Eps 4 Perguruan Sejati - Khu Lung
Baca online Perguruan Sejati - Khu Lung
Cersil Perguruan Sejati - Khu Lung.
Dengan gerakan cepat Tong Cian Lie melesat pergi, Tiong Giok pun mengurungkan niatnya meninggalkan rumah itu, mengikuti jejak Tong Cian Lie dari belakang.
Rumah yang megah dalam kesunyian itu, dalam sekejap telah menjadi lautan api, dihalaman hanya terlihat bujang-bujang tua yang sedang tergesa-gesa membawa barang, tidak terlihat Soat Kouw dan pelayan-pelayannya.
"Kemana larinya bangsat perempuan itu ?"
Tegur Tong Cian Lie pada seorang babu tua.
"Kabur...ia sudah kabur !"
"Mungkin bangsat itu mendengar kedatangan Lo Cianpwee dan ketakutan sendiri, lalu membakar rumah ini sebelum kabur !"
"Bagaimanapun tak bisa lari jauh ! Matikanlah api ini aku akan mengejarnya."
"Lo Cianpwee harus waspada bahwa pengiringnya bangsat itu adalah pelayan-pelayan yang setia pada Liap Lo Cianpwee mereka hanya berpura-pura tunduk pada bangsat itu, karena sedang menjalankan siasat !"
Tong Cian Lie mengangguk dan terus mencelat pergi dengan kencangnya.
Perempuan-perempuan yang ada disitu lebih kurang tujuh delapan orang, sudah tua-tua dan tidak berilmu silat, sehingga tidak bisa mengangkat air untuk memadamkan api, sedangkan tenaga Tiong Giok tidak memadai untuk memadamkan api itu.
Ia hanya berlari kesebelah tengah setelah meletakkan Liap In Eng ditempat aman, lalu merobohkan tembok disitu dan memerintahkan perempuan-perempuan tua mengambil air, dengan begini api tidak bisa menjalar.
"Apakah kalian melihat tamu she Pek itu ?"
"Ia sudah dibunuh dan mayatnya masih berada diruang itu."
Jawab babu itu sambil menunjuk kesebuah ruangan yang hampir dijilat api.
Dengan cepat Tiong Giok mengguyur tubuhnya denga air, lalu menerjang keruangan yang ditunjuk.
Hawa api sangat panas, ditambah kepulan assap sangat tebal, membuatnya tidak bisa melek.
Untung ruangan itu adalah bekas kamarnya selama sepuluh hari dan keadaannya dikenal betul.
Dengan meraba-raba seperti seorang buta ia masuk terus.
Entah tergesa-gesa entah gugup, sekian lama ia berputar-putar tidak juga diketemukan tubuh Pek King Hong.
Lidah api berulang kali menjilat tangannya membuatnya kesakitan, nafasnya menjadi sesak karena asap itu.
Ia agak pening juga, tapi tidak putus asa dicoba membuka mata, tapi dengan cepat menutup lagi karena perih !
Akihirnya ia merangkak, dan diluar tahunya ia masuk kekolong ranjang.
Disinilah ia menyentuh sesosok tubuh, dengan girang diangkatnya tubuh itu.
"Beleduk "
Terdengar suara nyaring, karena kepalanya membentur papan ranjang, dan terpaksa membuatnya merangkak lagi sambil menyeret tubuh itu.
Setelah meraba-raba diatas kepalanya tak ada penghalang lagi, ia baru merangkul tubuh itu dan dibawa keluar dengan susah payah melalui jendela.
Waktu ia sampai ditempat aman, bajunya telah menjadi kering dan hitam-hitam.
Tubuh itu diletakkan perlahan-lahan dan diawasi.
Benar saja itulah Pek King Hong adanya.
Wajahnya yangburuk tetap tak berubah seperti pertama kali dijumpainya, bedanya sekarang tidak bisa berkata-kata lagi seperti dulu.
Kedua matanya Pek King Hong tertutup rapat, nafasnya tak ada lagi, menyatakan sudah berpisah dengan dunia yang fana ini.
Tiong Giok sangat berduka, tubuh itu dibawanya keloteng belakang yang tidak kebakar.
Keadaan disini sangat sunyi dan sepi, berapa batang lilin masih menyala.
Udara dikamar terasa harum semerbak !
Tubuh itu diletakkan dipembaringan, lalu ia turun lagi kebawah dan membawa tubuh Liap In Eng kedalam kamar.
Dan meletakkan disebelah Pek King Hong, hingga mereka berandengan dalam satu tempat tidur.
Melihat ini mendatangkan rasa duka bagi sipemuda, ia bertekuk lutut didepan kedua jago Bulim itu sambil mengeluarkan air mata dan berkemak kemik sendiri .
"Jie wie Lo Cianpwee cita-citanya ingin berdampingan kini dapat terlaksana ! Dan maafkan bahwa aku tak membuka jalan darah Liap Lo Cianpwee karena untuk kebaikan baginya dikemudian hari ! Kudoakan Liap Lo Cianpwee bisa menahan penderitaan dan percobaan duniawi yang ganas ini dengan tabah ! Semua manusia harus meninggal dunia, dari sebab mati terjadi perpisahan ! Perpisahan adalah duka ! Tersebab duka inilah manusia lahir di dunia dan meninggalkan dunia ini ! Kini kudoakan impian dan harapan mengikuti kehidupanmu, dan atas kedustaan dariku ini kumohon maaf dan kulakukan hanya untuk sekali saja."
Sehabis ia berkata, tubuhnya bangkit dan keluar dari pintu kamar sambil memandang langit yang gelap.
Disini ia termanggu dan menduga bahwa tempat dimana kini ia berdiri, mungkin dulunya adalah tempat dimana Liap In Eng berdiri sambil menggadangi rembulan sambil terpekur memikiri kekasihnya !
Entah berapa malam dan berapa siang ia kesunyian seorang diri, hanya rembulan dan awan yang mengetahui.
Sedang kekasih yang dicintai tidak terdengar kabar beritanya !
Kini kekasih sudah berada disampingnya, tapi semuanya telah menjadi lambat .
Bukan sebab Pek King Hong yang salah, ataupun Liap In Eng yang malang, semua itu adalah suratan takdir !
Malam semakin larut.
Embun membasahi baju.
Kesiuran angin malam menyapu mukanya, pipinya terasa dingin, ia baru berasa bahwa dirinya telah bercucuran air mata.
Tong Cian Lie belum kembali, mungkinkah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada dirinya ?
Pek Wan Jie melarikan diri dari Pok Thian Pang karena ia, dan apa akibatnya kalau sampai dibawa kembali kesana ?
Kalau sampai disiksa atau dibunuh Lo Cucong , bukankah semua ini, aku In Tiong Giok yang menyebabkan ?
Bukan saja Pek Wan Jie, seorang Pek King Hong pun mengalami penganiayaan karena aku juga !
Semua ini adalah penyesalan untuk seumur hidupku....
In Tiong Giok menyesali dirinya sendiri dan berdiri dipelataran terbuka didepan kamar Liap In Eng.
Saat itulah dengan tiba-tiba ia mendengar suara rintihan...
Dalam suasana sunyi, biarpun rintihan itu perlahan, terdengarnya nyata sekali.
Ia menjadi kaget dan celingukkan keempat penjuru, tapi tidak terlihat sesuatu apa yang mencurigakan.
Dibukanya pintu kamar, matnaya melihat kepembaringan tak terasa lagi hatinya berdebar sendiri !
Tubuh Pek King Hong yang diletakkan terlentang kini telah menjadi miring....mungkinkah ?
Ia menjadi girang dan cepat-cepat masuk kedalam, dirabanya tubuh Pek King Hong.
Tetap seperti sedia kala, tidak bernapas, kaku !
Waktu Tiong Giok mengangkat lengannya dari perut Pek King Hong terdengar suara "sess"
Yang lunak, dan tubuh yang miring itu entah bagaimana bergerak dan tengkurap !
Kedua mata In Tiong Giok terbelak lebar dan menatap terus tanpa berkedip-kedip menyaksikan keajaiban ini !
Ia melihat dengan tegas waktu tubuh Pek King Hong bergerak, dibagian perutnya berkutik-kutik sesuatu benda seperti ular !
Dengan bernafsu, dibukanya baju Pek King Hong, dan barulah ia dapat tahu yang berkutik-kutik itu adalah hawa !
Ditubuh seorang yang sudah mati terdapat sisa hawa yang bergerak, benar-benar menakjubkan !
In Tiong Giok terkejut tapi tidak mau membuang kesempatan untuk mencoba-coba.
Segera lengannya bergerak dan menepuk kelima jalan darah besar Pek King Hong, mendesak agar sisa hawa tadi bisa tersalur keparu-paru dan terus kekerongkongan.
Tak alang kepalang girangnya Tiong Giok karena usahanya berhasil baik, dan terus menyalurkan tenaganya dengan baik.
Lebih kurang sepemakan nasi lamanya sekujur badan In Tiong Giok bermandikan keringat.
Tapi capai lelahnya ini tidak sia-sia, sebab dengan mendadakan Pek King Hong membuka matanya.
Tapi dalam sekejap saja mata itu rapat kembali.
Parasnya tampak lemah dan menyedihkan.
Keletihan Tiong Giok seolah-olah terhapus kegirangan, ia menyalurkan terus tenaganya tanpa berhenti, dan sekali lagi Pek King Hong membuka mata dan berkedip-kedip sambil mengucurkan dua tetes air mata.
"Lo Cianpwee pusatkan perhatianmu dan kubantu mengatur hawa untuk menjalankan darah sebentar lagi pasti berhasil.."
"Tak usah bercapai lelah...nak...tak ...ada...gunanya,"
Jawab Pek King Hong dengan lemah dan hampir-hampir tidak terdengar.
"Pasti berguna...mati-matian kusalurkan tenaga ini menolong Cianpwee !"
Sehabis berkata ia menyalurkan sekuat tenaga, hawa sejati bergolak semakin cepat dan lebih kuat dari tadi.
Dengan wajah pucat pasi Pek King Hong menggelengkan kepala dan berkata "Engkau berusaha mati-matian, tapi tidak akan membawa hasil !
Jalan satu-satunya pergunakanlah Hiat cie leng dan totokkan pada yang terletak disebelah kiri dada.
Dengan begini aku mempunyai kesempatan untuk mengutarakan perasaan hatiku..."
In Tiong Giok sudah kepayahan, tapi dengan tak ayal, ia memeramkan mata sejenak, lalu melancarkan Hiat cie lengnya.
Angin dari jari itu tepat mengenai sasarannya.
Pek King Hong berdehem sekali, kedua matanya sedikit rapat.
Hiat cie leng adalah ilmu maut yang ampuh, sedangkan Cio tay hiat adalah jalan darah kematian tapi begitu kena diserang bukan saja Pek King Hong tidak menderita luka, bahkan wajahnya yang pucat pasi perlahan-lahan menjadi semu merah.
Waktu matanya melek, pancaran matanya pulih kembali seperti dulu.
Sebaliknya Tiong Giok sendiri telah melancarkan Hiat cie leng menjadi termangu-mangu, keringatnya mengucur deras, semangat dan tenaganya seperti habis dan menjadi loyo sendiri.
"Kutahu engkau mengeluarkan tenaga terlalu banyak !"
Kata Pek King Hong.
"Aku menyuruhmu memakai Hiat cie leng, untuk menjalankan inti darah diurat terakhir, Engkau berhasil menjalankan darah itu, dan memberi kesempatan untukku mengutarkan sesuatu kandungan hati. Jika engkau terlalu letih meramkanlah matamu, sambil mengaso smabil mendengari kata-kataku."
In Tiong Giok merasa lemas, cepat-cepat ia memejamkan matanya untuk memulihkan kembali pernafasannya.
"Kisah cintaku sungguhpun malang dan menyedihkan, tapi hari ini aku bisa berkumpul lagi dengan kekasihku. Tapi mau dikata apa, pertemuan itu hanya sejenak dan setelah itu adalah.... Tapi apa yang terjadi ini, sedikitpun tidak perlu kusessalkan, semua maunya takdir. Setelah kumati, engkau adalah Ciang bun jin Thian liong bun, hal ini tak bisa kau tolak lagi."
Pelajaran dari Thian liong bun sangat luar biasa dan dlam serta luas.
Maka itu pereempuan jahanam itu berdaya upaya untuk merampas Thian liong bun.
Dalam buku ini tertulis ilmu pelajaran telapak tangan, tinju, meringankan tubuh, pedang, jari, lwekang (ilmu dalam).
Mungkin engkau tidak mengetahui bahwa Keng thian cit su adalah ilmu pedang yang tertera pada Thian liong pu..."
"Apa ? Keng thian cit su sebagai ilmu pedang perguruan Thian liong bun ?"
Tanya Tiong Giok sambil membuka matanya.
"Sedikitpun tidak salah !"
Jawab Pek King Hong.
"Pernah kuterangkan padamu, bahwa Thian liong bun memberikan pelajaran silat tanpa mendirikan perkumpulan, hanya jago-jago Bulim memiliki kepandaian tinggi yang berasal dari Thian liong bun antaranya Sin kiam siang eng. Untuk lebih jelas beberapa dari Bulim Cap sakie yang berilmu tinggi seperti gurumu yang memiliki Hiat cie leng, Liap In Eng, Thay Kong Thaysu, Thay Cin Tojin semuanya tak terlepas dari ilmu yang terdapat di Thian liong pu. Maka itu jika dinilai, Thian liong pu lebih berharga entah beberapa kali lipat dari Keng thian cit su ! Karena itulah kaum Pok Thian Pang berdaya upaya mengatur segala siasat mencelakakan diriku untuk memperoleh buku itu."
"Kalau begini nyatanya sudah terang buku itu kena dirampas perempuan jahanam itu ?"
Tanya In Tiong Giok.
"Ya kemarin malam ia menaruhkan obat penghancur hawa sejati didalam makanan yang diberikan kepadaku, lalu dengan tiba-tiba ia menurunkan tangan jahat, menghancurkan tenaga pelindung diri, untung aku sudah keburu menurunkan nafas kebagian anggota bawah, dan mempunyai sisa hawa yang membuat bertahan sampai engkau memberikan pertolongan,"
Suaranya terputus dan menjadi kecil,"sedangkan wajahnya menjadi pucat sekali.
"Lo Cianpwee engkau bagaimana ?"
"Bisakah engkau mengumpulkan tenaga lagi membrikan lagi Hiat cie leng ?"
In Tiong Giok mengangguk dan mengumpulkan kekuatannya yang terakhir memberikan totokan pada Cio tay hiat Pek King Hong.
Totokan ini membuat Pek King Hong mengeluarkan nafas panjang, wajah pucatnya berubah merah kembali.
Setelah mengaso sejenak, semangatnya menyala kembali dan terus berkata .
"Wah menyusahkanmu saja."
Jilid 10________ Memang benar, setelah melancarkan dua kali Hiat cie lengnya In Tiong Giok kehabisan tenaga, napasnya memburu seperti kerbau kepayahan, tapi saat ini dia sudah melupakan keadaan dirinya, begitu napasnya baikan, segera ia berkata .
"Lo Cianpwee katakanlah dengan jelas cara apa lukamu bisa sembuh ?"
"Isi perutku sudah rusak dan hawa sudah mongering, biar mendapat obat dewapun tak bisa menyembuhkan. Sedangkan Hiat cie leng adalah ilmu dalam yang memakai tenaga sejati dan membangkitkan kehidupan padaku untuk sejenak saja, beginipun cukup membuatku menuturkan kata-kata sebelum meninggal dunia."
"Bagaimanapun Lo Cianpwee tidak boleh meninggal dunia, untuk Thian liong bun dan untuk Liap Lo Cianpwee.""Perasaan rindu selama tiga puluh tahun cukup terhibur dengan pertemuan hari ini, padanya tiada yang kupikirkan lagi, tapi soal buku itu yang menjadi beban pikiranku !"
"Tak perlu Lo Cianpwee kuatirkan akan kuusahakan merampas kembali buku itu !"
Kata In Tiong Giok.
"Jangan kau rampas buku itu, pokoknya sanggupilah dua permintaanku."
"Jangan kata dua, dua puluhpun akan kusanggupi !"
Jawab Tiong Giok.
"Bagus,"
Kata Pek King Hong.
"Yang pertama setelah ku mati, dalam waktu kurang dari setahun engkau harus pergi ke Cu cin san dan datanglah di puncak Giok hong hong, di sana ada sebuah gua, dan ambillah sebuah benda peninggalan di gua itu, lalu menurut kata-kat yang tertulis di dinding gua itu, untuk dikerjakan. Untuk bisa sampai digunung itu dan masuk ke dalam gua engkau harus membawa kumala yang tempo hari kuberikan kepadamu, soal yang kedua jenazahku tidak boleh dikubur, dan letakkan di dalam gua itu..."
"Semua ini kusanggupi, tapi buku itu haruskah dibiarkan terus ditangan Pok Thian Pang ?"
"Benar !"
"Kenapa ?"
"Sebabnya engkau akan mengerti sendiri dikemudian hari, saat ini keadaan dunia persilatan mungkin sudah berubah lagi tak seperti sekarang !"
Kata Pek King Hong. Sejenak ia tidak melanjutkan perkataannya, melainkan melirik kepada Liap In Eng yang berada disebelahnya.
"In Eng ! Engkau begini cantik, kenapa bernasib buruk ? Karena nasibkah ? Ai ! Dalam kehidupan ini terjadi perpisahan abadi !"
Untuk penitisan kelak tak dapat diharapkan.
Dunia yang fana sebagai impian.
Duka derita bagian kita.
Sehabis membacakan sebait sair itu, sinar mata Pek King Hong menjadi sayu dan buram.
Wajahnyapun turut menjadi pucat dan dengan cepat berkerut-kerut serta menyusut seperti kayu kering.
Waktu Tiong Giok meraba dengan tangannya, sudah dingin membeku.
Dengan air mata bercucuran Tiong Giok menggoyang-goyang kedua tangan Pek King Hong sambil berseru "Pek Lo Cianpwee !
Pek Lo Cianpwee..."
Saat itu ia merasakan bumi berputar, suara jeritannya menjadi habis, dan jatuh pingsan tanpa merasa...
Entah berapa saat sudah berlalu, waktu ia siuman dari pingsannya, mendapatkan dirinya berbaring diatas ranjang tertutup selimut hangat.
Tak jauh dari pembaringan terlihat seorang babu sedang berdiri, dan Tong Cian Lie yang sedang duduk bersila.
Wajahnya sangat pucat, kedua matanya dimeramkan, seperti sedang memulihkan pernapasannya.
Tiong Giok kesusahan untuk bangkit, tapi kepalanya seperti mau copot tak bisa diangkat.
Dan mendatangkan rasa sakit yang membuatnya tidur kembali.
"Apakah engkau ingin mati ?"
Kata Tong Cian Lie sambil membuka mata.
"Kuperingati, jangan bergerak jika mau hidup terus !"
"Aku...aku kenapa ?"
Tanya Tiong Giok.
"Tanya pada dirimu sendiri ! Kenapa rambut hangus, tenaga dan semangat hilang ? Jika aku tak cepat kembali. Hm, ilmu kekuatanmu siang-siang sudah musnah !"
Tiong Giok menenangkan pikiran.
"Bagaimana dengan Liap Lo Cianpwee ?"
Tanyanya.
"Bocah apakah engkau tak bisa tenang barang sedikit ?"
Kata Tong Cian Lie.
"Jika engkau ngomong terus, jiwamu pasti tak akan tertolong, dan percuma saja aku membuang tenaga menolongmu. Soal Liap In Eng tak perlu kau pusingkan, jalan darqahnya sudah kubuka dan ada diloteng depan sedang tidur nyenyak."
Tiong Giok menutup mulut tak berani banyak bertanya lagi, hanya sepasang matanya lirik sana lirik sini memandang Tong Cian Lie dan bujang tua itu bergantian.
Sebenarnya ia ingin menanyakan jenazah Pek King Hong, tapi takut dibentak Tong Cian Lie yang bertabiat berangasan.
Namun gerak geriknya ini tidak luput daripandangan matta Tong Cian Lie, maka itu ia berkata .
"Apakah engkau memikirkan soal jenazah itu ? Tenangkan hatimu, aku sudah menyuruh orang menggotong pergi..."
"Tong Cianpwee jenazah itu tak boleh dogotong.."
"Apakah harus diletakkan terus dipembaringan Liap Kounio ? Sungguhpun aku tak tahu dia siapa, kutahu tentu sahabat baikmu, maka kubeli peti mati dan memasukkan kedalamnya, apakah yang kulakukan salah ?"
"Maksudku bukan begitu..."
"Aku segan menanyakan apa maksudmu, ringkasnya jenazah itu ada dihalaman belakang, dan pasti tidak akan hilang ! Engkau jangan banyak bicara, mengasolah dengan tenang, nanti setelah sembuh baru bicara lagi."
Lalu ia menoleh kepada babu tua.
"Sekarang engkau boleh pergi, dan jangan lupa obat itu masak dengan baik, dan pil itu diberikan pada Siociamu sebutir, perhatikanlah baik-baik, dan jangan sampai ia bangun."
"Babu tua itu segera berlalu, Tong Cian Lie segera memejamkan mata lagi melakukan perbaikan jalan napasnya. Terhadap jago bersifat berangasan ini, disamping menaruh hormat Tiong Giok merasa jerih. Maka iapun segera memejamkan mata menyalurkan lagi hawa sejati dan lwekangnya. Setelah melakukan istirahat dan perbaikan atas hawanya, yang dilakukan dengan giat, rasa sakit dibadannya berangsur-angsur hilang. Waktu ia membuka matanya kembali, matahari telah condong ke barat. Sedangkan Tong Cian Lie sudah berdiri didepan ranjang sambil memandang kearahnya. Dan memberikan sebutir obat .
"Makanlah obat ini !"
Tiong Giok menerima obat itu dan menelannya, tak selang lama ia merasakan sekujur badannya menjadi panas dan membuat semangatnya berangsur-angsur pulih.
Dicobanya bangun.
Ia berhasil dengan baik, bahwa saking girangnya ia lupa menghaturkan terima kasih dan langsung saja bertanya.
"Waktu Lo Cianpwee mengejar perempuan jahanam itu, apa Lo Cianpwee tidak melihat seorang gadis yang bernama Pek Wan Jie ?"
"Hm ! Kekuatanmu belum pulih semua, sebaiknya lebih banyak istirahat dari pada berkata-kata !"
"Aku merasakan tujuh puluh lima persen kekuatanku pulih kembali. Jika Lo Cianpwee tak mau memberitahu hatiku mana bisa beristirahat dengan tenteram."
"Apakah gadis yang bernama Wan Jie itu mempunyai hubungan yang dalam denganmu ?"
"Ya."
"Dan berhasilkah Lo Cianpwee mengejar mereka ?"
"Masakan aku tak berhasil mengejar segala perempuan itu !"
"Kalau begitu perempuan jahat itu sudah ditangkap ?"
"Siapa yang mengatakan ?"
"Habis bagaimana ?"
"Aku mempunyai pantangan tidak bisa turun tangan terlebih dahulu terhadap wanita !"
"Kalau begitu kerjaan Lo Cianpwee tidak membawa hasil ?"
"Hm ! Siapa yang bilang ?"
"Habis kalau Lo Cianpwee tidak turun tangan bukankah perempuan-peempuan itu berhasil meloloskan diri ?"
"Sungguhpun aku mempunyai pantangan yang beitu, tapi jika perempuan itu tidak mau menurut kata-kataku, akan kuhajar juga, nah Sun Toa nio sebagai contohnya."
"Selanjutnya bagaimana ?"
"Tatkala kena kukejar, kulihat mereka semuanya adalah perempuan melulu, maka aku tidak bisa turun tangan terlebih dahulu; kuperingatkan mereka kembali kesini. Bukan saja perempuan jahanam itu tidak menggubris perintahku, malahan ia menyuruh delapan pelayannya menghadangku. Akibatnya mereka turun tangan terlebih dahulu dan akupun tidak sungkan-sungkan lagi."
"Bukankah pelayan-pelayan itu empat mengenakan pakaian biru dan empat mengenakan pakaian merah ?"
"Benar !"
"Adakah Lo Cianpwee melukai mereka ?"
"Engkau sudah mengatakan mereka sebagai anak buah Liap In Eng bukan ? Maka itu aku tidak melukainya, melainkan membekuk satu persatu dan membawanya lagi kemari !"
"Ah celaka !"
Seru Tiong Giok.
"Apa katamu ?"
"Maksudku agar mereka pura-pura tunduk dan ikut kemarkas pusat Pok Thian Pang. Bila mana sampai saatnya kita melakukan serangan kesana, mereka bisa menyambut dari dalam dan melicinkan perjuangan kita menghancurkan perserikatan jahat itu tapi tak kira Lo Cianpwee telah membawa mereka kembali kesini !"
"Untuk usahamu itu tidak perlu memakai banyak orang."
Kata Tong Cian Lie.
"tiga orangpun sudah cukup. Kuajak mereka kembali, mengingat keadaan Liap In Eng sudah buta dan perlu mendapat perawatan sebaik mungkin dari pelayan-pelayannya."
"Ya pendapat Lo Cianpwee benar juga, aku tak memikir sampai kesitu."
"Soal yang engkau tak piker masih banyak, ingin kutanya kepadamu apa Pek Wan Jie itu benar-benar baik padamu ? Atau hanya pura-pura baik ?"
"Pikir saja ia berani meninggalkan maskas pusat Pok Thian Pang karena diriku, maka kebaikannya tak perlu diragukan lagi !"
"Hm, engkau mengatakan begitu, yang sebenarnya ia tidak menghianati Pok Thian Pang seujung rambutpun."
"Bagaimana Lo Cianpwee berani memastikan ?"
"Waktu kukejar perempuan jahanam itu dan dihalang-halangi pra pelayan, ia berniat meloloskan diri, tapi dengan pukulan geledek kulihat ia luka parah. Sebenarnya dengan mudah bisa kutangkap, kalau tidak ditolong Pek Wan Jie ! Untung aku masih mengingat gadis itu sebagai kawanmu, jika tidak iapun pasti terluka ditanganku !"
"Ah, untung Lo Cianpwee tidak melukainya."
"Atas inikah engkau bergirang ?"
"Pek Wan Jie seorang gadis yang welas kasih sejak kecil dia dibesaarkan di Pok Thian Pang, Soat Kouw adalah bibinya, sudah tentu mempunyai hubungan bahtin yang mendalam, tak heranlah dia memberi pertolongan dikala bibinya menderita luka bukan ? Atas perbuatannya itu mendapat jasa besar, dan bisa menebus kesalahannya di Pok Thian Pang, karena inilah aku bergirang hati."
"Tak kira engkau semuda ini sudah tergila-gila paras cantik."
Kata Tong Cian Lie sambil menarik napas panjang.
"Sedangkan kedudukan Wan Jie sebagai kawan atau lawan belum bisa diterntukan bukan ? Menurutku lebih baik mengurangi pacar-pacaran dengannya ! Dalam hal ini aku bermaksud baik, dan engkau jangan salah terima."
"Aku menerima wejangan dari Lo Cianpwee dengan tulus ikhlas,"
Kata In Tiong Giok.
"Soal disini sudah beres, apakah engkau masih mau pergi ke Pek liong san ?"
"Sudah tentu !"
"Keadaan fisikmu masih lemah..."
"Kurasa tidak menjadi soal,"
Potong In Tiong Giok.
"Tapi sebelum itu, soal Liap Lo Cianpwee harus dibereskan dulu."
"Hal ini tak perlu kau kuatirkan, ia bisa menyingkir dulu ke Kiu yang shia dibawah perlindungan pelayan-pelayannya,"
Kata Tong Cian Lie.
"Jika engkau masih kuatir, aku bisa minta bantuan kaum pengemis yang menjadi anak buah Cian bin sin kay, untuk melindungi sampai ketempat tujuan."
"Liap Lo Cianpwee mau kesana ?"
"Jika menanyakan kepadanya sudah tentu ia tidak mau, kini tak perduli ia mau atau tidak, kita harus mengusahakan sampai ia mau !"
Setelah mengambil keputusan ini, Tong Cian Lie membubarkan babu-babu tua dengan memberi uang.
Dan memanggil gadis-gadis berbaju biru dan merah, diterangkan pada mereka apa yang akan diperbuatnya untuk menyelamatkan Liap In Eng; mereka menyetujui usul itu sambil menghautrkan terima kasih.
Dari delapan gadis berbaju merah yang bernama Cu lian dan Ing jie untuk mendampingi Siocianya disepanjang jalan, sedang yang lain dibagi menjadi tiga grup untuk berjaga dengan bergilir.
"Soal Liap In Eng bisa diatur, dan soal Pek King Hong adalah urusanmu,"
Kata Tong Cian Lie.
"Soal ini sudah kupikirkan !"
Kata Tiong Giok.
Diajaknya Tong Cian Lie, membawa jenazah Pek King Hong kesebuah kelenteng, berbareng dengan bantuan kaum Kay pang (pengemis) untuk menyediakan sebuah perahu untuk keperluan Liap In Eng.
Setelah mengatur keperluan dengan beres, Tong Cian Lie dan In Tiong Giok baru naik keloteng menemui Liap In Eng.
Dalam pikiran mereka Liap In Eng tidak akan setuju meninggalkan tempat kediamannya, dan diluar dugaan mereka begitu naik keloteng, tampak Liap In Eng sudah siap seia dengan oakaian yang rapih menunggu kedatangan mereka didalam kamar.
Tong Cian Lie dan In Tiong Giok menjadi melengak menyaksikan ini, sehingga tidak bisa membuka mulut.
"Apakah sudah mendapat perahu, dan kapan berangkat ?"
Tanya Liap In Eng perlahan.
"Oh kiranya Kounio sudah tahu,"
Kata Tong Cian Lie sambil tersenyum-senyum.
"Kami mengira Kuonio keberatan meninggalkan tempat ini, karena itulah kami tidak memberitahu."
"Sewaktu-waktu orang buta lebih tajam perasaannya dari yang melek,"
Kata Liap In Eng, tambahan perabotan dari rumah sebesar ini, biarpun sudah terbakar sebagian tak mudah dibersihi dalam waktu sejenak. Kesibukan-kesibukan dari para pelayanku itu, tak bisa dibohongi."
"Tempat ini sudah diketahui kaum Pok Thian Pang dan tidak bisa ditinggali terlebih lama lagi. Untuk sementara sebaiknya mengungsi ketempat aman, balik lagi kesini jika kaum penjahat itu sudah terbasmi !"
"Soal rumah ini tidak kupikirkan dan kemana kalian mau membawaku, aku menurut saja, tapi sebelum berangkat tunjukkanlah dimana kuburan dari Pek King Hong."
"Oh, kiranya segala apa Kounio sudah mengetahui,"
Kata Tong Cian Lie.
"Jenazah Pek King Hong belum dikebumikan dan sementara waktu dititipkan disebuah kelenteng. Sudah sepatutnya Kounio memberikan penghormatan terakhir kepadanya sebelum melakukan perjalanan."
"Terima kasih atas kebaikan Tong heng, aku biarpun tidak bisa melihat tapi bisa juga meraba petinya. Setelah itu entah tahun mana bulan mana baru bisa menyambangi kuburannya lagi !"
Tong Cian Lie segera menyuruh kaum pelayan mengajak Siocianya turun dari loteng.
Cui lian dan Ing jie memayang Liap In Eng turun kebawah dan naik keatas joli, terus berangkat kekelenteng.
Dalam waktu singkat mereka telah tiba ditempat tujuan, keadaan sangat sunyi dan sepi.
Joli berhenti didepan pintu kelenteng, Liap In Eng dibawah payangan kedua pelayannya masuk kedalam.
Ia merandek sejenak dan bertanya .
"Kenapa jenazah diletakkan disini dan tidak dikubur ?"
"Ini kehendak Pek Lo Cianpwee sendiri, agar jenazahnya bisa dibawa kegoa di Hong hong san !"
"Siapa yang mendampingi sebelum ia menutup mata ?"
"Aku yang mendampingi."
"Jika begitu waktu perempuan itu menurunkan tangan jahatnya, belum mati ?"
"Ya belum mati, tapi sekuat tenaga kuusahakan untuk menyelamatkan jiwanya, tetap tak berhasil, karena lukanya kelewat parah."
"Ah menyusahkan engkau saja..."
Suaranya bergetar dan tak tersambung lagi datangnya isak tangis yang memilukan.
Tong Cian Lie mengedipkan para pelayan, agar mendesak Liap In Eng lekas-lekas menjalankan penghormatan terakhir kepada kekasihnya.
"Siocia jangan bersedih terus, semua kemauan takdir, manusia tidak bisa mencegahnya. Lakukan upacara duka cita ini selekasnya, agar kita bisa berangkat secepatnya."
Liap In Eng seperti mendengar seperti tidak perkataan pelayan itu, ia tetap bertanya pada In Tiong Giok .
"Apa yang diucapkan sebelum ia menutup mata ?"
"Pek Lo Cianpwee sebelum menutup mata membacakan sebait sajak yang berbunyi . Dalam kehidupan kini terjadi perpisahan abadi Untuk penitisan kelak tak dapat diharapkan Dunia yang fana sebagai impian Duka derita bagian kita. Liap In Eng semakin bersedu-sedu mendengar sajak itu, demikian juga dengan Tong Cian Lie menjadi turut mengucurkan air mata. Liap In Eng berulang kali membaca sajak itu, agaknya sajak itu membawa hiburan besar baginya.
"Kounio marilah kita berangkat !"
Ajak Tong Cian Lie.
"Ya, seharusnya kita cepat berangkat !"
In Tiong Giok merasa ganjil mendengarkan ucapannya. Liap In Eng membenturkan kepalanya pada peti dengan gerakan kilat. Tong Cian Lie menjambret tangan tapi tak berhasil.
"Bung"
Terdengar bunyi keras, kepala Liap In Eng tepat mengenai kayu peti yang keras dan pecah !.
Tong Cian Lie membebaskan totokan Tiong Giok dan kedua pelayan, lalu memeriksa keadaan Liap In Eng, ia mendapatkan kawan itu telah menutup mata untuk selama-lamanya.
Pelayan-pelayan yang setia menjerit-jerit mengeluarkan tangisan.
Tong Cian Lie terpekur dengan mengucurkan air mata.
Ia seorang yang berkedudukan tinggi di dunia persilatan, seharusnya tidak boleh mendesaknya meninggalkan tempat kediamannya.
"Dan kitapun berlaku lengah tidak menjaga dirinya, tapi semua ini adlah kehendaknya dan dengan begini ia mencapai kepuasan untuk menghabiskan sisa hidupnya yang penuh derita."
"Bawalah jenazah Siocia kalian kerumah nanti kami bisa membereskan upacara penguburannya."
Dengan kesedihan yang berlimpah-limpah pelayan-pelayan bertekuk lutut dihadapan jenazah Siocianya, sedangkan Tong Cian Lie dan In Tiong Giok segera berangkat membeli peti dan keperluan lainnya.
Karena tidak mendapat kuli Tiong Giok membopong peti mati, sedangkan Tong Cian Lie membawa keperluan sembahyang dan cepat kembali kerumah.
Tak kira begitu mereka masuk kedalam, menjadi terkejut dan melongo melihat pemandangan didepan matanya.
Jenazah Liap In Eng sudah terbungkus rapi kain putih dan dibaringkan diatas ranjang.
Delapan pelayannya yang biasa mengenakan baju biru dan merah, sudah bersalin pakaian berkabung bertekuk lutut mengelilingi jenazah Siocianya, tapi semuanya telah mati membunuh diri.
Diatas meja terdapat sebuah kain putih bertulisan darah yang berbunyi .
Kami menerima budi besar dari Siocia, biarpun mati budi itu tidak akan terbals.
Tapi sewaktu perempuan jahanam mencelakakan Siocia kami tidak bisa melindungi dan menyelamatkan, inilah suatu dosa besar bagi kami yang tidak akan tercuci bersih seumur hidup.
Dalam kehidupan menderita dan menerima segala penghinaan dari jahanam itu.
Kami terbebas berkat bantuan dari Jiewie.
Antara Siocia dan kami bisa berkumpul lagi menjadi satu, saat ini menggirangkan kami !
Akan tetapi berjalan terlalu singkat, karena Siocia menghabiskan jiwanya dengan membunuh diri, sebagai bidak-budak yang ingin tetap beserta di dunia maupun di akhirat kami mengiringi kepergian Siocia kedunia baqa.
Mudah-mudahan sukalah Jiewie mengubur mayat kami disamping Siocia kami yang tercinta, atas ini roh-roh kami hanya berdoa atas kebahagiaan Jiewie.....
Tong Cian Lie dan In Tiong Giok keduanya menjublek seperti patung dengan air mata berlinang-linang.
Lama mereka tak bersuara, dan entah keluar dari mulut siapa suara yang berbunyi .
"Ah...perempuan....perempuan !"
Memecahkan kesunyian itu.
Keesokan harinya ditaman bunga terdapat sebuah kuburan besar yang dikelilingi delapan kuburan yang agak kecil.
Pada batu nisan tertulis.
Disinilah tempat beristirahat untuk selama-lamanya.
Pendekar wanita Liap In Eng.
Dan disetiap kuburan lain tertulis pula nama-nama dari pelayan-pelayan yang setia itu.
Dengan isakan tangis kecil, Tong Cian Lie maupun In Tiong Giok bertekuk lutut didepan makam Piau siang kiam Liap In Eng sambil membaca doa didalam hati.
Setelah itu dengan langkah berat mereka meninggalkan tempat itu untuk pergi ke Pek liong san.
Tiat po atau perkampungan Benteng Besi terletak dikaki gunung Pek liong san.
Sebab perkampungan itu dikelilingi pagar tembok yang kokoh dan berwarna kelabu seperti besi, maka disebut perkampungan Benteng Besi.
Dua puluh tahun yang silam, masa jajahan Sin kiam siang eng didunia persilatan, perkampungan ini dianggap "keramat"
Oleh manusia sungai telaga, baik golongan hitam maupun putih.
Kuda dan kereta-kereta dari segala pelosok banyak yang datang kesitu.
Perkampungan Hui-hui yang bertetangga dengan perkampungan Tiap po pun menjadi ramai, sebab sebelum orang-orang sampai diperkampungan Tiat po harus singgah terlebih dahulu diperkampungan Hui-hui.
Tapi sejak ketua perkampungan Tiat po yang bernama Tiat Giok Lin meninggal dunia dan nama Sin kiam siang eng hilang dari dunia Kang Ouw perkampungan itu menjadi sepi, dan lama kelamaan seperti dilupakan orang.
Jalanan yang menuju perkampungan itu, karena kelewat lama tak dilalui orang telah ditumbuhi alang-alang; sedangkan losmen-losmen diperkampungan Hui-hui satu demi satu gulung tikar.
Dan tinggal sebuah losmen yang bernama Hiong hin can masih bertahan, inipun dikarenakan pemiliknya adalah penduduk asli dari perkampungan itu.
Sungguhpun begitu losmen ini telah dibagi dua, separuh untuk berdagang sapi dan separuh tetap sebagai losmen.
Sudah bertahun-tahun losmen ini tidak dikunjungi seorang tamupun.
Kesepian ini disebabkan Lim Giok Bwee sejak kematian suaminya, melarang anak buahnya keluar dari perkampungan itu juga tidak menerima tamu dari luar.
Hari ini mungkin pemilik losmen Hiong hin can yang bernama Ma Hui In dapat rejeki, pagi-pagi kedatangan tiga tamu yang mau bermalam.
Ketiga tamu itu semuanya berkuda, antaranya dua masih muda-muda dan satu lagi sudah tua, nampaknya gagah-gagah.
Ma Hui In seperti bertemu dengan malaikat uang, dengan tersenyum-senyum dan terbungkuk-bungkuk menyambut tamunya sambil mempersilahkan masuk.
Anak bininya sibuk membersihkan meja dan kamar serta memasak air menyeduh the.
Orang tua itu segera duduk sambil memandang sekeliling, sedangkan yang muda berdiri dikiri kanannya tak berani duduk.
"Kalianpun duduklah dan berlaku wajarlah agar tidak dicurigai orang,"
Kata siorang tua. Kedua orang muda itu mengangguk dan duduk dikiri kanan si orang tua. Ma Hui In dengan tersenyum-senyum menghampiri tamunya.
"Sam wie sudah makankah ? Disebelah ada jual daging sapi, jika perlu bisa kupesankan...."
"Soal makanan boleh belakangan, sekarang aku perlu bicara dulu denganmu."
"Baik ! Baik ! Silahkan bicara !"
"Di kampung ini terdapat berapa losmen ?"
Ma Hui In tergelak-gelak mendengar pertanyaan ini.
"Pertanyaan tuan memang tepat, terus terang dulunya dikampung ini terdapat enam tujuh losmen..."
"Yang ditanya adalah sekarang, bukan yang dulu !"
Kata anak muda disebelah kiri. Perkataan anak muda itu sangat nyaring dan kasar, membuat Ma Hui In terkejut, sehingga menjadi gugup.
"Ini...ini..engkau....."
"Jangan takut, jawablah dengan singkat !"
Kata si orang tua. Setelah menenangkan diri sejenak Ma Hui In baru berkata.
"Aku tak berani membohong, sekarng tinggal satu satunya ialah losmen ini yang terdapat dikampung ini."
"Bagus,"
Kata si orang tua.
"losmen ini ada berapa kamar ?"
"Sebenarnya losmen ini; Ma Hui In mengubah kebiasaan bicaranya karena dideliki kedua anak muda yang galak itu.
"Ada lima kamar."
"Hanya lima ?"
Kata siorang tua sambil mengerutkan kening.
"Mana cukup..."
"Jika merasa kurang banyak, kamarku boleh dipakai dan aku bisa pindah kedapur. Kamarku cukup besar dan bisa dijadikan dua kamar."
"Baiklah, kuminta selekasnya kamar-kamar dibersihkan termasuk kamarmu itu ! Sejak hari ini jangan terima tamu lagi !"
"Mengertikah ?"
Bentak anak muda yang disebelah kiri.
"Mengerti ! Segera kusiapkan !"
Kata Ma Hui In yang terus berlalu. Tapi baru beberapa langkah ia dipanggil lagi si orang tua.
"Sini dulu, ingin kutanya padamu, apakah dalam satu dua hari yang lalu, losmen ini pernah menerima tamu ? Atau juga dilalui orang ?"
"Losmenku ini entah bertahun-tahun tidak didatangi tamu !"
"Atau engkau pernah melihat, sewaktu keluar rumah seorang tua dan seorang anak muda di kampung ini ?"
"Tidak ada ! Benar-benar tidak ada, sebab kampung ini hanya mempunyai satu jalan setiap orang yang masuk ke kampung ini pasti dapat kuketahui !"
"Nah siapkanlah kamar dan makanan !"
Kata si orang tua. Begitu Ma Hui In pergi, orang tua itu dengan tersenyum menoleh kepada anak muda dikiri kanannya.
"Kalau begitu terlebih dulu dari mereka !"
Ma Hui In repot setengah mati memberesi kamar-kamar kosong yang sudah bertahun-tahun tidak didiami orang.
Atas ini orang tua itu memberikan uang lima puluh tail perak.
Tak selang lama diluar losmen datang lagi tiga tamu, orang tua ini segera keluar sambil tersenyum.
Setelah bersalam-salaman mereka masuk ke dalam kamar.
Kedua anak muda yang galak didalam kamar ini kedudukannya tak ubah sebagai pelayan.
Repot menuang arak dan menghidangkan makanan pada tiga tamu yang baru datang.
"Kita berhasil lebih dulu sampai dari mereka,"
Kata siorang tua.
"Tong Cian Lie maupun In Tiong Giok menurut kabar belum sampai dikampung ini. Kini Jiewie Fut hoat dan Tong leng juga sampai tepat pada waktunya, selanjutnya bagaimana kita harus menghadapi lawan-lawan itu, kuserahkan pada Jie wie Fut hoat."
"Karena Tan Cuncu yang sampai terlebih dulu, sebaiknya engkau saja yang mengatur,"
Kata salah seorang Fut hoat yang bukan lain dari Tok Kay Pong adanya.
"Aku hanya sebagai pembuka jalan,"
Kata Tan Cuncu itu yang bukan lain dari Tan Toa Tiau adanya.
"Sedangkan soal selanjutnya Lo Cucong menyerahkan pada Fut hoat yang mengaturnya."
"Baiklah,"
Jawab Tok Kay Pong.
"Aku dan Kam Fut hoat akan menghadapi Tong Cian Lie soal In Tiong Giok kuserahkan pada Lie Tong Leng dan Tan Cungcu."
"Tapi tugas utama yang dibebankan Lo Cucong kepad kita, yakni biar Tong Cian Lie lolos, asal jangan In Tiong Giok !"
Kata Lie Kee Cie.
"Apakah kita harus menghajarnya begitu mereka sampai disini ?"
Tanya Lie Kee Cie.
"Benar !"
Jawab Lie Kee Cie.
"Menurut hematku, cara begini sukar dilakukan dan resikonya terlalu besar,"
Kata Tok Kay Pong sambil menggelengkan kepala.
"Habis bagaimana ?"
Tanya Lie Kee Cie. Didahului dengan tertawanya Tok Kay Pong membuka mulut.
"Bukan aku mengecilkan kekuatan sendiri dan membesarkan kekuatan musuh. Sesungguhnya ialah kekuatan kami berdua, jika disbanding dengan Tong Cian Lie dalam keadaan berimbang ! Sedangkan In Tiong Giok jangan dipandang remeh, ia sudah pandai Keng thian cit su ! Tugas yang kita terima hanya boleh menang tidak boleh kalah ! Untuk memperoleh kemenangan inilah kita harus berpikir terlebih panjang."
"Habis bagaimana ?"
Tanya Tan Toa Tiau.
"Pepatah mengatakan. senjaata terang mudah ditangkis, senjata gelap sukar dijaga ! Menurutku, akan menyediakan dulu suatu perangkap bagi mereka, setelah itu baru melancarkan cara gelap, kemudian baru cara terang !"
"Aku kurang mengerti, maksud Fut hoat !"
Kata Tan Toa Tiau.
"Begini..."
Kata Tok Kay Pong sambil membisiki kuping kawannya.
"Biarpun cara ini sangat baik, tapi kurang sempurna. Kesatu tidak boleh bertemu muka dengan mereka, karena kenal. Kedua jika mereka langsung ke Tiat po bagaimana ?"
Kata Tan Toa Tiau.
"Legakan hatimu, pokoknya beres,"
Kata Tok Kay Pong.
"Jika usaha ini gagal, baru kita berkelahi secara terang-terangan."
"Bagaimana pendapat Lie Tong leng ?"
Tanya Tan Toa Tiau.
"Aku menurut saja seperti yang diatur Tok Fut hoat !"
Jawab Lie Kee Cie.
"Kam Fut hoat bagaimana ?"
Tanya Tan Toa Tiau. Kam Hong yang sejak tadi diam saja karena asyik dengan araknya, hanya menganggukkan kepala saja.
"Jika begini baiklah kita jalankan siasat Tok Fut hoat,"
Kata Tan Toa Tiau.
Setelah mereka makan minum dengan kenyang, Tok Kay Pong dan Kam Hong masing-masing menempati sebuah kamar beristirahat.
Sedangkan Lie Kee Cie tanpa istirahat lagi mengontrol kedalam losmen itu, lalu pergi keluar untuk memeriksa keadaan kampung.
Tan Toa Tiau membisiki Ma Hui In untuk menyiapkan sesuatu kepeerluan dan memberikan pemilik losmen itu uang emas.
Setelah itu pintu losmen dibuka lebar-lebar.
Dalam waktu sekejap Hiong hin can telah berganti rupa, dari kotor dan berantakan menjadi rapi dan bersih.
Dua pengawal yang mengiringi Tan Toa Tiau berubah jadi "pelayan"
Losmen itu.
Di masing-masing pundaknya terlihat selebet bersih, pura-pura membersihkan ini itu sambil menunggu tamu yang dinanti-nantikan.
Kini perangkap telah dipasang, menunggu kedatangan mangsanya saja.
Tapi yang dinantikan itu sebegitu lama belum kunjung tiba, membuat kedua pelayan menjadi kesal....Matahari hampir silam kebarat, kedua pelayan sudah mengantuk, tapi tak berani memeramkan matanya, karena sedang menjalankan tugas.
Matanya telah menjadi panjang dan sepat, kakinya merasa ngilu, leherpun pegal, masih harus tetap bertugas ditempatnya dengan patuh.
Saking kesal mereka menggerendeng didalam hatinya .
"Dasar aku orang bawahan harus terima nasib seperti ini, coba kalau aku menjadi Fut hoat atau Cung cu, sudah kenyang makan minum, bisa enak-enakan menggeros diranjang."
Sedang enak berpikir sambil nyap-nyap, ia dikejutkan dengan derpan suara kuda yang datang dari mulut kampung !
Mata mereka yang sepat menjadi terang !
Karena yang diharapkan dan dinantikan akhirnya datang juga!
Derapan kaki kuda semakin lama semakin tegas, tak selang lama dari mulut kampung terlihat sebuah kereta.
Kedua lelaki tanpa berasa mengucak-ucak matanya menegasi, lalu menyeka-nyeka meja dan berlaku sewajar mungkin, menantikan kedatangan kereta itu.
Setelah melintasi jalan besar, kereta itu menuju ke losmen Hiong hin can dan berhenti di depannya.
Dari dalam kereta turun seorang laki-laki berusia lebih kurang empat puluh tahun, wajahnya mengkilap dan berminyak.
Tak ubahnya seperti seorang kaya.
Tanpa berasa lagi datang kekecewaan dilubuk hati kedua laki-laki yang berpura-pura menjadi pelayan.
Orang kaya itu mungkin sebagai saudagar yang biasa berkeliling dari satu tempat ke tempat lain.
Begitu memasuki Hiong hin can ia tersenyum sambil menyapa kedua pelayan itu dengan pandangan matanya.
"Hei majikanmu si orang she Ma itu pintar betul, seolah-olah tukang nujum yang pandai dan bisa mengetahui kedatanganku !"
"Apakah engkau mau menginap ?"
Tanya salah seorang laki-laki itu.
"Aku Cian Bouw sudah berlangganan dengan Hiong hin can, maka kukatakan majikanmu seperti tukang nujum, karena kulihat keadaan losmen ini sudah begini rapi dan beres,"
Kata tamu itu yang membahasakan dirinya Cian Bouw.
"Kuminta engkau memberikan rumput pada kudaku, nanti kalian kuajak makan bersama-sama."
"Maaf sekali tuan Cian, tidak ada kamar lagi bagimu, semuanya penuh..."
"Wah angin apa yang membuat losmen ini maju ?"
Kata Cian Bouw.
"untuk ini aku kenghaturkan selamat untuk majikanmu !"
Ia terus masuk melangkah kedalam. Kedua laki-laki itu menjadi bingung dan buru-buru menghadang sambil tersenyum kecut.
"Maaf tuan Cian, kamar benar-benar sudah penuh !"
"Siapa yang mengatakan engkau emmbohong ?"
Kata Cian Bouw sambil tersenyum-senyum.
"Kalian rupanya pegawai baru dan tidak kenal diriku. Tanyakanlah majikanmu siapa aku ! Nanti ia akan memberitahu Cian Bouw adalah langganan lama yang tidak cerewet, biar tidak tidur diranjang, ngampar-ngampar pun jadi, pokoknya asal bisa bermalam."
Kedua laki-laki itu memandang pada Ma Hui In yang tampak dalam kecemasan dan diam saja sedari tadi.
"Eh bagaimana ? Sudah kaya dan bisa memakai pegawai baru rupanya, sampai langganan lama tak dihiraukan lagi ?"
"Tidak...tidak...hanya...hanya...."
Jawab Ma Hui In dengan terbata-bata.
"Sudah terang kau tak memandang mata lagi pada kawan lama !"
Sindir Cian Bouw sambil tersenyum-senyum.
"Biarpun aku tak mempunyai toko dan hanya sebagai pedagang emas keliling, tapi tak pernah berlaku pelit kepadamu bukan ? Tahun yang lalu sikapmu masih baik, kuheran kenapa sekarang seperti tak kenal saja !"
Ma Hui In mencoba mengingat-ingat pedagang emas ini, tapi tetap tak bisa mengenali, kepaksa ia tersenyum dan berkata .
"Tuan Cian jangan marah, aku memperlakukan tamu baru maupun lama secara adil, tapi jika sudah penuh mau dikata apa..."
"Ya aku mengerti kesulitanmu, tapi sudah kutekankan ngegelarpun jadi ! Aku memaksa, sebenarnya tak patut, tapi kecuali Hiong hin can, tak ada losmen lain bukan ?"
"Engkau mungkin tak percaya bahwa tempat menggelar tikarpun sudah penuh,"
Kata Ma Hui In. Nah silahkan periksa adanya...
"Ha ha ha, sungguh mati aku tak percaya omonganmu,"
Potong Cian Bouw dan terus memeriksa kamar demi kamar.
Dalam lima kamar di losmen itu, antaranya empat sudah terisi, dan hanya tinggal sebuah kamar kosong.
Itupun diperuntukkan untuk menjebak In Tiong Giok dan Tong Cian Lie.
Begitu Cian Bouw mendapatkan kamar kosong ia menjadi gusar.
"Apa artinya ini ? Terang-terang kamar kosong kenapa dikatakan penuh ? Apakah aku pernah menganglap bayaran kamar ?"
Ma Hui In menjadi bungkam tak bisa berkata apa-apa lagi, sedangkan dua pelayan palsu itu menjadi mendongkol dan mau marah, tiba-tiba saja dalam keadaan janggal ini salah satu kamar membuka pintu.
Tok Kay Pong dengan wajah yang selalu tersenyum tampak keluar.
"Tuan Ma setelah kudengar perkataan tuan ini, kuambil kesimpulan engkau salah ! Kenapa sebagai pengusaha losmen, tidak mau menjawab kamar kosongnya ?"
"Ini....tapi..."
Tok Kay Pong mendahului berkata lagi, membuat Ma Hui In bungkam.
"Tak perduli sudah dipesan orang, pokoknya siapa yang datang duluan dialah yang wajib diterima. Maka itu kuanjurkan, kamar kosong itu serahkanlah pada tuan ini. Dan jika pemesan tempat itu datang, baru bicara lagi !"
Ma Hui In yang telah dijadikan boneka sudah tentu saja menerima dengan baik usul Tok Kay Pong. Dan buru-buru membuka pintu kamar mempersilahkan tamunya masuk sambil menyuguhkan minuman.
"Terima kasih banyak atas bantuan bapak, yang rendah Cian Bouw untuk ini mengajak bapak minum bersama-sama, sebagai tanda terima kasihku,"
Kata Cian Bouw. Tok Kay Pong menolak dengan halus sambil berkata .
"Tak usah begitu, sama-sama orang yang keluar rumah, sudah sepantasnya saling membantu bukan ? Nah, tuan mungkin habis melakukan perjalanan jauh, silahkan istirahat...."
Cian Bouw mengangguk dengan perasaan terima kasihnya yang berlebih-lebihan, lalu mengunci kamar dan makan minum seorang diri. Tok Kay Pong mendekat pada Ma Hui In.
"Apakah engkau kenal dengannya ? Dan betulkah tahun yang lalu ia pernah kesini ?"
"Seingatku tidak pernah ia datang kesini, dan wajahnya tidak kukenal !"
Jawab Ma Hui In.
"Hm, jalan kesorga tidak ditempuh, kenapa menuju keneraka ? Tak perduli engkau sebagai saudagar asli atau bukan, takkan kuberi ampun,"
Piker Tok Kay Pong. Dipanggilnya dua pegawai yang pura-pura jadi pelayan.
"Salah seorang kuminta tetap menjaga diluar, dan seorang pergi kedapur mengambil arak yang panas."
Kedua pengawal itu mengangguk dan pergi menjalankan tugasnya dengan patuh.
Begitu arak panas didalam teko diserahkan pengawal padanya, ia merogoh sakunya mengeluarkan sebuah peles kecil.
Dengan hati-hati tutup peles dibuka dan dikeprulkan sedikit puder dari peles itu kedalam arak.
"Ini adalah racun yang bernama Tok ngo san, pedagangitu kujadikan kelinci percobaan dari keampuhan racun ini,"
Nah berikanlah kepadanya, dan katakana arak ini adalah hadiah dari Ma Hui In sebagai rasa penyesalan atas sikapmu tadi."
Wajah Ma Hui In menjadi pucat dengan meratap ia memohon.
"Aku hanya memiliki losmen ini sebagai gantungan hidup kumohon jangan sampai terjadi peristiwa jiwa....
"Hm, jangan banyak bicara nanti kusilahkan engkau yang minum !"
Potong Tok Kay Pong.
Adapun yang dinamai racun Tok ngo san dibuat Thian lam sam kui dari seratus delapan macam, serbuk kupu-kupu beracun.
Dan menjadi semacam puder yang tidak berwarna dan berbau.
Jika dicampur dengan air, biarpun hanya sedikit bisa membuat yang meminumnya mati mendadak.
Sejak memiliki racun ini mereka lantas mengabdikan diri ke Pok Thian Pang.
Untuk mencari muka dari sang Pangcu mereka menyerahkan sepeles pada Pok Thian Pang.
Nah racun yang dipergunakan Soat Kouw untuk mencelakakan Liap In Eng maupun Pek King Hong adalah Tok ngo san itu.
Kini Tok Kay Pong yang bertugas untuk menciduk Tong Cian Lie dan In Tiong Giok menyadari dengan kepandaian silatnya tidak bisa memenangkan lawan, maka itu aku menggunakan racun itu untuk memperoleh kemenangan.
Tak kira sebelum racun dipergunakan, datang Cian Bouw.
Untuk tidak mengganggu siasatnya yang telah direncanakan, maka itu Cian Bouw pun tidak diberi ampun.
Cian Bouw memang seorang penggemar arak, begitu melihat pelayan datang dengan seteko arak panas sebagai tanda maaf atas kelakuan majikannya yang kurang hormat tadi, rasa marah dan dongkolnya pada pemilik losmen itupun menjadi hilang.
Cepat-cepat ia bangun sambil tertawa.
"Katakan pada majikanmu, sebagai kawan lama lebih sedikit kurang sedikit tak diambil dalam hati. Kini ia membuang uang untuk membelikan aku arak, membuatku tak enak sendiri !"
Pelayan palsu itu menaruh arak diatas meja dan membawa pergi sisa arak yang tidak beracun diatas meja.
"Eh jangan pergi dulu, mari temani aku minum !"
Kata Cian Bouw sambil menarik lengan pelayan palsu itu. Keruan saja pengawal itu menjadi kaget dan berkata dengan gugup.
"Aku tidak berani minum arak !"
"Jangan takut, majikanmu pasti tidak akan marah, jika aku yang mengajak minum."
Pengawal itu mana berani minum, dengan berbagai alas an ia melepaskan diri dari cekalan Cian Bouw dan terus keluar.
"Ah dasar pegawai baru, masih sok rajin dan takut pada majikan !"
Sehabis berkata dan ia segera menuang arak yang masih hangat itu lalu meminumnya.
"Ah arak ini kenapa pedas betul? Ah... perutku kenapa sakit..., Ah celaka ! Tolong !"
Tubuhnya segera jatuh kelantai dan berguling-guling dari mulutnya keluar darah, kaki tangannya berkerejatan, tampaknya mau mati.
Kam Kong dan Tan Toa Tiau mendengar suara teriakan si saudagar, memburu datang, menyaksikan mangsanya menggeletak dilantai, tersenyum puas dan berkata .
"Ha ha ha Tong Cian Lie inilah contoh untukmu"
Belum kata-katanya diucapkan, pengawas yang bertugas diluar, datang berlari-lari dengan cemasnya membawa berita "Datang ! Mereka datang !"
"Siapa yang datang, berkatalah dengan perlahan-lahan dan tegas !"
Kata Tan Toa Tiau. Pengawal itu menunjuk keluar.
"Tong Cian Lie dan In Tiong Giok sudah datang !"
"Berapa jauh lagi dari sini ?"
"Hampir tiba di mulut kampung !"
Tan Toa Tiau menarik napas lega dan berpaling kepada Tok Kay Pong.
"Bagaimana dengan mayat ini ?"
"Jangan gugup jalankan menurut rrencana yang sudah ditentukan,"
Kata Tok Kay Pong dengan tenang.
"Salah seorang pengawal lekaslah pergi temani mereka, guna menghambat kedatangannya kesini."
Pengawal itu mengangguk dan cepat pergi keluar.
"Eh kemana perginya Lie Tong Leng ?"
Tanya Tok Kay Pong tiba-tiba.
"Tadi ia mengatakan ingin melihat keadaan kampung ini..."
Kata pengawal yang berada disitu.
"Kalau begitu lekaslah bawa mayat ini kekamar Lie Tong Leng dan bersihkan lantai lekas-lekas !"
Kata Tok Kay Pong.
"Setelah itu engkau atau temanmu lekas ketemu Lie Tong leng dan pesan padanya jangan kembali dulu kesini, kuatir dikenali bocah she In itu."
Mereka beramai-ramai membersihkan lantai dan meja, setelah itu Tok Kay Pong, Tan Toa Tiau dan Sam Kong menurut rencana yang telah diatur kembali kedalam kamarnya.
Kedua penunggang kuda yang bukan lain dari pada In Tiong Giok dan Tong Cian Lie telah tiba dimuka Hiong hin can, kedatangan mereka disambut.
"pelayan palsu"
Dengan senyuman ramah.
"Jiewie Toaya, silahkan mampir hari hampir malam !"
Tong Cian Lie menengadah keatas sambil berkata .
"Ah benar, tanpa terasa hampir malam."
"Hoo kee (sebutan ramah) pada pelayan losmen aku numpang bertanya, masih jauhkah letaknya Tiat po ?"
Tanya In Tiong Giok.
"Oh tidak !"
Jawab sipelayan.
"Tapi cuaca hampir malam, sebaiknya Jiewie toaya bermalam dulu disini, besok baru kesana !"
"Memang kenapa ?"
"Sudah merupakan kebiasaan bahwa berkunjung kerumah orang dimalam hari, kurasa kurang pantas !"
"Eh engkau benar !"
Kata Tong Cian Lie.
"Mari kita bermalam dulu disini, besok baru kesana."
Tiong Giok pun menurut dan segera turun dari kudanya mengikuti jejak Tong Cian Lie, sedangkan "pelayan"
Itu cepat-cepat menambat kuda itu disamaping. Begitu mereka masuk kedalam losmen Ma Hui In menjadi kebat kebit, dengan terpaksa ia menyapa.
"Silahkan...silahkan duduk"
Suaranya gemetar, senyumnya lebih kecut dan buruk dari pada orang manis.
Sikapnya ini ketemu tabiat Tong Cian Lie yang berangasan kontan mendapat semprrotan "Hei jika segan menerima tamu, tutup saja losmen ini !"
"Oh bukan! Bukan ! Harap jangan salah paham "
Kata Ma Hui In sambil menggelengkan kepala dan menggoyangkan tangan dengan repotnya.
"Toaya jangan gusar, majikan kami penduduk asli kampung ini, tabiatnya kaku dan kurang pandai menerima tamu,"
Kata si "pelayan"
Sambil tersenyum.
"Kalau begitu engkau bukan orang sini ?"
Tanya Tong Cian Lie.
"Orang sini, tapi sejak kecil senang merantau keberbagai tempat, sehingga mempunyai pengetahuan lebih banyak dari majikanku sendiri."
"Oh kiranya engkau adalah pelayan yang berpengalaman..."
Kata Tong Cian Lie dengan mendelik. Tiong Giok menyaksikan ini segera menyelak.
"Lo Cianpwee apa gunanya ambil pusing dengan pemilik penginapan ini, sehabis menginap besokpun kita pergi lagi, sama ada soal yang lebih penting dari pada bertengkar dengan dia."
"Justru tabiatku amat jahat, apa yang aku lihat tak pantas, ingin kujadikan pantas !"
Kata Tong Cian Lie.
"Eh Hok kee, sediakanlah kamar yang bersih !"
"Diloteng tersedia kamar yang bersih, silahkan toaya periksa !"
Berkata pelayan itu.
Tong Cian Lie menganggukkan kepala dan segera melangkah kedalam, sedangkan matanya masih terus memandang Ma Hui In penasaran, kasihan pemilik losmen itu, biarpun ingin bicara tidak berani mengeluarkan suaranya, terpaksa menahannya perasaan itu karena takut.
Keadaan kamar memang bersih dan beres.
Membuat Tong Cian Lie merasakan puas.
"tak sangka di kampung ini ada losmen yang apik dan bersih. Hei bocah malam ini engkau boleh tidur nyenyak untuk memulihkan semangatmu untuk dipakai esok di Tiat po !"
"Hok kee adakah lagi kamar semacam ini sebab kami berdua ?"
Kata Tiong Giok.
"Sayang losmen ini memiliki tidak banyak kamar, dan yang adapun sudah penuh dengan tetamu. Kamar ini adalah yang terbaik dari sekalian kamar yang ada disini, jamak sajalah Siau ya bermalam sekamar dengan Toaya ini."
"Ya tidak apa-apa,"
Kata Tong Cian Lie.
"ranjang ada dua kenapa pakai dua kamar segala ? Lagi pula sehabis makan aku ingin jalan-jalan keluar, mungkin tengah malam baru pulang !"
"Lo Cianpwee mau kemana ?"
"Aku ingin melihat keadaan di Tiat po guna persiapan dihari esok !"
"Seharusnya aku yang mesti kesana..."
"Engkau akan menjadi tamu Tiat po, maka itu janganlah meninggalkan kesan buruk pada tuan rumah !"
Kata Tong Cian Lie. Dan seterusnya ia memesan pada pelayan yang masih berada disitu untuk menyediakan makanan dan minuman. Dengan menganggukkan kepala dan badan terbungkuk-bungkuk "pelayan"
Itu keluar kamar untuk menyediakan pesanan para tamunya.
Sedangkan Tok Kay Pong yang berada disebelah kamar, melalui lubang kecil mengintai gerak gerik Tong Cian Lie dan In Tiong Giok.
Begitu ia melihat kedua mangsanya menuju ketempat cuci muka yang berada dibelakang kamar, cepat ia meninggalkan kamarnya dan terus menuju kedapur.
Sayuran maupun minuman telah siap didapur, Tok Kay Pong mengeluarkan Tok ngo san dan memasukinya kedalam teko arak.
"Engkau harus berlaku waspada dan hati-hati menyuguhkan arak ini, jika berhasil jasamu akan kulaporkan ke pusat dan engkau bisa naik pangkat !"
"Terima kasih atas perhatian Fut hoat !"
Jawab pengawal itu.
"Aku harus kembali dulu kekamar dan akan mengintai pekerjaanmu ini."
Kata Tok Kay Pong.
"Dan beri tahu juga pada Kam Fut hoat dan Tan Cungcu agar berlaku tenang sambil menunggu perubahan. Sebelum Tong Cian Lie roboh sekali-kali jangan berlaku gegabah."
Waktu mereka bicara seorang pengawal yang ditugaskan mencari Lee Kee Cie telah kembali dengan tergesa-gesa dan memberikan laporan .
"Sudah kucari keempat pelosok kampung, tapi tidak juga kutemui bayangan Lie Tong leng !"
Tok Kay Pong terdiam sejenak, lalu tersenyum dingin .
"Biarlah ! Hasil sudah didepan mata, ia tak ada ditempat, sama dengan pahala ini tak ada bagiannya. Sekarang pergilah kedepan dan awasi Ma Hui In, jangan sampai ia masuk kekamar belakang, setelah usaha kita beres, bunuh padanya !"
Setelah mengatur segalanya dengan beres, ia masuk kekamarnya sambil memasasng kuping.
Malam semakin larut kesunyian semakin terasa, sungguhpun begitu suasana di losmen Hiong hin can mengandung hawa pembunuhan yang setiap saat bisa meletus.
Tok Kay Pong, Kam Kong dan Tan Toa Tiau dengan menahan napas, memasang telinga selebar-lebarnya mendengari gerak-gerik dikamar lawannya dengan hati berdebar-debar.
Mereka sadar jika sampai Tong Cian Lie mengetahui permainan mereka, perkelahian hebat bisa terjadi, dan jiwa mereka terancam kematian juga.
Sedangkan Ma Hui In dalam keadaan takut, keringat dinginnya membasahi sekujur tubuhnya.
Ia seorang penduduk yang hidup tenang kini menghadapi kejadian pembunuhan di losmennya, membuatnya tak bisa tidur.
Dan ia tahu saudagar she Cian telah dibunuh, mayatnya berada didalam, jika dua tamunya yang baru datang ini terbunuh juga, akibatnya tak berani dipikirkan.
Ia hanya tahu kampung halamannya ini tak bisa ditinggali lebih lama lagi jika apa yang dipikirkan itu terjadi semua.
Ia harus merantau mengembara kenegeri orang tanpa modal tanpa sandaran, mengingat ini hatinya semakin cemas dan hampa.
Untuk menghilangkan gejolak kecemasan hati yang berdebar semakin keras, ia berdoa didalam hati, agar Tong Cian Lie dan In Tiong Giok tidak minum arak racun itu dan selekasnya meninggalkan kamarnya....dan iapun berpikir bukanlah lebih baik ia meninggalkan tempat itu sebelum terjadi pembunuhan ?
Tapi apa yang menjadi harapannya itu tak bisa dilaksanakan, berapa kali ia bangkit dari tempat duduknya, tapi dibawah tekanan sinar mata pengawal yang mengawasi, ia duduk kembali.
Dalam losmen Hiong hin can hanya Tong Cian Lie dan In Tiong Giok yang tidak mempunyai perasaan apa-apa.
Mereka tetap dengan tenang merundingkan persiapan besok untuk menghadap ke Tiat po, sedangkan "pelayan"
Sudah membawa segala hidangan dan minuman kedalam kamar. Tong Cian Lie merasa kecewa melihat teko arak yang kecil dan segera menegurnya.
"Hei, apa-apaan kamu ini ? Arak seteko kecil ini untuk kucingpun tak cukup, apa lagi kami ! Takut tidak dibayar ya ? "Ah, Loya bisa saja, bukannya tidak ada teko besar, tapi untuk mempercepat servis kubawakan teko kecil ini. Nanti setelah arak itu panas lagi akan aku bawakan dengan teko besar."
"Bawa pergi tukar dengan teko besar lekas,"
Bentak Tong Cian Lie.
"Pelayan"
Itu tak berani membangkang, lekas-lekas keluar kamar sambil menggerutu didalam hati.
"Ah, dasar mau cepat-cepat mampus !"
Dan cepat-cepat ia kedapur mengambil teko besar, arak berada didalam teko inipun sudah dicampur racun. Lalu cepat dibawa kekamar tamunya. Melihat teko ini Tong cian Lie menjadi puas juga.
"tak perlu nongkrong disini lama-lama lekas masuk lagi biar banyakan, seteko inipun tak cukup menghilangkan rasa hausku !"
Dan pelayan itu mengangguk tapi tetap tak keluar kamar. Ia melayani dengan telaten sambil menuangkan arak kedalam cawan.
"Loya boleh minum dengan tenang, persediaan banyak, berapa banyak Loya mau bisa saja disediakan, silahkan minum !"
Tong Cian Lie mengangkat cawan arak dan meminumnya, lalu mengawasi warnanya juga.
"Ah arak ini cukup bagus dan tak beracun, kita boleh meminumnya dengan tenang."
"Loya jangan bergurau,kami sebagai pengusaha kecil, mana berani....."
"Ha ha ha, bukan aku curiga, setiap orang yang keluar rumah harus waspada dan hati-hati bukan ? Andaikata ada racunnyapun kamipun tak takut, tapi yang menimbulkan kecurigaanku adlah majikanmu itu ! Parasnya tak karuan dan tak sedap dipandang mata, mau tak mau terhadap segala hidangan disini menimbulkan kecurigaan !"
"Loya sudah melihat, biarpun dia berwajah demikian tapi hatinya sangat baik !"
"Memang benar, yang berparas baik sewaktu-waktu jahat, dan yang berparas kriminil hatinya baik !"
"Apa yang dikatakan Loya memang benar, nah silahkan minum jangan sampai arak ini menjadi dingin !"
"Ya benar, arak dingin bisa merusak badan bocah mari kita minum !"
Kata Tong Cian Lie. Baru saja Tiong Giok mengangkat cawannya dari kamar tengah terdengar suara orang meerintih .
"Aduh...aduh...perutku sakit..."
"Ih siapa yang sedang kesakitan ? Tidakkah Lo Cianpwee mendengarnya juga ?"
Tanya In Tiong Giok.
"Ya aku mendengar dari kamar sebelah,"
Jawab Tong Cian Lie.
"Hoo kee siapa yang sedang kesakitan itu ?"
Pelayan itu menggigil tak keruan, sebab telinganyapun mendengar suara rintihan tadi dan mengenali itulah suara Cian Bouw si saudagar emas.
"Mungkinkah dia belum maati ?"
Pikirnya dengan cemas.
"Hei tidakkah kau mendengar pertanyaanku ?"
Bentak Tong Cian Lie.
"Dengar, dengar ! Ya disebelah ada yang sedang sakit, tadi siang sudah diperiksa tabib dan sedang memakai selimut tebal agar keluar keringat, Jiewie minumlah dengan tenang, akan kulihat sebentar...."
Belum ia berlalu dari kamar sebelah terdengar lagi suara rintihan.
"Aduh....aduh....perutku sakit. Hoo kee kenapa engkau memberikan aku arak beracun ? Apa salahku apa dosaku dibuat begini macam ? Aduh...orang jahat dapat balasan jahat, orang baik dapat balasan baik....aduh...."
Pelayan itu segera keluar, tapi sebelum berhasil keluar pintu, sudah dihadang Tong Cian Lie yang sudah terlebih cepat berada didepan pintu.
"Engkau mau kemana ?"
Tegurnya sambil menyeret lengan "pelayan"
Itu.
"Aku ingin melihat orang sakit itu..."
"Jangan tergesa-gesa, mari temani aku minum arak dulu."
Kata Tong Cian Lie. Pegawai itu tahu segala perbuatannya sudah diketahui orang, cepat melepaskan diri dan lari keluar pintu, tetapi tak bisa berlari lagi karena tengkuknya diciduk Tong Cian Lie.
"Masih mau lari ? Jangan pandang enteng pada Tong Cian Lie tahu ?"
Dengan kekerasan Tong Cian Lie mencecok "pelayan"
Itu dengan arak bercampur racun. Dalam sekejap pengawal itu bergelimpangan dengan kesakitan dan berteriak-teriak minta tolong.
"Tok Fut hoat ! Tan Cung cu tolong !"
Belum pula ia bisa meminta tolong terlebih lanjut, napsnya sudah berhenti terlebih dahulu.
"Ah arak ini benar-benar beracun !"
Kata In Tiong Giok.
"Hei bocah, jangan diam saja, mari kita periksa setiap kamar, tentu masih ada komplotannya ! Baru saja mereka keluar pintu dikiri kanan mereka telah berdiri dengan tegak Kam Kong, Tok Kay Pong dan Tan Toa Tiau dengan senjata yang sudah terhunus.
"Hm, kiranya yang dipanggil Tok Fut hoat adalah kawan lama juga !"
Kata Tong Cian Lie sambil mendelik-delikkan matanya.
"Hm, baru tahu sekarangpun tak berarti lambat, sayang saja sepeles Tok ngo san terbuang percuma. Dan apakah sudah takdir engkau harus mati basah dibawah senjata Cui hun jiu ku ?"
"Ah tak kukira engkau sebagai orang-orang Cap sah kie yang cukup kenamaan di dunia Kang Ouw mau menjadi anjing Pok Thian Pang, dan melakukan kerjaan rendah untuk meracuni diriku !"
"Kami diterima di Pok Thian Pang dengan kedudukan tinggi, sedikitpun tidak memalukan orang ! Dan kini mendapat tugas untuk menangkap bocah she In ini ! Hal ini sebenarnya tidak ada hubungannya dengan Tong heng, tapi engkau sendiri yang ikut-ikutan turut campur maka jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan harap jangan menyesal !"
"Hm, seolah-olah engkau sudah memastikan bahwa kemenangan berad dipihakmu ?"
"Jala langit dan bumi sudah ditebar, biar bersayappun kalian tak bisa meloloskan diri !"
"Tapi aku tak mau mendesakmu keterlaluan, jika Tong heng tidak mau mencampuri urusan bocah ini, kamipun tidak akan mengganggu seujung rambutmu."
"Hm, aku tak berhasil menikmati Ngo tok san, tak salahnya mencobai Cui hun jiu mu, antara kita sudah saling mengenal satu sama lain, tak perlu banyak bicara lagi. mari jangan malu-malu."
"Ah engkau mencari mati sendiri,"
Seru Tan Toa Tiau.
"Hm, engkau siapa ?"
Tanya Tong Cian Lie dengan kasar.
Jilid 11________ "Aku Tan Toa Tiau ketua ranting Pok Thian Pang di Ngo liu cung,"
Jawab Tan Toa Tiau dengan bangga.
"Eh bocah sewaktu engkau berada di Ngo liu cung tentu cecunguk ini yang menipumu bukan ?"
"Benar !"
Jawab Tiong Giok.
"Hm, cecunguk kecil yang tidak ada artinya, katakana padanya aku segan bicara dengannya dan suruh minggir jauhan !"
Tan Toa Tiau mendengar perkataan ini, gusarnya tak alang kepalang, dengan keras dia membentak .
"Bangsat she Tong, kematianmu sudah di depan mata, untuk apa banyak cingcong lagi !"
"Hei, jangan banyak bacot !"
Bentak Tong Cian Lie sambil menggaplok.
Tan Toa Tiau tak merasa dongkol dipandang enteng ia menangkis sambil menyerang, tapi begitu kedua tangan bentrok, terdengar suara nyaring....Bukan saja Tan Toa Tiau tidak kesampaian melancarkan serangan, tubuhnyapun terhuyung tujuh delapan langkah.
Dan terus memuntahkan darah dari mulutnya.
Tok Kay Pong dan Kam Kong segera turun tangan.
Tong Cian Lie melancarkan pukulan geledeknya, membuat suara dasyhat susul menyusul dan membuat goyang seisi rumah.
Dalam suasana hiruk pikuk dari perkelahian terdengar suara seorang berseru keras.
"Celaka.....rumah ini mau roboh !"
Menyusul berkelebat sesosok tubuh dari dalam kamar dan terus berlari keluar.
Dari potongan tubuhnya bisa dikenal orang itu adalah sisaudagar emas yang mengaku bernama Cian Bouw.
Tok Kay Pong dengan cepat menghadang Cian Bouw sambil membentak.
"Mau kemana ?"
"Jangan merintangi aku !"
Kata Cian Bouw, rumah ini akan rubuh aku bisa mati tertimpa puing-puing. Kamu tahu sendiri manusia mati hanya sekali, masakan aku disuruh mati lagi !"
Sambil berkata lengannya menyerang kepada Tok Kay Pong.
Sedikitpun Tok Kay Pong tak berpikir bahwa saudagar itu mempunyai pukulan yang keras dan tidak berada dibawah kekuatan Tong Cian Lie.
Karena lalainya hampir-hampir ia menderita kerugian besar, cepat ia menarik senjatanya melindungi diri dan mundur.
Serangannya si saudagar membawa dirinya keluar pintu losmen dan terus ia ngacir dengan sekencangnya.
"Bocah ! Ikuti orang itu !"
Perintah Tong Cian Lie kepada Tiong Giok.
Baru saja Tiong Giok keluar losmen, Tok Kay Pong mengejarnya dari belakang.
Sementara itu Tan Toa Tiau biarpun sudah menderita luka, maju lagi kemedan pertempuran membantu Kam Kong.
Hal ini tak membuat keder sedikitpun pada Tong Cian Lie, dengan tenang ia melancarkan ilmu pukulan geledek dengan keras, dan bertubi-tubi.
Kam Kong maupun Tan Toa Tiau selangkah demi selangkah terrdesak mundur, mereka berkelahi dari dalam losmen sampai kejalan besar.
Kam Kong dan Tan Toa Tiau tidak sanggup melayani musuhnya, tanpa berjanji lagi, melancarkan langkah seribu.
Tong Cian Lie tidak mengejar, ia membiarkan kedua musuhnya itu lari, ia kembali kedalam losmen menantikan Tiong Giok.
Sementara itu Tiong Giok yang mengejar Cian Bouw, biarpun menggunakan seluruh kekuatan tak berhasil mencandaknya.
Saking kesal ia berteriak.
"Lo Cianpwee tunggu...."
"Siau ya kau boleh lari membawa dirimu, aku membawa diriku, mengapa mengikutiku ?"
"Lo Cianpwee berkepandaian tinggi, tetapi pura-pura sebagai seorang biasa, apa artinya ?"
"Siapa yang berkepandaian tinggi ? Engkau jangan salah, orang yang berkepandaian tinggi adalah Pangcu dan rombongan dari Pok Thian Pang, tak lama lagi mereka akan datang, sebaiknya lari cepat-cepat."
"Apa benar pangcu akan datang ?"
"Percaya tidaknya itu terserah padamu! Jika engkau tak ingin kembali kemarkas pusatnya meeka, sebaiknya jangan pula pergi ke Tiat po, kuyakin kedatanganmu tidak akan membawa kebaikan ! Nah kata-kataku sudah selesai kuucapkan, engkauboleh resapkan sendiri, aku tak bisa menemui orang dan harus berlalu secepatnya dari tempat berbahaya ini, selamat tinggal !"
Tubuhnya berlari lagi setelah berkata dalam sekejap sudah hilang dari pandangan.
Saudagar emas itu datang kelosmen Hiong hin can dam memberikan tanda bahaya pada Tiong Giok, semua ini bukan karena kebetulan, setelah mendengar perkataannya barusan, seolah-olah dia sudah mengenal kepada pemuda kita.
Tiong Giok tidak mengejar lagi, dia hanya berpikir dan menduga-duga siapa orang itu sebenarnya.
Belum pula ia berhasil mengingat orang itu dari belakang terdengar sura dingin.
"Bocah, kini engkau tak bisa kabur lagi !"
Inilah suara Tok Kay Pong.
"Engkau mau apa ?"
"Sejak di markas pusat, kita sudah kenal bukan ? Soal engkau melarikan diri dari sana tak ada sangkut pautnya denganku ! Tapi apa yang kulakukan ini adlah perintah dari atasan, jika tidak akupun tidak mau mengejar-ngejar dirimu..."
"Ya maksudmu mau apa ?"
"Kudengar engkau telah pandai ilmu Keng thian cit su bukan ?"
"Kalau benar memang kenapa ?"
"Aku adalah orang tua yang menyenangi bakat muda sepertimu !"
Kata Tok Kay Pong.
"Maka itu jika engkau mau memberi petunjuk dimana letak keistimewaan dari ilmu itu..... he he he, engkau orang pintar tentu mengerti sendiri maksudku bukan ?"
"Oh, jika kau mau memberikan petunjuk-petunjuk ilmu itu artinya kau tak segan-segan mengkhianati Pok Thian Pang dan membebaskan diriku bukan ?"
"Bukan begitu, aku hanya menyayangi anak muda semacammu jika sampai dibawa kembali ke markas pusat Pok Thian Pang, mana tahan mengalami siksaan-siksaan keras !"
"Mendengar katamu itu membuat aku menarik napas sesak !"
"Kenapa begitu ?"
"Sesak napasku karena perbuatanmu yang terlalu tidak tahu malu !"
Katanya lagi. Tok Kay Pong menjadi semakin marah, matang kedua pipinya mendengar ucapan Tiong Giok itu. Dari malu timbul rasa gusarnya dan dengan didahului senyuman dingin ia berkata .
"Bocah diajak jalan baik-baik tidak mau, maunya kejalan mati. Engkau jangan menyesal semua ini dicari sendiri !"
Sehabis berkata Cui hun jiaunya menyambar dengan cepat pada Tiong Giok.
Akan tetapi dengan gerakan Kiu toa bie cong pou Tiong Giok berhasil menghindarkan dirinya dari serangan, lalu mencari posisi yang baik dan terus melancarkan Hiat cie lengnya yang ampuh.
Dengan didahului gerakan aneh Tok Kay Pong berbalik menyabetkan Cui hun jiau (cakar pengejar nyawa), tubuhnya yang besar tak ubahnya seperti anak panah cepatnya, mencelat dua tiga depa kedepan, menghindarkan Hiat cie leng lawannya.
Berulangkali Tiong Giok melancarkan Hiat cie leng yang menjadi andalannya, tapi sebegitu jauh belum berhasil menundukkan lawannya.
Ia tak berpikir bahwa lawannya begitu gesit dan serangan dirinya tak membawa hasil.
Ia tak mau memboroskan tenaga, maka Hiat cie leng tidak dipergunakan lagi.
Mereka berkelahi dengan hebat, nanti merapat nanti merenggang, masing-masing tak berani memandang enteng lawannya.
Tok Kay Pong dengan sebelah tangan bersenjata Cui hun jiau, sebelah tangannya melindungi dadanya.
Selangkah-selangkah mendekat lagi, setiap kakinya diangkat tertera sebuah jejek kakinya yang cukup dalam.
Menandakan bahwa seluruh kekuatannya sedang dipergunakan semaksimum-maksimumnya.
In Tiong Giok sadar bahwa kekuatan ilmu dalamnya belum memadai lawan dan jika mengandalkan kelincahannya mungkin masih bisa bertahan dan tak sampai dikalahkan.
Jika mengadu kekerasan, dengan bertangan kosong sudah pasti akan menderita kerugian.
Untung dia seorang cerdik yang bisa berpikir cepat.
Untuk mengatasi situasi yang makin gawat, segera ia berpura-pura jerih dan mundur-mundur kebelakang.
Sesudah lima enam langkah, ia merandek karena kakinya memijak kayu kering yang mendatangkan bunyi "krak".
In Tiong Giok berlagak kaget dan melihat kebawah.
Dan rupanya Tok Kay Pong tidaklah menyia-nyiakan kesempatan baik itu, tubuhnya menyergap dengan cepat pada musuhnya.
Tipu muslihat Tiong Giok yang menginginkan musuh berbuat seperti itu berhasil baik, tubuhnya berputar dengan cepat, menghindar sambaran senjata musuhnya.
Lalu dari tempat yang enak ia melancarkan pukulan tangan diluar dugaan musuh.
Begitu serangannya tidak membawa hasil, Tok Kay Pong sudah tahu bahaya mengancam dirinya.
Cepat ia mencelat keudara tanpa menoleh lagi dan membalik tangan melakukan tangkisan.
Tiong Giok tidak mau mengadu tangan, ia mengubah serangannya dengan cepat.
Sekali ini ia berhasil, pukulannya tepat mengenai bagian pundak musuhnya.
"Buk"
Terdengar suara nyaring, tubuh Tok Kay Pong terpental sejauh dua tiga tombak.
Pukulan Tiong Giok itu begitu telak, dan berhasil menghancurkan tulang bahu musuhnya.
Dengan terhuyung-huyung Tok Kay Pong bangkit dari tanah sambil menahan sakit.
Sekali ini Siau bin bu siang atau siiblis selalu tersenyum tidak terlihat lagi senyumannya, ia meringis kesakitan.
Terhadap musuhnya yang sudah payah Tiong Giok tidak menurunkan tangan lagi, ia menanti dengan tenang.
Tidak ada rasa sombong sedikitpun dirinya, bisa mengalahkan salah seorang Cap sah kie yang sudah tenar itu.
"Jika engkau kurang puas, aturlah pernapasanmu sampai baik, kita boleh duel lagi !"
"Bocah kemenanganmu ini adalah hasil kelicikanmu, dan bukan kepandaianmu !"
Tapi dengan akallah aku memperoleh kemenangan, menandakan aku menang teknik darimu bukan ?
Jika dalam hal ini engkau merasa kecewa, engkau boleh bertanya pada diri sendiri, patutlah sebagai Thian lam sam kui yang sudah kesohor, mempergunakan racun untuk mencelakakan musuh ?"
Tok Kay Pong menjadi malu, dan tak ada muka untuk berdiam lama-lama disitu, dengan perasaan dan malu, ia mencelat pergi dengan cepat sambil menahan sakit dipundaknya.
In Tiong Giok tidak mau mengejar, ia merapikan pakaiannya dan terus menuju ke losmen untuk menemui Tong Cian Lie.
Setibanya dimulut kampung ia menjadi melongo sendiri karena keadaan sangat sunyi sekali.
"Mungkinkah Tong Lo Cianpwee telah..."
Pikirannya dengan kaget.
Ia sudah mengenal tabiat orang tua itu.
Yang andaikan berhasil membereskan Tan Toa Tiau dan Kam Kong, pasti akan mencari dirinya.
Kini sepanjang jalan ia tidak melihat ada bayangan, juga tidak mendengar suara perkelahian.
Mungkinkah kaum Pok Thian Pang dengan jago-jagonya telah datang dan membuat Tong Cian Lie tidak berdaya ?
Dengan tergesa-gesa ia berlari secepat-cepatnya kearah Hiong hin can.
Begitu ia sampai didepan pintu lagi-lagi membuatnya melongo.
Keadaan disitu sunyi sepi, tidak terlihat tanda-tanda belas perkelahian.
Kam Kong maupun Tan Toa Tiau tidak terlihat sama sekali.
Pintu rumah masih terbuka lebar-lebar didalam terlihat sinar api yang kecil, remang-remang terlihat dua orang sedang terpekur.
Yang satu adalah Ma Hui In dan yang satu lagi adalah Tong Cian Lie.
Begitu mendengar derapan sepatu Tiong Giok, Tong Cian Lie memandang sambil menegur "Sudah pulang ?"
"Ya sudah !"
"Tak kena dikejar orang tua itu ?"
"Kena, namun ia tak mau menyebutkan namanya."
Jawab Tiong Giok.
"Ia hanya memesan tak usah pergi ke Pek liong san, dan mengatakan bahwa jago-jago dari Pok Thian Pang dipimpin Pangcunya sendiri akan kesini dengan menganjurkan kita cepat-cepat berlalu dari sini."
"Sayang perkataannya ini diucapkan terlalu lambat juga terlalu siang !"
Kata Tong Cian Lie. Mendengar perkataan yang berlawanan dari kawannya itu, Tiong Giok menjadi melongo lagi.
"Lo Cianpwee, engkau..."
"Duduklah dulu dan makan."
Potong Tong Cian Lie.
"Hei jangan melamun saja, sediakan kami minuman dan makanan, sesudah itu kami mau tidur senyenyak-nyenyaknya !"
Ma Hui In segera bangkit dari tempat duduknya, tak selang lama dia kembali lagi dengan makanan serta minuman. Tong Cian Lie meneguk arak dengan hausnya.
"Hei, bocah mari minum sepuas-puasnya, biar kita mati atau mabuk, dengan begitu segala kepusingan tidak ada lagi !"
"Lo Cianpwee apa yang terjadi disini ?"
Tanya Tiong Giok.
"Apapun tidak ada yang terjadi ! Kam Kong si setan cilik adalah pecundangku, apa lagi orang she Tan itu tak ada artinya bagiku ! Begitu aku mengangkat tangan, mereka sudah lari terbirit-birit ! Sudahlah jangan menceritakan itu, mari minum."
Tiong Giok tidak berani banyak bertanya, diangkatnya cawan arak dan meneguknya dua kali, lalu meletakkan lagi dimeja.
Tong Cian Lie meminum arak sepuas-puasnya, tubuhnya bermandi keringat, arak seguci dalam waktu singkat telah menjadi kering.
Ma Hui In mengambil lagi seguci.
"Apa yang harus kulakukan ?"
"Ya apa saja, misalnya soal bagaimana Lo Cianpwee mengalahkan Kam Kong dan Tan Toa Tiau..."
"Dua cecunguk itu tak ada harganya untuk diceritakan !"
"Atau memberikan pandangannya, siapa sebenarnya pedagang she Cian itu ?"
"Seorang yang berlaku gelap-gelapan dan tak berani berterangan adalah bangsa pengecut, dan membuang-buang waktu saja menduga-duganya."
"Orang ini seperti seorang yang sudah kukenal, tapi entah betuk entah tidak."
Ia merandek sejenak, sengaja memancing Tong Cian Lie membuka mulut dan mau mengutarakan isi hatinya. Tapi yang diajak bicara itu tak memperdulikannya, terus asyik dengan araknya.
"Mau betul atau tidak, tidak ada urusannya denganku ! Kini iapun sudah pergi, tak usah diingat-ingat lagi, mari kita minum !"
Segala daya dipergunakan Tiong Giok, Tong Cian Lie trtap tak mau mengutarakan isi hatinya.
Maka iapun meminum lagi araknya.
Tak selang lama mereka telah merasa sedikit pusing dan mabuk, Tong Cian Lie menyuruh Ma Hui In membereskan sisa makanan dan perabotan, lalu ia berpaling pada Tiong Giok "tak lama lagi akan terang tanah, maka itu tidurlah lekas !"
In Tiong Giok menganggukkan kepala.
Di kamar dia bersemedhi, menjalankan pernapasan sedikitpun tidak tidur.
Dan terdengar pula suara bolak balik Tong Cian Lie diatas ranjang, nyatanya orang tua itupun tidak bisa pulas.
Dengan cepat malam telah berganti siang, setelah beres makan pagi mereka keluar dari losmen dengan menunggang kuda.
Sepanjang jalan Tong Cian Lie mengerutkan kening, wajah muram terus.
Membuat Tiong Giok kesal, tapi ia diam saja tak berani banyak bicara.
Begitu keluar dari kampung itu mereka menuju keutara, dari sini hanya berjalan beberapa lie saja, perkampungan Tiat po telah terlihat jelas.
Perlahan-lahan mereka mengendarai kudanya mendekati pintu perkampungan.
Tampak pintu perkampungan yang besar tertutup rapat.
Hanya pintu samping yang kecil ada terbuka.
Dan dari sinilah orang keluar masuk.
Di depan pintu itu dijaga empat pemuda berbaju hijau.
Sesampainya didepan itu Tong Cian Lie terbengong-bengong, sinar matanya menjadi sayu dan mengembang air mata.
"Bocah disinilah kita berpisah, jika ada juga kita bertemu lagi dikemudian hari !"
"Kenapa Tong Lo Cianpwee tak mau masuk kedalam ?"
Tong Cian Lie tidak menjawab, kepalanya saja digeleng-gelengkan.
"Kenapa hanya dalam waktu semalam saja Lo Cianpwee berubah pikiran ?"
"Ya, akupun merasa malu mengubah kemauan dalam sekejap, tapi mau dikata apa semua ini kemauan yang maha kuasa, manusia bisa apa......"
"Apa artinya Cianpwee berkata ini ?"
"Sudah kupikirkan tadi malam sebaliknya engkaupun tak usah masuk kedalam perkampungan Tiat po, tapi kutahu engkau tak bisa dilarang, maka itu sengaja kuantar engkau sampai disini, dan kita berpisah..."
Ia tidak melanjutkan kata-katanya, karena terputus isak tangisnya. Tiong Giok tidak memaksa meminta keterangan apa sebabnya orang tua itu tak mau masuk ke Tiat po. Ia hanya berkata .
"Lo Cianpwee tak masuk tak apa-apa, tapi ingin kutahu habis dari sini mau kemana ?"
"Tentu pulang ke Kiu yang shia."
Jawab Tong Cian Lie.
"Akan kukunci pintu rapat-rapat dan tak mau menerjunkan diri lagi didunia Kang Ouw. Jika dikemudian hari engkau lewat disana, tak halangan mampir barang satu dua hari !"
Sambil berkata ia mengeluarkan se
Jilid buku dari sakunya dan menyerahkan pada In Tiong Giok.
"Buku ini adalah buku pelajaran Thian lui tiap (buku pelajaran pukulan geledek). Sekarang buku ini tak ada gunanya lagi bagiku, nah terimalah dengan baik sebagai tanda mata dariku. Jika engkau sampai tak diterima Lim Siok Bwee, perlihatkanlah buku ini, mungkin buku andalanku ini, akan memberi muka kepadanya guna menerimamu sebagai tamu."
"Bocah sebenarnya akupun merasa enggan berpisah denganmu, tapi apa mau dikata, sesuatu yang tidak diinginkan justru terjadinya lebih cepat dari pada yang diharapkan. Kecuali dari buku ini kupesan juga untukmu, berlakulah welas asih terhadap sesama manusia, biarpun ia lawan atau kawan !"
Tiong Giok menganggukkan kepala, dan memegang buku itu, sedngkan bayangan Tong Cian Lie semakin lama semakin kecil dan hilang dari pandangan matanya.
Empat penjaga pintu perkampungan Tiat po melihat Tiong Giok terpekur begitu lama, setelah berpisah dengan Tong Cian Lie menjadi geli sendiri.
Antaranya ada yang berteriak .
"Hei kawan, temanmu sudah pergi jauh !"
Seruan ini membuat Tiong Giok tersadar dari lamunannya. Cepat-cepat ia menyeka air mata dan menuntun kudanya masuk ke Tiat po. Penjaga itu dengan hormat menyambut Tiong Giok.
"Apakah saudara mau masuk ke kampung ini ?"
"Benar !"
"Untuk keperluan apa ?"
"Aku In Tiong Giok mau menghadap pada Siau siang lie hiap Lim Siok Bwee, dapatkah engkau menolongku memberi tahu kepadanya ?"
"Mungkin saudara tidak mengetahui bahwa perkampungan ini sudah bertahun-tahun tidak menerima tamu !"
"Hal ini kuketahui, tapi aku mempunyai suatu hal penting dengannya, dan mohon pengecualian !"
"Sejak pintu ini tertutup selama dua puluh tahun lebih, banyak tamu-tamu yang datang dengan berbagai urusan penting dengannya, tapi semuanya ditolak tanpa pengecualian........"
"Tapi jika urusan penting yang bersangkutan dengan mati hidupnya Po cu disini, tidak diberi pengecualian juga ?"
"Saudara jangan bergurau, Po cu kami telah meninggal dunia dua puluh tahun yang lalu..."
"Ya tersebab kudengar berita bahwa Po cu disini telah lama meninggal dunia, maka dari tempat ribuan lie aku datang kesini untuk mewariskan kepada isterinya, keadaan Po cu belakangan ini....."
Penjaga-penjaga pintu itu mula-mula merasa aneh dan heran mendengar keterangan Tiong Giok, tapi sekejap kemudian mereka terbahak-bahak.
"Ah yang benar saja, Po cu kami sudah meninggal dunia puluhan tahun mana bisa hidup lagi !"
"Apa yang kukatakan adalah benar !"
Kata Tiong Giok dengan dongkol. Penjaga-penjaga itupun menjadi mangkel melihat sikap pemuda kita yang masih tetap bertahan dan tak mau pergi dari situ.
"Hei engkau harus tahu Tiat po ini tempat apa, dan janganlah membuka mulut sembarnagan tahu, kulihat engkau kurang waras dan lekaslah cari tabib yang pandai untuk berobat, jangan mengaco terus disini !"
"Aku dalam keadaan sehat walafiat, apa yang kukatakan adalah benar ! Lagi pula hak menerima tamu berada ditangan Lim lie hiap bukan ditangan kalian ! Kuheran kenapa kalian tak mau mewartakan kepadanya ?"
Salah seorang penjaga yang paling muda menjadi gusar matanya segera mendelik, dan bersikap mau mengusir dengan kekerasan.
Untung kena dicegah oelh yang lebih tua.
Agaknya ia lebih berpengalaman dan bisa menyabarkan kawannya itu.
"Saudara kulihat engkau seorang pemuda yang tidak berpotongan sebagai penipu, maka itu harus tahu bahwa semasa hidupnya Po cu kami, terkenal kemana-mana dan tempat tinggalnya maupun orang-orangnya bukan bangsa tempe yang boleh dihina. Soal kami tidak mewartakan kepada nyonya kami, adalah kebaikan untukmu sendiri. Jikalau soal mustahil mengenai Po cu kami didengarnya, engkau mencari penyakit sendiri, maka itu sebaiknya lekaslah engkau berlalu dari sini....."
"Terima kasih atas kebaikanmu,"
Sela In Tiong Giok.
"Justru karena aku sebagai salah seorang pengagum Tiat eng hiong, maka jauh-jauh datang kesini dengan membawa berita penting untuk disampaikan kepada isterinya, tapi kalian tidak mau mewartakan, dan terus mengatakan bahwa nyonya kalian tidak mau menemuiku !"
"Maksudmu memaksa kami memberitahu kepada Lie pocu ?"
"Sudah tentu !"
"Apakah tidak menyesal dengan akibatnya ?"
"Apa yang perlu kusesalkan ?"
"Baik kuwartakan kedalam dan nantikan disini !"
Kata orang itu memesan pad temannya sebelum berlalu.
"Jaga baik-baik, jangan kasih diia pergi !"
"Tunggu dulu,"
Panggil In Tiong Giok. Ia mengeluarkan Thian liong giok hu dari sakunya.
"Benda ini kuharap sekalian perlihatkan pada Lim Lie hiap !"
Orang itu menyambut kumala itu sambil menggerendeng.
"Apa artinya benda ini ?"
"Engkau jangan memperdulikan apa artinya benda ini, pokoknya serahkanlah pada lio pocumu, ia pasti tahu artinya."
Tak selang lama setelah berlalunya orang itu, dari dalam kampung terdengar derap kaki kuda yang berisik sekali, penunggang kuda itu adalah seorang tua berusia enam puluhan, kepalanya diikat kain hijau, matanya bersinar tajam, menandakan seorang berkepandaian tinggi.
Seorang lagi adalah gadis berbaju ungu berusia tujuh belas tahun, matanya jeli, pinggangnya ramping, tampaknya periang sekali.
Begitu kedua penunggang kuda keluar pintu, mereka melompat turun dari tunggangannya dan mengawasi pada Tiong Giok dengan keheran-heranan..
Siorang tua segera menghampiri dengan membungkuk dan memberi hormat.
"Numpang tanya, apa hubungan In siauw hiap dengan Pek Lo cianpwee dari Thian Liong bun ?"
"Oh, berkat kemujuran aku menjadi pewaris dari Thian liong bun...."
Belum pula Tiong Giok menjelaskan perkataannya, orang tua itu segera berlutut.
"Aku Tiat Hok, memberi hormat pada In siauw hiap !"
Sedangkan gadis remaja tadi, dengan hormat mendekati mereka.
"Aku Tiat Siauw Bwee mewakili ibu, mengucapkan selamat datang pada In Siauw hiap !"
Para penjaga pintu tadi, tanpa disuruh lagi sudah bertekuk lutut memberi hormat dan ketakutan.
Tiong Giok sudah tahu bahwa Tiat Giok Lin memperoleh kepandaian silat dari Pek King Hong, begitu kumala pusaka dari Thian Liong bun diperlihatkan, orang-orang di Tiat po berlaku demikian memujinya, hal ini benar-benar diluar dugaannya.
Dengan tergopoh-gopoh Tiong Giok membanguni Tiat Hok.
"Tak usah banyak peradatan, bangunlah ! Kedatanganku ini nampaknya mengganggu dan merepotkan saja."
"Siauw hiap jangan berkata begitu, ketahuilah bahwa Po cu kami menerima pelajaran dari Thian liong bun, sekalian orang yang berada di dalam Tiat po begitu melihat Thian liong giok hu sama saja seperti melihat Ciang bun jin, Hujin (nyonya) tidak menyambut keluar, ia sedang menantikan di dalam lekaslah naik kuda !"
Dengan tersenyum Tiong Giok mencemplak kudanya, mengikuti Tiat Hok dan Siauw Bwee masuk kedalam.
Keadaan didalam Tiat po sangat luas dan terbagi perkampungan depan dan perkampungan belakang.
Mereka bercocok tanam dan menenun kain sebagai mata pencaharian sehingga bisa hidup dengan damai dari kesibukan dunia luar.
Sejak Tiat Giok Lin mati, tidak pernah seorangpun diijinkan masuk kedalam Tiat po dan Tiong Giok adalah orang pertama yang diperkenankan masuk kedalam.
Sepanjang jalan laki-laki dan perempuan tua dan muda menyambut kedatangannya dengan meriah.
"Mamaku sedang menanti dengan tak sabaran, Tiat Hok temanilah In Siau hiap aku akan masuk duluan !"
Kata Tiat Siau Bwee yang terus memecut kudanya pergi duluan.
Dengan dikawani Tiat Hok, In Tiong Giok melewati perkampungan luar dan memasuki daerah perkampungan dalam.
Adapun perkampungan dalam ini tempat tinggalnya Po cu.
Penduduk biasa yang berada diluar kampung itu, tidak diperbolehkan sembarangan masuk kedalam.
Lim Siok Bwee sejak ditinggal mati suaminya tidak pernah keluar dari perkampungan dalam, dan sekarangpun tidak terkecuali, ia hanya berada didalam rumah menantikan kedatangan tamunya.
Kedua penunggang kuda langsung masuk kedalam perkampungan dalam dan berhenti disebuah taman bunga yang luas.
Dari sini mereka masuk kedalam gedung yang besar dan megah.
Keadaan didalam tampaknya sangat tenang dan sepi, dua puluh pelayan gedung yang berbaris rapi dikiri kanan, tersenyum-senyum menyambut kedatangan tamunya.
Dibelakang barisan pelayan itu terlihat Lim Siok Bwee dan putrinya sedang menantikan tamunya.
Usianya Lim Siok Bwee tidak lebih dari empat puluh tahunan, tapi jika dilihat parasnya yang pucqat serta baju putih tanda dari berkabung yang masih dikenakan terus walau sudah puluhan tahun, tampaknya tua sekali.
"Yang rendah In Tiong Giok menghaturkan hormat pada Tiat Hujin,"
Kata Tiong Giok. Lim Siok Bwee membalas hormat sambil berkata .
"Mendiang suamiku mendapat pelajaran dari Thian liong bun, dan terhitung sebagai anak buah perguruan itu, maka itu Siau hiap tak usah terlalu memaksa peradatan. Anggaplah sebagai orang sendiri, mari masuk dan duduk."
Lim Siok Bwee dan pengiringnya masuk kedalam, demikian juga dengan Tiong Giok, setelah pada duduk Lim Siok Bwee mengembalikan Thian liong giok hu.
"Lebih kurang dua puluh tahun lamanya tidak melihat kumala ini ! Mendiang suamiku semasa hidupnya tak pernah melupakan budi kebaikan dari Pek Locianpwee yang memberikan pelajaran silat, sayang dia sudah meninggal dan tidak bisa kenal dengan Siau hiap."
"Sejujurnya dengan kebetulan dan berjodoh saja kuperoleh Giok hu ini, sedangkan ilmu pelajaran dari Thian liong bun belum kuperoleh sedikit juga. Maka itu kalau disbanding dengan kepandaian po cu masih jauh sekali ! Sedangkan ilmu yang ada padaku sekarang ini bukan dari Thian liong bun melainkan dari Han Bun Siong."
"Oh kiranya In Kongcu adalah murid dari Han Bun Siong ?"
"Ya, tapi waktu berguru tidak mengetahui namanya, setelah mengembara didunia baru tahu bahwa guruku bernama Han Bun Siong !"
"Kenapa begitu ?"
Dengan singkat Tiong Giok menuturkan sejak mempelajari bahasa Sangsekerta, sampai menjadi penterjemah di Pok Thian Pang, serta pertemuannya dengan orang tua didalam penjara tanah, secara jelas.
"Menurut dugaan Siau hiap, siapakah orang tua yang dipenjara itu ?"
Tanya Lim Siok Bwee.
"Justru kedatanganku kesini berhubungan dengan orang tua itu, maka sebelum kujawab pertanyaan Hujin, dapatkah kiranya kuajukan beberapa pertanyaan ?"
"Silahkan, apa yang kubisa pasti kujawab !"
"Adakah Tiat pocu mempunyai nama samaran Hauw Sian ?"
"Benar !"
"Adakah Tiat pocu menulis pelajaran pedang Keng thian cit su dalam bahasa Sangsekerta ?"
"Apa ?"
"Benarkah setelah Tiat Pocu meninggal dunia, buku pelajaran itu hilang ?"
"Benar....Apakah Siau hiap bercuriga bahwa orang tua dipenjara tanah itu sebagai suamiku ?"
"Aku tidak berani memastikan,"
Jawab Tiong Giok.
"Tapi kemungkinan ya juga, sebab orang tua itu adalah yang menulis buku Keng thian cit su dalam bahasa Sangsekerta, hal ini kuketahui dari mulutnya sendiri. Tambahan pula ia pandai berbahasa Sangseketa dan sudah delapan belas tahun dipenjara disitu, jika dilihat dari keadaan ini, dapat dipastikan orang tua itu adalah Pocu sendiri !"
Sehabis menyatakan ini, Tiong Giok memancarkan sinar mata yang berapi-api menatap pada Lim Siok Bwee, menantikan reaksi dari nyonya itu.
Pikirnya sedikit banyak nyonya rumah akan kaget dan membenarkan perkataannya.
Tak kira Lim Siok Bwee tetap duduk dengan tenang seperti biasa.
"Siau hiap jangan lupa suamiku sudah meninggal dunia belassan tahun lamanya !"
Tiong Giok merasa kecewa mendapat jawaban itu. Tapi ia mendesak lagi dengan pertanyaannya.
"Adakah Hujin disampingnya sewaktu Pocu meninggal dunia ?"
"Tidak, tapi jenazahnya aku sendiri yang memasukkan ke dalam peti !"
"Tahukah hujin sebab kematian Pocu ?"
"Oh...karena bunuh diri !"
"Dimana ia membunuh diri ? Dan karena apa ?"
"Aku sendiri tak tahu sampai sejelas itu."
"Tiat Hujin sebelumnya kuminta maaf atas pertanyaan-pertanyan tadi,"
Kata Tiong Giok.
"Dan sekarang dengan gegabah kukemukakan suatu pendapat, harap Hujin jangan marah. Yakni jika ada seseorang yang mengatur suatu rencana dengan menyediakan sebuah jenazah yang mirip dengan pocu...."
"Ah dalam hal ini tak mungkin begitu kejadiannya, sebab bukan saja cara itu bisa mengelabuhiku, tapi kematiannya itu ada yang melihat dan tak usah diragukan lagi !"
"Siapa yang melihat ?"
Lim Siok Bwee berpaling dan menunjuk oada Tiat Hok.
"Dialah yang melihat !"
"Benarkah engkau melihat dengan mata kepala sendiri ?"
"Benar !"
"Kenapa engkau tidak mencegah waktu Pocu mau membunuh diri ?"
"Waktu itu jarakku dengannya agak jauh, bagaimanapun tidak bisa mencegahnya."
"Jika begitu segalanya engkau melihat dan bisa menuturkan jalannya tragedy itu bukan ?"
"Hal ini...."
Ia tidak melanjutkan hanya memandang kepada Lim Siok Bwee, seolah-olah minta persetujuan dari nyonya itu baru berani membuka mulut.
"Tiat Hok, In Siau hiap bukan orang lain, tak halangan kau tuturkan kejadian itu kepadanya"
Kata Lim Siok Bwee. Lalu ia menggapai pada puterinya.
"Bwee jie lekaslah engkau atur pelayan-pelayan itu menyediakan makanan dan minuman untuk menjamu In Siau hiap."
Tiat Siau Bwee sedang asyik mendengarkan percakapan itu, dan enggan pergi dari situ, maka ia bertanya pada ibunya.
"Mama kenapa tidak memperbolehkan aku mengetahui riwayat mendiang ayah..."
"Engkau m asih kecil tak perlu tahu terlalu banyak,"
Kata Lim Siok Bwee.
Tiat Siau Bwee merasa segan berlalu dari situ tapi iapun tidak berani membangkang perintah ibunya, dengan memoyongkan mulut ia pergi dari ruangan itu.
Lim Siok Bweepun menyuruh sekalian pelayan yang berada disitu keluar semua.
Melihat keadaan ini Tiong Giok mendapat kesimpulan bahwa kematian Tiat Giok Lin, mengandung unsure-unsur pribadi yang dalam dan dirahasiakan.
"Hujin soal kematian Tiat Pocu sukar diutarakan, akupun tidak memaksa....boleh diceritakan boleh tidak !"
"Kematian suamiku bukan saja bersangkutan dengan Tiat po ini, juga bertalian dengan seorang sahabat baiknya. Belasan tahun soal ini kukeram didalam hati, karena tak menginginkan peristiwa ini diketahui orang-orang persilatan. Kesatu untuk menjaga nama baik suamiku, dan timbulnya berita-berita sensasi yang bisa membawa akibat buruk bagi sahabat suamiku itu. Maka itu setelah Siau hiap mendengar peristiwa dan kejadian ini kuharap bisa menyimpan rahasia dan jangan menceritakan kepada orang lain lagi !"
"Aku berjanji, tapi dapatkah kutahu siapa-siapa sahabat dari Tiat Pocu itu ?"
"Setelah Siau hiap mendengar cerita Tiat Hok akan tahu sendiri dengan jelas !"
"Tiat Hok engkau boleh bercerita sesuka hatimu, jika ada bagian-bagian yang sukar diutarakan dengan kata-kata, boleh dilewat saja."
Didahului dengan deheman kecil Tiat Hok mulai dengan ceritanya.
Dua puluh tahun yang lalu, saat itu nama Sin kiam siang eng terkenal didunia Kang Ouw dan nama tersebut terlebih semarak lagi setelah terjadi perkenalan di gunung bu san sin lie dimana mereka dengan gemilang mengalahkan sebagian dari bu lim cap sah kie.
Adapun seperti sudah diketahui bahwa Sin kiam siang eng adalah sepasang pendekar muda, yang besaran bernama Ang Ek Fan dan yang mudaan bernama Tiat Giok Lin, mereka mengangkat saudara satu sama lain.
Hubungan ini ditambah erat dengan perkawinan mereka.
karena istrinya Ang Ek Fan yang bernama Sin Siu Ngo masih terhitung saudara sepupu dengan istrinya Tiat Giok Lin yang bernama Lim Siok Bwee.
Sesungguhnya kedua sasudara angkat ini tinggal berjauhan, hubungannya tetap akrab dan intim.
Pokoknya jika bukan Ang Ek Fan datang kerumah Tiat Giok Lin, tentu yang disebut belakangan datang kerumah yang disebutduluan.
Sudah menjadi kebiasaan Sin kiam siang eng jika ingin keluar rumah, terlebih dulu berjanji ditempat mana mereka harus bertemu.
Jika tidak di Tiat po tentu dirumah Ang Ek Fan sendiri.
Setelah itu baru mereka mengembara menjalankan kebaikan didunia Kang Ouw.
Nah dalam tahun ini seharusnya mereka bertemu di Tiat po, tapi tak kira selang tiga hari lagi akan bertemu, Tiat Giok Lin menerima surat itu tidak ada yang tahu.
Hanya saja paras Tiat Giok Lin menjadi pucat setelah membaca surat itu, mengeram diri dikamar tak mau menemui orang atau diganggu !
Tiga hari penuh Tiat Giok Lin mengeram dikamar tidak makan dan keluar pintu.
Hari pertama masih terdengar elahan napasnya yang panjang, hari kedua tidak terdengar lagi barang sedikit suaranya, Lim Siok Bwee merasa tak tenang dan datang sendiri menemuinya.
Akan tetapi Tiat Giok Lin itu tidak membukakan pintu, ia hanya mengatakan sedang melatih ilmu dalam dan tak mau diganggu.
Soal jago bulim melatih diri dengan semadi dan tak makan maupun minum adalah biasa, lebih-lebih hanya tiga hari, tidak terhitung.
Setelah mendengar suara suaminya Lim Siok Bwee pun menjadi tenang dan hilang kekuatirannya.
Tiga hari telah berlalu, adalah saatnya bagi Sin eng bertemu, maka itu pagi-pagi sekali Tiat Giok Lin sudah keluar dari kamarnya.
Wajahnya biarpun seperti biasa, tetapi nampaknya sangat loyo dan kurusan, bagaikan orang baru bangun dari sakit.
Dari sini dapat dilihat selama tiga hari ini bukan melatih ilmu dalam melainkan sedang menderita tekanan bathin.
Begitu keluar kamar ia tidak menemui isterinya, terus berjalan ketaman bunga, dan memerintahkan pelayan-pelayan menyediakan meja perjamuan sekalian hidangannya.
Dan terus menantikan kehadiran Ang Ek Fan.
Segala yang dipinta telah tersedia, tetapi yang dinantikan belum kunjung tiba.
Dari pagi sampai tengah hari, segala makanan telah menjadi dingin.
Tiat Giok Lin masih tetap duduk dikursinya sambil memandang keluar taman menunggukan orang-orang yang dinantikan.
Setengah harian ia diam tak bergerak-gerak.
Melihat keadaan ini sekalian pelayannya menjadi heran, karena kelakuannya itu lain dari biasa, tapi semuanya diam saja tak berani membuka mulut.
Waktu dengan cepat telah berlalu, dari siang telah menjadi sore dan magribpun tiba.
Keadaan taman bunga masih tetap sepi, tak ada yang membuka mulut sepatah katapun, akhirnya Tiat Hok memberanikan diri maju kedepan dan ia berkata .
"Pocu hari malam, perlukah memasang lampu dan menghangatkan kembali makanan dan minuman ini ?"
"Sudah jam berapa ?"
"Jam tujuh malam, kuyakin Ang Toaya tidak datang..."
Belum pula selesai ia mengucapkan kata-katanya, Tiat Giok Lin sudah membentak .
"Ngaco ! Ang Toako tidak pernah melanggar janji !"
"Maksudku nanti malam Toaya baru sampai dan kuharap Pocu makan dulu...."
Tiat Giok Lin menggelengkan kepala dan berkata dengan keras .
"Tidak ! Aku harus menantikannya dan langsung harus menegurnya jika ia masih memandang aku sebagai saudara angkatnya, bagaimanapun ia harus datang."
Tiat Hok tak tahan lagi dan ingin mengetahui apa yang sedang dirisaukan tuannya itu.
"Pocu menantikan Toaya, apakah ada soal penting ?"
Tiat Giok Lin tak menjawab, ia hanya menggoyangkan tangan dan berseru .
"Nyalakan lampu dan beresi makanan dan meja-meja ini ! Perintahkan seorang keluar, mungkin ia telah tiba."
Pelayan-pelayan itu sedari tadi menginnginkan perintah itu, maka dengan cepat api dinyalakan dan ruangan menjadi terang.
Dengan begitu terlihat tegas wajah Tiat Giok Lin yang pucat seperti kertas, kaki tangannya dan mulut terlihat bergetar tidak keruan.
Melihat keadaan ini Tiat Hok menyuruh orang bawahannya melaporkan pada Lim Siok Bwee bertepatan dengan ini, dari luar terdengar berderapnya sepatu kuda.
"Toaya datang !"
Terdengar seruan dari luar.
Tiat Giok Lin bangkit dan melangkah keluar.
Dengan cepat suara derapan kuda tidak terdengar, seorang laki-laki gagah dan ganteng memasuki taman bunga dan bersampokan dengan Tiat Giok Lin.
"Hian tee kenapa engkau jadi kurus begini macam ?"
Tegur Ang Ek Fan dengan kaget. Tiat Giok Lin merangkap sepasang tangannya memberi hormat.
"Soal ini tak bisa dituturkan dengan sepatah sua patah kata silahkan Toako masuk dulu baru kujelaskan !"
Ang Ek Fan sedikitpun tidak merasakan perubahan pada saudara angkatnya, dengan mesra ia memegang lengan Giok Lin dan melanggeng masuk kedalam dengan gembira, sambil jalan dan sesampainya duduk diruangan tengah ia menuturkan soal kelambatannya sampai di Tiat po.
Lalu dari bungkusan yang dibawa ia mengeluarkan beberapa potong pakaian anak bayi.
"Menurut peerhitungan anakmu akan lahir tak lama lagi bukan ? Nah ini pakaian orok dibuat oleh ensomu. Ia sendiri baru bisa datang beberapa hari lagi."
Tiat Giok Lin menerima pakaian anak orok itu, tanpa melihat lagi atau menghaturkan terima kasih. Ia hanya berpaling pada Tiat Hok dan sekalian pelayan-pelayan sambil membentak.
"Kalian semua keluar dari sini, siapapun kularang masuk kesini maupun ketaman bunga !"
Setelah sekalian babu dan jongos keluar ruangan, Tiat Giok Lin baru berkata pada Ang Ek Fan.
"Sudah lama kunantikan kedatangan toako, inngin kusampaikan perasaan hatiku secara berhadapan, tapi sebelum kata-kataku diucapkan aku ingin memperlihatkan dua macam barang kepada Toako."
"Antara kita bukan orang lain, mau bicara ya silahkan, tak usah ragu-ragu tak karuan !"
Tiat Giok Lin tersenyum dingin, dirogoh sakunya dan mengeluarkan dua benda, satu adalah sebuah kotak kecil yang satu lagi adalah surat yang diterimanya tiga hari yang lalu.
"Toako tentu tahu apa yang berada di dalam kotak kecil ini bukan ?"
Kata Tiat Giok Lin sambil membuka dan memperlihatkan isinya.
Ang Ek Fan melihat didalam kotak itu tertancap sebuah jarum berwarna biru "Oh inilah jarum yang bernama Pit hong tok ciam (jarum beracun berwarna biru), dari mana Hian tee dapat ?"
"Kudapat dari daerah Biau ciang,"
Jawab Tiat Giok Lin. Toako tentu mengetahui kelihayan jarum ini bukan ?"
"Ya memang luar biasa sekali, biarpun orang yang memiliki ilmu bagaimanapun jika terkena jarum ini, paling lama hanya setengah jam jiwanya tidak akan tertolong lagi !"
"Nah sekarang akan kucoba kelihayan jarum ini !"
Kata Tiat Giok Lin dengan senyumsinis dan terus jarum itu ditusukkan ketangan kirinya.
"Hian tee....."
Ang Ek Fan hanya sempat berkata sebegitu, dan tak dapat mendcegah perbuatan adik angkatnya itu. Dengan menggertakkan gigi Tiat Giok Lin mencabut lagi jarum itu dan melemparkan di atas meja.
"Hian tee apa artinya perbuatanmu ini ?"
"Apa artinya ? Mungkinkah Toako tidak tahu ?"
"Aku baru datang sejenak lamanya, dan Hian tee tidak menerangkan barang sedikit soal apapun darimana aku bisa mengerti....."
Tiat Giok Lin tersenyum meringis, air matanya mengucur turun saking menahan kesal, dengan suara gemetar ia berkata.
"Toako sejak kita mengangkat saudara selama sepuluh tahun lebih, perhubungan kita tak ubahnya seperti saudara kandung. Segala kesalahanku besar maupun kecil selalu kuterangkan pada Toako dan tidak segan aku menerima nasehat darimu. Tapi aku tak sangka hati Toako demikian kejam dan beracun...."
"Hian tee...."
"Aku tidak mempunyai saudara semacammu, dan akupun tak cocok menjadi saudaramu ! Aku adalah seorang manusia hina yang tidak tahu malu, untuk apa lagi kau berpura-pura ? Jika engkau bermaksud meruntuhkan aku tak apa-apa, tapi caramu ini bisa menghancurkan nama baik Tiat po ! Sepuluh tahun kita bagai saudara, apakah engkau tidak merasa tega barang sedikit untuk menghancurkan keseluruhan nama baik dari Tiat po ini ?"
Ang Ek Fan menjadi bingung, sejenak ia tidak bisa membuka mulut......
Saat ini wajah Tiat Giok Lin dari pucat menjadi biru, kedua bibirnya menjadi hitam, keringat sebesar kacang tanah memenuhi dahinya.
Napasnya memburu, menandakan racun dari jarum sedang bekerja hebat.
Ang Ek Fan berkata dengan suara bergetar.
"Hian tee segala apa dapat dikatakan perlahan-lahan bukan ? Jika ada kesalahan pada diriku tak usah ragu-ragu dan tegurlah langsung jangan berlaku diam-diam seperti ini. Dan ijinkanlah aku mengobati dulu racun ditubuhmu itu...."
Tiat Giok Lin tersenyum dingin dan segera bersiaga dengan tangannya, mencegah didekati saudaranya.
"Engkau tak usah berpura-pura baik ! Sejujurnya jarum beracun ini sedianya akan kutusukkan kepadamu ! Tapi aku Tiat Giok Lin adalah laki-laki sejati, dan tidak sepertimu, bajingan keji yang laknat ! Engkau boleh buat sesuatu yang tidak berperasaan, aku tak bisa melakukan hal yang tidak berbudi ! Biarpun kau menjadi manusia dilaknat dan tak mengenal kebajikan tapi istrimu itu adalah seorang perempuan yang harus dihormati. Lagi pula aku segan membuat anakmuj yang mash kecil itu kehilangan bapak. Maka itu tak tega aku menurunkan tangan jahat kepadamu ! Juga dengan membunuhmu tak berarti nama baik dari Tiat po bisa dipulihkan ! Maka sengaja aku membunuh diri untuk memuaskan dirimu ! Sejak hari ini segala nama kebesaran yang kita peroleh bersama menjadi milikmu seorang ! Tapi engkau harus ingat, segala nama itu akhirnya membawa kehampaan ! Engkau menyingkirkan aku, tapi tak akan memperoleh apa-apa ! Dihatimu akan datang suatu penyesalan yang tidak ada taranya. Engkau akan menderita, sebab mempergunakan cara keji dan rendah mencelakakan kawan karib sendiri. Saat itu menyesalpun sudah terlambat....."
Segala yang mengeram dalam hatinya dikeluarkan sekaligus, sesudah itu ia diam dan duduk dengan tubuh bergoyang-goyang.
"Hian tee apa maksudmnu ini ?"
Tanya Ang Ek Fan yang baru dapat kesempatan membuka mulut. Napas Tiat Giok Lin semakin pendek dan sesak.
"Ini bukti dari.....kekejianmu, lihatlah sendiri !"
Katanya terputus dan terus meraih surat dimeja dan dilemparkan ketanah. Ang Ek Fan memungut surat itu dan membacanya dengan cepat, keringat dinginnya membasahi tubuhnya, wajahnya berubah seketika.
"Hian tee engkau kena diperdayakan orang, aku berani bersumpah, tidak...."
Ia tidak melanjutkan ucapannya, karena melihat wajah Tiat Giok Lin berubah dengan mendadak.
"Hian tee......serunya seraya melancarkan jarinya kejalan darah Hoy kay hiat yang terletak ditengah dada untuk memberikan pertolongan, tak kira sebelum tangannya sampai, dengan mata mendelik Tiat Giok Lin membentaknya dengan keras "Jangan dekat !"
Suaranya keluar, jurus pukulannyapun menyambar dan tepat mengenai ulu hati Ang Ek Fan yang tidak bersiaga barang sedikitpun.
"Ngek"
Ang Ek Fan mengeluarkan suara nyesak dan terhuyung beberapa langkah kebelakang, pandangan matanya menjadi gelap dan hampir-hampir ia ngusruk.
Dengan kekuatan ilmu dalamnya ia bertahan tidak sampai jatuh dan menekan perasaan, bergolaknya darah, dan sekali lagi ia mencoba maju untuk memberikan pertolongan pad saudara angkatnya.
Tapi begitu lengannya menyentuh tubuh Tiat Giok Lin kagetnya tak alang kepalang, karena sudah dingin dan beku !
Perasaan pedih menyelimuti sanubari Ang Ek Fan, ia menahan kesedihan dan jatuhnya air mata, tapi tak berdaya sama sekali, air mata itu seperti juga banjir berderai turun membasahi pipinya.
"Hian tee...ng...ng kenapa jadi begini ....."
Tiat Hok selesai menuturkan kisahnya, air matanyapun telah mengalir tanpa disadarinya.
"Saat itu aku berada ditaman bunga dan melihat kejadian ini, tapi waktu kudatang memberikan pertolongan, semuanya telah menjadi terlamabt. Dan tepat diwaktu Po cu sudah meninggal, Hujin baru datang !"
Lim Siok Bwee sesungukan mendengar kisah ini demikan pula dengan In Tiong Giok. Suasana ruangan menjadi sepi sekian lamanya, akhirnya Tiong Giok membuka mulut terlebih dahulu.
"Sekarang aku mengerti segala malapetaka itu terjadi karena surat itu..."
"Ya karena surat itu, sayang tidak ada yang tahu apa isinya surat itu !"
Kata Tiat Hok.
"Surat itu berada ditangan Ang Ek Fan bukan ? Kenapa ia tidak memberikan isinya pada kalian ?"
"Setelah terjadi peristiwa itu kami sangat repot dan tidak mengetahui bahwa Ang Toako dengan diam-diam membawa pergi surat itu ! Sejak saat itu juga ia hilang dari dunia Kang Ouw sampai sekarang."
"Mungkinkah ia berbuat sesuatu hal yang tercela terhadap saudara angkatnya ?"
"Tidak !"
Jawab Lim Siok Bwee.
"Aku memastikan dia bukan manusia rendah macam itu."
"Jika tidak begitu kenapa ia pergi diam-diam ?"
"Mungkin ia mempunyai suatu kesulitan yang tak bisa diutarakan padaku, misalnya luka akibat pukulan mendiang suamiku itu atau surat itu mengandung suatu rahasia yang tak boleh diketahui diriku..."
"Apakah Hu jin bercuriga juga, bahwa semasa hidupnya Tiat Po cu mempunyai kesalahan yang tak bisa diketahui orang ?"
"Manusia bukan dewa, pasti punya kesalahan bukan ? Tapi kuyakin kesalahan yang diperbuat mendiang suamiku tak seberat itu !"
"Jika Hu jin beranggapan begitu, aku tidak ragu-ragu lagi untuk memperlihatkan sepucuk surat kepadamu !"
Segera ia memberikan sepucuk surat yang didapat Ciu Kouw kepada Lim Siok Bwee. Setelah selesai membaca.
"Aku yakin surat yang diterima Tiat Po cu itu semacam surat ini bunyinya,"
Kata Tiong Giok, dan menceritakan dimana ia memperoleh surat itu, secara teratur dan rapih.
"Jika begitu mungkin juga orang yang ditahan dalam penjara tanah Pok Thian Pang adalah Ang Toako adanya !"
"Bagaimana Hu jin bisa berpikir kearah itu ?"
"Kematian suamiku karena surat ini, dan surat ini keluar dari Pok Thian Pang juga, bukankah dua soalini membuktikan bahwa Ang Toako pun ditahan mereka ?"
"Apakah Keng thian cit su itu dihilangkan Ang Tay Hiap ?"
"Sewaktu mereka mendapatkan pelajaran Keng thian cit su dari Pek Lo Cianpwee, suamiku hanya empat jurus yang didepan dan Ang Toako tiga jurus yang dibelakang. Maka itu permainan pedang mereka harus bergabung, baru ada kekuatannya. Hal ini membuat mereka kurang puas, maka itu mereka menyatukan buku itu. Dan bergilir mereka mempelajarinya buku itu. Waktu terjadi peristiwa suamiku membunuh diri, buku itu giliran dipegang oleh Ang Toako. Dan sejak itu ia hilang dari dunia persilatan. Aku menunggu sampai Siau Bwee umur sebulan baru mengunjungi rumah Ang Toako. Namun sesampainya ditempat tujuan itu Ang Toako sekeluarga tak kujumpai, sedangkan rumahnya telah berantakan menjadi puingan. Aku cari berita dari berbagai tempat, tapi tak mendapat kabar soal kemana perginya. Jika sekarang kita berpikir dengan cermat, segala malapetaka itu datangnya akibat Keng thian cit su ! Mungkin pula cici Siu Ngo dan anaknya itu berada di Pok Thian Pang juga !"
"Jika begitu sebaiknya Hu jin datang saja ke markas Pok Thian Pang untuk menyelidiki soal mereka itu !"
"Ngomong memang gampang, kalau dijalankan sulit ! Sungguhpun begitu untuk mengetahui nasib dari Ang Toako sekeluarga, ingin juga aku pergi kesana !"
Baru selesai ucapannya itu, terdengar suara derapan kuda memasuki taman bunga. Seorang penjaga pintu depan terlihat masuk memberi laporan.
"Hu jin, didepan ada tamu mengaku sebagai Pangcu dari Pok Thian Pang, untuk bertemu Hu jin !"
Suara penjaga itu membuat kaget pendengaran yang hadir disitu. Dengan heran dan bingung Lim Siok Bwee menegasi .
"Tamu itu siapa ?"
"Pangcu dari Pok Thian Pang !"
"Katakan padanya Tiat po sudah ditutup belasan tahun lamanya, tak menerima tamu luar."
"Sabar dulu, kutahu betul selamanya Pangcu itu tidak meninggalkan markasnya, tentu ada soal penting ia datang kesini. Sebaiknya terima saja kedatangannya baru bisa tahu maksudnya. Disamping itu dengan alasasn melakukan kunjungan balasan kemarkasnya, sekalian menyelidiki Ang Tay hiap sekeluarga !"
"Begitupun baik, tapi jika ia melihat Kongcu ada disini apa katanya ?"
"Itu soal mudah, aku bisa menyingkir !"
"Jika begitu baiklah,"
Kata Lim Siok Bwee dan menyuruh penjaga tadi mempersilahkan tamunya masuk kedalam.
Sedangkan In Tiong Giok segera bangkit dan diantar seorang pelayan pergi kesebuah ruangan kecil ditaman bunga.
Keadaan taman bunga yang berkolam teratai menarik perhatian Tiong Giok.
Ia tidak segera menuju keruangan, tapi berjalan-jalan dulu ditaman sambil menghirupi akan udara segar, karena mendengar suara tangisan kecil dari arah kupel yang terdapat disudut barat taman itu.
Langkahnya cepat-cepat menuju kesana, disitu ua melihat Siauw Bwee sedang tersedu-sedu seorang diri.
"Hei, sedang apa ? Menangis ya ?"
"Oh.... In Siau Hiap. Silahkan masuk...."
"Apa yang membuatmu bersedih hati ?"
"In siau hiap bisakah engkau menolongku ?"
"Bisa saja jika kusanggup, tapi harus kutahu dulu persoalannya."
"Kuminta engkau mau membujuk mamaku agar ia mengijinkan aku turut ketempat Pok Thian Pang,"
Kata Tiat Siau Bwee.
"Dari mana engkau tahu mau kesana ?"
"Semuanya sudah kutahu, karena aku bersembunyi dibelakang ruangan itu mendengar percakapan kalian ! Karena inilah aku menangis !"
"Sebab itu engkau menangis ? Aku heran mendengarnya !"
"Ya sebab engkau tidak mengetahui, sejak aku menmgerti urusan ibuku selalu tak mau menceritakan soal kematian ayahku. Kini aku baru tahu terselip rahasia-rahasia yang belum diketahui. In siau hiap karena ingin melihat orang tua dipenjara tanah itu, minatku sangat besar pergi ke Pok Thian Pang, kalau-kalau saja orang tua itu adalah ayahku sendiri !"
"Pergi kesana bukan soal yang silit, hanya saja kalau orang tua itu bukan ayahmu bukankah mendatangkan kekecewaan bagimu ?"
"Tak perduli orang tua itu ssiapa adanya, yang penting dapat kulihat ! Jika ia bukan ayahku tapi Ang pek-pek (paman) adanya, kubisa menanya kepadanya, siapa yang membuat sampai ayahku membunuh diri. Sesudah itu aku akan menuntut balas kepadanya."
"Kurasa ibumu akan meluluskan permintaanmu itu !"
"Tapi engkau tidak mengetahui tabiat mamaku, ia terlalu memanja dan menyayangku secara berlebih-lebihan. Karena itulah ia merahasiakan terus sebab-sebabnya kematian ayahku, takut aku meninggalkan Tiat po untuk mencari balas !"
"Orang tua sudah tentu sayang pada anaknya, lebih-lebih engkau anak satu-satunya bukan ? Orang tua kuatir engkau mendapat kecelakaan diluaran dan melarangmu kemana-mana."
"Pokoknya niatku sudah mantap meninggalkan Tiat po."
"Itu terserah padamu !"
Kata Tiong Giok.
"Kuminta sekarang juga kau temui mamaku dan omongi soal ini kepadanya !"
"Nanti saja ! Sekarang dia sedang menemui Pangcu dari Pok Thian Pang !"
"Pangcu itu mau apa datang kesini ? Mari ikut denganku, kita dengar pembicaraannya ."
Siau Bwee mengajak In Tiong Giok kebelakang ruangan.
Disini mereka bersembunyi dibalik pohon-pohon.
Dan celingukan keempat penjuru, setelah melihat sekeliling tidak ada orang mereka naik kesebuah pohon.
Ddari sini bukan saja mereka bisa mendengari percakapan orang didalam juga bisa melihat keadaan didalam.
Saat ini didalam ruangan terlihat dua tamu yang dikenali In Tiong Giok mereka adalah Pek Cin Nio dengan anaknya, yakni Pek Kiam Hong.
"Heran, kenapa pemuda itu ikut juga ?"
Pikir In Tiong Giok.
".....dengan gegabah aku kemari, semua ini kulakukan untuk anak yang bernasib malang ini. Hu jin seorang yang cerdik, setelah melihat anak ini tentu mengetahui maksud kedatanganku bukan ?"
Kata Pek Cin Nio. Lim Siok Bwee dengan mata bersinar tajam mengawasi pada Pek Kiam Hong, lalu berkata "Bagaimanapun engkau harus memberitahu siapa sebenarnya anak ini ?"
"Tak usah mendesak !"
Kata Pek Cin Nio "sesudah tahu kukuatir mendatangkan suatu pukulan bagimu...."
"Adakah suatu pukulan batin yang lebih hebat dari kematian suami ? Terangkanlah segera ! Pukulan yang bagaimana hebatpun aku sanggup menerimanya !"
"Soal ini tak berani kuucapkan", kata Pek Cin Nio , tapi sudah kusediakan dalam bentuk tulisan, silahkan membacanya. Pek Cin Nio mengeluarkan beberapa lembar kertas dari sakunya dan menyerahkan pada Lim Siok Bwee. Begitu yang disebut belakangan selesai membacanya surat itu, wajahnya segera berubah dan terus menangis tersedu-sedu. Surat itu dimasukkan kedalam sakunya dan berkata.
"Soal ini apakah benar-benar ?"
"Bagaimanapun aku tak berani mendustai kalian untuk mengerjakannya,"
Kata Lim Siok Bwee. Tapi dengan begitu terlalu membuat kalian menderita...."
"Delapan belas tahun aku cukup bersabar, apa salahnya menanti lagi beberapa tahun ! Yang penting adalah pengertian dari Hujin, dengan begini kami ibu beranak, merasa bersyukur dan terima kasih...."
"Jika begitu, sedikit banyak aku harus memberikan sesuatu tanda mata baginya,"
Kata Lim Siok Bwee. Dipanggilnya seorang pelayan dan dibisiki sejenak, pelayan itu cepat pergi dan cepat pula kembali. Ditangannya membawa dua buku tipis berwarna kuning.
"Nak, kemarilah"
Kata Lim Siok Bwee pada Pek Kiam Hong. Pek Kiam Hong diam saja dengan bingung, ia memandang pada ibunya tak berani mengambil keputusan sendiri.
"Hong jie"
Lekaslah terima dan haturkan terima kasih pada Tiat Hu jin,"
Kata Pek Cin Nio dengan perlahan.
Dengan kaku Pek Kiam Hong memberi hormat dan menerima buku itu sambil menghaturkan terima kasih.
Lim Siok Bwee memegang pundak pemuda itu dengan air mata berlinang, entah air mat sedih entah airt mata girang, seorangpun tidak ada yang tahu.
Kiranya yang menangis bukan Lim Siok Bwee sendiri, Pek Cin Nio pun bercucuran air mata.
Atas pemberian nyonya rumah ia menghaturkan lagi terima kasihnya.
"Sekali lagi kuhaturkan terima kasihku, budi kebaikan ini selamanya tidak akan kulupakan, dan dengan begitu urusanku sudah selesai, mohon pamit !"
"Buru-buru amat, masih siang bukan ?"
"Karena masih banyak urusan lain, terpaksa harus pulang cepat-cepat,"
Kata Pek Cin Nio.
"Ngomong-ngomong mana putrimu, sejak tadi tidak kulihat ?"
Jilid 12________ "Waduh, sampai lupa memperkenalkan "
Kata Lim Siok Bwee, dipanggilnya seorang pelayan "Panggil siocia kesini ! Akan kusuruh mengantar tamu !"
Mendengar ini Tiong Giok mendekati Siau Bwee "Lekas turun !"
"Hm, untuk apa menemuinya, melihatnyapun sudah sebal !"
"Engkau harus mengantarnya, ia sebenarnya baik,"
Bujuk Tiong Giok.
"Apa lagi Siau pancu itu, bukan saja baik juga harus dikasihani, lekaslah !"
"Jika begini siapa yang jadi penjahat ?"
"Sukar kuterangkan dengan sepatah dua patah,"
Kata Tiong Giok.
"Lekaslah jangan sampai ibumu kesal menunggu. Jika ada kesempatan engkau boleh mengatakan soal keinginan kita pergi ke Pok Thian Pang pada Siau pangccu itu, pasti ia bisa membantu !"
"Apakah kau sudah kenal dengannya ?"
"Kenal ! Lekaslah !"
Siau Bwee cepat turun dari tempat persembunyian, begitu kakinya memijak tanah seorang pelayan yang sedang mencarinya berseru girang .
"Siocia, lekas. Hujin menyuruhmu mengantar tamu keluar !"
"Aku sudah tahu !"
Jawab Siau Bwee dengan ketus dan mendelik.
Dan setelah ditaman tidak ada orang lagi, Tiong Giok baru turun, ia mundar mandir sambil termenung sesaat lamanya, sesudah merasa pangcu itu pergi, ia baru kembali kedalam ruangan.
Lim Siok Bwee tidak ada didalam, hanya Tiat Hok saja seorang menantikan dirinya dan mengatakan bahwa Tiat Hujin kedalam dulu sebentar, tak lama lagi akan datang.
Tiong Giok merasa heran, tapi ia tak mau banyak bertanya, duduk diam menanti dengan kesal.
Selama itu Tiat Hok diam-diam saja.
Tak selang lama terdengar langkah kaki, tapi bukan Lim Siok Bwee yang datang melainkan Tiat Siau Bwee adanya.
Waktu itu gadis itu marah-marah dan merengut, kini ia kembali dengan wajah cerah dan tersenyum-senyum.
"Mama ! Mana Mama ?"
Teriaknya tatkala mendapatkan ibunya tidak ada didalam ruangan.
"Hujin kedalam dulu, nanti akan datang lagi !"
Kata Tiat Hok.
"Kounio temani dulu In siau hiap sebentat, aku mau kebelakang."
"Baiklah ! Sekalian bawakan aku makanan dan minuman !"
Kata Siau Bwee.
"Nampaknya girang betul, kenapa sih ?"
Tanya Tiong Giok.
"Apa yang kau katakana nyatanya benar,"
Kata Tiat Siau Bwee.
"bahwa Pangcu dan Siau Pangcu itu bukan orang jahat ! Tak sangka begitu ramah dan baik budi !"
"Nah sekarang engkau baru percaya omonganku bukan ?"
Tiat Siau Bwee menganggukkan kepala. Lengannya merogoh saku dan mengeluarkan suatu benda yang mengeluarkan bunyi "tring"
Waktu diletakkan dimeja.
"Lihat ini apa ?"
"Ah ! Ini tanda pengenal dari Pok Thian Pang, dari mana kau dapat ?"
"Dengan tanda pengenal ini bukankah kita bisa keluar masuk di Pok Thian Pang dengan bebas ?"
"Benar,"
Jawab Tiong Giok.
"apakah minat kita untuk pergi kesana engkau terangkan pada pangcu itu ?"
"Engkau kira aku begitu bodoh ? Benda ini ia sendiri yang memberikan padaku tanpa kuminta !"
"Ha ?"
"Baiklah kujelaskan,"
Kata Siau Bwee, Ia berhenti sejenak karena datang pelayan membawakan mereka arak. Dituangkan secawan arak pada Tiong Giok, ia sendiri mengeringkan juga secawan, baru melanjutkan kata-katanya.
"Waktu kuantar mereka keluar, pangcu itu dengan ramah tamah dan mesra, menanyakan ini itu kepadaku. Aku sedang dongkol, apa yang ditanyanya tidak kujawab, tapi ia sangat sabar dan nyerocos terus. Katanya ia mempunyai seorang murid bernama Wan Jie, usianya sebaya denganku. Waktu ia menyinggung-nyinggung muridnya itu terasa amat bangga baginya. Sayang katanya tidak diajak serta, jika tidak bisa berkenalan denganku."
"Kenapa tidak diajak, tanyaku. Dan ia tersenyum-senyum sebelum menjawab. Karena muridnya itu akan menjadi pengantin !"
"Apa ? Wan jie mau menjadi pengantin, betulkah ?"
"Pangcu itu yang mengatakan masakan bohong !"
"Dikawini siapa ?"
"Bukan orang lain, yakni Pek Kiam Hong yang menjadi Siau pangcu itu."
"Seng!"
Seolah-olah kepala Tiong Giok disambar geledek.
"Ah ! Pek Kiam Hong....mana mungkin...."
"Kenapa tak mungkin ?"
Tanya Siau Bwee.
"Untuk sang pangcu yang satu sebagai murid yang satu sebagai anak, sejak kecil mereka dibesarkan bersama-sama dan sudah mengenal watak satu sama lain, maka itu kurasa cocok sekali pasangan itu. Cuma yang membuatku heran, mendengar mau dikawaini Siau pangcu itu tidak menampakkan rasa gembira barang seujung kuku. Seolah-olah yang mau menikah itu adalah orang lain dan bukan dirinya. Waktu inilah sengaja kukatakan, sayang tidak bisa pergi kesana untuk berkenalan dengan Wan jie sekalian menyaksikan hari perkawinan medreka. Tak kira pangcu itu segera memberikan aku tanda pengenal ini untuk kesana....Coba kau piker, kalau rejeki mau datang tak usah dicari tapi akan datang sendirii bukan ?"
Siau Bwee menuturkan kata-katanya dengan bersemangat, sedikitpun tidak memperhatikan yang diajak bicara parasnya menjadi pucat pasi dan menggigil...betapa tidak, seorang kekasih yang diidam-idamkan tahu-tahu terdengar beritanya akan menikah dengan Pek Kiam Hong kabar ini datang dari seorang pangcu yang dapat dijamin kebenarannya !
Hatinya hancur luluh....apa yang diceritakan Siau Bwee bagian belakang tidak masuk ketelinganya lagi...
Siau Bwee baru sadar dan kaget melihat mata Tiong Giok tergenag air mata.
"In siau hiap...engkau mengapa menangis ?"
Tiong Giok memaksakan diri tersenyum.
"Siapa yang bilang, aku sedang asyik mendengar ceritamu...coba teruskan akhirnya bagaimana ?"
"Hi hi hi,"
Siau Bwee tertawa geli dan menunjuk kemuka Tiong Giok.
"Terang-terang nangis tidak ngaku, malu ! Hm sekarang kutahu sebabnya engkau menangis. Tentu Wan jie sangat baik denganmu, mendengar kabar ini engkau merasa bersusah hati bukan ?"
"Tebakanmu salah,"
Kata Tiong Giok dengan senyum meringis.
"Engkau tidak tahu sewaktu aku disana sangat baik dengan Pek Kiam Hong, kini mendengar ia mau menikah hatiku sangat gembira, kenapa harus menangis ?"
"Aku tak percaya !"
"Terserah !"
Kata Tiong Giok.
"Eh ngomong-ngomong perlu kutanya, ibumu memberikan apa pada Pek Kiam Hong ?"
"Untung kau tanya, akupun hampir lupa soal ini kutanya oada mama...."
Kata Siau Bwee.
"Karena benda itu adalah buku silsilah dari keluarga Tiat !"
Hampir-hampir Tiong Giok berseru kaget mendengar ucapan itu, untung sebelum ia bersuara Lim Siok Bwee keburu datang, wajahnya begitu berat tubuhnya sedikit bergetar, dan ia duduk dikursi tapi bangkit lagi begitu melihat tanda pengenal dari Pok Thian Pang yang diletakkan putrinya diatas meja.
"Bwee jie darai mana engkau mendapat benda ini ?"
"Pangcu dari Pok Thian Pang yang memberikan kepadaku,"
Jawab Siau Bwee.
"ia mengundangku datang ketempatnya untuk turut menyaksikan hari pernikahan Siau Pangcu."
Lim Siok Bwee memainkan benda itu ditangannya tanpa mengeluarkan sepatah kata.
"Ma bukankah kita berniat pergi kemarkas mereka ? Dengan adanya benda ini..."
Belum selesai Siau Bwee bicara, tak ubahnya seperti gunting Lim Siok Bwee membuat tanda pengenal dari Pok Thian Pang terpotong menjadi dua.
Dengan air mata tergenang ia berkata dengan parau sambil menggelengkan kepala.
"Kita tak usah pergi kesana !"
"Mama engkau...."
Seru Siau Bwee dengan kaget. Lim Siok Bwee mengangkat tangan melarang puterinya berkata-kata. Sedangkan matanya mengawasi pada Tiong Giok dengan menyesal dan napasnya ditarik panjuang-panjang.
"In Siau hiap maffkanlah aku menarik janjiku akan ke Pok Thian Pang ! Dan sudah kupikirkan seumur hidupku takkan keluar dari Tiat po ini atas ini kumohon maaf...."
Suaranya terputus oelh isakan tangis dan banjir air mata.
"Maksud Hujin biarpun yang dipenjarakan dalam tanah disana itu sebagai Tiat Pocupun tidak akan ditengok ?"
"Aku sudah tahu itu bukan suamiku !"
"Kemungkinan besar adalah Ang Tay hiap, apakah Hujin tidak mau menengoknya juga ?"
"Biar aku bisa kesana apa yang bisa aku perbuat ?"
"Jika mama tidak mau pergi, aku mau bersama-sama In Siau hiap pergi kesana !"
Kata Siau Bwee.
"Jangan sembarangan berkata, engkau masih kecil tidak tahu apa-apa !"
Bentak Lim Siok Bwee.
"Andaikata orang itu bukan Tia-tia, tapi kitapun tak boleh berpangku tangan tak menolongnya bukan ?"
Bantah Siau Bwee.
"Kuheran mama bukan seorang yang penakut, kenapa mendadak jadi berubah dan tegaan betul ? Apakah mama tidak memikirkan lagi nasib dari bibi dan paman Ang ?"
"Budak apakah engkau sudah jadi gila berani berkata sekurang ajar ini kepadaku ?"
"Aku bukan berlaku kurang ajar, tapi bicara soal yang benar, sudah sakit hati ayah tidak mama hiraukan, kenapa melarang pula padaku ?"
"Budak jika engkau tidak mendengar kata-kataku, selangkah engkau keluar dari Tiat po tidak akan kuaku sebagai anak lagi ! Dan aku sudi mencukur rambut menjadi biksuni dari pada mempunyai anak yang tidak berbakti !"
"Ng...ng...ng...mama aku benci padamu...aku benci !"
Siau Bwee menjerit-jerit sambil menangis.
"Bencilah ! Engkau boleh membenci padaku seumur hidupmu, tapi pada suatu saat engkau akan menyadari kesusahanku..."
Tiat Siau Bwee menutupi mukanya sambil menangis terus dan lari kebelakang.
Melihat keadaan ini In Tiong Giok menarik napas panjang dan segera bangun sambil merangkapkan kedua tangannya memberi hormat .
"Tiat Hujin kehendak manusia tak bisa berubah demikian macam, gara-gara kedatanganku, atas ini kumohon maaf yang sebesar-besarnya, dan dengan ini pula kumohon pamit !"
"Aku mempunyai sesuatu soal yang tidak dapat kuterangkan padamu, atas ini akulah yang harus mohon maaf padamu ! Soal Siau Bwee tak perlu kau pikirkan, itu sudah biasa bagiku !"
"Nah sampai bertemu lagi di lain kesempatan !"
Kata Tiong Giok.
"Aku tak bisa membantu, tapi akan berdoa demi keselamatanmu dan suksesnya usahamu !"
Tiong Giok meninggalkan Tiat po dibawa antaran mata Tiat hujin sendiri.
Perginya ia sangat bersemangat, kembalinya menjadi lesu.
Dengan kudanya ia berlari seperti terbang, gunung dan sungai dilaluinya, ia kembali lagi kedaerah Kang Lam.
Perjalanan Jauh yang diharapkan, ia kecewa tapi tak putus asa.
Tetapi segala sesuatu rencana untuk menghadapi Pok Thian Pang tak pernah sirna dari lubuk hatinya, ia tidak mau menyerah begini saja.
Tapi ia tahu keadaan Pok Thian Pang sedang jaya, banyak jago-jago yang memihak kepada perkumpulan itu dan banyak yang mengasingkan diri akibat tekanan dari mereka.
Iapun berpikir bisakah dengan kedua tangannya yang terbatas ini menghadapi Pok Thian Pang ?
Tiup angin utara dan berderunya air sungai sebagai jawaban, seolah-olah terhadap suka cita dari pengalamannya itu menaruh kasihan.
Dengan menentang dada ia menghirup udara dan terus meloanjutkan perjalanannya.
Dengan serampangan ia mampir disebuah losmen yang diketemukan dan minum sepuasnya sampai mabuk, dengan begini segala kekusutan hatinya, buat sementara tersapu bersih.
Waktu ia sadar kembali, hujan turun dengan derasnya.
Suara air hujan itu tak ubahnya seperti seseorang yang sedang menangis sedih.
Ia bangkit dari tempat tidurnya, melalui jendela memandang ketempat jauh, tampak bukit-bukit sambung menyambung menjadi gunung.
Begitu samar dan remang-remang keadaannya dalam musim penghujan.
Dan iapun tahu dibalik untaian gunung raksasa itu adalah markas pusat dari Pok Thian Pang!
Sebulan yang lalu ia melihat Wan jie, entah bagaimana keadaan kasihnya kini ?
Sudah tidurkah ?
Atau bangun seperti dirinya karena mendengar suara hujan ?
Ataukah sedang termenung-menung mendengarkan kisah hujan yang menyedihkan ?
Atau di Pok Thian Pang sedang ramainya ?
Lampu-lampu terang benderang, lilin menyala-nyala, kekasihnya itu sudah selesai melangsungkan upacara pernikahan dengan Pek Kiam Hong.
Dan sedang melewati malam pengantin.....!
Soal yang lalu seperti asap, pergi tidak akan kembali lagi.
Tiong Giok termenung di depan jendela, pandangan matanya semakin lama semakin guram, tak dapat dibedakan lagi antara air mata dan air hujan......
"Ah aku harus berlaku sabar ! Sabar ! Seperti yang dikatakan Tong Cian Lie"
Piker Tiong Giok.
"Sudah tidak mempunyai kekasih tidak ada lagi beben pikiran, aku harus lebih giat dari dulu !"
Setelah memikir begini, semangatnya berkobar-kobar disekanya air mata dan diletakkan beberapa tail uang dimeja, malam itu juga ia menerjang hhujan melanjutkan perjalanan.
Propinsi In Lam dan Kam Siok adalah dua propinsi yang berdempetan satu sama lain, keadaan tanahnya berbukit-bukit.
Sukar dilalui kenderaan dan terpencil jauh dari keramaian.
Dipegunungan ini tinggal suku Biau yang masih menempuh kehidupan agak primitif dan miskin.
Gunung Cu cing san terletak ditimur laut propinsi Kam Siok.
Puncaknya menjulang tinggi dan terjal sekali, dilerengnya penuh lembah-lembah yang curam dan mengalir beberapa sungai.
Tahun ketemu tahun cuaca kebanyakan mendung dan sering turun hujan.
Hari ini kebetulan cuaca sanga cerah, didesa Ulus kedatangan seorang pemuda yang membawa dua ekor kuda.
Desa ini merupakan yang terbanyak penduduknya dan mempunyai hubungan dagang dengan daerah luar.
Antara suku Biau dan Han sering berjual beli didesa ini.
Bahkan ada juga beberapa orang Han yang menetap tinggal disini.
Orang-orang Biau yang bertempat tinggal didesa ini kebanyakan sudah pandai berbahasa mandarin.
Sehingga pakaian maupun cara merekapun sudah seperti orang Han.
Dan sukar membedakan mana yang suku Biau dan Han olagi.
Agaknya asimilasi berjalan dengan cepat didaerah ini.
Kedatangan pemuda itu yang bukan lain dari pada In Tiong Giok sangat menarik perhatian penduduk kampung.
Karena mereka baru pertama kali melihat seorang pemuda yang demikian ganteng datang ketempat mereka.
Disamping itu mereka menduga bahwa pemuda kita itu sebagai saudagar besar, karena dikudanya yang tidak ditunggangi tergantung sebuah tempayan besar yang tertutup rapat.
Saat ini sebuah toko kulit yang diusahakan oleh orang Han dengan merek Tiang sen hoo sedang sepi sekali.
Pengusaha toko ini yang biasanya dipanggil dengan sebuah nama Ciu Lo pan sedang asyik menghitung dengan sipoanya, tiba-tiba ia menjadi kaget karena datang seorang gadis Biau berusia tiga empat belas tahun menghampirinya "
Ciu Lo pan, lekas lihat, ada orang Han datang kesini !"
Ciu Lo pan sedang asyik menghitung, tak mau menghiraukan kata-kata gadis itu.
"Ciu Lo pan lekas, ia menuju kemari !"
Teriak gadis itu lagi.
"Pergi ! pergi , jangan ribut disini ! Orang Han kek, apa kek , apa bagusnya untuk ditonton....Ah dasar kau....aku jadi kerok dan salah hitung...pergilah jangan mengerecok disini...."
Begitu ia dongak dan menggebah gadis itu, pandangan matanya melihat seorang pemuda yang ganteng, sudah berada didepan pintunya.
Ciu Lo pan cepat-cepat bangkit dan meninggalkan sipoanya menyambut kedatangan tamunya sambil berkata ua menyuruh pegawainya mengurus kuda.
"Silahkan masuk Kongcu !"
Sambil tersenyum pada tamunya, dan melihat terus kepada tempayan yang berada dipunggung kuda.
"Tak sangka anak semuda dia adlah seorang pedagang kulit yang ulung. Membeli kulit mentah dan menyimpan ditempayan, bukan saja menjaga agar kulit itu tidak kering dan tidak rusak, tempayan begini besar sedikitnya bisa memuat empat lima ratus lembar kulit macan ", pikirnya dengan girang. Sebagai seorang pedagang yang berpengalaman dengan segera ia menyambut tamu dengan segala makanan dan minuman.
"Sukar ditempat semacam ini bertemu dengan orang sekampung, Kongcu silahkan minum !"
Tiong Giok menyambut cawan dan mengeringkannya, Ciu Lo pan mengisi lagi cawan itu, sambil memperkenalkan diri.
"Aku she Ciu bernama Tiang Seng sudah lima belas tahun lebih tinggal disini mengusahakan perdagangan kulit, setiap kulit yang bagus selalu dibawa orang-orang Biau ke tokoku...."
"Oh"
Kata Tiong Giok sambil mengeringkan lagi araknya. Dan memperkenalkan pula dirinya.
"Aku bernama In Tiong Giok."
"In Kongcu masih muda belia tapi bisa keluar masuk daerah sepi ini untuk berusaha, membuatku benar-benar kagum !"
"Ciu Lo pan salah mengerti, aku bukan seorang pedagang !"
Ciu Tiang Seng melengak dan menggelengkan kepala sambil berkata.
"Kongcu jangan membohongi aku, apa gunanya engkau datang ketempat semacam ini jika tidak berdagang ?"
"Apa gunanya aku berbohong, sejujurnya aku datang kesini bukan berdagang, tapi untuk mencari tahu sesuatu tempat digunung Cu cing san yang bernama Giok hong hong."
"Bagaimana ? Apakah Kongcu ingin kesana ?"
"Benar ! Tahukah Ciu Lo pan dimana letaknya tempat itu ?"
"Biar bagaimana tempat itu tidak boleh dikunjungi !"
"Sebabnya ?"
"Jangan bertanya sebabnya, pokoknya sekeliling dari gunung Cu cing san boleh didatangi hanya Giok hong hong jangan dipergi, berbahaya !"
"Apakah disana banyak binatang buasnya ataukah menjadi sarang penyamun ?"
"Binatang buas dan segala perampok mudah dihadapi, tapi bukan itu yang ditakuti ! Disitu sarangnya setan-setan yang tidak bisa dilawan manusia !"
In Tiong Giok tertawa mendengar penuturan Ciu Tiang Seng.
"Kongcu jangan tertawa, hal ini bukan bohong-bohong....sudah banyak orang Biau yang melihat setan itu."
"Mereka itu masih terlalu percaya tahyul,"
Kata In Tiong Giok.
"Jika Ciu Lo pan sudah melihat dengan mata kepala sendiri baru boleh percaya."
"Sungguhpun aku belum pernah melihat dengan mata sendiri, tapi seorang Han yang she Ciu juga sepertiku, pernah melihat setan-setan itu ! Ia seorang jago Kang Ouw yang mengasingkan diri ketempat ini, kepandaiannya sangat tinggi, tapi setelah menghadapi setan-setan itu, pulangnya sakit keras dan hampir-hampir mati !"
"Apakah orang itu masih ada dikampung ini ?"
"Ada ! Ia tinggal dipinggiran kampung, kerjanya memburu binatang. Ia sangat baik denganku, dan sering mengobrol kesini..."
"Bisakah mengantarkanku menemui orang itu ?"
"Bisa saja,"
Jawab Ciu Tiang Seng.
"tapi ia bertabiat aneh dan sering tidak dirumah. Hari ini entah ada entah tidak aku tidak tahu. Kongcu boleh nunggu sebentar, kusuruh orang memanggilnya kesini !"
Cepat-cepat keluar ruangan dan celingukan, kebetulan dilihatnya anak perempuan tadi masih berada disitu sedang mencuri lihat kedalam. Cepat ia memanggil.
"Alana sini !"
Anak perempuan yang bernama Alana itu meledek sambil menjulurkan lidah dan terus lari.
"Hei kesini aku perlu denganmu, nanti kuberi upah benang sutra !"
Anak perempuan yang sudah pergi itu kembali lagi dan masuk kedalam toko, matanya mengerling pada Tiong Giok, lalu cepat-cepat tunduk lagi.
"Ciu Lo pan mau apa memanggilku ?"
"Coba kau kebelakang dan lihat Empek berjenggot itu ada dirumah atau tidak...."
"Tidak ! Aku tidak mau ! Benang sutrapun aku tak mau,"
Potong Alana dan terus lari keluar. Tapi dengan cepat jalan larinya itu dihalangi Tiong Giok.
"Kenapa engkau tak mau ?"
"Empek jenggot itu galak dan jahat aku takut kesana..."
"Ha ha ha kenapa takut, pernahkah ia membunuh orang atau makan orang ?"
"Kuajari, sebelum masuk kau panggil dulu namanya. Jika ia ada dirumah katakana aku mengundangnya kesini !"
Kata Ciu Tiang Seng.
"Lekas panggil !"
Kata Tiong Giok dan ia merogo sakunya mengeluarkan mutiara.
"Nih untukmu lekaslah !"
Alana jadi melongo "Mutiara ini untukku ?"
"Ya untukmu ! Sukakah engkau dengan mutiara ini ?"
"Aku...aku,"
Alana menganggukkan kepala.
"Terima kasih Kongcu !"
Katanya dan berlari keluar.
"Sudah lamakah orang itu tinggal disini ?"
"Kurang lebih sudah empat puluh tahun lebih ! Dan usianya kini lebih kurang sembilan puluh tahun !"
"Benar usiaku sembilan puluh tahun,"
Tiba-tiba terdengar jawaban dari luar.
Tiong Giok menjadi kaget dan berpaling keluar, disitu sudah ada orang tua berjenggot dan berambut putih.
Tubuhnya pendek, matanya tinggal satu, tapi sangat gagah kelihatannya dan galak.
"Toa pek sudah beberapa hari kita tidak bertemu, bagaimana baik-baik sajakah ? Mari masuk kukenalkan In Kongcu ini padamu !"
Dengan matanya yang tinggal satu itu, ia memandang In Tiong Giok dengan tajam. lalu masuk kedalam toko. Tiong Giok menyambut kedatangannya dengan merangkap tangan.
"Ya kami sedang membicarakan soal loocianpwee, tahu-tahu sudah datang..."
"Lo hu bernama Ciu Kong, dapatkah kutahu namamu ?"
Tiong Giok memperkenalkan diri dan mempersilahkan orang tua itu duduk. Begitu duduk Ciu Kong tidak malu-malu lagi menuang arak sendiri dan meminumnya.
"In Kongcu datang darai mana, ada urusan apa denganku ?"
In Tiong Giok tersenyum.
"Aku baru sampai disini, dari Ciu Lo pan kudapat tahu bahwa Ciu Lo Cianpwee adalah jago Kang Ouw yang mengundurkan diri ditempat sepi ini, maka itu kumohon petunjuk-petunjukmu untuk sesuatu soal...."
"Soal apa, katakana saja langsung jangan berbelit-belit !"
"Ya baik, yakni aku menerima pesan dari seseorang untuk pergi ke Giok hong hong..."
"Apa yang hendak kau lakukan disana ?"
"Soal ini mengenai urusan pribadi seseorang maka itu maaf saja tidak dapat kujelaskan !"
Mendengar ini Ciu Kong mendengus dingin. Wajahnya ditekuk demikian rupa dan masam sekali.
"In kongcu terus terang saja karena engkaupun seorang Han, maka mau kuberi nasehat sebainya urungkanlah niatmu itu !"
Mendengar suaranya yang begitu kasar, Tiong Giok tidak gusar, ia tetap tersenyum.
"Ciu Lo pan pun menyuruhku begitu dan mengatakan disana banyak iblis dan setannya, juga menurut dia Ciu Lo Cianpwee pernah melihat setan-setan itu, benarkah ?"
"Sedikitpun tidak salah !"
"Dapatkah Ciu Lo Cianpwee menuturkan pengalaman itu barang sedikit padaku ?"
"Pokoknya soal setan dan iblis yang terdapat disana adlah benar, soal percaya tidak percaya terserah padamu ! Jika engkau tertarik dan ingin membuktikan sendiri ada tidaknya setan-setan itu, engkau boleh menyaksikannya sendiri ! Tapi ingat, sudah banyak orang-orang yang tidak percaya pergi kesana dan tidak kembali lagi untuk selama-lamanya !"
"Lo Cianpwee sudah pernah kesana dan menemui setan-setan itu kenapa bisa kembali dengan selamat ?"
"Ya Lo hu dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh baru bisa menyelamatkan diri dari setan-setan itu, tapi tak urung menderita luka-luka parah. Dan sakit itu membuatku meringkuk sebulan lebih baru sembuh ! Jika engkau menganggap memiliki kemampuan lebih tinggi dari Lo hu, aku tak berani mengatakan apa-apa !"
"Aku tergolong angkatan muda yang tidak berpengalaman, mana mungkin bisa dibandingi dengan kepandaian Lo Cianpwee !"
Kata In Tiong Giok.
"tapi aku telah menyanggupi permintaan seseorang untuk mengunjungi tempat itu. Andaikata ada setan dan bahaya lainpun aku harus kesana juga, dengan begini aku tidak mengecewakan orang itu."
Melihat tekad Tiong Giok yang mantap, Ciu Kong menjadi kagum, dengan didahului anggukkan kepalanya ia berkata .
"In Kongcu masih muda tapi mempunyai keberanian luar biasa, untuk ini aku bersedia mengantarmu kesana..."
"Terima kasih atas bantuan Lo Cianpwee."
"Tapi aku hanya mengantar sampai ditengah perjalanan, selanjutnya engkau pergi sendiri !"
"Begitupun baik...."
"In Kongcu ini bukan soal main-main, sebaiknya engkau berpikir biar matang,"
Ciu Lo pan menasehati.
"Mati atau hidup soal nasib, aku takkan menyesal !"
"Memang begitu,"
Kata Ciu Lo pan "tapi engkau harus berpikir bahwa setan-setan itu tidak seperti manusia, ia bisa pergi sesuka hatinya menurut kesiur angin.
Dijaga tidak bisa dijaga dan lebih baik engkau membatalkan niat yang berbahaya itu !"
Tiong Giok tidak menjawab, ia melemparkan cawan arak keudara, lalu menunjuk jarinya "Sreet"
Terdengar suara, cawan diudara bergoyang-goyang dan turun kebawah, lalu diletakkan diatas meja.Menyaksikan ini Ciu Kong menjadi kaget demikian pula Ciu Lo pan.
"Jika setan-setan itu menampakkan diri, akan kuserang dengan jerijiku ini !"
Kata Tiong Giok.
"In Kongcu ilmu dalammu luar biasa sekali, tadi aku meremehkan kepandaianmu, kini aku baru membuka mata !"
"Apakah dengan kepandaian ini kiranya cukup kuat aku menghadapi setan-setan disana ?"
Kata Tiong Giok, dan diluar kesadarannya ia membanggakan diri sendiri tanpa terasa. Ciu Kong menjadi marah, dan sedikit tak senang.
"Sejujurnya kepandaianku tidak setinggi Kongcu, tapi ingat setan-setan disana bisa gentayangan sesuka hatinya, bukan sembarangan orang bisa melawannya."
In Tiong Giok sadar bahwa perkataannya tadi telah menyinggung hati Ciu Kong, dan menimbulkan kesalah pahaman, cepat ia berkata.
"Untung Lo Cianpwee menyadarkanku, jika tidak setan-setan bisa kuanggap sebagai manusia biasa...."
"Biar dia setan atau manusia, pokoknya In Kongcu berkepandaian lebih tinggi dari Lo hu, dan mudah-mudahan dipuncak itu tidak bertambah satu setan penasaran !"
In Tiong Giok tersenyum meringis mendengar sindiran itu.
"Ya jika berumur panjang, aku mau mentraktir Jie wie mabuk-mabukan !"
"Tapi terlalu sulit !"
Kata Ciu Kong. In Tiong Giok tidak mau mengadakan perdebatan terlalu lama, ia mengalihkan persoalan ketempat lain.
"Loocianpwee kapan bisa mengantarkan kesana ?"
"Sekarangpun bisa saja !"
Dengan girang Tiong Giok bangkit dari tempat duduknya dan memberikan Ciu Lo pan uang emas dan mutiara.
"Manusia banyak seperti lautan, bisa bertemu dan berkenalan adalah jodoh. Kini aku pergi dan menempuh bahaya, entah bisa pulang dengan selamat entah tidak, tidak ada yang tahu. Yang pasti uang ini sudah tak kubutuhkan lagi, kuserahkan pada Ciu Lo pan sebagai tanda terima kasihku atas bantuan tadi !"
Terbelalak mata Ciu Lo pan melihat uang emas dan mutiara-mutiara berharga itu, tapi untuknya tidak ada ketamakan untuk memilikinya, dengan mata merah dan haru ia meminta lagi agar Tiong Giok membatalkan niatnya.
Tiong Giok memberi hormat sebelum pamitan pada Ciu Lo pan yang baik hati itu.
"Semoga In Kongcu pulang dengan selamat, dan barang-barang ini sementara kusimpan !"
Begitu Tiong Giok dan Ciu Kong keluar toko, diluar berkerumun orang-orang Biau, antaranya ada seorang tua yang dituntun Alana menghampiri kepadanya sambil menggelengkan kepala dan kemak kemik entah apa yang diucapkan tidak dimengerti Tiong Giok.
"Nenekku mengatakan kongcu orang baik dan jangan pergi ke Giok hong hong. Yang pergi kesana pasti mati dan tidak bisa kembali lagi."
Kata Alana menterjemahkan kata-kata neneknya.
"Katakan pada nenekmu kuhaturkan terima kasih atas nasehatnya itu, tapi kepergianku kesana tidak bisa dibatalkan, karena penting sekali !"
"Setan-setan jahat suka mengganggu manusia, sebaiknya jangan pergi !"
Kata Alana dengan mata berkaca-kaca.
"Aku sudah menyanggupi seseorang untuk pergi kesana,mana boleh melanggar janji ! Seseorang paling banyak hanya mati...."
Ciu Kong tak sabaran lagi dengan gusar ia membentak orang-orang Biau itu.
"Jangan banyak rewel, minggir semua !"
Suaranya yang keras membuat orang-orang yang berkerumun itu menjadi buyar. Alana mundur beberapa langkah, tapi maju lagi dan memberikan Tiong Giok orang-orangan dari kayu.
"Ini jimat penjaga badan, ambillah...."
Ia tak sempat menyelesaikan ucapannya karena Ciu Kong mendelik kearahnya.
"Terima kasih Alana, akan kubawa patung ini !"
Kata Tiong Giok. Alana menjadi girang pemberiannya diterima dan terus berlari-lari kearah orang banyak dan tidak terlihat lagi. Ciu Kong memandang kepada tempayan dipunggung kuda itu sambil bertanya .
"Apakah tempayan ini akan kau bawa juga ke Giok hong hong ?"
"Benar !"
Jawab Tiong Giok.
"Jalanan gunung tak bisa dilalui kuda, bagaimana kau bisa membawa benda yang berat itu ?"
"Tempayan ini penting sekali, bagaimanapun harus kubawa !"
"Jika begitu tempayan itu harus ditaruh didalam keranjang dan diikat pada tubuhmu !"
Kata Ciu Kong.
"Apapun boleh ."
Jawab Tiong Giok.
"Asal dapat dibawa !"
Dengan memakai keranjang, tempayan itu dimasukkan kedalamnya, lalu diikat tambang besar, dijadikan semacam ransel.
Tiong Giok menggombloknya dibelakang punggung.
Mereka segera pamitan dengan tuan rumah dan berlalu kearah pegunungan.
Begitu keluar kampung, keadaan sudah sunyi dan tidak terlihat lagi para penduduk, mereka segera menbentangkan ilmu meringankan badan secepatnya.
Didalam perjalanan ini Ciu Kong jarang membuka mulut, hanya matanya sering melirik kearah tempayan yang dibawa Tiong Giok dengan perasaan heran, sungguhpun begitu ia tak pernah menanyakan apa isinya tempayan itu.
Tak selang lama mereka mulai memasuki daerah pegunungan yang berhutan lebat.
Ciu Kong memberi isyarat, berhenti mengaso.
Tiong Giok memandang kepada pengantarnya dengan heran, karena sedikitpun pengantarnya itu tidak menunjukkan rasa letih.
"Masih jauhkah letaknya Giok hong hong ?"
"Tidak !"
Jawab Ciu Kong.
"tinggal mengitari lembah itu, kita sampai...."
Tambahnya dengan menunjuk-nunjuk.
Tiong Giok memandang tempat yang ditunjuk letaknya tidak seberapa jauh, hanya saja jalan yang harus ditempuh terdiri dari cadas gunung yang tajam-tajam dan menyeramkan.
"Tak kusangka Giok hong hong letaknya tak seberapa jauh,"
Kata Tiong Giok.
"sebelum malam aku harus tiba disana, Locianpwee tak usah mengantar lagi, cukup sampai disini saja."
"Hm, jangan kau lihat perjalanan ini semudah yang kau bayangkan,"
Kata Ciu Kong.
"kuberi tahu, sekitar lembah itu ada Lumpur yang merapung, asal kena memijak engkau bisa terbenam di dalamnya. Maka itu harus menggunakan ilmu meringankan tubuh melalui jalan itu ! Tapi dengan tempayanmu yang besar itu bagaimana engkau bisa ?"
"Jika begitu baiklah kita mengaso sulu disini !"
Kata Tiong Giok yang terus menurunkan keranjangnya dari pundak.
"Hati-hati,"
Kata Ciu Kong disini banyak kerikil tajam.
Jika kurang hati-hati tempayanmu bisa pecah, dan terus ia bantu menurunkan tempayan itu serta meletakkan ditempat yang agak rata, kini ia baru tahu biarpun tempayan itu besar, tidak seberapa berat, biar begitu ia tetap tidak menanyakan apa isi tempayan itu.
Tiong Giok segera bersila melakukan semadhi untuk memulihkan kembali tenaganya dan perjalanan napasnya.
Hanya sebentar, semangatnya yang memang tidak seberapa letih telah segar kembali, ia membuka mata, tampaknya Ciu Kong sedang duduk dibawah pohon yang rindang sedang mengawasi kearah tempayan dengan terbengong.
Tiong Giok segera bangun dan menggerak-gerakkan kaki tangannya sambil berkata.
"Ku piker sebelum matahari terbenam kita lanjutkan perjalanan ini bagaimana ?"
"Sabar dulu,"
Kata Ciu Kong.
"Sebelum kita melanjutkan perjalanan ini, ingin kutanya dulu beberapa patah padamu."
"Silahkan !"
"Aku sebagai orang tua, sebenarnya tidak tega melihat atau membiarkan seorang muda sepertimu, bilamana harus mengantarkan jiwa dihutan belantara semacam ini ! Soal keganasan setan dan iblis disini bukan main-main. Aku dapat mengatakan demikian karena menyaksikan dengan mata kepala sendiri, untuk inilah kuminta, batalkanlah niatmu itu...."
"Nasehat Locianpwee yang berharga ini kuterima dengan rasa syukur dan terima kasih, tapi untuk membatalkan niatku kesana tak bisa kululusi ..."
"Baiklah jika engkau mau juga kesana,"
Kata Ciu Kong.
"Dapatkah kutahu siapakah yang menyuruhmu kesana ?"
"Maafkanlah jika aku tak bisa menyebutkan nama kawanku itu,"
Kata In Tiong Giok.
"Ia adalah seorang jago rimba persilatan yang telah meninggal dunia."
"Oh,"
Kata Ciu Kong kecewa.
"Jika begitu tempayan yang besar itupun adalah permintaan orang itu untuk dibawa kesini ?"
"Benar !"
"Dapatkah kutahu apa isinya tempayan ini ?"
"Oh,"
Tiong Giok terdiam sebentar, lalu melanjutkan kata-katanya.
"Isinya adalah rangka atau tulang belulang dari jago yang telah meninggal dunia itu !"
"Oh, kiranya engkau menempuh perjalanan yang cukup jauh, semata-mata untuk mengantarkan tulang-tilang orang yang sudah mati ini sampai di Giok hong hong ?"
"Ah karena aku menjalankan permintaan jago tua itu...."
"Giok hong hong adalah tempat sunyi yang penuh iblisnya,"
Kata Ciu Kong.
"Apakah orang itu tidak mengatakan harus menaruh dimana tulang-tulang ini ? Atau harus menyerahkan pada seseorang misalnya ?"
"Ia hanya mengatakan sebuah goa di Giok hong hong, tapi tidak mengatakan harus menyerahkan kepada siapapun !"
"Apakah ia tidak menceritakan soal keangkeran di Giok hong hong ?"
"Tidak !"
"Ia menyuruhmu kesini, kenapa tidak mengatakan soal keadaan disini, aku benar-benar heran."
"Mungkin ia sendiri tidak mengetahui soal keangkeran disini !"
Ciu Kong menggelengkan kepala, dan tidak berkata apa-apa lagi. Tiong Giokpun segera bangun dan membopong lagi tempayannya, lalu memberi hormat pada Ciu Kong.
"Jika Locianpwee tidak ada pesan lagi, aku mau berangkat lagi !"
"Aku mempunyai satu permohonan yang mustahil, tapi kuajukan juga ! Yakni, ijinkanlah aku melihat tulang-tulang didalam tempayan itu !"
"Maafkanlah aku, sebesar-besarnya bahwa permintaan Lo Cianpwee itu tidak dapat dikabulkan !"
"Jika engkau keberatan tidak apa-apa, akupun tidak berani memaksa !"
Kata Ciu Kong.
"Nah disinilah kita berpisah."
Tiong Giok menghaturkan terima kasih atas bantuan orang tua itu yang mau mencapekan diri mengantar sampai disini.
Lalu membalik tubuh dan melanjutkan perjalanan.
Setelah beberapa puluh langkah, ia menoleh kebelakang, tampak Ciu Kong masih berdiri dengan tegak ditempatnya tadi sambil mengawasi kearah dirinya dengan sebuah matanya yang tajam.
Tiong Giok tidak memperdulikan lagi orang tua itu, terus melanjutkan perjalanannya.
Sedangkan matahari telah condong kebarat, ia mempercepat langkah kakinya untuk mengejar waktu.
Sungguhpun ia tidak percaya soal adanya setan, tapi atas keterangan dari Ciu Kong membuatnya setengah percaya, tapi ia tidak memperdulikan lagi semua ini, tujuannya sudah bulat harus cepat-cepat sampai di Giok hong hong sebelum malam.
Waktu sampai didekat lembah, ia menyaksikan jalanan yang benar-benar sulit, kini iabaru percaya apa yang diucapkan Ciu Kong.
Lebih-lebih waktu mau melintasi Lumpur terapung membuatnya menghadapi bukan sedikit kesulitan.
Untung Ciu Kong sudah mengatakan terlebih dahulu, jika tidak tubuhnya bisa terbenam didalamnya dengan jiwa melayang.
Akhirnya ia bisa melewati Lumpur-lumpur itu dengan selamat, tapi waktu yang terbuang banyak sekali.
Ia semakin cemas, karena malam telah datang, sekeliling menjadi gelap gulita.
Didalam tempat berbahaya ini, jangankan ada setan atau iblis tidak adapun cukup membuat orang menangis kecil.
Biarpun begitu Tiong Giok tidak mau mundur, ia maju terus !
Berkat keuletan dan ketabahannya ia bisa keluar dari lembah yang berbahaya itu dan tiba dikaki bukit.
Disini ia mendengar berkecuknya selokan gunung, sepanjang selokan itu tumbuh bunga-bunga hutan yang menebarkan hawa harum, membuat hatinya lapang dan menarik napas dalam-dlam dengan senangnya.
"Benar-benar diluar dugaan, tempat semacam ini bisa terdapat dunia sendiri yang begitu indah dan menyenangkan, tak ubahnya seperti didalam dongeng saja,"
Pikirnya. Saat inilah dengan tiba-tiba ia mendengar suara "siuuut "
Dengan kaget Tiong Giok berpaling keempat penjuru, keadaan tetap seperti semula sedikitpun tidak terlihat perubahan, biarpun sudah malam keadaan disini cukup terang, karena bantuan rembulan dicakrawala.
"Ah, mungkinkah suara setan ?"
Pikirnya dengan dak dik duk. Sedangkan bulu kuduknya berdiri tanpa terasa.
"Hei, sahabat darimanakah yang main sembunyi-sembunyian ? Untuk apa berlaku seperti setan ? Keluarlah !"
Serunya berulang-ulang kali.
Keadaan tetap tenang, tidak ada jawaban yang terdengar, kecuali suara berkerucuknya selokan gunung.
Tiong Giokpun tak mengetahui suara itu manusia atau setan !
Ia berseru semata-mata untuk membesarkan hatinya yang sedang ketakutan.
"Aku sudah datang kesini, biar setan-setan itu bermunculan aku takkan mundur, yang perlu aku harus secepatnya membawa tulang-tulang ini kedalam gua. Sehabis berpikir iapun berjalan lagi keatas gunung, menyusuri selokan kecil yang tampak terang, karena memantulkan cahaya bulan. Ditengah perjalanan, ia baru melintasi selokan itu yang tak mungkin diikuti terus, karena dulu selokan itu berada diatas tebing yang tinggi sekali. Ia mencari-cari jalan untuk naik keatas, dan dilihatnya sekeliling penuh dengan pohon-pohon bamboo. Berbisik-bisik daun-daun itu dan terus berjalan. Saat inilah dengan tiba-tiba ia melihat bayangan hitam berkelebat masuk kedalam pohon bamboo, gerakannya begitu cepat dan luar biasa, dalam sekejap sudah hilang dari penglihatan. Tiong Giok mengucak-ucak mata, dan begitu membukanya kembali ia melihat benda putih dipohon bamboo, bergoyang-goyang. Dengan penuh keberanian ia menghampiri benda itu, setelah dekat, ia melihat tegas itulah Gin coa ( uang orang mati). Cepat-cepat diambilnya, ia jadi kaget lagi, karena kertas itu berlumuran darah merah ! Tanpa terasa lagi bulu romanya berdiri lagi, tapi ia memaksakan diri melanjutkan perjalanan lagi tanpa menghiraukan keadaan yang menyeramkan itu. Sungguhpun begitu ia selalu bersikap waspada, dan menggunakan ranting bamboo sebagai tongkat, untuk menjaga bahaya mengancam dirinya. Sesampainya dilereng puncak, tidak terjadi sesuatu apa-apa, membuatnya merasa lega. Langkahnyapun bertambah cepat. Soal-soal setan dan iblis yang ganas sudah dilupakan otaknya, kaena ia merasa senang menemukan jalan kecil yang menuju kepuncak itu. Disini terdapat banyak gua-gua, tapi tidak satupun yang cocok seperti yang dikatakan Pek King Hong. Ia mencari terus sampai ketempat yang paling tinggi. Keadaan disini membuatnya tercengang sendiri, karena tempat yang paling tinggi itu, terdapat satu daratan yang luasnya dua puluh kaki persegi. Ditempat keliling dataran itu ditanam pohon-pohon yang besar, rumput-rumput dilapangan itu sangat halus tak ubahnya seperti permadani hijau. Dan ditengah-tengahnya terdapat meja dan kursi batu, serta bunga yang teratur rapi, begitu indah dan menyenangkan. Ditengah dataran itu terdapat jalanan yang terbuat dari batu menuju kesebelah gua yang besar dan gelap. Gua ini tidak mendatangkan keheranan barang sedikitpun, yang membuatnya heran dan kaget ! Didepan ada seorang sedang duduk diatas sebuah kursi batu. Didepan ada seseorang sedang duduk diatas sebuah kursi batu. Orang itu tidak mempunyai kepala. Ia duduk dengan tenang sambil menyisiri kepalanya yang diletakkan diatas pangkuannya. Dibawah sinar rembulan yang redup, pemandangan ini membuat bulu kuduk meringkak tak keruan rasa ! Tiong Giok sendiri hampir-hampir kebawah gunung melihat pemandangan yang indah ini ! Manusia tidak berkepala itu seperti tak memperhatikan kedatangan Tiong Giok, ia menyisir terus kepala yang ada dipangkuannya. Ia menyisir begitu lama, tapi rambutnya yang kusut itu tidak rapi-rapi juga. Agaknya ia sangat kesal kepala itu diangkatnya diletakkan silehernya, dan terus berkeluh kesah .
"Ah sudah tua tak berguna lagi !"
Suara begit halus dan menusuk perasaan, tapi terdengar tegas dan menyeramkan. Tiong Giok terpaksa diam, tak tahu entah apa yang harus diperbuat, berlari atau diam saja !"
Orang itu tiba-tiba membalik badan dan memandang kearah Tiong Giok sambil menggapaikan tangan .
"Ceng jie jangan main ayun-ayunan lagi, lekaslah sisiri rambutku !"
Tiong Giok menjadi kaget, ia berpaling kebelakang, waduh, hampir ia menjeerit !
Baca Juga: Legenda Kematian 1
Baca Juga: Anak Naga Chin Yung