Ceritasilat Novel Online

Lentera Maut 3

Eps 3 Lentera Maut - Khu Lung

Baca online Lentera Maut - Khu Lung

Cersil Lentera Maut - Khu Lung.

Sahut Lie Hui Houw sambil buru buru dia "mengejar" biarawati yang muda usia itu, sebab tadi dia menunda langkah kakinya karena menduga biarawati yang cantik jelita itu akan menunda jalan; selekas dia sudah berada disisi biarawati yang muda usia itu maka Lie Hui Houw melengkapi perkataannya .

"... aku tadi mengatakan bahwa aku tidak perlu menjawab pertanyaan suthay, sebab si kakek Lie yang akan menjawab pertanyaan si kakek Ouw "

Sekali lagi Cie in suthay perlihatkan senyumnya yang bisa memikat hati selusin perjaka, namun dia tidak mengucap apa apa sebaliknya dibiarkannya Lie Hui Houw menyambung bercerita .

Sementara itu, didalam hati sikakek Lie sedang bertanya tanya .

"Ada arti apa lagi dalam nada suara pertanyaan si kakek Ouw?"

Akan tetapi, pada saat itu si kakek Lie menjawab pertanyaan kakek Ouw.

"Ada barang bukti pada Lie Kim Nio .."

"Barang bukti apakah itu ... ?" tanya kakek Ouw cepat, terlalu cepat bahkan nada suaranya bagaikan mendesak, ingin cepat-cepat diberitahu.

"Eh, Ouw heng kau ini lucu sekali. Kau perlihatkan kelakuan seperti seorang hakim yang sedang mendesak seorang tertuduh."

Si kakek Lie berkata secara berkelakar .

namun yang sekaligus sengaja mengulur waktu tidak lekas lekas memberitahukan tentang barang bukti itu.

Bagaikan orang yang baru tersadar, Ouw lopek atau si kakek Ouw jadi tertawa riang disusul dengan suara tawa Lie lopek.

Dua macam suara tawa yang masing masing membawa makna berlainan.

"Kau ini ada ada saja, sampai suara tawa seseorang kau nilai.."

Kata Cie in suthay sambil dia menghapus keringat pada mukanya yang sebelah kanan.

Lie Hui Houw menunda langkah kakinya, memaksa Cie in suthay yang sekali ini jadi ikut berhenti; setelah itu baru Lie Hui Houw berkata.

"Suthay, biasanya kau gemar menyelidik, dari itu aku merasa perlu menceritakan sampai ke segala persoalan yang sekecil kecilnya ..." "Oh, iya; benar juga .. ,"

Sahut biarawati yang muda usia itu, lalu keduanya meneruskan perjalanan mereka, dan Lie Hui Houw menyambung kisah ceritanya .

"kepada ayahnya, kemudian Lie Kim Nio pamitan hendak merantau, mencari laki laki laknat atau si iblis penyebar maut; karena katanya dia hendak mengadu nyawa atau kalau perlu mati bersama dengan si iblis yang sudah memperkosa dia..."

"Tunggu ! kau belum memberitahukan tentang barang bukti itu..!"

Cie in suthay yang menanya, bukan si kakek Ouw; dan dia memutus perkataan Lie Hui Houw sambil dia menunda lagi langkah kakinya, memaksa Lie Hui Houw jadi ikut ikut berhenti; dan memberikan jawaban meskipun sebenarnya dia jadi "kheki" .

Suthay; kalau si kakek Lie cepat cepat memberitahukan tentang barang bukti itu; maka akan sia sia maksud perjalanannya yang hendak melakukan penyelidikan.."

"Hayaa ! kau benar juga, akan tetapi -"

"Tetapi, kenapa -?"

Tanya Lie Hui Houw.

"Kau bikin aku jadi pusing kepala..."

Lie Hui Houw tersenyum, bukan bersenyum.

Dia tidak menghiraukan biarawati muda usia itu yang katanya jadi pusing kepala atau kepala pusing dan meneruskan langkah kakinya yang tertunda tadi, sehingga berganti Cie in suthay yang harus buru buru mengejar, supaya jangan ketinggalan mengikuti kisah cerita tentang Lie Kim Nio.

"kemana katanya dia hendak pergi., ?"

Tanya kakek Ouw sekali lagi dia perlihatkan lagak tidak sabar, ingin mengetahui persoalan Lie Kim Nio bahkan sampai kepada hal hal yang sekecil kecilnya.

"Katanya dia akan mencari si Iblis penyebar maut dikota Hoa lam,""

Sahut kakek Lie tanpa dia mengawasi muka si kakek Ouw..sebaliknya dia mengawasi papan catur ! "Hoa lam ...?"

Ulang kakek Ouw dengan nada suara menanya.

"Kau pernah datang dikota itu..?"

Ganti kakek Lie yang menanya dan mengawasi muka kakek Ouw.

Kakek Ouw menggelengkan kepala, akan tetapi didalam hati sedang berkecamuk berbagai macam persoalan.

"Hoa lam merupakan suatu kota yang ramai.

Lebih ramai lagi waktu dulu terjadi pengganyangan terhadap markas si iblis penyebar maut..."

"Hayyaa--"

"Ouw heng, kau kenapa ?" "Aku kaget -eh, akh; aku girang waktu mendengar kau mengatakan si iblis sudah mati diganyang." "Memang, untuk sesaat tadi, waktu kakek Lie mengatakan markas si iblis penyebar maut diganyang telah mengakibatkan kakek Ouw menjadi sangat terkejut sekali. Juga lelaki yang membawa bungkusan pakaian, ikut menjadi kaget, dan lelaki itu, bahkan tak bosan-bosan mengawasi kakek Lie dengan hati bertanya-tanya . "adakah si kakek Lie ikut dalam aksi pengganyangan markas si iblis itu ?"

Sementara itu, si kakek Lie bahkan meneruskan perkataannya yang lebih-lebih mendatangkan rasa heran tamu lelaki itu.

"Ouw heng, kau ini benar-benar lucu. Aku tidak mengatakan si iblis sudah mati, sebaliknya kau mengatakan bahwa si iblis sudah mati. Apakah kau lebih mengetahui peristiwa ini dari pada aku yang sedang menceritakan ?"

"Tetapi, tadi.."

Tukas kakek Ouw, berusaha membantah, akan tetapi perkataannya diputuskan oleh kakek Lie .

"Aku tadi mengatakan sarang si iblis yang diganyang bukan si iblis yang diganyang."

"Jadi si iblis masih gentayangan ?"

Tanya kakek Ouw, seperti ingin menegaskan.

"Ya si iblis masih gentayangan dan masih terus menyebar maut!" nada suara kakek Lie berobah penuh rasa dendam.

Kakek Ouw jadi terdiam.

Lagaknya bagaikan seorang perajurit yang sudah kalah perang tak mampu melakukan perlawanan.

Untung bagi dia saat itu datang seorang tamu, sehingga sempat kakek Ouw meninggalkan kakek Lie, buat dia melayani tamu yang datang itu.

Kakek Lie membiarkan teman mainnya meninggalkan dia.

Banyak yang dia sedang pikirkan didalam hatinya, dari itu hanya sekilas dia mengawasai tamu yang baru datang tadi untuk kemudian dia menukar pandangan matanya, mengawasi tamu laki laki yang membawa bungkusan pakaian, yang sejak tadi masih duduk ditempatnya dan pandangan mata mereka jadi bertemu lagi, sebab tamu laki laki itu ternyata masih tetap mengawasi si kakek Lie, bahkan sambil menyertai senyumnya, namun kakek Lie tidak menghiraukan bahkan dia berlaku acuh dan tidak membalas senyum tamu itu.

Dilain pihak si kakek Ouw kelihatan sedang bicara dengan tamu yang baru datang.

Bicara yang cukup lama sehingga orang yakin bahwa yang dibicarakan bukan merupakan pesanan makan belaka.

Akan tetapi, sayangnya tempat kakek Lie cukup jauh terpisah sehingga dia tidak mungkin ikut mendengarkan pembicaraan itu; dan tamu laki laki yang membawa bungkusan pakaian, ternyata dia juga tidak sempat ikut mendengarkan, sebab pembicaraan yang dilakukan oleh kakek Ouw dengan tamunya, dilakukan dengan suara perlahan.

Setelah selesai bicara dengan tamu yang baru datang itu yang ternyata bukan merupakan tamu yang hendak makan atau minum maka Ouw lopek mendekati Lie lopek dan berkata.

"Lie heng, maafkan aku. Ada penjualan beras murah dari para petani yang baru melakukan panen. Aku terpaksa tinggalkan kau, tidak lama, jadi kau duduk saja tenang tenang, A heng yang nanti menjaga kedai melayani tamu...."

Sudah tentu kakek Lie tidak dapat merintangi kehendak kakek Ouw dari itu dia membiarkan si pemilik kedai itu pergi, dan dia tetap duduk ditempatnya, dengan arak yang menemani dia namun sekilas dia melihat kearah A heng si orang dusun yang pada mulanya dia anggap menjadi tamu yang hendak memesan makan tadi.

Menggunakan kesempatan selagi kakek Ouw tidak berada ditempatnya agaknya tamu laki laki yang membawa bungkusan pakaian itu mendekati kakek Lie, akan tetapi dia harus batalkan kehendaknya; sebab mendadak datang dua tamu laki laki yang kira kira sebaya dengan dia dan yang ternyata memang dia kenal.

"Ei, Tio hiantee; kau juga ada disini.... ?"

Salah seorang dari kedua tamu laki laki yang baru datang itu bersuara menyapa. "Oh, Ciu toako; silahkan kalian duduk disini..."

Undang tamu laki laki yang batal mendekati kakek Lie; dan dari pembicaraan mereka, si kakek Lie mengetahui bahwa yang disebut Ciu toako itu bernama Ciu Beng San, sedangkan teman seperjalanannya bernama The Hok Sin, dan laki laki yang sudah lama berada dikedai itu bernama Tio Kun Liong.

))dwkz(( X-))hend(( DENGAN KE TIGA tamu laki laki yang sedang duduk bercakap cakap itu kakek Lie hanya pernah mendengar perihal nama Tio Kun liong; namun baru hari itu dia melihat orangnya.

Tempat ke tiga tamu itu duduk cukup jauh terpisah dengan letak tempat duduk kakek Lie, dari itu tidak seluruh pembicaraan mereka yang dapat didengarkan oleh kakek Lie; antara lain mengenai terjadinya suatu peristiwa di kota Tio ciu.

Hasrat hatinya ingin benar kakek Lie mendekati meja Tio Kun Liong bertiga, bahkan ingin dia ikut bicara dan ikut memberikan penjelasan sebab dia merasa lebih mengetahui tentang peristiwa di kota Tio ciu yang sedang mereka bicara.

Akan tetapi, mengingat dia sedang menghadapi urusan yang dia anggap lebih penting; maka dia batalkan niatnya untuk mendekati meja tempat Tio Kun Liong bertiga, sebaliknya dia tetap duduk ditempatnya, menunggu kembalinya kakek Ouw sambil tak bosan-bosan diminumnya araknya.

Di pihak Tio Kun Liong, setelah kedua kawannya selesai bersantap; maka mereka berkemas hendak meninggalkan kedai kakek Ouw.

Sesaat sebelum berangkat, kakek Lie memerlukan mengawasi kearah tiga tamu lakilaki itu dan sempat kakek Lie melihat Tio Kun Liong bersenyum sambil manggut tanda pamitan.

Sekali lagi kakek Lie bersikap acuh seperti orang yang tak kenal, sedangkan didalam hati dia bertanya tanya apakah mungkin Tio Kun Liong kenal dengan dia ?

Hampir setengah jam, sejak kepergiannya Tio Kun Liong bertiga, kakek Lie masih duduk menunggu.

Kemudian dia kelihatan girang waktu dilihatnya kakek Ouw tiba dengan membawa sekarung beras, yang dipanggul oleh seorang petani bertubuh kokoh kuat.

"Kuat benar orang itu dia mengangkat sekarung beras, padahal jalan yang kalian tempuh bukannya dekat .."

Kata kakek Lie di waktu kakek Ouw sudah mendekati dan duduk di tempatnya.

"Dia memang kuat. namanya A Kong, tetapi bagaimana Lie heng mengetahui bahwa jarak perjalanan kami bukannya dekat .... ?"

Bertanya Ouw lopek sambil dia perlihatkan senyumnya, akan tetapi senyuman itu tidak sempat dinilai oleh si kakek Lie.

"Aku lihat peluhnya yang banyak keluar, dan pakaian kau juga basah dengan peluh bercampur debu ..."

Sahut Lie lopek yang ikut perlihatkan senyumnya.

"Akh ! ternyata Lie heng berbakat untuk menjadi seorang penyelidik "

Kakek Ouw berkata secara berkelakar, lalu dia meneruskan perkataannya.

"... bagaimana kalau kita makan dulu." "Bagus, aku memang sudah lapar !"

Sahut kakek Lie.

Kakek Ouw mencegah waktu kakek Lie hendak bantu menyediakan makanan.

Dia mengatakan tidak perlu sebab masih ada A heng yang membantu kedai itu.

"A heng biasa membantu, kalau melihat banyak pengunjung dikedaiku.

Bayarannya buat dia cukup dua kali makan ."

Dan kakek Ouw tertawa lagi, diikuti oleh kakek Lie.

Sehabis makan siang, kedua kakek itu mempersiapkan lagi papan catur mereka, dan kembali keduanya bertanding mengulang permainan tadi yang terputus setengah jalan dan ditengah permainan itu maka kakek Ouw berkata kepada kakek Lie.

"Lie heng kalau kau tidak keberatan, aku ingin dengarkan kau teruskan ceritamu tadi.." "Pada bagian yang mana.!?"

Tanya kakek Lie dengan nada suara yang wajar. ;Pada bagian .. semuanya. Ya semuanya ..."

Sahut kakek Ouw.

"Baik."

Sahut kakek Lie singkat akan tetapi lebih dulu diminumnya araknya, juga kakek Ouw ikut minum.

"Lie Kim Nio meninggalkan ayahnya lebih dari setahun lamanya padahal peristiwa pengganyangan markas si iblis penyebar maut di kota Hoa lam sudah lama tersiar bahkan sampai dilupakan orang.

Pada mulanya ayahnya Lie Kim Nio menganggap anaknya ikut serta didalam aksi pengganyangan itu, dan tewas dalam pertempuran.

Akan tetapi pada suatu hari Lie Kim Nio pulang dan mengatakan dia tidak ikut didalam aksi pengganyangan itu; dan dia pulang dengan membawa seorang bayi; anaknya hasil benih si iblis penyebar maut yang memperkosa dia ..."

"Apa ? Jadi dia mendapat anak ..."

Tanya kakek Ouw bagaikan tidak percaya dengan perkataannya kakek Lie.

"Ya, Lie Kim Nio mendapat anak, sebagai hasil perbuatan maksiat si iblis penyebar maut ..."

Sahut kakek Lie, dan sekilas sepasang matanya bersinar menyala sempat dilihat oleh kakek Ouw, akan tetapi tidak diperhatikan sepenuhnya oleh kakek Ouw yang sebaliknya telah mengajukan pertanyaan lagi.

"Yakinkah kau bahwa anak itu adalah anak ..

anak si iblis ..."

"Heeh, Ouw heng; kau kumat lagi. Mengapa kau "mengharuskan" aku yang merasa yakin? kan bukan aku yang melahirkan bayi itu ..?"

Sahut kakek Lie secara berkelakar, padahal di dalam hati terlalu banyak yang sedang dia pikirkan; dan diam diam dia memperhatikan setiap lagak dan sikap kakek Ouw.

"Oh. Akan tetapi yakinkah dia bahwa anak itu...,"

Desak kakek Ouw yang tidak menghiraukan teman mainnya sedang bergurau.

"Tentu saja dia yakin. Tidak pernah ada tanda tanda dia hamil selagi dia bersama suaminya dan sejak terjadinya peristiwa dia diperkosa, dia tidak pernah bertemu dengan suaminya yang menghilang ..."

Kakek Lie menunda lagi ceritanya.

Diminumnya araknya akan tetapi dia melirik ke arah pintu, sebab waktu itu sedang memasuki seorang laki laki yang berpakaian seperti seorang guru ilmu silat berumur kira kira 40 tahun lebih ditemani oleh dua orang pengemis muda yang usianya sekitar tigapuluhan.

"Lie heng kenal dengan mereka ?"

Tanya kakek Ouw yang juga melihat masuknya tiga tamu itu akan tetapi dia membiarkan sebab ada A heng yang mewakilkan dia.

"Tidak, akan tetapi aku lihat pengemis pengemis muda itu bukan sembarang pengemis ..."

Sahut kakek Lie, terdengar perlahan dia berbicara agaknya khawatir kalau didengar oleh ketiga tamu yang baru datang itu.

"Memang aku yakin kedua pengemis muda itu merupakan orang orang Kay pang "

Sahut kakek Ouw juga dengan suara perlahan.

(Kay pang adalah persekutuan kaum pengemis atau orang orang gelandangan.

Persekutuan Kay pang besar pengaruhnya terlebih disaat terjadinya pergolakan perjuangan melawan pemerintah penjajah Mongolia) "Lebih baik kita jangan campur dengan urusan mereka, dan kita teruskan pembicaraan kita "

Kata kakek Lie tanpa dia menghiraukan ketiga tamu itu, yang juga sedang mengawasi kakek Lie berdua kakek Ouw.

"Benar ..."

Sahut kakek Ouw merasa setuju, akan tetapi diam diam sepasang matanya melirik kearah ketiga tamu tamu yang baru datang itu.

"... Lie Kim Nio mengatakan kepada ayahnya bahwa dia terhalang di tengah perjalanan, kena penyakit, sampai kemudian dia hamil dan melahirkan bayinya. Sedangkan kedatangannya katanya dia hendak menitipkan bayinya kepada ayahnya, sebab dia akan terus hendak mencari ayah si bayi buat menuntut balas.."

" .. selama enambelas tahun bayi itu ditinggalkan ibunya dan bayi yang sudah berubah menjadi dara remaja yang cantik dan manja itu, mendapat didikan ilmu silat dan ilmu surat dari kakeknya..." Dan secara tiba tiba Cie in suthay memutus cerita yang dituturkan oleh Lie Hui Houw, karena bhiksuni yang muda usia itu merasa ada bagian yang dia tidak mengerti.

"Tunggu ! kau tadi menceritakan bahwa Lie Kim Nio hamil karena perbuatan si iblis penyebar maut, kemudian kau mengatakan bahwa umur anaknya Lie Kim Nio mencapai enam belas tahun; jadi, peristiwa perkosaan itu tentunya terjadi pada enambelas tahun lebih yang lalu, sedangkan setahu aku, pada waktu itu si iblis..."

Ganti Lie Hui Houw yang kemudian memutus perkataan biarawati yang cantik jelita itu.

"Sabar dulu, suthay, masih cukup panjang cerita yang bakal aku tuturkan. Memang benar pada waktu itu belum atau tidak dikenal adanya si iblis penyebar maut, sebab waktu itu orang hanya kenal dia sebagai Han-bie kauwcu yang menjadi pimpinan dari orang orang Han-bie kauw. Han bie kauwcu terkenal pandai menyamar, akan tetapi dia terus menjadi orang buronan dari para pendekar penegak keadilan; sampai kemudian muncul si iblis penyebar maut, dan tidak banyak orang orang yang mengetahui bahwa si iblis ini sebenarnya ujud penyamaran dari Han bie kauwcu. Kalau suthay tak percaya atau masih belum mengerti, silahkan suthay baca kisah "Cheng hwa liehiap" ..."

"Sialan ... !"

Cie in suthay memaki dan bersenyum; lalu secepat itu juga dia mengucap kata kata "o mie to hud" didalam hati, dan membiarkan Lie Hui Houw meneruskan cerita ) .

"... dara remaja yang manja itu diberi nama Lie Siu Lan, dan kepada kakeknya dia selalu menanyakan tentang ayah dan ibunya, sedangkan sang kakek selalu mengatakan bahwa sang ayah sudah marhum, sedangkan sang ibu sedang pergi merantau .."

"dara remaja yang manja itu kemudian memaksa si kakek, memaksa mengajak mencari ibunya sedangkan si kakek yang memang memanjakan cucunya lagi pula si kakek juga sangat memikir nasib anaknya, maka dia memenuhi kehendak cucunya sehingga terjadi mereka melakukan perjalanannya tanpa arah tujuan yang direncanakan, sebab mereka tidak mengetahui dimana kira kira Lie Kim Nio berada...."

Kakek Lie terpaksa harus menunda ceritanya, sebab dia harus memperhatikan kedudukan biji caturnya.

Pada mulanya dia berhasil mengatur penyerangan yang bertubi tubi akan tetapi belakangan dilihatnya lawannya dapat memperbaiki pertahanan, bahkan sebaliknya dia harus mengorbankan beberapa biji caturnya sebab dia selalu membikin suatu jalan kecerobohan karena pemusatan pikiran pada cerita yang sedang dia tuturkan.

"Bagus Lie heng, hari ini aku harus berikan pujian kepada kau. Bukan main serangan serangan yang kau lakukan "

Kakek Ouw justeru memberikan pujian lalu dia mengajak kakek Lie minum araknya. Kakek Lie ikut minum dan dia meneruskan lagi berbicara;

"dara remaja yang manja itu sebelumnya tidak pernah melakukan perjalanan jauh. Juga si kakek untuk waktu yang lama tidak pernah meninggalkan rumahnya sehingga kedua duanya bagaikan sang kodok didalam sumur yang baru melihat dunia..."

"... hampir disetiap kota mereka kelihatan terpesona dengan berbagai macam keramaian dan setelah sekian lamanya mereka belum berhasil menemui jejak Lie Kim Nio, maka si kakek memutuskan akan mengunjungi kota Tio cu, mencari keponakannya yang bernama Lie Hui Houw.

"Oh, jadi kau orang Tio ciu ....?"

Kata Cie in suthay yang sekali lagi jadi memutus perkataan Lie Hui Houw; selagi mereka masih meneruskan perjalanan mereka; menerobos teriknya sinar matahari.

Sementara itu Lie Hui Houw manggut membenarkan, akan tetapi sengaja dia menanya .

"Memangnya kenapa ..?"

"Akh, tidak apa apa. Pasti kau pintar masak sebab orang orang Tio ciu memang terkenal pandai masak.."

Lie Hui Houw merasa heran sampai dia menunda langkah kakinya.

Seingat dia tidak pernah dia masak buat biarawati yang muda usia itu dan tidak pernah pula biarawati yang cantik jelita itu melihat dia masak.

Jadi bagaimana mungkin dia dikatakan pandai masak ?

Sebaliknya Cie in suthay hanya bersenyum tidak menghiraukan rasa heran dari teman seperjalanannya, dan dia bahkan mendahului meneruskan perjalanan mereka.

Sementara itu terdengar suara seseorang yang berseru ketika kakek Lie tadi menyebut nama Lie Hui Houw si macan terbang..!

demikian seru seorang itu; bukan suara si kakek Ouw akan tetapi suara tamu yang datang bersama kedua pengemis muda tadi.

Agaknya ketiga tamu itu sejak tadi ikut mendengarkan cerita kakek Lie dengan penuh perhatian.

Mereka diam mendengarkan waktu kakek Lie menyebut nama nama Lie Kim Nio dan Lie Siu Lan, akan tetapi waktu mendengar kakek Lie menyebut nama Lie Hui Houw, maka tak tertahankan lagi tamu laki laki yang berpakaian sebagai guru silat itu perdengarkan suaranya.

Serentak kakek Lie dan kakek Ouw jadi mengawasi kearah meja tempat tiga tamu itu duduk dan laki laki berpakaian seperti guru silat itu justeru sedang bangun dari tempat duduknya melangkah kedepan mendekati tempat kakek Lie dan kakek Ouw duduk untuk kemudian dia memberi hormat dan berkata.

"Siaotee bernama Go Bun Heng dari dusun Cui lok cun.

Tadi siao tee mendengar lo cianpwee menyebut nama Lie Hui Houw; kenalkah lo cianpwee dengan dia ...?" Kalau saja waktu itu ada yang memperhatikan sepasang sinar mata kakek Ouw, tentu orang akan melihat betapa sinar mata itu menyala penuh dendam dan menahan rasa marah; waktu Go Bun Heng mendekati dan ikut bicara.

Sayangnya pada waktu bicara, pandangan mata Go Bun Heng ditujukan kepada kakek Lie yang dia ajak bicara; dan kakek Lie pada waktu itu juga sedang mengawasi Go Bun Heng !

(Sementara itu, Cie in suthay ikut menunda langkah kakinya waktu mendengar disebutnya nama Go Bun Heng; akan tetapi biarawati yang muda usia itu batal menanya, karena melihat teman seperjalanannya perlihatkan muka tidak senang kalau ceritanya diganggu) .

Kakek Lie perlihatkan senyuman selama dan sesudah Go Bun Heng bicara, setelah itu baru dia yang ganti berkata.

"Sayang sekali, aku sendiri tidak kenal dengan orang yang bernama Lie Hui Houw itu. Aku hanya sedang bercerita mengenai seseorang lain. Kenalkah Gouw hiantit dengan orang yang bernama Lie Hui Houw itu ..."

Laki laki yang mengaku bernama Go Bun Heng itu perlihatkan wajah muka menyesal.

Dia masih berdiri sementara kedua kakek Lie dan kakek Ouw tetap duduk di tempat mereka.

Didalam hati Go Bun Heng merasa mendongkol karena dia tidak diundang atau dipersilahkan duduk.

Akan tetapi dia berkata waktu mendengar pertanyaan kakek Lie.

"Aku dan Lie Hui Houw bersahabat akrab. Saat ini kami justeru sedang menuju ke kota Tio ciu menemui sahabatku itu .."

"Oh...."

Kakek Lie bersuara tidak di sengaja; akan tetapi dia tidak mengucap kata kata lain.sehingga Go Bun Heng yang berkata lagi.

"Kalau lo-cianpwee tidak kenal dengan sahabatku itu, maka maafkan saja bahwa aku telah mengganggu kalian .."

Dan Go Bun Heng mohon diri untuk dia kembali ke tempatnya.

"Orang yang aneh. Lain orang lagi cerita, dia ikut campur .."

Kakek Lie menggerutu seperti pada dirinya sendiri; akan tetapi cukup didengar oleh kakek Ouw bahkan terdengar juga oleh laki laki yang mengaku bernama Go Bun Heng, yang saat itu belum sampai ditempat duduknya.

"Dia bukan orang aneh, dia bukan si "golok maut" dari See gak hun kunbun golongan huruf Heng.."

Cie in suthay ikut menggerutu tanpa dia menghentikan langkah kakinya; bahkan tanpa dia melihat atau mengawasi teman seperjalanannya.

"Suthay kenal dia ....?"

Tanya Lie Hui Houw; juga tanpa menghentikan langkah kakinya.

"Mengapa tidak, sayangnya dia telah binasa sehingga dia tidak sempat lagi turut mengganyang markas si iblis penyebab maut, waktu melakukan kegiatan persekutuan Thian tok bun .."

Lie Hui Houw jadi terbelalak sehingga dia menghentikan langkah kakinya, dan dia menanya lagi . "Twa to Go Bun Heng sudah binasa .. ?"

"Benar, apakah kau tidak mengetahui langkah kakinya."

Lie Hui Houw menggelengkan kepala, dan berkata . "Coba suthay ceritakan,.mengapa sampai dia binasa ,..?"

"Hel ! apakah kau mau bercerita tentang Lentera maut atau kau mau aku bercerita mengenal si Golok maut. Sebaiknya kau selesaikan dulu cerita mengenai Lentera maut; setelah itu baru aku akan menceritakan tentang si Golok maut ,.."

" ... mengapa Lie heng bilang dia aneh? Yang dia lakukan adalah wajar ,.."

Kata kakek Ouw yang jadi tersenyum.

"Bagaimana tidak aneh. Dia bilang dia bersahabat dengan Lie Hui Houw, nyatanya dia menanya pada lain orang tentang Lie Hui Houw...."

Sahut kakek Lie yang perlihatkan lagak seperti merasa tidak puas.

"Barangkali dia ingin bersahabat dengan Lie Hui Houw.."

"Buat apa bersahabat dengan orang semacam dia. Selagi orang masih berada dan sedang dalam kesukaran di kota Tio cu dia tidak mau datang, sebaliknya orangnya tidak ada baru dia mau datang ,"

Si kakek Lie berkata lagi, tetap dengan perlihatkan lagak seperti orang yang merasa tidak senang.

Sebaliknya sepasang mata Go Bun Heng jadi terbelalak, waktu dia ikut mendengar perkataan kakek Lie itu.

Juga kedua pengemis muda yang menjadi teman seperjalanannya.

Mereka tidak dapat menguasai rasa kaget mereka akan tetapi mereka duduk diam di tempat sebab menganggap kakek Lie adalah seorang yang bersipat aneh.

"...maksud Lie heng bahwa orang yang bernama Lie Hui Houw itu sudah tidak ada lagi di kota Tio ciu ? Siapakah dia sebenarnya .. ?"

Tanya kakek Ouw yang ikut merasa heran.

"Ceritaku kan belum habis; bagaimana Ouw heng memaksa aku bercerita dari akhir ke bagian awal ..?"

Kakek Ouw tertawa, membikin kakek Lie ikut jadi tertawa; batal marah marah, sebaliknya Go Bun Heng bertiga seolah olah merasa dipaksa untuk menambah pesanan arak sebab mereka ingin sekali ikut mendengarkan cerita si kakek Lie.

"Nah.

ini aku makan; sebagai gantinya aku berikan kau yang ini.."

Kata kakek Ouw yang sudah meneruskan lagi bermain catur.

"Tidak mau. Aku lebih senang makan yang ini, sebab berarti urat nadimu aku gigit "

Kakek Lie lalu minum araknya, diikuti oleh kakek Ouw.

"sebagian besar dari penduduk kota Tio ciu merupakan pekerja pekerja kasar yang kurang berpendidikan. Banyak diantara yang bekerja di perkebunan atau dipelabuhan sebagai kuli kasar.., ...pada suatu hari penduduk kota Tio ciu ramai membicarakan tentang adanya sesuatu perusahaan yang membutuhkan banyak tenaga pekerja namun tempat bekerja itu katanya jauh diluar kota Tio ciu. "...kepada setiap calon pekerja yang mendaftarkan diri, sebelum diberangkatkan katanya akan menerima sebagian persekot dari upah mereka dan persekot upah itu boleh diberikan kepada keluarga si pendaftar yang berada di kota Tio ciu, atau boleh juga tentunya dibawa oleh si pendaftar kalau sipendaftar tidak mempunyai sanak keluarga. Sebagai tempat untuk mendaftarkan diri katanya ada perusahaan kong goan yang berkantor dipelabuhan. ",..waktu itu dikota Tio ciu memang sedang banyak kaum laki laki yang sedang menganggur, baik yang tua maupun yang muda. Panen di perkebunan banyak yang rusak dan dipelabuhan sedang berkurang perahu perahu dagang yang singgah...

"..dengan demikian maka sangat banyak orang orang yang mendaftarkan diri, bahkan tidak dapat di berangkatkan dalam satu perahu besar, sehingga perlu ditambah dengan beberapa perahu lain untuk mengangkut mereka ketempat pekerjaan.. "..akan tetapi waktu hari pemberangkatan sudah tiba, ternyata persekot upah yang dijanjikan tidak pernah diberikan, sehingga serentak para pendaftar itu menolak untuk diberangkatkan, meskipun mereka semua sudah berkumpul di pelabuhan.. ...berbagai keributan atau kekacauan mulai terjadi antara pihak para pendaftar dan pihak dari perusahaan "Kong goan"

Pihak pendaftar menghendaki persekot upah dibayar dulu sebelum mereka diberangkatkan, sedangkan pihak perusahaan "Kong goan"

Mengatakan belum menerima uang dari perusahaan yang berkepentingan, memerlukan tenaga pekerja itu; dan pihak "Kong goan"

Hanya berjanji akan membayar kepada keluarga pihak pendaftar sesudah para pendaftar itu diberangkatkan ...

"Aduh panasnya ..."

Keluh Cie in suthay ketika mereka baru saja memasuki sebuah desa yang lebih mirip dengan sebuah kota kecil yang ramai; dan Lie Hui Houw lalu mengajak singgah disuatu kedai arak, buat mereka istirahat sambil melepas haus " ..

adalah disaat terjadinya kekacauan itu, maka dara manja Lie Siu Lan tiba bersama kakeknya, dengan maksud hendak mencari Lie Hui Houw yang menjadi keponakan dari si kakek.

Dan pada waktu keributan meningkat menjadi perkelahian antara pihak para pendaftar dengan pihak kauwsu atau tukang pukul perusahaan Kong Goan; maka tanpa memikir panjang Lie Siu Lan ikut berkelahi, membantu pihak para pendaftar membikin sang kakek ikut juga berkelahi, sekedar untuk melindungi sang cucu, padahal memiliki kepandaian ilmu silat lumayan, tetapi dia sudah berusia tua, napasnya sudah pendek dan kurang latihan.

Sedangkan sang cucu, meskipun dia masih muda dan bernapas panjang namun ilmu silatnya hanya sekedar dari hasil sang kakek, sehingga sang kakek dan sang cucu kena hajaran pihak para kauwsu yang berlaku galak dan ganas.."

"Eh; ini mau kemana .. ?" tanya kakek Li waktu melihat lawannya salah langkah menjalankan biji caturnya, "Oh, maaf .. " sahut kakek Ouw; padahal dia sengaja membikin kesalahan, sebab kedudukannya sudah benar benar terancam. Dia mengharap lawannya lengah tidak melihat, tetapi ternyata kakek Lie cukup teliti meskiipun dia main sambil bercerita. ".. dalam keadaan yang gawat bagi Lie Siu Lan dan kakeknya; maka tiba tiba datang seorang pemuda yang menerobos arena pertempuran, mengamuk bagaikan seekor harimau, sebab sesungguhnya dia adalah keponakan si kakek yang bernama Lie Hui Houw; si macan terbang yang benar benar dianggap sebagai macan di kota Tio ciu! "Muda usia Lie Hui Houw kecil tubuhnya akan tetapi besar tenaganya dan gerak tubuhnya yang Iincah serta ringan, bagaikan dia benar benar seekor macan yang dapat terbang."

"Akh ! kau terlalu memuji dirimu sendiri,"

Cie in suthay menggerutu sambil dia bersenyum; sedangkan tangan kanannya memainkan mangkok arak yang sebagian isinya sudah diminum.

"Akan tetapi yang memuji itu "kan bukan aku." sahut Lie Hui Houw membela diri.

"Habis siapa maksud kau ?" tanya Cie in suthay.

"Si kakek Lie yang sedang bercerita." "Hm !"

Cie in suthay bersuara menggerutu; akan tetapi biarawati yang muda usia itu membiarkan Lie Hui Houw meneruskan bercerita Dia mengamuk tanpa menggunakan senjata.

Sepasang tangannya dapat menangkis dan mematahkan pentungan kayu dari lawannya dan sepasang kepalannya dapat memukul musuh sampai terpental sedangkan sepasang kakinya dapat melakukan tendangan berantai mengakibatkan musuh rubuh bagaikan pohon pohon tumbang kena disambar geledek, sampai akhirnya datang pihak pemimpin perusahaan Kong Goan yang dengan kata kata manis dapat mengatasi keadaan dan meredakan suasana keributan itu;

".,.maka terjadi damai antara pihak perusahaan Kong goan dengan pihak para pendaftar dan pihak Kong goan yang memang benar-benar belum menerima keuangan hanya sanggup membayar sebagian kecil dari uang persekot yang dijanjikan namun pihak Kong goan berjanji akan membayar sisa uang persekot kepada si macan terbang Lie Hui Houw; untuk kemudian Lie Hui Houw yang akan membagikan kepada keluarga para pendaftar; setelah para pendaftar itu diberangkatkan..,.

"... dikota Tio ciu; Lie Hui Houw menatap ibunya, Lie ma, serta kakaknya yang bernama Lie Sun Houw pada waktu itu sudah beristri dan mempunyai seorang anak lelaki yang baru berumur lima tahun.

"Kedatangan Lie Siu Lan dan kakeknya sudah tentu sangat menggirangkan hati Lie Hui Houw sekeluarga; terlebih Lie ma yang menjadi adik ipar dari sikakek. Akan tetapi mereka ikut cemas waktu mengetahui ibunya Lie Siu Lan hilang tak diketahui kemana perginya. "Dihadapan Lie Hui Houw sekeluarga kakeknya Lie Siu Lan tak memberitahukan perihal Lie Kim Nio yang telah diperkosa oleh si iblis penyebar maut." "Iblis pengebar maut"

Seru seseorang; dan seseorang itu lagi lagi adalah yang mengaku bernama Go Bun Heng, yang agaknya tak dapat membendung rasa kagetnya.

Sedangkan kakek Ouw berdua kakek Lie ikut menjadi terkejut sebab mereka mendengar perkataan Go Bun Heng yang diucapkan dengan suara keras dan kedua kakek itu perlihatkan muka heran karena Go Bun Heng lagi lagi mendatangi meja mereka.

"Lo cianpwee, maaf kalau aku mengganggu lagi; akan tetapi tadi aku mendengar lo-cianpwee menyebut nama si iblis penyebar maut, apakah lo cianpwee kenal dengan dia ... ?"

"Nama si iblis penyebar maut ? aku tidak pernah menyebut nama si iblis penyebar maut .,"

Bantah kakek Lie; nada suaranya wajar, tidak mengandung kelakar dan tidak mengejek.

"Eh, maaf; tadi lo cianpwee menyebut si iblis penyebar maut. Kenalkah lo cianpwee dengan dia ?"

Ulang Go Bun Heng yang meralat perkataannya kelihatan gugup dan mendongkol.

(oo-dwkz-hnd-oO) KALAU ADA tempat buat dia menyimpan kepalanya, pasti Go Bun Heng sudah melakukannya; sebab dia benar benar sudah kehilangan muka kena dipermainkan orang padahal dia adalah seorang ciang bunjin, seorang ahli waris dan ketua dari partai See gak hun kunbun golongan huruf "heng", dan di kalangan rimba persilatan nama Go Bun Heng dikenal sebagai golok maut!

Twa to Go Bun Heng sebenarnya pernah menjadi pembantu yang dekat dengan Thio Su Seng; seorang pejuang bangsa yang memimpin gerakan menentang kaum penjajah; sampai kemudian Twa to Go Bun Heng pernah merasa melakukan sesuatu kesalahan akibat goloknya tidak mempunyai mata, sehingga dia mengundurkan diri dan menetap di dusun Cui lok cun, membuka rumah perguruan ilmu silat.

Sekiranya Twa to Go Bun Heng tidak teringat dengan kesalahannya tempo dulu, barangkali saat itu dia sudah membagi maut buat si kakek yang dia dengar bernama Lie lopek itu.

Sekarang dia tak mau sembarang bertindak; dia belum yakin apakah Lie lopek sedang permainkan dia, atau Lie lopek memang beradat aneh seperti si Dewa mabuk Cio Hay Eng yang pernah dia kenal.

Dahulu, di dekat dusun Cui lok cun atau tempatnya diatas gunung Ciu lok san, pernah dijadikan markas kegiatan si iblis penyebar maut yang waktu itu masih menamakan diri sebagai Han bie kauwcu; dan Twa to Go Bun Heng merupakan salah seorang yang ikut dalm aksi pengganyangan markas si iblis oleh karena itu dia menjadi sangat terkejut waktu mendengar si kakek Lie menyebut si iblis penyebar maut.

Dalam anggapan Go Bun Heng, apakah mungkin si iblis masih hidup?

Apakah si iblis merajalela lagi?

Kalau benar si iblis penyebar maut itu merajalela lagi, dia tentu akan membatalkan maksudnya yang hendak ke Tio ciu sebaliknya dia akan mendahulukan urusan dengan si iblis penyebar maut yang harus dibasmi demi kepentingan masyarakat banyak sedangkan urusan di kota Tio ciu adalah untuk memenuhi permintaan seorang kawan, buat dia membantu si macan terbang Lie Hui Houw.

Di lain pihak, si kakek Lie dan kakek Ouw sudah meneruskan lagi permainan mereka; bagaikan mereka tidak menghiraukan dengan si Golok maut Go Bun Heng yang waktu itu sudah kembali ketempat duduknya; padahal didalam hati kedua kakek itu; mereka sedang berpikir keras, namun masing-masing tidak mau memberitahukan entah apa saja yang mereka sedang pikirkan.

"Eh, sampai dimana tadi aku bercerita...?"

Tiba tiba tanya kakek Lie yang memecahkan keheningan.

"Hmmm, sampai kakeknya Lie Siu Lan tidak menceritakan perihal Lie Kim Nio diperkosa..."

"Ya, sampai si kakek tidak memberitahukan bahwa Lie Kim Nio telah diperkosa oleh si iblis penyebar maut...!"

Ulang kakek Lie, melengkapi perkataan kakek Ouw yang tidak menyebut "si iblis penyebar maut".

"...si macan terbang Lie Hui Houw bersumpah akan bantu mencarikan ibunya Lie Siu Lan, akan tetapi dia mengatakan bahwa saat itu dia harus mendahulukan urusan masyarakat di kota Tio ciu; dari itu si kakek harus menunggu bersama cucunya; sampai kemudian sesudah urusan di kota Tio ciu selesai, baru si macan terbang Lie Hui Houw ikut kakek dan cucunya buat mencari Lie Kim Nio ...

". dua hari setelah rombongan para pekerja berangkat, maka Lie Hui Houw menerima sepucuk surat didalam sampul, ditujukan buat dia dari perusahaan "Kong goan", dan waktu Lie Hui Houw membuka sampul surat itu, ternyata isinya hanya berupa undangan makan buat dia satu orang, dan jamuan makan itu diselenggarakan di rumah makan *Lok thian* yang terkenal mewah dan mahal harga makanannya ...

" ..Lie Hui Houw datang memenuhi undangan makan itu, akan tetapi dia tidak datang seorang diri. Dia sengaja mengajak kakak dan pamannya yakni kakeknya Lie Siu Lan. Mereka bertiga memakai pakaian sebagai orang orang desa yang tidak mampu, dari itu mereka tidak mudah dibolehkan masuk dirumah makan "Lok thian", kalau mereka tidak membawa surat undangan, kemudian didalam surat undangan yang dibawa oleh Lie Hui Houw, justru hanya berlaku untuk satu orang; sehingga sudah tentu sang kakak dan sang paman tidak dibolehkan masuk. Kakek Lie menunda ceritanya, sebab kelihatan dia harus berpikir keras menghadapi permainannya, dan dia minum lagi araknya, dengan diikuti oleh kakek Ouw, sedangkan Twa to Go Bun Heng dengan dua kawannya yang berupa orang orang gelandangan, terpaksa ikut minum arak arak mereka padahal mereka tidak sabar ingin mendengarkan cerita si kakek mengenai si macan terbang Lie Hui Houw; orang yang mereka hendak temui di kota Tio ciu. Cie in suthay terbatuk sampai ada sedikit arak yang berhambur keluar dari mulutnya, sebab selagi Lie Hui Houw bercerita tentang pihak Twa to Go Bun Heng bertiga yang menganggap si macan terbang berada dikota Tio ciu, sebaliknya Lie Hui Houdw tidak menghiraukan dan pemuda ini meneruskan bercerita .

"... sudah tentu si macan terbang Lie Hui Houw membangkang memaksa hendak mengajak sang kakak dan sang paman ikut masuk kedalam rumah makan, sehingga sesaat terjadi keributan didepan rumah makan itu, sampai kemudian datang pemisah dari pihak perusahaan "Kong goan" yang membolehkan mereka bertiga masuk..." "Tidak percuma dia keras kepala seperti besi, ."

Kata Cie in suthay mengejek tapi menggurau; dan Lie Hui Houw tetap tidak menghiraukan, sebaliknya pemuda ini meneruskan bercerita "...

para tamu yang sedang makan dan minum dengan ditemani oleh pelayan pelayan wanita muda yang cantik cantik, serentak menunda makan dan perlihatkan muka menghina waktu mereka melihat ketiga tamu istimewa itu masuk, akan tetapi Lie Hui Houw bertiga tidak menghiraukan sikap para tamu itu, sebaliknya mereka terus mengikuti seorang pelayan yang mengantar mereka, sampai kesuatu meja yang sudah disediakan akan tetapi masih kosong tanpa ada makanan dan minuman yang agaknya memang belum disediakan ..

"... Lie Hui Houw bertiga duduk menunggu dan menunggu, akan tetapi yang ditunggu tidak kunjung datang; membikin mereka menjadi gelisah, terlebih karena mereka duduk di meja yang kosong tanpa ada makanan ataupun minuman, sehingga mereka bertambah diejek oleh para tamu lain yang membicarakan mereka ...

".... menghadapi keadaan seperti itu, maka Lie Hui Houw yakin bahwa seseorang atau sekelompok orang orang sedang mempermainkan dia. Siapakah seseorang atau sekelompok orang orang itu ? Untuk di kota Tio ciu, nama si macan terbang Lie Hui Houw sudah cukup dikenal sehingga tidak sembarang orang yang berani mempermainkan dia, dari itu Lie Hui Houw berpikir bahwa didalam urusan yang sedang dihadapi ini; pasti ada seseorang atau sekelompok orang orang yang kuat segala galanya..." .. oleh karena memikir begitu, maka si macan terbang Lie Hui Houw tidak meninggalkan rumah makan itu; seperti yang dikehendaki oleh kakak dan pamannya. Sebaliknya dia perlihatkan kesabaran dan keuletan jiwanya, tetap menunggu tanpa menghiraukan ejekan tamu tamu lain sampai akhirnya muncul seorang lelaki berpakaian dari bahan sutra yang mahal harganya, yang datang dengan dikawal oleh empat perempuan muda yang cantik cantik, dan lelaki itu perkenalkan diri sebagai wakil dari perusahaan "Kong goan, namanya Nio Kok An."

"Nio Kok An ?"

Tiba-tiba kakek Ouw memutus perkataan kakek Lie, bagaikan dia teringat sesuatu.

"Ya, Nio Kok An, apakah Ouw heng kenal dia ?"

Kakek Lie membenarkan dan balik menanya.

"Tidak. Akan tetapi aku seperti pernah dengar nama itu, hanya entah dimana aku lupa. Hayaa, kau benar benar lihai. Hari ini aku menyerah kalah akan tetapi besok akan kubalas kekalahanku ini."

Kakek Lie tertawa dia berpikir bahwa kawan mainnya itu tentu sudah lelah, karena hari juga sudah lewat lohor dan dia lalu berkata ;

"Akan tetapi, apa sebab baru besok permainan diteruskan? mengapa tidak nanti malam. .?"

"Lie hengkz, nanti malam aku ada undangan di kampung. Undangan itu merupakan rapat memilih ketua kampung, dari itu aku terpaksa pergi sendiri dan aku nanti ditemani oleh A heng.. Sekali lagi kakek Lie menjadi tertawa. Dia pun merasa perlu beristirahat karena sudah terlalu lama duduk dan mengobrol. Sementara itu Twa to Go Bun Heng bertiga ikut berkemas, membayar harga makanan dan minuman, lalu hendak meninggalkan kedai nasi miliknya kakek Ouw. Sekilas kakek Lie sempat melirik, melihat muka si Golok maut Go Bun Heng yang masih merasa penasaran.

"..entah kemana dia pergi, dan entah apakah besok dia akan muncul lagi...?"

Pikir kakek Lie didalam hati, akan tetapi pada mukanya terlihat suatu senyum.

Senyum mengejek waktu Twa to Go Bun Heng bertiga melirik kearah dia.

Sampai lewat magrib kakek Lie pulas tertidur.

Agaknya dia benar benar merasa sangat lelah, atau mungkin karena usianya yang sudah tua dan waktu dia keluar dari dalam kamarnya dia hanya bertemu dengan A heng; yang mengatakan bahwa kakek Ouw sudah berangkat ke kampung.

"Akh! katanya rapatnya malam akan tetapi sekarang dia sudah pergi,"

Kata kakek Lie yang seperti menggerutu, akan tetapi cukup didengar oleh A heng; dan A heng tidak menghiraukan sebaliknya dia membiarkan kakek Lie duduk seorang diri karena dia masih sibuk dengan pekerjaan didapur.

"A heng, apakah sudah lama kau membantu Ouw-lopek ?" tanya kakek Lie yang memerlukan datang keruangan dapur untuk mendekati A heng.

A heng tidak segera memberikan jawaban.

Dia menunda pekerjaannya dan memerlukan mengawasi kakek Lie, setelah itu dia berkata dengan acuh .

"Sudah dua tahun ..." "Apakah sudah lama Ouw lopek berdiam di tempat ini....

?" Sekali lagi A heng menunda pekerjaannya, dan sekali lagi ia memerlukan mengawasi kakek Lie dengan sinar mata yang kelihatan mengandung kebencian, setelah itu baru dia berkata, tetap dengan nada suara dingin .

"Lie lopek, pertanyaan kau ini bukankah lebih baik kau ajukan langsung kepada Ouw lopek .."

Kakek Lie merasa bagaikan terpukul, tanpa daya buat dia membela diri, hanya didalam hati ia menanya pada dirinya sendiri; "mengapa sinar mata A heng seperti mengandung sinar kebencian?" "A heng, kau benar....."

Akhirnya kakek Lie berkata seperti menggerutu; dan ditinggalkannya A heng yang sudah meneruskan pekerjaannya.

Dekat pintu kedai kakek Lie berhenti sejenak.

Dilihatnya pintu itu ditutup, atau dipalang dari sebelah dalam.

Dia berdiri ragu-ragu, akan tetapi kemudian dibukanya pintu itu.

Dia berdiri seorang diri dimuka pintu.

Sunyi keadaan jalan raya yang sudah mulai gelap.

Hanya ada pelita kecil dekat pintu kedai kakek Ouw, berkelap kelip kena tiupan angin pegunungan.

Benarkah kakek Lie berada seorang diri dekat pintu kedai kakek Ouw itu?

"Dingin,.."

Kakek Lie menggerutu seorang diri; sambil dia merapatkan bagian leher bajunya.

"Angin gunung memang dingin beda dengan angin laut ..."

Terdengar seseorang ikut bicara; dan seseorang itu mendekati tempat kakek Lie berdiri sehingga dilain saat kelihatan si Golok maut Go Bun Heng yang bersenyum dan menyambung bicara;

" .terlebih bagi Lie lo cianpwee yang sudah lanjut umur..."

"Hayaaa, lagi lagi kau..,."

Kakek Lie menggerutu untuk perlihatkan rasa tidak puas karena agaknya dia benar-benar merasa diganggu dengan kehadirannya si golok maut.

"Lie lo cianpwee, agaknya kau benci benar terhadap aku, apakah aku mengganggu ketenangan kau ?"

Si golok maut berkata lagi hilang senyum yang menghias dimukanya.

Kakek Lie tak segera memberikan jawaban.

Dia mengawasi kebagian belakang kedalam ruangan kedai dan sekilas dilihatnya kehadirannya A heng.

"Siapa bilang kau tak mengganggu ketenanganku.

Apa kau tak tahu bahwa kami orang orang tua, lebih senang menyendiri, lebih senang mencari ketenangan dalam waktu kerja maupun dalam waktu ...

"Kerja apa yang Lie lo cianpwee sedang lakukan ?" si golok maut Go Bun Heng memutus perkataan kakek Lie, agaknya dia tidak mengetahui kehadiran A heng, karena A heng berdiri terlindung daun pintu.

"Hayaa ! kau lihat aku sedang melamun, masih kau tanya aku sedang kerja apa.."

"Lie Io cianpwee.."

"Tunggu ! aku belum selesai bicara ! aku benci dengan orang yang suka memutus perkataan seseorang, dan aku benci dengan orang yang bawel yang terlalu banyak bicara, terlalu banyak menanya. Kalau kau mau tahu sesuatu, kau cari sendiri; mengerti.."

Sepasang mata si Golok maut Go Bun Heng menjadi terbuka lebar waktu dia mendengar "ceramah" kakek Lie yang lebih merupai suatu teguran buat dia; sekilas dia membayangkan bahwa goloknya akan memperoleh mangsa yang berupa kepalanya si kakek yang galak itu, akan tetapi, akhirnya dia memutar tubuh hendak meninggalkan si kakek tanpa pamit, hanya dia menggerutu seorang diri, dengan suara yang cukup didengar oleh si kakek .

"Malas bertanya; akan sesat di jalan.

Akan tetapi, apa mungkin dia cepat tahu?

atau, akh sayang ...

Kang lam hiap tidak melukiskan mukanya, .."

Didalam hati kakek Lie menjadi tertawa tak sudahnya, melihat kelakuan si Golok maut Go Bun Heng, seorang jago kawakan, seorang dedengkot atau ketua suatu partay ilmu silat yang kenamaan.

(Dan didalam hati juga, Cie in suthay ikut tertawa, tanpa diketahui oleh teman seperjalanannya, sehingga Lie Hui Houw tidak menanya sebab dia tidak mengetahui sebaliknya pemuda ini memanggil seorang pelayan, membayar minuman yang mereka pesan setelah itu mereka meneruskan perjalanan mereka menuju ke kota Hong yang hendak kembali kerumah si naga sakti Louw Sin Liong).

Sementara itu Twa to Go Bun Heng meneruskan langkah kakinya yang mengajak dia pulang ketempat dia menginap bersama dua teman istimewanya dua orang orang gelandangan yang bukan sembarangan gelandangan, sebab mereka adalah dua bersaudara Gwa Teng Kie dan Gwa Teng Sin, murid murid kesayangan dari si biang pengemis (pangcu) Pit Leng Hee !

Mereka sebenarnya sedang melakukan perjalanan menuju kota Tio ciu sebab Twa to Go Bun Heng mendapat berita dari seorang temannya yang mengatakan bahwa si macan terbang Lie Hui Houw sedang mendapat kesukaran dan memerlukan tenaga bantuan akan tetapi waktu mereka bertiga singgah di kedai kakek Ouw perhatian mereka menjadi terpikat dengan cerita si kakek Lie pada bagian yang menyangkut urusan Lie Hui Houw, serta si iblis penyebar maut.

Dulu, atau belasan tahun yang lalu, waktu terjadi pengganyangan terhadap markas kegiatan si iblis penyebar maut disebuah pulau dekat kota Hoa lam, Twa to Go Bun Heng yang ikut dalam aksi pengganyangan itu pernah bertemu dengan seorang orang tua yang anaknya diperkosa oleh si iblis penyebar maut dan perempuan yang diperkosa itu katanya bernama Lie Kim Nio.

Jadi jelas bahwa cerita si kakek Lie dan cerita Kanglam hiap Ong Tiong Kun merupakan satu kejadian yang sama.

Waktu itu Ong Tiong Kun sedang melakukan perjalanan menuju kota Hoa lam dengan didampingi oleh seorang pemuda yang bernama Cu Siang Ling.

Pada suatu rumah pondok dekat sebuah gunung yang sunyi terpaksa Ong Tiong Kun berdua Cu Siang Ling menumpang meneduh karena hujan turun dengan sangat lebatnya.

Hanya ada seorang penghuni didalam rumah gubuk itu seorang lelaki tua yang memiara jenggot putih, akan tetapi didalam pandangan mata Ong Tiong Kun berdua Cu Siang Ling mereka yakin bahwa lelaki tua itu memiliki kepandaian ilmu silat.

"Lao pek, apakah kau tinggal seorang diri dirumah ini ?"

Tanya pemuda Cu Siang Ling waktu itu; disaat lelaki tua itu sedang menyediakan arak hangat buat mereka berdua.

Sejenak lelaki tua itu mengawasi Cu Siang Ling.

Pandangan matanya bersinar lemah hampa meskipun sebenarnya tersembunyi suatu sinar mengandung wibawa.

Pada detik lain pandangan mata laki laki tua itu beralih kepada Ong Tiong Kun, setelah itu baru dia berkata.

"Tadinya bertiga dengan anak dan mantu laki laki " "Dan sekarang..?"

Ong Tiong Kun ikut menanya oleh karena laki laki tua itu tidak meneruskan perkataannya.

"Sekarang kalian lihat aku hanya seorang diri,.."

Sahut laki laki tua itu.

Sejenak keadaan menjadi hening dan ketiga orang orang itu tidak mengucap sesuatu perkataan sedangkan didalam hati Ong Tiong Kun berdua Cu Siang Ling menduga duga, entah apa yang telah terjadi dengan anak serta mantu dari orang tua itu.

"Kemana tujuan kalian ..."

Akhirnya laki laki tua itu yang menanya setelah dia mempersilahkan Ong Tiong Kun berdua minum.

"Kami hendak ke kota Pao kee tin"."

Sahut Cu Siang Ling yang sejak itu mendahulukan rekannya; sengaja tidak memberitahukan tujuan mereka yang sebenarnya.

"Hm !

jalan menuju ke kota Hoa lam harus melalui kota Pao kee tin.

Anak dan mantuku katanya hendak ke kota Hoa lam jadi mereka tentu akan melewati kota Pao kee tin.."

Laki laki tua itu berkata lagi, dengan nada suara yang lebih tepat merupai dia bicara pada dirinya sendiri.

"Siapakah nama lao pek dan siapakah nama anak serta mantu lao pek? Mungkin kami dapat bertemu nanti .."

Ong Tiong Kun ikut menanya karena merasa ingin tahu. Laki laki tua itu menarik napas dalam, setelah itu baru dia berkata .

"Anakku perempuan, namanya Lie Kim Nio, mantuku bernama Ong Kun Bie, punya kepandaian dibidang pengobatan orang orang sakit, akan tetapi ..."

"Akan tetapi, kenapa .. ? "

Ong Tiong Kun yang menanya lagi, karena laki laki tua itu tidak melengkapi perkataan.

"Mereka tidak melakukan perjalanan bersama sama. Artinya, mereka tidak pergi berbareng sebab anakku berangkat seorang diri hendak mengejar seorang musuh. mantuku menyusul, entah untuk membantu anakku, entah untuk membunuh anakku .."

"Akh..!"

Ong Tiong Kun bersuara tanpa terasa; sebab dia benar benar tidak mengerti dengan perkataan si kakek.

Dan laki laki tua itu mengawasi Ong Tiong Kun, dengan pandangan mata yang tetap kelihatan hampa.

bahkan kelihatan ada butir butir air mata.

Ya air mata !

Air mata seorang laki laki tua yang mulanya memiliki jiwa yang keras dan agung ..

Sekarang mata laki laki tua itu mengeluarkan air mata seperti merasa putus asa, inilah menurut keyakinan Ong Tiong Kun pada saat itu.

Kesedihan apa sebenarnya yang sedang dihadapi oleh laki laki tua ini ?

Sudah tiga tahun Lie Kim Nio menjadi isterinya Ong Kun Bie, akan tetapi sampai sedemikian lamanya belum ada tanda tanda Lie Kim Nio hamil; mengakibatkan belakangan ini sepasang suami isteri itu seringkali berselisih paham; dan yang mengakibatkan mereka jadi sering bertengkar.

Suatu hal yang mengakibatkan hati Lie Kim Nio adalah didalam perselisihan itu Ong Kun Bie mengatakan Lie Kim Nio mandul sehingga tidak bisa hamil, sehingga Lie Kim Nio jadi balik menuduh Ong Kun Bie sering kali melacur; sebab Ong Kun Bie memang seringkali bepergian dalam melakukan pekerjaannya sebagai tabib keliling.

Sekali pernah terjadi, bahwa waktu Ong Kun Bie pulang kemalaman, dia merasa seperti melihat adanya seseorang yang baru meninggalkan jendela kamar isterinya.

Seseorang itu sudah tentu merupakan seorang laki laki, dan hal itu sudah tentu mengakibatkan Ong Kun Bie menjadi curiga, dan menuduh isterinya bermain gila dengan laki laki lain.

Dalam keadaan marah Ong Kun Bie menggedor pintu rumah dan dia masuk tanpa menghiraukan ayah mertuanya yang membukakan pintu; lalu pintu kamar Lie Kim Nio ditendang terbuka oleh Ong Kun Bie dan terjadi keributan antara sepasang suami isteri itu oleh karena Ong Kun Bie menuduh isterinya menyimpan laki laki selagi dia mencari nafkah dan Lie Kim Nio membantah tidak mengakui tuduhan suaminya, bahkan Lie Kim Nio balas menuduh bahwa Ong Kun Bie sengaja mencari alasan dengan maksud hendak menceraikan dia.

".. ,. aku lihat dia keluar lewat jendela kamar...!"

Ong Kun Bie memaki dalam perselisihan itu.

"Kau lihat, jendela tetap terkunci...!" teriak Lie Kim Nio.

"Sudah tentu terkunci, sebab kau sudah tutup lagi.,..!"

Ong Kun Bie tetap menuduh sambil dia mendekati daun jendela agaknya ia bermaksud mencari bekas tapak kaki laki laki tadi.

Didalam kamar memang tidak kelihatan ada tanda tanda, akan tetapi terpikir oleh Ong Kun Bie bahwa tanda tanda itu pasti sudah dihapus oleh isterinya; sehingga dia membuka daun jendela kamar, dan dia keluar lewat jendela dengan sebelah tangan membawa lampu pelita.

Kemarahannya jadi meluap luap ketika dia benar benar menemukan bekas tapak kaki, atau tapak sepatu laki laki !

"Kau lihat ini ...

Seru Ong Kun Bie kepada isterinya, dan dia langsung meninggalkan sang isteri, bagaikan dia merasa muak melihat muka isterinya yang dia anggap sudah berzinah.

Lie Kim Nio keluar dan melihat bekas tapak kaki laki itu.

Dia menutup mukanya dengan sepasang tangannya, dan dia menangis; akan tetapi waktu dia mengetahui ayahnya datang mendekati, maka dia lari kearah suaminya tadi pergi.

Lie Kim Nio pergi tanpa tujuan.

Dia bukan menyusul suaminya; sebaliknya dia pergi karena merasa malu pada ayahnya.

Dia takut ayahnya ikut menuduh, padahal dia tidak pernah melakukan penyelewengan dengan siapa pun jua !

Menjelang waktu subuh Lie Kim Nio pulang dengan keadaan sangat mengejutkan ayahnya.

Pakaiannya kotor dan ada bagian yang terkoyak, juga mukanya kotor banyak noda noda tanah bercampur darah, seperti bekas kena pukulan.

Lie Kim Nio berlutut dan merangkul sepasang kaki ayahnya, dia menangis selagi ayahnya merasa kaget.

"Apakah kau dipukul... ,"

Tanya ayahnya yang menduga Ong Kun Bie telah memukul, Cukup lama Lie Kim Nio tidak menjawab, sebab dia terus menangis sampai kemudian dia menengadah, mengawasi ayahnya dengan mata yang basah penuh air mata.

"Ayah, aku sudah diperkosa orang.."

Jilid 8 SEJENAK HENING tidak ada yang bersuara.

Sang ayah tak percaya dengan perkataan anaknya yang baru didengarnya sebab diketahui olehnya bahwa Lie Kim Nio juga pandai ilmu silat sehingga tentunya tak mudah kena diperkosa orang.

Disamping itu dia juga pandai ilmu silat; sehingga tak mungkin dia tidak mengetahui jika didalam rumahnya telah kedatangan seseorang yang tak diundang.

"Ayah, aku diperkosa bukan di dalam rumah; akan tetapi terjadi waktu tadi aku meninggalkan rumah."

Dengan disertai oleh suara isak tangisnya maka Lie Kim Nio kemudian menceritakan bahwa dia tadi naik keatas gunung dengan hati risau, merasa malu dan penasaran karena tuduhan suaminya.

Dia duduk di.atas satu batu besar, kemudian dia menangis dan menangis memikirkan entah tapak kaki siapa sebenarnya yang terlihat bekasnya diluar jendela kamarnya.

Jelas bukan bekas kaki suaminya dan bukan juga ayahnya sebab ukurannya berlainan.

Orang itu pasti berilmu sehingga Lie Kim Nio tidak mengetahui bahwa ada seseorang yang berdiri didekat jendela kamarnya.

Disaat Lie Kim Nio sedang merenungkan hal itu, maka secara tiba tiba tubuhnya dirangkul seseorang dari bagian belakang.

Dia meronta, tetapi dia tak dapat melepaskan rangkulan itu.

Sekali lagi dia meronta dengan mengerahkan tenaganya.

Dia berhasil tetapi pakaiannya ikut terkoyak masih dipegang oleh seseorang yang merangkul dari bagian belakang itu.

Seseorang itu berdiri dihadapannya dengan perdengarkan suara tawa.

Tawa lucu karena dia melihat bagian tubuh Lie Kim Nio yang pakaiannya terkoyak, dan sementara itu ditangannya masih tetap dia memegang bagian baju Lie Kim Nio yang robek.

Tanpa menghiraukan keadaan pakaiannya, Lie Kim Nio menyerang laki laki itu memakai sepasang kepalannya.

Laki laki tidak dikenal itu berkelit menghindar, dan dia tetap tertawa setiap kali ia harus berkelit dari serangan Lie Kim Nio yang bertubi tubi.

Lie Kim Nio terus melakukan serangan, dia penasaran karena setiap serangannya dengan mudah dapat dihalau oleh laki laki asing itu sampai disuatu saat laki laki itu justru yang berhasil merangkul, mendekap muka Lie Kim Nio memakai sehelai kain sutra warna hijau.

Sempat tercium oleh Lie Kim Nio suatu bau harum yang menyerang hidungnya; dan sempat dia berpikir bahwa dia telah terperangkap, akan tetapi dia tidak tahu bahwa dia terkena obat perangsang.

Dia merasa bagaikan dia dirangkul dan dicumbu oleh suaminya sendiri, sampai kemudian dia siuman dan menemukan diri berada didalam sebuah goa tanpa ada seseorang didekatnya sementara tubuhnya letih dan masih dalam keadaan polos.

Segera Lie Kim Nio berteriak seperti kerasukan; karena dia menyadari apa sebenarnya yang telah terjadi terhadap dirinya.

Tergesa gesa dia memakai pakaiannya dan tanpa disengaja menemukan sekantong penuh berisi senjata rahasia.

Lie Kim Nio merasa yakin bahwa kantong itu adalah milik laki laki yang sudah memperkosa dia, dan kantong itu pasti tertinggal tanpa disengaja.

Tidak sukar buat Lie Kim Nio mengetahui siapa sipemilik dari kantong berisi senjata rahasia itu, sebab hampir setiap orang mengetahui senjata rahasia yang khas dari si pemilik kantong itu.

Lie Kim Nio bertekad hendak mengadu jiwa, dari itu dia berangkat setelah dia menceritakan kejadian yang sebenarnya, dan Ong Kun Bie menyusul ketika dia pulang dan ikut mengetahui peristiwa yang sebenarnya dari ayah mertuanya).

Itulah kejadian yang Go Bun Heng ketahui dari Kang-lam hiap Ong Tiong Kun.

Si kakek yang sedang bercerita dikedainya Ouw lopek mengaku bernama Lie lopek atau kakek Lie" sedangkan Lie Kim Nio juga marga yang sama.

Apakah si kakek Lie ini adalah ayahnya Lie Kim Nio?

Inilah yang dipikirkan oleh Twa to Go Bun Heng dan dia merasa menyesal bahwa dulu Ong Tiong Kun tidak melukiskan wajah muka si kakek yang menjadi ayahnya Lie Kim Nio, Meskipun twa to Go Bun Heng berjalan sambil dia berpikir akan tetapi sepasang telinganya sudah terlatih benar dan naluri hatinya cepat memberitahukan kepadanya bahwa saat itu ada seseorang yang sedang mengikuti dia, seseorang atau mungkin lebih dari satu orang, cepat si golok maut Go bun Heng menunda langkah kakinya dan memutar tubuh dan secepat itu juga kelihatan ada 4 orang laki laki yang pada saat itu bergerak terpencar dua menyisi kesebelah kiri dan kesebelah kanan; sementara yang dua orang lagi tetap menghadapi si golok maut Go Bun Heng.

"Siapa kalian dan apa maksud kalian mengikuti aku ?"

Tanya Go Bun Heng selagi dia meneliti ke empat orang itu, dan meneliti juga keadaan disekitarnya. Ke empat orang lelaki itu tertawa Ialu yang seorang terdengar berkata .

"Go Bun Heng, siasia kau mendapat gelar si golok maut, sebab maut justru sedang mengintai kau !"

Orang itu menyudahi perkataannya dengan melakukan serangan memakai senjata gada besi yang pada bagian ujungnya berduri lima.

Keadaan dijalan pegunungan itu sangat sunyi dan gelap, hanya ada sinar bintang bintang yang berkelap kelip; akan tetapi sigolok maut Go Bun Heng sempat melihat ke empat orang orang yang mengepung dia, yang semuanya berpakaian serba hitam dan sebagian muka mereka ditutup dengan secarik kain warna hitam; yakni pada bagian bawah mata sampai menutup bagian hidung dan mulut.

Dengan goloknya yang sudah belasan tahun menjelajah di kalangan rimba persilatan, twa to Go Bun Heng melakukan perlawanan terhadap ke empat orang orang yang mengepung dan ke empat orang orang itu ternyata memakai senjata yang sama bentuknya; yakni sebuah gada besi dengan ujung bercagak lima yang runcing.

Jelas bahwa keempat senjata musuh itu merupakan senjata senjata yang berat, akan tetapi golok twa to Go Bun Heng juga bukan merupakan senjata yang ringan meskipun tidak seberat senjata ke empat orang pengepungnya.

Si Golok maut Go Bun Heng bahkan bergerak dengan gesit mencari sasaran bagian yang membahayakan nyawa lawannya, tanpa menghiraukan jumlah lawan yang mengepungnya; karena dimana saja atau kemana saja golok itu mengarah, pasti akan membikin musuh menjadi repot berusaha menolong diri; menangkis dan berkelit menghindar.

Ke empat musuh yang mengepung itu merasa penasaran karena sampai sedemikian lamanya mereka belum dapat mengalahkan seorang lawan.

Mereka serentak perdengarkan pekik suara mereka lalu gerak tubuh mereka menjadi lebih mirip dengan serangan gelombang empat lautan.

Akan tetapi, tidak sia sia si golok maut Go Bun Heng menjadi salah seorang ahli waris dari Pek see siansu, atau si orang tua sakti dari Pasir putih, pencipta ilmu silat golok See gak hun kunkun, oleh karena didalam menghadapi desakan musuh yang dilakukan secara bergelombang dengan lincah golok Go bun Heng bergerak dalam serangan tipuan maupun serangan sungguhan, mengakibatkan sering kali pihak empat orang lawannya menjadi tergopoh gopoh menolong diri atau menolong kawan mereka dari ancaman golok !

Pertarungan dengan masing masing pihak mengerahkan kemampuan itu, cepat sekali menentukan pihak yang lemah dan pihak yang lebih kuat.

Dua orang dari empat pengepung itu sudah mengeluarkan darah dari mulut mereka; menandakan bagian dalam tenaga mereka sudah kena gempur, sedangkan dipihak twa-to Go Bun Heng yang banyak menggunakan tenaga karena dikepung; kelihatan nyata mukanya berubah menjadi merah, akan tetapi masih sanggup dia bertahan.

Khawatir kalau pihaknya akan lebih banyak menderita, maka keempat musuh yang berseragam serba hitam itu mengundurkan diri; hilang dikegelapan malam.

Twa to Go Bun Heng tidak melakukan pengejaran, dia merasa perlu mengatur pernapasannya, sampai kemudian dia meninggalkan bekas pertempuran itu, sedangkan didalam hati dia memikirkan masalah pengepungan tadi karena dia belum dapat meraba, entah musuh darimana yang mengarah dia.

Waktu si Golok maut Go Bun Heng tiba di tempat penginapannya maka dia menemukan suatu keadaan yang ramai dengan suara tangis dari keluarga yang punya rumah, oleh karena ternyata pihak musuh mendatangi rumah tempat Go Bun Heng menginap.

Ternyata Go Bun Heng dengan kedua temannya menginap disalah satu rumah penduduk dusun dengan memberikan uang yang cukup seperti mereka menyewa kamar dirumah penginapan.

Penduduk dusun yang ditumpangi itu hanya terdiri dari seorang laki laki muda dengan isteri dan ibunya.

Di saat si golok maut Go Bun Heng mengunjungi kedai kakek Ouw; rumah itu didatangi oleh sejumlah orang orang yang mengenakan pakaian serba hitam lengkap dengan tutup muka memakai secarik kain warna hijau.

Kedatangan mereka disambut oleh Gwa Teng Kie dan adiknya yang memberikan perlawanan.

Pihak musuh yang berseragam serba hitam itu jelas mempunyai maksud hendak membunuh twa to Go Bun Heng bertiga akan tetapi mereka menghadapi dua lawan yang bukan sembarang lawan sebab Gwa Teng Kie dan Gwa Teng Sin mengamuk, memakai jurus jurus ilmu silat yang Khas dari golongan Siao lim, mengakibatkan pihak musuh tak sanggup bertahan, dan mereka lari terbirit birit, akan tetapi sempat mereka membawa lari laki laki muda yang punya rumah.

))dw(( X ))hnd(( ESOK PAGINYA twa to Go Bun Heng mengajak kedua bersaudara Gwa Teng Kie dan Gwa Teng Sin singgah lagi di Kedai kakek Ouw; dan mereka menemukan kedua kakek tu sudah menghadapi lagi permainan mereka, bahkan kakek Lie sedang bersiap siap hendak menyambung bercerita mengenai si "macan terbang* Lie Hui Houw.

"...Nio Kok An datang dengan menyertai tawa yang ramah dan mengucap maaf karena terlambat. Dia memesan makanan dan memaksa mengajak Lie Hui Houw bertiga makan dan minum arak sambil dilayani oleh perempuan perempuan cantik itu, akan tetapi Lie Hui Houw mencegah waktu kakak dan pamannya hendak mendahulukan minum, sebab dia khawatir didalam arak dicampur sesuatu racun atau obat bius...

"...si macan terbang Lie Hui Houw yang mahir ilmu tenaga dalam mengerahkan tenaganya waktu dia minum semangkok arak yang disediakan. Setelah yakin bahwa arak dan makanan yang tidak bercampur racun, barulah Lie Hui Houw membiarkan paman dan kakaknya ikut minum dan makan..."

"Pantas..."

Terdengar kakek Ouw bersuara menggerutu, memutus cerita kakek Lie.

"Pantas apa...?"

Tanya kakek Lie yang merasa heran.

"Dia teliti..."

"Ooh...!"

Cuma itu kakek Lie bersuara, lalu diminumnya araknya selagi dia menunda bercerita diikuti oleh kakek Ouw, sedangkan A heng kelihatan sibuk juga melayani beberapa orang tamu.

Seorang penduduk dusun yang baru datang, tiba tiba terdengar berkata kepada beberapa penduduk dusun yang sudah datang lebih dahulu ;

"Semalam dirumah Thio Keng telah terjadi pertempuran . ."

"Eh ! bicara sembarangan saja ..!"

Seorang penduduk dusun yang tua usia nyelak bicara; sementara dari balik meja yang terlindung, dengan jari tangannya dia menunjuk kearah tempat duduk Go Bun Heng bertiga.

Maksudnya jelas bahwa dia melarang orang tadi bicara lebih lanjut, karena orang orang yang semalam bertempur justru berada ditempat itu juga.

Sekilas kakek Lie mengawasi kearah orang orang dusun itu, dan kakek Ouw mengawasi kakek Lie, setelah itu dia ikut melihat ke arah yang sama.

"Rupanya ada keributan tadi malam.. ."

Kakek Lie menggerutu perlahan.

"Mungkin ."

Sahut kakek Ouw, juga perlahan suaranya. "Akan tetapi, mengapa orang tidak dibolehkan bicara ..."

Kakek Lie yang berkata lagi.

"Mana kutahu ..!"

Sahut kakek Ouw singkat.

"Apakah semalam Ouw Heng tidak melihat ?"

Kakek Lie menanya teman bicaranya.

"Melihat apa ..?"

Kakek Ouw balik menanya.

"Pertempuran itu .."

"Dimana . ?"

Sekali lagi kakek Ouw yang balik menanya.

"Akh . .!"

Dan si kakek Lie jadi batal bicara .

"Kita teruskan ..!"

Akhirnya si kakek Lie yang bicara lagi, setelah sejenak tadi dia diam tidak bersuara.

"Apanya . ?"

Masih kakek Ouw menanya.

"Cerita dan permainan kita ..."

"Silahkan .."

Sahut kakek Ouw dan mereka menyambung permainan catur, sambil kakek Lie meneruskan bercerita.

"..sehabis waktu bersantap Nio Kok An mengajak Lie Hui Houw memasuki sebuah kamar pribadi di rumah makan itu. membiarkan sang kakak dan sang paman duduk menunggu. Mereka hanya berada berdua didalam kamar pribadi yang serba mewah itu, yang lebih mirip merupakan sebuah kamar khusus untuk menerima tamu-tamu yang penting; dan Nio Kok An ternyata merupakan pemilik dari rumah makan itu, sekaligus merupakan orang yang mewakilkan perusahaan Kong goan....... Nio Kok An persilahkan Lui Hui Houw duduk, sementara dia sendiri duduk pada sudut lain; berbatas sebuah meja tulis yang besar dan mewah, sehingga mereka berdua jadi saling berhadapan .

"Lie hiantee .."

Kata Nie Kok An yang mulai membuka bicara dan menyambung lagi .

"Sebelum aku menyerahkan pembayaran uang persekot yang dijanjikan oleh pihak Kong goan, ingin aku mengajukan sedikit pertanyaan kepada kau.

; "Silahkan ." sahut Lie Hui Houw singkat sambil dia ikut mengawasi selagi Nio Kok An mengawasi dia seperti meneliti.

"Apakah sesungguhnya kau hendak menyerahkan uang itu kepada mereka ,.,?"

"Maksud kau.., .?"

Tanya Lie Hui Houw yang merasa heran tidak mengerti dengan pertanyaan Nio Kok An.

"Bukankah sebaiknya buat kau saja uang itu? Mereka semua adalah orang orang yang bodoh, ,"

"Nio Kok An ! kau belum kenal siapa aku dari itu boleh saja kau mengucap begitu, akan tetapi ketahuilah, aku bukan sebangsa manusia yang dapat dibeli atau dapat disuap. Setelah sekarang kau mengetahui, aku harap kau tidak mengulang perkataan yang semacam tadi..,.."

Sahut Lie Hui Houw dengan muka merah menahan marah.

Lie Hui Houw bicara sambil dia menuding Nio Kok An dan Nio Kok An yang merasa dirinya berpengaruh, tentu saja menjadi marah; terlebih karena namanya disebut seenaknya oleh Lie Hui Houw,.., ...

dan selagi Lie Hui Houw bicara dengan suara keras tadi, maka datang empat orang kauwsu atau tukang pukul yang bertubuh tegap penuh otot.

Mereka bersiap siap menunggu perintah dari Nio Kok An.

"... akan tetapi, saat itu rupanya Nio Kok An sudah mempunyai cara lain; sehingga dia tidak memerintahkan orang orangnya buat menghajar Lie Hui Houw, dan sebagai akhir dari pembicaraan mereka maka Nio Kok An menyerahkan selembar surat berharga dengan jumlah uang tertulis yang cukup buat membayar sisa uang persekot dan surat berharga itu dapat ditukar dengan uang tunai di kantor Kong goan ...

".., si "macan terbang" Lie Hui Houw merasa girang karena dia menganggap dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik. Pembayaran sudah diterima, tinggal ditukarkan menjadi uang tunai dan membagikan kepada orang orang yang berkepentingan, setelah itu dia akan melakukan tugas berikutnya, mencari Lie Kim Nio yang menjadi kakak misannya,."

"..pada hari itu mereka tidak sempat menukarkan surat berharga itu dengan uang tunai, sebab sudah lewat waktu kerja dan kantor "Kong goan* sudah ditutup, Dari itu mereka pulang untuk kembali pada esok harinya." "...diluar tahu mereka, perjalanan Lie Hui Houw bertiga ternyata telah dibayangi oleh belasan orang orang yang tidak mereka kenal, dan belasan orang orang itu melakukan penyerangan waktu mereka sudah berada ditempat yang cukup sunyi, dengan maksud hendak merampas surat berharga yang baru diterima oleh Lie Hui Houw...

"...kembali si macan terbang Lie Hui Houw harus perlihatkan kegagahannya buat dia melakukan perlawanan, akan tetapi dia agak repot karena dia harus melindungi paman dan kakaknya yang ilmu silatnya tidak memadahi seperti dia..."

"...banyak sudah orang orang yang bergelimpangan di jalan raya kena pukulan si macan terbang Lie Hui Houw, akan tetapi pertempuran itu belum berhenti, bahkan sang paman sampai tewas dan kakaknya Lie Hui Houw terluka parah..."

"Apa? Sang paman tewas...?"

Sekaligus dua orang perdengarkan suara mereka menyatakan rasa heran dan kaget.

Kedua orang itu adalah si kakek Ouw dan si Golok maut Go Bun Heng.

Didalam hati dua orang itu justeru sedang menduga bahwa si kakek Lie Kim Nio atau pamannya Lie Hui Houw dari itu mereka menjadi sangat terkejut waktu mendengar sang paman atau ayahnya Lie Kim Nio sudah binasa dalam perkelahian.

"Hayaa!

kau kumat lagi dan orang itu juga kumat lagi...!"

Kata kakek Lie sementara dengan orang itu yang dia maksud adalah twa to Go Bun Heng yang ikut bersuara tadi padahal tidak diajak bicara dan tempat duduk mereka juga terpisah.

"Tetapi apa sebab kalian merasa heran atau terkejut...?"

Kakek Lie yang meneruskan bicara menanya kakek Ouw tetapi sengaja memakai istilah kalian, sebab ditujukan juga kepada twa to Go Bun Heng.

"Hayaaa! aku cuma kaget,,,"

Sahut kakek Ouw, jelas dia membohong.

Dan, twa to Go Bun Heng?

Sudah tentu dia tidak dapat ikut bicara sebab dia duduk cukup jauh terpisah dari tempat kedua kakek itu, dia bahkan memang tidak diajak bicara !

Pada wajah mukanya, kakek Lie memang tidak perlihatkan sesuatu perobahan, Akan tetapi didalam hati dia tertawa girang; sebab dia merasa sudah memenangkan sebagian dari permainannya.

Sebaliknya di dalam hati kakek Ouw, dia sedang berpikir bahwa si kakek Lie yang membohong; mengatakan ayahnya Lie Kim Nio sudah binasa, padahal masih hidup dan sedang duduk dihadapannya, menceritakan kisah itu.

Singkatnya, kakek Ouw berpendapat bahwa ayahnya Lie Kim Nio justeru adalah si Kakek Lie yang sedang dia ajak bicara sambil bermain catur !

Disaat si kakek Lie hendak meneruskan bercerita, mendadak masuk kedua orang penduduk dusun itu langsung menyampaikan suatu berita; bahwa diatas gunung Kauw it san mereka menemukan mayat seorang laki laki muda; yang ternyata adalah Thio Keng.

Semua yang berada dikedai kakek Ouw kelihatan menjadi terkejut, terlebih pihak twa to Go Bun Heng bertiga; sebab mereka tahu bahwa lelaki muda yang bernama Thio Kengkz atau yang ditemukan mayatnya itu adalah nama orang yang rumahnya mereka tumpangi yang semalam diculik oleh serombongan orang orang berseragam serba hitam.

"Siapakah Thio Keng itu ?"

Tanya kakek Lie kepada kakek Ouw; mungkin satu satunya orang yang merasa tidak terlalu kaget.

"Seorang penduduk dusun didekat tempat kita. Pekerjaannya sehari hari mencari kayu,"

Sahut kakek Ouw yang memberikan penjelasan kepada kakek Lie.

"Mengapa dia dibunuh ?"

Kakek Lie menanya lagi.

"Mana kutahu. Mungkin dia sedang mencari kayu dan kemalaman diatas gunung Kauw it san, dan..."

"Dan apa? Ouw heng?"

Kakek Lie kelihatan merasa heran sebab kakek Ouw tak meneruskan perkataannya, sehingga kakek Ouw lalu berkata lagi .

"Mungkin dia dibunuh oleh si hantu muka hitam."

"Hantu muka hitam ?"

Twa to Go Bun Heng yang nyelak bicara dari tempat duduknya dan dia bahkan bangun berdiri, lalu mendekati tempat kedua kakek itu langsung dia menyambung bicara yang ditujukan kepada kakek Ouw .

"Ouw lopek, kau tadi mengatakan tentang hantu muka hitam; sudikah kau memberikan penjelasan kepadaku ?"

"Hayaa ! kau ini sudah berulangkali mengganggu urusan lain orang apakah ...."

Kakek Lie yang mendahulukan bicara. akan tetapi si golok maut Go Bun Heng jadi ngomel ngomel.

"Lie lopek ! aku tak menanya pada Ouw lopek !" demikian Go Bun Hengkz memutus perkataan kakek Lie, dan kali ini kelihatan gemetar sepasang tangan kakek Lie, karena agaknya dia harus menahan rasa marah namun dia tidak berdaya karena memang dia pihak yang salah. Sementara itu kakek Ouw mengawasi muka si Golok maut Go Bun Heng, dengan sepasang mata yang kelihatan bersinar menyala, bagaikan mengandung arti menyimpan dendam dan kali ini sempat dilihat oleh kakek Lie... "Go hiante, silahkan duduk kalau kau juga ingin mendengarkan kisah yang sukar dipercaya tentang kejadian diatas gunung Kauw it san .."

Demikian akhirnya kakek Ouw berkata; sedangkan si golok maut Go Bun Heng mengucap terima kasih, lalu tanpa ragu ragu lagi dia menarik sebuah kursi dan duduk di antara kakek Lie berdua kakek Ouw.

Sementara itu si kakek Oudw mulai berkata.

"Orang orang desa yang percaya takhayul dan berhati penakut mengatakan bahwa diatas gunung Kauw it san sekarang ini dihuni oleh hantu jejadian bermuka hitam, dengan rambut panjang dan sepasang mata melotot perlihatkan sinar merah. Tentang hantu ini, aku tidak mengetahui siapa yang pernah bertemu dan melihatnya sehingga orang orang bisa melukiskan ujudnya, padahal menurut kata orang-orang jikalau ada seseorang yang bertemu dengan hantu itu, sudah pasti orang itu akan mati .."

"Dan hantu muka hitam itu akan muncul kalau orang melihat adanya lentera lentera merah yang bargantungan diatas dahan pohon pohon diatas gunung Kauw it san ."

Si kakek Lie menambahkan keterangan yang diberikan oleh kakek Ouw, tanpa diminta; membikin si Golok maut Go Bun Heng jadi perlihatkan senyumnya merasa girang karena kakek Lie tidak menyimpan dendam dengan sikapnya tadi.

"Apakah sudah terdapat korban yang tewas akibat keganasan hantu bermuka hitam itu ..?"

Tanya Go Bun Heng yang ingin mengetahui lebih lanjut.

"Mana kutahu,sebab aku tidak melihat dan tidak menghitung ..."

Sahut kakek Ouw.

"Akan tetapi, setidaknya Ouw lopek tentu bisa memperhatikannya, sesuai dengan pembicaraan orang orang yang menemukan mayat mayat itu..,,"

Go Bun Heng mendesak.

"Cukup banyak ..."

Akhirnya sahut kakek Ouw perlihatkan sikap tidak senang.

"Apakah yang binasa itu semuanya merupakan penduduk dusun sekitar tempat ini ?"

Masih twa to Go Bun Heng menanya lagi.

"Yang binasa adalah orang orang yang naik keatas gunung Kauw it san tidak perduli apakah dia merupakan orang orang setempat atau merupakan orang orang perantau;.."

Sahut kakek Ouw.

"Akan tetapi; Thio Keng yang kedapatan mati, semalam dia tidak keluar dari rumahnya ,.."

Go Bun Heng memberikan keterangannya. Sekarang ganti kakek Lie yang kelihatan merasa heran sehingga dia yang menanya.

"Bagaimana kau tahu bahwa Thio Keng tidak pergi dari rumahnya,.,?"

"Sebab aku dan dua temanku menginap di rumah Thio Keng. Dia tidak pergi sebaliknya semalam ada datang orang orang yang memakai seragam serba hitam, menculik Thio Keng dan membunuhnya, kemudian mayatnya dibuang diatas gunung Kauw it san "

Sahut Go Bun Heng dengan sepasang mata kelihatan bersinar merah. "Kalau begitu hantu itu tentu banyak pengikutnya"

Kata kakek Lie yang perlihatkan Iagak ketakutan.

"Mereka bukan hantu mereka manusia biasa. Aku yakin bahwa yang mengaku sebagai hantu muka hitam, tentunya adalah yang menjadi pemimpin dari orang-orang yang berseragam serba hitam itu."

Ouw lopek kelihatan ikut terkejut waktu dia mendengar perkataan si golok Go Bun Heng dan bibirnya bahkan kelihatan sampai gemetar tetapi sepasang sinar matanya yang mengawasi twa to Go Bun Heng, merupakan sinar mata yang bukan ketakutan, dan secara diam diam kakek Lie meneliti dan menilai didalam hati.

Sementara itu, twa to Go Bun Heng terdengar berkata lagi .

"Ouw lopek, kau berdagang membuka kedai nasi di sini ternyata kau sudah cukup lama berdiam ditempat ini.

Kalau boleh aku menanya, sudah berapa lama,."

"Cukup lama...!"

Sahut kakek Ouw singkat, agaknya tidak mau dia menjelaskan berapa lama sudah dia berdiam ditempatnya itu dan sikapnya ini diam diam sudah membikin kakek Lie jadi merasa menyesal; sebab sebelumnya dia juga ingin mengetahui sudah berapa lama sebenarnya si kakek Ouw mengusahakan kedai nasinya itu.

Dilain pihak, twa to Go Bun Heng tidak menghiraukan sikap sikakek Ouw dan dia bahkan meneruskan pertanyaannya.

"Baik, cukup lama.

Dan selama itu, apakah Ouw lopek tidak mengetahui atau tidak pernah mendengar bahwa diatas gunung kauw it san atau ditempat yang berdekatan disini terdapat sarang kawanan perampok ..?" "eh mengapa dia hubungkan urusan hantu muka hitam ini dengan urusan kawanan perampok ?" pikir kakek Lie didalam hati, sementara kakek Ouw memberikan jawaban atas pertanyaan Go Bun Heng tadi.

"Aku tidak tahu dan tidak pernah mendengar. Di sekitar kampung ini selalu aman tidak pernah mendapat gangguan dari kawanan perampok ..."

"Tidak pernah diganggu kawanan perampok belum berarti didekat sini tidak ada sarang kawanan perampok. Besar kemungkinan mereka melakukan kejahatan di tempat lain, dan disini mereka tidak mau orang mengetahui adanya sarang mereka; dari itu mereka tidak merampok, sebaliknya mereka membunuh jika ada seseorang yang kebenaran menyelidik ..! "

Kata Go Bun Heng.

"Nah, dia kaget lagi ..!

" kata kakek Lie didalam hati; sebab dia tetap memperhatikan wajah muka bahkan segala gerak kakek Ouw sedangkan kakek Ouw terus mengawasi si Golok maut Go Bun Heng yang sedang bicara sehingga kakek Ouw tidak mengetahui bahwa dia sedang diteliti oleh kakek Lie.

"Go hiantee.

Mendengar pembicaraan kau tadi, maka aku jadi menganggap bahwa kau adalah seorang yang cerdas dan pemberani.

Akan tetapi, kami penduduk dusun disini adalah orang orang yang bodoh dan penakut, dari itu aku persilahkan kau selidik sendiri perihal sarang kaum perampok seperti yang kau duga dan katakan, sedangkan aku hanya bantu dengan doa supaya kau berhasil menemukan sarang perampok itu --"

Akhirnya kata kakek Ouw dan dari nada dia bicara, dia ingin supaya si Golok maut Go Bun Heng tidak mengajak dia bicara lagi.

"Terima kasih, Ouw lopek, untuk doa dan penjelasan yang sudah kau berikan -,"

Kata si Golok maut Go Bun Heng yang agaknya dapat mengerti dengan kehendaknya kakek Ouw dan si Golok maut Go bun Heng menyudahi pembicaraannya dengan dia kembali ke tempat dia dan kedua temannya duduk.

Sementara itu, keadaan di kedai kakek Ouw sudah berobah menjadi tenang.

Sebagian para tamu yang terdiri dari para penduduk setempat sudah pada pergi, mungkin untuk mengurus mayat Thio Keng, sedangkan dua orang orang gelandangan yang menjadi temannya twa to Go Bun Heng kemudian ikut pergi membiarkan Go Bun Heng tetap duduk sendirian ditempatnya.

"Eh; bagaimana ? apakah kita teruskan permainan kita yang tertunda, dan aku teruskan ceritaku --?"" tanya kakek Lie yang melihat kakek Ouw bagaikan sedang merenungkan sesuatu masih terpengaruh dengan pembicaraan tadi.

"Sebaiknya kita tunda dan kita makan dulu perutku sudah Iapar "sahut kakek Ouw yang berusaha menyertai senyumnya. "Setuju ! aku juga lapar akan tetapi aku sampai lupa makan,"

Sahut kakek Lie yang perlihatkan lagak jenaka; lalu diminumnya sisa araknya sementara kakek Ouw memanggil A heng buat menyediakan makanan.

Dipihak si Golok maut Go Bun Heng, dia juga ikut memesan makanan, karena agaknya dia tidak mau meninggalkan kedai kakek Ouw, sebab dia ingin ikut mendengarkan cerita si kakek Lie yang menyangkut urusan Lie Hui Houw, yang menurut kata si kakek Lie sudah tidak lagi berada di kota Tio tyiu.

Demikian masing masing pihak menghadapi santapan siang dan masing masing pihak saling berpikir didalam hati membikin suasana di kedai kakek Ouw menjadi hening, akan tetapi suasana hening ini tidak berlangsung lama, sebab pada saat berikutnya di kedai kakek Ouw itu kedatangan dua tamu lain, tamu yang juga merupakan orang orang yang pandai ilmu silat, dan kedua tamu baru itu ternyata sudah saling kenal dengan twa to Go Bun Heng, terbukti mereka saling menyapa dalam suasana penuh kegembiraan, terlebih dipihak si Golok maut Go Bun Heng yang merasa membutuhkan teman teman.

Dua tamu yang baru datang itu merupakan orang orang yang sebaya dengan usia si Golok maut Go Bun Heng dan dari pembicaraan yang terjadi diantara mereka ternyata dua duanya pendatang baru itu usianya sedikit agak lebih tua, karena Go Bun Heng menyebut toa ko dan jie ko kepada mereka.

Yang tertua atau yang disebut toako ternyata bernama Tan Heng Gie; sedangkan teman seperjalanannya yang berpakaian sebagai seorang pendeta ternyata adalah Hui beng siansu yang dulunya bernama Tan Hui Beng, terhitung adik misan dari Tan Heng Gie dan Tan Hui Beng ini justeru adalah salah seorang yang paling gigih mengejar si iblis penyebar maut alias Han bie kauwtyu sejak usianya masih muda.

Oleh karena itu, pertemuan yang terjadi antara si Golok maut Go Bun Heng bertiga di kedainya kakek Ouw sudah tentu sangat menggirangkan mereka bertiga, terlebih pada saat itu Go Bun Heng merasa sedang menghadapi suatu urusan yang rumit, sehingga dengan adanya Tan Hui Beng alias Hui beng siansu yang terkenal cerdas, sudah tentu si Golok maut menjadi sangat kegirangan.

("Siapa bilang dia cerdas -.

Gerutu Cie in suthay yang sedang duduk di ruang tamu pada sebuah rumah penginapan, dengan ditemani oleh si "macan terbang" Lie Hui Houw, selagi Lie Hui Houw menyambung cerita dan mengatakan Hui beng siansu adalah orang yang terkenal cerdas.

Si "macan terbang* Lie Hui Houw tidak segera mengucap apa apa, selagi ceritanya diputus oleh biarawati muda usia itu.

Dia mengawasi bagaikan orang yang tidak mengerti, dan Cie in suthay lalu menambahkan perkataannya .

"Selama hidupku, aku baru menemui satu orang yang benar benar cerdas ..."

"Siapa dia ...?"

Tanya Lie Hui Houw ingin mengetahui.

"Si iblis penyebar maut alias Han bie-kauwtyu..."

Sepasang mata Lie Hui Houw menjadi membelalak, akan tetapi diam diam dia mengakui tentang kecerdasan si iblis penyebar maut alias Han bie kauwtyu, terbukti berulangkali si iblis berhasil menghindar dari ancaman kawanan pendekar yang mengepung dia).

Pada kesempatan bertemu itu, maka si golok maut Go Bun Heng lalu menceritakan pada Hui beng siansu berdua Tan Heng Gi tentang kejadian yang sedang dia hadapi bersama sama Gwa Teng Kie dan Gwa Teng Sin; baik mengenai urusan si hantu bermuka hitam serta mengenai si kakek Lie yang sedang menceritakan tentang si "macan terbang" Lie Hui Houw.

Selama mendengarkan kata kata yang diucapkan oleh si Golok maut Go Bun Heng, sepasang mata Hui Beng siansu berdua Tan Heng Gie berulangkali melirik ke arah tempat duduk kakek Lie berdua kakek Ouw, yang waktu itu sedang bersantap dengan lagak tak menghiraukan kehadiran tamu tamu yang sedang bicara itu.

Kedua kakek itu perlihatkan lagak tak menghiraukan atas kedatangan kedua tamu yang menjadi sahabatnya Go Bun Heng akan tetapi didalam hati mereka terlalu banyak yang sedang mereka pikirkan.

Waktu pertama kali Hui Beng siansu dan Tan Heng Gie memasuki kedainya, sekilas kelihatan kakek Ouw seperti orang yang gugup; pada wajah mukanya dia memang tidak perlihatkan perobahan apa apa, akan tetapi pada sinar matanya ...

"..sinar mata itu yang pada mulanya perlihatkan rasa terkejut...."

Pikir kakek Lie didalam hati; kemudian sinar mata itu kelihatan menyimpan dendam waktu sepasang mata kakek Ouw mengawasi Hui beng siansu.

"Ouw heng; apakah kau kenal dengan mereka yang baru datang.., ,.."

Tanya si kakek Lie perlahan tak mungkin didengar oleh pihak Hui Beng siansu. "Tidak -" sahut kakek Ouw tanpa ragu dan bersikap acuh, sementara nada suaranya terdengar wajar.

"Aku lihat mereka bukan merupakan orang orang sembarangan. Mereka tentunya pandai ilmu silat...,.."

Kakek Lie yang berkata lagi, tetap perlahan suaranya.

"Hebat matamu, Lie heng, dengan sekali lihat kau mengetahui bahwa mereka pandai ilmu silat. Apakah Lie heng juga pandai ilmu silat ? Ingin benar aku belajar .,,;,"

Dan kakek Ouw perlihat sedikit senyumnya, "Akh, Ouw heng, kau mulai bergurau,.," sahut kakek Lie yang jadi tertawa, akan tetapi kakek Ouw tidak ikut tertawa.

"senyumnya juga senyum paksa .. !"

Kata kakek Lie didalam hati.

Setelah keduanya selesai bersantap, maka kakek Lie dan kakek Ouw mulai lagi bermain catur, sambil kakek Lie menyambung lagi ceritanya, tanpa menghiraukan lagak si Golok maut Go Bun Heng yang bergegas memberikan tanda kepada kedua sahabatnya, supaya mereka ikut bersiap siap buat mendengarkan.

"... dengan susah payah Lie Hui Houw pulang ke rumahnya, membawa mayat pamannya dan membantu kakaknya berjalan.."

"nah, dia juga kaget .. ." pikir kakek Lie didalam hati selagi dia baru mulai menyambung bercerita; sebab sekilas dia sempat melirik kearah Hui beng siansu. Dilain pihak, diam diam twa to Go Bun Heng sampai memegang sebelah tangan Hui beng siansu yang berada diatas meja menghendaki supaya sahabatnya berlaku tenang dan tetap mendengarkan cerita kakek Lie.

"... sudah tentu pulangnya Lie Hui Houw disambut dengan pekik tangis dari ibunya, juga isteri kakaknya dan Lie Siu Lan; bahkan si kecil anaknya Lie Sun Houw ikut jadi menangis . --"

"Jadi kakeknya Siu Lan dimakamkan dikota Tio tyiu . ?" tanya kakek Ouw penuh perhatian.

"Didalam kota Tio tyiu dekat rumahnya Lie Hui Houw -"

Kakek Lie menegaskan dan menambahkan. Nada suaranya tegas tidak ada tanda tanda dia membohong.

"... pada malam harinya ternyata serombongan manusia biadab itu datang lagi. Datang untuk menyerang rumah Lie Hui Houw dengan jumlah puluhan orang banyaknya. Dan didalam pertempuran yang segera terjadi lagi lagi si macan terbang Lie Hui Houw menjadi repot; karena dia harus bertempur sambil menjaga ibunya, bertempur dan membantu kakaknya yang kepayahan sebab menderita luka parah akan tetapi harus berkelahi lagi, bertempur sambil si macan terbang Lie Hui Houw ini harus menolong isteri kakaknya yang sedang dihina, robek pakaiannya oleh manusia manusia biadab itu; bertempur lagi dan cepat cepat dia harus menggendong si kecil anak kakaknya; dan bertempur lagi tetapi sambil membantu Lie Siu Lan yang terjempit diantara kaki kaki empat orang musuhnya, dan ..."

"Akh repot benar kau bercerita . ."

Kakek Ouw memutus perkataan kakek Lie dan tak dapat menahan tawanya; melihat lagak kakek Lie yang bercerita sambil sepasang tangan dan kakinya ikut bergerak memberikan contoh, seperti orang dalam wayang boneka di kelenteng toasebio.

"Ya,,memang repot benar Lie Hui Houw waktu itu .."

Sahut kakek Lie yang tidak ikut tertawa dan tidak menyadari maksud perkataan kakek Ouw.

"Aku maksud yang repot ..."

Kakek Ouw menegaskan dan menyambung tertawa.

".Akh, Ouw heng, bergurau lagi..."

Ada sedikit nada gemetar pada nada suara kakek Lie.

"Aku tidak bergurau, akan tetapi singkatkan saja ceritamu pada bagian pertempuran itu, tidak perlu kau pakai contoh dengan gerak tanganmu segala. Bagaimana akhirnya pertempuran itu ....?"

"Ya, semuanya mati ... !"

Sahut kakek Lie.

"Jadi; si "macan terbang* juga mati . .?"

". .... nah ! Sekarang semuanya jadi kaget ..."

Pikir kakek Lie dalam hati; sebab memang benar; kakek Ouw kelihatan kaget; juga twa to Go Bun Heng bertiga.

"Lie Hui Houw juga tidak mati. Yang mati adalah ibunya, kakaknya dan isteri kakaknya; sedangkan si "macan terbang" Lie Hui Houw terpaksa harus lari dengan menggendong si kecil anaknya Lie Sun Houw serta menarik sebelah lengan Lie Siu Lan supaya dapat lari cepat ."

Kakek Lie berhenti sebentar buat dia minum araknya, sambil perhatiannya dia curahkan ke arah biji biji catur yang saat itu sedang dia hadapi, setelah itu dia menyambung lagi.

" ..Lie Hui Houw dapat menyelamatkan diri dari kejaran pihak musuh; dan dia dapat pula menyelamatkan Lie Siu Lan serta anaknya Lie Sun Houw, untuk kemudian mereka umpatkan diri disalah satu rumah penduduk setempat ...

" ..selama umpatkan dirinya; Lie Hui Houw berpikir keras mengenai pihak musuh disamping dia merasa yakin bahwa pihak musuh pasti akan terus mencari dia tidak akan berhenti sebelum mereka berhasil merebut kembali surat berharga yang masih dia simpan. Akhirnya Lie Hui Houw memutuskan, sebaiknya dia yang mendatangi pihak musuh, dari pada dia harus dikejar kejar musuh...

" . .mula pertama Lie Hui Houw mendatangi pelabuhan tempat penerimaan pendaftaran. Disini dia disambut oleh sejumlah musuh. Dia mengamuk bagaikan seekor harimau gila, mengakibatkan mayat rnayat bergelimpangan lagi, sampai kemudian dia berhasil menangkap orang yang mengurus pendaftaran dan orang itu mengatakan bahwa yang bertanggung jawab sebenarnya adalah Nio Kok An.., ....Lie Hui Houw tidak mengetahui rumahnya Nio Kok An, akan tetapi dia mencari di rumah makan; dan di tempat ini dia disambut oleh puluhan musuh sehingga lagi lagi Lie Hui Houw harus mengamuk dan lagi lagi mayat mayat pada bergelimpangan, akan tetapi tetap dia tidak berhasil menemukan Nio Kok An ,,."

"Tetapi, eh Ouw heng, lagi lagi kau mencoba bermain curang ,.."

Tiba tiba kakek Lie menegur teman mainnya.

"Kenapa..."

Tanya kakek Ouw tidak mengerti.

"Yang ini kau langkahi, padahal sejak kapan ada peraturan yang semacam itu...?" "Oh, maaf ; aku benar benar tidak sengaja.

Baiklah hari ini aku mengaku kalah lagi akan tetapi besok pasti aku balas ..."

Sahut kakek Ouw yang menyudahi permainan itu. "Kenapa besok. .. ?"

Tanya kakek Lie yang ingin mengajak kakek Ouw main pada malam nanti.

"Hayaaa! aku lupa memberitahukan kepadamu, rapat pemilihan ketua kampung belum selesai, malam ini disambung lagi dan aku harus ikut hadir..."

"Wah, aku bakal ditinggal sendirian lagi.."kakek Lie menggerutu; membikin kakek Ouw jadi tersenyum. Oow)dwxhnd(woO Dua pengemis muda Gwa Teng Kie dan Gwa Teng Sin berhasil mengurangi kesedihan keluarga Thio Keng, dengan memberikan sumbangan uang perak dan mengurus jenasah Tio Keng, sekalian untuk menjamin hari kemudian keluarga itu. Kemudian Gwa Teng Kie berdua Gwa Teng Sin berhasil pula menemukan sebuah kuil; buat dipakai menginap bersama twa to Go Bun Heng, Tan Heng Gie dan Hui Beng siansu. Pengurus kuil memperkenalkan diri dengan nama Cie Seng hweesio, dia tidak keberatan menerima tamu tamu itu, terlebih karena Hui Beng siansu juga merupakan seorang pendeta serta twa to Go Bun Heng memberikan dana yang cukup besar. Dua kamar yang letaknya dibagian belakang dari bangunan kuil itu, disiapkan buat para tamu menginap, dan pada kesempatan bertemu itu Hui beng siansu mengatakan kepada twa to Go Bun Heng, bahwa perjalanan yang dia lakukan bersama sama Tan Heng Gie, sebenarnya adalah mereka hendak menuju ke kota Tio tyiu sebab Tan Heng Gie menerima berita mengenai Lie Hui Houw memerlukan tenaga bantuan dan berita itu katanya diperoleh dari seorang anggota Kay pang yang memerlukan mencari Tan Heng Gie. Dipihak twa to Go Bun Heng, dia juga mengatakan sedang dalam perjalanan menuju ke kota Tio tyiu bersama Gwa Teng Kie serta Gwa Teng Sin, akan tetapi di kedai kakek Ouw mereka mendengar kisah yang sedang diceritakan oleh kakek Lie, cerita mengenai si "macan terbang" Lie Hui Houw, sampai kemudian ia ikut terlibat dalam pembicaraan dan menghadapi sikap aneh dari sikakek Lie padahal si kakek Lie mengatakan bahwa simacan terbang Lie Hui Houw sudah tidak ada lagi di kota Tio tyiu.

"Jadi, dimana gerangan dia sekarang,"

Tanya Tan Heng Gie yang jadi ragu.

"Justru sikakek Lie itu aneh orangnya. Dia sukar diajak bicara dan aku bahkan mencurigai dia..."

Sahut twa to Go Bun Heng yang selanjutnya menceritakan tentang dia yang seolah olah sudah dipermainkan oleh sikakek Lie.

"Dia mengetahui banyak tentang kisah si macan terbang Lie Hui Houw di kota Tio tyiu, dia tentu adalah pamannya Lie Hui Houw,,."

Kata Hui beng siansu yang menyatakan dugaannya.

"Aku juga menduga begitu meskipun dia mengatakan pamannya Lie Hui Houw sudah binasa. Sayangnya dulu Ong hiantee tidak melukiskan wajah muka ayahnya Lie Kim Nio sehingga sekarang kita menghadapi keragu-raguan.,"

Hui beng siansu diam berpikir; lalu tiba tiba mukanya bersinar cerah menandakan kegembiraannya .

"Ada lagi seseorang lain yang pernah bertemu dengan ayahnya Lie Kim Nio ..."

Demikian kata Hui beng siansu.

"Siapa....?"

Tanya Go Bun Heng yang merasa heran.

"Thie tyiang Tio Kun Liong, si tangan besi. Dulu waktu dia menyusul Kanglam ke kota Hoa lam, dia juga numpang menginap dirumah ayahnya Lie Kim Nio yang bahkan telah menceritakan tentang kisah anaknya ..."

"Akan tetapi.., ,"

Hui beng siansu tidak menghiraukan waktu Go Bun Heng memutus perkataannya, dan pendeta ini mencegah lalu meneruskan bicara.

"... Tio hiantee juga akan lewat disini, sebenarnya kami bermaksud berangkat bersama sama, akan tetapi dia terintang dengan urusan keluarga, dari itu kami berangkat terpisah."

"Mudah mudahan kita dapat bertemu dengan dia ditempat ini.."" akhirnya kata Go Bun Heng; dan mereka tidak mengetahui bahwa Tio Kun Liong justeru pernah melihat kehadirannya si kakek Lie ! Sementara itu pembicaraan mereka terhenti sebentar, sebab masuknya dua hweeshio muda yang menyediakan santapan malam bagi mereka dan ditengah waktu makan itu pembicaraan mereka beralih kepada persoalan hantu muka hitam yang katanya bermukim diatas gunung Kauw it san, serta tentang orang orang berseragam serba hitam yang pernah ditempur Go Bun Heng dan dua bersaudara Gwa Teng Kie serta Gwa Teng Sin.

"Kelihatannya Cie seng hweesio keberatan membicarakan tentang hantu bermuka hitam itu, sehingga tidak mungkin kita bisa mencari keterangan melalui dia ...."

Kata Go Bun Heng dengan perasaan menyesal.

"Dia tentu takut dengan hantu itu .

"Tan Heng Gie ikut bicara.

"Aku kira bukan hantu yanng menyebabkan dia takut. Aku yakin dibalik cerita hantu bermuka hitam ini, ada sesuatu persekutuan yang ganas dan kejam yang mengancam rakyat setempat dan orang orang yang coba mencari tahu tentang mereka; terbukti mereka telah melakukan penyerangan terhadap Go hiantee bertiga ..."

Kata Hui beng siansu.

"Benar mereka telah melakukan penyerangan, akan tetapi.."

"Akan tetapi kenapa . .? "

Tanya Hui beng siansu karena Go Bun Heng tidak menyelesaikan perkataannya, sebaliknya si Golok maut itu kelihatan berpikir.

"Aku merasa sudah diserang sebelum aku mencari keterangan tentang mereka, jadi ."

"Jadi . ."

"Agaknya musuh sudah kenal dengan aku. Musuh sudah mengetahui kehadiranku sebelum aku mengetahui tentang adanya hantu muka hitam diatas gunung Kauw it san..."

Sahut Go Bun Heng seperti baru menyadari sesuatu.

"Dan musuh memakai tutup muka sehingga sukar untuk dikenal..."

Hui beng siansu menggerutu; sedangkan didalam hati dia jadi teringat dengan kebiasaan orang orang Han bie kauw yang selalu memakai tutup muka dan berseragam serba hitam.

"Mereka memakai tutup muka dan mereka memakai seragam yang sama, demikian juga dengan orang orang yang datang menyerang Gwa hiantee kakak beradik. Tadi yang aku ingat, dibagian dada sebelah kiri dari seragam mereka; terdapat gambar kala hitam dalam lingkaran putih..."

Go Bun Heng menambahkan keterangannya.

"Kala hitam dengan lingkaran putih ... ?"

Ulang Hui beng siansu sambil dia berpikir keras.

"Benar, dan aku menduga bahwa pakaian seragam mereka menandakan persekutuan mereka. Hanya aku belum tahu; apakah persekutuan ini merupakan persekutuan kawanan perampok atau persekutuan lain --"

"Bagaimana hiantee pikir, kalau besok pagi kita menyelidiki keatas gunung Kauw-it san dan tempat disekitarnya, mungkin kita dapat menemukan sarang mereka ..."

"Aku pikir sebaiknya tidak ikut pergi, kalian saja yang pergi bersama sama Gwa hiantee kakak beradik dan aku masih merasa perlu mendengarkan kisah yang diceritakan oleh Lie lopek, mengenai urusan Lie Hui Houw dan si iblis penyebar maut .."

Kata twa to Go Bun Heng yang kemudian mendapat persetujuan dari pihak Hui beng siansu.

Ada kesalahan pihak Hui beng siansu dalam melakukan pembicaraan itu sebab mereka tidak menghiraukan kehadirannya dua hweeshio muda yang melayani mereka bersantap, sehingga segala percakapan itu didengar jelas oleh kedua hweeshio muda itu tanpa pihak Hui beng siansu merasa curiga.

Waktu sudah selesai mengemas bekas makanan para tamu itu maka salah seorang dari kedua hweeshio muda itu bergegas meninggalkan kuil; berjalan tergesa gesa kearah sebelah barat, akan tetapi waktu sebelum dia jalan jauh dia berpapasan dengan seorang penduduk dusun setempat yang dia sudah kenal.

"Eh, samko; aku ada berita aku harap kau segera memberitahukan kawan kawan . ."

Demikian kata hweeshio muda itu, dan dia mengulang semua pembicaraan yang dilakukan oleh pihak Hui beng siansu.

Dilain pihak, kakek Lie yang ditinggalkan oleh kakek Ouw, merasa bahwa dia selalu dimata-matai oleh A heng, sehingga didalam hati si kakek Lie jadi mendongkol oleh karena sikap A heng seolah olah sedang menghadapi seorang pencuri; atau menduga bahwa kakek Lie hendak melakukan pencurian.

"A-heng aku mau kebelakang, kekakus, apakah kau juga mau ikut?"

Tanya kakek Lie bagaikan dia merasa habis sabar.

A heng menyadari bahwa sikapnya berlebih-lebihan dari itu dia tersenyum; senyum paksa dan dia membiarkan kakek Lie kebelakang seorang diri.

Didalam hati kakek Lie menjadi tertawa melihat sikap dan lagak A heng.

Waktu sudah berada seorang diri didalam kakus, maka dari balik bajunya kakek Lie mengeluarkan sesuatu benda yang berupa semacam tabung dari bambu sambil dia menyiapkan juga bahan membikin api.

Sepasang matanya liar mencari A heng waktu kakek Lie sudah keluar dari kakus dan setelah mengetahui bahwa A heng berada dibagian depan dari kedai kakek Ouw, maka kakek Lie membakar bagian ujung tabung bambu yang dia pegang dengan tangan kirinya, setelah itu dia lontarkan tinggi ke angkasa untuk kemudian terdengar suara letupan yang cukup keras, lalu memecah sinar terang yang meluncur semakin tinggi ke angkasa, sehingga sinar itu menerangi puncak gunung Kauw it san, dengan warna hijau dan kuning yang sangat indah dipandang mata !

"Eh, eh !

A heng lekas kau lihat, ada bintang bintang berjatuhan..."

Kakek Lie berteriak sambil matanya mengawasi ke arah atas angkasa, kearah letak gunung Kauw it san.

A heng lari mendekati kakek Lie dan ikut melihat sinar terang itu.

Dia bingung tidak mengerti, dan dia lebih tidak mengerti waktu dilihatnya jauh di sebelah utara terlihat ada lagi sinar yang sama yang meluncur ke angkasa.

Jauh sangat terpisah dari letak gunung Kauw it san !

Kisah mengenai kakek Lie ini terjadi sebelum Tay lwee sip sam tyiu atau tiga belas malaikat maut merajalela, berarti pada sebelum regu dinas rahasia itu dibentuk.

Sinar cahaya kembang api yang memecah di angkasa itu sudah tentu merupakan barang baru buat penduduk dusun sekitar gunung Kauw it san, membikin mereka ramai ramai keluar rumah untuk menyaksikan; tidak terkecuali dengan pihak Hui Beng siansu dan semua kawan kawannya.

Kembang api yang dapat meluncur tinggi ke angkasa kadang kadang ada yang berujud semacam naga, atau kadang kadang ada yang berpeta seperti hurup hurup.

Dan yang memecah angkasa disekitar gunung Kauw it san itu, berpeta seperti hurup "thio* dari Thio Su Seng !

Gwa Teng Kie berdua Gwa Teng Sin yang ikut menyaksikan, menjadi sangat terkejut sekali; sehingga Bun Heng dan yang lain memasuki kamar mereka dan Gwa Teng Sin yang berkata .

"Go toako, ada orang kita didekat sini .."

"Siapa maksud kau . ?"

Tanya twa to Go Bun Heng yang kelihatannya sedang berpikir.

"Kembang api itu adalah suatu tanda bagi pasukan kita untuk berkumpul, atau sebagai tanda tenaga kita sangat diperlukan. Orang yang berhak memasang kembang api itu sudah tentu bukan merupakan sembarang orang, dia harus mempunyai kedudukan tinggi dalam pasukan Thio susiok ( dengan Thio susiok yang dimaksud Thio Su Seng). Sekarang kita lihat sinar kembang api itu memancar disekitarnya gunung Kauw it san sudah jelas bahwa tenaga kita diperlukan ditempat ini. Entah siapa yang memasang kembang api itu, akan tetapi yang jelas kita lihat adanya sinar sambutan dari arah kota Boe-ouw. Pasti dalam waktu yang dekat akan berkumpul tenaga tenaga dari kota Boe ouw ..." "Kalau begitu, sebaiknya besok kita batalkan niat kita yang hendak menyelidik keatas gunung Kauw it san, dan kita harus bersiap sedia; siapa tahu orang kita itu berada didalam keadaan bahaya sehingga kita harus memberikan bantuan ... ."

Kata Hui beng siansu didekat Go Bun Heng.

"Apa mungkin dia ..?"

Si Golok maut Go Bun Heng terdengar bersuara menggerutu.

"Dia siapa, maksud hiantee ..?"

Tanya Tan Heng Gie.

"Lie lopek. Akan tetapi di dalam markas Thio heng belum pernah aku melihat orang yang seperti dia."

"Kita lihat saja, dan kita berikan perhatian istimewa kepada dia .."

Hui beng siansu menyarankan ; Esok paginya, hanya Go Bun Heng yang datang di kedai kakek Ouw ditemani oleh dua orang orang gelandangan yang menjadi teman seperguruannya, sedang Hui Beng siansu berdua Tan Heng Gie sengaja berada sekitar gunung Kauw it san, buat mencari orang kita yang melepas kembang api.

Waktu Go Bun Heng bertiga tiba di kedai kakek Ouw ternyata kakek Ouw sudah membukanya, dan kedua kakek itu bahkan sudah pula menghadapi papan catur mereka, tetapi kakek Lie belum mulai menyambung cerita tentang kelanjutan kisah si "macan terbang" Lie Hui Houw sebaliknya kedua kakek itu sedang membicarakan perihal adanya sinar kembang api semalam.

"Apakah Lie heng tidak mengetahui dari mana kira kira kembang api dilepaskan ?" terdengar antara lain tanya kakek Ouw, akan tetapi sepasang matanya melirik kearah twa to Go Bun Heng yang baru saja memasuki kedai bersama kedua orang-orang gelandangan yang menjadi teman temannya;

"Mana aku tahu. Aku justeru sedang berada didalam kakus waktu aku melihat ada sinar terang; dan aku berburu keluar dan melihat sinar itu berada diatas angkasa dekat letak gunung Kauw it san ,."

Sahut kakek Lie suaranya wajar mengandung kebenaran.

"Heran apa mungkin mereka yang melepaskan..."

Kakek Ouw berkata seperti menggerutu dan melirik ke arah si Golok maut Go Bun Heng bertiga tidak secara diam diam.

Didalam hati kakek Lie yakin bahwa kakek Ouw menuduh pihak Go Bun Heng yang melakukan peluncuran kembang api itu dan dipihak si Golok maut bertiga, mereka juga tahu bahwa mereka dituduh atau dicurigai, akan tetapi mereka tidak menghiraukan.

"Untuk maksud apakah kiranya mereka melepaskan kembang api itu,..?"

Tanya kakek Lie, nada suaranya seperti ingin mengetahui.

"Mana aku tahu ..."

Sahut kakek Ouw; akan tetapi cepat cepat ia menambahkan perkataannya .

"...berdasarkan pembicaraan para tamu yang pernah singgah dikedaiku, ada yang pernah membicarakan tentang maksud memasang kembang api, kembang api yang meluncur ke angkasa tinggi, umumnya digunakan oleh istana kerajaan dalam memperingati hari ulang tahun atau hari hari penting lainnya, akan tetapi ada juga beberapa perkumpulan berpengaruh yang memiliki dan memakai kembang api itu untuk diwaktu perlu buat memberikan tanda bagi kawan kawan mereka yang jauh terpisah..."

"Tanda apa misalnya ?" kakek Lie memutus perkataan teman bicaranya.

"Mana kutahu akan tetapi orang boleh saja memakai untuk tanda meminta bantuan tenaga; atau sebagai aba aba lain yang terlebih dulu sudah mereka tentukan.."

Kakek Lie tidak lagi mengajukan pertanyaan, dia lalu minum araknya diikuti oleh kakek Ouw; akan tetapi sebelum dia minum sekilas kakek Ouw memerlukan melirik lagi kearah twa to Go Bun Heng bertiga.

"untung, dia lebih mencurigai si Golok maut daripada dia mencurigai aku., " pikir kakek Lie didalam hati; sementara dia meneruskan langkah yang baik dari biji caturnya.

"Nah, bagaimana kalau sekarang kau lanjutkan lagi ceritamu ?"

Kata kakek Ouw, agaknya dia berminat benar mendengarkan kisah Lie Hui Houw sampai dibagian akhir.

"Kau belum bosan?"

Sengaja tanya kakek Lie.

"Kenapa bosan? tetapi sebaiknya kau singkat saja pada bagian bagian yang tidak penting; misalnya mengenai jalannya pertempuran; tidak perlu kau uraikan secara panjang lebar, sebab aku benci dengan perkelahian,"

Sahut kakek Ouw.

"Ha ha ha ! aku kira Ouw heng senang dengan perkelahian, seperti umumnya orang yang gemar membaca cerita silat "

Kata kakek Lie dengan menyertai tawanya hambar, akan tetapi dia tidak lupa untuk lebih dahulu minum araknya setelah itu baru dia menyambung bercerita.

"". di rumah makan Lok thian, banyak musuh yang dibikin bergelimpangan oleh si macan terbang Lie Hui Houw; akan tetapi dia tetap tidak berhasil menemui Nio Kok An; dari itu dengan hati kesal dia pulang ketempat dia numpang menginap, akan tetapi dia menjadi terkejut waktu menemukan sisa sisa puing dari seluruh rumah yang dia tumpangi bahkan dia tidak berhasil menemui Lie Siu Lan dan si bocah anak kakaknya; .... meluap kemarahan Lie Hui Houw karena keganasan pihak musuh terhadap orang-orang yang tidak bersalah dan tidak berdaya. Malam itu juga dia kembali mencari Nio Kok An; lupa makan dan lupa istirahat; sedangkan dipihak musuh yang memang menghianati, berusaha memegat dan mengepungnya sehingga berulangkali terjadi pertempuran dan si macan terbang Lie Hui Houw mengamuk seperti seekor macan dan berhasil menerobos kepungan musuh, akan tetapi lambat laun tenaganya menjadi berkurang dan berkurang sampai akhirnya dia kena ditangkap oleh pihak musuh... ...kelihatan muka twa to Go Bun Heng berubah cemas, waktu dia mendengar si macan terbang Lie Hui Houw kena ditangkap, juga Gwa Teng Kie dan Gwa Teng Sin, namun si kakek Lie meneruskan ceritanya...

"... si macan terbang Lie Hui Houw dibawa kesebuah rumah yang besar dan mentereng, dan didalam keadaan sepasang tangan terikat; dia diajak menghadap pada Nio Kok An; dan Nio Kok An ini sempat menyiksa si macan terbang habis habisan...

"...sebelah kanan paha Lie Hui Houw terluka kena tikaman senjata tajam waktu bertempur. Luka itu terus mengeluarkan darah mengakibatkan Lie Hui Houw banyak kehilangan tenaga; lalu dia disiksa sehingga pakaiannya hancur tak sedap dipandang dan seluruh tubuhnya terasa nyeri kena cambuk kulit Nio Kok An, sehingga mengakibatkan kulit punggungnya yang beset. Kalau orang melihat keadaan Lie Hui Houw waktu itu, maka orang menduga dia bakal mati tanpa perlu dibunuh lagi. Dan mungkin karena melihat keadaan Lie Hui Houw itu, maka Nio Kok An membual, mengatakan untuk siapa sebenarnya dia bekerja, dan kemana sebenarnya orang yang bekerja itu dibawa ?* "Apa kata Nio Kok An itu ?"

Kakek Ouw menanya tidak sabar menunggu kakek Lie berkata; dengan sikapnya itu, dia memperlihatkan hasratnya yang ingin mengetahui.

"Hayaaa ! kau sekarang ikut ikut jadi lucu jadi orang dungu. Ceritaku kan belum selesai, bagaimana mungkin kau mau persingkat begitu saja ?"

Sahut kakek Lie dan sebelum ia mengawasi muka kakek Ouw, sementara didalam hati kakek Lie bersenyum mengejek.

"Akh, pantas kalau orang mengatakan kau aneh, sebab kau memang benar benar aneh"

Kakek Ouw menggerutu, akan tetapi dia tidak berdaya memaksa kakek Lie dan dia minum araknya, berusaha tenangkan hati.

Kakek Lie ikut minum araknya, sepasang matanya memerlukan melirik kearah twa to Go Bun Heng bertiga disaat twa to Go bun Heng bertiga mengawasi dia; sehingga sejenak pandang mata mereka saling bertemu, dan sekali ini si kakek Lie perlihatkan senyumnya, suatu senyum yang banyak mengandung arti, namun sayangnya arti itu tak dapat diketahui oleh pihak Go Bun Heng bertiga "Arti apa, maksud kau ..?"

Tanya Cie in suthay yang tidak mengerti dengan perkataan Lie Hui Houw; selagi mereka sudah meneruskan perjalanan menuju Hong yang.

Jilid 9 SENYUM si kakek Lie sebenarnya mengandung arti supaya pihak Go Bun Heng bertiga jangan terlalu terpengaruh dengan cerita yang sedang mereka dengarkan; sebaliknya mereka harus berlaku waspada, siap menghadapi segala kemungkinan...."

Sahut Lie Hui Houw.

"... setelah mengucapkan kata kata yang membual, maka lagi lagi Nio Kok An menyiksa Lie Hui Houw memakai cambuknya, dan setelah Lie Hui Houw lupa diri, maka Nio Kok An memerintahkan orangnya membawa Lie Hui Houw kedalam kamar tahanan...

".... jadi, dalam keadaan pingsan Lie Hui Houw dibawa ke dalam kamar tahanan dan dia tidak mengetahui bahwa didalam kamar tahanan itu justeru sudah ada Lie Siu Lan berdua si bocah anak kakaknya, sebab mereka sudah lebih dahulu menjadi orang tawanan pihak Nio Kok An.

"Kamar tahanan yang diisi oleh Lie Hui Houw bertiga, merupakan ruangan berbentuk bujur sangkar. Tidak lebar akan tetapi cukup panjang, sementara dibagian atasnya tidak memakai genteng sebagai penutup, jadi bagian atasnya terbuka, akan tetapi dinding tembok sangat tinggi buat orang dapat naik atau lompat.

"... akan tetapi, selama hayat masih dibadan; Lie Hui Houw pantang menyerah kepada maut. Dengan menahan rasa sakit, dia merobek pakaiannya yang memang sudah hancur dan dengan susah payah dia sambung sampai menjadi tali cukup panjang. Setelah itu dengan merangkul si bocah, maka dengan menggunakan sepasang kakinya dia berusaha naik keatas menggunakan ilmu pek hou yu-chong atau cecak merayap ditembok yakni telapak kaki kirinya menginjak dinding tembok yang sebelah kiri dan telapak kaki kanannya menginjak dinding tembok sebelah kanan. Lalu dengan mengerahkan sisa tenaganya, dia mulai lompat berangsur angsur naik ke atas, sedangkan sepasang tangannya dia gunakan buat merangkul si bocah yang dia ajak naik membiarkan Lie Siu Lan menunggu dan mengawasi dengan hati cemas....

"..memang tidak mudah buat Lie Hui Houw berusaha membebaskan diri. Ada beberapa kali dia tergelincir, akibat sebelah pahanya yang terluka, dan luka itu terbuka ikatannya mengakibatkan darahnya keluar lagi. Tetapi, Lie Hui Houw tetap berusaha; bahkan punggung dan pundaknya ikut bekerja buat menahan tubuhnya yang meluncur turun hampir terbanting kebagian bawah, setelah itu dia berusaha lagi untuk naik dan terus naik sehingga waktu dia tiba dibagian atas maka punggung dan pundaknya ikut mengeluarkan darah.."

Sejenak kakek Lie menunda ceritanya, oleh karena dia merasa perlu untuk minum araknya; habis turut merasa sangat tegang waktu menceritakan kisah Lie Hui Houw yang berusaha membebaskan diri dari kamar tahanan dan kakek Ouw ikut minum.

Akan tetapi; waktu kakek Lie hendak menyambung bercerita, maka mendadak mereka mendengar derap suara kaki kuda yang mendatangi; dan dilain saat mereka melihat ada lima orang penunggang kuda yang turun diluar kedainya kakek Ouw.

Dalam pandangan mata orang biasa, barangkali orang akan menganggap aneh jka seorarg pengemis naik kuda, dan yang baru datang itu justeru adalah lima orang pengemis yang datang dengan menaiki kuda!

Jelas bahwa mereka bukan sembarangan orang orang gelandangan sebab mereka adalah pengemis pengemis yang istimewa dan lebih istimewa lagi ke lima pengemis itu memiliki wajah muka yang mirip satu dengan lain, sukar dibedakan jika tidak diperhatikan secara teliti.

Di lain pihak, waktu melihat datangnya ke lima orang orang gelandangan itu maka dengan suara perlahan Gwa Teng Kie mengajak twa to Go Bun Heng bicara, dan si Golok maut Go Bun Heng cepat cepat mengatakan sesuatu kepada Gwa Teng Kie, juga dengan suara perlahan; membikin kakek Lie dan kakek Ouw tidak mendengar apa yang mereka bicarakan, akan tetapi setelah itu kelihatan Gwa Teng Kie buru buru keluar, langsung bicara dengan ke lima orang orang gelandangan yang baru datang itu.

Kejadian berikutnya adalah orang melihat Gwa Teng Kie mengajak ke lima orang orang gelandangan itu pergi, batal singgah atau memasuki kedainya kakek Ouw.

Agaknya kakek Ouw merasa heran dengan perbuatannya Gwa Teng Kie, akan tetapi dia tidak mengucapkan apa apa; sebaliknya dia bagaikan sedang memikirkan tentang ke lima orang orang gelandangan tadi, yang wajah muka mereka mirip satu dengan yang lain.

"Eh. Ouw heng, mari kita makan dulu..!" ajak kakek Lie waktu kakek Ouw bersiap siap hendak meneruskan permainan mereka; sementara didalam hati kakek Ouw masih memikirkan tentang ke lima orang orang gelandangan yang batal masuk tadi.

"Aku heran, mengapa mereka tidak dibolehkan masuk..?"

Terdengar kakek Ouw menggerutu setelah dia perintahkan A heng menyediakan makanan.

"Siapa yang tidak membolehkan mereka masuk..?"

Tanya kakek Lie seperti orang yang tidak mengerti.

"Si pengemis muda tadi. Kau lihat dia cepat cepat keluar waktu mereka datang..."

"Akh! Ouw heng, kau terlalu banyak curiga. Mungkin kedatangan ke 5 orang orang gelandangan itu sengaja hendak bertemu dengan si pengemis muda; jadi sipengemis muda itu yang keluar dan mengajak ke 5 orang orang gelandangan itu pergi..."

"Kau benar juga, mungkin si pengemis muda itu yang memasang kembang api semalam, memanggil ke 5 pengemis itu datang. Akan tetapi, kemana dia ajak mereka pergi.."

"Hayaa! mana kutahu? lagi pula buat apa kita mengetahui, kan kita tidak ada urusan aoa apa dengan mereka. Dan, kalau di tempatmu ini banyak orang orang gelandangan, aku yakin langganan kau pada kabur semua..!"

Sahut kakek Lie yang lalu jadi tertawa akan tetapi si pengemis Gwa Teng Sn yang jadi kelihatan cemberut, sebab dia cukup mendengarkan pembicaraan kedua kakek itu.

Dipihak twa to Go Bun Heng, dia ikut memesan makanan waktu melihat kedua kakek itu bersiap siap hendak makan siang, dia ikut makan waktu kedua kakek itu sedang makan akan tetapi dia hanya makan berdua dengan Gwa Teng Sin sebab Gwa Teng Kie pergi dan belum kembali.

Memang waktu ke 5 orang orang gelandangan tadi datang Gwa Teng Kie memberitahukan twa to Go Bun Heng bahwa ke 5 orang pengemis itu adalah Kim an ngo kay atau 5 pengemis bersaudara dari kota Kim an yang sudah kenamaan dikalangan rimba persilatan.

Menurut dugaan Gwa Teng Kie, kedatangan Kim an ngo kay adalah karena melihat adanya tanda tanda kembang api; dan kalau Kim an ngo kay masuk kedalam kedai kakek Ouw serta menanyakan tentang tanda kembang api itu maka kemungkinan akan mendatangkan kecurigaan pihak si kakek Lie maupun kakek Ouw.

Dari itu Go Bun Heng segera memerintahkan Gwa Teng Kie mengajak Kim an ngo kay langsung ke kuil tempat mereka menginap untuk ditanyakan tentang maksud kedatangan mereka ketempat itu.

Sementara itu, selagi orang orang masih bersantap maka Gwa Teng Kie datang dan melaporkan kedatangan Kim an ngo kay memang disebabkan mereka melihat adanya tanda kembang api disaat mereka sebenarnya sedang menuju kekota Boe ouw; akan tetapi mereka tidak mengetahui entah siapa yang sudah meluncurkan kembang api itu.

"Sayang ,.."

Si golok maut Go Bun Heng menggerutu dengan suara perlahan sementara kakek Lie dan kakek Ouw yang berusaha hendak ikut mendengar pembicaraan mereka, kclihatan menjadi kecewa.

Adalah disaat kedua kakek itu sedang merasa kecewa dan penasaran; maka di kedai kakek Ouw kembali datang serombongan penunggang kuda, dan kali ini yang datang sebanyak enam orang sekaligus; semua merupakan laki laki yang memakai pakaian semacam orang orang yang pandai ilmu silat, atau dengan kata lain mereka itu adalah orang-orang yang biasa berpetualang dikangzusi.com kalangan rimba persilatan.

Usia ke enam orang laki laki yang baru datang itu tidak merata; ada yang sudah tua dan ada yang masih muda, ada yang bermuka tampan, ada yang bermuka galak.

Suatu hal yang membikin kakek Ouw jadi tambah penasaran, kedatangan mereka lagi lagi telah dijegal oleh sipengemis muda Gwa Teng Sin, yakni sebelum ke enam orang orang itu memasuki kedainya kakek Ouw; dan kelanjutannya adalah Gwa Teng Sin mengajak mereka pergi sehingga batal mereka memasuki kedainya kakek Ouw.

"Kurang ajar..!"

Tiba tiba seru kakek Lie membikin kakek Ouw jadi terkejut bahkan Go Bun Heng berdua Gwa Teng Kie jadi ikut terkejut; sementara kakek Lie meneruskan berkata .

"....mengapa lalat ini masuk ke tempat minumku..?"

Dan kakek Lie mengangkat mangkok araknya, sambil dia bangun dari tempat duduknya; lalu dia melangkah keluar sampai didekat pintu, dimana dia membuang isi mangkoknya.

Dalam pada itu, tak ada seseorang yang melihat gerak tangan kiri kakek Lie, dan tak ada seseorang yang melihat bahwa dari balik lengan baju si kakek telah meluncur sehelai kertas yang jatuh ditanah; lalu secara tiba tiba kertas itu terkena tiupan angin, cukup keras sehingga kertas itu melayang dan menyusul Gwa Teng Sin yang sedang mengantar ke enam orang laki laki pendatang baru tadi.

Adalah disaat kakek Lie dan kakek Ouw sudah siap menghadapi papan catur mereka, dan kakek Lie sedang bergegas hendak menyambung ceritanya; maka datanglah Gwa Teng Sin tergesa gesa, dan si pengemis muda itu menyerahkan sehelai kertas kepada twa to Go Bun Heng, yang lalu dibaca oleh si Golok maut, sebab kertas itu ternyata berupa surat yang memang ditujukan buat twa to Go Bun Heng.

Isi surat itu adalah .

"Go toako"

Kau pernah sekali melakukan kesalahan dalam menunaikan tugasmu buat Thio susiok dan kesalahan tersebut hendaknya jangan sampai terulang lagi.

Tempatkan orang orang yang baru datang disatu tempat.

Esok waktu tengah hari aku memerlukan dua puluh orang yang sudah siap dikaki gunung Kauw it san, dan empat orang didalam kedai kakek Ouw.

Sekian..

Sementara itu; terdengar si kakek Lie berkata dengan suara perlahan kepada kakek Ouw .

"Aku jadi curiga tamu kita yang mengaku bernama Go Bun Heng menerima surat; dan matanya sering melirik kita. Entah apa maksud..." "Aku juga sedang memikirkan....."

Sahut kakek Ouw yang memutus perkataan kakek Lie juga dengan suara yang perlahan dan dia memang sedang memperhatikan setiap gerak si Golok maut Go Bun Heng.

"Bagaimana menurut pikiranmu, apakah teruskan ceritaku..."

Kakek Lie berkata lagi.

"Aku kira sebaiknya begitu, untuk memecah perhatian mereka..."

Sahut kakek Ouw.

Kakek Lie menurut, akan tetapi lebih dahulu dia minum araknya yang baru diisinya.

Tidak biasanya, saat itu kelihatan agak gugup, bagaikan benar benar dia sedang mencurigai sikap twa to Go Bun Heng.

"...si macan terbang Lie Hui Houw berhasil mencapai tembok tertinggi dari kamar tahanan itu, kemudian dari bagian atas dia melontarkan ujung tali yang dibikinnya kepada Lie Siu Lan dan setelah itu barulah dia menarik dan menolong Lie Siu Lan naik keatas; sampai dara manja itu berhasil pula ditolongnya. Akan tetapi, perbuatannya itu sempat diketahui oleh pihak musuh, dan pihak musuh segera memberikan tanda bahaya sehingga dalam sekejap musuh sudah banyak yang berjaga dibagian bawah, sebab mereka tidak mampu naik keatas yang sangat tinggi..! "...dipihak Lie Hui Houw, dia pun menghadapi kesukaran buat lari dengan membawa bawa si bocah dan Lie Siu Lan; sehingga akhirnya Lie Hui Houw memesan supaya Lie Siu Lan menjaga si bocah, sedangkan dia sendiri dengan nekad telah lompat turun sehingga terjadi lagi pertempuran antara si macan terbang Lie Hui Houw melawan sekian banyaknya para pengepungnya..."

"Singkatkan saja bagian pertempuran itu..."

Kata kakek Ouw seperti tidak sabar. "Baik, baik...."

Sahut kakek Lie; meskipun sebenarnya dia merasa tidak setuju.

".. pertempuran yang terjadi itu benar benar merupakan suatu pertempuran yang pincang. Lie Hui Houw sedang terluka dan dia bahkan dikepung rapat sehingga tidak mungkin dia memenangkan pertempuran itu bahkan maut mengintai dia dan mengintai dara Lie Siu Lan berikut si bocah anaknya almarhum Lie Sun Houw yang sebenarnya belum mengenal dosa. Akan tetapi disaat keadaan berbahaya maka datang seorang yang membantu dia dan seseorang itu adalah seorang wanita setengah baya bermuka cantik dengan memakai tudung caping lebar yang dibikin dari bahan bambu, membawa bungkusan pakaian dibagian punggungnya, dan dengan sepasang pedang pendek dia mengamuk sampai dia berhasil mendekati Lie Hui Houw dan untuk girangnya si macan terbang Lie Hui Houw mengetahui bahwa dia adalah kakak misannya.."

"Lie Kim Nio..."

Tanya kakek Ouw heran bahkan sampai sepasang matanya jadi membelalak, tidak terkecuali pihak si Golok maut Go Bun Heng yang kelihatan bertambah tegang mendengarkan. "Benar Lie Kim Nio..."

Sahut kakek Lie dan agaknya kakek Lie tidak memperhatikan keadaan kakek Ouw tadi.

Akan tetapi waktu kakek Lie hendak meneruskan bercerita maka lagi lagi harus menunda karena datangnya serombongan penunggang kuda yang kali ini tujuh orang.

"Semakin banyak yang datang...."

Kakek Ouw menggerutu perlahan.

"Ya, semakin banyak dan lagi lagi dipegat oleh si pengemis muda dan lagi lagi diajak pergi..."

Ikut kakek Lie menggerutu perlahan selagi dia memperhatikan kejadian itu.

"Kalau setiap hari terjadi tamuku dipegat orang bisa kagak laku daganganku, Lie heng, kupikir sebaiknya kita tunda permainan kita, aku merasa perlu melaporkan kepada kepala kampung yang baru dipilih sebab kedatangan mereka benar benar sangat mencurigakan..."

Kata kakek Ouw tetap dengan suara perlahan lahan sehingga tidak mungkin didengar oleh si golok maut Go Bun Heng.

"Bagaimana kalau aku bantu pekerjaanmu, mengikuti mereka supaya kita mengetahui ke mana mereka dibawa?"

Kakek Lie menyarankan lagaknya tua tua mau jadi penyelidik. Kakek Ouw tidak segera menjawab perkataan kakek Lie. Sejenak dia mengawasi, setelah itu baru dia berkata ;

"Sebaiknya Lie heng tetap disini, bantu melihat lihat warungku. Aku khawatir A heng tidak mampu melayani tamu tamu kita, kalau nanti semakin banyak yang datang dan akhirnya mereka singgah di kedaiku?" Kakek Lie menurut, meskipun didalam hati dia membantah sebab buktinya tamu tamu itu tidak ada yang singgah dikedai kakek Ouw meskipun tambah banyak mereka datang. Di pihak twa to Go Bun Heng waktu dia melihat kakek Ouw pergi meninggalkan kedainya; maka dia memberikan tanda kepada Gwa Teng Sin untuk mengikuti, dan si pengemis muda itu bergegas hendak melakukan perintah itu.

"Hei, pengemis muda, kemana kau hendak pergi..?" tiba tiba seru kakek Lie sambil dia mengawasi Gwa Teng Sin. Gwa Teng Sin menunda langkah kakinya didekat pintu. Dia ragu ragu mengawasi si kakek Lie untuk kemudian ganti dia mengawasi twa to Go Bun Heng, sementara si kakek Lie berkata lagi ;

"... kalau kau hendak mengikuti Ouw lopek, aku larang...."

Sekali lagi Gwa Teng Sin jadi patuh menurut setelah dia melihat Go Bun Heng memberikan aba aba.

Setelah Gwa Teng Sin duduk ditempatnya kakek Lie duduk; lalu sekali lagi si golok maut memberi hormat dan berkata ;

"Lie lopek, kalau boleh aku ingin mengganggu sedikit!"

"Nah. kau! apalagi yang kau kehendaki dari aku?"

Sahut kakek Lie acuh dan tidak mempersilahkan si golok maut Go Bun Heng duduk; sementara sekilas dia melirik kearah A heng; dan A heng pada waktu itu memang sedang memperhatikan tamu tamunya.

"Aku ingin sedikit menanya."

Terdengar si Golok maut Go Bun Heng berkata lagi.

"Kalau kau hendak menanyakan tentang kakek Ouw, aku tidak mau menjawab sebab kau harus menanya sendiri kepada kakek Ouw. Jadi apa yang kau hendak tanyakan.?"

Sejenak Go Bun Heng tidak dapat bersuara apa apa agaknya dia merasa tobat dengan sikap si kakek Lie.

"Yang aku hendak tanyakan adalah tentang surat..."

"Orang bodoh,.."

Kakek Lie memutus kalimat perkataan Go Bun Heng, dan kakek Lie meneruskan perkataannya .

".. surat apa yang hendak kau tanyakan kepadaku dan apa yang aku ketahui tentang surat,..?"

Twa to Go Bun Heng berdiri diam bagaikan patung. Agaknya dia kehabisan bahan bicara dan kehabisan juga kesabarannya, akan tetapi dia paksakan diri.

"Lie lopek, sebenarnya siapakah kau..?"

"Nah, kumat lagi penyakit kau. Aku adalah aku, kakek Lie..!"

Twa to Go Bun heng memutar tubuh hendak meninggalkan si kakek tanpa pamit, akan tetapi tiba tiba kakek Lie berseru.

"Tunggu..!"

Bagaikan orang yang patuh dengan perintah atasan, maka Go Bun Heng batal meninggalkan kakek Lie.

".., sekarang ganti aku yang hendak menanya.."

Kata kakek Lie setelah Go Bun Heng menghadapi dia; dan kakek ini meneruskan pertanyaannya;

"... kenapa dan dimana kau tempatkan orang orang datang tadi..?"

Sepasang mata A heng jadi membelalak waktu mendengar pertanyaan kakek Lie terlebih si Golok maut Go Bun Heng; akan tetapi naluri hati si Golok maut sekarang cepat bekerja, sehingga tanpa ragu ragu dia menjawab.

"Disebuah kuil yang memakai merek tay sin bio..."

"Sudah berapa orang yang datang semua..?"

"DeIapan belas orang ..."

Dengan menggunakan jari tangannya, kakek Lie menghitung seorang diri; setelah itu dia berkata lagi .

"Berapa jumlah semuanya termasuk kau?"

"Duapuluh tiga.." "Hmm! masih kurang satu..."

Gerutu kakek Lie perlahan suaranya; tidak mungkin didengar oleh A heng yang terpisah cukup jauh akan tetapi cukup jelas didengar oleh twa to Go Bun Heng, yang justru membikin si Golok maut kelihatan menjadi girang sekali.

Akan tetapi; si kakek Lie yang berkata lagi, sebelum Go Bun Heng sempat mengucap apa-apa .

"Cukup sudah, silahkan kau pergi.."

Oo ^)dwkzXhen( oo HARI ITU sampai sampai larut malam kakek Lie menunggu-nunggu, namun kakek Ouw belum kunjung tiba.

Akhirnya kakek Lie pulas tertidur, dan dia tak menghiraukan diwaktu A heng beberapa kali mengintai dan memperhatikan dia.

Esok paginya kakek Lie memerlukan menemui kakek Ouw, dan langsung dia ajak bicara.

"Ouw heng, aku ada berita untukmu...."

"Berita apa..?"

Tanya kakek Ouw kelihatan heran.

"Kemarin aku berhasil menggertak tamu kita yang katanya bernama Go Bun Heng; dan aku berhasil mengetahui bahwa mereka yang baru datang itu ditempatkan dikuil Tay sin bio..!"

"Oh..!"

Cuma itu yang kakek Ouw ucapkan.

"Dan aku berhasil juga mengetahui jumlah mereka semuanya duapuluh tiga orang, dan siang ini mereka katanya akan mendaki gunung Kauw it san...."

"Untuk apa....?"

Tanya kakek Ouw; kaget bercampur heran.

"Hal ini aku tidak tanyakan; akan tetapi menurut dugaanku, mereka tentu hendak mencari si hantu bermuka hitam.." "Ha ha ha..!" kakek Ouw jadi tertawa. "Eh; mengapa kau tertawa..?" ganti kakek Lie yang perlihatkan lagak merasa heran. "Orang orang itu orang orang bodoh! Mana mungkin didalam dunia ada hantu....!"

"Akh! rupanya kau belum pernah bertemu dengan hantu.."

Kakek Lie menggerutu.

"Apakah kau sudah pernah..?"

Ganti kakek Ouw yang menanya.

"Hayaa..!"

Dan kakek Lie tinggalkan kakek Ouw, untuk dia membersihkan muka lalu bantu membuka kedai.

Dan seperti biasa setelah selesai dengan pekerjaan mereka, maka kedua kakek itu menyediakan lagi papan catur mereka, dan kakek Lie bersiap siap hendak meneruskan lagi bercerita tentang si "macan terbang" Lie Hui Houw yang belum selesai lalu tepat pada saat itu muncul twa to Go Bun Heng yang datang bersama sama Gwa Teng Sin dan Hui beng siansu.

"Hari ini, dia hanya membawa satu orang gelandangan..,"

Bisik kakek Lie pada kakek Ouw .

"Sebagai gantinya dia bawa seorang pendeta buat mengusir hantu...."

Sahut kakek Ouw mulai berkelakar. "Entah kemana perginya si pengemis; yang satu lagi.."

Bisik kakek Lie; tetapi suaranya sedikit lebih keras; sambil matanya melirik kearah tempat Go Bun Heng duduk.

"Mungkin sedang mencari sedekah buat bayar makanan hari ini..

" sahut kakek Ouw; juga agak keras suaranya, sehingga pasti cukup didengar oleh pihak si Golok maut Go Bun Heng bertiga; dan si kakek Ouw lalu menambahkan perkataannya .

"..akan tetapi Lie heng sebaiknya jangan hiraukan urusan mereka; dan kita mulai main sambil kau selesaikan cerita mengenai Lie Hui Houw.."

Kakek Lie tersenyum dan diminumnya araknya siap buat dia meneruskan bercerita .

".. karena mendapat bantuan dari kakak misannya, maka semangat si macan terbang Lie Hui Houw jadi bangkit lagi, membikin keadaan pertempuran jadi berubah dan berhasil Lie Hui Houw menerobos kepungan untuk menghadapi Nio Kok An, dan Nio Kok An tidak sanggup menghadapi si "macan terbang"

Lie Hui Houw meskipun sebenarnya Nio Kok An memiliki ilmu silat yang mahir."

"Singkatnya pertempuran itu dimenangkan oleh si macan terbang dan si macan terbang tidak mati ,,,,!"

Kakek Ouw memutus karena merasa tidak sabar, sedangkan nada suaranya terdengar seperti orang yang ngomel ngomel bercampur penasaran.

"Benar.,.

" sahut kakek Lie yang jadi tersenyum, dan meneruskan lagi bercerita .

"... si macan terbang Lie Hui Houw memenangkan pertempuran itu, membinasakan Nio Kok An dan mempertemukan Lie Kim Nio dengan anak daranya, serta si bocah anaknya Lie Sun Houw. Dan pada kesempatan itu, tanpa diketahui oleh Lie Siu Lan, maka Lie Kim Nio menceritakan pada adik misannya tentang siapa sebenarnya ayahnya Lie Siu Lan ; yakni si iblis penyebar maut..." "Dimana mereka menetap setelah pertempuran itu selesai...."

Tanya kakek Ouw; waktu melihat kakek Lie minum araknya dan pertanyaan semacam itu memang sangat diharap oleh pihak si Golok maut Go Bun Heng bertiga.

Dan diluar tahu mereka, didalam hati si kakek Lie sudah mengetahui bahwa dia bakal mendapat pertanyaan yang seperti itu dari si kakek Ouw!

" Mereka siapa, maksud Ouw heng?" sengaja kakek Lie balik menanya; bahkan dengan suara yang wajar bagaikan orang yang benar benar tidak mengetahui atau tidak mengerti.

"Lie Kim Nio dan anaknya.."

Sahut kakek Ouw, agak gemetar suaranya, tetapi mukanya tidak memperlihatkan suatu perobahan.

Sejenak kakek Lie diam tidak menjawab.

Mukanya menunduk mengawasi biji biji catur sementara sebelah tangannya memutar mutar mangkok araknya.

Lagak perbuatannya itu bagaikan memperlihatkan dia sedang berpikir, dan sebagai akibatnya dia justeru membikin suasana menjadi tegang, tidak melulu buat si kakek Ouw yang sedang menunggu jawaban, akan tetapi juga bagi pihak Hui beng siansu bertiga, yang langsung sedang mengawasi kakek Lie.

"... untuk banyak tahun lamanya Lie Kim Nio hidup menderita berkelana mencari si iblis penyebar maut yang sudah memperkosa dia; akan tetapi usahanya ternyata sia sia belaka, sebab dimana saja dia tiba; dia merasa selalu sudah ketinggalan dengan pihak para pendekar yang juga tak bosan bosan mencari jejak si iblis ternyata berhasil menghilang dan mengulang perbuatan jahatnya."

Ada butir butir air mata yang menetes keluar dari sepasang mata kakek Lie; tetapi untungnya tidak terlihat oleh kakek Ouw, sebab kakek Lie sedang menunduk selagi dia mengucapkan perkataannya itu.

Juga pihak Hui beng siansu tidak mungkin melihat adanya butir butir air mata itu.

"...Kemudian Lie Kim Nio hidup menyendiri memperdalam ilmu diatas gunung Tsin san, dibukit Tsin nia dan berhubung Lie Hui Houw hendak melakukan perjalanan mencari si iblis penyebar maut maka si macan terbang memesan supaya kakak misannya menunggu ditempatnya di bukit Tsin nia bersama Lie Siu Lan dan si bocah.

"...berdasarkan kata kata membual yang pernah diucapkan oleh Nio Kok An; maka Lie Hui Houw sudah mengetahui dimana tempat si iblis bermukim dan kegiatan apa yang sedang dilakukan.."

"Hm, kegiatan apa yang dilakukan oleh dia ;,?"

Terdengar kakek Ouw bersuara seperti menggerutu.

Sehabis tadi dia menunduk dan selagi dia menyambung kisahnya mengenai keadaan Lie Kim Nio, pandangan mata kakek Lie tak Iepas mengawasi muka kakek Ouw, dan selama itu si kakek Lie tidak berhasil membaca keadaan muka kakek Ouw yang kelihatan tidak berobah atau terpengaruh.

Melulu pada bagian mata kakek Ouw kelihatan adanya beberapa perobahan.

Perobahan sinar mata itu.

Kadang kadang seperti orang yang sedang mengenangkan kejadian tempo dulu, kadang kadang seperti orang yang merasa kehilangan sesuatu lalu menemukannya kembali dan...

"Dia siapa maksud Ouw heng?" sengaja kakek Lie menanya; padahal dia sudah mengetahui maksud pertanyaan kakek Ouw yang seperti menggerutu tadi.

"Si iblis..,!"

Sahut kakek Ouw singkat;

"Hm! si iblis bukan si iblis kalau kian hari dia tidak bertambah jadi ganas. Dia bahkan seorang penghianat bangsa; sebab orang-orang yang katanya diperlukan untuk diberikan pekerjaan, ternyata diangkut menyeberang untuk pihak Mongolia, Mereka sudah merupakan orang orang tawanan sedemikian lekas perahu mereka meninggalkan kota Tio-ciu. Mereka diancam disiksa dan dihukum kerja paksa untuk kepentingan pihak Mongolia. Berapa banyak si iblis menerima uang karena menjual manusia itu? Nio Kok An terlalu membual merasa sudah berjasa dan bakal menjadi orang kesayangannya si iblis penyebar maut. Dia telah memberikan pengakuan tanpa diminta (nada suara kakek Lie berobah menjadi bertambah tegas dan keras, mengandung kebencian atau kemarahan), dan dari hasil keuangan itu; si iblis gunakan buat dia membeayai perkumpulannya yang dia namakan Thian tok bun; persekutuan penyebar bisa racun sebagai ganti persekutuan Han bie kauw dan persekutuan ini akan mendapat uang jasa yang berlimpah limpah dari pihak Mongolia yang bermaksud kembali menjajah negeri Cina, sebab bisa racun itu akan menyebar maut tidak melulu dikalangan pasukan perang pemerintah kerajaan beng akan tetapi juga dikalangan rakyat jelata..!"

Terbelalak mata Hui beng siansu, Go Bun Heng dan GwaTeng Sin waktu mendengarkan kisah kegiatan yang sedang dilakukan oleh si iblis penyebar maut alias Han bie kauwcu, sedangkan sepasang mata kakek Lie kelihatan bersinar menyala bagaikan menyimpan rasa dendam yang membara.

"...dalam perjalanan menuju ketempat si iblis penyebar maut, sempat si "macan terbang" Lie Hui Houw menghubungi salah seorang sahabatnya yang memang terkenal paling gigih mencari jejak si iblis penyebar maut sejak si iblis masih merupakan pemimpin dari orang orang Han bie kauw; dan sahabatnya Lie Hui Houw itu sudah tentu menyebar berita lagi sambil mengusahakan tenaga tenaga untuk mengganyang si iblis sementara Lie Hui Houw seorang diri meneruskan perjalanannya dan langkah langkahnya menuntun dia sampai di gunung Kauw it san."

Terdengar suara menggerutu yang tidak jelas dari twa to Go Bun Heng bertiga.

"Apakah dia datang hanya sendirian..?"

Tanya kakek Ouw seperti hendak menegaskan atau merasa tidak percaya; juga Hui beng siansu bertiga ikut memperhatikan dan ingin mendengarkan jawaban dari si kakek Lie.

"Ya, sendirian. Pantang buat si "macan terbang"

Menunda pekerjaannya dan menunggu orang orang yang berjanji memberikan bantuan.."

Sahut kakek Lie; nada suaranya mengandung rasa bangga.

"Lie heng; kau hebat sekali. Kau terlalu banyak mengetahui tentang si macan terbang Lie Hui Houw, siapakah kau sebenarnya..,?" kata si kakek Ouw; nada suaranya seperti orang bergurau padahal hasrat hatinya ingin benar dia mengetahui, untuk memastikan dugaannya! "Ha ha ha ha..! "

Tawa kakek Lie lalu dia berkata .

".. Ouw heng, sekarang kau jadi orang yang tak bisa menahan kesabaran.."

Dan kakek Lie tertawa lagi, memaksa kakek Ouw menjadi ikut tertawa dan Hui beng siansu bertiga ikut menjadi tersenyum.

Senyum yang menyimpan tiga macam arti yang berlainan!

Sementara itu kakek Lie memerlukan minum araknya untuk kemudian dia mengoceh lagi .

".. seorang diri si "macan terbang"

Lie Hui Houw mendaki gunung Kauw it san, seorang diri dia telah menyelidiki, sehingga dia tahu tentang adanya lampu lampu merah (ang teng) yang dianggap sebagai lentera maut, serta si hantu muka hitam (hek mo) yang ternyata bukan hanya ada satu hantu, akan tetapi ada 5 hantu muka hitam, sebab ke 5 hantu itu sebenarnya adalah Heng san ngo kui atau hantu jejadian dari gunung Heng san, yang merupakan penjahat penjahat pelarian setelah sarang mereka diatas gunung Heng san diganyang habis...

...

memang hebat cara kakek Lie menguraikan penyelidikan yang dilakukan oleh si macan terbang Lie Hui Houw; Semua yang mendengarkan merasakan sangat tegang; terpesona sampai mereka tidak bergerak dari tempat duduk mereka bahkan pandangan mata mereka tak pernah lepas dari si kakek Lie sehingga mereka tidak mengetahui bahwa di kedai kakek Ouw sudah bertambah dengan satu tamu lain, tamu laki laki yang kira kita seumur dengan si golok maut Go Bun Heng, namun memiliki wajah muka yang tampan serta memiara sedikit kumis yang dirawat rapih, dan tamu lelaki itu langsung duduk, ikut mendengarkan kisah cerita kakek Lie bahkan dia ikut jadi terpesona tanpa dia perdengarkan suara!

Sementara itu kakek Lie terus mengoceh tanpa istirahat; tanpa diminumnya araknya dan tanpa disentuhnya biji biji catur yang sejak tadi jadi ikut menganggur!

"...Heng san ngo kui bermukim diatas gunung Kauw it san bukan sebagai raja gunung akan tetapi mereka hanya merupakan kacung kacung belaka yang berlagak menjadi hantu muka hitam yang menyebar maut kalau ada lentera lentera merah yang menyala bergantungan diatas dahan dahan pohon, dan Heng san ngo kui memimpin sekelompok orang berseragam serba hitam; lengkap dengan tutup muka memakai secarik kain hitam serta lambang kala hitam dalam lingkaran putih pada bagian dada sebelah kiri dari pakaian seragam mereka dan lambang itu adalah lambang dari persekutuan Thian tok bun..

SekaIi lagi terdengar suara gerutu dari twa to Go Bun Hengkz bertiga, sementara yang lain diam tidak bersuara, bahkan terus mengawasi muka kakek Lie yang masih mengoceh terus.

".. jelas bahwa dibelakang Heng san ngo kui masih ada seseorang lain yang lebih berkuasa lebih berpengaruh dan seseorang itu adalah pemimpin atau ketua dari persekutuan Thian tok bun; dan dia adalah si iblis penyebar maut.."

Sekilas, kakek Lie menatap sepasang mata kakek Ouw yang waktu itu kelihatan jadi tambah menyala, dan sekilas kakek Lie melirik kearah tamu laki laki yang baru datang tadi, lalu dia "ngoceh"

Lagi .

".. satu hal yang disesalkan oleh si iblis penyebar maut adalah Thian tok bun baru dirintis, masih dalam persiapan atau pemulaan. Persediaan bisa racun buat menyebar maut belum selesai dia olah, masih merupakan larutan didalam tabung tabung di ruang tempat pengolahan obat obat di atas gunung Kauw lt san. Andaikata larutan bisa racun itu sudah selesai untuk disebarkan dan orang orang seperti sipengemis muda bahkan semua rombongannya, pasti sudah tewas semua sebab tanpa mereka menyadari ditempat mereka menginap ada mata mata atau orang orang Thian tok yang menyamar menjadi hweeshio."

"Lie heng, sekali lagi aku tanya padamu, siapa kau sebenarnya?" tanya kakek Ouw ; tegas suaranya, dan tambah menyala sinar sepasang matanya yang mengawasi kakek Lie.

"Sabar, sabar ; Ouw heng. Hari ini kau benar benar kelihatan gugup sekali, bahkan permainan catur tidak kau lakukan; padahal sejak tadi aku menunggu giliran kau melakukan langkah, sedangkan pertahananmu kelihatannya sudah hancur sama sekali...,"

Sahut kakek Lie, tenang tenang suaranya yang dia campur dengan kelakar dan tenang juga lagaknya waktu dia minum araknya, untuk kemudian dia meneruskan ocehannya, "Nah sekarang Go toako bertiga juga Ong heng yang baru datang.

Bersiaplah buat kita mengikis habis si iblis penyebar maut!"

Bagaikan patuh menerima perintah dari seorang panglima, si Golok maut Go Bun Heng bertiga serentak berdiri dan serentak siap dengan senjata mereka, juga Kanglam hiap Ong Tiong Kun atau tamu laki laki yang baru datang itu, ikut patuh dengan "perintah" dari si kakek Lie; yang waktu itu masih mengoceh terus .

"..

dan kau Ouw heng, he he he!

aku jadi terbiasa menyebut kau Ouw heng.

Buat kau; terserah kepadamu.

Apakah kau mau melepaskan topeng yang menutup ujutmu atau tidak, sebab rahasia penyamaran kau sudah terbuka dan kau adalah si iblis penyebar maut atau Toat beng sim alias Han bie kauwcu alias Koan bin jin yoa atau manusia muka seribu!

akan tetapi, supaya kau tidak mati penasaran, kau lihat siapa aku.."

Kakek Lie menyudahi perkataannya dengan sebelah tangannya membuka selaput kulit mukanya, yang ternyata berupa topeng yang dibikin dari bahan pelastik yang mirip dengan kulit manusia, dan dilain detik si kakek Lie sudah berubah menjadi si "macan terbang" Lie Hui Houw!

"Lie ciangkun ,!"

Teriak Gwa Teng Sin dan Go Bun Heng; sikap mereka tegak memberikan hormat secara militer! "Hm! kiranya kau si "macan terbang"

Lie Hui Houw, dan kau juga yang menjadi panglima dalam kesatuan tentara pemberontak Thio Su Seng yang sudah hancur berantakan; tetapi sayang kau buta mata menuduh aku sebagai si iblis penyebar maut.

Keluar..!"

Kakek Ouw menutup perkataannya dengan mendorong pinggir meja memakai sepasang tangannya, sementara dari bagian dalam kedainya muncul enam orang berseragam serba hitam, lengkap dengan tutup muka dan lambang Thian tok bun; dan mereka langsung terlibat dalam pertempuran melawan Hui beng siansu berempat.

Dipihak si "macan terbang" Lie Hui Houw, dia hanya menggunakan sebelah tangan kirinya buat ikut mendorong pinggir meja, sehingga mereka berdua saling dorong, semakin lama semakin mengerahkan tenaga dalam, sehingga kalau yang seorang kena terdorong pasti akan tergempur tenaga dalamnya!

Sementara itu, sambil mengadu kekuatan tenaga dalam, si "macan terbang" Lie Hui Houw sempat berpikir entah sejak kapan si kakek Ouw yang dia tuduh sebagai si iblis penyebar maut, menyimpan ke enam orangnya yang berpakaian seragam serba hitam, sebaliknya si A-heng tidak kelihatan hidungnya sejak pagi tadi.

Mereka berdua masih saling dorong masih saling mengadu kekuatan; sementara di pihak Hui beng siansu serta tiga rekannya menghadapi enam orang lawan dan mereka sengaja tidak memberikan kesempatan bertempur diluar kedai kakek Ouw, meskipun di tempat yang sekecil itu tidak mungkin mereka bergerak bebas.

Akan tetapi, ditempat yang sempit itu memang menguntungkan pihak Hui beng siansu.

Sebab pihak musuh jadi sukar melarikan diri; dan pihak musuh sukar menggunakan senjata rahasia, yang pasti mengandung bisa racun yang amat berbahaya!

Dan pihak musuh yang berseragam serba hitam itu, ternyata tidak sanggup menghadapi pihak Hui beng siansu yang memang merupakan tokoh tokoh kawakan dikalangan rimba persilatan, kecuali Gwa Teng Sin yang termuda usianya namun si pengemis muda itu tidak mengecewakan gurunya.

si biang pengemis Pit Leng Hee yang ilmu silatnya sebagian besar bersumber pada ilmu silat milik almarhum Kwee Ceng berdua Oey Yong, yang kemudian dicampur baurkan dengan ilmu silat Siao lim, berdasarkan ajaran Pheng hweeshio, selagi mereka masih merupakan pembantu pembantu utama dari gerakan Thio Su Seng.

Sia sia pihak musuh berseragam serba hitam itu berusaha menerobos, hendak mengajak bertempur dibagian luar kedai.

Mereka tidak diberi kesempatan sedikitpun juga oleh pihak Hui beng siansu berempat yang menggempur secara ketat.

Sebaliknya buat si kakek Ouw yang masih mengadu kekuatan tenaga dalam dengan si macan terbang Lie Hui Houw tak mungkin dia memberikan bantuan bagi pihaknya; sampai disuatu saat si kakek Ouw perdengarkan pekik suara yang keras, lalu meja yang dipakai sebagai perisai saling mengadu tenaga, menjadi hancur beberapa keping; dan tubuh Lie Hui Houw maupun si kakek Ouw terpental keatas udara, dan selama jungkir balik di udara; empat batang pisau terbang atau yang dikenal dengan nama Coan yo shin jie meluncur ke arah Hui beng siansu berempat.

Bagi Hui beng siansu dengan kawan kawannya, mereka sanggup menghindar dari serangan belati penembus tenggorokan yang.sudah tidak asing lagi bagi mereka; sehingga pertempuran yang mereka lakukan hanya sekejab terintang.

Si macan terbang Lie Hui Houw menjadi sangat penasaran melihat ketangkasan lawannya, yang sanggup memecah tenaga dan perhatian memberikan bantuan bagi pihak teman temannya, sehingga waktu keduanya turun dari udara; sebelah kaki kanan Lie Hui Houw menendang kakek Ouw, dan angin tendangan itu menderu, menandakan Lie Hui Houw memakai tenaga dalam namun sebelah telapak tangan kakek Ouw memukul kaki yang sedang menendang itu, dengan akibat si kakek Ouw tergempur mundur beberapa langkah ke belakang tetapi nyaris kena tendangan maut tadi.

Lie Hui Houw tambah penasaran.

Bagaikan seekor macan yang terbang, dia lompat menendang lagi memakai sepasang kakinya, sambil dia perdengarkan pekik suara yang keras bagaikan aum seekor macan jantan sehingga kakek Ouw buru buru berkelit dengan suatu lompatan menyamping, dan sebagai akibatnya, maka dinding tembok bobol kena tendangan kaki Lie Hui Houw!

Dipihak Kanglam hiap Org Tiong Kun, sambil dia bertempur menghadapi dua orang lawan yang berseragam serba hitam; seringkali dia harus melirik kearah si kakek Ouw yang sedang bertempur melawan si "macan terbang"

Lie Hui Houw, Untuk belasan tahun lamanya, Kanglam hiap Ong Tiong Kun mencari jejak si iblis penyebar maut alias Han bie kauwcu, tanpa dia mengenal lelah dan tanpa menghiraukan ancaman bahaya maut.

Tak mungkin dapat dia melupakan peristiwa tempo dulu isterinya dibinasakan oleh si iblis penyebar maut, sesaat sehabis Ong Tiong Kun menikah dengan Phang Lan Ing, anak kesayangannya si jeriji sakti Phang Bun Liong yang menjadi persekutuan naga hitam atau Hek liong pang.

Berulangkali Ong Tiong Kun berhasil menemukan jejak si iblis penyebar maut alias Han bie kauwcu, dan berulangkali juga dia berhasil menghadapi dan bertempur melawan si iblis penyebar maut; akan tetapi selalu Kanglam hiap Ong Tiong Kun kena tipu muslihat si iblis penyebar maut yang berhasil melarikan diri sehingga sekali ini, tak mau dia lengah dan selalu dia bersiap siaga jangan sampai terjadi si kakek Ouw melarikan diri!

Oleh karena Kanglam hiap Ong Tiong Kun bertempur sambil memecah perhatiannya maka akibatnya menjadi tidak mudah buat dia mengalahkan kedua lawannya.

Akhirnya Ong Tiong Kun menyadari kesalahannya, lalu dia perhebat serangannya sehingga dalam jurus jurus berikutnya dia berhasil membinasakan kedua lawannya, setelah itu dia bergegas hendak memberikan bantuan bagi Lie Hui Houw sesuai dengan rencananya.

Akan tetapi, secara tiba tiba ada tubuh seseorang yang terguling mendekati kaki Ong Tiong Kun; dan itu adalah tubuhnya si kakek Ouw yang kena tendangan si macan terbang Lie Hui Houw!

Hanya sejenak Kanglam hiap Ong Tiong Kun ragu ragu dengan sepasang mata menyala mengawasi si kakek Ouw atau si iblis penyebar maut alias Han bie kauwcu; seteIah itu tanpa membuang kesempatan Ong Tiong Kun angkat pedangnya, hendak menikam perut si iblis yang sudah rebah tak berdaya!

"Tunggu...!"

Itulah pekik teriak si macan terbang Lie Hui Houw suara berwibawa dari seorang pemuda perkasa yang punya kedudukan menjadi panglima pada kesatuan gerakan tenaga rakyat yang dipimpin oleh Thio Su Seng.

"Ong heng, maafkan aku.."

Kata Lie Hui Houw yang sudah mendekati. Nada suaranya berobah ramah bersahabat dan dia menambahkan perkataannya .

"...aku sudah berjanji hendak mempertemukan dia dengan kakak misanku, yang menghendaki anaknya melihat ayahnya meskipun hanya untuk sekejap saja. Dari itu aku persilahkan kau ikut ke Tsin nia sebab setelah pertemuan itu, akan aku serahkan si iblis kepada kau..."

Kanglam hiap Ong Tiong Kun merasa terharu mendengar perkataan si macan terbang Lie Hui Houw karena didalam nada suara itu mengandung rasa cinta atau kasih sayang kepada kakak misannya.

Oleh karena Ong Tiong Kun jadi menurut, batal dia menikam kakek Ouw atau si iblis penyebar maut; dan mereka kemudian mengikat tubuh si kakek Ouw erat erat.

Sementara itu pertempuran di pihak Hui beng siansu dengan kawan kawannya juga sudah diselesaikan tanpa ada seorang musuh yang masih hidup dan selagi mereka membersihkan ruangan bekas pertempuran terjadi; maka mereka melihat adanya asap tebal yang mengepul tinggi keangkasa, berasal dari atas gunung Kauw it san.

"Agaknya kawan kawan kita sudah berhasil pula menunaikan tugas mereka.."

Kata twa to Go Bun Heng yang perlihatkan senyum puas. Si macan terbang Lie Hui Houw ikut bersenyum puas. Juga yang lain, mereka kemudian duduk beristirahat sambil mereka menghadapi santapan siang.

"Go toako, maafkan aku karena aku terpaksa melakukan hal hal yang tidak sebenarnya selama dalam penyamaranku ."

Kata Lie Hui Houw ditengah mereka bersantap itu. "Lie ciangkun, aku justeru malu dengan kebodohanku sehingga hampir saja aku merusak rencana kerja kau..."

Sahut si golok maut Go Bun Heng, yang mukanya kelihatan jadi berobah merah.

Sesungguhnya usia Lie Hui Houw masih sangat muda, terhadap si golok maut Go Bun Heng atau terhadap Kang lam hiap Ong Tiong Kun dan Hui beng siansu barangkali lebih tepat kalau dia menyebut paman.

Akan tetapi didalam pasukan Thio Su Seng kedudukannya Lie Hui Houw waktu itu adalah sebagai panglima, sehingga dia sudah terbiasa membahasakan diri "toako" kepada si golok maut Go Bun Heng, dan kebiasaan itu tetap dia pertahankan.

"Go toako, aku kira sebentar lagi kawan-kawan kita akan datang dan berkumpul di kedai ini.

aku harap kau sampaikan rasa terima kasihku kepada mereka; oleh karena mereka telah melihat kembang api yang aku luncurkan dan yang sebenarnya aku tujukan buat Ong Heng sesuai dengan janjiku,"

Sejenak Lie Hui Houw terdiam berpikir; setelah itu dia berkata lagi ;

"... aku terpaksa tidak dapat menunggu mereka, sebab aku masih mempunyai pekerjaan lain, dan aku hendak lekas lekas membawa tawanan kita bersama sama Ong heng dan setelah itu aku harus menemui guruku."

Twa to Go Bun Heng manggut menyatakan mengerti dan menyanggupi tugas yang diserahkan kepadanya, oleh karena ini; setelah selesai bersantap maka Lie Hui Houw dan Kanglam hiap Ong Tiong Kun mendahulukan berangkat dengan membawa tawanan mereka, si kakek Ouw atau si iblis penyebar maut alias Han bie kauwcu, dengan memakai tiga ekor kuda, sementara tubuh kakek Ouw tetap diikat erat erat.

Dan jauh disebelah depan mereka bertiga, tanpa mereka mengetahui ada seekor kuda yang dilarikan cepat cepat oleh si penunggangnya; dan si penunggang kuda itu justeru adalah si kakek Ouw!

))-<(dwkz-x-hnd))"

SELAMA belasan tahun Kanglam hiap Ong Tiong Kun menyimpan dendam terhadap si iblis penyebar maut alias Han bie kauwcu akibat tewasnya isteri kesayangannya selagi mereka baru saja menyelesaikan hari pernikahan mereka.

Berulangkali dia menempuh bahaya mencari jejak musuh bebuyutan itu karena si iblis penyebar maut atau Han bie kauwcu yang dianggap sudah binasa, ternyata masih gentayangan dan masih menyebar maut, bahkan sekali pernah terjadi, pihak si iblis memasang perangkap buat membinasakan Kang lamhiap Ong Tiong Kun, dengan memberikan umpan seorang wanita muda yang cantik jelita; dan yang bernama Lie Sian Ing.

Akan tetapi umpan yang dipakai untuk memikat itu, bahkan jadi terpikat oleh kejantanan dan kegagahan Kanglam hiap Ong Tiong Kun, mengakibatkan si iblis bukan main marahnya karena merasa dikhianati; dan pada kesempatan dia berhasil menangkap Kanglam hiap Ong Tiong Kun serta perempuan Sian Ing itu, maka si iblis penyebar maut menyiksa Kanglam hiap Ong Tiong Kun dengan memukul dan merusak alat kelakian Ong Tiong Kun; hingga sejak itu hilang kelakian Kanglam hiap Ong Tiong Kun meskipun dia tidak sampai binasa!

Hek liong pang atau persekutuan Naga hitam adalah persekutuan yang dirintis atau dipimpin oleh ayah mertuanya Ong Tiong Kun.

yaitu si jeriji sakti Phang Bun Liong, dan persekutuan Hek liong pang dibubarkan setelah Phang Bun Liong hendak hidup menyendiri, bebas dari pergaulan orang orang rimba persilatan, sedangkan Kanglam hiap Ong Tiong Kun lebih banyak melakukan perantauan untuk mencari jejak si iblis penyebar maut, sehingga Hek liong pang tidak lagi ada yang urus.

Setelah lewat belasan tahun, usia Kanglam hiap Ong Tiong Kun sekarang sudah empat puluh tahun lebih.

Sikapnya sekarang menjadi lebih sabar, akan tetapi pedangnya tetap tak memiliki mata terlebih kalau dia berhadapan dengan musuh yang terkenal ganas dan kejam.

Pada raut muka Ong Tiong Kun jelas kelihatan bahwa dia sudah kenyang dengan segala macam derita dan siksa, baik lahir maupun bathin.

Dan dia sekarang memiara sedikit kumis yang dia rawat rapih.

"Aku kenal dia waktu kita sama sama mengganyang markas si iblis penyebar maut.."

Tiba tiba Cie in suthay berkata, sambil dia mengipas dirinya memakai lengan baju, untuk mengurangi rasa panas karena teriknya sinar matahari.

Waktu itu Lie Hui Houw berdua Cie in suthay sedang beristirahat; duduk ditepi jalan dekat sebuah perkampungan yang letaknya tidak jauh dari kota Lan kiao tin.

Selama mendengarkan kisah cerita si "macan terbang Lie Hui Houw sambil mereka meneruskan perjalanan mereka; kelihatan Cie-in suthay merasa puas terlihat pada mukanya cerah dihias dengan senyumnya yang dapat menawan hati selusin perjaka.

"Waktu itu kalian mengganyang si iblis dengan kegiatan persekutuan Thian tok bun, tentunya.."

Kata Lie Hui Houw sambil dia mengawasi muka biarawati yang muda usia itu.

"Benar "sahut cie-in suthay yang lalu menambahkan perkataannya.

".. sesungguhnya orang tidak akan menduga kalau si iblis penyebar maut dapat meneruskan rencananya dengan persekutuan Thian tok bun sebab kalian telah mengganyang markas mereka di gunung Kauw it san..."

Lie Hui Houw manggut membenarkan dan berkata .

"Sayangnya waktu itu aku tidak dapat ikut dalam aksi pengganyangan itu, sebab aku harus menemani suhu memperdalam ilmu buat menunaikan tugas si macan terbang..."

"Sebagai laki laki bekas orang hukuman "

Cie in suthay menambahkan; tak lupa dengan menyertai seberkas senyumnya yang aduhai. Sejenak Lie Hui Houw jadi terdiam seperti berpikir sampai kemudian Cie in suthay yang berkata lagi.

".. hayo, teruskan lagi ceritamu..!"

"Sampai dimana tadi..? "

Balik tanya Lie Hui Houw yang terlupa.

"Sampai kalian sedang membawa si kakek Ouw yang tidak berdaya yang kalian ikat pada seekor kuda, sedangkan disebelah depan kalian ada lagi si kakek Ouw yang selang memacu kudanya.."

Sahut Cie in suthay, wajar nada suaranya tidak merasa heran sebab sudah terbiasa dengan muslihat si iblis penyebar maut Sesungguhnya adalah merupakan hal yang amat menggembirakan bagi Kanglam hiap Ong Tiong Kun, bahwa setelah sedemikian lamanya bersusah payah akhirnya dia berhasil menemukan si iblis penyebar maut dalam ujut si kakek Ouw yang saat itu telah menjadi tawanan mereka sehingga hanya tinggal menunggu saat si iblis dipertemukan dengan Lie Kim Nio setelah itu habis sudah dendam yang membara berkenaan dengan tewasnya isteri kesayangannya.

Teringat dengan almarhum Phang Lan Ing maka air mata Ong Tiong Kun mengalir keluar lagi tidak perduli saat itu dia sedang memacu kudanya yang mendampingi si macan terbang" Lie Hui Houw serta tawanan mereka; si iblis penyebar maut.

"benarkah si iblis penyebar maut..?"

Terlintas pertanyaan itu didalam hati Ong Tiong Kun, yang sudah terlalu sering mengalami kekecewaan akibat tipu muslihat si iblis penyebar maut.

Kata kata si iblis selalu seperti terdengar ditelinga Ong Tiong Kun, bahwasanya si iblis akan selalu dapat menghindar dari ancaman bahaya dengan menempatkan lain orang pada ujut penyamarannya, sehingga seribu kali orang menduga si iblis sudah tewas, seribu kali orang akan menemukan seribu iblis penyebar maut dalam seribu bentuk dan ujut muka!

Pada waktu itu ujut si iblis penyebar maut adalah sebagai si kakek Ouw; pemilik kedai nasi.

Akan tetapi, apakah yang sedang mereka bawa itu benar benar si kakek Ouw?

atau ada wajah lain dibalik ujutnya si kakek Ouw itu?

Wajah asli dari si iblis penyebar maut atau wajah lain orang lagi yang menggantikan penyamaran si iblis penyebar maut?

"Tunggu..!"

Tiba tiba Kanglam hiap Ong Tiong Kun berseru, sambil dia berusaha menghentikan lari kudanya, membikin Lie Hui Houw jadi ikut menghentikan Iari kudanya juga kuda yang membawa tubuh terikat dari si kakek Ouw.

"Kenapa Ong heng .,.?"" tanya Lie Hui Houw yang merasa heran ; menduga mungkin Kanglam hiap Ong Tiong Kun sakit perut akan tetapi waktu Ong Tiong Kun menyatakan kecurigaannya maka Lie Hui Houw tertawa dan berkata ;

"Jadi. Ong heng meragukan bahwa si kakek Ouw adalah si iblis penyebar maut? atau dengan kata lain, Ong heng meragukan pendapatku bahwa si kakek Ouw adalah si iblis penyebar maut,.."

"Bukan meragukan, akan tetapi aku khawatir si iblis menggunakan akal yang sama, menggantikan lain orang pada tempatnya dan dia sendiri menghilang, menyelamatkan diri "

Sahut Kanglam hiap Ong Tiong Kun gugup; sedangkan Lie Hui Houw yang merasa tidak mengerti atau kurang mengerti dengan maksud perkataan teman seperjalanannya sehingga untuk itu Lie Hui Houw terdiam berpikir, setelah ini baru dia berkata.

"Apa maksud Ong heng ,."

"Maksudku mungkin yang kita bawa bukan kakek Ouw "

Sahut Ong Tiong Kun yang bahkan jadi bertambah gugup. Sekarang Lie Hui Houw mengerti; dan dia jadi tersenyum selagi dia berkata .

"Kalau begitu mari kita periksa muka si kakek Ouw.."

Demikian kata Lie Hui Houw sambil dia mendahulukan turun dari kudanya diikuti oleh Kanglam hiap Ong Tiong Kun untuk kemudian mereka bantu menurunkan si kakek Ouw yang tubuhnya diikat.

Sejenak Kanglam hiap Ong Tiong Kun berdua Lie Hui Houw meneliti muka kakek Ouw yang diperintahkan duduk ditepi jalan raya terlindung oleh sebuah pohon dari teriknya sinar matahari.

Sebelah tangan Ong Tiong Kun kemudian meraba kulit muka kakek Ouw tanpa menghiraukan si kakek memaki sambil kemudian Ong Tiong Kun berhasil menarik selaput kulit muka kakek Ouw dan muka kakek Ouw berobah menjadi muka A heng, pembantu si kakek Ouw dikedainya.

"Celaka, kita benar benar kena ditipu!"

Seru Ong Tiong Kun; setelah dia meneliti bahwa dibalik ujut muka A heng tidak ada topeng lain lagi.

Si "macan terbang" Lie Hui Houw lemas sampai dia terduduk tanpa terasa, Sementara itu A heng tertawa melihat kedua orang yang mengaku perkasa itu telah kena ditipu, dan dia terus tertawa meskipun Lie Hui Houw meludahi mukanya dan A heng balas meludahi muka si "macan terbang Lie Hui Houw, namun meleset sebab dia kena ditendang oleh Kanglam hiap Ong Tiong Kun dan Ong Tiong Kun bahkan tak bosan bosan memukul A heng sampai A heng terpaksa mengaku mengatakan bahwa pada malam sebelum terjadi pertempuran si iblis penyebar maut memerintahkan A heng memakai topeng menjadi si kakek Ouw sedangkan si iblis katanya hendak naik keatas gunung Kauw-it san.

"Jelas bahwa si iblis lagi lagi berhasil melarikan diri.."

Ong Tiong Kun berkata seperti menggerutu ; sedangkan Lie Hui Houw memukul kepala A heng sampai remuk kepala A heng.

Muka si macan terbang Lie Hui Houw kelihatan berobah muram waktu dia kena ditipu oleh si iblis penyebar maut, dan Cie in suthay pergunakan kesempatan itu buat dia berkata ;

"Dahulu waktu kami mengganyang markas kegiatan si iblis penyebar maut; waktu itu sekelompok orang orang gagah mengepung dan membunuh si iblis penyebar maut, sehingga hancur tubuh dan mukanya, mengakibatkan orang orang tidak teringat untuk meneliti ujut muka si iblis ,."

Sejenak si macan terbang Lie Hui Houw diam berpikir; mengingat ingat kejadian selanjutnya setelah dia berdua Kanglam hiap Ong Tiong Kun kena ditipu oleh si iblis penyebar maut; sedangkan cie in suthay lalu mengajak dia buat meneruskan perjalanan mereka.

""Andaikata aku mendapat kesempatan bertemu lagi dengan dia, pasti kubunuh!"

Lie Hui Houw menggerutu penasaran namun dia ikut bangun berdiri dari tempat duduknya.

Cie in suthay mengawasi si macan terbang Lie Hui Houw.

Tajam sinar matanya akan tetapi dia menyertai senyumnya waktu dia berkata lagi ;

"Apakah kau lupa bahwa dia adalah ci-humu...?" (cihu yang berarti abang mantu) Sementara itu Lie Hui Houw terdiam berdiri dengan sepasang mata membelalak. Akan tetapi segera dia teringat bahwa dara manja Lie Siu Lan adalah anak kakak misannya Lie Kim Nio dan ayah Lie Siu Lan adalah si iblis penyebar maut! Lie Hui Houw masih terdiam tidak bersuara meskipun langkah kakinya sudah mengikuti perjalanan biarawati yang muda usia itu sedangkan didalam hatinya dia harus memikirkan sekali lagi tentang perbuatan si iblis penyebar maut, terhadap Lie Kim Nio dan Lie Siu Lan, sebab selama menunggu berita dari si "macan terbang" Lie Hui Houw, maka Lie Kim Nio bersama anak daranya dan si bocah anaknya Lie Sun Houw mendiami rumah diatas bukit Tsin nia, bagian dari gunung Tsin san yang besar dan luas. Rumah itu adalah tempat Lie Kim Nio menyendiri dan memperdalam ilmu, sehingga disekitar tempat itu tidak terdapat rumah lain orang. Di pihak Lie Siu Lan, dara manja itu merasa sangat girang dapat bertemu dan berkumpul dengan ibunya, sehingga lambat laun dia dapat melupakan kesedihannya karena tewasnya kakeknya, atau ayahnya Lie Kim Nio. Akan tetapi satu hal yang masih disesalkan oleh Lie Siu Lan sampai saat itu dia belum bertemu dengan ayahnya, sebab menurut kata ibunya; sang ayah itu sudah binasa dalam satu pertempuran melawan si iblis penyebar maut! Memang, pada mulanya kedua ibu dan anak itu agak canggung, terlebih dipihak Lie Siu Lan; sebab dia bertemu dengan ibunya setelah dia berusia remaja. Akan tetapi, mereka berdua dengan cepat dapat saling menyesuaikan diri, dan Lie Kim Nio melatih ilmu silat anak daranya, karena katanya Lie Siu Lan bertekad hendak mencari balas terhadap si iblis penyebar maut yang telah membinasakan ayahnya. Menurut kata ibunya sang ayah bernama Ong Kun Bie, sehingga Siu Lan lalu mengganti marga Lie dengan marga Ong, dan seterusnya dia menganggap bernama Ong Siu Lan. Pada saat dia berada seorang diri, sering kali Siu Lan membayangkan ayahnya; bahwa sang ayah itu bertubuh kokoh kuat, memiliki ilmu silat yang mahir seperti si "macan terbang"

Lie Hui Houw. Dengan si "macan terbang"

Lie Hui Houw sebenarnya Siu Lan harus menyebut paman, akan tetapi waktu dia melihat usia Lie Hui Houw tidak selisih banyak dengan umurnya maka Siu Lan yang biasa bersikap manja tidak mau menyebut paman sebaliknya dia memakai istilah piauwko atau kakak misan.

Wajah muka yang tampan dan sikap perkasa dari sang kakak misan itu, sering kali mengganggu hati Siu Lan yang sedang membara sebagai seorang dara remaja; sehingga dara manja itu kadang kadang membayangkan betapa akan serasi bila bersama si macan terbang Lie Hui Houw menjelajah dan menjagoi dikalangan rimba persilatan, membikin orang banyak menjadi kagum dan iri hati dengan pasangan pendekar muda yang gagah perkasa itu, yang satu cantik dan yang satu tampan!

"Akan tetapi, mungkinkah aku menjadi pacarnya Lie piauwko?

Sayang, sungguh sayang.

Mengapa Lie Hui Houw itu menjadi kakak misanku...?"" berulangkali dara manja itu berpikir dan berkata seorang diri.

Dan hari itu, untuk yang kesekian kali Siu Lan ditinggal seorang diri, sebab ibunya dan si bocah sedang pergi ke dusun terdekat hendak membeli persediaan bahan pangan.

Seorang diri Siu Lan terbenam daIam lamunannya; dan seorang diri dia melatih ilmu silat sampai mendadak dia dikejutkan dengan suara orang laki laki yang memberikan pujian.

Siu Lan menunda latihannya dan mengawasi laki laki yang bersuara memuji dia.

Seorang laki laki yang masih asing buat dia, seorang laki laki dengan kulit muka agak hitam akan tetapi bertubuh agak tinggi kokoh, berusia kira kira sudah 30 tahun lebih yang pada saat itu sedang mengawasi dia dengan perlihatkan senyum, suatu senyum ramah tidak mengandung rasa permusuhan.

Jilid 10 SETELAH cukup lama mengawasi.

maka datang rasa tidak puas didalam hati dara manja itu.

Tidak puas terhadap laki laki asing itu yang dia anggap tidak sopan.

karena mengintai dia yang sedang berlatih ilmu silat.

"Siapa kau dan siapa pula yang memberikan idzin kau datang disini...?"

Tegur dara manja itu tanpa dia mendekati laki laki yang masih asing bagi dia.

"Ha ha ha....!"

Laki laki itu tertawa.

yang sudah tentu membikin Siu Lan jadi marah.

akan tetapi laki laki itu menyambung bicara selagi Siu Lan belum sempat mengucap apa apa ."aku datang dari tempat yang jauh.

sengaja aku mendaki bukit Tsin nia dan sengaja aku mencari kau.

Sekarang aku lihat kau pandai ilmu silat.

akan tetapi sayang sekali ilmu yang kau miliki itu adalah ilmu murahan yang tiada arti dan manfaatnya..."

"Kurang ajar ! kau mengoceh dan mencela aku. Mari. kau maju sedikit dan aku akan serang kau....!"

Maki dara manja itu yang tidak dapat membendung marahnya.

"Ha ha ha."

Tawa lagi laki laki itu sambil dia melangkah mendekati.

Baca Juga: Rahasia Ciok Kwan Im 1

Baca Juga: Darah Ksatria Harkat Pendekar 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert