, luka Wan-ji telah sembuh kembali, kesehatannya telah pulih seperti sediakala, wajahnya tampak segar dan mempesona.
"Adik Wan, apakah kau juga menemukan sesuatu?"
Tanya Tian Pek cepat.
"Ehm, saat ini orang2 itu secara bergerombol sedang merundingkan sesuatu, mereka terdiri dari ber-kelompok2, meskipun tidak kuketahui apa yang mereka rundingkan, tapi sudah pasti takkan terlepas dari soal merampas kitab pusaka Soh-kut-siau-hun-thian-hut-pi-kip itu!"
Sekarang Tian Pek baru menyesal, ia tak menyangka maksud baiknya untuk menyelamatkan dunia persilatan justeru malah menimbulkan banyak kesulitan bagi diri sendiri.
rasa kecewa jelas terpancar pada wajahnya.
Sementara itu paman Lui berkerut dahi sambil berseru dengan gusar.
"Kurangajar, mereka benar tak tahu diri. Kalau ada yang berani mencari gara2, pasti akan kuhajar mereka!"
Lalu dia berpaling kepada Buyung Hong dan Wan-ji seraya berkata lagi.
"Sudahlah, kalian boleh kembali untuk beristirahat!"
Sepeninggal Buyung Hong dan Wan-ji, paman Lui berkata pula kepada Tian Pek.
"Sudahlah kitapun beristirahat!"-Ia lantas naik pembaringan dan tidur. Tian Pek cukup kenal watak paman Lui, ia tak banyak bicara lagi, setelah memadamkan lampu iapun naik pembaringan. Kedua orang ini memang berilmu tinggi dan bernyali besar, meskipun tahu bahaya akan mengancam, namun mereka tidak melakukan persiapan apa2, malahan setelah berbaring di pembaringan paman Lui lantas tidur mendengkur. Berbeda dengan Tian Pak, ia tak dapat tidur karena banyak persoalan yang berkecamuk dalam benaknya. Dia teringat kembali sakit hati ayahnya, dengan susah payah ia engembara, tujuannya adalah membalas dendam, tapi tak tersangka musuh besarnya itu satu demi satu binasa, bukan dibunuh olehnya tapi dilaksanakan oleh orang lain, jadi usahanya dengan susah payah dan penderitaannya selama ini hanya sia2 belaka. Setelah pertarungannya melawan Hay-gwa-sam-sat dan Hek to-su hiong, rasa percayanya pada diri sendiri makin tebal, ia tahu kepandaian sendiri sudah cukup untuk menjagoi kolong langit ini. Sebagai pemuda yang berilmu tinggi, sepantasnya ia berjuang demi keadilan dan kebenaran bagi umat manusia, tapi sayang ia terbelenggu oleh janji sendiri dan tak mungkin baginya untuk mencampuri urusan dunia persilatan lagi. Dendam kematian ayahnya sudah terbalas, iapun tak dapat mencampuri urusan dunia persilatan, inilah kesempatan baik baginya untuk mengasingkan diri di tempat yang indah. Siapa tahu, karena ingin menolong umat persilatan dari badai pembunuhan, bukan pembalasan baik yang diterima malahan menimbulkan pikiran jahat orang mengincar kitab pusakanya. Ia tak tahu siapa2 yang bermaksud jahat padanya, tapi dari pembicaraan Buyung Hong dan Wan-ji jelas orang yang mengincar Soh-kut-siau-hun-thian-hud-pi-kipnya itu tidak sedikit jumlahnya. Terbayang kembali tentang Wan-ji, ia pikir dirinya sudah mengikat jodoh dengan Buyung Hong, tak mungkin baginya untuk bermesraan pula dengan adiknya, tapi cinta kasih Wan-ji yang begitu mendalam dan hangat tak mungkin terlupakan untuk selamanya ....Berpikir sampai di sini. ia menghela napas panjang dan membalik tubuh ....Mendadak dilihatnya berkelebatnya cahaya hijau di luar jendehla, mula2 dia mengira ada seekor kunang2 tersesat di sana, maka tak diperhatikannya, siapa tahu dengan cepat segulung asap lantas mengepul ke arahnya. Ketika asap terisap ke lubang hidung, Tian Pek merasakan kepalanya jadi pening. Segera ia merasa gelagat tidak baik, cepat ia menahan pernapasannya, ia mengerahkan hawa murninya dan desak keluar hawa racun yang sudah telanjur diisapnya tadi. Untunglah tenaga dalamnya cukup sempurna, iapun pernah minum Ci-tam-hoa yang berusia ribuan tahun, karenanya bubuk racun itu tak sampai berpengaruh apa2 dalam tubuhnya. Hakekatnya hawa racun yang dilepaskan orang di luar jendela itu lihay sekali, asap itu bernama Ngo-ko-toan-hun-hiang (dupa pemutus nyawa sebelum kentongan kelima), sekalipun seorang berilmu tinggi akan jatuh tak sadarkan diri seteleh mencium baunya. Seperti juga namanya, bila sebelum kentongan kelima atau fajar menyingsing korban tidak diberi obat khusus, niscaya akan binasa. Tampakmya pelepas racun itu mengetahui Tian Pek berilmu tinggi, bila harus bertempur secara terang2an pasti mereka bukan tandingannya, maka digunakan cara yang keji ini untuk melumpuhkannya. Siapa tahu kepandaian Tian Pek dewasa ini sudah mencapai tingkatan tak mempan tehadap segala macam racun, hanya cukup menyalurkan hawa murninya hawa racun yang mengeram dalam tubuhnya segera terdesak keluar, bahkan kesehatan dan kesegaran badannya telah pulih kembali seperti sedia kala. Sesudah berhasil memaksa keluar hawa racun itu, Tian Pek mencoba untuk membangunkan paman Lui, siapa tahu jejak paman Lui sudah lenyap tak berbekas, entah sejak kapan ia pergi dari tempat itu. Tiba2 terdengar dengusan tertahan di luar jendela, tampaknya ada seseorang terkena serangan, menyusul terdengar suara paman Lui tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, jangan kau anggap setelah mengenakan kedok lalu orang tak kenal kau lagi! Hm memalukan sekali, sungguh tak nyana dalam perkumpulan pengemis terdapat manusia kotor semacam kau!"
Dari angin pukulan memutuskan kata2 itu diantara suara langkah kaki yang kacau, dapat diketahui bukan satu dua orang saja yang terlibat dalam pertarungan itu..Diam2 Tian Pek malu diri, ia dapat membuktikan bahwa sesungguhnya ia masih belum berpengalaman, kenyataannya meski paman Lui tidur mendengkur, tapi ia lebih cepat mengetahui jejak musuh daripadanya.
Kenyataan ini membuat anak muda itu bertindak lebih waspada lagi, ketika didengarnya paman Lui sudah terlibat dalam pertarungan melawan orang di luar, ia tidak langsung keluar rumah melainkan secara diam2 menerobos keluar dari jendela belakang, lalu dia melayang ke atas atap rumah.
Siasat ini ternyata tepat, sebab takkala Tian Pek berhasil mencapai atap rumah, ia saksikan kecuali beberapa orang yang sedang bertempur melawan paman Lui, di atas atap rumah terdapat pula empat lima orang lain.
Dengan ilmu meringankan tubuh Tian Pek melayang ke atap rumah tanpa menimbulkan suara ditambah pula beberapa orang itu asyik menyaksikan pertarungan yang sedang berlangsung, walaupun Tian Pek sudah berada lima depa dibelakang mereka, ternyata orang2 itu belum merasakannya.
Dengan seksama pemuda itu mengawasi orang2 itu, dari bayangan punggung salah seorang di antara mereka ia dapat mengenali orang itu, seperti Toan-hong Kongcu, sedangkan tiga orang lainnya adalah anggota perkumpulan pengemis.
Kenyataan ini sangat menggusarkan Tian Pek, ia segera mendengus.
Dengan terperanjat beberapa orang itu membalik badan, tampaknya mereka tak menyangka bakal muncul seorang dari belakang.
Orang2 ini menutupi mukanya dengan kain kerudung hitam, Tian Pek tertawa dingin, ejeknya.
"Hehehe, rupanya kalian memang cecunguk2 sebangsa maling ayam, kalau berani berbuat kenapa tak berani bertemu orang dengan wajah asli?"
Orang2 itu tidak menjawab, salah satu di antaranya dengan sorot mata yang tajam segera menerjang maju dan menghantam, tenaga serangannya berat, ini menandakan lwekangnya cukup sempurna.
Tian Pek tak gentar, ia menyambut dengan keras lawan keras.
Orang itu cukup licik, sebelum tenaga pukulan saling bentur, tiba2 ia menarik kembali serangannya dan kabur dengan cepat.
Sementara empat-lima orang yang lain, serentak ikut kabur berpencar.
Rupanya mereka tahu bukan tandingan Tian Pek, maka ketika dilihatnya rencana mereka gagal total dan pemuda yang disegani itu muncul serentak mereka kabur ter-birit2 agar diri mereka tidak sampai diketahui.
"Mau kabur ke mana?"
Bentak Tian Pek, cepat ia mengejar pemimpin rombongan itu.
Siapa tahu orang itu cukup licik, tiba2 ia berpaling sambil mengayunkan tangannya, cahaya putih segera menyambar ke batok kepala anak muda itu.
Dengan cekatan Tian Pak mengegos ke samping dan menghantam hingga cahaya putih itu mencelat ke udara ...
."Blang!"
Sinar putih itu meledak, cahaya api segera berhamburan.
Bersamaan dengan terjadinya ledakan.
itu, suara bentakan nyaring serentak berkumandang dari empat penjuru, beratus biji peluru berhamburan di angkasa bagaikan hujan, semuanya ditujukan ke arah Tian Pek.
Agaknya ledakan bunga api itu adalah tanda yang sengaja dilepaskan untuk memerintahkan anak buahnya melangsungkan sergapan dengan senjata rahasia.
Tian Pak berpekik nyaring, dia putar kedua telapak tangannya hingga berwujud selapis hawa pukulan yang kuat semua peluru baja itu tergetar beterbangan.
Dalam pada itu, kawanan penjahat yang sedang bertarung dengan paman Lui telah kabur pula dari situ, sedemikan Tay-pek-sgiang-gi, Buyungi Hong, Wan-ji dhan Ji-lopiautau juga telah bermunculan, beberapa orang itu segera terkurung pula di bawah hujan peluru baja.
Menghadapi kejadian seperti ini, terpaksa beberapa orang itu harus memukul rontok pelurus baja itu, tapi jumlah Am-gi yang beterbangan itu terlampau banyak, seketika mereka menjadi kalang kabut.
Sementara itu kawanan jago yang berdiam di bilik2 lain telah berlarian menuju halaman depan demi mendengar suara pertempuran, tiba2 terdengar seseorang membentak.
"Berhenti semua"
Tiga sosok bayangan manusia dengan cepat melayang masuk ke tengah arena, tiga orang itu tak lain adalah Hong-jan-sam-kay, ketiga Tianglo dari perkumpulan pengemis.
Sekilas pandang pangemis sinting Coh Liang lantas tahu bahwa kawanan jago yang melancarkan serangan peluru baja tak lain adalah anak murid perkumpulannya, mereka lebih gusar lagi setelah mengetahui bahwa orang yang diserang adalah paman Lui dan Tian Pek sekalian.
"Berhenti!"
Hardiknya.
"Siapa yang memberi perintah untuk menyerang orang sendiri? Kalian sudah gila..?""
Setelah dibentak oleh Hong-jan-sam-kay, anak murid perkumpulan pengemis segera menghentikan serangannya, suasana menjadi hening. Paman Lui terbahak-bahak, katanya dengan setengah mengejek.
"He, pengemis busuk! Bila kalian tak dapat memberi penjelasan yang masuk di akal kepada kami, aku bersumpah takkan berhubungan dengan kalian bertiga!"
Pengemis sinting yang biasanya suka tertawa ini berdiri dengan wajah serius, sahutnya.
"Sekalipun saudara tua tidak berkata begini kami juga akan selidiki persoalan ini hingga menjadi jelas, betul-betul memalukan Kay-pang!"
Paman Lui tidak berbicara banyak, dia menghampiri tepi jendela dan memungut suatu benda dari sana, kemudian diangsurkan kepada pengemis sinting, katanya.
"Pengemis busuk! Coba kau periksa benda ini.. Sungguh tak kusangka kalian pengemis-pengemis busuk ini juga melakukan pekerjaan kotor begini, benar-benar memalukan!"
Pengemis sinting menerima angsguran benda itu idan diperiksanyha dengan sekasama, ternyata benda itu adalah sejenis alat yang dinamakan Pek-tong-sian-ho (bangau dewa tabung tembaga putih).
Benda itu tersohor sekali di dunia persilatan, andaikan belum pernah melihat tentu juga pernah mendengar, karena alat tersebut memang khusus digunakan untuk menyemburkan dupa pemabuk, alat semacam ini seringkali dipakai oleh manusia-manusia golongan hitam bila akan melakukan pencurian atau pembegalan.
Hampir meledak dada pengemis sinting saking marahnya, untuk sesaat ia jadi tertegun dan tak mampu bicara.
Perkumpulan Kay-pang meski terdiri dari golongan manusia paling miskin di dunia ini, tapi peraturan rumah tangga mereka cukup ketat, dimulai dari cikal bakal mereka sampai saat ini, pantangan yang pertama adalah.
Lebih baik mati kelaparan daripada menjadi pencuri.
Tapi sekarang alat khusus yang biasa digunakan kaum penyamun muncul di tangan anak buah perkumpulan pengemis, bahkan terjatuh ke tangan paman Lui, kejadian ini membuat Hong-jan-sam-kay jadi marah dan malu.
Air muka pengemis pemabuk berubah sedingin salju, ia berpaling, bentaknya kepada anak murid yang bersembunyi di sekitar tempat itu.
"Siapa yang bertugas ronda? Hayo cepat menggelinding keluar!"
Seorang pengemis berusia setengah baya mengiakan dan muncul dengan muka pucat seperti mayat.
Perlu diketahui Hong-jan-sam-kay adalah Tianglo dari perkumpulan pengemis, bukan saja kedudukannya amat tinggi, merekapun mempunyai kekuasaan untuk menentukan mati hidupnya seseorang apalagi sekarang dalam keadaan gusar, wajah mereka dalam keadaan menyeramkan.
Setibanya di hadapan pengemis pemabuk, pengemis setengah tua itu berhenti dan memberi hormat, katanya.
"Tecu Cau Siang-hui (terbang di atas rumput) Pek Liang yang bertugas"
"Cuh!"
Pengemis pemabuk Pui Pit menyemburkan riak kental ke arah pengemis itu, lalu makinya.
"Bangswat, rupanya kau sudah buta, sebab apa kau memberi perintah untuk menyerang Lui tayhiap?"
"Tecu hanya menjalankan perintah atasan, harap tianglo maklum"
Sahut Cang Siau-hui Pek Liang dengan munduk-munduk, sampai riak yang menempel di pipi tak berani diusapnya.
Mendengar jawaban tersebut, pengemis sinting mencengkeram pergelangan tangan kanan Pek Liang dan hardiknya lagi.
"Cepat mengaku, atas perintah siapa?"
Dalam gusarnya cengkeraman pengemis sinting ini dilancarkan dengan tenaga besar, hampir saja lengan orang itu patah, meski kesakitan sampai keringat membasahi tubuhnya, Pek Liang meringis dan bertahan sekuatnya, sahutnya tegas.
"Tecu melaksanakan perintah Ciangbunjin!"
Dengan cepat Hong-jan-sam-kay saling pandang sekejap, tampaknya mereka sudah memahami sebagian besar duduk persoalan yang sebenarnya, Meski begitu pengemis sinting tidak melepaskan cengkeramannya, kembali ia menegas.
"Ucapanmu tidak keliru?"
"Tecu tak berani bohong!"
Sahut Pek Liang dengan ketakutan.
Pengemis sinting tidak banyak bicara lagi, dia lepaskan cengkeramannya dan mundur dua langkah setelah berpandangan dengan kedua orang rekannya ia tarik napas panjang dan membungkam.
Dalam pada itu, kawanan jago dari dunia persilatan telah mengerumuni sekitar gelanggang, dengan tenang mereka nantikan apa tindakan perkumpulan pengemis akan mengatasi persoalan ini, suasana menjadi hening.
Seandainya perbuatan ini dilakukan oleh salah seorang anggota perkumpulan, maka Hong-jan-sam-kay dengan kedudukannya sebagai Tianglo bisa menjatuhkan hukuman sesuai dengan peraturan, dengan demikian merekapun bisa memberikan pertanggungan jawab kepada paman Lui.
Tapi sekarang Pek Liang mengaku bertindak atas perintah sang Ciangbunjin atau ketua mereka sendiri, dengan sendirinya persoalannya menjadi lain lagi, bukan saja hal itu merupakan peristiwa yang sangat memalukan perkumpulan pengemis, merekapun tak bisa mengambil tindakan dengan seenaknya, Karena turun menurun kedudukan ketua mempunyai kekuasaan tertinggi dalam tubuh perkumpulan, tiada peraturan yang mengijinkan seorang untuk menjatuhkan hukuman kepada ketua.
Lain sekali tiga orang itu saling berpandangan dengan ragu, tiba2 satu ingatan terlintas dalam benak si pengemis pemabuk, ia membentak lagi ke arah Pek Liang yang sedang mengundurkan diri dari situ.
"Berhenti! Apakah Ciangbunjin memberikan perintah sendiri kepadamu?"
Sebelum Cau-siang-hui Pek Liang menjawab, mendadak terdengar gelak tertawa nyaring, menyusul mana sesosok bayangan melayang masuk ke tengah gelanggang.
Orang itu tak lain adalah Toan-hong Kongcu ketua Kay-pang yang paling muda selama sejarah perhimpunan kaum jembel itu.
Begitu Toan hong Kongcu muncul, diam2 Tian Pek mencibir dan membatin.
"Akan kulihat bagaimana caramu membersihkan diri dari segala tuduhan?"
Toan hong Kongcu tampak tenang2 saja, ia tertawa hambar, ujarnya kepada Hong-jan-sam kay.
"Bagaimanapun persoalan ini harus diselidiki hingga jelas!"
Lalu ia berpaling ke arah Pek Liang dan membentak.
"Apakah Ciangbunjin pribadi yang memberi perintah kepadamu?"
"Tecu menerima perintah dari Sin-heng-tay po (pangeran langkah sakti) Tang Cing yang membawa Lik-giok-tiang-leng (pentung hijau tanda perintah)"
"Panggil Sin-heng-tay po Tang Cing kemari!"
Bentak Toan-hong Kongcu dengan kereng. Perintah itu segera disampaikan, tapi kemudian datang laporqn bahwa Sin heng-tay-po Tang Cing telah lenyap entah pergi ke mana.
"Bawa kemari Lik-giok tiang-leng!"
Seru Toan hong Kongcu lagi. Hui-ca tay-po (pangeran garpu terbang) Han Giok mengiakan, selang sejenak ia telah muncul kembali, katanya dengan ter-bagta2.
"Lapor Ciaingbunjin, Lik-ghiok tiang-leng tak ada di ruang tengah!"
Mendengar laporan itu, air muka Hong-jan-sam-kay berubah hebat, Toan-hong Kongcu sendiripun tampak diliputi emosi, serunya lagi;
"Siapa yang bertugas menjaga ruangan itu?"
"Tah-hou-tay po (pangeran pemukul harimau) Lim Lip serta Kim ciong-tay-po (pangeran tumbak emas) Keh Hong!"
"Pangil kedua orang itu kemari!"
Bentak Toan-hong Kongcu dengan wajah pucat hijau.
"Mereka sudah tak nampak lagi batang hidungnya!"
Jawab Hui ca tay-po.
Wajah Hong jan sam kay dan Toan Hong Kongcu kali ini benar2 berubah hebat, sebab Sin heng, Tah hou, Hui-ca dan Kim-ciong.
Keempat Tay-po adalah pelaksana hukum perkumpulan pengemis, sekarang tiga diantaranya tak nampak lagi batang hidungnya, bahkan tanda kekuasaan Likgiok-tiong-leng pun ikut lenyap.
dari sini dapat diketahui betapa seriusnya masalah ini.
Toan-hong Korgcu lantas memberikan perintah untuk melakukan pencarian secara besar2an, semua anggota pengemis dikerahkan untuk mencari jejak ketiga Tay-po itu dan Lik-giok-tiang-leng, tapi jejak mereka se-akan2 tenggelam di samudra luas, sama sekali tak ada beritanya lagi.
Setelah gagal mencari jejak orang2 itu, Toan-hong Kongcu berpendapat tentulah Sam-tay-po itu sudah menyalahgunakan wewenangnya untuk memberi perintah palsu dengan mencatut nama ketuanya dan tanda kepercayaan tongkat kumala hijau itu, tujuan mereka pastilah hendak mencuri kitab pusaka Soh-kut-siau hun-thian-hud-pi-kip.
Uraian Tong-hong Kongcu ini ternyata tidak dibantah seorangpun atau ada yang berpendapat lain, hanya Tian Pek saja diam2 masih curiga, sebab dari balik atap rumah jelas ia melihat adanya lima sosok bayangan manusia berkerudung, satu diantaranya tak lain adalah Toan-hong Kongcu, tapi karena tak ada bukti yang jelas maka iapun tidak membongkar rahasia tersebut.
Tatkala kaum pengemis itu membekuk Huica-tay-po, satu2nya pelaksana hukum yang tidak lolos itu atas perintah Toan-hong Kongcu, kemudian meminta maaf kepada paman Lui, satu ingatan cerdik tiba2 melintas dalam begnak Tian Pek, ia lantas berseru dan mengumpulkan kembali kawanan jago silat yang akan bubar itu.
katanya.
"Demi menyelamatkan dunia persilatan dari bencana, secara gegabah aku Tian Pek telah membocorkan rahasia Soh-kutsiau-hun-thian-hud-pit-kip kepada semua orang, kenyataannya akibat dari tindakanku ini telah muncul orang2 yang tak diinginkan, terpaksa aku harus mengambil tindakan cepat dan tindakan tersebut rasanya cuma ada satu jalan. .."
Dia keluarkan kitab pusaka itu dari sakunya, kemudian diperlihatkan kepada para hadirin, katanya lebih lanjut.
"Cara itu ialah memusnahkan kitab pusaka yang menjadi incaran banyak orang ini di hadapan kalian semua"
Begitu selesai berkata "Prak!"
Kedua telapak tangannya ditekan dengan keras2 dan kitab pusaka Soh-kut-siau-hun-thian-hud-pi-kip yang menjadi incaran setiap umat persilatan itu tahu2 sudah hancur dan musnah menjadi abu.
Tindakan Tian Pek ini sama tekali di luar dugaan siapapun, saking kagetnya semua jago hanya berdiri tertegun dengan mata terbelalak lebar, tidak terkecuali paman Lui, saking kagetnya ia sampai tak mampu berkata2.
Tian Pek masih saja tenang2, begitu kitab pusaka yang menjadi idaman setiap umat persilatan itu dihancurkan, lalu ia menyebarkan abu buku itu ke udara hingga beterbangan dan tersebar kemana2.
Selesai memusnakan kitab tadi, anak muda itu menghampiri paman Lui dan berkata sambil memberi hormat.
"Paman, harap maafkan tindakan keponakanmu yang kelewat batas ini!"
"Ai, sudah dihancurkan ya sudahlah"
Sahut paman Lui sambil menghela napas dan menggeleng kepala.
"Cuma sayang jerih payah Ciah-gan-longkun akhirnya harus musnah dengan cara begini ....."
Saking sedihnya jago tua ini sampai tak mampu melanjutkan kata2nya.
Setelah terjadi peristiwa itu, kawanan jago yang berkumpul baru bisa mengembuskan napas lega mereka merasa gegetun, sayang dan kecewa, dengan membawa pelbagai perasaan yang berbeda inilah orang2 itu siap membubarkan diri ......
Tapi ada pula beberapa orang di antaranya merasa curiga, mereka berpikir.
"Ah, masa ia betul2 sudah musnahkanw kitab pusaka yyang dianggap orxang persilatan sebagai kitab paling aneh di dunia itu ......?"
"Jangan2 kitab yang dimusnahkan hanya kitab palsu ..... ?"
Toan-hong Kongcu sendiri berdiri mematung seperti orang linglung, mimpipun ia tak menyangka Tian Pek bakal musnahkan kitab pusaka Soh kut-siau hun-thian hud pi kip yang diidam-idamkan setiap jago silat itu di hadapan mereka.
Dengan begitu, berarti pula semua rencana dan siasatnya gagal total.
rasa kecewa yang dialaminya otomatis berlipat kali lebih hebat daripada orang lain.
Mendadak satu ingatan terlintas dalam benaknya, cepat ia bertanya;
"Tian-heng, apakah kau mempunyai salinan kitab itu ... .?"
Sungguh gusar tak terkirakan hati Tian Pek mendapat pertanyaan itu, ia tak mengira sebagai seorang ketua perkumpulan terbesar ternyata punya pandangan sepicik itu, tak tahan lagi anak muda itu balas menjengek.
"Hehe, kitab salinan memang ada, cuma, berada di dalam hatiku, apakah Kongcu hendak membelah dadaku dan sekalian merogoh keluar hatiku?"
"Ah, saudara Tian memang pandai bergurau!"
Ajar Toanhong Kongcu sambil tertawa ter-sipu2
"aku cuma menganggap terlalu sayang kalau kitab sehebat itu harus dimusnahkan begitu saja, masa tanya saja tak boleh?"
Tian Pek mendengus, tiba2 ia maju tiga langkah ke muka dan mundur lima langkah ke belakang, tubuhnya bergerak secepat kilat, dalam sekejap ia sudah melancarkan empat kali pukulan berantai.
Angin pukulan men-deru2 dan kelihatan mengerikan tapi semua pukulan itu bukan tertuju pada manusia melainkan menuju ke udara kosong.
Kendatipun demikian, Toan-hong-kongcu dan Hong-jan-sam-kay yang berada di dekat situ tak bisa berdiri tegak lagi, sambil menjerit kaget serentak mereka melompat mundur.
Semua orang sama tertegun, siapapun tak mengerti apa yang dilakukan anak muda itu.
Setelah Tian Pek memainkan empat kali pukulan dengan diimbangi ilmu langkah Cian-hoan-biau-hiang-poh dan Ginkang Bu-sik-bu-siang-sin-hoat, segera pula ia berhenti darn berseru.
"Gerakan yang kulakukan barusan adalah jurus pertama dari Thian hud-lik yang bernama Hud-kong-bu-ciau Bagaimana? Cukup untuk menjadi bahan renungan Ciangbunjin selama beberapa hari bukan?"
Maksud ucapannya amat jelas, se-akan2 ia hendak menyatakan bahwa janganlah kau terlampau tamak, untuk mengisap inti sari ilmu sakti ini bukanlah pekerjaan semudah sangkaanmu.
Ketika dilihatnya kawanan jago itu berdiri dengan melenggong, beruntun ia lancarkan pula tiga jurus gerakin Hud-coh-hang-song (Buddha suci turun ke bumi).
Liu-sing-yau-hue (menyapu bersih hawa siluman) serta Hong-ceng-lui-beng (angin menderu guntur menggelegar).
Di dalam demontrasinya ini ia telah mainkan ilmu pukulan Thian-hud-hang-mo-ciang disertai ilmu pukulan Hong-lui-pat-ciang, meskipun hanya tiga jurus serangan berantai, tapi hawa pukulan yang terpancar luar biasa dahsyatnya, seketika berjangkit angin taupan yang menggulung tinggi ke udara.
Demontrasi yang hebat dan luar biasa ini membuat kawanan jago itu diam2 menjulurkan lidah, pikir mereka.
"Entah bagaimana caranya bocah ini berlatih hingga mencapai prestasi setinggi ini ... .?"
Sementara itu Tian Pek sudah berhenti, melihat semua orang memandangnya dengan bingung, ia menghela napas dan menggeleng kepala seraya berkata.
"Ilmu silat yang tinggi tak dapat dipelajari dengan gegabah, baiklah kita mulai dari permulaan lagi!"
Pemuda itu lantas duduk bersila seperti seorang paderi agung dan mulailah dia menerangkan ilmu tenaga dalam.
Begitu mendengar Tian Pek mulai membacakan teori tenaga dalam Soh-kut-siau-hun-thian-hud-pit-kip, kawanan jago mulai berkerumun di sekeliling anak muda itu dan memasang telinga baik2.
Waktu itu keadaan Tian Pek sepgerti sang Buddhia yang sedang berkhotbah, matanya terpejam dan mulutnya komat-kamit, angker dan berwibawa tampaknya, sementara kawanan jago yang berkumpul juga pusatkan perhatian, suasana jadi hening, tak terdengar suara lain..-.
Entah sejak kapan malam telah lalu dan sang surya sudah memancarkan cahayanya di ufuk timur.
Kawanan jago yang ikut dalam pelajaran itu kebanyakan adalah jago2 yang berilmu tinggi, sekalipun seorang pemuda juga paling sedikit memiliki dasar ilmu silat yang tangguh, ketika mendengar apa yang diajarkan Tian Pek ternyata merupakan ilmu sakti yang belum pernah dijumpai sebelumnya, bahkan bila dibandingkan dengan apa yang pernah mereka pelajari selama ini bedanya seperti langit dan bumi, kenyataan ini membuat jago2 itu makin tertarik, sehingga semua pikiran dan perhatian mereka tertuju pada satu titik saja, sekalipun terjadi ledakan dahsyat di samping mereka mungkin takkan dihiraukan, Begitulah, ber-turut2 Tian Pek memberi pelajaran selama tujuh hari, selama ini semua orang menerima pelajaran sambil berlatih menurut pelajaran yang baru mereka terima dari Tian Pek, ternyata kemajuan yang dicapai luar biasa sekali, kenyataan ini membuat semua orang tak kepalang girangnya, sebab andaikata mereka berlatih dengan menggunakan cara yang lama, entah berapa banyak kesulitan yang akan ditemui.
Diantara sekian banyak orang, paman Lui, Buyung Hong, Wan-ji, Kim Cay-hong serta Hoan Soh-ing memperoleh kemajuan yang paling pesat.
Ini disebabkan paman Lui pernah mempelajari isi kitab pusaka Soh-kut-siau-hun-thian-hud-pit-kip itu selama ber-tahun2, hanya saja karena tidak mendapatkan bantuan Liu Cui-cui dengan ilmu To-li-mi-hun-tay-hoatnya, maka banyak bagian yang tak berhasil dia tembus, tapi sekarang setelah memperoleh petunjuk Tian Pek ia jadi memahami kesalahannya, tak heran bila kemajuan yang dicapainya melampaui siapapun..
Kiranya sewaktu Ciah-gan-longkun melukis kitab paling aneh di kolong langit itu, dia telah menyembunyikan pula rahasia ilmu silat di antara lukisan2 bugil yang merangsang itu, bila orang tak tahu rahasia itu, hanya berlatih dengan dasar tulisan belaka, belum cukup bagi orang itu untuk mencapai prestasi yang paling tinggi.
Mungkin hal ini tak pernah dipikir paman Lui, tak disangka olehnya kitab yang dihadiahkan kepada Tian Pek ternyata dapat dipecahkan pula rahasianya oleh pemuda itu, dari sini terbuktilah betapa pentingnya pengaruh nasib dan takdir bagi umat manusia di dunia ini.
Sedangkan alasan mengapa Buyung Hong, Wan-ji, Kim Cay-hong dan Hoan Soh-ing mendapat kemajuan yang jauh lebih pesat dari orang lain, ini disebabkan karena mereka berempat sangat mempercayai Tian Pek, mereka yakin pelajaran yang diberikan anak muda itu pasti tepat.
Begitulah Tian Pek sudah memberi pelajaran selama delapan hari, malam itu ketika ia kembali ke kamarnya, belum lagi tidur, mendadak di luar jendela terdengar suara kain baju tersampuk angin.
Suara itu lirih sekali se-akan2 angin yang berembus lewat, tapi tak dapat mengelabuhi ketajaman pendengaran Tian Pek, sebab dengan tenaga dalam yang dimilikinya sekarang, sekalipun daun yang gugur atau bunga yang rontok pada jarak sepuluh tombak di sekelilingnya iapun dapat menangkap suara itu dengan jelas.Untuk menjaga segala kemungkinan, dengan gerakan yang cepat ia menerobos keluar lewat jendela belakang.
Dari kejauhan ia lihat dua sosok bayangan orang dengan cepat sedang berkelebat melayang turun ke pekarangan sebelah depan.
Tian Pek semakin curiga, ia lantas menggunakan gerakan Bu-sik-bu-siang-sin-hoat yang ringan untuk menyusulnya, hanya tiga-lima lompatan saja ia berhasil menyusul di belakang kedua orang itu tanpa diketahui mereka.
Di bawah remang2 cahaya rembulan, Tian Pek dapat melihat badan kedua orang itu, di luar dugaan ternyata mereka adalah dua nona yang bertubuh ramping.
Tian Pek semakin heran, pikirnya.
"Mau apa kedua nona ini malam2 begini berkeluyuran?..."
Sementara itu, kedua sosok bayangan ramping itu sudah berhenti di tepi sebuah hutan kecil, Tian Pek bersembunyi di belakanng pepohonan dan mengintip gerak-gerik mereka, sekarang ia dapat melihat jelas, tak salah lagi kedua orang itu ialah Buyung Hong dan Tian Wan-ji.
Hal ini makin mengherankan anak muda itu, mau apa kedua nona itu malam2 menuju ke hutan yang sunyi itu?' Karena curiga, ia tak mau unjuk diri, ia bersembunyi di belakang pohon untuk mengintip gerak gerik kedua nona itu.
Terdengar Buyung Hong sedang tertawa cekikikan dan berkata.
"Moay-moay, coba kauterka untuk apa kuajak kau kemari?"
Tampaknya Wan-ji baru tahu orang yang disangka musuh ternyata tak lain adalah kakaknya sendiri, ia tercengang kemudian menjawab.
"Ah, kiranya Cici adanya! Urusan apa kau pancing aku kesini?"
Buyung Hong tertawa, katanya.
"Moay-moay, bicara sejujurnya, bukankah kau mencintai engkoh Tian?"
Rupanya Wan-ji tak menyangka encinya akan membongkar rahasia hatinya secara blak2an, ketika teringat olehnya bahwa Tian Pek adalah calon suami encinya, merahlah wajahnya karena jengah.
"Cici, kau jangan sembarangan menduga... '? serunya cepat.
"aku ... sebenarnya aku ....."
Dapatkah ia menyangkal isi hatinya dengan mengatakan ia tidak mencintai Tian Pek?
Tidak!
Tak mungkin!
Sejak hatimu terbuka, orang pertama yang dicintainya adalah Tian Pek, bahkan ia percaya sampai akhir hayatpun ia tetap mencintai Tian Pek, hanya nasib telah berkata lain, pemuda pujaan hatinya, telah menjadi Cihunya, sudah tentu ia tak berani mengakui di depan encinya sendiri.
Karena itu ia menjadi gelagapan.
Dengan biji matanya yang jeli Buyung Hong menatap hangat adik perempuannya ini, lalu tersenyum lembut, digenggamnya tangan Wan-ji, kemudian ia berkata dengan suara yang halus.
'Adikku, kukira tak perlu kau mengelabui diriku lagi!
Ketahuilah, dari pengamatanku selama beberapa hari terakhir ini dapat kuketahui bahwa kau sebenarnya sangat mencintai engkoh Tian, bahkan akupun baru menyadari akan keadaan tersebut pada beberapa hari terakhir ini, Kutahu cintamu pada engkoh Tian mungkin jauh lebib awal daripadaku, mungkin juga semenjak engkoh Tian untuk pertama kalinya tiba di rumah kita, ketika kau pergi mencari adik (Leng-hong Kongcu) dan mintakan pengertiannya agar jangan mengusir engkoh Tian dari kamarnya .....Moay-moay, bukankah mulai saat itu kau telah mencintai engkoh Tian?"
Air muka Wan-ji semakin merah, ia biarkan encinya menggenggam tangannya, sementara kepalanya tertunduk rendah dan mulutnya membungkam dalam seribu bahasa.
"Aku sendiripun merasa sangat heran."
Demikian Buyung Hong berkata lebih jauh.
"Mengapa aku bisa berbuat sedemikian gegabahnya, sampai persoalan maha penting seperti inipun tak kuketahui sejak dahulu? Andaikata Cici sejak awal telah mengetahui bahwa kau amat mencintai engkoh Tian, tak nanti Cici sampai melakukan tindakan keliru ini..."
Ketika Buyung Hong berkata sampai disini, tiba-tiba Wan-ji tak dapat menguasai emosinya lagi, ia menangis tersedu, ia meronta dan melepaskan diri dari pegangan encinya terus kabur dari situ.
"Adik Wan...!"
Teriak Buyung Hong.
Mendengar panggilan itu, Wan-ji menghentikan larinya, tapi ia masih berdiri membelakangi encinya, sementara bahunya berguncang keras, agaknya nona itu sedang menangis dengan sedihnya.
Siapa bilang tak sedih?
Gadis manakah yang bersedia melepaskan kekasih pertamanya dengan begitu saja?
Apalagi cinta Wan-ji kepada Tian Pek sudah mencapai tingkatan sehidup semati, tentu saja kesedihannya tak terperikan.
Tapi sekarang kekasihnya jelas akan menjadi suami encinya, kecuali bersedih apa yang dapat ia lakukan lagi?
Cepat Buyung Hong memburu ke samping Wan-ji, ia menarik lengan adiknya dan berbisik dengan suara lembut.
"Adikku tak usah bersedih hati, maukah kau mendengarkan perkataan encimu?"
Tiba-tiba Wan-ji menubruk ke dalam rangkulan encinya dan menangis tersedu-sedu, katanya sambil sesenggukan.
"Cici, aku merasa bersalah padamu... aku..."
Wan-ji menangis semakin sedih, sedang Buyung Hong lantas teringat pada musibah yang menimpa keluarganya, tanpa terasa ia ikut mencucurkan air mata.
Tian Pek bersembunyi di balik pohon dan dapat mengikuti semua kejadian itu dengan jelas, ia merasa pedih hatinya bagaikan diiris-iris, pikirnya.
"Tian Pek, wahai Tian Pek... hanya terpengaruh oleh emosi kau menerima pinangan Buyung Hong, tahukah kau bahwa tindakanmu ini telah menyakitkan hati Wan-ji yang amat mencintai dirimu itu..."
Buyung Hong yang bersedih hati tiba-tiba teringat kembali pada tujuannya yang utama, ia lantas menyeka air mata, kemudian membelai rambut adiknya, ia keluarkan sapu tangan dan menyeka air mata Wan-ji.
"Adikku, janganlah menangis!"
Bisiknya lembut.
"dengarkan dulu perkataan encimu!"
Wan-ji masih bersandar dalam rangkulan encinya dengan manja, pipinya yang masih basah dan berwarna merah membuat orang merasa iba, meski ia sudah mendengar bisikan encinya, tapi bahunya masih bergerak naik turun menahan isak.
Buyung Hong berbisik lagi dengan suara lembut.
"Kita berdua adalah kakak beradik kandung, meski masih ada seorang saudara tapi semenjak kecil hubungannya dengan kita berdua tidak cocok, kalau tidak ribut denganku tentu dia bertengkar dengan kau. Kini ayah telah dibunuh orang, keadaan rumah tangga kita sudah jauh berbeda daripada keadaan dulu, maka semestinya mulai sekarang kita kakak beradik harus hidup bersama untuk berjuang menghadapi kehidupan selanjutnya, selamanya kita harus rukun dan saling mencintai, Adikku, kau bersedia menuruti apa yang kukatakan bukan?"
Wan-ji tidak mengerti maksud tujuan encinya, ketika dilihatnya Buyung Hong bicara dengan serius, maka iapun mengangguk kepala. Buyung Hong tertawa, katanya pula.
"Kalau kaupun mencintai engkoh Tian, kita kakak beradik juga tak bisa dipisahkan satu sama lain, apa salahnya kalau kita sama-sama menikah dengan engkoh Tian dan mempunyai suami yang sama?"
Begitu ucapan Buyung Hong diutarakan, bukan saja Wan-ji terkejut, bahkan Tian Pek yang bersembunyi di belakang pohonpun terkesiap.
Wan-ji menengadah, dengan matanya yang jeli ia memandang wajah encinya dengan termangu, ketika dilihatnya wajah encinya tetap ramah, bersenyum kasih sayang, tahulah nona itu bahwa encinya tidak bergurau, jantungnya menjadi berdebar keras.
Tiba-tiba ia menjatuhkan diri ke dalam pelukan encinya, ia berbisik.
"Oh, cici... !"
Ia tak dapat mengangkat kepalanya lagi.
Meskipun dia belum menyanggupi usul encinya tapi dari perubahan sikap dan pancaran sinar mata kaget bercampur girang, Buyung Hong tahu bahwa adiknya telah menyetujui usulnya, hal ini membuat hatinya jadi lega dan girang, ia merasa tali mati yang selama ini mengganjal dalam hatinya sekarang telah terbuka.
Timbul sifat nakalnya untuk menggoda, sambil merangkul pinggang Wan-ji yang ramping ia berkata lagi.
"Adikku, ketahuilah bahwa persoalan ini menyangkut masa depanmu sendiri, aku tak ingin melihat kau penasaran. Nah, untukmenghindari segala kemungkinan yang tak diinginkan, Cici minta kau menjawab sendiri, bersedia atau tidak menerima usulku ini?"
Wan-ji semakin tak berani menengadah, dia cuma memeluk Buyung Hong sambil memanggil Cici tak henti2nya, tapi dari panggilan itu dapat terdengar rasa sedihnya sudah terhapus, sebagai ganti suaranya sekarang penuh perasaan gembira.
Dasar memang nakal, Buyung Hong terus menggoda.
"He, bagaimana kau ini, sebenarnya setuju tidak? Kenapa cuma memanggil Cici melulu!"
Ketika dilihatnya Wan-ji masih saja bersandar dalam pelukannya, ia berkata lagi.
"Kalau kau tidal setuju ya sudahlah, nanti kukatakan pada engloh Tian bahwa kau sebenarnya tidak mencintainya."
"Cici, kau jahat ....."
Omel Wan-ji sambil menarik ujung baju cicinya.
"Bagus! Kau berani memaki aku, itu menandakan kau memang tidak mau, sekarang juga akan kuberitahukan kepada engkoh Tian ..."
Ia lantas mendorong adiknya dan siap berlalu dari situ.
"Cici.....Cici.... ."
Meski tahu encinya cuma menggoda, tidak urung Wan-ji berseru panik, mendadak ia menengadah, sinar matanya kebentur dengan sesuatu, hampir saja ia menjerit kaget.
Entah sejak kapan, tak jauh dari tempat mereka telah muncul dua orang yang mirip dengan badan halus.
Sebagaimana juga adiknya, Buyung Hong baru mengetahui akan hadirnya ke dua orang seperti sukma gentayangan itu setelah melepaskan Wan-ji dari pelukannya, ia berdiri terbelalak, ia kaget sampai tak mampu bersuara.
Kedua orang kakak beradik ini mengetahui bahwa ilmu silat sendiri cukup tinggi, sekalipun sedang ber-cakap2, tak mungkin mereka tidak merasakan tibanya kedua orang itu disamping mereka.
Dari sini dapatlah diketahui betapa hebat kungfu kedua pendatang yang tak diundang ini.
Kedua orang itu berusia antara enam puluhan, yang seorang bermuka bulat telur berwarna ke-merah2an, berambut merah, berkulit hitam, bermata tajam dan bentuknya seperti muka kunyuk.
Sedangkan yang lain adalah kakek kurus kecil berjubah panjang tebal, mukanya merah dengan hidung besar merah pula, dandanannya persis seperti seorang guru kampungan.
Meskipun dandanan mereka aneh dan lucu, namun sinar mata mereka tajam mengawasi Buyung Hong berdua dengan seram.
Baik Buyung Hong maupun Wan-ji tidak kenal siapa kedua orang aneh ini, lain halnya dengan Tian Pek yang bersembunyi di balik pohon, dia segera kenal kedua prang ini sabagai Kui-kok-ji-ki (dua manusia aneh dari lembab setan) yang bercokol di Gan-tang-san dan sudah dua kali mencari perkara padanya.
Sesungguhnya kehadiran dua orang ini sejak tadi tak luput dari perhatian Tian Pek, hanya saja karena Buyung Hong berdua sedang membicarakan dia betapapun ia merasa tak enak unjukkan diri, pula dia ingin menyelidiki apa yang hendak dilakukan kedua orang yang tindak tanduknya selalu mencurigakan ini, maka Tian Pek tetap diam saja di tempatoya.
Sementara itn Buyung Hong dan Wan-ji masih berdiri termangu, Kui-kok-ji-ki lantas nnenghampiri mereka.
Terdengar Ci-hoat-leng-kau Siang Ki-ok menjengek.
"Hehehe, betul2 kejadian yang aneh, baru pertama kali ini kujumpai dua nona sedang berunding untuk kawin dengan seorang laki2 yang sama. Hopo tumon?"
Wan-ji lebih cerdik dan binal. maka dilihatnya dua manusia aneh muncul tanpa bersuara, bahkan menyindir dirinya, dengan melotot segera ia mombentak.
"Hmm, siapa yang suruh kau mencampuri urusan kami? Eeh, kalian mau apa datang ke sini? Jika tidak memberi alasan yang tepat, jangan salahkan nona tak sungkan2 lagi kepadamu!"
"Anak perempuan, jangan galak2 dulu!"
Jengek Kui-kokin-siu Bun Ceng-ki dengan suara menyeramkan.
"kami cuma ingin tahu, engkoh Tian yang kalian maksudkan itu apakah keparat yang bernama Tian Pek?"
"Kalau bicara sedikilah tahu diri, apa itu keparat?"
Bentak Wan-ji mendongkol. Kui-kok-in-siu menjengek, tiha2 ia mencengkeram lengan Wan-ji sembari menyahut.
"Jawab saja benarkah orang itu atau bukan?"
Perlu diketahui, serangan yang dilancarkan Kui-kok-in-siu barusan dilancarkan dengan kecepatan yang luar biasa, andaikata Wan-ji tidak menguasai ilmu langkah Cian-hoan-biau-hiang-poh yang belum lama berhasil dikuasainya, bisa jadi ia sudah kena dicengkeram oleh musuh.
Lolos dari cengkeraman maut itu, Wan-ji segera melayang ke samping, kemudian serunya dengan marah.
"Kalau betul lantas mau apa? Tua bangka yang tak tahu diri, nonamu menghormati kau sebagai orang tua, tapi kau malahan menyerang lebih dulu. Nah, rasakan serangan balasan nonamu ini!"
Setajam gurdi jari tangannya terus menutuk dengan ilmu jari Soh-hun-ci, ia tutuk jalan darah Ki-bun-hiat di dada Kui-kok-in-sigu.
Ketika cengkeramannya melehset tadi, diam2 Kui-kokin-siu merasa kaget, apalagi setelah diketahui bahwa serangan Wan-ji membawaa kekuatan yang tidak lemah, hal ini membuatnya terkejut, ia tak menyangka nona semuda itu ternyata memiliki kungfu yang amat lihay.
Ia tak berani menyambut secara kekerasan, cepat ia melejit dan menyingkir ke samping, tapi begitu mundur dia maju kembali, ujung kakinya menjejak tanah dan secepat angin ia menubruk lagi ke muka, beruntun dia menghantam dua kali dengan dahsyat.
Kedua serangan itu dilancarkan hampir secara serentak, jurus serangannya aneh dan membawa hawa serangan yang dingin.
Wan-ji terkejut, ia tak mengira kakek kurus macam guru dusun itu ternyata memiliki tenaga serangan yang lihay, nona ini tak berani menyambut dengan kekerasan, cepat ia melompat mundur.
Sementara itu Buyung Hong yang mengikuti jalannya pertarungan itu dapat mengetahui bahwa ilmu silat musuh lihay sekali, meskipun kata2nya tak senonoh, tapi yang diselidiki adalah engkoh Tian, jangan2 mereka adalah sababat dari Tian Pek.
Sebagai orang persilatan, ia tahu watak dari sementara jago silat memang aneh dan tak bisa diterima dengan akal sehat, cepat ia mengalangi adiknya untuk bentrok lebih lanjut, seraya memberi hormat kepada Kui-kok-ji-ki ia bertanya.
"Bolehkah kutahu, apa maksud Locianpwe berdua mencari Tian-siauhiap?"
"Oh, kalau begitu engkoh Tian yang kalian maksudkan benar2 adalah Tian Pek?"
Bukan menjawab Kui-kok-in-siu malahan bertanya' "Betul!"
Sahut nona itu berterus terang.
"Monyet cerdik berambut merah"
Yang sejak tadi membungkam tiba2 tergelak sambil menyindir.
"Hahaha, Tian Pak si bocah keparat ini memang punya rejeki bagus, sampai2 ada dua anak perempuan secantik ini bersedia dikawini semua."
Merah wajah Buyung Hong, omelnya dengan ter-sipu2
"Locianpwe, jangan sembarangan omong. Katakan saja, ada urusan apa kalian mencari Tian siauhiap?"
"Cici, buat apa kau gubris mereka?"
Sela Wanji.
"Kulihat kedua tua baugka ini pasti bukan manusia baik2."
"Hahaha, kurangajar! Anak perempuan sudah bhosan hidup, berani kaumaki kami,"
Teriak Kuikok-in-siu segera telapak tangannya terangkat dan hendak menghantam.
"Sute, jangan terburu napsu!"
Cepat Ci-hoat-leng-kau mengalangi rekannya.
"kalau kedua anak perempuan ini calon istri Tian Pak keparat itu, maka kita harus menangkapnya hidup2. Dengan begitu, kita dapat memaksa dia menyerahkan kitab paling aneh di kolong langit itu..."
Hampir meledak dada Wan-ji mendengar Ucapan itu, kontan ia memaki.
"Kalian jangan bermimpi di siang hari bolong, dengan kekuatan kalian berdua mash belum berhak untuk memperebutkan kitab pusaka itu. Huh, kungfu kalian masih ketinggalan jauh!"
Setelah urusan barkembang jadi begini, Buyung Hong baru mengerti bahwa maksud kedua kakek aneh itu menanyakan Tian Pek adalah untuk kitab pusaka Soh-kutsiau-hun-thian-hud-pit-kip.
Tapi bagaimanapun juga is lebih tenang dan bisa berpikir daripada Wan-ji, ia tak ingin mencarikan musuh baru bagi engkoh Tian yang telah mengundurkan diri dari dunia persilatan, sahutnya kemudian.
"Sayang sekali kedatangan Locianpwe terlambat setindak, pada beberapa hari yang lalu dihadapan umum Tian-siauhiap telah musnakan kitab pusaka Soh-kut-siau-hun itu!"
"Sungguhkah perkataanmu?"
Tanya Kui-kok-in-siu dengan air muka berubah hebat.
"Untuk apa berbohong!"
Sahut Buyung Hong, ketika dilihatnya Kui-kok-in-siu masih sangsi, ia menambahkan lagi.
"Setiap orang yang hadir menyaksikan peristiwa itu, kalau tak percaya silakan Cianpwe menyelidiki kejadian ini pada orang lain!"
Dari cara Buyung Hong berbicara, Kui-kokin-siu percaya nona itu pasti tidak bohong, kejadian ini benar2 berada di luar dugaannya.
seketika ia jadi terbelalak dan tak mampu bicara.
Ci-hoait-leng-kau lebih licik, ia tidak percaya dengan begitu saja, biji mata berputar sambil tersenyum licik ia berkata.
"Anak perempuan, hanya dengan beberapa patah katamu itu kaukira bisa menipu kami!"
Wan-ji naik pitam oleh sikap kedua orang itu, sebelum Buyung Hong menjawab, cepat ia menimbrung.
"Sekalipun kami membohongi kalian, kalian tua bangka ini mau apa?"
Kui-kok-in-siu seperti memahamyi sesuatu, dia xberseru dengan gusar.
"Kalau kalian membohongi kami, akan kucabut jiwa kalian!"
Segera telapak tangannya terangkat hendak menghantam pula. Untuk kedua kalinya Ci-hoat-leng-kau mencegah sutenya yang kalap itu, ia tertawa seram dan berkata.
"Jangan kita bunuh mereka, kita tangkap mereka hidup2, mustahil Tian Pek keparat itu takkan menyerahkan Soh-kut-siau-hun-thian-hud-pit-kip kepada kita."
"Tong kosong memang nyaring bunyinya!"
Ejek Wan-ji. Ci-hoat-leng-kau menarik muka, bentaknya dengan gusar.
"Jawab saja, kalian mau ikut kami atau harus kami bekuk dengan kekerasan?"
"Hehehe, omong besar melulu!"
Jengek Wan-ji.
"jika betul2 turun tangan, tidak sampai sepuluh jurus kami mampu membekuk kalian berdua!"
Seru Ci-hoat-leng-kau dengan gemas.
Wan-ji tak mau kalah, dengan nada yang sama iapun berseru.
'Bila betu12 bertempur, tidak sampai tiga jurus kedua nonamu sanggup mengenyahkan kalian tua bangka ini dari sini!"
Wan ji memang pandai bersilat lidah, ucapannya setajam sembilu, kontan saja membuat Kui-kok-ji ki jadi mencak2, Tian Pek yang bersembunyi di belakang pohon hampir saja tak dapat menahan gelinya.
"Baiklah, sebelum diberi hajaran tampaknya kalian tak mau percaya,"
Sera Kui-kok-in-siu marah-marah.
"Sekarang juga akan kusuruh kalian rasakan sendiri betapa lihaynya kami!"
Diiringi bentakan keras dia cengkeram dada Wan-ji dengan jurus Kui-ong-bong-ciong (raja setan menumbuk lonceng) dari ilmu pukuian Im-hong-ciang, serangan ini tergolong kotor terhadap seorang gadis.
tapi kakek itu tak segan2 menggunakannya.
Merah wajah Wan-ji, ia bertambah gusar, dengan ilmu langkah Cian-hoan-biau-hiang poh dia berputar ke samping.
Sejak dulu, ilmu andalan Wan-ji adalah kegesitan, setelah mempelajari ilmu Cian-hoan -biau-hiang poh, keadaanya ibarat harimau tumbuh sayap, maka setiap serangan maut Kui-kok-in-siu dapat dielakkannya.
Kui-kok-in siu terkejut, tapi semakin membangkitkan rasa gusarnya, ia menyerang makin bernafsu, beruntun tujuh kali pukulan berantai dilepaskan.
Ketujuh serangan itu dilancarkan dengan tenaga dahsyat, meski begitu, di bawah gerak tubuh Wan-ji yang lincah, semua ancaman maut itu bisa dihindarkan dengan baik dan manis.
Akan tetapi, tidak urung ia terdampar mundur juga oleh angin pukulan musuh.
Wan -ji menjadi gusar, ia membentak lalu mengeluarkan ilmu Soh-hun ci, beruntun ia balas menutuk tiga Hiat-to penting tubuh lawan.
Serangan jari tangan itu sangat lihay, Kui-Kok in-siu tak berani menyambut dengan kekerasan, cepat ia melompat mundur, pada kesempatan tersebut Wan-ji segera memperbaiki posisinya, beruntun iapun menutuk pula tiga kali dan empat kali pukulan.
Di bawah tekanan ketujuh serangan berantai ini, Kuikok-in-siu juga terdesak mundur.
Demikianlah dalam waktu singkat kedua orang itu sudah terlibat delam pertarungan sengit, belasan jurus sudah lewat, namun menang kalah masih belum bisa ditentukan.
Sementara pertarungan itu berlangsung, Ci-hoat leng-kau melirik Buyung Hong, ia berkata dengan suara menyeramkan.
"Mereka berdua sudah mulai bertempur, sebaiknya kitapun jangan menganggur, hayolah kitapun ber-main2 sebentar. Ucapan itu bernada kotor, Buyung Hong jadi mendongkol, dengan muka sedingin es ia menyindir.
"Hm katanya dalam sepuluh jurus kami akan dibekuk?' Kenapa sudah 20 jurus lebih kawanmu itu masih belum mampu gmengapa-apakan adikku ...."
"Hehehe, apa bedanya sepuluh jurus atau dua puluh jurus? kalina berduakan seperti benda dalam saku kami?"
Begitu selesai berkata, dengan jurus Hek-jiu-tan-bun (tangan hitam merampas sukma), dia cengkeram bagian bawah perut nona itu.
Merah wajah Buyung Hong, ia tak menyangka kedua orang tua yang dihormati ini ternyata tak lebih hanya manusia2 rendah yang bermoral bejat, menghadapi serangan kotor ini, Buyung Hong sendiripun tak sungkan2 lagi, dengan jurus Hong-ceng-lui-beng ia balas menghantam batok kepala musuh.
Ci-hoat-leng-kau menyambut pukulan itu dengan serangan kilat, dalam sekejap saja mereka sudah bertempur berpuluh gebrakan.
Bicara soal kungfu maka ilmu silat Kanglam ji-ki pada dasarnya memang lihay, apalagi setelah berhasil mencelakai gurunya sendiri, yakni Sin kau Tiat Leng dan mencuri kitab pusaka Bu hak-cinkeng serta mempelajarinya dengan tekun, boleh dibilang kungfu mereka berlipat kali lebih lihay daripada Buyung Hong berdua.
Untungnya kedua nona ini belum lama berselang sempat mendapat pelajaran silat dari Tian Pek, dengan kungfu dari kitab Soh-kut-siau hun yang maha dahsyat, walau agak memeras keringat kedua nona itu masih mampu bertahan.
Tapi setelah bertarung lama, Buyung Hong mulai kewalahan, ia tak sanggup lagi melayani serangan2 maut Ci-hoat leng-kau.
Di antara Kanglam-ji-ki, ilmu silat kunyuk berambut merah ini memang lebih lihay daripada saudaranya, sedangkan Buyung Hong lebih lemah jika dibandingkan Wan ji, bisa dibayangkan bagaimana akibatnya ketika yang kuat bertemu dengan yang lemah, puluhan gebrakan lewat, Buyung Hong sudah keteter hingga napasnya tersengal dan sekujur badan mandi keringat.
Di pihak lain, pertarungan antara Wan-ji melawan Kuikok-in-siu masih berjalan dengan seimbang.
Sebagaimana diceritakan tadi, Wan-ji pernah belajar dari guru lain, yakni Sin-kau Tiat Leng, yang sebetulnya adalah guru Kui-kok-in-siu, meskipun hanya belajar seratus hari, namun banyak jurus serangan mereka ternyata sama dan kembar.
Kejadian ini membuat keduanya sama2 keheranan, mereka merasah belum pernah bertemu dengan lawannya, tapi mengapa jurus serangan mereka serupa?
Tentu saja keheranan itu hanya tersimpan di dalam hati saja, siapapun tak menyangka kungfu mereka sebenarnya berasal dari guru yang sama.
Dalam pada itu Buyung Hong sudah terlibat dalam posisi yang berbahaya, jiwanya berada diujung tanduk dan tiap saat pukulan mematikan musuh bisa menghabisi nyawanya.
Setelah jelas kemenangan sudah diambang pintu, Ci-hoat-leng-kau mulai bermulut usil, ia memuji kecantikan Buyung Hong, memuji bentuk tubuhnya yang ramping dan kungfunya tangguh.
Padahal usia si "kunyuk berambut merah"
Itu pantas menjadi kakeknya Buyung Hong, tapi dasar bermuka badak, tua2 keladi, tidak tahu diri.
Menghadapi godaan seperti itu, Buyung Hong jadi malu bercampur kheki, suatu ketika mendadak Ci-hoat-leng-kau menggunakan ilmu Hek-sat-jiu untuk mencengkeram mukanya, padahal ia sudah kehabisan tenaga, tak kuat rasanya untuk menangkis ancaman tersebut.
sekalipun begitu dia tak sudi tubuhnya dicengkeram musuh sehingga akan merugikan nama baik Tian Pek.
Dalam keadaan begini, ia jadi nekat, timbul niatnya untuk beradu jiwa dengan musuh, maka ketika serangan musuh hampir mengenai tubuhnya, berbareng itu juga ia menerkam ke depan sambil menyerang dengan jurus Hwe-hong-ci-lip, (mengambil kacang di tengah bara), suatu jurus serangan mematikan andalan Ti-seng-jiu suara benturan dan bentakan keras menggelegar, menyusul seseorang menjerit kesakitan ....
Bayangan manusia yaug bertarung itupun berpisah, seorang sambil memegang pergelangan tangannya yang kesakitan tergetar mundur dengan sempoyongan.
Orang yang terluka itu bukan Buyung Hong sebaliknya adalah Ci-hoat-leng-kau Siang Ki-ok.
Buyung Hong sendiri berdiri dengan napas tersengal dan muka pucat, meski demikian wajahnya kelihatan berseri, kiranya di tengah arena pertempuran telah bertambah dengan seseorang.
Orang itu adalah seorang pemuda yang sangat tampan dengan tubuh yang tinggi tegap, dia masih muda tapiw berwibawa, ketyika Ci-hoat-lenxg-kau tergeser mundur dalam keadaan mengenaskan, anak muda itu hanya memandangnya sambil tertawa, tertawa mengejek.
Kiranya ketika Buyung Hong terancam bahaya, Tian Pek yang bersembunyi dibalik pepohonan telah muncul dan menghajar Ci-hoat-leng-kau yang jumawa dan sombong itu sehingga mencelat.
Wan-ji sangat gembira setelah melihat kemunculan Tian Pek, secara beruntun ia lepaskan dua pukulan dahsyat untuk mendesak mundur Kui-kok-in-siu, pada kesempatan tersebut nona itu menubruk ke pangkuan pemuda itu seraya berseru.
"Engkoh Tian... .."
Rasa cintanya yang selama ini tertimbun dalam hati tak bisa dikendalikan lagi, dengan diliputi emosi yang meluap2 ia berseru dan menghampirinya, untunglah dengan cepat ia teringat akan encinya, apalagi bila teringat kerelaan encinya yang akan mengawini seorang suami bersama dengan dia, hal ini membuat pipinya menjadi merah, untuk sesaat ia tak bisa berucap.
Tian Pek balas memberikan senyuman mesra kepadanya, kemudian berpaling ke arah Kui-kok ji-ki seraya berkata.
"Kalau kalian ada urusan menceari padaku, mengapa tidak mencari langsung dan buat apa kalian merecoki dua orang anak gadis dengan cara sekeji ini, begitukah perbuatan kalian sebagai tokoh persilatan?"
Waktu itu Ci-hoat-leng-kau sedang menyembuhkan lukanya, ia tak dapat menjawab. maka Kui-kok-in-siu yang menanggapi ucapan tersebut.
"Orang she Tian, sewaktu di lembah kematian, untung kau bisa lolos, tapi malam ini hmm, jangan harap kau bisa lolos dari cengkeraman kami lagi!"
Tian Pek tertawa, katanya.
"Aku orang she Tian tidak merasa pernah dikalahkan oleh kalian, jika kali ini kalian mengincar jiwaku, maka silakan saja untuk mencobanya, tapi kukira tidak segampang apa yang kau pikirkan!"
Diam2 Kui-kok in-su melirik sekejap ke arah suhengnya, ketika melihat Ci-hoat leng-kau masih duduk bersila sambil mengatur pernapasan, sadarlah dia bahwa kekuatannya seorang belum tentu bisa menandingi kelihayan Tian Pek, meski demikian ia tidak sudi menyerah, apalagi unjuk kelemahan sendiri.
Kembali kakek kurus kecil itu tertawa seram, katanya.
"Bocah keparat, jika kau bersedia menyerahkan kitab Soh kut-siau-hun thian hud pit-kip itu kepada kami, dengan senang hati akan kulupakan sengketa kita di masa lalu, bahkan sejak detik ini tak akan kuungkat lagi tentang kematian muridku si Sam-cun-teng!"
"Jika kau bersedia melepaskan soal dendam, dengan senang hati akupun akan menerimanya, tapi bila kau menghendaki kitab pusaka Soh-kut-siau hun-pit kip tersebut, maka aku hanya bisa mengatakan sayang seribu kali sayang, sebab kedatangan kalian sudah terlambat."
"Kalau begitu, kau tidak bersedia menyerahkan kitab itu kepada kami?"
"Mau percaya atau tidak terserah padamu, yang pasti kitab itu sudah kumusnahkan di hadapan kawan2 dari seluruh kolong langit!"
Dalam pada itu Ci-hoat-leng-kau telah menyelesaikan semedinya, dengan muka garang ia menghampiri anak muda itu, lalu serunya dengan bengis "Jangan kau anggap tipu muslihatmu itu dapat membohongi kami berdua Hmm, mungkin orang lain bisa kautipu, tapi kami tidak, sekarang aku hanya ingin bertanya, mau serahkan pada kami atau tidak"
Ucapannya garang, kasar dan mendesak, se-akan2 bila pemuda itu tak bersedia menyerahkan kitab itu, maka mereka akan segera melakukan penyerangan.
Kui-kok-in-siu semakin berani setelah luka suhengnya berhasil disembuhkan, dengan menghimpun segenap tenaga dia melangkah maju, bentaknya;
"Apakah kau memaksa kami untuk menggunakan kekerasan?"
Mendongkol juga hati Tian Pok menghadapi kedua orang yang garang dan tak pakai aturan ini, ia balas menjengek.
"Jangankan kitab pusaka itu memang sudah musnah, kendati masih utuh tak nanti kuserahkan kepada manusia bejat yang berani mengkhianati guru sendiri seperti kalian ini."
Kejadian ini tak ubahnyga seperti mengorek borok di tuhbuh mereka, kontan saja mereka naik darah, teriaknya kalap.
"Bangsat, kau ingin mampus agaknya!"
Disertai bentakan nyaring, yang satu memakai ilmu pukulan Hek-sat-jiu sedangkan yang lain memakai tin-hong-ciang, dengan dua jenis tenaga pukulan yang berbeda serentak mereka serang Tian Pek..Anak muda itu sedikitpun tak gentar, dengan ilmu langkah Cian-hoan-biau-hiang-poh dia berputar ke samping dan tahu2 sudah lolos dari cengkereaman musuh, meski ada kesempatan untuk membalas namun ia tidak mempergunakannya.
"Bila mau sungguh2 bertarung, belum tentu aku jeri pada kalian berdua,"
Katanya sambil tertawa dingin.
"tapi sebagaimana telah kukatakan, orong she Tian telah mengundurkan diri dari dunia persilatan, aku tak ingin mengikat tali permusuhan lagi dengan kalian!"
Kedua orang tua itu makin gusar, dengan muka merah padam Ci-hoat-leng-kau menghardik.
"Tak peduli kau sudah mundur dari dunia persilatan atau tidak, pokoknya sambut dulu pukulan ini.' "Benar!"
Sambung Kui-kok-in-siu.
"sebelum kitab Sohhun-siau-hun kauserahkan kepada kami, selamanya urusan kita tidak akan berakhir!". Begitulah sambil berseru marah, kedua orang tua dari lembah setan ini mulai menyerang dengan gencar. Tian Pek tetap tidak membalas, dia hanya berkelit dan menghindar melulu, sekalipun demikian tak satu pukulan musuhpun yang dapat mengenai tubuhnya. Sekejap saja lima-enam jurus sudah lewat, dikerubut kedua musuh tangguh, Tian Pek mendemonstrasikan kelihayan ilmu Iangkah Cian-hoan-biau-hiang-poh yang diimbangi dengan gerakan tubuh Bu-sik-bu-siang-sin-hoat, dengan enteng dan lincah ia mangegos ke kiri dan menghindar ke kanan, walaupun begitu dia sudah terdesak mundur puluhan kaki dari posisi semula. Tian Pek terdesak sehingga terpaksa harus balas menyerang, sementara itu Wan-ji dan Buyung Hong telah memburu datang dan siap memberi bantuan, tapi sebelum mereka melancarkan serangan balasan, tiba2 dari kgejauhan berkumandang suara gelak tertawa yang amat nyaring disusul raungan yang mendirikan bulu roma. Mereka sama tertegun, bahkan Kanglam-ji-ki lantas menghentikan serangannya dan melompat mundur serta berpaling ke arah suara itu ....Suara itu sangat seram, se-akan2 suatu bencana besar segera akan terjadi. Selagi orang2 itu melenggong, tiba2 sesosok bayangan hitam melayang tiba dengan cepat sambil berseru.
"Engkoh Tian ....Tian-siauhiap, ada orang datang mencarimu!"
Tian Pek kenal itulah suara Kim Cay-hong yang berjulukan Kanglam-tee-it-bi-jin, dari suara nona itu Tian Pek dapat merasakan nadanya gugup diliputi rasa kejut, seakan2 baru saja menemui suatu bencana besar.
"Ada orang mencari aku?"
Serunya.
"kejadian apa membuat nona kelihatan kaget dan gugup"
Rasa kaget masih menghiasi wajah Kim Cay-hong yang cantik, dengan napas tersengal sahutnya.
"Sembilan aliran besar dan ....dari banyak lagi jago2 lihay Lam-hay-bun telah datang mencari Tian -siauhiap!"
"Masa begitu banyak orang datang mencari diriku?"
Seru anak muda itu heran.
Kim Cay-hong mengangguk, katanya lagi.
Tampaknya sebelum datang mencari Tian-siauhiap mereka telah berkumpul lebih dulu disuatu tempat kemudian datang bersama2, paman Lui mengatakan Tian-siauhiap tidak berada di tempat, tapi mereka tak percaya dan bermaksud melakukan penggeledahan, orang2 dari perkumpulan pengemis mengalangi niat mereka, tapi dengan kekerasan mereka turun tangan dan melukai beberapa orang, bahkan katanya bila Tian-siauhiap tidak berhasil ditemukan maka semua orang yang berkumpul di sana akan mereka bantai sampai habis ...."
"Ai, ada peristiwa begitu?"
Kata Tian Pek dengan gelisah.
"aku akan segera kesana!"
Tanpa membuang waktu lagi ia putar badan dan berlari pergi.
"Eeh, bangsat cilik! mau kabur kemana?"
Bentak Kanglam-ji-ki dengan gusar, segera mereka mengejar.
Wan-ji, Buyung Hong serta Kim Cay-hong tak mau ketinggalan, merekapun menyusul dari belakang.
Kira2 belasan tombak sebelum pagar pekarangan Tian Pek tak sabar lagi, dengan gerakan Ci-sang-cing-in (melambung langsung ke atas mega) dia melejit ke atas dan melayang masuk ke dalam halaman.
Halaman yang luas itu sekarang dipenuhi oleh dua tiga ratus jago silat dan yang hebat adalah sedang berlangsung pertempuran yang mengerikan.
Deru angin pukulan, kelebatan bayangan tangan serta kilatan cahaya senjata membuat udara terasa sesak dan kacau, jerit kesakitan, keluhan dan rintihan berkumandang dari sana sini, yang lebih ngeri lagi adalah berpuluh sosok mayat tanpa kepala atau anggota badan yang tak lengkap terkapar di sana-sini.
"Tahan!"
Bentak Tian Pek, suaranya keras seperti guntur membuat orang2 yang sedang bertempur itu kaget, dan segera menarik kembali seranganya sambil melompat mundur.
Beruntun melayang masuk enam sosok bayangan ke dalam halaman itu, orang pertama yang tiba lebih dulu adalah Tan Pek, pemuda yang tampan dan gagah perkasa itu, di belakangnya menyusul Kanglam-ji-ki, Wan-ji, Buyung Hong serta Kim Cay-hong.
Begitu tiba di arena pertempuran, Tian Pek memandang sekejap mayat yang bergelimpangan di tanah, lalu dengan penuh emosi ia berseru lantang.
"Jago lihay dari manakah yang datang mencariku? Dengan dasar apakah kalian melakukan pembantaian keji di sini? Pantas dan adilkah perbuatanmu ini?"
"Omitohud!"
Dari kerumunan orang banyak muncul seorang Hwesio tua yang bertubuh tegap ia memakai jubah pendeta warna abu2, alis mata nya sudah putih tapi mukanya masih segar.
Setelah memberi hormat, iapun berkata.
"Jika dugaanku tidak keliru, tentunya kau yang bernama Tian Pek, keturunan Pak-lek-kiam Tian In-thian Tian tayhiap bukan?"
Anak muda itu mengangguk tanda membenarkan.
"Aku adalah Hong-tiang Siau-lim si dewasa ini yang bergelar Ci-hay,"
Kata paderi tua itu lebih lebih jauh.
"dan sekarang atas nama ketua dari sembilan aliran besar khusus datang kemari untuk memimjam sesuatu benda pada Tian-siauhiap, sudikah kiranya Tian siauhrap mengabulkan permintaan kami ini?"
Sebelum ketua Siau-lim ini menyelesaikan kata-katanya, para ketua kedelapan golongan besar, yakni ketua Go-bi, Khong-tong, Bu-tong, Kun-lun, Tiam-jong, Hoa-san, Tiang-pek serta Hoat-hoa serentak maju dua langkah dan berdiri berjajar di belakang Ci-hay Siansu, dengan tatapan tajam mereka awasi anak muda itu tanpa berkedip.
Tian Pek tidak segera menjawab, ia mendongkol setelah mendengar perkataan ketua Siau-lim yang jelas nadanya mengandung paksaan itu, apalagi setelah menyaksikan sikap ketua kedelapan golongan persilatan yang sama2 menatapnya dengan garang, agaknya bila ia tidak meluluskan permintaannya maka mereka akan segera menggunakan kekerasan.
"Benar2 tak kusangka!"
Demikian ia berpikir di dalam hati.
"sembilan aliran besar yang sudah harum namanya semenjak ratusan tahun berselang ternyata tempat bercokol manusia tamak akan harta pusaka. Ai, kalau manusia2 begini diserahi memegang tampuk pimpinan, darimana mereka dapat melakukan tugas dengan se-baik2nya ...."
Berhubung sejak pandangan pertama sikap kesembilan orang ketua persilatan itu sudah memberi kesan yang jelek pada Tian Pek, apalagi sikap main gertak yang mereka tunjukkan telah membuat anak muda itu mendongkol, maka sikap Tian Pek juga tak sungkan2 lagi.
Ditatapnya kesembilan orang itu dengan pandangan sinis, sambil tertawa dingin ia berkata.
"Apa permintaan kalian? Silakan Taysu utarakan dengan cepat! Asal permintaan kalian tidak melanggar keadilan serta kebengaran, pasti akain kupenuhi!"
Beberapa patah kata itu diucapkan Tian Pek dengan keren dan penuh wibawa, nadanya tidak sombong juga tidak merendahkan diri sendiri, ini membuat sebagian besar jago yang hadir sama merasa kagum.
"Gagah amat pemuda ini!"
Begitulah mereka membatin.
"tidak perlu soal ilmu silat, cukup ditinjau dari sikap serta cara berbicaranya sudah cukup membuat orang takluk. Kelak besar harapannya akan memimpin dunia persilatan...."
Sebagai orang persilatan yang berpengalaman, tentu saja merekapun dapat menangkap arti ganda dari ucapan itu, tapi jelas ucapan itu bernada sindiran dan yang disindir tak lain adalah cara berbicara maupun cara bertindak ketua Siau-lim yang tak sopan itu.
Sebagai ketua Siau-lim-pay sudah tentu Ci-hay Slansu dapat menangkap arti sindiran tersebut, tapi ia tak berani bertindak gegabah lantaran disadari betapa pentingnya persoalan ini.
Dengan wajah merah kemudian ia berkata.
"Sebenarnya permintaan yang hendak kuajukan juga tidak terlampau berlebihan, aku cuma berharap agar Siau sicu bersedia menyerahkan Soh-kutsiau-hun-thian-hud-pit-kip itu kepadaku dan aku beserta ketua kedelapan aliran besar segera akan berlalu dari sini."
Mendengar permintaan itu, Tian Pek tertawa dingin.
"Seandainya kitab pusaka itu masih ada niscaya akan kuserahkan kepada Ciangbunjin untuk dibawa pulang. sayang kedatangan kalian terlambat sedikit, beberapa hari yang lalu kitab pusaka itu sudah kumusnahkan di hadapan umum, kukuatir kedatangan Ciangbunjin hanya akan sia2 belaka!"
Sebenarnya apa yang diucapkan Tian Pek adalah kejadian yang sesungguhnya, tapi diterima oleh Ci-hay Siansu dengan arti yang lain, paderi itu melanjutkan kata2nya.
"Tian-sicu, terus terang saja kukatakan, pada hakikatnya kitab pusaka itu adalah milik Siau-lim kami dan Bu-tongpay. Dua ratus tahun yang lalu Ko-sui Taysu, ketua kami yang lampau beserta Tiat-sin Totiang dari Butong-pay telah melepaskan budi portolongan kepada seorang jago aneh dari kolong langit yang bernama Ciah-gan-longkun, maka sebagai rasa terima kasihnya atas budi pertolongan tersebut, Ciah-gan longkun telah menghadiahkan se
Jilid kitab pusaka kepada kami, kitab pusaka itu tak lain adalah Soh-kut-sigau-hun-thian-huid-pit-kip.
"Walaupun kitab itu milik Siau-lim dan Bu-tong, tapi oleh karena kitab tersebut berpengaruh terhadap keamanan dan pergolakan dunia persilatan, maka setelah melalui suatu perundingan akhirnya kedua Ciangbunjin kami memutuskan untuk menyimpan kitab pusaka tersebut di dalam kuil kami. Turun-temurun kitab pusaka tersebut selalu kami simpan diloteng penyimpanan kitab, maka tatkala di dunia persilatan tersiar berita yang mengatakan kitab tersebut telah terjatuh ke tangan Siau sicu, serentak kulakukan pengecekan ke atas loteng kitab itu, benar juga ternyata kitab pusaka itu sudah lenyap tak berbekas!"
Berbicara sampai di sini, Ci-hay Siansu menghela napas panjang.
tampaknya ia merasa sayang karena lenyapnya kitab pusaka itu dari kuilnya, sebab ber-tahun2 selalu aman, tak tahunya sewaktu ia memegang jabatan ketua peristiwa yang tak diinginkan itu telah terjadi.
Semua orang belum pernah mendengar rahasia yang menyangkut peristiwa pada dua ratus tahun berselang ini, keterangan tersebut membikin mereka jadi tercengang, mata mereka terbelalak lebar dan alihkan perhatiannya ke wajah ketua Siau-lim-pay itu.
Sesudah tarik napas panjang, Ci-hay Siansu melanjutkan ceritanya.
"Kendati aku belum pernah berjumpa dengan Siau sicu, akan tetapi dari laporan anak muridku serta dari berita yang tersiar dt dunia persilatan dan kuketahui bahwa Siau sicu sebenarnya adalah putera Pek-lek-kiam Tian In-thian, Siau sicu terkenal jujur dan gagah perkasa, aku yakin pasti bukan kalian yang mencuri kitab tersebut dari kuil kami melainkan didapatkannya dari orang lain. Untuk menanamkan kepercayaan orang lain atas kejujuranku, maka sengaja kundang pula kedatangan kedelapan ketua yang lain untuk menjadi saksi, aku harap Siau sicu suka memberi muka kepada kami dan serahkan kembali kitab pusaka yang merupakan benda mestika simpanan kuil kami turun temurun itu. atas kesedian Siau sicu, bukan saja aku pribadi merasa berterima kasih, bahkan seluruh anak murid Siau-lim-pay juga tak akan melupakan budi kebaikan Siau sicu!"
Selesai berkata, dengan tatapan tajam ia mengawasi Tian Pek tanpa berkedip, agaknya ia sedang menunggu anak muda itu memberikan jawaban yang memuaskan.
Tian Pak tersenyum, katanya "Aku kuatir kenyataannya bukan seperti apa yang kaututurkan!"
Air muka Ci-hayw Siansu berobahy masam, alis matanya berkerut, jelas paderi itu merasa tak senang hati.
"Sicu, apa yang kuceritakan barusan merupakan rahasia kuil kami, jika bukan terpaksa tak nanti kuceritakan kepada orang luar, apakah kau anggap aku sengaja membohongimu?"
"Sebagai ketua Siau-lim-pay, kupercaya Taysu tidak berbohong,"
Sahut Tian Pak dengan serius.
"tapi kenyataannya, menurut apa yang kuketahui, kejadiannya berbeda jauh dengan apa yang Taysu tuturkan barusan."
Tian Pek sangat menghormati paman Lui, ia percaya apa yang diceritakan paman Lui kepadanya ketika berada di dalam gua rahasia tempo dulu tak bakal salah, maka walaupun sekarang Ci hay Siansu si ketua Siau-lim-pay mempunyai cerita dalam versi lain tentang kitab pusaka Soh-kut-siau-hun-thian-hud-pit kip, betapapun ia lebih percaya pada keterangan paman Lui.
Bisa dibayangkan betapa marahnya Ci hay Siansu mendengar sanggahan itu, mukanya jadi merah padam, matanya melotot dan jenggotnya bergetar tanpa terembus angin, serunya dengan ketus.
"Bagaimana bedanya? Coba terangkan!"
"Ketika Ciah-gan-long-kun berlatih sejenis tenaga dalam tingkat tinggi dan mendapat gangguan dari Thian-sian-mo-li dengan ilmu To-li-mi-hun-tay-hoatnya sehingga mengalami kelumpuhan, beliau memang mendapat pertolongan Ko-sui Siangjin, ketua Siau-lim serta Tiat-siu Totiang dari Bu tongpay!"
"Hm, jadi aku tidak membohong, kenyataannya memang begitu bukan?"
Dengus paderi itu dengan mendongkol. Tian Pek tidak memperdulikan ocehannya, ia melanjutkan kisahnya.
"Akan tetapi, setelah Ciah-gan-longkun sembuh dari lukanya, ia tidak pernah menyerahkan kitab pusaka hasil pemikirannya itu kepada ketua Siau-lim-pay!'' Air muka Ci-hay Siansu berubah hebat, tapi Tian Pek lantas berkata lebih jauh.
"Kitab pusaka itu ia simpan di sebuah gua rahasia di Lo-hu-san, bahkan sesaat sebelum mengembuskan napasnya yang penghabisan sengaja ia bocorkan rahasia ini kepada orang lain. Karena peristiwa itulah tak terhindar lagi dunia persilatan waktu itu menjadi kacau, banjir darah melanda di-mana2, semua orang berusaha mencari dan memperebutkan kitab pusaka itu!"
Dengan kisah ini Tian Pek hendak membuktikan kepada umum bahwa cerita Ci hay Siansu tidaklah jujur, hal ini seketika itu juga membuat paderi Siau lim si ini naik pitam, ia maju ke muka seraya membentak.
"Jadi menurut Siau-sicu, ketua kami yang lalu berhasil mendapatken kitab pusaka itu dari suatu perebutan dengan kawanan jago yang lain?"
Siau-lim si amat tersohor di dunia persilatan, bukan saja karena jumlah anggotanya yang banyak, terutama sikap mereka yang lebih mengutamakan keadilan dan kebenaran daripada kemaruk nama serta harta, Andaikata apa yang dikisahkan Tian Pek terbukti kebenarannya, ini sama artinya pemuda itu sudah mencoreng moreng sejarah Siau lim-si yang sudah cemerlang selama be-ratus2 tahun ini.
Waktu itu Ci-hay Siansu telah menghimpun segenap tenaga dalamnya pada telapak tangannya, asal pertanyaannya itu dijawab Tian Pek dengan "ya"
Atau anggukan kepala, maka dia akan segera melancarkan sarangan maut dengan segenap kekuatannya itu.
Tian Pek tidak melayani kemarahan paderi itu, meski ia tahu kegusaran Ci-hay Siansu sudah mencapai puncaknya, dengan tak acuh ia berkata lagi.
"Taysu tak perlu cemas atau gelisah, padamkan dulu hawa amarahmu itu, sebab berbicara sesungguhnya aku sendiri belum pernah mendengar ketua kalian yang lampau ikut pula memperebutkan kitab pusaka itu dengan jago2 lainnya. Tapi yang pasti kutahu bahwa kitab pusaka itu akhirnya terjatuh ke tangan anak murid perguruan Hoat hoa-lam-cong!" . Ucapan ini kembali membuat suasana jadi gaduh, terutama sekali para Ciangbunjin dari perguruau Hoat-hoa aliran selatan dan perguruan Hoat-hoa aliran utara, serentak mereka melompat maju ke depan. Ketua Hoat-hoa-lam-cong, yang bergelar Tan-cing-kek (jago pemetik kecapi) Thio Jiang lantas tertawa ter-babak2, serunya.
"Hahaha, jadi berbicaria pulang pergi, akhirnya pemilik yang sebenarnya kitab pusaka Soh-kut-siau-hun-thian-hud-pit-kip adalah perguruan kami! Hahaha, benar2 tak tersangka!"
Ketua Hoat-hoa-pak-cong (aliran utara) yang berjuluk Tiat-pi-pa-jiu (tangan sakti kecapi baja) Hoan Wan ikut menimbrung pula.
"Jika memang begitu keadaannya, harap Tian-siauhrap bersedia mengembalikan kitab yang sudah hilang selama dua ratus tahun itu kepada pemilik yang sebenarnya!"
Tian Pek tersenyum, ia tidak menanggapi pernyataan kedua orang itu melainkan meneruskan lagi kisahnya.
"Sayang sekali, anak murid Hoat-hoa-lam-cong tak dapat mempertahankan kitab pusaka itu terlampau lama, dalam suatu perkelahian akhirnya mereka tewas dalam keadaan yang mengerikan dan kitab pusaka itupun dirampas oleh Ngo-jiu-leng-hou (rase licik bercakar lima) yang sebenarnya tidak berilmu tinggi! ' Kembali kawanan jago itu tertegun, Tiat-pi-pa Hoan Wan segera berseru.
"Walaupun kami tidak menyaksikan sendiri jalannya pertarungan itu, tapi kami yakin jago2 yang ikut serta dalam perebutan kitab pusaka itu pasti terdiri dari jago2 yang berilmu tinggi, bagaimana penjelasanmu tentang cerita ini? Masa kitab pusaka itu malahan kena didapatkan oleh jago yang tidak berilmu tinggi?' "Sederhana sekali penjelasannya, jika jago2 berilmu tinggi saling memperebutkan kitab itu lebih dulu sehingga banyak yang terluka dan tewas, sementara Ngo-jiau-leng-hou sendiri cuma berpeluk tangan menyaksikan harimau bertempur, sudah tentu akhinya dia yang heruntung! Sudah pernah mendengar kisah Bu Cong membunuh harimau? Bu Ceng merasa tak mampu melawan dua ekor harimau, ia sengaja menyingkir ke samping dan membiarkan kedua ekor harimau yang akan menerkamnya saling berkelahi lebih dulu, akhirnya setelah kedua ekor harimau itu sama2 terluka, ia baru turun tangan membinasakan binatang tersebut. Begitu juga siasat yang digunakan Ngo-jiau-leng-hou, maka dengan sangat mudah ia berhasil mendapatkan kitab pusaka Soh-kut-siau-hun-thian-hud-pit kip tersebut!"
Bersama dengan selesainya ucapan tersebut, tiba2 terdengar seseorang tertawa seram, menyusul seorang kakek kurus kering tinggal kulit membungkus tulang melayang masuk ke gelanggang, begitu tiba di arena dia lantas berseru.
"Sungguh tak nyana!. Sungguh tak kuduga, rupanya kitab pusaka yang luar biasa itu adalah milik perguruan Khong -tong-pay kami!"
Ia lantas berpaling ke arah Tian Pek dan menjulurkan tangannya.
"Pemiliknya sudah datang, hayo kembalikan kepadaku!"
Kakek kurus kering ini cukup dikenal oleh jago2 yang hadir, sebab dia tak lain adalah ketua perguruan Khong-tong-pay saat ini yang berjuluk Bay-kut-sian (Dewa tulang iga) Ong Gi-to.
Dengan kemunculan jago kurus ini, baru semua orang mengerti Ngo-jiau-leng-hou yang disebut oleh Tian Pek tadi tak lain adalah jago yang berasal dari Khong-tong-pay.
Meski Khong-tong-pay terhitung salah satu di antara sembilan aliran besar di dunia persilatan dan orang persilatan menganggapnya sebagai suatu parguruan dari aliran putih, karena mereka tak pernah mencuri, membegal, tidak menyelenggarakan tempat bordil, tidak menjadi penyamun serta melakukan jual-beli tanpa modal, tapi muridnya terdiri dari manusia yang beraneka ragam, peraturan perguruannya tidak ketat, banyak anggotanya berbuat se-wenang2.
Karenanya meski termasuk dalam deretan sembilan besar, namun sebenarnya perguruannya terhitung perguruan paling rendah di antara yang lain.
Tidak heran tatkala Tian Pek menyatakan bahwa kitab pusaka Soh-kut-siau-hun-thian-hud-pit-kip adalah milik Khong-tong-pay, bukan saja kedelepan besar lainnya segera tak senang hati, bahkan hampir setiap jago yang hadir di situ mempunyai perasaan yang sama.
Jilid 26 Sekalipun tak senang hati, apa mau dikata lagi kalau kenyataannya memang demikian?
Sebab itu menurut adat yang berlaku dalam dunia persilatan, barang siapa berhasil mendapatkan benda pusaka yang tak bertuan, maka dialah yang dianggap sebagai pemiliknya.
Ci-hay Siancu kuatir uraian Tian Pak akan menggugat hal milik Siau-lim-pay atas benda itu, bahkan akan membuyarkan pula persatuan dari sembilan besar, maka biji matanya lantas berputar, sambil menahan gelora perasaannya ia berkata lagi kepada pemuda itu.
"Siau-sicu, coba lanjutkan cerita menurut versimu! Bagaimanakah nasib kitab pusaka Soh-kut-siau-hun-thian-hud-pit-kip itu selanjutnya? Dengan dibayangi oleh demikian banyak jago lihay belum tentu Ngo-jiau-leng-hou bisa melindungi kitab itu untuk selamanya meskipun untuk sementara berhasil ia rampas bagaimana kisah selanjutnya? Akhirnya kitab itu berhasil didapatkan siapa?"
"Bagaimana kisah selanjutnya aku kurang begitu tahu, sebatas yang kuketahui hanya terbatas sampat di sini saja!"
Mendengar itu, Ci-hay Siansu tertawa dingin.
"Hehehe, kalau ucapan Siau-sicu ada kepala tanpa ekor, ini membuktikan bahwa kau sengaja mengarang cerita bohong untuk mengangkangi sendiri kitab pusaka itu!"
Keadaan yang sebenarnya memang tak diketahui Tian Pek, sebab dari paman Lui ia hanya diberitahu sampai di situ saja, tapi sekarang ketua Siau lim-pay ini, memaki dan memfitnah seenaknya sendiri, 'kontan saja anak itu naik darah.
"Taysu, ingatlah pada kedudukanmu yang tinggi dan jangan merendahkan gengsimu sendiri dengan menfitnah orang seenaknya!"
"Hmm, orang persilatan mengatakan Siau-sicu jujur dan berjiwa besar, tapi setelah perjumpaan hari ini baru kuketahui bahwa apa yang tersiar di dunia persilatan tak dapat dipercaya!"
Seru Ci-hay Siansu pula dengan gusar.
"Apa maksud perkataanmu itu?"
Tanya Tian Pek.
"Sungguh mengecewakan Siau-sicu mempunyai nama pendekar, pada hakekatnya tak lebih adalah manusia munafik. Perbuatanmu ini sama dengan mencorengi nama baik Pek-lek-kiam Tian-tayhiap dimasa lalu ... ."
"Tutup mulut!"
Bentak Tian Pek dengan gusar.
Dengan cepat Ci-hay Siansu mundur selangkah dia mengira musuh akan turun tangan, cepat telapak tangannya siap diangkat keatas, untuk menghadapi segala kemungkinan.
Sebagai anak yang berbakti, Tian Pek benci bila ada orang menghina nama baik mendiang ayahnya, segera ia hendak melabrak orang, akan tetapi ketika tenaga pukulannya terhimpun, tiba2 teringat olehnya bahwa ia sudah berjanji pada pahak Lam-hay-bun untuk tidak mencampuri urusan dunia persilatan lagi, maka hawa murni yang sudah dihimpun segera dibuyarkan kembali, telapak tangan yang sudah terangkat pelahan-lahan diturunkan.
"Hm, kuhormati Taysu sebagai seorang Ciangbunjin, tapi Taysu malah menghina mendiang ayahku, andaikata aku tiada janji dengan orang lain untuk tidak mencampuri urusan dunia persilatan lagi, hm, tentu aku tidak sungkan2 lagi kepadamu! Sekarang akupun tak ingin banyak bicara hendaklah kalian segera tinggalkan tempat ini!"
Kata Tian Pek dengan gemas.
Sebagai ketua Siau lim-pay, kedudukan Ci-hay Siansu di dalam dunia persilatan sangat tinggi dan terhormat, tapi sekarang di hadapan orang banyak ia dibentak oleh Tian Pek dengan kasar, hal ini membuat paderi tersebut jadi tertegun.
Tian Pek sendiripun tidak sungkan2, sehabis berkata ia tak pedulikan lawannya lagi dan segera berlalu.
Tiba2 Bay-kut sian membentak.
"Bocah keparat, jangan pergi dulu? Hmm, berani kau bersikap kurangajar terhadap ketua sembilan besar? Sambut dulu pukulanku ini!"
Di iringi bentakan nyaring, tubuhnya melambung ke udara, dari atas telapak tangannya menghantam punggung Tian Pek.
Cepat Tian Pek melompat ke depan, dengan begitu serangan maut Bay-kut-sian mengenai sasaran yang kosong.
"Blang!"
Di tengah dentuman heras, debu pasir beterbangan, pukulan dahsyat Bay-kut-sian itu menghantam permukaan tanah hingga menimbulkan sebuah liang besar.
Tak malu ia sebagai ketua Khong-tong-pay, ditinjau dari kekuatan serangannya dapatlah diketahui tenaga dalamnya cukup sempurna, meski demikian banyak orang diam2 mencemooh sebab sebagai seorang ketua yang mempunyai kedudukan torhormat, tidaklah pantas baginya untuk menyergap orang dari belakang.
Tian Pek sendiri tak ingin melanggar janjinya, maka ia tidak melancarkan serangan balasan, setelah lolos dari ancaman itu ia meneruskan langkahnya untuk berlalu dari situ.
Tan-ceng-kek, ketua Hoat-hoa-lam-cong, sama Tiat-pi-pa-jiu, ketua Hoat-hoa-pak-cong melompat maju dan mengadang jalan pergi Tian Pek.
"Mau kabur dari sini? Tidak gampang sobat!?? jengek mereka "
Boleh saja kalau ingin pergi, tapi serahkan dulu kitab pusaka Soh-kut-siau-hun-thian hud-pit-kip!"
Dalam pada itu Ci-hay Siansu serta beberapa orang ketua lainnya sudah memburu maju pula ke depan Tian Pak sepera terkepung lagi di tengah.
Walaupun jago2 yang hadir terdiri dari ketua sembilan besar, tapi yang mengepung Tian Pek sekarang ada sepuluh orang, sebab dari pihak perguruan Hoat-hoa-bun terbagi menjadi Lam-cong (sekte selatan) dan Pakcong (sekte utara), bisa dibayangkan bagaimana tegangnya suasana waktu itu.
"Siau-sicu!"
Kembali Ci-hay Siansu berkata.
"bila Sohkut-siau-hun-thian-hud-lok tidak kau serahkan, jangan salahkan kami akan turun tangan bersama!"
Tian Pek tertawa dingin, ia tidak menanggapi ancaman tersebut, sungguh dia ingin menghajar musuh habis2an, akan tetapi iapun tak mau me-langgar janji, keadaannya jadi serba salah, untuk sesaat ia menjadi bingung.
Dalam keadaan begitu, untunglah paman Lui tampil dan berdiri di depan Ci hay Siansu, tegurnya.
"Siau-lim Ciangbun kan kenal padaku?"
Dengan tajam Ci-hay Siansu mengawasi paman Lui dari atas sampai ke bawah, orang ini berambut awut2an, berwajah kereng dan bermata tajam, sudah pasti tenaga dalamnya sangat hebat, tapi selama ini belum pernah kenal, apalagi dalam keadaan mendongkol, tanpa pikir sabutnya ketus.
"Maaf, pengetahuanku cetek, tidak kukenal siapa gerangan anda ini!"
"Apakah, mendiang Ciangbunjinmu tidak meninggalkan pesan apa2 waktu kau menerima jabatan ketua?"
Kata paman Lui. Pertanyaan yang diajukan tanpag ujung pangkal iini, membuat Cih-hay Siansu tertegun, kembali ia mengamati paman Lui, lalu sahutnya.
"Masa urusan pengangkatan Ciangbunjin kami ada sangkut pautnya dengan diri Sicu?"
"Aku kira memang ada sedikit sangkut pautnya"
Kata paman Lui tersenyum. Ucapan ini dirasakan sebagai suatu penghinaan bagi Siau-lim-pay, kontan saja Ci-hay Siansu naik darah, teriaknya.
"Aku tak pernah kenal kau, mengapa kau bilang ada sangkut pautnya dengan kami? Hmm, jika kau tidak jelaskan duduknya perkara, akan kuadu jiwa dengan kau!"
Paman Lui tertawa, katanya.
"Taysu, ucapanmu ini terlalu emosi, bila kau benar2 menghendaki aku bicara terus terang, kukuatir masalah ini akan mempengaruhi kebersihan nama baik Siau-Iim-pay yang sudah terpupuk selama ratusan tahunl"
"Coba terangkan, masalah apakah itu?"
Seru Ci-hay Siansu semakin gusar.
"Masalah ini menyangkut nama baik serta kebersihan biara kalian selama ratusan tahun, kurasa kurang leluasa untuk diterangkan di hadapan umum, bagaimana kalau kita berdua mencari tempat yang sunyi saja dan membicarakan persoalan ini di bawah empat mata!"
Ci-hay Siansu hampir saja tak dapat mengendalikan amarahnya, ia berteriak.
"Tampaknya kau ini seorang pendakar, kenapa cara bicaramu ber-tele2 begini? Kalau ingin bicara cepat katakan kalau tidak lekas enyah dari sini!"
Sesungguhnya paman Lui memang pernah terlibat dalam satu persoalan yang menyangkut ketua Siau-lim-pay dari generasi yang lalu, bahkan pernah membantu kesukaran biara itu, sebenarnya dia tak ingin membongkar masalah yang memalukan Siau-lim itu dihadapan umum.
Tapi sekarang, urusan kedua pihak telah buntu, dalam keadasn begini tak mungkin Ci-hay Siansu akan menerima usul paman Lui, sedangkan paman Lui sendiri karena terpaksa harus menguraikannya secara blak2an.
"Hei, hwesio tua, kau yang memaksa aku membeberkannya, maka segala risiko adalah tanggung jawabmu."
Kata paman Lui.
"Sekali lagi ingin kutanya padamu, tahukah kau cara bagaimama Soh-kut-siau-hun-thian-hud-pit-kip itu terjatuh ke tangan Siau-lim-pay?"
Ci-hay Siansu swedang marah, maka tanpa pikir dia menjawab.
"Tadi sudah kuterangkan, kitab itu dihadiahkan kepada Ko-sui Siangjin, ketua kami yang lalu lantaran Ciah-gan-long-kun Locianpwe merasa berutang budi kepada ketua kami itu!"
"Lalu bagaimana penjelasanmu tentang apa yang dituturkan Tian-siauhiap tadi?"
"Hmm, apa lagi yang perlu kujelaskan? Dia sengaja memutar balikkan duduknya persoalan dan bicara ngawur?"
"Tutup mulut .., ."
Teriak Tian Pek sambil maju ke muka, belum pernah ia di maki orang secara begini. Paman Lui segera mengalangi anak muda itu, lalu kepada Ci-hay Sian-su ia berkata lagi.
"Kalau kau tidak percaya, maka sekarang ingin kutegaskan kepadamu bahwa apa yang diucapkan Tian-siauhiap sedikitpun tidak salah, akhirnya Soh-kut-siau-hun-thian-hud-pit-kip itu diperoleh Ngo-jiau-leng-hou yang dipandang berkepandaiaan rendah itu."
Bay-kut-sian terkejut bercampur girang mendengar pengakuan itu. Ci-hay Siansu tertawa dingin, teriaknya.
"Ah, omong kosong, sekalipun kau mengulangi kembali kisah itu sampai beberapa ratus kali juga percuma, tak nanti aku percaya!"
"Tapi kejadian yang sebenarnya memang begitu, tidak mau percaya juga harus percaya,"seru paman Lui. Wajah Ci-hay Siarau makin kaku, katanya.
"Menurut keteranganmu, bagaimana akhirnya kitab pusaka tersebut dapat terjatuh kembali ke tangan Ciaugbunjin kami? Dan mengapa bisa menjadi pusaka turun temurun biara kami? Apakah Siaulim-si kami mesti meniru cara Ngo-jiau-leng-hou merampas kitab tersebut dari tangan orang lain?"
Karena gusar Ci-hay Siansu hanya memaki dan membantah, ia tidak membayangkan bahwa ucapan itu akan menyinggung perasaan ketua Khong-tong-pay.
Benar juga, air muka Bay-kut-sian, ketua Khong-tong itu berubah hebat, dengan tatapan tajam dia melototi wajah paderi itu, hawa nafsu membunuh menyelimuti mukanya.
Tapi sebalum ia bersuara, paman Lui telah menanggapi dengan cepat.
"Perkataanmu memang tepat sekali!"
Kini air muka Ci-hay Siansu yang berubah hebat.
Paman Lui lantas berkata lebih jauh.
'Berbicara sesungguhnya.
kendati Ko-sui Siangjin juga menggunakan cara yang sama untuk merampas kitab pusaka itu, namun maksud dan tujuannya berbeda jauh dengan apa yang dipikirkan Ngo-jiau-leng-hou.
Kalau Ngo-jiau-leng-hou merampas kitab itu demi kepentingan pribadi agar dapat malang melintang di dunia persilatan, maka Ko-sui Siangjin merampas kitab itu dengan harapan mencegah badai pembunuhan di dunia persilatan, bahkan setelah kitab itu berhasil dirampas, ia tak memandangnya barang sekejap jua dan kemudian disimpan ke dalam gudang.
Sejak itulah kitab pusaka itu menjadi kitab yang tidak pernah diwariskan kepada orang, demikian pula dengan anak murid Siau-lim-si, tak seorangpun pernah berlatih kepandaian sakti itu, sebab Ciangbunjin mereka secara turun temurun melarang siapapun membuka kitab tadi, barang siapa berani mencuri lihat akan dianggap sebagai pengkhianat perguruan.
Yaa, hanya satu pikiran sesaat dapat menerbitkan bencana besar, aku tidak membantah bahwa maksud ketua Siaulim-pay yang lalu memang baik dan mulia!"
Persoalan ini hakikatnya adalah rahasia perguruan dan cuma Ciangbunjin saja yang mengetahuinya, rahasia tersebut hanya diberitahukan kepada Ciangbunjin yang baru pada waktu dilantik menjadi ketua, tak heran kalau tiada orang luar yang mengetahuinya lagi.
Tapi sekarang rahasia tersebut terbongkar dari mulut orang lain, dapat dibayangkaa betapa rasa kaget dan heran Ci-hay Siansu.
"Bangsat, besar amat nyalimu!"
Hardiknya dengan murka.
"darimana kau mengetahui persoalan ini??"
"Keledai gundul, hendaklah sikapmu sedikit tahu diri!"
Ujar paman Lui dengan gusar.
"aku ingin bertanya lagi padamu, tahukah gkau apa sebabnya tiga orang suheng mendiang Ciangbunjinmu tewas secara mengenaskan?"
Pertanyaan ini membuat Ci-hay Siansu terbelalak dan sama sekali tak mampu menjawab.
Ciangbunjin Siau-lim-si yang dulu bergelar Ceng sim Siansu, dia tak lain adalah gurunya Ci-hay, sedangkan ketiga orang Supeknya, yakni Thian-sim, Jing-sim serta Beng-sim justeru mati karena dijatuhi hukuman yang paling berat menurut peraturan perguruan.
Tapi mengapa mereka sampai dihukum mati?
Hal ini merupakan rahasia besar yang tak diketahui orang luar, bahkan ketika Ceng-sim Siansu melimpahkan jabatan ketuanya kepada Ci-hay, persoalan ini tak pernah disinggung, dengan sendirinya Ci-hay Siansu tak tahu.
Dan sekarang, pertanyaan itu diajukan oleh paman Lui, pantas kalau ketua Siau-lim-pay ini jadi gelagapan.
Sekalipun demikian, tentu saja ia tak mau mengatakan dia tidak tahu, sambil mengernyitkan alis ia membentak dengan gusar.
"Masa kau tahu jelas sebab musabab kematian ketiga orang Supekku?"
"Hahaha, kalau aku tidak jelas, siapa lagi yang tahu? Aku berani memastikan bahwa setelah Ceng-sim mati, di dunia ini hanya aku seorang yang mengetahui rahasia ini!"
"Omong kosong, tak mungkin kau tahu!"
Teriak Ci hay Siansu semakin gusar.
"Hmm, agaknya kau memaksa kubongkar semua rahasia ini dihadapan umum!"
Kata paman Lui dengan mata melotot..
"Baiklah, kalau memang begitu, terpaksa akupun harus bicara terus terang. Ketahuilah, ketiga orang Supekmu itu bunuh diri dengan menghantam ubun2 sendiri karena mereka melanggar pantangan Siau-lim-si, yaitu diam2 mencuri lihat Soh-kut-siau-hun-thian-hud-lok!"
Air muka Ci-hay Siansu berubah hebat, bentaknya.
Ketiga orang Supekku adalah Suheng Ciangbunjin yang dulu, sekalipun mereka mencuri melihat kitab pusaka itu, kesalahannya tak sampai dijatuhi hukuman mati Huh!
Ketahuan sekarang, tampaknya kau memang sengaja bicara ngawur untuk menutupi maksud busuk pribadimu sendiri ..."
Paman Lui menjengek, katanya.
"Umpama jika tiga Supekmu mencuri lihat kitab pusaka itu, kemudian perbuatan mereka diketahui Ciangbunjin, tapi mereka tidak menurut perintah ketuanya sebaliknya malahan menyerang Ciangbunjinnya, coba jawab, perbuatan semacam ini pantas tidak kalau dijatuhi hukuman mati?"
Ci-hay Siansu tertegun dan tak bisa bicara lagi.
Kedudukan seorang Ciangbunjin adalah tampuk pimpinan tertinggi, jangankan sesama saudara seperguruan, sekalipun Supek atau Susioknya juga akan dijatuhi hukuman mati bila berani mencelakai sang ketua.
Sementara itu perhatian semua, orang sama tertuju pada tanya jawab ini, meskipun bukan suatu pertempuran seru, tapi masalahnya menyangkut suatu rahasia besar yang terjadi pada dua ratus tahun berselang, bahkan ada hubungannya dengan nasib Soh-kut-siau-hun-thian-hud-pit-kip, maka tak heran kalau semua orang ikut tegang.
Agak lama Ci-hay Siansu termangu, tapi satu ingatan terlintas dalam benaknya, cepat ia berkata.
"Hmm, sedangkan aku sebagai Ciangbunjinnya tidak mengetahui rahasia ini, darimana kau bisa mengetahui rahasia tersebut sejelas itu? kalyau bukan bicara ngawur dan memfitnah, apa lagi namanya?"
"Oleh sebab aku hadir di sana waktu itu, sudah tentu aku mengetahui persoalan ini dengan jelas!"
"Apa? Kau hadir di sana waktu itu?"' "Benar!"
Dengan meyakinkan paman Lui mengangguk "Bila aku tak hadir ketika itu, mungkin Ceng-sim Hongtiang, sudah tamat jiwanya!
Justeru akulah yang menyelamatkan jiwanya, maka gurumu sempat mencaci maki ketiga Supekmu sehingga mereka jadi malu dan menyesal, akhirnya untuk menebus dosanya mereka telah bunuh diri dengan menghancurkan batok kepalanya sendiri!"
Ci-hay Siansu kaget, saking tegangnya sampai dada terasa sesak Demikian pula kawanan jago yang lain, mereka sama terbelalak, suasaana jadi sepi, tatapan semua orang tertuju ke muka paman Lui.
Setelah berhenti sejenak, paman Lui berkata lagi.
"Karena peristiwa itu, gurumu Ceng-sim Hong-tiang mulai menaruh perhatian pada kitab pusaka itu dan membaca isinya, kemudian karena merasa kitab itu terlampau kotor dan tak pantas disimpan di dalam biara, mengingat pula aku yang telah menyelamatkan jiwanya hingga Siau-lim si yang sudah berusia ratusan tahun tidak berantakan di tengah jalan, kitab tersebut lalu dihadiahkan kepadaku sebagai rasa terima kasihnya, selain itu ia menghadiahkan pula tiga biji obat Liong hou si-mia-wan yang tak ternilai harganya itu kepadaku!"
Sekujur badan Ci-hay Siansu sudah basah kuyup seperti diguyur air dingin.
Kiranya Siau-lim-si kini telah jatuh dalam kekuasaan Lam-hay-bun, untuk berusaha merampas kembali Siau-lim-si yang sudah bersejarah ratusan tahun dari tangan Lam-hay-bun, terpaksa Ci-hay membawa anak muridnya kabur dari biara itu untuk mencari kembali kitab pusaka yang berisikan pelajaran ilmu silat maha tinggi itu, sebab dengan ke-72 jenis ilmu silat andalan Siau-lim masih belum mampu mengalahkan lawan.
Dalam penyelidikannya kemudian diketahui bahwa kitab pusaka yang di-cari2 itu sudah terjatuh ke tangan seorang jago muda yang bernama Tian Pek, namun tersiar pula berita yang mengatakan bahwa kungfu Tian Pek amat tinggi, bukan saja dapat menghadapi Hay-gwa-sam-sat, bahkan Hek-to-su-hiong yang lihay juga dikalahkan.
Maka untuk mewujudkan cita2nya, dengan macam2 alasan serta bujukan ia minta dukungan ketua kedelapan aliran persilatan lain agar kitab Soh-kut-siau-hun tesebut bisa diperoleh kembali.
Tapi sekarang, setelah mendengar penjelasan paman Lui, ia tak bisa berkutik lagi, sebab hakikatnya pihak Siau-lim-si telah melimpahkan hak memiliki kitab itu kepada orang lain..
Begitulah, maka sesudah paman Lui bercerita tentang rahasia Siau-lim-si yang tak diketahuinya, maka Ci-hay Siansu jadi kaget dan tertegun, malahan iapun merasa gusar karena nama baik Siau-lim-si yang sudah cemerlang selama ratusan tahun itu se-akan2 terletak pada tangan paman Lui.
"Siapa kau?"
Bentaknya dengan gusar. Paman Lui tersenyum.
"Aku hanya seorang Bu-beng-siau-cut orang kecil yang tak ternama, orang2 menyebut diriku Thian-hud-ciang Lui Ceng-Wan!"
Air muka Ci-hay Siansu berubah, buru2 dia memberi hormat seraya berkata.
"Omitohud! Siancay! Siancay! Kiranya Lui-inkong, harap dimaafkan kekasaranku ...."
Paman Lui merasa tak enak hati melihat sikap ketua Siau-lim-si ini berubah menghormat setelah mendengar namanya, cepat dia balas menghormat.
Tapi tiba2 satu ingatan terlintas dalam benak Ci-hay Siansu, ia merasa tindakannya ini tak benar, bila ia minta maaf kepada paman Lui, bukankah berarti Siau-lim-si tidak berhak lagi untuk menuntut kembali kitab pusaka itu?
Lalu cara bagaimana pula ia akan mengalahkan orang2 Lam hay-bun serta merebut kembali kuilnya?.
Maka cepat ia berkata.
"Cuma, kita baru berjumpa untuk pertama kali ini, kukira perlu kau menunjukkan sesuatu bukti yang meyakinkan."
Paman Lui melengak, tak disangkanya ketua Siau-lim-pay ini gampang berubah sikap, tanyanya tercengang.
"Bukti apa yang kau inginkan?"
"Bukankah kau mengatakan bahwa Ciangbunjin kami yang lalu telah menghadiahkan tiga butir Liong-hou-si-mia-wan dan menyerahkan pula kitab Soh-kut-siau-hun-thian hud-lok kepadamu? Asal kedua macam barang ini dapat kau pertunjukan kepadaku, maka akupun akan percaya semua penuturanmu Sebaliknya jika barang bukti tak dapat kau tunjukkan ....Hm, itu berarti kau cuma mengibul untuk mempermainkan diriku, maka jangan salahkan aku takkan sungkan2 lagi kepadamu!"
"Barang bukti apa yang bisa kuperlihatkan kepadamu?"
Paman Lui berpikir dalam hati.
"dari tiga biji Liong-hou-si-mia-wan, dua biji sudah kugunakan untuk menolong orang, sedang yang ketiga telah kuserahkan kepada Tian Pek sewaktu berada di perkampungan Pah-to-san-ceng, waktu itu Tian Pek tak mau menerimanya dan sudah kubuang ke tanah, sebaliknya kitab pusaka Thian-hud pit-kip sudah dimusnahkan Tiang Pek, darimana pula aku bisa mhemiliki benda2 itu lagi?"
Tapi paman Lui pun mengerti, kendati kedua macam benda itu masih utuh, tak nanti Ci-hay Siansu akan menyudahi persoalan ini sampai di sini saja.
Kiranya ketika paman Lui berkelana di dunia persilatan untuk mencari jejak Pek-lek-kiam Tian In-thian dahulu tanpa sengaja ia mampir di Siau-lim-si, kebetulan juga malam itu di sana terjadi huru-hara, apa yang terjadi waktu itu, kecuali Ceng-sim Hongtiang, ketua Siau lim-pay yang dulu, tiada orang kedua yang ikut manyaksikan, maka andaikata Ci-hay Siansu tak mau mengakui sekalipun ada barang bukti, paman Lui juga tak bisa berbuat apa2.
Berpikir sampai di sini, paman Lui menengadah dan tertawa ter-bahak2, serunya.
"Meski aku Lui Ceng-wan hanya seorang Bu-bing-siau-cut, akan tetapi semua perbuatan yang pernah kulakukan selama ini diketahui pula oleh sahabat2 dunia Kangouw, cuma tanyakan saja kepada orang lain, pernahkah aku berbohong? Eh, Hwesio tua, aku tidak memaksa kau harus percaya pada perkataanku, tapi apa yang bisa kukatakan hanya ini saja, percaya atau tidak terserah padamu."
Sebelum Ci-hay Siansu sempat menjawab, Bay-kut-sian dari Khong-tong-pay sudah maju ke depan, ujarnya dengan muka dingin.
"Siansu, apa gunanya kita omong melulu dengan orang ini, tanyakan saja Soh-kut-siau-hun-thian-hud-pit-kip sekarang berada pada siapa? "Hehehe, kau ingin tahu? Belum berhak, sobat ....."
Jengek paman Lui sambil tertawa dingin.
Bay-kut-sian adalah lelaki yang gemar main perempuan, bila malam tiba dan di sampingnya tak ada perempuan yang mendampinginya, semalaman dia tak bisa tidur nyenyak, karena itulah akhirnya ia jadi kurus kering tinggal kulit membungkus tulang dan tersohor sebagai Bay-kut-sian si dewa tulang iga.
Sesuai dengan julukannya, orang ini tidak jujur hidupnya, orang persilatan dari golongan putih rata2 membenci padanya.
Paman Lui berwatak keras, ia memandang hina manusia2 sebangsa itu, maka ketika Bay-kut sian tampil ke depan, serta merta iga naik darah, otomatis ucapannhya juga ketus dan tak sungkan2.
Tapi justeru karena sikapnya ini, Bay-kut sian makin marah, mukanya yang ke-pucat2an berkerut, matanya melotot, lalu makinya dengan gusar.
"Lui sinting, kau jangan takabur! Sambut dulu pukulanku ini ....... Dengan segenap tenaganya ia lepaskan pukulan dahsyat ke dada musuh, angin serangan yang kuat men-deru2.
"Huh! Pukulan macam ini juga dipamerkan"
Jengek paman Lui, tangan kanannya diayun ke muka untuk menyambut serangan tersebut.
"Blang!"
Kedua gulung tenaga beradu, terjadilah suara keras, beruntun Bay-kut-sian tergetar mundur tiga langkah, sebaliknya paman Lui tak geming di tempat semula.
Kecundang didepan orang banyak, Bay-kut-sian jadi kalap, dia meraung seperti harimau gila, diterjangnya paman Lui dengan garang, secara beruntun ia melepaskan tiga pukulan dan dua tendangan kilat.
"Bangsat! Rupanya kau sudah bosan hidup!"
Teriak paman Lui dengan marah, ia mainkan Thian hud-ciang dengan rapat, semua pukulan dan tendangan lawan dipapaki dengan kekerasan.
Dua sosok tubuh mereka se-olah2 bergumul menjadi satu, diantara benturan keras tiba2 tubuh mereka berpisah satu lama lainnya.
Paman Lui yang gagah perkasa masih berdiri tegak, sebaliknya Bay-kut-sian yang kurus kering seperti lidi berdiri sempoyongan, mukanya makin pucat, dengan beringas ia melototi musuh, tiba2 Bay kut-sian mundur dengan sempoyongan, setelah muntah darah lantas roboh terjungkal .....
Untung Ci-hay Siansu ber-jaga2 disampingnya, paderi itu segera melompat maju dan menyambar tubuh Bay-kut-sian yang hampir mencium tanah, dia keluarkan sebutir pil dan dijejalkan ke mulut ketua Khong-tong-pay itu, kemudian berpaling dan serunya kepada paman Lui dengan marawh..
"Lui Ceng-wyan, keji amat txindakanmu! Ong-ciangbun datang atas undanganku dan sekarang ia terluka, hehehe. itu berarti kau telah memusuhi sembilan besar ....' Belum habis Ci-hay Siansu berkata, ketua Hoat hoa-lam-cong, yakni Tan-ceng-kek Thio Jiang serta Tiat-pi-pa-jiu Hoan Wan, ketua Hoat-hoa-pak-cong serentak membentak dan menerjang ke depan, yang satu dengan ilmu jari Tan-ceng-ci sedangkan yang lain mainkan pukulan Pi-pa-jiu, dari kiri kanan mereka menyergap paman Lui. Sebagaimana tadi, Paman Lui tidak menghindar, ia sambut serangan tersebut dengan kekerasan kemudian ejeknya sambil tertawa dingin.
"Hehehe, sungguh tak nyana sembilan besar yang tersohor namanya tak lebih hanya manusia keroco yang mencari kemenangan dengan mengandalkan jumlah banyak!"
Perkataan ini hakikatnya menyinggung perasaan semua ketua sembilan aliran besar, tak heran ketujuh ketua lainpun serentak menerjang maju dengan murka.
Ci-hay Siansu, ketua Siau-lim-pay sendiri setelah membaringkan Bay-kutsian di atas tanah, lalu menerjang pula ke tengah arena, serunya dengan gusar.
"Lui-sicu, persoalan ini mempengaruhi mati hidupnya dunia persilatan, jika So-kut-hun-thian-hud-pit-kip tidak kau serahkan, jangan salahkan kesembilan ketua dari sembi!an besar akan menyerang kau secara bersama2!"
Paman Lui ayun tangannya untuk mematahkan serangan ketua Hoat-hoa-lam-cong dan ketua Hoat-hoa-pak-cong, kemudian menengadah dan tertawa.
"Hahaha, di masa usia lanjut seperti ini orang sheLui memperoleh kesempatan menjajal kelihayan ketua sembilan besar, kesempatan ini betu12 suatu surprise bagiku. Hayo silakan kalian bersembilan maju bersama!"
Jengeknya berbareng dengan selesainya sindiran tersebut, tiba2 ia melepaskan tujuh kali pukulan.
Sekaligus paman Lui menghadapi kedelapan ketua perguruan besar, maka dapat dibayangkan sampai betapa hebat pertempuran ini.
Tiba2 dari sisi kalangan muncul scorang, secepat kilat orang itu menerjang ke tengah arena pertarungan.
Padahal pada saat itu pertarungan sedang memuncak ketegangannya, setiap pukulan yang mereka lancarkan merupakan serangan mematikan, angin pukulan menderu2, kesembilan orang tangguh yang bertarung itu seperti lengket menjadi satu.
Lalu siapakah yang berani menerjang masuk ke tengah kalangan pertarungan yang amat sengit dan berbahaya itu?
Waktu semua orang menjerit kaget, bayangan orang itu dengan kesepatan luar biasa sudah meluncur ke tengah arena.
Tiada searangpun yang tahu jurus serangan apakah yang dipergunakan orang itu, yang pasti kedelapan ketua perguruan yang mcngerubuti paman Lui itu bagaikan terpagut ular, segera menjert kaget dan melompat keluar arena pertarungan.
Sebentar kernudian di tengah gelanggang hanya berdiri dua orang saja, mereka adalah paman Lui, dan seorang pemuda tampan yang tak lain adalah Tian Pek.
Kejadian ini membuat semua orang terkejut, tapi tak sedikit pula yang bersorak memuji.
Dalam pertarungan paman Lui melawan kedelapan ketua dari delapan besar sudah cukup menggemparkan, itupun karena paman Lui adalah jago tangguh yang sudah terkenal semenjak puluhan tahun yang lalu, tapi sekarang Tian Pek hanya pemuda baru berusia likuran tahunan dan dengan satu jurus saja telah berhasil, memaksa mundur kedelapan ketua itu, siapa yang tak heran menyaksikan kejadian ini?
Hakikatnya belum lama Tian Pek terjun ke dunia persilatan, sekalipun ia berhasil mengalahkan Hay-gwa-sam-sat dan Hek-to-su-hiong, tapi tak banyak jago yang menyaksikan peristiwa itu.
Dan sekarang mata mereka boleh dibilang dibikin melek, sebab terbuktilah pemuda itu memiliki keampuhan yaug luar biasa, sehingga cukup satu pukulan ini bisa memaksa mundur lawan2 tangguh.
Dalam pada itu, setelah berhasil pukul mundur kedelapan orang ketua perguruan besar itu dengan jurus Hud--kong pu-ciaug (sinar Buddha imemancar ke manha2), lalu Tian Pek berdiri di sisi paman Lui, mukanya tampak kereng berwibawa, gagah perkasa.
Ditatapnya sekejap kedelapan ketua perguruan besar itu dengan tajam, lalu berkata.
'Semenjak ratusan tahun yang lalu, sembilan perguruan besar selalu menjadi pemimpin dunia persilatan, Hm, setelah berada pada giliran pimpinan kalian, bukannya membawa perguruan sendiri ke puncak ketenaran, sebaliknya melakukan perbuatan tak senonoh dan menuduh orang tanpa dasar, kalau begini terus caranya, kuyakin tak sampai beberapa tahun lagi nama sembilan besar pasti akan berubah sebusuk sampah!"
Sejak tahu kelihayan anak muda itu, Ci hay Siansu tak berani bertindak gegabah sekalipun hatinya marah sekali mendengar sindiran tadi, dengan gusar ia membentak.
"maksudmu?"
"Sedari awal sudah kukatakan bahwa kitab pusaka Sohkut-siau-hun telah kumusnakan menjadi abu, persoalan ini sama sekali tak ada hubungannya dengan paman Lui, atas dasar apakah kalian mengerubuti paman Lui? Begitukah perbuatan ketua2 perguruan besar ....?"
Belum selesai pemuda itu menegur dan belum sempat Ci-hay Siansu menjawab, kembali ada dua sosok bayangan orang menerjang ke tengah arena.
Sewaktu masih di udara.
salah satu bayangan itu telah berseru lebih dulu.
"Bocah keparat she Tian! Kalau kitab pusaka Soh-kut-siau-hun masih berada padamu, hayo cepat serahkan kepada kami!"
Orang yang baru datang ini tak lain adalah Kanglam-ji-ki, dengan dandanan mereka yang menyolok, kungfu yang tinggi, perbuatan mereka yang busuk den tindak tanduk mereka yang seenaknya sendiri, Ci-hoat-leng-kau Siang Ki-ok serta Kui-kok-in-siu Bun Ceng-ki sudah tersohor sebagai gembong iblis yang disegani orang.
Tak heran kalau kemunculan mereka segera mengejutkan kawanan jago yang berkumpul ini.
Ci hay Siansu sendiripun terkejut, cepat ia berkata.
"Kitab pusaka Soh-kut-siau-hun adalah benda pusaka Siaulim-si, aku tidak mengharapkan campur tangan kalian berdua!"
"Hehehe, Apa itu Siau-lim-si? Cuma nama kosong belaka!"
Jengek Ci-hoat-leng-kau Siang Ki-ok sambil tertawa dingin.
"untuk melindungi kuili sendiripun takh becus, mau apa kau gembar gembor di sini?"
"kami bertekad akan mendapatkannya, barang siapa tidak mau tunduk, hmm, inilah contohnya"
Seru Kui-kokin-siu Bun Ceng-ki sambil tertawa seram, mendadak telapak tangannya dengan membawa desing angin dingin langsung menebas ke tubub Han-ceng-cu, itu ketua Bu-tong-pay.
Sebelum angin pukulan itu menyambar tiba, lebih dulu terasa hawa dingin yang merasuk tulang sumsum, Hian-ceng-cu menjerit kaget.
Untung gerak tubuh ketua Bu-tong-pay itu cukup cekatan, baru saja ia menyingkir ke samping, angin pukulan itu menyambar lewat, seketika ia menggigil ngeri.
Kasihan dua orang anggota perkumpulan pengemis yang berada di belakangnya, mereka tak dapat menghindar, di mana angin pukulan itu menyambar lewat, mereka menjerit ngeri, air mukanya berubah pucat roboh dengan kejang, setelah berkelejet beberapa saat lalu tak berkutik untuk selamanya.
Itulah pukulan Im-hong-ciang yarg baru saja diyakinkan kui-kok-in-siu, sekalipun dari jarak jauh, Cukup suatu pukulan ia dapat membinasakan dua orang, dari sini bisa diketahui betapa beracun dan hebatnya pukulan maut tersebut.
Kiranya pertapa dari lembah setan ini ingin "membunuh ayam menakuti monyet", dengan Im-hong-ciang yang lihay dan beracun itu ia serang ketua Bu-tong pay itu dengan harapan tindakannya ini akan bikin takut sembilan ketua perguruan lainnya.
Siapa tahu Hian-sing cu juga bukan tokoh lemah sebagai seorang Ciangbunjin dari suatu perguruan besar, dia memiliki ilmu silat yang ampuh, kendatipun diserang tanpa terduga, pada saat terakhir masih sempat menghindarkan diri dengan gerakan cepat.
Sial dua orang anggota perkumpulan pengemis itu, tanpa mengetahui sebab musababnya mereka menjadi setan pengganti ketua Bu tong-pay itu..Hong-jam-sam-kay menjadi murka, ketiga orang pengemis tua itu melompat maju dan melancarkan pukwulan dahsyat.
Tiga gulung angxin pukulan dahsyat segera menerjang dada Kui-kok-in-siu dengan hebatnya.
Belum sempat Kui-kok-in-siu turun tangan, Ci-hoat-lengkau yang berada di sampingnya telah mengebaskan ujung bajunya seraya membentak.
"Pengemis sialan! Di sini tak ada urusan kalian, hayo enyah dari sini!"
Jangan kira kebutan Ci-hoat-leng-kau itu enteng dan sederhana, se-olah2 tak bertenaga, tapi sebenarnya membawa tenaga Hek-sat-jiu yang maha dahsyat, serta merta tenaga pukulan gabungan Hong-jan-sam-kay terpunahkan..Sebagai tokoh perkumpulan pengemis, bukan saja Hong-jan-sam-kay memiliki kungfu tinggi, nama dan kedudukan mereka di dunia persilatanpun amat cemerlang, akan tetapi tenaga gabungan yang mereka lancarkan berhasil ditangkis dengan mudah oleh Ci-hoat-leng-kau, hal ini menyebabkan ketiga pengemis tua itu terkesiap.
"Tak nyana kakek bertampang kunyuk ini memiliki kungfu yang lihay, belum pernah kujumpai jago sehebat ini . ...."
Pikir mereka.
Sementara ketiga pengemis itu termanggu, jago2 Lam hay-bun yang selama ini hanya berpeluk tangan belaka, dengan berjajar menjadi satu baris perlahan mulai bergerak ke depan.
Di antara sekian jago Lam-hay-bun yang hadir ini, dipimpin oleh Sin-liong-taycu yang berbaju putih dan berkipas perak serta Lam-hay-liong-li yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan.
Di sebelah kiri kedua muda-mudi itu adalah Hay gwa-sam-sat, sedangkan di sebelah kanannya adalah Hek-to-su-hiong, tujuh jago paling tangguh dari Lam-hay-bun itu bertugas melindungi keselamatan pemimpin mereka dari kedua sayap.
Sembilan orang dengan langkak yang tegap mantap, maju ke muka, ketegangan mencekam setiap orang, membuat kawanan jago itu merasa dada jadi sesak menahan napas.
Setibanya di tengah arena, Sin-liong-taycu menudung Kanglam ji ki seraya berkata seenaknya.
"Eh, kalian berdua cepat menyingkir!"
Semenjak terjun ke dunia persilatan dan malang melintang scbagai dua gembong iblis yang disegani orang, belum pernah Kanglam-ji ki diperlakukan orang sekasar ini, keruan gusarnya tidak kepalang.
"Anak keparat! Kau bicara dengan siapa?"
Bentak mereka dengan mata mendelik.
"Ucapan itu ditujukan kepada kalian berdua kunyuk tua ini, mau apa? Tidak paham?"
Jengek nenek berambut putih dari Hay--gwa-sam-sat sambil melangkah maju.
Ci-hoat-leng-kau tidak banyak berbicara, dengan jurus Hek-jiu toh-hun (tangan hitam meraih sukma), ia cengkeram batok kepala nenek rambut putih itu.
"Bangsat, kau bosan hidup!"
Teriak si nenek berambut putih dengan gusar, bagaikan gurdi ujung jarinya menutuk jalan darah di telapak tangan Ci-hboat-leng kau.
"Criit!"
Bagaikan dipagut ular, Ci hoat lengkau menjerit kesakitan dan segera melompat mundur.
Ketika telapak tangannya diperiksa, muncul sebuah bisul merah sebesar mata uang, rupanya sudah terluka oleh tutukan Soh-hun-ci si nenek.
Kejut dari gusar Ci hoat-leng-kau, cepat dia ambil obat mujarab dan dikunyah lalu dibubuhkan pada telapak tangannya yang bengkak.
"Blang!"
Kembali sesosok bayangan tergetar mundur sempoyongan dan langsung menerjang Ci-hoat-leng-kau.
Menghadapi terjangan itu, Ci-hoat leng-kau segera mengayun telapak tangan kirinya yang tak terluka untuk menabas tubuh lawan, tapi dengan cepat diketahuinya bahwa orang itu adalah Kui-kok-in-siu, adik seperguruannya sendiri, ia batalkan serangan itu dan cepat memayangnya agar tak sampai roboh.
Wajah Kui-kok-in-siu pucat pasi, meski tubuhnya tak sampai jatuh, tak urung kakek kurus kecil ini tak dapat menahan pergolakan darah di dadanya, ia muntah darah.
Ci-hoat-leng kau terperanjat, siapa gerangan yang berhasil merobohkan mereka dalam sekali gebrakan ini?
Cepat ia menjejalkan pula sebutir obat mujarab ke mulut saudaranya.
apa yang sebenarnya terjadi?
Kiranya sewaktu si nenek berhasil melukai Ci-hoat-leng-kau dengan Soh-hun ci, Kuikok-in-siu segera menyergap dari belakang, tapi keburu dicegat oleh Hud-in Hoatsu, dengan suatu pukulan dahsyat yang tepat bersarang dipunggung lawan, jago lihay dari lembah setan itu kena dihajar hingga mencelat.
Begitulah, setelah secara beruntun orang2 Lam-hay-bun menaklukkan kedua jago tanggub, dengan sikap se-olah2 tak pernah terjadi apapun, mereka lanjutkan langkahnya menghampiri Tian Pek.
Ketika tiba di hadapan sembilan ketua perguruan besar, Lam-hay liong-li menuding mereka dan berkata.
"Hayo, kalian juga menyingkir semua!". Kesaktian jago2 Lam-hay-bun telah menggetarkan hati sembilan orang ketua perguruan besar itu, tanpa mengucap sepatah katapun masing2 monyurut mundur beberapa langkah. Setibanya di depan Tian Pek barulah Sin -liong-taycu menegur sambil menunjuk lawannya dengan kipas perak.
"Saudara, kuminta kitab pusaka Soh-kut-siau-hun itu segera kau serahkan kepadaku!"
Meski suara pembicaraannya tetap lembut tanpa emosi, namun nadanya ketus dan mengandung paksaan, se -akan2 musuhnya harus menyerahkan apa yang di mintanya itu. Tian Pek tersenyum sahutnya.
"Dengan dasar apakah anda berani mengucapkan kata2 seangkuh ini? Dan dengan alasan apa kitab pusaka Soh-kut-siau hun itu harus kuserahkan kepadamu?"
Dengan matanya yang jeli Lam-hay-liong-li menatap tajam anak muda itu, tatapan yang mesra dan penuh arti, pelbagai perasaan berkecamuk dalam sinar matanya, dan diantara sekian banyak orang yang hadir mungkin hanya Tian-Pek saja yang dapat merasakan arti tatapan itu.
Tian Pek jago muda yang berjiwa ksatria dan selalu membela keadilan dan kebenaran ini tak takut langit juga tak takut bumi, tapi hanya takut sesuatu saja, yakni takut dipandang oleh anak dara dengan sinar mata semacam ini.
Baik Wan-ji, Buyung Hong, Hoan Soh-ing Liu Cui-cui serta Kim-Cay-hong yang berjuluk Kanglam-te-it-bi-jin, semuanya pernah memandangnya dengan sinar mata seperti itu, dari mereka juga terlibat dalam permainan api asmara dengannya dan membuatnya tak tahu bagaimana harus mengatasi masalah ini.
Mula pertama ia bermain cinta dengan Liu Cui-cui, meski belum resmi menjadi suami-isteri, namun prakteknya sudah berbuat sebagai suami-isteri, setelah itu ia mengikat jodoh dengan Buyung Hong dan sekarang iapun tahu Wanji telah bertekad menjadi isterinya.
Karena permainan nasib, tanpa disadari ia mempunyai tiga orang isteri yang tak mungkin bisa ditinggalkan dengan begitu saja, berada di tengah gadis2 yang bersaing cinta itu, entah bagaimana selanjutnya mereka akan hidup bersama?
Persoalan ini cukup memusingkan kepalanya.
Dan sekarang Lam-hay-liong-li memandangnya pula dengan sorot mata seperti itu, tentu saja ia merasa ngeri, buru2 ia tunduk kepala dan berusaha menghindari tatapan Lam-hay-liong-li yang berapi2 itu.
Sementara itu Lam-hay-liong-li masih memandangnya, melihat pemuda itu menunduk, ia lantas menegur.
"Masa kau tidak tahu bahwa kitab pusaka Soh-kut-siau-hun sebenarnya adalah barang pusaka Lam-hay-bun kami?"
Semua orang melengak, begitu juga Tian Pek, keterangan ini belum pernah terpikir olehnya. Anak muda itu segera menengadah, ucapnya dengan tertawa.
"Nona, kau pandai benar bergurau. Mana mungkin kitab pusaka Soh-kut-siau-hun menjadi hak milik Lam hay-bun."
Tatkala dirasakan betapa tajam sinar mata Lam hay-liong-li yang menatapnya bagaikan sebilah pisau yang menembus ulu hatinya, pemuda itu terkesiap dan cepat menunduk lagi.
Melihat anak muda itu ter-sipu2, Lam-hay-liong-li tertawa, ia berkata.
"Sudah pernah kaulihat lukisan di dalam kitab pusaka itu bukan?"
"Ehm, pernah!"
Jawab Tian Pek dengan muka merah.
"Kau tahu siapa yang dilukis di dalam kitab itu?"
"Thian-sian-mo-!i!"
"Siapakah Thian-sian-mo li itu?"
Tian Pek tertegun.
"Thian sian-mo-li ya Thian-sian-mo-li, masa perlu dijelaskan tentang siapakah Thian sian-mo-li itu?"
Demikian ia berpikir. Rupanya Lam-hay-liong-li dapat melihat keraguan orang, ia lantas tertawa dan menerangkan.
""Terus terang kuberitahukan kepadamu, Thian-sian-mo-li itu tak lain adalah Sucou (cakal bakal) perguruan Lam-hay-bun kami! Maka adalah menjadi kewajiban kami untuk menarik kembali kitab tersebut dari peredaran!"
"Oh, iya?"
Kata Tian Pek sambil tertawa, belum pernah kudengar orang mengatakan Thian-sian-mo-li adalah Sucou perguruan Lam hay bun."
Jawaban ini menggusarkan anak buah Lam-hay-bun, dengan wajah beringas hampir saja mereka melancarkan serangan.
Lam-hay-liong-li segera memberi tanda kepada anak buahnya agar jangan bergerak, lalu katanya kepada Tian Pek dengan tak senang hati.
"Guruku adalah Kui-bin-kiau-wa dan Kui-bin-kiau-wa adalah murid Thian-sian-mo-li, bila Thian-sian-mo-li bukan Sucou kami lantas aku harus menyebut apa kepadanya? Masa aku mesti mengaku orang lain sebagai Sucou? Pokoknya kitab pusaka Soh-kut-siau-hun itu harus kauserahkan kepadaku, kalau tidak ....Hmm, akan kumampuskan kau tanpa terkubur di sini!"
Dengan keterangan itu, kawanan jago yang berkumpul ini sama terkejut, sekarang mereka baru tahu asal perguruan Lam-hay bun adalah dari Thian-sian-mo-li.
Mendingan gadis itu bersikap lembut, tentu saja Tian Pek tak mau diperlakukan kasar oleh orang2 itu, baru saja Lam -hay-liong-li menyelesaikan kata2nya, dengan dahi berkerut pemuda itu tertawa dingin.
"Hehehe, kuulangi sekali lagi perkataanku, kedatangan kalian semuanya sudah terlambat!"
"Bagi orang2 Lam-hay-bun tak kenal apa artinya terlambat!"
Tukas Sin-liong-taycu.
"Sekalipun kau tidak percaya juga percuma, selamanya jangan harap lagi akan melihat kitab paling aneh itu, sebab beberapa hari yang lalu kitab pusaka Soh-kut-siau-hun itu telah kumusnakan di hadapan umum?"
"Boleh saja kau ulangi perkataan semacam itu sampai beberapa ratus kali, tapi coba tanyakan kepada setiap hadirin, siapa yang percaya pada pengakuanmu?"
Kata Sin-liong-taycu dengan tenang sambil menggoyangkan kipasnya secara santai.
Tian Pek memandang wajah kawanan jago itu, benar juga ia temukan muka yang penuh diliputi kesangsian, sadarlah ia bahwa pengakuannya tidak nanti diterima oleh orang2 itu sebagai suatu kenyataan, akhirnya ia menghela napas panjang.
"Ai, apa mau dikatakan lagi jika kalian tidak percaya, toh kenyataaanya kitab pusaka itu memang sudah kumusnahkan dari muka bumi ini!"
"Tian-siauhiap, kurasa lebih baik serahkan saja kitab itu kepada kami"
Lam-hay-liong li membujuk pula sambil tersenyum. Karena orang tetap tidak mau percaya pada pengakuancya, akhirnya. Tian Pek, naik darah, serunya dengan gusar.
"Hmm, kalian jangan memaksa terus, ketahuilah jangankan kitab pusaka Soh-kut-siau-hun itu benar sudah kumusnahkan, kendati masih adapun tidak nanti kuserahkannya kepada kalian sebangsa manusia2 dari luar lautan yang keji dan kejam ini."
Air muka Sin liong taycu berubah suram, napsu membunuh menyelimuti wajahnya, ia berseru.
"Hmm, baik! Katanya, kalau tidak menggunakan kekerasan kau takkan jera ....."
Kipas peraknya memberi tanda ke belakang, Hay-gwa-sam sat dan Hek-to-su hiong lantas maju ke depan dan siap melancarkan serangan.
Tian Pek tak gentar, dia memandang sekejap ketujuh orang lihay itu, kemudian tegurnya.
"Apakah kalian lupa bahwa antara aku dan kalian sudah terikat oleh janji?"
"Hehehe, kalau jeri, lebih baik serahkan saja kitab pusaka itu sekarang juga!"
Jengek Sin liong-taycu sambil tertawa dingin.
"Jeri? Selama hidup Tian Pek tak kenal arti takut, aku hanya ingin memegang teguh janjiku dan tak mau berurusan lagi dengan orang2 persilatan!"
Nenek berambut putih dari Hay gwa-sam-sat cepat menanggapi sambil tertawa seram.
"Hehehe, tak menjadi soal, boleh saja kami bertiga menarik kembali janji tersebut!"
"Betul!"
Hud-in Hoat-su menambahkan.
"tentunya engkoh cilik tak puas dengan kekalahan yang kau derita tempo hari? Sekarang kita boleh ulangi kembali pehrtarungan itu!"
"Dan kami yakin, kali ini kau tak dapat pergi dari sini dengan hidup!"
Ciong-nia-ci-eng menambahkan.
Tian Pek mengerutkan dahi, ia betu12 terpengaruh oleh emosi ...
Tay-pek-siang-gi dapat melihat bahwa inilah kesempatan yang terbaik bagi Tian Pek untuk mencuci bersih kekalahan yang diterimanya tempo hari.
mereka menerjang ke muka dan serunya kepada Tian Pek.
"Siau-In-kong, terima tantangan mereka! Inilah saat yang baik bagimu untuk balas menghajar mereka!"
Tian Pek memang ingin cepat2 melepaskan diri dari belenggu janji itu, maka iapun mengangguk, ujarnya kepada Hay-gwa-sam-sat.
"Kalau kalian memaksa terus, Tian Pek bersedia melayani kalian dengan pertaruhan nyawa! Tolong tanya, apakah kalian bertiga lagi yang akan turun ke gelanggang untuk melayani diriku ini?"
"Engkoh cilik, kau memang hebat, kau ksatria sejati ... ."
Puji si kakek berjenggot panjang sambil acungkan jempolnya. Sin-liong-taycu berkata juga dengan napsu membunuh menyelimuti wajahnya.
"Lam-hay-bun bersumpah akan mendapatkan kembali kitab pusaka Soh-kut-siau-hun itu, sekarang atas nama Kaucu kutitahkan Hay-gwa-sam-sat dan Hek-to-su-hiong untuk maju ber-sama2!"
Suasana seketika menjadi gempar, kawanan jago yang hadir sama terperanjat, terutama mereka yang punya hubungan akrab dengan Tian Pek, kuatir mereka.
Seandainya satu lawan satu, sudah pasti Tian Pek akan menang atau sekalipuu harus bertarung melawan Hay-gwa-sam-sat atau Hek-to-su-hiong, anak muda itu masih ada harapan untuk menang, tapi sekarang dia harus bertempur melawan tujuh orang lihay dari Lam-hay-bun sekaligus, jangankan kesempatan untuk menang tipis sekali, jiwanya justru terancam bahaya.
Dalam keadaan begini, sekalipun kawanan jago itu berniat memberi bantuan, kecuali paman Lui dan Wan-ji yang mungkin dapat menandingi satu-dua orang di antara Hay-gwa-sam-sat atau Hek-to-su-hiong, jago2 lain boleh bilang tak mungkin bisa menyumbangkan tenaganya.
Apalagi kecuali beberapa orang yang berasal satu rombongan dengan Tian Pek, kawanan jago lainnya masih terlibat dalam persengketaan dengan pemuda itu, tak mungkin mereka akan membantu anak muda itu.
Atau dengan perkataan lain, posisi Tian Pek ketika itu sangat tidak menguntungkan, tak heran kalau diam2 orang menguatirkan keselamatan anak muda itu.
Agaknya Sin liong-taycu sudah memperhitungkan langkahnya dengan se-cermat2nya, sebab itu sebelum Ciu Ji hay atau si kakek berjenggot panjang itu habis kata2nya, ia lantas mengumumkan lebih dahulu niatnya untuk menurunkan ketujuh jago tangguh guna mengeroyok pemuda itu.
Sebagai jago yang berpengalaman, kebanyakan orang mengerti Sin-liong-taycu licik dan banyak tipu muslihatnya, jelas ia sedang memasang perangkap untuk memancing Tian Pek.
Siapa tahu Tian Pek sendiri malah bersikap tenang2 saja, ia tertawa angkuh, lalu katanya.
"Inilah kesempatan yang terbaik bagi Tian Pek untuk merasakan sampai dimanakah ketangguhan ketujuh jago Lam-hay-bun, kejadian ini benar2 merupakan suatu kehormatan besar bagiku!"
Mendengar taaggapan ini, si kakek berjenggot itu kembali mengacungkan jempolnya dan berulang kali memuji.
"Bagus! Bagus! Kuhormati kau sebagai tokoh nomor wahid dari dunia persilatan!"
"Ciu kong kong, jangan mengobarkan perbawa musuh dan meruntuhkan semangat sendiri!"
Tegur Sin-liong-taycu dengan tak senang hati.
"Kalian bertujuh majulah segera, bagaimanapun juga kalian harus bunuh bangsat yang takabur ini."
Lam hay-liong-li dapat merasakan betapa tebalnya napsu membunuh dari kakaknya, sebagal pimpinan sudah tentu ia tak dapat mengunjuk sikap tak setuju di hadapan anak buahnya, maka ketika ketujuh jago lihaynya maju ke arena; cepat ia menambahkan.
"Cukup asal kitab pusaka Soh-kut-siau-hun itu kita dapatkan!"
Entah ketujuh orang lihay itu dapat meresapi maksud perkataan Lam-hay-liong-li atau tidak, tampaklah mereka lantas pasang kuda2 dan menghimpun tenaga dengan wajah kereng, tapi sebelum pertempuran dimulai, si kakek berjenggot panjang itu berkata lagi.
' Engkoh cilik, pertarungan yanwg akan dilangsungkan ini adalah pertarungan terakhir yang paling sengit, boleh kau melancarkan serangan lebih dahulu!"
"Tunggu sebentar!"
Sebelum Tian Pek menjawab, tiba2 Wan-ji maju kedepan, ditatapnya sekejap pemuda itu dengan pandangan lembut dam mesra, lalu bisiknya.
"Engkoh Pek, adik bersedia membantumu!"
"Jangan adik Wan!"
Sahut Tian Pek dengan berterima kasih.
"biarlah kuhadapi sendiri ketujuh orang ini!' Selesai berkata, telapak tangannya lantas diangkat sebatas dada dan siap menghadapi serangan. Buyung Hong ikut maju ke muka, katanya.
"Orang2 ini tak tahu malu semuanya.. Hmm, pandainya hanya main kerubut, engkoh Tian, biar kubantu kau menghadapi mereka!"
Tian Pek terharu sekali oleh kesediaan Buyung Hong kakak beradik yang akan membantunya, tapi mengikuti adatnya, bagaimanapun ia takkan membiarkan kedua anak dara itu ikut menyempet bahaya.
Pemuda itu tertawa getir, lalu sahutnya.
"Adik Hong, kau juga tak usah membantu aku, biarlah kuhadapi mereka seorang diri!"
Kim Cay-hong yang berdiri di samping diam2 membenci ketidak becusannya sendiri, ia merasa tak punya keberanian untuk mengikuti jejak Buyung Hong berdua yang berani menyatakan cinta kasihnya di hadapan umum.
Kenapa dirinya tak berani tampil secara terang2an Mungkinkah ia merasa kedudukan dan asal-usulnya kurang pantas?
Ataukah karena alasan lain?
Dasar sudah sangsi, apalagi melihat Tian Pek menampik bantuan Buyung Hong berdua, ia semakin tak punya keberanian untuk maju.
Hoan Soh-ing juga ada maksud maju ke depan untuk menyatakan sikapnya, tapi perasaan itu segera ditekan di dalam hati.
"Kenapa aku harus ikut kontes ini? Toh sudah begitu banyak nona yang mencintainya ...."
Demikian ia berpikir.
Tay-pek-siang-gi dan Ji-lopiautau terhitung pula ksatria2 yang berwatak keras, mereka rela herkorban demi sahabat.
Kendati tahu bahwa Kungfu mereka tak mampu menandingi kelihayan Hay-gwa-saw-sat dan Hek-to-su-hiong, toh mereka maju juga dan berdiri di samping anak muda itu.
"Kami semua siap membantu perjuangan Tian-siauhiap!"
Kata mereka serempak.
Hanya paman Lui saja tak bergerak dari tempat semula, sebab ia cukup memahami watak anak muda itu, tak mungkin membiarkan orang lain ikut menempuh bahaya bila tugas tersebut dirasakan dapat ditanggulanginya sendiri.
Solidaritas yang diperlihatkan beberapa orang itu segera memancing cemoohan dari pihak Hay-gwa-sam-sat dan Hek-to-su-hiong, sambil tertawa dingin mereka menjengek.
"Huh, banyak yang membantu juga percuma, paling2 dalam perjalanan menuju akhirat akan bertambah lagi beberapa setan baru!"
Tian Pek merasa cemoohan itu ada benarnya juga, maka ia coba menilai kekuatan pihaknya dengan kekuatan lawan ia merasa kawan2nya hanya akan mengantar kematian dengan percuma, boleh jadi kehadiran mereka justeru akan mengganggu keleluasannya bertempur.
Akhirnya, ia tertawa pongah seraya berkata.
"Kalian tak perlu bersilat lidah, toh tiada manfaatnya. Ketahuilah sekali Tian Pek berkata akan menghadapi kalian seorang diri, maka tetap aku akan maju sendiri, akan kulihat seberapa tinggi kungfu sejati Hay-gwa-sam-sat dan Hek-to-su-hiong!"
Kemudian ia berpaling dan berkata pula kepada Tay-pek-siang-gi dan Ji-lopiautau.
"Maksud baik Cianpwe sekalian biarlah kuterima di dalam hati saja, maafkan, sebab setiap urusan yang telah kuputuskan selamanya takkan kutarik kembali, harap Cianpwe sekalian suka mengundurkan diri dari sini!"
Tay-pek-siang-gi dan Ji lopiaugtau tak berdayai, mereka cuma bhisa menggeleng dengan sedih dan mundur dari situ.
"Ksatria sejati! Pahlawan tulen! Hebat ... mengagumkan ...."kembali kakek berjenggot itu memuji sambil mengacungkan jempolnya.
"Silakan menyerang!"
Kata Tian Pek sambil merentangkan kedua telapak tangannya. Nenek berambut putih tidak sabar lagi, begitu lawan mempersilakan, tanpa bicara terus menutuk Sam-yang-hiat lawan dengan jari Soh-hun ci.
"Sambutlah serangan nenekmu ini!"
Bentaknya setelah serangan dilancarkan.
Sudah dua kali nenek ini dikalahkan Tian Pek, bencinya pada pemuda ini sudah merasuk tulang, maka begitu menyerang lantas menggunakan jurus serangan mematikan.
Tian Pek mengegos kesamping, berbareng itu juga ia pukul jalan darah Kwan-goan-hiat pergelangan tangan kanan musuh, menghindar sambil menyerang, semuanya dilakukan dengan cepat.
Nenek itu terperanjat, tak diduganya kungfu Tian Pek kembali mendapat kemajuan pesat, cepat ia melompat mundur.
Desing angin pukulan menyambar, si tikus gunung tiba2 menyergap dari belakang dan membacok kepala anak muda itu.
Sambil menyingkir Tian Pek berputar badan, tanpa memandang ia potong lengan kiri si tikus gudang, setiap serangan dibalas dengan serangan, kecepatannya berlipat dari pada lawannya.
Menghadapi tabasan kilat itu, Tay-tong-ci-ju menjerit kaget dan melompat mundur.
Sementara itu Hud-in Hoat-su di sebelah kiri dan Ciong-nia-ci-eng juga menyergap maju bersama.
Tian Pek keluarkan pukulan berantai dengan gerakan ringan, tabasan telapak tangan kiri dan tendangan kaki kanan bekerja cepat, seketika Hudin Hoat-su dan Ciong-nia-ci-eng terdesak mundur.
Tapi pada saat itulah si Rase dari gurun dan serigala dari Im-san yang berada didepan dan belakang serentak menyerang dengan dahsyat.
Selain itu, si kakek berjenggot dengan Tay-jiu-in andalannya juga menghantam batgok kepala pemudia itu.
Menghadapi kerubutan dari depan, belakang, kiri, kanan dan atas yang disertai pula dengan tenaga pukulan beribu kati, tak ada peluang lagi bagi Tian Pek untuk menghindar.
Agaknya Tian Pak terancam bahaya, bila ia tak bisa mengatasi kesulitan itu niscaya dia akan terluka atau binasa.
Banyak orang berkeringat dingin menguatirkan keselamatan pemuda itu, meski banyak yang kaget dan ngeri, namun orang2 itu hanya terbelalak belaka, untuk menjerit pun rasenya tak sempat .....
Tapi Tian Pek tidak menjadi gugup, ditengah kepungan musuh yang rapat, ia menghantam dan menyabet ke depan dan belakang, kemudian dengan jurus Sim-hong-ki-lui (angin puyuh sambaran geledek) dia sambut pukulan si kakek berjenggot.
"Blang!"
Benturan keras tak terhindar lagi, jago lihay Lam-hay-bun yang amat sempurna tenaga dalamnya ini terhajar sampai mundur dengan sempoyongan. Kakek berjenggot itu tertawa keras, serunya.
"Hahaha, anak muda, kuat betul tenaga pukulanmu! Nyata kungfumu mendapat kemajuan pesat!"
Untuk kedua kalinya, ia menerjang lagi kedepan.
Tian Pek keluaikan Bu sik-bu-siang-sin-hoat yang diimbangi dengan ilmu langkah Cian-hoan-biau-hiang-poh ia berkelebat kian kemari dengan cepat sementara tangannya memainkan ilmu pukulan Thian-hud-hang-mo-ciang disertai pula dengan ilmu pukulan Hong-lui-pat-ciang untuk mengimbangi serangan lawan.
Baru tiga-lima gebrakan, debu pasir sudah menyelimuti udara, banyak batang pohon dan rerumputan yang tersambar patah.
Sekitar arena pertempuran se-olah2 diselimuti lapisan hawa pukulan yang kuat, banyak penonton yang tak tahan dan terdorong mundur.
Ketangkasan Tian Pek ibaratnya seekor naga sakti mengaduk samudera, ibaratnya pula seekor harimau garang, bertarung melawan segerombolan binatang liar, gagah perkasa dan cekatan gerak geriknya.
Ketujuh jago lihay Lam-hay-bun tak kalah hebatnya, hampir semua pukulan dan tendangan yang melayang disertwai tenaga yang ykuat, tertuju bxagian2 mematikan di tubuh lawan.
Demikian sengitnya suasana dalam gelanggang membuat cuaca berubah mendung, bintang dan rembulan se-olah2 tak bercahaya lagi.
Dalam waktu singkat, puluhan gebrak sudah lewat, namun pertempuran masih berlangsung dengan serunya, menang kalah belum dapat ditentukan.
Kawanan jago yang mengikuti jalannya pertarungan itu mulai terperanjat, mereka bergidik.
Sin-liong-taycu yang telah kehilangan ketenangannya, kipas peraknya digenggam kencang2, matanya melotot mengikuti jalannya pertarungan dcngan rasa tegang.
Begitu pula keadaannya dengan Lam-hay-liong-li yang cantik, sebentar mukanya tampak berseri sebentar lagi tampak murung, jelas hatinya juga tak tenang.
Paman Lui melotot dengan rambut awut2an, Tay-pek-siang-gi dan Ji-lopiautau terbelalak tegang, Buyung Hong dan Wan-ji bermuka pucat, sedangkan Kim Cay-hong dan Hoan Soh-ing meski tegang di hati tapi tenang di wajah, bila memperhatikan tangan mereka yang tergenggam serta dada mereka yang terengah baru dapat diketahui sampai di manakah ketegangan mereka.
Makin lama Hay-gwa-sam-sat dan Hek-to-su-hiong makin terperanjat, baru pertama kali ini mereka turun tangan bersama untuk mengerubut seorang pemuda, mungkin sepanjang hidupnya hanya sekali ini mereka menjumpai keadaan semacam ini.
Tapi sekarang, walaupun mereka sudah manguras segenap kepandaian mereka, namun bukan saja mereka tidak di atas angin, malahan Tian Pek yang dikerubuti masih bisa membalas serangan mereka dengan mantap, ini membuat mereka jadi gusar bercampur gelisah, di antaranya Ciu Ji-hay, si kakek berjenggot panjang merasa paling terkejut.
Dengan ilmu Tay-jiu-in beruntun ia telah beradu tenaga lima-enam kali dengan Tian Pek, tapi kenyataannya bukan saja pemuda itu tidak terpengaruh oleh serangannya, sebaliknya ia sendiri yang terdesak mundur sempoyongan.
Teringat pertarungannya tempo hari, waktu itu hanya tiga pukulan saja ia berhasil menghajar anak muda itu sampai muntah darah, sekarang dalam waktu yang singkat, ia heran tenaga dalam pemuda itu bisa mendapat kemajuan yang demikiau pesat.
Kakek itu tak tahu Tian Pek telah minum Ci-tam-hoa, sejenis obat mujarab yang bersifat panas, dalam pertempurannya tempo hari darah beku dalam perutnya berhasil ditumpahkan keluar, sehingga semakin melancarkan aliran tenaga dalamnya, maka percumalah kakek berjenggot itu mengumbar nafsunya, sebab kekuatannya tidak mampu menandingi kekuatan Tian Pek.
Setelah posisi anak muda itu semakin mantap dan di atas angin, baik paman Lui, Tay pek siang-gi, Ji-lopiautau maupun Buyung Hong dan Wan-ji dapat merasa agak lega.
Sembilan ketua perguruan besar, Bu-lim-sukongcu dan kawanan jago lain berdiri terkesima oleh sengitnya pertempuran itu, mimpipun tak pernah mereka sangka di dunia persilatan sebenarnya terdapat seorang tokoh muda yang berilmu silat sedemikian tinggi.
Seorang melawan tujuh tokoh sakti Lam-hay bun.
Hampir saja orang tak percaya dengan apa yang dilihatnya, Sin-liong-taycu jadi tergetar hatinya, menurut perkiraannya semula meski kungfu Tian Pek tinggi dan mampu mengalahkan Hay-gwa-sam-sat dan Hek-to su-hiong di masa lalu, sekarang kalau ketujuh tokoh sakti itu turun tangan bersama, niscaya pemuda itu dapat dikalahkan dan kitab pusaka Soh kut siau-hun bisa dirampas.
Tapi kenyataan berbicara lain, walaupun Hay-gwa-sam-sat telah bekerja sama dengan Hek-to-su-hiong, toh mereka tak mampu merobohkan Tian Pek.
Ia mulai kuatir akan kelanggengan kekuasaan yang baru saja berhasil dia raih dari tangan orang-orang persilatan, ia kuatir Tian Pek akan merusak pondasi kekuasaannya untuk menjajah daratan Tionggoan.
Sekarang ia baru merasakan betapa pentingnya arti pertarungan yang berlangsung ini, bisa dibayangkan betapa terkejut dagn kuatirnya sekiarang, tapi jugha makin besar hasratnya untuk melenyapkan anak muda itu dari muka bumi.
Air mukanya mulai berubah-ubah, biji matanya jelalatan mencari akal, diam-diam ia mulai menyusun rencana keji untuk membunuh Tian Pek.
Akhirnya ia mendapatkan akal, dengan lantang Sin-liong taycu lantas bersenandung.
"Setitik warna merah diantara lautan hijau!"
Semua orang tertegun, siapapun tak dapat menebak apa arti senandung dari Sin-liong taycu, mereka heran dalam suasana pertarungan seru ini mengapa Sin-liong taycu sempat bersyair.
Sementara orang-orang sama termangu, situasi dalam arena pertarungan telah mengalami perubahan, di antara lintasan bayangan manusia, tiba-tiba si tikus gudang mencicit nyaring, tubuhnya melejit dan membentuk gerakan lingkaran di tengah udara, kemudian telapak tangannya menghantam dada Tian Pek.
Anak muda itu tak tahu mengapa secara tiba-tiba si Tikus menjadi nekat dan mengadu jiwa begini, pula pukulan gencar ke enam orang lainnya membuatnya tak mampu menghindar, terpaksa ia kerahkan segenap kekuatan untuk menangkis.
"Blang!"
Benturan keras terjadi, tubuh si tikus gudang mencelat oleh pukulan Tian Pek yang keras itu.
Tiba-tiba terdengar pekikan nyaring, Im-san ci-long juga menyerang dengan gerakan yang sama sepeti Tay-cong-cu-yu.
Tapi Tian Pek juga dapat menghalau serangan si serigala.
Begitulah seterusnya, dengan cara bergilir Hek-to su-hiong dan Hay-gwa-sam-sat melancarkan serangan, semua dengan keras lawan keras dan gaya yang sama.
Sekarang baru semua orang mengerti, rupanya syair yang disenandungkan Sin-liong-taycu tadi adalah kode yang memberi petunjuk kepada Hay gwa-sam-sat dan Hek to-su-hiong untuk melancarkan taktik serangan.
Berbicara tentang tenaga dalam, tentu saja ketujuh orang itu masih belum mampu menandingi kehebatan Tian Pek, sekalipun setiap kali terjadi bentrokan mengakibatkan mereka merasakan kepala pusing dan mata berkunang, isi perutpun terguncang keras, namun ketujuh orang itu masih ada kesempatan untuk bergganti napas dani mengatur tenaga lagi.
Berbeda dengan keadaan Tian Pek, anak muda ini tidak mendapat kesempatan untuk berganti napas, sebab secara bergilir ia harus menerima sercangan musuh dengan kekerasan.
Baru saja giliran itu berlangsung tiga putaran sekaligus Tian Pek telah menyambut 21 kali pukulan, dalam keadaan seperti ini walaupun anak muda itu bertubuh baja dan berotot kawat, akhirnya kewalahan juga, ia mulai keteter dan tak kuat bertahan lagi.
Sin-liong-taycu memang licik dan banyak tipu muslihatnya, taktik yang digunakan ini benar2 amat jitu, pada mulanva hadil yang di harapkan belum tertampak, tapi setelah putaran keempat dan kelima kalinya, taktik ini mulai menunjukkan hasilnya, peluh sebesar kacang kedelai mulai membasahi jidat Tian Pek, tenaga pukulannya juga makin lemah, sekarang setiap pukulan yang dilancarkan tak mampu lagi memukul mundur musuhnya.
Kawanan jago lainnya yang berpengalaman dapat pula menebak tujuan utama taktik serangan itu, rupanya dengan taktik keras lawan keras ini untuk memeras kekuatan Tian Pek sehingga akhirnya kehabisan tenaga sendiri.
Wan-ji paling menguatirkan keselamatannya, menyaksikan keadaan kekasihnya sudah payah, ia menjerit.
"Eeh, pertarungan macam apakah yang kalian gunakan ini?"
Buyung Hong juga gelisah, dengan gemas iapun memaki.
"Bangsat terkutuk, kalian betul2 tak tahu malu!"
Berbeda dengan Sin-liong-taycu, demi menyaksikan tipu muslihatnya mendatangkan hasil seperti harapannya, ia jadi gembira, dengan muka berseri dan menggoyangkan kipas peraknya ia berkata.
"Hahaha, siapa berhasil dialah raja, siapa gagal dialah bangsat! Masa untuk menghadapi pertarungan orang mesti menganut sistim yang sama? Hah..."
Wan-ji tak tahan, serunya kepada Buyung Hong.
"Cici, Hayo kita terjang mereka!"
Buyung Hong setuju, tapi baru selangkah mereka maju ke depan, dengan muka garang Lam-hay-liong-li telah mengadang mereka, bentaknya.
"Kalau ingin selamat berdirilah di tempat, barang siapa berani maju selangkah, jangan salahkan nonamu bila kalian akan mampus tak terkubur!"
"Hmm! Masa iya?"
Jengek Buyung Hong ketus. Wan-ji tak sabar lagi, mendadak ia membentak dengan ilmu jari Soh-hun-ci yang hebat, ia menutuk ke bawah iga Lam-hay-liong-li.
"Rupanya kau memang ingin mampus!"
Bentak nona pujaan Lam-hay-bun itu dengan gusar, sambil memutar tubuh ia lepaskan suatu pukulan dahsyat yang kontan membuat Wan-ji mencelat sejauh satu tombak.
Melihat adiknya dihantam sampai mencelat, Buyung Hong membentak dengan gusar.
"Nonamu akan beradu jiwa denganmu..."
Selagi ia siap menerjang ke tengah arena, tiba-tiba terdengar Tian Pek menjerit kesakitan, menyusul terdengar suara benturan yang keras.
Kiranya satu pukulan Tian Pek telah membuat si tikus gudang mencelat.
Akan tetapi karena adu pukulan itu si tikus gudang telah menggunakan segenap kekuatannya, Tian Pek sendiripun tergetar keras.
Pada saat itulah Wan-ji memburu maju untuk membantu, tapi ia terhajar oleh Lam-hay-liong-li.
Hanya meleng sedikit, suatu pukulan dahsyat menyambar tiba pula dari depan.
Dalam keadaan seperti ini Tian Pek jadi gelisah, tanpa pikir ia lancarkan tabasan kilat disertai segenap tenaga untuk menangkis hantaman itu.
"Blang!"
Benturan dahsyat terjadi, diantara desingan angin terdengar seseorang mendengus tertahan, menyusul sesosok bayangan tinggi besar mencelat terhajar oleh pukulan anak muda itu.
Karena Tian Pek menggunakan segenap kekuatannya, bayangan tinggi besar itu mencelat sejauh tiga tombak dan terbanting keras-keras di tanah.
Begitu mencium tanah, tubuh tinggi besar itu segera merangkak bangun dengan sempoyongan, segera darah segar tersembur dari mulutnya.
Ia pandang Tian Pek dengan menyeringai seram, orang ini tak lain ialah Im-san-ci-long atau serigala dari Im-san.
Tian Pek sendiripun tergetar mundur satu langkah, belum sempat anak muda itu berganti napas, Hud-in Hoatsu juga bertindak, ia berjongkok, perutnya dikembungkan seperti guci, sambil berkaok keras, kedua kakinya menjejak permukaan tanah, secepat kilat ia menerjang musuh.
Selagi di udara, Ha-mo-kang yang sudah dihimpun pada telapak tangannya segera dilontarkan ke dada anak muda itu bagai gugur gunung dahsyatnya.
Tian Pek menguatirkan keselamatan Wan-ji, apa daya Hay-gwa-sam-sat dan Hek-to-su-satmenerjang terus tanpa memberi kesempatan baginya untuk berganti napas, ini membuatnya gelisah bercampur dongkol, maka waktu Hudin Hoat-su menerjang pula, sekuatnya telapak tangannya menabas.
"Blang!"
Tubuh Hud-in Hoat-su yang gemuk pendek bagaikan bola seketika terlempar ke udara dan jatuh beberapa tombak jauhnya.
Terkesiap kawanan jago yang menonton jalannya pertarungan itu, baik lawan maupun kawan diam-diam mengagumi kelihaian Tian Pek yang memiliki tenaga dalam yang tiada habisnya, saking kagumnya sampai mereka lupa bersorak.
Tian Pek sendiri sudah diperas habis-habisan segenap tenaganya, tak mampu mempertahankan pula kuda-kudanya, ia sendiri tergetar tiga langkah ke belakang.
Tatkala Tian Pek menghajar mencelat Im-san ci-long kemudian menghajar pula Hud-in Hoat-su tadi, Buyung Hong, Tay-pek siang-gi dan Ji-lopiauthau secara terpisah juga menerjang ke tengah arena untuk membantu anak muda itu.
Sayang beberapa orang itu bukan tandingan Lam-hay-liong-li, baru saja mereka menerjang ke muka, pukulan gencar yang dilepaskan gadis itu memaksa mereka harus mundur kembali.
Sementara itu paman Lui sedang menolong Wan-ji, ia menjadi gusar dan gelisah, tapi tak sempat membantu.
Suara benturan keras pukulan dgahsyat masih beirkumandang, baahtu pasir beterbangan, keadaannya mengerikan sekali.
Itulah suara pukulan yang masih terus dilancarkan Hay-gwa-sam-sat dan Hek-to-su-hiong secara bergilir untuk menghantam Tian Pek.
Meskipun tenaga dalam Tian Pek sekarang sudah mencapai tingkatan yang tak terhingga, tapi bagaimanapun juga dia hanya seorang diri, setelah beradu tenaga sebanyak ratusan jurus dengan ke tujuh jago lihay Lam-hay-bun itu, kendati tubuhnya terbuat dari baja juga akhirnya akan lelah.
Apalagi Hay-gwa-sam-sat dan Hek-to-su-hiong bukan jago biasa, sekalipun kungfu Tian Pek sangat lihay dan sering menghajar mereka sampai mencelat, tapi lama kelamaan ia sendiripun tak tahan, langkahnya mulai sempoyongan dan terdorong ke belakang.
Selain itu, pihak musuh mempunyai waktu yang cukup untuk mengatur pernapasan serta menyusun kekuatan kembali, sebaliknya Tian Pek boleh dikatakan tak mempunyai kesempatan sama sekali.
Ketika beberapa kali anak muda itu berhasil menghajar musuhnya sampai terluka, Sin-liong Taycu yang berada di samping arena segera melolohkan obat berwarna merah ke mulut si terluka itu, hanya cukup mengatur napas, sebentar saja si terluka lantas sembuh kembali dan bisa ikut mengerubuti musuh lagi.
Sekarang pertarungan itu sudah mencapai pada perputaran yang ke sekian, berturut-turut Tay-cong ci-ju dan Im-san-ci-long menerjang tiba pula walaupun secara beruntun Tian Pek dapat menghajar mundur kedua orang itu, namun ia sendiri mulai merasakan telapak tangannya mulai panas dan sakit, lengannya kesemutan dan kaku, sementara darah dalam dadanya bergolak keras.
Tay-cong-ci-ju dan Im-san-ci-long juga terluka parah, mereka mencelat dan meloncat bangun dengan muntah darah.
Sin-liong taycu segera menghampiri mereka, ia keluarkan dua biji obat berwarna merah yang besar dan dijejalkan ke mulut mereka, inilah obat mujarab bikinan Lam-hay-bun, obat khusus untuk menyembuhkan segala luka dan menambah siemangat, namanya Liong-hou-toa-lek-wan (pil penambah tenaga naga harimau).
Selain untuk menyembuhkan luka, obat inipun mempunyai khasiat lain yang lebih hebat, yakni sebagai obat perangsang yang kuat, bila orang biasa menelan obat itu maka kekuatan tubuhnya akan berlipat kali daripada keadaan biasa, berada dalam keadaan demikian mereka akan mencari orang untuk berkelahi atau mencari pekerjaan yang berat-berat untuk menyalurkan napsunya berkobar itu.
Sedang bila orang persilatan yang minum pil tersebut, mereka baru akan merasa segar tubuhnya bila sudah menemukan orang untuk beradu tenaga.
Justeru karena Sin-liong taycu berulang kali mencekoki obat perangsang kepada ke tujuh jagonya, tidaklah heran kalau ketiga 'malaekat maut' dan keempat "manusia bengis"
Itu menyerang musuh terus menerus tanpa mempedulikan keadaan luka mereka.
Sementara itu, Sin-liong-taycu telah menjentikkan dua biji obat ke arah si Tikus gudang serta Serigala dari Im-san, kedua orang itu segera menyambar obat tadi, tanpa diperiksa lagi terus ditelan.
Lalu mereka meraung dan kembali menerjang musuh.
Dalam pada itu Tian Pek baru saja menghajar mundur Hud-in Hoat-su dan Ciong-nia-ci-eng, dengan masuknya Tay-tong-ci-ju dan Im-san-ci-long maka kekosongan segera terisi kembali.
Nenek berambut putih paling berangasan, rambutnya sudah awut-awutan hampir menutupi wajahnya, yang terlihat hanya matanya yang merah berapi-api dan beringas, sambil tertawa seram ia berteriak.
'Engkoh cilik, sambut lagi pukulan nenekmu ini!"
Seperti orang gila ia menerkam Tian Pek, dengan segenap kekuatannya ia tutuk jalan darah Sam-yang-hiat anak muda itu dengan Soh-hun-ci.
Berbareng itu, si kakek berjenggot, Rase dari gurun, Tikus dari gudang, Serigala dari Im-san segera memutar telapak tangan mereka menciptakan bukit telapak tangan dan mengancam dari kiri kanan muka dan belakang anak muda itu.
Tian Pek sudah mandi keringat, dengan ilmu langkah Cian hoan-biau-hiang-poh ia berusaha menerjang ke kiri dan menubruk ke kanan untuk menghindari ancaman musuh, namun usahanya untuk membendung pukulan gabungan empat jago lihay itu gagal, sementara tutukan jari Soh-hun-ciw si nenek beramybut putih mengaxncam tiba, terpaksa ia mengertak gigi, dengan jurus Hud-cou-jin-siam (Buddha suci berbuat amal) dari ilmu pukulan Thian-hud-hang-mo-ciang disertai sepenuh tenaga, ia sambut serangan si nenek.
"Criit! Blang!"
Di tengah benturan keras, sinenek berambut putih itu mencelat jauh, berada di udara ia muntah darah, setelah terguling di tanah.
sekali ini ia tak mampu merangkak bangun lagi.
Cepat Sin-liong-taycu memburu maju, dia angkat kepala nenek itu, cepat ia mencekoki tiga biji Liong-hou-toa-lek-wan, lalu menyalurkan hawa murninya ke dalam tubuh nenek tersebut, selang sesaat nenek berambut putih itu bangkit kembali, sesudah tarik napas panjang, ia berpekik nyaring dan menerjang maju pula.
Sekarang giliran Sah-mo-ci-hu untuk menerjang musuh.
Dalam bentrokan melawan nenek berambut putih tadi, tangkisan si anak muda itu agaknya menyebabkan telapak tangannya terluka oleh tutukan Soh-hun-ci musuh, ini dapat dilihat ketika Tian Pek meringis sambil menahan sakit tangannya, sadarlah ia sudah terluka, diam2 ia mengeluh.
Bicara soal tenaga, tentunya tenaga jari tak lebih kuat daripada kepalan, sedang kepalan tak bisa menangkan telapak tangah, sebaliknya bicara soa1 ketajaman serangan, maka tiada yang lebih hebat daripada ilmu jari.
Dalam serangan tadi, pukulan Tian Pek berhasil merobohkan nenek berannbut putih itu, malahan menyebabkan musuh tumpah darah dan untuk sesaat tak bisa bangun, tapi ilmu jari Soh-hun-ci si nenek juga luar biasa, ilmu jari itu dapat menembus Khikang (kekuatan dalam perut) dan melukai orang.
Demikianlah, sementara anak muda itu sedang kesakitan karena telapak tangannya terluka.
Sah-mo-ci hou telah menerjang tiba..
Terjangan ini berbeda dengan biasanya, lebih garang dan menyeramkan, biji tasbihnya yang tinggal sembilan puluh delapan biji (semula ada seratus delapan biji, tapi sepuluh biji di antaranya terampas Wan-ji) menegang bagaikan ular, langsung menghantam muka Tian Pek, sementara telapak tangan kiri dengan gerakan Kay-pit-ciang-lek (bacokan tangan membelah tugu) menghantam batok kepala lawan.
Satu jurus dengan dua gerakan, serangan berbahaya sekali.
Telapak tangan kanan Tian Pek sedang terluka dan kesakitan untuk sesaat ia tak dapat mengerahkan tenaga, terpaksa sambil membentak tangan kirinya berusaha merebut tasbih musuh.
Begitu tasbih musuh terpegang segera dibetot kuat2 ke belakang.
Berbareng itu kepalanya miring ke samping menghindari tabasan tangan lawan.
Si rase dari gurun menjerit kaget ketika tahu gelagat tidak menguntungkan.
Dalam keadaan mati langkah dan kehilangan keseimbangan, suatu tendangan keras Tian Pek dengan telak bersarang di perutnya.
"Duk!"
Seperti layang2 yang putus benangnya Sah-mo-ci-hou mencelat tinggi dan terbanting dengan keras.
Sin liong-taycu menjerit kaget, untung ia memburu maju tepat pada saatnya dan menerima tubuh si rase dari gurun, bila ia tak cepat meraih tubuhnya, niscaya rase tersebut akan mati terbanting.
Cepat Sin-liong-taycu menjejalkan tiga biji pil merah ke mulutnya, lalu ia turunkan jagonya ke tanah, Sah-mo-ci-hou ternyata belum sanggup berdiri tegak, dengan mata mendelik dan tubuh sempoyongan ia roboh ke atas tanah.
Keadaan tersebut menunjukkan bahwa nasibnya lebih banyak celaka daripada selamatnya.
Kejadian ini makin mengejutkan Sin-liongtaycu, ia lihat Tian Pek masih bertarung melawan ketujuh jagonya dengan tetap gagah perkasa, Cepat ia membentak.
"Gunung nan gersang air menjadi kering, jalan terasa buntu!"
Ia bersenandung lagi dengan tujuan memberi tanda kepada jago-jagonya untuk ganti taktik pertempuran.
Tian Pek memang tangguh dan nasibnya terhitung mujur, berulangkali tanpa sengaja ia mendapat penemuan aneh, bukan saja ia berhasil menemui tenaga dalam tingkat tinggi dalam kitab pusaka Soh-kut-siau-hun, iapun beruntung sempat menelan bunga Ci-tham hoa berusia ribuan tahun, kemudian mendapatkan pengobatan Sun-im toh yang selama enam puluh hari dari Liu Cui cui, semua ini membuat daya mujarab Ci-tham-hoa meresap lebih cepat ke organ tubuh yang terkecil-pun.
Dengan kelebihan inilah, sekalipun dikerubuti tujuh jago tangguh toh ia masih dapat berdiri tegak sekukuh gunung.
Walaupun begitu, manusia tetap terdiri dari darah dan daging, apalagi ia tidak mendapat kesempatan untuk mengatur napas.
Sebaliknya ketujuh lawan tiada hentinya mendapat bantuan pil Liong-hoa-toa-lek wan sebagai penambah tenaga, sekalipun obat itu semacam obat perangsang yang berpengaruh buruk bagi kesehatan, namun bagi orang yang terluka bukan saja rasa lukanya segera lenyap, kekuatan tubuhpun bertambah secara cepat.
Sekarang Sin-liong taycu ganti taktik, segera tertampak serangan yang makin kalap ketujuh jagonya.
Entah perputaran keberapa kalinya, secara bergilir ketiga 'malaikat maut' dari keempat 'manusia bengis' maju mundur secara beratur, pertempuran semakin tegang.
Tian Pek terpaksa melayani serangan mereka dengan sekuat tenaga, baru saja Im-san-ci-long dan Ciong-nia-ci-eng, berhasil dihajar mundur, isi perut Tian Pek terasa bergolak keras, akhirnya pemuda itu tak tahan dan tumpah darah.
Nenek berambut putih menemukan kesempatan baik, tiba2 ia berpekik nyaring, tangan kiri memukul, sedang tangan kanan dengan jari Soh-hun-ci serentak menerjang pemuda itu.
Tian Pek tak berani menyambut serangan Soh-hun-ci yang dahsyat itu, cepat ia menyingkir ke samping.
"Sret!", desing angin tajam menyambar lewat di sisi telinganya.
"Sungguh berbahaya!"
Diam-diam Tian Pak terperanjat. Meskipun serangan jari itu dapat dihindari, namun pukulan tangan kiri si nenek tak terhindar olehnya, terpaksa Tian Pak menangkis.
"Duk!"
Nenek berambut putih itu terdesak mundur, sedangkan Tian Pak berguncang keras.
"Kok! Kok!"
Tiba2 terdengar bunyi katak dari belakang, menyusul dua gulung angin serangan menerjang punggungnya, itulah Hud-in Hoat-su yang menyergapnya dari belakang.
Jilid 27 Serangan dari belakang ini memang mengejutkan, akan tetapi di sinilah kelihatan kelihayan Tian Pek, sedikit berkisar, dengan miring iapun menabas ke arah Hud-in Hoat-su.
"Blang!"
Paderi yang berbadan pendek gemuk itu terhajar mencelat cukup jauh.
Tian Pek sendiri tergetar oleh tenaga pukulan itu, ia sempoyongan mundur tiga langkah, pandangannya gelap dan sekali lagi muntah darah.
"Saudara cilik! Sambutlah sekali lsgi!"
Mendadak si kakek berjenggot panjang itu membentak.
Dengan kekuatan penuh, kakek itu memutar telapak tangasnya dari menghantam batok kepala anak muda itu dengan Tay-jiu-in.
Sungguh hebat tenaga pukulannya, ibaratnya gugur gunung dahsyatnya.
Karena dari kiri kanan dan belakang dihadang pukulan maut musuh2nya, Tian Pek mengertak gigi, dengan jurus Hud-keng-bu-ciau ia sambut serangan itu dengan sepenuh tenaga.
"Blang!"
Benturan keras terjadi, Ciu-kongkong yang tinggi besar itu tergetar mundur lima langkah, rambutnya yang beruban berdiri kaku bagaikan kawat, isi perutnya teeguncang dan tumpah darah.
Rupanya dalam serangan barusan si kakek berjenggot panjang itu menggunakan tenaga terlampau besar, maka hawa murni Sian-thian-khi-kangnya tergetar balik oleh tenaga pukulan lawan.
Tian Pek sendiri pun terguncang keras oleh adu pukulan itu, tapi ia masih mampu menahan pergolakan darahnya sehingga tak sampai tumpah darah pula.
Tapi ia lupa akan luka pada telapak tangan kanannya, karena gugup serangan tersebut disambut sekenanya, tak heran luka yang sudah membengkak besar tambah sakit, pukulan si kakek berjenggot panjang membuat lukanya semakin parah, keringat dingin pun membasahi tubuhnya.
Ciong nia ci eng dan Im-san-ci-long dapat melihat kesempatan yang sangat menguntungkan mereka, serentak kedua gembong iblis itu mengerahkan ilmu sakti masing2, satu dari kiri dan yang lain dan kanan, serentak menerjang ke depan.
Tian Pek merasakan pandangannya menjadi gelap, sekalipun darah tak sampai tumpah keluar, tapi guncangan isi perutnya membuatnya ber-kunang2.
Dalam keadaan kepepet, tanpa berpikir lagi ia membentak dan menyambut serangan lawan dengan jurus Sau-cing-yau-hun (menyapu bersih hawa siluman).
Ciong-nia-ci-eng kena dihantam sampai mencelat mundur sejauh sepuluh langkah, tapi Im-san-ci-long yang menyerang dengan tabasan Ciang-jin-jiat-bok barhasil menghajar lengan kiri pemuda itu.
"Kraak!"
Tian Pek terhajar telak dan mundur dengan sempoyongan, sekali lagi ia muntah darah.
Kedua lengan tak mampu menandingi empat tangan, laki2 mana pun tak tahan dikerubut, tapi Tian Pek tidak roboh, anak muda itu masih tetap berdiri tegap dengan angkernya.
Im-san-ci-long tertawa bangga, kembali ia membentak.
"Roboh!"
Ciang-jin-jiat-bok untuk kedua kalinya menabas tubuh Tian Pek, banyak orang menjerit kuatir menyaksikan adegan yang mengerikan itu.
Sekujur tubuh Tian Pek sudah be-lepotan darah, beberapa bagian anggota tubuhnya sudah terluka, kesadaran pun berangsur menurun, agaknya ia sudah tak mampu lagi untuk menangkis serangan Im-san-ci-long yang luar biasa itu.
Pada saat yang berbahaya itulah, mendadak Tian Pek mendelik, ia tidak menghindari serangan lawan sebaliknya ia gunakan sikutnya untuk menyodok ulu hati Im-san-ci-long.
Serangan itu tak diduga oleh Im-san-ci-long, padahal Tian Pek sudah terluka parah dan masih mampu melancarkan sodokan maut.
Dalam keadaan begitu, Im-san-ci-long tak dapat menghindar lagi.
"duuk!"
Dengan telak sodokan itu mengenai ulu hatinya.
Serigala dari Im-san itu menjerit, darah muncrat keluar dari mulutnya, tubuhnya roboh terkapar dan tak mampu bangkit kembali.
Sin-liong-taycu terkesiap, cepat ia memburu maju dan menjejalkan beberapa biji obat mujarab ke mulut jagonya, akan tetapi Im-san-ci-long sudah tak mampu membuka mulutnya.
Sin-liong taycu coba memeriksa nadi gembong iblis itu, setelah diperiksa dengan seksama barulah diketahui bahwa urat nadinya telah putus dan jiwanya telah melayang.
Kejadian ini sangat menggusarkan Sin-liong taycu.
ia bersenandung pula dengan suara keras "Remang2 pohon Liu terangnya bunga, sebuah dusun muncul di depan!"
Sementara itu Tian Pek juga merasakan lengan kirinya sakit sekali, ia coba memeriksanya, baru di ketahui bahwa tulang lengannya telah patah oleb serangan Im-san-ci long yang hebat tadi, padahal tangan kanannya sudah terluka, dengan patah tulang tangan kirinya berarti habislah modalnya, diam2 ia mengeluh.
"Habislah riwayatku kali ini."
Baru saja ingatan itu timbul, Sin liong-taycu telah menurunkan perintah penyerangan lebih gencar.
Hud-in-hoat-su ber-kaok2 nyaring terus menerjang maju dengan pukulan Ha-mo-kang yang lihay.
Tian Pek menjadi nekat, ia tahu lawan teramat lihay dan terpaksa harus bertindak keji, ibarat harimau, manusia tidak berniat membunuh harimau, harimau pasti akan makan manusia.
Maka Tian Pek tidak kenal ampun lagi, begitu terhindar dari sergapan maut Hud-in Hoat-su ia melompat ke udara, kaki terus mendepak dan tepat mengenai batok kepala lawan yang gundul itu.
"Prak!"
Kontan kepala Hoat-in pecah berantakan, otak bercampur darah berhamburan ke-mana2, tak sempat menjerit lagi Hud-in Hoat-su roboh ke tanah dan tewas seketika itu juga.
Sudah terlalu banyak kekejaman yang dilakukaa Hud-in Hoat-su, iapun tak terhindar dari hukum karma, ia sering membunuh orang, maka sekarang ia harus menemui kematian dan menebus dosanya.
Dengan demikian maka dari tujuh jago tangguh yang mengerubut Tian Pek, seorang dari Hay-gwa-sam-sat dan seorang dari Hek-to-su-hiong telah menemui ajalnya, sementara salah seorang Su-hiong yang lain terluka parah dan tak sanggup berdiri lagi.
Dari tujuh orang kini tinggal dua dari Hay-gwa-sam-sat dan dua lagi dari Hek-to-su-hiong.
Baca Juga: Pedang Langit Dan Golok Naga 20
Baca Juga: Pendekar Baja 10