Ceritasilat Novel Online

Lentera Maut 8

Eps 8 Lentera Maut - Khu Lung

Baca online Lentera Maut - Khu Lung

Cersil Lentera Maut - Khu Lung.

Di lain pihak Nio Hoan Houw kelihatan menjadi bingung bercampur cemas, oleh karena dengan lewatnya sang waktu akan memungkinkan Tang Lan Hua menjadi sembuh dan kalau dara yang cacad itu sudah sembuh, maka akan membahayakan pihaknya; karena Tang Lan Hua pasti akan ikut bertempur.

Namun demikian; buat memasuki tempat sumber air panas itu, sudah tentu dia tidak berani lakukan.

Dari itu segera dia berseru kepada Kwee In Hong.

"Kwee kouwnio, harap kau mundur, biar aku yang membinasakan penghianat itu...!"

"Apakah kau anggap aku tidak sanggup melawan dia..,?"

Sahut Kwee In Hong yang kelihatan menjadi marah atau tersinggung terhadap sang paman yang dia anggap terlalu memandang dia ringan.

Nio Hoan Houw jadi bertambah bingung dan cemas.

Dia sampai menggaruk-garuk kepalanya yang memakai topi bulu penahan hawa dingin.

Jilid 22 ADALAH pada saat itu, rombongan Kwee Tian Peng juga telah tiba, sehingga benar benar sangat menggirangkan bagi Nio Hoan Houw yang langsung mendekati dan melaporkan segala peristiwa yang telah terjadi.

Dipihak pemuda Lie Cong Liang, sudah tentu pemuda ini menjadi sangat terkejut ketika melihat kedatangannya sang paman yang memang sangat ditakuti itu, karena ilmu silatnya yang memang lihay dan adatnya yang pemarah.

Sementara itu Kwee Thian Peng menjadi sangat gusar setelah Nio Hoan Houw selesai memberikan laporannya.

Segera dia mendekati kancah pertempuran, memerintah dara manja Kwee In Hong mundur, lalu dia maki pemuda Lie Cong Liang yang dia anggap sudah menjadi penghianat terhadap keluarga, sebab telah memihak dengan Tang Lan Hua, yang dianggap menjadi musuh mereka.

Sehabis memaki pemuda itu, maka Kwee Tian Peng lalu menyiapkan senjatanya, sebuah golok kay to yang panjang dan berat, yang selalu dipikul oleh dua orang pengawalnya.

Dengan didahulukan oleh suara seruannya yang mengguntur; maka Kwee Tian Peng mulai membuka serangannya.

Dipihak pemuda Lie Cong Liang, dia yakin bahwa dia tidak dapat menghindar dari pertempuran melawan Kwee Tian Peng yang dia masih panggil paman, sebab kalau dia tidak melawan, sudah pasti dia bakal dibinasakan !

Beberapa kali pemuda Lie Cong Liang berhasil menghindar dari serangan Kwee Tian Peng, sehingga salju salju pada berguguran kena senjata yang berat dan panjang.

Akan tetapi di suatu saat tidak ada kesempatan buat Lie Cong Liang berkelit menghindar, sehingga terpaksa dia harus menangkis goloknya Kwee Tian Peng yang panjang dan berat, sehingga akibatnya tubuhnya jadi terlempar beberapa langkah, lalu dia terjatuh duduk dengan mulut mengeluarkan darah!

Kwee Tian Peng tertawa mengejek.

Dia puas melihat pemuda itu terjatuh dan keluar darah.

Dia sengaja tidak meneruskan serangannya sebaliknya dia sengaja menunggu sampai Lie Cong Liang bangun berdiri, setelah itu dengan didahulukan oleh pekik suaranya yang mengguntur, dia serang lagi pemuda itu.

Didalam telaga air panas Tang Lan Hua sempat melihat pemuda kekasihnya sedang terancam bahaya maut, bagaikan seekor tikus yang sedang dipermainkan oleh seekor kucing yang galak.

Berulangkali dia berteriak hendak mencegah diteruskannya pertempuran itu, akan tetapi teriak suaranya tidak dihiraukan.

Akhirnya dara yang malang itu menggerakkan sepasang kakinya.

Memang lambat, akan tetapi dara yang bernasib malang itu menjadi girang; karena berhasil dia mengendalikan sepasang kakinya.

"Liang ko! aku sudah sembuh... !"

Teriak dara yang bernasib malang itu.

"Lan moay, jangan dulu kau keluar. Masih perlu sedikit waktu lagi,.!"

Balas teriak Lie Cong Liang, sambil dia berusaha menghindar dari serangan Kwee Tian Peng, akan tetapi karena perhatiannya terpecah, maka dia kena tendangan dan sekali lagi tubuhnya terlempar jauh dan terjatuh, sedangkan mulutnya kembali telah mengeluarkan darah segar.

Dara yang bernasib malang menjadi semakin merasa cemas melihat keadaan kekasihnya yang sedang diancam bahaya maut.

Dia paksakan diri merayap naik dari dalam kolam air panas.

Dia berhasil meskipun semua gerakannya itu sangat lambat dia lakukan, oleh karena memang belum waktunya buat dia keluar dari dalam sumber air panas itu.

Akan tetapi pada saat itu pemuda Lie Cong Liang benar benar sedang diancam bahaya maut.

Sekilas terpikir oleh Tang Lan Hua bahwa sia-sia dia sembuh kalau pemuda kekasihnya harus binasa.

Pada saat itu dilihatnya pemuda Lie Cong Liang sedang bergulingan menghindar dari berbagai bacokan maut.

Segera Tang Lan Hua melepaskan sebatang pedang Ceng liong kiam dari dalam sarungnya.

Karena keadaan yang sangat mendesak, maka Tang Lan Hua melontarkan pedang pusaka itu, mengarah tubuh Kwee Tian Peng yang sedang melancarkan serangan maut terhadap Lie Cong Liang.

Pedang Ceng liong kiam itu meluncur dengan amat pesatnya dan membenam dibagian punggung Kwee Tian Peng, bahkan sampai tembus kebagian dada !

Kwee Tian Peng mendelik bagaikan tak percaya dengan kejadian itu.

Dia masih kuat berdiri, bahkan masih kuat melangkah untuk mendekati pemuda Lie Cong Liang, akan tetapi pemuda itu sudah lompat berdiri, sebalikrya tubuhnya Kwee Tian Peng yang jatuh terguling, dengan dipunggungnya masih membenam sebatang pedang Ceng liong kiam.

Dara manja Kwee In Hong menyerang pemuda Lie Cong Liang bagaikan kuntianak yang sedang mengamuk, bahkan Nio Hoan Houw dan beberapa anak buahnya ikut bantu mengepung, memaksa pemuda Lie Cong Liang harus melakukan perlawanan, meski pun dia sudah sangat payah keadaannya bekas kena gempuran hebat pada tenaga dalamnya oleh Kwee Tian Peng tadi.

Sementara itu Tang Lan Hua masih berdiri lemah didalam ruangan tempat sumber air panas.

Sepasang kakinya kembali terasa beku tak dapat dikendalikan, oleh karena sebenarnya belum waktunya buat dia tinggalkan sumber air panas itu, dia masih memerlukan waktu untuk merendam lagi sepasang kakinya.

Dara yang bernasib malang itu kemudian teringat bahwa alangkah baiknya kalau kekasihnya bisa ikut masuk kedalam ruangan tempat dia berada supaya selamat dari ancaman musuh sebab musuh sudah tentu tidak berani ikut masuk.

Setelah berpikir begitu, maka Tang Lan Hua mengambil batu hitam "ouw liong ta" dari dalam saku bajunya dan dia berteriak kepada pemuda kekasihnya.

"Liang ko.! kau sambuti... !"

Pemuda Lie Cong Liang sempat mendengarkan teriak suara dara tambatan hatinya, dan sempat pula dia melihat sesuatu benda hitam yang melayang kearahnya.

Dia lompat menyambuti, kemudian dia langsung memasuki ruangan tempat sumber air panas.

Akan tetapi, selekas itu pula dia menjadi sangat terkejut dan terpesona.

Tubuhnya Tang Lan Hua masih berdiri dengan gaya sedang melempar batu hitam tadi, akan tetapi tubuh itu sudah terbungkus dengan salju putih, yang kemudian jadi membeku lalu berobah menjadi es yang bening dan keras, membungkus seluruh tubuh dara tambatan hatinya yang tewas seketika.

"Lan moay .. , !"

Teriak Lie Cong Liang dan dia tidak tahan untuk tidak menangis; sementara dibagian luar ruangan tempat sumber air panas itu berkumpul dara manja Kwee In Hong berikut semua rombongannya yang semuanya berdiri terpaku terpesona.

Setelah mengetahui bahwa dara tambatan hatinya telah binasa menjadi patung yang berlapis es abadi, maka pemuda Lie Cong Liang keluar lagi dari dalam ruangan tempat sumber air panas itu, lalu bagaikan orang yang lupa diri, dia mengamuk ketengah orang banyak sedangkan Kwee In Hong maupun Nio Hoan Houw, mereka seperti sudah lupa dengan urusan permusuhan, sebaliknya mereka berusaha menghindari dari amukan pemuda Lie Cong Liang, sampai kemudian datang rombongannya Lie Bok Seng yang ikut tiba di tempat itu.

Waktu melihat kedatangan rombongan ayahnya; maka tiba tiba pemuda Lie Cong Liang tertawa bagaikan tak sudahnya, sampai kemudian secara tiba tiba dia lompat masuk lagi kedalam ruangan tempat sumber air panas, dan dia tewas menjadi patung berlapis es dalam sikap seperti orang yang hendak merangkul kekasihnya!

Ternyata waktu tadi Lie Cong Liang mengamuk lupa diri, secara tidak disengaja atau karena memang dia tidak menghiraukan maka batu ouw liong ta terjatuh.

Dan jatuhnya batu hitam itu secara kebenaran dilihat oleh Kwee In Hong.

Dara manja Kwee In Hong kemudian mengambil batu hitam ouw liong ta dan dia bahkan memasuki ruangan tempat sumber air panas dengan maksud hendak merusak tubuh Lie Cong Liang berdua Tang Lan Hua, akan tetapi niat buruk itu batal dia lakukan, karena mendadak dia melihat adanya sebatang pedang Ceng liong kiam didekat sepasang insan yang sudah tidak berdaya itu.

Lupa dengan niatnya yang hendak merusak tubuh Lie Cong Liang berdua Tang Lan Hua, maka Kwee In Hong mengambil pedang Ceng liong kiam yang kemudian dia bawa berikut sarungnya yang istimewa.

Kemudian dia pun teringat dengan sebatang pedang Ceng liong kiam yang masih membenam ditubuh almarhum ayahnya sehingga cepat cepat dia lompat keluar dari dalam ruangan tempat sumber air panas itu lalu dia mendekati tempat ayahnya terbinasa dan dia cabut pedang Ceng liong kiam yang membenam didalam tubuh ayahnya, setelah itu secara tiba tiba dia tertawa dan terus tertawa sambil matanya liar mengawasi orang orang yang menyaksikan segala perbuatan dan setelah dia puas tertawa, maka secara mendadak dia lari menyusuri gunung Tiang Pek san sampai dia hilang dari pandangan mata orang orang yang menyaksikan.

Bagaikan orang yang sudah kehilangan semangat untuk hidup, Lie Bok Seng membiarkan segala tingkah yang dilakukan oleh Kwee In Hong dan dia bahkan membiarkan waktu rombongannya Nio Hoan Houw meninggalkan tempat itu dengan membawa jenazah Kwee Tian Peng.

Cukup lama Lie Bok Seng terdiam tanpa mengucap apa apa, sebab pikirannya sangat terpengaruh dengan perbuatan anaknya, Lie Cong Liang yang ternyata sangat berat cintanya terhadap Tang Lan Hua yang bernasib malang.

Dia menyesal bahwa dia terlambat datang, dia menyesal sebab tidak dari awal dia membantu usaha Tang Lan Hua yang hendak menyembuhkan sepasang kakinya, dan dia menyesal bahwa dahulu dia pernah mempertemukan Tang Han Cin dengan Kwee Tian Peng, sehingga hari itu terjadi peristiwa yang sedang dia hadapi.

Pokoknya dia sesalkan dirinya dan dia sesaIkan semua perbuatannya, bahkan dia sesalkan kehidupannya!

Akhirnya Lie Bok seng memutuskan hendak bertapa ditempat itu, menghabiskan hari tuanya dengan menemani sepasang insan yang sudah membeku menjadi patung berlapis es abadi itu, dan kepada rombongannya diperintahkannya pulang buat memberikan kabar kepada Lie Cong Han yang memang tidak ikut sebab masih menderita luka luka.

Tiga tahun lamanya Lie Bok Seng hidup menyendiri bertapa diatas gunung Tiang pek san, menemani anaknya, Lie Cong Liang dan Tang Lan Hua yang didalam hati sudah dia anggap menjadi mantunya, namun yang kedua duanya sudah merupakan patung patung yang berlapis es abadi, sedangkan tempat Lie Bok Seng duduk menunggu adalah dibagian luar dari ruangan yang terdapat kolam sumber air panas.

Dari tempatnya itu, terlalu sering Lie Bok Seng kelihatan termenung, mengawasi sepasang insan remaja yang sudah menjadi patung patung berlapis es abadi, lalu air matanya kelihatan membasahi mukanya, sebab agaknya dia terkenang lagi dengan masa lalu.

Satu satunya yang dianggap menjadi hiburan bagi orang tua itu, adalah bunyi suara tiupan dari angin gunung Tiang pek san, yang kadang kadang terdengar pula suara bergelombang bagaikan bunyi suara guruh, memasuki tiang tiang es yang berdiri tegak dekat tempat dia berada.

Kemudian diseling dengan bunyi suara gugurnya es yang longsor, atau bunyi suara hujan yang lembut serta datangnya awan yang indah, atau bunyi suara gemercik dari butiran butiran cairan es, dibarengi dengan bunyi suara mengalirnya cairan cairan es yang menyusuri bukit bukit tertinggi.

Dan semua aneka bunyi suara itu, bagaikan suara berirama yang membangkitkan semangat laki laki tua itu untuk mempertahankan hidupnya, dan selama sisa usianya itu, dia berusaha menciptakan berbagai ilmu yang sakti.

Segala irama alam itu, kemudian dicatat oleh Lie Bok Seng didalam suatu buku, dan dia memerlukan membikin sebatang seruling dari bahan inti es semacam batu pualam, sehingga seruling itu tidak mungkin dapat menjadi rusak atau patah.

Setiap kali mendengarkan sesuatu bunyi suara yang berirama, maka dia pun menirukan bunyi suara itu melalui suara serulingnya, dan dari suara serulingnya yang mengalun itu dia menirukan lagi memakai gerak pedangnya atau gerak serulingnya, yang juga terdengar mengalun karena liang liang dari seruling itu kemasukan angin akibat gerak buatannya.

Lalu semua gerak yang berirama atau gerak yang berdasarkan irama alam itu dia catat lagi dalam bukunya, sehingga selama tiga tahun dia bertekun dan bersusah payah, maka bukunya sudah kian menebal dan dia sudah kehabisan suara irama lain, sedangkan yang sudah dicatat olehnya ada sebanyak tigapuluh enam kelompok irama, dan tiap kelompok mempunyai panca benda irama menjadi semuanya sebanyak seratus delapan puluh jenis irama alam.

Ketigapuluh enam kelompok irama alam yang dicatatnya itu, menjadi memudahkan untuk seseorang menirukan irama irama itu memakai gerak pedang maupun gerak seruling, dan kalau seseorang yang menirukan gerak itu mahir ilmu silat dan mahir pula didalam ilmu meringankan tubuh, maka gerak berirama itu berobah menjadi suatu gerak irama sakti, misalnya saja pada kelompok keduapuluh dari catatan itu, yang sengaja dia beri nama "lui seng hua kong"

Atau bintang bintang berkisar diangkasa, merupakan jurus ilmu silat tentang perkisaran tempat (atau tubuh), dan jurus itu mempunyai panca beda atau lima beda.

Kemudian pada kelompok ketujuh yang dia beri nama lui tian kauw ciok ( petir dan kilat berganti ganti), jelas mengandung arti untuk jurus ilmu silat yang menyerang secara bergelombang dengan gerak yang cepat bagaikan kilat atau petir yang menyambar !

( ooooodekz0shmhn0bbsc0ooooo ) SEMUA peristiwa itu, baik yang mengenai tentang kisah sepasang pedang Ceng liong kiam, maupun tentang kisah Tang Lan Hua dan Lie Bok Seng yang mengasingkan diri di atas gunung Tiang pek san; pasti akan hilang punah tidak lagi menjadi perhatian orang-orang, apabila dikemudian hari dikalangan rimba persilatan menjadi heboh, karena sepak terjangnya seorang pendekar yang menggunakan senjata seruling irama sakti (Mo Ti Cui In).

Kisah tentang seruling irama sakti ini, baru dikemudian hari Cie in suthay mengetahui dari gurunya, yakni Bok lan siancu yang terpaksa harus melakukan perjalanan lagi bersama sama Hui beng siansu dan Ciu Tong (kisah selengkapnya dapat dibaca secara tersendiri, dalam buku "MO TI CUI IN" atau "SERULING MAUT" ) Sementara itu, Cie In suthay yang sedang melakukan perjalanan seorang diri hendak menemui si "macan terbang"

Lie Hui Houw, di sepanjang jalan dan didalam hati tak sudahnya dia menyebut "o mie to hud"

Kalau dia sedang terkenang dengan masa lalu, selagi dia melakukan petualangan dengan didampingi oleh si "macan terbang"

Lie Hui Houw.

("akan kususul dia kemanapun dia pergi..") demikian biarawati yang muda usia itu berkata didalam hatinya, sebab dia sudah bertekat hendak mencampuri urusan orang orang gelandangan yang katanya sedang saling gontok di kota Hie ciang.

Cie in suthay berhasil menemui si "naga sakti"

Louw Sin Liong, akan tetapi si "macan terbang"

Lie Hui Houw katanya sudah pergi ke dusun Liong bun, hendak menemui kakeknya Cin Siao Yan, untuk kemudian katanya mereka hendak menikah.

("mudah mudahan mereka tidak buru buru kawin...") kata Cie in suthay seorang diri, waktu dia sudah pamitan dari si "naga sakti"

Louw Sin Liong dan meneruskan lagi perjalanannya hendak menyusul si "macan terbang" Lie Hui Houw.

Biarawati yang muda usia dan yang cantik jelita itu menghendaki Lie Hui Houw dan Cin Siao Yan tidak buru buru kawin, sebab dia bermaksud mengajak pemuda itu pergi ke kota Hie ciang, berkelahi melawan setan setan yang sedang merajalela.

Andaikata Lie Hui Houw dan Cin Siao Yan sudah menikah, tentu tidak enak buat Cie in suthay merusak bulan madu mereka, apalagi kalau tugas dikota Hie ciang akan membawa bencana bagi si "macan terbang", sehingga Cin Siao Yan tentu akan menjadi seorang janda muda dan hal ini benar benar tidak diketahui oleh biarawati yang muda usia dan yang cantik jelita itu.

("O mie to hud !

mudah mudahan dia tidak gagal dan tidak mati;,.") Cie in suthay berdoa didalam hati, selagi dia mengikuti arus orang orang yang sedang menuju kearah sebelah selatan.

Cie in suthay adalah seorang biarawati yang muda usia dan yang cantik jelita.

Meski pun dia berpakaian sebagai seorang biarawati; akan tetapi kecantikannya tidak mudah dia umpatkan, sehingga waktu dia melakukan perjalanan seorang diri, banyak laki laki jadi blingsatan dan banyak yang bersedia menjadi teman jalanannya kalau memang biarawati yang muda usia itu menghendaki.

Dimana saja dan kapan saja, laki laki tentu tidak mudah berbuat kurang ajar, kalau memang tidak diberi kesempatan.

Itulah pendiria Cie in suthay yang tetap membawa diri secara tenang.

Akan tetapi kalau sampai ada setan setan jahat yang coba coba mengganggu maka hati hati dengan kebutan yang dia baru terima dari gurunya; dan yang sekarang dia bawa bawa.

Kebutan itu bukan dibikin memakai buntut kuda juga bukan buntut babi akan tetapi kalau kena mata bisa buta !

Kemudian waktu Cie in suthay tiba didusun Hong in cung maka dia merasa perlu beristirahat hendak melewati sang malam, akan tetapi biarawati yang muda usia itu merasa serba salah.

Tidak layak rasanya buat dia menginap disebuah rumah penginapan sebab dia sendirian sedangkan didusun itu dia tidak melihat adanya kuil yang khusus buat kaum bhiksuni, yang ada cuma kuil buat hweeshio yang gundul kepalanya.

"O mie to hud..."

Puji seorang hweeshio gundul yang mendekati Cie in suthay, dan meneruskan berkata.

"..rupanya suthay sedang bingung mencari tempat mondok. Bagaimana kalau pinceng ajak kerumah seorang dermawan...?"

"Terima kasih kalau suhu hendak mengantarkan pinnie..."

Sahut Cie in suthay. Bagaimanapun dia merasa girang karena akan diantar untuk menginap dirumah seorang keluarga dermawan didusun itu.

"Mari kita pergi..."

Ajak hweeshio gundul itu yang jalan mendampingi Cie in suthay dan tongkatnya yang panjang serta berat perdengarkan bunyi suara genta genta kecil yang terdapat dibagian kepala tongkat itu, yang tinggi melewati kepala si hweeshio gundul.

"Ada kelenteng toa se bio didusun ini.."

Kata hweeshio itu yang menjelaskan selagi mereka jalan sama sama, dan hweeshio gundul itu lalu menambahkan perkataannya .

".. , pengurusnya pinceng kenal; dari itu pinceng mampir dan numpang menginap...."

Sekilas Cie in suthay melirik hweeshio gundul yang jalan disisinya itu.

Tubuhnya kelihatan tinggi besar, dengan kepalanya yang botak licin dan sepasang mata yang seperti mata ikan koki, sementara ditangannya memegang sebatang tongkat yang ukurannya lebih tinggi dari tubuhnya.

"Oh, jadi suhu bukan menetap di dusun ini?"

Akhirnya sahut Cie in suthay yang semula mengira hweesio gundul itu merupakan salah satu imam didusun Hong in cung.

"Bukan; nama pinceng Cee bin hweesio. Siapa nama suthay, kalau pinceng boleh mengetahui... ?"

Sahut hweesio gundul itu, perlihatkan senyum seperti orang yang mau menangis.

"Cie in.."

Singkat saja Cie in suthay memberikan jawaban.

"Oh! sebuah nama yang bagus sekali..."

Cie bin hweesio memuji sambil dia bersenyum lagi dan melirik lagi kearah Cie in suthay yang jalan disisinya, sedangkan Cie in suthay pada saat itu sedang memperhatikan jalan yang mereka tempuh.

Keluarga dermawan yang dikatakan oleh Cee bin hweesio, ternyata adalah berupa suami isteri petani yang hidupnya sederhana, memiliki rumah yang kecil akan tetapi tidak kotor, hanya letaknya terpisah jauh dari rumah penduduk lainnya.

Suami isteri petani itu kelihatan ketakutan waktu mereka kedatangan Cee bin hweesio yang membawa seorang biarawati muda usia yang cantik jelita, akan tetapi suami isteri itu menyanggupi menyediakan sebuah kamar buat Cie in suthay, bahkan cepat cepat mereka menyediakan makanan tanpa daging, sesuai seperti yang dipesan oleh Cee bin hweesio.

("sediakan makanan tanpa daging...

!") kata Cie in suthay didalam hati, mengulang perkataan Cee bin hweesio tadi; sedangkan dia hanya manggut manggut seperti seekor burung yang sedang mengantuk, dan dia masih manggut manggut meskipun mereka sudah duduk berdua.

"Eh, mengapa suthay manggut manggut,,,,?"

Tanya Cee bin hweeshio yang kelihatan heran. Cie in suthay mainkan kebutannya seenaknya,seperti dia sedang mengusir lalat, sambil dia berkata.

"Aku benar benar merasa kagum dengan sikap dermawan mereka, padahal mereka hidup sangat sederhana"

Demikian dia berkata.

"Ha, ha ha! penduduk dusun ini semuanya patuh terhadap aku.."

Sahut Cee bin hweeshio yang kelihatan kegirangan, sehingga dia menyertai tawa seperti gorila ketemu pacar.

"Wah wah wah ! kau tentunya seorang yang hebat..."

Puji Cie in suthay, sambil dia menyertai senyum manis yang dapat memikat selusin perjaka menjadi lupa daratan, akan tetapi masih untung bagi Cee bin hweesio, hweeshio merupakan seorang laki laki kawakan, jadi dia tabu dan tahu keadaan.

Waktu itu Cie in suthay duduk saling berhadapan dengan Cee bin hweeshio.

Akan tetapi biarawati yang muda usia itu hanya makan sendirian, sebab Cee bin hweeshio tidak ikut makan, sebaliknya imam itu menemani sambil dia minum arak.

("dia tentu pandai ilmu silat,.,") kata Cie-in suthay didalam hati, sebab biarawati yang muda usia itu sedang menilai imam yang duduk minum di hadapannya, selagi dia makan perlahan lahan, sampai mendadak dia merasakan ada sesuatu yang merangsang membakar dada sampai dia menunda makan, mendekap bagian dadanya memakai sebelah telapak tangan kirinya, sambil didalam bati dia menyebut "o mie to hud".

"Ha ha ha,"

Tawa Cee bin hweeshio yang kegirangan, akan tetapi tiba tiba dia menjadi terkejut, waktu Cie in suthay memuntahkan makanan yang sudah dimakannya dan muntah itu mengarah pada muka si imam !

Cie in suthay memang sudah mempunyai dugaan jelek mengenai pribadi Cee bin hweeshio, dari itu dia sudah waspada dan cepat cepat mengerahkan tenaga dalam, waktu dia merasakan ada yang tidak beres pada makanannya.

Muntah Ce in suthay mempunyai tenaga dorong yang dahsyat, dapat membikin hancur muka Cee bin hweeshio kalau imam itu tidak Iekas lekas jatuhkan diri menyamping, berikut kursi yang tempat dia duduk.

Dan waktu Cie in suthay menimpuk memakai sepasang sumpit, maka Cee bin hweeshio sudah bergulingan menghindar, kemudian langsung lompat keluar rumah, sedangkan sumpit sumpit itu membenam hilang masuk kedalam lantai!

Gerak tubuh Cie in suthay bagaikan dewi pengasih yang sedang terbang, waktu dia lompat mengejar si hweeshio gundul, sampai dia dihajar oleh Cee bin hweeshio memakai tongkatnya yang sejak tadi bersuara bising!

Dengan tabah Cie in suthay menangkis memakai kebutannya yang kecil, dan bagian bulu bulu kebutan itu melibat tongkat Cee-bin hweesio yang berat dan panjang, untuk kemudian mereka berdua siling menarik memakai tenaga.

Dalam menghadapi lawannya yang berupa seorang imam, agaknya Cie in Suthay terlalu gegabah atau terlalu tabah, sehingga dia terlibat dalam adu tenaga dalam, padahal imam itu bukan sembarang imam, sebab dia adalah seorang pendeta gadungan yang bernama Tiat tauw ciang Cee Kay Bu, si Kepala besi yang bejat moral!

Bulu bulu pada kebutan Cie in suthay tetap melibat bagaikan melekat pada tongkat besi Tiat tauw ciang Cee Kay Bu; hal itu harus tetap dipertahankan sampai salah satu pihak ada yang kena gempur jadi pecundang.

Sebaliknya, kalau terlepas selagi mereka sama sama menarik, maka mereka akan sama sama jatuh celentang, dan sama sama menderita kena gempur tenaga dalam mereka !

Disaat keadaan mereka berdua sedang tegang dan gawat, maka dua orang pemuda yang mendekati dan diketahui oleh Cie in suthay, maupun oleh Tiat tauw ciang Cee Kay Bu, akan tetapi mereka tidak menghiraukan sebab mereka sedang memusatkan tenaga dan perhatian mereka.

Dua pemuda yang baru datang tanpa diundang dan tanpa disengaja itu adalah Lim Thong Bu bersama temannya, Ma Kian Sun, puteranya almarhum bekas piauwsu tua Ma Heng Kong.

Pemuda Lim Cong Bu adalah salah seorang ahliwaris kaum See gak hua kunbun golongan hurup "Seng", murid kedua dari almarhum Coa Seng Hok, sedangkan pendiri kaum atau golongan See gak hua kunbun adalah Liauw Pek Jin, gurunya Tang Lan Hua.

Sehabis ikut dalam aksi mengganyang markas kegiatan si iblis penyebar maut, maka seorang diri Lim Thong Bu akan meneruskan berkelana, mencari si pencuri kitab See gak hua Seng pit kip yang dibawa lari orang sampai kemudian Lim Thong Bu menemukan bekas piauwsu tua Ma Heng Kong yang dibunuh oleh si iblis penyebar maut dalam ujut Sebagai Kui mo ong atau si biang hantu.

Pemuda Lim Thong Bu kemudian membawa jenazah Ma Heng Kong, dan Ma Kian Sun lalu bertekad mengikuti perjalanan Lim Thong Bu, sebab puteranya Ma Heng Kong itu hendak mencari balas terhadap orang yang sudah membinasakan ayahnya.

Cukup lama kedua pemuda itu merantau dan cukup banyak mereka menemukan berbagai peristiwa, sampai malam itu secara di luar dugaan mereka bertemu dengan Cie in suthay yang sedang mengadu tenaga dalam dengan "Tiat tauw ciang Cee Kay Bu, yang kedua duanya memang sudah dikenal oleh pemuda Lim Cong Bu, sebab biarawati yang muda usia itu pernah ikut dalam aksi pengganyangan terhadap markas kegiatan si iblis penyebar maut, sedangkan si kepala besi Cee Kay Bu adalah komplotan orang yang telah mencuri kitab See gak hua Seng pitkip yang memang sedang dia cari.

Segera Lim Thong Bu siapkan diri, mengerahkan tenaga tay lek kim kong ciang dari See gak hua kunbun golongan hurup seng, bahkan sekaligus yang dia gabung dengan golongan hurup Hee dan Gie.

Pemuda itu kemudian perdengarkan pekik suara yang nyaring memecah angkasa, sambil dia lompat dengan sepasang kaki yang siap untuk digunakan.

Baik Cie in suthay, maupan Tiat tauw ci an Cee Kay Bu, dua-duanya sempat mendengar pekik suara itu dan sempat melihat gerak pemuda Lim Thong Bu, yang sudah dikenal oleh Cie in suthay, akan tetapi belum dikenal oleh si Kepala besi Cee Kay bu.

Kedua orang yang saling mengadu tenaga dalam itu lalu bersiap sedia, sehingga disaat sepasang kaki Lim Thong Bu menyentuh kebutan Cie in suthay dan tongkat besi Cee Kay Bu, maka mereka berdua sengaja melepaskan senjata-senjata mereka dan disaat senjata senjata mereka sedang terpental melayang ditengah udara, maka mereka lompat menyusul, merebut kembali senjata mereka, sebelum senjata mereka jatuh ditanah.

Dipihak pemuda Lim Thong Bu, dia langsung mengeluarkan goloknya, setelah dia berhasil memisah kedua orang orang yang sedang mengadu tenaga dalam itu.

"Suthay, hweeshio gundul ini adalah musuhku, dari itu biarkan aku yang hadapi dia."

Seru Lim Thong Bu kepada Cie in suthay.

"Bocah haram! mengapa kau tuduh aku bagai musuhmu... ?"

Tegur Tiat tauw ci an Cee Kay Bu, sedangkan didalam hati si Kepala besi sedang memikirkan tenaga dahsyat dan kepandaian istimewa yang dimiliki si pemuda itu.

"Hweeshio gundul, aku tahu kau adalah si pendeta gadungan Cee Kay Bu. Muridmu Hoan Jin Ong berkomplot dengan Ouw bin liong Kwee Ong dan mencuri kitab See gak hua Seng pit kip. Aku adalah Lim Thong Bu, ahliwaris See gak hua kunbun golongan hurup Seng..."

Tiat tauw ciang Cee Kay Bu menjadi terkejut waktu dia mendengar pengakuan pemuda itu.

Akan tetapi dia tidak sempat berpikir lama, sebab Lim Thong Bu sudah menyerang memakai golok.

Dengan tongkat besinya yang berat dan panjang, Tiat tauw ciang Cee Kay Bu menangkis, akan tetapi tongkat besi itu putus menjadi dua diantara sinar lelatu anak api yang banyak berhamburan !

Si Kepala besi Cee Kay bu sangat terkejut.

Dia yakin pemuda itu bukan memakai golok mustika, akan tetapi tongkatnya putus sebab pemuda itu telah mengerahkan tenaga yang besar.

Segera Cee Kay Bu siapkan diri sambil dia lompat mundur.

Dikerahkannya tenaganya dengan ilmu Tiat pou san, sampai tulang tulang didalam tubuhnya terdengar merentak berbunyi.

Sekarang ganti Lim Thong Bu yang menjadi terkejut.

Juga Cie in suthay yang ikut melihat, sebab mereka tidak menduga kalau si Kepala besi Cee Kay Bu pandai dengan ilmu baju besi atau Tiat pou san, suatu ilmu kebal yang tidak mempan terhadap senjata apa pun juga!

Akan tetapi, pemuda Lim Thong Bu sudah mempunyai persiapan buat dia menghadapi musuh musuhnya yang mencuri kitab See gak hua seng pitkip, dan persiapan itu dia peroleh dari si mahasiswa melarat Kiang Su Cee datuk See gak hua kunbun golongan hurup "Gee" dan dari nenek San Cay Hee, datuk See gak hua kunbun golongan hurup "Hee" menjadi caIon nenek mertua pemuda ini.

Maka terjadi saling serang antara Lim Thong Bu dan Tiat tauw ciang Cee Kay Bu.

Dan pada pertempuran itu, kelihatan dua dua pihak tak mau saling bentur senjata, sebaliknya mereka mencari bagian bagian kelemahan dari pihak lawan.

Pemuda Lim Thong Bu menghadapi kesukaran, karena pihak lawannya sangat ketat menjaga bagian kelemahannya, yakni di bagian bawah antara sepasang pahanya, Sedangkan di bagian kepala atau bagian tubuh lainnya, si Kepala besi Cee Kay Bu sudah kebal terhadap senjata tajam.

Diam diam Cie in suthay menjadi gelisah menyaksikan pertempuran kedua orang itu.

Biarawati yang muda usia itu membayangkan betapa dia bakal repot kalau dia yang harus bertempur melawan si Kepala besi Cee Kay Bu, sebab meskipun dia mengetahui bagian kelemahan dari ilmu Tiat pou san, akan tetapi apakah mungkin buat dia harus menyerang dibagian bawah lawannya, tepat diantara kedua paha si pendita gadungan itu?

("o mie to hud,,,") sekali lagi Cie In suthay harus memuji didalam hati, sementara mukanya segera berobah menjadi merah karena teringat dengan hal itu.

Inilah kerugiannya sebagai seorang perempuan, apalagi sebagai seorang biarawati.

Dilain pihak, Lim Cong Bu perlihatkan kelincahan tubuhnya yang sudah mencapai batas kemampuannya.

Pemuda ini mengancam bagian bawah lawannya memakai goloknya, menggunakan jurus "lian hoan to" dari See gak Hua kunbun golongan hurup "Seng".

Selagi musuhnya kalang kabut melindungi bagian bawahnya yang diserang secara bergelombang tak hentinya; maka secara tiba tiba jari jari tangan Lim Cong Bu meraih sepasang mata Cee Kay Bu sampai pecah berdarah sepasang mata itu, dan hilang sudah daya lihat si Kepala besi, membikin si Kepala besi itu lalu mengamuk sebagai seekor banteng yang gila, sehingga Cie in suthay dan Ma Kian Sun yang menonton, harus waspada supaya tidak terkena serangan nyasar!

"Pendeta gadungan, kau bakal mati, dari itu cepat kau katakan, pada siapa kitab yang dicuri itu disimpan...?"

Seru pemuda Lim Thong Bu, akan tetapi pemuda itu harus buru buru pindah tempat, karena tempat itu digempur oleh sisa tongkatnya Cee Kay Bu, mengakibatkan tanah ditempat itu berhamburan.

"Bocah sinting! kau yang harus mati duluan,"

Maki Cee Kay Bu, yang lalu menyerang lagi secara membabi buta, sebab matanya memang sudah buta, tanpa dia bisa melihat apa yang diserangnya, sehingga dia hanya mampu memusatkan alat pedengarannya, untuk memperhatikan tempat pemuda lawannya berada.

Pemuda Lim Thong Bu kemudian menganggap tidak ada gunanya dia menghambur waktu dan tenaga, melayani banteng buta yang sedang mengamuk itu.

Sekilas dia melirik kearah Cie in suthay dan biarawati yang muda usia itu bagaikan mengerti dengan maksud kehendak Lim Thong Bu, sehingga cepat cepat dia "ngepot" masuk kedalam rumah yang sudah ditinggal lari oleh dua penghuninya.

Bagaikan seekor burung garuda yang menyambar, maka tanpa perdengarkan bunyi suara tubuh Lim Thong Bu melesat mendekati Cee Kay Bu, yang lalu dia tendang bagian bawahnya, tepat diantara sepasang pahanya sampai si Kepala besi Cee Kay Bu menjerit seperti seekor babi yang mau disembelih, membuang tongkatnya sebab sepasang telapak tangannya dia perlukan untuk mendekap bagian yang kena tendang tadi akan tetapi tidak tertolong lagi dia rubuh tewas, karena bagian bawahnya sudah remuk dengan darah membasahi celananya !

Ada suatu hal yang bisa membikin Cie in suthay jadi tersenyum seorang diri, kalau dia teringat lagi dengan pengalaman pemuda Lim Thong Bu yang menjadi ahliwaris See gak hua kunbun golongan hurup Seng selagi dan setelah dia berpisah dari kedua pemuda itu.

Waktu itu Cie in suthay sedang duduk makan seorang diri di sebuah rumah makan, sementara senyumnya itu sudah tentu menarik perhatian beberapa orang orang yang ikut hadir di dalam rumah makan itu.

"Eh, kau lihat; biarawati itu tentu orang sinting..."

Kata seseorang pada temannya yang sama sama duduk makan.

"Kenapa memang...."

Tanya temannya, sambil dia menunda kegiatan sumpitnya yang hendak dia gunakan buat menjumput sepotong ati ayam.

"Aku lihat dari tadi tadi dia bersenyum seorang diri..."

Sahut temannya, yang rupanya sejak tadi mengawasi Cie in suthay, sebab biarawati yang muda usia itu sedang mengenangkan peristiwa yang pernah dialami oleh Lim Thong Bu.

Setelah berpisah dari Lim Thong Bu berdua Ma Kian San, maka Cie in suthay tidak mau tahu lagi dengan urusan yang bakal orang cela dia, dan dia duduk seenaknya di sebuah rumah makan atau menyewa kamar seorang diri di rumah penginapan.

Demikian hari itu dia tiba di kota Liong bun kwan, yang letaknya sudah tidak jauh lagi dengan dusun Liong bun tin, tempat si macan terbang, Lie Hui Houw yang hendak ditemui.

Dikota itu Cie in suthay menyewa sebuah kamar buat dia bermalam, lalu dia duduk di ruang makan dan bersenyum seorang diri karena dia teringat lagi dengan peristiwa yang pernah dialami oleh Lim Thong Bu, yang kisahnya dia dengar melalui seorang sahabatnya.

Akan tetapi, diluar tahu Cie in suthay, senyumnya yang manis itu telah mengakibatkan adanya beberapa orang orang yang menganggap biarawati muda usia itu adalah orang yang sinting, dan telah pula menawan hati seorang pemuda tampan berdandan seperti seorang pelajar atau siucay.

Pemuda tampan yang berpakaian semacam seorang pelajar itu, sangat mirip seperti Soan siucay Cie Poan Ciang, seorang pemuda yang menjadi kekasihnya Ang ie liehiap Lie Su Nio; dan kedua-duanya merupakan rekan seperjuangan Cie in suthay, sebagai pendekar penegak keadilan.

Oleh karena itu, alangkah kurang ajarnya pemuda tampan yang tertawan hatinya oleh senyum manis biarawati yang muda usia itu, apabila pemuda itu memang benar benar adalah Soan siucay Cie Poan Ciang, sebab seharusnya pemuda itu mendekati dan memberi hormat kepada Cie in suthay yang punya kedudukan lebih tua.

Sementara itu, Cie in suthay masih suka tersenyum seorang diri, tanpa dia merisaukan dan menghiraukan keadaan di sekitar tempat dia duduk dan makan seorang diri, sambil dia masih tenggelam dengan kisah lama yang pernah dialami oleh pemuda Lim Thong Bu.

Pemuda Lim Thong Bu asal penduduk daerah Siam say, di perkampungan Coan in cung, dekat gunung Coan in san.

Pemuda ini mempunyai seorang kakak laki laki yang sudah menikah dan waktu itu sudah punya anak umur setahun.

Kakaknya bernama Lim Thong Hok; dan isteri kakaknya bernama Oey Lan Ing.

Mereka bertiga merupakan murid murid kaum See gak hua kunbun golongan hurup Seng, dan orang orang see gak hua kunbun waktu itu masih saling gontok memisah dari dalam lima golongan yakni golongan golongan hurup Seng, Heng, Gee dan Thian.

Waktu itu Lim Thong Bu bekerja sebagai orang piauwsu pada Tan wan piauwkiok dari Samsay, sehingga didusun Coan in tin hanya ada ibunya bersama Lim Thong Hok dengan istri dan anaknya.

Adalah pada suatu hari pejabat pemerintah kota Tung hay lantas mengirimkan orang utusan buat mengundang Lim Thong Bu untuk meminta bantuannya membasmi suatu kejahatan yang sedang terjadi didalam kota Tung hay koan.

Dua orang utusan itu tidak berhasil bertemu dengan Lim Thong Bu, yang sedang bertugas mengawal kereta piauw, akan tetapi mereka bertemu dengan Lim Thong Hok, dan kedua petugas itu kelihatan kecewa bercampur merasa cemas.

"Sebenarnya ada perkara kejahatan apa didalam kota Tung hay koan... ?" tanya Lim Thong Hok yang mengetahui bahwa kedua petugas itu sedang merasa kecewa bercampur cemas. Akan tetapi kedua utusan itu tidak mengetahui bahwa Lim Thong Hok mempunyai ilmu, jadi mereka tidak memandang mata dan seenaknya bercerita mengatakan bahwa di dalam kota Tung hay koan sedang ada perkara kejahatan berupa pencurian; pemerasan dan perkosaan terhadap anak anak perawan dan perempuan perempuan yang masih muda usia bahkan tidak perduli bini orang, gundik orang ataupun janda janda, pokoknya cuma yang muda muda yang hilang, yang tua tua kagak ada yang hilang diculik.

"Itu sih cuma kejadian biasa buat kota besar seperti Tung hay koan, sebab di kota itu ada banyak rumah judi, tempat isap candu dan juga banyak tempat tempat pelacuran, jadi kalau orang kurang duit, ya ngerampok atau nyolong..."

Kata Lim Thong Hok yang mulai kheki melihat lagak menghina dari kedua orang utusan itu.

"Memang kejadian biasa kalau yang melakukan kejahatan itu adalah orang orang biasa ataupun orang orang sinting, akan tetapi kejahatan ini dilakukan oleh suatu siluman naga yang suka telan orang bulat bulat.."

Lim Thong Hok tertawa, akan tetapi kedua petugas itu tidak menghiraukan dan meneruskan bicara, mengatakan bahwa banyak sekali orang orang kota yang sudah pernah melihat naga buas itu ditepi laut Tung hay, dan setiap kali naga buas itu muncul, maka pasti terjadi kejahatan, entah berupa pencurian, perampokan ataupun penculikan terhadap cewek cewek.

("ini tentu perbuatan seorang orang....") pikir Lim Thong Hok didalam hati, sebab dia jadi teringat dengan kebiasaan seorang tokoh kejahatan yang sudah dia kenal, sehingga Lim Thong Hok lalu memutuskan mengajukan diri menggantikan adiknya.

"Bagus, kalau kau memang sudah bosan hidup,"

Kata kedua orang utusan itu, sebab dua duanya memang tidak memandang mata terhadap Lim Thong Hok, akan tetapi mereka membawa juga Lim Thong Hok buat dihadapkan kepada atasan mereka.

Pejabat pemerintahan kota Tung hay koan kelihatan marah marah waktu kedua utusan itu membawa Lim Thong Hok datang menghadap; bukan Lim Thong Bu yang diundang.

"Orang yang disuruh undang bernama Lim Thong Bu, dia dikenal gagah, bisa menangkap siluman, dan untuk dia pemerintah menyediakan upah buat dia..."

Kata pejabat pemerintah itu semau gue.

"Tay jin, aku juga mau coba coba nangkap siluman. Kalau aku berhasil tidak perlu diberi upah, sebaliknya kalau aku mampus, ya sudah, tidak perlu jenazahku diurus supaya pemerintah tidak dirugikan. ,."

Sahut Lim Thong Hok, juga semau gue sebab dia sedang kheki. Akan tetapi, pejabat pemerintah itu "ngotot" dan bicara lagi .

"Jenazahmu memang tidak perlu dikubur atau diurus, sebab akan ditelan hidup hidup oleh siluman naga itu, jadi boleh juga kau coba coba..."

Dan pejabat pemerintah itu ngitung ngitung didalam hati, akan tetapi memakai jari jari tangannya yang bergerak gerak.

Maksudnya, berapa banyak dia bakal untung kalau Lim Thong Hok berhasil menangkap siluman naga, dan dia buru buru menambahkan perkataannya, selagi Lim Thong Hok belum sempat lagi bicara.

"...akan tetapi, ongkos kau makan dan mondok, harus kau bayar sendiri..."

Lim Thong Hok tidak mau melayani pejabat pemerintah itu bicara, dia hanya teringat dengan kepentingan masyarakat yang sedang dilanda bencana.

Malam hari itu Lim Thong Hok diantar oleh kedua orang utusan yang sudah dikenalnya.

Mereka menuju tepi laut Tung hay tempat siluman naga itu seringkali muncul, akan tetapi sampai tiga malam lamanya mereka tidak berhasil menemui yang mereka cari, sampai kedua petugas mulai percaya dengan Lim Thong Hok, yang dianggap sudah berhasil membikin siluman naga takut muncul, sebab siluman naga itu sudah membaui kedatangan Lim Thong Hok.

Akan tetapi pada malam berikutnya mereka menyusuri tepi laut sebelah barat, maka tiba tiba mereka mendengar ada suara angin ribut yang menderu deru, kemudian di angkasa ada sinar terang yang berwarna kuning emas, lalu berpeta menjadi semacam naga yang sedang terbang atau menari nari, sehingga kedua petugas alat negara itu menjadi ketakutan, buru buru mereka umpatkan diri diatas sebuah pohon yang besar dan lebat.

Setelah sinar yang terang tadi hilang lenyap, maka keadaan disekitar tempat itu kembali menjadi gelap gulita, sampai sesaat kemudian terdengar suatu suara tawa yang menyeramkan, membikin takut orang orang yang mendengarnya.

Waktu Lim Thong Hok mengawasi arah suara tawa itu terdengar, maka dilihatnya ada sesuatu yang sedang mendekati dia, yang ternyata berbentuk seorang manusia laki laki yang tinggi dan besar tubuhnya; memiliki wajah muka hitam menyeramkan sedangkan ditangannya memegang sebatang gada seperti cakar naga.

"Bangsat ! ternyata kau adalah Ouw bin liong Kwee Ong...!"

Maki Lim Thong Hok; karena tepat seperti yang memang sudah dia duga. ("ouw bin liong"

Naga muka hitam) Penjahat itu tertawa mengejek, lalu berkata .

"Dan kau adalah Lim Thong Hok, muridnya si tua bangka Coa Seng Hok...!"

Balas maki Ouw bin liong Kwee Ong, yang sekaligus telah memaki gurunya Lim Thong Hok, sehingga Lim Thong Hok menjadi sangat gusar, lalu dengan goloknya dia mulai menyerang.

Ternyata kedua orang yang sedang bertempur itu memang sudah saling bermusuhan; mempunyai latar belakang dendam perguruan, sebab Lim Thong Hok dari See gak hua kunbun golongan hurup "Seng", sedangkan Ouw bin liong Kwee Ong dari See gak hua kunbun golongan hurup "Thian", sebab si naga bermuka hitam itu adalah muridnya Hui ho Pouw Kong Jin, si Rase terbang yang menjadi adik kandung dari Moti cui in Pouw Thian Jiu, si Seruling maut yang menjadi dedengkot orang orang See gak hua kunbun golongan hurup "Thian".

Dalam pertempuran itu, Ouw bin liong Kwee Ong telah menggunakan peluru asap yang mengandung racun ouw shia chang; sehingga waktu peluru asap itu meledak mengeluarkan asap warna hitam, maka Lim Thong Hok rebah pingsan sebab pengaruh asap yang mengandung racun dan Ouw bin liong Kwee Ong lalu membawa lari lawannya, yang sudah pingsan tidak berdaya.

Setelah lama mereka menghilang; maka kedua petugas alat negara itu merayap turun dari atas pohon, memeriksa tempat tempat bekas pertempuran dengan tubuh mereka yang masih gemetar ketakutan.

Setelah itu mereka Iari kekantor pejabat pemerintah, memukul beduk tanda bahaya tidak perduli malam sudah larut, membangunkan si pejabat pemerintah yang sedang asyik tidur didalam rangkulan bini mudanya yang kesembilan, dan kedua petugas itu lalu mengarang cerita soal Lim Thong Hok, yang katanya sudah ditelan bulat bulat oleh siluman naga yang hitam menyeramkan!

Pejabat pemerintah itu ikut jadi ketakutan, dia takut siluman naga bakal mencari dia, sebab dia sudah mengundang orang tolol yang sok ngaku jadi pendekar gagah.

Sampai pagi pejabat pemerintah itu tidak berani menyambung tidur.

Dia memuja nama Tuhan, supaya mau melindungi dia dan dia bersumpah tidak jadi menambah bini muda, asal dia bisa diselamatkan dari bencana siluman naga.

Bahkan sampai dua malam berikutnya, pejabat pemerintah itu tetap tidak bisa tidur, biarpun empat bini mudanya sekaligus menemani dia.

Didalam hati pejabat pemerintah itu memutuskan bahwa kalau siluman naga itu datang mencari dia, maka dia akan rela menyerahkan keempat bini mudanya itu.

Akan tetapi dihari ketiga itu, bukan siluman naga yang datang mencari dia, melainkan sepucuk surat yang tidak diketahui dari mana dan bagaimana cara datangnya, tahu-2 sudah ada di atas meja kerja pejabat pemerintah, dan dalam surat itu dikatakan bahwa Lim Thong Hok belum mati, akan tetapi disimpan dalam sebuah goa naga, dijadikan semacam sandera buat ditebus atau ditukar dengan kitab perguruan See gak hua Seng pit kip, dan Kitab perguruan itu katanya harus diserahkan kepada pengurus kuil Sim yang tong yang letaknya dekat pantai laut sebelah barat.

Pejabat pemerintah kota Tung hay koan tidak mengerti dengan maksud surat itu, dan tidak pula mengetahui tentang arti kitab perguruan yang dimaksud.

Surat yang diduga dari siluman naga itu, kemudian dikirim kerumah Lim Thong Hok buat diserahkan kepada isterinya atau kepada ibunya Lim Thong Hok.

Lim sie atau ibunya Lim Thong Hok, juga tidak mengetahui tentang adanya rahasia perguruan See gak hua kunbun, orang tua ini menangis memikirkan anaknya yang sedang dibawa lari oleh siluman naga dan mendesak menantunya memenuhi permintaan siluman naga itu, buat menukar Lim Thong Hok dengan kitab perguruan See gak hua Seng pitkip.

"Buku itu bisa kau cetak sebanyak kau mau akan tetapi suamimu tidak bisa kau bikin lagi..."

Kata sang ibu mertua sambil meratap menangis.

Oey Lan Ing yang jadi mantu kelihatan patuh berbakti kepada mertuanya.

Nyonya muda ini berkemas dan membawa kitab See gak hua Seng pit kip, lalu menyusul ketempat sang suami ditangkap siluman naga.

Akan tetapi Oey Lan Ing tidak langsung menuju ke kota Tung hay koan.

Dia berbelok arah menuju ke kota Siamsay, buat menitipkan kitab perguruan itu kepada Tin wan piawkiok dengan pesan untuk diteruskan kepada sang adik ipar; Lim Thong Bu yang pada waktu itu sedang bertugas mengawal kereta piauw.

Nyonya yang masih muda usia itu mempunyai tekad hendak mengadu nyawa kepada musuh, tidak sudi dia untuk memberikan kitab perguruan See gak hua Seng pitkip sebab sebagai murid bungsu si Ular belang Coa Seng Hok, maka Oey Lan Ing juga mengetahui tentang adanya sengketa orang orang See gak hua kunbun.

Demikian Oey Lan Ing melakukan perjalanan seorang diri, meninggalkan rumah dia meninggalkan anaknya yang masih kecil di dalam asuhan sang ibu mertua, dan dia menuju Siamsay seperti yang dia rencanakan.

Pada suatu hari, Oey Lan Ing singgah di suatu kedai nasi yang letaknya disebuah desa yang agak ramai, karena nyonya muda ini bermaksud istirahat sambil makan siang.

Sebelum Oey Lan Ing selesai makan, tiba tiba terjadi suatu perkelahian antara beberapa orang laki laki, yang semuanya tidak dikenal oleh Oey Lan Ing.

Nyonya muda ini meninggalkan meja tempat dia makan, buat melihat dengan mendekati tempat terjadinya perkelahian, yang kemudian dapat didamaikan oleh para pengunjung kedai nasi dan Oey Lan Ing lalu kembali ketempatnya buat menyambung makan.

Akan tetapi, nyonya muda ini menjadi terkejut, karena dia melihat bungkusan bawaannya hilang disamber orang, padahal bungkusan itu dia tempatkan diatas meja makan.

Oey Lan Ing tidak menghiraukan tentang uang maupun pakaiannya yang harus hilang dicuri orang, akan tetapi dia cemas sebab di dalam bungkusan itu justeru dia simpan kitab perguruan See gak hua Seng pitkip, dan kitab perguruan itu sekarang hilang.

Dalam gugupnya Oey Lan Ing menemui si pemilik kedai nasi dan melaporkan tentang kehilangan itu, sedangkan si pemilik kedai lalu berkata .

"Aih ! ini tentu perbuatan dia..."

"Dia siapa...?"

Tanya Oey Lan Ing yang tetap kelihatan gugup bercampur gelisah.

"Perkelahian yang terjadi tadi, tentu akal perbuatannya.,."

Kata lagi si pemilik kedai, yang tidak menjawab langsung namun dia menambahkan perkataannya;

".. dia adalah Soen Put Jie, manusia dengan seribu akal.."

"Dimana tempat orang itu.. ?"

Tanya Oey Lan Ing, ingin segera mengejar si pencuri.

"Dari sini kouwnio jalan terus, dekat sebuah kuil tua belok kekiri, lalu kekanan, kekiri lagi dan kekanan lagi; sampai delapan belas kali tikungan, setelah itu kouwnio bakal mencapai daerah pegunungan Leng siao san, nah disitulah kouwnio akan menemui rumahnya Soen Put Jie...."

Kata si pemilik kedai dengan memberikan gambaran memakai gerak sepasang tangannya, bagaikan orang yang sedang menari.

"Akan kususul ketempatnya itu, sementara aku belum membayar harga makanan, maka akan aku titipkan pedangku ini sebagai jaminan. ,."

Kata Oey Lan Ing, sambil dia melepaskan pedangnya dari ikat pinggangnya.

Pemilik kedai yang baik hati itu menolak pemberian Oey Lan Ing, dia bahkan mengatakan sekiranya Oey Lan Ing tidak berhasil menemui si pencuri itu, maka dia mempersilahkan Oey Lan Ing menginap dikedai itu, yang memang menyediakan juga kamar kamar buat disewa para tamu yang hendak bermalam.

Oey Lan Ing mengucap terima kasih dan berjanji akan kembali, lalu dengan langkah kaki tergesa gesa dia mencari rumahnya Soen Put Jie, berdasarkan pengunjukkan si pemilik kedai tadi.

Akan tetapi karena banyaknya jalan yang berliku liku, maka telah beberapa kali Oey Lan Ing menembus jalan yang sama atau yang pernah dia lewati, sehingga perjalanan itu jadi memerlukan banyak waktu sampai hari menjadi malam baru dapat dia menemui rumah yang dia cari.

Nyonya muda itu lalu mengetok pintu rumah; akan tetapi sampai berulang kali tak ada orang yang menjawab atau membuka pintu itu, sehingga tidak sabar lagi Oey Lan Ing menunggu, dan dia lompat masuk melalui tembok halaman yang cukup tinggi.

Rumah itu cukup besar dan luas, akan tetapi Oey Lan Ing tidak menemui adanya seseorang didalam rumah itu, meskipun ada beberapa pelita yang menyala menjadi alat penerang.

("ada pelita, tentu ada orang...") pikir Oey Lan Ing di dalam hati, dan dia terus memasuki rumah yang besar itu, meskipun bulu kuduknya mulai pada bangun, takut bertemu dengan setan setan gentayangan atau mayat hidup yang suka melancong.

Ada sebuah kamar tidur yang Oey Lan Ing buka pintunya perlahan lahan, sebab pintu itu ternyata tidak dikunci meskipun ditutup rapat, lalu Oey Lan Ing melihat ada seorang orang laki laki yang rebah diatas tempat tidur tanpa kelihatan bergerak.

Sejenak Oey Lan Ing terlihat ragu ragu.

Laki laki itu rebah membujur celentang.

Ukuran tubuhnya panjang kurus, mukanya seperti muka tikus, ada sedikit kumis yang melintang.

Laki laki itu tidak bergerak meskipun sudah cukup lama Oey Lan Ing berdiri mengawasi.

Laki laki itu tetap diam sebab rupanya dia sudah mati.

Agak gemetar tubuh Oey Lan Ing, yang sudah berdiri disisi ranjang.

Ada selembar kertas bertuliskan di sisi mayat itu, dan Oey Lan Ing mengambil, lalu membaca dengan bantuan sinar api lilin yang menyala.

"Temanku Tay Hin ! Kau terlalu mendesak aku, padahal kau tahu aku tidak berhasil memperoleh barang itu. Aku memilih mati minum racun, dari pada mati dibunuh oleh kau...."

Demikian Oey Lan Ing membaca surat itu, yang dibagian bawahnya dibubuhi nama Soen Put Jie.

Oey Lan Ing jadi kesal, menyesal karena dia datang terlambat.

Pencuri itu sudah mati bunuh diri, jadi bagaimana mungkin dia dapat menemui lagi bungkusannya yang hilang?

Apa kata gurunya almarhum karena kitab perguruan itu dia bikin hilang?

Benar benar Oey Lan Ing menjadi kesal bercampur penasaran.

Dia mau memeriksa semua isi rumah itu, buat dia mencari bungkusannya yang hilang, akan tetapi mendadak dia menunda niatnya itu, sebab dia mendengar adanya suara seseorang yang mendatangi rumah itu, juga memakai cara melompati tembok halaman, menandakan orang yang sedang mendatangi itu pandai ilmu silat dan ilmu ringan tubuh.

Dengan cepat Oey Lan Ing umpatkan diri di bagian belakang ranjang, terlindung dibalik kain kelambu, dan disaat berikutnya dilihatnya jendela kamar dibuka oleh seseorang dari luar, memakai golok yang tajam dan setelah jendela itu terbuka, maka seorang laki laki memakai tutup muka lompat masuk dengan sebelah tangan memegang golok.

Lalu laki bertopeng itu sejenak berdiri di dekat tubuh yang membujur sebagai mayat, lalu tiba tiba dia mengangkat goloknya, hendak membacok mayatnya Soen Put Jie.

Melihat kehendak laki laki yang memakai tutup muka itu, maka buru buru Oey Lan Ing menghadang dan menangkis memakai pedangnya.

sambil dia membentak.

"Manusia biadab, orang sudah mati masih mau dibunuh...."

Laki laki yang memakai tutup muka itu menjadi sangat terkejut.

Goloknya hampir lepas dari tangannya, sebab tidak menduga ada seseorang yang melindungi mayat Soen Put Jie yang sudah tewas akibat minum racun, apa lagi yang melindungi itu adalah seorang perempuan muda yang cantik jelita.

Setelah berhasil mengatasi rasa kagetnya maka laki laki itu memberikan perlawanan bertempur didalam kamar yang sempit itu; dengan ditonton oleh mayatnya Soen Put Jie yang diam diam jadi tertawa.

Sambil bertempur, laki laki yang memakai tutup muka itu menjadi jatuh cinta terhadap Oey Lan Ing, akan tetapi oleh karena perempuan muda itu sangat tangkas; maka cepat cepat lelaki itu lompat keluar lewat jendela, disusul oleh Oey Lan Ing yang merasa penasaran.

Sesudah kedua orang yang bertempur itu meninggalkan kamarnya, maka mayat Soen Put Jie lalu bergerak bangun, dan turun dari ranjang, lalu bergegas dia meninggalkan kamar itu dan menghilang lewat pintu belakang.

(Sekali lagi Cie in suthay jadi tersenyum seorang diri, mengenangkan pengalaman Oey Lan Ing atau isterinya Lim Thong Hok dan senyum manis biarawati yang muda usia itu, tetap memikat hati laki laki muda yang berpakaian sebagai seorang pelajar, yang diam diam terus memperhatikan, sementara kedua orang lain yang ikut lihat senyum manis itu sekali lagi harus membicarakan pendapat mereka .

"Aku sekarang yakin; dia benar benar orang sinting....,"

Demikian kata yang seorang, dan temannya lalu menambahkan.

"aku justeru kasihan melihat dia sebab usianya masih muda dan cantik jelita."

Cie in suthay tetap tidak menghiraukan dan tetap duduk makan seorang diri, bahkan tetap suka bersenyum atau tersenyum !

O) hend(dwkz)bbsc (O SEMENTARA itu, waktu sudah menyelesaikan tugasnya mengantar kereta piauw, maka dalam perjalanan pulang ke rumahnya, Lim Thong Bu mengajak dua orang pembantunya singgah di kota Tung hay koan.

Waktu hendak singgah disebuah rumah makan, Lim Thong Bu membiarkan kedua pembantunya masuk lebih dulu, sementara dia membeli buah buah bekal buat dibawa pulang ke rumah.

Setelah selesai berbelanja, maka Lim Thong Bu memasuki rumah makan itu, dan dilihatnya kedua orang pembantunya sedang bertempur melawan seorang dara lincah yang cantik mukanya.

Dengan senjata golok ditangannya, maka Lim Thong Bu memasuki arena pertempuran dengan maksud memisah, akan tetapi dara lincah yang kena ditangkis pedangnya, menjadi marah dan memaki .

"Bagus ! kalian bertiga hendak mengepung aku ! kalian sungguh sungguh adalah laki laki pengecut....!"

Jilid 23

"KAU ANGGAP Lim piauwsu tidak berani melayani kau sendirian......?"

Sahut seorang pembantunya Lim Thong Bu dengan nada suara mengejek.sebelum Lim Thong Bu sendiri sempat bicara..

"Bagus! mari kita bertanding diluar....!"

Ajak dara lincah itu bertambah marah.dan dia mendahulukan keluar rumah makan dengan geraknya yang benar benar sangat lincah..

Pemuda Lim Thong Bu tidak bermaksud membikin permusuhan dengan dara lincah yang belum dikenalnya itu..

Dia ikut keluar dengan maksud mengajak dara lincah itu bicara.akan tetapi tiba tiba dia sudah diserang hingga setelah beberapa kali dia hanya berkelit menghindar.maka dengan suatu gerak yang indah dengan goloknya dia berhasil menggetarkan pedangnya dara lincah itu lepas dari pegangannya..

Akan tetapi selagi pedang itu masih melayang diangkasa.maka dengan suatu gerak tubuh yang lincah dan ringan.dara itu melesat dan berhasil merebut pedangnya.sebelum pedang itu jatuh ditanah..

"Bagus......!"

Lim Thong Bu memuji.akan tetapi dara lincah itu mendahulukan berkata..

"Baik! sekali ini nonamu kurang berhati hati.akan tetapi pada lain kesempatan nanti kita pasti akan bertemu lagi......!"

Sehabis berkata begitu.maka dara lincah itu pergi dengan lari pesat.tanpa menghiraukan teriak Lim Thong Bu yang sebenarnya ingin mengetahui nama dara lincah itu..

Dengan langkah kaki seenaknya.Lim Thong Bu kemudian memasuki lagi rumah makan itu untuk dia bersantap sambil dia memikirkan entah siapa gerangan dara lincah tadi sampai kemudian dia mendengar pembicaraan beberapa orang tamu.tentang adanya seorang pendekar bernama Lim Thong Hok yang telah jadi mangsa siluman naga!

Sudah tentu Lim Thong Bu menjadi sangat terkejut.dan dia lalu menanyakan keterangannya yang lebih lanjut.sampai kemudian ia mendatangi dan menemui pejabat pemerintah kota Tung hay koan..

Sebagai langkah pertama.seorang diri segera Lim Thong Bu mendatangi kuil sam yang tong.sedangkan kedua orang pembantunya dia perintahkan berangkat lebih dahulu ke kota Siamsay untuk membawa kabar..

Pengurus kuil Sam yang tong yang mengaku bernama Hoan Jin Ong.sebenarnya adalah salah seorang muridnya Tiat tauw ciang Cee Kay Bu si Kepala besi sehingga tidak mengherankan jika rumah suci itu telah dijadikan tempat melakukan berbagai perbuatan kejahatan..

Pada waktu itu.didalam kuil Sam yang tong sedang berkumpul Hui ho Pouw Kong Jin bersama Ouw bin liong Kwee Ong..

Mereka sedang membicarakan soal tahanan mereka (Lim Thong Hok) yang ternyata telah berhasil menghilang tanpa setahu mereka..

Ketika Hoan Jin Ong masuk memberitahukan bahwa mereka kedatangan Lim Thong Bu maka dengan girang mengatur siasat keji menangkap Lim Thong Bu memakai bubuk racun Ouw shia chang yang dicampur kedalam air teh.dan waktu Hoan Jin Ong hendak membunuh pemuda itu selagi masih lupa daratan maka Hui ho Pouw Kong Jin melarang.sebab si Rase terbang tetap hendak memiliki kitab perguruan See gak hua Seng pitkip.dengan memperalat Lim Thong Bu memakai suatu cara yang sukar dapat dipercaya..

Dilain pihak.berhasilnya Lim Thong Hok melepas diri dari tahanan pihak musuh.sebenarnya adalah berkat pertolongan seorang pendeta yang bernama Liauw hoan hweeshio..

Liauw hoan hweeshio sebenarnya adalah anggota pengurus kuil Sam yang tong yang lama.sebelum pemimpin mereka dibunuh mati oleh Hoan Jin Ong..

Dengan demikian Liauw hoan hweeshio memang sudah lama mencari kesempatan hendak mengusir Hoan jin Ong.dan menjadikan kuil Sam yang tong kembali sebagai rumah suci..

Setelah berhasil menolong Lim Thong Hok maka Liauw hoan hweeshio menceritakan tentang rencana pihak Hui ho Pouw Kong Jin yang hendak memiliki Kitab perguruan See-gak hua Seng pitkip.sehingga sudah tentu Lim Thong Hok menjadi terkejut dan bergegas pergi tanpa dia memberitahukan pihak pejabat pemerintah setempat.oleh karena dia merasa perlu cepat cepat mencegah isterinya menyerahkan kitab perguruan mereka buat dipakai sebagai penebus dirinya..

Tetapi,selagi Lim Thong Hok mencapai daerah pegunungan Leng Siao san tiba tiba dia melihat adanya dua belas orang gerombolan perampok yang sedang bertempur melawan seorang dara lincah..

Hasrat hatinya ingin benar dia membantu dara lincah yang sedang dikepung gerombolan perampok itu.akan tetapi Lim Thong Hok sedang menghadapi urusan yang gawat mengenai keluarga dan urusan perguruan dari itu memaksakan dirinya untuk tidak menghiraukan urusan lain orang.seperti peristiwa yang sedang terjadi dan yang dilihatnya itu..

Akan tetapi mendadak Lim Thong Hok mendengar pekik suara dara lincah itu, dan waktu dia mengawasi.maka dilihatnya dara lincah itu sedang terjatuh; karena kakinya tergelincir menginjak sebuah batu yang agak besar..

Beberapa orang kawanan perampok sedang berusaha hendak menyerang dara lincah itu memakai senjata mereka.membikin Lim Thong Hok segera melesat mendekati.menghadang dan menangkis setiap serangan yang ditujukan kepada dara lincah itu; akan tetapi untuk selanjutnya Lim Thong Hok yang jadi bertempur melawan semua gerombolan perampok itu..

Dara lincah yang ditolong oleh Lim Thong Hok.ternyata adalah dara lincah yang pernah bertempur melawan Lim Thong Bu waktu di kota Tang hay koan..

Dara lincah itu kelihatan terpesona waktu mengetahui dirinya ditolong oleh seorang laki laki muda yang tampan dan gagah perkasa..

Dia tetap duduk ditempat dia terjatuh mengawasi Lim Thong Hok yang sedang bertempur dan dikepung.tanpa dia mempunyai niat buat membantu laki laki muda yarg sudah menolong dia.sebaliknya khayalnya jauh merantau memikirkan alangkah akan bahagia hidupnya kelak kalau dia mempunyai suami gagah dan tampan seperti laki laki yang sedang bertempur itu..

Setelah Lim Thong Hok berhasil mengalahkan semua gerombolan perampok itu.mengusir mereka sampai hilang semuanya maka Lim Thong Hok mendekati tempat dara lincah itu terduduk yang dia sangka terluka sampai tidak bisa berdiri..

"Siao kouwnio.apakah kau terluka......?"

Lim Thong Hok menanya ketika telah mendekati dara lincah itu..

"Siao Kouwnio, apakah kau anggap aku anak kecil yang masih ingusan...... ?"

Sahut dara lincah itu marah marah dengan muka bersungut..

"Maaf.. maaf.apakah kouwnio terluka ?"

Ulang Lim Thong Hok yang meralat pertanyaannya tadi..

"Mumm.. kau anggap dirimu gagah.dan kau usir mereka pergi padahal susah payah aku sedang mengatur siasat hendak mengetahui sarang mereka....,!"

Kata lagi dara lincah itu tetap dengan muka bersungut..

("eh..sudah ditolong malah memaki...") kata Lim Thong Hok akan tetapi cuma didaIam hati dan dia bergegas hendak meninggalkan dara lincah itu yang tidak lagi mau dia hiraukan..

"E ehm...... !"

Teriak dara lincah itu tiba-tiba.dan dia menyambung perkataannya.selagi Lim Thong Hok menunda langkah kakinya..

"......aku sedang terluka.apakah kau akan biarkan aku mampus ditempat ini ? Lekas kau antar aku ke dusun Soen kee po....!"

Sekali lagi Lim Thong Hok mengangkat sepasang bahunya tanda dia setengah tobat menghadapi dara lincah yang pemarah akan tetapi yang bisa bersikap manja itu.dan Lim Thong Hok lalu mendekati lagi dan dia bantu mengangkat dara manja itu berdiri sementara sebelah lengan dara manja itu merangkul bagian pundak Lim Thong Hok untuk kemudian dengan langkah kaki pincang dara manja itu berjalan dengan tubuh rapat melekat pada pundak Lim Thong Hok.bagaikan sebelah kakinya mendapat cedera padahal hanya pura pura belaka..

Lim Thong Hok berhasil mencapai dusun Soen kee po untuk mengantar dara lincah yang manja itu yang ternyata bernama Gak Siao Cu..

Mereka memasuki sebuah rumah yang besar dan luas.padahal penghuninya hanya dara Gak Siao Cu bersama neneknya yang sudah tua; ditambah dengan belasan orang pelayan laki laki dan perempuan..

Dara manja Gak Siao Cu sudah tidak mempunyai ayah dan ibu.nenek Soen (Soen lo-naynay) adalah ibu dari ibunya; dan nenek tua itu sangat mengasihi cucunya yang semata wayang sehingga sang nenek menjadi terkejut dan girang.waktu sang cucu pulang bersama Lim Thong Hok..

Soen lo naynay terkejut karena sang cucu berjalan dengan sebelah kaki pincang dan Soen lo naynay girang sebab merasa akan mendapat cucu mantu yang tampan dan mempunyai bakat baik buat belajar ilmu silat..

Sudah tentu Lim Thong Hok menjadi terkejut waktu nenek Soen mengatakan hasratnya hendak menjadikan dia sebagai cucu mantunya.bukan sebab dara manja Gak Siao Cu kurang cantik dan kurang manja.akan tetapi persoalannya Lim Thong Hok sudah punya bini dan sudah punya anak satu..

Segera Lim Thong Hok hendak menolak dengan mengakui keadaan dirinya yang sebenarnya..

Akan tetapi secepat itu pula Lim Thong Hok batal bicara atau mengakui bahwa dia telah punya bini sebab dia merasa heran menjadi bingung berhubung nenek Soen hendak memberikan pesalin berupa barang pusaka yang tak ternilai harganya yakni sebuah kitab pelajaran ilmu silat See gak hua Seng pitkip!

"Kitab perguruan See gak hua kunbun golongan hurup Seng........?"

Tanya Lim Thong Hok menegaskan takut dia salah dengar..

"Benar,....!"

Sahut nenek Soen bangga; karena orang tua itu menganggap calon cucu mantunya ternyata seorang yang benar benar cerdas mengerti barang bagus atau barang jelek!

Lim Thong Hok kemudian meminta waktu beberapa hari buat dia berpikir, padahal dia hendak menyelidiki tentang kitab perguruan itu melalui dara Gak Siao Cu.sebab benar benar dia tidak mengerti apa sebabnya dan bagaimana caranya kitab itu bisa berada pada nenek Soen.padahal kitab itu selalu disimpan oleh bininya dirumah..

Sebaliknya nenek Soen ini ternyata mempunyai adat yang aneh..

Dia tidak keberatan Lim Thong Hok menunda hari pernikahan.akan tetapi Soen lo naynay menghendaki hari itu juga Lim Thong Hok menerima kehendaknya menjadi cucu mantunya buat dikawinkan dengan cucunya!

Adat aneh nenek Soen ternyata merupakan kebiasaannya sejak dulu yakni sejak dia masih muda.sebab nenek Soen sebenarnya adalah dedengkot See gak hua kunbun golongan hurup Hee..

Nama lengkapnya adalah Hek bo tan Soen Cay Hee.atau si Bunga mawar hitam yang banyak sekali durinya.sebab itu barang siapa saja yang berani dekat dengan dia pasti akan mengeluarkan darah sebab terluka atau semaput jadi setan kagak punya kepala!

Dengan siasat mendekati gak Siao Cu.maka kepada Lim Thong Hok telah diperlihatkan kitab perguruan See Gak hua Seng pit kip dan ternyata bahwa kitab perguruan itu adalah kitab yang asli bukan tiruan dan bukan juga salinan.melainkan yang biasanya disimpan oleh Oey Lan Ing.bininya Lim Thong Hok !

Kemudian dan menurut keterangan yang diberikan oleh Gak Siao Cu.kitab perguruan itu katanya diperoleh dari pamannya yang bernama Soen Put Jie..

Waktu Lim Thong Hokz menanyakan.apakah Soen pekhu itu pandai ilmu silatnya maka Gak Siao Cu tertawa lalu berkata..

"Soen pekhu hanya sekedar mengerti sedikit ilmu silat.akan tetapi dia memiliki banyak akal.sehingga orang orang menamakan dia sebagai si manusia dengan seribu akal terbukti dia telah berhasil memperoleh buku ini entah dari mana dan entah dengan cara bagaimana padahal kitab perguruan semacam ini biasanya menjadi barang rebutan tokoh tokoh kaum rimba persilatan yang bersedia mati asal bisa memiliki barang pusaka ini......"

Lim Thong Hok manggut membenarkan dan menanya lagi.

"Dimana seorang Soen pekhu itu........?"

Demikian tanyanya seperti ingin diperkenalkan dengan Soen Put Jie..

"Hmmn! entah dekat; entah jauh.. tidak ada orang yang tahu.. Manusia belum datang akan tetapi kitab ini sudah dia kirim melalui seorang temannya......"

Sahut Gak Siau Cu yang perlihatkan lagak manja bercampur bangga..

Dilain pihak.Lim Thong Bu yang menjadi orang tangkapan pihak Ouw bin liong Kwee Ong maka pemuda ini telah dibius memakai semacam obat hasil ciptaan Hui ho Pouw Kong Jie.sehingga pada waktu itu Lim Thong Bu siuman.maka dia menjadi orang lupa diri dan lupa keadaan.sebaliknya dia sangat patuh terhadap si Rase terbang Pouw Kong Jin bagaikan dia adalah suatu benda mati yang dapat dikendalikan semau gue..

Hal ini adalah sengaja menjadi asetnya si Rase terbang Pouw Kong Jie bahwa dengan memperalat Lim Thong Bu.dia hendak memperoleh kitab perguruan See gak hua Seng pit kip.tanpa memakai cara kekerasan..

Sesuai dengan perintah yang diterimanya maka Lim Thong Bu berangkat kedusun Coan in cung untuk mengambil kitab perguruan See gak hua Seng pit kip.akan tetapi waktu dia sedang melewati daerah pegunungan Ieng siao san.maka tiba tiba Lim Thong Bu menjadi terkejut.karena dia mendengar suara seorang perempuan yang memanggil namanya..

Itulah seorang perempuan muda yang sedang duduk menangis seorang diri.ditepi jaIan yang sunyi..

Perempuan muda itu mengaku bernama Oey Lan Ing bininya Lim Thong Hok dan memanggil tee hu kepada Lim Thong Bu yang sedang lupa diri merasa tidak kenal dengan perempuan muda itu sehingga waktu perempuan muda itu dengan menangis mengatakan lakinya diculik oleh siluman naga maka Lim Thong Bu lalu berkata seenaknya..

"Akh,kouwnio.. mengapa kau harus menangisi yang tidak ada? Bukankah lebih baik kita kawin dan ikut menjadi muridnya Hui ho Pouw Kong Jie......?"

Pemuda ini tidak sempat meneruskan perkataannya lagi.sebab perempuan muda itu cepat menjadi marah marah dan memaki maki.

"Laki-laki penghianat! laki laki berhati binatang! Memang sejak dulu aku sudah curigai kau menyimpan maksud hendak merebut diriku.........."

Sehabis memaki.perempuan itu lalu mengayunkan pedangnya dan menyerang membabi buta seperti seekor babi yang benar benar buta membikin Lim Thong Bu menjadi kelabakan sibuk harus berkelit menghindar sampai kemudian pemuda ini juga mengeluarkan goloknya memberikan perlawanan dan bertempur ditempat yang sunyi itu..

Dua orang yang sedang bertempur itu adalah sama sama orang orang See gak hua kunbun golongan hurup "Seng".tetapi tingkat ilmu pendidikan Lim Thong Bu sudah tentu lebih tinggi dari Oey Lan Ing yang menjadi murid bungsu dari itu sudah beberapa kali goloknya Lim Thong Bu berhasil merobek bajunya Oey Lan Ing; membikin perempuan muda itu menjadi semakin marah marah semakin menganggap sang ipar berlaku kurang ajar.sampai tak bosan bosan Oey Lan Ing memaki sambil menyerang melupakan pertahanan yang harus dia lakukan..

Barangkali Oey Lan Ing akan menjadi telanjang bulat.kalau pertempuran itu berlangsung lebih lama..

Untung pada saat yang gawat itu tiba tiba ada seorang laki laki tua yang kebetulan sedang lewat..

Laki laki tua itu mempunyai badan yang cukup gemuk dengan muka bundar.akan tetapi sebagian tertutup dengan jenggot putih tumbuh panjang sampai lewat dada..

Dia melihat dan menganggap ada seorang laki laki muda yang sedang menghina seorang perempuan muda.dari itu dia menjadi marah dan seenaknya saja dia memasuki gelanggang pertempuran tanpa dia menghiraukan golok dan pedang yang sedang melayang layang seperti pelangi memecah angkasa..

Lalu dengan beberapa kali dia mengangkat angkat kakinya.maka beberapa kali juga Lim Thong Bu jadi jatuh bangun sampai akhirnya dia lari terbirit birit.karena merasa tobat !

Oey Lan Ing menjadi sangat girang karena adalah seseorang yang sudah menolong dia dan dia menjadi lebih girang lagi waktu mengetahui bahwa laki laki tua itu adalah dedengkot orang orang See gak hua kunbun golongan hurup "Gee" yang bernama Kiang Su Gee atau si mahasiswa melarat yang tetap melarat meskipun sudah mengetahui bahwa cintanya ditolak mentah mentah oleh si mawar hitam Soen Cay Hee yang sekarang sudah menjadi nenek..

Sementara itu Lim Thong Bu lari dan terus lari.meskipun dia mengetahui tidak ada orang yang mengejar dirinya.sampai kemudian Lim Thong Bu memasuki sebuah rumah.untuk sekedar dia ingin minta air apa saja buat dia melepas rasa dahaga..

Akan tetapi tiba tiba pemuda itu mendengar suara seorang laki laki yang sedang bicara seorang diri .

"Ha ! nasib baik sudah melindungi aku dari kematian.. Tidak kusangka bahwa temanku mati di tangan seorang perempuan muda dan syukur kitab See gak hua Seng pit kip sudah aku selamatkan......"

Laki laki yang sedang bicara seorang diri itu adalah Soen Put Jie si manusia dengan seribu akal yang sudah setengah tua umurnya.bertubuh kurus agak tinggi.memiara kumis tipis seperti kumis tikus..

Di saat yang dia tidak duga.secara mendadak ada seseorang yang meraih bagian punggungnya.dan berkata dengan membentak..

"Lekas serahkan kitab itu kepadaku...."

"Kitab apa.. .?"

Tanya Soen Put Jie yang terdengar gemetar suaranya.juga tubuhnya ikut seperti kegatalan..

"Kitab See gak hua Seng pitkip....!"

Bentak seseorang yang masih meraih bagian punggungnya Soen Put Jie..

"Sudah dibawa......"

Sahut Soen Put Jie.tetap gemetar ketakutan..

"Dibawa kemana.,;?"

Tanya Lim Thong Bu bertambah bengis..

"Dibawa kerumah keluarga Soen naynay di dusun Soen kee po.."

"Siapa yang perintahkan.. ,?"

Masih Lim Thong Bu menanya..

"Soen Put Jie...."

Sahut Soen Put Jie seenaknya.sudah hilang rasa takutnya.sehingga tubuhnya tidak lagi terasa seperti kegatalan..

"Dimana Soen Put Jie itu......?"

Jadi penasaran Lim Thong bu menanya..

"Sudah mati ...."

"Kau bohong......"

Kembali Lim Thong Bu membentak..

"Benar.makamnya dekat dari sini........"

Karena merasa tidak percaya; maka Lim Thong Bu minta diantarkan sampai kemudian mereka berdiri di hadapan sebuah makam yang baru selesai dibikin dan pada batu nisan jelas ditulis namanya Soen Put Jie..

"Dimana letak dusun Soen kee po .,,"

Akhirnya Lim Thong Bu menanya lagi.sementara nada suaranya berobah agak lunak dan pemuda ini bermaksud ingin menyusul.untuk dia merebut kitab perguruan See gak hua Seng pitkip yang hendak dia serahkan kepada si Rase terbang Pouw Kong Jie..

Soen Put Jie yang mengetahui tentang kegagahan Soen lo naynay.tanpa ragu ragu dia telah memberitahukan Iengkap dengan gambaran memakai gerak sepasang tangannya..

Setelah Lim Thong Bu menghilang.maka Soen Put Jie menarik napas panjang.dan berkata lagi seorang diri.masih ditempat dekat makam yang baru selesai dia bikin.

"Oh.temanku.meskipun kau sudah mampus akan tetapi lagi lagi kau telah menyelamatkan nyawaku......"

Akan tetapi secara tiba tiba Soen Put jie mendengar ada suara seorang yang sedang mendatangi.sehingga cepat cepat dia umpatkan dirinya lalu dengan merangkak dia coba coba hendak mengintai.sampai dia menjadi terkejut karena dilihatnya dekat tubuhnya ada sepasang kaki manusia yang sedang berdiri!

Perlahan lahan Soen Put Jie menengadah dan melihat muka seorang perempuan muda yang sedang berdiri mengawasi sehingga Soen Put Jie menjadi bertambah terkejut bercampur takut.sebab perempuau muda itu adaIah Oey Lan lng.atau si pemilik bungkusan yang dia curi dan yang sudah bertempur serta membinasakan temannya yang baru dia pendam mayatnya..

"Soen Put Jie.kau telah menipu aku...... !"

Bentak perempuan muda itu sambil dia menyiapkan pedangnya yang tajam..

"Ampun.lie pousat.akan tetapi namaku bukan Soen Put Jie........"

Masih Soen Put Jie coba coba membela diri menggunakan akalnya yang ada seribu..

"Hm.kau sudah menipu aku satu kali.tidak mungkin kau bisa menipu aku dua kali.....,!"

Bentak lagi Oey Lan Ing.lalu diangkatnya pedangnya.yang dia tempelkan dekat batang leher Soen Put Jie membikin tubuh Soen Put Jie tadi kegajahan lagi.sedangkan Oey Lan Ing lalu berkata lagi;

"...sudah bertemu dengan mayatku mana bisa kau bohongin aku lagi......?"

"Ha ha ha kalau kau sudah pernah bertemu dengan mayatnya.maka sekarang kau tentu bicara dengan hantu......!"

Kata seorang lak laki tua yang ikut mendekati.dan ikut bicara dengan menyertai suara tawa.karena rasa lucu mendengar perkataan Oey Lan Ing tadi..

"Aku...... aku memang hantunya Soen Put Jie ,.."

Soen Put Jie ikut bicara bagaikan dia kehabisan akal karena keadaannya yang sedang gugup bercampur takut.. Sementara Oey Lan Ing jadi bertambah marah marah.dan dia berkata lagi .

"Aku tidak perduli kau hantu atau kau manusia; sekarang kau ikut aku ke rumah makan tempat kau curi bungkusanku.setelah itu akan aku buntungkan kepalamu.. ,..!"

"Ampun.Lie pousat......,"

Sahut Soen Put Jie yang memaksakan diri meratap lalu dia mengakui perbuatannya dengan mengatakan kitab See gak hua Seng pitkip sudah dia kirim ke dusun Soen kee po; ditujukan kepada Soen lo naynay.karena katanya dia menyangka kitab perguruan itu berasal miliknya si nenek tua.dan si nenek justeru menjadi dedengkot orang orang See gak hua kunbun.namun dia tidak mengetahui tentang adanya golongan hurup hurup yang berbeda beda..

ooo dwkz-hend-bbsc ooo NENEK Soen Cay Hee sesungguhnya bukan sembarang nenek seperti kebanyakan perempuan perempuan lain yang sudah tua umurnya..

Nenek Soen yang sudah mendekati umur tujuh puluh tahun.masih tangkas dan masih pesat gerak tubuhnya.masih cerdas dan masih suka marah marah..

Malam itu cuaca kelihatan lebih gelap dari biasanya..

Bulan dan bintang bintang menghilang bagaikan kena digertak oleh suara guntur yang sedang memanggil hujan.akan tetapi sang hujan belum kunjung datang.sampai tahu tahu nenek Soen terbangun dari tidurnya.karena diatas genteng kamarnya terdengar bunyi suara yang tidak wajar..

Dengan cepat dan gesit nenek Soen membuka jendela kamar.Iompat keatas genteng dengan sepasang golok siap di kedua tangannya..

Akan tetapi tak ada sesuatu yang dilihat oleh nenek tua itu.padahal dia merasa yakin benar bahwa seseorang telah berada diatas genteng rumahnya..

Mendadak nenek Soen melihat ada sesuatu bayangan hitam yang bergerak didekat jendela kamar cucunya.dara Gak Siao Cu !

"Kurang ajar !

kau jangan lari?"

Bentak nenek Soen yang cepat melesat seperti terbang berbareng jendela kamar Gak Siao Cu ikut terpentang lalu sang cucu lompat ke luar dari dalam kamarnya.juga dengan membawa pedangnya yang tajam..

Sementara itu bayangan hitam tadi sudah menghilang mengambil arah kebelakang rumah.dengan disusul oleh nenek Soen dan cucunya..

Bayangan hitam yang mengacau adalah Lim Thong Hok yang sudah mengetahui tempat disimpannya kitab perguruan see gak hua Seng pitkip.sehingga dengan nekad malam itu dia bermaksud melakukan pencurian.untuk kemudian dia mau lari supaya tidak jadi kawin dengan Gak Siao Cu..

Lim Thong Hok telah berhasil memancing keluar nenek Soen berdua cucunya.lalu dia memutar dan masuk kedalam kamarnya Gak Siao Cu.akan tetapi selagi dia bermaksud kabur setelah berhasil dia mencuri kitab See gak hua Seng pitkip.maka tiba tiba sebelah betisnya kena sebatang senjata piao lalu muncul seorang laki laki muda yang ternyata adalah Lim Thong Bu!

"Siao tee lekas kau bawa Iari kitab ini..

Kata Lim Thong Hok yang mengenali adiknya sambil tergesa gesa dia menyerahkan kitab perguruan itu kepada adiknya..

Sikap Lim Thong Bu waktu itu kelihatan tidak wajar.dia seperti ragu ragu atau seperti orang yang merasa curiga.akan tetapi akhirnya dia menerima kitab yang diberikan itu sementara sang kakak yang tidak memperhatikan keadaan adiknya.telah berkata lagi..

"Lekas kau lari jangan hiraukan luka dikakiku.sebab aku bisa membohongi mereka......"

Demikian kata Lim Thong Hok yang tidak menyangka bahwa piao yang melukai kakinya itu justeru dilepaskan oleh Lim Thong Bu yang waktu itu kesadarannya sedang dipengaruhi oleh si Rase terbang Pouw Kong Jin..

Sementara itu lekas lekas Lim Thong Bu sudah menghilang.maka saat itu pula muncul Soen lo naynay berdua cucunya..

"Lekas susul pencuri itu......"

Kata Lim Thong Hok sengaja mengerahkan tenaga dalam.membikin mukanya kelihatannya pucat dan nada suaranya lemah seperti orang yang sangat menderita..

Soen lo naynay menyusul pada arah yang salah; sesuai seperti yang diberitahukan oleh Lim Thong Hok.sedangkan Gak Siao Cu berlutut disisi calon suaminya.memeriksa luka Lim Thong Hok yang sudah mengeluarkan darah..

Nenek Soen kembali tanpa berhasil menemui si pencuri sementara Lim Thong Hok sudah digotong masuk kedalam kamarnya oleh beberapa orang pelayan.sedangkan piao yang meIukai kakinya.sudah dicabut dan sudah disimpan oleh Gak Siao Cu.sampai kemudian nenek Soen ikut memeriksa dan memberikan obat pada luka bekas kena piao itu..

("Heran..

Menurut kata Siao Cu; katanya Lim Thong Hok mahir ilmu silatnya.akan tetapi melulu kena piao pada betisnya.dia tidak berdaya menangkap si pencuri......") nenek Soen berkata didalam hati.yang diam diam jadi merasa curiga..

Esok paginya.nenek Soen menerima kedatangan tiga orang tamu..

Mereka adalah Soen Put Jie yang datang bersama seorang perempuan muda yang dia tidak kenal.dan yang ketiga adalah Kiang Su Gee.si mahasiswa melarat dari See gak hua kunbun golongan hurup "Gee"; yang pada waktu mudanya selalu menguber uber dia buat diajak kawin akan tetapi setelah itu sangat lama mereka tidak pernah bertemu lagi..

"Ha ha ha ! Kiang toako.kau membikin aku jadi terkenang lagi dengan tempo dulu...!"

Seru nenek Soen yang kelihatan kegirangan menerima kedatangan bekas pacar..

"Ha ha ha !

si tua Gouw Hui Pa selalu mendahulukan aku..

Dia mendahulukan aku mempersunting kau.dan dia mendahulukan aku masuk ke liang kubur....!"

Sahut si mahasiswa melarat Kiang Su Gee.yang ikut menyerta tawa girang..

Soen lo naynay tertawa lagi..

Dapat dikatakan sudah puluhan tahun lamanya dia tidak pernah tertawa.karena sikapnya terlalu tegas.meskipun terhadap Gak Siao Cu yang dia manjakan..

Nenek yang sudah tua usianya itu benar benar jadi teringat lagi dengan tempo dulu.waktu Kiang Su Gee dan Gouw Hui Pa berlomba hendak merebut kasih sayang nenek tua itu.dan nenek kemudian memilih si kuda binal Gouw Hui Pa buat dijadikan lakinya.meninggalkan si mahasiswa melarat yang seterusnya jadi melarat sebab merana seumur hidup dia tidak menikah..

O)(dwkzXhendXbbsc)(O MAKA terjadilah apa yang memang harus terjadi sebab takdir memegang peranan penting..

Si mahasiswa melarat tidak pernah menikah.akan tetapi marga Kiang tidak terputus.sebab adiknya yang bernama Kiang Su Liang memiliki seorang anak laki laki dan seorang anak perempuan.sebaliknya Gouw Hui Pa yang menikah dengan Soen Cuy Hee.hanya memiliki anak perempuan; sehingga tidak ada marga Gouw yang berasal dari si kuda binal..

Akan tetapi si kuda binal tetap si kuda binal sebab sia-sia Gouw Hui Pa mendapat gelar si kuda binal kalau dia tidak bisa punya bini lain tanpa setahu Soen Cay Hee juga si mahasiswa melarat tidak mengetahui.sehingga didalam dunia yang penuh hantu ini si pendekar tanpa kawan (baca .

Su Kiam Hiap In.atau Pendekar tanpa kawan)..

"Bagaimana kabarnya dengan si seruling maut Pouw Thian Jin...."

Tanya Kiang Su Gee yang menyebabkan si nenek menjadi bermuka muram.teringat dengan pengalaman pengalaman pahit waktu dia masih muda..

"Aku sudah lama tidak menghiraukan urusan diluar.. Aku tidak tahu dimana dia sekarang...."sahut nenek Soen..

"Aku pun sudah ogah ikut repot dengan urusan di luar.akan tetapi baru baru ini aku kedatangan seorang tamu yang bernama Sim Ie Liat.. Dari tamu ini aku mendapat berita bahwa si golok maut Go Bun Heng sudah mendahului kita masuk ke neraka.sedangkan untuk kitab perguruan See gak hua Seng pitkip yang katanya sudah dititipkan pada tamu itu kemudian hilang dicuri oleh seseorang yang sengaja meninggalkan jejak berupa sekuntum bunga Mawar putih.. Waktu tempo dulu.aku mengetahui ada dua orang yang gemar dengan bunga bunga mawar.. Yang satu senang dengan bunga mawar berwarna putih; yakni Hui eng niocu Siok Lie Hua dari lembah Hui-eng san cong.dan yang seorang lagi senang dengan bunga mawar warna hitam yang sengaja dibikin dari bahan kertas.dan orang itu adalah kau.. Aku sudah mengutus ketiga orang muridku buat mengunjungi Hui eng niocu Siok Lie Hua dengan membawa suratku; akan tetapi kepada kau.sengaja aku datang sendiri...."

"Hayaaa ! kau anggap aku jadi maling......!"

Seru nenek Soen Cay Hee..

"Tunggu dulu.masih ada sedikit yang harus aku tambahkan......"

Kata Kiang Su Gee yang memutus perkataan nenek Soen.dan dia lalu menyambung perkataannya..

"...... ditengah perjalanan.aku bertemu dengan nyonya muda ini.yang ternyata adalah Oey Lan Ing; muridnya si ular belang Coa Seng Hok yang katanya sedang kehilangan kitab perguruan See gak hua Seng pitkip sedangkan suaminya sedang menghadapi kesulitan kena ditangkap oleh si Rase terbang dan muridnya yang sedang mengganas di kota Tung hay koan.."

"See gak hua Seng pitkip.. ,.. ?"

Nenek Soen berkata seperti menggerutu.

"Benar.... ,"

Sahut si mahasiswa melarat yang sudah jadi seorang kakek..

"Hui ho Pouw Kong Jin,....?"

Sekali lagi nenek tua itu bicara bagaikan pada dirinya sendiri..

"Benar...."

Sekali lagi si mahasiswa melarat memberikan jawabannya..

"Dengan muridnya yang bernama Ouw bin liong Kwee Ong......?"

Dan merah muka nenek tua itu sekarang.kelihatan menyimpan dendam lama.. Lalu waktu si mahasiswa melarat membenarkan sekali lagi.maka nenek tua itu menjadi geram..

"Kurang ajar ! anak dan mantuku justeru tewas ditangan mereka......!"

Terbelalak sepasang mata si mahasiswa melarat Kiang Su Gee.sebab dia memang tidak pernah mengetahui atau mendengar tentang peristiwa itu..

"Dan siapa nama suaminya nyonya muda ini....?"

Nenek Soen Cay Hee yang menanya."Lim Thong Hok......"

Sahut Oey Lan lng mendahului si mahasiswa melarat Kiang Su Gee.membikin si nenek Soen yang ganti jadi terbelalak sepasang matanya sedangkan Oey Lan Ing juga ikut menjadi terbelalak waktu dia mengawasi kesuatu arah.oleh karena adanya tiga orang yang sedang mendatangi yakni Soen Put Jie yang didampingi oleh Gak Siao Cu berdua Lim Thong Hok !

Waktu Soen lo naynay sedang melayani kedua tamunya.si mahasiswa melarat Kiang Su Gee dan Oey Lan Ing.maka Soen Put Jie telah pergunakan kesempatan itu buat dia menemui Gak Siao Cu di ruangan belakang.sebab dia ingin menyampaikan berita yang menyangkut urusan kitab perguruan See gak hua Seng pitkip yang dia curi secara tidak disengaja..

Maka terjadi keributan antara Gak Siao Cu dengan Lim Thong Hok yang rahasianya ketahuan.bahwa dia sudah punya bini tetapi mengaku masih perjaka.sampai kemudian mereka keluar dan keadaan menjadi bertambah pelik.sebab Oey Lan Ing juga marah kepada Lim Thong Hok.yang dikatakan sudah menghianati kasih sayangnya.padahal dia setia tidak kena goda dan bujuk rayu sang adik ipar.Lim Thong Bu !

Untung ada si mahasiswa melarat Kiang Su Gee yang berhasil mengatasi suasana yang serba ribut itu.sedangkan nenek Soen tak sudahnya mengurut dada.melihat kelakuan orang orang muda jaman sekarang !

Nenek tua Soen Cay Hee adalah dedengkot orang orang See gak hua kunbun golongan hurup "hee"..

Di luar dugaannya.pada suatu hari dia menerima kitab perguruan See gak Seng pitkip bahkan yang tidak ada artinya buat dia.sebab nenek tua itu tidak mau mengetahui tentang rahasia masing masing golongan atau pihak.sebaliknya Soen Put Jie yang tidak mengetahui tentang adanya sengketa pada orang orang See gak hua kunbun.menganggap kitab perguruan itu ada kepentingannya dengan sang nenek..

Adalah setelah kedatangan Lim Thong Hok.maka nenek Soen mempunyai suatu gagasan bahwa alangkah baiknya jika antara hurup "seng"

Dan hurup "hee"

Terjalin suatu ikatan.artinya dia akan nikahkan cucunya dengan Lim Thong Hok; lalu dia akan membantu Lim Thong Hok belajar ilmu silat See gak hua kunbun golongan hurup "seng"

Berdasarkan kitab perguruan yang ada padanya untuk selanjutnya antara hurup "seng"

Dan hurup "hee".akan dia ciptakan suatu ilmu gabungan..

Akan tetapi kemudian terjadi kitab perguruan See gak hua Seng pitkip dicuri seseorang dan Lim Thong Hok ketahuan rahasianya yang ternyata sudah beristeri sehingga buyar semua idaman hati si nenek Soen yang jadi mengurut ngurut dada.

"Lo naynay.kitab itu aku yang curi dan aku yang berikan kepada adikku Lim Thong Bu.. Dia belum kawin.cocok benar buat jadi suaminya Gak moay.dan gagasan lo naynay dapat dilaksanakan...."

Kata Lim Thong Hok setelah mengetahui maksud kehendak nenek Soen Cay Hee..

Si mahasiswa melarat Kiang Su Gee menjadi tertawa waktu dia mendengarkan perkataan Lim Thong Hok.sedangkan nenek Soen meringis dan Oey Lan Ing menangis.sambil nyonya muda ini memberitahukan bahwa Lim Thong Bu sudah tidak dapat dipercaya; sebab katanya sudah berhianat menjadi muridnya Hui Pouw Kong Jin..

Lim Thong Hok tidak percaya bahwa adiknya mau jadi penghianat bagi perguruan mereka..

"Didalam hal ini.tentu ada apa apa yang perlu kita selidiki dulu.. ,........"

Demikian kata Lim Thong Hok yang kelihatan menjadi cemas memikirkan adiknya..

"Atau dia terkena racun bius.suatu cara lama yang khas dari si Rase terbang Pouw Kong Jie......"

Si mahasiswa melarat Kiang Su Gee ikut berikan pendapatnya.sehingga si nenek Soen menjadi teringat lagi dengan pengalaman lama..

"Manusia jejadian itu benar benar sangat ganas tidak mengenal tobat.masih saja dia merajalela .. ,!"

Kata nenek Soen yang datang marahnya..

"Moay moay.marilah kita bantu anak anak ini.,,"

Akhirnya kata Kiang Su Gee kepada nenek Soen..

"Apa tadi kau bilang .... ?"

Sahut nenek Soen yang terkenang dengan lagu lama.karena adanya istilah "moay moay" yang digunakan oleh si mahasiswa melarat Kiang Su Gee..

"Moay moay......"

Ulang Kiang Su Gee yang lalu tertawa dan mengusap jenggotnya yang putih panjang..

"Aku setuju ! mari kita berangkat sekarang,....!"

Dan nenek Soen langsung berdiri dari tempat duduknya hendak masuk kekamarnya buat dia berkemas.akan tetapi sempat dia berkata kepada Gak Siao Cu.

"Kau juga ikut........"

Dan disepanjang perjalanan menuju kota Tung hay koan.kakek dan nenek tua itu tak sudahnya saling ganti bicara.membicarakan urusan tempo dulu selagi mereka merajalela dikalangan rimba persilatan.sedangkan Oey Lan Ing ogah bicara dengan suaminya.karena merasa cemburu akibat perbuatan Lim Thong Hok yang mengaku masih perjaka sedangkan Gak Siao Cu juga ogah bicara dengan calon suami yang batal itu karena dara manja ini juga merasa telah dipermalukan..

Akibatnya.Lim Thong Hok jadi jalan seorang diri dibagian paling belakang.sedangkan Oey Lan Ing dan Gak Siao Cu mengapit Soen Put Jie yang juga ikut dalam perjalanan itu..

Ketika rombongan ini tiba di kuil Sam yang tong.maka Hoan Jin Ong mati daya tidak dapat ingkar dari perbuatannya yang sudah berkomplot dengan Ouw bin liong Kwee Ong dan Hui ho Pouw Kong Jin akan tetapi sayangnya si naga muka hitam Kwee Ong berdua si Rase terbang Pouw Kong Jin sudah menghilang membawa kitab perguruan See gak hua Seng pitkip.sehingga kedatangan rombongan nenek Soen ini hanya berhasil menolong Lim Thong Bu..

Kuil Sam yang tong selanjutnya diurus oleh Liauw hoan hweeshio yang pernah menolong Lim Thong Hok.sementara Lim Thong Hok bersama isterinya kembali kerumah mereka di dusun Coan in cung..

Dengan demikian keamanan kota Tung hay koan menjadi amat aman lagi.sedang Lim Thong Bu bertekad hendak merebut lagi kitab perguruan See gak hua Seng pitkip.dan untuk menghadapi rombongan si Rase terbang Pouw Kong Jin maka nenek Soen dan kakek Kiang Su Gee mengajak Lim Thong Bu kedusun Soen kee po buat mendidik dalam suatu ilmu khusus yang dulu pernah digunakan oleh si kakek berdua si nenek.waktu mereka menghadapi dan mengalahkan si Rase terbang Pouw Kong jin..

Tiga bulan lamanya Lim Thong Bu menetap di dusun Soen kee po.dan selama itu hubungannya dengan Gak Siao cu menjadi akrab.lalu mereka berjanji akan menikah kalau Lim Thong Bu sudah berhasil merebut kitab perguruan See gak hua Seng pitkip..

Adalah selama melakukan perjalanan mencari jejak si Rase terbang Pouw Kong Jin.maka Lim Thong Bu ikut bersatu dengan para pendekar penegak keadilan.dan ikut mengganyang markas kegiatan si iblis penyebar maut alias Han bie kauwcu.sehingga pemuda ini jadi berkenalan dengan Cie in suthay.biarawati muda usia yang cantik jelita dan perkasa..

Biarawati yang muda usia itu bagaikan baru sadar dari lamunannya.waktu dia mendapati ruang tamu sudah sunyi senyap.hanya ada dua orang tamu yang masih saling membicarakan tentang adanya seorang biarawati muda usia yang sinting dan seorang mahasiswa abadi yang masih muda usianya..

Sekali lagi Cie in suthay bersenyum seorang diri lalu dia bangun berdiri dan dengan langkah kaki seenaknya dia meninggalkan ruang makan itu.untuk dia menuju ke kamar yang sudah dia sewa.diikuti oleh pandangan mata ketiga orang orang tadi..

Sampai larut malam Cie in suthay tidak dapat pulas tertidur meskipun sejak tadi dia sudah rebah diatas ranjang dengan sepasang mata rapat dia tutup namun pikirannya jauh terbang melayang.mendahului bertemu dengan si macan terbang Lie Hui Houw.guna mengatur siasat buat menghadapi orang orang gelandangan di kota Hie ciang nanti..

Suatu bau harum kemudian memenuhi kamar tidur Cie in suthay.dan bhiksuni yang muda usia ini sampai jadi terangsang..

Jantungnya memukul seperti mengajak dang dut dengan napas sengal sengal.seperti orang kepanasan di padang gurun pasir..

("o mie to hud....!") Cie In suthay memuji didalam hati.karena dia menyangka bahwa dia tergila gila dengan si macan terbang Lie Hui Houw..

Akan tetapi.saat itu dia cepat teringat dengan semacam asap dupa yang dapat membikin orang jadi lupa daratan.sehingga selekas itu juga dia mengerahkan tenaga dalamnya dan menutup hidungnya sambil dia tetap rebah seperti lagaknya orang yang sudah pulas tertidur..

Tanpa perdengarkan banyak suara.jendela kamar tidur Cie in suthay kemudian dibuka orang dari sebelah luar.dan sesaat kemudian muncul seorang yang menutup sebagian mukanya memakai sehelai saputangan sutera.namun dari pakaiannya Cie in suthay dapat mengenali bahwa orang itu adalah si mahasiswa abadi.yang pada mulanya dia duga sebagai Soan siucay Cie Poan Ciang..

("ternyata dia adalah si mahasiswa cabul......") kata Cie in suthay didalam hati.sebab dia teringat dengan seorang pemuda yang bernama Oey Cin Siu.tukang perkosa anak perawan yang memiliki wajah muka mirip dengan Soan siucay Cie Poan Ciang sehingga banyak orang orang yang seringkali jadi salah paham..

Oey Cin Siu sebenarnya adalah salah seorang muridnya Tiat tauw ciang Cee Kay Bu.si kepala besi yang jadi pendeta gadungan.atau yang baru dibinasakan oleh Lim Thong Bu..

Sebenarnya Oey Cin Siu jalan bersama sama dengan gurunya.akan tetapi mereka berpisah sebab di kota Liong bun koan Oey Cin Siu kena dipikat oleh bini orang yang punya lirikan mata maut.dan senyum manis mengundang lebah..

Perempuan muda itu bininya seorang siucay melarat.yang tidak punya duit buat memenuhi kehendak bininya.sebaliknya Oey Cin Siu yang menjadi mahasiswa abadi.punya kepandaian mencuri lewat atas genteng rumah orang orang kaya; sehingga perempuan perempuan mati-matian memikat tak perduli suaminya telah melihat bininya main gila!

Akan tetapi.suami yang malang ini tidak berdaya bersaing dengan Oey Cin Siu.yang mahir ilmu silatnya dan banyak duitnya sampai yang malang itu hidup merana jadi orang gelandangan yang sinting..

Perempuan muda itu tertawa girang waktu melihat suaminya jadi orang gelandangan.dia merasa bebas sebab sudah jadi janda.akan tetapi dia tidak mengetahui bahwa Oey Cin Siu cepat bosan.dan pemuda ini hampir hampir meninggalkan kota Liong bun koan kalau petang itu dia tidak tergila gila dengan senyum manis dari seorang biarawati muda usia yang cantik jelita..

Banyak pengalaman Oey Cin Siu terhadap berbagai macam perempuan akan tetapi belum pernah dia main cinta dengan seorang biarawati.sebab dia selalu kalah cepat dengan gurunya si kepala besi Cee Kay Bu..

Sekarang dia baru bisa bertemu dengan seorang biarawati yang muda usia selagi gurunya tidak ada disisinya; sehingga tidak mau dia membuang kesempatan itu..

Akan tetapi waktu Oey Cin Siu sedang menutup lagi daun jendela kamar yang sudah dia masuki.maka dilihatnya bhiksuni yang muda usia itu sedang duduk diatas ranjang.dan memaki dia..

"Penjahat maksiat.malam ini sudah sampai waktunya untuk kau bertobat......"

Hanya sejenak Oey Cin Siu menjadi terkejut dan didalam hati dia menyadari bahwa dia sedang berhadapan dengan seorang bhiksuni yang bukan sembarang bhiksuni terbukti obat biusnya kehilangan khasiat..

Sebelah tangan Oey Cin Siu bergerak cepat melepaskan dua batang piao yang ditujukan kebagian kaki biarawati yang muda usia itu.

akan tetapi Cie in suthay dengan tangkas sudah lompat menghilang.dan tahu tahu dia sudah berada disebelah belakang Oey Cin Siu..

Oey Cin Siu menjadi kaget.karena merasa adanya angin tidak wajar yang menyamber dibagian punggungnya..

Dia Iompat tiga langkah kedepan sambil dia memutar tubuh.dan secepat itu pula dia sudah memegang sebatang pedang yang tajam..

Cie in suthay menjadi geram.karena pemuda itu berhasil menghindar dari serangan yang pertama..

Tanpa menghiraukan penjahat itu memegang pedang.sekali lagi Cie in suthay memukul memakai kebutannya.bergerak dengan ilmu seekor naga bermain di ombak.sehingga Oey Cin Siu jadi kelabakan harus berusaha menghindar dari serangkaian serangan yang tak sudahnya.sampai dengan nekad Oey Cin Siu menerjang jendela kamar memakai kepalanya buat dia lari keluar dari kamar maut itu !

Biarawati yang muda usia itu menjadi bertambah geram.tak mau dia membiarkan perusak kaum wanita itu kabur seenaknya.hendak dia bikin penjahat itu bercacad supaya habis ilmu kepandaiannya.agar tidak lagi penjahat itu dapat mengulang perbuatannya..

Sekali lagi kebutan Cie in suthay bekerja.selagi Oey Cin Siu hendak lompat keatas genteng..

Gerak kebutan itu bagaikan seekor naga yang melibat tiang.karena bagian bawah betis Oey Cin Siu yang kena dilibat..

Akan tetapi licin bagaikan belut pindah liang.sebelah kaki yang sedang kena libat itu berputar; sampai bebas dari libatan; sementara sebelah kaki Oey Cin Siu yang lainnya telah menekan kaki yang bekas kena libatan.sehingga sekali lagi tubuh Oey Cin Siu melesat ke atas genteng dan kabur..

"Kurang ajar......!"

Maki Cie in suthay yang tidak menduga penjahat itu tinggi ilmunya dan dengan hati penasaran dia kerahkan ilmu leng pou hui pu sehingga tubuhnya yang lincah bagaikan seekor capung yang bermain di atas air.melesat dan mengejar sehingga sesaat kemudian.sekali lagi Cie in suthay mainkan kebutannya bagaikan senjata cambuk maut !

Oey Cin Siu jadi mengeluh didalam hati.tidak pernah dia menduga bahwa malam ini dia bakal bertemu dengan seorang biarawati muda yang sakti ilmunya..

Dia terpaksa membuang dirinya dari atas genteng dan bergulingan jatuh kebawah sehingga sekali lagi dia nyaris dari kebutan biarawati yang muda usia itu akan tetapi sekali lagi dia jadi mengeluh.karena jatuhnya justeru sudah ditunggu oleh Cie in suthay..

Bagaikan seekor naga yang sakti.kebutan Cie in suthay memecut muka Oey Cin Siu sampai muka itu keluar darah dan Oey Cin Siu berteriak kesakitan.akan tetapi dengan nekad pemuda itu menikam memakai pedangnya.bagaikan seekor ular yang menyemburkan bisa..

Cie in suthay menghilang dan pindah tempat kebagian belakang Oey Cin Siu.lalu sekali lagi dia menyabet bagaikan dia sedang membersihkan meja sembahyang dan kali ini Oey Cin Siu jatuh tengkurap dengan muntahkan darah segar dari mulutnya.lalu bertepatan dengan itu.dua jari tangan Cie in suthay hinggap di bagian iga pemuda itu.karena dengan ilmu menotok jalan darah.biarawati yang muda usia itu sudah menghabiskan ilmu yang dimiliki oleh Oey Cin Siu tanpa pemuda itu menjadi tewas nyawanya..

0000dwkzOhendObbsc0000 ANGIN pagi yang berasal dari gunung Ceng liong san meniup sepoi sepoi dipagi hari yang cerah itu..

Seorang biarawati muda usia yang cantik jelita sedang duduk bicara dengan seorang pemuda tampan yang kelihatan terpaksa..

Mereka adalah Cie In suthay dan si macan terbang Lie Hui Houw..

Saat itu mereka sedang duduk dihalaman belakang dari rumahnya almarhum Kim to Hau Beng Yao didusun Liong bun tin.yang letaknya tidak terpisah jauh dengan letak gunung Ceng liong san..

Kim to Hua Beng Yao merupakan teman akrab dari si macan terbang yang menjadi sam ceecu dari Ceng liong pang persekutuan naga hijau..

Kemudian sam ceecu kena fitnah dan ditangkap oleh pemerintah penjajah bangsa Mongolia serta dikabarkan sudah tewas didalam rumah penjara sehingga Kim to Hua Beng Yao hidup merana mengusahakan kedai nasi sampai anak perempuannya Hua Mu Lan menikah..

Dua puluh tahun kemudian.setelah negeri Cina bebas dari tentara penjajah.maka Lie Hui Houw mendapat tugas dari gurunya.buat dia menyamar menjadi "si macan terbang bekas sam ceecu Ceng liong pang..

Maksudnya untuk menyelidiki mencari si penghianat lalu membalas dendam bekas sam ceecu dari Ceng liong pang itu..

Setelah berhasil menunaikan tugasnya itu.Lie Hui Houw kembali menjadi seorang pemuda tampan.akan tetapi tetap mendapat gelar si macan terbang.karena sesungguhnya dia sudah memiliki semua ilmu bekas sam ceecu Ceng liong pang..

Pemuda Lie Hui Houw berada didusun Liong bun tin; habis mengantar Cin Siao Yan yang sudah menjadi calon isterinya.dan kakek Cin sudah memutuskan untuk menetap di dusun itu.sambil dia menemani Hua Mu Lan dan suaminya yang mengusahakan kedai nasi Kim to Hua Beng Yao..

Cerah wajah muka Cie in suthay secerah sinar matahari pagi itu.waktu dia bicara berhadapan dengan si macan terbang Lie Hui Houw yang mendengarkan dengan penuh perhatian sambil kadang kadang dia menanyakan sesuatu yang dia anggap tidak jelas atau kurang jelas.sedangkan Cie in suthay dengan teliti dan cermat selalu memberikan jawaban atas pertanyaan pemuda itu dengan muka yang selalu dihias dengan seberkas senyum yang manis..

"Apakah kalian belum cukup puas setelah tiga hari mengobrol berdua.. ,.. ?"

Tiba tiba tanya Cin Siao Yan yang datang menggoda.akan tetapi yang berhasil membikin muka Cie in suthay berobah merah.sedangkan Lie Hui Houw menunduk malu..

Dara Cin Siao Yan yang biasanya berlaku manja tentunya akan merasa cemburu kalau Lie Hui Houw berada berdua dengan lain perempuan.apalagi sampai tiga hari lamanya mereka bicara tanpa mau diganggu oleh lain orang..

Akan tetapi pada saat itu yang datang adalah Cie in suthay.biarawati muda usia yang tinggi ilmunya dan yang sudah dia kenal dengan baik sehingga Cin Siao Yan membiarkan kekasihnya dipinjam.sebab katanya biarawati yang muda usia itu datang dari jauh dengan membawa suatu berita penting..

Sementara itu Cie in suthay yang sudah dapat mengatasi diri.lalu dengan tetap menyertai senyumnya dia berkata..

""Sudah beres.sudah beres.jangan takut aku rebut kekasihmu......"

Ganti Cin Siao Yan yang merah wajah mukanya.akan tetapi dia tertawa dan memang sudah terbiasa dengan sikap Cie in suthay yang masih gemar berkelakar..

"Sebenarnya.ada urusan apa yang demikian pentingnya........?"

Tanya Cin Siao Yan kepada calon suaminya.akan tetapi Lie Hui Houw tidak berani menjawab.sebaliknya pemuda itu mengawasi Cie in suthay bagaikan dia menanyakan pendapatnya biarawati yang muda usia itu..

"Hanya mengenai urusan orang orang gelandangan........"

Sahut Cie in suthay.tetap dengan menyertai seberkas senyum yang cerah..

"Hayaaa! urusan orang orang gelandangan! mengapa kalian harus menyimpan rahasia dihadapanku........?"

Cin Siao Yan menanya lagi.merasa penasaran dan perlihatkan lagak seperti orang merasa tidak senang..

Cie in suthay sekarang menjadi tertawa dan biarawati yang muda usia ini merasa tidak ada halangannya buat dia mengatakan kepada Cin Siao Yan mengenai sengketa orang orang gelandangan di kota Hie ciang akan tetapi terbatas dengan hal hal yang memang tidak perlu dirahasiakan..

Oleh karenanya itu sekali lagi Cie in suthay bicara khusus kepada dara Cin Siao Yan sehingga Lie Hui Houw merasa tidak ada gunanya buat ikut mendengarkan.sebab semua yang dikatakan oleh Cie in suthay sudah lebih dahulu dibicarakan dengan dia..

Sementara itu hari sudah mulai malam ketika seorang laki laki setengah baya memasuki sebuah kedai arak..

Seorang perempuan tersenyum sumbing mengawasi.dan usia perempuan ini sedikit lebih muda dan laki laki yang baru masuk..

Dia sedang duduk minum arak seorang diri sebab dia sudah terbiasa hidup bebas dikota Hie ciang yang kian hari makin tidak mengenal moral penuh dengan berbagai macam perbuatan maksiat..

Laki laki yang baru masuk itu agak basah pakaiannya.sebab diluar kedai arak itu air hujan mulai membasahi bumi..

Sekilas sepasang mata laki laki itu melirik lalu dia memilih tempat duduk yang memang banyak kosong.tidak jauh terpisah dengan tempat perempuan itu duduk seorang diri..

Disaat laki laki pendatang baru itu memanggil seorang pelayan.maka perempuan itu berdiri dari tempat duduknya.lalu dia mendekati sambil ditangannya dia membawa mangkok araknya yang sudah kosong..

Perempuan itu bersenyum sementara sinar matanya redup bagaikan api lilin yang hampir padam dan laki laki pendatang baru itu juga ikut perlihatkan senyumnya..

"Boleh aku duduk disini........"

Perempuan itu yang bersuara menyapa dengan suara yang terdengar serak basah..

"Silahkan......"

Sahut laki laki pendatang baru itu.bertepatan dengan datangnya si pelayan dan laki laki pendatang baru itu lalu memesan arak berikut penganannya buat dia berdua dengan perempuan itu..

Perempuan itu kemudian duduk dihadapan laki laki pendatang baru yang belum dikenalnya itu dan untuk sejenak keduanya berdiam.sampai pelayan datang membawa dan menuang arak buat mereka berdua..

"Silahkan...."

Undang laki laki itu mengajak perempuan itu minum.dan dengan sekali teguk perempuan itu menghabiskan isi mangkoknya..

("hebat juga.dia....!") pikir laki laki itu di dalam hati.akan tetapi dia diam hanya mengawasi.sampai perempuan itu juga ikut mengawasi..

"lngin ngamar......?"

Tiba tiba tanya perempuan itu; langsung kepada maksud kehadirannya.. Laki laki pendatang baru itu menggeIengkan kepalanya akan tetapi perlihatkan senyumannya yang terasa hambar..

"Akh ! rupanya kau tertolong sama dengan orang orang yang sedang berduka cita itu......"

Perempuan itu berkata menggerutu.sambil dia menunduk mengawasi isi mangkok araknya yang sudah kosong..

"Maksud kau tertolong,....?"

Perempuan muda itu menengadah dan memutus perkataan laki laki pendatang baru itu .

"Yah.. Tertolong dengan orang orang yang sedih karena tewasnya Ouw Beng Tek.orang gelandangan yang hidupnya jadi bajingan......"

Dan perempuan itu menjadi tersentak diam.sebab dia mendengar bunyi suara si pengurus kedai yang sengaja memukul meja sambil sepasang mata si pengurus kedai itu mengawasi perempuan yang sedang menemani dan bicara dengan laki laki pendatang baru itu..

Sementara itu.laki laki itu segera ikut mengawasi kearah tempat duduk si pengurus kedai lalu ganti lagi dia mengawasi perempuan yang duduk dihadapannya.yang pada waktu itu sudah menundukkan kepala lagi habis melihat ketempat pengurus kedai duduk..

"Akh ! perduli apa aku dengan bajingan itu.. Dulu juga hidupnya hanya menjadi seorang gelandangan biasa.sampai dia mempunyai kedudukan jadi tukang peras.termasuk aku jadi salah satu orang yang dia peras sampai dia mampus dibunuh orang......"

"Sui Hwa tutup mulutmu...... !"

Teriak pengurus kedai dengan sepasang mata melotot mengawasi dari tempat duduknya..

"Hmm! dasar laki laki pengecut......"

Perempuan itu bersuara menggerutu perlahan ditujukan kepada si pengurus kedai.lalu selekas itu juga dia menambahkan perkataannya..

"...... semua orang orang disini bukan cuma orang orang gelandangannya saja.bahkan semua pada senang Ouw Beng Tek mampus.. Sebagian sebab merasa bebas dari pemerasan dan sebagian pada mempunyai kesempatan hendak merebut kekuasaan......"

"Sudah kukatakan.tutup mulutmu......!"

Si pemilik kedai berteriak lagi dan dia bahkan datang mendekati..

"Baik.lao ya........"

Kata perempuan itu dengan perlihatkan senyum mengejek.yang ditujukan kepada si pengurus kedai.dan dia bahkan meneruskan perkataannya..

" ........ kau lihat.disini tidak ada tamu lain.jadi jangan kau takut omonganku ini ada lain orang yang ikut mendengarkan......" ( Lao ya tuan tua.atau tuan besar ) Si pemilik kedai itu kelihatan bersungut.sementara perempuan itu lalu ganti mengawasi tamu laki laki yang duduk dihadapannya.sambil dia menyambung bicara .

",.. .kau tahu.apa sebabnya ada golongan orang orang yang berduka cita.disamping ada golongan orang orang yang bergembira ..?"

"Kenapa....?"

Tanya laki laki itu perlihatkan lagak ingin mengetahui..

"Tetapi.aku ingin minum lagi ...."

Perempuan itu berkata seolah olah dia ingin "menjual" keterangan..

"Tidak....!"

Si pelayan tua itu yang bersuara mencegah dengan suara setengah berteriak.sementara sepasang matanya kelihatan melotot lagi..

"Berikan ! aku yang bayar..!"

Sahut tamu laki laki pendatang baru itu dengan suara yang terdengar geram..

Sejenak si pemilik kedai mengawasi tamunya.akan tetapi dia tidak berani lagi membantah karena melihat sinar mata laki laki itu yang menyala merah.dan dia cepat cepat memanggil seorang pelayan..

"Nah.ceritakanlah sekarang......"

Kata tamu laki laki itu.setelah pelayan menambah arak mereka..

"Baik...... baik.. Kau memang laki laki jantan...... !"

Kata perempuan itu sambil dia minum araknya sekaligus habis lagi isi mangkoknya itu..

Jilid 24

"SEMUA bajingan disini, baik dari kelompok orang orang gelandangan maupun bajingan bajingan berkedok jadi pengusaha dan sebagainya pada saling cakar hendak merebut kekuasaan Ouw Beng Tek yang sudah mampus. Dan saling cakar itu ini, sekarang sudah menjadi saling berkelahi bahkan saling bertempur secara berkelompok..!"

"Akan tetapi ternyata bukan kejadian itu yang menyebabkan mereka berduka cita..."

Kata tamu laki laki itu sebab dilihatnya perempuan itu tidak meneruskan perkataannya.

"Memang bukan itu, akan tetapi aku ingin minta minum lagi,.."

Laki laki pendatang baru itu menambah isi mangkok perempuan itu dari poci arak yang ada d atas meja dan perempuan itu lalu berkata lagi, setelah lebih dulu dia menghabiskan isi mangkoknya.

"Yang membikin mereka jadi berduka cita, adalah sebab mereka takut dengan Lim Tiong Houw..!"

Sejenak laki laki itu menatap tajam; akan tetapi bagaikan tak acuh perempuan itu mejelaskan perkataannya.

" ... kau kenal siapa Lim Tiong Houw itu...?"

"Sui Hwa ..!"

Lagi lagi si pemilik kedai berteriak melarang.

"Tutup mulutmu ... !"

Tamu laki laki itu ikut berteriak merasa habis sabar, sambil dia mengawasi ketempat pemilik kedai itu duduk.

"Akh ! suara kau memaki, benar benar suara seorang laki laki jantan...!"

Perempuan itu memuji sambil bersenyum, lalu dia menambahkan lagi perkataannya.

",.,dulu Lim Tiong Houw juga memiliki suara seperti kau; suara seorang laki laki jantan, sebab dia memang benar benar seorang laki laki jantan, sehingga dia lebih ditakuti daripada Ouw Beng Tek..,"

"Antara Lim Tiong Houw dan Beng Tek, siapa yang lebih berkuasa...?"

Tanya laki laki pendatang baru itu dengan penuh perhatian selagi perempuan itu menunda bicara.

"Tentu Lim Tiong Houw ! dia lebih galak, lebih jahat dari Ouw Beng Tek. Dia pandai melepas piao yang berarti maut bagi orang-orang yang coba menentang dia; akan tetapi dia akrab sekali dengan Ouw Beng Tek, melebihi dari saudara sekandung sehingga dia pasti akan kembali kalau dia mengetahui Ouw Beng Tek sudah mampus,,,"

"Apa benar,,?"

Laki laki pendatang baru itu menanya seperti ingin menegaskan.

"Benar ! dari itu sebagian bajingan bajingan itu jadi pada ketakutan, pada berduka cita, tidak perduli kelompok orang orang gelandangan atau apa saja, sebab mereka semua mengetahui betapa akrabnya Lim Thong Houw dengan Ouw Beng Tek. Sejak kecil mereka selalu berdua, mereka telah mengucap sumpah setia. Kalau ada yang seorang kena celaka, yang lain pasti akan membela ... !"

"Akan tetapi mengapa dulu Lim Tiong Houw pergi ...?"

Laki laki pendatang baru itu menanya lagi.

"Ha ha ha ... !"

Perempuan itu tertawa, sebelum dia memberikan penjelasannya, setelah itu baru dia berkata.

"... Lim Tiong Houw adalah seorang laki laki jantan yang berjiwa besar. Dia menganggap tidak ada gunanya menguasai sebuah perahu kecil harus berdua, dari itu dia pergi hendak menguasai kota yang lain ..."

"Ternyata kau banyak mengetahui tentang dia ..."

Laki laki itu berkata lagi, sementara nada suaranya terdengar berobah agak perlahan lunak.

Perempuan itu menengadah dan mengawasi sinar sepasang matanya yang redup; sekilas kelihatan menyala seperti menyimpan dendam lama.

"Lim Tiong Houw adalah seorang bajingan, dia tetap bajingan meskipun dia memiliki jiwa besar dan sikap jantan. Aku benci dia melebihi kebencianku terhadap Ouw Beng Tek. Kalau Lim Tiong Houw ada yang bunuh mati, akan aku ludahi mayatnya, seperti aku meludahi mayatnya Ouw Beng Tek ..."

"Siao moay ..."

Terkejut perempuan itu yang sedang bicara marah marah, ketika didengarnya laki laki itu bersuara memakai istilah "siao moy" atau "adik kecil", akan tetapi selekas itu juga dia berkata lagi, dengan suara yang berobah agak lunak.

"Jangan panggil aku dengan istilah itu, aku benci sebab dulu Lim Tiong Houw juga memakai istilah itu .. ,"

"Akan tetapi; aku senang memakai istilah itu siao moay .."

Kata tamu laki laki itu menegaskan, dan mengulang lagi memakai istilah "siao moay".

"Kau...!"

Sekali lagi perempuan itu mengawasi, akan tetapi dengan sepasang mata membelalak, lalu semakin bertambah perlahan ketika dia menyambung bicara.

"... siapakah kau.. ?"

"Lim Tiong Houw ..."

Sahut laki laki itu dan perlihatkan sedikit senyumnya.

Kian redup sinar sepasang mata perempuan itu, lalu dia menempatkan kepalanya diatas meja makan, beralas sepasang telapak tangannya dan dia pulas tertidur lupa daratan, karena terlalu banyaknya dia minum arak.

Sementara itu, si pemilik kedai juga sempat ikut mendengarkan pengakuan laki laki pendatang baru itu, yang mengatakan dia bernama Lim Tiong Houw.

Tubuhnya sampai gemetar dan bertambah gemetar waktu dilihatnya Lim Tiong Houw melangkah mendekati tempat duduknya, sehingga cepat cepat dia bangun berdiri buat memberi hormat.

Lim Tiong Houw membayar harga minuman yang dipesan tadi, suatu kebiasaan yang menyimpang dengan kebiasaannya dulu sebab sepuluh tahun yang lalu; dimana saja dia datang makan atau minum, tidak pernah dia membayar sebaliknya orang orang yang berusaha pada membayar uang iuran kepadanya, sebab dia adalah dedengkot orang orang gelandangan yang menguasai keamanan kota Hie ciang dengan pengaruh kekuasaan yang melebihi pejabat Pemerintah setempat.

Sebelum meninggalkan kedai arak itu Lim Tiong Houw memerlukan menanya alamat si perempuan lacur adalah yang bernama Sui Hwa, atau yang sedang mabok itu, dan si pemilik kedai cepat cepat memberitahukan sambil dia berulangkali mengucap terima kasih; sebab Lim Tiong Houw tidak merugikan usaha kedai itu yang sudah hampir bangkrut!

Saat itu hujan sudah tidak turun lagi, akan tetapi jalan jalan raya dikota Hie ciang banyak yang digenangi oleh air hujan sehingga Lim Tiong Houw lalu pulang ketempat dia menginap.

Didalam kamarnya, Lim Tiong Houw masih memikirkan tentang pembicaraan dengan perempuan lacur yang bernama Sui Hwa tadi, dan dia terkenang dengan masa lalu, waktu dia masih sama sama memegang kekuasaan dengan Ouw Beng Tek.

Kembalinya dia ke kota Hie ciang setelah sedemikian lamanya dia menghilang, memang akan mendatangkan berbagai tanggapan dari orang orang atau golongan golongan yang sedang terpecah belah.

Sebagian orang orang tentu akan ada yang menduga atau menuduh dia yang melakukan pembunuhan terhadap diri Ouw Beng Tek, sebab dengan tewasnya Ouw beng Tek; maka kedudukan sebagai pimpinan orang orang gelandangan dikota Hie ciang akan kembali ke tangannya dan sekaligus dia bakal memiliki segala harta yang dipupuk dan disimpan oleh Ouw Beng Tek sebab tempat penyimpanan harta itu hanya dia berdua Ouw Beng Tek yang mengetahui.

Sebagian lagi orang orang tentunya memang ada yang merasa khawatir dengan kembalinya Lim Tiong Houw, dan orang orang atau golongan yang merasa khawatir itu, justeru adalah orang orang atau golongan golongan yang sedang mempunyai harapan buat merebut kekuasaan.

Mereka khawatir kekuasaan itu akan kembali kepada Lim Tiong Houw, sesuai seperti perjanjian yang dulu Lim Tiong Houw lakukan bersama Ouw Beng Tek dan orang orang atau golongan golongan yang merasa khawatir kehilangan kesempatan berkuasa itu, sudah pasti akan berusaha mengenyahkan Lim Tiong Houw, dengan cara dan daya apapun juga !

Sementara itu malam pun menjadi semakin larut, dan Lim Tiong Houw masih tetap memikirkan masa lampau maupun dengan hari hari yang bakal dia hadapi.

Sepasang telinganya yang tajam dan terlatih, kemudian mendengar adanya suara yang tidak wajar diatas genteng, tempat dibagian atas kamar yang dia sewa di rumah penginapan itu.

Lim Tiong Houw lalu memusatkan semua perhatiannya, sampai dia yakin bahwa ada dua orang yang sedang berada diatas genteng kamarnya, lalu kemudian dia mengetahui juga bahwa kedua orang itu telah lompat turun dari genteng, untuk mereka mengintai dekat jendela kamarnya.

Lim Tiong Hauw tetap diam rebah diatas tempat tidurnya, akan tetapi dia bersikap waspada menunggu, akan tetapi kenyataannya kedua orang yang berada d luar jendela kamar itu tidak melakukan sesuatu, sampai mereka kemudian pergi meninggalkan tempat itu.

O)hend(dwkz)bbsc(O HO SUN PIN bekerja di kantor pejabat pemerintah setempat sebagai calon perwira muda.

Dia terkenal rajin sejak dia masih merupakan bocah yang ingusan, dan pada waktu dia berusia empat belas tahun, dia sudah mulai bekerja, karena ayahnya adalah seorang pemabuk yang tidak mau membeayai anaknya sekolah, sedangkan ibunya hanya pandai merajut yang tidak banyak penghasilannya.

Sebagai seorang yang bertugas sebagai alat negara, Ho Sun Pin tidak menyukai dengan keadaan didalam kota Hie ciang, akan tetapi dia tak berdaya menghadapi atasannya yang biasa menerima uang suap, menutup mata dan telinga menghadapi berbagai perbuatan maksiat yang dilakukan oleh orang orang atau kelompok orang orang yang banyak hubungannya dikalangan pejabat pemerintah.

Oleh karena itu, Ho Sun Pin menyimpan rasa benci terhadap atasannya, juga terhadap rekan rekan sejawatnya, bahkan dendam kepada kota Hie ciang yang kian hari menjadi bertambah gila keadaannya.

Pagi itu Ho Sun Pin sedang tugas luar, sehingga dia sempat singgah di kedainya Wong Lay Kun untuk dia menikmati bubur ayam kegemarannya.

Umur Wong Lay Kun sudah enampuluh tahun lebih, akan tetapi tubuhnya masih kuat dan dia sudah lama mengusahakan kedainya, yang banyak dikunjungi orang orang yang menjadi langganannya, seperti pagi itu kelihatan penuh sesak sampai tidak ada lagi tempat yang kosong.

Lim Tiong Houw datang dan melihat tidak ada lagi tempat buat dia duduk.

Hanya ada sebuah kursi yang kelihatan kosong akan tetapi kursi itu adalah tempat duduknya Wong Lay Kun yang kebetulan sedang bantu melayani tamu.

Tanpa menghiraukan sesuatu, dengan seenaknya Lim Tiong Houw mengangkat kursi itu yang dia bawa kedekat meja tempat Ho Sun Pin duduk makan seorang diri.

Wong Lay Kun hendak marah karena melihat tempat duduknya ada yang angkut, akan tetapi selekas itu juga batal dia marah; karena mendadak dia teringat dengan muka orang yang memindahkan kursinya itu dan dia berdiri diam bagaikan patung yang tidak bergerak.

"Kau! bajingan tengik ... !"

Ho Sun Pin memaki waktu Lim Tiong Houw sudah duduk didekatnya.

Lim Tiong Houw bersenyum nyengir.

Barangkali, dikota Hie Ciang itu hanya Ho Sun Pin satu orang yang berani memaki dia secara berhadapan sebab dulu Ho Sun Pin punya adik perempuan yang saling memadu kasih dengan Lim Tiong Houw.

"Kau masih dendam kepadaku ... ?"

Tanya Lim Tiong Houw yang paksakan diri buat bersenyum.

"Mengapa tidak ... !"

Sahut Ho Sun Pin tegas.

"Sebab Siu Lan .. ,?"

Lim Tiong Houw menanya lagi.

"Bajingan ! sekali lagi kau sebut namanya kau akan mati ....!"

"Hm! apakah sebab sekarang dia sudah menikah...?"

Masih Lim Tiong Houw menanya, tetap terdengar lunak suaranya, meski pun dia agak menyindir.

"Aku tidak perduli, dia sudah menikah atau dia belum menikah,.."

Sahut Ho Sun Pin tetap kelihatan marah.

"Kalau begitu, kau masih tetap menyintai dia,..."

"Kau gila! Dia adalah adikku..."

Agak lunak terdengar nada suara Ho Sun Pin, meskipun masih bernada marah.

"Adik tiri, sebab kau hanya diakui sebagai anak oleh kedua orang tuanya Siu Lan..."

Lim Tiong Houw berkata lagi.

"Bajingan sungguh bajingan kau .."

Dan Ho Sun Pin mengangkat tangan kanannya, buat menyeka hidungnya yang keluar air dan waktu dilihatnya Lim Tiong Houw diam bersenyum, maka dia yang bicara lagi.

"..aku tahu apa sebabnya kau kembali dan memang sudah aku duga kau bakal muncul...."

"Tentu sebab kau kenal aku dan kau tahu betapa akrabnya hubunganku dengan Ouw Beng Tek..."

Sahut Lim Tiong Houw.

"Bukan itu yang pikirkan .. , ."

"Maksudmu ... ?"

Tanya Lim Tiong Houw yang kelihatan merasa heran.

"Kau inginkan kekuasaan Ouw Beng Tek, kau hendak memiliki kekayaan Ouw Beng Tek, itu sebabnya kau muncul .. !"

"Benar ...!"

Sahut Lim Tiong Houw singkat.

"Akan tetapi kau jangan lupa, kau harus berlaku lebih kejam daripada dulu sebelum kau pergi, sekarang kau menghadapi banyak saingan..."

"Dan terhadap orang yang sudah membunuh Ouw Beng Tek, aku harus bertindak lebih kejam lagi. , .!"

Lim Tiong Houw menambahkan. Sejenak Ho Sun Pin mengawasi Lim Tiong Houw dengan sepasang sinar mata menyala, menyimpan rasa benci.

"Dihadapanku, kau tidak perlu lagi bersandiwara...."

Akhirnya kata Ho Sun Pin perlahan dengan nada suara mengejek.

"Maksudmu ..?"

"Kau yang membunuh Ouw Beng Tek, atau setidaknya kau yang telah memerintahkan seseorang buat membunuh Ouw Beng Tek, lalu sekarang kau berlagak hendak menjadi seorang pahlawan, berlagak hendak melakukan balas dendam,. !"

"Tutup mulutmu, .."

Bentak Lim Tiong Houw marah, membikin Ho Sun Pin benar benar jadi terdiam.

"...akan aku buktikan kepadamu, kepada semua orang orang didalam kota ini, akan aku gantung sipembunuh itu, hidup ataupun mati.. !"

Lim Tiong Houw yang berkata lagi. Ho Sun Pin tetap diam tidak bersuara, sampai Lim Tiong Houw menyudahi perkataannya, setelah itu dia bangun hendak pergi tanpa dia mengucap apa apa.

"Tunggu.."

Lim Tiong Houw mencegah.

"Apalagi yang kau inginkan dari aku ? apakah kau menghendaki aku membantu kau mencari si pembunuh...?"

Tanya Ho Sun Pin dengan suara mengejek.

"Tidak ! aku hanya ingin mengetahui, bagaimana caranya Ouw Beng Tek terbunuh atau dibunuh."

"Hmm! aku kira kau sudah cukup mengetahui. Dia kena sebatang piao yang dilepaskan dari jarak dekat,."

"Sebatang piao yang mengandung bisa racun...!"

Lim Tiong Houw menambahkan.

"Merendam piao dengan larutan bisa-racun dapat dilakukan oleh setiap orang akan tetapi melepas piao dari jarak dekat, hanya dapat dilakukan oleh seseorang yang sudah dikenal benar oleh Ouw Beng Tek..."

"Tepat ! sebab orang orang yang tidak dikenal benar oleh Ouw Beng Tek, tidak akan mendapat kesempatan buat membokong dengan cara itu.."

Lim Tiong Houw yang menambahkan lagi. Ho Sun Pin tersenyum mengejek .

"Bagus kalau kau sudah mengetahui, sekarang tidak perlu lagi kau dengan aku tentunya .."

"Tunggu! dimana Ong Sin Mo waktu peristiwa itu terjadi ,.,?"

Lim Tiong Houw menanya lagi, sebab dia teringat dengan Ong Sin Mo yang selalu mendampingi Ouw Beng Tek seolah olah seorang pengawal pribadi.

"Dia sedang pergi, Ouw Beng Tek yang memerintahkan..."

Sejenak Lim Tiong Houw terdiam berpikir dan Ho Sun Pin yang terdengar berkata lagi dengan nada suara bertambah mengejek.

"Bagaimana sekarang, tay ya. apa sudah boleh aku pergi...?" ( tay ya tuan besar ) Lim Tiong Houw tetap terdiam, meskipun Ho Sun Pin sudah menghilang ditengah keramaian orang banyak. Panas pagi makin terasa waktu Lim Tiong Houw meninggalkan kedai Wong Lay Kun. Di suatu lorong yang sunyi, Lim Tiong Houw membuka pakaian luarnya, dan pada lapisan bagian dalam ternyata dia sudah memakai pakaian seorang gelandangan yang banyak tambalannya namun tidak menyimpan bau penyakit, sebab sekarang dia telah kembali menjadi seorang biang gelandangan didalam kota Hie ciang! Setelah ganti pakaian menjadi seorang gelandangan, maka Lim Tiong Houw meneruskan langkah kakinya, menuju kesuatu tempat yang dahulu sudah biasa dia datang, yakni kalau dia hendak memimpin sesuatu pertemuan dikalangan orang orang gelandangan setempat. Tempat yang biasa dipakai buat orang orang gelandangan di kota Hie ciang berkumpul atau yang dapat dikatakan sebagai markas besar mereka, adalah merupakan suatu bangunan bekas kuil tua yang letaknya didekat perbatasan kota sebelah timur. Seorang pengemis muda kelihatan berdiri bersandar pada tembok kuil dekat pintu halaman. Dia mengawasi waktu Lim Tiong Houw datang mendekat dan dia lebih meneliti waktu Lim Tiong Houw berhenti dihadapannya. Pengemis muda ini agaknya belum kenal dengan Lim Tiong Houw, sebab dia baru jadi orang gelandangan di kota Hie ciang waktu Lim Tiong Houw menghilang. Semua orang-orang gelandangan yang hadir pada pertemuan hari itu, pada memiliki secarik kain hitam yang dicantumkan dekat pundak sebelah kiri, akan tetapi Lim Tiong Houw tidak memiliki secarik kain warna hitam itu; dan dia menyodorkan lengan kirinya yang pernah dicacah memakai sebatang pisau belati tajam, suatu tanda khusus buat orang orang gelandangan di kota Hie ciang, sebelum Lim Tiong Houw pergi menghilang. Pengemis muda itu berdiri terpesona mengawasi! Tanda pengenal memakai cacah hanya dimiliki oleh para dedengkot orang orang gelandangan, maka dari itu dia cepat cepat memberi hormat dan membuka pintu halaman kuil tua itu, buat mempersilahkan Lim Tiong Houw masuk. Sudah ada lebih dari duapuluh orang orang gelandangan yang sedang menghadiri pertemuan dihari itu; dan mereka merupakan tokoh tokoh lama atau yang mempunyai kedudukan didalam anggota pengurus Kay pang cabang kota Hie ciang, serta hadir juga beberapa orang pengusaha dan orang orang hartawan yang menjadi pendukung serta penyumbang tetap. Ada seorang laki laki gemuk yang sedang angkat bicara. Mukanya bunder, usianya kira kira sudah empatpuluh tahun lebih sedikit, dan namanya Nio Teng Hie. Didekat dia berdiri dan bicara; ada lagi seorang laki laki kurus yang ikut berdiam, namanya Tio Kang Lok, lagaknya seperti seorang pengawal pribadi yang sudah kehabisan tenaga. Lim Tiong Houw memasuki ruang pertemuan itu, dan dia berdiri disisi seorang pengemis kurus yang bernama Tee Seng Hok, si kucing hitam.

"Toa ya. kau "kau,,"

Tiba tiba kata si kucing hitam, waktu dia melirik Lim Tiong Houw. (Toa ya majikan pertama) "Hmm ! apa acara pertemuan hari ini,,?"

Lim Tiong Houw bersuara menanya dekat Tee Seng Hok.

"Menentukan ketua setempat, sudah hampir selesai,"

Sahut si kucing hitam.

"Sejak kapan dia mengambil alih pimpinan..,?"

Lim Tiong Houw menanya lagi dengan dia" dimaksud Nie Teng Hie yang sedang angkat bicara.

"Setelah Ouw jie ya binasa, tao ya tentu tahu bahwa kita tidak boleh kehilangan pimpinan,,,"

Sahut si kucing hitam; tetap perlahan suaranya.

Lim Tiong Houw terdiam menunda pembicaraannya dengan Tee Seng Hok; sebab perhatiannya dia tujukan kepada Nio Teng Hie yang sedang menjual aksi; merasa akan segera menjadi biang orang orang gelandangan di kota Hie ciang itu, sebab tidak ada lain lagi calon yang menjadi saingannya.

"sekiranya sudah tidak ada lagi lain pertanyaan, aku bermaksud menyudahi pertemuan ini ...."" demikian terdengar kata NioTeng Hie.

"Nio Teng Hie, aku ada pertanyaan..!"

Tiba tiba Lim Tiong Houw berseru sambil dia melangkah mendekati, mengakibatkan banyak orang orang terus jadi pada mengawasi, dan beberapa orang diantaranya segera teringat dengan Liong Houw yang sudah lama menghilang dari kota Hie Ciang.

Sementara itu Nio Teng Hie kelihatan tidak puas, karena adanya seseorang yang seenaknya saja menyebut namanya, dari itu dia cepat menegur setelah orang itu datang mendekati.

"Siapa kau .."

"Lihat yang benar; sampai kau kenali siapa aku ...!"

Sahut Lim Tiong Houw kelihatan gusar.

Nio Teng Hie tambah meneliti sampai dia mendengar adanya orang orang yang menyebut nama Lim Tiong Houw, sehingga dia diam berdiri bagaikan terpesona, sedangkan Lim Tiong Houw lalu berkata lagi.

"Kau sebagai orang baru yang menempatkan kakimu diantara orang orang gelandangan disini, seharusnya kau mengenal dengan peraturan yang berlaku, Sekarang kau pergi, sebab aku yang mengambil alih pimpinan.."

Nio Teng Hie paksakan diri untuk berlaku tenang dan tabah, lalu dia berkata.

"Kau jangan berlagak jadi jagoan, kau yang justeru harus dicurigai...

" ""Bagus perlihatkan sikap jantanmu, kalau kau mau jadi kepala disini ... !"

Kata Lim Tiong Houw yang memutus perkataan Nio Teng Hie sambil dia melangkah tambah mendekati, membikin suasana menjadi semakin bertambah tegang.

Setelah berdiri berhadapan, Lim Tiong Houw mengangkat sebelah tangannya, memukul muka Nio Teng Hie memakai bagian belakang dari telapak tangannya.

Gerak tangan Lim Tiong Houw cukup lambat, dapat ditangkis maupun dikelit oleh Nio Teng Hie akan tetapi Nio Teng Hie justeru berdiri diam sampai mulutnya keluar darah kena pukulan itu, sebab sesungguhnya dia tidak berani buat melawan Lim Tiong Houw.

Tio Kang Lok yang menjadi pengawal pribadi Nio Teng Hie kelihatan pucat mukanya.

Sebelah tangannya bergerak meraba pisau belati yang ada disisi pinggangnya akan tetapi buru buru dia batalkan niatnya, waktu Lim Tiong Houw melirik dia dengan menyertai senyum mengejek.

"Kau juga kemari ....!"

Kata Lim Tiong Houw bersikap bengis, memaksa Tio Kang Lok berkelahi.

Dengan nekad Tio Kang Lok lompat menyerbu dan menikam memakai pisau belatinya, akan tetapi dengan sekali menangkis, Lim Tiong Houw berhasil membikin pisau belati itu terpental jatuh, sedangkan Tio Kang Lok meringis sambil membekap sebelah lengannya yang patah !

Orang orang yang hadir menjadi pada gaduh semuanya.

Mereka yang terdiri dari orang orang gelandangan, maupun mereka yang jadi pendukung sambil memperalat orang orang gelandangan, semuanya menjadi yakin bahwa kekuasaan cara lama berlaku lagi, yakni siapa kuat dia menang, dan yang menang akan menjadi pemimpin.

Seorang laki laki gemuk berpakaian mentereng lalu bicara.

"Lim Tiong Houw, apakah kau kembali untuk seterusnya hendak jadi pemimpin,,,,?"

"Seterusnya. Dan jika ada yang belum merasa puas. silahkan maju ......,"

Sahut Lim Tiong Houw sambil dia mementang dada.

Laki laki gemuk itu diam menelan ludah dan yang lain semua ikut menjadi terdiam.

Sebagian dari yang hadir merasa girang, karena Lim Tiong Houw kembali akan memegang pimpinan; sedangkan sebagian lagi merasa terpaksa atau dipaksa untuk menerima keadaan itu.

Pertemuan itu kemudian ditutup oleh Lim Tiong Houw, yang berdiri meneliti setiap peserta yang sedang bergegas meninggalkan ruangan itu, sampai kemudian si kucing hitam Tee Seng Hok datang mendekati dia.

"Toa ya, aku sangat girang kau mau jadi pimpinan lagi..."

Demikian kata Tee Seng Hok sambil dia terbatuk batuk, suatu penyakit yang agaknya sudah lama dia derita.

"Aku datang tidak melulu buat menjadi pimpinan; aku bahkan hendak mencari pembunuh yang membinasakan Ouw Beng Tek..!"

Sahut Lim Tiong Houw.

"Bagus, toa ya, dan apa tugasku..?"

Si kucing hitam berkata lagi sambil dia bersenyum.

"Seperti dulu, memanjat dan melompat ke atas rumah...."

"Akan tetapi, aku sekarang sudah tidak seperti dulu, kesehatanku batuk lagi."

"Akan kuberikan obat untukmu,..."

"Sudah seribu macam obat; akan tetapi penyakitku tak mau hilang.."

Masih Tee Seng Hok terbatuk batuk, selagi dia berusaha hendak bersenyum.

Lim Tiong Houw menepuk bagian pundak Tee Seng Hok sambil diam bersenyum, setelah itu dia berkata dengan nada suara bersungguh-sungguh.

"Aku heran, mengapa tadi tidak ada orang-orang yang menentang aku..."

"Kau bertindak terlalu cepat, toa ya. Mereka sekarang bukan seperti dulu. Mereka sudah tidak terbiasa lagi dengan bertindak buru-buru, sebaliknya mereka biasa menggunakan otak yang kadang-kadang memerlukan waktu sampai beberapa hari. Bagaimanapun halnya, kita harus waspada..."

"Kau takut...?"

Lim Tiong Houw menanya, akan tetapi didalam hati sempat dia berpikir mengenai perkataan Tee Seng Hok. Sementara itu Tee Seng Hok menyeringai dan berkata .

"Sudah menjadi tekadku, hendak mendampingi kau, meskipun waktu yang tidak lama sebab aku memang bakal mati oleh penyakitku."

"Bukan mati karena dibunuh mereka... ?"

Lim Tiong Houw menggoda dan sambil perlihatkan senyumnya.

"Buat aku tidak ada bedanya. Dua jalan menuju ketempat yang sama, yakni neraka....!"

Sahut Tee Seng Hok ikut berkelakar. Lim Tiong Houw tertawa, juga Tee Seng Hok ikut jadi tertawa, sampai sesaat kemudian Lim Tiong Houw berkata lagi.

"Masih kau ingat dengan seorang gelandangan yang bernama Siao Cu Leng?"

Tee Seng Hok diam terpikir sebentar, setelah itu baru dia berkata.

"Akh, dia si pemabuk yang malas ..."

"Benar. Kau cari dia dan kau bawa ketempat aku menginap ..."

Kata lagi Lim Tiong Houw dan dia memberitahukan tempat dia menginap kepada Tee Seng Hok.

Siang harinya Lim Tiong Houw makan di ruangan tamu di hotel tempat dia menginap, sambil dia menantikan kedatangannya Tee Seng Hok yang sedang dia tugaskan.

Akan tetapi, sampai Lim Tiong Houw selesai makan yang ditunggu ternyata belum kunjung tiba.

Lim Tiong Houw kemudian memesan arak, buat dia minum perlahan lahan, sambil dia tetap menunggu kedatangannya Tee Seng Hok dan selama itu perhatiannya dia curahkan kepada setiap tamu yang sedang makan ataupun minum sampai disatu saat pandangan sepasang matanya bertemu dengan dua orang laki laki muda, tepat disaat kedua laki laki muda itu sedang mengawasi dia.

Kedua laki laki muda itu memakai pakaian semacam orang orang desa menandakan mereka bukan penghuni kota Hie ciang.

Entah mereka memang menginap di rumah penginapan itu atau mungkin pula mereka hanya sekedar singgah untuk makan siang.

Sesaat kemudian kedua laki laki muda itu memanggil seorang pelayan, karena mereka hendak membayar santapan mereka, lalu mereka bergegas hendak meninggalkan tempat makan itu.

Waktu kedua laki laki muda itu hendak melewati meja tempat Lim Tiong Houw, mereka berhenti sejenak dan yang seorang kelihatan menyerahkan segumpal kertas buat Lim Tiong Houw.

Lim Tiong Houw menerima dan menyimpan segumpal kertas itu kedalam saku bajunya, tanpa dia mengucap apa apa, bahkan dia tetap duduk tenang ditempatnya, sampai kedua laki laki muda itu meninggalkan dia, juga tanpa mereka mengucap sesuatu perkataan.

Adalah setelah terjadi serah terima itu, maka datang Tee Seng Hok bersama seorang Iaki laki berkumis jarang dengan pakaian orang gelandangan yang bau keringat dan juga bau sampah.

Orang gelandangan berkumis jarang itu ternyata adalah Siao Cu Leng, dia kelihatan gugup atau ketakutan, karena digiring secara paksa oleh Tee Seng Hok yang berlaku bengis, dan dia menjadi bertambah ketakutan waktu dia dihadapkan kepada Lim Tiong Houw.

"Kau yang bernama Siao Cu Leng...?"

Tanya Lim Tiong Houw untuk menegaskan. Laki laki orang gelandangan itu hanya manggut membenarkan.

"Kau mau minum ..?"

Lim Tiong Houw sengaja menanya dan mendorong sebuah kursi.

"Tidak.."

Sahut Siao Cu Leng yang kelihatan jadi bertambah gugup, akan tetapi dia menjilat bibir.

"Uang....?"

"Tidak. Aku tidak mau apa apa, mengapa aku dibawa kesini..."

Gemetar kelihatannya tubuh Siao Cu Leng.

"Duduk dulu.

"?"

"Tidak..."

Siao Cu Leng membangkang. Lim Tiong Houw mengangkat kaki kanannya, mendorong bagian betis Siao Cu Leng memaksa duduk, dan Tee Seng Hok ikut duduk bersikap tenang supaya tamu tamu lain tidak curiga.

"Nah, sekarang kau bicara "

Kata lagi Tiong Houw, nada suaranya berobah menjadi bengis.

"Aku ... aku harus bicara apa ...?"

Tanya Siao Cu Leng yang jadi meringis merasa sakit pada betisnya yang kena tekanan sebelah kaki Lim Tiong Houw tadi.

"Aku ingin mengetahui bagaimana caranya kau temui Ouw Beng Tek, waktu dia terbunuh."

Sepasang mata Siao Cu Leng melirik kearah pintu keluar, akan tetapi dia menjadi ngeri waktu melihat sepasang mata Lim Tiong Houw yang menyala terang, sehingga batal dia hendak lari.

"Aku,,,, aku tidak membunuh dia.,,,"

Terputus putus Siao Cu Leng bicara.

"Aku tahu,,,,"

Sahut Lim Tiong Houw, tetap nada bengis, dan membiarkan Siao Cu Leng meneruskan bicara.

"Aku.,., tidak membunuhnya. Dia.. dia sudah rebah tewas waktu aku temui dia,,.,!"

Lim Tiong Houw manggut manggut dan berkata,"Teruskan .."

"Ada sebatang piao membenam disini ,."

Dan Siao Cu Leng menunjuk dibagian lehernya, lalu dia menambahkan lagi perkataannya ",,. aku ambil isi kantongnya, ada uang dan seutas kalung tasbih."

"Hm...!"

Lim Tiong Houw bersuara seperti menggerutu, lalu dia berkata kepada Siao Cu Leng.

".. sekarang kau boleh pergi, . ,!"

Siao Cu Leng mengawasi terpesona.

Dia tidak menyangka bahwa dia bakal dilepas tanpa ada pemukulan, padahal dia sudah membayangkan dia bakal mati dihadapkan pada dedengkot orang orang gelandangan yang terkenal kejam dan galak itu.

Sementara itu Tee Seng Hok juga sedang merasa heran.

Dia menunggu sampai Siao Cu Leng sudah menghilang, setelah itu baru dia menanya dengan suara perlahan.

"Toa ya. Ouw jie ya kedapatan mati didalam rumahnya. Bagaimana mungkin Siao Cu Leng bisa mengambil isi kantong Ouw jie-ya , . ,?"

"Itu bukan yang pertama kali dia ditemukan"."

Sahut Lim Tiong Houw juga perlahan suaranya.

"Bagaimana kau bisa mengetahui..?"

Tee Seng Hok menanya lagi, tetap merasa heran.

"Hanya ada satu orang didalam dunia ini yang dapat menyerang Ouw Beng Tek memakai piao dari jarak dekat,,,"

"Siapa ?"

Tanya Tee Seng Hok ingin mengetahui.

"Aku, sebab biasanya Ouw Beng Tek selalu curiga terhadap orang orang yang mendekati atau berada didekat dia."

"Memang ada orang orang yang menduga begitu, tetapi aku tidak percaya ..."

Sahut Tee Seng Hok masih merasa heran. Lim Tiong Houw bersenyum. Dia yakin Tee Seng Hok berkata secara jujur, sehingga dia berkata lagi.

"Aku sedang berada jauh terpisah ribuan lie waktu terjadi peristiwa Ouw Beng Tek dibunuh orang .."

"Itu sebabnya aku menjadi heran toa ya bisa mengetahui .."

Tee Seng Hok berkata lagi, selagi Lim Tiong Houw menunda bicara dan dia tetap kelihatan masih merasa tidak mengerti.

"Kalung bunga tasbih itu yang mengabarkan aku bahwa Ouw Beng Tek sudah binasa. Kalung bunga tasbih itu aku ketahui berada pada seseorang lain padahal kalung bunga tasbih itu dulu aku yang curi dari seorang biarawati tua yang sakti ilmunya. Waktu aku hendak pergi, aku serahkan kalung itu kepada Ouw Beng Tek dengan pesan supaya kalung bunga tasbih itu jangan terpisah dari tubuhnya, kecuali dia mati ...."

"Bagaimana caranya kalung bunga tasbih itu bisa diperoleh seseorang itu ... ?"

Tee Seng Hok menanya lagi.

"Seseorang itu secara kebetulan melihat kalung bunga tasbih itu berada pada Siao Cu Leng; lalu dia membelinya bahkan dia memerlukan menanyakan nama Siao Cu Leng..."

"Siapakah seseorang itu...?"

Semakin heran Tee Seng Hok menanya.

"Seseorang itu adalah si biarawati tua yang sakti ilmunya, pemilik kalung bunga tasbih itu yang dulu aku curi..."

"Jadi, toa ya kenal dengan biarawati tua yang sakti ilmunya itu. ?"

"Lebih dari kenal. Itu pula sebabnya aku diperlihatkan kalung bunga tasbih yang sudah kembali berada ditangannya ."

Sahut Lim Tiong Houw sambil dia bersenyum.

Akan tetapi senyum Lim Tiong Houw cepat menghilang, karena dia melihat sepasang mata Tee Seng Hok yang membelalak kearah sebelah belakang punggungnya sehingga secepat itu juga Lim Tiong Houw sengaja menjatuhkan dirinya dari tempat dia duduk.

Sepasang gada besi yang dilipat menjadi satu, menghantam kursi tempat duduk Lim Tiong Houw, sampai kursi itu hancur berantakan, sebagai ganti kepala Lim Tiong Houw yang hampir jadi hancur !

Orang yang menyerang memakai sepasang gada besi yang dapat dilipat menjadi satu itu memiliki tubuh yang lincah dan gesit, sebab waktu pukulannya yang pertama tidak mencapai hasil, maka dia lompat menerkam sambil sekali lagi dia menghantam bagaikan gunung tay san menindih.

Keadaan di ruang makan itu serentak menjadi kacau balau, oleh karena para tamu pada lari menyingkir, bahkan ada orang orang yang berteriak ketakutan.

Dengan tabah Lim Tiong Houw menunggu datangnya serangan yang kedua itu lalu secepat kilat sebelah tangannya dia angkat, dan berhasil dia menarik lengan musuh yang bersenjata sepasang gada besi itu yang bahkan ikut terjerumus hampir jatuh.

Musuh yang bersenjata sepasang gada besi itu pasti akan cedera, kalau Lim Tiong Houw sempat ganti menyerang, akan tetapi saat itu datang serangan lain yang berupa pecut panjang, yang dapat bersuara nyaring seperti petir.

Lim Tiong Houw berkelit dari pecut yang datang menyambar, dan waktu sekali lagi pecut itu bergerak hendak mengulang serangan, maka Lim Tiong Houw mendahului lompat tinggi sambil sebelah tangannya bergerak melepas sebatang piao yang tepat membenam dibagian lengan kanan musuh yang memegang pecut itu.

"Lari ...!"

Teriak musuh yang sudah terluka itu mengajak kawannya.

"Aku tahu siapa mereka , ."

Kata Tee Seng Hok waktu Lim Tiong Houw hinggap didekatnya, dan Lim Tiong Houw batal mengejar sebab memang belum waktunya buat dia melakukan pembunuhan, sebaliknya dia merasa masih perlu mengumpulkan bahan bahan buat dia menemukan jejak si pembunuh yang sudah membinasakan Ouw Beng Tek.

"Mari, kita juga pergi ..."

Akhirnya ajak Lim Tiong Houw yang hendak menghindar dari suasana kekacauan di ruang makan itu akan tetapi ditengah tengah perjalanan itu Tee Seng Hok memberitahukan tentang kedua orang orang yang melakukan penyerangan tadi.

"Mereka adalah orang orang yang bekerja pada Cee Giok Tong, seorang pengusaha rumah judi yang besar pengaruh dan kekuasaannya didalam kota Hie ciang."

Dahulu, sebelum Lim Tiong Houw pergi meninggalkan kota Hie ciang, dia sudah pernah berselisih dengan Cee Giok Tong, sampai paha kanannya Cee Giok Tong kena dilukai memakai sebatang piao oleh Lim Tiong Houw.

Kemudian setelah Lim Tiong Houw lama menghilang, maka terjadi Cee Giok Tong menikah dengan pacarnya Lim Tiong Houw, yakni Tio Siu Lan yang menjadi adik tiri dari Ho Sun Pin.

Dengan adanya penyerangan yang dilakukan oleh orang orang yang bekerja pada Cee Giok Tong, maka Lim Tiong Houw menduga bahwa Cee Giok Tong sudah mendahulukan bertindak, sebelum Lim Tiong Houw sempat mendatangi buat urusan pacarnya yang sudah direbut!

Sementara itu, Lim Tong Houw mengajak Tee Seng Hok mendatangi rumah almarhum Ouw Beng Tek dan waktu Tee Seng Hok mengatakan bahwa rumah itu dikunci sebab tidak ada orang yang menempati, maka Lim Tiong Houw memerintahkan supaya Tee Seng Hok mengambil kunci pintu rumah itu, yang katanya dipegang oleh Su Teng Hok, salah seorang pengurus Kaypang setempat yang kedudukannya setingkat diatas Tee Seng Hok.

Selama menunggu datangnya Tee Seng Hok yang mengambil kunci rumah maka Lim Tiong Houw mengawasi dan meneliti letak bangunan rumah almarhum Ouw Beng Tek yang besar dan luas.

Rumah yang dulu menjadi milik mereka berdua sebelum Lim Tiong Houw pergi meninggalkan kota Hie ciang.

Waktu Tee Seng Hok datang sejenak dia biarkan Lim Tiong Houw yang sedang tenggelam dalam lamunannya, sampai kemudian mereka memasuki rumah itu.

Sesaat Lim Tiong Houw jadi terpesona mendapati berbagai perabot mewah yang ada didalam rumah itu.

Memang aneh buat seorang gelandangan memiliki perabot perabot mewah yang biasanya dimiliki oleh kaum pejabat pemerintah yang tidak jujur, akan tetapi Ouw Beng Tek bukan sembarang orang gelandangan.

Dia menjadi biang orang orang gelandangan di dalam kota Hie ciang merangkap menjadi jagoan yang ditakuti oleh berbagai lapisan masyarakat setempat.

Ouw Beng Tek adalah raja tanpa mahkota, yang dapat mengambil apa saja tanpa ada orang yang berani menghalangi, dan kekuasaan semacam itu sudah dirintis sejak Lim Tiong Houw belum meninggalkan kota Hie ciang.

Rumah yang besar itu memiliki beberapa kamar tidur, akan tetapi Ouw Beng Tek hanya menempati seorang diri, melulu seorang pengawal pribadi yang selalu siap mengurus keperluannya, serta dua orang pelayan bisu untuk memelihara kebersihan rumah itu.

"Dimana kedua pelayan itu sekarang.."

Tanya Lim Tiong Houw kepada Tee Seng Hok.

"Mereka sudah diberhentikan, setelah Ouw jie ya binasa. Mereka tidak dapat memberikan keterangan apa apa, sebab mereka orang orang yang bisu .,"

Sahut Tee Seng Hok.

"Dan Oey Sin Mo yang jadi pengawal pribadi..."Lim Tiong Houw menanya lagi.

"Dia sakit dan pulang ke desa bersama isterinya. Dia sedang diperintah mengambil pesanan arak waktu terjadi peristiwa pembunuhan itu, dia tidak dapat dicurigai, sebab ada seorang rekan yang kebetulan mendampingi dia pula waktu itu. Kemudian waktu kembali dengan membawa arak, dia menemukan Ouw jie ya sudah binasa ...!"

"Dimana Oey Sin Mo menemukan mayatnya Ouw Beng Tek ...?"

"Di sini ..."

Sahut Tee Seng Hok yang mengajak Lim Tiong Houw mendatangi ruang tamu, lalu dia memberitahukan letak tempat mayat Ouw Beng Tek ditemukan oleh Oey Sin Mo.

"Dia bukan diserang disini; akan tetapi di dekat pintu masuk,"

Tiba tiba kata Lim Tiong Houw, sambil dia menunjuk ke arah pintu, membikin Tee Seng Hok berdiri terpaku, mengawasi tanpa dapat mengucap apa apa sebab dia sedang memusatkan segala pemikirannya kepada peristiwa dibunuhnya Ouw Beng Tek.

Menurut pengakuan Siao Cu Leng, gelandangan itu katanya menemukan mayat Ouw Beng Tek membujur di jalan raya, sehingga Siao Cu Leng sempat mengambil isi saku mayat yang sudah tidak bernyawa.

Sekarang Lim Tiong Houw mengatakan bahwa Ouw Beng Tek diserang bukan di ruang tamu, akan tetapi tepat di dekat pintu masuk, kejadian itu, padahal Lim Tiong Houw berada jauh terpisah dari kota Hie ciang waktu peristiwa pembunuhan itu terjadi !

"Tao ya .."

Akhirnya Tee Seng Hok bersuara, bermaksud hendak mengajukan pertanyaan kepada Lim Tiong Houw.

"Aku tahu. Disuatu saat nanti akan jelas olehmu. Yang sekarang sedang aku pikirkan, siapa gerangan orangnya yang sudah melakukan pembunuhan itu.."

Sahut Lim Tiong Houw yang kelihatan berlaku tenang.

"Terlalu banyak orang orang yang harus dicurigai, sebab terlalu banyak orang orang yang menghendaki Ouw jie ya mati .."

Tee Seng Hok berkata seperti menggerutu, sehingga memaksa Lim Tiong Houw jadi tersenyum.

"Memang, orang orang yang hidup jadi bajingan seperti kita, lebih banyak mempunyai musuh daripada kawan. Dan orang orang yang merasa jadi kepala, lebih parah lagi keadaannya, sebab orang yang berkuasa tidak pernah disenangi orang .."

"Waktu pertama kali kami menemui Ouw jie ya yang sudah binasa, dibeberapa tempat, terlebih didalam kamar tidur jie ya, terdapat tanda tanda dikacau orang yang mencari sesuatu.."

Tee Seng Hok yang berkata lagi.

"Mencari sesuatu .."

Ulang Lim Tiong Houw dan Tee Seng Hok manggut membenarkan.

"Keadaan kamar tidur Ouw jie ya seperti diobrak abrik, juga ranjangnya ,.."

Tee Seng Hok menambahkan perkataannya.

Lim Tiong Houw lalu mengajak Tee Seng Hok membuka pintu kamar tidur yang dikunci dari bagian luar, dan waktu mereka sudah masuk maka Tee Seng Hok bersuara kaget, karena melihat keadaan jendela kamar sudah terbuka, dan keadaan kamar tidur itu kacau balau!

"Kurang ajar kamar ini sudah dimasuki seseorang..."

Demikian kata Tee Seng Hok yang sangat terkejut.

"Perbuatan ini bukan dilakukan oleh satu orang ...."

Lim Tiong Houw ikut bicara, setelah dia meneliti keadaan didalam kamar itu.

Keadaan yang dihadapi oleh Lim Tiong Houw, mengakibatkan dia jadi terombang-ambing dengan berbagai macam dugaan mengenai orang atau orang orang yang sudah membunuh Ouw Beng Tek.

Sebelum tiba dikota Hie ciang, dia menduga bahwa Ouw Beng Tek tewas karena perbuatan sekelompok orang orang yang sudah tersepakat hendak merebut kekuasaan, akan tetapi waktu dia sudah mulai melakukan penyelidikan, maka dia berpendapat bahwa Ouw Beng Tek tewas karena perbuatan satu orang yang belum bisa dia tentukan, apakah sebab hendak merebut kekuasaan atau ada sebab sebab lain, seperti dendam dan sebagainya.

sekarang dia mendapat kenyataan lain bahwa kamar tidur Ouw Beng Tek telah didatangi oleh beberapa orang, dan orang orang ini jelas telah mencari sesuatu yang entah sudah diperoleh atau belum.

Benda apakah yang orang orang itu cari?

Yang jelas bukan berupa harta, sebab orang orang mengetahui bahwa Ouw Beng Tek tak mungkin menyimpan harta kekayaannya didalam kamar tidur, apalagi didalam kasur.

Ya, didalam kasur !

sebab kasur dan juga bantal bantal habis dibedah orang atau orang orang !

"Menurut kau, barang apakah yang biasanya orang suka umpatkan didalam kasur...?"

Akhirnya Lim Tiong Houw menanyakan pendapatnya Tee Seng Hok. Sejenak Tee Seng Hok terdiam berpikir, lalu dia berkata .

"Barangkali surat, atau semacam benda dari kertas..."

"Ya. Surat atau apa saja yang berupa kertas. Harus kita ketahui, surat apa atau kertas apa yang mereka cari itu ,.. !"

Sahut Lim Tiong Houw; yang akhirnya memutuskan bahwa dia akan menempati rumah yang besar itu, dan dia memilih kamar tidur Ouw Beng Tek buat dia pakai tidur, sedangkan bungkusannya yang ada di rumah penginapan diperintahkan Tee Seng Hok yang mengambilkannya.

Setelah berada seorang diri di rumah yang besar itu, maka Lim Tiong Houw kembali memeriksa setiap sudut ruangan, sampai tiba tiba dia mendengar ada orang yang mengetuk daun pintu.

Lim Tiong Houw merasa heran, karena sebenarnya belum waktu buat Tee Seng Hok kembali, jadi siapakah gerangan yang datang?

Akan tetapi pada saat itu Lim Tiong Houw tidak sempat berpikir banyak dan dia langsung membuka pintu sehingga dia mengetahui bahwa yang datang adalah Kwee Su Liang bersama dua orang tua yang dia belum kenal.

Kwee Su Liang adalah orang kepercayaan dari Kongsun Bouw, seorang pengusaha rumah pelacuran di dalam kota Hie ciang.

Usaha maksiat itu mendapat kemajuan yang pesat, dan Kongsun Bouw selalu membayar iuran yang cukup besar buat Kay pang cabang setempat, sedangkan Nio Teng Hie merupakan orang yang didukung oleh Kongsun Bouw buat menjadi pimpinan orang orang gelandangan, setelah Ouw Beng Tek ada yang dibinasakan.

Lim Tiong Houw mengajak ketiga orang tamu itu duduk di ruang tamu, sedangkan di dalam hati dia yakin bahwa kedatangan mereka membawa maksud yang tidak baik sehubungan dengan tindakannya yang sudah menggeser Nio Teng Hie.

"Kau cepat mengetahui bahwa aku sudah berada dirumah ini...""

Kata Lim Tiong Houw, setelah ketiga orang tamunya itu pada duduk.

"Kami mempunyai banyak orang buat selalu mengawasi kau...!"

Sahut Kwee Su Liang dengan nada suara mengejek.

"Selalu mengawasi aku .. ?"

Ulang Lim Tiong Houw dengan perlihatkan sikap yang tenang.

"Ya, selalu ! sebab kami tidak menyukai kau berada di dalam kota ini dan menghendaki kau cepat cepat pergi ... !"

Lim Tiong Houw bergerak seperti orang yang hendak bangun dari tempat duduknya akan tetapi dia kalah cepat dengan kedua laki laki tua temannya Kwee Su Liang yang sudah mendahulukan dengan tangan tangan mereka siap meraba senjata mereka yang berada dibagian punggung.

Akan tetapi pada saat itu Lim Tiong Houw tidak jadi bangun, sebab dia memang bukan bermaksud hendak bangun dari tempat duduk sebaliknya dia bersenyum mengejek dan berkata;

"Aku tidak mengira si kura kura botak itu sekarang jadi banyak lagaknya ..."

Kwee Su Liang kelihatan marah, sebab majikannya dikatakan si kura kura botak, dan hal itu memang biasa dilakukan oleh Lim Tiong Houw; selagi dulu dia belum pergi meninggalkan kota Hie ciang.

"Lim Tiong Houw! justeru kau yang sekarang tidak perlu berlagak jadi tuan besar. waktu buat kau sudah habis, kau tidak lagi berarti apa apa, akan tetapi majikan kami berbaik hati menawarkan kau sejumlah uang buat kau pergi ...!"

Akhirnya Kwee Su Liang berkata dengan menahan rasa marah.

"Dan kalau aku tidak mau pergi .. ?"

Sekali lagi kedua laki laki tua itu meraba senjata mereka, sedangkan Kwee Su Liang melirik, lalu kembali mengawasi Lim Tiong Houw dan berkata.

"Kedua lo cianpwee ini adalah Siam say jie lo, dua orang tua dari kota Siam say yang tentunya sudah pernah kau dengar nama mereka jadi jangan kau coba main main dengan mereka..."

Salah seorang dari Siam say jie lo segera ikut bicara.

"Kami sudah siap buat menghajar dia, kalau Kwee hiantee memberikan perintah..!"

Dipihak Lim Tiong Houw, dia tetap duduk dengan sikap tenang, dan perlihatkan senyum mengejek, meskipun di dalam hati dia terkejut juga waktu diperkenalkan tentang Siam say jie lo itu.

"Perintahkanlah mereka .. !"

Akhirnya kata Lim Tiong menantang. Kwee Su Liang jadi bertambah marah sampai dia mengepal sepasang tangannya.

"Kau cari mati, padahal majikan kami sudah memberikan jalan hidup bagimu . , .!"

"Kau juga akan ikut mati berikut salah seorang dari Sam say jie lo.."

Sahut Lim Tiong Houw yang tetap kelihatan bersikap tenang, sedangkan pada sepasang tangannya sekarang kelihatan dia sudah memegang dua batang piao yang entah sejak kapan atau dari mana dia siapkan !

Muka Kwee Su Liang menjadi merah pucat dan bertambah dia menjadi pucat, waktu ada suara seseorang lain yang ikut bicara.

"Atau kalian semua yang tewas .., !"

Seseorang yang mengucapkan perkataan itu adalah Tee Seng Hok.

Dia berdiri dekat pintu ruang tamu dengan sepasang tangan siap memegang dua batang pisau belati, dan kedatangannya tidak diketahui oleh ketiga tamu itu, yang membelakangi pintu ruang tamu.

ooo^Odwkz^hend^bbsc^ooo SUDAH ADA dua pihak orang orang yang menentang bahkan hendak membunuh Lim Tiong Houw, karena kembalinya dia di kota Hie ciang.

Yang pertama adalah Cee Giok Tong, seorang pengusaha rumah perjudian yang besar pengaruh dan kekuasaannya; sesuai dengan kedudukannya sebagai dedengkot orang orang yang gemar main judi, sedangkan yang kedua adalah Kongsun Bouw, si kura kura botak yang jadi pengusaha rumah pelacuran, juga yang besar pengaruh dan kekuasaannya sesuai dengan kedudukannya sebagai dedengkot orang orang yang gemar bermain cinta.

Dipihak Kongsun Bouw, sudah jelas menjadi kehendaknya supaya Nio Teng Hie yang terus jadi ketua orang orang gelandangan di kota Hie ciang, sebab Nio Teng Hie merupakan salah seorang kaki tangannya, sehingga Kongsun Bouw bebas dari segala keharusan membayar uang iuran dan lain sebagainya, bahkan dapat dia memperalat orang-orang Kay pang buat urusan urusan lain.

Tentang Cee Giok Tong, belum jelas oleh Lim Tiong Houw tentang maksud tujuan si pengusaha rumah judi itu, entah yang mengenai urusan cinta, sebab Cee Giok Tong sudah menyerobot pacarnya Lim Tiong Houw yang dijadikan bininya.

Berdasarkan pengalaman pengalaman yang baru saja dia alami, Lim Tiong Houw berpendapat bahwa ada kemungkinan pihak Kongsun Bouw yang melakukan pembunuhan atas dirinya Ouw Beng Tek untuk maksud merebut kekuasaan dan menempatkan Nio Teng Hie sebagai gantinya.

Sementara itu, hari sudah berubah menjadi malam dan Lim Tiong Houw masih terus memikirkan masalah yang sedang dia hadapi, sambil berulangkali dia membaca seberkas kertas yang dia terima waktu dia makan siang tadi, dari kedua orang laki laki muda yang berpakaian semacam orang orang desa.

Lim Tiong Houw menunda pemikirannya, waktu Tee Seng Hok mengajak dia keluar mencari makanan.

Dua orang ini kemudian memasuki sebuah rumah makan yang sudah banyak dikunjungi oleh tamu dan ditempat itu secara tidak diduga Lim Tiong Houw melihat kehadirannya Ho Sun Pin yang sedang duduk makan seorang diri.

Lim Tiong Houw lalu memerintahkan Tee Seng Hok memesan makanan buat mereka berdua dan selama menunggu makanan itu disiapkan, maka Lim Tiong Houw mendatangi Ho Sun Pin dan langsung dia duduk di hadapan laki laki itu.

"Rupanya kau mendapat gilir tugas malam.."

Lim Tiong Houw bersuara menyapa, sebab waktu itu Ho Sun Pin memang sedang memakai pakaian seragam.

"Bagiku tidak ada siang dan tidak ada malam aku gunakan waktu untuk bekerja; bukan seperti kau yang pergunakan waktu untuk mengemis atau memeras ... !"

Sahut Ho Sun Pin geram, membawa sikap tetap membenci Lim Tiong Houw.

"Aku tidak mengemis kepada orang orang yang tidak punya, aku tidak memeras orang orang yang rajin bekerja .. ,"

Sahut Lim Tiong Houw yang menyertai senyum.

"Maksud kau ...?"

"Aku hanya memeras orang orang yang memupuk harta secara tidak halal, atau dari hasil kerja maksiat , .. !"

Sahut Lim Tiong Houw.

"Bagiku tidak ada bedanya pemerasan adalah suatu kejahatan. Sekiranya aku yang berkuasa, orang orang seperti kau sudah aku tangkap dan aku hukum ...."

Kata Ho Sun Pin bertambah geram.

"Sekiranya kau yang berkuasa, kau tentu akan serupa dengan atasanmu yang sekarang!"

"Kurang ajar , ."

Ho Sun Pin memaki sambil dia mengepal sepasang tangannya, lalu dia menambahkan perkataannya.

"....sekali lagi kau menyebut atasanku, akan aku usir kau..."

"Kedatanganku memang bukan buat mencampuri urusan orang orang yang bekerja sebagai alat negara, aku justeru hendak memberikan keterangan perihal jejak si pembunuh..."

"Jadi sudah kau ketahui siapa dia ...?"

Tanya Ho Sun Pin yang berobah kelihatan menjadi kaget. Lim Tiong Houw perlihatkan senyum dingin dan dia berkata lagi.

"Aku belum mengetahui siapa dia, akan tetapi sudah aku ketahui bahwa Ouw Beng Tek bukan mati didalam rumahnya ..."

Sepasang mata dan mulut Ho Sun Pin membuka lebar, namun dia tidak mampu mengucap apa apa, sampai Lim Tiong Houw yang berkata lagi.

"...Ouw Beng Tek berada seorang diri waktu dia memerintahkan Ong Sin Mo membeli arak. Lalu ada seorang orang yang mengetuk pintu rumahnya, dan Ouw Beng Tek menganggap Ong Sin Mo sudah pulang, sehingga tanpa curiga dia membuka pintu, namun selekas itu juga dia diserang dengan senjata piao yang direndam dalam larutan bisa racun. Ouw Beng Tek tidak segera mati, dia bahkan melihat tegas orang yang menyerang dia, dan si penyerang justeru yang menjadi ketakutan dan lari, dengan dikejar oleh Ouw Beng Tek, sampai Ouw Beng Tek terjatuh dan tewas, karena banyaknya darah yang telah keluar serta bisa racun yang mengeram didalam tubuhnya..."

Lim Tiong Houw menunda bicara dan dia mengawasi muka Ho Sun Pin seperti sedang meneliti selagi laki laki itu mendengarkan dengan sikap yang tegang.

"... si pembunuh melihat Ouw Beng Tek terjatuh, dan dia kembali untuk memasuki rumahnya Ouw Beng Tek buat dia mencari sesuatu, yang ternyata tidak dapat dia temui; sampai dia balik lagi ketempat Ouw Beng Tek terjatuh, memeriksa isi saku yang ternyata kosong hampa..."

"Kau...!"

Tiba tiba Ho Sun Pin memutus perkataan Lim Tiong Houw.

Lim Tiong Houw diam menunggu sambil dia meneliti; namun dia kecewa karena Ho Sun Pin tidak meneruskan perkataannya, sehingga Lim Tiong Houw menanya.

"Mengapa kau diam ... ?"

"Aku heran, mengapa kau sampai mengetahui tentang memeriksa isi saku segala. Kau benar benar telah menambah kecurigaanku bahwa kau adalah yang telah membunuh Ouw Beng Tek .. , !"

"Sialan aku justeru bersusah payah mencari untuk memperoleh keterangan ini ... !"

Lim Tiong Houw membela diri.

"Dari siapa kau peroleh keterangan itu.,,"

Kini Ho Sun Pin yang menanya dan menyertai perhatian istimewa.

"Dari seorang pelacur kawakan, Sui Hwa, yang mengaku sudah meludahi mayatnya Ouw Beng Tek dan dari si pemabuk Siao Cu Leng yang sudah merampok isi saku Ouw Beng Tek ...!"

Sahut Lim Tiong Houw uring uringan.

Ho Sun Pin jadi terdiam, setelah dia mendengar jawaban dari Lim Tiong Houw dan Lim Tiong Houw lalu kembali ketempat Tee Seng Hok, sebab makanan yang dipesan sudah disiapkan.

Selama menikmati santapannya, Lim Tiong Houw memikirkan pembicaraannya tadi dengan Ho Sun Pin, sementara Ho Sun Pin dilihatnya sudah meninggalkan rumah makan itu.

Jilid 25 KEMUDIAN Lim Tiong Houw teringat dengan Sui Hwa, pelacur kawakan yang pernah dia belikan minuman dan yang mengaku sudah meludahi mayatnya Ouw Beng Tek.

Hasrat hatinya Lim Tiong Houw hendak menyambangi perempuan lacur itu yang mungkin dapat memberikan tambahan keterangan buat dia, akan tetapi sebelum itu Lim Tiong Houw hendak mengajak Tee Seng Hok dan datang menyambangi rumahnya Nio Teng Hie yang hendak dia ketahui bagaimana keadaannya, setelah Kwee Su Liang bersama Siam say jie lo kembali membawa laporan kepada Kongsun Bouw.

Diluar dugaan Lim Tiong Houw, pintu pekarangan rumah Nio Teng Hie ditutup rapat dan dijaga oleh dua orang gelandangan yang rupanya tetap berpihak kepada Nio Teng Hie.

Melihat keadaan itu Lim Tiong Houw menduga bahwa Nio Teng Hie sedang mengadakan sesuatu pertemuan dirumahnya, sehingga Lim Tiong Houw lalu mengajak Tee Seng Hok melompati tembok halaman, sampai kemudian mereka berada diatas genteng rumahnya Nio Teng Hie.

Keduanya kemudian lompat turun dibagian belakang sampai mereka menemukan suatu ruangan yang pintunya ditutup dan dijaga oleh seorang gelandangan, akan tetapi orang gelandangan itu tidak sukar dibikin tidak berdaya oleh Tee Seng Hok.

Disaat yang diperlukan ternyata si kucing hitam Tee Seng Hok masih lincah dan gesit.

Dia mendobrak daun pintu ruangan yang ditutup, dan secepat itu juga Lim Tiong Houw sudah mendahulukan lompat masuk dengan sepasang tangan siap memegang beberapa batang senjata piao, sehingga dengan cara demikian mereka berhasil membikin orang yang berada didalam ruangan menjadi gugup dan tidak berdaya.

Sekiranya orang orang yang berada didalam ruangan itu hendak melakukan perlawanan, tentunya hanya dapat dilakukan oleh dua orang yakni Siam say jie lo atau dua orang tua dari Siam say sedangkan yang lain tidak berdaya akan jadi korban senjata piao yang akan dilepaskan oleh Lim Tiong Houw.

Pada waktu itu Lim Tiong Houw berdua Tee Seng Hok bergerak sangat cepat untuk mereka menguasai orang orang yang sedang berada di dalam ruangan; sementara Siam say jie lo sebagai orang orang yang dibayar, tidak mau sembarang bergerak sebelum mendapat perintah dari Kwee Su Liang yang berdiri terpesona didekat Nio Teng Hie, serta Cee Giok Tong dan dua orang tukang pukulnya yang pernah menyerang Lim Tiong Houw waktu di rumah penginapan.

"Lim Tiong Houw; apa maksud kau menyerbu kami...?"

Akhirnya Cee Giok Tong yang membuka suara.

"Hm! memang sudah kuduga bahwa kalian telah berkomplot. Akan tetapi jangan kalian harap dapat menguasai orang orang gelandangan disini dengan menempatkan seorang boneka seperti Nio Teng Hie !"

Sahut Lim Tiong Houw geram.

Merah muka Nio Teng Hie waktu mendengar perkataan Lim Tiong Houw, akan tetapi dia adalah seorang pengecut yang tidak berdaya kalau tidak mendapat dukungan.

Sementara itu, terdengar suara geram dari salah seorang Siam say jie lo, akan tetapi Kwee Su Liang memberikan aba aba merintangi dan orang kepercayaan dari Kongsun Bouw ini lalu berkata .

"Lim Tiong Houw, apakah kau kembali sebab benar benar hendak berkuasa lagi...?"

"Lebih dari itu, aku bahkan hendak membinasakan orang yang sudah membunuh Ouw Beng Tek .,..!"

Sahut Lim Tiong Houw. "Hmm, sebuah lagu lama yang hanya gertak sambel belaka..."

Gumam Cee Giok Tong, sambil dia mengawasi Lim Tiong Houw bagaikan meneliti lalu secepat dia selesai bicara; maka dia memberikan tanda kepada kedua tukang pukulnya, sambil dia bersuara memerintah.

"... hajar dia ....!"

Dua tukang pukul itu meraba senjata mereka, akan tetapi kalah cepat dengan Lim Tiong Houw yang langsung menimpuk memakai dua batang senjata piao tepat membenam ditangan kedua tukang pukul itu; sampai senjata mereka lepas jatuh dilantai.

"Permainan yang bagus ....!"

Seru salah seorang dari Siam say jie lo yang bersorak kegirangan. Sementara itu Cee Giok Tong menjadi pucat mukanya, terlebih waktu dia mendengar suara Lim Tiong Houw yang berkata kepadanya.

"Kemari kau .... !"

Demikian Lim Tiong Houw membentak sambil tetap dia siap dengan senjata piao disepasang tangannya.

Cee Giok Tong perdengarkan suara tidak jelas seperti dia sedang menggerutu; akan tetapi dia lalu bergegas hendak lari menuju ke pintu ruangan yang sudah rusak bekas kena diterjang oleh Tee Seng Hok tadi dan pada saat itu pula Lim Tiong Houw melepas sebatang piao yang tepat membenam di bagian pantat Cee Giok tong.

"Seperti dulu tepat dibagian pantat..."

Seru Lim Tiong Houw yang jadi teringat dengan pengalaman lama, waktu dia serang Cee Giok Tong karena sengketa urusan pacar sedangkan Siam say jie lo sekarang dua-duanya jadi tertawa sambil mereka membekap bagian perut mereka!

Sementara itu Lim Tiong Houw lalu mengawasi NioTeng Hie dan dia berkata.

"Kau pengecut, kemari ..!"

"Aku menyerah, toa ya ..."

Sahut Nio Teng Hie, gemetar tubuhnya.

"Dan kau,"

Lim Tiong Houw berkata sambil dia mengawasi Kwee Su liang, dan orang kepercayaannya Kongsun Bouw ini bersenyum dingin, sambil dia berkata.

"Aku perlu menyampaikan laporanku kepada majikanku...."

Baca Juga: Kisah Si Rase Terbang 12

Baca Juga: Hikmah Pedang Hijau Gu Long

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert