Eps 2 Ular Belang Putih - Kauw Tan Seng
Baca online Ular Belang Putih - Kauw Tan Seng
Cersil Ular Belang Putih - Kauw Tan Seng.
la tahu, bahwa apa yang disebut ahli musik adalah dimaksudkan Bee Su Bun, dan yang disebut Siu Tin si ular belang putih tidak lain daripada Li Siu Tin, sedang pemimpin itu tidak lain tidak bukan mestinya Ong San Niauw.
Maka A Siang si mata terkulai itu sudah terang sebagai murid Ong San Niauw dan orang yang pertama ditugaskan untuk menculik Bee Su Bun.
"Apatah kau tidak dapat memintanya?"
Tanya A Hok.
"Jika aku memintanya seperti juga aku tiada hubungan guru dan murid, cepat atau lambat toh dia akan memberikan kepada kita,"
Kata A Siang.
"Pemimpinmu tidak bagus, kaisarpun tidak menyuruh serdadunya lapar. kata hal yang benar, pekerjaan ini kecuali aku, tiada orang lain yang berani melakukannya, pisau harus ditusukkan dibagian paha yang tidak pen ting, tidak boleh merusak hubungan otot, jika salah tusuk dan merusak hubungan otot sehingga jadi pincang, bukan saya tidak mendapat upah, sebaliknya harus aku bertang-gung jawab Apakah ini pekerjaan yang mudah?"
Kata Hok yang belum hilang marahnya.
"Ini memang kepandaianmu yang mengagumkan, sekaii menusuk mengenai bagian yang tepat, tidak merusak hubungan otot. Hanya sayang dia sekarang sudah jadi gila, kalau tidak, Siu Tin si ular belang putih tentu ber-terima kasih kepadamu !"
"Dari siapa kau ketahui?"
"Siang tadi kubersua dengan pengawal si ular belang putih. Dia memberitakan padaku, bahwa si ahli musik itu mendadak jadi gila. Siu Tin tidak mencintainya lagi. malah merasa jadi beban, dikewatirkan malam ini dia hendak"
Kata2 A Siang itu sampai disini lalu suara menjadi pelahan sekaii sehingga kata2 selanjutnya jadi kabur.
Sekalipun In Hong dan Ouw Ga tidak dapat mendengar Iterang kata2 penutupnya itu, tetapi setelah dianalisanya, a] mereka menafsirkan, bahwa malam ini Li Siu Tin hendak jH mencelakakan Bee Su Bun.
pi "In Hong, lekaslah kita tangkap kedua orang ini dan al mengkompesnya, kita akan segera mengetahui dimana ,di rumah kediaman Li Siu Tin.
Kita harus segera pergi tii kerumah Li Siu Tin menolong Bee Su Bun, serentak menangkap kedua terdakwa utama ini untuk menolong jiwanya Dji Dji Kouw,"
Kata Ouw Ga yang berangasan itu dengan berbisik.
"Tidak usah ter-gesa2, kita dengarkan pembicaraan fi mereka selanjutnya, mungkin masih ada berita yang lebih V penting lagi,"
Kata In Hong dengan tenangnya.
"Kau selalu dingin bagaikan es saya Kita mungkin terlambat menolong nasib Bee Su Bun dan Dji Dji Kouw."
Kata Ouw Ga yang hatinya membakar seperti api.
Belum lagi In Hong menyatakan setuju atau tidak, si berangasan ini sudah lompat melewati meya masuk keruang dalam, tangan kirinya mencekuk leher A Hok, sedang tangan kanannya mencekuk pula leher A Siang.
Kedua orang itu terperanyat karena serangan yang mendadak ini, mereka hendak meronta, tetapi Ouw Ga mencengkamnya erat2 sehingga mereka tak berdaya.
"Eh Kami tidak mengenalmu, mengapa kau menangkap kami?"
A Hok si kaki panyang ini agak cerdik, ia mengetahui bahwa wanita ini mengandung maksud yang tidak baik, ia pun merasa bahwa wanita ini pandai ilmu silat, bukanlah tandingannya jika dilawan, maka dengan kata2 yang lunak ia memprotesnya.
"Kalian melakukan perbuatan yang bagus, aku justru sedang mencarimu !"
Kata Ouw Ga.
"Semua dapat dibereskan, jika kami berbuat salah pada twaso, kami minta maaf kepadamu, maka lepaskanlah dahulu!"
Kata A Hok hampir2 memohonnya.
Kawanan penyudi itu nampak orang sebangsanya diip tangkap oleh wanita asing, dan nampak pula A Hok minta2 ampun, mereka menganggapnya hilang kewibawaan dan keangkeran mereka.
Hal mana tidak dapat diterima oleh mereka yang suka berkelahi itu.
Maka mereka segera menghentikan judinya dan mengurung Ouw Ga..MASUK KETEMPAT BERBAHAYA.
"Twaso ini mengapa berlaku kuirang ajar seperti ini diwarungku ini? Perselisihan sebesar langitpun dengan sepatah kataku A Liok si bopeng dengan mudah dapat dibereskan. Lepaskan cekalanmu dan segera enyah dari sini!"
Kata salah seorang yang bukan lain daripada si-pemilik waning teh.
Pemilik warung teh ini disebut orang A Liok si bopeng.
Dia asalnya seorang kepala dari orang2 gelandangan didaerah ini, sikapnya garang dan congkak.
"Kaulah yang menggelinding dari warung teh ini, jangan campur urusan nenek-moyangmu !"
Kata Ouw Ga yang tidak kalah galaknya karena melihat orang berlaku kurang ajar terhadapnya.
"Hm, kau mempunyai berapa tangan dan kepala sehingga berani bertingkah disini? Apakah kau tidak mencari tahu lebih dulu siapa A Liok si bopeng ini, yang tak dapat diperhina orang? Kau harus tahu diri sedikit, dan enyahlah dari sini! jika kau masih membandel, aku tanggung kau masuk secara membujur dan keluar secara melintang !"
Kata A Liok.
Orang2 gelandangan lainnyapun tangannya pada merasa gatal, mereka membusung2kan dada siap untuk berkelahi.
Ouw Ga menduganya teniunya A Liok seorang kepala kaum gelandangan, maka berkata sambil tertawa meng-hina .
"Aku hanya mempunyai sepasang kepala, aku dapat membuat A Liok si bopeng jadi A Liok si muka gepeng, apakah kau mau mencobanya?"
Ketiada sabaran serta sifatnya yang menumti adanya itu membuat ia melupakan tugasnya yang tidak boleh ber-lambat2, tangannya gatal hendak berkelahi dengan orang2 gelandangan ini.
Mendengar akan kata2 Ouw Ga itu, A Liok berjing-krak karena gusarnya, ia mengangkat kepalanya meng-hantam kearah muka Ouw Ga.
Ouw Ga memiringkan sedikit tubuhnya, maka tinyunya A Liok mengenai tepat kekepalanya A Siong.
Maka tidak ampun lagi pandangan mata A Siong jadi gelap, tubuhnya lemas.
Ouw Ga segera melepaskan tangannya, dan A Siong jatuh pingsan rebah dilantai.
Kepalan A Liok yang kedua segera sampai.
A Hok berseru.
"Kak A Liok, pukul biar tetap, jangan sampai kena kepalaku"
Tetapi kata2nya belum lagi habis diucapkan, kepalan sudah tiba, dan -justru mengenai tepat bagian dahinya disebelah kanan, maka iapun rubuh seperti A Siong si mata terkulai.
A Liok menganggap pukulannya cepat serta keras, sekali dilancarkan pasti mengenai musuhnya, tetapi kali ini .
kepalannya se-akan2 menyabot kehendaknya, tidak saya tidak mengenai musuhnya bahkan sebaliknya mengenai kawan sendiri.
Maka tak kepalang kegusarannya, dan 11 kakinya melayang menendang bagian perut Ouw Ga.
Tadi kedua tangan Ouw Ga masih mencekal leher orang, gerakannya tidak leluasa, kini kedua tangannya |l sudah bebas, maka setelah nampak A Liok menendangnya, 11 ia segera berkelit, dan kaki A Liok menemui tempat kosong, setelah mana dengan kedua jari tangannya yall memijit mata kakinya A Liok dan disodorkan kedepan, maka A Liok si bopeng jatuh menengadah kebelakang.
11 Beberapa orang gelandangan dibelakangnya tidak kebum berkelit, mereka tertubruk dan ikut rubuh.
A Liok insyaf, bahwa kepandaiannya tidak nempil, tetapi ia masih menganggap hari ini ia bernasib sial, maka 11 kalah berkelahi.
Ia bangkit dari lantai dan berseru.
"semua turun tangan, pukul perempuan ini hingga mati!"
Semua orang2 gelandangan yang ada disitu serentak maju, keadaan jadi kacau.
Warung teh itu tidak luas ruangannya, tidak sesuai untuk tempat berkelahi, tidak leluasa Ouw Ga memper-lihatkan kemahiran ilmu silatnya, tetapi bagi orang2 gelandangan ini sudah cukup menerima hajarannya.
Mereka hendak memukul atau menendang tidaklah mudah, sebaliknya Ouw Ga dapat memukulnya dengan lancar.
Siapa yang pemah merasakah pukulan atau tendangan Ouw Ga tidak berani maju lagi untuk merasakan kepahitan untuk kedua kalinya, mereka ber-teriak2 dari tempat jauh saya.
Ada juga orang geiandangan yang meng-anggap dirinya pintar, ia menjambit Ouw Ga dengan teko atau cangkir.
Ouw Ga menangkisnya dengan kursi, maka serangan demikian itupun tidak berhasil.
Ketika keadaan menjadi kacau sedemikian itu, A Siong berdua A Hok telah siuman dari pingsannya, nampak gelagat tidak baik, pikimya paling selamat ialah melolos-kan diri, demikianlah mereka merangkak keluar dari bawah meya, dan terns mengambil langkah seribu.
Ouw Ga yang tengah berkelahi dengan bersemangal tidak memperhatikan lolosnya kedua penjahat penting itu.
Karena hendak memperbaiki kegagalannya dan meni-perlihatkan keangkerannya itu, maka A Liok tidak sungkan2 lagi mejuruh orang2nya menggunakan beraneka senjata dan bertempur secara mati2an.
Mereka lalu mencari pentungan, palang pintu, pisau untuk memotong sajur.
sekup baya dan sebagainya menyerang Ouw Ga.
A Liok mengambil kampak pembelah kaju menyerbu kesamping tubub Ouw Ga lalu mengam-paknya.
Baru saja Ouw Ga dapat menghindari bacokan itu, sekop baya sudah datang menyerang, ia berkelit dari sekcp baya yang mengemplang kepala itu, sebuah besi lonyoran lain datang menyerang pula.
Sekalipun Ouw Ga mahir ilrnu silatnya, tetapi karena tempat terlampau sempit dan iapun bertangan hampa, melayani senjata yang beraneka ragam itu, ia menjadi repot juga.
Pada saat inilah ia baru ingat, bahwa In Hong tidak nampak mata hidungnya.
Makin lama serangan orang2 itu makin gencar dan seru, jika tidak mengalahkan mereka didalam waktu yang pendek, maka berbahayalah bagi keselamatannya.
Kampak berat serta tajam yang digunakan oleh A Liok membacok pula kearah bahu kirinya, Ouw Ga berkelit keTcanan, seorang lain menyapu dengan sekupnya kearah pinggangnya.
Ouw Ga sudah tiada tempat untuk berkelit pula, maka ia menyeyak lantai, lompat melewati kepala musuh hinggap diatas meya, sambil memutar tubuhnya ia melayangkan kakinya dan seorang yang mencekal sekup baya rubuh tertendang.
A Liok membacok pahanya, tetapi Ouw Ga sudah lompat pula kelain meya, dan terus lompat kebelakangnya, dengan sebelah tangannya ia men-cekuk leher A Liok, dan dengan tangan lain menghantam bahu kanannya, sehingga A Liok sukar bemapas dan merasa sangat nyeri pada bahunya, tangannya sudah tidak kuat lagi mengangkat kampak yang berat itu.
Ouw Ga merampas kampaknya sambil tetap mencekuk lehernya.
Orang2 gelandangan lainnya nampak pemimpinnya sudah terancam jiwanya, tidak berani lagi sembarang bergerak, mereka berdiri ter-bengong2 ditempat masing2.
"A Liok, kau malang-melintang dan dengan se-wenang2 mengganggu orang baik2 disini bukanlah sehari dua saya, kupenggal kepalamu demi kepentingan keamanan masya-rakat, kiranya tidak masih terlalu ringan?"
Kata Ouw Ga sambil mengangkat kepala kampaknya memperlihatkan aksinya hendak membacok.
Dalam keadaan demikian A Liok si bopeng itu sudah tidak berani memperlihatkan keangkerannya sebagai jagoan lagi, ia berseru minta ampun kepada Ouw Ga, agar tidak dibunuh mati.
Pada hakekatnya Ouw Ga memang hanya mengancam belaka, lagi pula ia telah teringat kepada kedua penjahat penting A Hok dan A Siong, maka pandangan matanya menyapunya kebawah serta kekumpulan orang2 yang ada disitu, ia tak dapat menemukan bajangan kedua orang itu, maka hatinya jadi gelisah.
"Kemana si A Hok dan si A Siong mengumpatnya?"
Tanya Ouw Ga. Mereka semua menjawabnya tidak tahu kemana perginya kedua orang itu.
"Jika aku tidak dapat mencarinya, kau harus ber-tanggung jawab akan kedua orang itu!"
Kata Ouw Ga dengan marahnya sambil mendupak A Liok hingga ter-pental kesudut dinding tembok rubuh dipinggir tempayan besar tempat air, lama sekali tidak dapat bangun.
Setelah mana Ouw Ga lompat melesat keruang luar dan melihat kesekitamya, nampak disana sunyi sekali, seorang-pun tidak nampak bajangannya.
Ia lemparkan kampak tajam itu dan lari kearah jalanan yang gelap mengejar kedua penjahat yang telah menghilang itu.
Ketika A Hok dan A Siong mengambil kesempatan diwaktu keadaan kalut lari keluar waning teh meloloskan diri, hal ini sudah diduga oleh In Hong lebih dahulu, dan karenanya ia tidak mau turut berkelahi, dan diam2 menguntitnya dari belakang.
Pada ujung sebelah Utara jalan ini dekat dengan semak2 pedesaan, sangat sunyi keadaannya, yarang nampak orang lewat, mereka sampai pada jalan persimpangan tiga, tengah mereka liendak lari berpisahan kearah tujuan masing2, In Hong sudah keburu sampai dan meng-halau dihadapannya.
"Apakah kalian sudah merasai kehebatannya tamu wanita diwarung teh Long Shing ca Yuan itu?"
Tanya In Hong dengan ramahnya.
A Hok dan A Siong terkejut, mereka menatapnya dari sorotan sinar lampu yang suram itu, nampak bahwa dan-danan In Hong serupa dengan tamu wanita tadi, maka mereka menduga, bahwa mestinya wanita inipun panda; akan ilmu silat, tidak kalah dengan wanita yang menang-kapnya tadi, maka mereka tidak berkata2, juga tidak berani sembarang bergerak, hanya kepalanya meng-angguk2 beberapa kali.
"Setelah kalian mengetahui akan kehebatannya, maka usahlah kalian merasainya untuk kedua kalinya, mari ikut aku kesisi jalan untuk ber-cakap2!"
Kata In Hong, tetapi ramah. Mereka benar2 tidak berani melawan dan mengi kesisi jalan dimana ada trotoir.
"Dimana rumah tinggalnya Siu Tin si ular belang putih?' tanya In Hong.
"Oh Diujung pengkolan jalan Dji Dji Road dan jalan Fu Leu Li Road,"
Jawab A Siong dengan cepat.
"Beritahukanlah dengan jelas!"
Kata In Hong pula yang mengetahui dibohongi.
"Benar, dia tinggal disebuah rumah besar model barat, diujung pengkolan jalan Dji Dji Road dan jalan Fa Leu Li Road,"
Jawab A Siong si mata terkulai dengan memperlihatkan sikap yang jujur.
"Rupanya sebelum kalian merasai kehebatannya tanganku, masih belum mau mengatakan sejujurnya !"
Kata In Hong sambil menotok jalan darahnya dibagian bahunya.
"Nah Bagaimana rasanya, enakkah?"
A Siong merasakan seiuruh tubuhnya kesemutan dan limmya bukan main, keringat dinginnya mengalir keluar.
"Baiklah, kukatakan sesungguhnya, tetapi jangan kau menyiksa aku."
"Katakan lekas !"
In Hong membentaknya.
"Rumah kediaman Siu Tin yalah sebuah rumah batu kembang model barat, ada taman bunganya, letaknya diujung pengkolan jalan Dji Dji Road dan jalan Si Ka Wai Road."
In Hong mengetahui, bahwa kali ini orang mengatakan dengan sebenarnya, maka ia lalu menotok pula jalan darah dibagian bahunya, dan A Siong segera tidak kesemutan dan linu pula.
Setelah In Hong mengetahui rumah tinggalnya Li Siu Tin, ia tak tahu apa yang akan diperbuatnya terhadap kedua penjahat penting ini.
Ia berpikir sejenak, kemu-dian didapatkannya juga suatu daya untuk sementara.
"Kalian ikutilah aku !"
Kata In Hong sambil menepuk tubuh kedua orang itu beberapa kali.
Mendengar kata2 In Hong yang ramah, mereka lebih takut daripada wanita galak yang mereka temukan diwarung teh tadi.
maka dengan sangat terpaksa mereka menurut perintah dan mengikutinya berjalan.
Ketika In Hong lewat didepan kantor detasemen polisi dijalan cisfield Road, ia lalu memuntir tangannya kedua orang itu untuk masuk kekantor polisi itu.
"Ada urusan apa?"
Tanya seorang pembesar polisi.
"Dua orang tukang copet ini telah mencopet barangku,"
Kata In Hong.
"Apakah kalian mencuri barangnya?"
Tanya pembesai polisi itu.
"Tidak, sama sekali tidak!"
Jawab mereka dengan serentak.
"Arloji tanganku merek Hima dan cincin emasku yang berukirkan burung kecil ditiurinya. Kau boleh menggele-dahnya didalam tubuh mereka"
Kata In Hong.
Pembesar polisi itu lalu menggeledehnya, dan sebagai hasilnya ia menemukan sebuab erioji tangan merek Hima didalam saku A Siong dan menemukan sebuah cincin emas yang berukirkan burung kecil didalam saku A Hok.
Nampak akan kejadian itu maka kedua orang itu jadi saling pandang2an mata, karena rasa herannya.
"Barang2 bukti semua ada, apakah kalian masih hendak menyangkal?"
Kata si pembesar polisi sambil menyuruh sebawahannya menahan mereka. A Hok dan A Siong merasa heran dan tidak mengarti erioji tangan dan cincin emas itu bisa berada didalam saku mereka.
"Dua pencuri ini akan diadili sebagaimana mestinya, erioji tangan serta cincin emasmu ini untuk sementara ditahan sebagai bukti peperiksaan dipengadilan?"
Kata kepala polisi itu kepada In Hong.
"Terima kasih, tuan, sampai berjumpa pula !"
In Hong minta diri lalu meninggalkan kantor polisi itu dengan tenang2 saya. Setelah ia jalan beberapa langkah, maka dari jauh ia nampak sebuah bajangan hitam lari men-datangi dengan pesatnya.
"Kau pergi kemana?"
Tanya In Hong yang mengetahui, bahwa bajangan itu tidak lain daripada Ouw Ga yang sedang ber-lari2 mengejar A Hok dan A Siong.
"Oh! In Hong kemana larinya kedua penjahat itu?"
"Tak usah kau mengejarnya lagi, sudah kuserahkan kekantor polisi untuk sementara waktu."
"Apakah kau telah ketahui alamatnya rumah Li Siu Tin?"
Tanya Ouw Ga. In Hong lalu menceriterakan apa yang ia telah ketahui kepada Ouw Ga.
"Kalau demikian, mari segera pergi menyatroni dial"
Kata Ouw Ga yang senantiasa tidak sabaran.
"Kita pulang dahulu untuk menukar pakaian dan mem-bawa senjata baru membuat perhitungan dengan Li Siu Tin."
Kata In Hong yang senantiasa bersikap tenang dan berhati-hati.
"Rumah Li Siu Tin toh bukan goa yang didiami naga atau harimau, tanpa senjatapun kita dapat menunaikan tugas kita, Kau harus ketahui, jika kita datang terlambat, maka habislah jiwa Bee Su Bun."
Kata Ouw Ga yang besar nyalinya, tetapi sembrono, dalam hal apapun ia tidak memikir dengan hati dan saksama.
Achirnya In Hong menuruti juga kehendaknya dan menyewa kendaraan pergi kejalan Dji Dji Road.
Ketika mereka turun dari kendaraaan ditingkungan jalan Dji Dji Road jalan Sikaway Road, mereka sudah nampak rumah gedung besar yang bertaman bunga itu, megah nampaknya dimalam hari dibawah sinar bintang dan rembulan.
In Hong bersama Ouw Ga meneliti keadaan rumah itu, nampak bahwa pagar dinding temboknya walaupun tidak terlampau tinggi, tetapi diatasnya penuh dengan pecahaij beling kaca yang tad jam2.
Dijalan masih ada satu dua orang yang berlalu lintas, tetapi tidak menjadi halangan bagi mereka.
"Ouw Ga, kita mengenakan pakaian gerombongan se-f macam ini. juga kita memakai sepatu sutera setipis ini, jika kita lompat keatas tembok, maka pecahan beling itu akan melukai kaki kita atau melukai kulit paha kita, , walaupun tidak luka parah, sedikitnya menganggu gerakan kita. Tadi jika kita pulang dahulu salin pakaian yang ringkas, memakai sepatu boot yang lemas, bukankah pecahan beling ini tidak akan menjadi halangan bagi kita?"
Kata In .Hong perlahan.
"Apakah beling2 ini dapat mencegah kita masuk ke-dalam?"
Kata Ouw Ga yang tidak sependapat dengan pikiran In Hong yang senantiasa berlaku hati2 itu.
"Kalau demikian, dengan j? Ian bagaimana kau hendak memasukinya?"
"Pada trotoir itu ada sebuah pohon Ngo Tong yang besar dan tinggi, didalam tamanpun banyak dengan macam2. pohon besar. Lebih dulu kita lompat naik keatas cabang pohon, lalu lompat kedalam taman, dan diwaktu keluarnyapun dengan jalan demikian pula. Bukankah jalan demikian kita tidak usah menyentuh beling diatas tembok?"
Kata Ouw Ga.
"cara ini dapat digunakan, tetapi ini melanggar kebi-asaan kita yang keluar malam. Seharusnya kita naik keatas tembok untuk mengenal keadaan didalam dahulu, setelah mana barulah kita masuk. jika kita masuk secara sem-barangan saya kedalam tempat yang sangat asing bagi kita, sedikit banyak mengandung bahaya."
"Kebiasaan semacam itu sudah terlampau usang! Apa kau sangka didalam ada hang perangkap atau jaring baya dan lain2 jebakan?"
Kata Ouw Ga.
"Didalam segala hal sebaiknya kita berlaku hati2 jika kau tidak hendak menempuh bahaya, aku seorang diri akan masuk kedalam "
Kata Ouw Ga sambil lompat keatas dahan pohon Ngo Tong yang ada didekatnya.
Dengan sangat terpaksa In Hong pun ikut melompat keatas pohon Ngo Tong yang lainnya.
Ouw Ga menyeyakkan kedua kakinya, tubuhnya mem-bubung tinggi diangkasa, lalu melampaui pagar tembok turun kedalam taman.
In Hong pun dengan jalan serupa menyusul masuk.
justru pada waktu itu terdengar suara tembakan sen-yata api, dan Ouw Ga segera rubuh ditanah.
Tembakan kedua terdengar pula, dan In Hong pun segera rubuh sesudah terdengaraya suara itu.
Menyusul ini maka terdengarlah suara gelak tertawa memecahkan kesunyian Jmalam itu..DUABELAS E KOR anfCng HERDER Didalam kamar rahasia dibawah tacah Ong San Niauw mengintai gerak geriknya Bee Su Bun yang sedang makan nasi dan sajur dengan lahapnya.
la sangat mengharap Bee Su Bun minum kuah sajur kacang kara yang telah dicampurkan racun itu.
Bee Su Bun makan nasi dan menyendok sajur dengan tangan, tetapi tidak mau minum kuah sajur kacang kara.
Bee Su Bun menggunakan akal sebagai orang gila sangat berhasil.
Li Siu Tin beserta bergundal2nya semua yakin, bahwa ia telah gila.
Pada hal ia tidak gila.
Dibawah t ancaman dan pengawasan Li Siu Tin ia tidak dapat akal untuk keluar dari rumah ini, karena itu ia ingat akan ceri-tera didalam pewajangan model Peking, yang mengisahkan puterinya Tio Ko berlagak gila, telah terhindar dirinya ter-cemar oleh kaisar yang cabul.
Maka bilamana ia berlagak gila.
iapun mungkin akan dapat menghindarkan diri darlibatan Li Siu Tin dan mungkin juga dilepas dan men-L dapatkan kembali kemerdekaannya.
Hasilnya bersandiwara berlagak gila itu, ia terhindar dari libatan Li Siu Tin, tetapi tidak ada tanda2 bahwa ia akan dilepas.
Maka tidak dapat tidak ia harus terus berlagak gila.
Ia tidak mengetahui kekejaman Li Siu Tin yang ter-jp kandung didalam hatinya.
jika mencintainya, dia meng-V hendaki orang itu hidup, jika membencinya dia meng-hendaki orang itu mati.
Maka didalam santapan malamnya itu sudah dicampurkan racun untuk membinasakannya.
Dengan menggunakan cakar tangannya ia makan nasi, sebenarnya dapat memperlihatkan tingkah lakunya orang yang sungguh gila.
Sehabis makan nasi, ia merasa sangat haus, ingin ia minum kuah, tetapi selama hidupnya ia paling tidak suka kacang kara, maka her-kali-ia tidak jadi meminumnya, bergulat dengan kehausannya atau sebenarnya ia tengah bergulat dengan malaikat elmaut.
Ong San Niauw nampak bemlang kali ia memegang mangkok kuah, tetapi sebelum sampai dibibir lalu ditaruhnya pula maka diam2 ia mengutuknya.
Kedua pegawai Li Siu Tin mendapat perintah untuk meronda didalam taman untuk ber-yaga2, ketika mereka lewat dikamar bawah tanah, mereka bertanya mengenai Bee Su Bun.
"Apakah dia sudah mati?"
Tanya salah seorang peronda pengawal dengan suara perlahan.
"Dia belum minum kuah!"
Jawab Ong San Niauw.
"Kau tidak memberikannya minum air, maka lambat, atau cepat achirnya ia akan minum kuah itu."
Kata pengawal itu dengan suara pasti, setelah mana iapun melati-jutkan tugasnya meronda didalam taman itu.
Sang waktu dirasakannya berjalan bagaikan ulat me-ayap dengan sangat perlahannya, kehausan akan mulut Bee Sun Bun pun makin menjadi2, dengan sangat ter-gpaksa ia mengangkat mangkuk kuah, dan didekatkannya kepada bibirnya, justru pada waktu itu kedua pengawal Li Siu Tin itu nampak dua bajangan hitam lompat dari !pohon Ngo Tong diluar pagar tembok, lalu membidik serta gTnenembaknya.
Kedua suara tembakan itu terdengar sam-ypai kedalam kamar dibawah tanah, juga Li Siu Tin didalam kamar tidurnya ditingkat atas rumah itu dapat men-idengarnya.
Qa Demi mendengar suara tembakan itu Li Siu Tin lari r%eluar ketempat peron atau serambi diatas rumah itu untuk melihat ketaman apa yang telah terjadi, dalam keadaan remeng2 ia dapat melihat kedua pengawalnya snybergelak tertawa sambil tangannya memegang pistol, uij Kedua pengawal itu telah menduga pasti, bahwa kedua igi bajangan hitam itu tidak lain dan tidak bukan pasti musuh besarnya yaitu In Hong dan Ouw Ga.
Mereka demikian jgirangnya, bahwa barn saya kedua musuhnya masuk ke-l21 dalam taman sudah makan masing2 sebutir pelor dan habis riwayatnya secara mudah sekali.
Mereka bergelak tertawa sambil menghampiri untuk melihat hasil tembakan acsebenarnya.
rei Padahal In Hong dan Ouw Ga sebenamya tidak kena eJtembakan.
Mereka nampak didalam taman sudah ada crang ber-yaga2 dengan tangan memegang pistol.
Seba-liknya mereka tidak membawa senjata apa2.
Maka dengan rebah atau rubuh ditanah untuk mengurangkan kewas-padaan musuh.
Mereka menunggu sampai pengawal2 itu sudah datang dekat sekali, dengan serentak In Hong dan Ouw Ga menendang tangan pengawal yang memegang pistol, sehingga senjata api itu mental tercemplung kedalam empang ikan.
Pengawal-itu sadar, bahwa mereka kena terjebak oleh tipu musuh, tengah hendak berbalik lari, kaki Tn Hong dan Ouw Ga telah tiba pula ketubuh mereka sehingga mencelai belasan kaki jauhnya dan akhirya rubuh ditanah dengan merintih-rintih kesakitan.
Nampak cfidalam sekeyap mata saya keadaan telah berbalik demikian rupa dan musuh sudah menyerbu keda-lam rumah tinggalnya, maka buru2 Li Siu Tin mengeluar-kan peluit dari sakunya, dan ditiupnya beruntun2 tiga kali.
Demi mendengar suara peluit, pengurus rumah anjing se-gera melepaskan seluruh anjing herder yang berjumlah duabelas ekor.
In Hong dan Ouw Ga mendengar suara peluit yang aneh itu, sesaat kemudian terdengar pula suara salaic anjing yang buas, menyusul itu mereka tampak segerombolan anjing besar dan tinggi meneryang mereka dari tempat yang gelap.
"Ouw Ga, bati2lah, anjing yang menyerang kita bukam hanya dua tiga ekorsaya!"
In Hong memperingatkan ka-wannya.
Ketika gerombolan anjing2 sudah tiba didekat!
mereka, beberapa diantaranya sudah menerkam tubuh mereka.
Dua ekor anjing dari depan menerkam Ouw Ga, ia berkelit kesamping dan kedua ekor anjing itu menerkam tempat kosong, dengan segenap tenaga ia menendang perut seekor anjing, sehingga anjing itu mendengking karena sakitnya, darah hidup keluar dari mulutnya dan rubuh ditanah dengan napasnya empas-empis.
Seekor anjing lainnya juga terhajar oleh sabetan tangan Ouw Ga, sekalipun tidak membahayakan jiwanya.
tetapi bukan kepalang nyerinya, maka diapun mendengking' disitu dengan hilang tenaganya.
anjing2 yang mengerojok In Hong, menerkam dari tigu jurusan, sekalipun gerakan anjing itu sangat cepat tetapi gerakan In Hong lebih cepat pula, tubuhnya melompat membubung tinggi, melewati' anjing dihadapannya lalu turun dibelakang anjing itu.
Ketiga ekor anjing nampak sasarannya mengubah kedudukannya, tengah hendak mem-balikkan tubuh dan menyerangnya, tetapi In Hong sudah menendangnya sehingga seekor anjing terjatuh kedalam empang ikan.
Menyusul itu kedua tangan In Hong menang-kap leher dua ekor anjing dikirikanannya dan memutarnya dengan penuh tenaga sehingga patah tulang lehemya dan rubuh ditanah mendengking2 menyayat hati yang men-dengarkan.
anjing2 lainnya nampak kawannya terluka, mereka pun mengetahui, baliwa kedua musuhnya ini lebih bengis dan galak dari pada mereka, sekalipun tidak sampai mundur lari, tetapi mereka tidak berarti maju menyerangnya lagi.
anjing yang terjatuh diempang itu telah berenang naik kedarat, lalu bersama tiga ekor kawannya yang lain menge-'pung In Hong, lima ekor yang lainnya pula termasuk yang kepalanya dihajar Ouw Ga tadi, beramai2 mengurung Ouw Ga.
anjing2 itu mengurungnya dengan jarak yang tertentu, In Hong atau Ouw Ga hendak menyerang kedepan, maka yang diserang itu lari, tetapi yang lainnya segera mener-yang serentak dan menggigitnya.
jika In Hong dan Ouw Ga berhenti menyerang anjing yang tadi dan ganti arah serangannya, maka yang"
Lari tadi balik meneryang, mereka berganti dan bersaut saling membantu, hingga In Hong dan Ouw Ga tetap terkurung ditengah.
Menampak cara2 penyerangannya anjing yang licin ini, In Hong dan Ouw Ga merasa sukar untuk dapat menoblos kurungan itu, bahkan jika lengah sedikit saya mereka akan dapat digigitnya, maka keadaan menjadi seperti deadlock, merintangi usaha mereka.
Oleh karena ini In Hong dengan cara bersiul melagukan suatu lagu tanda pembicaraan mereka-memberitahukan Ouw Ga meninggalkan tempat itu untuk sementara dan pulang salin pakaian dan membawa senjata.
Sedikit demi sedikit mereka menggeser kedudukan mereka, ketika mereka sudah sampai dibawah suatu pohon yang dekat pada dinding tembok, mereka mendadak lotn-pat tinggi, dengan kedua tangannya mereka memegang dahan pohon yang melintang, menyusul itu tubuhnya ber-balik keatas dahan.
Ouw Ga pun meneladnya dengan cara yang serupa keatas dahan pohon lain, dan sebentar saya mereka sudah dapat lompat keluar pagar tembok.
anjing2 itu terhalang oleh pagar tembok, mereka hanya dapat menyalak2 tidak dapat mengejamya.
Li Siu Tin dari serambi rumah atas nampak kejadian itu dan menyaksikan dua bajangan hitam bagaikan burung saya terbang melewati tembok pagar, burn2 lari turun dan memeriksa anjing2 kesajangannya.
anjing2 itu nampak kedatangan majikannya lain berkerumun mengitarinya dan meng-goyang2kan ekomya.
Li Siu Tin nampak seekor diantaranya sudah mati dengan mengeluarkan banyak darah dari mulutnya, dan dua ekor yang lain tulang lehemya sudah patah, juga akan mati didalam waktu tidak lama lagi, karena ini ia dapat membayangkan, bahwa In Hong dan Ouw Ga memiliki ilmu silat yang sangat tinggi, anjing2 herder belum dapat mencegah masuknya mereka kedalam rumah tinggalnya.
Iapun menemukan kedua pengawalnya rebah merintih ditanah, lalu menghampirinya.
"Apakah lukamu parah?"
Tanyanya.
"Meski tidak parah, tetapi bagian pinggang kami terten-dang tepat sehingga bukan kepalang nyerinya, untuk beberapa saat kami tak dapat berdiri,"
Jawab kedua pengawal itu.
"Mereka pergi akan kembali lagi, lekas kalian bangun, ill aku masih menghendaki kalian melakukan pekerjaan Kata Li Siu Tin ifc yang sikapnya pun menjadi tegang. Kedua pengawal itu dapat juga melupakan penderitaannya dan lompat bangun. Li Siu Tin lalu memberikan ia instruksinya, setelah mana buru2 ini pergi kekamar dibawah tanah untuk meninyau keadaan bekas orang kecintaannya yaitu Bee Su Bun. "Apakah Bee Su Bun sudah mati kena racun?" Tanya Li Siu Tin. "Rupanya dia berasa haus, tetapi tetap dia tidak mau rainum kuah kacang kara itu. Paling achir dia sudah mengambil ketetapan untuk minum, tetapi suara tembak-kan dua kali ditaman itu menyebabkan dia tidak jadi minum dan meletakkan raangkoknya pula," Kata Ong San Niauw yang se-akan2 mengandung arti mengutuk suara pistol itu. "Kita jangan menantikannya dia minum racun lagi, kau boleh masuk kekamarnya dan menembaknya mati dengan -pistol, setelah itu menggali tanah ditempat yang sepi didalam taman untuk mengubur mayatnya. Pekerjaan ,j ini harus selesai didalam waktu lima belas menit. jika kita membiarkan Bee Su Bun tetap tinggal hidup, maka dia akan dapat merugikan kita. Aku menduganya didalam pj dua puluh sampai tiga puluh menit lamanya. In Hong akan sudah datang kembali ketempat ini. jika tidak ada bekas2 pada kita, mereka pun tidak dapat berbuat apa2 terhadap kita," Demikianlah pesan Li Siu Tin. "Tetapi tetapi pekerjaan membunuh orang serta menguburnya tak akan selesai didalam waktu lima belas menit," Kata Ong San Niauw. "Aku dapat menyuruh A Ong pengurus rumah anjing membantumu menggali tanah. setelah selesai pekerjaan ini. kau boleh pergi kerumah bungalo di Wang Su Bu, makin cepat makin baik, ingat!" Sehabis berkata demiki-an, maka dengan buru2 Li Siu Tin meninggalkan kamar dibawah tanah. Ong San Niauw mencabut browning yang panyangnya enam dim, lalu dengan tangan kirinya ia membuka palang pintu besi, serta dengan kaki kanannya ia mendupak daun pintu besi. Mula-Ong San Niauw mengira dengan sekali menen-.dang ia akan dapat membuka daun pintu besi itu, dan menurut pantasnya pun mestinya begitu, karena didalamnya tidak ada paiangnya. Tetapi pintu ini mendadak jadi luar biasa keadaannya, didupak sekali tidak terbuka, didupak dua kali masih tetap tertutup. "Kurang ajar" Mencaci Ong San Niauw sambil mengutuk dan mengintai dari celah2 pintu itu. Memang pintu itu tiada paiangnya, tetapi Bee Su Bun telah menggunakan meya dan kursi kaju mengganyalnya dari dalam, maka pintu itu tidak dapat dibukanya dari luar. Bee Su Bun mendengar suara tembakan dan salak anjing, mengira bahwa boleh jadi ada anggota polisi datang menggeledahnya rumah mereka ini. Guna menjaga siasat keji yang terachir dari Li Siu Tin dan Ong San Niauw itu, maka lebih dulu Bee Su Bun sudah berusaha agar supaya mereka tidak dapat membuka pintu dan masuk. Nampak bahwa didalam pintu itu diganyal dengan kursi-meya serta sikap Bee Su Bun yang ber-yaga2 itu, maka Ong San Niauw jadi kaget dan marah. la sekarang sadar bahwa kegilaan Bee Su Bun itu hanya pura2 saya. dan akan menjadi seorang saksi yang kuat dapat mem-buktikan perbuatan pelanggaran hukum yang dilakukan oleh Li Siu Tin dan Ong San Niauw. Ong San Niauw memasukkan laras pistol itu dari lobang kecil dan menembaknya. Bee Su Bun nampak laras pistol, lalu bersembunyi dipinggir laras itu, dan pelor pistol itu tak akan dapat mengenainya. Ong San Niauw menyentil pelatuknya, tetapi tidak ada pelor yang keluar. Ia periksa pistolnya dan tarik keluar tempat pelornya, nampak hanya ada tujuh butir pelor, pelor yang satu sudah masuk didalaro laras, dan menyumbat larasnya, maka gagal menembak. Ong San Niauw sangat gelisah dan marah. Ia ingin menggunakan cara yang paling sederhana memperbaiki senjata itu didalam waktu yang paling singkat, tetapi ia tidak memiliki pengetahui membetulkan senjata api, tidak juga ia memiliki alatnya, ia telaii menghabiskan banyak waktu, belum juga dapat memperbaiki pistol itu. "Bagaimana kau ini? Aku sudah selesai menggali tanah dibelakang gunung2an didalam taman, boleh melemparkan si gila itu kedalam lobang itu, lalu dikubur." Kata si pengurus rumah anjing itu. "Malam ini apapun tidak kebetulan, pistolku kehilangan daya gunanya, pelornya tidak dapat keluar, sementara itu diapun mengganyal pintu dari dalam, aku tidak dapat masuk," Kata Ong San Niauw. "Kita berdua bertubuh besar, sekalipun tidak menggunakan senjata, masih dapat menghabiskan jiwanya pe-lajar selemah dia itu. Kita bersama mendobrak pintu dengan benda berat sehingga pintu itu terbuka, setelah itu kita pukul dia dan mengikatnya dengan tambang lalu melemparkannya kedalam lobang tanah, apakah dengan demikian tidak mudah ?" Kata si A Ong. Mereka lalu menggempur pintu dengan batu lonyoran. Bee Su Bun berusaha keras mempertahankan pintu itu, tetapi apa mau dikata, bahwa kesudahan batu penggempur pintu itu menerbitkan suara yang keras, dan meya kaju pengganyal pintu itu bersuara cit cit, nyata tidak akan dapat bertahan. Bee Su Bun mengetahui, bahwa sekali pintu besi itu terbuka, maka jiwanya akan tidak dapat tertolong. Ia berusaha sedapat mungkin menggunakan sernua alat kaju yang sudah tua dan rusak yang terdapat didalam kamar dibawah tanah itu untuk mengganyal pintu. Brak! Achirnya pintu itu tergempur terbuka. Ong San Niauw bersama A Ong menggeserkan alat2 kaju mengganyal itu lalu menyerbu kedalam, mengepung Bee Su Bun diikat dengan tambang. Mereka berdua, seorang menggotong kepalanya, dan yang lain mengangkat kakinya, Bee Su Bun digotong keluar kamar dan dibawanya ketaman bunga. "Tindakan kita harus cepat, dikewatirkan jiwa lama2 akan berubah keadaan." Kata A. Ong. "In Hong tinggal di Hongkiu Road, untuk pergi dan pulang sedikitnya harus mengambil waktu tiga perempat jam, kita masih ada waktu membereskan tugas kita." Kata Ong San Niauw. Mereka memutari gunung2an dan tiba ditempat yang sepi didalan taman bunga itu, nampak telah tersediakan sebuah liang kubur yang berukuran tujuh kaki lebar dan empat kaki dalamnya. Diatas tanah terdapat dua buah sekup penggali tanah dan gundukan tanah galian yang tinggi. "Lemparkan dia !" A Ong memberi komando " Satu, dua, tiga !" Mereka melemparkan dengan serentak, dan Bee Su Bun segera menggeletak didalam liang kubur itu. Menyusul tindakannya itu, mereka mengangkat sekup lalu menyekup tanah galian diurukkan kedalam liang. Bee Su Bun menyerit minta tolong-tetapi tiada orang yang datang menolong. la mengetahui, bahwa sekitar rumah linggal ini keadaannya sangat sepi sunyi, tambah pula ketika itu telah larut malam, tiada orang dijalan, teriakannya tiada gunanya. Tetapi iapun mengetahui, bahwa teriakannya itu adalah usahanya menentang maut yang terachir, serta usaha satunya yang ia dapat lakukan. Didalam saat yang sangat berbahaya itu, se-konyong2 terdengar suara salak anjing yang tersiar dari bagian depan taman bunga. Salak anjing yang berisik serta menakutkan. Suara itu dicampur dengan suara teriakan minta tolong yang keluar dari mulut Bee Su Bun, maka teryalin menjadi semacam suara yang sangat memilukan hati serta menakutkan. In Hong serta Ouw Ga sudah kembali, kali ini mereka telah salin pakain ringkas untuk keluar malam, kaldnya memakai sepatu kulit yang panyang larasnya serta kuat dan ulet, tidak takut lagi akan pecahan beling yang ter-dapat diatas tembok pagar. Mereka bediri diatas pagar tembok agar supaya anjing2 itu gumul dibawah tembok menyalak kepada mereka. In Hong beruntun melepaskan anak panah pendek dibubuhi obat racun dan mengenai tepat pada tiga ekor anjing yang terdekat, sekalipun mereka tetap bersalak, tetapi makin lama makin berubah perlahan dan akhirya tubuhnya dia tak bergerak alias binasa. Sisanya enam ekor anjing herder, belum lagi dua menit lamanya pun semua terbinasa dibawah anak panah In Hong. Ong San Niauw bersama A Ong yang berada dibela-kang gunung2an mendengar bahwa anjing2 itu sudah tidak menyalak lagi, mereka menganggapnya In Hong dan Ouw Ga telah terusir pula oleh anjing2 itu, atau boleh jadi telah terbinasa karena digigit anjing, maka dengan hati lega mereka melanjutkan menimbuni liang itu dengan tanah galian. Tangan mereka menyekup tanah dan menguruk liang itu atau dengan mendadak saya mereka merasa ada sambaran angin dingin dibelakang punggungnya. Belum sempat mereka berpaling, mereka sudah berasa bahwa punggung mereka ditandalkan laras senjata api. "Lempar sekupmu!" Demikianlah telinga mereka men-dengar orang memerintahkannya. Ong San Niauw dan A Ong mentaati perintah dan membuang sekupnya. Menyusul mana mereka nampak In Hong menghampiri liang dan menyoroti dengan lampu senternya. "Ha, tuan Bee Su Bun, apakah kau terluka?" Tanya In Hong. Kini Bee Su Bun telah berhenti berteriak, didalam su-asana gelap itu ia tidak mudah mengenali siapa orang yang menanya kepadanya itu, tetapi dapat mengenalinya dari suara kata2nya seorang wanita muda. "Oh, nona, siapa kau? jika terlambat beberapa menit saya, maka habislah riwayatku!" In Hong menyoroti mukanya sendiri sambil bertanya . "Apakah kau mengenali aku?" "Oh, kiranya nona yang malam itu memberikan jasa baik terhadap persengketaan kami didalam rumah sewaan berbatu merah itu," Kata Bee Su Bun sambil menatapnya dengan matanya jarig besar dan hitam itu. Setelah mana In Hong menariknya dari timbunan tanah yang masih tipis itu, lalu diputuskannya tambang yang mengikatnya itu. Setelah tubuhnya bebas dari belengguan, Bee Su Bun maka segera bangkit berdiri dari atas tanah dan menya-takan terima kasihnya kepada In Hong atas pertolongannya itu. In Hong mendengari kata Bee Su Bun dengan teliti, ia mendapatkan kenyataan, bahwa sedikit pun tak nampak tanda2 sifat gila daripada Bee Su Bun. "Apakah kau tidak gila?" Tanya In Hong. Bee Su Bun menggeleng2kan kepalanya menyatakan bahwa ia tidak gila, lalu diceritakannya hal2 yang telah ia alami selama ini, In Hong pun menceritakan apa yang ia ketahui tentang keadaan diluar. Hal mana menyebabkan Bee Su Bun merasa pessimitis dan putus harapan. "Jika Dji Dji Kouw besok menjalani hukuman tem-bak mati karena perkara fitnahan itu, akupun hanya meng-ikutinya dan mati bersama!" Kata Bee Su Bun..TERKUBUR DIDALAM KAMAR API. Sebuah kamar tamu dari rumah tinggal Li Siu Tin telah dipergunakan oleh In Hong sebagai kamar pemeriksaan darurat. "Perbuatan penculikan alas di i Bee Su Bun itu apakah dilakukan atas suruhanmu?" Tanya In Hong kepada Ong San Niauw. "Ini urusan Li Siu Tin, tiada sangkutannya dengan aku." Kata Ong San Niauw yang membersihkan dirinya dengan memindahkan kesalahannya tentang perbuatan jahat itu kepada diri Li Siu Tin. "Tidak guna kau menyangkal, aku telah menangkap A Siong dan A Hok mereka telah mengaku semua. Apakah kau masih hendak memungkiri kedosaanmu ini?" Tanya In Hong. Ong San Niauw tetap menyangkal. "Dji Twa So siapa yang membunuhnya?" Tanya In Hong selanjutnya. "Semua orang mengetahui, bahwa dia dibunuh oleh iparnya yaitu Dji Dji Kouw, didalam surat kabarpun sudah dimuatnya berita ini." Kata Ong San Niauw dengan licinnya. In Hong menghampiri Ong San Niauw, memeriksa jari langan Ong San Niauw, sungguh tidak salah dugaannya. Bagian tengah jari telunyuk tangan kanan Ong San Niauw terdapat bekas luka pisau yang dalam, sesuai dengan sidik jari berdarah yang terdapat diatas daun jendela kamar tidur Dji Dji Kouw. Maka tidak usah ditanya pun dapat diketahui, bahwa pembunuh Dji Twa So yang sell sungguhnya yalah Ong San Niauw. "Bukti tentang kau melakukan pembunuhan telah tertulis ada dijari tanganmu, apakah kau masih hendak menyangkal? Sebaiknya kau mengaku terus terang saya, boleh jadi kau akan dapat hukuman yang ringan. Bukan-f kah Li Siu Tin yang menyuruhnya?" Tanya In Hong. "In Hong, tak usah kau capekan mulut terhadap mereka; lebih baik kita bawa kedua pesakitan ini untuk menemui To Thamtio, dan minta kepadanya supaya segera mencegah dilaksanakannya hukuman mati kepada Dji Dji Kouw esok pagi itu!" Kata Ouw Ga. jrKalian jangan merugikan diri sendiri karena men-campuri urusan orang lain. Li Siu Tin bukanlah seorang yang mudah menyerah. jika kau suka mencampuri urusan orang lain, kaupun harus tahu batas, tidak boleh mem-besar2kan urusan sehingga tidak dapat dibereskan lagi." Kata A Ong secara tandas. Nampak sikap congkak yang diperlihatkan A Ong serta kata2nya yang mengandung ancaman itu membuat Ouw Ga sangat mendongkol. "Kami tidak takut akan ancaman apapun, lebih dulu kami akan serahkan kalian penjahat pembunuh orang kekantor polisi, setelah itu mencari pula Li Siu Tin biang keladinya kejahatan itu!" Kata Ouw Ga. "Persengketaan ini terbit karena asmara segi tiga, setelah Bee Su Bun pura2 gila tidak suka nikah dengan Li Siu Tin, maka Li Siu Tin pun tidak memaksanya lagi. Kalian boleh bawa Bee Su Bun sebagai pengachiran per-kara ini. jika kalian tidak mau memberitahukan tempat berpiyak kepada orang lain, hendak bersitegang leher untuk mengurusnya sungguh2, dan menyerahkan perkara ini kepada polisi, maka kalian akan menyesal pada waktu yang sudah terlambat!" Kata A Ong dengan sembarangan saya. Kata-A Ong tersebut diatas, sebenarnya adalah kata2 yang dipesankan oleh Li Siu Tin ketika ia hendak mening-galkan rumah tinggalnya tadi. "Apa maksudmu membiarkan Dji Twa So mati secara sia2 dan Dji Dji Kouw menjalankan hukuman mati untuk kesalahan orang lain?" Tanya In Hong dengan tenang. "Benar, pada hakekatnya kalian pun harus berkompromi dengan Li Siu Tin." "Jika kami tidak mau berkompromi?" Tanya In Hong yang memperlihatkan senyumannya. "Li Siu Tin telah menyuruh kedua pengawalnya untuk menangkap kemenakanmu nona Hiang Kat, dan meng-ikatnya didalam empang ikan didalam pekarangan bunga-lownya. Dan diatas air empang itu telah disirami dengan dua puluh gallon bensin. Li Siu Tin sendiri memegang obor menunggu ditepi empang, asalkan kalian tidak mau menerima syarat komprominya, dan menyerahkan kami kepada polisi, maka dia akan terjun keempang dengan obornya, untuk mati bersama dengan nona Hiang Kat. Karena kalian mencampuri urusan orang lain dan mengor-bankan jiwa nona Hiang Kat yang cantik elok itu, apa-kah hal yang demikian itu dapat diterima? Oleh karenanya kuanjurkan kalian pikir2 dahulu." Kata A Ong dengan memperlihatkan roman yang merasa puas. "Sama sekali bohong Tadi ketika kami tukar pakaian. Hian Kat membaca bulcu didalam kamar, mustahil dia diJ tangkap pengawal Li Siu Tin ? Sama sekali aku tidak percaya kata2 iblismu ini!" Kata Ouw Ga, sambil memperlihatkan sikap marah tercampur gelisah. Walaupun dimulut Ouw Ga menyatakan tidak percaya kata2 A Ong itu, tetapi didalam hatinya sebenamya sangat, tidak tenteram. Ia mengetahui, bahwa Hiang Kat biasa saya ilmu silatnya, mungkin terpedaya dan ditawan lalu dibawa ke-bungalow Li Siu Tin. Dan Li Siu Tin karena sudah menemui jalan buntu, mungkin juga mempergunakan cara sehina ini imtuk mengancamnya, agar ia dengan Tn Hong terpaksa mengadakan kompromi dengannya. Demi mendengar kata2 Ouw Ga itu, maka A Ong lalu berkata. "Nona Ouw Ga, jika kau tidak percaya, boleh-lah kau menilpon kerumahmu untuk membuktikannya. Ketika kalian pulang menukar pakaian, kedua pengawal Li Siu Tin menguntitnya dibelakang kalian. Dan ketika kalian kembali, mereka menyelinap kedalam rumah kalian dan menculik nona Hiang Kat!" Ouw Ga benar2 menilpon kerumahnya, dan terbukti, bahwa Hiang Kat sudah tidak ada dirumahnya di Hong Kiu Road. Hawa amarahnya Ouw Ga me-luap2, ia lompat kekamai tamu menjambak rambut kepala Ong San Niauw dan A Ong, hendak dibenturkannya satu kepada lain sehingga pecah. "Ouw Ga, lepaskanlah !" In Hong senantiasa berlaku sangat tenang, ia duduk dikursi tidak bergerak sedikitpun. Walaupun Ouw Ga menuruti kata2 In Hong dan me-lepaskan jambakannya, tetapi didalam hatinya ia merasa ji tidak puas akan sikap ketenangan In Hong itu. "Aku bersedia berkompromi dengan Li Siu Tin sendiri. tetapi dia bersembunyi didalam vilanya, cara bagaimana kami dapat merundingkannya?" Kata In Hong. "Itu soal mudah saya, aku bersama Ong San Niauw dapat menemui kalian bersama tuan Bee Su Bun naik mobil, bersama2 pergi kevillanya Li Siu Tin untuk menyelenggarakan perundingan," Kata A Ong yang lagu kata2nya mengandung perasaan yang menganggap sudah menda-pat kemenangan. "Baiklah, maxi kita segera pergi!" Kata In Hong. Ouw Ga melihat erloji tangannya sudah menunjukkan pukul 03.20 dinihari, lagi jam empat puluh menit akan tiba saatnya Dji Dji Kouw menjalani hukuman tem-bak mati. Dalam otaknya Ouw Ga beradukkan hal2 yang saling bertentangan, yaitu jika menyerahkan kedua penjahat ini kepada polisi, jiwa Dji Dji Kouw akan tertolong, tetapi akibatnya mengorbankan Hiang Kat. Sebaliknya jika ber-kompromi dengan Li Siu Tin, jiwa Hiang Kat tertolong, tetapi Dji Dji Kouw menjadi korban. Pikirnya mungkin In Hong sudah mempunyai rencana, lebih dulu menolong Hiang Kat, kemudian menolong Dji Dji Kouw, tetapi waktunya sudah terlalu mendesak, lagipu-la kata2 A Ong itu, masih dapat disangsikan. Kerena ini Ouw Ga lalu bersiul, melagukan irama kata2 rahasia, menanya In Hong apakah sudah mempunyai pegangan, dian-jurkannya berlaku hati2, jangan kena tipu oleh kata2 A Ong itu. In Hong pun menjawabnya dengan bersiul pula, bahwa pada setiap kalinya selalu ia yang menganjurkan Ouw Ga berlaku hati2. In Hong berpendapat, jika kali ini ia tidak mau menempuh bahaya, maka jiwa Hiang Kat akan ber-bahaya sekali, terpaksa harus mengikuti mereka pergi ke-vilanya Li Siu Tin. dan bertindak melihat gelagat. Ong San Niauw bersama A Ong nampak kesangsiannya In Hong dan Ouw Ga yang silih berganti bersuil, mendu-y ganya mereka meraberi isyarat satu kepada lain, Maka A Ong memberi peringatan katanya. "Nona In, kalian harus bersikap jujur, jika kalian ingin menggunakan ilmu silatmu yang mahir, serta kepandaian menembak yang bagus untuk mencelakakan Li Siu Tin, itulah perbuatan yang sangat bodoh. Karena Li siu Tin mengetahui ilmu silatmu . yang mahir itu, dia telah bersiaga. Ia memegang obor ber-diri ditepi empang, walaupun kalian menggunakan akal apapun, dia dengan obornya pasti akan terjatuh didalam empang dan menyebabkan terbakarnya bensin yang disiram-t kan dimuka air empang itu. Hal ini bagi nona Hiang Kat mu tidak ada faedahnya. "Adakah kejujuran dan kesungguhan hati pada Li Siu Tin itu" In Hong berbalik tanya. "Sudah tentu dia sungguhV kata A Ong. "Kalau demikian, mari kita pergi! " Kata In Hong. "Silahkan nanti sebentar. aku hendak menilpon memberi tahukannya dahulu" Kata A Ong. Demikian A Ong pergi keserambi samping dimana pesawat tilpon terletak dan ber-cakap2 dengan Li Siu Tin melalui pesawat tilpon itu. "Halo nona Siu Tin disitu ? Aku A Ong. Aku bersama Ong San Niauw, nona In Hong, Nona Ouw Ga dan tuan Bee Su Bun yang berlagak gila ingin berkunjung kevilla-mu, apakah kau sudi menerimanya ?" Kata A Ong. Adapun maksud sebenarnya A Ong menilpon Li Siu Tin itu yalah hendak melalui jalan ini ia dapat mengetahui apakah Li Siu Tin sudah berhasil menculik Hiang Kat serta sudah mengusainya. Kecuali itu iapun hendak mem-beritakan, bahwa kegilaan Bee Su Bun itu hanya ber-pura2 belaka. "ya. aku siap menanti, teristimewa Si dia yang berlagak gila itu." Jawab Li Siu Tin yang asmaranya hidup pula karena mengetahui bahwa Bee Su Bun tidak gila. Setelah mendapatkan persetujuan Li Siu Tin, maka In Hong dan rombongan bersama2 menumpak sebuah mo-bil Ford yang sudah ketinggalan zaman yang dikendarai oleh A Ong pergi menuju ke Yang Su Bu. Ketika mobil sampai didepan villa Li Siu Tin, maka Tn Hong dan Ouw Ga segera lompat turun dan mengawasi A Ong dan Ong San Niauw masuk kepintu jeruji besi, dan Bee Su Bun mengikuti dibelakangnya. Tanah lingkungan villa itu kira2 enam atau tujuh bauw luasnya, nampaknya se-akan2 ladang pertanian saya. Kedua belah sampingnya ditanami pohon Kwie-hwa yang besar kecilnya tidak merata. Baunya bunga Kwie-hwa itu harum semerbak masuk kedalam lobang hiding, sedap rasanya. Ditengah terbentang jalanan baton. Dan dari kejauhan telah nampak sebuah bungalow model barat yang mentereng, sinar lampu listerik yang terang menyorot keluar. "Dimana letaknya empang ikan?" Tanya In Hong. "Empang ikan yang disirami bensin berada dibelakang rumah. Nona Hiang Kat bersama Li Siu Tin tengah menantikan kedatangan kalian disana," Kata A Ong sambil memperlihatkan wajah riangnya. Mereka berjalan dijalanan beton itu> makin lama ma-kin dekat pada tempat yang terang. Kedua pengawal Li Siu Tin sudah menerima perintah untuk bersembunyi dibalik pohon Kwie-hwa, bersiap menembak In Hong dan Ouw Ga. Mereka berada ditempat gelap dan sasarannya berada ditempat yang terang. Tetapi In Hong dan Ouw Ga bercampur baur dengan A Ong, Ong San Niauw dan Bee Su Bun, maka sekalipun mereka hendak menembaknya, sukar mereka untuk turun tangan. Li Siu Tin telah memberikan perintahnya, bahwa mereka dianjurkan supaya tidak usah memandang siapapun boleh tembak saya, jika perlu Ong San Niauw dan A Ong sama2 menjadi korban pun tidak menjadikan soal. Tetapi Bee Su Bun harus diselamatkan. Tnstruksi diatas menyebabkan mereka kenal akan sifat Li Siu Tin yang ego-istis itu, walaupun berada didalam keadaan segenting itu, ia masih memikir menikah dengan Bee Su Bun. Tidak menengok keadaan umumnya. Kedua pengawal itu berulang kali membidik pistolnya untuk menembak, tetapi senantiasa beragu2, mereka ke-watir mengenai Bee Su Bun, karena mereka tahu akan jkepandaian menembak yang dimilikinya belum dapat dikatakan ulung. Sepanyang jalan In Hong sangat memperhatikan ke-ji adaan tempat yang berbahaya ini. Ia telah merasa dibalik deretan pohon Kwie-hwa pada kedua sisi jalan itu ada bajangan hitam ber-goyang2, maka ia berlaku sangat hati2. Nampak In Hong dan Ouw Ga segera akan melewati rumah bungalow sampai dikebun beiakaraa kedua penga-wal itu takut kehilangan keiika untuk menembak, maka mereka tidak pikir2 pula akan apa akibatnya nanti, lalu membidik kearah In Hong dan Ouw Ga, dan saling menyusul menembakkan pistolnya. Mereka merasa bidikannya cukup tepat, tetapi pelornya ternyata telah mengenai bahu Ong San Niauw dan A Ong. Lengan Bee Su Bun pun keserempet kulit luarnya hingga luka berdarah. Mereka hendak mengulangi tembakannya, tetapi panah pendek In Hong yang beracun itu sudah lebih dulu mengenai tangan mereka yang mencekel pistol. Demi terkena anak panah berbisa itu lengan kedua pengawal itu segera menjadi kesemutan, pistolnya terlepas jatuh karena tidak dapat tangannya memegang erat lagi. Mereka hendak kabur untuk meloloskan diri, tetapi In Hong dan Ouw Ga sudah menyandaknya dan mereka ter-tangkap. Mereka diperintahkan In Hong untuk mendukung rOng San Niauw dan A Ong yang telah terluka itu, lalu In Hong dan Ouw Ga mengeluarkan tambang dari kantong perbekalannya, diikatnya kedua orang itu menjadi satu, nenjadi dua pasang ikatan, demikianlah mereka dapat berjalan. tetapi tidak dapat lari. Mereka dikawalnya sampai dikebun belakang. In Hong ian Ouw Ga segera tampak ditepi empang ikan berdiri eorang wanita muda tengah memegang obor ditangannya. Dari bawah sinar api obor yang ber-goyang2 itu, In Hong dan Ouw Ga nampak, bahwa wajahnya wanita muda itu cukup cantik elok serta menggiurkan. In Hong menyorot dengan lampu senternya, nampak empang ikan itu tidak luas, hanya dua puluhan persegi. ditenagh2 empang itu terdapat sebuah patung bidadari yang terbuat dari batu pualam sedang memegang cupu2 yang menyemprotkan air. Hiang Kat berdiri tegak diikat pada patung bidadari itu. "Hiang Kat " Berseru Ouw Ga demi melihatnya. "Ouw Ga " Balasnya Hiang Kat. Dengan hati tegang In Hong bersama Ouw Ga setindak demi setindak melangkah mendekati kearah empang ikan itu. Berhenti! Tidak boleh mendekati empang lagi! Kalau tidak segera aku lemparkan obor ini kedalam empang ini! Li Siu Tin mengancam mereka, karena ia nampak kedua pengawalnya telah gagal menembak In Hong dan Ouw Ga. Tidak ada jalan lain lagi bagi Li Siu Tin sekarang untuk menghadapi situasi yang sudah menemui jalan buntu ini, kecuali menggunakan rencananya yang kejam serta keji yang paling penghabisan untuk menentangnya. In Hong dan Ouw Ga menghentikan langkah kakinya. dan menandangkan matanya untuk meninyau keadaan empang itu dengan saksama. Tempat berdiri mereka terpisah dengan Li Siu Tin kira2 dua puluh langkah jauhnya, letaknya kedudukannya berada disebelah timur empang ikan itu. Malam ini angin bertiup dari sebelah barat, bau bensin bersama embusan angin sampai kelobang hidung mereka. Api obor yang dipegang Li Siu Tin itu pun tertiup angin barat kearah timur, apabila angin itu berubah arahnya, bertiup dari timur kearah barat, maka nyala api obor akan dojong kearah empang ikan itu, letik apinya akan terya-tuh didalam empang ikan, dan bensin yang mengapung diatas air itu akan segera menyala karena terbakar letikan api itu. jika terjadi demikian, Hiang Kat akan tidak ada harapan untuk hidup terus. "Bukankah kau menghendaki berkompromi dengan aku ? " Tanya In Hong kepada Li siu Tin. "Tidak ada yang dikatakan kompromi. Sengketa soal cintaku dengan Bee Su Bun, sama sekali tiada sangkut-pautnya dengan kalian. Kalian tinggalkan Bee Su Bun serta orang sebawahariku semua disini, lalu kalian meninggalkan tempat ini. Tunggu setelah besok Dji Dji Kouw menjalani hukuman mati, aku akan melepaskan nona Hiang Kat pulang dengan selamat. Inilah syarat pertukaran yang se-adil2nya." Kata Li Siu Tin dengan sikap membandel dan kata2 yang kaku ketus. "Berdasarkan atas syaratmu ini, bukankah Dji Dji Kouw akan mati konyol? Apa lagi orangmu tadi mengatakan bahwa Bee Su Bun dapat kami bawa pergi, mengapa seka-rang berubah pikiran?" Kata In Hong yang melayaninya tidak dengan sungguh2, karena otaknya tengah diperasnya untuk mencari suatu daya yang sempurna guna menyelamat-kan jiwa Hiang Kat. "Dji Dji Kouw tidak mati, sebaliknya nona Hiang Kat if akan mati konyol. Mengenai Bee Su Bun, tetap hams ditinggal disini." Kata Li Siu Tin yang memegang teguh pokok pikirannya. Hiang Kat yang diikat pada patung bidadari itu bersiul untuk memberitahukan kepada In Hong, bahwa tambang pengikat pada tubuhnya telah menjadi kendor karena man-Iteranya, didalam dua tiga detik lagi ia sudah dapat lolos, hanya apa yang disayangkan yalah ia tidak' dapat kedarat Iyang jaraknya belasan kaki itu. Demi mendengar kata2 rahasia dari siulan itu, In Hong 18pun menjawab dengan siulan pula, bahwa ia akan mem-fbantunya lompat mendarat, dimintanya Hiang Kat me- Sementara itu pun ia bersiul memberi koraando kepada Ouw Ga, Jsupaya segera merampas obor iang dipegang oleh "Li Siu Tin. "Kalian merundingkan akai apa ? Kuberi waktu sepu-juh detik untuk memikirkan syarat pertukaran ini, fselewatnya waktu itu akan kusulut empang ikan ini hingga nyala terbakar, dan nona Hiang Kat akan lenyap binasa terbakar api." "Do — Mi — Sol — Do !" In Hong menyiulkan empat nada sebagai tanda bergerak. Dengan segenap tenaga Hiang Kat melepaskan tambang pengikatnya yang sudah kendor itu kebawah. Nam-pak kejadian itu, dengan mengertck gigi Li Siu Tin melontarkan obornya kearah empang. Tetapi belum lagi obor itu jatuh, Ouw Ga sudah lompat menyanggapinya. Hanya disayangkan karena kedudukanriya dan kecepatan lompatnya yang pesat itu, kaki kanannya berada didarat sedang , kaki kirinya masih menggantung ber-goyang2. Tubuhnya miring kearah empang, tangan kanannya mencekal obor yang berbahaya itu. Gerakan ketiga orang itu dilakukan dengan serentak. In Hong lompat ketepi empang lalu lompat pula kedasar pangkalan air mancur, dengan pisau kecilnya ia memu-tuskan tambang pengikat Hiang Kat pada kakinya. Nampak tubuh Ouw Ga yang hampir jatuh itu, Li SiuTin segera menghampirinya, lalu dengan kedua tangannya men-dorong punggung Ouw Ga, sehingga Ouw Ga yang ingin memutar tubuhnya lompat balik itu gagal dan terjatuh keempang. Sekalipun demikian masih sempat ia melontar-kan obor itu balik kedarat. Nampak kejadian itu, Li Siu Tin buru-lari mengambil obor yang dibuang itu kemudian lari balik dan melontar-kannya kedalam empang, dengan segera empang ikan itu menjadi lautan api, asapnya mengepul membubung tinggi keangkasa. Puaslah Li Siu Tin nampak kejadian itu, ia tertawa gelak-tidak habis2nya. In Hong, Ouw Ga dan Hiang Kat ketiga musuh besarnya itu ielah terkubur didalam njalanya api, atau lebih tepat tenggelam musnah didalam lautan api, pikirnya. Tetapi ia tidak tahu, bahwa hal yang sebenarnya tidak-lah demikian. In Hong dan Hiang Kat telah berhasil men-darat ketepi empang sebelah sana, ketika Li Siu Tin baru lari menyemput obor itu. Sedang Ouw Ga yang terjatuh kedalam empang itu pun keburu berhasil mendarat pada satu atau dua detik sebelum empang menyala terbakar, dan lari jauh2 dengan pakaian basah yang mengandung bensin itu, untuk menghindarkan diri tersambar nyala api ikut terbakar. Kegirangan Li Siu Tin hanya sebentar saya lalu lenyap sama sekali ketika dibawah sinar api besar itu ia nampak In Hong bersama Hiang Kat munculkan diri. Lenyaplah segala harapannya dan sebaliknya ia jadi nekat lalu membunuh dirinya sendiri dengan menceburkan diri kedalam api yang sedang menyala berkobar2 untuk menghabiskan riwayat penghidupannya yang sangat jahat itu. Sesudah terjadi segala kejadian tadi, maka In Hong, Ouw Ga, Hiang Kat dan Bee Su Bun dengan mengiring kedua pengawal Li Siu Tin yang sudah diikat dengan Ong ji San Niauw dan A Ong menjadi dua ikat itu mengendarai mobil Ford yang sudah ketinggalan zaman itu menuju lt. kejalan Sia Fe Road dimana kepala detektif To Tie An . berdiam disitu. Ketika itu sinar matahari sudah mulai meraancar tinggi diangkasa, menandakan bahwa cuaca cerah u! pada hari itu. Ouw Ga yang mengendarakan mobil itu menginyak gas sepenuhnya. Waktu itu arloji tangannya sudah menunjuk-ittkan pukul 06.15, waktu penyelenggaraan hukuman mati |Dji Dji Kouw hanya tinggal satu jam empat puluh lima menit lagi. Kecepatan mobil kuno ini tidak lebih laju daripada kecepatan sepeda yang paling cepat. Ouw Ga yang ingin buru2 dirasakannya mobil itu makin lambat jalannya. Meskipun mengambil waktu lama, achirnya mereka tiba j.juga didepan rumah To Tie An si kepala detektip itu.' To Tie An kaget dan terbangun dari tidurnya, karena laporan Jmendadak atas kedatangan tamu2nya itu, setelah ia menanyai apa keperluan mereka serta mencatat pengakuan keempat pesakitan itu, ia mulai mengutuk kesalahan pengusutan perkara yang telah dilakukannya sendiri. Dan ia menyesali. bahwa Dji Dji Kouw terfitnah dengan tiada salahnya. "To Thamtio, kini bukan waktunya untuk kau menya-takan penyesalanmu, lekaslah kita pergi kepenjara untuk If mencegah pelaksanaan hukuman mati itu!" Kata Ouw Ga. "Oh, Nona Ouw Ga, sebenarnya aku tidak kuasa untuk mencegahnya, karena perkara itu telah diputuskan oleh hakim didalam sidang pengadilan," Kata To Tie An yang menyatakan tidak dapat berdaya. "Kita berkunjung kepada ketua pengadilan negeri, dia berhak untuk mencegah dilaksanakannya hukuman mati itu. Asalkan kau membuktikan, bahwa terdakwa yang se-\ sungguhnya telah tertangkap, dan nona Dji Dji Kouw terang tidak bersalah, kewajibanmu sudah kau tunaikan." Kata In Hong. "Kalau demikian, mari kita temui ketua pengadilan negeri!" Kata To Tie An. "To Thamtio, adakah kau memiliki mobil yang cepat jalannya?" Tanya Ouw Ga. "Aku punya mobil pribadi streamline delapan cylender merek Studebaker, apakah cojtok dengan keinginanmu?" Kata kepala detektip itu. "Banyak lebih baik daripada mobil Ford usang yang bercylender empat itu." Kata Ouw Ga. Waktu itu sudah pukul 07.10 pagi, waktunya makin sempit. Mobil To Tie An yang bercylender delapan itu ditum-pangi penuh dengan orang2 termasuk empat orang pesa-kitan, dikendarakan oleh Ouw Ga juga, bagaikan terbang meluncur kearah jalan Great West Road tempat kedia-man ketua pengadilan negeri. Dirumah ketua pengadilan negeri itu, dengan melalui proses penyelasan, pemeriksaan kilat dan pembuktian. mereka telah membuang pula waktu empat puluh menit, baru mendapat persetujuan ketua pengadilan negeri itu ikut serta pergi ketempat pelaksanaan hukuman mati untuk menolong jiwa Dji Dji Kouw. Mobil itu dilarikan Ouw Ga dengan kecepatan delapan puluh kilometer sejam. Waktu itu jam sudah menun jukkan pukul 07.50, ketika mobil melalui jalan yang ramai. berulang kali mobil itu terhalang oleh lampu merah tanda lalu-lintas maka waktu hanya tinggal empat menit saya. Ouw Ga mulai dengan sifat keberandalannya, ia tidak menghiraukan lagi tanda2 lampu lalu-lintas, dengan mem-babi-buta ia meluncurkan terus kendaraannya, polisi lalu-lintas tidak keburu mencetopnya, hanya mencatat nomor mobil itu saya. Ouw Ga tidak sungkan2 memotong jalannya sebuah mobil yang lebih dulu berjalan dihadapannya, banyak ba-haya dihadapinya, hampir2 ia bertubrukan dengan kenda-raan lain atau selip dan terbalik. Ketua pengadilan negeri dengan tangannya menutupi mukanya tidak berani menyaksikannya. "Nona Ouw Ga, pelahankanlah sedikit! Ini terlampau berbahaya!" Kata To Tie An dengan hatinya memukul keras. Ouw Ga tetap tidak menghiraukannya, ia seperti tidak mendengarnya, bahkan ia mempercepat jalannya mobil itu. Achirnya mobil itu berhasil tnemasuki pintu gerbang besi dari rumah penjara dan berhenti diambang pintu lapangan pelaksanaan hukuman tembak. Dan erloji tangan Ouw Ga menunjukkan tepat pukul 08.00 pagi. Dengan se-konyong2 mereka dengar suatu suara temba kan yang njaring. "Aduh, kita telah datang terlambat, habislah sudah jiwa Dji Dji Kouw!" Teriak Ouw Ga karena putus ha-rapannya. In Hong lompat dari mobil, nampak pintu lapangan tertutup rapat, lalu lompat masuk dari pagar tembok yang pendek. Tertampak olehnya ditengah2 lapang itu sudah ada seorang pesakitan laki2 menggeletak ditanah dengan mengalirkan darah karena baru saja menjalani hukuman tembak mati. Ia nampak pula ada dua tentara pengawal lain mengapit Dji Dji Kouw dari depan meya petugas pelaksana hukuman dibawa ketengah lapang. Seorang polisi pelaksana hukum mati memegang senjata api ditangannya sudah siap menjalankan tugasnya yang kedua. Dji Dji Kouw diseret ketengah lapang pelaksanaan hukuman, wajah mukanya pucat putih bagaikan kertas, kedua kakinya bertekuk lutut tiada tenaga. Rasa ketakutan menyelang ayalnya meliputi seluruh sel tubuhnya. Polisi pelaksana hukum mengangkat senjata hendak melepaskan tembakannya. "Ketua pengadilan negeri kalian telah tiba, dia memerintahkan kalian untuk sementara menangguhkan pelaksanaan hukum! teriak In Hong se-kuat2nya. Demi mendengar teriakan itu, maka seluruh lapangan itu jadi riuh dan kacau. Tentara2 pengawal tengah hendak menangkap wanita yang mengacau ketertiban lapangan pelaksanaan hukum tembak ini, atau ketua pengadilan negeri To Tie An serta oratig2 lainnya sudah muncul diambang pintu tempat pelaksanaan hukuman .itu. Dua bulan kemudian, In Hong menerima surat undang-an dari Bee Su Bun dan Dji Dji Kouw dimintanya meng hadiri upacara pernikahan mereka. Bersama dengan itu iapun menerima sepucuk surat dari To Tie An si kepala detektip yang isinya seperti berikut. Karena hendak menolong Dji Dji Kouw, kalian menggunakan mobilku mcnyerobot menyeruduk dijalan bcsar, membuat pelanggaran berat peraturan lalu-lintas lebih dari tiga puluh pasal. Pihak pngurus lalu-lintas dikantor polisi, mencabut surat liscnsi kendaraanku untuk satu tahun lamanya sebagai hukuman terhadapku yang dianggapnya orang yang tahu hukum sengaja melanggat 3 hukum. Aku sengaja mengucapkan terima kasih se-dalamnya kepada kalian. Suara gelak tertawa terdengar dari rumah kediaman In Hong hingga jauh malam masih belum lenyap. TAMAT Team Kolektor E Book Baca Juga: Kembalinya Sang Pendekar Rajawali 6 Baca Juga: Ilmu Ulat Sutera 7