Kisah Dua Saudara Seperguruan 4

Eps 4 Kisah Dua Saudara Seperguruan - Liang Ie Shen

Baca online Kisah Dua Saudara Seperguruan - Liang Ie Shen

Cersil Kisah Dua Saudara Seperguruan - Liang Ie Shen.

Dengan sangat sepi, ia lakukan upacarapenguburan, Ong Houw Tjoe cuma kirim wakilnya, ia jadi merasa tidak tenang sendirinya.

Sebenarnya Ong Houw Tjoe hendak bertindak mencari konconya si pembunuh, ia hendak jalankan aturan perkumpulan, apa mau, ia ada terlalu lemah, karena di sekitarnya, ia dirubungi oleh rombongan Poo Tjeng, karena kebinasaanya Kiam Gim justeru ada hasil persekutuannya rombongan pembeia Kerajaan Boan itu.

Rombongan Poo Tjeng, atau Poo Tjeng Pay, dikepalai oleh Gak Koen Hiong, yang gagah, dan di antara sebawahannya, ada banyak wie-soe, pahlawan-pahlawan Boan, yang asalnya ada penjahat-penjahat besar dari dunia Kang-ouw.

Begitu ia dengar kebinasaannya Lioe Kiam Gim, Gak Koen Hiong datangi Ong Houw Tjoe dan tanya bagaimana Ketua Gie Hoo Toan ini hendak bertindak.

Dalam ilmu silat, Gak Koen Hiong menangi Ong Houw Tjoe, walaupun dia ada Hoe-tauwbak dari Gie Hoo Toan, pengaruhnya menarfgi Tjhia-tauwbak she Ong itu, oleh karenanya, Ong Houw Tjoe rada jerih terhadapnya.

Maka itu, waktu ditanya, Houw Tjoe jadi tergugu.

"Kau lihat bagaimana?"

Ketua ini balik tanya.

"Lioe Looenghiong ada dari golongan terlebih tua dan kenamaan, sekarang ia terbinasa gelap, tak dapat kita tidak melakukan penyelidikan dalam perkaranya ini."

"Bagaimana ia terbinasa secara gelap?"

Gak Koen Hiong membaliki dengan mata terbelalak.

"Sudah terang, dia dapat nama besar yang kosong belaka. Dia pieboe, dia keliru kena dilukai! Aku percaya dia cuma teriuka sedikit, lalu ia turunkan tangan jahat, ia binasakan dua orang kita, karena mana, orang-orang kita bunuh padanya. Tua bangka itu ganti satu jiwanya dengan dua jiwa orang kita, apakah itu tidak cukup berharga? Apa kau hendak rusakt keakuran persaudaraan kita melulu untuk "orang luar"? Apakah kau tidak takut nanti membikin tawar hatinya saudara-saudara kita?"

Ong Houw Tjoe jerih, ia kedesak.

"Saudara, kau lakukan apa yang kau pikir baik, aku turut saja,"

Kata ia akhirnya.

Saking jerih, ketua ini sampai tak berani datang sembahyangi sendiri pada arwah Lioe Loo-kauwsoe, hingga diam-diam orang-orang rombongan Poo Tjeng Pay tcrtawai ia.

Teng Hiauw ada jeli matanya dan cerdik, ia datang ke Pakkhia belum lama, tapi ia bisa lihat suasana, lantas saja ia mengerti duduknya keruwetan di Kota Raja ini.

Ia tahu diri, ia tidak mau banyak omong.

Rombongan Poo Tjeng Pay juga tidak bcrani ganggu pemuda she Teng ini.

Ia ada babah mantu dari Kiang Ek Hian, Ketua dari Bwee Hoa Koen, sedang Kiang Ek Hian ada gurunya Tjoe Hong Teng, pendiri dari Gie Hoo Toan.

Sudah bcgitu, kedudukannya Teng Hiauwdalam Gie Hoo Toan ada scparuh anggota dan separuh tctamu yang dihormati, dia pun liehay, orang jadi malui padanya.

Meskipun demikian, Teng Hiauw anggap Pakkhia ada panas untuknya, maka itu,sesudah sclcsai raengubur jenazah Lioe Kiam Gim, ia hendak segera berlalu, untuk pergi cari Law Boe Wie dan Lioe Bong Tiap, di Thong-tjioe, apa mau selagi ia pamitan dari Ong Houw Tjoe, dia ini hadapi satu urusan Denting dan ia diminta pergi ke Thian-tjin untuk urusan rahasia itu.

Ia terima baik tugas ini, sebab kebetulan isterinya, Kiang Hong Keng, berada di Thiantjin, hingga ia boleh sekalian ketemui isterinya itu.

Ia pun lihat, dengan pergi ke Thian-tjin dulu, ia cuma minta tempo lebih dua hari, ia pikir itu tidak jadi halangan apa-apa.

Demikian Teng Hiauw berangkat ke Thian-tjin.

Di sini ia tunaikan tugasnya, lalu malam-malam juga, ia berangkat ke Thong-tjioe, tetapi kebetulan sekali, selagi ia hendak keluar dari kota, ia berpapasan dengan Law Boe Wie, malah mereka bentrok dulu, hingga mereka ketahui boegee masing-masing.

Kaget dan repot Teng Hiauw melihat soehengnya itu pingsan, Iekas-lekas ia angkat tubuhnya Boe Wie buat digendong, akan dibawa masuk ke dalam kota, kemudian, sesudah soeheng itu sadar, baharu ia tuturkan duduknya perkara yang jelas.

Boe Wie jadi sangat sedih, tetapi ia tertawa menyengir.

"Untuk cari Lioe Bong Tiap, tidak usah pergi ke Thongtjioe,"

Kata ia kemudian.

"Dia, dia ada di sini sekarang!...."

Teng Hiauw heran.

"Hei, bagaimana dia ada di sini?"

Ia tanya. Boe Wie kerutkan alis, ia tidak mau membcrikan keterangan, ia cuma bilang, nona itu hendak cari ayahnya dan soehengnya, Tjoh Ham Eng.

"Ham Eng?"

Ulangi Teng Hiauw.

"Pemah aku lihat dia! Dia ada ganteng sekali, pasti dia bakal jadi babah mantunya Soepeh!...."

Boc Wie meringis, hatinya perih.

"Barangkali,"

Kata ia dengan paksakan diri.

"Kita sekarang mesti cari mereka. Thian-tjin ada begini luas, di mana kita bisa cari mereka itu?"

Teng Hiauw lihat romannya Boe Wie, ia menyangka soeheng itu sangat berduka.

"Baik kau jangan berduka, Soeheng,"

Ia menghibur "Soepeh menutup mata dengan pikirkan kebaikannya Gie Hoo Toan, adalah Icewajiban kita untuk mewujudkan cita-citanya itu.

Harap Soeheng tidak merusak kesehatanmu.

Mengenai Bong Tiap, barangkali tidak sukar untuk cari dia.

Selama Soepeh berdiam di Thian-tjin, ketua di sini, Thio Tek Seng, telah s"ediakan ia satu tempat istimewa, maka dengan datangnya ini, Tjoh Ham Eng tentu pergi ke sana, begitupun socmoay Bong Tiap.

Tempat Soepeh itu tidak tcrpisah jauh dari sini, mari kita segera pergi ke sana.

Yang pcrlu adalah Soeheng jangan berduka, kau perlu beristirahat"

Tapi mcndcngar discbutnya Bong Tiap, Boe Wie jadi bersemangat.

"Mari kita pergi cari dia, tak perlu aku beristirahat lagi!"

Kata ia.

Mau atau tidak, terpaksa Teng Hiauw iringi soeheng ini.

Sementara itu, Bong Tiap benar sudah sampai di Thian-tjin.

Ia bukan anak kecil, ia tahu bagaimana hams bertindak.

Maka sesampainya di Thian-tjin, langsung ia menuju ke markas Gie Hoo Toan, akan minta keterangan perihal ayahnya dan soehengnya she Tjoh.

Karena ia ada puterinya Lioe Lookauwsoe, ia disambut dengan baik.

Ia diberitahukan bahwa ayahnya sudah berangkat ke Pakkhia dan Ham Eng baljaru saja kemarin sampai, bahwa Ham Eng telah pergi ke tempat ayahnya.

la ada tidak sabaran.ia minta alamat tempat ayahnya itu,.

untuk.

ia segera pergi menyusul.

Dalam hal ini ia sampai tolak dengan getas permintaannya ketua perempuan dari markas untuk ia beristirahat dulu, hingga ketua itu anggap ia tak kenal persahabatan, bahwa ia mirip dengan umumnya nona Kang-ouw, yang aneh tabiatnya.

Terpaksa ketua ini kirim satu anggota untuk antar nona ini.

Sorenya Bong Tiap sampai di Thian-tjin, malamnya Boe Wie menyusul dengan Teng Hiauw.

Sampainya mereka bcrdua ada kacck, ini disebabkan Bong Tiap kurang pengalaman dan tidak kenal jalanan.

Teng Hiauw tidak ketahui datangnya si nona, karena selagi ia mau berangkat ke Thong-tjioe, si nona sendiri lagi berada di markas Gie Hoo Toan.

Bcgitu lekas Bong Tiap sampai di depan rumah piranti ayahnya, ia suruh pengantarnya kembali.

Ia tidak ketok pintu lagi, ia rapikan pakaiannya, terus ia loncat naik ke genteng, karena maksudnya adalah buat bikin Ham Eng kaget Kelakuan ini membikin pengantarnya anggap dia benar-benar nakal....

Waktu itu, sang rembulan sudah berada di tengah-tengah langit Bong Tiap bisa lihat nyata macamnya gedung itu.

Mulanya ia berdiam di sebelah utara, maka ia dapati tiga ruangan lainnya, yang semua berjendela ada kain penutupnya yang indah.

Kemudian ia pergi ke timur, ia dekati sebuah kamar kecil.

Dari kaca jendela, ia sudah dapat lihat bayangannya saw anak muda.

"Ini anak sudah ikuti ayah bertahun-tahun, kenapa kupingnya seperti budek dan matanya seperti lamur?"

Pikir ia.

lnilah disebabkan Ham Eng tidak dengar gerakan kaki di atas genteng dan berkelebatnya bayangan orang.

Tapi BongTiap tidak ingat, scsudah dapat pimpinan Sim Djie tigatahun, ia sudah lombai jauh soehcngnya itu, tubuhnya"telah jadi entcng luar biasa.

Ia mendekam di atas genteng sambil pasang kuping.

Ham Eng jalan mondar-mandir, berulang-ulang terdengar helaan napasnya.

Tidak sabar Bong Tiap, akan menanrikan saja, maka dengan cantcl kaki di payon, ia jumpalitan, akan mcroyot turun.

lalu ia sentil kaca jendela, scsudah mana, ia ayun pula tubuhnya, akan naik pula ke atas genteng.

Ham Eng kaget, hingga ia membentak.

"Bangsat, turunlah kau!"

Bentakan ini disusul sama timpukan beberapa batang piauw ke arah jendela. Bong Tiap tertawa cekikikan, setelah itu, ia loncat melayang turun, untuk terus buka jendela.

"Di sini si bangsat! Ham Eng, kau masih belum siap?"

Demikian katanya nona yang nakal ini, yang kembali tertawa geli.

Ham Eng melengak.

Ia heran, hingga ia mau sangka ia sedang mimpi.

Itulah ada suara tertawa dari tiga tahun yang lampau, selama di Muara Kho Kee Po!

Selagi orang tercengang, Bong Tiap sudah loncat masuk ke dalam, akan terus dekati pemuda itu, lalu berdiri di hadapannya "Jauh-jauh aku datang tengok kau, kenapa kau tidak sambut aku?"

Demikian si nona, yang bersikap aleman sekali. Ham Eng pentang lebar kedua matanya. Tidak salah lagi, itulah Bong Tiap di depannya.

"Oh, Socmoay, benar-benarkau?"

Kata ia. Ia hendak maju, akan cekal tangan orang, tetapi urung, ia sangsi, ia kuatir nanti dikatai ceriwis. Ia terus mcngawasi pula.

"Eh, kenapa kau awasi saja padaku?"

Bong Tiap tertawa pula.

"Apakah kau tidak kenal aku? Kenapa kau bungkam?"

Ham Eng masih mengawasi, ia nampaknya terharu.

"Aku sangka bahwa aku tidak bakal ketemu kau pula, Soemoay,"

Akhirnya ia jawab.

"Mana Toa-soeheng? Bukankah kau hendak berkumpul dengannya untuk selamanya?"

Bong Tiap dekati soeheng ini. Ia masih berbayang dengan petaan ro-man toa-soehengnya, akan tetapi di sini ia menghadapi satu pemuda-yang cakap ganteng.

"Siapa bilang aku hendak berkumpul dengan Toa-soeheng untuk selamanya?"

Kata ia.

"Aku curna pikir itu. Kenapa kau marah dan kabur?"

Mendengar begitu, bukan kepalang girang Ham Eng, hingga ia mirip si pengemis yang mendapatkan potongan emas.

"Soemoay, kau jadinya pilih aku?"

Ia kata, kalap dengan kegirangannya. Bong Tiap likat, ia tak dapat memberi jawaban, ia hanya manggut saja. Sekarang tak dapat Ham Eng pertahankan hatinya, ia ulur tangannya, akan tarik tangan orang.

"Thian berkasihan terhadapku, Soemoay, kau akhirnya jadi kepunyaanku!"

Iamengeluh.

Mai am itu, kamar itu, jadi indah luar biasa.

Bagaikan bocah.

Bong Tiap mendekam di rangkulan Ham Eng.

Dan Ham Eng, bukan main besar hatinya.

Lama mereka berdiam, akan cicipi kesunyian yang menyedapkan itu, ketika mendadakan si nona tolak tubuh kekasihnya seraya berseru.

"Bangun!...."

Tapi, belum suara itu padam, beberapa sinar sudah menyerang masuk dari antara jendela!

Ham Eng kaget.

Ia sebenarnya bisa pentang kedua tangannya, akan Hndungi si nona, akan tetapi Bong Tiap dului ia, dengan tarik.

tubuhnya dengan tangan kiri, lalu dengan tangan kanan, nona itu sambar sprei dan pakai itu untuk sampok senjata rahasia itu, hingga penyerangan gagal.

Segera, cepat luar biasa, nona itu lompat ke arah jendela, hingga ia bersomplokan sama satu orang yang bersenjatakan golok.

Bong Tiap masih pegangi sprei, dengan itu, ia papaki musuh, hingga dia ini kena ditungkrup, wataupun musuh coba menikam,, tidak urung, tikamannya tidak membahayakan, malah dia terus merasakan sakit, ketika tangannya kena terlibat, hingga di lain saat, goloknya tcrlcpas jatuh.

Si nona sambar golok itu, yang terus ia pakai layani beberapa musuh lain, yang sudah loncat masuk ke dalam kamar.

Pertempuran telah terjadi, tapi Bong Tiap yang gagah.

bisa mendesak, hingga beberapa penyerang itu tidak leluasa bergerak dalam kamar, terpaksa, dengan satu suitan, mereka mundur pula, lari melompati jendela.

Bong Tiap heran melihat sekian lama, Ham Eng tidak membantui ia, ketika ia menoleh ke belakang, ia dapati pemuda itu rebah di pembaringan sambilmerintih.

Ia kaget bukan main.

"Kau luka?"

Tanya ia sambil lompat menghampirkan dan membungkuk.

"Tidak apa, Soemoay,"

Sahut Ham Eng, suaranya pelahan.

"Aku terluka sedikit. Pergi kau bereskan beberapa jahanam itul"

Tapi Ham Eng telah terkena senjata rahasia Hong-bweepiauw, yang direndam dalam racun asal dari daerah Biauw.

Piauw itu cuma tiga dim panjangnya, kalau mcngenai tidak menyebabkan rasa sakit yang sangat, hanya racunnya, yang berbahaya, apabila tidak ada obat pcnawamya, dalam satu jam, jiwa bisa mclayang karcnanya.

Ini sebabnya kenapa Ham Eng tidak kuatirkan lukanya itu.

Bong Tiap kertak gigi, ia hendak ambil pedangnya sendiri -pedang Tjeng-kong-kiam" -untuk dipakai kejar musuh, tetapi kapan ia menoleh ke tembok, ia kaget bukan main, ia jadi sangat mendongkol.

Pedang itu, bersama kantung piauw Bouw-nie-tjoe, berikut gegamannya Ham Eng juga, sudah lenyap, barusan telah disambar sal ah satu pcnjahat yang lari kabur.

Dalam murkanya, nona ini tidak bcrayal lagi.

la sambar penjahat yang iaringkus, ia lemparkan keluar jendela, habis itu, ia membarcngi loncat keluar dengan goiok diputar.

Dengan lemparkan musuh, ia mau cegah musuh nanti bokong ia selagi ia loncat keluar.

Dalam hai ini, ia berhasil mencegah musuh curangi dia.

Tapi, setelah ia berada di luar jendela, musuhnya lantas merangsang, yang menjadi kepala ada seorang dengan ruyung Tjit-tjiat-pian, ruyungnya panjang, orangnya bertenaga besar, ruyung itu menyambar ke pinggang.

Bong Tiap kenali semua dclapan belas rupa senjata, ia tahu cara dipakainya itu dan liehaynya juga, maka itu, ia berlaku waspada.

Ia tunggu sampai ujung ruyung sampai, ia mundur seraya menyedot perut, waktu ruyung lewat, ia majukan kaki kanan, ia merangsang, goloknya turut menyambar, dalam gerakan "Pek tjoa tjoet tong"

Atau "Ular putih keluar dari lobang". Sudah bcgitu, tangan kirinya pun menyambar ke bahu kanan musuh. Gerakan ini ada sebat luar biasa, penjahat itu perdengarkan j en tan "Aduh!"

Ia mau loncat mundur, untuk mcnyingkirkan diri dari bacokan juga, akan tetapi ia kalah sebat, bahunya kcburu dicckal.

Hanya, selagi Bong Tiap hendak membetot, dua musuh sudah serang ia dari kiri dan kanan.

Sebatang golok Koei-tauw-too menyambar lengan kanan, sedang sebuah gembolan turun ke arah batok kepala!

Itu ada satu kepungan hebat.

Bong* Tiap batal membetot musuh, sebaliknya, ia menarik nyamping, dari kiri ke kanan, untuk sambuti golok musuh, dengan tubuhnya si penjahat Penycrang itu kaget, lckas-lekas ia batalkan serangannya, dengan tangan kirinya, ia sekalian tarik kawannya itu.

"Budak liehay!"

Ia berseru dalam gusarnya, sesudah mana, ia maju pula.

Penjahat yang bersenjatakan gembolan kena diperdayakan si nona Gembolan itu memakai rantai, seperti bandring, maka bila rantainya melibat senjata musuh, senjata musuh itu bisa ditarik terlepas.

Tapi Bong Tiap tidak takut, ia malah sengaja bikin goloknya hampir kelibat, berbareng dengan mana, ia terusi turunkan goloknya ke bawah, hingga gembolan musuh, yang lagi turun, jadi kena tertarik sendirinya.

Ini ada gerakan "pinjam tenaga lawan".

Karena ini musuh kena terbetot, sampai kuda-kudanya gempur, tubuhnya maju ke depan, sukar ditahan.

Selagi bcgitu, dengan satu gerakan memutar, Bong Tiap dengan licin loloskan goloknya dari libatan rantai, lalu membarcngi, ia membabat kedua kaki orang.

Ia mendek dan menycrang dengan tipu "Kouw sie poan kin", atau.

"Pohon tua numprah dengan akarnya". Musuh itu liehay, meskipun ia tcrancam bahaya, ia masih bisa enjot tubuhnya, akan terus berlompat, menyingkir dari babatan. Ia lompat jauhnya sctumbak. Bong Tiap hendak kejar musuh ini, atau dua musuh lainnya, yang pegang Tjit-tjiat-pian dan Koei-tauw-too, sudah maju pula, berbareng menyerang ia. Hanya sekali ini, mereka berlaku hati-hati. Terpaksa, Nona Lioe layani pula kedua penjahat itu. Segera juga, penjahat yang bersenjatakan gembolan, bersama satu yang lain, yang mencekal Tjeng-kong-kiam, membantu kedua kawannya mengepung. Bong Tiap gusar melihat senjatanyadipakai musuh. Pedangitu ada buatannya ayahnya, dulu, ketika ia berumur satu tahun, lalu setiap tahun, ditambah beratnya, terus sampai ia berusia dua belas, di waktu mana, ia diizinkan pakai itu. Itu ada pedang tajam luar biasa, bisadipakai membabat besi sembarangan. Ia ingin rampas pulang pedang itu, maka ia segera desak ini musuh, beruntun ia membacok dengan tiputipu silat "Sia sin bong goat"

Atau "Memandang rembulan sambil miring"

Dan "Hons hong thian tjie"

Atau "Burung Hong pentang sayap". Ia pun membentak.

"Penjahat tidak tahu malu, kau berani curi pedang nonamu!"

Penjahat itu, yang romannya bagaikan tikus, tidak gusar, sebaliknya, ia tertawa haha-hihi.

"Nona manis, kenapa marah?"

Kata ia, dengan godaannya.

"Pedang toh harus dihaturkan pada orang gagah dan pupur di hadiahkan kepada si juwita! Kau persembahkan pedang padaku, nanti aku balas kirimkan pupur dan yan tjie harum kepadamu! Bagaimana menarik untuk kita saling tukar tanda mata!...."

Sekalipun ia menggoda dan berlaku ceriwis, penjahat itu tidak alpakan pedangnya.

Maka itu, kendati ia mendesak, dalam tempo yang pendek, Bong Tiap tidak mampu berbuat suatu apa, karena ia pun sedang dikepung, hingga ia mesh"

Layani yang Iain-lain.

Empat musuh itu ada mempunyai kepandaian tidak rcndah.

kalau tadi mereka ketetcr, itu disebabkan mereka memandang enteng.

Sekarang, di empat penjuru, mereka menycrang dengan rapi.

Bong Tiap sekarang bukan iagi Bong Tiap tiga tahun yang lalu, ia bcnar tidak biasa menggunai golok, tapi ibunya, Lioe Toanio Lauw In Giok, ada ahli wans Ban Seng Boen, yang utamakan golok Ban-seng-too, dan itu, sedikimya ia paham gunai senjata ituja tahu tipu-tipunya, maka sekarang ia bersilat dengan campur ilmu golok dengan ilmu pedang Thay Kek Koen sen a Sim Djie Sin-nie punya ilmu kebutan Tiathoed-tim yang bisa dipakai sebagai pedang Ngo-heng-kiam.

Begitulah, ia pun bikin empat musuhnya tidak bisa berbuat ban yak.

Pertempuran berjalan seru, sampai lama juga, ialah lebih daripada lima puluh ju-ras.

Bong Tiap bcrkelahi terns, sampai diam-diam ia mcngcl uh.

Dengan tiba-tiba, ia rasai perutnya mulas, kedua kakinya pun sesemutan.

Karena ini.

diluar keinginannya, ia jadi keteter.

Bong Tiap benci musuh yang pakai Tjeng-kong-kiam, tapi juga ia paling waspada terhadap musuh itu, bukan ia maiui boegee orang itu, ia hanya kuatir, senjata mereka jadi kebentrok, ia takut.

goloknya nanti kena terpapas kutung.

Coba mereka bertempur satu sama satu, ia tentu tidak pikir banyak.

Di lain pihak, musuh pun merangsang hebat.

Sembari bertempur, musuh-musuhj itu masih menggoda terus.

"Begini saja puterinya Lioe KiainJ Gim!"

Demikian seorang menghina.

"Mernang sebegini saja!"

Kata yang lain.

"Dia cuma bisa layani si kelinci. mana dia sanggup lawan kita?...."

Dengan si kelinci ia maksudkan Ham Eng. Mukanya Bong Tiap pucat, ia kertak gigi. Ia mendongkol bukan alang-kepalang. Dengan tiba-tiba, dengan "Too say kim tjhie"

Atau "Menyebar uang emas", ia terjang penjahat yang ngoceh tak keruan itu.

Dari atas ia menyerang ke bawah, lantas ia teruskan membabat kaki.

Penjahat itu yang mainkan ruyung tujuh tekukan, dia lompat mundur, ruyungnya dipakai menyampok, sedangnya begitu, Bong Tiap dengar sambaran angin di bclakangnya, lckas-lekas ia putar tubuh, tapi menyusul itu, rantai bandring menyambar goloknya, melilit, ketika si penjahat membetot, goloknya terlepas, terpental!

Insyaf bahwa ia lagi hadapi ancaman bencana, tidak ayal lagi, Nona Lioe keluarkan Ioncatan tinggi danjauh, sebagaimana yang Sim Djie pernah ajarkan ia.

Ia loncat dua tumbak.

gerakannya mirip dengan burung hoo menerjang langit.

Ia lintasi kepala musuh, setelah kakinya injak tanah, ia loncat lebih jauh, hingga ia lantas berada di jalan besar.

Tapi ia bukannya hendak lari, ia cuma mau jauhkan diri dari musuh, agar ia bisa dapat napas.

Ia bersedia dengan tangan kosong melayani terus empat musuhnya.

Mereka ini pun menyusul, sekarang mereka semakin berani, karena si nona bertangan kosong.

Ketika itu sudah lewat tengah malam, jagat ada sunyi sekali.

Memangnya di Thian-tjin ada jam malam, begitu cuacagelap, penjagaan Gie Hoo Toan diperkeras, siang-siang penduduk telah masuk tidur.

Sementartfttu, gedungnya Kiam Gim berada di terhpat yang sunyi, hingga sekalipun serdadu ronda, jarang yang lewat situ.

Maka itu, mereka itu bertempur tanpa ada yang lihat atau ganggu.

Selagi empat penjahat itu merangsang, untuk kepung pula si nona, tiba-tiba dua bayangan kclihatan lari mendatangi, ketika keduanya sampai, mereka segera menghalang di tengah.

Dua bayangan itu masing-masing mencekal sebatang pedang panjang, yang mereka lintangi.

Kapan Bong Tiap telah lihat nyata dua bayangan itu, ia kaget berbareng girang.

"Ah, Toa-soeheng, kau datang!"

Ia berseru.

Memang juga dua orang itu adalah Law Boe Wie dan Teng Hiauw, yang baharu saja sampai.

Kalau Boe Wie ada keren karena bentuk kepalanya beroman macan tutu!, adalah yang berdiri di sampingnya, tubuhnya jangkung dan cakap dan gagah usianya kurang lebih tiga puluh tahun!

Empat penjahat itu terkejut untuk sedetik saja, mereka tidak takut, tetapi di saat mereka hendak tegur ini dua orang baru, tahu-tahu Boe Wie berdua sudah maju akan serang mereka.

Bong Tiap mendapat hati, ia serukan toa-soeheng itu.

"Kau orang layani itu tiga orang, biarkan aku sendiri lawan ini yang bersenjatakanTjeng-kong-kiam! Jangan kau orang bantunku!"

Dan ia terus loncat maju, akan serang itu pencuri pedang, yang ia benci bctul, karena mulutnya sangat kotor.

Ia tidak keder walaupun ia tidak punya senjata.

Boe Wie bersangsi melihat soemoay itu tidak bergegaman.

"Jangan kuatir, aku sanggup layani kelinci ini!"

Kata si nona, yang mengerti kesangsiannya saudara seperguruan itu.

Di situ terjadi pertempuran dalam tiga rombongan.

Boe Wie serang orang yang pegang golok Kwie-tauw-too, ia lantas dikepung oleh musuh yang menggunai Tjit-tjiat-pian.

Teng Hiauw sendirian layani musuh yang pegang bandring gembolan.

Penjahat dengan Tjeng-kong-kiam gentar juga melihat majunya Bong Tiap, tapi karena orang bertangan kosong, iasegera mendahuluimenikam dadanya Bong Tiap.

Ia telah gunai tipu "Tjoan tjiang tjin kiam"

Atau "Majukan pedang sambil lempangi tangan".

"Bagus!"

Bcrscru Bong Tiap scraya ia berkelit ke samping, bukannya ke kiri, hanya ke kanan, dari sini, dengan tangan km ia hajar lengan kanan rang, dcngan tangan kanan, ia sambar pundak kiri musuh.

Inilah yang dibilang **Hok ie hoan in", atau "Menyusun hujan, membalfld awan"

La wan itu geser tubuhnya ke kanan, ke arah man a pun ia tarik pcdangnya, habis itu, cepat sekali, ia menyerang pula, mcnikam bebokongnya si nona Bong Tiap berkelit sambil mendek, kakinya melesat ke samping musuh, selagi pedang mcnusuk tempat kosong.

ia bcrada hampirdi belakang musuh itu, maka sambaran angin segera mengarah batok kepala penjahat itu.

"Celaka!"

Mcnjerit musuh itu dalam hatinya.

la insyaf, serangan si nona lagi menuju kepalanya bagian belakang.

Maka lekas-lekas babat ke belakang, kepada lengan kanan orang.

Bong Tiap lihat orang repot, ia perdengarkan tertawa menyindir.

Ia kasih lewat babatan pedang, lalu ia merangsang untuk itu, ia gunai kedua tangannya, yang disusun.

Dimajukan bergantian dengan sebat sekali.

Kecewa penjahat itu menggunai pedang, ia tak dapat gunakan itu secara berfaedah, ia repot dengan desakan.

Tubuh si nona berkelebat di sana-sini, di depan.

di kiri dan kanan, atau tiba-tiba, di belakang.

Sebagai kupu-kupu ia mainkan bunga, laksana capung menyambar air, demikian gesitnyasi nona.

Dengan ini jalan, ia menyebabkan mata musuh lamur, kepala pusing.

Scsudah sckian lama tidak berdaya mcloloskan diri dari desakan, penjahat itu pikir, menyingkir ada paling selamat.

Untuk ini, ia tidak mau pikirkan lagi tiga lawannya.

Dengan "Auw tjoe hoan sin", lompatan j umpali tan bagai burung menyambar, ia lepaskan diri dari desakan, lalu dengan "Kim peng tian tjie"

Atau "Garuda emas pentang^sayap", ia membabat ke arah bawah si nona, setelah itu, selagi Bong Tiap lompat berkelit, ia juga terus Ioncat mundur, putar tubuh dan angkat langkah seribu....

Kabumya penjahat adalah hal yang menggirangkan si nona.

Ini ada apa yang ia harap.

Ia memang mempunyai Tjengkang-soet, ilmu entcngi tubuh, yang sempurna.

Justeru penjahat itu lari, ia enjot tubuhnya, untuk mengejar.

Sekali Ioncat saja, ia sudah sampaikan kira-ki ra dua tumbak, hinggaia lantas bcrada di belakang musuh.

Musuh itu hendak putar tubuhnya, guna menyambut dengan tikaman, sayang,-sudah kasep, ia terlambat, baru tangannya digeraki, atau tangan itu sudah dicekal Bong Tiap, kaki siapa pun bekerja.

Tidak tempo lagi, penjahat itu rubuh terguling, pedangnya terlepas.

Bong Tiap tidak mau mengasib hati, justeru orang rubuh, ia lompat menyusul, sebelum penjahat itu dapat kctika, akan lompat bangun, kepalanya sudah kena ditendang, demikian hebat, sampai kepala itu pecah, polonya tercerai-berai, hingga jiwanya terus terbang melayang.

Bukan baharu satu kali ini Bong Tiap bertempur, tetapi membunuh musuh secara begini, ini ada pengalamannya yang pertama.

Ia berlaku ganas saking ia benci musuh.

Akan tetapi, melihatmayat orang itu, hatinya segera.menjadi tidak tega, hingga ia tak sanggup mengawasi lebih lama.

Dengan apa boleh buat, ia gunai kakinya, akan sontek pedangnya yang terletakdi darah mengumplang, untuk jumput itu.

Ia sudah hendak angkat kaki ketika ia ingat piauw Bouw-nie-tjoe, yang ia percaya ada di tubuh musuh, maka dengan apa boleh buat, ia kembali, ia dupak tubuh musuh sampai terbalik, dengan separuh meram, ia merogoh ke saku orang itu.

Benar saja, ia dapatkan senjata rahasianya itu.

Habis itu baharu ia susut bersih darah di pcdangnya dan masuki pedang itu ke dalam sarungnya.

Untuk sedetik, ia berdiri diam, hatinya goncang, tubuhnya rasanya lemas.

Tapi sedetik juga* ia ingat akan keadaannya.

Segera ia menoleh pada dua kawannya.

Ia dapatkan Teng Hiauw, sambil memeluk pedang, lagi berdiri mengawasi ia sambil bersenyum.

Di lain pihak, Boe Wie masih layani dua musuhnya, hanya dia sudah menang di atas angin.

Samasekali musuh ada berjumlah lima, Teng Hiauw layani yang bersenjatakangembolan.

Satu musuh telah melayang jiwanya, karena dibekap Bong Tiap ketika ia lancang masuk ke dalam kamar dan kemudian dilemparkan keluar jendela dengan masih terbekap.

Musuh yang pegang gembolan ini lebih liehay dari kawannya, yang sudah mart, tapi ia tidak berdaya melawan Teng Hiauw belum habis dua puluh jurus, pedangnya orang she Teng itu sudah mampir di dadanya, lalu digentak ke atas, hingga luka di dada sampai di pundak kanan, darahnya nyemprot tak mau berhenti, tubuhnya rubuh, jiwanya melayang.

Baharu setelah musuh terbinasa, Teng Hiauw ingat, ia berbuat terburu nafsu.

Seharusnya ia mengasih tinggal hidup, guna korek keterangan dari mulutnya dia itu.

Setelah itu, ia menoleh pada Boe Wie dan Bong Tiap.

Tadinya, seperti orang she Law itu, ia kuatirkan si nona, tapi, setelah lihat cara berkelahinya, hatinyajadi tetap.

Nona itu gesit luar biasa, bertangan kosong, diamampu layani musuh dengan leluasa, maka itu, ia lantas berdiri menonton saja.

la lantas saja jadi kagum dengan caranya orang bersilat.

Itulah bukan gerakan Thay Kek Koen belaka.

Ia tidak kenal ilmu silat si nona.

Ia percaya, si nona barangkali ada di atasan ianya.

Ia tidak sangka, soemoay yang ia belum pernah lihai itu, yang cuma ia pernah dengar namanya, ada demikian liehay.

Maka itu, akhirnya, ia bersenyum menyaksikan kcmenangan, yang dilakukan sccara mengagumi.

Hatinya Bong Tiap lega mclihat pembantu yang belum dikcnal itu sudah perolch kcmenangan, dari itu, ia lantas perhatikan toa-soehengnya.

Boe Wie bukannya kewalahan mclayani dua musuh, kalau scbegitu jauh ia bclum berhasil, itu disebabkan, sembari berkelahi, saban-saban iacari ketika akan menoleh pada sang adik scpcrguruan.

Kemudian, walaupun ia lihat soemoay itu sudah menang di atas angin.

ia masih belum tenteram betul, ia scnantiasa bcrdaya akan bcrscdia untuk bantu saudara itu apabila perlu.

Maka itu, ia gunai "Hoei Eng Keng-soan-kiam"

Untuk layani kedua musuh, hingga dua-dua musuh tak dapat merangsang ia, sebaliknya, mereka yang saban-saban mesti mundur dari ancaman pedang.

Sckarang.

setelah lihat Bong Tiap menang, ia tidak mau berlaku sungkan lagi.

Dcngan "Liong boen sam kek long", dengan gayanya sang naga menentang gelombang, Boe We lantas merangsang.

Dari pihak si pembela diri ia berubah menjadi si penyerang.

Dan ia berlaku sangat gesit.

Diserang secara demikian, kedua penjahat itu jadi kelabakan.

Memangnya mereka sudah kewalahan.

Dalam tempo yang pendek sekali, permainan gegaman mereka menjadi tidak teratur lagi.

Penjahat yang menggunai golok Kwie-tauw-too menjadi sibuk, ia rupanya insyaf, lama-lama ia bisa celaka.

Dengan sekonyong-konyong, ia kirim tikaman kepada musuh.

Berbareng dengan itu, kawannya, yang pegang ruyung Tjittjiat-pian, juga maju menyerang.

Digencet dari dua jurusan, Boe Wie tidak berkuatir.

Gesit sekali, ia mendek, terus ia geser kakinya, akan menyingkir, ke sampingnya si penyerang yang pertama.

Berbareng dengan itu, kedua senjata musuh telah bentrok satu dengan lain, karena mereka itu tak keburu lagi tank pulang serangannya masing-masing.

Boe Wie gunai ketika senjata mereka beradu, ia melesat terlebih jauh ke samping musuh yang bcrsenjatakan golok, akan kirim bacokan pada batang leher orang.

Ini adalah tipu silat "Soen soei twie tjouw"

Atau "Menolak perahu dengan turuti aliran air".

Tidak tempo lagi, dengan perdengarkan jeritan tertahan, penjahat itu rubuh binasa.

Bukan terkira kagetnya penjahat yang memegang ruyung apabila ia saksikan kawannya hilang jiwa, dengan tiba-tiba ia menyerang kalang-kabutan, supaya ia bisa buka jalan untuk angkat kaki.

Ia berhasil.

Selagi Boe Wie mundur, ia lompat dan kabur.

Tapi Boe Wie mundur beberapa tindak saja, selagi musuh lari, ia loncat, akan mengejar.

Ia memang pandai lari keras.

Ia ada laksana garuda menyambar kelinci.

Cepat sekali, ia sudah datang dekat belakang musuh itu.

"Jahanam, lihat pedangku!"

Ia memfcentak.

Dan pedangnya menyambar.

Penjahat itu kaget bukan main mendengar teriakan itu, ia menjadi gugup, tapi selagi ia terancam bahaya, mendadakan ada orang lain lompat kepada mereka dan dengan pedangnya, orang itu tangkis pedangnya Boe Wie, hingga kedua senjata beradu dengan nyaring, hingga penjahat itu jadi ketolongan jiwanya.

Boe Wie heran apabila ia kenali penghalang itu ada Teng Hiauw.

"Jangan binasakan dial Perlu kcsaksiannya!"Tcng Hiauw berseru apabila kawannya awasi ia, selagi Boe Wie hendak minta keterangan. Segcra Boe Wie mengcrti, dengan tidak kata apa-apa, ia loncat kepada musuh, siapa pun heran, hingga dia tercengang. Gerakan Boe Wie ada "Liong heng hoei pou"

Atau "Tindakan terbang dari naga".

Dan ia tidak lagi gunai pedangnya, hanya jeriji tangannya.

Penjahat itu kaget, ia membabat dengan ruyungnya, tetapi ruyung itu ditangkis dengan pedangnya Boe Wie, sampai ruyung terpental, setelah mana | orang she Law ini mendesak terus,, lagi-lagi dia menyerang, dengan dua jan tangan, telunjuk dan jari tangan, dari tangan kiri.

Sasarannya adalah musuh punya jalan darah "Kie-boen-hiat"

Atau pintu angin. Sekarang penjahat itu tidak berdaya lagi, ia kalah sebat, ia kena ditotok, berbareng sama jeritannya "Aduh!"

Ia rubuh dengan tak dapat berkutik lagi!

Sampai di situ, habislah lima penjahat.

satu tertawan hidup, empat terbinasa.

Boe Wie kasih dengar tertawa puas, lantas ia masuki pedangnya ke dalam sarung, sesudah itu, dengan tangan kiri, iajumputtubuh musuh, untuk dikempit.

"Mari kita masuk ke rumah, untuk periksa dia ini!"

Kata ia pada Teng Hiauw dan Bong Tiap.

Si ndna, seperti Teng Hiauw, sudah lantas menghampirkan.

Teng Hiauw dan Bong Tiap setuju, malah si nona segera mendahului lari di depan.

Dengan tiba-tiba ia teringat pada Ham Eng, yang sudah terluka, yang ditinggal sendirian di dalam kamar.

Ia pun tidak dandan rapi, karena tadi ia keluar dengan terburu-buru, dan pakaiannya ada kecipratan darah.

Ruangan ada gelap petang ketika ketiga orang itu masuk ke dalam rumah, di mana segera terdengar rintihan.

Bong Tiap berkuatir, ia lompat ke arah meja, untuk cari bahan api, guna nyalakan itu, untuk pasang lampu.

Ham Eng kelihatan rebah dcngan kulit muka hitam geJap,.

matanya separuh ditutup, napasnya empas-empis.

Bong Tiap kaget, sampai ia lalai di situ ada orang lain.

Ia dekati Ham Eng, akan usap-usap muka orang.

"Ham Eng!"

Ia mcmanggil.

"Di sini aku, kau tahu tidak?"

Pemuda iiu telah jadi korban Hong-bwee-piauw yang bcracun.

Mulanya ia cuma merasai sakit sedikit, tetapi sctelah racun bekerja, dcngan ccpat ia mcnjadi lelah, rasa sakitnya luar biasa.

Da lam keadaan bcrbahaya itu.

ia masih ingat Bong Tiap, ia ingin sekali tengok nona itu, walaupun untuk pcnghabisan kali.

Begitulah, dcngan lapat-lapat, ia dcngar suaranya si nona.

Ia lantas buka matanya, kcdua tangannya bergcrak, meraba baju orang.

"Socmoay. di lain pcnitisan saja kita orang bertemu pula..."

Kata ia dcngan lemah.

Boe Wie kaget Scgcra ia mengerti, soetee itu sudah terkena piauw yang beracun.

ia lihat air mukanya Ham Eng yang bcrsinar hitam gclap.

Sesaat ini, ia lupai halnya sendiri dcngan .Bong Tiap, ia kasihani socmoay itu, ia kasihani sang soetee.

ia maju ke depan, dekat sekali pada Ham Eng, untuk mempcrhatikan.

Di samping pembaringan, ada menggeletak liga batang piauw, yang kecil sekali.

Rupanya Ham Eng telah cabut itu di waktu ia mcrasakan sangat sakit Boe Wie jumput itu, untuk diperiksa.

Ia pernah dengar keterangannya Tok-koh It Hang perihal bcrbagai macam senjata rahasia seperti itu, ia mengerti, piauw ini ada racunnya.

Sclama mcrcka melawan empat musuh, tempo hampir satu jam telah dilewatkan, tidak heran soetee itu jadi berbahayakeadaannyaJLebih dahulu daripada itu, Bong Tiap sudah I ay an i musuh-musuhnya.

Maka scantcronya, sang tempo pasti sudah lebih daripada satu jam.

Rupanya, saking tangguhnya Ham Eng, ia masih bertahan sampai itu waktu.

Celakanya, luka itu tak dapat discmbuhkan kecuaii oieh obat si pemilik piauw sendiri.

"Soetee, aku mcnycsal,"

Kata Boe Wie yang dekati Ham Eng. la telah kuati hatinya, untuk tidak keluarkan air mata.

"Tidak, aku yang menyesal..."

Sahut Ham Eng, yang kcnali soeheng itu.

"Ia...."

"Sudah"

Boe Wie memotong.

"Ia adalah kepunyaan kau.... Aku datang untuk saksikan pernikahan kau orang berdua."

Ham Eng coba melirik Bong Tiap, nona ini tunduk dengan muka mcrah, dia diam saja. Anak muda itu lantas tertawa mcringis.

"Aku mati dengan puas...."

Kata ia, suaranya sangat lemah.

Ia rupanya masih hendak bicara terus, tetapi matanya dimeramkan, tempo ia lonjorkan kakinya dengan kaget, napasnya berhenti berjalan, cuma tampangnya masih tersungging senyuman....

Bong Tiap kaget, ia raba dada Ham Eng, ia tidak rasai jantung mcmukul, hatinya mencelos.

Ia menangis tetapi air matanya tidak keluar.

Tiba-tiba ia hunus pedangnya, yang ia hendak tabaskan pada batang lehernya sendiri.

Boe Wie lihat .gcrakannya itu, ia terperanjat, tetapi ia insyaf, sebelum pedang menabas, ia ulur tangannya, akan totok bahu kanannya Bong Tiap.

Dalam hal ini, Bong Tiap tidak perlu memikir untuk bcrkclit.

Maka ia kena ditotok di jalan darahnya "Kiok-tie-hiat", lantas tangannya sesemutan, pedangnya terlepas sendi rinya, jatuh sambil menerbitkan suara.

Teng Hiauw lompat akan jumput pedang itu.

"Aku hendak mati, Toa-soeheng,"

Kata si nona, yang lantas saja menangis.

"Kcnapa kau ccgah aku?"

Boc Wie belum sempat menyahut, atau Teng Hiauw dului ia.

"Soemoay,"

Kata orang she Teng ini.

"Kita berdua sebenarnya belum pernah kctemu satu dengan lain, tetapi aku sudah dengar kau adalah satu wanita gagah, maka kenapa kau berpikiran begini cupat? Apakah kau tak perdulikan lagi sakit hati ayahmu? Apakah kau inginkan lain orang yang tolong balaskan itu?"

Bong Tiap melengak. Kata-katanya Teng Hiauw, bagi ia ada seumpama guntur di siang hari.

"Apa? Apa kau bilang?"

Ia menegur.

"Kau siapa?"

Teng Hiauw maju setindak, ia awasi nona itu. Orang telah aniaya ayahmu hingga binasa-di Pakkhia,"

Ia kata "Apakah sakit hati itu tidak hendak dibaIas?Aku adalah orang yang telah kubur dcngan tangan sendiri jenazah ayahmu. Aku adalah soetit sejati dari ayahmu!!...."

"Belum sampai Teng Hiauw tutup mulutnya atau tubuhnya Bong Tiap rubuh dengan tiba-tiba, rubuh pingsan. Boe Wie lompat, akan tolong soemoay itu. Ia angkat tubuh nona itu, untuk direbahkan.

"Ah, Soetee...."

Ia sesalkan Teng Hiauw.

"dia lagi berduka kenapa kau lantas beritahukan kebinasaannya Soehoe?"

Teng Hiauw bersenyum tawar."

"Justeru ini ada saatnya yang paling baik,"

Ia bilang.

"Secara begini, kita bisa bikin ia tenang, hingga ia tak usah hendak mencari mati. Soeheng jangan kuatir, dia tidak dalam bahaya. Dia sangat berduka, tapi sebentar dia akan sadar."

Boe Wie bcrpikir.

Ia anggap soetee ini benar juga.

Tcng Hiauw ada seorang yang cerdik, dengan lihat sikapnya Bong Tiap dan Ham Eng berdua, dan kelakuannya Boe Wie, ia!

scgcra bisa menduga kepada lelakon cinta segitiga, maka itu, untuk cegab si nona menjadi nekat, tidak ada Iain jalan daripada lantas beritahukan kematiannya Lioe Loo-kauwsoe, ayahnya si nona.

Ia percaya, walaupun itu ada pukulan hebat kematiannya Ham Eng -Bong Tiap ton akan lebih utamakan sakit hati ayahnya-Ia pun percaya, dcngan warta hebat itu, Bong Tiap tidak bakalan bercelaka.

Dugaannya Teng Hiauw tidak meleset.

Berselang beberapa menit, Bong Tiap mulai sadar, ia geraki kaki, tangannya, matanya dibuka, belum sempat Boe Wie mengawasi, sekonyong-konyong nona itu mencelat bangun.

"Mari pedangku!"

Dia terus berseru.

"Aku tidak akan cari mati laei! Aku hcndak can musuhku. Aku hcndak tanya, ada permusuhan apa di antara kita maka ia sudah lukai ibuku dan sekarang binasakan ayahku!"

Teng Hiauw, yang masih pegangi pedangnya Bong Tiap, serahkan itu, tetapi ia hunjuk roman keren ketika ia berkata.

Kau berniat menuntut balas, itu bcnar!

Tapi kau mesti tenangkan din dahulu!

Musuhmu bukan satu orang saja, dengan kau pergi seorang diri ke Pakkhia, sakit hatimu tak akan terbalas!

Kita orang mesti berdamai.

jangan kita Cuma turuti nafsu hati.

Aku kasih tahu padamu, ayahku juga terbinasa di tangan musuh, ayahku adaiah soesiokmu Teng Kiam Beng, dengan siapa kau belum pernah bertemu."

Bong Tiap berdiam. Baharu sekarang ia tahu ini orang baharu. Perkataannya Teng Hiauw benar, mau atau tidak, ia mesti dengar.

"Baiklah,"

Kata ia akhirnya.

Hatinya Boe Wie menjadi lega.

Sampai di situ, mereka lalu berdamai, untuk periksa orang tawanan mereka.

Musuh yang bersenjata Tjit-tjiat-pian itu, yang sudah tidak berdaya, ada bemyali besar dan bandcl, ia berlaga gagu, karena setiap pertanyaan, ia tidak mau jawab, percuma orang bujuki dan gertak ia.

Bong Tiap jadi sengit, hingga ia hajar batang leher orang itu dengan pedangnya.

"Jikalau kau tetap tidak mau bicara, aku nanti bunuh padamu!"

Ia mengancam. Baharu sekarang, penjahat itu menyahut, dengan tetap hunjuk kcbandclannya, dengan mata melotot.

"Aku sudah tidak mengharap hidup pula, aku mcmang hendak menghadap pada Giam Loo Ong, untuk cari si pcmuda muka putih itu untuk tempuri ia! Nah, kau bunuhlah aku! Sangatlah berharga bagiku akan binasa di tangannya si manis!"

Tidak terhingga gusarnya Bong Tiap, hingga ia ayun pedangnya.

"Jangan,"

Mencegah Boe Wie, yang tank si nona ke samping.

"Sabar, aku mempunyai daya untuk bikin dia bicara, supaya ia binasa sccara puas, seperti ia kehendaki!"

Habis ber-kata-kata begitu, Boe Wie tepok jalan darah "Hok-touw-hiat"nya di iga kiri, untuk bikin terbuka jalan darah itu, hingga darah bisa mengalir, kemudian dengan tiga jeriji tarigan, ia totok dan tepok dengan bergantian batang lehemya orang itu di bagian yang lemas, menyusul mana, penjahat itu lantas teraduh-aduh, terkuing-kuing seumpama babi dipotong.

Ia pun bergulingan di tanah.

Mulanya dia masih mencaci kalang-kabutan, akan tetapi pelahan-Iahan, suaranya lenyap.

Totokan Boe Wie ada totokan paling liehay dari Kim-nahoat punya enam puluh empat tipu silat, untuk kompes orang jahat, itu ada jauh terlebih liehay dari berbagai pesawat kompesan.

Kena ditotok dan ditepok, penjahat itu rasakan semua uratnya seperti terlepas satu demi satu, seluruh tubuhnya sebagai juga ditusuki berlaksa jarum, rasanya sakit dan gatal, hingga tak dapat ditahan, maka itu, ia tak berani memaki terlebih jauh, akan akhirnya, ia minta-minta ampun.

Boe Wie tertawa dingin terhadap musuh yang bandel ini.

"Aku sangka kau berkulit tembaga dan bertulang besi, entah bagaimana tangguhnya, kiranya kekuatan kau begini saja?"

Ia mengejek.

"Kau minta ampun, baik sekarang kau mesti jawab aku -satu demi satu! Asal kau mendusta, aku masih punya lain cara yang liehay, untuk kau rasai!"

Mukanya penjahat itu jadi pucat dan biru bergantian, keringat sebesar kacang mengetes dari jidatnya. Sekarang iajadi jiijak, berulang-ulang mangguti kepala.

"Siapa perintah kau bokong puteri dan muridnya Lioe Looenghiong?"

Demikian pertanyaan pertama dari Law Boe Wie.

"Itulah Gak Koen Hiong Toako dari Pakkhia!"

Teng Hiauw melirik pada Boe Wie, segera ia tanya."

Apakah benar? Ada siapa lagi di belakangnya Gak Koen Hiong? Apakah juga Gak Koen Hiong yang perintahkanmembinasakan Lioe Loo-enghiong?"

"Siapa ada di belakangnya Gak Koe Hiong aku tidak tahu,"mengakui penjahat itu.

"Aku cuma dengar ada sejumlah orang liehay, yang tidak hendak majukan diri, karena Gak Koen Hiong ada orang Gie Hoo Toan, mereka ini majukan Gak Toako. Orang bilang, Ibusuri Tjoe Hie Loo-Hoeja juga ada tulang punggungnya Gak Toako. Tentang kcmatiannya Lioe Loo-enghiong, itu ada pekerjaan orang sebawahannya Gak Toako."

Boe Wie gusar bukan kepalang, hampir saja ia tak dapat kcndalikan diri.

"Kenapa Gak Koen Hiong ketahui puteri dan muridnya Lioe Loo-enghiong ada di sini?"

Ia tanya pula.

"Apakah Tjo Hok Thian dan Thio Tek Seng ketahui kau orang telah dikirim kemari?"

"Gak Koen Hiong tidak ketahui puterinya Lioe Loo-enghiong ada di sini,"

Penjahat itu berkata lebih jauh.

"Dia cuma tahu, Lioe Loo-enghiong mempunyai satu murid muda, yang sering dampingi gurunya, dari itu, dia cuma kirim kita bertiga. Kedua oatauw bak Thio Tek Seng dan Tjo Hok Thian tidak ketahui tentang kita ini."

Boe Wie masih tanyakan lainnya lagi, tetapi orang itu goyang kepala, ia tak dapat bcnkan lagi ketcrangan yang penring, maka akhimya orang she Law itu rabah iganya orang itu, atas mana si penjahat menjerit, terus ia binasa.

Malam ada gclap dan sunyi, kamar ada tenang sekali, melainkan api lampu mcmain sendirian.

Boe Wie lantas berdamai dengan Teng Hiauw, scdang Bong Tiap masuk ke dalam kamar, untuk salin pakaian..

Pada dua soeheng itu, ia telah nyatakan.

"Pikiranku sedang kalut, apa yang Soeheng putuskan, aku akan turut saja.""

Ia mesti lekas salin, karena pakaiannya berlepotan darah. Boe Wie ada lesu, ia menghela napas.

"Urusan ada sulit, Gie Hoo Toan ada sangkut-pautnya. Satu hal aku bisa terangkan, walaupun mesti adu jiwa, aku hendak menuntut balas untuk guruku."

"Dulupun Soepeh tidak mufakat Gie Hoo Toan memasuki Pakkhia,"

Kata Teng Hiauw.

"Aku lihat, sekarang telah berubah sifat Kalau kita pcrgi ke Pakkhia, di sebelah dendaman Soepeh, kita juga harus bekerja untuk Gie Hoo Toan. Soeheng tahu, tiga-tiga Toatauwbak Lie Lay Tiong, Tjo Hok Thian dan Thio Tek Seng telah ambii putusan buat pergi ke Pakkhia. Gagai atau berhasil, itu ada urusan lain. Pendek, kita orang tidak mampu ubah putusan mereka. Kita melainkan bisa terangkan pada mereka, bagian dalam kita ada kacau. Atau dengan sampaikan pesan Soepeh, kita minta mereka bikin pembersihan di dalam. Kedua, aku pikir, bersama-sama Toatauwbak Lie Lay Tiong mesti ikut banyak orang dari rombongan H oan Tjeng Biat Yang, yang bercitacita merubuhkan pemcrintah sambil membasmi orang asing, di antara mereka, mesti tidak scdikit sahabatnya Soepeh, maka baik kita mohon bantuan mereka."

Boe Wie tidak dapat pikir lain, akhimya ia nyatakan setuju. Kemudian keduanya pasang omong terus, sampai fajar. Nyata mereka cocok satu dengan lain.

"Dua kali aku pernah pulang ke Poo-teng,"

Kata Teng Hiauw, ketika ia simpangkan pembicaraan.

"Thay Kek Boen mesti dibangunkan pula, orang berniat angkat aku jadi ketua, aku tidak tcrima. Kedudukan ketua ada bagian kaul"

Ia tambahkan sambil tertawa.

"Adik Hiauw, jangan kau merendahkan diri!"

Boe Wie bilang.

"Aku ada orang asing, tak nanti aku dapat kepercayaan mereka. Di sebelah itu, aku tidak kandung niatan sama sekali."

Boe Wie dapat kenyataan, meskipun Teng Hiauw ada lebih muda daripada ia, ia ada cerdik, berpengalaman dan jujur.

Nyata, Teng Hiauw pun cocok benar dengan Gie Hoo Toan, hingga dia hunjuk, tidak benar soeheng itu tidak terlalu perhatikan perkumpulan pencinta negara itu.

"Siapa mau berhasil, ia harus bersedia menerima kegagalan,"

Begitu Teng Hiauw utarakan.

"Bisa jadi, dengan memasuki Pakkhia, Gie Hoo Toan bakal nampak kegagalan, tetapi itu ada pelajaran dan itu akan jadi dasar untuk kemenangan di belakang hari. Rakyat akan lihat tenaga kita. Kita mirip dengan bocah cilik, yang lagi belajar jalan, kita jatuh, kita bangun pula, akhimya toh kita bisa jalan!"

Boe Wie mesti mengakui benarnya soetee itu.

Kapan sang pagi datang, bertiga mereka rawat mayatnya Ham Eng, untuk dikubur dengan baik, kemudian bertiga mereka berangkat, akan ikut angkatan perangnya Thio Tek Seng pergi ke Pakkhia.

Pakkhia ada kota terkenal yang beriwayat.

Di pertengahan Kerajaan Kim, ia disebut Tiongtouw, lalu di zaman Goan Tiauw, diubah jadi Tay-touw.

Di zaman Beng, ketika Kaisar Eng Lok pindah dari Lamkhia, ia dapati namanya Pakkhia dengan resmi.

Kerajaan Tjeng tetap pakai nama itu, sampai pada masa Pergerakan Gie Hoo Toan.

Riwayat itu berumur kira-kira tujuh ratus empat puluh tahun.

Boe Wie kagum ketika ia tampak Kota Pakkhia yang kelihatannya angker.

Dua hari dari sampainya ia angkatan perangnya Lie Lay Tiong"

Dan Thong-tjioe sudah mendahului maka itu, di mana-mana adakelihatan "sin tan"", atau panggung suci dengan asap dupanya bergulung-gulung.

Tentaranya Thio Tek Seng ini disambut dengan gembira oleh kawan-kawannya yang sampai terlebih dahulu itu.

Boe Wie berempat -ia ada bersama-sama Bong Tiap dan Teng Hiauw serta isterinya dia ini, Kiang Hong Keng -dapat tempat di Tong-sian-pay-lauw, yang diperuntukkan oleh pihak Gie Hoo Toan.

Mereka sampai belum ada satu jam, selagi mereka beristirahat, lantas mereka dikabarkan ada tiga tetamu yang sudah berusia tinggi.

yang datang berkunjung.

Belum sampai Boe Wie dapat terka, siapa ketiga tetamu itu, ia sudah lantas dengar teguran yang nyanng.

"Boe Wie, kau baharu sampai? Tidak disangka-sangka kita orang bisa bertemu pula di Kota Raja ini!"

Boe Wie kenalkan suara itu,hingga ia menjadi sangat girang!

Itulah suaranya Pek-djiauw Sin Eng Tok-koh It Hang, gurunya, siapa datang bersama-sama In Tiong Kie, satu di antara tiga pendiri Pie Sioe Hwee, serta Tjiong Hay Peng dari Heng Ie Pay.

Mereka ini datang dua hari duluan.

Tidak usah dibilang lagi, pertemuan itu ada sangat menggirangkan hati.

Tapi, kapan mereka bicarakan umsannya Lioe Kiam Gim, yang binasa di tangannya boe beng siauw tjoet, satu manusia rendah, mereka mengbela napas.

Tok-koh It Hang sudah ketahui ha!

kematiannya Lioe Kiam Gim, ia datang kc Pakkhia, kesatu untuk cari kawan sekerja, kcdua guna coba balaskan sakit hatinya sahabat itu.

Dcngan banruannya In Tiong Kie dan beberapa tauwbak lain, ia segera perolch keterangan perihal keruwetannya Gie Hoo Toan.

Boe Wie pcrkcnalkan Teng Hiauw dan isterinya, begitupun Lioe Bong Ti"ap kcpada tiga jago tua itu; mereka ini gembira sekali.

"Aku tidak sangka, dalam usia lanjut, pcndcta kenamaan itu masih menerirna murid,"

Nyatakan Tok-koh It Hang. ajJabila ia ketahui, BongTiap ada muridnya Sim Djie.

"Pada empat puluh tahun yang lalu, pemah satu kali aku bertemu dengannya dan aku telah saksikan kebutannya Tiat-hoed-tim yang liehay."

Memandang Teng Hiauw, Tok-koh It Hang pun kagum.

Menurut ia, pemuda ini beda sekali dari mendiang ayahnya yang beradat tinggi dan berkepala besar.

Kemudian ia kagumi Kiang Hong Keng, puterinya Kiang Ek Hiah, sebagai isterinya Teng Hiauw, karena wanita ini ada cantik dan gagah romannya, mereka berdua sembabat sekali menjadi pasangan.

Selama beberapa hari, Pakkhia benar kedatangan banyak orang gagah dari bcrbagai kalangan dan daerah, umpama Lauw In Eng, ahli waris dari Ban Seng Boen di Shoasay.

Dia ini, sepeiti diketahui, ada adiknya Lioe Toanio Lauw In Giok.

Yo Tjin Kong tidak turut datang, sebab ia tetap rawati socbonya.

Yang lainnya lagi ada Thie-bian Sie-seng Siangkoan Kin dari Kangsouw, si Mahasiswa Muka Besi, Hong Tjin Hweeshio dari Siauw Lim Sie, ahli Tiam-hoat-hiat Lo Hoan Sian dari Soe-tjoan, Tayhiap Soen Siang Beng dari In-lam, Tjian Djie Sianseng, Ketua dari ilmu silat Ouw Tiap Tjiang (Tangan Kupu-kupu), serta Han Koei Liong,, guru silat kesohor dari Liang-Ouw (dua propinsi Ouwlam dan Ouwpak).

Maka itu, Pakkhia jadi ramai sekali.

Di situ Gie Hoo Toan sangat berpengaruh, sampai tentaranya Kie-boen Tee-tok, yang berkuasa atas ibukota, dan Gie Lim Koen, Barisan Raja, tidak berani bentrok dengan mereka, melainkan bcrdasarkan titah rahasia, mereka selamanya siap sedia alat-scnjata.

Di sebclah itu, Gak Koen Hiong dari rombongan Poo Tjeng Biat Yang juga siap sedia saja.

Mereka juga I kumpuli banyak orang pandai, kecuali pahlawan-pahlawan dari istana dan segala buronan pcnjahat besar, juga pendeta-pendeta Lhama "

Dari perbatasan Mongolia dan Tibet, kcpala-kepala polisi, dan guru-guru silat kirimannya berbagai pembesar tinggi dari luar Pakkhia.

Maka itu.

walaupun dia ada Hoe-tauwbak, Tjongtauwbak Lie Lay Tiong tidak berani sembarangan bentrok padanya.

Lie Lay Tiong gagah dan berpengaruh, tetapi ia kalah jauh dari Tjoe Hong Teng, pendiri dari Gie Hoo Toan, dia juga masih inginkan kerja sama dengan pemerintah Boan.

Ia anggap ada satu kehormatan akan menghadap Ibusuri See Thayhouw dan duduk sejajar dengan berbagai menteri besar dan orang bangsawan agung.

Di hadapan Ibusuri dia pernah mempertunjuki kepandaian Gie Hoo Toan -sanggup menentang senapan dan meriam.

Sebenarnya Ibusuri tidak puji-puji padanya tetapi ia sendiri suka kcasyi kan dirinya digunai.

Maka itu, karena sikapnya itu, Lie Lay Tiong tidak ingin bentrok dengan Gak Koen Hiong, dia tidak berani Iakukan pembersihan dalam kalangannya sendiri, malah ia ubah cita-cita Hoan Tjeng Biat Yang dengan Hoe Tjeng Biat Yang, ialah aksi menentang menjadi mcnunjang.

Dcmikianlah sia-sia orang hunjuki dia bahwa Lioe Kiam Gim binasa di tangannya Gak Koen Hiong, ia tolak segala saran pembersihan di dalam dengan alasan tak boleh tcrjadi bentrokan antara orang sendiri....

Sementara itu, keadaan telah menjadi hebat.

Pasukan Kozak yang kesohor dari tentara Rusia sudah bentrok sama barisan Gie Hoo Toan di Tok-lioe-tin, di luar Kota Thian-tjin, menyusul mana tentara Rusia, Perancis dan Jepang sudah mendarat dan bentrokjuga,di Iain pihak,tentara Amenka dan Inggeris, dua ribu serdadu,dengan bawa meriam-meriam besar, sudah maju ke Pakkhia.

Tentara Gie Hoo Toan dengan merusaki jalan keretaapi, cobamenghalangimajunya tentara Serikat ini.

Dengan hanya menggunakan golok dan tumbak, pihak Gie Hoo Toan nampak kerugian, tetapi pihak asing puji keberanian mereka Selagi tentara Serikat dari delapan negara bergerak terns, pihak Gie Hoo Toan di Pakkhia tetap belum bersatu-padu.

Rombongannya Tok-koh It-hang ingin segera dilakukan pembersihan di dalam, guna singkirkan rombongannya Gak Keen Hiong, tetapi Lie Lay Tiong tetapi beranggapan, itulah bukan saatnva untuk bentrok di antara orang sendiri.

Saking tidak sabar, pada suatu malam Tok-koh It Hang berkumpul bcrsama In Tiong Kie, Tjiong Hay Peng, Tjian Djie Sianseng dan Iain-lain ketua, di situ ia tanya Boe Wie dan Teng Hiauw, apa mereka ini berani datangi tangsinya Gak Koen Hiong.

"Kau orang cuma perlu menyampaikan surat,"

Tok-koh It Hang jelaskan.

"Terutama jangan kau orang bunuh dia!"

Dua pemuda menjadi heran.

"Walaupun ke dalam guha harimau dan kedung naga, siauwtit berani pergi!"

Nyatakan mereka.

"Hanya kenapa dia tidak boleh diserang?"

"Karena ituiah bukan caranya untuk membalas dendam."

Tok-koh It Hang jawab.

Tapi jago ma dari Liauw Tong ini berikan keterangannya.

Gak Koen Hiong mesii ditantang.

Tok-koh It Hang pcmah pikir untuk pergi sendiri, tetapi ia bataikan niat ini kapan ia ingat, ia termasuk orang luar.

Yang berhak mcnantang adalah Law Boe Wic sebagai murid kepala dari Lioe Kiam Gim, dan Tcng Hiauw sebagai ahli waris Thay Kek Pay.

Kalau Gak Koen Hiong dapat disingkirkan, di sebelah sakit hati dapat dibalas, itupun ada untuk keutuhannya Gie Hoo Toan.

Apabila Gak Koen Hiong dibokong, itu ada tindakan memalukan, sebab orang Kangouw harus berlaku terus-terang.

Lie Lay Tiong sendiri ada orang Kang-ouw dan ia tahu aturan atau adat-kebiasaan kaum Kang-ouw.

Dan kalau orang banyak ketahui rahasianya Gak Koen Hiong, pasti dia kehiiangan simpatinya orang banyak.

Boe Wie dan Teng Hiauw mengerti mereka berikan janji mereka Bong Tiap nyatakan suka ikut, tetapi Tok-koh It Hang mencegah.

Jago tua ini anggap si nona kurang tepat dan berbahaya juga, kecuali bila sangat terpaksa.

Cegahan ini bikin Nona Lioe tidak puas.

"Kau orang pandang enteng padaku, lihat nanti!"

Kata ia dalam hatinya.

Boe Wie dan Teng Hiauw pergi dandan, mereka mengenakan ya-heng-ie, pakaian malam warna hitam yang ringkas, lalu mereka pamitan dan bcrangkat Mereka keluar dari rumah dengan loncati tembok.

Tempat kediamannya Gak Koen Hiong ada bekas istananya satu pwee-lek, pangeran bangsa Boan, gedungnya besar, gentengnya genteng beling hingga sukar menaruh kaki di atasnya, saking licin.

Di belakang rumah ada sebuah pohon lioe yang besar, tingginya tiga tumbak lebih dan doyong melewati tembok, maka itu, Boe Wie berdua loncat naik ke atas pohon itu.

Ruangan dalam ada sunyi, mclainkan dari sebuah kamar tertampak cahaya api.

Di situ tak kclihatan seorang jua.

Boe Wie hendak lantas loncat turun, tetapi kawannya mencegah.

"Sabar!"

Teng Hiauw bilang, terus ia ini kcluarkan dua potong Kim-tjhie-piauw, ia lemparkan yang pertama, lalu scrang itu dengan yang kedua, hingga kedua piauw terbitkan suara nyaring, begitupun waktu dua-duanya jatuh ke tanah.

Ilmunya Teng Hiauw ini disebut "Tjeng hoe hoan sin", -Kodok hijau menyampaikan warta" -sama dengan kepandaian yang umum dari kaum Kang-ouw.

"Touw sek boen louw"atau "Melempar batu untuk menanyakan jalan". Nyatajitu dugaannya Teng Hiauw. Setelah nyaringnya suara kedua piauw beradu, di atas genteng licin lantas muncul dua orang dengan pakaiannya hijau dan golok di pinggang, entah di niana tadinya mereka bersembunyi. Melihat mereka itu, Boe Wie jengah, untuk kesembronoannya. Kedua orang itu heran, mereka dengar suara nyaring tetapi tidak lihat suatu apa, di situ tidak ada orang lain, mereka celingukan dengan sia-sia. Teng Hiauw dan Boe Wie terus diam saja, hanya si orang she Teng keluarkan lagi dua batang piauw, ia pakai itu untuk timpuk itu dua tjintcng. Jarak di antara mereka cuma kira-kira lima tumbak. Ia incar tcmpil ingan dan tenggorokan orang. Serangan ada mendadakan dan cepat sekali, dua tjinteng itu pun tidak menyangka, mereka kaget waktu kedua senjata rahasia menyambar, sebeium bisa kcl it, mereka sudah kena kesambar, tak sempat menjerit, keduanya rubuh dengan segcra, jatuh menggelinding. Tapi untuk cegah kedua tubuh jatuh di tanah, Teng Hiauw dan Boe Wie lompat, untuk menyambar, kemudian dengan masing-masing ikat pinggangnya, ia ikat tubuhnya mereka, untuk digantung di cabang pohon, hingga kedua tubuh itu jadi bergelantungan, mirip dengan setan-setan dari orang-orang yang mati gantung diri! Habis itu, keduanya lompat pula ke genteng hijau itu, untuk maju. Walaupun genteng licin, mereka tidak nampak rintangan. Mereka punya Tieng-kang-soet, ilmu entengi tubuh, memang sudah hampir seratus bahagian sempuma. Mereka melewati belasan lauwteng, sampai tiba-tiba4i sebelah depan mereka berkelebat dua bayangan hitam, sama sekali mereka itu tidak menerbitkan suara apa-apa. Mereka lantas pasang mata. Kedua bayangan itu, tjinteng atau pahlawan Istana Boan itu, rupanya tidak kenali orang ada kawan sendiri atau bukan, sambil siapkan pedangnya masing-masing, salah satu di antaranya menegur dengan kata-kata rahasia.

"Akur atau padi?"

Itu berarti.

"orang sendiri atau bukan".

"Akur! Perintah kemudi untuk jaga angin dan lihat padi!"

Sahut Boe Wie, yang kenal baik segala macam bahasa rahasia di kalangan Kang-ouw. Dengan "kemudi"

Diartikan "pemimpin".

Untuk.

mendapat kepastian, dua tjinteng itu bertindak maju, mendekati.

Mereka ingin melihat tegas roman orang, buat menanyakan kcterangan terlebih jauh.

Diam-diam Boe Wie telah siap, begitu orang sudah datang dekat, nba-tiba ia mencclat ke antara mereka, kedua tangannya digeraki ke kiri dan kanan, menotok masing-masing pinggang dari orang itu.

Dua orang itu tidak menyangka, cuaca pun gelap, mereka kena ditotok, hingga dalam sesaat juga, mereka jadi tidak berdaya, maka dengan duabuah pisau belati,Boe Wie terus tancap tubuh mereka di atas wuwungan.

-Bagus!"

Berseru Teng Hiauw dengan pujiannya melihat kesebatannya sang kawan. -Tadipun kedua piauwmu scmpurna sekali!"

Boe Wie balas rnemuji.

Keduanya tettawa dengan pclahan, sesudah mana, mereka maju lebih jauh, hingga mereka sampai di pcndopo, di mana ada cahaya api.

Di sim mereka mendekam, untuk pasang .kuping.

Dari pendopo terdengar suara dari orang-orang yang bicara dcngan asyik.

"Katanya Lioe Kiam Gim murid kcpalanya, yang bernama Law Boe Wie sudah datang ke Pakkhia ini sejak bebcrapa hari, kabamya dia sungguh sangai lichay. tapi heran, sampai ini hari ndak terdengar suatu apa tentang gerakgeriknya,"

Demikian pemyataan satu orang.

"Biar gurunya mcnjclma pula, lata orang tak usah jcrih, apapula itu anjing cilikJ"

Kata satu suara lain.

"Adalah Tok-koh It Hang, itu tua bangka. yang lichay, yang kita mesti awaskan benar-benar!"

"Hiantee, jangan kau angkat lain orang bcrbarcng menindih keangkeran sendiri!** terdengar suaranya seorang tua.

"Buat apa kita jerihkan itu tua bangka barang sisa? Kita toh ada puny a Lhama Besar Kat Pou Djie dan Pa-touw-louw Tat Sip begitupun Toa-totjoe Kheng To Hoan dari Kaum Hay Yang Pang serta yang Iain-Iain lag,? Kita tak usah perdulikan Tok-koh It Hang atau Law Boe Wie, asal mereka berani datang, kita nanti hajar mereka hingga mereka tak dapat "tidak takut"

Namanya Boe Wie berarti "tidak takut", maka itu, orang tua itu sengaja mengejek.

Boe Wie marah mendengar kejumawaannya orang, tangannya lantas meraba keluar beberapa potong pisau belati panjangnya tiga dim.

la pernah jadi anggota dari Pie Sioe Hwee, Kumpulan Pisau Belati, dari itu, ia sukagunai pisau belati scbagai gantinya piauw.

Dia mempunyai dua bclas potong pisau belati, untuk mana ia ada icrkcnal.

Kemudian dengan merayap bagaikan cccak, untuk mana ia keluarkan kepandaiannya "Pek houwyoe tjiang"atau "Cccak memain di tcmbok", ia maju dengan pelahan-lahan, untuk bisa mclihat ke dalam ruangan.

Di dalam ruangan itu ada bcrdudu k kira-kira sepuluh orang, tua dan muda, dan Gak Koen Hiong bercokol di tcngahtcngah.

Di kiri dan kanan, ada dinyalakan dua batang HI in besar.

Selagi Boe Wie mengawasi terus, tiba-tiba ia dengar salah seorang di dalam itu berteriak.

"Ada penjahat!"

Ia insyaf bahwa orang telah pergoki ia, akan tetapi, ia tidak takut, malah sebat sekali, tangan kanannya beruntun terayun, empat buah pisau belati segera melesat, masuk di antara jcndcla.

Dua pisau menyambar lilin hingga apinya padam, sebatang menyambar Gak Koen Hiong, hingga rarnbutnya dia ini sapat segumpal, tidak perduli dia mencoba berkelit, dan pisau yang keempat, yang dilipatkan sepotong kertas, nancap di atas meja sambil menerbitkan suara.

Menyusul serangan itu, dari dalam pun segera melesat beberapa rupa senjata rahasia, akan tetapi cepat luar biasa, Boe Wie dan Teng Hiauw sudah Ian naik ke, tengah genteng, hingga mereka luputdari ancaman bencana.

Mengikuti berbagai senjata rahasia itu, beberapa orang loncat keluar dari jendela, untuk menyusul, dua di antaranya ada memegang masing-masing sebatang pedang panjang dan sepasang Koen-koan Pat-kwa-pay, hingga yang belakangan ini, dengan tamengnya itu, bisa punahkan pisau belati dan piauwnya Boe Wie dan Teng Hiauw.

Orang yang bersenjatakan pedang itu ada Sat Kie Khan, seorang dari suku Hwee-hwee.

Dengan putar pedangnya dalam gerakan "Thian Liong Kiam-hoat" -ilmu pedang "Naga Langit", ia menerjang ke arah Boe Wie.

Ia telah sampai dengan cepat dan pedangnya terus saja bekerja.

Boe Wie sudah siap, ia berkelit dengan gunai "Tang hong hie lioe"atau "Angin timur permainkan cabang yanglioe", menyusul itu ia balas menikam dengan "Sian djin tjie louw"

Atau "Dewa menunjuki jalanan".

Di antara sinar pedangnya lawan, ia arah tenggorokan orang.

Sat Kie Khan ada berani dan liehay, ia tidak berkelit, ia tidak mundur, hanya memutar tangan kanannya, dengan "Sin hong tiauw sioe"

Atau "Naga melaikat menggoyang kepala", iamenangkis.

hingga kedua pedang bentrok dengan keras, menerbitkan suara nyaring, sedang telapakan tangannya masing-masing, pada menggetar dan sesemutan saking kerasnya bentrokan itu.

Tapi ini pun menyatakan kedua pihak mempunyai tenaga berimbang.

Di lain pihak, Teng Hiauw yang melayani musuh yang bersenjatakan sepasang tameng, mendapat tandingan yang setimpal, dari itu, mereka juga bisa bertempur dengan scru.

Lawan itu ada Low Hoay Liang, cucunya Keluarga Low dari Shoasay, yang kesohor untuk Tjap-djie-louw Koen Goan Patkwa-pay, ialah ilmu mcmainkan tameng kecil dalam duaj belas jalan.

Dia tersesat sadari masih muda, ia telah menjadi begal, belakangan karena ajakan satu sahabat, ia masuk ke dalam Istana Boan dan menjadi satu wie-soe, pahlawan, kemudian dari pahlawan biasa, ia menjadi twie-thio, kapten, hingga ia jadi semakin malang-melintang.

Ia bersedia mati-matian untuk Kerajaan Tjeng.

Dengan sepasang Pat-kwa-paynya, Low Hoay Liang arah batok kepala orang.

Tcng Hiauw insyaf tenaga yang bcsar dari orang itu, bahwa turonnya tamcng itu ada tujuh atau dclapan ratus kati beratnya, dari itu, ia tidak hcndak adu tenaga.

Ia bertindak dengan "Liong heng hoei pou"

Atau "Tindakan naga terbang", ia berlindungdi bawah tamcng, lantas ia putar tubuh, akan balas menikam. Pcdangnya bersinar, sasarannya adalah jalan darah "Hong-boen-hiat"

Di bebokong.

Low Hoay Liang bukannya scorang lemab, melihai serangannya tidak membcrikan hasil, ia lantas mengerti keadaan, dari itu, ia putar tubuhnya, ia angkat pula kedua tamengnya, laiu dengan "Shia pek Hoa San", atau "Sambil miring menggempur Gunung Hoa San", ia bajar pedang orang.

Secara begini ia hcndak punahkan tikaman musuh.

Teng Hiauw tarik puiang pedangnya antok ditcruskan membabat kepada kedua kakinya orang, ia mendak sambil menggunai ilmu pukulan "Tong long thian pek"

Atau "Cengcorang pentang tangan".

Low Hoay Liang ada awas dan gesit, ia insyaf gerakan musuh sclanjutnya.

maka itu, setelah menggempur dengan sia-sia, ia bergerak di dua jurusan dengan berbarcng.

Dengan tameng kanan, ia menangkis, dengan tipu silat"Tjiang koen hee ma"

Atau "Jenderal turun dari kuda", dengan tameng kiri, dengan "Heng sauw tjian koen", atau "Menyapu ribuan serdadu", ia serang pinggang orang!

Gusar sckali Teng Hiauw apabila ia lihat serangan hebat itu, ia tarik pcdangnya, ia loncat mundur, sesudah mana.

ia ubah caranya bcrsi lat.

Ia maju sambil putar pedangnya, hingga cahayanya berkilauan.

Dengan "Pek hoo thian tjie"

Atau "Burung hoo putih pentang sayap", ia tusuk iga lawan.

Serangan ada sangat cepat, Low Hoay Liang sampai tak sempat tarik puiang atau putar dua-dua tamengnya, untuk menangkis, maka itu, tidak ada jalan lain, terpaksa ia lompat mencelat, mundur jauhnya bebcrapa tindak.

Ini saat yang baik, Teng Hiauw tidak hcndak sia-siakan, ia sudah pikir untuk mcndcsak terlebih jauh, atau dengan sekonyong-konyong ia dengar seruannya Law Boe Wie.

"Adik Hiauw, lekas mundur!"

Ternyata, waiaupun mereka berdua bertempur cepat sekali, tctapi Iain-Iain musuh telah keburu mendatangi, mclihat mereka itu.

Boe Wie pikir untuk tidak melayani terlebih lama pula, karena nyata sekali, dua musuh ini saja sudah cukup tangguh.

Ia anggap ada berbahaya untuk bcrlaku ayal-ayalan, dari itu, ia berikan tandanya itu, ia sendiri segera loncat mundur, akan tinggalkan musuhnya.

Teng Hiauw mengerti, ia juga sudah lantas angkat kaki.

Berdua mereka lari di atas genteng yang licin itu, dengan gunai ilmu lari "Pat pou kan sian"

Atau "Dengan delapan tindak mengejar tonggeret".

Mereka melesat dengan cepat; di belak"ang mereka, musuhmusuh mereka telah mengejar.

Mereka sudah masuk jauh ke dalam sarangnya Gak Koen Hiong, meski juga mereka sudah bisa lewati belasan undakan, mereka tak lantas sampai di luar kalangan.

Benar selagi mereka hampir keluar dari tempat kediamannya Gak Koen Hiong, tiba-tiba di bawah rumah terdengar seruan riuh, yang disusul sama loncat naiknya beberapa orang yang bertubuh besar, yang semua mencckal golok dan pedang, malah antaranya ada yang membentak.

"Bangsattikus,jangan lari!"

Dua orang bertubuh besar, dari rombongan tjinteng, yang giliran menjaga malam itu, lagi meronda sampai di pohon yanglioc ketika, selagi dongak ke atas mereka lihat dua bayangan terayun-ayun.

Cahaya bintang dari rcmbu I an sisir ada guram, dari itu, mereka tidak bisa melihat nyata, maka satu di antaranya segera loncat naik ke pohon untuk melihat tegas, tapi begitu ia lihat kedua sejawatnya, ia kaget sampai ia rubuh sendirinya, dari mulutnya keluar jeritan hebat.

"Apakah itu?"

Tanya kawannya, yang datang untuk menolong.

"Itulah dua kawan kita, yang tergantung,"

Sahut ini tjinteng, yang masih mesti tetapkan hati.

"Mereka ada gagah, cara bagaimana mereka bisa tergantung di situ? Tentu ada orang jahat yang telah datang kemari...."

Ia lantas saja tiup suitannya.

Selagi mereka sibuk dan mcmikir-mikir mereka yang lainnya, sesudah mana, mereka kasih turun tubuhnya dua kawan yang bercelaka itu, yang lidahnya telah menjulur, napasnya berhenti jalan, hingga dia orang itu tak dapat ditolong pula.

Selagi mereka sibuk dan memikir untuk pergi can"

Si orang jahat, mereka lihat beberapa bayangan berlari-lari, seperti saling mengejar, karena mendugajelek, beberapa yang pandai ilmu entengi tubuh segera loncat naik ke atas genteng, untuk memegat.

Secara demikian, Boe Wie dan Teng Hiauw jadi kena terhalang.

Atas ini, berdua mereka jadi mendongkol.

"Jangan pegat kita, atau kau orang akan mampus!"

Keduanya membentak seraya mereka lompat maju, untuk mendahului menerjang.

Dua tjinteng, yang tak segagah Sat Kie Khan dan Low Hoay Liang maju menyerang, akan tetapi dengan cepat, mereka kena didesak, tetapi, karena mereka tidak dapat segera dirubuhkan, di sebeiah belakang, Sat Kie Khan dan Low Hoay Liang telah keburu datang menyusul, maka Boe Wie ada mendongkol terhadap perintangnya itu, ia lantas mendesak dengan hebat sekali, pedangnya menyambar bagaikan melesatnya anak panah, ia arah dadanya orang.

Tjinteng itu terdesak, ia hendak berkelit ke samping, akan tetapi sedangnya ia tangkis pcdang.

tahu-tahu tangan kirinya Boe Wie, yang menggunai tipu silat "Kim pa tam djiauw", atau "Macan tutul mengulur cengkraman", sudah mampir di iganya dcmikian hebat, sampai tulang-tulang iganya pada patah; dia pun muniah darah, tubuhnya rubuh dengan segera, jiwanya turut melayang.

Adalah di itu waktu, pedangnya Sat Kie Khan pun datang menyambar!

Diancam bahaya itu, Boe Wie tidak sempat putar tubuh untuk menangkis atau berkelit ke samping, ia jatuhkan diri ke depan, untuk tengkurap, sesudah mana, ia teruskan bergulingan dengan tipu "Koen tee long"

Sampai jauhnya belasan tindak.

Ia hadapi ancaman bencana dan inilah cara satu-satunya untuk tolong diri.

Pedang musuh pun hampir saja babat kedua kakinya.

Bukan kepalang mendongkolnya Sat Kie Khan karena musuh itu bisa loloskan diri, tapi keiika ia menoieh pada kawannya, Low Hoay Liang, ia terperanjat, sebab kawan bukannya dapat desak musuh seperti dia, kawan itu justeru telah rubuh di tangannya Teng Hiauw -kena tertendang hingga rubuh bergulingan jatuh ke bawah, ke tanah!

Low Hoay Liang sangat andalkan sepasang tamengnya, apabiJa setelah ia berhasil mendesak musuh hingga musuh angkat kaki, dari itu, setelah dapat mencandak.

ia segera serang Teng Hiauw.

Ketika itu orang she Teng ini terpisah dari Boe Wie kira-kira setumbak lebih, ia dipegat oleh dua tjinteng Iain, yang kepandaiannya lebih rendah lagi daripada yang pegat Boe Wie, rupanya dia yang dicegat, karcna ia tidak beroman bengis sebagai orang she Low itu; scbaliknya ia ada cakapdan kelihatannya lemah sebagai anak sekolahan.

Ten tu saja mcreka ini tidak sangka, boegeenya Teng Hiauw tidak ada di bawah boegeenya Boe Wie, hingga mereka telah menyangka kcliru.

Malah dalam ilmu silat Thay Kek, Teng Hiauw ada terlebih pandai.

Dua tjinteng itu masing-masing menggunai golokdan Thictjio, ketika keduanya maju memegat, Teng Hiauw bersikap tcnang, ia awasi gerakan senjata orang itu.

Penyerang dengan Thie-tjio adalah yang maju di muka.

Dengan sebat Teng Hiauw menangkis, ia memapas ruyung besinya orang itu yang bercagak di gagangnya.

Musuh itupun gesit.

Ia menyerang dengan tangan kiri, jika serangan itu ditangkis, ia barengi menyerang dengan tangan kanan.

Tapi Teng Hiauw ada tangkas luar biasa, ia tarik pedangnya untuk diteruskan dipakai membabat lengan kanan orang itu.

Musuh berlaku kurang gesit, tidak ampun lagi, lima jari tangannya kena terbabat, ia rasakan begitu sakit, sampai ke ulu hatinya, di antara jeritannya, senjatanya terlepas, tubuhnya turut rubuh sendirinya, menggelinding diatas genteng, jatuh ke bawah.

Justeru musuh itu rubuh, kawannya pun maju, dia menyerang sambil membentak, goloknya dari atas turun ke bawah, Teng Hiauw tidak perdulikan bentakan orang itu, ia kelit ke samping, ia menangkis.

Tapi musuh mengegoskan tubuhnya sambil terus iompat ke depan, hingga ia berada di sebelah belakang dari mana ia menusuk bebokong orang itu.

Ia telah gunai tipu silat "Ya tjee tam hay"

Atau "Hantu menjelajahi lautan". Melihat ancaman bahaya itu, Teng Hiauw Iompat akan jauhkan diri, ia gunai "It hoo tjiong thian"

Atau "Seekor burung hoo menyerbu langit", ia loncattinggi setumbak lebih, dengan begitu golok musuh mengenai tempat kosong.

Ketika ia putar tubuh, akan pandang musuh itu, ia tertawa terbahak-bahak.

Adalah maksudnya orang she Teng ini, untuk maju menghampirkan musuh, tapi justeru itu, dari belakang ia, ia dengar bentakan.

"Bocah, dengan tak meninggalkan tanda mata, cara bagaimana kau hendak berlalu dari sini?Jagalah!"

Dan suara itu disusul sama sampainya orangnya, senjatanya siapa juga terus menyambar.

Itulah Low Hoay Liang, yang baharu sampai.

Teng Hiauw mengetahui ada serangan gelap, tanpa menoieh lagi, ia .oncat ke depan, setelah lolos dari serangan, cepat ia memutar tubuh maka di lain saat, karena musuh merangsang ia, ia sudah mesti melayani musuh baru ini.

ia tahu senjatanya musuh ada berat, ia melayani dengan hunjuk kegesitannya, kelemasan semua gerakannya, dengan berlompatan ke segala penjuru, ia bikin musuh seperti kabur matanya.

Low Hoay Liangjadi mendongkol, terutama belum pernah ia berhasil menyampok pedang musuh, karena gusar, ia berkelahi dengan hebat sekali, ia keluarkan kepandaiannya, terutama ia arah kedua iganya orang itu, paling belakang ia gunai pukulan "Tiatsiauw heng tjoe"

Atau "Dengan rantai besi melintangkan perahu".

Ia percaya, sekali ini iabakal berhasil.

Ia pun telah menggunakan tenaga sepenuhnya.

Teng Hiauw lihat datangnya bahaya, tetapi justeru musuh berlaku bengis, ia hunjuk keberaniannya luar biasa.

Untuk menyingkir dari gencatan itu, ia tidak loncat tinggi mengapungi diri, ia tidak loncat mundur, ia hanya buang tubuhnya ke belakang, melenggak, kedua kakinya tctap, cuma dengkulnya ditekuk.

Ini adalah tipu silat "Tiat poan kio"

Atau "Jembatan papan besi".

Tubuhnya jadi telentangsebatas dengkul, kedua tameng lewat di atasannya; ia telah luputkan diri dari serangan, tapi berbareng dengan itu, selagi kaki kirinya ditangkap, kaki kananriya diangkat, dijejaki ke depan, hebat sekali.

Jejakan ini jitu mengenai dengkulnya musuh, maka tidak tempo lagi, gugurlah kuda-kuda Low Hoay Liang; tubuhnya scgera terbalik ke belakang, mbuh bergulmg, tergelincir jatuh ke bawah genteng!

Itulah kejadian pada saat Boe Wie bergulingan sesudah mana, ia loncat bangun, untuk balas mcnyerang, atas mana, Sat Kie Khan mcnangkis, hingga kedua pcdang saling bentur dcngan keras.

Orang Hwee-hwee itu terperanjat apabila ia lihat kawannya rubuh.

Boe Wie lihat lawan itu bengong, cepat sekali, ia maju pula, akan menyerang kembali.

Ia gunai tipu tikaman "Ular putih scmburkan bisanya".

Sasarannya adalah pundaknya musuh.

Sat Kie Khan tidak tanckis scrangan itu, ia berkelit ke samping.

tapi justeru ia mengegoskan tubuh, Boe Wie membarangi loncat melewati ia, lawannya ini terus lari ke arah pohon yanglioe, dia loncat ke pohon itu untuk keluar seperti tadi ia dan Teng Hiauw datang.

Teng Hiauw sendiri sudah mendahului, ia menyingkir dcngan lewati pohon itu juga, hingga di lain saat, mereka sudah berada di luar pekarangan.

Sat Kie Khan tidak sempat tengok kawannya yang rubuh, bersama dua tjinteng lain, ia mcngubcr ke pohon yanglioe, sesampainya di situ, ia dapatkan kedua musuh sedang berdiri di tanah, melambai-lambaikan dia, yang ditantang untuk turun, buat mereka melangsungkan pertarungan mereka.

Ia tidak takut, ia berniat loncat turun, untuk menghampiri mereka, akan tetapi, baharu ia berniat, tahu-tahu pisau belati dari Boe Wie dan Kim-tjhie-piauw dari Teng Hiauw, telah menyambar saling susul terhadapnya, hingga ia repot menangkis dan berkelit, untuk luputkan diri dari serangan kedua rupa scnjata rahasia itu.

Sesudah itu senjata rahasia yang lolos mengenai cabang pohon, sampai ada cabang yang patah dan jatuh; Kedua tjinteng, karena kurang jeli mata dan gesit tubuh telah terkena piauw pada jidatnya, hingga mereka mandi darah.

syukur serangan tidak hcbat, mereka pun tidak terluka parah.

Kembali serangan pisau belati dan piauw datang menyambar, mclihat mana, Sat Kie Khan jadi berkuatir.

Di atas pohon, ia tidak bisa bergerak leluasa seperti di atas genteng, dia menangkis, dia mengegosi tubuhnya, wah alangkah sibuknya ia!

Dua kawannya sudah tidak berdaya.

Selagi ia bersangsi untuk maju atau mundur, serangan berhenti, sebagai gantinya, ia dengar suara tertawa, yang makin lama jadi makin jauh.

Ternyata, Boe Wie dan Teng Hiauw telah angkat kaki, lenyap dalam kegelapan.

Orang Hwee-hwee ini melengak.

Ia tidak nyana, istana yang terjaga kuat itu seperti guha harimau dan kedung naga, sekarang musuh permainkan seperti tanah dataran saja.

Gak Koen Hiong gusar sekali apabila ia telah melakukan pemeriksaan.

Sama sekali ada lima korban jiwa dan empat korban luka, dan dari yang ke-4 itu, satu bercacat hebat.

Semua korban ada korban-korban pisau belati dan Kim-tjhiepiauw, kecuali yang Boe Wie hajar dengan tipu pukulan Kimna-tjhioe.

Low Hoay Liang tidak.

sampai terbinasa, akan tetapi ia terus merintih saja, begitupun yang sapat lima jari tangannya.

Yang bikin ia sangat malu dan sakit hati adalah rambutnya sendiri kena terbabat segumpal.

Dan akhirnya, ada itu surat yang Boe Wie tinggalkan.

Itu ada tantangan untuk pieboe, adu kepandaian, untuk orang she Law itu mcnuntut balas bagi gurunya.

Maka itu, itu malam juga, Koen Hiong lantas bikin persiapan akan sambut tantangan Boe Wie.

Boe Wie berdua Teng Hiauw pulang dengan selamat, apabila mereka sudah berikan laporan ten tang apa yang mereka barusan kerjakan, Tok-koh It Hang semua menjadi girang sekali.

Lantas bcsoknya pagi, Tok-koh It Hang bersama-sama Siangkoan Kin, TJiong Hay Peng, Lauw In Eng, dan yang Iainlain, pergi menghadap Lie Lay Tiong, untuk beritahukan bahwa orang-orang yang celakai Lioe Kiam dm dan Tjoh Ham Eng ada konco-konconya Gak Koen Hiong.

Dhmjuk penyelidikan telah dilakukan oleh Teng Hiauw, ahli waris Thay Kck Pay, dan murid dan puterinya Lioe Kiam Gim Bahwa hal itu telah menerbitkan kemurkaannya kaum Kang-ouw, hingga orang meminta keadilan.

Mereka bertanya, ketua itu hcndak ambil tindakan apa.

Sebenarnya Lie Lay Tiong hendak mencegah bentrokan itu, akan tetapi orang telah desak ia, malah Tok-koh It Hang kata.

"Coba pikir! Lioe Loo-kauwsoe ada seorang kenamaan dalam kalangan Rimba Persilatan, dia terbinasa secara gelap, tapi sekarang telah dapat diketahui, dia terbinasa di tangannya orang sebawahanmu, dari itu, sudah kau tidak ambil tindakan menghukum orang yang bersalah itu, apa mustahil kau juga hendak cegah orang mcnuntut balas? Maka dia kehormatan Kang-ouw kebijaksanaannya? Lioe Loo-enghiong juga telah bantu banyak pada kau, jikalau kau antap dia tcraniaya, apakah Iain-lain, orang tak akan tawar hatinya terhadap kau?"

"Teng Hiauw baharu saja mewariskan Thay Kek Pay,"

Kata Tjiong Hay Peng yang berterus terang.

"apabila dia tidak membalas sakit hatinya soepehnya, mana dia ada punya muka untuk ketuai kaumnya itu? Laginya, diajuga ada cucu mantu dari Ketua Bwee Hoa Koen, maka bagaimanakau bisatinggal diamsaja?"

Lie Lay Tiong bersangsi.

Sebenamya ia tidak niat melindungi Gak Koen Hiong, kalau ia hendak cegah bentrokan, itu disebabkan ia kuatir pada itu kctua muda yang berpengaruh, tetapi sekarang, ia kena didesak, ia tidak mampu kemukakan alasan yang kuat untuk menolak iebih jauh.

Ia juga kuatir, apabila ia menolak, benarbenar nanti orang berhati tawar terhadap gerakannya .

Sementara itu, dari pihaknya Gak Kocn Hiong, juga ada dcsakan "minta keadilan".

Gak Kocn Hiong tidak puas, dia setuju picboc.

Malah dia mengharap Lie Lay Tiong nanti bantu pihaknya.

Maka akhirnya, ketua ini mengalah, ia an tap mcrcka itu cari keputusan sendiri.

Pembicaraan telah selesai sesudah dua-tiga hari orang mondar-mandir antara kedua belah pihak, dengan Lie Lay Tiong berada di tcngah.

Sebab dua-dua pihak ada banyak kawannya, diputuskan untuk mcndirikan panggung loeitay, panggung piranti adu kepandaian, supaya orang bertempur satu Iawan satu dan tidak mengeroyok, dan pieboc baharu berhenti setelah ada salah satu pihak yang menyerah kaiah.

Kota Pakkhia telah jatuh di bawah pengaruh Gie Hoo Toan dengan Lie Lay Tiong yang mengizinkan mendirikan loeitay.

sehingga tidak ada pembesar Boan yang bcrani mencegah.

Hari telah dipilih, dan tempat pie-boe sudah ditetapkan, ialah tanah lapang yang luas dari Gie-lim-koen, tentara kerajaan, yang bisa muat dua sampai tiga puluh ribu orang.

Dcmikian, setelah ada keputusan,.

kedua pihak lantas bersiap-siap; terutama untuk cari kawan-kawan yang gagah dari segala penjuru negeri.

Di harian yang telah ditetapkan, tanah lapang jadi penuh dengan banyak orang, dari pihak yang berkepentingan, terutama mereka yang hendak menonton saja; orang-orang pdmerintah Boan tidak terkecuali.

Loeitay yang didirikan berukuran tinggi satu tumbak delapan kaki dan lebar tujuh tumbak dua kaki persegi, maka di situ pastilah orang akan leluasa bersilat dengan tangan kosong, maupun dengan senjata, pedang dan tumbak.

Di situ pun orang bisa perlihatkan "Tjeng-kang-soet"

Atau ilmu entengi tubuh atau kegesitan gerakan.

Di samping kanan dari loeitay ada didirikan satu panggung lain, yang kecil, untuk juru pemisah.

Benar pertandingan tidak memperdulikan orang-orang yang terluka ataupun binasa, tetapi mesti ada kctetapan siapa mcnang dan siapa kalah.

Sebagai juru pemisah, Lie Lay Tiong angkatdua orang ialah guru silat kesohor di Pakkhia, Yo Kong Tat, dan soetee dari Kiang Ek H ian, Ketua dari Bwee Hoa Koen, ialah To Poet Hoan.

Kedua mereka ini ada kenamaan dan ada dikenal oleh kedua belah pihak,.

sebaliknya mereka tidak memihak kepada salah satu dari dua rombongan yangsaling bertentangan itu.

Mereka pun ada mewakilkan, satu bagi kalangan guru-guru silat, dan yang Iain untuk kaum Gie Hoo Toan sendiri.

Di samping kiri loeitay ada didirikan ranggon lonceng, gunanya ada sebagai tanda permulaan dan keberhentian atau penundaan, umpama ada satu pihak yang kalah dan jatuh, lain pihak tidak boleh menyusul untuk menyerang terus.

Pada hari yang ditentukan, kebetulan cuaca ada bersih, angin halus dan hawa udara rnenyenangi.

Pada jam pembukaan, To Poet Hoan muncul untuk angkat bicara, mcncrangkan bagaimana oleh Ketua Lie Lay Tiong, bersama Loo-kauwsoe Yo Kong Tat, ia sudah diangkat jadi juru pemisah.

Ia jelaskan, tangan dan kaki tidak mcngenal kasihan, dari itu siapa terbinasa atau terluka, mesti tcrima itu dengan ikhlas.

Ia pun hunjuk siapa adanya kedua pihak, yang hendak pieboe, ialah satu ada ahli waris Thay Kek Pay merangkap keponakan dari Loo-kauwsoe Lioe Kiam Gim serta muridnya almarhum Uoe Kiam Gim, dan pihak yang Iain ada Gak Koen Hiong.

Ia nyatakan, sebenamya di antara orang sendiri, urusan bisadidamaikan, tapi sekarang "dak, dari itu terpaksa diambil cara Kang-ouw itu, untuk habiskan Perselisihan dengan jalan adu kepandaian.

"Duduknya persengketaan ada diketahui baik oleh kedua pihak terapi barangkali tidak oleh semua hadirin,"

To Poet Hoan kata lebrh jauh.

"dari itu aku menjelaskannya"

Benar-benar ada sejumlatohadirin, yang tidak tahu sebabnya perselisihan itu, mereka ini lantas nyatakan ingin dengarpenjelasan.

"Menurut keterangannya Teng Hiauw dan Law Boe Wie, Lioe Loo-kauwsoe terbinasa di tangannya orang perintahan dari Gak Koen Hiong,""demikian juru pemisah itu menjelaskan.

"Mereka ini yang ada murid ketiga dari Lioe Loo-kauwsoe, ialah Tjoh Ham Eng, pun katanya dibinasakan atas titahnya Gak Koen Hiong. Law Boe Wie pernah tawan salah-satu orang perintahan dari Gak Koen Hiong yang membinasakan Tjoh Ham Eng, dia ini telah berikan pengakuan tentang duduknya hal. Baharu To Poet Hoan berkata sampai di situ, di antara hadirin segera terdengar suara gemuruh yang berupa seruanseruan, hingga Gak Koen Hiong dan rombongannya menjadi bermuka pucat, malu dan mendongkol. To Poet Hoan lekas ulap-ulapkan tangannya, untuk meredakan suara berisik itu, sesudahnya, ia bicara puk "Keteranganku barusan adalah keterangan menurut Law Boe Wie dan Teng Hiauw,"

Kata ia "Pihaknya Gak Koen Hiong ada mempunyai aiasannya sendiri.

Pihak ini bilang, Lioe Lookauwsoe adu kepandaian, dia teledor, dia kena orang pukul hingga binasa.

Dia sebaliknya telah binasakan dua musuhnya.

Maka, dengan satu jiwa diganti dua jiwa, pihak Gak Koen Hiong anggap itu pantas.

Tcntang penyerbuan tcrhadap Tjoh Ham Eng, mereka mcnyangkal.

Mcrcka anggap keterangannya Law Boe Wie perihal scorang yang tcrtawan dan mengaku dosanya, tidak ada buktinya, mereka tolak itu.

Mereka katakan Law Boe Wie sudah kurang hati-hati tidak mcninggalkan kesaksian yang hid up.

Gak Koen Hiong juga tuduh Teng Hiauw dan Boe Wie ciptakan hal yang tidak-tidak, bahkan mereka menuduh pihaknya sudah dibokong di waktu malam.

hingga lima saudaranya dan cm pal pah la wan telah terbinasa dan tcrluka.

Mereka minta kcadilan buat lima orangnya yang terbinasa dan empat yang terluka itu.

Demikian kedua pihak saling menuduh.

Sebab urusan sukar didamaikan, sekarang diadakan pieboe di atas loeitay ini, untuk mencan keputusan.

Jadi pieboe ini bukan karena kegalakan, hanya untuk mendapatkan kepuasan, saking terpaksa."

Keterangannya To Poet Hoan ini juga dapat sambutan teriakan tapi kalah hebat dengan yang pertama.

Poet Hoan tunggu sampai suara sirap, lalu ia terangkan aturan pieboe Pieboe tidak ada batasnya, hanya orang mesti bertanding satu iawan satu.

tidak boleh main mengepung.

Kcmudian, juru pemisah ini wartakan satu hal yang mengejutkan orang banyak.

Ialah Gak Koen Hiong menantang pieboe terhadap Law Boe Wie, karena ia bersakit hati segumpal rambutnya kena terpapas, hingga ia tantang Boe Wie, bukannya Teng Hiauw.

"Sekarang loeitay dibuka!"

Kata ia akhirnya, dengan suaranya yang keren.

Pembukaan ini disusul dengan suara genta tiga kali.

Sclagai Poet Hoan balik ke mcjanya, scluruh hadirin bungkam, hingga suasana jadi sunyi sekali.

Tapi sebentar saja, lantas dari rombongannya Gak Koen Hiong loncat naik seorang bcrtubuh besar dan hitam pakaiannya, yang mclcsat laksana walct terbang, suatu bukti dari tjeng-kang-soct yang sempuma.

"Aku minta Teng Hiauw berikan pengajaran kepadaku!"

Kata ia setelah ia berdiri tcgak di atas panggung.

Dia adalah Sat Kic Khan, itu wie-soe atau pahlawan orang Hwee-hwee, yang tempur Boe Wie dengan sia-sia, maka sekarang ia tantang puteranya almarhum Teng Kiam Beng, karena ia bcrpendapat, pemuda ini ada terlebih lemah.

Di atas loeitay, bila satu pihak menantang sambil menyebutkan nama, pihak yang ditantang boleh mcnolak atau majukan lain orang, akan tetapi Teng Hiauw tidak mau mengizinkan orang bertingkah menantang ia, dari itu tidak tunggu sampai To Poet Hoan tanya ia, ia bersedia atau tidak, ia sudah mendahului loncat naik ke atas panggung.

Malah ia segera nyatakan dengan suara nyaring.

"Terserah kepada kau, hendak pieboe dengan tangan kosong, dengan pedang atau senjata rahasia, aku si orang she Teng tidak akan bikin kau kecewa!"

Sat Kie Khan ada jumawa, segera ia hunus pedangnya yang panjang, pedang mana terbuat dari besi pilihan keluaran tanah Tibet, seraya terus ia berkata.

"Adu kepalan tidak menarik hati, adu senjata rahasia adalah permainan tak berarti, marilah kita adu pedang saja!"Tapi sebenamya ia jcrih terhadap piauwnya Teng Hiauw yang liehay dan ia hendak andali ilmu Thian Liong Kiam-hoat warisan dari gurunya, satu pendeta lhama yang tua dan berilmu. Teng Hiauw tertawa ding in, ia lantas hunus pedangnya Tan-hong-kiam.

"Sahabat, silakan maju!"

Ia rrtengundang seraya ia pasang kuda-kudanya secara sembarangan.

Itu memang ada cara permulaannya Thay-kek-kiam, ilmu pedang Thay Kek Pay.

Sat Kie Khan kenali sikap pembukaan orang itu.

Kau hendak gunai kepandaianmu Thay Kek Pay?

Hm!"

Pikir ia.

"Aku tahu, kau memang hendak menantikan kelelahan orang, tetapi kaujangan harap itu dari aku!"

Lalu, sambil berseru.

"Sambutlah!"

Ia maju, ia terns tikam pundak kiri. la gunai tipu silat "Liong lie tjoan tjim"

Atau "Puteri naga menusuk jarum".

Ini ada tipu ancaman yang disusul dengan kesungguhan Teng Hiauw berdiri tegar bagaikan gunung, ia tunggu sampai ujung pedang hampir mengenai sasarannya, baharu dengan tiba-tiba lengan kanannya bergerak, sambil tubuhnya turut nyamping, ia babat lengan kanan orang itu dari kiri ke kanan.

Ia gunai tipu silat "Kim tiauw tian tjie"

Atau "Garuda emas pentang sayap".

To Poet Hoan dan Yo Kong Tat diam-diam memuji gerakannya itu, suatu bagian yang liehay dari Thay-kek-kiam.

Ini satu gerakan saja sudah menyebabkan anak rnuda ini menang diatasangin.

Sat Kie Khan terperanjat untuk caranya musuh menge lakkan diri itu, karena berbareng iaterancam bahaya akan lengannya terbabat kutung.

Syukur ia bermata jeli dan gesit tubuhnya.

Ia bcrkelit mundur sambil miringkan tubuh, hinggahampir saja iga kjrinya yang menjadi korbannya ujung pedang musuh itu.

Setelah itu, dengan sebat ia putar tubuh, akan balas menikam pula.

Kali ini ia gunai "Tjoen in tha tian"

Atau "Mega musim semi mendadakan terbuka".

Cara memutar tubuhnya pun sebat luar biasa.

Teng Hiauw berdiri di tempatnya, ketika ujung pedang menyambar, ia sedot perutnya, tubuhnya dibikin melengkung, dengan begitu, iadapat loloskan din dari bahaya.

Tapi di lain pihak, selagi tubuhnya ccnderung, tangannya, pedangnya, membarengi membabat dengan "Giok lie touw so"

Atau "Bidadari menenun". Kapan musuh elakkan diri sambil mundur, ia menyusul menyabct pula dengan "Kim kee toat siok"

Atau "Ayam emas mcrcbui gandum".

Dua-dua kalinya ia membabat pinggang.

Dengan tcrpaksa.

Sat Kie Khan mundur berulang-ulang.

Karena ini ia jadi gusar sckali.

Maka itu, sambil mcnjcrit.

iamerangsek.

Sckali ini, ia keluarkan sungguh-sungguh ilmu pedangnya Thian-liong-kiam.

Thian Liong Kiam-hoat, ilmu pedang dari Tibet, yang pendeta lhama biasa gunai untuk melindungi gunungnya, terdiri dari delapan belas "jalan", dan setiap scmbiIan jaian terpecah-pecah pula hingga semuanya menjadi seratus en am puiuhdua jurus, dari itu tidaklah heran, bila gerakannya ada pelbagai macam, dan sebab serangan lebih banyak daripada pembelaan diri, terjangan ada gencar bagaikan hujan deras.

Semua pcnonton lihat bagaimana Teng Hiauw dan pedangnya seperti terkurung dalam keredepan-pedangnya orang Hwee-hwee itu, hingga rombongan yang memihak kepadanya jadi kebat-kebit hatinya.

Mclainkan adalah juru pemisah To Poet Hoan, yang menyaksikan terus dengan tenang, dengan kekaguman, karena iasudah lihat tegas, bagai man a anteng dan mantapnya Teng Hiauw.

Ia anggap puaslah Kiang Ek Hian, soehengnya, yang telah mempunyai babah mantu demikian liehay.

Dengan sebenamya, walaupun ia didesak, seperti dikurung, Teng Hiauw bikin perlawanan dengan tenang tetapi tak kalah gesitnya.

Ia taat kepada ajaran Thay Kek Pay untuk lawan kekerasan dengan kelemasan dan keuletan.

Maka itu, sampai habis Sat Kie Khan gunai semua pukulannya, ia tetap tidak suka mcmbcrikan ketika.

Di akhimya, wie-soe itu sendiri yang kewalahan dan jadi si buk, hingga di luar keinginannya, permainan pedangnya mulai menjadi tak tcratur lagi.

Teng Hiauw bela diri sambil nantikan ketika yang baik, sekarang ia lihat ketikanya itu sudah sampai, ia tidak mau mensia-siakannya.

Di saat Sat Kie Khan bertindak di garis "Tiong kiong" (tengah), ia maju sambil injak garis "Hong boen" (tengah musuh), hingga lantas saja mereka saling berhadapan, membarengi mana, pedangnya menikam.

Sat Kie Khan kesima, ia menangkis secara kesusu, tapi pedang lawan telah tekan ujung pedangnya, ia gunai seantero tenaga, untuk meloloskan tekanan itu, apa mau Teng Hiauw telah putar pedangnya secara melilit, gerakannya membetot, maka lidak tempo lagi, cekalannya orang Hwee-hwee itu terlepas, pedangnya terlempar jatuh ke lantai panggung.

Ia jadi sangat kaget, semangatnya seperti terbang pergi, tidak tempo lagi, dengan gerakan "Sin liong tiauw sioe"

Atau "Naga suci menggoyang kepala", ia memutar tubuh untuk mengaku kalah, guna tolongi dirinya.

Apa lacur untuk ia, ia kalah sebat, pedangnya Teng Hiauw sudah menyambar lengannya yang kanan, hingga sebelah tangannya terbabat kutung, hingga rubuhlah ia dengan mandi darah dan tak sadar akan dirinya.

Gak Koen Hiong semua menjadi kaget, tetapi mereka licik, mereka lantas berteriak-teriak memprotes, mengatakan Teng Hiauw curang, orang sudah kalah dan sedang undurkan diri.

masih saja diserang, hingga terluka.

To Poet Hoan tidak gubris protes itu, ia bunyikan gentanya, satu tanda babak pertama sudah habis dengan kekalahannya pihak Gak Koen Hiong itu.

Ia kemukakan alasan, sesudah orang loncat turun ke tanah, baharu dia tidak dapatdikejar, tetapi Sat Kie Khan masih sedang berlompat tinggi, hingga dia masih boleh disusul, sebab orang toh tidak tahu, dia masih hendak melawan terus dengan tangan kosong, kecuali dia berseru menyatakan menyerah.

Pihaknya Gak Koen Hiong, walaupun mereka mendongkol, terpaksa mesti tutup mulat.

Mereka lantas berdamai, memilih satu erang lain, untuk maju pula.

Pilihan itu jatuh atas dirinya Kheng To Hoan.

Toa-totjoe atau Ketua dari rombongan Hay Yang Pang.

Dia ini sudah berumur lima puluh lebih, senjatanya ada Gin-hoa Ban-djie-toat, semacam gaetan piranti menggaet golok atau pedang musuh.

Itu ada ilmu silat simpanan dari Keluarga Tong dari Shoasay.

Ia me nan tang taytjoe pertama.

Teng Hiauw sudah loncat turun dari panggung, ia bersenyum apabila ia lihat ada lagi lawan yang menantang ia.

Ia bersedia untuk sambut tantangan itu, tetapi selagi ia hendak berlompat naik, Tok-koh It Hang tekan tubuhnya.

"Jangan naik pula, Hiantit,"

Kata jago tua dari Liauw-tong itu.

"Kesatu, kau tidak boleh kasih dirimu dilawan terus beruntun-runtun, kedua kau mesti insyaf, kau adalah Tjiangboen-djin, ahli waris."

Sambil mencegah demikian, Tok-koh It Hang menoleh kepada rombongannya, untuk pilih satu orang, tetapi belum sempat ia menyebut nama, tahu-tahu Lauw In Eng, ahli waris dari Ban Seng Boen, yang tidak sabaran, sudah mendahului loncat naik ke atas loeitay.

Dia ini, sebagai adik dari Lioe Toanio Lauw In Giok, gusar atas kebinasaan tjiehoenya, iasengaja datang dari tempat jauh, untuk menuntut balas, maka itu, sebagai Tok-koh It Hang sendiri, dengan sendirinya ia berpihak pada Teng Hiauw dan Boe VVie.

"Kau hendak berkelahi sebagai roda mutar?"

In Eng tegur Kheng To Hoan sambil ia tertawa nyindir.

"Teng Hiauw tak jerih terhadap kau, dia hanya sungkan layani padamu! Marilah, sebagai tembaga ponyok lawan besi bonyok, kau layani aku si tua bangka main-main!"

Habis itu, jago Ban Seng Boen ini hunus goloknya.

Kheng To Hoan ada seorang Kang-ouw kenamaan, ia gusar sekaJi mclihat dirinya diperhina, tapi ia masih bisa kendalikan diri, hingga dcngan d ingin, ia kata.

"Siapa yang berguna atau liada, biarlah gegaman kita yang memutuskan, jangan kau mainkan lidahmul"

Dan ia perlihatkan sepasang senjatanya yang beroman tumbak bukannya tumbak, beroman kampak bukannya kampak, di gagang ada cagak pclindung tangan.

Itulah dia Gin-hoa Ban-djie-toat, alat pembetot golok dan pedang!

Begitu Iekas ia pertunjuki senjatanya, Kheng To Hoan lantas menyerang.

Tangan kirinya dipakai melindungi dadanya, tangan kanannya diulur ke depan, membacok.

In Eng segera mundur apabila ia tampak serangan itu, ia terkejut, karena ia mcngcrti musuh bukan musuh sembarangan.

Tetapi ia mundur bukan untuk menyingkir, ia gunai tempo akan putar golok Toanboen-too, untuk kaki kiri maju ke kiri, goloknya menyabet ke lengan lawan bahagian nadi.

Inilah gerakan "Ang hee koan jit"

Atau "Sinar layung merah menawungi matahari".

Kheng To Hoan tarik pulang tangan kanannya, tangan kirinya dipakai menangkis, hingga kedua senjata bentrok hingga menerbitkan suara nyaring, sampai lelatu api terbang muncrat.

Ketika In Eng tarik pulang goloknya, bagian goloknya yang bentrok jadi sedikit kentop.

Tapi segera ia mendesak, ia mainkan jurus-jurus dari Ngo-houw Toan-boen-too.

Kheng To Hoan telah yakinkan senjatanya untuk beberapa puluh tahun, ia tidak jerih walaupun lawan desak ia secara hebat, malah di sebelahnya menangkis dan berdaya akan tarik golok musuh, ia juga balas menyerang tidak kurang seruhnya.

Maka itu, berdua mereka telah jadi satu tandingan yang setimpal, pertandingan mereka luar biasa seruhnya.

Puluhan jurus telah dikasih lewat dcngan cepat, sesudah sampai jurus kelima puluh, dcsakannya Lauw In Eng menjadi kurang sendirinya, hingga sekarang ia jadi lebih banyak membela diri.

Ia insyaf bahwa ia tak bakal dapat kalahkan musuh, dari itu ia mcmikir akal untuk memancing musuh, maka dengan sendirinya, ia nampak jadi lcbih lambat..Kheng To Hoan mendesak terus, apapula sekarang ia I ihat musuh kalah ulet, nampaknya ia ingin sambar terlepas golok musuh.

Sebentarkemudian, Ban-djiet-toat kanan sudah bentur golok lawannya, atas mana In Eng menggeser tubuh ke kiri, goloknya segera digeraki, dari bawah menyabet ke atas.

Apabila sabetan ini memberi hasil, gegaman musuh mesti terlepas.

To Hoan ada seorang yang banyak pengalamannya, walaupun ia lagi hadapi ancaman bencana, ia tidak jadi gugup.

Begitulah ketika ia disabet, ia ketinggikan tangannya, ujung gaetannya disengaja berkelebat di mukanya lawan itu, di lain pihak, gesit seperti sambaran angin, tangan kirinya menyambar lengan kanan orang itu yang lagi menyabet.

Keadaan jadi berputar balik dengan cepat sekali.

In Eng mesti tolong dirinya, ia tidak dapat membacok terus dan sukar juga untuk tangkis serangan kiri dari lawan itu.

Tidak ada jalan lain, iaenjot kedua kakinya, akan berlompat tinggi ke samping.

Tapi, selagi ia berlompat menyingkir, gegaman musuh, dengan anginnya mendahului, sudah susul ia di belakangnya.

Ia telah injak pinggiran panggung, desakan To Hoan membuat ia sukar untuk memutar tubuh.

Tapi tak percuma dia menjadi ahli waris Ban Seng Boen atau adiknya Lioe Toanio, dalam saat terancam itu, ia masih sempat berpikir, selagi ia tidak bisa putar tubuh atau menangkis, dengan mendadakan ia terus tekuk kedua lututnya, untuk mendekam, sesudah mana dengan kepala dimajukan ke depan, tubuhnya terus dimiringkan, tangan kanannya dikasih turun rendah sekali, untuk jaga supaya ia tidak sampai ngusruk, tetapi begitu lekas serangan sudah lewat di atas bebokong, gesit sekali ia angkat tubuhnya bangun, goloknya dipakai balas membacok orang punya pundak kiri, sedang tangan kirinya, yang kosong, dibarengi dipakai menggempur pundak kanan orang.

Itu ada Ngo-houw Toan-boen-too punya salah satu tipu pukulan yang dinamai "Sam yang kay thay"

Atau "Keberkahan pembukaan tahun".

Kheng To Hoan mengharapi kemenangan terakhir, ia tidak sangka musuh masih bisa eiakkan rangsekannya yang berbahaya itu, sebaliknya, sekarang ialah yang terancam bahaya.

Tapi ia masih keburu tarik pulang kedua tangannya, dengan senjatanya yang kiri ia coba tangkis golok Ban-sengtoo dengan senjata yang kanan ia gaet lengan kiri musuh.

Hingga kembali In Eng yang menghadapi bahaya pula.

In Eng coba tolongi dirinya, tetapi goloknya kena tergaet, untuk loloskan itu, ia segera pasang kuda-kudanya, ia membetot keluar sambil ia berseru.

"Turunlah kau!"

Ia harap, kalau toh mereka sama-sama rubuh ke bawah panggung, ia masih bisa lindungi nama baiknya.

Juga Kheng To Hoan membelai kehormatannya, selagi ia kena terbetot, hingga ia berada di tepi panggung, ia k"eburu tancap kaki kirinya, dari itu sambil pasang kuda-kuda, ia balas menarik dengan keras, sampai kuda-kudanya In Eng tergempur, tubuhnya terpelanting, melayang jatuh ke bawah panggung.

Ia telah gunai tenaga sangat besar, tubuhnya turut bergoyang-goyang, kakinya limbung, sampai ia tak dapat pertahankan diri, setelah sempoyongan, ia pun jatuh, hanya ia rubuh di atas panggung.

Sekaiian penonton kagum bukan main, umumnya orang keluarkan keringat ding in melihat bahaya-bahaya yang saiing mcngancam kedua pihak.

Di saat terakhir itu, kclihatan nyata kepandaiannya tandingan itu.

Syukur buat In Eng, selagi jatuh, ia bisa j umpalitan.

hingga ia jatuh dengan bcrdiri.

tidak dcmikian dengan To Hoan, yang rubuh terguling walaupun di atas panggung.

Segera orang riuh membicarakan, siapa menang siapa kalah.

Selagi mereka itu belum bisa kasih pulusan, genta sudah berbunyi dan Yo Kong Tat sebagai juru pemisah, sebagai wasit, telah memutuskan, Kheng To Hoan adalah yang menang.

Putusan ini didasarkan, siapa yang jatuh kebawah panggung, dialah yang kalah, meskipun To Hoan rubuh, ia rubuh di atas panggung.

In Eng tidak terguling, tapi ia terpelanting dari atas panggung.

Siapa rubuh di atas panggung, kendati ia terluka, ia masih dianggap menang.

Dcmikian Kctua dari Hay Yang Pang, yang telah berbangkit berdiri, dengan roman puas atau jumawa, segera menantang, siapa berani naik akan berikan pengajaran padanya.

"Aku tak jerih melakukan perlawanan bergiliran!"

Demikian ia sombongi diri.

Tadi To Hoan tantang TengHiauw, In Eng hinakan dia, sekarang ia dianggap menang, ia sengaja mengejek.

Sebenarnya, ia pun berhak untuk menolak pertandingan lebih jauh, tapi karena hendak menghina, ia tidak gunai haknya itu.

Akan tetapi, baharu ia tutup mulutnya, atau satu orang berkelebat naik di depannya, apabila ia sudah lihat nyata orang itu, mau tidak mau, ia terperanjat.

Yang baharu naik ini ada satu nona yang tubuhnya langsing kecil.

Nona ini ada Lioe Bong Tiap, dia lihat engkoenya kalah, dia jadi gusar, tidak bcrdamai lagi, ia loncat naik ke atas locitay.

Maka itu, ia tidak saja bikin heran Kheng To Hoan, ia pun mengejutkan semua orang di bawah panggung, tak kecuali pihaknya sendiri.

Lebih-lebih orang tahu, dia ada satu nona umur belasan, yang belum terkenal, dan Kheng To Hoan ada Ketua Hay Yang Pang yang kenamaan terutama di lima propinsi di Utara.

Juga Teng Hiauw dan Boe Wie, mereka masih kuatirkan puterinya mendiang Lioe Kiam Gim sukar melayani jago tua itu.

Kheng To Hoan terperanjat sebentaran, segera ia dapat pulang jcetabahannya karena ia mau percaya, satu bocah amur belasan tidak nanti punyakepandaian berarti, ia percaya si nona curna punyakan Tjeng-kang-soet yang sempurna, lain tidak.

Ia percaya, dengan Ban-djie-toatnya, tidak nanti ia rubuh di tangannya nona itu.

Ia melainkan tidak mau turun tangan terlebih dahulu, ia mengawasi dengan tawar, lalu ia bersenyum.

"Nona, naik di loeitay bukannya permainan!"

Kata ia.

"Baik kau lekas turun, aku tak tega melukai kau...."

Di luar dugaan jago tua ini, si nona bersikap jumawa.

"Aku pun lebih baik tidak binasakan kau!"

Katanya sambil tertawa, dengan memandang enteng.

"Paling banyak aku nanti keja kau bercacat tapadakpa! Maka janganlah kau takut...."

Dari pendengaran, Bong Tiap dapat tahu, Kheng To Hoan bukannya seorang terlalu jahat, dari itu ia anggap sudah cukup bila ia bikin orang bercacat....

Kheng To Hoan telah berusia tua dan namanya sudah kesohor, mana ia bisa terima hinaan itu, dari itu, kata-katanya si nona membuat air mukanya merah padam, hingga lenyaplah rasa berkasihan terhadap nona itu.

K "eh Budak busuk, berapa tinggi kepandaianmu?"

Ia membentak.

"Jikalau kau tidak tahu diri, maka bukannya kau pergi ke sorga yang ada jalanannya, kau justeru pergi ke neraka yang tidak ada pintunya! Nah, kau jangan katakan aku tidak sungkan-sungkan terhadap kau...."

Bong Tiap tidak kesudian mclayani orang bicara, segera ia cabut pedang Tjeng-kong-kiam, lantas ia maju menusuk, kepada dada orang! Adalah kata-katanya kaum ahli silat.

"Golok jalan di putih, pedang jangan di hitam". Ini berarti, siapa gunai pedang, dia lebih banyak maju ke kiri dan kanan, jarang sckali yang lantas menjurus di tengah-tengah, menikam dada. Di matanya kaum Rimba Persilatan, penyerangan itu menandakan perbuatan tidak melihat mata. Maka itu, diserang secara demikian, hawa amarahnya Kheng To Hoan jadi meluap, dengan sebat ia angkat sepasang senjatanya, dengan sengit ia menangkis, kemudian ia turunkan kedua Ban-djie-toat, untuk gencet kuping kiri dan kanan orang. Di luar dugaan, Bong Tiap tidak menyerang sungguhsungguh. ia melainkan menggertak, tatkala kepalanya dijepit, ia melesat ke samping kanan dari lawan, dari situ ia putar pedangnya, untuk babat lengan kanan orang. Kheng To Hoan terperanjat akan dapati penyerangan tidak mcmberi hasil dan sebaliknya lengannya terancam, terpaksa ia enjot tubuhnya, akan lompat menyingkir, akan tetapi gesit sekali, si nona pun berioncat, akan susul dia. Salahsatu pepatah da I am kalangan ilmu silat berbunyi demikian.

"Satu kali ahli keluarkan tangan, lantas kctahuan tangan itu bcrisi atau tidak", demikian dcngan Ketua dari Hay Yang Pang itu kapan telah ia saksikan kcpandaiannya si nona, yang usianya masih bcgitu muda, segera ia tak bcrani Iagi memandang enteng, dengan sungguh-sungguh iajaga dirinya, terus gunai kepandaiannya, mendesak. Bong Tiap layani desakan orang dengan rangsekannya, hingga sekarang pertandingan jadi bcrjalan tcrlcbih seru daripada tadi, di waktu To Hoan layani Lauw In Eng. Ini ada untuk pertama kali yang Bong Tiap menghadapi musuh tangguh, ia berlaku luar biasa hati-hati, sambil hunjuki kegesitan, ia pun perlihatkan tusukan-tusukan atau babatanbabatan yang berbahaya. Ia masih sangat muda tetapi ia telah gabungkan kepandaiannya dua kaum, ialah Sip-siam-kiam dari Thay Kek Pay dan Tat-mo-kiam dari Sim Djie Sin-nie. Yang belakangan ini mempunyai seratus delapan jurus. Kalau ia lihat musuh gunai kekerasan, ia lawan dengan lembek, tetapi sembari mengancam, ia pun bisa terusi itu dengan kesungguhan, hingga ia bisa membuat orang bingung, sukar untuk menduga-duga. Sesudah bertempur kira-kira tiga puluh jurus, Kheng To Hoan lantas merasa sendiri bahwa ia seperti "terkumng"

Musuh muda iru, diam-diam ia rasakan tubuhnya menggigil.

Baharu sekarang ia insyaf, si nona ada liehay sekali.

Ia pandai rampas senjata orang, tetapi sekarang ia tidak berdaya, malah untuk membela diri ia mulai kewaiahan, hingga ia jadi sibuk dan berkuatir.

"Tidak dapat tidak, aku mesti gunai senjata rahasia,"

Pikir ia kemudian.

Thie-lian-rjienya, atau biji teratai besi, sudah tersohor di lima propinsi Utara, ia hendak gunai ini, sekalipun terhadap satu wanita, karena ia mesti jaga kehormatannya di saat terakhir ini-..

Segera juga, berbareng dengan putusannya itu, Kheng To Hoa gunai tipu silat "Tjay hong soan oh"

Atau "Burung hong putari sarang".

Ia mcnyerang hebat di tiga penjuru di bawah.

Bong Tiap pun liehay, ia lihat serangan orang, ia lompat ke samping dengan pedangnya ditarik pulang dengan "To tjoan kian koen"

Atau "Memutar bumi", lalu ia teruskan membabat lengan kanannya.

Ini gerakan dari lawan adalah apa yang To Hoan harapkan.

Ia berkelit sambil lompat ke saling, sambil berkelit, ia pindahkan senjatanya di kanan kepada tangan kiri, tangan kanannya itu segera dipakai meraba senjata rahasianya yang segera ia timpuki, hingga cahayanya berkeredepan.

Nona Lioe tertawa apabila ia lihat datangnya senjata rahasia itu, dengan ia buang tubuh ke samping, Pedangnya diangkat ke atas, diputar, hingga beberapa Thie-han-tjie kena kesVmpok dan terpental balik.

Menyusul itu, di atas panggung ada mengaung dua kali suara aneh, disusul dengan susulan dua suara lamnya, menyusul mana Kheng To Hoan, Ketua dari Hay Yang Pang, jago dan Utara, perdengarkan teriakannya "Aduh!"

Berulang-ulang, tubuhnya,"

Seperti layangan, melayang jatuh ke bawah panggung!

Sebab ia telah terkena piauw Bouw-nie-tjoe!

Pihaknya Gak Koen Hiong menjadi kaget dan heran, juga mereka yang masuk angkatan tertua.

Yang belakangan ini kenal piauw dari Sim Djie Sin-nie, karena itu, mereka sangka itu "niekouw malaikat"

Terbang datang dari "luar langit", sebab mereka tidak nyana Nona Lioe yang muda remaja pandai menggunai senjata rahasia itu, terutama lantaran mereka tidak lihat bergeraknya tangan si nona, yang ketika itu justeru berkelit dari senjata rahasia musuh.

Bong Tiap taat kepada pesan gurunya, ia tidak berani gunai piauwnya apabila tidak sangat terpaksa, walaupun demikian, ia masih turut ajaran, ialah terlebih dahulu ia lempar piauw yang pertama, untuk dihajar piauw yang yang kedua, hingga terbitlah suaft pertandaan atau pemberian ingat.

Coba To Hoan tidak mendahului curangi dia, dia tentu akan tetap melayani dengan Tjeng-kong-kiam.

Gak Koen Hiong bcramai lompat kepada Kheng To Hoan, untuk tolong itu kawan, tubuh siapa rebah tak bergerak di tanah, hanya melihat datangnya kawan-kawan, dengan Iemah ia bcrkata.

"Aku telah dibikin tapadakpa oleh itu budak busuk!...."

Ketika tubuhnya diperiksa, kedua lututnya di bahagian jalan darah "Hoan-tiauw-hiat", telah berlobang ditcmbusi piauw, hingga urat-uratnya pada putus, hingga ia jadi rubuh scketika dan tak dapat berjalan lagi!

Bong Tiap masih bcrdiri di atas loeitay ketika ia dengar seruan orang banyak, yang kemudian disusul dengan cacian dan kutukan, yang dikeluarkan pihak lawan sesudah mereka itu saksikan lukanya ketua Hay Yang Pang, tanpa merasa, ia kaget sendirinya.

Ia insyaf bahwa musuh telah terluka parah.

Inilah untuk pertama kali ia hadapi pertandingan besar, biar bagaimana, hati kecilnya kena gempuran.

Ia tunduk, ia bemiat loncat turun dari atas panggung.

Atau tiba-tiba.

"Tunggu, Nona! Aku ingin bclajar kenal dengan kau!"

Itu ada teguran, dari satu orang tua sebagaimana suaranya menyatakan itu.

Nona ini batal lompat turun, ia menoleh pada orang yang baharu datang itu, yang dengan pesat loncat naik ke loeitay.

Ia tampak seorang usia lima puluh lebih, yang terus menghadapi ia, sambii tertawa haha-hihi, yang pun terns tambahi kata-katanya.

"Wanita gagah, wanita yang masih muda, tetapi aku, sudah tua bangkotan, akan merasa berbahagia karena bertemu sama ahli warisnya Sim Djie, yang pandai mainkan piauw Bouw-nie-tjoe! Maka jikalau aku tak diberikan pengajaran, aku akan menyesal seumur hidupku!...."

Naiknya orang tua itu ke atas panggung telah disusui dengan teriakan dan tepukan tangan riuh dari bawah panggung, sedang In Tiong Kie dengan diam-diam terus kata pada Tok-koh It Hang yang berdiri didekatnya.

"Aku tidak mengerti cara bagaimana Gak Koen Hiong bisa tarik orang dari pihak Kcluarga Tong ini?...."

Memang orang tua itu ada "Hoei-thian Sin Wan"

Tong Ban Tjoan si "Orang Hutan Sakti".

Parnannya, Tong Tong Tjay, adalah sahabatnya In Tiong Kie di waktu muda.

Dan ilmu senjata rahasia dari Keluarga Tong ini terkenal sebagai yang tersohor di "kolong langit".

Baik dalam menyerang maupun dalam menanggapi, keluarga ini sangat termasyhur.

In Tiong Kie kesohor dalam hal "mendengar suara"

Senjata, yang pelajarannya ia dapati dari gurunya.

In Beng Koh, tetapi dalam hal senjata rahasia.

ia kaiah kesohomya seperti Keluarga Tong itu.

Kedua kepandaian mereka yang menyebabkan mereka jadi bersahabat kekal.

Hanya Tong Ban Tjoan ini, In Tiong Kie tidak kenal baik, ia curna tahu julukannya yang kesohor.

Pada empat puluh tahun yang lalu, Tong Tong Tjay pernah satu kali bertemu dengan Sim Djie, selagi pendeta perempuan ini gunai piauw untuk memberi hajaran kepada serombongan berandal, melihat kepandaian itu, yang senantiasa didului dengan "suara peringatan", Tong Tjay menghela napas, terutama memang sudah sejak lama ia dengar nama besar dari niekouw itu, malah pemah ia berniat mengadu kepandaian dengannya, tetapi sekarang, dia jadi kuncup sendirinya, sampai ia tidak berani agulkan lebih lama pula senjata rahasianya, sedang kepada keponakannya itu, seringsering ia puji Sim Djie.

Tapi Tong Ban Tjoan belum pernah menyaksikan sendiri, ia tidak percaya, ia malah ingin can"

Sim Djie, buat coba uji kepandaiannya.

Selama itu, sudah empat puluh tahuh, Tong Ban Tjoan belum pemah dapat ketika bertemu si niekouw.

Itu waktu, Ban Tjoan baharu berumur belasan, tapi sekarang ia sudah berusia lima puluh lebih.

Sama sekali Tong Ban Tjoan tidak punya persahabatan dengan Gak Koen Hiong, kalau ia toh datang di medan pertempuran itu, inilah sebab jadinya ia diundang oleh Ketua Muda Gie Hoo Toan itu dengan perantaraan satu sahabatnya, dan Gak Koen Hiong telah kirimkan ia bingkisan yang berarti.

Ia tampik undangan itu, ia tolak bingkisan, akan tetapi ia toh datang bersama-sama pamannya, hingga ia jadi tetamu terhormat dari Gak Koen Hiong.

Sebabnya ini adalah ia dengar halnya loeitay dan ia ingin menonton.

Ia dengar suara pertandaan, ia lihat Kheng To Hoan rubuh, ia menjadi heran, ia tidak nyana si nona demikian liehay, justeru begitu, ia dengar pamannya bilang.

"Itulah ilmu piauw dari Sim Djie Sinnie!"

Sang paman pun nampaknya sangat heran.

"Apakah aku bisa naik untuk lawan dia?"

Ban Tjoan tanya pamannya, sebelum ia naik. i Tong Tjay berpikir, akhirnya ia menyahut.

"Sukar untuk dibilang. Kalau Sim Djie sendiri, tak dapat kita lawan dia, tetapi nona ini, walaupun ia bisa gunai Bouw-nie-tjoe, latihannya masih belum sempurna, ia agaknya berimbang dengan kau. Apabila aku sendiri yang naik, aku tidak akan berhasil."

Tong Tong Tjay bukan jerih terhadap Bong Tiap, tetapi ia sudah tua, ia tahu diri, tidak demikian dengan sang keponakan, siapa, atas jawaban itu segera saja loncat naik ke atas Panggung dan hadapi Nona Lioe.

In Tiong Kie dan Tok-koh It Hang ketahui kepandaiannya Keluarga Jong, mereka menjadi sibuk, tetapi sebelah mereka, pihaknya Gak Koen Hiong jadi sangat gembira.

Mereka mengundang, mereka ditolak, siapa tahu, sekarang jago she Tong itu bersuka rela, maju sendiri, bagaimana mereka tidak bergirang?

Bong Tiap hendak layani orang bicara, karena orang tua itu bersikap manis budi, hanya sebelum iasempat buka mulut, ke atas panggung sudah loncat naik seorang yang ketiga, yang bajunya baju biru gerombongan dan kumis jenggotnya panjang, sebab dia adalah salah satu dari tiga pendiri Pie Sioe Hwee ialah In Tiong Kie, siapa kuatirkan si nona dan dari itu mencoba untuk menolong.

"Sudah lama kita orang tidak tahu bertemu, apa Hiantit ada banyak baik?"

Demikian In Tiong Kie tanya Tong Ban Tjoan seraya ia memberi hormat.

"Apakah pamanmu datang bersama? Ini nona sudah lelah, aku-nanti gantikan ia mainmain sama kau, Hiantit."

Tong Ban Tjoen kenali jago ma itu, ia lekas membalas hormat tetapi atas tantangannya, ia menampik.."Kepandaian Loopeh mengetahui senjata rahasia dari sambaran anginnya saja, aku telah ketahui sejak lama,"

Berkata ia.

"tidak demikian dengan piauw Bouw-nie-tjoenya si nona yang tidak dapat siauwtit lewatkan. Kita hendak mengadu senjata rahasia, bukannya adu senjata lainnya, dari itu walaupun ia sudah bertempur sekian lama, pertandingan senjata rahasia pasti tidak akan meletihkan dia."

In Tiong Kie hcndak jawab orang she Tong itu, tetapi Bong Tiap telah dului ia.

"In Loo-tjianpwee^ aku tidak ielah,"

Demikian si nona.

"Ini Loo-enghiong hendak memberikan pengajaran padaku, suka sekali aku menerirnanya."

Memang Bong Tiap ingin sekali bertempur lebih jauh.

Dalam keadaan terpaksa itu, In Tiong Kie mesti menurut, maka itu, ia loncat turun pula.

Kctika ia baharu naik, pihaknya Gak Koen Hiong menjadi tidak senang hati, semua mengutuk ia mengadu biru, hanya mereka tidak bcrani bilang suatu apa, karena ada haknya pihak Boe Wie untuk tukar orang, tetapi sckarang mercka lihat jago tua itu undurkan diri, mercka puas sekali.

Mercka harap-harap Tong Ban Tjoan nanti rubuhkan nona itu.

Dengan naiknya In Tiong Kie, Bong Tiap jadi kctahui, Tong Ban Tjoan ada kenalan atau sahabat pihaknya sendiri, dan itu, ia jadi tidak kandung niatan untuk-bikin orang celaka atau menanam bibit permusuhan.

Segera juga pertandingan antara Bong Tiap dan Ban Tjoan sudah dimulai.

Mereka tidak beradu tangan kosong atau alat senjata, hanya setelah satu tanda, keduanya pisahkan diri, dengan berbarcng mereka beraksi.

ialah bcrtindak memutari panggung sesudah duaputaran, dengan tiba-tiba Tong Ban Tjoan berseru.

"Nona sambut piauw!"

Jago she Tong itu tidak mau berlaku curang, ia sengaja perdengarkan seruannya itu, sesudah itu baharulah ia keluarkan kepandaiannya, dengan "Hoan im piauw"

Atau "Memutar lengan menyembunyikan piauw", iatimpuki senjata rahasianya, untuk perlihatkan kepandaiannya Kaum Kcluarga Tong.

Biar bagaimana, di atas panggung jaraknya kedua orang ada dekat sekali.

Bong Tiap lihat bahaya mengancam, ia berkelit, hingga piauw lewati samping iganya.

Senjata itu menyambar dengan cepat sekali.

Sudah begitu, dengan geraki tubuhnya, sambil mereka terus berputaran, Tong Ban Tjoan kirim pula serangannya, yang kedua, yang ketiga, saling susul -yang kedua menuju ke jalan darah "Sin-teng-hiaf* di tubuh atasan, yang ketiga mengarah jalan darah "Djoan-moa-hiat"

Di bawah. Dengan pedangnya, Bong Tiap sampok piauw yang menyambar jalan darah di atas, lalu dengan "It hoo tjiong thian"

Atau "Seekor burung hoo terjang Iangit","

Ia berlompat tinggi, untuk menyingkirkan diri dari sambaran ke bawah, secara demikian, ia bikin gagal kedua piauw lawan itu.

Serangan Tong Ban Tjoan ini ada permulaan belaka, untuk ia cari tahu gerak-gerik si mona, tetapi ini pun sudah bikin Bong Tiap insyaf bahwa aeo tua itu tidak saja pandai menggunai piauw akan tetapi semua ggsarannya adalafa jalan darah, karena itu, ia jadi ber-hati-hati.

&embali mereka berputaran, saling mendekati dan saling menjauhi, sampai dengan tiba-tiba, tangannya Bong Tiap terayun, tigabatang piauw melesat berbareng, dibarengi dengan suara mengaungnya.

Tong Ban Tjoan dengar suara sambaran, ia tahu tiga batang piauw serang ia di tiga jurusan, atas, tengah dan bawah, dari itu, sambil berseru "Bagus!", ia hunjuk kepandaiannya.

Dengan kelitan "Teng lie tjhong sin"

Atau "Di dalam kaki pelana scmbunyikan tubuh", ia kasih lewat piauw di atas.

Dengan sebat luar biasa, hingga kedua piauw yang kedua, yang mana, ia tcruskan pakai menyambit piauw ketiga, hingga kedua piauw beradu dan dua-duanya jatuh ke bawah panggung.

Dia tanggapi piauw dengan tangan kiri, tangan maina dibungkus dengan sarung tangan kuilit manjangan.

Pertandingan itu membuat semua penonton kagum.

Tong Ban Tjoan ada ahli senjata rahasia, senjata rahasianya bukan cuma satu macam.

Tiga batang piauw yang tadi ia pakai menyerang adalah P"auw biasa saja, karena piauw itu "d"

Membawa hasil, ia lantas "lenukar dengan yang lainnya, ia ubah juga cara menimpuknya.

Begitulah tangan kirinya merogoh kantong piauw, akan keluarkan seputuh batang Kie-lee, yang tidak dipakaikan racun, yang terus bagikan dua ke tangan kanan.

Senjata rahasianya ini memang ada dua macam, yang dipakaikan dan tidak dipakaikan bisah, ia sekarang pakai yang bebas racun, karena ini ada pertandingan adu kepandaian saja.

Macamnya senjata juga beda dari yang umum, setiap tail, dan empat penjurunya dipakaikan cagak yang tajarn, hingga lain orang, jangan kata bisa gunakan itu, pegang saja pun sukar.

Setelah kedua pihak saling berputaran, saling kejar dengan cepat, tiba-tiba tangan kanannya Tong Ban Tjoan bcrgcrak, lima buah senjata rahasia, sambil mengeluarkan sinar berkeredepan, melesat saling susul, kemudian itu disusul dengan lima buah lainnya dari tangan kiri, yang tak kalah cepatnya.

Bong Tiap lihat datangnya serangan, ia segera ayun tangan kanannya, akan menimpuk dengan lima buah piauwnya, akan sambuti lima batang Kie-lee.

Senjatanya ada tcrlcbih kecil lagi, tetapi di waktu Iima-lima senjata saling bentur.

kelima Kie-lee jatuh beruntun..

Untuk ini.

Bong Tiap gunai Thay Kek Koen, yang lawan tenaga dengan tenaga.

Tangkisan ini membuat Ban Tjoan terperanjat.

Segera menyusul lima buah Kie lee lain, cepat laksana bintang melesat.

Bong Tiap tidak lagi bisa timpuki lima buah lainnya, ia tidak pandai gunai dua-dua tangannya kiri dan kanan seperti Sim Djie, gurunya, tciapi ia telah wariskan Tat Mo Kiam, gurunya ilmu pedang yang liehay, maka sekarang, ia perlihatkan ilmu pcdangnya itu.

Ia putar Tjeng-kong-kiam, dengan cepat sekali, antara sinar berkilauan dan sambaran angin, lima batang Kielee jatuh beruntun, lenyap cahayanya, mclainkan suara bcnturan saja yang terdengar nyaring bemntun-runtun.

Hatinya Tong Ban Tjoan jadi bergetar kapan ia sudah saksikan kepandaian itu, ia kuatir ia nami tidak sanggup I indungi namanya sebagai ahli senjata rahasia, karena mana, ia mcnjadi sibuk, maka ia lantas gunai panah ular api Tjoa-yamtjian dan pcluru Tjoe-bouw-tan, yang ia timpuki dengan berbareng kepada si nona Blasur itu tidak boleh terbentur, apabila ditangkis, apinya lantas meletus dan menyambar, sedang dalam peluru Tjoebouw-tan, di mana ada sembilan lobang, setiap lobangnya menyembunyikan sembilan batang peluru Thie-lian-tjie, karena dipasangi alat, Thie-lian-tjie itu bisa melesat keluar sendirinya, menyambar sasarannya.

Maka itu, kedua senjata itu, yang dipakai berbareng, ada sangat liehay.

Bong Tiap tahu, Tong Ban Tjoan sebagai ahli mesti punyakan rupa-rupa senjata rahasia, dari itu, sesudah pecahkan dua rupa senjata rahasia orang itu, ia berlaku semakin waspada Ia lihat pundak orang bergerak dan lalu menyambar suatu benda biru menyala.

Cepat luar biasa ia berkelit.

Tempo panah itu lewati ia dan jatuh ke panggnng sambil terus meletus menyambar api, ia terkejut, tetapi ia masih sempat mencelat jauh hingga ia luput dari bahaya terbakar.

Tapi menyusul itu ada menyambar beberapa butir benda mirip bola besi yang pun mengeluarkan suara aneh, maka, menduga kepada senjata rahasia gaib, ia mcndahului berlompat dengan tipu "It hoo tjiong thian"

Atau "Seekor burung hoo melesat ke langit".

Ia sambut senjata rahasia itu, dari atas, ia menekan, maka peluru itu jatuh terlebih cepat ke atas panggung, pecan dan sembilan Thie-lian-tjie segera menyambar ke empat penjuru panggung.

Karena semua penonton dilarang mendekati panggung jauhnya belasan tumbak, senjata itu tidak sampai meminta korban.

Baharu Tjoe-bouw-tan lewat atau datang Tjoa-yam-tjian yang kedua.

Setelah pengalaman yang pertama, Bong Tiap tidak lagi terperanjat seperti sebermula.

Ia berkelit pula akan kasih lewat ular api yang liehay itu, ketika menyusul Tjoe-bouw-tan yang kedua^ kembali ia berlompat dan tekan itu hingga jatuh ke tanah.

Segera menyusul peluru yang keriga, yang jatuh jauhnya dari Bong Tiap tidak ada satu tumbak, yang tidak mengenai sasarannya karena si nona keburu menyingkir, akan tetapi, jatuh di panggung, dia "meledak"

Sendirinya, sembilan Thielian-tjie terus terbang menyambar. Sekarang Bong Tiap sudah siap sedia, dari itu, ia sudah lantas menimpuk dengan piauwnya, dalam gerakan "Thian lie san hoa"

Atau "Bidadari menyawer kembang", hingga piauwnya itu melesat berhamburan, menangkis sesuatu Thie-lian-tjie, biji teratai besL Demikian, dua ular api telah dilewatkan, tiga peluru besi sudah dipunahkan, karenanya, hatinya si nona menjadi lebih tetap, akan tetapi di sebelah itu, ia terus berpikir, senjata apa lagi yang sang lawan bakal pergunakan, hingga dalam waspada, ia pun kebat-kebit....

Oleh karena ini, untuk membalas, ia segera ubah siasat dari membeladiri, iajadi menyerang.

Kembali ia gunai piauw Bouw-nie-tjoenya.

Tidak kecewa Tong Ban Tjoan digelarkan Hoei-thian Sin Wan si Orang Hutan Sakti.

Dengan keentengan dan kegesitan tubuhnya, ia kelit sesuatu piauw, ia berlompat ke segala penjuru, bagaikan angin cepatnya, sedang tangannya bersilat dengan semacam gegaman istimewa buatan Keluarga Tong sendiri, ialah Leng-tie-kwat, alat piranti menyambut berbagai senjata rahasia, hingga piauwnya sinona tak dapat berbuat apa-apa.

Maka juga, Bong Tiap ubah siasat.

Sebelah tangannya Nona Lioe ditimpuki ke atas, dengan begitu sekepal piauw menyambar ke atas juga, kemudian, nona itu lemparkan pula sekepal yang lain.

Hingga, menampak demikian, Tong Ban Tjoan menjadi heran.

Pertunjukan apa lawan itu sedang berikan?

Kenapa piauw bukan dipakai menyerang hanya di lemparkan ke udara?

Di atasan kepala mereka, dua gumpal piauw Bouw-nie-tjoe telah saling serang dengan menerbitkan suara berulang-ulang, piauwnya melesat ke segala penjuru, ada juga yang habis membentur yang satu, lalu kebentur yang lain, demikian seterusnya, hingga udara seperti penuh dengan piauw itu, kemudian, turun semua piauw menjurus ke arah Ban Tjoan.

Di sebelah itu, Bong Tiap timpuki lagi lain gumpalan.

Biarpun ia ada satu ahli, jago Kcluarga Tong ini menjadi heran dan kaget.

Seumumya, belum peraah ia tampak serangan piauw semacam int.

Semua senjata rahasia menyerang langsung, tidak demikian dengan piauw Bouw-nietjoe ini.

Ia pun pandai mendengar suara, untuk kenali senjata rahasia, ia pandai melihat gerakan tangan, orang akan menduga jurusan ke mana lawan menyerang, akan tetapi, caranya Bong Tiap ini ada sangat asing baginya.

Begitulah, kendatipun ia ada gesit, ia kelit sana dan kelit sini, tidak urung pundak kanan, dan pundak kirinya, tclah kena tcrhajar piauw, hingga ia terluka, kulitnya lccct, dagingnya mempan scdikit.

Baharu sekarang ia insyaf lichaynya si nona.

Untuk cegah bahaya terlebih jauh, scgcra ia berseru.

"Berhenti! Berhenti! Berhenti! Nona, kau benar-benar liehay, aku menyerah!"

Dan ia menyerah tidak tunggu sampai ia kena dihajar jatuh dari atas panggung. Lioc Bong Tiap lamas berhentikan penyerangannya, ia masuki pedangnya ke dalam sarung.

"Kau merendah saja,"

Kata ia sambil bersenyum.

Tong Ban Tjoan sudah lantas loncat-turun dari panggung, sesudab mana, Yo Kong Tat bunyikan genta scraya terus nyatakan, Nona Lioe Bong Tiap yang menang.

Di bawah panggung orang tcrbiikan suara gemuruh, dari tempik sorak.

akan tetapi di pihaknya Gak Koen Hiong, orang berhati jerih, hingga juga beberapa di antaranya, yang merasa dirinya liehay, sungkan loncat naik ke atas panggung untuk layani si nona Beberapa waktu Bong Tiap berdiri mcnantikan.

apabila kemudian ternyata tidak ada orang yang naik, ia loncat turun.

Biar bagaimana, seteiah layani dua musuh, ia merasa lelah juga, sedang piauwnya, yang semua berjumlah empat puluh sembilan butir, sekarang tinggal hanyatiga!

Ia scbcnarnya sudah mulai berkuatir, apabila ia mesti layani lain musuh, ia bisa menghadapi bahaya.

Maka ia bersyukur yang ia bisa lekas-lekas undurkan diri.

Gak Koen Hiong bernapas lega apabila ia tclah saksikan si nona loncat) turun.

Jikalau si nona tetap berdiri dan dipihaknya tidak ada yang naik lagi, ia bakal kalah.

Sekarang ia bisa pilih lain orangnya, untuk naik dan menantang.

Jagonya ini adalah pahlawan istimewa dari Istana Boan, iaiah Twie-thio atau Kapten Tat Sip Pa-touw-louw, yang kesohor buat delapan belas jurus Tiat-pie-pee Tjiang-hoatnya, atauTangan Pie-pee Besi.

Dia ini telah takluki semua pahlawan Boan lainnya dan sangat dihargai oleh Ibusuri Tjoe Hie See-; Thayhouw.

Diapun ada orang di belakang layardari Gak Koen Hiong.

Begitu lekas Tat Sip berada di atas panggung, lantas ia tantang In Tiongj Kie.

Lalu bicaranya ada sangat tidak sedap didengarnya.

Ia kata.

"Aku lihat, tadi Loo-tjianpwee ada sangat menantang, dari itu sekarang aku tidak ingin bikin kau kecewa, aku mohon pengajaran dua atau tiga jurus, atau kapan Loo-tjianpwee tidak mau adu tangan, Loo-tjianpwee boleh gunai senjata, aku sendiri tetap akan bertangan kosong...."

RombongannyaGak Koen Hiong murka karenatadi In Tiong Kie malang di tengah, mereka anggap itu ada gangguan, pengacauan, justeru mereka duga, jago tua ini tidak pandai bertempur dengan tangan kosong, mereka sengaja majukan tantangannya itu.

Dengan sesungguhnya, tantangan pihak Gak Koen Hiong itu telah membuat sulit kepada In Tiong Kie.

Ia ada kenamaan, ia pasti tak dapat lawan orang dengan bertangan kosong.

Ia biasa mcnggunai cambuk, benar sedangnya ia bersangsi, tiba-tiba ia lihat scorang bcrtindak ke arah loeitay.

Ia segera kenali Tjian Djie Sianseng dari Ouw Tiap Tjiang.

Diam-diam ia malu sendirinya.

Tok-koh It Hang berdiri di sampingnya jago tua Pie Sioe Hwee ini, ia tampak tampang orang itu berubah, ia mengerti, lantas iatertawa dengan perlahan.

"Lauwhia, segera kau bakal gembira,"

Kata ia.

"Tua bangka itu pasti sekali akan bikin lawannya dapat dipermainkan sebagai binatang saja!" &ji Pek-djiauw Sin Eng belum tutup mulutnya, atau Tjian Djie Sianseng, yang telah bertindakke arah panggung dengan lenggang lebar, sudah sikap bajunya yang panjang dan berlompat baik dengan tubuh limbung, seperti ia tak dapat pertahankan imbangan dirinya, dan sambil napas memburu, ia ngoceh scndirian.

"Dasar sudah tua, aku tak punya guna...."

Banyak hadirin berkuatir buat orang tua ini, tetapi ahli-ahli silat pada bersorak dengan pujiannya, karena gerakan orang. itu adalah yangdinamai Tang hong hie lioe"

Atau "Angin timur permainkan cabang yanglioe"

Itu adasuatu gerakan ahh silat, mirip dengan "Tjoei Pat Sian"

Atau "Delapan Dewa Mabok". Tat Sip bukannya seorang tolol, ia terperanjat melihat gerakan "Tang hong hie lioe"

Itu, akan tetapi andali sangat Tjap-pwee-Iouw Pie-pee-tjhioenya, yang bisa tusuk tembus perut kerbau, yang jarang ada tandingannya, dari itu, ia terus maju mendekati.

"Eh, apakah kau hendak gantikan In Tiong Kie menjadi bangkai setan?"

Ia menghina.

"BegitulahF. tertawa Tjian Djie Sianseng, yang sabar luar biasa.

"Tulang-tulangku yang sudah tua sudah lama tidak pernah terima kemplangan, maka sekarang adalah ketikanya untuk dibikin pada longgar. apabila kau bisa hajar aku satu kali, aku akan sangat bersyukur kepadamu, melainkan aku khawatir, kau tidak bisa pukul kena padaku.... Nah, sahabat baik, kau mulaiiah dengan tanganmu!"

Belum pernah Tat Sip Pa-touw-louw terima hinaan seperti itu, tidak heran apabila ia jadi sangat gusar, sambil berseru, ia lantas menyerang dengan dua-dua tangannya maju berbareng.

Dengan "Pek wan tan louw", atau "Orang hutan putih mencari jalan", ia menghajar ke arah batok kepala.

Aneh adalah sikapnya Tjian Djie Sianseng.

Diserang secara hebat demikian, ia tidak menangkis, ia tidak membarengi untuk mendahului mcnghajar musuh, dia hanya scgera lompat jumpalitan, bcgitu tinggi, sampai ia levvati musuhnya dan turun di belakang musuh itu, gerakannya gesit seperti terbangnya walet Tat Sip seperti tidak lihat orang lompati ia, akan tetapi ia merasa pasti, maka itu, cepat ia memutar tubuh, berbareng dengan mana, dua tangannya yang keras dipakai mcnycrang saling susul, untuk cegah musuh bokong ia.

Kcmbai i jago Ouw Tiap Tjiang, si Tangan Kupu-kupu, tidak menangkis, ia tidak berkei it, hanya, ia tari nyamping, untuk terus lari berputaran di atas panggung itu!

"Eh, tua bangka ampas, ke mana kau hendak lari?"membentakTat Sip, yang lompat mengejar.

Tjian Djie lari berputaran, ialoncatl ke kiri, ia melesat ke kanan, seperti orang main petak, ia mencelat ke belakang, kakinya seperti juga tidak injak panggung lagi, gerakannya mi rip dengan kupu-kupu menyambar-nyambar bunga atau kutu terbang memain di air.

Ini adalah ilmu silat jOuw Tiap Tjiang, yang dipelajarinya sejak masih kecil, dengan loncat-loncatan nyeplos antara ratusan pohon kayu atau pelatok, sampai tubuh tak membentur suatu pohon juga, maka kapan ia hadapi musuh dengan lari berputaran dan lelompatan, ia bisa bikin jadi kabur penglihatan matanya dan pusing kepalanya.

Tat Sip kena dipermainkan, dia gusar dan mengejar terus, sia-sia saja dia berdaya akan mencandak, jangan kata dapat menyerang dengan Pie-pee-tjhioenya, buat langgar saja baju gerombongan orang, dia tidak mampu.

Apa yang mendongkolkan, bila ia tidak dikejar, orang tua itu justeru menghampirinya, atau bila orang ayal-ayalan, ia lambatlambatan, ia mengejek, loncat ke kiri ke kanan, ke depan dan belakang.

Dalam mendongkolnya, Tat Sip tidak insyaf bahwa ia lagi diganggu, karena ia terns mengejar.

Belum terlalu lama, matanya lantas bcrkunang-kunang, kepalanya pusing, hingga sendirinya gerakan kakinya jadi pelahan.

Justeru dalam keadaan demikian, tiba-tiba Tjian Djie Sianseng loncat ke depannya, agaknya hendak menyerang.

Ia kaget, ia angkat sebelah tangannya, untuk menangkis.

Ia telah gunai ilmunya "Yauw liong tjoet tong"

Atau "Naga limbung keluar dari kedung".

Tangkisan itu tidak memberi hasil, karena Tjian Djie Sianseng tidak terus menyerang, hanya orang tua ini mencelat ke samping, terus mencelat pura di belakang orang itu.

Sebeium Tat Sip sempat putar tubuh, beruntun ia terima dua tamparan yang nyaring pada kupingnya kiri dan kanan, sampai ia menjadi ketulian, hingga ia jadi gusar tak terhingga.

Tiba-tiba ia majukan kak i kanannya ke depan, kaki kirinya tertekuk, tubuhnya jadi terlentang ke belakang.

Ini ada gerakan "Go houw hoei tauw"

Atau "Harimau tidur memutar kepala".

Sambil bergerak demikian, kedua tangannya turut menyambar ke belakang, ke arah lawan, yang berada di sebelah belakangnya itu.

Ini adatipu pukulan yang sangat liehay, yang Tat Sip gunai secara mati-matian, untuk bikin celaka musuh, buat, kalau perl u, sama-sama terluka.

Tjian Djie Sianseng lihat scrangan nekat dan orang itu, scmbari mundur, ia kasih dengar tertawa mengejek, kemudian dengan mengapungkan tubuh, kedua kakinya terangkat untuk tendang kembali lawan, yang lagi angkat badannya untuk berbangkit pula.

Itulah gerakan sangat scbat, kedua kaki sampai pada sasarannya, hingga memperdengarkan suara keras, menyusul mana bagaikan bola saja, tubuh besar bagaikan kerbau dari Tat Sip terpental jauh satu tumbak lebih, terus rubuh ke bawah panggung dengan menyungsang atau "Sie kak tiauw thian"

Atau "Empat kaki menjulang langit"!

Berbareng dengan suara genta, tanda pertandingan babak itu telah berakhir untuk kemenangannya pihak Teng Hiauw dan Law Boe Wie, Tjian Dj.e Sianseng turun dari panggung dengan pelahan-lahan, lalu dengan lenggang kangkung, ja kembal.

ke dalam rombongannya.

Kembali orang-orang dart rombongan Gak Koen Hiong pada kertak gigi, saking gusar dan mendongkol, akan tetapi, kendatipun demikian, tidak lantas ada yang majukan diri, mereka semua ngeri melihat Tat Sip Pa-touw-louw yang liehay bisa dipecundangi secara demikian gampang.

Pertandingan baham berlanjut lima babak, baru sudah mendekati tengah hari, selama itu, Gak Koen Hiong kalah empat, bukan main ia mendongkol dan bingung.

Dengan reman suram, ia memandang kepada rombongannya, akan pilih jago pula.

Akan tetapi, belum sampai ia dapat memilih, dari pihaknya Tcng Hiauw, In Tiong Kie sudah loncat naik ke panggung, di mana, sambil memperdengarkan suara berisik, ia loloskan cambuk Kauw-kin Hong-liong-piannya dari pinggangnya, karena cambuknya itu bisa dilibat sepertiiangkin, apabila ia kibaskan itu, senjata lemasitu lantas sajajadtkaku dan lempang seperti tumbak atau ruyung, Sembari perlihatkan senjatanya itu jago itu segera kasih dengar suaranya.

"Aku si orang tua sudah lama tidak lagi gemar berebutan di kalangan Kang-ouw, aku lebih-lebih tidak mat menghlna orang dengan kepandaianku, akan tetapi, di samping itu, akupun tak suka sekali orang tantang aku sccara langsung. Barusan Tjian Djie Sianseng sudah talangkan aku, aku pcrcaya dia tak bikin sahabat-sahabatku menjadi kecele, tetapi sekarang aku, aku hendak bikin sahabat-sahabat tidak menjadi terlebih kecele pula, dari itu, dengan mengandali tulang-tulangku yang sudah tua, aku minta sahabat siapa saja naik kemari untuk berikan pengajaran padaku!"

Ia bicara sambil matanya terbuka lebar ke arah rombongan dak Koen Hiong, lalu ia tambahkan.

"Nah, sahabat mana yang hendak maju paling dahulu? Aku sama sekali tidak sudi menyebut nama langsung!"

Rombongan Gak Koen Hiong saling mengawasi.

Mereka anggap lawan ada aneh.

Tadi dia ditantang, dia tidak mau maju, sekarang, tanpa ditantang atau diminta, dia maju sendiri.

Karena dia scgera keluarkan cambuknya, orang mengerti, dia hendak bertanding tak dengan tangan kosong.

Di antara kaumnya Gak Koen Hiong ada bebcrapa pahlawan Boan yang ulung, mcreka ini tidak saja kcnal baik hal-ihwal jago tua ini, pun ada yang pernah bertempur dengannya, sebab sebagai salah satu pendiri Pie Sioe Hwee, pernah ada ketikanya or-ang-orang Pie Sioe Hwee hendak ditawan oleh pemerintah.

Pernah pada satu malam, seorang diri In Tiong Kie lawan empat pahlawan dan dapat membinasakan tiga di antaraya.

Maka itu, pahlawan-pahlawan Boan jerihj terhadapnya.

Hong-liong-pian itu, selain bisa digunai sebagai toya atau cambuk, j uga bisa dipakai membetot gcgaman orang.

Melihat orang pada saling memandang saja, satu lhama yang dipanggil TjongTat To menjadi gusar sekali.

Gegamannya ada Teng-tjoa-pang, ru"yung atau toya "Ular rotan",| terbuat dari rotan keluaran istimewa Tibet, sebelum dijadikan senjata, direndam dulu di dalam minyak, sampai seratus kali rendam dan seratus kali dijemur, ujung toya dilibati kavvat, hingga jadi kuat betul, dan tidak bisa terbabat kutung oleh golok tajam.

Toya ini seperti Hong-liong-pian, termasuk senjata yang "lemas".

"Biar aku yang terima tan tangan int!"

Kata ia pada Gak Koen Hiong. I a bersikap jumawa.

"Satu tua bangka, apanya yang mesti dibuat jerih!"

Ia lantas maju, ia loncat naik ke atas panggung, dengan teladan In Tiong Kie, terus ia keluarkan toyanya dari libatan pinggang, lantas ia bentak ke depan sampai jadi lempang betul, seraya ia menantang.

"Silakan maju!"

Diam-diam In Tiong Kie tertawa dalam hati melihat toya orang itu.

"Rupanya toya ini ada anaknya cambukku, panjangnya pun hampir sama,"

Demikian ia pikir.

"Baiklah aku coba ketangguhannya."

Lantas, dengan satu seruan merendah, ia mulai menyerang lebih dulu.

Tjong Tat To percaya, Hong-liong-pian mirip dengan Tengtjoa-pangnya, melihat serangan musuh, ia bersenyum tawar, ia lantas menangkis dengan "Kim kauw siauw tjoe"

Atau "Ular naga emas mclilit tiang".

Ia bentur Hong-liong-pian, ia hendak lilit itu, untuk dibetot copot dari cekalan lawannya.

In Tiong Kie belum kenal cara bersilat musuh, walaupun ia menyerang, ia toh bersiaga untuk tidak sampai gagal dan kecele, maka itu, menampak cara menangkisnya, ia lekas tarik pulang cambuknya, dengan gerakan "Koay bong hoan sin", atau "Ular naga jumpalitan", ia bergerak ke kiri, terus ia balas menyabet ke arah pundak kanan dari lawannya itu.

Tjong Tat To bukannya seorang lemah, ia tarik pulang toyanya, berbareng dengan itu, ia mencelat tinggi, mclcwati musuh, untuk turun di sebelah bclakangnya, lalu dari ini, sambi memutar tubuh, ia menyerang pinggang.

Ia menggunai tipu sabctan "Heng kang tjay long"

Atau "Memotong sungai, memutus gelombang".

Gerakannyaadasangat gesit.

In Tiong Kie ada seorang yang berpengalaman, ia pun pandai mendengar suara gerakan pelbagai senjata, ia tidak gentar menampak musuh berloncat melewati ia, malah dengan tidak menoleh lagi ke belakang, ia putar lengannya, ia menyabet ke belakang, untuk menangkis, hingga ia minp dengan orang yang mempunyai mata di bebokong.

Lhama itu terperanjat atas cara orang itu menangkis terutama karena pian datangnya dari atas, turun rhenimpa dan menekan toyanya.

Lekas-lekas ia gunai tipu "Go tee liong"

Atau "Naga tidur di tanah", untuk membebaskan diri ancaman bahaya, ialah sambil mendak, ia berkelit.

Bcnar-benar bahaya mengancam dengan segera.

In Tiong Kie sudah putar tubuhnya, serangannya lebih jauh lantas mcnyusul, malah saling susul, dalam rupa-rupa serangan "Tjay hong soan soh" (Burung hong memutari sarang).

"In liong tiauw sioe" (Naga menggoyang kepala), dan "Lian hoan poan tah"

Atau "Serangan bertubi-tubi".

Tiga serangan itu mengarah kepala, pinggang dan kaki, saling susulnya sccara sebat sekali.

Tjong Tat To sudah berjaga-jaga, ia pun liehay, maka itu, walaupun serangan bertubi-tubi, ia dapat elakkan semua itu dengan ketangkasannya.

Ia beTkelit, ia menangkis, ia berlompat.

Di sebelah itu, ia pun lantas balas menyerang.

Sebagai kesudahan, keduanya bertempur dengan sera, kegagahan mereka ada berimbang sekali, sampai beberapa puluh jurus, masih belum ketahuan siapa menang dan siapa kalah, mereka tetap saling menyerang.

Satu kali Tjong Tat To kena didesak, dari tengah, ia sampai di pinggir.

Ia ketahui i ni.

ia mcnjadi gusar sekali.

Ia mcmang beradat keras.

Dcngan tiba-tiba, ia berseru, dengan pukulan "Ya tjee tan hay"

Atau "Memedi memeriksa lautan", ia scrang batok kcpala orang.

Ia ada sangat bernafsu, sampai agaknya ia lupa dcngan penjagaan diri.

Terang ia ingin, dengan satu gebrakan itu, ia akan peroleh kemenangan yang memutuskan.

In Tiong Kie lihat ancaman itu, diam-diam ia bergirang menampak kekosongan orang itu.

Dengan sebat sekali, ia berkelit, membarengi itu, sambi!

mengendap, ia membabat ke arah kaki lawan.

Ia gunai tipu serangan "Ouw Hong liang tee"

Atau "Naga hi tarn mcrebut tanah".

Tjong Tat To tetap hunjuki keliehayannya.

Ancaman itu hebat, tetapi ia insyafi itu.

Malah sekarang ia sengaja, ia hendak keras lawan keras.

Begitu, sambi I lompat berjingkrak, ia menyabet ke bawah, ke arah pian lawan, untuk bentur itu, untuk dililit, hingga kedua scnjata, cambuk dan toya, scpcrti saling meiibat, sesudah itu, ia lantas membetot dengan kaget dan keras, ia gunai seantero tenaganya.

Di pihak lain, In Tiong Kie juga menarik tak kurang kcrasnya.

Dua-dua, Hong-liong-pian dan Tcng-tjoa-pang ada alat-alat senjata kuat dan ulet, tetapi ini kali, menemui j timpalan, kcduanya sampai pada "ajalnya".

Tarikan getas dan keras, j disebabkan libatan sangat keras, mcmbuat dua-duanya patah dengan sekonyong-konyong, di antara suara nyaring dari patahan itu, dua-dua.

In Tiong Kie dan Tjong Tat To jadi terpelanting sendirinya, masing-masing jatuh ke bawah panggung!

Syukur untuk mereka, mereka bisa jatuh berdiri, tangan mereka mencekali buntungan senjatanya masingmasing, napas mereka sama-sama memburu.

Suara gent a menyusul dengan lantas, dan To Poet Hoan umumkan putusannya.

Scbab dua-duanya jatuh dari panggung, pertandingan itu ditctapkan seri, tidak ada yang kalah, tidak ada yang menang.

Pihaknya Gak Koen Hiong bergembira.

Walaupun mereka tidak menang, toh In Tiong Kie, satu lawan tangguh, dapat dibikin tidak bisa * bcrbuat suatu apa.

Tapi, sclagi mereka kegirangan, dari pihaknya Teng Hiauw, mereka lihat satu orang loncat naik ke atas panggung, apabila mereka telah kenali orang ini, mereka kaget.

Orang dari pihak Teng Hiauw itu naik ke loeitay sambil berloncat.

Dia ada satu hweeshio yang mukanya lebar dan sepasang kupingnya gede.

Yang membikin orang terkejut, dia adalah Hong Tjin Hweeshio, pendcta kenamaan dari Siauw Lim Sie dari Gunung Siong San.

Pada masa itu, di antara kedua golongan kaum persilatan yang utama, Boe Tong Pay dan Siauw Lim Pay, pihak Siauw Lim sendiri terbagi atas empat cabang, ialah cabang Pouwthian di Hokkian, cabang Teng-hong di Hoolam (Siong San), cabang Lam-hay, dan cabang Ngo-bie.

Cabang Hoolam, yang dikenal sebagai Siong San Siauw Lim Sie, disebut sebagai Boelim Tjong-hoay, pusatnya.

Ilmu silat Siauw Lim Sie terdiri dari tujuh puluh dua rupa, sesuatu cabangnya ada istimewa, umumnya melebihi Iain-Iain kaum.

Umpamanya ada Tiat-seetjiang (Pasir Besi), Hek-see-tjiang (Pasir Hitam), Ang-seetjiang (Pasir Merah), Kim-see-tjiang (Pasir Emas), Kim-patjiang (Macan Tutul Emas), Tiat-pie-pee (Piepee Besi), Tiatsauw-tjioe (Sesapu Besi), Poan-dj iak-tj iang (Tangan Kecerdasan), dan Tiang-koen (Tangan Panjang).

Dari empat puluh lebih rupa senjata rahasia, lebih dari separuhnya ada kepunyaan pihak Siauw Lim.

Sedang Hong Tjin ini ada hweeshio keluaran dari Madrasah Tat Mo Ih dari Siauw Lim Sie di Siong San.

Madrasah ini dapat dimasuki cuma oleh hweeshio-hweeshio yang sudah sempurna pelajaran"silatnya.

Maka itu, pihaknya Gak Koen Hiong jadi sangat terpengaruh oleh nama Siauw Lim Sie.

Dalam sibuknya, Gak Koen Hiong terpaksa ingin minta tulang punggungnya, Lhama Besar Kat Pouw Djie, untuk layani pendeta dari Siauw Lim Sie itu, akan tetapi belum sampai ia buka mufutnya, dari antara rombongannya sudah ada satu orang yang mendahului loncat naik ke atas panggung.

Orang itu sama sekali tidak bicara lagi sama ia.

Dia berumur empat puluh lebih-, tubuhnya kate dan dampak, mukanya penuh berewokan, romannya sangatjelek, tapi tubuhnya sangat gesit Tidak ada orangnya Gak Koen Hiong yang kenal orang ini, mereka semua menjadi heran.

Sesampainya ia di atas panggung, segera ia kcluarkan gcgamannya.

ialah sepasang ruyung Hoed-tjhioe-koay yang terbuat dari baja.

"Taysoe, sejak kita berpisah, apa kau ada banyak baik?"

Demikian orang ini menanya Hong Tjin Hweeshio, sambil ia bersenyum sindir.

Dianampaknyasangatjumawa dan menantang.

Pendeta itu mengawasi, ia rasa kenal orang ini, apabila ia sudah mengingat-ingat, ia menjadi terkejut dengan sekonyong-konyong, hingga ia mengawasi lebih jauh dengan tercengang.

Sekarang ini usianya Hong Tjin Hweeshio sudah mendekati enam puluh tahun.

Dia sucikan diri bukan semenjak masih kecil, hanya baharu hampir tiga puluh tahun.

Pada riga puluh tahun yang lalu, ia ada murid Siauw Lim Sie, yang biasa saja, dalam usia muda, ia sudah rampungkan pelajarannya, dari itu, ia terus merantau.

Kemudian ia bekerja dalam satu piauwkiok.

Ketika itu, dalam Rimba Pcrsilatan.

orang justcm paling mcnangkan diri.

Di dalam piauwkiok itu pun ada bekerja satu piauwsoc lain, keluaran Boc Tong Pay, namanya Hoe Touw Lam.

Di situ dia in i ada dimalui.

Tapi, dengan datangnya Hong Tjin, dia jadi merasa tidak senang.

Sampai pada suatu hari, datanglah ketikanya untuk ia agulkan Kaum Boc long.

"Boc Tong Pay dan Siauw Lim Pay memang bcrdasarkan satu,"

Kata Hoe Touw Lam.

Pendiri dari Boe Tong Pay, ialah Thio Sam Hong Tjouwsoe, ada asal Siauw Lim Pay, yang pisahkan diri dan mendirikan cabang sendiri.

Tapi Boe Tong Pay telah ambii bagian-bagian yang bagus dari Siauw Lim Pay dan buang bagian-bagian yang jclck, dia berdiri sendiri, scbagai ahh Iwcc-kcc, bagian dalam, dari itu, dipadu dengan Siauw Lim Pay, dia ada jauh tcrlcbih menang!"

Hong Tjin masih muda, ia pun baharu keluar dari perguruan, bias dimengerti jikalau ia jadi tidak senang.

"Apakah sih Iwee-kee dan gwa-kee?"

Kata ia.

"Lwee-kee Boe Tong Pay ada muncu! dari Siauw Lim Pay. Pemecahan aliran itu ada untuk memperdayakan orang luar saja. Semua cabang silat, biarpun berlainan, ada masing-masing ilmunyayang luar biasa, dan semua membutuhkan latihan tenaga. Scsuatu cabang mesti mempunyai orang-orangnya yang liehay, jadi tak dapat dibilang, cabang ini mesti mcnangkan cabang yang lain. Atau Icbih tegas lagi, tak pasti lwee-kee akan kalahkan gwa-kee!"

Perselisihan paham ini lantas bcrubah mcnjadi pcrscngketaan, dari salmg bcrcbut omong, mcreka jadi sal ing sindir, karcna pcrdamaian tidak bisa didapatkan, mcreka putuskan itu dengan satu pertempuran.

Hong Tjin tidak dapat kendalikan hawa amarahnya, dengan Kim-pa-tjhioe, ia lukai Hoe Touw Lam, sampai dia ini mendapat luka di dalam dan tak bisa yakir.kan ilmu silat Iebih jauh.

Selang bebcrapa tahun, bahna kesal, dia jatuh sakit dan akhirnya menutup mata.

Kejadian ini membuat Hong Tjin amat masygul, ia sangat menyesal, dan bclakangan lagi, iapun insyaf, pekcrjaan piauwsoc adalah berarti menjual jiwa untuk orang-orang yang uangnya banyak, pengubanan itu tidak berarti, maka akhirnya, ia pergi memasuki kuil, ia mcnjadi pendeta.

Hoe Touw Lam telah meninggal dunia, tctapi ia ada mempunyai satu murid.

Dia ini sangat mencintai gurunya, ia hendak menuntut balas.

Satu kali, dia scrang Hong Tjin secara menggelap, tctapi dia bukan tandingan dari itu pendeta, dia kena dikalahkan.

Hong Tjin sudah lukai guru orang, ia tidak tega eclakai penyerangnya ini, malah sebaliknya ia memohon maaf dari murid itu.

Tapi dia ini bertabiat luar biasa, dia tidak matur maaf, dia tidak bilang suatu apa, dia ngeloyor pergi, terus sampai kira-kira tiga puluh tahun, tentang dia Hong Tjin tidak dengar suatu apa, sampai sekarang, tahu-tahu diamuncul di atas panggung adu kepandaian.

Murid Hoe Touw Lam ini bemama Louw Kee Tjong.

Segera setelah ia kenali Kee Tjong, Hong Tjin memberi hormat "Lauwtee, apakah kau tetap tak bisa lupai urusan dari tiga puluh tahun itu?"

Tanya ia.

"Dulu karenamelukai gunimu itu, aku menyesal bukan main. Kau tahu sendiri, gurumu bukan terbinasa di tanganku, dia menutup mata karcna sakit. Pada tiga puluh tahun yang lalu, aku telah mohon maaf dari kau, Lauwtee, dan sekarang ini, aku matur maaf kcmbali kepadamu. Jikalau kau inginkan aturan kaum Kang-ouw, aku nanti jamu kau, untuk haturkan maafku terlebih jauh. Lauwtee, bukankah urusan dapat dibikin habis? Kalau kau setuju, aku nanti atur ini schabisnya picboc ini. Aku datang kemari untuk kehormatan kaum Kang-ouw, untuk urusan besar, sedang urusan kita berdua ada urusan kecil, urusan perseorangan. Kau toh bukannya tidak ketahui scbabmusabab dari pieboe ini? Maka kenapa kau hendak mengacau, dengan campur-baurkan urusan kita berdua? Apakah mungkin kau ada kambratnya Gak Koen Hiong?"

Louw Kee Tjong bukannya konco dari Gak Koen Hiong, selama beberapa puluh tahun, ia terus yakinkan ilmu silat dengan maksud tujuan satu saja.

untuk mencari balas buat gurunya.

Mengenai pieboe ini, ia tak tahu benar siapa betul dan siapa salah, ia juga tidak bermat membantu salah satu pihak.

Ia lihat Hong Tjin Hweeshio, ia turut naik di atas panggung, guna bertempur, agar ia mewujudkan pembalasannya.

Inilah ada terlebih baik lagi, karena mereka bertempur di muka orang banyak.

Maka itu, tak sudi ia mendengari nasihat pendeta tua itu.

Ia goyang-goyang Hoedtjhioe-kay, ia tertawa dingin.

"Enak sekali kau bicara!"

Dcmikian ejekannya.

"Guruku terbinasa karena kau, aku telah bersabar tiga puluh tahun, apa itu masih belum cukup? Tidak dapat kau habiskan urusan secara begini gampang. Bagaimana caranya dahulu kau rubuhkan guruku, begitu juga caranya sekarang aku hendak rubuhkan kau! Kau hajar guruku dengan Kim-pa-tjiang, sekarang aku hendak beri kau rasa Hoed-tjhioe-kay! Dengan tongkat membayar tangan kosong, itulah bunga untuk tiga puluh tahun! Tapi mengenai urusan pieboe ini, siapa benar siapa salah/ aku tidak sudi campur. Umpama kata kau tak ingin aku mengacau, baik, sekarang kau segera umumkan kepada khalayak ramai bah wa kau men ye rah kaiah, kau tidak bcrani Iawan aku, kemudian kita orang can satu tempat sunyi di rnana kita berdua boleh adu kepandaian kita!"

Mendengar kata-kata orang itu, Hong Tjin merasakan dirinya dibikin jadi menunggang harimau.

turun atau duduk terns, jadi serba salah.

Coba mereka ada di lain rempat, dengan gam pang iasuka mengaku kalah saja.

Sesudah puluhan tahun sucikan diri, pikirannya sudah bebas.

Buat ia sendiri, kalah pun tidak bcrarti.

Tapi di sini ada mengenai rombongannya Teng Hiauw, maka kecewa sekali bila ia mengaku kalah tan pa bertempur lagi.

Kekalahannya akan mcngakibatkan kekalahannya Teng Hiauw dan Boe Wie.

Bagaimana ia dapat lakukan itu?

Dan sebagai wakil dari Siauw Lim Pay, cara bagaimana tak keruan-keruan, ia mcsti menyerah kalah terhadap musuh pribadi?

Apakah itu tidak akan mencemarkan golongannya?

Kalau bertempur, ia tidak tega melukai Kee Tjong, tanpa dilukai, sulit muridnya Hoe* Touw Lam dirubuhkan jatuh dari atas loeitay.

Dari romannya orang, ia tahu benar, orang she Louw ini sudah sempurna pelajaran silatnya.

Selagi pendeta ini bersangsi, di bawah orang bertempik sorak riuh.

Ttulah pcrbuaian rombongan Gak Koen Hiong.

Mereka dengar Hong Tjin bicara, tapi tidak terdengar apa katanya, mereka tampak pendeta itu bersikap lesu, mereka sangka orang jerih, dari itu, mereka berseru-seru, antaranya ada yang teriaki.

"Di atas loeitay bukan tempatnya untuk bicara hal dulu-dulu! Pieboe bukannya urusan menghadapi bcsan! Eh, kenapa si keledai botak masih tidak mau turun tangan?"

Juga To Hoan dan Kong Tat tidak mengerti melihat orang masih berhadapan saja, yang satu sikapnya menantang, yang lain seperti jerih, hiingga mereka memikir untuk mcndcsak, supaya dia orang itu segera mulai bcrtanding.

Justeru itu, Hong Tjin loloskan jubahnya, kemudian seraya pasang kuda-kudanya, ia kata pada penantang itu.

"Lauwtee, kau telah desak pintjeng hingga pintjeng tidak bcrdaya lagi. Silakan kau maju!"

Louw Kee Tjong melirik dengan tajam.

"Apakah kau hendak gunai sepasang tanganmu yang kosong buat layani tongkat Hoed-tjhioe-koay?"

Ia tanya sambil berseru. Pendeta itu tertawa.

"Sudah ban yak tahun aku sucikan diri, sudah tak biasa lagi bagiku buat menggunai golok atau pedang,"

Ia mcnyahut dengan manis.

"Lauwtee, silakan kau maju, sesukamu, jangan sungkan-sungkan!"

Louw Kee Tjong jadi gusar. Ia anggap ia sudah dipermainkan.

"Keledai botak!"

Ia mendamprat.

"Kau sudah bikin celaka guruku, sekarang kau perhina aku!"

Dan ia geraki sepasang tongkatnya, dalam gerakan "Siang Hong djip hay"

Atau "Sepasang naga masuk ke dalam laut".

Ia menyerang dengan berbareng, dari kiri dan kanan.

Hong Tjin Hweeshio berserryum.

Mengikiiti datangnya kedua tongkat, ia mondur tetapi begitu Ickas juga, kaki kirinya maju ke samping, nyela bumi, akan tekan lengan kanan orang seraya teruskan menggempurpundak kanan lawan itu.

Inilah hebat!

Tapi Kee Tjong lekas egosi tubuhnya seraya mengendap sedikit, hingga ia lolos dari bahaya, tangan lawan cuma berkelebat di depan mukanya.

Hong Tjin menyerang melainkan sampai di situ, ia tidak mcndesak, ia tak tega akan turunkan tangan j ah at.

Kee Tjong tidak mengerti bah wa orang merasa kasihan terhadap dirinya, selagi si pendeta hcntikan serangannya, tibatiba ia rubuhkan diri, ia bergulingan, lalu sambil bcrgulingan ia maju, akan menyerang orang bagian bawahnya, kedua tongkatnya bergerak secara hebat sekali.

Kedua tongkat itu sama sekali tidak bentrok dengan lantai panggung.

Hong Tjin terperanjat juga melihat lawan itu gunai "Tee tong koen", ilmu silat "Bergulingan di tanah".

Segera ia mengapungkan tubuhnya, akan meloncat buat terus berloncatan, ke sana dan kemari, akan saban-saban menyingkir dari sambaran tongkat, yang datang seperti tidak putusnya karena tubuhnya Kee Tjong berguling ke arah mana ia menyingkir.

Yang hebat, bukan melainkan tongkat, hanya juga kaki dan dengkulnya orang she Louw ini bisa turut menyerang juga, menendang atau mendupak secara hebat.

Dengan berkelahi dengan tangan kosong, dengan menghadapi senjata, nampaknya Hong Tj in Hweeshio ada terdesak, ia pun kelihatan seperti bclum tahu caranya untuk pecahkan Tee-tong-koen, dari itu, ia terus main mundur, ia seperti bakal lekas sampaikan tepi panggung.

Pihaknya Gak Koen Hiong sudah lamas memperdengarkan tepuk tangan riuh, mereka percaya, pendeta itu bakal segera kena dikalahkan.

Walaupun ia sedang berkelahi dan agaknya terdesak, Hong Tjin dengan tempik sorak riuh itu, yang membuar air mukanya berubah dengan tiba-tiba, | hingga di lain saat, ia perdengarkan tertawa yang panjang, lalu tubuhnya bergerak cepat, karena kedua kakinya tidak lagi lompat-lompatan untuk berkelit saja, hanya sekarang, ia berkelit sambil mcmbalas menjejak.

Ia sudah mulai gunai "Wan-yho Tjin-pou Lian-hoantwie", ialah gerakan kaki maju saling bcrganti.

Scbentar saja, keadaan lantas jadi berubah.

Kalau tadi ada 1 ah si pendeta yang terdesak, kini adalah Kee Tjong yang main mundur.

Kedua tangannya si pendeta juga sering-sering menyambar, akan tangkap tongkat orang.

Pertempuran itu membikin sekalian penonton menjadi kagurn, hingga dari bertepuk tangan, mereka jadi berdiam, sampai mata mcrcka seperti kabur.

Kedua lawan itu bcrgcrak ccpat sekali.

Kcl i hatannya Hong Tj in Hweeshio mcnang di atas angin, tetapi satu kali, mendadakan sebatang tongkat menyambar naik, ke arah kcmpolannya, disusul dcngan suara menggcietak yang nyaring.

Orang tcrkcj ut, semua menyangka, pcndcta itu sudah kcna dihajar, tetapi, segera orang melengak, karena suara menggcietak itu disusul dcngan suara tcrtawa yang panjang, tubuhnya Louw Kec Tjong terpentai tcrguling satu tumbak lebih, di mana ia mcncclat bangun akan bcrduduk, di lain pihak tongkatnya, tongkat dari tangan kanan, sudah bcrada di tangan Hong Tjin, siapa, dcngan satu kali tekuk saja, sudab bikin senjata itu, yang terbuat dari baja, menjadi patah dua!

Dan kedua patahannya segera di lemparkan ke bawah panggung.

Habis itu, Hong Tjin bcrtindak menghampin lawannya.

"Lauvvtee, aku telah terima pukulan sebatang tongkat dari kau, kau niscaya sudah puas, bukan?"

Ia berkata sambil"tertawa.

Mukanya orang she Louw itu pias pucat, dengan tidak mengucapkan sepatah kata jua, ia berbangkit untuk bcrtindak turun dari panggung.

Hong Tjin biarkan orang pergi, ia menoleh kepada kedua wasit, untuk menjura, kemudian ia pun berlalu dari panggung piranti pieboe itu.

Kcsudahan ini tidak mendapat tcpukan tangan dari para hadirin semua orang heran menyaksikannya.

Hong Tjin Hweeshio tak inginkan kckalahan, di lain pihak, ia be rat akan lukai Louw Kee Tjong, dari itu, selagi berkelahi, ia bcrpikir kcras, pikirkan jalan menamatkan pertempuran ini untuk kebaikannya kedua pihak.

"Koen tee tong"

Dan Kee Tjong membuat ia sulit, desakan musuh membikin ia mesti mundur, maka akhimya tcrpaksa ia kasih lihat "Wan-yho Tjinpou Lian-hoan-twie" -"Burung Wan-yho maju silih berganti", dengan itu, ia dapat pecahkan desakan orang sambil bergulingan.

Selagi balik mendesak, ia pun masih pikirkan daya untuk bikin lawan itu tidak berdaya.

Ia masih ban yak lindungi muka terang mcreka.

Di akhimya, ia lihat serangan hebat dari Kee Tjong ke arah kcmpolannya, lantas ia dapat pikiran, berbareng mengasih dirinya kena dihajar, ia pun tangkap dan rampas tongkat orang.

Dengan memberi kempolannya dikemplang, ia tidak merasakan terlalu sakit, dari itu, dengan lantas ia bisa patahkan tongkat bajanya.

Sekalipun To Poet Hoan dan Yo Kong Tat, kedua wasit, menjadi bingung, hingga mereka tidak dapat segera memberi putusan, adalah setelah keduanya berdamai, mereka umumkan bahwa pertandingan itu berkesudahan seri, sebab tidak ada"

Salah satu yang jatuh ke bawah panggung, benar yang satu kena dihajar dengan tongkat, akan tetapi yang lain pun kena didupak terpentai hingga jatuh duduk!

Dua-dua Hong Tjin Hweeshio dan Louw Kee Tjong terima baik putusan itu.

Hong Tjin memang hendak menolong muka dan jaga muka terangnya Kee Tjong, dan Kee Tjong di lain pihak pernah menyatakan, dengan tongkat melawan tangan kosong, ia ingin dapati bunga untuk sakit hati gurunya selama tiga puluh tahun.

Dengan demikian juga, dendaman mereka menjadi buyar.

Gak Koen Hiong girang dengan kesudahan ini, karena dua pertandingan,dua-duanya berkesudahan seri.

Sekarang ia hendak rebut kemenangan, dari itu ia lantas pilih satu jagonya, yang mengerti Tiam-hiat-hoat, ilmu menotok jalan darah, ialah Kouw Hoei In.

Dia ini, dalam umur cnam puluh lebih, masih gagah.

Dia pun ada soesiok, paman guru, dari Ouw It Gok.

Ouw It Gok ini, yang satu jari tangannya pernah dibabat Law Boe Wie, tidak berani naik ke loeitay, dan ia telah minta pamannya itu sukamenampilkan diri.

Begitu lekas ia sudah naik ke atas panggung, Kouw Hoei In segera memperlihatkan sepasang Poan-koan-pitnya, ruyung yang beroman seperti pit, alat menulis.

Inilah alat istimewa untuk menotok jalan darah, panjangnya cuma satu kaki delapan dim.

Kalau senjata umumnya ada "satu dim panjang, satu dim tambah Iiehay", adalah Poan-koan-pit "satu dim pendek, satu dim tambah berbahaya".

Dan satu kali dia pcrton tonkan senjatanya ini, orang di bawah panggung semua mengerti bahwa ia adalah seorang Iiehay.

Di pihaknya Teng Hiauw, Tok-koh It Hang mengerutkan alis.

Ia tahu siapa adanya jagonya Gak Koen Hiong itu, Tiamhiat-hoat siapa adalah latihan dari beberapa puluh tahun.

Ia insyaf betapa sukarnya untuk mclayani orang she Kouw itu.

Daiam rombongannya ada Lo Hoan Sian, ahii Tiam-hiat-hoat Hoei In dengan Kim-na-tjhiocnya.

Baca Juga: Perguruan Sejati 3

Baca Juga: Kereta Berdarah Khu Lung

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger