Ceritasilat Novel Online

Elang Terbang Di Dataran Luas 4

Eps 4 Elang Terbang Di Dataran Luas - Tjan Id

Baca online Elang Terbang Di Dataran Luas - Tjan Id

Cersil Elang Terbang Di Dataran Luas - Tjan Id.

Cu Im seolah tidak mendengar kalau di balik ucapan itu terselip nada sindiran.

"Tapi tak ada salahnya kau periksa dulu tangan milikmu, coba periksa apa benar di atas tanganmu telah muncul mulut luka kecil seperti bekas gigitan lebah beracun. Kalau mulut luka itu belum terjadi perubahan, mungkin kau masih tertolong."

"Aku masih tertolong? Siapa yang akan menolongku?"

"Asal kau bersedia tetap tinggal di sini, setiap orang tentu bersedia menolongmu."

Kepercayaan Siau-hong terhadap Yang-kong tampaknya sudah mulai goyah, tak tahan ia membalikkan badan, menghadap ke arah cahaya rembulan yang baru muncul dan menjulurkan tangannya yang pernah digenggam Yang Kong.

Baru saja tubuhnya berputar, tujuh titik cahaya bintang yang amat tajam telah memancar keluar dari tangan kiri Cu Im, cahaya tajam yang bukan dilancarkan oleh kekuatan pergelangan tangan, tapi dilontarkan dari dalam sebuah tabung dengan pegas yang sangat kuat.

Biarpun banyak jenis senjata rahasia yang digunakan orang persilatan, namun Toh-beng-jit-seng-ciam (jarum tujuh bintang pencabut nyawa) tetap merupakan jenis yang paling menakutkan.

"Braak...!", begitu pegas dilepas, pedang besi di tangan kanan Cu Im kembali melancarkan sebuah tusukan kilat. Gerak tangannya sudah tidak selambat tadi lagi, begitu pedangnya ditusukkan ke muka, cahaya pedang yang berkilauan telah mengunci mati seluruh jalan mundur Siauhong. Pada saat itulah dia seolah telah berubah menjadi seorang yang lain, dari seorang jago pedang yang berilmu biasa telah berubah menjadi jago pedang yang maha dahsyat. Seandainya sejak awal dia telah menggunakan ilmu pedang semacam ini, dapat dipastikan Siau-hong tak akan sanggup menghindarkan diri. Tapi sekarang dia telah mencabik hancur rasa percaya diri Siau-hong. Siapa pun orangnya, bila mengetahui dirinya telah dikhianati sahabat yang paling dipercaya, perasaannya pasti akan jatuh, sedih dan pedih, apalagi waktu itu Siau-hong sedang memeriksa mulut luka di tangan sendiri. Bukan satu pekerjaan yang mudah untuk memeriksa sebuah mulut luka selembut ujung jarum di bawah sinar rembulan yang redup. Dia telah memusatkan seluruh pikirannya ke tangan sendiri, rasa percaya dirinya telah hancur, perasaan dan emosinya telah runtuh penuh kepedihan, bagaimana mungkin serangan pedang itu dapat dihindari? Begitu melancarkan tusukan maut, Cu Im telah memperhitungkan bahwa Siau-hong pasti mampus. Seandainya Siau-hong benar-benar percaya kepada ucapan Cu Im, benar-benar memeriksa apakah tangannya terdapat mulut luka atau tidak, dapat dipastikan dia tentu mampus. Tapi dia tidak mati, karena dia menaruh rasa percaya penuh terhadap Yang Kong, rasa percaya seorang terhadap manusia lain. Karena kepercayaannya terhadap Yang Kong tak mungkin bisa digoyahkan dan dihancurkan hanya dikarenakan beberapa patah kata orang lain, oleh karena itu dia tidak mati. Terhadap serangan pedangnya itu, Cu Im mempunyai keyakinan untuk berhasil, dia pun yakin benar dengan kemampuan jarum tujuh bintangnya. Oleh karena itu begitu pedangnya melancarkan tusukan, dia telah menggunakan seluruh tenaga yang dimiliki, hanya teringat untuk "menyerang"

Tapi lupa untuk "bertahan".

Walaupun tusukan pedang itu sangat ganas dan dahsyat, tapi sayang terdapat titik kelemahan, terdapat bagian serangan yang terbuka.

Dia sangka seluruh jalan mundur Siau-hong telah tertutup, tapi sayang dia seolah melupakan sesuatu, lupa kalau Siau-hong masih punya sebuah jalan lagi yang bisa dia lakukan.

"menggunakan serangan untuk bertahan", menyerang masuk melalui titik kelemahannya, mengancam jantungnya, menyerang nadi kematiannya dan menerjang pusat pertolongannya. Siau-hong tidak membunuh mati Cu Im. Mula-mula dia bacok dulu pergelangan tangan Cu Im yang menggenggam pedang, kemudian menyelinap masuk ke posisi kosong musuh dan menyodok iga lawan dengan sikutnya, bersamaan jari tengah, jari telunjuk dan jari kelingkingnya menyodok ke muka, mencengkeram tenggorokan orang she Cu itu. Semua bagian yang diserang adalah tempat mematikan, dalam keadaan begini mau tak mau Cu Im harus menghindar untuk menyelamatkan diri. Tiba-tiba kelima jari tangan kanan Siau-hong berubah jadi cakar elang, dia cakar wajah Cu Im, mencongkel biji matanya sementara telapak tangan kirinya membabat bahu kanan orang itu. Bila bahu kanan terhantam telak, niscaya pedang besi itu akan terlepas dari genggaman. Menggunakan kesempatan itu Siau-hong rebut senjata musuh, di antara kilauan cahaya pedang, tahu-tahu ujung senjata itu telah menempel di atas tenggorokan Cu Im. Akan tetapi dia tidak membunuh lawannya.

"Aku tak membunuhmu karena kau meskipun bukan sahabatku, namun bukan juga musuh besarku,"

Ujar Siauhong.

"Kau ingin membunuhku pun karena suatu masalah, kau anggap hal ini harus dan wajib kau lakukan."

Cu Im yang berada di bawah todongan pedang masih tetap berdiri tenang, tak tahan ia bertanya juga kepada Siauhong.

"Kau benar-benar percaya kalau Yang-kong tak bakal mencelakaimu?"

"Aku percaya!"

"Mengapa kau begitu percaya kepadanya?"

"Karena dia belum pernah membohongi aku,"

Jawaban Siau-hong amat sederhana. Tiba-tiba Cu Im menghela napas panjang.

"Aku sangat kagum kepadamu, kau memang seorang sahabat sejati,"

Puji Cu Im.

"Tapi sayang semua sahabatmu belum tentu merupakan sahabat sejati, oleh karena itu kuanjurkan kepadamu lebih baik cepatlah pergi dengan membawa pedangku itu."

"Aku tidak menghendaki nyawamu, kenapa harus membawa pergi pedangmu?"

"Karena dalam waktu singkat kau bakal menggunakannya, mungkin bukan untuk membunuh orang."

"Lalu digunakan untuk apa?"

Cu Im menatap wajah Siau-hong, tiba-tiba sinar matanya menunjukkan perubahan yang sangat aneh, lewat lama kemudian baru ujarnya.

"Pedang ini seperti pedang lainnya, kecuali bisa dipakai untuk membunuh orang, benda ini pun masih memiliki kegunaan lain."

"Apa kegunaan itu?"

"Untuk bunuh diri,"

Kembali Cu Im menghela napas.

"Bagaimana pun bunuh diri paling tidak jauh lebih enak daripada mati di ujung pedang orang lain."

Belum sempat Siau-hong buka suara, tiba-tiba dari balik kegelapan terdengar seseorang berkata dengan suara dingin.

"Sekalipun dia akan bunuh diri, tak perlu memakai pedangmu, dia sendiri memiliki pedang, pedangnya jauh lebih tajam daripada pedangmu."

Tiba-tiba terlihat sekilas cahaya pedang berkelebat dari balik kegelapan, lalu terlihat sebilah pedang melesat, seakan-akan muncul dari luar angkasa, langsung menancap di bawah kaki Siau-hong.

Cahaya pedang berhawa dingin dengan di ujung senjata seolah terdapat sebuah mata elang yang buas dan menyeramkan sedang menatap dingin ke arahnya, itulah pedang 'Mata iblis' miliknya.

Selama ini pedang itu disimpan Po Eng dan Siau-hong belum pernah menyinggungnya lagi, dia seakan sudah melupakan kehadiran pedang itu.

Tapi kini pedang miliknya telah kembali, tentu saja bukan datang dari luar angkasa.

Pedang itu meluncur dari tangan seseorang.

Begitu Siau-hong berpaling, dia pun melihat orang itu, mata tajam seperti elang, berbaju putih seperti sukma gentayangan dan berdiri tegak bagai sebuah bukit karang.

Orang ini tak lain adalah Po Eng.

Siau-hong segera merasakan hatinya seakan tenggelam.

Ternyata orang terakhir yang akan mengantar kepergiannya adalah Po Eng.

Pedang yang diserahkan Cu Im kepadanya memang bukan dipakai untuk membunuh orang lain, di bawah ujung pedang Po Eng, pada hakikatnya dia sama sekali tak punya peluang.

Sebetulnya mereka berdua sudah merupakan sahabat yang sangat akrab, tapi sekarang mereka telah berubah jadi dua manusia dari dunia yang berbeda.

Tiba-tiba Siau-hong tertawa, selama hidup belum pernah dia tertawa sesedih dan sepedih ini.

"Sungguh tak kusangka kau pun akan datang mengantar kepergianku,"

Kata Siau-hong.

"Kalau memang kau berniat mengantar kepergianku, buat apa kau kembalikan pedang itu kepadaku?"

"Karena pedang itu sesungguhnya memang milikmu."

Suara Po Eng sama sekali tak berperasaan.

"Kau seharusnya masih ingat apa yang pernah kukatakan kepadamu, aku tak pernah mau barang milik orang hidup."

Tentu saja Siau-hong masih ingat. Mungkin pada hakikatnya Po Eng belum pernah menerima benda apa pun darinya. Pedangnya, persahabatannya, tak satu pun yang pernah dia terima. Kembali Po Eng berkata.

"Sekarang kau sudah memiliki pedangmu sendiri, kenapa tidak segera kau kembalikan pedang di tanganmu itu kepada Cu Im?"

Siau-hong mengembalikan pedang itu kepada Cu Im, kain pembalut gagang pedang berwarna hijau telah basah kuyup oleh peluh dingin. Tiba-tiba Po Eng tertawa dingin lagi.

"Hingga sekarang mengapa kau belum pergi? Apakah ingin melihat aku membunuhnya?"

Perkataan ini ditujukan kepada Cu Im. Terpaksa Cu Im beranjak pergi, sekalipun tak ingin namun mau tak mau terpaksa dia harus pergi juga. Tiba-tiba Siau-hong tertawa dingin.

"Mengapa dia harus pergi?"

Tanyanya kepada Po Eng.

"Sewaktu kau membunuh orang, mengapa takut dilihat orang lain?"

Dia tidak menunggu jawaban Po Eng, sebab dia tahu Po Eng tak akan menjawab pertanyaannya itu.

Dia telah mencabut pedangnya.

Sudah banyak tahun pedang ini mengikuti Siau-hong, setiap kali menggenggam gagang pedang itu, selalu timbul perasaan yang aneh, seolah sedang menggenggam tangan seorang sahabat karib saja.

Tapi ketika ia menggenggam pedang itu sekarang, perasaannya seperti sedang menggenggam tangan sesosok mayat, tangan jenazah yang sudah dingin dan kaku, seakan menggenggam tangan sahabat yang telah mati untuk terakhir kalinya.

Itulah perasaan seseorang yang belajar pedang, menggenggam pedang untuk terakhir kalinya.

Seandainya ia bersedia tetap tinggal di sini, seandainya dia bersedia tetap meninggalkan pedang itu di tanah, Po Eng tak bakal turun tangan.

Namun sayang ia tidak bersedia.

Sewaktu ia cabut pedang itu dari tanah, seperti dia telah mengubur diri sendiri ke dalam tanah.

Po Eng masih berdiri di sana bagaikan sukma gentayangan, memandangnya dengan dingin.

Tiada pedang di tangan Po Eng, tanpa menggunakan pedang pun Po Eng tetap bisa membunuh orang.

Dengan mengandalkan tangan kosong dia sanggup menghadapi bacokan golok Wi Thian-bong yang cepat bagaikan kilat, sekarang tentu saja dia pun sanggup menghadapi serangan pedang Siau-hong dengan sepasang tangannya.

Siau-hong telah melancarkan tusukan, serangan itu tertuju ke arah -jantung Po Eng, yaitu jantung Siau-hong sendiri.

Karena tusukan yang dia lancarkan sama artinya seperti menusuk diri sendiri.

Dari balik kilau cahaya pedang ia telah menyaksikan "kematian".

Cahaya pedang yang berkilauan tiba-tiba terhenti, terhenti persis di depan jantung Po Eng, ujung pedang telah menembus pakaian Po Eng yang berwarna putih.

Po Eng sama sekali tidak turun tangan, bahkan bergerak sedikit pun tidak.

Pada saat terakhir itulah Siau-hong baru menarik kembali tusukannya, bahkan dia sendiri pun tertegun karena kejadian ini.

"Mengapa kau tidak membalas?"

Tak tahan tanyanya kepada Po Eng. Di saat dia bertanya kepada Po Eng, Po Eng pun sedang bertanya kepadanya.

"Mengapa kau tidak membunuhku?"

Kedua orang itu tak ada yang menjawab pertanyaan lawan, karena mereka sama-sama mengetahui jawabannya.

Persahabatan!

Inilah satu-satunya jawaban.

Pada saat bersamaan bukan saja ujung pedang telah berhenti, seluruh pergerakan yang ada di dunia pun seakanakan ikut terhenti.

Karena mereka telah sadar, peduli urusan orang lain akan berubah seperti apa pun, mereka berdua tetap tidak berubah.

Mereka masih tetap bersahabat.

Sahabat sejati selamanya tak akan berubah jadi musuh.

Cahaya lentera di atas tiang kembali bercahaya.

Tiba-tiba Po Eng membalikkan badan, mengawasi cahaya lentera yang mirip kerlipan bintang di kejauhan, lewat lama kemudian perlahan-lahan ia baru berkata.

"Pergilah, pergi ke bawah cahaya lentera itu, di sana ada seseorang sedang menantikan kedatanganmu."

Siau-hong tidak berkata lagi.

Po Eng pun tidak berkata lagi.

Ada sementara persoalan memang tak perlu diutarakan, semua yang terindah di dunia ini memang tak perlu diucapkan dengan kata-kata.

Mimpinya berada di Kang-lam.

Kang-lam berada dalam alam impiannya.

Cahaya lentera pun jauh bagaikan di Kang-lam, ada seseorang menunggunya di bawah lentera, sesosok manusia dan dua ekor kuda.

Orang itu adalah Yang-kong, sedang kuda adalah Ci-hu.

Baik orangnya maupun kudanya semua adalah sahabat karibnya, sahabat sejati yang selamanya tak pernah akan berubah.

Yang-kong hanya mengucapkan tiga patah kata.

"Mari kita pergi!"

Cahaya bintang lebih jauh dari Kang-lam, tapi cahaya bintang dapat terlihat jelas, bagaimana dengan Kang-lam?

Impiannya berada di Kang-lam, impiannya memang dipenuhi kepedihan dan kesedihan seorang perantau yang jauh meninggalkan desa kelahiran.

Dia tak pernah dapat melupakan kepedihan dan kesedihannya ketika dengan berat hati meninggalkan Kanglam.

Kini dia akan segera kembali ke Kang-lam, tapi...

mengapa hatinya masih dipenuhi kesedihan dan kepedihan?

Yang-kong selalu berada di sampingnya, tiba-tiba ia bertanya.

"Apa yang sedang kau pikirkan?"

"Kang-lam!"

Kang-lam tak lebih hanya susunan dua kata, tapi ketika mendengar dua kata itu, Yang-kong pun segera memperlihatkan mimik muka seperti orang sedang bermimpi, tiba-tiba ia mulai bersenandung, membawakan bait syair dari Liu Tun-thian.

Konon bait syair ini merupakan persembahan Liu Tunthian kepada Sun-ho Tok-say ketika berada di kolam Chetong, di mana secara tak sengaja terbaca oleh Wanyen Liang.

Konon gara-gara bait syair itu pula akhirnya tentara Kim di bawah pimpinan Wanyen Liang menyerbu wilayah Kang-lam.

Memang harus diakui, inilah bait lagu yang sangat indah, membuat mabuk yang mendengar, membuat mabuk pula yang mendendangkan.

Lewat lama kemudian Siau-hong baru menghela napas, katanya.

"Mereka yang belum pernah datang ke Kang-lam, pasti ingin berkunjung ke sana, tapi bila telah tiba di Kanglam, kau akan sangat merindukan Lhasa."

"Aku percaya."

"Sekembaliku ke Kang-lam, bila tahu ada orang hendak pergi ke Lhasa, aku pasti akan menitipkan sedikit kue bunga Kui dan gula-gula daun teratai, hidangan kecil dari Kanglam untukmu,"

Kata Siau-hong sambil tertawa paksa.

"Sekalipun kau tak dapat menikmati bunga Kui dan bunga teratai dari Kang-lam, hidangan kecil itu mungkin bisa mengobati rasa rindumu itu."

Yang-kong termenung sampai lama sekali, tiba-tiba dia ikut tertawa.

"Kau tak perlu menitipkan hidangan itu kepada orang lain,"

Senyumannya mendadak berubah sangat aneh.

"Aku bisa pergi membeli sendiri."

"Kau akan membeli sendiri?"

Siau-hong belum menangkap arti perkataannya.

"Mau beli di mana?"

"Tentu saja beli di Kang-lam."

Kini Siau-hong baru terperanjat.

"Mau membeli sendiri di Kang-lam? Jadi kau pun akan pergi ke Kang-lam?"

Yang-kong mengangguk perlahan, dari balik pandangan matanya pun seolah muncul impian tentang Kang-lam, bahkan tersisip pula rasa murung karena suatu perpisahan. Siau-hong menghembuskan napas lega.

"Kau tak bakal ke sana,"

Katanya.

"Dapat kulihat kau merasa sangat berat untuk meninggalkan Lhasa, terlebih harus berpisah dengan sahabat-sahabatmu."

"Aku memang merasa berat untuk berpisah dengan mereka,"

Sahut Yang-kong.

"Tapi aku harus pergi ke Kanglam."

"Mengapa?"

"Engkoh Eng minta aku mengantarmu, mintaku mengantarmu sampai Kang-lam,"

Yang-kong menerangkan dengan sedih.

"Seharusnya kau tahu, terlepas tugas apa pun yang dia minta aku kerjakan, aku selalu menuruti semua perkataannya."

Sekali lagi Siau-hong tertawa paksa.

"Mengapa dia minta kau mengantar sejauh itu? Apakah dianggapnya aku sudah lupa jalanan untuk pulang?"

"Aku sendiri pun tak tahu mengapa dia minta aku mengantarmu,"

Jawab Yang-kong.

"Tapi karena dia sudah meminta, maka aku pun harus mengantarmu sampai di Kang-lam, biar kau hajar aku dengan pecut pun aku tak bakal pergi dari sampingmu."

Dia pun ikut tertawa walau kelihatan sangat dipaksakan, karena dia pun seperti Siau-hong, memahami maksud Po Eng.

Po Eng memintanya untuk mengantar Siau-hong karena tak lain ingin menjodohkan mereka berdua, setiap orang beranggapan bahwa mereka sudah merupakan sepasang kekasih.

Siau-hong termenung sampai lama sekali, tiba-tiba tanyanya lagi.

"Setelah tiba di Kang-lam, apakah kau akan balik lagi?"

"Benar,"

Tanpa berpikir panjang Yang-kong langsung menjawab.

"Peduli sampai di mana pun, aku pasti akan kembali lagi."

Mendadak tanyanya lagi.

"Tahukah kau manusia macam apakah Po Eng itu?"

"Dia adalah Toakomu."

"Dia adalah Toakoku, tentu saja Toakomu juga,"

Yang-kong menghela napas panjang.

"Hanya sayang aku bukanlah adiknya!"

"Kau bukan?"

Siau-hong sedikit melengak.

"Lantas kau adalah apanya?"

"Aku adalah calon istrinya, kami berdua telah terikat tali perkawinan."

Siau-hong terperangah. Kembali Yang-kong termenung sampai lama sekali kemudian baru berkata lagi.

"Selama ini dia tak pernah membiarkan kau tahu akan persoalan ini, karena dia selalu mengira kau menyukai aku, dia tak ingin kau tertekan batinnya karena persoalan ini."

Siau-hong tertawa getir. Kembali Yang-kong berkata.

"Lagi pula dia selalu menganggap dirinya sudah terlalu tua, merasa tak pantas mengawini aku, selalu berharap aku bisa menemukan pasangan hidup yang jauh lebih baik, oleh karena itu...."

"Oleh karena itu dia minta kau mengantarku, mengantar sampai ke Kang-lam,"

Siau-hong mewakilinya menjawab.

"Dia memang manusia semacam ini, selalu berpikir demi kepentingan orang lain, belum pernah memikirkan kepentingan sendiri,"

Yang-kong tertawa getir.

"walaupun penampilannya selalu dingin dan kaku, dingin bagaikan bongkahan es."

Biarpun senyumannya mengandung nada pedih namun terselip pula perasaan bangga, bangga karena Po Eng.

"Demi kau, dia tak segan ribut sendiri dengan rekanrekannya, bahkan tak segan menjamin dengan nyawanya kalau kau tak bakal membocorkan rahasia mereka,"

Yangkong menghela napas panjang.

"Tapi persoalan ini sampai mati pun tak nanti akan dia katakan kepadamu, sebab dia tak ingin kau memikul beban di hatimu, tak ingin kau berterima kasih kepadanya."

Siau-hong tidak berkata apa-apa lagi.

Dia kuatir air mata yang sudah mengembeng di kelopak matanya keburu meleleh.

Dia tak akan mengucurkan air mata secara mudah, perasaan terima kasihnya kepada seseorang pun tak pernah diucapkan begitu saja.

Kembali lewat lama sekali, Yang-kong baru berkata.

"Peduli bagaimana pun dia bersikap kepadaku, sikapku kepadanya tak pernah akan berubah untuk selamanya."

"Oleh sebab itu kemana pun kau pergi, suatu saat pasti akan kembali,"

Sambung Siau-hong. Yang-kong menatap pemuda itu dan bertanya perlahan.

"Jadi kau memahami maksudku?"

"Tentu saja paham."

Yang-kong tertawa, dia benar-benar tertawa, senyumannya kembali secerah dan seterang sinar sang surya. Kembali dia menggenggam tangan Siau-hong, kali ini dia menggenggam lebih kencang dan erat.

"Aku tahu, kau pasti dapat mengerti,"

Katanya.

"Aku pun tahu, dia tak akan salah melihatmu, kau memang merupakan sahabat karibnya."

Di saat mereka sedang tertawa paling cerah, paling gembira itulah tiba-tiba terdengar semacam suara keluhan yang amat menyedihkan.

Bukan rintihan, bukan pula dengusan napas memburu, hanya seseorang yang berada dalam keadaan sangat menderita, sangat tersiksa maka akan memperdengarkan suara semacam ini.

Suara itu sangat rendah, sangat jauh, seandainya bukan berada di tengah malam buta, apalagi di tengah gurun yang sepi, kemungkinan besar mereka tak akan mendengar suara ini.

Tapi sekarang mereka telah mendengarnya.

Tempat itu masih termasuk pinggiran gurun pasir, merupakan sebuah oase yang kini telah mengering.

Oase yang mengering, ibarat wanita cantik yang telah memasuki usia senja, tak akan dapat menahan ayunan langkah siapa pun.

Yang-kong mengajak Siau-hong menelusuri jalan itu.

Bukan saja karena amat jarang orang berlalu-lalang di sini, dikarenakan pula orang lain tak akan menyangka orang yang begitu hapal dan menguasai situasi gurun pasir, akan melalui sebuah tanah oase yang tak berair.

Tak berair berarti tak ada kehidupan, para pelancong pasti akan menghindari tempat itu.

Pohon nan hijau sudah mulai layu dan mengering, yang tersisa hanya sebuah gundukan tanah yang tetap kokoh, tetap duduk dengan pandangan dingin, menyaksikan perubahan yang terjadi di alam jagat ini.

Suara yang mereka dengar ternyata berasal dari balik gundukan pasir itu.

Di belakang gundukan pasir terdapat sebatang pohon kering, di atas pohon kering tergantung tubuh seseorang, seseorang yang seharusnya sudah mati sedari dulu.

Siapa pun itu orangnya, tak mungkin bisa hidup hingga sekarang setelah mengalami begitu banyak siksaan dan penderitaan.

Mungkin dia bisa hidup hingga kini karena orang itu hanya separoh manusia dan separoh lainnya iblis.

Ternyata orang ini tak lain adalah Thian-mo-giok-li (Iblis langit gadis suci) Liu Hun-hun.

Kalau bukan dikarenakan pakaiannya, nyaris Siau-hong tak dapat mengenalinya sebagai Liu Hun-hun.

Dia telah disiksa hingga tak berbentuk manusia, bahkan suara untuk merintih pun tak sanggup dikumandangkan, yang bisa dilakukan hanya memandang ke arah Siau-hong dengan sorot mata minta belas kasihan, memandang dengan matanya yang merah darah.

Dia tak ingin Siau-hong menolongnya, sebab dia sendiri pun tahu tak mungkin dirinya dapat hidup lebih jauh.

Yang dia inginkan hanya mati secepatnya.

Siau-hong memahami maksudnya, andaikata dia menghadiahkan sebuah tusukan, tindakannya itu justru merupakan sebuah tindakan bajik baginya, tindakan yang sangat berperi kemanusiaan.

Namun dia tidak turun tangan, sebab dia sendiri pun tak tahu bagaimana harus berbuat.

Bagaimana pun juga orang ini belum mati, tak seorang pun punya hak untuk menentukan mati hidupnya.

Yang-kong telah membuang muka, dia tak tega menyaksikan lebih jauh.

"Mari kita pergi!"

Siau-hong enggan beranjak pergi. Sambil menghela napas Yang-kong pun berkata.

"Jika kau tak ingin menolongnya, tidak tega pula membunuhnya, mengapa tak mau pergi?"

Siau-hong sendiri pun tak dapat mengemukakan alasannya.

Dalam watak manusia memang terdapat banyak sekali ungkapan perasaan yang sukar dijelaskan, oleh sebab itu hampir setiap orang seringkali melakukan perbuatan yang dia sendiri pun tak dapat menjelaskan alasannya.

Siau-hong hanya ingin melepaskan perempuan itu dari tiang gantungan.

Yang-kong segera menarik tangannya.

"Kau tak boleh menyentuhnya!"

"Mengapa?"

"Sebab bila kau menyentuhnya, maka orang lain akan tahu kalau kita pernah datang ke sini, tahu kalau jalan inilah yang kita tempuh."

"Orang lain? Siapa pula orang lain itu?"

Kembali Siauhong bertanya. Yang-kong tak menjawab, karena "orang lain"

Telah mewakilinya menjawab.

"Yang dimaksud orang lain adalah aku!"

Suara itu berasal dari belakang tubuh Siau-hong.

Bahkan Siau-hong sama sekali tidak merasakan kehadirannya, tahu-tahu orang itu telah berdiri di belakangnya bagaikan sesosok roh gentayangan.

Belum pernah ada orang tahu kapan dia akan datang, belum pernah juga ada yang tahu kapan dia akan pergi.

Siau-hong mengepal sepasang tinjunya, sampai ujung jari pun ikut terasa dingin membeku.

Tapi dia sama sekali tidak merasa keheranan, sebab sejak awal dia sudah tahu, Pancapanah tak bakal melepaskan dirinya.

Wajah Pancapanah sudah tidak dihiasi senyuman sehangat musim semi, penampilannya tampak begitu keras dan kokoh bagaikan emas, sinar matanya tajam bagai ujung gurdi.

Dalam genggamannya masih terlihat gendawa, di pinggangnya tergantung pula anak panah.

Kembali Yang-kong menghela napas.

"Kusangka kau tak akan menduga bahwa aku bakal melalui jalanan ini, tak menyangka kau masih tetap berhasil menemukan kami."

Lalu setelah tertawa getir, terusnya.

"Tak heran setiap orang bilang bila Pancapanah sedang mengejar seseorang, maka keadaannya ibarat seekor anjing pemburu sedang mengejar seekor ayam, belum pernah sekali pun mengalami kegagalan."

Pancapanah seolah sama sekali tidak mendengar apa yang sedang dibicarakan gadis itu, dia masih mengawasi Liu Hun-hun yang tergantung di atas pohon tanpa berkedip. Tiba-tiba tanyanya.

"Tahukah kalian siapa yang telah melakukan semua ini terhadap dirinya?"

"Memangnya kau tahu?"

Tanya Yang-kong.

"Siapa?"

Lama sekali Pancapanah termenung sebelum akhirnya menyebut nama seseorang.

"Dia adalah Kim-jiu si tangan emas."

"Tangan emas? Siapakah Tangan emas?"

"Kim-jiu bukan nama manusia tapi sebuah organisasi, organisasi yang dibeli Lu-sam dengan bayaran emas murni,"

Pancapanah menjelaskan.

"Kim-jiu merupakan julukan mereka."

"Sebelum ini mengapa aku belum pernah mendengarnya?"

"Aku sendiri pun baru tahu belakangan,"

Kata Pancapanah.

"Thiat Gi, Wi Thian-bong, Liu Hun-hun, mereka adalah anggota organisasi ini."

"Kalau Liu Hun-hun adalah anggota organisasi ini, mengapa mereka bersikap begitu keji terhadapnya?"

Mungkin saja Yang-kong tidak mengetahui alasannya, tapi Siau-hong tahu.

"Karena dia pernah mengkhianati mereka!"

Sewaktu berada dalam tenda berbulu elang berwarna hitam, dia minta setiap rekannya meninggalkan sebelah tangan.

Sekarang Siau-hong baru paham, apa sebabnya waktu itu Po Eng melepaskan Liu Hun-hun begitu saja.

Rupanya dia telah memperhitungkan secara tepat bahwa rekan-rekannya pasti akan melakukan balas dendam terhadapnya.

Mata Pancapanah mulai berkerut kencang, tapi sinar matanya bertambah tajam, tiba-tiba ujarnya sambil tertawa dingin.

"Sungguh tak disangka ternyata mereka masih tinggal di sini dan belum pergi."

Kembali Yang-kong bertanya.

"Mereka sengaja menggantung tubuh Liu Hun-hun di sini, apakah perbuatan itu sengaja dilakukan untuk menakut-nakuti kita?"

Tapi dengan cepat ia jawab pertanyaan sendiri.

"Sudah pasti begitu, maka dari itu kau harus secepatnya pergi mencari mereka, tunjukkan sedikit kehebatanmu kepada mereka."

Kembali dia menarik tangan Siau-hong, menariknya menuju ke tempat di mana kuda mereka dilepas.

"Kita pun harus segera pergi."

Tapi Pancapanah segera menghalangi jalan pergi mereka, melintangkan gendawa di tengah jalan.

"Kau boleh pergi, tapi dia tetap di sini."

"Buat apa dia tetap tinggal di sini?"

Yang-kong sengaja berlagak pilon.

"Apakah minta dia menemanimu minum arak?"

"Bukan!"

Sebenarnya pertanyaan ini tak perlu dijawab, tapi Pancapanah tetap menjawab, bahkan menjawab dengan nada serius dan sungguh-sungguh. Kembali Yang-kong menghela napas.

"Aku pun tahu, tentu saja kau tak akan minta dia untuk menemanimu minum arak, kau tak pernah minum arak sewaktu hendak membunuh orang."

Pancapanah mengakuinya, hawa napsu membunuh telah mencorong keluar dari balik matanya.

"Kalau sudah tahu, buat apa kau bertanya lagi?"

"Karena aku berharap kau hanya memintanya menemanimu minum arak,"

Sikap Yang-kong pun berubah jadi serius dan bersungguh-sungguh.

"Karena kau tak akan mampu membunuhnya."

Pancapanah tertawa dingin.

"Aku memahami maksudmu,"

Katanya.

"Kalian berdua boleh turun tangan bersama, asal dapat membunuhku, kau boleh membawa dia pergi."

Kemudian sepatah demi sepatah tambahnya.

"Hanya setelah berhasil membunuhku, kau baru dapat membawanya pergi."

"Kau keliru besar,"

Sekali lagi Yang-kong menghela napas.

"Pada dasarnya kau sama sekali tidak memahami maksudku, aku tak pernah berniat membunuhmu, tapi kau pun tak nanti bisa membunuhnya, kalau tidak...."

"Kalau tidak kenapa?"

Tukas Pancapanah.

"Ketika dia ingin pergi, tak seorang pun dapat menghalanginya; begitu pula dengan aku, di saat aku hendak membunuh orang, tak seorang pun dapat menghalangiku juga."

Tangan kanannya telah menggenggam gendawa emas, kemudian dengan jari telunjuk dan jari tengah tangan kirinya menarik sebatang anak panah.

"Kecuali kali ini dia masih dapat menghindari kelima batang anak panahku!"

Kini gendawa emas telah dipentang, anak panah telah disiapkan, Ngo-hoa-sin-ciam yang selalu tepat sasaran telah siap melepaskan anak panah mautnya. Mendadak Yang-kong berteriak.

"Aku pun tak tahu apakah dia sanggup menghindari anak panahmu atau tidak, tapi aku tahu, jika panah itu kau lepaskan, maka yang mati terpanah bukan hanya dia seorang."

"Kau ingin menemaninya mati?"

Ejek Pancapanah sambil tertawa dingin. Ooo)d*w(ooO BAB 17. MANUSIA YANG MATI BERLUTUT "Aku tak ingin,"

Jawab Yang-kong. Bukan takut, dia malah tertawa, terusnya.

"Aku hanya tahu, bila kau membunuhnya, maka akan ada orang lain pasti menemaninya pergi mati."

"Siapa? Siapakah orang itu?"

Mau tak mau Pancapanah harus bertanya.

"Orang itu adalah Pova!"

Dengan hambar terusnya.

"Po Eng minta aku memberitahukan kepadamu, bila kau membunuh Siauhong, maka Pova pasti akan ikut mati, hari ini kau membunuhnya, Pova tak akan hidup sampai esok."

Gendawa emas masih berada di tangan Pancapanah, anak panah pun masih di atas gendawa, tapi sekujur badannya telah jadi kaku, bahkan jari tangan yang menarik tali busur pun ikut kaku.

Dia sangat memahami Po Eng, tak ada orang kedua yang lebih mengerti tentang Po Eng daripada dirinya.

Setiap perkataan yang diucapkan Po Eng, persis panah yang terlepas dari busurnya, ucapan Po Eng telah disampaikan sementara anak panah belum terlepas dari busurnya.

Tapi anak panah telah berada di tali busur, masa tak dilepaskan?

Mendadak...

"Prakkk!", gendawa emas itu melejit ke udara, ternyata tali busur telah tertarik putus. Mengikuti putusnya tali busur, hawa napsu membunuh di wajah Pancapanah pun berangsur sirna.

"Kalian memang merupakan sahabat sejati,"

Dia menghela napas.

"Belum pernah kuduga bahwa kalian ternyata merupakan sahabat sejati!"

Malam sudah larut, kini semakin larut.

Selesai mengucapkan perkataan itu, perlahan-lahan Pancapanah membalikkan badan dan berjalan menuju ke balik kegelapan.

Kegelapan di ujung langit yang tak terhingga, selalu mengandung kesepian yang luar biasa.

Mengawasi bayangan punggungnya yang menjauh, tak tahan Yang-kong pun menghela napas panjang.

"Kau tak pernah mengira kalau mereka adalah sahabat yang begitu karib, mungkin karena kau sendiri belum pernah mempunyai teman."

Terlihat Pancapanah mengangguk perlahan.

"Mungkin saja begitu...."

Belum sampai dia menyelesaikan ucapannya, mendadak terlihat tubuhnya menegang bagaikan tali busur yang ditarik kencang, tiba-tiba ia menjatuhkan diri berbaring di atas pasir, menempelkan telinganya di atas tanah, cahaya bintang yang menyinari wajahnya memperlihatkan perubahan mimik yang sangat aneh.

Lagi-lagi dia mendengar suara yang tak mungkin terdengar oleh orang lain.

"Apa yang kau dengar?"

Tak tahan Yang-kong berbisik.

"Manusia!"

"Manusia?"

Tanya Yang-kong lagi.

"Ada orang datang kemari?"

"Ehm!"

"Menuju kemari?"

"Ehm."

"Berapa banyak jumlah mereka?"

Pancapanah tidak menjawab, dia memang tak perlu menjawab, sebab waktu itu Siau-hong maupun Yang-kong sudah mendengar pula suara yang baru saja ia dengar.

Suara derap kaki kuda yang amat ringan bergerak amat cepat, dalam sekejap mereka telah dapat mendengar dengan amat jelas, rombongan berkuda itu sedang bergerak menuju ke arah mereka, jumlah pendatang paling tidak tiga-empat puluhan orang, tiga-empat puluhan ekor kuda.

Sambil melompat bangun, bisik Pancapanah.

"Kalian ikut aku."

Kuda "Ci-hu"

Milik Siau-hong maupun kuda milik Yangkong berada di bawah pohon kering di tepi kolam yang telah mengering itu.

Dengan kecepatan tinggi Pancapanah menghampirinya, menepuk perlahan kepala sang kuda, melepas tali lesnya, dan membawa kedua ekor kuda itu menuju ke belakang gundukan pasir yang jauh lebih rendah dan pendek, kemudian menjatuhkan "Ci-hu"

Hingga merebah dan menggunakan dada sendiri menindih kepala "Ci-hu". Kuda "Ci-hu"

Yang tak pernah menuruti kemauan orang ternyata sama sekali tidak memiliki tenaga untuk meronta atau melawan setelah berada di tangannya.

Sewaktu turun tangan tadi, dia telah memberi tanda kepada Yang-kong, gadis itu segera menggunakan cara yang sama untuk mengendalikan kuda yang lain.

Cara yang mereka gunakan selain cepat, bahkan sangat mujarab, mungkin jauh lebih mujarab daripada cara yang digunakan seorang hidung-belang untuk merayu perempuan.

Pada saat itulah suara derap kaki kuda semakin mendekat, kemudian terlihatlah serombongan manusia berkuda bergerak menuju ke tanah hijau yang telah mengering itu.

Jumlah mereka adalah tiga puluh tujuh orang dengan tiga puluh enam ekor kuda, binatang tunggangan orang paling akhir bukan kuda, melainkan seekor keledai.

Orang ini bertubuh tinggi besar, bahkan sangat gemuk, namun binatang tunggangannya justru seekor keledai yang kurus kecil.

Anehnya, biarpun keledai itu kurus kecil namun tampak sangat kuat dan cekatan, sekalipun harus mengangkut manusia sebesar dan seberat itu, ternyata ia sanggup mengikut di belakang ketiga puluh enam ekor kuda jempolan itu.

Biarpun orang itu bertubuh tinggi besar dan gemuk, namun sama sekali tak nampak gagah ataupun berwibawa, pakaian yang dikenakan sangat bersahaja, ketika mengintil di belakang ketiga puluh enam penunggang kuda yang berpakaian mewah, berkuda jempolan, dan menyoreng golok panjang, keadaannya lebih mirip seorang pelayan.

Anehnya sikap para penunggang kuda itu terhadapnya sangat hormat, bahkan kelihatan agak takut.

Setelah turun dari kuda tunggangannya, ketiga puluh enam orang jagoan itu serentak berdiri berjajar di kedua sisi jalan dengan sikap yang amat menghormat, jangankan bergerak, bernapas lebih keras pun tak berani.

Sambil tetap duduk di atas keledainya, orang itu celingukan ke sana kemari beberapa saat lamanya, kemudian baru perlahan-lahan turun dari atas pelananya.

Wajahnya yang memerah kelihatan bagaikan seorang yang jujur dan polos, bahkan mukanya nampak sedikit bodoh dan kebingungan.

Kembali dia celingukan, kemudian baru menggapai ke arah seorang lelaki bertubuh kekar sembari bertanya.

"Apakah tempat ini yang kau maksudkan?"

"Benar!"

"Seingatku, kau seperti mengatakan tempat ini adalah sebuah oase?"

"Benar."

"Mana airnya?"

Orang itu menghela napas.

"Mengapa tak terlihat setitik air pun di sini?"

Lelaki itu tertunduk rendah, butiran keringat sebesar kacang kedelai telah membasahi jidat dan ujung hidungnya, kedua kaki pun tampak agak gemetar, bahkan suaranya sewaktu menjawab pun mulai gemetar.

"Tiga tahun berselang aku pernah datang kemari, di sini memang merupakan sebuah oase, memang ada airnya, tak nyana sekarang telah mengering."

"Tidak nyana, benar-benar tidak nyana,"

Si gemuk yang menunggang keledai itu menghela napas panjang, tiba-tiba tanyanya lagi.

"Belakangan apakah kesehatanmu bagus?"

"Bagus."

"Apakah pernah sakit?"

"Tidak."

Sekali lagi si gemuk penunggang keledai itu menghela napas.

"Kalau begitu kuduga kau sendiri pun tak pernah menyangka kalau dirimu bakal segera mati, bukan?"

Tiba-tiba lelaki itu mengangkat wajahnya, muka yang semula dicekam perasaan takut yang luar biasa secara tibatiba muncul sekulum senyuman.

Ternyata dia masih sanggup tertawa, suatu peristiwa yang sama sekali tak diduga siapa pun.

Si gemuk penunggang keledai itu pun tercengang, tak tahan tegurnya.

"Kau anggap sangat menggelikan?"

"Aku... aku... aku...."

Lelaki itu masih tertawa, senyumannya kelihatan begitu gembira, begitu misterius, namun nada ucapannya penuh dicekam perasaan takut dan ngeri yang luar biasa.

Tiba-tiba ia mulai berlutut, ketika badannya mulai berlutut senyuman yang diperlihatkan pun makin gembira dan riang.

Tentu saja dia pun dapat menangkap hawa napsu membunuh yang terpancar dari wajah si gemuk, sudah jelas dia takut setengah mati, tapi kenyataan dia masih dapat tertawa, sudah jelas suara tertawanya begitu riang gembira, apa mau dikata caranya menunjukkan rasa ketakutan telah mencapai puncaknya.

Seorang normal tak bakal menunjukkan penampilan semacam ini, apakah orang ini sudah gila lantaran ketakutan?

Rekan-rekannya memandang ke arah orang itu dengan perasaan terkejut, mimik muka yang sebelumnya nampak terkejut dan heran tiba-tiba berubah jadi wajah tertawa, tertawa penuh keriangan, penuh misterius, tertawanya persis senyumannya.

Menyusul ketiga puluh lima orang itu pun sama-sama berlutut, ketika berlutut senyuman mereka nampak makin riang, makin gembira.

Berubah paras si gemuk penunggang keledai itu, berubah jadi tercengang, kaget, dan ngeri.

Pada saat parasnya mulai berubah itulah, tiba-tiba dia pun memperlihatkan senyuman, senyuman gembira yang misterius, senyum yang sama dengan ketiga puluh enam orang anak buahnya.

Kemudian dia pun ikut berlutut.

Begitu ketiga puluh tujuh orang itu berlutut, mereka tak pernah bergerak lagi, bukan saja tubuhnya masih tetap terjaga pada posisi semula, wajah mereka pun masih dihiasi dengan senyuman gembira.

Ketiga puluh enam orang itu tertawa terus, seakan-akan secara bersamaan sedang menyaksikan sebuah kejadian yang membuat mereka sangat gembira, sangat senang.

Tiba-tiba Yang-kong menggenggam tangan Siau-hong, tangan gadis itu dingin dan basah, begitu pula dengan tangan Siau-hong.

Menyaksikan senyuman gembira ketiga puluh tujuh orang itu, sedikit pun mereka tidak merasa gembira, yang dirasakan kini hanya kengerian aneh yang tak terlukiskan dengan perkataan.

Mereka berdua pun tak tahu apa yang telah terjadi, namun di hati kecil kedua orang itu secara tiba-tiba diselimuti pula perasaan ngeri dan takut yang tak terlukiskan dengan kata-kata.

Malam kelam yang panjang belum lagi lewat, jagat raya masih diselimuti kegelapan dan keheningan.

Ketiga puluh tujuh orang itu masih berlutut di tempat tanpa bergerak, senyuman riang masih tertera di wajah masing-masing.

Tapi kini senyuman gembira mereka pun sudah kelihatan tak begitu menggembirakan lagi.

Senyuman orang-orang itu sudah kaku, sudah membeku.

Tubuh mereka pun telah kaku, telah membeku.

Di saat mereka menjatuhkan diri berlutut, nyawa mereka ikut melayang meninggalkan raga, begitu berlutut langsung mati.

Saat ajal orang-orang itu adalah saat mereka berlutut, yakni di saat mereka tertawa paling gembira.

Di saat menemui ajalnya mengapa mereka harus tertawa?

Mengapa mereka harus mati dalam keadaan berlutut?

Siau-hong ingin bertanya kepada Pancapanah, begitu pula dengan Yang-kong, ada banyak persoalan yang ingin ditanyakan.

Di dataran luas yang penuh diselimuti misteri dan tak berperasaan ini, seandainya masih ada orang yang bisa menjelaskan kejadian misterius yang menakutkan ini, tak dapat disangkal orang itu adalah Pancapanah.

Tapi sayang Pancapanah tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk bertanya.

Tiba-tiba dia mengeluarkan sebuah botol kayu berwarna hitam dari dalam sakunya, lalu dengan jari manis dan kelingking untuk menjepit botol itu sementara memakai ibu jari dan jari telunjuknya untuk membuka penutup botol, dari dalam botol itu dia menuang sedikit bubuk yang kemudian diusapkan ke hidung kedua ekor kuda itu.

Dua ekor kuda yang lambat-laun mulai bergerak itu pun seketika tidak bergerak lagi.

Bukan saja dia tidak membiarkan manusia bersuara, kuda pim tak boleh ikut bersuara.

Tiga puluh tujuh orang yang berada di depan gundukan pasir telah mati semua, orang mati tak akan mendengar apa-apa.

Mengapa dia masih belum berani bersuara?

Dia takut siapa yang mendengar suara mereka?

Pancapanah bukan hanya tenang dan dingin, bahkan sangat angkuh, dia selalu percaya diri, tak pernah takut kepada siapa pun, semua orang mengakui tak banyak lagi kejadian di dunia ini yang dapat membuatnya ketakutan.

Tapi sekarang parasnya telah berubah, bahkan tampaknya jauh lebih ketakutan ketimbang Siau-hong maupun Yang-kong.

Sebab persoalan yang dia ketahui jauh lebih banyak daripada mereka berdua.

Bukan saja dia tahu kalau orang-orang itu telah keracunan, bahkan tahu kalau mereka telah terkena racun Im-leng (Roh gentayangan) yang konon paling jahat, paling ganas, dan paling menakutkan.

Sifat racun itu tak berwarna tak berbau, datang tanpa bayangan tanpa bentuk, sedang orang yang melepaskan racun pun bagaikan sesosok roh jahat yang gentayangan tak berjejak.

Belum pernah ada orang yang tahu siapa pelepas racun itu, menggunakan cara apa melepaskan racun, juga tak ada yang tahu sejak kapan dirinya terkena racun, menanti mereka sadar dirinya keracunan, racun telah menyebar ke seluruh tubuh dan tidak tertolong lagi.

Bentuk wajah mereka berubah bentuk tatkala racun itu mulai bekerja, otot badan pun ikut kejang dan kemudian lemas kehilangan kekuatan yang membuat sang korban jatuh berlutut.

Mungkin saja "Im-leng"

Yang meracuni mereka masih berada ribuan li jauhnya, mungkin juga dia sudah berada di sekeliling mereka.

Peduli di mana pun dia berada, cepat atau lambat dia pasti akan datang untuk menengok para korban yang mati keracunan di tangannya, seperti seorang ahli ukir, ketika menyelesaikan hasil seninya, dia pasti akan berusaha untuk menikmati hasil karyanya.

Tapi sayang, selama ini belum ada seorang hidup pun yang pernah menyaksikan wajah aslinya, karena dia harus menunggu hingga seluruh targetnya benar-benar tewas, baru datang menikmati hasil karyanya, dia selalu akan mengatur agar mereka mati di sebuah tempat terpencil, sepi dan jarang ada orang yang datang mengunjunginya.

Oase kering ini memang sebuah tempat yang jarang didatangi orang, kini orang-orang itu telah mati semua.

Oleh karena itu dalam waktu singkat Im-leng pasti akan muncul di sana.

Sebenarnya manusia macam apakah dirinya?

Laki?

Perempuan?

Tua?

Atau muda?

Sebenarnya dia itu manusia atau sesosok roh setan gentayangan?

Pancapanah merasakan detak jantungnya berdebar amat cepat.

Dia sadar, bila Im-leng tahu di situ masih ada orang hidup, maka jangan harap orang hidup itu masih bisa melanjutkan kehidupannya.

Malam kelam yang panjang sudah hampir lewat, pakaian yang basah oleh keringat dingin pun sudah mulai mengering tertiup angin malam yang menusuk tulang.

Jagat raya yang hitam pekat kini telah berubah menjadi warna keabu-abuan yang lebih gelap daripada kegelapan malam.

Tiga puluh tujuh sosok mayat yang mati berlutut masih tetap berlutut kaku di bawah jagat raya yang kelabu, menanti kedatangan Im-leng yang telah meracuni mereka untuk menengok terakhir kalinya.

Ternyata orang pertama yang datang bukan Im-leng, melainkan seekor elang.

Burung elang pemakan bangkai.

Tampak burung elang terbang berkeliling di angkasa.

Jagat raya yang berwarna kelabu lambat-laun mulai memutih, lambat-laun berubah seperti warna kelopak mata jenazah yang telah memutih.

Tiba-tiba elang pemakan bangkai itu menukik ke bawah, hinggap di tubuh sesosok mayat yang masih berlutut, dengan menggunakan paruhnya yang lebih kuat dari baja untuk mematuk mata mayat itu.

Inilah patukannya yang pertama.

Pada saat dia bersiap melanjutkan sarapannya yang amat lezat, tiba-tiba terlihat sepasang sayapnya mengejang kaku.

Tentu saja dia tak dapat mati berlutut.

Elang pemakan bangkai tak dapat berlutut, tapi elang pun dapat mati.

Ternyata racun jahat Im-leng telah menyebar ke setiap sel darah dalam tubuh jenazah itu, ketika elang pemakan bangkai mematuk darah orang itu, maka sang elang pun ikut mati keracunan.

Siau-hong merasakan dadanya sesak, begitu sesak hingga tak sanggup bernapas, lambungnya terasa berkerut, seakanakan cairan pahitnya akan tertumpah keluar....

Pada saat itulah dia mendengar lagi sebuah suara yang sangat aneh.

Ia mendengar gonggong anjing.

Gonggong anjing pun bukan sesuatu yang aneh.

Di seluruh kota maupun desa di wilayah Kang-lam, orang dapat mendengar gonggong anjing dari setiap sudut tempat, bahkan setiap hari suara itu mengganggu ketenangan, membuat kau yang enggan mendengar pun terpaksa harus mendengarnya juga.

Tapi di dataran luas yang begitu gersang, sepi, dan terpencil, apalagi di pagi hari yang dingin membekukan, siapa pun tak akan menyangka akan mendengar suara gonggong anjing, tentu saja semakin tak mengira kalau akan melihat munculnya seekor anjing.

Siau-hong telah melihat munculnya seekor anjing.

Ternyata makhluk kedua yang muncul bukan roh gentayangan pula, melainkan seekor anjing.

Seekor anjing Peking yang berbulu putih salju dan sangat cantik.

Langit nyaris sudah terang menderang, lambat-laun warnanya telah berubah menjadi sewarna ujung hidung mayat-mayat itu.

Anjing Peking yang putih bersih dan manis itu masih menggonggong, menggunakan semacam gerakan yang amat menarik, amat lincah berlari mendekat, seakan seekor anjing kecil yang sangat disayang berlari masuk ke dalam kamar tidur majikannya.

Dia seakan tahu majikannya yang berhati lembut tak bakal memarahinya, karena itu benda apa pun yang dijumpai pasti digigitnya sekali, berjumpa dengan sandal milik majikan pun tetap akan menggigitnya.

Hanya sayang tempat ini bukan kamar tidur gadis manja, di sini pun tak ada nona yang berhati lembut, apalagi sandal bunga yang indah.

Yang ada di sini hanya orang mati, sepatu laras kulit yang dikenakan pada kaki mayat-mayat itu.

Anjing Peking yang putih menawan itu masih tetap menggigitnya, yang digigit bukan sepatu kulit yang dikenakan mayat itu, yang digigit adalah betis mayat itu.

Ternyata anjing Peking yang putih menawan itu menggigit betis setiap mayat yang dijumpai.

Orang mati tentu tak akan merasa sakit, tiada reaksi dari mayat-mayat kaku itu.

Tapi Yang-kong merasa hatinya sakit.

Seperti gadis gadis berusia sembilan belas tahun, dia pun amat menyukai anjing kecil berbulu putih yang menarik hati.

Dia tak tega menyaksikan anjing kecil yang menawan itu sama nasibnya seperti elang pemakan bangkai, mati keracunan.

Dia tak tega untuk melihatnya, namun dia pun tak tahan untuk melihatnya.

Karena itu dia pun menyaksikan satu kejadian aneh.

Anjing kecil itu bukan saja tidak mati keracunan, bahkan berubah makin lincah, makin menarik, makin menawan, seperti anjing kecil yang baru habis menyantap hidangan lezat yang diberikan majikannya, karena itu dia menggunakan cara yang paling menawan untuk melaporkan hasilnya, untuk membuat senang hati majikannya, karena itu dia menggonggong tiada hentinya, menggoyang ekor tiada hentinya.

Kini dia sudah mendengar majikannya memanggil.

"Macan kecil, cepat, cepat, cepat, biar ibu menciummu, menggendongmu!"

Dia hanya seekor anjing kecil, bukan macan kecil.

"ibu"nya pun bukan seekor anjing, dia seorang manusia. Seorang yang sangat menarik, berkulit putih bersih, bermata bening, rambutnya yang hitam dikepang menjadi tujuh-delapan belas buah kepang kecil, pada setiap kepang kecil itu diikat dengan tali merah yang berbentuk kupukupu. Di wilayah Kang-lam yang berpanorama indah, di musim semi yang berudara segar, di tepi sungai kecil atau di kebun bunga, mungkin saja kau akan bertemu dengan seorang gadis kecil yang begitu menawan. Tapi di tempat, waktu dan suasana seperti ini, siapa pun tak bakal akan mengira bakal bertemu dengan manusia semacam ini. Tentu saja dia bukan "Roh gentayangan", pasti bukan. Tapi siapakah dia? Mengapa bisa muncul di tempat ini, bahkan membawa seekor anjing kecil? Andaikata bukan lantaran di tempat itu masih ada tiga puluh tujuh sosok mayat yang masih berlutut di sana, Yangkong pasti akan lari melewati gundukan pasir dan bertanya kepadanya, dari dalam kantung kulitnya membagikan semangkuk susu kambing yang manis kecut, lalu bertanya tentang asal-usulnya dan bertanya kepadanya apakah bersedia menjadi sahabatnya. Tapi dengan cepat dia hapus seluruh rencananya itu, kendati di sana tak ada orang mati, dia tak bakal muncul dari persembunyiannya. Karena secara tiba-tiba dia telah menyaksikan seseorang yang jauh lebih menakutkan daripada orang mati, seorang berpakaian serba putih bagaikan sesosok roh jahat muncul secara tiba-tiba di belakang tubuh nona kecil berkepang tujuh-delapan belas itu. Padahal dia tidak termasuk orang yang berparas jelek, perawakan tubuhnya tinggi tegap bagaikan sebatang pit, pakaian putihnya bersih dan sesuai dengan potongan badan, bahkan panca-inderanya termasuk sempurna, orang itu terhitung tampan dan menawan. Dia bahkan jauh lebih tampan dan menarik daripada kebanyakan orang lelaki, namun siapa pun yang pernah melihatnya pasti akan terperanjat hingga bermandikan keringat dingin. Tubuh orang ini seolah tembus pandang, semua bagian tubuhnya yang berada di luar pakaian hampir seluruhnya tembus pandang, setiap nadinya, setiap ototnya, bahkan setiap kerat tulang-belulangnya dapat dilihat dengan jelas sekali. Seluruh bagian tubuh orang ini seolah dilapisi oleh kristal yang tembus pandang. Hampir saja Yang-kong menjerit keras, berteriak kepada nona kecil yang menarik itu agar lari dengan cepat, makin cepat larinya semakin baik. Bagaimana pun dia merasa kuatir akan keselamatan nona kecil itu. Apakah kemunculan manusia kristal itu dikarenakan gadis cilik itu? Apa yang bakal dia lakukan terhadapnya? Sekalipun manusia kristal itu tidak mengusiknya, tatkala gadis itu mengetahui di belakangnya telah berdiri manusia semacam ini, apakah dia tidak mati lantaran kaget? Sekarang gadis itu telah melihat kehadirannya. Ternyata dia sama sekali tidak takut, malah mencakmencak kegirangan, dipeluknya tengkuk orang itu lalu mengecup pipinya yang tembus pandang. Ternyata manusia kristal itu pun ikut tertawa, bahkan pandai bicara, suaranya penuh kelembutan dan kehangatan. Akan tetapi perkataan yang dia ucapkan lagi-lagi membuat orang lain terperanjat.

"Apakah semuanya sudah mati?"

Tanya orang itu sambil membelai lembut rambut si nona.

"Apakah semuanya sudah mati?"

"Tentu saja semuanya sudah mati,"

Jawab nona kecil itu.

"Perlu kita suruh si macan kecil menggigit mereka sekali lagi?"

Lalu sambil memicingkan mata lanjutnya.

"Kau melarang mereka menyaksikan matahari hari ini, mana mungkin mereka bisa hidup hingga fajar menyingsing?"

Tak tahan secara diam-diam Yang-kong menggenggam lagi tangan Siau-hong, tangan mereka berdua terasa lebih dingin ketimbang tadi. Ternyata manusia kristal inilah si roh gentayangan.

"Imleng". Rupanya anjing kecil itu menggigit kaki setiap mayat yang berlutut tadi tujuannya untuk mencoba apakah mereka benar-benar sudah mati atau belum, hanya orang mati yang tak merasa kesakitan. Harus menunggu hingga setiap orang mati, si roh gentayangan baru akan muncul. Tapi Yang-kong belum mati, Siau-hong, dan Pancapanah pun belum mati. Akhirnya mereka dapat melihat wajah asli si roh gentayangan dalam keadaan hidup. Tapi sekarang, berapa lama lagi mereka dapat hidup? Kemungkinan besar si roh gentayangan telah menemukan jejak mereka, telah melepaskan racunnya yang tak berwarna, tak berbau, dan tak berwujud, melepasnya di udara, di tengah hembusan angin, ketika mereka menjumpai dirinya telah keracunan, tubuh mereka telah jatuh berlutut. Berlutut berarti mati. Biarpun seseorang bakal mati, tidak seharusnya mereka mati dalam keadaan berlutut. Mengapa tidak sekalian beradu jiwa dengannya? Menyerangnya mati-matian? Hampir Yang-kong menerjang keluar dari persembunyiannya... Tapi pada saat itulah kembali ia saksikan sebuah peristiwa yang amat menakutkan. Dari antara tiga puluh tujuh sosok mayat yang mati berlutut, tiba-tiba ada seorang telah hidup kembali. Ternyata orang mati yang hidup kembali itu tak lain adalah si gemuk penunggang keledai. Tubuhnya yang gemuk besar tiba-tiba melejit ke tengah udara seperti ikan Lehi dari sungai Huang-ho, terlihat secercah cahaya perak menebar di angkasa. Cahaya perak itu berkelebat lalu jatuh ke atas tubuh manusia kristal itu, ternyata sebuah jala. Tubuhnya berputar di tengah udara kemudian melayang turun di atas batang pohon kering itu dan mulai menarik jala peraknya. Dalam waktu sekejap manusia kristal itu pun berubah menjadi ikan dalam jaring. Bila seseorang benar-benar sudah mati, dia tak akan bangkit dan hidup kembali, karena setiap manusia hanya memiliki selembar nyawa, hanya bisa mati satu kali. Tentu saja si gemuk itu pun tidak terkecuali.

"Pernahkah kau bayangkan kalau aku belum mati?"

Ia tertawa tergelak.

"Pernahkah kau bayangkan, di dunia ini ternyata masih ada orang yang tak mati kau racun?"

Suara tawanya amat nyaring dan gembira, kejadian semacam ini memang patut dia banggakan.

Tapi sayang suara tawanya harus segera berakhir, karena dia pun telah menyaksikan satu kejadian yang sama sekali tak diduga.

Dia menjumpai nona kecil itu pun sedang tertawa.

Tadi dia masih sempat memeluk manusia kristal itu, bahkan menciumnya.

Hal ini membuktikan hubungan di antara mereka berdua tentu sangat dekat dan akrab.

Ketika saat ini dia melihat sanak dekatnya secara tibatiba dijaring orang, seharusnya gadis itu merasa sangat terkejut, sangat gusar, dan sangat berduka, sekalipun dia tak berani mengadu nyawa dengan si gemuk, paling tidak sepantasnya ia berusaha melarikan diri.

Siapa sangka dia justru ikut tertawa, bukan hanya tertawa bahkan bertepuk tangan, bukan saja gelak tertawanya jauh lebih ceria, suara tepuk tangannya pun jauh lebih keras dari siapa pun.

"Kungfu yang hebat! Kemampuan yang luar biasa!"

Teriaknya sambil bertepuk tangan.

"Sekalipun kemampuanmu di bidang yang lain tidak seberapa hebat, namun kemampuanmu untuk berpura-pura mati boleh dibilang nomor satu di kolong langit."

Kembali dia bertanya.

"Ketika digigit si macan kecil tadi, masa kau sama sekali tidak merasa kesakitan?"

Si gemuk ikut tertawa.

"Siapa bilang tidak sakit, sakitnya setengah mati,"

Sahutnya.

"Kenapa kau bisa tahan?"

"Begitu terbayang si roh gentayangan Im-sianseng yang selama ini malang-melintang dalam dunia persilatan dan selalu membikin orang ngeri dan ketakutan bakal segera tergantung dalam jaringku, biar lebih sakit pun aku masih dapat menahannya."

"Masuk akal, sangat masuk akal,"

Kembali nona cilik itu tertawa.

"Setiap perkataan Oh-tayciangkwe rasanya selalu masuk akal."

Sekarang Yang-kong baru tahu, ternyata si gemuk bermarga Oh, bahkan seorang Tayciangkwe.

Di wilayah utara, Tayciangkwe berarti Toalopan, juragan besar.

Kalau dilihat bentuk badannya, dia memang mirip seorang juragan besar, tauke besar.

Tiba-tiba nona cilik itu kembali menghela napas.

"Sungguh tak disangka hari ini ternyata Oh-tayciangkwe telah salah mengatakan sesuatu."

"Soal apa?"

"Orang yang kau gantung dalam jaringmu itu bukan Imsianseng, tidak sepantasnya kau sebut si Roh gentayangan yang membikin setiap orang ketakutan itu sebagai Imsianseng"

"Lalu harus memanggil apa?"

"Kau seharusnya memanggil dia sebagai Im-toasiocia,"

Nona itu tertawa.

"Paling tidak seharusnya kau memanggilnya Im-toakohnio."

"Di manakah nona Im sekarang?"

Tanya Oh-tayciangkwe cepat.

"Berada di sini, persis di hadapanmu,"

Nona itu menunjuk ke hidung sendiri.

"Akulah Im-toakohnio, Imsiocia adalah aku."

Lagi-lagi Oh-tayciangkwe tak mampu tertawa.

Siapa pun tak akan menyangka si nona kecil dengan rambut dikepang tujuh-delapan belas, yang suka membopong anjing kecil, bahkan sewaktu tertawa mirip dengan keceriaan cucu sendiri, ternyata tak lain adalah Imleng, si Roh gentayangan yang sangat menakutkan.

Kembali nona itu membopong anjing kecilnya, lalu ujarnya kepada Oh-tayciangkwe yang kini sudah tak mampu tertawa lagi.

"Bagaimana kalau kudendangkan sebuah lagu untukmu?"

Dalam situasi seperti ini ternyata si nona ingin menyanyi, bukan hanya begitu, ternyata ia benar-benar menyanyi.

"Di Yan-pak terdapat Sam-po-tong. Terkenal dan disegani banyak orang. Dalam Sam-po-tong terdapat Sam-po (tiga mestika). Siapa bertemu siapa tertimpa musibah, air mata jatuh berlinang. Ayah tiada, ibu pun tiada, Siapa bertemu dia tertimpa bencana, Air mata meleleh bagaikan butiran beras"

Apa yang dia nyanyikan pada hakikatnya tidak bisa disebut sebuah nyanyian, bait syairnya pun sama sekali tak indah, namun setiap patah katanya justru merupakan kenyataan.

Sam-po-tong (Gedung tiga mestika) terletak di wilayah Yan-pak, pamor dan namanya memang amat tersohor.

Dalam Sam-po-tong memang benar-benar terdapat Sam-po, tiga mestika, bila orang persilatan bertemu Sam-po, jarang sekali ada yang bisa luput dari bencana.

Menunggu nona itu selesai menyanyi, Oh-tayciangkwe pun bertepuk tangan.

"Bicaralah menurut hati nuranimu, nyanyian yang kubawakan barusan enak tidak dinikmati?"

"Bagus, enak sekali,"

Jawab Oh-tayciangkwe tertawa.

"Kujamin belum pernah ada orang lain yang bisa menyanyi jauh lebih merdu daripada dirimu."

Im-toasiocia tertawa terkekeh.

"Menjilat ribuan, menjilat jutaan, hanya pantat yang paling enak dijilat. Kau begitu menyanjungku, tentu saja aku pun harus membalas sanjunganmu itu."

"Tentu, tentu."

"Orang lain mendengar aku menyebutmu Tayciangkwe, mereka pasti menyangka paling kau hanya tauke sebuah kedai makan saja."

Oh-tayciangkwe menghela napas.

"Aku sendiri lebih suka begitu, kesulitan dan kerepotan yang dialami para Tayciangkwe rumah makan jauh lebih kecil daripada diriku."

"Hanya sayangnya kau justru Tayciangkwe dari Sam-potong, ingin menyangkal pun tak mungkin bisa disangkal."

Tiba-tiba nona itu bertanya lagi.

"Dapatkah kau beritahu padaku, Sam-po-tong itu sebenarnya tiga mustika apa saja?"

"Menurutmu?"

Oh-tayciangkwe balik bertanya sambil tersenyum.

"Jaring yang dapat menggantung orang tentu mestika pertama bukan?"

Tanya Im-toasiocia sambil memutar biji matanya.."Tentu saja."

"Konon kau mempunyai Am-gi yang dinamakan Honghong-tian-ci (Burung Hong pentang sayap), walaupun belum sebanding dengan Khong-ciok-leng (Bulu merak) dari Perkampungan Khong-ciok-san-ceng di masa lampau, namun kehebatannya luar biasa juga, tentunya benda itu pun termasuk salah satu mestikamu."

"Seharusnya begitu."

Ooo)d*w(ooO BAB 18. OH-TAYCIANGKWE "Masih ada sebuah mestika lagi, tanpa kau sebut pun aku dapat menebaknya,"

Kata Im-toasiocia sambil tertawa.

"Benda mestika yang paling berharga dari Sam-po-tong tentunya adalah dirimu sendiri, bukan?"

Oh-tayciangkwe tertawa tergelak.

"Hahaha, betul, tepat sekali, kalau aku bukan mestika, masa tak bisa mati keracunan?"

"Justru karena orang persilatan mengatakan kau tak bisa mati diracun, maka aku jadi ingin menjajal kemampuanmu."

"Bukankah sekarang telah kau coba?"

Kata Ohtayciangkwe.

"Rasanya sudah seharusnya tiba giliranku menjajal kemampuanmu."

"Menjajal apa? Bagaimana menjajalnya?"

"Mencoba apakah kau mampu menghindari sambitan senjata rahasia Hong-hong-tian-ci!"

Walaupun senyuman masih menghiasi wajahnya, namun hawa napsu membunuh telah terpancar dari balik matanya.

Biarpun ia belum bergerak, namun punggung tangannya telah muncul otot otot hijau yang menonjol.

Berputar sepasang biji mata Im-toasiocia, tiba-tiba ujarnya.

"Kau benar-benar percaya kalau aku adalah Roh gentayangan? Mengapa kau tidak bertanya dulu kepadaku, siapa orang yang telah kau gantung itu?"

Oh-tayciangkwe menatap tajam wajah nona itu, jangankan bergerak, berkedip pun tidak, dia seolah telah mengambil keputusan, tak akan berpaling untuk menengok ke arah manusia kristal.

Dia tak perlu cabangkan pikiran lagi demi seseorang yang sudah terperangkap di dalam jaringnya, peduli siapa pun orang itu karena hasilnya sama saja.

Walau begitu, tak urung ia bertanya juga.

"Siapakah orang ini?"

"Padahal dia belum terhitung sebagai orang,"

Jawab Imtoasiocia.

"Karena dia tak lebih hanya sebuah botol."

"Botol? Botol apa?"

"Botol untuk menyimpan racun, beragam racun ada di dalam tubuhnya."

Kemudian setelah berhenti sejenak, Im-toasiocia menambahkan.

"Oleh sebab itu asal kau berani menggerakkan tanganmu, berarti ajalmu segera akan tiba!"

"Ajalku segera tiba? Siapa yang akan mati?"

"Kau! Tentu saja kau."

Dengan lembut Im-toasiocia menambahkan.

"Asal dia meniupkan udara ke arah tubuhmu, maka kau bakal segera mampus."

Oh Tayciangkwe tertawa tergelak.

"Perkataan apa pun yang kau ucapkan, tak bakal aku tertipu."

Kemudian setelah tertawa keras, tambahnya.

"Biarpun tampangku mirip seekor babi, padahal aku lebih licik daripada seekor rase tua."

"Asal kau berani menggerakkan tanganmu, kau segera akan menjadi seekor rase mampus."

Tiba-tiba Oh-tayciangkwe menghentikan gelak tertawanya.

Yang berbicara kali ini bukan Im-toasiocia, tentu saja bukan pula dirinya, orang yang berbicara berada di belakang tubuhnya, hanya selisih jarak tiga jengkal darinya.

Tiba-tiba dia melejit ke udara dan berjumlatan, seketika itu juga dijumpai orang yang semula tergantung dalam jaring, kini sudah berada dalam jalanya lagi.

Di saat dia bertekad tak akan tertipu oleh akal muslihat nona kecil itu dan tidak berpaling untuk memecah perhatian, si manusia kristal telah meloloskan diri dari dalam jaringnya dan berdiri di belakang tubuhnya, bahkan jala mestikanya kini telah berada di tangan orang ini.

Akhirnya Oh-tayciangkwe tetap tertipu.

Orang ini bukan manusia kristal, meski bukan manusia, dia pun bukan botol.

Rupanya tingkah-polah nona kecil dengan tertawa, menyanyi dan berbincang tak lain bertujuan agar rekannya bisa meloloskan diri dari dalam jala.

Bila di kolong langit hanya ada dua orang yang dapat meloloskan diri dari jala peraknya, maka orang itu adalah salah satu di antaranya.

Bila di kolong langit hanya ada satu orang yang dapat meloloskan diri dari jala peraknya, maka dialah satusatunya orang itu.

Orang ini bukan saja tembus pandang, bahkan seolah tak memiliki tulang-belulang, walau sekerat pun.

Suara tawa nona kecil berkepang itu makin merdu, makin manis.

"Sekarang kau tentu sudah tahu siapakah si Roh gentayangan yang sebenarnya, bukan? Tapi sayang saat ini sudah terlambat."

"Memang sedikit terlambat,"

Sahut Oh-tayciangkwe sambil melompat naik ke atas pohon kering.

"Untung belum terlalu terlambat, asal aku belum mati berarti segalanya belum terlambat! Sekalipun aku harus mati, kalian harus menemani aku!"

Sepasang tangannya telah direntangkan bagaikan burung Hong pentang sayap.

"Sekalipun aku harus masuk neraka, kalian pun harus menemani aku!"

Seperti senjata rahasia ampuh yang konon pernah beredar dalam dunia persilatan, seperti senjata rahasia Huihun-ngo-hoa-jin (Kain lima warna terbang bagai awan), Khong-ciok-leng (Bulu merak), Thian-coat-te-beng-jin-bong, bu-cing-toh-bing-sam-cay-teng (Tiga paku tanpa perasaan pencabut nyawa, langit musnah, manusia lenyap), orang persilatan pun belum pernah ada yang tahu senjata rahasia Hong-hong-tian-ci milik Sam-po-tong itu sesungguhnya merupakan senjata rahasia macam apa, bagaimana cara menyambitkannya, dan seberapa dahsyat daya penghancurnya.

Sebab orang yang pernah menyaksikan kedahsyatan senjata rahasia itu, biasanya sudah mati di ujung senjata itu.

Akan tetapi, tak ada seorang pun yang meragukan perkataan Oh-tayciangkwe.

Ketika dia mengatakan harus menemaninya masuk neraka, itu berarti dia benar-benar berniat mengajak mereka masuk neraka bersama-sama.

Dia menaruh kepercayaan penuh terhadap keampuhan senjata rahasianya, dia sangat yakin dengan kemampuannya.

Kini sepasang lengannya sudah direntangkan, melakukan sebuah gerakan dan gaya yang aneh penuh misteri.

Wajah manusia kristal yang semula tembus pandang, tiba-tiba muncul selapis kabut asap berwarna ungu yang seketika menyelimuti seluruh mukanya.

Senyuman yang menghiasi nona cilik pun kini sudah hilang tak berbekas.

Asal salah seorang di antara mereka mulai turun tangan, maka ketiga orang itu akan berangkat ke neraka bersamasama...

hanya menuju neraka, tak akan pergi ke tempat lain.

Pada saat yang amat kritis itulah mendadak dari balik sebuah gundukan pasir yang agak besar dan tinggi bergema suara tiupan seruling.

Irama seruling indah dan lembut, lagu yang dibawakan pun sangat menawan, tanpa terasa seluruh hawa napsu membunuh yang berkobar di hati orang-orang itu mulai buyar.

Menyusul berkumandangnya suara seruling tadi, tampak dua orang muncul, dua orang yang amat kecil.

Seorang kakek bertubuh kerdil menuntun seekor keledai dan seorang nenek kerdil yang duduk di punggung keledai sambil meniup seruling, wajah mereka amat kecil dengan mulut yang kecil, bibir yang kecil dan seruling pualam yang kecil pula.

Selama hidup belum pernah Siau-hong menyaksikan manusia sekerdil ini, manusia di mana pun yang pernah ditemuinya berukuran setengah lebih tinggi daripada mereka berdua.

Walau begitu, potongan tubuh mereka justru amat sempurna, sama sekali tidak menunjukkan kejelekan atau kelucuan apa pun.

Kakek Jkerdil itu berambut putih dengan wajah yang sangat ramah, sementara sang nenek kerdil berparas cantik, lembut dan alim, dia memegang seruling dengan kedua belah tangannya, seakan seruling pualam itu merupakan sebuah benda mestika.

Siapa pun pasti akan mengakui kalau mereka berdua merupakan pasangan yang serasi.

Oh-tayciangkwe tidak turun tangan, begitu pula dengan Roh gentayangan.

Siapa pun itu orangnya, bila telah mendengar suara seruling semerdu itu dan menjumpai dua orang istimewa semacam ini, tak mungkin mereka dapat melancarkan serangan mematikan lagi.

Kembali sekulum senyuman cerah menghiasi wajah Imtoasiocia.

"Losianseng, Lothaythay, kalian datang dari mana? Dan mau pergi ke mana?"

Menyaksikan seorang nona kecil yang begitu menawan, sekulum senyuman segera menghiasi wajah kakek kerdil itu.

"Kami datang dari tempat di mana kalian datang."

Kemudian menambahkan.

"Tapi kami tak ingin pergi ke mana kalian akan pergi."

Senyumannya ramah dan lembut, perkataannya pun sangat enak didengar.

"Dunia begini luas, ada banyak tempat indah yang patut didatangi dan dikunjungi, kenapa kalian justru memilih pergi ke neraka?"

Irama seruling berkumandang makin hangat dan lembut, kabut ungu yang menyelimuti wajah manusia kristal pun lambat-laun semakin buyar.

Tiba-tiba Oh-tayciangkwe melompat turun dari dahan pohon, kemudian menjura kepada kakek kerdil itu dengan sangat hormat.

Kakek kerdil itu sepertinya agak tercengang, tanyanya kemudian.

"Aku tak lebih hanya seorang tua bangka yang tak berguna, apa sebabnya kau begitu hormat kepadaku?"

"Setelah bersua dengan Hong-locianpwe, mana berani Boanpwe bersikap kurangajar?"

Jawab Oh-tayciangkwe dengan sikap yang lebih hormat. Berkilat sepasang mata Im-toasiocia, dipandangnya kakek kerdil itu dengan pandangan terkejut, lalu gumamnya.

"Hong-locianpwe?"

Dengan nada tercengang dan kaget, terusnya.

"Jadi kau adalah Jian-li-hui-im, ban-li-tui-gwe, sin-heng-bu-im-tuihong-siu" (Ribuan li mengejar awan, laksa li menangkap rembulan, langkah sakti tanpa bayangan pengejar angin) Hong-loyacu?"

Sambil tersenyum kakek kerdil itu manggut-manggut. Im-toasiocia memandang ke arah nyonya kerdil yang berada di punggung keledai, kemudian katanya pula.

"Hong-siu-gwe-bo tak pernah saling berpisah satu dengan lainnya, aku rasa yang ini tentulah Gwe-popo, bukan?"

Senyuman yang menghiasi wajah Tui-hong-siu (Kakek pengejar angin) semakin cerah.

"Sungguh tak nyana nona ini meski masih muda usia, namun memiliki pengetahuan yang amat luas."

Oh-tayciangkwe berdehem beberapa kali, lalu tanyanya.

"Hong-cianpwe bukannya menikmati hidup di Perkampungan Poan-gwe-san-ceng (Perkampungan menemani rembulan), mau apa mendatangi tempat gersang yang terpencil semacam ini?"

Tui-hong-siu memandangnya sekejap, lalu tertawa.

"Sebaliknya Oh-tayciangkwe bukannya menikmati rezeki dalam Sam-po-tong, mau apa pula kau mendatangi tempat gersang yang terpencil ini?"

"Aku...."

"Padahal tak usah Oh-tayciangkwe bicara pun, aku sudah tahu."

"Kau tahu?"

Tampaknya Oh-tayciangkwe terperanjat.

"Dari mana bisa tahu?"

"Sebetulnya kedatangan kita dikarenakan persoalan yang sama, mana mungkin aku tidak tahu?"

Oh-tayciangkwe makin terperanjat, sengaja tanyanya.

"Persoalan apa yang Hong-locianpwe maksudkan?"

"Ya, karena persoalan itu,"

Sambil tersenyum pelan-pelan dia mengeluarkan tangan dari dalam sakunya. Sebuah "Tangan emas"

Yang amat menyilaukan mata.

"Kalau memang semua orang datang dikarenakan persoalan ini, mengapa pula harus masuk neraka bersamasama?"

Ujar Tui-hong-siu sambil"

Tertawa.

"Kalau toh kita semua telah datang kemari, maka yang pantas masuk neraka adalah orang lain."

Sekarang mereka telah datang, lalu siapa yang seharusnya pergi ke neraka?

Irama seruling telah menjauh, orang-orang itu pun telah pergi menjauh.

Ternyata mereka datang dikarenakan "Tangan emas".

Di bawah komando "Tangan emas", pertikaian dan perselisihan pribadi tidak diperkenankan tetap dipelihara, peduli kau adalah Roh gentayangan atau bukan, Ohtayciangkwe atau bukan, semuanya sama dan sederajat.

Kemunculan "Tangan emas"

Ini ternyata mendatangkan daya pengaruh yang begitu besar.

Pancapanah melompat bangun dari atas tanah, memandang Siau-hong dengan pandangan yang sangat aneh, tiba-tiba ia mengucapkan pula kata-kata yang sangat aneh.

"Sekarang aku baru tahu, apa sebabnya Po Eng membiarkan kau pergi."

Tiba-tiba ia menghela napas panjang, tambahnya.

"Sekarang kau pergilah, cepat pergi!"

Siau-hong tidak habis mengerti, dia ingin sekali bertanya mengapa dia mengucapkan perkataan itu dan apa maksudnya.

Tapi begitu menyelesaikan perkataannya, Pancapanah pun ikut pergi, pergi secepat hembusan angin.

Ketika dia hendak pergi, belum pernah ada orang yang mampu menahannya.

Lentera minyak yang redup, udara yang tercemar, tanah yang berpasir....

Tapi akhirnya mereka tiba juga di sebuah tempat yang ada kehidupan, Siau-hong dan Yang-kong telah menghabiskan semangkuk bakmi yang mereka pesan, sampai kuahnya pun diteguk habis.

Berada di desa miskin di tepi gurun, menyaksikan bocahbocah kecil yang berebut tahi kuda di sepanjang jalan, siapa pun akan sadar betapa berharganya setiap benda yang ada di dunia ini.

Selesai menghabiskan semangkuk bakmi, mereka pun duduk termenung di bawah cahaya lentera yang redup, dalam hati serasa ada banyak perkataan yang hendak dibicarakan, namun tak tahu harus mulai dari mana.

Entah berapa lama sudah lewat, tiba-tiba Siau-hong bertanya.

"Kau pernah mendengar tentang manusia yang bernama Tui-hong-siu ini?"

"Pernah."

"Tahukah kau manusia macam apakah dia?"

"Aku tahu,"

Jawab Yang-kong.

"Dua puluh tahun berselang, dia termashur karena Gin-kang-thian-he-te-it (Jago nomor wahid ilmu meringankan tubuh), walaupun dalam dua puluh tahun terakhir banyak bermunculan manusia berbakat dalam dunia persilatan, tidak banyak orang yang mampu mengungguli kehebatannya."

Siau-hong kembali termenung, setelah lewat cukup lama dia baru bicara lagi.

"Ketika aku baru berkelana dalam dunia persilatan, pernah mempunyai sahabat karib yang usianya jauh lebih tua ketimbang aku, sekalipun kungfu yang dimilikinya tidak terlampau tinggi, namun tak ada urusan dunia persilatan yang tidak diketahui olehnya."

Yang-kong mendengarkan dengan serius. Kembali Siau-hong melanjutkan.

"Dia pernah memberitahukan kepadaku beberapa nama jago persilatan yang dianggap menakutkan."

"Salah satu di antaranya adalah Tui-hong-siu?"

"Benar, ada Tui-hong-siu, ada juga nama Ohtayciangkwe."

Dia tidak menyinggung nama "Im-leng", Roh gentayangan, karena dalam pandangan sebagian besar umat persilatan, Roh gentayangan pada hakikatnya tidak dianggap sebagai seorang, sebab siapa pun tak dapat memastikan wujud sebenarnya dari makhluk itu.

"Sekarang mereka telah datang, muncul karena Tangan emas,"

Lanjut Siau-hong.

"Kim-jiu minta mereka melakukan apa?"

Yang-kong tidak menjawab.

Mereka pernah mendengar penjelasan Pancapanah, konon Kim-jiu adalah sebuah organisasi rahasia yang didirikan Hok-kui-sin-sian Lu-sam, tujuannya adalah menciptakan keonaran di kalangan orang-orang Tibet dan merebut kekuasaan mereka.

Thiat Gi yang kehilangan emas dan terbunuh, Wi Thianbong yang kehilangan lengannya, Koh-hun-jiu si Tangan penggaet sukma yang memburu Siau-hong, Liu Hun-hun yang mati tergantung di atas pohon, semuanya merupakan anggota organisasi rahasia itu.

Sekarang mereka telah mengumpulkan seluruh tokoh paling sakti dari organisasi untuk berkumpul di sini.

Mau apa orang-orang itu datang kemari?

Seharusnya Siau-hong maupun Yang-kong dapat menduganya.

Dengan termangu Siau-hong mengawasi mangkuk kosong di hadapannya, seolah dari dalam mangkuk yang kasar itu bakal muncul sebuah jawaban, yang bisa menjawab semua masalah sulit yang sedang dihadapi.

Setelah memandangnya sampai lama, dia baru berkata.

"Belum tentu kedatangan mereka karena ingin mencari Po Eng."

"Ehm."

"Sekalipun berhasil menemukannya, dia pasti punya cara yang hebat untuk menghadapi mereka."

"Ehm."

"Dia mempunyai anak buah yang banyak tak terhingga, sedang dia sendiri pun merupakan jagoan di antara kawanan jagoan tangguh,"

Kata Siau-hong lebih lanjut.

"Bila dia pun sudah lebih dari cukup untuk menghadapi mereka, kehadiran orang lain tak ada gunanya."

"Ehm."

"Peduli bagaimana pun juga urusan ini toh sudah tak ada sangkut-pautnya denganku, bagaimana pun aku telah meninggalkan mereka. Sebulan kemudian, aku bakal tiba di Kang-lam"

Suaranya sangat rendah, seakan-akan semua perkataannya itu diucapkan untuk diri sendiri.

"Kau belum pernah datang ke Kang-lam, karena itu kau tak pernah menyangka Kang-lam adalah tempat yang begitu indah, jembatannya, airnya, perahunya, gunung yang tak terhitung jumlahnya...."

Ooo)d*w(ooO Yang-kong mendengarkan dengan tenang, peduli apa pun yang dia katakan, nona itu selalu mengiakan.

Tapi baru berbicara sampai di sini, tiba-tiba Siau-hong menukas pembicaraan sendiri, mendadak teriaknya.

"Aku ingin minum arak!"

Dia telah minum arak dalam jumlah banyak.

Arak Toh-shia-sau yang garang dan pedas begitu mengalir masuk ke dalam perutnya, bagaikan segumpal bara api yang segera membakar seluruh badannya.

Dia masih ingat, Po Eng pernah menemaninya meneguk arak semacam ini, meneguk berkali-kali, setiap kali setelah minum arak dan mabuk, Po Eng pasti akan melantunkan lagu yang memedihkan hati, lagu yang membuat siapa pun tak akan melupakan untuk selamanya.

Orang yang penampilannya keras dan dingin bagaikan baja ini sebetulnya menyembunyikan penderitaan dan siksaan yang dalam.

Semangkuk demi semangkuk Siau-hong menghabiskan isi cawan, setiap kali selesai meneguk, dia pun mulai bertepuk tangan sambil bernyanyi.

"Putra bangsa harus ternama. Arak harus memabukkan, arak harus memabukkan...."

Ia tidak melanjutkan lagi nyanyiannya. Suaranya kini telah parau, matanya telah memerah, mendadak sambil menggebrak meja teriaknya.

"Kita segera balik!"

Yang-kong masih mengawasinya dengan tenang.

"Kembali?"

Ia bertanya.

"Kembali ke mana?"

"Kembali ke Lhasa."

"Bukankah kau telah pergi, mengapa harus kembali ke sana?"

Tanya Yang-kong hambar.

"Apakah kau sudah lupa, lewat sebulan kemudian kau sudah akan tiba di Kang-lam, desa kelahiranmu, tempat sahabat-sahabatmu, impianmu, semuanya berada di sana."

Ditatapnya Siau-hong dengan pandangan dingin, lalu tanyanya sekali lagi.

"Mengapa kau akan kembali lagi ke Lhasa?"

Siau-hong mendongakkan pula kepalanya, menatap gadis itu dengan garang.

"Sudah jelas kau tahu mengapa aku berbuat begini, kenapa harus ditanyakan lagi?"

Salju yang melapisi sorot mata Yang-kong seketika mencair, cair menjadi air musim semi, jauh lebih lembut daripada air di musim semi.

"Tentu saja aku tahu mengapa kau berbuat begitu,"

Katanya sedih.

"Seperti aku, kita semua tahu apa tujuan kedatangan orang-orang itu, kau pun seperti aku, tak pernah dapat melupakan Po Eng."

Siau-hong tak dapat menyangkal lagi.

Dia sendiri pun tak dapat melupakan perkataan Pancapanah.

Sekarang aku baru mengerti mengapa Po Eng membiarkan kau pergi.

Kemungkinan besar Po Eng sudah punya firasat, bakal ada musuh tangguh yang akan muncul di sana, karena itu bukan saja membiarkan dia pergi, bahkan minta dia pergi dengan membawa Yang-kong.

Peduli musibah macam apa pun yang bakal menimpa dirinya, Po Eng tak pernah akan membiarkan mereka ikut menderita dan terseret ke dalam persoalan itu.

"Tapi bukankah kau sendiri pernah berkata, jika Po Eng pun tak sanggup menghadapi mereka, percuma orang lain ikut ke sana."

Suara Yang-kong bertambah lembut.

"Oleh karena kau telah terlepas dari kami, siapa pun tak dapat lagi memaksamu pergi mengantar kematian, seandainya kau tak ingin kembali, siapa pun tak akan menyalahkan dirimu."

"Benar, aku pun tahu tak bakal ada yang menyalahkan aku,"

Sahut Siau-hong.

"Tapi aku pasti tak akan memaafkan diriku sendiri."

"Jadi kau rela balik ke sana untuk mengantar kematian?"

Siau-hong mengepal tinjunya kuat-kuat, sepatah demi sepatah sahutnya.

"Sekalipun tempat itu telah berubah jadi neraka, bagaimana pun juga aku tetap akan balik ke sana!"

Lhasa tetap Lhasa, seperti saat mereka meninggalkannya, langit tetap cerah, sinar matahari menyinari seluruh jagat.

Atap bulat istana Potala masih membiaskan cahaya yang menyilaukan mata ketika tertimpa cahaya sang surya, segala sesuatunya masih tetap sama, sama sekali tak berubah.

Istana suci yang kuno dan antik itu seperti persahabatan mereka, tak pernah berubah untuk selamanya.

Mereka telah kembali di Lhasa.

Senyuman Yang-kong ikut berubah secerah langit saat itu, sementara paras Siau-hong justru berubah makin suram dan gelap.

"Tampaknya tak pernah terjadi sesuatu di tempat ini."

"Rasanya begitu."

"Bila orang-orang itu sudah tiba di sini, sudah melakukan aksinya, tempat ini pasti berubah jadi sangat kalut,"

Kata Yang-kong.

"Setiap kali terjadi sesuatu, Po Eng pasti akan mengirim orang untuk melakukan patroli di luar kota."

Ia tertawa makin riang.

"Tapi sekarang di sekitar sini sama sekali tak nampak orang-orang kita, meski seorang pun."

Mereka masih belum memasuki kota suci Lhasa, sepanjang jalan hanya terlihat tiga orang, semuanya penganut Buddha hidup yang datang jauh dari ribuan li, dengan tiga langkah sekali menyembah, lima langkah sekali berlutut, menggunakan cara yang paling menderita dan tersiksa, menunjukkan rasa percaya dan hormatnya.

Semangat dan tubuh kasar mereka telah memasuki keadaan setengah terbebas dari godaan duniawi, terhadap apa yang dapat dilihat, mereka memandang seolah tak melihat, terhadap apa yang dapat mereka dengar seolah tidak mendengar.

Mereka telah membawa diri sendiri memasuki suasana gaib dimana tak bisa mendengar dan tak bisa melihat.

Tiba-tiba Siau-hong mengalihkan pokok pembicaraan, katanya.

"Ada sementara masalah, sekalipun tak kau lihat dan tak kau dengar, namun tetap tak bisa memastikan keberadaannya."

Dengan sorot mata mengandung pemikiran yang mendalam, pelan-pelan sambungnya.

"Terkadang dia bahkan jauh lebih jelas dan nyata daripada apa yang bisa dilihat dan didengar, bahkan keberadaannya jauh lebih lama dan langgeng."

Yang-kong tidak paham apa maksud perkataan itu, dia pun tak mengerti mengapa secara tiba-tiba dia mengucapkan perkataan semacam itu.

Namun gadis ini tidak bertanya, karena secara tiba-tiba ia menemukan bahwa ada sementara keadaan yang telah berubah, berubah menjadi sangat aneh.

Mereka putuskan untuk berkunjung dulu ke kantor Engki di jalan Pat-kak-ke untuk melihat keadaan, kemudian baru pergi menengok Po Eng.

Karena itulah mereka tidak melewati jalanan di sisi istana Potala, tapi langsung lewat jalan besar menuju ke kawasan pasar.

Orang yang berlalu-lalang di jalanan makin lama semakin banyak, ada banyak di antara mereka yang kenal Yang-kong.

Tempat ini adalah desa kelahirannya, sejak kecil dia termasuk orang yang supel, senang bergaul, dan suka membantu orang.

Pandai mengambil hati orang, diterima di seluruh pelosok kota khususnya kaum papa dan kaum pengemis yang tiap hari mengais hidup.

Setiap kali bertemu dengannya, mereka akan datang mengerumuninya ibarat lebah bertemu madu.

Tapi hari ini, begitu mereka melihat kehadirannya, jauhjauh sudah menghindar, seakan tak berani memandangnya biar sekejap pun, ada pula di antara mereka yang secara diam-diam memandangnya, sorot mata yang mereka perlihatkan pun sangat aneh dan misterius, bahkan mendekati rasa takut yang berlebihan.

Kehadirannya hari ini seakan bibit penyakit menular yang akan mendatangkan ancaman keselamatan bagi semua orang.

Padahal gadis itu tahu, dirinya masih merupakan dirinya yang dahulu, sedikit pun tidak berubah.

Tapi apa sebabnya orang-orang itu berubah begini rupa?

Apakah karena mereka tahu Siau-hong bukan anggota kantor dagang Eng-ki?

Apakah karena Po Eng telah memperingatkan mereka, melarang mereka berdekatan dengan Siau-hong?

Tampaknya semua pertanyaan ini hanya bisa dijawab setelah tiba di kantor dagang Eng-ki.

Sambil menuntun kuda, mereka melewati kerumunan orang banyak dan akhirnya tiba di depan kantor dagang Eng-ki.

Papan nama "Eng-ki"

Masih seperti dulu, memantulkan sinar terang ketika tertimpa cahaya matahari. Akhirnya Yang-kong menghembuskan napas lega.

"Ketika Cu Im bertemu kau nanti, bisa jadi mimik mukanya akan kelihatan sangat aneh,"

Kata nona itu kepada Siau-hong.

"Lebih baik tak usah kau layani dia, bagaimana pun sikapnya terhadapmu, lebih baik kau berlagak seolah tidak melihat."

Pada hakikatnya Siau-hong belum pernah berlagak tidak melihat, Cu Im yang di waktu biasa selalu berada di kantor Eng-ki sepanjang hari, ternyata hari ini tidak nampak batang hidungnya, begitu juga para pegawai yang banyak tahun bekerja di kantor itu pun kini tak terlihat seorang pun.

Sekalipun papan merek "Eng-ki"

Sama sekali tidak berubah, akan tetapi semua pegawai dalam toko telah berganti rupa, ternyata tak seorang pun yang dikenal Yangkong.

Tampaknya mereka pun tidak mengenali Yang-kong, bahkan menganggapnya sebagai pembeli.

Dua orang pelayan serentak menyongsong kedatangannya, lalu memakai dialek Han dan dialek Tibet bertanya kepada Siau-hong berdua akan membeli apa.

Yang-kong betul-betul terperangah.

Walaupun pegawai-pegawai itu tidak mengenalinya, seharusnya mereka tahu kalau dia merupakan bagian dari kantor Eng-ki.

"Aku tidak membeli apa-apa, aku datang mencari orang,"

Kata Yang-kong.

"Mencari siapa?"

Pegawai bermuka bulat berkepala runcing dan berdialek Han itu segera bertanya.

"Aku mencari Cu Im!"

Cu Im adalah pengurus kantor ini, tapi dua orang pegawai itu seolah belum pernah mendengar nama itu. Kedua orang itu saling bertukar pandang dengan wajah bingung, lalu sembari menggeleng sahumya.

"Di tempat kami tak pernah ada orang bernama itu."

Yang-kong makin terperangah.

"Aku rasa kau pasti baru masuk bekerja,"

Ia bertanya kepada pelayan itu.

"Sudah datang berapa hari?"

"Baru tiga hari."

"Tahukah kau siapa Lopan tempat ini?"

Lelaki berlogat kotaraja itu kontan tertawa.

"Sebagai seorang pegawai, kalau nama Lopan saja tak tahu, bukankah aku orang yang tolol sekali?"

Dia tidak tolol, karena itu ujarnya lebih jauh.

"Lopan tempat ini bermarga Wi, dia bernama Thian-bong."

Kantor dagang "Eng-ki"

Yang didirikan Po Eng, kenapa pemiliknya bisa berganti jadi Wi Thian-bong? "Tidak tahu."

Semua pegawai yang bekerja di sana adalah pegawai baru, mereka rata-rata berasal dari luar daerah, tentang masalah ini mereka pun sama sekali tak tahu, bahkan nama Po Eng pun belum pernah didengar.

Yang-kong percaya orang-orang itu memang benar-benar tak tahu, biar dibunuh pun mereka tetap tak tahu.

Mereka pun tidak tahu Wi Thian-bong saat ini berada di mana, sebagai pegawai tentu saja mereka tak berhak untuk menanyakan keberadaan majikannya.

Lantas ke mana perginya Po Eng?

Yang-kong segera mencemplak kudanya, melarikan dengan cepat langsung menuju ke gedung tempat tinggal Po Eng.

Dia tak yakin apakah Po Eng berada di sana.

Membayangkan kembali mimik muka aneh orang-orang itu sewaktu melihatnya, teringat sorot mata suram yang diperlihatkan orang-orang itu, timbul satu firasat jelek yang tak berani dia bayangkan di dalam hatinya.

Namun dia bertekad akan menemukannya.

Selama beberapa waktu mereka tinggalkan Lhasa, apa yang sebenarnya telah terjadi di sini?

Perubahan menakutkan apa yang telah terjadi?

Seluruh persoalan ini mungkin baru bisa diperoleh jawaban setelah bertemu Po Eng nanti.

Tapi dia sudah tak mungkin bisa menemukan Po Eng lagi.

Sewaktu ia bersama Siau-hong tiba di tempat tinggal Po Eng, ternyata tempat itu telah berubah menjadi puing-puing yang berserakan, seluruh bangunan pagoda, loteng, gedung, kebun, semuanya ludas terlalap api, terbakar hingga tinggal abu.

"Sebuah kebakaran yang luar biasa besarnya!"

Ketika orang membicarakan kembali kebakaran itu beberapa tahun kemudian, mereka masih merasakan detak jantung yang berdebar keras.

"Sumber api paling tidak ada tiga-empat puluh tempat, begitu kebakaran terjadi, api menjilat seluruh bangunan dari tiga-empat puluh posisi yang berbeda, kebakaran ini berlangsung selama tiga hari tiga malam."

Setiap orang menganggap kebakaran itu berasal dari "api langit", merupakan bencana yang diturunkan langit terhadap keluarga itu.

Sumber api yang sebenarnya tak pernah diketahui orang, juga tak ada orang yang ingin mengetahuinya.

Kini Yang-kong berdiri di antara puing yang berserakan.

Tapi dia masih bisa membayangkan tempat di mana ia berdiri sekarang, dahulunya adalah gardu segi delapan yang sekelilingnya penuh dengan lautan bunga.

Setiap musim semi atau musim gugur tiba, di saat senggang Po Eng tentu akan duduk dalam gardu itu dan dia pun selalu menemaninya minum barang dua cawan arak dan bermain satu babak catur.

Menelusuri jalan setapak yang beralas batu hijau menuju ke timur, di sanalah letak ruang tidurnya.

Dia sudah sepuluh tahun berdiam di sini, seluruh impiannya telah terajut di sini, seluruh kenangan pun sudah tertinggal di sini.

Tapi sekarang semuanya telah tiada, lenyap tak berbekas.

Ia berdiri termangu, memandang dengan tertegun, menyaksikan puing-puing yang berserakan.

Tak ada air mata yang membasahi pipinya.

Demi sebuah boneka yang dirusak orang, ia bisa melelehkan air mata, demi seekor kucing kecil yang mati, dia pun bisa menangis setengah harian.

Tapi sekarang malah tiada air mata yang membasahi pipinya.

Kenangan lama masih terlintas dalam benaknya, puing yang hancur masih terpampang di depan mata, tiada manusia, tiada suara, segala sesuatunya telah berubah jadi abu yang beterbangan.

Ke mana perginya Po Eng?

"Dia pasti masih hidup, dia tak mungkin mati."

Tiada hentinya ia bergumam dan mengulangi perkataan itu beberapa kali, entah gumaman itu khusus untuk diperdengarkan kepada Siau-hong ataukah hanya untuk menghibur diri sendiri.

Siau-hong tidak menjawab, sepatah kata pun tidak menyahut.

Dalam keadaan seperti ini, apa lagi yang bisa dia katakan?

Tempat ini bukan desa kelahirannya, bukan Kang-lam, namun rasa pedih dan sakit yang dirasakan dalam hatinya sekarang, sedikit pun tidak lebih enteng daripada apa yang diderita gadis itu.

Dia memahami perasaan nona itu terhadap Po Eng.

Rumah kediaman hancur terbakar masih bisa dibangun kembali, tapi manusia yang mati tak mungkin bisa hidup kembali, asal Po Eng masih hidup, baginya urusan lain sudah tak penting lagi.

Apakah dia masih hidup?

Seandainya belum mati, saat ini dia berada di mana?

Dari tengah runtuhan puing yang berserakan mendadak terdengar suara langkah kaki yang berat, seorang Lhama tinggi besar berjalan mendekat dengan langkah lebar.

Yang-kong segera berpaling, menatapnya.

"Aku kenal kau,"

Meski suaranya parau, gadis itu masih dapat mengendalikan ketenangan hatinya.

"Kau adalah murid pertama Galun Lhama."

"Benar,"

Jawab Lhama itu.

"Aku bernama A-so."

"Dia yang menyuruh kau kemari?"

"Benar,"

Mimik muka A-so menunjukkan kedukaan yang mendalam.

"Tiga hari berselang aku telah datang kemari."

"Mau apa kemari?"

Ooo)d*w(ooO BAB 19. RUMAH KAYU DI TENGAH GUNUNG "Waktu itu api telah padam, aku datang untuk memberesi puing bekas kebakaran."

Sepasang tangan Yang-kong mulai gemetar karena emosi, lewat lama kemudian ia baru bertanya.

"Apa yang telah kau temukan?"

A-so tidak langsung menjawab, dia termenung cukup lama, hingga gejolak emosinya mereda baru menjawab.

"Bisa lolos atau tidak dari sebuah bencana kebakaran, tergantung apa kata takdir, sewaktu sampai di sini aku tidak menemukan apa-apa, semuanya telah ludas, telah habis terbakar, yang kutemukan hanya sedikit abu tulang."

Yang ia temukan bukan hanya "sedikit"

Abu tulang, ia berhasil mengumpulkan tiga belas kaleng abu tulang.

"Abu tulang?"

Yang-kong berusaha mengendalikan diri.

"Abu tulang siapa?"

"Abu tulang siapa? Abu tulang siapa...?"

"Di tempat ini pun terdapat orang-orang dari sukuku, temanku, selama tiga hari ini siang malam aku selalu berusaha mencari, aku pun ingin tahu abu tulang siapa mereka itu, sayang tulang-belulang setiap orang telah menjadi abu, siapa pula yang bisa mengenalinya lagi?"

"Setiap orang?"

Tanya Yang-kong.

"Apa yang kau maksud dengan setiap orang?"

A-so menghela napas panjang, dengan sedih ia membungkam. Yang-kong menarik ujung jubahnya kuat-kuat, serunya.

"Tahukah kau, sebelumnya ada berapa banyak orang di tempat ini? Tadi kau mengatakan setiap orang, apakah maksudmu mereka telah...."

Tiba-tiba suaranya terhenti setengah jalan, agaknya dia sendiri pun telah dibuat terkesiap oleh pikirannya itu.

"Tidak mungkin, pasti tidak mungkin,"

Dia berseru sambil melepas genggaman.

"Pasti masih ada orang hidup di sini, pasti masih ada. Asal kau dapat menemukan seorang saja, maka dapat kau ketahui ke mana perginya yang lain."

A-so hanya terbungkam sambil menggeleng.

"Masa seorang pun tak berhasil kau temukan?"

"Tidak! Seorang hidup pun tak berhasil kutemukan,"

Aso menggeleng. Setelah tarik napas pelan-pelan terusnya.

"Malam ketika terjadi kebakaran, tak seorang pun yang tahu apa yang telah terjadi di tempat ini, siapa yang melepaskan api dan siapa saja yang terbunuh. Ai...! mungkin selamanya tak ada yang bisa bercerita keadaan yang sesungguhnya."

"Tak ada yang bisa menceritakan keadaan sesungguhnya?"

Lambat-laun Yang-kong mulai hilang kendali.

"Apakah kau masih belum dapat menebak siapa pembunuhnya?"

"Apakah kau tahu siapa pembunuhnya?"

"Tentu saja tahu,"

Yang-kong mengepal tinju kencangkencang.

"Wi Thian-bong, Oh-tayciangkwe, Hong-siu, Gwe-bo, Im-leng. Mereka adalah pembunuhnya."

"Jadi kau anggap hanya mengandalkan beberapa orang itu, Po Eng, Cu Im, Gan tin-kong, Song-lohucu, serta ratusan orang pejuang yang berada di sini berhasil ditumpas dalam semalaman saja, bahkan tak tertinggal seorang hidup pun?"

A-so segera menjawab sendiri pertanyaan itu.

"Kalau hanya mengandalkan beberapa orang itu saja aku rasa tak mungkin mampu."

"Jadi menurutmu masih ada siapa lagi?"

"Masih ada musuh dalam selimut."

"Musuh dalam selimut?"

Tanya Yang-kong.

"Maksudmu di sini pun sudah tersusup mata-mata musuh?"

"Kalian dapat mengirim mata-mata untuk menyusup ke dalam organisasi mereka, memangnya mereka tak sanggup melakukan hal yang sama?"

Yang-kong termenung, lewat lama kemudian ia baru bertanya lagi secara tiba-tiba.

"Bagaimana dengan Pova?"

"Malam itu Pova pun ikut datang kemari,"

Sahut A-so.

"Dia bersikeras ingin bertemu dengan Po Eng."

"Sewaktu terjadi kebakaran, apakah dia masih berada di sini?"

"Benar."

"Sekarang di mana dia? Sudah mati atau masih hidup?"

Tak seorang pun dapat menjawab pertanyaan ini. Maka A-so balik bertanya.

"Apakah kau curiga dia telah menjadi mata-mata pihak lawan?"

Yang-kong menolak untuk menjawab pertanyaan ini, tapi sikapnya sudah menjelaskan semuanya.

Selama ini dia memang tak pernah percaya kepada Pova!

Antara wanita dengan wanita lain selalu timbul naluri untuk bermusuhan, jarang sekali ada perempuan yang mau percaya seratus persen perempuan lain, khususnya di antara perempuan-perempuan cantik, sifat semacam ini semakin kentara.

"Kali ini kau keliru,"

Tukas A-so cepat.

"Mata-matanya bukan Pova."

"Kenapa kau begitu yakin?"

"Karena A-so sangsi sejenak, sampai lama kemudian ia baru membulatkan tekad untuk bicara.

"Karena tanpa sengaja aku telah menemukan sebuah rahasia."

"Rahasia apa?"

"Rahasia tentang hubungan segitiga antara Po Eng, Pancapanah, dan Pova. Mengetahui asal-usul mereka dan A-so tidak menyelesaikan perkataannya. Parasnya yang serius dan berat, tiba-tiba muncul senyuman gembira yang amat misterius, tiba-tiba ia menjatuhkan diri berlutut, begitu berlutut badannya tak pernah bisa bergerak lagi. Mengapa si Roh gentayangan tidak membiarkan dia membocorkan rahasia itu? Rahasia tentang hubungan segitiga antara Po Eng, Pancapanah, dan Pova sebenarnya mempunyai sangkutpaut macam apa dengan si Roh gentayangan? Tiba-tiba Yang-kong menarik tangan Siau-hong.

"Mari kita pergi,"

Katanya.

"Kita pergi mencari Po Eng."

"Kau mampu menemukan dirinya?"

"Selama dia belum mati, aku pasti dapat menemukannya,"

Jawab Yang-kong penuh percaya diri.

"Dia pasti belum mati."

"Bila dia belum mati, mengapa semua persoalan di sini ditinggalkan begitu saja? Mengapa dia pergi tanpa bertanggung jawab?"

Tanya Siau-hong.

"Kalau situasi tidak menguntungkan, apakah seorang ksatria harus bunuh diri?"

Sahut Yang-kong.

"Bilamana keadaan mendesak, persoalan apa pun dapat diabaikan, semua masalah apa pun dapat dikorbankan."

Setelah berhenti sejenak, perlahan-lahan lanjutnya.

"Karena dia harus tetap hidup, bagaimana pun susahnya bagaimana pun menderitanya, dia harus tetap hidup, karena di samping harus membangun kembali negaranya, dia pun harus memusnahkan musuh-musuhnya, oleh karena itu dia tak boleh pergi... tak boleh mati!"

Ditatapnya Siau-hong sekejap, kemudian terusnya.

"Kau seharusnya mengerti, terkadang mati lebih gampang daripada hidup, walaupun ada sementara orang lebih suka memilih jalan yang lebih mudah, mati dan semua urusan selesai, namun dia bukan termasuk jenis manusia semacam ini."

"Benar dan aku mengerti,"

Tiba-tiba Siau-hong mendapatkan kembali rasa percaya dirinya.

"Dia pasti masih hidup, pasti belum mati!"

Ooo)d*w(ooO Di tengah gunung, di tepi air, jauh di balik pepohonan yang hijau dan lebat, berdiri sebuah bangunan rumah kayu yang kecil.

Ketika kau sedang murung dan sedih, lelah karena harus berjuang mempertahankan hidup, di saat pulang dari medan laga, membawa seseorang yang kau cintai dan gadis itu pun mencintaimu, lalu memasuki rumah kayu itu dan dia melakukan apa yang kau sukai, kau senangi, saat seperti itu tentu sangat membahagiakan.

Bila kau memiliki rumah kayu seperti ini, bila kau mempunyai gadis semacam ini, dapat dipastikan kau tak akan senang diganggu orang lain.

Oleh sebab itu di saat kau menjumpai bahaya, bisa jadi di tempat inilah dirimu bersembunyi.

Po Eng mempunyai juga sebuah rumah kayu seperti ini, berada di tengah gunung, di tepi air, di balik pepohonan yang hijau dan lebat.

Yang-kong adalah gadis kesayangannya.

Inilah rahasia di antara mereka berdua, sebetulnya hanya mereka berdua yang tahu, tapi sekarang ia telah mengajak Siau-hong datang ke sana.

Dalam rumah kayu itu terdapat empat buah jendela yang amat besar dan sebuah anglo kecil.

Bila di musim panas, mereka akan membuka lebar semua jendela, membiarkan angin gunung yang melewati mata air berhembus masuk, membiarkan angin yang membawa harum bunga menyelimuti seluruh ruangan.

Bila musim dingin tiba, mereka akan membuat api unggun dengan memakai tungku kecil itu, di atas tungku diterapkan sebuah kuali kecil, lalu sambil menghangatkan arak, duduk dengan tenang menyaksikan jilatan bara api.

Inilah dunia mereka, dunia yang sangat tenang.

"Bila Po Eng masih hidup, dia pasti akan datang kemari,"

Ujar Yang-kong.

"Dia tentu tahu kalau aku bakal mencarinya di sini."

Ternyata Po Eng tidak datang.

Pintu rumah pun tidak dikunci.

Kecuali mereka berdua, tak ada orang ketiga yang mengetahui tempat itu, jadi pintu memang tak perlu dikunci.

Yang-kong membuka pintu, dengan cepat parasnya berubah jadi pucat-pias.

Rumah yang kosong, rumah yang penuh kenangan, rumah dengan penuh kerisauan...

mengapa ia tak datang?

Tiba-tiba sekujur badan nona itu gemetar keras, parasnya telah berubah jadi pucat-pias tiba-tiba timbul warna merah yang aneh.

Tubuhnya gemetar begitu menakutkan, begitu menyeramkan, wajahnya memerah dengan begitu aneh, begitu mengherankan.

Apa yang telah dia saksikan?

Tidak, ia tidak melihat apaapa.

Di bawah jendela terdapat meja kecil, sepasang matanya menatap lekat meja kecil itu, tapi...

tak ada sesuatu di atas meja itu.

Siapa pun itu orangnya, wajah mereka tak akan menunjukkan perubahan yang begitu aneh ketika melihat sebuah meja yang kosong.

Tapi apa sebabnya secara tiba-tiba dia berubah jadi begitu gembira?

Begitu meluap emosinya?

Apakah dia dapat melihat barang yang tak terlihat orang lain?

Tak tahan Siau-hong pun bertanya kepadanya, sekuat tenaga Yang-kong menggigit bibir sendiri, sampai lama sekali dia baru buka suara.

"Dia tidak mati, ia pernah datang kemari."

"Dari mana kau bisa tahu?"

"Sebenarnya di atas meja ini terdapat sebuah boneka tanah liat, dialah yang membawa boneka tanah liat itu dari kota Bu-si,"

Yang-kong berkata perlahan.

"Selama ini dia selalu menganggap boneka itu mirip dengan aku."

Akhirnya Siau-hong mengerti.

"Jadi sewaktu kalian pergi dari sini terakhir kali, boneka itu masih berada di atas meja?"

Yang-kong manggut-manggut.

"Aku masih ingat dengan sangat jelas, tak mungkin bakal salah. Bahkan aku sempat menciumnya sesaat sebelum kami tinggalkan tempat ini."

"Kemudian apakah kalian pernah kemari lagi?"

"Tidak."

"Kecuali kalian berdua, apakah masih ada orang lain yang bisa sampai di sini?"

Kembali Siau-hong bertanya.

"Tidak ada, sama sekali tak ada."

"Oleh sebab itu kau mengira Po Eng pasti pernah datang kemari, dialah yang telah membawa boneka tanah liat itu?"

"Pasti dia."

Suaranya telah berubah jadi sesenggukan, ada banyak persoalan sebenarnya ingin dia tanyakan, namun dia pun tak berani bertanya, karena ia tahu persoalan-persoalan itu pasti akan melukai hatinya.

Jika Po Eng telah datang, mengapa pula dia pergi lagi?

Mengapa tidak tetap tinggal di sana menanti kedatangannya?

Mengapa dia sama sekali tidak meninggalkan kabar berita?

Padahal sekalipun dia ajukan pertanyaan itu pun belum tentu Siau-hong mampu menjawabnya.

Dia tidak menanyakan persoalan-persoalan itu, sebaliknya ada orang lain yang telah menjawabkan pertanyaannya, menjawab dengan menggunakan cara yang sangat aneh, sangat mengejutkan dan sangat menakutkan.

Pada awalnya mereka hanya mendengar suara ketukan di atas atap rumah, menyusul dari delapan penjuru bangunan rumah kecil itu berkumandang suara yang sama.

"Tuk, tuk, tuk", suara itu bergema berulang kali, seakanakan ada pemburu bodoh yang menjadikan rumah kayu itu sebagai target panahnya, seakan dia telah menganggap rumah kayu itu sebagai binatang buruan, yang ingin memanahnya hingga mati. Tentu saja rumah kayu tak bakal mati, di kolong langit pun tak akan ada seorang pemburu segoblok itu. Lalu apa yang telah terjadi? Dengan cepat mereka pun jadi paham apa yang telah terjadi. Dalam waktu sekejap tiba-tiba rumah papan itu beterbangan ke udara, setiap lembar papan yang ada pada dinding rumah itu tiba-tiba terlepas dari tempatnya dan melayang di angkasa. Rupanya setiap lembar papan rumah itu sudah tergaet oleh sebuah kaitan baja, kaitan baja itu dihubungkan dengan seutas tali yang panjang. Mereka hanya menyaksikan tali berkait itu dengan membawa lembaran papan kayu beterbangan di angkasa, dalam waktu singkat semuanya lenyap tak berbekas. Rumah kayu itu pun ikut lenyap. Meja kecil masih berada di tempat semula, tungku api yang kecil itu pun masih berada di tempat semula. Setiap benda yang berada dalam rumah kayu itu masih tetap utuh, masih tetap berada di posisi semula, namun rumah kayu itu sudah lenyap. Tempat itu berada di atas gunung, di dalam sebuah hutan yang lebat, di balik gunung yang paling tinggi. Tapi... dengan munculnya tali berkait yang terbang kian kemari, rumah kayu itu pun ikut lenyap. Gunung nan biru masih seperti semula, hutan pun masih tumbuh lebat dan rapat, angin masih berhembus, bau harum semerbak bunga pun terendus dengan berlalunya angin. Walaupun saat itu masih terang tanah, tiada cahaya matahari yang dapat menembusi hutan purba yang lebat, sepanjang mata memandang hanya lapisan hijau yang menyelimuti jagat. Kecuali tanah hijau dan mereka berdua, di jagat raya ini seolah sudah tak ada yang lain. Tak ada orang lain, tak ada suara lain. Yang-kong menatap Siau-hong, Siau-hong pun menatapnya, hanya ada mereka berdua, dua orang dengan tangan kaki yang telah dingin bagaikan es. Karena mereka tahu, walaupun saat ini mereka tak melihat siapa pun, tak mendengar suara apa pun, namun di belakang setiap pohon, di balik setiap kegelapan, semuanya telah diselimuti hawa pembunuhan yang tak terlihat maupun terdengar. Tak mungkin tali berkait itu terbang datang lalu terbang pergi tanpa sebab, tak mungkin rumah kayu itu terbang melayang tanpa alasan. Musuh tangguh mereka telah datang, datang mengikuti mereka, di Lhasa, di bekas puing kebakaran, mereka sudah dikuntit, sudah diikuti terus secara diam-diam. Seandainya Po Eng tidak pergi, tentu saja sekarang sudah terjatuh ke dalam cengkeraman orang-orang ini. Karena itulah Po Eng telah pergi, bahkan sama sekali tidak meninggalkan sedikit kabar pun. Rupanya dia sudah menduga, cepat atau lambat Yangkong pasti akan datang mencarinya, dia pun telah menduga musuh besarnya tentu akan datang mengikut di belakangnya. Musuh tangguh mengawasi dari sekeliling sana, hawa pembunuhan menyelimuti empat penjuru. Apa yang harus mereka lakukan sekarang? Yang-kong mengawasi Siau-hong, Siau-hong pun mengawasi gadis itu, ternyata mereka berdua sama-sama tertawa, seolah tak pernah terjadi apa pun di sana. Rumah kayu itu masih berada di tempat semula.

"Tempat ini sungguh indah,"

Ujar Siau-hong sambil tertawa.

"Kau seharusnya mengajakku kemari sejak dulu."

"Sudah kuduga, kau pasti menyukai tempat ini."

Siau-hong mencari bangku dan duduk, tiba-tiba ujarnya.

"Aku berani bertaruh denganmu."

"Taruhan apa?"

"Aku berani bertaruh, di sini pasti ada arak."

"Kau menang taruhan."

Tertawa Yang-kong benar-benar sangat cerah dan gembira, dari dalam kari dia mengeluarkan sebotol arak dan dua buah cawan.

Ia duduk persis berhadapan dengan Siau-hong, ketika Siau-hong membuka penutup guci arak itu, dia pun menarik napas dalam-dalam.

"Arak bagus!"

Puji Siau-hong. Dia menuang dua cawan, secawan untuk sendiri dan secawan lagi untuk Yang-kong.

"Aku menghormati secawan untukmu,"

Katanya sambil angkat cawan.

"Semoga kau panjang umur dan sukses dalam semua persoalan."

"Aku pun menghormati kau dengan secawan arak,"

Balas Yang-kong.

"Semoga semua keinginanmu pun terwujud."

Mereka bersama-sama angkat cawan. Tapi sebelum mereka berdua sempat meneguk isi cawan itu, tiba-tiba terdengar desingan angin menembus udara.

"Triinggg!", tahu-tahu kedua cawan itu sudah hancur berserakan. Kedua cawan itu tertimpuk hancur oleh dua biji mata uang, mata uang itu berasal dari balik kerumunan semak, berjarak paling sedikit belasan kaki dari tempat mereka duduk. Menggunakan sebiji mata uang untuk menghancurkan sebuah cawan arak mungkin tidak terlalu sulit, kalau ingin menghancurkan sebuah cawan arak dengan sebiji mata uang dari jarak belasan kaki, persoalan jadi lain. Tapi baik Yang-kong maupun Siau-hong seolah sama sekali tak menganggap kejadian ini sebagai sesuatu yang luar biasa. Ternyata mereka berdua sama sekali tidak memberikan reaksi, seakan-akan dalam genggaman mereka pada hahikatnya tak pernah memegang cawan, seolah pula cawan arak yang berada dalam genggamannya sama sekali tidak ditimpuk hancur. Bila saat ini ada orang sedang mengawasi mereka, orang itu pasti akan mengira mereka berdua sebagai orang goblok. Waktu itu tentu saja ada orang sedang mengawasi mereka, di balik hutan lebat di sekeliling bangunan rumah itu penuh dengan manusia yang berjaga-jaga. Anehnya, walaupun mereka telah membongkar rumah kayu itu, menimpuk hancur cawan arak, namun tidak ditindak lanjuti dengan aksi lainnya. Kalau dibilang Yang-kong dan Siau-hong sedang bermain sandiwara, mereka sedang menonton sandiwara. Apakah kedatangan orang-orang itu hanya khusus untuk menonton sandiwara? Langit lambat-laun makin gelap. Siau-hong berdiri, berputar dua lingkaran dalam ruang rumah yang kini sudah tanpa dinding kayu itu, tiba-tiba ujarnya.

"Udara hari ini sangat bagus."

"Benar, sangat bagus."

"Kau ingin pergi berjalan-jalan?"

Tanya Siau-hong lagi. Yang-kong menatapnya, sampai lama sekali, kemudian baru menggeleng perlahan.

"Tidak, aku tak ingin pergi,"

Sahutnya.

"Pergilah, aku menantimu di sini!"

"Baik, aku akan pergi seorang diri,"

Siau-hong segera memberi jaminan.

"Dalam waktu singkat, aku akan kembali."

Biarpun dinding kayu di sekeliling tempat itu sudah lenyap, dia tetap berjalan keluar melalui bekas di mana letak pintu rumah itu.

Ia berjalan sangat lambat, gerak-geriknya santai, gayanya seperti seseorang yang baru kenyang bersantap dan kini hendak berjalan santai untuk menurunkan makanan dalam lambungnya.

Bangunan kayu itu dibangun pada sebuah tanah lapang di tengah hutan belukar.

Baru saja ia tiba di tepi hutan, mendadak berkelebat sesosok bayangan manusia dari belakang pohon sambil membentak nyaring.

"Kembali!"

Di tengah bentakan itu, terlihat dua belas titik cahaya bintang menyambar datang, yang diarah bukan jalan darah di tubuh Siau-hong, bukan pula bagian tubuh yang mematikan, semua senjata rahasia itu diarahkan persis di depan jalan perginya hingga menyumbat jalanan itu.

Tiga titik cahaya bintang yang datang mengarah wajahnya melesat tiba paling cepat, Siau-hong tak bisa maju, tak bisa pula berkelit ke kiri atau kanan, terpaksa mengikuti datangnya sambaran ketiga batang Am-gi yang mengarah wajahnya itu, dia mundur.

Akhirnya pemuda itu mundur kembali ke depan bangku di mana semula ia duduk.

Baru saja tubuhnya berduduk, ketiga batang senjata rahasia itu pun ikut rontok dan jatuh persis di hadapannya, kali ini bukan mata uang tembaga yang digunakan untuk menghancurkan cawan tadi melainkan tiga biji teratai besi yang bermata tajam.

Thi-lian-cu atau Teratai besi sebetulnya merupakan senjata rahasia yang sangat umum, tapi cara orang ini melepaskan Am-gi jauh berbeda dengan ilmu pada umumnya, bukan saja hebat bahkan penggunaan tenaganya sangat tepat.

Yang-kong memandang Siau-hong sekejap, walaupun parasnya tidak menunjukkan perubahan apa pun, namun sorot matanya sudah mencerminkan perasaan kuatir bercampur takut.

Sekarang siapa pun dapat melihat bahwa jagoan yang datang kali ini hampir semuanya merupakan jago-jago kelas wahid.

Terdengar Siau-hong bertanya lagi kepada Yang-kong sambil tertawa.

"Kau tidak merasa aku pulang kelewat cepat?"

"Betul, memang kelewat cepat,"

Ternyata Yang-kong menjawab sambil tertawa pula.

Belum habis perkataan itu diucapkan, Siau-hong telah melambung kembali dari bangkunya, dengan ujung kaki menutul tanah, memakai gerakan Yan-cu-sam-cau-sui (Burung walet mengayuh air), secepat sambaran kilat tubuhnya meluncur ke arah hutan sebelah lain.

Baru saja tubuhnya memasuki hutan, mendadak terdengar bentakan nyaring berkumandang dari balik kegelapan, diiringi kilatan cahaya pedang terdengar seseorang membentak.

"Jalan ini pun tidak tembus, lebih baik kau kembali!"

Begitu selesai perkataan itu diucapkan, tubuh Siau-hong yang sudah menerobos masuk ke dalam hutan tahu-tahu mencelat kembali keluar, setelah berjumpalitan tiga kali, ia terjatuh kembali dari tengah udara dan turun persis di dalam rumah kayu itu, bahkan duduk kembali di bangku yang ditempatinya tadi.

Bukan saja pakaiannya telah robek dua tempat, setelah duduk sampai lama pun napasnya masih tersengal-sengal.

Tak dapat disangkal lagi orang yang bersembunyi di dalam pepohonan itu adalah jago berilmu tinggi.

Anehnya, walaupun ia berhasil memukul mundur Siauhong, namun tidak memanfaatkan kesempatan itu untuk mengejar.

Asalkan Siau-hong sudah balik kembali ke dalam rumah kayu, serangan mereka pun segera dihentikan, tampaknya tujuan mereka tak lebih hanya memaksa Siau-hong tetap tinggal di dalam rumah dan tidak berniat mencabut nyawanya.

Siapa saja yang telah datang?

Apa tujuan mereka?

Langit semakin gelap.

Siau-hong dan Yang-kong masih duduk saling berhadapan, orang-orang di dalam hutan sudah tak dapat melihat perubahan mimik muka mereka lagi.

Tapi mereka berdua tahu, paras mereka saat ini pasti tak sedap dipandang.

Tiba-tiba Yang-kong menghela napas.

"Waktu sudah semakin larut, satu hari lewat dengan begitu cepatnya"

Lalu tanyanya kepada Siau-hong.

"Kau masih ingin keluar dari sini?"

Siau-hong menggeleng. Yang-kong bangkit.

"Kalau begitu lebih baik kita tidur lebih awal!"

"Baik, kau tidur di ranjang, aku tidur di lantai."

Kembali Yang-kong menatapnya sangat lama.

"Aku tidur di ranjang, kau pun tidur di ranjang."

Ucapannya amat tegas bahkan langsung berjalan mendekat dan menarik Siau-hong dari bangkunya.

Tangannya terasa dingin membeku, bahkan gemetar keras.

Dia adalah calon istri sahabat karibnya, dari balik kegelapan entah ada berapa banyak pasang mata sedang mengawasi mereka, seandainya orang lain, dia pasti akan menghindar, pasti akan bersikeras memaksanya untuk tidur di lantai.

Tapi Siau-hong bukan orang lain, Siau-hong tetap Siauhong.

"Baiklah,"

Sahutnya.

"Kau tidur di ranjang, aku pun tidur di ranjang."

Di dalam rumah kayu itu hanya terdapat sebuah ranjang, sebuah ranjang yang sangat besar, ketika membaringkan diri, sikap mereka seolah tak pernah terjadi apa pun di sana, seolah mereka masih berada dalam rumah kayu yang hangat, di mana daun jendela terbuka lebar, dimana tak ada orang yang datang mengganggu.

Namun dalam hati kecil mereka berdua tahu dengan jelas, situasi kini telah berubah, setiap saat nyawa mereka mungkin akan hancur bagaikan cawan arak, bisa hidup sampai kapan pun mereka sendiri tak tahu.

Yang-kong membungkus tubuhnya di balik selimut yang terbuat dari kain kasar, tubuh mereka terpisah cukup jauh, namun kepala mereka berada sangat dekat, karena mereka tahu pihak lawan tentu ada banyak perkataan yang hendak dibicarakan.

Yang-kong yang buka suara lebih dulu, sambil merendahkan suaranya ia bertanya kepada Siau-hong.

"Kau terluka?"

"Tidak,"

Bisik Siau-hong di sisi telinganya.

"Karena mereka memang tidak bermaksud mencabut nyawaku."

"Bila mereka berniat begitu?"

"Maka sekarang aku sudah menjadi seorang yang mati."

Siau-hong belum pernah putus asa, tapi setelah dia berkata demikian sekarang, berarti mereka berdua memang sudah tak punya kesempatan lagi. Yang-kong tertawa paksa.

"Bagaimana pun juga sementara waktu mereka toh tak akan turun tangan, apa salahnya kalau kita tidur sejenak."

"Kita tak boleh tidur."

"Kenapa?"

"Karena kita tak boleh tetap tinggal di sini,"

Jawab Siauhong.

"Sama sekali tak boleh."

"Kau ingin menerjang keluar?"

"Kita harus bersama-sama menerjang keluar."

"Bukankah sudah kau coba?"

Ujar Yang-kong.

"Kau sendiri pun tahu kalau kesempatan buat kita tak banyak."

"Benar, jangankan seratus persen, sepuluh persen kesempatan pun tak ada!"

"Lantas, apakah kita harus mengantar kematian?"

"Sekalipun bakal mati, kita tetap harus menerjang keluar."

Kemudian setelah berhenti sejenak, terusnya.

"Sekalipun harus mati, kita tak boleh mati di sini."

"Kenapa?"

"Karena kita tak boleh menyusahkan Po Eng."

Ucapan Siau-hong pun sangat kukuh dan tegas.

"Kemungkinan besar dia masih berada di sekitar sini, orang-orang itu enggan turun tangan, mereka pun tidak melepaskan kita pergi, tujuannya adalah hendak memperalat kita untuk menjebak Po Eng. Seandainya Po Eng berada di sekitar sini, apakah dia akan berpeluk tangan membiarkan kita terkurung sampai mati di sini?"

Yang-kong termenung, lewat lama kemudian baru menghela napas.

"Tak mungkin!"

"Dapatkah kita biarkan dia datang kemari?"

Sambil menatapnya tajam, Siau-hong bertanya.

Kembali Yang-kong termenung.

Pertanyaan semacam ini pada hakikatnya tak perlu dijawab.

Dia menatap Siau-hong, air mata telah mengembeng dalam kelopak matanya.

Dia tak nanti akan bersedih demi diri sendiri, tapi demi seseorang ia rela mati daripada membiarkan sahabatnya celaka, perasaan gadis ini benar-benar hancur.

Siau-hong tak boleh mati, sama sekali tak boleh.

Tapi bagaimana dengan Po Eng?

Yang-kong memejamkan mata, lewat lama, lama sekali, mendadak dia mengulurkan tangan memeluk Siau-hong erat-erat.

"Bila kau bertekad akan berbuat begitu, mari kita lakukan,"

Katanya.

"Peduli kemana kau akan pergi, aku akan selalu mengikutimu. Biarpun kau pergi ke neraka pun, aku akan ikut ke neraka."

Malam semakin kelam.

Siau-hong berbaring dengan tenang, membiarkan Yangkong memeluk erat tubuhnya.

Dia tidak bergerak, tidak merasa bersalah, karena dia cukup memahami perasaan Yang-kong, memahami juga diri sendiri.

Walaupun mereka sedang berpelukan, namun yang mereka pikirkan di dalam hati adalah orang lain.

Seseorang yang setiap saat bisa mati karena mereka, orang yang bisa membuat mereka mati untuknya.

Po Eng, di mana kau?

Tahukah kau bagaimana perasaan kami terhadapmu?

Mendadak terlihat sesosok bayangan manusia muncul dari balik kegelapan, melambung sepuluh tombak di udara, lalu jatuh kembali ke tanah.

"Blam!", tahu-tahu orang itu jatuh di dalam rumah kayu yang sudah tak utuh, jatuh persis di pinggir ranjang mereka, begitu terjatuh dia tak bergerak lagi. Siapakah orang itu? Mau apa datang kemari? Apakah orang-orang itu sudah memutuskan untuk tidak menunggu lagi, memutuskan untuk turun tangan terhadap mereka? Yang-kong menatap Siau-hong.

"Kelihatannya kita kedatangan tamu."

"Rasanya memang begitu."

"Bagaimana kalau tak usah kita gubris?"

Yang-kong sengaja bertanya kepada Siau-hong.

"Kenapa tak usah digubris?"

"Dia datang tanpa mengetuk pintu, langsung menerobos masuk ke dalam rumah, sedikit pun tak tahu sopan-santun, kenapa kita mesti menggubris manusia tak sopan semacam ini?"

Siau-hong tertawa.

Di saat dia tertawa itulah Yang-kong telah melepas rangkulannya, pemuda itu pun melejit ke udara, siap menyerang dari atas.

Tapi dia urung turun tangan karena keburu telah melihat jelas orang itu.

Rumah ini memang tak berpintu, andai berpintu pun tak mungkin orang ini akan mengetuk pintu.

Mana ada orang mati bisa mengetuk pintu?

Batok kepala orang ini sudah terkulai, tergantung di atas tengkuk, seperti bocah nakal yang mematahkan tengkuk boneka tanah liat.

Biarpun di tempat itu tak berlentera, tak ada cahaya rembulan, sekilas Siau-hong masih dapat mengenali kalau dia adalah orang mati.

Siapa yang telah mematahkan tulang tengkuknya?

Mengapa mayatnya dibuang kemari?

Tiba-tiba Siau-hong merasakan jantungnya berdebar keras, dia telah teringat akan seseorang.

Ooo)d*w(ooO BAB 20.

HAWA PEMBUNUHAN DARI EMPAT PENJURU Pada saat itulah dari balik kegelapan arah yang lain tibatiba meluncur keluar sesosok bayangan manusia, melambung sejauh puluhan tombak dan...

"Blam", jatuh ke dalam rumah kayu yang tak berdinding. Seperti orang pertama, batok kepala orang ini pun terkulai lemas di atas tengkuknya. Dengan satu gulingan cepat Yang-kong melompat bangun dari atas ranjang, tangannya menggenggam tangan Siau-hong erat-erat. Jantung mereka berdua berdebar keras, mencorong sinar terang dari balik matanya. Dari balik belantara terdengar suara tertawa dingin.

"Ternyata datang juga!"

"Saudara, kalau memang sudah datang, mengapa tidak segera tampil untuk bertemu dengan kita?"

Di tengah suara tertawa dingin yang disisipi suara ujung baju tersampuk angin dan suara patahnya ranting serta dedaunan, lamat-lamat terlihat sesosok bayangan manusia berkelebat.

"Ada di sini!"

Dari kejauhan terdengar lagi seseorang membentak nyaring.

Baru bergema suara bentakan itu, kembali terlihat tiga sosok bayangan manusia melambung ke tengah udara, lalu menerkam ke arah sana.

Detak jantung Yang-kong dan Siau-hong berdebar makin cepat, tentu saja mereka dapat menebak siapa gerangan yang telah datang.

Dari balik kegelapan tampak bayangan manusia melambung berulang kali, hampir semuanya menerjang ke arah sana, di antara sampukan ujung baju dengan angin, bergema bentakan berulang kali.

"Manusia she Po, mau kabur ke mana kau?"

"Tinggalkan dulu nyawamu!"

Tak diragukan lagi, yang datang adalah Po Eng.

Dia sengaja memperlihatkan jejaknya agar para jago yang mengepung tempat itu sama-sama mengejarnya, dengan begitu muncul kesempatan baik bagi Siau-hong dan Yang-kong untuk meloloskan diri.

Sekali lagi Yang-kong menatap Siau-hong, dalam persoalan apa pun dia selalu menunggu Siau-hong yang mengambil keputusan.

Siau-hong hanya mengucapkan sepatah kata.

"Di mana ia berada, ke sana aku pergi."

Yang-kong sama sekali tidak berbicara lagi, serentak mereka berdua menggerakkan tubuh, ikut menerjang ke arah yang sama.

Sebetulnya mereka pun tahu kalau mara bahaya mengancam setiap jengkal langkah dalam hutan itu, namun mereka tak peduli.

Taburan bintang menghiasi angkasa, sayang cahaya bintang terlalu redup, tak sanggup menembus lebatnya daun dan pepohonan, banyak daun yang meski sudah mengering namun tak sempat rontok dari rantingnya.

Mereka belum juga menjumpai seseorang, suara bentakan dan teriakan di kejauhan lambat-laun sudah tak terdengar lagi.

Hutan lebat ini berada di tengah sebuah lembah yang dikelilingi sederet tanah perbukitan, kondisi tanahnya rendah dan melengkung ke bawah mirip sebuah mangkok, bukan saja udara sangat hangat, hembusan angin pun terasa hangat, itulah sebabnya walaupun saat ini telah memasuki permulaan musim dingin, dedaunan belum banyak yang rontok.

Tentu saja tetap ada dedaunan yang berguguran, seperti seseorang, terkadang disebabkan pelbagai alasan harus meninggalkan rumah, daun pun terkadang harus meninggalkan ranting dikarenakan berbagai alasan.

Siau-hong tidak mendengar langkah kaki siapa pun yang sedang berjalan di atas guguran dedaunan, begitu pula Yang-kong.

Mereka hanya mendengar semacam suara yang sangat aneh.

Mereka mendengar seseorang sedang menangis.

Setiap orang pasti pernah menangis, di saat lahir menangis, di saat mati pun akan menangis lagi, dalam tahap antara lahir dan mati kau pun akan sering menangis.

Ada sementara orang hanya menangis di saat sedih, berduka atau mengalami penderitaan, ada pula sementara orang yang menangis di saat sedang gembira, sedang meluap emosinya.

Ada orang berkata, dalam kehidupan seorang, tak mungkin dia bisa menghindari dua jenis suara, pertama adalah suara tertawa, kedua adalah suara isak tangis.

Oleh sebab itu suara isak tangis sebetulnya tak bisa terhitung sebagai sejenis suara yang aneh.

Tapi berada di tempat semacam ini, dalam suasana seperti ini, siapa pun pasti akan merasa keheranan bila mendengar ada orang sedang menangis.

Yang lebih aneh lagi, orang yang sedang menangis adalah seorang yang siapa pun tak akan menyangka kalau dia bakal menangis.

Di saat Siau-hong dan Yang-kong mendengar suara isak tangis, mereka telah melihat orang itu.

Ternyata orang ini tak lain adalah Oh-tayciangkwe.

Sewaktu menjumpai dirinya, ia sedang duduk di bawah sebatang pohon yang tinggi besar, menangis sedih bagaikan seorang bocah.

Seandainya mereka tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, siapa pun tak akan menyangka pemilik Sampo-tong yang nama besarnya menggetarkan seluruh dunia persilatan, ternyata pada tempat dan saat seperti ini bisa duduk di bawah sebatang pohon sambil menangis tersedusedu bagaikan seorang bocah.

Tapi mereka telah menyaksikannya.

Waktu itu Oh-tayciangkwe seolah tidak melihat kehadiran mereka berdua.

Isak tangisnya benar-benar menyedihkan, begitu sedih hingga tak sanggup memperhatikan orang lain, tapi sayangnya Siau-hong berdua tak bisa untuk tidak memperhatikan orang itu.

Mereka pernah bertemu dengannya, kenal dengannya, tahu siapa orang ini.

Untung mereka tidak berlagak tidak memperhatikan dia, berlagak tak pernah bertemu dengannya, mereka memutuskan untuk lewat begitu saja dari hadapannya.

Tapi sayang mereka tak sempat lewat.

Tiba-tiba Oh-tayciangkwe melompat bangun dari bawah pohon dan menghadang jalan pergi mereka, meskipun wajahnya masih basah oleh air mata, namun dia sudah tidak menangis lagi, meski matanya masih merah namun sudah memancarkan sinar kelicikan seekor rase.

Tiba-tiba ia bertanya.

"Apakah kalian manusia?"

Siau-hong menatap Yang-kong, begitu pula Yang-kong menatap Siau-hong, lalu sengaja tanyanya.

"Bagaimana dengan kau?"

"Aku manusia."

"Begitu pula dengan aku."

Oh-tayciangkwe tertawa dingin.

"Kalau kalian memang manusia, setelah melihat ada orang sedang menangis dengan sedihnya, mengapa masih berlagak tidak melihat."

Yang-kong balas tertawa dingin.

"Sekalipun kami telah melihatnya lantas kenapa? Apakah kau minta kami menemanimu, duduk sambil menangis?"

Lalu dengan penuh semangat lanjutnya.

"Kau menangis di sini sementara kami lewat di hadapanmu, apa sangkutpautnya tangisanmu dengan kami?"

"Tentu saja ada sangkut-pautnya,"

Ternyata jawaban Ohtayciangkwe tak kalah semangatnya.

"Justru karena kalian, maka aku menangis."

"Karena kami?"

Tak tahan Siau-hong bertanya.

"Mengapa kau menangis karena kami?"

Tampang Oh-tayciangkwe semakin sedih, semakin berduka.

"Sepanjang sejarah hidupku, aku hanya pernah mencintai seorang wanita,"

Katanya.

"Sudah lama sekali aku mencarinya, tatkala aku berhasil menemukan dirinya, ternyata dia sudah mati."

"Kenapa dia mati?"

"Mati gantung diri gara-gara kalian!"

Jerit Ohtayciangkwe dengan sedihnya.

"Kalianlah yang menggantung dirinya di atas pohon, menggantungnya hidup-hidup!"

Kemudian setelah melotot sekejap ke arah Siau-hong dengan benci, terusnya.

"Aku tahu kau bermarga Hong, orang menyebutmu Siau-hong yang tak takut mampus, mau menyangkal pun tak ada gunanya."

Siau-hong mulai mengerti.

"Maksudmu perempuan itu adalah Liu Hun-hun?"

Tanyanya.

"Benar."

"Jadi kau sangka akulah yang telah membunuhnya?"

"Kalau bukan kau, siapa lagi?"

Siau-hong menghela napas.

"Kalau aku mengatakan bukan diriku, kau pasti tak akan percaya."

Dia tidak melanjutkan lagi kata-katanya.

Sekarang dia sudah melihat Oh-tayciangkwe berniat mencabut nyawanya, siapa pun itu orangnya seharusnya dapat melihat pula akan hal ini.

Hong-hong-tian-ci, burung Hong pentang sayap.

Oh-tayciangkwe telah merentang tangannya menunjukkan satu gaya yang sangat aneh dan misterius, siapa pun tak tahu senjata rahasianya akan dilancarkan dengan cara apa, namun setiap orang tahu, asal senjata rahasia itu sudah dilontarkan, maka tak ada orang yang bisa tertawa lagi.

Tiba-tiba Yang-kong tertawa, bukan hanya tertawa bahkan mulai bersenandung.

Yang dia nyanyikan adalah lagu yang didengarnya dari belakang gundukan pasir di oase kering itu.

"Di Yan-pak terdapat Sam-po-tong. Terkenal dan disegani banyak orang. Dalam Sam-po-tong terdapat Sampo. Siapa bertemu, siapa tertimpa musibah, air mata jatuh berlinang. Tiada ayah, tiada ibu. Siapa bertemu dia tertimpa bencana. Air mata meleleh bagaikan butiran beras."

Daya ingat gadis ini memang sangat hebat, bukan saja setiap bait syairnya tak salah bahkan bisa dinyanyikan seperti yang dibawakan gadis kecil itu tempo hari.

Belum selesai gadis itu menyanyi, paras Oh-tayciangkwe telah berubah hebat.

"Siapa kau?"

"Aku adalah aku."

"Dari mana kau bisa tahu tentang aku?"

"Kenapa aku tak tahu? Kalau aku tak tahu siapa yang bakal tahu?"

Yang-kong tertawa manis.

"Padahal kau seharusnya tahu juga siapakah aku."

"Mana aku bisa tahu?"

"Coba kau perhatikan siapakah aku?"

Senyumannya mirip dengan senyuman gadis cilik berkepang enam-tujuh belas, hanya bedanya ia tidak membopong anjing Peking yang mungil berbulu putih.

Dengan terperanjat Oh-tayciangkwe menatapnya, kemudian selangkah demi selangkah mulai mundur.

"Kau sangka siapakah si Roh gentayangan?"

Kembali Yang-kong berkata.

"Kau benar-benar menyangka si botol adalah...."

Belum lagi gadis itu menyelesaikan perkataannya, Siauhong telah mencabut pedangnya.

Bagian akar pohon besar itu tiba-tiba muncul sebuah pintu.

Tentu saja tak bisa dianggap sebuah pintu sungguhan, lebih tepat dibilang sebuah gua, Yang-kong menyangka lubang itu pintu karena dari dalam lubang itu benar-benar muncul tubuh seseorang.

Walaupun orang ini bukan Po Eng, tapi dia adalah sahabat mereka.

"Pancapanah!"

Tak tahan Yang-kong berteriak.

"Rupanya kau!"

Bertemu dengannya, mereka pun merasa sangat gembira. Selama ini belum pernah ada yang tahu kapan dia akan muncul, tapi setiap kali kemunculannya selalu membuat orang merasa amat gembira.

"Jadi kau yang turun tangan tadi?"

"Benar, aku,"

Pancapanah menunjukkan gerakan tangan yang sederhana, memperlihatkan bagaimana cara dia mematahkan tulang tengkuk orang, meski sederhana namun sangat bermanfaat.

"Mana Po Eng?"

Kembali Yang-kong bertanya.

"Aku tidak melihatnya,"

Pancapanah menggeleng.

"Aku pun sedang mencarinya."

"Tahukah kau dia berada di mana?"

"Tidak tahu."

Pancapanah berkata dengan penuh keyakinan.

"Tapi aku tahu, dia pasti belum mati."

Alasannya.

"Karena orang-orang itu pun sedang mencarinya, hal ini membuktikan mereka pun tahu kalau dia belum mati". Setelah tersenyum tambahnya.

"Peduli siapa pun itu orangnya, bukan pekerjaan yang mudah untuk mencabut nyawa Po Eng."

Yang-kong ikut tertawa.

"Bila ada orang menginginkan nyawamu, mungkin hal ini semakin tak mudah lagi."

Dia pun menaruh keyakinan yang sama terhadap Pancapanah.

Peduli berada di mana pun, kapan pun, dia selalu dapat menemukan sebuah tempat persembunyian bagi diri sendiri.

Sebuah tempat yang tak mungkin bisa ditemukan orang lain.

Berada dalam situasi apa pun, dia selalu akan menyiapkan sebuah jalan mundur bagi diri sendiri.

"Mereka sangka kau telah melarikan diri keluar dari hutan ini, siapa sangka ternyata kau bersembunyi di bawah pohon."

Yang-kong menghela napas.

"Tak heran Po Eng sering berkata, bila kau ingin bersembunyi, tak satu manusia pun di kolong langit yang bisa menemukan dirimu,"

Katanya. Pancapanah tersenyum.

"Aku pun tahu kau masih ingin mengucapkan sesuatu."

"Mengucapkan apa?"

"Mengatakan kalau aku adalah seekor rase tua."

"Kau bukan rase tua,"

Yang-kong tertawa.

"Dua ratus ekor rase tua yang dikumpulkan menjadi satu pun belum tentu bisa menandingi dirimu."

Kalau tadi sudah tak terdengar suara manusia, kini suara itu terdengar kembali.

Orang-orang yang telah keluar dari hutan tampaknya saat ini sedang bergerak mendekat.

Tanpa terasa Pancapanah berkerut kening.

"Kalian cepat masuk dan bersembunyi,"

Serunya sambil menunjuk ke arah lubang di bawah pohon.

"Gua ini lebih dari cukup untuk menampung kalian berdua."

"Bagaimana dengan kau?"

"Kalian tak usah menguatirkan aku,"

Sahut Pancapanah.

"Aku punya cara untuk menghadapi mereka."

"Aku percaya."

"Tapi kalian baru boleh keluar setelah aku kembali nanti."

Ia sudah bersiap untuk pergi, tiba-tiba sambil membalikkan badan katanya lagi.

"Aku masih berharap kalian bisa melakukan sesuatu."

"Apa?"

"Lepaskan pakaian dan sepatu yang kalian kenakan."

Pancapanah tidak menjelaskan mengapa mereka harus berbuat begitu, Yang-kong pun tidak bertanya.

Ia telah membalikkan badan, dengan cepat melepas baju luar serta sepatunya.

Andaikata Pancapanah minta dia melepaskan semua bajunya, gadis itu pasti tak akan menolak.

Ia bukan termasuk gadis pemalu.

Dia percaya Pancapanah berbuat begitu pasti ada alasannya.

Siau-hong pun telah melepas jubah luarnya.

"Cukupkah hanya begini?"

"Cukup,"

Sahut Pancapanah.

"Hanya saja kau harus menyerahkan pedangmu itu kepadaku!"

Bagi seorang yang belajar pedang, di dunia ini hanya ada dua macam barang yang tak boleh diserahkan kepada orang lain secara sembarangan.

Pedang dan bininya.

Tapi Siau-hong tanpa ragu sedikit pun telah menyerahkan pedang miliknya itu kepada Pancapanah, karena dia seperti Yang-kong, selalu percaya kepadanya.

Pancapanah segera menepuk bahu Siau-hong, ujarnya.

"Kau percaya kepadaku, kau adalah sahabatku."

Baru sekarang dia menganggap Siau-hong sebagai sahabatnya.

"Aku tak akan membuat kau kecewa."

Ternyata gua di bawah pohon itu benar-benar cukup untuk memuat dua orang, hanya saja bila kedua orang itu tetap ingin menjaga jarak, tubuh mereka tidak saling bersentuhan, jelas hal semacam ini susah sekali.

Sedapat mungkin Siau-hong menarik badan sendiri ke belakang.

Sekalipun mereka masih berpakaian, namun pakaian yang mereka kenakan sudah teramat tipis.

Seorang gadis muda macam Yang-kong, hanya mengenakan satu stel pakaian yang begitu tipis, sementara jarak mereka berdua begitu dekat, keadaan mereka saat ini mirip "kuning telur ganda"

Dalam satu butir telur.

Asal seorang masih memiliki daya pikir, dia seharusnya dapat membayangkan bagaimana keadaan mereka berdua sekarang.

Siau-hong hanya bisa sekuat tenaga menarik mundur tubuhnya, sayang sekali tempat baginya untuk mundur sudah tidak terlalu banyak.

Biarpun gua itu basah dan gelap, dengus napas Yangkong justru harum bagaikan angin di musim semi.

Bagi seorang lelaki yang masih muda dan berdarah panas, situasi semacam ini benar-benar menyiksa hati.

Tiba-tiba Yang-kong tertawa.

Sambil menatap Yang-kong, Siau-hong bertanya.

"Apa yang kau tertawakan?"

"Aku senang tertawa, sering tertawa, tapi rasanya di masa sebelum ini, kau belum pernah bertanya kepadaku apa yang sedang ditertawakan."

"Dulu adalah dulu."

"Sekarang mengapa harus bertanya?"

"Karena... karena aku ingin memperingatkan sesuatu kepadamu."

"Soal apa?"

"Aku adalah seorang lelaki normal,"

Mimik muka Siauhong amat serius.

"Aku tahu kau adalah seorang lelaki!"

"Lelaki yang ada di dunia ini hampir semua sama."

"Aku tahu."

"Oleh karena itu bila kau tersenyum lagi, aku bakal..."

"Kau bakal kenapa?"

Yang-kong sengaja bertanya.

"Mau pukul pantatku?"

Siau-hong menatapnya lama sekali, tiba-tiba dia tertawa.

Mereka berdua sama-sama tertawa.

Sesuatu hal yang semula sudah tak kuasa ditahan, tibatiba semuanya jadi buyar di tengah senyuman mereka.

Tatkala Pancapanah balik lagi ke sana, malam gelap yang panjang telah berlalu, hutan belukar yang lebat pulih kembali dalam kecerahan dan ketenangan seperti semula.

Paras Yang-kong dan Siau-hong pun telah cerah kembali, karena mereka tidak bersalah kepada orang lain, tidak pula pada diri sendiri.

Pancapanah menatap sekejap mereka berdua, tiba-tiba ia menepuk lagi bahu Siau-hong kuat-kuat.

"Ternyata kau memang sahabat karib Po Eng,"

Katanya.

"Ternyata Po Eng tidak salah melihatmu"

Tiba-tiba ia tertawa, senyumannya tampak amat misterius, ucapannya pun sangat aneh. Tiba-tiba ujarnya kepada Siau-hong.

"Tapi sayang kau sudah mati."

"Aku sudah mati?"

Tak tahan Siau-hong bertanya.

"Kapan aku matinya?"

"Tadi!"

"Bagaimana matinya?"

"Jatuh dari atas tebing tinggi dan mati terbanting di dasar jurang,"

Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya.

"Meski batok kepalamu sudah hancur-lebur bagaikan semangka yang terjatuh, namun orang lain pasti masih dapat mengenalinya."

"Kenapa?"

"Karena tubuhmu masih mengenakan pakaian yang pernah mereka saksikan, dalam genggamanmu pun masih terdapat pedangmu."

Lalu tambahnya.

"Bila kau belum mati, tentu saja pedang sebagus ini tak bakal kau serahkan kepada orang lain."

Akhirnya Siau-hong memahami maksudnya, dia telah mencari orang sebagai pengganti dirinya, tewas mengenaskan di dasar jurang.

"Bagaimana dengan aku?"

Tanya Yang-kong.

"Tentu saja kau pun sudah mati,"

Jelas Pancapanah.

"Kalian berdua telah mati."

"Mengapa kami harus mati?"

"Mungkin kalian mati demi Po Eng, mungkin juga kalian terpeleset dan jatuh ke dasar jurang,"

Kata Pancapanah.

"Setiap orang mempunyai banyak alasan untuk mati."

Setelah tersenyum, terusnya.

"Siapa tahu ada orang menduga cinta gelap kalian ketahuan Po Eng sehingga terpaksa mati bunuh diri bersama."

Yang-kong tertawa geli, begitu juga Siau-hong.

Hati kecil mereka tak ada ganjalan, di antara mereka pun tak terjalin cinta terlarang, karena itulah mereka masih dapat tertawa.

Bila seseorang setiap saat dapat tertawa, jelas hal ini bukan sesuatu yang mudah.

Kembali Pancapanah bertanya kepada Siau-hong.

"Tahukah kau mengapa aku harus membuat kalian mati?"

Siau-hong menggeleng.

Sesungguhnya dia memang bukan termasuk orang yang gemar banyak bicara, apalagi belakangan dia lebih sering termenung dan membungkam.

Bila dia tahu orang lain dapat menjawab pertanyaan yang sama, ia lebih suka memilih tutup mulut.

Tentu saja Pancapanah menjawab sendiri pertanyaannya itu.

"Karena aku ingin kalian melakukan satu pekerjaan."

Kemudian ia menjelaskan lagi.

"Suatu tugas yang tak boleh diketahui siapa pun, tak boleh orang tahu apa yang sedang kalian laksanakan, hanya orang mati baru tak akan diperhatikan orang lain."

Yang dimaksud 'orang lain' tentu saja musuh mereka.

"Tugas apakah itu?"

Kembali Yang-kong bertanya.

"Tugas apa yang kau ingin kami lakukan?"

"Pergi mencari Po Eng."

Sekalipun tidak disuruh, mereka tetap akan melaksanakan tugas ini.

"Aku tahu kalian pasti ingin membalas dendam, kemungkinan sekarang juga akan pergi mencari Wi Thianbong, pergi menyatroni Lu-sam,"

Kata Pancapanah. Mereka memang mempunyai pikiran begitu.

"Tapi sekarang kita harus bersabar, harus dapat menahan diri,"

Pancapanah menerangkan.

"Peduli apa pun yang ingin kita lakukan, semuanya baru bisa dilakukan setelah Po Eng berhasil ditemukan."

Jagat raya begitu luas, mencari seorang di kolong langit sama susahnya dengan mencari sebatang jarum di dasar samudra.

"Aku pun tahu tugas ini tidak mudah, namun selama kita percaya diri, sesusah apa pun pada akhirnya pasti dapat terlaksana juga."

Tiba-tiba ia membalikkan badan.

"Kalian ikutlah diriku."

Dia mengajak mereka mereka menemukan sebuah pohon yang tak diketahui namanya, dari balik laras sepatunya ia mencabut sebilah pisau, dengan pisau itu dia gurat kulit pohon.

Tak lama kemudian dari balik kulit pohon itu meleleh sejenis cairan berwarna putih susu.

Pancapanah minta Siau-hong dan Yang-kong menadah cairan itu dengan kedua belah tangannya, kemudian perlahan menggosokkan cairan tadi ke wajah dan kulit tangan sendiri.

Kulit wajah mereka segera terasa gatal sekali, lalu terjadilah perubahan yang sangat aneh.

Tiba-tiba saja kulit muka mereka berubah jadi hitam bahkan berkeriput, dalam waktu singkat penampilan mereka seolah sudah bertambah tua sepuluh tahun.

Kembali Pancapanah berkata kepada Siau-hong.

"Suku kami memberi sebuah nama yang istimewa untuk pohon ini."

"Apa namanya?"

"Kong-im!"

"Kong-im (Cahaya gelap)?"

"Suku kami menyebut pohon ini sebagai pohon cahaya kegelapan,"

Kata Pancapanah.

"Khasiatnya paling tidak bisa bertahan selama satu tahun, dalam setahun mendatang wajah kalian akan tetap terpelihara seperti ini, aku rasa tak akan ada orang yang bisa mengenali wajah asli kalian lagi."

Dia mengatakan "Aku rasa"

Dan bukan "pasti tak akan".

"Oleh karena itu kalian tetap harus waspada, aku akan membantu kalian mencarikan perlindungan lain."

"Perlindungan apa?"

Tanya Yang-kong.

"Mulai sekarang kau sudah bukan Yang-kong si Cahaya matahari biru dan kau pun sudah bukan Siau-hong yang tak takut mati."

"Aku tahu,"

Jawab Yang-kong.

"sekarang kami berdua sudah mati."

"Oleh karena itu sekarang kalian sudah menjadi dua orang yang lain,"

Kata Pancapanah.

"Kalian adalah sepasang suami-istri, pasangan suami-istri yang sangat miskin, harus banting tulang peras keringat untuk mempertahankan hidup."

Di dunia ini memang banyak terdapat pasangan suami istri semacam ini, demi mempertahankan hidup, mau tak mau mereka harus banting tulang bekerja keras dari pagi hingga malam.

"Kalian adalah pedagang, khusus mengangkut hasil bumi Tibet dan menjualnya ke Tionggoan, serta mencari sedikit keuntungan."

Kemudian terusnya.

"Oleh karena kalian tak punya keturunan, di rumah pun tak ada orang lain, dan dikarenakan hubungan kalian sebagai suami-istri rukun, maka ke mana pun pergi, kalian selalu pergi bersamasama."

Siau-hong dan Yang-kong mendengarkan dengan seksama. Kembali Pancapanah berkata.

"Tentu saja kalian tak mampu menyewa Piausu untuk mengantar. Demi keselamatan sepanjang jalan, terpaksa kalian pun bergabung dengan rombongan saudagar."

"Rombongan saudagar?"

Siau-hong tak habis mengerti.

"Rombongan saudagar terdiri dari pedagang kecil macam kalian yang bergabung jadi satu rombongan besar,"

Pancapanah menerangkan.

"Nyaris hampir setiap bulan pasti ada rombongan besar semacam ini yang berangkat memasuki perbatasan."

Setelah berhenti sejenak, terusnya.

"Aku telah menyiapkan sebuah rombongan untuk kalian."

Cara kerja Pancapanah memang sangat teliti dan cermat, mau tak mau orang harus mengaguminya.

"Rombongan saudagar ini tidak terlalu besar, kurang lebih terdiri dari tiga-empat puluhan orang,"

Katanya.

"Pemimpin rombongan bernama Hoapula, sangat berpengalaman, cekatan dan sangat menguasai medan, konon sewaktu muda dulu dia adalah anggota pasukan perang dan pernah ikut penyerangan hingga ke negeri Turki!"

"Ke mana kita harus pergi menemukan dirinya?"

"Hau-ko-ki,"

Sahut Pancapanah.

"Mereka telah menetapkan tempat berkumpul di Hau-ko-ki"

Kemudian dia menambahkan.

"Setelah sampai di sana, pertama-tama kalian cari dulu seorang yang bernama si Kantong tembakau, beritahu nama kalian kepadanya, lalu bayar ongkos jalan sebesar dua puluh lima tahil perak, sertamerta dia akan mengajak kalian menjumpai Hoapula."

Sekarang tersisa pertanyaan yang terakhir.

"Aku menggunakan nama apa?' tanya Yang-kong.

"Kau adalah orang Tibet, bernama Maya."

Kemudian sambil memandang Siau-hong, terusnya.

"Suamimu adalah bangsa Han, jadi dia bernama Biau Jong."

Kemudian sambil meletakkan sepasang tangannya di bahu mereka berdua, terusnya.

"Aku berharap dalam setahun kalian sudah dapat menemukan Po Eng."

Dalam anggapan Siau-hong dan Yang-kong, orang yang bernama Hoapula tentunya seorang yang berperawakan tinggi besar, berwajah kereng, dan serius.

Ternyata dugaan mereka salah besar.

Hoapula adalah seorang pendek, sebetulnya tidak terhitung kelewat pendek, tapi oleh karena sepanjang tahun hidupnya berada di atas pelana, hal ini membuat sepasang kakinya berubah bentuk jadi melengkung hingga kelihatan bagaikan lingkaran bulat, apalagi sewaktu berjalan, gayanya lucu sekali.

Oleh karena itu dia selalu duduk di atas sebuah bangku yang amat tinggi, sewaktu memandang orang dengan sepasang mata julingnya, dari sorot matanya selalu tampil kesadisan dan kesan mengejek yang sinis, persis seorang bocah nakal yang sedang menonton kucing yang telah diikatnya, seperti juga seekor kucing sedang mempermainkan tikus hasil tangkapannya.

Untung dia memiliki sepasang tangan yang besar.

Tangannya itu lebar, lebar, kasar dan keras, ketika diletakkan di atas meja, bentuknya seperti dua bilah kapak yang dalam sekali bacokan dapat membelah meja itu jadi dua bagian.

Mungkin lantaran sepasang tangannya itulah membuat orang lain mau tak mau menaruh perasaan segan, jeri dan hormat.

Kelebihannya yang lain adalah dia jarang bicara, selalu si Kantong tembakau yang mewakilinya berbicara.

Tatkala Siau-hong dan Yang-kong berjumpa Hoapula, waktu itu sudah ada sepasang suami-istri yang lain menunggu dalam ruang tamu.

Sepasang suami istri seperti Siau-hong berdua, demi melanjutkan hidup, terpaksa siang malam mereka harus banting tulang dan berjuang.

Usia kedua orang itu termasuk cukup banyak, sang suami paling tidak berusia tiga-empat puluh tahunan, sedang istrinya berusia dua puluh tujuh-delapan tahunan, wajah sang suami banyak dihiasi guratan dan kerutan karena penderitaan, sementara bininya selalu menundukkan kepala, malu bertemu orang.

Ketika sang suami menyerahkan ongkos sebesar dua puluh lima tahil perak, sang istri saking tegang jari tangannya pun ikut gemetar, sebab sepanjang hidupnya belum pernah mereka menyerahkan uang sebesar itu.

Dalam pandangan mereka, nilai uang sebesar dua puluh lima tahil mungkin jauh lebih berharga daripada emas murni sebanyak tiga puluh laksa tahil milik Lu-sam.

Baru pada hari kedua Siau-hong mengetahui nama mereka, ternyata sang suami bernama Tio Kun, sedang istrinya dari marga Oh, mereka memanggilnya Tio Oh-si.

Bagi seorang wanita yang sudah menikah, biasanya nama asli mereka akan terhapus dengan sendirinya.

Ooo)d*w(ooO BAB 21.

BERTEMU TANGAN EMAS LAGI Siau-hong sama sekali tidak menyangka, sepasang suami-istri yang amat sederhana ini justru akan menjadi orang yang paling mempengaruhi perjalanan hidupnya serta Yang-kong, bahkan boleh dikata telah merubah seluruh perjalanan hidup mereka.

Tampak Hoapula sudah mulai kehabisan sabar.

Baginya, mau duduk di tempat seperti apa pun, duduk di atas pelana kuda jauh terasa lebih nyaman.

Namun ketika si Kantung tembakau selesai mewakilinya mengajukan beberapa pertanyaan sederhana kepada Siauhong dan Yang-kong, kemudian minta mereka balik ke kamar, Hoapula justru berseru.

"Tunggu sebentar!"

Tiba-tiba tanyanya kepada Siau-hong.

"Pernah berlatih silat?"

"Tidak,"

Jawab Siau-hong segera.

"Biarpun pernah berlatih selama beberapa hari, ilmu silat kucing kaki tiga semacam itu tidak terhitung ilmu silat."

"Apakah kau menggembol senjata?"

Kembali Hoapula bertanya.

"Tidak."

"Sebilah pisau pun tidak?"

"Sama sekali tidak."

Sekali lagi Hoapula menatap Siau-hong, tiba-tiba dari balik matanya terpancar senyuman hangat yang aneh, mendadak dari sakunya dia meloloskan sebilah pisau belati.

"Lebih baik gembollah senjata ini dalam sakumu,"

Ia serahkan pisau belati itu ke tangan Siau-hong.

"Usia binimu tidak terhitung kelewat tua, padahal rombongan kita ini terdiri dari berbagai lapisan, jadi sepanjang jalan kau harus lebih berhati-hati!"

"Orang itu pasti bukan orang baik,"

Begitu kembali ke kamar Yang-kong segera berbisik kepada Siau-hong.

"Pasti bukan orang baik."

Siau-hong sendiri mau tak mau harus mengakui, sewaktu tertawa Hoapula memang menunjukkan gejala kurang beres.

Untung saja Yang-kong yang sekarang sudah bukan Yang-kong bersinar biru, malah istri Tio Kun tampak jauh lebih menarik ketimbang dirinya.

Sepasang suami-istri itu tinggal di kamar sebelah.

Mereka berdiam di sebuah losmen yang kecil dan murah, dalam kamar selain terdapat sebuah tempat tidur terbuat dari bata serta sejumlah kutu busuk, benda apa pun nyaris tak ada.

Dua puluh lima tahil perak termasuk juga tempat penginapan dan makan, tentu saja mereka tak bisa menuntut kelewat banyak.

Apalagi tempat tidur tanah masih terhitung cukup hangat, berada dalam keadaan seperti ini, bisa mendapat tempat tidur yang hangat sudah terhitung lumayan.

Mereka hanya berharap secepatnya dapat tertidur.

Mereka tak sempat tidur.

Baru saja kedua orang itu akan terlelap, tiba-tiba dari kamar sebelah terdengar suara aneh.

Pada mulanya mereka masih belum dapat membedakan suara apakah itu.

Tapi suara itu makin lama semakin keras, bahkan berlangsung cukup lama, di antara dua kamar itu pun terpisah oleh selapis dinding tipis.

Seandainya mereka masih kanak-kanak, mungkin masih belum dapat mengenali suara apakah itu.

Sayang mereka sudah bukan kanak-kanak lagi.

Tiba-tiba Siau-hong merasakan sekujur badannya jadi panas.

Dia sama sekali tidak menyangka, perempuan yang begitu tahu aturan, begitu malu sewaktu melakukan pekerjaan begituan dengan suaminya, ternyata bisa mengeluarkan suara teriakan semacam ini.

Mungkin saja hal ini disebabkan penghidupan mereka di hari-hari biasa kelewat sederhana sehingga sewaktu tiba-tiba berganti suasana, ketika tiba di tempat yang asing, tindaktanduk mereka jadi sedikit kelewat batas.

Setiap orang pasti akan mengalami saat di mana dirinya tak sanggup mengendalikan diri, tapi ada sementara orang sekalipun berada dalam keadaan demikian, mereka tetap berusaha mengendalikan diri.

Siau-hong memejamkan mata, tubuhnya dari atas hingga ke bawah tak berani bergerak.

Dia berharap Yang-kong mengira dia sudah tertidur.

Yang-kong pun tidak bergerak, apakah dia pun berharap Siau-hong menyangka dia telah tertidur?

Fajar telah menyingsing, sinar matahari menyinari seluruh jagat.

Jauh sebelum terang tanah, Siau-hong sudah terbangun dari tidurnya, dia telah menggunakan segentong air dingin yang mulai membeku untuk mencuci muka dan membersihkan badan, kemudian dengan mengitari rumah penginapan itu berlari keliling sebanyak enam-tujuh belas lingkaran.

Ketika balik ke dalam kamar, Yang-kong telah selesai bebenah.

Dia menatap Yang-kong sambil tertawa, Yangkong pun menatapnya sambil tertawa, siapa pun tak tahu apakah semalam pihak lawan tertidur dengan nyenyak atau tidak.

Peduli malam itu mereka tertidur atau tersiksa, yang penting malam itu dapat mereka lewatkan dengan aman.

Sepasang suami-istri itu pulih kembali dengan gayanya yang jujur, polos dan tahu aturan, istrinya yang pemalu tetap menundukkan kepala, takut melihat orang.

Siau-hong serta Yang-kong tak berani memandang mereka, kuatir bila memandang kedua orang itu dan terbayang suara aneh yang mereka dengar semalam, bisa jadi mereka akan tertawa tergelak.

Apa mau dikata ternyata mereka berempat ditempatkan pada satu kereta keledai yang sama, kereta itu kecil dan sempit, mereka berempat boleh dibilang hidung berhadapan hidung, mata berhadapan mata, tak ingin melihat pun tak mungkin.

Ketika makan siang tengah hari itu, ternyata sepasang suami istri itu sempat membagikan sedikit rangsum mereka untuk Siau-hong dan Yang-kong, selain daging masak cabe, ternyata ada juga bubur bawang, masakan kegemaran orang Tibet.

Hidangan itu dibuat dari bawang liar yang tumbuh khusus di atas bukit Cu-mu-lang-ma, daunnya lebar dan bawangnya berwarna merah, bagi orang Tibet tumbuhan itu pada hakikatnya merupakan benda mustika, tak mungkin benda semacam itu dihidangkan untuk tamunya.

Tampaknya sepasang suami-istri ini khusus meminta maaf kepada mereka berdua karena tahu Siau-hong dan Yang-kong tak nyenyak tidurnya semalam.

Siau-hong hanya berharap sewaktu menginap malam nanti, mereka dapat tidur dengan nyenyak.

Sayang lagi-lagi Siau-hong kecewa berat.

Malam itu dia dan Yang-kong lagi-lagi diberi kamar bersebelahan dengan suami-istri itu, akibatnya mereka bertambah menderita.

Tampaknya kekuatan tubuh suami-istri itu jauh lebih kuat dan segar daripada penampilan mereka.

Seandainya Siau-hong dan Yang-kong adalah sepasang suami-istri, persoalan ini lebih gampang untuk diselesaikan.

Sayangnya mereka bukan suami-istri sungguhan.

Mimpi pun mereka tak menyangka kalau persoalan ini merupakan masalah yang paling memusingkan sepanjang perjalanan, terlebih tak disangka adalah perempuan yang begitu polos, jujur, dan malu, begitu malam tiba ternyata berubah jadi makhluk yang mematikan.

Ketika tiba pada malam ketiga, tiba-tiba Siau-hong mengeluarkan tiga biji dadu dan berkata kepada Yang-kong.

"Mari kita lempar dadu."

"Lempar dadu?"

Tanya Yang-kong.

"Apa yang hendak kau pertaruhkan?"

"Siapa yang kalah, malam ini dia harus tidur dalam kereta di luar sana."

Tentu saja yang kalah adalah Siau-hong, dalam dadu itu dia telah melakukan kecurangan, karena dia lebih rela tidur dalam kereta.

Dan dia pun tertidur nyenyak.

Tapi sayang Yang-kong tetap tak dapat tidur.

Walaupun suara dari kamar sebelah untuk sementara menjadi tenang, ia justru terbayang banyak urusan, banyak urusan yang seharusnya tidak terbayangkan olehnya.

Pada saat itulah ia mendengar ada orang mendorong pintu.

Jantungnya kontan berdebar keras.

Apakah Siau-hong telah kembali?

Ternyata bukan.

Yang datang ternyata orang lain, ia tidak melihat jelas paras orang itu, tapi cukup melihat kakinya yang pendek, segera diketahui siapa yang telah datang.

Sambil melompat bangun teriak Yang-kong.

"Mau apa kau datang kemari?"

"Menemanimu,"

Hoapula menatap tajam gadis itu dan mulai mengulum senyuman cabul.

"Aku tahu lakimu tak becus, jadi aku khusus datang untuk menemanimu."

Yang-kong menarik kencang selimutnya.

"Aku tak mau kau temani,"

Gadis itu benar-benar tegang.

"Kalau kau tidak segera pergi, aku akan berteriak."

"Berteriak? Memanggil siapa? Suamimu?"

Hoapula tertawa menyengir.

"Sekalipun dia diundang kemari pun, apa gunanya?"

Dia menggunakan sepasang tangannya yang kuat bagai baja untuk mengambil sebuah cawan teh, begitu diremas, cawan itu seketika hancur berkeping-keping.

"Memangnya suamimu memiliki kungfu seperti apa yang kumiliki?"

Tanya Hoapula sambil tertawa cabul.

Yang-kong hanya bisa menggeleng.

Sekarang mereka tak lebih hanya sepasang suami-istri yang sederhana, tentu saja mereka tak memiliki kungfu sehebat itu.

Dia tak boleh membocorkan identitas.

Tapi selangkah demi selangkah Hoapula telah berjalan mendekat, dalam waktu singkat telah tiba di ujung pembaringan.

"Kalau kau berani teriak, aku akan segera menyumpal mulutmu. Bila suamimu berani kemari, aku akan menghajarnya hingga mampus."

Tampaknya dia sudah bertekad tak akan melepaskan gadis ini.

Sekarang dia sudah bukan sinar matahari berwarna biru, sekarang dia tak lebih hanya seorang wanita yang hitam dan jelek.

Aneh, mengapa Hoapula justru kesemsem padanya?

Yang-kong merasa cemas, jengkel bercampur keheranan.

Saat itulah Hoapula telah menerkam ke depan, sepasang tangannya yang besar sudah siap melucuti pakaian yang dikenakan gadis itu.

Tapi ia gagal menangkap gadis itu, yang ditangkap hanya sebuah buntalan kain.

Rupanya Yang-kong telah berkelit ke sudut ranjang, lalu tangannya menyambar buntalan itu dan menimpuknya kuat-kuat.

Pakaiannya gagal dirobek, tapi buntalan itu segera tersambar hingga robek, semacam benda tiba-tiba keluar dari buntalan dan terjatuh ke lantai.

Tiba-tiba Hoapula menunjukkan mimik muka ketakutan, rasa takut, ngeri yang luar biasa, tanpa mengucapkan sepatah kata pun dia kabur meninggalkan ruangan.

Tindak-tanduknya begitu gugup, seakan-akan baru saja bertemu setan iblis, tanpa berpaling dia melarikan diri terbirit-birit.

Yang-kong merasakan jantungnya masih berdebar keras, tangan dan kakinya masih terasa dingin.

Mengapa secara tiba-tiba Hoapula melarikan diri?

Apa yang telah dilihatnya?

Ia benar-benar tak habis mengerti.

Barang itu terjatuh dari dalam buntalan, padahal pagi ini dia sendiri yang membungkus buntalan itu, di sana tak mungkin terdapat benda yang bisa membuat orang begitu ketakutan hingga melarikan diri.

Kembali pintu didorong orang, kali ini yang masuk bukan orang lain, melainkan Siau-hong.

Dia pun tak bisa tidur terlalu nyenyak, siapa pun tak mungkin dapat tidur nyenyak di dalam kereta yang dingin, keras dan sumpek.

Apalagi selama ini dia mempunyai pendengaran yang sangat tajam.

Melihat kemunculan Siau-hong, Yang-kong menghembuskan napas lega.

"Coba kau lihat, apakah di bawah ranjang terdapat sesuatu benda?"

Tanyanya kepada Siau-hong. Siau-hong cukup memandang sekejap, parasnya seketika berubah hebat. Yang-kong semakin gelisah, semakin keheranan.

"Apa yang telah kau lihat?"

Perlahan-lahan Siau-hong membungkukkan badan, dari bawah ranjang memungut sesuatu benda.

Ternyata yang diambil adalah sebuah tangan.

Tangan emas!!

"Bukankah pagi tadi kau sendiri yang membungkus buntalan ini?"

Tanya Siau-hong kemudian.

"Benar."

"Apakah saat itu sudah ada Tangan emas dalam buntalanmu?"

"Tidak, sama sekali tak ada,"

Jawaban Yang-kong amat tegas.

"Apakah barusan kau menyaksikan sendiri benda itu terjatuh dari dalam buntalan?"

"Aku melihat dengan sangat jelas."

"Lantas mengapa Tangan emas itu bisa muncul di dalam buntalanmu?"

"Aku sendiri pun tak tahu."

Dia benar-benar tidak tahu.

Tangan emas merupakan benda kepercayaan Hok-kuisin-sian Lu-sam untuk memberi komando kepada para jago, sebetulnya mustahil dapat ditemukan dalam buntalannya.

Tapi sekarang peristiwa yang tak mungkin justru telah terjadi.

Malam yang panjang belum juga lewat, tapi suasana di kamar sebelah telah lama menjadi tenang kembali.

Tiba-tiba Siau-hong bertanya lagi.

"Hari ini siapa yang telah menyentuh buntalan itu?"

"Tidak ada,"

Nada bicara Yang-kong sudah tidak seyakin tadi.

"Rasanya tidak ada."

"Rasanya tidak ada atau sama sekali tak ada?"

Yang-kong mulai sangsi, pertanyaan ini sulit baginya untuk memberikan jawaban yang pasti, tapi seingatnya buntalan itu selalu berada dalam genggamannya, belum pernah lepas dari pandangan matanya.

Yang benar "nyaris", bukan "sama sekali"

Kembali Siau-hong bertanya.

"Mungkinkah ada orang yang bisa mencari kesempatan untuk menyusupkan Tangan emas itu ke dalam buntalanmu?"

Kalau ingin mencuri buntalan itu dari sisi tubuhnya, jelas hal ini mustahil bisa terjadi, tapi untuk memasukkan benda ke dalam buntalan, jelas ini persoalan lain. Yang-kong segera menjawab.

"Ada!"

Berkilat sepasang matanya.

"Hanya ada seseorang."

"Siapa?"

Sambil menuding kamar sebelah, sahut Yang-kong.

"Perempuan yang setiap malam ribut terus dan membuat kita tak bisa tidur nyenyak."

Siau-hong tidak bicara lagi.

Padahal sejak awal dia telah menduga ke situ.

Mereka duduk dalam satu kereta dan sekarang boleh dibilang sudah menjadi sahabat.

Ketika berada dalam kereta, Tio Oh-si selalu duduk di samping Yang-kong, sedang Yang-kong pun selalu tak tahan untuk tertidur, jika Tio Oh-si menggunakan kesempatan itu untuk memasukkan sesuatu benda ke dalam buntalannya, jelas hal ini bukanlah sesuatu yang susah.

"Mungkin Pancapanah sama sekali tak berhasil membohongi Lu-sam, mungkin saja sepak terjang kita sudah ketahuan,"

Kata Yang-kong.

"Oleh sebab itu, sejak awal dia sudah mengutus orang untuk menguntit kita."

"Kau sangka sepasang suami-istri itu adalah orang yang dikirim Lu-sam?"

Yang-kong menggigit bibirnya.

"Sejak awal aku telah menaruh curiga terhadap mereka, seorang wanita saleh yang polos dan jujur, sudah jelas dia tahu kamar sebelah ada orang, kenapa tiap malam selalu berteriak macam setan menangis?"

Rasanya sepasang pipinya agak memerah, terusnya.

"Mungkin dia memang sengaja mengacau agar kita tak dapat tidur nyenyak, agar siang hari kita tak punya semangat, karenanya dia baru mendapat kesempatan untuk turun tangan."

Baca Juga: Ular Belang Putih 2

Baca Juga: Medali Wasiat 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert