Ceritasilat Novel Online

Perguruan Sejati 2

Eps 2 Perguruan Sejati - Khu Lung

Baca online Perguruan Sejati - Khu Lung

Cersil Perguruan Sejati - Khu Lung.

"Perkataan In Heng memang benar, tetapi sakit hati orang tua itu beratnya laksana gunung, dalam seperti lautan, walau bagaimana sebagai anaknya harus membereskan soal ini menurut Kang Ouw !"

"Ya begitupun tak salahnya, tapi hari-hari berkesal hati, tak ada gunanya bukan ?"

"Benar,"

Kata Pek Kiam Hong.

Entah bagaimana hari ini, sipemuda aneh berubah banyak dan terus bicara panjang lebar dengan pemuda kita, sampai malam mendatang ia baru pulang.

***** Seberlalunya Pek Kiam Hong, Tiong Giok baru bisa menuturkan apa yang di alaminya hari ini kepada Cian Bin Sin Kay.

"Tidakkah engkau melihat salah, buku yang diterjemahkan itu bernama Keng Thian Cit Su ?"

"Mana bisa salah lihat,"

Kata In Tiong Giok. .Itu adalah buku luar biasa barangkali !"

"Heran kenapa buku itu bisa jatuh ditangan mereka,"

Kata Cu Lit.

"Ah, waktu sangat mendesak, biar bagaimana harus meloloskan diri biarlah Tojin keparat hidup beberapa lama lagi."

"Burung pos sudah dikirim, dan aku harus mengerjakan buku itu, bagaimana baiknya ?"

"Biar bagaimana buku itu tidak boleh engkau terjemahkan,"

Kata Cu Lit denagn bersungguh-sungguh.

"Sebab menyangkut luas kaum persilatan, jika jatuh ditangan mereka dan dipelajari, tak ada lagi kekuatan untuk menentang sepak terjang orang-orang Pok Thian Pang !"

"Ya, bagaimana menolak pekerjaan ini ?"

"sedapatnya engkau dapatkan itu lalu kita kabur !"

"Mana semudah itu, begitu ketat sekali..... mana mungkin bisa lolos ?"

"Asal engkau bisa memperoleh buku itu, pokoknya aku bisa berdaya keluar dari sini !"

"Sejujurnya aku tak sanggup mendapatkannya..."

"Ah kenapa bodoh betul ! Engkau sediakan sehelai kertas dan tulisan dalam huruf Ssangsekerta. Selesai menterjemahkan berikan tulisanmu itu dan ambil yang asli !"

"Memang benar, tapi lama kelamaan bisa ketahuan juga !"

Disamping itu merekapun mendapatkan apa yang diterjemahkan, sedikitpun tidak dirugikan bukan ?"

"Menurutmu tidak bisa, hm, lihatlah kerjaanku sebentar malam !"

Sehabis berkata ia mengeluarkan kedoknya dan mulai mengolah dengan tekun.

"Apa maksud Lo Cianpwee menyamar sebagai boanpwee ?"

"Benar ! Untuk mendapatkan buku itu menyamar sebagai perempuanpun akan kulakukan !"

"Terlalu berbahaya, jika ketahuan hanya kematian yang menantikan !"

"Hm, kau kira mendapat gelar manis sebagai pengemis berwajah seribu itu mudah ? Pokonya kau diam-diam dan tahu beres,"

Disuruhnya sipemuda menulis bahasa sangsekerta dan begitu selesai diolahnya kertas itu menjadi serupa yang seperti Tiong Giok lihat.

Waktu malamnya segala persiapan sudah beres, Cu Lit menyamar sebagai Tiong Giok dan yang belakangan sebagai In Hok.

Dengan tenang dinantinya kereta penjemput.

In Tiong Giok tidak bisa mencegah kemauan Cu Lit, ia hanya berdoa agar orang tua itu sukses menjalankan rolnya.

Tak selang lama Siau Eng datang menjemput.

"Hm, baru kesini saja engkau sudah tak sabar, tadi seharian engkau main perahu membuat kami kesal menanti !"

"Sudahlah, jangan banyak cerita mari kita berangkat !"

Kata Cu Lit.

In Tiong Giok memandang kepergian mereka dengan berdoa terus.

Da terus mundar mandir dengan kuatir.

Ia tidak tidur barang sekejap setiap kentongan peronda berbunyi, hatinya dak dik duk tak keruan, kuatir rahasia Cu Lit diketahui orang.

Dalam keadaan semacam pikiran selalu berbayang kearah buruknya saja !"

Tiba-tiba hatinya yang sedang risau berdebar semakin keras, karena telinganya mendengar ketoprakan suara kuda.

Pikirnya segala rahasia Cu Lit sudah terbongkar, dengan cepat ia mematikan lampu, dan siap-siap menghadapi segala kemungkinan dengan Hiat Ci Lengnya.

Ia tidak mau sampai ketangkap hidup-hidup, pikirannya ini sudah mantap, ia mau mengadu jiwa.

Sementara itu suara ketoprakan kuda sudah sampai di depan rumah.

Disusuli dengan ketuknya pintu dan suara orang yang memanggil-manggil.

"In Hok, lekas buka pintu !"

Hatinya semakin tak keruan rasa, itulah suara Wan Jie. Tapi ia menjawab juga dengan berat.

"Mau apa malam-malam datang kesini !"

"Lekas buka ! Kongcu jatuh sakit, aku mengantarnya pulang !"

Sakit ?

Benarkah Cu Lit sakit ?

Cepat ia menyalakan api dan membuka pintu.

Tampak Wan Jie dengan kedua pelayannya berwajah masam dua pengawal memondong Cu Lit, masuk kedalam.

Orang tua itu terlihat meram, lengannya menekap perut, dan merintih terus.

Tiong Giok tak mengerti apa yang terjadi dengan penuh perhatian ia memegang jidat Cu Lit, yang disebut belakangan menggunakan kesempatan ini membuka mata dan mengedipkannya.

"Tak apa bawa aku keranjang, sebentar lagipun....aduh....perutku seperti diiris-iris....aduh....."

Lekas letakkan In Kongcu dipembaringan, hati-hati jangan menyentuh perutnya,"

Perintah Wan Jie.

Jilid 4________ Pengawal itu menjalankan perintahnya. Tanpa bersuara, sedangkan In Tiong Giok mengikuti masuk kekamar, lalu ia berkata pada Wan Jie .

"Sejak kecil Kongcu sering sakit perut, asal sudah berkeringat dan istirahat sebentar akan baik lagi, Kounio tak perlu kuatir !"

"Ah, semua salahku juga,"

Kata Wan Jie, jika tidak gara-gara siang kecebur didanau mungkin ia tidak akan sakit !"

"Sudah larut malam, Kounio mencapaikan hati datang kesini mengantar Kongcu, mari duduk dulu, kusediakan minuman hangat !"

"Tak usah kami segera kembali !"

Kata Wan Jie.

"jagalah baik-baik Kongcumu, jika perlu kupanggilkan tabib !"

"Terima kasih atas pertolongan nona, ini penyakit biasa, tak lama lagi ia akan baik jika sudah berkeringat !"

Mereka berlalu, tanpi Wan Jie membalik badan dan memanggil "In Hok"

Kutahu mungkin Kongcumu mungkin masih gusar padaku, maka tidak kuganggu lama-lama disini.

Jika ia sudah baik, nasehatkan jangan mengambil dihati apa yang kukatakan hari ini...ah, tidak kusangka ia begitu bodoh !"

"Jangan kuatir nanti kuberi nasehat !"

"Barusan Pangcu sudah memberikannya obat !"

Kata Wan Jie, soal menterjemahkan buku tak usah tergesa-gesa, yang perlu kesehatannya terjaga baik. Untuk ini besok kusuruh Siau Hong datang menjaganya.

"Tak usah, dengan adanya aku sudah cukup !"

"Jangan lupa pesanku barusan, besok kudatang lagi menjenguknya !"

Agaknya ia berat meninggalkan si pemuda, matanya masih terus memandang Tiong Giok yang meringkel dan merintih terus dipembaringan.

Begitu kereta pergi dan Tiong Giok masuk kedalam, segala penyakitnya Cu Litpun menjadi sembuh mendadak.

Ia duduk dipembaringan sambil membengong.

"Locianpwee kenapa tiba-tiba berlagak sakit ? Kukira rahasia ketahuan dan ketakutan setengah mati !"

"Ya hampir-hampir ketahuan, untung aku berlagak sakit, dan berhasil mengelabui mereka."

"Kenapa bisa terjadi begitu ?"

Cu Lit mengeluarkan sepucuk surat dari sakunya dan menyerahkan pada kawannya.

Surat itu bertulisan sebagai berikut .

Siang terkenang malam terbayang.

Makan tak enak tidur tak nyenyak.

Pikiran selalu tergoda.

Ingin hati ke Villa Tenang.

"Locianpwee, tentu Wan Jie yang menulis sajak ini bukan ?"

"Sudah tentu dia, apa itu irama cinta ? Aku tak mengerti sedikit juga, gara-gara dia urusan malam ini berantakan tak keruan !"

"Ada sangkutan apa sajak ini dengan urusan malam ini ?"

"Malam ini ?"

"Berjalan dengan lancar, kata Cu lit, Pangcu itu setelah menyerahkan helaian kertas yang harus diterjemahkan lantas berlalu. Kesempatan ini kugunakan dengan cepat untuk mengganti dengan helaian kertas yang sudah disiapkan. Apa celaka kekasihmu tiba-tiba datang membrrikan surat ini kepadaku dan berkata manis . Apakah engkau sudah memikirkan perkataanku tadi siang !"

"Aku bingung, apa maksud surat ini, apa maksud omongannya tidak mengerti sama sekali, maka itu dengan sejujurnya kujawab tidak mengeerti. Akh celaka banyak perkataan lain kenapa dijawab tidak mengerti.

"Ya akupun merasa heran setelah mendengar jawabanku, gadis itu mengambang air matanya. Tak lain jawabanmu selalu tak mengerti .

"Kutahu engkau pura-pura bodoh, dan memainkan api asmara untuk menipu diriku dan memperkacau !"

"Ini sih membuatku penasaran sja !"

Kata Tiong Giok.

"akupun berkata begitu padanya, tapi ia tak percaya. Sampaipun akan mengerti padanya, sia-sia saja aku mencapaikan hati, kembalikan surat itu, katanya dengan marah-marah."

"Mati-matian tidak kuberikan, sehingga terjadi pergumulan untuk memperebutkan surat ini akhirnya ia berhasil juga mengambil dari dalam sakuku, tapi bukan surat ini melainkan surat untuk menukar itu. Ia rupanya sedang sengit tanpa banyakbicara disobek-sobeknya surat itu lalu dikantongi. Dalam gugupku aku pura-pura sakit perut !"

"Asal ia mau menyambung-nyambung lagi sobekan kertas itu, segala belang kita akan kelihatan, kata In Tiong Giok. Sudah kukiar jalan ini takkan berhasil, nyatanya benar gagal !"

"Jangan patah semangat, dari soal yang burukpun bisa menadtangkan keuntungan !"

"Aneh dimana ada keuntungan kalau sudah buruk ?"

Cu Lit tidak banyak bicara ia hanya mengubah wajahnya menjadi "In Hok"

Dan Tiong Giok diwajah aslinya.

Setelah itu tanpa banyak komentar ia mendorong jendela dan mencelat keluar.

In Ting Giok tidak sempat bertanya mau kemana orang tua itu, ia hanya bisa mengusap dada dengan mendongkol.

Lebih setengah jam lamanya Cian Bin Sin Kay telah kembali lagi membawa bungkusan.

Kelas bersiap, mari kita kabur.

Cian Bin Sin Kay membuka bungkusan, disini terdapat baju seragam kuning berbaju emas.

"Ah bukankah ini pakaian Lie Tongleng ?"

Tanya Tiong Giok.

"Siapa bilang bukan ?"

Jawab Cu Lit dan terus menjembreng baju itu, tiba-tiba terdengar bunyi kelenting, sebuah tanda pengenal dari Pok Thian Pang yang mengkilap jatuh kelantai.

"Sampai tanda pengenalpun didapat, dengan cara apa Lo Cianpwee mendapatkannya ?"

Cu Lit menepuk-nepuk dada.

"Bukannya sombong segala manusia disini sedikitpun tidak menyulitkan diriku ! Engkau tahu hanya sebatang Bie Hun Hio (dupa pemabuk sukma) cukup membuat Lie Tongleng menyerahkan semua brang-barangnya kepadaku !"

Cu Lit segera mengubah wajahnya menjadi Lie Tongleng, dengan seragam kuning yang sudah dipakai, siapapun sukar membedakannya, tak cuma-cuma ia memperoleh gelar Cian Bin Sin Kay.

Eh ingat bila terjadi apa-apa jangan bersuara sepatahpun, semuanya serahkan padaku!"

Tiong Giok mengangguk, mereka tertawa dan mematikan lampu, diluar tahu siapapun mereka meninggalkan Villa Tenang dengan tenang.

Tapi diluar dugaan mereka seorang bertopeng hitam yang berdiam diatas sebatang pohon sejak tadi mengawasi gerak-gerik mereka.

Keadaan malam sangat dingin dan penuh kabut sungguhpun demikian dua pengawal pantai yang bertugas masih mundar-mandir, dengan rajinnya.

"Biasanya kalau malam berkabut, besok siang pasti cuaca cerah,"

Kata salah seorang pengawal.

"Ah cuaca ini buruk sekali, malam dingin sekali, siang panasnya gila-gilaan, dan tugas malam ini hanya orang-orang sial yang melakukan ! Sedangkan atasan enak-enakan tidur !"

Tiba-tiba terdengar derapan sepatu, kedua pengawal itu menoleh kearah suara. Remang-remang ia melihat dua bayangan mendatangi.

"Hei, hati-hati bicara, lihat Lie Tongleng datang memeriksa !"

Kata pengawal yang bicara duluan.

"lekas banguni teman-teman."

Dengan cepat pengawal yang satunya berlarian dan memanggil temannya .

"Hei lekas ! Lekas ! Lie Tongleng datang memeriksa, sialan lekas bangun !"

Suara ribut terdengar digardu jaga, tujuh delapan pengawal terbangun dari mimpinya, cepat-cepat menyoren pedang dan merapikan baju dengan kagetnya. Waktu mereka "beres"

Dan keluar gardu.

"Lie Tongleng telah datang. Wajahnya ditekuk demikian masam, dengan sinar matanya tajam pengawal-pengawal dipelototi.

"Hm"

Dengusnya tanpa membuka mulut. Pengawal-pengawal itu ketakutan tak seorangpun berani mengangkat kepala. Salah seorang pengawal maju kedepan dan berkata .

"Kami termasuk regu ketujuh, dan yang rendah adalah komandan regu, harap Tongleng perriksa barisan."

"Hm engkau masih ingat sebagai komandan regu ? Tidakkah sedang bermimpi digardu itu ?"

"Ya memang yang rendah harus mati, demikian juga dengan anak buahku ini, mereka terlampau letih mama...maka..."

"Maka kalian bergiliran tidur ? Engkau terlampau berani melanggar kewajiban, ketahuilah, ini tempat terpenting bagi kita, jika sampai penjahat masuk, atau yang dikurung keluar siapa yang harus bertanggungjawab ? Engkau atau aku ?"

"Harap Tongleng memaafkan kami, lain kali tak berani lagi."

"Jika bisa memperbaiki kesalahan terhitung baik, tapi disiplin tetap berlaku, dan engkau boleh menghadap besok untuk menerima ganjaran, sekarang lekas siapkan perahu, aku dan In Kongcu akan menyeberang !"

Komandan regu cepat-cepat memerintahkan anak buahnya menyiapkan perahu.

"Hm, dungu betul, untuk apa perahu besar ini, aku minta yang kecil ! Kalian tak usah mengawal tidur saja disini !"

Komandan regu semakin ketakutan, lekas menyuruh bawahannya menyediakan perahu kecil.

Tongleng tetiron segera menuntun Tiong Giok naik, ia berdiri dan memaki lagi pada komandan regu ia sendiri belakangan, perahu tidak lantas dikayuh, dengan bengis .

"Hm, sudah jaga seenaknya, kerjapun tak benar, engkau sembarangan memberikan perahu ini sebelum melihat ini ?"

Kata Cu Lit sambil memperlihatkan tanda pengenal yang mengkilap.

"Tongleng pasti memiliki tanda pengenal, maka itu ditanya tak ditanya sama saja..."

"Hm dasar goblok, ini perahu tak peduli siapa harus diperiksa tanda pengenalnya, ingat sekali lagi berbuat begini, hukuman akan bertambah berat."

Komandan regu itu menjadi merah padam, dicaci maki dan diperingati "Tongleng"

Itu. Hatinya berdoa agar atasan itu lekas berlalu, permintaannya terkabul, karenaperahu telah meluncur, ia menarik napas lega. Dan lantas mementang mulut keras-keras.

"Gara-gara kalian enak-enakan tidur, yang kena maki adalah aku, besok semuanya menghadap ke Tongleng menerima ganjaran !" ***** Dari tengah-tengah danau In Tiong Giok memandang rumah dipulau, hatinya tiba-tiba saja mengingat pada Wan Jie. Saat ini gadis itu tentu sedang mimpi, pikirnya sudah pergi. Apakah peerpisahan ini bisa bertemu lagi.

"Hei, kenapa kau melamun ?"

Kata Cu Lit, coba lihat kerjaanku, mudah bukan ?"

"Lo Cianpwee jangan terlalu besar hati, perjalanan masih jauh kalau sudah keluar baru kita bicara !"

"Hm, penjaga pertama adalah To Kay Pong, sejak dulu kepandaiannya kuanggap tak berarti, seangkan Kim Tak Can itu, kurasa kepandaiannya tidak melebihi siorang she To !"

"Maksudmu bukan soal berkelahi,"

Kata In Tiong Giok, tapi dalam penyamaran ini bisakah menerobos semua pintu penjagaan itu atau tidak !"

"Dengan tanda pengenal ini semua pintu bisa dilewatkan, apa yang dikuatirkan lagi !"

"Sejujurnya Boanpwee merasa takut dan bagaimana kalau sampai rahasia ketahuan ?"

"Apapun yang terjadi engkau harus berpegang pada satu, tidak boleh turun tangan. Dua engkau harus berdaya lari, sedangkan aku akan menjadi tameng, biar matipun jadilah asal kau berhasil lolos !"

Tiba-tiba saja terlihat sinar terang menyorot mereka disusul dengan teguran .

"Siapa yang mengendarai perahu ditengah malam ?"

"Aku Lie Kee Cie !"

Jawab Cu Lit sambil mengayuh perahunya kepantai.

Disitu berdiri sepuluh pengawal memegang obor berdiri dikiri kanan seorang tua yang bukan lain dari To Kay Pong adanya.

In Tiong Giok bukan main takutnya, tapi tidak demikian dengan siorang tua dengan cepat dituntunnya Tiong Giok naik ke darat.

"Sudah begini malam Fut Hoat belum tidur ?"

Tanya Cu Lit sambil menjura.

"Oh, kata To Kay Pong dengan tertawa, sebaliknya malam-malam begini Tongleng akan kemana ?"

"Aku menerima tugas rahasia dari Pangcu, untuk mengantar In Kongcu keluar, tak kira mengganggu Fut Hoat saja !"

"Soal apa yang begitu penting dan harus dilakukan malam-malam ?"

Tanya To Kay Pong dengan kaget dan hilang senyumnya untuk seketika lamanya.

"Yakni soal yang berhubungan dengan menterjemahkan buku itu,"

Kata Cu Lit.

"tapi ini dirahasiakan benar, sebelum In Kongcu lagi tak bisa dibocorkan !"

"Tidajkah sebaiknya menunggu siang hari ? "Soal inipun aku tak jelas, hanya menjalankan ! Yang kutahu In Kongcu menterjemahkan buku dimalam hari, entah ada kesulitan apa dalam kerjaannya itu. Aku terlalu banyak bicara untung Fut Hoat bukanlah orang lain, jika tidak bisa aku celaka tak karuan !"

"Aku sedang heran mengapa tergesa-gesa benar, kiranya Lo Cucong yang memerintahkan, ia memang tak sabaran sekali !"

"Ya ..., sebenarnya akupun minta esok saja dilakukan, tapi dihardik sebagai pemalas, mau tak mau dimalam dingin ini keluar juga..."

"Jika begini harus cepat-cepat keluar,"

Kata To Kay Pong.

"mana tanda pengenal unutk keluar ?"

Cu Lit menyerahkan dengan kedua tangan. To Kay Pong memeriksa sejenak dengan cermat, wajahnya muram, tentu membuat In Tiong Giok kebat-kebit tak tentu rasa.

"Jika Fut Hoat tidak ada pesan lain lagi, kurasa mau..."

Kata Cu Lit.

"Biasanya Lie Tongleng sangat tertib dan hati-hati, kenapa hari ini kesusu sekali ?"

Tanya To Kay Pong.

"Mungkinkah begitu, tapi aku tak merasakan sedikit juga !"

"apakah engkau tak tahu di danau ini tidak boleh berlabuh perahu bentuk apapun, apakah lupa ? Jika engkau pergi siapa yang harus membawa perahu ini kepangkalan ?"

"Fut Hoat memang benar, tapi sudah kuperintahkan komandan jaga malam ini untuk mengambil perahu begitu fajar menyingsing!"

"Sungguhpun engkau sebagai Tongleng tapi tak boleh sembarangan melanggar peraturan lain kali kalau begini lagi jangan salahkan aku berlaku tegas !"

"Ya nasehat ini akan kuingat terus !"

Kata Cu Lit dengan mendongkol. To Kay Pong mengembalikan tanda pengenal Cu Lit menerima dengan girang, dengan hormat ia permisi. Tapi baru saja jalan beberapa langkah terdengar To Kay Pong berseru .

"Stop dulu !"

"Masih ada pesan lagi Fut Hoat ?"

"Jangan tergesa-gesa, apakah tak perlu kuda ?"

"Benar !"

Jawab Cu Lit dengan kemalu-maluan.

"terima kasih atas perhatian Fut Hoat !"

Dengan cepat mereka naik keatas kuda dan menerjang kabut dan melanjutkan perjalanan.

Jika terjadi segala perubahan tenang-tenang saja, sebaliknya jika engkau lolos lekaslah pergi kekota Ngo be siang, temui seorang yang bernama Lui Sin (dewa petir).

Tong Cian Lie, katakana aku yang menyuruhmu mencarinya.

Dengan cepat mereka sampai didepan pintu keluar.

"Buka pintu ! Buka Pintu!"

Teriak Cu Lit berulang kali.

"Mau kemana malam begini Tongleng ?"

Tanya penjaga.

"Apakah tidak melihat tanda pengenal ini ? Lekas buka pintu !"

Bentak Cu Lit.

"Aku minta Tongleng tunggu sebentar, aku yang rendah akan lapor dulu pada Fut Hoat !"

"Jangan banyak pernik, lekas buka pintu !"

"Tongleng jangan gusar, bukan yang rendah tak mau buka pintu, tapi ...kuncinya berada pada Kim Futhoat, setiap yang keluar harus seijin Futhoat!"

"Jika begitu, lekaslah beri tahu Kim Futhoat, lekas !"

Penjaga itu cepat pergi dan kembali lagi dengan Kim Tak Can. Ia memeriksa dulu tanda pengenal itu dan bertanya .

"Ada urusan apa membuatmu tergesa-gesa ?"

"Atas perintah Pangcu tak dapat aku beritahu padamu, diharap Futhoat memberi jalan setelah melihat tanda pengenal ini !"

"Siapa yang menerima tugas engkau ataukah dia ?"

Tunjuknya pada In Tiong Giok.

"Aku dan dia !"

"Tak bisa !"

Jawab Kim Futhoat.

"Untukku hanya berlaku peraturan stu tanda pengenal untuk satu orang, bukankah sudah kau ketahui ?"

"Tidakkah Kim Futhoat tahu, aku menjalankan atas perintah Lo Cucong ?"

"Pokoknya sekali kubilang tidak ya tidak !"

"Kalau satu tanda pengenal berlaku seorang silahkan In Kongcu yang pergi, karena dialah yang memerlukan bahan guna pekerjaannya !"

Kim Tak Casn menganggukkan kepala, dan mengeluarkan kunci untuk buka pintu, tetapi dengan tiba-tiba dari balik gunung tedengar suara genta, dan terlihat di udara tiga pancaran sinar api.

Pengawal-pengawal disitupun segera mundur dan siap dengan senjata terhunus, karena tanda itu berarti, semua pintu keluar harus ditutup, ada penjahat didalam.

Kim Tak Can tak sudi membuka pintu !.

Cian Bin Sin Kay tahu rahasianya dipecahkan maka dengan gusar ia menghajar jeruji besi berantakan, batu gunung meluruk bagaikan hujan.

Obor yang dipegang para pengawalpun menjadi padam.

Dengan cepat ia menerobos kedalam terowongan.

Tetapi sesampai dimulut terowongan Kim Tak Can sudah menghadang dengan bertolak pinggang.

Begitu kedua buronan tiba ia membarengi melompat sambil membentangkan kedua tangannya menangkap kaki depan kedua kuda.

Cu Lit tak menduga Kim Tak Can itu berani gegabah semacam itu, tak sempat buatnya berpikir lama-lama, cepat-cepat melompat sambil menjambrat In Tiong Giok dan turun kebumi.

Kim Tak Can kekuatannya luar biasa, kedua kuda ditangan kiri dan kanannya di angkat, lalu diputar sekali dan dilemparkannya didalam jurang, kuda-kuda itu meringkik dan hancur luluh termakan cadas tajam.

Kekuatan dan keberanian Kim Tak Can membuat Cu Lit kagum, dan iapun tahu musuh itu bukan saja kepandaiannya itu luar biasa juga tenaganya luar biasa.

Sedangkan pengawal-pengawal menyerang serentak dengan pedang terhunus.

"Hmm, kalian sudah bosan hidup !"

Bentak Cu Lit dan terus mengebutkan cambuk kuda yang masih dipegangi terus kearah pengawal.

Senjata darurat itu kelihatannya tidak berarti, tapi berada ditangan Cu Lit menjadi ampuh.

Pengawal itu seolah menjadi bingung dan mentah-mentah di lalap cambuk itu, merupakan korban empuk.

Terjungkel tanpa berkutik lagi.

Kehebatan dari cambuk ini membuat pengawal-pengawal lain gentar sendiri, seangan merekapun kendur sendiri.

Cu Lit meraba-raba pinggang mencabut tongkat bamboo yang lunak.

Tongkat ini sebesar jeriji tangan besarnya, warnanya hitam, merupakan hasil dari selatan setelah di olah dengan air obat bisa menjadi keras dan lunak ujungnya merupakan kaitan yang tajam yang khusus di gunakan untuk menghancurkan ilmu dalam.

Tongkat ini merupakan pusaka dari kaum pengemis yang bernama Kong Cu Juan Tio ( tongkat bamboo keras dan lunak), puluhan tahun tongkat ini tak pernah digunakan, tak kira malam ini, untuk menghadapi Kim Tak Can di pakainya juga.

Dengan kecepatan luar biasa tongkat itu berputar untuk membuyarkan kurungan pengawal-pengawal.

Dalam sekejap saja, terdengar bunyi jeritan seram disusul dengan bergelimpangan tujuh delapan pengawal antaranya ada yang mengenali juga senjata Kong Cu Juan Tio.

Terus berseru keras.

"Dia adalah Cian Bin Sin Kay !"

Peringatan ini membuat sisa-sisa pengawal mundur teratur.

"Hm, kiranya engkau bukan Lie Kee Cie !"

Bentak Kim Tak Can.

"Lie Kee Cie biar mau menjadi anakku, aku tampik, karena keliwat bodoh,"

Jawab Cu Lit dan terus membuka kedoknya memperlihatkan wajah aslinya. Kim Tak Can tak mengenali ilmu slain rupa, menggantikan Cu Lit ganti rupa menjadi kaget mundur beberapa langkah.

"Engkau bisa berubah ?"

"Bukan saja bisa berubah, tongkatkupun bisa membungkamkan mulutmu itu ! Orang she Kim, ilmu pelajaran kamu diperoleh dengan susah payah, maka kunasehatkan berilah jalanku !"

Kim Tak Can seperti mengerti dan tidak, ia terpekur sejenak, lalu berpaling kebelakang dan memerintahkan kepada pengawalnya .

"Bawa kemari !"

Tidak selang lama terlihat empat pengawal menggotong dua kantong besar, Kim Tak Can membuka kantong itu dan mengeluarkan dua senjata aneh yang berbentuk patung berkaki satu.

Patung ini tidak bedanya sebesar anak umur dua belas tahun, mengkilap terbuat dari tembaga.

"Ya untuk memberi jalan mudah tempur aku dulu !"

Kata Kim Tak Can sambil mengangkat kedua senjatanya itu, dengan ringan, lalu satu sama lain dibenturkan, menerbitkan dentingan keras.

Tubuhnya berbareng maju, serangannya dilancarkan saat itu juga.

Cu Lit dengan gagah melayani musuhnya, dalam sekejap dua bayangan merapat dan merenggang, dan terdengar tiga kali bentrokan senjata.

Cu Lit merasakan pergelangan tangannya mengilu dan tongkatnya hampir-hampir terlepas dari tangan.

Sedangkan musuhnya terhuyung-huyung tujuh delapan langkah dan jatuh terduduk.

Kesempatan ini dipergunakan Cu Lit sebaik-baiknya, kaitan tongkatnya akan di gunakan untuk menghancurkan kekuatan musuhnya.

Tatkala ujung tongkat hampir mengenai sasaran, Kim Tak Can berseru keras dan melemparkan kedua senjatanya kearah lawan dengan kecepatan tongkat laksana kilat, demikian juga dengan kedua senjata beratnya, kedua-duanya tak sempat menarik serangan, hanya terdengar suara "buk-buk"

Dan "euh euh"... Cian Bin Sin Kay berhasil membuat musuh jungkir balik dan pingsan ketika itu juga, sedangkan ia sendiri, terhuyung-huyung terkena senjata musuh.

"waaak"memuntahkan darah segar. In Tiong Giok dan sekalian pengawal yang menyaksikan perkelahian ini, terpaku bengong tanpa bisa mengeluarkan sepatah suarapun. Cian Bin Sin Kay berdiri sambil menunjangkan tongkatnya, wajahnya pucat, janggut dan bajunya berlepotan darah yang dimuntahkannya. Sesaat berlalu, keadaan sunyi sekali, baru terlihat Cu Lit mengangkat tongkatnya dan menyeka mulutnya, diajaknya In Tiong Giok ketempat tangga. Sekalian pengawal menyaksikan akan keahlian, atau juga kegagahan orang tua itu dengan kagum, maka tak merintangi mereka pergi. Tapi tangga baja yang bisa diturun naikkan itu, saat ini berada ditengah-tengah jurang yang curam.

"Dimana tempat menurun naikkan tangga ?"

Tanya Cu Lit sambil mendelik pada pengawal-pengawal disekitarnya. Tidak ada jawaban sepatahpun.

"Hm jangan dikia aku sudah menderita luka, tapi untuk mengirim kamu ke liang kubur mudahnya sebagai membalik telapak tangan sendiri !"

"Kami tahu merintangi Lo Cianpwee berarti kematian, tapi memberikan jalanpun mendapat hukuman mati ! Sedangkan kunci menurunkan naikkan tangga berada ditangan Kim Futhoat. Untuk ini, kami memohon pengertian dari Lo Cianpwee akan kesulitan kami,"

Kata seorang pengawal yang paling tua.

"Kalau begitu kuminta kalian mundur sepuluh langkah kebelakang, jika tidak jangan salahkan aku berlaku kejam dan ganas ..."

Pengawal-pengawal itu saling tatap antara kawannya sendiri,dan tanpa terasa mundur kebelakang seperti yang diperintahkan.

Dengan menarik nafas panjang untuk mengumpulkan tenaga, Cu Lit menghampiri Kim Tak Can yang pingsan.

Dengan tongkatnya ia membuka baju lalu mengambil kunci dari tubuh musuh.

"Nampaknya kitaa masih mujur,"

Katanya pada In Tiong Giok.

"Tapi bagaimana denganmu ?"

Tanya In Tiong Giok.

"Tidak apa-apa lekas jalan !"

Mereka menuju ketempat alat-alat menurun naikkan tangga.

Alat-alatnya sederhana sekali, terdiri dari dua kerekan yang bertulisan naik dan turun.

Cu Lit menggerakkan kerekan turun, tapi tidak beraksi sedikitpun juga, dicobanya menggerakkan kerekan naik, sama juga hasilnya.

"Kalian bangsat-bangsat berani betul menipiku !"

Teriaknya dengan gusar.

"Mereka tidak berani menipu Cu-heng,"

Tiba-tiba terdengar jawaban dari seseorang.

"dikarenakan tergesa-gesa Cu heng lupa bahwa kerekan itu harus digerakkan oleh puluhan orang, mana bisa oleh seorang ? Tambahan caantelannya belum dibuka ! Ha ha ha !"

"Engkau siapa ?"

Bentak Cu Lit.

"Wah, bagaimana sih sampai kawan lama dilupakan "

Siaw tee To Kap Pong !"

Cu Lit menjadi gugup, dan kekecewaannya tampak diwajahnya.

Biasa To Kay Pong itu tidak dipandang, tapi dalam keadaan luka parah, sukar untuknya memperoleh kemenangan.

Dibisikinya In Tiong Giok "Keadaan sudah terlalu mendesak, engkau diam disini, aku akan keluar menempur mereka mati-matian !"

"Sejak tadi aku disuruh diam saja, kini saatnya aku bertarung juga !"

Kata Tiong Giok.

"Tidak ! Engkau tidak boleh berlaku setolol itu !"

"Cu hrng kenapa engkau ragu-ragu ? Kita sebagai kawan lama !"

Seru seseorang dari luar.

"Itu bukan suara To Kay Pong, siapa dia ?"

Tanya In Tiong Giok.

"Itu dia sibangsat yang engkau temukan di istana Sorga !"

Kata Cu Lit.

"tak kukira perhitunganku bisa menjadi gagal begini !"

Sehabis berkata matanya berkac-kaca, dan bertetesan turun air mata jagonya.

"Apa yang engkau bicarakan, bolehkah kami mendengar ?"

Seru To Kay Pong.

Dengan tiba-tiba saja Cu Lit menotok kalan darah In Tiong Giok dan mengempitnya keluar dengan terhuyung-huyung.

Keadaan menjadi terang sebab obor-obor dari pengawal yang baru datang .

Disitu terlihat empat orang berpakaian biru, merka adalah Thay Cin Tojin, To Kay Pong, Kam Kong dan Ciauw Cie Hiong.

"Tak kukira kalian mau menjadi binatang piaraan dari Pok Thian Pang,"

Kata Cu Lit mengejek.

"enakan rasanya rasa-rasa makanan yang diberikan pada kalian ?"

"Eh baru beertemu sudah nyindir-nhindir, tabiatmu itu tampaknya belum berubah juga seperti dulu !"

Kata Thay Cin Tojin.

"Engkau siapa, rasa-rasanya aku tak kenal!"

Ejek Cu Lit.

"Ah, bisa saja, aku Thay Cin masa tak kenal ?"

"Oh kiranya engkau, enak ya jadi Fuhoat disini, sebelum mendapat bayaran berapa ?"

"Engkau harus tahu Pok Thian Pang membutuhkan manusia-manusia berbakat, maka itu juka engkau mau, bisa menjadi Cong Fuhoat (ketua dari penasehat-penasehat)...

"Hm engkau sibusuk ini masih ada muka berkata denganku ?"

Bentak Cu Lit.

"Hm engkau mencari susah saja, pikirlah bahwa Pok Thian Pang begini kuat bagaimanapun mana bisa engkau meloloskan diri ?"

"Biarpun aku sebagai pengemis yang miskin, untuk bekerja dan menjadi anjing Pok Thian Pang, merasa haram dan jijik ! Kini mati hidup tidak kupikirkan, terserah kalian mau apa, aku siap melayani !"

"engkau manusia tak bisa diangkat, kini tak perlu kukekang lagi persahabatan lama, mau coba kemarilah !"

Perkelahian hampir terjadi lagi, tapi To Kay Pong dengan tiba-tiba tergelak-gelak.

"Semuanya adalah kawan lama, kenapa begitu ketemu saling mendelik dan mau berkelahi, bukankah damai lebih baik ? Cu heng simpanlah tongkatmu itu !"

"Hm, didepan segala anjing-anjing piaraan Pok Thian Pang bagaimanapun tongkat harus disiapkan,"

Jawab Cu Lit. To Kay Pong tidak gusar, ia tetap tertawa .

"Cu heng antara kawan lama sukar mendapatkan kesempatan berkumpul seperti sekarang, mari kita baik-baik bicara ?"

"Sudahlah jangan banyak bicara, lunak maupun keras tidak kuterima, jika masih mengingat persahabatan, berikan aku jalan keluar !"

Jika tidak...ha...ha!"

"Jika tidak apa yang hendak engkau lakukan ?"

Tanya Thay Cin Tojin.

"Sebelum mati terpaksa kubunuh dulu bocah ini agar Pok Thian Pang gagal menterjemahkan buku Keng Thian Cit Su!"

"Hm bocah ini mau mati atau hidup tidak kupikirkan, yang kusayangkan adalah Cu heng !"

Kata To Kay Pong.

Dimulut ia berkata begitu, dihati merasa kuatir jika Cu Lit benar-benar membunuh In Tiong Giok.

Maka itu mereka saling melirik memberikan kode, lalu menggeserkaki, membuat kedudukan Cu Lit terkurung.

"Hm, mau apa ?"

Bentak Cu Lit dan terus memutarkan tongkatnya.

Kam Kong begitu melihat pergerakan lawan, cepat-cepat mengengos dan menjulurkan tangan mencakar muka musuhnya.

Ciu Cie Hong dan To Kay Pong serentak bergerak melakukan serangan membantu saudaranya.

Cu Lit yang sudah menderita luka dalam, bertahan sekuatnya menghadapi pengepungan ini, tongkatnya menyabet kebelakang dan menotok kedepan dengan gencarnya.

Akibatnya keluar tenaga paksaan tubuhnya hampir-hampir jatuh sendiri, hal ini rupanya diketahui Sam Kui.

"Cu heng jika kutahu begini tak usah kita panjang lebar mengadu mulut !"

Kata To Kay Pong.

"Betapapun aku sanggup menghadapi kalian, mari kita coba lagi !"

"Sudah disepan pintu kematian, sombongpun tak berguna", ejek Ciau Cie Hiong. Dan terus ia menyergap dengan tangannya yang satu-satunya itu, Cu Lit menggertakkan gigi, matanya memancar tajam, begitu serangan tiba, menyapu dengan keras ! Sekejap saja perkelahian berjalan tiga empat jurus. Cu Lit mengeluarkan tenaga terakhir dan memberikan serangan maut pada musuhnya, terlihat tongkatnya menyabet luar biasa, musuhnya kena terhajar dan terguling-guling beberapa depa jauhnya. To Kay Pong cepat-cepat menolong, dilihatnya saudaranya itu demikian pucat, dagingnya pecah dan berapa tulang punggungnya patah.

"Cu heng berkepandaian luar biasa, sayang terlalu telengas !"

Kata Kam Kong.

"Terhadap anjing-anjing Pok Thian Pang itu masih terlalu ringan !"

Dengan gusar Kam Kong mengeluarkan senjatanya yang bernama Cui hun jiau (gary maut).

"Saudaraku bertangan kosong dan kena kau kalahkan, nah marilah senjata lawan senjata !"

Terus melancarkan serangan sambil berputar-putar.

Pandangan mata Cian bin sin kay sudah berkunang-kunang, maka dengan cepat ia meram dan hanya mengandalkan pendengarannya menghadapi musuh.

Ia tahu tidak mempunyai kekuatan lagi seperti tadi, tapi dengan berdiam tenang begini, ia berniat melancarkan satu serangan terakhir.

Kam Kong masih berputar-putar dengan cermat, sedikitpun tak berani serampangan seperti saudaranya.

Setelah melihat kesempatan baik, ia menerjang dari samping kanan.

"Hai, bentak Cu Lit dan dengan tenaga terakhirnya ia menyabetkan tongkat kearah kanan, matanya dibuka dan bagaimana girangnya ia melihat musuhnya itu telah terpukul dan terhuyung-huyung tujuh delapan langkah.

"Ha ha ha hayo maju lagi... wak"

Jago tua yang keras kepala ini, perlahan-lahan jatuh ke tanah yang penuh dengan muntahan darahnya sendiri.

Thay Cin Tojin menghampiri, membebaskan Tiong Giok dari totokan, dan memasukkan sebutir pil pada Cu Lit.

Keadaan Villa Tenang tetap seperti dulu.

Dibawah pelita yang berkelap kelip terlihat bayangan orang.

Itulah In Tiong Giok adanya.

Sejak mengalami peristiwa tiga hari yang lalu membuatnya sedih dan kesal, untuk ini ia minum arak menghilangkan duka.

Minuman itu hanya bisa menghilangkan duka dalam sejenak, setelah itu kembali lagi membuatnya terpekur.

Bagaimanapun raaut wajah Cian bin sin kay terbayang dialam pikirannya, disaksikannya orang tua itu dengan gagah menghadapi musuh dan yang paling tak bisa dilupakan, tatkala Cu Lit luka parah, memuntahkan darah serta suara tertawanya yang menggoncangkan sukma...."

"Kongcu sudah jauh malam kenapa belum tidur sepanjang hari, jagalah kesehatanmu !"

"Oh, kata Tiong Giok, dan terus mengangkat cawan arak, mengeringkannya dan menambah lagi, Siau Hong mencekal lengan pemuda kita .

"Tidak boleh minum lagi ! Selama tiga hari engkau mabuk-mabukan ! Pek Kounio sudah menyesalkan aku memberi arak, aku hanya sebagai pelayan, boleh didengar boleh tidak, tapi kebaikan Kounio harus diterima.! "Engkau tahu betapa risau hatiku !"

"Kejadian sudah berlalu tak berguna dipikirkan lagi !"

Kata Siau Hong.

"jangan engkau kena ditipu pengemis lihay itu, sampai Lie Tongleng kena ddiperdayakannya."

"Pengemis itu dijatuhi hukuman apa ?"

"Sebenarnya ia adalah salah seorang dari Bulim Capsahkie, untuk ini Lo Cucong mengaguminya, dan menempatkannya di Istana Sorga untuk mencuci otaknya dan membujuknya supaya mau menjadi anggota Pok Thian Pang."

"Sebagai seorang terkemuka didunia Bulim apakah ia mau menjadi anggota Pok Thian Pang ?"

"menurut hematku lambat laun ia akan menurut !"

"Mungkinkah ?"

"Betapa tidak ! Setiap yang masuk ke Istana Sorga, biar berhati sekeras baja akhirnya lumer juga !"

IN tiong Giok tidak bertanya lagi, dengan menarik napas panjang ia melangkah keluar rumah.

"Kongcu hendak kemana ?"

Tanya Siau Hong.

"Jangan hiraukan diriku, tak lama lagi terang tanah, aku akan jalan-jalan menunggu fajar !"

Jawab Tiong Giok dan terus ke taman bunga.

Pikirannya melayang ke Istana Sorga, dimana segala kemaksiatan dan kecabulan memenuhi seisi istana, Cian bin sin kay seorang keras kepala, tapi andaikata iapun tergoda, bukankah namanya akan rusak ?

Dan segalanya ini terjadi karena dirinya yang mengakibatkan bukan ?

Lamunannya tiba-tiba terhenti, dilihatnya pengawal-pengawal membawa obor, dan sebuah kereta memasuki perkampungan awan putih.

Waktu kereta berhenti, seorang muda turun dari dalamnya, ia bukan lain dari Pek Kiam Hong adanya.

Pemuda itu melihat kearah Tiong Giok, ia mengurungkan pulang kerumah melainkan menghampiri sambil bertanya ."

In heng belum tidur ?"

"Arak itu membuatku tak bisa tidur !"

"Jika begitu kebetulan,"

Kata Pek Kiam Hong.

"ada sesuatu soal yang akan kubicarakan denganmu, bagaimana ?"

Melihat sikap bersungguh-sungguh dirinya, timbul perasaan ingin tahu dari Tiong Giok, maka dipersilahkan Siau Pangcu kedalam rumah.

Siau Hong cepat-cepat mengeluarkan the dan menyiapkan makanan lainnya.

"Soal ini membuatku tak habis piker,"

Pek Kiam Hong memulai berkata.

"In heng tentu sudah tahu orang yang menculikmu itu adalah Cian bin sin kay Cu Lit seorang jago Rimba Hijau yang terkenal."

"Benar memang dia, lalu bagaimana ?"

"Ibuku dan Lo Cucong menghormati dia sebagai jago bulim, mengandung pikiran untuk menjadikannya sebagai anggota perkumpulan kami, maka itu bukan saja tidak diapa-apakan, bahkan ditempatkan di istana Sorga..."

"Ini sudah kutahu dari Siau Hong, lalu bagaimana ?"

Pek Kiam Hong menggeleng-gelengkan kepala.

"In heng tidak menduga, kekepala batuan pengemis itu, begitu sakitnya agak sembuhan, kontan berbalik muka. Bukan saja tak mau menjadi anggota kami, juga mengacak-acak seisi Istana Sorga, perabotan dari benda-benda mahal dihancurkan, dara-dara pelayan dan pengawal dihantam dan luka-luka lebih dari seluruh orang, hampir-hampir tidak ada yang bisa menguasainya."

"Hal itu ada sangkutnya apa denganmu ?"

Tanya Tiong Giok, dihati ia girang mendengar kebandelan Cian bin sin kay, tapi tidak diutarakan pada parasnya.

"Pengemis itu bandel sekali, untuk ini ibuku mengajakku kesana, entah apa yang dikatakan ibuku, mendadak saja pengemis itu menjadi lunak. Ia menatap padaku serta membelaiku sekian lama, air matanya mengembang. Sudahlah katanya dan menganggukkan kepala. Ia menerima anggota kami dan menjadi Fuhoat..."

Mendengar ini perasaan Tiong Giok tidak ubahnya seperti disambar geledek .

"Katamu pengemis itu mau menjadi anggota Pok Thian Pang ?"

"Ya benar!"

Kecuali menatap dan mengusap-usapmu, tidakkah ia bertanya ini itu padamu ? "Tidak !"

"Tidakkah saat itu ada orang lain kecuali kamu bertiga ?"

"Ya"

"Ah, benar-benar mengherankan !"

"Ya memang membuatku tidak habis mengerti,"

Kata Pek Kiam Hong, sejak kecil aku tak pernah pergi dari sini, siapun belum pernah melihatku, kenapa gerak-geriknya aneh sekali !"

Mungkin ayahmu merupakan sahabat baiknya, dan wajahmu itu mengingatkannya pada ayahmu dan mendatangkan kenangan sedih baginya !

"Ya merupakan suatu keanehan yang mungkin di ketahui ibumu saja tidakkah engkau bertanya padanya ?"

"Tentu saja tidak mendapat jawaban yang memuaskan, ia hanya mengatakan nanti engkau akan mengerti sendiri !"

Siau Hong sudah membawakan hidangan.

"Bawa araknya"

Minta Tiong Giok.

"Apa ? Mau minum lagi ?"

"Ya aku ingin minum sebagai tanda menghormat dan turut bergirang karena Pok Thian Pang mendapatkan seorang Futhoat baru, kata In Tiong Giok sambil tertawa. Ia tertawa, tapi wajahnya lebih jelek dari pada menangis.... Entah sudah berapa lama berlalu, waktu Tiong Giok bangun dari mabuknya, Pek Kiam Hong sudah tidak terlihat lagi. Ia merasakan sekujur badannya lesu, kepalanya pening. Dicobanya bangun, tak berhasil. Ia bengong dan membuka mata melihat kesana kemari. Bukan main kagetnya, sebab diluar tahunya, Wan Jie berada di dalam kamar sedang menyeka matanya yang basah sambil menatap kearahnya.

"Sudah lamakah ?"

"Tidak, hanya satu hari satu malam !"

"Apa, aku mabuk satu hari satu malam ?"

"Apa herannya, ada orang mabuk dan tidur terus sampai tubuhnya menjadi mayat. Itu baru enak !"

In Tiong Giok mencoba bangun, tapi tetap tak berhasil, matanya berkunang-kunang, napasnya memburu.

Wan Jie dengan penuh perhatian menaruhkan kain basah di keningnya.

Ini mendatangkan kesegaran bagi Tiong Giok.

"Untuk apa segala penderitaanmu itu diperlihatkan padaku ? Jika merasa tidak senang dengan kehadiranku, aku bisa berlalu...ah..."

Suaranya terputus karena datang isakan tangis dan air mata.

"engkau jangan berkata ! Apa yang kurasakan padamu hanya Tuhan yang tahu, semakin engkau berlaku baik padaku, semakin risau hatiku. Orang semacamku tak ada harganya untuk di...."

Wan Jie menekap mulut Tiong Giok dan berkata .

"Jangan berkata begitu, aku task menyalahkan engkau mabuk-mabukan, tapi segala kesalahanmu, kenapa kau tidak utarakan kepadaku ? Mungkinkah segenap perasaanku kepadamu sedikitpun tidak dimengerti ?"

"Wan Jie, banyak persoalanku yang tak bisa kujelaskan . misalkan sesudah menterjemahkan buku, jiwaku segera tamat ! Ya kenapa mula-mula bertemu denganmu dan terjerat tali asmara yang tidak bisa dilepaskan ? Kita dipermainkan nasib, betapa takkan pilu ?"

"Siapa yang memberi tahu riwayatmu tamat berbareng dengan selesainya pekerjaanmu ?"

"Aku sebagai orang luar yang mengetahui dan membaca Keng thian cit su, untuk menjaga rahasia sudah pasti Lo Cucong takkan memberi ampun kepadaku !"

"Orang luarpun bisa menjaadi anggota, apa susahnya ?"

"Tapi engkau harus tahu tak ada yang minat bagiku menjadi anggota Pok Thian Pang bukan."

"Kenapa ? Kenapa ? Beritahu kenapa..."

"Pendapat dan pendirian seseorang tidak bisa dipaksakan, soalnya kenapa belum bisa kuberi tahu !"

Wan Jie menangis.

"Untukku juga tak bisa engkau beri tahu ?"

"Wan Jie janganlah engkau mendesak..."

"Ya aku tak bisa mendesak, maka gunakanlah saat ini dengan gembira ! Karena kukuatir dengan berlalunya hari ini, kita bisa main bersama untuk ...."

Ia bersedu-sedu dengan sedihnya.

"Wan Jie jangan berkata sebodoh itu,"

Kata In Tiong Giok yang turut terisak-isak. Mereka begitu mencintai satu sama lain dan enggan berpisah. Saat inilah pintu terbuka, Siau Hong masuk kedalam .

"Kounio..."

Ia tidak meneruskan buru-buru keluar lagi, karena melihat api asmara sedang membakar suasana kamar. Wan Jie cepat-cepat melepaskan Tiong Giok dan bertanya dongkol "Ada urusan apa ?"

"Pangcu dua kali mengirimkan utusan menanyakan Kongcu."

"Ya, kutahu, katakana Kongcu masih mabuk dan belum bangun.."

"Pangcu mau apa denganku ?"

Yanya Tiong Giok.

"Tidak apa-apa jangan pedulikan itu sebaliknya kita lewaatkan hari ini dengan gembira..."

"Mungkinkah ia mendesakku untuk bekerja ...?"

"Ya Lo Cucong menginginkan buku itu cepat-cepat diterjemahkan, tapi jangan perdulikan. Terlambat saja !"

"Diperlambatpun akhirnya selesai juga. Sebaiknya lebih cepat beres lebih baik. Wan Jie sediakan kereta, sekarang juga kuberangkat. !"

Ia bangun dengan memaksakan diri, terhuyung keluar pintu...

Pek Cin Nio duduk dikursinya tenang-tenang.

Wan Jie duduk disamping In Tiong Giok yang sedang berpikir keras menghadapi kertas bertulisan Sangsekerta.

Hampir setengah jam lamanya ia memeras otak, tak sehurufpun yang ditulisnya.

Waktu ia dongak, sinar mata sang Pangcu sedang menatap kearahnya.

Suasana menjadi canggung.

Wan Jie memandang juga kearah gurunya.

"Wan Jie engkau kenapa ?"

Tanya sang guru.

"Kupikir....kupikir..."

"Mau bicara jangan begitu, seperti orang garap saja..."

"Kupikir pekerjaan ini bisakah ditunda dalam beberapa hari ini ?"

Tanya Wan Jie dengan sungguh-sungguh.

Karena In Kongcu sejak terjadi peristiwa itu seolah-olah mengalami kekagetan dan pikirannya belum tenang, konsentrasi pikirannya belum pulih seperti dulu.

Tambahnya dengan penjelasan kuat.

"Oh, kata Pek Cin Nio dengan tersenyum. Kiranya begitu, sebaiknya engkau harus tahu karena terjadinya peristiwa itu, Lo Cucong mendesak agar pekerjaan ini diselesaikan secepat-cepatnya. Tapi jika In Kongcu kurang enak badan, istirahatlah dua tiga hari tidak mengapa."

"Tidak ! Yang rendah tak perlu istirahat asal saja,"

Kata In Tiong Giok.

"Asal saja bagaimana ?"

Tanya Pek Cin Nio, terus terang saja apakah ada kata-kata Sangsekerta yang sukar dimengerti ?"

Terhadap bahasa tidak menjadi soal, anehnya intisari dari pelajaran pedangnya membuat orang tak mengerti.

Dapatkah Kongcu memberikan contoh ?

"Misalnya dalam buku ini, banyak jurus-jurus dari ilmu pedang, penusunannya tidak sempurna, terbalik-balik dan banyak kekurangannya.

Mengakibatkan bahasanya terputus-putus dan sukar diterjemahkan.

Entah si penulis ingatannya kurang kuat dan membuat kekurangan-kekurangan atau memang ilmu pedang ini tidak sempurna.

Jika patah demi patah diterjemahkan, sukar mendapatkan arti yang sempurna, maka itu membuatku berpikir dan berpikir tanpa menulis !"

Sejak wajah tersenyum dari Pek Cin Nio pudar mengguram .

"Pokoknya Kongcu boleh menterjemahkan patah demi patah, nanti kami bisa membereskan sendiri kekurangannya !"

In Tiong Giok mengangguk, mulailah ia menulis dengan cepat .

memang sudah terkandung niatnya untuk mengganggu Pok Thian Pang, maka itu ia sengaja menjungkir balikkan kalimat dan membuat terjemahannya itu sukar dimengerti.

Dalam sekejap lembar pertama selesai ditulisnya.

Pek Cin Nio membaca hasil terjemahan itu, keningnya mengkerut-kerut lalu bertanya "Wan Jie jam berapa sekarang ?"

"Lebih kurang jam tiga !"

Pek Cin Nio mengantongi lembaran asli dan lembaran terjemahan.

"Dikamarku ada obat penyegar otak, ambillah sebutir untuk In Kongcu dan temaninya disini aku segera kembali lagi !"

Dan terus ia cepat-cepat keluar pintu "Tatkala engkau menulis, hatipun merasa hancur ! Sehuruf tulisanmu sama dengan berkuangnya sedikit, pertemuan kita."

"Pertemuan dan perpisahan adalah gelombang kehidupan, berpisah untuk berkumpul adalah gembira, sebaliknya berkumpul untuk berpisah mendatangkan duka ! Semua ini tergantung nasib, maka tak perlu gembira tak perlu duka, terserah kepada yang maha kuasa !"

"Aku tak mau menerima nasib begitu saja ! Pokoknya aku sudah bertekad untuk sehidup semati..."

"Hm, itu tak baik,"

Jawab In Tiong Giok, andaikan aku harus mati disini paling-paling menambah jumlah setan-setan penasaran lain tidak toh ?"

"Suhu dan Lo Cucong bisa memanjaku, aku bisa memohon dengan ancaman bunuhnya diri mungkin persoalan tidak sebeat yang engkau pikirkan..."

Tiba-tiba terdengar langkah kaki diluar, nyata tergesa-gesa benar. Wan Jie menyeka air mata dengan cepat.

"Siapa ?"

Tidak ada jawaban !

Dijendela tiba-tiba nongol sebuah wajah tolol kebego-begoan dari seorang pelayan istana.

Ditangannya memegang seekor burung pos, ia longok kedalam dan baru menjawab pertanyaan Wan Jie sambil ngengir-nyengir .

"Pangcu ada tidak ?"

"A Toh untuk apa mencari Pangcu ?"

"Aku ...menangkap...burung pos !"

Jawab A Toh agak gugup.

"Kembalikan kekandangnya, tak usah ribut-ribut !"

Bentak Wan Jie. Mukanya pelayan tolol itu menjadi merah.

"Burung ini membawa surat dikakinya !"

"Berikan padaku !"

Kata Wan Jie.

A Toh nyengir-nyengir tolol terus menerus dan memberikan burung itu papa Wan Jie sambil menjublek tak mau pergi.

Wan Jie mengambil surat dari kaki burung, lalu memberikan burung kepada A Toh.

"Disini seang dilakukan pekerjaan penting, tidak boleh sembarangan masuk, mengertikah ?"

"Ya mengerti !"

Jawab A Toh sambil membungkuk dan terus berlalu.

"A Toh biarpun ketolol-tololan, kesetiaannya pada suhuku kuar biasa sekali. Maka itu ia ditugaskan merawat burung-burung pos, kalau bukan aku jangan harap boleh memegang burung-burung merpatinya."

Surat itu diluarnya tertera nama Ngo Liu Cung. Dengan cepat Wan Jie membuka dan membacanya, begitu selesai wajahnya menjadi berubah dengan mendadak....

"Apa yang tertulis disurat itu ?"

Wan Jie mengantongi surat dan memaksakan diri tersenyum .

"Tidak apa-apa,hanya saja...Ih lihat wajahmu begitu pucat, tunggu kuambilkan obat penyegar otak."

Wan Jie berlalu. Pek Cin Nio datang. Lengannya memegang sebuah Kotak Kumala. Ia diam saja tanpa berkata, waktu Wan Jie datang baru membuka mulut.

"Beritahu siapapun tidak boleh masuk kesini,"

Katanya. Wan Jie mengangguk dan menjalankan perintah.

"Terjemahan Kongcu tadi telah kuperlihatkan kepada Lo Cucong."

Pek Cin Nio menjelaskan.

"memang banyak tempat yang hilang atau kurang, mak itu meminta Kongcu membaca habis dulu seluruhnya buku baru menterjemahkannya, dengan begitu memudahkan pekerjaan bagimu. Tapi sebelum itu perlu kuterangkan bahwasannya buku ini sangat dirahasiakan dan dipandang Lo Cucong sebagai pusaka yang tidak ternilai harganya. Kecuali dia engkaulah orang pertama membaca buku ini."

"Suatu kebanggaan bagiku mendapat kepercayaan sebesar itu, dan akan kucurahkan seluruh kemampuanku untuk mengerjakannya mungkin !"

"Tapi ingat jika terjadi sesuatu kesalahan berarti bencana bagimu, untuk ini kuharap engkau berlaku waspada !"

"Oh sudah pasti kan kujaga rahasia ini !"

"Kamipun percaya engkau bisa menyimpan rahasia ! "

Katanya dan terus membuka kotak kumala dan menyerahkan buku pusaka itu.

Buku itu telah kurang hanya dua puluh halaman lebih, dengan tenang Tiong Giok membacanya.

Sebagai orang yang cerdas dan berbakat, setelah mengulangi dua kali, seisi buku telah melekat dalam ingatannya !

Dikembalikannya buku itu pada sang Pangcu.

"Bagaimana ?"

Tanya Pek Cin Nio.

"Sekuat kepandaianku kucurahkan, hanya bisa menterjemahkan sehuruf demi sehuruf. Terhadap kalimat-kalimat yang terputus-putus atau yang kurang benar membuatku tak berdaya !"

"Kalau begitu memang dasarnya ilmu pedang ini banyak kekurangannya ?"

"Entahlah,"

Kata In Tiong Giok.

"Tapi bolehkah aku bertanya dari mana Pangcu memperoleh buku ini ?"

"Terus terang buku ini didapat dengan susah payah dari seorang Bulim yang lihay !"

"Apakah orang Tionghoa atau India jago Bulim itu ?"

"Orang Tionghoa !"

"Masih hidupkah orangnya ?"

Pek Cin Nio mengangguk kepala.

"Diakah yang bernama Hauw Sian ?"

"Untuk apa Kongcu bertanya soal dia ?"

"Dari mula kuduga Hauw Sian sebagai penulis buku ini, dan nama itu bukan nama asing, maka kuyakin dia bukan orang India. Tapi kuhean kenapa orang Tionghoa menulis buku dengan bahasa Sangsekerta ? Disini soalnya.....! "Benar apa yang engkau katakana, tapi apakah hubungannya dengan nama itu ?"

"Soal dalam bahasa Sangsekerta banyak istilah-istilah yang sukar diartikan dalam bahasa Tionghoa secara tepat, lebih-lebih terhadap pelajaran ilmu pedang ini, salah sepatah berarti menyimpang sepuluh depa, untuk mempertahankan keasliannya maka ia menulis dalam bahasa Sangsekerta !"

"Mungkin apa yang engkau duga secara cermat betul adanya !"

"Maka itu ingin kutemui orang yang bernama Hauw Sian itu, segala kesulitan dibuku bisa kutanyai kepadanya !"

"Soalnya kami bisa menemukan orang itu apakah dia mau membantumu ?"

"Memang kenapa ?"

"Orang itu sedah kehilangan bukunya, sudah kesal dan pusing, mana mau lagi membantumu ?"

"Tak usah kuatirkan, asal orang itu dapat kutemui, pasti dapat kupancing yang segala kuingini"

"Baiklah, soal ini akan kami pertimbangkan nah sekarang engkau boleh pulang beristirahat !"

Dengan cepat sang Pangcu berlalu.

Sekembalinya ke Villa Tenang Wan Jie berwajah murung, seangkan In Tiong Giok juga terpekur tanpa membuka mulut.

Pemuda ini pikirannya melayang-layang kebrbagai soal .

Keng Thian Cit Su, Pang Hui...

Cian bin sin Kay...

tanda punggungnya...usia delapan belas tahun...Pek Kiam Hong yang aneh...Wan Jie yang menarik...kini ditambah Wan Jie yang masih tetap disampingnya.

"Wan Jie, tak usah payah berpikir di soal rumit saja, aku telah membuat Lo Cucong menghadapi kesukaran . mungkin dalam tiga empat bulan kita masih bisa bersama-sama..."

Wan Jie menangis .

"Tidak bisa ! Tidak usah mengulur waktu lagi, engkau harus segera meninggalkan tempat ini, semakin cepat semakin bagus."

"Kenapa pendirianmu cepat berubah ?"

Sukar kukatakan, lihatlah surat ini !"

Itulah surat yang didapat dari burung pos, diatas berbunyi .

setelah diperiksa dengan cermat, In Hok telah kembali dan yang mengiringi In Tiong Giok adalah In Hok palsu.

Sedang pemuda itu usianya selapan belas tahun, mengerti bahasa Sangsekerta.

Dapat diketahui pada pemuda itu, bertanda bacokan dipundak kirinya.

Entah apa pemuda itu maksudnya masuk kemarkas pusat Pok Thian Pang ?

Sebaiknya ditangkap dan dikompres untuk mendapat penjelasan dari Tan Toa Tiau.

Selesai membaca, sekujur badan In Tiong Giok basah dengan keringatnya dingin, gaya reflexnya memegang pundak kiri.

Bajunya sudah terbuka yang dipegang tempat tanda bekas bacokan.

"Untung surat ini jatuh ditanganku, andaikata pada guruku, akibatnya tak bisa kubayngkan, kini jalan satunya, engkau harus secepatnya meloloskan diri dari sini. Malam ini dengan cara apapun aku harus mendapatkan tanda jalan untukmu ... Tiong Giok tahu rahasianya sudah diketahui Wan Jie, membuatnya bertambah tenang.

"Tidakkah engkau mau menyelidiki juga soal diriku dan anda ini ?"

"Tak usah kutanya lagi, engkaulah orang yang dicari-cari oleh Pok Thian Pang !"

"Karena ayahmu adalah pembunuh ayahnya Pek Suheng...........

"Yang bisa membunuh ayahnya Kiam Hong tentu jago Bulim juga, sedang ayahku bukan orang Kang Ouw, maka itu kupikir lucu ?"

"Tapi usiamu dan tanda itu cocok dengan orang yang mau mereka tangkap......"

"Yang berusia delapan belas tahun dan ada tanda dipunggungnya ini bukan aku seorang mungkinkah semuanya harus ditangkap dan dibunuh ?"

"Soalnya tidak jelas bagiku, yang kutahu jika sampai tertangkap adalah buruk akibatnya, lebih baik engkau kabur !"

"Kedatanganku kesini untuk mendapat penjelasan dalam soal itu, maka tak ada niat bagiku berlalu dengan begitu saja !"

"Ah, engkau mau cari mati, atau memaksaku mati...."

Pembicaraan terganggu dengan kedengarannya derapan kuda.

Mereka melongok dari jendela tampak, Lie Tongleng dengan dua pengawal menuju ke villa Tenang.

Lie Tongleng merasa kaget melihat kehadiran Wan Jie didalam kamar, dengan tersenyum ia memberi hormat .

"Pangcu menyuruhku kesini untuk menjemput Kongcu ke istana !"

"Nantikanlah sebentar, aku harus merapikan diri dulu."

"Engkau belum makan, suruh Siau Hong menyediakan, nanti kita sama-sama kesana."

"Silahkan Kongcu makan dan mandi dengan tenang, tapi Pangcu menghendaki agar Wan Kounio tidak turut serta !"

"Kenapa ?"

"Tak tahu, menurut Pangcu soalnya penting dan harus di bicarakan dengan empat mata saja antara Pangcu dan In Kongcu !"

"Apakah Pangcu benar-benar berkata begitu ?"

"Ya, masakan aku berbohong ?"

Tak terasa lagi Wan Jie menjadi kaget dan parasnya berubah pucat. Cepat ia mendekat pada Tiong Giok. Kau piker baik tau buruk !"

"Serahkan pada nasib ?"

"Bagaimanapun terjadi jangan engkau berkeras dengan Cucong dan guruku, aku bisa bekerja..."

"Wan Jie jangan ketakutan tak keruan, pokoknya beres !"

Sesudah beres makan dan mandi, Tiong Giok naik kereta menuju istana.

Suasana dibelakang istana itu lain dari biasa, disitu terdapat kereta indah, pengawal-pengawal lebih banyak dari hari-hari biasa, penjagaan keras sekali.

Yang mengherankan sampai sang Pangcupun berada diantara pengawal.

Begitu Tiong Giok turun dari kereta, Pangcu segera memanggil.

"Jangan buang waktu, silahkan Kongcu naik kereta !"

Tiong Giok naik lagi ke kereta.

"Salah, naiklah kereta ini !"

Seru Pek Cin Nio.

In Tiong Giok jadi bingung, ia terpaksa pindah kereta, tak selang lama Pangcu itu masuk dan melihat pemuda kita yang sedang terpekur.

Segera duduk disebelahnya dan terus siam juga seperti si pemuda.

Tinggallah In Tiong Giok menjadi serba tak enak, untuk menghilangkan kecanggungan ia meram !

Telinganya mendengar suara roda kereta, hidungnya mencium wewangian dari sang Pangcu, hatinya berdebar-debar, pikirannya kacau balau !

Waktu kereta berhenti, mereka telah tiba di suatu tempat sunyi.

Disitu terdapat sebuah bangunan sederhana, Lie Kee Cie mengetuk pintu dan memanggil perlahan.

Tak selang lama pintu terbuka, Pek Cin Nio mengajak Tiong Giok turun dan masuk ke dalam rumah itu.

Dari sini terdapat pintu rahasia yang langsung masuk ke dalam terowongan.

Begitu gelap tampaknya dari luar.

Waktu obor-obor menyala dari dalam terlihat seorang Futhoat berbaju biru menyambut kedatangan mereka dengan hormat sekali.

"Yang rendah adalah Ong Jiok Tong, Congkoan (pengurus) penjara tanah, menghadap pada Pangcu !"

"Tak usah banyak peradatan,"

Kata Pek Cin Nio.

"ya, ya, ya,"

Kata Ong Jiok Tong dan terus mundur menyamping, lagak gayanya agak ketakutan, membuat Tiong Giok geli melihatnya.

Dengan didampingi sang Pangcu iapun turut gagah-gagahan masuk kedalam ruangan bawah tanah.

Setelah melewati beberapa langkah, meraka sampai disuatu ruangan, disitu penerangan mengandalkan obor.

Pangcu mengambil tempat duduk yang sudah dirapikan.

Kuminta kamar satu dibersihkan dan semua keperluan disiapkan."

Ong Jiok Tong cepat-cepat memerintahkan anak buahnya bekerja. Tak selang lama datang laporan segala yang dikehendaki Pangcu sudah siap semua.

"In Kongcu terpaksa menyusahkanmu sebentar datang kemari, alat-alat perlengkapan disini dapat menangkap pembicaraan Kongcu dengan orang tawanan, maka itu berlakulah cerdik ! Ong Congkoan antarkanlah In Kongcu."

Tanpa bertanya ini itu lagi, Tiong Giok mwngikuti Ong Jiok Tong memasuki pintu berjeruji besi.

Dari sini terdapat tangga batu, turun kebawah.

Setiap seratus undakan tangga terdapat sebuah pelita, dibawahnya terdapat pintu jeruji yang rendah, samar-samar dari dalamnya terdengar suara berkerincingnya rantai besi.

Juga setiap pintu itu bertulisan kamar nomor satu kamar nomor dua dan seterusnya.

Inilah penjara didalam tanah yang serupa dengan neraka.

Jilid 5________ Dengan perasaan ingin tahu, Tiong Giok melongok kedalam kamar.

"Disini tertera kamar nomor satu, kenapa tak ada orangnya ?"

"Ini penjara biasa, sedangkan Kongcu harus ke penjara Istimewa. Keadaannya berbeda dengan disini, agak enakan sedikit dan mendapat perlakuan istimewa juga !"

"Siapa saja penghuni penjara istimewa ?"

"Sejujurnya aku tak tahu, karena mereka hanya memakai nomor sebagai pengganti namanya,"

Jawab Ong Jiak Tong.

"Tidakkah lengkap menanyai pada mereka ?"

"Narapidana terbagi dua golongan, yang ringan perlu ditanya, dan mereka tidak disini sedangkan yang berada disini semua menjalani hukuman seumur maka tak perlu lagi menanya-nanya mereka !"

Sambil bicara sambil berjalan, tak terasa lagi sudah sampai diruangan yang paling bawah.

Disini terdapat ruangan agak besar, dan kamar-kamar berderetan sebanyak enam buah.

Diatas kamar tertulis, kamar Istimewa nomor satu...

sampai nomor enam.

Dan terdapat juga sipir bui yang menjaga.

Ong Jiak Tong membuka kamar nomor satu.

"Maaf...silahkan masuk !"

In Tiong Giok mengangguk dan masuk kedalam dengan kaki gemetar...sedangkan pintu besi dikunci dari luar. Hei.. penghuni kamar satu, kuberikan selamat dapat kawan baru !"

Seru seorang pengawal.

Keadaan di dalam ruangan begitu semak dan menyesakkan napas.

Di atas balai-balai terlihat seorang tua sedang berbaring, begitu pucat dan kurus, sinar matanya saja menatap terus ke dirinya.

"Mungkinkah ini orangnya ?"

Piker Tiong Giok dan terus ia memberi salam sambil menegur .

"Bagaimana pak baik-baik saja ?"

Orang tua itu tidak menjawab hanya menatap terus dengan matanya, seolah-olah tak mendengar apa yang diucapkan si anak muda.

"Bagaimana pak baik-baik sajakah ?"

Seru In Tiong Giok lebih keras lagi. Orang tua itu menganggukkan kepala lalu berkata dengan suara yang parau .

"Duduklah nak, ditempat semacam ini tak perlu memakai banyak peradatan."

"Dapatkah kutahu nama bapak ?"

"Selama tujuh belas tahun tak melihat sinar matahari, membuatku lupa nama sendiri ! Bagaimana denganmu nak masih ingatkah nama sendiri ?"

"Ohn namaku In Tiong Giok."

"Masih begini muda kenapa engkau bisa masuk kesini ?"

"Sebenarnya aku datang bekerja sebagai penterjemah pada Pok Thian Pang, tapi..."

"Setop dulu....menterjemahkan buku apa ?"

Sela si orang tua.

"Sebuah buku Sangsekerta..."

"Keng Thian Cit Su bukan buku itu !"

Lagi-lagi si orang tua memotong bicara.

"Benar, kenapa engkau bisa tahu pak ?"

"Sudah diterjemahkan belum buku itu ?"

Tanya si orang tua sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Belum..."

"Kenapa..?"

"Sudah berapa tahun kupelajari bahasa Sangsekerta, tapi menghadapi buku itu tak berdaya . banyak yang tidak kutahu, sebab istilah-istilah silat bagiku asing sekali, karena aku tak pandai silat sedikitpun. Maka sampai kini belum bisa diterjemahkan !"

"Bagus,"

Kata si orang tua.

"Tujuh belas tahun aku disini, nyatanya tak sia-sia "

"Apakah bapak karena buku itu juga masuk kesini ?"

"Ya karena buku itu !"

"Karena tak mau menterjemahkan, apa karena kurang bisa ?"

"Hm, buku itu adalah milikku !"

In Tiong Giok hatinya berdenyut kaget, hampir ia berseru tak terasa, saat ini ia sadar bahwa capai lelah dari sang Pangcu, semata-mata untuk Keng Thian Cit Su.

Dan iapun tahu bahwa orang tua ini tak lain Hauw Sian adanya.

Untuk memperpanjang waktu In Tiong Giok mencari alas an, sukar dan ingin bertemu dengan Hauw Sian.

Tak tahunya Hauw Sian berada didalam tahanan Pok Thian Pang dan ditemui.

Rencananya memperpanjangkan waktu menjadi gagal !

Sungguhpun demikian ia menjadi girang bisa bertemu dengan orang itu yang telah ditahan selama tujuh belas tahun.

"Tentu engkau merasa aneh nak ?"

Kata si orang tua lemah lembut.

"Hidup di dalam dunia ini banyak keanehan-keanehan, sepeerti kamu yang masih muda belia dan datang kesini, seterusnya akan menyia-nyiakan waktu selama-lamanya di tempat ini, inipun kejadian yang diluar dugaan dan termasuk anehkan ?"

"Tidak ! Aku tidak...."

Sebenarnya ia ingin mengatakan dirinya bukan dibui, tapi niatnya itu gagal, karena mengingat bahwa sang Pangcu sedang mendengari pembicaraan mereka dari kamar rahasia.

"Ya kutahu engkau tak niat mengalami penderitaan disini, tapi karena menterjemahkan buku itu engkau baru dibui, betulkah ?"

In Tiong Giok berpikir sejenak, tiba-tiba ia mendapatkan pikiran baik, lalu berkata dengan didahului tarikan napas panjang .

"Ai...aku tak menyesal masuk penjara ini tetapi menyesal kenapa sudah beberapa tahun belajar bahasa Sangsekerta belum mampu jua menterjemahkan buku itu, benar-benar membuatku menyesal dan malu !"

"Menurutku buku itu adalah pelajaran silat yang luar biasa, tapi bahasanya sendiri sederhana dan mudah, sebenarnya engkau haruslah bisa ..."

"Ya, karena hal ini membuatku menyesal, mudah memang mudah tapi apa yang diterjemahkan sukar mencapai arti sebenarnya ! Misalkan dihalaman ketiga dibaris kedua... Tiba-tiba bahasanya berubah kebahasa Sangsekerta .

"Aku bukan orang tawanan, melainkan didesak masuk kedalam penjara ini guna menyelidiki rahasia ilmu pedang Keng thian cit su. Pembicaraan kita sedang didengari mereka harap bapak berhati-hati dan waspada ! "

Segala yang menyesatkan hatinya telah diutarakan membuatnya lega, dan terus ia berkata lagi dengan bahasa Tionghoa"

Penerangan ini tidak sesuai dengan ilmu silat, jika diterjemahkan huruf perhuruf jadinya tak karuan."

Orang tua itu dengan sorotan mata kaget memandang sekeliling dan mengerti apa yang dikehendaki Tiong Giok.

"nak bahasa Sangsekerta demikian fasih, mungkinkah kata-kata yang mudah didalam buku tidak mengerti, menurut peribahasa orang India..."

Ia mengubah memakai bahasa Sangsekerta.

"Engkau sebenarnya siapa ? Kenapa bisa datang kemarkas besar Pok Thian Pang ?"

Tiong Giok seperti girang mendapat jawaban itu.

"Setelah mendapat penjelasan dari bapak kini tahulah bahwa pelajaran di dunia ini tak ada batasnya. Dan memang pengetahuan aku sangat minim, tapi halaman ketujuh benar-benar sukar."

Lagi-lagi ia beralih kebahasa Sangsekerta.

"Sebenarnya aku mendapat tugas dari guruku mengantar surat kegunung Thay Heng, tapi sewaktu tiba di Ngo Liu Cung merasa tertarik oleh sebuah pengumuman yang mencari seorang penterjemah bahasa Sangsekerta dengan honorarium tinggi, karena tahu apa yang dikehendaki mereka, maka aku melamar dan diterima serta dibawa kemari !"

"Siapa gurumu ?"

Tanya siorang tua dengan bahasa Sangsekerta.

"Penunggang Hiu dari Honglay, pelajar miskin gunung salju,"

Jawab Tiong Giok dengan bahasa yang sama.

"Oh, kata siorang tua dengan girang .

"Kalau begitu pantas engkau pandai bahasa Sangsekerta. Bagaimana apakah engkau sudah ke Thay hengsan ?"

"Belum pergi kesana, tapi telah menemui Thay Cin Tojin, kini ia telah menjadi Futhoat Pok Thian Pang !"

"Mungkinkah seorang bernama besar seperti dia mau mengabdi pada Pok Thian Pang ?"

"Ini kulihat dengan mata kepala sendiri,"

Kata Tiong Giok.

"Tojin itu benar-benar tidak tahu malu dan kurang ajar, sampai surat guruku disobek hancur dan dibuang !"

"Tak mungkin ia bisa berlaku demikian... mungkin surat gurumu itu terlalu mengejeknya ?"

"Surat itu tidak berleter, hanya meerupakan gambar; sebuah pohon cemara, dibawahnya terlihat seorang tua sedang menyiram sebuah pohon yang baru tumbuh.... Kecuali itu tidak ada lagi !"

Orang tua itu membayangkan rasa kaget, dengan sinar matanya ia menyapu wajah pemuda kita .

"Sebuah surat berbentuk gambar ? Eh beritahuku, apakah engkau berusia delapan belas tahun ? Dan dipunggungmu terdapat tanda bacokan ?"

"Kenapa bapak bisa tahu ?"

Orang tua itu tiba-tiba saja mengucurkan air mata, dan berkata dengan terharu .

"Nak engkau bukan she In..."

Tiba-tiba saja pintu teerbuka dan Ong Jiak Tong masuk kedalam. Dengan wajah dingin ia menyapu kedua wajah orang tua dan muda itu bergantian .

"Hm, apa yang kalian bicarakan ? Peraturan disini semua narapidana tak dibolehkan menggunakan bahasa sandi untuk bicara. Hai ! Bawa tawanan muda ini kelain kamar !"

Dua pengawal segera datang dan menyeret Tiong Giok begitu keluar kamar.

"Ong Congkoan apa artinya ini ?"

Bentak Tiong Giok begitu keluar kamar.

"Kongcu jangan gusar, semua ini perintah Pangcu, aku hanya menjalankan perintah saja !"

"Pertemuanku diatur oleh Pangcu demikian rupa, mana mungkin dihalang-halangi ?"

Ong Jiak Tong mengangkat pundak dan berkata .

"Ya, memang Pangcu mendengari percakapan kalian dari kamar rahasia, mula pertama ia tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepala, tapi belakangan mengerutkan kening dan terus memerintahkan padaku menyuruh Kongcu keluar !"

In Tiong Giok terpekur ejenak, tanpa berkata-kata ia naik tangga meninggalkan tempat itu. Sesampainya diruangan tengah, sang Pangcu sudah berada disitu, tampak wajahnya muram.

"Ada pesan apa Pangcu memanggilku ?"

Tanya In Tiong Giok.

"Hm, apa yang dibicarakan Kongcu dengannya tadi ?"

Sang Pangcu berbalik bertanya dengan dingin.

"Tidakkah semua percakapanku dengannya telah didengar Pangcu dari kamar rahasia ?"

"Sampai dimana Kongcu memperbincangkan bahasa Sangsekerta itu dengannya ? Dan apa hasilnya ?"

"Sedang asyiknya percakapan berlangsung, tiba-tiba saja Ong Congkoan datang melarang, dengan alas an kami berkata-kata dalam bahasa Sangsekerta, hasilnya tentu saja nihil !"

"Semua ini kujalani atas perintah Pangcu."

Ong Jiak Tong membela diri.

"Pangcu memerintahkan aku menemui penghuni kamar istimewa itu, yakni untuk melancarkan pekerjaanku dalam menterjemahkan buku Sangsekerta. Dengan sendirinya segala kesulitan dalam bahasa itu, harus diucapkan dalam bahasa Sangsekerta ! Kupikir Ong Congkoan mempunyai cara yang lebih baik dari itu, maka dengan sangat kumohon petunjuk-petunjukmu.

"Ini...ini..."

Ong Jiak Tong kelabakan, wajahnya merah kemalu-maluan, sedangkan matanya menatap kearah Pangcunya seolah-olah memohon bantuan.

Sedangkan sang Pangcu pikirannya menjadi berubah setelah mendengar kata-kata In Tiong Giok, setelah berpikir sejenak lalu berkata .

"Memang benar, bagaimanapun engkau akan berkata-kata dalam bahasa Ssangsekerta, sesuai dengan kerjaanmu. Ong Congkoan engkau memang salah !"

"Tapi...,"

Pembelaan Ong Jiak Tong tak bisa dilanjutkan, mulutnya menjadi bungkam terkena delikan mata sang Pangcu. Cepat ia menyerah.

"Ya...ya aku salah, mohon Kongcu dan Pangcu memaafkan kecerobohanku !"

Sang Pangcu tersenyum, lalu melirik kearah Tiong Giok lalu berkata.

"Semua ini terjadi karena salah paham, Kongcu tak perlu menaruh hati ! Sejujurnya adakah hasil yang diperoleh dari percakapan tadi ?"

"Sejujurnya ada,"

Kata In Tiong Giok, tadi kukatakan nihil karena masih dongkol pada Ong Congkoan, atas ini kuminta maaf !"

"Nah apa yang diperoleh sekarang kerjakan dulu, nanti boleh menemuinya lagi !"

Kata sang Pangcu, dan terus bangun dari tempat duduknya.

Sengaja ia menuntun In Tiong Giok keluar agar pemuda itu senang dan mau bekerja dengan baik-baik.

Ong Jiak Tong sekalian sipir bui mengantar dengan hormat sambil berbungkuk-bungkuk.

In Tiong Giok merasa tak enak hati pada Ong Jiak Tong.

Maka itu sebelum ia naik kereta ia menepuk-nepuk pundak orang sambil menghibur "Ong Congkoan semua ini disebabkan tugas dan kewajiban kita, harap kejadian tadi jangan menjadi ganjelan hati !"

"Terima kasih! Terima kasih !"

Jawab Ong Jiak Tong dengan senang.

Kereta segera bergerak meninggalkan penjara tanah.

Kejadian yang dialami membuatnya tak bisa berpikir .

kenapa orang tua itu mengatakan dirinya bukan she In ?

Kenapa perkataan aneh ini bisa diucapkan orang tua itu ?

Kenapa orang tua itu mengetahui usianya serta tanda dipundak kirinya ?

Apa hubungannya dengan surat gurunya yang disampaikan kepada Thay Cin Tojin ?

Soal umur dan tanda luka memang tepat terdapat pada dirinya, mungkinkah sampai soal she bisa salah ?

Semakin berpikir otaknya gelap, dan ia baru tersadar tatkala kereta tiba ditempat tujuan.

Wan Jie seperti terbang melihat kereta tiba dan terus bertanya pada gurunya yang belum sempat turun .

"Suhu darimana ? Kenapa aku tak diajak ?"

"Ah jangan berlaku setolol ini Wan Jie, tak enak kalau dilihat para pengawal !"

Jawab sang guru sambil mendelik.

"Habis terlampau cemas aku ditinggal,"

Kata Wan Jie,"setiap yang kutanya suhu pergi kemana, semua mengatakan tidak tahu. Demikian juga dengan Lo Cucong, sampai sekarang menunggu-nunggu suhu pulang..."

"Lo Cucong ?"

"Ya katanya ada surat dari Soat Kouw. Kecuali itu Wang Futhoat yang bertugas dipintu masuk berturut-turut tiga kali memberikan tanda bahaya, mungkin ada sesuatu yang terjadi !"

Pek Cin Nio mengerutkan kening, ia berpaling pada Tiong Giok.

"Kalau begitu silahkan Kongcu pulang dengan kereta ini, nanti malam baru..."

"Lo Cucong memesan agar Kongcupun jangan pulang,"

Sela Wan Jie. Pek Cin Nio semakin mendelik pada muridnya .

"Hari inikenapa engkau begini macam ?"

Bicara terburu-buru, benarkah Lo Cucong memesan begitu ?"

"Kalau suhu tak percaya tanyalah pada Lo Cucong..."

"Ah kenapa kian hari kian kurang ajar ?"

Tegur Pek Cin Nio.

"awas setelah aku bertemu dengan Lo Cucong akan kuajar !"

Ia turun dari kereta dan terus masuk kedalam istana. Dengan mata merah Wan Jie menahan air matanya, lalu dengan penuh perhatian ia bertanya pada In Tiong Giok.

"Eh suhuku membawamu kemana ? Adakah terjadi sesuatu yang membahayakanmu ?"

"Tidak apa-apa, ia hanya menyuruhku bertemu dengan seoarang tua yang bersangkutan dengan buku Keng thian cit su. Lain dari itu semua aman, nah lihatlah apa yang kurang padaku ?"

"Masih bisa tertawa,"

Kata Wan Jie dengan aleman.

"kau tahu kepergianmu hampir-hampir membuatku gila, aku cemas dan kuatir atas dirimu !"

"Kenapa Lo Cucong menyuruhku diam dulu disini ?"

"Jangan kuatir bukan apa-apa,"

Hibur Wan Jie.

"Bukankah engkau pernah mengatakan Soat Kouw meninggalkan tampat ini lima tahun ? Kenapa mendadak ada suratnya ?"

"Ya, apa herannya, ia sering mengirim surat melalui merpati pos,"

Jawab Wan Jie.

"Urusan sendiri tak diperhatikan, masih mau tahu urusan orang !"

Sedang mereka bercakap-cakap, Lie Kee Cie dengan langkah cepat keluar dari Istana dan terus memberikan perintah pada anak buahnya .

"Pangcu akan kedepan, kamu harus berlaku waspada, dan siapkan semua senjata !"

In Tiong Giok keheran-heranan, ia memandang pada Wan Jie, yang disebut belakanganpun menggelengkan kepala tanda tak tahu.

Tak selang lama sang Pangcu baru keluar dari istana.

Ia menghampiri Tiong Giok .

"Ada sesuatu soal memerlukan tenaga Kongcu, mari kita pergi bersama-sama !"

Wan Jie menatap kepada gurunya, tanpa berkata-kata, gerak-geriknya kentara sekali ingin diajak. Pek Cin Nio tersenyum dan berkata .

"Mau ikut ya ? Lekas naik !"

Kegirangan Wan Jie tak alang kepalang, ditariknya pintu kereta, dan berkata dengan aleman pada gurunya .

"Terima kasih Suhu !"

Kereta berlari seperti terbang dalam waktu singkat telah tiba dipantai, disitu telah terseia empat buah perahu untuk melanjutkan perjalanan mereka kegunung depan.

Setelah berada didalam perahu, Pek Cin Nio menjelaskan pada Tiong Giok.

"Siang ini digunung depan datang seorang tua dan seorang muda yang aneh, orang tua itu bermata biru dan tidak bisa berbahasa Tionghoa; yang muda bisa berbahasa Tionghoa sedikit-sedikit. Mereka menyatakan sebagai guru dan murid, datang dari India, dan datang kemari untuk berurusan dengan kami. Wang Futhoat tidak mengerti bahasa mereka, dan tak mengijinkan mereka masuk, akibatnya mendatangkan makian mereka, bahwa kami sebagai perserikatan besar, tapi tidak mempunyai seorangpun yang berbahasa Sangsekerta. Lo Cucong merasa tersinggung, dan memerintahkan aku mengajakmu kesana !"

"Orang di Tionghoa sendiri jarang yang mengetahui tempat ini, kenapa mereka yang dari India bisa tahu ?"

Tanya Tiong Giok.

"Ya kedatangan mereka memang mengagetkan dan mencurigakan,"

Jawab Pek Cin Nio.

"Maka itu Lo Cucong ingin tahu apa yang dikehendaki mereka, dan mendatangkan Kongcu kesana sebagai interpreter !"

Begitu mereka mendarat terus mengganti kuda dan masuk kedalam terowongan, begitu keluar Wang Wang Can tampak menyongsong dengan membukakan pintu berjeruji besi.

Wang Wang Can dulu mendampingi terus Lo Cucong, tapi sejak Kim Tak Can dilukai Cian bin sin kay, ia dioper kepintu pertama ini.

Keadaan disini terasa tegang.

"Apakah kedua orang itu masih berada dibawah gunung ?"

Tanya Pek Cin Nio.

"Masih ! Lihatlah"

Kata Wang Wang Can sambil menunjuk.

Benar saja waktu mereka melihat kebawah terlihat dua orang berpakaian merah, satu tua satu muda.

Disebut Hweesio bukan Hweesio dikata Lama juga bukan; juga tidak mirip dengan Tojin.

Pokoknya dandanan mereka tidak keruan, dengan jumawa mereka sedang tergelak-gelak, dengan kelakuan eksentriknya yang berlebih-lebihan.

Mereka tertawa semakin besar begitu melihat Pek Cin Nio, yang tua berkata-kata yang tidak dimengerti, sedangkan yang muda menjelaskan.

"Guruku bertanya yang mana Pangcu Pok Thian Pang ?"

"Binatang ini terang-terang orang Tionghoa, kenapa tidak bisa berbahasa Tionghoa, jangan-jangan seperti Pang Hui...."

Kata Wan Jie sambil tersenyum.

"Lie Tongleng jawab pertanyaan mereka !"

Pek Cin Nio memerintahkan dengan wajah muram.

"Pangcu kami ada disini, tuan-tuan berkepentingan apa datang kesini ?"

Kata Lie Kee Cie. Orang tua bermata biru menatap Lie Kee Cie dengan mendelik lalu berkata tak keruan yang sukar dimengerti. Yang muda segera menjelaskan.

"Guruku berkata kenapa kalian sebagai perserikatan besar, sampai seorang ahli bahasa Ssangsekerta tidak ada ?"

"Hm,"

Dengus Pek Cin Nio.

"In Kongcu timpalilah mereka dengan bahasa Sangsekerta !"

"Kalian datang kesini sebenarnya mau apa ?"

Teriak Tiong Giok dengan bahasa Sangsekerta. Orang tua itu mendadak berhenti tertawa, dan memandang pada Tiong Giok dan terus mengoceh lagi dengan bahasanya sendiri.

"Apa yang dikatakannya ?"

Tanya sang Pangcu.

"Aku tak mengerti, karena yang diucapkannya itu bukan bahasa Sangsekerta !"

"Ah gila orang itu !"

Kata Pek Cin Nio.

"Biarlah akan kutanya lagi,"

Kata In Tiong Giok dan terus membuka mulut dengan bahasa Sangsekerta.

"Bukankah kalian ini ingin bicara dengan bahasa Sangsekerta ? Kenapa menjawab dengan bahasa lain ?"

Orang tua bermata biru, menggelengkan kepalanya, tapi menganggukkan kepala lagi dan terus berkata-kata seenaknya.

"Kata-katanya bukan bahasa Sangsekerta !"

Kata In Tiong Giok. Tiba-tiba saja orang yang muda berkata dari bawah .

"Hei, kata guruku engkau masih kecil sudah pandai berbahasa Sangsekerta, apakah datang dari India ?"

"Aku orang Tionggoan asli !"

"Guruku ingin mengetahui namamu ? Dan bertanya apakah pernah ke India ? "Namaku In Tiong Giok, menyesal belum pernah ke India sehingga bahasa Sangsekerta yang diucapkan gurumu tidak aku mengerti !"

Orang tua bermata biru lagi-lagi mengoceh dengan bahasanya, tampaknya sangat cemas sekali. Dan sedang yang muda tidak hentinya menganggukkan kepala dan terus memandang kepada In Tiong Giok.

"Guruku mengatakan bahasa Sangsekertamu dipakai dikalangan atas, buat bangsawan dan pembesar, sedangkan yang dikuasai guruku adalah bahasa rakyat sahaja dari kasta terendah. Walaupun bahasanya beda, huruf dari bahasa ini sama. Karena tak bisa berkata-kata dengan suara, ia ngin bercakap-cakap melalui huruf. Sesudah engkau melihat surat guruku, harap sampaikan pada sang Pangcu, tapi ingat hal ini teramat penting, kecuali dirimu yang lain tidak boleh tahu. Nah silahkan turunkan tangga, berikan kesempatan aku naik keatas membawa surat dari guruku."

"Kongcu boleh mengatakan, bahwa yang muda diperkenankan naik keatas, tetapi yang tua tidak !"

Kata Pek Cin Nio.

In Tiong Giok segeras menyampaikan apa yang dikatakan sang Pangcu.

Oang tua dan orang muda dibawah gunung berunding sejenak.

Siorang tua tampak mengangguk-angguk, lalu menulis disebuah Bukhie besi yang biasa dipakai seorang Hweesio dengan jeriji tangannya.

Hal ini membuat sekalian yang menyaksikan menjadi kaget.

Melihat ini Wang Wang Can dan Lie Kee Cie semakin berlaku waspada, baru setelah itu menurunkan tangga besi, membiarkan orang muda itu naik keatas.

Tangga ditarik lagi.

Setibanya diatas, Lie Kee Cie tak mengijinkan orang muda itu dekat-dekat dengan Pangcunya.

Dan orang muda itupun disuruhnya berkui (sembah sujud menekuk lutut).

"Kami hanya bersembah sujud pada Buddha dan Biku, tidak pada orang lain !"

"Sesampainya disini janganlah bersikap sekukuh itu !"

Kata Lie Kee Cie sambil mendupak dengan mendadakan. Orang muda itu dengan gerakan gesit, melompat kedepan dan memutarkan badan sambil menantikan serangan lagi .

"Engkau mau apa ?"

Tegurnya tenang-tenang.

"Diam !"

Bentak Pek Cin Nio.

"Lie Tongleng tak usah melalukannya, ambillah Bokhienya itu. Apa yang ditulis gurunya ingin kulihat !"

"Tidak ! Benda ini ingin kuserahkan kepada orang yang pandai bahasa Sangsekerta, nah...serahkanlah Bokhie itu padaku !"

"Apakah engkau dapat berbuat seperti kata-kata yang tertulis di atas Bokhie ini ?"

"Sudah tentu !"

Pemuda itu memandang keempat penjuru, lalu menganggukkan kepala.

"Bokhie ini terbuat dari besi dan bukannya kayu berat sekali maka hati-hatilah !"

Sehabis berkata ia membalikkan Bokhie itu dan menyerahkan kehadapan In Tiong Giok.

Pada Bokhie itu tertulis .

maju lima langkah dan menunduk lihat kebawah.

Surat ini hanya Tiong Giok sendiri yang bisa melihat.

Ia heran dan tidak mengerti, diliriknya pemuda itu dengan penuh tanda Tanya.

Tampak wajah orang itu begitu serius dan tenang, mendatangkan rasa ingin tahunya, dan segera melangkah lima tindak kedepan, lalu menunduk kebawah.

Saat itu ia telah berada ditepian jurang itu, dan dia jadi kaget, karena melihat kedalamannya jurang itu dan dibawah terlihat empat orang muda yang mengenakan abu-abu, sedang merentangkan jarring, menantikannya.

Pada saat inilah pemuda itu, melemparkan Bokhienya menyerang kearah Lie Kee Cie membarengi menyergap pada In Tiong Giok dan terus dibawa terjun kebawah jurang....

"Lepaskan oanah !"

Teriak Lie Kee Cie.

Anak panah berdesing terlepas dari busurnya seperti hujan.

Pemuda berbaju merah melindungi Tiong Giok dengan badannya.

Ditengah udara ia tak bisa berkelit, maka itu tubuhnya tertancap panah, tak ubahnya seperti landak.

"Stop ! Stop! "

Teriak Wan Jie dengan memanah terus bisa melukai In Kongcu !"

"Untuk apa menghiraukannya lagi, andaikan tak mati terpanah tentu akan mati terbanting..."

Kata Lie Kee Cie.

"Apaakah kau buta ? Tidakkah melihat jarring dibawah itu ?"

Potong Wan Jie dengan mendelik. Lie Kee Cie melihat kebawah, bukan main dongkolnya.

"Kejar!"

Perintahnya. Pek Cin Nio memungut Bokhie yang dilemparkan pemuda berbaju merah tadi, setelah melihat kata-kata itum ia berpaling kearah si Tongleng.

"Yang datang itu berilmu tinggi, mereka telah merencanakan dengan perhitungan matang. Maka itu bawalah lebih banyak pengawal dan bekerja sama dengan Wang Futhoat untuk mengejarnya ! Disamping itu akan kulaporkan pada Lo Cucong serta minta bantuan dari jago-jago yang berada di idtana sorga, kejarlah mereka sampai dapat !"

Perkataan sang Pangcu ini sepatahpun tidak terdengar oleh Wan Jie, ia sedang cemas memandang kebawah, karena segenap hatinya telah meluncur kebawah terbawa In Tiong Giok.

Dan iapun melihat bagaimana kekasihnya itu jatuh didalam jarring, membal dan melompat-lompat beberapa kali, kemudian baru diam.

Ia menarik napas lega, air matanya mengalir turun, sejenak tak bisa mengatakan sedih ?

Duka ?

Girang.

Ia pernah berharapan besar agar kekasihnya itu melarikan diri, dan kini benar-benar kekasihnya itu telah meninggalkan dirinya.

Disamping rasa senangnya rasa duka dan sedihnya lebih besar lagi.

Sedangkan Tiong Giok yang jatuh kejaring segera disambut orang tua bermata biru.

"Hei bocah engkau tentu tidak kurang suatu apa ?"

Kata-katnya diucapkan dalam bahasa Tionghoa yang fasih sekali.

"Ya aku tidak kena apa-apa, tapi saudara ini..."

Kata Tiong Giok sambil meringis.

"Ia adalah muridku !"

Kata orang tua itu sambil memeriksa badan muridnya yang telah menjadi mayat.

"Yang mati tidak akan hidup lagi, mari kita berlalu !"

Empat pemuda berbaju abu-abu segera melemparkan jaringnya dan mengikuti siorang tua masuk kedalam hutan yang lebat.

Baru mereka berlalu, dari arah belakang terdengar derap kaki kuda.

Orang tua bermata biru segeraberhenti sebentar.

Tahanlah gerak majunya !

Katanya memerintahkan pada salah seorang pemuda berbaju abu-abu, pemuda itu mengangguk dan terus menghunus senjatanya, maju menyongsong pengejar.

Sedangkan siorang tua membawa Tiong Giok dan ketiga pemuda berbaju abu-abu, melanjutkan perjalanannya.

Lebih kurang berjalan setengah lie kembali terdengar derap kaki kuda dari belakang.

"Ah, musuh tentu lihay !"

Kata siorang tua.

"Nah coba engkau tahan lagi mereka !"

Perintahnya pada seseorang melewati beberapa lie, mereka tiba disebuah sungai kecil, sungguhpun demikian airnya deras sekali.

Tiong Giok ingat waktu ia mau masuk kemarkas Pok Thian Pang matanya ditutup, tapi mendengar suara sungai, nah inilah sungai itu.

Dua pemuda beraju abu-abu, dari balik semak menarik keluar sebuah perahu kecil.

Siorang tua membawa Tiong Giok keatas perahu, berbareng dengan ini dibelakang mereka terdengar lagi suara pengejar.

"Kalian berdua bisa bertahan berapa lama ?"

Tanya siorang tua.

"Kami bisa bertahan sekurang-kurangnya setengah jam !"

Jawab pemuda berbaju abu-abu.

"Pergilah dan jangan sampai membuat malu yang menjadi guru !"

"Baik suhu !"

Orang tua membuka baju merahnya, dan terlihatlah baju dalamnya yang berwarna hitam.

Dengan cepat ia memutar perahu dan segera laju terbawa air, dalam sekejap hutan lebat telah tinggal jauh.

Markas Pok Thian Pang dianggap dunia terpencil yang bisa dimasuki tanpa bisa keluar lagi, tak kira kejasdian yang baru dialami Tiong Giok seperti dalam hayalan saja.

Kini ia dengan mujur bisa meloloskan diri, tapi mengingat pada Cian bin sin kay yang gagah berani dan Wan Jie yang manis budi serta orang tua yang berada dipenjara tanah, membuatnya berpikir kapan bisa bertemu lagi dengan mereka.

Akibat pikirannya melayang-layang tampaknya seperti melamun.

"Hei bocah, mari kita mendarat !"

Tiba-tiba siorang tua bermata biru berkata.

"Kenapa berhenti disini ?"

"Jangan kuatir semua sudah diatur !"

Tiong Giok tidak banyak bicara lagi mengikuti siorang tua kedarat. Dan terus mereka berlari-lari.

"Siapa ?"

Tiba-tiba dari balik sebuah batu besar terdengar orang berseru.

"Aku Liok Jie Hui !"

Jawab seorang tua sambil tertawa. Mendengar nama itu Tiong Giok menjadi kaget dan sadar, bahwasannya orang tua itu bukan lain dari salah seorang Capsahkie yang bergelar Sian Ong.

"Oh kira Liok Locianpwee, terimalah hormatku serta rasa terima kasihku atas pertolongan Cianpwee keluar dari tempat Pok Thian Pang !"

"Jangan berkata begitu !"

Kata sioarng tua sambil tersenyum.

Tiba-tiba saja dari balik batu datang seorang berumur lima puluh tahun, kurus dan mengenakan pakaian serba putih, dibelakangnya terlihat Tojin setengah baya berwajah pucat, disusul dengan seorang tua berbaju belentang belentong dengan wajah dingin, yang terakhir adalah seorang perempuan berbaju hijau, usianya empat puluhan.

Wajahnya cantik dan cukup menarik, senyumnya selalu menambah keayuannya.

Keempat orang ini semua bersenjata pedang, dan gagah-gagah, sungguhpun demikian terhadap Liok Jie Hui sangat hormat sekali.

"Kami sebagai Tionggoan Su toa kiam pay (empat pendekar pedang dari berbagai aliran) mengucapkan selamat datang pada Liok Sian Ong !"

Kiranya dibalik batu besar terdapat sebuah gua yang bermulut sempit dan tertutup semak-semak.

Dari luar tidak kentara seperti gua.

Mereka segera masuk, didalam terdapat sebuah ruangan, sebuah meja sederhana yang penuh makanan diatasnya.

Sejak melihat empat orang yang aneh ini, timbul firasat buruk pada Tiong Giok.

Maka itu ia selalu mendekat pada Liok Jie Hui.

Orang tua ini mengajaknya duduk dan memberikan arak serta makanan.

"Hei bocah apakah engkau mendengar nama Tiong Goan Su toa kiam pay ?"

Tiong Giok menggelengkan kepala.

"Dunia persilatan banyak yang menggunakan pedang sebagai senjata, tapi selama dua puluh tahun yang dapat dipuji adalah ilmu pedang dari empat aliran, yakni dari Sie beng, Cong lam, Oey san dan Lo hut. Kini engkau beruntung bisa bertemu dengan mereka ini ! "

Kata Liok Jie Hui sambil menunjuk kepada empat orang aneh tadi.

"Nah sekarang kuperkenalkan merka ini padamu ! "Maka mulailah orang tua ini menyebutkan nama keempat orang aneh itu ! Perempuan yang berbahu hijau ini bernama Hoo Su Kouw, dari Oey San dengan gelar Oey san cui hong (cendrawasih hijau dari gunung Oey), Pelajar berbaju putih ini bernama Liu Bu Kie dari perkampungan Sie beng dengan gelar Hoo heng kiam (sibangau berpedang), Orang tua kurus ini bernama Kiong Hauw, Ciang bun jin dari perguruan pedang Lo hut, dengan gelar Ku bok kiam kek (pendekar pedang kayu kering). Dan Tojin ini bernama Thian Hong Tojin, Ciang bun jin dari Ciong lam. Tiong Giok menghaturkan hormat kepada mereka satu persatu sambil berkata .

"Boanpwee In Tiong Giok seorang pelajar lemah yang beruntung mendapat pertolongan dari Liok Sian Ong serta bisa bertemu dengan Cuwie sehingga terbebas dari genggaman kaum Pok Thian Pang, atas ini kuucapkan terima kasih yang tidak terhingga !"

"Ha ha ha, jangan berkata begitu,"

Kata Liok Jie Hui,"tahukah kenapa kami mau menolong engkau ?"

"Mungkinkah karena diriku bertugas sebagai penterjemah buku di Pok Thian Pang ?"

"In Kongcu benar-benar pintar, dugaanmu memang tepat !"

Kata Hoo Su Kouw.

"Kudengar buku yang mau diterjemahkan itu bernama Keng thian cit su, yakni buku pelajaran ilmu pedang bukan ?"

Tanya Liok Jie Hui.

"Benar !"

"Sudahkah engkau menterjemahkannya ?"

Tanya Jie Hui lagi.

"Baru sebagian saja..."

"Bagus ! puji Liok Jie Hui, sebab kalau sampai buku ini engkau terjemahkan, sama dengan Pok Thian Pang sebagai harimau ditambah sayap. Dan pasti mendatangkan bencana besar dikalangan Rimba Hijau, dan engkau tak ubahnya seperti membantu kejahatan mereka, akan dikutuk sepanjang masa.

"Ya untung Liok Sian Ong datang tepat pada waktunya !"

Kata Tiong Giok.

"Sungguhpun begitu buku ini masih tetap berada ditangan Pok Thian Pang, lambat laun pasti dapat diterjemahkan juga dan menjadi bencana bagi dunia Bulim. Aku dan keempat ahli pedang ini berkumpul dan mengajakmu kesini tak lain ingin merundingkan sesuatu hal denganmu. adapun soal ini menyangkut mati hidupnya dunia persilatan, entah engkau bersedia atau tidak ?"

"Lo Cianpwee sebagai penolongku, kenapa harus berkata begitu, sudah tentu aku bersedia, asal saja yang dapat kukerjakan !"

"Engkau sudah kenalkah jago-jago pedang dari empat aliran, tapi mereka tak seorangpun yang dapat menajan kekuatan Keng thian cit su. Maka itu kami berusaha memiliki ilmu pedang itu agar semua jago-jago silat mempelajarinya, sehingga mempunyai kekuatan menghadapi kaum Pok Thian Pang.

"Maksud Liok Cianpwee bagaimana ?"

Tanya Tiong Giok.

"Engkau adalah satu-satunya yang pernah melihat Keng thian cit su, asal engkau bersedia membuat kopinya, Pok Thian Pang pasti hancur !"

"Ini.... Tiong Giok tertegun sejenak.

"Pok Thian Pang adalah perkumpulan yang ganas, yang menghendaki semua cabang dan aliran lain tunduk kepadanya. Yang menentang akan dibunuhnya secara sewenang-wenang. Maka itu untuk mencegah keganasannya itu kami harus menyiapkan diri melatih ilmu yang ampuh guna menghadapi mereka ! Jika tidak berpikir kesitu untuk apa bercapai lelah dan mengorbankan keempat muridku menolong dirimu ?"

Kata-kata ini membuat Tiong Giok tergerak, tambahan keempat jago pedangpun memandang kearahnya dengan penuh harapan.

Ya untuk hidupnya kaum Bulim, Boanpwee bersedia menulis Keng thian cit su, buku itu baru sekali kubaca, kuatir...

"atas kesediaan Kongcu, sebelumnya kami menghaturkan banyak terima kasih,"

Kata keempat jago pedang sambil merangkapkan kedua tangannya masing-masing.

"Tak apa, berapa yang engkau ingat tulislah, kekurangannya dapat diperbaiki keempat jago pedang ini !"

Kata Liok Jie Hui. Segera juga Liu Bu Kie menyediakan alat-alat tulis. Tiong Giok tidak membuang waktu, siap bekerja. Tapi Liok Jie Hui berkata dengan tiba-tiba.

"Eh, dengarkan dulu, disini memang sunyi dan aman, tapi masih dekat dengan Pok Thian Pang ! , untuk mencegah sesuatu yang tidak diinginkan, kuharap kalian berempat menjaga diluar dengan bergilir !"

Liu Bu Kie berempat saling tatap diantara mereka sendiri, seolah-olah tak seorangpun mau meninggalkan tempat itu.

"Aku merencanakan hal ini dengan susah payah, mungkinkah tugas yang begitu mudah tak dapat kalian lakukan ?"

Tegur Liok Jie Hui sambil mendelik dengan matanya yang biru.

"Bukan begitu,"

Kata Liu Bu Kie, bajuku sangat menyolok mata, sebaiknya mereka saja yang bertugas dengan bergilir."

"Bajuku sendiri belentang belentong dan mudah menarik perhatian orang,"

Jawab Kiong Hauw.

"Hm, kata Thian Hong Tojin dengan gusar "kita sudah berjanji, sama-sama bersenang, sama-sama bersusah, kenapa musti tarik urat di soal baju . Andaikan baju itu membuat kalian susah, tukarlah dengan bajuku !"

"Baju ini merupakan cirri khas dari tiap aliran, mana boleh sembarangan ditukar ?"

Jawab Liu Bu Kie.

"Siapa yang bilang tidak boleh ?"

Bentak Thian Hong Tojin. Akibat soal kecil ini membuat mereka tarik urat dan ribut mulut, hampir-hampir terjadi perkelahian.

"Hm, apa yang diributkan ?"

Bentak Liok Jie Hui.

"Jika kalian mencurigai satu sama lain, apa yang ditetapkan semula kuanggap batal, dan In Kongcu akan kubawa pergi, kutanya jika sampai begitu siapa yang rugi ?"

"Ya kita sebagai orang-orang yang kenamaan kenapa harus ribut seperti anak kecil, tidak malukah pada In Kongcu ?"

Kata Hoo Su Kouw. Tanpa terasa Liu Bu Kie dan lelaki memandang kearah In Tiong Giok, lalu dengan menundukkan kepala tak berkata-kata lagi.

"In Kongcu mengerjakan tulisan ini, pasti memakan waktu yang agak lama. Dan kitapun bertugas dengan bergilir, untuk menetapkan siapa yang harus jaga pertama dan seterusnya bahkan kita sudi saja,"

Kata Hoo Su Kouw.

Ketika jago pedang lainnya menganggukkan kepala tanda setuju, Hoo Su Kouw lantas memulung empat kertas yang sudah ditulis angka satu sampai empat.

Setelah diundi nyatanya Liu Bu Kie mendapat tugas pertama, membuatnya tak bisa membantah lagi, dengan wajah merana ia pergi keluar.

"Kami berempat sudah bisa bersikap keras-kerasan, dengan begini hubungan kami semakin intim. Kongcu tak perlu memperdulikan kami, menulis saja dengan tenang,"

Kata Hoo Su Kouw.

In Tiong Giok merasa geli melihat kelakuan empat jago pedang yang aneh itu, setelah menunda sebentar kerjaannya akibat keributan mereka, segera ia melanjutkan lagi menulis.

Dengan kepintarannya yang luar biasa dan daya ingatannya yang hebat.

Tiong Giok dapat menyelesaikan tiga jurus dari Keng thian cit su dalam waktu setengah jam.

Apa yang sudah ditulis itu diambil Liok Jie Hui dan ditaruh di meja, sehingga membuat tiga jago pedang itu tidak dapat melihatnya.

"Demi keadilan, sebelum semuanya ditulis habis, kita jangan melihat dulu yang ini !"

Kini sampai giliran Thian Hong Tojin bertugas, dengan langkah berat ia ngeloyor juga, mengaplus Liu Bu Kie.

Kembali setengah jam berlalu, Tiong Giok selesai menulis sampai enam jurus.

Sedangkan yang bertugas jaga sampai pada Tiong Hauw.

Ia pergi keluar, tapi sebentar kemudian sudah kembali kedalam.

"Buku ini hanya tujuh jurus, dengan kecepatan In Kongcu menulis pasti sudah selesai sebelum giliran Hoo Su Kouw. Maka itu kuanggap disinilah letaknya, rasa kurang adil !"

Bantah Hoo Su Kouw.

"Aku bukan mau enak sendiri, tapi tidak mau rugi juga,"

Kata Tiong Hauw.

"kini kuminta engkau bertugas lebih dulu dn aku belakangan bagaimana ?"

"Ah mana bisa, semua ini sudah diundi..."

"Ya gulungan kertas tadi engkau yang membuat, tentu engkau main curang ! Kau kira aku bisa ditipu ?"

"Ya gulungan kertas aku yang buat."

jawab Hoo Su Kouw dengan gusar.

"tapi disaksikan Liok Sian Ong !"

"Ha ha ha."

Tiba-tiba dari luar terdengar suara orang tertawa disusul dengan kata-kata "Siapa yang menjadi saksi ? Kami suami istri bolehkah ?"

Begitu mendengar suara itu Liu Bu Kie menjadi cemas, tanpa piker panjang lagi, ia melompat dan meraup kertas dimeja itu.

Jejaknya diikuti yang lain-lain.

Suasana menjadi kalang kabut, sungguhpun mereka bergerak cepat, masih kalah oleh Liok Jie Hui !

Semua kertas itu dengan cepat telah masuk kekantongnya dan membuat keempat jago pedang menubruk angin.

"Hm siapa diluar ?"

Bentak Liok Jie Hui.

"Hei, kawan bermata biru sampaikan kami suami istripun engkau tak kenal ?"

"Hati-hati !"

Kata Liok Jie Hui perlahan, yang datang adalah Hek pek siang kuoy Na Beng Kie dan Lau Liu Kim, kedua jejadian ini sangat lihay..."

In Tiong Giok mendengar nama Hek pek siang kuoy, segera tahu adalah orang Cap sah kie segera ia berdiri ingin melihat bagaimana macamnya kedua jejadian itu.

"Liok Lauko, engkau sok betul, kami sudah menunggu lama belum juga dipersilahkan masuk !"

Kata suara dari luar.

Menyusul terlihat berkelebatan dua bayangan, mereka adalah seorang laki-laki dan seorang perempuan.

Melihat ini Tiong Giok jadi melongo, karena kedua jejadian yang dibayangkan sangat menyeramkan itu, ternyata adalah dua bocah cilik.

Yang laki-laki kelihatannya baru usia empat lima belas tahun, dipunggungnya terselip dua pedang.

Yang perempuan sebaya dengan yang laki-laki.

Jika tidak mendengar Liok Jie Hui mengatakan mereka sebagai Hek pek siang kuoy, bagaimanapun ia tidak percaya kedua bocah ini sebagai jago-jago bulim yang termasuk dalam Bulim Cap sah kie.

"Tiap tahun kejadian-kejadian aneh selalu ada, tapi tidak menang dengan tahun ini Liok Toako sandiwara model apa yang engkau buat ? Sampai empat bajak laut dari Luan lo engkau jadikan Su toa kiam pay ?"

Kata Na Beng Lie sambil melirik kearah Liu Bu Kie dan kawan-kawannya.

"Pakai banyak tanya-tanya,"

Kata Lau Liu Kim dari dulu segala busuk dan segala pekerjaan tak tahu malu Liok Lojie sudah terkenal ! Yang terang kita terlambat selangkah !"

"Tidak ! Tidak ! Bagaimana engkau menertawakan Liok Toako ? Ingatlah kita sebagai kawan lama dengannya, tentu membuatnya punya ingatan dan tak mungkin menelan sendiri rejeki yang diperoleh !"

Liok Jie Hui tersenyum sinis dan berkata dengan dingin .

"Kalian boleh saling sambutan dengan kata-kata tapi aku tidak mengerti apa yang kalian maksud !"

"Ah, jangan begitu, sedikit banyak kami harus kecepretan, baru pantas !"

Kata Na Beng Lie.

"Tidak bisa !"

Kata Liok Jie Hui.

"sudah merupakan kebiasaanku makan apa-apa tidak meninggalkan sisa, apa lagi yang harus kucepret-cepretkan ?"

"Hm, terus terang sja kami sebagai suami istri yang tak mudah dipermainkan !"

Kata Lau Liu kim.

"Aku tidak memperhitungkan kearah itu, ha ha,"

Jawab Liok Jie Hui.

"Sret !"

Terdengar sekali, karena Lau Liu Kim telah menghunus senjatanya, dan menunjuk keluar gua.

"Disana lega, mari kita kesana !"

Sehabis berkata ia mencelat keluar.

"Liok Toako, sudah menjadi tabiatnya demikian, kenapa membuatnya gusar ?"

Tanya Na Beng Lie.

"Hm engkaupun sama saja dengan istrimu, pokoknya sebelum berkelahi persoalan ini sukar menjadi beres !"

"Untuk persoalan sekecil ini kawan lama jadi berkelahi kurasa tak ada artinya !"

Jawab Ba Beng Lie, seraya menggoyangkan kipasnya dan mendadakan saja kipasnya merapat dan ditotokkan kepada Liok Jie Hui.

Kelakuan yang berbeda dengan omongan manisnya inilah ia mendapat gelar Hek sim (sihati hitam).

Jangan lihat ia kecil, gerakannya begitu kejam dan telengas, hampir-hampir Liok Jie Hui termakan kipasnya.

Tapi Liok Jie Hui yang sudah mengenal tabiat musuh, siang-siang sudah bersedia, maka itu melihat serangan tongkatnya keluar menangkis dan membarengi mennyodok kedepan.

"Tring"

Terdengar sekali, karena dua senjata beradu dan memercikkan batu api.

Na Beng Lie merasakan lengannya sedikit kesemutan, dan tahu tak mudah memperoleh kemenangan, maka itu dengan cepat tubuhnya yang kecil melompat keluar.

Sambil berlalu senjatanya dikebutkan kearah Thian Hong Tojin.

Yang disebut belakangan tidak menduga akan diserang, dengan mudah saja terhajar dan mati saat itu juga dengan kepala remuk.

"Hiang Kuay sangat kejam dan telengas, kalian bukanlah tandingannya,"

Kata Liok Jie Hui.

"Aku tak takut dengannya, tapi jika berkelahi akan makan waktu, dan orang-orang Pok Thian Pang bisa datang. Maka itu akan kupancing pergi kedua jejadian itu ketempat jauh, kalian bawa In Kongcu pada tempat yang sudah kita tentukan, tiga hari aku pasti datang !"

"Tapi bagaimana dengan buku itu ?"

Tanya Liu Bu Kie.

"Tanpa adanya aku darimana datangnya buku ini ? Apakah engkau tidak percaya padaku ?"

Bentak Liok Jie Hui.

"Ya benar !"

Kata Hoo Su Kouw,"

Kami mengharapkan saja Liok Sian Ong datang tepat pada waktunya !"

Liok Jie Hui merasa dongkol dihampirinya Kiong Hauw dan dibisikinya beberapa patah setelah itu ia berlalu.

Tak selang lama setelah perginya Liok Jie Hui diluar terdengar suara angin menderu-deru, tandanya telah terjadi perkelahian hebat.

"Sialan apa maunya dia ? Tanpa kita iapun tak bisa dengan mudah memiliki buku itu ! Setelah tak perlu kita ditendang..."

"Ssst ! Sabarlah, yang penting kita harus meninggalkan tempat berbahaya ini,"

Kata Hoo Su Kouw.

"Mari kita pergi,"

Dan dituntunnya Tiong Giok keluar gua diikuti yang lain dari belakang.

Saat ini diluar gua telah menjadi gelap, Tiong Giok diajak berlari-lari keluar masuk rimba dan hutan, ia tidak tahu kearah mana hendak dibawa, hanya mengikuti terus seperti diseret-seret.

Rasa kuatir dan cemas meliputi segenap jiwa raganya...

Mereka berlari dan berlari.

Tatkala fajar menyingsing telah tiba disebuah perkampungan kecil.

"Tempat ini bagus, kita boleh beristirahat,"

Kata Hoo Su Kouw.

"Kita salin pakaian dan menangsel perut baru melanjutkan perjalanan lagi !"

"Sebaiknya kita lanjutkan terus perjalanan pada tempat yang dijanjikan Liok Sian Ong,"

Kata Kiong Hauw.

"Engkau boleh melanjutkan perjalanan, tapi aku tidak mau,"

Jawan Hoo Su Kouw.

"Kenapa?"

Tanya Kiong Hauw.

"Engkau harus tahu siapa Liok Sian Ong itu !"

Kata Hoo Su Kouw.

"Sesuatu barang jika sudah ada ditangannya, mana mungkin diberikan kepada kita ?"

Kiong Houw seperti tersadar dari tidurnya dan berkata dengan kaget .

"Kalau begitu kita tertipu Liok Sian Ong ?"

"Sekarang baru tahu ? Sudah terlambat !"

Kata Liu Bu Kie dengan dingin.

"Sebab kutahu kelicikannya, maka sengaja kuribut tak mau menjaga, agar kalian sadar dn menyokongku. Tak kira Sumoy mencegahku, dan membuatnya enak-enak mengangkanngi buku itu !"

"Jika tidak kurintangi, akibatnya kita akan mati ditangannya !"

Kata Hoo Su Kouw.

"Apakah dengan kepandaian kita berempat bisa melawannya ?"

"Kalau begitu sama saja kita menelan mentah-mentah kelicikannya itu ?"

Kata Liu Bu Kie dengan sengit.

"Hm, biar dia licik dan pandai ia lupa pada satu soal."

Kata Hoo Su Kouw dengan tersenyum puas.

"Ia lupa bahwa In Kongcu ini adalah buku hidup !"

"Pantasan waktu mau berlalu membisikiku agar In Kongcu ditengah jalan !"

Kata Kiong Hauw.

"Jika begitu mungkin juga Liok Kukoay itu bisa mengejar kita,"

Kata Hoo Su Kouw.

"Yang baik kita harus tukar pakaian dan menyamar baru aman ! Nah siapa diantara kalian yang mau mencari pakaian masuk kampung ?"

"Biar aku yang mencari !"

Kata Liu BU Kie sambil melangkah.

"Baju putihmu terlalu menyolok mata, sebaiknya Kiong Toako saja yang pergi ! Orang yang sudah tua gampang mendapat simpati rakyat !"

Kiong Houw menganggukkan kepala dan berlalu. Setelah melihat Kiong Hauw berlalu, Hoo Su Kouw menarik napas panjang dan mendekat pada Bu Kie .

"Kelihatannya soal ini rumit sekali..."

"Kenapa begitu ? Dapatkah kutahu ?"

"Tidak kenapa-napa, tapi kalau dibentangkan..."

"Ya katakana saja, jangan disimpan saja dalam hatinya, akibatnya berabe".

"Sebenarnya tak patut kukatakan soal ini kepadamu, tapi apa boleh buat ! Kita mengangkat saudara sudah bertahun-tahun, tapi engkau piker, apa yang terjadi di dalam gua, berhari-hari melakukan tugas, sampai terjadi keributan dan datangnya Siang Kuoy ! Juga kuheran kenapa Liok Lokuoy itu hanya memesan Kiong Toako seorang untuk membunuh In Kongcu ? Tentu disini terselip sesuatu hal yang tidak kita ketahui bukan ? Bukan kata aku terlalu curiga, tapi semua ini adalah fakta, nah engkau piker saja, kenapa ia mau melanjutkan terus perjalanan dan takmau beristirahat disini ?"

Liu Bu Kie mendengari tak hentinya menganggukkan kepala.

"Benar ! Tentu antara Lo Kuay dan Kiong Toako ada apa-apanya !"

"Liu Jiko kupikir unutk mempelajari ilmu pedang Keng thian cit su harus punya seorang kawan yang cocok dan sependirian barubisa berhasil meyakininya. Kini hanya engkaulah yang kupikir sangat cocok denganku, engkaulah Tiong Toako benar-benar membuatku dongkol saja !"

"Kalau begitu kita singkirkan saja dia ..."

"Jangan berkata begitu,"

Kata Hoo Su Kouw sambil mendekap mulut Liu Bu Kie.

"Kepandaiannya berada diatas kita berdua jika sampai ia tahu, sama dengan mencari penyakit senddiri ! Untuk menghadapinya kita harus berlaku cerdik !"

"Hm ! Untuk menghadapinya lihat saja nanti !"

Kata Liu Bu Kie.

"Kuharap engkau jangan berlaku gegabah, ai ! Jangan ngomong lagi ia sudah pulang !"

Baru saja diantara mereka berhenti bicara Kiong Hauw sudah datang dengan membawa dua buntelan besar.

"Waduh untuk mendapatkan baju bekas saja harus mencapainya lidah dulu !"

Katanya sambil tersenyum-senyum.

"Kenapa begitu ?"

Tanya Hoo Su Kouw.

"Orang-orang bodoh didesa itu mengatakan untuk apa aku membeli baju ? Terpaksa aku membohong dan mengatakan kepada mereka bahwa aku tinggal dipegunungan dan telah dirampok habis-habisan..."

"Hm ! Kiranya Kiong Toako tukang menipu orang, tapi mulai saat ini kami takkan kena tipu dayamu !"

Seru Liu Bu Kie.

Kiong Hauw menjadi kaget sebelum tubuhnya dapat berkisar, pedang Liu Bu Kie telah menembus tubuhnya.

Dengan menahan sakit ia mengebaskan lengan kanannya sebagai gaya reflex, melakukan serangan.

Hal ini diluar dugaan Bu Kie, cepat-cepat ia melepaskan pedangnya dan melompat ke samping.

"Liu...Liu lojie...engkau sangat kejam,"

Kata Kiong Hauw terputus-putus, lalu mencabut pedang yang menancap ditubuhnya, setindak demi setindak mendekat pada Liu Bu Kie.

"Hoo Sumoy ! Lekas habiskan jiwanya."

KataLiu Bu Kie sambil menyengir-nyengir jengah.

"Jangan kuatir, tak lama lagi ia akan mati "

Kata Hoo Su Kouw.

"Hm, kiranya...kalian adalah...sepasang anjing...lelaki dan perempuan...yang berkomplot !"

"Engkau sudah mau mati, tak perlu mencaci orang !"

Bentak Hoo Su Kouw. Liu Bu Kie mendekat kearah Hoo Su Kouw.

"Serahkan pedangmu padaku !"

Pintanya.

Hoo Su Kouw menyerahkan pedangnya, sedangkan Kiong Hauw melemparkan pedang kearah Liu Bu Kie dengan kekuatan tenaganya yang terakhir.

Waktu Liu Bu Kie akan menangkis serangan itu, merasakan kedua tangannya tidak bisa digerakkan, Karena telah ditotok jalan darahnya oleh Hoo Su Kouw.

Tak ampun pedangnya yang dipakai menikam Kiong Hauw kini menubles tubuhnya sendiri.

"Sumoy...engkau..."katanya dan terus membungkam untuk selama-lamanya.

"Jieko engkau harus tahu tamak sudah menjadi sifat manusia, maka jangan menyalahkan aku ! Sekarang tak kubunuh, nanti kau membunuhku bukan ? Mungkin tindakanmu akan lebih beracun lagi."

Dan terus ia menghabiskan kedua saudara angkatnya itu dengan cepat.

Lalu dengan tangkas kedua mayat itu dikubur.

Dengan menarik napas lega ia melirik kearah Tiong Giok yang pucat menyaksikan peristiwa ini.

"Ah dasar seorang pelajar lemah, rupanya ketakutan sekali, aku harus menghiburnya agar mau menuliskan buku Keng thian cit su bagiku."

Pikirnya dan terus menghampiri pemuda itu.

"In Kongcu ! Hm, engkau diam saja, tentu menyalahkan aku berlaku jahat pada mereka bukan ? Tapi apa mau dikata, seorang perempuan ditakdirkan sebagai insan yang lemah, kemana-mana selalu dapat penghinaan dan diperlakukan dengan tak wajar, untuk hidup inilah terpaksa memakai cara ini."

Ia tidak bicara lagi, sebaliknya meloloskan bajunya dan menukar dengan sehelai pakaian bekas yang didapat Kiong Hauw.

Diam-diam ia melirik kepada si pemuda, ia agak kecewa karena pemuda itu sedikitpun tidak memperhatikan padanya.

In Kongcu, lekaslah tukar pakaian, boleh kita melanjutkan perjalanan."

Sambil berkata ia mau menepuk pemuda kita. Dengan cepat sekali Tiong Giok menggeser badan dan membentak .

"Engkau mau mengajakku kemana ?"

"Aha pakai banyak bertanya, sudah tentu kesuatu tempat yang nyaman ! Disana hanya kita berdua saja! Apa yang engkau kehendaki pasti kululusi ! Setelah mahir dengan ilmu Keng thian cit su kita bisa mengembara kemana saja dengan bersuka ria !"

"Maksudmu pergi ketempat Liok Sian Ong ?"

"Aduh masak kesana !"

Kata Hoo Su Kouw sambil membereskan bajunya.

"Jika engkau tak mau kesana, beritahu tempatnya dimana aku bisa pergi sendiri !"

Kata In Tiong Giok.

"Untuk apa kau menemuinya ? Mau cari mati ?"

"Tak perlu engkau tahu, lekaslah sebutkan dimana tempat itu !"

"Kesanapun tidak ada gunanya, pasti ia tak ada disana ! Karena buku yang dikehendaki telah diperolehnya !"

Jawab Hoo Su Kouw, supaya engkau tak penasaran, baik kusebutkan, bahwa tempat itu bernama Kiu hoa san !"

"Terima kasih atas keteranganmu, dan selamat tinggal !"

Kata In Tiong Giok.

"Hm engkau hendak kemana ?"

Kata Hoo Su Kouw sambil merintangi perjalanan Tiong Giok.

"Sudah tentu akan ke Kiu hoa san, jawab Tiong Giok sejujurnya, kuharap engkau memberi jalan ."

"Tidakkah Kongcu berpikir, apa yang terjadi barusan itu karena apa ?"

Tanya Hoo Su Kouw.

"Itu urusanmu, tak ada sangkut pautnya denganku!"

"Engkau boleh pergi kesana, sebelum itu harus menuliskan dulu sebuah buku Keng thian cit su bagiku !"

"Jika aku tak mau bagaimana ?"

"Aku bisa membuatmu mau !"

"Aku rasa engkau tak bisa !"

"Mau coba-coba !"

Kata Hoo Su Kouw dan terus mengeluarkan jerijinya melakukan totokan, Sungguhpun begitu ia kuatir Tiong Giok tak kuat menahan serangannya, maka tenaga yang digunakan hanya tiga bagian saja dan yang diserangpun bukan tempat berbahaya.

Bermimpipun ia tidak berpikir, bahwa pelajar lemah yang dianggapnya empuk ini dengan mudah saja bisa menghindarkan diri dengan ilmu kiu coan bie cong po.

Hoo Su Kouw mengucak-ngucak mata dan berseru.

"Mau lari kemana ?"

Dengan cepat ia menyergap lagi, tapi sekali lagi Tiong Giok dapt menghindarinya. Dan dengan gusar ia membentak.

"Sebenarnya engkau mau apa ?"

Sekali ini Hoo Su Kouw melihat dengan tegas, gerak langkah yang digunakan Tiong Giok begitu aneh dan mengagumkan, keruan datang kagetnya .

"Benar-benar aku salah mata, tak kira Kongcu memiliki ilmu setinggi ini !"

"Engkau jangan berkata begitu, pokoknya berikan aku jalan, jika tidak jangan salahkan tindakanku !"

"Apa tindakanmu itu ?"

"Engkau telah menotokku dua kali, jika sampai aku menotokmu sekali saja, membuatmu menyesalpun sudah kasep !"

Hoo Su Kouw tersenyum dan mendekati terus, dengan memasang dadanya yang padat kehadapan Tiong Giok ia berkata .

"Masakah totokanmu begitu lihay ? Nah lancarkanlah untuk kurasakan..."

Jilid 6________ In Tiong Giok menjadi merah padam dan jengah menghadapi perempuan semacam ini, tak terasa lagi mundur-mundur.

Kesempatan ini tidak dilewatkan Hoo Su Kouw begitu saja, dengan cepat kakinya terangkat melakukan sabetan.

Geraknya ini cepat dan kejam, jangankan Tiong Giok yang tidak berpengalaman andaikata seorang jago Bulim yang berpengalamanpun sukar menghindarinya.

Tak heran pemuda kita yang menduga mendapat serangan mendadak menjadi jungkir balik terkena dupakan Hoo Su Kouw.

Setelah serangannya berhasil, Hoo Su Kouw melanjutkan lagi serangannya dengan keras, Tiong Giok menggulingkan badan dan menyambut serangan musuh dengan ilmu In liong sian jiau (naga terbang menunjukkan cakar).

Hoo Su Kouw mengubah serangan, dan disambut lawannya dengan ilmu Cee siu sing liong (lengan kosong menangkap naga).

Tak terasa lagi lengannya kena tangkap, tak putus asa baginya.

Kakinya terangkat kearah selangkangan musuhnya.

Tiong Giok menjadi gusar, ia mengengos lalu melemparkan perempuan itu sejauh beberapa depa.

Hoo Su Kouw benar-benar habis mengerti kenapa pemuda lemah ini memiliki kepandaian luar biasa.

Sekali ini ia tidak memperedulikan dapat tidaknya buku keng thian cit su pedangnya dihunus dan niatnya membunuh sudah mantap.

Terlihat ia menyabetkan senjatanya dengan ganas, Tiong Giok melihat kekalapan orang menjadi gusar.

Sambil mengengos ia membarengi dengan Hiat cie lengnya yang ampuh.

"Sret"

Terdengar suara memecah udara, angin keras yang panas tak ubahnya seperti halilintar menyambar kearah musuhnya.

Hoo Su Kouw merasakan hawa panas menerjang dirinya, dengan memutarkan pedang berusaha membendung serangan musuh.

Sungguhpun begitu masih juga baju dan rambutnya bagian sebelah kiri kena dihanguskan.

"Kongcu begini lihay, dapatkah kutahu nama gurumu ?"

Katanya dengan wajah pucat.

"Penunggang Hiu dari Hong Lay pelajar miskin dari gunung salju !"

"Oh, kiranya Bulim Capsahkie yang tertua,"

Kata Hoo Su Kouw dengan melengak.

"Hitung-hitung aku bernasib sial, tidak bisa melihat orang."

"Sifat dan kelakuanmu itu sebenarnya musti dihukum mati !"

Kata In Tiong Giok.

"tapi aku tak mau membunuhmu, seangkan Hiat cie leng yang kulancarkan semata-mata untuk membela diri !"

Segera ia membalik badan dan berlalu.

"Jangan bergerak,"

Teriak Hoo Su Kouw.

"Apa lagi yang engkau kehendaki ?"

"Ingin kutanya padamu, pantaskah seorang murid kenamaan didunia Bulim menyerahkan buku Keng thian cit su kepada Sian Ong ? Hal ini sedikit banyak bisa-bisa merusak nama baik gurumu bukan ?"

"Semua ini karena ditipu, apa salahnya ?"

"Hm, ini engkau tulis sendiri bukan ?"

Ejek Hoo Su Kouw.

"bagaimana jika ilmu pedang Keng thian cit su digunakan sebagai alat kejahatan oleh Liok Sian Ong ? Semua ini adalah tanggung jawabmu bukan ?"

"Engkau..."

"Aku kenapa ? semua ini kulihat dengan mata kepala sendiri dan akan kuutarkan didunia Bulim agar memberikan hukuman yang setimpal bagimu !"

"Hm, buku itu akan kurampas kembali !"

Kata In Tiong Giok.

"Dengan kepandaianmu ini ingin merampas kembali dari tangan Liok Sian Ong ?"

"Ini urusanku, engkau tak perlu banyak bicara !"

"Ya memang urusanmu ! Andaikan engkau berhasil mengambil kembali, berbagai orang Bulim pasti akan merampas dari tanganmu, apakah engkau sanggup melindunginya ?"

Kata Hoo Su kouw dengan bersungguh-sungguh.

"Engkau jangan menganggap omonganku tak berarti, lihat saja sejak hari ini, bahaya selalu mengancam dirimu. Kini engkau berhasil lolos dari tanganku, tapi belum tentu berhasil dari jago-jago lain !"

Sehabis berkata ia berlalu dengan cepat.

In Tiong Giok terkesiap mendengar perkataan Hoo Su Kouw itu, ia sadar didunia ini banyak manusia lebih kejam dan tamak dari Liok Jie Hui, jika mereka mengetahui dirinya bisa mengingat Keng thian cit su, sudah tentu takkan melepaskan begitu saja.

Kepergian Hoo Su Kouw sudah pasti mendatangkan banyak kesulitan dibelakang hari, mengingat ini membuatnya menarik napas duka, seolah-olah ada batu besar menekan dadanya dengan berat.

Setelah membengong sekian lamanya, baru ia melangkah dengan berat mencari jalan keluar dari tempat celaka itu.

Ia berjalan dan berjalan, tatkala surya senja kemerah-merahan menghiasi langit disebelah barat, ia telah tiba disuatu tempat bernama Ko ho pou.

Suasana disini sangat ramai, kecuali took-toko besar banyak pula rumah makan dan penginapan.

Untuk mengisi kekosongan perutnya ia mampir disebuah restoran yang bernama Tik sian lou.

Seorang pelayan menyambut kedatangannya dengan ramah tamah.

"Kongcu sendiri saja, atau mau pesan tempat untuk beramai-ramai ?"

"Aku hanya sendirian saja !"

Jawab Tiong Giok.

"Silahkan saja keatas, dibawah sudah penuh !"

Ia naik keloteng, tempatnya agak sempit tapi tenang, terdapat beberapa meja dengan beberapa tamu.

Antaranya ada dua orang tua berbaju abu-abu mengawasi dirinya.

Ia tidak memperdulikan dan terus duduk.

Tapi dengan tiba-tiba ia ingat seperti pernah bertemu muka dengansalah seorang kakek tua yang berbaju abu-abu itu.

Maka itu ia menoleh untuk menegasi, bertepatan dengan ini orang tua itupun sedang mengawasi kearahnya.

Membuatnya sukar membuang muka, dan terus mengangguk memberi hormat.

Orang tua itu bukan saja tak membalas hormatnya, malahan membuang muka dan berbisik-bisik dengan kawannya.

Tampak kawannya itupun berubah wajahnya, dan terus memanggil pelayan membayar rekening dan berlalu dengan cepat.

In Tiong Giok merasa heran, setelah mengingat-ingat sekian lamanya ia tetap tak dapat mengingat orang tua itu.

Saat ini segala hidangan telah datang, ia tidak memperdulikan lagi yang lain dan terus makan dengan lahapnya.

Belum pula perutnya kenyang, seorang pelayan datang kearahnya dan menyerahkan sepucuk surat.

"Apakah Kongcu she In ?"

Tegur pelayan itu.

"Benar!"

"Ini surat untukmu !"

"Siapa yang memberi surat padamu ?"

"Seorang tamu tak dikenal dengan memberi upah padaku menyuruh menyampaikan surat ini seorang tua bebaju abu-abu !"

"Tidak ia masih muda, paling banyak usianya tiga puluh tahun, dan mengenakan pakaian hijau ! Lagi pula ia menyoren pedang kelihatan sebagai Piausu saja,"

Jawab sipelayan dan terus berlalu.

Tiong Giok membuka sampul surat, didalamnya hanya berisi sehelai kertas putih belaka.

Ia menjadi heran dan hilang napsu makannya.

Cepat-cepat ia membayar dan menanya kepada pelayan tadi .

"Disini ada hotel yang tenangkah ?"

"Maksud Kongcu hotel yang baik bukan ? Nah disebelah barat terdapat penginapan In hoo can katakanlah pelayan restoran Tik siang lou yang memperkenalkan, pasti dapat potongan, sepuluh persen !"

In Tiong Giok menghaturkan terima kasih dan memohon kepada pelayan itu, jika yang mengirim menanyakan dirinya, boleh menunjukkan kepenginapan In hoo can.

Dengan langkah cepat ia turun dari loteng dan terus keluar ia berbalu tanpa menoleh kebelakang.

Tapi setelah melewati beberapa took dan masuk kedalam sebuah gang, ia menghentikan langkah dengan cermat ia memandang kearah rumah makan tadi.

Tak selang lama dari sebuah rumah obat yang berada disebelah restoran tadi keluar seorang muda berbaju hijau dengan tergesa-gesa.

Iapun menyandang pedangnya dan persis seperti yang disebutkan pelayan tadi.

Setelah memandang sekeliling pemuda itu masuk kerestoran Tik sian lou.

"Ah engkau datang tidak kebetulan, karena In Kongcu sudah pergi,"

Kata pelayan itu.

"Apakah suratku itu sudah diterimanya ?"

"Oh sudah !"

"Ia mengatakan apa setelah melihat surat ?"

"Ia memesan bila ada yang ingin menemuinya harap datang kehotel In hoo can !"

Laki-laki berbaju hijau itu mengangguk dan terus berlalu, tetapi ia tak menuju kebarat dimana terletak In hoo can, melainkan keutara.

Dengan memberanikan diri Tiong Giok menguntit dari belakang.

Setelah melalui beberapa took dan gang, laki-laki berbaju hijau itu menuju kesebuah kelenteng tua yang berada diluar kota.

Ia tak menoleh kekanan kiri, langsung masuk kedalam demikian juga dengan Tiong Giok terus membuntuti tanpa diketahui.

Di ruangan depan kelenteng tampak gelap tapi dibagian tengahnya ada sinar api, menerangi kamar.

Tiong Giok yang berada ditempat gelap bisa melihat keadaan didalam yang terang itu, ia menjadi heran karena disatu ruangan terlihat tujuh orang tua berbaju abu-abu sedang duduk sila, pakaian mereka semua sama dan pedangnyapun serupa hanya digagangnya masing-masing ada ronce yang berbeda .

terdiri dari warna merah, kuning, biru, putih, hitam, hijau dan ungu tujuh warna.

Dua di antaranya yang memakai ronce kuning dan ungu adalah yang bertemu dengan In Tiong gIok di rumah makan Tik sian lou.

Saat ini laki-laki berbaju hijau telah selesai menuturkan soal memberi surat padanya.

Ketujuh orang tua berbaju abu-abu parasnya berubah berbareng.

Orang tua yang beronce putih dipedangnya membuka mulut paling dulu .

"Jikalau begitu apa yang dilihat cit sutee (adik ketujuh) tidak salah pemuda itu adalah yang dipakai Pok Thian Pang untuk menterjemahkan buku Keng thian cit su, tapi yang membuatku heran, pelajar lemah itu kenapa bisa lolos dari suatu tempat yang terjaga ketat dari jagonya pesilat-pesilat ternama."

"Pok thian pang mungkin sengaja melepas pemuda itu sebagai umpan menumpas kita !"

Kata orang tua yang dipedangnya beronce biru.

"Bila ia dijadikan umjpan beracun, tujuannya bukan pada kita Tong teng cit kiam (tujuh pendekar pedang dari telaga Tong teng), juga pada golongan putih kaum Kang Ouw, atas ini kita harus berlaku waspada."

Sipedang beronce putih mengangkat pundak, matanya menatap pada orang tua yang pedangnya beronce ungu;

"Cit sutee bagaimana menurut hematmu ?"

Sironce ungu ini adalah orang tua yang seperti di kenali Tiong Giok, begitu di tegur tampak ia berpikir dengan serius.

"Dugaan Suheng memang benar, tapi pemuda itu adalah orang pertama yang telah membaca isi Keng thian cit su; atauini ia bersangkutan besar dengan Bulim ataupun Pok Thian Pang sendiri, suheng piker betulkah ?"

Yang mendengar semua menganggukkan kepala tanda setuju.

"Jika begini kita tidak boleh berlaku sangsi-sangsi lagi !"

Kata sironce ungu.

"Maksud Cit sutee bagaimana ?"

Tanya sironce putih.

"Biarpun ia merupakan umpan beracun kita harus menelannya juga !"

Perkataan ini agaknya di luar dugaan yang lain, mereka kaget dan terdiam, membuat keadaan hening sejenak. Si ronce ungu sudah melanjutkan lagi ucapnya.

"Keng thian cit su adalah ilmu pedang yang luar biasa, bilamana sampai dikuasai Pok Thian Pang sama dengan bahaya besar bagi kita dan golongan lain. Kini kita dapat kesempatan baik, biar matipun harus dilakoni !"

"Benar ! Biarpun bagaimanapun jadinya,"

Kata laki-laki berbaju hijau.

"Maka itu kuminta Supek-supek dan Susiok-susiok jangan berpikir terlalu lama, kita harus secepatnya membalas dendam sakit hati Yo Sutee dan Pang Hui !"

Mendengar nama Pang Hui, hati Tiong Giok menjadi kaget dan terus ia ingat bahwa orang tua yang dipedangnya beronce ungu yang bagai dikenalnya itu, tak lain orang yang pernah menyerang kereta waktu ia menuju kemarkas pusat Pok Thian Pang.

Karena kagetnya itu tempat yang dipijaknya menjadi goyang, dan kakinya segera bergerak pindah.

Tiba-tiba "krak"

Entah apakah yang terinjaknya.

"Siapa ?"

Bentak dari dalam kelenteng, sinar terangpun padam.

Tiong Giok berlari kearah pendupaan yang terdapat didepan kelenteng dan bersembunyi disitu.

Tampak olehnya dengan berlompatan ketujuh orang tua dan laki-laki berbaju hijau keluar dari dalam kelenteng.

Mereka memandang keadaan sekeliling dengan seksama.

"Mungkin orang-orang Pok Thian Pang sudah datang mencari kita,"

Kata sironce ungu.

"Jangan pedulikan untung rugi marikita berangkat ke In hoo can !"

Kata sironce putih.

Dalam sekejap mereka telah berlalu, hilang dalam kegelapan.

Setelah menunggu mereka agak jauhan, In Tiong Giok baru keluar dari tempat persembunyian.

Dan terus meninggalkan Ko ho pou malam itu juga.

Baru pula ia jalan setengah malaman, sudah merasa letih.

Ia beristirahat tatkala melihat sebuah batu besar ditepi jalan.

Sambil duduk ia jadi berpikir.

"Haruskah aku pergi ke kiu hoa san mencari Liok Jie Hui ? Jika kesana dan tidak menemuinya, sama dengan cuma-cuma saja perjalananku. Andaikata berhasil mendapatkan lagi Keng thian cit su dari Liok Jie Hui, buku itu akan merupakan barang rebutan yang tidak ada akhirnya.

"Semua pikiran ini membuatnya pusing sendiri. Saat inilah dari kejauhan ia mendengar berderapnya langkah orang dan disusulnya dengan dua bayangan hitam. Seperti juga nak burung yang ketakutan ia bersembunyi dibalik batu. Dua bayangan hitam itu datangnya teramat cepat, dalam sekejap telah tiba dekat batu dimana Tiong Giok sembunyi. Keduanya itu adalah orang tua berbaju seerba putih, satu jangkung satukatai, wajahnya pucat pasi. Melihat ini membuat Tiong Giok bergidik takut. Dan ia menahan napas sewaktu manusia aneh itu berhenti didekat batu dan celingukan kesana kemari seperti mencari sesuatu. Setelah melihat tak ada yang menimbulkan kecurigaan, merekapun segera berlalu lagi dengan cepatnya tanpa berkata barang sepatahpun. In Tiong Giok menarik napas lega, baru bangun dari tempat sembunyinya, kembali ia mendengar menderunya angin, disusul dengan berkelebatnya tiga sosok bayangan. Semua mengenakan pakaian hitam yang gedombrongan usianya mereka rata-rata enam puluh tahun lebih. Wajahnya bengis dan jelas bukan manusia baik-baik. Setibanya dibatu besar merekapun berhenti sejenak, memasang kuping.

"Ciu heng lebih baik kita mengambil jalan lain dan bakal apa membuntuti kedua orang lain !"

Kata seorang yang berada disebelah kiri.

"Jangan-jangan soal ini belum tentu kebenarannya,"

Jawab orang she Ciu. Pikir saja jika pelajar itu benar-benar berada dikota Ko hoo pou, mana mungkin sudah pergi sejauh ini. Sebaiknya kita kembali dan mencarinya didekat kota !"

"Kecurigaan Ciu heng memang betul jangan-jangan kita ditipu Hoo Su Kouw si erempuan jalang itu,"

Kata yang ditengah.

"Mana berani ia mempermainkan kita,"

Kata yang disebelah kanan."

Tambahan Tong teng cit kiampun melihatnya pelajar itu di dalam kota, maka itu Hoo Su Kouw pasti tidak membohong."

"Jika tidak bohong, kemana larinya bocah itu, apakah ia bisa terbang ?"

Kata si orang she Ciu.

"Andaikata ia bersayap tak mungkin lolos juga dari jala Thian lo te hong (jarring langit dan bumi) yang sudah disebar kemana-mana ! Mari kita susul sijangkung dan si cebol jangan sampai keduluan !"

Kata yang disebelah kanan.

"Untung aku cepat-cepat bersembunyi, jika tidak bisa celaka,"

Piker Tiong Giok setelah mendengar percakapan mereka.

Mengingat ini ia merasa benci dan menyesal tidak membereskan nyawanya perempuan jalang itu.

Setelah bersembunyi lagi beberapa saat, tak terlihat ada yang mengejar, ia baru bangun dari persembunyiannya, dan terus masuk kedalam pepohonan yang lebat.

Begitu melewati pohon-pohon tibalah ia ditepi sebuah sungai.

Dengan merasa tenang ia menyusuri gili-gili sungai.

Sebuah perahu tertambat ditepian sungai, diatasnya terlihat seorang nelayan tua sedang asiknya mengisap pipanya yang panjang.

Hal ini membuat Tiong Giok girang, cepat-cepat ia menghampiri dan melompat kearah perahu "Lo tia !

Lekaslah antarkan aku menyeberang, ongkosnya berapa saja akan kubayar !"

"Malam-malam begini engkau mau kemana ?"

Tanya si orang tua.

"Kemana saja asal menyeberang !"

"Kongcu jangan salah, ini perahu ikan dan bukan perahu tambangan !"

"Ya aku minta tolong,"

Kata In Tiong Giok setengah memohon, sebab seang dikejar-kejar orang jahat. Asal bisa menyeberang aku bisa selamat."

"Ikan-ikan mungkin sudah masuk dalam perangkap, jika dibiarkan sayang sekali, ah dasar nasib..."

Kata si orang tua setengah menggerutu.

Dan ia tidak melanjutkan perkataannya sebab didaratan terlihat sesosok bayangan hitam yang menuju kearah perahunya.

Pendatang ini adalah Hoo Su Kouw adanya.

Ia menanya kepada tukang perahu .

"Ciau Loya apakah engkau melihat pelajar itu ?"

"Tidak ! Sesosok bayangan manusiapun tidak kulihat ."

"Ciau Loya engkau harus hati-hati, kuyakin ia ada disekitar sini,"

Kata Hoo Su Kouw yang terus berlalu lagi dengan cepat.

Perahu dengan cepat meluncur ketengah, Tiong Giok merasa lega, seolah-olah menganggap bahaya telah berlalu.

In Kongcu dengan cara bagaimana engkau harus menghaturkan terima kasih kepadaku ?"

Tegur tukang perahu.

"Engkau...engkau siapa ?"

"Aku Ciau Thian Siang seorang kecil yang mempunyai julukan Si cucut Perak. Dan pekerjaanku sebagai pengontrol perairan, dari gabungan dua puluh delapan bajak laut. Sejujurnya pekeerjaan ini kurang menarik perhatianku dan ingin melepaskan secepat-cepatnya, maka itu jika tidak demikian untuk apa malam ini aku menolongmu !"

"Jika begitu kau sebagai kambratnya Hoo Su Kouw juga ?"

"Ya aku salah satu diantara konconya Hoo Su Kouw, seangkan yang lain banyak sekali. Untung engkau berada denganku, coba jika jatuh ditangan mereka, tak bisa enak-enakan mengonbrol seperti sekarang !"

"Ya aku harus bagaimana menghaturkan terima kasih padamu ?"

Tanya Tiong Giok dengan terpaksa.

"Untuk apa Kongcu bertanya lagi, serahkan saja se

Jilid buku Keng thian cit su kepadaku sampai kemanapun akan kuantar !"

"Jika aku tak bersedia ?"

"Aku sebagai penolongmu biar bagaimana kau harus melulusi,"

Kata orang tua itu.

"Terang-terang kutolak permintaanmu !"

"Benar-benar tidak mau ?"

"Ya."

"Sampai budi pertolonganku pada jiwamu, tidak dibalas ?"

"Jika aku takut mati, siang-siang sudah membuatkan buku itu untuk Hoo Su Kouw ! Segala pertolongan yang ingin mendapat balasan, tak dapat dinamakan dengan berhutang budi !"

Ciau Thian Siang tertegun sejenak, lalu tergelak-gelak dan berkata .

"Kongcu sebagai orang pintar, bahwa buku itu berada ditangan Pok Thian Pang dan Liok Sian Ong, kini apa salahnya membuat kopy yang kedua untukku ?"

"Sudah jangan banyak bicara, sekali kubilang tidak mau tetap tidak mau !"

"Hm, jika begitu engkau mencari penyakit sendiri !"

"Engkau tanyakan pada Hoo Su Kouw, apakah potongan semacamku ini mudah dihina ?"

"Semua sudah aku tahu akan kelihayanmu, tapi diatas perahu ini engkau bisa apa ?"

"Ya...engkau mau apa,..."

Belum pula ucapan Tiong Giok selesai, Ciau Thian Siang dengan mendadakan telah menterbalikkan itu perahunya.

Mereka sama-sama terjatuh kedalam air.

Sebagai seorang yang pandai berenang sedikit tidak memnuat Tiong Giok kaget.

Dengan tenang ia berenang kepinggir.

Tiba-tiba saja Ciau Thian Siang memburu dari belakang.

Tak cuma-cuma ia mempunyai gelar sebagai si cucut perak.

Begitu gesit dan cepat geraknya dalam air.

Ddalam sekejap ia sudah berada di belakang Tiong Giok dan menjulurkan tangan menciduk tengkuk pemuda kita.

Tiong Giok terkesiap sejenak, tetapi tidak tinggal diam.

Lengannya berbalik begitu cepat mencekal lengan musuh, sedangkan lengannya yang kiri mendorong kedada musuh.

Gerakannya yang tiba-tiba diluar perhitungan Ciau Thian Siang.

Tak sempat untuknya mengengos dadanya terhajar keras, sakit sampai kehulu hati, terpaksa ia melepaskan Tiong Giok.

Begitu berpisah, masing-masing itu berlaku waspada.

Ciau Thian Siang tak berpikir bahwa musuhnya itu pandai berenang, sehingga mengalami kerugian yang tidak kecil, kegusarannya tidak alang kepalang, seperti juga seekor ikan hiu yang terluka ia membalik badan lalu terus menyelam.

Lengannya segera menyambar kaki pemuda kita, di cengkeram dengan keras-kerasnya sampai masuk kedalam bagian daging.

Tiong Giok kesakitan dan berbalik mencekek leher musuhnya sekuat tenaga.

Air sungai amar deras, mereka bergumul dengan kerasnya, satu sama lain tidak mau melepaskan musuh, bergulingan terbawa arus air.

Beberapa tegukan air tertelan Tiong Giok tetap ia tak melepaskan musuhnya.

Sedangkan Ciau Thian Siang lebih parah lagi, lehernya begitu keras, tak bisa bernapas.

Matanya mendelik tak berkutik lagi.

Mereka terus terhanyut tanpa sadarkan diri.

Akhirnya mereka terdampar disemak-semak, lengan Tiong Giok masih tetap mencekek Ciau Thian Siang.

Entah sudah berapa lama pemuda kita baru sadar, dan mendapatkan bahwa musuhnya telah meninggal dunia.

Dengan perut kembung dia merayap bangun dan lalu tengkurap disebuah batu, memuntahkan air kali dari perutnya, setelah itu ia mengaso sambil memandang mayat musuhnya.

Seumur hidupnya pertama kali membunuh orang, ia merasa berbuat dosa dan sadar semua ini akibat Keng thian cit su.

Dengan perasaan menjejal ia menggali lubang ditepi sungai itu dan mengubur mayat Ciau Thian Siang secara sederhana.

Lalu ia meninggalkan tempat itu dengan pikiran mantap kaena ia akan melakukan suatu hal yang besar, untuk menggegerkan dunia persilatan.

Kim Leng merupakan kota bersejarah dari abad ke abad.

Letaknya dilingkungan pegunungan, tempat bersejarah dari kuil-kuil yang mengagungkan agama Buddha berdiri dengan megahnya dilereng-leeng gunung.

Aliran sungai Hoay banyak menarik kaum sastrawan, dipuja-puji akan keagungannya.

Sepanjang sungai banyak batu-batu cadas yang indah tempat para burung wallet bersarang, juga tempat yang biasa dikunjungi pelancong.

Disebelah barat sungai itu terdapat sebuah tempat yang bernama Bun Hoa Kau.

Disini banyak terdapat tukang buku, dan juga perusahaan percetakkan.

Yang berkunjung kesini kebanyakan adalah pelajar dan sastrawan serta kaum cerdik pandai.

Saat ini hari sudah senja, keadaan saat itu telah menjadi sepi dari para kaum pengunjung.

Pegawai-pegawai perusahaan sudah beristirahat, took-tokopun hanya sebagian yang masih membuka pintu.

Tiba-tiba dari mulut gang terlihat seorang muda berbaju biru, celingukan melihat merek toko-toko, ia berjalan dari ujung ke ujung lalu kembali lagi dan berhenti didepan sebuah percetakan yang bermerek Angin Menderu, percetakan ini terhitung paling besar disaat itu.

Etalasenya penuh terhias lukisan antik, dan beraneka ragam buku-buku.

Didalam toko terlihat seorang lelaki hitam sedang asyiknya mengisap rokok sambil membaca buku.

Begitu melihat pemuda berbaju biru masuk kedalam, ia melepaskan bukunya dan memandang pada tamunya sambil tersenyum manis.

"Kongcu mau beli gambar atau buku-buku ?"

Tegurnya sambil bangun dari tempat duduknya.

"Tidak, kedatanganku kesini mau mencetak buku !"

"Oh begitupun baik, buku apa yang mau dicetak ?"

"Buku ini sangat penting dan kuminta bisa diselesaikan esok pagi !"

"Berapa halaman buku itu ? Dan berapa oplasnya ?"

"Hanya sepuluh halaman dan dicetak seribu

Jilid saja,"

Kata pemuda itu.

"jika tidak keburu lima ratus saja."

"Dalam semalam sulit menyelesaikan buku itu..,"

"Jadi tidak bisa ?"

"Bisa sih bisa ongkosnya mahal sekali !"

Pemuda itu mengluarkan uang emas dan berkata sambil tersenyum.

"Jangan kuatir, berapa saja kubayar, nah ini sebagai uang muka !"

"Kalau begini apa boleh buat, dan akan kucoba ."

Pemuda itu menjadi girang.

"Dapatkah kutahu nama saudara ?"

"Aku Yauw Kian Cee, dan siapa nama Kongcu ?"

Pemuda itu tidak menyebutkan namanya, ia tersenyum dan berkata "Yauw Sacan (sebagai gelar pertukangan) sebelum engkau kerjakan perlu kujelaskan dulu sedikit, yakni disebabkan teramat pentingnya buku ini, sebaiknya engkau kerahkan lebih banyak tukang agar selesai pada waktunya.

Disamping itu buku ini tidak boleh bocor sebelum terbit !"

"Adakah Kongcu membawa naskah buku itu ?"

"Ya ada, tapi akan kuserahkan didalam saja !"

"Begitu juga baik,"

Kata Yauw Kian Cee dan terus menyimpan uang persekot, kedalam lacinya.

Dan memerintahkan bawahannya menutup toko.

Diajaknya Tiong Giok masuk ke dalam.

Di dalam percetakan itu terdapat sebuah taman bunga, dan satu ruangan yang nyaman.

Dekorasinya indah dan menarik, agaknya sang penghuni mengenal betul seni-seni dekorasi.

Di kamar inilah sang pemuda menyerahkan naskahnya.

Yauw Kian Cee begitu melihat naskah ini, wajahnya jadi berubah, cepat-cepat ia menutup lagi naskah itu.

"Kenapa Yauw Sacan tidak meneliti naskah ini ?"

"Sejujurnya aku tak berapa mengenal huruf, membacapun tak ada artinya. Kuharap Kongcu meninggalkan alamat, besok boleh kukirim buku pesananmu kesana !"

"Tak usah,"

Kata sianak muda sambil menggelengkan kepala.

"Aku ingin memandori sendiri waktu mencetak buku ini, dan membawanya begitu selesai !"

"Begitupun baik, duduk dululah sebentar, setelah kuatur beres segera kuberi tahu padamu."

Sehabis berkata ia membawa naskah masuk ke dalam.

Tak selang lama ia muncul lagi dengan seorang tua beruban.

Melihat orang tua ini membuat si pemuda merasa takut tak keruan, karena seumur hidupnya pertama kali melihat orang yang berwajah demikian buruk.

"Kongcu, mari kukenalkan, inilah Pek Wangwee (hartawan) atau majikanku !"

Kata Yauw Kian Cee.

"Oh,"

Kata si pemuda dan segera merangkapkan tangannya memberi hormat.

"Pek Wangwee harap maaf, kedatanganku hanya merepotkan saja !"

"Aku Pek Kiong Hong sebagai pedagang yang mengutamakan untung, maka itu Kongcu tak perlu berkata begitu !"

Wajah buruk dari Pek Kiong Hong dihias dengan sepasang mata yang satu besar satu kecil, sungguhpun demikian memancarkan sinar tajam.

Melihat ini sang pemuda, merasakan berhadapan bukan dengan seorang saudagar biasa.

Tambahan pula Yauw Kian Cee begitu hormat sekali, bukan seperti kuli biasa.

Pek Kiong Hong membeber naskah yang akan dicetak diatas meja, dengan serius ia berkata.

"Aku sebagai pengusaha, sebenarnya asal mendapat untung ya sudah, tak perlu bertanya ini itu pada Longcu. Tapi naskah ini menyebutkan, tulisan In Tiong Giok sebagai kenangan untuk Cian Thian Siang, dapatkah kutahu kedua orang itu mempunyai hubungan apa dengan Kongcu ?"

"In Tiong Giok adalah aku sendiri, sedangkan Cian Thian Siang adalah salah seorang yang tidak bisa kulupakan selama hidupku ini !"

"Jika Kongcu sendiri yang menulis naskah ini, sudah tentu tahu isinya bukan ?"

"Benar ! Inilah naskah yang dianggap sebagai benda pusaka kaum Rimba Hijau !"

"Sudah tahu demikian kenapa Kongcu mau menerbitkannya dan mencetak sebanyak itu ?"

"Untuk disebar luaskan, agar penggemar-penggemar silat memilikinya !"

"Tapi perbuatan ini kuanggap kurang wajar !"

"Memang begitu, tapi mau dikata apa, semua ini kulakukan dengan terpaksa !"

"Apa sebabnya engkau sampai terpaksa ?"

"Pek Wangwee begitu melihat buku ini segera tahu kehebatannya, dari sini dapat kutarik kesimpulan, Wangwee bukan saudagar biasa, lagi pula tidak timbul keinginan memiliki buku ini. Semua ini membuatku kagum dan ingin tahu siapakah sebenarnya Wangwee ini !"

"Sejujurnya akupun bekas seorang Kang Ouw tapi sudah lama mengundurkan diri, dan hidup dengan membuka percetakan. Atas ini Kongcu tak usah ragu-ragu atau kuatir pada diriku. Dan juka engkau ingin tahu Yauw Kian Cee inipun bekas seorang Kang Ouw yang bergelar Tiat pie sian wan (kera sakti bertangan besi)."

In Tiong Giok setelah mendengar perkataan Pek Kiong Hong, segera menuturkan apa yang dialaminya sejak keluar rumah.

"Karena mendongkol dikejar-kejar mereka itulah, Kongcu mau mencetak buku ini ?"

"Bukan ! Sebab-sebabnya karena menyesal telah membuat sebuah kopy untuk Liok Jie Hui. Jika ilmu itu dipelajarinya, bisa mendatangkan bencana bagi dunia persilatan. Untuk menebus kesalahan itu, akan kusebar luaskan buku ini, agar setiap orang bisa mempelajarinya. Dengan begitu biar Pok Thian Pang atau Liok Jie Hui mahir menggunakan Keng thian cit su tidak akan berguna banyak lagi."

"Kongcu seorang yang tidak mau mengangkangi pelajaran yang luar biasa ini, dan akan menyebar luaskan, tentu bisa menggoncangkan dunia Kang Ouw, atas tindakan Kongcu ini aku merasa kagum.

"Dan terus ia menoleh kepada Yauw Kian Cee.

"Kerjakan lekas seperti yang dipesan In Kongcu. Dan sekalian sediakan makanan."

In Tiong Giok tidak menduga bahwa roman Pek Kiong Hong yang demikian buruk sangat ramah tamah dan senang membantu, tanpa terasa datang rasa simpatiknya.

Tak selang lama empat pembantu rumah tangga datang membawa hidangan semeja penuh, atas kebaikan tuan rumah Tiong Giok tidak menampik.

Sambil makan mereka bercakap-cakap.

"Aku sudah lama mengundurkan diri dari dunia Kang Ouw, maka itu terhadap soal Pok Thian Pang hanya mengetahui sedikit sekali, tapi terhadap Liok Jie Hui yang termasuk diantara Bulim Capsahkie aku kenal sekali. Ia bertabiat licik dan jahat, maka itu jika sampai diketahuinya In Kongcu mencetak buku Keng thian cit su, pasti ia akan marah, dan berhati-hatilah terhadapnya."

Kata Pek Kiong Hong.

"Soal bagaimana ia akan mencelakakan diriku, sedikitpun tidak kukuatirkan, yang kutakut ilmu Keng thian cit su telah dikuasainya, sehingga golongan Bulim lainnya belum keburu mempelajarinya."

"Hal ini tidak perlu dikhawatirkan, karena ilmu pedang ini luar biasa dlamnya, belum tentu ia bisa menyelami sampai keakar-akarnya !"

"Ya memang kutahu, jika bukan seorang berbakat dan cerdas sukar mempelajarinya seorang diri ilmu pedang ini."

"Karenanya sejak kuingat belum pernah ada yang behasil menguasai ilmu seorang diri. Ada yang pandai menguasai Keng thian cit su, tapi berdua, yakni Sin kiam siang eng (sepasang pedang sakti).

"Dapatkah kutahu siapa Sin kiam siang eng itu ?"

"Tiga puluh tahun yang lalu mereka adalah sepasang saudara angkat yang masih muda belia. Gagah ganteng ada pada mereka, ditambah dengan hatinya yang baik dan juga suka membantu orang. Dalam sepuluh tahun namanya telah tenar melebihi Bulim Capsahkie yang telah lebuh muncul didunia Kang Ouw. Untuk mereka ini, di dunia Bulim terkenal pameo yang berbunyi . tajam-tajamnya tusuk konde tak setajam jarum seaneh-anehnya Bulim Capsahkie, tidak segaib Sin kiam siang eng. Pameo ini mendatangkan ketidak puasan Lui sin Tong Cian Lie, maka ia mengundang seluruh Cap sah kie bertemu di gunung Busan, untuk bertempur dengan Sin kiam siang eng...."

Pek Kiong Hong berhenti sejenak.

"Lalu bagaimana ?"

Tanya Tiong Giok tidak sabaran.

"Pada waktu yang telah ditentukan Bulim Capsahkie hanya datang sebelas orang. Thay Kong Siansu dan Piau hiong kiam Liap In Eng tidak hadir. Sedangkan Sin kiam siang eng dengan gagah menerima undangan dan datang.

"Bulim Capsahkie sudah lama terkenal dan menjadi kebanggaan kaum Kang Ouw, kami sebagai golongan yang lebih muda ingin mengadakan hubungan dan kerukunan, guna kesejahteraan kaum Kang Ouw, maka itu datang kesini bukan niat untuk berkelahi dan meebutkan pepesan kosong,"

Kata Sin kiam siang eng.

Tak kira Tong Cian Lie yang berangasan tak mau mendengar, ditambah dengan Kim Thay, Liang yauw, San koei menyokong untuk berkelahi.

Melihat ini gurumu merasa tak enak hati dan menasehati mereka beberapa patah.

Tak kira membuat Kim Thay menjadi gusar tak alang kepalang.

Dan terjadilah perkelahian sengit antara gurumu dengan Kim Thay.

Jarum Giam locit ciam Kim Thay tak dapat melukai gurumu sebaliknya ia terluka oleh Hiat cie leng...akibat ini Siang yauw menumplekkan kegusaran pada sin kiam siang eng perkelahian tak dapat dicegah lagi, tapi dalam waktu singkat Siang yauw menjadi pecundang.

Sam Koei menyambung, dan terus bertarung, tapi dalam singkat merekapun harus menyerah.

Liok Jie Hui juga turun gelanggang, hanya dalam waktu dua ratus jurus sudah dikalahkan.

Tong Cian Lie baru sadar kelihayan lawan bukan kosong belaka.

Agaknya sudah keterlanjuran baginya untuk turun tangan, perkelahian sekali ini hebat sekali...

Sampai ilmu simpanan pel lek sin kum (lengan geledek) yang menjadi andalan Tong Cian Lie dikembangkan habis-habisan, tapi tetap hanya bisa bertahan lima ratus jurus !"

"Sin kiam siang eng lihay sekali !"

"Ya memang lihay ! Tapi ilmu pedang mereka y ang bersatu padu itu, jika dimainkan seorang diri, tidak ada kekuatan !"

"Bagaimana kalau guruku atau Cian bin sin kay yang menghadapi mereka ?"

"Kepandaian Cian bin sin kay tidak berjauh dengan Tong cian lie, mengenai gurumu yang pandai Hiat cie leng mungkin bisa bertahan seribu jurus lebih, dengan kesudahan dua-dua luka parah !"

"Oh..."

Tiong Giok baru sadar.

"Siapakah nama sebenarnya dari Sin kiam siang eng itu ?"

"Satu bernama Ang Ek Fan satu lagi Thiat Giok Lin."

"Kenapa nama mereka tidak terdengar lagi ?"

"Ya mereka muncul dan tenar dalam waktu singkat, dan dalam waktu singkat berdua pula menghilang dari dunia Kang Ouw."

"Mungkin ada sebab-sebabnya bukan ?"

"Ya memang !"

Kata Pek Kiong Hong, tapi soal yang sebenarnya tiada yang tahu, hanya terdengar berita bahwa Thiat Giok Lin telah mati dan Ang Ek Fan menghilang !

Sudah dua puluh tahun lebih mereka tak muncul lagi didunia Kang Ouw."

"Pek Locianpwee kenalkah dengan seorang yang bernama Hauw Sian ?"

"Hauw Sian ? Darimanakah engkau mendengar nama ini ?"

"Waktu di Pok Thian Pang melihat nama itu tertera dibuku Keng thian cit su yang berbahasa Sangsekerta,"

Kata Tiong Giok dan terus menceritakannya bagaimana ia menemui orang tua itu dipenjara tanah.

"Berapa usia orang tua itu, dan bagaimana potongan badannya dn raut wajahnya ?"

"Usianya lima puluh tahun lebih, sedangkan wajahnya sukar dilukiskan karena sudah terlalu lama dikeram dalam penjara yang tak beersinar matahari. Tubuhnya sudah kurus sekali, hanya sinar matanya masih terlihat tajam."

"Ah mengherankan sekali, apakah ia belum mati !"

Kata Pek Kiong Hong.

"Tidak, bagaimanapun tak mungkin..."

"Tahukah Lo Cianpwee dengan Hauw Sian itu ?"

"Jika tidak salah orang tua itu adalah salah seorang dari Sin kiam siang eng yang bernama Thiat Gok Lin !"

"Bukankah ia sudah mati ..."

"Ya, benar, tapi Hauw Sian adalah nama samaran dari Thiat Gok Lin, lagi pula ia yang menulis Keng thian cit su,"

Baru perkataannya diucapkan sampai disini, didepan toko terdedngar suara ribut-ribut.

"Lo Yacu didepan banyak tamu yang mau beli gambar !"

Kata salah seorang pengawal sambil berlari-lari.

"Katakan sudah tutup dan besok lagi !"

"Sudah dikatakan tapi mereka tidak mau mengerti dan memaksa mau masuk !"

Pek Kiong Hong memanggil Yauw Kian Cee.

"Coba engkau lihat siapa yang bikin ribut itu !"

Begitu Yauw Kian Cee keluar tak lama, terdengar suara ribut-ribut bentakan dan saling maki dengan keras sekali, disusul dengan keributan dari suara orang berkelahi.

In Tiong Giok bangun dari kursinya, tapi disuruh duduk lagi oleh tuan rumah.

"Tak usah menghiraukan kejadian diluar, dengan adanya Yauw Kian Cee sudah cukup, mari minum araknya."

Benar saja kira-kira lewat sepermakanan nasi, suara ribut-ribut sudah hilang dan pulih lagi ketenangan. Yauw Kian Ceepun sudah masuk lagi.

"Siapa mereka itu ?"

Tanya Pek Kiong Hong.

"Hoo Su Kouw dan sekalian kambratnya."

"Ah mereka selalu mengejar-ngejarkuo, kenapa bisa tahu aku ada disini ?"

Kata Tiong Giok.

"Mereka mempunyai banyak kaki tangan, tak perlu engkau herankan !"

Kata Pek Kiong Hong dan terus berpaling kepada muridnya.

"Bagaimana caranya engkau mengusir mereka ?"

"Mula-mula dengan kata-kata, tapi tidak mempan, akhirnya dengan kepalan tangan baru beres !"

"Manusia-manusia kurcaci itu sangat tamak dan jahat, kini kena batunya ! Tapi setelah kejadian ini jangan heran kita bisa berusaha lagi disini dengan tenang...! "Gara-gara boanpwee kesini mendatangkan keributan, bagaimana kalau kucetak ditempat lain ...?"

"Apakah engkau menganggap kami tak sanggup lagi melayani kurcaci-kurcaci itu ? Atau menganggap aku kelewat sayang dengan perusahaan ini ?"

"Oh tidak !"

"Aku sebagai orang kasar yang bicara dengan blak-blakan, bisa sudah sepuluh tahun meninggalkan dunia Kang Ouw tapi tak takut menghadapi apapun lebih-lebih pertemuan kita seperti berjodoh, jikalau engkau ini mau boleh kita berkawan, jika tidak mau kukembalikan naskah itu dan engkau boleh pergi mencetak dimana saja."

"Boanpwee tidak bermaksud demikian ..."

"Jika begitu baik sekali, sebagai orang Kang Ouw aku paling senang akan kepolosan dan cara secara terang-terangan ! Engkau begini baik dan mau menyebarkan buku yang dianggap pusaka Bulim ini kepada mereka. Masak aku harus sayang dengan segala perusahaan ini !"

Kata Pek Kiong Hong dengan suara hatinya.

"Yauw Kian Cee kuharap buku itu dapat diselesaikan sebelum terang tanah, dan selalu waspada dengan kurcaci-kurcaci itu agar kesenanganku mengobrol tidak terganggu."

"Lo Yacu tenang saja, segala apa serahkan padaku !"

Jawab Yauw Kian Cee. Dan terus berlalu sambil membuang senyum kearah tamunya.

"Mari minum lagi,"

Kata Pek Kiong Hong.

"sudah sampai dimana pembicaraan kita ? Oh, soal meninggalnya Thiat Gok Lin diberitakan dari keluarga sendiri waktu hari pemakaman jenazah, berbagai golongan jago-jago Rimba Hikau turut menyaksikan. Kini timbul orang bernama Hauw Sian yang terkurung ditempat Pok Thian Pang benar-benar mengherankan ! Jika mengingat waktunya ia ditahan dan meninggal, membuat hati curiga, karena bersamaan betul. Mungkinkah dibalik ini terdapat sesuatu rahasia ?"

"Jika Thiat Gok Lin sudah meninggal, kenapa buku Keng thian cit su bisa berada di tangan Pok Thian Pang ?"

"Engkau menyaksikan kematian Thiat Gok Lin ?"

"Benar !"

Jawab Tiong Giok.

"Kuyakin Thiat Gok Lin belum meninggal, tapi kena ditangkap oleh Pok Thian Pang dan dirampas bukunya. Sedangkan kabar kematiannya itu sengaja disebar luaskan untuk menutupi kejahatan kaum Pok Thian Pang.

"Kemungkinan ini kecil sekali, sebab yang memberitahukan kematiannya bukan dari Pok Thian Pang, tapi darai Lin Siok Bwee isterinya Thiat Gok Lin sendiri. Isterinya itu seorang cermat dan lihay ilmu silatnya, sehingga mendapat julukan pendekar jelita. Tak mungkin ia terpedaya orang-orang jahat."

"Jika begitu ingin aku pergi ketempatnya Thiat Gok Lin untuk bertemu dengan isterinya, setelah urusan disini selesai,"

Kata In Tiong Giok.

"Tindakanmu cukup bijaksana, tapi tak mudah bisa menemuinya,"

Kata Pek Kiong Hong.

"Soalnya kenapa ?"

"Lim Siok Bwee bertabiat keras,"

Kata Pek Kiong Hong.

"sejak kematian suaminya ia menutup pintu rapat-rapat, tidak mau menerima tamu darimanapun, maka itu kupikir sulit untuk menemuinya."

"Kedatanganku kesana membawa berita soal suaminya, mungkinkah tidak diterima ?"

"Kematian Thiat Gok Lin sudah belasan tahun, sedangkan engkau seorang anak brusia muda begini, dan datang menerangkan bahwa dia belum mati, siapa yang mau percaya ?"

"Jika aku mengatakan diutus Pek Locianpwee untuk menemuinya, bisakah diterimanya ?"

"Ha ha ha, aku sudah lama mengundurkan diri, mungkin namaku yang tidak seberapa tenar sudah dilupakan orang!"

Kata Pek Kiong Hong. Tiba-tiba ia mengeluarkan batu kumala ungu dari sakunya.

"Engkau dapat berpikir kesitu, melandaskan antara engkau dan aku benar-benar berjodoh. Kumala ini tak akan berpisah denganku. Dengan benda inilah satu-satunya jalan yang memungkinkan engkau bertemu dengan Lim Siok Bwee! Tapi jika sampai pendekar wanita itu menanyakan hubunganmu denganku, engkau harus mengaku sebagai ahli warisku, bila tidak, bisa membuatnya curiga."

"Bagaimana...aku belum masuk perguruanmu..mana boleh mengaku sebagai ahli warismu..."

"Engkau benar-benar seorang berakhlak luhur dan berbudi baik."

Kata Pek Kiong Hong.

"Maksudku buat demikian semata-mata menudahkan engkau bertemunya. Tapi disebabkan watakmu yang polos, timbul niatku agar engkau benar-benar menjadi ahli warisku bagaimana ?"

"Tapi...nama dari pintu perguruan Lo Cianpwee belum kuketahui, bagaimana harus kujawab ?"

"Engkau lihat saja batu kumala ini,"

Kata Pek Kiong Hong.

In Tiong Giok menerima batu itu, dan memeriksa dengan teliti.

Disitu terlihat ukiran seekor naga terbang diawan, dibawahnya tertera beberapa huruf yang berbunyi, Pusaka dari perguruan Thian Liong Bun (pintu naga langit) Atau dapat disebutkan kumala itu sebagai tanda seorang Ciang bun jin perguruan Thian Liong bun.

"Benda pusaka ini tak ternilai harganya denga harta, maka itu..."

"Kenapa ? Tidak mau menerimanya ?"

"Benda ini sebagai tanda Ciang bun jin daari Thian Liong pay bukan ?"

"Ya benar, karena sampai saat ini belum ada ahli warisku untuk menggantikan kedudukanku sebagai Ciang bun jin. Jika engkau tak keberatan jabatan Ciang bun jin ini boleh engkau pegang dari saat ini juga !"

"Antara kita baru pertama kali bertemu, lagi pula aku sudah mempunyai seorang guru..."

"Masing-masing perguruan mempunyai peraturan yang berbeda,"

Kata Pek Kiong Hong.

"untuk Thian Liong bun tak perduli siapa, asal orang itu berakhlak luhur dan berbudi tinggi, sudah cukup untuk diterima ! Bahkan dapat diangkat menjadi Ciang bun jin perguruan Thian Liong bun. Maka itu jangan engkau berpikir dengan menerima benda ini menyuruhmu melupakan yang semula."

In Tiong Giok masih ragu-ragu dan tidak bisa menerima.

"Perlu kujelaskan lagi, Thian Liong bun merupakan perguruan yang dimalui dunia Kang Ouw, tapi tidak mempunyai seorang ahli waris yang benar-benar bisa dijadikan pemimpin maka itu selama sepuluh tahun aku mengasingkan diri dari dunia persilatan. Jika hal ini terjadi dengan perguruan lain, mungkin sudah beku dan mati ! Misalkan engkau keberatan menjadi Ciang bun jin, boleh engkau simpan batu kumala ini dan boleh engkau berikan kepada seseorang yang dapat dianggap pantas menjadi seorang Ciang bun jin !"

"Kini kuterima untuk sementara waktu batu kumala ini, setelah kembali dari rumah Lim Siok Bwee akan kukembalikan lagi pada Lo Cianpwee !"

Kata In Tiong Giok dan terus memasukkan kumala itu kedlam sakunya.

Kelakukannya membuat orang tua itu menjadi terpekur dan meminum araknya berulang-ulang.

Untuk mengalihkan soal ini Tiong Giok bertanya.

"Lo Cianpwee sebagai seorang Ciang bun jin, kenapa hendak mengundurkan diri ?"

Pek Kiong Hong tampak kaget sekali mendengar pertanyaan ini, tapi sekejap perubahan wajahnya kembali tenang.

"Apa yang harus kurindukan alam yang fana ini ? Lebih-lebih kini sudah tua dan bosan melihatnya !"

"Tapi tiga puluh tahun yang lalu bukankah masih muda ?"

"Badan masih muda, tapi pikiran sudah tua !"

"Pikiran itu berubah menurut irama rasa, mungkinkah perasaan Lo Cianpwee terganggu,"

Kata Tiong Giok sok tahu.

"Kenapa engkaubisa menduga kearah itu ?"

"Semua ini hanya dugaanku yang terlalu gegabah,"

Kata Tiong Giok.

"Soalnya seorang Ciang bun jin yang berhati jantan, tak wajar menyerahkan jabatan begitu saja pada seseorang. Dari sini kutarik kesimpulan bahwa Lo Cianpwee terganggu perasaannya..."

Pek Kiong Hong mengawasi dengan sepasang matanya yang ganjil, diparasnya yang buruk terlihat senyuman haru. Matanyapun dari terang menjadi guram dan berkaca-kaca.

"Tak kukira apa yang terbenam dihatiku selama tiga puluh tahun dapat engkau terka dengan kitu. Sesungguhnya inilah yang mengakibatkan aku begini dan maukah engkau mendengar ceritaku ?"

Ia terdiam sejenak, sedangkan Tiong Giok menganggukkan kepala.

"Sejak kecil aku talah yatim piatu, ditambah tampang yang buruk, sehingga hilang harapan dalam soal "asmara". Aku hanya berpikir kalau bisa mendapat seorang dusun sebagai istri, sudah mujur banget ! Siapa tahu kehidupan seseorang bisa berubah. Boleh-boleh aku mendapatkan berkah dan bisa memiliki ilmu silat yang tinggi. Dan dapat menempatkan diri sebagai seorang terkemuka di dunia Kang Ouw. Akibat ini membuatku sombong dan angkuh. Segala perempuan-perempuan biasa kupandang sebelah mata. Dan syarat-syarat mencari istri bagiku semakin tinggi, dan lupa pada keburukan diri sendiri. Permintaanku semakin tinggi semakin sukar mendapat istri. Tapi kehidupan memang aneh, karena type seorang istri yang kuidam-idamkan kutemukan secara kebetulan. Itu terjadi pada suatu malam waktu aku berjalan-jalan ditelaga So Ouw. Di sana terdapat sebuah bangunan yang indah dn bertingkat. Saat itu diloteng masih terang benderang, kulihat seorang gadis sedang terpekur di depan jendela. Aku bukan seorang yang ceriwis, waktu melihat kecantikan gadis itu, seolah-olah terpukau. Dan terus memandangnya tanpa berkedip-kedip. Sampai pelita-pelita dimatikan dan gadis itu menutup jendela aku baru berlalu. Malam kedua, seperti ada kekuatan gaib menyeretku ketempat semalam. Dan terus menongkrong mengagumi gadis itu seperti malam pertama. Malam ketiga kudatangi lagi dan terus menatapnya seperti malam-malam yang lalu begini sja membuatku asyik. Tiga hari ini membuatku gila tak keruan, siang kutidur malam kugadangi gadis itu. Dan kurasakan bukan saja cantik, tapi sangat agung dan menyamankan hati. Sedikitpun tidak terasa letih atau lapar asal melihat gadis itu. Tiba-tiba pada malam keempat, seperti biasa kunongkrong dari bawah seperti seekor kodok merindukan bulan. Entah bagaimana malam itu sinar lampu belum juga padam, akupun terus berdiri disitu dengan tak jemunya. Aku heran karena lain malam-malam yang lalu, tapi tak bisa berpikir lama, karena seorang pelayan perempuan menegurku .

Baca Juga: Hong Lui Bun Khu Lung

Baca Juga: Pendekar Gelandangan 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert