Ceritasilat Novel Online

Perguruan Sejati 5

Eps 5 Perguruan Sejati - Khu Lung

Baca online Perguruan Sejati - Khu Lung

Cersil Perguruan Sejati - Khu Lung.

Kiranya tak berapa jauh darinya terlihat seorang gadis dengan rambut awut-awutan bergantung dipohon yang tinggi, sedang ayun-ayunan kesana kemari.

Melihat keadaan ini Tiong Giok dari takut timbul nekadnya, dengan menggunakan tongkatnya ia membentak.

"Hei, kalian makhluk apa berani mengotori tempat yang suci ini !"

Berbareng dengan bentakannya Tiong Giok melakukan serangan oada gadis yang tergantung itu, tak kira belum pula serangannya sampai gadis itu tiba-tiba jatuh ketanah tak berkutik lagi, karena tambang yang menggantung lehernya putus dengan tiba-tiba.

In Tiong Giok memperhatikan perempuan itu dengan seksama, sesaat berlalu tidak terlihat gerakan apa-apa.

Ia berpaling kearah gua, orang tua disitu sudah tidak terlihat mata hidungnya.

Cepat-cepat ia menurunkan tempayan dari punggungnya dan memberannikan diri menghampiri perempuan itu sambil mengusik-usik tangannya.

Perempuan itu diam saja, maka dipegang lengannya itu dan diperiksa jalan darahnya.

Ia merasakan tangan itu dingin sekali, dan tahu itulah sesosok mayat.

Ia masih penasaran dan ingin melihat dengan tegas wajah dari mayat itu, maka rambut yang menutupi muka perempuan itu disingkap.

Kini terlihat tegas perempuan itu berwajah cantik, matanya meram, usianya lebih kurang lima enam belas tahun.

Inikah yang dimaksud sebagai iblis ganas ?

Inikah yang membuat orang-orang Biau takut ?

Inikah yang membuat Ciu Kong terluka parah ?

Ia jadi bingung dan menggelengkan kepala tanpa terasa dan menarik napas panjang....."

Bertepatan dengan tertarik napsnya, terdengar berkesiur angin, sebuah bayangan hitam menyambar tempayan dan terus dibawa lari kedalam gua.

Tiong Giok terkesiap dan kalah langkah, lengannya segera digerakkan "sreet"

Terdengar bunyi nyaring, karena ilmu mautnya atau Hiat cie leng dipergunakan menyerang bayangan hitam itu.

Akan tetapi dengan mendadak ia merasakan lengannya menjadi kaku, karena pundaknya dicengkeram lengan dingin dari arah belakang.

Hiat cie lengnya tidak dapat dilancarkan dengan sempurna, sehingga bayangan hitam masuk dan menghilang kedalam gua dengan aman.

In Tiong Giok menoleh kebelakang, ia merasa lega, karena yang mengcengkeram pundaknya itu adalah si mayat perempuan.

Bukan saja mayat itu hidup kembali, bahkan bisa berseru nyaring.

"Tia-tia ! Yauw Pepek ! Lekaslah aku berhasil menangkapnya !"

Dengan mendengar suaranya perempuan itu membuat Tiong Giok sadar bahwa dirinya bukan berhadapan dengan iblis tapi manusia biasa yang pura-pura menjadi iblis.

Tiba-tiba ia membalik badan dengan mendadak.

"Bangsat, jangan pura-pura menjadi setan, lepaskan lenganmu !"

Perempuan itu sedang gembira bisa menangkap Tiong Giok, sedikitpun tidak menduga pemuda itu bisa berontak dan melepaskan diri.

Bahkan melakukan serangan mendadak, sehingga dirinya jungkir balik dalam waktu sekejap.

Namun ia segera bangun dan terus mengayunkan tangannya melakukan serangan, sedangkan mulutnya berseru-seru minta bantuan.

"Tia-tia lekas, terlepas lagi, cepat Bantu aku !"

Dengan cepat Tiong Giok melakukan serangan, membuat perempuan itu terdesak terus.

"Kalian sebenarnya siapa ? Lekas katakana jangan sampai kuturunkan tangan jahat !"

Perempuan itu melawan terus, ilmu pukulannya, sayang kurang matang, sungguhpun begitu ia masih bisa mengimbangi serangan lawannya dengan baik.

"Turunkanlah tangan jahatmu aku tak takut !"

Tantangannya, dan mengobah-obah serangannya dengan aneh, sekali ini Tiong Giok yang keteter.

Untuk mendapat kemenangan hampir-hampir Hiat cie lengnya dilancarkan lagi, tapi ia tak sampai hati melakukan serangan mautnya.

Sebab ia masih memiliki ilmu lain yang bisa digunakan.

Lengannya seolah-olah dijadikan pedang, dan terus ditebaskan dengan gencar, menurut ilmu pedang Keng thian cit su.

Perempuan itu menyaksikan peerubahan ilmu lawannya menjadi kaget dan cepat-cepat berseru .

"Hei ! Darimana engkau mempelajari ilmu ini ?"

"Tidak ada urusannya denganmu, jika engkau tak sanggup melawanku lagi, panggillah bapakmu lekas-lekas !"

"Jangan terlalu bangga, kata perempuan itu.

"Kau kira aku tak tahu bahwa ilmu yang kau gunakan itu asalnya dari ilmu pedang."

"Ilmu pukulan atau ilmu pedang tidak bedanya, pandanganmu yang cetek itu, membuat geli hatiku saja !"

"Hm ilmu pedang tetap ilmu pedang, ilmu pukulan tetap ilmu pukulan, kenapa kau katakana pandanganku yang cetek ? Dengan ilmu pukulan tangan kosong engkau tak bisa menang dariku, maka memakai ilmu ini untuk memperoleh kemenangan bukan ?"

"Ilmu apapun yang kupakai tak ada urusannya denganmu !"

Jawab Tiong Giok.

"Baiklah, rasakan pukulanku !"

Kata perempuan itu yang benar-benar melancarkan serangan bertambah gencar.

"Ceng ceng stop !"

Tiba-tiba terdengar seruan.

In Tiong Giok mencelat mundur dan menoleh kesana, didekat mulut gua ia melihat dua orang sedang berdiri dan memandang kepada dirinya, antaranya adalah Ciu Kong dan yang satu lagipun dia kenal, yakni Tiat pie sin wan Yauw Kian Cee.

Orang itu pernah bertemu dengannya dikota Kim leng sewaktu ia mau mencetak buku Keng thian cit su.

Ia menjadi kaget, dibalik merasa lega.

Ciu Kong dan Yauw Kian Cee cepat-cepat menghampiri kearahnya dan terus bertekuk lutut sambil berkata .

"Kami Yauw Kian Cee dan Ciu Kong menghaturkan hormat pada Ciang bun jin."

Perempuan berbaju hitam menjadi kaget cepat-cepat iapun bertekuk lutut dan berkata .

"Aku Ciu Ceng menghaturkan hormat pada Ciang bun jun."

In Tiong Giok membalas hormat mereka sambil berkata .

"Aku menerima pesan dari Pek ciang bun jin kembali ke Cong leng tong hu (gua penyimpan roh) ini lebih kurang sudah empat bulan lamanya tak kira perpisahannya di Kim leng untuk selama-lamanya. Dan karena salah paham membuat Ciang bun jin mengalami banyak kesukaran, atas ini kumohon maaf yang sebesar-besarnya."

Ciu Kong pun dengan perasaan menyesal turut berkata .

"Kami sebagai penjaga gua suci ini dari banyak tahun, tapi karena tidak kenal wajah Ciang bun jin yang baru, dengan tidak disengaja berlaku kurang ajar, dengan ini aku minta maaf yang sebesar-besarnya."

"Jie wie lo cianpwee janganlah berkata begitu, karena suatu keberuntungan aku bertemu dengan Pek Lo Cianpwee dan menerima Giok hu, serta menjalankan pesanannya untuk membawakan rangkanya ke Cong leng tong hu ini, Ku mohon diriku ini jangan dianggap sebagai Ciang bun jin."

"Setiap orang yang memegang Giok hu, adalah Ciang bun jin dari Thian liong bun, maka itu kedudukan ini bagaimanapun tak bisa diubah-ubah !"

Kata Yauw Kian Cee.

Dengan rasa hormat mereka mengiringi In Tiong Giok memasuki gua Cong leng tong hu.

Gua ini dari luar tampaknya sangat sempit tapi sangat luas.

Dikiri kanan terdapat empat kamar, tiga diantaranya adalah kamar Yauw Kian Cee, Ciu Kong dan Ciu Ceng Ceng, sedangkan yang sebuah lagi dipakai tempat latihan silat.

Sedangkan perabotan disitu hanya kursi meja dari batu.

Didinding tergantung rupa-rupa kedok seram dan kepala-kepalaan orang.

Itulah alat-alat biasa dipergunakan mereka menyamar sebagai setan dan iblis.

Adapun Ciu Kong asalnya sebagai dedengkot golongan hitam yang kejam dan ganas.

Didunia Kang Ouw ia terkenal dengan julukan "Tok gan sin mo (Iblis bermata satu).

Empat puluh tahun yang lalu disaat namanya sedang tenar ia bertemu dengan Pek King Hong, dan dipecundangi, sejak itulah ia menjadi pengikut Pek King Hong dan bertugas sebagai penjaga gua Cong leng tong hu di puncak Giok hong hong sampai sekarang.

Sedangkan Ciu Ceng Ceng asalnya bukan she Ciu, sewaktu masih didalam gendongan ibunya, diajak kedua orang tuanya berdagang kedaerah Biau ini.

Entah bagaimana ayahnya berbuat kesalahan pada orang-orang Biau sehingga menerima kematian bersama istrtinya.

Sewaktu terjadi peristiwa itu, kebetulan Ciu Kong lewat, dan memberikan pertolongan pada bayi itu, lalu dirawatnya dan dijadikan sebagai cucunya sendiri.

Mereka mendiami Giok hong hong dan berlaku sebagai setan-setan untuk menakut-nakuti orang Biau agar tidak datang mengganggu gua yang dianggap suci itu.

In Tiong Giok sewaktu memeriksa Ceng Ceng mendapati gadis itu sudah dingin dan mati tapi belakangan gadis itu kembali, dan sadarlah bahwa Ceng Ceng menggunakan ilmu Hui kie jip hiat (mengembalikan hawa kedalam nadi), sehingga bisa pura-pura mati.

Sedangkan Ciu Kong yang bisa mencopot kepalanya dariu leherpun, hanya permainan sulap saja.

Dengan cara itu biasanya mereka bisa membuat orang-orang Biau ketakutan setengah mati dan tak berani datang lagi kepuncak ini.

Sejak mengenal urusan Ciu Ceng Ceng belum pernah meninggalkan Giok hong hong maka itu sifatnya sangat polos benar.

Kini kedua matanya yang hitam tak henti-hentinya memandang In Tiong Giok, ia tak habis mengerti, kenapa pemuda itu yang masih muda belia bisa menjadi Ciang bun jin dan kakeknya yang berusia hampir sembilan puluh tahun harus bertekuk lutut pada pemuda itu ?

Dan sungguhpun begitu ia tak berani mengatakannya dan diam saja terus sambil mengikutinya dari belakang.

Sedangkan Tiong Giok sesudah masuk memperhatikan didalam, ia merasa heran dan bertanya .

"Pek Lo Cianpwee memesan kepadaku untuk menaruh rangkanya didalam gua ini dan memberi petunjuk juga harus menuruti kata-kata yang tertulis didinding melakukannya, kenapa didinding ini tak terlihat barang sehuruf katapun?"

"Tempat untuk meletakkan rangka itu tidak disini,"

Kata Yauw Kian Cee.

"Mungkinkah masih ada gua lain ?"

Tanya In Tiong Giok.

"Dibelakang kamar berlatih masih ada ruangan lain lagi,"

Kata Yauw Kian Cee.

"tempat itu hanya boleh dimasuki seseorang yang berkedudukan sebagai Ciang bun jin, yang lain tidak boleh masuk."

"Jika begitu kuminta ditunjukkan tempatnya untuk meletakkan rangka ini,"

Kata Tiong Giok. Yauw Kian Cee agak sangsi, terbayang wajahnya sangat bingung, akhirnya ia berkata dengan suara gugup.

"Tidaklah sebaiknya Ciang bun jin mengaso dulu ? Rangka itu besokpun boleh...."

"Aku melakukan perjalanan ribuan lie jauhnya, supaya bisa menempatkan kerangka ini ditempatnya secepat-cepatnya, jika kejadian ini sudah beres hatiku baru lega, maka itu untuk apa harus menantikan besok, aku mau sekarang juga dibereskan."

Yauw Kian Cee berpikir sejenak, lalu tersenyum.

"Saat inipun sebenarnya sudah pagi tak lama lagi akan terang tanah, jika tak bisa bersabar, kami menurut saja apa yang dikehendaki Ciang bun jin"

Sehabis berkata ia melirik kearah Ciu Kong dan berbisik perlahan, entah apa yang dikatakannya, Ciu Kong segera maju kedepan Tiong Giok dan bertekuk lutut "Aku sebagai penjaga gua ini, mohon diberikan Giok hu untuk membuka pintu."

Tiong Giok mengeluarkan Giok hu, Ciu Kong menerimanya dengan kedua tangan, setelah meneliti sejenak, orang tua itu segera membalik badan dan berjalan duluan memimpin Tiong Giok masuk kedalam kamar latihan.

Ciu Ceng Ceng menyingkap kain di dinding, disitu terlihat sebuah pintu yang tingginya tiga meter, tertutup rapat oleh sebuah kelotok besar yang terbuat dari emas.

Ciu Kong bertekuk lutut didepan pintu dan berdoa.

"Hari Ciu Kong sebagai penjaga gua mendapat tugas dari Ciang bun jin baru untuk membuka pintu, semoga arwah dari ciang bun jin yang berada dialam baka, memberi rahmat dan taufiknya bagi ciang bunjin baru dan kesejahteraan pada sekalian murid-murid dari Thian liong bun. Sehabis begitu ia berdiri memberi hormat lagi sebanyak tiga kali sambil merangkap kedua tangannya. Tangannya yang merangkap tiba-tiba dipisahkan, tampak tegas bahwa Giok hu menjadi dua, ditengahnya terdapat sebuah anakj kunci dari emas. Dengan itu dia membuka pintu. Sesudah itu ia menundukkan kepala mempersilahkan Tiong Giok masuk, sikapnya ini diikuti pula Yauw Kian Cee dan Ciu Ceng Ceng. Tiong Giok sendiri menghadapi acara ini menjadi bingung, tapi ia tidak mau banyak pusing, cepat-cepat diambilnya tempayan yang sudah berada disitu dan dibawa masuk kedalam gua. Keadaan didalam sangat gelap, tapi udara disitu diliputi wewangian yang menyegarkan semangat. Samar-samar ia melihat gua yang dalamnya lima enam puluh meter. Disini terdapat sebarisan ranjang-ranjang batu dan disetiap ranjang itu terdapat kerangka kerangka manusia, ada yang mengenakan pakaian Biku, adapula yang mengenakan pakaian biasa, jumlahnya ada sembilan orang. In Tiong Giok masuk terus kedasar gua, disini terdapat pula ruangan yang agak besar dan tidak gelap seperti tadi, karena dari atap masuk sinar terang. Ia mengamat-amati keadaan sekeliling dengan telitinya sekali, dan melihat banyak huruf-huruf didinding. Setelahmembaca dan memperhatikan sejenak, barulah ia tahu bagaimana harus meletakkan kerangka Pek King Hong. Maka dilakukan petunjuk itu dengan baik saat itu juga. Disamping itupun ia mendapatkan bahwa huruf-huruf ditembok itupun merupakan pelajaran ilmu silat dari Thian liong bun yang diperuntukkan bagi seorang Ciang bun jin. Karena inilah Tiong Giok, mau tak mau harus membuang waktu didalam gua itu bersama-sma dengan Yauw Kian Cee dan kawan-kawan untuk mempelajari ilmu itu. Sementara itu Tiong Giok mempelajari ilmu silat di Giok hong hong, kita alihkan dulu cerita ini kebagian yang lain. Waktu berjalan dengan cepatnya, sekejap mata setahun telah berlalu. Kini tepat hari raya Tiong cu, keadaan telaga See Ouw diterangi rembulan purnama, putih seperti perak, jernih bagai air. Indah dan permai. Perahu-perahu berhias memenuhi telaga itu, para penumpangnya mengenakan pakaian baru, makan minum bergembira sambil menyanyi-nyanyi, melewatkan hari raya dimusim Ciu itu. Di pinggir telaga banyak restoran terapung diatas air, antaranya yang bernama Hui hong sian, ini adalah yang terbaik, bertingkat tiga, teratur rapi dan bersih. Dilantai pertama penuh perahu sewaan, lantai kedua dan tiga terdapat belasan kamar yang menghadap ketelaga. Disini para tamu yang berpesta pora sambil mendengari lagu yang dibawakan oleh penyanyi wanita. Para penyanyi itu bertugas merangkap menjadi pelayan juga, memberikan kesenangan pada tamu, dalam keadaan begini hal-hal asusila terjadi dan berlangsung seperti biasa ! Pokoknya para perempuan itu ditepuk maupun disenggol atau dipeluk sekali, hanya tersenyum. Bukan karena ia senang dan berwatak demikian, apa yang dilakukannya itu, semata-mata untuk memperoleh uang sebanyak-banyaknya! Tamu-tamu makin malam makin mabuk-mabukan suara penyanyi semakin parau, kelakuan antara wanita dan laki-laki semakin menggila seolah-olah dunia ini hanya untuk begitu saja. Tapi di dalam keramaian ini, ada seorang tamu yang luar biasa. Ia adalah seorang pemuda berusia antara tujuh delapan belas tahun. Pakaiannya terbuat dari sutera dan ,mentereng sekali. Ia berada ditingkat teratas sekali dari Hui hong sian, berdiam seorang diri dikamar yang termahal. Kamar itu hanya diterangi sinar rembulan, tapi biar begitu wajah pucat pemuda itu terlihat jelas. Sepasang matanya yang tajam memandang ketempat jauh, bagai sedang merenungkan kehidupan yang lampau. Sejak matahari terbenam, pemuda itu datang seorang diri dan terus diam dikamar itu. Pelayan-pelayan wanita yang cantik-cantik, melihat seorang muda ini, jadi girang, pikir mereka inilah orang baru yang masih hijau, asal bisa merayu dan jual lagak pasti dapat mengeruk uang. Tak kira laki-laki muda itu, tak tertarik paras cantik, ia duduk dikamar itu tak mau ditemani siapapun. Ia minum-minum seorang diri sambil melamun dan terpekur berjam-jam lamanya, arak yang masuk kekerongkongannya sudah banyak, tapi sepatah kata tak keluar dari mulutnya.

Jilid 13________ Pelayan-pelayan berulang kali mencoba mendekatinya menanya ini itu dengan ramah, bukan saja tidak dihiraukan, malahan diusirnya.

Hoo kee dari restoran ini melihat tamu yang aneh ini, merasa tidak betah dan ingin menanya apa yang dikehendaki pemuda itu, tapi perkataan mereka yang berada dikerongkongan tak kunjung keluar karena sinar mata pemuda itu yang tajam dan pedang yang tersoren di pinggangnya membuat mereka takut sendiri.

Pada haru raya yang ramai ini banyak tidak kebagian tempat, dan sudah tentu pemuda itu tidak boleh menjublek terus-terusan semalam suntuk disitu, ini merugikan pemilik restoran.

Lebih-lebih tempat yang dipakai pemuda itu adalah yang terbaik dan termahal, biar bagaimana kerugian ini harus dicegah, maka itu Hok Kee itu berunding dan mengambil keputusan untuk melaporkan kejadian ini pada Lau pan atau majikan mereka.

Pemilik Hui hong sian ini adalah Pang Tiong seorang buaya kenamaan di telaga See Ouw.

Biar dia mempunyai alis kereng dan tabiat kasar, tapi cukup berpengetahuan luas, jikalau tidak mana mungkin seorang buaya semacam dia bisa mendirikan restoran Hui hong sian yang begitu terkenal.

Mendengar laporan dari Hok keenya, Pang Tiong mengerutkan alis dan bertanya .

"Ei, kalian bisa memastikan ia baru berusia delapan belas tahun ?"

"Ya !"

"Sudah berapa banyak ia minum ? Mabukkah dia ?"

"Sudah minum sepuluh teko, mabuk tidaknya kami tidak tahu !"

"Dilihat tampangnya beruang atau tidak ?"

"Pakaiannya mentereng, kelihatannya sih berduit juga !"

"Ha ha ha, kalau ia beruang soal gampang !"

Kata Pang Tiong dengan tergelak-gelak.

"Sekarang juga kau jemput Siau Yang Ang, dan hadapi pada pemuda itu, kutanggung bocah itu akan manggut-manggut...."

"Sekarang adalah hari raya, mungkin Siau Yang Ang tak bisa datang....."

"Pokoknya, bisa tidak bisa, asal ada uang akan bisa !"

Kata Pang Tiong.

Hoo kee itu tak berani banyak cerita lagi, segera berlalu untuk menjemput Siau Yan Ang.

Pang Tiong sedangkan tak bisa tenang, cepat-cepat ia mengenakan pakaian barunya dan lalu terus naik ketingkat tiga.

Kini ia percaya apa yang dikatakan Hok keenya bahwa pemuda itu benar-benar aneh.

Dengan didahului deheman kecil ia masuk ke kamar pemuda itu.

Sebelum berkata ia tersenyum dulu.

"Kongcu..."

Ia meneruskan menantikan reaksi pemuda itu. Pemuda itu tidak bereaksi, ia melanjutkan kata-katanya.

"Selamat datang di Hui hong sian ini, restoran ini dibangun tepat ditepi telaga, tak usah repot-repot perahu melalui telaga ini bukan ? Maka itu kupakai nama Hui hong sian. Atau pelangi terbang.... Pemuda itu tersenyum-senyum dan memancarkan sinar gembira pada wajahnya. Pang Tiong melihatnya mejadi girang, dan melanjutkan kata-katanya.

"Aku sebagai orang bodoh yang kurang sekolah, tapi pengunjung-pengunjung restoran ini, banyak yang pintar-pintar dan bersekolah tinggi. Menurut mereka nama ini indahnya terletak pada pemakaian huruf hui atau terbang...."

"Apa indahnya ?"

Pang Tiong lupa diri, semakin sok aksi dan kiranya dialem.

"Pelangi adalah benda mati, ditambah huruf terbang, bukankah menjadi hidup ? Hui hong ! Hui hong ! pelangi terbang....artinya pelangi itu terbang dan tidak mati ! Ia asyik menguraikan nama itu dengan panjang lebar, dan tidak menduga bahwa pemuda itu tiba-tiba saja menjulurkan tangan mencekal pergelangannya.

"Hong atau pelangi menurutmu benda mati ?"

Bentak pemuda itu dengan mata mendelik dan memancarkan sinar membunuh.

Pang Tiong tak habis mengerti, kemana pemuda ini yang mula-mula sudah tersenyum-senyum tiba-tiba bisa berubah demikian macam, hatinya gugup dan tidak bisa menjawab.

Begitu sipemuda menggunakan tenaga Pang Tiong merasa sakit yang tidak kepalang.

"Hm, manusia bodoh, engkau harus mengerti bahwa pelangi begitu indah dan bisa memancarkan berbagai warna yang hidup keempat penjuru, kenapa kau katakana mati ?"

Lidahmu harus kupotong !"

Sambil berkata itu pemuda menarik separuh itu. Sejenak berlalu pemuda itu diam tak menghiraukan.

"Kongcu..."

Ia mengeraskan suaranya sambil tersenyum terus.

Sekali ini membuat pemuda itu menoleh, dan menggerakkan tangan belakang, menyuruh Pang Tiong pergi !

Dengan sabar Pang Tiong tersenyum terus, ia tidak keluar, melainkan maju selangkah sambil memberi hormat.

"Aku bernama Pang Tiong pemilik restoran ini...."

Lagi pemuda itu menggoyangkan tangan menyuruhnya berlalu, sikapnya begitu dingin dan sombong.

Dengan menelan liur, Pang Tiong kumat kamit masih mau melanjutkan kata-katanya, tapi tak jadi keluar, karena dengan mendadakan pemuda itu membalikkan tubuh, dan membentak.

"pergi !"

"Ya, ya !"

Jawab Pang Tiong dengan gugup sambil mundur-mundur.

"Aku sebagai pemilik restauran ini berkewajiban melayani tamu....tapi Kongcu tak mau, maka...."

"Kemari !"

Bentak lagi pemuda itu.

"Kongcu mau apa lagi ?"

Tanya Pang Tiong.

"Engkau mengaku sebagai pemilik restauran ini ?"

"Benar !"

"Baik ! Sekarang ingin kutanya siapa yang memberi nama Hui hong sian pada restoran ini ?"

Pang Tiong menjadi melengak, tapi dengan cepat ia tersenyum lagi.

"Kongcu jangan menertawakan, aku yang memberi nama itu dengan sekena-kenanya."

"Hm tentu ada artinya bukan ?"

"Ya sedikit banyak ada saja,"

Kata Pang Tiong.

Aku melihat pemandangan ditelaga ini indah sekali, lebih-lebih sehabis hujan, dilangit terlihat pelangi.

Kupikir pelangi itu bentuknya seperti jembatan.

Sambil berkata pemuda itu menarik separuh pedangnya keluar dari serangka.

Sekujur tubuh Pang Tiong menjadi lemas, tapi seumurnya belum pernah menghadapi anak muda yang begitu gagah, lekas-lekas ia meratap "Kongcu....soal apapun mudah dibicarakan tak perlu begini...."

"Trang !"

Pedang terhunus, Pang Tiong sudah ditarik pemuda itu kepinggir lankan. Melihat keadaan ini cepat-cepat ia menjerit sekuatnya "Tolong ! Tolong !"

Hoo kee hoo kee mendengar teriakan majikannya, memburu keatas. Pemuda itu menyapu mereka dengan sinar matanya yang tajam dan dingin .

"Maju lagi selangkah, berarti mencari mati !"

Sinar mata pemuda itu berpengaruh betul si hoo kee manjadi gemetar, dan diam tak bergerak. Pada saat yang genting inilah tiba-tiba terdengar suara halus yang sangat merdu.

"Ai, apa-apaan ini ? Malam indah bulan purnama tidak dinikmati, berbalik main pedang dan golok, ah benar-benar menakutkan orang !"

Seiring dengan suara itu terlihat seorang perempuan berbaju merah. Usianya lebih kurang dua puluh lima tahun, begitu cantik dan menggiurkan. Pemuda itu matanya menjadi bersinar, dan..

"Kau..."

"Aku bernama Siau Yan Ang !"

Pemuda itu mengucak-ucak matanya, lalu menatap dalam-dalam.

"Ambil lampu !"

Tiba-tiba ia membuka mulut.

Setengah malam pemuda itu tak mengijinkan menyalakan lampu, tapi begitu berhadapan dengan Siau Yan Ang adat kerbaunya menjadi luntur.

Pelayan-pelayan menjadi girang dan berserabutan mau mengambil lampu.

Dengan lemah lembut Siau Yan Ang mencegah mereka.

"Kongcu bulan purnama air telaga berkilauan memantulkan cahaya, belum cukup terangkah ?"

"Bunga didalam kabut takkan terlihat tegas,"

Kata pemuda itu. Tambahan pula aku sedikit mabuk, kuatir kalau kalau salah mengenali orang."

"Dengan wajah asli, kuatir tertutup awan ! Juga tak pernah aku mendengar orang menikmati rembulan sambil memasang lampu !"

Pemuda itu tertegun rak bisa mendebat lagi. Siau Yan Ang dengan lengannya yang halus menunjuk kelankan.

"Pang lau pan ini boleh dibebaskan dari kesalahannya ?"

Pemuda itu memasukkan pedangnya kedalam serangka.

"Pergilah !"

Katanya dengan terpaksa. Pang Tiong seperti juga terlepas dari bahaya maut menghaturkan terima kasih pada Siau Yan Ang dengan berlebih-lebihan.

"Sudahlah !"

Kata Siau Yan Ang.

"Kuminta disediakan perahu berhias..."

"Kounio jangan pergi dulu,"

Salak Pang Tiong.

"Siapa bilang aku mau pergi ?"

Kata Siau Yan Ang.

"Aku mau mengajak Kongcu ini pesiar dan jangan diam saja seorang diri dimalam romantis ini !"

Pang Tiong baru mengerti maksud Siau Yan Ang, ia menganggukkan kepala dan memerintahkan bawahannya untuk menyiapkan perahu.

Dalam sekejap apa yang diinginkan si nona sudah tersedia.

Dengan tersenyum perempuan itu memandang sipemuda.

"Kongcu, mari !"

Sungguh mengherankan, anak muda bertabiat aneh itu, begitu jinak dan penurut sekali, tanpa berkata ia turut keluar.

Sebelum berlalu ia melemparkan uang emas keatas meja.

Dengan langkah gemulai Siau Yan Ang turun dari loteng diikuti pemuda itu.

Sekalian Hoo kee dan pelayan maupun Pang Tiong sendiri merasa lega dengan kepergian pemud yang galak itu.

Diatas perahu terdapat beberapa perempuan muda berbaju kuning, mereka menyambut kedatangan Siau Yan Ang dan pemuda itu.

Sebentar kemudian perahu sudah terkayuh ketengah telaga, persiapan diperahu begitu lengkap, makanan maupun minuman sudah tersedia, pemuda itu diam terus tanpa membuka mulut, sedangkan Siau Yan Ang duduk menyandar disebuah kursi yang bersulam sambil tersenyum-senyum pada pemua itu.

Perahu dikemudikan ketempat agak gelap dan meninggalkan keramaian ditelaga.

Setelah ini Siau Yan Ang menggerakkan tangan sambil berseru .

"Tak usah dikayuh lagi, kemarilah kukenalkan kalian pada Siau pangcu !"

Pemuda itu terkesiap.

"Kau...kau benar Soat Kouw Kouw..."

Dengan tersenyum dingin Soat Kouw berkata .

"Maukah memakai lampu lagi agar dapat melihat bunga dengan tegas ?"

Pemuda itu berkeringat dingin.

"Aku tidak bersalah kenapa Kouw kouw mempersulit diriku ?"

"Hm engkau bernyali besar dan tak memandang sedikit kepadaku,"

Kata Soat Kouw.

"Kau kira aku benar-benar menjadi perempuan berengsek ? "Apa yang kulakukan ini keseluruhannya demi Pok Thian Pang, Dengan susah payah aku kesana kemari mencarimu, tak kira bisa bertemu disini ! Sekarang jelas, dimana dia ?"

"Siapa ?"

"Jangan pura-pura bodoh, tentu Wan jie yang kutanya !"

"Aku tak tahu !"

"Apa ? Tidak tahu ? Kata Soat kouw dengan dingin.

"Kamu adalah saudara seperguruan yang setimpal, kenapa melarikan diri tatkala mau dinikahkan ? Dengan begini engkau sebagai anak yang tidak berbakti pada orang tua, demikian pula dengan Wan jie, tahukah perbuatan kamu ini akan mendatangkan akibat apa ?"

"Tapi Kouw kouw harus mengerti, antara Wan jie dan aku dibesarkan bersama-sama, perasaanku padanya tak ubahnya sebagai saudara, sedikitpun tidak mempunyai perasaan cinta ! Sudah tentu saja perjodohan ini kami tentang....."

"Ya sekarang kemana perginya Wan jie ? Apakah ia mencari In Tiong Giok ?"

Tanya Soat kouw.

"Apa salahnya ia mencari In Tiong Giok ? tanya Pek Kiam Hong.

"Engkau membela In Tiong Giok ?"

"Bukan begitu,"

Kata Pek Kiam Hong.

"sejujurnya harus kukatakan bahwa In Tiong Giok adalah seorang muda yang baik. Soal dia tidak mau masuk menjadi anggota kita, tidak bisa dipaksa ! Tambahan ia meninggalkan Pok Thian Pang karena dibawa lari oleh orang lain, dia sendiri mana boleh disalahkan ? Seorang muda semacam dia kurasa cocok untuk Wan jie...."

Soat kouw menjadi terkekeh-kekeh mendengar perkataan itu.

"Kouw-kouw menganggap lucu dan tertawa, tapi kata-kata ini keluar dari hato yang sejujurnya,"

Kata Pek Kiam Hong.

"Ai ! Didunia yang dapat mengerti perasaan hatiku mungkin hanya In Tiong Giok seorang, sayang pertemuanku dengannya hanya sebentar...."

Mendengar ini Soat kouw menjadi kaget, gusar bingung menjadi satu.

Pek Kiam Hong seorang muda yang polos, tidak mengetahui apa yang sedang dirasakan Kouw kouwnya, ia bicara terus seenaknya; setahun lebih aku meninggalkan rumah, kini bisa bertemu dengan Kouw kouw, tak ada alas an apa-apa lagi yang akan kutemukan, hanya kumohon saja, kesalahan yang kuperbuat ini jangan merembet-rembet pada Wan jie."

Tiba-tiba saja Soat kouw tersenyum.

"Engkau sebagai laki-laki yang gagah dan berani bertanggung jawab. Duduklah, aku masih perlu bertanya padamu."

Tidakkah engkau terkenang pada ibumu ?"

Pek Kiam Hong menundukkan kepala, matanya menjadi merah.

"Budi orang tua bagaimanapun tak bisa kulupakan, sudah tentu kurindu kepadanya."

"Jika begitu engkau harus percaya pada Kouw kouw bukan ?"

"Aku tak mengerti apa yang Kouw kouw maksud...."

"Ingin kuberi tahhu suatu soal padamu, apakah engkau percaya ?"

"Aku percaya !"

"Apakah kepercayaanmu ini berdasarkan aku sebagai bibimu atau secara tulus ikhlas ?"

"Aku percaya bahwa Kouw kouw tidak akan mempersulit diriku !"

"Jika percaya baiklah kukatakan, aku tak berniat membawamu kembali kemarkas pusat !"

"Ah, Kouw kouw...."

Pek Kiam Hong kegirangan sampai tak bisa melanjutkan kata-katanya.

"Jangan terlalu girang, kata-kataku belum selesai,"

Kata Soat kouw.

Aku hanya mengatakan sekarang membawamu kesana, tapi tidak mengijinkan juga kau berkeliaran terus diluar untuk selama-lamanya.

Engkau sebagai Siau Pangcu bagaimana tak boleh berkhianat pada perserikatan sendiri...."

"Kehidupan sebagai Siau Pangcu, sudah tentu tak berani berkhianat, apa yang kulakukan semata-mata untuk menghilangkan kekesalan yang telah mengeram padaku selama tujuh belas tahun. Pikir saja disana aku tak mempunyai suatu pekerjaan, setiap hari terpekur dan termenung tak ubahnya seperti bangkai hidup bukan ?"

"Engkau ingin mencari pengalaman didunia Kang Ouw tidak kularang, tapi kaupun harus meluluskan dua permintaanku !"

"Silahkan Kouw kouw katakana !"

"Kesatu engkau harus mencari Wan jie, dan nasehatkan padanya tidak boleh mengkhianati perserikatan kita, andaikata ia tak mau kembali kepusat, ia harus melapor terus kemana ia pergi !"

"Tapi yang diperbuat Wan jie adalah soal seumur hidupnya...."

"Mengenai hal yang menyangkut perkawinanmu tak perlu dipikirkan, kamipun bisa membicarakan pada Lo Cucong, dan mungkin iapun tak akan memaksa dengan kekerasan, jika kalian tidak setuju satu sama lain,"

Kata Soat kouw.

"Yang kedua kuharapkan kau bisa menyerapi dimana In Tiong Giok berada, bagaimanapun ia harus ditangkap...."

"Tidak !"

Pek Kiam Hong memprotes dengan spontan.

"Kenapa ?"

"Dalam hal ini bukan saja aku, Wan jiepun pasti tidak mau berbuat semacam itu tadi sudah kukatakan bahwa In Tiong Giok adalah kawanku yang baik, dan merupakan pula gantungan hidup Wan jie dikemudian hari."

"Tapi kau jangan lupa, iapun sebagai pencuri buku ! Perbuatannya itu menyebabkan Keng thian cit su tersebar luas dikalangan Bulim, karena itulah sampai peresmian Pok Thian Pang tertunda setahun lebih. Lo Cucong merasa sakit hati dan memerintahkan semua anggota untuk menangkap dia guna diadili..."

"Orang-orang pandai diperserikatan kita bukan sedikit, kenapa Kouw kouw membebankan hal ini kepadaku ?"

"Jadi engkau ingin tahu sebab-sebabnya, kujelaskan kepadamu !"

"Benar !"

"Hm, karena In Tiong Giok adalah musuhmu !"

Kata Soat kouw.

"Ayahmu meninggal karena dia !"

"Benarkah ?"

Tanya Pek Kiam Hong dengan mata mendelik.

"Aku tak mau membohong !"

Kata Soat kouw dengan tegas.

"Engkau tertipu ! Sedikitpun engkau tak tahu bahwa dia adalah murid Han Bun Siang yang berkepandaian tinggi ! Kepandaiannya itu lebih darimu ! Dengan alassan sebagai penterjemah ia datang ke markas pusat, semata-mata untuk mencuri buku ! Setelah Cian bin sin kay terbuka kedoknya, segera ia kabur !"

"Hal ini sedikitpun tidak ada sangkut pautnya dengan kematian ayahku !"

"Sudah tentu kami mempunyai bukti yang tidak dapat dibantah, dipunggungnya In Tiong Giok tertera tanda luka !"

"Bagaimana Kouw kouw tahu ?"

"Sebelum terjadi peristiwa Cian bin sin kay terbuka kedoknya, Lie Kee Cie telah menaruh kecurigaan besar pada mereka. Lalu ia memohon agar Lo Cucong mengirim surat ke Ngo Liu Cung agar Tan Toa Tiau menyelidiki hal ihwal In Tiong Giok pada keluarganya. Ia berhasil menyelidiki bahwa In Tiong Giok mempunyai tanda luka dipundak kirinya !"

"Waktu ia belum meninggalkan Pok Thian Pang, kenapa tak ditangkap ?"

"Kegagalan ini akibat perbuatan Wan jie !"

Kata Soat Kouw.

"Waktu penyelidikan selesai, Tan Toa Tiau memberikan laporan melalui merpati pos, apa celaka surat itu Wan jie yang terima, untuk kepentingan asmaranya inilah, surat itu dipendam dan tidak dilaporkan !"

Pek Kiam Hong menarik napas panjang, apa yang dikatakan Soat Kouw itu soal sakit hatinya.

Dan orang menjadi musuhnya, boleh kenapa In Tiong Giok adanya.

Seorang kawan yang disayanginya.

Dibawah sinar rembulan, wajahnya terlihat semakin pucat, dan ia diam tak mengeluarkan kata-kata lagi.

Soat kouw melirik sambil tersenyum, dan menuangkan arak secawan.

"Minumlah dulu apa kesal-kesal !"

Sekali teguk arak itu mengalir kerongkongan Pek Kiam Hong, cawan yang kosong itu dibanting sampai masuk kedalam meja.

"Kau masih terlalu muda, tidak bisa membedakan antara orang jahat dan orang baik. Hanya dengan kata-katanya yang manis engkau sudah terpengaruh dan menganggap musuh sebagai sahabat karib ! Dengan tanpa pengalaman engkau mengembara di dunia Kang Ouw sebenarnya membuatku tak tenteram. Maka itu sepak terjangmu dikemudian hari harus lebih hati-hati dan jangan sampai tertipu lagi orang-orang jahat !"

Pek Kiam Hong menganggukkan kepala dan berkata .

"Aku akan mencari dia biar sampai keujung langitpun, ingin kulihat dengan mata kepala sendiri tanda luka dipunggung kirinya dan ingin kutanyakan asal usulnya dengan mulut sendiri !"

Soat kouw tersenyum mendengar perkataan ini, lalu menyuruh pengikutnya mengayuh perahu menuju pantai.

"Agar tak ketahuan jejak kita dari orang luar, kuantarkan engkau sampai disini. Dan ingatlah akan pesanku !"

Pek Kiam Hong menarik napas, lalu memberi hormat, tubuhnya mencelat dengan gesit ketepi pantai.

Waktu ia menoleh ketelaga, perahu sudah pergi jauh.

Dengan langkah berat ia menuju kekota, baru beberapa langkah ia berjalan, dengan tiba-tiba dari tempat agak gelap berkelebat sesosok tubuh ramping yang langsung menegurnya.

"Hei, engkau she Pek atau bukan ?"

"Engkau siapa ?"

"Aku yang bertanya lebih dulu, engkau she Pek atau bukan ?"

Kini ia melihat tegas lagi, bahwa orang itu adalah gadis muda yang menggobet kepalanya dengan kain hijau.Dipunggungnya terdapat pedang panjang.

Wajahnya separuh tertutup kain gubetan tidak terlihat tegas.

Pek Kiam Hong mengerutkan alisnya, seolah-olah dia merasa kenal dengan gadis itu, seketika tidak terpikir olehnya dimana pernah bertemu dengannya.

"aku she Pek atau bukan ada urusan apa denganmu ?"

"Hei, apa kau menjadi besar karena makan batu ?"

Ditanya baik kenapa marah-marah ?"

Pek Kiam Hong seorang muda bertabiat aneh ditambah hatinya sedang kesal, mendengar perkataan sigadis, hatinya menjadi meluap, segera ia membentak.

"Hei , budak apakah mau mampus ?"

Gadis itu sedikitpun tidak menjadi gentar dan membalasnya dengan kata-kata kasar pula .

"Binatang ! Anjing kau, sembarangan memaki orang !"

Pek Kiam Hong tak bisa mengendalikan lagi emosinya, segera maju kedepan dengan pedang terhunus.

"Trang !"

Terdengar sekali, gadis itu menghunus pula senjata dan maju menyongsong lawan. Begitu mereka mendekat dan pandangan mata saling bentrok, mereka saling mengeluh dengan menarik napas.

"Ih, kiranya Tiat Kounio !"

"Ah, engkau benar Siau Pangcu adanya !"

Kata gadis itu yang bukan lain dari Tiat Siau Bwee adanya.

"Tak kusangka tampang alim sepertimu bisa mencari hiburan dengan perempuan jalang !"

"Kounio jangan salah paham, perempuan itu adalah kouw kouwku !"

"Hm, aku tak percaya, masakan kouw kouwmu itu berdandan semacam itu dan gerak geriknya begitu misterius ?"

Pek Kiam Hong tahu, diterangkan bagaimanapun tak bisa membuat gadis itu mengerti, maka itu dengan cepat ia mengalihkan pembicaraan ketempat lain.

"Engkau sendiri kenapa bisa berada ditelaga See Ouw ini ?"

Perkataan ini membuat Siau Bwee terpekur, matanya berkaca-kaca, mendadak lalu menjawab dengan sedih.

"Aku tak diakui anak lagi oleh ibuku !"

"Kenapa bisa begini ?"

Tanya Pek Kiam Hong dengan kaget.

"Jika dikatakan soalnya panjang,"

Kata Siau Bwee sambil memonyongkan mulut.

"sebaiknya kutanya dulu padamu, bisakah menolongku ?"

"Asal yang kubisa pasti kutolong !"

"Begini,"

Siau Bwee tertegun sejenak, wajahnya mendadak menjadi merah seperti kepiting direbus.

"engkau mengantongkan uang tidak ?"

"Apa maksudmu bertanya soal uang ?"

"Aku.....aku mau pinjam !"

"Untuk apa uang itu ?"

Siau Bwee menjadi mendelik dan bersungut-sungut.

"Hm ! Apakah kau tak tahu gunanya uang ? Terang-terangan saja, kasih pinjam atau tidak ?"

Tidak banyak bicara lagi Pek Kiam Hong merogoh saku dan menyerahkan seraupan uang emas.

"Cukup sebegini ?"

Siau Bwee tersenyum "Waduh banyak betul cukup, cukup! Uang ini tak bisa cepat-cepat kubayar !"

"Ah, segala uang sebegini, pakailah jangan dihitung utang !"

Siau Bwee mengantongi uang itu.

"Atas ini aku menghaturkan banyak terima kasih kepadamu. Sebenarnya akupun membawa uang dari rumah, tapi sudah habis kuhamburkan disepanjang jalan, untung hari ini aku bertemu denganmu, kalau tidak aku bisa jatuh susah !"

"Kenapa engkau meninggalkan rumah dan hidup sampai sesusah ini....."

Tanya Pek Kiam Hong.

"Tak usah membicarakan soal itu,"

Potong Siau Bwee, kau tahu dalam kebokekanku ini sudah sehari tidak makan nasi, yang perlu harus mencari makanan dulu, mari !"

"Kenapa tidak sedari tadi engkau katakana ?"

"Sudah jangan ngomong melulu, kepalaku terasa pening !"

Kata Siau Bwee yang terus berjalan lebih dulu.

Pek Kiam Hong menggelengkan kepala, dan terus mengikuti dari belakang.

Mereka memilih sebuah restoran yang terbaik didalam kota dan terus makan dengan lahapnya.

Dalam waktu sejenak, Siau Bwee telah memberesi seekor ayam rebus, dua bakpau dan semangkok ikan kuah, tampaknya benar-benar dalam kelaparan.

"Masih mau tambahkah ?"

Tanya Pek Kiam Hong.

"Engkau jangan mengeledek, nanti ada saatnya engkau merasakan tak makan seharian, saat itulah baru tahu bagaimana rasanya lapar itu !"

"Ya dalam keadaan lapar, makanlah biar banyak, agar tak lapar lapar lagi !"

Siau Bwee mendelik dengan heran.

"Kau kira aku tak sanggup makan lagi, berapa piring lagipun masih sanggup, hanya saja kutak mau !"

"Kenapa tak mau ?"

"Ah, benar-benar....terlalu banyak makan bisa gemuk, anak gadis gemuk-gemuk tidak bagus mengerti !"

Pek Kiam Hong menjadi melongo.

Dan biasanya ia bertabiat aneh, karena terlalu lama hidup menyendiri tanpa suatu pergaulan, menghadapi gadis semacam Siau Bwee yang bersifat polos dan berlaku blak-blakan, entah bagaimana jadi banyak bicara dan kekesalan hatinya seperti hilang dan berubah menjadi manusia baru yang lain dari dulu-dulu.

"Sekarang kau sudah kenyang, boleh bercerita apa sebabnya meninggalkan rumah bukan ?"

"Semuanya ini gara-garamu juga sih !"

"Apa ? Aku ?"

Pek Kiam Hong terkejut.

"Ya !"

Jawab Siau Bwee.

"Dapatkah kau terangkan dimana tempatnya Pok Thian Pang ?"

"Untuk apa kau tanyakan ini ?"

"Kau tahu sudah tiga bulan kucari tidak ketemu juga !"

"Oh, kiranya kau meninggalkan rumah untuk ke Pok Thian Pang !"

"Ya ! Sebab ingin ke Pok Thian Pang, aku ribut dengan ibu, sehingga hidup terlunta-lunta sampai begini !"

"Untuk apa kau pergi ke Pok Thian Pang ?"

"Idih ! Masih tanya-tanya lagi ! Justru gara-garamu mau kawin dengan Wan jie aku diundang ibumu datang kesana untuk menyaksikan perayaan itu, lupa dah yah ?"

"Oh, begitu ! Untung tak sampai kesana, bila mana tidak kepergianmu tetap sia-sia saja !"

"Eh, memang kenapa ?"

"Sejujurnya pernikahan ini bukan kemauanku maupun Wan jie, semua ini kerjaan Lo Cucong maka sebelum upacara dimulai, kami minggat berdua meninggalkan Pok Thian Pang dan sampai sekarang belum pulang-pulang !"

"Kalau begitu engkaupun kabur dari rumah seperti aku juga ?"

"Benar !"

"Selamanyakah akan hidup diluaran ?"

"Mungkin selamanya, kalau bisa !"

"Apakah jabatan Siau Pangcu tak kau pegang lagi ?"

"Sedikitpun jabatan Siau Pangcu itu tidak menarik hatiku..."

"Habis dah !"

Seru Siau Bwee.

"apa yang kuharapkan musnah semua, aku harus bagaimana ?"

"Kita bisa berdamai untuk menghadapi sesuatu persoalan, kenapa kau katakana habis ?"

"Engkau kabur dari rumah dan tak pulang lagi, aku tak bisa pergi turut denganmu ke Pok Thian Pang ! Pulang kerumahpun tak bisa, nah harus kemana ?"

"Asal kau mau aku bisa membantumu pergi ke Pok Thian Pang, asal saja terangkan sebabnya kenapa kau bernafsu mau kesana !"

"Benar-benar nih ?"

"Kenapa tidak !"

Kata Pek Kiam Hong.

"kau tahu orang yang seperahu denganku tadi adalah bibiku, jika kau mau ke Pok Thian Pang juga, bisa minta bantuannya ! Tapi harus kujelaskan bahwa tak sembarang orang luar boleh kesana, jika tak terlalu penting sebaiknya, urungkanlah kehendakmu itu !"

"Kini engkau telah melepaskan jabatan Siau Pangcu dan tidak kuanggap sebagai orang Pok Thian Pang lagi,"

Kata Siau Bwee.

"apa yang terkandung dalam hatiku bisa kuterangkan padamu, tapi ingat tak boleh diceritakan lagi kepada orang kedua !"

"Ya, aku berjanji !"

Siau Bwee tiba-tiba saja mendekati Pek Kiam Hong dan berbisik ditelinga anak muda itu.

"Keinginanku kesana untuk menyelidiki seorang tua yang berada didalam penjara tanah, menurut kabar orang tua itu adalah ayahku !"

"Sssssssttt !"

Siau Bwee memoyongkan mulutnya, memberi isyarat jangan berkata keras-keras.

"Kenapa berkata berbisik ? Takut didengar orang lain ? Ketahuilah hal ini sangat rumit, biarpun orang tua itu bukan ayahku, pasti punya hubungan erat dengan rahasia keluargaku. Untuk inilah aku berhasrat pergi kesana !"

Pek Kiam Hong menganggukkan kepala, tapi secara itu juga menggelengkan kepala, keningnya berkerut, agaknya sedang berpikir keras untuk memecahkan soal yang sulit ini.

"Hm,"

Dengus Siau Bwee.

"apa yang kau pikirkan ? Mungkinkah engkau keberatan jika sampai rahasia Pok Thian Pang kuketahui ? Atau kau sudah tahu orang tua itu siapa ? Tapi segan memberi tahu kepadaku ?"

"Biarpun aku dibesarkan disana, tapi jarang berkeluyuran, karena itu masih banyak tempat yang berada di Pok Thian Pang tidak kuketahui ! Demikian pula dengan penjara yang dimaksud sedikitpun tidak kuketahui dimana letaknya !"

"Kini kuharapkan engkau bisa membantuku bukan ?"

"Sampai disana dengan lancar dan bisa menyelidiki orang tua itu !"

"Aku heran, kenapa bisa tahu disana ada penjara dan orang tua yang ditahan....?"

"Ah, sudah tentu ada yang memberi tahu kepadaku !"

"Aku percaya orang itu tidak membohong !"

"Siapa sebenarnya dia itu ?"

"In Tiong Giok !"

"Oh dia,"

Kata Pek Kiam Hong dengan kaget.

"kapan kau bertemu dengannya ? Kini dimana dia berada ? Lekas katakana !"

Diluar kesadarannya sambil bicara Kiam Hong memegangi pundak Siau Bwee. Siau Bwee menjadi merah.

"Ngomong-ngomong lepaskan dulu tanganmu, berlaku begini tak baik dipandang umum !"

"Oh....maaf...aku berlaku kurang ajar diluar kesadaranku, karena In Tiong Giok sedang kucari-cari, begitu kau sebutkan namanya membuatku terlalu gembira ! Dimana dia, lekaslah beri tahu padaku !"

"Untuk apa mencarinya ?"

"Banyak soalnya ! Aku dan Wan jie meninggalkan Pok Thian Pang gara-gara dia.... Terangkanlah dimana dia berada !"

"Dimana dia ? Mana kutahu !"

Kata-kata itu diucapkan setahun yang lalu,"

Kata Siau Bwee sambil menuturkan soal In Tiong Giok datang kerumahnya dengan panjang lebar.

Pek Kiam Hong jadi melongo.

Kiranya sewaktu aku datang kerumahmu ia sudah ada didalam ?

Ah, hanya terhalang tembok saja, tak bisa bertemu !

Dasar nasib !"

"hampir kulupa menanyakan soal Wan jie, katamu sama-sama denganmu meninggalkan Pok Thian Pang, kini kemana dia ? Kenapa tidak bersamamu ?"

"Waktu kami tiba ditelaga Tong Teng, bertemu dengan Tong Teng Cit Kiam, dan berkelahi dengan mereka ! Tahu-tahu kami jadi berpisah dan sudah lama tak bertemu ! Yang kutahu iapun sedang mencari In Tiong Giok !"

"Tidakkah ia diciduk musuh dan dianiaya ?"

"Dia memiliki kepandaian tinggi, pasti dapat menyelamatkan diri."

Kata Pek Kiam Hong.

"Jika ia tidak kenapa-napa, pasti ia meneruskan usahanya untuk mencari In Tiong Giok,"

Kata Tiat Siau Bwee.

"Untuk mencarinya pertama-tama kita harus ke telaga Tong Teng, jika tidak ada disana kita langsung kerumah In Tiong Giok !"

"Tahukah engkau dimana alamatnya In Tiong Giok ?"

"Tidak tahu !"

"Habis bagaimana ?"

Tanya Pek Kiam Hong.

"Kita tidak tahu alamatnya, tapi orang-orang Pok Thian Pang pasti tahu,"

Kata Tiat Siau Bwee.

"Bukankah mula pertama ia datang kemarkas pusat atas undangan orang-orang Pok Thian Pang ?"

"Ya, benar,"

Kata Pek Kiam Hong, orang-orang Ngo Liu Cung pasti tahu, sebab merekalah yang mendapatkan Tiong Giok sebagai penterjemah. Mari kita kesana saja,"

Sambil berkata ia menarik lengan Siau Bwee.

"Hmm, apa-apaan megang-megang lagi, penyakitmu kumat lagi barangkali !"

Pek Kiam Hong cepat-cepat melepaskan tangannya, dan tergelak-gelak tanpa terasa.

"Kupikir sebaiknya ke telaga Tong Teng saja dulu !"

"Begitupun baik !"

Kata Pek Kiam Hong.

"Tapi, menghendaki perjalanan ini dilakukan didarat, karena aku tak berapa senang naik perahu,"

Kata Tiat Siau Bwee.

Pek Kiam Hong setuju saja saran si gadis, maka dibelinya dua ekor kuda yang bagus dengan harga mahal.

Lalu melakukan perjalanan, mereka tak henti-hentinya mengobrol kebarat ketimur dengan gembira, seolah-olah dunia ini milik mereka berdua saja.

Kuda mereka sangat bagus, ditambah yang menunggangi cantik dan ganteng, menarik perhatian orang sepanjang jalan, dan memuji mereka sebagai pasangan yang setimpal.

Mula pertama mereka tiba disebuah kota yang bernama King tek sia.

Kota ini sangat ternama karena menghasilkan barang pecah belah yang tiada duanya didaratan Tiongkok.

Sepanjang jalan penuh pedagang barang pecah belah yang indah-indah.

Melihat ini siau Bwee berpaling pada Kiam Hong dan menunjuk barang-barang itu.

"Hei, lihat anak-anakan dari poslin itu bagus bukan ? Hei, katakanlah barang apa yang pantas kubeli !"

"Yang manapun boleh kau beli, tapi ingat tangan mengendurkan les kudamu. Jika ia terlepas, barang orang bisa berantakan !"

Baru saja Kiam Hong berkata, entah kenapa tunggangan Siau Bwee benar-benar menyeruduk kedepan dan membuat dagangan orang berantakan dan banyak yang pecah.

Siau Bwee melompat dari kuda, matanya mendelik kearah Kiam Hong.

"Gara-garamu mengacau tak keruan, kudaku benar terlepas, lihatlah dagangan orang hancur berantakan begini macam, habis bagaimana ?"

"Pakai tanya lagi, keluarkan uang, ganti kerugian pedagang ini, beres !"

"Mau ganti engkau yang harus keluar uang, kesialan ini datang dari mulutmu, aku tak tanggung jawab...."

Kata Siau Bwee sambil menuntun kudanya hendak berlalu.

Pedagang perabotan itu adalah seorang kasar, dari tadi ia diam saja, tapi begitu melihat Siau Bwee mauu berlalu, cepat-cepat ia menjambak bulu kuduk kuda Siau Bwee.

"Bagaimana, sudah merusak barang orang tak mau ganti ?"

"Ya, engkau mau apa ? Siapa suruh daganganmu dipajang dipinggir jalan, coba didalam rumah pasti tak keterjang kudaku ! Siapa yang salah, kau atau aku ?"

"Hm engkau budak tak tahu aturan...pokoknya lekas ganti, jika tidak....."

Kata laki-laki itu.

"Hm, engkau berani memaki aku,"

Teriak Siau Bwee yang terus mengayunkan cambuk pada laki-laki itu.

"Ah, benar dunia mau kiamat, dimana letak keadilan dan hukum ?"

Kata laki-laki itu dengan gusar, sedangkan cambuk berulang-ulang menghajar dirinya dan bajunya menjadi sobek-sobek, tapi badannya tidak terluka barang sedikit.

Ia mendekat terus pada Siau Bwee sambil menjulurkan tangannya kedada lawannya dengan gemas sekali.

Kelakuan laki-laki itu membuat Siau Bwee jengah sendiri, cepat-cepat ia mengengos kebelakang dan terus melancarkan pukulan keras "beng"

Terdengar satu kali, lengan Siau Bwee tepat bersarang ditubuh musuhnya.

Heran sekali, laki-laki itu hanya mundur beberapa langkah, sedikitpun tidak terluka, ia menggelengkan kepala dan maju lagi dengan menbentangkan kedua tangannya, tak ubahnya seperti singa lapar menerkam mangsanya.

Menyaksikan kejadian ini Pek Kiam Hong menjadi kaget, ia mencelat turun dari kudanya menghadang laki-laki itu sambil berseru keras.

"Stop ! Stop !"

"Engkau mau apa ? Dua lawan satupun aku Tiat Lohan (laki-laki besi) tidak akan mundur barang setapakpun !"

Seiring dengan perkataannya ia melakukan serangan sambil memasang kuda-kuda.

Ilmu pukulannya beda dari permainan silat biasa.

Mula pertama pukulannya meluncur, empat jarinya tertekuk kedalam hanya jari tengahnya tidak ditekuk, begitu hampir mengenai sasarannya, jari-jarinya merentang dengan mendadadk, dan timbullah satu pukulan telapak tangan yang luar biasa kerasnya.

Melihat kepandaian silatnya orang itu sudah cukup tinggi, dan begitu aneh Pek Kiam Hong tidak berani memandang enteng.

Ia berseru "hait"

Kedua tangannya melancarkan tangkisan.

Dua pukulan beradu ditengah jalan menimbulkan suara nyaring.

Laki-laki itu menggunakan sebelah tangan, hanya tergetar pundaknya, sedangkan Pek Kiam Hong sendiri hampir terjengkang kebelakang.

Melihat ini Siau Bwee menjadi kaget senjatanya dengan cepat telah terhunus.

"Siau Bwee jangan turun tangan, aku masih sanggup menghadapinya,"

Seru Pek Kiam Hong.

Saat ini laki-laki itu telah melancarkan serangannya yang sangat luar biasa, ia tak beranni menangkis dengan keras, tubuhnya diengoskan dan menempatkan dirinya disebelah samping.

Lalu membarengi dengan satu pukulan keras.

Laki-laki itu nampaknya hanya bisa menyeruduk kedepan dan tidak bisa berkelit, tak ampun lagi tergebuk telak.

Tubuhnya terhuyung beberapa langkah, dan ambruk menimpa barang dagangan orang-orang dipinggir jalan.

Suara orang dan preng prong terdengar nyaring, kaena segala barang pecah belah itu benar-benar ,menjadi pecah belah tertimpa tubuh laki-laki yang besar itu.

Dengan cepat laki-laki itu dengan wajah meeringis ketolol-tololan bangun lagi, ia mengebas-ngebas bajunya, sedikitpun tidak terlihat luka terkena pukulan atau tusukan benda-benda yang pecah.

Dengan gagah ia maju lagi menghadapi lawannya.

Nampak bandel sekali !

Pek Kiam Hong mengandalkan kegesitan tubuhnya berulang-ulang membuat laki-laki itu jungkir balik !

Sebegitu jauh laki-laki itu tetap tak luka barang sedetik, dan benar-benar menjadi Tiat Lo han (laki-laki besi).

Akibat perkelahian ini mendatangkan kesialan pada pedagang disitu, setiap kali laki-laki itu jatuh pasti membawa korban dagangan orang-orang disitu.

Pedagang-pedagang perabotan pecah belah lari berserabutan keempat penjuru, ada juga yang berbenah menyelamatkan barang dagangannya, ada juga yang berkerubung menonton perkelahian ini...

Didalam suasana kalut-kalutnya ini, tampak penonton yang meriung itu seperti terkena suatu tenaga gaib, pad minggir kesamping, dan terbukalah suatu jalan kecil, dari sini muncul siorang tua berbaju hitam.

Ia memegang tongkat panjang yang aneh, sinar matanya sangat tajam dan biru, setiap ia melangkah orang-orang yang berada didepannya minggir sendiri terkena tenaga dorongannya.

"Stop !"

Teriakan orang tua bermata biru dengan tiba-tiba. Begitu nyaring dan membisingkan pendengaran. Siau Bwee segera menghadang dengan pedangnya, sedangkan Pek Kiam Hong dan laki-laki itu segera berhenti.

"Hei, orang tua apa yang kau kehendaki ?"

Tanya laki-laki itu dengan kasar sambil mendelik. Orang tua bermata biru tidak menjawab, sinar matanya memandang pada Pek Kiam Hong agak lama, lalu tersenyum.

"Sebenarnya apa yang kalian ributkan sampai berkelahi macam ini ?"

"Gara-gara laki-laki tolol ini, mulutnya tidak dikeramasi dan seenaknya memaki orang."

Kata Siau Bwee.

"Dia dulu yang memecahkan barang daganganku,"

Sela laki-laki itu dengan kasar.

"Sudah salah tidak mau mengganti, malahan memukuli diriku..."

"Ha ha ha soal kecil ini saja sampai berkelahi,"

Kata orang tua itu.

"Orang muda berdarah panas, tapi harus dipikir, perkelahian ini untung apa rugi ? Lebih sedikit kurang sedikit bisa berdamai tak perlu tonjok-tonkokan bukan ?"

"Perkelahian ini sangat berharga !"

Bantah laki-laki itu.

"karena harga dari barang-barngku tak kurang dari sepuluh tail perak, mengerti ? Kehidupanku dan ibuku mengandalkan daganganku ini, kini dihancurkan..."

"Sudahlah...uang sebegitu bisa kuganti,"

Kata orang tua itu. Laki-laki itu menjadi kaget, tapi cepat-cepat menggelengkan kepala.

"Barangku bukan engkau yang memecahkan, aku tak mau menerima gantinya darimu, aku mau dia yang keluar duit, baru puas !"

"Uang dia maupun uangku terbuat dari perak, sama bukan ? Nah terimalah !"

Laki-laki itu terdiam sejenak, lalu menjulurkan tangannya...."

Sabar, uang ini tetap milikmu, tapi ingin kutanya dulu, siapa namamu dan siapa gurumu ?"

Kata orang tua itu.

"Namaku Oey Toa Gu,"

Jawab laki-laki itu.

"seumur hidup tak punya guru."

"Tapi ilmu Kin cong co (kebal) yang kau miliki itu darimana kau dapat ?"

"Oh ini yang hendak kau tahu ? Waktu kukecil sering dipukul ibu, aku tak pernah mengengos atau lari tetap memasang badan ! Aku tak menangis membuat ibuku bertambah sengit, akibtnya sekujur tubuhku menjadi babak belur ! Sungguhpun begitu aku masih tetap tak berkisar dan terus menerima pukulan itu ! Waktu inilah kebetulan datang seorang Hweesio, ia merasa kasihan padaku dan memberikan ilmu pelajaran tahan digebuk beberapa tahun lamanya. Membuat tubuhku jadi kuat seperti besi ! Ha ha ha lihat buktinya, barusan dipukul dia tetap tak luka, asal lamaan sedikit ia pasti kena kugebuk, dan pasti babak belur ! Untung engkau datang..."

"Aku tak menanyakan soal ini, yang ingin kutahu siapa namanya Hweesio itu ?"

Tanya si orang tua.

"Oh Hweesio itu setelah mengajari ilmu tahan dipukul, ia menawari pula ilmu untuk menggebuk. Tentu saja aku menjadi girang dan menerima baik tawarannya itu, baru pula aku menerima pelajarannya beberapa hari, sudah dipraktekkan akibatnya orang-orang sekampung kubikin babak belur semuanya aku jadi jagoan dengan mendadak. Melihat keadaanku yang suka berkelahi ini, Hweesio itu tidak mau memberikan pelajaran lebih banyak lagi, dan iapun terus menghilang entah kemana, sampai sekarang belum pernah kulihat lagi....."

Ia bicara penuh semangat, sampai air liurnya turut muncrat dan berterbangan keempat peenjuru, antaranya memeercik kepada orang tua itu.

Agaknya orang tua itu tidak berasa terkena ludah karena otaknya sedang berpikir keras mengingat-ngat Hweesio itu.

Akhirnya ia bicara sendiri dengan perlahan.

"Pantasan ilmu pukulannya mirip dengan "kui hut kun" (pukulan patung besi) sikepala botak itu...."

Sungguhpun suaranya diucapkannya.

"Apakah engkau masih mau mempelajari ilmu memukul orang ?"

Tanya orang tua itu.

"Ingin sih ingin, tapi dengan keadaanku sekarang, kukuatir bisa memukul mati orang,"

Kata Oey Toa gu.

"Ilmu itu boleh kau pelajari dulu,"

Kata si orang tua.

"soal memukul orang tergantung kepadamu, pokoknya ilmu itu tidak merugikanmu."

"Ya aku mau,"

Kata Oey Toa Gu sambil menganggukkan kepala. Orang tua bermata biru itu menyerahkan uang pada Toa Gu.

"Uang ini kau berikan pada ibumu, dan nantikan aku dirumah, aku bisa mencarimu."

Toa Gu setengah percaya setengah tidak, tapi ia tidak mau memperdulikan lagi keadaan itu. Cepat ia mengantongi uang dan terus berlalu.

"Lo tioang (membahasakan orang tua dengan hormat) kita baru bertemu, kenapa harus membuang uang dengan percuma ?"

Tanya Kiam Hong.

"Soal kecil ini jangan dipikirkan,"

Berkata orang tua itu.

"aku paling senang pad anak muda yang pandai silat, maukah kalian menemaniku mengobrol sejenak ?"

Dan sebelum Pek Kiam Hong menjawab, Siau Bwee sudah membuka mulut.

"Di depan ada restoran, mari kita kesana, kita bisa ngobrol sambil mengisi perut !"

"Ya kesana pun baik,"

Kata orang tua itu, pokoknya kalian boleh makan sepuasnya aku yang membayar !"

"Kalau begitu Lo tiang boleh pesan dululah makan dan minuman itu, kami harus membereskan dulu barang-barang orang yang pecah ini,"

Kata Siau Bwee.

Orang tua itu mengguman begitu perlahan, Siau Bwee mendengar juga hatinya jadi tergerak dan terus mengawasi kepada orang tua itu dengan waspada.

Orang tua itu mengangguk dan terus melangkah pergi.

Siau Bwee mengeluarkan uang emas, dan menyerahkan pada seorang pedagang yang paling tua untuk dibagi-bagi sebagai penggantian pada barang-barang dagangan mereka yang telah hancur akibat perkelahian antara Kiam Hong dan Toa Gu.

Setelah itu ia menuntun kudanya, karena Pek Kiam Hong menuju ke restoran.

"Eh, apakah kau kenal dengan orang tua bermata biru itu ?"

Tanya Siau Bwee pada kawannya.

"Tidak,"

Kata Kiam Hong.

"dari parasnya tegas sekali bahwa orang tua itu berkepandaian sangat tinggi !"

"Dari sinar matanya yang biru itu membuatku ingat pada salah seorang Bulim Capsahkie yang bernama Liok Jie Hui dan bergelar Liok sian ong."

"Liok Jie Hui itu berwatak buruk atau baik ?"

Tanya Kiam Hong.

"Buruk, baiknya sukar ditentukan, menurut ibuku kelakuannya Liok Jie Hui berada antara baik dan buruk, sedang-sedanglah !"

Kata Siau Bwee.

"Tapi kalau kena bicara ia sangat pandai, selalu membicarakan soal kebajikan dan kebaikan, sedangkan dihatinya penuh siasat akal-akal serta licin. Maka berlaku hati-hatilah !"

"Jika sudah ketahuan tabiatnya begitu, untuk apa kita berkenalan dengannya ?"

"Ah, jangan bicara lagi, lihat orang tua itu sudah memasang mata memandang kearah kita, berlakulah tenang, jangan sampai dicurigai...."

"Untuk apa berlaku begitu, kembalikan saja uangnya yang sepuluh tail itu dan terus kita pergi, untuk apa kenal dengan orang begitu...."

"Engkau kenapa sih bodoh dan kukuh betul, aku hanya menduga orang tua ini Liok Jie Hui adanya, betul tidaknya akupun tidak berani memastikan. Andaikata benar, kitapun tak boleh berlaku kurang ajar padanya bukan ? Dia toh orang tua yang kenamaan."

"Dia ternama dan tua, aku harus bagaimana menghadapinya ?"

"Berlakulah hati-hati dan waspada,"

Kata Tiat Siau Bwee.

"Pokoknya jangan banyak bicara, serahkan padaku !"

Pek Kiam Hong menganggukkan kepala.

"Begitu mereka tiba didepan restoran, seorang pelayan menyambutnya dengan tersenyum menerima kuda mereka.

"Liok sian seng sudah lama menunggu Jie wie diatas loteng, silahkan naik, dan serahkan kuda ini untuk kukombongi."

Siau Bwee dan Kiam Hong segera naik keloteng, kedatangannya disambut dengan senyuman oleh orang tua bermata biru itu. Mereka tak sungkan-sungkan mengambil tempat duduk.

"Dapatkah kutahu nama kalian ?"

Tanya siorang tua.

"Seharusnya kami sebagai yang mudaan harus menanyakan dulu nama besar bapak,"

Kata Siau Bwee.

"Nona sangat pintar bicara,"

Kata siorang tua.

"tentu kalian pernah mendengar nama Liok sian ong Liok Jie Hui bukan ?"

"Ah, benar-benar kami beruntung bisa menemukan Lo Cianpwee disini,"

Kata Siau Bwee dan Kiam Hong.

"Ha ha ha,"

Liok Jie Hui tergelak-gelak.

"kalian kalau tak salah tentu bersaudara bukan ?"

"Benar,"

Jawab Siau Bwee,"

Ia adalah kakakku, akuadalah adiknya !"

"Ha ha ha, yang pantas Kounio menjadi kakaknya, dan dia jadi adikmu !"

"Lo Cianpwee tidak tahu sifat kakakku, biar dia lelaki, tapi pendiam betul; sedangkan aku beda betul dengannya, dalam segala urusan aku yang menimbulkan, tapi yang berkelahi adlah dia !"

Liok Jie Hui tertawa lagi. Pelayan-pelayan membawa arak dan hidangan lain.

"Kounio bicara dan bicara, tapi masih belum memperkenalkan diri,"

Kata Liok Jie Hui.

"Oh....kakakku bernama Cie Goan, aku sendiri bernama Cie Giok,"

Kata Siau Bwee dan terus bangun.

"Koko mari kita menghormat pada Liok Lo Cianpwee dengan secawan arak !"

Liok Jie Hui pun mengangkat cawannya dan mengeringkan seperti dua muda-mudi itu, lalu berkata.

"kalian memiliki ilmu silat yang baik, apakah ayah kalianpun sebagai orang Bulim ? Dan darimana ilmu itu kalian dapat ?"

"Kami adalah anak yatim yang tidak mempunyai ayah....sedangkan ilmu kudapat dari seorang guru yang segan kusebut namanya !"

"Biarpun kusebutkan Lo Cianpwee pasti tidak kenal akan guruku itu !"

"Coba saja kau sebutkan, mungkin kutahu juga !"

"Apakah Lo Cianpwee pernah mendengar perguruan Thian liong bun ?"

"Thian liong bun ? Ah, benar-benar aku belum pernah mendengarnya, apakah kalian dari perguruan ini ?"

Siau Bwee menganggukkan kepalanya.

"Dapatkah kutahu dimana tempatnya perguruan Thian liong bun itu ?"

"Ini rahasia perguruan, tak bisa kuteangkan !"

Liok Jie Hui tidak berhenti sampai disitu, ia bertanya lagi .

"Siapakah Ciang bun jin dari Thian liong bun ?"

"Terangkan saja !"

Kata Pek Kiam Hong yang diam saja sedari tadi.

"Ciang bun jin kami bernama In Tiong Giok !"

Kata Siau Bwee.

"Apa ? In...Tiong Giok ?"

"Apakah Lo Cianpwee kenal dengannya ?"

"In Tiong Giok adalah seorang pelajar, usianya lebih kurang dua puluh tahun bukan ? Dan pernah pergi kemarkas pusat Pok Thian Pang untuk menterjemahkan buku Keng thian cit su, lalu buku itu dicetaknya dan disebar luaskan keempat penjuru dunia...Cie Kounio, apakah In Tiong Giok inikah yang kau maksud ?"

"Benar, dialah orangnya !"

Kata Siau Bwee.

"Heran....seorang pelajar lemah bisa menjadi Ciang bun jin sebuah perguruan silat ? Ini benar-benar membuat orang heran saja...."

Pek Kiam Hong tak mengetahui bahwa In Tiong Giok benar-benar sebagai Ciang bun jin dari Thian liong bun, pikirnya Siau Bwee ini sedang mengibuli orang tua itu, keruan saja hatinya jadi cemas.

"Kenapa engkau menyebut In Tiong Giok, sudah pasti orang tua ini kenal dengannya, dan omongan bohongmu akan ketahuan,"

Pikir Pek Kiam Hong.

Dan ia melihat pada Siau Bwee agar segera bisa berlalu dari tempat itu.

Biarpun melihat dengan nyata isyarat yang diberikan Kiam Hong, gadis itu pura-pura tak melihat, malahan dengan wajar berkata lagi kepada Liok Jie Hui.

"Adapun Ciang bun jin dari Thian liong bun dipilih dari seseorang yang berjiwa baik dan berbakat besar ! Tidak memperdulikan soal usia tua atau muda, bahkan memiliki ilmu silat atau tidakpun bisa sja menjadi Ciang bun jin, bakat adalah kurnianya Tuhan, sedangkan ilmu pelajaran bisa didapat dengan bakat dan kerajinan !"

"Sejak kapan In Tiong Giok menjadi Ciang bun jin Thian liong bun ?"

Tanya Liok Jie Hui dengan sikap tak percaya.

"Lebih kurang setahun lamanya !"

"Kalau begitu setelah meninggalkan Pok Thian Pang ia baru menjadi Ciang bun jin ?"

"Benar !"

"Jikalau begitu kalian lebih dulu menjadi anggota Thian liong bun dari padanya ?"

"Ya, benar !"

"Banyakkah anggota dari Thian liong bun ?"

"Meliputi seluruh dunia, banyaknya tak terhingga !"

"Pelajaran apa yang kalian utamai ?"

"Yang kami utamakan banyak sekali, semuanya itu adalah ilmu yang luar biasa, misalnya dalam ilmu pedang orang anggap Keng thian cit su sebagai pelajaran nomor satu, untuk Thian liong bun ilmu pedang itu dianggap kuranglah lengkap dan sempurna sebab hanya sebagian..."

"Perkataanmu sukar dipercaya, karena semua jago silat berpandangan bahwa Keng thian cit cu adalah ilmu pedang yang nomor wahid dikolong langit, buktinya Siang eng dengan ilmu pedang itu, menjuarai dunia persilatan."

"Ha ha ha, Lo Cianpwee mungkin tidak tahu bahwa Sin kiam siang eng itu adalah anggota Thian liong bun !"

"Apa benar ?"

"Kenapa tidak ? Mungkin Lo Cianpwee kurang percaya, apa salahnya datang ke Pek liong san dan tanya sendiri pada Siau siang lie hiap, Lim Siok Bwee, disitu tempatnya mendapat jawaban benar tidaknya apa yang kukatakan !"

"Setelah mendengar ucapan Lounio, aku baru sadar, pengalaman sangat minim,"

Kata Jie Hui.

"Jika kalian keluaran Thian liong bun tentu memiliki ilmu yang berkepandaian tinggi, bukan ? Sayang aku sudah tua, bilamana tidak, tentu akan meminta beberapa jurus pelajaran dari kalian."

"Lo Cianpwee terlalu merendah,"

Kata Siau Bwee "dunia kangouw tergetar oleh Capsahkie sedangkan Lo Cianpwee adalah salah satu diantara mereka !"

"Itu nama kosong belaka !"

Jawab Jie Hui.

"Dari omongan Lo Cianpwee seolah-olah kenal dengan Ciang bun jin kami ?"

Kata Siau Bwee.

"Bukan kenal lagi, hubunganku dengannya tak ubahnya seperti anak dan orang tua ! Kau tahu, siap yang menolongnya keluar dari Pok Thian Pang sewaktu menghadapi bahaya ?"

Ia menanti jawaban pada dua pemuda itu, menatap tajam.

"bukan orang lain, akulah yang menolongnya !"

"Oh, aku ingat. Tentulah Lo Cianpwee yang menyamar sebagai orang India dan menolong In siau hiap dari Pok Thian Pang ?"

"Benar!"

Kata Liok Jie Hui.

"Kini ia menjadi seorang Ciang bun jin dari Thian liong bun, benar-benar diluar dugaanku !"

Ia bicara dengan suara perlahan dan membayangkan kesedihan didalam hati, ia seorang ulung apa yang dibawakan benar tidak kentara, sehingga kedua anak muda yang masih hijau merasa heran dan dipengaruhi.

"Kenapa Cianpwee mengatakan begitu dan tampaknya sedih mendengar In siau hiap menjadi Ciang bun jin kami ?"

Tanya Siau Bwee.

"Ya dapat dikatakan memang nasibku yang buruk, jika kutahu ia mau menjadi seorang Ciang bun jin, siang-siang sudah kujadikan, dan tidak sampai keduluan orang lain ! Kini aku luntang lantung kesana kemari dalam kesulitan, seorang muridpun aku tak punya, hingga segala sesuatu harus dikerjakan sendiri, coba jika dia masih bersamaku, tak sampai aku merasa begini macam !"

"Memang Lo Cianpwee mempunyai kesulitan apa ?"

Tanya Siau Bwee.

"Jika mengenang In Siau hiap antara kalian dan aku masih dapat dikatakan orang sendiri, dan sepatutnya menuturkan kandungan hatiku kepada kalian, tapi dlam saat ini kurasa kurang pantas, sebab bisa menghilangkan kegembiraan makan minum. Maka sebaiknya kita minum sepuas-puasnya dan jangan membicarakan soal itu. Mari ...."

Ia mengangkat cawan dan menegaknya berulang-ulang.

"Jika Lo Cianpwee menganggap kami sebagai orang sendiri, katakanlah apa yang menjadi kesulitan Lo Cianpwee, jika tidak aku tak mau minum arak ini,"

Kata Tiat Siau Bwee.

"Sebenarnya tidak menjadi soal, sebab aku sendiri masih bisa menghadapinya."

Kata Liok Jie Hui sambil menarik napas.

"Lebih baik tidak mengungkit soal ini, makin diomongi makin mendongkolkan hati."

"Kenapa berkata begitu ? Jika Lo Cianpwee menganggap kami bukan sebagai kawan, kami segera pamitan !"

Kata Pek Kiam Hong. Liok Jie Hui menggoyangkan tangan, dan berlagak seperti terpaksa.

"Baiklah jika kalian ingin tahu kuterangkan juga, tapi kalian tidak boleh mencampuri urusan ini...."

"Hm, lekaslah katakana,"

Dengus Pek Kiam Hong tidak sabaran. Diam-diam Liok Jie Hui menjadi senang, didahului elahan napas ia berkata dengan serius.

"Terjadinya hal ini dapat dikatakan akibat dari lolosnya In Siau hiap dari Pok Thian Pang, kalian tentu tahu bahwa Keng thian cit su milik Sin kiam siang eng jatuh ditangan Pok Thian Pang, karena inilah In Siau hiap diundang kesana sebagai penterjemah...."

"Hal ini sudah kuketahui, tak perlu Lo Cianpwee mengatakan lagi, yang kami inginkan dimana letak kesulitanmu ?"

"Jika kututurkan terus, kalian bisa mengetahui sendiri kesulitanku,"

Kata Liok Jie Hui, yang terus melanjutkan ceritanya.

"Begitu lolos dari Pok Thian Pang, dengan penuh semangat In Siau hiap menterjemahkan Keng thian cit su, dan meminta bantuanku untuk menyebar luaskan buku itu. Agar sekalian orang baik dari rimba hijau mempelajari ilmu itu dan bisa mengadakan perlawanan pada Pok Thian Pang. Tak kira sebelum usaha ini berjalan, terjadi sesuatu yang diluar dugaan...."

"Terjadi apa ?"

Selak Siau Bwee.

"Soal In Siau hiap menterjemahkan buku ini, entah bagaimana menjadi bocor dan tersebar luas diluaran, begitu kuperoleh buku yang baru diterjemahkan, Hek pek siang koay tiba-tiba muncul dan mengurung diriku, dalam perkelahian itu buku itu kena dirampasnya ! Tersebab inilah In Siau hiap mencetak buku itu di Kim leng dan menyebar luaskan seorang diri."

"Oh, karena hal inilah ia berbuat begitu ?"

Kata Pek Kiam Hong.

"Ya,"

Jawab Liok Jie Hui.

"Apa yang dilakukan itu karena terpaksa, karena ia mengetahui bahwa Hek pek siang koay adalah orang jahat sepeerti kaum Pok Thian Pang. Andaikata kedua orang itu bekerja sama dengan Pok Thian Pang akan mendatangkan bencana maut pada jago-jago dari golongan putih. Sebab ini In Siau hiap berlaku seperti yang dituturkan tadi. Tapi caranyapun kurang baik, karena ia tidak memilih bulu, siapapun diberikan buku itu ! Sehingga orang-orang jahatpun banyak memperolehnya, pikirlah, bukankah dengan begitu iapun membantu penjahat-penjahat itu ? Mengetahui keadaan ini, aku turut berduka dan merasa berdosa pada In Siau hiap. Untuk menebus dosa ini aku bercapai lelah selama setahun lebih, dan terhitunglah usahaku tidak sia-sia, karena kuperoleh satu peluang baik untuk menutup dosa-dosaku !"

"Peluang apa yang Lo cianpwee dapati ?"

"Satu peluang baik untuk memperoleh sebilahj pedang pusaka !"

Kata Liok Jie Hui.

"biarpun orang-orang jahat itu memiliki ilmu pedang yang bagaimana tinggipun dapat ditundukkan pedang wasiat itu !"

"Dimana pedang itu berada ?"

Tanya Siau Bwee.

"Disuatu lembah yang curam terdapat sebuah danau, disitu pemandangannya sangat indah, bilamana saatnya tiba akan terlihat suatu cahaya bergemerlapan menerangi kegelapan malam. Alkisah, itulah sinar pedang wasiat yang akan menjelma didunia."

"Nampaknya yang mengetahui adanya pedang wasiat ini bukan aku sendiri, sehingga mendatangkan kecemasanku, aku merasa kuatir terulang lagi kejadian hilangnya buku seperti dulu, sebab kekuatanku hanya seorang diri, mengingat ini hatiku merasa cemas dan sedih !"

Siau Bwee dan Pek Kiam Hong adalah pemuda-pemuda yang kurang berpengalaman, mendengar perkataan Liok Jie Hui yang ingin menebus dosa pada In Tiong Giok, hati mereka tergerak timbul niat mereka untuk membantu Liok Jie Hui memperoleh benda wasiat itu.

Maka Siau Bwee segera berkata .

"Lo Cianpwee tak usah pusing dalam soal itu, biarpun kepandaian kami tak seberapa tinggi, untuk menghadapi orang-orang biasa masih boleh diandalkan."

"Kesediaanmu kuterima didalam hati.

"Kata Liok Jie Hui.

"Sebab yang datang itu adalah jago-jago dari rimba hijau, maka itu aku tak bisa mengajak kalian menempuh bahaya maut. Semata-mata untuk kepentinganku !"

Jilid 14________ "Apakah Lo Cianpwee menganggap kepandaian kami terlalu rendah dan bisa merepotkan Lo Cianpwee ?"

Tanya Pek Kiam Hong.

"Bukan begitu, karena yang datang itu disamping berkepandaian tinggi, jumlahnyapun banyak sekali ! Aku sendiripun bisa menghadapi mereka dengan nekad, hidup atau mati terserah kepada Tuhan ! Sedangkan kalian bagaimanapun tak boleh mencampuri urusanku ini !"

"Bolehkah kutahu musuh-musuh dari golongan mana ?"

Tanya Siau Bwee.

"Yang sudah kuketahui saja sudah tiga golongan, yakni dari Pok Thian Pang, Hek pek siang koay dan lou san siang cat ( dua manusia cacat dari gunung Lou san). Disamping itu masih banyak lagi yang lain dan belum kuketahui dai golongan apa !"

"Dimana letaknya lembah itu ? Dan kapan pedang itu menjelma kedunia ?"

Tanya Siau Bwee.

"Letaknya tak seberapa jauh , yakni dilembah gunung Huay giok san,"

Kata Liok Jie Hui.

"Sedangkan saatnya pedang itu menjelma sudah dekat juga, lebih kurang lima enam hari lagi, atau selambat-lambatnya sepuluh hari lagi."

"Jika Lo Cianpwee tak mau mengajak juga, kami bisa pergi sendiri,"

Kata Siau Bwee.

"Toako mari kita berangkat sekarang juga."

Pek Kiam Hong tak ayal lagi segera bangkit dari tempat duduknya.

Melihat keadaan ini hati Liok Jie Hui menjadi geli, karena siasatnya berhasil baik.

Tapi wajahnya seperti kaget dan cemas, buru-buru mencegah.

"Kalian jangan berlaku gegabah, aku mencegah kalian dengan maksud baik...."

"Hm,"

Siau Bwee tersenyum dingin.

"Kami sebagai anggota dari Thian liong bun bagaimanapun mempunyai kewajiban untuk mencegah agar pedang wasiat itu tidak jatuh ditangan orang jahat."

Liok Jie Hui yang licin dengan perkataannya yang lemah lembut, berhasil membuat kedua muda mudi itu duduk kembali dikursinya.

"Jika kalian memaksa juga, apa boleh buat, ikutlaah denganku, sebab pedang yang bakalan diperoleh itu untuk diserahkan pada In Siau hiap yang menjadi Ciang bun jin kaum Thian liong bun !"

"Bilamana kita berangkat ?"

Tanya Siau Bwee tak sabaran.

"Sebenarnya lebih cepat lebih baik,"

Kata Liok Jie Hui. Ia terpekur sejenak seperti berpikir keras.

"Tapi aku masih mempunyai sesuatu urusan yang perlu diselesaikan dulu. Kalian duduk-duduk dulu disini, aku hanya sebentar."

"Silahkan,"

Kata Siau Bwee.

"kami akan menunggu disini !"

"Ah, pikiranmu bagaimana sih ? Liok Jie Hui adalah jago kang ouw yang lihay, bilamana rahasianya dipecahkan itu akan gusar dan kita bisa dibunuhnya, mengerti ?"

"Takut apa, lawan saja !"

"Ketakutan kita ditambah selipat lagipun tak bisa menang !"

"Jika begitu mumpung ia belum datang kita pergi buru....."

"Jika kita pergi sama dengan melepaskan begitu saja pedang wasiat itu bukan ?"

"Sebenarnya apa sih yang engkau akan perbuat ?"

Tanya Pek Kiam Hong.

"Aku mempunyai siasat baik menghapinya, tolol !"

Bisik Siau Bwee.

"Duduklah yang tenang, tak lama lagi dia akan kembali..."

Benar saja dari arah tangga terdengar derapan langkah-langkah berjalan.

Disusul dengan munculnnya Liok Jie Hui dan seorang laki-laki yang membawa bungkusan besar dipunggungnya.

Orang yang membawa bungkusan bukan lain dari sipedagang barang pecah belah yang bernama Oey Toa Gu.

"Wah mungkin kalian kesal menantikan aku bukan ?"

Kata Liok Jie Hui.

"Lo Cianpwee pergi begitu lama dan kembali membawa orang kasar ini untuk apa ?"

Tanya Siau Bwee.

"Usiaku sudah begini lanjut tapi belum mempunyai seorang muridpun untuk dijadikan pewaris pelajaranku,"

Kata Liok Jie Hui.

"Kulihat anak ini berbakat besar, bila dididik akan menjadi orang berguna dikemudian hari, maka kuterima menjadi murid."

Siau Bwee melirik kepada Toa Gu sambil mengerutkan kening, sedangkan yang disebut belakangan nyengir-nyengir dan berkata "Siau Kounio , apakah engkau akan turut juga keatas gunung, mempelajari ilmu menggebuk orang ?"

"Toa Gu jangan ngaco belo ! Sungguhpun usia mereka masih muda-muda tapi adalah kawan-kawanku, engkau harus menganggap mereka ini sebagai paman atau bibi, mengerti ? Nah lekaslah haturkan maaf atas kecerobohanmu tadi !"

Toa Gu menjadi melongo dan segera membantah.

"Soal perkelahian dengannya, bukan salahku dia yang mulai....."

"Aku sebagai suhumu, apa yang kukatakan tak boleh kau bantah, lekas haturkan maaf !"

Bentak Liok Jie Hui.

Sebenarnya Toa Gu tak ikhlas melakukan hal yang berlawanan dengan hatinya, tapi dalam tekanan gurunya, apa boleh buat dia maju kehadapan Siau Bwee dan Pek Kiam Hong "Hitung-hitung aku sedang sial dan terimalah permintaan maafku ini !"

Melihat Toa Gu ini, Siau Bwee merasa geli rasa dongkolnyapun menjadi hilang, dengan tersenyum ia membalas hormat. Sedangkan Pek Kiam Hong masih merasa gondok, ia diam terus tanpa meladeni Toa Gu.

"Kalian sudah makan, mari kita berangkat !"

Kata Liok Jie Hui. Siau Bwee segera bangkit, dan terus menendang Pek Kiam Hong yang masih cemberut.

"Ah mengapa menjumblek terus, mau ditinggal ?"

Dengan ogah-ogahan Pek Kiam Hong bangkit dan terus mengikuti dari belakang tanpa mengeluarkan sepatah kata. Didekat kuda Siau Bwee dan Kiam Hong tampak dua ekor kuda lain.

"Ini adalah kuda yang baru kubeli,"

Kata Liok Jie Hui.

"Tadi kupergi lama, disamping membeli kuda, juga membereskan soal ibunnya Toa Gu. Kini tidak ada yang menjadi beban pikirannya lagi, ia bisa mengikutinya dengan tenang."

Dengan berkuda mereka menuju ke Hoay Giok san.

Disepanjang jalan Kiam Hong membungkam seribu bahasa, demikian pula dengan Toa Gu jika tidak ditanya tidak mau berkata hanya Siau Bwee sepanjang jalan mengobrol dengan Liok Jie Hui tanpa henti-hentinya.

Lambat laun Hoay Giok san sudah semakin dekat, sepanjang jalan yang menuju kesana, didepan atau belakang mereka, adalah orang Bulim yang mempunyai maksud serupa dengan mereka.

Anehnya orang-orang itu selalu berjalan berdua, tidak terlihat yang berjalan seorang diri.

Sekarang Siau Bwee baru percaya bahwa cerita Liok Jie Hui tentang pedang wasiat itu, tidak bohong.

Dan ia tahu orang yang berjalan berdua itu, pasti sudah mempelajari ilmu Keng thian cit su dan datang ke Hoay Giok san untuk mendapatkan pedang wasiat.

Ia merasa girang disamping rasa tegang.

Didekatinya Pek Kiam Hong yang berjalan dibelakangnya.

"Perhatikanlah keadaan dijalanan ini, banyak orang-orang yang menuju ke Hoay Giok san, tentu untuk memperolah pedang wasiat itu. Dan kita harus waspada jangan sampai diperalat oelh Liok Jie Hui !"

"Jika soal pedang itu benar, apa gunanya ia memperalat kita ?"

Tanya Kiam Hong.

"Dalam soal silat ia tak butuh bantuan,"

Kata Siau Bwee.

"Tapi jika tak memerlukan bantuan pasti ia tidak akan mengajak kita maupun si Toa Gu yang tolol itu !"

"Ia mengandung maksud apa ?"

Tanya Pek Kiam Hong.

"Kesatu dengan tenaganya sendiri ia tidak sanggup menghadapi musuh, kedua tempat pedang itu pasti berbahaya, dan akan menyuruh kita atau Toa Gu yang mengambilnya, sedangkan dia sendiri uncang-uncang kaki, menunggu hasilnya."

"Bukankah pedang itu berada disuatu danau ?"

"Benar !"

Jawab Siau Bwee.

"tempat-tempat barang pusaka kebanyakan dijaga binatang-binatang buas, karena inilah ia mengajak kita !"

"Habis harus bagaimana menghadapinya ?"

"Sebelum persoalan menjadi jelas, sukar untuk menentukan suatu cara untuk menghadapinya. Pokoknya dalam segala hal engkau harus menurut dibawah komandoku, jika ia menyuruhmu melakukan sesuatu hal, engkau harus melihat kepadaku jika aku mengangguk engkau boleh melakukannya, jika aku diam janganlah kau lakukan !"

"Ya, aku sih menuruti saja, dan andaikata terjadi sesuatu kerugian bagi kita, engkau jangan menyesalkan diriku !"

Diwaktu senja mereka telah tiba di sebuah perkampungan kecil yang berada dikaki gunung Hoay Giok san.

Disini hanya terdapat sebuah losmen kecil yang sederhana betul.

Mereka mampir disitu.

Sehabis makan, Liok Jie Hui memanggil pelayan.

"Apakah engkau tahu ada berapa warung nasi dikampung ini ?"

"Lebih kurang ada lima buah warung !"

"Adakah mereka menjual makanan kering ?"

"Ada juga, tapi tidak sebagus seperti yang terdapat dikota besar !"

"Itu tidak menjadi soal, aku ingin membeli agak banyak, yakni untuk dimakan seratus orang dan bisa bertahan sepuluh hari !"

Kata Liok Jie Hui dan terus mengeluarkan uang. Juga tidak lupa ia memberikan persenan kepada pelayan itu dan pelayan itupun girang dan bertanya .

"Bilamana makanan itu dibutuhkan ?"

"Jika bisa, sebelum kentongan ketiga malam ini terdengar, makanan itu sudah kau siapi !"

Tidak ayal lagi pelayan itu melakukan apa yang dikehendaki Liok Jie Hui saat itu juga. Liok Jie Hui dengan tersenyum memandang kepada tiga yang lain.

"Sebelum kentongan keempat berbunyi kita harus lanjutkan perjalanan, kini sebaiknya tidurlah, mumpung ada waktu !"

"Untuk apa membeli makanan kering sebanyak itu ?"

Tanya Siau Bwee.

"Hmmm, dengan begini, kawan-kawan yang setujuan dengan kita akan kehabisan makanan bukan ?"

Siau Bwee baru mengerti bahwa Liok Jie Hui benar seorang licik yang banyak akalnya.

Mereka segera tidur.

Dan bangun sewaktu pelayan itu kembali bersama-sama tukang makanan.

Begitu banyak dan masih hangat tampaknya.

Tak salahlah agaknya para pedagang itu mengerjakan makanan-makanan itu dengan mengebut sekuat-kuatnya.

Setelah merapikan pakaian, mereka keluar .

Liok Jie Hui memilih makanan yang baik-baik dimasukkan kedalam keranjang besar, Toa Gu ditugaskan membawanya.

Sedangkan sidanya yang berpikul-pikul disuruh pelayan itu membawanya keluar kota.

Disana terdapat sebuah danau yang besar, makanan itu dibuang kedalam air setelah dan pembantu-pembantunya berlalu.

Liok Jie Hui mengepalai rombongan menuju kedaerah pegunungan, ia mengambil jalan kecil yang berliku-liku.

Setelah menempuh perjalanan sehari lebih, mereka tiba disebuah lembah, keadaan didalam lembah sangat luas, sedangkan mulutnya sangat sempit, merupakan tempat yang baik untuk bertahan jika menghadapi musuh yang lebih besar jumlahnya.

Ditengah-tengah lembah itu terdapat sebuah danau airnya hijau membiru, tidak terlihat dasarnya.

Ditengah danau itu terlihat user-user air yang kempot.

"Apa namanya danau ini ?"

Tanya Siau Bwee setelah memperhatikan agak lama.

"Tempat ini jarang dikunjungi orang, sehingga tidak ada yang mengetahui apa namanya danau ini,"

Kata Liok Jie Hui.

"Tapi didalam danau ini terdapat dua bilah pedang pusaka, maka itu kita namai saja Danau pedang !"

"Lo Cianpwee kenapa engkau mengetahui didalam danau ini terdapat dua pedang ?"

Tanya Siau Bwee.

"Bila malam hari dari dalam danau itu memancar dua sinar yang berbeda, dari sinilah dapat diduga bahwa pedang itu ada dua bilah."

"Seumurku belum pernah melihat sinar pedang, semacam itu,"

Kata Siau Bwee.

"Apakah karena kelewat lama pedang itu berada didalam air, menjelma menjadi siluman dan mengeluarkan cahaya ?"

"Soal itu aku tidak tahu, tapi engkau bisa melihatnya sinar pedang ini dimalam hari !"

"Apakah pedang itupun turut keatas permukaan air ?"

"Oh tidak !"

"Aku heran kenapa ia bisa bercahaya ?"

"Setiap benda-benda pusaka, biarpun dipendam dalam tanah ataupun didalam air, bila tiba saatnya akan menjelma, ia akan memancarkan sinar ! Misalnya batu cincin yang mempunyai kasiatnya, bilamana akan menjelma ia akan memancarkan sinarnya. Hanya orang-orang yang berjodoh dengannya baru bisa mendapatkannya, bilamana tidak, biar digadangi setiap malam, benda itu tidak bisa diperoleh. Nah ini satu keajaiban, bilamana kurang percaya buktikanlah malam ini !"

"Lo Cianpwee bisa mendapatkan dan tahu tempatnya pedang ini, tentu sangat berjodoh,"

Kata Siau Bwee. Liok Jie Hui bergelak-gelak kegirangan mendapatkan umpakan itu.

"Ya mungkin juga karena pembawaanku yang jujur dan bersih sehingga bisa mengetahui tempat pedang ini."

Katanya dengan bangga.

"Sedangkan Hek pek siang yau dan kaum Pok Thian Pang yang durhaka itu, sampai kini belum mengetahui dimana tempat pedang itu berada."

"Tak tahu malu !"

Maki Siau Bwee didalam hatinya. Walaupun hatinya mendongkol, wajahnya tetap tersenyum.

"Lo Cianpwee sebaiknya jangan buang kesempatan, sekarang saja ambil pedang itu, mumpung musuh-musuh itu belum pada datang."

"Mengambil benda pusaka tidak boleh sembarangan."

Kata Liok Jie Hui.

"Apalagi sekarang masih siang, cahaya tidak terlihat, sukar menemuinya !"

"Apakah Lo Cianpwee merasa takut ?"

"Bukan takut, tapi berhati-hati !"

"Suhu !"

Seru Toa Gu dengan tiba-tiba.

"bolehkah aku makan dulu, sudah lapar benar !"

Lio Jie Hui memandang sambil tersenyum.

"Ya, sebaiknya kita makan dulu, agar semangat kita bertambah."

Empat orang duduk ditepi danau, Toa Gu membuka rantang, mengambil makanan kering dan menyapoknya tanpa mengunyah lagi.

Makanan itu kering dan peret, sukar masuk kedalam kerongkongan, membuatnya kelolotan !

Mendelik ketelak makanan itu, membuatnya gugup, dan cepat-cepat lari kepinggir danau dan minum.

Liok Jie Hui cepat-cepat mencegah.

"Air ini kelihatannya kurang bersih, entah bisa diminum atau tidak, sebaiknya engkau keluar lembah, disana ada selokan air, minumlah disana, sekalian ambilkan barang seember !"

Toa Gu mengangguk dan lari keluar lembah sambil membawa ember. Liok Jie Hui menantikan Toa Gu sudah jauh baru berpaling kepada Siau Bwee dan Kiam Hong.

"Atas bantuan kalian untuk mengambil pedang ini, kuucapkan banyak terima kasih. Yang datang untuk mengambil pedang kesini, nyatanya banyak sekali, kita harus berlaku terlebih waspada lagi."

Pek Kiam Hong tidak mau bicara, ia asyik makan kueh kering.

"Sudahkah Lo Cianpwee melakukan persiapan untuk menghadapi mereka ?"

Tanya Siau Bwee.

"Kita berjumlah empat orang,"

Kata Liok Jie Hui.

"aku harus membawa Toa Gu ke danau ini mengambil pedang, dan kuminta kalian menjaga mulut lembah, merintangi setiap orang yang mau masuk kesini."

"Kepandaian kami tidak seberapa, mungkin tak dapat menahan orang-orang itu,"

Sela Siau Bwee.

"Dalam hal ini Kounio tak usah kuatir, aku sudah berpikir bahwa letaknya mulut lembah kesini tidak seberapa jauh, jika kalian menghadapi kesukaran boleh memberi tanda bahaya aku bisa datang membantu,"

Kata Liok Jie Hui.

"Musuh-musuh itu bisa datang setiap saat bukan ?"

Kata Siau Bwee.

"Jika musuh datang sebelum kami mengambil pedang, kalian bisa berseru minta bantuan, aku segera datang membantu, jika saatnya aku mengambil pedang dan musuh datang, tahanlah mereka sejenak, begitu selesai mengambil pedang aku bisa datang menghalau mereka !"

"Jika saat ini mereka sudah datang ?"

"Disiang hari sinar pedang tidak memancar keluar, mereka tidak dapat mencari tempat ini begitu cepat !"

Kata Liok Jie Hui.

"Untuk melewati waktu kita boleh bersembunyi ditempat gelap, biar mereka sampai kesini, jika tidak melihat kita akan pergi lagi bukan ?"

"Kulihat air ini menyeramkan sekali, ditambah Toa Gu tolol sekali, bisakah pedang itu diambil dengan tenaga berdua ?"

Tanya Siau Bwee.

"Biarpun air ini menyeramkan kami masih sanggup mengatasinya, asal saja kalian bisa melakukan tugas dengan baik dimulut lembah."

"Kedatangan kami kesini justru untuk membantu Lo Cianpwee menghadapi musuh-musuh itu, sudah tentu akan menjalankan tugas sebisa mungkin, tapi....."

Ia tidak meneruskan kata-katanya dan merandek dengan mendadak.

"Tapi....tapi kenapa, katakanlah !"

"Kumohon Lo Cianpwee melulusi satu permohonanku !"

"Asal yang kubisa, pasti kululusi, katakanlah !"

"Sebenarnya bukan apa yang kami minta,"

Kata Siau Bwee.

"Aku hanya ingin melihat bagaimana rupanya sinar pedang itu, dan bagaimana caranya Lo Cianpwee mengambilnya."

"Ini....habis siapa yang menjaga mulut lembah ?"

"Ada kokoku yang menjaga,"

Jawab Siau Bwee.

"Jaraknya toh dekat sekali, jika ada bahaya aku bisa lari membantunya, jika tak ada apa-apa aku diam disini, bagaimana ?"

Liok Jie Hui tidak setuju Siau Bwee berada ditepi danau, maka ia berkata .

"Sebaiknya Kounio menjaga mulut lembah itu jika tidak ada musuh yang datang, aku bisa memberi tahu saatnya pengambilan pedang itu, dan engkau boleh datang melihatnya."

"Benar-benar nih ? Harap Lo Cianpwee jangan lupa ya ."

"Pasti tidak lupa !"

"Biar bagaimana aku harus melihat dengan mata sendiri, peristiwa yang jarang terjadi ini."

Kata Siau Bwee.

"Aku berdoa agar musuh-musuh yang mau mengambil pedang ini pergi jauh-jauh...."

Belum pula ia menyelesaikan perkataannya, matanya melihat Toa Gu dengan menenteng ember yang terisi air, sedang berlari dengan tergesa-gesa.

Tampaknya sitolol masih belum menelan makanan kering yang menyumbat kerongkongannya itu, begitu sampai lengannya memeta, nunjuk-nunjuk keluar lembah, dan berkata dengan terbata-bata .

"Suhu....lekas....lekas lihat."

"Lihat apa ? Bicara yang benar !"

Bentak Liok Jie Hui. Toa Gu menghirup air dan menelan makanan dikerongkongannya, lalu berkata dengan cepat .

"Diluar ada dua anak kecil berkelahi dengan seorang Tojin tua, anak kecil itu berhasil membunuh Tojin itu..."

"Jauhkah dari sini ?"

Tanya Liok Jie Hui.

"Tuh diluar lembah itu,"

Kata Toa Gu.

"kedua anak kecil itu setelah membunuh berlari kearah sini."

Liok Jie Hui menjadi kaget, dan mengulap-ulapkan tangannya dan berkata .

"Lekas bersembunyi, yang datang pasti Hek pek siang kuay."

Keempat orang dengan cepat bersembunyi kedalam pepohonan yang rimbun.

Tak selang lama dari mulut lembah berkelebatan dua sosok bayangan dengan cepat.

Hanya sekejap dua orang itu telah berada ditepian danau, sedikitpun tak salah apa yang diucapkan Liok Jie Hui, bahwa anak kecil itu benar-benar Hek pek siang kuay adanya.

Tiat Siau Bwee maupun Pek Kiam Hong pertama kali melihat suami istri yang serupa bocah-bocah cilik itu, menjadi heran sendiri, bilamana tak diterangkan lebih dulu, ia takkan percaya bahwa Hek pek siang kuay yang terkenal keganasannya didunia persilatan berbentuk tak ubahnya seperti bocah belasan tahun.

Siang kuay berhenti ditengah danau, mata mereka jelilatan kesekeliling lembah.

Na Beng Sie menganggukkan kepala sambil berkata.

"Pantasan kedua bedebah itu meronda disini, kiranya lembah ini sangat menarik perhatian."

"Coba terangkan padaku, dimana letak yang menarik perhatian ?"

Kata Lauw Siu Kim. Dengan ujung jarinya, Na Beng Sie menunjuk kearah lembah sambil memberi komentar .

"Lihatlah lembah ini bermulut kecil, sedangkan perutnya sangat lebar, dalam ilmu berperang, lembah ini menguntungkan yang bertahan dan menyulitkan si penyerang..."

"Hm,"

Selak Lauw Siu Kim.

"aku menginginkan kau menyebut dimana tempat pedang itu, dan tidak menanyakan soal ilmu perang !"

"Jangan bergegas memutus pembicaraanku,"

Kata Na Beng Sie.

"dengarkanlah nanti engkau bisa menarik kesimpulan sendiri, dimana tempat pedang itu berada ! Lembah ini bersangkutan sekali dengan tempat pedang itu, pikirlah pedang wasiat itu kenapa bisa berada ditempat sesunyi ini, tak perlu kujelaskan lagi, tentu ada orang yang membawa dan menyembunyikan disini...."

"Aku juga tahu pedang itu disembunyikan orang, tapi dimana disembunyikan ? Lekas katakana."

Lagi-lagi Siu Kim memotong pembicaraan suaminya.

"Apa yang kukatakan belum selesai, dengarkan terus, engkau akan tahu sendiri dan tahu dimana letaknya tempat pedang itu !"

"Katakanlah yang penting dahulu, jangan mengoceh kebarat ketimur seperti dalang saja,"

Bentak Lauw Siu Kim.

"ketahuilah berbagai golongan telah berada disekitar gunung ini bilamana engkau melalaikan waktu dengan cuma-cuma, kemungkinan besar pedang itu sudah berada ditangan orang lain bukan ?"

"Dalam hal ini engkau tak perlu kuatir, kata Na Beng Sie dengan tenang.

"Barang siapa berani berlaku gegabah, dua bedebah tadi adalah contoh yang baik !"

"Jangan tekebur, diatas yang kuat masih ada yang kuat, lebih-lebih tenaga kita hanya berdua, mana mungkin menundukkan seluruh jago persilatan ?"

"Bilamana pedang itu berada ditangan kita, dengan sendirinya kitalah yang menjadi jago nomor satu dikolong langit ini bukan ?"

"Benar ! Lekaslah ambil pedang itu !"

Ejek Lauw Siu Kim.

"Baiklah kuteruskan kata-kataku tadi,"

Kata Na Beng Sie, karena tempat ini sangat aneh maka menarik perhatianku dan timbul dugaan bahwa pedang itu berada dilembah ini..."

"Dimana ?"

Tanya Lauw Siu Kim dengan bernapsu.

"Aku hanya menduga, benar tidaknya harus dilakukan pengecekan yang cermat !"

"Hm, kalau begitu engkaupun tidak tahu bukan ?"

"Biar tidak tahu, aku bisa menduga, sedikitnya ramalan ayau dugaan itu, mendekat pada kebenaran...."

"Jika begitu lekaslah kita memeriksa dan meneliti lembah ini !"

Kata Lauw Siu Kim yang lantas bergerak terlebih dulu.

"Sabar !"

Seru Na Beng Sie.

"Ada apa lagi ?"

"Disiang hari mana bisa kita mencari pedang wasiat itu ?"

Kata Na Beng Sie.

"Kita harus menanti sampai malam hari, pedang wasiat itu pasti memancarkan sinar yang berkilauan, dan memudahkan kita mencarinya."

"Maksudmu kita nongkrong terus disini sampai gelap gulita ?"

"Dalam hal ini kita harus mengutamakan kesabaran,"

Kata Na Beng Sie.

"Kini kita jadikan tempat ini yang diutamakan, lalu kita mencari lagi beberapa tempat yang lain yang cukup menarik perhatian, sesudah malam baru kita lakukan pemeriksaan."

"Jika kita pergi, nanti ada yang datang kesini bagaimana ?"

"Kita bisa memberikan tanda peringatan diluar lembah, melarang mereka masuk ! Itu sih sama saja memberi tahu pada orang lain bahwa disinilah tempatnya pedang wasiat berada !"

Kata Lauw Siu Kim. Kupikir lebih baik aku menjaga disini sampai malam dan engkau pergi menyelidiki tempat lain seorang diri."

"Bagaimana kalau musuh datang waktu kita berpisah ? Tenaga kita jadi terpencar, pasti celaka bukan ?"

"Habis bagaimana ?"

"Sebaiknya kita memeriksa berdua, tapi tak perlu jauh-jauh. Begitu kita melihat sinar pedang buru-buru kita kembali !"

Lauw Siu Kim terpekur agak lama, seolah-olah sedang berpikir, tapi tak ada jalan yang lebih baik dari itu, ia menganggukkan kepala dan terus mengajak suaminya berlalu untuk memeriksa tempat lain.

Setelah Siang kuay pergi jauh, Liok Jie Hui baru menarik napas dalam-dalam.

"Jika menurut cara Lauw Siu Kim, menongkrongi terus danau itu bisa berabe tak keruan !"

"Kulihat sepasang suami istri itu mungil dan lucu, berpotongan seperti bocah-bocah kecil. Yang perempuan galak dan yang lelaki sabar, pasangan berat sebelah !"

Kata Siau Bwee.

"Kenapa berat sebelah ?"

Tanya Toa Gu.

"Tentu berat sebelah, karena laki-laki itu takut bini !"

Kata Siau Bwee.

"Engkau jangan memandang lucu kesua suami istri itu, mereka terkenal sangat buas dan kejam, tidak sedikit jago-jago bulim terbunuh di tangannya !"

"Bagaimana kalau dibandingkan dengan kepandaian siang kuay dengan Lo Cianpwee ?"

Tanya Siau Bwee.

"Satu lawan satu aku menang seurat, jika mereka bergabung aku kalah seurat !"

Jawab Liok Jie Hui.

"Kalau begitu aku dan kokoku mana bisa menahan mereka, jika sebentar malam mereka kembali lagi ?"

"Jangan kuatir, sekarang masih ada waktu,"

Kata Liok Jie Hui.

"kita boleh menganyam tikar yang besat untuk menutupi danau itu agar sinar pedang tidak memancar keluar !"

"Cara ini mana bisa dilakukan, sebab danau itu sangat lebar !"

Kata Siau Bwee.

Mereka bicara sedangkan sebarisan orang telah memasuki lembah ini dengan mendadak.

Untung mereka berada ditempat persembunyian dan tidak terlihat orang ini, semakin lama oranag-orang ini semakin dekat dan dapat dilihat dengan tegas.

Mereka jadi kaget, lebih-lebih lagi Pek Kiam Hong, karena barisan ini dipelopori seorang perempuan cantik berbaju hitam yang bukan lain dari Soat Kouw adanya, dikiri kanannya mengikuti tiga perempuan berbaju kuning, yang bukan lain dari pada Jung jung dan kawan-kawannya.

Liok Jie Huipun tak kurang kagetnya, karena dibelakang perempuan itu, ada Thian lam siang kui dan Thay Cin Tojin.

Dibelakang jago-jago kenamaan ini terdapat seorang Tauto (kaum Hipies jaman bahela) dan dua pengawal.

Tauto ini adalah ketua cabang Pek Thian pang didaerah Hoau yang, ia bernama Hoat ceng dan bergelar Houw bin Heng cia (Hwesio bermuka macan), tenaganya sangat kuat, karena itu ia memakai senjata yang berupa garu dan beratnya seratus kati.

Sebenarnya Hoat ceng adalah Hwesio dari Ngo Tay San, dikarenakan sifatnya yang berangasan, sehingga sering membunuh orang, dan diusir dari sana.

Ia keluar dari kuil itu, mengembara di dunia Kang Ouw sambil memelihara rambut menjadi Tauto dan akhirnya mengabdi pada Pok Thian pang, karena kepandaiannya sangat tinggi, dalam waktu pendek ia telah menjadi ketua cabang, dan mempunyai kedudukan lebih tinggi dari pada Tan Toa Tiau yang hanya menjadi ketua ranting.

Dalam waktu singkat rombongan ini telah sampai dipinggir danau, Soat Kouw yang menjadi ketua rombongan, celingukan keempat penjuru, lalu berkata .

"lembah ini sangat sunyi dan tersembunyi lebih-lebih danau ini, suatu tempat yang cocok untuk menyembunyikan pedang pusaka, kulihat pedang yang kita cari depalan puluh persen berada didanau ini."

"Keadaan tempat ini memang sangat cocok tapi tak salahnya kalau kita mencari tempat lain,"

Kata Tok Kay Pong dengan tersenyum.

"Benar !"

Kata Soat Kouw.

"Akupun merasa heran, kenapa dilembah ini tidak terlihat barang seorang, padahal yang datang ke Hoay Giok san ini banyak sekali, buktinya kita bisa melihat dua mayat diluar lembah, menandakan bahwa mereka telah saling bunuh untuk memperebutkan pedang pusaka."

"Mungkin mereka mula-mula menganggap lembah ini tempatnya pedang itu, kemudian baru tahu bahwa tempat ini adalah kosong !"

Kata Tok Kay Pong.

"Menurut Fuhoat sendiri, bagaimana keadaan lembah ini ?"

Tanya Soat Kouw.

"Aku tak berani mengatakan ini itu, yang perlu kita harus menjelajah tempat lain juga."

Soat Kouw tersenyum.

"engkau cukup bijaksana."

Dan dilihatnya Thay Cin Tojin.

"Bagaimana pandangan Totiang ?"

"Benda-benda pusaka biasanya suka memancarkan sinar dimalam hari, maka itu jika engkau menaruh curiga pada lembah ini, tak salahnya menaruh beberapa pengawal disini, dan menantikan malam, jika benar pedang itu ada disini pengawal itu bisa melihat cahayanya dan memberikan laporan pada kita."

"Baiklah !"

Kata Soat Kouw. Dan terus memberi isyarat pada Houw bin Hong cia agar kedua pengawawlnya menjaga lembah ini.

"Kalian diamlah disini, jika ada yang masuk kesini bunuh saja,"

Kata Houw bin Heng cia.

"jika musuh kita boleh lepaskan panah api sebagai isyarat minta bantuan."

"Siap !"

Seru kedua pengawal itu. Soat Kouw segera memimpin lagi anak buahnya memeriksa ketempat lain.

"Lo Cianpwee, bagaimana sekarang ?"

Tanya Siau Bwee.

"Dua pengawal itu tidak ada artinya, nantikanlah malam tiba, masih belum terlambat membereskan mereka !"

Jawab Liok Jie Hui.

"Nampaknya jago-jago dari berbagai aliran berkumpul di Hoay Giok san, andaikan kita berhasil memperoleh pedang itu, belum tentu bisa lolos dari tangan mereka,"

Kata Siau Bwee mengutarakan kekuatirannya.

"Ha ha ha,"

Liok Jie Hui tergelak-gelak.

"Pokoknya bilamana pedang itu berada ditanganku, siapa yang bisa melawan lagi ?"

"Tapi Toa Gu hanya memiliki tenaga kerbau, tidak memiliki ginkang, andaikata menemui musuh kuat...."

"Semua ini sudah dalam perhitunganku, engkau tak usah merasa cemas,"

Jawab Liok Jie Hui dengan tersenyum sinis.

Senyuman aneh itu mendatangkan perasaan tak enak bagi Siau Bwee, ia menjadi diam tak berkata-kata lagi.

Sejak itu tak terlihat lagi rombongan lain datang kelembah itu, suasana menjadi sunyi sekali.

Sedangkan Liok Jie Hui duduk bersila memelihara semangatnya untuk sebentar malam.

Pek Kiam Hong tampak beringsang betul, gagang pedangnya dipegang erat-erat, matanya sebentar-sebentar melirik pada Siau Bwee.

Hal ini membuat sigadis menjadi risau, karena iapun sedang memeras otaknya untuk mencari jalan keluar.

Hanya Toa Gu seorang yang tidak memperdulikan keadaan, ia masih mengunyah dengan asyiknya makanan yang dibawa.

Siau Bwee merasaa kasihan pada sitolol itu karena ia sadar bahwa Liok Jie Hui mengandung maksud tak baik kepadanya.

Toa Gu sendiri karena menganggap Liok Jie Hui sebagai gurunya, sedikitpun tak merasa kuatir atau curiga, kalau dirinya dalam bahaya.

Biarpun Siau Bwee sudah tahu apa yang akan terjadi, tapi tak mempunyai daya untuk mengatasinya.

Karena bukan saja Liok Jie Hui yang harus dihadapi, masih banyak lagi jago-jago lainnya, bilamana terjadi perkelahian, bisakah ia bersama Pek Kiam Hong meninggalkan lembah itu dengan selamat ?

Semua ini merupakan tanda tanya yang tidak ada jawabannya.

Keadaan semakin sunyi, kepusingan Siau Bwee semakin bertambah, saat inilah Toa Gu yang sedang asyik makan, tergesa-gesa bangun dari tempat duduknya, sambil menekan perutnya ia berlari kecil pada Liok Jie Hui.

"Perutku mules daningin buang air."

"Kenapa mendadak menjadi sakit ?"

Tanya Liok Jie Hui dengan mendelik.

"Mungkin minum air mentah itu."

"Kini masih siang, engkau tak bisa kedanau itu membuang hajat karena dijaga pengawal dari Pok Thian Pang, kupikir tahan saja segala rasa sakit itu !"

"Apakah suhu menghendaki aku berak dicelana ?"

"Ada-ada saja,"

Keluh Liok Jie Hui.

"Kalau begini rencana itu harus dipercepat."

Dipanggilnya Siau Bwee dan Kiam Hong, lalu dibisikinya.

"Beresilah pengawal yang menjaga mulut lembah secepatnya, jangan sampai ia melepaskan tanda bahaya bagi kawan-kawannya."

"Baik,"

Kata Siau Bwee dan terus mengajak Kiam Hong.

"Mari kita berangkat."

"Bilamana pengawal itu sudah diberesi, kuminta kalian menjaga mulut lembah itu,"

Kata Liok Jie Hui.

"Baik,"

Jawab Siau Bwee.

"tapi waktu mengambil pedang itu, Lo Cianpwee jangan lupa memanggilku !"

"Tentu kuingat !"

Jawab Liok Jie Hui.

Baru saja Siau Bwee dan Kiam Hong berlalu Toa Gu sudah lari kebawah pohon membuka celana untuk membuang hajat.

Pek Kiam Hong sedari tadi membungkam terus begitu berada berduaan saja dengan Siau Bwee segera ia berkata dengan perlahan.

"Kenapa engkau mau saja diperbudak menjaga mulut lembah, sedangkan dia sendiri enak-enakan mengambil pedang itu ?"

"Ya !"

Jawab Siau Bwee.

"Engkau sudah gila ?"

Hek pek siang yauw, Thian Lam Samkui, Thay Cin Tojin dan bibiku, orang macam mereka mana bisa kita tahu."

"Ya, karena jago-jago terlalu banyak, sementara waktu kita harus bekerja sama dengan Liok Jie Hui, jika tidak demikian pedang itu mana bisa kita peroleh."

"Dengan cara apa pedang itu bisa didapat ?"

"Dengan tipu muslihat !"

"Aku tak mengerti....."

"Jika tak mengerti jangan banyak tanya ! Dalam suasana rumit semacam ini kita harus bergerak melihat keadaan, sebaiknya engkau menurut kata-kata, pasti tidak salah !"

"Begitupun baik, tapi engkau harus berpikir harus bagaimana aku nanti menghadapi kaum Pok Thian Pang !"

"Soal kecil, waktu turun tangan, kita bisa bertopeng bukan ? Tambahan yang dititik beratkan adalah pedang, bukan berkelahi !"

Dan bertanya jawab sambil berjalan, tanpa terasa mereka telah tiba di mulut lembah.

Dengan menyelinap dibalik pohon mereka melangkah setapak demi setapak kearah pengawal yang sedang berjaga.

Penjaga itu agaknya kelewat letih, tampak sedang duduk sambil menundukkan kepala, rupanya ia tidur !

Maka iti tak heran jika kedatangan Siau Bwee dan Kiam Hong belum diketahuinya.

"Bagaimana ? Engkau atau aku yang turun tangan ?"

Bisik Siau Bwee.

"Engkau saja ! Tapi jangan mencelakakan jiwanya."

Kata Kiam Hong.

Siau Bwee mengangguk, lalu mencelat dengan cepat dan menerkam pengawal itu.

Dan lengannya beruntun memberi totokan yang telak, membuat pengawal itu terjungkal.

Kiam Hong segera menghampiri, membantu Siau Bwee menggotong tubuh pengawal itu kebalik semak-semak.

"Lekas bersembunyi ada musuh !"

Seru Siau Bwee separuh berbisik. Kiam hong membalik tubuh dan memandang keempat penjuru, ia tidak melihat sepotongpun bayangan manusia.

"Mana ada musuh ?"

Tegurnya.

"Engkau lihat ! Pengawal ini sudah mati ! Padahal bukan aku yang membunuhnya."

Mereka memeriksa tubuh pengawal itu dan mendapatkan ditengah-tengah alisnya sebuah lubang sebesar jarum, tertutup darah membeku.

"Siapa yang menurunkan tangan jahat ini ?"

Tanya Kiam Hong.

"Belum bisa diketahui !"

Jawab Siau Bwee.

"Yang perlu kita harus bertopeng dan kembali secepatnya kedalam lembah."

Sedangkan Liok Jie Hui yang bertugas menyingkirkan pengawal ditepi danau, begitu keluar dari tempat persembunyiannya , mendengar deheman orang....

Pengawal itupun mendengar juga, segera ia membalik badan, dan dilihatnya Liok Jie Hui ada dibelakangnya.

Segera ia menghunus pedangnya dan membentak .

"Engkau bernyali besar beranni memasuki tempat larangan kaum Pok Thian Pang, siapa namamu ?"

Liok Jie Hui sadar disekitar situ telah berada musuh yang tangguh, maka dengan tak ayal lagi pengawal itu diserang dengan tongkatnya.

Dengan berani pengawal itu menangkis dengan pedangnya.

Begitu dua senjata bentrok, terdengar suara "trang"

Yang amat nyaring.

Dan pengawal itu pedangnya terlepas dari lengannya, ia sadar menghadapi musuh yang lihay, cepat-cepat mengundurkan diri, mau melepaskan panah api minta bantuan.

Liok Jie Hui mana mau memberikan kesempatan, tubuhnya memburu dengan cepat, sedangkan tongkatnya tiba-tiba berbunyi "krak"

Dan tiba-tiba menjadi dua bilah pedang yang tajam, begitu sinar pedang berkelebat, langsung menembus tubuh pengawal itu.

Liok Jie Hui mencabut pedangnya dan membarengi dengan satu tendangan.

Tanpa bersuara lagi pengawal itu telah mati.

Tubuhnya mental dan masuk kedalam danau.

Terlihat air danau berputar-putar menyedot tubuh itu, dalam sekejap air telah menjadi tenang kembali, sedangkan tubuh pengawal itu sudah tidak terlihat lagi.

Liok Jie Hui biasanya menggunakan tongkat sebagai senjata, kini tongkatnya itu berubah menjadi pedang, dan jurus yang dipakai tadi adalah Tiang hong su jit (pelanngi membidik matahari) salah satu gerak serangan dari Keng thian cit su.

Nyatanya ia telah pandai ilmu pedang itu, tak heranlah jika hasratnya memiliki pedang wasiat begitu besar, karena ingin menjadi jago Kang Ouw yang tak terkalahkan.

"Ha ha ha !"

Tiba-tiba terdengar suara tertawa mengejek.

"Siapa ? Lekas keluar ! Jangan sembunyi-sembunyi !"

Didahului dengan kesiuran angin terdengar jawaban keras.

"Aku Bayangan darah !"

Belum pula suaranya hilang dari pendengaran, telah tiba bayangan merah dihadapan Liok Jie Hui.

Orang ini tinggi besar, usianya lebih kurang tujuh puluh tahun, wajahnya merah, demikian pula dengan janggutnya, ditambah pakaiannya yang merah juga, sekilas pandang tak ubahnya dengan Toapekong Api.

Ia bertangan kosong, tak membawa senjata apapun.

Bahkan lengan kirinya masih tergantung dalam kain yang diselendangkan kepundak, menyatakan ia sedang menderita luka, akan tetapi lengan kanannya tak ubahnya kebelakang yang kuat menentang tubuh Toa Gu yang besar.

"Liok Toako masakan sampai aku siorang she Kim ini dilupakan juga ?"

"Oh kiranya hiat mo Kim Tay,"

Kata Liok Jie Hui dengan kaget.

"Rupanya engkau masih senang memakai baju penganten yang serba merah ya ? Sudah tua tabiatmu masih begitu-begitu."

"Aku tidak bisa tukar pakaian, tapi engkau sendiripun tak bisa mengubah tabiatmu ! Entah dengan tipu apa engkau bisa memperbudak kedua anak muda itu !"

Liok Jie Hui memandang kesekelilling lembah dan tidak melihat Siau Bwee dan Kiam Hong, hatinya menjadi lega. Cepat-cepat ia tersenyum.

"Nampaknya kedatangan Kim heng kesini tentu ada yang diinginkan bukan ?"

"Sudah tahu ya sudah, buat apa tanya lagi ?"

"Sudah lamakah Kim heng kesini ?"

"Tidak seberapa lama, tepat seberlalunya orang-orang Pok Thian Pang aku datang kesini, memang kenapa ?"

"Bukankah di mulut lembah itu dijaga seorang pengawal dari Pok Thian Pang ?"

"Segala keroco begitu apa artinya ?"

Kata Kim Tay.

"Aku tidak sepertimu begitu repot memberesi seorang keroco !"

Perkataan ini membuat wajah Liok Jie Hui merah padam, tapi ia licik sedikitpun tak jadi gusar terkena sindiran itu.

Malahan ia tahu bahwa orang she Kim itu kini memiliki ilmu yang tinggi dan lebih maju dari dulu-dulunya.

Andaikata ia dongkol dan marah, pasti dirinya sendiri yang akan rugi, maka itu segala kedongkolan itu ditelannya dengan paksa, dan terus tersenyum-senyum.

"Waduh kepandaian Kim heng luar biasa sekali majunya, kalau begitu tak ada harapan lagi bagiku untuk memperoleh segala benda pusaka, untuk ini terpaksa aku harus mengundurkan diri."

"Apakah dengan ikhlas engkau mengundurkan diri begitu saja ?"

Liok Jie Hui yang licik segera mengeluarkan wajah yang minta dikasihani, sambil menarik napas panjang, ia mengangkat pundak.

"Mau tak mau harus mau toh ? Aku hanya sendirian sedangkan orang-orang Pok Thian Pang demikian banyak, demikian juga dengan Hek pek siang kuay pokoknya mereka lebih unggul..."

"Ha ha ha,"

Kim Tay tergelak-gelak memotong pembicaraan orang.

"Orang she Liok didepan kawan lama tidak usah menyanyikan lagu lama, terus terang saja katakana kita perlu kerja sama dan mendapat pedang itu seorang satu, begitu bukan ?"

"Oh tidak ! Sejujurnya aku tak ingin memperoleh pedang itu lagi ! Jika Kim heng masih menginginkan juga, silahkan aku hanya sebagai penonton saja !"

"Engkau ingin menonton perkelahian antara aku dan mereka ? Lalu memancing ikan diair keruh ? Ha ha ha ! Lagi-lagi ilmu lama, apa tidak ada yang baru ?"

"Kim heng jangan berkata begitu, sesungguhnya aku tak bisa menghadapi orang-orang Pok Thian Pang yang begitu banyak."

"Lalu apa maksudmu datang kesini ?"

"Mula pertama aku tak memikir bahwa Pok Thian Pang bisa mengerahkan orang Cap sahkie yang begitu banyak, ditambah Kim heng pun datang...ada harapan apa lagi bagiku ?"

"Aku selamanya berlaku jujur, maka itu sudah kutawari untuk bekerja sama engkau tak mau,"

Kata Kim Tay.

"Untuk ini tidak apa, tapi anak buahmu ini tak boleh dibawa."

"Apa perlunya Kim heng dengannya ?"

"Jadi pembantuku, dan menyuruhnya turun kedalam danau mengambil pedang itu !"

"Permintaanmu tak dapat kululusi !"

"Maka itu kerja samalah ! Keuntungan fifty-fifty, tak usah pura-pura lagi."

Kata Kim Tay dengan adem. Liok Jie Hui terpekur sejenak seperti mempertimbangkan ajakan orang yang diajukan berulang-ulang.

"Memang bersatu tapi bagaimana dengan luka ditanganmu itu ?"

"Hm, luka kecil ini sedikitpun tak membuatku pusing !"

Jawab Kim Tay dengan mantap.

"Pokoknya engkau boleh mengambil pedang itu dan aku yang menghadang musuh. Percayalah dalam seribu jurus tak bisa mereka mengalahkanku."

"Kalau begitu baiklah !"

Kata Liok Jie Hui.

"Tunggu dulu, aku masih mempunyai satu syarat."

"Katakanlah !"

"Untuk mencegah terjadinya persimpangan dari perjanjian semula sebelum anak buahmu ini turun mengambil pedang tubuhnya akan kutusuk dulu dengan Giam lo ciam (jarum elmaut). Setelah pedang itu diserahkan padaku, baru kuberi obat pemunahnya."

Mendengar ini Liok Jie Hui menjadi girang.

"Justru aku sedang pusing mencari daya untuk melenyapkan saksi ini, tak kira engkau menganggapnya sebagai muridku. Hm, sama dengan engkau mencari penyakit sendiri, dan harus bertanggung jawab pad Hwesio tua sedang aku makan nangkanya engkau kena getahnya."

Pikirnya dengan tenang. Sungguhpun begitu apa yang terasa didalam hatinya sedikitpun tidak kentara diwajahnya.

"Jikalau begitu Kim heng seperti tak percaya pada teman, dan untuk apa bekerja sama ?"

"Kita toh pertama kali mengadakan kerja sama bukan ? Bagaimanapun aku harus bercuriga !"

"Tapi jarum itu beracun muridku berkepandaian tak seberapa tinggi, mana ia tahan ?"

"Aku mempunyai semacam pil yang bisa mencegah racun itu, selama satu jam, waktu itu cukup untuknya mengambil pedang."

"Tapi apa yang dapat kuperbuat, andaikata engkau menghendaki kedua-duanya pedang itu, dengan menggunakan jiwa muridku sebagai sanderan ?"

"Pedang pusaka semacam itu, satupun sudah cukup bagiku ! Pokoknya aku tak bisa melanggar peraturan, asal engkaupun bisa memegang janji !"

Sesudah berkata ia letakkan Toa Gu ditanah dan memasukkannya kedalam dengan jarum yang baru dikeluarkan dari sakunya.

Setelah itu memberikan Toa Gu sebuah pil.

Segala kejadian itu terlihat dan terdengar tegas oleh Siau Bwee maupun Kiam Hong yang bersembunyi didalam lembah itu.

"Bedebah ! Orang she Liok itu benar-benar orang jahanam ! Mulutnya manis hatinya beracun ! Ia mengatakan pedang itu diberikan pada In Siau hiap, nyatanya suatu dusta yang keji,"

Kata Kiam Hong dengan dongkol.

"Siang-siang sudah kukatakan Liok Jie Hui bukan orang baik, engkau tak percaya,"

Kata Siau Bwee.

"Kita tak boleh berpangku tangan melihat Toa Gu dalam bahaya ! Ia kena dijual jahanam itu !"

"Tapi engkau harus berpikir, Kim Tay dan Liok Jie Hui memiliki kepandaian lebih tinggi dari kita, biar bagaimana dongkolpun harus bersabar, dan nantikanlah perubahan yang akan terjadi sampai pedang itu diambil mereka."

"Setelah mereka memiliki pedang itu, segalanyapun akan menjadi kasep !"

"Persoalan tak semudah yang engkau pikirkan,"

Kata Siau Bwee.

Orang semacam Liok Jie Hui yang begitu licik, bagaimanapun akan berdaya upaya menyingkirkan Kim Tay untuk memperoleh kedua-duanya pedang itu.

Disamping itu iapun harus menghadapi orang-orang Pok Thian Pang.

Pokoknya diamlah, malam ini pasti ada tontonan ramai !"

Mereka mengawasi lagi kearah danau, tampak Toa Gu sudah dibebaskan dari totokan. Ia marah-marah dan berkata .

"Engkau kenapa mengganggu orang yang lagi berak ? Dan kenapa menusuk pantatku dengan jarum ?"

"Toa Gu engkau tak boleh berlaku kurang ajar. Lo Cianpwee ini adalah kawan suhu, kau harus menghaturkan maaf kepadanya !"

"Kalau ia kawan suhu sepatutnya tak baik menusuk pantatku dengan jarum bukan ?"

"Aku menusukmu dengan jarum, karena suhumu akan menugaskan engkau melakukan sesuatu pekerjaan besar. Tusukan jarum itu adalah bantuan padamu, supaya memperoleh sukses dalam tugasmu !"

"Suhu, betulkah yang dikatakan itu ? Dan tugas apa yang suhu hendak berikan padaku ?"

"Benar ! Suhu akan memberikan engkau kesempatan membuat pahala besar, maukah ?"

"Mau !"

Jawab Toa Gu sambil menganggukkan kepala. Liok Jie Hui menunjuk ke danau dan berkata .

"Aku pernah mengatakan di dalam danau ini terdapat dua bilah pedang pusaka, kini kutugaskan engkau mengambilnya !"

"Oh, kiranya menyuruhku mengambil pedang itu !"

Kata Toa Gu.

"Pedang itu milik suhu atau milik Lo Cianpwee ini ?"

Liok Jie Hui jadi melengak hampir-hampir tak bisa menjawab, setelah berpikir ia tersenyum, baru menjawab.

"Sudah terang pedang itu bukan milikku maupun milik Kim Lo Cianpwee ini. Pedang itu entah sudah berapa puluh tahun terbenam dalam danau, jika kita yang mengambilnya berarti milik kita."

Mendengar ini Toa Gu menggelengkan kepala.

"Segala pekerjaan dapat kulakukan, tapi kalau disuruh mengambil barang lain orang aku tak mau, sebaliknya suhu saja yang mengambil sendiri !"

"Barang itu tidak ada pemiliknya, tidak bisa disamakan sebagai pencuri !"

Kata Liok Jie Hui. Toa Gu tetap menggelengkan kepala.

"Pokoknya biar tidak ada pemiliknyapun tidak boleh sembarang ambil. Dulu waktu kukecil pernah memungut sebuah apel dijalanan, dan kena dipukuli ibu, mengatakan bukan barang sendiri tidak boleh sembarangan ambil, tak perduli ada tidak pemiliknya !"

Biarpun Toa Gu seorang awam yang sederhana, apa yang dikatakan semuanya benar, sehingga Liok Jie Hui menjadi merah padam mendapat kuliah ini.

Kim Tay jadi tersenyum melihat Liok Jie Hui yang kemalu-maluan, lalu ia tersenyum.

"Muridmu ini seorang jujur yang patut dijadikan tauladan, dan membuatmu merasa malu bukan ? Tapi yang penting, jangan sampai kata-kata muridmu ini, mengurungkan niatmu memiliki pedang itu !"

"Itu soalku kan muridku, engkau tak perlu campur bicara !"

Jawab Liok Jie Hui.

"Engkau boleh berkata begitu, tapi ingat sekitar sini banyak musuh-musuh yang bisa datang setiap saat...."

"Kutahu !"

Jawab Liok Jie Hui ketus, dan terus ia berkata lagi pada Toa Gu.

"Aku kagum atas kekerasan dan kejujuranmu, karena sifatmu inilah kujadikan murid ! Engkau mengatakan ingin belajar ilmu memukul orang bukan ? Tahukah engkau ilmu memukul orang itu bagaimana ?"

"Kuberitahu ilmu memukul orang itu, tak lain tak bukan, adalah ilmu pedang yang luar biasa ! Setelah engkau pandai ilmu pedang itu, boleh malang melintang dikolong langit secara bebas ! Orang-orang akan takut padamu, saat itu jika engkau bilang hitam orang-orang itu akan mengatakan hitam jika engkau mengatakan putih merekapun akan mengatakan putih, pokoknya segala keinginanmu akan kau peroleh secara mudah."

"Apa artinya semua itu bagiku ?"

Selak Toa Gu.

"Artinya besar sekali, engkau bisa hidup senang tanpa bekerja keras, dan tak perlu lagi menjual barang pecah belah sepanjang hari. Asal engkau mendehem, orang bisa mengantarkan uang padamu !"

"Soal itu mudah saja, tapi yang membuatku pusing, engkau belum mempunyai senjata untuk memulai pelajaran pedang itu !"

"Oh, kiranya harus memiliki pedang dulu ?"

"Sudah terang ! Kalau tidak bagaimana engkau bisa menghadapi musuh yang bersenjata ?"

Kata Liok Jie Hui dengan tersenyum.

"karena inilah aku menyuruhmu mengambil pedang itu didalam danau !"

"Aku tidak mempunyai musuh yang bersenjata, maka itu tak perlu mempelajari ilmu pedang cukup ilmu memukul orang saja !"

"Betapa ilmu itu tinggi, tanpa senjata sama saja dengan nol besar !"

"Suhu harus tahu aku mempelajari ilmu memukul orang bukan berarti ilmu membunuh orang atau dibunuh orang, sehingga apa jadinya dengan ibuku ! Ia sudah tua tidak ada yang merawat lagi bukan ? Maka itu aku tak perlu dengan pedang itu !"

Kim Tay tertawa mendengar perkataan itu, sedangkan Liok Jie Hui menjadi pucat, ia menggelengkan kepala sambil menarik napas menghadapi Toa Gu sitolol itu.

"Liok heng aku merasa bangga engkau mempunyai murid yang demikian suci dan baik,"

Kata Kim Tay "sayangnya ia berguru pada alamat yang salah."

Liok Jie Hui merasa tersinggung mendengar perkataan itu.

"Dalam keadaan begini engkau masih ngeledek saja, apa maumu ? Ketahuilah bocah ini bertabiat seperti kerbau, kau kira engkau bisa menundukkannya ?"

"Jika tak bisa dengan kata-kata, kekerasan bisa dipakai bukan ?"

Kata Kim Tay.

"engkau boleh mengancamnya pasti ia takut dan menurut bukan ?"

"Engkau tidak tahu tabiatnya, ia lebih suka mati daripada melakukan apa yang tidak dikehendakinya !"

"Jika begini terus, sampai kapan engkau bisa membujuknya ?"

Liok Jie Hui tidak menjawab, ia memeras otaknya sedapat mungkin, tiba-tiba terpikir olehnya suatu cara yang dianggap baik. Maka ia pura-pura lemas dan putus asa, ditepuk-tepuknya pundak Toa Gu .

"engkau tak mau mengambil pedang itu akupun tak bisa memaksa, tapi dihari kemudian engkau jangan menyesalkan aku yang menjadi guru."

"Apa alasannya aku menyesalkan guru ?"

"Rupanya engkau belum mengerti betul, apa maksudku mengambil pedang didalam danau itu !"

"Aku sudah mengerti, suhu bermaksud menurunkan ilmu pedang dan menyuruhku membunuh orang !"

"Itu soal kecil yang kurang berarti, yang penting aku menghendaki pedang itu engkau membunuh seorang iblis diatas gunung, dan memakai pedang itu mencukil matanya untuk menolong seseorang."

"Menolong siapa ?"

"Menolong seorang buta !"

"Iblis itu apa ? Dan apa gunanya mencukil mata ?"

"Iblis itu adalah jejadian yang luar biasa dan tidak mempan dibacok senjata biasa, sedangkan matanya itu bisa dijadikan obat yang luar biasa. Orang buta asal ditetesi cairan mata iblis itu akan melekat kembali. Sebab ibumu telah hilang penglihatannya, aku baru mau menjadikan kau murid, dengan tujuan mengambil pedang didanau ini. Dengan senjata pusaka ini engkau boleh membunuh iblis itu, dan mencukil matanya untuk mengobati ibumu yang telah buta, sebagai anak engkau harus berbakti dan membuat senang yang menjadi orang tua."

"Oh kiranya suhu bermaksud mengobati mata ibuku ?"

"Siapa bilang bukan ? Tadinya tidak akan kuberi tahu dulu kepadamu, biar engkau girang belakangan, tapi kuterangkan juga sekarang karena engkau tak mau mengambil pedang itu ! Nah sekarang telah kujelaskan engkau boleh tidak mengambil pedang itu, tapi jangan menyesalkan aku tak bisa mengobati mata ibumu."

Mendengar ini Toa Gu tergugah hati kecilnya, air matanya memenuhi kelopak matanya. Dengan suara parau ia menjawab .

"Suhu dimana iblis itu berada ? Aku akan mengadu jiwa dan mengambil matanya !"

"Tanpa pedang pusaka usahamu akan sia-sia melawan iblis itu !"

"Aku mau mengambil pedang itu, tapi bagaimana kalau ketahuan ibuku, pasti akan dicaci maki...."

"Engkau mengambil pedang untuk menolongnya, mana mungkin ia marah ? Lagi pula setelah beres membunuh iblis itu, pedang ini bisa kita taruh lagi didalam danau, hitung-hitung pinjam pakai !"

"Kenapa sedari tadi tidak suhu katakana pinjam pakai ? Nah sekarang aku mau mengambilnya, tapi setelah beres membunuh iblis itu harus mengembalikan lagi kesini !"

"Oh sudah tentu harus begitu, masakan sebagai guru mau membohongi murid."

"Baiklah ! Apakah sekarang juga mengambilnya ?"

Melihat sediaan Toa Gu mengambil pedang Kim Tay menjadi girang.

"Liok heng engkau benar-benar pintar, hayo lekas, tunggu apa lagi !"

Toa Gu sedang membuka baju mendengar ini, segera berhenti dan berkata dengan serius .

"Engkau jangan bergirang dulu, pedang itu hanya dipinjam bukan dimiliki !"

Liok Jie Hui memberi isyarat pada Kim Tay sambil berkata pada Toa Gu.

"Oh sudah pasti harus mengembalikan lagi kesini. Barang siapa berani membohong tidak akan kuberi ampun !"

Setelah itu ia mengikat ujung rotan pada sebuah pohon, ujung satunya lagi diikatkan pada tubuh Toa Gu. Lalu memberikan pula sebilah belati pada sitolol itu sambil memesannya dengan berbisik .

"Sebelum engkau turun ke air sebaiknya minum arak, dan pergunakanlah belati ini jika menemui makhluk-mahkluk jahat didalam air. Belati ini sudah direndam dalam racun, asal saja yang terkena ujungnya, biar sedikit akan segera mati !"

Toa Gu hanya memakai celana dalam saja dan siap turun kedalam danau.

"Rotan ini bisa putus apa tidak ?"

"Jangan kuatir biarpun kecil rotan ini sangat kuat, lagi pula ada suhu yang menjagai, asal ada sesuatu yang kurang beres engkau boleh menarik-nariknya sebagai kode aku segera menarik keluar dari air itu."

"Pedang itu ada dimana, sulit apa tidak mencarinya ?"

"Gampang sekali mencarinya, asal engkau sampai didasar danau ini dan meilhat cahaya yang terang-terang, artinya pedang itu berada disitu, dan engkau boleh mengambilnya."

Toa Gu tidak berkata-kata lagi, ia minum arak beberapa tegukan, lalu menerjunkan diri ke dalam danau.

Putaran air danau itu bukan main kerasnya, dalam sekejap saja, Toa Gu tersedot kedalamnya, dan rotan yang berada diluar dengan cepat terulur masuk beberapa depa panjangnya.

Liok Jie Hui dan kim Tay dengan tak berkedip-kedip memperhatikan permukaan air danau, demikian pula dengan Pek Kiam Hong maupun Siau Bwee, mereka berdoa untuk keselamatan Toa Gu.

Dalam sekejap rotan diluar terlihat bergerak kesana kemari, permukaan danau menjadi merah oleh darah, tapi hanya sebentar saja, karena darah itu sudah hilang kedalam dasar lagi.

Sedangkan rotan itu ditarik-tarik dari dalam.

Liok Jie Hui cepat-cepat menarik rotan mengangkat Toa Gu.

Tampak dilengannya dan pundaknya bekas gigitan binatang, napasnya sudah senen kemis.

"Ada apa dan bagaimana ?"

Tanya Liok Jie Hui.

"Danau unu dalam betul sampai ditengah-tengah, aku dihadang seekor ular air yang besar. Aku digigitnya beberapa kali, untung aku memiliki ilmu kebal, kalau tidak sudah mati konyol !"

Jilid 15________ "Dengan adanya makhluk penunggu itu, pasti ada benda pusaka !"

Kata Kim Tay.

"Engkau benar-benar sebagai muridku yang jempolan, apakah ular itu sudah kau bunuh ?"

Tanya Liok Jie Hui.

"Aku sudah menikamnya beberapa kali, entah mati atau hidup aku tak tahu !"

"Pokoknya asal kena sekali pasti ia akan mati, apa lagi kalau berkali-kali. Nah minum lagi arak ini, engkau pasti berhasil memperoleh pedang itu !"

Toa Gu segera menyelam lagi kedalam air, Liok Jie Hui dengan lihay melirik pada kim Tay, tampak kawan itu sedang terbengong mengawasi permukaan air, melihat ini timbul pikiran jahatnya didalam benaknya.

"Akan kubereskan lawan tangguh ini dengan menggelap,"

Pikirnya, sambil berpura-pura mengawasi kepermukaan air.

Padahal dengan diam-diam ia mengumpulkan tenaga, dan mau segera menurunkan tangan jahatnya.....pada saat inilah dari mulut lembah terdengar suara nyaring yang amat panjang.

Berbareng dengan suara itu tampak dua bayangan yang sangat cepat melayang kedalam lembah.

Mereka bukan lain dari pada Hek pek siang kuay suami istri.

Begitu Liok Jie Hui melihat, hatinya tak alang kepalang kagetnya, dan yang membuatnya dongkol, kedua jejadian itu dengan mudah saja masuk kedalam lembah, sedangkan Siau Bwee dan Kiam Hong yang ditugaskan disana kemana perginya ?

Saat ini ia tidak bisa berpikir terlalu lama kaena Hek pek siang kuay telah tiba didepannya.

"Kim heng semoga engkau tak lupa dengan janji semula !"

Kim Tay tersenyum mendengar kekuatiran kawannya itu, ia segera menghadang Hek pek siang kuay.

"Bagaimana tuan dan nyonya, apakah baik-baik saja ? Sudah lama kita tidak bertemu !"

Begitu masuk kedalam lembah, Hek pek siang kuay melihat pakaian Toa Gu dipinggir danau, dan rotannya terikat pada pohon sedang dipegangi Liok Jie Hui, pemandangan ini membuatnya kaget, membuat mereka mengawasi ketengah danau tanpa menghiraukan pertanyaan Kim Tay.

Liaw Siu Kim wajahnya terlihat asam, ia sudah merasa gusar melihat keadaan di danau.

"Hei bangkai, engkau tidak mendengar kataku, nah apa yang mau engkau katakana lagi ?"

Ia menyesali suaminya dengan kata-kata kasar.

"Ha ha ha !"

Na Beng Sie tergelak-gelak.

"Benar-benar didunia ini banyak keanehan...."

"Tutup mulutmu ! Dimaki masih bisa tertawa benar-benar menyebalkan ! Engkau tahu barang itu sudah dimiliki orang, apa-apaan ketawa lagi, mau di gaplok barangkali ?"

"Kita malang melintang puluhan tahun, selama ini belum pernah tunduk pada siapapun, tapi mulai hari ini, mau tak mau harus tunduk pada orang lain !"

Lauw Siu Kim tidak mengerti, matanya mendelik selebar-lebarnya.

"Kenapa harus tunduk ?"

Dengan kipasnya Na Beng Sie menunjuk kepada Kim Tay, sedangkan matanya melirik pada Liok Jie Hui .

"Puluhan tahun yang lalu, antara tiga belas jago-jago bulim, mempunyai nama dan kedudukan yang sederajat, tapi tak kira saat ini sudah berubah begitu jauh."

"Dulu dan sekarang apa bedanya, aku tak mengerti kata-katamu !"

Bentak Lauw Siu Kim.

"Diantara tiga belas jago-jago Bulim, yang bertabiat berangasan adalah Tong Cian Lie, sedangkan yang angkuh adalah Kim Tay bukan ? Tapi kenapa orang angkuh bertabiat tinggi serta tidak mau tunduk kepada orang lain dimasa lalu kini bisa tunduk dan mau menjadi tukang pukul orang lain ? Benar-benar aneh bukan ?"

"Mungkin ia sudah pikun !"

Kata Lauw Siu Kim.

Suami istri yang kelihatannya mungil-mungil ini mulutnya lemas sekali, tanya jawab antara mereka ini membuat Kim Tay merah padam karena ia tersindir sebagai tukang pukul Liok Jie Hui, sungguhpun begitu ia tidak sampai marah.

Ia tetap tersenyum dan berkata .

"Sudah bertahun-tahun kita tak bertemu, tak kira mulut Na heng masih lemas seperti dulu, he he he..."

Ia mengakui berdebat mulut tak bisa menandingi Na Beng Sie, maka kata-katanya ditutup dengan tertawa sinis.

Sedangkan Liok Jie Hui kuatir Kim Tay kena propakasi musuh, cepat menyambung perkataan kawannya.

"Kami tidak mempunyai saudara dan tidak pula mempunyai istri, maka itu apa salahnya bekerja sama ?"

"Liok toako paling pintar mencari teman, dulu memperalat empat bajak dari Kuan lo dan menyulap mereka menjadi ahli-ahli pedang dari empat perguruan, akhirnya keempat bajak itu terbunuh mati, sedangkan Keng thian cit su jatuh pada Liok toako seorang. Rupanya cara itu sedang dipraktekkan disini."

"Ha ha ha kitab itu hanya satu, sedang pedang ini ada dua ! Lagi pula Kim heng bukan orang tolol seperti empat bajak itu !"

"Kuyakin apa yang tuan dan nyonya kehendaki akan gagal seperti tempo hari ! Ha ha ha !"

"Beng Sie jangan banyak bicara dengannya pokoknya pedang itu bukan miliknya, siapapun boleh mengambilnya ! Serang !"

Teriak Lauw Siu Kim dengan tak sabar. Melihat sikap Lauw Siu Kim yang mau menyerang ini, Kim Tay telah siap sedia dengan Jarum Elmautnya.

"Sebenarnya antara kita bukan orang lain, kenapa harus bertengkar,"

Katanya menenagkan situasi gawat.

"Orang lain boleh takut dengan jarummu, aku tidak memandang sebelah mata..."

Ia menoleh pada suaminya.

"Jangan siam saja, hayo kerjakan orang she Liok itu !"

Lauw Siu Kim membuktikan perkataannya, sepadang pedangnya dengan gencar menyerang pada Kim Tay.

Yang disebut belakangan sedikitpun tak merasa jerih, sepasang lengannya melancarkan ilmu Pek kong ciang, mengimbangi ilmu pedang lawannya.

Mereka berkelahi dengan sungguh-sungguh sehingga seru sekali, dalam beberapa jurus itu, keadaan tetap berimbang.

"Kim heng kuminta engkau menghentikan dulu perkelahian ini !"

Seru Na Beng Sie.

"Aku mau bicara denganmu !"

Kim Tay berkelit dari serangan, lalu melompat keluar arena perkelahian.

"Apa maumu lekas katakana !"

"Kim heng sebagai jago sejati kenapa mau bekerja sama dengan manusia licik yang rendah ini ? Lagi pula lihatlah keadaan dan situasi sudah terang bahwa Kim heng menghadapi kami berdua belum tentu menang bukan ? Andaikat menangpun tak berarti apa-apa ! Karena dalam keadaan letih dan lemas itu, Liok Jie Hui akan menyerangmu..ha..ha...ha...alhasil nol besar bagi capai lelahmu sebagai tukang pukul. Kupikir lebih baik engkau bekerja sama dengan kami dan hasilnya bagi paro bagaimana ?"

Mendengar ini Liok Jie Hui menjadi kaget, cepat-cepat ia menyelrtuk.

"Akalmu memang baik, dengan kekuatan bertiga ingin menumpas aku seorang setelah itu dengan kekuatanmu berdua untuk menumpas seorang bukan ? Akhirnya kedua pedang itu menjadi milikmu berdua...ha...ha...ha...!"

"Mulutku biar jahat boleh dipercaya tidak sepertimu mulut manis hati busuk !"

Kata Na Beng Sie.

"Engkau boleh mengatakan aku jahat dan busuk, tapi dalam hal kerja sama ini aku mengeluarkan modal, sedangkan kalian hanya mengandalkan omong kosong saja !"

Kata Liok Jie Hui.

Kim Tay menjadi serba susah, sebab jika menimbang keadaan dan situasi, tawaran Na Beng Sie sangat menarik hati.

Tapi kalau dipikir lebih jauh apa yang dikatakan Liok Jie Hui lebih masuk akal.

Setelah berpikir agak lama ia mengambil keputusan untuk terus memihak pada Liok Jie Hui.

"Laki-laki berkata hanya sekali, kini aku sudah bekerja sama dengan Liok heng bagaimanapun tak bisa mengubah lagi keputusan yang telah kuambil !"

"Mendengar ini Liok Jie Hui kegirangan segera ia berkata.

"Ini baru keputusan jantan !"

"Tapi aku hanya mengambil bagianku saja, lain dari itu bukan urusanku !"

Kata Kim Tay. Kata-katanya itu berarti, setelah mendapat bagian ia berlalu dari situ. Soal suami istri itu mau merebut bagian Liok Jie Hui ia tidak mau mencampurinya.

"Hm jangan dengar omongannya dan tak perlu banyak bicara dengan cecunguk-cecunguk ini. Mari kita serang !"

Kata Lauw Siu Kim.

Berbareng dengan habisnya perkataan ia menerjang lagi pada Kim Tay.

Na Beng Sie tidak bisa berkata apa-apa lagi, segera membantu istrinya mengerubuti Kim Tay seorang.

Kipasnya bekerja dengan tangkas dan cepat, menotok kearah dada musuh, serangannya yang telengas ini dilakukan dengan mendadak, membuat Kim Tay kelabakan, hampir-hampir kena tertotok, ia membuang diri dengan terhuyung-huyung.

Tapi tak urung lengannya terkena pula senjata musuh, membuatnya kesakitan, ia menjadi marah dan gusar dan geregetan, tapi sebelum ia memperbaiki keadaan dirinya, serangan dari Lauw Siu Kim sudah tiba.

Kepaksa ia mencelat keatas dan jarumnya yang sudah dikenal sedari tadi ditebarkan kearah Na Beng Sie.

Jarum itu berjumlah lima batang dilepaskan sekaligus menerjang kiri dan kanan, atas bawah dan tengah.

Na Beng Sie cukup lihay ia membuka kipasnya menyampok yang kebawah, kiri dan kanan, sedangkan yang keatas dan ketengah diegoskan dengan membanting diri kebelakang.

Biarpun begitu tak urung bajunya kena terserempet juga ujung jarum masuk.

Bagitu Kim Tay turun ketanah, ia menyiapkan lagi dengan tujuh jarum.

"Orang she Na rasakanlah Tujuh Jarum Pencabut Nyawa."

Na Beng Sie menjadi kaget, cepat mengajak istrinya melompat mundur sejauh beberapa tombak, mereka tidak berani mendekat lagi, hanya mulutnya saja memaki-maki kalang kabutan....

Kim Tay tergelak-gelak tertawa melihat keadaan ini, Liok Jie Hui pun turut tergelak-gelak dengan girangnya.

Saat inilah rotan tergetar-getar, dengan cepat Liok Jie Hui menarik keatas.

Toa Gu muncul dengan tangan hampa membuat Liok Jie Hui kecewa.

"Engkau turun begitu lama, tidakkah berhasil menemui pedang itu ?"

Toa Gu menggelengkan kepala.

"Danau ini dalam sekali, sukar mencapai dasarnya ! Aku mencarinya setengah mati, yang kudapati hanya sebuah gua, didalamnya cukup terang seperti cahaya pelita....."

"Kenapa engkau tidak masuk kedalamnya ?"

Potong Liok Jie Hui.

"Kulihat didalam gua itu ada kursi dan meja, seolah-olah ada penghuninya, aku tak berani sembarangan masuk, maka kuketuk dinding baru agak lama, tak ada yang datang...."

"Anak tolol, iti tentu kamar penyimpan pedang pusaka, tak ada penghuninya, lekas engkau menyelam lagi, tak perlu mengetuk pintu, masuk saja dan ambil pedang itu."

"Enak saja main masuk, jika benar-benar ada orang bagaimana ?"

"Jangan berlaku tolol, mana bisa orang tinggal diair."

Kata Liok Jie Hui yang segera memberesi lagi Toa Gu kedalam air.

Kini keadaan jadi sunyi, semua pandangan mata dari orang-orang yang berada disitu tertuju ke dalam danau, tapi begitu lama berlalu belum pula terlihat Toa Gu muncul.

Siau Bwee yang bersembunyi, berbisik pada Kiam Hong.

"Hek pek siang kuay merasa jerih pada Giam lo ciam Kim Tay, kini mereka diam-diam, tentu akan bergerak lagi setelah Toa Gu berhasil mendapatkan pedang. Kini ketenangan mereka akan kuacak-acak."

"Bagaimana caranya mengacak-acak mereka ?"

Tanya Kiam Hong. Siau Bwee mengeluarkan panah api yang didapat dari pengawal Pok Thian Pang.

"engkau diam-diam disini, aku mau pergi dulu melepaskan panah ini."

Sehabis berkata ia menyelinap pergi keluar lembah.

Dalam waktu sekejap sinar terang membubung naik dari lembah sambil menperdengarkan suara nyaring.

Keempat orang yang berada dipinggir danau melihat panah api itu.

Mereka kaget tak alang kepalang.

"Liok heng kalau orang-orang Pok Thian Pang benar-benar datang, urusan jadi berengsek !"

Kata Kim Tay.

Bertepatan dengan waktu ini, rotan bergetar-getar.

Liok Jie Hui segera menarik dengan cepat, air bergulung-gulung dan keluarlah Toa Gu dari dalamnya, tapi tetap dengan tangan hampa seperti tadi.

"apakah kau tidak masuk kedalam gua itu ?"

Tegur Liok Jie Hui dengan napsu.

"Masuk,"

Jawab Toa Gu sambil menganggukkan kepala.

"Ketemu pedang itu ?"

Desak Liok Jie Hui.

"Ketemu !"

Keempat orang dengan sinar mata mambulat, memandang pada Toa Gu, Hek pek siang kuay maju beberapa langkah.

"Sudah ketemu kenapa tidak diambil ?"

Kata Liok Jie Hui sambil menelan liurnya.

"Tidak bisa diambil, di dalam gua itu ada orangnya!"

"Ada orangnya ?"

"Ya, seorang Tojin tua, pedang itu berada dalam peti dan diletakkan didepannya, cahayanya terang dan indah."

Liok Jie Hui jadi heran, gejolak hatinya memukul keras, andaikata tidak ada Kim Tay dan Hek pek siang kuay siang-siang ia sudah terjun sendiri kedalam danau.

Kini ia cuma "Oh...."terus menelan liurnya, dan dengan serius ia bertanya lagi.

"apakah Tojin itu melihat kedatanganmu ?"

"Tidak !"

"Sedang apa Tojin itu ?"

"Sedang tidur !"

Liok Jie Hui merasa kaget dan sadar, giginya berkeretekan bahwa mangkelnya.

"Hei engkau kenapa begitu goblok ? Mungkin tidak bisa membedakan orang hidup atau mati ?"

"Suhu kalau tidak kau sebutkan hampir aku tidak ingat perbedaan orang mati dan hidup. Ah, sekarang berani kupastikan dia sudah mati ! Seharian kuledek ia diam saja tanpa menghiraukan, duduk saja dengan tenang !"

"Waduh, moyang goblok, tidak tahan aku ! Lekas pergi deh,"

Liok Jie Hui menarik napas sesak sehabis berkata.

Toa Gu menyedot hawa dan menyelam kembali ke dalam air.

Suasana berbalik jadi sunyi lagi, mereka menantikan Toa Gu muncul dengan dua pedang pusaka, dan berpikir bagaimana caranya untuk memiliki pedang itu.

Liok Jie Hui berpikir bagaimana caranya meloloskan diri setelah dapat pedang itu.

Kim Tay pun sedang menghitung-hitung, bagaimana caranya menghadapi Liok Jie Hui andaikata kawan itu ingkar janji, dan bagaimana pula menghadapi siang yauw.

Sedangkan Hek pek siang yauw sudah memastikan diri akan merampas pedang itu.

Mereka mengawasi dengan tenang menantikan saat yang ditunggu....tapi malangnya mereka harus menahan ketegangan begitu lama karena Toa Gu belum muncul juga.

Liok Jie Hui berkali-kali membetot-betot rotan, mendesak Toa Gu yang berada di dalam air tapi tidak mendapat balasan.

Malahan orang-orang disitu mendengar kesiuran angin susul menyusul, dari jauh semakin dekat...., tak alang kepalang kagetnya Liok Jie Hui yang licik, cepat-cepat ia memperingati kim Tay.

"Hati-hatilah orang-orang Pok Thian Pang telah datang !"

Begitu perkataannya selesai diucapkan orang-orang Pok Thian Pang sudah masuk kedalam lembah dan berbaris mendekati danau.

Kim Tay melihat diantara orang-orang Pok Thian Pang terdapat sam kui dan Thay Cin Tojin wajahnya menjadi sedikit berubah, diam-diam jarum Giam lo ciamnya digengam semakin erat, sedangkan hatinya berdebar-debar keras.

Ia seorang angkuh yang berkepandaian tinggi, tapi jika menghadapi sam kui dan Thay Cin Tojin sekaligus, rasa jerihnya datang sendiri.

Lebih-lebih disamping mereka masih ada Hek pek siang yauw yang menantikan kesempatan untuk turun tangtan, keadaan ini benar-benar bahaya bagi dirinya.

Soat Kouw yang menjadi pemimpin rombongan, dengan mata mendelik menyapu keempat orang yang berada disitu sambil membentak dengan kasar .

"Siapa yang bernyali besar berani membunuh anak buah kaum Pok Thian Pang ?"

Liok Jie Hui dan Kim Tay diam saja pura-pura tidak mendengar. Hal ini membuat Na Beng Sie tersenyum dingin.

"Liok toako dan Kim toako jika jantan sejati, berani berbuat berani bertanggung jawab, kenapa diam-diam saja, sejak kapan menjadi gagu ?"

Dengan perkataannnya ini Na Beng Sie sama dengan mengatakan bahwa anak buah Pok Thian Pang bukan mereka yang membunuh.

"Hm, kalau takut kena urusan kenapa masih nongkrong disini, pergilah biar jangan !"

Kata Kim Tay. Lalu memandang pada Soat Kouw dan tersenyum kecut.

"Anak buahmu masih sudah waktunya, kenapa engkau marah-marah ?"

"Engkau manusia macam apa, berani gila-gilaan disini ?"

Tanya Soat Kouw.

"Engkau siapa mau tahu namaku ?"

Ejek Kim Tay. Soat Kouw menjadi gusar, ia mengangkat tangan mengeluarkan perintah.

"Ciduk manusia keparat ini !"

Tiga pengiringnya segera menghunus senjat siap menjalankan perintah. Tapi keburu dihalangi Tok Kay Pong.

"Sabar dulu !"

Cepat-cepat ia menghampiri Soat Kouw dan membisiki beberapa kata, lalu dengan wajahnya yang selalu tersenyum ia memberi hormat kepada lawan-lawannya.

"Kim heng, Liok heng, Tuan dan nyonya Na adalah jago-jago bulim yang kenamaan, marilah kukenalkan pada Soat Kouw nio ini, ia adalah Hu pangcu dari Pok Thian Pang....."

Perhatian Liok Jie Hui tertuju kedalam danau, sedikitpun tidak menghiraukan perkataan itu, sedangkan Kim Tay berdongak kelangit tak meladeni, ia bersikap angkuh dan jumawa, sedangkan Lauw Siu Kim yang berangasan sudah tak sabar lagi melihat tingkah laku Tok Kay Pong, ia meludah dengan sengit .

"Model dari seorang budak yang bisa jadi juara kalau dipamerkan."

Tok Kay Pong tidak menghiraukan ia tersenyum terus dan melanjutkan kata-katanya.

"Lo Cucong kaum Pok Thian Pang yang semalanya menghormati dan memperlakukan dengan baik setiap jago-jago dunia persilatan. Lebih-lebih terhadap Bulim Cap Sahkie ! Maka itu kebetulan kita bertemu disini, sekalian mengajak saudara-saudara menjadi anggota Pok Thian Pang."

"Aku bisa mempunyai kedudukan apa andaikata masuk menjadi anggota Pok Thian Pang ?"

Tanya Kim Tay seenaknya.

"Oh bisa berkedudukan tinggi, misalnya menjadi Futhoat."

"Itu sih kedudukan rendah untuk bangsa anjing-anjing buduk, aku tak mau !"

Kata Kim Tay.

"Kalau jadi Pangcu sih boleh kupikir-pikir !"

Sehabis berkata ia tergelak-gelak. Wajah Tok Kay Pong menjadi merah seperti bara, sejenak berlalu ia baru bisa membuka mulut lagi.

"Itu adalah kebaikan dariku, jika Kim heng menampik berarti mencari susah sendiri."

"Sebelum kudapati pedang pusaka, siapapun tak bisa mengusir aku dari sini, sesudah kudapat pedang pusaka siapapun tak bisa merintangiku ! Ha ha ha."

"Engkau jangan menganggap paling jago, diluar langit masih ada langit !"

Kata Soat Kouw.

"Pokoknya yang kurang senang boleh maju !"

"Hai bangsat jangan sombong !"

Bentak Houw Bin Hengcia yang terus menggunakan senjata beratnya melakukan serangan dengan mendadak.

"Hm, engkau ini kurcaci dari mana ?"

Tegur Kim Tay sembari mengengosi serangan, dan membarengi dengan jarum mautnya.

Houw Bin Hengcia hanya melihat jarum-jarum yang berkeredepan tanpa bisa berbuat sesuatu apa.

Tubuhnya terkena tujuh jarum dan segera terjungkel dan berkerejetan sejenak, terus tak berkutik lagi dengan jiwa melayang.

Dengan sekali kebut membuat jiwa musuh melayang, Kim Tay sengaja memamerkan keampuhannya.

Dan ia berhasil membuat keder atau jerih kaum Pok Thian Pang, tapi berbalik membuat Hek pek siang yauw senang.

Begitu jarumnya terlepas, sepasang suami istri itu segera menggunakan kesempatan ini melakukan serangan.

Kim Tay tidak mempunyai waktu merogoh jarumnya, ia dikepung terus dengan bertangan kosong, dalam sejenak telah berada dibawah angin.

Tok Kay Pong dengan tersenyum memandang pada Soat Kouw.

"Kounio sudah sampai saatnya kita turun tangan!"

"Benar !"

Jawab Soat Kouw.

"Sam wie boleh mengawasi Kim Tay dan Siang Yauw, Tojin dan aku menghadapi Liok Jie Hui, sedang Jung jung bertiga harus bersiap-siap kalau ada musuh lagi dari luar !"

Begitu Soat Kouw beres mengatur dan mau turun tangan.

Tiba-tiba saja ditengah danau terlihat suatu pemandangan yang menakjubkan.

Saat ini hampir gelap, ditengah-tengah danau terlihat berkilaunya suatu sinar menerangi sekeliling.

Kaum Pok Thian Pang menjadi terpesona oleh pemandangan ini, mereka urung melakukan serangan, perhatiannya tertuju kedalam danau, demikian pula Kim Tay dan Siang Yauw telah menghentikan perkelahiannya dan mengawasi ke danau.

Liok Jie Hui girangnya bukan main, kedua tangannya menarik rotan, dengan cepat sinar itu semakin lama semakin terang, dari gulungan air yang memecah tampak Toa Gu keluar.

Kedua tangannya masing-masing memegang pedang, satu merah, satu putih, bercahaya dan berkilauan menyilaukan mata.

Liok Jie Hui dengan tangan bergetar menggapai-gapai pada Toa Gu sambil berseru-seru .

"Muridku yang baik, lekas serahkan pedang itu pada suhu..."

Perkataan dari Liok Jie Hui ini membuat sekalian yang berada disitu menjadi sadar, Siang Yauw dengan cepat berlari kearah pohon, mau menguasai rotan yang tertambat disitu.

Tapi Kaum Pok Thian Pang pun menuju kesitu untuk menguasai rotan itu pula, pikir mereka jika bisa menguasai rotan itu sama dengan menguasai Toa Gu, tapi pikiran mereka ini salah karena dengan begitu Liok Jie Hui yang memegang tengah rotan yang merentang antara pohon itu dan Toa Gu mendapat keuntungan tanpa ada gangguan.

"Liok toako lekas ambil pedang itu, jika mereka berani mendekat akan kusapu dengan jarum !"

Seru Kim Tay.

Kaum Pok Thian Pang dan Hek pek siang Yauw sadar tak ada gunanya menguasai rotan dipohon itu, mereka meluruk ketepi danau lagi dengan serabutan.

Kim Tay sudah siap sedia, begitu mereka mendekat lengannya segera bergerak, sekalian orang itu dengan sendirinya terhalang dan tidak bisa mendekat.

"Suhu mereka sedang berbuat apa ?"

Tiba-tiba Toa Gu membuka mulut .

"Jangan banyak bicara lekas serahkan pedang itu pada suhu !"

Kata Liok Jie Hui yang terus menarik Toa Gu kepinggir danau.

Begitu hampir kepinggir, Toa Gu memegang kedua pedang itu dengan tangan kirinya, lengan kanannya dijulurkan minta Liok Jie Hui mengangkatnya.

"Suhu tariklah aku, tenagaku sudah habis !"

Katanya.

Liok Jie Hui segera memegang lengan Toa Gu, apa celaka murid yang bodoh itu menariknya dengan kencang, tak ampun lagi tubuhnya kecebur kedalam danau, sebelum ia bisa berbuat apa-apa sudah tersedot air yang mutar itu, sedangkan Toa Gu telah naik kedarat, sambil memandang kedanau dan berteriak-teriak .

"Suhu ! Suhu !"

"Toa Gu berikan pedang itu kepadaku !"

Teriak Kim Tay.

"Ini pedang untuk suhu, kenapa harus kuserahkan kepadamu ?"

Jawab Toa Gu. Kim Tay menjadi sengit, dengan cepat ia menyergap kearah Toa Gu.

"Engkau mau merampas ha !"

Bentak Toa Gu sambil menggerakkan lengan kirinya mempertahankan diri.

Gerakan yang dilancarkan itu adalah salah satu dari tipu Keng thian cit su yang bernama pelangi menyambar matahari, keruan saja Kim Tay menjadi kaget dan cepat-cepat menarik lengannya sambil melompat mundur, sungguhpun begitu tak urung lengan bajunya tersobek pedang Toa Gu.

Setelah berhasil memukul mundur musuhnya, Toa Gu segera lari sekencang-kencangnya sambil berteriak "Suhu !"

Kaum Pok Thian Pang dan Hek pek siang yauw tidak mengetahui asal usulnya toa Gu, mereka merasa heran melihat Kim Tay mundur teratur tanpa berjanji, ramai-ramai mengepung Toa Gu.

Diantara mereka Na Beng Sie bertindak paling gesit, dalam sekejap mata telah mencandak Toa Gu, kipasnya dirapatkan, dengan penuh kekuatan ditotokkan kepunggung orang.

Tiba-tiba saja Toa Gu membalik badan dan melancarkan serangan, lagi-lagi ia menggunakan salah satu jurus dari Keng thian cit su yang bernama kuda banal mengejar kilat.

Na Bedng Sie tidak menduga, ia kaget dan dengan cepat menarik serangannya sambil mengundurkan diri, tapi tidak luput, topinya terlepas sobek, membuatnya bergidik sendiri.

"Baagaimana lukakah ?"

Tanya Lauw Siu Kim yang menyusul belakangan. Na Beng Sie menjulurkan lidah.

"Tidak ! tetapi bocah itu entah apanya Liok Jie Hui, ia pandai menggunakan ilmu pedang Keng thian cit su."

"Mari kita kejar lagi !"

Ajak Lauw Siu Kim.

Karena mereka agak merandek, kaumnya Pok Thian Pang sudah mendahului mereka dan berada disebelah depan.

Adapun Toa Gu berlari-lari memutari danau, yang lainpun turutan memutari danau itu, sangat lucu dilihatnya tak ubahnya seperti anak kecil sedang main petak.

Ia tak bisa berlari dengan kencang dalam sekejap sudah kesusul musuh-musuhnya, tapi setiap kali ia berhasil emnggebah musuh dengan serangan pedangnya yang luar biasa.

Setelah memutari danau, Toa Gu berlari keluar lembah sekuat tenaga, yang mengepungpun sudah menyusul mengikutinya dari belakang.

Dengan cepat Kim Tay mendahului yang lain dan berhasil menghadang jalan Toa Gu, demikian pula dengan Thian lam sam kui dan lain-lain.

Beramai-ramai mereka mengurung Toa Gu seorang diri.

Hek pek siang yauw datang agak terlambat, ia tak memperdulikan hitam dan putih, segera memecah kurungan dan maju kedalam.

Sehingga membuat Kim Tay terdesak keluar.

Ia jadi gusar, jarumnya yang tinggal dua disiapkan, dan kebetulan dilihatnya Soat Kouw telah mendekat pada Toa Gu, tak ayal lagi ia mengayunkan lengannya.

Melihat ini Tok Kay Pong berseru keras memperingati Soat Kouw dan membuat yang disebut belakangan bisa menghindar oleh ancaman maut itu.

Kim Tay berhasil maju kedepan dan lagi-lagi terhalang Hek pek siang yauw, mereka jadi berkelahi lagi....

Dalam perkelahian yang acak-acakan ini, masing-masing tidak memperdulikan lagi antara kawan dan lawan, yang jadi tujuan mereka yakni mendapat pedang pusaka!

Kini kaum Pok Thian Pang bisa berada didepan, melihat ini Hek pek siang yauw dan Kim Tay berhenti berkelahi, mereka bersama-sama bergumul dengan orang-orang Pok Thian Pang !"

"Toa Gu dalam bahaya, kita harus menolongnya !"

Kata Siau Bwee.

"Yang mengurungnya, adalah jago-jago kenamaan, kita mana bisa menolongnya ?"

"Kita tak perdulikan mereka jago yang bagaimana,"

Kata Siau Bwee.

"Asal bisa menolong Toa Gu keluar dari lembah ini sudah bagus.....pakailah kain dan tutup muka kita, jangan sampai dikenali mereka...."

Saat inlah mereka mendengar suatu bunyi nyaring memecah udaraq dari luar lembah.

"Sabar, siapa lagi yang datang itu ?"

Kata Kiam Hong.

Dengan cepat mereka bisa melihat berkelebatnya empat bayangan, yang tahu-tahu sudah berada didekat danau.

Keempat orang ini semuanya bertopeng dan berlengan kosong, tapi kalau dilihat gerakannya tadi, menyatakan memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.

Tak perduli kaum Pok Thian Pang maupun Hek pek siang yauw dan Kim Tay semuanya menghentikan perkelahian mereka begitu melihat kedatangan empat orang bertopeng ini.

Mereka dengan mata membulat mengawasi penuh perhatian, yang pertama-tama sampai adalah seorang pelajar muda, disusul seorang gadis yang dua lagi adalah seorang tua bertangan panjang dan seorang tua bermata satu.

Pemuda pelajar itu melirik kekiri dan kanan lalu menggoyangkan tangan dengan perlahan kedua orang yang menjadi pengikutnya segera kekanan dan kekiri lalu mengangkat empat tangan mereka menggempur pada Thay Cin Tojin yang paling dekat dengan mereka.

"Beng !"

Terdengar bunyi nyaring, akibat bentrokan tenaga diudara, dimana Thay Cin Tojin telah melakukan tangkisan.

Berbareng dengan hilangnya bunyi suara, tampak tubuh Tojin itu terpental keudara dan jatuh ke tanah dengan terguling-guling dan hampir nyebur di danau.

Salah seorang Bulim Cap Sahkie yang kenamaan sebagai Thay Cin Tojin hanya dalam jurus pertama sudah dirobohkan, membuat yang menyaksikan menjadi kagum dan gentar atas kekuatan kedua orang tua itu.

Kini kedua orang tua itu sudah melancarkan pukulan tangannya kearah Thian lam sam kui.

Yang disebut belakangan mengetahui tidak memiliki ilmu setinggi Thay Cin Tojin maka tak berani menerima pukulan itu dengan kekerasan, mereka melompat mundur, menjauhkan diri tak berani dekat-dekat.

Kedua orang tua itu membuka jalan, sedangkan pemuda pelajar dan si gadis mengikuti dibelakang siorang tua dengan tenang, begitu mereka sampai didepan Toa Gu.

Pemuda pelajar yang bertopeng, memperlihatkan pada Toa Gu semacam benda dan terus berkata dengan perlahan.

"Serahkan pedang itu kepadaku !"

Toa Gu memperhatikan benda ditangan pemuda itu, lalu ia tersenyum.

"Hati-hatilah hadapi manusia-manusia ini, mereka lihay-lihay !"

"Tak usah cemas !"

Kata sipemuda pelajar. Toa Gu tidak banyak bicara lagi, menyerahkan pedang-pedang itu kepada si pemuda.

"Terima kasih banyak atas kebaikanmu ini,"

Kata sipemuda, seraya memberikan sebilah pedang pada si gadis, tubuhnya berputar mengajak kawan-kawannya berlalu.

Jago-jago yang berada disitu dibuat kesima dan memandang kepergian empat orang itu dengan mendelong.

Tapi kejadian ini hanya berjalan sejenak saja, mereka sadar kembali dan buru-buru melakukan pengejaran.

"Hei, bocah tinggalkan pedang itu !"

Seru Kim Tay sambil melakukan serangan pada pemuda itu.

Dengan tersenyum dingin, terlihat pemuda itu menghalau serangan musuhnya dengan tangan kiri sedangkan pedangnya membarengi gerakan itu.

Begitu cepat dan luar biasa, Kim Tay tak sempat mengengos, tahu-tahu pundaknya sudah terkena pedang tubuhnya terhuyung dan jatuh ditanah....

Dibagian lain pada saat yang bersamaan.

Siang yauw menyergap si gadis dengan berbareng.

Dengan tenang kedatangan dua musuh itu dipakai dengan pedang.

Na Beng Sie menjadi kaget, ia tidak mengira gadis muda itu mempunyai kekuatan hebat, untung ia betubuh kecil dengan menggelinding bisa menyelamatkan diri dari bahaya.

Demikian pula dengan Lauw Siu Kim terpaksa mundur teratur.

Dengan mata berapi-api Lauw Siu Kim naik pitam sedangkan Na Beng Sie dengan mulut mengangnga dan mata mendelik, melihat gadis itu pergi jauh.

Sedangkan dua orang tua lainnya dengan telapak tangannya yang bertenaga kuat, memukul mundur Sam kui dan lain-lainnya, setelah itu menyusul si pemuda dan si gadis menuju keluar lembah.

Dengan gusar Soat Kouw mengeluarkan komando .

"Kejar !"

Susul menyusul orang-orangnya berserabutan pergi, melakukan pengejaran.

Siang yauw pun menyusul pula, setelah tertegun seketika lamanya, dengan cepat keadaan dilembah itu menjadi sunyi.

Kim Tay biar menderita luka tidak sampai membahayakan dirinya, tampak ia bangun dan niat menyusul pula.

Tapi kena dirintangi Toa Gu.

"Kim Lo Cianpwee jangan lupa, masih ada satuurusan antara kau dan aku yang perlu dibereskan !"

"Soal apa ?"

Bentak Kim Tay. Dengan tersenyum Toa Gu berkata.

"Lo Cianpwee boleh pergi tapi berikan dulu obat pemunah padaku ! Jarummu itu beracun aku bisa mati kalau kau pergi !"

"Hmm, obat itu bisa kuberikan tapi kau harus mengatakan dulu, siapa gurumu dan siapa keempat orang bertopeng tadi !"

"Kalau aku tak sudi memberikan keterangan bagaimana ?"

"Bagaimanapun harus mau...."

Kata Kim Tay sambil mengumpulkan tenaga dan selangkah demi selangkah mendekati Toa Gu.

"Dengan luka-luka yang Cianpwee derita, bisa berbuat apa kepadaku ?"

"Segala luka ringan begini sedikitpun tidak kurasa, aku masih mampu membunuhmu !"

"Engkau bisa membunuhku, tapi ada orang lain bisa membunuhmu pula !"

Dengan kaget Kim Tay celingukan keempat penjuru ia tidak melihat barang seorangpun, maka ia tertawa mengejek .

"Engkau menakut-nakuti aku ya ?"

"Aha yang kukatakan benar belaka, tapi aku tak bisa memaksamu percaya bukan ?"

"Pokoknya seumur hidupku tak pernah takut pada siapapun !"

"Orang lain boleh tidak ditakuti, tapi kalau dia....ha ha ha !"

"Siapa dia ?"

"Guruku !"

"Ha ha ha, gurumu itu mungkin sudah jadi santapan ikan di danau ! Ia sudah mati kelelap !"

"O Mie To Hud ! Sie cu kenapa memaki aku dari belakang ?"

Tiba-tiba terdengar suara jawaban dari belakang.

Kim Tay segera membalik badan, kagetnya tak alang kepalang, karena tak seberapa jauh dari dirinya terlihat seorang Hwesio sedang duduk diatas batu dengan tenangnya.

"Engkau.....engkau...."

Kata Kim Tay dengan nada terputus-putus karena kagetnya.

"Mungkin kesibukan sehari-hari, membuat Sie cu lupa padaku bukan ?"

Kata Hwesio itu dengan tenang.

"Thay kong siansu,"

Kata Kim Tay sambil mundur-mundur, dia cepat-cepat memberikan Toa Gu obat pemunah, setelah itu tubuhnya dengan cepat mencelat pergi dari situ.

Dengan tersenyum-senyum Toa Gu memungut obat itu dan menghampiri si Hwesio, ia memberi hormat dan berkata .

"Supek (paman guru) kapan datang ?"

Dengan tersenyum Hwesio itu turun dari batu.

"Aku tak menyangka engkau terkena jarumnya Kim Tay ! Untuk inilah aku datang kemari menyamar sebagai Hwesio, kalau tidak begitu, mana mungkin ia menyerahkan obat pemunah itu !"

"Kenapa harus menyamar, katanya Supek cukup gagah ! Masakan takut dengannya ?"

"Engkau tidak tahu Kim Tay seorang beradat tinggi yang sombong sekali, tapi iapaling takut pada Tay kong Sian su,"

Kata hwesio tetiron itu.

"Andaikata aku sanggup mengelahkannya, tapi tak semudah begini ia menyerahkan obatnya itu."

Sehabis berkata ia mengusap mukanya membuka kedoknya, segera tampak wajah aslinya. Seorang tua berambut putih berusia tujuh puluhan.

"Supek, kapankah engkau memberikan ilmu ganti muka ini padaku ?"

"Itu urusan nanti, sekarang mari kita pergi ! Makanan itu masih berguna bawalah sekalian !"

"Urusan sudah beres untuk apa makanan ini ?"

"Jangan banyak berkata, bawalah !"

Dengan tenang-tenang mereka meninggalkan lembah itu. Pek Kiam Hong memandang kepergian mereka dengan mengerutkan kening dan berkata-kata seorang diri.

"Heran ! Kenapa bisa dia...?"

"Apa yang engkau katakana ?"

Tanya Siau Bwee.

"Aku heran pada Hwesio tetiron itu !"

"Engkau kenal dengannya ?"

"Ya, dia adalah Cian bin sin kay Cu Lit !"

"Pantas ia bisa menyamar begitu sempurna !"

"Yang kutahu ia berada dimarkas pusat Pok Thian Pang, kenapa bisa ada disini ! Lagi pula ia sudah menjadi anggota Pok Thian Pang, kenapa membantu pihak musuh ?"

"Kau maksudkan ia membantu keempat orang bertopeng tadi ?"

"Ya,"

Jawwab Pek Kiam Hong.

"keempat orang bertopeng itu datangnya begitu cepat, peginya pun sama juga, mereka lihay sekali, entah dari perguruan mana, tapi kalau diingat-ingat pemuda pelajar yang bertopeng itu seperti kenal saja, entah dimana aku pernah bertemu dengannya."

Belum habis ia bicara, Siau Bwee sudah membekap mulutnya dan menariknya kesamping.

"Lihat ! Ada apa didanau itu !"

Baca Juga: Tiga Maha Besar 7

Baca Juga: Pendekar Cacad 13

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert