Eps 11 Misteri Kapal Layar Pancawarna - Gu Long
Baca online Misteri Kapal Layar Pancawarna - Gu Long
Cersil Misteri Kapal Layar Pancawarna - Gu Long.
"Betul, seseorang bisa berubah pikiran menjelang ajalnya, umpama dia seorang durjana yang jahat dan kejam, pada saat mendekati ajalnya, dia pun ingin melakukan sesuatu yang baik untuk bekal perjalanan ke alam baka."
Sejak tadi Thi-wah berdiri melongo, mendadak ia tampar muka sendiri, air mata pun bercucuran, katanya keras.
"Akulah yang salah ... aku harus mampus ..."
Mendadak ia berlutut di depan Po-giok serta meratap dengan pilu.
"Toa-ko, Thi-wah pantas dihukum mampus, pukul lah aku sampai mampus!"
Po-giok malah geleng kepala, katanya sambil menghela napas.
"Dalam hal ini kau tidak dapat disalahkan."
"Oo, kenapa aku tidak disalahkan?... Kalau burung dara tidak aku lepaskan, Pek ih-jin tidak ...."
"Umpama kau tidak melepas burung dara itu kembali, cepat atau lambat Pek-ih-jin juga akan datang,"
Demikian tukas Po-giok.
"Agaknya Pui-siau-hiap masih belum percaya padaku?"
Ujar Thi-kim-to. Po-giok menghela napas pula.
"Bukan aku tidak mempercayaimu, soalnya aku sudah tahu dan membongkar maksud tujuan Pek-ih-jin dengan muslihatnya ini."
"Apa maksud tindakanmu ini?"
Tanya Thi kim-to. Po-giok termenung mengawasi mega, perlahan berkata.
"Setelah dia menciptakan jurus sendiri belum tahu apakah ada kelemahan jurus ciptaannya, juga belum tahu pasti di mana letak kelemahannya, kebetulan engkau mohon belajar padanya, maka kamu dijadikan kelinci percobaan. Di situlah maksud tujuannya menurunkan jurus ciptaannya kepadamu, padahal betapa nyentrik watak dan perbuatannya, mana mungkin mau menurunkan sejurus ciptaannya yang memeras tenaga dan keringatnya itu kepadamu?"
"Betul ... memang betul ...."
Thi-kim-to menjadi lunglai, mendadak matanya mendelik serta berteriak.
"Ya, tidak salah! Tidak salah!"
"kau ingat apa lagi?"
Tanya Po-giok.
"Waktu menyerahkan burung dara itu padaku lebih dulu mengikat benang sutera pada kaki burung itu, secara tidak sengaja aku melirik kebetulan dapat aku lihat secarik kertas tipis yang dia gulung dan diikat di kaki burung dara itu bertuliskan dua huruf."
"Dua huruf apa?"
Tanya Po-giok. Thi-kim-to menghela napas, katanya.
"Bawah ketiak. Yang ditulis itu adalah 'bawah ketiak'."
Lama Po-giok tepekur, lalu menarik napas sambil mendongak.
"Ya, memang demikian halnya. Orang ini memang seorang jenius dalam kalangan persilatan, waktu menciptakan jurus ilmu goloknya dia sudah memperhitungkan lubang kelemahan jurus ciptaannya itu ada di bawah ketiak, namun ia sendiri tidak berani memastikan kebenaran dugaannya itu."
"Ya, setelah burung dara itu kembali, ia yakin bahwa perhitungannya tepat."
Po-giok tertawa getir.
"Betul, itulah tujuannya kenapa dia minta kau lepas burung dara itu 537 pulang setelah kamu gugur. Padahal dia sudah mengirim berita bahwa musim bunga tahun depan akan datang ke Tiong-goan, mana mungkin dia ingkar janji. Umpama burung dara itu kau bunuh juga dia akan meluruk ke Tiong-goan."
Mendadak Thi-wah tertawa riang, air mata meleleh di pipinya, katanya riang.
"Kalau demikian, Thi-wah tidak salah lagi bukan?"
Napas Thi-kim-to tambah berat dan makin sesak, katanya serak.
"Kalau dia sudah tahu kelemahan jurus ciptaannya itu ada di bawah ketiak dengan kecerdasannya sebetulnya ia dapat mencari jalan pemecahannya, dan sia-sia aku menjadi umpan percobaannya, aku bukan saja mencelakai awak sendiri, aku juga membunuh orang lain, aku .... kenapa aku berbuat sebodoh ini, mencelakai orang lain juga membunuh diri sendiri ..."
Suaranya makin serak dan lirih, sikapnya juga amat menderita dan duka. Mendadak kedua tangannya memukul dada seraya berteriak.
"Aku mati penasaran ... penasaran ..."
"Bluk", dengan sisa tenaga yang ada ia pukul dada sendiri yang ringsek, seiring dengan bunyi "bluk"
Itu, jiwanya pun melayang. Siau-kong-cu mengawasi Po-giok, mendadak ia tanya.
"Apa betul hanya di tempat itu saja lubang kelemahan jurus itu?"
Po-giok mengangguk.
"Ya, titik kelemahan jurus itu memang di bawah ketiak. Sebetulnya aku tidak mampu memecahkan jurus itu, setelah sinar golok menyamber tiba di depan mata, kutahu jiwaku tak bisa diselamatkan lagi ..."
Setelah tertawa getir, Po-giok melanjutkan, Dalam waktu sekejap itu, aku lihat tabir sinar golok yang putih kelabu, cahaya golok seolah-olah, membalut sekujur tubuhku."
"Lalu cara bagaimana kamu berhasil memecahkannya?"
Tanya Siau-kong-cu.
"Dalam sekejap itulah, mendadak kudapatkan di tengah lingkaran cahaya golok yang paling tebal ternyata bercampur dengan warna hijau dan coklat yang samar-samar. Hal ini dapat aku simpulkan bahwa di tengah lingkaran sinar golok yang paling tebal justru ada lubang kelemahannya, lubang itulah yang menimbulkan gambaran samar-samar dari warna hijau dan coklat dari pepohonan di belakangnya. Bahwa titik kelemahan justru berada di tengah lingkaran sinar golok yang tebal, hal ini sebetulnya membuat hatiku bimbang dan heran, namun dalam saat genting itu mana dapat aku pikirkan persoalan ini, terpaksa aku bertindak dengan menyerempet bahaya."
"Sekali dicoba ternyata berhasil,"
Sorak Siau-kong-cu senang. Po-giok menghela napas.
"Waktu itu aku betul-betul tidak menduga bahwa percobaanku bakal berhasil. Seperti memejamkan mata saja langsung aku terjang ke tengah lingkaran sinar golok yang paling tebal. Dalam keadaan seperti itu, tindakanku itu, ibarat laron menerjang api."
"Jurus laron menerjang api yang bagus sekali!"
Siau-kong-cu berkeplok memuji.
"jurus itu dapat dijajarkan dengan jurus Ju-cian-ci-pok (membikin sawang membelenggu sendiri) ciptaan Jit-biat Su-thai itu cikal bakal Hoa-san-pai yang hebat itu."
Mendengar dirinya dipuji gadis binal ini, Po-giok tertawa riang.
"Waktu itu kurasakan sekujur badanku menjadi dingin, seolah-olah mendadak kejeblos ke dalam air dingin disusul timbul pula perasaan lain yang aneh!"
"Perasaan apa?"
Tanya Siau-kong-cu. Po-giok tidak langsung menjawab, setelah menghela napas baru bicara.
"Kalau bukan lantaran perasaan aneh itu, umpama aku dapat menyelamatkan diri dari serangan jurus ganas itu tetap tak dapat memecahkannya."
"Perasaan aneh apa sih?"
Desak Siau-kong-cu.
"coba jelaskan."
"Dalam keadaan kepepet aku terdesak oleh angin samberan golok yang diliputi hawa membunuh, sekujur badan hampir beku tapi ada satu bagian terasa masih ada hawa hangat. Di tengah lingkaran sinar golok yang dingin itu, dari mana datangnya hawa hangat itu?"
"Aneh, di tengah lingkaran sinar golok yang dingin, dari mana datangnya hawa hangat?"
Siaukong-cu juga bertanya-tanya.
"Hawa hangat itu merembes dari suhu badan Thi-kim-to. Cukup lama dia mengerahkan tenaga dan siap menyerang, dalam keadaan tegang lagi, dengan sendirinya suhu badannya menjadi lebih panas."
"Ya, benar, mungkin demikian,"
Ucap Siau-kong-cu.
"Dalam keadaan biasa suhu badan itu jelas takkan terasakan, tapi pada saat sinar golok yang dingin hampir membeku badan, hawa hangat ini justru terasa amat ganjil. Bahwa di tengah lingkaran sinar golok yang dingin merembes hawa hangat, segera kutahu bahwa di tengah lingkaran sinar golok itu pasti ada lubang kelemahannya, dan lubang kelemahan itu pasti berada di arah datangnya hawa hangat itu."
Bercahaya mata Siau-kong-cu, memantulkan rasa kagum dan memuji.
"Ya, pasti demikian."
Mendadak ia tertawa.
"Kalau pukulan telapak tanganmu kau lontarkan ke arah datangnya hawa hangat itu, namakan saja jurus Hwi-ngo-hoa-hwe (laron terbang menubruk api)."
Po-giok mengangguk, katanya.
"Maka aku tidak sangsi lagi, tangan kontan membalik dan memukul ... ai, dalam keadaan seperti itu, walau aku tiada maksud melukai orang, mau tidak mau aku harus mengerahkan tenaga untuk melancarkan pukulan itu."
"Oleh karena itu, meski kematian Thi-kim-to tidak dapat menyalahkanmu, malah dia bilang kamu terpaksa melukainya karena dipaksa oleh hawa membunuh yang terlalu tebal pada jurus itu ...."
"Kalau jurus itu tidak mengandung hawa membunuh yang tebal. mana mungkin aku merasakan adanya hawa hangat yang merembes ke dalam lingkaran sinar golok yang dingin itu. Kalau aku tidak merasakan adanya hawa hangat itu, mana mungkin aku berhasil menghancurkan jurus itu."
Lama Siau-kong-cu termenung, lalu berkata perlahan.
"Dan hanya engkau saja yang dapat mematahkan jurus itu. Kecuali dirimu siapa bisa menemukan bayangan hijau samar-samar di tengah lingkaran cahaya golok itu."
"Menurut apa yang kuketahui, di antara ahli senjata rahasia yang tidak kalah dibanding diriku. aku yakin mereka juga bisa melihat apa yang aku lihat tadi."
"Ya, umpamakan saja mereka dapat melihat bayangan hijau dan coklat yang samar-samar di tengah cahaya golok tebal itu, tapi kecuali dirimu siapa memiliki nyali sebesar itu, dalam keadaan terdesak berani menerjang ke dalam lingkaran sinar golok yang dahsyat itu."
"Kurasa tidak demikian halnya. Orang lain aku tidak tahu, katakan saja Kim Put-wi Kim-ji-siok dan adikku Thi-wah dalam keadaan tertentu keberanian mereka juga sukar aku tandingi."
"Ya, umpama orang lain ada yang punya keberanian seperti dirimu, tapi kecuali dirimu siapa memiliki indra setajam itu, dalam waktu sekejap itu merasakan adanya hawa hangat yang merembes masuk dalam lingkaran yang dingin itu."
Po-giok tertawa, katanya "Bicara tentang kepekaan perasaan, mana aku mampu menandingi dirimu?"
"Umpama benar ada orang yang memiliki ketajaman melebihi dirimu, tapi kecuali dirimu, siapa dapat memanfaat kesempatan secara tepat, menentukan posisi dengan baik, sekali turun tangan langsung menggempur titik kelemahan itu secara telak."
"Seorang yang memiliki ketajaman indra, tidak sukar untuk memegang waktu dan menentukan posisi secara tepat, aku pernah menyaksikan kamu bergebrak dengan orang, untuk ini kurasa kamu tidak perlu merendahkan diri."
Siau-kong-cu tertawa manis.
"Baiklah, anggaplah ada orang memiliki ketajaman mata melebihi dirimu, ada pula yang bernyali lebih besar dan berani darimu, dan seorang memiliki ketajaman lebih tinggi dibanding engkau , katakan apa ada orang memiliki kekuatan dalam yang lebih dahsyat dibanding dirimu, tapi kecuali engkau , siapa dapat mencakup semua kelebihan itu 539 pada diri sendiri seperti kamu? Padahal untuk memecahkan jurus itu, tidak boleh kurang dari salah satu kelebihan itu."
"Betul,"
Seru Thi-wah.
"kecuali Toa-ko orang lain jelas tidak mampu."
"Tepat, siapa pula orangnya kecuali dirimu?"
Po-giok mengawasi Siau-kong-cu dengan tertawa.
"Mendadak engkau memujiku setinggi langit, apa maksudmu sebenarnya?"
Siau-kong-cu tertawa.
"Hah, agaknya kamu kegirangan."
"Betul, di samping kaget aku memang senang."
Ujar Po-giok tertawa. Lebih manis tawa Siau-kong-cu.
"Aku ingin memujimu karena kutahu kamu tidak akan hidup lebih lama lagi. Mumpung ada kesempatan, kalau tidak sekarang aku puji kamu, kelak mungkin tiada kesempatan lagi."
"Omong apa kau !"
Bentak Thi-wah gusar.
"omong lagi akan ku ..."
"Biarkan dia bicara,"
Sela Po-giok tertawa.
"aku sudah tahu kalau dia meraba seseorang, maksudnya hanya ingin membersihkan tempat itu, lalu dengan gregetan ia menggigitnya."
"Betul sekali,"
Seru Siau-kong-cu cekikikan.
"hanya kamu yang tahu tentang diriku. Permen yang kuberikan kepada orang lain, tentu sudah aku campur racun."
Amarah Thi-wah belum reda, serunya lantang.
"kau bilang Toa-ko ku tidak panjang umur, apa alasanmu, coba jelaskan."
"Jurus ciptaan Pek-ih-jin itu, lubang kelemahannya hanya satu yaitu di bawah ketiak bukan?"
"Betul."
"Setelah burung dara itu dilepaskan, membuktikan bahwa kelemahan itu sesuai dugaan sebelumnya, maka dia pasti akan berusaha menutup lubang itu, dengan bekal dan kecerdikan otaknya, tidak sulit baginya untuk menanggulangi kesulitan ini bukan?"
"Ya, tidak salah."
"Kalau dia berhasil menutup lubang kelemahan jurus itu, berarti jurus itu tiada kelemahan lagi betul tidak?"
"Ya,"
Po-giok menghela napas.
"kalau dia berhasil menutup lubang kelemahan itu, maka tiada orang di dunia ini yang dapat mengalahkan jurus itu."
"Engkau pun tidak dapat menandinginya?"
"Sudah tentu termasuk aku juga."
"Makanya, cepat atau lambat kamu akan duel dengan Pek-ih-jin, bila musim bunga tahun depan tiba, engkau akan binasa di tangannya, betul tidak?"
Lama Po-giok terlongong, akhirnya ia menarik napas panjang dan menjawab.
"Ya, betul."
Siau-kong-cu cekikikan.
"Musim bunga tahun depan sudah dekat, umpama kau pulang segar bugar dari perjalananmu ke Pek-cui-kiong kali ini, jiwamu pun takkan hidup lebih lama lagi."
"Toa-ko akan mati, kenapa kau senang malah?"
Tiba-tiba Thi-wah menghardik gusar.
Siau-kong-cu tidak peduli padanya, matanya masih mengawasi Po-giok dan akan bicara.
Siapa tahu mendadak Po-giok meloncat bagai burung terbang meluncur ke pinggir sana.
Begitu tubuhnya terapung di udara, mulutnya membentak.
"Saudara tunggu sebentar!"
Hanya bicara beberapa patah kata, langsung ia melesat masuk hutan.
Sudah tentu Siau-kong-cu dan Thi-wah mengejar ke dalam hutan.
Dalam hutan memang tampak seorang lagi lari lintang pukang, betapapun lincah dan enteng gerak tubuhnya, mana dapat lolos dari kejaran Pui-Po-giok.
Baru belasan langkah ia lari, baju kuduknya sudah dicengkeram oleh Po-giok, katanya sambil menoleh.
"Hampir setengah hari orang ini sembunyi di sini, sungguh menggelikan kita tidak mengetahuinya .... Saudara sudah setengah hari mencuri dengar pembicaraan kami, nah, perlihatkanlah wajah aslimu."
Po-giok tidak memakai tenaga, tapi orang itu menjatuhkan diri serta menyembah ketakutan, tatapnya gemetar.
"Aku tidak mencuri dengar, tidak melihat apa-apa. Toa-ya, ampun, biarlah aku pergi."
"Siapa she dan namamu? Untuk apa berada di sini?"
Tanya Po-giok. Mendadak Siau-kong-cu menyela dengan suara dingin.
"Tentu kau tahu jatuh di tangan pendekar kita Pui-Po-giok. Ada persoalan apa, katakan terus terang, jangan pura-pura dan mencari penyakit sendiri."
"Hamba tidak pura-pura dan tidak berani cari penyakit, hamba adalah pencari kayu bakar .... Toa-ya, Pui-Toa-ya, ampunilah jiwa hamba!"
Dandanan orang ini memang mirip pencari kayu bakar maka Po-giok mengendurkan pegangannya, katanya dengan alis berkerenyit "Apa betul kamu penduduk setempat?"
Sesaat Siau-kong-cu tepekur, mendadak ia tertawa sambil menghampiri, tanpa bicara ia tepuk pundak orang, lain berkata.
"Coba berpaling ke mari."
Orang itu menjawab.
"Hamba tidak ... tidak berani berpaling."
"Ayo berpaling,"
Teriak Thi-wah.
"Memangnya dia bakal menelanmu, takut apa?"
Mati pun orang itu tidak mau berpaling, dengan gemetar ia berkata.
"Hamba tidak berani. hamba tidak berani ..."
Siau-kong-cu tertawa geli.
"Baiklah, jika tidak mau berpaling, biar aku lihat tampangmu dari depan."
Belum habis Siau-kong-cu bicara, orang itu sudah menutup muka dengan kedua telapak tangannya"
"Oo, seperti gadis yang malu-malu segala, turunkan tanganmu, kalau tidak kau turunkan, biar kutarik tanganmu."
Begitu Siau-kong-cu mengulur tangan, orang itu menjerit kaget, lalu mendekam di tanah, selebar mukanya didekap kedua tangan mati pun tidak mau angkat kepala.
Melihat orang ini takut berhadapan dengan dirinya, mau tidak mau timbul rasa curiga Po-giok Thi-wah yang jengkel segera mencengkeram kuduk orang terus dijinjingnya ke atas, bentaknya.
"Seorang laki-laki kenapa bertingkah serupa perempuan tidak malu!"
Orang itu menjerit kaget lekas ia tutup muka dengan kedua tangan pula, tapi begitu jari Siaukong-cu menjentik perlahan, orang itu merasakan siku kesemutan dan lunglai seluruh lengannya, kedua tangan tidak mampu bergerak lagi.
Walau tangan tidak bisa bergerak, tapi badan meronta-ronta, Thi-wah menjinjingnya seperti elang mencengkeram anak ayam dan sukar ia melepaskan diri.
Tangan Thi-wah yang lain segera angkat dagu orang katanya dengan tertawa.
"Toa-ko, tengoklah dia, mukanya burikan, pantas malu dilihat orang."
Dua kali Po-giok memperhatikan wajah orang walau cuaca dalam hutan agak gelap, muka orang itu berlepotan pasir dan debu, tapi Po-giok masih mengenalinya, tak urung ia tertawa geli, katanya.
"Li-ciang-kun, kenapa berada di sini?"
Laki-laki yang berdandan sebagai pencari kayu bakar ini ternyata bukan lain daripada Pek-ma-ciang-kun Li Bin-sing. Thi-wah tertegun sebentar lalu menurunkan tubuh orang katanya bergelak.
"Li-ciang-kun, Li Bin-sing, kiranya engkau .. Hahaha, kiranya engkau ? Di mana kuda putihmu itu? Kenapa tidak 541 naik kuda supaya dilihat orang banyak?"
Walau Pek-ma-ciang-kun ini setiap waktu berusaha menipu orang, tapi Po-giok dan Thi-wah tidak pernah menaruh dendam atau benci padanya, setiap bertemu mereka selalu geli dan suka menggodanya malah.
Cemberut muka Li Bin-sing, katanya sedih.
"Sudah lama kuda putih itu aku jual, nama Pek-ma-ciang-kun juga sudah lama aku buang ... Pui-tai-ya, Gu-tai-ya, anggap saja kalian tidak pernah melihat orang seperti diriku ini."
Po-giok tertawa.
"Lho, kenapa kuda putih kau jual? Apa usahamu belakangan ini makin mundur?"
"Usaha menipu orang sudah lama tidak pernah kulakukan lagi, sekarang aku sudah tobat, aku terima menjadi tukang pencari kayu bakar ... Pui-tai-ya, Gu-tai-ya, selamat bertemu lain waktu."
Belum habis bicara, serentak ia hendak lari pergi. Tapi Thi-wah menariknya, katanya tertawa.
"Mau ke mana? Ngobrol dulu di sini."
"Kalian adalah pangeran di antara jago pedang, seorang lagi adalah tuan putri dalam Bu-lim, aku ini hanya tukang cari kayu belaka, soal apa yang dapat kita bicarakan"
"Eh, dari mana kau tahu tentang diriku?"
Tanya Siau-kong-cu tiba-tiba. Li Bin-sing tertegun, air muka pun berubah.
"Aku ... aku tidak tahu, aku hanya menebak sembarangan."
Siau-kong-cu mendengus.
"Kamu kan sahabat lama mereka, bahwa mereka tidak bermaksud jahat terhadapmu, dan engkau tidak punya dendam dan sakit hati dengan mereka, tapi begitu melihat mereka, kenapa kau lari lintang pukang, apa sebabnya?"
Basah keringat Li Bin-sing, sahutnya gugup.
"Aku ... aku tidak ...."
"Tidak apa,"
Bentak Siau-kong-cu.
"soalnya kau dengar sesuatu rahasia dan melihat suatu kejadian, tapi tidak mau menerangkan kepada mereka, karena takut dan bermaksud jahat maka kamu ..."
"O, tidak, tidak ..."
Teriak Li Bin-sing.
"aku tidak melihat apa-apa, aku tidak tahu apa-apa."
Mendadak Siau-kong-cu angkat tangan, beruntun delapan kali ia gampar muka orang, bentaknya.
"kau tahu tidak?"
"Aku tidak tahu, aku ..."
Li Bin-sing membandel. Sekali jotos Siau-kong-cu menggenjot hidung Li Bin-sing, katanya dengan tertawa.
"Apa benar kamu tidak tahu?"
Merah bengkak muka Li Bin-sing, hidungnya juga melepuh seperti terong, air mata dan air liur bercucuran, setelah gentayangan akhirnya ia jatuh terduduk di tanah, tangan mendekap muka seraya berteriak.
"Aku sudah tahu."
Siau-kong-cu tertawa lebar.
"Nah, kan begitu kalau sejak mula kau bicara tentu aku tidak akan menghajarmu .. Aduh, sakitkah mukamu?"
"Tidak sakit, tidak sakit ..."
Li Bin-sing menyengir. Siau-kong-cu tertawa.
"Kalau tidak sakit, biar aku gampar lagi dua kali."
"Wah, sakit, sakit, kini terasa sakit ... ah, malah sakit sekali."
Po-giok merasa geli, padahal ia tahu Li-Bin-sing memang menyimpan rahasia, bahwa dia hanya berpeluk tangan dan menonton saja, karena ia tahu watak orang she Li ini memang takut digertak, Siau-kong-cu sendiri cukup mengompes keterangan dari mulutnya.
Malah Po-giok yakin hanya gadis macam Siau-kong-cu saja yang dapat menundukkan orang seperti Li-Bin-sing.
Thi-wah sebaliknya merasa penasaran akan nasib Li Bin-sing, tapi karena sang Toa-ko tidak memberi komentar, sudah tentu ia tidak berani bicara.
Dilihatnya Siau-kong-cu mendadak menarik muka, katanya.
"Beberapa tahun ini, apa benar kau jadi tukang pencari kayu bakar di sini?"
"Betul,"
Sahut Li Bin-sing.
"mana berani aku dusta"
"Bohong!"
Bentak Siau-kong-cu.
"hutan ini hutan jati, kayu apa yang bisa kau tebang untuk bahan bakar."
"Aku ... menebang kayu di tempat lain, tapi aku tinggal di sekitar sini,"
Sahut Li Bin-sing gelagapan.
"Baiklah, kalau benar kamu tinggal di hutan ini, apa yang terjadi dua hari di sini tentu kau tahu, betul tidak?"
"Tidak ... oh, ya, semua aku tahu,"
Ingin dia menyangkal tapi begitu Siau-kong-cu melotot nyalinya menjadi ciut. Siau-kong-cu tertawa lebar, katanya senang.
"Nah, kalau tahu, lekas jelaskan ... jelaskan seluruhnya, tidak boleh ada yang ketinggalan."
Li Bin-sing mengelus hidung dan menyeka air mata, dengan muka cemberut terpaksa ia bicara.
"Aku .. kalau aku ceritakan, kelak mungkin ... mungkin aku bisa mampus."
Siau-kong-cu menyeringai.
"Sebaliknya kalau tidak kau jelaskan, sekarang juga jiwamu melayang, tahu!"
Bercucuran keringat Li Bin sing, suaranya gemetar.
"Aku ... aku ..."
Akhirnya ia menarik napas "Baiklah aku bicara."
Wajah Siau-kong-cu yang semula dingin, seketika berseri senang seperti bunga mekar, katanya "Kamu memang pintar, nah katakan."
"Rumah di luar hutan itu, sebetulnya temanku si hidung merah Lo-tan. Malam hari kalau sedang senggang aku sering ke rumahnya untuk mengobrol dan minum barang dua cangkir arak."
Berkerut alis Po-giok, tanyanya.
"Apakah Lo-tan punya anak istri?"
"Seorang istri dua anak perempuan ..."
Sahut Li-Bin-sing. Sekilas ia lirik Po-giok, lalu menambahkan.
"tapi yang kucari adalah Lo-tan, bukan anak perempuannya."
"Sikapmu ini justru seperti maling yang takut konangan, kurasa kamu ke rumah Lo-tan tentu bermaksud tidak baik. Tapi itu aku tidak peduli, lanjutkan keteranganmu,"
Demikian semprot Siau-kong-cu.
"Kemarin sore,"
Demikian tutur Li-Bin-sing.
"aku berniat makan malam di rumah Lo-tan, siapa tahu sebelum aku tiba di depan rumah, dari dalam rumah aku dengar teriakan orang minta tolong."
Setelah menghela napas ia melanjutkan.
"Kukenal suara itu adalah jeritan Lo-tan, cepat aku sembunyi di belakang pohon, diam-diam aku intip apa yang terjadi di sana?"
Thi-wah gusar, semprotnya.
"Temanmu minta tolong, kamu tidak membantu, kenapa sembunyi malah?"
"Aku ... mana aku mampu menolongnya, aku ..."
Li Bin-sing gelagapan.
"Dasar bedebah!"
Maki Thi-wah murka.
"Baiklah, katakan apa yang kau lihat?"
Setelah menghela napas Li Bin-sing berkata "Jeritan minta tolong itu hanya terdengar sekali lalu berhenti, kejap lain aku lihat Lo-tan dan bininya beserta kedua putrinya digusur keluar oleh beberapa orang."
"Beberapa orang macam apa?"
Tanya Po-giok.
"Beberapa orang itu berhidung besar, bermata sipit, wajahnya beringas penuh nafsu membunuh, semua berpakaian seragam hitam, dandanan dan bentuk mereka seperti barang asal satu cetakan."
Po-giok saling pandang sekejap dengan Siau-kong-cu. Li Bin-sing bertanya.
"Apa kalian kenal mereka?"
"Tugasmu sekarang bercerita, jangan campur urusan kami,"
Bentak Siau-kong-cu.
"Meski Lo-tan sekeluarga digiring ketakutan, anak bininya menangis kuatir, tapi aku lihat mereka tidak terluka atau disakiti, juga tidak diikat atau dibelenggu, maka legalah hatiku."
"Ke mana orang-orang seragam hitam ini membawa Lo-tan dan keluarganya?"
Tanya Po-giok.
"Aku juga tidak tahu. Yang pasti tiga orang laki-laki seragam hitam menggiring mereka pergi. Tapi dua kawan mereka tertinggal dan berjaga di rumah Lo-tan."
Thi-wah menghela napas, gumamnya.
"Sial bagi kedua orang itu ... lalu bagaimana?"
"Aku bersembunyi di tempat jauh, bernapas pun aku tahan, hatiku takut tapi juga heran, Lo-tan bukan keluarga kaya, kenapa orang-orang itu menculiknya?"
Setelah menghela napas Li Bin-sing melanjutkan.
"Karena heran aku jadi tertarik dan ingin tahu lebih lanjut, maka aku tetap sembunyi di tempatku. Tampak kedua orang baju hitam itu tidak mengerjakan lain kecuali membersihkan meja dan menata mangkuk dan sumpit, ternyata mereka membawa sebuah keranjang besar berisi masakan dan perabot makan. Lebih aneh lagi setelah menata meja makan, mereka sendiri tidak lantas makan seorang mengeluarkan sebuah lampion merah lalu digantung di depan rumah, seorang lagi longak-longok ke arah jauh entah apa yang dilihat atau ditunggunya, tidak jarang kedua orang ini kasak-kusuk, entah apa yang dibicarakan."
"Apa betul kamu tidak dengar pembicaraan mereka?"
Tanya Po-giok.
"Mereka bicara lirih aku tidak dengar Aku tidak habis mengerti kenapa mereka bersusah payah meminjam rumah Lo-tan hanya untuk menjamu orang di sana,"
Demikian tutur Li Bin-sing.
"Ya, mana kau dapat menebaknya, lanjutkan ceritamu,"
Desak Siau-kong-cu.
"Mereka berdiri di luar pintu menunggu tamu, di luar tahunya sang tamu justru datang dari belakang. Aku lihat dengan jelas, ada empat atau lima orang keluar dari dalam, langsung mendekati kedua orang itu, setiba di belakangnya kedua orang itu belum lagi menyadari sama sekali. Jantungku jadi berdebar-debar dibuatnya."
"Macam apa pula kelima orang ini?"
Tanya Po-giok.
"Beberapa orang ini juga berseragam hitam, kepalanya juga berkerudung, semula aku kira mereka satu rombongan, tapi aku lihat beberapa orang yang datang belakangan ini semua membawa senjata, sorot matanya bengis penuh nafsu membunuh, satu di antaranya membentak, 'Menoleh!' Kedua orang itu terjingkat sambil membalik badan, baru saja tubuh berputar, aku hanya melihat sinar pedang berkelebat sekali, tahu-tahu kedua orang itu sudah terkapar mampus."
Po-giok berkerut alis.
"Mereka tidak mengompes keterangan dari kedua orang itu?"
"Pertanyaan apa pun tidak diajukan, hanya mengangkat tangan sedikit saja ... ai, tusukan pedang itu sungguh telak dan secepat kilat."
Po-giok termenung sejenak, tanyanya.
"Menurut pendapatmu ilmu pedangnya itu dari aliran mana?"
Li Bin-sing geleng kepala.
"Aku tidak tahu!"
Po-giok termenung lagi, katanya "Menurut penilaianmu, berapa tahun kira-kira latihan ilmu pedang orang itu?"
Li Bin-sing tepekur sesaat lamanya.
"Menurut pendapatku, kalau tidak ada latihan selama tiga-544 lima puluh tahun, jangan harap mampu melancarkan permainan pedang seindah itu ... dan yang paling aneh adalah ilmu pedang kedua orang itu satu sama lain tidak lebih unggul atau asor. Dalam keadaan biasa jarang bisa kita temui dua orang memiliki ilmu pedang semahir itu, tapi kenyataan hari itu berbareng muncul dua orang."
Berkerenyit alis Po-giok, gumamnya.
"Tiga-lima puluh tahun? ..."
Thi-wah ikut hanyut oleh cerita itu, tanyanya tidak sabar.
"Selanjutnya bagaimana?"
"Setelah membunuh orang, kedua orang itu segera menggeledah badan sang korban,"
Demikian tutur Li Bin-sing lebih jauh.
"diam-diam aku merasa heran pula, memangnya jago sekosen mereka juga menjadi perampok? Tiba-tiba aku dengar seorang di antaranya berteriak, 'Nah, ada di sini!'."
Setelah menghela napas Li Bin-sing melanjutkan.
"Ternyata mereka membunuh dua orang itu hanya untuk memperoleh secarik kertas saja."
"Apa yang mereka bicarakan setelah membaca tulisan di kertas itu?"
Tanya Po-giok cepat.
"aku dengar seorang bertanya, 'Berapa lama perjalanan ke Tai-bing-hu dari sini?' Seorang lain menjawab, 'Tidak jauh lagi.' Orang itu lantas berkata, 'Ayo berangkat!'."
"Tai-bing-hu ..."
Bergetar hati Po-giok "ternyata ada di Tai-bing-hu!"
"Apakah sehabis bicara mereka lantas berangkat?"
Tanya Siau-kong-cu.
"Mendingan kalau segera berangkat"
Ucap Li Bin-sing sambil menghela napas panjang.
"Apakah mereka masih berbincang-bincang?"
Tanya Po-giok. Li Bin-sing menjelaskan.
"Orang pertama yang turun tangan tadi semula tidak bicara, kini mendadak bicara. 'Kalian tunggu sebentar, aku akan kencing dulu ke dalam hutan sana'."
Thi-wah tertawa geli.
"Kurasa tidak tepat saatnya dia ingin kencing"
Li Bin-sing tertawa kecut.
"Sekarang kau geli, waktu itu hatiku justru gugup setengah mati. Dia beranjak ke arah diriku, jantungku rasanya seperti mau copot, diam-diam aku berdoa semoga dia lekas kencing dan lekas berangkat. Di luar tahuku begitu tiba di depan hutan mendadak ia bergerak selincah kelinci. secepat panah ia menubruk ke tempat sembunyiku."
"Lantaran ingin kencing orang itu membuatmu susah ya?"
Demikian olok Thi-wah.
"Kencing apa. Yang benar dia tahu kehadiranku di belakang pohon, katanya saja kencing, maksudnya supaya aku tidak curiga dan melarikan diri aku memang tidak menduga akan disergap."
"Bukan saja mata dan kupingnya tajam, gerak-gerik orang ini amat lincah, otaknya juga cerdik, banyak perhitungan, siapakah dia? Sukar ditebak asal-usulnya,"
Thi-wah bertanya.
"Apa kamu ditangkap olehnya?"
"Sudah tentu kena diringkus,"
Sahut Li Bin-sing.
"Tapi mereka tidak membunuhmu?"
Tanya Thi-wah pula.
"Begitu diseret keluar, aku menduga jiwaku takkan selamat lagi, untung mereka tiada yang kenal diriku, aku dianggap orang desa yang tidak tahu urusan."
Siau-kong-cu tertawa.
"Kamu memang pintar main sandiwara."
"Waktu itu aku berlutut dan meratap mohon ampun, rasanya leherku ini sudah berada di ujung senjata mereka, sekali tusuk saja jiwaku bakal melayang. aku dengar orang bicara, 'Kelihatannya orang ini bukan kaum persilatan, orang desa yang tidak tahu apa-apa, lepaskan saja!' Baru saja hatiku merasa senang, aku dengar pula seorang lain berkata, 'Jangan dilepaskan, terlalu banyak yang ia lihat dan dengar di sini.' ...."
Siau-kong-cu tertawa geli, katanya.
"Maka kau tuding langit dan tunjuk bumi bersumpah dan 545 mohon ampun kepada mereka, bahwa selama hidup tidak akan membocorkan kejadian ini, mungkin kau pun bilang ibumu sudah berumur 80 dan punya anak yang baru lahir."
Li Bin-sing tertawa malu.
"Dalam keadaan seperti itu, demi cari selamat cara apa pun dapat kulakukan. Tapi orang-orang itu bimbang. yang mengusulkan menutup mulutku, ada yang ingin membebaskan aku ... ai, waktu itu rasanya susah aku ceritakan."
Siau-kong-cu mendengus.
"Hm, kurasa mereka terlalu mengagulkan diri sebagai orang kosen dari aliran lurus yang ternama, maka tidak mau main bunuh sembarangan. Kalau aku jadi mereka, memangnya jiwamu bisa tahan sampai sekarang? Pantasnya mereka tahu manusia seperti dirimu tidak dapat dipercaya akan tutup mulut serapat mulut botol."
Pucat muka Li Bin-sing, tubuhnya juga gemetar dan berkeringat dingin.
"Tapi urusan nona sendiri aku bersumpah akan tutup mulut serapat-rapatnya, kalau aku buka mulut biar di ..."
"Sudah,"
Tukas Siau-kong-cu.
"tidak perlu sumpah, lanjutkan keteranganmu."
Li Bin-sing menghela napas lega, lalu melanjutkan.
"Pada saat mereka sukar mengambil keputusan, mendadak dari luar berlari masuk pula seorang berbaju hitam, dengan napas tersengal-sengal ia berkata, 'Pui-Po-giok dan Siau-kong-cu sudah datang'!"
"Kiranya ada orang mereka yang berjaga di luar,"
Kata Siau-kong-cu.
"Begitu mendengar nama kalian berdua, bukan kepalang kaget hatiku,"
Demikian tutur Li Bin-sing.
"ternyata mereka lebih gugup lagi, cepat mereka menggotong kedua mayat itu ke dalam kamar."
"Keadaan memang mendesak sehingga mereka tidak sempat mengebumikan mayat itu,"
Demikian kata Po-giok.
"Melihat sikap gugup mereka, hatiku amat kuatir, tapi juga senang,"
Demikian tutur Li Bin-sing lagi.
"kecuali kuatir mereka menggorok leherku dalam keadaan mendesak itu, aku mengharap pula mereka tidak sempat membereskan diriku."
Setelah menyeka keringat di kening, lain melanjutkan.
"Maka aku lebih keras meratap dan mohon belas kasihan, syukur jerih payahku tidak sia-sia, seorang di antara mereka akhirnya berkata 'Lekas enyah! Dan pergi sejauh-jauhnya, selama hidup jangan kembali ke mari lagi.' Seorang lagi juga berkata, 'Kejadian hari ini jangan kau ceritakan kepada orang lain ... ' Aku memperoleh pengampunan, sudah tentu tidak kepalang senang hatiku, tak sempat aku dengar pembicaraan mereka segera aku angkat langkah seribu."
"Anggaplah belum tiba ajalmu,"
Jengek Siau-kong-cu.
"Lha, setelah selamat dan lari, kenapa kembali lagi?"
Tanya Thi-wah.
"Aku ... aku kembali untuk menengok keadaan saja,"
Sahut Li Bin-sing takut-takut.
"Rase tua memang licin dan licik, kembali kamu bohong ..."
Demikian tegur Siau-kong-cu.
"Apa benar kau pulang hanya untuk melihat-lihat? Hm, bukankah kamu membawa Thi-kim-to ke sini? Kalau tidak dari mana ia tahu Pui-Po-giok berada di sini?"
Mendadak Li Bin-sing berdiri kaku, mulut melongo dan mata terbelalak, sesaat lamanya baru menarik napas panjang, dan bergumam.
"Segala persoalan agaknya tidak bisa mengelabui dirimu ... segala persoalan tidak bisa bohong ..."
"Sudah tentu tidak bisa,"
Jengek Siau-kong-cu.
"Nah, bicaralah sejujurnya."
"Aku lari tanpa menentukan arah, entah berapa lama dan berapa jauh aku lari, mendadak aku menabrak tubuh seorang. Ternyata tanpa bersuara orang ini sengaja menghadang di depanku."
"Wah, kebetulan sekali,"
Ujar Siau-kong-cu.
"Memang kebetulan begitu melihat dia berpakaian hitam, nyaliku menjadi ciut begitu putar tubuh aku ingin lari lagi, tak nyana sekali raih aku dibekuknya, tanyanya padaku, 'Tengah malam buta kenapa kau lari lintang pukang?' Sudah tentu aku tergagap tidak bisa memberi keterangan. Tak tahunya mendadak orang itu berseru kaget. 'He. kiranya engkau !'"
Siau-kong-cu bertanya.
"Thi-Kim-to mengenalmu?"
"Ya, sejak dua puluh tahun yang lalu, kami sudah kenal satu sama lain."
"O, kiranya kalian sudah bersahabat sejak lama,"
Jengek Siau-kong-cu.
"Setelah tahu siapa dia lega juga hatiku, kutanya kenapa ia berada di situ. Dia bilang menguntit Pui-Po-giok dan setiba di daerah ini ia kehilangan jejaknya."
"Lalu kau bawa dia ke sini?"
Tanya Po-giok.
"Kupikir dia tidak bermaksud jahat terhadapmu, mengingat sudah lama kami bersahabat, terpaksa aku membawanya ke sini. Tak nyana dia suruh aku menunggu di luar hutan, setelah aku lihat ia bergebrak denganmu, hatiku menjadi gugup dan takut, akhirnya aku lihat dia terbunuh olehmu sudah tentu aku tidak berani unjuk diri, ingin lari, tapi ... ai, ternyata ketajaman mata kupingmu tidak di bawah orang-orang berbaju hitam itu."
"Kalau benar demikian, semua persoalan ini tiada sangkut-pautnya denganmu, kenapa tadi kamu tidak mau bicara?"
Demikian desak Siau-kong-cu. Li Bin-sing menghela napas.
"Aku sudah mengundurkan diri dari kang-ouw, aku emoh berkecimpung dalam Bu-lim, aku mendambakan kehidupan damai dan cari makan dengan halal."
Habis Li Bin-sing bicara, Po-giok tertunduk diam, Thi-wah hanya manggut-manggut, bola mata Siau-kong-cu yang bening dan jeli justru berputar dan mengerling kian kemari.
Akhirnya matanya menatap Thi-wah dan bertanya.
"kau percaya apa yang diceritakannya?"
"Dia bercerita sejujurnya, kenapa aku tidak percaya?"
Ucap Thi-wah.
"Dan kau ?"
Tanya Siau-kong-cu terhadap Po-giok. Po-giok tersenyum.
"Percaya tapi juga tidak percaya, setengah-setengah."
"Aku bercerita menurut kejadian sebenarnya, sepatah kata pun tidak bohong,"
Seru Li Bin-sing.
"Apa yang kau kisahkan, walau dia kurang percaya, aku justru percaya penuh,"
Kata Siau-kongcu Li Bin-sing terbelalak girang.
"Kalau begitu, biarlah aku pergi saja."
"Soal ini ... perlu dirundingkan dulu dengan Pui-Po-giok. Thi-wah, jagalah dia di sini,"
Demikian kata Siau-kong-cu.
Lalu menarik tangan Po-giok, dengan tertawa ia seret pemuda ini keluar hutan.
Setiba di luar hutan Siau-kong-cu melepas gandengannya.
Po-giok mengawasi wajahnya yang mempesona.
Siau-kong-cu tertawa manis, katanya.
"Apa yang kau lihat? Dan apa yang kau pikir?"
Po-giok menghela napas.
"Apa yang kupikir, masa tidak tahu?"
Mendadak Siau-kong-cu menunduk, ketika ia angkat kepala lagi, senyum manis yang menghias wajahnya telah sirna, mukanya kaku dingin, suaranya lebih dingin.
"Aku tak peduli apa yang pikir. Aku hanya ingin tanya, dari cerita Li Bin-sing tadi, bagian mana kau percaya dan bagian mana yang tidak kau percaya?"
"Kejadian yang dia saksikan kurasa benar. Dia diringkus orang lain dilepas lagi, itu juga benar, dua hal ini kukira dia bicara sejujurnya."
"Ehm, lalu dalam hal apa dia bohong?"
"Pertama, Li Bin-sing bukan manusia yang sudi merendahkan diri dan mau hidup bersahaja, aku tidak percaya dia mau mengundurkan diri dari kalangan kang-ouw dan mengasingkan diri di hutan."
"Itu yang pertama, masih ada yang kedua?"
"Kedua, jago kosen seperti Thi-kim-to, tidak mungkin mau bersahabat dengan manusia seperti dia. Dia bilang mengingat persahabatan lama maka dia mau mengantar Thi-kim-to mencari aku, aku tidak percaya."
"Masih ada yang ketiga?"
"Ada yang kedua, apa mesti harus ada yang ketiga?"
"Baiklah, sekarang kutanya, kenapa dia bohong? Kejadian atau persoalan apa yang dia sembunyikan? Kenapa ia harus merahasiakan duduk persoalan sebenarnya, apa keuntungannya bagi dia?"
"Wah, serumit itu ... aku tidak tahu."
"Orang sepintar engkau , masa ada persoalan yang tidak kau ketahui?"
"Memangnya kau tahu?"
"Kapan kubilang aku ini pintar, orang juga tidak bilang aku pintar, tidak seperti engkau ..."
"Apa yang akan kau lakukan terhadapnya?"
Tukas Po-giok. Berkedip mata Siau-kong-cu.
"Coba tebak apa yang akan kulakukan atas dirinya?"
Dalam hati Po-giok membatin.
"Akan kau bebaskan dia lalu menguntitnya secara diam-diam."
Tapi dengan tertawa ia berkata.
"Mana aku bisa menebak isi hatimu."
Siau-kong-cu berkata.
"Akan aku bebaskan lalu aku kuntit dia, aku ingin tahu ke mana dia pergi? Aku ingin tahu lakon apa yang dia perankan dalam sandiwara ini?"
"Bagus, bagus!"
Puji Po-giok seraya berkeplok.
"akal sebagus ini kenapa tidak aku pikirkan."
Siau-kong-cu tertawa riang, inilah tertawa lebar yang pertama, tertawa riang yang sesungguhnya, katanya.
"Buah pikiran seorang linglung, ada kalanya hasilnya lebih bagus dari pemikiran seorang cerdik."
Mengawasi gadis binal di depannya, Po-giok juga tertawa, tapi tertawa yang aneh.
"Apa yang kau tertawakan?"
Tanya Siau-kong-cu. Apakah tertawa pun tidak boleh?"
Po-giok balas bertanya.
"Tapi tertawamu aneh, tawa yang menyebalkan."
"Aku tertawa aneh, aku merasa engkau seorang aneh, maka aku tertawa dengan aneh."
Siau-kong-cu menarik muka.
"Dalam hal apa aku aneh?"
"Bila di hadapan orang lain, ada kalanya engkau bersikap mesra dan aleman terhadapku, tapi bila orang tidak melihat dirimu, maka engkau lantas berubah, mulut cemberut, muka membesi. Dan lagi kamu selalu mempersulit diriku, mencari onar dan mengadu otak denganku. Tapi bila menghadapi persoalan yang menyangkut orang lain, kamu selalu membela dan sepihak denganku ..."
Siau-kong-cu mengentak kaki, serunya keki.
"Siapa memihak denganmu. Tak usah ya."
Habis bicara ia putar tubuh terus lari secepat terbang. ***** Dengan melotot Thi-wah mengawasi Li Bin-sing tanpa berkedip. Li Bin-sing tertawa, katanya.
"Sekian tahun tidak bertemu, kamu kelihatan tambah gede."
"Sejak mula aku memang bukan orang kerdil,"
Sahut Thi-wah.
"Sejak perkenalan pertama dulu, aku sudah tahu kamu orang baik."
"Betapapun baiknya diriku ini, jangan harap aku mau melepasmu pergi."
Li Bin-sing menyengir sesaat lamanya ia menjublek, lalu mendadak ia menjerit sambil memeluk perut.
"Wah, celaka, perutku mules, aku mau ..."
Thi-wah tertawa, katanya.
"Kalau orang lain yang menipu aku, mungkin aku bisa tertipu, tapi engkau ... hehe, sebelum Toa-ko kembali, berani kamu bergerak bisa aku gecek batok kepalamu."
Perut Li Bin-sing tidak sakit lagi, dengan kaku mengawasi orang gede di depannya, sesaat kemudian ia menghela napas, katanya.
"Beberapa tahun tidak bertemu, ternyata kamu sudah pintar."
Tiba-tiba seorang menyeletuk dengan tertawa.
"Siapa bilang dia pintar, aku justru bilang dia dungu. Tapi seorang dungu belum tentu setiap orang dapat menipunya, makin pintar seorang makin sukar menipu seorang dungu."
Di tengah suara tawa riang, tampak Siau-kong-cu datang dengan lincah. Sekilas ia mengerling lalu meneruskan dengan berseri.
"Soalnya orang yang pintar selalu curiga dan banyak akalnya, sebaliknya orang dungu berpikir sederhana, kalau kau anggap dirimu pandai menipu orang, umpama kau bicara dengan jujur, orang pun takkan percaya padamu."
Li Bin-sing tertawa getir.
"Ya, memang demikian. Sebenarnya aku sudah bicara apa adanya tapi dia justru tidak percaya, bukankah membuatku repot sendiri."
Siau-kong-cu menepuk pundaknya.
"Tidak perlu penasaran, biarpun dia tidak percaya, tapi penjelasanmu tadi dapat kuterima, aku percaya sepenuhnya."
"kau ..."
Li Bin-sing kegirangan.
"kalian setuju membebaskan aku?"
"Betul,"
Ucap Siau-kong-cu.
"kalau kau ingin pergi, boleh silakan pergi."
Bab 25. Misteri Kapal Layar Pancawarna Bergegas Li Bin-sing berdiri, katanya dengan tersengal.
"Aku ...boleh pergi?"
"Ya, kapan mau pergi, boleh kau pergi."
Li Bin-sing terbeliak kegirangan, setelah kucek-kucek mata, ia pandang Siau-kong-cu, lalu menoleh ke arah Pui-Po-giok, melihat mereka tersenyum ramah, tanpa bicara lagi ia putar tubuh terus lari pergi, lari tergesa-gesa seperti takut Siau-kong-cu berubah keputusannya.
Sambil berdiri menggendong tangan, Siau-kong-cu mengawasi bayangan orang dengan tersenyum.
Pui-Po-giok tidak sabar lagi.
"Sekarang kita kejar?"
"Kenapa tergesa-gesa?"
Sahut Siau-kong-cu.
"gin-kang orang ini memang biasa saja, tapi dia licin seperti belut dan licik seperti rase, apalagi malam gelap di tengah hutan belukar, dia kenal keadaan di sini, kalau sampai bersembunyi, bagaimana kau dapat menemukan jejaknya?"
"Jangan kuatir, dia takkan bisa menyembunyikan diri."
"Kenapa?"
"Meski ia sembunyi ke liang kelinci, tetap dapat aku temukan dia."
"Agaknya sudah kau atur perangkap untuk menjebaknya?"
"Jangan tergesa-gesa, mari kita kejar. Sebentar tentu kau tahu kenapa dia takkan lolos dari incaranku. Thi-wah, tunggu di sini dan jangan pergi."
Thi-wah berkerut kening, serunya.
"Toa-ko, berdasar apa dia memerintah aku?"
"Untuk kali ini saja, kau turuti saja perintahnya,"
Ujar Po-giok tertawa. Mengawasi muda mudi ini pergi makin jauh, Thi-wah bergumam sendiri.
"Sungguh membingungkan, susah payah menangkapnya lalu dilepas lagi, kini menguntitnya pula, apakah otaknya tidak beres ..."
Dengan mendongkol ia mendeprok di tanah, melamun mengawasi bintang-bintang di langit.
***** Secercah sinar bintang yang redup cukup bagi Po-giok yang bermata tajam untuk mengikuti, gerak-gerik bayangan orang dari jarak lima tombak di depannya."
Sementara itu Li Bin-sing sudah lari entah berapa tombak jauhnya. Setelah beberapa jauh mereka berlari-lari, akhirnya Po-giok tidak sabar, tanyanya.
"Mana kemampuanmu?"
Siau-kong-cu tertawa.
"Tak usah gelisah ... Nah, coba lihat, apa itu?"
Po-giok memandang arah yang ditunjuk, tampak di hutan gelap agak jauh di depan sana ada setitik sinar kunang-kunang bergerak naik turun seperti api setan.
"Apa itu?"
Tanya Po-giok heran. Tapi sebelum Siau-kong-cu menjelaskan ia sudah mengerti, katanya dengan tawa lebar.
"O, ya, jadi ada sesuatu yang kau tinggalkan pada badannya."
"Betul, waktu aku menepuk pundaknya tadi, sudah kuberi tanda khusus di badannya. Adanya Kut-ling-ting (paku tulang pospor) di badannya, meski ia lari ke ujung langit sekali pun pasti dapat aku kejar."
Po-giok menghela napas.
"Untuk urusan seperti ini, aku memang bukan tandinganmu."
"Memangnya urusan lain kau pasti lebih unggul daripadaku?"
Po-giok hanya tertawa saja dan tanpa bicara lagi.
Siau-kong-cu juga cemberut dan tidak bicara.
Dari kejauhan mereka menguntit api pospor yang mirip kunang-kunang itu, tanpa mengeluarkan suara mereka dapat bergerak leluasa di hutan belukar yang gelap.
Gerak-gerik sinar pospor itu tidak begitu cepat, malah sering berhenti dan putar kian kemari.
Jelas orang sering berhenti dan putar badan melongok ke belakang, takut dikejar orang, dan sengaja berputar-putar untuk menghilangkan jejak.
"Keparat ini memang licin sekali, dia tahu gin-kang nya bukan tandingan kita, maka ia menempuh perjalanan dengan santai, dengan cara ini memang mempersulit pengejaran kita. Kalau tidak bersamamu, jejak kita tentu sudah konangan olehnya."
"Aku terhitung apa?"
Jengek Siau-kong-cu.
"Aku bukan tandinganmu."
"Ah, kau ...."
Mendadak perkataan Po-giok terputus.
Sinar pospor itu mendadak hilang.
Tanpa sadar mereka sudah berada di ujung hutan, ke depan lagi adalah tanah tegalan yang membukit dengan semak-semak lebat.
Po-giok berkerut kening.
"Apa dia tahu dirinya dikuntit?"
Siau-kong-cu tidak menjawab, langsung ia lompat ke atas pohon.
Terpaksa Po-giok ikut lompat ke atas pohon, dari sini ia dapat melihat jelas keadaan di depan tampak sinar pospor itu masih ada di depan.
Ternyata Li-Bin-sing bergerak sambil merangkak di tanah, kalau tidak diawasi dari atas, orang sukar melihat sinar pospor di belakang pundaknya.
Po-giok berbisik.
"Mendadak dia mendekam di tanah, tentu menemukan sesuatu."
"Apa bukan tahu dikuntit oleh kita, tampak dia longak-longok ke sana. Kukira di depan ada sesuatu di luar dugaannya, mungkin seseorang telah berjanji untuk bertemu dengan dia di sini, dan orang itu mengalami sesuatu."
"Ya, mungkin demikian, lalu apa yang harus kita lakukan?"
"Apa pun yang akan terjadi, kita harus mendekat dan melihat apa yang terjadi."
"Setuju apa pun harus kita saksikan apa yang akan terjadi."
Mendadak Siau-kong-cu tertawa.
"Sejak kapan kau jadi penurut. Kuyakin kau sendiri sudah dapat menebak persoalannya dan dapat menarik kesimpulan, kenapa masih tanya padaku?"
"Memangnya tanya saja tidak boleh?"
"Aku tahu kamu berusaha mengambil hatiku kau ...."
Mendadak ia menarik muka, suaranya berubah kaku.
"Di depanku kamu selalu ingin unggul, selalu ingin menindas aku, tidak jarang pura-pura pikun ... kenapa bersikap demikian? kau anggap aku anak kecil?"
Dengan melongo Po-giok mengawasinya sejenak, akhirnya menghela napas dan berkata perlahan.
"Sayang sekali sekarang kamu tidak mirip lagi anak kecil yang suka merangkai bunga itu ...Kalau masih anak-anak, alangkah baiknya ...alangkah senangnya ...."
Mata Siau-kong-cu mendadak terpejam, jari-jarinya yang runcing tampak gemetar, bibirnya yang tipis merah bak delima merekah tampak bergerak beberapa kali, seperti mau bicara, tapi akhirnya mengertak gigi, lalu melompat jauh ke depan.
Siau-kong-cu bergerak selincah burung di antara dahan pohon diikuti Po-giok secara ketat, begitu lincah dan ringan gerak-gerik mereka, hakikatnya tidak mengeluarkan suara sedikit pun, Li Bin-sing yang mendekam di tanah tidak tahu bahwa ada orang berada di belakangnya.
Umpama Siau-kong-cu kurang hati-hati dan menimbulkan sedikit suara juga tidak akan di dengar olehnya, sebab perhatian seluruhnya lagi tumplek ditujukan pada suatu suara yang berkumandang dari lereng bukit di depan sana.
Angin malam mengembus, dari belakang bukit sayup-sayup berkumandang denting suara senjata beradu disertai bentakan dan caci maki.
Lebih aneh lagi di antara suara keributan yang campur-aduk itu terdengar juga cekikik tawa genit gadis-gadis serta tepuk sorak mereka.
Beberapa jenis suara itu sebetulnya tidak mungkin tersiar bersama, tapi kenyataan justru berpadu pada saat dan tempat yang sama, sehingga perpaduan suara itu kedengarannya agak ganjil aneh dan misterius di malam sunyi.
Po-giok saling pandang dengan Siau-kong-cu, mereka tidak habis mengerti apa yang terjadi di balik lereng bukit sana, hawa membunuh yang terkandung dalam suara itu meski menjadi tawar oleh genit tawa jalang itu, namun daya tariknya justru lebih kuat membuat orang tertarik untuk mengetahuinya.
Agaknya Li Bin-sing juga dibuat heran dan melongo, tidak jarang ia garuk-garuk kepala yang tidak gatal.
Ternyata rasa tertarik dan ingin tahunya memerangi rasa takutnya diam-diam ia merangkak maju ke depan.
Dalam semak belukar di tanah tegalan, banyak tempat untuk menyembunyikan diri.
Bila Li Bin-sing menempatkan diri dalam persembunyiannya, Po-giok dan Siau-kong-cu juga sudah mendapatkan tempat untuk sembunyi.
Dari sela-sela daun Siau-kong-cu dan Po-giok mengintip ke sana, mereka menjadi kaget dan heran.
Di bawah bukit sana ternyata ada tanah lapang yang cukup luas di sana terdapat sebuah gardu pemandangan, di sekeliling gardu tersebar banyak kursi bundar dari batu, belasan gadis cantik berdandan orang desa duduk berkelompok dua-dua mereka asyik mengikuti pertunjukan sengit di tanah lapang.
Di tanah lapang itu, dua orang sedang bertempur dengan sengit dari gerak-gerik dan permainan senjata mereka terbukti kungfu kedua orang ini tidak lemah.
Kedua orang ini yang satu bersenjata sepasang pedang, sinar pedangnya bergerak melingkar 551 dan beterbangan secara cepat dan ganas, hawa pedang terasa dingin tajam dan menyesakkan napas, Po-giok yang beberapa tombak jauhnya juga merasakan ketajaman samberan angin pedang.
Lawannya bersenjata tongkat panjang, tongkat berputar laksana naga terbang, banyak perubahan dan sukar diraba permainannya, betapapun sengit rangsakan pedang lawan ternyata tidak mampu mendesaknya.
Bayangan tongkat dan sinar pedang boleh dikatakan membungkus kedua orang yang sedang bertarung sengit, namun Po-giok dan Siau-kong-cu masih dapat mengikuti gerak-gerik mereka, malah sudah mengenal dan dapat membedakan bentuk tubuh mereka.
Membulat mata Siau-kong-cu, bisiknya dengan heran.
"He, kiranya dia!"
"Ya, sudah tujuh tahun tidak bertemu, ternyata dia berada di sini,"
Demikian sahut Pui-Po-giok.
"Siapa bilang tidak bertemu tujuh tahun, bukankah di puncak Thai-san juga melihatnya,"
Bantah Siau-kong-cu.
"Yang kau maksud kan Ban-lo-hu-jin, yang aku maksud adalah orang lain."
"Orang lain?"
Tanya Siau-kong-cu heran.
"Siapa yang lain? kau kenal dia?"
"Amat panjang untuk menjelaskan asal-usul orang ini. Secara singkat aku hanya bisa memberi tahu, dia bernama Ong-toa-nio, yaitu bini Ong Poan-hiap, urusan lain biar aku jelaskan lain kesempatan."
Membelalak mata Siau-kong-cu, gumamnya.
"Ong Poan-hiap ...Ong-toa-nio ...kenapa dia bergebrak dengan Ban-lo-hu-jin ...kenapa Ban-lo-hu-jin belum juga kembali ke Pek-cui-kiong?"
Giliran Po-giok yang heran, tanyanya tercengang.
"Ban-lo-hu-jin? Pek-cui-kiong?"
"Kurasa Ban-lo-hu-jin sudah ...sudah dirangkul oleh ibu mertuamu."
Po-giok diam sesaat, lalu berkata.
"Kukira benar, kalau Ban-lo-hu-jin sudah menjadi anak buah pihak Pek-cui-kiong, adalah logis kalau tidak menginginkan aku pergi ke Pek-cui-kiong, orang yang mengadakan janji pertemuan dengan Li Bin-sing di tempat ini kurasa pasti dia."
"Betul ...Hm, kenapa mendadak kamu berubah menjadi pintar?"
Jengek Siau-kong-cu. Po-giok menyengir.
"Memangnya aku tidak goblok."
Suara percakapan mereka sudah tentu amat lirih, waktu bicara jarak mereka sudah tentu sangat dekat.
Setelah mengucap dua patah kata itu mendadak Siau-kong-cu merasa telinga Po-giok terlalu dekat dengan bibirnya.
Giginya menjadi gatal dan gregetan, tanpa pikir segera ia mengigitnya.
Gigitan itu tidak ringan, saking kesakitan hidung Po-giok sampai berkeringat dingin.
Tapi dalam keadaan seperti itu, di tempat persembunyian bukan saja tidak boleh bergerak apalagi berteriak, terpaksa ia tahan.
Walau gigitan itu keras dan sakitnya bukan tapi Po-giok tidak marah, karena secara langsung ia meresapi gigitan gregetan itu mengandung cinta yang mendalam, cinta dan gemas.
Setelah tujuh tahun tidak bertemu, kungfu Ong-toa-nio ternyata banyak lebih maju.
Dahulu ia bersenjata Cu-bo-siang-koai, kini pedang yang digunakan ini mencakup ilmu tongkatnya yang ganas, keras dan cepat.
Lambat laun sinar pedang yang beterbangan mulai membendung dan mengurung putaran tongkat panjang lawan.
Kini Ban-lo-hu-jin tidak sempat lagi makan manisan, mulutnya yang bawel biasanya memaki kaum pria, kini sasarannya adalah sesama perempuan, benaknya tidak punya bahan untuk memaki perempuan.
Gadis-gadis yang menonton di luar gelanggang selalu bertepuk dan bersorak, memberi aplaus 552 kepada Ong-toa-nio, ada pula yang nakal melempar kulit buah atau biji buah ke arah Ban-lo-hu-jin.
Celakanya ada pula yang tarik suara, bernyanyi menyindir Ban-lo-hu-jin, tertawa dan berkeplok, yang memaki melempar kulit buah, meski tiada yang mengenal tubuh Ban-lo-hu-jin, tapi perempuan tua ini menjadi marah hampir gila.
Diam-diam Po-giok tertawa geli.
Hari ini Ban-lo-hu-jin ketemu batunya, kepalanya tentu pusing tujuh keliling.
Makin sengit serangan Ban-lo-hu-jin makin ngawur, tongkatnya tidak lagi bergerak secara wajar, karena ia kewalahan menghadapi rangsakan pedang lawan, akhirnya mulut ikut mengumpat.
"Perempuan busuk, perempuan buntung, aku tidak pernah membunuh bapak ibumu, tidak merebut lakimu permusuhan apa engkau dengan aku, lagakmu seperti ingin adu jiwa denganku."
"Siapa ingin mengadu jiwa denganmu, aku memang ingin merengut jiwamu,"
Demikian jengek Ong-toa-nio.
"Memangnya kau tahu siapa nenek tua diriku ini?"
Teriak Ban-lo-hu-jin.
"Kalau aku tidak tahu siapa kamu, buat apa aku menghendaki jiwamu."
"Lha, kau kenal aku, ada sakit hati apa antara dirimu dan aku?"
Ong-toa-nio terloroh-loroh.
"Boleh kau terka saja."
Seperti diketahui kedua kaki Ong-toa-nio sudah cacat, dulu waktu bersenjata tongkat, tongkat itulah pengganti kaki, di samping sebagai senjata untuk menyerang musuh, gerak-geriknya lincah dan tangkas, lawan sukar mengikuti gerak perubahan tubuhnya.
Kini pedang yang digunakan jauh lebih ringan dibanding tongkat besinya dulu, bukan saja lincah gerak tubuhnya kelihatan jauh lebih cekatan dan kepandaiannya juga kelihatan beberapa tingkat lebih tinggi.
Ban-lo-hu-jin mengajaknya bicara dengan maksud memecah perhatiannya, supaya dirinya memperoleh kesempatan menyergapnya atau bila perlu melarikan diri.
Di luar dugaan lawan tidak menjadi bingung, malah awak sendiri yang kerepotan menghadapi serangan lawan.
Maka ia berteriak-teriak.
"Tidak bisa terka ...aku tidak bisa menerkanya."
Di tempat sembunyinya Siau-kong-cu berkata lirih.
"Sebetulnya ada permusuhan apa antara Ong-toa-nio dengan Ban-lo-hu-jin, apa kau tahu?"
Agaknya nona ini merasa menyesal karena perbuatannya tadi, setelah sekian saat Po-giok tidak bersuara, maka sengaja mengajaknya bicara. Dalam hati Po-giok tertawa geli, namun mulutnya berkata.
"Mungkin lantaran Ban-tai-hiap ..."
"Menilai kungfu Ong-toa-nio, sudah berapa kali ia mampu membunuh Ban-lo-hu-jin, tapi sengaja ia tidak turun tangan, apa ... apa sebabnya?"
"Tujuannya membekuknya hidup-hidup, bukan membunuhnya,"
Demikian sahut Po-giok.
"Ya, setelah dia membekuk Ban-lo-hu-jin hidup-hidup, Ban Cu-liang tentu dapat dipancing datang, tetapi ..."
Mendadak Ban-lo-hu-jin menjerit kaget, pundak kiri tergores luka berdarah.
Lengan dan baju bagian depan seketika basah oleh darah yang mengucur, padahal lukanya tidak begitu parah, namun karena dia terlalu bernafsu balas menyerang dan mengamuk dengan sengit, darah pun mengucur lebih deras.
Siapa pun tahu bahwa luka di pundak itu tidak parah dan tidak mungkin merengut nyawa orang.
Tapi begitu melihat darah, muka Ban-lo-hu-jin seketika pucat dan ngeri, badan menjadi lunglai tongkat panjang jatuh berkerontangan.
Orang banyak menjadi heran, mereka tidak tahu bahwa Ban-lo-hu-jin adalah manusia yang suka menindas kaum lemah dan tunduk pada yang kuat, bila berhadapan dengan lawan yang 553 lebih kuat, dia jarang mau bergebrak.
Umpama terpaksa harus turun tangan, dengan kemahirannya bermain secara licik dan licin selalu berhasil meloloskan diri tanpa kurang suatu apa, oleh karena itu, meski tangannya selalu berlepotan darah orang lain darah sendiri justru belum pernah dilihatnya.
Kini dia lemas karena takut melihat darahnya sendiri.
Po-giok merasa geli dan dongkol.
Siau-kong-cu juga gregetan.
"Jarang menemukan orang yang takut mati seperti dia."
Agaknya kejadian ini juga di luar dugaan Ong-toa-nio, sekilas ia melengong, tapi gerak pedangnya memang amat cepat beruntun ujung pedang bergetar, cepat sekali tiga hiat-to di belakang pundak Ban-lo-hu-jin ditutuknya.
Ban-lo-hu-jin mencaci.
"Perempuan busuk ..."
Belum habis bicara, mendadak tubuh terjengkang roboh.
Tapi begitu menggeletak di tanah, mulutnya justru memaki lebih galak, segala macam caci maki yang busuk dan kotor dilontarkan tanpa tedeng aling-aling.
Di tengah udara Ong-toa-nio bersalto sekali, dengan enteng tubuhnya jatuh di kursi pikulan, seorang gadis lantas menghampiri sambil membawa selembar kemul merah untuk menutup kakinya.
Dua gadis yang lain mengangkat pikulan, yang berdiri di depan bertanya.
"Apakah bola daging ini harus disembelih?"
"Jangan tergesa-gesa,"
Ucap Ong-toa-nio tersenyum.
"bawa pulang dulu."
Mendadak seorang muncul dengan tertawa, siapa lagi kalau bukan Li Bin-sing. Munculnya Li Bin-sing di luar dugaan Pui-Po-giok.
"O, dia bukan berjanji dengan Ban-lo-hu-jin."
Dilihatnya Ban-lo-hu-jin amat terkejut dan berseru.
"kau ... bocah ini kiranya sekomplotan dengan perempuan busuk itu."
Li Bin-sing tertawa lebar, katanya.
"Jangan urus apakah aku sekomplotan atau dua komplotan, yang pasti tugas yang kau serahkan padaku sudah aku laksanakan, lalu apa pula yang masih kau gugat padaku?"
Po-giok melongo bingung.
Gadis-gadis cantik yang tadi berkelompok dan tersebar menonton pertarungan segera merubung maju, ada yang mengangkat Ban-lo-hu-jin, lebih banyak lagi memeluk lengan dan mendekap tubuh Li-Bin-sing, kelihatannya mereka sudah sangat akrab.
Terdengar seorang gadis bertanya.
"Eh, apa engkau sudah bertemu dengan Pui-Po-giok?"
"Tentu saja sudah,"
Sahut Li Bin-sing tertawa. Maka seorang yang lain bertanya juga.
"Apa benar dia cakap? Apakah kungfunya benar tinggi?"
"Hehe, buat apa kau tanya tentang dia? Memangnya bocah itu menaksir padamu. Baiklah biar aku jelaskan, anak muda yang cakap ganteng umumnya bukan barang baik, masih hijau plonco. Nah, carilah yang agak tua seperti diriku ini tanggung puas."
Ramailah gelak tawa para gadis genit dan jalang itu.
"Eh, tidak tahu malu, membanggakan diri sendiri. Memangnya kamu ahli ..."
Sambil berkelakar rombongan itu beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
"Selama beberapa tahun ini ternyata Li Bin-sing berada bersama Ong-toa-nio, dari gerak-gerik nona-nona genit itu dapat aku nilai bahwa hubungan mereka sudah tidak biasa."
"Tapi dari mana gadis-gadis itu tahu tentang diriku? Ada intrik apa antara Li Bin-sing dengan Ong-toa-nio? Kalau mereka bermaksud mencelakai aku, kenapa pula membebaskan aku begitu saja? Kalau mereka tidak bermaksud mencelakai aku, kenapa bersusah payah menipuku dengan akal busuknya?"
Di sebelahnya Siau-kong-cu tertawa dingin.
"Pui-Po-giok, sungguh tak nyana, selain kungfumu terkenal, kecakapanmu ternyata juga amat tenar. Gadis-gadis itu begitu besar hasratnya terhadap dirimu, kamu amat girang bukan?"
"Ehm,"
Sahut Pui-Po-giok seenaknya tanpa memperhatikan pertanyaan orang.
"Ehm apa? Coba kau bicara!"
Desak Siau-kong-cu. Hakikatnya Po-giok tidak mendengar apa yang dibicarakan Siau-kong-cu, mendadak ia berdiri seraya berkata.
"Ayo berangkat!"
"Berangkat? Berangkat ke mana? Mengejar mereka?"
Tanya Siau-kong-cu.
"Benar, mengejar mereka. Kita harus menolong Ban-lo-hu-jin."
"Menolongnya? Kenapa menolongnya?"
"Pertama karena Ban-tai-hiap, kedua untuk mencari tahu duduk persoalan sebenarnya,"
Belum habis bicara, tahu-tahu ia meleset jauh ke depan. Sudah tentu Siau-kong-cu mengikuti langkahnya. Untung jumlah rombongan itu cukup besar, tidak sukar mereka mengejar dan mengikuti dari kejauhan.
"Kenapa kita tidak menyusulnya ke sana?"
Tanya Siau-kong-cu.
"Tidak, kita lihat dulu ke mana mereka akan pergi?"
Dalam hutan itu, ternyata ada jalan kecil yang berliku-liku.
Kalau bukan orang yang sudah apal keadaan bukit ini sukar menemukan jalan kecil ini meski mencarinya lima bulan.
Rombongan gadis itu ternyata menyelinap ke dalam semak-semak lewat jalan kecil yang tersembunyi itu.
Kira-kira sepeminum teh kemudian, pemandangan di depan terbuka lebar.
Di balik hutan lebat itu ternyata ada dunia lain, di tengah lingkaran bukit yang tidak begitu tinggi ternyata terdapat sebuah lembah yang subur dan indah permai.
Selepas mata memandang, berbagai macam jenis bunga yang tidak diketahui namanya sedang mekar semerbak.
Pada musim rontok saat itu, di tempat lain pohon sedang rontok dan layu, tapi di tempat ini bunga justru hidup subur dan berkembang biak.
Di tengah lembah yang ditaburi berbagai jenis bunga itu terdapat sebuah aliran sungai kecil dengan airnya yang jernih, tak jauh di pinggir sungai terdapat satu deret rumah terdiri tiga petak berjajar.
Dengan suara yang bingar rombongan besar itu memasuki rumah-rumah itu.
Kini tinggal Po-giok yang berada di tengah taman bunga dengan hati bimbang.
Ia heran di lembah ini terdapat dunia lain yang permai dan mempesona, lebih kaget lagi karena selama beberapa tahun ini bukan saja Ong-toa-nio sudah bangkit kembali, malah hasilnya kelihatan jauh melampaui prestasinya dulu.
Agaknya perempuan setengah baya yang cacat ini tidak boleh dipandang enteng.
Oleh karena itu Po-giok tidak berani sembrono.
Siau-kong-cu justru tidak peduli, ia langsung berjalan lurus ke depan.
Lekas Po-giok menyusul dan menahan.
"He, tunggu sebentar."
Tanpa menoleh Siau-kong-cu berkata.
"Suhu ada di sini, apa pula yang ditunggu?"
"Tapi..."
"Katanya mau menolong Ban-lo-hu-jin dan menyelidiki duduk persoalannya, sekarang atau 555 nanti juga harus berhadapan dengan mereka, kenapa tidak sekarang langsung kita menemuinya secara terang-terangan?"
Po-giok masih ragu, tapi terpaksa mengikuti di belakang Siau-kong-cu. Pada saat mereka menelusuri rumpun bunga, dari balik rumpun sana mendadak berkumandang bentakan nyaring.
"Ada tamu datang!"
Po-giok terkejut, waktu ia angkat kepala, dilihatnya seekor burung kakak tua terbang keluar dari rumpun bunga sana dan langsung menuju ke arah rumah sambil masih mengoceh.
"Ada tamu datang ...ada tamu datang ...."
Siau-kong-cu tertawa cekikikan.
"Hihi, sungguh tak nyana hanya seekor burung juga membuat Pui-tai-hiap kita terkejut."
Po-giok tertawa kecut, tampak dari tiga petak rumah itu berlari keluar tiga orang gadis, setelah melewati jembatan berliku di atas sungai, mereka bertanya dengan suara merdu.
"Tamunya di mana?"
Mendadak mereka melihat Pui-Po-giok, ketiga gadis itu lantas berhenti, wajah yang semula berseri seketika berubah menyengir dan mengawasi Pui-Po-giok. Po-giok berdehem, lalu menyapa.
"Selamat bertemu nona-nona."
Seorang gadis yang bermuka bulat mendadak berteriak.
"Siapa kau ? Untuk apa datang kemari?"
Walau keras suaranya, tapi ia sengaja bicara dengan nada genit, demikian pula meski pandangannya dilembari rasa kaget, namun mengandung kagum tak terhingga.
Maklum selama ini belum pernah mereka lihat apalagi berhadapan dengan pemuda setampan dan segagah ini.
Po-giok menjadi risi, katanya sambil bersoja.
"Aku ..."
Dengan dingin mendadak Siau-kong-cu mengejek.
"Kamu mau menemui kekasih atau mau cari kesulitan di sini?"
Merah muka Po-giok. Gadis yang satu lagi lantas tanya.
"Mau cari kesulitan apa?"
Terhadap Siau-kong-cu ia bersikap kasar, bertolak pinggang lagi. Dengan keras Siau-kong-cu berkata.
"Inilah dia yang bernama Pui-Po-giok, ia kemari untuk menuntut kebebasan tawanan kalian tadi."
"Apa Pui-Po-giok!"
Ketiga gadis itu menjerit kaget.
Tanpa berjanji ketiga gadis ini putar badan dan berlari balik dengan menggoyang pinggul sambil lari, tidak jarang mereka menoleh, seolah-olah merasa berat berpisah dengan Pui-Po-giok.
Kejap lain terdengarlah jerit kaget disusul pekik dan sorak ramai orang banyak dari dalam rumah.
Siau-kong-cu mendorong Pui-Po-giok, desaknya.
"Kenapa melamun saja, ayo masuk ke sana!"
Apa boleh buat, terpaksa Po-giok beranjak ke depan dengan langkah lebar.
Suasana di luar rumah rasanya aman dan damai, pemandangan indah permai, tapi Po-giok menduga, rumah ini pasti penuh perangkap dan diliputi hawa membunuh, maka sejak menggerakkan kaki, diam-diam Po-giok sudah waspada, sedikit pun tidak berani lengah.
Sebaliknya Siau-kong-cu bersikap acuh-tak-acuh tidak peduli apa yang akan terjadi, seolah-olah ia tidak pandang sebelah mata kepada Ong-toa-nio, perempuan setengah baya yang cacat itu.
Kelihatannya dia tidak waspada atau berjaga-jaga.
Semula penerangan ketiga rumah itu hanya temaram saja.
Tapi begitu ketiga gadis itu lari masuk memberitakan kedatangan Po-giok, di tengah suasana ramai, cahaya mendadak benderang di rumah.
Maka berkumandanglah suara nyaring Ong-toa-nio dari dalam rumah.
"Selamat datang tamu agung, mohon maaf kami yang bertubuh cacat ini tidak dapat keluar menyambut, dengan penuh hormat kami persilakan masuk dan silakan menikmati suguhan teh kita."
"Po-giok mengucap terima kasih,"
Demikian seru Po-giok dengan suara berat.
Makin sungkan Ong-toa-nio bicara, makin ramah dia menyambut tamunya, perasaan Po-giok makin was-was.
Maklum Po-giok sudah merasakan secara langsung pisau tajam yang tersembunyi di balik senyum manis orang, ia yakin selanjutnya dirinya tidak mudah ditipu lagi.
Pintu rumah di tengah itu mendadak terbuka lebar, gadis-gadis anak buah Ong-toa-nio berkerumun di belakang pintu dan longak-longok keluar.
Entah senjata gelap jenis apa yang tergenggam di tangan mereka?"
Seringan burung walet mendadak Pui-Po-giok melesat masuk ke dalam.
Hawa murni sudah berkembang melindungi sekujur badannya, Po-giok yakin umpama dalam rumah ini ada perangkap atau dirinya akan diberondong dengan senjata rahasia lihai dan berbisa sekali pun, dirinya takkan mudah kecundang atau dilukai.
Di luar dugaan, dirinya sama sekali tidak terperangkap atau dijebak.
Rumah gubuk yang terpajang amat mewah ini ternyata diliputi suasana hangat lagi romantis, tidak terasa ada hawa membunuh di sini.
Di bawah cahaya lilin yang benderang tampak Ong-toa-nio duduk di atas kursi yang besar, empuk lagi hangat.
Gadis-gadis yang hadir dalam rumah semua memegang sesuatu, rupanya mereka sedang makan semangka, bukan menggenggam senjata rahasia.
Melihat suasana yang berbeda dengan dugaan Po-giok yang bersikap seperti menghadapi musuh besar dan tangguh menjadi rikuh, setelah batuk dua kali, segera ia menyapa dengan tertawa."Ong-toa-nio, apa masih kenal Pui-Po-giok?"
Ong-toa-nio tertawa.
"Mana mungkin tidak mengenalmu? Kecuali Pui-Po-giok, apa ada di dunia ini pemuda secakap dan seganteng dirimu?"
Bahwa sang majikan memuji orang, maka ramailah sorak dan tepuk tangan gadis-gadis yang ada di rumah itu.
Suasana yang tidak terduga ini membuat Po-giok tertegun malah, sesaat ia bingung entah apa yang harus ia lakukan.
Terdengar seorang berkata di belakangnya.
"Ong-toa-nio, apa kamu baik-baik saja?"
"Aduh, Siau-kong-cu yang manis,"
Demikian Ong-toa-nio dengan nada riang.
"sudah lama tidak bertemu, makin besar engkau kelihatan lebih cantik. Kalau hari ini Pui-siau-hiap tidak kemari, mungkin sukar aku mengundangmu bertamu di rumahku."
"Ah, kenapa kau bilang begitu, memangnya siapa tahu kau tinggal di sini,"
Demikian sahut Siaukong-cu dengan nada aleman.
"Apa betul tidak tahu?"
Demikian tanya Ong-nyaring.
"aku tidak percaya, Hwe-kiong-cu pernah memberi tahu padamu."
"Tiada orang memberi tahu padaku, seolah-olah tempatmu ini begitu misterius. Sungguh aku tidak mengerti, dalam hal apa tempat ini dianggap misterius?"
Demikian kata Siau-kong-cu tertawa. Po-giok terbelalak kaget, tanyanya.
"He, kau ... kau kenal dia?"
"Kapan aku pernah bilang tidak mengenalnya?"
Siau-kong-cu balas bertanya. Po-giok melengong, lalu katanya dengan tertawa getir.
"Betul, engkau tidak pernah bilang."
Dalam hati Po-giok sudah menduga, selama beberapa tahun ini Ong-toa-nio tentu melakukan 557 suatu kerja rahasia, bisa jadi memimpin suatu komplotan gelap yang bekerja secara misterius.
Maka begitu Hwe-mo-sin terjun ke dunia persilatan lantas berkomplot dengannya.
Tidak heran walau Hwe-mo-sin sudah sekian tahun tidak berkecimpung di kang-ouw, tapi setiap kejadian di dunia persilatan diketahuinya dengan jelas, dapat diperkirakan bahwa dia memperoleh informasi itu dari Ong-toa-nio.
Lalu selama beberapa tahun ini apa kerja Ong-toa-nio?
Siau-kong-cu tertawa, Ong-toa-nio tertawa, gadis-gadis cantik itu pun tertawa ....
Sebaliknya Pui-Po-giok tenggelam dalam renungannya.
Mendadak didengarnya Siau-kong-cu berkata.
"Nah, itu Ban-lo-hu-jin sudah keluar."
Baru Po-giok tersentak dari lamunannya, tampak Ban-lo-hu-jin sudah duduk di pinggir sana keadaannya lesu dan loyo.
Li-Bin-sing juga berdiri di sana, mimik wajahnya kelihatan serba runyam.
Akhirnya Po-giok menghela napas.
"Aku sudah tahu."
"kau tahu apa?"
Tanya Siau-kong-cu.
"Rumah kecil dalam hutan itu, anak buah Ong-toa-nio yang tinggal di sana, maka Hwe-mo-sin mengundangku bertemu di sana, betul tidak?"
"Betul, bukan hanya rumah itu milikku, hutan jati itu juga milikku ...."
Demikian ucap Ong-toanio dengan tertawa lebar.
"harap maklum, cewek-cewek muda ini kalau sedang nganggur, ada-ada saja persoalan yang dilakukan."
"Dari sini dapat pula aku simpulkan, bahwa Lo-tan suami istri dan ke dua anak perempuannya dalam cerita Li Bin-sing pada hakikatnya hanya bualan belaka. Dia bilang mengintip dalam hutan, itu juga bohong, yang benar dia tidak pernah menyaksikan apa-apa."
Li Bin-sing tertawa getir, katanya.
"Bukan aku sengaja bohong padamu, tapi Ong ..."
"Musibah yang terjadi dalam hutan jati itu sebetulnya juga tidak kuketahui,"
Demikian tukas Ong-toa-nio.
"dapat aku bayangkan bahwa cara kerja orang-orang itu amat cekatan, setelah kalian tiba di sana, baru aku tahu dan menyaksikan sendiri. Aku menduga kalian tentu tidak tahu ke mana kalian selanjutnya harus pergi, maka kusuruh Li Bin-sing memberi tahu, soalnya waktu anak buah Hwe-kiong-cu meminjam rumah itu, sudah aku lihat sendiri bahwa pos selanjutnya berada di Tai-bing-hu."
Mendadak Li Bin-sing berkata lagi.
"Tapi apa yang pernah aku ucapkan itu bukan seluruhnya bohong. Soalnya meski aku sendiri tidak menyaksikan kejadian itu, sedikitnya Thi-kim-to menyaksikannya."
"Dia yang memberitahukan kejadian itu kepadamu?"
Tanya Po-giok.
"Setelah menyaksikan secara diam-diam, lalu ia mengundurkan diri, tak nyana secara kebetulan bertemu dengan aku, dari mulutku dia tahu bahwa kau pasti akan datang."
"Apa betul kau sahabatnya?"
Tanya Po-giok pula. Li Bin-sing tertawa lebar.
"Bukan cuma sahabat dulu kami malah belajar kungfu bersama dalam satu perguruan, jadi dia terhitung Su-heng ku. Hanya saja ... ai, dalam latihan kungfu aku terlalu malas kurang semangat maka ... maka ..."
Maka bagaimana, tanpa dijelaskan orang lain pun maklum.
"Kejadian di dunia ini memang serba aneh, hal itu memang tidak pernah aku duga sebelumnya,"
Demikian ucap Po-giok setelah menghela napas.
"Kejadian yang kebetulan di dunia ini memang sering terjadi, bila usiamu sudah setua aku, kamu akan tahu sendiri. Kalau tidak, bagaimana mungkin begitu aku keluar lantas kepergok dengan Ban-lo-hu-jin."
"Ya, Ban-lo-hu-jin memang sudah mengenal dirimu, dia tidak ingin aku pergi ke Pek-cui-kiong maka dia suruh engkau menipu aku, di luar tahunya bahwa engkau adalah ... adalah teman Ong-toa-nio."
Sebelum orang lain bicara pandangan Po-giok tertuju ke arah Siau-kong-cu.
"Dan semua kejadian ini, sebetulnya sudah kau ketahui, tapi kau justru berpura-pura, dengan berbagai cara mempermainkan aku supaya aku menjadi orang linglung."
Tepekur sejenak lalu Siau-kong-cu berkata dengan tandas.
"Betul, aku sudah tahu seluruhnya, semua itu sengaja aku permainkan dirimu, kuanggap kamu seorang linglung ..."
Mendadak ia melengos dan lari ke ambang pintu, pundaknya tampak bergetar. Po-giok tertawa dingin.
"Sudah menipuku, kenapa harus ..."
"Jangan sembarang memfitnahnya?"
Tukas Ong-toa-nio.
"dia tidak menipumu."
Po-giok tertegun.
"Kenapa aku harus memfitnahnya?"
"Segala kejadian ini dia memang tidak tahu,dia tidak tahu bahwa aku tinggal di sini, juga tidak tahu bahwa Li Bin-sing sekarang sudah ikut aku, sudah tentu dia tidak tahu betul atau tidak cerita Li Bin-sing itu."
Hambar perasaan Pui-Po-giok.
"Aku ... mungkinkah aku yang salah."
"Ya, kau salah, semuanya salah,"
Mendadak Ban-lo-hu-jin berteriak keras.
"bukan saja kau fitnah dia juga membuatku penasaran. kau bocah linglung ini anggap dirimu pintar dan serba tahu, padahal banyak kejadian di dunia ini tidak mungkin kau tebak, selama ini kamu hanya suka mengagulkan diri sok pintar."
"Dalam hal apa aku membuatmu penasaran?"
Tanya Pui-Po-giok.
"Tahukah kenapa aku orang tua berada di sini? Hanya kebetulan saja? ... Memangnya semua kejadian di dunia begitu kebetulan? Aku bisa di sini karena menguntit seseorang."
"Siapa? Menguntit siapa?"
Tanya Po-giok.
"Orang-orang itu kau kenal,"
Demikian tutur Ban-lo-hu-jin.
"sejak dari Thai-san aku menguntit sampai di sini, apa saja yang pernah mereka lakukan sepanjang perjalanan ini, tiada satu pun yang lepas dari pengawasanku."
"Siapa saja yang kau maksud dengan mereka?"
Po-giok menegas. Ban-lo-hu-jin malah menghela napas.
"Aku sudah tua, orang yang lanjut usia amat serakah, kalau mulut nganggur dan perut ketagihan, biasanya aku pun lesu untuk bicara."
"Wah ...."
Po-giok tertawa menyengir.
"Itu mudah,"
Seru Ong-toa-nio.
"Nah, makanan yang ada di sini, boleh kau habiskan."
Sebelum Ong-toa-nio habis bicara, Po-giok sudah samber sepiring semangka dan dihaturkan ke depan Ban-lo-hu-jin.
"Syukurlah, memang aku sedang dahaga."
Ucap Ban-lo-hu-jin. Cepat Po-giok mengambil cangkir dan poci, memang satu cangkir penuh untuknya. Gadis-gadis di sekelilingnya tertawa geli. Ong-toa-nio juga tertawa.
"Pui-siau-hiap mau meladenimu, sungguh besar rejekimu."
"Dia bisa mendengar psnjelasanku, rejekinya juga tidak kecil."
"Nah, sekarang engkau orang tua sudah boleh bicara bukan!"
Kata Po-giok. Setelah minum secangkir dan menghabiskan satu buah apel baru Ban-lo-hu-jin bicara dengan kalem.
"Aku bisa berada di sini karena menguntit Thi-jan, Ji-gi beberapa kawan-kawannya."
Bukan hanya Po-giok yang kaget mendengar penjelasan Ban-lo-hu-jin Ong-toa-nio juga berubah hebat air mukanya, Siau-kong-cu juga mendadak menoleh, serunya.
"O, jadi mereka adanya!"
Ban-lo-hu-jin bercerita lebih lanjut.
"Setelah pertemuan di Thai-san bubar, diam-diam aku juga menyelundup ke Ban-tiok-san-ceng, tapi waktu itu engkau sudah berangkat, semula aku merasa kecewa siapa tahu ...."
"Bagaimana?"
Tanya Po-giok.
"Secara kebetulan aku lihat Thi-jan, Ji-gi dan beberapa tua bangka itu diam-diam lagi mengatur rencana dan membagi tugas kepada murid-muridnya entah rencana busuk apa yang tengah mereka rancang."
"Bagaimana selanjutnya?"
Tanya Po-giok.
"Seperti panca longok saja mereka mengikuti perjalananmu dari jauh, setiap orang yang kau temui dan bicara satu patah kata saja lantas mereka bekuk orang itu dan mengompes keterangannya."
Po-giok menghela napas.
"Ternyata mereka, pantas ilmu pedangnya begitu lihai dan tak heran digunakan adalah Hun-kin-joh-kut-jiu, sejak kejadian itu seharusnya sudah aku duga atas perbuatan mereka."
"Aku memang sedang heran, kenapa para tua bangka itu melakukan perbuatan sekeji itu, akhirnya baru kutahu, mereka kuatir engkau mengalami kegagalan dalam perjalananmu ini, takut kelak tiada jago kosen yang mampu menghadapi Pek-ih -jin, maka mereka ingin mendahuluimu tiba di Pek-cui-kiong ... Padahal kawanan tua bangka bila tiba di sana juga hanya mengantar nyawa saja."
Po-giok menunduk diam sebentar, lalu berkata.
"Teramat besar perhatian dan kasih sayang para orang tua itu terhadapku ... Kasih sayang dan kesetiaan para Cian-pwe dari angkat tua dunia kang-ouw memang patut dijadikan teladan bagi angkatan muda,"
Ban-lo-hu-jin tertawa dingin, jengeknya.
"Hm"
Sebagai seorang ketua suatu aliran, tapi melakukan kejahatan terselubung, apanya yang harus diagulkan.
Terutama Thi-jan si hidung kerbau itu, selama wataknya tidak berubah, kukira banyak kejahatan yang dia lakukan."
Kuatir perempuan tua ini menyerocos dengan kata-kata yang menusuk perasaan, cepat Po-giok mendesak.
"Selanjutnya bagaimana?"
"Waktu aku menguntit sampai di sini, aku lihat mereka mendahuluimu. Dan engkau bocah linglung berhenti dan menunggu di sini, karena kasihan maka aku orang tua memberi petunjuk padamu."
Po-giok heran."Jadi kau ... kau ..."
Ban-lo-hu-jin tertawa dingin.
"Kamu memang linglung, kau kira aku orang tua ingin mencegahmu pergi ke Pek-cui-kiong? He, kalau benar begitu dugaanmu, bukan hanya salah, bahkan keliru besar. Aku orang tua justru kuatir kamu batal pergi ke Pek-cui-kiong."
Setelah merandek sejenak lalu melanjutkan.
"Tapi kalau orang tua sendiri yang langsung memberi petunjuk padamu, bukan saja mengundang banyak kesulitan, belum tentu kau mau percaya, pada saat aku bimbang, kebetulan aku bertemu dengan keparat orang she Li ini."
"Apa yang dituturkan itu memang benar,"
Demikian kata Li Bin-sing.
"Dia memaksa aku memberi tahu padamu ke mana selanjutnya kau harus menuju. Di luar tahunya aku memang punya tugas untuk memberitahukan hal ini kepadamu ....walau pun aku bohong padamu, tapi bertujuan baik."
Ban-lo-hu-jin menjengek.
"Aku orang tua justru tidak bertujuan baik, kurasa kalau bocah linglung ingin mengantar jiwa ke Pek-cui-kiong, biarlah dia lekas sampai di sana."
"Kejadian aneh di dunia ini sungguh sukar diramal oleh manusia biasa ..."
Po-giok menghela napas panjang.
"Masih ada yang perlu aku beri tahu padamu."
Demikian ucap Ban-lo-hu-jin sambil menggeragot 560 buah-buahan.
"Cui-nio-nio sudah memperhitungkan dirimu pasti akan pergi ke Pek-cui-kiong, maka dia sudah lama menunggu kedatanganmu."
Po-giok tepekur, mulutnya bergumam.
"Bagus ...bagus ..."
Keadaannya seperti benar-benar linglung, maklum perubahan kejadian beruntun ini tiada satu pun yang tidak di luar dugaan, tiada satu pun yang dapat ditebak dan diselaminya.
"Pui-Po-giok,"
Tiba-tiba Siau-kong-cu menyeringai.
"ketahuilah, meski kamu tidak sebodoh kepura-puraanmu, tapi kau pun tidak sepintar yang kau rasakan. Memang banyak kejadian di dunia ini yang selamanya tak dapat kau tebak. Karena kamu manusia dan bukan malaikat!"
"Betul, kepandaian seorang memang ada batasnya."
"Ada tamu datang ... ada tamu datang ..."
Mendadak berkumandang suara nyaring dari luar rumah. Burung kakak tua dengan bulunya yang hijau terbang masuk ke dalam rumah dan terus mengoceh.
"Ada tamu datang ... ada tamu datang ..."
Diiringi tertawa genit yang ramai, gadis-gadis berlari keluar menyambut, sikap mereka biasa, kalau tidak mau dikata wajar, tidak takut heran atau malu-malu.
Tapi Po-giok justru merasa heran, dalam hati ia membatin.
"Dilihat dari gerak-gerik mereka, agaknya tempat ini sering dikunjungi orang, padahal tempat ini amat tersembunyi, dari mana datangnya tamu itu?"
Adalah logis kalau Po-giok dan lain-lain juga ingin tahu siapa tamu yang datang. Tak terduga, dengan tertawa Ong-toa-nio berkata.
"Di belakang ada kamar untuk istirahat, entah sudikah Pui-siau-hiap duduk dan istirahat di dalam, biar kami selaku tuan rumah meladeni seadanya."
Karena dipaksa secara halus, sudah tentu Po-giok tidak dapat menampik.
Maka bersama Siau-kong-cu, Ban-lo-hu-jin, mereka ikut masuk ke belakang.
Ruang kecil di belakang itu memang lebih artistik, pajangan serba mewah dan antik.
Dua orang gadis bertugas meladeni mereka.
Letak ruang kecil ini tidak terlalu jauh, maka cekikik tawa gadis-gadis genit di ruang depan masih terdengar jelas dari situ.
Di tengah cekikik tawa para gadis itu, mendadak muncul suara keras dan kasar.
"Ong-toa-nio, pasti tidak kau kira hari ini aku datang membawa teman sebanyak ini. Hahaha, biar aku jelaskan padamu, beberapa kawanku ini semuanya bukan kaum kroco."
Terdengar Ong-toa-nio tertawa riang, katanya.
"Oo, coba perkenalkan siapakah tuan-tuan ini?"
Orang bersuara kasar itu berkata.
"Ketahuilah, kalau betul kamu berterima kasih kepadaku karena aku meramaikan usaha dagangmu. Bila nama besar kawan-kawanku ini kusebut satu per satu, aku kuatir telingamu bisa terlepas karena kaget."
Ong-toa-nio tertawa.
"Telingaku tidak jadi soal coba perkenalkan."
Meski suara tawa gadis-gadis jelita itu amat menggiurkan dan merangsang, tapi Po-giok tidak tertarik sedikit pun, justru suara laki-laki kasar itu yang menarik perhatiannya.
Maklum karena suara kasar itu sudah amat dikenalnya.
Pada saat Po-giok mendengar penuh perhatian seorang gadis menarik lengan bajunya, katanya dengan cekikikan.
"Buat apa mendengarkan suara di luar dengarkan saja suara nyanyianku yang merdu."
Entah dari mana ia mengambil alat kelotekan lalu sambil nyanyi kelotekan di tangannya pun berbunyi mengikuti irama. Sementara itu suara kasar di luar sedang bergelak tawa.
"Tuan ini adalah ... yang ini orang nomor satu di wilayah Sam-siang ...tuan ini terkenal di Kiu-kang ... dan dia adalah ..."
Po-giok pasang kuping mendengarkan laki-laki kasar itu memperkenalkan temannya satu per satu, sayang sekali suara nyanyi si gadis dengan kelotekannya itu sangat mengganggu sehingga Po-giok tidak mendengar dengan jelas.
Siau-kong-cu mendengus, meski mulutnya diam, tapi sorot matanya seperti mau bilang.
"Kalau dia ingin nyanyi, memangnya kau dapat berbuat apa terhadapnya?"
Syukurlah berakhir juga nyanyian gadis itu segera ia tarik gadis yang lain, maksudnya supaya ganti bernyanyi. Untung mendadak Ban-lo-hu-jin berkata.
"Nona cilik, merdu sekali nyanyianmu, maka nenek tua seperti aku merasa perlu memberi persen kepadamu, terimalah buah jeruk ini ..."
Dua buah jeruk di tangannya mendadak mencelat kencang, jentikan jarinya amat keras dan tepat, sebelum kedua gadis itu bersuara mulut mereka sudah tersumbat oleh buah jeruk, keruan mereka kaget dan gelagapan, berusaha merogoh keluar buah jeruk dari mulutnya.
Ban-lo-hu-jin menarik muka, ancamnya dengan bengis.
"Nona cilik, kalau kalian ingin memberi muka padaku, berani mengeluarkan jeruk itu dari mulut kalian, biar nanti mulut kalian aku sumbat dengan tahi kuda."
Gertakan Ban-lo-hu-jin mungkin tidak membikin gentar hati orang lain, tapi kedua gadis pingitan yang belum tahu arti kehidupan ini jadi ketakutan bukan saja tidak berani merogoh keluar jeruk di mulutnya, mereka malah minggir ke samping dan tidak berani menangis.
"Nah kan begitu,"
Puji Ban-lo-hu-jin tertawa.
"kalian memang anak penurut. Pui-Po-giok, sekarang boleh kau dengarkan dengan seksama."
Dengan lagak yang dibuat-buat dia menghampiri meja, lalu duduk dan makan hidangan yang sudah disediakan.
Po-giok tertawa geli dalam hati.
Segera ia beranjak ke belakang pintu lalu mendengarkan penuh perhatian.
Didengarnya Ong-toa-nio sedang berkata, *Aduh, semuanya ternyata orang orang gagah, entah angin apa yang mengembus kalian datang ke sini, begitu banyak eng-hiong ternama di daerah masing-masing sekaligus berkumpul di gubukku yang reyot ini."
Seorang dengan tertawa nyaring melengking berkata.
"Sudah lama kami dengar Ong-toa-nio membuat sarang harum di sini, gadis-gadis cantik simpananmu semuanya jempolan, sudah lama aku ingin menghibur diri di sini, sayang sekali kami tidak tahu cara bagaimana masuk kemari."
Seorang lagi juga berkata dengan tertawa yang keras seperti tambur.
"Untung Hi-Toa-ko tahu tempatnya mau menjadi penunjuk jalan kalau tidak mana mungkin kami bisa menemukan surga di dunia fana ini."
Suara kasar tadi lantas berkata dengan tertawa yang khas.
"Sudah beberapa hari aku lihat kalian lesu dan tidak bersemangat, maka dengan maksud baik kuajak kalian ke sini. kau keparat ini berani bilang aku sebagai penunjuk jalan segala."
Di tengah gelak tawa orang banyak yang gaduh suara seperti tambur itu berkata.
"Lu-Toa-ko ayolah pilih kesukaanmu, hari ini kita harus menghibur diri sepuasnya, waktu jangan dibuang percuma."
Suara seorang pemuda segera menjawab dengan tertawa getir.
"Dalam keadaanku ini mana dapat menghibur diri."
Suara kasar itu berkata.
"Lu-lote, dalam hal ini kau lah yang salah, seorang laki-laki berani mengambil juga rela melepaskan. Walau kita terjungkal di tangan orang, tapi kan tidak dirugikan."
Suara seperti tambur itu juga berkata.
"Ya, betul, apalagi urusan ini sudah berlalu, ayolah cari hiburan saja, coba lihat nona ini begini elok, biarlah aku mengalah dan aku serahkan padamu."
Pemuda itu gelagapan.
"Aku ... Siau-te ..."
"Sudahlah, jangan malu-malu, pilihlah satu ... Nah, kalian lihat, diam-diam Lu-lote melirik, itulah dia pilihannya."
Ong-toa-nio terpingkal-pingkal senang.
"Wah, Lu-kong-cu memang tajam pandangannya, sekali pandang lantas menaksir mestika kita. Biasanya mestikaku ini tidak sembarang aku serahkan kepada orang."
Suara kasar tadi tergelak-gelak.
"Memang sudah aku duga pada setiap kesempatan kamu selalu mengambil keuntungan besar. Baiklah, apa keinginanmu, katakan terus terang, Lu-lote bukan seorang yang kikir."
"Ehm, apa ya ... ah biar nona ini saja yang bicara,"
Demikian Ong-toa-nio berdiplomasi. Suara kasar itu masih bergelak tawa, tanyanya.
"Ayolah mestikaku, kau mau apa?"
Gadis-gadis yang lain tertawa ramai, maka Ong-toa-nio berkata.
"Mestikaku ini bilang hadiah apa pun dia tidak mau terima, dia hanya minta Lu-kong-cu sudi mengajarkan Lian-hoan-si-cat-pwe-jio yang menggetarkan kang-ouw itu kepadanya."
Suara kasar itu berkeplok sekali.
"Itu mudah, mudah sekali ..."
Mendengar sampai di sini, mulai berubah rona muka Pui-Po-giok. Siau-kong-cu juga sudah berada di sampingnya, tanyanya lirih.
"kau tahu siapa mereka itu?"
Po-giok menghela napas.
"Lu-kong-cu itu adalah Po-ma-sin-jio Lu-Hun."
"Jago muda yang pertama kali duel denganmu di Tong-thing-ouw itu?"
Po-giok manggut.
"Betul, Hi-Toa-ko itu adalah To-pit-hiong Hi-Hiong dari Siau-hou-san, disekujur badannya terdapat belasan jenis senjata rahasia lihai kedua tangannya sekaligus dapat menyambit delapan macam senjata rahasia yang berbeda."
"Lalu suara yang pecah seperti tambur? ..."
Tanya Siau-kong-cu.
"Itulah Poan-thian-hun Tam-Ih-seng dari Kiu-kang!"
"Masih ada ..."
"Seorang lagi adalah Sun Giok-liong dari Ma-shin."
Mendadak Ban-lo-hu-jin menimbrung.
"Kalau keempat orang itu sudah berada di sini, maka Kiang-Sin-sing dari Bu-jiang, Ko Kwan-ing dari Lam-jiang, Tio-Kiam-bing dari Ki-bun juga pasti datang."
"Ya, kukira demikian,"
Ucap Po-giok sambil menghela napas.
"Bukankah orang-orang itu pernah kau kalahkan?"
Tanya Siau-kong-cu.
"Orang-orang itu memang pernah bergebrak denganku, tapi entah bagaimana belakangan mereka lenyap bersama, sungguh tak nyana hari ini berbareng muncul di sini, betul-betul di luar dugaanku."
Berkedip mata Siau-kong-cu.
"Mereka bilang mau menghibur hati yang dirundung sedih, maka dapat diduga bahwa beberapa hari ini mereka mengalami sesuatu yang menyebalkan, tapi siapa kiranya yang dapat membuat mereka penasaran apa kamu bisa menebak?"
"Siapa lagi selain Hwe-mo-sin,"
Dingin suara Pui-Po-giok. Mendadak Ban-lo-hu-jin menyeletuk lagi dengan tertawa.
"Semula aku bingung entah apa usaha Ong-toa-nio selama ini, ternyata di sini dia menjadi mucikari, membuka sarang hiburan bagi laki-laki hidung belang ... Sungguh menggelikan, keparat Li-bin-sing itu juga rela menjadi pesuruhnya."
Siau-kong-cu berkerut kening, tanyanya.
"Apa maksudnya mucikari?"
Ban-lo-hu-jin terpingkal-pingkal.
"Mucikari adalah orang yang membuka sarang pelacur ..."
Merah muka Siau-kong-cu.
"Aku sudah tahu tak perlu kau lanjutkan."
"Terus terang saja, menurut penilaianku,"
Demikian ucap Ban-lo-hu-jin.
"sarang pelacur yang dia buka di sini jauh berbeda dengan sarang pelacur umumnya. Bayaran yang dia tuntut bukan uang atau harta benda, tapi menuntut orang mengajarkan kungfu simpanannya."
Po-giok menghela napas.
"Tak heran kungfu Ong-toa-nio maju berlipat ganda. Selama beberapa tahun ini, tentu sudah kenyang dia mempelajari ilmu silat simpanan orang banyak. Bahwa dia berbuat demikian, tentu ada maksud tujuan yang tidak kecil artinya "
Siau-kong-cu gegetun.
"Dengan kungfu untuk membayar ... cuh! Sungguh aneh dan menggelikan, banyak sekali laki-laki pikun sebodoh itu di dunia ini."
"Apanya yang aneh,"
Demikian bantah Ban-lo-hu-jin.
"kungfu bukan harta benda yang harus dibawa ke mana-mana, tapi dengan ajaran kungfu mereka dapat menikmati kemulusan tubuh gadis-gadis cantik, coba aku orang laki-laki, dengan suka rela akan aku ajarkan ilmu tongkatku."
"Padahal tempat ini amat tersembunyi ..."
"Dalam hal ini kamu memang masih hijau,"
Demikian tukas Ban-lo-hu-jin.
"makin tersembunyi usahanya, orang makin tertarik, makin misterius, orang makin ingin tahu, yang datang pun tentu bukan orang sembarangan. Dalam hal ini Ong-toa-nio boleh diibaratkan seekor rase tua yang licin."
Sementara itu, kedua gadis tadi sudah mengeluarkan buah jeruk dari mulutnya, tapi dengan muka merah mereka menunduk tidak berani bicara, hanya saja masih sering melirik ke arah Pui-Po-giok.
Po-giok sedang tenggelam dalam renungannya.
"Eh, apa kau juga tertarik?"
Siau-kong-cu coba menggodanya.
"ingin ..."
Belum habis ia bicara, mendadak Pui-Po-giok menerjang keluar.
Suasana ruang besar yang semerbak itu sedang ramai.
Duduk setengah tiduran di kursinya yang empuk, tertawa Ong-toa-nio tampak riang gembira.
Dua gadis duduk berhadapan di paha seorang laki-laki gede, laki-laki ini berpakaian sutera dengan warnanya yang indah menyolok, alis tebal mata bundar, lengan yang besar dengan jari-jari tangan yang kasar memeluk pinggang kedua gadis itu.
Orang ini bukan lain adalah To-pit-hiong Hi-Hiong, ahli senjata rahasia dari Hou-san.
Seorang lagi yang duduk di ujung sana juga berperawakan lebih besar dari orang biasa, anehnya batok kepalanya justru lebih kecil dari ukuran tubuhnya, kedua mata yang kecil sipit tengah merem melek mengawasi gadis dalam pelukannya.
Laki-laki yang bertubuh aneh ini bukan lain adalah Poan-than-hun Tam-Ih-seng dari Kiu-kang.
Seorang lagi bertubuh kurus sedang, tapi sorot matanya bercahaya, sedang bisik-bisik dengan gadis di sampingnya, entah apa yang mereka bicarakan, yang terang gadis itu cekikik geli.
Laki-laki bertubuh kurus sedang ini adalah si cerdik pandai Sun Giok-liong dari Ma-shin.
Selain itu, yang berkepala besar dan bertubuh pendek buntak adalah Kian-Sin-sing dari Bujang.
Yang berwajah kuning seperti orang sakit, selalu cemberut adalah Tio-Kiam-bing dari Ki-bun.
Berusia paling muda, berwajah putih cakap mirip anak kecil, dia bukan lain adalah Ko-Kwan-ing dari Lam-jiang.
Dan yang paling cakap dan ganteng adalah orang paling gagah di wilayah Sam-siang, yaitu Po-564 ma-sin-jio Lu-Hun.
Selain Hi-Thoan-ka, orang-orang yang menghilang secara misterius itu ternyata muncul seluruhnya di sini.
Dengan muka merah Lu-Hun duduk kaku, gadis yang duduk di sampingnya memang cantik molek, menggiurkan lagi genit, namun dia justru tidak berani bergerak.
Gadis itu malah aktif menggodanya, menariknya sambil tertawa manis.
"Lu-kong-cu, ayolah masuk ke dalam saja, supaya tidak ditertawakan orang."
Tapi Lu-Hun telah duduk kaku, seolah-olah biar mati di situ dia juga tidak mau berdiri.
Sikap Lu-Hun yang kaku dan takut justru mengundang gelak tawa dan godaan orang banyak lelaki atau perempuan dengan kata porno pun dilontarkan untuk menggairahkan nafsunya.
Sungguh aneh tokoh ternama kaum persilatan yang menjagoi daerah masing-masing, biasanya mereka sok jaga gengsi dan nama, tapi setelah berada di sini seolah-olah sudah melupakan nama dan kedudukan sendiri, omongan kotor juga diucapkan tanpa tedeng aling-aling.
Di tengah gelak tawa dan cekikikan orang banyak, dari balik kerai yang tersingkap mendadak melangkah keluar seorang.
Tubuhnya tidak luar biasa, tapi kehadirannya yang mendadak ini seperti membuat silau para hadirin.
Semua percakapan dan gelak tawa mendadak berhenti.
Tapi mulut yang sedang tertawa tiada satu pun yang sempat terkatup, sikap mereka mirip orang yang mendadak dicekik lehernya.
Mata Hi-Hiong melotot.
"kau ...."
Keringat tampak bercucuran di jidat Tam-Ih-sing yang kecil mengkilap itu.
"Kenapa ...."
"Kenapa engkau berada di sini?"
Sebuah kalimat pendek saja, terpaksa harus diucapkan tiga orang, cara mengungkapkannya juga seperti menguras tenaga mereka. Pui-Po-giok tersenyum ramah, sapanya.
"Sudah lama tidak bertemu, apa kalian baik saja."
Tam-Ih-sing sibuk menyeka keringat.
"Baik ....baik sekali ...."
"Ya, baik sekali ..."
Tukas Sun-Giok-liong menyengir. Mendadak To-pit-hiong Hi-Hiong berdiri, serunya dengan menyengir kuda.
"Sedikit pun tidak baik."
Po-ma-sin-jio Lu-Hun segera mendorong gadis di sebelahnya, langsung ia menghampiri Po-giok, katanya dengan muka jengah.
"Pui-tai-hiap baikkah engkau ?"
Ong-toa-nio tertawa, serunya.
"Di atas Thai-san, dengan kepandaiannya menindas seluruh hadirin, sekali mengayun pedang, namanya menggetar dunia! Kenapa Pui-tai-hiap tidak baik, tentu saja dia baik, baik sekali ..."
Merandek sebentar, lalu menambahkan.
"Ternyata kalian sudah kenal sebelumnya, begitu pun baik ...ayolah anak-anak kenapa melotot saja, ambilkan kursi, silakan Pui-siau-hiap duduk!"
Dengan tertawa Po-giok menoleh.
"Toa-nio tak usah sungkan ...."
Setelah menyapu pandang semua hadirin, akhirnya ia menatap Lu-Hun, katanya.
"Ingin aku bicara sebentar dengan Lu-tai-hiap, Lu-heng ..."
"Terserah kepada Pui-tai-hiap,"
Tersipu-sipu Lu-Hun menjawab.
Dengan terbelalak orang banyak mengawasi kedua orang ini melangkah keluar.
Ada yang ingin bicara tapi mulut yang sudah terbuka akhirnya batal dan menelan kembali kata-katanya.
Lu-Hun mengikuti Po-giok berjalan di tengah rumpun bunga.
Saat mana bintang-bintang sudah pudar, rembulan juga sudah menghilang, cuaca masih gelap, hampir fajar, bau bunga harum memabukkan.
Po-giok berhenti lalu putar badan, katanya tertawa.
"Lu-heng ...."
"Apakah Pui-tai-hiap ingin tahu jejakku selama ini?"
"Kalau Lu-heng tidak ingin menjelaskan, aku pun tidak memaksa."
Lu-Hun menghela napas.
"Terus terang, selama ini pamorku jatuh habis-habisan. Bukan saja ditipu oleh sepucuk surat, akhirnya aku disekap secara halus."
"Dikurung secara halus?"
Tanya Po-giok.
"Kami berdelapan semuanya disekap dalam sebuah kamar bawah tanah yang gelap gulita, dengan berbagai daya kami tidak mampu meloloskan diri."
"Betapa gagah perkasa kalian berdelapan, bagaimana mungkin ...."
"Bagaimana mereka ditawan aku tidak menyaksikan, sedang ...."
Setelah menghela napas lalu menyambung.
"Setelah kuterima surat, langsung memburu ke tempat yang dijanjikan dan bertemu dengan ..."
"Hwe-mo-sin?"
Tukas Po-giok tidak sabar.
"Bukan Hwe-mo-sin,"
Sahut Lu-Hun.
"seorang tua tanpa kaki yang tidak jelas asal-usulnya, kelihatannya tubuhnya tidak bisa bergerak, tapi waktu aku lihat dia lantas terbius ambruk, ketika aku siuman sudah berada di kamar bawah tanah."
"Orang tua buntung? ... Siapakah dia?... Kalau demikian Hi-tai-hiap, Tam-tai-hiap dan pengalaman yang lain juga tidak berbeda dengan Lu-heng?"
"Ya, kira-kira demikian,"
Sahut Lu-Hun.
"Apakah isi surat itu, sehingga kalian mau memburu ke tempat yang dijanjikan tanpa mencari tahu seluk-beluknya ..."
Melihat wajah Lu-Hun mengunjuk rasa malu dan serba salah, lekas Po-giok berhenti bicara. Lu-Hun menunduk, katanya tergegap.
"Surat itu ..."
"Surat itu tidak penting,"
Po-giok tertawa.
"tidak usah Lu-heng jelaskan."
"Pui-tai-hiap bisa maklum, sungguh aku berterima kasih, tapi ..."
Mendadak ia angkat kepala, suaranya meninggi.
"Tapi justru harus aku jelaskan. Waktu masih muda dulu aku pernah berbuat sesuatu yang memalukan, surat itu mengorek keburukanku dan mengancam supaya segera aku berangkat ke tempat yang ditunjuk."
"O, jadi ...Hi-tai-hiap dan lain-lain kukira juga demikian. Sungguh hebat orang itu, rahasia pribadi kalian berdelapan diketahuinya secara jelas."
Lu-Hun tepekur sejenak, lalu berkata dengan tawa getir.
"Rahasia pribadiku tidak banyak, tapi ada sementara orang ..."
Walau perkataannya tidak dilanjutkan, namun Po-Giok maklum, bahwa Tam-Ih-sing dan Sun-Giok-liong serta yang lain punya banyak rahasia pribadi memang tidak sukar untuk diselidiki.
Hening sesaat, mendadak ia tanya.
"Macam apa orang tua cacat itu?"
Sejenak Lu-Hun termenung.
"Di dalam kamar remang-remang, kelihatannya orang tua itu mirip mayat, walau mukanya dibalut kain putih, namun bagian tubuhnya yang terlihat tampak melepuh seperti terluka bakar dan hangus, tapi juga seperti tersiram air panas, yang tidak sampai hati tentu tidak berani melihatnya dua kali."
Cukup lama Po-giok tenggelam dalam pemikiran, akhirnya ia tepuk paha sambil berkata "Ya, benar, pasti dia adanya."
"Siapa?"
Lu Han terkesiap.
"Pui-tai-hiap dapat menebaknya?"
"Aku duga orang tua ini adalah Cong-Beng-cu kaum Lok-lim dahulu, yaitu pemilik Ceng-bok-kiong, luka disekujur badannya adalah hasil pertarungannya dengan Pek-cui-nio ....Dengan 566 susah payah Bok-long-kun mencari obat untuk ayahnya, tapi tidak berhasil, oleh karena itu walau jiwa orang tua itu dapat dipertahankan, tapi luka di tubuhnya sampai sekarang masih belum sembuh."
Pucat muka Lu-Hun.
"Sungguh kejam dan panas sekali perbuatan Pek-Cui-nio."
"Betapa kejam dan jahatnya, kuyakin tiada bandingan di dunia."
Mengingat dirinya harus menghadapi durjana kejam dan jahat yang tiada duanya di dunia ini, ngeri perasaan Po-giok, namun sikapnya lekas berubah wajar, tanyanya dengan tertawa.
"Lalu bagaimana dengan Hi-Thoan-ka Hi-tai-hiap, kenapa tidak ikut ke sini?"
"Hi-heng kukuh pendapat, dia langsung pulang, sebetulnya aku tidak mau ikut kemari, tapi ...ai, agaknya pendirianku kurang teguh, akhirnya aku ikut mereka."
Po-giok tertawa.
"Anak muda mencari hiburan memang tidak jadi soal, hanya saja kalau Lu-heng mengorbankan Lian-hoan-si-cap-pwe-jio sebagai bayarannya, terus terang saja aku merasa penasaran dan sayang bagimu."
Lu-Hun menghela napas.
"Bukan tidak aku pikirkan hal ini? Tapi aku dipaksa secara halus hingga tidak dapat ingkar janji terhadap kaum hawa!", mendadak ia tertawa, lalu menyambung.
"Untung saja Lian-hoan-si-cap-pwe-jio yang aku yakinkan itu tidak sehebat ilmu pedang kemahiran Pui-tai-hiap, namun untuk mempelajarinya dalam waktu singkat terang tidak mungkin."
Po-giok hanya tertawa getir, katanya.
"Kalau demikian, kuharap Lu-heng ..."
Mendadak seorang berteriak lantang.
"He, kalian sudah selesai bicara belum?"
Di tengah kumandang suaranya, tampak muncul To-pit-hiong Hi-Hiong dengan langkah lebar. Lu-Hun mengawasi Pui-Po-giok.
"Apakah Pui-tai-hiap masih ada pesan?"
"Kurasa tidak ada,"
Sahut Po-giok. Sambil mendekat Hi-Hiong berkata dengan tawa.
"Ada beberapa patah kata ingin aku bicarakan dengan Pui-tai-hiap."
"Kalau demikian, biarlah aku mengundurkan diri,"
Ujar Lu-Hun, lalu bergegas ia masuk ke rumah. Po-giok geleng kepala katanya tersenyum.
"Agaknya Lu-heng sudah terangsang nafsunya."
Hi Hiong tertawa lebar.
"Begitu lama kita disekap di kamar gelap itu, sebagai laki-laki normal, siapa tidak ingin pelampiasan, Hanya saja saudara Lu ini masih muda dan tipis mukanya, padahal keinginannya sudah menggebu, namun lahirnya masih malu-malu kucing."
"Entah Hi-heng ada petunjuk apa yang ingin dibicarakan denganku?"
"Ada beberapa persoalan yang aku tidak mengerti, aku ingin penjelasan."
"Persoalan yang tidak dimengerti oleh Hi-heng belum tentu dapat aku jelaskan."
"Betapa besar jerih-payah Hwe-mo-sin memancing dan menyekap kita beramai, namun setelah beberapa lama kita dibebaskan tanpa kurang suatu apa. Aku tahu dia tidak gila, tapi kenapa melakukan perbuatan yang merugikan orang lain tanpa menguntungkan sendiri, berusaha payah tapi tidak ada hasilnya?"
"Tentang hal itu ... rasanya aku sudah tahu."
"Oleh karena itu aku mencarimu dan mohon penjelasan."
"Waktu itu Hwe-mo-sin sengaja memfitnahku supaya dikutuk orang banyak, supaya kaum persilatan menuduhku sebagai durjana, penipu besar. Tapi kalian pernah bergebrak denganku, dia kuatir kalian tampil sebagai saksi, maka dia perlu menipu kalian dan menyekapnya secara diam-diam. Kini fitnah atas diriku sudah terbongkar, sudah tentu tidak perlu lagi mengurung kalian."
Hi Hiong tertawa.
"Untung orang itu masih punya perasaan, celakalah kalau kita disembelih atau selama hidup tidak dilepaskan."
"Tadi Hi-heng bilang dia suka melakukan sesuatu yang merugikan orang tanpa menguntungkan diri sendiri. Kalau dia membunuh kalian, jelas tidak mengundang untung, sebaliknya kalau kalian dibebaskan bukan mustahil kalian yang tidak tahu seluk-beluk persoalannya malah berterima kasih kepadanya."
"Kalau benar dia mengharap kita berterima kasih kepadanya, kukira dia sedang bermimpi. Kukira dia melepas kita karena dia tahu antara kita berdelapan ada yang tidak terima dan masih penasaran terhadapmu, orang-orang ini masih berusaha mencari perkara padamu. Hehe, bila ada orang di dunia ini mencari perkara terhadapmu, hatinya itu senang setengah mati."
Dengan tersenyum Po-giok berkerut alis.
"O? ... Apa benar demikian?"
"Memang demikian, aku tahu ada dua keparat yang tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, mereka beranggapan hanya kebetulan kau dapat mengalahkan mereka, maka selama ini mereka mencari kesempatan untuk berduel lagi denganmu."
"Terima kasih atas keterangan Hi-heng ..."
"Jangan berterima kasih padaku, aku merasa sebal melihat tingkah laku kedua keparat itu, kalau tidak tentu tidak akan aku sampaikan hal ini padamu. Percayalah aku bicara sejujurnya."
Po-giok tertawa geli."Hi-heng memang jujur dan suka terus terang."
"Walau kedua keparat itu kasak kusuk, tapi kungfu mereka tidak boleh dipandang ringan. Terutama selama kita dikurung dalam kamar bawah tanah, kedua orang ini berkumpul di pojokan dan selalu kasak-kusuk, tidak jarang mereka bergelak tertawa, kelihatannya amat senang dan puas. Sebetulnya aku malas mendengar percakapan mereka, tapi secara tidak sengaja justru aku dengar pembicaraan mereka."
"Soal apa yang mereka bicarakan?"
Tanya Po-giok tertarik.
Bab 26.
Misteri Kapal Layar Pancawarna "Agaknya kedua orang itu sudah seia-sekata, bersekongkol menciptakan jurus ilmu silat, sungguh heran bahwa dalam keadaan serba sulit dalam tahanan itu mereka berhasil menciptakan jurus ilmu silat yang lihai, agaknya mereka sudah lama membuat rencana untuk menghadapimu bersama."
"Kalau benar kedua orang ini bergabung dan kerja sama serta berhasil membuka lembaran baru dalam bidang ilmu silat, maka jerih-payah mereka patut dihargai, hasilnya merupakan sumbangan yang besar artinya bagi kaum Bu-lim."
"Sumbangan apa,"
Jengek Hi-Hiong.
"yang benar mereka berkomplot untuk mencelakai orang lain ...Pui-heng, mungkin engkau tidak takut namun harus hati-hati."
"Terima kasih atas perhatianmu,"
"O, ya; hampir aku lupa memberi tahu salah satu kedua keparat itu, dia ..."
Po-giok tertawa.
"Siapa kedua orang itu, tanpa Hi-heng jelaskan juga kutahu."
"O? ...Coba katakan."
"Mereka adalah Sun Giok-liong dari Ma-shin dan Tam Ih-seng dari Kiu-kang."
Hi-Hiong berkeplok sekali.
"Betul, memang kedua keparat itu."
Lalu dengan suara tertahan dia menambahkan "Kedua orang ini memang memiliki satu-dua jurus ilmu silat khas yang amat lihai, lawan sukar berjaga dan melawan kelicikannya, kalau tidak sejak lama kedua orang ini tentu sudah dipenggal kepalanya oleh para musuhnya."
Po-giok tertawa.
"Ya, jurus khas mereka yang lihai memang sudah kurasakan, Bicara tentang keganasan jurus serangannya, Go-kang-gan-kui yang diyakinkan Sun-Giok-liong rasanya sukar 568 dicari keduanya di kalangan kang-ouw."
"Benar dengan modal jurus Go-kang-gan-kui itulah, entah berapa banyak kaki para eng-hiong telah dibabatnya putus ...Dalam kalangan kang-ouw ada dua pameo yang mengutuk orang, apa Pui-heng pernah mendengar?"
"Pameo apa tidak pernah aku dengar?"
"Punya sebuah mulut yang kotor, di dalam air kehilangan kaki, mencuri masuk ke loteng si nona, dalam kabut kepala dipukul bocor."
Po-giok tertawa geli.
"Dua kalimat di depan kukira menyindir Hi-Thoan-ka dan Sun-Giok-liong, walau sumber dan aliran kungfu kedua orang ini berbeda, namun tiga jurus serangan bagian bawah yang mereka lancarkan memang bagus sekali, masing-masing punya keunggulannya sendiri."
"Betul, dua kalimat yang terakhir menyinggung Thian-siang-hwi-hwa Ling-Peng-hi dan Poan-thian-hun Tam-Ih-seng. Walau lahirnya Ling-Peng-hi galak, tapi jurus Hun-tiong-kik-tian (dalam mega menggempur kilat) yang diyakinkan Tam-Ih-seng juga tidak boleh dipandang enteng."
"Bicara tentang keganasan permainan pedang, Hun-tiong-kik-tian yang diyakinkan Tam-Ih-tiong mungkin lebih unggul di atas Thian-siang-hwi-hoa, tapi kelemahan jurus ini justru terletak pada keganasannya yang kelewat batas, maka permainannya kurang lincah dan tidak mantap."
"Go-kang-gan-kui dari Hun-tiong-kik-tian masing-masing jelas masih ada kekurangannya, kalau tidak tak mungkin kedua orang ini dikalahkan oleh Pui-heng."
"Kebalikannya Go-kang-gan-kui justru bergerak secara lincah dan mantap, hanya sayang kurang keji. Faktor utama dari kekurangan ini terletak pada perawakan Sun Giok-liong yang kurus kecil, namun kebalikannya kalau seorang bertubuh tinggi besar justru takkan bisa melancarkan jurus itu secara lincah dan mantap."
"Tapi kalau kedua orang ini bergabung, yang satu menyerang dari atas, yang lain menyergap dari bawah lalu bagaimana menghadapinya?"
Bertaut alis Po-giok, katanya kemudian setelah tepekur sejenak.
"Kalau kedua orang ini bergabung dan serempak melancarkan kedua jurus itu, memang sukar dihadapi."
"Nah, di situlah persoalannya, maka aku merasa perlu memberi peringatan padamu,"
Demikian ucap Hi Hiong.
"Nah, itu dia mereka datang."
Dari jauh Tam-Ih-seng sudah berteriak dengan suaranya yang keras seperti tambur.
"Hi-lo-toa, sudah habis belum pembicaraanmu dengan Pui-tai-hiap, kini giliran kita mengobrol dengannya bukan?"
"Pui-heng, apa perlu aku ..."
Lirih suara Hi-Hiong.
"tidak usah, dan tidak perlu kuatir, silakan Hi-heng masuk ke dalam,"
Demikian tugas Po-giok. Setelah bimbang sesaat lamanya, akhirnya Hi-Hiong balik ke dalam rumah, sekilas ia melirik ke arah Tam-Ih-hiong dan Sun-Giok-liong, tak urung mulutnya masih mengomel.
"Hati-hati, jangan karena memindah batu, batu jatuh menindih kaki sendiri, lebih baik jangan cari penyakit sendiri."
Ucapan itu jelas ditujukan kepada Tam-Ih-seng dan Sun-Giok-liong, tapi kedua orang yang tinggi pendek buntak ini seperti tidak mendengar. Su-Giok-liong, tertawa lebar katanya.
"Beberapa bulan tidak bertemu nama Pui-tai-hiap lebih terkenal lagi, aku dengar Pui-tai-hiap menindas banyak orang gagah di Thai-san, sungguh tak terkira rasa senangku."
Tam-Ih-seng juga tertawa.
"Sayang sekali kita yang tidak becus ini dikurung orang sehingga tidak dapat menonton keramaian di Thai-san, tak sempat menyaksikan betapa gagah perkasa Pui-siau-hiap waktu menggasak lawan-lawannya."
"Meski kita tidak menyaksikan, dapatlah kau bayangkan sendiri."
"Oleh karena itu, pada kesempatan ini kita ingin menyampaikan selamat kepada Pui-siau-hiap atas kemenangannya."
Po-giok pura-pura tidak tahu rencana jahat mereka, dengan tersenyum ramah dia berkata.
"Apa kalian sengaja menemuiku untuk menyanjung puji diriku?"
"Ah, kenapa bilang begitu ..."
Sun-Giok-liong tampak rikuh.
"Kalau terlalu tinggi kalian menyanjung puji diriku, celakalah kalau sampai jatuh, terus terang saja aku tidak berani menerimanya."
Tam-Ih-seng terloroh-loroh.
"Pui-tai-hiap juga senang bergurau."
"Bergurau juga termasuk olah raga sehat bukan."
"Betul, betul,"
Sun Giok-liong dan Tam-Ih-seng bergelak tawa.
"memang betul apa yang Pui-siau-hiap ucapkan ...."
Tiga orang ini tertawa bersama, seperti tiga kawan yang sudah lama tidak bertemu dan gembira dalam percakapan.
Tapi kalau ada orang keempat mendengar gelak tertawa mereka pasti berdiri bulu romanya, karena dari gelak tawa itu terasa adanya hawa membunuh yang makin meruncing.
Di tengah gelak tawa itu, diam-diam Tam-Ih-seng dan Sun-Giok-liong saling memberi tanda untuk mencari posisi yang menguntungkan.
Padahal gerak-gerik kedua orang ini sejak kedatangannya tadi tidak lepas dari pengawasan Pui-Po-giok.
Gaman Sun-Giok-liong yang terkenal tercantum dalam urutan 13 dalam daftar senjata aneh di Bu-lim.
Di kalangan kang-ouw dijuluki Liu-sing-kan-gwat-hwi-liong-tiap.
Sesuai namanya Hwi-liong-tiap (kapak terbang) dan Liu-sing-tui (bandulan meteor), satu dengan yang lain ada kemiripannya.
Dua kapak perak yang terukir dua gambar naga itu terikat oleh rantai perak sepanjang tiga meter panjangnya.
Hwi-liong-tiap itu kini tergantung di kedua sisi pinggangnya.
Gaman Tam Ih-seng justru hanya sebatang Kim-jiau-tui.
Kim-jiau-tui yang satu ini ternyata berbeda dengan senjata sejenis umumnya, bandulannya besar seperti semangka, kemilau memancarkan cahaya, gagangnya panjang lima kaki tujuh dim, sekali hantam kekuatannya seberat tiga ratus kati.
Kim-jiu-tui itu kini sudah siap di samping tangannya.
Walau senjata kedua orang ini belum terpegang di tangan mereka, namun dua tokoh silat kosen seperti mereka, untuk menghunus senjata kecepatannya hanya sekejapan saja.
Gelak tawa itu masih terus berlangsung.
Bintang dan rembulan sudah tidak bersinar, bunga-bunga yang mekar itu pun seperti pudar di tengah gelak tawa itu.
Sun Giok-liong berdiri di kiri depan Po-giok dalam jarak tiga kaki tiga dim, Pui-Po-giok bertangan kosong, kalau mau menyerang dan melukai lawan, tubuhnya harus menggeser maju ke kiri depan paling sedikit satu kaki.
Padahal lawan hanya sedikit membungkuk di mana kapak pendeknya terayun, sehingga kaki Po-giok dapat dibabatnya buntung.
Kalau benar tubuh Po-giok berkisar ke kiri, maka Tam Ih-seng yang berdiri di kanan depannya akan menyerang dengan jurus Hun-tiong-kik-tian, dalam posisi seperti itu, jelas Po-giok tidak akan mudah menghadapi dua serangan sekaligus.
Posisi mereka memang amat menguntungkan.
Dua orang ini memang tidak malu dijuluki jago kosen, belum lagi turun tangan mereka sudah di posisi dan menempatkan diri pada kedudukan yang unggul.
Po-giok yang berdiri dengan posisinya itu, betapapun sukar turun tangan menyerang kedua lawan sekaligus, tak mungkin mengalahkan apalagi membekuk kedua lawannya dalam waktu yang sama.
Oleh karena itu Po-giok harus mencari akal cara bagaimana dalam satu gebrak menyelamatkan diri dari serangan Hun-tiong-kik-tian yang dilancarkan Tam Ih-seng dan Go-kang-gan-kui yang dilancarkan Sun Giok-liong.
Tampak To-pit-hiong Hi-Hiong berlari keluar dan membawa masuk empat lima orang, selain Lu-Hun ternyata Siau-kong-cu juga berada di antara mereka.
Mendengar gelak tawa yang ganjil dan keadaan yang aneh ini, maka di kejauhan mereka sudah menghentikan langkah.
Sekilas Hi-Hiong melirik ke kanan kiri, mendadak berubah air mukanya, keluhnya kuatir.
"Celaka!"
"Ada apa?"
Tanya Lu-Hun.
"Gaya yang diperlihatkan Po-giok saat ini, kini bawahnya kosong, jelas sukar menahan serangan Go-kang-gan-kui yang dilancarkan Sun Giok-liong demikian pula bagian kanan atas terbuka lebar, lebih sulit pula melawan serangan Hun-tiong-kik-tian yang dilancarkan Tam-Ih-seng, dia ... kenapa dia berbuat sebodoh ini."
Mendadak Siau-kong-cu menjengek.
"Sampai detik ini, belum pernah aku lihat Pui-Po-giok melakukan sesuatu yang bodoh."
"Tapi ...tapi sekarang ..."
Hi-Hiong gelagapan.
Belum habis bicara, sinar emas dan cahaya perak mendadak berkembang dan menyerang bersama.
Di luar dugaan orang banyak Hwi-hong-tiap yang memancarkan cahaya perak itu bukan melancarkan jurus Go-kang-gan-kui, tapi menyerang dengan jurus Hun-tiong-kik-tian.
Demikian pula Kim-jiau-tui yang berkilauan itu tidak menyerang dengan Hun-tiong-kik-tian, tapi dengan jurus Go-kang-gan-kui.
Kedua orang itu bertukar jurus andalan mereka untuk menyerang.
Di tengah jeritan kaget Hi-Hiong tampak Tam-Ih-seng setengah berjongkok dan setengah doyong ke depan, Kim-jiau-tui membawa cahaya emas dengan deru angin yang kencang menyerang miring lutut kanan Po-giok.
Tubuhnya tinggi kakinya panjang, selayaknya tidak cocok melancarkan jurus itu untuk menyerang bagian bawah lawan, tapi jurus yang dia lancarkan sekarang ternyata sangat dahsyat, kebetulan cukup menambal kekurangan ganas dari jurus itu sendiri.
Sementara Sun-Giok-liong melompat ke atas, pada saat tubuh terapung di udara, Hwi-liong-tiap pun terbang membawa rantai perak, sungguh mirip kilat perak menyambar yang diincar adalah batok kepala Po-giok.
Dengan tubuh yang kecil pendek, sebetulnya tidak sesuai melancarkan jurus semacam itu.
Tapi pada saat tubuh terapung di udara itu, Hwi-liong-tiap yang dilepas dari tangannya ternyata bergerak dengan lincah dan gencar di bawah kendali rantai perak yang panjang, secara langsung menambal kelincahan dan ketangkasan jurus itu.
Apalagi panjang Hwi-liong-tiap hanya tiga kaki, pada waktu melancarkan jurus Go-kang-gan-kui, tubuh harus menyelinap maju mendekati musuh, risikonya menyerempet bahaya dan awak sendiri dijadikan taruhan.
Namun kini serangan ini dilancarkan dengan Kim-jiau-tui yang panjangnya lima kaki, maka wibawa serangan itu sendiri cukup luas ruang lingkupnya, faktor keunggulan ini justru terletak pada kelebihan panjang yang dua kaki itu, padahal pertarungan jago kosen sering ditentukan oleh panjang pendek senjata yang digunakan, satu langkah kesalahan fatal bisa mengakibatkan kekalahan fatal, kalau satu dim saja bisa menentukan kalah menang, apa lagi sekarang beda senjata dua kaki panjangnya.
Demikian pula Hwi-liong-tiap yang panjangnya tiga kaki ditambah lima kaki rantai perak, jadi lebih panjang dua kaki daripada Kim-jiau-tui, adalah logis kalau daya serang jurus Hun-tiong-571 kik-tian bertambah dahsyat.
Dengan mengganti jurus serangan andalan masing-masing, memang permainan kedua orang ini tidak semahir menggunakan jurus serangan sendiri, apalagi jurus kampak diganti bandulan dan jurus bandulan diganti kampak, sedikit banyak gerakan mereka agak kaku dan kurang leluasa.
Akan tetapi, setelah mereka bertukar jurus serangan, bukan saja tambah lincah ganas dan dahsyat, juga terasa aneh ganjil dan gaib, gabungan kedua jurus serangan ini sungguh amat tepat, hebat dan tiada taranya.
Gema tawa belum sirna, suara jeritan juga belum lenyap.
Sementara itu sinar emas berkembang, cahaya perak gemerdep.
Kedua jenis sinar dan cahaya yang berbeda itu sudah membungkus sekujur badan Pui-Po-giok.
Badan Po-giok mendadak mendoyong, telapak tangan yang semula mengelus dagu, tahu-tahu terayun, tidak kelihatan bagaimana dia menggerakkan jari tangannya, tapi jari tangan ternyata menangkap gagang, Hwi-liong-tiap, tidak kelihatan dia mengerahkan tenaga, tapi tubuh Sun-Giok-liong yang terapung di udara itu terseret turun olehnya.
Secara enteng Po-giok memindahkan Hwi-liong-tiap yang ditangkapnya itu ke tangan kanan, sekali tangan kanan itu bergerak.
"trang", Hwi-liong-tiap menangkis Kim-jiau-tui yang menyergap tiba. Bandulan memukul kampak, suara memekak telinga disertai kembang api berpijar. Sun-Giok-liong yang terapung di udara tahu-tahu sudah diseret turun oleh Pui-Po-giok maklum karena ujung rantai peraknya teringat di pergelangan tangannya sehingga dia tidak bisa membuang senjata. Mengikuti tenaga yang digerakan telapak tangan Pui-Po-giok, tubuhnya melorot turun seperti bintang meteor meluncur.
"Blang"
Secara telak menumbuk Tam-Ih-seng, kepala adu kepala, tanpa mengeluarkan suara, keduanya roboh semaput.
Sementara itu, Po-giok berdiri di tempat semula, wajahnya masih mengulum senyum.
Gerakannya kelihatan ringan, sedikitpun tidak menggunakan tenaga, tapi nyata berhasil melumpuhkan gabungan dua jurus serangan jahat lawan.
Gerak gerik Po-giok begitu lamban, namun dalam waktu sekejap kedua jago kosen itu sekaligus dibuatnya roboh tak berkutik.
Hakikatnya kedua orang itu tidak tahu cara bagaimana Po-giok mengalahkan mereka.
Hi-Hiong berdiri terlongong, mulut bergumam.
"Aneh, aneh ...."
Siau-kong-cu tertawa.
"Sekarang kamu percaya bukan, Pui-Po-giok tidak pernah melakukan perbuatan bodoh."
Tanpa menjawab Hi-Hiong memburu ke arah Po-giok, sekali raih ia pegang pundak Po-giok.
"Pui-heng, Pui-siau-hiap, baru sekarang kutahu kungfumu ternyata sepuluh kali lebih tinggi daripada yang aku bayangkan sebelumnya, walau kutahu kau pasti dapat merobohkan kedua keparat itu, namun tidak terbayangkan akan kau jatuhkan, mereka sedemikian mudah."
"Ya, kelihatannya mudah, padahal dalam keadaan seperti tadi, kalau aku terlambat setengah detik atau meleset satu mili saja, yang menggeletak di tanah sekarang adalah aku,"
Lalu dengan tertawa ia menambahkan.
"Untuk ini sebetulnya aku harus mengucap terima kasih kepada Hi-heng."
Hi-Hiong garuk-garuk kepala.
"Terima kasih padaku ..."
"Kalau Hi-heng tidak memberi tahu bahwa kedua orang ini sudah sejak lama bertukar pikiran dan menyelami jurus khas mereka, tentu aku tidak akan bergaya seperti tadi untuk menghadapi mereka."
Hi-Hiong tertawa getir.
"Pui-heng, di mana letak kelihaian gaya yang kau perlihatkan tadi. Sungguh aku tidak habis mengerti, terus terang tadi aku menguatirkan keselamatan Pui-heng.
"Kalau telapak tangan kiriku tadi udak di atas pundak, bila kampak terbang itu menyerang tiba jelas aku tidak akan sempat merebut gagang kampak karena itu aku dipaksa menghindar dengan melompat ke kiri, kalau aku lompat ke kiri atau mundur ke belakang, walau dapat menghindarkan serangan Kim-jiau-tui, tapi pundak kananku pasti terluka oleh bacokan kampak, kalau aku mundur lututku yang terketuk remuk oleh Kim-jiau-tui."
Setelah menghela napas Po-giok meneruskan "Maka waktu yang setengah detik itu amat penting artinya, secara langsung menentukan kalah dan menang,"
Hi-Hiong terbelalak mendengar penjelasan Po-giok, katanya sesaat kemudian.
"Kalau demikian apakah sudah kau duga bahwa Sun-Giok-liong pasti akan menyerang dengan jurus Go-kang-gan-kui dan bukan Hun-tiong-kik-tian?"
"Tadi setelah mendengar penjelasanmu, lantas terpikir olehku kalau mereka sudah lama berunding dalam penjara, maka tidak mungkin mereka hanya melancarkan jurus ganas yang mematikan secara bersama. Aku tahu kedua orang ini adalah manusia munafik yang biasa main licik dengan akal busuk lagi, kalau mereka membuat rencana sekian lama, hasil dari perundingan mereka tentu tidak semudah itu untuk dipecahkan,"
"Betul ..."
Hi-Hiong menghela napas.
"kenapa hal ini tidak aku pikirkan tadi."
"Bahwa kedua orang ini berani menantang aku berduel, serangannya tentu teramat keji, oleh karena itu terpikir olehku kemungkinan besar kedua orang ini saling tukar jurus serangan. Betul juga, begitu kedua orang ini berdiri pada posisi mereka, segera kuyakin dugaanku memang benar."
"Wah, aku tetap tidak mengerti."
"Waktu itu mereka sedang bergelak tertawa, waktu tertawa pundak Tam-Ih-seng aku lihat tidak bergeming sedikit pun, sebaliknya Sun-Giok-Hong tampak bergontai karena gelak tertawanya itu ..."
Hi-Hiong keheranan.
"Apa hubungannya dengan serangan mereka?"
"Waktu tertawa badan bagian atas bergerak jelas kuda-kudanya tidak kukuh, itu menandakan bahwa hawa murninya terangkat ke atas, kalau dia bertujuan menyerang bagian bawahku, kenapa hawa murninya terangkat ke atas?"
Hi-Hiong menghela napas.
"Betul, untuk melancarkan Go-kang-gan-kui, kuda-kudanya harus kuat, kalau kuda-kuda tidak kukuh, jelas daya serang jurus Go-kang-gan-kui takkan dapat dikembangkan."
"Dua orang bergabung menyerangku, kalau Sun-Giok-liong tidak bertujuan menyerang bagian bawahku, tentu Tam-Ih-seng yang akan menyerang bagian bawahku, maka aku lantas memastikan kedua orang ini tentu bertukar jurus serangan andalan mereka untuk menyerangku."
Dengan tersenyum Po-giok menambahkan.
"Pengertian ini sebetulnya amat sederhana."
Hi-Hiong menghela napas panjang.
"Pengertiannya memang sederhana, tapi kalau tidak kau jelaskan, seumur hidupku takkan paham, apalagi dalam saat genting menghadapi bahaya dari berbagai penjuru."
Kiang Sin-sing Tio Kiam-bing dan lain-lain sama tunduk lahir batin atas uraian itu.
Kini mereka maklum umpama dirinya dapat meyakinkan kungfu paling top, tapi pada saat menghadapi bahaya dan harus bertindak menurut keadaan, mengambil keputusan dan bertindak secara tepat, jelas seumur hidup takkan mampu.
Terdengar suara Ong-toa-nio berkumandang dari dalam rumah.
"Silakan tuan-tuan masuk saja, sudah aku siapkan meja perjamuan untuk memberi selamat kepada Pui-tai-hiap."
Di hadapan Po-giok, keenam orang gagah itu memang merasa sungkan, tapi setelah arak masuk perut, dirayu oleh gadis cantik lagi, maka satu per satu mereka meninggalkan meja perjamuan ditarik gadis pilihannya.
Yang mengundurkan diri lebih dulu adalah Ong-toa-nio yang diantar tiga gadis masuk ke 573 kamarnya.
Tak lama kemudian satu di antara ketiga gadis itu keluar, lalu menarik lengan baju Ko Kwan-ing dan berbisik di telinganya, maka Ko Kwan-ing pun menarik Kiang Sin-sing masuk ke kamar belakang.
Setengah jam kemudian, seorang gadis keluar lagi, kali ini yang diajak masuk adalah Tio-Kiam-bing dan Lu-Hun.
Semula Lu-Hun masih tampak malu-malu, namun akhirnya dia patuh saja ditarik oleh Tio-Kiam-bing.
Lalu terdengar pula deru angin kencang berputarnya senjata disertai tepuk tangan dan pujian yang meriah di tengah tawa riang orang banyak.
Kira-kira setengah jam lagi, dari ruang belakang terdengar suara percakapan Sun-Giok-liong dan Tam-Ih-seng, setelah siuman dari pingsannya, agaknya kedua orang ini belum pergi, secara diam-diam mereka juga digotong ke belakang.
Suara yang sama terus berlangsung hampir setengah jam lamanya.
Kini sudah tiada suara orang di belakang, orang-orang yang masuk ke dalam juga tidak kelihatan keluar, agaknya mereka sedang dibuai surga dunia.
Di ruang bagian depan itu kini tinggal Pui-Po-giok yang masih tersenyum-senyum dan Siaukong-cu yang mengunjuk rasa jijik, disertai Li-Bin-sing yang selalu unjuk tawa ewa, selain itu masih ada lima-enam gadis yang keluar masuk bergantian meladeni mereka.
Dan jangan dilupakan, ada juga To-pit-hiong Hi-hiong.
Mulutnya asyik berbincang-bincang dengan Pui-po-giok, namun matanya selalu melirik ke pintu yang tembus ke ruang belakang itu.
Pintu masuk ke surga dunia.
Jelas sekali laki-laki gede yang satu ini juga sudah tidak tentram duduk di tempatnya.
Dengan dingin Siau-kong-cu menatapnya sekian lama tiba-tiba ia menghela napas dan berkata.
"Hi-tai-hiap."
Hi-Hiong melengong.
"Ada apa?"
"Kukira Hi-tai-hiap sering datang ke tempat seperti ini."
"Sering datang sih tidak ... paling hanya empat kali saja,"
Sahut Hi-Hiong dengan muka merah.
"Empat kali, ehm ... ya memang tidak banyak, tapi seluruh bekal kungfu yang pernah Hi-taihiap pelajari sudah habis untuk membayar kesenangan. Pantas Ong-toa-nio tidak menawarkan simpanannya lagi ..."
Hi-Hiong berdehem dengan muka merah.
"Arak ini enak rasanya."
Siau-kong-cu tertawa.
"Jangan pura-pura pikun seluruh bekal kungfumu sudah dipelajari orang, maka hari ini kamu hanya disuruh menunggu di luar. Melihat teman-temanmu menjadi tamu Ong-toa-nio, bagaimana perasaanmu?"
Lebih jengah muka Hi-Hiong.
"Aku ... ini ..."
Terdengar suara Ong-toa-nio berkumandang dari dalam.
"Tidak demikian kenyataannya. Ong-toa-nio memang bukan tuan rumah yang ramah, tapi terhadap Hi-tai-hiap yang sudah lama kukenal, memang aku berlaku kikir kepadanya."
Di tengah kumandang suaranya kursi pikulnya digotong keluar, lalu ia mencubit pipi seorang gadis di sampingnya sambil tertawa.
"Budak bodoh, Hi-tai-hiap tidak asing lagi bagimu, kenapa tidak lekas melayaninya ..."
Gadis itu tertawa manis.
"Aku kuatir Hi-tai-hiap tidak mau aku layani lagi."
Seperti kepiting rebus muka Hi-Hiong.
"Aku ... aku ..."
Gadis itu menghampiri dan menarik lengan bajunya.
"Ayo masuk!"
Po-giok tidak kuat menahan geli.
"Hi-heng silakan saja ..."
"Ya, silakan saja, buat apa malu-malu segala. Biar aku yang menemani Pui-siau-hiap mengobrol di sini."
Sudah tentu Hi-Hiong juga masuk ke belakang, memang sejak tadi ia tidak sabar lagi. Sambil mengawasi Pui-Po-giok, Ong-toa-nio tertawa lebar.
"Semula kukira Pui-siau-hiap akan gusar setelah tahu profesiku sekarang, bukan mustahil gubukku yang reyot ini dibakar habis, sungguh di luar dugaan bahwa Pui-siau-hiap bersikap acuh-tak-acuh."
Po-giok tersenyum.
"Aku bukan manusia rendah, tapi juga bukan orang munafik yang menonjolkan ajaran kuno. Kalau laki perempuan sama-sama mau mencari kesenangan, kenapa aku harus melarang mereka?"
"Betul,"
Seru Ong-toa-nio sambil berkeplok.
"begitulah pantasnya pandangan seorang ksatria. Kalau Pui-siau-hiap bukan seorang ksatria (Eng-hiong), tentu tidak memberi ampun kepada Sun Giok-liong dan Tam Ih-seng."
"Apakah kedua orang itu terluka?"
Tanya Po-giok.
"Luka sih tidak, hanya kepalanya saja yang benjut."
Mendadak Siau-kong-cu menyeletuk.
"Masih ada muka mereka tinggal di sini."
"Jangan salah sangka, akulah yang menahan mereka,"
Demikian ucap Ong-toa-nio.
"mereka memang sungkan menemui Pui-tai-hiap, demikian juga yang lain, kini mungkin mereka sudah pergi secara diam-diam."
"Memangnya kamu hanya ingin mencuri kepandaian orang lain, kalau mereka sudah?"
Sindir Siau-kong-cu Ong-toa-nio tertawa riang.
"kau pandai menerka isi hatiku, aku ..."
Mendadak Po-giok menukas.
"Selama beberapa tahun ini, hasil yang kau peroleh tentu tidak sedikit entah apa maksud tujuan Toa-nio menghimpun berbagai kungfu dari berbagai aliran itu?"
Ong-toa-nio tertawa lebar.
"Wah, teramat jauh ucapan Pui-siau-hiap, mana aku punya maksud tujuan segala, sejak kejadian di Wi-ho-lau dulu memangnya aku masih berani membuat ribut di dunia kang-ouw?"
"Oo ..."
Po-giok bersuara ragu.
"Yang terang aku hanya ingin supaya gadis-gadis asuhanku ini dapat belajar lebih banyak. Mereka adalah anak yatim piatu, semula hidup sengsara dan harus dikasihani, kalau mereka sudah belajar banyak, kelak tentu tidak mudah dihina orang, tentang diriku ...."
Setelah menghela napas lain menyambung.
"Aku sudah tua, cacat lagi, serupa orang yang sudah setengah mampus. Aku tidak punya maksud tujuan hidup lagi, syukurlah kalau hari ini bisa hidup sehat hingga besok, tinggal tunggu saatnya masuk peti saja."
"Em ..."
Po-giok bersuara dalam mulut.
"Aku bicara sejujurnya, apa Pui-siau-hiap tidak percaya?"
"Semoga demikian hendaknya, kalau tidak ..."
"Pui-siau-hiap tidak usah kuatir,"
Sela Ong-toa-nio.
"ada tokoh besar seperti Pui-siau-hiap di dunia kang-ouw, memangnya aku berani bertingkah lagi, mungkin kalau mataku buta."
"Soal ini tidak perlu dibicarakan lagi. Harap Ong-toa-nio sudi mengundang Ban-lo-hu-jin keluar ..."
Saat ini dia sedang tidur nyenyak, kasihanilah orang tua yang gemuk lagi lanjut usianya, biarlah dia tidur lebih lama lagi. Padahal Pui-siau-hiap sendiri juga perlu istirahat."
Siau-kong-cu menguap ngantuk.
"Peduli apa kehendaknya, aku sendiri ingin istirahat. Ong-toa-575 nio ranjangmu berikan padaku, ranjang lain ...ranjang lain terlalu kotor."
Waktu mengucap kotor, tanpa terasa mukanya sudah merah, demikian pula gadis-gadis yang hadir sama menunduk malu, Pui-Po-giok sendiri juga jengah dibuatnya.
"Baiklah, anak-anak,"
Seru Ong-toa-nio.
"layanilah Kong-cu kita tidur di ranjangku ... Pui-siauhiap bagaimana dengan engkau ?"
"Seorang adik angkatku masih ..."
"Pui-siau-hiap, engkau terlalu meremehkan diriku. Memangnya soal sekecil ini tidak kau pikirkan? Coba lihat, bukankah sejak tadi Li-Bin-sing tidak kelihatan?"
"O, ya!"
"Aku tahu adik angkatmu itu orang jujur, aku kuatir gadisku menggodanya maka kusuruh Li-Bin-sing membawa arak daging ke sana dan mengajaknya ngobrol."
"Terima kasih, Toa-nio telah banyak membantu diriku."
"Silakan Pui-siau-hiap masuk istirahat, bila hari sudah terang tanah tentu akan aku bangunkan umpama Pui-siau-hiap ada urusan juga harus ditunda setengah hari lagi."
Dua orang gadis mengantar Po-giok masuk ke sebuah kamar.
Begitu berada di kamar itu Po-giok lalu mengunci pintu dari dalam.
Hatinya betul-betul agak takut.
Bukan takut apa-apa, tapi takut menghadapi rayuan gadis-gadis yang cantik molek itu.
Takut gadis-gadis itu tinggal di kamarnya dan tidak mau pergi.
Begitu Po-giok mengunci pintu, senyum yang semula menghias wajah kedua gadis itu seketika sirna.
Di mana tangan menekan, selapis papan baja perlahan melorot turun tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.
Kejap lain kedua gadis ini sudah lari ke ruang depan tadi.
Saat itu wajah Ong-toa-nio tampak membesi kaku, katanya dengan nada berat.
"Apakah lapis baja sudah kau turunkan? Mengejutkan dia tidak?"
"Sebelumnya sudah kami beri minyak, waktu aku turunkan, lapis baja itu tidak mengeluarkan suara,"
Demikian lapor salah seorang gadis.
"Bagus, sekarang kamu bersama Siau-jit mengangkut empat belas peti hitam itu ke atas kereta, sementara Siau-sam dan Siau-kiu menyiapkan kuda, lalu kalian berempat segera menyiapkan bahan api."
"Ya, tapi ... tapi ..."
Gadis itu tampak bimbang.
"Tapi apa lagi?"
Tanya Ong-toa-nio mengerutkan kening.
"Kalau kita musnahkan begitu saja tempat ini apakah tidak sayang. Apalagi orang she Pui itu tidak berdosa terhadap kita, kenapa harus ..."
"kau tahu apa?"
Jengek Ong-toa-nio.
"kalau sayang mengorbankan seekor domba, mana mungkin menangkap seekor serigala. Kalau ingin mengerjakan urusan besar, beberapa petak rumah ini terhitung apa? ... Hm, begitu bocah she Pui itu datang lantas kutahu kita takkan bisa lama menetap di sini, kau dengar apa yang dia ucapkan, ada pisau di balik tawanya, betapa lihai bocah itu?"
Gadis itu mengumpak.
"Ya, betapapun lihai, engkau orang tua lebih lihai lagi, engkau orang tua paling kehilangan beberapa petak rumah ini sebaliknya dia harus mengorbankan jiwa di tengah kobaran api."
"Syukur kalau kau tahu. Setelah bocah she Pui itu mampus, dalam Bu-lim siapa lagi yang mampu menandingi kaum hawa seperti kita ... Lekas kerjakan petunjukku tadi."
Gadis itu mengiakan. Yang keluar ada empat, di samping Ong-toa-nio masih ada tiga gadis yang lain. Seringai gadis menghias ujung bibir Ong-toa-nio.
"Nah, sekarang kita mulai dari siapa?"
Seorang gadis berkata.
"Aku paling benci melihat tampang suara tambur itu, kita mulai dari dia dulu."
"Baiklah, dia dulu ...di mana dia?"
Tanya Ong-toa-nio.
"Dia di kamar Ji-ci,"
Sahut gadis yang lain.
"Ayo kita pergi bersama. Boleh kalian saksikan tindakanku, beberapa tahun ini kita sudah kenyang dibuat permainan laki-laki busuk, kini saatnya melampiaskan dendam!"
Gubuk-gubuk itu tersebar di tepi sungai jarak satu gubuk dengan gubuk yang lain kira-kira setombak lebih di sekeliling gubuk ditanami berbagai jenis bunga yang lagi mekar."
Orang yang memasuki gubuk-gubuk mungil itu seolah-olah memasuki surga dunia, siapa yang masuk tentu merasa berat meninggalkan dekapan tubuh yang mulus dan hangat itu.
Saat itu Tam-Ih-seng berada di gubuk kedua agaknya sudah melupakan kekalahan yang memalukan tadi ia pun tidak peduli bahwa fajar telah menyingsing.
Mendadak terdengar suara "blang"
Yang gaduh pintu kamarnya mendadak didobrak jebol.
Saking kejutnya Tam-Ih-seng melompat dari ranjang, dalam keadaan telanjang bulat mendadak ia berdiri dapat dibayangkan betapa runyam keadaannya.
Tapi setelah melihat yang datang Ong-toa-nio meski malu agak lega juga hatinya, katanya dengan menggeleng kepala.
"Toa-nio kenapa ..."
Belum habis bicara, selarik sinar pedang mendadak menyambar tiba. Saking kaget Tam-Ih-seng melompat minggir.
"kau ..."
Walau cepat berkelit, namun Ong-toa-nio sudah menguasai kepandaiannya, ke mana dia akan berkelit, sinar pedang itu sudah menunggunya di sana.
Baru satu patah kata terlontar dari mulutnya, ujung pedang sudah menembus tenggorokannya.
Darah muncrat di dinding dan ranjang yang putih Tam-Ih-seng terbunuh di bawah kaki gadis yang tadi ia nikmati tubuhnya.
Gadis-gadis itu terbelalak kaget, senang dan terpesona.
"Begitu cepat, sekali tusuk jiwa melayang."
Mengawasi mayat Tam-Ih-seng, Ong-toa-nio menyeringai.
"Orang-orang ini mengira dalam waktu singkat aku tidak mungkin mempelajari rahasia intisari ilmu silat mereka maka dengan terus terang mereka memeragakan seluruh kungfu simpanan mereka. Di luar tahu mereka pada hakikatnya aku tidak mempelajari kungfu mereka melainkan cuma menyelami seluk-beluk permainan silatnya. Dia tidak mengenal kungfuku kalau sekali tusuk aku tidak mampu menamatkan jiwanya kan sia-sia aku hidup sekian tahun."
Gadis-gadis itu tertawa riang.
"Dari sekian banyak jago kosen Bu-lim sekarang, bukankah setengah di antara mereka telah tergenggam rahasianya, lalu apakah engkau orang tua akan ...."
"Betul, agaknya sudah ditakdirkan orang-orang ini bakal mampus di tanganku, tapi aku tidak perlu tergesa-gesa ... Sekarang kita cari siapa?"
Gadis yang melayani Tam-Ih-seng sudah berpakaian. Bahwa laki-laki yang baru saja dilayani kini menggeletak mati di bawah kakinya, betapapun sikap gadis ini agak terharu. Tapi dia masih bisa tertawa.
"Bukankah Sun-Giok-liong berada di kamar Lak-moi ..."
"Baiklah, kini gilirannya."
Fajar telah menyingsing, tapi lampu masih menyala di kamar Lak-moi, suasana hening, hanya terdengar dengkur yang keras, agaknya mereka masih tidur lelap. Seorang gadis berbisik sambil mendekap mulut.
"Tidur orang she Sun itu seperti babi."
Gadis yang memikul kursi Ong-toa-nio berkata.
"Tendang saja pintu kamarnya."
Gadis itu tertawa.
"Ya, aku ingin mencoba Yam-yan-ou-tiap-tui yang baru saja aku pelajari dari Kiang-Sin-sing!"
Sembari bicara mendadak ia melompat ke depan.
Di bawah cahaya mentari yang cemerlang, pakaiannya berkibar mirip seekor kupu-kupu terbang.
Tapi sebelum kakinya yang mengenakan sepatu kain berhias mutiara itu menendang daun pintu, mendadak daun pintu terbuka sendiri, berbareng selarik sinar perak berkelebat dari balik pintu.
Mimpi pun gadis itu tidak menyangka akan terjadi perubahan yang tidak terduga ini, ingin berkelit pun tidak mungkin lagi, sekali sinar perak itu berkelebat wajah yang ayu mengulum senyum itu tahu-tahu berlumuran darah.
Gadis-gadis yang lain terbelalak kaget, muka berubah, semua menggigit bibir tanpa menjerit.
Demikian pula gadis yang terluka parah itu pun tidak menjerit meski berguling-guling di tanah saking kesakitan.
Betapa besar daya tahannya, jelas tak mungkin terlatih dalam waktu satu-dua hari dari sini dapat disimpulkan betapa besar harapan Ong-toa-nio, terhadap anak didiknya.
Dengan memegang Hwi-liong-tiap Sun-Giok-liong menyeringai di ambang pintu.
"Ong-toa-nio, kurasa kau keliru menilai orang she Sun, walau aku kemaruk paras ayu, tapi kedua mataku tidak buta sejak mula sudah aku duga akan muslihatmu ini."
Ong-toa-nio tersenyum ramah, sikapnya wajar suaranya pun kalem.
"Sudah lama aku dengar Sun-Giok-liong adalah jantung hati Jit-jiau-ling-liong, selama hidup belum pernah rugi atau kena tipu, kini setelah berhadapan baru aku percaya, engkau memang tidak bernama kosong."
Jelalatan mata Sun-Giok-liong.
"Kalau sudah tahu orang she Sun bukan orang yang mudah dibuat permainan, kini minggir dan beri jalan, tapi kau pun jangan kuatir, orang she Sun segera pergi, sedetik pun tidak akan tinggal di sini lagi."
"Lalu bagaimana dengan yang lain?"
Tanya Ong-toa-nio. Sun-Giok-liong tertawa.
"Mati hidup orang lain tiada sangkut paut dengan aku. Kalau mereka rela mati di tengah bunga biarlah mereka mampus, aku tidak peduli."
"Agaknya kamu memang pintar,"
Ong-toa-nio terloroh-loroh.
"Orang yang berkecimpung di kang-ouw, kalau ingin hidup senang harus berlaku pintar dan pandai melihat gelagat. Kalau orang she Sun tidak pintar, memangnya bisa tahan hidup sampai sekarang?"
"Kalau demikian ... ayo anak-anak minggir semua, beri jalan kepada Sun-tai-hiap."
Sun-Giok-liong terbahak-bahak, dengan langkah gontai dia berjalan keluar, langkahnya perlahan, tapi ketika berada di samping Ong-toa-nio, pundaknya tampak terangkat, pesat sekali tubuhnya melejit ke depan.
Dia mengira Ong-toa-nio pasti tidak membiarkan dia pergi begitu saja, tak nyana begitu dia melejit ke depan, Ong-toa-nio tetap duduk tidak bergerak.
Lega hati Sun-Giok-liong, cepat ia melompat ke depan, sekali lompat lagi akan selamat dan pergi dengan bebas.
Tak terduga pada saat tubuh mengapung mendadak Ong-toa-nio mengayun sebelah tangannya, pedang secepat kilat menyamber, mengincar punggung Sun-Giok-liong.
Walau punggung Sun-Giok-liong tidak tumbuh mata, namun ia dengar kesiur angin datangnya serangan, saking kejut cepat ia mengegos, tak urung tubuhnya kehilangan keseimbangan, tanpa ampun ia jatuh terbanting terasa angin tajam menyerempet lewat di pinggir telinga.
Di luar tahunya pedang kedua timpukan Ong-toa-nio menyusul tiba pula tanpa mengeluarkan suara, tahu-tahu sudah berada di belakangnya dan mendadak pula berputar arah.
Terdengar Sun Giok-liong menjerit ngeri darah muncrat di punggungnya, pedang menembus punggung ke dada dan memanteknya di tanah.
Seorang gadis geleng kepala, katanya sambil menghela napas.
"Kukira kungfu keparat ini amat lihai, kiranya hanya begitu saja ..."
Ong-toa-nio tertawa puas.
"kau kira dua pedang timpukan itu mudah dihindari?"
Gadis itu menunduk.
"Anak tidak tahu "
"Biar aku jelaskan, Cu-bo-tui-him-tui-jiu-kiam yang kugunakan Kelihatannya sederhana, padahal penggunaan waktunya harus tepat, yang paling sukar adalah lemparan pedang kedua harus tiba lebih dulu dari lemparan pertama, bukan saja harus membuat musuh salah duga, juga harus memperhitungkan ke arah mana mungkin dia akan berkelit.
"Kalau demikian, bukankah gaya lemparannya mirip dengan Cu-bo-kim-so?"
"Betul, gaya yang kugunakan itu memang cangkokan dari Cu-bo-kim-so, tapi panjang pedang ada tiga kaki, Kim-so hanya empat dim, perbedaan antara mudah dan sukar penggunaannya jelas berpuluh kali lipat."
"Sekarang baru aku mengerti,"
Sahut gadis itu. Ong-toa-nio berkata.
"Kalau tidak berlebihan, aku berani bilang di kolong langit ini hanya beberapa orang saja yang mampu lolos dari Cu-bo-tui-hun-tui-jiu-kiam, namun kalau tidak yakin akan berhasil, aku pun tidak berani sembarang menggunakannya. Bila timpukan pedangku ini tidak mengenai sasaran, jiwaku sendiri pun sukar diselamatkan."
Seorang gadis lain bertanya.
"Bagaimana kalau Pui-Po-giok? Apakah dia mampu menyelamatkan diri?"
Berubah air muka Ong-toa-nio seperti digampar orang, wajah yang semula senang dan bangga mendadak berubah kelam, cukup lama ia tepekur, akhirnya senyum sadis terkulum di ujung bibirnya, katanya.
"Aku tidak tahu ...syukur untuk selanjutnya aku tidak perlu tahu lagi." ****** Keadaan di kamar itu terasa berat hening sepi, tapi ganjil. Perabot yang ada di kamar juga serba beda dengan perabot umumnya, semua serba mini, dipan yang sempit, meja kursi juga kecil, vas kembang juga mini, selain serba mini tiada keanehan lain di kamar ini kecuali keheningan. Setiap sudut kamar itu sudah diperiksa oleh Po-giok, termasuk kasur, kemul, bantal guling yang serba baru, poci berisi teh wangi dengan cangkir porselin, setiap benda yang ada di kamar ini wajar dan tulen, tiada racun dan jebakan. Tapi Po-giok belum lega, hati masih tidak tenang. Dinding diketuk, daun pintu juga diketuk, semua terbuat dari papan dan tembok bata, bukan baja, tapi kamar ini seperti kamar umumnya, namun seolah-olah kamar penjara. Kalau mau pergi, Po-giok yakin setiap saat dia mampu keluar dari sini. Akhirnya lega juga hati Po-giok, diam-diam ia tertawakan diri sendiri yang terlalu curiga. Dia yakin di sini tiada perangkap, keadaan pasti aman dan tentram. Bahwa Ong-toa-nio tidak bermaksud mencelakai dirinya, hal ini sungguh di luar dugaannya. Po-giok pikir mungkinkah Ong-toa-nio tidak mau mencelakai orang lagi? Kalau benar Ong-toa-nio sudah insaf, sudah tobat dan sadar akan kesalahan dan dosanya, adalah jamak kalau dirinya memaafkan dan melupakannya segala kesalahan yang pernah dilakukan Ong-toa-nio dahulu. Pengampunan adalah perbuatan baik, memberi maaf adalah sikap yang terpuji Po-giok senang dan mau melakukannya, selama hidup dia ingin memberi ampun dan maaf kepada orang lain, walaupun belum tentu dia dapat memberi maaf kepada dirinya sendiri. Maka kewaspadaannya mengendur. Maka rasa mengantuk pun merangsang tubuhnya. Selama 579 dua hari ini dia memang terlalu tegang dan lelah. Entah berapa lama ia terlena di atas ranjang mendadak ia terjaga dari pulasnya. Terasa jantungnya berdegup keras firasat jelek menegangkan urat syarafnya lagi. Secara refleks dia melompat bangun. Tapi kamar ini masih tenang dan tentram, tiada perubahan apa pun. Lalu kenapa firasat jelek mendadak mengetuk sanubarinya, firasat jelek datang secara aneh dan mengejutkan. Po-giok berusaha menentramkan perasaannya ia menelusuri lagi pengalamannya sejak mula, namun tak terpikir olehnya di mana dan cara bagaimana Ong-toa-nio bermaksud mencelakainya. Walau badan amat letih, mata masih ngantuk namun pikirannya cukup jernih, kaki tangan masih bergerak lincah tenaga dalam yang dikerahkan juga lancar dan normal, jelas dirinya tidak keracunan. Tapi kenapa dia mendapat firasat jelek? Pada saat tepekur itulah sayup-sayup terdengar suara yang ganjil. Suara itu tidak keras, tapi kedengarannya aneh, seperti ulat makan daun, laksana angin mengembus rontok daun kering, sukar bagi Po-giok membedakan suara apakah itu. Dalam waktu yang sama terasakan juga hawa dalam kamar itu semakin gerah, makin membara, seolah-olah dirinya berada di dalam tungku. Begitu merasa ada perubahan, Po-giok melompat ke depan sambil mendorong pintu. Walau sudah mengerahkan tenaga, tapi pintu itu tidak bergeming sedikit pun. Ternyata pintu terkunci dari luar. Daun pintu yang terbuat dari kayu mana bisa mengurung Po-giok. Sambil tertawa dingin Po-giok angkat tangan menepuk sekali, daun pintu pecah berkeping-keping, tapi pintunya tetap tidak terbuka. Ternyata pintu itu memang terbuat dari papan kayu, tapi di tengah papan kayu itu terdapat terali besi, terali besi disembunyikan di tengah papan kayu yang berlapis, umpama diketuk juga tidak akan menimbulkan gema suara. Berubah air muka Po-giok, namun ia tidak menjadi gugup, baru saja timbul niatnya mencoba apakah terali besi ini dapat diputus, segulung asap hitam mendadak menyembur masuk dari celah papan yang pecah itu. Api membara amat besar dan berkobar dengan cepat. Sekalipun Po-giok memiliki kungfu setinggi langit, betapapun dia manusia biasa, bukan manusia baja, tanpa kuasa dia menyurut mundur karena semburan hawa panas. Suara aneh tadi kini terdengar jelas. Kini Po-giok tahu suara itu datang dari kobaran api membakar kayu yang disiram minyak. Kobaran api sudah menyumbat pintu keluar. Tapi Po-giok belum putus asa, sekuat tenaga dia menerjang ke arah dinding samping. Dinding batu pun tidak tahan terjangan tenaga raksasa Po-giok. Batu pasir pun berguguran. Tapi di tengah dinding ternyata juga terdapat terali baja. Kobaran api kontan menggulung masuk. Dinding itu pun terjilat api, ternyata dinding itu terbuat dari jerami kering yang mudah terbakar. Tapi terali baja itu tidak akan cair meski dibakar, didorong pun takkan roboh. Api dan asap yang tebal dapat menggulung masuk lewat terali baja, tapi orang justru sukar bolos keluar, tiada seorang pun bisa lari lewat terali baja itu. Perangkap yang keji. Perangkap ini agaknya sudah direncanakan secara sempurna, hasil pemikiran seorang yang ahli di bidang kejahatan. Sebelum terjadi tiada orang bisa membongkar rahasia keji ini, setelah terjadi tiada orang bisa lolos dengan selamat. Kobaran api yang makin besar, menjadikan rumah yang kecil itu seperti neraka yang membara. Tapi yang bercucuran di tubuh Pui-Po-giok justru keringat dingin, walau dia banyak akal dan pandai berpikir, meski entah sudah berapa kali lolos dari mara bahaya yang hampir merengut jiwanya. Tapi sekarang dalam keadaan seperti itu, betapapun sulit menyelamatkan diri. Jelas sebentar lagi dia akan mati ditelan api, mati terbakar hidup-hidup. Tapi Pui-po-giok hanya berdiri terlongong tanpa bergerak. Mendadak didengarnya jeritan takut dan ngeri. Jeritan datang dari balik dinding sebelah kiri itulah jeritan Siau-kong-cu. Pada saat yang sama Siau-kong-cu juga terancam bahaya seperti keadaan Pui-Po-giok. Tanpa pikir sekuat tenaga Po-giok menerjang ke arah dinding kiri. Sudah tentu dinding itu ambruk dan rontok, namun yang tampak juga terali baja. Terali baja yang tak mungkin patah dipukul atau luluh dibakar. Kini dia melihat Siau-kong-cu. Wajah yang cantik, wajah yang diliputi rasa takut panik dan ngeri. Siau-kong-cu juga melihat dia. Seperti di tempat gelap melihat setitik sinar terang, laksana di tengah badai samudra melihat daratan, langsung ia memburu maju. Dalam sekejap itu, dibatasi terali besi tubuh mereka berpelukan dengan erat, tangan mereka terulur lewat celah terali, memeluk tubuh masing-masing. Tubuh yang basah oleh keringat, tubuh yang gemetar saking takut dan tegang. Kelambu kasur dan meja kursi dalam kamar itu sudah mulai terbakar, terali baja di bagian depan itu juga mulai merah. Tapi Po-giok dan Siau-kong-cu seperti tidak merasakan sama sekali, seolah-olah mereka takut berpisah, biar berada di neraka, keadaan seperti ini akan mereka rasakan sebagai surga saat mereka dapat melimpahkan rasa cinta murni sejati. Bergetar keras sekujur tubuh Siau-kong-cu, bibir yang gemetar menempel di pipi Po-giok, sekali dua kali puluhan kali dan ratusan kali ia menciumnya ..."
"Po-giok ...Po-giok ..."
Tak kuasa ia mengucap kata lain kecuali jeritan nama yang dapat menentramkan rasa takut dan panik, nama yang dapat menghibur hatinya.
"kau ...tidak apa-apa bukan?"
Tanya Po-giok, suaranya pun gemetar.
"Aku ...kau ...bagaimana? Dapatkah melarikan diri?"
"Dan kau ?"
"Aku ...apakah kau pun seperti aku?"
"Aku ingin bersamamu ...aku rela bersamamu."
Suara mereka pendek, disertai dengan napas yang memburu, suara yang serak dan sesengukan. Air mata bercucuran di wajah Siau-kong-cu.
"kau rela bersamaku?"
"Kalau aku harus mati cara mati yang paling baik adalah mati bersamamu."
"Kalau kau dapat lari, apakah akan kau tinggalkan aku?"
"Bagaimana pendapatmu?"
"Tidak, tidak mungkin ...kau takkan meninggalkan aku, betul tidak?"
Makin erat pelukan Po-giok,"Mana mungkin aku meninggalkanmu, mana boleh aku tinggalkan dikau ."
Terbetik secercah senyum sedih di wajah Siau-kong-cu yang basah air mata.
"Baiklah, biar kita mati bersama hari ini, aku dapat mendengar suara hatimu mati pun aku rela."
"Memangnya sebelum ini kau belum tahu maksud hatiku?"
"Aku ...aku dulu ...."
Mendadak ia mengguncang tubuh Po-giok sekeras-kerasnya, tangisnya tergerung-gerung.
"Dahulu aku berbuat salah ...salah terhadapmu."
"Hari ini aku dapat mendengar pengakuanmu, sungguh merupakan hiburan terbesar bagiku."
"Aku tahu selama ini aku selalu membuatmu sedih, membuatmu menderita, tapi ...tapi tahukah kamu, aku berbuat jahat karena amat mencintaimu ...."
"Aku ..."
"Hati orang perempuan memang sukar dimengerti terutama perempuan seperti diriku ..."
Dengan sesenggukan ia menambahkan.
"Aku ini gadis yang egois, suka menang, banyak curiga dan cemburu ...walau aku mencintaimu, tapi aku tidak suka orang bilang kau lebih unggul dariku, mendengar pujian orang terhadapmu, hatiku seperti dipagut ular beracun, aku ...aku bertekad menghancurkanmu."
"Sudahlah, sudah!"
Lembut suara Po-giok.
"sekarang semua itu tidak perlu dibicarakan lagi, tidak jadi soal bagiku."
"Tapi dapatkah kau maafkan aku?"
"Memaafkanmu? ...Aku tidak pernah menyalahkan engkau ."
"Aku menjadi jahat, engkau tetap baik terhadapku?"
"Hatiku takkan berubah selamanya."
Api menyala makin besar, Tapi cinta asmara muda-mudi ini lebih membara lagi. Kini mereka berpelukan dengan tenang, berpelukan lebih erat. Kini sekeliling mereka sudah menjadi lautan api.
"Dahulu,"
Siau-kong-cu bergumam.
"aku paling takut mati, namun aneh sekali, kematian di depan mata kenapa tidak aku takuti lagi, sedikit pun tidak takut."
"Ya, kematian memang tidak perlu dibuat takut,"
Po-giok juga mengigau.
"Bukan saja tidak takut mati, aku malah suka mati."
"Suka mati?"
"Ehm, bila tidak menghadapi kematian, mungkin selama hidupku takkan melimpahkan isi hatiku terhadapmu ... takkan pernah aku dengar isi hatimu terhadapku."
"Ya, mati ... mati memang sesuatu yang aneh."
"Biarlah api membakar kita ... sekarang inilah saat yang paling gembira, hatiku senang, kurasa aku sudah bisa menahan segala siksa derita badanku, biarlah satu senti demi satu senti api 582 membakar tubuhku, aku ingin mati perlahan bersama orang yang kukasihi. Po-giok, aku sungguh senang ... apa kau pun senang ..."
"Senang?"
"Ya, Thian Maha Pengasih, sebelum ajal kita diberi kenikmatan yang mesra, tapi juga memberi derita yang tiada taranya."
Mendadak seorang berteriak keras.
"He, anak keparat, terkutuklah kalian kalau ingin mampus begini, ingat orang tua kalian melahirkanmu bukan untuk mampus penasaran, berusahalah untuk berbakti kepada orang tua kalian."
Po-giok dan Siau-kong-cu sama-sama kaget.
"He, apa Ban-lo-hu-jin?"
Suara orang itu terasa getir.
"Ya, memang aku si nenek tua, kalian merasa senang mati di sini, aku orang tua justru penasaran. Dalam perjalanan ke neraka kalian ada teman, sebaliknya aku orang tua setelah mampus hanya menjadi setan gentayangan."
"He, kamu di mana?"
Teriak Po-giok.
Di tengah kobaran api yang makin besar Po-giok melihat bayangan Ban-lo-hu-jin, ternyata dinding di sebelah kanan juga sudah ambruk dijilat api, tampak Ban-lo-hu-jin berada dalam kurungan terali besi juga.
Ternyata kamar yang bentuknya sama jumlahnya ada empat buah.
Siau-kong-cu masih memeluk Po-giok dengan kencang, suaranya lirih.
"Sebentar lagi akan mati, kenapa tidak mati dengan senang dan tentram?...Ban-lo-hu-jin, biasanya engkau bisa pikir jauh, kenapa sekarang justru berpikir cepat?"
"Siapa bilang kita akan mati di sini? Siapa yang bilang?"
Kalap suara Ban-lo-hu-jin. Padahal rambut, lengan bajunya sudah terjilat api, keadaannya mirip binatang yang sekarat di dalam sangkar dan sedang meronta dan mengamuk.
"Kalau orang lain, dalam keadaan seperti ini mungkin sudah mampus sejak tadi. Tapi Pui-Po-giok, jangan kau lupa, kamu bukan orang biasa, aku percaya otakmu yang cerdik dapat memikirkan akal dan melakukan apa yang tidak dapat dilakukan orang lain."
"Tapi aku sudah berusaha sekuat tenaga,"
Sahut Po-giok.
"Kamu sudah berusaha ... usaha apa yang sudah kau lakukan? Yang benar kamu hanya pikirkan mampus saja, kau kira hidup ini amat menderita, terlalu lelah, kamu ... memang malas...."
"Aku ...sudah mencoba ...."
"Betul ...aku juga tahu tadi kamu sudah mencoba, tapi sekarang kenapa tidak kau coba lagi? Apa tidak tahu meski baja sekalipun setelah terbakar akan menjadi lunak."
"Wah, ini ...."
Tergerak hati Po-giok.
"Po-giok, tak usah mencobanya,"
Siau-kong-cu berkata lembut.
"ucapannya memang tidak salah, hidup di dunia ini memang terlalu menderita dan melelahkan, kalau orang akhirnya akan mati, kenapa tidak sekarang saja kita mati dengan gembira."
"Ya, benar,"
Po-giok mengangguk.
"apalagi...api sebesar ini ...aku ...."
Ban-lo-hu-jin berjingkrak gusar, dampratnya.
"Keparat yang tidak tahu diri, kalian memang manusia tidak berguna, masih begini muda, yang dipikir hanya mati saja. Aku nenek setua ini justru ingin hidup seribu tahun lagi ..."
Po-giok menoleh ke arahnya dan mengawasi Siau-kong-cu, akhirnya ia menunduk.
"Aku sudah berusaha, aku tidak mampu berbuat apa-apa."
"Kentut busuk ... yang terang kamu tidak punya niat untuk hidup ...kau hanya ingin lari dari kenyataan ...."
Siau-kong-cu memejamkan mata, suaranya mengigau.
"Mati ...betapa jauhnya, betapa gelapnya, namun juga begitu nikmat ...dalam kegelapan yang tiada ujung pangkalnya itu, setiap orang akan dapat istirahat dengan tenang."
Po-giok menarik napas panjang mulutnya juga bergumam.
"Sudah lelah ...aku amat lelah."
Api sudah menjilat beberapa tempat di tubuh Ban-lo-hu-jin, saking gusar giginya sampai gemeretukan. Mendadak ia mendongak serta terloroh-loroh.
"He, apa sudah kau temukan kegembiraan dalam kematian, begitu riang tertawamu?"
Tanya Siau-kong-cu.
"Aku tertawa ...."
Serak suara Ban-lo-hu-jin.
"karena aku ini orang buta, selama ini kuanggap Pui-Po-giok adalah ksatria, seorang laki-laki sejati, sekarang baru kutahu sebetulnya dia adalah binatang rendah!"
Berdiri alis Po-giok, namun amarah masih tertekan dalam hatinya.
"Silakan memaki, sanjung puji sesama manusia hanya embel-embel hidup belaka, biar mati ... mati adalah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri lagi."
"Pui-Po-giok!"
Bentak Ban-lo-hu-jin beringas.
"Binatang keparat, tahukah kenapa aku memakimu?"
"Persetan, aku tidak perlu tahu."
"Setiap orang punya ayah bunda. Apa kau punya orang tua?"
"Tentu ada ...."
"Setiap orang tahu dan pernah melihat ayah bundanya, tapi pernah kau lihat orang tuamu?"
Mendadak bergetar sekujur badan Po-giok, suaranya pun gagap.
"Aku ...aku ...."
Sejak dilahirkan dirinya diserahkan kepada Pek-Sam-khong yang dia ketahui sebagai kakek luarnya, tapi bagaimana tampang ayah bundanya, hakikatnya dia tidak pernah lihat.
"Binatang cilik,"
Ban-lo-hu-jin mencak-mencak "Ingin kutanya, di mana sekarang kedua orang tuamu?"
Bergetar pula tubuh Po-giok, mendadak ia berteriak.
"Di mana mereka, apa kau tahu?"
"Kalau aku tidak tahu, buat apa aku ngobrol denganmu?"
Sekuat tenaga Po-giok membebaskan diri dari pelukan Siau-kong-cu, pekiknya beringas.
"Di mana? Mereka di mana?"
"Binatang! Dasar malas dan ingin mampus ... Nah, mampuslah, kenapa tanya segala?"
Tubuh Po-giok sudah hampir ditelan api, rambut dan pakaiannya sudah menyala, namun ia hanya mengertak gigi dan melotot, berdiri di tengah kobaran api tanpa gentar, Bentaknya beringas.
"Katakan ...katakan tidak?"
"Agaknya kau ingin tahu, baiklah aku jelaskan. Sekarang ayah-bundamu sedang menderita dalam kesengsaraan yang paling tersiksa, ingin mati tidak bisa ingin hidup juga tidak dapat."
Po-giok tergetar seperti disamber kilat, kaki tangan pun mengejang.
"Apa benar?"
Teriaknya kalap sambil menerjang ke tengah lautan api.
"apa betul ucapanmu?"
Ban-lo-hu-jin menyeringai.
"Buat apa aku menipumu? Kenapa aku dustai orang yang hampir mampus ....Yang pasti sudah lama ayah-bundamu menderita, tersiksa lahir dan batin, apa salahnya menderita lebih lama lagi ...."
Mendadak Po-giok menghardik, suaranya sekeras guntur, terus menerjang ke sana.
Seperti sengaja juga seperti tidak sengaja Ban-lo-hu-jin mengulurkan tongkat panjangnya dari 584 celah-celah terali baja.
Sekali raih Po-giok rebut tongkat panjang itu.
Saat itu tubuhnya sudah dijilat api, begitu tongkat terebut sekuat tenaga ia mengayunkannya.
Terali yang sudah terbakar menganga itu disapunya melengkung dan ada yang patah oleh hantaman yang dahsyat.
Po-giok melongo oleh hasil yang tidak terduga entah kaget, girang atau gusar?
Baca Juga: Mayat Kesurupan Roh 4
Baca Juga: Dendam Sejagad Legenda Kematian 1