Eps 3 Perguruan Sejati - Khu Lung
Baca online Perguruan Sejati - Khu Lung
Cersil Perguruan Sejati - Khu Lung.
"Pek Tayhiap, nonaku mengundang masuk ! Kata nona engkau telah tiga malam berdiri di sini, maka mengundangnya kedalam !"
"Kenapa engkau tahu tiga malam aku disini, dan kenapa tahu aku she Pek ?"
"Itu soal nonaku, bicaralah dengannya !"
Aku masuk kedalam dn dipersilahkan naik keloteng, disana lampu terang benderang, dimeja tersedia hidangan dan minuman, dengan kaget aku mendapat jamuan mendadak !
Setelah mengobrol sejenak, kutahu bukan saja ia berwajah cantik, juga terkenal didunia Kang Ouw sebagai pendekar wanita yang mulia....
"Siapa namanya ?"
Selak In Tiong Giok.
"Namanya tak perlu kusebutkan, pokoknya engkau asal tahu saja bahwa ia seorang pendekar, tok."
"Sejak malam itu kami berkawan, semakin hari semakin intim, benih-benih cintapun sedalam. Ia pun tak sungkan menerima ajakanku yang pertama memain perahu di telaga dan jalan-jalan mencari angin. Kesan ini seumur hidupku tak bisa dilupakan, begitu manis dan romantis. Seumur hidupku hanya sekali itulah merasa bahagia....Akan tetapi jalan-jalan berdua dan main-main ditelaga itu adalah yang pertama dan terakhir pula, sejak itu kami berpisah dan tak pernah bertemu muka lagi..."
"Kenapa ?"
"Tak usah heran, seorang lelaki terjelek di dunia berjalan-jalan dengan seorang gadis tercantik, dimuka umum. Mendapat tertawaan dan jadi tontonan..."
"Ya, memang dunia ini kejam, dan selalu mendatangkan duka !"
"Tapi ini kesalahan aku sendiri, kenapa aku tidak tahu diri mau menyintai seorang cantik dengan paras yang buruk !"
"Baik buruknya seseorang bukan dari wajah yang jadi ukuran !"
"Benar, tetapi wajahlah yang dilihat !"
"Kuyakin pendekar wanita itu tak berpikir begitu bukan ?"
"Benar demikian ! Bahkan jika kulamar pasti diterima, tetapi apa yang bisa aku berikan padanya ? Seorang yang buruk ? Buah tertawaan manusia jahil ! Cintaku kepadanya segenap hati, tapi bisakah membawanya bahagia dengan tampang seburuk ini ? Maka itu setelah kupikir matang-matang, membuatku tahu diri, dan diam-diam mengasingkan diri. Dengan begitu aku harap ia bisa mencari lelaki lain yang lebih ganteng dariku, tapi apa yang aku perbuat ini hanya mendatangkan penyesalan dan kecewa tentu !"
"Mungkinkah sampai sekarang ia tidak bersuamikan ?"
"Tidak saja tak bersuami bahkan masih tetap mencariku kemana-mana !"
"Lalu apa yang membuatmu tak mau ?"
"Kau piker pantaskah aku menjadi suaminya ?"
"Kenapa tidak !"
"Hmm, lebih-lebih sekarang parasku sudah keriputan dan semakin buruk..."
"Ia pun sudah tua dan tak secantik dulu lagi "
"Ia awet muda dan semakin cantik,"
Kata Pek Kiong Hong.
"Apakah Lo Cianpwee sudah melihat lagi ?"
Pek Kiong Hong menjadi merah, kepalanya mengangguk.
"Tiga tahun yang lalu aku melihatnya dikota, tapi ia sendiri tak melihatku !"
"Cinta itu tak memandang bulu, buruk jelek tua muda tidak menjamin ukuran. Kini ia menanggung rindu puluhan tahun, tidakkah Lo Cianpwee merasa kasihan terhadapnya maupun pada diri sendiri ? Kukatakan demikian karena Cianpwee masih tetap mencintainya bukan ? Untuk apa menanggung rindu seumur hidup kepada kekasih yang mencintai jua ! Jika Lo Cianpwee bertepuk sebelah tangan atau cinta tak sampai boleh berlaku demikian, tapi ini soalnya saling mencintai. Dan dirusak sendiri oleh perasaan Cianpwee, ini bukan saja berdosa padanya juga pada diri sendiri."
Pek Kiong Hong jadi bungkam mendapat nasehat seorang muda belia !
Mungkin dalam soal asmara, tidak perduli orang tua, akan menjadi bodoh dan tak mali meminta saran pada yang mudaan!
Ya dalam soal asmara ini adalah wajar !
"Sebenarnya perkataanku ini terlalu kurang ajar, tapi untuk cinta murni yang diabaikan begitu saja terpaksa kuciptakan juga.
Dengan harapan perasaan jahanam itu hilang dan timbul perasaan yang adil !
Kurasa sampai kini belum terlambat, untuk menjalin lagi jodoh yang terkatung-katung.
"Kau bicara terlalu jauh,"
Kata Pek Kiong Hong.
Pembicaraan mereka baru sampai disini Yauw Kian Cee sudah datang bersama seorang tua gemuk keduanya membawa tumpukan buku yang selesai dicetak.
Kami telah mengerjakan sekuat tenaga, tapi hanya berhasil mencetak lima ratus lima puluh buku!"
Kata Yauw Kian Cee sambil tersenyum. Nah cobalah In Kongcu periksa !"
In Tiong Giok menoleh kearah jendela, baru merasa bahwa hari sudah remang-remang menjelang fajar. Cepat ia memeriksa buku-buku itu, dan menghaturkan terima kasih berulang-ulang.
"Apa yang engkau akan kerjakan dengan buku-buku itu ?"
Tanya Pek Kiong Hong.
"Sebelum terang tanah, Boanpwee akan menyebarkan dua ratus lima puluh buku ini ditempat yang ramai, agar setiap yang menghendakinya mudah mendapatkannya, sisanya akan kutitip di penginapan-penginapan agar orang jauhpun bisa memperolehnya. Dengan demikian dalam waktu singkat buku ini bisa tersebar habis."
"Apakah engkau benar-benar sudah mengambil keputusan demikian ?"
"Ya, dengan cara itulah Boanpwee bisa menghilangkan monopoli Keng thian cit su dati tangan Pok Thian Pang dan Liok Jie Hui."
"Jika begitu kuminta kau meninggalkan seratus buku disini."
Kata Pek Kiong Hong, akan kuberikan sendiri pada jago-jago bilim, atau mengecernya didepan, dengan begini perusahaanku akan mendapat kemajuan yang tidak sedikit !"
"Kuharap Lo Cianpwee berlaku waspada, jangan sampai buku ini mendatangkan hal-hal yang tidak diinginkan"
Kata In Tiong Giok sambil memberikan seratus buku.
"Hal ini tak perlu kita kuatirkan"
Kata Pek Kiong Hong, dan kudoakan agar kau bisa sampai dirumah Lim Siok Bwee secepatnya tanpa kurang suatu apa."
"Boanpwee berdoa agar Lo Cianpwee bisa melanjutkan jodoh yang terkatung-katung secepat-cepatnya !"
Pek Kiong Hong terbahak-bahak, lalu mengantar pemuda kita keluar rumah, sampai Tiong Giok pergi jauh dan tidak terlihat lagi, ia baru masuk kedalam sambil berkemak-kemik.
"Ia seorang pemuda yang dikaruniai keberanian dan kepintaran yang luar biasa, susah mencari orang semacam dia. Ia menoleh pada Yauw Kian Cee dan memesannya. Sejak hari ini perusahaan kita akan tutup untuk selamanya, maka kumpulkan para pegawai dan berikan mereka pesangon secukup-cukupnya.
"Apa? Lo Yacu San terjun lagi ke dunia Kang Ouw ?"
"Keadaan dunia Kang Ouw seadng mengalami perubahan, siapa yang bisa tenang mengsingkan diri untuk melewati hari..."
Benar saja kejadian yang menggemparkan dalam waktu singkat telah terjadi.
Buku pusaka yang bernama Keng thian cit su, dalam waktu sehari telah tersebar luas dikota Kim leng.
Buku yang menjadiu rebutan dengan pertaruhan nyawa, kini dapat diperoleh dengan mudah.
Mulut kemulut peristiwa ini diceritakan orang, dalam waktu tiga hari seisi kota menjadi geger !
Bahkan jago-jago Bulim dari bebagai aliran, berduyun-duyun datang ke kota Kim leng untuk memperoleh buku pusaka itu.
Nama In Tiong Giok dan Keng thian cit su menjadi buah bibir seluruh penduduk kota.
Tambahan pula dengan terbitnya buku itu, In Tiong Giok tak terlihat lagi mata hidungnya, dan membuat orang menerka, siapa dia !
Ada yang mengatakan bahwa ia orang India !
Pelarian Pok Thian Pang, atau juga Ciu Thian Siang sendiri, dan ada juga yang menduga, sebagai ahli waris Sin kiam siang eng....banyak mulut banyak pembicaraan tapi semuanya merasa kagum dan memuja-mujanya.
***** In Tiong Giok....In Tiong Giok....dimana-mana terdengar nama ini diperbincangkan orang.
Sedangkan ia sendiri diluar tahu siapapun telah berperahu menuju ke barat.
Perahu yang disewa sangat besar, dan setiap harinya ia mengunci pintu kamar seorang diri.
Disini ia melatih ilmu Keng thian cit su dengan tekun.
Tukang perahu merasa heran, tapi tidak mengatakan apa-apa.
Hanya memanggilnya diwaktu makan saja, seperti yang dipesan penyewanya itu.
Beberapa hari telah berlalu, perjalanan mereka hampir sampai dikota Keng an.
Tukang perahu mengetuk pintu kamar sambil berteriak keras-keras.
"Kongcu apakah engkau mau makan sekarang atau sesudah berlabuh dikota Keng an ?"
In Tiong Giok keluar dari kamarnya dengan berkeringat, ia memandang kepantai, sejenak.
"Kupikir jangan berlabuh ditempat ramai bagaimana ?"
"Terserah pada Kongcu, aku menurut saja,"
Kata tukang perahu.
Dan terus menuju kesebuah dusun kecil diseberang Keng an.
Disini terdapat perkampungan nelayan.
Mereka berlabuh disitu.
Tukang perahu dengan dua pembantunya turun kedarat untuk membeli perbekalan.
"Isterinya tukang perahu menyediakan Tiong Giok makan. Tak selang lama yang mendarat telah kembali lagi dengan barang bawaannya. Terlihat mereka tergesa-gesa dan gugup.
"Kongcu celaka!"
Kata tukang perahu dengan wajah pucat.
Kita tidak bisa melewati pelabuhan Keng an !
Karena dalam beberapa hari ini, menurut kaum nelayan disitu berkumpul orang-orang Kang Ouw dari berbagai tempat, mereka memaksa semua perahu menuju ke Kim leng, yang tidak mau, perahunya dirampas, dan orangnya dibunuh."
Jilid 7________ "Tak kusangka perbuatanku mendatangkan bencana bagi kaum nelayan,"
Pikir Tiong Giok.
"Habis kau pikir bagaimana ?"
"Kupikir sesudah malam baru berlayar lagi dengan begitu mungkin juga kita bisa melalui kota itu dengan selamat !"
"Begitupun baik, andaikata tidak bisa melalui juga, tidak apa-apa aku bisa mendarat dan tak merepotkan kalian !"
Saat inilah dengan tiba-tiba dari arah daratan terdengar orang berseru .
"Hei ini perahu siapa dan mau kemana ?"
Tukang perahu menoleh kearah suara, segera juga membuatnya gemetar tidak karuan, karena disitu berdiri dua orang.
satu jangkung satu kurus.
Usianya tujuh puluhan, pakaiannya putih, rambutnyapun putih, bahkan wajahnyapun putih tidak berdarah.
Pokoknya serba putih.
"Hei apakah engkau tidak mendengar pertanyaanku ?"
Kata yang katai dengan dingin dan menakutkan.
"Oh...mau...mau ke Siang yang..."
"Bawa barang atau penumpang ?"
"Penumpang !"
"Berapa orang ?"
"Ada...hanya seorang..."
"Hm!"
Sikatai mendengus dingin dan menoleh pada yang jangkung.
"Lo toa, kita masih mujur Keng an sudah dikuasai kaum Pok Thian Pang, tak sangka bisa mendapat perahu disini !"
Sijangkung tak menjawab hanya menganggukkan kepala.
"Kuminta penumpang itu turun, karena kami mau memakai perahumu !"
Seru sikatai.
"Apakah jie wie mau ke Siang yang juga ?"
"Tidak, kami mau ke Kim leng !"
Kata sikatai dan terus melompat keprahu dan disusul kawannya dari belakang.
"Maaf saja Jie wie karena perahuku sudah diborong orang. Bisa tidaknya harus kutanyakan dulu kepadanya..."
"Tidak bisa harus bisa, mau tak mau harus mau !"
Seru sikatai.
"Ini soal mudah asal saja penumpang itu mau mengalah..."
"Hm, ia pasti mau !"
Kata sikatai yang terus masuk kedalam lambung perahu. In Tiong Giok yang sejak tadi mendengari pembicaraan mereka, kini menampilkan diri.
"Jie wie mau memakai perahu ini, berani bayar berapa duit ?"
"Engkau boleh menghargai berapa saja !"
Kata sikatai.
"Aku menyewa perahu ini dua ratus tail perak, jika Jie wie mau mengganti kerugian, aku bersedia mengalah !"
Jawab Tiong Giok.
"Tak kukira engkau mata duitan ! Pokoknya kalau kami senang, bisa memberikan lima puluh tail emas !"
"Aku sudah membayar terlebih dahulu, kuharapkan engkau sepertiku !"
"Ya hitung-hitung engkau berjasa mengantarkan perahu untuk kami, aku Ouw Kun San mau juga membayar !"
Kata sikatai yang terus merogo saku mengeluarkan uang emas.
"Uang ini menyilaukan mata, sukar diterimanya !"
"Kupikir menerima uang paling mudah!"
Jawab Tiong Giok.
"Nah terimalah !"
Seru Ouw Kun San yang terus melemparkan uang emas itu kearah pemuda kita.
Begitu cepat dan keras uang itu menyambar, tapi dengan cepat pula pemuda kita mengeluarkan jarinya, serta terdengar suara nyaring angin yang keluar dari jerijinya, membuat mandek lajunya uang emas.
Secara ringan uang itu ditangkapnya, dan dilemparkan ketukang perahu.
"Terimalah persenan ini !"
"Terima kasih atas kebaikan Kongcu !"
"Jangan kepadaku, berterima kasih pada orang tua ini !"
"Terima kasih atas keroyalan Jie wie !"
"Aku heran kenapa didunia ini ada yang menghambur-hamburkan uang guna memperoleh se
Jilid buku tipis ? Ah benar-benar tolol !"
Kata Tiong Giok yang terus meninggalkan perahu, sesampainya didarat ia mengeluarkan se
Jilid buku tipis, lalu membeset-besetnya sampai hancur.
"Buku ini di Kim leng bertumpuk-tumpuk, tak ada harganya, anaeh disini bisa laku lima puluh tail emas!"
Dilemparkannya sobekan buku keair.
Kedua orang tua serba putih memandang ke sungai, dan kebetulan sekali dari sobekan buku itu, mereka bisa melihat huruf yang berbunyi Keng thian cit su.
Wajah mereka segera berubah, dan terus berteriak keras.
"Hei bocah jangan pergi dulu !"
Berbareng dengan habisnya suara mereka, tubuhnyapun sudah mengapung dan tiba dihadapan Tiong Giok.
"Perahu sudah kuserahkan pada kalian, kini mau apa lagi ?"
Tanya Tiong Giok dengan mengejek.
"Engkau jangan berlagak bodoh, ketahuilah kami ini siapa ?"
Kata Ouw Kun San.
"Berani mengejek dan mempermainkan kami, artinya bosan hidup tahu !"
"Tidak tahu !"
Jawab Tiong Giok seenaknya.
"Kamu belum pernah melihat kami, seharusnya sudah mendengar nama kami !"
Seru Ouw Kun San dengan gusar.
"Tidak kenal bagaimana harus kenal ?"
"Apakah gurumu tidak memberi tahu ?"
"Maaf gurukupun belum pernah menyinggung nama kalian !"
"Dasar bocah tak berpengetahuan, sampai Kui coa jie sau (dua orang tua menyerupai kura-kura dan ular) yang kesohor engkau tak kenal, mau bergelandangan didunia Kang Ouw..."
"Ha ha ha kiranya Kiu coa jie sau ! Oh! Nama ini cocok benar dengan tampang kalian !"
"Mampus lu !"
Bentak Ouw Kun San yang terus menghajar dengan lengannya.
Sijangkung ya ng bernama Sing Thian Beng sejak tadi diam saja, begitu melihat temannya naik darah dan melancarkan serangan, buru-buru mencegah.
"Sabar dulu,"
Katanya. Bocah, Han Bun Siong itu apamu ?"
"Itu guruku !"
"Engkau sendiri bernama apa ?"
"In Tiong Giok !"
"Oh kiranya engkau bernama In Tiong Giok !"
Seru sikatai yang bernama Ouw Kun San dengan kaget bercampur girang.
"Lo Toa bagaimanapun tak boleh dikasih lolos !"
"Benar ! Tangkap hidup-hidup !"
Seru Sing Thian Beng yang terus berpangku tangan dan membiarkan kawannya turun tangan sendiri.
"In Tiong Giok engkau perlu tahu, kami turun gunung separuh buku pusaka itu separuh untuk menuntut balas pada gurumu. Kini kedua soal itu bergabung padamu sendiri, bocah terimalah kematianmu!"
Kata Ouw Kun San yang terus bergerak, lengannya mengebas kearah dada, cepatnya seperti kilat.
Akan tetapi serangan ini dengan mudah kena diengoskan pemuda kita.
Ouw Kun San tertegun sejenak, tak terpikir serangannya yang dilancarkan mendadak dan cepat itu tak membawa hasil.
Api amarah seolah-olah membakar dirinya "Bocah, mampus kau !"
Bentaknya geregetan. Ia melompat keudara dan turun menyerang dengan tangannya kearah batok kepala. Tanpa menoleh, Tiong Giok menggeser kakinya, serangan musuh kembali mengenai angin.
"Hei, sebenarnya kalian mempunyai permusuhan apa dengan guruku ? Dan jangan mengira aku berkelit melulu karena takut !"
"Kami tidak mempunyai waktu mengadu mulut,"
Jawab Ouw Kun San, yang jelas engkau tak bisa lolos dari tanganku !"
"Hm, baik !"
Kata Tiong Giok, dan terus membungkuk mengambil cabang kayu dari tanah.
"kalian menghendaki ilmu Keng thian cit su, nanti kuturunkan pada kalian, lihat dengan baik-baik ! Agar ilmu yang kalian idam-idamkan ini bisa dipelajari sebaik-baiknya."
"Bangsat !"
Bentak Ouw Kun San dan terus menyerang dengan kedua tangannya. Perlahan tapi cepat, Tiong Giok memutar kakinya, tubuhnya merapung beberapa meter dan terus membentak.
"Jika mau mempelajari ilmu pedang, sebaiknya keluarkan senjatamu !"
Siang Thian Beng yang berpangku tangan sejak tadi, membuka mulut .
"Bocah ini jangan kasih hati ! Lo jie hunuslah senjatamu !"
Tanpa disuruh untuk kedua kalinya, Ouw Kun San melucuti ban pinggangnya yang terbuat dari benang pelatina.
Dan terus diputar, sehingga cahaya putih berkelebatan, mencecar pada Tiong Giok.
Dengan tenang dan penuh perhitungan Tiong Giok membiarkan senjata musuh mendekat kearahnya, baru mengengos kesamping, dan batang kayu yang digunakan sebagai senjata ditotokan kepergelangan lawannya.
Begitu cepat dan diluar dugaan siapapun, tepat mengenai sasaran, Ouw Kun San merasakan lengannya kaku senjatanya hampir terlepas, dengan kaget ia mundur meninggalkan gelanggang.
"Ingat baik-baik, ini jurus pertama yang bernama It cu keng thian (sebatang kayu menunjang langit)."
Ouw Kun San murka sekali, senjatanya dikeprakkan ketanah, debu beterbangan, tubuhnya mencelat kedepan dibawah lindungan senjatanya yang berputar-putar.
Menerjang kepada musuhnya yang mendongkolkan hatinya.
In Tiong Giok tersenyum menyaksikan kekalapan musuh, batang kayunya disabetkan dan diputar, dalam sekejap batang kayu itu dari satu berubah dua, dan dari dua berubah empat, dan seterusnya semakin banyak.
Sedangkan gerakan ban pinggang Ouw Kun San semakin sedikit dan akhirnya hilang, berbareng dengan ini tubuhnya terpental beberapa meter dan jatuh dengan menimbulkan suara yang cukup nyaring.
"Ini perubahan kedua dari jurus pertama yang bernama Cong geng diu siau (malang melintang diangkasa), jika ujung kayu ini berubah lagi, nyawamu pasti hilang !"
Ouw Kun San mengeluarkan keringat dingin, ia melihat bajunya penuh lubang terkena senjata musuhnya.
"Lo jie, apakah engkau terluka ?"
Tanya Sing Thian Beng.
"Masih untung tidak sampai terluka,"
Jawabnya dengan meringis.
"Bocah itu tampaknya sudah memahami ilmu pedang itu !"
"Memang benar !"
"Jika begitu tidak ada harapan menag lagi bagi kita !"
"Ah, belum tentu,"
Jawab Sing Thian Beng.
"sungguhpun ia bisa, tapi belum matang. Jika serangan dipencarkan, pasti membuatnya kikuk dan gugup !"
"Ya kenapa tak perpikir kesitu,"
Kata Ouw Kun San.
"sampai beberapa kali seranganku mengalami angin terus."
"Cek cek cek,"
Tiba-tiba terdengar suar seseorang, Ouw toako apa-apaan menghadapi anak kecilsaja samapai mendeprok ?
Seiring dengan habisnya suara berkelebat seseorang dihadapan mereka, dengan pakaian keemas-emasan yang mentereng.
Pendatang itu usianya lebih kurang tiga puluh tahun, tubuhnya ramping, wajahnya putih karena bedak yang tebal.
Bibirnya memakai gincu.
Jalannya berlenggang lenggok penuh gaya.
Bukan lelaki bukan perempuan.
Dia banci !.
Kedua orang tua memandang penuh jijik.
"Hm, kiranya Oey Tin Hong, sudah lama kita tak bertemu !"
Kata Ouw Kun San dengan nada dingin. Tanpa memperdulikan sikap orang yang dingin, dengan bergoyang-goyang ia menghampiri dan berkata .
"Saya mendengar Jie wie Toako turun gunung lagi untuk mencari buku Keng thian cit su, betulkah ?"
"Kalau benar bagaimana ? Dan jika tidak bagaimana ?"
Kata Kouw Kun San.
"Menurut berita buku itu muncul di Kim leng dan banyak yang kesana,"
Kata Oey Tin Hong, kenapa Jie wie Toako tidak kesana ?"
"Sebaiknya jangan ikut campur dalam urusan kami !"
"Cek, cek, cek, marah dek,"
Kata Oey Tin Hong dengan lagak bancinya.
"Maksudku baik ! Buku itu merupakan pusaka Rimba Persilatan, jika sampai kehabisan sayang sekali !"
"Eh bencong, tahubegitu kenapa engkau sendiri tidak ke Kim leng ?"
Kata Sing Thian Beng.
"Dan apa gunanya ngeberengsek disini ?"
"Oh Sing Toako jangan gitu dong, saya sih bo hok ki, mana bisa dapat buku itu !"
Jawab Oey Tin Hong.
"Ya ketemu disinipun, kebetulan saja sedang lewat. Dan heran melihat Jie wie berkelahi dengan seorang bocah."
"Apa herannya ?"
Bentak Ouw Kun San.
"Sorry ya,"
Kata Oey Tin Hong.
"Apakah perlu bantuanku ?"
"Hm, kutahu engkau menaruh hati pada bocah itu ! Ha ha ha , kata Ouw Kun San sampai tergelak-gelak. Tgapi ketahuilah siapa bocah ini ?"
"Ketahuilah bocah ini adalah penulis buku Keng thian cit su yang diterbitkan di Kim leng namanya In Tiong Giok !"
"Oh, tak sangka kecil-kecil bisa menggemparkan rimba hijau, jika Jie wie tidak menerangkan, bagaimanapun saya tak percaya dia ini In Tiong Giok adanya !"
"Bagaimana ketarikkah ?"
Dengan malu-malu Oey Tin Hong menutup mulutnya, tersenyum sambil melengos.
"Saya sih tidak berani mengatakan apa-apa, asal Jie wie mengijinkan beres deh !"
"Hm, dari tadi saja engkau bilang !"
Kata Ouw Kun San "tapi jangan anggap enak saja, engkau belum tentu menang melawan bocah itu!"
Dengan menggoyang-goyangkan kipas Oey Tin Hong tersenyum dikulum.
"Ah masa ia lihay !"
Kipasnya dirapatkan dan diselipkan kepinggang, lalu dihampirinya In Tiong Giok.
Begitu hampir dekat, baju luarnya dibuka, dan terlihat celana dalamnya yang merah.
Berbareng dengan ini, bertebaran wewangian keras memenuhi udara.
Sing Thian Beng menyaksikan ini, menggoyangkan mulut pada saaudaranya, dan terus melompat jauh kebelakang dengan siap siaga.
In Tiong Giok tidak mengenal pada Oey Tin Hong, tapi kelakuannya itu mendatangkan kesan buruk baginya.
Maka itu melihat bencong ini menghampirinya, iapun sudah siap sedia dengan batang kayunya.
Tiba-tiba saja Oey Tin Hong mencabut lagi kipasnya, dan terus digoyang-goyangkan.
"Hei Kongcu betulkah engkau bernama In Tiong Giok ?"
"Hm, mau berkelahi boleh, jangan banyak bicara!"
Jawab Tiong Giok.
"Hi hi hi, galak amat,"
Kata Oey Tin Hong.
"baru kenal mau berkelahi ?"
"Jangan banyak bicara mari..."
Belum seelesai suaranya diucapkan, ia merasakan sesuatu hawa buruk.
Cepat ia gunakan hawa sejatinya untuk mengusir hawa buruk.
Usahanya ini mendatangkan perasaan tidak enak dan sebal, matanya berkunang-kunang dan kabur.
Tak alang kepalang kagetnya, cepat-cepat ia menahan napas dan mundur kebelakang.
Oey Tin Hong membarengi menerjang kedepan, dan menotok dengan kipasnya.
"Kalau sudah merasakan Dupa Lupa Daratan milikku, engkau jangan harap bisa melarikan diri lagi !"
Sungguhpun perasaannya mabuk, Tiong Giok masih bisa bertahan juga, serangan musuh diengoskan dan terus membarengi dengan sabetan mendadak.
"Buk!"
Terdengar sekali, kayunya itu tepat mengenai pundak musuh.
Sayang tenaga dalamnya sudah buyar, biarpun tepat, tidak mendatangkan hasil yang memuaskan.
Oey Tin Hong hanya terhuyung-huyung beberapa langkah.
Berbareng dengan ini Tiong Giok mengebut dengan langkah seribu.
Sang Banci jadi tertegun, dan baru mengejar setelah musuhnya kabur.
Tapi perbuatannya ini dirintangi Kui coa jie sau.
"Lo jie kejar bocah itu, dan serahkan banci ini kepadaku !"
Sing Thian Beng, terus saja melancarkan pukulan pada Oey Tin Hong sedangkan Ouw Kun San memburu pada Tiong Giok.
"Apa artinya kelakuanmu ini ?"
Tanya Oey Tin Hong.
"Bocah itu adalah musuhku, siapapun tidak boleh campur tangan !"
"Hm, ini namanya pinjam golok membunuh orang !"
Kata Oey Tin Hong.
"Benar!"
Jawab Sing Thian Beng dengan bangga.
Oey Tin Hong membungkuk dan menunjang tubuhnya dengan tangan, lalu berputar-putar seperti ular, dan melancarkan tendangan-tendangan berangkai yang bertubi-tubi.
Orang jangkung seperti Sing Thian Beng ini bagian bawahnya adalah yang terlemah.
Maka itu dengan kaget ia merapung keatas, sedangkan musuhnya menggunakan kesempatan ini molos dari selangkangannya dan terus mencelat kedepan.
Kipasnya tampak bergerak, mengeluarkan sinar biru yang menyilaukan mata.
Menghantam pada Ouw Kun San.
Sing Thian Beng tahu itulah senjata rahasia, maka ia berteriak nyaring memperingati saudaranya.
"Lo jie awas senjata gelap !"
Saat ini Ouw Kun San sedang mengejar In Tiong Giok dan hampir berhasil, biarpun mendengar peringatan dari saudaranya, untuk melepaskan buruan merasa sayang, ia hanya menggesekan kakinya, sedangkan lengan kirinya tetap menjambrret kepundak Tiong Giok, lengan kanannya mengebas kebelakang.
Tak kira sebelum kibasasnnya dilancarkan, pundak kanannya dirasakan seperti digigit semut dan sakitnya meliputi seluruh punggungnya.
Membuatnya menggigil dan lemaas.
In Tiong Giok tidak mau membuang kesempatan, dengan sekeras-kerasnya itu melancarkan Hiat cie leng.
Kasihan Ouw Kun San yang kate itu segera terhuyung dan ambruk.
Ia sendiripun cepat-cepat lari kedalam hutan.
Agaknya obat mabuk bekerja hebat, dengan terhuyung-huyung, ia berlari terus.
Samar-samar ia mendengar suara saling bentak antara Oey Tin Hong dan Sing Thian Beng akhirnya apapun ia tak mendengar lagi.
Karena kakinya memijak Lumpur dan terus roboh tak sadarkan diri....entah sudah berapa lama waktu berlalu.
Waktu ia siuman dari mabuknya mendapatkan dirinya berada disebuah kolam yang cetek.
Sekujur badannya penuh Lumpur.
Ia bangun cepat, dan terus menuju kesebuah sungai yang tak seberapa jauhnya dari kolam.
Entah bagaimana rasa mabuk dan mual sudah hilang sendiri, pikirannya terasa terang, entah apa yang menyebabkan punahnya mabuk itu.
Ia turun kesungai mencuci tangan, lalu membuka bajunya, dicuci sebersihnya.
Setelah diperas pakaian itu dibeber diatas sebuah batu besar.
Ia sendiri duduk dipinggir batu dengan pakaian dalam, menantikan pakaiannya kering tertiup angin malam.
Ia termenung-menung dimalam sunyi sambil mengawasi bintang-bintang dilangit.
Saat inilah telinganya mendengar suara tertawa halus.
Tak alang kepalang kagetnya, cepat disambarnya celana dalam, serta uang dan kumala ungu lalu dilibatkan kepinggangnya, pakaiannya segera diraup dan terus ia bersembunyi kedalam air sungai.
Suara tertawa semakin lama semakin dekat, empat gadis manis, menuju kearah sungai dimana Tiong Giok bersembunyi.
Gadis-gadis ini masih muda-muda dan berpakaian seba hijau.
"Bagaimana ? Aku bilang disini terdapat sebuah sungai masih tidak percaya,"
Kata salah seorang yang paling besar."
"air sungai ini bening sekali, dingin apa tidak ?"
Kata yang lain lagi. Dan terus berjongkok memegang air.
"Bagaimana ? Dinginkah ?"
Tanya yang disampingnya.
"Sejuk!"
"Hayo kita mandi !"
Kata yang paling besar dan terus mereka membuka baju.
"Eh, bagaimana kalau dilihat orang ?"
Tanya yang paling kecil.
"Tak usah takut, malam -malam mana ada orang!"
Kata yang besar.
"Sesudah mandi kit panggil Tutan, biar dia mandi juga !"
Mereka berkecimpung diair, sedangkan bulan menerangi keadaan.
Begitu romantis dan tidak ubahnya seperti jaka tarub jumpai tujuh bidadari.
Tiong Giok menahan napas menyaksikan keadaan ini.
Ia mencoba meram, tapi mata itu melek lagi...melek lagi.
Ia berdoa agar gadis-gadis itu cepat-cepat berlalu !.
Sambil bergurau gadis-gadis itu mandi dengan riangnya.
"Eh kita jangan enak sendiri, Tutan mungkin kesal menantikan kita, mari kita pulang !"
Kata yang besaran.
"Sebentar lagi dah,"
Jawab yang lain.
"Berapa hari ini kita mengikuti Siocia keberbagai tempat, capai lelah belum hilang, esok sudah berangkat lagi. Maka apalah salahnya kita bermainlamaan disini."
"Ya akupun sama saja dengan kalian."
Jawab yang besaran.
"Tapi sangat mengherankan berbagai tempat dipergi, orang yang dicari tidak ada jejaknnya, mungkin sudah mati."
"Ya, kebanyakan sudah mati."
Kata yang lain.
"kalau tidak, kecuali terbuat dari besi !"
"Kupikir juga begitu, kecuali ia sudah mati !"
"Ah mau dikata apa, sebagai budak, kita harus puas menerima keadaan begini,"
Kata yang lain.
"Kalau aku jadi Siocia tak mau berbuat sebodoh itu ! Melepaskan kebahagiaan untuk mencari sengsara...Ah, celaka ada yang datang, mari kita pergi !"
Keempat perempuan itu dulu mendahului berlompat keluar, lari kearah batu dimana mereka menaruh baju.
Tiong Giok membuka mata memandang sekeliling, dan benar saja melihat seorang sedang longak longok keempat penjuru.
Dibawah penerangan rembulan tegas terlihat bahwa orang itu bukan lain dari Oey Tin Hong adanya.
Keempat perempuan itu baru sempat memakai pakaian bawah saja, sedangkan pakaian lainnya masih dipegangi.
Mereka tidak berkutik diam dibalik batu datang kesitu, sehingga tidak menyaksikan pemandangan indah disungai itu.
Tiba-tiba dari balik hutan berkelebat dua bayangan menghampiri pada Oey Tin Hong.
Mereka ini adalah Hek pek siang kuay adanya.
"Eh, bencong mana orang itu ?"
Kata Na Beng Sie.
"Orang she In itu sudah kena dupa mabuk biar bagaimana tidak bisa pergi jauh. Paling-paling ia bersembunyi disekitar sini !"
"Nyatanya bocah itu tidak ada, biar sudah dicari antero hutan ini ! Hmm, engkau jangan memandang kami seempuk Kui coa jie sau itu !"
Bentak Na Beng Sie.
"Tidak ! Jangan salah paham, mana berani saya menipu Lo Cianpwee !"
"Pokoknya jika bocah itu tidak ketemu, batok kepalamu pecah tujuh !"
Ancam Lauw Siu Kim.
"Nyonya jangan marah, saya pasti bisa menemukan bocah ini..."
"Ya...ya...ya"
Jawab Oey Tin Hong.
"barusan saja mendengar suara orang didekat sini, tapi heran sekarang tidak terdengar lagi !"
"Bocah itu sendirian saja, mau ngomong dengan siapa ?"
Bentak Na Beng Sie.
"Sayapun heran, mungkinkah ada lagi jago-jago Kang Ouw lainnya yang turut mengejar-ngejarnya ?"
Na Beng Sie kaget juga mendengar ini, dengan berbisik ia berkata pada isterinya.
"Siu Kim, berlaku waspadalah !"
"Ha, nyalimu kemana ? Biar siapapun tak perlu kita takuti !"
Jawab istrinya dengan suara keras-keras.
"Aku bukan takut hanya memperingati saja padamu ! Bagaimana kalu seperti tempo hari kita berkelahi dengan Liok Lokoay ? Hanya bercapai lelah tanpa memperoleh hasil."
"Jangan terlalu percaya omongannya banci itu, mungkin iapun mengandung maksud buruk !"
"Ah...mungkin ia tak berani !"
"Lo Cianpwee coba lihat ! Dikolam ini tertera jejak kaki orang,"
Teriak Oey Tin Hong. Siang koay dengan cepat sampai ditempat yang ditunjuk.
"Ah benar, telapak ini masih baru, pasti telapak kaki bocah itu !"
Kata Na Beng Sie.
"Bocah itu pasti kecebur disini, sehingga obat mabukku punah terkena air, dan pantas dicari kemana-mana tidak ketemu..."
"Dengan punahnya obat mabuk itu, pasti ia telah pergi jauh !"
Kata Na Beng Sie.
"Tidak, coba lihat jejak kaki ini !"
Kata Oey Tin Hong.
"Sesudah kecebur, pasti badannya berlumpur, untuk ini ia harus membersihkan disungai ini. Nah lihatlah, bukankah jejak kaki ini menuju kesungai itu ?"
"Ya, kita harus memeriksa kesungai itu !"
Kata Na Beng Sie, yang terus berjalan duluan. Dan benar saja mereka menemukan Lumpur-lumpur kotor didekat sungai itu.
"Celaka! Sekali ini habislah riwayatku,"
Piker Tiong Giok sambil mengawasi terus gerak-gerik musuhnya.
Supaya dapat melihat terlebih luas, Na Beng Sie melompat keatas batu dipinggir sungai.
Tak kira begitu ia hinggap diatas batu itu, kakinya seperti memijak sarang tikus.
"Auw ! Auw ! terdengar seruan kaget dari bawah kakinya dan disusul empat penjuru sambil meneriakkan tajam. Keruan saja Na Beng Sie menjadi kaget, tubuhnya mencelat gesit. Ia terlalu tergesa-gesa, dan waktu turun kebumi hampir-hampir bertubrukan dengan salah satu tikus putih,"
Dan terdengar lagi jeritan tajam saat itu juga. Na Beng Sie terhuyung-huyung menghindari diri, akhirnya terlebih parah lagi, karena lengannya yang terpentang, membentur semacam benda lunak nan halus.
"Auw mau mampus ! Mau apa kau ?"
Perempuan itu menjerit sambil menyumpah-nyumpah.
Na Beng Sie baru sadar bahwa yang terpegangnya tadi adalah benda larangan, dengankaget ia menarik lengannya.
Perempuan itu dengan menutupi tubuhnya lari terbirit-birit.
Tahu-tahu Oey Tin Hong menghadangnya sambil membentak.
"Diam, Siapa kalian ini ? Dan apa-apaan sembunyi disini ?"
"Kau sendiri apa-apaan mengintip seorang mandi ? Tak tahu malu !"
Bentak perempuan itu dengan gusar.
"Nona jangan marah, saya hanya bertanya waktu mandi tadi, adakah melihat seorang muda disungai itu ?"
"Cis!"
Pereempuan itu meludah dan tepat mengenai muka Oey Tin Hong.
"Bangsat tak tahu malu! Kamu anggap kami ini sebagai apa ? Kami tidak melihat pemuda lain kecuali kamu si bangsat gila ! Minggir !"
Oey Tin Hong mengusap ludah dimukanya, kegusarannya tak alang kepalang.
"Hm,kalian budaj tak tahu mati, tidak tahu siapa saya ini !"
Kipasnya segera dibuka dan mau turun tangan.
"Hm, tiba-tiba Lauw Siu Kim mendengus dengan dingin.
"Oey Tin Hong, engkau sudah bosan hidup ?"
"Hujin budak ini..."
Kata Oey Tin Hong dengan kaget.
"Phui!"
Lauw Siu Kim mambuang ludah dengan gusar; Nyalimu besar betul ! Di depanku berani mempermainkan perempuan dan memaki mereka budak !"
Oey Tin Hong cukup mengenal tabiat perempuan ini, biarpun perasaan hatinya gusar,tak berani membantahnya, ia diam sambil menundukkan kepala. Ya maaf bahwa saya salah bicara !"
Perempuan tadi mendapat kesempatan lari dan tidak kelihatan baying-bayangannya lagi. Sedangkan Lauw Siu Kim masih gusar, dan kedongkolannya ini ditimpakan kepada suaminya.
"Engkau tua bangka tidak tahu diri ! Tidak boleh melihat perempuan muda ! Engkau kira aku ini sebagai apamu ?"
"Siu Kim,"
Kata Na Beng Sie sambil cengar cengir jengah.
"Aku mana memikir bisa sampai ditempat perempuan-perempuan itu mandi !"
"Jika bakalan tahu begitu, mungkin engkau akan girang terlebih dahulu bukan ?"
Na Beng Sie mengangkat-angkat pundak tak berani menjawab.
"Hm, bagaimana perasaanmu ? Menyesal mengajak aku ?"
Bentak Lauw Siu Kim.
"Sudahlah! Sudahlah ! Anggap aku yang salah,"
Kata Na Beng Sie sambil menarik napas panjang.
"Untuk apa menghela napas ? Menyesal tidak bisa melihat perempuan-perempuan itu terlebih lama ?"
Ejek Lauw Siu Kim. Na Beng Sie tidak bisa menjawab, ia hanya mendongkol, untuk menghilangkan gusar hatinya, Oey Tin Hong dijadikan bulan-bulanan.
"Hm, bencong sial ! Sudah tahu ada perempuan mandi, kenapa engkau membawa kami kesini ? Enak ya melihatku didamprat bini ?"
"Saya tidak bermaksud begitu,"
Kata Oey Tin Hong.
"jika dipikir perempuan-perempuan itu dimalam hari mandi disini, sangat mencurigakan sekali ! Tambahan merekapun memiliki ilmu silat yang cukup tinggi, menyesal tidak bisa kucapai mereka !"
"Kenapa tidak dari tadi engkau terangkan begitu ?"
Kata Na Beng Sie.
"Saya..."
Ia melirik pada Lauw Siu Kim, kata-kata yang sudah berada ditepian bibirnya ditelan kembali dengan terpaksa. Melihat ini membuat Na Beng Sie semakin gusar.
"Semua ini kerjaanmu bukan ? Pokoknya jika bocah itu tidak kau temukan, berarti celaka bagimu ! Lekas cari !"
Ketiga orang itu perlahan-lahan meninggalkan tepian sungai, makin lama makin menjauh.
Tak selang lama cuacapun menjadi terang.
In Tiong Giok menarik napas lega, dan cepat bangun dari sungai sambil mengenakan pakaiannya yang basah.
Dengan mengambil arah yang berlawanan, ia berlari meninggalkan tempat itu.
Waktu matahari terang benderang ia telah tiba disebuah kota kecil.
Sebagaikan anak burung yang masih ketakutan, segan untuknya masuk kedalam kota, untuk menangsel perutnya yang lapar, ia mampir disebuah warung nasi dipinggiran kota, setelah kenyang dan membeli beberapa kue kering, cepat-cepat ia melanjutkan perjalanan.
Tujuannya adalah rumah Lim Giok Bwee di Pek liong san, untuk ini ia selalu menempuh perjalanan gunung yang sepi.
Dengan begini tak mudah dirinya diketemukan orang, dan bilamana ketemu musuh dapat meloloskan diri kedalam hutan.
Disamping keuntungan itu, ada pula kesulitan baginya, yakni sukar mencari makanan.
Hari pertama ia menempuh perjalanan sembilan puluh lie, sejauh ini tidak ada perumahan-perumahan penduduk yang ditemuinya, membuatnya menahan lapar sepanjang jalan.
Waktu hari kedua, sepanjang perjalanan tidak juga dijumpai rumah orang, laparnya sudah sampai dipuncak.
Ia mengaso dibawah pohon yang rindang.
Tak jauh dari situ ia melihat sebuah perkebunan jeruk, sedang berbuah lebat sekali.
Dengan cepat ia menghampiri jeruk-jeruk itu masih hijau selum manis bener.
Dalam keadaan lapar ia tidak perduli matang atau tidak, dipetiknya bebrrapa buah lalu dimakan dengan lahap.
Jeruk itu amat masam tidak saja menghilangkan lapar, bahkan membuat perutnya semakin perih dan lapar.
Ia menekan perut sambil mengawasi buah jeruk yang hijauitu, saat inilah hidungnya menghirup hawa sedap !
Dengan tergesa-gesa iapun mencari dari mana datangnya hawa itu.
Tak seberapa jauh dari tempat ia memetik jeruk terlihat sebuah gubuk, dari sinilah terlihat asap membumbung tinggi dan menebarkan wewangian yang sedap tadi.
Gubuk itu terbuka pintunya, yerlihat seorang gadis yang sedang menundukkan kepala dan mengipas-ngipas api, memanggang ayam.
Dengan cepat Tiong Giok menghampiri.
"Siapa disitu ?"
Tegur sigadis sambil menoleh.
In Tiong Giok menjadi kaget, bukan karena kedatangannya diketahui sigadis, melainkan wajah gadis itu luar biasa sekali.
Kiranya separuh dari wajah gadis itu amat cantik, sebaiknya yang sebelah buruknya bukan b uatan.
Jadilah antara cantik dan buruk itu pada datu wajah.
Waktu Tiong Giok melihat adalah bagian yang cantik, dan waktu gadis itu menoleh memperlihatkan wajahnya yang buruk hampir dia sawan dibuatnya.
Gadis itu memandang tajam kepada Tiong Giok, yang gugup tak bisa menjawab.
Entah kenapa ia menjadi gusar, dilempar kipas dan diambil toya, dengan cepat ia melompat keluar, nyatanya ia pandai bersilat.
"Karena nona kulihat sendirian saja maka membuatnku gugup bertanya jawab !"
"Apa keperluanmu kesini ?"
"Terus terang perutku lapar! Satu hari satu malam belum makan, bisakah nona memberi pertolongan ?"
"Sayang kau datang bukan pada waktunya, ayam panggang itu khusus ayah !"
"Tolonglah aku lapar sekali....."
"Tak bisa ! Ayahku tak dirumah, andaikata ia ada tak mungkin bisa menolongmu !"
"Aku tidak ingin ayam itu, pokoknya asal makan, sudah cukup !"
"Tak bisa !"
Kata gadis itu.
"Kalau ayahku mengetahui, aku bisa didampratnya."
"Aku lapar sekali..."
"Engkau harus tahu, ayahku bertabiat kasar, jika ia pulang melihatmu kukuatir..."
"Aku tak mau menyusahkanmu, asal diberi makan, aku lantas berlalu !"
"Parasmu yang kelaparan, memang harus dikasihani, baiklah kuberikan sedikit makanan, asal kau cepat-cepat pergi !"
Kata gadis itu dan terus menggapaikan tangan, mengajak Tiong Giok masuk.
Didalam rumah yang sederhana itu, hanya terdapat sebuah meja dan beberapa kursi, perabotannya kurang sekali.
Didinding terlihat sebilah golok besar, gagangnya mengkilap, karena terbuat dari emas.
Keadaan ini mendatangkan keheranan bagi pemuda kita, ia tahu kehidupan penghuni rumah ini amat miskin, tapi goloknya itu merupakan benda yang tidak ternilai harganya.
Mungkinkah ayah beranak ini merupakan jago-jagonya Kang Ouw yang mengasingkan diri ?
Tengah ia berpikir, sigadis sudah keluar dari dapur, membawakan kuah ayam dan kueh kering.
"Lekaslah makan dan cepat pergi !"
Desak sigadis.
Sambil menghaturkan terima kasih Tiong Giok menerima makanan itu dan terus memakannya dengan lahap sekali.
Sigadis memandang si pemuda kita itu penuh dengan rasa kasihan.
IA masuk lagi kedapur menambah kuah ayam dan sedikit makanan.
"Kulihat engkau lapar sekali, ini ada sedikit tambahnya !"
"Terima kasih atas kebaikan nona,"
Kata Tiong Giok.
"tapi makanan ini untuk ayahmu, bagaimana kalau tahu, aku kuatir."
"Engkau ini aneh sekali, tadi meminta-minta sekarang timbul rasa kuatir, apa maksudmu ?"
Kata gadis sambil tersenyum.
"Semua manusia bisa merasa lapar, kenapa engkau merasa sungkan ?"
Tiong Giok tersenyum dan terus menghampiri makanan yang diberikan padanya, setelah itu ia mengeluarkan sebutir mutiara dan memberikan pada sigadis.
"Atas pertolonganmu ini seumur hidupku tak kulupakan, ini sekedar tanda terima kasihku !"
"Hm, dengan ini engkau membayar kuah ayam dan kueh kering itu ?"
Kata sigadis sambil melirik sinis.
"Aku tidak bermaksud demikian ! Pemberianku sekedar tanda terima kasihku ! terimalah !"
"Oh kutahu, engkau sengaja memberikan mutiara ini agar ayahku tahu engkau datang, betulkah begitu ?"
Tiong Giok tak berdaya, wajahnya menjadi merah dan cepat-cepat menyimpan kembali mutiaranya kedalam saku.
"Ah, maafkan nona dapatkah kutahu namamu ? Agar kuingat-ingat !"
"Hm, maksudmu dengan mengenal namaku engkau mau datang lagi kesini ?"
"Pertemuan ini adalah kebetulan, entah tahun kapan kita bisa bertemu lagi ."
"Hm, artinya belum tentu bisa ketemu lagi, untuk apa mengetahui namaku bukan ?"
"Andaikata tidak bertemu lagi, budi yang kuterima ini tak bisa kulupakan. Nah terimalah terima kasihku dan permisi !"
Kata Tiong Giok yang terus merangkapkan tangannya memberi hormat sambil manggut-manggut dan terus keluar dari rumah gubuk itu.
Baru saja ia keluar rumah, gadis itu dengan kecepatan seperti kilat menarik baju Tiong Giok.
"sabar sebentar !"
Serunya perlahan.
"Engkau tak boleh pergi dulu, ayahku sudah pulang!"
Kata si gadis dengan wajah khawatir. Tiong Giok memasang kuping, dan benar saja ia mendengar suara tertawa dari perkebunan jeruk, dengan mengerutkan alis dia memandang pada si gadis sambil menghibur .
"Nona tak usah kuatir, jika yahmu bertanya akan kuakui semua, bahwa makanan ini aku yang memakannya !"
"Engkau tidak mengetahui tabiat ayahku sangat kasar sekali !"
Kata si gadis.
"Kebun jeruk ini merupakan daerah terlarang bagi orang luar, engkau bukan saja masuk ke kebun jeruk bahkan masuk kedalam gubuk ini, jika diketahuinya, hanya kematian bagimu !"
"Kenapa ayahmu begitu tidak tahu aturan ?"
"Kini bukan saatnya mengadu aturan, kata sigadis, kuharap engkau bersembunyi dulu, baru berlalu !"
Suara dari kebun jeruk sudah semakin dekat, yang datang bukan hanya seorang tetapi banyakan.
Sigadis dengan gugup menarik lengan Tiong Giok kedalam rumah.
Gubuk itu hanya mempunyai dua kamar, tidak ada tempat bersembunyi lainnya.
Setelah mengerutkan kening sejenak, gadis itu menarik si pemuda kedalam kamarnya dan mendorong keatas pembaringan, lalu menurunkan kelambu.
"Karena terpaksa kulakukan semua ini, harap tenanglah diam disini"
Ia tidak melanjutkan suaranya karena dari luar sudah terdengar suara paraunya memanggilnya .
"Ciu kauw ! Ciu kauw !"
"Ya Tia !"
Sahut Ciu kauw dan terus keluar kamar sambil menutup pintunya.
Sesaat didepan pintu rumah terlihat banyak orang, yang paling depan adalah seorang tua yang berusia enam puluhan, dibelakangnya terlihat dua orang tua berpakaian serba putih disusul seorang perempuan cantik yang genit.
Paling akhir adalah lima laki-laki tinggi besar berbaju merah.
"Tia tia baru pulang ?"
Tanya Ciu kouw.
"Hei budak mari kuperkenalkan dengan beberapa Lo Cianpwee ini !"
Kata orang tua yang berjalan paling depan. Perempuan cantik yang genit itu menghampiri pada Ciu Kouw.
"Cek, cek, cek, Cie Toako inikah puterimu itu ?"
"Ya benar, Su kouw coba kau lihat sudah besar bukan ?"
"Ah, benar saja !"
Kata perempuan itu yang bukan lain dari pada Hoo Su Kouw adanya.
Lima belas tahun tidak melihatnya, sudah sebesar ini.
Jika ketemu dijalanan pasti aku tidak mengenalnya lagi.
Waktu rasanya cepat berlalu yang kecil telah menjadi besar, dan kita telah menjadi tua."
"Ah, siapa bilang kau sudah tua ? Kulihat Su Kouw masih muda seperti dulu, kata salah seorang laki-laki tinggi besar. Membuat yang mendengar bergelak-gelak.
"Ah, engkau bisa saja, kata ? Hoo S Kouw yang terus memandang pada Ciu Kouw.
"Masih kenalkah denganku ?"
"Ciu kouw menggelengkan kepala, sudah lupa !"
"Ah, masakan sampai bibi Hoo ini kau lupakan ?"
Kata siorang tua she Cie, atau ayahnya Ciu kouw.
"Hoo A-ie,"
Kata Ciu kouw.
"Ah dasar anak pintar,"
Kata Hoo Su Kouw "lima belas tahun yang lalu engkau baru sebesar ini !"
Kini Ciu kouw berusia delapan belas tahun, berbadan lebih tinggi dari Hoo Su Kouw sendiri, kini masih dianggap sebagai bocah cilik terus, mendatangkan rasa pembangkang yang tidak sedap pada dirinya.
Dengan mengerutkan alis ia membuang muka.
Orang tua she Cie menunjuk pada dua orang tua berbaju putih.
"Ini adalah Kui coa jie sau dan yang lima ini terkenal sebagai Lo sie ngo houw (lima macan keluarga Lo) dari Toa pa san semuanya kawan baikku !"
Ciu kouw menghaturkan hormat pada merekas satu persatu.
Seangkan Tiong Giok mendengari ucapan mereka dari persembunyiannya dengan hati kebat-kebit.
Semua yang berada diluar itu adalah musuhnya, untung ia bisa bersembunyi, jika tidak pasti lebih banyak celakanya daari selamatnya.
Ia tidak mengetahui apa hubungannya antara tuan rumah dengan Hoo Su Kouw ?
Tapi dari percakapan mereka dapat diketahui mereka sebagai kawan lama, berarti tuan rumah itupun sebagai orang jahat juga.
Kini ia berada didalam rumah itu, tak ubahnya seperti berada didalam mulut macan !
Setelah memperkenalkan semua kawannya pada anaknya, orang she Cie itu masuk kedalam rumah, tiba-tiba saja wajahnya menjadi berubah.
"Siapa yang datang kerumah ?"
Tegurnya pada Ciu kouw.
"Tidak ada yang datang !"
"Siapa yang habis makan ini ?"
"Oh, ini bekasku makan, dan belum sempat dibenahi !"
Kata Ciu kouw.
"Makin besar makin malas, lekas beresi,"
Kata Cie Lo tua (orang tua she Cie).
"Dan potong lagi beberapa ekor ayam serta hangati arak, sehabis makan kami masih mempunyai urusan penting untuk dikerjakan !"
Ciu kouw segera keluar rumah sedangkan tamu-tamunya duduk mengelilingi tuan rumah. Mengadakan perundingan penting.
"Cie Toako tak perlu repot-repot menyediakan ini itu, yang penting kita harus memburu waktu untuk menciduk budak she In itu,"
Kata Ouw Kun San.
"Tak usah kuatir,"
Kata Cie Lo toa.
"asal saja dia jalan kemari, passti takkan lolos !"
"Waktu di Ko ho pou jalan Tian lo te bong sudah ditebar tak urung masih lolos juga !"
Kata Hoo Su Kouw.
"Waktu itu jika Ciauw Thian Siang berbuat curang, biar bersayap In Tiong Giok takkan lolos !"
Kata Lo Tian Wie salah seorang Lo sie ngo houw yang paling tua. Cie Lo toa menganggukkan kepala dan berkata .
"Ciau Thian Siang adalah bajak lama yang sejalan dengan kalian, kenapa bisa membantu pemuda itu mencetak buku Keng thian cit su di kota Kim leng, benar-benar membuatku tak habis mengerti !"
"Jika diceritakan urusan menjadi panjang, yang benar nasib kita belum beruntung,"
Kata Hoo Su Kouw.
"Memang kenapa ?"
Tanya Cie Lo toa.
"Sungguhpun Ciau Thian Siang dapat dikatakan menghianati kami, dan eprbuatannya itu diluar dugaan. Tapi dasar nasib tidak beruntung mau dikata apa ? Kami sempat menyusul kekota kim leng untuk mencegah buku itu dicetak, tapi usaha kami itu mendapat halangan."
"Siapa yang menghalangi ?"
Tanya Cie Lo toa tidak sabaran.
"Sampai kini siapa orang itu belum dapat kejelasan yang pasti,"
Kata Hoo Su Kouw.
"pokoknya siapapun tidak akan menyangka seorang pembantu toko yang sederhana, berkelahi lihay sekali, hampir-hampir aku dan persaudaraan Lo ini menderita kerugian besar."
"Yang bisa mengalahkan kalian itu tentu bukan manusia sembarangan, masakan sampai namanya tidak kalian ketahui ?"
"Waktu terjadi perkelahian budak she In itu mungkin berada didalam percetakan itu, hal ini terbukti keesokan harinya Keng thian cit su tersebar luas dikota Kim leng ! Waktu kami mendatangi lagi percetakan itu untuk mencari tahu siapa pemiliknya, nyatanya sudah tutup pintu, sekalian penghuninya sudah pindah semua !"
"Ah kalian nyatanya masih payah betul, masakan dengan tenaga yang begini banyak tidak bisa mengalahkan pemilik percetakan itu ?"
"Hal ini masih tidak seberapa mendongkolkan perut, yang membuat kami mangkal dibuku yang dicetak itu ditulis kenangan untuk Ciau Thian Siang ! Dan banyak kawan-kawan lain setelah mendapatkan buku itu pergi lagi, sedangkan kami biarpun mendapatkan buku itu, tetap akan mencari budak she In itu, untuk memaksanya membeerikan penjelasan bagian-bagian penting dari buku itu, dengan begitu kedongkolan kami baru mereda !"
"Apakah buku yang dicetak itu isinya tidak lengkap ?"
Tanya Ouw Kun San.
"Sukar diterangkan....tapi kita dapat menduga bahwa budak itu pasti akan menguranginya bagian-bagian yang penting dari pelajaran itu, baru menyebar luaskan pada halayak ramai. Maka itu jika berhasil menangkapnya, besar faedahnya untuk kita,"
Kata Hoo Su Kouw. Siang Thian Beng yang bersifat pendiam menganggukkan kepala.
"Memang benar bahwa bocah itu agaknya telah menyelami ilmu Keng thian cit su !"
"Bagaimana engkau tahu ?"
Tanya Cie Lo toa.
"Tiga hari yang lalu kami menemui ditepi sungai..."
Kata Ouw Kun San.
"Kenapa tidak ditangkap saat itu juga ?"
Tanya Cie Lo toa.
"Justru itu waktu kami turun tangan menangkapnya, ia melawan dengan menggunakan ilmu Keng thian cit su, ilmu itu memang luar biasa sekali, tapi ia belum mahir menggunakannya. Dan masih ungkulan untuk menangkapnya...waktu usaha kami mau berhasil, datang Oey Tin Hong sibanci celaka itu menggerecok. Dan membuat usahaku gagal ! Kepaksa kuhadapi sibanci itu untuk mengajar adat, dasar nasibnya masih mujur dalam keadaan terdesak ia ditolong Hek pek siang yau ! "Ouw Kun San tidak menceritakan ia terluka dan hampir mati terkena serangan lawannya.
"Tapi sekarang keadaan lain,"
Kata Hoo Su Kouw, dengan adanya Cie Lo toa kita bisa bertambah kuat dan takperduli menakuti segala Hek pek siang yau. Cie Lo toa tergelak-gelak mendengar pujian itu dan berkata.
"Ya dengan kekuatan kita sekarang, aku Kui ciu kim to (lengan setan bergolok emas) bukan tekebur, segala Hek pek siang yau tidak kupandang sebelah mata, jika bertemu dengannya, ia baru tahu bahwa kui ciu kim to tidak boleh dipandang enteng."
"Ya memang sudah kutahu bahwa Cie Toako seorang kawan yang dapat diandalkan, tidak seperti Tong teng cit kiam dan Cau ouw sam seng tiga orang she Ciu itu setelah mendapat buku segera pulang kemasing-masing tempatnya, tak mau membantu kami lagi !"
Kata Hoo Su Kouw.
Sementara mereka berbicara ke barat ke timur, Ciu kouw telah siap dengan makanan yang diperlukan.
Dalam waktu singkat mereka telah selesai menangsel perut dan terus beristirahat sejenak, sebelum pergi Cie Lo toa mengambil goloknya dan menyoren dipinggang.
"Kami akan pergi keluar mencari seseorang, makanan malam sebaiknya engkau siapkan dari sekarang, jika ada seorang yang tidak dikenal datang kemari, tangkap padanya, nanti aku akan memeriksanya."
Pesan Cie tua pada anaknya. Ciu kouw mengangguk kepala.
"Andaikata orang yang harus ditangkap berkepandaian tinggi, engkau boleh bersiul panjang, aku bisa segera membantu !"
"Orang tiu adalah pelajar berusia sebaya denganmu putih bersih dan ganteng !"
Hoo Su Kouw menjelaskan.
"Mudah dikenal, engkaupun pasti kenal biarpun pertama kali melihatnya !"
"Perkataan A-ie ini seolah-olah memastikan bahwa pemuda itu akan datang kemari !"
"Eh siapa tahu kalau orang itu saat ini ada didalam rumah dan akan pergi keluar begitu kami berlalu ?"
Kata Hoo Su Kouw sambil memandang tajam.
Ciu kouw terkejut tak alang kepalang, perubahan parasnya terlihat tegas oleh Hoo Su Kouw, tapi perempuan ulung itu tidak mendesak terus, melainkan terkekeh-kekeh dan terus berlalu.
Setelah orang-orang itu pergi jauh Ciu kouw mengunci pintu dan terus memburu kekamarnya.
"Eh engkau she apa ? Apakah engkau yang sedang dicari-cari mereka ?"
Tanya Ciu kouw tergesa-gesa.
"Benar, orang yang sedang dicari mereka adalah aku, In Tiong Giok !"
Sebenarnya dia berniat membohong guna meloloskan diri, tapi entah kenapa terhsdap gadis ini ia tidak merasa takut, biarpun sudah jelas baginya, bahwa gadis ini adalah putrinya seorang jahat.
Ciu kouw tampak semakin gugup dan cemas mendapat jawaban sipemuda.
"Wah celaka, harus bagaimana sekarang..."
"Nona tak perlu kuatir, aku merasa berterima kasih atas pertolonganmu,"
Kata In Tiong Giok.
"Aku bisa meloloskann diri dari bahaya ini, dan kuharapkan nona tak perlu mencampuri urusanku, nanti bisa kerembet-rembet !"
Ciu kouw menggelengkan kepala.
"Engkau tidak bisa meloloskan diri, semua jalan keluar sudah ditangan mereka !"
"Diam sajapun tak ada gunanya, lebih baik mendengar perkataan Hoo Su Kouw barusan kemungkinan besar ia akan kembali lagi. Biar bagaimana aku tak bisa berdiam terus disini "
"Sebaiknya nantikan malam baru pergi !"
Kata Ciu kouw.
"Menantikan malam sama saja menantikan mereka kembali bukan ?"
"Selamanya ayahku tak pernah masuk kedalam kamarku !"
Kata Ciu kouw dengan tajammemandang pada sang pemuda, terus menarik napas panjang.
"Aku tak mengerti pemuda semacammu ini kenapa bisa berkecimpung didunia Kang Ouw ? dan kenapa mempunyai begitu banyak musuh ? Kudengar engkau menterjemahkan buku untuk Pok Thian Pang, dan terus mencetak buku itu di kota kim leng, serta menyebar luaskan dijalan-jalan raya, benarkah terjadi peristiwa semacam itu ?"
"Benar!"
Jawab In Tiong Giok.
"buku itu buku milik Pok Thian Pang, juga dalam keadaan kedesak kulakukan cara itu !"
"In Kongcu bukan kusesalkan tindakanmu tapi dunia Kang Ouw ini penuh bahaya, sembarang waktu engkau bisa terjerumus kejurang derita, saat itu ingin mencuci tanganpun tak bisa lagi."
Kata Ciu Kouw.
"Buku itu dan Pok Thian Pang sebenarnya tidak ada sangkut pautnya denganmu, kenapa engkau mau mencari-cari urusan merepotkan diri sendiri ?"
"Perkataanmu memang benar, tapi banyak kejadian disunia ini sukar diperkirakan kemampuan manusia, semua inii bukan kehendakku, tapi keadaan memaksaku harus mengalami kejadian-kejadian semacam ini !"
Kata In Tiong Giok seraya menuturkan dengan singkat apa yang dialaminya sejak keluar rumah sampai ia tiba dirumah Ciu kouw.
Ciu kouw mendengari penuturan itu dengan tekun, dan menarik napas panjang waktu Tiong Giok menyelesaikan ceritanya.
"Apa yang kau katakana memang benar, bahwa kejadian yang akan datang itu sukar diperkirakan sebelumnya tak ubahnya seperti ayahku dua tahun mengasingkan diri dari dunia Kang Ouw, tak kira hari ini di datangi lagi kawan-kawan lamanya, entah bagaimana kesudahannya belum dapat kubayangkan dari sekarang."
"Dulu ayahmu tentu seorang jago Kang Ouw yang kenamaan bukan ?"
"Sungguhpun tidak kenamaan tapi cukup terkenal,"
Kata Ciu kouw.
"Ayahku bernama Cie Peng Lam dengan gelar kui ciu kim to, tiga puluh tahun yang lalu merupakan pentolan dikalangan perbajakan."
Sungguhpun ia belum pernah mendengar nama itu, tapi ia bisa menduga bahwa Cie Peng Lam pasti memiliki ilmu sejajar dengan Kui coa jie sau dan lain-lain.
Sedangkan Ciu kouw biarpun putrid penjahat, tak ubahnya bagaikan teratai yang tumbuh dipencomberan, putih bersih tidak pernah keceretan Lumpur kotor.
"Ayahmu sebagai seorang kenamaan disunia Kang Ouw kenapa mau mengasingkan diri di tempat sunyi semacam ini selama dua tahun ?"
"Karena aku dan ibuku !"
"Dimana ibumu kini ?"
"Ia telah meninggal dunia tujuh belas tahun yang lalu !"
"Kalau begitu engkau masih kecil sudah ditinggal ibu ?"
"Ya diwaktu usiaku setahun tiga hari, ibuku wafat !"
"Disebabkan sakitkah ?"
"Bukan"
Jawab Ciu kouw.
"Ia mati dianiaya orang !"
"Oh, siapa penjahatnya itu ?"
"Penjahat itu bernama Ong Jiak Tong."
"Ong Jiak Tong ?"
In Tiong Giok menegasi sambil membuka mata lebar-lebar.
"Adakah kini orang itu berusia enam puluh lebih, anggota badannya kurus panjang dan tampaknya seperti cengcorang, jika bicara tersenyum sinis ?"
"Benar-benar dia kenalkah dengannya ?"
Kata Ciu kouw.
"bertahun-tahun ayahku mencarinya tidak ketemu, dimana engkau menemuinya ?"
"Tak heran ayahmu tidak menemuinya karena..."
In Tiong Giok tidak melanjutkan.
"Katakan dimana ia berada..."
Kata Ciu kouw. Aku bisa menerangkan dimana orang itu berada,"
Kata In Tiong Giok,"
Tapi kuminta engkau menceritakan dulu persoalannya terlebih dahulu baru kusebutkan tempatnya is berada."
"Ini kejadian yang sudah lama sekali,"
Kata Ciu kouw memulai penuturannya.
"Saat itu sampai kini selang tiga puluh tahun lamanya, ayahku masih muda belia, tapi dalam usia itu sudah banyak kejahatan diperbuatnya. Ia bersama-sama Kui coa jie sau, Cau ouw sam seng, Siang kiang jie to bersama-sama terkenal sebagai Kang lam cit sat (tujuh manusia buas dari selatan) yang terkenal kejam dan buas dalam dunia perampokan."
"Suatu saat didunia Kang Ouw muncul Sin kiam siang eng yang pandai Keng thian cit su, banyak penjahat-penjahat dibasminya, antaranya Siang kiang jin to pertama-tama bertempur dengan sepasang pendekar itu dan menderita kekalahan, sejak itu terus mengundurkan diri sampai sekarang, sedangkan Kui coa jie sau pada saat yang hampir bersamaan dipecundangi Han Bun Siang dan terus mengasingkan diri, baru sekarang muncul lagi, sedangkan Sam seng terhitung manusia yang kenal gelagat, sebelum kena digempur terlebih dahulu bersembunyi ditelaga Cau Ouw, dengan menempuh penghidupan seperti rakyat biasa, dan sejak itu Kang lam cit sat bubar dengan sendiri."
"Ayahku terhitung mujur, selama menjalankan kejahatan belum pernah bertemu dengan pendekar-pendekar keadilan yang lihay. Waktu melihat kawan-kawannya satu persatu menghilang dari dunia Kang Ouw, menjadi insyaf sendiri, dan terus mengundurkan diri juga dari rimba hijau. Ia menikah dengan ibuku dalam usia empat puluh tahun, sedang ibuku baru berusia tujuh belas tahun, sungguhpun perbedaan umur antara mereka sangat besar, tapi bisa hidup rukun dan damai. Pernikahan mereka pada tahun kedua dikaruniai seorang putrid yakni aku, ayahku girang tidak alang kepalang, maka itu waktu ulang tahunku yang pertama ia mengadakan pesta besar-besaran. Diantara sekalian penduduk yang hadir terdapat seorang kawan lamanya, yakni Ong Jiak Tong. Pertemuan ini membuat ayahku bergirang hati, maka itu si orang she Ong ditahannya beberapa hari bermalam dirumah. Entah dikarenakan dulu-dulunya ayahku mempunyai dosa besar, dan mendapat hokum karma, entah nasibnya buruk. Sang kawan itu mengatakan telah memasuki senuah perserikatan baru yang kuat, dan mengajaknya ayahku terjun kembali kedunia Kang Ouw. Dengan tersenyum ayahku menolak ajakan kawannya itu, karena tekadnya mengundurkan diri dari dunia Kang Ouw sudah mantap sekali. Ong Jiak Tong pun tidak memaksa, tapi dengan diam-diam mengalihkan perhatiannya pada ibuku. Tepat pada usiaku setahun dua hari ia menggunakan oabt mabuk membuat ayahku tak berdaya, lalu masuk kekamar ibuku dengan maksud jahat..., kusesalkan ayahku berkawan dengan orang tak baik, tapi Tuhan tak buta bangsat itu tak mengetahui bahwa ibukupun memiliki kepandaian ilmu silat juga. Bukan nafsu binatangnya saja yang tak kesampaian iapun kena dicakar luka, akibat malunya mendatangkan kegusarannya, dengan menggunakan sebuah pipa ia menyemburkan racun jahat pada ibuku. Seluruh wajah dan bagian dada ibuku terkena racun itu, sedangkan aku ditidurkan tak seberapa jauh dari tempat perkelahian itu, keceretan juga bagian pipi kiriku, dan terus menjerit kesakitan, suaraku inimembuat bangsat itu ketakutan dan terus merat dari rumah !"
"Bagaimana dengan keadaan ibumu seterusnya ?"
Ciu kouw meneteskan air mata sebelum menjawab "Racun itu teramat jahat, ibuku tidak tertolong, tepat pada usiaku setahun tiga hari ia meninggal dunia, sedangkan wajahku yang terkena racun, berakibat seperti yang engkau lihat sekarang !
Sedangkan ayahku setelah diguyur orang baru siuman dari mabuknya, sudah tentu tak bisa mengejar penjahat itu lagi !"
"Saat itu ayahmu kena dibuat mabuk, dan engkau masih kecil, ibumu setelah menderita luka terus meninggal bukan ? Dari sebab apa mengetahui semua itu perbuatan Ong Jiak Tong ?"
"Sudah tentu perbuatan dia, karena sebagai seorang kawan baik, kenapa setelah terjadi peristiwa itu tidak terlihat lagi batang hidungnya ? Disamping itu waktu terjadi pergumulan dengannya, ibuku berhasil merampas sepucuk surat dari badan bangsat itu, sampai mati surat itu tidak dilepasnya."
"Surat apa ?"
"Ia pernah mengatakan pada ayahku akan mengirim surat ke Pok Liong San dan kebetulan yang kena dirampas ibu adalah surat itu !"
"Apa bunyi surat itu dapatkah kutahu ?"
"Dalam garis besarnya surat itu mengatakan bahwa Tiat Gok Lin telah melakukan suatu kesalahan, dan dimaki habis-habisan."
"Ah, kesalahan apa yang diperbuat Tiat Gok Lin ? Kenapa surat itu diantar Ong Jiak Tong mungkinkah...."
"Sungguhpun surat itu tidak sampai pada Tiat Gok Lin, tapi sejak terjadi peristiwa yang menyedihkan dirumahku, tersiar kabar bahwa Tiat Gok Lin membunuh diri, jika dikaji secara tenang, apa yang terjadi itu tentu ada hubungannya dengan surat yang dibawa Ong Jiak Tong bukan ?"
"Surat itu masih adakah ?"
"Sudah tentu ada!"
Kata Ciu kouw, ini sebagai bukti dari kematian ibuku biar sudah belasan tahun masih tetap kusimpan rapi ."
"Bisakah kulihat surat itu ?"
"Asal kubisa tahu dimana beradanya penjahat itu, surat itu dapat kau lihat,"
Kata Ciu kouw.
"Disamping itu ayahkupun akan merasa berterima kasih padamu dan bisa melunakkan kawan-kawannya agar tak memusuhi dirimu. Sehabis berkata ia membuka sebuah peti, dan mengeluarkan sebuah bungkusan kain. Kain pembungkus itu luntur warna aslinya karena kelewat lama disimpan. Ciu kouw membuka kain itu, didalamnya masih ada pembungkus lagi dibuka lagi dengan hati-hati, sampai pada pembungkus yang keempat lapis baru terlihat sepucuk surat yang telah lecek. Dengan hati-hati surat itu diserahkan pada In Tiong Giok.
Jilid 8________ Surat itu berbunyi sebagai berikut .
Kepada Tiat Giok Lin yang terhormat.
Mengingat bahwa keluarga Tiat turun temurun sebagai orang-orang yang terhormat dan dimalui oleh kawan maupun lawan.
Tapi sungguh diluar dugaan, engkau sebagai ahli waris keluarga Tiat yang kesohor diempat penjuru dunia, waktu mengadakan perjalanan ke propinsi Hoo pak bisa melakukan perbuatan mesum yang memalukan.
Engkau telah memperkosa seorang gadis yang suci bersih secara tak tahu malu, setelah melanggar kehormatan gadis itu engkaupun merasa malu dan ingin menutup rahasia busukmu dengan membunuh gadis itu.
Perbuatan ini bukan saja memalukan juga dikutuk Tuhan tapi heran, kenapa engkau masih ada muka hidup di dunia ini ?
Mula pertama kami tidak percaya terjadi hal ini, setelah melakukan penyelidikan secara seksama baru mempercayainya.
Dan sekalian golongan Kang Ouw pun sudah mengetahui perbuatan busukmu ini !
Segala keharuman keluarga Tiat habis ditanganmu, untuk mencuci bersih nama keluarga Tiat sebaiknya hukumlah dirimu seadil-adilnya.
Surat itu tidak dibubuhi tanda tangan, perkataan "kami"
Disurat itu jelas bukan seorang saja yang menulis, tapi mewakili lebih dari seorang.
Selesai membaca surat itu, Tiong Giok jadi berkeringat , pertama-tama terbayang olehnya seorang tua di dalam penjara tanah Pok Thian Pang yang bernama Hauw Sian, yang diketahui pula sebagai Tiat Giok Lin adanya !
Ia sudah bunuh diri, kenapa masih terdapat dipenjara tanah itu ?
Keheranan ini sementara waktu belum bisa dipecahkan Tiong Giok, dengan terpekur ia mengawasi surat itu sekian lamanya.
"In Kongcu apa yang engkau pikirkan ?"
"Dapatkah surat ini kupinjam untuk sementara waktu ?"
"Apa gunanya bagimu ?"
"Besar gunanya, kata In Tiong Giok, dengan surat ini mungkin bisa membongkar sesuatu peristiwa misterius di dunia Kang Ouw. Dan bisa juga membongkar kejahatan Pok Thian Pang serta mengungkap teka-teki kematian Tiat Giok Lin dan hilangnya Ang Ek Fan !"
"Adakah soal Sin kiam sian eng bertalian dengan Pok Thian Pang ?"
"Bukan saja berhubungan dengan Pok Thian Pang bahkan kematian dari ibumu bersangkutan pula dengan Pok Thian Pang...."
"Benarkah ?"
"Baik kuterangkan bahwa pembunuh ibumu itu yang bernama Ong Jiak Tong kini berada dimarkas pusat Pok Thian Pang, ia menjadi sebagai pengurus penjara tanah disana."
"Pantasan ayahku mencari kesana kemari tidak menemuinya, kiranya ia bersembunyi di Pok Thian Pang !"
"Kini sudah kuterangkan dimana beradanya Ong Jiak Ttong,"
Kata In Tiong Giok "tapi jangan bergegas hendak membunuhnya, karena kekuatan Pok Thian Pang besar sekali, salah-salah bukan saja sakit hati ini tidak terbalas, juga bisa membuat ayahmu mendapat celaka."
"Bagaimanapun aku tak takut !"
Kata Ciu Kouw.
"jika bangsat itu dapat kutemui akan kubeset kulitnya dan kutusuk jantungnya agar sakit hati ibuku terbalas."
Saat inilah dari arah jendela terdengar suara berdehem sekali dan disusul perkataan .
"Engkau cukup mempunyai ambekan untuk menuntut balas, tapi perbuatanmu kini apa ? Membohongi ayah dan melindungi pemuda ini, apa yang harus kukatakan atas kelakuanmu ini ?"
"Siapa ?"
Bentak Ciu Kouw.
"Hm, anak yang baik, sudah punya pacar sampai A-ie sendiri dikenal !"
Seiring dengan habisnya suara dari luar masuk Hoo Su Kouw sambil tersenyum mengejek.
Ciu Kouw segera keluar, In Tiong Giok menyimpan surat itu lalu menyusul keluar.
Hoo Su Kouw bertolak pinggang sambil tersenyum-senyum.
"Tadi siang kulihat perabotan berantakan, katanya engkau habis makan dan belum sempat memberesi, tak tahunya habis menjamu kekasih ? In Kongcu sudah lama tidak ketemu, baik-baik sajakah ? Tak sangka kita bisa bertemu disini bukan ?"
"Hoo Su Kouw antara kita berdua tidak ada permusuhan apa-apa, kenapa engkau selalu memusuhi diriku terus ? Apa yang engkau kehendaki, yakni buku Keng thian cit su sudah kau miliki, kenapa masih mendesak terus kepadaku ?"
"Ah yang benar saja, sejak kapan aku memusuhi terus padamu ?"
Kata Hoo Su Kouw.
"Benar aku telah mendapatkan buku Keng thian cit su tapi bukan sendiri, biar begitu aku mengucapkan banyak terima kasih juga padamu."
"Engkau merasa berterima kasih padaku, kenapa mendesakku pula, apa maksudmu ?"
"Sejujurnya buku itu terlalu dalam dan rumit, kumohon bantuanmu untuk memberi petunjuk !"
Kata Hoo Su Kouw.
"sedangkan pembicaraanmu barusan sudah kudengar semua, jika engkau mau membantuku, tidak akan kuutar-utarkan keluar soalmu itu, bagaimana ?"
Ciu Kouw memandang keluar rumah dan mengetahui yang kembali kerumah hanya Hoo Su Kouw sendiri, maka itu melihat keadaan ini membuatnya merasa lega, tiba-tiba saja ia menyerang Hoo Su Kouw dengan mendadak sambil berseru keras .
"In Kongcu, lekas pergi !"
Gerakannya ini sudah jelas, asal In Tiong Giok bisa pergi, tak segan-segan membunuh Hoo Su Kouw.
Hoo Su Kouw sudah biasa berlaku licik, dengan sendirinya, siang-siang telah menaruh curiga, begitu Ciu Kouw bergerak, ia mencelat mundur.
Wajahnya tampak menjadi masam.
"Ciu Kouw tindakanmu ini salah besar ! Aku tidak memecahkan soal In Kongcu bersembunyi dikamarmu pada mereka, tapi kenapa engkau menurunkan tangan jahat padaku ? Apakah engkau menghendaki aku berteriak memanggil ayahmu ?"
"Sampai sekarang kau masih mengajak ayahku untuk melakukan kejahatan, untuk ini tidak akan kuberi ampun!"
Kata Ciu Kouw yang terus menyerang dengan gencar, serangan putrid Kui ciu kim to cukup hebat, Hoo Su Kouw dibuatnya mengelak kesana kemari tanpa berdaya melakukan balasan, saking terdesak Hoo Su Kouw mencelat kebelakang dan terus mengancam.
"Jangan kira aku takut, jangan katakana aku kejam,"
Katanya dan terus bersiul keras.
Berbareng dengan itu ia menghunus pedang melakukan serangan.
Ciu Kouw tidak gentar menghadapi senjata, dengan gagah ia melawan, disamping itu ia menyuruh Tiong Giok lekas berlalu.
"Hm, jangan harap engkau bisa meloloskan diri !"
Tak lama lagi mereka datang ! Ciu Kouw apa yang hendak engkau katakana pada ayahmu ?"
Kata Hoo Su Kouw. Ciu Kouw membelaku mati-matian, mana boleh aku berlalu begitu saja, Tiong Giok, perlahan-lahan ia menghampiri medan perkelahian.
"In Kongcu lekas pergi !"
Desak Ciu Kouw.
"Aku bisa pergi, tapi akan kubantu dulu memberesi manusia rendah ini !"
"Jangan hiraukan diriku, lekas pergi !"
Hoo Su Kouw mendengar ancaman Tiong Giok menjadi kaget, cepat ia menarik serangan dan terus mabur.
"Celaka !"
Seru Ciu Kouw sambil memburu.
Tak sangka dalam waktu yang singkat Tiong Giok dapat melakukan satu serangan maut, peluang itu diisi dengan Hiat cie lengnya yang ampuh.
Hoo Su Kouw jatuh ambruk, pinggangnya telah tertembus hangus dengan jiwa melayang.
Ciu Kouw menjadi bengong menyaksikan kejadian ini.
In Tiong Giok sendiri menjadi melongo tak karuan, karena ia sendiri tidak menduga bahwa ilmu Hiat cie lengnya telah maju sampai ketarap itu !
Saat ini suara berkeresek dari kebun jeruk terdengar tegas.
Ciu Kouw menjadi kaget dan cepat-cepat mendesak pemuda kita pergi dari situ.
In Tiong Giok mengangguk dan terus masuk kedalam kebun jeruk.
Tak selang lama Cie Peng Lam dan kawan-kawannya telah sampai didepan gubuk, mereka jadi kaget melihat peristiwa didepan rumah itu.
Hoo Su Kouw dengan rambut acak-acakan menggeletak mati, dari pinggangnya terlihat darah mengalir.
Disampingnya terlihat Ciu Kouw menggeletak.
Cie Peng Lam dengan wajah pucat memeluk puterinya sambil berseru "Ciu Kouw !
Ciu Kouw !
Siapa yang melukaimu ?"
Setelah agak lama Ciu Kouw baru membuka mulutnya, sebelum suaranya keluar, ia menyemburkan darah.
"Dia...dia...dia..."
Cie Peng Lam matanya berapi-api.
"siapa dia ?"
Desaknya tak sabaran. Ciu Kouw berlagak megap-megapan dan terus merapatkan matanya tak menjawab. Cie Peng Lam menjadi gusar .
"Tak disangka dalam sekejap bisa terjadi kejadian ini !"
"Cie Toako sabarlah, anakmu menderita luka berat juga, sebaiknya diobati lebih dulu dan perlahan-lahan boleh menanyanya,"
Kata Lo Thian Wie.
"Tak perlu ditanya lagi sudah tentu perbuatan budak she In itu,"
Kata Lo Thian Beng dari Lo sie ngo houw yang kedua.
"Perkataanmu itu memang benar, karena Hoo Su Kouw terbunuh oleh Hiat cie leng,"
Kata Ouw Kun San.
Belakangan ini antara Hoo Su Kouw dan Lo Thian Beng sedang hangat-hangatnya main cinta, melihat kekasih terbunuh begitu macam, hatinya merasa disayat-sayat dan ingin menuntut balas saat itu juga.
"Sudah tentu bocah itu belum jauh dari sini mari kita kejar !"
Saudara-saudara yang lain membenarkan pendapat saudaranya yang kedua itu, dan siap mau mengejar, saat inilah Ciu Kouw membuka mulut.
"Dia...dia...seorang pelajar, masuk kerumah !"
"Apakah binatang itu masih bersembunyi di dalam ?"
Kata Lo Thian Wie. Perkataan ini membuat yang lain melengak, Lo Thian Beng tanpa berkata lagi menerjang kedalam rumah.
"Lo jie hati-hati, bocah itu cukup lihay !"
Ouw Kun San memperingati.
Lo sie ngo houw yang lain cepat melindungi saudaranya yang kedua, melakukan pengepungan pada rumah itu.
Tapi apa yang didapat pada gubuk kecil itu, sepotong bayangan manusiapun tidak diketemuinya.
"Ia masuk kerumah dan terus kedapur mencuri makanan ! Waktu kupergoki nyatanya adalah orang yang sedang dicari-cari !"
Kata Ciu Kouw.
"Kenapa tidak sejak tadi engkau terangkan,"
Kata Cie Peng Lam.
"sudah tahu pemuda itu orang yang hendak kita tangkap, kenapa tidak kau tahan !"
"Ia tidak mau, terpaksa kugunakan kekerasan dan terjadi pergumulan denganku, waktu aku terdesak Hoo A ie datang dan rupanya antara mereka telah mengenal satu sama lain ."
"Memang mereka sudah kenal, lalu bagaimana !"
Desak Cie Peng Lam.
"Hoo A ie menyuruhku jangan bersuara, dan terus berbicara dengan pemuda itu. Meminta agar kesulitan-kesulitan pada buku Keng thian cit su dapat dijelaskan, untuk ini ia berjanji membawa sipemuda meninggalkan tempat yang berbahaya, jika permintaan tidak diluluskan Hoo A ie mengancam akan memanggil tia dan lain-lainnya mengangkap pemuda itu,"
Belum pula Ciu Kouw melanjutkan perkataannya Ouw Kun San telah bergelak-gelak.
"Ha ha ha tak kira ia mempunyai hati seorang dan menjual kita sekalian untuk kepentingannya sendiri !"
"Tapi kenapa mereka sampai berkelahi dan Hoo Su Kouw mati ditangannya ,"
Kata Lo Thian Beng membela kekasihnya.
"Pemuda itu tidak melulusi permintaan Hoo A ie dan baru terjadi perkelahian ini !"
Kata Ciu Kouw. Lo Thian Beng wajahnya menjadi merah matang, dan terus bungkam tak bersuara lagi.
"Sudah jelas bahwa Hoo Su Kouw mengalami kegagalan dalam usahanya, baru berkelahi, setelah terdesak meminta bantuan pada kita. Untuk mengakhiri perkelahian, pemuda itu baru menggunakan Hiat cie leng,"
Kata Ouw Kun San.
"Ya, memang begitu,"
Kata Ciu Kouw.
"aku segera membantu Hoo A ie, tapi kena pukulan pemuda itu dampai mulutku berdarah."
"Sudahlah tak perlu dibicarakan lagi, semua ini gara-gaar Hoo Su Kouw sendiri yang terlalu tamak, dan ia mati atas perbuatannya sendiri, tak perlu kita sesalkan. Tentu bocah itu belum pergi jauh mari kita kejar !"
Kata Cie Peng Lam,"kearah mana pemuda itu pergi ?"
"Sebenarnya ia pergi kesebelah sana, rupanya mendengar suara datangnya ayah dan lain-lain ia buru-buru mengganti arah, terus lari kearah timur !"
"Sudah lamakah ?"
"Belum !"
Sing Thian Beng sejak tadi berdiam diri, kini membuka suara.
"Menurut hematku, bocah itu tentu masih berada didlam kebun jeruk !"
"Kulihat ia sudah pergi !"
Kata Ciu Kouw.
"Ya memang engkau melihat ia pergi kekebun jeruk, tapi tidak melihatnya ia keluar dari situ bukan ?"
"Setelah kekebun jeruk sudah tentu ia kabur terus bukan ?"
Kata Ciu Kouw.
"Tapi waktu kita kesini, sepanjang jalan tidak melihat seorang keluar dari kebun jeruk itu."
Kata Siang Thian Beng, dan sejak tadi aku tidak campur bicara, karena mendengar terus keadaan dikebun jeruk, sedikitpun tidak ada suara atau gerakan lain, ini menandakan ia sedang bersembunyi !"
"Pendapat Siang heng memang benar, mari kita periksa !"
Kata Cie Peng Lam.
"Kebun ini begitu besar, jika dilakukan pemeriksaan secara biasa akan memakan waktu lama."
Kata Sing Thian Beng dengan berbisik.
"jika ia masih bersembunyi cukup dengan berteriak-teriak membuatnya keluar !"
Mereka segera berseru seperti sibuk memeriksa kebun jeruk itu sambil berteriak-teriak. Benar saja tak selang lama dari dalam kebun itu terddengar bunyi berkeresek.
"Ha ha ha seperti dugaanku semula, mari kita kejar,"
Kata Sing Thian Beng.
Dengan cepat beberapa orang itu memburu kearah suara, tinggal Ciu Kouw menjadi kuatir atas keselamatan pemuda itu.
Ia tahu jika sampai ketangkap hanya kematian yang akan dihadapi Tiong Giok.
Benar diluar perkiraannya waktu ia sedang cemas-cemasnya dari kebun jeruk berkelebat sesosok bayangan, yang bukan lain dari pada In Tiong Giok adanya.
"Oh kiranya sura berkeresek itu bukan engkau adanya,"
Kata Ciu Kouw dengan girang.
"Aku tak sempat melarikan diri dikebun itu,"
Kata In Tiong Giok.
"hatiku tergerak mendengar perkataan Sing Thian Beng, dan kutangkap seekor tikus, lalu kupatahkan kakinya dan mengikatnya di ranting kayu hingga menimbulkan suara berkeresek. Mereka memburu kearah suara dan aku kesini."
"Akalmu itu hanya bisa menipu mereka sementara saja, begitu mereka tahu pasti akan mencarimu lagi !"
"Kini hampir gelap, sebelum mereka mengetahui aku bisa meloloskan diri."
"Kenapa engkau tidak segera pergi sekarang juga ?"
"Aku bisa lantas berlalu, tapi bagaimana dengan Ku ju kee (ilmu menyiksa diri) yang engkau pakai itu, apakah membuatmu menderita parah ?"
"Jangan banyak bicara, aku tak apa-apa, lekaslah pergi, keselamatanmu lebih penting !"
Desak Ciu Kouw.
"Atas budi pertolonganmu kuhaturkan terima kasih sedalam-dalamnya,"
Kata In Tiong Giok yang terus meninggalkan Ciu Kouw seorang diri.
Gadis itu menjadi terpekur sendir sambil memandang kepergian sipemuda dengan mata mendelong.
Saat ini lupa pada dirinya cantik atau buruk, ia seperti mendapat sesuatu entah apa, dan seperti kehilangan juga sesuatu.
Air mata ?
Adalah suara hati !
Tak bisa ia melukiskan perasaan hatinya !
Ia hanya ingin menangis dan menggunakan air matanya mencuci segala kepenatan hatinya.
Cuaca perlahan-lahan menjadi gelap.
In Tiong Giok berlari dengan deras, dalam waktu singkat dua puluh lie telah dilaluinya.
Waktu ia menoleh sudah tak melihat lagi kebun jeruk itu, hatinya menjadi lega dan kakinyapun menjadi kendur.
Ia memandang sekeliling, mendapatkan dirinya disuatu tegalan luas, didepannya terlihat bayangan rumah yang samar-samar.
Perlahan-lahan dan tiba-tiba ia menuju kesana, setelah dekat baru melihat tegas, bahwa bangunan itu adalah sebuah kelenteng tua.
Dengan perasaan letih, ia masuk kedalam, dan mencari tempat yang agak bersih untuk beristirahat.
Akibat kelelahan tanpa terasa ia terlena dengan nyenyaknya, entah berapa saat sudah berlalu tidak diketahuinya.
Tiba-tiba saja terdengar suara "plak", dan seperti ada sesuatu terjatuh didekat kepalanya.
Ia masih mengantuk benar, dirabanya benda itu, kiranya adalah seekor tikus, otaknya tidak bisa berpikir kenapa seekor tikus jatuh didekat kepalanya ?
Sebab rasa kantuknya tak alang kepalang.
Ia hanya melemparkan bangkai tikus itu dan terus meram lagi..., Tak selang lama, lagi-lagi terdengar bunyi "plak", sesuatu jatuh dilehernya.
In Tiong Giok mencomot benda itu, waktu diawasi, nyatanya adalah bangkai tikus tadi.
Ia menjadi kaget tak alang kepalang....karena bangkai tikus itu terikat pada ranting kayu kakinya sudah patah.
Ia sadar bahwa musuhnya telah berada disitu.
Ia menyesal usahanya mati-matian untuk meloloskan diri tidak membawa hasil yang memuaskan.
Keadaan di dalam kelenteng tua masih gelap, ia tidak bisa melihat tegas keadaan sekelilingnya, tapi suara dingin dari Ouw Kun San dapat didengarnya.
"Bocah jangan pura-pura mati ular, permainan apa lagi yang engkau bisa, tak halangan dikeluarkan semuanya."
In Tiong Giok mengulet sambil mengucek-ucek mata. Remang-remang terlihat beberapa bayangan, mengurung dirinya dari tiga penjuru.
"Selamat pagi !"
Kata In Tiong Giok pura-pura menenagkan diri.
"Jangan pura-pura berlaku tenang, biar brsayap engkau tak bisa lolos lagi dari tanganku !"
Kata Ouw Kun San.
"Aku merasa tidak bermusuhan dengan kalian, kenapa dikejar-kejar terus ?"
Tanya In Tiong Giok.
"Engkau membunuh Hoo Su Kouw dan melukai Cie Kouw Nio, semua ini merupakan permusuhan bukan ?"
Kata Lo Thian Wie.
"Untuk membela diri terpaksa aku melawan, mana boleh menyalahkan diriku !"
"Tutup bacotmu,"
Bentak Lo Thian Beng, hutang jiwa harus dibayar dengan jiwa. Pedangnya segera bergerak, untuk melakukan serangan.
"Lo jie sabar, kita harus menyampingkan soal pribadi dan harus membereskan dulu kepentingan umum,"
Kata Cie Peng Lam. Dan terus matanya beralih pada Tiong Giok.
"Tak kusangka muda-muda semacammu bernyali begini besar, aku paling menyayang kesatria yang gagah, dan segan melakukan pengeroyokan padamu, jika engkau tahu diri lebih baik menyerah untuk dibelenggu !"
"Menyerah, ya menyerah,"
Kata In Tiong Giok.
"kemana kalian akan membawaku aku turut saja !"
"Sebelum itu kuminta engkau menotok sendiri jalan darahmu, lalu ikut denganku kerumah gubuk !"
Kata Cie Peng Lam.
"Kalian begini banyak orang, dan mungkinkah kuatir aku melarikan diri ?"
"Ya benar juga,"
Kata Cie Peng Lam.
"Cie heng jangan terlalu berbesar hati, biarpun kecil ia murid Han Bun Siang dan pandai pula Keng thian cit su, biar bagaimana jalan darahnya harus ditotok !"
Kata Ouw Kun San.
"Hmm, orang kenamaan yang bergelar sebagai ular dan kura-kura, nyatanya bernyali seperti tikus,"
Kata In Tiong Giok sambil memainkan bangkai tikus ditangannya.
"Engkau jangan memanaskan aku, biar bagaimana aku tak bisa kena akal licikmu !"
Kata Ouw Kun San.
"Kalau kalian merasa kuatir dan takut, apa halangan sekarang juga turun tangan menotokku !"
Kata In Tiong Giok.
"tapi jangan menyesal kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan seperti Hoo Su Kouw ! Karena segala yang akan kulakukan berdasarkan terdesak dan membela diri."
"Ouw heng tak usah kuatir pada bocah yang masih bau tetek ini,"
Kata Cie Peng Lam.
"Jangan berkata begitu, apa yang ada padaku seperti Keng thian cit su dan Hiat cie leng adalah ilmu yang tidak boleh dipandang ringan, maka itu sebelumnya kalian harus berpikir masak-masak."
"Anak muda jangan terlalu tekebur, kami tak perlu berpikir lama-lama,"
Kata Cie Peng Lam, permintaanmu supaya tidak ditotok, kululuskan sekarang juga. Jika engkau niat kabur ya kabur, tapi ingat jika tertangkap lagi, kakimu itu akan kupatahkan !"
"Ini adalah perkataanmu sendiri dan jangan menyesal dibelakang hari !"
"Jangan banyak bicara, hayo jalan !"
Bentak Cie Peng Lam.
In Tiong Giok menganggukkan kepala dan terus mencelat bangun !
Jangan dilihat pihak Cie Peng Lam yang begitu banyak mereka semuanya merasa takut pada Keng thian cit su dan Hiat cie leng, begitu melihat pemuda kita bangun mereka mundur beberapa langkag sambil bersiap siaga dengan senjatanya, tak ubahnya seperti menghadapi lawan yang tangguh saja.
In Tiong Giok perlahan-lahan keluar dari kelenteng, tangannya masih tetap memainkan bangkai tikus itu.
Saat ini cuaca hampir terang tanah, mereka meninggalkan kelentang itu sambil mengiring Tiong Giok.
Tak lama, Tiong Giok merandek dengan tiba-tiba.
"Aku harapkan salah seorang dari kalian berjalan dimuka karena aku tak mengenal jalan !"
"Pokoknya kau jalan terus, waktu berbelok kekiri kekanan aku bisa memberi tahu !"
Kata Cie Peng Lam.
"Kalian hanyalah menjaga diriku dari kiri kanan dan belakang, bagaimana jika aku lari kearah depan ?"
Tanya Tiong Giok.
"Itu terserah kepadamu !"
Kata Cie Peng Lam dengan dingin. Tiong Giok tak berhasil memecahkan perhatian musuhnya, terpaksa melangkah lagi maju kedepan. Sambil jalan ia menoleh pada Ouw Kun San yang menjaga sebelah kiri.
"Sebaiknya engkau jangan terlalu dekatku, bagaimana kalau kuserang dengan Hiat cie leng dalam jarak dekat ini, akibatnnya engkau tahu sendiri !"
"Hmm,"
Ouw Kun San mendengus tanpa lagi menghiraukan gertakan lawan.
"Engkau jangan mendengus tak karuan, apa yang kukatakan benar semua !"
"Tutup bacotmu ! Aku tidak sempat mengadu lidah denganmu !"
Bentak Ouw Kun San.
"Baik ! Tak bicara ya tidak, sayang kebaikanku tak kau terima !"
Kata In Tiong Giok.
"Jika engkau mengoceh terus, lidahmu akan kupotong !"
Kata Ouw Kun San dengan gusar.
"Ouw heng jangan ladeni ocehannya bocah itu, ia sedang memancing kita memencarkan perhatian, untuk meloloskan diri !"
Cie Peng Lam memperingati.
Ouw Kun San segera sadar dan terus membungkam tak mau melayani lagi Tiong Giok.
Membuat pemuda kita cemas sendiri, tapi ia mencoba lagi mengajak bicara pada orang she Ouw itu.
"Eh, ngomong kulupa menanyakan bagaimana persoalan ji wie dengan Oey Tin Hong itu ?"
Ouw Kun San hampir-hampir menamparnya mendengar perkataan Tiong Giok itu, tetapi keburu dicegah oleh Sing Thian Beng.
"jangan ladeni, biar dia ngoceh terus, masa tak diam !"
"Ah tak lama lagi akan sampai dikebun jeruk itu,"
Piker Tiong Giok.
"mungkinkah aku akan menyerah begini saja dan terserah mereka ? Tidak ! Bagaimanapun aku harus melarikan diri dan melawan mereka dengan nekad, jika gagal ya mati, dengan begini matipun tidak percuma!"
Tidak lama samar-samar kebun jeruk telah terlihat jauh didepan.
Tiong Giokpun sudah siap melakukan kenekatan.
Bertepatan dengan jalan pikiran inilah, dari balik kebun jeruk terlihat selorotan seorang.
Setelah tegas terlihat tegas orang itu terdiri dari enam belas gadis mengiringi sebuah joli yang tertutup rapat.
Enam belas gadis itu empat jalan di muka semuanya mengenakan berpakaian merah.
Empat berada dibelakang, semuanya berpakaian biru, dikiri kanan joli terdapat empat gadis berpakaian kuning, yang empat lagi mengenakan pakaian hijau dan menggotong joli.
Dari jauh terlihat warna warni ini sangat menarik hati.
Sungguhpun semuanya gadis-gadis remaja langkah kakinya amat cepat dan ringan, menandakan memiliki ilmu yang tinggi.
Empat gadis yang mengenakan pakaian hijau ini mirip dengan gadis yang mandi disungai tempo hari.
Tiong Giok mempercepat langkahnya mendekati joli itu.
"Jangan bergerak, engkau mau apa ?"
Bentak Cie Peng Lam sambil menghadang.
"Hm, bukankah engkau ingin mengajakku kembali kegubuk itu ? Aku sudah lapar sekali dan ingin lekas sampai..."
"Hm tidak perlu tergesa-gesa, engkau harus dengar kata, jangan sampai aku hajar disini juga,"
Kata Cie Peng Lam sambil melirik rombongan joli itu.
"Adakah yang tak beres ?"
Tanya Lo Thian Wie.
"Kulihat rombongan joli ini amat mencurigakan,"
Kata Cie Peng Lam, sambil melirik rombongan.
"sebaiknya nantikanlah mereka pergi baru kita lanjutkan perjalanan !"
Yang lainpun merasakan bahwa rombongan gadis-gadis itu sangat luar biasa sekali, segera menganggukkan kepala menyetujui usulan Cie Peng Lam.
Cepat-cepat mereka menepi dan siap sedia mengawasi pada In Tiong Giok.
"Aha kenapa ketakutan tak keruan ?"
Tegur In Tiong Giok.
"joli itu joli pengantin, apa yang harus ditakuti ?"
"Diam ! Kularang engkau bicara !"
Bentak Cie Peng Lam.
In Tiong Giok tersenyum-senyum, dan terus menutup mulut dengan tenang.
Sementara itu rombongan joli sudah mendekat pada mereka, waktu inilah Tiong Giok sengaja berbangkis keras-keras, lalu menekap mulutnya dengan tangan.
Diluar tahu siapa-siapa lengannya itu sebelum menutup mulut telah melemparkan bangkai tikus kearah rombongan gadis-gadis penggotong joli.
Lemparannya itu tepat mengenakan seorang gadis berbaju hijau dan jatuh kebawah lalu terpijak yang dibelakangnya.
"Auw !"
Seru gadis itu dengan kaget.
Empat gadis berbaju merah didepan cepat berhenti sambil memutarkan badan, yang berbaju biru disebelah belakangpun sudah maju ke depan, mengelilingi joli.
Serentak mereka menghunus pedangnya dan memandang kearah rombongan Cie Peng Lam.
"Kenapa kau menjerit ?"
Tegur salah seorang gadis berbaju kuning pada kawannya yang berteriak tadi. Gadis yang menggotong joli itu menunjuk kebawah.
"Ada yang melemparkan tikus mati kepadaku !"
Gadis berbaju kuning itu memunggut bangkai tikus itu, wajahnya tampak gusar sekali.
"Perbuatan siapa ini ?"
Tegurnya kepada Cie Peng Lam dan kawan-kawan.
"Aku yang melemparkan !"
In Tiong Giok mengakui dengan jujur.
"Nampaknya engkau sebagai pemuda sopan, tak kira begitu ceriwis dan genit, kau kira kami ini mudah dihina ?"
"Nona jangan marah, aku tidak bermaksud begitu,"
In Tiong Giok sambil tersenyum.
"hanya saja tikus yang sedang kucekal tiba-tiba saja melompat pergi !"
"Hm, terang-terang tikus mati mana bisa melompat !"
"Nona tidak tahu kejadian aneh selalu ada, lebih-lebih tahun ini banyak sekali...tidakkah engkau mendengar ada kursi bisa berjalan, dan pohon-pohon bisa bernyanyi..."
"Jangan banyak bicara, tangkap padanya !"
Teriak perempuan berbaju kuning itu. Dengan cepat dua gadis berbaju merah menghampiri Tiong Giok.
"Sabar dulu !"
Kata Ouw Kun San sambil kedepan.
"Orang ini tak bisa kuserahkan padamu !"
"Apa katamu ?"
Dua gadis berbaju merah itu menegasi.
"Maksudnya jika nona ingin menangkapku, harus minta ijin dari mereka !"
Kata In Tiong Giok.
"Engkau kira dengan kawan-kawanmu bisa melindungi dirimu ?"
Kata gadis itu.
"Jika engkau lebih lihay ya bisa, kalau lebih lemah tentu tidak !"
Kata In Tiong Giok.
"Hm, lihat saja buktinya!"
Kata gadis itu sambil memberi tanda pada temannya.
Dan sua yang berbaju merah lagi segera membantu mereka menerjang kearah In Tiong Giok.
Lo sie ngo houw segera menghunus senjata dan menghadang dengan cepat, sehingga terjadi perkelahian dengan cepat detik itu juga.
Gadis berpakaian birupun segera turun tangan membantu kawannya.
Kui coa jie sau menmyambut kedatangan mereka, dan terjadilah perkelahian lagi.
Sehingga menjadi dua rombongan bergumul dengan hebat, dan membuat abu mengepul tinggi.
Cie Peng Lam menghunus goloknya sambil memandang pada In Tiong Giok, ia mendapat pemuda itu sedang berpangku tangan dan tersenyum kepadanya.
Ia merasakan senyuman pemuda itu seperti mengejek seperti juga mengasihani dirinya, begitu aneh dan misterius.
"Bocah jangan bergirang dulu, bagaimanapun engkau jangan harap meloloskan diri !"
"Tenanglah, bagaimanapun aku tak mau melarikan diri sebelum keadaan benar-benar mengijinkan !"
Kata In Tiong Giok.
"Menurut hematku sebaiknya lekaslah Bantu kawan-kawanmu itu, tampaknya mereka sudah kepayahan benar, jika dibiarkan terus pasti akan menderita rugi!"
"Ha segala budak-budak itu mana mungkin memperoleh kemenangan menghadapi kawan-kawanku itu !"
"Ingat masih ada delapan gadis yang belum turun tangan, dan yang didalam joli itu tentu bukan sembarang orang !"
Peringatan ini membuat Cie Peng Lam kaget, karena gadis-gadis itu berkepandaian sangat tinggi, lebih-lebih orang yang didalam joli itu, tentu lebih hebat lagi.
Ia menoleh pada In Tiong Giok sambil tersenyum sinis.
"Kutahu maksudmu menyuruh membantu kawan dan engkau bisa melarikan diri bukan ?"
"Lucu ! Sembarang waktu aku bisa pergi!"
Kat In Tiong Giok.
"tapi aku tak mau karena ingin melihat akhir dari perkelahian ini siapa yang menang siapa yang kalah !"
"Hm, kau kira aku bodoh !"
Kata Cie Peng Lam yang dengan mendadak, menjulurkan tangan setannya pada pemuda kita.
Gerakannya itu begitu cepat dan mendadak ia bermaksud setelah menciduk pemuda kita segera membawanya kabur kerumah.
Tak kira serangannya yang lihay itu mengenai angin saja, karena dengan lihaynya Tiong Giok telah mengengos dengan Kiu coan bie cong pounya yang lihay.
Peng Lam kaget dan cepat menarik serangan sambil melindungi dadanya, begitu ia menegasi lagi tampak Tiong Giok sudah berada dibelakangnya sambil berpangku tangan, dan tersenyum-senyum kearahnya seperti tidak terjadi sesuatu apa.
Cie Peng Lam berdilak-dilak, dan menarik napas lega.....
"Cie Lo Cianpwee sudah lama engkau mengundurkan diri dari dunia hitam, untuk apa terjun kembali ?"
"Jangan mengira ilmu yang kau miliki sudah tinggi dan mau menasehatkan aku !"
Kata Cie Peng Lam.
"Nah sambutlah seranganku ini !"
Lengan kirinya terjulur, kakinya melangkah lebar menyapu kuda-kuda lawannya.
In Tiong Giok tidak menyangka bahwa lawannya mempunyai perhitungan matang, ia terdesak dan tak bisa mengembangkan ilmu memindahkan dirinya yang lihay.
Tapi ia tidak takut serangan musuhnya itu dihadapi dengan Hiat cie leng.
Cie Peng Lam menjadi kaget, ia menarik serangan sambil menghindarkan diri dari bahaya maut.
Apa mau dikata, biarpun Hiat cie leng dilancarkan lebih belakang dari tangan setannya, tapi sampainya terlebih cepat.
"Tring!"
Terdengar suara memecah angkasa.
Serangan Tiong Giok tepat mengenai gagang goloknya Cie Peng Lam yang terbuat dari emas.
Waktu ia melihat lalu pemiliknya mengawasi, gagang goloknya telah berlubang kecil sebesar kacang tanah.
"Mengingat bahwa engkau telah insyaf banyak tahun, maka tak kuturunkan tangan jahat, atas ini engkau harus mengerti sendiri dan lekaslah meninggalkan tempat ini !"
"Bocah engkau telah melukai anakku dan merusak senjataku, mana mungkin beres begini saja !"
"Yang luka harus diobati, yang rusak bisa diperbaiki,"
Kata In Tiong Giok.
"tapi jika salah bergaul akibatnya hebat, rumah tangga berantakan dan selamanya tidak bisa diperbaiki. Apakah selama dua puluh tahun dicelakai kawan-kawan jahat belum membuatmu puas ?"
"Bagaimana engkau bisa tahu soal keadaan rumah tanggaku ?"
Bentak Cie Peng Lam dengan mata menyala-nyala.
"Bukan saja kutahu soal keluargamu, bahkan mengetahui pula dimana beradanya Ong Jiak Tong ! katas In Tiong Giok.
"Sayang saja orang she Ong itu mempunyai beking yang kuat dan sukar buatmu membalas dendam ! Sebab itulah aku tak mau menunjukkan dimana ia berada, nah pikirlah masak-masak usulku tadi, soal sakit hati lambat laun pasti terbalas !"
"Aku sudah bersabar selama dua puluh tahun !"
"Selama ini engkau bisa bersabar, mungkin tidak bisa bersabar dalam waktu yang lebih singkat lagi ? Aku hanya mengharapkan kesabaranmu, dengan begitu sakit hatimu baru bisa terbalas !"
Kata In Tiong Giok sambil tersenyum.
"Selama belum bertemu dengan musuh itu pelajarilah Keng thian cit su dengan baik, mungkin berguna besar untuk melakukan pembalasan pada musuh itu". Selesai bicara ia mengeluarkan se
Jilid buku Keng thian cit su dan menyerahkan pada Cie Peng Lam.
Dengan perasaan terima kasih yang tak terhingga, Cie Peng Lam tertegun sejenak, lalu mengangkat kaki meninggalkan tempat itu.
In Tiong Giok memandang kepergian Cie Peng Lam sambil tersenyum, lalu merapikan baju dan melangkah pergi dengan bebas.
Tapi belum pula beberapa langkah seorang gadis berbaju kuning telah mengejarnya sambil berseru .
"Kongcu jangan pergi dulu !"
"Aku dalam keadaan terpaksa melemparkan bangkai tikus itu, karena berada dalam kungkungan penjahat-penjahat ini,"
Kata In Tiong Giok.
"Kini akalku berhasil membuatku lolos dan Kouwnio mengejarku mau apa ?"
"Soalmu melemparkan tikus kami maafkan,"
Kata gadis itu.
"tapi Siociaku meminta engkau menunggu sejenak, ia ingin bicara denganmu."
In Tiong Giok mengerutkan kening, dan berkata .
"Aku tak kenal dengan Siociamu, tambahan ketujuh orang itu adalah musuh-musuhku, jika diketahui mereka, aku bisa celaka !"
"Kongcu kenapa merendah amat dengan kepandaianmu barusan, tujuh orang itu tak bisa berbuat apa kepadamu !"
"Pokoknya biar bagaimana sepasang tangan sukar melawan belasan tangan,"
Kata In Tiong Giok.
"aku dapat meloloskan diri berkat bantuan nona-nona, jika tidak sampai sekarang mungkin masih menjadi tawanan mereka !"
"Apa lagi kalau begitu sepatutnya Kongcu menghaturkan terima kasih kepada siocia kami !"
Gadis berbaju kuning mengajak Tiong Giok kedepan joli, benar saja Kui coa jie sau dan Lo sie ngo houw melihatnya.
Mereka celingukan tidak melihat Cie Peng Lam, dan menganggap kawannya itu kena bunuh Tiong Giok saat itu juga mereka menjadi kalap.
Tanpa berunding dulu, masing-masing meninggalkan lawannya, meluruk menerjang Tiong Giok.
Gadis-gadis berbaju kuning mencabut senjata, tapi sebelum mereka turun tangan terdengar suara yang merdu.
"Tutan, suruh sekalian kawan-kawanmu mundur, ingin kulihat manusia macam apa yang berlaku kurang ajar !"
"Hanya beberapa cecunguk kecil, kami masih sanggup mengatasinya. Siocia tidak perlu turun tangan !"
"Perintahkan mereka mundur !"
Jawab Siocia itu dengan penuh wibawa.
Tutan segera memerintahkan kawan-kawannya mundur, sedangkan Kui coa jie sau dan Lo sie ngo houw sudah sampai didepan joli.
Mereka menjadi melengak, sebab kerai joli sudah terbuka.
Mereka melihat seorang perempuan berbaju hitam, begitu cantik dan agung.
Dengan matanya yang tajam ia melirik kepada sekalian penjahat itu, lalu mengawasi pada Tiong Giok.
"Engkau kemari !"
Katanya perlahan tapi penuh wibawa. Tanpa terasa lagi Tiong Giok maju kedepan sambil membungkukkan badan.
"Aku In Tiong Giok menghaturkan hormat pada Siocia !"
"Oh, kiranya engkau adalah yang mencetak buku Keng thian cit su ?"
"Benar !"
"Pantasan mereka tak mau melepaskan dirimu,"
Kata perempuan cantik berbaju hitam itu.
"Tapi dengan adanya aku disampingmu, biar bagaimana mereka tidak berani berbuat kurang ajar !"
"Terima kasih atas bantuan Siocia !"
"Kemari, coba kulihat !"
In Tiong Giok mengerti apa yang hendak dilihatnya, tapi ia menurut perkataan perempuan itu, maju mendekati. Perempuan itu menjulurkan tangan memegang lengan Tiong Giok dan berkata dengan mesra.
"Kulihat engkau pandai Hiat cie leng, Han Bun Siong itu apamu ?"
"Guruku !"
"Oh, kiranya murid kawanku !"
Kata perempuan itu sambil tersenyum. In Tiong Giok terkejut, dan perempuan itu menariknya perlahan kedalam joli. Mengajak Tiong Giok duduk disebelahnya. Kerai joli diturunkan.
"Tutan buka jalan, siapa yang merintangi bunuh saja !"
Perintahnya dengan halus. Joli mulai terangkat lagi dan maju kedepan. Kui coa jie sau maupun Lo sie ngo houw merasa tersinggung melihat sikap perempuan berbaju hitam itu.
"Mau kemana ?"
Teriak Ouw Kun San dan terus menghadang, diikuti kawan-kawannya.
Empat perempuan berbaju kuning itu segera menghadapi mereka, agaknya yang berbaju kuning ini lebih lihay dari pada yang berbaju merah atau biru.
Biar berempat mereka bisa menghadapi tujuh musuh.
Tapi untuk memperoleh kemenangan sukar diramal, karena musuhnyapun bukan orang-orang sembarangan.
Hal ini menjengkelkan betul pada siocia mereka.
Dengan perlahan perempuan berbaju hitam itu turun dari joli, lalu memutarkan pedangnya menghajar pada Kui coa jie sau, sedangkan gadiss-gadis berbaju kuning menghadapi Lo sie ngo houw.
Dengan turunnya perempuan berbaju hitam itu, dalam sekejap medan perkelahian berubah dengan mendadak.
Dalam dua puluh jurus lebih Kui coa jie sau dibuatnya tak berdaya, tambahan tenaga aslinya belum pulih betul karena terkena jarum Oey Tin Hong.
Lima jurus kemudian Ouw Kun San kena dilukai, berikutnya Sing Thian Bengpun menderita luka.
Sungguhpun gerak geriknya sangat halus dan lembut, tapi perbuatannya perempuan berbaju hitam itu sangat telengas.
Ia tidak memberi ampun pada musuhnya, pedangnya bekerja secepat kilat.
Dalam sekejap hanya terdengar jeritan susul menyusul dari Kui coa jie sau mereka menggeletak mati bermandikan darah.
Dipihak lain gadis-gadis berbaju kuningpun sudah membereskan musuh-musuhnya.
Jalan yang sunyi dan sepi, penuh dengan tubuh-tubuh bermandikan darah.
Tiong Giok bergidik sendiri menyaksikan kejadian ini.
Joli berangkat meneruskan perjalanan.
Waktu senja rombongan gadis-gadis itu telah sampai disebuah lereng gunung, disitu berdiri sebuah gedung besar.
Kiri kanannya penuh lebat dengan pepohonan, sangat sunyi dan tenang.
Waktu joli memasuki pekarangan rumah Tiong Giok masih belum merasa karena sedang asyik bercakap-cakap dengan perempuan berbaju hitam itu.
Dari percakapan disepanjang jalan, ia mengetahui bahwa perempuan berbaju hitam itu adalah salah seorang Cap sah kie yang bernama Liap In Eng.
"Kongcu boleh tinggal disini sebagai tamuku,"
Kata Liap In Eng.
"Engkau boleh bergerak bebas sebagai dirumahmu sendiri !"
"Terima kasih atas kebaikan Siocia !"
Jawab Tiong Giok.
"Tutan ajaklah Kongcu beristirahat,"
Kata Liap In Eng yang terus masuk kedalam rumah.
Tiong Giok mendapat sebuah kamar yang sunyi dan tenang, untuk keperluannya sehari-hari selalu mendapat pelajaran dari Tutan dengan telaten.
Pada suatu hari terlihat Tiong Giok dengan ditemani Tutan berjalan disekitar rumah.
Nampak ia terpekur dan bingung, lalu berkemak kemik sendiri .
"Lagi-lagi waktu senja, burung-burung gagak pulang kekandang, waktu berlalu teramat cepat, tanpa terasa sudah sepuluh hari aku diam disini !"
"Kongcu apa merasakan bahwa waktu berlalu dengan cepat, apakah merasa tak puas atas pelayanan kami yang kurang telaten ?"
"Bukan ! Aku bergegas ingin menyambangi Lim Siok Bwe,"
Kata In Tiong Giok.
"Tapi tertahan Siociamu disini sepuluh hari lamanya, hatiku merasa tak tenang dan ingin lekas-lekas sampai disana !"
"Oh aku mengerti, bahwa Siocia sengaja menahanmu lama-lama disini, karena menghargai kepandaianmu ! Dan mengharapkan Kongcu mengajari kami Keng thian cit su ! Apakah lambat majunya, sehingga membuatmu tertahan lebih lama disini, dan sama dengan mengabaikan urusan besarmu bukan ?"
"Tutan jangan engkau salah mengerti, hingga Siociamu telah memiliki ilmu yang lihay. Baginya Keng thian cit su hanya tambahan saja bukan ?"
"Kepandaian Siocia berbeda dengan Keng thian cit su,"
Kata Tutan.
"Ilmu ini merupakan ilmu yang luar biasa didunia persilatan, menyesal aku tak berbakat, dan tak dapat mengerti serta mengembangkan keistimewaannya."
Ia berkata kepada Tiong Giok.
"Sebelum gelap maukah engkau mengajari lagi sekali !"
"Bukankah kalian telah mempelajari setengah hari lebih ?"
"Itu belajar cara rombongan, aku minta diajari sendiri, bagaimana ?"
"Keng thian cit su adalah pelajaran yang dalam dan sukar dimengerti, lebih banyak orang mempelajari lebih baik ! Kini apa yang kubisa sudah kuberikan semua !"
"Aku tak percaya, tentu ada bagian-bagian istimewa yang sengaja tidak diberikan kepada kami !"
"Tidak ! Sejujurnya apa yang kubisa sudah kuberikan tanpa menyembunyikan sedikitpun."
"Tidak percaya !"
"Percaya tidaknya terserah padamu, aku bisa berkata apa ?"
"Asal engkau mau menyadari aku seorang diri, baru percaya !"
"Jika engkau memaksa ingin mempelajari sekali seorang diri, aku menurut saja !"
"Benar-benar sih ?"
"Perlu apa aku membohong, ambillah dua bilah pedang dan kita pelajari diruangan dalam !"
"Aku tak mau didalam, tapi mempelajari diruangan belakang,"
Kata Tutan. Dengan begini yang lain tidak tahu dan tidak bisa mengani bukan !"
Ia menggapai mengajak Tiong Giok pergi kebelakang.
In Tiong Giok mengikuti dengan langkah perlahan, mereka menyusuri pinggiran rumah, melalui pintu samping masuk kekamar batu dihalaman belakang.
Baru saja mereka tiba didepan pintu batu, dari utara terdengar bunyi mengaung.
Tiong Giok berdongak keatas, tampak seekor burung pos berputar-putar diudara, dan terus terjun kebawah, masuk kebelakang loteng dimana Liap In Eng tinggal.
Tutan juga melihat burung pos itu, cepat-cepat ia membuka kamar batu mempersilahkan Tiong Giok masuk.
Kongcu duduk dulu didalam, aku pergi dulu sebentar !
Terus ia berlalu menuju ketempat burung merpati tadi turun.
In Tiong Giok menjadi heran ia berpikir .
"Liap In Eng adalah seorang kenamaan yang mengasingkan diri dari dunia Kang Ouw, kenapa memelihara burung merpati ? Mungkinkah ia masih mengadakan hunungan dengan dunia luar ? Ya bisa dan tak perlu kuherankan."
Baru ia duduk sejenak Tutan sudah kembali lagi.
"Ah sungguh tak kebenaran, Siocia menyuruhku memasang hio,"
Kata Tutan.
"sedangkan aku tak berani mengatakan akan berlatih pedang sendirian, maka itu niat ini terpaksa batal dan maaf mencapaikan Kongcu datang kesini dengan cuma-cuma !"
"Ah tidak mengapa lain kali masih ada waktu bukan,"
Kata In Tiong Giok.
"Mari kuantarmu kembali kekamar,"
Kata Tutan.
"Tak usah aku bisa kembali sendiri, dan ia melangkah, tapi merandek lagi serta bertanya.
"Apa yang disembayangi Siociamu ?"
"Ia menyembayangi ibunya kebiasaan ini dilakukan sudah sepuluh tahun lebih."
"Ah, ia seorang yang berbakti pad orang tua !"
Kata In Tiong Giok.
"Tadi kulihat seekor burung pos, apakah peliharaan Siociamu ?"
"Bukan ! Burung itu bukan peliharaan Siocia !"
Kata Tutan, sungguhpun ia berkata begitu wajahnya telah berubah gugup.
"Pada suatu hari, entah dari mana datangnya burung itu, Giok Lan yakni kawanku dan lain-lain senang melihatnya. Lalu menangkap dan mengurungnya burung itu. Namun diketahhui Siocia, dan kami dimaki-maki, terpaksa melepasnya lagi, sungguhpun begitu ia tak mau pergi kemana-mana, agaknya betah diam disini !"
Sambil berjalan tak hentinya mereka bercakap-cakap, tanpa terasa telah sampai di kamar Tiong Giok.
Tutan pamitan, membiarkan diri Tiong Giok seorang.
Malamnya Tiong Giok tak dapat tidur dengan nyenyak.
Pikirannya memikir kesoal burung tadi.
Burung itu terlatih baik, kenapa Tutan mengatakan bukan burung piaraan ?
Dan apa maksudnya seorang kenamaan seperti Liap In Eng menahannya disini buat memberikan pelajaran Keng thian cit su pada pelayan-pelayannya ?
Mungkinkah ia sebangsa dengan Liok Sian Ong maupun Hek pek siang yauw yang menginginkan ilmu itu ?
Semakin berpikir membuatnya semakin kesal, dan ingin ia itu mencuri masuk ketaman belakang untuk melakukan penyelidikan, tetapi rasionya mencegah berbuat begitu itu, karena sadar hal itu bisa mendatangkan yang tidak diinginkan.
Tapi saking lamanya otaknya bekerja, akhirnya iapun leetih, ia tertidur juga waktu hampir pagi.
Dan ia baru bangun waktu matahari ssudah diatas.
Cepat ia keluar kamar dan membuka pintu, Tutan sudah berada diluar menantikannya.
"Kongcu tidur nyenyak benar ?"
Kata Tutan sambil menyediakan handuk dan baskom pencuci muka. Tiong Giok tersenyum dan mencuci mukanya di baskom, kesepatan matanya agak hilang.
"Rupanya sudah tengah hari ? Dan suara teman-temanmu ramai betul ?"
"Ya memang sudah tengah hari, mereka sedang sibuk menyapu dan membereskan rumah maupun taman, karena ada tamu mau datang !"
"Tamu macam apasih disambut sehebat ini ?"
"Sudah tentu tamu terhormat !"
Jawab Tutan.
"Lekaslah cuci muka dan berberes, Siocia sudah menunggu lama sekali !"
Cepat-cepat Tiong Giok menyisir dan merapikan pakaian, tergesa-gesa masuk keruang tengah, dan benar saja Liap In Eng sudah berada disitu menantinya.
"Baru bangun ya ? Sudah makan belum ?"
Tanya Liap In Eng dengan ramah.
"Ah kelewat enak tidur membuat Lo Cianpwee kesal menanti, maafkan atas kemalasanku ini !"
"Anak muda memang sedang doyan tidur! Jika sudah tua mau tidurpun sukar !"
Kata Liap In Eng dengan tenang.
"Engkau sudah sepuluh hari datang kesini, selama ini diam terus dirumah, tentu merasa kesal bukan ? Sebaiknyalah kegunung bersama Tutan, disana bisa membuatmu gembira, sebab pemandangan indah dan hawanya segar."
"Ah memberabekan Tutan saja !"
"Hari inii bakal datang tamu, kuatir engkau menjadi likat, maka itu untuk selanjutnya engkau boleh tidur diloteng belakang, disana lebih bebas untukmu kesana kemari, bagaimana ?"
"Dibelakang adalah kamar Lo Cianpwee dan gadis-gadis ini kukuatir..."
"Takut apa ?"
Kata Liap In Eng.
"Jika menurut umur, antara aku dan gurumu tidak beda berapa jauh, sedangkan engkau merupakan anak baru gede, kenapa menjadi pemaluan betul dan takut sama perempuan ?"
"In Kongcu dalam segala hal memang baik hanya terlalu mengekang diri bergaul dengan perempuan,"
Kata Tutan sambil tersenyum.
"Jangan berlaku kurang ajar !"
Kata Liap In Eng.
"In Kongcu adalah seorang terpelajar yang mengenal aturan, sudah sepatutnya bersikap begitu ! Jangan seperti kamu terlalu bebas dan berandalan."
Tutan menjulurkan lidah, tak berani bersuara lagi.
"Sebenarnya aku sudah terlalu lama diam disini, kini kebetulan ketemu Lo Cianpwee. Dengan ini kumohon berlalu untuk pergi ke Pek Liong San."
"Ah rupanya engkau dikatakan sebegitu saja lantas ngambek dan mau pergi ?"
"Bukan,"
Jawab Tiong Giok.
"karena soal sin kiam siang eng sampai sekarang persoalannya siapa sebenarnya orang tua yang ditahan dalam penjara Pok Thian Pang itu, Tiat Giok Lin atau bukan."
"Soal ini memang penting, tapi tak perlu tergesa-gesa dikerjakan,"
Kata Liap In Eng.
"Kuharapkan engkau berdiam beberapa hari lagi disini, setelah itu baru kesana, begitupun belum terlambat bukan ?"
In Tiong Giok ingin memaksa hari itu juga pergi, tapi Liap In Eng sudah meninggalkannya, membuatnya tak sempat membuka mulut.
"Ah gara-gara Kongcu akupun kecepretan makian,"
Kata Tutan.
"sudahlah buat apa banyak berpikir, lebih baik lekas makan dan turut denganku kegunung."
In Tiong Giok tidak berdaya, dan mengikuti kehendak pelayan itu.
Setelah beres makan, Tutan mengganti pakaian yang lebih ringkas.
Lengannya membawa rantang berisi bekal.
Sepanjang jalan Tutan menunjuk kesana kemari menyebutkan nama-nama tempat.
Tiong Giok hanya manggut-manggut, karena biarpun dirinya sedang berjalan ditempat yang permai, hatinya tidak ada disitu.
Ia sedang berpikir.
"Siapa tamu yang akan datang itu ? Liap In Eng kenapa mau menempatkan dirinya diloteng belakang ? Dan burung pos itu milik siapa ? Ia seperti tak mau memperkenalkan tamunya itu padaku."
"Kita jangan jalan besar, enakan jalan kecil mengelilingi gunung,"
Kata Tutan.
"Kira-kira berapa lama ?"
"Sebelum gelap kita sudah kembali."
"Aku tak pandai ilmu meringankan badan mungkin sampai gelappun belum sampai dirumah !"
"Ilmu silat maupun ilmu dalammu sudah begitu tinggi, masakan sampai ilmu meringankan tubuh saja tidak bisa ?"
"Belum pernah ada yang mengajari mana bisa !"
"Orang yang mempelajari silat paling utama adalah ilmu dalam, setelah menguasai ilmu dalam yang lain mudah dipelajari. Demikian juga soal ilmu meringankan tubuh, mudah sekali jika mahir ilmu dalam."
"Maukah engkau mengajari aku ilmu meringankan tubuh ?"
Tutan menjadi merah mukanya.
"Mana berani aku mengajari Kongcu, tapi untuk memberi petunjuk sih boleh saja,"
Ia memandang kesekitar, dan dilihatnya sebuah pohon yang besar, diajaknya Tiong Giok kesana.
"Kongcu lihatlah kuberi contoh dulu padamu,"
Sehabis berkata terus ia menotolkan kakinya kebumi tubuhnya dengan ringan mencelat keatas pohon.
"Bagaimana ?"
Tanyanya.
"Ah tubuhmu begitu ringan sekali, sampai batang pohon itu tidak terlihat goyang barang sedikit !"
"Kongcu bisakah melompat setinggi tiga depa ?"
"Jangan tiga depa, sedepapun belum tentu kubisa !"
"Bisakah memanjat pohon ?"
"Manjat pohon sih bisa saja."
"Nah mari kesini !"
In Tiong Giok dengan cepat naik keatas pohon menghampiri Tutan.
"Setelah naik, haarus bagaimana lagi ?"
"Nah sekarang engkau harus jalan dicabang pohon ini dengan tenang, napasmu harus teratur rapi, pikiran tidak boleh melayang-layang kesoal lain, harus mengkonsentrasi pikiran pada pelajaran. Nah cobalah !"
In Tiong Giok menurut kata-kata Tutan berjalan dicabang pohon, pertama ia bisa berjalan mantap, setelah cabang pohon bertambah kecil dan bergoyang-goyang, hatinyapun turut berdenyut keras, hampir-hampir ia tak berani melangkah lagi.
"Jangan takut, kumpulkan semangatmu dan perhatikan terus kakimu, Betul ! Maju terus jangan gentar, biar jatuhpun tidak mengapa, hanya tiga depa tingginya !"
Dahan kayu yang panjangnya beberapa meter itu habis juga dilalui dengan setengah mati.
"Bagaimana tidak sulit bukan ?"
Kata Tutan.
"Ini mah bukan berlatih meringankan tubuh, tapi melatih keberanian."
"Benar ! Melompat ketempat tinggi atau dari tempat tinggi melompat turun membutuhkan keberanian bukan ? Nah sekarang coba jalan lagi terbalik! Perhatikan waktu kaki kiri melangkah salurkan tenaga pada kaki kanan, waktu kaki kanan melangkah salurkan tenaga pada kaki kiri dengan begitu keseimbangan badan akan terjaga dengan sempurna."
Tiong Giok menuruti kata-kata Tutan berjalan lagi diatas cabang pohon itu, benar saja dengan begitu keseimbangan badannya terjamin sekali.
Ia bisa berjalan terlebih baik dari tadi.
Tanpa disuruh lagi ia bulak balik beberapa kali.
"Latihan pertama kuanggap selesai dan mari meningkat kepelajaran kedua. Mulai dari sekarang sambil jalan harus membawa batu seberat tiga puluh kati. Untuk ini kaki harus diringankan betul, kekuatan berada dipinggang. Jika Kongcu bisa berjalan didahan itu sampai cabangnya tidak melengkung kebawah artinya sudah berhasil."
"Baik,"
Jawab Tiong Giok.
Tutan segera turun kebawah, diambilnya sebuah batu besar dan dilemparkan keatas, Tiong Giok menanggapi batu itu, lalu mengempitnya dan mulai berjalan didahan tadi.
Tak selang lama batu yang dibawa itu dari kecil ditukar menjadi besar.
Dengan tenaga dalamnya yang tinggi dan bakat yang bagus In Tiong Giok dapat mempelajari ilmu itu dengan mudah.
Tutan melempar batu dari bawah keatas, begitu lama, tak heran lengannya menjadi pegal dan tak kuat lagi melemparkan batu yang seberatnya seratus kati.
"Kongcu engkau sendiri saja turun dulu dan mengangkat keatas, aku sudah letih sekali."
Dengan berapi Tiong Giok menarik napas kepusar dan melompat turun, ia bisa tiba ditanah dengan ringannya.
Lalu diambilnya batu seratus kati itu dan dibawanya melompat keatas....
Lebih kurang ia mengapung dua depa tingginya, batu dan dirinya jatuh lagi kebumi.
Tutan menjadi kaget tak alang kepalang ia cepat-cepat menghampiri.
"Waduh bagaimana apamu yang sakit ?"
In Tiong Giok tiba-tiba saja membalikkan badan dan tertawa tergelak-gelak.
"Ah Kongcu gila kau ! Aku ketakutan setengah mati, kiranya engkau bermain dan berpura-pura jatuh !"
Tiong Giok tidak menjawab, sekali ini benar-benar ia melompat. Batu seberat seratus kati itu kena dibawanya keatas.
"Aku berhasil !"
Serunya girang.
"Ah benar !"
Kata Tutan.
"Coba sekali lagi !"
Tiong Giok turun kebawah dan mencelat lagi keatas terlebih tinggi dari tempat tadi. Atas hasil itu membuat Tutan kaget bercampur girang.
"Ya Kongcu telah berhasil, dengan cara apa engkau menghaturkan terima kasih kepadaku ?"
"Kini aku menghaturkan kepadamu, setelah kembali kerumah akan kuhaturkan lagi terima kasih didepan Liap Locianpwee !"
Tutan menggoyangkan tangan.
"Tidak ! Sekali-kali tak boleh diberitahu pada Siocia, sebab bisa mencelakakan diriku."
"Memang kenapa ? Bukankah jika Siociamu tahu akan turut bergirang ?"
"Tidak! Tidak! Siocia memang bisa bergirang hati, tapi...tapi semua ini adalah bakat Kongcu yang luar biasa dan ilmu dalam yang tinggi ! Aku hanya berkata main-main saja dan ingat jangan diberi tahu pada Siocia !"
"Biar ia tahupun tak mengapa bukan ?"
Tiong Giok sengaja menggoda dan ingin tahu apa sebabnya Tutan ketakutan sekali diketahui Siocianya.
"Kongcu kasihanilah aku,"
Kata tutan hampir menangis.
"Sebab ilmu itu adalah kepandaian Siocia yang dirahasiakan dan tak boleh diajarkan pada orang luar. Sedangkan aku memberi pelajaran ini tanpa disadari, jika sampai diketahuinya, akan dihajarnya..."
"Aku tak percaya !"
"Aku memberikan pelajaran yang dirahasiakan ini kepada Kongcu, apakah dengan begitu caranya menghaturkan terima kasih kepadaku ?"
"Hm seorang pandai seperti Liap Locianpwee tak mungkin merahasiakan ilmu kepandaiannya kepada orang lain."
Kata In Tiong Giok.
"Disini tentu terselip sesuatu yang engkau rahasiakan bukan ? Biar bagaimana harus kau terangkan padaku."
"Dengan begini kebaikanku hanya mendatangkan bencana, dimana letak keadilan ?"
Jilid 9________ "Terus terang saja kenapa tak mau engkau tuturkan apa yang menjadi rahasia hatimu itu ?"
"Tidak ada sesuatu yang menjadi rahasiaku."
"Baik-baik begitu, tapi terangkan dengan sejujurnya."
"Kongcu hanya salah paham merpati pos yang kemarin kulihat terang-terang binatang yang terpelihara, kenapa mengatakan merpati liar yang datang sendiri ?"
Wajah Tutan menjadi berubah, ia sangat kaget, dan kemek-kemek tidak bisa menjawab.
"Lagi pula hari ini akan datang tamu, siapa dia ? Kenapa Siociamu dengan alas an ini menyingkirkan aku kesini dan memindahkan kamarku kebelaklang ? Seolah0olah tidak boleh menemui tamu itu ?"
Tutan menangis, air matanya mengallir ke pipi lalu berkata .
"Tamu itu adalah kawan lama Siociaku. Sudah lama Siocia mengharapkan bertemu dengannya, tapi tak berhasil, dan baru sekarang harapannya selama tiga puluh tahun itu baru terlaksana ! Sudah pasti banyak omongan yang akan dibicarakan mereka dan terlarang untuk orang luar mengetahuimya ! Maka itu dengan memindahkan Kongcu kebelakang sedikitpun tidak bermaksud jahat !"
"Seharusnya kawan baiknya itu ditempatkan di loteng belakang berdekatan dengan kamar Siociamu bukan ?"
"Ia adalah seorang laki-laki !"
"Oh, kiranya begitu, menyesal aku terlalu bercuriga !"
Kata In Tiong Giok sambil tersenyum.
"Sudah lama Liap Lo Cianpwee tak bertemu dengannya, tiba-tiba mengetahui kawannya itu akan datang, tentu burung pos itu yang membawa berita bukan ?"
"Ini...ini...aku tak tahu !"
"Setiap kusinggung mengenai burung pos itu, engkau tak mau mengatakan yang sebenarnya. Tentu ada apa-apanya bukan ? Mulai hari ini aku pindah keloteng belakang, pasti akan mendapat kesempatan membongkar rahasia ini dan akan mengetahui soal yang kau rahasiakan !"
"Bahkan jangan berlaku gegabah, jika diketahui Siocia engkau bisa celaka."
"Adakah satu rahasia diloteng belakang itu yang tidak boleh diketahui orang luar ?"
"Kongcu jangan bertanya padaku, bagaimanapun aku tak berani menerangkan,"
Kata Tutan.
"aku hanya mengharapkan Kongcu jangan berlaku demikian, sebab berbahaya sekali..."
Ia tidak mau menerangkan terlebih lanjut. Hanya kepalanya digoyang-goyang dan air mata mengalir terus dengan deras.
"Katakanlah padaku, aku berjanji tak akan menceritakan lagi pada orang lain !"
"Tutan menoleh kekiri kanan, tampak ketakutan sekali, berapa kali bibirnya bergoyang tapi tak mengeluarkan suara, seolah-olah jika ia bersuara akan mendatangkan bencana besar baginya.
"Jangan kuatir, kita hanya berdua saja, tak ada orang lain yang mendengar !"
Tutan menjadi berani juga.
"Kongcu sebaiknya lekas pergi dari sini, lebih cepat lebih baik.."
"Siang-siang aku mau pergi, tapi sebab dicegah Siociamu..."
"Pergilah dari sini diluar tahunya !"
Tiba-tiba saja terdengar dengusan seseorang disusul berkelebatnya sesosok tubuh dihadapan mereka.
"Tutan engkau jangan mengaco tak keruan, apa yang kau katakana barusan ?"
Pendatang itu adalah seorang tua berambut putih, dan bermata satu.
"Sun Toa nio,"
Kata Tutan sambil menarik nafas lega.
Perempuan tua itu mengenakan pakaian serba hitam, lengannya memegang tongkat hitam yang mengkilap.
Ia berjalan menghampiri sepasang muda mudi itu, dari geraknya tampak ia berilmu itnggi.
"Enkau siapa ? Diamlah disitu kalau mau bicara tak perlu dekat !"
Kata In Tiong Giok. Orang tua itu dengan terpaksa menghias wajahnya yang keriput dengan senyuman palsu.
"In Kongcu engkau tak kenal denganku, tetapi aku kenal denganmu. Siocia mengetahui tabiat Tutan ini paling senang mengatakan yang tidak-tidak , maka mengutusku untuk mengawasinya !"
"Aku tidak menanyakan soal ini, aku hanya ingin tahu engkau siapa ?"
Nenek-nenek itu memancarkan sinar jahat dari matanya, lalu tertawa parau.
"Jika ingin tahu siapa aku, tanyakanlah pada Tutan !"
"Tutan siapa sebenarnya dia ?"
Tanya In Tiong Giok tak sabaran.
"Ia adalah babu tete Siociaku,"
Kata Tutan dengan berbisik.
"Biar bagaimana Kongcu tak boleh melepaskan dia, jika tidak kita akan celaka..."
"Tutan, bentak nenek itu memotong percakapan orang. Nyalimu sungguh besar ! Berani menghasut In Kongcu untuk melawan padaku ?"
"Tidak ! Aku tidak menghasut, aku hanya mengatakan soal yang sebenarnya."
"Hm, apa yang kau ucapkan patah demi patah terdengar telingaku, mau membohong, kata nenek itu dengan galak. In Kongcu engkau adlah murid seorang kenamaan didunia persilatan, sekali-laki jangan mendengari perkataan budak ini ! Tadi ia mengatakan ilmu yang dirahasiakan dan tak boleh diajarkan pada orang luar dan lain....semua dusta, jika tak percaya engkau boleh menanyakan semua ini kepada Siocia !"
"Kongcu tak boleh pulang, berarti kematian bagimu,"
Kata Tutan memperingati.
"Budak hina yang tidak tahu diri, kuhabiskan nyawamu !"
Teriak Sun Toa nio seraya menerkam dan menghajarkan tongkatnya pada Tutan. In Tiong Giok mengebaskan lengan kirinya dan membusungkan dada menghadang Sun Toa nio.
"Sabar dulu, aku mau bicara denganmu !"
Tongkat Sun Toa nio tadi kena disampoh miring lengan Tiong Giok, hal ini mendatangkan rasa kaget si nenek. Cepat-cepat ia menarik tongkatnya dan berkata .
"Kongcu mau mengatakan apa ?"
"Ingin kutahu Toa nio, tahun ini berusia berapa ?"
"Untuk apa engkau menanyakan umurku ?"
"Kuharap engkau menjelaskan, pasti ada gunanya !"
"Usiaku lima puluh enam tahun !"
"Orang seusiamu itu apakah pantas menjadi babu tete dari Liap Lo Cianpwee ?"
Kata In Tiong Giok.
"Tiga puluh tahun yang lalu Liap Lo Cianpwee sudah berusia sekitar dua puluh tahunan, engkau berusia berapa menyusui Siocia itu ?"
Sun Toa nio tak bisa menjawab.
"Memang dia ini adalah babu tet yang palsu,"
Kata Tutan. Sun Toa nio menjadi gusar, tongkatnya segera terangkat lagi menyerang tutan. Tapi dengan kecepatan kilat, Tiong Giok menyambar gadis itu dan dibawanya melompat sejauh beberapa tombak.
"Engkau mau apa ?"
Tanyanya pada si nenek.
"In Kongcu engkaujangan terpincuk paras cantik budak itu dan melakukan pekerjaan yang sesat ! Lekaslah ikut denganku menghadap pada Siocia, ia sedang menantikanmu dengan tidak sabar ! Mulutnya berkata lengannyapun tidak tinggal diam, memutar tongkatnya dengan keras, menghantam ke arah Tiong Giok.
"Kongcu jangan ragu-ragu lagi, hadapilah keparat ini dengan Hiat cie lengmu !"
Seru Tutan.
Sun Toa nio menyerang Tiong Giok dengan gencar sebanyak tiga jurus.
Setelah dengan mendadak ia membalik tubuh dan menyergap Tutan.
Untung yang disebut belakangan dapat mengengos, membuat tongkat itu menghajar tanah dan menimbulkan suara nyaring.
Dengan gerakan cepat tongkat itu diangkatnya dan disabatkan lagi pada Tutan.
Gerakan ini sangat cepat dan mendadak, sehingga mengenai dengan tepa tperut lawan, Tutan tergeliat dan nguseruk ditanah.
Nenek tua itu tidak puas sampai disitu, tongkatnya terangkat lagi untuk menghabisi jiwa orang.
Pada saat inilah In Tiong Giok melancarkan Hiat cie lengnya dari belakang musuh, suara seri ilmu mautnya, membuat Sun Toa nio membatalkan niat kejamnya.
Tanpa menoleh lagi ia merebahkan diri.
Tapi tak urung rambutnya sebagian besar telah menjadi hangus terkena angin Hiat cie leng yang panas laksana api.
Dengan cepat ia mencelat bangun dan terus mengambil langkah seribu.
Tiong Giok menghampiri Tutan.
"Bagaimana ? Luka beratkah ?"
Dengan kedua tangan Tutan menekap perutnya, wajahnya pucat pasi, keringat dinginnya mengucur deras. Dengan menahan sakit ia memaksakan bicara .
"Kejar dia ! Jangan biarkan ia kembali kerumah ..."
"Ku obati dulu lukamu..."
"Jangan ! Lekas kejar !"
In Tiong Giok menganggukkan kepala dan terus mengejar Sun Toa nio.
Tapi yang dicari itu dalam waktu sekejap sudah tak terlihat mata hidungnya lagi.
Tapi ia sadar bahwa musuhnya itu pasti berlari pulang kerumah.
Maka itu dengan mengumpulkan hawa sejati dipusarnya ia berlari dengan keras memakai ilmu meringankan tubuh yang baru dipelajari kearah rumah.
Entah sudah berapa lama ia berlari, tahu-tahu didepannya terlihat seorang tua mengenakan pakaian hitam, ia menjadi girang.
Dengan cepat ia mendahului orang tua itu dan berbalik menghadang jalan.
"Mau lari kemana lagi nek ?"
Katanya begitu berbalik badan.
Ia menjadi gugup dan kemaluan karena orang tua itu bukan nenek-nenek, melainkan adalah kakek-kakek hanya saja pakaiannya serba hiotam serupa dengan Sun Toa nio.
Kakek itu kelihatan bermata tajam, dan gagah, sekali lihatpun bisa diketahui seorang berilmu itnggi.
"Ah, maafkan aku,"
Kata In Tiong Giok.
"Aku kesalahan pak !"
"Apakah dengan menghaturkan maaf saja soal ini terhitung beres ?"
Tanya kakek itu dengan dingin.
"Habis harus bagaimana ?"
Tanya Tiong Giok.
"Sedikitnya engkau harus saja kui, bertekuk lutut sebanyak tiga kali !"
"Aku sedang tergesa-gesa, tak mempunyai waktu berkelekar denganmu, lain kali saja !"
Kata In Tiong Giok dan terus mencelat pergi.
"Kembali !"
Teriak kakek itu. Tiong Giok merasakan bajunya ditarik orang dan tak bisa pergi lagi, lalu jatuh lagi ketempat tadi.
"Bocah jangan main gila dihadapanku !"
Bentak sikakek.
"Kesalahanku tidak seberapa dan sudah kuhaturkan maaf, tapi engkau menghendaki yang tidak-tidak dariku, perbuatanmu itu kelewat sekali !"
"Justru tabiatku sangatg aneh, setiap yang membangkang perintahku, bagaimanapun harus kutunduki !"
"Bagaimanapun aku tak bisa dipaksa !"
"Hm engkau sangat bandel ya ! Ketahuilah orang-orang yang bandel dan tidak dengar kata mulutku akibatnya bagaimana ? Tuh kau lihat contohnya !"
Katanya sambil menunjukkan kebawah tebing. Tiong Giok menengok kearah yang ditunjuk disitu terlihat seorang tergantung rotan, waktu ditegasi orang itu nyatanya Sun Toa nio adanya.
"Nenek ini kurang ajar, berlari cepat melewatiku, waktu kutahan dan menyuruhnya bertekuk lutut, bukan saja ia tidak mau malahan menyerang dengan tongkatnya itu,"
Kata si kakek sambil menunjuk kedekat batu.
Disitu terlihat tongkat Sun Toa nio yang mengkilap tertancap dalam.
Kakek itu merebut tongkat itu, lalu membelit ujung rotan lalu menyentak keatas seperti orang memancing ikan.
Tubuh Sun Toa nio segera terangkat keatas dan jatuh ditanah.
Wajahnya pucat pasi, tapi belum mati.
"Dengan kepandaiannya tak seberapa mau melawanku Lui sin Tong Cian Lie, nah akibatnya begini !"
Tampaknya si kakek yang bernama Tong Cian Lie tidak menaruh belas kasihan pada nenek itu.
Kakinya terangkat mendupak nenek itu dan terpental jatuh kedalam tebing dengan jiwa melayang.
In Tiong Giok tanpa disuruh lagi bertekuk lutut didepan kakek itu.
"Aku In Tiong Giok menghaturkan hormat pada Tong Lo Cianpwee !"
"Hm mau bertekuk lutut juga ? Engkau pandai dan bisa melihat gelagat, lekas bangun !"
"Tadi aku tak tahu bahwa Lo Cianpwee adalah Lui sin, maka aku berlaku kurang ajar ..."
"Sesudah tahu buru-buru tekuk lutut, apa maksudmu ?"
"Aku mendapat pesan dari Cian bin sin kay Cu Lit untuk menemui lo Cianpwee di Ciu yang shia, tapi belum sempat kesana dan kebetulan bertemu disini..."
"Kiranya engkau kenal dengan pengemis bermuka-muka itu ? Ia menyuruhmu menemuiku untuk apa ?"
"Antaraku dengannya adalah kawan dalam kesusahan"
Kata in Tiong Giok seraya menuturkan kisahnya bersama Cu Lit di Pok Thian Pang secara panjang lebar.
"Ah masakan sampai Thay Cin Tojin dan Cu Lit mengabdi pada Pok Thian Pang ?"
Aku tidak percaya !"
Kata Cian Lie.
"Ya memang mula pertama Cu Lo Cianpwee tak menurut dan mengacau disana, tapi setelah bertemu dengan sang Pangcu dari Pok Thian Pang segera menurut ! Hal ini kudapat tahu dari Siau Pangcu !"
"Siau Pangcu ? Berapa usia pemuda itu ? Dan bagaimana parasnya ?"
"Usianya tujuh belas tahun, soal wajahnya sukar dilukiskan dengan kata-kata,"
Kata Tiong Giok.
"Orangnya pendiam dan tak suka bergaul, menurut katanya ayahnya sudah meninggal. Dan yang mengherankan sampai nama ayahnya sendiri tidak diketahuinya !"
"Oh seorang anak yang tak berayah, kasihan ."
"Ayahnya dibunuh orang !"
"Siapa yang membunuhnya ?"
"Tidak tahu !"
"Jika tidak tahu mengapa mengetahui ayahnya dibunuh orang ?"
"Hal ini diketahui dari dedengkot Pok Thian Pang yang biasa dipanggil Lo Cucong, hanya saja ia tidak memberitahu Siau Pangcu itu !"
"Apakah pangcu itu berusia sekitar tiga puluh lima tahun, dan ditengah-tengah alisnya terdapat tahi lalat merah ? Kalau tersenyum ada lesung pipitnya ?"
"Benar ! Kenapa Lo Cianpwee bisa tahu ?"
"Oh tak heran pengemis itu menyuruhmu menemui diriku kiranya hal itu benar adanya"
Kata Tong Cian Lie sambil berkemak kenik sendiri.
"Ah bagaimanapun juga jika belum melihat dengan mata kepala sendiri sukar untuk mempercayainya !"
"Siapa yang ingin Lo Cianpwee lihat ?"
Tong Cian Lie tidak menjawab melainkan menyuruh Tiong Giok berjalan "Aku akan bertamu ke Kek Liong san menemui Lim Siok Bwee."
"Sekarang belum bisa kesana !"
"Kenapa ?"
Tanyanya. Tiong Giok menceritakan pertemuannya dengan Liap in Eng dan kejadian yang baru dialami tadi.
"Oh kiranya nenek tua ini anak buahnya Liap In Eng!"
Kata Tong Cian Lie.
"Mari kita temuinya, aku kenal dengannya !"
"Tapi aku harus kegunung dulu disana ada seorang gadis yang menderita luka berat terkena tongkat Sun Toa nio,"
Kata In Tiong Giok.
"Kuharap Lo Cianpwee menunggu sejenak aku mau menolongnya."
"Siapa gadis itu ?"
"Ia adalah pelayannya Liap Lo Cianpwee yang bernama Tutan,"
Jawab In Tiong Giok.
"Saat itu ia baru mau mengungkapkan rahasia siocianya, tahu-tahu datang Sun Toa nio dan melukainya."
"Ilmu meringankan tubuh yang engkau pergunakan tadi adlah pelajaran asli dari Liap In Eng yang bernama Bunga Jatuh Terbang Melayang, dari siapa engkau memperoleh ilmu itu ?"
"Kudapat dari Tutan !"
Kata In Tiong Giok.
"Jika begitu Tutan adalah orang bawahan Liap In Eng yang sejati, mari kita tengok !"
Mereka menggunakan ilmu meringankan tubuh kembali ketempat dimana Tutan terluka tapi diluar dugaan siapapun bahwa Tutan sudah tidak terlihat lagi.
Ditempat ia rebah terluka rumput-rumput berlepotan darah, dan terus terlihat sampai ketepi jurang, disitu terlihat sehelai baju yang penuh dengan tulisan darah dan berbunyi seperti berikut .
"Lukaku sangat berat, pasti tidak akan tertolong lagi, tambahan kunantikan Kongcu tak kunjung datang, darah mengalir terus dari mulut, sedangkan napasku semakin sesak. Aku mati dengan penasaran, karena belum bisa membals budi kebaikan Siocia, andaikata Kongcu bisa membebaskan diri, jangan lupakan kamar bawah tanah yang terletak diloteng belakang....."
Sampai disini surat itu habis, agaknya Tutan tidak tahan lagi dan menggelinding kedalam jurang.
"Tutan akulah yang membuatmu mati..."
Kata Tiong Giok sambil menangis tanpa mengeluarkan suara.
"Jika bisa membebaskan diri jangan lupakan kamar dibawah tanah yang terletak diloteng belakang...Hm ! mungkinkah Liap In Eng mempunyai sesuatu rahasia yang tak boleh diketahui orang ?"
"Tutan mengatakan mati dengan penasaran karena belum bisa membals budi kebaikan siocianya. Andaikata Liap Lo Cianpwee mempunyai sesuatu rahasia yang tidak boleh diketahui orang luar, sudah tentu Tutan membantunya menyimpan rahasia itu, tapi kenapa ia memberitahu padaku ?"
"Kalau begini kita harus melihat rahasia apa yang terbenam dikamar tanah itu,"
Kata Tong Cian Lie.
"Lo Cianpwee adalah kawan lama dari Liap Lo Cianpwee, bagaimanapun tak pantas menanyakan secara langsung rahasia dikamar itu bukan ?"
"Tidak bisa berterus terang, kita boleh menyelidiki secara menggelap bukan ?"
"Kalau begitu kita nantikan sampai malam, dan masuk kedalam rumah melalui pintu belakang, bagaimana oikir Lo Cianpwee bolehkah ?"
"Kenapa tidak boleh ?"
Jawab Tong Cian Lie.
Tiong Giok memungut rantang yang bersih kue-kue kering lalu membagi Tong Cian Lie, dengan lahap menghabiskannya dan menghilangkan dahaga dengan air gunung.
Sewaktu senja mendatang baru turun gunung.
Mereka menempuh jalanan gunung yang berliku-liku, dan makan waktu.
Maka setibanya dirumah lampu-lampu telah menyala.
Tong Cian Lie memandang rumah itu dengan sinar matanya yang tajam, lalu menanya pada Tiong Giok.
"Bocah apakah engkau pernah menjadi maling ?"
"Apa perlunya Cianpwee menanyakan hal ini ?"
"Sejujurnya puluhan tahun aku berkecimpung didunia Kang Ouw, selama itu pernah mencuri masuk kerumah orang ! Sekarang pertama kali masuk kerumah orang tanpa diketahui penghuninya, mau tak mau hatiku kebat kenit tidak keruan ! Lebih-lebih Liap In Eng adalah kawan lamaku jika kepergok..."
"Tak kira Lo Cianpwee bernyali kecil ..."
"Ngaco ! Aku bukan takut, mengerti ! Sebagai laki-laki sejati, bagaimanapun tak boleh membuang muka didepan perempuan !"
"Habis bagaimana ?"
"Sebaiknya terang-terangan aku masuk dari pintu dan engkau masuk dari pintu belakang !"
"Cara itu kupikir kurang baik,"
Kata In Tiong Giok.
"Bagaimana kalau Lo Cianpwee menunggu diluar dan aku masuk sendiri ? Andaikata dalam waktu satu jam aku belum keluar pasti mendapat gangguan, saat itu Cianpwee boleh masuk dari pintu depan menghadap padanya untuk membebaskan aku..."
"Bagus !"
Sela Tong Cian Lie.
"tak sangka kecil-kecil bisa berpikir panjang, nah pergilah dengan tenang !"
Tiong Giok tersenyum dan melangkah pergi.
Dengan melalui tembok ia sampai dikamar batu sebelah kiri, dari sini ia melihat sinar lampu terang benderang diloteng belakang.
Bayangan orang tampak seliweran, menandakan Liap In Eng dan para pelayannya belum tidur.
Ia tak berani sembarangan bergerak, dengan hati-hati ia mengawasi situasi rumah.
Dilihatnya sebuah gang kecil menuju kesebuah ruang dalam, disamping ruangan itu terdapat sebuah tangga menuju keloteng.
Saat ini dirumah itu tidak ada orang, tapi ada dua lentera yang terang benderang.
Jika berlaku semberono menuju kesana dan ketahuan orang, tidak ada tempat untuk bersembunyi.
Ia menunggu agak lama juga, tapi sinar lampu masih tetap terang.
Untuk tidak membuang waktu dan membuat Tong Cian Lie yang menanti diluar merasa cemas, ia memberanikan diri menuju keruangan itu.
Ia berhasil sampai ditempat yang dituju dan buru-buru menyembunyikan diri dibalik pintu.
Dari sini dia mendengar suara percakapan-percakapan yang bercampur isakan tangis.
"Apakah sudah diutus orang untuk mencari Tutan fan Sun Toa nio ?"
Terdengar suara Liap In Eng dengan keras.
"Jung jung sudah pergi mencari, tak lama lagi ia pasti pulang !"
"Kamu tidak bisa diandalkan sama sekali, tepat pada saat-saat yang penting, tidak terlihat kembali, sudahlah pergi dan turun yang lain menyediakan kuda Pek kounio mau pulang !"
Begitu mendengar "Pek Kuonio"
Tiong Giok berdebar-debar tidak keruan.
"Mungkinkah dia ?"
Belum ia berpikir terlampu jauh kupingnya mendengar suara bercampur tangis.
"Tidak ! Aku tidak mau pulang, biar matipun tak mau pulang !"
Suara sangat dikenal Tiong Giok, nyatanya Pek Kounio itu bukan lain dari Pek Wan Jie adanya.
Bukankah Wan Jie berada di Pok Thian Pang ?
Kenapa ia bisa berada disini, ia tak bisa berpikir lama sebab harus mendengar lagi pembicaraan Liap In Eng.
"Wan Jie kuharap kau bisa bersabar, sebaiknya lekas pulang, jika sampai diketahuinya, engkau berada disini, ia bisa curiga."
"Aku bisa sembunyi diloteng !"
"Sebaiknya engkau pergi dulu dari sini ! Jika In Tiong Giok kena kutangkap engkau bisa menemuinya dimarkas pusat", kata Liap In Eng.
"Apa yang kulakukan sudah menyimpang dari perintah seharusnya, aku musti menangkapmu lebih dulu dan membawa pulang."
"Aku ingin melihatnya sekali saja, sebab kutahu pulang berarti mati, sungguhpun begitu aku rela jika sudah melihatnya, barang sekali."
"Kuharap sebelum ia pulang engkau harus meninggalkan tempat ini. Mie lie, Siu sian antarkan Pek Kounio pergi !"
"Baik !"
Sahut dua pelayan itu.
Langkah-langkah mereka segera terdengar diatas tangga.
Tiong Giok yang bersembunyi dibalik pintu mudah terlihat dari atas, maka itu menjadi cemas.
Dilihatnya sebuah pintu dibalik tangga yang tidak terlihat dari arah luar.
Cepat-cepat is menuju kesana, untung tidak terkunci dan ia bisa masuk kedalamnya.
Ia menjadi melongo karena kamar yang dimasuki adalah kamar mandi, disitu penuh tergantung pakaian dalam kaum perempuan dan sebuah kaca besar.
Membuatnya jengah sendiri.
Dengan menahan napas ia mengintip dari celah pintu.
Tampak dua pelayan berbaju kuning sedang turun dari tangga, dibelakangnya mengikuti Pek Wan jie, gadis idaman hatinya yang tak dapat dilupakannya!
Sudah lama ia tidak bertemu muka dengan kekasihnya itu, rasa rindunya menjadi-jadi setelah melihat orangnya, hampir-hampir ia melompat keluar jika tidak melihat Liap In Eng berada disitu.
Dengan wajahnya yang cantik dan agung Liap In Eng menggandeng Wan Jie turun selangkah-selangkah dari tangga.
Sambil melangkah ia menghibur dengan suaranya yang halus .
"Wan Jie jangan sesalkan aku, kutahu engkau berani berhianat semata-mata untuk menolongnya agar tak sampai dibawa kemarkas pusat, tapi engkaupun mengingat selama lima tahun aku menderita karena apa ?"
"Bukankah benda yang Kouw-kouw (bibi) kehendaki sudah dapat ?"
"Benar benda itu sudah kudapat dan telah kubunuh sijelek, dengan begini capai lelahku selama lima tahun tak sia-sia ! Tapi bagaimanapun kita tak bisa membiarkan In Tiong Giok, karena dialah orang luar satu-satunya yang mengetahui rahasia dimarkas pusat ! Juga dengan tindakannya mencetak buku Keng thian cit su mendatangkan kerugian tidak sedikit bagi kita."
"Kouw-kouw ! Ampunilah dia, kutahu betul ia tidak memusuhi Pok Thian Pang ! Ia hanya seorang pelajar lemah, kaum Pok Thian Pang tak usah takut padanya !"
"Engkau salaj, Wan Jie. In Tiong Giok yang sekarang bukan seorang pelajar lemah, iapandai Hiat cie leng dan Keng thian cit su ditambah bakatnya yang luar biasa, dalam sekejap kepandaiannya maju terus dengan pesat..."
"Benda yang Kouw-kouw kehendaki sudah didapat, boleh dikatakan kerugian dari Keng thian cit su sudah tertutup, kenapa masih memusuhi terus pad In Tiong Giok ?"
"Andaikata ia dibawa kepusat belum tentu akan dihukum mati bukan ?"
"Sudah pasti dihukum mati ! Karena begitu mendapat surat dari merpati pos yang Kouw-kouw kirim. Lo Cucong mengatakan "tangkap bawa kesini dan beset kulitnya,"
Setelah kudengar perkataan ini dengan tidak memperdulikan apa aku meninggalkan pusat datang kesini."
"Lo Cucong hanya keras dimulut, apa yang dikatakan belum tentu dilaksanakan, pokoknya asal bisa menasehatinya masuk menjadi anggota..."
"Ia pasti tak mau !"
Potong Wan Jie.
"Hal ini terserah padamu, apakah dengan cinta kasihmu padanya bisa membuatnya menurut atau tidak semua ini urusanmu ! Pokoknya setelah sampai saatnya, baru kita bicarakan lagi, jalanlah baik-baik !"
Sebahis berkata, iapun memberi tanda pada Mei lie dan Sui sian dua gadis mengambil lampu dan mengajak Wan Jie keluar. Wan Jie masih memegangi terus baju Kouw-kouwnya sambil meratap.
"Kouw-kouw tega amat sih ? Dulu Hoo Hoa dan Teng Pouw kau tolong masakan aku tidak ?"
"Anak dungu pulanglah dengan tenang, pasti akan kumintakan ampun pada Lo Cucong asal saja engkau mau mendengar kata-kataku !"
Kata Liap In Eng.
"Sekarang engkau pergi dulu ke lian hoa tong dikaki gunung, begitu Tiong Giok pulang akan kuajak dia kesana bertemu muka denganmu. Dan sekarang kuantar kau keluar, mari lekas !"
Wan Jie meninggalkan rumah sambil menangis.
Tiong Giok turut menangis menyaksikan kejadian itu, disamping itu iapun sadar bahwa orang yang mengaku Liap In Eng selama ini adalah Soat Kouw adanya, yakni Hoe Pangcu dari Pok Thian Pang yang telah menghilang selama lebih kurang lima tahun.
Yang mengherankan, seorang yang memalsu diri orang lain, berani bergerak di dalam dunia Kang Ouw seperti orang yang sebenarnya tanpa diketahui.
Kini kemana perginya Piau siang kiam Liap In Eng yang sejati ?
Sedangkan Tutan pandai dia menggunakan ilmu bunga jatuh terbang melayang, dan menurut Tong Cian Lie adalah kepandaian sejati dari Liap In Eng.
Tutan itu anak buahnya yang sebenarnya !
Tapi kenapa Soat Kouw bisa mengetahui sampai kepada anak buah orang yang ia palsukan ?
In Tiong Giok tidak mau berpikir lama-lama dan tak mau pula menolong Wan Jie pada saat itu, yang dipentingkan adalah mencari rahasia kamar dibawah tanah yang disebutkan Tutan.
Begitu pikirannya sudah mantap, segera mau bergerak.
Akan tetapi niatnya batal karena mendengar langkah kaki, ia mengintai keluar terlihat berkelebat sesosok tubuh berbaju kuning.
Tiong Giok mengenali ini Jung jung yang disuruh mencari Sun Toa nio dan Tutan.
Gadis itu memegang tongkat Sun Toa nio tampak geraknya amat kesusu, ia melihat lentera ditangga sudah ada, segera berseru keras.
"Giok lan ! Giok lan !"
Dari loteng terdengar langkah kaki turun, dan seorang pelayan berbaju hijau menyahutperlahan.
"Jung jung kemana saja engkau ? Siocia berulangkali menanyakan..."
"Apakah Siocia sudah pergi ?"
"Ia hanya mengantar Pek Kounio keluar...apakah engkau menemukan Sun Toa nio dan Tutan ?"
"Tampaknya kejadian sangat hebat, kutemui tongkat Sun Toa nio disana bercampur dengan darah segar, sedangkan orangnya tak ada !"
"Sun Toa nio berkepandaian tinggi, apakah mungkin dicelakai orang ?"
"Amat sulit dikatakan ! Apakah Tutan dan In Kongcu sudah pulang ?"
"Belum!"
Jawabnya.
"Ah benar-benar aneh !"
Kata Jung jung sambil menarik napas.
"adakah Siocia memesan sesuatu hal untukku ?"
"Ia hanya memesan setelah menangkap In Kongcu, boleh segera turun tangan, akan tetapi sekarang..."
"Adakah dia memesan untuk memindahkan kamar yang dibawah itu ?"
"Seingat saya tidak !"
"Apakah sudah lama Siocia keluar ?"
"Baru saja..."
Belum pula perkataan itu habis, Jung jung mengayunkan tongkat ditangannya kepada Giok lan sekuat tenaganya.
Tanpa bersuara lagi Giok lan roboh tanpa berkutik.
Kejadian yang mendadak ini membuat In Tiong Giok melongo dan tak habis mengerti....
Jung jung setelah membunuh Giok lan segera mengambil serenceng kunci dari tubuhnya, dan menyeret mayat itu kebagian yang agak gelap.
"Jika tidak mengingat keselamatan Siocia, aku tidak bisa bersabar sampai hari ini ! Hm Pok Thian Pang yang hina, ketahuilah bahwa anak buah Piau siang kiam bukan manusia yang mudah dihina."
Sehabis berkata sendirian, tubuhnya berputar dan mendorong pintu dimana Tiong Giok berada.
Hampir-hampir Tiong Giok terdorong mental, dengan gesitnya ia menggunakan kiu coan bie cong pou, sehingga tubuhnya itu dapat bergerak cepat dan tetap terhalang daun pintu.
Jung jung tak memperhatikan dibelakang tubuhnya ada orang, begitu masuk ia menekan kaca bergeser terlihat sebuah pintu.
Jung jung masuk kedalam, kaca itu tutup lagi sediakala.
In Tiong Giok menjadi girang dapat menemukan rahasia itu, cepat ia menekan kaca itu dan masuk kedalam.
Ia melihat undakan tangga yang cukup banyak, menuju kebawah diujung sekali terdapat sinar api.
Ia emngikuti tangga turun kebawah, dan tiba disebuah ruangan kamar persegi cukup lebar.
Jeruji besi disitu sudah dibuka Jung jung, memudahkan Tiong Giok masuk kedalam.
Ia melihat Jung jung sedang bertekuk lutut sambil menangis dihadapan seorang perempuan tua kurus berbaju hitam, yang kedua kaki tangannya terbelenggu rantai.
Kehadiran Tiong Giok disitu tidak diketahui Jung jung yang sedang bersedih hati sedangkan Liap In Eng diam diam saja, menandakan tak tahu juga.
Sambil membuka rantai yang membelenggu Liap In Eng tidak henti-hentinya Jung jung menangis.
"Siocia waktu sangat mendesak, aku datang kemari bertaruh jiwa, kenapa Siocia tidak mau pergi ?"
"Ah kenapa bodoh betul, tidakkah mengerti kata-kataku ? Mataku telah buta, tidak ada artinya untuk hidup terus bukan ? Aku hanya menyesal pelajaranku belum semuanya diturunkan pada kalian, sungguhpun begitu aku harapkan kalian selekasnya menyingkir dari sini dan carilah tempat yang baik untuk melatih diri, guna menuntut balas dikemudian hari ! Dengan begitu, berarti kalian telah membalas budi padaku !"
"Jika Siocia tak mau pergi, sampai matipun aku tidak akan mau pergi !"
"Lagi-lagi engkau berkata bodoh, sudah tahu waktu sangat sempit ! Dengan mengajakku keluar berarti kematian ! Nanti siapa yang akan menuntut balas padanya ?"
"Selama setengah tahun kami bersabar, karena Siocia berada ditangan mereka, kini dengan adanya Siocia ditangan kami, tidak perlu aku takuti lagi mereka. Yakinlah kita snggup melindungi Siocia dari bahaya apapun !"
"Jangan memandang enteng perempuan hina itu, kepandaian maupun kecerdikannya tidak berada dibawahku, pendeknya jika kau masih menganggapku Siociamu, lekaslah berlalu dari sini !"
Jung jung tidak mau menurut, dengan kekerasan ia membawa pergi Siocianya. Hal ini mendatangkan kemarahan Liap In Eng.
"Hei budak apakah engkau tidak dengar kataku dan mau melanggar peraturan perguruan ?"
"Siocia boleh marah dan mencaciku, tapi ketetapan untuk menolongmu keluar tak bisa diganggu gugat lagi, sudah mantap !"
Kata Jung jung sambil berlutut.
"Ai, engkau bukan mau menolongku, melainkan ingin menjerumuskan diriku kejurang derita ! Tegakah engkau melihat aku dalam keadaan begini dihina perempuan bangsat itu ? Apa artinya lagi hidupku dalam keadaan begini...?"
"Siocia bettahun-tahun engkau menantikan kedatangannya bukan ? Kini ia sudah datang tidakkah engkau mau menemuinya barang sekali ?"
"Aku mencelakakan diriku juga menceelakakan dirinya, lebih-lebih kedua mataku..."
Suaranya begitu parau dan menyedihkan dari kedua matanya yang buta mengalir air mata.
"Jung jung kini ia datang, tidakkah dicelakakan perempuan hina itu ?"
"Sore tadi aku diutus keluar, sebelum itu tidak terjadi apa-apa, entah keadaan sekarang. Menurut perkiraanku perempuan hina itu sedang menantikan In Tiong Giok kembali, baru menghadapi Pek Lo Cianpwee..."
"Kalau begitu lekas kutemuinya, serta minta padanya membawa kalian meninggalkan tempat yang berbahaya ini !"
"Tanpa adanya Siocia mana mungkin ia percaya ?"
"Apakah ia tidak mencurigakan kepalsuan perempuan hina itu ?"
"Antara Siocia dengannya sudah tiga puluh tahun tidak bertemu muka, mana mungkin ia bisa membedakan yang tulen dengan yang palsu, kecuali Siocia menemuinya sendiri !"
"Andaikata aku memberikan sesuatu barang padamu dan memperlihatkan padanya pasti ia akan mempercayai omonganmu !"
"Ya dengan begitu mungkin ia percaya !"
"Dibawah jerami-jerami tempat kutidur terdapat kantong kecil, ambillah !"
Jung jung membalik badan dan pergi mencari barang yang ditunjuk dibawah tumpukan jerami-jerami kering.
Saat inilah dari tempat duduknya Liap In Eng mengeluarkan sebilah belati dan terus menikamkan kedalam ulu hatinya......., Gerakannya sangat cepat, Jung jung mendengar gerakan ini dan menoleh, ia menjadi kaget dan menubruk Siocianya.
Tapi usahanya itu bagaimanapun tidak berhasil, karena gerakan Liap In Eng terlebih cepat dari gerakan Jung jung.
Dalam keadaaan berbahaya inilah In Tiong Giok turun tangan.
"Sreet"
Hiat cie leng yang ampuh membuat belati ditangan Liap In Eng patah dibagian dekat gagangnya. Liap In Eng menjadi kaget, gagang belati yang dipegang segera jatuh ketanah.
"Hiat cie leng !"
Han Sian Ko kah yang datang ?"
Serunya kaget. In Tiong Giok maju kedepan sambil bertekuk lutut.
"Aku In Tiong Giok."
"In Tiong Giok ?"
Kata Liap In Eng, nama ini sangat asing baginya.
"Siocia In Kongcu ini adalah murid Han Lo Cianpwee."
"Oh, seru Liap In Eng dengan paras terkejut.
"In Kongcu terima kasih atas pertolonganmu, inilah Siocia kami yang sebenarnya !"
"Aku sudah mendengari percakapan kalian dan mengerti duduk persoalannya, kini waktu sangat mendesak, dan maaf atas kekurangajaranku !"
Sehabis berkata ia bangun dengan cepat dan lantas menotok pada Liap In Eng.
"In Kongcu apa yang hendak engkau perbuat ?"
Tanya Jung jung.
"Tak lama lagi perempuan itu akan kembali, waktu sangat sempit sekali untuk kita bergerak. Jika tidak begini Siociamu mana mau keluar dari sini ?"
Jung jung menganggukkan kepala.
"Bagaimana dengan Tutan ?"
Tiong Giok menuturkan kematian Tutan dengan ringkas, dan pertemuannya dengan Tong Cian Lie sekalian dengan matinya Sun Toa nio.
"Jika aku dan Tong Cian Lie dapat melawan si perempuan jahanam itu teramat baik, tapi bilamana gagal kuharapkan kalian tetap pura-pura menurut kepadanya seperti sediakala. Disamping itu diam-diam menyepakatkan kawan-kawanmu, nantikan kesempatan baik membalas dendam. Sedangkan Liap Lo Cianpwee ini tak perlu kalian pikirkan, aku bisa menyelamatkannya !"
Jung jung menjadi sedih dan terisak-isak mendengar kematian Tutan.
"Kongcu akan membawa Siocia ini kemana ?"
Tanyanya dengan parau.
"Ke kiu yang shia atau Pek liong san, pokoknya bisa kuatur dengan baik, dan ingat pesanku barusan !"
"Kalau begitu kami akan menurut kata-kata Kongcu untuk bersiasat, dan menantikan kesempatan untuk bergerak."
Kata Jung jung.
"Keselamaatan Siocia, kami serahkan kepada Kongcu, atas ini sebelum dan sesudahnya kami menghaturkan banyak terima kasih."
"Legakan hatimu, dengan jiwa ragaku, kupertanggung jawabkan beban ini."
Jung jung memberi hormat kepada Liap In Eng sambil mengucurkan air mata, lalu membalik tubuh... Tiba-tiba Tiong Giok ingat sesuatu dan menanya.
"Barusan kudengar engkau menyebut nama seorang lo Cianpwee, apakah tamu itu yang kau maksud ?"
"Benar !"
Jawab Jung jung.
"Ia adalah kawan peribadi Siociaku dari banyak tahun, sejak muda mereka merupakan pasangan yang gagah, satu sama lain saling mencintai, tapi entah karena apa pada suatu ketika satu sama lain berpisah dan tidak bertemu. Karena merindukan kekasih itu, Siocia sering menangis, sehingga matanya menjadi buta ! Saat itulah perempuan bangsat yang jahat itu datang kesini pura-pura menjadi pelayan, dan secara menggelap memberikan Siocia semacam obat, sehingga ilmu kepandaiannya menjadi musnah. Dan setelah itu dengan cerdiknya ia menjadikan Siocia sebagai sandera, membuat kami tak berdaya. Dan menyamar sebagai Siocia berkeliling keempat penjuru, mencari Pek Lo Cianpwee."
"Untuk apa ia mencari Pel Lo Cianpwee ?"
"Untuk memiliki semacam kitab pelajaran silat yang bernama Thian liong pu buku ini merupakan buku pusaka sejenis dengan Keng thian cit su..."
"Siapa nama jelas dari Pek Lo Cianpwee ?"
Potong Tiong Giok.
"Pek King Hong !"
"Ha ? Tanpa terasa Tiong Giok berseru kaget.
"Ah celaka !"
Dan jelaslah baginya bahwa kekasih Pek King Hong adlah Liap In Eng adanya.
Tiga puluh tahun yang lalu mereka berkasih-kasihan dan menanamkan bibit cinta, akhirnya bibit itu bersemi dan berbuah getir.
Tiong Giok memandang dengan sedih pada Liap In Eng, ia tidak habis piker seorang pendekar wanita yang gagah dan cantik pada hari tuanya menjadi begini macam.
Tak terasa lagi air matanya memenuhi kelopak matanya.
"In Kongcu engkau kenapa ?"
Tanya Jung jung. In Tiong Giok menggelengkan kepala dan menyeka air matanya.
"Semuanya telah menjadi telat, Pek Lo Cianpwee sudah dicelakakan bangsat itu dan buku Thian liong pu sudah dirampasnya."
"Dari mana engkau tahu ?"
Tanya Jung jung.
"Aku sudah mendengari percakapan mereka sejak tadi dibawah tangga. Dan mengetahui bahwa Pek Lo Cianpwee sudah dicelakakan !"
"Ah dasar nasib Siociaku yang malang,"
Kata jung jung dengan bersedu sedan. Tangisan Jung jung ini membuat Tiong Giok sadar, dan cepat-cepat membopong Liap In Eng dan mengajak Jung jung keluar.
"In Kongcu jika mungkin, pertemukanlah Siociaku dengan Pek Lo Cianpwee....sungguhpun ia tidak bisa melihat, tapi rasa rindunya dari banyak tahun akan terhibur juga di saat-saat akhir hidupnya..."
"Kutahu ! Legakan hatimu pasti kuusahakan sedapat mungkin agar mereka bisa berkumpul !"
Kata In Tiong Giok.
"seka air matamu jangan sampai dilihat perempuan jahanam itu ! Dan loloskan pedangmu untukku, aku tak bersenjata sama sekali."
Jung jung menurut dan keluar dari kamar dibawah tanah.
Setelah sesaat berlalu Tiong Giok baru keluar dengan menghunus senjata.
Saat keluar terdengar suara ribut-ribut karena pelayan menemukan mayat Giok lan.
"Siapa yang membunuhnya ?"
"Tentu saja penjahat !"
"Lekas cari !"
"Laporkan pada Siocia !"
Jung jung yang jalan lebih dulu menantikan Tiong Giok dan memberi isyarat dengan matanya, lalu mengacak-acak rambutnya dan menyobek-nyobek bajunya.
Didahului jeritannya ia menerjang pintu sambil terhuyung-huyung.
Diruangan itu ada tiga pelayan berbaju hijau, melihat keadaan Jung jung menjadi kaget dan berseru dengan berbareng.
"Ah, Jung jung, ada apa ? Ada apa ?"
Dengan suara terputus-putus Jung jung menunjuk kekamar mandi.
"Ada..... penjahat.....dikamar bawah....lekas tangkap !"
Tiga gadis berbaju hijau serentak menghunus senjatanya, dan bertepatan dengan ini, Tiong Giok muncul sambil membentak .
"Yang merintangi binasa ! Lihatlah Giok lan sebagai buktinya !"
Sambil membentak pedangnyapun turut bekerja.
"In Kongcu, Siocia memperlakukan sangat baik, kenapa engkau membalas dengan kejahatyan !"
Kata tiga gadis berbaju hijau itu, sambil menghadang.
"Siociamu yang asli adalah yang kubopong ini, kenalilah dengan seksama..."
Tiga gadis berbaju hijau itu tidak memperdulikan perkataan Tiong Giok, mengayunkan pedangnya dari tiga penjuru menyerang pemuda kita dengan bengisnya.
"Jung jung lekaslah beri laporan pada Siocia, sementara kami melawan dia !"
Tiong Giok merasa heran kenapa tiga gadis berbaju hijau ini tak mengenali Siocia mereka yang asli !
Dan iapun melakukan serangan dengan setengah-setengah, karena kuatir melukai mereka, tak heran ia berlaku demikian karena ia tidak mengetahui bahwa gadis-gadis berbaju hijau adalah anak buah yang sejati dari Soat Kouw, sedangkan anak buah yang berbaju kuning, merah dan biru milik Liap In Eng.
Jung jung yang melihat keadaan ini dapat membaca pikiran Tiong Giok, cepat-cepat ia memberi isyarat matanya sambil berseru dengan sengaja.
"Hei, kalian kenapa mempergunakan ilmu pedang dari Pok Thian Pang dan tidak menggunakan ilmu pedang piau siang kiam yang bernama Su siong tin (barisan empat gajah) ? Lekas gabungkan kekuatan kalian, baru bisa melawannya !"
"Ilmu itu belum paham betul kami gunakan,"
Jawab salah seorang gadis berbaju hijau.
"sebaiknya lekaslah beeri laporan pada Siocia !"
"Ah dasar, sudah setahun engkau meninggalkan Pok Thian Pang dan mempelajari ilmu itu, kenapa belum paham-paham juga ? Baiklah kulaporkan pada Siocia, dan hati-hatilah menghadapinya !"
Perkataannya ini secara tidak langsung memberi tahu pada Tiong Giok bahwa gadis-gadis berbaju hijau itu bukan anak buah Liap In Eng dan tak perlu kasian-kasian menghadapinya.
In Tiong Giok setelah memberi persoalan itu, segera melancarkan gerakan Keng thian cit su.
Sinar pedangnya itu lalu berubah dengan cepat, bergerak membawa maut, mendesak dan membuat tiga musuhnya jungkir balik bermandi darah!
"Lekas engkau keluar dari pintu belakang,"
Kata Jung jung yang terus lari dengan terhuyung-huyung kearah depan.
Tiong Giok keluar dari ruangan itu dan mencelat keatas tembok, dari sini ia melihat Tong Cian Lie sedang mengawasi ke dalam dengan mata berapi-api.
"Bocah kenapa lama amat ? Membuatku cemas tak keruan !"
Tiong Giok melokmpat turun.
"Ah bukankah ini Liap Kounio ? Kenapa bisa begini ?"
Tanya Tong Cian Lie.
"Yang menyamar sebagai Liap Lo Cianpwee adalah Hu pangcu dari Pok Thian Pang."
Kata In Tiong Giok.
"Harap Lo Cianpwee membekuknya , aku mau membawa dulu Liap Lo Cianpwee ketempat aman !"
"Kurang ajar, lekaslah kau menyingkir, akan kuhajar perempuan jahanam itu."
Tiba-tiba saja mereka menjadi kaget karena melihat api membubung tinggi dari depan rumah.
Baca Juga: Bara Maharani 11
Baca Juga: Iblis Sungai Telaga 4