Eps 9 Pedang Tanpa Perasaan - Khu Lung
Baca online Pedang Tanpa Perasaan - Khu Lung
Cersil Pedang Tanpa Perasaan - Khu Lung.
Dia mengeluarkan sebuah kaca dari balik pakaiannya.
"Nih, kau lihat sendiri!"
Lie Cun Ju masih bimbang, dia menyambut kaca itu dan menatap wajahnya Iewat pantulan cermin.
Hampir saja dia menjerit histeris dan membuang kaca yang dipegangnya.
Perempuan setengah baya dan orang tua itu ternyata tidak berbohong, wajahnya sudah sama seperti Tao Ling, penuh dengan tonjolan urat-urat merah yang mengerikan.
lie Cun Ju sendiri merasa bingung.
Dari mana datangnya urat-urat merah itu?
Tanpa dapat menahan diri lagi Lie Cun Ju memeletkan lidahnya, sampai sekian lama dia tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.
"Bocah cilik, sekarang kau sudah harus berkata terus terang bukan?"
Kata orang tua itu dengan nada dingin. Lagi-lagi Lie Cun Ju menarik nafas panjang.
"Cianpwe, kau yang menolong selembar jiwa-ku. Seharusnya apa pun permintaanmu, aku harus menyetujuinya. Tapi urat-urat merah ini ... aku sendiri tidak tahu mengapa tiba-tiba wajahku bisa berubah seperti ini ... Aku benar-benar belum pernah mengunjungi istana rahasia di sebelah barat Gunung Kun Lun san. Lebih-lebih belum pernah melihat apa yang dinamakan laba-laba merah. Bagaimana bisa disemprot racunnya? Apa yang kukatakan semuanya merupakan kenyataan, tidak sepatah pun dusta. Aku harap Locianpwe bisa mengerti!"
Wajah orang tua itu berubah hebat, perlahan-lahan dia mengangkat tangannya ke atas.
Pada saat itu, pikiran Lie Cun Ju sudah terang sekali.
Kondisi tubuhnya juga sudah jauh lebih baik, tetapi ilmu silatnya masih menyurut banyak.
Lagipula, biarpun dia belum terluka tetap saja kepandaiannya bukan tandingan si orang tua.
Itulah sebabnya ketika melihat si orang tua mengangkat tangannya dan sepasang matanya menyorotkan hawa pembunuhan, dia hanya memejamkan matanya dengan tenang.
Dia sudah siap mati di tangan orang tua itu.
Tetapi, setelah menunggu beberapa saat, telapak tangan si orang tua belum mendarat juga di tubuhnya.
Ketika Lie Cun Ju membuka matanya dia melihat telapak tangan orang tua itu hanya tinggal setengah kaki saja.
Serangkum hawa dingin mulai mendesak ke wajahnya.
Sekali lagi Lie Cun Ju menarik nafas panjang.
"Mohon tanya kepada locianpwe, kapan sebetulnya locianpwe menemukan wajah boanpwe dalam keadaan demikian?"
"Ketika aku mengangkatmu dari dalam air, keadaanmu sudah seperti itu."
Sekali lagi Lie Cun Ju tertegun.
"Cianpwe, aku cuma tahu, ketika aku tercebur ke dalam jurang itu, wajahku belum ada urat-urat merah yang menonjol ini."
Apa yang dikatakan Lie Cun Ju, setiap patah katanya merupakan kenyataan, tapi orang tua itu tidak mau percaya juga. Dia melirik sekilas kepada si perempuan setengah baya.
"Apakah kau yang menyuruhnya agar jangan mengatakan apa-apa?"
Wajah si perempuan setengah baya menyiratkan kemarahan.
"Tua bangka, kau berani menyangka yang bukan-bukan?"
"Baik, bocah cilik. Kalau kau tidak bersedia membawa kami ke istana rahasia itu, kau akan rasakan kekejian tanganku."
Hati lie Cun Ju lama-lama mendongkol juga.
"Aku kan tidak pernah kesana, bagaimana aku bisa membawa kalian mengunjungi istana rahasia itu?"
Katanya serius. Perempuan setengah baya itu tertawa licik.
"Tua bangka, buat apa kau banyak bicara dengannya sekarang? Yang penting kita sama-sama tahu jalan masuk menuju istana rahasia itu. Kita bawa saja dia ke sana, kalau dia masih menyayangkan selembar nyawanya, tentu dia harus membawa kita masuk ke dalamnya."
Orang tua itu merenung sejenak.
"Apa yang kau katakan beralasan juga. Baiklah, kita berangkat sekarang juga!"
Mendengar pembicaraan mereka, hati lie Cun Ju jadi bergidik.
Diam-diam dia berpikir dalam hati, kalau mereka benar-benar membawanya serta, biar bagaimana dia harus menemukan jalan untuk meloloskan diri.
Apabila tidak dia pasti akan terkubur bersama-sama mereka di tempat entah istana rahasia apa itu.
Si kakek dan perempuan setengah baya itu melihat lie Cun Ju tidak mengucapkan sepatah kata pun, diam-diam hati mereka merasa bangga karena mengira rencana mereka akan berhasil.
"Tua bangka, sebelumnya aku ingin menegaskan bahwa kita harus mendapatkan pedang pusaka itu seorang satu!"
Orang tua itu tertawa terkekeh-kekeh.
"Tentu saja!"
Si Gagu yang sejak tadi berdiri di samping tiba-tiba mengeluarkan suara raungan yang aneh. Perempuan setengah baya itu menoleh kepadanya.
"Gagu bau, kau ingin mendapatkan bagian?"
Tubuh si Gagu bergerak, telapak tangannya langsung mengirimkan sebuah pukulan kepada perempuan setengah baya itu.
Terdengar suara menderu, pukulan si Gagu ternyata mengandung kekuatan yang dahsyat.
Tubuh perempuan .setengah baya itu berkelebat, dia menggeser ke samping, lengan bajunya niengibas, setitik sinar berwarna hijau melesat keluar dari lengan bajunya.
Si Gagu tentu sudah tahu kelihaian panah berapi perempuan itu.Cepat-cepat dia mencelat ke belakang, sebatang panah berapi melesat di sampingnya.
Untung saja gerakan tubuh si Kurus cukup gesit.
Dia berhasil menghindarkan diri.
"Jangan berkelahi lagi!"
Bentak orang tua itu. Tampaknya si Gagu merasa sungkan sekali kepada si orang tua. Begitu mendengar bentakan-nya, dia langsung berhenti.
"Kita akan berangkat segera, kau bereskan sampan kita dulu!"
Kata orang tua itu kembali.
Mimik wajah si gagu tampak menunjukkan perasaannya yang kurang puas, tetapi dia pergi juga melaksanakan perintah orang tua itu.
Lie Cun Ju berdiri di samping dengan perasaan galau.
Pikirannya ruwet sekali.
Dia tidak habis pikir apa yang dimaksud dengan 'pokoknya dari dua batang pedang pusaka, kita harus mendapatkan satu masing-masing' yang dikatakan perem-puan setengah baya itu.
Sejak dia terjun ke dalam jurang, apa yang dihadapinya merupakan suatu teka teki yang tidak terjawab.
Mula-mula Lie Cun Ju tidak tahu siapa dan bagaimana asal usul kakek dan perempuan itu, juga si Gagu.
Orang tua itu sudah menolongnya, tetapi belakangan ini justru ingin mencelakainya.
Apakah dia menolong dirinya karena mengandung maksud tertentu?
Lie Cun Ju juga tidak tahu.
Terakhir, ketika di tepi jurang berhadapan dengan I Ki Hu, selembar wajah Lie Cun Ju masih baik-baik.
Mengapa begitu ditolong oleh si kakek, langsung berubah demikian mengerikan yakni penuh dengan urat-urat merah yang bertonjolan?
Bukankah semua itu merupakan teka teki yang tidak bisa dijawabnya?
Lie Cun Ju sudah hidup selama tiga tahun di kuil Ga tang.
Sehetulnya perasaan hati pemuda itu sudah hambar dengan apa saja yang menyangkut keduniawian.
Segala pertikaian yang ada di dalam dunia bu lim dianggapnya suatu hal yang menggelikan.
Dia menginjakkan kakinya keperkampungan keluarga Sang, hanya untuk satu tujuan.
Yakni dia masih belum bisa membebaskan dirinya dari cinta kasih yang terjalin antara dirinya dan Tao Ling.
Tadinya dia bermaksud mencari gadis itu kemudian diajaknya tinggal di kuil Ga tang yang tenang dan damai dari segala macam pertikaian di dunia bu lim.
Tapi akhirnya dia malah mendengar kabar bahwa kekasihnya itu sudah menikah dengan si Raja Ihlis I Ki Hu.
Hal itulah yang kemudian menyeret dirinya dalam berbagai kemelut.
Sementara itu, si perempuan setengah baya dan orang tua itu memaksanya membawa mereka menuju istana rahasia yang dia sendiri tidak tahu bagaimana bentuknya dan di mana letaknya.
Dia benar-benar tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis menghadapi kejadian seperti itu.
Baru saja dia berpikir untuk mencari alasan yang baik guna menolak permintaan kedua orang itu, tiba-tiba dari arah pondok berkumandang suara tawa yang menyeramkan.
Mendengar suara tawa itu, wajah Lie Cun Ju langsung berubah hebat.
Untuk sesaat, sulit melukiskan mimik wajah Lie Cun Ju.
Dia seperti terkesima, gembira, tapi juga menderita.
Bahkan apabila ditanyakan, mungkin dia sendiri tidak tahu bagaimana perasaan hatinya saat itu.
Tampak dia tertegun sesaat.
"Ling moay, kaukah itu?"
Teriaknya kemudian.
Sembari berteriak tubuh pemuda itu melesat bak sebatang anak panah yang terlepas dari busurnya.
Orang tua dan si perempuan setengah baya segera mengikuti dari belakang.
Lie Cun Ju berlari menuju pondok beratap rumbia itu.
Ketika ia mengalihkan pandangan matanya, tampak Tao Ling sedang duduk di atas sebuah balai-balai dengan tangan begerak-gerak seperti sedang menari.
Sementara itu, Lie Cun Ju juga tertawa terbahak-bahak.
Lie Cun Ju belum sempat mengucapkan sepatab kata pun.
"Bagus sekali. tua bangka. Ternyata kau masih berani menyimpan seorang lagi di sini,"
Teriak perempuan itu.
"Jangan sembarangan mengoceh dia orang gila"
Lie Cun Ju terkejut setengah mati. Dia segera mengbambur ke depan.
"Ling moay! Ling moay!"
Meskipun jalan darah Tao Ling sudah ditotok oleh si kakek.
dan otaknya sudah tidak waras tetapi kepandaiannya tidak menyurut.
Tanpa sadar dia menghimpun hawa murni dalam tubuhnya dan mendesak jalan darah yang tertotok sehingga bebas.
Lie Cun Ju memanggilnya beberapa kali, tetapi sepasang rnata Tao Ling yang kosong hanya menatapnya tanpa menunjukkan kesan seperti kenal dengannya.
Melihat keadaan Tao Ling, hati Lie Cun Ju terasa perih sekali.
"Ling moay, apakah kau benar-benar sudah gila?"
Baru saja ucapannya selesai, tiba-tiba Tao Ling mengangkat tangannya dan mengibas ke depan.
Pada saat itu hati Lie Cun Ju sedang dilanda keperihan, dan tidak menyangka akan diserang oleh Tao Ling.
Karena itu dia juga tidak menghindarkan diri.
Plok!
Pukulan Tao Ling tepat mendarat di pipinya.
Sebelah wajah Lie Cun Ju jadi bengkak seketika.
Lie Cun Ju tertegun kemudian dia berkata.
"Ling moay, ini aku!"
Tao Ling tertawa terbahak-bahak.
"Kau? Siapa kau? Aku? Siapa pula aku ini?"
Mendengar kata-kata Tao Ling, perasaan Lie Cun Ju seperti terpukul. Dia berdiam diri sejenak.
"Ling moay, kau tidak ingat lagi kepadaku?"
Katanya lagi. Tao Ling memandanginva beberapa saat. Tiba-tiba dia menunjuk wajah Lie Cun Ju dan tertawa aneh.
"Bagaimana mungkin aku tidak mengenalmu? Meskipun kau hangus tinggal abu, aku juga tidak akan melupakanmu. Kau adalah I Ki Hu!"
Kata Tao Ling.
"Aku bukan I Ki Hu!"
Teriak Lie Cun Ju. Orang tua itu langsung berteriak dengan nada melengking.
"Buat apa kau banyak bicara dengan orang gila seperti dia. Kita harus berangkat sekarang!"
Tiba-tiba Lie Cun Ju membalikkan tubuhnya.
"Tunggu dulu!"
"Kenapa?"
Tanya orang tua itu.
"Kalian pergi saja, aku di sini menemaninya."
Wajah perempuan setengah baya itu langsung berubah garang.
"Apa hubunganmu dengan perempuan gila itu?"
Lie Cun Ju tertegun sejenak.
"Dia satu-satunya orang terdekat denganku,"
Jawabnya tegas. Perempuan setengah baya itu mengernyitkan keningnya.
"Kalau begitu perempuan gila itu tidak boleh dibiarkan hidup!"
Perasaan Lie Cun Ju semakin bingung.
"Kenapa?"
"Kau harus membawa kami ke sebelah barat gunung Kun Lun san, mana mungkin kita membawa serta perempuan gila itu? Lebih baik bunuh saja sekarang, agar kau tidak terus-terusan merindukannya."
Selesai berkata, tubuhnya berkelebat, tahu-tahu dia sudah sampai di samping Tao Ling.
Lalu mengangkat tangannya ke atas.
Fuh!
Perempuan itu melancarkan serangan ke arah kepala Tao Ling dari atas ke bawah.
Lie Cun Ju terkejut setengah mati.
Dia bermaksud menghalangi, tetapi ternyata perempuan setengah baya itu sudah bergerak terlebih dahulu.
Tampak perempuan setengah baya itu mengirimkan sebuah pukulan, tubuh Tao Ling bergeser ke samping sedikit.
Tao Ling mengeluarkan suara tawa yang aneh, tiba-tiba juga menjulurkan tangannya menyambut pukulan perempuan itu.
Tao Ling masih duduk di atas tempat tidur.
Kedua telapak tangan mereka beradu.
Blam ...!
Tempat tidur yang berupa balai-balai itu berguncang, tubuh Tao Ling terjatuh ke atas tanah, dia segera menggelinding beberapa kali.
Perempuan setengah baya itu mendengus satu kali.
"Ternyata masih sanggup menahan pukulanku."
Hal itu membuat kemarahannya semakin meluap.
Dia ke depan satu tindak, sekonyong-konyong menjulurkan kedua jari tangannya dan mengincar ubun-ubun kepala Tao Ling.
Seandainya sampai tertotok, tidak usah diragukan lagi selembar nyawa Tao Ling pasti sulit dipertahankan.
Meskipun luka Lie Cun Ju belum sembuh dengan sempurna, mana mungkin dia tidak per-dulikan mati hidup Tao Ling?
la segera mengeluarkan suara bentakan, tubuhnya bergerak menerjang ke arah perempuan setengah baya itu.
Perempuan setengah baya itu mengibaskan tangan kirinya.
Serangkum angin yang kencang menghempas tubuh Lie Cun Ju sehingga terhuyung-huyung mundur beberapa langkah.
Jarak jari tangannya sudah demikian dekat dengan ubun-ubun kepala Tao Ling.
Hati Lie Cun Ju panik sekali.
"Kalau dia mati, jangan harap aku bisa hidup lebih lama!"
Teriaknya keras-keras.
Mendengar ucapannya, gerakan tangan perempuan setengah baya itu terhenti seketika.
Dia menolehkan kepalanya memandang si kakek, seakan-akan ingin meminta pendapatnya untuk mengatasi masalah itu.
Mimik wajah orang tua itu tampak serba salah.
Dari urat-urat merah yang menonjol di wajah Lie Cun Ju, mereka yakin pemuda itu pernah mendatangi istana rahasia di sebelah barat Gunung Kun Lun san.
Itulah sebabnya mereka meminta pemuda itu sebagai penunjuk jalan.
Kalau tidak, mungkin sejak semula Lie Cun Ju sudah mati.
Seandainya pada saat itu Lie Cun Ju nekat, mereka memang bisa membunuh keduanya dengan mudah, tapi mereka juga tidak mendapatkan apa-apa.
Yang terpikirkan dalam benak keduanya hanya kepentingan diri mereka sendiri.
Lie Cun Ju melihat kedua orang itu berdiam diri sekian lama.
"Aku berkata yang sebenarnya tapi kalian tetap tidak percaya. Aku benar-benar belum pernah mengunjungi sebelah barat Gunung Kun Lun san itu, tetapi dialah yang pernah pergi ke sana."
Tangannya menunjuk ke arah Tao Ling. Orang tua itu menatap Lie Cun Ju lekat-lekat.
"Maksudmu, kau ingin kami mengajaknya serta?"
Lie Cun Ju menatap Tao Ling sekilas.
Tampak mimik wajah Tao Ling yang datar, kemungkinan benaknya juga kosong melompong.
Diam-diam dia berkata dalam hati, meskipun kami membawanya serta, kemungkinan sesampainya di istana rahasia itu, dia juga tidak bisa mengingat apa-apa.
Tapi, seandainya dia tidak bisa hidup sampai tua bersama-sama Tao Ling, apa salahnya mati bersama-sama?
Setelah merenung sejenak, pandangan Lie Cun Ju terhadap kehidupan menjadi tawar kembali.
"Tidak salah,"
Jawabnya. Orang tua dan perempuan setengah baya itu saling melirik sekilas.
"Baiklah, mari kita berangkat!"
Lie Cun Ju menghampiri Tao Ling dan menjulurkan tangannya merangkul pundak perempuan itu. Dia berusaha menahan keperihan hatinya.
"Ling moay, kita akan meninggalkan tempat ini."
Tao Ling tertawa cekikikan.
"Kemana?"
"Kesebuah tempat yang jauh sekali. Hanya kita berdua. Bagaimana?"
Tao Ling memalingkan wajahnya.
"Siapa kau?"
Lie Cun Ju menarik nafas panjang.
Dia menarik Tao Ling sekuat tenaga.
Tubuh Tao Ling tertarik bangun, berikut dengan rantai yang mengikat tangannya.Tiba-tiba dia memekik aneh, tubuhnya mencelat ke atas dan mengangkat tangannya.
Tampaknya dia hendak menghantam Lie Cun Ju dengan tiang besi yang menyambung tali rantainya itu.
Lie Cun Ju terkejut setengah mati.
Dia berdiri terpaku tanpa tahu apa yang harus dilakukannya.
Tampaknya kalau tiang besi sampai menghajar kepalanya, selembar jiwa Lie Cun Ju pasti melayang.
Dalam keadaan yang darurat itu, tiba-tiba si orang tua menggerakkan tangannya, tahutahu tiang besi itu sudah tercekal olehnya.
Kemudian tubuhnya mendoyong ke depan, dengan tiang besi itu, dia mendorong tubuh Tao Ling sehingga terdesak mundur beberapa langkah.
Sembari bergerak, dia menolehkan kepalanya.
"Bocah cilik, bagaimana mungkin kita membawa orang gila seperti ini?"
Teriaknya.
Pundak Tao Ling terhempas oleh dorongan tiang besi di tangan orang tua.
Setelah terhuyung-huyung mundur beberapa tindak, dia pun jatuh terduduk di atas tanah.
Tapi tampaknya dia tidak mengalami luka apa-apa.
Lie Cun Ju segera menghampirinya.
"Pokoknya kemana pun dia pergi, aku harus ikut serta. Demikian pula dia."
Orang tua itu mendengus dingin.
Dia menerjang ke depan dan secepat kilat jari tangannya bergerak.
Beberapa jalan darah di tubuh Tao Ling telah tertotok olehnya.
Kemudian dia mengempit tubuh Tao Ling dan dibawanya berlari ke depan.
Lie Cun Ju dan perempuan setengah baya itu bergegas mengikuti dari belakang.
Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di tepi perairan.
Tampak si Gagu sudah menyiapkan perahu yang cukup besar.
Dia sedang menunggu mereka di celah goa.
Ketiga orang itu meloncat ke atas perahu.
Orang tua itu pun menurunkan tubuh Tao Ling.
Lie Cun Ju segera membungkuk di sampingnya dan terus menguraikan air mata melihat keadaan Tao Ling yang mengenaskan.
Tidak lama kemudian, mereka sudah keluar dari celah goa.
Mereka sudah sampai di lautan yang luas.
Mengikuti gerakan ombak yang deras, perahu itu terus melaju ke depan.
Akhirnya mereka berada di tengah lautan yang airnya lebih tenang.
Si Gagu mengambil dayungnya dan menggerakkannya dengan cepat.
Kira-kira dua kentungan kemudian, mereka melihat daratan.
Si Gagu menepikan perahunya.
Mereka berempat meloncat turun.
Lie Cun Ju tampak memondong tubuh Tao Ling.
Keempat orang itu menempuh perjalanan dengan berjalan kaki.
Kira-kira belasan li jauhnya mereka berjalan, sudah sampai di jalan raya.
"Sesampainya di kota, kita harus mencari kereta kuda untuk membawa perempuan gila ini,"
Kata orang tua itu.
Lie Cun Ju tahu, Tao Ling menjadi gila karena tidak tahan mengalami pukulan hatin ketika mengetahui dia terjatuh ke dalam jurang.
Perempuan itu pasti mengira dia sudah mati.
Jiwanya yang terguncang membuat pikirannya menjadi kurang waras.
Mendengar sebutan si orang tua, hatinya seperti disayat sembilu.
"Locianpwe, kau tidak boleh menyebut kata-kata itu terhadap Tao kouwnio!"
Orang tua itu tertawa dingin.
"Betul. Seharusnya aku mengatakan cari kereta kuda untuk membawa bidadarimu."
Lie Cun Ju memandang Tao Ling sekejap.
Pada saat itu, wajah Tao Ling sudah cacat karena penuh dengan urat-urat merah yang bertonjolan.
Kenyataannya wajah itu memang mengerikan sekali, tetapi dalam pandangan Lie Cun Ju, dia tetap merupakan gadis tercantik yang pernah ditemuinya selama hidup.
Lie Cun Ju menarik nafas panjang.
"llmu kalian begitu tinggi, apakah tidak bisa menyembuhkan penyakit Tao kouwnio ini?"
Ucapnya.
"Tunggu sampai kita sampai dulu di istana rahasia, mungkin kita bisa menemukan cara untuk menyembuhkannya."
Mendengar kata-kata kakek itu hati Lie Cun Ju menjadi gembira.
"Apakah benar kalau kita sudah sampai di sana kalian mempunyai cara untuk menyembuhkannya?"
Orang tua itu tertawa licik.
"Mengapa kau begitu panik, tentu kami sudah mempunyai pertimbangan tersendiri."
Di dalam hati Lie Cun Ju timbul secercah harapan mendengar kata-kata si orang tua.
Asalkan Tao Ling dapat disembuhkan, dia rela mengorbankan apa saja.
Apalagi dalam bayangannya pergi ke istana rahasia bukan suatu hal yang sulit sekali.
Lie Cun Ju merenung sejenak.
Meskipun ada terlintas dalam benaknya bahwa mungkin saja orang tua itu mendustainya karena takut mereka akan melarikan diri dalam perjalanan.
Tetapi, meskipun harapan itu kecil sekali, setidaknya lebih baik daripada tidak sama sekali.
Karena itu dia pun menganggukkan kepalanya.
"Baiklah. Tapi bagaimana pun aku harus mengatakan bahwa sesungguhnya aku belum pernah mendatangi sebelah barat Gunung Kun Lun san itu."
Perempuan setengah baya itu tertawa melengking.
"Pernah atau tidak, buat apa kau mengatakannya sekarang?"
Melihat kedua orang itu tetap tidak percaya dengan kata-katanya, Lie Cun Ju hanya bisa menarik nafas diam-diam.
Dia juga malas berdebat lebih lanjut.
Keempat orang itu sampai di sebuah kota kecil.
Dibelinya sebuah kereta kuda.
Si Gagu dan orang tua itu duduk di depan mengendalikan jalannya kereta.
Perempuan setengah baya, Lie Cun Ju dan Tao Ling duduk di belakang.
Kereta kuda itu terus melaju ke arah utara.
Lie Cun Ju dan Tao Ling tidak pernah berkata-kata.
Setiap selang satu hari, orang tua itu akan membuka totokan pada jalan darah Tao Ling dan memaksanya menelan sedikit makanan, kemudian baru menotoknya kembali.
Lie Cun Ju mengingat kembali masa lalunya ketika pertama kali bertemu dengan Tao Ling, juga kerinduannya selama bertahun-tahun terhadap gadis itu.
Sekarang, meskipun setiap hari dia dapat bersama-sama dengan Tao Ling, tapi gadis itu sudah gila.
Perasaan hati Lie Cun Ju saat itu dapat dibayangkan.
Sepanjang perjalanan, boleh dibilang tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu bulan, mereka sudah keluar dari Giok bun kwan.
Udara dingin sekali.
Pada malam itu sekonyong-konyong salju turun dengan derasnya.
Dalam waktu yang bersamaan, angin seperti mengamuk, membuat salju-salju beterbangan.
Suaranya menggetarkan gendang telinga.
Jalan di depan demikian samar tertutup kabut sehingga pemandangan menjadi tidak jelas.
Orang tua itu membentak nyaring.
Dia menghentikan keretanya di tepi jalan.
Lalu bersama-sama masuk ke dalam kabin kereta.
Untung saja kabin kereta itu cukup luas, sehingga empat orang mengisi di dalamnya pun tidak terasa sempit.
Kedua orang itu mengibas-ngibaskan tangannya setelah masuk ke dalam kereta.
Orang tua itu mengernyitkan keningnya.
"Kalau salju ini turun terus menerus, perjalanan kita bisa terhambat."
"Apa yang dikhawatirkan kalau kita terlambat?"
Kata perempuan setengah baya itu dingin. Orang tua itu mendengus kesal.
"Sekarang ini para tokoh dunia bu lim sudah banyak yang mengetahui rahasia itu. Apabila sampai didahului orang lain, jerih payah kita selama ini akan sia-sia. Lebih baik kita mendahului mereka."
Perempuan setengah baya itu tertawa terbahak-bahak.
"Takut apa? Kecuali jala Gin hun bang milikku itu, siapa yang berani sembarangan menyentuh kedua batang pedang pusaka itu. Ingin cari mati?"
Wajah orang tua itu langsung menjadi garang.
"Jala perak siapa?"
Wajah si perempuan setengah baya itu tampak menyiratkan kemarahan yang meluapluap.
Bibirnya sampai bergetar.
Seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi hanya keinginan saja, tidak berani dia mengutarakannya.
Orang tua itu tertawa terkekeh-kekeh.
"Dulu, kau boleh mengatakan jala itu milikmu. Tetapi kau sendiri yang rela menyerahkannya kepadaku untuk ditukarkan dengan selembar nyawamu. Masa sampai sekarang kau baru menarik kembali kata-katamu sendiri?"
Wajah perempuan setengah baya itu sungguh tidak enak dilihat. Sampai cukup lama dia terdiam.
"Tua bangka, kau ingin menelan sendiri Gin hun hangku itu?"
Tanyanya kemudian.
"Kapan aku pernah bilang begitu?"
Sahut orang tua itu sambil tertawa terkekeh-kekeh.
Mimik wajah perempuan setengah baya itu berubah agak enak dilihat.
Tepat pada saat itu juga, tiba-tiba terdengar suara binatang dari tempat yang tidak begitu jauh.
"Jangan ribut, ada yang datang!"
"Ngaco! Itu hanya suara salakan anjing, mana ada orang datang?"
"Coba dengar lagi!"
Perempuan setengah baya itu mendengarkan dengan seksama.
Samar-samar Lie Cun Ju juga sudah mulai mendengar.
Seiring dengan suara lolongan atau salakan binatang itu, dia juga mendengar suara pecut yang dilontarkan.
Perempuan setengah baya itu membuka tirai penyekat kereta.
Dia melongokkan kepalanya keluar, serangkum angin dingin menerpa wajahnya.
Tampak salju putih menghampar di mana-mana.
Delapan ekor anjing hutan menarik sebuah kereta salju.
Gerakannya cepat sekali, sehingga orang yang melihatnya pasti akan terkagum-kagum.
Melihat keadaan itu, wajah si perempuan setengah baya langsung berseri-seri.
"Tua bangka, kita sudah mendapat jalan keluar."
Pada saat itu si orang tua juga sudah melihat luncuran kereta salju yang dihela delapan ekor anjing hutan itu.
"Jangan cari masalah. Kemungkinan orang yang datang itu bukan tokoh sembarangan."
Di saat pembicaraan berlangsung, jarak kereta salju itu sudah semakin dekat.
Tampak orang yang duduk di atas kereta salju itu mengenakan sehelai mantel yang cukup tebal.
Bagian kepalanya ditutupi dengan sehelai kain sehingga wajahnya tidak dapat terlihat dengan jelas.
Perempuan setengah baya itu mengeluarkan suara tertawa dingin.
"Tua bangka, mengapa kau sekarang berubah jadi penakut?"
Selesai berkata, tubuhnya bergerak menyelinap keluar dari kabin kereta.
la mengibaskan tangannya, setitik sinar berwarna hijau melesat ke depan secepat kilat.
Orang tua itu mengernyitkan keningnya, Dia juga melongokkan kepalanya lewat tirai kereta.
Tampak kereta salju itu tiba-tiba dilambatkan, timbullah bunga-bunga salju yang bercipratan kemana-mana.
Orang yang duduk di atas kereta salju itu mengayunkan pecutnya, tahu-tahu panah berapi yang disambitkan perempuan setengah baya tadi sudah terlilit olehnya.
Kemudian dia melontarkannya lagi ke depan.
Bum ...!
Panah berapi itu meledak.
Perempuan setengah baya itu tertegun sejenak.
"Kepandaianmu hebat!"
Katanya.
Suaranya yang melengking tinggi diadu dengan desiran angin, membuat perasaan orang yang mendengarnya jadi bergidik.
Orang itu tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Dia menghentakkan pecutnya ke depan.
Kedelapan ekor anjing hutan itu melesat lagi ke depan.
Dalam waktu yang singkat dia sudah melesat melewati perempuan setengah baya itu.
Tar ...!
Tar ...!
Tar ...!
Ketika kereta salju melalui kereta kuda mereka, orang itu mengayunkan pecutnya tiga kali ke arah perempuan setengah baya.
Ketiga pecutan itu berbahaya sekali, datangnya juga terlalu mendadak.
Timbul belasan bayangan pecut melayang ke arah tubuh perempuan setengah baya itu.
Dasar kepandaian perempu in setengah baya itu memang tidak lemah.
Ketika melihat keadaan yang kurang beres, cepat-cepat dia menghindarkan diri.
Tetapi sudah terlambat.
Tar ...!
Orang itu mengayunkan pecutnya kembali.
Bagian pundak perempuan itu sudah kena ayunan pecut orang di atas kereta salju.
Perempuan setengah haya itu memekik histeris kesakitan, tubuhnya terhuyung-huyung ke be-lakang.
Sedangkan dalam waktu yang demikian singkat, kereta salju itu sudah melesat lagi sejauh tiga-empat depa.
"Tua bangka, apakah sampai sekarang kau masih belum keluar juga?"
Teriaknya. Orang tua itu tertawa terbahak-bahak.
"Sejak tadi aku sudah mengatakan jangan cari gara-gara. Kau sendiri yang tidak mau mendengarkan nasehatku. Sekarang kau malah meminta pertolongan kepadaku?"
Sembari berbicara, tubuhnya melesat keluar dari pintu kereta.
Gerakannva yang sangat cepat, termasuk langka ditemukan.
Seperti seekor burung aneh yang tiba-tiba terbang di atas permukaan salju.
Setelah melesat keluar, orang tua itu sempat menghentakkan kakinya di atas salju lalu menerjang lagi ke depan.
Pada saat itu, salju yang memenuhi permukaan tanah sudah cukup tebal.
Tetapi herannya tidak ada sedikit pun bekas hentakan kaki kakek itu di atas permukaan salju.
Dalam beberapa kali loncatan saja, kakek sudah berhasil mengejar kereta salju tadi.
"Sahabat, tunggu sebentar!"
Teriaknya keras-keras.
Orang di atas kereta tetap berdiam diri, tidak menyahut sepatah kata pun.
Ketika jarak kakek itu dengan kereta salju sudah tidak seberapa jauh lagi, tiba-tiba orang di atas kereta salju itu melontarkan pecut di tangannya, timbul suara yang memekakkan telinga.
Ayunan pecutnya melayang ke arah wajah si kakek.
"Bagus sekali!"
Bentak kakek itu.
Tiba-tiba tubuh kakek itu berjungkir balik ke belakang untuk menghindarkan diri.
Bayangkan saja, dalam keadaan genting seperti itu, ternyata dia bisa menahan luncuran tubuhnya bahkan berjungkir bidik ke belakang.
Justru ketika tubuhnya berjungkir balik, orang di atas kereta salju sudah gagal mengincar sasaran-nya.
Yang paling menakjubkan, justru setelah berjungkir balik, kaki kakek itu masih terus juga meluncur ke depan dan dalam sekejap mata dia sudah melewati kedelapan ekor anjing hutan yang menarik kereta salju itu.
"Berhenti!"
Bentaknya keras-keras.
Sepasang tangannya disilangkan di depan dada, mendadak dia menghantam ke depan.
Angin yang kencang pun melanda ke arah orang di atas kereta salju itu.
Sejak tadi Lie Cun Ju mengintip dari dalam kereta.
Saat itu, dia melihat orang tua itu melan-carkan dua buah pukulan ke arah orang di atas kereta salju.
Yang membuat perasaannya ter-kesiap, justru sepasang telapak tangannya yang merah tampak seperti berlumuran darah.
Warna merah berdarah di telapak tangan kakek itu berpadu dengan hamparan salju yang putih bersih menjadikan suatu pemandangan yang mencolok.
Lie Cun Ju terkejut setengah mati, ternyata orang yang duduk di atas kereta salju juga tidak kalah terkejutnya.
Tubuhnya mencelat ke atas kemudian berjungkir balik ke belakang satu depa lebih.
Dia berhasil menghindarkan diri dari serangan si kakek.
Tangannya terangkat dan disingkapkannya kain pembungkus kepalanya.
"Siapa kau?"
Bentaknya lantang. Dalam waktu yang bersamaan, orang tua itu juga membentak.
"Siapa kau?"
Kedua orang itu mengajukan pertanyaan yang sama. Tiba-tiba mereka sama-sama mengeluarkan seruan terkejut.
"Rupanya engkau!"
Si kakek langsung tertawa terbahak-bahak.
"I ko ya, tidak disangka masih ada hari untuk kita bertemu muka."
Orang di atas kereta salju itu juga tertawa terbahak-bahak, namun dapat dirasakan bahwa suara tertawanya itu sangat dipaksakan.
"Senang dapat berjumpa kembali."
Pada saat itu, Lie Cun Ju yang masih duduk di dalam kereta juga melihat jelas wajah orang di atas kereta salju itu ketika kerudung penutup kepalanya dilepaskan.
Orang itu bukan orang lain, tetapi musuh bebuyutannya, juga orang yang paling dibencinya di dunia ini, Gin Leng Hiat Ciang I Ki Hu.
Sebetulnya, ketika si kakek melancarkan serangan, Lie Cun Ju sudah terkejut setengah mati melihat telapak tangannya yang merah itu.
Memang ada beberapa jenis pukulan di dunia ini yang bila dilancarkan, telapak tangan orang itu juga akan berubah warna menjadi merah.
Tapi warna merah yang diperlihatkan biasanya agak gelap, tidak segar seperti pukulan telapak berdarah dari Mo kau.
Dan pukulan telapak berdarah itu memang hanya diwariskan kepada keturunan ketua Mo kau sendiri.
Bahkan anak muridnya saja tidak ada yang mempelajari ilmu pukulan itu.
Apalagi setelah melihat kenyataannya bahwa orang tua itu saling kenal dengan I Ki Hu.
Dia sudah dapat menduga bahwa orang tua itu pasti salah seorang angkatan tua dari pihak Mo kau.
"I ko ya melakukan perjalanan dengan tergesa-gesa, apakah ada suatu keperluan yang mendesak sekali? Bolehkah aku menanyakan kemana tujuanmu?"
Terdengar si kakek itu bertanya kepada I Ki Hu.
"Apa maksudmu menghalangi perjalananku?"
Tanya I Ki Hu dingin. Orang tua itu mengeluarkan suara siulan yang aneh.
"Tadinya aku ingin meminjam kereta saljumu, tentu saja sekarang tujuannya lain lagi."
I Ki Hu tertawa dingin beberapa kali.
"Bagus sekali. Ada urusan apa harap kau katakan saja agar aku bisa mendengarnya!"
Orang tua itu menatap I Ki Hu dari atas kepala sampai ke ujung kaki. Beberapa kali pandangan matanya beredar.
"Belasan tahun tidak bertemu, ternyata I ko ya semakin tampan saja."
Pada saat itu, wajah I Ki Hu tidak berbeda dengan wajah Tao Ling, yakni dipenuhi dengan urat-urat merah yang bertonjolan.
Tentu saja jelek dan mengerikan.
Hal itu membuktikan bahwa ucapan si kakek barusan merupakan sindiran yang tajam.
Wajah I Ki Hu berubah hebat.
"Tua bangka, hanya untuk kata-kata itu kau menghalangi perjalananku?"
Orang tua itu melangkah maju satu tindak.
"Tentu saja masih ada hal lainnya. Dulu, abangku dan istrinya, keponakanku yang perem-puan, entah berbuat kesalahan apa terhadap dirimu sehingga akhirnya kau melakukan tindakan demikian keji kepada mereka?"
Mendengar kata-kata kakek itu, lagi-lagi Lie Cun Ju tertegun.
Tempo dulu, I Ki Hu mengkhianati partai Mo kau.
Dia membunuh kedua mertuanya, istrinya bahkan enam belas tokoh angkatan tua atau para tancu dari pihak Mo kau.
Boleh dibilang urusan itu sudah diketahui oleh seluruh umat bu lim.
Sedangkan mendengar nada kata-kata kakek itu, ketua Mo kau lama yang mati di tangan I Ki Hu justru abang si kakek itu.
Kalau memang benar demikian, kedudukan si kakek di dunia bu lim sudah tergolong tinggi sekali sehingga sulit dicari tandingannya.
Karena dia masih setingkat lebih tua dari pada I Ki Hu.
Pikiran Lie Cun Ju sedang melayang-layang, tiba-tiba dia mendengar si Gagu yang duduk di sampingnya mengeluarkan suara dari tenggorokannya.
Lie Cun Ju menolehkan kepalanya tampak sepasang mata si Gagu menyorotkan sinar yang buas.
Kedua telapak tangannya sudah mengenakan sebuah sarung tangan yang bentuknya aneh sekali.
Sepasang sarung tangan itu bentuknya seperti cakar burung.
Ujungnya runcingruncing.
Sepasang matanya mendelik kepada I KI Hu lekat-lekat.
Lie Cun Ju tahu, antara I Ki Hu dengan pihak Mo kau telah terlibat dendam permusuhan sedalam lautan.
Tetapi menurut yang diketahuinya, dulu, I Ki Hu telah turun tangan dengan telengas sekali.
Para tokoh kelas satu Mo kau semuanya mati terbunuh di tangannya.
Meskipun ada beberapa yang sempat melarikan diri, tapi jumlahnya hanya segelintir dan terdiri dari bu beng siau cut.
Meskipun selama bertahun-tahun ini mereka sangat membenci I Ki Hu, tetapi tidak ada satu pun yang berani menunjukkan jejaknya di dunia kang ouw.
Mereka takut akan didatangi oleh I Ki Hu.
Karena itu pula, mereka tidak berani mengungkit masalah balas dendam.
Seandainya orang tua dan si Gagu benar-benar tokoh angkatan tua Mo kau tempo dulu, tentu mereka tidak akan melepaskan I Ki Hu begitu saja.
Berpikir sampai di situ, Lie Cun Ju sungguh berharap I Ki Hu dapat mati di tempat yang berhamparan salju ditangan si kakek.
Setelah mengenakan sarung tangannya, tampak si Gagu mengendap-endap keluar dari pintu kereta.
Tubuhnya terhalang oleh pintu kereta sehingga tidak dapat terlihat jelas.
Apalagi perawakannya memang kecil kurus.
Hanya Lie Cun Ju seorang yang tahu dia sudah menyelinap keluar.
Si Gagu merayap di atas permukaan salju sampai kira-kira lima kaki jauhnya, kemudian dia mengendap di atas tanah.
Salju turun semakin deras.
Dalam waktu sekejap seluruh tubuh si Gagu sudah tertutup lapisan salju.
Tetapi dia tetap mengendap di atas tanah tanpa bergerak sedikit pun.
Lie Cun Ju tidak mengerti apa yang sedang dilakukannya.
Dia hanya mendengar perempuan setengah baya itu tertawa terkekeh-kekeh.
"Tua bangka, itukah keponakan mantumu yang namanya sudah menggetarkan kolong langit dan merupakan orang terbaik dari pihak Mo kau di jaman keemasannya dulu?"
Wajah si kakek berubah menghijau sehingga menakutkan.
"Betul, dia memang keponakan menantu terbaik dari Mo kau kami."
I Ki Hu tertawa terkekeh-kekeh.
"Kwe loyacu ... Kau sudah hidup lebih lama dari orang Iain dua puluh tahunan, seharusnya kau sudah merasa puas."
Orang tua itu tertawa terbahak-bahak.
"Terima kasih kau telah membiarkan aku hidup selama dua puluh tahun, tapi sekarang aku juga masih ingin hidup terus. I Ko ya, keponakan perem-puanku di alam baka pasti sangat merindukan dirimu."
Begitu melihat orang tua itu, Gin Leng Hiat Ciang I Ki Hu terperanjat setengah mati.
Tentu saja dia mengenali bahwa orang tua itu adalah seorang angkatan tua dalam partai Mo kau tempo dulu.
Namanya Kwe Tok.
Kedudukan di dalam Mo kau di bawah Kwe lo kaucu, tetapi masih di atas keenam orang tancu.
Lagipula Kwe Tok itu masih saudara kandung dengan kaucu itu.
Kepandaiannya tinggi sekali, boleh dibilang sulit ditemukan tandingannya.
Ketika mengkhianati Mo kau, I Ki Hu sudah menghabiskan banyak waktu untuk merencana-kannya.
Sedangkan dalam rencananya, dia sudah mengambil keputusan untuk membunuh semua tokoh angkatan tua dari Mo kau.
Tetapi Kwe Tok yang mendapat julukan Siu lo cun cu selalu bepergian seorang diri.
Jarang ada di markas pusat Mo kau.
Kecuali di saat putri Mo kau menikah dengan I Ki Hu.
Saat itu dia mengatakan baru kembali dari Lam Hay.
Bahkan sempat menetap di markas Mo kau selama beberapa hari.
Selanjutnya tidak pernah terlihat lagi.
Hari itu, I Ki Hu mendapatkan kesempatan yang sangat baik.
Itulah sebabnya dia tidak perduli Kwe Tok ada di tempat atau tidak.
Sebab bila dia memhatalkan niatnya, tentu sulit lagi menemukan kesempatan yang sama.
Raja Iblis itu langsung turun tangan dan ternyata berhasil.
Setelah kejadian itu, I Ki Hu terus mencari jejak Kwe Tok ke mana-mana, tetapi selalu tidak berhasil.
Dia henar-benar tidak menyangka, kalau orang tua itu yakni Kwe Tok dapat ditemukannya di tempat itu.
Lie Cun Ju yang ada dalam kereta, terkejut sekali ketika melihat I Ki Hu melangkah menghampiri orang tua itu.
Niatnya ingin menyemhunyikan diri, tetapi terlambat.
Dengan panik dia memeluk Tao Ling erat-erat.
Si Raja Iblis itu membuka tirai kereta seraya berkata.
"Aih! Mengapa kau belum berangkat juga?"
Lie Cun Ju tidak tahu apa arti pertanyaan I Ki Hu, namun dia tidak menjawah sepatah kata pun.
I Ki Hu membalikkan tubuhnya, hendak meninggalkan kereta itu.
Dia tampak tertegun sejenak lalu niendadak membalikkan tubuhnya lagi dan memperhatikan dengan seksama.
Tiba-tiba dia mengeluarkan suara tawa yang menyeramkan.
"Rupanya kau si bocah busuk!"
Katanya.
Selesai berkata, tangannya terangkat ke atas hendak menghantam ubun-ubun kepala Lie Cun Ju.
Pemuda itu terkejut setengah mati, gerakan tangan I Ki Hu bukan main cepatnya.
Dalam keadaan panik dia hanya menggeser tubuhnya sedikit untuk menghindarkan diri.
Pada saat itu juga I Ki Hu melihat Tao Ling dalam pelukannya.
Sekali lagi I Ki Hu tertegun, ketika melongok ke dalam kereta.
Dia melihat sepintas lain seorang pemuda yang wajahnya penuh urat-urat merah sedang memeluk seorang perempuan.
Tadinya dia mengira mereka adalah Tao Heng Kan dan I Giok Hong.
Karena itu dia mengajukan pertanyaan 'Mengapa kau belum berangkat juga?' Seperti diketahui, Cen Sim Fu mengajak Tao Heng Kan dan I Giok Hong bersama-sama berangkat menuju sebelah barat Gunung Kun Lun san untuk mengulangi penyelidikan mereka.
Itulah sebabnya 1 Ki Hu heran mengapa Tao Heng Kan dan I Giok Hong belum berangkat juga.
Dan setelah mengajukan pertanyaan, dia sudah melangkah meninggalkan kereta itu.
Tetapi, tiha-tiba I Ki Hu merasa curiga.
Rasanya wajah pemuda itu tidak begitu mirip dengan Tao Heng Kan.
Maka dia membalikkan tubuhnya kembali dan memperhatikan dengan sek-sama.
Ternyata kedua orang itu justru Lie Cun Ju dan Tao Ling.
Api amarah dalam dadanya langsung herkobar-kobar.
la langsung mendengus dingin.
"Bocah busuk, aku ingin lihat apa kali ini kau masih bisa meloloskan diri?"
Dia menyurut mundur satu langkah, lengannya disilangkan, siap untuk melancarkan serangan.
Hati I Ki Hu dilanda kebencian yang tidak terkirakan.
Dalam pandangannya, Tao Ling tidak bergerak atau bersuara sedikit pun karena sudah mengambil keputusan untuk mengikuti Lie Cun Ju baik hidup maupun mati.
Karena itu dia mengerahkan tenaga dalam sepenuhnya dan hendak menghancurkan kereta berikut kedua orang di dalamnya sehingga lebur menjadi satu.
Belum lagi kedua pukulan itu dilancarkan, Kwe Tok sudah berkata.
"Tunggu dulu! Kedua orang itu tidak mungkin membantu aku. Tunggu sampai kita berhasil menentukan siapa yang menang di antara kita. Masih belum terlambat apabila kau berniat membunuh mereka."
Mendengar kata-kata si kakek, hati I Ki Hu tergerak.
Diam-diam dia berpikir, untung saja aku belum melancarkan kedua pukulan ini.
Apabila tidak kemungkinan Kwe Tok akan menggunakan kesempatan itu untuk membokongku.
Pasti aku akan menderita luka parah dan tidak sanggup memberikan perlawanan lagi.
Cepat-cepat I Ki Hu menarik kembali pukulannya yang belum sempat dilontarkan.
Dua jari tangannya menjulur ke depan untuk menotok jalari darah lie Cun Ju dan Tao Ling.
Setelah itu dia baru memhalikkan tubuhnya seraya mengeluarkan suara tertawa yang panjang.
"Mari!"
Katanya.
Pikiran I Ki Hu memang sulit ditebak orang lain.
Dia tidak lang.sung mengiakan katakata Kwe Tok.
Sedangkan saat itu juga, dia sudah siap melancarkan serangan yang tadi ditundanya kepada musuh di hadapannya itu.
Tapi meskipun sampai di mana liciknya hati I Ki Hu, dia tetap manusia yang tidak terlepas dari kesalahan.
Dia tidak mengetahui masih ada seorang lagi yang tiarap di atas tanah dengan seluruh tubuh tertutup salju.
Kwe Tok tertawa menyeramkan.
"Bagus! I Ko ya memang baik hati."
Diam-diam I Ki Hu berpikir dalam hati, apabila Kwe Tok sudah disingkirkan, berarti semua musuh hesarnya sudah mampus.
Mulai sekarang dia pun dapat hidup tenang tanpa ada ganjalan apa-apa lagi.
Itulah sebabnya I Ki Hu berhati-hati sekali.
Hawa murninya diedarkan sebanyak tiga kali, kemudian didesakkan ke arah telapak tangan.
Lengannya diangkat ke atas, telapak tangannya berubah warna seperti matahari yang baru terbit.
Siu lo cun cu Kwe Tok yaitu si kakek sadar bahwa kematian abang dan kakak iparnya dua puluh tahun yang lalu bukan hal yang kebetulan.
Setidaknya I Ki Hu memang mempunyai kepandaian yang dapat diandalkan.
Karena itu, dia juga meningkatkan kewaspadaan, perhatiannya dicurahkan sepenuhnya.
Perlahan-lahan dia mengangkat tangannya ke atas dan maju setindak demi setindak.
Da lain sekejap mata jarak Kwe Tok dengan I Ki Hu sudah tinggal tiga kaki.
Lambat laun tampak tangannya menjulur ke depan untuk mengirimkan sebuah serangan.
Tubuh I Ki Hu merendah sedikit, lalu menghantamkan sebuah pukulan ke depan.
Gerakan kedua orang itu tampaknya lamban sekali, tetapi ketika dilancarkan, kecepatannya justru hampir tidak terbayangkan.
Tampak bayangan merah berkelebat, kedua tangan mereka sudah saling membentur.
Blam ...!
Setelah beradu satu kali, keduanya pun tergetar mundur kira-kira dua kaki.
Pukulan yang dilancarkan I Ki Hu maupun Kwe Tok, sejak awal hingga beradu, tampaknya sama-sama sudah mengerahkan segenap kekuatannya.
Tapi hanya sekali pukulan keduanya langsung memencarkan diri.
Kedua-duanya sama-sama tergetar ke belakang, sedangkan salju-salju yang berhamburan langsung memenuhi tubuh mereka.
Tidak lama kemudian salju turun semakin deras.
Tubuh keduanya tampak tertutup lapisan salju.
Sedangkan saat itu keduanya sedang mengedarkan hawa murni dalam tubuh.
Arus hangat bergerak-gerak, salju yang melekat di tubuh mereka berjatuhan.
Tetapi karena hawanya yang terlalu dingin, belum lagi salju itu menetes di atas tanah, aliran airnya sudah membeku kembali menjadi batangan es halus yang menggelantung di pakaian mereka.
Setelah sama-sama tergetar mundur, hati I Ki Hu tersentak kaget sekali.
Karena dalam serangannya tadi, dia merasa pukulannya sudah beradu dengan pukulan lawan padahal sebetulnya belum.
Jarak antara kedua telapak tangan mereka masih satu cun lebih.
Namun karena tenaga dalam mereka sama-sama hebat, belum sempat saling beradu, angin yang terpancar dari pukulan masing-masing telah menggetarkan lawan.
Dengan demikian I Ki Hu juga menyadari bahwa tenaga dalam Kwe Tok seimbang dengan tenaga dalam sendiri.
Apabila terus mengadu kekerasan akibatnya pasti kedua belah pihak sama-sama akan terluka parah.
Tentu saja I Ki Hu tidak mengharapkan akibat akan berakhir demikian, karena rahasia besar Tong tian pao liong sudah di depan mata.
Sebetulnya I Ki Hu sedang melakukan perjalanan bersama Cen Sim Fu, Kim Ting siong jin dan rombongan Coan lun hoat ong menuju sebelah barat Gunung Kun Lun san.
Mengapa tahu-tahu dia bisa muncul di tempat itu.
Rupanya, mereka baru berjalan tidak seberapa jauh, perasaan I Ki Hu terus mengkhawatirkan Tao Ling.
Itulah sebabnya dia balik lagi untuk melihat keadaan istrinya itu.
I Ki Hu menyadari hahwa dia mempunyai seekor Tong tian pao liong, rombongan Cen Sim Fu dan yang lainnya mau tidak mau harus menunggunya di kaki Gunung Kun Lun san.
Ketika dia sampai kembali ke perkampungan keluarga Sang, Tao Ling sudah melarikan diri.
Hati I Ki Hu panik sekali.
Cepat-cepat dia pergi mencarinya.
Akhirnya dia mendatangi tepian jurang tempat Tao Ling menerjunkan diri.
Tetapi kedatangannya terlambat sedikit.
Pada saat itu Tao Ling sudah tertolong oleh Kwe Tok dan dibawanya pergi ke tempat tinggalnya.
I Ki Hu mencari lagi beberapa saat, kemudian melanjutkan perjalanan seorang diri.
Itulah sebabnya dia bisa bertemu dengan Kwe Tok di tempat itu.
Sementara itu, hati I Ki Hu agak menyesal juga terhadap tindakannya sendiri.
Meskipun Tao Ling sedang mengandung anaknya, tapi masih juga tidak memiliki sedikit pun perasaan terhadap I Ki Hu.
Dan dia sendiri yang bersusah payah berusaha menemukan Tao Ling kembali, malah bertemu dengan Kwe Tok musuh besarnya di tempat seperti itu.
Setelah berdiam diri beberapa saat, terdengar Kwe Tok tertawa terbahak-bahak.
"Ternyata kepandaian I ko ya memang hebat. Tetapi tetap ada satu hal yang membuatku penasaran. Pada waktu itu, tenaga dalam abangku itu di atas kekuatanku sekarang, entah bagaimana caranya I ko ya bisa berhasil membunuh seluruh keluarga abangku itu?"
Mendengar sindirannya yang begitu tajam, wajah I Ki Hu menjadi merah padam seketika.
Dua puluh tahun yang lalu, dia berhasil mernbunuh ketua Mo kau dan istrinya justru dengan cara membokong, tetapi hal itu tidak pernah dia utarakan kepada siapa pun juga.
I Ki Hu tertawa terbahak-bahak untuk menutupi rasa malunya.
"Apakah pandangan Kwe lo yacu terhadap abangmu itu tidak terlalu tinggi?"
Sembari berbicara, dia mengeluarkan sebatang piau kecil dari balik pakaiannya.
Senjata rahasia itu terjepit antara jari telunjuk dan jari tengahnya, yang tampak hanya bagian ujungnya yang tajam.
Raja Iblis sudah bersiap melontarkan senjata rahasia itu.
"Apakah kita hanya mengadu pukulan satu kali saja?"
Katanya.
Siu Lo Cun Cu Kwe Tok melihat I Ki Hu yang memeriksa kereta.
Dia tidak menemukan si Gagu.
Diam-diam dia sudah dapat membayangkan bahwa dia yang akan memenangkan pertarungan kali ini.
Karena keyakinannya yang besar, perasaannya jadi jauh lebih tenang.
"Tentu saja harus diteruskan sampai ketahuan siapa yang lebih unggul di antara kita!"
Sahut Kwe Tok.
Lengan tangannya perlahan-lahan terangkat ke atas, kemudian dengan gerakan lambat menjulur ke depan.
Pukulannya sudah dekat dengan dada I Ki Hu.
Tiba-tiba Raja Iblis menggerakkan tangannya menyambut pukulan itu.
Justru tepat pada saat itu juga, Kwe Tok melihat kira-kira empat kaki di belakang I Ki Hu, salju beterbangan, sesosok bayangan mencelat bangun.
Bayangan itu tadinya sedang tiarap di atas tanah dan dalam keadaan tertutup salju.
Sekarang tiba-tiba mencelat bangun, salju berhamburan ke mana-mana, namun tidak timbul suara sedikit pun.
Orang itu nienerjang ke bagian punggung I Ki Hu dengan kedua tangan merentang ke depan membentuk cakar.
Salju memercik ke mana-mana.
Tetapi I Ki Hu tidak dapat merasakan hal itu.
Saat itu salju sedang turun dengan deras, yang jatuh dari langit tidak kalah banyak dengan yang memercik dari permukaan tanah.
Itulah sehabnya I Ki Hu tidak memperhatikan.
Sedangkan I Ki Hu sendiri juga tidak pernah menduga, di saat sebentar lagi dia mempunyai keyakinan untuk melumpuhkan seluruh lawannya, tahu-tahu masih ada seorang musuh yang mendekam di atas tanah.
Seluruh perhatian I Ki Hu sedang terpusat pada Kwe Tok.
Gerakan tubuh si Gagu yang melonjak bangun mempunyai kecepatan yang sungguh mengagumkan.
Ketika I Ki Hu curiga mengapa tiba-tiba Kwe Tok menyurutkan pukulannya sedikit, dalam waktu yang bersamaan, sepasang cakar si Gagu tinggal dua cun lagi sampai di punggung I Ki Hu.
Biar hagaimana pun, I Ki Hu memang bukan tokoh sembarangan.
Meskipun ketika si Gagu melonjak bangun dia belum menyadarinya, tetapi ketika orang itu menerjang ke arahnya, dia sudah merasakan ada yang tidak beres di belakangnya.
Sekonyongkonyong dia meraung keras-keras, telapak tangan kirinya dibalikkan lalu meluncurkan sebuah pukulan kebelakang.
Blam ...!
Pada saat itu, jarak si Gagu dengannya tidak sampai setengah kaki, pukulan I Ki Hu tepat me-ngenai dada si Gagu.
Ilmu warisan yang dirahasiakan Mo kau yakni pukulan telapak berdarah.
Dapat dibayangkan sampai di mana kehebatannya.
Si Gagu mengeluarkan suara gerungan yang aneh, darah segar bermuncratan dari mulutnya.
Sekumpulan darah segar tiba-tiba saja meluncur ke bagian belakang leher I Ki Hu.
Si Raja Iblis itu terkejut setengah mati.
Pada dasarnya si Gagu yang terkena pukulan I Ki Hu itu, tidak perlu diragukan lagi bahwa nyawanya tak dapat dipertahankan lebih lama.
Tapi sebelum kematian menjelang, si Gagu mengerahkan sisa tenaganya untuk menerjang ke depan dan mencakar.
Dapat dibayangkan betapa besar tenaga dalam yang terkandung pada cengkeramannya itu.
Sungguh sulit diuraikan dengan kata-kata.
Dengan tangannya yang sudah mengenakan sarung tangan yang ujungnya runcingruncing, secepat kilat dia mencakar pundak I Ki Hu.
I Ki Hu merasa pundaknya dilanda rasa perih yang tidak terkirakan.
Kemarahannya semakin meluap-luap.
Dia mengerahkan tenaga dalamnya, tubuh si Gagu terpental di udara.
Terdengar I Ki Hu mendengus satu kali, lalu membalikkan tubuhnya dan menerjang kembali ke arah si Gagu.
Sesampainya di samping tubuh si Gagu, Raja Iblis menyepakkan kakinya agar tubuh si Gagu itu membalik.
Namun ketika dia berhasil melihat raut muka si Gagu, wajahnya sendiri langsung berubah hebat.
Setelah tertegun beberapa saat, dia malah tertawa terbahak-bahak.
Suara tawanya berkumandang memenuhi seluruh tempat itu dan memecahkan kesunyian malam yang mencekam, sehingga membuat perasaan orang menjadi bergidik dan sukma seakan melayang seketika.
Di pundak I Ki Hu telah terdapat empat-lima buah lubang kecil dan darah segar terus menetes dari lubang lukanya.
Sedangkan sebelum terhempas di tanah untuk mati selamanya, si Gagu malah sempat tertawa terbahak-bahak seakan mengejeknya.
Sekarang si Gagu pasti sudah mati, suara tawa I Ki Hu masih berkumandang terus.
Kwe Tok memandangnya dengan terpaku.
Hampir setengah kentungan lamanya I Ki Hu tertawa seperti orang gila.
Dia menolehkan kepalanya kepada Kwe Tok.
"Apa yang kau tertawakan?"
Bentak Kwe Tok. I Ki Hu tertawa panjang sekali lagi.
"Tidak disangka aku I Ki Hu yang entah sudah bertemu dengan berapa banyak orang gagah di dunia ini, entah sudah berapa banyak bahaya yang kutemui, ternyata hari ini aku bisa mati di tangan seorang budak hina dari Mo kais,"
Kwe Tok tertawa dingin beberapa kali."Ini yang dinamakan hukum karma."
Tubuh I Ki Hu terhuyung-huyung beberapa kali, wajahnya berubah sedemikian rupa sehingga sungguh mengerikan.
Keempat anggota tubuhnya terasa lemas, ngilu dan kesemutan.
Dia jatuh terduduk di atas salju.
Matanya terpejam erat-erat, dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Ketika pundaknya tercakar sarung tangan si Gagu, I Ki Hu masih mengira lukanya tidak seberapa parah.
Tapi ketika dia membalikkan tubuh si Gagu dan menatapnya dengan seksama, hatinya tersentak kaget sekali, sulit diuraikan dengan kata-kata.
Karena dia langsung mengenali siapa si Gagu dan kehebatan sarung tangan yang dikenakannya.
Si Gagu itu salah seorang budak pelayan bekas ketua Mo kau yang telah mati di tangan 1 Ki Hu.
I Ki Hu tahu, meskipun selamanya tidak ada orang yang tahu siapa nama si Gagu, tapi dulunya dia seorang pentolan dari golongan sesat dan sarung tangan yang dikenakannya mengandung racun yang keji.
Beberapa kali I Ki Hu berusaha menyelidiki racun apa sebenarnya yang terdapat di sarung tangan itu.
Tapi tidak pernah berhasil mencapai keinginannya karena selama di Mo kau, si Gagu tidak pernah menunjukkan sikap bersahahat dengannya.
Sekarang pundak I Ki Hu sudah terluka oleh cakar runcing sarung tangan si Gagu, dan tidak usah diragukan lagi racunnya juga sudah menyerap ke dalam lukanya.
Meskipun racun itu tidak langsung bekerja, tetapi saat itu I Ki Hu sedang berhadapan dengan seorang musuh tangguh yaitu Siu Lo Cun Cu Kwe Tok.
Bagaimana pun dia tidak sanggup meloloskan diri dari cengkeraman maut.
Itulah yang membuat perasaan I Ki Hu perih sekali.
Selama puluhan tahun, semangatnya menyala-nyala.
Tetapi saat itu semuanya menjadi am blas seketika.
Tidak disangka-sangka dia akan mati di tangan seorang budak hina yang tidak mempunyai nama sedikit pun di dunia bu lim.
Saking sakitnya hati I Ki Hu, dia malah mendongakkan kepala untuk tertawa terbahakbahak.
Ketika suara tawanya terhenti, seluruh tuhuhnya sudah begitu ngilu sehingga hampir tidak ter-tahankan olehnya.
I Ki Hu berusaha menghimpun hawa murni dalam tubuhnya, tetapi tubuhnya sudah begitu lemas.
Raja Iblis itu sadar, dirinya tidak akan luput dari kematian.
Dia duduk di atas tanah heberapa saat, kemudian baru berdiri.
Dengan terhuyung-huyung dia berjalan menghampiri kereta kuda.
I Ki Hu berjalan ke samping kereta, lalu menyingkapkan tirai kuda itu.
Ditariknya nafas dalam-dalam.
Plak!
Plak!
Dua kali dia menepuk tubuh Lie Cun Ju dan Tao Ling membebaskan totokan di kedua orang itu.
Tetapi racun dalam tubuh I Ki Hu sudah bereaksi.
Seluruh tubuhnya terasa lemas tak ber-daya lagi.
Tepukan tangannya pada tubuh kedua orang itu tak memhawa hasil sedikit pun.
"Lie ... kongcu ... kau ... harus menjaga Tao kouwnio ... baik-baik ..., anak dalam perut ... nya adalah darah dagingku. Lie kongcu ... meskipun du ... lu aku sering melakukan kesalahan ter ... hadapmu ... harap kau ... jangan menyulitkan anak i ... tu."
Pada dasarnya I Ki Hu adalah seorang manusia yang tinggi hati.
Tetapi saat itu dia menyadari racun sudah mengedar ke seluruh tubuhnya, sebentar lagi dia pasti akan mati.
Karena itu dia mengucapkan kata-kata yang belum pernah dilontarkan selama hidupnya.
Jalan darah Lie Cun Ju sedang tertotok, dia tidak bisa menjawab perkataan I Ki Hu, tapi hatinya terharu sekali.
I Ki Hu mengeluarkan sebuah Tong tian pao Hong miliknya kemudian disusupkannya ke dalam telapak tangan Lie Cun Ju.
"Sebuah ... Tong ti ... an pao li...ong ini, aku hadiahkan kepadamu. Ha ... rap kau simpan baik ... baik!"
Selesai berkata, I Ki Hu menoleh kepada Kwe Tok.
"Kwe loyacu harap kau bebaskan jalan darah mereka!"
Pada saat itu, tampang I Ki Hu sudah berubah sedemikian rupa sehingga benar-benar tidak enak dilihat. Tampak tubuh Kwe Tok berkelebat, sekejap mata kemudian, dia sudah sampai di depan mereka.
"Perempuan itu sudah gila, jalan darahnya tidak boleh dibebaskan."
I Ki Hu menarik nafas panjang.
"Aku tahu."
Kwe Tok menjulurkan tangannya menepuk jalan darah Lie Cun Ju yang tertotok pun bebas seketika. Lie Cun Ju menggenggam Tong tian pao liong yang diberikan oleh I Ki Hu.
"Lie kongcu, penyakit Tao kouwnio ini masih ada kemungkinan untuk disemhuhkan. Harap kau memperlakukannya baik-baik,"
Kata I Ki Hu.
"I sian sing, kau tidak perlu khawatir, anakmu itu, akan kuperlakukan seperti anakku sendiri,"
Sahut Lie Cun Ju. Wajah I Ki Hu semakin lama semakin tidak enak dilihat. Dia mengatur nafasnya sejenak kemudian bertanya kepada Lie Cun Ju.
"Lie kongcu dari mana datangnya uraturat merah di wajahmu itu?"
Lie Cun Ju menggelengkan kepalanya.
"Aku juga tidak tahu."
"Coba ... kau ingat-ingat la ... gi! Urat-urat merah itu ter ... jadi karena ra . .. cun laha-laba merah. Apabi ... la kau mene ... mukan laba ... laba merah yang hidup, racun ... i ... tu masih bi ... sa dise ... dot kem ... bali dan ... wajahmu bi ... sa pulih seper ... ti sedia ...ka ... la ..."
Berkata sampai di sini, tenggorokan I Ki Hu mengeluarkan suara beherapa kali, wajahnya pucat pasi, urat merah di wajahnya seakan mengerut sehingga semakin mengerikan.
Tubuhnya sempoyongan akhirnya terkulai jatuh di atas salju.
Belum berapa lama tubuh I Ki Hu terjatuh di atas tanah, lapisan salju sudah menutupnya.
Tampak Lie Cun Ju dan Kwe Tok berdiri di sampingnya dengan terpaku.
Sesaat kemudian tampak keempat anggota tubuh I Ki Hu bergetar sedikit lalu terdiam untuk selamanya.
Lie Cun Ju mendongakkan kepalanya dan melirik Kwe Tok sekilas, lalu menarik nafas panjang.
"Kwe locianpwe, dia sudah mati."
Kwe Tok mendengus dingin satu kali.
"Hm! Sejak dulu dia memang sudah harus mati."
Tangan kakek itu menjulur ke depan.
"Berikan Tong tian pao Hong itu kepadaku!"
Bentaknya garang.
Lie Cun Ju memang tidak memusingkan apa yang dinamakan Tong tian pao Hong itu.
Dia langsung menyodorkannya kepada Kwe Tok.
Orang tua itu mengambilnya dari tangan Lie Cun Ju kemudian menoleh kepada perempuan setengah baya tadi.
Rupanya entah sejak kapan perempuan setengah baya itu sudah tertotok oleh I Ki Hu.
Dia berdiri di atas salju tanpa dapat menggerakkan tubuhnya sedikit pun.
Tubuh perempuan itu sejak tadi sudah dipenuhi lapisan salju yang cukup tebal.
Pada alisnya bergelantung beberapa batang es halus.
Lie Cun Ju dapat melihat dengan jelas, ketika Kwe Tok meliriknya sekilas, perempuan itu menyorotkan sinar ketakutan.
Melihat keadaan itu, hati Lie Cun Ju tergerak.
Diam-diam dia berpikir, kalau Kwe Tok memang benar orang dari pihak Mo kau di jaman dulu, tentu tindak tanduknya juga sangat keji dan tangannya telengas.
Tampaknya hal itu memang tidak perlu diragukan lagi.
Sedangkan perempuan setengah baya itu sudah dapat menebak isi hatinya saat itu maka matanya baru menyorotkan sinar demikian ketakutan.
Berpikir sampai di situ, Lie Cun Ju merasa keadaannya sekarang juga sedang terancam bahaya.
Setelah mencelakai perempuan setengah baya itu, apakah Kwe Tok juga akan membereskan Tao Ling?
Di saat pikiran Lie Cun Ju sedang melayang-layang, Kwe Tok sudah sampai di depan perempuan setengah baya itu.
"Tempat ini sudah dipenuhi salju, pasti jarang ada orang yang lewat. Kau juga bisa beristirahat dengan tenang."
Mata perempuan itu menyorotkan sinar kemarahan, tetapi dia tidak bisa bersuara sedikit pun.
Siu Lo Cun Cu Kwe Tok tertawa terbahak-bahak, tiba-tiba tangannya bergerak menghantam dada perempuan setengah baya itu.
Dipukul demikian keras oleh Kwe Tok, jalan darahnya yang tertotok pun jadi bebas.
Dia meraung kalap, tubuhnya terhuyung-huyung jatuh di atas salju.
Tetapi dia masih sempat menggetarkan tangannya menyambitkan tujuh-delapan batang panah berapi ke arah Kwe Tok.
Seketika itu tampak titik sinar berwarna hijau melesat ke depan, timbul suara mendesis-desis.
Sayangnya setelah terhantam satu kali oleh pukulan Kwe Tok, tubuh perempuan itu sudah luka parah.
Tenaga dalamnya juga sudah terbatas.
Panah berapinya seperti permainan untuk menggertak lawan.
Buktinya dengan mudah dapat dihindari oleh Kwe Tok.
Perempuan setengah baya itu tertawa terbahak-bahak beberapa kali, kemudian menangis tersedu-sedu.
Sepasang tangannya terus meremas salju di atas tanah, dapat dibayangkan kebencian dalam hatinya saat itu terhadap Kwe Tok.
Tidak lama kemudian gerakan perempuan itu berubah lamban.
Perlahan-lahan tubuhnya mulai dilapisi salju.
Seluruh tempat itu penuh dengan hamparan salju.
Demikian tenang, demikian mencekam.
Siapa yang mengira bahwa belum berapa lama tadi telah berlangsung pertarungan yang sengit.
Pasti tidak ada orang yang percaya bahwa ada tiga sosok mayat yang semuanya merupakan tokoh-tokoh bu lim kelas satu telah terkubur di bawah hamparan salju itu.
Setelah seluruh tubuh perempuan itu tertutup lapisan salju dan tidak ada gerakan lagi, Kwe Tok baru berjalan perlahan-lahan menghampiri Lie Cun Ju.
"Hamparan salju terlalu dalam, kereta kuda tidak bisa lewat lagi. Kita gunakan saja kereta salju itu!"
Katanya. Lie Cun Ju tertawa getir.
"Kwe locianpwe, aku memang belum pernah menginjak istana rahasia itu. Sekarang seharusnya kau sudah percaya bukan?"
Tiba-tiba Kwe Tok tersenyum licik.
Sepasang matanya menyorotkan sinar yang tajam dan melirik sekilas kepada Tao Ling.
Lie Cun Ju melihat sinar mata orang tua itu mengandung hawa pembunuhan yang tebal, sekonyong-konyong hatinya dilanda perasaan terkesiap.
"Kwe locianpwe, a ... pa yang akan kau lakukan?"
Tanyanya dengan suara parau. Mimik wajah Kwe Tok benar-benar sulit diterka.
"I Ki Hu benar-benar tua-tua keladi, semakin tua semakin tidak tahu malu. Benarkah budak perempuan ini istrinya?"
Tanyanya dengan nada dingin.
"Tao Kouwnio menikah dengannya karena terpaksa,"
Jawab Lie Cun Ju menjelaskan. Kwe Tok tertawa terkekeh-kekeh.
"Dipaksa kek, rela kek, pokoknya sama saja. Anak dalam perutnya merupakan benih si jahanam itu."
Berkata sampai di situ, saking terkejutnya, selembar wajah Lie Cun Ju sudah pucat pasi. Tubuhnya bergeser dan menghadangi tubuh Tao Ling. Matanya menatap Kwe Tok lekat-lekat.
"Pada waktu itu, seluruh Mo kau hancur di tangan I Ki Hu seorang. Meskipun aku pernah mendengar berita itu, saat itu aku sedang menyelesaikan suatu urusan yang penting sekali. Karena itu belum sempat mencarinya untuk mengadakan perhitungan. Sekarang musuh tangguh sudah berhasil dienyahkan. Benar-benar merupakan kebangkitan partai Mo kau. Bocah cilik, watakmu boleh juga, bagaimana kalau kau masuk menjadi anggota Mo kau dan merebut kedudukan tinggi di dunia Bu lim?"
"Kwe locianpwe, terus terang saja, nama dan kedudukan tidak ada artinya lagi bagiku. Hatiku sudah tawar terhadap semua itu. Aku hanya ingin hidup dalam ketentraman dan kedamaian bersama Tao kouwnio. Aku tidak berminat sedikit pun untuk terjun di dunia ramai yang penuh dengan pertikaian."
Kwe Tok tersenyum mendengarkan kata-katanya.
"Dulu, karena sedikit kecerobohan dari pihak Mo kau sendiri, akibatnya seluruh Mo kau habis terbasmi. Sekarang aku ingin membangkitkan partai kami kembali. Tentu aku tidak boleh membiarkan sedikit pun bibit bencana yang bisa berakibat fatal di kemudian hari."
Tentu saja Lie Cun Ju mengerti yang dimaksud sebagai bibit bencana oleh Kwe Tok adalah anak dalam kandungan Tao Ling. Hatinya semakin berdebar-debar.
"Kwe locianpwe, Tao kouwnio baru hamil empat bulan. Apabila anak itu sudah terlahir kelak, kami tidak akan memberitahukan asal usulnya. Harap kau berbelas kasih membebaskan kami!"
Kwe Tok tertawa dingin.
"Kau berani menjamin apabila sudah besar nanti, seumur hidupnya dia tidak akan tahu riwayat hidupnya sendiri?"
"Kami rela meninggalkan Tiong goan dan berlayar mengarungi samudra mencari sebuah tempat yang tidak pernah terinjak oleh manusia. Lalu hidup mengasingkan diri. Dengan demikian anak itu pun tidak akan pernah tahu riwayat hidupnya sendiri."
Kwe Tok tertawa terbahak-bahak.
"Api yang liar sulit dipadamkan, bunga-bunga masih terus berkembang setiap musim semi,"
Katanya. Wajah Lie Cun Ju semakin berubah.
"Kwe loyacu kalau begitu, kau tetap bermaksud mencelakakan kami?"
"Aku hanya ingin melenyapkan bibit haram si jahanam I Ki Hu, rasanya tidak bisa dikatakan terlalu keji, bukan?"
Lie Cun Ju panik sekali.
"Tetapi, sekarang bayi itu masih ada dalam rahim ibunya ... Kau... kau ..."
Kwe Tok tidak memberi kesempatan kepada Lie Cun Ju untuk menyelesaikan katakatanya.
"Satu malam menjadi seorang istri, sama saja merupakan budi seumur hidup. Tentu saja aku harus melenyapkan kedua-duanya."
"Kau tidak bisa melakukan hal itu!"
Kwe Tok mengeluarkan suara tawa yang aneh, lengannya bergerak ke depan, kelima jari tangannya membentuk cengkeraman.
Tangannya menjulur untuk mencengkeram pundak Lie Cun Ju.
Pemuda itu membalikkan tangannya untuk menyambut serangan itu, tetapi justru dalam waktu yang hanya sekilasan cahaya itu, seiring dengan suara tawa Kwe Tok, jari tangannya berubah menjadi totokan yang tepat mengenai pergelangan tangan Lie Cun Ju.
Pemuda itu merasa sebelah lengannya menjadi kesemutan dan ngilu.
Tenaganya pun lenyap.
Pukulannya tidak bisa diteruskan.
Kwe Tok tertawa panjang sekali lagi, pundak Lie Cun Ju sudah tercengkeram dan dilemparkannya tubuh Lie Cun Ju ke samping.
Lie Cun Ju tidak dapat mempertahankan diri, dia terlempar sejauh enam-tujuh kaki.
Namun ketika terhempas di atas tanah, langsung bangkit kembali untuk menerjang ke arah Kwe Tok.
Pada saat itu, Kwe Tok sudah menenteng Tao Ling keluar dari dalam kereta.
Karena kerahan tenaga dalam Kwe Tok terlalu besar, jalan darah di tubuh Tao Ling jadi bebas dari totokan.
Tampak Tao Ling mengembangkan seulas senyuman kepadanya.
"Wah! Putih sekali, benar-benar indah! Awan di mana-mana!"
Seru gadis itu. Kwe Tok tertegun, melihat Lie Cun Ju sudah sampai di sisinya.
"Kwe locianpwe, jangan turun tangan dulu. Dengarkanlah perkataan kami!"
Teriak Lie Cun Ju dengan suara keras.
Kwe Tok mendorong Tao Ling sehingga terjerembab di atas salju.
Kakinya menyepak lalu menekan di punggung gadis itu.
Tubuh Tao Ling lemas seketika, tidak bisa bergerak sedikit pun.
"Apalagi yang ingin kau katakan?"
Tanya Kwe Tok sambil menolehkan kepalanya.
"Kwe locianpwe, aku tahu kau takut anak itu akan tumbuh dewasa dan suatu hari akan mencari kau untuk membalaskan dendam kematian ayahnya. Aku sudah menyatakan bahwa untuk selamanya kami tidak akan memberitahukan riwayat hidup anak itu, tapi kau tetap tidak percaya. Sekarang, sebaiknya kau musnahkan saja kepandaian kami, dengan demikian kau tidak perlu mencemaskan apa-apa lagi,"
Kata Lie Cun Ju dengan nada meratap. Dengan tenang Kwe Tok mendengarkan Lie Cun Ju menyelesaikan kata-katanya. Kemudian tampak dia tertawa dingin.
"Lucu! Sudah terang rahasia besar Tong tian pao liong akan kudapatkan, masa aku takut akan pembalasan siapa pun."
"Kalau begitu, mengapa locianpwe tetap ingin membunuhnya?"
Tanya Lie Cun Ju.
"Pertanyaanmu bagus sekali. Dulu ketika I Ki Hu membasmi partai Mo kau, apakah ada seorang pun yang dibiarkannya hidup? Aku hanya meniru perbuatannya dulu untuk melampiaskan sakit hatiku selama ini."
Tadinya Lie Cun Ju sudah putus asa terhadap permintaannya sendiri. Sekarang mendengar kata-kata Kwe Tok, suatu ingatan terang langsung melintas di benaknya.
"Meskipun I Ki Hu yang berhati binatang dan bukan main kejinya tapi waktu itu dia masih melepaskan satu orang."
Kwe Tok mendongakkan kepalanya.
"Siapa?"
"Cucu keponakanmu sendiri, I Giok Hong."
Kwe Tok tertegun mendengar kata-kata Lie Cun Ju.
"Benar?"
Tanyanya. Timbul sedikit harapan dalam hati Lie Cun Ju, dia harus membujuk terus orang tua itu sampai berhasil.
"Tentu saja benar. Usia I Giok Hong sekarang kurang lebih dua puluh tahun, wajahnya persis dengan ayahnya dan sekarang dia juga sudah berangkat menuju sebelah barat Gunung Kun Lun san."
Wajah Kwe Tok langsung berseri-seri mendengar berita itu. Dia mengeluarkan suara pekikan aneh berkali-kali.
"Bagus sekali! Sekarang sudah ada dua orang dalam Mo kau. Kalau begitu, baiklah, aku akan memusnahkan ilmu kepandaian kalian berdua. Apakah kalian akan menepati kata-katamu sendiri?"
Wajah Lie Cun Ju juga berseri-seri. Hatinya memang gembira sekali. Walaupun dia harus kehilangan kepandaiannya, yang penting baginya dapat hidup bersama Tao Ling seumur hidupnya.
"Kwe locianpwe tidak usah khawatir, kami bukan manusia-manusia rendah yang mudah mengingkari janji,"
Katanya tegas.
Kwe Tok menyepakkan kakinya, tubuh Tao Ling terpental di udara.
Tampak tangan orang tua itu bergerak cepat menotok dua jalan darah di dada dan kepala Tao Ling.
Terdengar Tao Ling menjerit histeris, tubuhnya terhempas di atas permukaan salju.
Dari tepi bibirnya mengalir darah segar, nafasnya memburu.
Hati Lie Cun Ju perih sekali melihat keadaan gadis itu.
Cepat dia menghambur menghampirinya.
Tampak keringat dingin membasahi seluruh tubuh Tao Ling.
Salju di sekitarnya sampai mencair, tetapi sepasang matanya mulai menyorotkan sinar kehidupan.
Lie Cun Ju terkejut juga gembira.
Sesaat kemudian, tampak Tao Ling rnenolehkan kepalanya, dia menatap Lie Cun Ju kemudian menarik nafas panjang.
"Cun Ju, apakah kita sudah berada di alam baka?"
Mendengar Tao Ling bisa mengajukan pertanyaan seperti itu, hati Lie Cun Ju semakin senang.
"Ling moay, akhirnya kau sadar juga."
Tampaknya Tao Ling tidak mengerti apa maksud kata-kata Lie Cun Ju. Untuk sesaat dia ter-mangu-mangu, kemudian mengedarkan pandang-an matanya keseliling.
"Aih! Cun ju, mengapa kita bisa berada di tempat ini?"
Lie Cun Ju menggenggam tangannya erat-erat.
"Ling moay, ceritanya panjang sekali. Sebentar lagi aku akan mengatakan kepadamu."
Tao Ling menatap wajah Lie Cun Ju sekejap.
"Cun Ju, mengapa wajahmu ...?"
"Ling moay, kau jangan tanyakan urusan ini dulu! Kwe locianpwe, silakan turun tangan!"
Ucap Lie Cun Ju sambil mendongakkan kepalanya. Kwe Tok menatap Lie Cun Ju sejenak.
"Bocah cilik, kau benar-benar manusia yang penuh cinta kasih."
Lie Csin Ju tertawa getir.
"Meskipun kepandaian Tao kouwnio sudah musnah, tetapi karena hal ini pula dia menjadi sadar kembali. Aku malah berterima kasih kepadamu. Silakan locianpwe turun tangan secepatnya!"
Kwe Tok maju selangkah, lalu menjulurkan tangannya menotok dada Lie Cun Ju.
Gerakan tangan Kwe Tok cepat sekali.
Lagipula Lie Cun Ju memang tidak bermaksud mengadakan perlawanan, bahkan membusungkan dadanya dan berdiri tegak.
Dengan demikian totokan Kwe Tok pasti mengenai sasarannya dengan tepat.
Lie Cun Ju sadar, jalan darah Hua Kai hiat di dada merupakan jalan darah pelindung kelima jenis isi perut yakni.
limpa, jantung, hati, usus besar, dan usus kecil.
Apabila sampai tertotok, isi perut akan terguncang dan berbalik arah.
Luka itu parah sekali.
Meskipun bisa disembuhkan namun ilmu kepandaian pasti musnah.
Lie Cun Ju teringat masa lalunya, dia juga sudah pernah mengalami hal yang sama, tapi bukan karena Hua kai hiatnya tertotok, karena lukanya terlalu parah sehingga ilmu kepandaiannya menyusut.
Dalam keadaan seperti itu, urat darah di ubun-ubun kepalanya pernah pula ditepuk oleh Coan lun hoat ong yang mengakibatkan seluruh kepandaiannya musnah.
Untung saja dia menemukan setengah bagian kitab Leng Can Po Liok untuk dipelajari isinya sehingga ilmunya bisa pulih kembali.
Hatinya memang agak sedih mengingat jerih payahnya selama bertahun ternyata akan musnah dengan sia-sia.
Tetapi dia sudah berjanji, dia juga tidak akan berusaha mencoba, apakah ilmu kitab Leng Can Po Liok masih bisa mengembalikan ilmunya kembali seperti sebelumnya.
Sedangkan Lie Cun Ju juga teringat, meskipun kepandaiannya musnah, mulai sekarang dia dapat bersama-sama Tau Ling untuk selamanya, rasanya pengorbanan itu cukup memadai.
Mereka akan hidup sebagai sepasang suami istri yang bahagia, dia akan bercocok tanam, Tao Ling akan menjahit atau menyulam, selamanya tidak akan lagi mencampuri pertikaian di dunia kang ouw.
Bukankah hal itu merupakan suatu kehidupan yang menyenangkan?
Perasaan Lie Cun Ju menjadi terhibur.
Untuk beberapa saat pemuda itu termenung dalam khayalannya yang indah.
Bahkan dia sendiri tidak memperhatikan apakah Kwe Tok sudah turun tangan atau belum terhadapnya.
Sampai cukup lama, dia masih tidak merasakan apa-apa, hatinya menjadi bingung.
Dia segera membuka matanya tampak jari tangan Kwe Tuk masih menempel di jalan darah Hua Kai Hiat.
Tapi, Kwe Tok tidak mengerahkan tenaga dalamnya, atau belum?
Jari tangannya itu hanya menempel sedikit di kulit tubuh Lie cun Ju.
Pemuda itu semakin penasaran.
Dia menatap Kwe Tok dengan heran.
"Kwe locianpwe, mengapa kau masih belum turun tangan juga?"
Kwe Tok menatap Lie Cun Ju beberapa saat, kemudian dia menarik nafas panjang.
"Bocah cilik, seumur hidup aku tidak pernah lunak hati melakukan tindakan apa pun, tetapi sekarang aku justru tidak sampai hati turun tangan!"
Lie Cun Ju tertawa datar.
"Kwe locianpwe, meskipun kau tidak sampai hati, aku juga akan turun tangan sendiri kemudian mengasingkan diri dan tidak akan menginjakkan kaki lagi di dunia bu lim."
Tangan Kwe Tok menjuntai ke bawah.
"Tidak perlu lagi. Sekarang Tao kouwnio sudah sadar, ada suatu hal yang ingin kuminta petunjuknya."
Karena cinta kasih yang demikian dalam antara Tao Ling dan Lie Cun Ju, perasaan Kwe Tok jadi tergugah.
Bukan saja dia tidak jadi memusnahkan kepandaian Lie Cun Ju, nada bicaranya pun berubah demikian sungkan.
"Mengapa Kwe locianpwe berkata demikian? Apa pun yang kami ketahui, tentu kami akan mengatakannya."
Kwe Tok menarik nafas panjang.
"Adik kecil, kau masih begitu muda, tapi kau sudah dapat melihat mara bahaya yang setiap saat melanda dunia bu lim, benar-benar bukan hal yang mudah. Sedangkan aku saja masih belum bisa membuka pikiran. Aku ingin membangkitkan kembali partai Mo kau. Dengan kekuatan aku seorang diri, tentu sulit sekali terwujud keinginan ini ..."
"Apabila Kwe locianpwe mengharap kami masuk menjadi anggota Mo kau, harap maafkan kalau kami tidak dapat mengabulkannya,"
Tukas Lie Cun Ju. Kwe Tok menggelengkan kepalanya.
"Bukan."
Lie Cun Ju semakin bingung.
"Lalu apa?"
Kwe Tok mengeluarkan kembali seekor Tong tian pao liong yang direbutnya dari tangan Lie Cun Ju.
"Tujuh buah Tong tian pao liong menyangkut sebuah rahasia besar, apakah kau mengetahui-nya?"
Lie Cun Ju menganggukkan kepalanya, kemudian dia menolehkan kepalanya.
"Aku memang pernah mendengarnya, tetapi mungkin jauh sekali dibandingkan dengan Ling moay yang sudah mengalaminya sendiri."
Sembari berbicara, dia membimbing Tao Ling agar bersandar di kereta. Tubuh Tao Ling lemah sekali, nafasnya masih memburu.
"Apakah Tao kouwnio bisa menceritakan lebih mendetail apa yang pernah dialami di sebelah barat Gunung Kun Lun san?"
Tao Ling sudah melalui berbagai penderitaan.
Di dalam dunia ini, kecuali cinta Lie Cun Ju yang demikian dalam, segala nama dan kedudukan di dunia bu lim tidak menarik perhatiannya lagi.
Lagipula, sekarang ilmu kepandaiannya sudah musnah, keadaannya tidak berbeda dengan orang biasa.
Seandainya dia menemui keajaiban dan belajar dari mula, rasanya tidak cukup waktu delapan atau sepuluh tahun untuk mencapai hasil seperti sebelumnya.
Rahasia besar dunia bu lim, bahkan yang sempat menggetarkan seluruh dunia, tidak ada artinya lagi bagi perempuan itu.
Mendengar pertanyaan Kwe Tok dia pun segera menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja bisa."
Wajah Kwe Tok jadi berseri-seri seketika.
"Kalau begitu, harap Tao kouwnio sudi men-ceritakannya!"
Pada saat itu, hujan salju sudah agak reda, tetapi angin masih berhembus dengan kencang.
Udara dingin menusuk tulang.
Lie Cun Ju melepaskan pakaian luarnya dan digunakan untuk menutup tubuh Tao Ling.
Perempuan itu segera menceritakan pengalamannya selama tiga tahun di dalam goa sehelah barat Gui Kun Lun san itu.
Sepasang alis Kwe Tok sampai menjungkit ke atas mendengar Tao Ling mengakhiri penuturannya.
"Kalau begitu, mereka sudah berangkat sekarang?"
"Rasanya sih sudah. Tetapi sejak pulang dari tepi jurang itu, aku tidak ingat apa-apa lagi."
"Kalian berdua ingin mengasingkan diri dari pertikaian dunia persilatan, hal itu merupakan cita-cita yang terpuji. Tetapi bagaimana pun aku harus mendapatkan kedua batang pedang pusaka itu untuk membantuku membangkitkan kembali partai Mo kau. Karena itu aku berharap Tao kouwnio bisa mengantarkan aku kali ini."
Tao Ling langsung tertegun mendengar kata-kata Kwe Tok.
"Tapi sekarang tubuhku sudah lemah seperti orang biasa, mana mungkin aku bisa mengantar Kwe locianpwe?"
"Jangan khawatir, apabila ada orang yang berani mengganggu seujung rambutmu saja, dia harus menghadapi aku dan aku tidak akan melepaskannya begitu saja."
Walaupun nada bicara Kwe Tok sangat sungkan, tetapi baik Lie Cun Ju inaupun Tao Ling menyadari dalam keadaan seperti itu, menolak pun tidak mungkin Iagi.
Kedua orang itu saling melirik sekilas, tampaknya hati mereka diliputi kebimbangan.
"Seandainya kalian berdua menyetujui permintaanku ini, apabila aku sudah berhasil mendapatkan pedang pusaka itu, aku sendiri yang akan mengantarkan kalian ke sebuah tempat yang sunyi dan terpencil agar dapat hidup tenang selamanya, bagaimana?"
Mendengar kata-kata Kwe Tok, Lie Cun Ju berpikir dalam hati, dia ingin membawa Tao Ling pergi ke tempat yang jauh sekali.
Meskipun mereka tidak ingin menimbulkan perkara bagi mereka sendiri, tetapi di dalam dunia ini banyak hal yang tidak terduga.
Dengan kekuatannya seorang diri, belum tentu dia sanggup melindungi Tao Ling.
Tetapi dengan kawalan seorang tokoh seperti Kwe Tok tentu mereka bisa mencapai tujuan dengan aman.
Setelah merenung sejenak, akhirnya dia menganggukkan kepalanya.
"Baiklah!"
"Bagus, mari kita berangkat sekarang juga!"
Lie Cun Ju segera memondong tubuh Tao Ling dan dinaikkannya ke atas kereta salju.
Kwe Tok sendiri ikut mencelat ke atas kereta salju itu.
Dari atas tanah dipungutnya pecut 1 Ki Hu, diayunkannya ke depan beberapa kali.
Delapan ekor anjing hutan itu pun segera melesat ke depan secepat kilat dengan menarik kereta salju yang mereka tumpangi.
Hujan salju saat itu tampaknya turun cukup deras.
Dalam jarak sepuluh li tampak salju meng-hampar di mana-mana.
Jalanan jadi licin sehingga kereta salju yang ditumpangi mereka pun meluncur dengan lancar.
Pada malam ketiga, mereka sudah sampai di goa besar untuk masuk ke dalam istana rahasia.
Tao Ling menyuruh Lie Cun Ju menggeser batu besar yang tampaknya berat sekali namun cukup ringan itu.
Dia menunjuk ke dalam lubang.
"Kita harus masuk dari sini, kalau sudah melewati berbagai lorong yang penuh dengan per-mata, emas dan perak. Kita akan sampai di tempat tujuan."
Kwe Tok menyalakan tiga batang obor.
Dengan berendengan mereka memasuki goa.
Tao Ling sudah pernah datang di tempat itu satu kali, bahkan menghabiskan waktu selama tiga tahun di dalamnya, karena itu dia masih mengingat dengan baik.
Tidak berapa lama kemudian, mereka sudah menempuh setengah perjalanan.
Sebelum sampai di tempat itu dalam perjalanan Lie Cun Ju sudah menceritakan kepada Tao Ling tentang kematian I Ki Hu.
Muia-mula perempuan itu agak terperanjat juga, bagaimana pun I Ki Hu pernah menjadi suaminya selama bertahun-tahun.
Tapi akhirnya dia dapat menenangkan perasaannya, sebab jauh hari sebelumnya dia memang sudah menduga bahwa kejahatan I Ki Hu akan mendapatkan pembalasan yang setimpal.
Sementara itu, tampak di depan mereka, di antara berkobarnya cahaya api obor, seseorang berkelebat keluar menghampiri mereka.
"Lo I, kaukah itu yang datang?"
Gerakan tubuh orang itu cepat sekali, seiring dengan ucapannya, orangnya pun sudah sampai di depan mata.
Tao Ling dan Lie Cun Ju langsung mengenali orang itu, yakni Hek Tian Mo Cen Sim Fu.
Hek Tian Mo Cen Sim Fu yang juga sudah melihat mereka bertiga, menjadi tertegun sesaat.
"1 hu jin, apa-apaan ini?"
Katanya. Mimik wajah Lie Cun Ju langsung berubah.
"Siapa yang kaupanggil I Hu jin?"
Bentaknya marah. Cen Sim Fu tertawa terbahak-bahak.
"Kau bocah cilik pasti sudah bosan hidup. Biar aku mewakili Lo I memberi pelajaran kepadamu."
Cen Sim Fu tidak tahu I Ki Hu sudah mati.
Selesai berkata, tangannya langsung menjulur ke depan untuk mencengkeram pundak Lie Cun Ju.
Lie Cun Ju berdiri tanpa bergerak sedikit pun.
Tampaknya sekejap lagi jari tangan Cen Sim Fu akan berhasil mencengkeramnya.
Kwe Tok yang berdiri di sampingnya tibatiba turun tangan.
Ser ...!
Tangannya bergerak mengirimkan sebuah totokan kepada Cen Sim Fu.
Pada saat itu kelima jari tangan Cen Sim Fu sedang membentuk cakar, tenaga dalam yang ter-pancar dari jari tangannya juga dahsyat sekali.
Sedangkan tangan Kwe Tok sekonyong-konyong menjulur ke depan seperti diasongkan kepada lawannya.
Seakan orang yang sudah bosan hidup dan sengaja mempersembahkan selembar nyawanya ke tangan Cen Sim Fu.
Tetapi Cen Sim Fu memang bukan tokoh sembarangan.
Melihat cara turun tangan lawannya dan tenaga dalamnya yang hebat, bahkan belum pernah ditemuinya seumur hidup, hatinya terkejut bukan main.
Diam-diam dia sadar di balik jurus itu masih terkandung perubahan hebat lainnya.
Karena itu dia tidak berani meneruskan serangannya.
Tangannya ditariknya kembali, dan cepat-cepat mencelat mundur ke belakang.
"Siapa kau?"
Kwe Tok tertawa terkekeh-kekeh.
"Siau Cen sudah lama tidak kelihatan, apa sekarang sudah berubah lebih berguna?"
Mendengar kata-kata Kwe Tok, perasaan Cen Sim Fu semakin terkejut. Dia memperhatikan Kwe Tok beberapa saat.
"Kau ...kau . .. Kwe lo yacu?"
Katanya dengan suara parau.
"Ternyata si Cen kecil masih mengenaliku."
Dulu kepandaian Cen Sim Fu masih rendah sekali.
Berkat kelicikan dan akal hulusnya, dia bisa mendapatkan sedikit nama di dunia bu lim.
Dia juga pernah bertemu dengan Siu Lo Cun Cu Kwe Tok beberapa kali, itulah sebabnya mereka saling mengenal.
Saat itu, Cen Sim Fu mengetahui dugaannya ternyata tidak salah, karena itu perasaan terkejut-nya semakin menjadi-jadi.
Setelah termangu-mangu beberapa saat, Cen Sim Fu mengeluarkan suara tawa yang sumbang.
"Kwe loyacu sudah datang, tentu urusannya lebih mudah diselesaikan."
Kwe Tok tertawa dingin.
"Siau Cen, kau tidak perlu mengucapkan kata-kata yang mengandung kebalikannya. Biar kalian saja yang bergerak terlebih dahulu, bagaimana?"
Sembari berbicara, Kwe Tok berjalan terus ke depan.
Cen Sim Fu mengundurkan diri perlahan-lahan.
Ternyata tidak berani berjalan memunggungi Kwe Tok.
Tidak lama kemudian dia sudah sampai di tengah-tengah goa.
Kim Ting siong jin, Coan lun hoat ong dan yang lainnya ada di sana.
Kwe Tok melirik sekilas kepada I Giok Hong.
"Kaukah yang bernama I Giok Hong?"
Tanyanya.
"BetuI,"
Sahut I Giok Hong dingin. Mimik wajah Kwe Tok menyiratkan keharuan hatinya.
"Tahukah kau siapa aku ini?"
I Giok Hong bersikap acuh tak acuh.
"Siapa pun kau, ada hubungan apa denganku?"
Kwe Tok menarik nafas panjang.
"Anak bodoh ... aku masih ada hubungan denganmu. Ibumu adalah keponakanku. Dan aku ini siok kongmu (Paman kakekmu)!"
I Giok Hong tertegun sejenak. Sepertinya kurang percaya terhadap apa yang dikatakan Kwe Tok. Orang tua itu segera melanjutkan kata-katanya.
"Dulu ayahmu mengkhianati Mo kau. Ibumu sendiri mati di tangannya. Boleh dibilang dalam partai Mo kau hanya aku dan seorang budak yang sempat meloloskan diri dari tangan jahatnya. Sekarang ayahmu sudah mati di tangan budak itu."
Sepasang alis I Giok Hong menjungkit ke atas. Mimik wajahnya tidak menyiratkan perasaan sedih ataupun gembira. Dia hanya bertanya dengan datar.
"BetuI?"
Beberapa orang yang lainnya mengeluarkan seruan terkejut.
"I Ki Hu sudah mati. Berarti kita kekurangan sebuah long tian pao liong, bagaimana kita bisa masuk ke dalam?"
Kwe Tok mengangkat tangannya ke atas.
"Sebuah Tong tian pao liong itu ada padaku."
Kim Ting siong jin bertanya dengan nada tajam.
"Siapa kau? Datang-datang ingin ikut ambil bagian"
Kwe Tok tertawa terbahak-bahak.
"Apabila melihat pedang pusaka itu nanti kalian yang mempunyai kemampuan boleh merebutnya terlebih dahulu."
Orang lainnya jadi tertegun.
"Pedang pusaka?"
Kwe Tok tertawa.
"Apa yang tersimpan di dalam istana rahasia saja kalian tidak tahu, mengapa semuanya berebutan ingin mendapatkan, bukankah menggelikan?"
Orang-orang yang ada di dalam goa menjadi merah padam wajahnya disindir oleh Kwe Tok.
"Apa lagi yang kalian tunggu? Cepat buka pintunya!"
Kata Kwe Tok.
Tujuh buah Tong tian pao liong dimasukkan ke dalam lubang masing-masing.
Sebentar saja pintu batu itu sudah terbuka dan mereka pun memasuki lembah yang pernah ditempati I Ki Hu serta yang lainnya selama hampir tiga tahun.
Cen Sim Fu memutar batu besar yang merupakan kunci untuk masuk ke dalam lubang.
Beramairamai mereka turun ke bawah.
Tidak lama kemudian mereka sampai di tonjolan batu berbentuk huruf U.
"Sekarang giliranku melaksanakan tugas!"
Kata Kim ting siong jin sambil tertawa dingin.
Tidak ada seorang pun yang memberikan komentar.
Mereka hanya berdiri di samping memperhatikan.
Mereka ingin tahu bagaimana cara Kim Ting siong jin memasukkan anglo emasnya untuk membuka pintu itu.
Tampak Kim ting siong jin memasukkan anglo emasnya ke dalam lekukan batu berbentuk huruf U.
Dengan sekuat tenaga dia mendorongnya.
Terdengar suara yang bergemuruh.
Orang-orang yang hadir di sana merasa pandangan matanya jadi buram.
Di pinggir anglo emas itu telah muncul sebuah lubang yang besar.
Dalam waktu yang bersamaan, timbullah suara bergemuruh tadi.
Begitu kerasnya sehingga memekakkan telinga orang yang mendengarnya.
Perasaan Lie Cun Ju dan Tao Ling bergetar.
Mereka tidak mengerti dari mana sumber suara yang bergemuruh itu.
Ilmu kepandaian Tao Ling sudah musnah, dia tidak dapat mengerahkan hawa murninya untuk melindungi diri seperti yang lain.
Suara gemuruh itu membuat wajahnya pucat pasi.
Dia bersandar pada tubuh Lie Cun Ju, tubuhnya sendiri terus gemetaran.
Orang-orang lainnya tertegun sejenak.
Kim Ting siong jin, Coan lun hoat ong dan Cen Sim Fu semuanya merupakan tokoh-tokoh kelas satu di dunia bu lim.
Tetapi mereka juga dibuat terkejut oleh suara bergemuruh yang muncul secara mendadak itu.
Dan ternyata tidak ada seorang pun yang berani melangkah ke dalam.
Hanya Siu Lo Cun Cu Kwe Tok yang tiba-tiba mengeluarkan suara siulan yang melengking tinggi.
"Kalian semua tidak memperdulikan segala jerih payah dan semua penderitaan, bahkan ada yang sampai datang kemari untuk kedua kalinya. Sekarang rahasia besar sudah di depan mata, mengapa kalian justru tidak berani melangkah ke dalam?"
Suara Kwe Tok melengking begitu tinggi.
Maka walaupun suara bergemuruh itu demikian keras, kata-katanya tetap dapat terdengar dengan jelas.
Sekali lagi wajah para hadirin merah padam.
Hek Tian Mo Cen Sim Fu mendengus satu kali.
"Kwe loyacu, apa sebetulnya yang ada dalam goa itu? Bolehkah kau memberitahukannya kepada kami?"
"Kau masuk saja sendiri, bukankah kau bisa melihatnya langsung?"
Sahut Kwe Tok dingin. Kemarahan dalam dada Cen Sim Fu benar-benar meluap. Tetapi tetap saja tidak berani menyalahi Kwe Tok.
"Baik, aku akan masuk melihatnya sendiri."
Tubuh Cen Sim Fu berkelebat menghampiri mulut goa, kemudian melangkahkan kakinya ke dalam.
Suara yang bergemuruh tadi semakin memekakkan telinga.
Begitu mempertajam pandangan matanya, tanpa dapat ditahan lagi hati Cen Sim Fu merasa gembira juga terkesima.
Ternyata di dalam goa itu dipenuhi hawa air yang lembab dan tampak sebuah kojapi.
Dan anehnya air kolam itu bisa bermuncratan ke atas seperti air mancur.
Puluhan garis air bermuncratan ke atas dengan deras sehingga menimbulkan suara bergemuruh seperti air terjun.
Air di dalam kolam itu terus bermuncratan ke atas sehingga kelihatannya air di dalam kolam itu terlalu meluap dan bahkan seluruhnya berpencaran.
Tingginya mencapai tiga-empat kaki, bahkan ada yang mencapai satu depa tebih.
Benar-benar suatu pemandangan yang nienakjubkan.
Dan yang membuat jantung Cen Sim Fu berdebar-debar yakni sebatang pedang berwarna hijau berkilauan yang seakan sedang menari-nari karena terpental oleh puluhan garis air mancur itu.
Ketika air itu melorot turun, pedang itu pun ikui bergerak ke bawah.
Dan setiap air itu memancur ke atas, pedang itu pun bergerak naik.
Sebetulnya kalau hanya sebatang pedang saja, Cen Sim Fu tidak akan begitu kesenangan.
Tetapi pedang itu dapat terayun-ayun mengikuti gerakan air.
Hal itu membuktikan bahwa bobot pedang itu pasti ringan sekali.
Apabila bisa mendapatkan benda yang demikian langka, bukankah dirinya akan seperti harimau tumbuh sayap dan dapat malang melintang seenaknya di dunia bu lim?
Cen Sim Fu memperhatikan pedang pusaka itu dengan seksama.
Ternyata pedang pusaka itu tampak lebih panjang sedikit dari pedang umumnya.
Gagangnya sudah tidak ada.
Hanya batangnya saja yang terpental kesana kemari oleh gerakan air itu.
Lincah seperti seekor naga hidup, ringan seperti tidak ada benda apa pun.
Cahayanya berkilauan sehingga benar-benar menakjubkan.
Cen Sim Fu menatap sejenak.
Ketika dia berniat mencari akal mengambil pedang itu tiba-tiba di antara suara gerakan air yang bergemuruh berkumandang suara dentingan yang nyaring.
Tang!
Ting!
Tang!
Ting!
Seperti benturan dua jenis logam.
Mendengar suara itu, untuk sesaat Cen Sim Fu jadi tertegun.
Belum sempat dia merenungkan apa yang harus dilakukannya, tahu-tahu terdengar suara Kim Ting siong jin berkata dengan suara lantang."Biar aku masuk duluan!"
"Kenapa?"
Tanya Coan lun hoat ong.
Cen Sim Fu menolehkan kepalanya.
Tampak kedua orang itu berdesakan di pintu goa dan berebut ingin masuk terlebih dahulu ke dalam goa tersebut.
Siapa pun tidak ada yang sudi mengalah.
Dapat dipastikan bahwa mereka sudah melihat pedang pusaka yang terayun-ayun air mancur itu.
Cen Sim Fu melihat kedua orang itu berkutet terus dengan maksud ingin mendahului yang lainnya memasuki goa.
Diam-diarn dia berpikir dalam hati, apabila mereka dibiarkan masuk, tentunya kesempatannya semakin tipis untuk mendapatkan pedang pusaka itu.
Berpikir demikian, timbul kelicikan di dalam benaknya.
Cepat-cepat dia melangkah dua tindak ke depan setelah membalikkan tubuh dan tertawa cekikikan terhadap kedua orang itu.
"Buat apa kalian ngotot-ngototan?"
Belum selesai gema suaranya, sepasang tangannya sudah mengirimkan dua buah pukulan ke depan.
Serangannya itu boleh dibilang secepat angin.
Pukulan tangan kirinya mengincar Coan lun hoat ong dan pukulan tangan kanannya diarahkan ke Kim Ting siong jin.
Baik Coan lun hoat ong maupun Kim Ting siong jin sama sekali tidak menyangka Cen Sim Fu akan menyerang mereka secara mendadak.
Di antara kedua orang itu, Coan lun hoat ong memang tidak termasuk tokoh dari dunia bu lim.
Meskipun tenaga dalamnya tinggi sekali, tetapi dia jarang bergebrak dengan musuh.
Karena itu reaksinya juga lebih lamban.
Di saat dia masih tertegun, pukulan Cen Sim Fu sudah mendarat di dadanya.
Reaksi Kim Ting siong jin lebih cepat, begitu melihat pukulan meluncur datang, ia segera ber-geser ke samping dan membalas sebuah serangan ke depan.
Tidak disangka, Cen Sim Fu memang licik sekali.
Dia sudah membayangkan, apabila serangannya gagal dan kedua orang itu bekerja sama menghadapinya, sudah tentu dia bukan tandingan mereka.
Itulah sebabnya, ketika dia menghantam dada Coan lun hoat ong dan sempat merasa adanya tenaga tolakan yang cukup besar, Cen Sim Fu langsung mengubah pukulannya menjadi cengkeraman.
Kelima jari tangannya menekuk, Iain meluncur ke atas dan mencengkeram pundak Coan lun hoat ong.
Tepat di saat Kim Ting siong jin membalas sebuah pukulan kepada Cen Sim Fu.
Cen Sim Fu menarik ujung pakaian Coan Lun hoat ong itu sehingga kakinya tertarik ke depan satu tindak.
Dalam waktu yang tepat sekali, dia mendorong tubuh lhama tua itu sehingga membalik dan menyambut datangnya serangan Kim Ting siong jin.
Perubahan itu berlangsung dalam sekejap mata.
Tenaga dalam Coan lun hoat ong sudah mencapai taraf yang tinggi sekaii.
Ketika dadanya terhantam pukulan Cen Sim Fu, dia tidak merasakan apa-apa.
Namun ketika Cen Sim Fu menariknya dengan cengkeraman dan mendorong tubuhnya, dia merasa Kim Ting siong jin sedang mengerahkan tenaga dalam untuk mengirimkan serangan.
Dalam keadaan gugup, lhama tua itu langsung melancarkan dua buah pukulan.
Kedua pukulan itu satu dilancarkannya untuk menyambut pukulan Kim Ting siong jin sedangkan yang satu lagi diarahkan kepada Cen Sim Fu.
Tapi, setelah membalikkan tubuh Coan lun hoat ong, Cen Sim Fu cepat mencelat ke belakang.
Pukulan yang diarahkan Coan lun hoat ong kepadanya memancarkan angin yang kencang, namun mengenai tempat yang kosong.
Blam!
Pukulan yang satunya beradu dengan pukulan Kim Ting siong jin.
Tenaga dalam Coan lun hoat ong, tidak usah diragukan lagi tingginya.
Apalagi ketika dia mengerahkan pukulan.
Dia sudah menderita kerugian lebih dulu, hatinya sedang marah.
la malah menyerang dengan segenap kekuatannya.
Barusan ia mengadu pukulan dengan Kim Ting siong jin.
Meskipun Kim Ting siong jin memiliki ilmu yang tinggi sekali, namun tenaga dalamnya masih terpaut cukup banyak dengan Coan lun hoat ong.
Maka saat itu terpaksa menelan sedikit kepahitan.
Terdengar Kim Ting siong jin menjerit dengan suara melengking, tubuhnya tergetar mundur tiga langkah dan tepat jatuh di dalam pelukan Kwe Tok.
Siu Lo Cun Cu Kwe Tok menjulurkan tangannya menyambut tubuh Kim Ting siong jin.
Orang tua itu tertawa terbahak-bahak.
"Belum mendapat keuntungan apa-apa, sudah saling mencakar. Ha ... ha ... Benarbenar tidak seru!"
Wajah Kim Ting siong jin menyiratkan kemarahan. Dia meraung keras-keras."Apakah harus menentukan kalah menang dulu baru mengambil pedang pusaka?"
Kwe Tok tertawa dingin.
"Kalian bertiga yang mengambil keputusan, aku tidak akan ikut campur."
Mendengar kata-kata Kwe Tok hati Hek Tian Mo Cen Sim Fu senang sekali.
"Kwe loyacu, maksudmu kau tidak ingin mendapatkan pedang pusaka itu?"
Kwe Tok tersenyum licik.
"Kapan aku pernah berkata begitu?"
Coan lun hoat ong mengatur hawa murni dalam tubuhnya.
"Lalu, apa maksud katakatamu tadi?"
Tanyanya. Kwe Tok tersenyum.
"Di antara kalian, asal ada yang mampu, silakan ambil pedang pusaka itu, aku tidak akan mengernyitkan kening sedikit pun."
Cen Sim Fu yang paling senang mendengar kata-katanya.
"Kwe loyacu, kata-katamu itu tulus atau hanya main-main saja?"
"Siau Cen, jaga mulutmu itu! Kapan orang she Kwe ini pernah menyalahi katakatanya sendiri?"
Cen Sim Fu segera mengeluarkan suara siulan yang panjang.
"Baik! Anggap saja ucapanku tadi terlalu kasar!"
Selesai berkata, Hi bull Cen Sim Fu sudah mencelat ke belakang.
Sampailah dia di tepi kolam itu.
Dia bersiap mengempos hawa murni dalam tubuhnya untuk mengerahkan gin kang agar dapat mencelat sampai atas air mancur itu.
Dia sudah bertekad untuk menjadi orang pertama yang mengambil pedang pusaka itu.
"Siau Cen. Tunggu dulu! Masih ada perkataan lain yang ingin kuutarakan!"
Terdengar Kwe Tok herkata dengan tiba-tiba.
Cen Sim Fu sama sekali tidak herani menyalahi Siu Lo Cun Cu Kwe Tok.
Mendengar ucapan Kwe Tok, dia berusaha menahan hawa amarah dalam dadanya.
Untuk sementara dia tidak jadi mencelat ke atas, tapi tampangnya sudah mulai tidak enak dilihat.
"Entah masih ada petunjuk apa lagi dari Kwe loyacu?"
Katanya.
"Kau jangan menganggap aku sengaja menghalang-halangimu. Sebetulnya apa yang ingin kukatakan demi kebaikanmu sendiri."
Mendengar ucapan Kwe Tok, tanpa dapat ditahan lagi timbul perasaan heran dalam hati Cen Sim Fu, tetapi dia tertawa terkekeh-kekeh beberapa kali.
"Terima kasih atas perhatian Kwe loyacu!"
Wajah Kwe Tok berubah serius.
"Siau Cen, kau tidak percaya dengan kata-kataku? Sekarang aku ingin bertanya kepadamu, kau lihat baik-baik! Ada berapa batang pedang sebenarnya yang bergerak-gerak karena ayunan air mancur itu?"
Mendengar pertanyaan Kwe Tok, Cen Sim Fu teringat kembali ketika dia memperhatikan pedang pusaka yang berwarna kehijau-hijauan itu, tiba-tiba dia mendengar suara dentingan, seperti berbenturnya dua jenis logam, tetapi dia tidak tahu dari mana asalnya.
Pada saat itu hatinya sudah curiga, tetapi dari belakangnya sudah terdengar suara perdebatan antara Coan lun hoat ong dengan Kim Ting siong jin.
Karena itu dia terpaksa menunda masalah yang mernbuat hatinya bertanya-tanya.
Sekarang, setelah mendengarkan kata-kata Kwe Tok, tanpa dapat ditahan lagi dia jadi tertegun.
"Mungkinkah masih ada pedang kedua?"
Kwe Tok tertawa terbahak-bahak.
"Di dalam goa ini ada dua batang pedang pusaka. Kedua pedang itu merupakan harta benda yang tidak terkirakan nilainya sejak adanya pedang. Yang satu adalah pedang berwarna kehijauan yang terlihat sekarang. Apabila orang yang menggunakannya mengenakan pakaian berwarna hijau juga, maka batang pedang itu akan menjadi transparan, sehingga orang tidak dapat melihatnya dengan jelas. Tajamnya jangan ditanyakan lagi. Sedangkan pedang yang satunya lagi ... memang tidak bisa terlihat sama sekali. Aku sendiri tidak tahu terbuat dari bahan apa pedang itu, yang pasti pada jaman dulu ada dua julukan yang diberikan pada pedang itu. Yang satu disebut Bu heng kiam (Pedang tanpa bayangan). Hal itu tentu karena pedangnya sendiri yang tidak bisa sembarangan terlihat oleh pandangan mata. Dan sebagian orang menyebutnya Bu Ceng kiam (Pedang tanpa perasaan), nama itu diberikan mungkin karena dapat melukai atau membunuh seseorang tanpa terasa sedikit pun pada permulaannya ..."
Apa yang dikatakan oleh Kwe Tok, boleh dibilang bahkan belum pernah didengar oleh orang-orang lainnya di dalam goa itu. Mereka jadi ter-mangu-mangu.
"Dimana pedang yang satunya lagi?"
Tanya Cen Sim Fu.
"Tentu saja teruntal antil di atas air mancur itu juga. Hanya saja tak tertangkap pandangan mata,"
Sahut Kwe Tok.
Cen Sim Fu melirik ke atas air mancur.
Untuk sesaat dia berdiri terpaku tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Tadinya dia bermaksud mengerahkan gin kangnya yang tinggi untuk mencelat ke atas dan meraih pedang pusaka itu.
Tetapi sebenarnya hal itu cukup membahayakan karena muncratan air mancur itu sangat deras.
Siapa pun bisa melihat bahwa pedang pusaka itu tajam sekali, mungkin dapat memotong besi ataupun batu giok dengan mudah.
Sedangkan tubuh yang sedang mencelat ke atas, di situ tidak bisa mengerahkan tenaga dalam.
Lagipula di sekitar tempat itu terdapat air mancur yang besar-besar sehingga pandangan mata menjadi kabur.
Apabila kurang hati-hati sedikit saja, tangan bisa salah raih, akibatnya pasti akan terluka.
Apalagi sekarang Kwe Tok mengatakan masih ada sebatang pedang lainnya yang tidak terlihat.
Pedang itu juga bergerak-gerak karena ayunan air mancur, sama sekali tidak dapat diduga di mana adanya pedang itu.
Apabila pedang itu kebetulan menyongsong datangnya tangan kita yang ingin meraih, kesenggol sedikit saja, ada kemungkinan pedang tak berwujud itu akan berbalik arah dan menembus jantung kita.
Itulah sebabnya Cen Sim Fu merenung sekian lama.
Diam-diam dia berpikir da lam hati.
Kwe Tok bukan tokoh yang suka bicara sembarangan, dia tidak boleh menempuh bahaya sebesar itu.
Lebih baik memancing Coan lun hoat ong dengan sindiran agar lhama itu yang mencobanya terlebih dahulu.
Lebih bagus lagi apabila orang tua itu sampai terluka oleh pedang tak terwujud itu.
Karena itu Cen Sim Fu segera tertawa ter-bahak-bahak.
"Coan lun hoat ong adalah seorang pendeta suci yang berpandangan tinggi, aku bersedia mengalah kepadamu agar mengambil lebih dulu pedang pusaka itu."
Cen Sim Fu benar-benar orang yang tidak tahu malu.
Dalam waktu sekejap bisa mengucapkan kata-kata seperti itu, tanpa berubah sedikit pun mimik wajahnya.
Sedangkan Coan lun hoat ong dari kuil Ga tang itu, pada hakekatnya juga hukan manusia baik-baik.
Kalau tidak, mana mungkin dia menipu Lie Cun Ju datang ke perbatasan Tibet kemudian memusnahkan seluruh ilmu silatnya.
Tetapi Coan lun hoat ong tidak bermuka tebal seperti Cen Sim Fu.
Mendengar katakata Cen Sim Fu untuk sesaat dia jadi tertegun.
Dia sadar bahwa Cen Sim Fu justru mendengar kata-kata Kwe Tok sehingga tidak berani menempuh bahaya itu dan membiarkan dia sendiri yang mencobanya.
Seandainya dia menyetujui usul Cen Sim Fu, berarti dirinya kena diperalat oleh orang itu.
Tetapi apabila dia tidak setuju, dia justru tidak begitu mempercayai keterangan Kwe Tok.
Lagipula dia juga kehilangan kesempatan.
Dia berpikir sejenak.
"Lantas bagaimana pendapat Kim Ting siong jin?"
Katanya.
Perasaan Kim Ting siong jin memang sedang tidak senang.
Dia tidak rela orang lain mendahuluinya, karena dia juga tidak percaya keterangan yang diberikan Kwe Tok.
Itulah sebabnya, setelah mendengar pertanyaan Coan lun hoat ong, cepat-cepat dia ingin menyatakan kesediaannya, tetapi Sang Cin dan Sang Hoat yang berdiri di belakangnya sudah keburu melangkah satu tindak ke depan.
"Suhu, setan tua she Kwe itu mempunyai kedudukan yang tinggi sekali di dunia bu lim. Tentu tidak akan mengoceh sembarangan. Lebih baik biarkan pendeta itu mencobanya terlebih dahulu!"
Katanya dengan suara berbisik.
Meskipun Kim Ting siong jin guru Sang Cin dan Sang Hoat, dan jelas kepandaiannya juga jauh lebih tinggi dari mereka, tetapi karena dia menetap di daerah Biao serta jarang datang ke wilayah Tiong goan, jadi dia juga kurang paham situasi di dunia bu lim.
Karena itu pula, dia sering meminta petunjuk dari kedua orang muridnya itu.
Sekarang mendengar keterangan Sang Cin dan Sang Hoat, dia menarik kembali katakata yang akan diucapkannya tadi dan berubah haluan.
"Apa yang dikatakan Hek Tian Mo memang tidak salah,, biar Coan lun hoat ong yang turun tangan teriebih dahulu. Kami bersedia mengalah!"
Coan lun hoat ong yang didesak dengan kata-kata oleh kedua orang itu, merasa gengsi juga.
Dan kenyataannya dia memang kurang percaya dengan keterangan Kwe Tok tadi.
Akhirnya dia pun menganggukkan kepalanya.
"Baiklah! Apabila aku sudah mendapatkan pedang pusaka itu, harap kalian jangan timbul pikiran untuk merebutnya!"
Sebetulnya kata-kata Coan lun hoat ong itu terlalu berlebihan.
Sebab beberapa orang yang berkumpul di dalam goa itu boleh dikata setali tiga uang.
Taraf perbedaan ilmu setiap orang tipis sekali.
Seandainya dia sudah berhasil mendapatkan pedang pusaka itu, ibarat harimau tumbuh sayap, siapa lagi yang sanggup merebut pedang itu darinya.
Orang lainnya tidak ada yang memberikan komentar.
Coan lun hoat ong maju satu langkah.
Sepasang lengannya bergetar, tubuhnya mencelat ke atas.
Tahu-tahu dia sudah melayang di ketinggian dua depaan.
Tinggi air mancur itu sendiri hanya satu depa lebih.
Berarti begitu mencelat, tubuhnya sudah melayang di atas pancuran air itu.
Tampak tubuhnya bergeser ke samping sedikit, kemudian meluncur tegak lurus beberapa kaki.
Setelah itu baru melorot turun secara perlahan-lahan.
Beberapa perubahan yang diperlihatkannya benar-benar indah, menimbulkan rasa kagum dalam hati orang-orang yang melihatnya.
Apabila hawa murni dalam tubuh seseorang tidak cukup dalam, tentu tidak bisa melakukan hal itu.
Di saat tubuhnya sedang melorot turun, kebetulan pedang berwarna kehijauan itu sedang bergerak ke atas terpental ayunan air mancur.
Diam-diam hati Coan lun hoat ong merasa senang.
Dia mengamati letaknya yang tepat, kedua jari tangannya segera meluncur ke depan untuk menjepit tubuh pedang.
Gerakan itu sudah diukm dengan seksama.
Tampaknya dengan mudah dia akan mendapatkan pedang yang langka dan tidak ada duanya di dunia itu.
Ketika perasaan Cen Sim Fu mulai menyesal membiarkan lawan mendahuluinya, Coan lun hoat ong justru merasa ada serangkum hawa dingin yang melanda ke arah siku tangannya.
Tadinya Coan lun hoat ong mengira rombongan Cen Sim Fu atau Kim tin siong jin yang membokongnya.
Dalam keadaan darurat, dia masih sempat menolehkan kepalanya sekejap, tapi dia tidak meneniukan kejanggalan apa-apa.
Sedangkan dia tidak bisa menoleh terlalu lama, karena perhatiannya bisa terpencar.
Tetapi barn saja dia menolehkan kepalanya kembali, terasa kedua jari tangannya sudah menyentuh tubuh pedang.
Namun dalam waktu yang hampir bersamaan, lengan kanannya terasa perih, darah segar memercik ke mana-mana.
Ternyata batas sikunya sudah terpotong.
Rasa terkejut Coan lun hoat ong saat itu jangan ditanyakan lagi.
Hawa murni dalam tubuhnya tidak dapat dikendalikan, tubuhnya pun melorot turun seketika.
Perubahan itu datangnya demikian mendadak, tentu saja tidak menunjukkan gejala sedikit pun.
Coan lun hoat ong merasa pandangan matanya menjadi kabur karena percikan darah yang merah tahu-tahu siku tangannya sudah terjatuh ke dalam kolam.
Untuk sesaat, Coan lun hoat ong sendiri tidak tahu apa sebetulnya yang telah terjadi.
Secara spontan tangan kirinya bergerak, dia ingin meraih pedang yang telah niemutus siku tangannya tadi.
Tetapi, baru saja tangan kirinya bergerak ke kanan, tiba-tiba serangkum hawa dingin melintas di depan wajahnya.
Ternyata jari tangan kelingking dan jari tangannya tanpa sebab musabab yang kembali terputus.
Saat itu Coan lun hoat ong henar-benar terkejut hatinya.
Tubuhnya melorot turun kirakira dua kaki.
Dalam waktu yang bersamaan, air di kolam itu memancur ke atas mengenai kepalanya.
Coan lun hoat ong sudah kesakitan sedemikian rupa sehingga kepalanya pusing tujuh keliling, namun guyuran air mancur itu, membuat dirinya tersadar kembali.
Meskipun tenaga dalamnya yang dahsyat sekali masih dapat mempertahankan dirinya dari luka yang demikian parah, tetapi dia juga sadar, apabila tubuhnya sampai terjatuh ke tengah-tengah pancuran air, selembar nyawanya pasti sulit dipertahankan lagi.
Itulah sebabnya, dalam keadaan panik, dia menghimpun hawa murni dalam tubuhnya.
Dengan cepat dia mencelat lagi ke atas kurang lebih tiga kaki, kemudian menggeser tubuhnya sedikit dan memaksakan dirinya menghentak ke samping.
Akhirnya berhasil juga dia terjatuh ke samping kolam, namun saat itu juga dia tidak sadarkan diri.
Semua perubahan itu terjadi dalam sekejap mata.
Begitu Can lun hoat ong terjatuh ke tepi kolam, dua lhama lainnya dari kuil Ga tang segera menghambur ke arahnya.
Dengan sibuk menotok bagian yang terluka agar pendarahannya terhenti.
Sementara itu, tampak siku dan kedua jari tangan Coan lun hoat ong masih terpental kesana kemari oleh gerakan air mancur.
Kemudian tanpa menimbulkan suara sedikit pun, atau mungkin suaranya ada tapi tertutup gemuruh suara air mancur itu, kedua jari tangan dan siku Coan lun hoat ong sudah tercebur ke dalam kolam.
Melihat peristiwa yang terjadi, wajah Kim Ting siong jin dan Cen Sim Fu langsung beruhah hebat.
"Kwe loyacu apakah pedang Bu heng kiam itu benar-benar tidak bisa terlihat sedikit pun?"
Tanya Cen Sim Fu dengan suara parau. Kwe Tok tertawa dingin.
"Kalau bisa terlihat oleh pandangan mata, mana dapat disebut benda pusaka?"
Cen Sim Fu menolehkan kepalanya sekali lagi melihat ke arah kolam.
Tampak pedang yang berwarna kehijau-hijauan itu masih terkatung-katung di tengah udara karena dorongan air mancur.
Untuk sesaat dia termangu-mangu.
"Kalau begitu, siapa pun yang mendapatkan pedang itu dapat melukai lawannya tanpa terlihat sedikit pun?"
Tanya Kim Ting siong jin. Kwe Tok tertawa terbahak-bahak.
"Sudah tentu. Makanya pedang itu juga dinamakan Pedang tanpa rasa. Maksudnya orang yang tertusuk pedang itu tidak sempat merasakan apa-apa tahu-tahu sudah mati. Sayangnya belum tentu kau bisa mendapatkannya."
Kim Ting siong jin mendengus dingin. Dia menolehkan kepalanya.
"Hek Tian Mo, sekarang giliran siapa, kau atau aku?"
Katanya.
Cen Sim Fu menolehkan kepalanya melirik Kim Ting siong jin sekilas.
Diam-diam dia berkata dalam hati, Coan lun hoat ong yang mempunyai tenaga dalam lebih tinggi daripada kami berdua saja, masih menderita luka demikian parah.
Lebih baik jangan mendahului dan beri kesempatan kepada Kim Ting siong jin untuk mencobanya sekali lagi.
"Silakan Tuan turun tangan dulu!"
Katanya. Kim Ting siong jin tertawa pan jang.
"Baik!"
Dia mengangkat anglo emasnya kemudian berjalan ke tepi kolam.
Di sana dia memusatkan pandangan matanya.
Perlu diketahui bahwa hampir seumur hidupnya Kim Ting siong jin di dalam goa yang gelap di daerah Biao.
Ketajaman matanya sungguh sulit dicari duanya di dunia ini.
Setelah dia memperhatikan dengan seksama, merasa di samping pedang berwarna hijau itu, terdapat hawa pedang lainnya yang sedang terayun-ayun seiring gerakan air.
Diam-diam Kim Ting siong jin berpikir dalam hati, seandainya pedang itu tidak bisa tertangkap pandangan mata, tentunya pedang itu tipis sekali.
Dia menatap hawa pedang itu sekejap, tidak sepatah kata pun yang tercetus dari mulutnya, juga tidak segera mengambil tindakan.
Seperti sebuah patung yang tidak bergerak sedikit pun.
Cen Sim Fu mulai tidak sabar melihat tindakannya.
"Apa sih yang kau lihat? Jangan tunda terus waktu kami, cepat ambil tindakan!"
Teriaknya.
Kim Ting siong jin tidak menjawab, sepeminuman teh kembali berlalu, tiba-tiba dia mengeluarkan suara siulan panjang.
Dari balik pakaiannya yang gemerlapan dia mengeluarkan seutas rantai.
Tampak Kim Ting siong jin mengikat bagian ujung rantai di kaki anglo emasnya.
Seteiah itu dia mengangkat anglo emasnya ke atas kemudian membantingnya kembali.
Setelah melakukan hal itu, kembali Kim Ting siong jin memperhatikan air mancur dengan penuh perhatian.
Tidak ada yang tahu apa yang sedang diperbuatnya.
Tetapi tidak ada pula yang menanyakannya.
Sikapnya yang demikian serius membuat orang lainnya menahan nafas melihatnya.
Tetapi sampai sekian lama, tidak ada seorang pun di antara mereka, termasuk Siu Lo Cun Cu yang berhasil melihat pedang tanpa wujud itu.
Seandainya gagang pedang itu masih ada, meskipun batang pedang itu sendiri tidak berwujud, setidaknya gagangnya pasti kelihatan.
Tetapi justru pedang tidak berwujud itu mengalami nasib yang sama dengan pedang hijau.
Gagangnya telah hilang entah berapa ratus tahun yang lalu.
Dengan kekuatan pandangan mata, juga pengerahan segenap perhatian, Kim Ting siong jin baru dapat merasakan adanya hawa pedang lain yang sedang menari-nari di atas air mancur.
Untuk beberapa saat, Kim Ting siong jin berdiri termangu-mangu.
Tiba-tiba terdengar suara dari arah air mancur.
Tang!
Ting!
Tang!
Ting!
Mimik wajah Kim Ting siong jin semakin tegang, dia mempertajam pandangan matanya.
Tampak di samping pedang hijau itu ada segaris bayangan pedang lainnya yang demikian samar sehingga hampir seperti ada dalam khyalannya saja.
Tetapi dia berhasil melihat bayangan pedang yang samar itu justru sedang mencelat ke atas karena gerakan air mancur yang sedang memancur.
Kim Ting siong jin membentak keras-keras.
Dia menghentakkan tangannya, rantai panjangnya telah menggetarkan anglo emasnya sehingga melayang ke atas.
Anglo emas itu membentuk bayangan yang berkilauan meluncur terus menuju hawa pedang tadi.
Gerakannya itu terhitung bukan main cepat-nya.
Tampak anglo emas itu sudah melayang ke samping air mancur.
Terdengarlah suara dentangan yang nyaring.
Kim Ting siong jin gembira sekali.
"Akhirnya berhasil kudapatkan juga ..."
Tetapi belum lagi kata-katanya selesai, tibatiba terdengar lagi suara dentingan.
Cring ...!
Tampak sebuah lubang pada anglo emasnya.
Salah satu kaki anglo itu lepas dari tubuhnya.
Kim Ting siong jin terkejut bukan main.
Padahal tadi dia sudah melihat dengan tepat, jelas-jelas pedang tidak berwujud itu sudah terkait ke dalam anglo emasnya, namun tidak disangka-sangka dalam sekejap mata pedang itu bisa menembus keluar, bahkan menebas salah satu kaki anglo itu.
Dalam keadaan panik, Kim Ting siong jin bermaksud menarik kembali anglo emasnya.
Dia menghentakkan tangannya, namun belum sempat menariknva, tiba-tiba dia merasa bobot rantai itu jadi ringan.
Ternyata rantai yang mengikat kaki angio emas itu juga sudah tertebas putus.
Wajah Kim Ting siong jin pucat pasi, dia mengeluarkan seruan terkejut.
Tampak air kolam memercik ke mana-mana, anglo emasnya terjatuh ke dalam kolam.
Tanpa menimbulkan suara sedikit pun tenggelam ke dalam air yang berpancuran dengan deras.
Anglo emas itu dipandang sehagai sahabatnya yang paling dekat oleh Kim Ting siong jin, bahkan lebih penting dari nyawanya sendiri.
Sekarang bukan saja dia tidak berhasil mendapatkan salah satu pun dari kedua batang pedang pusaka itu, bahkan kehilangan anglo emasnya.
Kim Ting siong jin seperti kalap saking marahnya.
Dia mengibaskan rantai di tangannya kesana kemari tanpa sasaran yang pasti.
Terdengar suara angin menderuderu.
Orang-orang lainnya segera menghindar.
Hanya Siu Lo Cun Cu Kwe Tok seorang yang tidak menghindar, bahkan melangkah ke depan satu tindak, tangannya menjilir ke depan.
Secepat kilat dia menyusup ke dalam bayangan rantai.
Tahu-tahu ujung rantai itu sudah tercekal oleh tangannya.
Kemarahan Kim Ting siong jin semakin meluap-Iuap.
Wajahnya tampak garang.
"Setan tua, apa maksudmu?"
"Kau hanya kehilangan sebuah anglo emas, tetapi selemhar nyawamu masih utuh, seharusnya kau sudah merasa puas!"
Sahut Kwe Tok dengan nada dingin. Kim Ting siong jin membentak dengan suara keras.
"Kentut!"
Tubuhnya berkelebat, kakinya maju satu tindak, jenggot dan rambutnya berkibarkibar, giginya gemerutuk, tinjunya meluncur ke depan mengincar Kwe Tok.
Siu Lo Cun Cu Kwe Tok hanya memandangi dengan tenang.
Tinju itu sebentar lagi akan me-ngenai dadanya.
Gerakan serangan itu cepat sekali.
Tampaknya jaraknya sudah begitu dekat.
Tiba-tiba jari tangan Kwe Tok bergerak ke depan mengirimkan totokan ke arah tangan Kim Ting siong jin.
Kim Ting siong jin sempat tertegun, tetapi serangannya tidak menjadi lambat sedikit pun.
Jurus serangan yang dimainkan Kwe Tok mengandung keanehan yang tidak terkirakan.
Tetapi Kim Ting siong jin mempunyai keyakinan akan tenaga dalamnya sendiri yang dahsyat sekali.
Seandainya jari tangan orang tua itu nekat beradu dengan tangannya, bukankah malah jari tangan orang itu sendiri yang akan patah?
Kim Ting siong jin tidak menarik serangannya kembali.
Gerakan tangannya justru semakin cepat.
Tampaknya sebentar lagi tinjunya akan beradu dengan jari tangan Kwe Tok.
Tetapi justru pada saat itu juga, lengan Kwe Tok bergeser sedikit, jari tangannya bergerak menurun.
Tahu-tahu jalan darah di bagian pinggang Kim Ting siong jin sudah tertotok.
Begitu jalan darah di pinggangnya tertotok, lengan Kim Ting siong jin jadi lemas seketika.
Padahal saat itu tinjunya hanya tinggal setengah cun saja dapat menghantam dada Kwe Tok.
Rasa terkejut Kim Ting siong jin saat itu benar-benar tidak terlukiskan.
Cepat-cepat dia mencelat ke belakang.
Kwe Tok juga tidak mengejarnya.
"Siau Cen, giliranmu sekarang!"
Kata Kwe Tok dengan nada dingin.
Jilid 10________ Hek Tian Mo Cen Sim Fu melihat dua orang rekannya yakni Coan lun hoat ong sudah terluka cukup parah dan yang seorang lagi Kim Ting siong jin kehilangan anglo emasnya.
Tetapi keduanya tidak mendapat hasil apa-apa.
Diam-diam dia sudah mempunyai perhitungan tersendiri.
Sementara itu, mendengar kata-kata Kwe Tok, Cen Sim Fu langsung tertawa cekikikan.
"Kwe loyacu, pedang pusaka yang tidak berwujud itu ternyata demikian hebat. Apakah kau ada akal untuk mendapatkannya?"
"Tentu saja ada,"
Jawab Kwe Tok. Cen Sim Fu tersenyum.
"Kwe loyacu, apakah kau memerlukan bantuan orang lain?"
"Tidak,"
Sahut Kwe Tok sinis.
Padahal Cen Sim Fu mempunyai rencana.
Dia tahu kekuatannya sendiri tidak mungkin sanggup meraih pedang itu.
Itulah sebabnya dia menawarkan jasanya untuk membantu Kwe Tok mengambil pedang itu.
Meskipun akhirnya dia hanya memperoleh pedang hijau itu, yang penting tidak sampai pulang ke Tiong goan dengan tangan kosong.
Lagi pula pedang hijau itu juga termasuk pedang pusaka yang sulit dicari tandingannya bukan?
Tidak disangga Kwe Tok terang-terangan menolak jasa yang ditawarkannya.
Cen Sim Fu jadi kehilangan kesempatan untuk memperalat orang tua itu.
Akhirnya dia hanya dapat tertawa sumbang.
"Kalau begitu, rasanya aku harus berusaha sendiri."
Selesai berkata, Cen Sim Fu langsung berjalan menuju tepi kolam.
Di sana dia berhenti sejenak.
Tiba-tiba tangannya tampak menjulur ke depan lalu mengibas, sebatang senjata rahasia sudah disambitkannya ke atas.
Senjata rahasia itu meluncur bagai sambaran kilat cepatnya menuju pedang berwarna hijau.
ilmu menyambitkan senjata rahasia Cen Sim Fu sudah mencapai taraf yang tinggi sekali.
Begitu senjata rahasia itu meluncur ke atas, langsung terdengar suara.
Cring!
Ternyata sambitannya tidak meleset sedikit pun, tepat mengenai batang pedang hijau.
Pedang hijau itu terpental keluar dari air mancur dan melesat ke samping sejauh satudua kaki.
Namun baru saja terpental keluar, pedang itu terhempas lagi oleh pancuran air lainnya, sehingga membuyarkan tenaga sambitan rahasia tadi.
Cen Sim Fu tidak putus asa.
Jari tangannya menyentil heberapa kali berturut-turut, tiga batang senjata rahasia disambitkannya kembali.
Tiga batang senjata rahasia itu tepat mengenai batang pedang.
Tenaga dalam yang dipancarkan ke dalam jari tangan Hek Tian Mo besar sekali.
Ketiga batang senjata rahasia itu tepat mengenai tubuh pedang sehingga pedang itu terpental sekali lagi sejauh satu depa lebih.
Jelas pedang itu sudah meluncur keluar dari pancuran air.
Hati Cen Sim Fu tegang sekali, cepat dia menghentakkan sepasang kakinya, lalu meluncur ke depan.
Cen Sim Fu mengambil arah kanan untuk mengitari kolam itu.
Entah bagaimana, baru saja dia sampai di seberang kolam dan melihat pedang hijau itu melorot turun, tibatiba tampak sesosok bayangan berkelebat.
Tahu-tahu bayangan itu sudah sampai di samping pedang hijau.
Ketika Cen Sim Fu bergegas menjulurkan tangannya untuk meraih pedang hijau itu, tahu-tahu orang lain sudah lebih dulu mengambilnya.
Kemarahan dalam dada Cen Sim Fu benar-benar meluap.
"Siapa?"
Tanyanya.
"Aku!"
Sahut orang itu dengan nada dingin.
Cen Sim Fu memperhatikan dengan seksama, orang itu ternyata Siu Lo Cun Cu Kwe Tok.
Tadinya Cen Sim Fu mengira pasti orang lain yang datang merebut pedang itu dari jangkauannya, dia sama sekali tidak menyangka, Kwe Tok yang melakukannya.
Saat itu, ketika melihat jelas orang yang merebut pedang itu memang Siu Lo Cun Cu hatinya terkejut bukan main, wajahnya langsung berubah hebat.
"Kwe lo yacu, sungguh tidak disangka orang tua seperti kau bisa mengingkari kata-katanya sendiri."
Kedua jari tangan Kwe Tok menjepit pedang hijau itu.
"Siapa yang mengingkari katakatanya?"
Sahutnya dengan nada dingin.
"Baru saja kau mengatakan, kalau aku berhasil mendapatkan pedang itu, kau tidak akan merebutnya. Sekarang, coba lihat, apa yang kau lakukan?"
Cen Sim Fu menganggap sindirannya itu pasti akan membuat Kwe Tok membungkam tanpa sanggup menjawab sepatah kata pun.
Tidak tahunya, setelah mendengar sindirannya itu, Kwe Tok malah tertawa terbahak-bahak.
"Siau Cen, kalau saja aku terlambat bertindak, pedang hijau yang langka ini pasti sudah menghilang dari dunia bu lim untuk selamanya."
Hek Tian Mo Cen Sim Fu tertegun sejenak.
"Kenapa?"
"Tadi kau lihat sendiri bahwa pedang itu meluncur lurus menuju ke dalam kolam, seandainya kau tidak sempat meraihnya dan pedang itu sampai tercebur ke dalam kolam, siapa orang di dunia ini yang sanggup mengambilnya lagi?"
Tadi, ketika melihat pedang itu terpental keluar, Cen Sim Fu panik berlari memutari kolam.
Dia tidak sempat memperhatikan ke mana arah luncuran pedang itu.
Tapi dia sudah menyambitkan beberapa batang senjata rahasia sehingga pedang itu terpental keluar dari pancuran air, sekarang jerih payahnya malah sia-sia.
Pedang itu direbut oleh Kwe Tok.
Mana mungkin dia sudi melepaskan kesempatan itu begitu saja?
Cen Sim Fu merenung sejenak.
"Kwe loyacu, apakah tidak ada kesempatan lagi bagiku untuk mendapatkannya?"
Katanya. Kwe Tok tertawa terbahak-bahak.
"Tentu saja boleh!"
Sembari berkata, dia mencelat ke belakang beberapa tindak. Dia menjauhi kolam tersebut.
"Aku akan menyambitkan pedang ini ke depan. Seandainya kau bisa menyambutnya, pedang ini akan menjadi milikmu."
Hek Tian Mo Cen Sim Fu tertawa dingin satu kali.
"Kau mengerahkan tenaga dalam menyambitkannya, sedangkan pedang itu begitu tajam, mana mungkin aku sanggup menyambutnya?"
Baru saja kata-katanya selesai, terdengar Sin Lo Cun Cu memekik aneh, gerakan tubuhnya seperti kilat.
Tiba-tiba dia menerjang kearah Cen Sim Fu.
Pada dasarnya Cen Sim Fu memang rada takut kepada Kwe Tok.
Apalagi sekarang di tangan orang tua itu bertambah sebatang pedang yang demikian tajam?
Karena itu, begitu melihat Kwe Tok menerjang datang, saking terkejutnya dia sampai pucat pasi.
Tubuhnya berkelebat, dia menghindar ke samping.
Ilmu kepandaian Hek Tian Mo Cen Sim Fu hampir seimbang dengan almarhum Gin Leng Hia Ciang I Ki Hu.
Dengan demikian sudah terhitung jago kelas satu di dunia kang ouw.
Gerakan menghindarnya itu juga cepatnya tidak terkirakan.
Tetapi, baru saja tubuhnya bergerak, lengan Kwe Tok tiba-tiba menjulur ke depan.
Pedang yang warnanya hijau berkilauan itu sudah menghadang di depannva.
Seandainya Cen Sim Fu nekat menghindar terus ke depan, sama saja artinya dia menyorongkan tubuhnya agar tertusuk pedang hijau itu.
Bisa-bisa pinggangnya akan tertebas putus seketika.
Melihat keadaan itu, sukma Cen Sim Fu seakan melayang entah kemana.
Sinar pedang yang warna hijau berkilauan itu sungguh mengerikan.
Dalam keadaan panik, dia menahan gerakan tubuhnya.
Batang pedang itu hanya tinggal setengah cun dari pinggangnya.
Seluruh tubuh Cen Sim Fu dibasahi peluh dingin.
Untuk sesaat dia berdiri termangumangu.
Sedangkan dalam keadaan terpaku, dia masih bingung apa sebetulnya yang sedang terjadi.
Dan dia juga tidak tahu apa yang akan dilakukan Kwe Tok terhadapnya.
Tangan kiri Kwe Tok terangkat ke atas.
Plok ...!
Muka Cen Sim Fu kena tamparan Kwe Tok.
Dan dalam waktu yang bersamaan, orang tua itu pun mencelat ke belakang.
Semua itu terjadi dalam sekejap mata.
Yang lerlihat oleh orang lain hanya cahaya hijau yang melintas lalu tubuh Kwe Tok menghambur ke depan.
Plok ...!
Tahu-tahu pipi Cen Sim Fu sudah tertampar lagi.
Setelah mencelat ke belakang, Kwe Tok memaki dengan nada berat.
"Siau Cen, kau kira Kwe yayamu ini manusia yang demikian rendah?"
Hek Tian Mo Cen Sim Fu kena ditamparnya satu kali.
Setelah tertegun sejenak, dia baru menyadari bahwa dirinya ternyata masih hidup.
Sampai dia mendengar makian Kwe Tok, baru menyadari bahwa kata-katanya tadi telah menyinggung perasaan orang tua itu.
Dan Kwe Tok hanya memberinya pelajaran, bukan ingin membunuhnya.
Untuk sesaat dia terpaku memikirkan apa yang dialaminya barusan seandainya Kwe Tok berniat jahat kepadanya kemungkinan itu besar sekali dan mungkin saat itu dirinya sudah celaka.
Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya.
"Kalau begitu, mohon tanya bagaimana caranya Kwe loyacu ingin menyelesaikan masalah pedang itu?"
Siu Lo Cun Cu Kwe Tok tertawa dingin.
"Aku akan melemparkan pedang ini ke atas, kalau kau mempunyai kemampuan, silakan sambut. Tapi kalau sampai gagal, salahkan kepandaianmu sendiri yang terlalu cetek!"
Diam-diam Cen Sim Fu berpikir di da lam hati, asalkan dia berhasil mendapatkan pedang itu meskipun ilmu kepandaian Kwe Tok tinggi sekali, rasanya juga tidak perlu ditakutkan.
"Baik!"
Sahutnya. Siu Lo Cun Cu menggerak-gerakkan pedang itu sedikit, bermaksud melemparkan pedang itu ke atas, tiba-tiba terdengar I Giok Hong berseru.
"Kwe lo sian sing, tunggu dulu!"
Kwe Tok menolehkan kepalanya.
"A Hong, aku ini Siok kongmu, mengapa kau memanggilku dengan sebutan Lo sian sing?"
I Giok Hong tidak langsung menjawab, tampak seperti mempertimbangkan sejenak.
"Kwe lo sian sing, kau dengarkan dulu kata-kataku sampai selesai, nanti kau sendiri bisa mengerti mengapa aku menyebutmu demikian."
"Katakanlah,"
Kata Kwe Tok.
"Tadi Hek Tian Mo menggunakan senjata rahasia mementalkan pedang itu dari pancuran air. Kalau lo sian sing tidak cepat-cepat mengambil tindakan, pedang itu pasti sudah lenyap untuk selamanya. Karena itu, lo sian sing melemparkan pedang itu ke atas, kecuali Hek Tian Mo, setiap orang lainnya juga berhak ikut merebut, entah bagaimana pendapat lo sian sing mengenai usulku ini?"
Belum lagi Kwe Tok sempat menyahut, Hek Tian Mo sudah membentak dengan suara tajam melengking.
"Siapa yang ingin berebutan denganku?"
I Giok Hong maju satu langkah.
"Aku!"
Sahutnya.
Orang-orang lainnya langsung tertegun mendengar kata-kata gadis itu.
Kenyataannya, mes-kipun Hek Tian Mo Cen Sim Fu tadi sempat menderita kerugian, tetapi sampai di mana tingginya kepandaian orang itu, tidak ada yang meragukannya lagi.
Sedangkan I Giok Hong lebih-lebih terpaut jatuh.
Sekarang melihat gadis itu berani terang-terangan menyatakan dirinya akan ikut merebut pedang itu, benar-benar tidak diduga oleh mereka.
Kwe Tok sendiri juga tertegun.
"A Hong, satu hal yang harus kau ketahui, meskipun kau cucu keponakanku, tapi dengan alasan peraturan bu lim, aku tidak bisa memberikan bantuan kepadamu!"
I Giok Hong tersenyum.
"Lo sian sing. itulah sebabnya aku memanggilmu seperti itu. Apabila mengharap kau orang tua memilih kasih, mana boleh ikut merebut pedang pusaka itu?"
Kwe Tok tertawa terbahak-bahak.
"Bagus! Sikapmu persis seperti ibumu. Bagus sekali."
I Giok Hong maju lagi selangkah.
Dia berdiri berhadapan dengan Cen Sim Fu.
Jarak keduanya dengan Kwe Tok kurang lebih satu depa.
Tao Heng Kan yang berdiri di samping merasa panik dan berdebar-debar melihat kenekatan I Giok Hong.
"Giok Hong, apakah kau mempunyai keyakinan bisa ikut merebut pedang itu?"
I Giok Hong tersenyum tawar.
"Tenang saja!"
Wajah Kwe Tok tampak berseri-seri.
"Siapa lagi yang ingin mengambil bagian dalam perebutan ini?"
Kim Ting siong jin yang sejak tadi diam saja segera maju satu langkah.
"Masih ada aku."
Ketiga orang yang ingin merebut pedang itu segera berkumpul membentuk posisi segi tiga. Sinar mata Kwe Tok mengedar melirik ketiga orang itu sekilas.
"Aku akan menghitung sampai tiga, lalu melemparkan pedang ini ke atas."
Mimik wajah Cen Sim Fu dan Kim Ting siong jin terlihat tegang sekali.
Sebaliknya, penampilan I Giok Hong justru sangat tenang.
Dia berdiri dengan kedua tangan disilangkan di depan dada dan bibirnya terus menyunggingkan senyuman.
Meskipun wajahnya juga dipenuhi urat-urat merah yang bertonjolan, tetapi pada dasarnya dia memang seorang gadis yang cantik sekali, keanggunannya sudah melekat pada dirinya.
Karenanya jati dirinya tidak berkurang sedikit pun.
Apalagi apabila dia mau mengubah wataknya yang jelek.
Yah ...
Manusia memang tidak ada yang sempurna bukan?
Terdengar Kwe Tok mulai menghitung.
"Satu ... dua ... tiga!"
Tepat pada hitungan ketiga, tangannya bergerak ke depan, tampak pedang yang warnanya hijau bening itu melayang ke atas.
Ketika mencapai ketinggian dua depa lebih pedang itu baru melorot turun kembali.
Kim Ting siong jin dan Cen Sim Fu memperhatikan dengan seksama.
Mereka memusatkan pandangan pada pedang itu.
Begitu pedang melorot turun, keduanya mengeluarkan suara bentakan keras lalu menerjang ke depan dalam waktu yang bersamaan.
Gerakan tubuh kedua orang itu begitu cepat bagai kilasan kilat.
Tangan Cen Sim Fu mengibas, tiga batang senjata rahasia masing-masing mengeluarkan suara desingan melesat ke arah Kim Ting siong jin.
Dan hampir dalam waktu yang bersamaan, Kim Ting siong jin juga mengirimkan sebuah pukulan.
Jarak kedua orang itu memang dekat sekali, ketika sama-sama menerjang ke depan, jelas jaraknya semakin dekat.
Kedua-duanya tidak ada yang sempat menghindarkan diri.
Ketiga batang senjata rahasia yang disambitkan Cen Sim Fu tepat mengenai pundak Kim Ting siong jin dan pukulan Kim Ting siong jin menghantam telak di dada Cen Sim Fu.
Blam ...!
Cen Sim Fu merasa tenaga yang terkandung dalam pukulan Kim Ting siong jin dahsyat sekali.
Terdengar dia mendengus satu kali lalu memaksakan diri untuk memantapkan kakinya agar jangan sampai terjatuh.
Sementara itu, tangannya mengibas ke depan sehingga tubuh Kim Ting siong jin terhuyung-huyung dan tergetar mundur setengah tindak.
Gerakan keduanya memang cepat, tetapi luncuran pedang hijau itu tidak kalah cepatnya.
Baru saja Cen Sim Fu menggetarkan Kim Ting siong jin sehingga terdesak mundur, pedang hijau itu sudah tinggal kurang lebih tiga kaki dari atas kepalanya.
Cen Sim Fu mendongakkan wajahnya.
Dia merasa cahaya hijau itu menyilaukan pandangan matanya.
Padahal dadanya sudah terluka cukup parah akibat pukulan Kim Ting siong jin.
Tetapi saat itu semangatnya kembali berkobar-kobar.
Mengetahui adanya harapan untuk mendapatkan pedang pusaka, cepat-cepat Cen Sim Fu menjulurkan tangannya untuk menjepit pedang yang sedang meluncur turun itu.
Tetapi tepat pada saat itu juga, Kim Ting siong jin memekik aneh, telapak tangannya menghantam ke depan sehingga pedang hijau yang sedang meluncur itu condong ke samping.
Cen Sim Fu segera merasakan sesuatu yang tidak beres, cepat-cepat dia menarik tangannya kembali, tapi sudah terlambat.
Ces ...!
Tampak cahaya hijau berkelebat, tangan kanan Cen Sim Fu terasa dingin.
Kecuali jempol, keempat jari lainnya sudah terputus oleh kilasan pedang hijau.
Tentu saja Kim Ting siong jin kegirangan melihatnya.
Dia bergegas maju satu tindak untuk meraih kesempatan yang terluang.
Tapi Cen Sim Fu yang sedang kesakitan, tanpa sengaja menghentakkan tangannya ke atas, jari jempol yang kehilangan empat anggotanya yang lain secara kebetulan mengenai tubuh pedang sehingga terpental keluar lagi.
Selama Kim Ting siong jin dan Cen Sim Fu berusaha mendapatkan pedang hijau itu, I Giok Hong tetap berdiri memandangi semua yang berlangsung dengan tenang.
Ketika membuka suara akan ikut dalam perebutan itu, tentunya sudah mempunyai persiapan yang matang.
Pada dasarnya I Giok Hong memang cerdik sekali.
Dia menyadari apabila dia tidak menyatakan ikut dalam perebutan pedang itu, Kim Ting siong jin juga tidak akan mengambil tindakan apa-apa.
Begitu dia membuka mulut, sudah dapat menduga bahwa Kim Ting siong jin pasti tidak mau ketinggalan.
Kalau kedua orang itu terlibat perkelahian sengit, I Giok Hong sendiri jelas akan mendapat kesempatan meraih pedang itu.
Sebab perempuan itu menyadari, di bawah daya tarik benda pusaka, keduanya tentu tidak akan memperdulikan hal lainnya, dan hanya ingin mencapai tujuannya dengan cara apa pun.
Lagipula, bila dua ekor harimau saling mencakar, pasti ada satu pihak yang akan terluka.
Apalagi yang diperebutkan merupakan sebatang pedang pusaka yang bukan main tajamnya.
Tentu I Giok Hong berharap kedua-duanya akan terluka parah.
Perkembangannya sampai saat itu memang persis seperti apa yang diduganya.
Tetapi kata-kata pepatah memang tepat, manusia hanya bisa merencanakan, Tuhan pula yang menentukan.
Di saat pedang itu terpental keluar, Cen Sim Fu dan Kim Ting siong jin terus menerjang ke depan.
Di tengah-tengah terjangan itu, mereka masih sempat mengadu pukulan sebanyak tiga kali.
Tidak diragukan lagi keduanya sama-sama terluka setelah beradu pukulan sebanyak tiga kali.
Dan tepat pada saat itu pula I Giok Hong sudah melesat mendahului mereka.
Namun I Giok Hong juga gagal meraihnya, karena pedang hijau itu meluncur terus ke arah Tao Ling.
Lie Cun Ju terkejut setengah mati.
Dia khawatir kalau Tao Ling yang sudah musnah kepandaiannya itu akan terluka.
Tanpa memperdulikan keselamatan dirinya dia menjulurkan tangannya untuk menjepit pedang itu.
Tindakan Lie Cun Ju itu berbahaya sekali.
Pedang itu meluncur begitu cepat, jika dia melakukan kesalahan sedikit saja, bukan hanya tangannya yang tidak berhasil menjepit pedang itu, bahkan ada kemungkinan dadanya akan tertembus serta mati seketika.
Tetapi demi keselamatan Tao Ling, Lie Cun Ju tidak sempat berpikir panjang lagi.
Begitu dia menjulurkan kedua jari tangannya dengan gerakan spontan, ternyata pedang itu sudah berhasil dijepitnya.
Lie Cun Ju pun tertegun seketika.
Tangan kirinya bergerak dan digenggamnya bagian ujung pedang itu.
Dia sama sekali tidak pernah menduga bahwa pedang pusaka yang tiada duanya di dunia ini dapat dijepitnya tanpa kesulitan sedikit pun.
Begitu dia berhasil mendapatkan pedang itu, I Giok Hong pun menyusul tiba.
Hati perempuan itu marah sekali.
Dengan berbagai akal licik, dia ingin mendapatkan pedang itu, justru Lie Cun Ju yang tidak perlu menguras otak sedikit pun yang mendapatkannya.
"Berikan pedang itu!"
Bentaknya.
Lie Cun Ju sendiri sudah mengambil keputusan untuk mengundurkan diri dari dunia bu lim, bahkan dia juga tidak menyayangkan apabila kepandaiannya dimusnahkan oleh Kwe Tok, apalagi cuma sebatang pedang.
Tapi ketika dia bermaksud menyodorkan pedang itu kepada I Giok Hong, Tao Ling berkata dengan nada berbisik.
"Cun Ju, jangan!"
Lie Cun Ju merasa heran.
"Ling moay, untuk apa kita miliki pedang ini?"
Pelupuk mata Tao Ling mulai membasah, hampir saja dia tidak dapat menahan isak tangisnya.
"Cun Ju, dendam kematian kedua orang tuaku masih belum terbalaskan. Malah bencana yang menimpa mereka juga karena pedang pusaka ini."
Wajah I Giok Hong menjadi garang seketika.
"Dengan mempertaruhkan nyawa aku merebut pedang itu, kau ingin menarik keuntungan tanpa keluar tenaga?"
Ucapnya.
Kaki gadis itu mundur satu langkah, lalu mengayunkan pecutnya.
Dengan jurus Pohon Liu bersemi di bulan lima, dia menyerang Lie Cun Ju.
Padahal Lie Cun Ju sudah bertekad tidak ingin berkelahi dengan siapa pun.
Tetapi dalam keadaan seperti itu, mau tidak mau harus membalas serangan I Giok Hong.
Pedang hijau di tangannya dikibas-kibaskannya ke depan.
Tampak cahaya kehijauan berkelebat, tahu-tahu pecut di tangan I Giok Hong sudah terputus menjadi dua bagian.
I Giok Hong terkejut setengah mati, dia berteriak seperti orang kalap.
"Siok kong, pedang hijauku!"
Siu Lo Cun Cu Kwe Tok mengernyitkan keningnya.
"Lie kongcu, untuk apa kau menginginkan pedang itu? Perlu kau ketahui bahwa lebih baik jadi orang biasa. Apabila kau sampai memiliki pedang itu, maka untuk seumur hidup kau tidak akan merasakan ketenangan lagi. Para tokoh di seluruh dunia ini akan mengejar-ngejarmu demi mendapatkan pedang itu."
"Apa yang dikatakan cianpwe memang benar, tetapi Tao kouwnio ingin meminjam pedang ini guna membalaskan dendam kematian kedua orang tuanya. Setelah selesai, kami berjanji akan mengembalikannya."
I Giok Hong mendengus dingin.
"Bicara sih gampang, kalau sampai waktunya nanti kalian tidak mengembalikan, bagaimana?"
Belum lagi Lie Cun Ju sempat memberikan jawaban, Kim Ting siong jin dan Cen Sim Fu yang sedang bertarung dengan sengit, mulai memperlihatkan hasilnya.
Ternyata salah seorang dari mereka sudah terkulai di atas tanah.
Rupanya ketiga batang senjata rahasia yang disambitkan Cen Sim Fu mengandung racun jahat.
Sedangkan Kim Ting siong jin yang terkena serangan senjata rahasia itu, tidak sempat beristirahat sedikit pun.
Dengan demikian racun jadi menyebar ke dalam seluruh tubuhnya.
Lengah sedikit, dadanya terkena hantaman Cen Sim Fu sekali lagi, sehingga tubuhnya terpental ke belakang sejauh satu depa lebih.
Sang Cin dan Sang Hoat segera menghambur mendekati gurunya.
Kim Ting siong jin menolehkan kepalanya, dia melihat Coan lun hoat ong dan dua orang lhama lainnya sudah meninggalkan goa itu.
Meskipun perasaannya kurang puas, tapi tidak ada lagi yang dapat diiakukannya.
Terpaksa dia berkata kepada Sang Cin dan Sang Hoat.
"Kalian berdua cepat papah aku mengundurkan diri dari goa ini!"
Sang Cin dan Sang Hoat segera mengiakan.
Mereka memondong tubuh Kim Ting siong jin kemudian keluar dari goa itu.
Sementara itu, Cen Sim Fu juga terluka cukup parah.
Keringat dan darah menyatu meninggalkan noda di seluruh pakaian dan wajahnya.
Tetapi dia masih mempertahankan diri agar jangan sampai ambruk.
Saat itu dia melihat I Giok Hong sedang berdebat dengan Lie Cun Ju memperebutkan pedang hijau.
Dan tampaknya Lie Cun Ju seperti tidak ingin mempertahankan pedang itu.
Apabila pemuda itu sampai menyerahkannya kepada I Giok Hong, bukankah pengorbanan dan jerih payahnya sia-sia saja?
Karena itu cepat-cepat dia berkata dengan nada sinis.
"I kouwnio, jangan lupa bahwa aku juga ada bagian dalam pedang itu. Mengapa dia harus menyerahkannya kepadamu?"
Sepasang alis I Giok Hong menjungkit ke atas.
"Bagus, kalau begitu kau rebut saja sendiri!"
Cen Sim Fu tertawa terbahak-bahak.
"I kouwnio, kau kira aku tidak mempunyai kesanggupan lagi untuk melakukannya?"
Dia segera mengedarkan hawa murni di seluruh tubuhnya. Tampak rambutnya berdiri tegak seperli sapu ijuk. Dapat dibayangkan sampai di mana tenaga dalam yang dimilikinya.
"Siapa yang bilang kau tidak punya kesanggupan? Silakan kau rebut saja!"
Cen Sim Fu mengambil posisi berdiri dengan sebelah telapak tangan menahan dada.
Dia sudah mengukur dengan seksama jarak antaranya dengan Lie Cun Ju.
Sebuah serangan yang dahsyat sudah siap dilancarkannya.
Lie Cun Ju juga sudah maju satu tindak..
Pedang hijaunya digetarkan dan siap ditikamkan ke depan.
Namun pada saat itu juga, terdengar Tao Ling berkata.
"Tidak, Cun Ju! Biar aku membalas sendiri dendam kematian kedua orang tuaku!"
Lie Cun Ju terkejut setengah mati.
"Ling moay, apa yang kau katakan?"
Mimik wajah Tao Ling serius sekali.
"Aku ingin membalas dendam sendiri dendam sedalam lautan ini"
"Tapi... tapi seluruh kepandaianmu sudah musnah, bagaimana kau bisa berkelahi lagi?"
Tao Heng Kan yang berdiri di samping juga ikut menjadi panik.
"Moay moay, biar aku saja yang turun tangan!"
Tao Ling melirik sekilas dengan sorot mata dingin.
"Koko, kau tidak perlu turun tangan!"
Tao Heng Kan jadi bingung mendengar kata-katanya.
"Kenapa?"
Tao Ling memaksakan dirinya untuk tersenyum.
"Antara kau dan dia ada hubungan guru dan murid mana boleh kau turun tangan terhadapnya?"
Wajah Tao Heng Kan jadi merah padam mendengar sindiran adiknya.
"Moay moay, kau toh tahu aku mengakuinya sebagai guru karena terpaksa, kau kira aku rela melakukannya?"
Tao Ling menarik nafas panjang.
"Koko, aku juga demi kebaikanmu, meskipun dia sudah terluka, kepandaiannya tetap tinggi, kau tidak dapat mengalahkannya."
"Moay moay, kau jangan mengoceh sembarangan lagi. Kalau aku saja tidak dapat mengalahkannya, apalagi kau!"
I Giok Hong yang berdiri di samping mendengar mereka terus berdebat tiada hentinya.
Kesabarannya mulai habis.
Sebetulnya dia benci sekali kepada Tao Ling, ingin rasanya membiarkan perempuan itu yang membalas dendam agar mati di tangan Cen Sim Fu.
Tapi dia juga khawatir, kalau Tao Ling tidak becus sehingga pedang hijau itu malah terjatuh ke tangan lawan.
Apabila hal itu sampai terjadi, tentu sulit lagi baginya untuk mendapatkan pedang itu.
Dengan membawa pikiran demikian, dia segera ikut membujuk.
"Tao kouwnio, sebaiknya kau jangan keras kepala!"
Air mata Tao Ling terus mengalir dengan deras. Namun mimik wajahnya menyiratkan kekerasan hatinya yang tidak mudah ditaklukkan.
"Kalian tidak perlu menasehati lagi! Kalau aku tidak bisa membalaskan dendam kematian kedua orang tuaku, seumur hidup ini aku tidak akan merasa tenang."
Lie Cun Ju semakin panik.
"Ling moay, tapi kalau kau sampai..."
"Cun Ju, jangan bicara lagi! Keputusanku sudah bulat."
Lie Cun Ju menarik nafas panjang.
"Ling moay, masih ada sedikit perkataan yang ingin kuutarakan, kau harus mendengarkannya!"
"Katakanlah!"
"Ling moay, kita sudah mengalami berbagai penderitaan dan baru sekarang kita bisa berkumpul kembali. Apabila terjadi sesuatu padamu, aku pasti akan mengikutimu."
Tao Ling tertegun beberapa saat, kemudian dia menarik nafas panjang sekali lagi.
"Berapa banyak manusia yang saling mencintai di dunia ini, tetapi tidak dapat bersatu. Cun Ju, hati kita telah menyatu, apabila kita meniang tidak ditakdirkan untuk berjodoh di dunia ini, aku rasa lebih baik mati saja. Mungkin di alam baka kita dapat bersatu untuk selamanya. Bukankah begitu?"
Perasaan Lie Cun Ju semakin perih mendengar kata-kata Tao Ling. Dia menyerahkan pedangnya kepada perempuan itu. Tao Ling menyambutnya kemudian berkata kepada Cen Sim Fu.
"Hek Tian Mo, turun tanganlah!" ***** Saat itu kepandaian Tao Ling sudah musnah, dirinya tidak berbeda dengan orang biasa. Lagipula, keadaannya masih lemah sekali. Tidak berbeda dengan orang yang baru sembuh dari sakit parah. Dia berdiri sambil bersandar di bahu Lie Cun Ju. Bahkan kelihatannya jauh lebih lemah dari orang biasa. Ketika dia berusaha melangkahkan kakinya ke depan, tampak tubuhnya terhuyung-huyung. Lie Cun Ju cepat-cepat melangkah maju untuk membimbingnya. Tetapi Tao Ling justru mengibaskan tangannya.
"Cun Ju, jangan mendekat! Biar aku seorang diri saja menghadapinya!"
Luka Cen Sim Fu juga sangat parah.
Tetapi dia melatih tenaga dalamnya selama puluhan tahun.
Di saat Tao Ling dan Lie Cun Ju terlibat pembicaraan dia sudah mengatur pernafasannya.
Dengan demikian kekuatannya sudah pulih sebagian.
Sementara itu, dia juga sudah dapat melihat keadaan Tao Ling yang siapa pun bisa meroboh-kannya.
Tetapi Cen Sim Fu tetap menjaga jaraknya dengan Tao Ling satu depa lebih dan tidak berani mendekatinya.
Pertama, Cen Sim Fu merasa agak ngeri menghadapi pedang hijau di tangan Tao Ling.
Kedua, dia khawatir keadaan Tao Ling yang begitu lemah sebetulnya hanya dibuatbuat saja alias pura-pura.
Kemungkinan dia memang ingin menjebak dirinya.
Kalau tidak, mengapa dia seyakin itu menghadapinya seorang diri?
Kedua orang itu berdiri berhadapan sampai cukup lama, akhirnya tampak Tao Ling meng-geretakkan giginya erat-erat.
"Hek Tian Mo. Dengan kejam dan tanpa belas kasihan sedikit pun kau mencelakai kedua orang tuaku di tepi danau dekat gurun pasir. Semuanya aku lihat dengan jelas. Mengapa sekarang kau belum turun tangan juga?"
Cen Sim Fu tertawa dingin.
"Aneh, kan engkau yang ingin membalaskan dendam bagi kedua orang tuamu, mengapa aku yang dengan sempoyongan harus turun tangan terlebih dahulu?"
Dengan sempoyongan Tao Ling maju lagi satu langkah.
"Baiklah, aku yang akan turun tangan terlebih dahulu!"
Pada saat itu, orang yang paling panik sudah tentu Lie Cun Ju dan Tao Heng Kan.
Yang pertama merupakan pemuda yang mencintai Tao Ling dan sudah mengalami berbagai cobaan yang tidak alang kepalang beratnya dan baru saja bisa berkumpul kembali.
Meskipun Tao Ling sudah menjadi istri almarhum I Ki Hu dan bahkan sekarang sedang mengandung anak dari laki-laki itu Lie Cun Ju tetap mencintainya.
Yang kedua, adalah abang kandungnya sendiri.
Tao Ling merupakan satu-satunya keluarganya yang masih hidup di dunia ini.
Tentu saja Tao Heng Kan mengkhawatirkan keselamatan adiknya.
Tampak Tao Ling melangkah lagi ke depan satu tindak kemudian menggerakkan pedang pusaka itu dengan perlahan-lahan.
Meskipun tenaga dalamnya sudah musnah, tetapi gerak gerik setiap jurus ilmu pedang masih belum dilupakannya.
Pada dasarnya ayah Tao Ling merupakan seorang jago pedang yang sudah mempunyai nama besar di dunia bu lim yakni Pat sian kiam.
Dan yang dikerahkan Tao Ling saat itu justru salah satu jurus terhebat dari Pat Sian kiam hoat.
Tao Ling memainkan jurus itu tanpa mengandung tenaga sedikit pun.
Tetapi pedang hijau di tangannya memang bukan pedang sembarangan.
Bukan saja bobotnya yang begitu ringan, tetapi ketika digerakkan dapat memantulkan segurat cahaya kehijauan yang membuat mata lawan menjadi silau sehingga tidak dapat menentukan dengan tepat arah sasaran pedang itu.
Tao Ling menikamkan pedang itu ke depan.
Cen Sim Fu menggeser tubuhnya ke samping.
Wajah Tao Ling tampak pucat pasi, tenaganya lemah sekali tetapi dia memaksakan diri untuk memutar pergelangan tangannya dan mengganti jurus serangannya.
Kali ini dia mengerahkan jurus Orang tua menunggang keledai.
Sepasang kaki Cen Sim Fu menghentak di atas tanah, lain mencelat ke belakang satu depa lebih.
Meskipun kepandaian Tao Ling sudah musnah dan serangannya tidak mengandung kekuatan, tetapi tampaknya Cen Sim Fu merasa gentar.
Dia hanya menghindarkan diri ke sana sini dan tidak membalas serangan kembali.
Setelah mengerahkan dua jurus serangan, nafas Tao Ling mulai memburu.
"Mengapa kau tidak balas menyerang?"
Tanyanya dengan nafas tersengal-sengal.
Pada saat itu Cen Sim Fu sudah dapat melihat bahwa kelemahan Tao Ling sama sekali bukan dibuat-buat.
Tanpa disadari keberaniannya jadi tergugah.
Dia tidak menjawab pertanyaan Tao Ling, hanya melirik sekilas kepada I Giok Hong dan Kwe Tok.
Dia melihat kedua orang itu sedang berbicara dengan saling berbisik.
Suara mereka lirih sekali.
Entah apa yang mereka bicarakan.
Cen Sim Fu tahu, saat itu merupakan kesempatan yang paling baik baginya.
Coba pikirkan saja, keadaan Tao Ling begitu lemah, tentu tidak sulit baginya untuk merebut pedang itu dari tangan Tao Ling.
Dan apabila dia sudah berhasil mendapatkan pedang itu, mengapa harus takut lagi kepada Kwe Tok?
"Silakan kau serang aku sesuka hatimu, kau tidak usah perdulikan apa pun yang kulakukan!"
Kata Cen Sim Fu dengan suara berat.
Tao Ling menarik nafas dalam-dalam sebanyak dua kali.
Dia juga menggeretakkan giginya erat-erat.
Dia memaksakan kakinya meiangkah lagi ke depan.
Salah satu jurus dari Pat Sian kiam kembali dilancarkan.
Pedang itu terus meluncur mengancam dada Cen Sim Fu.
Bayangan pedang berpijar.
Pada saat itu Tao Ling memaksakan dirinya mengerahkan tenaga yang tersisa, bahkan tubuhnya pun ikut condong ke depan seiring gerakan pedang di tangannya.
Cen Sim Fu tertawa terbahak-bahak.
Tangan kirinya meluncur ke depan, jari tengahnya mengincar batang pedang dengan maksud ingin menotok agar Tao Ling tersungkur jatuh.
Serangan Cen Sim Fu itu terlalu berani, sebab sebetulnya berbahaya sekali.
Tapi dia sudah memperhitungkannya matang-matang.
Jangan kan Tao Ling sekarang demikian lemah.
Meskipun tenaga dalamnya masih ada, dia pasti terhempas karena totokan pada batang pedang itu.
Tetapi, apa yang terjadi justru sebaliknya.
Justru karena tenaga dalam Tao Ling sudah mus-nah maka terjadilah perubahan yang tidak disangka-sangka.
Tubuh Tao Ling sudah demikian lemah, apalagi dia memaksakan dirinya untuk menggerakkan pedang mengirim serangan.
Baru setengah jalan, tangannya sudah tidak kuat mempertahankan luncuran pedangnya.
Tanpa dapat dipertahankan lagi, tangannya terkulai sedikit dan pedangnya itu pun bergerak ke bawah.
Hal itu malah membuat serangan Tao Ling seperti mengandung jurus yang bukan main anehnya.
Perubahan itu tidak mungkin terjadi apabila tenaga dalam Tao Ling masih seperti sedia kala.
Dan tepat pada saat pedangnya melorot turun, totokan Cen Sim Fu pun sampai.
Pedang yang bukan main tajamnya itu kebetulan melintas sekilas ke arah jari tangan Cen Sim Fu.
Bukan saja totokan orang itu tidak mengenai sasarannya, bahkan tiba-tiba dia merasa tangannya perih tidak terkirakan.
Ketika dia menoleh sekejap, ternyata jari tengahnya juga sudah putus.
Cen Sim Fu marah sekali.
Secepat kilat dia memutar pergelangan tangannya dan menghantam ke depan.
Coba bayangkan saja, tangan kanan Cen Sim Fu sudah kehilangan empat jarinya, dan sekarang tangan kirinya kembali kehilangan satu jari.
Dengan demikian jari tangannya hanya tinggal separuh dibandingkan dengan manusia normal Iainnya.
Tubuh Tao Ling sedang condong ke depan.
Ketika terkena pukulan Cen Sim Fu, tubuhnya langsung terpental ke belakang.
Dalam waktu yang bersamaan, mulutnya membuka serta memuntahkan segumpal darah segar.
Dia pun terhempas keras di atas tanah.
Cen Sim Fu tidak memperdulikan darah yang masih menetes dari jari tangannya yang terputus.
Melihat keadaan Tao Ling, dia tidak menyia-nyiakan kesempatan yang baik itu.
Lagi-lagi sebuah pukulan dilancarkannya dari atas ke bawah.
Tao Ling yang baru terhempas di atas tanah, berusaha membaiikkan tubuhnya.
Tangannya diangkat ke atas dengan maksud menahan serangan Cen Sim Fu.
Melihat cahaya yang berkilauan dari pedang itu, serangan Cen Sim Fu yang tadinya diarahkan ke kepala berubah menjadi mengarah ke dada.
Tetapi seperti pertama tadi, tangan Tao Ling tidak kuat terangkat lama-lama.
Terlihat tangannya mulai mengulai ke bawah.
Dan lagi-lagi hal itu tidak mungkin terjadi dalam perkelahian para tokoh bu lim.
Jelas Cen Sim Fu terkejut setengah mati.
Cepat-cepat dia menyurutkan tangannya kembali.
Namun karena terlalu bersemangat ingin membunuh Tao Ling dengan sekali hantaman, dia mengerahkan tenaga sepenuhnya.
Sekarang apabila mendadak dia ingin menarik tangannya kembali, gerakannya jadi tertunda sedikit.
Dan waktu yang beberapa detik itu saja ternyata sudah terlambat.
Terdengar dia mengeluarkan suara pekikan histreis, tubuhnya melonjak ke atas seketika.
Sebuah lengan kirinya telah tertebas putus oleh pedang pusaka di tangan Tao Ling.
Menghadapi seorang perempuan yang kepandaiannya sudah musnah, Cen Sim Fu mengalami dua kali kerugian yang besar.
Bagaimana kemarahannya tidak semakin meluap?
Sedangkan di pihak Tao Ling, keadaannya juga tidak lebih baik.
Karena memaksakan diri berlebihan.
Kembali dia memuntahkan segumpal darah segar dan tubuhnya sempoyongan.
Wajahnya sudah begitu pucat sehingga tidak enak dilihat.
Keadaannya tidak jauh berbeda dengan orang yang sedang menjelang ajalnya.
Cen Sim Fu menggigit ujung lengan pakaiannya sehingga terkoyak sebagian dan dijadikan alat untuk membalut lukanya.
Berkali-kali dia menggerung kalap.
Dia bermaksud menerjang lagi ke arah Tao Ling.
Namun tepat pada saat itu juga terdengar suara bentakan Kwe Tok.
"Tunggu dulu!"
Cen Sim Fu langsung tertegun. Kwe Tok sudah berjalan menghampiri Tao Ling.
"Tao kouwnio, rasanya kau tidak sanggup lagi membalaskan dendam kematian kedua orang tuamu. Lebih baik abangmu saja yang melakukannya!"
Dalam hati Tao Ling menyadari bahwa apa yang dikatakan Kwe Tok memang tidak salah.
Kondisinya sudah terlalu parah.
Tetapi dia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk membalaskan dendam bagi kedua orang tuanya.
Setelah termenung sejenak, dia berkata dengan tegas.
"Tidak!"
Kwe Tok menggelengkan kepalanya berkali-kali melihat kekerasan hati perempuan itu.
"Tao kouwnio, aku kagum sekali dengan sikapmu. Tetapi kau harus sadar bahwa saat ini nafasmu sendiri tinggal satu-satu. Mana mungkin kau sanggup bertarung lagi?"
Tao Ling memaksakan dirinya untuk tesenyum.
"Pokoknya selama masih bernafas, aku tetap akan membalas dendam!"
Kwe Tok menarik nafas panjang.
"Baiklah, Tao kouwnio. Apabila kau sampai mati sebelum berhasil mencapai tujuanmu, aku pasti akan membalaskan dendammu!"
Meskipun Kwe Tok merupakan seorang tokoh dari golongan sesat, namun di balik kejahatannya masih terselip jiwa kependekaran.
Buktinya dia bisa membatalkan hukuman yang tadinya akan dijatuhkan kepada Lie Cun Ju dan mengucapkan kata-kata barusan.
"Terima kasih, Kwe lo yacu,"
Kata Tao Ling. Hek Tian Mo Cen Sim Fu terkejut mendengarkan kata-kata Kwe Tok.
"Kwe loyacu, apakah kau tidak memahami peraturan dunia kang ouw lagi?"
"Siau Cen, selamanya aku tidak pernah mengikuti peraturan dunia kang ouw, masa sekarang kau baru mengetahuinya?"
Sahut Kwe Tok ketus.
Wajah Cen Sim Fu langsung berubah hebat.
Tiba-tiba tubuhnya berkelebat dan melesat ke arah pintu goa.
Tao Ling tidak menyangka tokoh seperti Cen Sim Fu ternyata begitu pengecut serta tidak malu-malu mengambil langkah seribu dalam keadaan terdesak.
Dengan gerak spontan, perempuan itu mengangkat tangannya ke atas lalu menyambitkan pedang hijau itu ke arah punggung Cen Sim Fu!
Tapi, tenaga dalam Tao Ling sudah tidak ada.
Meskipun pedang hijau itu tinggal batangnya saja sehingga ukurannya pendek serta ringan, dia hanya sanggup menyanbitkannya sejauh tiga-empat depa.
Cep ...!
Pedang itu menancap di dinding goa.
Dalam waktu yang bersamaan, Cen Sim Fu sudah berhasil menyelinap ke luar.
Tao Ling menarik napas panjang.
Lie Cun Ju cepat-cepat menghambur ke depan lalu membimbingnya.
I Giok Hong segera melesat mendekati pedang hijau dan mencabutnya.
Terdengar gadis itu tertawa terbahak-bahak.
Cahaya pedang hijau menyilaukan mata, tahu-tahu dia sudah melancarkan serangan ke arah dada Tao Ling.
Perubahan ini terjadi dengan begitu mendadak.
Lie Cun Ju terkejut setengah mati, dengan panik dia menarik tubuh Tao Ling agar menghindar ke samping.
Baca Juga: Pedang Ular Emas Yin Yong
Baca Juga: Bentrok Para Pendekar 6