Ceritasilat Novel Online

Lentera Maut 6

Eps 6 Lentera Maut - Khu Lung

Baca online Lentera Maut - Khu Lung

Cersil Lentera Maut - Khu Lung.

Sahut lelaki muda itu dengan suara mengejek.

"Mau dibawa kemana ?"

Tanya seorang-orang lain lagi yang juga ikut mengawal secara tidak disengaja. ""Mau dibawa kekantor pejabat pemerintah "

Sahut lelaki muda itu sambil terus dia menyeret nyeret bawaannya; sedangkan yang mengawal sekarang menjadi semakin banyak semuanya ikut menuju ke kantor pejabat pemerintah setempat bahkan sudah ada yang sengaja mendahulukan sambil ramai ramai membicarakan tentang adanya mayat Tay lwee sip sam ciu yang sedang diseret seret!

Kantor pejabat pemerintah setempat tentunya belum dibuka, belum mau kerja kalau belum lewat jam kantor, meskipun untuk urusan apapun juga; akan tetapi waktu disebut sebut tentang Tay lwee sip sam ciu; maka pejabat pemerintah itu buru buru memberikan perintah membuka pintu lebar lebar, sebab dari kota raja memang sudah ada instruksi buat selalu siap siaga membantu anggota kegiatan anggota dinas rahasia itu.

Laki laki muda bermuka pucat seperti hantu kurang darah itu lalu membikin laporan mengatakan dia melihat Tay lwee sip sam-ciu berkelahi dan dikepung oleh dua orang pemuda dan seorang biarawati gadungan, sebab mereka bertiga sebenarnya adalah tokoh tokoh pemberontak yang hendak ditangkap oleh Tay lwee sip sam ciu, akan tetapi karena dikepung bertiga, akhirnya Tay lwee sip sam ciu kena dibinasakan.

"Lhaaa, kenapa kau tidak bantu menangkap para pemberontak itu ... ...?"

Tegur si pejabat pemerintah dengan nada suara penuh wibawa.

"Tayjin, aku orang lemah, penyakitan; kurang darah, bagaimana mungkin aku disuruh berkelahi ... ?"

Sahut laki laki muda yang pucat mukanya itu. Pejabat pemerintah itu mengawasi dengan teliti, dilihatnya muka laki laki itu memang pucat seperti hantu kurang darah.

"Hmm ! dimana sekarang para pemberontak yang sudah melakuan pembunuhan itu...?"

"Disebuah kuil tua . ;"

Sahut laki laki muda itu yang kemudian menambahkan dengan memberikan tentang ciri ciri Cie in suthay bertiga, sehingga pejabat pemerintah itu lalu mengerahkan pasukan tentara buat menangkap sedangkan laki laki muda itu diam-diam menghilang tanpa ada orang yang melihat dan mengetahui, bila laki laki muda itu sebenarnya ujut penyamaran si iblis penyebar maut.

Si iblis penyebar maut sengaja menghendaki pihak alat negara yang mengejar Cie-in suthay dan semua teman temannya.

Syukur kalau musuh musuh itu dapat ditangkap dan dibinasakan dan si iblis sengaja membawa mayat Tay lwee sip sam ciu yang palsu, supaya dilaporkan ke istana, mengenai si malaikat maut yang ke delapan sudah binasa, sehingga dengan demikian dia menjadi bebas tugas, sebab dia mau bertapa dilembah biang hantu membawa luka hati menanggung rindu, akan tetapi belum mengaku kalah sebab itu akan mempersiapkan barisan tiga belas hantu jejadian buat kelak merajalela membalas dendam kepada semua musuhnya, bagaikan hantu hantu jejadian yang mengamuk dibanyak tempat secara terpisah.

Jadi seribu kali orang orang boleh tertawa menganggap si iblis sudah kalah atau sudah binasa, akan tetapi di suatu saat nanti akan ada seribu iblis penyebar maut dengan ujut muka yang berlainan !

Dan si pejabat pemerintah setempat ternyata memerlukan waktu cukup lama buat dia mempersiapkan tentaranya, yang kebanyakan sedang tertidur dibuai mimpi bertemu si iblis atau mimpi bertemu orang orang sinting, bahkan ada yang menginap disarang kuntilanak yang pandai merayu.

Jadi mereka datang kesiangan, akan tetapi masih sempat melihat adanya kereta bertenda yang dikendalikan oleh Lie Hui Houw, sehingga buru buru menyiapkan kuda dan buru buru melakukan pengejaran ke arah kereta itu menghilang.

Kereta bertenda yang dikendalikan oleh lie Hui Houw ternyata bukan kereta yang dapat dipakai buat berlomba; roda roda kereta bisa lepas kalau dipaksa lari cepat, lagi pula 2 ekor kuda yang menarik kereta itu juga merupakan kuda kuda yang membandel tidak mau menurut, bahkan waktu dipecut oleh Lie Hui Houw, kuda kuda itu ngambek tidak mau lari dan waktu dipecut sekali lagi maka dari bagian belakang keluar "gituan" sampai dua kali banyaknya.

"Suthay, kau lindungi kereta; aku hadang mereka."

Akhirnya kata Lie Hui Houw yang lompat turun dari tempatnya sebagai sais kereta.

"Tidak bisa! kalau kau yang bertempur, kau akan menyebar maut dikalangan orang-orang yang tidak berdosa; lebih baik aku yang megat, kau yang melindungi kereta dan isinya ... .!"

Sahut Cie in suthay yang juga sudah lompat keluar, bahkan dengan tangan siap memegang pedang "ceng liong kiam"

Yang sudah dikeluarkan dari sarungnya, memperlihatkan sinar hijau kena sinar matahari yang memantul.

Lie Hui Houw manggut tersenyum; sedangkan didalam hati dia membayangkan betapa enaknya Cie in suthay membabat rumput memakai pedang yang sakti itu.

Cie in suthay sengaja menghadang ditempat yang cukup jauh terpisah dari letak kereta, dan dia mulai membabat waktu pihak tentara sudah mendekati sehingga banyak senjata tajam yang putus menjadi dua juga topi topi baja, juga perisai perisai dari besi, juga buntut buntut kuda sampai pasukan tentara itu lari kocar kacir saling menjauhi diri akan tetapi ada seorang perwira yang berani melawan Cie in suthay bertempur, diatas kuda maupun diatas tanah, dan ada lagi 4 orang sie wie dari istana kerajaan yang kebenaran sedang jalan jalan menjadi tamu kehormatan pejabat pemerintah setempat dan yang ikut mengejar para pemberontak sebab ingin memberikan jasa.

Keempat orang sie wie dari istana kerajaan itu merupakan orang orang yang menjadi pembantu ciangkun Lie Kim Liang, bekas kepala pasukan gerak cepat yang sekarang sudah jadi jenderal penuh menggantikan almarhum jenderal Cong menjadi menteri hankam.

Jilid 16 NAMA ke empat orang sie wie itu adalah Lo Tek Bun, yang bertubuh tinggi dengan jidat ada belang putih, kemudian Sie Kong yang berkepala botak licin disengaja, sebab dia pandai ilmu kepala besi, sehingga kalau ada rambutnya bisa kena dijambak oleh musuh.

Lalu Ang Sie Cwan yang mukanya merah seperti Kwan kong, dan Kim Su Kie yang paling muda usianya, yang punya senjata kipas istimewa bertulang baja.

Empat orang sie wie itu kemudian bergerak serentak membantu si perwira, yang tidak mampu mengalahkan sang biarawati muda usia dan yang cantik jelita itu.

Mereka bergerak lincah dan gesit, sebab mengetahui keampuhan pedang ceng liong kiam yang sudah tidak asing lagi bagi mereka.

Kim Su Kzie adalah seorang laki laki muda tukang perkosa anak perawan atau bini orang.

Dia jatuh cinta selekas dia melihat kecantikan biarawati yang muda usia itu yang dia sangka seorang bhiksuni gadungan, seperti laporan yang dia dengar.

Oleh karena itu, sambil bertempur dia cengar cengir seperti monyet kena terasi; sedangkan mulutnya ngoceh tidak karuan, seperti burung beo yang baru belajar ngomong membikin Cie in suthay jadi keki, perutnya panas terasa mendidih; akan tetapi biarawati yang muda usia itu tidak mampu menikam pemuda itu, sebab dia ingat tidak boleh membunuh orang, lagi pula Lim Su Kie pintar ngeledek, dia mundur kalau diancam, dan dia mendekati seperti mau nyenggol kalau Cie in suthay sedang mengancam musuh yang lain.

Biarawati yang muda usia itu mulai repot dikepung lima lawan yang bukan sembarang lawan, sedangkan pihak tentara ikut bersuara gemuruh, tanpa ada yang menghiraukan Lie Hui Houw sebab dikira cuma seorang sais yang tidak bisa diajak berhantam !

Lo Tek Bun yang bertubuh tinggi dan jidatnya ada belang putih, segera mengganti senjatanya dengan pecut panjang, lalu dengan pecutnya itu dia mencari sasaran lengan Cie in suthay yang memegang pedang, atau sepasang kaki dari biarawati yang muda usia itu, yang hendak dia bikin jatuh.

Lie Hui Houw habis sabar melihat cara berkelahi Cie in suthay yang dapat merugikan diri sendiri dan menghambur waktu.

Pemuda ini berteriak nyaring seperti aum seekor harimau jantan yang kelaparan lalu tubuhnya terbang tinggi, hinggap diatas kepala seorang tentara yang sedang berdiri menonton orang orang berkelahi, lalu dia lompat lagi dan menendang Lo Tek Bun yang waktu itu dia masih tetap dengan senjatanya pecut panjang sampai Lo Tek Bun rubuh terguling sebab perhatiannya sedang dia curahkan kepada Cie-in suthay.

Sie Kong marah melihat rekannya kena ditendang rubuh oleh sedang sais kereta yang masih muda usianya.

Dia mengaum seperti seekor banteng gila, lalu dia menyeruduk dengan kepala yang botak dan gayanya benar-benar seperti seekor banteng; sehingga pantatnya Lie Hui Houw kera diseruduk sebab pemuda ini lagi bersiap siap hendak menyerang Lim Su Kie dan tubuh Lie Hui Houw terpental justeru jadi tambah mendekati Lim Su Kie yang langsung menghajar memakai senjatanya yang istimewa, berupa sebuah kipas dengan tulang tulang baja.

Tulang tulang baja kipas itu kecil dan runcing, sudah direndam didalam larutan bisa racun yang dapat membinasakan orang, akan tetapi untung ditangan kanan Lie Hui Houw ada sarung pedang Ceng liong kiam yang seperti tongkat besi, dan dengan adanya benda itu langsung dia pakai untuk menangkis sedangkan telapak tangan kirinya menghantam iga Lim Su Kie, akan tetapi Lim Su Kie sempat lompat mundur dengan gerak yang luar biasa pesat dan lincah.

"Bagus."

Lie Hui Houw bersuara memuji karena ikut merasa kagum dengan kelincahan lawannya yang masih muda usianya itu lalu sekali lagi dia menerkam memakai gerak macan galak menerkam kambing, akan tetapi dia menjadi sangat terkejut waktu ada jarum jarum halus yang keluar dari kipas istimewa milik lawannya, sehingga cepat cepat Lie Hui Houw membuang dirinya bergulingan ditanah sambil sebelah kakinya meraih sepasang kaki Lim Su Kie, mengakibatkan lawan itu ikut jatuh terguling.

Lie Hui Houw merasa yakin bahwa jarum jarum halus yang digunakan oleh lawannya mengandung bisa racun maut dan dia paling benci menghadapi orang orang yang mengganas menggunakan senjata yang mengandung bisa racun seperti si iblis penyebar maut, dari itu dengan cepat dia segera mempersiapkan diri hendak menyerang musuh ini dengan menggunakan ilnu houw jiauw kang atau tenaga cakar harimau !

Sie Kong melihat gejala tidak baik bagi rekannya dan dia cepat cepat menyeruduk lagi memakai kepalanya yang botak seperti seekor banteng gila; dan sekali lagi Lie Hui Houw kena diseruduk sampai dia terdorong mundur tiga langkah kebelakang sedangkan si botak tewas dengan leher bolong seperti kena cakar macan menjadi pengganti Lim Su Kie.

Dipihak Lim Su Kie dia menjadi sangat gusar karena melihat seorang rekannya binasa; sekali lagi dia menekan alat pada kipasnya dan lagi-lagi telah meluncur jarum jarum halus yang ditujukan kepada Lie Hui Houw akan tetapi pada saat itu Lie Hui Houw sudah mendahulukan lompat kedekat Cie in suthay sebab waktu itu Lie Hui Houw sangat terkejut karena melihat sepasang telapak tangan Ang Sie Cwan yang merah membara.

"(tok see ciang Lie ...) seru Lie Hui Houw didalam hati. karena dia teringat dengan si tangan beracun Ang Cong Loei. Dan selekas itu juga Lie Hui Houw lompat dan menghadang dibagian sebelah depan Cie in suthay, siap membela atau mewakilkan biarawati yang muda usia itu buat melawan Ang Sie Cwan yang memiliki ilmu "tangan pasir beracun*. Ang Sie Cwan tidak perduli musuhnya berganti orang. Dia tertawa seperti iblis yang siap hendak membakar manusia dan dia langsung menyerang memakai sepasang tangannya yang keras dan mengandung racun maut. Lie Hui Houw melawan memakai ilmu ngo heng ciang pada tangan kirinya, dan ilmu ngo heng kiam hoat pada tangan kanannya memegang sarung pedang ceng liong kiam dan sarung pedang dari baja itu sudah beberapa kali berhasil menghajar sepasang tangan Ang Sie Cwan; akan tetapi musuh ini agaknya memiliki kekebalan, sampai kemudian tangan kiri Lie Hui Houw berhasil menghajar jidat Ang Sie Cwan dengan jurus kuntao bango, dan jidat itu bolong seperti kena dipatok oleh seekor burung bango. Keadaan menjadi tambah kacau, karena adanya beberapa alat negara itu yang kena dibinasakan. Perwira yang memimpin pasukan itu berteriak memerintahkan semua tentara mengepung tambah ketat, memaksa Lie Hui Houw harus kerja keras mendampingi Cie-in suthay yang pantang membunuh sampai kemudian datang seorang pendeta yang ikut mengamuk; melemparkan banyak tentara yang merintang, sampai Cie in suthay menjadi girang, karena melihat pendeta itu adalah Hui beng siansu seorang tokoh Thian san pay yang memang sudah dia kenal. Juga Lie Hui Houw sudah tidak asing lagi dengan Hui beng siansu yang pernah membantu waktu dulu Lie Hui Houw sedang menyamar sebagai si kakek Lie. Cie-in suthay hendak menyapa Hui beng siansu yang usianya lebih tua belasan tahun, akan tetapi mendadak Cie-in suthay menjadi terkejut, karena melihat kereta pertanda ada yang bawa lari. "Hey ! kereta itu dibawa kabur!"

Teriaknya Cie in suthay; lalu dia bergerak melesat buat mengejar, sedangkan dibelakangnya ada beberapa orang tentara yang ikut mengejar.

Lie Hui Houw berdua Hui beng siansu masih harus menghadapi pihak tentara yang mengepung, sampai pihak tentara setengah tobat setelah itu Hui beng siansu mengajak Lie Hui Houw mengejar kereta.

Lie Hui Houw memang pernah bertemu dengan Hui beng siansu, waktu terjadi peristiwa dia menyamar si kakek Lie menghadapi si iblis penyebar maut dalam ujut penyamaran sebagai si kakek Ouw, akan tetapi pada kesempatan pertemuan itu mereka tidak saling berbicara, bahkan Lie Hui Houw harus buru buru membawa si kakek Ouw, dengan ditemani oleh Kanglam hiap Ong Tiong kun.

Kemudian Lie Hui Houw banyak mendengar dari Cie in suthay tentang tokoh Thian-san pay itu yang sejak muda usia tidak bosan-bosan mencari jejak si iblis penyebar maut.

Waktu itu Hui beng siansu masih merupakan seorang pemuda yang memakai nama Tan Hui Beng.

Pertama kali dia bertemu dan menghadapi peristiwa si iblis penyebar maut adalah selagi dia melakukan perjalanan dan singgah didusun Pek kee cung; disuatu pagi yang sejuk hawanya selagi ayam ayam jantan sedang berkokok perdengarkan suaranya dan matahari baru perlihatkan ujutnya.

Di tempat yang sunyi dan masih merupakan tempat belukar karena letaknya didekat perbatasan luar desa, Tan Hui Beng dibikin terpesona menemukan empat tubuh manusia yang membujur rebah menjadi mayat, sedangkan darah berceceran disekitar mayat itu.

"Akh! mayat mayat siapakah gerangan ini? dan apa yang menyebabkan mereka dibunuh dengan cara yang kejam...?"

Tan Hui Beng berkata seorang diri. Selagi Tan Hui Beng masih berdiri meneliti, maka tiba tiba dia mendengar teriak suara seseorang; yang disusul kemudian dengan teriak suara orang orang yang lain.

"Pembunuh! pembunuh ... !"

"Ada pembunuh ! ada pembunuh ... !"

Kemudian dalam waktu yang singkat, tempat itu telah dipenuhi oleh para penduduk desa Pak kee cung.

"Itu pembunuhnya, tangkap . ."

"Mari kita kepung ! bunuh saja dia ...l"

Dan para penduduk yang rupanya meluap kemarahan mereka, sebab biasanya didesa mereka tidak pernah terjadi perkara pembunuhan atau kedatangan orang orang jahat; sehingga secara serentak mereka telah menyerang dan mengepung pemuda pendatang baru itu, rnenyerang memakai senjata apa saja yang sedang mereka bawa; ada yang berupa pacul, tongkat kayu, golok dan lain sebagainya.

Meskipun Tan Hui Beng merasa terkejut dan penasaran, akan tetapi pemuda ini menyadari bahwa penduduk desa setempat salah paham dengan kehadirannya didekat mayat mayat itu, sehingga dia dituduh menjadi si pembunuh.

Dengan pedangnya yang tetap berada didalam sarungnya, Tan Hui Beng berkelit atau menangkis dari setiap serangan disamping dia berteriak berulangkali untuk meredakan sikap para penduduk itu, akan tetapi usahanya sia sia dan teriak suaranya kandas di antara sekian banyaknya orang orang desa yang berteriak dan mengepung dia sehingga pada saat berikutnya pemuda ini bergerak pesat seperti terkena tiupan badai, mengakibatkan tubuhnya hanya kelihatan bagaikan bayangan yang bergerak gesit ke delapan penjuru, sebab dia sedang bersilat mengerahkan ilmu "pat kwa yu sin cianghoa".

Orang orang desa yang terkena serangan sarung pedang atau kepelan tangan pemuda itu berpelantingan jatuh bagaikan dilanda angin.topan.

Semakin lama semakin banyak orang orang yang berjatuhan sampai akhirnya keadaan menjadi reda karena rupanya mereka merasa tobat menghadapi sipemuda pendatang baru itu.

Tiba tiba terdengar suara tawa seorang dan ketika Tan Hui Beng mencari dengan pandang matanya yang tajam dan bersinar terang maka diketahuinya bahwa suara tawa itu berasal dari seorang lelaki setengah tua sudah empat puluh tahun lebih umurnya; memiara kumis dan sedikit jenggot bertubuh agak kurus akan tetapi sehat kuat; dan lelaki setengah tua itu justru adalah satu satunya orang yang tidak ikut dalam pengepungan tadi.

Lelaki setengah tua itu kemudian melangkah mendekati Tan Hui Beng; lalu sambil masih tertawa dia berkata .

"Maaf, maaf atas tindakan orang2 desa yang telah membikin siao hiap jadi marah. Namaku Su Gie lengkapnya Ong Su Gie. Bolehkah aku mengetahui nama siaohiap ?"

Dengan paksakan diri untuk ikut bersenyum, maka Tan Hui Beng berkata.

"Siaotit bernama Tan Hui Beng, seorang dalam perjalanan yang mendadak menemukan mayat mayat itu, lalu siaotit dituduh sebagai pembunuhnya." "Aku tahu.

aku tahu...

" kata Ong Su Gie yang memutus perkataan Tan Hui Beng dan menambahkan lagi perkataannya.

"..ketika mereka tadi mengepung siao hiap aku telah pergunakan kesempatan itu buat memeriksa keadaan mayat mayat yang ternyata adalah menjadi korban keganasan si iblis penyebar maut.."

"Toat beng sim ...?"

Ulang Tan Hui Beng yang berkata perlahan seperti dia menggerutu.

Ong Su Gie manggut membenarkan lalu diperlihatkannya sebuah lencana toat beng sim yang selalu ditinggalkan oleh si iblis penyebar maut didalam melakukan keganasannya.

Kemudian Ong Su Gie juga berhasil memberikan penjelasan kepada para penduduk setempat sambil sekedar dia menceritakan tentang keganasan si iblis penyebar maut yang sudah seringkali dia dengar dan bukti lain yang ditemukan oleh Ong Su Gie adalah berupa paku naga beracun atau tok liong teng, suatu senjata yang biasa digunakan oleh si iblis penyebar maut.

Maka dalam waktu yang singkat telah menjadi bahan pembicaraan yang menggemparkan bagi penduduk desa Pek kee cung tentang adanya si iblis penyebar maut yang telah mengganas di desa mereka.

Sementara itu Ong Su Gie yang ternyata merupakan salah seorang penduduk desa Pek kee cung lalu mengundang Tan Hui Beng singgah dirumahnya di mana pemuda itu diperkenalkan kepada isteri dan anak laki laki Ong Su Gie yang bernama Ong In Thian yang waktu itu sudah berumur 19 tahun sedikit lebih muda dari umur Tan Hui Beng.

"Tentang Toat beng sim itu, tahukah susiok siapa gerangan dia ,,.., ,?"

Tanya Tan Hui Beng pada Ong Su Gie selagi mereka bicara di ruang tamu. Ong Su Gie tidak segera memberikan jawab dan dia kelihatan termenung sebentar; setelah itu baru dia berkata.

"Banyak orang yang sudah mengetahui tentang si iblis yang ganas dan gemar menyebar maut, mengetahui karena mendengar atau menghadapi keganasan Toat beng Sim. Akan tetapi orang tetap tidak mengetahui siapa gerangan namanya dan bagaimana ujut mukanya yang sebenarnya, oleh karena dia sangat pandai melakukan penyamaran, memakai semacam topeng yang dibikin dari bahan yang mirip dengan kulit manusia, sehingga tidak mudah buat seseorang mengetahui bahwa si iblis penyebar maut sedang melakukan penyamaran ..."

"... pada mulanya aku pun tidak mengetahui, kalau si iblis pandai melakukan penyamaran; sekiranya tidak terjadi suatu peristiwa yang sangat menggemparkan yang pernah aku alami .."

"Peristiwa apakah itu?"

Tanya Tan Hui Beng waktu Ong Su Gie tidak meneruskan perkataannya kelihatan seperti ragu-ragu. Sejenak Ong Su Gie masih mengawasi muka tamunya setelah itu baru dia berkata .

"Peristiwa itu terjadi didalam kota Po teng yang meskipun tidak merupakan suatu kota yang besar akan tetapi ramai dan banyak penduduknya."

"..,..di kota itu aku mempunyai sahabat seorang hartawan yang luas pergaulannya baik di kalangan pedagang pembesar negri ataupun dikalangan rimba persilatan; meskipun dia sendiri tidak pandai silat. Hartawan itu bernama The Sin Goan. Dalam usianya yang sudah lebih dari lima puluh tahun dia hanya mempunyai seorang anak perempuan yang baru berumur delapan belas tahun; seorang anak dara yang cantik dan halus budi bahasaya. The Lian Cu adalah nama dara yang cantik jelita itu. Dia sangat disayang oleh kedua orang tuanya, akan tetapi dia tidak bersifat manja. Dara yang anak orang hartawan ini sudah mempunyai calon suami, yang sesuai dan memang menjadi idaman hatinya . seorang pemuda bernama Can Houw Liang, anak seorang saudagar yang kaya raya, berasal dari perbatasan Kui ciu bagian barat akan tetapi sudah 5 tahun lamanya menetap menjadi penduduk kota Po teng. Untuk merayakan hari jadinya yang ke 18 maka The Lian Cu menghendaki diadakan suatu pesta, dan hartawan The Sin Goan lalu mengundang banyak sahabat serta kenalannya baik yang tinggal berdekatan maupun dari luar kota Po teng termasuk Ong Su Gie yang datang dengan membawa bingkisan seperlunya. The Lian Cu adalah anak perempuan satu satunya dari keluarga hartawan The, sehingga tidak mengherankan kalau barang barang bingkisan yang diterimanya sebagai hadiah hari jadinya sangat berlimpah limpah dan kebanyakan terdiri dari barang barang perhiasan batu permata atau mutiara yang tak ternilai harganya. Adapun para tamu yang datang memenuhi undangan hartawan The tidak hanya terdiri dari para hartawan atau bangsawan, bahkan banyak juga dari kalangan orang orang rimba persilatan, yang terdiri dari macam macam golongan. Akan tetapi mereka semua adalah orang orang yang menghormati hartawan The Sin Goan, sehingga hartawan itu tidak merasa curiga atau khawatir kalau kalau akan terjadi pencurian atau perampokan meskipun hartawan The mengetahui bahwa diantara para tamu yang hadir; terdapat juga para perampok kenamaan, bahkan terkenal ganas dan kejam. Ditengah kesibukan hari perayaan itu maka tiba tiba terdengar pekik suara seorang pelayan perempuan kemudian datang laporan kepada hartawan The Sin Goan yang mengatakan bahwa didalam kamar tempat menyimpan barang barang bingkisan, telah terjadi pencurian atas semua barang barang yang berupa perhiasan atau permata yang sangat berharga itu. Ketika hartawan The dengan disertai oleh berapa orang sahabatnya yang akrab dan mahir ilmu silatnya memasuki kamar itu; maka mereka menemui beberapa orang yang bertugas menjaga yang ternyata telah kena dibius memakai asap dupa mengandung racun mengakibatkan mereka tertidur lupa diri. Sebelum hartawan The sempat memikirkan sesuatu daya maka dari arah halaman belakang rumah terdengar adanya bunyi suara orang orang yang sedang bertempur. Dengan langkah kaki tergesa gesa, hartawan The dan para sahabatnya bergegas menuju kebagian belakang rumah dan masih sempat mereka melihat Can Houw Liang; atau sang calon mantu sedang dikepung 4 orang kauwsu (tukang pukul), yang bekerja sebagai penjaga keamanan dirumah hartawan The dan para kauwsu itu dibantu oleh dua orang sahabatnya hartawan The yaitu dia adalah yang bernama Tio Tiong Cun dan Ong Su Gie. Para kauwsu yang sempat melihat kehadiran majikan mereka, maka sambil tetap mengepung mereka berteriak memberitahukan bahwa si pencuri justeru adalah Can Houw Liang ! Dilain pihak waktu itu kelihatannya Can Houw Liang sudah merasa tidak sanggup melawan para pengepungnya, sehingga dengan gerak "yan cu coan-in" atau burung "walet menembus angkasa maka secara tiba tiba Can Houw Liang lompat melesat melewati tembok halaman dan melarikan diri. Akan tetapi oleh karena geraknya itu maka dari dalam kantongnya telah berhamburan sebagian barang barang permata hasil curiannya. Beberapa orang segera mengumpulkan barang barang permata yang berhamburan itu, untuk dikembalikan kepada hartawan The, sementara beberapa orang lagi telah melakukan pengejaran kearah Can Houw Liang melarikan diri. Diantara orang orang yang melakukan pengejaran itu, terdapat Tio Tiong Cun berdua Ong Su Gie yang termahir ilmu ringan tubuh dan lari cepat, sehingga lewat sesaat mereka berdua menemukan Can Houw Liang, yang waktu itu sudah rubuh pingsan di suatu sudut dekat rumah seseorang, akan tetapi tidak diketahui terkena serangan apa dan dilakukan oleh siapa. Sedangkan Tio Tiong Cun berdua Ong Su Gie manganggap bahwa seseorang telah memberikan bantuan, akan tetapi seseorang itu sengaja tidak mau diketahui jasanya. Dengan demikian Can Houw Liang dapat ditangkap dan dibawa menghadap kepada hartawan The, akan tetapi sisa barang barang curian yang seharusnya masih ada padanya, ternyata tidak ditemukan, sehingga orang yang menduga bahwa Can Houw Liang telah umpat disuatu tempat, atau mungkin sudah diambil oleh seseorang yang sudah berhasil membikin Can Houw Liang tidak berdaya waktu ditemukan oleh Tio Tiong Cun berdua Ong Su Gie. Kemudian waktu Can Houw Liang sudah ditolong dan sudah sadar dari pingsannya maka ternyata penuda itu menyangkal telah melakukan pencurian, sebaliknya dia mengatakan bahwa seseorang telah memukul dia sampai dia lupa diri, tanpa dia mengetahui siapa seseorang itu, bahkan dia tidak tahu bahwa dia sedang ditangkap dan dituduh menjadi pencuri. Orang orang yang hadir dan ikut mendengarkan pengakuan Can Houw Liang, sudah tentu menjadi tertawa, bahkan ada yang perlihatkan muka menghina sebab mereka beranggapan akan sia sia pemuda itu menyangkal sebab banyak orang orang yang melihat pemuda itu melakukan perlawanan, dan melihat juga waktu sebagian barang barang permata itu berhamburan selagi Can Houw Liang berusaha melarikan diri. Diantara orang orang yang ikut tertawa, terdapat juga seorang pembesar negeri yang menjadi pejabat pemerintah di kota Po teng, dan pejabat pemerintah itu lalu berkata.

"Rumah penjara akan selalu penuh sesak, kalau setiap pencuri mengakui perbuatannya,"

Demikian kata pejabat pemerintah itu yang membikin orang orang jadi tertawa lagi dan pejabat pemerintah itu lalu memerintahkan para pengawalnya membawa Can Houw Liang buat menambah isi rumah penjara.

Hartawan The Sin Goan tidak berdaya menentang keputusan pejabat pemerintah itu, apalagi waktu dilihatnya Can Hok Liang ayahnya Can Houw Liang membiarkan anaknya ditangkap, sebab orang tua itu merasa malu menghadapi perbuatan anaknya yang menjadi seorang pencuri !

Dipihak pejabat pemerintah setempat sebenarnya adalah menjadi harapannya bahwa hartawan The atau ayah Can Houw Liang hendak mengajukan permohonan supaya Can Houw Liang jangan ditangkap sehingga si pejabat pemerintah itu mempunyai kesempatan buat minta uang tebusan !

Barangkali apabila ada seseorang sempat untuk berpikir dua kali pada waktu mendengarkan pengakuan dari Can Houw Liang, maka seseorang itu tentunya akan menyadari bahwa Can Houw Liang bukanlah merupakan anak kecil lagi.

CAN HOUW LIANG adalah seorang pemuda terpelajar yang bahkan terkenal cerdas, bagaimana mungkin dia memberikan pengakuan tidak melakukan pencurian, kalau dia mengetahui ada banyak orang orang yang sudah melihat barang bukti yang sudah ada padanya, dan orang orang bahkan sudah bertempur dengan dia.

Jadi pengakuan Can Houw Liang itu lebih tepat dianggap sebagai pengakuan orang sinting !

Dan setelah tiga hari Can Houw Liang turut memenuhi isi rumah penjara dikota Po teng maka secara mendadak pada malam berikutnya Can Houw Liang menghilang, ditolong oleh seseorang yang telah merusak pintu penjara akan tetapi tidak diketahui entah siapa gerangan yang telah menolongnya itu, sebab dia memakai selubung penutup kepala hingga tidak terlihat wajah mukanya sebatas leher !

Menghilangnya Can Houw Liang dari rumah penjara kota Po teng itu sudah tentu membikin si pejabat pemerintah menjadi repot.

Dia mendatangi rumah hartawan The dan mendatangi juga rumah ayahnya Can Houw Liang tetap tidak ditemukan sehingga mengakibatkan banyak orang-orang jadi membicarakan lagi urusan Can Houw Liang itu.

Sementara itu tidak jauh terpisah dari kota Po teng terdapat desa Bian sie cung yang letaknya berdekatan dengan gunung Bian san.

Di dekat perbatasan antara desa Bian sie cung dengan gunung Bian san itu terdapat sebuah kuil yang cukup besar akan tetapi dari bagian luar kelihatan agak menyeramkan sebab banyak ditumbuhi oleh pohon-pohon yang besar dan lebat.

Setahu orang orang, kuil itu dipimpin oleh seorang pendeta bangsa Biauw yang bernama Touw liong touwsu, yang sudah lima tahun lamanya menetap dikuil itu akan tetapi seringkali melakukan perjalanan ke berbagai kota atau tempat lain.

Touw-liong touwsu atau si pendeta suku bangsa Biauw itu sudah berusia empat puluh tahun lebih, bertubuh kurus dan tinggi, memiara rambut panjang dan memakai ikat kepala dengan sehelai kain warna putih (sorban).

Belasan tahun yang lalu, Touw-liong touwsu pernah datang menyambangi gurunya yang bermukim jauh diatas gunung Ya ma coan, diperbatasan In Lam..lalu dia menjadi sangat terkejut sebab menemukan gurunya dalam keadaan luka parah; ditemani oleh seorang pengemis kecil.

Meskipun benar nyawanya tertolong, ternyata si kakek yang menjadi gurunya Touw touwsu itu menjadi cacad lumpuh, tidak mampu lagi menggunakan ilmu silatnya.

Dengan mengajak kedua muridnya yang bernama Toa mo tosauw dan Jie mo tosauw, maka Touw Iiong touwsu kemudian melakukan perjalanan ke berbagai pelosok tempat buat dia mencari kedua musuh gurunya, yang menurut keterangannya terdiri dari dua orang laki laki bangsa asing, yang tidak diketahui nama kebangsaannya.

Selama melakukan perjalanannya itu, dua kali dalam setahun Touw liong touwsu memerlukan menyambangi dan memberikan laporan kepada gurunya, melatih si pengemis kecil yang ternyata telah dijadikan murid bungsu dari gurunya yang sakti itu.

Untuk sepuluh tahun lamanya gurunya berhasil mendidik murid bungsu itu (yang tentunya bukan merupakan seorang pengemis kecil lagi) dan ketika kakek tua itu wafat; maka Touw liong touwsu menetap dikuil yang letaknya didekat desa Bian sie cung.

Malam itu selagi Can Houw Liang masih berada di dalam rumah penjara di kota Po teng, tiba tiba pemuda ini telah mendapat pertolongan dari seseorang yang memakai selubung tutup kepala dari kain warna hijau.

Orang itu dengan geraknya yang tangkas dan lincah dalam sekejap telah berhasil membikin para petugas mati daya sampai kemudian orang itu merusak pintu penjara.

Adalah pada waktu Can Houw Liang ingin mengucap terima kasih maka secara tiba tiba tangan kanan orang itu sudah bergerak dan secarik kain warna hijau semacam saputangan menyambar muka Can Houw Liang lalu suatu bau harum telah tercium oleh pemuda itu yang kemudian menjadi pingsan lupa diri.

Kemudian waktu Can Houw Liang telah sadar maka dia mendapat dirinya diikat berdiri bersandar pada suatu tiang kayu dengan sepasang tangan terbentang lebar dan sepasang kaki rapat; sehingga pemuda itu menjadi sangat heran dan tidak mengerti mengapa dirinya yang sudah ditolong keluar dari rumah penjara, dan sekarang ditahan di suatu tempat yang masih asing bagi dia, bahkan diikat erat erat sampai dia tidak bisa bergerak.

Dengan pandangan matanya, Can Houw Liang mulai meneliti keadaan disekitar tempat dia ditahan, sehingga dia mengetahui bahwa dia berada disuatu kamar yang luas dan terdapat suatu meja upacara sembahyang menjadikan dia merasa yakin bahwa dia ditahan disuatu kuil.

Lewat sesaat Can Houw Liang melihat datangnya dua orang pendeta muda bersama seorang laki laki bertubuh tinggi besar, yang bermuka hitam dengan sedikit kumis, sedangkan pakaiannya berupa jubah warna putih.

Can Houw Liang batal menanyakan sesuatu, sebab tiba tiba laki laki bermuka hitam itu kedengaran berkata kepada salah seorang pendeta muda yang mengantar.

"Kelihatannya dia sudah siuman, tolong siao suhu beritahukan pada cuncu,"

Demikian kata orang bermuka hitam itu.

Pendeta muda yang diajak bicara itu menurut.

Dia pergi meninggalkan ruangan itu sementara laki laki bermuka hitam itu lalu mendekati Can Houw Liang dan dengan cermat dia meneliti pemuda yang sedang diikat itu.

"Tempat apakah ini?" tanya Can Houw Liang yang masih belum mengerti tentang maksud penahanan atas dirinya. Laki laki bermuka hitam itu tidak menjawab. Dia tetap mengawasi dengan penuh perhatian; dan Can Houw Liang lalu menanya lagi.

"Siapakah orang yang kau sebut cuncu itu?" "Diam kau,"

Bentak laki laki yang bermuka hitam itu yang sekarang kelihatan menjadi marah dan tambah menyeramkan, setelah itu dia menyambung perkataannya.

"Maut sudah mengintai, akan tetapi kau masih banyak menanya,"

Demikian dia berkata seperti menggerutu dan meninggalkan Can Houw Liang untuk dia mendekati si pendeta yang seorang lagi yang sejak tadi berdiri diam mengawasi.

Dipihak Can Houw Liang sudab tentu dia menjadi sangat terkejut, ketika didengarnya perkataan laki laki bermuka hitam tadi.

Dia penasaran karena tidak tahu apa sebabnya dikatakan maut sedang mengintai dia !

Tiba tiba si pendeta muda yang pergi tadi telah kembali lagi dengan mengajak seorang pemuda dan ketika Can houw Liang melihat pemuda yang baru datang itu, maka sepasang matanya menjadi terbelalak mengawasi terpesona sebab pemuda yang dilihatnya itu justeru adalah sangat mirip dengan dia.

"Kau ..kau."

Kata Can Houw Liang, akan tetapi tak kuasa dia meneruskan perkataannya padahal dia sudah mulai jelas dengan sebab sebab dia dituduh menjadi pencuri. Ada lain orang yang telah menyamar sebagai dirinya.

"Ha ha ha ,. !"

Tawa pemuda yang baru datang dan yang mirip dengan Can Houw Liang itu.

Disaat berikutnya; dua pemuda yang mirip mukanya itu sudah berdiri saling berhadapan.

Lalu secara tiba tiba Can Houw Liang yang baru datang telah meludahi muka Can Houw Liang yang sedang diikat.

Can Houw Liang yang sedang diikat tidak menduga, sehingga mukanya kena ludah Can Houw Liang yang baru datang.

Dia marah dan bermaksud hendak balas meludahi Can Houw Liang yang baru datang, akan tetapi sebelum niatnya terlaksana, tiba tiba tangan kanan Can Houw Liang yang baru datang telah menampar muka Can Houw Liarig yang diikat membikin muka Can Houw Liang yang sedang diikat menjadi terdorong menyamping, dan ludahnya tidak mencapai sasaran yang dikehendaki.

"Ha ha ha ..!"

Tawa lagi Can Houw Liang yang baru datang itu, lalu dia meneruskan berkata.

" ... lima belas tahun yang lalu, kau pernah meludahi seorang pengemis kecil. Kau menganggap remeh perbuatanmu itu, dan kau bahkan tertawa. Tertawa sebab kau merasa girang, sebab kau telah berhasil menghina seorang bocah yang tidak berdaya .

" (Dahulu, ya dahulu. Disuatu pagi yang dingin karena memang sedang dalam pertengahan musim dingin, selagi Can Houw Liang bersama ayahnya membuka pintu rumah, karena mereka bermaksud hendak mengunjungi seorang sanak, maka kelihatannya bahwa di depan pintu rumahnya sedang meringkuk seorang pengemis kecil yang merintih. Merintih karena kedinginan, dan merintih karena sedang kelaparan ! Dengan sebelah kakinya yang kecil, si bocah Can Houw Liang menendang si pengemis kecil itu). " ..nah, sekarang kau teringat dengan waktu kau menendang si pengemis kecil itu, bukan ..?"

Tiba tiba tanya Can Hauw Liang yang sedang diikat; lalu secara tiba tiba pula dia menendang betis Can Houw Liang yang sedang diikat, membikin pemuda yang tidak berdaya itu jadi berteriak kesakitan namun tidak dapat menghindar.

(...

si pengemis kecil itu berteriak mengaduh.

Lalu waktu dia sedang berusaha hendak berdiri buat dia meninggalkan tempat itu, maka Can Houw Liang telah meludahi, tepat pada muka si pengemis kecil yang jadi berdiri terpesona dihadapannya akan tetapi tidak berani melawan, sebab dilihatnya di dekat Can Houw Liang ada ayahnya Can Houw Lang bahkan juga ada empat orang tukang pukul yang telah bergerak mendorong dan mengusir si pengemis kecil itu .

.) Dan pandangan mata si pengemis kecil itu, sekarang mirip benar dengan pandangan sinar mata Can Houw Liang yang sedang berdiri mengawasi Can Houw Liang yang diikat membikin Can Houw Liang yang sedang diikat itu menjadi terkenang dengan masa lalu yang sebenarnya sudah dia lupakan.

"Bagi kau yang telah meludahi si pengemis kecil itu sudah tentu kau menganggap remeh perbuatanmu ..." kata lagi Can Houw Liang yang sedang berdiri mengawasi Can Houw Liang yang sedang diikat, lalu dia menyambung bicara lagi .

"... akan tetapi, bagi si pengemis kecil itu. Meskipun benar dia hanya seorang gelandangan yang tidak berdaya, akan tetapi dia mempunyai rasa dan harga diri, sedangkan harga dirinya itu sudah kau landa dengan perbuatanmu itu. Fui ., " Sekali lagi Can Houw Liang yang sedang diikat harus menerima ludahnya Can Houw Liang yang sedang berdiri dan berbicara di hadapannya. Can Houw Liang yang sedang diikat itu tidak sempat menanyakan siapa sebenarnya orang yang sekarang mirip dengan dia itu oleh karena mendadak Can Houw Liang yang berdiri itu keluar meninggalkan ruangan sambil dia memesan sesuatu kepada si pendeta muda yang memanggil dia tadi. Malam itu dengan menggunakan ilmu ringan tubuh ouw beng kong atau bayangan hitam melayang diangkasa, maka Can Houw Liang dengan memakai tutup muka dari kain warna hijau, berhasil memasuki rumahnya hartawan The, tanpa ada seseorang yang mengetahui meskipun sebenarnya waktu itu terdapat banyak para kauwsu dan para tamu yang kebenaran masih menginap. Dengan geraknya yang lincah dan ringan, Can Houw Liang kemudian berhasil memasuki kamarnya dara The Lian Cu. Meskipun waktu itu The Lian Cu sudah rebah diatas tempat tidurnya, akan tetapi dia belum pulas tertidur, sebab dia sedang memikirkan perbuatan calon suaminya yang katanya telah menjadi seorang pelarian dari rumah penjara kota Po teng. Seperti kata orang orang bahwa perempuan itu memiliki perasaan yang halus, yang kadang kadang bagaikan mempunyai indera yang keenam, maka hati nurani The Lian Cu merasa tidak percaya bahwa laki laki pilihannya telah melakukan pencurian, apalagi barang yang dicuri adalah milik yang menjadi caIon isterinya, yang kemudian hari barang barang itu akan menjadi milik mereka berdua. Akan tetapi, adanya bukti barang itu berhamburan dari dalam kantong Can Houw Liang benar benar telah membikin The Lian Cu menjadi bingung tidak mengerti. Dan dara yang jelita itu kemudian menjadi sangat terkejut waktu secara tiba tiba dilihatnya daun jendela kamarnya terbuka, lalu seseorang yang memakai tutup muka warna hijau memasuki kamarnya. Hampir The Lian Cu berteriak memanggil orang orang akan tetapi dia batal melakukannya; sebab orang itu dilihatnya memberikan aba aba agar dia tidak bersuara dan di lain saat orang itu melepaskan tutup mukanya, sehingga pada detik berikutnya dara jelita itu melihat pemuda calon suaminya yang sedang melangkah mendekati, sambil menyertai seberkas senyum.

"Lian moay..."

Kata calon suami itu yang tiba tiba telah duduk disisi The Lian Cu yang baru sempat duduk diatas tempa tidurnya, dan kemudian dara yang jelita itu buru buru menghalau waktu tangan calon suaminya hendak menyentuh tubuhnya.

"Lian moay, kau tidak lagi menyintai aku?"

Tanya Can Houw Liang sambil dia mengawasi muka calon istrinya dan tak lupa dengan menyertai senyumnya.

Dara yang jelita itu tidak segera memberikan jawaban sehingga sejenak keadaan didalam kamar itu menjadi hening.

Sejak mereka berdua bertunangan memang benar telah beberapa kali keduanya mengadakan pertemuan dan saling bertukar kata bahkan pemuda itu sudah biasa memegang sepasang lengan The Lian Cu kalau mereka berdua sedang berada didalam taman bunga, akan tetapi untuk berada berdua didalam kamar tidur apalagi saat itu dara yang jelita itu sedang memakai pakaian tidur yang tipis kainnya maka hal itu adalah memalukan bagi The Lian Cu.

Akan tetapi waktu didengarnya kata kata lembut dan sikap mesra maka The Lian Cu balas mengawasi muka calon suaminya dan dia berkata .

"Liang ko, kau..,"

Dan dara yang jelita itu tak dapat meneruskan perkataannya; padahal jelas maksudnya dia hendak menanyakan keterangan perihal pencurian dan peristiwa berikutnya yang dialami oleh calon suaminya itu.

"Lian moay, apakah kau percaya bahwa aku telah melakukan pencurian..,"

Sengaja Can Houw Liang menanya lembut mesra nada suaranya.

The Lian Cu mengawasi lagi muka calon suaminya setelah sesaat tadi dia diam menunduk, dan sekali ini dibiarkannya waktu sebelah tangannya dipegang erat erat oleh pemuda itu yang kemudian menambahkan perkataannya.

"Pencurian itu bukan aku yang lakukan aku justru..."

"Mengapa Liang ko tidak mengatakan terus terang kepada ayah dan kepada mereka yang menangkap kau ?"

Tanya The Lian Cu yang memutus perkataan calon suaminya.

"Sukar buat aku ingkar sebab lebih dulu aku harus menangkap pencurinya; untuk aku membuktikan keadaan yang sebenarnya.. .* sahut Can Houw Liang, sambil dia meraba raba lengan calon isterinya yang putih halus kulitnya. "Siapakah gerangan si pencuri itu ,,?"

The Lian Cu menanya lagi karena dia memang tidak percaya bahwa calon suaminya tetah melakukan pencurian, sementara waktu itu dia merasa geli, akibat lengannya sedang diraba mesra oleh calon suaminya.

"Seseorang yang aku tidak ketahui siapa dia, akan tetapi dia telah menyamar sebagai aku; waktu dia melakukan perbuatan itu.

Sahut Can Houw Liang.

"Menyamar .. ?" ulang The Lian Cu yang kelihatan menjadi heran, akan tetapi didalam hati dia sudah dapat menduga tentang apa sebabnya orang orang menuduh calon suaminya yang melakukan pencurian itu.

"Benar, akan tetapi hal ini akan aku atasi, yang penting bagiku, apakah Lian moay percaya bahwa aku telah mencuri .?"

The Lian Cu menggelengkan kepalanya dan perlihatkan seberkas senyum manis, senyum wajar karena sesungguhnya dia merasa girang sebab calon suaminya sudah memberikan penjelasan kepadanya.

"Kau tetap menyintai aku ....?" tanya lagi calon suami itu dan waktu The Lian Cu manggut maka tiba tiba Can Houw Liang menarik sepasang lengan calon isterinya membikin tubuh mereka saling menyentuh lalu Can Houw Liang merangkul dan mencium pipi serta leher dara yang jelita itu. "Oh, Liang ko, jangan.."

The Liang Cu bersuara lembut perlahan didalam rangkulan calon suaminya kemudian rasa geli menjalar membikin dia tertawa perlahan sementara Can Houw Liang mendorong membikin tubuh mereka berdua rebah diatas tempat tidur.

"Liang ko. dimana kau umpatkan diri selama ini ?"

Tanya dara yang jelita itu sambil jari jari tangannya memainkan daun telinga kekasihnya yang rebah menindih tubuhnya; dia membiarkan tangan tangan kekasihnya yang dengan nakal sedang menyusuri tubuhnya.

"Hmm!

aku terpaksa berdiam didalam sebuah kuil, jauh di luar kota Po teng ."sahut Can Houw Liang yang lalu mematikan api lilin yang masih menyala.

Ketika disaat berikutnya The Lian Cu telah berada seorang diri, maka suatu rasa kekosongan telah menyelubungi dirinya, karena kekasihnya telah pergi, meskipun berjanji akan kembali pada esok malamnya, akan tetapi dengan memesan supaya The Lian Cu tidak memberitahukan kepada orang lain tentang kedatangannya.

Dara yang jelita rebah termenung dengan air mata membasahi mukanya.

Dia tidak menyesali akan perbuatan yang baru mereka Iakukan.

Dia hanya merasa heran, mengapa dengan mudah dia sudah menyerah tidak berdaya menghadapi perbuatan kekasihnya.

Dia benar benar tidak mengetahui bahwa suatu obat perangsang "yen-yang-bun" telah digunakan; sehingga atas suatu bau harum yang tercium oleh dara yang jelita itu, maka dia tidak berdaya dan membiarkan kegadisannya direnggut oleh si iblis penyebar maut yang menyamar sebagai ujut calon suaminya.

Esok malamnya pada waktu yang sama Can Houw Liang menepati janjinya kepada kekasihnya, akan tetapi malam itu tidak lagi dia memerlukan memakai obat perangsang, sebab The Lian Cu telah berlaku menjadi seorang isteri yang patuh terhadap suaminya.

Demikian sepasang insan anak manusia itu memadu kasih mesra, sedangkan tanpa diketahui oleh dara yang jelita itu pihak ayahnya dan sementara penduduk kota Po-teng masih tetap ramai membicarakan perihal Can Houw Liang, yang tetap menghilang sehabis melarikan diri dari rumah penjara kemudian disusul dengan peristiwa tewasnya Can Hok Liang (ayahnya Can Houw Liang) tanpa diketahui siapa pembunuhnya akan tetapi pada tubuh orang tua itu, atau tepatnya pada bagian lehernya, membenam sebuah paku "tok liong teng"

Atau paku naga beracun, yang menjadi senjata rahasia si iblis penyebar maut.

Para tamu yang datang dirumah hartawan The Sin Goan untuk menghadiri upacara hari jadi The Lian Cu, telah pamitan pulang ketempat masing masing, kecuali Tio Tiong Cun dan Ong Su Gie yang diminta bantuannya oleh hartawan The yang masih merasa penasaran dalam menghadapi urusan calon menantunya.

Tio Tiong Cun berdua Ong Su Gie merupakan orang orang gagah yang biasa berkelana dikalangan rimba persilatan, sehingga mereka sudah mendengar perihal keganasan si iblis penyebar maut sampai kemudian mereka menghadapi peristiwa tewasnya Can Hok Liang yang mereka duga telah menjadi korban keganasan si iblis penyebar maut, sebab telah ditemukannya paku naga beracun ("tok-liong teng") yang merupakan senjata khas menjadi senjata rahasia si iblis penyebar maut dan disamping itu mereka berdua masih penasaran dengan hilangnya Can Houw Liang dari rumah penjara di kota kangzusi Po teng dan pemuda itu tetap tidak muncul .com padahal berita tentang tewasnya Can Hok Liang dengan cepat telah tersebar meluas.

Dengan adanya peristiwa di kota Po teng itu, maka Tio Tiong Cun berdua Ong Su Gie bertekad hendak melakukan penyelidikan disamping mereka merasa wajib memberikan bantuan bagi hartawan The Sin Goan yang menjadi sahabat mereka.

Dengan giat dan secara silih berganti Tio Tiong Cun berdua Ong Su Gie bantu meronda diwaktu malam, baik disekitar rumah hartawan The, bahkan sampai kerumah almarhum Can Hok Liang.

Dan pada malam itu, selagi Tio Tiong Cun mendapat giliran meronda disekitar rumah hartawan The, maka tiba tiba dilihatnya ada sesuatu bayangan hitam yang bergerak sangat pesat dan lincah.

Di antara para kauwsu yang bekerja pada hartawan The telah diketahui oleh Tio Tiong Cun bahwa mereka tidak ada yang memiliki ilmu ringan tubuh yang sedemikian mahirnya sedangkan Ong Su Gie pada malam itu mendapat giliran meronda dirumah almarhum Can Hok Liang.

Oleh karena itu tanpa ragu ragu Tio Tiong Cun melesat mengejar karena bayangan hitam itu menghilang sampai dilain saat diketahui o!eh Tio Tiong Cun, bahwa bayangan hitam itu sedang mengintai didekat jendela kamarnya The Lian Cu!

Dengan geraknya yang ringan Tio Tiong Cun melesat mendekati bayangan hitam itu, akan tetapi dia menjadi heran dan terpesona sebab waktu bayangan hitam itu membalik maka yang dilihatnya justeru adalah sahabatnya, Ong Su Gie.

"Ong hiantee, bukankah kau menjaga di,."

Tio Tiong Cun hentikan perkataannya, sebab dilihatnya sahabatnya memberikan aba aba supaya dia tidak bersuara dan sahabatnya itu bahkan mengajak dia menjauhi tempat itu.

(Usia Tio Tiong Cun sedikit lebih tua dari Ong Su Gie, sehingga dia menyebut adik, atau hiantee) "Toako, aku sudah berhasil menemukan tempat Can Houw Liang .."

Kata Ong Su Gie, setelah mereka pindah dari dekat jendela kamar The Lian Cu.

"Benarkah ... ? "

Tanya Tiong Cun; heran bercampur girang. "Benar. Marilah toako ikut aku ..."

Sahut Ong Su Gie yang lalu mendahulukan bergerak kesuatu arah disusul cepat cepat oleh sahabatnya.

Tio Tiong Cun memiliki ilmu lari cepat "liok tee hui heng" atau terbang diatas rumput yang mahir, akan tetapi saat itu dia harus mengerahkan semua kemampuannya, buat tetap dia mendampingi sahabatnya, sehingga didalam hati dia memuji Ong Su Gie yang benar benar sangat mahir ilmu ringan tubuh dan lari cepat.

Mereka lari jauh menuju luar kota Po-teng dan mereka masih terus lari meskipun mereka telah memasuki desa Bian sie cung.

Sampai kemudian mereka memasuki sebuah kuil dimana dengan lagak berhati hati Ong Su Gie mengajak rekannya memasuki ruangan, sehingga dilain saat mereka melihat pemuda Can Houw Liang yang diikat sepasang kaki dan tangannya, serta yang waktu itu berada dalam keadaan pingsan, meskipun tetap dalam keadaan berdiri.

Tio Tiong Cun bergegas hendak mendekati dan menolong Can Houw Liang, akan tetapi tiba tiba didengarnya suara sahabatnya yang mencegah niatnya.

Mencegah bukan dengan nada seorang sahabat akan tetapi membentak seperti seorang musuh .

"Tunggu...!"

Tio Tiong Cun memutar tubuhnya menghadapi sahabatnya dan dilihatnya Ong Su Gie tiba tiba tertawa dan berkata lagi .

" . ...kau sudah terperangkap. maut sudah mengintai akan tetapi kau masih menjual lagak hendak menolong lain orang. Ha ha-ha,.

" "Ong hiantee, kau,..,?" "Ha ha ha ! ketahuilah olehmu bahwa aku adalah Toat beng sim, aku bukan sahabatmu." "Iblis penyebar maut..,?"

Ulang Tio Tiong Cun yang menjadi terpesona.

Sekarang sadarlah dia bahwa orang yang sedemikian lamanya dia anggap sebagai sahabatnya ternyata adalah seorang iblis penyebar maut yang ganas; seperti pengakuan Ong Su Gie sendiri !

"Binatang!

kalau begitu kau adalah si iblis penyebar maut yang kejam dan ganas itu ,.,!"

Tio Tiong Cun menyambung perkataannya dan memaki, karena tak kuasa dia membendung kemarahannya.

"Ha ha ha,,,!"

Ong Su Gie tertawa lagi, akan tetapi sambil dia mengeluarkan senjatanya yang melibat dibagian pinggangnya, oleh karena senjata itu adalah merupakan Kim sie joan pian atau cambuk lemas yang penuh duri duri yang tajam, yang mengandung bisa racun maut!

Dalam gusarnya, maka tanpa ragu ragu Tio tiong Cun juga menyiapkan senjatanya, berupa sebuah golok yang tajam dan dia bahkan mendahulukan melakukan penyerangan, bergerak dengan tipu "jangkerik muda Iompat dirumput" (han-san-sie tit), sambil goloknya menikam, memakai jurus dari "pak hong liu-san* atau angin utara meniup gunung.

Sekali lagi Ong Su Gie perdengarkan suara tawanya.

Tawa bagaikan iblis yang sedang gembira, sementara dengan tenang kakinya melangkah mundur, lalu diayunkan dan kakinya menghajar golok lawannya dengan jurus belut hitam menyelam didalam air sehingga cambuknya itu sempat melibat golok lawannya, yang hampir lepas dari pegangan Tio Tiong Cun, sekiranya Tio Tiong Cun tidak bergerak ringan, mengikuti daerah perputaran cambuk lawannya, sehingga lepas dari libatan lalu Tio Tiong cun menendang lengan lawan yang sebelah kanan, memaksa lawannya harus berkelit memisah diri !

"Bagus...

Seru Ong Su Gie memuji; sambil Iagi lagi dia tertawa dan memutar cambuknya, sampai perdengarkan bunyi suara angin menderu dan cambuk itu kemudian dengan lincah dan gesit telah mencari sasaran pada tubuh lawannya, melakukan serangkaian serangan maut.

Untuk sesaat Tio Tiong Cun terdesak dengan serangan lawan yang datangnya bertubi tubi; yang memaksa dia harus melawan sambil melangkah mundur.

Untung bagi Tio Tiong Cun bahwa latihan tenaga dalamnya sudah mencapai batas kemampuannya, sehingga walaupun dia terdesak, namun dia dapat berlaku tenang, sehingga tidak dapat dia dikalahkan dengan mudah.

Sebenarnya sudah cukup lama Tio Tiong Cun kenal dengan Ong Su Gie.

Mereka berdua bahkan pernah bahu membahu bertempur melawan berbagai musuh, karena keduanya merupakan sehaluan yang biasa menentang berbagai perbuatan jahat dari itu sesungguhnya adalah sangat diluar dugaan Tio Tiong Cun bahwa sahabatnya itu sebenarnya adalah si iblis penyebar maut yang ganas dan kejam.

Di samping itu Tio Tiong Cun juga merasa heran sebab sedemikian lamanya dia kenal dengan sahabatnya akan tetapi tak pernah dia melihat sahabatnya itu memakai senjata Kim sie joan pian atau cambuk lemas.

Sebab biasanya senjatanya Ong Su Gie adalah sebatang pedang yang istimewa tajamnya.

Sementara itu sambil tetap bertempur menghadapi lawannya, Ong Su Gie sekarang perdengarkan kata katanya yang agak kurang dimengerti oleh Tio Tiong Cun .

"Dahulu, ya dahulu kau pernah menghina seorang pengemis kecil waktu kau dalam perjalanan mengantar kereta piauw." (Dahulu Tio Tiong Cun memang pernah menjabat pekerjaan sebagai piauwsu pada Tin wan piauwkiok.

Dia tidak heran kalau sahabatnya mengetahui tentang pekerjaannya itu akan tetapi dia heran mengapa sahabatnya mengetahui tentang hal remeh seperti yang dikatakan bahwa dia telah menghina seorang pengemis kecil yang sebenarnya dia sudah tidak ingat lagi) "...

si pengemis kecil itu tidak mengemis sesuatu kepadamu.

Tidak juga dia mengharap belas kasihanmu atau dari rombonganmu.

Akan tetapi mengapa kalian menghina dia?

Mengapa kalian memaki dia dengan mengatakan dia menjadi mata mata pihak orang orang Kay pang dan mengusir dia babkan beberapa pembantu kau telah melontarkan pengemis kecil itu dengan batu batu..

.?" (Sekarang Tio Tiong Cun jadi teringat dengan peristiwa itu.

Teringat bahwa waktu itu dia sedang melindungi suatu kiriman kereta piauw yang kemudian dirintangi oleh beberapa orang orang gelandangan yang diduga dari pihak Kay pang, atau persekutuan para pengemis.

Kemudian terjadi pertempuran dan orang orang gelandangan berhasil dihalau oleh dia serta para pembantunya, akan tetapi pada saat berikutnya datang serombongan kawanan berandal yang dipimpin oleh seorang perempuan yang masih muda usia akan tetapi gagah perkasa, sehingga rombongannya kena dihajar kucar kacir.

Iringan kereta piauw itu akhirnya kena dirampas oleh pihak berandal dan Tio Tiong Cun mengajak sisa pembantunya buat melakukan penyelidikan; sampai kemudian mereka menemukan seorang pengemis kecil yang sedang menangis seorang diri di tepi suatu jalan yang sunyi.

Disebabkan mereka curiga kalau kalau si pengemis kecil itu adalah mata mata dari pihak Kay pang yang dianggap menjadi pembawa bencana, yang mengakibatkan kereta piauw mereka dirampas oleh kawanan berandal, maka Tio Tiong Cun mendekati dan membentak si pengemis kecil itu membikin si pengemis kecil itu menjadi ketakutan, namun menyangkal bahwa dia menjadi mata mata pihak Kay pang, sampat kemudian para pembantu Tio Tiong Cun mengusir si pengemis kecil itu, bahkan ada yang melontarkan dengan batu batu kecil.

Akan tetapi, ada hubungan apakah antara si pengemis kecil dengan sahabatnya yang bernama Ong Su Gie ini ?

Peristiwa itu terjadi kira kira sudah sepuluh tahun lebih.

Usia Ong Su Gie sekarang sudah lewat dari 40 tahun sehingga tidak mungkin bahwa si pengemis kecil itu Ong Su Gie.

Akan tetapi mengapa Ong Su Gie kelihatan begitu dendam dengan peristiwa itu.

"... si pengemis kecil itu memang tidak berdaya waktu kalian hina akan tetapi kalian lupa bahwa si pengemis kecil itu adalah seorang manusia biasa yang tidak ada bedanya seperti kalian, sebab dia juga mempunyai rasa. Rasa harga diri dan rasa dendam .." demikian Ong Su Gie berkata lagi, selagi dia melakukan berbagai serangan kepada Tio Tiong Cun.

"Akan tetapi ada hubungan apa antara kau dengan si pengemis kecil itu .."

Tanya Tio Tiong Cun, sambil dia harus berkelit dari suatu sabetan cambuk.

"Sebab si pengemis kecil itu adalah aku.."

Teriak Ong Su Gie yang kelihatan sangat marah dan dendam.

Selagi Tio Tiong Cun terpesona bagaikan dia tidak percaya dengan perkataan sahabatnya tadi, maka dia terkena hajaran cambuk berbisa dari si iblis penyebar maut.

Tio Tiong Cun berusaha menahan rasa sakit pada pundak kirinya yang terkena cambuk berduri itu, akan tetapi dia tak kuasa menahan rasa pening yang menyerang dia yang membikin matanya menjadi gelap dan tubuhnya sempoyongan, sedangkan goloknya ikut lepas dari pegangannya, sehingga dia menyadari bahwa dia telah terkena bisa racun yang sangat dahsyat !

Masih sempat Tio Tiong Cun mendengar suara tawa sahabatnya.

Tawa bagaikan iblis yang siap menyebar maut.

Lalu sahabatnya itu mendekati dengan sebelah tangan kirinya memegang sebatang pisau belati.

Pisau belati itu bagaikan kilat lalu membenam dibagian perut Tio Tiong Cun, lalu pisau belati itu ditarik kebagian atas merobek perut Tio Tiong Cun yang menyemburkan darah hangat, dan Tio Tiong Cun rubuh tengkurap menjadi mangsa yang kesekian banyaknya dari si iblis penyebar maut yang waktu itu berujut muka sebagai Ong Su Gie!

Disaat berikutnya si iblis penyebar maut mengganti ujut mukanya, dan kembali ia menjadi si pemuda Can Houw Liang.

-o)dw-hen(o-SEHARUSNYA malam itu Tio Tiong Cun bertugas jaga disekitar rumah hartawan The, akan tetapi waktu Ong Su Gie mencari, dia tidak menemukan sahabatnya itu Ong Su Gie menunggu dan menunggu, akan tetapi sahabatnya itu tak kunjung kelihatan.

Ong Su Gie menjadi gelisah dan merasa cemas.

Lagi dia meminta bantuan para kauwsu buat mencari sahabatnya itu, akan tetapi apa gerangan kata dua orang kauwsu yang bernama Ang Cin Bu dan Ang Cin Bun ?

"Bukankah tadi Ong tayhiap yang mengajak Tio tayhiap pergi ..?"

Sudah tentu Ong Su Gie jadi terpesona; tidak mampu dia bicara apa apa.

Sejak dia berpisah membagi tugas, maka Ong Su Gie menetap mengawasi rumah keluarga Can Hok Liang.

Dia datang kerumah hartawan The karena tiba waktunya buat dia berkumpul dengan sahabatnya, akan tetapi tidak pernah dia temui sahabatnya itu, jadi bagaimana mungkin dikatakan bahwa dia telah mengajak sahabatnya pergi?

Adapun kauwsu Ang Cin Bu lalu menambah perkataannya sebagai berikut .

"., secara kebenaran sempat kami lihat Ong tayhiap yang sedang mengintai kedalam kamar The siocia," "Hayaa! aku mengintai kamarnya anak perawan ?"

Kata Ong Su Gie yang merah mukanya menahan rasa malu ! akan tetapi kauwsu Ang Cin Bu tidak menghiraukan dan dia berkata lagi;

"Kemudian kami melihat Tio tayhiap datang dan berkata. "Ong hiantee, bukanlah kau menjaga di..,..?" dan Ong tayhiap lalu memberikan aba-aba supaya Tio tayhiap jangan bersuara sebaliknya Ong tayhiap mengajak Tio tayhiap pergi sebab katanya Ong tayhiap sudah berhasil menemui Can kongcu ! "Kami mempunyai tugas menjaga keamanan rumah The wangwee dari itu kami tidak mungkin ikut pergi dengan kalian. Jadi bagaimana mungkin sekarang Ong tayhiap mencari Tio tayhiap, mencari dan menanya kepada kami ?"

Ang Cin Bun ikut bicara selagi Ong Su Gie masih terpesona; dan kauwsu ini bahkan perlihatkan rasa curiga.

Ong Su Gie jadi tersinggung waktu dia mendengar perkataan Ang Cin Bun.

Dia sampai berteriak membantah akan tetapi tiba-tiba dia menjadi terkejut ketika dia mendengar suara hartawan The Sin Goan yang datang mendekati dan hartawan The sudah mendengarkan pembicaraan yang berlangsung tadi.

("Kau tahu hiantit,"

Kata Ong Su Gie kepada Tan Hui Beng yang menjadi tamunya; dan dia menambahkan lagi .

"... saat itu betapa rasa maluku terhadap hartawan The yang menjadi sahabatku. Malu karena aku dituduh sudah mengintai ke dalam kamar anak perawannya, dan malu karena aku dituduh sudah menganiaya sahabatku yang bernama Tio Tiong Cun, yang pagi harinya kami temukan mayatnya dibungkus dengan karung, ditempatkan disuatu semak di halaman belakang rumah hartawan The dan mayat sahabatku itu sangat rusak karena perutnya yang robek seperti bekas dibedah; sehingga orang orang yang melihatnya menjadi bergidik dan marah terhadap si pembunuh yang biadab, dan si pembunuh biadab itu justeru dituduh aku ... !") Hari itu juga jenazah Tio Tiong Cun dimasukkan kedalam peti mati lalu dikirim kerumah keluarganya di kota Lim Tong. Untuk pekerjaan ini hartawan The sengaja telah mengupah Kim goan piauwkiok yang mengantar. Pada mulanya Ong Su Gie bermaksud meninggalkan rumah hartawan The pada hari itu juga, akan tetapi hartawan yang amat ramah tamah itu membujuk supaya dia menunda niatnya, dengan mengatakan sebaiknya Ong Su Gie pergi setelah urusan di kota Po teng itu menjadi jelas, yang sekaligus akan menghapus tuduhan orang terhadap Ong Su Gie. Malam harinya sampai mendekati waktu subuh Ong Su Gie terus meronda disekitar rumah hartawan The, meskipun sebenarnya dia merasa seolah olah sudah diasingkan, akibat dicurigai oleh para kauwsu yang bekerja pada hartawan The.

Jilid 17 DlSAAT Ong Su Gie hendak kembali kedalam kamarnya, secara mendadak dia mendengar pekik suara seorang perempuan, dan pekik itu datangnya justeru dari dalam kamarnya The Lian Cu.

Karena kegesitannya, maka dalam sekejap Ong Su Gie telah berada didekat jendela kamar The Lian Cu selagi lain lain orang belum berada ditempat itu.

Untuk sesaat Ong Su Gie berdiri ragu ragu, karena dia takut sembarang bertindak, apa lagi untuk memasuki kamar seorang anak perawan, selagi dia sedang dituduh pernah mengintai kamar anak perawan itu !

Dengan telinganya yang tajam, Ong Su Gie sempat mendengar bunyi suara bagaikan tubuh seseorang yang terbentur dengan tembok disusul kemudian terdengarnya pekik suara seorang perempuan yang berteriak mengaduh, setelah itu secara mendadak daun jendela kamar anak perawan itu terbentang dan seseorang telah lompat keluar sedangkan seseorang itu adalah Can Houw Liang !

Karena menduga telah terjadi sesuatu didalam kamarnya The siocia; maka Ong Su Gie membentak dan merintang .

"Binatang! kau jangan lari !"

Can Houw Liang membatalkan niatnya yang hendak lompat keatas genteng rumah.

Dia mengawasi perintangnya dengan sepasang mata bersinar nyala, lalu dia tertawa-tawa menyeramkan bagaikan iblis yang sedang tertawa; sambil dia menyiapkan senjata "kim-sie joan pian", atau cambuk lemas yang melibat dibagian pinggangnya.

(Untuk jelas, perlu diketahui perihal peristiwa yang terjadi didalam kamar The Lian Cu.) Pada malam terjadinya peristiwa pembunuhan atas dirinya Tio Tiong Cun, maka Can Houw Liang atau si iblis penyebar maut tidak sempat menemui The Lian Cu membikin malam itu merupakan suatu malam yang sunyi dan kosong bagi dara jelita yang sedang haus cinta itu.

Adalah pada malam berikutnya dara yang jelita itu berkesempatan melepas rasa rindu didalam rangkulan sang kekasih, memadu kasih dan bermain cinta sampai kekasihnya rebah terkulai didalam rangkulannya, sementara dara yang belum tertidur itu, lagi lagi telah memainkan daun telinga kekasihnya, sampai tiba tiba dia meraba sejenis selaput kulit muka buatan, dan kulit muka itu sedikit demi sedikit dia tarik, sehingga kemudian secara tiba tiba dia berteriak kaget, karena menemukan dua macam wajah muka kekasihnya.

Lain dibagian atas, dan lain dibagian bawah.

Dalam kagetnya karena dia tersentak dengan teriak suara The Lian Cu, maka Can Houw Liang alias si iblis penyebar maut Ioncat bangun; dan terburu buru memakai celananya.

Bagaikan orang yang kemasukan hantu, The Lian Cu turun dari ranjang, tanpa dia menghiraukan baju dalamnya yang tidak menutup seluruh tubuhnya.

Dara yang sudah cemar itu kemudian menerkam laki laki yang dia sangka kekasihnya, memegang baju laki laki itu, memukul mukul sambil dia menangis dan berteriak.

"Siapa kau ? Lekas katakan. Siapa kau !"

Can Houw Liang alias si iblis penyebar maut yang masih sempat merapikan selaput kulit mukanya, menjadi tertawa, akan tetapi dia menghalau tangan The Lian Cu yang waktu itu sedang berusaha hendak membuka tutup mukanya.

Dara yang telah cemar itu kemudian semakin memaksa hendak meraih muka Can Houw Liang, bahkan sambil dia berteriak dan menangis.

Can Houw Liang jadi gelisah dan cemas, kalau kalau banyak orang akan mendatangi kamar itu.

Dengan menggunakan sedikit tenaganya, kemudian Can Houw Liang mendorong tubuh The Lian Cu dan dara yang sudah cemar itu terpental membentur dinding tembok, sambil dia perdengarkan teriak kesakitan.

Can Houw Liang menjadi terkejut, menganggap The Lian Cu telah tewas, karena kepalanya terbentur dengan dinding tembok.

Dia membuka daun jendela kamar dengan maksud hendak melarikan diri akan tetapi dia dihadang oleh Ong Su Gie.

Dipihak Ong Su Gie, dia telah bertempur dengan heran dan ragu ragu sebab yang menjadi lawannya ternyata Can Houw Liang yang diketahui menjadi calon menantu hartawan The.

Akan tetapi Ong Su Gie menjadi penasaran, sebab pemuda itu justeru melancarkan berbagai serangan maut yang tidak boleh dianggap remeh.

Waktu itu beberapa orang kauwsu yang meronda juga telah berada didekat tempat pertempuran.

Akan tetapi mereka menjadi ragu ragu membantu sebab yang mereka lihat Ong Su Gie sedang bertempur melawan sang calon baba mantu, yang dikabarkan sudah menghilang dari rumah penjara Po-teng.

Disaat para kauwsu itu sedang ragu ragu mendadak mereka mendengar pekik teriak Can Houw Liang.

"Lekas tangkap dia!

dia telah membunuh The siocia..

,!" Tentu saja Ong Su Gie menjadi sangat terkejut waktu dia mendengar teriak itu, sementara para kauwsu yang juga terkejut serentak mereka lalu bergerak dan mengepung Ong Su Gie !

Dipihak Can Houw Liang waktu dilihatnya para kauwsu itu bergerak mengepung Ong Su Gie maka dia buru buru kabur menghilang kegelapan malam.

Tanpa diketahui oleh orarg orang yang sedang bertempur waktu itu hartawan The juga ikut menyaksikan, sejak Ong Su Gie sedang bertempur melawan calon mantunya.

Disaat hartawan The hendak berteriak menghentikan pertempuran itu maka dia ikut mendengar perkataan Can Houw Liang tentang anak daranya yang katanya sudah dibunuh sehingga buru buru orang tua itu memasuki kamar The Lian Cu dan dilihatnya beberapa orang pelayan perempuan sedang berusaha menolong anak daranya yang baru sadar dari pingsannya.

Dara yang sudah cemar itu menangis, dan mengatakan kepada ayahnya bahwa orang yang disangka Can Houw Liang sebenarnya adalah seseorang yang menyamar dengan memakai topeng yang mirip dengan wajah mukanya Can Houw Liang !

Sudah tentu hartawan The menjadi sangat terkejut dan buru buru dia meninggalkan kamar anaknya, tanpa menghiraukan sampai tiga kali dia menerjang atau kena diterjang orang orang yang sedang sibuk simpang siur dan waktu itu tiba ditempat pertempuran, ternyata orang orang yang menyamar menjadi Can Houw Liang sudah menghilang sebaliknya yang sedang bertempur adalah Ong Su Gie melawan empat orang tukang pukulnya.

"Berhenti !

kalian jangan bertempur karena si penjahat yang menyamar sebagai Can Houw Liang sudah kabur...

Demikian teriak hartawan The.

Semua yang lagi bertempur lalu memisah diri dan mendekati hartawan The sedangkan hartawan The lalu menambahkan keterangannya seperti yang dia ketahui dari anaknya, sehingga orang orang yang tadi bertempur; kemudian sama sama mengejar kearah si penjahat tadi kabur.

Ong Su Gie yang mahir ilmu ringan tubuh dan lari cepat berhasil mendahului semua para kauwsu yang ikut mengejar; akan tetapi dia menyadari bahwa tidak mudah buat mengejar si penjahat, oleh karena si penjahat sudah kabur cukup lama.

Yang dia tidak ketahui adalah tentang si penjahat, entah siapa gerangan yang telah menyamar sebagai Can Houw Liang.

Adalah ketika Ong Su Gie telah berada di perbatasan luar kota Po teng, maka disuatu sudut jalan vang sunyi; dia berhasil menemui tubuhnya Can Houw Liang yang ternyata telah rebah tidak berdaya sebab pemuda itu telah binasa kena beberapa tikaman pisau belati dan Ong Su Gie yang meneliti jadi memikirkan entah siapa yang telah memberikan bantuan dan membinasakan si penjahat yang menyamar sebagai Can Houw Liang itu.

Disaat berikutnya empat orang kauwsu yang ikut mengejar juga telah sampai ditempat itu sehingga mereka menganggap bahwa Ong Su Gie yang sudah membinasakan Can Houw Liang.

Meskipun benar para kauwsu itu telah mendapat keterangan singkat dari hartawan The, bahwa si penjahat telah menyamar menjadi Can Houw Liang, akan tetapi waktu mereka meneliti wajah muka Can Houw Liang yang telah menjadi mayat itu mereka tidak menemukan tanda tanda yang menandakan bahwa yang sudah tewas itu adalah benar benar Can Houw Liang.

Diantara ke empat orang kauwsu itu, terdapat kauwsu Ang Cin Bu yang pernah bertengkar dengan Ong Su Gie, dan kauwsu ini lalu berkata.

"Sekiranya mayat ini bukan mayat si penjahat, tetapi sungguh sungguh mayatnya Can kongcu, maka kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu ... !"

"Akan tetapi bukan aku yang bunuh dia. Kalian lihat, tidak ada noda darah pada pedangku ini ...!"

Ong Su Gie membantah sambil dia perlihatkan pedangnya.

"Tentu saja tidak ada tanda bekas darah pada pedangmu sebab Can kongcu bukan dibunuh memakai pedang, akan tetapi memakai pisau belati dan pisau belati itu tentunya sudah kau buang l" kata lagi kauwsu Ang Cin Bu dengan nada suara mengejek. Ong Su Gie menjadi sangat gusar mendengar perkataan kauwsu itu akan tetapi dia tidak menghiraukan dan sebaliknya lalu diangkatnya mayat Can Houw Liang untuk dibawa lari menuju ke rumah keluarga hartawan The.

"Kau tahu hiantit ,"

Kata Ong Su Gie yang merambahkan keterangannya pada tamunya yang mengaku bernama Tan Hui Beng dan dia menambahkan lagi perkataannya.

".. berbagai peristiwa telah terjadi saling susul. Pertama kali adalah urusan pencurian barang bingkisan, dan orang orang melihat bahkan ada yang ikut bertempur dengan si pencuri yang mereka anggap adalah Can Houw Liang, sampai Can Houw Liang ditangkap. Kemudian Can Houw Liang hilang dari rumah penjara kotaPo teng dan ayahnya mati dibunuh orang, tanpa orang berhasil menemukan si pembunuh. Padahal pada mayat Can Hok Liang waktu itu ditemukan adanya paku naga beracun "tok liong teng"

Akan tetapi paku maut itu disimpan oleh pihak pejabat pemerintah buat dijadikan barang bukti, tanpa dia perlihatkan kepada orang orang yang pernah mengetahui atau mendengar perihal keganasan si iblis penyebar maut ..

"... peristiwa berikutnya adalah datangnya mayat Tio Tiong Cun ke rumah hartawan The dan aku mulai curiga sebagai perbuatan si iblis penyebar maut, sebab perut Tio Tiong Cun robek seperti dibedah memakai pisau belati, dan aku pernah mendengar bahwa si iblis juga sangat mahir menggunakan pisau belati penembus tenggorokan..!"

" ., kemudian menurut keterangan hartawan The yang dia peroleh dari almarhum puterinya cara penyamaran si penjahat adalah memakai topeng yang dibuat dari bahan lembut yang mirip dengan kulit manusia dan keterangan ini tambah meyakinkan aku dengan si lblis penyebar maut sebab si iblis memang sangat pandai menyamar, sehingga ada orang orang yang menamakan dia sebagai si manusia muka seribu atau Koan bin jin-yoa.."

"Tunggu dulu susiok tadi mengatakan tentang almarhum The siocia, apakah puterinya hartawan The juga telah binasa ..,, ?"

Tanya Tan Hui Beng yang kelihatannya memperhatikan benar kisah yang diceritakan oleh Ong Su Gie.

"Kisah yang aku ceritakan memang belum selesai, kau sabarlah hiantit,"

Sahut Ong Su Gie sambil dia mengajak tamunya minum teh yang sudah disediakan.

"...kejadian berikutnya adalah tentang tewasnya Can Houw Liang, sebab mayat yang aku bawa ternyata benar benar mayatnya Can Houw Liang, artinya bukan mayat si penjahat yang katanya menyamar sebagai Can Houw Liang."

".. pada tubuh mayat itu yang pada mulanya kami anggap hanya terkena tikaman pisau belati, ternyata ketika pakaiannya sudah kami buka maka kami mengetahui bahwa perutnya Can Houw Liang juga sudah robek tidak berbeda seperti yang sudah dilakukan terhadap Tio Tiong Cun sehingga kami jadi mengetahui telah dilakukan oleh sipembunuh yang sama dan sekaligus menghapus kecurigaan orang orang terhadap diriku, sedangkan perihal tewasnya The Siocia, adalah karena dia telah melakukan bunuh diri sehabis dia menceritakan suatu rahasia kepada ayahnya...." "Rahasia apakah itu...?"

Tanya Tan Hui Beng, sebab Ong Su Gie tidak melengkapi keterangannya.

"Tentang rahasia pribadi mereka, sebaiknya aku tidak mengatakan kepada hiantit.."

Sahut Ong Su Gie sambil dia paksakan diri buat bersenyum sebab dari balik meja dia sedang menekan perutnya, yang mendadak terasa mual.

"Berdasarkan kisah yang susiok ceritakan,, jelas bahwa "koan bin jin yao dan "toat beng sim"

Terdiri dari satu orang yang sama.."

Kata lagi Tan Hui Beng yang ikut minum air teh yang telah disediakan.

"Memang, mereka terdiri dari satu orang. Manusia muka seribu itu adalah si iblis penyebar maut, dan nama itu adalah...."

Ong Su Gie tak kuasa menyelesaikan perkataannya, sebab tubuhnya mendadak kelihatan mengejang, sepasang matanya mendelik lalu dia rubuh terjatuh dari tempat duduknya.

Tan Hui Beng berdua Ong In Thian menjadi terkejut dan mendekati, akan tetapi mereka berdua mendapati Ong Su Gie sudah tewas dengan mulut mengeluarkan busa putih; menandakan dia kena bisa racun maut !

Dari dalam kantong bajunya, kemudian Tan Hui Beng rnengeluarkan sesuatu benda; dan benda itu adalah sebatang tusuk sanggul yang dibuat dari bahan perak.

Pemuda ini lalu merendam tusuk sanggul itu kedalam air teh bekas sisa minum Ong Su Gie sehingga jelas bagi pemuda itu bahwa air teh itu benar benar mengandung bisa racun.

Setelah Tan Hui Beng mengeringkan tusuk sanggul itu serta membersihkan dari noda noda racun, maka dia rendam pada sisa air teh yang dia minum akan tetapi diketahuinya bahwa air teh itu tidak mengandung bisa racun.

"Heran.."

Kata pemuda ini bagaikan pada dirinya sendiri, lalu dia berkata lagi.

"jelas bahwa susiok sendiri yang menuang air teh itu dari poci yang sama akan tetapi hanya yang dia minum yang kedapatan bisa racun ..."

Dan selekas pemuda ini selesai bicara, maka dia mengawasi kearah daun jendela yang masih tertutup, dan ternyata pada kertas penutup daun jendela itu terdapat liang.

"Kurang ajar! disiang hari begini berani mengintai dan melepas racun...!"

Kata Tan Hui Beng yang lalu membuka daun jendela itu, akan tetapi tidak ada seseorang yang dilihatnya, sampai jauh dia mengawasi keluar jendela yang merupakan halaman samping rumah dan dia melihat ibunya Ong In Thian atau isterinya Ong Su Gie, yang saat itu sedang bicara dengan seorang pelayan perempuan.

Sementara itu meskipun dalam keadaan kaget dan bingung, akan tetapi Ong In Thian sudah memindahkan mayat ayahnya keatas dipan, lalu dia mengikuti tamunya yang sedang mendekati ibunya.

"Subo, apakah tadi ada seseorang yang memasuki halaman ini...? "

Tanya Tan Hui Beng pada ibunya Ong In Thian. Ibunya Ong In Thian manggut membenarkan, lalu dia berkata .

"Tadi ada seorang pemuda pelajar berbaju putih dia menanyakan ayahnya In Thian dan aku menduga dia adalah temannya hiantit."

"Celaka! dia adalah koan bin jin yao atau si iblis penyebar maut. Kearah mana dia pergi.."

Tanya Tan Hui Beng yang kelihatan gugup.

Ibunya In Thian memberitahukan dan Tan Hui Beng mengajak Ong In Thian memasuki ruangan dalam, sementara ibunya Ong In Thian juga ikut masuk sebab melihat keadaan yang gugup dari kedua pemuda itu.

Akan tetapi diruangan dalam Tan Hui Beng berdua Ong In Thian tidak berhasil menemukan si pelajar berbaju putih sebaliknya mereka menemukan selembar surat.

".. Ong Su Gie terlalu banyak mengetahui dan terlalu banyak bicara. Maut adalah menjadi bagiannya."

Dan pada akhir surat itu terlihat adanya tanda dari "toat beng sim" atau si iblis penyebar maut!

Selama sepuluh tahun lamanya Tan Hui Beng mengikuti gurunya belajar ilmu silat diatas gunung Thian tay san, akan tetapi hari itu seseorang telah melepaskan bubuk racun yang membinasakan Ong Su Gie tanpa dia mengetahui atau mendengar gerak suara orang itu, peristiwa ini benar benar membikin Tan Hui Beng menjadi sangat penasaran.

Keterangan yang Tan Hui Beng peroleh dari Ong Su Gie mengatakan bahwa si manusia muka seribu dan si iblis penyebar maut, merupakan dua gelar dari satu orang yang kejam dan ganas, yang saat itu sedang merajalela !

Kemudian berdasarkan hasil penyelidikan yang Tan Hui Beng berdua Ong In Thian lakukan, maka diketahui bahwa ke empat mayat mayat yang pertama kali diketemukan oleh Tan Hui Beng, ternyata merupakan mayat dari orang orang yang bekerja pada keluarga Cong Keng Hok seorang penduduk terkemuka yang mengusahakan ladang didesa itu.

Tan Hui Beng berdua Ong In Thian lalu memerlukan singgah dirumah keluarga Cong Keng Hok dan Cong Keng Hok ini ternyata sudah berusia sedikit lebih tua dari Ong Su Gie.

"Sun Goan dan Sui Hin dulu pernah bekerja menjadi pengawal kereta piauw pada Tin wan piauwkiok akan tetapi tentang Cong Hay dan Cin Hong ..."

Demikian hartawan Cong Keng Hok mulai memberi keterangan atas pertanyaan kedua pemuda tamunya, tentang mayat mayat yang ditemukan oleh Tan Hui Beng, akan tetapi Cong Keng Hok menunda perkataannya, karena datangnya seorang pelayan laki laki muda yang membawakan air teh untuk kedua tamunya.

". .mungkin A Liong mengetahui tentang Cin Hong berdua Cong Hay.. " kata lagi hartawan Cong Keng Hok sambil dia mengawasi sang pelayan. A Liong adalah nama pelayan laki laki muda itu yang sedang menyediakan air teh. Umurnya kira kira baru 17 tahun dan mulai bekerja di rumah keluarga Cong sejak sebulan yang lalu. A Liong kelihatan lincah dan gemar bicara. Dia erat bergaul dengan Cong Hay dan Cin Hong, sehingga dia banyak mengetahui tentang kedua orang yang sudah tewas itu.

"Dua tahun yang lalu, Lie susiok dan Bu susiok pernah bekerja disuatu kuil sebagai pembantu penerima tamu,"

Demikian A Liong mulai memberitahukan sementara yang dimaksud dengan Lie susiok adalah Cin Hong dan Bu susiok adalah Cong Hay.

"Kuil apakah namanya dan dimana letaknya?"

Tanya Tan Hui Beng yang menggunakan kesempatan selagi A Liong belum meneruskan perkataannya. A Liong perlihatkan senyumnya dan mengawasi muka tamu majikannya, setelah itu dia menyambung bicara;

"Sayang, nama dan tempat kuil itu tidak diberitahukan kepada siao jin, akan tetapi menurut kata kedua susiok itu kuil yang dimaksudkan katanya dipimpin oleh seorang pendeta dari suku bangsa Biauw..

" "Tidak diberitahukan tentang nama pendeta itu.. ?"

Tan Hui Beng menanya lagi; memutus perkataan A Liong.

"Tidak ..."

Sahut A Liong singkat. Pada nada suaranya terdengar dia merasa tidak senang, karena perkataannya telah diputus, akan tetapi dia menyambung bicara lagi.

".. pendeta suku bangsa Biauw itu kabarnya sudah lima tahun lebih mengasuh kuil itu, mendapat sumbangan tertentu dari penduduk setempat yang memang hidupnya aman dan makmur, sampai kemudian pendeta itu kedatangan seorang tamu yang katanya adalah adik seperguruan dari pendeta suku bangsa Biauw itu, dan tamu itu.." "Tidak dikatakan siapa nama tamu itu..?* tanya lagi Tan Hui Beng kembali dengan memutus perkataan A Liong.

"Mengapa Tan siangkong gemar memutus perkataan seseorang ,, ?"

Balik tanya A Liong, yang benar benar merasa tidak senang dengan kelakuan Tan Hui Beng.

"A Liong ,.. !"

Bentak Cong Keng Hok yang melihat pelayannya berlaku tidak sopan terhadap tamunya.

"Cong pekhu, aku memang bersalah. Biarkanlah A Liong meneruskan keterangannya,"

Kata Tan Hui Beng, sementara A Liong kelihatan mengawasi dengan muka bersungut.

"Menurut kata kedua susiok itu tamu yang datang dan yang menjadi adik seperguruan dari pendeta bangsa Biauw itu, ternyata adalah Toat beng sim atau si iblis penyebar maut, yang terkenal ganas dan kejam..

." (Cong Keng Hok berdua Ong In Thian kelihatan kaget, waktu mendengar A Liong menyebut tentang si iblis penyebar maut, sedangkan Tan Hui Beng diam diam sedang memikirkan sesuatu) "....dikatakan pula, bahwa pernah terjadi sipendeta suku bangsa Biauw itu memberikan nasihat atau peringatan kepada Toat beng sim, akan tetapi segala nasihat baik itu tak dihiraukan, sampai kemudian Toat beng sim katanya jadi menggabungkan diri dengan pihak berandal diatas gunung yang letaknya tidak terlalu jauh terpisah dengan kuil itu, sehingga Lie susiok berdua Bu susiok yang banyak mengetahui tentang si iblis penyebar maut maka pada suatu hari mereka mendatangi rumah seorang pejabat kepolisian yang katanya bernama Yap Seng Lim.."

A Liong berhenti sebentar. Sepasang matanya yang sejak tadi mengawasi Tan Hui Beng, sekarang dia perlihatkan gaya seperti mengejek akan tetapi Tan Hui Beng berlaku tenang tidak menghiraukan.

"Pejabat polisi Yap Seng Lim sebenarnya adalah seorang Purnawirawan dikalangan rimba persilatan, yang luas hubungan dan banyak kenalannya. Dia memang sedang mendapat tugas dari pejabat pemerintah setempat, untuk menyelidik dan mencari jejak sekawanan berandal yang pernah merampas barang kiriman pejabat pemerintah itu, sehingga keterangan yang diberikan oleh Lie susiok berdua Bu susiok tentang si iblis penyebar maut yang katanya sudah bergabung dengan kawanan berandal, sesungguhnya merupakan suatu keterangan yang sangat berharga, karena Yap seng Lim yakin bahwa pihak berandal yang dimaksud adalah pihak berandal yang telah merampas harta atasannya.. ," "..akan tetapi agaknya Yap Seng Lim ini merasa gentar dengan si iblis penyebar maut, yang katanya ganas kejam serta mahir ilmu silatnya, sehingga untuk mendatangi atau menyerang pihak berandal, Yap Seng Lim merasa yakin tidak akan berhasil kalau hanya mengerahkan tentara negeri, dan dia lalu memutuskan hendak meminta bantuan tenaga dari pihak pendekar yang pernah dikenalnya."

"Adalah merupakan hal yang kebenaran bahwa diantara para pembantunya Yap Seng Lim terdapat dua orang bekas pegawai Tin wan piauwkiok, mereka adalah Lok Sun Goen dan Sim Sui Hin dan atas saran kedua pembantunya ini, maka Yap Seng Lim memerintahkan mereka berdua mengundang twa to Go Bun Heng, si golok maut dari See gak hun kunbun golongan huruf Heng, Pui lui cui Lie Thian Pa, sitangan geledek; dan Kwan Teng Liok dari Kwan kok pay.. ."

"Tiga jago muda kenamaan dikalangan rimba persilatan ,"

Tan Hui Beng berkata seperti menggerutu.

"Benar ! kata orang orang mereka adalah tiga jago muda kenamaan di kalangan rimba persilatan..; ."

Sahut A Liong dengan nada suara mengejek. "Dan mereka pasti dapat mengalahkan si iblis penyebar maut.."

Kata Ong In Thian yang ikut bicara, akan tetapi cepat cepat diputus oleh A Liong .

"Si iblis penyebar maut tidak terkalahkan oleh siapapun juga.

Sayangnya pada waktu itu si iblis tidak berkesempatan menghadapi ketiga orang orang yang dikatakan menjadi jago muda kenamaan itu, sebab waktu mereka datang melakukan penyerangan ke markas kawanan berandal, mereka tidak menemukan Toat beng sim, yang kebenaran sedang mempunyai urusan lain...." "Urusan apakah itu..

Tanya Tan Hui Beng yang diam diam sedang merangkaikan cerita A Liong dengan cerita yang dia dengarkan dari almarhum Ong Su Gie;

"Urusan dengan pihak hartawan The di kota Po teng !"

Sahut A Liong, seperti orang lepas bicara, karena terlalu cepat memberikan jawaban itu, tanpa dia pikir lagi.

"Dan mengapa kau katakan si iblis penyebar maut tidak terkalahkan?"

Tan Hui Beng menanya lagi nada suaranya seperti orang yang mendesak. "Sebab Toat beng Sim justeru sedang mencari jejak ketiga orang orang yang dikatakan menjadi jago jago muda kenamaan itu,"

Sahut A Liong tetap seperti tadi, terlalu cepat dia memberikan jawaban seperti dia sedang membendung hawa marah.

"Dan kau belum berhasil menemukan mereka?" desak Tan Hui Beng yang sekarang telah bangun berdiri menghadapi A Liong, Sejenak si pelayan yang mengaku bernama A Liong berdiri terpesona. Dia terkejut waktu mendengar perkataan Tan Hui Beng, dan tepat pada saat itu dia melihat kesebelah tangan kanan Tan Hui Beng sedang bergerak hendak menjambak mukanya ! Dengan suatu gerak yang gesit dan lincah A Liong melangkah mundur. Akan tetapi waktu dilihatnya tangan Tan Hui Beng terus membayangi mukanya sebab pemuda itu bergerak memakai ilmu "daun Liu mengikuti tiupan angin" maka A Liong lompat kesamping kanan dengan gerak tipu ikan gabus meletik, membikin tangan Tan Hui Beng tidak mencapai hasil ! "Tan siangkong kau telah menghina seorang kacung.."

Teriak A Liong dengan nada suara mengejek. "Aku tidak menghina seorang kacung akan tetapi aku menghina si iblis penyebar maut yang sedang menyamar sebagai seorang kacung..!"

Sahut Tan Hui Beng yang menyudahi perkataannya dengan suatu serangan bu siong pa houw atau Bu siong memukul macan.

Dengan gerak tipu hong hong tam tiauw atau burung hong manggut, maka dengan menundukkan kepalanya, A Liong berhasil menghindar dari suatu pukulan tadi, lalu dengan gerak "poan-liong jiauw-po" atau naga bertindak, maka sekali lagi dia lompat menyamping sambil dia mengirim serangan mengarah perut, dan dia sambil memaki.

"Tan siangkong! kau telah menuduh dan memfitnah seseorang...!"

Segala yang terjadi itu berlangsung dengan sangat cepatnya, sehingga tidak mungkin dapat dicegah oleh Cong Keng Hok sementara Ong In Thian kelihatan berdiri terpesona.

Dan segala gerak serangan yang dilakukan oleh A Liong; telah menambah keyakinan Tan Hui Beng, bahwa dia sedang berhadapan dengan si iblis penyebar maut atau si manusia muka seribu, yang saat itu sedang menyamar sebagai si pelayan yang bernama A Liong.

Adalah pada saat terdengar teriak suara Cong Keng Hok yang bermaksud mencegah terjadinya perkelahian, sehingga sejenak Tan Hui Beng menjadi ragu ragu dengan cegahan pihak tuan rumah dan mengakibatkan A Liong sempat mengeluarkan dua senjata rahasia yang dia lontarkan kearah Ong In Thian berdua Cong Keng Hok.

Pemuda Ong In Thian sempat berkelit menghindar, akan tetapi Cong Keng Hok yang sudah tua usianya serta tidak mengerti ilmu silat, telah menjadi sasaran terkena senjata rahasia itu yang membenam dibagian dada sebelah kiri mengakibatkan dia merasa gelap mata dan rubuh pingsan.

Ong In Thian berdua Tan Hui Beng mendekati orang tua itu, sedangkan A Liong Iompat menghilang.

"Hiantee, kau berikan obat ini pada Cong pakhu, aku hendak mengejar si iblis itu ...!" kata Tan Hui Beng sambil dia memberikan sebotol kecil obat bubuk, setelah itu dia menghilang mengejar A Liong atau si iblis penyebar maut.

Waktu Tan Hui Beng kembali tanpa hasil, maka dilihatnya Cong Keng Hok telah sadarkan diri, dan lukanya sudah dibalut sementara orang tua itu sedang memberitahukan kepada Ong ln Thian, bahwa sesungguhnya dia tidak pernah menduga tentang A Liong yang pandai ilmu silat, terlebih tentang A Liong adalah ujut penyamaran si iblis penyebar maut, dan yang telah melakukan pembunuhan terhadap empat orang pegawainya, bahkan juga Ong Su Gie ikut menjadi korban !

Disaat Ong In Thian sedang mencuci senjata rahasia Tok liong teng (paku naga beracun) yang hampir merenggut nyawa Cong Keng Hok; maka pada saat itu mereka dikejutkan dengan adanya seorang pelayan yang masuk dengan tergesa gesa, membawa berita bahwa rumahnya Ong In Thian sedang terjadi kebakaran.

Tanpa sempat pamitan Ong In Thian berdua Tan Hui Beng keluar meninggalkan rumah Cong Keng Hok.

Akan tetapi waktu mereka tiba, mereka mendapatkan api sudah berhasil dipadamkan oleh para tetangga, akan tetapi ibunya Ong In Thian tewas terkena paku naga beracun, sedangkan jenazah Ong Su Gie yang belum dimakamkan, hangus kena terbakar !

Ong In Thian menangis sampai lupa diri dia bersumpah akan membalas dendam, sehingga setelah selesai mengurus makam ibunya berikut sisa tulang tulang ayahnya yang berhasil dia kumpulkan, maka Ong In Thian mengikuti Tan Hui Beng berkelana, mencari jejak musuh sambil dia tidak lupa membawa dua batang paku naga beracun (tok liong teng) yang sengaja dia kalungkan di lehernya.

Demikian sejak saat itu Tan Hui Beng berdua Ong In Thian tidak bosan bosan mencari jejak si iblis penyebar maut dan Tan Hui Beng masih meneruskan usahanya itu, meskipun dikemudian hari Ong In Thian tewas ditangan si iblis penyebar maut dan Tan Hui Beng menjadi seorang pendeta dengan nama Hui beng siansu, bahkan pernah bertemu serta bahu membahu dengan Lie Hui Houw, untuk mengganyang si iblis penyebar maut.

Sekarang dan selagi bahu membahu menghadapi kepungan pihak tentara negeri, maka Le Hui Houw merasa kagum dengan sikap tenang dari seorang pendeta ini yang bahkan tetap kelihatan tenang meskipun mengetahui kereta yang berisi Lie Hong Giok sedang dibawa kabur, sambil dikejar oleh Cie in suthay.

"Mari kita susul mereka . !"

Ajak Hui beng siansu sambil dia mendampingi Lie Hui Houw, lalu keduanya mengerahkan ilmu lari cepat buat menyusul kereta yang dibawa kabur.

Ada kesempatan buat Lie Hui Houw menguji ilmu lari cepat pendeta yang selalu diagungkan oleh Cie in suthay itu, dan pemuda ini mulai percepat larinya, juga Hui beng siansu ikut menambah kecepatan larinya, buat dia tetap mendampingi Lie Hui Houw.

Sekali lagi Lie Hui Houw menambah kecepatan larinya juga pendeta Hui beng siansu menambah dan menambah lagi memakai ilmu Liok tee hui beng, sehingga Lie Hui Houw benar benar bagaikan terbang diatas rumput akan tetapi Hui beng siansu selalu berada disisi pemuda itu sehingga diam diam Lie Hui Houw merasa sia sia belaka dia mengambil alih gelar si "macan terbang".

Ada sekelompok tentara yang bergegas hendak menghadang kedua orang yang sedang "terbang itu.

Kelompok tentara ini adalah orang orang yang tadi mengejar Cie in suthay; akan tetapi mereka tidak sanggup mencapai maksud mereka; sebab Cie in suthay lari dengan kecepatan maksimal.

Kelompok tentara itu kemudian saling menyisih terpencar, waktu Lie Hui Houw berdua Hui beng siansu bagaikan hendak menerjang mereka.

Dan kedua orang yang sedang berlomba lari tidak ada lagi yang berani merintang atau menghadang; sampai mereka berhasil mengejar kereta bertenda itu akan tetapi Lie Hui Houw tidak melihat adanya Cie in suthay, sedangkan kereta berkuda itu dikendalikan oleh seorang setengah tua berpakaian seperti orang petani.

Lie Hui Houw lompat ketempat sais dengan lagak hendak memukul; akan tetapi Hui beng siansu yang ikut lompat disisinya mencegah dan berkata .

"Sabar, Lie ciangkun, sais itu adalah kawan kita ."

Lie Hui Houw batal memukul dan terduduk disisi sais itu, sedangkan disisi sebelah Lie Hui Houw ikut duduk Hui beng siansu, sehingga bertiga mereka duduk ditempat sais saling berhimpit sikap bergerak dengan Lie Hui Houw yang duduk disebelah tengah.

"Mana Cie in suthay..

Akhirnya tanya Lie Hui Houw bagaikan pada dirinya sendiri dan Hui beng siansu menjawab seenaknya seperti dia sudah mengetahui.

"Cie in suthay duduk didalam kereta menemani Lie kouwnio dan teman kita yang jadi sais ini adalah Ciu Tong.."

"Ciu Tong? bukankah dia adalah si iblis penyebar maut.. ?" Lie Hui Houw memutus perkataan Hui beng siansu sambil mengawasi muka Ciu Tong dan Ciu Tong ikut mengawasi dia dengan muka tegang karena merasa marah.

"Enak saja kau menuduh orang,.. !"

Ciu Tong berkata akan tetapi sepasang tangannya tetap memegang kendali kuda kereta.

"Akan tetapi si iblis justeru menyamar sebagai ujut kau ,, " sahut Lie Hui Houw juga seenaknya dia bicara. Ciu Tong mencelat tinggi ke angkasa melepas tali kendali membiarkan kereta meluncur dibagian bawah tubuhnya, lalu dia hinggap dan masuk kedalam kereta lewat bagian belakang dengan meraih tenda kereta. Lie Hui Houw cepat cepat meraih tali kendali menggantikan Ciu Tong menjadi sais sedangkan Hui beng siansu lalu berkata.

"Sebenarnya apa yang sudah terjadi ."

Lie Hui Houw ceritakan pengalamannya dan mengatakan si iblis penyebar maut yang juga telah menyamar sebagai Ciu Tong.

"Akh! sudah dua kali si iblis menyamar sebagai Ciu hiantee, yang pertama kali bahkan si iblis telah membunuh It tin hong Khouw Cie Ya, akan tetapi kejadian itu cepat diketahui oleh Ang ie liehiap Lee Su Nio serta rombongannya, yang sebenarnya sedang melakukan perjalanan bersama sama, akan tetapi semuanya kena ditipu oleh si iblis penyebar maut."

Ciu Tong sebenarnya adalah salah seorang dari lima dedengkot partai Boe tong, akan tetapi Ciu Tong "ogah"

Jadi pendeta; dia lebih senang hidup sebagai petani yang bukan sembarang petani, sebab dia memang tidak pernah memegang pacul dan tidak pernah mengolah ladang, sebaliknya dia habiskan waktunya untuk berkelahi dan minum arak kalau sedang menganggur.

Banyak teman teman Ciu Tong yang memberikan nasihat supaya Ciu Tong jangan terlalu banyak minum arak akan tetapi Ciu Tong tidak dapat mengurangi kebiasaannya itu, sebab dia menganggap arak justeru menjadi obat buat dia melupakan kenangan lama, suatu pengalaman pahit yang dia alami bersama sama rekannya; orang orang Boe tong pay.

Sehabis ikut dalam aksi mengganyang markas kegiatan si iblis penyebar maut, maka Hui beng siansu berpisah dari sahabatnya; akan tetapi pada suatu hari Ciu Tong datang menemui dia, berkata dengan marah marah sebab si iblis penyebar maut sudah meuyamar menjadi si petani gadungan itu bahkan sudah membunuh it tin hong Khouw Cie Ya.

"Aku bisa konyol, sebab teman teman bisa menuduh aku orang sinting yang sudah membunuh temannya sendiri. ."kata Ciu Tong yang menyudahi laporannya kepada Hui beng siansu.

"Akan tetapi, bukankah si iblis sudah mati ? tangan hiantee sendiri ikut membinasakan dia.."

Sahut Hui beng siansu sambil dia berpikir.

"Memang, akan tetapi waktu itu kau tidak ikut turun tangan, jadi si iblis sekarang hidup lagi" sahut Ciu Tong seenaknya, tidak dengan nada bergurau.

"Bukan itu soalnya, akan tetapi kita pasti sudah kena tipu dia lagi.

Dia sempat lari sambil menyamar, tetapi waktu kita mengganyang markas kegiatannya, dan menempatkan seseorang lain buat menggantikan ujutnya; sehingga seseorang itu yang kita binasakan ..."

Sahut Hui Beng siansu.

"Persetan dengan tipu muslihatnya. Yang penting sekarang kita harus cari dia ...!"

Kata Ciu Tong dengan hati membara dan berhasil dia mengajak Hui beng siansu ngebelangsak lagi mencari jejak si iblis penyebar maut yang mereka ketahui sedang menyamar sebagai koay lo jinkee; atau si kakek bongkok yang aneh.

Sebagai hasil dari perjalanan mereka berdua, banyak bukti bukti yang mereka dapatkan tentang keganasan si iblis penyebar maut dalam penyamarannya sebagai ujut si kakek yang aneh dan menamakan diri sebagai Kui-mo ong atau biang hantu jejadian.

Bukti bukti yang diperoleh kedua tokoh kesamaan ini, antara lain bahkan merupakan sebungkusan pakaian milik pemuda Cin Bian Hui, yang mereka peroleh dari pengurus rumah penginapan bekas Cin Bian Hui berdua Lie Hong Giok menginap, dan pengurus rumah penginapan itu memberikan keterangan, bahwa mereka menemukan mayat Cin Bian Hui membusuk didalan lubang sumur, serta mereka menemukan sebuah lencana bergambar Kui mo ong, didekat mayat itu.

Padahal tiga hari sebelumnya pemuda itu datang bersama seorang dara cantik yang bernama Lie Hong Giok yang kemudian pergi seorang diri tanpa diketahui kemana tujuannya.

"Kini jelas sudah urusannya, Lie Hong Giok.." kata Cie in suthay, ketika mereka beristirahat dan membahas persoalan itu. "Kasihan Lie kouwnio yang kena gangguan penyakit jiwa..."

Ciu Tong ikut bicara sedangkan didalam hati dia tambah memaki si iblis penyebar maut yang sudah menodai Lie Hong Giok dan memaki lagi sebab untuk yang kedua kalinya si iblis sudah menyamar meminjam ujut mukanya !

"Suthay hendak membawa Lie kouwnio ke kuil Cui gwat am, aku yakin gurumu dapat menyembuhkan penyakitnya dan kalau suthay tidak keberatan kami ingin menyertai suthay sebab aku kepingin sekali bertemu dengan gurumu..;"

Kata Hui beng siansu kepada Cie in suthay. Bhiksuni yang muda usia itu bersenyum manis, lalu dia berkata.

"Sudah tentu pin nie tidak keberatan, akan tetapi hendaklah jie wie ketahui kuil Cui gwat am tidak menerima kunjungan kaum laki laki.."

Hui beng siansu ikut bersenyum lalu dia berkata lagi .

"Akan kita Iihat nanti semoga suthay tidak mendapat teguran karena membawa kami menghadap kepada gurumu.."

Sekali lagi Cie in suthay bersenyum dan mereka lalu meneruskan perjalanan mereka.

Dikota Hong yang; Lie Hui Houw memisah diri hendak menemui Cin Siao Yan yang menunggu di rumah si naga sakti Louw Sin Liong sedangkan rombongan Cie in suthay yang tiba di kuil Cui gwat am, ternyata sudah ditunggu oleh Tok pin nie Bok lan siancu diluar pintu kuil itu, sedangkan pintu kuil kelihatan ditutup rapat.

Biarawati yang muda usia dan yang cantik jelita itu berlutut memberi hormat, juga Hui beng siansu dan Ciu Tong ikut memberi hormat kepada bhiksuni tua yang sakti ilmunya itu, sementara Bok lan siancu lalu memerintahkan muridnya memberikan sebutir obat pulung buat Lie Hong Giok, yang maksudnya mencegah supaya Lie Hong Giok jangan jadi hamil lagi setelah itu baru perempuan sinting itu dibolehkan dibawa masuk ke dalam kuil oleh Cie in suthay, sedangkan Bok lan siancu mengajak Hui beng siansu berdua Ciu Tong bukan memasuki kuil Cui gwat am, akan tetapi justeru meninggalkan kuil itu.

Cie in suthay yakin bahwa gurunya mempunyai sesuatu urusan dengan Hui beng siansu, dan biarawati yang muda usia ini memang mengetahui bahwa gurunya memiliki ilmu yang dapat mengetahui kejadian kejadian yang bakal datang seperti kepergian Cie-in suthay ke kota raja, memang sudah direncanakan buat membantu Lie Hui Houw yang sedang menunaikan tugas dari gurunya.

Teringat dengan pengalamannya yang mendampingi pemuda perkasa itu, maka Cie in suthay jadi teringat juga dengan dara manja Cin Siao Yan.

Biarawati yang masih muda usia itu mengetahui bahwa Cin Siao Yan jatuh cinta terhadap si "macan terbang", tanpa menghiraukan beda usia, sebab waktu itu Lie Hui Houw sedang menyamar menjadi laki laki bekas orang hukuman yang usianya sudah lebih dari empat puluh tahun.

Kini Lie Hui Houw kembali sebagai seorang pemuda tampan dan gagah, bagaimana gerangan sambutan Cin Siao Yan terhadap orang yang dia cintai itu ?

(Cintanya pasti tambah menggelora...") Cie in suthay memberikan jawaban didalam hati, akan tetapi mengapa Lie Hui Houw justeru lari dan menjauhi diri?

apakah pemuda itu tidak mencintai dara yang menyintai dirinya itu ?

("kurang ajar pemuda itu ....") maki Cie in suthay dalam hati dan dia cepat cepat menyusul kepergian pemuda tampan yang perkasa itu yang hendak dia paksa supaya kawin dengan Cin Siao Yan yang sengaja dia ajak mengejar Lie Hui Houw.

"Suthay, mengapa kau paksa aku mengawini dia...?"

Tanya Lie Hui Houw waktu berhasil mereka kejar.

"Dia mencintai kau setengah mati, sebaliknya kau tidak menghiraukan dia, apakah kau mau menjadikan dia seorang perempuan sinting yang kehilangan cinta.. ?"

Sahut Cie in suthay yang ngomel ngomel. Lie Hui Houw kelihatan tidak senang dengan perkataan biarawati yang muda usia itu dan dia berkata lagi . "Suthay, tahukah kau dengan arti cinta."

"Mengapa tidak....?!"

Sahut Cie in suthay dengan suara tegas, akan tetapi dia cepat berubah merah mukanya, sedangkan di dalam hatinya buru buru dia menyebut "o-mie to hud".

Sementara itu Lie Hui Houw jadi ngomel ngomel waktu dia berkata lagi.

"Nah, cintaku tidak bisa dijual...!"

"Siapa kesudian membeli cintamu.. ?"

Cie in suthay masih membangkang, akan tetapi selekas itu juga dia harus menyebut lagi "o mie to hud"

Didalam hati.

"Cintaku sudah kuberikan kepada lain orang...!"

Makin sengit Lie Hui Houw jadinya.

"Aku tidak perduli! kalau perlu akan kubunuh orang yang mengambil cintamu itu..!"

Sekali lagi Cie in suthay harus menyebut "o mie to hud", tetap cuma didalam hati.

"Akan tetapi, aku justeru cinta padamu...!"

Tiga kali lagi Cie in suthay harus menyebut "o mie to hud" didalam hati; setelah itu dia jatuh seperti orang pingsan.

Biarawati yang masih muda usia dan yang cantik jelita itu jatuh kedalam kolam kembang teratai, tanpa ada Lie Hui Houw berdua Cin Siao Yan, sebab dia cuma melamun seorang diri!

000 O-dwkz-hend-ooo DILUAR TAHU Cie in suthay, urusan yang membikin Bok lan siancu meninggalkan kuil Cui gwat am bersama Hui Beng siansu dan Ciu Tong justeru adalah urusan yang mengenai pedang ceng liong kiam.

Dahulu kala, pedang itu dijadikan semacam barang pusaka oleh persekutuan Ceng liong pang sedangkan pedang itu ada sepasang yang kemudian digunakan oleh si macan terbang dan oleh si burung Hong akan tetapi ketika si macan terbang dijadikan orang tawanan oleh pihak kaum penjajah bangsa Mongolia, maka pedang yang berada pada si macan terbang itu telah disita dan dikirim ke istana kerajaan bangsa Mongolia, juga pedang yang berada di tangan si burung Hong, dengan lain cara dapat "disita" oleh pihak pemerintah penjajah, sehingga sepasang pedang itu berkumpul lagi dan disimpan lagi didalam istana kerajaan bangsa Mongolia.

Akan tetapi menjelang saat saat keruntuhan pemerintah penjajah, waktu itu rakyat jelata merasa sangat tertindas ; sering kali terjadi wabah lapar karena tekanan tekanan dari pihak pemerintah penjajah, baik didalam melaksanakan berbagai macam peraturan yang sebenarnya simpang siur, maupun dengan cara memungut pajak yang diluar kemampuan rakyat.

Di beberapa tempat terdapat kota kota yang mati, sepi dari perdagangan dan beberapa desa yang tandus, tidak ada tumbuhan atau tanaman.

Yang banyak terdapat adalah kawanan perampok yang melakukan keganasan menambah penderitaan rakyat yang lemah.

Kawanan perampok yang merajalela waktu itu, sebenarnya dapat dipisahkan menjadi dua golongan.

Golongan pertama adalah kaum perampok yang benar benar merupakan perampok yang ganas, merampok dan membunuh, tidak perduli rakyat jelata yang hidupnya sudah penuh derita.

Dan golongan kedua adalah kaum perampok berbudi.

Mereka ini hanya merampok orang orang kaya yang kejam atau pembesar negeri; lalu hasil mereka merampok tak sayang sayang mereka gunakan buat menolong rakyat jelata yang sedang menderita.

Dibukit pegunungan Cin nia waktu itu dikuasai oleh 5 orang orang gagah yang menyusun suatu barisan perampok yang sangat ditakuti orang.

Kelima orang orang gagah itu dikenal dengan nama Cin san ngo liong atau lima naga dan gunung Cin san.

Mereka terdiri dari Toa liong tauw Kwee Tian Peng, jie liong tauw Ngo Hoan Eng.

sam liong tauw Lie Bok Seng, su liong tauw Cia Keng Jie dan ngo liong tauw Tang Han Cin, Kian hari kesatuan mereka kian bertambah anggotanya, karena banyaknya rakyat jelata yang tidak mempunyai pencarian, akhirnya memilih pekerjaan sebagai perampok.

Orang orang yang biasa melintasi daerah pegunungan Cin san sudah tidak banyak lagi sebab mereka telah mendengar perihal adanya gerombolan perampok yang sangat ditakuti itu.

Rombongan para pengusaha pengangkutan selalu harus membayar semacam upeti atau iuran, kalau hendak melintasi daerah pegunungan Cin san, sedangkan para piauwsu bahkan tidak ragu ragu meminta bayaran dari orang orang yang sengaja hendak jalan berbareng dalam satu rombongan dengan para piauwsu itu.

Oleh karena keadaan lalu lintas semakin hari menjadi semakin sepi, maka pendapatan para perampok diatas gunung Cin san menjadi kian berkurang, sedangkan biaya yang mereka perlukan untuk perbekalan pangan dsb, justeru kian bertambah, maka Cin san ngo liong kemudian menyusun rencana kerja merampok ditempat yang jauh terpisah dari gunung Cin san, dan pekerjaan itu mereka atur secara bergilir dan terdiri dari lima rombongan.

Pada suatu hari adalah menjadi giliran rombongan ngo liong tauw Tang Han Cin untuk melakukan perampokan.

Rombongan yang terdiri dari duapuluh orang itu telah melakukan perjalanan selama tiga hari, akan tetapi mereka belum memperoleh hasil sampai kemudian mereka menemukan suatu peristiwa percobaan perampokan yang sedang dilakukan oleh serombongan para pengemis terhadap suatu iringan kereta piauw yang dipimpin oleh seorang piauwsu tua, akan tetapi kelihatannya lihay ilmu silatnya.

Dikalangan para pengemis yang sedang berusaha merampok itu, kelihatan sudah banyak yang menjadi korban tewas atau luka, demikian juga terhadap korban dari rombongan para pengawal kereta piauw.

Akan tetapi pertempuran masih terus berlangsung dan piauwsu tua itu kelihatan dikepung oleh lima orang pengemis yang juga mahir ilmu silatnya.

Cin san ngo liong tauw Tang Han Cin segera menyusun siasat.

Diperintahkannya anak buahnya umpatkan diri untuk menunggu tanda perintahnya, sedangkan dia sendiri lalu memacu kudanya dan dengan lagak seorang pendekar, langsung dia memberikan bantuan bagi pihak para pengemis itu.

mengepung si piauwsu tua, sampai si piauwsu tua itu tewas terkena golok ngo-liong tauw Tang-Han Cin, yang bahkan terus mengamuk dikalangan para pengawal kereta piauw dibantu oleh para pengemis, meskipun mereka kelihatan agak tidak setuju, sampai habis semua para pengantar kereta piauw terbinasa atau terluka parah.

Merasa telah mendapat bantuan dari ngo liong tauw Tang Han Cin yang mereka tidak kenal, maka pihak para pengemis mengucap terima kasih dan menanyakan nama Tang Han Cin akan tetapi pemimpin kelima dari gerombolan perampok diatas gunung Cin san itu hanya tertawa; dan tidak mau memberitahukan.

Pihak para pengemis itu tidak memaksa, mereka beranggapan bahwa mereka telah bertemu dengan seorang pendekar aneh yang tidak mau diketahui namanya.

Sekali lagi mereka mengucap terima kasih, setelah itu mereka mulai mengangkut kereta piauw rampasan dengan sisa tenaga yang ada, sementara yang luka luka telah mereka angkut juga.

Para pengemis itu belum pergi jauh, ketika mereka mendengar pekik suara Cin san-ngo liong tauw Tang Han Cin, lalu serentak mereka disergap oleh rombongan berandal dari gunung Cin san, sementara Tang Han Cin sekali lagi perlihatkan kegagahannya, dan kali ini yang menjadi korban adalah di pihak para pengemis yang benar benar merasa tidak mengerti dengan sepak terjang penolongnya !

Hanya terdapat beberapa orang saja dipihak para pengemis yang berhasil kabur menyelamatkan diri, yang lain semuanya tewas, termasuk orang orang yang sudah terluka parah akibat pertempuran melawan para rombongan piauwsu tadi.

Dengan demikian kereta piauw itu telah diangkut oleh kawanan berandal dari gunung Cin san, untuk dibawa kemarkas mereka.

Ditengah perjalanan itu, sempat Tang Han Cin memeriksa isi kereta yang ternyata adalah miliknya salah seorang pangeran dari pemerintah bangsa Mongolia, isinya banyak terdapat uang emas dan sepasang pedangCeng liong kiam.

Suatu hasil kerja yang sangat gemilang, yang benar benar sangat diluar dugaan ngo liong tauw Tang Han Cin sehingga mendatangkan suatu pemikiran yang tidak baik pada diri pemimpin ke lima dari kawanan berandal itu, yang hendak memiliki sepasang pedang Ceng liong kiam buat pribadinya sendiri.

Demikian waktu malam harinya rombongan ini beristirahat disuatu tempat yang belukar, maka ngo liong tauw Tang Han Cin telah menyisihkan sejumlah besar uang mas berikut sepasang pedang Ceng liong kiam, yang kemudian dia pendam didekat sebuah pohon.

Esok paginya rombongan perampok itu menemukan pemimpin mereka sedang rebah dengan tubuh gemetar dan tubuhnya terasa panas, menandakan ngo liong tauw Tang Han Cin sedang menderita penyakit demam yang parah.

Hal ini sebenarnya adalah menjadi siasatnya Tang Han Cin.

Dengan mengerahkan ilmu tenaga dalam, dia berhasil membikin tubuhnya gemetar seperti orang yang menggigil sementara peluh membasahi muka dan tubuhnya, sehingga terasa panas bagi orang yang memegangnya.

Kemudian kepada rombongannya itu; Tang Han Cin mengatakan bahwa pada pertempuran melawan para pengemis dia terkena suatu serangan tenaga dalam, dan dia memerintahkan untuk semua rombongannya meneruskan perjalanan mereka menuju keatas gunung Cin san, untuk mengabarkan kepada ke empat pemimpin mereka.

Dua anggota gerombolan yang hendak perlihatkan kesetiaan mereka, mengatakan hendak menunggu dan merawat ngo liong tauw-Tan Han Cin, sedangkan yang lain lalu meneruskan perjalanan mengangkut kereta piauw menuju keatas gunung Cin san.

Setelah lewat beberapa hari, maka ditempat belukar itu telah datang jie liong tauw Nio Hoan Eng dan su liong tauw Cia Keng Jie, dengan diantar oleh dua orang anggota berandal yang menjadi anak buahnya Tang Han Cin.

Akan tetapi, ditempat itu mereka hanya menemukan sisa mayat dari kedua orang yang menemani Tang Han Cin; sementara ngo liong tauw Tang Han Cin hilang tidak diketahui jejaknya sehingga pihak yang mencari telah menduga bahwa ngo liong tauw Tang Han Cin telah ditangkap, entah oleh pihak pemerintah penjajah atau oleh pihak para piauwsu atau oleh pihak para pengemis yang merasa dirugikan.

Setelah lewat beberapa waktu setelah terjadinya peristiwa itu, maka tersiar suatu berita tentang isi kereta piauw yang dirampas, yang katanya terdapat sepasang pedang ceng liong kiam, disamping adanya barang barang permata dan uang emas yang tidak ternilai harganya !

Keempat naga yang menjadi pemimpin perampok diatas gunung Cin san menjadi sangat terkejut.

Tidak pernah mereka melihat adanya pedang ceng liong kiam pada kereta piauw yang mereka terima, sebagai hasil kerja ngo liong tauw Tang Han Cin.

Toa liong tauw Kwee Thian Peng mulai merasa curiga terhadap hilangnya Tang Han Cin.

Mungkin ngo liong tauw Tang Han Cin sengaja menghilang, karena hendak memiliki sepasang pedang pusaka itu untuk dirinya sendiri, demikian dengan sejumlah permata dan uang emas yang tidak terdapat didalam kereta rampasan itu.

Sam liong tauw Lie Bok Seng tidak sependapat dengan kecurigaan Toa liong tauw Kwee Thian Peng, akan tetapi dia kalah suara karena Jie liong tauw Nio Hoan Eng dan su-liong tauw Cia Keng Jie berada dipihak toa liong tauw Kwee Thian Peng.

Akhirnya diambil keputusan untuk mereka, untuk melakukan penyelidikan tentang jejak ngo liong tauw Tang Han Cin, disamping mereka tak menghentikan kegiatan mereka sebagai perampok diatas gunung Cin san.

Maka sekali lagi mereka mengadakan pembagian tugas secara bergilir.

Pertama kali yang akan mengadakan penyelidikan adalah toa liong tauw Kwee Thian Peng, untuk jangka waktu sebulan.

Untuk melakukan penyelidikan mencari jejak Tang Han Cin, maka toa liong tauw Kwee Tian Peng menyamar menjadi seorang hartawan, dan melakukan perjalanan dengan diantar oleh dua orang bekas anak buahnya Tang Han Cin.

Masing masing bernama Ong Toa dan Ouw Sam.

Sekali lagi mereka mendatangi tempat belukar bekas terjadinya ngo liong tauw Tang Han Cin ditinggalkan, karena katanya sedang menderita sakit.

Kemudian mereka mendatangi tempat bekas terjadinya peristiwa perampasan kereta piauw dan langkah penyelidikan itu menuntun toa liong tauw Kwee Thian Peng mengunjungi Tay wie piauwkiok perusahaan pengangkutan yang dahulu mendapat tugas mengirim kereta piauw yang berisi pedang "ceng liong kiam" itu.

Tay wie piauwkiok berkedudukan dikota Tay ciu, akan tetapi perusahaan itu sudah ditutup oleh pihak pejabat pemerintah setempat yang bahkan telah menahan semua anggota keluarga pengurus Tay wie piauwkiok sebagai jaminan sampai pihak perusahaan itu mengganti nilai kiriman yang hilang dan mengembalikan pedang "ceng liong kiam".

Satu satunya orang piauwkiok yang tidak ditahan adalah Wie Keng Siang, bekas pemimpin perusahaan yang diharuskan bertanggung jawab atas kehilangan barang barang yang telah dirampas oleh pihak penjahat.

Usia Wie Keng Siang waktu itu sudah mencapai empat puluh tahun atau lebih sedikit.

Dia adalah seorang ahli waris tunggal dari ilmu silat golok Marga Wie yang tidak pernah dikembangkan kepada pihak luar, akan tetapi Wie Keng Siang ini mempunyai sahabat yang bernama Liauw Pek Jin, dan Liauw Pek Jin ini sangat gemar mengumpulkan dan mencangkok berbagai macam ilmu silat golok, sampai kemudian Liauw Pek Jin ini menamakan ilmu silat golok ciptaannya itu "See gak hua kunbun", atau ilmu silat gabungan dari Pasir putih.

Dalam usahanya mencari pihak penjahat yang telah merampas kereta piauw yang menjadi tanggung jawabnya, maka Wie Keng Siang memerlukan mengunjungi desa Pek see cung, atau desa pasir putih yang letaknya di seberang sungai Tiang kang.

Ternyata desa pasir putih itu hanya merupakan suatu perkampungan kecil, yang penduduknya terdiri dari dari belasan rumah, yang dibangun tidak secara berkelompok, akan tetapi saling terpisah cukup jauh.

Untuk mencapai rumah sahabatnya itu Wie Keng Siang harus melintasi jalan daerah pegunungan yang sunyi dan yang tidak mudah dicapai oleh setiap orang sampai kemudian dia sampai disebuah rumah dengan pekarangan yang sangat besar dan luas, penuh dengan berbagai macam tanaman.

Dengan langkah kaki yang perlahan, Wie Keng Siang mendekati halaman rumah sahabatnya itu sampai kemudian dia hentikan langkah kakinya, sebab didalam halaman itu dia melihat ada lima bocah yang sedang berlatih ilmu silat golok.

Disuatu saat Wie Keng Siang berdiri terpesona karena menyaksikan bocah bocah itu sedang memainkan jurus jurus ilmu silat golok Marga Wie.

Ada beberapa bagian dari jurus jurus ilmu silat golok itu yang dilihat agak kacau, atau menyimpang dari ketentuan yang dia ketahui, dari itu Wie Keng Siang tak kuasa menahan diri, dan dia muncul dengan perdengarkan suara tertawa, lalu dia berkata .

"Ha ha ha ! kalian telah membuat beberapa kesalahan.. !"

Sebenarnya waktu itu Wie Keng Siang sedang berduka hati karena semua keluarganya sedang ditahan oleh pihak pejabat pemerintah setempat, akan tetapi dia dapat tertawa sebab melihat bocah bocah itu berlatih.

Didalam hati dia memuji sahabatnya, Liauw Pek Jin, yang sekali melihat dan mendapat sedikit penjelasan, telah berhasil memiliki ilmu silat golok Marga Wie, bahkan telah berhasil mengajarkan kepada murid muridnya, meskipun terdapat sedikit kesalahan-kesalahan atau menyimpang dari ketentuan.

Sementara itu Liauw Pek Jin keluar ketika mengetahui kedatangan sahabatnya dan keduanya saling bicara sampai kemudian dengan muka duka Wie Keng Siang menceritakan perihal peristiwa malapetaka yang sedang menimpa perusahaan dan keluarganya.

"Memang sejak dahulu sudah aku anjurkan supaya hiantee hentikan pekerjaan yang penuh resiko itu, sebab keadaan sekarang penuh dengan kerusuhan, sedangkan negara sedang terancam.."

Demikian antara lain terdengar perkataan Liauw Pek Jin yang lalu meneruskan; setelah mempersilahkan tamunya minum.

"... tentang para pengemis yang melakukan penjegalan seperti berita yang kau terima saat ini yang aku ketahui ada dua macam persekutuan para pengemis. Yang pertama adalah Hek kin kay pang atau persekutuan pengemis dengan selendang hitam, yang dipimpin oleh seorang pengemis sakti yang mengaku bernama Ciam kauw sin kay Ciam Sun Ho, kedua adalah persekutuan Kay pang yang dipimpin oleh Oey Yok Su, yang mempunyai rencana atau hasrat hendak mempersatukan semua kaum pengemis yang berada di negeri Cina ..."

"Entah persekutuan pengemis yang mana, yang telah melakukan penjegalan itu.."

Kata Wie Keng Siang yang kelihatan menjadi semakin bertambah kesal.

"Justeru hal ini yang harus menjadi langkah pertama dari penyelidikan kita,"

Sahut Liauw Pek jin yang lalu meneruskan perkataannya .

"... terlebih dahulu kita harus mendapat kepastian, persekutuan para pengemis yang mana yang telah melakukan penjegalan, lalu kita hubungi pemimpin mereka, supaya kita ketahui pihak berandal mana yang telah berhasil merampas kereta piauw itu, sebab setahu aku ditempat terjadinya peristiwa perampasan, tidak terdapat kaum perampok seperti yang kau ceritakan.."

Wie Keng Siang agak terhibur, karena sahabatnya telah memberikan titik terang buat urusan yang sedang dia hadapi.

Dan dia menjadi girang karena mengetahui kesediaan sahabatnya untuk ikut melakukan penyelidikan.

Demikian esok harinya dua bersahabat itu meninggalkan Pek see cung.

Mereka menyusuri sungai Tiang kang dengan menyewa sebuah perahu, sampai di hari ketiga baru mereka mendarat dan meneruskan perjalanan menuju dusun Ciam kauw tin yang diketahui menjadi pusat dari persekutuan kaum pengemis dengan selendang hitam, atau Hek kin kay pang.

Jilid 18 TlO SIN HOK, seorang wakil dari Ciam kauw sinkay Ciam Sun Ho, menyambut kedatangan kedua tamunya.

Sikap Tio Sin Hok kelihatan sangat memandang hina waktu Wie Keng Siang perkenalkan diri dan nama sahabatnya.

Hampir terjadi pertempuran, kalau tidak Liauw Pek Jin bersikap sabar, sampai kemudian mereka mengetahui bahwa Ciam-kauw sinkay Ciam Sun Ho sedang bepergian kedusun Boe kee cung.

Dua bersahabat ini kemudian menyusul si biang pengemis Ciam Sun Ho, sementara di sepanjang perjalanan itu, tak sudahnya D-Wie Keng Siang memaki Tio Sin Hok, yang dia anggap sangat memandang hina, bersikap sebagai seorang pengemis yang sangat sombong.

Sebaliknya Liauw Pek Jin hanya tertawa dan mengatakan bahwa dengan perlihatkan sikapnya itu, Tio Sin Hok justeru seolah olah sudah mengakui bahwa pihak Hek kin kay pang yang melakukan penjegalan terhadap kereta piauw, akan tetapi pihak ketiga yang berhasil merampasnya, sehingga semua anggota Hek kin kay pang justru sedang merasa penasaran dan marah marah dengan urusan perampasan kereta piauw itu.

"Apakah mungkin pihak Boe kee cung itu yang telah bertindak sebagai pihak ketiga, sehingga Ciam kauw sinkay Ciam Sun Ho mengunjungi dusun itu ...?"

Tanya Wie Keng Siang.

"Kita lihat nanti ..."

Sahut Liauw Pek Jin dan keduanya lalu meneruskan perjalanan mereka menuju ke dusun Boe kee cung, dan didusun itu diketahui oleh mereka tentang adanya tokoh kaum rimba persilatan yang bernama Coa Kim Hin, si ular kepala dua.

Dengan istilah ular kepala dua dengan mudah orang mendapat kesan bahwa Coa Kim Hin berhati belang dan bermuka dua.

Artinya Coa Kim Hin itu adalah manusia yang sukar dipercaya dan pandai menjilat atau "mengekor"

Demi mencari keuntungan buat diri sendiri.

Akan tetapi meskipun banyak orang yang mengetahui bahwa Coa Kim Hin ini bagaikan ular kepala dua namun orang orang sangat banyak yang kesudian mengikat tali persahabatan dengan dia, disamping dia disegani karena memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, tidak mudah terkalahkan.

Didusun Boe kee cung, Coa Kim Hin bertindak selaku kepala kampung yang sangat ditakuti dan dihormati, dirumah yang besar tersedia banyak kamar yang khusus digunakan untuk para tamu yang datang menginap sehingga rumah itu selalu ramai dengan para tamu, ditambah dengan keluarganya yang besar, serta belasan orang kauwsu atau tukang pukul bayaran.

Usia Coa Kim Hin pada waktu itu sudah mendekati 50 tahun, dia bertubuh agak gemuk tetapi penuh otot.

Mukanya putih agak bundar, penuh senyum yang sukar diketahui maknanya.

Pada pada waktu usianya masih muda Coa Kim Hin merupakan pemimpin gerombolan rampok yang berkeliaran tak tentu tempatnya.

Dimana saja dia berada selalu dia melakukan perampokan, tanpa menghiraukan kalau ditempat itu dikuasai oleh sesuatu gerombolan perampok sehingga sering kali terjadi dia bersama rombongannya terlibat dalam suatu pertempuran melawan gerombolan perampok lain yang merasa daerah operasinya telah diganggu.

Akan tetapi pada setiap pertempuran atau pertentangan yang terjadi, selalu Coa Kim Hin memperoleh kemenangan baik karena memang ilmu silatnya yang lebih mahir atau pun karena siasat dan akal muslihatnya yang dapat mengakibatkan pihak lawan berubah menjadi kawan !

Dengan demikian dikalangan para perampok nama Coa Kim Hin juga dimalui dan disegani.

Pada suatu hari, didusun Boe kee cung itu kedatangan seorang pengemis, dan pengemis ini langsung telah mendatangi rumahnya Coa Kim Hin.

Para kauwsu yang menjaga keamanan dirumah Coa Kim Hin merasa yakin bahwa mereka sedang berhadapan bukan dengan sembarangan pengemis, dari itu mereka memberikan laporan kepada majikan mereka, tentang kehendakan si pengemis yang ingin bertemu.

Si ular kepala dua Coa Kim Hin keluar dan menemui si pengemis itu yang lalu memperkenalkan diri sebagai Ciam kauw sin kay Ciam Sun Ho, ketua persekutuan pengemis selendang hitam atau Hek kin kay pang.

Coa Kim Hin tertawa dan mengajak pengemis itu memasuki ruang dalam.

Memang sudah dia dengar nama Ciam kauw sin kay Ciam Sun Ho dan persekutuan Hek kin kay pang, yang sedang berkembang cepat.

Setelah menyuguhkan tamunya yang istimewa itu, maka Ciam kauw sin kay Ciam Sun Ho lalu menceritakan tentang maksud kedatangannya, yakni bertalian dengan urusan piauw yang dirampas pihak perampok yang belum dia ketahui dari mana dan siapa nama mereka, dan sipengemis itu justeru memberitahukan tentang isi kereta piauw yang berupa uang emas yang tak ternilai harganya, serta sepasang pedang pusaka ceng liong kiam.

"... jelasnya barang barang itu adalah milik istana kerajaan yang hendak dikirim ke utara; akan tetapi di luar dugaan telah dirampok...."

Kata Ciam kauw sin kay Ciam Sun Ho yang menambahkan keterangannya untuk kemudian dia bentangkan maksud kedatangannya, adalah untuk bekerja sama dengan si ular kepala dua Coa Kim Hin.

"... uang mas itu sangat besar jumlah dan nilainya. Cukup untuk digunakan sebagai pembiayaan gerakan menggulingkan pemerintah penjajah, selagi ditempat lain juga sudah ada gerakan yang serupa, sementara segenap anggota Hek kin kay pang sudah siap untuk dijadikan panglima dan pasukan perang; sedangkan dengan sepasang pedang pusaka ceng liong kiam yang memang berasal dari istana kerajaan, tepat dipegang Coa toako selaku sri baginda raja yang berkuasa dinegeri kita ini.. ."

"Ha ha ha....!"

Terdengar si ular kepala dua Coa Kim Hin tertawa.

Memang hebat cara si pengemis itu berpikir dan memang tepat siasatnya.

Dengan harta yang sedemikian banyaknya sudah tentu dapat mereka membeli tenaga manusia buat digunakan untuk menggulingkan pemerintah penjajah, dan alangkah jayanya dia kalau dia menjadi seorang maharaja yang agung !

"...sudah tentu aku mau menjadi seorang raja yang didukung oleh para pengemis, akan tetapi aku tidak mau kalau dijadikan seorang raja pengemis.."

Akhirnya kata Coa Kim Hin.

Si biang pengemis Ciam Sun Ho ikut tertawa, meskipun didalam hati dia mendongkol mendengar perkataan "raja pengemis"; sebab pada saat itu kedudukan Ciam kauw sin kay Ciam Sun Ho justeru adalah sebagai ketua persekutuan kaum pengemis, atau dalam arti-kata, dapat dianggap sebagai "raja pengemis*.

"...kalau nanti aku menjadi raja, maka kau akan aku jadikan perdana menteri yang berjasa.."

Kata lagi Coa Kim Hin yang lalu disambungnya dengan suara tertawa.

Demikian dan sejak hari itu Ciam kauw sin kay Ciam Sun Ho jadi menginap dirumahnya Coa Kim Hin dan mereka berdua secara rahasia telah merundingkan siasat dan cara cara mereka bekerja untuk menggulingkan pemerintah penjajah bangsa Mongolia dan menyusun pula siasat serta rencana kalau kelak Coa Kim Hin sudah menjadi raja.

Keduanya kemudian sependapat hendak merobah anggaran hukum negara dan menyusun suatu pemerintahan yang kuat, agar tidak mudah diserang oleh pihak bangsa asing maupun oleh pihak bangsa sendiri yang bermaksud merebut lagi pemerintah yang mereka kuasai.

Untuk ini mereka pun telah menyusun suatu daftar nama kawan kawan mereka yang kelak akan mereka berikan jabatan jabatan yang penting.

"... akan tetapi sebagai langkah pertama adalah kita harus merebut kembali kereta piauw yang dirampas orang.."

Akhirnya kata si biang pengemis Ciam Kauw sin kay Ciam Sun Ho, sementara mukanya sudah mulai merah dan kepalanya terasa pusing, karena banyaknya arak yang sudah diminumnya.

"Ya, lebih dulu kita harus merebut kereta piauw..."

Sahut Coa Kim Hin yang lalu tertidur pulas dengan kepala berada diatas meja karena tidak kuasa menahan rasa mabok dan rasa mengantuk, sebab diluar kesadaran mereka, hari sudah berubah mendekati waktu subuh, dan mereka masih terus berunding menyusun siasat dan menyusun anggaran dasar negara yang mereka sedang khayalkan.

Esok harinya penduduk dusun Boe kee cung menyaksikan suatu kesibukan dirumahnya Coa Kim Hin karena berturut turut telah berangkat belasan penunggang kuda yang meninggalkan dusun Boe kee cung dan mereka semuanya adalah para kauwsu yang membawa surat surat undangan dari Coa Kim Hin yang ditujukan untuk para tokoh rimba persilatan dan pemimpin kawanan perampok di berbagai tempat yang semuanya sudah dikenal oleh si Ular kepala dua Coa Kim Hin yang bermaksud hendak menjadi raja.

Dengan dikirimkannya surat surat undangan itu, maka pada hari yang sudah ditentukan dusun Boe kee cung menjadi ramai, penuh dengan orang orang kaum rimba persilatan yang kebanyakan terdiri dari golongan hitam.

Mereka datang memenuhi undangan Coa Kim Hin, meskipun mereka tidak mengetahui maksud undangan itu, termasuk su liong tauw Cia Keng Jie dari bukit pegunungan Cin nia, yang ikut menerima surat undangan.

Su liong tauw Cia Keng Jie datang dengan dikawal oleh dua orang pembantunya.

Mereka tiba didusun Boe kee cung, dimana mereka disambut oleh para kauwsu yang bersikap ramah tamah dan mengantar para tamu memasuki taman yang luas yang letaknya di bagian belakang dari rumahnya Coa Kim Hin, dimana sudah berkumpul tidak kurang dari lima puluh orang orang tokoh kaum rimba persilatan.

Su liong tauw Cia Keng Jie dengan kedua orang pembantunya mendapat tempat duduk dibagian selatan dari taman yang luas itu sedangkan dibagian tengah taman itu terdapat suatu arena tempat orang berlatih ilmu silat lengkap dengan persediaan berbagi macam senjata yang ditempatkan pada suatu rak.

Dari tempat duduknya itu su liong tauw Cia Keng Jie mengawasi kesekitar taman yang sudah penuh dengan para tamu, dan dia kelihatan agak terkejut ketika diantara yang hadir dia melihat banyak terdapat kaum pengemis dari Hek kin kay pang sesuai dengan tanda selendang hitam yang terdapat melingkar dibagian pundak mereka.

Betapapun halnya, su liong tauw Cia Keng jie menyadari bahwa pihaknya telah mengikat tali permusuhan dengan pihak Hek kin kay pang, sebab seperti yang dia ketahui ngo liong tauw Tang Han Cin telah melakukan perampasan kereta piauw dari tangan pihak Hek kin kay pang, dan ngo liong tauw Tang Han Cin telah membunuh banyak orang orang Hek kin kay pang, oleh karena itu su liong tauw Cia Keng Jie menjadi agak terkejut, sebab didusun Boe kee cung im dilihatnya banyak orang orang Hek kin kay pang yang juga menjadi tamu undangannya Coa Kim Hin.

Didalam hati su liong tauw Cia Keng Jie bertanya-tanya, apakah mungkin pihak Hek kin kay pang sudah mengetahui bahwa pihaknya yang telah melakukan perampasan kereta piauw ?

atau apakah pertemuan didusun Boe kee cung itu ada hubungannya dengan urusan kereta piauw yang telah dirampas oleh ngo liong tauw Tang Han Cin ?

Sementara itu, para pelayan telah membawakan hidangan makan malam yang lengkap ditempatkan pada tiap tiap meja para undangan.

Setelah itu orang orang melihat Coa Kim Hin berdiri dari tempat duduknya, lalu dia berjalan perlahan lahan menuju kebagian tengah dari taman itu sementara pada mukanya kelihatan cerah penuh senyum.

Ditengah tengah taman itu, Coa Kim Hin berdiri menghadapi semua para tamunya.

Dia memberi hormat lalu dia mulai angkat bicara dengan kata sambutannya.

Mula pertama Coa Kim Hin mengucap terima kasih kepada para tamunya yang sudi datang memenuhi undangannya, setelah itu secara singkat dia menceritakan riwayat hidupnya bahwa diwaktu muda dia seringkali melakukan pekerjaan merampok dikangzusi berbagai tempat, sampai seringkali terjadi pertentangan antara dia dengan berbagai rombongan kaum perampok lainnya.

Diakuinya bahwa kesalahan berada dipihaknya, oleh karena dia telah mengganggu wilayah atau daerah kekuasaan lain orang, akan tetapi dahulu katanya dia masih muda berdarah panas sehingga dia tak menyadari akan kesalahan itu.

Hal hal yang semacam dia lakukan dulu, sekarang tidak boleh berulang lagi, baik pada dirinya sendiri maupun pada diri lain orang.

Oleh karenanya pada kesempatan pertemuan itu, dia bermaksud akan mencalonkan diri menjadi ketua kaum perampok, yang tugasnya mendamaikan kalau terjadi sesuatu pertentangan didalam kalangan kaum perampok, dan mengatur batas batas pembagian daerah kekuasaan masing masing.

Setelah mengetahui dan mendengar urusan pihak tuan rumah, maka didalam hati su liong tauw Cia Keng Jie menjadi agak tenang sebab jelas bagi dia bahwa maksud undangan pertemuan itu bukan dalam rangkaian urusan yang bertalian dengan kereta piauw yang dirampas oleh pihaknya akan tetapi adalah untuk pemilihan seorang ketua kaum perampok, atau dengan kata lain Coa Kim Hin ingin menjadi raja dari segala raja perampok.

Di antara yang hadir, sudah tentu ada yang setuju dan ada yang tidak setuju, untuk menentukan atau memilih Coa Kim Hin menjadi ketua atau raja dari segala raja perampok.

Kalau memang hendak mengangkat seorang ketua, mengapa tidak dilakukan dengar cara pemilihan yang bebas ?

Akan tetapi orang orang yang merasa setuju ternyata lebih banyak daripada yang tidak setuju, lagipula diantara mereka yang tidak setuju tidak ada yang bersuara, sebaliknya yang memberikan persetujuan telah mengacungkan tangan mereka tinggi tinggi, sambil mereka berteriak menyatakan persetujuan mereka sehingga mengakibatkan sebagian dari orang orang yang pada mulanya merasa tidak setuju, telah ikut ikutan mengangkat tangan dan memberikan tanda persetujuan mereka !

Si ular kepala dua Coa Kim Hin menjadi sangat girang melihat sambutan dari tamunya.

Dia mengucap terima kasihnya dan mulai saat itu dia menghendaki orang orang menyebut dia sebagai kauwcu atau ketua.

Kemudian Coa Kim Hin meneruskan lagi angkat bicara dan dia menekan bahwa dia tidak menghendaki adanya sesuatu pihak yang melakukan pekerjaan merampok didaerah kekuasaan pihak lain seperti yang baru baru ini terjadi serombongan perampok telah melakukan pekerjaan diwilayah kekuasaan orang orang Hek kin kay pang.

",..rombongan itu bahkan telah melakukan cara yang sangat keji.. !"

Kata Coa Kim Hin yang menambahkan keterangannya dan meneruskan perkataannya.

"..mereka bukan saja melakukan pekerjaan didaerah kekuasaan kaum Hek kin kay pang, akan tetapi mereka malahan merampas barang barang yang sudah dirampas dan dikuasai oleh pihak Hek kin kay pang, lalu dengan keji mereka telah membunuh mati semua orang orang kay pang yang sedang melakukan pekerjaannya."

Tanpa terasa, tubuh su liong tauw Cia Keng Jie menjadi gemetar waktu dia mendengar perkataan Coa Kim Hin yang baru saja ditetapkan menjadi kauwcu atau ketua.

Juga kedua pembantunya ikut gemetar, bahkan muka mereka kelihatan pucat ketakutan, sebab mereka mengetahui persoalan itu cukup jelas.

Sementara itu, diantara para undangan yang hadir, mereka telah perdengarkan suara mereka yang berisik.

Diantara mereka memang sudah ada yang mendengar sedikit berita mengenai peristiwa itu.

Akan tetapi mereka tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya, terlebih yang menjadi korban adalah kaum Hek kin kay pang, yang waktu itu sebenarnya sudah cukup besar pengaruhnya dan cukup ditakuti oleh berbagai kalangan.

".. iringan kereta piauw yang dirampas itu, berisi sejumlah besar uang emas dan sepasang pedang pusaka "Ceng liong kiam"..."

Demikian terdengar kata lagi Coa Kim Hin akan tetapi tak dapat dia meneruskan perkataannya, oleh karena suara yang hadir menjadi semakin berisik oleh karena mereka benar benar menjadi sangat terkejut, dengan di sebutnya nama pedang pusaka yang sudah sangat terkenal itu.

"... cu wie diharap tenang sebentar.. !"

Teriak Coa Kim Hin dan setelah semua orang orang terdiam mendengarkan, maka dia meneruskan lagi pembicaraannya.

"Aku tahu bahwa pihak yang bersangkutan sekarang ini hadir diantara cuwie. Sebagai kauwcu, aku tidak mau mengambil tindakan keras; masih ada cara untuk menyelesaikan secara damai. Aku menghendaki pihak yang bersangkutan mengembalikan barang barang rampasan itu kepada pihak Hek kin kay pang yang ketuanya yakni Ciam kauw sin kay Ciam Sun Ho juga ikut hadir pada pertemuan kita ini dan mengenai urusan mereka yang sudah dibinasakan, akan dianggap selesai ,, ,"

Sehabis dia berkata begitu, maka Coa Kim Hin memanggil Ciam kauw sin kay Ciam Sun Ho, untuk diperkenalkan dihadapan orang banyak.

(odwkz-hen-o) SEMUA yang terjadi dan semua perkataan yang diucapkan oleh Coa Kim Hin telah dihadapi dan didengar oleh Wie Keng Siang berdua Liauw Pek Jin.

Dua bersahabat ini ikut hadir pada pertemuan itu, oleh karena mereka datang di dusun Boe kee cung dengan maksud hendak menemui Ciam kauw sin kay Ciam Sun Ho, dan secara kebenaran waktu itu sedang diadakan pertemuan dari berbagai kalangan dan rombongan para perampok, atas undangan si ular kepala dua Coa Kim Hin.

Waktu mendengar perkataan Coa Kim Hin yang menghendaki kereta piauw dikembalikan kepada pihak Hek kin kay pang, sebenarnya Wie Keng Siang hendak berdiri dari tempat duduknya dan hendak mengatakan mengapa bukan dikembalikan kepada pihak piauw kiok, akan tetapi pada saat itu Liauw Pek jin menekan sebelah lengan sahabatnya, melarang sahabatnya itu bicara yang sekaligus berarti memperkenalkan diri sebagai orang dari pihak perusahaan pengangkutan yang berkepentingan.

Dilain pihak, su liong tauw Cia Keng jie benar benar sudah tak bisa menahan rasa gugupnya.

Tanpa terasa dia telah berdiri dari tempat duduknya, lalu dengan suara keras dia berkata ;

"Akan tetapi, waktu itu belum ditentukan pembatasan daerah atau wilayah kerja, dan belum ada kauwcu..."

Demikian kata Cia Keng jie, akan tetapi selekas dia suara, maka dia menyadari bahwa dia sudah melakukan suatu kesalahan yang besar.

Akan sia sia meskipun su liong tauw Cia Keng jie hendak duduk lagi di tempatnya sebab semua mata sudah ditujukan kepadanya, terutama sinar mata Ciam kauw sinkay Ciam Sun Ho yang bagaikan mengeluarkan api karena menahan rasa marah.

"Kemari kau... !"

Seru Ciam kauw sin kay Ciam Sun Ho dengan suaranya yang seperti guntur, sementara tidak kurang dari dua belas orang orang Hek kin kay pang sudah berdiri didekat tempat duduk Cia Keng Jie bersama kedua pembantunya dan sikap orang orang Hek kin kay pang itu bagaikan sudah mengurung !

Dengan paksakan diri untuk berlaku tenang, maka su liong tauw Cia Keng Jie mendatangi dan mendekati tempat Ciam kauw sin kay Ciam Sun Ho berdua Coa Kim Hin.

"Harap kaujelaskan, kau dari rombongan mana... ,"

Kata Coa Kim Hin ketika Cia Keng Jie sudah berdiri dekat.

"Siao tee adalah su liong tauw Cia Keng Jie dari gunung Cin san.."

"Su liong tauw ! mengapa bukan toa liong tauw yang datang memenuhi undanganku.. ?"

Tanya Coa Kim Hin kelihatan dia seperti tersinggung. Toa liong tauw sedang bepergian mencari ngo liang tauw . ,"

Sahut Cia Keng jie namun selekas itu juga dia menyadari tentang kesalahannya yang lagi lagi telah terlepas bicara, melulu oleh karena dia tak mampu mengatasi rasa gugupnya.

"Mencari ngo liong tauw ? Coba katakan yang lebih jelas ,..!"

Kata lagi Coa Kim Hin yang kelihatan berobah menjadi bengis.

"Kauwcu, apakah kau perlakukan aku sebagai orang tertuduh... ?"

Tanya Cia Keng Jie yang kelihatan mulai marah, akan tetapi belum habis rasa gugupnya.

"Hmm ... !"

Geram Ciam kauw sin kay Ciam Sun Ho mukanya bertambah bengis dan kedua matanya bertambah besar membentang, sebaliknya Coa Kim Hin tertawa dan berkata lagi .

"Kau tidak mau diperlakukan sebagai seorang yang tertuduh, baik, akan tetapi sekali lagi aku menanya, siapa diantara kalian yang melakukan penjegalan itu ....?"

"Ngo liong ..."

Cia Keng Jie tidak sempat meneruskan kalimat perkataannya, sebab Ciam kauw sin kay Ciam Sun Ho sudah tidak sanggup membendung menahan rasa marahnya.

Dia berdiri didekat Cia Keng Jie dan secara tiba tiba kepelan tangan kanannya bergerak memukul bagian dada!

Sudah tentu keadaan Cia Keng Jie sedang tidak siaga, terlebih karena gugupnya memang belum hilang.

Dadanya terkena pukulan itu, tubuhnya terdorong beberapa langkah kebelakang, sedangkan dari mulutnya dia mengeluarkan darah kental.

Sebelum Cia Keng Jie sempat melakulan perlawanan atau bicara, maka empat orang laki laki sudah menerkam dia dan memegang sepasang tangannya erat erat.

Dua orang pembantunya Cia Keng Jie juga mendapat nasib yang serupa, oleh karena mereka telah dikepung dan ditangkap oleh orang orang Hek kin kay pang.

Suasana orang banyak menjadi bertambah ramai.

Semua yang terjadi telah berlangsung begitu cepatnya dan diluar dugaan mereka semua.

Sementara itu sekali lagi Coa Kim Hin berteriak memerintahkan semua orang berlaku tenang .

"Cuwie diharap tenang semuanya dan dengarkan perkataanku,"demikian kata Coa Kim Hin yang sejenak menunggu, setelah para hadirin diam tidak bersuara, maka dia menyambung perkataannya .

"..kita terpaksa menyudahi pertemuan kita hari ini, akan tetapi aku perintahkan kalian semua berangkat ke gunung Cin san. Kurung markas Cin san ngo liong dan jangan biarkan ada yang melarikan diri. Aku akan segera menyusul setelah selesai memeriksa Cia Keng Jie... !"

Sementara itu berulangkali Liauw Pek Jin harus mencegah kawannya yang tidak dapat menahan sabar karena Wie Keng Siang sudah yakin bahwa pihak Cin san ngo liong yang merampas kereta piauw yang menjadi tanggung jawabnya.

Waktu para undangan pada bubar dan bersiap siap hendak berangkat ke atas gunung Cin san, maka secara diluar tahu orang orang itu, Liauw Pek jin mengajak sahabatnya untuk cepat cepat mendahulukan berangkat ke atas gunung Cin san.

Dua bersahabat ini telah melakukan perjalanan yang cepat, dan disepanjang perjalanan mereka menyusun siasat buat menghadapi pihak berandal diatas gunung Cin san sebelum rombongan Coa Kim Hin tiba.

Akan tetapi begitu mereka tiba ditempat tujuan mereka menjadi sangat terkejut, karena mereka melihat sangat banyaknya tentara negeri yang sedang berjaga jaga disekitar kaki gunung Cin san.

Dari keterangan yang mereka peroleh, maka diketahui oleh dua bersahabat ini, bahwa dari pihak tentara telah melakukan penyerangan dan sudah menguasai gunung Cin san, menangkap semua berandal, kecuali para pemimpin mereka yang katanya sudah berhasil melarikan diri.

Adanya pihak tentara negeri menyerang ke atas gunung Cin san, sebenarnya adalah akibat dari perbuatannya ngo liong tauw Tang Han Cin !

Waktu sudah memperoleh sepasang pedang ceng liong kiam dan menyisihkan sejumlah uang emas, maka dengan kejam Tang Han Cin telah membinasakan dua orang pembantunya yang menjaga dia karena menganggap dia benar benar sedang sakit.

Dengan membawa uang emas dan sepasang pedang ceng liong kiam, maka ngo liong-tauw Tang Han Cin berangkat secara tergesa gesa, akan tetapi tanpa tujuan yang menentu, oleh karena dia hendak mencapai tempat yang sejauh mungkin untuk menghindar dari rekan rekannya diatas gunung Cin san.

Disepanjang perjalanan itu, ngo liong tauw Tang Han Cin berlaku sangat hati hati.

Karena dia menyadari bahwa musuhnya tidak melulu berupa para pengemis dari Hek kin kay pang, akan tetapi juga pihak Cin san, pihak piauwkiok dan pihak pemerintah penjajah, sehingga dia harus berusaha menghindari dari semua musuh musuh itu.

Pada suatu hari Tang Han Cin tiba di dalam kota Hie ciang, sebuah kota penghubung yang ramai dengan arus lalu lintas yang menuju ke propinsi Hoo lam.

Waktu itu hari sudah mendekati magrib, akan tetapi Tang Han Cin yang hendak menghindar dari suatu tempat yang ramai, sengaja dia telah meneruskan perjalanan, tidak bermalam di dalam kota Hie ciang.

Akibat tindakan yang sangat berhati hati itu, maka Tang Han Cin harus berjalan terus, meskipun hari sudah menjadi malam, sedangkan dia belum mencapai tempat buat dia beristirahat dan bermalam.

Kemudian hujan pun turun dengan sangat derasnya, akan tetapi Tang Han Cin masih harus meneruskan perjalanannya, oleh karena tiada tempat buat dia numpang meneduh, sehingga pakaiannya menjadi basah.

Akhirnya Tang Han Cin terpaksa harus menggunakan ilmu Iari cepat, menerobos hujan dan melawan hawa dingin; sampai kemudian dia menemukan sebuah dusun kecil yang tidak terlalu banyak penduduknya, bahkan letak perumahan mereka saling terpisah jauh.

Didusun itu Tang Han Cin tidak berhasil menemukan sebuah rumah penginapan, sehingga terpaksa dia mendatangi rumah suatu keluarga dengan niat numpang bermalam.

Akan tetapi, sudah tiga rumah dia datangi, ternyata tidak ada yang mau membuka pintu ditengah malam, sedangkan hujan masih turun dengan sangat derasnya.

Adalah disuatu rumah yang kecil dari suatu keluarga yang sangat miskin, Tang Han Cin berhasil mendapat persetujuan untuk menumpang inap.

Keluarga yang bersedia menerima Tang Han Cin itu, mengaku bernama Ong Hok Sin.

Karena usianya yang sudah tua, maka di dusun itu dia dikenal dengan nama Ong lopek.

Ong Hok Sin atau Ong lopek hanya menetap berdua dengan anak perempuannya, Ong Sin Lan yang waktu itu sudah berumur dua puluh tahun sementara ibunya Sin Lan sudah lama meninggalkan dunia.

Hidup mereka sangat miskin, sehingga hanya dapat menghidangkan teh panas bagi Tang Han Cin, akan tetapi saat yang seperti itu secangkir air teh panas terasa sangat berharga bagi Tang Han Cin, yang waktu itu sedang merasakan sangat kedinginan, akibat dia terkena hujan dan harus mengeluarkan banyak tenaga selagi menempuh perjalanan itu.

Diluar dugaan dan diluar keinginannya; esok paginya Tang Han Cin terserang penyakit demam, sehingga tidak sanggup dia meneruskan perjalanannya.

Dilain pihak, Ong Hok Sin kelihatan menjadi bingung karena tamunya yang mendadak sakit.

Mereka tidak mempunyai uang buat membelikan obat, bahkan buat menyediakan makanan mereka tidak mampu.

Sementara itu, Ong Sin Lan sudah mematangkan semangkok bubur, yang lalu dia bawa kedalam kamar, dimana Tang Han Cin sedang rebah merintih kedinginan.

Ong Sin Lan tak sampai hati waktu melihat keadaan sang tamu yang tidak mungkin dapat makan sendiri.

Dara ini kemudian duduk ditepi ranjang dengan susah payah dia merangkul tubuh Tang Han Cin yang berat untuk merobah letak sehingga Tang Han Cin rebah bersandar, setelah itu dia memberikan bubur buat Tang Han Cin, sesendok demi sesendok.

Selama hidup menjadi rampok diatas gunung Cin san, yang dilihat dan dihadapi oleh Tang Han Cin adalah segala sifat kekerasan, bahkan buas dan kejam.

Sekarang dia menghadapi sikap lembut yang terasa mesra, sehingga mau tak mau Tang Han Cin menjadi terharu dan berterima kasih terhadap Ong Sin Lan berdua ayahnya.

Setelah selesai memberikan bubur, Ong Sin Lan hendak keluar meninggalkan tamunya, akan tetapi dengan paksakan diri maka Tang Han Cin berkata .

"Lan moay, terima kasih atas kesediaanmu menolong aku..."

Dia berhenti sebentar dau berusaha perlihatkan senyumnya, juga Ong Sin Lan kelihatan tersenyum, selagi dia menunda niatnya yang hendak meninggalkan tamunya.

"Lan moay. Kau tolong ambilkan bungkusanku . ,"

Tang Han Cin berkata lagi sambil dia menunjuk ketempat bungkusannya, dan menyambung perkataannya ;

".."

Tolong kau buka dan ambil sepotong uang perak. Kau berikan pada lopek buat dibelikan makanan buat kita semuanya ... ,"

Ong Sin Lan menurut akan tetapi sejenak dia menjadi sangat terkejut, oleh karena waktu itu dia sudah membuka bungkusan itu; ternyata isinya sangat banyak dengan potongan uang emas, sedang uang perak hanya sisa dua potong.

Diambilnya sepotong uang perak seharga duapuluh tail, sesudah itu dengan tangan gemetar dia mengikat lagi bungkusan tamunya, yang lalu dia tempatkan didekat kaki Tang Han Cin, sesudah itu dia keluar guna menemui ayahnya, tetapi dia tidak beritahukan kepada sang ayah tentang tamunya yang memiliki begitu banyak uang emas dan perhiasan.

Ong Hok Sin menjadi sangat girang waktu anaknya memberikan uang dari tamunya; dia memang sedang bingung karena tak mempunyai uang buat membeli bahan pangan.

Setelah menerima uang itu maka Ong Hok Sin pergi ke pasar dan pada waktu pulangnya, dia membawa seorang thabib buat memeriksa dan mengobati penyakitnya Tang Han Cin.

Tanpa diduga dan dirasa, sudah lima hari Tang Han Cin berada dirumah Ong Hok Sin, akan tetapi penyakitnya belum menjadi sembuh bahkan semakin memburuk keadaannya.

Dua potong uang perak seharga empat puluh tail sudah habis digunakan, buat membeli bahan pangan dan ongkos berobat, oleh karena itu maka Tang Han Cin menyerahkan sepotong uang emas buat ditukarkan oleh Ong Hok Sin.

Untuk menukar uang emas itu sudah tentu tidak dapat dilakukan didusun yang sepi dan penduduknya kebanyakan terdiri dari orang orang miskin, dari itu Ong Hok Sin harus berangkat ke kota Hie ciang yang bagi Ong Hok Sin harus memerlukan waktu seharian suntuk.

Akhirnya lebih dari dua bulan Tang Han Cin harus menetap dirumahnya Ong Hok Sin dan selama itu sudah tiga kali Ong Hok Sin berangkat ke kota Hie ciang, buat dia menukarkan uang emas pemberian Tang Han Cin dan untuk menukarkan uang emas itu, Ong Hok Sin selalu berhubungan dengan rumah gadai milik negara di kota Hie ciang.

Dan selama dua bulan itu, Tang Han Cin mendapat pelayanan istimewa dari Ong Sin Lan yang bukan saja sudah berlaku sebagai seorang ibu yang penuh perhatian, bahkan juga sebagai seorang isteri yang sangat menyintai sampai kemudian diketahui bahwa Ong Sin Lan sudah hamil.

Oleh karena itu setelah Tang Han Cin sembuh dari penyakitnya, maka mereka bergegas mengadakan persiapan untuk merayakan hari pernikahan antara Tang Han Cin dengan Ong Sin Lan.

Sekali lagi Ong Hok Sin harus ke kota Hie ciang buat menukarkan uang emas sebab mereka perlu membeli banyak bahan persiapan pernikahan, termasuk bahan pakaian dan sebagainya.

Dua orang tukang masak dari kota Hie-ciang bahkan telah diundang oleh Ong Hok Sin, buat keperluan memasak hidangan istimewa pada perayaan pesta pernikahan itu.

Hampir semua penduduk dusun telah diundang pada hari pesta pernikahan Tang Han Cin dengan Ong Sin Lan, bahkan sanak keluarga dari jauh telah diundang, dan menghadiri pesta yang meriah itu.

Acara yang menarik perhatian adalah pada saat upacara sembahyang "sam kay"

Sepasang mempelai.

Saat itu semua mata memandang terpesona dan penuh rasa iri hati terhadap Ong Hok Sin yang hidupnya penuh derita kemiskinan, akan tetapi mendadak mendapat menantu orang berduit.

Disaat upacara sembahyang "sam kay"

Itu masih berlangsung maka dirumah Ong Hok Sin menjadi bertambah ramai dengan kedatangan tentara negeri yang tiba tiba mengurung atau mengepung, sedang beberapa orang perwira kelihatan memasuki rumah mencari Ong Hok Sin !

Sebagai ekor dirampasnya kereta piauw, memang sangat menghebohkan kalangan beberapa pihak, yakni pihak Tay wie piauw kiok yang harus bertanggung jawab kemudian pihak Hek kin kay pang dan pihak berandal diatas gunung Cin san yang telah diselomoti oleh Tang Han Cin, ditambah kemudian dengan pihak si ular kepala dua Coa Kim Hin yang hendak menjadi raja.

Disamping itu, yang tidak boleh dilupakan adalah pihak pemerintah penjajah, atau si pangeran yang barang barangnya dirampas !

Seperti yang sudah dibentangkan bahwa saat itu negeri cina sedang kacau, sedang pihak pemerintah juga sedang terjadi saling gontok terutama akibat dari para sri baginda raja yang sudah lanjut usianya.

Para pangeran yang sedang berlomba ini, bahkan ada yang mempunyai maksud hendak melakukan pemberontakan, diantaranya adalah Pangeran Kim Lun.

Untuk maksud gerakan tersebut, Pangeran Kim Lun memilih siasat mendekati orang orang rimba persilatan dari golongan hitam, akan tetapi untuk maksud ini sudah tentu Pangeran Kim Lun membutuhkan banyak keuangan buat membeayai gerakannya.

Dengan cara menyelundup dan berangsur angsur, Pangeran Kim Lun mengirim harta berupa uang emas dan permata dari istana, untuk diteruskan kepada orang orang yang mendukung niat Pangeran itu melakukan pemberontakan.

Untuk pengiriman itu telah disewa perusahaan pengangkutan Tay wie piauw kiok yang dipimpin oleb Wie Keng Siang, sehingga terjadi perampasan sedangkan didalam pengiriman itu bahkan terdapat pula sepasang pedang "ceng liong kiam", sebagai pedang pusaka yang sangat berharga.

Baik peristiwa perampasan maupun peristiwa adanya pengiriman itu sudah tentu tidak boleh disiarkan secara meluas sebaliknya Pangeran Kim Lun memerintahkan orang orang kepercayaannya buat melakukan penyelidikan dan mengambil tindakan.

Berdasarkan hasil penyelidikan dan hasil pemeriksaan terhadap sisa orang orang yang mengantarkan kereta piauw, maka pangeran Kim Lun mengetahui bahwa mula pertama iringan kereta piauw dihadang dan dirampas oleh para pengemis, dengan demikian maka pihak pangeran Kim Lun secara diam diam telah melakukan penangkapan terhadap sekian banyaknya orang orang gelandangan, tanpa menghiraukan apakah para pengemis itu tergabung dalam persekutuan kay pang ataupun Hek kin kay pang, bahkan yang tidak memasuki salah satu dari persekutuan itu pun telah ditangkap.

Akan tetapi pihak pangeran Kim Lun belum memperoleh hasil yang mereka harapkan, sampai kemudian pihak pejabat pemerintah kota Hie ciang mencurigai seseorang yang menukarkan uang emas, sebab berdasarkan tanda tanda yang diperoleh uang uang emas itu berasal dari milik istana!

Kuan cinjin atau pejabat pemerintah kota Hie ciang adalah kaki tangannya pangeran Kim Lun, dari itu laporan mengenai adanya uang uang emas itu beredar di kota Hie ciang, telah dilaporkan langsung kepada pangeran Kim Lun dan Pangeran Kim Lun lalu mengirim empat belas orang utusan yang akan melakukan penangkapan dan pemeriksaan terhadap orang yang menukarkan uang uang emas itu.

Pihak rumah gadai negara di kota Hie-ciang memang mencatat nama dan alamat dari setiap orang orang yang berhubungan dengan rumah gadai itu, maka tidak sukar untuk diketahui nama dan alamat Ong Hok Sin, sebagai orang yang menukarkan uang uang emas milik istana.

Ke empat belas orang utusan dari Pangeran Kim Lun itu terdiri dari seorang perwira muda, Lian ciangkun, serta tiga belas orang para wie su yang asalnya terdiri dari orang orang rimba persilatan yang mahir ilmu silatnya, mereka mendatangi rumah Ong Hok Sin dengan diantar oleh Kuan tay jin serta lima puluh orang tentara negeri.

Rumah Ong Hok Sin yang sedang penuh dengan para tamu karena sedang diadakan pernikahan, langsung dikurung oleh pihak tentara negeri yang tidak membolehkan siapa pun meninggalkan tempat itu sedangkan Lian ciangkun dengan diantar oleh Kuan tayjin dan empat orang wie su telah memasuki rumah itu dan menangkap Ong Hok Sin yang tidak berdaya melakukan perlawanan, Diantara kegaduhan yang sedang terjadi, bekas ngo liong tauw Tang Han Cin mengempit tubuh isterinya dan memberikan perlawanan.

Benda apa saja yang ditemukan, telah digunakan sebagai senjata oleh Tang Han Cin yang masih memakai pakaian mempelai.

"Itulah ngo liong tauw Tang Han Cin dari gunung Cin san... !"

Terdengar teriak seorang wie su yang luas hubungannya; terlebih karena dia memang bekas seorang penjahat.

Ke empat orang wie su itu lalu mengepung Tang Han Cin, sementara Kuan tayjin berlindung didekat Ong Hok Sin yang dipegang erat erat oleh dua orang tentara, dan Lian ciangkun bersiap siaga menjaga kemungkinan Tang Han Cin melarikan diri.

Pihak yang mengurung rumah Ong Hok Sin juga bersiap siap menunggu perintah dari Lian ciangkun, akan tetapi waktu itu Tang Han Cin berhasil menerobos kepungan dan dia lari memasuki kamarnya mengambil bungkusan dan pedang "ceng liong kiam.

Pintu dan jendela lalu ditutup oleh Tang Han Cin, sementara Ong Sin Lan sudah pingsan didalam kempitan Tang Han Cin.

Sebatang pedang "ceng liong kiam"

Dikeluarkan dari sarungnya, dan siap ditangan kanan Tang Han Cin, kemudian dengan suatu lompatan dan dua kali tabasan, maka pedang "ceng liong kiam" berhasil membobolkan atap rumah, sehingga disaat berikutnya Tang Han Cin sudah berdiri diatas genteng, selagi pihak pengurung tidak menduga kemungkinan terjadinya hal itu.

Adalah orang orang yang mengurung dibagian luar rumah, yang sempat melihat Tang Han Cin berada diatas genteng, dan sedang bergegas hendak melarikan diri.

Empat orang wie su kemudian lompat melesat keatas genteng dan melakukan pengejaran.

Akan tetapi mereka disambut dengan empat senjata rahasia yang mengeluarkan sinar kuning terkena pantulan sinar matahari.

Diantara mereka ada yang berkelit menghindar, ada yang menangkis memakai senjata mereka, dan ada seorang yang dengan tabah telah menyambuti senjata rahasia yang dilontarkan oleh Tang Han Cin.

"Inilah uang mas....!"

Teriak sang wie su sambil dia melihat benda yang berada di tangannya.

Ketiga rekannya menunda gerak mereka yang hendak mengejar Tang Han Cin.

Mereka mendekati sang rekan yang sedang memegang uang mas bekas dilontarkan oleh Tang Han Cin, dan mereka jadi terpesona sambil berpikir apakah mereka harus memungut sisa uang mas bekas dilontarkan oleh Tang Han Cin tadi, atau mereka mengejar terus membiarkan uang uang mas yang mahal harganya itu berserakan.

Dan kalau sudah mereka temukan, apakah ada kemungkinan buat mereka kantongi dan memiliki tanpa diketahui oleh pihak Lian ciangkun ?

Dua diantara ke empat wie su itu kemudian mencari uang mas yang berserakan, sedangkan yang dua orang lagi melakukan pengejaran terhadap Tang Han Cin, yang waktu itu bahkan sedang dikejar oleh para wie su yang lain.

Tang Han Cin terus melarikan diri.

Geraknya sangat sukar sebab dia harus membawa Ong Sin Lan dan bungkusannya yang cukup berat.

Beberapa kali Tang Han Cin hampir kena dikejar, akan tetapi beberapa kali itu dia berhasil membikin para wie su repot dan penuh ragu ragu, sebab mereka telah diserang memakai uang uang mas, yang sudah tentu sangat disayangkan kalau dibiarkan hilang berserakan.

Dengan caranya itu, Tang Han Cin berhasil menjauhkan diri dari para pengejarnya, sampai kemudian dia memilih daerah pegunungan dan berhasil menghilang.

Dalam marahnya, pangeran Kim Lun telah menghukum mati Ong Hok Sin, kemudian pangeran ini memimpin lebih dari seribu orang tentara negeri, dan membasmi kawanan berandal diatas gunung Cing san akan tetapi jie liong tauw Nio Han dan sam liong tauw Lie Bok Seng berhasil menyelamatkan diri, meskipun harta benda diatas gunung ludas disita pihak tentara Pangeran Kim Lun.

Lima tahun lamanya bekas ngo liong tauw Tang Han Cin berhasil menghilang dari kejaran berbagai pihak.

Su liong tauw Cia Keng Jie tewas ditangan Si ular kepala dua Coa Kim Hin, yang sangat marah sebab tak tercapai niatnya yang mau jadi seorang raja, sedang persekutuan Hek kin kay pang hancur lebur dibasmi pihak tentara Pangeran Kim Lun, setelah diperoleh kepastian bahwa orang orang Hek kin kay pang yang justeru menjadi biang bencana.

Toa liong tauw Kwee Tian Peng berhasil menemui jie liong tauw Nio Hoan Eng dan sam liong tauw Lie Bok Seng.

Dia sangat gusar dan penasaran karena sarang mereka sudah dibasmi pihak tentara Pangeran Kim Lun melulu akibat dari perbuatan hianat ngo liong tauw Tang Han Cin.

Dia bersumpah akan terus mencari bekas rekan seperjuangan itu, yang sekarang dia anggap sudah menjadi musuhnya.

Jadi orang orang yang masih terus mencari Tang Han Cin adalah tiga sisa naga dari gunung Cin san, si ular kepala dua Coa Kim Hin dan Ciam kauw sin kay Ciam Sun Ho, yang meskipun persekutuannya sudah bubar, akan tetapi masih tetap penasaran dan menghendaki sepasang pedang "ceng liong kiam"

Buat pribadinya kemudian bekas piauwtauw Tay wie piauwkiok Wie Keng Siang yang semua anggota keluarganya habis dibunuh oleh pihak pemerintah penjajah, lalu ditambah lagi dengan segenap lapisan orang orang rimba persilatan yang hendak memiliki sepasang pedang "ceng liong kiam".

Kemudian tibalah saatnya permulaan musim rontok, disaat sawah sawah didaerah pedalaman penuh dengan tanaman padi yang sudah menguning; menandakan musim panen akan segera tiba.

Waktu itu bekas ngo liong tauw Tang Han Cin menetap dan merahasiakan tentang dirinya, disuatu dusun yang letaknya didekat pegunungan Couw lay san.

Rumahnya cukup besar dan mewah untuk tingkat kehidupan dipedalaman, hidupnya serba cukup ditambah hasil tanaman dari sawah dan ladang miliknya tetapi wajah mukanya kelihatan terlalu tua bila dibandingkan dengan umurnya karena rasa takut bertemu dengan seseorang selalu menghantui dirinya, disamping dia merasa sedih sebab ditinggal mati oleh Ong Sin Lan isterinya; sejak usia anak mereka memasuki umur dua tahun.

Sebagai seorang anak yang hanya satu satunya dan sudah tidak mempunyai ibu, maka Tang Lan Hua anak perempuannya Tang Han Cin sangat dimanja, selain dipenuhi apa saja yang dikehendakinya.

Waktu sudah memasuki usia lima tahun, Tang Lan Hua mendapat didikan dasar ilmu silat dari ayahnya.

Demikian di permulaan musim rontok itu kelihatan Tang Lan Hua sedang berjalan jalan bersama seorang pelayan perempuan sampai jauh mereka meninggalkan rumah dan keduanya kemudian beristirahat dibawah suatu pohon yang besar, disisi jalan yang sunyi tidak banyak orang orang yang berlalu lintas.

Ditempat itu Tang Lan hua dudut bersila sambi1 dia mulai mengatur jalan pernapasannya mengikuti petunjuk yang diberikan oleh ayahnya.

Perbuatan Tang Lan Hua ini ternyata telah mendapat perhatian khusus dari seseorang dan seseorang itu adalah seorang kelana yang memerlukan menunda langkah kakinya lalu dia mendekati tempat Tang Lan Hua duduk bersila dengan sepasang mata dimeramkan.

"Seorang anak yang memiliki bakat sangat baik...."

Kata si kelana bagaikan dia bicara pada dirinya sendiri, akan tetapi cukup didengar oleh Tang Lan Hua, yang diam-diam menjadi girang, dan menganggap si kelana adalah seorang ahli ilmu silat.

Sementara itu si pelayan perempuan pengasuh Tang Lan Hua justeru merasa agak takut karena melihat mukanya si kelana yang begitu hitam dan memiara sedikit jenggot, kelihatan menyeramkan meskipun waktu itu si kelana sedang bersenyum dan bicara dengan suara yang ramah.

Si pelayan perempuan itu lalu menyentuh tubuh Tang Lan Hua membikin Tang Lan Hua membuka sepasang matanya dan ikut mengawasi si kelana yang sedang berdiri didekat dia.

"Anak, siapa nama kau..?"

Si kelana menyapa dengan suara ramah, juga dengan perlihatkan senyumnya.

"Tang Lan Hua.. ,"

Sahut Tang Lan hua tanpa dia merasa takut sedikitpun juga.

sebaliknya dia girang waktu melihat dipunggung si kelana terselip sebatang pedang, menandakan dugaannya tidak keliru, bahwa si kelana pintar ilmu silat dan karena girangnya itu maka kelihatan dia ikut bersenyum.

"Apakah kau pernah belajar ilmu silat,. ,?"

Tanya lagi si kelana, agaknya dia sempat memperhatikan pandangan mata Tang Lan Hua, yang tertuju pada pedangnya.

Tang Lan Hua menggelengkan kepalanya.

Dia bergeser sedikit membiarkan si kelana ikut duduk didekat dia, dibawah pohon yang terlindung dari sinar matahari.

"Akan tetapi, siapa yang mengajarkan kau duduk...?"

Tanya lagi si kelana dan pertanyaan itu mengakibatkan Tang Lan Hua menjadi tertawa geli.

"Lopek, kau ini lucu sekali.

Seorang anak meskipun tidak diajar duduk, akan tetapi pada waktunya dia akan bisa duduk sendiri.

Hi hi hi..

.!"

Sejenak si kelana menjadi terpesona melihat lagak dan mendengarkan perkataan Tang Lan Hua, akan tetapi akhirnya ia ikut bersenyum.

Senyum puas.

"Akan tetapi anak, cara kau duduk berlainan dengan duduk orang orang biasa.

Kau sedang mengatur pernapasan sebagai dasar ilmu tenaga dalam..." "Hi hi hi !

kau hebat lopek...." sahut Tang Lan Hua yang sekarang memuji karena si kelana mengetahui bahwa dia sedang mengatur pernapasannya, dan dia lalu menambahkan perkataannya .

"... ayah yang mengajarkan aku.."

"Siapa nama ayahmu... ?"

"Tang Han Cin .."

Tidak terkirakan si kelana menjadi kaget waktu dia mendengar nama Tang Han Cin. Akan tetapi untung bisa berhadapan dengan seorang bocah dan dia berusaha tenangkan diri.

"Tentunya ayahmu pandai ilmu silat..,"

Demikian si kelana berkata lagi tak lupa dengan menyertai senyumnya yang ramah meskipun sebenarnya merupakan suatu senyum yang sukar diketahui maknanya.

Sementara itu, Tang Lan Hua manggut, lalu dia menambahkan keterangannya.

"Ayah bahkan memiliki sepasang pedang yang tajam katanya buat aku, kalau aku sudah besar nanti .."

Si kelana bersenyum lagi.

Tetapi merupakan suatu senyum yang sukar diketahui maknanya, akan tetapi jelas terlihat berupa senyum girang, waktu Tang Lan Hua menyebut adanya sepasang pedang yang tajam.

("pasti pedang ceng liong kiam..." ) dia berkata didalam hati, sedangkan kepada Tang Lan Hua dia berkata.

"Apakah kau pernah melihat ayahmu berlatih ilmu silat melawan seseorang . ? "

Tang Lan Hua menggelengkan kepala, karena sesungguhnya dia tidak pernah melihat ayahnya latihan bertempur, kecuali bersilat seorang diri.

"Nah, kau antarkan aku pada ayahmu, kemudian akan kau saksikan suatu latihan bertempur antara ayahmu melawan aku. Suatu tontonan yang pasti akan memikat hati."

"Benarkah ,..?"

Tanya Tang Lan Hua yang sekilas kelihatan girang, akan tetapi dilain saat dia perlihatkan wajah muka muram.

"Kenapa? apakah kau takut ayahmu akan cedera atau terluka? Jangan takut kita hanya akan berlatih..,"

Si kelana berkata lagi karena dia dapat mengerti dengan perobahan muka Tang Lan Hua, akan tetapi kemudian didengarnya Tang Lan Hua berkata."Bukan begitu, laopek, aku justeru khawatir kau yang akan terluka, atau setidaknya pedangmu akan putus, karena sepasang pedang ayah amat tajam .,,,!"

Sebenarnya Tang Lan Hua tidak mengetahui bahwa ayahnya menyimpan pedang Ceng liong kiam.

Akan tetapi pada suatu malam dia melihat ayahnya sedang mengawasi seperti terpesona dengan pedang yang sedang dipegangnya, dan sepasang pedang itu mengeluarkan sinar hijau cemerlang terkena sinar api pelita.

"Ayah, pedang apakah itu ... ?"

Tanya Tang Lan Hua waktu itu dan dia menerobos memasuki kamar ayahnya secara mendadak.

Tang Han Cin kelihatan sangat terkejut.

Wajah mukanya tiba tiba berobah pucat untung anaknya tidak memperhatikan atau memang tidak mengerti, sehingga kemudian sang ayah tersenyum, akan tetapi dia tidak mengucap apa apa, sehingga Tang Lan Hua yang menanya lagi .

"Tajamkah pedang itu, ayah..?" dan Tang Lan Hua perlihatkan lagak manja, seperti biasa.

Sang ayah tetap tidak menjawab dan tetap perlihatkan senyumnya.

Lalu sang ayah itu mengambil sepotong besi Iinggis dan pedang yang tajam itu berhasil memutuskan besi linggis itu menjadi dua sehingga Tang Lan Hua bersorak kegirangan.

Sementara itu si kelana sekarang yang jadi tertawa, setelah itu dia berkata .

"Anak baik, sudah tentu aku akan menjaga diri, supaya tidak terluka, dan menjaga pedangku, supaya tidak diputuskan...." "Benarkah..?"

Tanya Tang Lan Hua kelihatan girang, akan tetapi dilain saat dia kelihatan ragu ragu.

Sementara itu si kelana kelihatan manggut dan bersenyum, dan Tang Lan Hua lalu menarik sebelah tangan si kelana, mengajak singgah dirumahnya, dan dimintanya kelana duduk menunggu diruang tamu, selagi dia berlari dan mencari ayahnya.

Sudah tentu Tang Han Cin menjadi sangat terkejut, waktu dia menemui si kelana yang duduk diruang tamu, sebaliknya si kelana itu tetap perlihatkan senyumnya yang ramah.

"Kau..."

Kata Tang Han Cin yang masih berdiri terpesona, dengan muka pucat bagaikan dia bertemu dengan hantu disiang hari.

"Apa khabar, ngo tee... ?"

Tanya si kelana tetap dengan menyertai seberkas senyum yang menghias dimukanya senyum bangga disamping senyum pelepas rindu setelah sedemikian lamanya mereka tidak pernah saling bertemu.

Lalu sepasang matanya sekilas melirik kearah Tang Lan Hua yang ikut berada di ruang tamu itu, karena agaknya si bocah ingin menyaksikan latihan ilmu silat, seperti yang dijanjikan oleh si kelana.

"Anak Lan, kau masuklah, sebab aku hendak bicara dengan tamu kita..."

Kata Tang Han Cin yang berusaha tenangkan diri.

Dan waktu Tang Lan Hua sudah masuk dengan perlihatkan muka bersungut, maka Tang Han Cin mengawasi tamunya dan meneruskan percakapan mereka.

Sejak hidupnya berobah haluan, tidak lagi menjadi berandal, akan tetapi hidup tenang memupuk keluarga, maka watak sam liong tauw Lie Bok Seng banyak berobah menjadi seorang yang penyabar dan ramah tamah terhadap sesamanya.

Dalam menghadapi bekas ngo-liong tauw Tang Han Cin, maka Lie Bok Seng kelihatan banyak bersenyum, meskipun sebenarnya dahulu dia sangat membenci, sangat menyimpan dendam, karena akibat perbuatan Tang Han Cin, maka su liong tauw Cia Keng Jie jadi binasa dan sarang mereka habis berantakan.

Dengan kata kata yang lemah lembut, Lie Bok Seng menyarankan supaya Tang Han Cin mau menemui toa liong tauw Kwee Tian-Peng dan jie liong tauw Nio Hoan Eng, untuk mengakui semua kesalahan kesalahan yang telah diperbuatnya, serta menyerahkan sisa hasil rampasan berikut sepasang pedang ceng liong kiam kepada toa liong tauw Kwee Thian Peng untuk dipertimbangkan lebih lanjut.

Pada mulanya Tang Han Cin membangkang mengatakan tidak bersedia mengikuti sarannya Lie Bok Seng.

akan tetapi akhirnya ia menjanjikan syarat, bersedia bertemu dengan Kwee Thian Peng dan Nio Hoan Eng akan tetapi tempatnya dia tentukan dilembah gunung Couw lay san; yang Ietaknya tidak terpisah jauh dari rumahnya, dan waktunya lagi sebulan setelah pertemuan dengan Lie Bok Seng itu.

Dan sejak terjadinya pertemuan antara ayahnya dengan si kelana itu, maka setiap hari wajah muka Tang Han Cin kelihatan muram; bahkan dia sering murung atau marah marah, sehingga Tang Lan Hua yang biasanya sering berlaku manja, menjadi tidak berani mendekati ayahnya buat menanya, entah siapa gerangan si kelana dan apa sesungguhnya maksud kedatangan si kelana itu.

Oleh karenanya, didalam hati Tang Lan Hua jadi membenci si kelana, dan terutama karena dia merasa dibohongi oleh si kelana, yang katanya hendak berlatih ilmu silat dengan ayahnya, dan yang dia anggap tidak pernah terjadi sampai si kelana itu menghilang lagi.

Di pihak Tang Han Cin, menjelang hari pertemuan yang sudah dijanjikan; maka setiap hari dia kelihatan sibuk mengatur berbagai persiapan.

Antaranya dia sengaja memendam harta kekayaannya dibagian belakang rumahnya, disuatu tempat yang tidak mudah diketahui orang kecuali Tang Lan Hua yang ikut menyaksikan perbuatannya itu.

Kemudian terjadilah disuatu pagi hari, selagi hari itu masih gelap, Tang Lan Hua digendong dipunggung ayahnya yang berlari lari mendaki gunung Couw lay san sampai kemudian mereka memasuki suatu lembah yang jarang didatangi orang dan disuatu saat Tang Han Cin kelihatan sangat gugup; sedangkan sepasang matanya mengawasi bagian kaki gunung Couw lay san.

Dalam gugupnya itu, Tang Han Cin mencari sesuatu dan ternyata dia mencari suatu tempat yang dia anggap terlindung, buat dia meninggalkan Tang Lan Hua.

Di suatu selokan yang cukup tinggi tanggulnya, maka Tang Han Cin menurunkan Tang Lan Hua kedalam selokan itu, lalu dia memesan bahwa apapun yang terjadi, Tang Lan Hua tidak boleh meninggalkan tempat itu; harus menunggu sampai sang ayah datang lagi.

Sebelum meninggalkan Tang Lan Hua, maka kepada anaknya itu Tang Han Cin menitipkan sepasang pedang "ceng liong kiam" dengan pesan harus tetap dipegang oleh Tang Lan Hua.

Setelah itu barulah Tang Han Cin meninggalkan anaknya, akan tetapi dia tidak pergi jauh, sebab dia menuju kesuatu tempat yang agak datar, yang mudah dilihat oleh Tang Lan Hua, akan tetapi yang tak mudah buat orang lain melihat Tang Lan Hua, apa lagi dari tempat yang datar itu.

Selokan atau tempat saluran air tempat Tang Lan Hua berdiri, ternyata berisi air yang mengalir sangat deras, menyusuri tebing gunung Couw lay san, dan air itu bahkan merendam Tang Lan Hua sebatas pahanya, sehingga dalam waktu yang singkat bocah itu jadi menggigil kedinginan, karena amat dinginnya air gunung yang merendam kakinya.

Baca Juga: Peristiwa Burung Kenari Gu Long

Baca Juga: Bahagia Pendekar Binal 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert