Ceritasilat Novel Online

Pendekar Cacad 13

Eps 13 Pendekar Cacad - Gu Long

Baca online Pendekar Cacad - Gu Long

Cersil Pendekar Cacad - Gu Long.

"Benar, satu di antara kelima orang yang masih hidup, malaikat sakti pedang iblis, delapan pedang salju beterbangan, tabib sakti, sastrawan berwajah tampan dan golok sakti berlengan tunggal pastilah Hek-mo-ong yang sedang kita cari."

"Jika ada orang menaruh curiga kepadamu bahwa kau adalah Hek-mo-ong. Bagaimana penjelasanmu tentang tuduhan itu?"

Jengek Liong Oh-im sambil tertawa dingin.

"Aku tidak menyalahkan, jika kalian berpendapat demikian. Kalian memang wajar mempunyai kecurigaan semacam itu."

"Padahal masalah siapakah Hek-mo-ong sesungguhnya sudah menjadi masalah basi dan tak ada artinya lagi. Sejak kita memasuki Bu-lim-bong, tujuan kita semua hanya satu, yakni melenyapkan Thio Kim-ciok dari muka bumi!"

"Tapi aku kuatir jusru Thio Kim-ciok yang akan melenyapkan kita dari muka bumi."

"Bagus, bagus sekali,"

Kata Liong Oh-im tertawa.

"Di saat Thio Kim-ciok sudah mampus nanti, di antara kita pun harus dicarikan suatu penyelesaian secara adil dan cepat, paling tidak harus ditentukan siapa yang lebih unggul di antara kita semua."

"Sekarang kalian masih bisa berkata akan membunuh Thio Kim-ciok. Padahal tahukah kalian, bahwa kita justru sudah terperangkap oleh tipu muslihat Thio Kim-ciok sehingga keselamatan jiwa kalian terancam bahaya maut,"

Kata Bong Thian-gak dingin. Ho Lan-hiang berpaling dan memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak, kemudian katanya pula sambil tertawa ringan.

"Apa yang diucapkan Jian-ciat-suseng memang benar, kita sudah terperangkap dalam Bu-lim-bong sehingga setiap salah langkah bisa mengakibatkan jiwa kita terancam bahaya maut."

"Ho Lan-hiang, apa rencanamu sekarang? Tak ada salahnya diutarakan secara blak-blakan,"

Seru Tio Tian-seng tiba-tiba. Perempuan paling cantik dari wilayah Kanglam ini segera tertawa cekikikan.

"Saat ini aku tak lain hanya ingin memberitahukan kepada kalian bahwa Liu Khi telah berhasil menarik Tan Sam-cing serta Gi Jian-cau berpihak kepadanya. Mereka berniat hendak melenyapkan kita dari muka bumi."

"Jadi kau pun berniat mengajak Lohu dan Liong Oh-im untuk bekerja sama menghadapi mereka?"

Kata Tio Tian-seng hambar.

"Aku rasa hanya dengan berbuat demikianlah kekuatan kita baru akan berimbang."

Tio Tian-seng mendengus dingin.

"Ketika kita belum masuk ke dalam Bu-lim-bong, sudah kuduga kalau kau, Ho Lan-hiang akan melakukan pengacauan dari tengah. Ai, bila kita sampai berbuat begini, maka keselamatan jiwa kita semua yang berada dalam Bu-lim-bong ini benar-benar berbahaya sekali!"

Ho Lan-hiang menarik muka secara tiba-tiba seraya berseru.

"Apa yang ingin kuutarakan telah kusampaikan, apa yang menjadi keputusan terserah pada pilihan kalian sendiri."

"Hm, dalam peristiwa pembunuhan yang dilakukan sepuluh tokoh persilatan terhadap Thio Kim-ciok pada tiga puluh tahun berselang, tak lain karena gara-gara dirimu."

Berubah hebat paras muka Ho Lan-hiang setelah mendengar perkataan itu, segera bentaknya.

"Tio Tian-seng, kau hendak mencari kesulitan bagi dirimu sendiri?"

Dengan wajah serius Tio Tian-seng berkata lebih jauh.

"Peristiwa itu telah berkembang menjadi begini sekarang, aku pun tak ingin melindungi lagi nama baik sepuluh tokoh persilatan. Ai, dulu sepuluh tokoh persilatan bukan cuma memperkosa istri orang lain, merampok harta kekayaan orang, bahkan membunuh pula korbannya. Perbuatan semena-mena ini boleh dibilang merupakan dosa besar yang tak akan dapat ditebus dengan kematian saja."

"Tio Tian-seng,"

Tiba-tiba Liong Oh-im membentak.

"perbuatanmu ini benar-benar sudah keterlaluan."

Di Tengah bentakan itu, tiba-tiba saja Liong Oh-im menggerakkan pedangnya melancarkan sebuah tusukan kilat ke depan.

Bong Thian-gak segera membentak, sebuah bacokan dilepaskan pula ke muka, angin pukulan yang kuat dan dahsyat itu seketika menggetarkan tubuh Liong Oh-im hingga mundur sejauh tiga langkah.

Sementara itu Tio Tian-seng telah berkata dengan wajah serius dan bersungguh-sungguh.

"Liong-heng, kuanjurkan kepadamu janganlah mengulang lagi perbuatan salah yang pernah kita lakukan bersama pada tiga puluh tahun berselang."

Sastrawan berwajah tampan Liong Oh-im tertawa dingin.

"Tio Tian-seng, aku mau bertanya kepadamu, apa yang menjadi tujuan kedatanganmu ke Bu-lim-bong hari ini?"

Tio Tian-seng tidak langsung menjawab, melainkan tertawa seram.

"Yang menjadi tujuan utama kedatanganku ke Bu-limbong hari ini tak lain adalah untuk mengetahui apakah Thio Kim-ciok benar-benar masih hidup di dunia ini."

Mendengar ucapan itu, Bong Thian-gak segera menyela dengan lantang.

"Tio-locianpwe, Boanpwe dapat memberitahukan kepadamu, Thio Kim-ciok masih hidup segar bugar di dunia ini."

"Bagus, bagus sekali,"

Tio Tian-seng tertawa tergelak.

"Kalau memang Thio Kim-ciok masih hidup segar bugar, maka kedatanganku ke Bu-lim-bong ini tanpa suatu maksud dan tujuan lagi. Andaikata dibilang ada maksud, maka maksudku tak lain adalah minta maaf kepada seseorang serta menyesali semua perbuatan yang pernah kulakukan dulu."

"Apakah orang yang dimaksudkan Tio-pangcu adalah Thio Kim-ciok?"

Tanya Bong Thian-gak lebih lanjut dengan suara dalam.

"Benar, aku telah melakukan suatu perbuatan yang sangat memalukan dan amat salah terhadap Thio Kim-ciok."

Dengan wajah berat dan serius Bong Thian-gak mendesak lebih lanjut.

"Tadi Tio-pangcu mengatakan sepuluh tokoh persilatan telah memperkosa istri orang dan merampok harta kekayaannya. Apakah hal ini benar-benar pernah terjadi?"

Tio Tian-seng menghela napas sedih.

"Dari kesepuluh tokoh orang persilatan yang ada, kecuali seorang di antaranya yang merupakan wanita, hampir semuanya sudah pernah melakukan hubungan senggama dengan Ho Lan-hiang."

Berubah hebat paras muka Bong Thian-gak setelah mendengar ucapan yang terakhir ini, segera serunya.

"Apakah Ku-lo Hwesio, si pendeta agung dari Siau-lim-pay pun tak lolos dari perbuatan ini?"

"Bila aku berbicara bohong barang sepatah kata saja, biar Thian menumpas diriku."

Bong Thian-gak benar-benar amat terkejut.

Walaupun hingga detik ini dia masih belum mau mempercayainya seratus persen, tetapi bila teringat akan kejalangan serta daya pikat yang dimiliki Ho Lan-hiang, mau tak mau dia harus percaya juga akan hal itu.

Dengan wajah hijau membesi, Liong Oh-im tertawa seram, lalu serunya.

"Tio Tian-seng, kau anggap setelah pengakuan dosamu itu lantas Thio Kim-ciok bakal mengampuni dosadosamu? Seorang lelaki sejati berani berbuat berani bertanggung jawab dan selamanya tak kenal kata menyesal. Tak nyana kau adalah manusia pengecut semacam ini. Hm! Akulah orang pertama yang akan melenyapkan kau dari muka bumi."

Liong Oh-im segera menggerakkan pedangnya sambil bersiap-siap melancarkan serangan.

Mendadak pada saat itu di tengah ruangan terjadi getaran gempa bumi yang amat keras, sedemikian kerasnya hingga menggoyang semua dinding ruangan.

Semua jago tak mampu berdiri tegak lagi oleh getaran itu, masing-masing segera jatuh terjungkal ke atas tanah.

Bong Thian-gak sendiri merasa amat terperanjat atas terjadinya getaran keras yang muncul secara tiba-tiba itu, namun sepasang matanya yang tajam tetap mengawasi empat penjuru dengan seksama.

Begitu memandang, Bong Thian-gak segera menyaksikan suatu perubahan alat rahasia yang amat luar biasa.

Ternyata di tengah gempa bumi keras yang menggetar ruangan itu, keempat dinding ruangan besar dan semua pintu turut bergeser, bahkan permukaan ruangan pun pelan-pelan ikut bergerak naik ke atas.

Gempa bumi yang sangat kuat itu berlangsung kurang lebih seperempat jam lamanya sebelum akhirnya berhenti.

Namun pemandangan di sekeliling ruangan telah berubah sama sekali, kini dari sekeliling dinding ruangan telah muncul delapan buah lorong besar yang membentang jauh ke perut bumi sana.

Tapi berhubung suasana di situ amat gelap, maka tiada seorang pun yang tahu betapa dalam setiap lorong yang ada di sana.

Sementara semua orang masih bimbang dan kaget oleh perubahan yang terjadi secara amat mendadak itu, tiba-tiba dari tengah ruangan berkumandang suara seseorang yang berkata dengan aneh.

"Para jago dengarkan baik-baik, sekarang pintu Pat-kwa-bun dari Bu-lim-bong telah tertutup semua. Dalam keadaan begini, sekalipun kalian mempunyai sayap jangan harap bisa meninggalkan Bu-lim-bong ini barang selangkah pun."

Begitu mendengar suara ini, Bong Thian-gak segera melompat bangun dan membentak dengan suara keras.

"Apakah kau adalah Hek-mo-ong?"

Gelak tawa itu terhenti sejenak, kemudian baru terdengar ia menjawab.

"Benar, aku adalah Hek-mo-ong. Sebenarnya orang yang hendak dibunuh Thio Kim-ciok hanya sepuluh tokoh persilatan serta Ho Lan-hiang, tapi kalian orang-orang yang berada di luar garis ternyata ikut mencari kematian bagi diri sendiri dengan ikut masuk ke dalam Bu-lim-bong. Hal ini tidak dapat menyalahkan aku kelewat kejam, salah sendiri kalian tak mau menuruti perkataanku?"

Di tengah pembicaraan itu, dari balik delapan lorong yang tersebar di delapan penjuru itu bermunculan pula delapan orang.

Kedelapan orang itu tak lain adalah Biau-kosiu, nenek berambut putih serta Biau-han-thian suami-istri yang berada dalam satu kelompok, lalu Gi Jian-cau, Tan Sam-cing serta Long Jit-seng, pada rombongan ketiga adalah Kim Toa-hay yang sudah sinting itu.

Dari sekian jago yang memasuki Bu-lim-bong, hanya Liu Khi seorang yang tidak nampak hadir di situ sekarang.

Ho Lan-hiang memandang sekejap ke arah semua jago yang hadir, lalu tertawa cekikikan, gumamnya.

"Hanya Liu Khi seorang yang tidak muncul di sini. Kalau begitu, dia adalah Hek-mo-ong sesungguhnya."

Sementara itu Gi Jian-cau sekalian berdelapan yang baru muncul dari balik lorong hampir semuanya dalam keadaan sangat mengenaskan dan ada yang terluka, di antaranya Long Jit-seng yang tampaknya menderita luka paling parah, tubuhnya harus dibimbing oleh Tan Sam-cing agar tidak roboh.

Dengan suara keras Bong Thian-gak segera membentak.

"Hek-mo-ong, aku rasa setiap orang sudah mengetahui siapakah dirimu sekarang. Bukankah kau adalah Liu Khi?"

Dari balik ruangan bergema suara gelak tawa penuh kebanggaan, terdengar dia menyahut.

"Dalam keadaan seperti ini, tentu saja kalian sudah tahu siapakah aku. Benar, Hek-moong adalah Liu Khi. Tapi sayang, kalian terlalu lambat mengetahui akan hal ini."

Dengan suara dalam tabib sakti Gi Jian-cau berseru.

"Betul, Liu Khi adalah Hek-mo-ong dan Hek-mo-ong adalah komplotan Thio Kim-ciok, sudah sejak dahulu Hek-mo-ong menerima permintaan Thio Kim-ciok untuk membunuh habis sepuluh tokoh persilatan serta Ho Lan-hiang. Hari ini kita sudah terjebak oleh perangkapnya."

"Hehehe,"

Kembali terdengar suara tertawa licik Hek-moong dari balik ruangan.

"Gi Jian-cau, apa yang kau ucapkan memang benar. Sejak tiga puluh tahun berselang, Liu Khi sudah menerima permintaan Thio Kim-ciok untuk membinasakan kalian."

Kemudian Ho Lian-hiang berseru pula sambil tertawa cekikikan.

"Liu Khi, apa balas jasa yang dijanjikan Thio Kimciok kepadamu sebagai imbalan dalam pembunuhan ini?"

"Peta rahasia dari bukit tambang emas."

"Akhirnya bukankah kau sendiri pun dikhianati oleh Thio Kim-ciok?"

Jengek Ho Lan-hiang lagi sambil tertawa.

"Tidak, aku sama sekali tidak dikhianati oleh Thio Kimciok."

"Bila kau tidak dikhianati oleh Thio Kim-ciok, mengapa Thio Kim-ciok merobek peta rahasia tambang emasnya menjadi sebelas bagian dan dibagikan kepada sepuluh tokoh persilatan serta aku?"

Hek-mo-ong tertawa seram.

"Tujuan Thio Kim-ciok berbuat demikian tak lain adalah untuk mengadu domba kalian, agar kalian saling gontok dan bunuh demi memperebutkan peta rahasia itu. Dengan cara begitu pula aku baru dapat membunuh kalian dengan mudah. Itulah sebabnya pembagian peta rahasia itu menjadi sebelas bagian sebetulnya merupakan salah satu rencanaku, hanya saja Thio Kim-ciok tak pernah menyangka kalau sepuluh tokoh persilatan bakal bekerja sama dengan Ho Lan-hiang untuk membinasakan dirinya."

"Kau benar-benar adalah Liu Khi?"

Tiba-tiba Tio Tian-seng membentak. Hek-mo-ong tertawa tergelak.

"Tio-pangcu, apakah kau menemui kesulitan? Silakan sampaikan, aku pasti akan membantu memecahkan kesulitanmu itu."

"Benar, aku memang mempunyai banyak persoalan yang tidak kupahami. Pertama, kami ingin membuktikan lebih dahulu benarkah kau adalah Liu Khi yang asli? Untuk itu harap kau tampil lebih dahulu."

Hek-mo-ong tertawa licik.

"Tio-pangcu, aku tidak akan tampil seperti apa yang kau inginkan, tetapi aku dapat memberitahukan kepadamu bahwa aku memang golok sakti berlengan tunggal yang asli. Bila kurang percaya, tanyakan saja kepada Gi Jian-cau."

"Benar, dia adalah Liu Khi. Tapi ada satu hal yang sulit dipercaya, yakni Thio Kim-ciok ternyata berada sekomplotan dengannya."

"Hm, mengapa aku tidak bisa berkomplotan dengan Thio Kim-ciok?"

Seru Hek-mo-ong lagi dengan tertawa dingin.

"Pertama, aku Liu Khi tidak pernah berzinah dengan istrinya. Kedua, di saat sepuluh tokoh persilatan bekerja sama membunuh Thio Kim-ciok pada tiga puluh tahun berselang, aku pun tidak turut ambil bagian."

"Dalam peristiwa pengeroyokkan yang terjadi atas Thio Kim-ciok tempo hari, Tan Sam-cing tak turut ambil bagian,"

Kata Tio Tian-seng.

"Sekalipun Tan Sam-cing tidak turut ambil bagian dalam peristiwa pengeroyokan dan pembunuhan atas Thio Kim-ciok dulu, namun secara diam-diam ia mencintai Ho Lan-hiang. Jadi soal perempuan, ia tetap terlibat secara langsung."

Mendadak Bong Thian-gak membentak.

"Liu Khi, walaupun kau tidak turut serta dalam peristiwa pengeroyokan dan pembunuhan atas Thio Kim-ciok, tapi sesungguhnya kaulah dalang yang mengatur peristiwa itu, kaulah otak dari peristiwa berdarah ini."

Hek-Mo-ong tertawa terbahak-bahak.

"Justru aku adalah Hek-mo-ong, maka aku pula yang menjadi otak semua peristiwa ini. Biarpun begitu, nyatanya Thio Kim-ciok bersedia bekerja sama denganku."

Tiba-tiba Biau-kosiu membentak pula.

"Hek-mo-ong, apakah ayahku Kui-kok Sianseng mati di tanganmu?"

Hek-mo-ong tidak menjawab, kemudian baru berkata.

"Tidak, bukan aku yang membunuh."

"Lantas siapakah pembunuhnya?"

Bentak Biau-kosiu lebih jauh.

"Tio Tian-seng yang melakukan, tapi boleh dibilang juga Ho Lan-hiang yang telah membunuh ayahmu itu."

Paras muka Biau-kosiu kontan berubah hebat, keningnya berkerut dan hardiknya kepada Tio Tian-seng.

"Tio-pangcu, benarkah apa yang dikatakan Hek-mo-ong?"

Bong Thian-gak amat terperanjat, ditatapnya Thio Tianseng tanpa berkedip. Dalam hati dia sangat berharap jago tua itu menyangkal tuduhan itu. Akan tetapi Tio Tian-seng segera menghela napas panjang.

"Ya benar, Kui-kok Sianseng memang tewas di ujung pedangku, tetapi pertarungan itu berlangsung secara jantan dan terbuka. Aku sama sekali tak menggunakan tipumuslihat."

"Mengapa kau membunuh ayahku? Ayo cepat katakan!"

Bentak Biau-kosiu dengan marah. Suara tertawa licik Hek-mo-ong sekali lagi bergema, terdengar ia berkata.

"Tio Tian-seng membunuh Kui-kok Sianseng demi perempuan paling cantik di wilayah Kanglam Ho Lan-hiang, sebab waktu itu Kui-kok Sianseng sedang gilagilanya mencintai Ho Lan-hiang, sedangkan Tio Tian-seng adalah seorang pelindung Ho Lan-hiang. Dalam situasi samasama cemburu dan ingin merebut hati sang pujaan hati, tidak heran mereka bertarung mati-matian."

"Hek-mo-ong,"

Bentak Biau-kosiu dengan marah.

"kau jangan ngaco-belo bicara sembarangan. Aku tidak percaya ayahku berbuat demikian."

Gelak tawa Hek-mo-ong kembali berkumandang, selanya tiba-tiba.

"Bukan cuma Kui-kok Sianseng yang mampus garagara cemburunya terhadap perempuan ini, bahkan Oh Cionghu pun tewas di ujung pedang Tio Tian-seng karena alasan yang sama."

Paras muka Bong Thian-gak berubah hebat, dengan suara dalam ia segera bertanya kepada Tio Tian-seng.

"Benarkah apa yang dikatakan Liu Khi barusan?"

"Ya, semua yang dikatakannya memang benar,"

Tio Tianseng menghela napas panjang. Biau-kosiu tak mampu menahan gejolak emosinya lagi, dia segera membentak.

"Tio Tian-seng, bersiap-siaplah kau menerima kematianmu!"

Sembari berkata gadis itu maju tiga langkah dan sepasang tangannya dengan cepat melolos dua bilah pisau belati yang bersinar tajam.

"Nona Biau,"

Tio Tian-seng segera berkata dengan suara dalam.

"aku tak ingin membunuh orang lagi, harap kau jangan bergerak sembarangan."

"Siapa membunuh orang, dia harus membayar dengan nyawanya sendiri. Bagaimana pun juga aku tetap akan membalas dendam bagi kematian ayahku,"

Bentak Biau-kosiu sambil melotot.

Di tengah pembicaraan, tubuhnya bergerak maju ke depan, seperti sebuah gasing yang sedang berputar dia mendesak maju, sementara sepasang pisau belatinya bagaikan dua titik cahaya bintang menusuk ke bagian mematikan di tubuh Tio Tiang-seng.

Segera Tio Tian-seng melompat ke belakang, kemudian bentaknya.

"Nona Biau, dengarkan dulu perkataanku! Aku membunuh ayahmu serta Oh Ciong-hu tak lain karena tindakan melindungi diri sendiri, dalam suatu pertarungan yang tak bisa dihindarkan bisa jatuh korban di salah satu pihak."

"Kau tak usah banyak bicara,"

Tukas Biau-kosiu sambil menahan geramnya.

"Jika punya kepandaian, bunuhlah aku!"

Di tengah bentakannya, pisau belatinya kembali menyergap jalan darah mematikan di tubuh Tio Tian-seng dengan kecepatan bagaikan sambaran petir.

Setiap jurus serangan dilakukan secara cepat dan merupakan ancaman serius.

Di bawah sergapan pisau belatinya yang bertubi-tubi, selangkah demi selangkah Tio Tian-seng mundur terus, namun ia sempat berbicara lagi.

"Nona Biau, aku sudah merasa menyesal karena pernah diperalat oleh Ho Lan-hiang sehingga membunuh orang. Hari ini aku tak berkeinginan melukaimu."

"Tapi aku pun berharap kau jangan mendesak dan memojokkan aku. Jika kau ingin membalas dendam, tunggulah setelah kita keluar dari Bu-lim-bong ini dengan selamat, waktu itu aku pasti akan memberi keadilan kepadamu,"

Tambah Tio Tan-seng. Mendadak terdengar Bong Thian-gak membentak pula.

"Nona Biau, harap kau hentikan dulu seranganmu itu."

Sambil berseru pemuda itu menerjang masuk ke dalam arena.

Telapak tangan kanannya segera diayunkan ke muka melepaskan sebuah pukulan, angin serangan yang tajam segera membendung datangnya ancaman Biau-kosiu.

"Kau berniat membantunya?"

Bentak Biau-kosiu dengan marah, keningnya berkerut kencang. Dengan wajah serius dan nada bersungguh-sungguh Bong Thian-gak berkata.

"Nona Biau, dengarkan nasehatku, untuk sementara waktu janganlah kau menyerang secara sembarangan."

"Dendam kesumat terbunuhnya ayahku lebih dalam daripada samudra, aku tak bisa melepaskannya begitu saja."

"Biarpun Tio Tian-seng adalah musuh besar pembunuh ayahmu, tapi Ho Lan-hiang adalah otak di belakang layar yang memberi perintah kepadanya. Apakah perempuan ini tak pantas dibunuh?"

Biau-kosiu tertawa dingin.

"Hm, setelah membunuh Tio Tian-seng nanti, Ho Lan-hiang pun tak bakal lolos dari kematian."

Ho Lan-hiang yang selama ini hanya menonton dari samping segera tertawa terkekeh-kekeh, ujarnya.

"Nona Biau, aku berani bertaruh kepadamu, orang-orangmu tak bakal mampu menandingi kehebatan Tio Tian-seng. Percaya tidak?"

"Hm, sekalipun bukan tandingannya, aku tetap akan mengadu kepandaian dengannya,"

Jawab gadis itu. Bong Thian-gak segera berkata dengan suara dalam.

"Nona Biau, harap kau suka mendengarkan perkataanku baik-baik, semua jago persilatan yang hadir dalam Bu-lim-bong saat ini hampir semuanya mempunyai niat busuk, mereka berharap ada satu pihak yang bertarung lebih dulu, sementara mereka akan menjadi nelayan beruntung yang tinggal memungut hasilnya. Apakah kau tak dapat merasakan gejala itu?"

Biau-kosiu mendengus dingin.

"Asal aku berhasil mengalahkan Tio Tian-seng, dengan sendirinya para jago lain pun dapat kutaklukkan. Nah, Jian-ciat-suseng, harap kau mundur dari situ."

Tio Tian-seng kembali menghela napas panjang.

"Ai, sebenarnya aku ingin menyimpan sedikit tenaga untuk menghadapi Ho Lan-hiang lebih dulu, sungguh tak disangka nona Biau justru mendesakku terus-menerus. Kalau kau ingin cepat membalas dendam bagi kematian ayahmu, silakan segera turun tangan!"

Tio Tian-seng segera melintangkan pedangnya di depan dada dan berdiri dengan serius, sementara dari balik matanya memancar sinar tajam yang menggidikkan.

"Tunggu sebentar,"

Tiba-tiba Bong Thian-gak membentak.

"Aku ingin bertanya dulu kepada Tio-pangcu, apa sebabnya kau membunuh Oh Ciong-hu?"

Tio Tian-seng memandang sekejap ke arah Bong Thiangak, lalu menghela napas.

"Tentang segala budi dendam yang menyangkut sepuluh tokoh persilatan, tentunya Bong-laute sudah mengetahui sedikit banyak, bukan? Kalau ditanya apa alasanku membunuh Oh Ciong-hu, maka hal ini tak lain disebabkan karena perempuan jalang itu."

"Apakah Oh Ciong-hu pernah mencintai Ho Lan-hiang?"

"Ho Lan-hiang adalah perempuan jalang dan pandai memikat perhatian lelaki."

"Sepuluh tokoh persilatan bukan orang suci, tentu saja mereka tak akan lolos dari rayuan mautnya, apalagi Oh Cionghu dan Ho Lan-hiang adalah saudara seperguruan, mereka pernah saling mencintai di masa lalu. Bagaimana mungkin Oh Ciong-hu bisa lolos dari perangkap mautnya?"

"Sekarang pun aku lihat masih ada juga mereka yang terpikat oleh rayuannya hingga rela menjual nyawa baginya."

"Apakah Tio-pangcu turun tangan membunuh musuh cintamu karena kuatir perempuan jalang itu terjatuh ke dalam pelukan orang lain?"

Tio Tian-seng sekali lagi menghela napas panjang.

"Kemungkinan besar Bong-laute tidak akan percaya dengan perkataanku, tapi cerita yang sesungguhnya adalah Oh Cionghu yang kuatir aku merampas perempuan jalang ini hingga turun tangan lebih dulu membunuhku."

Bong Thian-gak menggeleng kepala. -"Sekarang Oh Ciong-hu telah mati, tentu saja aku tak akan percaya dengan pengakuan dari seorang yang masih hidup seperti kau."

Kembali Tio Tian-seng menghela napas.

"Seandainya Ho Lan-hiang tidak bohong, dia pasti akan membeberkan duduk persoalan yang sesungguhnya kepadamu."

Mendengar ucapan itu, tanpa terasa Bong Thian-gak mengalihkan sorot matanya ke arah Ho Lan-hiang. Perempuan paling cantik dari wilayah Kanglam itu segera tertawa ringan, katanya cepat.

"Alasan utama Tio Tian-seng membunuh Oh Ciong-hu tak lain disebabkan hendak membalas dendam atas sebuah pukulan yang pernah diterimanya dulu."

"Ho Lan-hiang, kau berbohong,"

Bentak Tio Tian-seng. Bong Thian-gak menghela napas seraya berkata.

"Tiopangcu, tak usah berdebat lagi tentang masalah kematian yang menimpa Oh Ciong-hu, sebab aku sudah tidak berhasrat untuk menyelidiki lebih lanjut Pertikaian antara sepuluh tokoh persilatan dengan Thio Kim-ciok serta perselisihan kalian dengan Hek-mo-ong, lebih baik kalian sendiri yang menyelesaikannya!"

"Ai, saat ini aku justru merasa agak menyesal karena ikut terseret ke dalam persoalan ini."

Tiba-tiba Biau-kosiu mendengus dingin sambil mengumpat.

"Huh, manusia tak becus, lelaki banci. Sudah tahu gurunya terbunuh, kau malah menyatakan cuci tangan dari persoalan itu. Andaikata arwah Oh Ciong-hu di alam baka tahu hal ini, ia pasti akan menyesal telah menerima murid yang tak bertanggung-jawab macam kau."

"Nona Biau, hati-hati kalau bicara,"

Tegur Bong Thian-gak dengan serius.

"Memangnya aku salah mengumpatmu?"

Kembali Biaukosiu menjengek secara sinis.

"Tentang pertikaian sepuluh tokoh persilatan dengan Thio Kim-ciok, aku telah mengetahui persoalan itu sejelasnya. Sepuluh tokoh persilatan telah terayu oleh kejelitaan Ho Lanhiang, saling cemburu, saling membenci dan akhirnya saling membunuh. Perbuatan busuk semacam ini jelas merupakan perbuatan rendah dan memalukan, aku rasa hanya Tio Tianseng seorang yang berani mengungkapnya. Oleh sebab itu aku merasa amat kagum atas keberanian Tio-pangcu."

"Dan kini aku sudah mengetahui dengan jelas bahwa guruku pernah melakukan perbuatan rendah yang sangat memalukan. Apakah aku harus mencari gara-gara lagi secara membabi-buta tanpa membedakan mana yang benar dan yang salah?"

"Ai, yang lebih menggemaskan lagi adalah dengan ilmu silat serta nama besar sepuluh tokoh persilatan, ternyata mereka rela dipikat dan dirayu oleh seorang perempuan jalang sehingga nama baik hancur, orangnya pun binasa. Peristiwa ini benar-benar amat tragis."

Perkataan Bong Thian-gak yang diutarakan secara blakblakan ini kontan membuat paras muka Tio Tian-seng, Tan Sam-cing, Gi Jian-cau dan Liong Oh-im berubah merah padam, dengan mulut terbungkam mereka menundukkan kepala.

Sementara itu dengan wajah bimbang Biau-kosiu bergumam pula.

"Mungkinkah ayah pun ikut terpikat oleh perempuan jahat itu?"

Ho Lan-hiang tertawa terkekeh-kekeh, dengan suara jalang ujarnya.

"Bagus sekali umpatanmu itu Jian-ciat-suseng, tetapi kau tentu tahu bahwa bencana keluarnya dari mulut. Hari ini kau sudah dipastikan harus mati di sini."

Sampai di situ, dia segera mengulap tangan kanan. Kakek berbaju hitam yang berada di sampingnya yaitu Sim Tiong-kiu segera melangkah maju, sambil bentaknya.

"Jian-ciat-suseng, bersiap-siaplah kau menerima kematian!"

Bong Thian-gak sudah pernah bertarung melawan Sim Tiong-kiu, dia tahu kakek itu memiliki ilmu jari yang lihai sekali.

Oleh sebab itu segera dia menghimpun seluruh tenaga dan perhatiannya dengan memperhatikan jari telunjuk tangan kiri lawan.

"Sim Tiong-kiu!"

Katanya kemudian sambil tertawa dingin.

"jika kau sudah mendengar kisah hubungan gelap sepuluh tokoh persilatan dengan Ho Lian-hiang, apakah kau masih terpikat oleh kegenitan dan kecantikannya hingga rela berbakti terus kepadanya? Padahal dengan tampangmu, wahai Sim Tiong-kiu, benarkah kau memperoleh kasih sayang sejati darinya?"

Ucapan Bong Thian-gak itu penuh dengan sindiran, membuat paras muka Sim Tiong-kiu seketika itu juga berubah merah padam dan untuk sesaat lamanya tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.

Berubah pula paras muka Ho Lan-hiang, segera bentaknya keras.

"Sim Tong-kiu, kau berani melanggar sumpahmu?"

Tatkala mendengar teguran itu, tiba-tiba saja sekujur badan kakek berbaju hitam Sim Tiong-kiu gemetar keras, jari telunjuk tangan kirinya segera ditekuk, kemudian melakukan sentilan keras ke depan.

Serangan jari yang dahsyat dan luar biasa itu bagaikan sambaran halilintar segera meluncur ke muka dan langsung menyerang jalan darah kematian di dada Bong Thian-gak.

Bong Thian-gak memang sudah tahu Sim Tiong-kiu memiliki ilmu jari yang sangat hebat dengan daya penghancur yang luar biasa, maka di saat Sim Tiongrkiu baru saja menggerakkan jari tangannya, ia sudah menerjang ke muka.

Diiringi suara bentakan yang keras, pedang kayu di tangannya langsung dicabut dan menusuk iga kiri Sim Tiongkiu.

Ilmu pedang yang diiringi terjangan kilat ini dilakukan dengan gerakan yang mengerikan, tak heran paras muka kawanan jago yang hadir berubah hebat.

Serta-merta Sim Tiong-kiu menggeser kaki kirinya ke samping, lalu meluncur mundur untuk meloloskan diri dari serangan pedang pemuda itu.

Menyaksikan serangan jari tangan Sim Tiong-kiu yang istimewa dan luar biasa itu gagal membunuh lawan, kembali paras muka Ho Lan-hiang berubah hebat, segera serunya.

"Mundur kau, apakah sebelum ini kalian sudah pernah bertarung?"

Sim Tiong-kiu segera mengundurkan diri ke sampingnya, lalu menjawab.

"Ya, ketika berada di kuil Hong-kong-si tempo hari, kami sudah pernah bertarung."

Setelah memukul mundur Sim Tiong-kiu dengan serangan pedangnya, Bong Thian-gak tidak melanjutkan dengan serangan kedua, sebaliknya sambil melintangkan pedang di depan dada, ia berkata dengan lantang.

"Ho Lan-hiang, ilmu jarinya yang merupakan senjata maut pencabut nyawa sudah tak mampu melukai diriku lagi, bahkan rahasia pedang Cingtong-kiam milik Ji-kaucu pun sudah kuketahui dengan jelas. Oleh karena itu kedua orang utusan pelindung bungamu sudah tidak sanggup lagi melindungi keselamatan jiwamu, mengapa kau tidak turun tangan sendiri untuk bertarung melawanku?"

Tantangan Bong Thian-gak yang diucapkan secara blakblakan dan terus terang ini segera membuat Ho Lan-hiang mengernyitkan alis, hawa membunuh segera menyelimuti wajahnya, dia berseru.

"Ji-kaucu!"

Ji-kaucu yang berada di sisi kirinya segera menyahut dengan suara lantang.

"Siap!"

"Kau tampil ke muka dan bunuh keparat itu!"

"Harap Cong-kaucu jangan kelewat emosi,"

Kata Ji-kaucu dengan kalem tanpa luapan perasaan.

"Aku rasa waktu untuk membunuhnya belum tiba."

Ketika mendengar ucapan ini, hawa membunuh yang semula telah menyelimuti wajahnya mendadak lenyap, sebagai gantinya ia segera menampilkan wajah lembut dan ramah, setelah tertawa terkekeh, katanya.

"Ji-kaucu, kau memang tak malu menjadi tangan kananku. Kecerdasan otakmu sungguh mengagumkan."

Sebaliknya Bong Thian-gak segera menjengek sambil tertawa dingin.

"Ji-kaucu, kau tidak usah mencoba menyimpan tenaga lagi. Hari ini aku ingin mencoba kelihaian ilmu silatmu."

Saat itu Bong Thian-gak telah berdiri dengan pedang dilintangkan di depan dada, sepasang matanya memancarkan sinar tajam, sementara hawa membunuh telah menyelimuti wajahnya.

Setiap jago dalam arena dapat melihat bahwa pemuda itu telah menghimpun tenaga murninya dan siap melepaskan serangan pedang terbangnya.

Keadaan Bong Thian-gak yang sudah siap melepaskan serangan pedang terbangnya saat ini ibarat anak panah yang sudah berada di gendewa yang ditarik.

Oleh karena itu Jikaucu yang menyaksikan keadaan itu segera mengerti bahwa dia tak bisa meloloskan diri lagi dari ancaman.

Kaki kiri Ji-kaucu segera maju setengah langkah, tangan kanannya secepat kilat mencabut pedang bercahaya hijau dari pinggang, lalu setelah tertawa seram, katanya.

"Jian-ciatsuseng, hari ini kita memang harus bertarung!"

"Dendam sakit hati yang telah terjalin di antara kita berdua rasanya cepat atau lambat harus dituntaskan, pertarungan memang tak dapat dihindari lagi,"

Sahut Bong Thian-gak sambil tersenyum.

"Selama ini kau tak lebih cuma panglima yang kalah perang, aku rasa hari ini pun kau tak akan lolos dari nasib kekalahan konyol."

Bong Thian-gak segera mendengus dingin.

"Hm, seandainya aku menderita kekalahan lagi di tanganmu, biar mati pun aku tak menyesal!"

Selesai berkata Bong Thian-gak segera menggerakkan bahunya bergerak ke muka, pedangnya dengan jurus pelangi panjang menutupi matahari langsung meluncur.

"Serangan bagus!"

Bentak Ji-kaucu.

Di tengah kilauan cahaya pedang berwarna hijau serta lejitan bintang merah berkilauan, tiba-tiba berkumandang suara gemerincingan yang amat nyaring.

Serangan pedang Bong Thian-gak yang dilancarkan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat itu tahu-tahu sudah terbendung.

Dalam pengaruh hawa murninya yang disalurkan ke tubuh pedang itu, pedang bambu yang lemah telah berubah menjadi keras dan tajam bagaikan pedang sungguhan.

Itulah sebabnya ketika bentrokan yang barusan terjadi, pedang bambunya tidak menjadi putus karena ketajaman pedang lawan.

Begitu pedang bambu Bong Thian-gak digetarkan terpental ke belakang, tangan kirinya segera diputar kencang, pedangnya seperti seekor naga sakti yang sedang membalik badan, menyambar dari bawah ke atas langsung merobek lambung Ji-kaucu.

Ilmu pedang yang sangat aneh dan luar biasa semacam ini pada hakikatnya di luar dugaan siapa pun juga.

Mimpi pun Ji-kaucu tidak mengira gerak serangan Bong Thian-gak yang berhasil dibendung itu dalam waktu singkat telah berubah arah, menyergap bagian mematikan di tubuhnya.

Sementara dia masih terperanjat menghadapi perubahan itu, tahu-tahu ujung pedang Bong Thian-gak sudah menempel di atas baju Ji-kaucu yang menutupi lambungnya.

Dalam keadaan demikian, sekalipun ada malaikat turun dari kahyangan, rasanya tak mampu menolong Ji-kaucu lolos dari musibah ini.

Bisa dibayangkan betapa cepatnya sambaran pedang jagojago lihai yang sedang bertarung.

Waktu itu tiada kesempatan lagi bagi Ji-kaucu untuk memutar otak, mendadak hawa membunuh memancar dari wajahnya, pedangnya segera dibalik, lalu ditusukkan pula ke dada Bong Thian-gak.

Dalam anggapan para jago, serangan pedang Ji-kaucu itu tak lebih cuma gerakan sia-sia, karena ancaman itu tak ada artinya.

Padahal waktu itu serangan pedang Bong Thian-gak sudah hampir mengenai tubuh Ji-kaucu, andaikata menyerang pun Ji-kaucu tentu akan tewas lebih dulu di ujung senjata Bong Thian-gak.

Itulah sebabnya serangan Ji-kaucu ini pada hakikatnya tidak akan memberikan manfaat apa pun.

Tapi siapakah yang dapat menduga kalau di balik serangan Ji-kaucu itu sesungguhnya ia sedang melakukan tindakan nekat mengajak lawan mengadu jiwa.

Pedang tembaga berwarna hijau itu bukan saja dapat diperpanjang atau diperpendek sesuai kehendak hati, bahkan bagian tengah pedang yang kosong itu telah dia isi dengan semacam cairan beracun yang bisa menyembur keluar apabila tombol rahasianya dipencet Di saat yang amat kritis itulah mendadak sesosok bayangan orang secepat sambaran kilat meluncur tiba, disusul segulung angin pukulan berpusing yang sangat kuat menumbuk tubuh Bong Thian-gak serta mementalkan tubuhnya hingga mencelat ke samping kanan.

Tenaga pukulan yang maha dahsyat itu memiliki kekuatan sangat mengerikan, Bong Thian-gak merasa tubuhnya tak mampu dikendalikan lagi, setelah mencelat ke belakang, dia mesti mundur sebelum berhenti.

Suara semburan air beracun bergema, dari ujung pedang Ji-kaucu memancar tiga gulung cairan hitam.

Begitu jatuh ke atas tanah, segera tertampak asap hitam mengepul ke udara, dalam waktu singkat lantai berbatu itu sudah terbakar hangus hingga muncul bekas lekukan sedalam beberapa inci.

Sesudah menyaksikan itu, Bong Thian-gak baru sadar bahwa orang itu telah menyelamatkan jiwanya.

Tapi dia pun telah menyelamatkan jiwa Ji-kaucu.

Tatkala sorot mata para jago dialihkan ke wajah pendatang itu, mendadak air muka mereka segera berubah menjadi pucat.

Itulah mimik wajah kaget, ngeri, seram, tegang serta berbagai perubahan lainnya.

Pendatang itu seorang kakek berbaju hijau yang memelihara jenggot berwarna hitam, berwajah segar dan berwibawa, akan tetapi bagi pandangan para jago dalam arena justru lebih menyeramkan dan mengerikan daripada melihat setan atau memedi.

Bong Thian-gak menjerit kaget lebih dulu.

"Thio Kim-ciok! Thio-locianpwe!"

Kakek berjenggot hitam berbaju hijau itu memang tak lain adalah Thio Kim-ciok.

Sementara itu dari balik sebuah pintu rahasia di tengah ruangan pelan-pelan berjalan keluar Song Leng-hui serta Thay-kun.

Setelah suasana agak hening, Thio Kim-ciok baru berkata dengan suara hambar.

"Bong-laute, tak ada artinya kau mengadu jiwa dengan lawan. Itulah sebabnya aku telah melancarkan Kun-goan-khi-kang untuk mendorongmu dari ancaman bahaya."

Biarpun cuma beberapa patah kata yang sederhana, namun sudah menjelaskan betapa berbahayanya situasi waktu itu.

Kemunculan Thio Kim-ciok membuat para jago merasa kaget dan bergidik, tapi juga merubah suasana di arena menjadi tegang dan menyeramkan.

Ancaman pertempuran setiap detik dapat meledak di situ.

Dari sekian jago yang hadir, kecuali Bong Thian-gak, Song Leng-hui serta Thay-kun tiga orang, empat orang dari sepuluh tokoh persilatan maupun Ho Lan-hiang serta Biau-kosiu sekalian sama-sama telah meraba senjata masing-masing, bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Bong Thian-gak melayangkan pandangannya dan memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kemudian dengan kening berkerut dia berpikir.

"Tampaknya semua telah bekerja sama untuk menghadapi Thio Kim-ciok."

Dalam pada itu Thio Kim-ciok dengan mata yang memancarkan cahaya tajam telah memandang sekejap wajah orang-orang di situ, kemudian ujarnya dingin.

"Mungkin kalian tak pernah mengira bukan kalau aku masih hidup di dunia ini?"

Tio Tian-seng segera menghela napas panjang dengan nada sedih, sahutnya.

"Ya, kenyataan kau memang masih hidup!"

"Tio Tian-seng,"

Kata Thio Kim-ciok lagi dengan suara dingin.

"Aku tahu kau sudah menyesal, tapi Thio Kim-ciok tetap tak akan memaafkan dirimu."

Kembali Tio Tian-seng tertawa pedih.

"Aku tahu, Thio Kimciok adalah seorang yang berhati kejam, buas dan membunuh orang tanpa berkedip. Jangankan terhadap musuh-musuh besarmu, bahkan terhadap orang yang tiada sangkut-pautnya dengan dirimu pun sudah berapa banyak yang tewas di tanganmu."

"Kalian semua tak akan lolos dari kematian!"

Ujar Thio Kimciok lagi dengan suara dingin dan menyeramkan.

Tiba-tiba sinar matanya dialihkan ke wajah Ho Lan-hiang.

Dalam pada itu sekulum senyum manis telah tersungging di ujung bibir Ho Lan-hiang, katanya dengan suara yang amat tenang.

"Orang pertama yang hendak kau bunuh tentu diriku, bukan?"

"Aku akan menghancur-leburkan tubuhmu serta mencincangnya,"

Sahut Thio Kim-ciok dengan wajah dingin dan suara hambar. Kembali Ho Lan-hiang tertawa merdu.

"Tiga puluh tiga tahun berselang kau tidak memiliki kemampuan untuk melukaiku. Tiga puluh tiga tahun kemudian, lebih-lebih jangan harap dapat melukai seujung rambutku."

Pada saat itulah Bong Thian-gak dapat melihat Tio Tianseng, Tan Sam-cing, Liong Oh-im, Gi Jian-cau bersama Ho Lan-hiang, Ji-kaucu, serta Sim Tiong-kiu sekalian secara pelanpelan telah bergerak maju mengurung Thio Kim-ciok rapatrapat.

Melihat itu, mendadak Bong Thian-gak mengayunkan pedangnya sambil membentak nyaring.

"Berhenti kalian semua. Bila ada yang berani maju selangkah lagi, jangan salahkan pedangku akan segera melukai orang."

Tiba-tiba Tio Tian-seng berseru.

"Bukankah Bong-laute telah mengambil keputusan untuk melepaskan diri dari kancah pertikaian yang penuh dengan budi dan dendam ini?"

Dengan suara dalam Bong Thian-gak membentak.

"Mencari kemenangan dengan mengandalkan jumlah banyak merupakan suatu perbuatan terkutuk serta memalukan."

Tiba-tiba Thio Kim-ciok berpaling ke arah anak muda itu, lalu berkata sambil tertawa.

"Bong-laute, dari sikap serta perbuatan mereka itu, tentu kau tak akan menyalahkan aku andaikata kubunuh mereka dari muka bumi?"

"Thio-locianpwe berniat membantai semua orang yang ada di sini?"

Tanya Bong Thian-gak dengan perasaan bergetar keras.

"Aku tidak dapat melepaskan seorang pun di antara sepuluh tokoh persilatan serta perempuan jalang itu."

Bong Thian-gak menghela napas, kemudian katanya.

"Thian maha penyayang. Apakah Thio-locianpwe tak merasa bahwa dendam yang kau perlihatkan sekarang telah melanggar ajaran Thian?"

Thio Kim-ciok tertawa dingin.

"Andaikan setiap umat persilatan di dunia ini dapat memahami apa artinya ajaran Thian, aku rasa tidak bakal terjadi lagi badai pembunuhan serta mengalirnya anyir darah dalam persilatan. Sepuluh tokoh persilatan mempunyai kedudukan yang agung dan terhormat, tetapi nyatanya mereka bisa juga melakukan perbuatan terkutuk yang amat memalukan itu."

Bong Thian-gak sadar bahwa dia tak mampu lagi menghalangi niat Thio Kim-ciok untuk melampiaskan rasa dendam kesumatnya, maka setelah menghela napas panjang, dia pun bertanya.

"Yakinkah Thio-locianpwe bahwa harapanmu itu bakal tercapai?"

"Walaupun aku tidak mempunyai keyakinan sepenuhnya, namun dapat kupertaruhkan dengan selembar nyawaku."

Mendadak terdengar Ho Lan-hiang yang berada di samping arena berseru sambil tertawa terkekeh-kekeh.

"He si tua Thio, saat ini kau telah dikepung oleh semua jago. Aku tidak percaya kau masih mempunyai kesempatan untuk melarikan diri ke dalam alat rahasiamu."

Dalam sekejap di empat penjuru sudah berdiri Tio Tianseng, Gi Jian-cau, Tan Sam-cing, Liong Oh-im, Ho Lan-hiang, Sim Tiong-kiu serta Ji-kaucu dengan senjata terhunus.

Tampaknya pertarungan sengit tak bisa dihindari lagi.

Bong Thian-gak segera berpikir.

"Sanggupkah Thio Kimciok menandingi kerubutan tujuh jago lihai dunia persilatan ini?"

Dengan pandangan sinis Thio Kim-ciok memperhatikan sekejap, kemudian berkata.

"Kepungan kalian mirip barisan pembunuh yang dipakai untuk menghadapiku tiga puluh tiga tahun berselang, hanya sayang di sini sudah tak nampak beberapa wajah."

"Thio Kim-ciok!"

Dengan wajah serius dan nada bersungguh-sungguh Tio Tian-seng berkata.

"sebenarnya aku merasa malu untuk mencari kemenangan dengan mengandalkan jumlah banyak, tapi aku pun tahu bahwa kau adalah seorang licik yang berhati busuk serta banyak akal muslihatnya. Oleh karena itu mau tak mau terpaksa kami harus mempergunakan cara mengerubut yang tidak gagah ini untuk menghadapimu."

"Andaikata aku merasa takut untuk menghadapi kerubutan kalian, tidak nanti aku menampilkan diri,"

Sahut Thio Kim-ciok dingin. Liong Oh-im tertawa seram.

"Thio Kim-ciok, kau mempunyai kemampuan seberapa besar hingga dapat menembus kepungan kami bertujuh?"

"Andaikata aku berniat membunuh kalian, maka hal ini bisa aku lakukan secara mudah dan tak usah membuang tenaga."

Belum habis perkataan Thio Kim-ciok, Thay-kun yang selama ini berdiri di samping menyela dengan suara merdu.

"Di saat terjadinya gempa bumi yang menggetarkan seluruh permukaan gua tadi, seluruh alat rahasia dalam lorong bawah tanah ini sudah tertutup seluruhnya. Biarpun kalian sanggup membunuh Thio Kim-ciok saat ini, tetapi kalian sendiri pun tidak bakal terlepas dari Bu-lim-bong yang sudah tersumbat ini, akhirnya kalian bakal mampus juga karena kelaparan."

Beberapa patah kata Thay-kun ini kontan membuat paras muka kawanan jago itu berubah hebat. Liong Oh-im segera tertawa licik.

"Bagus, bagus sekali, kalau semua orang bisa mati bersama di dalam Bu-lim-bong, hal itu jauh lebih baik lagi."

Dengan suara dingin menyeramkan Thio Kim-ciok berkata pula.

"Aku tak ingin menyaksikan kalian mampus tanpa memberi perlawanan, aku pun tak ingin membiarkan kalian mampus dalam Bu-lim-bong ini."

Beberapa patah katanya yang terakhir ini terasa sangat aneh dan bertentangan dengan apa yang dikatakan sebelumnya, tapi para jago mengerti, di balik semua itu tentu masih terdapat latar belakang lainnya.

Sambil tertawa licik Liong Oh-im segera berkata.

"Kalau begitu, tentunya jalan keluar dari Bu-lim-bong ini sesungguhnya bukan merupakan hasil karya Thio Kim-ciok bukan?"

Thio Kim-ciok tidak menjawab, tapi Thay-kun telah berseru dengan suara merdu.

"Betul, orang yang menggerakkan alat rahasia untuk menutup seluruh lorong rahasia dalam Bu-limbong ini bukan Thio-locianpwe, melainkan Hek-mo-ong. Dia hendak mengurung kalian dalam Bu-lim-bong ini."

Mendadak dari balik ruangan yang luas itu berkumandang kembali suara Hek-mo-ong yang dingin serta misterius itu.

"Thio Kim-ciok, aku tidak menyangka kau bakal mengingkari janjimu sendiri."

Thio Kim-ciok tertawa dingin, sahutnya dengan suara keras.

"Hek-mo-ong, aku sama sekali tidak mengingkari janji, aku hanya tak rela membiarkan musuh-musuh besarku ini tewas di tanganmu."

"Thio Kim-ciok!"

Kembali suara Hek-mo-ong berkumandang lagi.

"apakah kau yakin dapat membinasakan Ho Lan-hiang bertujuh?"

Thio Kim-ciok tertawa dingin.

"Termasuk kau, berarti berjumlah delapan orang. Aku yakin tak seorang pun di antara kalian yang dapat meloloskan diri dalam keadaan selamat."

Hek-mo-ong tertawa terkekeh, katanya.

"Sebagai imbalan dari usaha bantuan membinasakan Ho Lan-hiang sekalian adalah janjimu menyerahkan peta rahasia tambang emas kepadaku dan sekarang kau telah berbalik ingin membunuh sendiri musuh-musuh besarmu itu. Apakah kau pun berniat membatalkan perjanjian di antara kita?"

"Kita telah berjanji. Setelah kau membantu aku membinasakan Ho Lan-hiang sekalian, maka antara aku dan kau pun akan dilangsungkan pertarungan sengit yang akan menentukan mati hidup di antara kita,"

Sahut Thio Kim-ciok dingin.

"Tapi aku takut kemampuanmu sangat terbatas sehingga gagal membunuh Ho Lan-hiang sekalian, sebaliknya malah mencelakakan diri sendiri. Oleh sebab itu kuanjurkan kepadamu lebih baik serahkan saja penyelesaian nyawa mereka kepadaku."

Dari tanya-jawab yang berlangsung antara Hek-mo-ong dan Thio Kim-ciok ini.

Secara garis besar semua orang sudah mulai memahami apa yang sebenarnya direncanakan kedua orang yang berkomplot itu.

Mendadak Tio Tian-seng membentak dengan suara keras.

"Liu Khi, bila kau memang bernyali, ayo cepat keluar untuk berduel mati-matian denganku."

"Hahaha,"

Gelak tawa nyaring Hek-mo-ong segera bergema memenuhi seluruh ruangan.

"Tio Tian-seng, tahukah kau bahwa di dasar tanah dalam ruangan dimana kalian berpijak sekarang telah ditanam beratus-ratus obat mesiu yang setiap saat dapat meledak? Bila kusulut sumbu mesiu itu, maka aku yakin dalam seperempat jam, kalian akan mampus dengan tubuh hancur berkeping-keping."

Kawanan jago yang hadir dalam arena kontan terkesiap. Bong Thian-gak segera memandang sekejap ke arah Thio Kimciok, lalu tanyanya.

"Thio-locianpwe, benarkah apa yang dikatakannya itu? "Benar, di dasar lantai ruangan ini memang sudah ditanam obat peledak dalam jumlah besar. Seandainya benar-benar meledak, maka daya kekuatannya mampu menenggelamkan seluruh perkampungan ini ke dasar tanah."

Mendengar sampai di sini, Bong Thian-gak segera menghela napas panjang.

"Apa rencana Thio-locianpwe selanjutnya untuk menghadapi situasi demikian ini?"

Tiba-tiba Thay-kun tersenyum, selanya.

"Bong-suheng tidak usah kuatir, aku percaya Thio-locianpwe pasti sudah mempunyai rencana yang rapi untuk menghadapi semua itu."

Dalam pada itu para jago yang berada di dalam ruangan bawah tanah itu tak berani bertindak lagi secara gegabah, mereka cuma bisa mengawasi wajah Thio Kim-ciok dengan mata terbelalak dan pandangan termangu.

Mendadak terdengar lagi suara Hek-mo-ong berseru lantang dari balik ruangan.

"Thio Kim-ciok, dengarkan baikbaik. Andaikata aku bertekad membatalkan niatku untuk mendapatkan rahasia peta bukit tambang emas itu dengan menyulut sumbu mesiu yang berada di sini, entah bagaimana perasaanmu?"

Thio Kim-ciok tertawa dingin.

"Seandainya kau berbuat demikian, maka kau sendiri pun tak akan terlepas dari ancaman kematian. Aku yakin dalam seperempat jam, kau tak akan mampu melepaskan diri dari sini serta menyingkir ke tempat yang lebih aman."

"Bila aku sudah bertekad untuk mengadu jiwa, apa yang dapat kau lakukan?"

"Aku rasa kau tidak bakal berbuat demikian,"

Jengek Thio Kim-ciok sambil tertawa dingin.

"Bagus, kalau begitu tunggu saja!"

Jengek Hek-mo-ong sambil tertawa seram. Begitu selesai berkata, di dalam ruangan itu sudah tak terdengar lagi suara Hek-mo-ong. Dengan wajah serius Thio Kim-ciok berkata dingin.

"Bila Hek-mo-ong sudah memperhitungkan secara tepat bahwa dalam seperempat jam dia mampu meninggalkan Bu-lim-bong secara aman, maka pada saat itu dia pasti akan menyulut sumbu mesiu dan meledakkan perkampungan ini. Dan sekarang aku pun telah memutuskan akan mengajak kalian meninggalkan Bu-lim-bong ini, tapi di saat kalian telah meninggalkan Bu-lim-bong, saat itu juga aku akan mulai turun tangan membunuh setiap musuh besarku yang masih berkeliaran! Nah, apa yang kukatakan sudah selesai kuutarakan. Harap kalian mengikuti aku!"

Selesai berkata, Thio Kim-ciok segera membalikkan badan dan beranjak pergi meninggalkan tempat itu. Dengan pedang terhunus, Liong Oh-im segera menghadang jalan perginya, sambil tertawa ia berseru.

"Thio Kim-ciok, sesudah keluar Bu-lim-bong, kami pun tak punya kesempatan untuk melanjutkan hidup. Apa salahnya kita berduel saja di dalam Bu-lim-bong ini untuk menentukan siapa yang harus mampus di antara kita berdua?"

"Pertarungan berdarah dalam Bu-lim-bong bisa menyebabkan semua yang hadir tewas,"

Kata Thio Kim-ciok dingin.

"tapi bila hal ini terjadi di luar Bu-lim-bong, maka keadaannya berbeda. Sekalipun akhirnya kalian akan mampus juga di tanganku, tapi paling tidak kalian masih dapat hidup lebih lama lagi."

Tan Sam-cing tertawa dingin, serunya.

"Thio Kim-ciok, bacotmu itu benar-benar kelewat besar dan takabur. Setelah keluar dari Bu-lim-bong nanti, Tan Sam-cing orang pertama yang akan mencoba ilmu silatmu."

"Baik!"

Sahut Thio Kim-ciok sambil manggut-manggut.

"sesudah meninggalkan Bu-lim-bong nanti, orang pertama yang akan kubunuh adalah kau."

Ketika berbicara sampai di situ, Thio Kim-ciok sudah lewat di samping Liong Oh-im dan berjalan menuju ke sebuah lorong bawah tanah.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, para jago mengikut di belakang Thio Kim-ciok memasuki lorong itu, makin ke dalam luas lorong itu bertambah lebar.

Tapi suasana di situ pun makin lama semakin gelap sehingga akhirnya untuk melihat jari tangan sendiri pun susah.

Bong Thian-gak bersama Thay-kun dan Song Leng-hui mengikut di belakang Thio Kim-ciok.

Di saat mereka melewati lorong bawah tanah yang gelap gulita itu, suasana amat hening dan tak seorang pun yang berbicara, tapi perasaan setiap orang berat sekali, berbagai ingatan berkecamuk dalam benak mereka.

Terutama mereka yang berjalan paling belakang seperti Ho Lan-hiang, malaikat sakti pedang iblis, tabib sakti, delapan pedang salju beterbangan serta sastrawan berwajah tampan.

Masing-masing dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara saling merundingkan tindakan selanjutnya yang harus dilakukan setelah meninggalkan Bu-lim-bong, bagaimana caranya membinasakan Thio Kim-ciok dari muka bumi.

Mendadak terdengar Bong Thian-gak menghela napas panjang, kemudian bertanya.

"Thio-locianpwe, benarkah kau harus membunuh mereka semua?"

"Dendam sakit hati sedalam lautan cuma dapat dihapus dengan pembunuhan terhadap musuh-musuhnya,"

Sahut Thio Kim-ciok hambar.

"Apalagi sejak puluhan tahun berselang, aku punya rencana untuk menghabisi nyawa kesepuluh tokoh persilatan itu."

Bong Thian-gak terkejut sekali, segera tanyanya.

"Thiolocianpwe, apa maksudmu?"

"Puluhan tahun berselang, di saat aku mengangkat kesepuluh tokoh persilatan menjadi guru untuk belajar silat, dalam hati kecilku sudah tumbuh niat dan ambisi untuk menguasai dunia persilatan."

Ketika mendengar sampai di situ, Bong Thian-gak seolaholah teringat akan suatu persoalan, segera ujarnya.

"Kalau begitu tindakan sepuluh tokoh persilatan membinasakan Locianpwe pada tiga puluh tiga tahun berselang adalah disebabkan.."

Mendadak Bong Thian-gak menutup mulut dan tidak melanjutkan kata-katanya. Tapi sambil tertawa dingin Thio Kim-ciok telah berkata.

"Sesungguhnya sebab-musabab sepuluh tokoh persilatan bekerja sama membunuh diriku, selain dikarenakan mereka berzinah dengan istriku Ho Lan-hiang dan mengincar harta karun milikku. Tujuan utama ialah kuatir bila aku mengkhianati mereka sebagai guru serta menguasai seluruh dunia. Itulah sebabnya mereka turun tangan lebih dahulu."

"Ku-lo Hwesio mempunyai pengetahuan yang paling luas di antara rekan-rekannya. Di saat ia mewariskan ilmu silat kepadaku dulu, rupanya ia berhasil menemukan tulang pemberontak yang tumbuh di atas kepalaku, merupakan pertanda bahwa di kemudian hari aku akan mengkhianati perguruan serta menciptakan bencana serta keonaran di seluruh dunia."

"Apakah Thio-locianpwe benar-benar mempunyai niat semacam itu?"

Tanya Bong Thian-gak lagi dengan perasaan kaget.

"Benar, di atas kepalaku memang tumbuh tulang pemberontak. Waktu itu aku memang berniat jahat serta bertabiat kejam, buas dan licik,"

Jawab Thio Kim-ciok sambil tertawa seram. Ketika mendengar sampai di sini, tanpa terasa Bong Thiangak bergidik, katanya kemudian.

"Apakah sampai kini tabiat Thio-locianpwe itu belum juga berubah?"

Thio Kim-ciok tertawa dingin.

"Merubah bukit dan alam itu mudah, tapi merubah watak sulit."

Setelah memperdengarkan suara tawa dinginnya yang licik, keji dan buas, dia berkata lebih jauh.

"Sepanjang hidupku, aku paling kagum terhadap seorang saja yaitu Thay-kun. Sekilas pandang saja ia sudah dapat mengetahui bahwa aku adalah seorang raja pembunuh yang keji, buas dan licik. Tapi akhirnya Thay-kun mengizinkan juga Song Leng-hui menyembuhkan penyakitku agar Lohu dapat memiliki kembali kekuatan yang kumiliki dulu. Tapi dengan perbuatan Thay-kun itu, sama artinya telah menyelamatkan jiwa kalian semua. Sebab menuruti tabiatku, kalian pun jangan harap bisa lolos dari cengkeraman mautku."

Tak terlukiskan rasa kaget dan ngeri Bong Thian-gak mendengar itu, mimpi pun dia tak menyangka Thio Kim-ciok sesungguhnya memang seorang jahat, buas, kejam dan licik bagai seekor ular berbisa.

Tapi dari beberapa patah kata Thio Kim-ciok itu pula dia dapat merasakan juga bahwa badai pembunuhan berdarah sudah mengancam ketenangan dunia persilatan.

Perasaan Bong Thian-gak waktu itu sangat berat dan masgul.

Sebetulnya ia sudah bertekad tak akan mencampuri pertikaian itu, tapi sekarang tentu saja ia tak bisa berpeluk tangan menyaksikan Thio Kim-ciok membunuh sesamanya secara keji dan tak berperasaan.

Tapi antara dia dan Thio Kim-ciok pun tak pernah terjalin perselisihan atau sakit hati apa pun, bagaimana mungkin ia dapat turun tangan mencegah dirinya membalas dendam terhadap sepuluh tokoh persilatan serta Ho Lan-hiang.

Padahal sesungguhnya Ho Lan-hiang sekalian bukanlah manusia baik-baik, bukankah mereka pun merupakan gembong-gembong iblis yang keji, buas, cabul serta banyak melakukan kejahatan?

Sementara Bong Thian-gak masih pusing memikirkan masalah itu, mendadak terdengar Thio Kim-ciok berteriak.

"Hek-mo-ong telah mulai menyulut sumbu mesiu, seperempat jam lagi seluruh permukaan bumi ini akan tenggelam. Ayo cepat kabur dari sini, siapa tahu dapat meloloskan diri dari musibah?"

Rupanya pada saat itu semua orang dapat menangkap suara sumbu mesiu dibakar.

Di samping itu, hidung mereka pun dapat mengendus bau mesiu yang amat menusuk.

Entah bagaimanakah sistim bangunan dalam lorong Bu-limbong itu, nyatanya begitu sumbu mesiu disulut, dalam waktu singkat api telah menutup setiap sudut lorong.

Paras muka para jago segera berubah hebat, mereka sudah tak berminat lagi memikirkan bagaimana cara menghadapi Thio Kim-ciok.

Tampak Thio Kim-ciok meluncur ke depan dengan kecepatan tinggi, sementara para jago lainnya mengikut di belakangnya secara membabi-buta.

Lorong bawah tanah itu sangat gelap dan tak ada setitik cahaya pun, semua orang merasa telah menempuh suatu perjalanan yang amat jauh.

Mendadak terdengar Thio Kim-ciok berseru keras dari ujung lorong bawah tanah itu.

"Tempat ini merupakan daerah perkampungan, sekarang aku akan menyulut sumbu mesiu yang tersembunyi di sini untuk meledakkan dinding batu di atas sana."

Sambil berkata, tampak cahaya api memancar dalam lorong, tahu-tahu Thio Kim-ciok telah menyulut sebuah sumbu hitam sebesar jari tangan yang tergantung di atas dinding ruangan.

Dalam waktu singkat cahaya api memancar kemana-mana, sumbu yang disembunyikan di atas dinding lorong pun mulai terbakar.

Di antara kawanan jago yang hadir di situ, ada di antaranya yang tidak percaya kepada Thio Kim-ciok, namun sewaktu ingin menghalangi perbuatannya itu, keadaan sudah terlambat.

Sementara itu terdengar Thio Kim-ciok telah berkata kembali.

"Untuk mencapai pusat bahan peledak di atas dinding batu itu, kita membutuhkan waktu tiga menit. Seandainya dinding batu itu meledak sebelum bahan peledak di dasar lorong itu meletus, berarti kita akan mampus terkubur di tempat ini"

Biarpun para jago tidak percaya penuh terhadap perkataannya itu, namun di saat jiwa terancam di depan mata, tak urung setiap orang merasakan juga hatinya berdebar keras.

Puluhan pasang mata bersama-sama ditujukan ke atas sumbu mesiu yang sedang terbakar dan merambat ke atas dengan cepatnya itu.

Dengan harap-harap cemas mereka berdoa agar api segera mencapai puncak dan meledakkan dinding batu di atas permukaan tanah.

Biarpun waktu tiga menit itu sangat pendek, namun dalam perasaan mereka waktu itu lamanya bagaikan tiga tahun.

Pada saat itulah terdengar Thio Kim-ciok berkata lagi.

"Tindakan Hek-mo-ong menyulut sumbu mesiu di dasar lorong rupanya telah memperpanjang umur kalian semua."

"Thio-locianpwe, apa maksudmu?"

Tanya Bong Thian-gak dengan tidak mengerti.

"Kini sumbu mesiu di dasar lorong Bu-lim-bong telah menyala setiap saat bakal meledak hebat. Kekuatan yang tercipta akibat ledakan itu bisa menenggelamkan lorong ini dan kehebatan goncangan yang dihasilkan tak akan mampu dilawan oleh siapa pun. Oleh sebab itu, di saat dinding batu itu meledak nanti, bila kalian masih menginginkan nyawa, berlarilah sekuat tenaga melampaui lorong ini. Kalau tidak, kalian jangan harap bisa lolos dari ancaman maut."

"Tapi dengan begitu berarti juga aku sudah tak punya kesempatan untuk membantai kalian semua. Bukankah ini berarti Hek-mo-ong telah memperpanjang nyawa kalian?"

"Tapi setelah aku berhasil mencapai di atas, aku bakal balik kemari mencari kalian satu per satu serta membalas dendam."

Baru selesai perkataan itu diucapkan, mendadak terdengar suara ledakan yang dahsyat.

Seluruh permukaan lorong bergoncang keras, disusul guguran batu dan tanah berhamburan di hadapan mereka, ternyata dinding di atas permukaan telah hancur berantakan dan sinar fajar memancar masuk ke dalam lorong itu.

Di antara pasir dan debu yang beterbangan, Thio Kim-ciok sudah melompat keluar lebih dulu, kabur secepat-cepatnya menuju ke muka, sambil berlari kencang pekiknya.

"Cepat kabur!"

Semua jago yang berada dalam lorong bawah tanah segera berhamburan keluar dari liang ledakan yang merekah dan berusaha secepat-cepatnya melarikan diri dari tempat itu.

Akibat saling berebutnya para jago menyelamatkan diri, akhirnya Bong Thian-gak, Thay-kun serta Song Leng-hui malah ketinggalan paling akhir.

Angin dingin berhembus, kabut amat tebal, rupanya kentongan kelima baru saja lewat, fajar pun mulai menyingsing dari ufuk timur.

Bong Thian-gak serta Thay-kun dan Song Leng-hui berdiri sekejap di tepi liang, mereka saksikan bayangan orang sedang melarikan diri ke empat penjuru dengan kecepatan luar biasa dan lenyap di balik kabut pagi yang tebal.

Bong Thian-gak berpaling ke sebelah barat.

Di sana ternyata ada perkampungan.

Menyaksikan itu, mereka menjadi tertegun.

Apa yang baru saja dialaminya, serasa bagaikan dalam alam impian.

Terdengar Thay-kun berseru cemas.

"Bong-suheng, kemungkinan besar apa yang dikatakan Thio Kim-ciok itu benar, mari kita pergi secepatnya dari sini!"

Dia segera menarik tangan Bong Thian-gak serta Song Leng-hui, diajak kabur menjauhi ke arah timur. Dengan ragu-ragu Bong Thian-gak berkata.

"Thio Kim-ciok adalah manusia licik dan banyak akal muslihatnya, semua perkataan maupun tindak-tanduknya sungguh membuat orang sukar untuk percaya."

"Aku sendiri tidak percaya,"

Sambung Song Leng-hui.

"Andaikata apa yang dikatakan memang benar, ingin sekali kusaksikan peristiwa tenggelamnya lorong yang dimaksud."

"Jika ingin melihat, paling tidak kita harus lari lebih dulu sebelum berhenti untuk menonton!"

Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki ketiga orang ini memang amat sempurna, mereka meluncur cepat meninggalkan tempat itu.

Pada saat itulah mendadak suatu ledakan dahsyat bergema memecah keheningan.

Menyusul ledakan yang maha dahsyat ini, tampak jilatan lidah api membumbung tinggi ke tengah udara.

Bong Thian-gak, Thay-kun serta Song Leng-hui bertiga segera merasakan permukaan tanah bergoncang sangat keras bagaikan dilanda gempa bumi berkekuatan besar, kepala mereka jadi pusing, pandangan berkunang-kunang dan sepasang kaki mereka tak mampu lagi berdiri tegak di atas permukaan tanah.

Menyaksikan itu, Thay-kun berseru dengan cemas.

"Permukaan tanah akan tenggelam, kita harus segera melompat ke depan."

Bong Thian-gak tidak menyangka peristiwa yang dianggap bagaikan dalam impian itu bakal berubah menjadi kenyataan, dalam terkejutnya mereka bertiga segera mengerahkan seluruh kekuatan yang dimiliki untuk berlari ke muka.

Serentetan ledakan yang sangat dahsyat kembali bergema susul-menyusul.

Bong Thian-gak telah melihat permukaan tanah di hadapannya merekah dan tenggelam akibat ledakan dahsyat itu.

Cepat mereka bertiga menjejakkan kaki ke atas permukaan tanah yang belum tenggelam, lalu dengan sekuat tenaga melompat ke muka dan berlari kencang.

Di saat ujung kaki mereka menjejak tanah untuk kedua kalinya, suatu kekuatan dahsyat telah menggelegar.

Seluruh permukaan bumi bagaikan bergoncang keras, ketiga orang itu tak mampu berdiri tegak lagi dan segera terlempar ke atas tanah.

Bumi bergoncang hebat membuat Bong Thian-gak, Thaykun serta Song Leng-hui merasakan kepala pusing, mata berkunang-kunang dan tak sanggup berdiri tegak.

Terpaksa mereka harus merangkak di atas tanah, merangkak dengan sekuat tenaga menuju ke depan dan melawan goncangan tanah yang makin menghebat.

Diam-diam Bong Thian-gak berpikir dalam hati.

"Habis sudah riwayatku! Kami bertiga pasti akan terkubur untuk selamanya di sini."

Sementara itu Thay-kun menggenggam tangan Song Lenghui, mereka berdua segera berteriak.

"Engkoh Gak, dimanakah kau?"

Bong Thian-gak mendongakkan kepala, ia saksikan kedua orang gadis itu tak jauh dari sisi tubuhnya, namun berhubung permukaan tanah bergoncang terlalu hebat mengakibatkan pandangan mata menjadi kabur dan kedua orang gadis itu tak sempat menjumpai dirinya.

"Aku berada di sini,"

Sahut Bong Thian-gak dengan suara keras.

Sambil berteriak Bong Thian-gak berusaha keras merangkak ke depan dan menghampiri mereka, goncangan yang begitu dahsyat dan hebat membuatnya sama sekali tak mampu bergerak lagi.

Pada saat itulah Thay-kun melihat Bong Thian-gak, sambil menangis teriaknya lagi.

"Engkoh Gak, jika kita harus mati, biarlah kita bertiga dikubur bersama-sama. Kau cepatlah kemari!"

Kedua gadis itu berusaha keras merangkak ke depan mendekati Bong Thian-gak.

Tenaga goncangan yang makin menghebat itu membuat mereka tak sanggup lagi memberikan perlawanan.

Bong Thian-gak, Thay-kun dan Song Leng-hui merasakan tekanan udara yang menggencet tubuh mereka semakin bertambah berat.

Mereka bertiga segera merasakan bernapas kian bertambah susah, kesadaran pun makin menurun.

Rupanya pada saat itu permukaan tanah mulai tenggelam ke bawah.

Tenggelamnya permukaan tanah menimbulkan pusaran angin yang sangat kuat membuat udara sekeliling situ membumbung ke atas, akibatnya udara sekeliling tempat itu menjadi kekurangan zat asam.

Itulah sebabnya Bong Thiangak bertiga merasa sukar untuk bernapas.

Kembali terjadi ledakan yang maha dahsyat, diikuti goncangan yang sangat kuat.

Matahari serasa tidak bersinar lagi, dunia seolah-olah berubah menjadi gelap-gulita.

Bong Thian-gak, Song Leng-hui serta Thay-kun tidak mampu bertahan diri lagi, mereka jatuh tak sadarkan diri.

Peristiwa aneh dengan tenggelamnya permukaan tanah ke dalam perut bumi pun tak sempat lagi mereka saksikan.

Tatkala mereka sadar dari pingsannya.

Pertama-tama yang masih dirasakan adalah bumi yang masih bergoncang serta kepala pening dan mata berkunang-kunang.

Bong Thian-gak yang pertama-tama membuka mata lebih dulu.

Ia saksikan langit nan merah, cahaya matahari yang lembut di langit belah barat, rupanya senja telah menjelang datang.

Suasana dan pemandangan di sekeliling tempat itu pun samakali telah berubah.

Tempat dimana mereka berada sudah dipenuhi air lumpur.

Dari balik liang besar yang menganga bagaikan telaga, nampak asap putih yang panas masih mengepulkan asap seperti peristiwa timbulnya kawah ini di pegunungan berapi.

Menyusul Thay-kun dan Song Leng-hui sadar dari pingsannya, dua nona ini segera dibuat tertegun dan melongo oleh pemandangan aneh yang terbentang di depan mata, tanpa terasa mereka bergumam.

"Nerakakah ini?"

"Tidak, kita masih berada di alam semesta,"

Sahut Bong Thian-gak sambil menghela napas sedih.

"Musibah telah berlalu dan ternyata kita masih hidup di dunia ini."

Andaikata waktu itu mereka berlari kurang cepat, niscaya tubuh mereka bertiga sudah mati terkubur di dalam perut bumi.

Rupanya setelah mengalami ledakan dahsyat yang berakibat tenggelamnya tanah dalam perut bumi ini, tanah padang rumput kini telah berubah menjadi sebuah kubangan.

Bukan cuma itu, pada permukaan tanah terjadi pula retakan bumi yang sangat besar, yang kecil menjadi selokan, sedangkan yang besar berubah menjadi sungai.

Malah semua pepohonan tumbang, sedang rerumputan menjadi layu.

Betapa dahsyat serta mengerikannya peristiwa ledakan yang baru saja berlangsung itu.

Thay-kun memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian dengan paras muka berubah hebat katanya sambil menghela napas.

"Entah berapa banyak obat peledak yang telah ditanam Thio Kim-ciok pada dasar Bu-lim-bong itu? Nyatanya ledakan yang terjadi bisa berakibat tenggelamnya permukaan tanah. Ai! Bila dilihat dari rekahan tanah dan hancurnya bebatuan di sini, bisa diduga dasar Bu-lim-bong tentu sudah berubah menjadi sebuah gunung berapi kecil."

Matahari senja masih memercikkan sinar, membuat permukaan tanah nampak merah membara.

Bagaikan baru terlepas dari peristiwa mengerikan, Bong Thian-gak, Thay-kun serta Song Leng-hui bertiga pelan-pelan berjalan menuju ke arah timur dengan wajah kusut.

Setelah mengalami peristiwa luar biasa ini, tampaknya perasaan mereka sudah dingin dan hambar.

Persoalan apa pun yang terjadi di dunia persilatan sudah tak ada daya tarik lagi untuk mereka campuri.

Dengan langkah yang lelah dan lemas, mereka keluar dari tempat itu mencari tempat terpencil untuk hidup mengasingkan diri.

Mendadak terdengar suara pekikan nyaring yang amat keras berkumandang datang mengikuti hembusan angin.

Dengan perasaan kaget dan terkesiap mereka bertiga segera mendongakkan kepala.

Mereka saksikan ada seseorang sedang mengejar orang yang lain.

Yang kabur sudah jelas pihak yang kalah, sambil berlari dia masih memberikan perlawanan gigih, namun rambutnya sudah terurai kusut.

Meskipun pedang di tangannya berulang kali masih melancarkan serangan gencar dan mematikan, namun sudah jelas ia tidak mampu lagi menghadapi serangan maut pedang pendek lawan.

Suatu ketika tampak cahaya pedang berkelebat, pedang pendek sang pengejar telah berhasil menghujam ke tubuh pihak yang kalah itu.

Jeritan keras yang mengerikan pun bergema.

Dengan langkah terhuyung-huyung orang yang menderita kekalahan itu melarikan diri terbirit-birit menuju ke hadapan Bong Thiangak bertiga.

Orang yang kalah bertarung itu sudah melihat dengan jelas paras Bong Thian-gak bertiga, kulit wajahnya nampak mengejang keras menahan penderitaan luar biasa, sementara sorot matanya memancarkan sinar merengek yang amat mengibakan.

Mendadak Thay-kun berseru tertahan.

"Ah, rupanya Tan Sam-cing Locianpwe!"

Biarpun orang yang kalah bertarung itu sudah berlepotan darah di seluruh wajahnya hingga kelihatan amat menakutkan, namun Bong Thian-gak bertiga masih dapat mengenali dirinya.

Dia memang tak lain adalah Tan Sam-cing, seorang di antara sepuluh tokoh persilatan.

Sang pemenang dengan garang dan gagahnya melompat turun di hadapan lawan.

Kembali Bong Thian-gak bertiga berseru tertahan.

"Ah, rupanya Thio Kim-ciok Locianpwe."

Betul, Thio Kim-ciok.

Waktu itu tangan kanannya menggenggam pedang pendek yang memancar sinar putih berkilauan, wajah kelihatan dingin, kaku, sadis, buas dan mengerikan.

Dalam pada itu Tan Sam-cing telah berseru dengan nada merengek.

"Jian-ciat-suseng, tolonglah aku, bantulah diriku"

Bong Thian-gak menggeleng dengan hambar, sahutnya dengan wajah serius.

"Kami sudah tak ingin terlibat dalam kasus bunuh-membunuh yang berlangsung di antara kalian."

"Tapi dia bukan cuma ingin membunuh sepuluh tokoh persilatan saja, dia pun akan membantai setiap umat persilatan yang ada di dunia ini,"

Jerit Tan Sam-cing dengan perasaan kaget bercampur ketakutan. Thio Kim-ciok segera tertawa menghina, jengeknya.

"Tan Sam-cing, bukankah kau nampak gagah dan perkasa selagi berada di dalam Bu-lim-bong tadi? Sungguh tak kusangka kau berubah menjadi begini lemah. Kasihan ... oh benar-benar mengenaskan. Siapa orangnya di dunia ini yang tidak merasa takut menghadapi kematian? Dan siapa pula yang bisa lolos dari maut? Aku rasa kau pun tak perlu menyesal lagi."

Sampai di situ, pedang pendeknya yang sudah diangkat tinggi-tinggi itu pelan-pelan digerakkan ke bawah menusuk dada Tan Sam-cing.

Tampaknya Tan Sam-cing sudah dalam keadaan tak mampu melakukan perlawanan lagi dan hanya bisa membelalakkan mata menyaksikan pedang pendek itu pelanpelan menusuk ke tubuhnya.

Perasaan ngeri, seram, ketakutan serta berbagai perasaan lainnya serentak bermunculan dari balik matanya.

Ia nampak begitu mengenaskan, patut dikasihani dan sangat menyedihkan.

Mendadak Bong Thian-gak berteriak.

"Tunggu sebentar, Thio-locianpwe."

Namun Thio Kim-ciok sama sekali tidak menggubris, pedang pendek di tangannya juga tidak berhenti karena teriakan Bong Thian-gak itu.

Dalam waktu singkat mata pedang yang putih dan dingin telah menembus badan Tan Sam-cing.

Ketika pedang pendek itu dicabut kembali, mata pedang masih kelihatan putih bersih bagaikan salju, tapi cairan darah segar telah memancar dari mulut luka di dada Tan Sam-cing.

Jeritan ngeri yang memilukan hati pun berkumandang memecah keheningan.

Jeritan yang begitu mengerikan sekali lagi bergema di luar dugaan siapa pun.

Bong Thian-gak segera mengernyitkan alis sambil diamdiam berpikir.

"Apa seramnya suatu kematian? Hm, namanya saja seorang jago silat yang tercantum dalam deretan sepuluh tokoh persilatan, mengapa baru terkena sekali tusukan saja ia sudah menjerit-jerit macam begitu? Sungguh tak tahu malu."

Agaknya Thay-kun serta Song Leng-hui mempunyai perasaan yang sama.

Dalam pada itu agaknya Thio Cim-ciok tak rela membiarkan Tan Sam-ceng menemui ajalnya dalam waktu singkat.

Oleh sebab itu, tusukan pedangnya sama sekali tidak tertuju ke bagian mematikan.

Jerit kesakitan Tan Sam-cing itu bagi pendengaran Thio Kim-ciok justru mendatangkan perasaan gembira yang luar biasa, ia segera tertawa terbahak-bahak dengan penuh kegembiraan.

Dengan nada seram dan ketakutan kembali Tan Sam-cing berseru.

"Thio Kim-ciok, kumohon kepadamu cepatlah cabut nyawaku, janganlah kau siksa diriku lagi!"

Thio Kim-ciok mendengus dingin.

"Hm, tiga puluh tiga tahun berselang, racun Hok-teng-ang telah cukup membuatku tersiksa dan menderita. Siksaan yang kurasakan waktu itu benar-benar tak dapat diutarakan dengan perkataan, sekarang aku tak lebih cuma menusuk tubuhmu dengan sebilah pedang pendek, apakah siksaan dan penderitaan yang kau rasakan jauh lebih hebat daripada siksaan Hok-teng-ang?"

"Pedangmu itu sudah kau rendam dengan racun keji,"

Teriak Tan Sam-cing dengan ketakutan.

"ketika menusuk ke dalam tubuh, rasa sakitnya bukan kepalang. Kau ... kau sangat keji, buas, tidak berperikemanusiaan. Kumohon ... kumohon padamu, cepatlah hadiahkan sebuah pukulan lagi untuk menghabisi nyawaku secepatnya!"

Tatkala Bong Thian-gak bertiga mendengar perkataan Tan Sam-cing ini, paras mukanya berubah hebat.

"Thio-locianpwe, benarkah di atas pedangmu sudah kau olesi dengan racun?"

Thay-kun segera menegur dengan suara ngeri. Thio Kim-ciok tertawa terbahak-bahak penuh rasa bangga, katanya.

"Betul, pedangku ini merupakan sebilah pedang manusia cacat yang kuciptakan selama puluhan tahun dan direndam dalam sari racun selama banyak tahun. Bukan saja pedang ini mengandung seratus jenis racun yang keji, mata pedangnya amat tajam, bila tertusuk ke dalam tubuh manusia yang berdarah panas akan menimbulkan penderitaan dan siksaan yang tak terlukiskan."

Baru sekarang Bong Thian-gak bertiga mengerti apa sebabnya Tan Sam-cing, jago tua yang gagah dan perkasa ternyata memperdengarkan suara jeritan kesakitan yang begitu memilukan walau hanya termakan sebuah tusukan saja.

Dari sini dapatlah disimpulkan betapa kejam, buas dan jahatnya Thio Kim-ciok.

Bila dia ingin membalas dendam, seharusnya sekali tusukan saja musuhnya dapat tertusuk mati, tapi dia tidak ingin berbuat demikian, dia hendak menyiksa lawannya secara keji dan buas, agar lawannya mati setelah menderita siksaan luar biasa.

Berubah paras muka Bong Thian-gak menyaksikan kejadian itu, ujarnya kemudian setelah menghela napas sedih.

"Thiolocianpwe, buat apa kau menyiksa orang dengan cara begitu keji dan buas? Kumohon kepadamu, berilah sebuah kematian yang cepat untuk Tan Sam-cing!"

Thio Kim-ciok tertawa seram.

"Andai aku harus membunuh dalam sebuah tusukan, lebih baik aku tak usah membunuhnya. Hm! Kematian adalah suatu peristiwa yang amat sederhana, asal mata sudah terpejam maka segala sesuatunya tak diketahui lagi. Itulah sebabnya aku akan membuat musuh-musuh besarku merasakan siksaan dan penderitaan yang paling keji di kolong langit sebelum membiarkan dia mampus."

"Bong-laute, sekali lagi kuperingatkan kepadamu, jangan sekali-kali mencampuri urusan pribadiku atau aku pun akan menggunakan cara yang sama kejinya untuk membinasakan kalian."

Seusai berkata, kembali Thio Kim-ciok menggunakan pedangnya menusuk lambung Tan Sam-cing.

Penderitaan serta siksaan yang dialami Tan Sam-cing saat ini benar-benar tak terlukiskan dengan kata-kata.

Tubuhnya seperti ditusuk-tusuk jarum tajam, kulit dagingnya serasa disayat pisau, penderitaannya seratus kali lipat lebih hebat daripada siksaan macam apa pun.

Pedang manusia cacat mendatangkan siksaan dan penderitaan yang mengerikan.

Mungkin hanya mereka yang pernah merasakan tusukan itu yang dapat melukiskan.

Kembali Tan Sam-cing memperdengarkan jerit kesakitan yang memilukan, jeritannya seperti babi disembelih, mendatangkan perasaan ngeri dan seram bagi siapa saja yang mendengar.

Tan Sam-cing tak sanggup menahan diri lagi, dia segera mengayun telapak tangannya siap menghabisi nyawa sendiri.

Tapi pedang pendek Thio Kim-ciok segera diayunkan ke depan dan telapak tangannya pun terpapas kutung menjadi dua.

Ketika ia mencoba menggigit putus lidahnya untuk bunuh diri, jari telunjuk tangan kiri Thio Kim-ciok kembali menotok jalan darah di atas gerahamnya sehingga mulut itu tak dapat tertutup.

Pokoknya dia harus merasakan siksaan keji lebih dulu sebelum mengakhiri perjalanan hidupnya.

Akhirnya Tan Sam-cing menemui ajal.

Di atas tubuhnya, seluruhnya terdapat empat puluh dua tusukan pedang.

Sejak tusukan pertama pedang manusia cacat menembus tubuh Tan Sam-cing, dia harus merasakan siksaan dan penderitaan selama tiga jam sebelum akhirnya mati secara mengenaskan.

Segala penderitaan dan siksaan tak bakal mempengaruhi dirinya lagi.

Bong Thian-gak, Thay-kun dan Song Leng-hui telah menyaksikan cara membunuh orang yang paling sadis, kejam dan buas yang pernah ada di dunia ini.

Mereka tak mampu mencegah perbuatan keji Thio Kim-ciok dan hal ini telah mendatangkan perasaan menyesal yang amat mendalam bagi perasaan mereka.

Suatu kejadian yang amat memalukan, karena sebagai seorang pendekar dari golongan lurus, mereka berpeluk tangan membiarkan orang lain menderita dan terpaksa mati secara keji dan sadis!

Selesai membinasakan Tan Sam-cing, Thio Kim-ciok berkata.

"Bong-laute, keteguhan imanmu sungguh mengagumkan, akhirnya kau tidak mencampuri urusanku serta mendatangkan kesulitan bagi dirimu sendiri. Aku merasa amat kagum."

Dengan suara hambar Bong Thian-gak bertanya.

"Agaknya Tan Sam-cing adalah korban pertama Thio-locianpwe setelah meninggalkan lorong bawah tanah Bu-lim-bong?"

Thio Kim-ciok mendesis dingin.

"Hitung-hitung Tan Samcing memang termasuk orang yang bernyali. Tatkala daratan itu sudah tenggelam, dia tidak berusaha melarikan diri dari sini, sebaliknya justru datang sendiri mencari aku. Itulah sebabnya dia menempati urutan pertama sebagai korbanku."

"Siapa pula yang akan menjadi korbanmu yang kedua?"

Tanya Bong Thian-gak kemudian dengan nada serius. Thio Kim-ciok tertawa terbahak-bahak.

"Mungkin orang itu adalah sastrawan berwajah tampan Liong Oh-im!"

Sementara itu Song Leng-hui telah berkata pula dengan air mata bercucuran.

"Thio-locianpwe, kumohon padamu janganlah membunuh orang lagi, sebab setiap kali kau membunuh orang, sama artinya dengan aku yang telah membunuh orang itu."

Thio Kim-ciok tertawa terbahak-bahak pula.

"Benar, engkaulah yang telah menciptakan diriku menjadi seorang raja baru di dunia persilatan, kau mestinya merasa bangga kepada semua orang dan menjadi seorang sombong karena kemampuanmu. Nona Song, apa pula yang kau sedihkan?"

"Raja pembunuh ... raja baru dunia persilatan? Apakah kau ingin menguasai seluruh jagat?"

Tanya Thay-kun terkejut. Thio Kim-ciok tertawa tiada hentinya.

"Yang menjadi ambisiku bukan menjadi seorang raja dalam Kangouw saja, tapi seorang kaisar kerajaan besar. Hahaha, tatkala aku sudah selesai menyiksa serta membunuh segenap musuh-musuhku, maka mata pedangku akan kutunjukkan kepada dinasti kerajaan ini. Aku akan mengumpulkan pasukan dan memberontak. Waktu itu aku tentu membutuhkan banyak sekali tenaga dukungan dan bantuan dari kaum muda yang pintar dan berbakat macam kalian. Andaikan kalian bertiga memiliki pula ambisi sebesar itu, silakan membantu usahaku ini, mari kita bekerja sama membangun satu kerajaan baru di negeri ini."

Thay-kun, Bong Thian-gak serta Song Leng-hui menjadi tertegun dan berdiri terbelalak dengan mulut melongo.

Saat itu Bong Thian-gak sekalian baru mengerti apa sebabnya Ku-lo Hwesio dari Siau-lim-si rela melakukan perbuatan terkutuk dengan berusaha membinasakan Thio Kim-ciok.

Mengusir bangsa Tartar dan memulihkan kembali bangsa dan negara dari kaum penjajah memang merupakan tugas suci setiap insan yang merasa dirinya bangsa Han.

Tapi dengan kekejaman, kebuasan serta kesadisan manusia macam Thio Kim-ciok ini, bukan saja tidak akan berhasil menciptakan pekerjaan besar demi kesejahteraan masyarakat, bahkan sebaliknya akan membawa setiap orang terjerumus ke dalam penderitaan dan siksaan yang tak terhingga.

Bong Thian-gak bertiga bukan manusia bodoh yang mudah dipedaya begitu saja, sudah barang tentu mereka pun dapat melihat bahwa Thio Kim-ciok bukanlah juru selamat yang akan membawa rakyat bangsa Han menuju ke suatu kehidupan yang lebih cerah.

Oleh karena itu bukan saja Bong Thian-gak bertiga tidak dapat membantu usaha Thio Kim-ciok, malahan sebaliknya perkataan dan ungkapan ambisi orang itu telah membangkitkan hawa membunuh dalam hati mereka.

Ketiga muda-mudi itu tahu dalam kehidupan bermasyarakat yang cinta damai ini, jangan sekali-kali raja setan pembunuh manusia semacam ini dibiarkan hidup terus.

Akan tetapi Bong Thian-gak sekalian pun sadar bahwa ilmu silat yang dimiliki Thio Kim-ciok sudah mencapai tingkatan yang luar biasa, tak mungkin kekuatan mereka bertiga mampu melenyapkan dia pada saat ini.

Thio Kim-ciok sendiri pun bukan seorang bodoh.

Dari perubahan wajah serta cara bicara ketiga muda-mudi itu, dia mengerti bahwa Bong Thian-gak sekalian tak bakal membantu ambisinya itu.

Maka sesudah tertawa terbahak-bahak, katanya.

"Biarpun aku termasuk orang yang keji, tapi dalam kehidupan seharihari aku dapat membedakan mana budi dan dendam. Asalkan Bong-laute sekalian tidak berniat mencampuri urusan dunia persilatan lagi, maka aku pun tak akan mengusik kalian, lebih baik kalian bertiga hidup mengasingkan diri di tempat terpencil dan tak usah mengurusi masalah lain. Tapi ingat, satu kali kalian berniat mencampuri urusan dunia persilatan, maka aku pun tak akan diam. Nah, sampai ketemu lagi di lain waktu."

Begitu selesai berkata, Thio Kim-ciok segera melejit ke tengah udara dan beberapa kali loncatan saja, bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.

Senja makin redup, angin dingin berhembus kencang, suasana di jagat raya ini terasa seram dan mengerikan.

Memandang mayat Tan Sam-cing yang terkapar di atas tanah dalam keadaan mengerikan itu, Bong Thian-gak menghela napas sedih seraya berkata.

"Thay-kun, kita harus berusaha keras mencegah perbuatan Thio Kim-ciok melakukan pembunuhan lebih lanjut."

"Masih untung kita tidak berusaha menghalangi perbuatannya hari ini. Kalau tidak, mungkin kita pun tak akan lolos dari musibah ini,"

Sahut Thay-kun hambar. Kembali Bong Thian-gak menghela napas.

"Tapi apakah kita harus membiarkan seorang raja iblis pembunuh manusia membantai orang dengan semena-mena?"

"Perbuatan Thio Kim-ciok yang mencari balas terhadap sepuluh tokoh persilatan bukanlah suatu perbuatan berdosa."

"Thio Kim-ciok mempunyai tulang pemberontak di kepalanya, ambisi yang terkandung dalam dadanya sudah bukan melulu menguasai dunia persilatan. Dengan kepandaian silat yang dimilikinya serta didukung oleh kekayaannya yang berlimpah-ruah, dia benar-benar bisa mengumpulkan tentara untuk memberontak serta membuat keonaran dimana-mana, dia akan menciptakan suatu badai pembunuhan yang mengerikan di negeri ini."

"Ya, siapa pun di dunia ini memang tak akan kenal puas,"

Ucap Thay-kun sambil manggut-manggut.

"Bisa jadi Thio Kim ciok akan mewujudkan ambisinya mengumpulkan pasukan serta melakukan pemberontakan."

"Tapi bila kita bertiga ingin mencampuri urusan ini, kemungkinan besar kita pun akan tewas secara mengerikan di ujung pedang iblis Thio Kim-ciok."

"Apabila kita bisa bekerja sama dengan Tio Tian-seng sekalian, aku pikir kita masih mampu melawan Thio Kim-ciok,"

Kata Bong Thian-gak dengan suara dalam. Thay-kun segera tersenyum.

"Bila ingin menandingi Thio Kim-ciok, kita butuh bantuan dari orang-orang berkepandaian silat macam Tio Tian-seng sebanyak enam-tujuh orang. Dengan himpunan kekuatan sebesar ini, Thio Kim-ciok baru bisa ditanggulangi."

"Sekarang dengan kekuatan kita bertiga, ditambah Tio Tian-seng atau sastrawan berwajah tampan, berarti kita masih kekurangan tenaga satu dua orang lagi. Apakah kita pun harus bekerja sama dengan Ho Lan-hiang?"

"Kebusukan dan kesesatan Ho Lan-hiang rasanya tidak kalah dengan kejahatan Thio Kim-ciok,"

Kata Bong Thian-gak dingin.

"Benar,"

Sambil tersenyum Thay-kun manggut-manggut.

"Bukan hanya Thio Kim-ciok seorang dalam persilatan ini yang bisa mendatangkan bencana dan kemusnahan bagi umat persilatan. Itulah sebabnya kita wajib memberi kesempatan kepada Thio Kim-ciok untuk membantai habis manusiamanusia seperti Hek-mo-ong dan Ho Lan-hiang sekalian."

"Tetapi orang kedua yang akan dibunuh Thio Kim-ciok adalah Liong Oh-im bukan Hek-mo-ong atau Ho Lan-hiang seperti yang kau maksudkan."

"Di sinilah kecerdikan serta perhitungan Thio Kim-ciok yang hebat, dia memang sengaja menjadikan sastrawan berwajah tampan menjadi korbannya yang kedua, karena dia kuatir Liong Oh-im akan bekerja sama dengan orang lain."

"Lantas apa yang harus kita lakukan sekarang?"

Thay-kun termenung sebentar, kemudian katanya.

"Gaksuheng, menurut pendapatku, lebih baik kita mengundurkan diri saja dari keramaian dunia persilatan."

Lalu ia memandang sekejap ke arah Song Leng-hui, terusnya lebih jauh.

"Kini adik Hui sudah berbadan dua. Andaikata Suheng mengalami sesuatu yang tak diinginkan, bagaimana pula dengan nasib adik Hui?"

Bong Thian-gak terperanjat sekali, tapi sebelum ia sempat berkata, terdengar Song Leng-hui berkata pula.

"Enci Thaykun, setiap kali Thio Kim-ciok membinasakan satu orang, sama artinya dengan akulah yang melakukan pembunuhan itu. Bagaimana pun juga aku harus membuat Thio Kim-ciok mati atau paling tidak tubuhnya cacat."

"Aku harus berbuat demikian, sebab dengan begitu hati nurani baru merasa tenteram."

"Ucapan adik Hui memang benar,"

Sambung Bong Thiangak pula.

"Biarpun tubuh kita hancur-lebur, kita mesti berupaya membinasakan Thio Kim-ciok."

Mendengar perkataan itu, Thay-kun segera menghela napas panjang.

"Ai, kalau begitu mari kita cepat pergi dari sini!"

"Kita harus pergi kemana?"

Tanya Bong Thian-gak dengan wajah tertegun.

"Pergi mencari Tio Tian-seng."

"Tapi kemanakah kita harus mencarinya?"

"Dunia begini luas, tentu saja harus mencarinya ke empat penjuru!"

Saat ini Bong Thian-gak sendiri tak tahu dimana Tio Tianseng berada.

Oleh sebab itu mereka mengambil jalan menuju ke timur.

Tiga-empat hari sudah lewat, perjalanan cepat ditempuh tiada hentinya, penyelidikan dilakukan di sana-sini, akan tetapi Bong Thian-gak sekalian belum berhasil juga menemukan je|ak Tio Tian-seng sekalian.

Orang-orang itu bagaikan batu yang tenggelam di tengah samudra, hilang lenyap begitu saja.

Hari ini Bong Thian-gak mengajak kedua nona Itu menginap di sebuah rumah penginapan.

Sambil bermuram-durja Bong Thian-gak duduk termenung di bawah lampu.

Tiba-tiba Thay-kun dan Song Leng-hui muncul dalam ruangan, Bong Thian-gak segera berpaling dan memandang sekejap, ujarnya sambil menghela napas.

"Satu hari kembali sudah lewat!"

"Suheng,"

Tiba-tiba Thay-kun berkata dengan penuh rahasia.

"bila dugaanku tidak keliru, tengah malam nanti kita akan mendapat kabar."

"Sumoay, kalau begitu kalian tidurlah cepat,"

Seru Bong Thian-gak sambil menghembuskan napas panjang.

"Engkoh Gak,"

Kata Song Leng-hui pula dengan suara lembut.

"tengah hari tadi enci Thay-kun telah menemukan tanda-tanda yang mencurigakan, agaknya gerak-gerik kita sudah diikuti orang selama dua hari lebih."

Bong Thian-gak kelihatan terperanjat sekali, serunya kaget.

"Ada orang menguntit kita? Mengapa aku tidak merasa sama sekail?"

"Tampaknya orang yang mengikuti kita punya gerak gerlk yang lihai dan luar biasa,"

Thay-kun menerangkan.

"Padahal aku sendiri pun hanya berhasil menemukan tanda-tanda rahasia yang ditinggalkan olehnya setiap kali dia menguntit kita sampai di suatu tempat, sementara bayangan tubuhnya sendiri tidak kutemukan sama sekali."

Ketika mendengar ucapan itu, Bong Thian-gak segera berseru.

"Thay-kun, apakah tanda yang kau maksudkan itu adalah kupu-kupu warna putih?"

"Benar, memang kupu-kupu putih. Masih ingatkah Suheng bahwa di setiap sudut dinding rumah penginapan yang kita tempati ini selalu terdapat lukisan kupu-kupu yang dibuat dengan kapur?"

"Tapi siapakah yang menggunakan lambang kupu-kupu putih?"

Seru Bong Thian-gak. Dengan cepat Thay-kun menggeleng kepala, katanya.

"Siapakah si kupu-kupu putih itu sampai sekarang belum kuketahui, tapi aku percaya si kupu-kupu putih ini pastilah orang yang dikirim oleh salah satu di antara sepuluh tokoh persilatan untuk menghubungi kita."

"Darimana Sumoay bisa berkata seyakin ini?"

Seru Bong Thian-gak dengan kening berkerut.

"Sebab selama beberapa hari terakhir ini, kita selalu berusaha mencari berita Tio Tian-seng, Gi Jian-cau serta Liong Oh-im sekalian. Bisa jadi berita ini pun sudah terdengar oleh Tio Tian-seng sekalian, karena mereka ingin membuktikan apakah berita itu benar atau tidak, maka dikirimnya seseorang untuk menguntit kita."

Bong Thian.gak menggeleng, katanya.

"Sumoay, perkataanmu makin membingungkan. Kalau Tio Tian-seng sekalian sudah tahu kita sedang mencari jejaknya, mengapa mereka tidak secara langsung menampakkan diri serta bertemu dengan kita?"

"Karena Tio Tian-seng sekalian tetap kuatir kita menjadi antek Thio Kim-ciok."

Mendengar perkataan itu, Bong Thian-gak baru mengerti, segera serunya.

"Ya benar, Tio Tian-seng sekalian pasti akan mencurigai hal ini."

Dengan wajah murung dan masgul, Thay-kun segera berkata lebih jauh.

"Dan aku yakin pada saat ini pun Thio Kimciok berusaha keras menemukan Tio Tian-seng sekalian."

Bong Thian-gak menjadi terkejut, serunya kemudian.

"Andaikata Thio Kim-ciok menguntit di belakang kita, bukankah urusan akan bertambah runyam?"

"Ya, benar, andaikata hal ini sampai terjadi, maka kita telah menjadi pembantu Thio Kim-ciok."

"Ai, semoga saja persoalan ini tidak sampai berkembang menjadi semacam itu."

Thay-kun segera memandang sekejap keadaan cuaca di luar jendela, kemudian katanya lagi.

"Kentongan ketiga sudah hampir tiba, aku rasa si kupu-kupu putih segera akan menampakkan diri untuk berhubungan dengan kita."

"Benarkah si kupu-kupu putih akan muncul?"

"Bagi umat persilatan yang seringkah melakukan perjalanan, berlaku suatu peraturan di antara mereka, yaitu bila dia sedang menguntit seseorang untuk menyelidiki apakah dia teman sealiran, maka orang itu pasti akan melakukan pengintaian selama tiga hari tiga malam sebelum menampakkan dirinya dan seandainya orang itu adalah musuh yang dicari, setelah penguntitan itu dia baru akan turun tangan."

Baru saja Thay-kun bicara sampai di situ, mendadak dari luar ruangan bergema suara langkah kaki manusia, disusul seseorang mengetuk pintu sambil menyapa.

"Bong-siangkong, apakah kau sudah tidur?"

"Siapa?"

Tegur Bong Thian-gak sesudah tertegun sejenak.

"Pelayan,"

Sahut orang yang berada di luar. Sebelum Bong Thian-gak sempat menjawab, Thay-kun telah berseru dengan cepat.

"Ada urusan apa? Cepat masuk."

Pintu itu memang tak dikunci, maka sesosok bayangan orang segera bekelebat masuk ke dalam ruangan, dia adalah seorang lelaki berdandan pelayan.

Bong Thian-gak sekalian sebagai jago lihai memiliki ketajaman mata luar biasa, di saat lelaki itu menyelinap masuk ke dalam tadi, mereka sudah dapat melihat bahwa orang ini bukan seorang pelayan yang sebenarnya.

Dia seorang lelaki kekar yang amat cekatan sekali, begitu masuk ke dalam ruangan, sambil menjura segera katanya.

"Harap Bong-siangkong sudi memaafkan, hamba bernama Tan Long."

"Tan-heng, ada urusan apa kau datang berkunjung di tengah malam buta begini?"

Pelan-pelan Bong Thian-gak bertanya. Dengan sorot matanya yang tajam, Tan Long memandang sekejap ke arah Thay-kun serta Song Leng-hui, kemudian sahutnya.

"Kalau tak ada urusan penting tentu tidak akan berkunjung ke kuil Sam-po-tian. Aku mendapat titipan dari seseorang untuk mengundang kalian bertiga menjumpainya."

"Tolong tanya, Tan-cuangsu dapat titipan dari siapa?"

Tanya Thay-kun sambil tersenyum.

Menurut perkiraan Bong Thian-gak bertiga semula, Tan Long bukan lain adalah orang yang meninggalkan tanda kupukupu di atas dinding ruangan.

Tapi sekarang tampaknya di belakang layar masih terdapat seorang yang lain.

Lalu siapakah manusia yang bernama kupu-kupu putih itu?

Ada urusan apa si kupu-kupu putih mencarinya?

Sambil tertawa Thay-kun berkata.

"Dapatkah Tan-cuangsu mempersilakan si kupu-kupu putih yang datang kemari?"

Pada wajah Tan Long segera muncul perasaan serba susah, sahutnya.

"Berhubung gerak-gerik si kupu-kupu putih kurang leluasa, maka tolong kalian bertiga saja yang datang ke sana."

"Apakah kita akan berangkat sekarang juga?"

Tanya Thaykun.

"Ya, lebih cepat memang lebih baik."

"Kalau memang begitu, harap Tan-cuangsu segera mengajak kita ke sana!"

Bong Thian-gak, Thay-kun serta Song Leng-hui segera mengikuti lelaki yang mengaku bernama Tan Long ini meninggalkan rumah penginapan, mereka berempat menuju keluar kota dan menempuh perjalanan cepat selama lebih kurang setengah jam.

Tiba-tiba Tan Long menghentikan langkah.

Dengan heran Bong Thian-gak bertanya.

"Sudah sampaikah, Tan-heng?"

Dengan cekatan Thay-kun melayangkan pandangannya sekejap memperhatikan sekeliling tempat itu.

Rupanya tempat itu merupakan tanah hutan yang sepi dan penuh semakbelukar liar, tak nampak setitik cahaya lentera pun.

Dia mengernyitkan alis sambil berpaling memperhatikan wajah Tan Long dengan seksama.

Sementara itu Tan Long memperlihatkan rasa kaget bercampur heran, lalu bisiknya.

"Aduh celaka, kita telah dikejar orang."

"Darimana kau bisa tahu?"

Tanya Bong Thian-gak setelah tertegun sejenak.

Rupanya sejak mereka meninggalkan rumah penginapan hingga kini, Bong Thian-gak bertiga sama sekali tidak merasakan kalau ada orang yang sedang menguntit jejak mereka.

Dengan suara dalam Tan Long berkata.

"Benar, kita telah dikejar dan diawasi, si penguntit mempunyai gerak-gerik yang amat rahasia dan secepat bayangan iblis. Tadi pihak lawan berhenti di balik kegelapan di tepi jalan sana, namun dalam sekejap mata bayangan itu sudah lenyap."

"Tan-heng, mungkin syarafmu sudah terganggu,"

Jengek Bong Thian-gak sambil tertawa dingin.

Seraya berkata, pemuda itu segera berjalan menuju ke arah pohon di hadapannya itu.

Mendadak terdengar Bong Thian-gak menjerit kaget, secepat kilat tubuhnya menerjang ke arah tempat gelap itu.

Thay-kun serta Song Leng-hui bergerak pula mengejaran dari belakang, seru mereka hampir bersamaan.

"Apa yang telah ditemukan?"

Tapi dengan cepat kedua nona itu sudah melihat di bawah pohon besar itu tergantung sesosok mayat.

Mayat itu menyeramkan sekali, dia mati dengan mata melotot dan lidah melelet keluar, sangat mengerikan sekali tampangnya.

Akan tetapi setelah menyaksikan raut wajah orang itu, Bong Thian-gak, Thay-kun dan Song Leng-hui segera menjerit kaget sambil mundur tiga langkah dengan perasaan ngeri.

Yang membuat mereka kaget bukanlah tampang sang korban yang menyeramkan, melainkan wajah mayat itu.

Dengan suara gemetar Bong Thian-gak segera berseru.

"Sungguh tak nyana secepat ini Liong Oh-im menemui ajalnya."

Biarpun berada dalam kegelapan, namun dengan ketajaman mata beberapa orang itu, mereka masih dapat melihat dengan jelas tampang sang korban.

Memang tak salah, mayat yang mati digantung ini bukan lain adalah sastrawan berwajah tampan Liong Oh-im.

Sebagaimana diketahui, Thio Kim-ciok pernah berkata bahwa orang yang akan menjadi korban kedua adalah Liong Oh-im dan satu hal yang mengerikan adalah Liong Oh-im memang menemui ajalnya dalam waktu singkat.

Bong Thian-gak menghela napas panjang.

"Ai, kini Liong Oh-im telah mati. Entah siapakah yang akan menjadi korban berikutnya dari pedang manusia cacat Thio Kim-ciok?"

Mendadak terdengar Thay-kun berseru tertahan, lalu dengan langkah cepat berjalan mendekati mayat yang tergantung itu. Kemudian setelah diperiksa beberapa saat, dia berseru.

"Liong Oh-im bukan tewas di tangan Thio Kim-ciok."

"Lalu tewas di tangan siapa?"

Tanya Bong Thian-gak tertegun. Dengan wajah serius Thay-kun berkata.

"Rasa benci Thio Kim-ciok terhadap sepuluh tokoh persilatan boleh dibilang merasuk ke tulang sumsum. Dari sikap Thio Kim-ciok ketika membantai Tan Sam-cing sedemikian kejinya, bisa diduga Liong Oh-im tak akan mampus dengan tubuh utuh. Oleh sebab itu dapat disimpulkan kalau kematian Liong Oh-im bukan disebabkan pedang manusia cacat Thio Kim-ciok."

Seperti memahami akan sesuatu, Bong Thian-gak segera berpikir.

"Ya, benar juga! Dari luka yang menyebabkan kematian Liong Oh-im, dimana wajahnya hitam gelap dan tidak ditemukan luka luar yang mematikan, jelas kematiannya dikarenakan terjerat seutas kawat baja yang kuat pada lehernya. Tapi siapakah yang memiliki kemampuan sehebat ini sehingga dalam sekali gerakan saja berhasil menggantungnya sampai mati?"

Thay-kun memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak, setelah itu tanyanya.

"Suheng, dapatkah kau ketahui apa yang menyebabkan kematiannya?"

Bong Thian-gak menggeleng kepala.

"Pada hakikatnya aku tak berani percaya kalau kematian Liong Oh-im disebabkan jeratan kawat baja di lehernya itu. Ilmu silat yang dimiliki Liong Oh-im sangat hebat dan dia bukan seorang jago silat biasa yang mudah dirobohkan begitu saja. Siapakah yang mempunyai kemampuan sehebat ini untuk menjerat lehernya serta menggantungnya sampai mati?"

Thay-kun menggeleng pula, katanya.

"Luka yang menyebabkan kematian Liong Oh-im bukan jeratan kawat baja pada lehernya itu, tetapi karena serangan sejenis racun yang amat dahsyat daya kerjanya, dia mati karena keracunan. Liong Oh-im baru digantung setelah dia putus nyawa."

Bong Thian-gak nampak ragu-ragu, kemudian dia maju mendekat dan bermaksud membopong jenazah itu serta memeriksanya dengar lebih seksama. Mendadak ia mendengar Thay-kun berseru dari belakang tubuhnya.

"Suheng, jangan kau sentuh mayat itu."

Dengan terkesiap Bong Thian-gak segera menarik tangannya, lalu bertanya.

"Mengapa?"

"Seluruh tubuh Liong Oh-im telah ternoda oleh racun yang maha keji, bila kita menyentuh tubuhnya dengan tangan atau menyentuh salah satu bagian pakaian yang dikenakan, niscaya kita pun akan keracunan juga."

Bong Thian-gak mengamati wajah Thay-kun lekat-lekat, lalu tanyanya.

"Apakah kita biarkan mayat itu diterjang air hujan dan dikeringkan panasnya matahari?"

"Kita kan bisa memutus kawat penggantung itu dengan pedang, lalu mengubur jenazahnya tanpa menyentuh badan atau pakaiannya."

Mendadak Bong Thian-gak berpaling, lalu berseru tertahan.

"Mana Tan Long?"

Ternyata Tan Long yang semula berdiri di belakang mereka kini sudah lenyap, entah sejak kapan dia telah pergi meninggalkan tempat itu?

Thay-kun dan Song Leng-hui merasa heran juga atas kepergian Tan Long yang tanpa pamit itu.

Thay-kun yang cekatan dan banyak curiga segera teringat akan satu hal, cepat dia berseru.

"Suheng, kemungkinan besar kita telah terperangkap oleh siasat lawan. Mulai sekarang kita harus meningkatkan kewaspadaan untuk menghadapi segala kemungkinan."

Belum selesai perkataan itu diutarakan, Bong Thian-gak telah berteriak kaget lagi.

"Mayat tergantung! Di atas pohon itupun terdapat sesosok mayat yang mati tergantung."

Rupanya di atas sebatang pohon Pek-yang yang tinggi, tampak pula sesosok mayat yang mati tergantung, mayat itu masih bergoyang kian kemari karena terhembus angin.

Song Leng-hui berteriak pula keheranan.

"Ketika kita masih berada di sana tadi, mengapa tak nampak mayat itu?"

Di saat Bong Thian-gak, Tan Long, Thay-kun dan Song Leng-hui berempat berhenti di pohon Pek-yang tadi, di situ mereka tidak melihat ada mayat yang mati tergantung.

Paras muka Thay-kun segera berubah hebat, tiba-tiba dia berseru.

"Aduh celaka, jangan-jangan mayat yang mati tergantung itu adalah Tan Long? Mulai sekarang kita bertiga tak boleh berpisah lagi."

Seraya berkata, pelan-pelan dia berjalan ke muka mendekati pohon Pek-yang dimana mayat itu tergantung.

Bong Thian-gak serta Song Leng-hui tidak percaya kalau mayat yang tergantung di atas pohon itu adalah mayat Tan Long, tanpa terasa mereka berjalan menuju ke depan.

Namun ketika sorot mata mereka yang tajam dapat menangkap raut wajah mayat yang tergantung itu, tanpa sadar ketiga orang itu mundur beberapa langkah dengan wajah pucat dan peluh dingin bercucuran dengan derasnya, rasa seram dan ngeri segera menyelimuti perasaan mereka.

Ternyata tak salah lagi dugaan Thay-kun, mayat yang mati tergantung di atas pohon Pek-yang itu adalah Tan Long.

Seperti juga keadaan Liong Oh-im, Tan Long mati dengan leher terjerat seutas kawat baja yang sangat kuat, wajahnya hitam pekat, lidahnya melelet dan matanya melotot besar.

Di saat mereka tak nampak Tan Long berada di situ tadi, sebenarnya Bong Thian-gak bertiga menyangka Tan Long telah pergi meninggalkan mereka atau mungkin juga mempunyai suatu rencana tertentu terhadap mereka bertiga.

Mimpi pun mereka tidak mengira kalau dalam waktu begitu singkat Tan Long telah dibunuh orang tanpa menimbulkan sedikit suara pun, bahkan mayatnya digantung di atas pohon Pek-yang.

Cara membunuh yang begitu cepat, kejam dan misterius ini benar benar merupakan kejadian yang luar biasa.

Sekalipun Bong Thian-gak bertiga masih belum begitu jelas mengetahui asal-usul Tan Long, tapi mereka tahu bahwa Tan Long adalah seorang lelaki cekatan serta pintar, ilmu silatnya pun tidak lemah.

Tapi kenyataan dia dibunuh secara begitu mudah tanpa sempat menimbulkan sedikit suara pun.

Pembunuhnya sudah pasti seorang berhati kejam, buas dan tak berperasaan.

Tapi siapakah orang itu?

Bong Thian-gak bertiga segera menjadi tegang.

Dengan kesiap-siagaan penuh mereka memperhatikan situasi di sekeliling situ dengan seksama, mereka mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan.

Mereka sadar bahwa pembunuh keji itu belum pergi terlalu jauh, dia pasti berada di sekeliling tempat itu sambil menunggu kesempatan baik untuk turun tangan keji terhadap mereka bertiga.

Dan Bong Thian-gak bertiga pun sadar bahwa mereka tidak mempunyai pegangan serta keyakinan untuk bisa mempertahankan diri dari serangan maut si pembunuh itu.

Suasana di sekitar tempat itu terasa amat hening, sepi, sedemikian seramnya hingga mendatangkan suasana ngeri bagi siapa pun.

Makin lama waktu berlalu, situasi pun terasa makin gawat dan tegang.

Akhirnya Bong Thian-gak tak dapat menahan diri lagi, tibatiba ia berpekik nyaring, lalu bentaknya.

"He pembunuh, dimanakah kau? Ayo cepat keluar dan bertarung tiga ratus gebrakan denganku."

Bentakan Bong Thian-gak itu diutarakan seperti orang gila saja, suaranya begitu keras mengalun di angkasa dan mendengung tiada hentinya.

"He pembunuh, kenapa belum juga muncul? Kalau memang bernyali, cepat keluar. Jian-ciat-suseng menunggu kedatanganmu."

Bersamaan dengan menggemanya bentakan ini, mendadak dari balik kegelapan di antara pepohonan muncul sesosok bayangan hitam, meluncur datang dengan cepat.

Bayangan hitam itu berkelebat dan langsung menerjang tubuh Bong Thian-gak.

Waktu itu kendati Bong Thian-gak merasa sangat kesal dan setengah kalap, namun ilmu silatnya memang tak bisa dianggap remeh.

Dengan suatu kesiap-siagaan yang tinggi, telapak tangan tunggalnya segera melepaskan sebuah pukulan dahsyat ke depan.

Thay-kun serta Song Leng-hui tidak berpeluk tangan, Sohli-jian-yang-sin-kang serta Tay-gi-khi-kang yang dahsyat serentak dilontarkan pula ke arah bayangan iblis itu dari sisi kiri dan kanan.

Tiga orang dengan tiga macam ilmu sakti serentak menggulung ke muka menciptakan suatu kekuatan dahsyat yang tak terlawankan.

Di tengah benturan yang memekakkan telinga, hawa murni memancar keempat penjuru menciptakan pusaran angin berpusing yang amat hebat, desingan tajam menderu-deru, pasir dan debu beterbangan ke angkasa, tampak bayangan iblis itu melayang turun.

Menyusul terdengar seorang dengan suara dingin menyeramkan seperti hembusan salju yang membekukan hati bergema di angkasa.

"Himpunan tiga ilmu sakti yang amat dahsyat, nyatanya serangan gabungan kalian telah mematahkan ancaman maut dari tengkorak pembunuhku!"

Di bawah sinar bintang yang redup, tampak seorang berbaju hitam mengenakan topeng tengkorak telah berdiri di hadapan mereka.

Ujung baju sebelah kanannya tampak kosong dan berkibar ketika terhembus angin, sepasang matanya bersinar tajam bagaikan cahaya hijau mata setan yang begitu tajam, buas, sesat sehingga mendatangkan perasaan ngeri bagi siapa pun yang memandangnya.

Setelah berhasil mengendalikan gejolak perasaannya, Bong Thian-gak berbisik lirih.

"Hek-mo-ong, kau adalah raja iblis hitam!"

Walaupun selama ini nama besar Hek-mo-ong atau si raja iblis hitam ini sudah menggetarkan perasaan setiap orang dan kehadirannya selalu mencekam perasaan hati siapa pun, namun selama ini Bong Thian-gak bertiga belum pernah bertemu langsung wajah aslinya.

Biarpun Bong Thian-gak sekalian sudah mempunyai dugaan yang meyakinkan atas asal-usul serta identitas yang sebenarnya dari Hek-mo-ong, yaitu Liu Khi, tapi siapakah dia sebenarnya hingga kini belum pernah memperoleh jawaban secara nyata.

Oleh sebab itu dengan cepat Bong Thian-gak membentak.

"Benarkah kau adalah Liu Khi?"

Hek-mo-ong segera memperdengarkan dengusan dingin serta suara tawanya yang mendirikan bulu roma, pelan-pelan dia mengangkat lengan kirinya, kemudian melepas topeng tengkorak yang dikenakan di atas wajahnya.

Wajah asli Hek-mo-ong pun akhirnya muncul juga.

"Ah! Ternyata kau memang Liu Khi!"

Hampir bersamaan Bong Thian-gak, Thay-kun sertu Song Leng-hui berpekik keras.

Dan dengan demikian teka-teki sekitar identitas Hek moong yang sebenarnya pun terungkap.

Dalam keadaan demikian Bong Thian-gak malah sama sekali tidak merasa ngeri ataupun terperanjat.

Thay-kun segera berkata sambil tertawa.

"Ternyata dugaan kami memang tidak meleset. Nyatanya kau memang Liu Khi! Tapi satu hal yang tidak kupahami, apa sebabnya kau membantu Thio KIm-ciok membunuh orang?"

"Thio Kim-ciok membunuh sepuluh tokoh persilatan karena ingin membalas dendam, sedang aku pun bertekad membunuh mereka,"

Kata Hek-mo-ong dengan suara dalam dan pelan.

"Disebabkan dendam kesumat?"

"Bukan dendam kesumat, melainkan karena harta kekayaan."

"Apakah dikarenakan tambang emas itu?"

Tanya Thay-kun.

"Benar, setiap orang yang mengetahui rahasia tentang tambang emas itu harus mati."

"Tapi kau tahu juga bahwa Thio Kim-ciok tak akan melepaskan dirimu?"

"Asal kubunuh seorang lebih banyak di antara sepuluh tokoh persilatan, berarti sebagian kekuatan yang akan memperebutkan harta kekayaan itu berkurang."

Dari pembicaraan yang baru berlangsung, terungkaplah sudah semua rencana busuk Hek-mo-ong.

Kalau begitu Hek-mo-ong dan Thio Kim-ciok sebetulnya sudah bekerja sama untuk saling mengisi kekurangan masingmasing.

Seorang Thio Kim-ciok saja sudah memusingkan kepala dan susah dihadapi, apalagi ditambah dengan seorang Hek-moong sekarang.

Nampaknya sepuluh tokoh persilatan sudah tiada harapan lagi untuk meloloskan diri dari bencana itu.

Thay-kun segera berkata.

"Walaupun kau membantu Thio Kim-ciok membasmi semua musuh-musuh besarnya, tapi pada akhirnya kau sendiri pun akan dilenyapkan Thio Kim-ciok dari muka bumi."

"Thio Kim-ciok adalah seorang yang berwatak aneh, sombong, takabur dan selama hidup tak punya teman. Sebaliknya aku orangnya baik, suka membantu orang dan banyak sahabat persilatan yang merupakan sobat lamaku. Aku akan hidup sepanjang masa dengan aman dan damai."

Thay-kun tersenyum.

"Hingga sekarang, sudah berapa orang di antara sepuluh tokoh persilatan yang kau bunuh?"

"Hanya Liong Oh-im seorang."

"Mengapa kau pun membunuh Tan Long?"

"Untuk menghalangi usahanya mengajak kalian pergi menemui si kupu-kupu putih."

"Siapakah si kupu-kupu putih itu?"

Tanya Bong Thian-gak dengan terperanjat. Hek-mo-ong cuma tertawa seram tanpa menjawab pertanyaan itu. Thay-kun segera berkata pula.

"Jadi tindakan yang kau lakukan malam ini hanya bermaksud mencegah kami pergi menemui si kupu-kupu putih?"

Kata Hek-mo-ong sambil tertawa dingin.

"Andaikata aku tak dapat memanfaatkan tenaga kalian, maka akan kubunuh kalian bertiga daripada meninggalkan bibit bencana di kemudian hari."

Bong Thian-gak segera mendengus dingin, bentaknya.

"Liu Khi, sepanjang hidupmu sudah banyak kejahatan yang kau lakukan. Pembunuhan demi pembunuhan kau lakukan tanpa perasaan, dosamu sudah menumpuk. Andaikata kami bebaskan dirimu pada hari ini, percuma hidup kami di dunia ini, nah, bersiaplah kau menerima kematian!"

Hek-mo-ong tertawa seram.

"Aku justru menerima bakat alam dari Yang Kuasa untuk membunuh orang. Sepanjang hidupku hanya membunuh oranglah pekerjaan yang kulakukan dan belum pernah dibunuh orang lain. Jika kau tak percaya dengan perkataanku ini, silakan saja untuk dicoba."

"Tunggu sebentar!"

Mendadak Thay-kun berseru. Dengan cepat dia menggeser tubuhnya menghadang di depan Hong Thian-gak, setelah itu sambungnya.

"Dapatkah kau memberi keterangan kepada kami, sebenarnya macam apakah si kupu-kupu putih itu? Sebetulnya si kupu-kupu putih itu lelaki ataukah perempuan?"

"Dia adalah seorang wanita. Orang itu she Pek bernama Hu-tiap, jadi namanya persis seperti julukannya. Berusia kirakira lima puluh lima tahun."

"Hm, keteranganmu cukup jelas,"

Thay-kun tersenyum.

"tapi menurut apa yang kuketahui, dalam dunia persilatan tidak terdapat manusia yang bernama si kupu-kupu putih."

"Benar, di dunia persilatan memang tidak terdapat manusia bernama kupu-kupu putih,"

Ucap Hek-mo-ong sambil tertawa dingin.

"Tapi sepuluh tokoh persilatan serta Thio Kim-ciok mengetahui secara pasti siapakah perempuan yang bernama kupu-kupu putih itu."

"Terutama sekali Thio Kim-ciok, di kala ia mendengar nama si kupu-kupu putih disebut orang, bulu kuduknya akan berdiri."

Perkataan Hek-mo-ong ini kembali membuat perasaan semua orang bergetar keras. Thay-kun mengerut dahi, lalu berkata.

"Apa sebabnya?"

Tiba-tiba Hek-mo-ong menarik muka, lalu dengan suara dalam ia berkata.

"Pada tiga puluh tahun lalu, Thio Kim-ciok telah melakukan pembunuhan berdarah yang sangat mengerikan. Yang menjadi korban pembunuhan adalah istri pertamanya."

"Kalau begitu si kupu-kupu putih adalah istri tua Thio Kimciok?"

Tanya Thay-kun terkejut.

"Ya, istri tua Thio Kim-ciok memang bernama Pek Hu-tiap!"

Sesungguhnya nama Pek Hu-tiap atau kupu-kupu putih itu terasa sangat asing bagi pendengaran Bong Thian-gak sekalian, tapi setelah memperoleh penjelasan dari Hek-moong, mereka pun bisa menarik kesimpulan.

Thay-kun berkata.

"Benar-benar tak dinyana Thio Kim-ciok telah mencelakai istri sendiri. Peristiwa itu sungguh menggidikkan."

Hek-mo-ong tertawa dingin.

"Thio Kim-ciok memang berwatak kejam, buas dan tak berperi-kemanusiaan, dia membunuh orang tanpa berkedip. Baginya membunuh seorang tak berarti apa-apa, namun di saat dia membunuh istrinya dulu, pembunuhan itu baru dilakukan untuk pertama kalinya. Oleh sebab itu dalam perasaan Thio Kim-ciok, peristiwa itu merupakan kejadian yang menyeramkan."

"Dapatkah kau menceritakan secara ringkas bagaimana jalannya peristiwa sampai Thio Kim-ciok membunuh istrinya sendiri?"

"Suatu malam pada tiga puluh tahun berselang, di saat Thio Kim-ciok sedang terbuai dan terpikat oleh kecantikan Ho Lan-hiang, secara keji dia telah membunuh istrinya yang sah, Pek Hu-tiap."

"Padahal saat itu Pek Hu-tiap sedang berbadan dua. Dalam keadaan perut besar, secara keji Thio Kim-ciok telah memotong keempat anggota badan Pek Hu-tiap. Tak heran tubuh Pek Hu-tiap bermandikan darah, tubuhnya menjadi seperti sebuah bola besar yang bergelindingan di atas tanah sambil merengek-rengek minta ampun pada Thio Kim-ciok serta memberi jalan kehidupan kepadanya, ia berjanji akan menghabisi nyawa sendiri setelah putranya dilahirkan nanti."

"Apakah Thio Kim-ciok tak memberi jalan kehidupan kepadanya?"

Tanpa terasa Thay-kun bertanya.

"Tidak! Thio Kim-ciok malah mengayunkan pedangnya langsung menusuk dada istrinya yang malang."

"Bagaimana kemudian?"

Tanya Thay-kun lagi dengan gelisah.

"Inilah kisah pembunuhan yang dilakukan olehnya terhadap Pek Hu-tiap. Bagaimana selanjutnya, darimana aku bisa tahu?"

"Apakah ceritamu itu kenyataan?"

Tanya Bong Thian-gak penuh emosi.

"Bila kurang percaya, silakan kalian tanyakan persoalan ini kepada Thio Kim-ciok,"

Sahut Hek-mo-ong dengan suara dingin tanpa perasaan.

"Kalau memang begitu, apa sebabnya kau menghalangi usaha kami menjumpai Pek Hu-tiap?"

"Demi kepentinganku sendiri, terpaksa aku berbuat demikian."

Thay-kun segera tertawa merdu, tanyanya tiba-tiba.

"Benarkah Pek Hu-tiap masih hidup?"

"Tentu saja Pek Hu-tiap masih hidup."

"Sekalipun Pek Hu-tiap masih hidup di dunia ini, tapi setelah keempat anggota badannya dikutungi oleh Thio Kimciok tempo dulu, berarti dia sudah menjadi manusia cacat tanpa tangan dan kaki. Bagaimana mungkin kemunculannya akan mendirikan bulu kuduk Thio Kim-ciok?"

"Waktu dapat menciptakan seorang"

Biasa menjadi seorang luar biasa, contohnya Thio Kim-ciok sendiri. Apalagi bagi Pek Hu-tiap yang menyimpan rasa benci, dendam dan sakit hati yang meluap-luap."

"Tahukah kau dimanakah Pek Hu-tiap sekarang?"

Kembali Thay-kun bertanya sambil tersenyum.

"Tentu saja tahu."

"Lantas apakah hubungan antara Tan Long dan Pek Hutiap?"

Kembali Thay-kun bertanya.

"Dia adalah pembantu utamanya."

"Setelah kau membunuh Tan Long apakah kau tidak kuatir Pek Hu-tiap akan datang mencari balas terhadapmu?"

Dengan mulut membungkam dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Hek-mo-ong memandang kegelapan dengan termangu, tiba-tiba paras mukanya berubah.

Dari balik matanya itu segera memancar hawa membunuh yang menggidikkan.

Ditatapnya Bong Thian-gak bertiga lekatlekat, kemudian tegurnya.

"Apakah kalian bertiga melakukan pekerjaan untuk Thio Kim-ciok?"

Bong Thian-gak mendengus dingin.

"Hm, jangankan membantu dia, malah kami sedang mencarinya dan berusaha membunuh Thio Kim-ciok dengan tangan kami sendiri."

"Bagus sekali, kini Thio Kim-ciok telah datang. Bekerjasamalah kalian untuk membunuhnya!"

Selesai berkata, Hek-mo-ong segera berkelebat dan lenyap di balik pepohonan sana.

Baru saja Bong Thian-gak bermaksud menghalangi kepergiannya, bayangan tubuh Hek-mo-ong telah lenyap dari pandangan sehingga tak ada gunanya dia berteriak.

Sementara itu dari ujung jalan raya sana, pelan-pelan berjalan mendekat seorang kakek berbaju biru berjenggot putih.

Orang itu memang tak lain adalah si raja iblis pembunuh manusia Thio Kim-ciok.

Pertama-tama yang ditemukan Thio Kim-ciok lebih dulu adalah mayat Liong Oh-im.

Ia mendongakkan kepala dan memperhatikan beberapa saat jenazah itu, kemudian baru meneruskan perjalanan serta berhenti di hadapan Bok Thian-gak bertiga.

Kembali ia mengangkat kepala serta memperhatikan beberapa kejap mayat Tan Long, wajahnya kelihatan hambar tanpa emosi, kemudian tanyanya dengan hambar.

"Siapakah yang telah membunuh kedua orang ini?"

Bong Thian-gak bertiga sama sekali tidak menyangka kalau yang datang benar-benar adalah Thio Kim-ciok.

Untuk beberapa saat mereka hanya berdiri tertegun di situ dengan wajah melongo.

Mereka baru sadar dari lamunan setelah mendengar teguran itu.

Cepat Thay-kun menyahut.

"Kami pun ingin bertanya pada Locianpwe, apakah Liong Oh-im mati di tanganmu?"

Mendapat pertanyaan yang sama, Thio Kim-ciok mendengus dingin, serunya.

"Benar-benar seorang bocah perempuan yang sangat cekatan."

Thay-kun kembali tersenyum, katanya pula.

"Locianpwe pernah berkata bahwa si sastrawan berwajah tampan akan menjadi korbanmu yang kedua. Oleh karena itulah setelah menyaksikan kematiannya serta-merta kami pun menduga Liong Oh-im mati di tangan Locianpwe."

Thio Kim-ciok mendesis dingin, katanya kemudian.

"Setiap hari aku membidik burung manyar, tak disangka ternyata mataku sendiri yang terpatuk. Bila kulihat mimik wajah kalian, sudah pasti kalian bertiga mengetahui siapakah pembunuhnya."

"Mengapa Locianpwe seyakin itu?"

Tanya Thay-kun sambil tertawa misterius.

"Aku sudah mengetahui dengan jelas bahwa kalian datang kemari dengan mengikuti korban itu,"

Kata Thio Kim-ciok cepat. Sembari berkata dia menuding ke arah mayat Tan Long yang masih tergantung di atas pohon. Thay-kun menjadi sangat terkejut, cepat dia bertanya.

"Darimana Locianpwe bisa tahu kalau kami datang kemari bersamanya?"

"Aku lihat dia sudah tiga hari tiga malam menguntit di belakang kalian bertiga."

"Kalau begitu Locianpwe pun menguntit di belakang kami?"

"Siapa bilang aku menguntit kalian? Cuma secara kebetulan saja kita menempuh arah perjalanan yang sama."

Tiba-tiba Thay-kun menuding ke arah jenazah Tan Long, lalu bertanya lagi.

"Apakah Locianpwe tahu asal-usulnya?"

"Apakah kalian pun mengetahui asal-usulnya?"

Thio Kimciok balik bertanya dengan wajah berubah. Dengan cepat Thay-kun menggeleng kepala.

"Kami hanya tahu dia bernama Tan Long, sedangkan soal lain sama sekali tidak kuketahui."

"Kau sedang berbohong,"

Bentak Thio Kim-ciok dengan suara dingin.

"Selama hidup aku paling benci orang yang suka berbohong di hadapanku!"

Tiba-tiba Thay-kun menghela napas sejenak, kemudian berkata.

"Kami tak berniat membohongi Thio-locianpwe, sesungguhnya Tan Long mengajak kami datang kemari karena ingin menjumpai seseorang."

"Menjumpai siapa?"

"Pek Hu-tiap!"

Ketika mendengar nama Pek Hu-tiap, paras muka Thio Kimciok segera berubah hebat, dia menengadah dan sampai lama sekali berdiri termangu-mangu, kemudian baru bertanya lagi.

"Kecuali persoalan ini, apalagi yang dikatakan Tan Long?"

"Tidak ada lagi,"

Thay-kun menggeleng.

"Sebetulnya siapa Pek Hu-tiap itu? Apakah Thio-locianpwe mengetahuinya?"

Thio Kim-ciok kelihatan rada gugup ketika dihadapkan pada pertanyaan itu, buru-buru dia berkata.

"Darimana aku bisa tahu siapakah dia?"

Secara diam-diam Thay-kun, Bong Thian-gak serta Song Leng-hui memperhatikan perubahan mimik mukanya.

Dari sikapnya itu, mereka pun semakin percaya bahwa yang dikatakan Hek-mo-ong tentang hubungan Thio Kim-ciok dan Pek Hu-tiap sesungguhnya memang kenyataan.

Sementara itu Thio Kim-ciok telah mendongakkan kepala sekali lagi mengawasi mayat Tah Long, mendadak ia tertawa dingin, lalu gumamnya.

"Aku tidak akan terjebak oleh perangkapmu. Aku sendiri pun pernah menjadi seorang ahli dalam ilmu beracun, permainan kecil seperti itu tidak nanti membuat diriku masuk perangkap."

Sudah jelas Thio Kim-ciok mengetahui bahwa seluruh badan Tan Long telah disebari bubuk beracun tanpa wujud yang sangat hebat. Thay-kun sengaja berlagak kaget, tanyanya.

"Locianpwe, apakah kedua sosok mayat itu mengandung racun keji?"

"Racun yang ditaburkan di atas mayat-mayat itu merupakan racun Hek-si-ku dari Say-jiang. Apabila terkena tubuh seseorang, maka dalam dua puluh empat jam darah dan dagingnya akan mengering karena habis dihisap oleh ulatulat Hek-si-ku. Kedahsyatan dan kekejiannya luar biasa."

Baik Thay-kun maupun Bong Thian-gak pernah mendengar kehebatan racun Hek-si-ku, air muka mereka segera berubah hebat. Setelah menghela napas panjang, Thay-kun segera berkata.

"Kalau begitu dalam dua puluh empat jam jenazah Liong Oh-im serta Tan Long akan musnah? Ai, kematian mereka benar-benar mengenaskan!"

Mendadak Thio Kim-ciok menarik wajah, kemudian berkata lebih lanjut.

"Hek-si-ku adalah sejenis racun yang sangat hebat. Menurut apa yang kuketahui, di dunia persilatan dewasa ini hanya Hek-mo-ong seorang yang pandai menggunakan racun itu, apalagi melukai orang dalam sekejap. He, aku ingin bertanya kepada kalian, apakah kedua orang itu mati dibunuh Hek-mo-ong?"

Ketika mendengar itu, diam-diam Thay-kun berpekik memuji dalam hati.

"Nyata sekali Thio Kim-ciok memang seorang yang sangat hebat. Tak kusangka dugaan dan tebakannya terhadap setiap masalah begitu tepat dan jitu, agaknya aku mesti memberitahukan keadaan yang sebenarnya kepada orang ini."

Setelah berpikir beberapa saat, tiba-tiba ia tertawa terkekeh-kekeh, kemudian ujarnya.

"Thio-locianpwe, dugaanmu keliru besar. Sebenarnya kami tak ingin memberitahukan keadaan yang sebenarnya kepadamu daripada mendatangkan kerugian bagi kami sendiri."

Sampai di situ, Thay-kun sengaja menghentikan perkataannya di tengah jalan. Dengan tak sabar Thio Kim-ciok segera berkata.

"He budak setan, kau tak usah berputar kayun lagi. Cepat kau katakan apa yang ingin kau utarakan."

"Sebenarnya orang yang telah membunuh Liong Oh-im serta Tan Long adalah Pek Hu-tiap."

Paras muka Thio Kim-ciok segera berubah hebat, bentaknya.

"Omong kosong, manusia macam apa Pek Hu-tiap yang kalian jumpai itu?"

Sambil tersenyum Thay-kun berkata.

"Pek Hu-tiap yang kami jumpai barusan adalah seorang perempuan berkerudung yang cacat keempat anggota tubuhnya, dia duduk di dalam tandu yang digotong oleh empat orang lelaki kekar."

Sembari berkata, dengan sorot mata tajam Thay-kun mengamati perubahan wajah Thio Kim-ciok.

Pada waktu itu paras muka Thio Kim-ciok telah menjadi pucat.

Dengan termangu-mangu dia mengawasi langit dengan pandangan kosong, sementara air mukanya berubah tiada hentinya, tak diketahui apakah merasa tegang ataukah ngeri?

Akhirnya terdengar Thio Kim-ciok bergumam seperti orang sedang mengigau.

"Benarkah dia masih hidup di dunia ini? Tapi dengan luka yang dideritanya, ditambah pula kandungannya tergetar hingga menyebabkan ia keguguran. Mungkinkah dia bisa hidup terus?"

Mendadak dari balik mata Thio Kim-ciok memancar cahaya tajam, diawasinya wajah Thay-kun tanpa berkedip, kemudian tegurnya lagi.

"Benarkah apa yang kau ucapkan itu?"

"Apa yang telah kami saksikan telah kusampaikan kepadamu, buat apa aku mesti berbohong?"

Thio Kim-ciok segera mendengus dingin.

"Sudah berapa lama ia meninggalkan tempat ini dan sekarang menuju kemana?"

"Dia berlalu setengah jam berselang dan menuju ke arah barat."

Ketika mendengar itu, tanpa mengucapkan sepatah kata pun Thio Kim-ciok segera menggerakkan tubuhnya menuju ke arah barat.

Memandang bayangan punggung Thio Kim-ciok yang lenyap di kejauhan, sekulum senyuman bangga tersungging di ujung bibir Thay-kun.

Sebaliknya Bong Thian-gak segera berkata sambil menghela napas panjang.

"Kami pernah bersumpah akan membinasakan Thio Kim-ciok serta Hek-mo-ong, tapi hari ini secara tak diduga kedua orang raja iblis pembunuh manusia itu telah muncul di depan kita, tapi kenyataannya kita tak mampu membunuh mereka, sebalik membiarkan mereka bertingkah semaunya sendiri. Ai, penghinaan semacam ini sungguh membuat perasaan orang serasa remuk."

Dengan wajah serius Thay-kun segera berseru dengan sungguh-sungguh.

"Ada keberanian tanpa akal, bukanlah seorang lelaki. Bila kita bertindak ceroboh tanpa memikirkan resikonya, hal ini berarti mencari kematian untuk diri sendiri."

"Apalagi untuk mencari suatu kemenangan bagi umat persilatan, kemenangan itu belum tentu harus diraih dengan pertarungan, dari kecerdasan otak pun kita dapat memperolehnya juga."

Baru selesai Thayrkun berbicara, mendadak dari atas sebatang pohon di sana berkumandang suara orang bertanya dengan suara lembut dan ramah.

"Siapakah perempuan itu?"

Disusul terdengar seorang tua bersuara rendah menyahut.

"Perempuan ini bernama Thay-kun. Sejak kecil dia dibesarkan oleh Ho Lan-hiang, tapi kini dia telah memisahkan diri dari kelompok Ho Lan-hiang."

Bong Thian-gak sekalian menjadi amat terperanjat, sebab suara lelaki tua serak itu seperti amat dikenal.

Namun untuk sesaat lamanya mereka justru tak dapat mengenali suara siapakah itu?

Dengan suara berat dan dalam Bong Thian-gak segera bertanya.

"Siapa di situ?"

Baru saja bentakan itu berkumandang, tiba-tiba dari balik pohon di hadapannya muncul sebuah tandu kecil yang digotong dua orang.

Dalam waktu singkat tandu itu telah muncul di hadapannya.

Gerakan tandu itu benar-benar cepat seperti melayang di tengah udara saja, dalam waktu singkat telah tiba di depan mata.

Tapi saat itu juga Thay-kun maupun Bong Thian-gak sekalian telah melihat dengan jelas tandu kecil itu.

Apa yang dilihatnya benar-benar merupakan keanehan dan kejadian yang sukar untuk dipercaya.

Ternyata kedua orang penggotong tandu itu tak lain adalah dua orang kakek yang telah lanjut usia.

Dan yang paling aneh lagi adalah kedua kakek itu ternyata bukan lain adalah Tio Tian-seng serta Gi Jian-cau yang sedang dicari-cari Bong Thian-gak sekalian selama ini.

Mula-mula Bong Thian-gak mengira matanya yang salah melihat, segera ia memejamkan mata, kemudian baru dibuka kembali untuk memperhatikan dengan lebih seksama.

Apa yang terlihat di depan mata seperti sediakala, paras muka Tio Tian-seng serta Gi Jian-cau sama sekali tidak berubah, semua merupakan kenyataan, bukan khayalan.

Dengan perasaan kaget bercampur keheranan Thay-kun berpaling ke arah tandu itu.

Di dalam tandu itu duduk dengan tenang seorang perempuan, dia mengenakan baju putih lebar hingga hampir menutupi seluruh tubuhnya dan membuat orang lain tidak dapat melihat sepasang tangan dan kakinya.

Wajah mengenakan pula kain kerudung putih yang hampir menutupi seluruh wajahnya, andaikata rambutnya yang panjang tidak terurai di kedua bahunya dan orang tak mendengar suaranya, tak akan ada yang bisa mengenali dia itu lelaki atau perempuan.

"Siapakah itu?"

Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Thay-kun, dengan jelas ia dapat menebak asal-usul manusia berbaju putih itu.

Kalau tadi dia hanya menciptakan cerita bohong untuk menipu Thio Kim-ciok, sungguh tak disangka cerita itu kini justru telah menjadi kenyataan.

Pek Hu-tiap, si kupu-kupu putih benar-benar naik sebuah tandu kecil.

Sementara itu Bong Thian-gak merasa gembira setelah bertemu dengan Tio Tian-seng, segera teriaknya.

"Tiolocianpwe, kedatangan kalian memang kebetulan sekali. Boanpwe sedang mencarimu."

Tio Tian-seng maupun Gi Jian-cau sama sekali tidak menurunkan tandu itu, mereka tetap berdiri sambil memikul tandu kecil itu. Pelan-pelan Tio Tian-seng berkata.

"Ada urusan apa kalian mencari diriku?"

"Tahukah Tio-pangcu, bahwa Thio Kim-ciok sedang mencari jejakmu?"

Paras muka Tio Tian-seng segera berubah serius, sahutnya.

"Kami pun sedang mencari jejak Thio Kim-ciok."

Bong Thian-gak segera menghela napas sedih, katanya kemudian dengan suara lirih.

"Tan Sam-cing telah mengalami musibah secara tragis."

"Liong Oh-im juga telah pulang ke alam baka,"

Sambung Tio Tian-seng.

"Tapi Liong Oh-im bukan..."

Belum Bong Thian-gak selesai bicara, tiba-tiba terdengar Thay-kun tertawa merdu dan menukas.

"Tio-pangcu, Thio Kim-ciok sudah mengumbar watak kejamnya dengan melakukan kejahatan yang sama sekali tidak berperikemanusiaan."

"Apabila sehari ia tetap hidup di dunia ini, berarti masyarakat akan menderita pula. Entah bagaimanakah rencana Tio-pangcu dalam usaha melenyapkan iblis ini dari muka bumi?"

Dengan suara dalam, Tio Tian-seng segera berkata.

"Dosa serta kesalahan yang dilakukan Thio Kim-ciok sudah melebihi batas. Semua jago telah dibuat marah oleh perbuatannya dan kini segenap umat persilatan telah bangkit menentangnya. Apakah kalian tak merasa bahwa daerah sekitar tempat ini telah memancarkan suasana aneh?"

Bong Thian-gak mencoba mengamati sejenak suasana di sekitar sana, lalu sahutnya.

"Ya benar, apa yang kami saksikan malam ini rasanya memang sedikit di luar dugaan."

"Segenap umat persilatan telah berencana membinasakan Thio Kim-ciok di tempat ini pada kentongan kelima nanti. Tapi situasi saat ini rasanya kurang beres. Liong Oh-im dan Tan Long terbunuh bersamaan secara mengenaskan dan apabila dilihat dari keadaan mereka setelah mati, sudah jelas kedua orang itu bukan mati dibunuh Thio Kim-ciok."

Thay-kun dengan suara merdu menukas.

"Apabila Tiopangcu ingin bertanya tentang peristiwa itu, buat apa berputar satu lingkaran besar lebih dulu sebelum bertanya?"

"Kalau begitu kalian harus mengatakan kepada kami, siapakah pembunuh Tan Long serta Liong Oh-im?"

Seru Tio Tian-seng dengan cepat.

Setelah mendengar itu, Bong Thian-gak serta Thay-kun dan Song Leng-hui segera mengerti bahwa di tempat itu bakal berlangsung suatu pertempuran yang amat sengit.

Mereka sama sekali tidak menyangka tindakan melenyapkan Thio Kim-ciok dari muka bumi bakal berlangsung sedemikian cepatnya.

"Tio-pangcu,"

Thay-kun segera berkata lagi.

"maaf kalau saat ini aku belum bisa menjawab pertanyaanmu itu, sebab jago-jago persilatan yang kujumpai pada malam ini terdiri dari beraneka-ragam manusia dari berbagai aliran. Oleh sebab itu Siauli ingin mengetahui satu hal lebih dulu, yakni siapakah yang merencanakan usaha pembasmian terhadap Thio Kimciok?"

"Apakah Tan Long tidak memberitahukan kepada kalian rencana pembasmian terhadap Thio Kim-ciok?"

Thay-kun menggeleng.

"Tidak, Tan Long hanya memberitahu, dia hendak mengajak kami pergi menemui seseorang."

"Orang yang hendak dipertemukan oleh Tan Long kepada kalian tak lain adalah orang yang berada di dalam tandu ini,"

Kata Tio Tian-seng.

"Ah, jadi dia adalah Pek Hu-tiap?"

Perempuan yang berada di dalam tandu segera berkata dengan suara ramah dan lembut.

"Benar, akulah Pek Hu-tiap. Dan aku pula yang merencanakan pembunuhan terhadap Thio Kim-ciok pada malam ini."

Setelah persoalan berkembang menjadi begini, Thay-kun pun menjadi paham pula terhadap persoalan yang semula masih teka-teki ini, cuma masih ada satu hal yang belum diketahui masalahnya, sambil tersenyum tanyanya lagi.

"Konon Pek Hu-tiap dan Thio Kim-ciok pernah menjadi suamiistri, apakah benar?"

Ketika mendengar pertanyaan itu, agaknya perempuan yang berada di dalam tandu itu merasa amat emosi, sekujur tubuhnya gemetar keras, sahutnya.

"Rupanya kalian sudah mengetahui asal-usulku, tapi siapa yang memberitahu semua itu kepada kalian?"

"Orang itu tak lain adalah orang yang telah membunuh Tan Long serta Liong Oh-im, yakni Hek-mo-ong Liu Khi."

Pek Hu-tiap sama sekali tidak menunjukkan perubahan sikap apa pun, tapi Gi Jian-cau yang berada di belakangnya segera mendengus dingin, umpatnya dengan suara seram.

"Sejak dahulu aku sudah tahu bahwa Liu Khi adalah manusia yang tak bisa dipercaya. Di luarnya saja ia setuju bekerjasama dengan kita untuk membunuh Thio Kim-ciok, kenyataan dia masih tetap menjadi kuku garuda Thio Kim-ciok."

Dengan wajah murung bercampur kesal, Tio Tian-seng berkata pula sambil menghela napas panjang.

"Seorang Thio Kim-ciok saja sudah susah dihadapi, apalagi ditambah seorang Liu Khi. Ai, urusan sudah jelas bertambah serius."

Tapi agaknya Pek Hu-tiap sudah mempunyai rencana yang matang, pelan-pelan dia pun berkata.

"Pertikaian antara sepuluh tokoh persilatan, Ho Lan-hiang, Thio Kim-ciok, Hekmo-ong dan aku sesungguhnya merupakan perselisihan yang amat pelik, siapa pun tidak akan membiarkan pihak lain meraih kemenangan. Oleh sebab itu aku telah melihat dengan jelas bahwa hubungan antara kita semua sesungguhnya merupakan suatu hubungan yang amat sensitif, saling bertentangan dengan perasaan sendiri. Itulah sebabnya pada malam ini aku baru bisa mengajak Ho Lan-hiang serta Hekmo-ong sekalian untuk bekerja-sama menghadapi Thio Kimciok."

"Dalam pertarungan yang akan berlangsung malam ini, andaikata Thio Kim-ciok benar-benar dapat terbunuh seperti apa yang kita harapkan. Aku rasa di antara kita pun harus membayar dengan harga yang cukup mahal yaitu mereka yang berhasil lolos dari pertarungan itu dalam keadaan hidup, akhirnya akan terbunuh juga oleh pihak lain yang mencari balas sampai pada orang terakhir."

Dengan ucapan Pek Hu-tiap yang berterus terang ini, semua rahasia pun ikut terungkap, yaitu dapatnya mereka bekerja-sama saat ini tak lain karena tujuan utama mereka yaitu melenyapkan Thio Kim-ciok lebih dahulu.

Terdengar Pek Hu-tiap berkata lebih lanjut dengan suara pelan.

"Oleh karena itu siapa yang bakal mati tak perlu kita persoalkan lagi. Yang penting tujuan kita tercapai, yaitu berhasil melenyapkan Thio Kim-ciok dari muka bumi."

Gi Jian-cau tertawa dingin.

"Yang kukuatirkan justru sebelum kita berhasil membunuh Thio Kim-ciok, orang kita malah saling gontok."

"Apakah tabib sakti menaruh curiga bahwa aku dan Hekmo-ong telah membuat persekongkolan secara diam-diam?"

Tanya Pek Hu-tiap dengan suara tetap lembut.

"Terbukti Liong Oh-im telah mati dibunuh oleh Hek-moong, hal itu menimbulkan rasa curiga siapa pun,"

Ucap Gi Jiancau dingin. Pelan-pelan Pek Hu-tiap berpaling ke arah Tio Tian-seng, kemudian katanya dengan suara dalam.

"Tio-pangcu, apakah kau pun menaruh kecurigaan ini?"

"Bukankah kau pernah bilang, pertikaian di antara kita tak pernah akan memperoleh penyelesaian sebelum salah satu pihak menemui ajal? Sekarang kita dapat saling bekerja-sama, hal ini tak lebih demi kepentingan diri pribadi. Oleh karena itu selain ingin melenyapkan Thio Kim-ciok secepatnya dari muka bumi, aku tak ingin memikirkan persoalan lain."

"Hm, hanya Tio-pangcu seorang yang dapat melihat situasi yang sedang kita hadapi sekarang secara jelas dan gamblang. Aku yakin setelah berlangsungnya pertempuran berdarah malam ini, satu-satunya orang yang bisa hidup dengan selamat mungkin hanya Tio-pangcu seorang."

Tio Tian-seng tidak menanggapi ucapan itu, dia memandang sekejap keadaan cuaca, lalu katanya sambil menghela napas.

"Sekarang waktu sudah menunjukkan kentongan keempat, kita harus mulai melakukan gerakan."

Tiba-tiba dari tengah udara berkumandang suara pekikan panjang yang keras, begitu kerasnya suara itu sehingga membelah keheningan malam.

Begitu pekikan itu berkumandang, dari arah lain pun bergema pula suara pekikan.

Dalam waktu singkat suara pekikan saling sambut.

Tiba-tiba Pek Hu-tiap menurunkan perintah.

"Thio Kim-ciok berada di sebelah barat daya, mari kita mengejarnya ke sana!"

Begitu selesai berkata, tandu kecil yang digotong Tio Tianseng dan Gi Jian-cau sudah bergerak cepat meluncur ke tengah udara dan bergerak ke muka dengan kecepatan tinggi.

Bong Thian-gak segera berteriak.

"Pek Hu-tiap, jangan pergi dulu. Kami bersedia turut serta dalam usaha pembunuhan terhadap Thio Kim-ciok."

"Aku telah berpesan pada Tan Long untuk mengundang kalian bertiga ikut serta dalam gerakan ini, namun setelah melihat kalian kaum muda bersemangat dan berbudi luhur, maka kurasa tak perlu lagi mengundang kalian untuk memikul tugas berbahaya ini. Sekarang lebih baik kalian mundur saja dari sini daripada harus terlibat dalam bencana pembunuhan yang mengerikan, ketahuilah melanjutkan hidup bukan pekerjaan yang mudah, janganlah kalian gunakan nyawa sebagai bahan gurauan. Thio Kim-ciok semakin kalap mendekati gila, dia hanya tahu membunuh orang, cepatlah menghindarkan diri dari musibah ini."

Suara yang lembut dan ramah itu bergema nyaring di tengah udara dan akhirnya lenyap di kejauhan sana. Bong Thian-gak memandang sekejap ke arah Thay-kun, lalu katanya.

"Bagaimana kita sekarang? Apa yang harus kita lakukan?"

Tanpa pikir panjang Thay-kun menjawab.

"Mari kita pulang."

Bong Thian-gak tertawa getir.

"Tidak, meski harus mengorbankan jiwa, aku tak bisa meninggalkan keramaian itu begitu saja."

Tapi perkataan Pek Hu-tiap itu benar, sekarang Thio Kimciok sudah kalap dan mendekati gila, ia sudah kehilangan semua akal pikiran serta kesadarannya.

Begitu melihat orang, dia cuma tahu membunuh, bayangkan saja apakah kita mampu menahan serangan pedang manusia cacatnya?"

Tindakan Thio Kim-ciok membasmi umat manusia merupakan tindakan terkutuk, sudah sepantasnya bila kita bangkit dan berusaha melenyapkan bajingan itu dari muka bumi ini.

Biarpun Bong Thian-gak tak sanggup menghadapi bajingan itu seorang diri, namun aku pun tak bisa melarikan diri hanya dikarenakan menyelamatkan jiwa sendiri!"

Sementara mereka masih ribut, dari kejauhan berkumandang beberapa kali jeritan ngeri yang memilukan.

Jeritan ngeri yang bergema di tengah malam buta begini, terutama suaranya yang mengerikan bagaikan lolongan serigala dan tangisan setan sungguh mendatangkan suasana yang amat tak sedap.

Bong Thian-gak sekalian tahu bahwa pertempuran darah sudah mulai berlangsung, jeritan ngeri para jago lihai persilatan yang tertusuk pedang manusia cacat Thio Kim-ciok.

Siksaan dan penderitaan yang luar biasa membuat orangorang itu memperdengarkan jeritan sedemikian ngennya.

Thay-kun segera berseru setengah merengek.

"Suheng, kau harus berpikir demi keselamatan adik Hui!"

"Sumoay,"

Kata Bong Thian-gak segera.

"apabila aku tidak turut serta dalam gerakan menumpas Thio Kim-ciok hari ini, tak ada artinya aku hidup di dunia ini. Sekarang ajaklah Lenghui pergi dari sini, biar aku sendiri yang dating ke sana!"

Selesai berkata, ia lantas membalikkan badan dan beranjak pergi dahulu. Thay-kun dan Song Leng-hui cepat menyusulnya sambil berteriak.

"Suheng, jangan pergi dulu. Kalau memang ingin mati, lebih baik kita mati bersama!"

Bong Thian-gak mendengus dingin.

"Hm, siapa bilang kita bakal mati? Kita tidak akan mati di tangan Thio Kim-ciok."

Sampai di situ, berangkatlah ketiga orang itu menuju ke arah barat daya dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh masing-masing.

Udara malam amat cerah tanpa setitik awan pun menghiasi angkasa, bintang bertaburan dimana-mana dan memantulkan cahaya yang amat redup.

Keheningan malam yang sebenarnya begitu indah dan syahdu, kini dihiasi oleh jeritan ngeri yang menyayat hati, membuat suasana berubah begitu mengerikan, bagaikan sebuah tempat pembantaian manusia yang menggidikkan.

Bayangan orang tampak saling bergerak kejar mengejar, cahaya golok dan bayangan pedang menyelimuti angkasa, percikan darah berhamburan di permukaan tanah, keadaan benar-benar menggidikkan.

Seorang kakek berbaju hijau bagaikan orang kesurupan menerjang setiap orang yang ditemuinya dengan tusukan pedangnya yang putih bercahaya, semua orang ditusuk, dibacok, disapu, ditotok, dibantai tanpa mengenal ampun dan nyatanya tak seorang pun di antara mereka yang mampu menahan satu jurus serangannya.

Di luar lapangan pembantaian itu, di atas sebuah bukit kecil di tengah padang rumput, telah terbentuk barisan berbentuk segitiga.

Di tengah barisan ada sebuah tandu kecil yang diduduki Pek Hu-tiap, sedangkan Tio Tian-seng dan Gi Jian-cau berdiri di sampingnya.

Di sayap kanan berdiri pula tiga orang, mereka mengenakan topeng tengkorak.

Lengan kanan mereka pun sama-sama kosong tinggal sebuah lengan saja, di pinggang terselip sebilah golok panjang.

Andai perawakan tubuh mereka tidak berbeda dalam ketinggian, maka siapa pun tak akan bisa mengenali siapakah ketiga orang itu.

Dandanan Hek-mo-ong yang telah menggemparkan persilatan.

Malah kini muncul tiga orang dengan dandanan Hek-mo-ong Liu Khi.

Ternyata Liu Khi masih mempunyai dua orang pembantu, itulah sebabnya di saat Liu Khi muncul dengan peranannya sebagai si golok sakti berlengan tunggal, pada saat bersamaan di tempat lain pun muncul Hek-mo-ong.

Di sayap kiri tandu itu berdiri juga tiga orang, mereka adalah Cong-kaucu Put-gwan-cin-kau, perempuan paling cantik dari wilayah Kanglam Ho Lan-hiang serta dua orang pembantu utamanya Ji-kaucu serta Sim Tiong-kiu.

Kesembilan orang itu membentuk sebuah barisan segitiga di atas bukit kecil itu, dari tempat yang tinggi mereka menyaksikan jalannya pembantaian yang begitu mengerikan di tengah lapangan itu.

Bong Thian-gak, Thay-kun dan Song Leng-hui mengikuti pula jalannya peristiwa itu dari kejauhan.

Mereka bertiga tidak segera ikut serta dalam pertempuran itu.

Begitu tiba di tempat kejadian, Bong Thian-gak dan Song Leng-hui di bawah pimpinan Thay-kun langsung menuju ke sisi kiri tanah bukit itu serta bersembunyi di belakang sebuah batu besar.

Mendadak di tengah pertarungan berkumandang lagi serentetan suara jeritan ngeri yang bergema tiada hentinya, begitu menyeramkan suara jeritan itu hingga menggidikkan siapa pun yang mendengarnya.

Dengan terkesiap Bong Thian-gak sekalian segera berpaling ke arah arena.

Ternyata Thio Kim-ciok sedang melakukan suatu tindakan yang benar-benar menggidikkan, dia telah mengeluarkan ilmu pedang pembunuh manusianya yang paling hebat.

Saat itu tubuhnya melejit ke udara, pedang manusia cacatnya telah membungkus tubuhnya, selapis cahaya putih menggulung kian kemari dengan kecepatan tinggi.

Dalam waktu singkat, tiga puluhan jagoan pedang berbaju hitam yang sedang mengurungnya sudah menemui nasib tragis, batok kepala mereka bergelindingan ke atas tanah, percikan darah segar berceceran kemana-mana, tak ada yang mampu menahan serangannya dan tak seorang pun di antara mereka yang berhasil meloloskan diri.

Kawanan jago pedang berbaju hitam itu tak lain merupakan anggota Put-gwa-cin-kau.

Malam ini Ho Lan-hiang datang dengan membawa seratusan jago pedang berbaju hitam, namun dalam waktu yang begitu singkat kekuatannya sudah tertumpas habis.

Di kala Thio Kim-ciok telah selesai membunuh jagoan pedang yang terakhir, dia segera mendongakkan kepala dan tertawa keras.

Suaranya amat menggidikkan, lalu sambil memutar pedang manusia cacat di tangan kanannya, dia berteriak.

"Pek Hu-tiap, aku akan datang membunuhmu."

Di tengah bentakan, dengan pedang manusia cacat diluruskan ke depan, selangkah demi selangkah dia menaiki bukit kecil itu.

Sementara Pek Hu-tiap yang duduk di balik tenda telah berkata dengan suara pelan.

"Hek-mo-ong, segenap kekuatan Put-gwa-cin-kau sudah tertumpas habis. Sekarang akan kulihat kemampuan tujuh puluh dua tentara tengkorakmu!"

Salah seorang di antara tiga Hek-mo-ong yang berdiri di sayap kanan segera tertawa tergelak, sahutnya.

"Bila Thio Kim-ciok ingin membantai tentara tengkorakku, tak nanti bisa dilakukan semudah ini."

Sampai di sini, tiba-tiba ia berseru.

"Cepat kau undang tentara tengkorak kita."

Begitu perintah diturunkan, dua manusia tengkorak yang berdiri di belakang Liu Khi pun segera mendongakkan kepala dan berpekik nyaring.

Pekikan itu tinggi melengking persis seperti suara lolongan serigala, mendatangkan perasaan seram bagi siapa yang mendengar.

Begitu suara pekikan bergema, dari balik keheningan yang mencekam tanah berumput itu berkumandang teriakan aneh yang menggidikkan.

Dari empat penjuru segera bermunculan bayangan iblis yang meluncur tiba bagaikan sambaran kilat, dalam waktu singkat bayangan iblis itu sudah mengepung Thio Kim-ciok.

Mereka terdiri dari tujuh puluh dua manusia aneh bertopeng tengkorak, tangan kiri membawa sebuah panji tengkorak berbentuk segitiga, sedangkan tangan kanan memegang sebuah tongkat pendek berkepala tengkorak.

Kawanan tentara tengkorak itu mengitari Thio Kim-ciok sambil melompat-lompat, berteriak dan menggerakkan panji serta toya mereka.

Gerakannya itu tak ubahnya seperti pasukan suku Biau yang sedang bertempur.

Thio Kim-ciok tertawa, pedang manusia cacatnya diayunkan ke depan langsung membacok seorang tentara tengkorak yang berada di dekatnya.

Pertempuran sengit pun kembali berkobar dengan hebatnya di tempat itu.

Nyata kawanan tentara tengkorak memang berbeda dengan pasukan jago pedang berbaju hitam Put-gwa-cin-kau yang begitu mudah dibantai.

Sekalipun jurus-jurus serangan Thio Kim-ciok luar biasa ganas dan kejinya, namun tak seorang pun di antara pasukan tentara tengkorak yang terluka di ujung pedangnya.

Dalam pada itu kawanan tentara tengkorak itu seperti pasukan yang datang dari neraka saja, berteriak dan melompat ke muka secara garang.

Dengan delapan orang membentuk satu kelompok mereka menerjang dan menyerang Thio Kim-ciok secara cepat.

Beberapa kali Thio Kim-ciok mengayunkan pedang melancarkan serangkaian bacokan, namun bukan saja gagal membunuh tentara tengkorak, malah sebaliknya ia harus mundur beberapa langkah karena terjangan maut pihak lawan.

Suara bentakan menggelegar, Thio Kim-ciok mengeluarkan ilmu pedang terbangnya yang paling ganas dan mengerikan, langsung meluncur ke depan dengan kecepatan luar biasa.

Sekalipun pasukan tengkorak merupakan kawanan jago yang telah memperoleh didikan khusus serta kebal terhadap bacokan golok dan tusukan tombak, namun setelah menghadapi ilmu pedang tingkat tinggi semacam itu, tak disangka mereka berubah menjadi lapuk seperti kayu kering.

Jeritan ngeri bagai teriakan setan bergema, delapan prajurit tengkorak terbabat pinggangnya hingga putus dan tewas seketika.

Dalam rencana penumpasan terhadap Thio Kim-ciok hari ini, Pek Hu-tiap sama sekali tidak kuatir banyak korban yang jatuh di pihaknya.

Dia menggunakan pertarungan bergilir ini dengan tujuan memaksa Thio Kim-ciok mengeluarkan ilmu pedang tingkat tingginya sehingga dia kehabisan tenaga dalam.

Itulah sebabnya kesembilan orang itu tetap menyimpan tenaga serta menonton jalannya pertarungan itu dari atas bukit kecil.

Prajurit satu demi satu saling susul roboh terkapar di atas tanah dalam keadaan tak bernyawa.

Akhirnya tak seorang pun di antara mereka yang berhasil lolos dalam keadaan selamat, mereka tewas di ujung pedang Thio Kim-ciok dalam keadaan yang mengenaskan.

Sambil berpekik keras, Thio Kim-ciok segera melejit ke tengah udara, lalu menerjang ke atas bukit kecil di hadapannya itu.

Keadaan Thio Kim-ciok waktu itu sangat mengerikan, gulungan rambutnya telah terlipat sehingga menutupi sebagian wajahnya, noda darah membasahi seluruh tubuhnya.

Dengan sepasang mata melotot penuh amarah dia mengawasi kesembilan orang yang berada di bukit kecil itu tanpa berkedip, lalu setelah tertawa seram, bentaknya.

"Liu Khi, benarkah dia Pek Hu-tiap?"

"Benar,"

Jawab Hek-mo-ong Liu Khi dengan suara dingin.

"Dia adalah istri pertamamu, Pek Hu-tiap."

Lalu setelah berhenti sejenak, lanjutnya.

"Thio Kim-ciok, mungkin kau tidak menyangka bukan bahwa orang yang hendak membunuhmu pada malam ini hampir semuanya merupakan orang-orang yang pernah kau cintai dan hormati?"

Thio Kim-ciok tertawa seram.

"Tiga puluh tahun aku menderita akibat dicelakai sepuluh tokoh persilatan dan tiga puluh tiga tahun kemudian kembali aku mengalami pengepungan yang licik dan tak tahu malu dari kalian. Tapi kalian mesti tahu, selamanya aku tak bakal mati di tangan kalian, seluruh dunia akan berada dalam kekuasaanku."

Di tengah pembicaraan itu, tiba-tiba Thio Kim-ciok melejit lagi ke tengah udara, kemudian langsung menerjang ke arah tandu itu.

Tandu kecil itu masih berada dalam gotongan Tio Tian-seng serta Gi Jian-cau, mereka tak bergerak sedikit pun juga, Pek Hu-tiap yang berada di dalam tandu pun sama sekali tidak melakukan sesuatu tindakan apa pun.

Gerakan Thio Kim-ciok menerjang dengan kecepatan luar biasa, dalam waktu singkat dia sudah melayang di atas tandu kecil itu, pedang manusia cacatnya langsung diayunkan ke muka untuk mencungkil kain kerudung putih yang menutupi wajah Pek Hu-tiap.

Agaknya para jago yang berada di sekelilingnya memang sedang menunggu tindakan Thio Kim-ciok itu.

Pada saat bersamaan, terdengar Pek Hu-tiap yang berada dalam tandu membentak.

"Thio Kim-ciok, habis sudah riwayatmu hari ini!"

Tandu kecil yang sama sekali tidak bergerak ini mendadak memperdengarkan suara ledakan yang amat keras, empat dinding tenda itu tahu-tahu hancur dan berjatuhan ke atas tanah, sementara pedang berwarna putih yang tajam bermunculan dari balik baju Pek Hu-tiap yang lebar langsung menusuk keluar.

Ketika Pek Hu-tiap melancarkan serangan, Tio Tian-seng, Gi Jian-cau, Ho Lan-hiang, Ji-kaucu, Sim Tiong-kiu, Liu Khi serta kedua orang manusia tengkoraknya serentak melancarkan pula serangan.

Kesembilan jago lihai persilatan itu segera mengeluarkan jurus mengadu jiwa yang diciptakan bersama-sama untuk membendung datangnya ancaman Thio Kim-ciok.

Thio Kim-ciok telah mempelajari hampir semua ilmu silat yang ada di dunia persilatan dewasa ini, para jago tahu andaikata serangan gabungan itu tidak berhasil mengenai tubuh Thio Kim-ciok, berarti untuk selamanya jangan harap mereka mampu membinasakan Thio Kim-ciok.

Tapi bilamana serangan gabungan itu mengenai sasaran, maka akibatnya tak terlukiskan pula.

Mimpi pun Thio Kim-ciok tidak menyangka para jago akan menggunakan serangan gabungan senekad ini untuk menghadapinya, dia tahu sudah termakan siasat lawan, tak kuasa lagi dia mendongakkan kepala dan tertawa seram.

Pedang manusia cacat segera digetarkan ke atas sambil diayunkan berulang kali, berlapis-lapis cahaya pedang berwarna-warni segera memancar dari pedang pendeknya untuk melindungi seluruh tubuh.

Siapa tahu pada saat itulah Pek Hu-tiap yang duduk di dalam tandu dengan seluruh badan penuh dengan senjata tajam telah melejit pula ke tengah udara sambil melancarkan serangan.

Jerit kesakitan yang memilukan, teriakan keras, bentakan bagal guntur serentak bergema memenuhi angkasa.

Bayangan orang saling menyambar di lengah udara, cahaya golok dan bayangan pedang tiba-tiba lenyap tak berbekas.

Pek Hu-tiap tahu-tahu sudah terduduk di atas tanah, pakaian yang berwarna putih telah dipenuhi lubang pedang, darah segar bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.

Di hadapan Pek Hu-tiap berdirilah Thio Kim-ciok, di tangan kanannya masih tetap tergenggam pedang manusia cacat, sementara bagian dada, punggung dan lambungnya masingmasing terdapat empat buah luka yang mengucurkan darah segar.

Dengan wajah kaget, gugup dan sedih Thio Kim-ciok sedang mengawasi wajah Pek Hu-tiap tanpa berkedip.

Ternyata kain kerudung putih yang menutupi wajah Pek Hu-tlap telah terlepas, kini muncullah seraut wajah pucat, lembut, halus dan kelihatan sangat ramah.

Di luar kedua orang itu, sudah ada tiga orang yang roboh dalam keadaan tewas, mereka adalah dua manusia tengkorak serta Ji-kaucu Put-gwa-cin-kau.

Sedangkan mereka yang tak roboh, tubuhnya dihiasi pula dengan berbagai macam luka yang mengakibatkan pendarahan, namun mereka tetap mengawasi wajah Thio Kimciok dengan pandangan penuh amarah.

Setelah kulit mukanya mengencang beberapa saat, Thio Kim-ciok baru berbisik lirih.

"Kau benar-benar Hu-tiap!"

Dengan wajah sangat tenang dan lembut, Pek Hu-tiap kembali berkata.

"Thio Kim-ciok, kau tidak menyangka bukan bahwa aku mnslh tetap hidup? Dan kau tak pernah menduga bukan bahwa aku akan bekerja-sama dengan musuhmusuhmu untuk membunuh dirimul Dan kau tentunya lebihlebih tak pernah mengira kalau pada akhirnya akan tewas di tanganku. Aku tak ingin menjelaskan lagi tentang semua dosa dan kesalahanmu. Nah, bersiaplah kau menerima kematian."

Thio Kim-ciok tertawa seram.

"Mati? Aku belum akan mati. Sekalipun harus mati, paling tidak baru akan mati setelah membunuh habis semua musuh besarku."

Sampai di situ, tiba-tiba Thio Kim-ciok berteriak.

"Ho Lanhiang, kau perempuan cabul, pembawa bencana, kubunuh dirimu lebih dulu!"

Thio Kim-ciok memang memiliki tenaga serta kemampuan hebat.

Sekalipun ia telah menderita luka parah, namun orang ini masih tetap memiliki ilmu pedang luar biasa.

Tampaknya serangan Thio Kim-ciok ini sama sekali tidak memberi kesempatan kepada orang lain untuk menghindarkan diri.

Tampaknya Ho Lan-hiang sendiri pun tak mampu menghindarkan diri dari serangan pedang Thio Kim-ciok.

Mata pedang yang putih bersih langsung menembus dada Ho Lan-hiang, pedang manusia cacat itu telah dicabut keluar.

Ho Lan-hiang tak mampu menahan diri lagi, dia menjerit ngeri dengan suara yang amat memilukan, darah segar menyembur keluar dari dadanya bagaikan air mancur.

Para jago yang berada di sekitar tempat itu menjadi terbelalak dengan mulut melongo, mereka tidak percaya dengan ilmu silat Ho Lan-hiang yang begitu hebat ternyata tak mampu menahan sebuah serangan Thio Kim-ciok.

Sementara itu Thio Kim-ciok yang telah mencabut keluar pedang manusia cacatnya langsung memutar mata pedang itu dan ditujukan ke Gi Jian-cau sambil bentaknya.

"Gi Jian-cau, kau pun harus merasakan sebuah tusukan pedangku ini."

Serangan pedang Thio Kim-ciok ini dilakukan dengan kecepatan luar biasa.

Dengan kaget bercampur ngeri Gi Jian-cau melompat mundur, namun usaha itu tidak berhasil menghindarkan diri dari ancaman.

Ujung pedang lawan segera menembus dadanya, menimbulkan rasa sakit yang tak terlukiskan, tak kuasa lagi dia pun menjerit kesakitan dengan suara amat mengerikan.

Liu Khi, Tio Tian-seng serta Sim Tiong-kiu tentu saja tak membiarkan pedang Thio Kim-ciok menembus dada mereka.

Tanpa membuang waktu lagi mereka menerjang ke arah Thio Kim-ciok.

Serangan jari, ayunan pedang dan sambaran golok dengan mengerahkan segenap kemampuan langsung mengancam tiga tempat mematikan di tubuh Thio Kim-ciok.

Ibarat banteng yang sudah terluka, Thio Kim-ciok nampak menyeramkan sekali, pedang manusia cacat di tangannya diangkat sejajar dada, lalu dengan kecepatan luar biasa menusuk dada Slm Tiong-kiu.

Jeritan bagaikan babi disembelih segera bergema memenuhi angkasa, Sim Tiong-kiu menjadi korban ketiga yang tewas tertembus pedang manusia cacat.

Namun di saat Thio Kim-ciok melepaskan tusukan ke dada Slm Tiong-kiu, punggung dan pinggangnya termakan pula oleh bacokan golok Liu Khi serta tusukan pedang Tio Tlanneng.

Bacokan golok serta tusukan pedang dua jago lihai ini kontan membuat Thio Kim-ciok meraung penuh amarah, dengan sepasang bahu bergetar keras dia berteriak lantang.

"Liu Khi, kau telah mengkhianati aku."

Pedang manusia cacatnya segera dicabut keluar dari rubuh Sim Tiong-kiu dan dialihkan ke arah Hek-mo-ong Liu Khi.

Liu Khi tahu pertarungan ini menyangkut hidup matinya, maka sambil tertawa dingin katanya.

"Thio Klm dok, sekarang aku hendak memberitahukan satu hal kepadamu, ketahuilah di saat kau membantai Pek Hu-tiap secara keji dulu, akulah yang telah menyelamatkan jiwanya dan saat itu pula dia mengundangku untuk berusaha membunuhmu dengan imbalan sebuah bukit tambang emas."

"Kau tahu, Liu Khi dikenal umat persilatan sebagai seorang pembunuh bayaran, setelah menerima imbalan, tentu sa|a aku tak dapat ingkar janji. Oleh karena itu pada tiga puluh tiga tahun berselang aku pun mengatur sepuluh tokoh persilatan serta Ho Lan-hiang untuk membunuhmu. Tujuanku waktu itu tak lain adalah mewujudkan janjiku terhadap Pek Hu-tiap."

Thio Kim-ciok yang sebetulnya sudah siap melancarkan tusukan maut dengan pedang manusia cacatnya segera mengurungkan niat itu, katanya dengan suara hambar.

"Coba kau lanjutkan perkataanmu itu"

Liu Khi tertawa, kemudian katanya.

"Dulu kau bisa membunuh istrimu Pek Hu-tiap tak lain karena terpikat oleh rayuan maut Ho Lan-hiang, padahal perkenalanmu dengan Ho Lan-hiang tidak lebih merupakan salah satu rencana busuk sepuluh tokoh persilatan. Oleh karena itu biarpun Pek Hu-tiap menderita musibah di tanganmu, tapi kesepuluh tokoh persilatan pun tak dapat terlepas dari tanggung-jawab ini. Karena itulah Pek Hu-tiap telah bersumpah akan membinasakan sepuluh tokoh persilatan, Ho Lan-hiang serta kau Thio Kim-ciok. Sedang aku mendapat undangan dari Pek Hu-tiap untuk melaksanakan pembunuhan itu, karena aku pun menjadi dalang semua pembunuhan yang berlangsung dalam dunia persilatan."

Ketika Liu Khi mengungkapkan sumber keresahan dan musibah yang menimpa dunia persilatan selama empat puluh tahun ini, hampir semua yang hadir dalam arena sama-sama berdiri terbelalak dengan mulut melongo, sebab budi dan dendam yang telah berlangsung selama ini memang terlampau aneh, ruwet dan membingungkan.

Lama setelah termenung, Liu Khi baru berkata lagi.

"Semua peristiwa berdarah ini dapat berlangsung, sebabnya tak lain karena kau, yang telah membunuh istri sendiri. Nah, Thio Kimciok, kau sebagai sumber dari segala bencana dan musibah yang terjadi, serahkanlah jiwamu sekarang juga!"

Begitu selesai mengucapkan perkataan itu, Liu Khi dengan serangan goloknya yang cepat melancarkan sebuah bacokan ke depan.

Thio Kim-ciok meraung penuh amarah, pedang manusia cacatnya secepat kilat diayunkan ke muka menyongsong datangnya bacokan itu.

Pada saat itulah Pek Hu-tiap yang sedang duduk di atas rumput dengan tenang membentak.

"Thio Kim-ciok, jangan kau bunuh Liu Khi."

Tubuh Pek Hu-tiap yang bulat tanpa sepasang tangan dan sepasang kaki itu segera melejit bagaikan sebutir peluru besi.

Golok maut Liu Khi segera membacok pinggang Thio Kimciok secara telak.

Sebaliknya tubuh Pek Hu-tiap yang gemuk bulat justru menempel di atas punggung Thio Kim-ciok.

Ternyata dari bagian sepasang lengan dan kaki Pek Hu-tiap yang buntung telah muncul empat bilah pedang tajam dan kini keempat pedang yang amat tajam itu telah menembus empat bagian tubuh Thio Kim-ciok di tempat yang mematikan.

Seluruh tubuh Liu Khi mengejang keras, dengan langkah sempoyongan ia mundur tiga-empat langkah, kemudian serunya dengan pedih.

"Thio Kim-ciok, ternyata gerakan pedangmu masih setengah tingkat lebih cepat daripada gerakan golokku."

Dalam pada itu Thio Kim-ciok yang ditunggangi Pek Hu-tiap telah berpaling, kemudian dengan suara gemetar dia berkata.

"Akhirnya aku harus tewas di tanganmu, aku ... aku mati tanpa menyesal."

Ketika selesai mengucapkan perkataan itu, sepasang kaki Thio Kim-ciok pelan-pelan berjongkok dan akhirnya roboh terkapar di atas tanah tanpa bernyawa lagi.

Dengan cepat Pek Hu-tiap menggerakkan tubuhnya mencabut keempat bilah pedangnya dari tubuh Thio Kim-ciok, setelah itu sambil menerkam Liu Khi, serunya.

"Liu Khi, kau tak boleh mati. Kau belum melaksanakan janjimu yang kedua?"

Sementara itu Bong Thian-gak, Thay-kun dan Song Lenghui yang menyembunyikan diri di belakang batu besar telah muncul. Terdengar Liu Khi menyahut dengan suara lemah.

"Pedang manusia cacat Thio Kim-ciok telah direndam dalam racun yang sangat keji. Bukankah janjiku yang kedua adalah mencari jejak putrimu? Aku ... aku pun telah berhasil menemukannya."

"Mana putriku?"

Seru Pek Hu-tlap dengan gelisah.

"Dimanakah dia sekarang? Cepat katakan, segera akan kukatakan letak tambang emas itu."

Tapi sayang, waktu itu sepasang mata I.iu Khi telah membalik ke atas, katanya lirih.

"Dia ... dia ... dia adalah..."

Namun Liu Khi tidak sempat menyebutkan nama putri Pek Hu-tiap, karena jiwanya sudah keburu berangkat meninggalkan raganya.

Dengan suara pilu dan sedih, Pek Hu tiap segera menjerit keras "Oh putriku, dimanakah kau berada ...

oh putriku ...

dimanakah kau berada?"

Dengan suara pilu dan sedih la berteriak, suaranya makin lama semakin rendah dan melemah dan akhirnya dia harus menghembuskan napas terakhirnya dengan membawa kekecewaan.

Ternyata Pek Hu-tiap juga sudah termakan tusukan pedang manusia cacat Thio Kim-ciok, sehingga dengan demikian dia pun tak dapat lolos dari bencana kematian ini.

Memandang mayat-mayat yang bergelimpangan di hadapannya, Tio Tian-seng menghela napas panjang, gumamnya seram.

"Sungguh tak disangka, aku benar-benar berhasil lolos dari musibah ini. Ai, kalau dibilang siapa yang paling tidak beruntung dalam peristiwa berdarah ini, maka orang itu tak lain adalah Pek Hu-tiap serta Thio Kim-ciok suami-istri."

"Ya,"

Sahut Thay-kun sambil menghela napas sedih pula.

"Kini dunia persilatan sudah tenang kembali untuk sementara waktu dan kami pun bisa hidup mengasingkan diri di bukit terpencil dengan perasaan tenang."

T A M A T BIODATA PENYADUR Tjan Ing Djioe telah menerjemahkan lebih dari 90 judul cerita silat.

Jumlah yang mengukuhkannya sebagai penerjemah terbesar sesudah O.K.T.

(Oei Kim Tiang).

Karya terjemahan pertamanya adalah Tujuh Pusaka Rimba Persilatan (Tiancan Cjiding) yang terbit pada tahun 1969.

Tujuh belas tahun kemudian, di tahun 1986, ia menerbitkan Darah Pahlawan (Ludingji karya Jin Yong) dan meninggalkan dunia penerjemahan.

Bahasa terjemahannya sederhana dan lugas, sedang penguasaan bahasa Indonesianya yang jauh lebih baik daripada para pendahulunya membuat terjemahannya lebih dekat dengan pembaca generasi muda, Lahir dari keluarga peranakan di Semarang pada tahun 1949, la pernah duduk di Zhonghua Gongxue sampai kelas 6 ketika sekolah ditutup.

Untunglah bahwa ibunya seorang guru, sehingga penguasaan bahasa Mandarinnya tetap dikembangkan, apalagi ia sendiri memang gemar membaca cerita silat dalam bahasa aslinya.

Ketika masih duduk di Fakultas Sospol Universitas Diponegoro, Semarang, ia mulai terjun dalam dunia penerjemahan, salah satu sebab ia tak menyelesaikan kuliahnya!

Sesudah 'pensiun' hampir dua puluh tahun, di tahun 2005 ia kembali menerjemahkan cerita silat, terdorong keinginannya untuk mengangkat kembali popularitas cerita silat di tanah air bersama-sama Masyarakat Tjerita Silat.

Selain menerjemahkan cerita-cerita baru, ia juga melakukan revisi pada naskahnaskahnya yang lama untuk diterbitkan kembali di sela-sela kesibukannya sebagai pengusaha peternakan ayam.

Baca Juga: Bahagia Pendekar Binal 2

Baca Juga: Elang Terbang Di Dataran Luas 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert