Eps 7 Perguruan Sejati - Khu Lung
Baca online Perguruan Sejati - Khu Lung
Cersil Perguruan Sejati - Khu Lung.
"Toako jangan mengira soal Hoay Giok san sudah beres..."
"He he he, masih ada ekornya !"
Kata Liok Jie Hui.
"Apa ekornya ?"
Bentak Lauw Siu Kim.
"Aku bermaksud baik untuk menyampaikan kabar penting ini, tapi sikap Toako dan Toaso demikian macam, membuatku tak bisa mengatakan apa-apa lagi !"
Sehabis berkata Liok Jie Hui membalik tubuh, hendak berlalu.
"Stop !"
Seru Lauw Siu Kim.
"Apakah Toaso tak mengijinkan aku pulang ? "Biar tempatku semacam ini, tapi tak kuijinkan sembarang orang keluar masuk seenaknya mengerti ? Sebelum engkau terangkan sejelas-jelasnya ekor peristiwa Hoay Giok san, jangan harap bisa berlalu seenak hati !"
"Habis sikapmu itu seperti menghadapi musuh saja, maka lebih baik kupulang saja !"
"Pokoknya kuminta engkau menjelaskan ! Ingat ini tempatku !"
Ancam Lauw Siu Kim.
"Tapi sikap Toako dan Toaso begitu macam, seolah-olah tidak percaya saja, mana mau aku menjelaskan."
"Liok Toako jangan gusar, sebagai sahabat lama tentu tahu tabiat istriku ini, kuharap engkau jangan marah !"
Kata Na Beng Sie.
"Mana berani aku marah-marah."
"Nah bicaralah....."
Desak Na Beng Sie.
"Baiklah,"
Kata Liok Jie Hui.
"aku mendengar kabar bahwa kedua pedang pusaka yang terdapat didaerah Hoay Giok san jatuh ke tangan seseorang...."
"Orang itu siapa ?"
Tanya Na Beng Sie.
"Kalau kusebutkan, Toako dan Toaso bisa kaget sendiri, ia akan datang mengobrak-abrik pulau Hiu ini..."
Liok Jie Hui sengaja tak meneruskan perkataannya, menunggu reaksi sipendengar.
Lauw Siu Kim jadi geregetan menghadapi tamunya yang licik ini, ia tak bisa berbuat apa-apa kecuali bersabar, karena ingin mengetahui siap orang itu yang ingin mengobrak-abrik sarang mereka.
"Liok Toako perkenalan kita bukan sekarang-sekarang saja, engkau harus tahu sendiri tabiat istriku, tak perlu diambil dihati akan sikapnya tadi."
Na Beng Sie mulai melunak dan bersikap ramah.
"Sejujurnya seumur hidup kami tidak ada yang kami takutkan, tapi mendengar perkataanmu barusan, membuat kami ingin tahu siapa manusia yang berani membuka mulut lebar itu !"
"Na Toako, kabar ini kuketahui secara kebetulan saja, bilamana tidak akupun tak bisa tahu...."
Liok Jie Hui masih tetap belum mau menerangkan dengan jelas.
"Atas kebaikanmu ini kuhaturkan terima kasih,"
Kata Na Beng Sie.
"Atas ini tak perlu Toako menghaturkan terima kasih,"
Kata Liok Jie Hui.
"Sudah sepantasnya aku mewartakan kabar ini pada Jie wie.
"Ya kabar apa ?"
Bentak Lauw Siu Kim dengan gusar.
"Soalnya begini,"
Liok Jie Hui mulai mengarang cerita yang tidak-tidak.
"Toako dan Toaso mungkin tidak tahu, pedang pusaka yang diperebutkan kita tempo hari jatuh ditangan In Tiong Giok."
"Ha ha ha jadi bocah itu yang kau maksud mau mengobrak-abrik tempatku ini ?"
Tanya Lauw Siu Kim.
"Toaso jangan pandang enteng kepadanya,"
Kata Liok Jie Hui.
"dengarkanlah dulu ceritaku ! In Tiong Giok sekarang bukan seperti In Tiong Giok yang dulu. Ia sudah lihay sekali, karena telah mempelajari Keng thian cit su secara sempurna. Bahkan telah menjadi ahli pedang kelas wahid. Soal ia lihay tidak kuhiraukan, yang membuatku sakit hati adalah perbuatan curangnya...."
"Kenapa curang ?"
Tanya Na Beng Sie.
"Apakah Toaso tidak tahu, sejak Keng thian cit su meluas didunia Kang Ouw, berbagai cabang persilatan mempelajari ilmu itu dengan tekun. Sehingga dalam waktu singkat ini mereka telah mendapatkan suatu hasil yang boleh juga. Maka itu kalau kita jalan-jalan didunia Kang Ouw bisa melihat pasangan-pasangan muda berjalan bersama-sama kesana kemari. Tahukah, kenapa mereka berjalan berpasangan ?"
"Karena mereka meyakinkan Keng thian cit su dengan brdua dengan begitu kedahsyatannya ilmu pedang itu baru bisa dikembangkan bukan ?"
"Apakah Na Tgoako mempelajari ilmu pedang itu berdua juga ?"
"Dalam buku itu sudah jelas diterangkan, ilmu pelajaran itu harus dipelajari berdua bukan ?"
"Itu salah, yang benar semua kaum bulim kena ditipu In Tiong Giok !"
Kata Liok Jie Hui.
"Ia menulis buku itu tidak lengkap, sedangkan untuknya sendiri adalah yang lengkap !"
Na Beng Sie dan Lauw Siu Kim setengah percaya setengah tidak keterangan tamunya yang licik itu.
"Dari mana engkau bisa memastikannya berlaku curang ?"
"Mula pertama akupun tidak menyangka buruk pada pemuda itu, dan mempelajari Keng thian cit su dengan tekun, tapi bagaimana kupelajari ada beberapa bagian yang tidak bisa merangkai satu sama lain. Mula pertama kuanggap pelajaran itu memang sukar dimengerti dan harus sabar menyelaminya. Tapi tak kira bocah itu dalam waktu singkat sudah begitu pandai dan lihay...semua ini karena ia memiliki buku yang lengkap dan sempurna!"
"kelihayannya itu dibesar-besarkan saja, padahal belum tentu begitu kenyataannya !"
Kata Na Beng Sie.
"Tadinya kuanggap memang begitu, tapi kudengar lagi berita selanjutnya dengan seorang diri In Tiong Giok membuat orang-orang Pok Thian Pang kocar kacir !"
"Mungkinkah terjadi hal itu ?"
"Untuk membuktikan soal ini aku membuang waktu lama sekali, dan baru bisa bertemu dengannya dikota Lam Ciong. Apa yang dikatakan orang-orang Kang Ouw soal kelihayan pemuda itu sedikitpun tak salah, ia telah memiliki kepandaian yang benar-benar luar biasa...."
"Hmm, bocah itu, bocah itu berada dikota Lam Ciong ?"
Tanya Lauw Siu Kim.
"Benar ! Tujuannya yakni untuk menaklukkan kalian berdua !"
"Kalau dipikir panjang, bocah itu tidak punya permusuhan apa-apa dengan kami, kenapa mau mengobrak-abrik tempat ini ?"
Kata Na Beng Sie.
"Karena waktu terjadi perebutan pedang pusaka Toako dan Toaso ikut serta bukan ? Nah setiap yang ikut memperebutkan pedang itu satu persatu akan dihantamnya...."
"Panggil dia kemari, aku tidak takut !"
TeriakLauw Siu Kim.
"Toaso jangan gusar apa yang kukatakan ini adalah benar dan tak salahnya berlaku waspada, hitung-hiutng sebelum hujan sedia paying."
"Hm, menghadapi bocah semacam itu tak perlu berjaga-jaga !"
"Toaso jangan memandang enteng, jaman ini hanya dia yang pandai Keng thian cit su secara sempurna."
"Tak perlu menunggu ia datang, aku bisa mencarinya dikota Lam Ciong,"
Kata Lauw Siu Kim.
"Anak-anak siapkan perahu !"
Perintahnya saat itu juga.
"Buat apa begitu bernafsu, kalau ia mau datang kemari, tak perlu kita mencarinya,"
Cegah Na Beng Sie. Lauw Siu Kim yang berangasan, mana mau mendengar nasehat suaminya lagi, ia mau berangkat saat itu juga.
"Toako tak usah tergesa-gesa, untuk menghadapinya aku mempunyai satu akal baik."
"Akal apa ?"
Tanya Na Beng Sie. Liok Jie Hui segera membisiki Na Beng Sie dengan perlahan, setelah itu tuan rumah membisiki istrinya. Kemudian dipanggilnya Oey Tin Hong dan memesannya beberapa patah kata.
"Lekas jalankan perintahku ini !"
Oey Tin Hong dengan tergesa-gesa meninggalkan ruangan itu, berlari keluar.
Dan tak selang lama dari empat penjuru terdengar genta berbunyi, disusul dengan terlihatnya cahaya api yang terang benderang diempat penjuru, dalam waktu sekejap saja pulau kecil itu sudah menjadi ramai dan gaduh serta tegang.
Melihat kejadian ini, Tiong Giok tahu bahwa kehadiran dirinya siang-siang sudah diketahui Liok Jie Hui yang licik itu.
Baru tubuhnya mau pindah ketempat lain.....
Liok Jie Hui sudah bergelak-gelak dengan keras .
"Na Toako bagaimana ? Percaya tidak akan kata-kataku ?"
Na Beng Sie dan Lauw Siu Kim bersama dengan delapan bocah-bocah kecil dengan cepat memburu kearah menara pengintai.
"Liok Jie Hui mulutmu beracun sekali,"
Kata In Tiong Giok.
"Namun jangan harap kau berhasil meminjam golok membunuh orang !"
Kata In Tiong Giok seraya mencelat pergi, gerakan tubuhnya luar biasa sekali, membuat Hek pek siang yauw terheran-heran.
"Bocah, engkau jangan bermulut besar, biar bagaimana engkau tak bisa meninggalkan pulau dalam keadaan hidup,"
Jawab Liok Jie Hui.
"Kejar !"
Teriak Lauw Siu Kim.
In Tiong Giok todak mau ribut, ia berlari dengan cepat ketempat dimana perahu ditambat.
Begitu ia sampai hatinya menjadi mencelos, karena perahunya sudah hilang.
Sedang pengejar susul menyusul sudah tiba dibelakangnya.
"Bocah she In, perahu sudah kusimpan ketengah-tengah danau ! Kecuali terbang jangan harap bisa meninggalkan pulau ini !"
Ejek Na Beng Sie.
In Tiong Giok sedikitpun tidak takut menghadapi Siang Yauw, tapi ia tahu bilamana terjadi perkelahian antara dia dengan Siang Yauw yang untung adalah Liok Jie Hui.
Maka itu ia berlari lagi menghindari perkelahian.
Karena ia sadar, Liok Jie Hui ingin memperalat Siang Yauw untuk kepentingan dirinya, disamping itu iapun ingin menggunakan tenaga Tiong Giok untuk menyingkirkan Siang Yauw.
Dengan begini ia bisa bebas dan tidak kuatir pada siapa-siapa lagi, guna merampas pedang dari tangan Tiong Giok.
Siang Yauw mengejar terus, sedangkan Liok Jie Hui tidak henti-hentinya menghasut suami istri itu.
"In Tiong Giok untuk apa berlari-lari seperti maling kesiangan, kau kira bisa lolos dari tangan Hek pek siang yauw yang tersohor lihay ?"
Na Beng Sie tidak termakan propokasi itu, tapi Lauw Siu Kim lain dengan suaminya, amarahnya menjadi-jadi, maka dikejarnya pemuda kita dengan sekuat tenaga.
"Toaso hati-hati, ilmu pedang bocah ini lihay sekali !"
Seru Liok Jie Hui.
Tiong Giok tidak kenal keadaan, tak selang lama dirinya kena dikejar nyonya rumah yang terus melakukan serangan dengan kedua bilah pedangnya secara bengis.
Tiong Giok mengandalkan telinganya yang lihay mengetahui bagian dadanya diserang musuh, maka dengan mendadak ia berhenti berlari, dan membungkukkan tubuh menghindarkan serangan.
Lauw Siu Kim kelewat bernafsu kurang mengontrol dirinya, maka menyelonong terus kedepan dan jungkir balik terganjel tubuh lawannya.
Saat itu kalau Tiong Giok mau berlaku kejam, orang she Lauw itu akan berhenti menjadi orang dibawah hiat cie lengnya yang ampuh.
Na Beng Sie yang menyaksikan kejadian ini hampir-hampir berteriak bahwa kagetnya.
Tapi Tiong Giok tidak menurunkan tangan melakukan serangan, tubuhnya berbalik dan lari lagi.
Pengejar berkelebat-kelebat dari empat penjuru, dalam sekejap Tiong Giok telah terkepung.
"Kenapa Lo Cianpwee mendesak sekali ?"
Tanya Tiong Giok memasang mata. Siang Yauw belum menjawab, Liok Jie Hui telah mendahului.
"Bocah apa tujuanmu datang kepulau ini tanpa diundang ? Kini apa lagi yang hendak kau katakana ? Sebaiknya lekaslah menyerah !"
Tiong Giok tersenyum meringis.
"Aku ingat jasamu membebaskan aku dari Pok Thian Pang dan menghargai engkau sebagai Bulim Cap Sah Kie. Tapi tak kira sebagai orang tuaan bukan saja engkau tak bisa memberi contoh baik kepada yang mudaan, malahan berlaku sebagai dorna yang mengadu domba sesama orang Kang Ouw demi kepentingan sendiri."
"Hm, sudah tahu dirimu keluar dari Pok Thian Pang karena jasaku, kenapa sikapmu memusuhi aku, ini boceng (tidak membalas guna) untuk ini engkau harus mampus,"
Kata Liok Jie Hui seenaknya dan terus membelah tongkatnya menjadi dua pedang.
"Na Toako aku sebagi tamu, sebenarnya tak pantas menindak bocah ini, tapi perbuatannya kelewat kurang ajar, kumohon diberi ijin menghajarnya sekarang juga."
Liok Jie hui sengaja mengatakan demikian dan bersikap mau menyerang padahal aksinya itu hanya gertakan saja.
Akal liciknya ini benar-benar membawa hasil, Lauw Siu Kim yang berangasan merasa mangkel kena dijungkalkan ia mau membalas dendam.
Dan tak mau didahului tamunya.
"Sabar !"
Serunya.
"Ini adalah tempatku, takperlu engkau turun tangan, kami masih sanggup membekuknya."
Digapainya empat bocah kecil yang berpedang.
Dan disuruhnya mereka melawan Tiong Giok.
Empat bocah itu manggut-manggut dan terus memecahkan diri, dua kekanan dua kekiri.
Dengan tak diduga-duga empat bocah ini melakukan serangan dengan berbareng, yang kiri melancarkan jurus Dua Pedang Melintas Di Utara, yang dikanan melancarkan jurus permukaan luar menyambung awan.
Dua jurus ini adalah gerakan maut dari Keng thian cit su.
Menyaksikan kelihayan bocah-bocah kecil yang berbakat besar ini, timbul rasa sayang Tiong Giok pada mereka.
Dengan tersenyum ia menggerakkan sepasang lengannya, melancarkan jurus Tujuh keindahan yang bergabung, mematahkan serangan-serangan bocah kecil itu.
Ia bergerak belakangan tapi serangannya lebih dulu sampai dari lawan-lawannya.
Lagi pula ilmu kepandaiannya telah tinggi jauh dari bocah-bocah cilik itu.
Maka biar bertangan kosong ia tetap lebih unggul banyak, dan dalam waktu segebrakan saja, keempat bocah-bocah cilik itu susul menyusul dilucuti senjatanya tanpa berdaya.
Bocah-bocah itu yang tampaknya mungil-mungil, terpaku dengan keheran-heranan seperti terkesima.
"Kalian masih kecil sudah punya kepandaian Keng thian cit su dengan baik. Pedang kalian kena kulucuti, karena kalian melakukan kesalahan. Pertama empat orang maju berbareng dengan dua jurus, daya serangannya kurang kuat dan ampuh, seharusnya memakai empat jurus sekaligus."
"Kedua jurus yang barusan seharusnya dipakai menyerang keatas dan kebawah, tak boleh rata seperti barusan, nah ingatlah baik-baik."
Keempat bocah tampaknya masih ragu, tanpa bilang apa-apa lagi mereka memungut pedangnya masing-masing dan mundur teratur. Menyaksikan kejadian ini Lauw Siu Kim naik pitam, dengan keras ia membentak .
"Bocah keparat, coba pecahkan seranganku ini !"
Tubuhnya dengan kecepatan kilat melompat keudara, dengan sedikit gerakan pinggangnya ia menukik turun membawa serangan dahsyat dengan jurus Dua Pedang melintang diudara.
Satu jurus yang serupa dengan Keng thian cit su, seperti yang digunakan bocah-bocah tadi.
Tapi berubah begitu hebat dan luar biasa daya serangannya.
Tiong Giok menatap keatas dengan perasaan kagum, ia tak berani gegabah seperti menhadapi bocah-bocah tadi.
Kaki kirinya dengan cepat bergerak kesamping, lengan kanannya serentak menghunus Hong siat kiam.
Kemilauan sinar pedang pusaka membuat lIok Jie Hui dan Na Beng Sie terkesiap.
Demikian pula dengan Lauw Siu Kim, ia tak bisa menarik lagi serangannya.
Maka itu pedangnya sekali bentrok telah menjadi patah.
Tubuhnyapun turun terus mendekat pedang pusaka yang luar biasa itu.
Ia tak berani membuka mata lagi, pikirnya akan mati terbelah detik itu juga....
"Siu Kim..."
Teriak Na Beng Sie.
Ia mencintai istrinya melebihi dirinya sendiri.
Kini ia harus menyaksikan kematian istrinya tanpa berdaya, ia merasa sedih sekali dan putus asa.
Ia memeramkan mata dengan berduka....
Tapi diluar dugaan Siang Yauw sekali lagi Tiong Giok berbuat baik, ia menarik pedangnya kesamping dan membiarkan bahu kirinya ketempat pedang buntung musuhnya, sehingga terluka dan berdarah.
Lauw Siu Kim sangat lihay, begitu pedangnya menyerempet musuh, segera bersalto dan turun dibumi dengan mata menuding seolah-olah ia tidak percaya musuh itu berlaku murah kepadanya.
Biarpun lukanya mengeluarkan darah, tak membahayakan jiwa, maka Tiong Giok tak menghiraukannya barang sedikitpun.
Ia memasukkan pedangnya kedalam serangka.
Lalu merangkapkan tangan memberi hormat kepada nyonya rumah .
"Dengan sejujurnya jurus yang dilancarkan Lo Cianpwee sudah sempurna sekali dan tak bisa dipecahkan. Aku mengandalkan ketajaman pedang pusaka inilah baru berhasil menyelamatkan diri."
Lauw Siu Kim masih menjublek seperti patung, seperti mendengar seperti tidak mendengar apa yang diucapkan lawannya.
Sedangkan Na Beng Sie sewaktu membuka mata kembali, melihat istrinya tidak kurang suatu apa, segera berjingkrakan dengan girangnya.
Dipeluknya sang istri sambil menanya dengan telaten .
"Siu Kim kau tidak kenapa-napa ?"
Lauw Siu Kim menjadi sadar begitu saja terpeluk suaminya.
"Hm, apakah engkau menyesal aku tak mampus siang-siang ?"
"Siu Kim apa maksudmu berkata begitu ? Lihatlah bocah ini akan kuhajar, biar hatimu menjadi puas !"
"Hm, barang siapa berani mengganggu barang seujung rambut dari In Siau hiap ini harus berhitungan denganku !"
Kata Lauw Siu Kim.
"Apa ? Bagaimana ?"
Tanya Na Beng Sie merasa serba salah menghadapi istrinya ini. Lauw Siu Kim menoleh kearah Liok Jie Hui.
"Orang she Liok, bagaimanapun engkau adalah tamuku, maka tak bisa aku berlaku kurang pantas padamu. Tapi kalau lain hari engkau berani memijakkan kaki kepulau ini, tiada ampun bagimu !"
Liok Jie Hui adalah orang cerdik, ia mengerti aya yang dialami nyonya rumah barusan.
"Toaso apa artinya budi sekecil itu, sampai harus mengusirku pergi ?"
"Tutup mulutmu jangan sampai aku membalik muka sekarang juga, lenyaplah dari sini !"
"Baik...baik, aku segera pergi...."
"Ingat sejak hari ini aku tak mau kenal lagi dengan manusia licik sepertimu ! Engkau tukang tipu yang pandai mengadu domba sesama orang Kang Ouw ! Engkau mengatakan In Siau hiap datang untuk mengobrak-abrik tempat ini, nyatanya mana ?"
"Ini....ini...sebab...."
"Jangan banyak mulut lagi, pergilah lekas ! Kalau merasa kurang puas engkau boleh mengumpulkan kawan-kawanmu, aku menanti setiap saat !"
Kata Lauw Siu Kim dengan mendelik.
"Siapkan perahu dan bawa dia pergi !"
Tang !
Tang !
Tang !
terdengar bunyi genta tiga kali, ini adalah isyarat bahaya telah berlalu.
Perahu-perahupun berkumpul lagi dipantai.
Dengan diiringi empat bocah kecil Liok Jie Hui diantar sampai keperahu.
Ia tersenyum dingin atas perlakuan tuan rumah, tapi tak berani berkata apa-apa lagi.
Lauw Siu Kim memandang Tiong Giok sambil tersenyum.
"In Siau hiap aku menghaturkan banyak terima kasih atas kemurahan hatimu ! Bilamana tidak, mungkin aku sudah menjadi setan gentayangan."
"Lo Cianpwee jangan berkata begitu, semua ini gara-gara Liok Jie Hui yang jahat itu,"
Kata Tiong Giok. Seraya menuturkan bagaimana ia menguntit sidorna itu dan sampai dipulau Hiu ini.
"Atas kelancanganku ini aku minta dimaafkan."
"Jangan berkata begitu, biarpun orang-orang Kang Ouw menganggap Hek pek siang yauw sebagai momok yang kejam. Tapi didalam hal membedakan antara budi dan dendam kami punya garis yang tegas. Maka kebaikanmu itu biar bagaimana tak bisa kulupakan. Andaikata dibelakang hari In Siau hiap membutuhkan bantuan kami, biarpun menerjang lautan api kami bersiap sedia. Kini berilah muka dan mampir ditempat tinggalku."
Melihat kesungguhan dari tuan rumah, Tiong Giok tidak berani menolak, maka ia mengikuti masuk kedalam rumah.
Dan dipersilahkan duduk disebuah aula yang luas dan terang benderang karena banyaknya lilin yang dipasang.
Beberapa pelayan datang membawa obat luka, Tiong Giok diobati secara telaten sekali, membuatnya merasa syukur dan terima kasih.
Oey Tin Hong menghampiri sambil memberi hormat, lagaknya tidak seperti dulu, mungkin dikarenakan tambah usia sifatnyapun jadi berubah.
Berikutnya Siau Lam Siong datang memberi hormat seperti yang dilakukan banci tadi.
Setelah beres kenalan, hidangan dan minuman berturut-turut datang.
Dan terjadilah pesta secara mendadakan dengan meriahnya.
Sambil makan dan minum Lauw Siu Kim maupun Na Beng Sie tak henti-hentinya bertanya ini itu pada tamunya.
Tiong Giok tanpa ragu-ragu menceritakan segala pengalamannya dengan jujur, sehingga tuan dan nyonya rumah merasa puas.
"Jadi orang tuamu ada di Lam Ciong ? Kupikir dari pada dibawa ke Kiu yang shia, lebih baik dibawa kemari !"
Kata Lauw Siu Kim.
"Soalnya bukan menolak nih,"
Kata Tiong Giok.
"Aku sudah berjanji dengan Tong Cian Lie akan membawa ibuku kesana, atas kebaikan Jie wie Lo Cianpwee kuhaturkan banyak terima kasih."
Setelah mendengar penjelasan dan alasan Tiong Giok, Siang Yauw tidak mendesak lagi.
Perjamuan atau pesta itu berlangsung sampai terang tanah, In Tiong Giok pun baru diperkenankan pulang oleh tuan rumah.
Dengan rasa berat mereka melepaskan Tiong Giok pulang, tapi memesannya berulang-ulang agar pemuda itu sering-sering datang ketempatnya.
Atas ini Tiong Giok menghaturkan terima kasih dan terus naik perahu meninggalkan pulau itu......
Sesampainya di hotel, merasa heran sekali, karena melihat banyak orang yang berkerumun, melongok-longok kebagian belakang dari hotel Huo Peng.
Cepat-cepat ia melangkah kedalam.
Pemilik hotel begitu melihat dirinya segera menyambut dengan tesenyum dan membungkuk-bungkuk.
"Kongcu kasihanilah kami, hotel ini adalah sumber pencaharian kami yang sebenar-benarnya......maka tolonglah kami."
"Memang kenapa ?"
"Kumohon dengan sangat agar Kongcu mau pindah dari penginapanku ini,"
Ratap pemilik hotel.
"Soal pembayaran jangan dipikirkan....tolonglah kami !"
"Sebenarnya apa yang terjadi dan membuatmu memaksa kami pindah dengan mendadak begini ?"
"Soalnya....kawan-kawanmu membuat ribut dan berkelahi....aku takut....kerembet-rembet,"
Kata pemilik hotel dengan terbata-bata.
"Oh begitu,"
Kata Tiong Giok. Dan cepat-cepat membalik tubuh menuju kebelakang. Saat ini kebetulan sekali Ceng Ceng keluar.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi di hotel ini ?"
"Oh.....soal kecil yang tak berarti,"
Jawab Ceng Ceng.
"Tapi pemilik hotel sengaja membesar-besarkan dan ketakutan tak keruan....."
"Bukannya kami mengusir, tapi minta tolong,"
Ratap pemilik hotel.
"Ini terpaksa kulakukan karena.....karena takut balasan mereka."
"Tentunya orang-orang Liok Jie Hui....."
"Benar !"
Sahut Ceng Ceng.
"Siau cu jin tak perlu kuatir, segala cecunguk-cecunguk semacam itu biar datang terlebih banyak lagi aku masih sanggup menyikatnya. Mari masuk, mereka menantikanmu dengan cemas !"
"Engkau tak usah kuatir, soalku pasti takkan merembet-rembet dirimu,"
Hibur Tiong Giok pada pemilik hotel.
"Soal pindah harus kudamaikan dulu dengan kawan-kawanku...."
"Terima kasih...terima kasih,"
Pemilik hotel berulang-ulang memberi hormat dengan terbungkuk-bungkuk.
Didalam kamar tampak ibunya, Tio Ma dan Wan Jie sedang memperbincangkan soal dirinya yang tidak pulang semalam suntuk.
Bagitu ia melangkah masuk, mereka menjadi girang, dan menanya ini itu secara melit.
Dengan penuh kesabaran Tiong Giok menuturkan apa yang dialaminya secara ringkas tapi jelas.
"Kupikir engkau kemana pergi begitu lama, kiranya pergi ke pulau Hiu segala,"
Wan Jie sedikit menggerendeng.
"Kalau kupikir kejadian semalam seperti mimpi saja, disana aku bertempur, tak tahunya disinipun kamu bertempur,"
Kata Tiong Giok.
"Ya waktu itu aku seorang diri menghadapi empat musuh, keadaan benar-benar gawat sekali. Untunglah Ceng Ceng dan Siau Bwee keburu datang. Sehingga dalam waktu sekejap kami berhasil membunuh dua musuh ! Yang dua lagi segera lari ! Waktu mau terang tanah tiba-tiba Liok Jie Hui sendiri yang datang, kupikir akan terjadi lagi perkelahian, tak kira orang tua licik itu tak mau berkelahi, ia hanya membawa mayat anak buahnya, pergi dan tak datang lagi."
"Untung Siau cu jin berlaku cerdik,"
Kata Ceng Ceng.
"Dan bisa menebak kehendak musuh, kalau mengikuti cara Tiat Kounio kita pasti terjebak siasat busuk Liok Jie Hui. Bangsat itu pasti sudah mengetahui bahwa jejaknya diikuti kita, sengaja ia meninggalkan kuil tua untuk memancing Siau cu jin pergi, diam-diam ia menyuruh anak buahnya datang kemari. Untung kami keburu pulang, kalau tidak entah apa yang bakal terjadi atas diri ibumu, Tio Ma dan Wan Kounio !"
"Oh....pantasan pemilik hotel ituketakutan sekali,"
Kata Tiong Giok.
"Kiranya terjadi perkelahian yang memakan korban jiwa, kalau begini biar bagaimana kita harus pindah dari hotel ini."
"Tampang bangkai pemilik hotel yang ketakutan itu menyebalkan sekali,"
Kata Ceng Ceng.
"Pagi-pagi buta sudah menggebah kita pergi....biar saja kita disini, agar dia ketakutan setengah mati !"
"Tak bisa berlaku begitu, ia pedagang yang menyayangi sumber pencahariannya, kalau kita berkelahi terus disini, hotelnya ini bisa tak laku, sama dengan memecahkan mangkok nasinya bukan ?"
"Sebaiknya peristiwa disini oasti sudah tersebar luas keseluruh kota Lam Ciong, mana ada penginapan yang mau menampung kita lagi ?"
Kata Wan Jie.
"Oh.....kuingat Siang Yauw menawarkan tempat, tidakkah lebih baik kita kesana ?"
Kata Tiong Giok.
"Jangan kuatir manusia semacam Siang Yauw sembarang waktu bisa berbalik pikir dan merepotkan kita,"
Wan Jie memprotes.
"Tapi sebagai orang kenamaan didunia Kang Ouw kuyakin Siang Yauw bisa dipercaya..."
Wan Jie menggelengkan kepala.
"Kita harus menjaga sesuatu yang diluar dugaan dan bercuriga atas kebaikan orang !"
"Ada suatu tempat yang indah dan aman, letaknya tak seberapa jauh."
"Dimana ?"
Tanya Tiong Giok.
"Dikuil tua sarangnya Liok Lo Koay !"
"Benar !"
Kata Tiong Giok.
"Liok Lo Koay yang pasti akan pindah dan takut kita satroni. Baiklah kita nantikan sampai malam baru kesana."
"Ya kalau pergi sekarang mana bisa. Siau Bwee belum pulang, kita harus menunggunya,"
Kata Wan Jie.
"Memang dia pergi kemana ?"
"Ia mencarimu,"
Kata Wan Jie.
"Sebelum itu sudah berjanji berhasil tidaknya akan kembali disiang hari."
Tiong Giok menggelengkan kepala.
"Kenapa kau ijinkan ia pergi ?"
"Mana bisa kularang ?"
Sahut Wan Jie.
Sementara itu pemilik hotel sudah datang lagi dan memohon agar mereka lekas pindah tempat.
Sikapnya tidak membuat Tiong Giok gusar, dengan sabar ia menjelaskan akan pindah setengah malam.
Pemilik hotel mau mengerti juga dan tidak berkata apa-apa lagi.
Sambil menunggu waktu, mereka telah berkemas-kemas dengan rapi.
Haripun perlahan-lahan telah menjadi siang, tapi Siau Bwee belum kelihatan mata hidungnya.
Tiong Giok kuatir terjadi sesuatu hal yang tak diinginkan pada diri gadis itu.
Maka ia memesan pada Wan Jie dan Ceng Ceng untuk berlaku waspada, ia sendiri segera pergi keluar untuk mencari Siau Bwee.
Ia tidak berputar-putar kedalam kota mencari gadis itu, tapi langsung menuju kedekat kuil tua, dimana tadi mereka berpisah.
Lalu kekampung nelayan yang dikunjungi tadi malam.
Ditanyanya nelayan-nelayan disitu kalau-kalau melihat dirinya Siau Bwee, tapi semuanya menjawab tidak melihat gadis yang dimaksud.
Tiong Giok menjadi cemas, tambahan hari sudah hampir senja, maka ia tidak melanjutkan mencari sigadis, melainkan pergi kekuil tua untuk memeriksa keadaan.
Ia mendapatkan kuil itu sepi dan kosong, nyatanya Liok Jie Hui telah pergi.
Setelah memeriksa keadaan kuil dengan seksama ia pun pulang lagi.
Waktu mau memasuki pintu kota, dirinya hampir bersampokan dengan seorang yang tergesa-gesa, Ia mengawasi orang itu, hatinya girang dengan mendadak, karena orang itu adalah Ciu Kong.
Jilid 19 .....
"Ciu Lo Cianpwee kapan tiba ?"
Tanya Tiong Giok sambil memegang lengan orang tua itu.
"Kami baru saja sampai belum lama,"
Jawab Ciu Kong.
"Mana Yauw Lo Cianpwee dan Toa Gu ?"
"Mereka sedang menantikanmu dipenginapan Hoo Peng !"
"Oh kebetulan sekali Lo Cianpwee menginap disana, tentu sudah bertemu dengan Wan Jie dan lain-lain bukan ?"
"Ya,"
Jawab Ciu Kong.
"Bahkan aku mencarimu setelah mendapat tahu dari Wan Jie."
"Ada seorang gadis bernama Siau Bwee apakah sudah pulang ke hotel ?"
"Entahlah, aku terburu-buru mencari Siau cu jin, tidak memperhatikan keadaan di hotel, rasa-rasanya sih belum pulang !"
Dengan cepat mereka kembali ke hotel, Tiong Giok melihat Yauw Kian Cee dan Toa Gu dan lain-lain hanya Siau Bwee yang tidak ada.
"Engkau pergi begitu lama, ketemukah dengan Siau Bwee ?"
Tanya Wan Jie.
"Sudah kucari kesana kemari, tapi tidak kutemui."
"Kalau begitu urusan yang tidak diinginkan benar-benar terjadi !"
Kata Wan Jie.
"Soal apa ?"
Tanya In Tiong Giok dengan heran.
"Lihatlah ini,"
Kata Wan Jie sambil mengambil sehelai surat.
"Begitu engkau pergi, ada seorang anak membawa surat ini. Bacalah engkau akan mengerti sendiri."
Tiong Giok melihat surat itu berbunyi .
"Kuminta kalian semuannya menggunakan kereta yang tertutup datang ke kota Hong Shia. Soal lainnya akan ditentukan dikemudian. Perintah ini harus dipatuhi bilamana jiwa Siau Bwee dan Pek Kiam Hong terancam kematian. Pikirlah masak-masak, jangan sampai menyesal belakangan."
Surat itu tidak dibubuhi tanda tangan maupun tulisan lainnya.
"Ini pasti surat Liok Jie Hui,"
Kata In Tiong Giok.
"Dengan menjadikan Siau Bwee dan Kiam Hong sebagai sandera, ia hendak memaksaku menyerahkan pedang mustika !"
"Kenapa Pek Suheng bisa jatuh ditangan mereka ?"
Tanya Wan Jie.
"Ia mempunyai janji dengan Siau Bwee,"
Kata Tiong Giok.
"Rupanya waktu Siau Bwee keluar mencari bertemu dengan Kiam Hong sehingga lupa pulang. Sedangkan Liok Jie Hui yang mempunyai banyak kaki tangan didalam kota ini mengetahui mereka berdua saja, maka menangkapnya dengan mudah untuk dijadikan sandera seperti yang kukatakan tadi."
"Jika ia menginnginkan hal itu, kenapa tidak melakukannya di Lam Ciong ini ? Dan apapula maksudnya menyuruh kita naik kereta segala macam ?"
Kata Yauw Jian Cee.
"Liok Jie Hui manusia licik yang aneh, ia sudah memperhitungkan, bahwa kota Lam Ciong berdekatan dengan pulau Hiu, kuatir Hek pek siang yauw mendapat kabar dan mencampuri urusan ini."
"Soalnya sudah begini, langkah apa yang harus diambil ?"
Tanya Ceng Ceng.
"Hm, apa yang engkau bisa ?"
Bentak Ciu Kong.
"Soalnya ia menginginkan pedang mustika, sebelum benda itu diperolehnya ia tak mencelakakan Tiat Kounio maupun Pek Kiam Hong. Maka itu ada kesempatan bagi kita mengirim kabar ke Pok Thian Pang. Perserikatan ini pasti mencari Liok Jie Hui untuk membebaskan Siau Pangcu mereka bukan ?"
"Pok Thian Pang menolong Pek Kiam Hong. Lalu siapa yang menolong Tiat Kounio ?"
Tanya Ciu Kong.
"Tia tia tidak tahu, kalau Pek Kiam Hong bebas, Tiat Kounio pun pasti bebas !"
"Hmm, cara memancing si air keruh bukan kerjaan kita ! Sebaiknya engkau jangan bicara dan pergi jauhan ke sana !"
"Tia tia bisanya memaki dan membentak aku saja,"
Kata Ceng Ceng.
"Namanya tukar pikiran, siapapun boleh mengeluarkan pendapatnya, andaikata saranku ini kurang baik, boleh ditolak jangan dimaki-maki."
"Sudah, pergi jauhan kesana !"
Bentak Ciu Kong.
"Baik-baik,"
Kata Ceng Ceng sambil berlari kebelakang Wan Jie.
"Ia bisa berpikir begitu masih baik, dari pada diam-diam saja seperti si tolol !"
Kata Wan Jie yang terus merangkul Ceng Ceng.
"Hm, pantasan kian hari lagaknya kian menjadi-jadi, kiranya ada bekingnya !"
Kata Ciu Kong.
Wan Jie tidak menjawab, ia tersenyum pada Ceng Ceng.
Dan mengusap-usap dengan sayangnya.
Kalau ia ingat kejadian didalam tebing, dan marah-marah pada gadis ini dikarenakan cemburunya, ia menjadi malu sendiri.
"Sebaiknya kita turut saja kehendak musuh,"
Kata In Tiong Giok.
"Ceng Ceng carilah dua kereta untuk masuk ke kota Hong Shia. Sekalian beritahu pemilik hotel agar menyediakan makanan untuk lima orang, setelah itu kita berangkat."
Ciu Kong dan Yauw Kian Cee saling menatap satu sama lain, mereka tidak mengetahui apa yang akan diperbuat Siau cu jinnya.
"Apakah Siau cu jin memastikan diri untuk berangkat dan menuruti kehendak musuh ?"
Tanya Ciu Kong. Tiong Giok mengangguk.
"Lo Cianpwee bertiga kuminta berangkat belakangan, dengan begini siasat musuh dapat kita pecahkan."
Waktu senja mendatang dari arah kota Lam Ciong tampak dua kereta beriring-iring menuju ke kota Hong Shia.
Kereta yang didepan ditumpangi Wan Jie dan ibu angkatnya, yang dibelakangnya Ceng Ceng dan Tio Ma.
Sedangkan Tiong Giok mengikuti kedua kereta perlahan-lahan, dengan alas an agar orang tua tidak terlalu bergoyang-goyang.
Padahal ia memberi kesempatan pada rombongan Ciu Kong bisa menyusulnya.
Seperti kita ketahui Liok Jie Hui memerintahkan mereka ke kota Hong Shia untuk menerima petunjuk yang selanjutnya lagi.
Tiong Giok ingin benar mengetahui dengan cara apa pihak musuh itu menyampaikan petunjuknya yang kedua itu.
Disamping itu iapun menduga musuh pasti mengawasi gerak gerik mereka, atau menyuruh lagi seseorang mengantarkan surat seperti cara pertama.
Jika sampai terjadi lagi hal-hal ini Ciu Kong dan kawan-kawan pasti akan berhasil menjalankan tugasnya.
Akan tetapi sampai jauh malam tidak terjadi sesuatu yang penting ditengah perjalanan itu.
Jarak antara Lam Ciong dan Hong Shia hanya seratus lie, kalau kereta jalan cepat mereka seharusnya sudah tiba ditempat tujuan.
Kini dikarenakan jalannya perlahan mereka baru tiba ditengah-tengah yakni sebuah kota kecil yang bernama Tong Shia.
Tiong Giok mampir disebuah penginapan reot, untuk mengajak rombongannya bermalam.
Ia sendiri mengawasi kepada kusir-kudir kereta yang sedang mengombongi kuda-kuda mereka distal.
Tiba-tiba saja ia melihat dipunggung salah seorang kusir itu, perlahan-lahan ia menghampiri dan mengambil kain itu tanpa diketahui sang kusir.
"Terima kasih atas kepatuhanmu atas peerintahku, soal Tiat dan Pek tak usah dikuatirkan, mereka dalam keadaan sehat-sehat. Lanjutkanlah perjalanan ke kota Hong Shia. Kami bisa memberi petunjuk yang ketiga. Sehabis membaca surat itu Tiong Giok celingukan keempat penjuru, ia tidak mendapatkan seorang yang bisa dicurigakan. Membuatnya semakin heran saja. Ia merasa penasaran sekali, karena sepanjang jalan kereta-kereta itu tidak luput dari pengawasannya, kenapa tiba-tiba saja terjadi hal ini tanpa diketahuinya. Sungguhpun begitu ia tetap bersikap tenang seperti tidak terjadi apa-apa. Tiong Giok membatalkan niatnya bermalam dikota Tong Shia dan bergegas untuk melanjutkan perjalanannya. Mendengar ini salah seorang kusir menunjukkan muka tak puas.
"Kalau ingin cepat-cepat sampai kenapa menitahkan kami berjalan lambat-lambatan ?"
"Untuk ini kami menambah uang sewa satu kali lipat dari harga semula, bagaimana ? "
Bujuk Tiong Giok.
"Kami bisa bertahan, tapi kasihan kuda-kuda itu, mereka kelewat letih dan bisa mati dijalanan !"
"Kalau kamu tidak bisa melanjutkan perjalanan, kepaksa kucari kereta lain, untuk ini pembayaran kuminta dikurangi !"
"Ya begitu lebih baik,"
Jawab kusir itu.
"kami lebih senang pembayaran dikurangi dari pada melanjutkan perjalanan. Untuk ini Kongcu tak perlu memusingkan diri, kami bisa mencarikan kereta untuk melanjutkan perjalanan."
In Tiong Giok membayar ongkos kereta. Kusir yang satu lagi dari tadi diam saja, waktu Tiong Giok mengusungkan uang ia menolak dan menyatakan mau melanjutkan perjalanan asal tambahnya besar.
"Apakah engkau tidak takut kudamu mati dijalanan ?"
"Kudaku cukup perawatan, pasti bisa melanjutkan perjalanan."
"Kalau begitu baik, bisakah keretamu muat empat orang ?"
Tanya Tiong Giok.
"Asal mau berdempetan bisa saja !"
"Baiklah, aku tak perlu repot-repot mencari kereta lain."
Sewaktu mau berangkat dari arah luar datang tiga penunggang kuda, mereka bukan lain dari rombongan Ciu Kong adanya.
In Tiong Giok pura-pura tidak kenal, tapi waktu berpapasan dengan cepat ia memberikan secarik kertas pada kawannya itu tanpa diketahui siapa-siapa.
Setelah kereta berangkat agak lama, Ciu Kong membuka kertas tadi, disitu tertulis sebagai berikut .
"Perhatikan kusir kereta, kemungkinan besar anak buahnya Liok Jie Hui."
Diperjalanan tidak ada yang perlu diceritakan sewaktu mereka tiba dikota Hong Shia sudah terang tanah.
Jalanan disini sangat ramai biarpun masih pagi.
Kereta berjalan semakin perlahan.
Seorang muda berbaju hijau tampak mengejar-ngejar kereta.
Tiong Giok jadi curiga dan memerintahkan kereta berhenti.
"Apakah kereta ini rombongan dari In Kongcu ?"
Tanya pemuda itu.
"Benar ! bagaimana kau tahu ?"
Tanya Tiong Giok.
"Kalau begitu ikutlah denganku,"
Kata pemuda itu. Pemuda itu mengajak mereka masuk kesebuah penginapan yang bermerek Empat Lautan.
"In Kongcu sudah tiba ! In Kongcu sudah tiba !"
Seru sipemuda yang terus masuk kedalam hotel.
Empat lima pelayan bergegas-gegas keluar menyambut kedatangan kereta dengan telaten sekali.
Mereka membuka pintu kereta dan mempersilahkan penumpangnya masuk kedalam dengan ramah tamah.
Pelayan-pelayan itu mengajak para tamunya kesebuah meja yang penuh hidangan.
Pemuda berbaju hijau mempersilahkan mereka duduk sambil melayani dengan tersenyum-senyum.
"Yang rendah adalah pemilik hotel ini, bilamana ada pelayanan yang kurang memuaskan kuharap dimaafkan saja."
"Ah, kau memperlakukan kami dengan baik sekali,"
Kata Tiong Giok.
"Persiapan ini tergesa-gesa, mungkin masih banyak kekurangannya,"
Kata pemilik hotel itu.
"Siapakah yang menyuruhmu melakukan persediaan ini ?"
"Teman In Kongcu yang memesan, dan iapun meninggalkan sepucuk surat untukmu."
Kata pemilik hotel sambil menyerahkan surat itu. Tiong Giok tahu surat itu pasti dari Liok Jie Hui dan cepat-cepat dibacanya.
"Mengingat tempat ini sangat asing bagimu, maka segala keperluanmu dalam hal menginap dan makan sudah kuatur serapi mungkin. Kuyakin engkau menjalankan perintahku. Maka kuminta besok pagi engkau datang seorang diri ketepi sungai Hong kang sekalian bawa buku Keng thian cit su dan pedang pusaka. Bilamana lebih dari seorang yang datang aku tak berani menjamin keselamatan Pek dan Tiat.
"Ah, benar saja temanku itu baik sekali,"
Kata In Tiong Giok sambil memasukkan surat itu kedalam sakunya.
Sesudah bersantap Wan Jie dan Ceng Ceng mengajak kedua orang tua masuk kekamar, sedangkan In Tiong Giok membayar ongkos kereta.
Anehnya tukang kereta itu setelah menerima uang, cepat pulang tanpa istirahat lagi.
Tiong Giok masuk kekamar, memperhatikan surat tadi kepada Wan Jie dan Ceng Ceng.
"Kuduga pemilik hotel inipun bukan komplotan Liok Jie Hui, tapi dihotel ini pasti ada kaki tangannya. Mulai detik ini kuminta kalian berlaku waspada dan giliran berjaga. Aku sendiri harus berpikir dan memusatkan perhatian untuk esok."
"Apakah engkau benar-benar mau menemui Liok Jie Hui ?"
Tanya Wan Jie.
"Benar !"
"Apakah permintaannya kau turuti juga ?"
"Untuk keselamatan Siau Bwee dan Kiam Hong segala permintaannya akan kuturuti !"
"Tapi pikirlah masak-masak, kedua pedang pusaka itu kalau jatuh ketangan Liok Jie Hui akan merupakan bencana dikemudian hari."
"Pokoknya asal kubisa menolong Pek dan Tiat berdua, kuyakin pedang ini akan kembali lagi ketanganku, kecuali nasibku kelewat buruk."
"Semoga bisa begitu hendaknya,"
Wan Jie berdoa.
"Keesokan harinya, dengan pakaian serba ringkas Tiong Giok membawa pedang pusaka dan Keng thian cit su menuju sungai Hong kang. Ia bisa sampai disungai itu setelah bertanya kesana kemari. Sesampainya disitu iapun menjadi bingung, sebab ia tidak tahu harus menunggu dimana, karena disurat itu tidak menyuruh ketempat yang tertentu. Ia mondar mandir ditepi sungai sambil melihat-lihat kalau-kalau ada yang dicurigakan. Entah sudah berapa lama ia berjalan, belum pula bertemu dengan Liok Jie Hui. Sedangkan mata hari terasa semakin panas, ia mampir disebuah warung kopi, untuk menghilangkan dahaga. Baru saja ia minum, ada seorang bocah menghampiri dan bertanya dengan perlahan.
"Apakah Kongcu she In ?"
"Benar,"
Jawab Tiong Giok.
"Ada seorang menyewa perahu ayahku, dan menyuruh Kongcu menyebrang."
"Dimana perahunya, hayo ajak aku kesana,"
Kata Tiong Giok seraya bangkit dari duduknya dan membayar minumannya. Anak itu mengajak Tiong Giok kesebuah tempat yang sunyi disana benar saja telah siap sebuah perahu kecil.
"Siau Kongcu, apakah ini Kongcu ?"
Tanya tukang perahu.
"Benar....."
Jawab si bocah yang ternyata bernama Siau Kongcu itu.
Tiong Giok melompat keprahu itu dan turun dengan ringan tak ubahnya seperti daun kering yang gugur kebumi.
Tukang perahu maupun sibocah merasa kagum atas kepandaian pemuda kita tapi tak mengatakan apa-apa.
Siau Kongcu melepaskan tambatan perahu dan bersama-sama ayahnya mengayuh ketengah sungai.
"Apakah yang menyuruhmu itu menentukan sesuatu tempat untuk mendarat ?"
Tanya In Tiong Giok.
"Tidak,"
Jawab tukang perahu.
"ia hanya menyuruhku membawa Kongcu menyebrang, sesampai disana ada orang lain yang bisa menjemput Kongcu dengan kuda."
"Kuda ? Apakah perjalanan masih jauh ?"
"Ini.... Aku tak tahu,"
Kata situkang perahu dengan perlahan.
"Kongcu lihat !"
Seru Siau Kongcu.
"Disana ada yang menuntun kuda !"
Tiong Giok memandang kedepan, dan benar saja dibawah pohon liu yang rindang terlihat seorang berbaju hitam menuntun dua ekor kuda.
Orang itu kepalanya botak mengkilap sekali lihatpun Tiong Giok mengenal, dialah tukang loak di gang yang pernah diketemukannya.
Tidak menantikan perahu merapat kepantai, Tiong Giok sudah mencelat pergi dengan satu lompatan.
"Ya Allah....inilah dewa yang pandai terbang,"
Puji Siau Kongcu tanpa terasa. Sibotak jadi tertegun melihat kepandaian pemuda kita, tapi ia pura-pura tenang, dan menyambut sambil tersenyum.
"In Kongcu tentu sudah tahu, ketuaku bermaksud mengadakan pertemuan ini tanpa diketahui orang lain bukan ? Caramu memamerkan kepandaian ini membuatku jadi curiga....."
"Curiga tidak curiga terserah kepadamu,"
Jawab In Tiong Giok.
"Dimana ketuamu ?"
"Ia sedang menantikan kedatanganmu, ikutlah denganku,"
Kata si botak.
"Waktu di Lam Ciong engkau pernah menipuku dengan akal busukmu,"
Kata Tiong Giok.
"Sampai sekarang masih kuingat terus, dapatkah kutahu namamu ?"
"Daya ingat Kongcu kuat sekali,"
Kata sibotak.
"Namaku Siu Lang."
"Oh....Siu Lang (serigala botak), bukankah engkau salah satu dari It Lang Jie Po (satu serigala dan dua macan tutul) dari Heng San ?"
"Benar, itu soal dulu, sekarang kami mengabdi pada Liok Lo Cianpwee."
"Bukankah berdiri sendiri lebih baik dari pada mengabdi pada orang lain ?"
"Itu urusan pribadi kami, Kongcu tak usah tahu,"
Jawab Siu Lang dengan ketus.
"Begitupun baik,"
Kata Tiong Giok tawar.
"Kembali soal perjanjian dimana aku harus menemui ketuamu itu ? Masih jauhkah dari sini ?"
"Disebut jauh tka jauh, disebut dekat tidak dekat, pokoknya marilah naik kuda dan ikut denganku."
"Baiklah selanjutnya aku hanya mengikuti engkau,"
Kata Tiong Giok mendongkol.
Siau Lang tidak banyak cerita lagi, membedal tunggangannya kebarat daya.
Tiong Giok mengikuti dari belakang, semakin jauh perjalanan semakin sepi.
Selama itu mereka tak pernah berkata-kata.
Biarpun begitu Tiong Giok memperhatikan jalanan yang ditempuh, ia menjadi heran, karena sibotak mengajak jalan berliku-liku, nanti kebarat, nanti keutara seenaknya saja.
Mula pertama ia masih bisa berlaku sabar, tapi setelah beberapa jam berlalu, ia mendapatkan perjalanan dari utara balik lagi ke barat, dari barat langsung ke selatan kembali ketempat semula.
Hatinya jadi panas dan membuatnya naik pitam.
"Hm, dengan cara ini sampai kapan bisa tiba ?"
"Hm, pokoknya tahu beres saja,"
Jawab Siu Lang.
"Ingat sembarang waktu jiwamu bisa kubunuh !"
"Kalau berani boleh coba."
"Kau kira aku takut ?"
"Jangan lupa kematianku bisa membuat Tiat dan Pek mati juga !"
"Engkaupun jangan lupa, kalau Tiat dan Pek mati, Liok Lo Koay (jejadian tua) pun akan mati pula."
"Kuyakin Kongcu tak menghendaki hal itu sampai terjadi bukan ?"
Tiong Giok tidak menjawab, karena membenarkan apa yang dikatakan sibotak didalam hati.
"Baiklah kuikuti terus caramu ini sampai diakhirnya."
Dari siang mereka berjalan sampai senja, akhirnya tiba ditempat mula pertama Tiong Giok mendarat tadi.
Kini ia sadar Liok Lo Koay yang licik sudah memperhitungkan secara cermat sekali.
Perbuatan Siau Lang yang mengajaknya berputar-putar, semata-mata hendak mengetahui apakah dibelakang Tiong Giok ada yang mengikuti atau tidak.
Biarpun ia mangkel dipermainkan begitu macam, tetapi kagum atas kelihayan lawan.
Si botak turun dari tunggangannya, lalu mengambil tikar yang tergantung dipelana kudanya.
Ia mencari tempat yang rata guna menggelar tikarnya.
Diambilnya pula bungkusan lain yang berisi makanan kering dan minuman.
"Kita sudah menempuh perjalanan jauh. Mari makan minum dulu."
"Aku belum lapar !"
"Apakah Kongcu kuatir makanan dan minuman ini beracun ?"
"Itu soal lain, yang terang aku belum lapar ! Cepatlah makan nanti kita ubek-ubekan lagi seperti tadi."
"Ha ha ha, Kongcu jangan salah paham,"
Jawab Siu Lang.
"Biarpun perjalanan tadi kurang menyenangkan, tapi lebih sip dan banyak untungnya dari pada langsung ketempat tujuan. Pikirlah engkau membawa pedang mustika, tentu banyak orang-orang jahat yang ingin dan merampasnya bukan ? Untuk menghindari merekalah, aku menerima perintah mengajakmu berputar-putar seperti tadi."
"Apakah dunia ini masih ada orang jahat yang melebihi Liok Lo Koay ?"
Selak Tiong Giok.
"Pendapat Kongcu berdasarkan sentimen."
"Aku segan banyak bicara, jelaskan kapan Liok Lo Koay itu mau bertemu denganku ?"
"Dalam hal ini, bukan saja Kongcu yang tidak tahu, akupun sami mawon !"
"Apa engkau tidak tahu ?"
"Benar ! Aku hanya menjalankan tugas seperti tadi, lalu diam disini menantikan perintah selanjutnya."
"Hm, engkau berani mempermainkan aku,"
Kata Tiong Giok sambil melompat turun dan memberikan beberapa tamparan pada sibotak.
Siu Lang begitu-begitu juga seorang Kang Ouw mencoba melawan.
Tapi sia-sia saja, mukanya kena digampar tanpa berdaya.
"Aku benar-benar tidak tahu ! Jangan kata digampar dibunuhpun aku tak bisa mengatakan soal yang tidak kutahu !"
"Kalau engkau tak tahu, siapa yang bisa tahu perintah selanjutnya itu ?"
Tegur Tiong Giok sambil memberikan gaplokan nyaring dikepala botak Siu Lang.
"Aduh ! Ngomong-ngomong jangan main tampar, main gatak.....sakit,"
Kata Siu Lang sambil mengusap-usap kepalanya yang menjenut benjol.
"Ketuaku mengatakan sesudah malam, bakal ada cahaya api yang memberikan petunjuk !"
"Baiklah kutunggu sampai malam, kalau tidak ada, kepala botakmu akan pecah !"
Siu Lang melanjutkan lagi makan minum dengan meringis. Sementara itu perlahan-lahan haripun menjadi gelap.
"Mana sinar api itu ?"
Tanya Tiong Giok tak sabaran.
"Sabar Kongcu, haripun baru saja gelap, masih jauh ke pagi !"
"Pletok,"
Terdengar getakan nyaring dari kepala botak Siu Lang.
"Ngomong lagi masih jauh kepagi !"
Bentak Tiong Giok.
"Nah.....lihat ! Itu api !"
Seru Siu Lang sambil menunjuk keutara. Tiong Giok mengawasi kearah yang ditunjuk, disitu terlihat sinar api bergerak-gerak tertiup angin.
"Bagaimana kau tahu api itu petunjuk bagi kita ?"
"Soalnya sukar kujelaskan, mari kita kesana."
"Hm, awas kepalamu, kalau bohong !"
Ancam Tiong Giok sambil mengikuti sibotak kearah api.
Setelah dekat Tiong Giok melihat tegas sebuah lentera tergantung disebuah pohon.
Dibatang pohon terlihat sebuah goresan panah yang menunjuk kearah barat laut.
Dengan mengikuti arah panah mereka melarikan tunggangan mereka ketempat yang ditunjuk.
Lebih kurang berjalan sepuluh lie jauhnya, lagi-lagi terlihat sebuah lentera disebuah pohon, disini terdapat goresan yang menunjuk kebarat.
"Liok Lo Koay menganggap dirinya pintar,"
Ejek Tiong Giok.
"Tapi dengan cara ini, kiranya tak ada yang bisa mengikuti jejekanya ? Kuyakin dibelakang kita sudah ada yang mengikuti......"
"Kongcu jangan meremehkan kelihayan Liok Lo Cianpwee,"
Kata Siu Lang membela ketuanya.
"Sebelum hal ini dijalankan, siang-siang ia telah memeriksa keadaan sejauh dua lie.....Ia mendapatkan tiada orang lain lagi yang mencurigakan !"
"Hm,"
Dengus Tiong Giok sambil membathin.
"Engkau tak tahu, dibelakangku ada Ciu Kong dan kawan-kawan, yang tidak kau ketahui."
Sepanjang jalan selalu ada lentera yang menunjuk kearah mana mereka harus pergi.
Makin lama perjalanan semakin menurun, berliku-liku menyusuri perjalanan gunung.
Tiong Giok mulai merasakan perjalanan agak berat, dan tahu tempat tujuan sudah tak jauh lagi.
Lentera terakhir terdapat disebuah tebing gunung, disitu tidak ada panah penunjuk lagi seperti tadi.
Tiba-tiba dari atas tebing terdengar suara nyaring .
"Apakah yang datang itu In Siau hiap adanya ?"
"Benar, aku datang bersama Siu Lang !"
"Diminta dengan hormat Siau Hiap menghentikan langkah,"
Kata suara diatas.
"Siu Lang dianggap sudah selesai menjalankan tugas, diminta mundur dan jangan maju!"
Mendengar perintah itu Siu Lang segera memutar kudanya.
"Jangan pergi dulu !"
Cegah Tiong Giok.
"Terangkan dimana Liok Lo Koay bersembunyi ?"
"Ia menunggu Siau Hiap diatas gunung itu."
"Sebelum kutemui Liok Lo Koay tugasmu kuanggap belum selesai."
"Apakah Siau Hiap tidak percaya bahwa Liok Lo Cianpwee sedang menantikan kamu ?"
"Sebelum kutemui Liok Lo Koay kuharap engkau selalu bersamaku !"
"Ha ha ha tak sangka orang sesohor dan segagahmu, nyatanya bernyali tikus !"
Ejek Siu Lang.
"Bukan aku bernyali kecil,"
Jawab Tiong Giok.
"Tapi berurusan dengan Liok Lo Koay bagaimanapun harus terlebih hati-hati !"
Dengan gerakan kilat ia menangkap lengan Siu Lang dan memelintirnya.
"Antarkan aku menemui bangsat she Liok itu !"
"Orang she In lepaskan saudaraku !"
Terdengar teriakan dari atas. Disusul dengan bunyi yang menggelegar keras, dari jatuhnya sebuah batu besar kehadapan mereka.
"Lauw Jie Houw, aku dalam keadaan tak berdaya, engkau jangan...."
Belum pula Siu Lang selesai berkata, lagi-lagi terlihat dua batu besar turun kebawah.
Bukan saja suara menggelegar terdengar lagi, bahkan pecahan batu mencerat keempat penjuru.
Tiong Giok sangat lihay, sebelum batu itu sampai, telah membarengi lompat dari kudanya sambil menenteng Siu Lang keatas tebing.
Gerakannya tidak berhenti disitu, ia mencelat terus dengan gesitnya.
Dalam sekejap telah berada diatas tebing.
Disini ia melihat seorang sedang mendorong-dorong batu untuk diturunkan lagi kebawah, ia bukan lain dari pada Lauw Jie Houw.
Sedikitpun ia tidak menduga bahwa Tiong Giok sudah berada dibelakangnya.
Begitu ia tahu cepat-cepat ditinggalkan batu itu dan mencabut golok.
"Hm,"
Ejek Tiong Giok dengan gemas, karena ia mengenali Jie Houw adalah tukang kereta yang mengantarkannya sampai dikota Hong Shia. Sebelum golok musuh sampai ia membarengi dengan Hiat cie lengnya.
"Siuuuuut,"
Terdengar desiran angin dari jarinya. Golok musuh dibikin terlepas dari tangan, dan terus ia membarengi memberikan totokan, sehingga musuh itu terjungkel tanpa berdaya.
"Ha ha ha........"
Tiba-tiba terdengar suara terbahak-bahak.
"Anak-anak nyalakan api, dan sambutlah tamu ini."
Berbareng dengan hilangnya suara itu, terlihat puluhan obor menyala dengan serentak, mengusir kegelapan malam.
Dibawah sinar api yang terang benderang Tiong Giok melihat sebidang tanah datar berukuran lebih kurang sepuluh meter persegi, berhadap-hadapan dengan lereng bukit dimana ia berdiri.
Antara lereng bukit dan tanah datar itu dipisah oleh sebuah jurang yang lebarnya dua puluh meter lebih.
Disitu terlihat merentang seutas tambang besi yang berupa jembatan.
Obor-obor itu berada ditanah datar, disitu terlihat Liok Jie Hui sedang duduk dikursi beralaskan kulit macan, dibelakangnya terlihat empat pelayan wanita, dikiri kanannya berdiri dua muridnya.
Ia sangat licik, maka memilih tempat ini untuk bertemu.
Dengan begitu ia bisa melihat dan bicara dengan musuh tanpa kuatir mendapat serangan.
Jarak dua puluh meter lebih sebetulnya bukan rintangan besar bagi Tiong Giok.
Tapi jelas baginya, kalau berani melintas tambang besi itu.
Ia mengernyitkan kening berpikir keras, akhirnya memutuskan tidak mau menyebrang.
Sedangkan Siu Lang segera dibebaskannya.
"Aku sudah bertemu dan melihat Liok Jie Hui, tiba waktunya membebaskan dirimu seperti yang pernah kukatakan."
Kejadian ini benar-benar diluar dugaan Siu Lang, ia menarik napas lega dan menunjuk kepada kawannya.
"Dia adalah salah satu dari Jie Pauw yang bernama Lauw Jie Houw. Dikarenakan saudara kandungnya yang bernama Lauw It Houw mati ditangan anak buahnya waktu di Lam Ciong, maka itu ia berlaku nekad untuk mencelakakanmu, atas tindakannya yang gegabah ini kuminta belas kasihanmu untuk mengampuninya."
"Itu soal mudah, tapi bukan sekarang,"
Jawab Tiong Giok.
"Habis kapan ?"
"Ia masih kuperlukan, sesudah itu baru kubebaskan,"
Kata Tiong Giok dengan tegas.
"Sekarang pergilah, dan beritahu pada Liok Lo Koay kedatanganku kesini untuk menepati janji dengan penuh kesungguhan. Dan pedang mustika yang dikehendaki sudah kubawa, mengenai buku Keng thian cit su yang ada padanya sudah lengkap dan sempurna. Mengenai cara mempelajarinya bisa berdua, bisa seorang, itu tergantung kepada bakat dan kemauan yang belajar sekali-kali jangan menganggap aku membuat buku dengan curang dan menghilangkan bagian-bagian yang penting. Hal ini dapat dibuktikan buku yang kutilis untuknya dan yang dicetak dikota Kim Leng serupa adanya. Bilamana aku berlaku curang tentu kedua buku itu ada bedanya."
"Soal Lauw Jie houw sementara kutahan dulu, sebelum urusanku dengan Liok Lo Koay selesai. Bilamana ketuamu mau menyimpang dari perjanjian yang dikehendaki itu, aku tak bisa berbuat apa-apa, itu terserah kepadanya."
"Baiklah, kata-katamu akan kusampaikan kepadanya,"
Kata Siu Lang sambil membalik badan dan terus berlari dengan cepat melalui tambang besi yang merentang ditengah jurang.
Lauw Jie Houw tertotok urat nadinya, ia tergeletak diatas tanah.
Sedangkan Tiong Giok dengan tenang duduk didekat tambang besi sambil mengawasi gerak gerik musuhnya.
Dua puluh meter bukan jarak yang jauh, masing-masing pihak bisa melihat dengan tegas satu sama lain.
Sebenarnya Tiong Giok bisa mengutarakan isi hatinya secara langsung kepada yang berkepentingan, tapi sengaja menggunakan Siu Lang sebagai perantara untuk menyampaikan kata-katanya, dengan tujuan menghambat waktu dan memberi kesempatan Ciu Kong dan kawan-kawan datang.
Setelah Liok Jie Hui mendengar laporan dari Siu Lang ia terpekur sejenak, lalu berkata .
"Soal penukaran orang dan pedang adalah kehendakku sendiri, sudah tentu hal ini harus kujalankan. Akan tetapi ia harus membebaskan Lauw Jie Houw dulu kepadaku, bilamana pedang itu benar-benar dan tulen baru kubebaskan Tiat dan Pek !"
Siu Lang cepat-cepat balik pada Tiong Giok guna menyampaikan apa yang dikehendaki ketuanya.
"Soal membebaskan Lauw Jie Houw bisa kululuskan, tapi aku keberatan kalau harus menyerahkan dulu pedang mestika ini."
Siu Lang kembali lagi kesebrang menyampaikan apa yang diucapkan Tiong Giok, setelah itu balik lagi dengan cepat.
"Ketuaku menghendaki agar engkau menyerahkan dulu sebilah pedang pada Lauw Jie Houw, dan ia akan membebaskan Pek Kiam Hong. Setelah itu aku akan membawa Tiat Siau Bwee ketengah-tengah "Jembatan"
Danmenukar dengan pedangmu yang satu lagi."
"Cara ini terlalu berbelit-belit, kuminta sekaligus saja Tiat dan Pek dibawa ketengah jembatan dan dilakukan tukar menukar dengan pedang, kurasa cara ini lebih praktis."
Setelah mendengar laporan dari Siu Lang, Liok Jie Hui merasa keberatan dan tak mau menerima saran musuhnya.
Ia pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri kelihayan pemuda kita waktu dipulau Hiu.
Ia kuatir kehilangan sanderanya, bilamana musuh membalik muka.
Siu Lang bolak balik beberapa kali, masing-masing mempertahankan pendapatnya, keputusan belum didapat juga.
Sedangkan waktu perlahan-lahan mendekat pagi.
"Pedang adalah benda mati, orang adalah benda hidup. Jika ia tidak memenuhi kehendakku, mari kita berangkat sambil membawa dua orang ini,"
Kata Liok Jie Hui dengan gusar.
In Tiong Giok tak dapat memperlambat waktu lagi, sedang Ciu Kong dan kawan-kawannya belum tiba juga, kepaksa ia mengalah.
Tapi ia pun mengajukan permintaan lagi, yakni sebelum terjadi tukar menukar, minta melihat dulu keadaan Tiat Siau Bwee dan Pek Kiam Hong.
Siu Lang menyampaikan kehendak pemuda kita pada ketuanya.
"Ha ha ha, hm itu soal yang pantas, bawalah dua orang itu kemari. Besarkan nyala apinya agar ia melhat tegas keadaan kawan-kawannya yang tidak kurang suatu apapun."
Tampak dua muridnya Liok Lo Koay menuju kebelakang kursi, mereka mendorong sebuah batu besar.......
Kiranya batu itu menutupi sebuah liang gua yang hitam.
Dikarenakan terhalang kursi yang diduduki Liok Jie Hui, Tiong Giok tidak bisa melihat mulut gua itu.
Tak selang lama Kiam Hong dan Siau Bwee diseret keluar dari gua itu dan dibawa kedekat jurang.
Melihat in Tiong Giok hampir-hampir tak bisa menguasai dirinya dan ingin melintasi tambang besi untuk memberikan pertolongan kepada dua kawannya itu.
Untung ia masih bisa mengekang emosinya dan tetap diam diujung jembatan sambil menatap keseberang tanpa berkedip-kedip.
Pek Kiam Hong dan Tiat Siau Bwee pakaiannya kotor-kotor, dekil dan mesum, agaknya mereka sudah lama disekap dalam gua itu.
Kini anak buahnya Liok Jie Hui menyeret lagi mereka kedekat kursi ketuanya Tiong Giok tahu kedua kawannya tidak bisa bergerak karena tertotok.
"Apakah kau sudah melihat tegas ? Nah giliranmu menyerahkan pedang,"
Kata Liok Jie Hui sambil menyeringai.
"Aku sebagai kesatria sejati, pasti aku akan menepati janji, tapi perlu kujelaskan beberapa patah. Bilamana kudapatkan kedua kawanku ini menderita luka atau sesuatu yang membahayakan jiwanya dikemudian hari, engkau harus bertanggung jawab."
"Engkau jangan kuatir, masih banyak kesempatan untuk memeriksa mereka,"
Kata Liok Jie Hui dengan tergelak-gelak.. Tiong Giok segera membebaskan Lauw Jie Houw dari totokan dan menyerahkan sebilah pedangnya kepada tawanan itu.
"Berikanlah kepada ketuamu yang licik itu."
Dengan cepat Lauw Jie Houw pergi menyeberang melalui tambang besi.
Liok Jie Hui berasa girang tidak alang kepalang, dengan berjingkrak-jingkrak ia meninggalkan kursinya menyongsong kedatangan anak buahnya, lengannya tampak gemetar waktu menerima pedang dari Lauw Jie Houw.
Dengan bernafsu pedang itu dicabutnya.
Pedang Hui lie kiam segera memancarkan sinar merah yang berkilauan.
"Ha ha ha benar-benar pedang wasiat ! Tak kusangka akhirnya pedang yang kuidam-idamkan, akhirnya jatuh juga ditanganku !"
"Engkau jangan terlalu girang dan lupa daratan !"
Seru Tiong Giok.
"Ini masih ada sebilah lagi !"
"Benar ! Benar !"
Kata Liok Jie Hui.
"Lepaskan bocah she Pek itu !"
Siu Lang segera saja membebaskan Kiam Hong dari totokan.
"Siau pangcu silahkan menyeberang !"
Pek Kiam Hong tidak menjawab, ia masih tetap berdiam diri tanpa melangkah, Siu Lang menuntunnya kedekat jembatan.
"Saudara Pek apakah engkau menderita luka ?"
Pek Kiam Hong menggelengkan kepala sambil melangkahkan kakinya keatas tambang besi.
Namun bukan ia menyeberang, melainkan dengan kecepatan luar biasa ia menyerang pada si botak.
Siu Lang ridak menduga bakal diserang, ia tidak bersiaga, tak beguru berkelit lagi, tambahan ilmunya tak seberapa tinggi.
Tubuhnya terpukul roboh dan tergelincir kedalam jurang detik itu juga.
Pek Kiam Hong tidak berhenti sampai disitu saja.
Tubuhnya seperti badai yang dashyat menyambar Siau Bwee dan dibawa lari.
Kejadian ini terlalu mendadak dan diluar dugaan.
Biar Lauw Jie Houw maupun keempat pelayan wanita serta dua murid Liok Lo Koay disitu, mereka tak berbuat apa-apa seperti terkesima saja.
"Apa kalian bangkai semua ? Kejar !"
Teriak Liok Jie Hui tak kurang kagetnya.
Suara bentakan Liok Jie Hui tak ubahnya seperti air dingin mengguyur anak buahnya yang sedang pulas.
Mereka terkejut dan sadar, terus mengejar ketambang besi.
Tiong Giok yang menyaksikan perbuatan Pek Kiam Hong dari seberang, menyadari urusan jadi berabe.
Maka itu waktu Kiam Hong memijak tambang besi ia sudah bersiap sedia.
Tubuhnya mencelat tinggi melalui kepala kawannya dan menghadang musuh-musuh yang mengejar.
Pedang wasiatnya berputar keras, dua murid Liok Jie Hui yang berada dipaling depan, dalam sekejap telah dibikin terguling kedalam jurang, setelah mereka Lauw Jie Houw menemui nasib yang sama.
Keempat pelayan Liok Jie Hui karena berlaku lambat, belum memijakkan kaki di jembatan buru-buru mundur teratut.
Sedangkan Liok Jie Hui tidak mau berkelahi ia menyabetkan pedang pusaka keatas tambang besi.
Pek Kiam Hong yang membawa Siau Bwee masih berada diatas tambang, demikian pula dengan In Tiong Giok.
Bilamana tambang ini putus sama dengan putus pula nyawa mereka.
Dalam keadaan yang membahayakan ini dengan tiba-tiba In Tiong Giok mendapat akal, lengannya segera bergerak, tampaklah Hong hiat kiam yang bersinar putih terlepas dari tangannya dan terbang menyambar pada musuhnya, berbareng dengan tubuhnyapun terbang kedepan menyambar kedua ujung tambang yang baru putus dengan kedua tangannya.
Putusnya tambang besi, meluncurnya pedang terbangnya manusia, seolah-olah terjadi dalam satu detik yang bersamaan.
Hanya sayang usaha Tiong Giok tidak membawa hasil yang memuaskan.
Pedangnya itu hanya mengenai bahu kiri musuhnya.
Sesungguhnya begitu Liok Jie Hui merasa kaget sekali dan menjerit kesakitan sambil melompat mundur lima enam langkah kebelakang dengan terhuyung-huyung.
"In Toako !"
Seru Kiam Hong.
"Lekas bawa Siau Bwee keseberang !"
Seru Tiong Giok.
Dengan menahan air mata Kiam Hong lekas-lekas menyeberang.
Liok Jie Hui dengan keempat pelayan sudah kembali dalam detik itu juga.
Ssambil menggertakkan gigi dan mata berdelik-delik Liok Jie Hui menyeringai kepada musuhnya.
"Kini kudua pedang pusaka sudah kuperoleh, untuk ini aku memderita luka ringan. Sebaliknya jiwamu berada ditanganku, semua ini kehendak takdir."
Diam-diam Tiong Giok merasa kaget, ia diam tidak menjawab, karena kedua tangannya tidak dilepaskan, berhubung Pek Kiam Hong belum sampai keseberang.
"Anak-anakku, berikanlah beberapa bacokan pada bocah ini, jangan sampai dia jatuh kesakitan didalam jurang !"
Peerintah Liok Jie Hui..
"Baik ! sahut keempat pelayan wanita itu seraya menghunus senjatanya dan siap menabas kearah In Tiong Giok.
"Budak tak kenal mati, jangan coba-coba melukai Siau cu jin kami !"
Tiba-tiba terdengar suara bentakan menyusul terlihat berkelebatnya tiga bayangan datang ketanah datar itu.
Mereka bukan lain dari Ciu Kong, Yauw Kian Cee dan Toa Gu.
Liok Jie Hui mundur dua langkah dengan wajah berubah.
"Kalian....siapa ?"
"Hm, ingatanmu buruk sekali, aku Ciu Kong masa sudah lupa ?"
Liok Jie Hui menjadi kaget, ia menjaga diri dengan dua pedang pusaka, sedangkan mulutnya memerintahkan pelayan-pelayan turun tangan secepat-cepatnya.
Pelayan-pelayan itu segera menabaskan pedang mereka dengan berbareng kepada Tiong Giok.
"Kurang ajar !"
Bentak Yauw Kian Cee seraya menggerakkan tangannya, sehingga keempat perempuan itu susul menyusul terjungkal kedalam kurang sebelum kesampaian maksudnya.
Liok Jie Hui semakin kaget dan gentar, ia tahu dirinya dalam keadaan bahaya, maka itu kedua pedang pusaka diputar memakai jurus-jurus dari Keng thian cit su menghantam kearah Ciu dan Yauw.
Keng thian cit su yang dimainkan Liok Jie Hui tidak selihay Tiong Giok, maka itu dengan kekuatan bergabung Ciu dan Yauw mengimbangi mereka.
Toa Gu menghampiri Tiong Giok untuk memberikan pertolongan.
Hal ini diketahui Liok Jie Hui, maka si tolol ini diserangnya dari belakang.
Toa Gu sangat mengandalkan kekebalan dirinya, serangan musuh itu dianggap sepi dan dibiarkan.
Karuan saja In Tiong Giok menjadi kaget sekali menyaksikan hal ini, dengan keras ia memperingati.
"Toa Gu lekas menyingkir, itu pedang pusaka !"
Toa Gu masih tetap diam saja, sedangkan bahaya semakin dekat, Tiong Giok dengan terpaksa melepaskan kedua tangannya dari tambang besi dan melancarkan Hiat cie leng kearah musuh.
Liok Jie Hui tak menduga serangan mendadak, lengannya sudah terkena angin panas dan kesakitan, kedua pedang pusaka segera terlepas dari tangannya.
Berbareng dengan itu angin pukulan Ciu dan Yauw datang dengan dashyat, situa licik ini segera terjungkal kedalam jurang.
Demikian pula dengan Tiong Giok sehabis melakukan serangan, segera jatuh kedalam jurang !
Tinggal Toa Gu melongo dipinggir jurang sambil berteriak-teriaak .
"Siau cu jin ! Siau cu jin !"
Dalam keadaan tidak sadar, seolah-olah telah berlalu seratus tahun, seribu tahun.....
Tatkala In Tiong Giok membuka mata kembali, melihat bulan sabit dan taburan bintang dicakrawala.
Saat itu seolah-olah baru jam dua belas tengah malam.
Ia mendapatkan dirinya berada disebuah lubang tanah yang dlamnya tiga empat meter.
Lubang itu seperti baru saja digali, berukuran satu kali dua meter tidak terlalu lebar maupun panjang, pas muat untuk rebahan seorang.
Ia menjadi bingung dan heran, karena sewaktu jatuh kedalam jurang, telah membayangkan bagaimana tubuhnya akan hancur terkena batu-batu cadas yang tajam.
Tapi sekarang ini kenapa dirinya berada dilubang tanah ?
Mimpikah ia ?"
Sruk ! Sruk ! ada tanah meluruk ketubuhnya. Lamunannya jadi hiloang, ia mencoba mencelat bangun, tapi tak bisa, karena punggungnya terasa ia teraduh-aduh sendiri....
"Tia tia, kudengar orang dibawah ini merintih-rintih,"
Terdengar suara orang diatas lubang tanah itu.
"Ah ngaco saja. Kita sudah menunggu tig ahari tiga malam ia tetap tak bergerak-gerak, napasnya sudah tak ada. Mungkin itu hanya perasaanmu saja ! Lekas kubur jangan berpikir yang bukan-bukan !"
"Ingin kuperiksa dulu, sebab kudengar ia merintih. Diatas lubang kuburan terlihat seorang anak berusia lima belas tahun, melongok-longok kedalam liang.
"Tia tia coba lihat, matanyapun melek ! Ia belum mati !"
"Heran ! Coba kulihat !"
Kini Tiong Giok melihat seorang tua, mengawasi dirinya dengan wajah keheran-heranan.
"Pan aku...aku...."
"Thian Sek lekas angkat dia nak !"
Seru orang tua itu.
Anak tanggung yang bernama Thian Sek itu, cepat-cepat melemparkan sekopnya dan turun kedalam lubang.
Dibopongnya tubuh Tiong Giok dan dibawa lompat dari liang kuburan itu.
Tiong Giok memandang sekeliling, ia mendapatkan dirinya benar-benar berada didalam jurang maut yang menyeramkan itu.
Disitu berdiri seorang tua yang berkaki satu, didekatnya berdiri sebuah kuburan baru yang bertulisan.
Disini tempat mengaso Liok Jie Hui untuk selama-lamanya.
Orang tua itu rambutnya riap-riapan, usianya sekitar tujuh puluhan.
Lengannya mengempit tongkat untuk berdiri, sedngkan kedua matanya berkilat-kilat tajam.
Menandakan bahwa orang tua ini memiliki ilmu silat yang sangat tinggi.
Dengan cermat dan seksama orang tua itu memegang urat nadi Tiong Giok, wajahnya tiba-tiba menunjukkan keheranan.
"Bawa pulang, ia belum mati !"
Anak tanggung itu berlari seperti terbang, dlam sekejap ia sudah sampai dibawah tebing curam, dari sini ia mencelat keatas setinggi belasan meter.
Terus hinggap disebuah cegakan tebing, tubuhnya membungkuk masuk kedalam sebuah gua yang gelap gulita.
Mulut gua agak kecil, semakin masuk semakin luas.
Disitu terdapat perabotan kkasar yang berupa ranjang dan bangku, semuanya terbuat dari batu.
Yang paling mengherankan disitupun terdapat pelita sebagai penerangan gua.
Anak tanggung itu merebahkan Tiong Giok diatas ranjang batu, seiring dengan itu, orang tua berkaki satupun telah berada didalam gua.
"Aku haus, tolonglah ambilkan air !"
Ratap In Tiong Giok. Thian Sek cepar mengambil air, tapi dicegah siorang tua itu.
"Lukanya sangat berat, jika ia minum mudah menimbulkan pendarahan sebaiknya kau petik dedaunan obat bawa kemari cepat !"
Thian Sek berlalu keluar gua. Sedang siorang tua menghampiri Tiong Giok, jerijinya segera menotok, mengunci jalan darah agar tak mengalir terus.
"Aku ingin bertanya kepadamu,"
Kata orang itu.
"Sebetulnya tidak pantas aku bertanya disaat ini, tetapi karena soalnya teramat penting maka aku tanya juga. Kuharap engkau berlaku jujur."
"Terima kasih atas pertolonganmu pak, tanyalah aku..."
"Tak usah menghaturkan terima kasih, kami tak menolongmu, semua ini dikarenakan Hokkiemu keelewat besar, boleh-boleh terjatuh kedalam pukat burungku, barusan kalau engkau tidak cepat siuman, mungkin sudah aku kubur hidup-hidup. Sekarang beritahu siapa namamu ?"
"Namaku In Tiong Giok."
"Apa hubunganmu dengan Thian Liong Bun ?"
"Aku adalah Ciang bun jin dari Thian Liong Bun."
Orang tua itu merasa kaget, sepasang matanya mengawasi kepada Tiong Giok sambil bertanya lagi .
"Engkau yang semuda ini sebagai Ciang bun jin ?"
"Ya, dikarenakan secara kebetulan...."
"Aku Bok Tiong mempunyai mata seperti buta,"
Kata siorang tua sambil memberi hormat.
"Apakah Bok Lo Cianpwee sebagai anggota Thian Liong Bun juga ?"
"Biarpun bukan anggota Thian Liong Bun tetapi mempunyai hubungan yang erat sekali dengan perguruan itu, majikanku adalah murid Pek King Hong dari Thian Liong Bun."
"Oh....bolehkah kutahu majikanmu itu ?"
Diparas Bok Tiong tampak tanda-tanda duka, ia menarik napas sebelum berkata .
"Majikanku adalah seorang pendekar yang sama-sama kesohornya dengan Tiat Giok Lin, ia bernama Ang Ek Fan mereka mempunyai julukan Sin kiam siang eng..."
"Oh....kiranya Lo Cianpwee ini mengabdi pada Ang Tayhiap."
"Benar,"
Jawab Bok Tiong, ia merogo sakunya mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dan meletakkan disisi tubuh Tiong Giok.
"Karena Siau Hiap sebagai ketua dari Thian Liong Bun sama dengan majikanku juga. Aku harapkan maafmu atas kekurang ajaranku tadi. Sekarang silahkan Siau Hiap beristirahat."
"Ini bungkusan apa ?"
Tanya In Tiong Giok. Bok Tiong tersenyum.
"Ini bungkusan dari benda yang kau bawa-bawa. Karena selama tiga hari tiga malam engkau tidak sadarkan diri aku anggap sudah meninggal dunia, maka itu kuambil barang-barang ini diantaranya ada Kumala ungu dan sepotong baju berdarah, soal ini membuat kami curiga dan menanyakan kepadamu, sekarang segala syakwasangka sudah hilang, maka kukembalikan lagi."
Saat ini Thian Sek sudah kembali membawa dedaunan dan akar obat-obatan. Bok Tiong menerima ramuan obat itu, lalu mengunyahnya sampai lembut. Ia pun menyediakan air pula.
"Disini sukar mencari obat-obat seperti dikota, akan tetapi ramuan ini manjur sekali untuk luka luar. Waktu dipakai bisa mendatangkan rasa nyeri yang sangat...."
"Biar nyeri akan kutahan asal bisa sembuh."
Bok Tiong menyuruh Thian Sek membalikkan tubuh Tiong Giok, setelah tengkurap ia mencuci tempat luka dengan air, membersihkan darah-darah kotor....
Tiba-tiba Bok Tiong jadi tertegun, karena disamping luka-luka yang baru dipunggung Tiong Giok didapati bekas tanda luka.
"Apakah punggungmu ini menderita luka juga ?"
"Benar, luka itu kudapati sejak kuingat menjadi manusia, menurut orang tuaku, luka itu berasal dari bacokan musuh sewaktu aku berusia setahun."
"Benarkah begitu ? Siapa musuh itu ?"
"Kejadian yang sesungguhnyapun kurang jelas, sebab usiaku masih terlalu kecil. Tapi belakangan kudapat tahu, setelah terbacok ada seorang yang baik hati, menaruhkan disebuah kas kayu menghanyutkan kesungai, sehingga aku tertolong ayah angkatku dan bisa hidup sampai sekarang."
"Apakah sepotong baju yangberdarah itu adalah baju yang kau pakai sewaktu dibacok orang ?"
"Benar !"
"Jika begitu engkau bukan she In !"
"She In kudapat dari ayah angkatku, soal she yang sebenarnya sampai sekarang aku tak tahu,"
Jawab Tiong Giok.
"Lo Cianpwee kenapa bisa tahu begitu banyak soal diriku ini ?"
Bok Tiong tidak menjawab, kelopak matanya tergenang air yang tiba-tiba berderai turun.
"Kalau begitu engkau adalah putra dari majikanku !"
"Apa ?"
Tiong Giok menegasi.
"Waktu kulihat baju berdarah itu aku sudah berpikir kearah itu tapi engkau mengaku she In, maka itu tak berani mengatakan hal itu. Sekarang baiklah kujelaskan....dua puluh tahun yang lalu sebagai pengawal ayahmu, pada suatu ketika aku mengantar ibumu pergi ke Tiat Po. Tak kira ditengah perjalanan dihadang orang-orang bertopeng. Disitu terjadi perkelahian hebat. Aku berjuang mati-matian melindungi ibumu dan dirimu sendiri. Penjahat itu mengejar-ngejar terus, sesampainya didekat hutan bamboo dekat sebuah sungai, ibumu sudah kepayahan sekali, ia menyerahkan dirimu kepadaku sambil memesan.
"Aku sudah tak kuat lagi, lekaslah bawa anakku ini, jika selamat, nama keluarga Ang masih punya keturunan dibelakang hari."
"Aku tak mau meninggalkan ibumu dalam keadaan setengah mati, sikap ini membuatnya marah-marah. Kepaksa kugendong dirimu yang masih kecil, lalu berpisah dengan ibumu itu. Sedangkan kawanan penjahat masih mengejar-ngejar terus. Aku berlari-lari terus. Sewaktu sampai disebuah bukit aku merasa aman dan mengaso. Tak kira disitupun ada lima penjahat bersembunyi. Aku dikurung dan dikerubuti, dengan mati-matian kuhadapi mereka."
"Aku berhasil merobohkan tiga musuh, sebaliknya aku menderita empat bacokan dan jatuh dari bukit itu, menggelinding kesebuah sungai. Saat itu kulihat engkaupun terkena bacokan, napasmu sudah senen kemis, melihat ini aku sangat berduka cita sekali.....tapi apa mau dikata lagi dalam keadaan luka parah itu, musuh masih membayangi diriku, aku tak berdaya untuk melindungimu lagi jiwamu itu. Dasar masih panjang umurmu, disungai itu kulihat kas kayu. Tak pikir panjang lagi, kuletakkan dirimu disitu kuhanyutkan....aku sendiri bersembunyi dipinggiran sungai, setelah musuh-musuh pergi baru berani keluar."
"Saat itu pertama-tama yang hendak kulakukan memberi kabar kepada Ang Tayhiap, tak kira diperjalanan kudengar soal tragedy di Tiat Po, dimana Tiat Giok Lim meninggal dunia dengan mendadak, soal hidup matinya majikanku belum jelas. Tak selang lama kudengar pula Giok liong po yakni tempat tinggal kami sudah dibumi ratakan kawanan musuh. Kabar ini membuatku kaget dan sedih....tapi apa yang bisa kulakukan ? Kepaksa aku berkelana didunia Kang Ouw dalam beberapa bulan itu. Pada suatu hari sampailah aku dikota Lam Ciong....dasar lagi sial kedatangan ini rupanya diketahui kawanan penjahat. Waktu aku tidur nyenyak ditengah malam buta mereka mengurungku. Mati-matian kuhadapi mereka dan memecahkan kepungan dan terus kulari dan lari, sedangkan mereka mengejar-ngejar terus. Satu hari satu malam aku dikejar-kejar, akhirnya sampailah ditempat ini. Aku sangat letih sekali sudah tak berdaya menghadapi mereka, kepaksa terjun kedalam jurang ini."
Mungkin belum takdirnya harus mati, biarpun jatuh dari tempat tinggi itu, aku hanya patah kaki, dan bisa hidup sampai sekarang.
Tempat ini terkurung tebing-tebing yang curam, terpisah dari dunia luar.
Untuk hidup terus aku memukat burung, memakan dedaunan, dan tinggal didalam gua.
Sepuluh tahun aku hidup seorang diri.
Sedangkan Thian Sek adalah anak yang terjatuh sepuluh tahun yang lalu ke jurang ini, ia tak mati karena menyangkut dijala burungku.
Tak kira tiga hari yang lalu Thian mempertemukan Siau cu jin denganku."
Sambil berbicara Bok Tiong telah selesai mengobati Tiong Giok, penuturan yang dilakukan membuat yang diobati tidak merasa nyeri.
"Thian Sek lekaslah kau haturkan hormat kepada Siau cu jin,"
Kata Bok Tiong. Thian Sek tanpa disuruh kedua kali telah memberi hormat.
"Tak usah terlalu memakai peradatan,"
Cegah Tiong Giok.
"Kehidupan ini memang aneh, tidak disangka-sangka aku bisa bertemu kalian disini. Thian Sek atau Kurnia Allah , namamu bagus dan sesuai dengan apa yang dialaminya."
"Tadinya bukan Thian Sek, tapi sejak tergelincir kejurang ini Gie hu memberi nama Thian Sek !"
"Waktu kau masuk kejurang ini masih kecil betul....ada lima tahun ?"
"Menurut Gie hu waktu itu usiaku ya lebih kurang sebegitu !"
"Sepuluh tahun engkau menemani Bok Lo cianpwee disini, jasamu sangat besar sekali. Kalau kita bisa keluar dari sini, maukah engkau menjadi murid dari Thian Liong Bun ?"
"Bocah tolol lekas engkau haturkan terima kasih atas kebaikan Siau cu jin, kau harus tahu ilmu silat dari Thian Liong Bun luar baisa sekali, bila mana engkau paham tiga empat jurus saja sudah cukup untuk malang meolintang didunia Kang Ouw."
Thian Sek segera berlutut sebagai tanda bersedia menjadi murid, Tiong Giok membiarkan anak itu menjalankan peraturan dan menerimanya dengan tersenyum.
"Sekarang sebaiknya Siau cu jin beristirahat,"
Kata Bok Tiong.
Tiong Giok menganggukkan kepala.
Entah sudah beberapa lama berlalu, Tiong Giok tertidur dengan nyenyak sekali.
Waktu ia bangun, cuma melihat pelita kecil, sedangkan Bok Tiong dan anaknya tidak terlihat.
Ia tidak tahu waktu ini siang atau malam.
Ia mencoba membalik badan, rasa sakit dipunggungnya seperti hilang, ia menjadi girang.
Dengan bantuan kedua tangannya ia mencoba bangun, saat inilah Thian Sek masuk kedalam gua dan mencegahnya dengan segera .
"Siau cu jin lukamu belum sembuh betul, lebih baik jangan banyak bergerak."
Jilid 20 .....
"Kurasakan agak mendingan dan ingin duduk,"
Kata Tiong Giok sambil tersenyum.
"Mana ayahmu ?"
"Ayahku menjaga dimulut gua ia kuatir ada orang jatuh kejurang."
"Masakan ditempat begini bisa didatangi orang ?"
"Sejak Siau cu jin jatuh kesini, setiap hari ada orang yang menyelidiki tempat ini. Ayahku kuatir diantara mereka ada yang jatuh, maka setiap hari bersiap sedia dimulut gua."
"Apakah sewaktu kujatuh tak sadarkan diri selama tiga hari tiga malam itu banyak orang menyelidiki jurang ini ?"
"Benar."
"Apakah sekarang ada yang datang ?"
"Sekarang sudah tidak ada lagi, mungkin mereka sudah pergi,"
Kata Thian Sek.
"sungguhpun begitu ayahku masih kuatir dan tetap saja menjaga-jaga diluar."
"Oh, kalau begitu mereka menganggap aku sudahmati dan berlalu...."
Kata Tiong giok dengan perlahan.
"Apakah Siau cu jin tahu orang-orang itu siapa ?"
In Tiong Giok hanya tersenyum meringis tanpa memberikan jawaban, ia jadi terpekur, ia memikirkan banyak soal, misalnya Pek Kiam Hong dan Tiat Siau Bwee setelah terlepas dari bahaya maut akan pergi kemana ?
Ciu Kong dan lain-lain akan berbuat apa setelah kehilanganku ?
Bagaimana ibunya dan Wan Jie yang masih didalam hotel ?
Betapa kaget dan kecewa mereka, tatkala mendengar berita, aku tergelincir kedalam jurang, semua kejadian yang rumit ini biar bagaimana dijelaskan Thian Sek sukar mengerfti, maka itu Tiong Giok diam terus walaupun ditanya lagi.
"Siau cu jin sebaiknya istirahat lagi, aku mau memanggil ayah pulang,"
Kata Thian Sek setelah melihat Tiong Giok terpekur terus.
"Aku tak merasa letih barang sedikitpun, sebaiknya marilah kita mengobrol,"
Ajak Tiong Giok.
Dari percakapan singkat Tiong Giok mengetahui sejak Thian Sek jatuh kedalam jurang mendapat pelajaran silat dari Bok Tiong, seingat ia mempunyai pelajaran dasar yang kuat selama sepuluh tahun.
"Engkau telah pandai bersilat, kenapa tak berusaha meninggalkan tempat ini ?"
"Sebenarnya aku jatuh kesini sudah sepantasnya mati konyol, akan tetapi berkat pertolongan ayah angkatku, aku bisa hidup sampai sekarang. Maka itu aku sudah bertekad bilamana tidak bersama-sama ayah keluar dari jurang ini, lebih baik aku mati tua disini !"
"Itu adalah rasa baktimu kepada orang tua yang berlebih-lebihan, kenapa engkau tidak amenyelidiki keadaan disini dan berusaha mencari jalan keluar ?"
"Jurang ini mulutnya kecil dasarnya luas sekelilingnya adalah tebing yang buntu. Hanya gua ini yang menembus kedalam perut gunung, disitu terdapat mata air yang jernih berupa kolam, dalamnya entah bebreapa meter belum pernah dijajaki, menurut ayah kolam itu adalah sungai didalam tanah yang berkemungkinan bisa menembus keluar. Ayah sudah pincang maka itu tak bisa menyelam, karena itu tak pernah mencobanya."
"Dimana kolam itu ?"
"Didalam gua ini, lebih kurang satu lie dari sini."
"Coba ajak aku kesana !"
Kata Tiong Giok.
"Nanti saja setelah Siau cu jin baik betul baru kesana,"
Kata Thian Sek.
"Oh luka luar ini tidak berbahaya, juga sudah baikkan,"
Kata Tiong Giok memaksa.
"Aku hanya ingin melihat kolam itu, siapa tahu ada kemungkinan jalan keluar dari lembah ini."
Thian Sek tidak banyak bercerita lagi, diambilnya pelita dan dipayangnya Tiong Giok.
"Tak usah aku bisa berjalan sendiri,"
Kata Tiong Giok.
Yang terus jalan perlahan-lahan sambil memegangi dinding gua.
Dibelakang gua, benar-benar terdapat sebuah terowongan yang luas, berliku-liku menembus lambung gunung.
Diujung terowongan benar-benar terdapat sebuah kolam ukuran lima meter.
Air kolam terlihat bergelora dan mengalir deras.
Dalam penyelidikan pertama, Tiong Giok merebahkan diri mendengari aliran air.
"Tak salah ini adalah sungai dibawah tanah, satu-satunya jalan keluar dari lembah mati ini. Namun didalamnya entah berapa meter dan berapa panjang ditanah sukar diketahui."
"Manurut perkiraan Siau cu jin, bisakah seorang melalui sungai ini pergi keluar ?"
"Andaikata sungai ini hanya lima lie berada didalam tanah, bisa saja dilalui.....tapi kalau lebih dari itu, aku tak bisa mengatakan bisa atau tidak, itu tergantung pada nasib. Nasib bagus ya bisa, nasib buruk ya mati."
Waktu mereka bicara, tiba-tiba Bok Tiong datang tergesa-gesa, yang terus menegur anaknya.
"Waduh, kenapa engkau bawa-bawa Siau cu jin kesini, jatuh belum sembuh betul, kalau terjadi apa-apa siapa yang bertanggung jawab ?"
"Bok Lo Cianpwee jangan gusar, aku yang mendesaknya mengantar kemari dan bukan dia."
"Mungkin Siau cu jin pun tak bisa menduga sungai inilah satu-satunya jalan keluar dari lembah mati, tapi bahayanya sampai ditaraf apa belum bisa kuselidiki. Kupikir setelah Siau cu jin sembuh betul baru menyelidikinya...."
"Memang dalam hal ini kita harus sabar dan hati-hati, tergesa-gesa tidak ada gunanya,"
Kata Tiong Giok.
Sekembalinya kedepan gua, In Tiong Giok membaringkan diri sambil terpekur, sedangkan Bok Tiong sedang sibuk menyediakan makanan.
Sungguhpun tidak ada ayam atau itik, Bok Tiong dengan pukatnya berhasil menangkap dua ekor elang, setelah diolah daging elang itu cukup lezat bagi mereka.
Sambil makan daging elang, Tiong Giok mengerutkan kening dan mengawasi pada Bok Tiong.
"Lo Cianpwee mengikuti ayahku sudah lama, tentu mengetahui juga hubungannya dengan Tiat Pocu sangat intim sekali bukan ? Akan tetapi dibalik itu ada sesuatu yang ingin kutanyakan kepadamu !"
"Silahkan Siau cu jin bertanya, apa yang kutahu akan kujelaskan,"
Jawab Bok Tiong. Tiong Giok terpekur sejenak.
"Menurut berita, sewaktu ayah mengunjungi Tiat Po kena disemprot dan dimaki habis-habisan oleh tuan rumah. Setelah itu Tiat Giok Lin membunuh diri dengan jarum beracun, apakah engkau tahu soal ini ?"
"Dari siapa Siau cu jin mendengar berita ini ?"
Tanya Bok Tiong sambil mengawasi dengan tajam.
"Siau siang Lie hiap sendiri yang mengatakannya kepadaku."
"Menurut keyakinanku ayahmu adalah seorang berbudi luhur, bagaimanapun ia tak bisa menjual teman. Sebaliknya adalah orang-orang dari Tiat Po yang berlaku tidak bersahabat kepada ayahmu !"
"Apa alasanmu mengatakan begitu ?"
"Sudah terang ada alasannya,"
Jawab Bok Tiong perlahan.
"dengan mata kepala sendiri kusaksikan bahwa yang menghadang kami diperjalanan adalah orang-orang dari Tiat Po !"
"Benarkah begitu ?"
"Ini bukan soal main-main, aku takberani membohong!"
Kata Bok Tiong dengan serius, ia tertegun sejenak sambil menelan ludah. Lalu melanjutkan ceritanya penuh emosi.
"Orang yang menghadang kami satupun tidak ada yang kukenal, merekapun tidak mengenal aku maupun ibumu. Begitu menghadang mereka pura-pura menanyakan ibumu berada dikereta yang mana. Setelah ditunjukkan, tiba-tiba saja mereka melakukan serangan sambil memaki-maki. Bunuh keluarga bangsat she Ang ini, ia menjual teman sendiri demi keuntungan peribadinya, mari kita tuntut balas darinya."
"Waktu mendengar ini, ibumu menjadi kaget dan mengatakan bahwa ia akan pergi ke Tiat Po. Segala urusan yang bagaimana hebatpun dapat diselesaikan disana."
"Penghadang-penghadang itu bukan saja tidak mendengar perkataan ini, merekapun segera turun tangan dengan bengis. Ibumu dan aku melakukan perlawanan mati-matian, karena tidak percaya bahwa orang Tiat Po bisa berlaku sekeji dan serendah itu, tak kira setelah kulolos dari bahaya. Kudengar bahwa Tiat Pocu telah meninggal dunia. Didunia Kang Ouw tersebar luas dari mulut ke mulut bahwa ayahmu karena ingin mengangkangi Keng thian cit su, sampai mencelakakan Tiat Giok Lin, dari sudut inilah aku berani mengatakan bahwa yang menghadang dijalan itu adalah orang-orangnya Tiat Pocu....."
"Tebakanmu itu meleset, soal yang menghadang kuyakin dari Tiat Po, sebaliknya kita dan Tiat Po lah yang kena diadu domba dan dicelakakan. Semua ini siasat dari Pok Thian Pang yang sekali panah dua burung."
"Pok Thian Pang ? Apa itu ?"
Tanya Bok Tiong keheranan.
Tiong Giok tidak heran kalau orang tua itu tidak pernah tahu soal Pok Thian Pang, maka dengan tekun ia menjelaskan keadaan dunia persilatan selama dua puluh tahun belakangan ini dengan panjang lebar dan jelas.
Membuat Bok Tiong manggut-manggut mendengarkan verita itu, dan mengetahui kini, apa sebenarnya Pok Thian Pang itu.
"Jika begitu biang berengsek didunia Kang Ouw adalah Pok Thian Pang ?"
"Ya dapat dikatakan begitu !"
Kata Tiong Giok.
"jika lolos dari sini, pasti perserikatan itu akan kugempur !"
"Sudah jangan berpikir terlalu jauh dulu, saat ini yang penting Siau cu jin harus banyak istirahat dulu untuk memulihkan kesehatan dulu. Nah istirahatlah baik-baik, aku akan mencari obat-obatan lagi untukmu !"
Keadaan Tiong Giok kiam hari kian baikan, untuk menghilangkan kesal ia mempelajari ilmu Liap hun hoat dari It Piau Taysu.
Dikarenakan dasar ilmunya sudah baik, ia bisa mengikuti pelajaran itu dengan baik.
Waktu berlalu denganb cepat, dalam sekejap mata sepuluh hari telah dilalui Tiong Giok didalam gua.
Berkat perawatan Bok Tiong dan Thian Sek luka yang dideritanya telah sembuh seperti sediakala.
Kesehatanm tubuhnya ini mendatangkan harapan besar baginya untuk mencari jalan keluar dari gua itu, tak heran ia menyelidiki kesetiap pelosok lembah itu, kalau-kalau ada jalan keluar lain.
Sementara jalan yang dicari belum didapat, kedua pedang pusaka yang jatuh bersama-sama Liok Jie Hui dapat diketemukan.
Ingin ia menggunakan ketajaman pedang itu untuk menggali dinding tebing, terus naik keatas seperti tangga.
Tapi ia menjadi kecewa, karena tebing itu tidak semuanya keras, ada bagian-bagian yang tidak padat, begitu digali tanahnya segera meluruk.
Akhirnya ia thau jalan keluar bagaimanapun harus melalui kolam didalam gua itu.
Ia pun tahu bilamana rencananya ini dibicarakan, Bok Tiong pasti akan mencegahnya.
Jika tidak dibicarakan, ia membutuhkan pembantu, tanpa pembantu usahanya takkan berhasil.
Setelah membulatkan tekad, dicarinya Bok Thian Sek, dan diajaknya ketempat sunyi diluar tahu Bok Tiong.
Kandungan hatinya dibicarakan pada pemuda itu.
"Tempo hari, waktu kuantarkan Siau cu jin kekolam itu, ayah marah betul. Maka itu dlam hal ini aku harus memberi tahu dulu pada ayah...."
"Jika ayahmu sampai tahu, apa gunanya kubicarakan hal ini kepadamu ?"
Kata Tiong Giok.
"Pikirku mau mencoba keluar dari sini melalui kolam itu, sebab lain jalan tidak ada lagi. Lagi pula belum tentu berbahaya, tak perlu membuat orang tua itu cemas atau kuatir."
"Siau cu jin tentu tahu tabiat ayahku,"
Kata Thian Sek.
"Biar tidak berbahaya, asal dia tahu pasti tidak ada ampun bagi diriku !"
"Jangan kuatir aku bisa bertanggung jawab atas hal ini."
"Ayahku tak bisa berbuat apa-apa pada Siau cu jin, tapi aku bagaimana ? Kupikir biar bagaimana harus memberi tahu dulu padanya."
Tiong Giok tahu dengan membujuk tidak ada gunanya, maka dengan wajah serius ia menggertak.
"Hm, engkau sebagai murid dari Thian Liong Bun, sedangkan aku sebagai ketuanya apa yang dikatakan seorang ketua harus kau patuhi bilamana tidak hukumannya adalah penggal kepala."
Bok Thian Sek menjadi melengak dan tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.
"Sekarang kuperintahkan dirimu menyediakan rotan yang panjang, dan bawa ketepi kolam ! Soal ini tidak boleh diketahui ayahmu !"
"Baik ! Tapi kalau ayah tahu...."
"Jangan banyak bicara lagi, lekas pergi !"
Bok Thian Sek tidak berani berkata apa-apa lagi, cepat ia mencari rotan dan membawanya kedalam gua.
Tiong Giok menantikan sejenak, ia celingukan keempat penjuru, setelah yakin Bok Tiong tidak ada disitu, cepat-cepat ia menyusul Thian Sek kedalam gua.
Sesampainya didalam gua, dengan cepat Tiong Giok mengikat dirinya dengan rotan, ujungnya diberikan pada Thian Sek.
"Aku ingin mengetahui kolam ini berapa dalamnya....jika ada bahaya aku bisa menarik tiga kali, engkau harus cepat-cepat menarik diriku."
Thian Sek menganggukkan kepala.
"Siau cu jin sebagai Ciang bun jin dari Thian Liong Bun sebaiknya akulah yang turun kedalam kolam ini."
"Kepandaianmu masih rendah, tak tahan lama didalam air, sedangkan aku sudah mempelajari ilmu dalam yang bisa menutup pernapasan agak lama, mengertikah ?"
Kata Tiong Giok sambil menepuk-nepuk bahu pemuda itu.
Diambilnya dua pedang pusaka, lalu terjun ketengah-tengah kolam.
Arus air sangat deras, sukar untuk seseorang selam kedalam.
Tiong Giok menutup pernapasannya dan menjalankan ilmu Cian kin tui.....tubuhnya mulai masuk kedalam air....sepuluh meter.....dua puluh meter, akhirnya sampailah didasar kolam itu.
Arus air semakin keras ia menempelkan dirinya didinding kolam sambil mengawasi situasi dan keadaan disitu.
Kini ia mendapat tahu bahwa kolam itu merupakan huruf "X"
Terbalik.
Dan ia pun bisa membedakan bahwa air masuk dari sebelah kanan dan keluar kearah kiri.
Setelah itu kakinya menjejak dasar kolam merapung keatas.
Bok Thian Sek sedang terpekur ketengah-tengah kolam sambil memegangi ujung rotan, begitu melihat Tiong Giok timbul ia menjadi girang.
"Bagaimana ? Adakah jalan keluar ?"
"Kuyakin ada ! Sekarang ingin kucoba lagi, tapi tidak usah memakai rotan ini !"
"Mana boleh begitu, kalau ada bahaya bagaimana ?"
"Jangan kuatir, aku berani berbuat begini karena ada sebabnya,"
Kata Tiong Giok.
"Kesatu kolam melainkan sebagian permukaan air dari sebuah sungai yang melalui tanah. Kedua sungai ini tentu mempunyai bagian hulu atau hilir yang tidak melalui tanah. Ketiga sudah kuselidiki bagian kanan hulu bagian kiri adalah hilir. Artinya sungai ini mengalir dari bagian kanan ke bagian kiri."
"Bilamana dugaan Siau cu jin benar, dapatkah kita ketahui berapa jauh sungai ini melalui tanah ?"
"Mana bisa kutahu,"
Jawab Tiong Giok.
"Inilah yang harus kucoba !"
"Andaikata bagian sungai yang ditanah ini sungai panjang, bagaimana ? Bukankah berbahaya ?"
"Itu terserah kepada takdir !"
Jawab Tiong Giok.
"Mungkin bagian yang berada didalam tanah ini, satu lie panjangnya, mungkin seratus lie...pokoknya harus kucoba !"
"Bagaimanapun aku tak bisa mengijinkan Siau cu jin menempuh bahaya ini, sebelum memberitahu pada ayah...."
"Diam terus didalam gua ini akan mati juga, jika sampai mati karena tak berusaha aku merasa tak puas. Sebaliknya aku akan merasa puas bilamana mati karena berusaha mencari hidup !"
"Bagaimanapun Siau cu jin tak boleh pergi,"
Kata Thian Sek seraya membentangkan tangan mau merangkul Tiong Giok. Dengan kecepatan kilat, Tiong Giok membalikkan tangan, membuat Thian Sek tertotok dan tak berdaya.
"Terpaksa kutotok dirimu ! Ingatlah jika aku tak kembali lagi, berarti mati terbenam didalam sungai ini. Kalian tak perlu mencoba lagi jalan ini."
Sehabis berkata ia menyerahkan Thian Liong Giok Hu pada Thian Sek.
"Jika aku tidak kembali lagi, engkaulah yang menjadi Ciang bun jin dari Thian Liong Bun. Ingatlah jika disuatu hari engkau bisa keluar dari lembah ini, datanglah ke Ciu cing san dan untuk menerima jabatan Ciang bun jin secara resmi."
Thian Sek tidak dapat bergerak, tapi apa yang dibicarakan Tiong Giok terdengar jelas olehnya. Ia menjadi sedih, air matanya membasahi pipi.
"Tak usah bersedih hati ! Kehidupan dasarnya adalah penderitaan. Lambat atau cepat aku akan mati dan berpisah dengan dunia fana ini ! Bilamana belum takdirnya mati, bahaya yang bagaimanapun hebatnya bisa dilalui dengan selamat. Buktinya, aku terjatuh dari atas bukit itu dengan ayah angkatmu, maupun engkau sendiri, tapi sampai sekarang masih tetap hidup, karena belum takdirnya mati ! Sekarang akan kuterjang bahaya ini bilamana belum takdirnya mati, tetap akan selamat. Totokan ini akan punah sendiri selang satu jam, ingatlah pesanku tadi !"
Kata Tiong Giok yang segera terjun kedalam air.
Arus air yang keras, tanpa mengeluarkan tenaga lagi, tubuhnya terhanyut cepat didalam terowongan sungai.
Dengan memasang mata, ia melewati beberapa tikungan berbahaya.
Kepandaiannya telah tinggi, ia bisa menggunakan ilmu dalam menyimpan pernapasan, sehingga bisa bertahan berjam-jam didalam air.
Arus air yang keras, dalam beberapa menit telah menghanyutkan dirinya beberapa ratus meter jauhnya dari gua tadi.
Ia tetap menggunakan kekuatan air membiarkan dirinya hanyut.
Tapi setelah beberapa menit lagi berlalu, arus air menjadi kendor.
Terowongan tidak penuh berisi air seperti semula.
Ia jadi girang, karena memudahkan baginya bernapas.
Kini ia berenang dan berenang untuk keluar dari terowongan itu, hatinya menjadi girang, karena tak lama kemudian bisa melihat sinar terang masuk kedalam terowongan.
Ia tahu jalan hidup sudah terbentang didepan mata.
Dengan cepat ia menggerakkan kaki tangannya agar cepat-cepat sampai diluar, akan tetapi sebelum ia sampai diluar tampak berkelebatan sesosok bayangan masuk kedalam terowongan.
Ia menjadi kaget, sebelum sempat berbuat apa-apa, tubuhnya telah tertangkap.
Bayangan itu memiliki kepandaian luar biasa didalam air, tenaganya luar biasa.
Tiong Giok dibuatnya tak berdaya, dan mandah saja dikempit dan dibawa keluar !
"Dapat !
Dapat !"
Teriak yang mengempit Tiong Giok itu sekeluarnya dari dalam terowongan.
Tiong Giok menjadi girang, karena bisa melihat jelas, orang yang mengempit dirinya itu adalah Toa Gu sitolol itu.
Dimulut terowongan tampak Yauw Kian Cee dan Ciu Kong.
Begitu mereka melihat Tiong Giok, segera memberi hormat sambil memanggil "Siau cu jin"
Dengan suara parau. Sedangkan mata mereka tergenang air dan berkaca-kaca bahwa girangnya.
"Eh....katanya ingin betul bertemu dengan Siau cu jin, dan menyuruhku masuk kedalam gua air untuk mencarinya, kini sudah bertemu kenapa berlagak sedih ?"
Kata Toa Gu. Mendengar ini Tiong Giok tersenyum juga, cepat ia membalas hormat kedua orang tua itu sambil berkata.
"Apa yang diucapkan Toa Gu adalah benar, pertemuan ini sangat menggirangkan bukan, untuk apa bersedih ?"
"Waktu Siau cu jin jatuh kedalam jurang, kami tidak berdaya memberikan pertolongan. Untung Tuhan maha adil, melindungi Siau cu jin dari bahaya maut. Bilamana tidak, rasa sesal kami ini bisa terbawa mati !"
"Sudahlah,"
Kata Tiong Giok.
"Eh...kalian kenapa bisa berada disini ?"
"Biarpun Siau cu jin sudah jatuh, kami masih tetap bertekad untuk menemukan, maka itu dalam beberapa hari, kami menyelidiki keadaan disekitar ini, menjadi curiga, maka itu kusuruh Toa Gu menyelidikinya. Tak kira begitu dicoba, berhasil menemukan Siau cu jin !"
Tiong Giok menuturkan dengan ringkas keadaan dirinya sehabis jatuh dari atas bukit itu. Bagaimana keadaan Wan Jie dan ibuku ?"
Tanya Tiong Giok.
"Tak perlu kuatir, mereka meneruskan perjalanan ke Kiu Yang Shia dibawah perlindungan Pek Kiam Hong dan Tiat Siau Bwee,"
Jawab Ciu Kong.
"Oh....Pek Kiam Hong dan Tiat Siau Bwee, mau mereka kesana ?"
"Karena pertolongan dari Siau cu jin, Pek Kiam Hong memohon sendiri untuk mengantarkan ibumu kesana, kami tak bisa mencegah dan membiarkannya pergi. Sedangkan kami terus berada disekitar sini, untuk mencari jalan menemui Siau cu jin,"
Kata Yauw Kian Cee.
"Apakah Wan Jie dan Ceng Ceng turut juga kesana ?"
"Ini....ya mereka turut juga kesana..."
Kata Ciu Kong agak gugup.
"Siau cu jin...."
Kata Toa Gu yang terus membungkam lagi, karena dienterap Yauw Kian Cee.
"Toa Gu, Siau cu jin tentu masih letih sekali lekaslah ambil arak dan makanan, bawa kesini."
Toa Gu kepaksa tak bisa melanjutkan pertanyaan, cepat ia pergi menjalankan perintah Yauw Kian Cee.
Tiong Giok bukan manusia bodoh, ia kenal betul sifat polos dari Toa Gu, maka sambil tersenyum ia berkata .
"Ada apa sih yang dirahasiakan kepadaku ?"
"Siau cu jin jangan berkata begitu, sedikitpun tidak ada yang kamu rahasiakan,"
Kata Yauw Kian Cee.
"Memang kuharapkan demikian adanya, tapi kenapa Yauw Lo Cianpwee mencegah apa yang hendak diucapkan Toa Gu ?"
Yauw Kian Cee dan Ciu Kong menundukkan kepala, yang aneh dari mata tunggalnya Ciu Kong meneteskan air mata.
"Apa yang sudah terjadi, jelaskanlah !"
Kata Tiong Giok ingin mengetahui penjelasan.
"Keadaan Siau cu jin baru lepas dari bahaya, maka segan untuk menuturkan secara jujur, nanti saja....."
Kata Yauw Kian Cee.
"Tidak !"
Kata Tiong Giok.
"Kuminta penjelasannya sekarang juga !"
Katanya lagi. Yauw Kian Cee dan Ciu Kong tetap membungkam. Saat ini Toa Gu sudah kembali dengan arak dan makanan. Begitu ia mengetahui kehendak Tiong Giok segera ia tertawa.
"Aku tak bisa berdusta, sejak tadipun sudah ingin kukatakan."
"Nah, katakanlah lekas !"
Seru Tiong Giok.
"Dua Lo Cianpwee ini membohongi Siau cu jin ! Karena Wan Kounio dan Ceng Ceng tidak ikut ke Kiu Yang Shia, mereka.....ng....ng....ng"
Toa Gu dengan mendadakan menangis dan tidak bisa meneruskan kata-katanya lagi.
"Katakan ! Katakan ! Apa yang terjadi pada mereka ?"
Teriak In Tiong Giok.
"Wan Kounio ditangkap kaum Pok Thian Pang, Ceng Ceng melindungi, tapi tak berdaya, menderita luka parah....hampir...mati...ng....ng...."
Tiong Giok menarik napas.
"Apakah betul ?"
Yauw Kian Cee menganggukkan kepala.
"Kini Ceng jie berada dimana ?"
"Disebuah gua yang tak seberapa jauh dari sini....."
Kata Ciu Kong.
"Antarkan aku menemuinya,"
Kata Tiong Giok. Segera ia berjalan, tapi baru beberapa langkah, ia berhenti dengan tiba-tiba.
"Toa Gu memiliki kepandaian di air yang luar biasa, kutugaskan untuk menolong Bok Tiong dan anaknya."
Diterangkannya dengan jelas keadaan terowongan air, dan letaknya kolam didalam gua dimana Bok Tiong berada.
Disamping itu iapun menugaskan Yauw Kian Cee menjaga dimulut terowongan, sedangkan Ciu Kong diajaknya pergi untuk menemui Ceng Ceng.
"Hm, gara-garamu membuat Siau cu jin berduka,"
Kata Yauw Kian Cee setelah berada berduaan dengan Toa Gu.
"Apa yang kukatakan semuanya benar, apa salahnya ?"
"Jangan ngomong saja, lekaslah masuk keair!"
Toa Gu segera terjun kedalam air untuk menjalankan tugasnya.
Sementara itu dengan cepat Ciu Kong telah mengajak Tiong Giok memasuki sebuah gua.
Gua itu tidak lembab karena diserapi jerami-jerami kering, disitu terdapat persediaan makanan yang cukup.
Agaknya mereka telah beberapa hari berdiam didalam gua itu.
Disalah satu sudut gua terdapat tumpukan jerami yang tebal, diatasnya tampak tergeletak tubuh Ceng ceng.
Rambutnya riap-riapan wajahnya pucat sekali.
Melihat sigadis yang biasa lincah dan bersemangat menjadi semacam ini, Tiong Giok menjadi pedih.
Dan cepat dipegang pergelangan si gadis, setelah memeriksa hatinya menjadi legaan, karena sigadis belum mati.
"Ceng Ceng ! Ceng Ceng !"
Panggilnya dengan perlahan.
Ceng Ceng seperti mendengar perkataan itu, tampak ia memaksakan diri membuka matanya.
Ia berhasil melihat, tetapi sepasang matanya yang tajam seperti rabun dan hilang kesegarannya, kuyu dan mati, sedikitpun tidak bersinar.
Bibirnya seolah-olah ingin bergerak, tapi tak sepatah katapun yang keluar.
Tanpa terasa Tiong Giok mencucurkan air mata, dengan suara parau tersumbat isak tangisnya ia berkata .
"Kenapa ia bisa menderita begini macam ?"
"Waktu melindungi Wan Kounio kena dilukai seseorang yang berkepandaian tinggi, sehingga isi perutnya berubah hebat...disamping itu dalam beberapa hari kami sibuk mencari Siau cu jin, membuatnya kurang terawat benar,"
Kata Ciu Kong.
"Ceng Ceng memiliki kepandaian yang amat tinggi, jarang orang di Pok Thian Pang yang bisa menandingi kepandaiannya, aneh...siapa yang bisa melukainya begini macam ?"
"Benar, orang biasa tak melukai Ceng Ceng tapi orang itu berkepandaiannya luar biasa sekali. Kekuatanku berdua Yauw Kian Cee baru bisa mengimbanginya, maka tak heran Ceng Ceng kena dilukai macam begini...."
"Ya, siapa orang itu ?"
"Kami tidak mengenalnya,"
Kata Ciu Kong.
"Tapi Wan Kounio memanggilnya Lo Cucong, mukanya tertutup kain cagas, sehingga tak terlihat wajah aslinya."
"Oh....kiranya dia, tak sangka sampai iapun turun tangan sendiri,"
Kata In Tiong Giok dengan kaget.
"Apakah Siau cu jin kenal dengannya ?"
In Tiong Giok menganggukkan kepala, tetapi dengan cepat menggelengkannya lagi.
"Aku hanya mengetahui orang itu sebagai pemimpin tertinggi kaum Pok Thian Pang, biasa dipanggil Lo Cucong, seorang misterius yang berbahaya sekali, aku pernah melihat bayangannya sekali tapi belum pernah melihat parasnya."
"Lo Cucong kepandaiannya tinggi sekali, dengan mudah ia menciduk Wan Kounio, Ceng Ceng segera memberi pertolongan, tapi hanya sekali kebut, budak ini menderita luka parah. Yauw Kian Cee bersamaku segera menyerang ia memberi tangkisan keras, kami dibikin mundur dua langkah...pada detik itulah Wan Kounio kena dibawa lari."
"Bilamana hal ini terjadinya ?"
"Yakni waktu Siau cu jin pergi mencari Liok Jie Hui, mereka datang menyerang. Untung kami keburu sampai dan berhasil menyelamatkan ibumu dan Tio Ma. Maka dikarenakan halangan itu, kedatangan itu, kedatangan agak terlambat dan tak berhasil menolong Siau cu jin...."
"Oh kalau begitu di siang hari bolong ia melakukan penangkapan itu ?"
"Benar !"
Kata Ciu Kong.
"Setelah mereka pergi, kami segera datang ketempat Siau cu jin bertemu dengan Liok Jie Hui, kami melihat Siau cu jin terjatuh kedalam jurang....kami menjadi cemas sekali ! Untung Pek Kiam Hong dan Tiat Kounio menampilkan diri untuk mengajak ibumu ke Kiu Yang Shia sedangkan kami terus mencari Siau cu jin."
"Dengan adanya Pek dan Tiat yang mengantar kedua orang tua itu, aku merasa lega, yang penting sekarang juga harus menolong Ceng Ceng. Sekarang juga aku akan mengobati Ceng Ceng dengan tenaga dalam, kuminta Ciu Lo Cianpwee menjaga diluar gua. Setelah Ceng Ceng sembuh, kita harus pergi kemarkas Pok Thian Pang untuk menolong Wan Jie."
"Siau cu jin baru sembuh dari sakit, mana boleh sembarang menghamburkan tenaga sejati. Dalam hal ini biarlah aku dan Yauw Kian Cee yang mengerjakan."
"Pokoknya kuminta Ciu Lo Cianpwee menurut apa yang kukatakan..."
"Janganlah untuk budak ini sampai merusak dirimu....."
"Jangan kuatir, paling lama dua hari dua malam, kujalankan pengobatan ini. Kuminta Ciu Lo Cianpwee menunggu didepan gua, bilamana Yauw Lo Cianpwee telah kembali, suruhlah mereka menantikan didepan. Lekaslah !"
Ciu Kong tidak bisa membangkang lagi, dengan seddih ia menuju keluar.
Dua puluh empat jam terhitung satu hari satu malam.
Keadaan didalam maupun diluar gua begitu sunyi sekali.
Seolah-olah tidak ada kehidupan di dalam kesunyian yang mencekam perasaan itu.
Sinar surya perlahan-lahan bergeser terus, begitu lama dan menyebalkan.
Akhirnya sampailah disenja hari kedua.
Tiong Giok belum pula selesaikan melakukan pengobatan.
Sedangkan Yauw Kian Cee disaat inilah baru terlihat muncul bersama Toa Gu, Bok Tiong dan Bok Thian Sek.
Ciu Kong segera menyambut kedatangan mereka dan menceritakan pula apa yang dikerjakan Tiong Giok.
"Siau cu jin baru sembuh dari lukanya, dan baru pula keluar dari tempat bahaya, kenapa Ciu heng tidak mencegahnya ?"
Yauw Kian Cee menyesali kawannya.
"Sudah kucegah, tapi tabiatnya yang kukuh membuatku tak berdaya !"
"Kejadian ini sebenarnya tidak patut Siau cu jin mengetahuinya, sekarang, tapi gara-gara Toa Gu yang tolol dan goblok ini membuat urusan berengsek ! "
Gerendeng Yauw Kian Cee. Wajah Toa Gu menjadi merah matang, ia menundukkan kepala tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Kejadian ini sudah begini maunya, tak perlu saling menyesalkan, yang penting, kita harus menjaga keselamatan Siau cu jin,"
Kata Bok Tiong.
"Benar,"
Kata Ciu Kong.
"Sewaktu menjalankan pengobatan dengan ilmu dalam Siau cu jin tidak boleh terganggu oleh apapun. Maka itu kita harus melakukan penjagaan yang ketat. Dua anak muda ini kita tempatkan diluar, sedangkan kita menjaga disini !"
"Dengar tidak ?"
Tanya Yauw Kian Cee pada Toa Gu.
"Berlakulah hati-hati, kalau ada bahaya lekas beri laporan."
"Mengerti,"
Jawab Toa Gu singkat.
"Tapi jangan sembarangan membuka mulut sebab suaramu itu bisa membuat Siau cu jin celaka."
Bok Tiong mengulapkan tangan kepada anaknya .
"Ikutlah dengannya, dan berhati-hatilah !"
Thian Sek menganggukkan kepala, terus membuntuti Toa Gu dari belakang.
Dalam sekejap mereka telah sampai disuatu tempat yang tinggi, sejauh seratus meter dari gua.
Toa Gu masih mendongkol, begitu melihat Thian Sek menghampiri dirinya segera menggebahnya .
"Jangan dekatku, aku lagi sial ! Nanti dirimu kebawa-bawa !"
"Tempat ini adalah yang paling cocok untuk berjaga, dari sini bisa melihat keadaan sekeliling bukan ?"
Kata Thian Sek.
"Lagi pula berjaga-jaga seorang diri sangat sepi, maka apa salahnya sebagai sute menemani orang suheng ?"
"Ha ? Aku Suheng ? Tapi engkau tidak tahu, sejak aku masuk sebagai anggota Thian Liong Bun, diajari apa oleh Yauw Lo Ya itu ?"
"Tentu ilmu yang tinggi-tinggi !"
"Hm, engkau salah ! Ia hanya pandai memaki-makiku, goblok tolol....belajar cara begini biar seratus tahun tidak ada hasilnya...."
"Kenapa bisa begitu ?"
"Sebab ia menganggapku goblok sekali dan memberikan pelajaran tidur !"
"Tidur ?"
"Ya, tidur ! Pikirlah apa gunanya belajar tidur ?"
Kata Toa Gu dengan gemes.
"Sekarang baru kutahu, ia kuatir terkalahkan olehku, baru berbuat begini macam, betul tidak ?"
"Yang kutahu seorang guru mengharapkan muridnya pandai, maka dugaanmu itu salah besar !"
"Hm, rupanya engkau tak percaya !"
Kata Toa Gu.
"Baiklah kujelaskan pelajaran tidur itu kepadamu Thian Sek, tiduran diatas sebuah batu lalu mengatakan cara-carfanya yang didapat dari Yauw Kian Cee pada Thian Sek."
Thian Sek menurut saja apa yang diajari Toa Gu.
Ia menjadi kaget, karena setelah menjalankan ilmu ajaran Toa Gu, peredaran darah maupun napas menjadi lambat dan kendur.
Tak selang lama sekujur badannya menjadi lemas, rasa kantukpun menyerang dengan hebatnya.
Sungguhpun begitu terasa pula bdan menjadi nyaman sekali.
"Bagaimana rasanya ? Mengantuk dan ingin tidur bukan ? Pikirlah ilmu macam ini apa gunanya ?"
Keadaan Thian Sek sedang berada dialam tiada aku, apa yang diucapkan Toa Gu sedikitpun tidak terdengar. Membuat sitolol tersenyum-senyum.
"Ha ha ha budak ini berbakat sekali, begitu diajari lantas pulas ! Pelajaran macam ini cocok baginya, tapi tidak untukku !"
Pada saat inilah telinganya mendengar suara orang berkata.
"Anak tolol apakah engkau tidak tahu inilah pelajaran Hoan poo poi kui cin untuk melatih ilmu dalam dari Thian Liong Bun yang terkenal lihay ? Bukan ilmu tidur seperti yang kau katakan !"
Toa Gu segera berpaling. Dibawah sinar rembulan yang redup, ia melihat sesosok tubuh kurus. Dengan memberanikan diri ia menegur.
"Engkau siapa ?"
Si tubuh kurus itu menghampiri, lalu tersenyum kepadanya.
"Manusia polos, kenalkah denganku ?"
Toa Gu tanpa terasa membuka mata semakin lebar, sedang tubuh kurus yang dihadapi tetap kurus.
Cuma ia bisa tahu orang kurus itu berkepala botak dan mengenakan baju kasa, ia seorang Hweesio.
Ia seperti kenal tetapi tidak ingat dimana ia pernah bertemu.
Hweesio itu tetap tersenyum menantikan jawaban.
"Aku kenal....tapi lupa lagi dimana pernah bertemu !"
"Ingat-ingatlah, siapa aku ini !"
"Engkau Hweesio !"
"Benar ! Aku Hweesio ! Namun dimana kita pernah bertemu ? Mungkinkah engkau lupa sama sekali ?"
Kata si Hweesio kurus itu. Toa Gu mencoba mengingat-ingat, tapi tidak berhasil, ia membanting-banting kaki dengan gemes, atas daya ingatnya yang buruk itu.
"Orang polos.....dasar polos...."
Perkataan polos ini mendatangkan ingatan padanya.
"Aku ingat !"
Serunya dengan tiba-tiba.
"Engkau Hweesio yang keluar dari gua di Hoay Giok san....kuingat engkau mengatakan aku orang polos dan bernafsu mengangkat diriku menjadi murid tapi aku tidak mau....betul tidak ?"
"Bagus ! Nyatanya kau masih ingat kepadaku, ya akulah It Piau !"
"Benar ! Engkau It Piau !"
Kata Toa Gu.
"Waktu itu seberlalunya engkau Siau cu jin mengatakan engkau adalah seorang aneh berkepandaian tinggi, aku dikatakan tolol tidak mau diangkat murid.....ha ha ha, tak kira sekarang aku bertemu lagi denganmu."
"Aku kebetulan sedang lewat disini,"
Kata It Piau.
"aku mendengar suaramu dan melihat bagaimana caranya engkau memberikan pelajaran "tidur"
Kepada kawanmu. Ha ha ha engkau harus tahu ini pelajaran sejati dari Thian Liong Bun tahu ? Mana Ciang Bun Jinmu ?"
"Ada....ada.....ada...."
"Baikkah ?"
"Baik....baik....sangat baik....eh tidak, sedikitpuntidak baik ! Kami sedang sial berulang-ulang mendapat kenaasan kini engkau datang, kuras tepat betul ! Tentu engkau bisa membantu Siau cu jin kami, karena engkau lihay bukan ?"
"Apa yang terjadi atas diri In Siau hiap ?"
"Siau cu jin baik-baik, yang mendapat kecelakaan adalah Ceng Ceng. Sebenarnya Siau cu jinpun pernah celaka tapi sudah selamat."
"Beritakanlah yang baik, aku bingung mendengar keteranganmu yang berbelit-belit macam itu."
"Aku orang bodoh maka tak bisa bercerita dengan baik, beginilah . tunggu disini kupanggilkan Yauw dan Ciu Lo yacu, mereka pasti dapat menjelaskan dengan terang dan membuatmu puas."
"Siapa itu Yauw dan Ciu Lo yacu ?"
"Ha ha ha masakan engkau lupa ? Mereka pernah engkau robohkan dengan ilmu gaibmu di Hoay Giok san."
"Oh kiranya mereka, dimana sekarang mereka berada ?"
"Tuh disana, tidak seberapa jauh !"
"Ajaklah aku kesana menemui mereka."
"Tidak mau ! Siau cu jin tidak bias menerima tamu, kedatanganmu kesini harus kuberi tahhu dulu pada mereka, kalau datang-datang bertemu dengan mereka, aku bisa dicaci maki !"
"Lekaslah beri tahu mereka, akan kutunggu disini !"
Toa Gu segera berlalu, tapi cepat-cepat balik lagi.
"Ia adalah suteeku, jika ia bangun...."
Katanya sambil menunjuk pada Thian Sek diatas batu.
"Jangan kuatir aku telah membantunya pulas benar-benar, dalam waktu sekejap ia tak mungkin bangun, pergilah lekas !"
"Kalau begitu gantikan aku jaga sebentar, jangan lupa bilamana ada orang yang mencurigakan jangan ribut-ribut, harus cepat-cepat memberi laporan kepadaku."
"Ya aku mengerti, lekaslah, aku tak mempunyai banyak waktu nongkrong terus disini !"
Dengan cepat Toa Gu telah sampai didepan gua, ia melihat Yauw dan Ciu sedang bersila didepan gua sedangkan Bok Tiong yang berkepandaian agak rendah berada disebelah dalam gua.
Begitu mereka melihat Toa Gu datang, menjadi kaget tak keruan, dan cepat-cepat bangun dari tempat silanya.
"Ada apa membuatmu tergesa-gesa ?"
Tanya Yauw Kian Cee.
"Lo Yacu lekas kesini, ada orang...."
"Siapa yang datang ? Ada berapa orang ?"
"Hanya seorang Hweesio, ia bergelar It....Pi Hweesio...."
"It Pi Hweesio...apakah Yauw heng kenal dengannya ?"
Tanya Ciu Kong.
"Tidak !"
Jawab Yauw Kian Cee.
"Sungguhpun Lo Yacu tidak kenal namanya tapi pernah bertemu dengannya, bahkan pernah pula dirugikan."
"Siapa sebenarnya Hweesio itu ?"
Yauw Kian Cee menegasi dengan kaget.
"Hai.....masakan daya ingat Lo Yacu lebih payah dariku...Hweesio yang di Hoay Giok San itu.....yang membuat Lo Yacu tidur pulas...ingat tidak ?"
"Aapakah yang kau maksud itu salah satu jago daari Kong bun sam kiat yang bernama It Piau Taysu ?"
Tanya Yauw Kian Cee.
"Benar dia !"
"Kenapa kau katakan It Pi ? Membingungkan orang saja !"
Kata Yauw Kian Cee.
"It Piau Taysu seorang manusia aneh yang memiliki kepandaian tinggi, bagaimanapun kita harus menyambutnya dengan baik. Tapi tugas kita menjaga Siau cu jin belum selesai, sebaiknya engkau saja Toa Gu yang mengundang dia kemari,"
Kata Ciu Kong.
"Sabar dulu !"
Seru Yauw Kian Cee.
"Apa lagi ?"
Tanya Ciu Kong.
"Bagaimanapun kita tidak bisa meraba kandungan hati seseorang, sebaiknya kita tanyakan dulu apa maksudnya datang kemari,"
Kata Yauw Kian Cee.
"Kalau begitu jagalah baik disini, aku pergi menemuinya,"
Kata Ciu Kong.
"Bukan kata pikiranku sempit, tapi dalam keadaan begini mau tak mau harus bercuriga. Kuharap sebelum Ciu heng mengetahui maksud kedatangannya yang sebenarnya, berlaku hati-hatilah."
"Aku mengerti,"
Kata Ciu Kong.
Yang terus mengajak Toa Gu menemui It Piau Taysu.
Sesampainya disana mereka melihat It Piau sedang bersila disamping Thian Sek yang masih tidur diatas batu.
Ciu Kong menghentikan kaki dalam jarak sepuluh meter dari tempat It Piau.
"Yang rendah Ciu Kong memberi hormat kepada Taysu,"
Katanya sambil merangkapkan tangan memberi hormat. Dengan tersenyum It Piau membuka mata lalu berkata .
"Bagaimana keadaan Sicu, baik-baik sajakah ?"
Begitu pandangan Ciu Kong beradu dengan sinar mata It Piau, ia menjadi kaget, cepat-cepat menundukkan kepala dan berkata .
"Atas sikap kami yang ceroboh sewaktu di Hoay Giok San, harap Taysu maafkan...."
"Ha ha ha ha itu soal lama....lagi pula yang salah adalah Lona sendiri, Sicu tak perlu berkata begitu....kini Sicu berdiri begitu jauh dariku, apakah masih kuatir pada diriku ? Apakah masih mengingat terus kejadian di Hoay Giok San ?"
"Taysu jangan berkata begitu aku bukan manusia yang berpikiran cupet...."
"Oh kalau begitu baiklah, mari duduk dekatku...."
Ciu Kong segera menghampiri.
"Lona kebetulan lewat disini, bisa bertemu dengan teman-teman lama, merasa girang sekali....tapi kegirangan ini mendadak hilang...."
"Pikirlah dari sini kedalam gua itu hanya seratus meter lebih, biar kepandaianku tak seberapa besar, jarak ini tidak berarti apa-apa bagi diriku...."
Ciu Kong mengerti bahwa Hweesio itu telah mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan Yauw Kian Cee tadi. Ia menjadi jengah sendiri.
"Taysu kalau sudah tahu apa yang kami bicarakan tadi adalah baik ! Kenapa kami bisa berlaku curiga, semua ini demi keselamatan Siau cu jin kami. Atas ini kami mohon maaf kepadamu !"
It Piau tersenyum-senyum.
"Kalian adalah orang-orang yang jujur dan setia, tapi kurang berpikir ! Pikirlah, andai kata aku bermaksud kurang baik kepada Siau cu jin kalian, siang-siang sudah kulakukan di Hoay Giok San, kenapa harus menunggu sampai sekarang ?"
"Sekali lagi kami minta maaf atas sikap kami yang terlalu curiga itu,"
Kata Ciu Kong.
"Marilah kita kegua dan bicara disana."
"Tak usah, yang perlu jelaskanlah kesulitan In Siau hiap dewasa ini kepadaku !"
"Soalnya anak angkatku menderita luka parah, sekarang sedang menerima pengobatan dari In Siau hiap, maka itu kami menjaganya siang dan malam agar usahanya itu tidak terganggu !"
"Apakah puterimu itu seorang gadis enam belas tahun ? Yang senang mengenakan pakaian serba hitam dan pernah bertemu denganku sewaktu di Hoay Giok San ?"
"Benar, dialah Ceng Ceng !"
"Dibagian mana ia menderita luka, dan siapa yang melukainya ?"
"Ia menderita luka dibagian dadanya, yang melukainya adalah Lo Cucong !"
"Puterimu itu sudah berkepandaian tinggi, siapa itu Lo Cucong ?"
"Maaf, kami hanya tahu namanya tidak tahu siapa orangnya."
"Bolehkah aku memeriksa keadaan luka puterimu ?"
"Ini.....ini....."
"Hm, lukanya didada bukan ? Itu tidak apa-apa ! Lona seorang Hweesio yang sudah tua, mungkin masih....."
"Taysu jangan salah mengerti, soalnya bukan disitu ! Soalnya saat ini Siau cu jin sedang menjalankan pengobatan kepada anakku itu, dan baru selesai besok sore !"
"Oh....kalau begitu baiklah kutunggu sampai besok sore !"
Ciu Kong tidak bicara lagi, lantas memberi hormat dan kembali lagi kegua. It Piau Taysu melihat Toa Gu tidak turut kembali, maka dipanggilnya .
"Hei orang polos, kemari kau ! Mari kita ngobrol !"
Toa Gu menghampiri, wajahnya cemberut.
"Ngobrol memang menyenangkan, tapi janganlah engkau memanggilku "polos", aku tak senang dianggap sebagai manusia polos !"
"Kenapa tidak senang ?"
"Pokoknya tidak senang saja !"
Jawab Toa Gu.
"Begitupun baiklah,"
Kata It Piau.
"Ibarat sebuah batu kumala yang belum terasah, tidak memancarkan sinar indah, melainkan serupa dengan batu biasa. Toa Gu engkau tidak senang mempelajari ilmu dari Thian Liong Bun bukan ? Maukah menjadi muridku dan mempelajari ilmuku ?"
"Tidak mau !"
"Kenapa ?"
"Aku sudah menjadi murid dari Thian Liong Bun, bagaimana bisa menjadi muridmu lagi ?"
"Jika kuminta In Siau hiap menyerahkan dirimu, untuk kujadikan murid, bagaimana ?"
"Hm, ini bukan soal dagang, pokoknya aku manusia dan bukan barang, biar Siau cu jinku meluluskan permohonanmu, kalau aku tak setuju, engkau bisa apa ?"
"Sayang bakat yang baik ini tidak bisa kupupuk. Baiklah, dengan waktu yang singkat ini, kubantu dirimu !"
Sehabis berkata, lengannya dengan kecepatan kilat menotok kedada Toa Gu. Membuat yang disebut belakangan tidak bisa berkutik lagi.
"Ah...Hweesio apa yang hendak kau perbuat pada diriku ?"
Tanya Toa Gu yang masih bisa bebas berkata-kata.
It Piau tidak menjawab, lengannya bergerak lagi, tubuh Toa Gu seperti kena magnit, menempel ditangannya, tak bisa berkutik barang sedikitpun, tubuh itu diletakkan diatas batu, lalu ditotok jalan darahnya.
Setelah itu It Piau mengeluarkan sebuah kotak kumala, begitu tutup kotak dibuka, bertebaran hawa harum yang sejuk.
Kotak itu berisi sebuah kolesom yang sudah tua sekali.
Bentuknya seperti orang, biasa dianggap mustika dunia Kang Ouw.
It Piau membuka mulut Toa Gu dan menjejalkan kolesom itu tak ubahnya seperti tepung halus.
Begitu kena air ludah sitolol, terus masuk kedalam perut dengan mudahnya.
Berbareng dengan ini It Piau menepak-nepak sekujur tubuh sitolol.
Dalam sekejap tampak perubahan hebat pada Toa Gu, perutnya turun naik dengan cepat, dan keringatnya mengucur deras seperti air hujan.
Sesudah hal itu berlangsung sejam lebih, Toa Gu menjadi pulas dengan tenangnya.
Bintang mulai menyepi, malampun menjadi hilang.
Pagi telah datang, dengan seorang diri It Piau Taysu datang kegua.
"Waktunya sudah sampai dapatkah Lona menemui In Siau hiap ?"
Yauw Ciu dan Bok dengan serempak memberikan hormat pada Hweesio itu.
"Sungguhpun waktunya sudah sampai, tapi Siau cu jin kami belum selesai dengan pengobatannya harap Taysu bersabar sejenak."
It Piau Taysu mengangguk, sungguhpun begitu ia menghampiri mulut gua telinganya ditempelkan pada dinding gua. Sejenak wajah Hweesio itu berubah dengan mendadak.
"Sam wie benar-benar lalai lekaslah berikan bantuan pada In Siau hiap, yang hampir kehabisan tenaga !"
Ciu Kong bertiga ragu-ragu atas keterangan Hweesio itu.
Tapi dengan cepat mereka menjadi kaget, karena dari dalam gua terdengar suara bluk perlahan, seperti suara tubuh orang jatuh ketanah.
Serentak pula wajah mereka berubah pucat setelah menyaksikan keadaan didalam.
Terlihat Ceng Ceng menggeletak, wajahnya yang pucat telah menjadi semu dadu, tetap belum sadarkan diri.
Lengan kirinya Tiong Giok masih menempel diubun-ubun gadis itu.
Sedangkan lengan kanannya, menempel kedinding gua, menunjang tubuhnya yang telah bermandi keringat.
Agaknya ia telah jatuh sekali, karena kehabisan tenaga, kini terlihat lengannya itu bergetar keras....
Ciu Kong dan Yauw Kian Cee dengan cepat mengeluarkan sebuah lengannya, menunjuang pinggang Tiong Giok sambil menyalurkan tenaga dalamnya.
Bok Tiong tak bisa berbuat apa-apa, dalam bingungnya ia mendengar It Piau berkata dengan perlahan .
"Lekaslah ambil secawan air bening ! Ia terlalu menforsir tenaganya sampai habis-habisan, takmudah tertolong dengan cara begini !"
Bok Tiong dengan cepat keluar dan kembali lagi dengan air bening.
It Piau Taysu mengeluarkan sebuah peles kecil dari lengan bajunya, lalu memasukkan kedalam cawan.
Setelah obat itu diaduk rata dengan jarinya, diserahkan lagi pada Bok Tiong.
"Siap sedialah dengan obat ini ! Perhatikan baik-baik, begitu Lona menarik lengan kirinya In Siau hiap, sicu harus memberikan obat ini, waktunya harus tepat, tidak boleh kecepatan atau kebelakangan !"
"Ya, silahkan Taysu bekerja !"
It Piau Taysu dengan hati-hati, meletakkan lengan kirinya kekening Ceng Ceng, sedangkan lengan kanannya memegang lengan Tiong Giok.
"Kasih obat !"
Katanya dengan perlahan, sambil menarik lengan kiri pemuda kita.
"Sing"
Terdengar suara halus seperti balon kemps, keluar dari lengan kiri Tiong Giok.Berbareng dengan itu tubuhnyapun jatuh kebelakang.
Bok Tiong dengan tangkas membuka mulut si pemuda dan mencekoki obat dalam waktu yang bersamaan dengan perintah It Piau Taysu.
Sambil menarik napas panjang It Piau mengeluarkan lagi dua pil, satu dimasukkan kemulut Tiong Giok, sebutir lagi kemulut Ceng Ceng.
"Untung aku kembali ke Tibet dan membawa obat-obatan ini, bilamana tidak entah bagaimana jadinya dengan In Siau hiap dan Ceng Ceng ini."
"Atas pertolongan ini, aku sibudak tua mengucapkan banyak terima kasih kepada Taysu,"
Kata Bok Tiong.
"Budak ? Apakah engkau pegawai dari keluarga In Siau hiap ?"
"Ya, aku Bok Tiong pegawai dari keluarga In Siau hiap !"
"Itu pemuda she Bok yang berada diluar pernah apa dengan sicu ?"
"Ia adalah anak angkatku,"
Berkata sampai disini, tiba-tiba Bok Tiong ingat bahwa anaknya itu dan Toa Gu bersama-sama Hweesio ini diluar gua, kenapa sampai saat ini tidak kelihatan mata kepalanya.
Berpikir sampai disini cepat ia memberi hormat.
"Silahkan Taysu istirahat sejenak, aku keluar !"
"Silahkan !"
Kata It Piau.
In Tiong Giok belum sadar, ia masih dibantu terus oleh Yauw Kian Cee dan Ciu Kong, sedangkan Ceng Ceng seperti tidur pulas.
Perlahan-lahan It Piau mendekati lengannya terlihat menyingkap baju sigadis, sepasang buah dada yang begitu indah berada didepan matanya, ia memeriksa dengan seksama.
Tampaklah sebuah telapak tangan yang berwarna merah tertanda yang berada dikulit si gadis itu.
Melihat ini It Piau menjadi kaget sekali.
"Hiat ciu ing" (telapak tangan darah) ! Kiranya dia !"
Suaranyapun bergetar penuh kecemasan.
Dan cepat ia mengeluarkan jerijinya dan menggoreskan ke dinding gua, setelah itu iapun berlalu tanpa pamit lagi....waktu Bok Tiong kembali kedalam gua, bayangan It Piau sudah tiada lagi.
Pada saat inilah Ceng Ceng mendusin dari tidurnya, begitu ia melek dan melihat bajunya yang tersingsing dan lalu bangun merapikan pakaiannya.
"Nona apakah engkau melihat kemana perginya Hweesio itu ?"
"Hm, aku tak perduli dengan Hweesio itu, tapi ingin kutanya, engkau manusia macam apa tua-tua tidak tahu diri ?"
"Kenapa nona bertanya begitu, aku salah apa ?"
"Hm, pura-pura gila, nih rasakan dulu hajaranku !"
Seru Ceng Ceng yang terus menggerakkan tangan. Serangannya begitu cepat sekali, sebelum Bok Tiong bisa berbuat apa-apa, lengannya telah dipelintir !"
"Nona apa-apa.....aduuuuh...."
Teriak Bok Tiong.
"Hm, kuhabiskan kau tua bangka tidak tahu diri, yang berani mengganggu perempuan baik-baik !"
Bok Tiong tidak bisa berbuat apa-apa, nampaknya ia akan celaka ditangan Ceng Ceng yang sedang marah itu.
"Ceng Ceng jangan semberono, lepaskan dia !"
Tiba-tiba terdengar suara halus memberikan pertolongan pada Bok Tiong.
Tampak Yauw Kian Cee dengan mandi keringat telah bangun dan mencegah Ceng Ceng mencelakakan Bok Tiong.
Menyusul terlihat In Tiong Giok dan Ciu Kong sudah bangun juga dengan mandi keringat pula seperti Yauw Kian Cee.
Tampaknya mereka letih sekali dan lemas.
Ceng Ceng melepaskan Bok Tiong dan menubruk kepada Tiong Giok.
"Siau cu jin, tidakkah aku sedang bermimpi ?"
Tiong Giok membiarkan dirinya dipeluk si gadis, karena ia bisa memaklumi kegirangan gadis itu. Dengan tersenyum diusap-usap rambut gadis itu.
"Inilah kenyataan bukan impian !"
"Hei budak tolol, lekas haturkan terima kasih kepada Siau cu jin, ialah yang menolong jiwamu dari kematian !"
Bentak Ciu Kong. Si gadis menekuk lutu, tapi cepat-cepat dibanguni Tiong Giok. Mereka ini saling tatap, penuh girang dan terharu.
"Akulah yang harus berterima kasih kepadamu, untuk menolong Wan Jie engkau menderita begini macam."
Ceng Ceng segera menjawab.
"Siau cu jin jangan gusar, karena kepandaianku yang rendah ini, tak mampu melindungi Wan Kounio."
"Engkau telah berusaha mati-matian, tapi mau dikata apa kalau takdir maunya begitu,"
Hibur Tiong Giok. Ia berpaling pada Bok Tiong yang masih kesakitan dan mengurut-urut lengannya, bekas dipelintir Ceng Ceng.
"Apa yang terjadi barusan ? Kenapa engkau menyerang Bok Lo Cianpwee ?"
Ceng Ceng menundukkan kepala dan menjawab dengan perlahan.
"Aku tak kenal dengannya....tapi....ia berani membuka bajuku..."
Mendengar ini Yauw Ciu dan In Tiong Giok menjadi kaget, mereka dengan tajam memandang Bok Tiong seorang.
Kasihan orang tua ini, ia menjadi bingung mendapat tuduhan semacam ini.
Muka tuanya menjadi matang biru, lengannya segera digoyang-goyangkan.
"Pikirlah aku sudah setua ini, mana bisa berlaku semacam ini....aku baru kembali dari luar dan datang mencari It Piau Taysu kemari, Hweesio tidak kutemui, sebaliknya mmebuat Ciu Kounio bangun...tahu-tahu aku diserangnya...."
"Ha ha ha,"
Ciu Kong tertawa geli, karena ia ingat bahwa Hweesio itu pernah mengatakan mau melihat tempat luka Ceng Ceng.
Dan tentu hal ini dilakukan, sedangkan Bok Tiong yang tidak tahu apa-apa ketiban sial membuatnya tertawa terpingkal-pingkal.
Yang lain menjadi heran, dan terus memandang jago tua bermata satu itu dengan tanda tanya.
"Apa yang ayah tertawakan ?"
Tanya Ceng Ceng.
"Aku tertawakan kesialan dari Bok heng !"
Jawab Ciu Kong sambil menjelaskan kandungan hatinya.
"Kini kemana perginya Hweesio itu ?"
Tanya Ceng Ceng.
"Entahlah !"
Kata Bok Tiong.
"Bukan saja ia membuka bajumu, Toa Gu dan Thian Sek pun dibikin tidur, sehingga belum pernah mendusin sampai sekarang !"
"Kapan dia datang kemari ?"
Tanya Tiong Giok. Ciu Kong segera menuturkan kedatangan Hweesio itu dengan jelas.
"It Piau Taysu seorang bulim yang luar biasa, pasti tindak tanduknya takkan bisa merugikan Toa Gu maupun Thian Sek. Dan iapun segera pergi setelah memeriksa luka Ceng Ceng,"
Tiong Giok berhenti bicara dan terus menunjuk kedinding gua.
"Bukankah itu tulisannya ?"
Dengan serentak sekalian yang berada disitu memandang kearah yang ditunjuk, benar saja didinding gua itu terlihat tulisan yang berbunyi .
Suatu firasat buruk membuatku cemas dan pergi tanpa pamit pedang pusaka kupinjam untuk membasmi kejahatan.
Jilid 21 ..... Benar saja salah satu pedang pusaka yang bernama Lie hwe kiam sudah hilang dari tempatnya.
"Hweesio itu sangat aneh, ia pergi tanpa pamit dan membawa pedang untuk apa ?"
Kata Yauw Kian Cee.
"Mungkin firasat buruknya itu dikarenakan ia melihat luka Ceng Ceng,"
Kata Ciu Kong.
"Tapi Toa Gu dan Thian Sek sampai sekarang belum bangun, hal ini mendatangkan firasat buruk bagiku !"
Kata Bok Tiong.
"Jika begitu sebaiknya Lo Cianpwee coba tengok mereka, jika belum bangun gotong saja kemari !"
Kata In Tiong Giok.
"Bolehkah aku menemani Lo yacu keluar ?"
Tanya Ceng Ceng.
Tiong Giok tersenyum sambil menganggukkan kepala.
Ceng Ceng cepat-cepat mengikuti Bok Tiong keluar gua, dalam sejenak ia membuat kesan baik pada orang tua itu, sehingga salah paham tadi hilang dalam waktu sekejap.
Seberlalunya kedua orang itu, Tiong Giok berpaling pada Yauw Kian Cee dan berkata dengan serius .
"Kuminta Yauw Lo Cianpwee memcapaikan diri pergi ke Siau sa san untuk menemui Hek pek siang yauw, dan mohon pada mereka sepuluh orang yang pandai berenang lengkap dengan alat-alat selamnya. Dan suruh mereka menantikan di Chin San sia dalam minggu ini juga."
Ia pun menyerahkan pedang Hong siat kiam pada Yauw Kian Cee.
"Jika mereka tak yakin, perlihatkanlah pedang sebagai bukti.."
Disamping itu ia pun menyerahkan Thian Lui tiap pada Ciu Kong.
"Kuminta Lo Cianpwee memcapaikan diri membawa buku ini sebagai benda kepercayaan untuk menyambangi Tong Cian Lie di Kiu Yang Shia. Katakan kepadanya aku menghaturkan terima kasih atas kesediaannya menerima ibuku disamping itu minta pula kepadanya untuk menahan Pek Kiam Hong dalam waktu setengah bulan, jangan sampai meninggalkan Kiu Yang Shia."
Yauw Kian Cee dan Ciu Kong saling tatap, dengan wajah guram. Akhirnya Yauw Kian Cee bertanya dengan heran."
Apakah Siau cu jin sudah bertekad untuk menolong Wan Kounio dari cengkeraman kaum Pok Thian Pang ?"
"Benar ! Tapi niatku pergi kesana semata-mata bukan karena urusan Wan Kounio saja, masih ada yang lebih penting lagi dari itu !"
"Bolehkah kutahu hal yang penting itu ?"
Tanya Ciu Kong.
"Niatku pergi kemarkas kaum Pok Thian Pang disamping untuk menolong Wan Kounio, yang terpenting untuk menemui orang tua di dalam penjara tanah itu !"
"Apakah Siau cu jin tahu siapa orang itu ?"
"Menurut dugaanku, orang tua itu bukan lain dari pada ayahku sendiri !"
Ciu Kong dan Yauw Kian Cee menundukkan kepala tanpa berkata-kata lagi. Setelah itu dengan berbareng mereka merangkapkan tangan.
"Kalau begitu sekarang juga kami pergi !"
"Baik, lebih cepat lebih baik !"
Kata Tiong Giok yang terus mengantar kedua orang tua itu keluar gua.
Baru Yauw dan Ciu berlalu, tampak Bok Tiong bersama-sama Ceng Ceng, Toa Gu dan Thian Sek kembali ke gua.
Diantara mereka tampak Thian Sek paling gembira.
"Siau cu jin mungkin engkau takkan percaya dalam waktu semalam aku dapat memahami ilmu Samadhi dari Thian Liong Bun !"
"Betulkah ? Siapa yang mengajarimu ?"
Tanya Tiong Giok. Thian Sek menunjuk pada Toa Gu.
"Oey Suheng yang mengajari !"
Keruan saja Tiong Giok dibikin melengak karena ia tahu sendiri Toa GU sendiri sangat goblok dan tak bisa memahami ilmu itu, apalagi mengajari orang lain.
"Ha ha ha ha betul-betulkah dia yang mengajarimu ?"
Toa Gu merasa jengah sendiri.
"Aku tak mengajari apa-apa, hanya menyuruhnya tidur ! Tapi ia mengatakan memperoleh hasil yang luar biasa sekali ! Sebaliknya akupun tidur, dan benar-benar merasakan ada kemajuan ! Tubuh rasanya melar mau meledak saja ! Kalau dipikir lebih mendalam membuatku seram....jangan-jangan tempat ini angker dan kami kemasukan sesuatu jin atau iblis, bisa begitu tidak ?"
Tiong Giok tertawa tergelak-gelak, disamping itu ia memperhatikan pada si tolol itu memang beda kelihatannya dari kemarin-kemarin. Sinar matanya begitu tajam, menandakan ilmu dalamnya sudah tinggi.
"Ya mungkin kemasukan roh halus, sehingga membuatmu kuat dan gagah ! Coba kau hajar dinding gua itu !"
"Aku tak berani !"
Kata Toa Gu.
"Takut sakit ?"
Tanya Tiong Giok.
"Bukan ! Kutakut dinding itu roboh !"
"Hi hi hi hi ngomong seenaknya ! Apa kebiasaanmu bicara sesombong itu ?"
Ejek Ceng Ceng.
"Lihatlah !"
Seru Toa Gu dengan sengit, karena dipandang enteng.
"Hut"
Angin pukulan terlepas dari tangannya.
Melihat ini Tiong giok menjadi kaget, cepat ia menarik Ceng Ceng dan Thian Sek keluar, sedang Bok Tiong pun mengikuti keluar.
Bersamaan dengan itu terdengar bunyi keras, dari ambruknya dinding gua, nyatanya pukulan Toa Gu membuat dinding itu roboh.
Ceng Ceng menjadi cemas dan menyesalkan dirinya sendiri.
"Siau cu jin akulah yang mencelakakannya, ia mati teruruk dinding yang roboh itu."
"Adikku yang baik tak perlu cemas, aku tak bisa mati !"
Tiba-tiba terdengar suara Toa Gu dari gua.
Nyatanya dengan kekuatan tangannya ia membuat batu-batu yang menyumbat gua itu berterbangan keluar.
Ia sangat kebal, batu-batu yang menimpa dirinya tidak membuat luka cuma bajunya pecah-pecah.
"Toa Gu engkau sangat lihay !"
Puji Tiong Giok waktu melihatnya keluar dari gua.
"Sejak saat ini bukan saja tahan pukul, bahkan bisa memukul juga !"
"Mari kita berangkat !"
"Beangkat kemana ?"
Tanya Toa Gu.
"Memukul orang yang pantas dipukul !"
Kata Tiong Giok yang terus meninggalkan tempat itu, diikuti yang lain-lain dari belakang.
Ciu San shia letaknya dekat pegunungan, merupakan pedesaan yang tidak seberapa ramai.
Sungguhpun begitu jalannya cukup besar dan sangat bersih, banyak kaum pelancong yang bertamasya kedaerah itu.
Atau melewatkan waktu liburan dengan bermalam dipenginapan-penginapan yang terdapat disitu.
Diantara penginapan-penginapan yang terkenal adalah penginapan Bwe Kie.
Letaknya diarah selatan jalan raya.
Gedungnya terdiri dari tiga wuwungan, halamannya luas dan indah.
Didepan gedung terdapat tempat menambat dan mengombongi kuda.
Tangga-tangga batu yang berundak-undak menghubungi jalan raya halaman gedung.
Sedangkan merek penginapan terpancang sanagt megahnya diatas pintu, dari jauh orang bisa melihatnya.
Pegawai-pegawai yang bekerja dipenginapan itu lebih kurang empat puluh orang lebih, kebanyakan mereka menganggur sekali.
Sebab pada hari-hari biasa jarang ada tamu yang datang kesitu, kebanyakan menggunakan kelas dua yang murah harganya.
Biarpun begitu pegawai yang bekerja disitu tetap dipakai dan tidak pernah ada yang diberhentikan dengan dalih sepi ataupun alasan yang lain.
Hal ini mengherankan dan membingungkan kaum pedagang, sebab terang-terang mereka melakukan usaha rugi !
Tapi untuk yang mengetahui rahasia penginapan itu sedikitpun tidak merasa heran.
Karena penginapan itu milik kaum Pok Thian Pang !
Dan dijadikan pos penghubung markas pusat mereka.
Lama kelamaan orang pun tahu bahwa penginapan itu hanya pelabi saja dan tidak ada yang mau lagi bermalam atau mampir disitu.
Tapi sungguh aneh dalam hari-hari belakangan ini penginapan ini banyak tamunya !
Tamu-tamu itu bukan orang-orang biasa, mereka adalah jago-jago Kang Ouw yang berpakaian serba ringkas dan menyoren senjata.
Keadaan penginapan menjadi ramai, tapi tiga hari kemudian tamu itu semuanya pergi, tinggallah seorang tua saja yang masih selalu menginap disitu.
Orang tua itu tampaknya ia sangat gagah sekali, biarpun usianya diantara tujuh puluh tahun.
Pipinya merah sehat, dan sering tersenyum-senyum dengan ramahnya bila bertemu seseorang yang dikenal maupun yang tidak dikenal.
Ia menyewa kamar kesatu dibagian rumah yang berwuwungan paling belakang kerjanya kebanyakan mengunci pintu kamar, sampai makanan dan minuman setiap harinya dibawakan oleh pemilik penginapan itu yang lazim dipanggil Ciang kui..
Ciang kui itu seorang pertengahan umur yang kurus kecil, matanya sipit tapi tajam, tak ubahnya dengan mata tikus, demikian pula dengan kumisnya yang jarang menyerupai tikus juga.
Anak buahnya biasa memanggilnya Sun Ciang kui.
Hari ini dijalan raya yang sepi dikota pedesaan Cin San shia terlihat seorang laki-laki mengendarai kudanya dengan kerasnya.
Ia menuju kepenginapan Bwee Kie.
Begitu ia melalui tangga batu, tubuhnya segera terjungkel dari tunggangannya.
Ia mencoba bangun dengan terhuyung-huyung sambil menekan perutnya.
Dua pegawai penginapan cepat-cepat memberi pertolongan, laki-laki itu dipapahnya dari kiri dan kanan dan terus dibawa masuk kedalam penginapan.
Sun Ciang kui menghampiri tamu itu, ia menjadi kaget, karena diperutnya tampak sebuah luka besar yang mengalirkan darah dengan hebatnya.
Dengan napas tersengal-sengal laki-laki itu membuka mulut .
"Da.....dari.....ca.....bang..... Jiau ciu...."
"Mana tanda pengenalmu ?"
Laki-laki itu menunjuk-nunjuk sakunya, setelah itu kepalanya segera terkulai napasnya terhenti.
Ia mati.
Sun Ciang kui memeriksa sakunya laki-laki itu, ia mendapatkan sebuah kantong kulit yang berlepotan darah.
Ia membuka kantong itu dan mengambil isinya, setelah itu melangkah masuk kedalam sambil memesan anak buahnya .
"Kuburlah jenazah ini baik-baik !"
Wajah pucat Sun Ciang kui semakin pucat setelah membaca habis isi surat.
Cepat-cepat ia berlari-lari kebelakang.
Terus masuk kekamar siorang tua bermuka merah tanpa mengetuk pintu.
Orang tua itu sedang semedi, gangguan ini membuatnya tak senang, dengan mendelik ia menegur .
"Ada apa membuatmu kelabakan tak keruan ?"
"Cabang di Jiauw cu habis disapu musuh, ketua cabang dan sekalian anak buahnya mati terbunuh !"
"Darimana kau dapat berita ini ?"
"Seorang informan yang menyampaikan, tapi ia sendiri luka parah dan sudah mati !"
"Musuh itu dari golongan mana ?"
"Silahkan To Futhoat baca surat ini !"
Orang tua itu segera menyambut surat dari Sun Ciang kui dan membacanya dengan cepat.
"Heran kenapa Hek pek siang yauw bisa lakukan hal ini ? Ia berani menentang Pok Thian Pang dengan cara yang berani, secara terang-terangan, sungguh luar biasa sekali !"
Dikembalikannya surat itu pada Sun Ciang kui.
"Segera laporkan dengan kilat ke markas pusat, biar Lo Cucong sendiri yang mengambil keputusan !"
Sun Ciang kui mengangguk dan membalik badan untuk berlalu, tapi menjadi urung karena orang tua itu menanyakan lagi.
"Ada berita dari Kiu kiang atau tidak ?"
"Belum,"
Jawab Sun Ciang kui.
"Kuyakin bocah she In itu tidak mempunyai keberanian sebesar yang kita duga....."
Orang tua itu menggelengkan kepala sambil tersenyum.
"Engkau jangan memandang enteng kepadanya, kalau ia tahu Wan Jie kena tangkap, jangan kata ke markas Pok Thian Pang keujung langit pun pasti ia datang !"
"Apakah ia berani menempuh bahaya guna menolong Wan Jie ?"
"Kalau ia takut namanya bukan In Tiong Giok, bocah itu tabiatnya keras, nyalinya besar, dibenaknya tak ada bahaya atau takut !"
"Aku menjadi anggota Pok Thian Pang belum berapa lama, sehingga kurang mengetahui riwayat bocah itu ! Tapi untuk menghadapi bocah semacam itu, tak usah terlalu repot-repot ! Andaikata ia datang, belum tentu ia bisa melewati cabang-cabang kita untuk apa repot-repot menyiapkan jago-jaggo kelas berat, menghadapi bocah saja ?"
"Engkau belum menghadapi sendiri bocah itu, tak heran berani membuka mulut seenakmu, tapi kalau sudah bertemu....."
"Kalau sudah bertemu, hm....akan kubeset kulitnya !"
"Jangan-jangan mulutmu yang kena dibeset !"
Kata orang tua itu.
"Sudahlah jangan banyak omong !"
Sun Ciang kui segera mengangguk dan terus keluar.
Dipanggilnya anak buahnya yang cekatan dan disuruhnya mengantarkan surat dari Jiauw Ciu itu kemarkas pusat mereka.
Waktu sore, Sun Ciang kui seperti biasa membawakan makanan untuk orang tua yang tinggal dikamar belakang.
Baru pula ia mau kesana, dari luar terdengar suara berisik beberapa orang, ia mengawasi sambil menunda niatnya kebelakang.
Tampak empat laki-laki dan seorang gadis.
Satupun tidak ada yang dikenalnya.
Ia menjadi bingung demikian pula dengan anak buahnya, sehingga kedatangan tamu itu tidak ada yang menyambut.
"Ini penginapan bukan Lo heng ?"
Tanya tamu itu kepada pelaytan sambil tersenyum.
"Benar ! Benar !"
Sahut salah seorang pelayan yang lebih cerdik.
"Saudara-saudara dapat bermalam dan sekalian makan dipenginapan ini."
"Bila begitu kami tidak salah masuk !"
Kata tamu tadi sambil tersenyum-senyum.
"kami mau bermalam....adakah kamar yang bersih ?"
"Banyak ! Banyak ! Mari masuk !"
Kata Sun Ciang kui, sambil berkata ia mengerlingkan matanya pada anak buahnya, untuk mengajak para tamu masuk kedalam.
"Aku masih ingat betul pernah bermalam dipenginapan ini, dan mengambil tempat diruangan paling belakang...."
Kata salah seorang tamunya.
"Oh rupanya saudara tahu, bahwa ruangan paling belakang lebih jauh dari jalan besar dan lebih tenang keadaannya bukan ?"
"Benar ! Disamping itu, dapat bermalam lagi ditempat lama lebih enak dan membangkitkan kenangan manis !"
Pelayan itu agak bingung karena ia tahu diruangan belakang ada siorang tua berwajah merah, maka ia menjadi sangsi.....
Saat inilah Sun Ciang kui datang dan terus membentak anak buahnya !
"Sebagai pengusaha kita harus mengikuti kehendak para tamu !
Engkau ini kenapa tidak kenal etika sekali ?
Kalau semua pegawai semacammu, bisa-bisa usaha ini gulung tikar !"
Kata Sun Ciang kui tandas sekali.
Sipelayan cepat-cepat mengundurkan diri tanpa mengatakan barang sepatah katapun.
Sedang Sun Ciang kui dengan cepat tersenyum kepada para tamunya.
Saudara-saudara mari ikut denganku !"
Dan terus diajaknya kebelakang.
"Bolehkah kutahu nama Lo heng ?"
Tanya tamu itu.
"Oh...namaku biasa disebut Sun Ciang kui. Dan siapa nama saudara ?"
"Namaku In Tiong Giok...."
"In Tiong Giok ?"
"Benar ! Memang kenapa ?"
"Tidak ! Tidak kenapa-napa ! Hanya saja pernah kudengar di dunia Kang Ouw ada seorang jago muda yang telah menjadi ketua salah satu perguruan silat bernama persis seperti saudara...."
"Saudara Sun sebagai pengusaha rupanya memperhatikan juga keadaan dunia Kang Ouw bukan ?"
"Oh...karena banyaknya tamu-tamu dipenginapan ini, sedikit banyak kudengar juga perihal kejadian didunia Kang Ouw..."
Sambil berkata tanpa terasa mereka telah berada didepan kamar si orang tua berwajah merah. In Tiong Giok tiba-tiba berhenti sebentar dan mengawasi kedalam kamar.
"Kamar ini sudah berisi..."
Kata Sun Ciang kui.
"Oh..."
Kata Tiong Giok yang melangkah lagi kekamar lain.
Akhirnya mereka berlima menyewa empat kamar, Bok Tiong dan Thian Sek memakai sekamar, Toa Gu dan Ceng Ceng masing-masing sekamar, demikian pula dengan Tiong Giok.
Sun Ciang kui secara ramah tamah dan telaten melayani para tamunya, setelah semuanya beres baru mengundurkan diri.
Tapi dengan tiba-tiba Tiong Giok memanggilnya lagi.
"Sun Ciang kui bolehkah kutahu siapa-siapa yang mendiami kamar tadai itu ?"
"Kulupa, harus kulihat lagi daftar tamu..."
Jawab Sun Ciang kui.
"Tak usah memeriksa lagi,"
Cegah Tiong Giok.
"Kumohon bantuanmu untuk menyampaikan terima kasihku kepadanya ! Karena ia mengirim orang-orangnya emnyambut kami di Kiu Kiang ! dalam hal ini kami tidak menyalahkan dirinya, hanya saja kuharapkan mulai hari ini tanpa seijinku, orang itu tidak boleh keluar dari kamarnya !"
"Baik ! Baik !"
Jawab Sun Ciang kui sambil mengangguk-anggukkan kepala. Dan terus berlari keluar memberi laporan kepada orang berwajah merah itu.
"Hei ! Kenapa ?"
Tanya si orang tua itu keheranan melihat paras gugup dari Sun Ciang kui.
"Celaka ! Celaka !"
Kata Sun Ciang kui sambil menuturkan apa yang dikehendaki In Tiong Giok pada orang tua berwajah merah itu.
"Barusan kudengar langkah-langkah kaki diluar kamar, apakah mereka adanya ?"
"Benar !"
Jawab Sun Ciang kui.
"Nyatanya bocah itu sangaat lihay ! Kita sudah mengirim beberapa penyelidik untuk mengetahui jejak mereka, tak tahunya mereka sudah datang kemari tanpa diketahui barang sedikitpun. Bahkan dengan berani mengadakan Show of dorce disini, tindakannya itu benar-benar keterlaluan sekali !"
"Ha ha ha, yang kukuatirkan tidak mendapat tahu jejak mereka, kini sebagai ikan mereka masuk kedalam bubu, tidak ada yang lebih baik dari jalan ini ! Berapa jumlah mereka semua ?"
"Seorang tua berkaki satu, dua pemuda kasar, seorang gadis berbaju hitam, bersama In Tiong Giok sendiri, berjumlah lima orang !"
"Siapa orang tua berkaki satu itu ?"
"Entahlah sejak masuk kesini tidak berkata barang sepatahpun, agaknya kepandaiannya tinggi sekali, perlukah hal ini dilaporkan kemarkas ?"
Tanya Sun Ciang kui pada kawannya.
"Kejadian terlalu cepat berubahnya, harus aku sendiri yang pulang melaporkan hal ini kepada Lo Cucong !"
"Tapi In Tiong Giok telah memesan, bilamana kamu hendak keluar dari kamar ini harus seijinnya dulu....."
"Ha ha ha, kau kira aku ini manusia macam apa yang bisa ditakut-takuti ? Pokoknya asal kumau keluar dari kamar ini siapapun tidak bisa melarang !"
"Kamu bisa pergi, tapi bagaimana denganku sendiri ?"
"Ha ha ha rupanya engkau ketakutan sekali bukan ? Kau toh sebagai pengusaha penginapan ini bukan ? Tak mungkin mereka membuatmu susah ! Lagi pula kepulanganku paling lama dua hari, setelah itu orang-orang dipusat bisa membereskan hal disini !"
"Baiklah...."
"Sediakan makan malam secepatnya, setelah itu siapkan seekor kuda, malam ini juga aku mau berangkat !"
Tanpa berkata lagi Sun Ciang kui keluar dari kamar untuk menyediakan makanan orang tua itu.
Begitu datang malam cepat ia memerintahkan anak buahnya menyediakan kuda, ia sendiri membawa makanan itu kekamar siorang tua.
Tak kira ditengah jalan ia dirintangi laki-laki tegap yang bukan lain dari Toa Gu adanya.
"Oh....saudara belum tidur ?"
"Belum,"
Jawab Toa Gu tersenyum.
"Entah apa yang kau bawa ini ?"
"Makanan untuk dikamar itu !"
Jawab Sun Ciang kui sejujurnya.
"Ha ha ha kebenaran sekali perutku lagi lapar, bolehkah kumakan dulu bagiannya tamu itu ?"
Kata si pemuda penghadang itu.
"Tidak bisa, ini pesanannya. Jika kau mau boleh kubikin lagi, tapi yang ini tidak boleh !"
Toa Gu jadi mendelik, dengan cepat makanan itu dirampasnya.
"Aku sudah lapar, mana bisa menahan terlebih lama lagi, bisa-bisa cacing-cacing diperutku mengamuk semua !"
Sun Ciang kui tidak mau ribut, kepaksa ia mengalah dan terus berlalu sambil menggelengkan kepala.
Saat ini si orang tua berwajah merah sedang mondar mandir didalam kamarnya, sayup-sayup ia mendengar langkah yang semakin dekat kekamarnya.
Begitu langkah itu berhenti didepan kamarnya segera ia menegur.
"Siapa ?"
"Aku mengantarkan makanan untukmu !"
Jawab dari luar. Berbareng dengan itu pintupun terbuka dan Toa Gu menyelonong kedalam.
"Oh ! Kiranya engkau !"
Kata siorang tua.
"Eh Tok Kay Pong kukira siapa, kenapa engkau ngeram terus didalam kamar ?"
Jawab Toa Gu. Orang tua itu memang Tok Kay Pong adanya, ia kenal Toa Gu sewaktu terjadi perebutan pedang mustika di Hoay Giok San. Toa Gu dengan tersenyum-senyum meletakkan makanan diatas meja.
"Aku disuruh Siau cu jin datang kemari untuk menyampaikan pesannya, yakni tanpa seijin dia engkau tak boleh keluar dari kamar ini, mengerti ? Jika engkau tahu diri dan dengar kata tidak diapa-apakan, sebaliknya kalau engkau membandel kami akan menindak tanpa kasihan, jelas tidak ?"
Selesai berkata Toa Gu nyelonong lagi keluar.
Kelakuannya itu kasar sekali, seenaknya keluar masuk kekamar orang, tanpa ijin dan permisi.
Keeruan saja membuat Tok Kay Pong menjadi gusar, sungguhpun begitu ia diam saja tidak mencegah apa yang dilakukan Toa Gu.
"Eh, selanjutnya jangan seperti gadis pingitan, diam saja didalam kamar....."
Kata Toa Gu dari luar.
"Eh, babi, kemari !"
Teriak Tok Kay Pong dengan sengitnya.
"Siapa yang memakiku babi ?"
Teriak Toa Gu tidak kurang kalapnya.
"Aku ! Kau babi tak tahu diri, mencari mati sendiri !"
Bentak Tok Kay Pong. Berbareng dengan itu ia mengcengkeram pada sitolol dengan lima jarinya.
"Orang tua tolol, nyatanya kau sendiri yang cari penyakit sendiri !"
Kata Toa Gu tanpa berkelit sedikitpun menghadapi serangan musuhnya.
Keruan saja cengkeraman Tok Kay Pong dengan empuk mengenai pundak Toa Gu, anehnya bagaimanapun ia mengeraskan cengkeraman itu, sedikitpun tidak membuat lawannya berasa.
Jika diganti orang lain, cengkeramannya itu sedikitnya akan membuat korban pingsan.
"Bagaimana sudah kau pakai tenaga penuh apa belum ?"
Tanya Toa Gu.
"Nah, rasakan juga lenganku ini."
Benar-benar ia menebaskan tangannya kepinggang musuh.
Tok Kay Pong adalah jago tua yang cukup berpengalaman, begitu cengkeramannya tidak membuat musuh roboh, sadar menghadapi seorang yang memiliki ilmu kebal.
Maka itu dengan cepat ia menghindarkan diri dari serangan lawannya, sambil melompat.
Ruangan kamar tidak seberapa besar, begitu ia lompat serangan Toa Gu menghajar tembok.
Segera terdengar bunyi keras, tembok itu gugur.
Serangan Toa Gu dilancarkan berulang-ulang, membuat kamar itu tergetar, dan ambruk !
Sedangkan Tok Kay Pong siang-siang keluar dari dalam kamar.
Sedikitpun ia tidak menduga seorang bocah tolol, memiliki kepandaian sebegitu hebat, tapi jago tua itu sedang bernasib buruk, begitu ia lompat dari kamar dan hinggap dibumi, kakinya terjirat tambang dan terus jatuh.
Kiranya Bok Thian Sek siang-siang sudah menantikannya diluar, begitu dilihatnya Tok Kay Pong keluar, ia menjiret dengan tambang dan terus melakukan totokan.
Kasihan salah astu jago dari bulim Cap sah kie diciduk bocah-bocah ingusan secara mudah.
"Suheng ! Kemari, babi ini sudah kubekuk !"
Teriak Bok Thian Sek.
"Hm, kukira ia lihay sekali, nyatanya kepandaiannya begini-begini saja, tahu begini seorang diripun aku sanggup menciduknya !"
Kata Toa Gu.
"Jangan pandang enteng kepadanya. Barusan jika tidak kugunakan cara menangkap kelinci barang kali ia sudah lolos !"
"Mari kita bawa kedalam !"
Kata Toa Gu.
Kasihan Tok Kay Pong sudah tak berdaya, masih diseret lagi.
Tok Kay Pong dibawa kesebuah kamar yang terang benderang, disitu ada In Tiong Giok dan Bok Tiong, rupanya ia sudah menantikan agak lama juga.
Toa Gu dan Bok Thian Sek dengan seenaknya menggabrukkan Tok Kay Pong yang sudah mati kutu.
"Jangan berlaku kurang ajar, bebaskan totokan Tok Lo Cianpwee dan sediakan kursi untuknya duduk !"
Kata In Tiong Giok.
Ciu Ceng Ceng segera menyediakan kursi, sedangkan Bok Thian Sek mendudukan Tok Kay Pong keatas sambil membebaskan dari totokan.
Begitu ia bebas Tok Kay Pong segera bangun dan berkata dengan gusar .
"Hm, kau kira aku kena digertak dengan kekerasan ? Bocah bukalah matamu aku ini siapa ?"
"Tok Lo Cianpwee setelah kubebaskan dari ikatan dan totokan ini, tidak berarti bebas untuk pergi semaumu, mengerti ?"
Kata In Tiong Giok.
"Aku tak percaya...."
Baru pula ia berkata sampai disini, pandangan matanya bentrok dengan sinar mata In Tiong Giok.
Ia merasakan sinar mata si pemuda itu tak ubahnya seperti seperti luasnya lautan, begitu indah dan hangat, menghilangkan segala rasa gusar, danberbalik tenang penuh kedamaian.
Tok Kay Pong menjadi kaget, ia tidak bisa meneruskan kata-katanya karena otaknya seperti juga mabuk dan merasakan dirinya merapung-rapung disebuah dunia khayal.
"Tok Lo Cianpwee percayakah atas kata-kataku ?"
Tiong Giok menegasi. Sungguh aneh dengan waktu sebentar, pendirian Tok Kay Pong jadi berubah, ia menganggukkan kepala sambil menjawab .
"Ya aku percaya !"
"Kalau percaya ya baik !"
Kata In Tiong Giok.
"Aku sebagai manusia yang mempunyai perasaan, aku tak bisa melupakan kebaikanmu sewaktu dimarkas pusat Pok Thian Pang, dan tidak pula menghilangkan kebaikan saudaramu Kam Kong ditebing Bukit, karena inilah aku tak mau menimbulkan suatu bencana pembunuhan pada sesama manusia."
Tok Kay Pong hanya menganggukkan kepala berulang-ulang kali tanpa membantah atau mengeluarkan perkataan.
"Baiklah hal ini tidak dibicarakan sekarang. Pokoknya engkau harus mengerti bahwa pembalasan untuk kaum Pok Thian Pang sudah diambang pintu. Aku mengharapkan bantuanmu berikut kedua saudaramu itu ! Lekaslah mengundurkan diri dari dunia kejahatan untuk kembali kedunia baik. Bilamana kalian bisa menjalankan permintaanku ini, segala permusuhan yang terjadi diantara kita berarti habis sampai disini. Bagaimana apakah permintaanku ini Cianpwee setujui ?"
Saat ini keadaan Tok Kay Pong sudah terpengaruh ilmu Liap hun toa hoat dari Tiong Giok, tentu saja disamping mengiakan apa yang dikatakan si pemuda tidak ada jawaban lain darinya.
"Jika begitu, sebelumnya kuhaturkan banyak terima kasih,"
Kata Tiong Giok sambil tersenyum.
"Disamping itu, penginapan ini yang jelas sebagai pos penghubung kaum Pok Thian Pang, maka akan kuambil alih. Agar hubungan pusat Pok Thian Pang dan cabang-cabangnya terputus, jika hal ini aku yang lakukan, mungkin akan mengakibatkan jatuhnya banyak korban, maka itu kuminta bantuanmu untuk mengurusnya dalam beberapa hari !"
"Baik !"
Kata Tok Kay Pong dengan spontan.
"Jika begitu kuminta Lo Cianpwee menyerahkan tanda pengenal dari Pok Thian Pang,"
Kata In Tiong Giok.
Saat ini Tok Kay Pong menurut terus apa yang dikehendaki Tiong Giok.
Ia merogoh saku mengeluarkan tanda pengenal untuk keluar masuk markas pusat Pok Thian Pang pada Tiong Giok.
Setelah menerima tanda pengenal itu, Tiong Giok menyuruh Thian Sek memanggil Sun Ciang kui, tak selang lama Sun Ciang kui masuk kedalam kamar.
Begitu ia masuk menjadi melengak melihat keadaan didalam kamar itu.
Karena ia melihat Tok Kay Pong diam saja, sedangkan Tiong Giok memainkan tanda pengenal dari Pok Thian Pang.
"Tak usah kaget,"
Kata In Tiong Giok.
"Aku sudah berunding dengan Tok Futhoat yakni mulai detik ini, penginapan ini kuambil alih !"
"Apa ? Kongcu mau mengambil alih penginapan ini ?"
Sun Ciang kui semakin kaget.
"Benar ! Tapi engkau tak perlu cemas, biarpun sudah kuambil alih, engkau sendiri tetap sebagai pengurus, pokoknya dalam segala hal berlakulah seperti biasa....kami hanya menggunakan tempat ini kurang lebih tujuh hari saja. Akan tetapi selama tujuh hari ini, siapapun tidak kuperkenankan mengadakan hubungan dengan Pok Thian Pang ! Bilamana diwaktu itu orang-orang dari markas pusatmu itu datang kemari, harus diciduk dan ditahan. Barang siapa berani melanggar peraturan ini, kupaksa harus dibunuh ! Kalian harus tahu bahwa Pok Thian Pang adalah perserikatan sesat yang jahat, maka itu sekarang datang kesempatan baik untuk kalian memperbaiki diri. Ini sudah kubicarakan dengan Tok Fut hoat dan telah mendapat restunya !"
Sun Ciang kui keheranan, ia memandang kepada Tok Kay Pong dengan tanda tanya. Melihat ini Tiong Giok menjadi tersenyum.
"Tok Lo Cianpwee bukankah maksudmu seperti kukatakan tadi ?"
"Benar !"
Jawab Tok Kay Pong sambil menganggukkan kepala.
"Nah, kalau begitu perintahkanlah pada Sun Ciang kui ini untuk menjalankan tugasnya !"
"Hei, jalankan perintah kongcu ini sebaik-baiknya !"
Baca Juga: Pendekar Binal 9
Baca Juga: Rumah Judi Pancing Perak Khu Lung