Ceritasilat Novel Online

Pendekar Gelandangan 5

Eps 5 Pendekar Gelandangan - Khu Lung

Baca online Pendekar Gelandangan - Khu Lung

Cersil Pendekar Gelandangan - Khu Lung.

Ia berharap dirinyapun telah melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai seorang isteri dengan sebaik-baiknya, agar ia dapat hidup beberapa tahun lagi, dan melewatkan beberapa tahun penghidupan yang tenang dan penuh kegembiraan, melupakan perhatian dunia persilatan, melupakan Cia Siau-hong dan melupakan pertarungan di atas bukit tersebut.

Ia berharap di kala ia kembali nanti, semuanya telah terlupakan olehnya, ia sendiripun enggan untuk berpikir terlalu banyak.

Kemudian dalam kelelapan tersebut, iapun tertidur, tertidur lama sekali, tapi Hoa Sau-kun belum juga kembali.

Kebun bunga yang besar dan lebar berada dalam keheningan dan kegelapan luar biasa.

Seorang diri Hoa Sau-kun duduk dalam gardu persegi enam di luar jembatan Kui-ci-kiau, ia duduk lama sekali di sana.

Setelah melampaui suatu hubungan yang mesra dan penuh keriangan dengan istrinya, ia masih belum juga dapat tertidur.

Ia tak dapat melupakan pertarungan di atas bukit tersebut, perasaannya penuh diliputi penderitaan, penyesalan dan rasa sedih.

Malam semakin kelam, ketika ia hendak kembali ke kamarnya untuk tidur, tiba-tiba tampak sesosok bayangan manusia berkelebat lewat dari belakang bukit-bukitan sana, di atas bahunya seakan-akan membopong sesosok tubuh manusia.

Ketika ia menyusul ke situ, ternyata bayangan itu sudah lenyap tak berbekas.

Tapi dari gunung-gunungan sana, ia seakan-akan menangkap suara dari Tiok Yap-cing sedang berkata.

"Sekarang apakah kau telah percaya bahwa orang yang dibawa pergi olehnya itu adalah si Boneka?"

Suara Tiok Yap-cing masih penuh dengan nada pancingan, kembali katanya.

"Pada malam ibumu tukar cincin, ia telah membawa kabur ibumu dari sisi tunangannya, dan sekarang ia membawa kabur binimu, bahkan aku sendiripun tidak habis mengerti, kenapa ia senang melakukan perbuatan semacam itu?"

"Tutup mulut!", tiba-tiba terdengar suara seorang pemuda membentak dengan penuh kegusaran. Tentu saja pemuda tersebut adalah Siau Te. Tiok Yap-cing tidak berusaha untuk tutup mulut, kembali ujarnya.

"Aku pikir saat ini mereka pasti telah kembali ke rumah si Boneka yang dulu, meskipun tempatnya kuno dan bobrok, tapi tenang dan bersih, mereka menyangka tak akan ada orang yang bisa menemukan mereka di situ, lebih baik kaupun ikut ke sana, sebab......."

Belum lagi ia menyelesaikan kata-katanya, sesosok bayangan tubuh telah meluncur ke luar dari balik gunung-gunungan secepat sambaran kilat.

Untung saja ketika itu Hoa Sau-kun telah melompat naik ke atas gunung-gunungan dan mendekam di atas puncaknya.

Ia kenali orang itu sebagai Siau Te, dan diapun kenali orang yang berjalan di belakangnya bukan lain adalah Tiok Yap-cing.

Tapi untuk sementara waktu ia masih belum menampakkan diri, karena ia telah bertekad untuk membongkar intrik keji ini hingga sama sekali terbuka.

Ia bertekad melakukan suatu perbuatan baik bagi Cia Siau-hong.

Sambil bergendong tangan Tiok Yap-cing berjalan cepat pelan-pelan menelusuri jalanan kecil dan dengan cepat menemukan ruangan tempat tidurnya yang bermandikan cahaya.

Ia tinggal dalam ruangan terpencil yang tak jauh letaknya dari gunung-gunungan itu, di luar bangunan tumbuh beratus-ratus batang bambu serta beberapa kuntum bunga seruni.

Bila kamar itu berlampu, berarti Ki Ling masih menantikan kedatangannya, hari itu setiap persoalan yang dilakukan seakan-akan semuanya berjalan lancar, ia berhak untuk menikmati malam itu dengan penuh kegembiraan dan keasyikan, bahkan mungkin diiringi dengan sedikit arak.

Pintu itu tak terkunci, orang yang tinggal di situpun tak perlu mengunci pintu, sebab dikuncipun tak ada gunanya.

Ia telah membayangkan bagaikan Ki Ling dengan tubuhnya yang bugil sedang berbaring di atas pembaringan menantikan kedatangannya, tapi tidak mengira kalau masih ada seseorang yang lain berada di situ.

Ternyata Ciu Ji sianseng pun sedang menantikan kedatangannya.

Di depan lampu ada arak, arak tersebut sudah habis di minum, agaknya tak sedikit yang diminum Ciu Ji sianseng, berarti pula sudah lama ia menanti di situ......

Duduk di sampingnya sambil menuang arak adalah Ki Ling.

Ia sama sekali tidak telanjang bulat, ia mengenakan pakaian, bahkan mengenakan dua stel.

Tapi, meskipun mengenakan dua stel pakaian, sekalipun digabungkan juga tak lebih tipis daripada selapis kabut.

"Ooooh.....tak kusangka kalau Ciu Ji sianseng pun pandai menikmati suasana", tegur Tiok Yapcing sambil tertawa. Ciu Ji sianseng meletakkan cawan araknya, kemudian berkata.

"Sayang sekali arak ini arakmu, perempuan itupun perempuanmu, sekarang kau telah kembali, maka setiap waktu setiap saat kau boleh menerimanya kembali"

"Oooh, tak perlu!"

"Tak perlu?"

Tiok Yap-cing tertawa, ujarnya.

"Sekarang arak itu arakmu dan perempuan itu perempuanmu, tak ada salahnya kalau kau memakainya dan menikmatinya pelan-pelan!"

"Dan kau sendiri......?"

"Aku akan menyingkir"

Ternyata ia benar-benar hendak menyingkir dari situ.

Ciu Ji sianseng memandang ke arahnya, rasa kaget, tercengang dan curiga menyelimuti sorot matanya, menanti ia saksikan orang sudah akan keluar dari pintu, tiba-tiba serunya dengan keras.

"Tunggu sebentar!"

Tiok Yap-cing segera berhenti sambil bertanya.

"Masih ada perkataan apa lagi yang hendak kau katakan?"

"Aku hanya ingin berkata sepatah kata saja!"

Tiok Yap-cing memutar badannya menghadap ke arahnya dan menantikan jawabannya. Ciu-ji sianseng menghela napas panjang, katanya.

"Ada sementara persoalan sebetulnya tidak pantas untuk kutanyakan kepadamu, tapi aku amat ingin tahu sebenarnya manusia macam apakah kau ini? Dan sesungguhnya jalan pikiran apakah yang mendekam dalam ingatanmu itu.....?"

Tiok Yap-cing kembali tertawa, katanya.

"Aku tidak lebih hanya seorang manusia yang gemar bersahabat, terutama sekali bersahabat dengan seorang teman seperti kau!"

Ciu Ji sianseng pun ikut tertawa. Wajahnya masih tertawa, tapi kelopak matanya telah menyurut kecil, kembali ia bertanya.

"Masih ada berapa orang sahabatmu lagi yang telah kau jual?"

"Hei, apa yang sedang kau katakan?", seru Tiok Yap-cing hambar.

"sepatah katapun tidak kufahami?"

"Semestinya kau mengerti, karena hampir saja kau menghianati diriku satu kali!"

Ia tidak memberi kesempatan bagi Tiok Yap-cing untuk buka suara, kembali katanya.

"Hek-sat sebetulnya temanmu pula, tapi kau telah mempergunakan Mao It-leng untuk membunuh mereka. Tam Ci-hui, Liu Kok-tiok, Hok-kui-sin-sian-jiu serta hweesio tua itu bila datang membantu tepat pada saat yang telah direncanakan, Mao It-leng pun tidak akan sampai mati, tapi kau sengaja melepaskan tanda terlalu lambat, karena kau masih ingin meminjam tangan Cia Siauhong untuk membunuh Mao It-leng"

Tiok Yap-cing tidak membantah, pun tidak mendebat, ia malah menarik sebuah bangku dan duduk dengan santai sambil mendengarkan pembicaraan tersebut. Ciu Ji sianseng berkata lebih jauh.

"Siau Te sebenarnya juga sahabatmu, tapi kau telah menjualnya kepada Cia Siau-hong, sekalipun Cia Siau-hong tidak tega membunuhnya, tapi mungkin ia akan menumbukkan kepalanya sendiri ke atas dinding, apalagi melihat perempuannya sendiri dibawa kabur orang. Hmm...., kecuali kau yang sanggup menahan diri dalam keadaan semacam ini, tak ada orang lain yang bisa berpeluk tangan belaka semacam kau!"

Tangannya telah meraba gagang pedang di meja, katanya lebih lanjut.

"Oleh karena itu sengaja aku hendak bertanya kepadamu, sampai kapan kau baru akan menghianatiku? Dan kepada siapa akan hendak kau jual?"

Tiok Yap-cing kembali tertawa, sambil berdiri dan menoleh ke jendela, ujarnya.

"Di luar udara dingin mencekam, Hoa sianseng, kalau toh sudah kemari, kenapa tidak masuk untuk minum dulu beberapa cawan arak?"

OoooOOOOoooo Bab 18.

Senyuman Di Balik Pisau Daun jendela tidak bergerak, pintupun terbuka sendiri tanpa hembusan angin.

Lewat lama sekali, pelan-pelan Hoa Sau-kun baru berjalan masuk lewat ke dalam.

Empat puluh tahun berselang, sudah beratus-ratus kali pertarungan yang pernah ia alami, entah sudah berapa kali pula dipecundangi orang.

Hingga kini ia masih dapat hidup, hal ini disebabkan ia adalah seorang manusia yang selalu waspada dan berhati-hati.

Ditatapnya Tiok Yap-cing dengan dingin lalu katanya.

~Bersambung ke Jilid-13 Jilid-13

"Sebenarnya aku tak pantas datang, tapi sekarang telah datang, kata-kata semacam itu semestinya tak pantas kudengar, tapi sekarang telah kudengar, maka dari itu akupun ingin bertanya kepadamu, sesungguhnya manusia macam apakah kau ini? Perhitungan apa yang sesungguhnya telah kau rencanakan dalam hatimu?"

Tiok Yap-cing tersenyum, sahutnya.

"Aku tahu bahwa pada malam ini Hoa sianseng tentu tak dapat tidur, kau tentu masih teringat dengan pertarungan pagi tadi, maka sedari tadi aku sudah berencana untuk menghantar arak wangi bagi Hoa sianseng untuk menghilangkan kemasgulan dan kekesalan hatimu!"

Jawaban yang sama sekali tiada hubungan dengan apa yang ditanyakan tadi, seakan-akan ia tidak mendengar apa yang diucapkan Hoa Sau-kun barusan dan telah membebaskan dirinya secara mudah dari semua tuduhan yang dilontarkan kepadanya tadi.

Betul juga, paras muka Hoa Sau-kun segera berubah hebat, dengan suara lantang bentaknya.

"Kenapa aku tak bisa tidur? Kenapa aku musti menghilangkan kemasgulan dan kemurungan?"

"Sebab Hoa sianseng adalah seorang kuncu, seorang laki-laki sejati!"

Tiba-tiba senyuman di bibirnya berubah menjadi penuh kelicikan dan sindiran, ia menambahkan.

"Cuma sayang, kaupun bukan betul-betul seorang kuncu sejati!"

Sepasang tangan Hoa Sau-kun telah gemetar keras, jelas ia sedang berusaha keras untuk mengendalikan hawa amarahnya.

"Siapakah yang menang dan siapa yang kalah dalam pertarungan pagi tadi, aku pikir kau pasti lebih jelas dari pada siapapun"

Tangan Hoa Sau-kun gemetar semakin keras, tiba-tiba ia menyambar separuh guci arak di meja dan sekaligus meneguknya sampai habis.

"Jika kau adalah seorang kuncu sejati, kau sudah mengakui kekalahanmu ketika berada di hadapan binimu tadi"

Hoa Sau-kun mengepal sepasang tangannya kencang-kencang, kemudian katanya dengan suara gemetar.

"Lanjutkan kata-katamu!"

"Bila kaupun seperti aku, seorang manusia siaujin yang tulen, maka tak akan kau pikirkan persoalan semacam itu dalam hati, sayang sekali kaupun bukan seorang siaujin tulen, oleh karena itu hatimu baru menderita dan tersiksa karena merasa malu, menyesal dan merasa dirimu telah berbuat kesalahan kepada Cia Siau-hong!"

Setelah berhenti sebentar, dengan suara dingin ia melanjutkan.

"Maka dari itu bila sekarang ada orang bertanya kepadamu, manusia macam apakah sesungguhnya dirimu, maka tiada halangan bagimu untuk memberitahu kepadanya bahwa kau bukan saja seorang kuncu gadungan, kau merupakan juga seorang munafik!"

Hoa Sau-kun menatapnya tajam-tajam kemudian selangkah demi selangkah maju menghampirinya sambil berkata.

"Benar, aku adalah manusia munafik, tapi aku toh sama saja dapat membunuh orang!"

Tiba-tiba suaranya menjadi kabur dan tidak jelas, sorot matanya ikut membuyar dan menjadi sayu dan kuyu.........

Menyusul kemudian iapun roboh terkapar di tanah.

Dengan terkejut Ciu Ji sianseng memandang ke arahnya, dia ingin bergerak namun tidak bergerak sedikitpun.

"Bukankah kau tidak habis mengerti kenapa secara tiba-tiba ia bisa roboh terkapar?", tanya Tiok Yap-cing tiba-tiba.

"Dia mabuk.......?"

"Dia sudah merupakan seorang kakek yang bertubuh lemah, apalagi minum arak begitu cepat, seandainya dalam arak itu tidak kucampuri dengan obat pemabuk, mungkin ia masih belum roboh juga"

"Obat pemabuk?", seru Ciu Ji sianseng dengan paras muka hebat.

"Walaupun obat pemabuk jenis ini berbau keras dan rasanya getir, namun bila dicampurkan ke dalam arak Tiok Yap-cing yang berusia tua, maka tidaklah gampang untuk membedakannya, aku telah mencobanya beberapa kali dan setiap kali rasanya cukup mendatangkan hasil yang diharapkan"

Tiba-tiba Ciu Ji sianseng membentak gusar, dia ingin menubruk ke depan, tapi tubuhnya segera menumbuk meja hingga jatuh tertelungkup. Tiok Yap-cing tersenyum, katanya.

"Padahal kaupun mestinya dapat membayangkan sendiri sebagai seorang siaujin semacam aku, masa dapat memberikan arak sebagus ini untuk dinikmati orang lain?"

Ciu Ji sianseng yang tergeletak di tanah berusaha untuk berpegangan di sisi meja dan bangun berdiri, tapi baru saja bangun kembali ia sudah roboh ke tanah.

"Sesungguhnya akupun musti berterima kasih kepadamu", kata Tiok Yap-cing kembali.

"Hoa Saukun sudah tersohor karena ketelitian serta kewaspadaannya, andaikata ia tidak melihatmu minum arak tersebut, tak nanti dia akan minum juga arak tersebut, siapa tahu justru karena kau minum arak amat lambat, maka obat pemabuk itu baru bekerja pada saat ini........"

Ciu Ji sianseng merasa ucapannya itu kian lama kian bertambah jauh, orang yang berdiri di hadapannya pun makin lama semakin jauh, kemudian apapun tak terdengar lagi olehnya, dan apapun tidak terlihat lagi olehnya.

Tiba-tiba Ki Ling menghela napas panjang, katanya sambil tertawa getir.

"Sebetulnya aku mengira ambisimu tak lain hanya ingin menjatuhkan Toa-tauke belaka, tapi sekarang.........sekarang bahkan aku sendiripun tak tahu manusia apakah sebetulnya dirimu ini dan apa saja yang kau rencanakan dalam hatimu?"

"Ya, selamanya kau tak akan tahu!", Tiok Yap-cing tertawa. Ketika Cia Hong-hong terbangun dari impian buruknya, seluruh badannya basah kuyup oleh keringat dingin. Dalam mimpinya ia saksikan suaminya pulang dan berdiri di depan pembaringan dengan tubuh berlumuran darah, darah itu menindih tubuhnya hingga membuat ia tak sanggup bernapas. Ketika ia tersadar kembali hanya kegelapan yang menyelimuti sekitar tempat itu, lampu yang disulut suaminya tadi kini telah padam. ooooOOOOoooo Bab 19. Keturunan Keluarga Kenamaan Dalam ruangan tiada cahaya lampu, seorang diri Cia Siau-hong duduk dalam kegelapan, duduk di atas kursi di mana tempat itu selalu mereka kosongkan bila sedang bersantap dan khusus disediakan buat tuan putri. ......Semenjak dilahirkan, semestinya dia adalah seorang tuan putri, bila bertemu dengannya, maka kau pasti akan menyukainya, kami merasa bangga karena dia. Api dalam tungku telah padam, bahkan abupun telah dingin. Dapur nan sempit dan kecil, selamanya tak akan memancarkan kehangatan lagi seperti dulu, bau harum kuah daging yang dapat menghangatkan badan sampai ke lubuk hatipun selamanya tak akan terendus kembali. Tapi di tempat itulah ia pernah merasakan kepuasan dan ketentraman yang sebelumnya tak pernah ia rasakan atau jumpai. ......Aku bernama A-kit, A-kit yang tak berguna. ......Hari ini tuan putri kita pulang makan, kita semua akan mendapat daging untuk bersantap, setiap orang akan mendapatkan sepotong daging, sepotong daging yang besar, besar sekali. Ketika daging dihidangkan, sorot mata setiap orang mencorong tajam, setajam sinar pedang. Cahaya pedang berkelebat lewat, hawa pedang memancar ke empat penjuru, darah berhamburan ke mana-mana dan musuh besar roboh tak bernyawa. ......Aku adalah Sam sauya dari keluarga Cia, akulah Cia Siau-hong. ......Akulah Cia Siau-hong yang tiada keduanya dalam dunia ini. Sesungguhnya siapakah di antara kedua orang ini yang jauh lebih gembira dan bahagia? A-kit? Atau Cia Siau-hong? Pelan-pelan pintu didorong orang, sesosok bayangan tubuh yang ramping dan halus masuk ke dalam. Tempat itu adalah rumahnya, ia sangat hapal dengan setiap macam benda yang berada di sana, sekalipun tidak melihatnya, iapun dapat merasakannya. Orang yang membawanya pulang adalah seorang laki-laki asing yang bertubuh gemuk, tapi memiliki ilmu meringankan tubuh yang jauh lebih enteng daripada seekor burung walet, mendekam di atas tubuhnya bagaikan berjalan di atas awan. Ia tidak kenal dengan orang itu. Ia mau mengikutinya karena ia berkata ada orang sedang menantikannya, lantaran orang yang menunggu dirinya adalah Cia Siau-hong. Pelan-pelan Cia Siau-hong bangun berdiri lalu berkata.

"Duduklah!"

Tempat itu khusus mereka sediakan baginya, bila ia pulang maka tempat itu sepantasnya diberikan kepadanya.

Siau-hong masih ingat, ketika untuk pertama kalinya melihat dia duduk di kursi itu dengan rambut yang hitam dan panjang terurai di bahu, sikapnya yang lembut dan anggun itu mengingatkan kita kepada seorang Tuan Putri sungguhan.

Waktu itu ia hanya berharap sebelum perjumpaan tersebut mereka tak pernah berkenalan, ia berharap perempuan itu adalah seorang tuan putri sungguhan.

.......Bagaimanapun juga kau tak dapat membiarkan keturunan keluarga Cia mengawini seorang pelacur sebagai istrinya.

.......Ya, Pelacur!

Lonte!

Tanpa terasa ia terbayang lagi kembali kejadian ketika pertama kali bertemu dengannya, teringat pula rasa panas yang memancar ke luar dari selangkangan si nona ketika tangannya menekan tempat 'itu' nya, terbayang pula olehnya liuk-liuk tubuhnya ketika berbaring di tanah sambil memamerkan seluruh bagian tubuhnya yang terlarang itu.....

.......Aku baru berusia lima belas tahun, cuma saja tampaknya jauh lebih besar dari orang lain.

Siau Te masih seorang bocah.

.......Tak ada orang yang suka melakukan pekerjaan semacam itu, tapi setiap orang membutuhkan hidup, setiap orang perlu makan.

.......Gadis itu adalah satu-satunya harapan bagi ibunya dan kakaknya, ia harus memberi daging untuk mereka.

Tapi Siau Te baru berusia lima belas tahun, Siau Te adalah darah daging keluarga Cia.

Si Boneka telah duduk, ia duduk seperti seorang tuan putri sungguhan, sepasang matanya yang jeli memancarkan sinar terang di tengah kegelapan itu.

Cia Siau-hong sangsi sejenak, akhirnya ia berkata.

"Aku telah berjumpa dengan toako-mu!"

"Aku tahu!"

"Agaknya luka yang dideritanya telah mulai sembuh, sekarang tak nanti ada orang akan pergi mencarinya lagi!"

"Aku tahu!"

"Aku kuatir kau merasa kurang leluasa, maka kusuruh Cia ciangkwe untuk menjemputmu"

"Aku tahu!"

Tiba-tiba si Boneka tertawa lebar, katanya lebih jauh.

"Akupun tahu kenapa kau membawaku ke mari"

"Kau tahu?", tanya Cia Siau-hong keheranan.

"Ya, kau minta aku kemari karena tak boleh kawin dengan Siau Te!"

Ia masih tertawa. Pelan-pelan ia berkata lebih lanjut.

"Karena kau merasa aku tak pantas untuk mendampinginya, kau sangat baik kepadaku, memperhatikan diriku, semuanya itu tak lebih karena kau kasihan kepadaku, menaruh belas kasihan kepadaku, tapi dalam hati sesungguhnya sama sekali tidak memandang sebelah mata kepadaku"

"Aku......."

"Kau tak perlu memberi penjelasan kepadaku,"

Tukas si Boneka.

"aku cukup mengerti tentang keadaan yang sedang kuhadapi, orang yang benar-benar kau sukai masih tetap Buyung hujin tersebut, karena ia memang ditakdirkan bernasib seorang nyonya besar, karena ia tak perlu menjual diri untuk membiayai hidup keluarganya, ia tak perlu menjadi seorang pelacur...........!"

Air matanya jatuh bercucuran amat deras, mendadak sambil menangis tersedu-sedu, katanya.

"Tapi tak pernahkah kau berpikir bahwa pelacurpun manusia, pelacurpun berharap bisa memperoleh pasangan yang baik, berharap ada orang yang benar-benar mencintainya"

Cia Siau-hong merasa hatinya amat sakit, seperti ditusuk-tusuk dengan pisau, setiap ucapannya seakan-akan sebatang jarum yang menghujam ulu hatinya.

Tak tahan lagi ia maju menghampirinya dan membelai rambutnya yang lembut, dia ingin menghibur dengan kata-kata yang lembut, tapi ia tak tahu bagaimana harus berkata.

Si Boneka tak kuasa menahan dirinya lagi, ia menubruk ke dalam pelukannya dan menangis tersedu-sedu.

Baginya, bisa berbaring dalam pelukannya sudah merupakan suatu penghiburan yang paling besar baginya.

Cia Siau-hong pun tahu, bagaimanapun jua ia tak tega untuk menyingkirkan gadis itu dari pelukannya.

"Tiba-tiba....."Blaaang!", pintu di dorong orang keras-keras, seorang pemuda berwajah pucat tahutahu muncul di luar pintu, sorot matanya penuh pancaran rasa sedih, menderita dan penuh kebencian. Siapa yang tahu berapa besarkah kekuatan dari suatu dendam sakit hati, sehingga membuat orang melakukan berapa banyak peristiwa yang menakutkan? Siapa tahu kesedihan yang sebenarnya bagaimana rasanya? Mungkin Siau Te telah mengetahuinya. Mungkin Cia Siau-hong juga telah mengetahuinya. Mayat Hoa Sau-kun ditemukan orang satu jam berselang dalam gardu persegi enam. Tenggorokannya sudah digorok orang hingga kutung, bajunya, tangannya dan jenggotnya penuh berlepotan darah. Tak seorangpun yang bisa membayangkan bagaimanakah rasa sedih, menderita dan gusar yang mencekam perasaan Cia Hong-hong sewaktu menjumpai mayat suaminya. Dalam waktu singkat ia seakan-akan berubah menjadi seekor binatang liar yang sedang kalap. Ia menangis meraung-raung, berteriak seperti orang histeris, mencakar muka sendiri, menarik rambut sendiri, kalau bisa ia hendak mencabik-cabik tubuh sendiri, lalu membakarnya dengan api lalu menumbuknya menjadi bubuk dan memusnahkannya dari muka bumi. Ada tujuh-delapan pasang tangan yang kuat menahan tubuhnya, hingga satu jam kemudian ia baru dapat menenangkan kembali hatinya. Namun air mata masih jatuh bercucuran dengan deras. Hubungan suami isteri yang berlangsung selama dua puluh tahun, senang sama dicicipi, sengsara sama di atasi, hubungan batin tersebut hakekatnya telah meresap hingga ke dalam lubuk hati. ......Sekarang ia telah menjadi tua, kenapa ia musti mati duluan? Kenapa ia harus mati dalam keadaan yang mengenaskan? Kesedihan yang melewati batas ini tiba-tiba saja berubah menjadi dendam kesumat, katanya mendadak dengan suara dingin.

"Kalian lepaskan aku, biarkan aku duduk sendiri!"

Fajar sudah hampir menyingsing, lentera meja masih memancarkan sinarnya dan menerangi wajah Buyung Ciu-ti, paras mukanyapun tampak pucat pias.

Cia Hong-hong telah duduk dihadapannya, air mata telah mengering, yang masih tertinggal di balik matanya hanya dendam kesumat.

Kesedihan yang sungguh-sungguh melewati batas dapat membuat orang menjadi gila, dendam kesumat yang betul-betul meresap ke tulang dapat membuat orang menjadi tegang.

Dengan pandangan dingin, dia awasi sinar lampu yang berkedip-kedip, lalu tiba-tiba berbisik.

"Aku keliru, kaupun keliru!"

"Mengapa kau keliru?"

"Karena kita semua telah tahu bahwa pertarungan pagi tadi bukan dimenangkan Hoa Sau-kun, melainkan oleh Cia Siau-hong, tapi kita semua tidak mengutarakan keluar!"

Buyung Ciu-ti tak dapat menyangkal.

Seandainya pedang Cia Siau-hong betul-betul mencelat karena getaran tenaga, maka tak nanti senjata tersebut akan menancap persis di samping Cia Hong-hong.

Ia dapat meminjam tenaga getaran orang untuk mengembalikan pedang tersebut ke tangan Cia Hong-hong, tenaga serta kemampuan semacam itu pada hakekatnya telah digunakan secara jitu dan hebat.

"Sebetulnya bukan saja Cia Siau-hong dapat mengalahkannya, diapun dapat membunuhnya!", kata Cia Hong-hong lebih lanjut.

"tapi Cia Siau-hong tidak berbuat demikian, maka orang yang membunuhnya pasti bukan Cia Siau-hong"

Buyung Ciu-ti tak dapat menyangkal akan kebenaran ucapan tersebut. Cia Hong-hong menatapnya tajam-tajam, kemudian berkata lagi.

"Oleh karena itu aku ingin bertanya kepadamu, kecuali Cia Siau-hong, masih ada siapakah di tempat ini yang sanggup menggorok kutung lehernya dengan pedang?"

Buyung Ciu-ti termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, lewat lama sekali baru sahutnya.

"Hanya ada seorang!"

"Siapa?"

"Dia! Dia sendiri!"

Cia Hong-hong menggenggam tangan sendiri kencang-kencang, jari-jari tangannya sampai menembusi telapak tangan sendiri, serunya dengan suara tergagap.

"Maksudmu......maksudmu dia.......dia bunuh diri?"

"Ehmmm, begitulah!"

Sekali lagi Cia Hong-hong gelengkan kepalanya berulang kali, teriaknya dengan suara keras.

"Tidak mungkin, hal ini tidak mungkin, demi aku tak nanti ia akan berbuat demikian!"

Buyung Ciu-ti menghela napas panjang.

"Aaaaiii....siapa tahu kalau ia justru berbuat demikian demi dirimu?"

Sebelum perempuan itu menjawab, ia telah berkata lebih jauh.

"Karena ia telah tahu, bahwa kaupun mengetahui bila orang yang betul-betul kalah adalah dia, kau tak tega mengatakannya keluar, dia sendiri tentu saja lebih baik tak berkeberanian untuk menceritakannya keluar, penghinaan, penderitaan serta rasa malu itu selalu menyiksa hatinya, sekalipun ia gagah dan keras hati, tapi lama kelamaan mana sanggup untuk mempertahankan diri?"

Cia Hong-hong menundukkan kepalanya rendah-rendah, ia berbisik.

"Tapi......."

"Tapi kalau tiada Cia Siau-hong, diapun tak akan mati", Buyung Ciu-ti melanjutkan. Ia sendiri adalah seorang perempuan, tentu diapun memahami perasaan seorang perempuan. Bila kaum perempuan sedang sedih dan marah dan kebetulan rasa sedih serta marahnya tiada tempat pelampiasan, seringkali semua hal tersebut akan dilampiaskan kepada orang lain. Betul juga, Cia Hong-hong segera mendongakkan kepalanya, lalu berkata.

"Cia Siau-hong sendiripun cukup mengetahui wataknya, mungkin ia telah memperhitungkan sampai ke situ, maka ia sengaja berbuat demikian!"

Buyung Ciu-ti menghela napas panjang, katanya.

"Aaaaii.....berbicara sesungguhnya, keadaan semacam ini bukannya tidak mungkin terjadi"

Lompatan kobaran api memancar ke luar dari balik mata Cia Hong-hong, ia menatap lama sekali wajah perempuan itu, tiba-tiba serunya.

"Konon aku dengar kau seorang yang mengetahui titik kelemahan dalam ilmu pedang Cia Siauhong"

Buyung Ciu-ti tertawa getir.

"Aku memang tahu, tapi apa gunanya sekalipun aku mengetahuinya?"

"Kenapa tak berguna?"

"Sebab kekuatanku tidak cukup hebat, kecepatan gerakkupun tidak cukup meyakinkan, sekalipun dengan jelas ku tahu dimana letak titik kelemahan tersebut, menunggu serangan tersebut kulancarkan, mungkin keadaan sudah tidak sempat lagi"

Setelah menghela napas panjang, ia berkata kembali.

"Seperti juga walaupun dengan jelas kulihat ada seekor burung gereja di atas pohon, tapi menunggu aku memanjat pohon dan ingin menangkapnya, burung tersebut sudah keburu terbang"

"Tapi paling tidak kau sudah tahu cara menangkap burung gereja itu, bukan?", seru Cia Honghong.

"Ehm, benar!"

"Sudahkah kau beritahukan rahasia ini kepada orang lain?"

"Hanya memberitahukan kepada seseorang karena hanya pedang miliknya yang sanggup menghadapi Cia Siau-hong!"

"Tapi siapakah orang itu?"

"Yan Cap-sa!"

Siau Te telah putar badan menerjang keluar, tanpa mengucapkan sepatah katapun ia putar badan dan kabur dari situ.

Dengan mata kepala sendiri ia saksikan mereka berangkulan, saling berpelukan dengan mesra, dalam keadaan begini, apa lagi yang dapat ia katakan.

.......Sekalipun kejadian yang disaksikan dengan mata kepala sendiri, belum tentu hal itu merupakan kenyataan.

Ia belum sempat memahami ucapan tersebut, pun tak ingin mendengarkan penjelasan itu, dia hanya ingin menyingkir sejauh-jauhnya, makin jauh semakin baik.

Karena ia merasa dirinya telah tertipu, hatinya telah terluka, sekalipun terhadap si Boneka ia tak menaruh rasa cinta, tapi gadis itupun tidak seharusnya menghianati dia, lebih-lebih Cia Siau-hong, tidak seharusnya ia berbuat begini.

Cia Siau-hong dapat memahami perasaan hatinya sekarang.

Sebab ia pernah tertipu, pernah juga terluka hatinya, diapun pernah menjadi seorang pemuda berdarah panas yang keras hati dan penuh kobaran emosi.

Dengan cepat ia mengejar keluar, dia tahu Cia ciangkwe dapat merawat si Boneka baginya, dan ia sendiri harus baik-baik mengawasi Siau Te.

Hanya dia seorang yang dapat melihat kelemahan dalam perasaan pemuda yang tampaknya keras hati dan dingin tersebut.

Maka dia harus melindunginya, tidak membiarkan ia menerima penderitaan maupun siksaan lagi.

Walaupun Siau Te tahu bahwa ia mengikuti di belakangnya, namun ia sama sekali tak berpaling.

Ia tak ingin berjumpa lagi dengan orang itu, tapi diapun tahu jika Cia Siau-hong telah bertekad untuk menguntil seseorang, maka siapapun kau jangan harap bisa lolos dengan begitu saja.

Cia Siau-hong tidak buka suara.

Karena diapun tahu bila pemuda tersebut telah bertekad tak akan mendengarkan penjelasan orang, perduli apapun yang kau katakan kepadanya juga percuma.

Fajar telah menyingsing langit terang benderang dan sinar emas memancar ke empat penjuru.

Dari lorong yang sempit mereka menuju ke jalan yang ramai, dari jalanan yang ramai memasuki pinggiran kota yang sepi, lalu dari pinggiran kota yang sepi menuju ke jalan raya menuju ke luar kota.

Di atas jalan raya, para pejalan kaki sedang melakukan perjalanan masing-masing dengan cepat dan tergesa-gesa.

Kini masa panen telah lewat, inilah saatnya semua orang memperhitungkan untung ruginya setelah membanting tulang sepanjang tahun.

Ada sebagian orang yang buru-buru membawa pulang hasil jerih payah mereka untuk dinikmati bersama keluarganya.

Ada pula yang membawa pulang hati yang kesal, badan yang penat serta segudang hutang.

Tak tahan Cia Siau-hong bertanya kepada diri sendiri.

........Apakah selama setahun ini ia giat menanam budi kebaikan?

Lalu apa hasilnya?

........Sepanjang setahun ini adalah aku merugikan orang lain, ataukah orang lain yang telah merugikan dirinya?

Ia tak sanggup memberi jawabannya.

Ada sementara hutang yang sesungguhnya memang tak mungkin bisa diselesaikan oleh siapapun.

Tengah hari menjelang tiba.

Mereka telah masuk kembali dalam sebuah kota dan menelusuri sebuah jalan yang teramat ramai di kota tersebut.

Meskipun berbeda kota, tapi manusianya adalah sama saja, mereka bekerja keras demi nama dan kedudukan, merekapun dibikin pusing oleh dendam ataupun perselisihan.

Tanpa terasa Cia Siau-hong menghela napas panjang, ketika mendongakkan kepalanya, ia baru menyaksikan Siau Te telah berhenti dan sedang memandang ke arahnya dengan dingin.

Ia berjalan menghampirinya, tapi sebelum bersuara, tiba-tiba Siau Te bertanya.

"Selama ini kau mengikuti terus diriku, apakah karena kau telah bertekad untuk baik-baik merawat dan memperhatikan diriku?"

Cia Siau-hong mengakuinya. Secara tiba-tiba ia menemukan bahwa Siau Te memahami perasaannya, seperti juga ia memahami perasaan Siau Te.

"Aku sudah lelah sekali melakukan perjalanan, lagi pula laparnya setengah mati", kata Siau Te lagi.

"Kalau begitu mari kita bersantap!"

"Bagus sekali!"

Di mana ia berhenti adalah persis di bawah merek emas dari Cong-goan-lo. Baru saja putar badan, ciangkwe gemuk yang bermuka hok-kie itu telah membungkukkan badan kepada mereka sambil tersenyum simpul.

"Siapkan delapan hidangan panas, empat masakan barang berjiwa, empat macam masakan barang tak berjiwa, siapkan dulu delapan piring kecil untuk teman minum arak, lalu hidangkan enam macam hidangan utama. Udang bago, Yan-oh, H-sit, ayam lengkap, bebek lengkap, semuanya siapkan komplit, jangan ada semacampun yang ketinggalan."

Itulah sayur yang dipesan oleh Siau Te. Sambil tersenyum dan bungkukkan badan memberi hormat, ciangkwe gemuk itu segera menyahut.

"Bukannya siaujin bicara ngibul, kecuali rumah makan kami, jangan harap bisa ditemukan hidangan sekomplit ini dalam waktu yang begini tergesa-gesa di tempat lain"

"Ya, asal hidangan bisa dibikin sebaik mungkin dan secepat mungkin, uang persen tak akan lupa"

"Entah berapa orang tamu yang hendak di undang? Sampai kapan baru tiba di sini?"

"Tak ada tamu lainnya"

"Hanya kalian berdua?", ciangkwe gemuk itu melototkan sepasang matanya bulat-bulat.

"kenapa memesan sayur begini banyaknya?"

"Asalkan aku lagi senang, tidak habis di makan, mau dibuang ke pecomberan pun urusanku, buat apa kau turut campur?"

Ciangkwe gemuk itu tak berani bersuara lagi, dengan munduk-munduk ia lantas mengundurkan diri dari situ. Tapi saat itulah dari meja lain kedengaran ada orang sedang tertawa dingin sambil menyindir.

"Heeeeehhhh....... heeeeehhhhh........ heeeeehhhhh..... entah bocah keparat itu lagi kaya mendadak? Ataukah sudah kelaparan hingga mendekati sinting?"

Siau Te seakan-akan tak mendengar sindiran tersebut, hanya gumamnya seorang diri.

"Sayur-sayur itu merupakan hidangan kegemaranku, cuma sayang dihari-hari biasa tidak mudah bagiku untuk menikmatinya!"

"Asal kau lagi gembira, bisa makan berapa banyak makanlah!", Cia Siau-hong menimpali. Tak seorang manusiapun dapat menghabiskan hidangan sebanyak ini, setiap macam Siau Te hanya mencicipi sekerat, lalu sambil menggerakkan kembali sumpitnya ia berkata.

"Aku sudah kenyang!"

"Tidak banyak yang kau makan", kata Cia Siau-hong.

"Jika sekepingpun sudah dapat dirasakan bagaimana rasanya, buat apa kita musti makan terlalu banyak?"

Setelah menghembuskan napas panjang dan memukul meja, ia berseru dengan suara lantang.

"Bawa rekeningnya ke mari!"

Tidak terlalu banyak tamu semacam dia ini, semenjak tadi ciangkwe gemuk telah menunggu di sampingnya, segera ujarnya sambil tertawa paksa.

"Hidangan semeja penuh yang dipesan adalah delapan tahil perak, ditambah arak wangi seluruhnya berjumlah sepuluh tahil empat mata uang"

"Ehmmmm, tidak mahal!"

"Rumah makan kami selamanya berdagang menurut aturan, tak pernah kami mengambil untung terlalu banyak untuk tamu-tamu kami", kata ciangkwe gemuk dengan cepat. Siau Te lantas berpaling ke arah Cia Siau-hong sambil berkata.

"Bila ditambah dengan uang tip, bagaimana kalau kita bayar dua belas tahil perak saja?"

"Ya, seharusnya memang demikian"

"Kenapa kau belum juga membayarnya?"

"Karena satu tahil perakpun tidak kumiliki!"

Siau Te tertawa terbahak-bahak, tiba-tiba ia bangkit berdiri dan berjalan menuju ke meja di mana suara tertawa dingin tadi berasal.

Di sekitar meja tersebut duduk empat orang tamu, kecuali seorang pemuda berbaju kasar yang kelihatan agak ketolol-tololan, minum arak paling sedikit dan berbicara paling sedikit, tiga orang lainnya merupakan pemuda-pemuda gagah yang berusia dua puluh tahunan, gagah, ganteng dan kelihatan amat perkasa.

Di atas meja terdapat tiga bilah pedang, bentuknya sangat antik dan indah, sekalipun belum diloloskan dari sarungnya, tapi siapapun tahu bahwa pedang tersebut pastilah sebilah pedang yang tajam.

Orang yang tertawa dingin tadi mengenakan baju paling perlente dan bersikap paling angkuh.

Ketika menyaksikan Siau Te berjalan ke arahnya, sekali lagi ia tertawa dingin.

Siau Te tidak memperhatikan wajahnya melainkan pedang antik yang berada di atas meja itu, tibatiba ia menghela napas panjang kemudian berbisik lirih.

"Ehmm, sebilah pedang yang bagus!"

"Kau juga mengerti tentang pedang?", ejek orang itu sambil tertawa dingin.

"Konon dahulu ada seorang Si Lu-cu, Si taysu yang mempunyai kepandaian membuat pedang yang hebat dan tiada tandingannya di kolong langit, dengan air dari telaga pelepas pedang di bukit Bu-tong, ia telah menempa tujuh bilah pedang tajam, oleh sang ciangbunjin ke tujuh pedang tersebut diberikan kepada tujuh orang muridnya yang terlihay dengan pesan pedang ada orang hidup, pedang hilang nyawa lenyap, setelah mati pedang itu harus diserahkan kembali kepada ketuanya untuk dioperkan ke orang lain....."

Setelah tersenyum iapun bertanya.

"Entah pedang tersebut apa betul merupakan salah satu diantaranya?"

Pemuda yang tertawa dingin itu masih juga tertawa dingin tiada hentinya, sedangkan seorang pemuda berbaju ungu yang ada disampingnya segera berseru memuji.

"Suatu ketajaman mata yang luar biasa!"

"Boleh aku tahu siapa nama margamu?"

"Aku she Wan, juga she Cho!"

"Jangan-jangan kau adalah murid yang termuda dan tertampan di antara tujuh orang murid Butong-pay yang disebut Cho Han-giok itu?"

"Suatu ketajaman mata yang mengagumkan!", kembali orang berbaju ungu itu berseru.

"Kalau begitu kau pastilah toa-kongcu dari keluarga Wan berbaju ungu itu dari kota Kim-leng?"

"Bukan, aku adalah Lo-ji bernama Wan Ji-im, dialah toako kami, Wan Hui-im!", kata manusia berbaju ungu itu memperkenalkan diri. Wan Hui-im duduk tepat di sampingnya, jenggot sudah tumbuh pada janggutnya.

"Dan yang ini?"

Orang yang ditanya Siau-te adalah pemuda berbaju kasar yang kelihatan amat jujur itu, katanya lebih lanjut.

"Burung Hong tak akan sudi terbang bersama burung gagak, aku pikir saudara inipun pastilah sauya kongcu dari keluarga kenamaan juga?"

"Aku bukan!", pemuda berbaju kasar itu menjawab singkat.

"Bagus sekali!"

Di bawah dua patah kata tersebut jelas masih ada perkataan lain, pemuda berbaju kasar itu justru sedang menantikan kata-kata selanjutnya.

Orang jujur biasanya tidak banyak berbicara, pun tidak banyak bertanya......

Betul juga, ternyata Siau Te yang berkata lebih jauh.

"Di tempat ini paling tidak masih ada orang yang tiada perselisihan maupun dendam sakit hati dengannya"

"Siapakah dia?", tanya Wan Ji-im.

"Itulah orang yang seharusnya membayar rekening, tapi nyatanya setahil perakpun tidak ia miliki"

"Apakah kami semua mempunyai dendam kesumat dengannya?"

"Agaknya memang ada sedikit!"

"Dendam macam apakah itu? Dan perselisihan macam apa pula yang kau maksudkan?"

"Bukankah kalian bersaudara mempunyai seorang paman yang disebut orang persilatan sebagai Cian-hong-kiam-kek (Jago pedang selaksa merah)?"

"Benar!", sahut Wan Ji-im.

"Bukankah Cho kongcu ini juga mempunyai seorang kakak yang bernama Peng......?, tanya Siau Te lebih jauh.

"Benar!"

"Bukankah mereka berdua telah tewas dalam perkampungan Sin-kiam-san-ceng....?"

Paras muka Wan Ji-im segera berubah hebat.

"Apakah orang yang kau maksudkan tadi adalah......."

"Ya, dia tak lain adalah Sam sauya dari perkampungan Sin-kim-san-ceng di lembah Cui-im-kok, telaga Liok-sui-oh, atau yang lebih di kenal sebagai Cia Siau-hong!"

"Criiiiing!", pedang Cho Han-giok telah diloloskan dari sarungnya, dua bersaudara Wan telah meraba pula gagang pedang mereka.

"Kaukah Cia Siau-hong?"

"Ya, benar!"

Cahaya pedang berkelebat lewat, tiga bilah pedang telah mengurung rapat Cia Siau-hong.

Paras muka Cia Siau-hong sama sekali tidak berubah, tapi ciangkwe gemuk itu sudah ketakutan setengah mati sehingga paras mukanya berubah menjadi pucat kehijau-hijauan.

Tiba-tiba Siau Te maju ke depan dan menarik ujung bajunya, lalu bertanya dengan suara lirih.

"Tahukah kau, cara apa yang terbaik untuk makan gratis tanpa digebuki orang lain?"

Ciangkwe gemuk itu menggelengkan kepalanya berulang kali. Siau Te segera tertawa, jawabnya.

"Caranya cukup sederhana, carilah beberapa orang untuk melangsungkan pertarungan sengit, bila suasana telah menjadi kalut, maka secara diam-diam kaupun kabur dari tempat itu!"

OoooOOOOoooo Bab 20.

Pemberani Tak Akan Jeri Siau Te telah ngeloyor pergi.

Ketika ia mengatakan hendak kabur, ia betul-betul telah kabur dengan cepat, menunggu si ciangkwe gendut berpaling kembali, bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas.

Dalam keadaan begini, ciangkwe gemuk itu tak bisa berbuat lain kecuali tertawa getir.

Dia bukannya tidak tahu cara tersebut, dulu pernah ada orang yang melakukan cara yang sama, dan kemudian haripun pasti masih ada orang yang akan menggunakan cara tersebut.

Sebab cara itu memang paling manjur untuk dipergunakan makan gratis.

Tengah hari di sebuah jalan raya yang amat panjang.

Dengan menyelusuri bayangan gelap di bawah wuwungan rumah, Siau Te berjalan menuju ke depan.

Setelah melepaskan diri dari kuntitan Cia Siau-hong, sesungguhnya adalah suatu peristiwa yang patut digembirakan, tapi ia sama sekali tidak berperasaan demikian.

Dia hanya ingin lari ke tana lapang yang luas dan berteriak-teriak seorang diri, diapun ingin lari ke puncak bukit yang tinggi dan menangis sepuas-puasnya.

Mungkin hanya dia seorang yang tahu kenapa ia dapat berpikir demikian, bahkan mungkin dia sendiripun tak tahu.

Dapatkah Cia Siau-hong melayani tiga orang anak jadah cilik yang sepasang matanya hanya berada di atas kepala?

Siapa menang siapa kalah, apa pula sangkut pautnya dengan diriku?

Sekalipun mampus semua, hanya bapak dan emak mereka yang akan menangisi kematiannya, tapi kalau aku mati, siapa pula yang akan meneteskan air mata bagiku?

Tiba-tiba Siau Te tertawa, tertawa terbahak-bahak.

Semua orang di jalanan berpaling ke arahnya, memandangnya dengan terperanjat, mereka menganggapnya sebagai orang gila.

Tapi ia sendiri sedikitpun tidak ambil perduli, orang lain mau menganggap dirinya sebagai manusia macam apapun, dia tak akan ambil perduli.

Sebuah kereta besar berjalan lewat dari tikungan jalan raya sebelah depan sana, kereta itu dihela oleh dua ekor kuda.

Badan keretanya masih baru dan berwarna hitam, masih mengkilap seperti sebuah cermin.

Sebuah panji kecil berwarna merah tersembul di antara daun jendelanya.

Sang kusir yang mengenakan ikat pinggang berwarna merah duduk di tempatnya dengan angkuh dan jumawa, cambuknya di ayunkan berulang kali, gayanya sok benar.

Tiba-tiba Siau Te menerjang ke depan menghadang di depan kuda, karena kemunculan yang tibatiba itu, sang kuda segera meringkik panjang dan mengangkat ke dua belah kakinya ke atas.

Tentu saja kusirnya mencaci maki penuh kegusaran, sambil mengayunkan cambuknya ia berteriak.

"Hei, bajingan cilik! Kau ingin mampus?"

Siau Te masih belum ingin mampus, iapun tak ingin dimakan cambuk, maka tangan kirinya segera menahan gagang cambuk tersebut, kontan sang kusir terjengkang ke tanah dan keretapun berhenti.

Dari balik jendela kereta muncul sebuah kepala manusia, itulah wajah yang garang dengan rambut yang tersisir rapi dan sepasang mata yang buas penuh keseraman.

Siau Te maju menghampirinya, setelah menarik napas panjang-panjang ia bergumam.

"Ehmm.....rambut yang indah, harum....semerbak.....seperti bunga melati!"

"Mau apa kau, kunyuk kecil?", bentak orang itu sambil melotot gusar ke arahnya.

"Aku mau mati!"

"Heehhh..... heeehhh... heehhhh... itu mah gampang!", kembali orang itu berseru setelah tertawa dingin. Siau Te tersenyum.

"Aku memang tahu bahwa aku sudah mencari tempat yang benar, menemukan orang yang benar"

Kemudian ditatapnya sekejap sepasang tangan laki-laki kekar itu beserta otot hijau yang menonjol keluar serta jari tangan yang besar lagi kasar.

Hanya manusia bertenaga gwakang yang sudah berpengalaman dalam melangsungkan pertarungan baru memiliki sepasang tangan semacam ini.

Tangan tersebut mungkin tak becus untuk melakukan pekerjaan yang lain, tapi untuk mematahkan tengkuk orang, jelas hal ini bukan suatu pekerjaan yang menyulitkan.

Siau Te menjulurkan lehernya dan membuka pintu kereta, lalu sambil tersenyum katanya.

"Silahkan!"

Orang itu malah berubah agak sangsi, bagaimanapun jua memang tidak banyak manusia di dunia ini yang tanpa sebab datang menghantar kematiannya sendiri.

Dalam ruang kereta masih terdapat seorang perempuan yang mendekam di lantai kereta bagaikan kucing, ia sedang memperhatikan Siau Te dengan sepasang matanya yang indah bagaikan sinar rembulan.

Tiba-tiba sambil tertawa cekikikan perempuan itu berkata.

"Kalau toh dia ingin mati, kenapa kau tidak penuhi saja harapannya itu? Sejak kapan sih Oh-toaya berubah menjadi seorang pengecut yang untuk membunuh orangpun tak berani?"

Suaranya seperti pula orangnya, lemah lembut penuh kemanjaan, tapi di balik kelembutan itu justru terselip sindiran yang lebih tajam dari pada kucing.

Sinar buas segera mencorong ke luar dari balik mata Oh-toaya, katanya kemudian dengan dingin.

"Sedari kapan kau pernah menyaksikan aku Oh Hui membunuh seorang manusia tanpa nama seperti dia?"

Si gadis seperti kucing itu tertawa cekikikan.

"Dari mana kau bisa tahu kalau dia adalah manusia tanpa nama? Betul usianya masih muda, tapi tidak sedikit kan orang muda yang punya nama lebih besar darimu? Siapa tahu kalau dia adalah Cho Han-giok dari Bu-tong-pay, atau mungkin juga dia adalah Toa sauya dari keluarga Wan asal Kanglam? Ya, sudah pasti dalam hati kecilmu jeri kepadanya, maka kau tak berani turun tangan secara gegabah"

Selembar wajah Oh Hui seketika berubah menjadi merah padam.

Gadis itu memang lembut dan menggemaskan, tapi setiap patah katanya justru mengena dasar hatinya.

Ia tahu Cho Han-giok dan dua bersaudara Wan telah tiba di situ, bila pemuda tersebut tak punya asal usul yang besar, kenapa ia berani kurang ajar dihadapannya?

Tiba-tiba Siau Te berkata.

"Bukankah Oh toaya ini adalah Thi-cing (Telapak tangan baja) Oh Hui dari perusahaan ekspedisi Hong-ki-piaukiok?"

Oh Hui segera membusungkan dadanya dan menjawab dengan lantang.

"Sungguh tak kusangka kalau kau masih mengenali juga diriku!"

Bila seorang jago persilatan mendengar orang lain dapat menyebutkan nama besarnya, sedikit banyak dalam hatinya tentu akan timbul rasa bangga, apalagi kalau pihak lawan bisa di bikin merat setelah mengetahui nama besarnya, tentu saja hal ini jauh lebih baik lagi.

Siau Te menghela napas panjang, katanya lagi.

"Aku sendiripun tidak menyangka"

"Tidak menyangka apa?"

"Tidak menyangka kalau perusahaan ekspedisi Hong-ki-piaukiok bisa memiliki daya pengaruh yang begini besarnya dengan kekuasaan yang begini hebatnya, sehingga seorang piausu kecil dalam perusahaanpun berani memperlihatkan gaya yang begini soknya!"

Ya, berbicara sesungguhnya, kuda jempolan dengan kereta yang indah ditambah gadis yang cantik, tak mungkin bisa dimiliki oleh seorang piausu biasa seperti dia.

Betul, Hong-ki-piaukiok mempunyai nama yang besar, betul congpiautaunya Thi-khi-kuay-kiam (Si Pedang Kilat) Thi Tiong-khi dengan ilmu Tui-hong-jit-cap-ji-si (Tujuh puluh dua gerakan pengejar angin) dan Ji-cap-pwe-ci-cuan-im-cian (Dua puluh delapan batang panah penembus awan) nya menggetarkan dunia persilatan, tapi bekerja sebagai piautau dalam suatu perusahaan ekspedisi, paling banyakpun gaji bulanannya cuma beberapa puluh tahil perak saja.

Paras muka Oh Hui semakin merah oleh ucapan tersebut, dengan gusar katanya.

"Aku mau sok atau tidak, apa pula sangkut pautnya dengan dirimu?"

"Ooooh....sama sekali tak ada sangkut pautnya!"

"Kau she apa? Bernama siapa? Berasal dari mana?"

"Aku tak punya she maupun nama, akupun tak punya asal usul, aku....aku......"

Sebenarnya soal itu merupakan soal yang paling menyakitkan hatinya, walaupun perkataannya tidak menyinggung orang lain, tapi justru telah menyinggung diri sendiri.

Seperti misalnya Cho Han-giok yang merupakan keturunan orang ternama, bila ia musti menyinggung soal asal-usul sendiri, tentu saja tak akan timbul perasaan pedih seperti yang dialaminya.

Oh Hui segera merasakan hatinya lega, dengan suara keras bentaknya.

"Walaupun aku tidak membunuh manusia tanpa nama, tapi hari ini bisa saja aku melanggar kebiasaan itu"

Seperti anak panah yang terlepas dari busurnya, ia melompat ke luar dari kereta itu, sepasang telapak tangannya di bacok bersama membabat tenggorokan Siau Te.

"Walaupun kau bersedia melanggar kebiasaan, tapi sekarang aku telah berubah pikiran, aku jadi tak ingin mati!", seru Siau Te. Ketika beberapa patah kata itu selesai diucapkan, ia sudah menghindarkan diri dari ke dua puluh jurus serangan Oh Hui, tiba-tiba badannya berputar dan....."Criiit!", ketika jari tangannya disentil keluar, ujung jarinya segera menotok telak di atas pinggang Oh Hui. Seketika itu jua Oh Hui merasakan separuh badannya menjadi kaku, pinggang bagian bawah mana linu mana lemas, tak ampun lagi ia jatuh berlutut di atas tanah. Gadis seperti kucing itu kembali tertawa cekikikan, katanya tiba-tiba.

"Oh toa-piautau, kenapa secara tiba-tiba kau jadi begitu banyak adat......?"

"Kau.....kau perempuan rendah yang tak tahu malu.....pagar makan tanaman.....", jerit Oh Hui sambil menggigit bibir menahan rasa bencinya yang meluap.

"Eeeehh....eeeeh....siapa yang pagar makan tanaman? Aku makan apamu?", seru gadis seperti kucing itu.

"huuuuhh....cuma seorang piausu kecil yang tak punya apa-apa, kau kira mampu untuk memelihara aku?"

Kemudian sambil berpaling ke arah Siau Te, ia berkata lebih jauh.

"Barusan, hanya satu hal yang kau salah menduga!"

"Oya?"

"Selama ini adalah aku yang memeliharanya, bukan dia yang memelihara aku!"

Oh Hui membentak amat gusar, dia ingin menubruk ke depan, tapi tubuhnya kembali roboh ke tanah.

"Belakangan ini kau makan terlalu banyak, badan gemuk semacam kau paling baik kalau mengurangi naik kereta dan memperbanyak berjalan kaki", kata gadis seperti kucing itu. Lalu dengan sepasang matanya yang jeli seperti rembulan, ia melirik sekejap ke arah Siau Te, kemudian katanya.

"Tapi akupun merasa takut jika musti naik kereta seorang diri, menurut kau apa yang musti kulakukan?"

"Inginkah kau mencari seorang teman yang bersedia menemanimu?"

"Tentu saja ingin, bahkan inginnya setengah mati, tapi di sini aku merasa sing, siapapun tidak kenal, kemana aku musti mencari seorang teman yang bersedia menemani aku?"

"Tak usah jauh-jauh, di sinipun ada!"

"Siapa?"

"Aku!"

Sambil berlutut di tanah, Oh Hui menyaksikan Siau Te naik ke dalam kereta, menyaksikan kereta itu pergi dengan menimbulkan debu yang tinggi, tapi tidak melihat kalau ada seorang lain, tanpa menimbulkan sedikit suarapun telah muncul di belakang tubuhnya.

Ruangan kereta penuh dengan bau harum semerbak yang memabukkan.

Sambil mengangkat sepasang kakinya ke atas Siau Te duduk di sebuah kursi yang empuk sambil memandang si gadis seperti kucing yang lagi mendekam di sudut kereta.

Gadis itupun sedang memandang ke arahnya, tiba-tiba ia berkata.

"Sebetulnya siapakah yang sedang mengejarmu dari belakang? Kenapa membuatmu sedemikian takutnya?"

Siau Te sengaja berlagak tak mengerti, katanya.

"Siapa yang bilang kalau aku sedang di kejar orang?"

Gadis seperti kucing itu tertawa.

"Walaupun kau bukan orang baik, tapi tak nanti merampas kereta orang tanpa sebab, kau sengaja mencari gara-gara dengan Oh Hui oleh karena kau justru tertarik oleh bendera merah di atas kereta tersebut. Bersembunyi di dalam kereta milik Hong-ki-piaukiok bagaimanapun jua jauh lebih aman dibandingkan bersembunyi di tempat lain"

Sepasang matanya memang lebih tajam dari mata kucing. Dalam sekilas pandangan ia dapat menebak apa yang sedang direncanakan orang lain.

"Dari mana kau bisa tahu kalau aku tertarik oleh panji merah di atas kereta, dan bukannya tertarik oleh kecantikanmu?", kata Siau Te sambil tertawa. Gadis seperti kucing itu ikut tertawa.

"Bocah yang menyenangkan hati, sungguh manis selembar bibirmu itu!", bisiknya. Ia berkedip-kedip sambil mempermainkan bola matanya, kemudian ujarnya kembali.

"Kalau kau memang tertarik olehku, mengapa tidak mendekatiku dan membopong tubuhku?"

"Aku takut!"

"Apa yang musti kau takuti?"

"Aku takut di kemudian haripun kau akan meninggalkan aku, seperti kau lagi membuang ingus!"

Gadis seperti kucing itu tertawa cekikikan.

"Aku hanya membuang laki-laki yang pada dasarnya memang seperti ingus, apakah kau juga lakilaki seperti ingus?"

"Agaknya tidak!"

Tiba-tiba ia sudah duduk di sisinya dan sekejap kemudian telah membopong tubuhnya bahkan kemudian memeluknya erat-erat.

Dengan pengalaman hidupnya yang penuh kesengsaraan dan penderitaan, semenjak kecil dalam hatinya telah tertanam rasa tak puasnya terhadap segala persoalan, karena itu setiap perbuatan yang dilakukan tanpa mempergunakan otak yang waras.

Karena itu jangan heran kalau sepasang tangannya tidak jujur......

Tiba-tiba gadis seperti kucing itu menarik muka, lalu berkata dengan dingin.

"Sungguh besar amat nyalimu!"

"Nyaliku selamanya memang tak pernah kecil!", jawab Siau Te.

"Tahukah kau siapa aku ini?"

"Kau adalah seorang gadis, seorang gadis yang cantik jelita!"

"Gadis yang cantik kebanyakan sudah menjadi milik orang lelaki, kau tahu aku adalah perempuannya siapa?"

"Aku tak perduli dulu kau milik siapa, pokoknya sekarang kau adalah mutlak milikku!"

"Tapi....tapi.....bahkan siapa namamu pun aku tak tahu"

"Aku tak punya nama, aku....aku adalah seorang anak jadah yang tak punya ayah tak punya ibu!"

Menyinggung kembali persoalan ini, segulung rasa sedih dan benci kembali menyerbu ke luar dari dasar hatinya.

Ia merasa di dunia ini belum pernah ada orang yang memandang berharga dirinya, lalu kenapa pula ia musti menghargai orang lain?

Gadis seperti kucing itu memperhatikan terus perubahan wajahnya, muka yang tampan itu sudah memerah, seperti lagi malu, seperti juga lagi ketakutan, dengan suara gemetar ia lantas berbisik.

"Apa yang sedang kau pikirkan dalam hatimu? Bukankah kau hendak memperkosa aku?"

"Benar!"

Kepalanya sudah dijulurkan ke depan, mencari bibirnya yang mungil........

Tapi......"Kraaaak", daun jendela terbuka sendiri, seakan-akan terhembus angin, tapi menanti ia mendongakkan kepalanya, dihadapannya telah bertambah lagi dengan seseorang, wajahnya yang pucat tercermin rasa sedih yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Siau Te segera menghela napas panjang.

"Aaaai.......lagi-lagi kau telah datang!", keluhnya.

"Ya, aku telah datang kembali!", jawab Cia Siau-hong. Ruang kereta itu sangat luas, sebetulnya paling tidak bisa muat enam orang, tapi sekarang walau hanya tiga orangpun sudah terasa sesak sekali.

"Aku tahu sejak kecil dulu kau adalah seorang kongcu romantis, perempuan simpananmu tak terhitung jumlahnya", kata Siau Te. Cia Siau-hong tidak menyangkal. Tiba-tiba Siau Te melompat bangun, kemudian teriaknya keras-keras.

"Kenapa kau tak pernah mengijinkan akupun mempunyai seorang perempuan? Apakah kau berharap agar selama hidup aku menjadi seorang hweesio.....?"

Mimik wajah Cia Siau-hong segera menampilkan suatu perubahan yang sangat aneh, lewat lama sekali ia baru berkata.

"Kau tak perlu menjadi hweesio, tapi perempuan ini tak boleh kau jamah.......!"

"Kenapa?", teriak Siau Te penasaran. Gadis seperti kucing itu mendadak menghela napas.

"Aaaaai......karena aku adalah miliknya!", ia berbisik. Paras muka Cia Siau-hong pucat pias seperti mayat. Gadis seperti kucing itu sudah duduk kembali sambil meraba pipinya, dengan lembut ia berkata.

"Beberapa tahun sudah kita tak bersua, kau lebih kurus dari dulu, apakah dikarenakan perempuanmu terlalu banyak? Ataukah kau menjadi kurus karena memikirkan aku?"

Cia Siau-hong tidak bergerak, iapun tidak berbicara.

Siau Te mengepal sepasang tinjunya kencang-kencang, memandang adegan di depan matanya, iapun tidak bergerak, iapun tidak bersuara.

Gadis seperti kucing itu kembali berkata.

"Kenapa kau tidak beritahu kepada adik kecil ini, siapakah aku dan apakah hubunganku denganmu?"

Tiba-tiba Siau Te tertawa, tertawa terbahak-bahak.

"Apa yang kau tertawakan?", tegur gadis seperti kucing itu.

"Aku lagi mentertawakan kau sedari tadi aku sudah tahu siapakah kau, buat apa kau musti menyuruh orang lain yang memberitahukannya kepadaku?"

"Kau benar-benar tahu siapakah aku?"

"Ya, kau adalah seorang pelacur!"

Kemudian sambil tertawa keras ia mendobrak pintu kereta dan melompat keluar.

Sambil tertawa keras, ia kabur terus tanpa tujuan.

Apakah Cia Siau-hong masih juga akan mengikutinya?

Apakah orang di sepanjang jalan akan menganggapnya sebagai orang gila?

Sekarang ia tak ambil perduli.

Ia kabur kembali ke pusat kota, merek emas 'Cong-goan-lo' masih memancarkan sinarnya seperti sedia kala.

Ia menerjang masuk ke dalam, menerjang naik ke atas loteng.

Di atas loteng tiada darah, tiada mayat, pun tiada bekas-bekas suatu pertarungan, hanya ciangkwe gemuk masih berdiri di atas loteng, dan memandang keadaannya dengan terkejut.

Barusan Cho Han-giok dan dua bersaudara dari keluarga Wan kena dihajar sampai kabur?

Ataukah sama sekali tak sampai terjadi pertarungan?

Siau Te tidak bertanya, ia lalu menyeringai kepada ciangkwe gendut sambil katanya.

"Si tukang makan gratis kembali datang, tolong siapkan satu porsi sayur seperti apa yang pernah ku pesan tadi, atau kalau tidak, kuhancurkan rumah makan Cong-goan-lo ini. Meja perjamuan kembali dipersiapkan. Delapan macam sayur, empat hidangan daging, empat hidangan sayuran telah dihidangkan untuk teman minum arak, kemudian menyusul enam macam hidangan utama, yang terdiri dari Udang Bago, Yan-oh, Hi-sit, ayam komplit, bebek komplit dan babi komplit, semacampun tak ada yang kurang. Tapi kali ini hanya sesumpitpun Siau Te tidak mencobanya. Dia minum arak. Satu guci arak Tiok Yap-cing yang terdiri dari dua puluh kati, hampir diteguknya tinggal setengah guci dalam waktu singkat. Ia sudah hampir mabuk oleh arak. Tapi dimanakah Cia Siau-hong? Kenapa Cia Siau-hong tidak ikut datang? Apakah ia sedang menemani pelacur itu tidur? Ya, bila ada seorang perempuan macam begitu yang menemaninya, kenapa ia musti datang lagi? Siau Te tertawa lagi, tertawa tergelak-gelak. Tiba-tiba dari luar loteng berkumandang suara roda kereta yang amat nyaring, serombongan kereta perusahaan pengawalan barang sedang berjalan di jalan raya. Ada kereta barang, ada pula panji perusahaan. Piau-ki atau panji perusahaan merupakan pelindung bagi orang melakukan pengawalan, panji merupakan pula kebanggaan dari perusahaan pengawalan barang, panji yang berkibar pada kereta-kereta barang itu ternyata adalah Hong-ki (Panji merah). Merah sekali warnanya, jauh melebihi merahnya darah. Panji besar yang berkibar pada kereta barang pertama bersulamkan sebuah huruf "Thi"

Yang sangat besar.

Pada kebalikannya terukirlah sebilah pedang, pedang yang bersinar kilat serta dua puluh delapan batang panah penembus awan.

Itulah panji komando dari congpiautau perusahaan pengawalan Hong-ki-piaukiok.

Bila panji itu tampak berkilat, itu berarti barang kawalannya kali ini dikawal langsung oleh Thi-khi-kuay-kiam, si pedang kilat pribadi......

Bila panji tersebut sedang berkibar, maka para orang gagah dari golongan rimba hijau yang berada di sekitar tempat itu, meski tak perlu menyingkir jauh-jauh, tiada orang pula yang mengusik atau mengganggu barang kawalannya.

Justru karena ada panji itulah, maka pada delapan belas propinsi di utara dan selatan sungai besar berdiri sebaris kantor-kantor cabang dari perusahaan Hong-ki-piaukiok.

Oleh sebab itulah dalam hal ini bukan cuma menyangkut martabat serta nama baik dari seseorang saja, tapi mempengaruhi juga mangkuk kehidupan dari dua ribu lebih anggota keluarga anak buahnya yang bekerja pada delapan belas perusahaan tersebut.

Perduli siapapun berani mencemooh panji tersebut, maka dua ribu lebih anggota perusahaan Hong-ki-piaukiok akan mempertaruhkan jiwa raganya untuk melakukan pembelaan.

Sebab, siapapun yang berani mengganggu perusahaan itu, berarti pula mengganggu nafkah pencarian dari dua ribu orang lebih, berarti mempengaruhi soal isi perut anggota keluarga dari dua ribu orang anggotanya, siapa yang tak akan beradu jiwa, siapa yang tak akan menjadi nekad, bila hal tersebut sudah menyangkut soal perut?

Siau Te kembali tertawa, tertawa tergelak-gelak, seperti secara tiba-tiba saja ia teringat akan suatu kejadian yang lucu dan menarik hatinya.

Di tengah gelak tertawa yang keras, ia telah melompat turun dari atas loteng itu dan menerjang masuk ke tengah barisan kereta barang, kemudian sekali tinju ia hajar piausu pelindung panji hingga terjungkal ke tanah.

Belum puas sampai di situ, tubuhnya kembali melejit ke udara, disambarnya panji perusahaan itu, lalu sekali menggetarkan sepasang tangannya, panji kebesaran dari perusahaan Hong-ki-piaukiok yang sudah termashur namanya di utara dan selatan sungai besar itupun patah menjadi dua bagian.

Ia membuang panji yang sudah patah itu dan diinjak-injak dengan kakinya hingga hancur.

ooooOOOOoooo Bab 21.

Membunuh Tiada Ampun Suara roda kereta yang berputar, suara derap kaki kuda yang ramai, suara teriakan petugas mencari jalan, tiba-tiba berhenti serentak dalam waktu yang hampir bersamaan.

Awan gelap menyelimuti sang surya di angkasa, serentetan kilat melejit di balik awan, dan suara guntur menggelegar memecahkan kesunyian, menggetarkan perasaan orang dan memekakkan telinga siapapun.

Tapi semua orang seolah-olah sudah tidak mendengar suara guntur lagi, semua orang berdiri tertegun dengan mata terbelalak lebar, dengan mata setengah melotot mereka awasi pemuda di atas atap kereta, serta panji kebesaran mereka yang patah dan robek akibat diinjak-injak.

Tak seorangpun yang pernah menduga bahwa peristiwa semacam ini bisa menimpa diri mereka, tak ada orang yang bisa menduga kalau dalam dunia dewasa ini betul-betul masih terdapat manusia gila yang tak doyan hidup semacam dia, sehingga berani melakukan perbuatan semacam itu.

Piausu pelindung panji yang kena ditinju hingga terjungkal dari pelana kudanya itu sudah meronta dan merangkak bangun dari tanah.

Orang itu she Thio bernama Si, sudah dua puluh tahun melakukan pengawalan barang, selamanya ia melakukan pekerjaan dengan ulet dan teliti.

Selama lebih dua puluh tahun hidup bergelimpangan di ujung golok, entah berapa banyak sudah kejadian besar yang pernah di alaminya, karena ketenangan dan keuletannya menghadapi setiap persoalan, maka rekan-rekannya menghadiahkan sebuah julukan Si-sim-bok-tau-jin (Manusia kayu berhati ulet) kepadanya.

Itu bukan berarti dia bodoh, dungu dan tak berguna, tapi menunjukkan bahwa dalam menghadapi persoalan apapun, dia dapat menjaga ketenangannya dan menghadapinya dengan hati yang tenang.

Tapi sekarang, Si-sim-bok-tau-jin sendiripun berdiri dengan wajah pucat dan sekujur tubuhnya gemetar keras.

Peristiwa ini benar-benar di luar dugaan siapapun, terlalu mengejutkan hati orang, kejadian itu berlangsung begitu mendadak sehingga semua orang menjadi gelagapan serta tak tahu apa yang musti dilakukan.

Waktu kejadian berlangsung, setiap orang merasakan hatinya sangat kalut, kalu tidak sekalipun Siau Te memiliki kepandaian silat yang luar biasapun, belum tentu akan berhasil dengan serangannya, sekalipun beruntung bisa membawa hasil yang diharapkan, sekarangpun tubuhnya pasti telah dicincang menjadi berkeping-keping.

Menyaksikan perubahan paras muka dari orang-orang itu, bahkan Siau Te sendiripun tak mampu tertawa, dia cuma merasa ada segulung hawa dingin yang menusuk tulang muncul dari dasar alas kakinya dan menerjang naik ke atas kepala, seluruh tubuhnya menjadi dingin, kaku dan bahkan mulai menggigil.

Kembali guntur menggelegar membelah angkasa.

Di tengah menggelegarnya guntur yang keras, lamat-lamat seperti terdengar ada orang menyerukan kata "bunuh!", menyusul kemudian suara gemerincing berkumandang memecahkan keheningan, puluhan bilah golok dan pedang bersama-sama diloloskan dari sarungnya.

Suara nyaring yang berkumandang kali ini, kedengarannya jauh lebih mengerikan dari pada suara guntur yang menggelegar di tengah hari tadi.........

Cahaya golok mengkilap bersama, lalu meluncur datang dari depan, belakang, kiri, kanan, empat arah, delapan penjuru.

Meskipun langkah kaki mereka amat cepat tapi teratur dan tidak kacau, dalam sekejap mata kereta kuda tersebut telah berada dalam kepungan.

Cukup berdasarkan barisan penyerang yang melakukan pengepungan secara teratur ini, bisa diketahui bahwa nama besar Hong-ki-piaukiok bukan diperoleh secara kebetulan saja.

Thio Si pun lambat laun dapat menenangkan kembali hatinya, empat puluh tiga orang piausu dan peneriak jalan dari perusahaannya sedang menunggu dirinya, asal ia memberi komando, maka golok dan pedang akan diayunkan bersama untuk mencincang tubuh lawan, darah segar segera akan berhamburan membasahi permukaan tanah.

Dalam keadaan demikian, Siau Te malah tertawa.

Ia sama sekali tidak takut.

Pada hakekatnya dia memang datang untuk mencari kematian, walaupun tadi ia masih rada tegang dan takut, tapi sekarang perasaannya malah begitu kendor, begitu gembira hingga sukar dilukiskan dengan kata-kata.

.......Seluruh kejayaan, kenistaan, budi maupun dendam yang membuat pusing orang dalam jagad, kini sudah terbuang jauh-jauh dari pikirannya.

.......Aku adalah seorang sinting juga boleh, seorang anak jadah yang tidak berayah dan beribu juga boleh, semuanya tak menjadi soal lagi baginya.

Dengan amat santainya ia mulai duduk di atas atap kereta, kemudian sambil tertawa terbahakbahak serunya.

"Senjata kalian telah diloloskan dari sarung, kenapa tidak datang ke mari untuk membunuhku?"

Persoalan ini merupakan persoalan yang semua orang ingin tanyakan kepada Thio Si, sebab dalam perusahaan ia terhitung orang paling tua, paling berpengalaman, setiap kali congpiauthau tak di rumah, maka para piausu selalu menganggapnya sebagai pemimpin mereka.

Thio Si masih agak sangsi, ia berkata.

"Bukan suatu masalah yang sulit untuk membunuhmu, dalam sekali bergerak saja mungkin tubuhmu sudah akan kami cincang dan hancur berkeping-keping, cuma saja....."

"Cuma saja kenapa?", seorang piausu bersenjata Siang-bun-kiam yang berada di sampingnya segera bertanya. Thio Si termenung sejenak, lalu sahutnya.

"Aku lihat orang ini memang bermaksud datang untuk menghantar kematiannya sendiri!"

"Kalau memang begitu, lantas apa yang musti kita lakukan?"

"Bila orang itu berniat buruk untuk mati, maka di balik persoalan itu pasti ada rahasia lain yang bagaimanapun juga musti kita selidiki dulu sampai jelas, apalagi siapa tahu kalau di belakangnya masih ada orang lain yang mendalangi perbuatannya ini"

Piausu bersenjata Siang-bun-kiam itu segera tertawa dingin.

"Kalau begitu mari kita lenyapkan dulu sepasang tangan dan kakinya sebelum memikirkan yang lain"

Pedangnya segera dikembangkan, lalu menerjang ke muka paling dulu.

Ia menusuk jalan darah Huan-tiau-hiat di atas lutut Siau Te.

Siau Te sedikitpun tidak takut mati, tapi sebelum ajalnya tiba, ia enggan dihina orang, tiba-tiba tubuhnya mencelat ke udara, lalu menendang pedang lawan.

~Bersambung ke Jilid-14 Jilid-14 Tendangan yang dilancarkan secara tiba-tiba itu menyambar tanpa menimbulkan bayangan, itulah ilmu Hui-ti-liu-seng-tiok (Tendangan kilat kaki meteor), salah satu ilmu sakti dari tujuh ilmu sakti lainnya milik dari keluarga Buyung di daerah Kanglam, jangankan hanya manusia, ibaratnya meteorpun bisa ditendangnya, jadi bisa dibayangkan betapa cepatnya tendangan tersebut.

Tapi kecuali pedang siang-bun-kiam tersebut, masih ada dua puluh tujuh bilah golok kilat dan lima belas bilah senjata tajam yang sedang menantikan dirinya.

Sewaktu pedang siang-bun-kiam itu mencelat ke belakang, ada tiga bilah golok dan dua bilah pedang telah menusuk tiba, yang ditusuk adalah bagian-bagian tubuhnya yang mematikan.

Cahaya golok beterbangan seperti menari, cahaya pedang menyambar seperti rantai, tiba-tiba terdengar........."Triiiiiing!", ketiga bilah golok dan dua bilah pedang itu mendadak telah patah semua menjadi dua bagian.

Ujung golok mata pedang segera rontok jatuh ke bawah, menyusul menggelinding lewat dua biji benda bulat yang melejit-lejit di atas atap kereta dan menggelinding ke bawah.

Ternyata dua biji benda bulat itu adalah dua biji mutiara.

Sekarang, di atas atap kereta telah bertambah seseorang, dia berwajah pucat dan di tangannya masih membawa sekuntum bunga mutiara yang biasanya dipakai untuk menghias rambut kaum wanita, cuma bagi orang yang bermata tajam, dengan cepat akan diketahui bahwa butiran-butiran mutiara itu telah berkurang lima butir.

Lima bilah senjata telah patah, tapi suara yang terdengar hanya sekali, ternyata orang ini telah mempergunakan lima biji mutiara yang kecil untuk mematahkan lima bilah senjata dalam waktu yang hampir bersamaan.

Sebagian besar pekerja dalam perusahaan pengawalan barang rata-rata adalah jago kawakan yang luas dalam pengalaman, tapi kepandaian semacam itu bukan saja tak pernah dilihatnya, bahkan dibayangkanpun belum pernah.

Suara guntur kembali menggelegar di udara, hujan deras mulai turun mengguyur seluruh permukaan tanah.

Orang itu masih berdiri tak bergerak di tempat semula, wajahnya yang kaku seakan-akan sama sekali tidak beremosi.

Dengan dingin Siau Te memandang ke arahnya, lalu berkata.

"Lagi-lagi kau yang datang!"

"Ya, lagi-lagi aku yang datang!", orang itu menyahut. Hujan deras turun dengan hebatnya, butiran-butiran air hujan menitik di atas wajah dan kepala mereka serta membasahi sekujur tubuhnya, wajah-wajah itu entah memancarkan rasa sedihkah? Gembirakah? Gusarkah? Atau benci? Siapapun tak dapat melihatnya. Semua orang hanya tahu bahwa orang itu pastilah seorang jago tangguh yang ilmu silatnya sukar diukur dengan kata-kata, orang itu pasti mempunyai hubungan yang erat sekali dengan pemuda yang telah mematahkan panji perusahaan mereka. Thio Si berhasil menghalangi rekan-rekannya untuk maju, bahkan piausu bersenjata siang-bunkiam yang masih penasaranpun tak berani berkutik lagi secara sembarangan, dia hanya bertanya.

"Sobat, siapakah namamu?"

"Aku she Cia!"

Paras muka Thio Si segera berubah hebat, jago lihay yang berasal dari marga Cia cuma satu.

"Apakah kau datang dari perkampungan Sin-kiam-san-ceng, lembah Cui-im-kok, telaga Liok-suioh?"

"Benar!"

"Apakah kau adalah Sam sauya dari keluarga Cia?", suara Thio Si kedengaran makin gemetar.

"Ya, akulah Cia Siau-hong!"

Cia Siau-hong Tiga suku kata ini bagaikan sebuah 'Hu' atau ajimat yang bisa mengusir gangguan dari pelbagai siluman.

Ketika mendengar nama itu, tak seorang manusiapun berani berkutik lagi.

Tiba-tiba seseorang berlarian datang di tengah curahan hujan deras sambil teriaknya keras-keras.

"Congpiautau telah datang......congpiautau telah datang........."

Tiga puluh tahun berselang, ketika para penyamun dari delapan belas markas bukit Lian-san sedang jaya-jayanya meraja-lela, tiba-tiba muncul seseorang dengan seekor kuda yang datang menyatroni bukit mereka.

Dengan sebilah pedang perak dan dua puluh delapan panah penembus awannya ia berhasil menyapu rata delapan belas markas penyamun di bukit Lian-san rata dengan tanah, ada sembilan belas luka besar dan kecil yang di deritanya ketika itu.

Tapi ia belum sampai mati, ternyata ia masih memiliki sisa tenaga untuk mengejar Pa Thian-pa, penyamun paling ganas dari gerombolan bukit Lian-san yang sempat melarikan diri.

Setelah menempuh perjalanan sehari semalam lamanya, ia berhasil juga memenggal batok kepala Pa Thian-pa pada suatu tempat delapan ratus li jauhnya dari bukit semula.

Orang itu bukan lain adalah Congpiautau dari perusahaan Hong-ki-piaukiok Thi-khi-kuay-kiam (si pedang kilat) Thi Tiong-khi, pemilik dari perusahaan pengawalan barang itu.

Maka ketika mereka semua mendengar bahwa congpiautau-nya telah datang, empat puluhan orang piausu dan peneriak jalan bersama-sama menghembuskan napas lega.

Mereka semua percaya bahwa congpiautau-nya pasti dapat menyelesaikan persoalan ini.

Cia Siau-hong menghela napas pula dalam hatinya.

Ia tahu, dalam peristiwa ini Siau Te-lah yang bersalah, tapi ia tak bisa mengatakan bahwa ia enggan mengurusi persoalan ini, sebab bagaimanapun juga, mau tak mau ia musti mengurusinya juga.

Ia tak dapat membiarkan bocah itu tewas di tangan orang lain, karena orang itu adalah satusatunya orang yang ia merasa pernah berbuat hal yang tak wajar kepadanya......

kepada anaknya.

Butiran air hujan masih menyelimuti udara bagaikan sebuah tirai.

Empat orang manusia dengan merentangkan payung berjalan lambat-lambat menembusi hujan deras, orang yang di paling depan adalah seorang pemuda berbaju hijau, berkaus kaki putih dengan sepatu hitam yang berwajah lebar.

Ternyata dia adalah si pemuda polos yang duduk semeja dengan Cho Han-giok ketika berada di atas loteng Cong-goan-lo tadi.

Kenapa Thi Tiong-khi tidak datang?

Kenapa ia harus datang?

Setelah bertemu dengan pemuda tersebut, semua piausu serta peneriak jalan dari perusahaan Hong-ki-piaukiok bersama-sama membungkukkan badan memberi hormat, wajah mereka semua menunjukkan sikap menghormat yang amat besar, semua orang tunduk kepadanya dan menyanjung dirinya.

Kemudian dengan penuh rasa hormat, semua orang menyapa bersama.

"Congpiautau!"

Apakah Cong-piautau dari perusahaan Hong-ki-piaukiok telah diganti oleh seorang pemuda polos yang tampak agak kebodoh-bodohan ini?

Dari atas sampai bawah dua ribu orang anggota perusahaan Hong-ki-piaukiok, kebanyakan terhitung jago-jago kenamaan yang sudah punya pengalaman luas serta reputasi yang hebat, apakah hanya mengandalkan seorang pemuda polos yang jujur semacam ini, maka semua jagojago kawakan tersebut bersedia mendengarkan perintahnya?

Tak mungkin hal ini berlangsung dengan begitu saja, tentu saja ada alasan lain lagi.

Bendera perusahaan di patah orang, piausu-piausunya dihina orang, sekalipun Thio Si adalah seorang jago kawakan, tak urung dibikin gelagapan juga oleh peristiwa tersebut.

Tapi pemuda itu ternyata masih dapat berjalan mendekat dengan langkah yang sangat lambat, wajahnya yang lebar sedikitpun tidak menunjukkan rasa gusar, gugup atau kaget, ketenangan serta ketebalan iman yang dimilikinya sungguh luar biasa sekali, jarang ada seorang pemuda berusia dua puluh tahunan yang sanggup melakukan hal seperti ini.

Hujan masih turun dengan derasnya, tanah mulai berlumpur dan kotor.....

Pemuda itu masih berjalan amat lambat, namun di atas alas sepatunya yang hitam dengan kaus yang berwarna putih hanya sedikit yang ternoda oleh lumpur, bila tidak memiliki ilmu meringankan tubuh yang sempurna, jangan hal ini bisa dilakukannya.

Perasaan Cia Siau-hong mulai tertekan, mulai terasa tak enak, seakan-akan terjatuh dari suatu tempat yang tinggi.

Ia telah mengetahui bahwa kemungkinan besar pemuda ini jauh lebih sukar dihadapi daripada Thi Tiong-khi.

Untuk membereskan persoalan ini jelas bukan suatu pekerjaan yang gampang.

Ternyata pemuda itu tidak menegurnya, bahkan melirik sekejap ke arah mereka pun tidak.

Walaupun dengan jelas ia tahu kalau bendera perusahaannya dipatahkan orang, walaupun tahu kalau ada orang yang mematahkan bendera perusahaannya ada di depan mata, tapi dia seolaholah tidak mengetahuinya, seakan-akan tidak melihatnya.

Sambil memegang payungnya, pelan-pelan ia berjalan mendekat, lalu bertanya dengan suara hambar.

"Piausu manakah yang hari ini bertanggung jawab melindungi bendera perusahaan?"

Thio Si segera menampilkan dirinya ke depan, setelah memberi hormat, menyahut.

"Aku!"

"Berapa usiamu tahun ini?", kembali pemuda itu bertanya sambil menatapnya lekat-lekat.

"Aku termasuk shio sapi, jadi tahun ini genap berusia lima puluh tahun.....!"

Pemuda itu manggut-manggut, lalu berkata lagi.

"Sudah berapa tahun kau bekerja dalam perusahaan Hong-ki-piaukiok kita ini?"

"Semenjak lo-piautau mendirikan perusahaan pengawalan barang ini, aku telah bekerja di sini!"

"Ehmmm.....! Itu berarti sudah dua puluh enam tahun lamanya dari sekarang?"

"Ya, sudah dua puluh enam tahun lamanya!"

Pemuda itu menghela napas panjang.

"Watak mendiang ayahku keras lagi berangasan, kau bisa berbakti kepadanya selama dua puluh enam tahun jangka waktu tersebut sudah terhitung tidak gampang"

Thio Si menundukkan kepalanya rendah-rendah dan memperlihatkan wajah sedih, lama sekali ia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Mendengar sampai di situ, Siau Te pun telah mengetahui bahwa lo-piautau yang mereka maksudkan tak lain adalah Thi-khi-kuay-kiam Thi Tiong-khi yang mendirikan perusahaan Hong-kipiaukiok, pemuda itu menyebutnya sebagai "mendiang ayahku"

Berarti pula dia adalah putranya.

Ayah meninggal anak menggantikan, tak heran kalau dengan usianya yang masih muda ia telah memegang tampuk pimpinan dalam perusahaan tersebut.

ooooOOOOoooo Bab 22.

Hukum Yang Tegas Pengaruh Thi-lo-piautau masih tertanam dalam hati masing-masing orang, karena itu semua orang tak bisa tidak harus tunduk kepadanya.

Yang mengherankan, kenapa dalam keadaan dan situasi seperti ini tiba-tiba saja ia menyinggung soal rumah tangganya, sedang soal bendera perusahaan yang patah dan piausu yang dihina malahan tidak disinggungnya sama sekali.

Berbeda dengan Cia Siau-hong, ia dapat menangkap bahwa di balik pertanyaan sekitar rumah tangga perusahaannya itu, pemuda tersebut sesungguhnya mempunyai maksud yang mendalam.

Kesedihan yang mencekam wajah Thio Si, tampak jelas bukan dikarenakan terkenang oleh budi kebaikan Thi lo-piautau, melainkan merasa murung dan menyesal karena ia telah melalaikan kewajiban serta tanggung jawabnya.

Pemuda itu menghela napas panjang, tiba-tiba tanya lagi.

"Bukankah kau menikah pada usia tiga puluh sembilan tahun?"

"Benar!", jawab Thio Si.

"Konon istrimu lemah lembut dan amat pintar, terutama dalam bidang masak memasak"

"Beberapa macam sayur yang sederhana memang masih bisa dimasak olehnya dengan lumayan!"

"Berapa anak yang kau peroleh darinya?"

"Tiga orang, dua lelaki satu perempuan!"

"Asal ada seorang ibu bijaksana yang mendidik anak-anaknya, di kemudian hari anak-anakmu itu pasti dapat sukses dalam usahanya"

"Semoga saja demikian!"

"Ketika mendiang ayahku meninggal dunia, ibuku selalu merasa kekurangan seorang pembantu di sisinya, bila kau tidak keberatan, suruhlah istrimu pindah ke ruang belakang untuk menemani dia orang tua"

Thio Si jatuhkan diri berlutut, kemudian......."Blang, blang, blang!", menyembah tiga kali di hadapan pemuda tersebut seolah-olah ia merasa berterima kasih sekali atas kebijaksanaan dari si anak muda itu mengaturkan keluarganya.

Pemuda itu tidak menghalangi perbuatannya, menunggu ia selesai menyembah, baru tanyanya lagi.

"Apakah kau masih ada pesan lainnya?"

"Tidak ada lagi!"

Sekali lagi pemuda itu menatapnya lekat-lekat, kemudian setelah menghela napas, katanya sambil mengulapkan tangannya.

"Kalau begitu, pergilah!"

"Baik!"

Ketika ucapan tersebut selesai diutarakan, tiba-tiba tampak butiran darah memercik ke manamana, menyusul kemudian Thio Si roboh terkapar di tanah.

Tangannya masih menggenggam sebilah pedang, pedang yang telah menggorok leher sendiri.

Sepasang tangan dan kaki Siau Te mulai dingin.

Hingga sekarang ia baru mengerti kenapa pemuda tersebut mengajukan pertanyaan sekitar rumah tangganya dalam keadaan begini.

Peraturan hukum dalam perusahaan Hong-ki-piaukiok memang ketat, siapapun di dunia ini mengetahuinya.

Thio Si telah melalaikan tanggung-jawabnya untuk melindungi panji perusahaan, sudah sepantasnya kalau ia dijatuhi hukuman mati.

Tapi bila kita lihat dari kemampuan pemuda tersebut untuk membuat seorang kakek yang susah payah bekerja selama dua puluh enam tahun dalam perusahaan menggorok leher sendiri dengan hati yang rela, bahkan berterima kasih, dapat diketahui bahwa kepintaran pemuda itu serta ketegasannya menghadapi persoalan jauh di luar dugaan siapapun.

Darah yang berceceran di tanah dalam sekejap mata telah terguyur bersih oleh aliran hujan yang deras, namun rasa jeri dan ngeri yang terpancar di wajah piausu-piausu tersebut bagaimanapun derasnya hujan juga tak akan mengguyurnya hingga lenyap.

Terhadap congpiautau yang masih muda belia ini, jelas orang menaruh perasaan jeri dan takut yang amat tebal.

Air muka pemuda itu masih tetap tenang dan sama sekali tak beremosi, kembali ujarnya dengan tawar.

"Oh piautau, di mana kau?"

Seorang laki-laki yang selama ini berdiri di belakang sambil menundukkan kepala dan menutupi wajahnya dengan payung, segera menjatuhkan diri berlutut setelah mendengar perkataan itu, berlutut di atas genangan air hujan yang bercampur dengan darah.

"Oh Hui ada di sini!", sahutnya lirih. Pemuda itu sama sekali tidak berpaling untuk melihat sekejap ke arahnya, kembali tanyanya.

"Sudah berapa lama kau bekerja di perusahaan kami?"

"Belum sampai sepuluh tahun!"

"Berapa banyak gaji yang kau terima setiap bulannya?"

"Menurut peraturan seharusnya adalah empat belas tahil, tapi berkat kebaikan congpiautau, setiap bulannya aku mendapat tambahan sebesar enam tahil perak"

"Berapa harga pakaian ditambah ikat pinggang dan topi yang kau kenakan sekarang?"

"Dua......dua belas tahil!", jawab Oh Hui ragu-ragu.

"Di belakang kota sebelah barat kau punya sebuah gedung besar, berapa besar biaya pengeluaranmu setiap bulannya?"

Wajah Oh Hui mulai mengejang keras, air hujan dan peluh dingin bercucuran bersama membasahi sekujur badannya, bahkan suarapun ikut menjadi parau.

"Aku tahu kau adalah seorang yang amat memperhatikan soal makan dan minum", kata pemuda itu lagi.

"sampai dapur yang dipakai dalam rumahpun merupakan dapur rumah makan Cong-goanlo yang kau boyong pulang dengan membayar tinggi, tanpa dua tiga ratus tahil perak sebulannya aku rasa sulit bagimu untuk melanjutkan hidup"

"Semua.......semuanya itu dibayar orang lain untukku, aku.....aku tak pernah ke luar ongkos sendiri, walau cuma satu-dua tahil pun!"

Pemuda itu segera tertawa.

"Tampaknya kepandaianmu cukup hebat juga, sehingga orang lain begitu rela mengeluarkan uang beberapa ratus tahil perak setiap bulannya untuk kau gunakan, cuma........."

Senyuman yang menghiasi wajahnya lambat-laun menjadi lenyap, katanya lebih jauh.

"Kawan-kawan dalam dunia persilatan mana bisa tahu kalau kau memiliki kepandaian sehebat ini? Ketika mereka saksikan seorang piausu dari perusahaan Hong-ki-piaukiok pun bisa hidup mewah semacam itu, di hati kecilnya mereka pasti keheranan, kenapa Hong-ki-piaukiok bisa begitu sosial dan punya uang banyak? Jangan-jangan mereka memang bersekongkol dengan para orang gagah dari golongan Liok-lim sehingga berhasil mendapat untung besar?"

Oh Hui yang mendengar ucapan-ucapan tersebut menjadi menggigil saking takutnya, sambil menyembah berulang kali serunya.

"Lain kali aku pasti tak akan melakukan perbuatan semacam itu lagi, aku sudah tobat, lain kali pasti tak akan diulang lagi"

"Kenapa? Apakah disebabkan orang yang mengeluarkan uang bagimu itu sudah direbut orang lain?"

Seluruh wajah Oh Hui telah berlumuran darah, tapi ia tak berani mengakui, juga tak berani menyangkal.

"Ada orang mengeluarkan uang untukmu gunakan, memberi kepuasan bagimu, sesungguhnya hal ini merupakan suatu perbuatan yang baik", kata pemuda tersebut.

"dan tidak semestinya perusahaan menguruskan urusan pribadimu, tapi kau ternyata membiarkan orang lain merampas milikmu dengan mata mendelong saja, bahkan membalas dendampun tak berani, bukankah perbuatanmu itu sama artinya dengan melenyapkan kegagahan sendiri dengan mengobarkan kehebatan orang lain?"

Mencorong sinar tajam dari mata Oh Hui, dengan cepat ia berseru dengan suara lantang.

"Bocah keparat itu bukan lain adalah orang yang telah menghancurkan panji perusahaan kita!"

"Kalau memang begitu, kenapa kau tidak menghampirinya dan membunuh orang itu?"

"Baik!"

Sejak tadi ia memang sudah ingin melampiaskan rasa dendamnya, maka setelah congpiautau mereka menjadi tulang punggungnya, iapun tak usah takut-takut lagi.

Maka sambil mencabut ke luar golok yang tersoren di pinggangnya, ia melompat ke depan.

Tiba-tiba cahaya pedang berkelebat lewat, sebilah pedang telah menusuk datang, tusukan tersebut agaknya tidak begitu cepat.

Tapi menanti dia ingin menghindarkan diri, pedang tersebut sudah menusuk ketiak kirinya, hingga tembus ke dalam tenggorokan.

Darah segar muncrat ke empat penjuru dan menyirami seluruh permukaan tanah.

Bahkan ia hampir tidak melihat, siapakah yang telah melancarkan tusukan tersebut.

Tapi orang lain dapat melihat kejadian tersebut dengan amat jelas.

Baru saja Oh Hui melompat ke udara, tiba-tiba pemuda itu meloloskan pedang yang tersoren di pinggang salah seorang di belakangnya, kemudian pedang itu ditusukkan ke depan sekenanya, sejak permulaan sampai akhir, ia tak pernah berpaling untuk memperhatikan lawannya barang sekejappun.

Meskipun demikian, tusukan itu dilakukan dalam waktu yang tepat dengan arah sasaran yang menakjubkan.

Tapi, yang betul-betul menakutkan bukanlah tusukan pedangnya, melainkan kekejaman dan ketidak berperasaannya untuk melancarkan serangan tersebut.

Tiba-tiba Siau Te tertawa, tertawa tergelak-gelak, kemudian berkata.

"Kau membunuh anak buahmu sendiri, memang dianggap bisa membuat hatiku takut? Haaaaahhhh........ haaaaahhhhh...... haaaahhhhhh....... sekalipun kau bunuh ke dua ribu anak buah perusahaan Hong-ki-piaukiok hingga habis juga tiada sangkut pautnya dengan aku!"

Pemuda itu sama sekali tidak memperdulikan dirinya, hingga sekarangpun ia tak pernah memandang sekejap ke arahnya, seakan-akan ia tak tahu kalau panji perusahaannya dipatahkan oleh orang itu.

Kembali ia bertanya.

"Apakah Cia Siau-hong, Cia tayhiap juga telah datang?"

Piausu yang selama ini berdiri di belakang sambil memegangkan payung baginya itu segera menyahut.

"Benar!"

"Siapakah Cia tayhiap itu?"

"Orang yang berdiri di atas kereta itu!"

"Aaaahh, tidak benar!"

"Tidak benar?"

"Dengan kedudukan serta nama besar Cia tayhiap, bila ia telah berada di sini dan menjumpai peristiwa semacam ini, sejak tadi ia pasti sudah tampil ke depan dan melakukan penilaian terhadap peristiwa ini, kenapa ia cuma berdiri berdiam diri saja di sana? Cia tayhiap bukan seorang manusia yang suka melihat kemalangan orang lain!"

Tiba-tiba Cia Siau-hong tertawa, katanya.

"Majikan yang bagus!"

Kereta itu sebenarnya berada empat kaki jauhnya dengan dihalangi oleh tujuh -delapan belas orang, tapi menunggu ia telah menyelesaikan kata-katanya itu, tahu-tahu ia sudah berada di hadapan pemuda tersebut, bahkan sedemikian dekatnya, sehingga bila ia ulurkan tangannya segera dapat menepuk bahunya.

Walaupun paras muka pemuda itu agak berubah, tetapi dengan cepat pulih kembali dalam ketenangannya, ia telah mundur ke belakang meski cuma setengah langkahpun.

"Apakah congpiautau juga she Thi?", Cia Siau-hong segera menegur.

"Aku Thi Kay-seng!"

"Akulah Cia Siau-hong!"

Walaupun para piausu telah tahu kalau orang ini berilmu silat amat tinggi, walaupun mereka tahu Cia Siau-hong juga telah berada di situ, tapi setelah mendengar pengakuannya sendiri itu, tak urung wajah mereka berubah juga.

Thi Kay-seng segera memberi hormat, lalu berkata.

"Semasa masih hidupnya dulu, mendiang ayahku seringkali membicarakan soal jiwa pendekar yang dimiliki Cia Tayhiap kepada diri boanpwee, kata beliau dengan sebilah pedangnya Cia Tayhiap tak pernah menjumpai tandingan di dunia ini!"

"Ilmu pedangmu juga tidak terhitung jelek!", kata Cia Siau-hong.

"Tidak berani......."

"Ilmu pedang yang bisa dipakai untuk membunuh orang adalah ilmu pedang yang baik"

"Tapi membunuh orang, bukanlah bertujuan membunuh orang untuk menanam musuh, lebih-lebih tidak bermaksud membunuh orang untuk menyenangkan hati!"

"Lantas, biasanya kau membunuh orang karena apa?"

"Karena tiga hal yang ditanamkan mendiang ayahku kepada kita semua sewaktu mendirikan perusahaannya dahulu!"

"Tiga hal mana?"

"Tanggung jawab, prestasi dan kebanggaan!"

"Bagus, ternyata kau memang gagah perkasa dan berjiwa ksatria, tak heran nama baik Hong Kipiaukiok selalu berdiri tangguh selama dua puluh enam tahun tanpa goyah sedikitpun"

Thi Kay-seng segera membungkukkan badannya mengucapkan terima kasih, setelah itu ujarnya dengan serius.

"Mendiang ayahku seringkali memberi nasehat kepada kami, bila hendak menggunakan nama perusahaan sebagai kebanggaan, maka setiap saat harus mengingat tiga hal itu di dalam hati, kalau tidak lalu apa bedanya dengan para pencoleng dan perampok!"

Wajahnya berubah semakin serius, ujarnya lebih jauh.

"Oleh karena itu, barang siapa berani melanggar ketiga hal tersebut di atas, maka dia harus dibunuh tanpa ampun!"

"Ehmmmm......, suatu kata dibunuh tanpa ampun yang bagus!"

"Thio Si terlalu teledor dan bertindak gegabah, melalaikan tanggung jawabnya melindungi panji perusahaan. Oh Hui menjerumuskan diri ke lumpur kehinaan, tidak mempertahankan prestasi diri, maka dari itu walaupun mereka adalah orang-orang lama mendiang ayahku, boanpwe tak akan pilih kasih untuk menghukum mereka juga"

Dengan sorot mata yang tajam ia menetap Cia Siau-hong lekat-lekat, kemudian katanya lagi.

"Nama besar Sin-kiam-san-ceng tersohor di seantero jagat, aku percaya kalianpun memiliki peraturan rumah tangga yang bisa dibanggakan!"

Cia Siau-hong tidak dapat menyangkalnya.

"Jika anak keturunan perkampungan Sin-kiam-san-ceng berani melanggar peraturan, apakah merekapun akan dihukum?", tanya Thi Kay-seng lebih jauh. Sekali lagi Cia Siau-hong tak dapat menyangkal.

"Perduli peraturan dari perguruan manapun, bukankah semuanya tidak mengijinkan anak buahnya merusak peraturan persilatan dan berbuat sewenang-wenang terhadap masyarakat?", kata Thi Kay-seng kembali. Ditatapnya lawannya dengan sorot mata setajam sembilu, lebih-lebih lagi ketajaman lidahnya ketika berbicara.

"Membuat huru-hara di tengah kota, tanpa sebab mencari urusan, bukan cuma melukai orang, merusak pula panji perusahaan yang merupakan kebanggaan orang lain dan dipertahankan dengan jiwa raga oleh segenap anggotanya, terhitungkah perbuatan semacam ini sebagai suatu perbuatan yang merusak peraturan dunia persilatan?"

"Ya, benar!", jawaban Cia Siau-hong amat sederhana dan langsung. Dari balik sinar mata Thi Kay-seng untuk pertama kalinya memancarkan sinar kaget dan tercengang. Ia telah mempersiapkan kolong tali yang siap digunakan untuk menjirat tengkuk Siau Te, semestinya Cia Siau-hong memahami maksud tujuannya, kenapa ia tidak mencoba untuk menahan jiratan tali itu dari atas leher Siau Te? Tapi bagaimanapun juga, kesempatan yang sangat baik ini tak boleh dibiarkan lewat dengan begitu saja, segera desaknya lebih jauh.

"Bila tidak memperdulikan keamanan orang banyak, tanpa sebab merusak peraturan dunia persilatan, manusia macam ini telah melanggar kesalahan apa?"

"Kesalahan yang pantas dijatuhi hukuman mati!", jawaban dari Cia Siau-hong tetap singkat dan langsung. Thi Kay-seng segera menutup mulutnya rapat-rapat. Kini tali itu sudah menjirat tengkuk Siau Te, diapun telah memahami maksud Cia Siau-hong. Walaupun jiwa Siau Te berharga, nama baik Sin-kiam-san-ceng jauh lebih berharga, maka seandainya dia harus memilih salah satu di antaranya, terpaksa ia harus mengorbankan selembar jiwa Siau Te. Sekarang Thio Si dan Oh Hui telah mati oleh dosanya, maka sudah barang tentu Siau Te pun harus mati karena perbuatannya. Sebagai kawanan jago persilatan yang cukup kawakan, pengalaman dari para piausu perusahaan Hong-ki-piaukiok itu cukup luas, tentu saja merekapun dapat memahami akan hal tersebut, tanpa sadar tangan mereka mulai meraba gagang golok dan bersiap sedia melancarkan tubrukan ke depan. Thi Kay-seng kembali ulapkan tangannya berulang kali sambil berseru.

"Mundur, mundur, kalian semua mundur dari sini!"

Tak seorangpun yang mengerti kenapa ia berbuat demikian, tapi tak seorang pula yang berani membangkang perintahnya. Dengan hambar Thi Kay-seng berkata.

"Dosa itu dijatuhkan sendiri oleh Cia tayhiap, maka selama Cia tayhiap masih berada di sini, buat apa kalian musti lakukan baginya?"

"Siapapun tak perlu turun tangan!", tiba-tiba Siau Te berteriak keras-keras. Kemudian setelah menatap Cia Siau-hong lekat-lekat, ia tertawa tergelak, serunya.

"Cia Siau-hong, kau memang tak malu disebut Cia Siau-hong, kau memang sangat baik menjaga diriku, aku merasa amat berterima kasih sekali!"

Di tengah gelak tertawanya yang amat keras, ia melompat turun dari atap kereta dan menerjang ke tengah kawanan manusia......"Kraaak!", lengan seorang piausu telah dicengkeram dan dipatahkan olehnya, pedang yang berada di tangan orang itu segera berpindah tangan, kemudian tanpa berpaling lagi ke arah Cia Siau-hong, ia memutar mata pedang tersebut dan menggorok ke atas leher sendiri.

Wajah Cia Siau-hong yang pucat pasi tetap tanpa emosi, tubuhnya dari atas sampai bawah sama sekali tak bergerak, tapi semua orang mendengar suara desingan tajam berkumandang memecahkan keheningan menyusul......."Kraaak!", pedang di tangan Siau Te tahu-tahu sudah tinggal gagangnya, sedang mata pedang yang tajam telah patah dan jatuh ke bawah menyusul sebuah benda lainnya.

Ternyata benda itu adalah sebutir mutiara.

Bunga mutiara yang berada di tangan Cia Siau-hong, lagi-lagi berkurang satu butir.

Meskipun Siau Te masih memegang gagang pedang itu, tapi seluruh tubuhnya telah tergetar mundur sejauh dua langkah dari tempat semula.

Tiga orang piausu yang berada di belakangnya segera saling berpandangan sekejap, kemudian dua bilah golok dan sebilah pedang hampir pada saat yang bersamaan menyambar ke depan secepat kilat.

Tiga orang piausu itu merupakan piausu-piausu yang mempunyai hubungan paling akrab dengan piausu yang lengannya patah tadi, rasa dendam mereka sesungguhnya hanya tertanam di dalam hati, tapi setelah Cia Siau-hong turun tangan sekarang, berarti merekapun tidak melanggar perintah congpiautau sekalipun balas melakukan ancaman.

Tentu saja serangan yang dilancarkan tiga orang ini adalah serangan-serangan pembunuh yang mematikan.

"Criiiit....!", Cia Siau-hong kembali menyentilkan ujung jarinya, menyusul kemudian.

"Kreeek....!", dua golok satu pedang tersebut sekali lagi patah menjadi dua bagian. Ketiga orang itu segera merasakan tubuhnya bergetar keras hingga mundur lima langkah lebih, bahkan gagang golokpun tak sanggup digenggam lagi. Sambil menarik muka, Thi Kay-seng segera berkata dengan suara dingin.

"Sungguh kekuatan yang sangat hebat, sungguh kepandaian yang luar biasa!"

Cia Siau-hong hanya membungkam diri dalam seribu bahasa. Thi Kay-seng tertawa dingin, kembali ujarnya.

"Kelihaian kepandaian silat yang dimiliki Cia tayhiap telah diketahui oleh setiap umat persilatan di dunia, tapi ke tidak dapat percayanya ucapan Cia tayhiap mungkin belum ada beberapa orang yang tahu"

"Apakah ucapanku tidak dapat dipercaya?", Cia Siau-hong bertanya.

"Siapa yang telah menjatuhkan hukuman kepadanya tadi?"

"Aku"

"Hukuman apa yang telah kau jatuhkan kepadanya?"

"Hukuman mati!"

"Kalau kau memang telah menjatuhkan hukuman mati kepadanya, kenapa sekarang malah turun tangan menolongnya?"

"Aku hanya menjatuhkan hukuman mati kepada seorang manusia, tapi hukuman tersebut bukan tertuju untuknya"

"Kalau bukan dia lantas siapa?"

"Aku!"

Untuk ketiga kalinya Thi Kay-seng memperlihatkan sinar mata yang penuh dengan rasa kaget dan tercengang, katanya.

"Kenapa bisa kau?"

"Karena akulah yang mengajarkan kepadanya bagaimana caranya merusak peraturan persilatan dan bagaimana caranya membuat huru-hara di depan masyarakat"

Dari sorot matanya kembali memancarkan penderitaan dan rasa sedih yang sukar dilukiskan dengan kata-kata, pelan-pelan ia berkata lebih jauh.

"Kalau bukan karena aku, tak nanti dia akan melakukan perbuatan semacam itu, dosaku yang pantas dihukum mati, aku tak akan biarkan ia mati lantaran aku"

Thi Kay-seng menatap wajahnya lekat-lekat, kelopak matanya kembali berkerut, mendadak ia mendongakkan kepalanya sambil menghela napas panjang.

"Ketika kau dengan sebatang sumpit berhasil mematahkan ilmu pedang aliran Bu-tong dari Cho Han-giok ketika berada di loteng Cong-goan-lo, aku sudah tahu kalau kehebatan ilmu pedangmu sudah tiada tandingannya lagi di dunia ini"

Hingga kini Siau Te baru tahu siapa yang menang siapa yang kalah dari pertarungan yang berlangsung di loteng Cong-goan-lo tersebut.

Walaupun ia melirik sekejap ke arahnyapun tidak, namun hatinya menyesal, ia menyesal kenapa waktu itu tidak tinggal di sana dan menyaksikan kehebatan Sam sauya dari keluarga Cia mematahkan ilmu pedang orang hanya dengan sebatang sumpit.

Kembali Thi Kay-seng berkata.

"Waktu itu dua bersaudara dari keluarga Wan pun tahu, sekalipun sepasang pedang mereka bersatu juga bukan tandinganmu, oleh karenanya mereka bersedia mengundurkan diri sebelum mengalami kerugian. Sepasang matakupun belum buta, tentu saja akupun tahu akan hal tersebut, seandainya keadaan tidak terlalu terpaksa, aku benar-benar segan untuk bertempur denganmu"

"Bagus sekali!"

"Tapi sekarang, sekalipun kau berkata demikian, akupun telah bersiap-siap untuk melangsungkan pertarungan mati hidup denganmu"

Setelah tertawa dingin, kembali ia melanjutkan.

"Sesungguhnya masalah yang menyangkut soal dunia persilatan hanya bisa dibikin jelas di ujung senjata, kalau tidak begini buat apa semua orang harus melatih diri dengan tekun? Bila seseorang memiliki kepandaian yang amat tinggi, sekalipun perkataan yang salahpun akan menjadi perkataan yang benar, jadi hal yang demikian sudah bukan merupakan suatu kejadian aneh lagi"

Cia Siau-hong menatapnya tajam-tajam, lewat lama sekali dia baru menghela napas panjang.

"Kau keliru!", bisiknya.

"Di mana letak kekeliruanku?"

"Kalau aku sudah mengakui kesalahanku, dus berarti akupun tak perlu menyuruhmu untuk turun tangan"

Walaupun selama hidupnya Thi Kay-seng amat angkuh, senang gusarnya sukar diketahui orang, tapi saat ini tak urung rasa kaget dan tercengangnya tercermin juga di atas wajahnya.

Menerima penderitaan karena orang lain, menyiksa diri demi sahabat, hal semacam itu bukannya tak pernah dijumpai dalam dunia persilatan, akan tetapi dengan kepandaian serta kedudukan Cia Siau-hong saat ini, kenapa pula harus merendahkan derajat kehidupan sendiri?

Sementara itu, Cia Siau-hong telah menghampiri Siau Te dan menepuk bahunya, lalu berkata.

"Di sini sudah tak ada urusanmu lagi, pergilah!"

Siau Te tidak berkutik, diapun tidak berpaling.

"Selama ini aku tak pernah merawatmu secara baik", kata Cia Siau-hong lebih jauh.

"sewaktu masih kecil dahulu, kau tentu sudah kenyang di cemooh dan dihina orang lain, aku hanya berharap kau bisa menjadi orang baik di kemudian hari, gila arak gila perempuan lebih baik........"

Kata-kata selanjutnya sudah tidak terdengar lagi oleh Siau Te.

Terbayang kembali penderitaan yang dialaminya di kala masih kecil, terbayang juga adegan di saat si Boneka dipeluk olehnya.

Siau Te merasa ada segulung hawa amarah muncul dari dasar hatinya.

Tiba-tiba ia berteriak keras.

"Baik, aku akan pergi! Sekalipun bukan aku yang minta kau mengikutiku, sekalipun aku tidak berhutang apapun kepadamu!"

Begitu ia bilang mau pergi, iapun pergi tanpa berpaling lagi.

Tiada orang yang menghalangi kepergiannya, setiap orang hanya mengalihkan perhatiannya untuk mengawasi Cia Siau-hong.

Hujan turun dengan derasnya, memabashi rambutnya yang kusut, membasahi matanya dan pipinya, ia tak bisa membedakan lagi manakah air hujan?

Dan mana pula air mata?

Tanpa bergerak barang sedikitpun ia berdiri di sana tak berkutik, seakan dalam jaga yang luas tinggal dia seorang saja.

Entah sudah lewat berapa lama.....pelan-pelan ia baru memutar badan dan menghadap ke arah Thi Kay-seng.

Thi Kay-seng tidak bersuara, iapun tidak perlu berbicara lagi.

Setelah Sam sauya dari keluarga Cia menanggung dosa itu, siapa lagi dari anggota Hong-kipiaukiok yang bisa berbicara?

Tiba-tiba Cia Siau-hong mengajukan suatu pertanyaan yang aneh sekali.

"Konon belakangan ini Thi lo-piautau jarang sekali melakukan perjalanan lagi dalam dunia persilatan, apakah tujuannya adalah untuk membimbingmu menjadi seorang pemimpin yang sejati?"

Pelan-pelan Thi Kay-seng mengangguk, sahutnya dengan sedih.

"Sungguh tak beruntung dia orang tua telah tiada pada dua bulan berselang"

"Tapi kau toh sudah berhasil menggantikan kedudukannya!"

"Ya, hal ini disebabkan karena boanpwee tak berani melupakan semua nasehatnya!"

Cia Siau-hong pun pelan-pelan menganggukkan kepalanya.

"Bagus sekali, bagus sekali, bagus sekali.......", gumamnya. Entah sudah berapa puluh kali dia ulangi perkataan tersebut, suaranya makin lama semakin lirih, kepalanyapun makin lama tertunduk semakin rendah. Tangannya telah mengepal kencang-kencang. Lautan manusia telah berkerumun di sepanjang jalan raya, di antara mereka ada anggota Hong-kipiaukiok, ada juga yang bukan, tapi setiap orang dapat melihat bahwa pendekar kenamaan yang tiada tandingannya di dunia ini sedang diliputi oleh rasa sedih, murung dan menyesal, ia telah bersiap-siap menggunakan darahnya untuk mencuci bersih semua kekesalan hatinya. Pada saat itulah, tiba-tiba ada seseorang berteriak keras dari balik kerumunan orang banyak.

"Cia Siau-hong, kau keliru, yang seharusnya mati adalah Thi Kay-seng, bukan kau karena........."

Ketika berbicara sampai di situ, mendadak suaranya terhenti, seakan-akan tenggorokannya telah digorok orang secara tiba-tiba.

Seorang laki-laki menerjang ke luar dari balik kerumunan orang banyak dengan mata melotot ke luar, ia mendelik ke arah Thi Kay-seng seperti hendak mengucapkan sesuatu.

Tapi sebelum sepatah katapun sempat diucapkan, ia sudah roboh terjengkang di atas tanah, sebilah golok telah menancap di atas punggungnya, hingga tinggal gagangnya saja yang berada di luar.

Tapi seseorang yang lain segera menyambung kembali kata-kata yang belum sampai habis diucapkan itu.

"Karena panji kebesaran Hong-ki-piaukiok telah dinodai lebih dulu olehnya, panji itu sudah berubah menjadi sama sekali tak ada harganya, dia......."

Ketika berbicara sampai di situ, kembali suaranya terpotong, seorang laki-laki muncul dari kerumunan orang banyak dengan tubuh bermandikan darah, ketika tiba di tengah arena iapun roboh dan binasa.

Benar-benar tak disangka kalau dalam dunia masih ada juga orang yang tak takut mati, ternyata kematian tidak membuat mereka menjadi ketakutan.

Dari arah depan sana, kembali ada seseorang berteriak keras.

"Wajahnya saja tampak jujur dan gagah, sesungguhnya dia adalah manusia munafik yang berhati licik, bukan saja kematian dari Thi lo-piautau tidak jelas, lagi pula........."

Orang itu sambil berteriak sambil lari keluar dari kerumunan orang banyak, tiba-tiba cahaya golok melintas lewat, tahu-tahu tenggorokannya sudah tertembus.

Dari arah utara dengan cepat terdengar seseorang melanjutkan lagi kata-kata tersebut.

"Lagi pula rumah emas berisi gadis-gadis cantik di belakang kota sebelah baratpun milik pribadinya, oleh karena lo-piautau baru meninggal mau tak mau dia harus menghindari kecurigaan dan belakangan ini jarang sekali berkunjung ke situ, karena itulah Oh Hui telah memanfaatkannya....."

Agaknya orang yang berseru kali ini memiliki kepandaian silat agak tinggi, ia berhasil menghindari dua kali sergapan dan kabur ke atas wuwungan rumah, katanya lebih lanjut.

"Tadi Oh Hui tak berani mengatakan sebab kuatir dibunuh olehnya, siapa tahu sekalipun ia tidak membuka rahasia, kematianpun tak dapat dihindari......"

Sambil berkata dia mundur terus ke belakang, baru saja kata terakhir meluncur keluar, tiba-tiba sekilas cahaya pedang menyambar lewat dari wuwungan rumah dan menusuk dari tengkuk hingga tembus pada tenggorokan, darah segar segera berhamburan ke mana-mana, tubuh orang itupun menggelinding jatuh dari atas atap rumah dan terkapar di tengah jalan.

Keheningan mencekam seluruh jalan raya itu.

Hanya dalam waktu singkat sudah empat orang tewas di tempat itu dengan berlumuran darah.

Peristiwa ini sungguh menggetarkan perasaan siapapun, apalagi kematian mereka begitu perkasa, begitu mengenaskan hingga menimbulkan rasa haru bagi siapapun.

Paras muka Thi Kay-seng sama sekali tak berubah, tiba-tiba serunya dengan dingin.

"Thi Gi!"

Seorang piausu tinggi besar muncul dari barisan dan membungkukkan badannya memberi hormat.

"Hamba siap!"

"Selidiki siapa yang menjadi dalang dari perbuatan ke empat orang ini, coba kita lihat siapakah memfitnah yang telah mengarang cerita bohong tersebut?"

"Baik!"

"Bila mereka benar-benar hanya memfitnah belaka, kenapa kau harus membunuh orang untuk melenyapkan saksi?", tiba-tiba Cia Siau-hong menegur. Thi Kay-seng segera tertawa dingin.

"Kau tahu siapa yang telah melakukan pembunuhan ini?"

Tiba-tiba Cia Siau-hong melompat ke dalam kerumunan orang banyak, pada lompatan yang ke empat kalinya, ada empat orang pula yang terlempar keluar dari kerumunan orang banyak dan terbanting ke tengah jalanan, ternyata dandanan mereka semua adalah dandanan dari seorang piausu perusahaan Hong-ki-piaukiok.

Air muka Thi Kay-seng belum berubah juga, kembali ia berseru.

"Thi Gi!"

"Hamba siap!"

"Coba kau selidiki kembali, siapakah ke empat orang itu dan dari mana mereka dapatkan pakaian tersebut?"

Pakaian ringkas yang mereka kenakan bukan terhitung pakaian seragam yang mahal harganya, para piautau dari Hong-ki-piaukiok dapat mengenakannya, orang lainpun sama saja dapat pula mengenakannya.

"Baik", sahut Thi Gi. Namun tubuhnya belum juga beranjak dari tempat semula.

"Kenapa kau belum juga melaksanakan tugasmu?", Thi Kay-seng segera menegur. Tiba-tiba Thi Gi memperlihatkan suatu perubahan yang aneh sekali, sambil menggigit bibir teriaknya keras-keras.

"Aku tak usah menyelidiki lagi, karena akulah yang memberi semua pakaian itu, bunga mutiara yang berada di tangan Cia tayhiap, sekarangpun aku pula yang pergi membelinya!"

Paras muka Thi Kay-seng mulai berubah, tentu saja ia tahu dari mana Cia Siau-hong mendapatkan untaian bunga mutiara tersebut.

Tentu saja Cia Siau-hong sendiri juga tahu.

Ia mendapatkannya dari atas kepala seorang perempuan yang mirip kucing, ia meraih untaian bunga mutiara tersebut sebab akan dipakainya sebagai senjata rahasia untuk menolong orang.

Dengan suara keras Thi Gi berkata.

"Congpiautau telah memberi uang sebesar tiga ratus tahil perak kepadaku untuk membeli untaian bunga mutiara dan sepasang gelang di toko Thian-po, sisanya belasan tahil telah diberikan kepadaku sebagai tip"

Kalau memang Thi Kay-seng yang membeli untaian bunga mutiara tersebut, kenapa benda itu bisa dipakai oleh seorang perempuan seperti kucing.......?

Tiba-tiba Cia Siau-hong menyambar tubuh Thi Gi seperti mengangkat orang-orangan dari kertas saja, ia melompat sejauh empat kaki lebih dan naik ke atas atap rumah.

Terdengar desingan senjata tajam memecahkan keheningan, belasan titik cahaya tajam segera menyambar lewat dari bawah kaki mereka.

Coba saja kalau Cia Siau-hong terlambat selangkah saja, niscaya Thi Gi sudah dibunuh untuk membungkamkan mulutnya.

Tapi atap rumah itupun belum terhitung aman, sebab belum lagi kaki mereka berdiri tegak, dari balik wuwungan rumah, kembali ada sekilas cahaya pedang menyambar lewat dan langsung menusuk tenggorokan Cia Siau-hong.

Cahaya pedangnya berkilat bagaikan bianglala, orang yang melancarkan tusukan itu jelas adalah seorang jago lihay, senjata yang digunakannyapun pasti sebilah pedang mestika.

Sekarang orang yang hendak mereka bunuh sudah bukan Thi Gi, melainkan Cia Siau-hong.

Padahal ketika itu Cia Siau-hong mengempit orang di tangan kirinya dan memegang bunga mutiara di tangan kanannya, agaknya tusukan tersebut segera akan menembusi tenggorokannya.

Tiba-tiba ia mengangkat tangan kanannya, dengan gagang bunga mutiara ia sambut tibanya mata pedang......

"Criiiiing!", sebutir mutiara mencelat sejauh dua depa diikuti sebutir mutiara lagi, sungguh cepat gerakan tersebut. Ketika dua biji mutiara itu saling beradu di udara, biji mutiara yang pertama melayang ke kiri menghajar pelipis kanan manusia baju hitam yang melancarkan serangan tersebut. Sedikit miringkan badan, ia berhasil menghindari timpukan itu, siapa tahu ketika biji mutiara itu terjatuh ke bawah, dengan telak telah menghantam jalan darah Cit-pit-hiat di lengannya yang memegang pedang, kontan saja pedang itu terjatuh ke tanah. Menanti ia sudah pulih kembali ketenangannya, Cia Siau-hong sudah pergi amat jauh. Hujan turun dengan derasnya bagaikan sebuah tirai, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas. Thi Kay-seng masih berdiri di bawah payungnya tanpa menunjukkan reaksi apa-apa, tubuhnya pun sama sekali tak berkutik. Piausu yang selama ini berdiri terus di belakangnya sambil membawakan payung itu, tiba-tiba bertanya dengan lirih.

"Perlu dikejar tidak?"

"Kalau tak sanggup mengejar, kenapa harus dikejar?", Thi Kay-seng balik bertanya dengan dingin.

"Tapi kalau persoalan ini tidak dibikin jelas, agaknya sulit bagi kita untuk menguasai mereka"

Thi Kay-seng kembali tertawa dingin.

"Jika ada orang tak mau tunduk, bunuh tanpa ampun!"

Hujan masih turun terus dengan derasnya, cuaca semakin lama berubah semakin gelap.

Di dalam sebuah kuil kecil yang lembab dan gelap, Thi Gi mendekam di tanah sambil muntahmuntah dengan napas tersengal.

Menanti ia bisa bersuara, maka semua hal yang diketahuipun segera diutarakan keluar.

"Empat orang yang dibunuh tadi adalah orang-orangnya Lo-piautau, orang terakhir yang di bunuh di atas atap rumah adalah seorang piausu, sedangkan tiga orang lainnya adalah orang kepercayaan lo-piautau"

"Dua bulan berselang, pada suatu malam yang penuh halilintar dan hujan deras seperti malam itu, agaknya lo-piautau mempunyai sesuatu masalah yang mengganjal hatinya, di kala bersantap, ia minum dua cawan arak, kemudian pergi tidur lebih awal, tapi keesokan harinya aku dengar dia orang tua telah meninggal dunia"

"Seorang kakek yang jatuh sakit setelah minum arak sebenarnya bukan suatu kejadian yang aneh, tapi kebetulan sekali para petugas yang merondai sekitar halaman pada malam itu telah mendengar ada suara ribut-ribut di dalam kamarnya lo-piautau, salah satu suara tersebut ternyata adalah suara Thi Kay-seng......"

"Betul! Thi Kay-seng hanya anak angkat yang dipelihara lo-piautau, akan tetapi lo-piautau selalu menganggapnya seperti anak kandung sendiri, sekalipun di hari-hari biasa ia selalu menunjukkan rasa baktinya kepada orang tua, tapi hari itu ternyata sikapnya kasar dan berani bercekcok dengan lo-piautau, sesungguhnya hal ini sudah merupakan suatu kejadian aneh"

"Apalagi jika dibilang sebab kematian lo-piautau adalah kambuhnya penyakit setelah minum arak, tapi kalau memang demikian, kenapa sebelum menghembuskan napasnya yang terakhir, dia masih memiliki tenaga untuk cekcok dengan orang?"

"Yang lebih aneh lagi, semenjak terjadinya peristiwa itu, sampai saat jenasah lo-piautau dikubur, ternyata Thi Kay-seng melarang orang lain untuk mendekati layonnya, malahan sewaktu mendandani mayatpun Thi Kay-seng telah melakukannya sendiri"

"Oleh karena itulah semua orang menganggap di balik persoalan ini pasti ada hal-hal yang tak beres, hanya saja siapapun tak berani mengatakannya secara berterus terang"

Mendengar sampai di situ, Cia Siau-hong baru bertanya.

"Apakah ke empat orang itu yang bertugas meronda pada malam kejadian?"

"Ya, benar!", Thi Gi manggut-manggut.

"Di manakah nyonya lo-piautau?"

"Sejak banyak tahun berselang, mereka sudah tidur berpisah kamar......"

"Apakah tak ada orang lain yang mendengar suara cekcok di antara mereka berdua?"

"Malam itu hujan terlalu deras, gunturpun menggelegar membelah angkasa, kecuali empat orang yang sedang bertugas jaga malam, boleh dibilang yang lain sudah masuk tidur setelah minum sedikit arak......"

"Setelah terjadinya peristiwa itu, apalagi dalam perusahaan tersiar berita burung sebanyak itu, tentu saja Thi Kay-seng mendengarnya juga sedikit banyak, tentu diapun tahu bukan, kata-kata semacam itu berasal dari mana?"

"Tentu saja"

"Apakah selama ini dia tidak memberikan reaksi apa-apa terhadap ke empat orang itu?"

"Sebenarnya persoalan ini tanpa bukti, jika secara tiba-tiba ia lakukan suatu tindakan, bukankah hal ini malah akan menimbulkan kecurigaan orang? Sekalipun usianya tidak terlalu besar, tapi otaknya betul-betul jalan, sudah barang tentu dia tak akan melakukan tindakan secara gegabah. Tapi tiga hari setelah jenazah lo-piautau dikebumikan, dengan mencari alasan lain ternyata ia telah memecat ke empat orang itu dari keanggotaan perusahaan"

"Alasan apa yang telah ia gunakan?"

"Minum arak sampai mabuk di masa berkabung!", jawab Thi Gi, kemudian sambungnya lagi.

"Mereka sudah menerima budi kebaikan dari lo-piautau, apalagi punya rahasia yang tak bisa diutarakan, minum arak memang tak bisa dihindari, apalagi hatinya lagi murung!"

Cia Siau-hong manggut-manggut pelan, tanyanya kemudian.

"Kalau memang begitu, mengapa ia tidak manfaatkan alasan tersebut untuk membunuh mereka berempat? Siapa yang mereka cari?"

"Aku!"

"Dan kau tak tega untuk membunuh mereka?"

"Ya, aku memang merasa amat tak tega", jawab Thi Gi sedih.

"sebab itu kubawa empat stel baju yang penuh berlepotan darah untuk memberi laporan"

"Ia bisa menyuruh kau membeli bunga mutiara untuk dihadiahkan kepada gundiknya, lalu menyuruh dirimu untuk membunuh orang dan menghilangkan saksi, tentunya kau telah dianggapnya sebagai orang kepercayaannya bukan?"

"Sebenarnya aku adalah kacung bukunya, sejak kecil dibesarkan bersama dengannya, tapi.........."

Kulit mukanya mengejang keras, setelah berhenti sejenak ia melanjutkan.

"Tapi......tapi aku tak tega menyaksikan lo-piautau mati dengan hati penasaran........ selama hidupnya lo-piautau adalah seorang pendekar sejati yang penuh welas asih, aku banyak berhutang budi kepadanya...... akupun sebenarnya tak tega menghianati Thi Kay-seng, tapi setelah kusaksikan kematian empat orang rekanku tadi, aku......aku benar-benar merasa tak tahan......."

Suaranya semakin sesenggukan, tiba-tiba ia menjatuhkan diri berlutut dan.........."Tuuuk, tuuuk, tuuuk", ia menyembah tiga kali. Katanya lebih jauh.

"Hari ini mereka berani munculkan diri di depan umum dan membongkar kedok kemunafikan Thi Kay-seng karena mereka telah melihat kehadiran Cia tayhiap di sana, mereka tahu bahwa Cia tayhiap pasti tak akan membiarkan mereka mati penasaran, asal Cia tayhiap bersedia memberi bantuan untuk menegakkan kembali keadilan dan kebenaran, aku......akupun rela untuk mati"

Ia menyembah dengan penuh luapan emosi sehingga kepalanya penuh berlepotan darah, tiba-tiba dari balik sepatunya ia cabut ke luar sebilah pisau dan segera ditusukkan ke ulu hati sendiri.

Akan tetapi, secara tiba-tiba saja pisau itu sudah berpindah ke tangan Cia Siau-hong.

Dengan sorot mata tajam, Cia Siau-hong menatapnya lekat-lekat, kemudian ujarnya.

"Perduli apakah aku menyanggupi permintaanmu itu atau tidak, kau tak usah mati!"

"Aku.......aku kuatir kalau Cia tayhiap masih tidak percaya dengan perkataanku, maka aku akan pergunakan kematianku untuk menyatakan kejujuran hatiku ini"

"Aku percaya padamu!"

Betapapun banyaknya kejadian menyedihkan yang dapat di dengar oleh kuil yang suram serta patung-patung arca yang angker, tak nanti mereka dapat bersuara.

Tapi di balik jagad yang luas, tentu saja ada sepasang mata yang sedang mengawasi semua kejadian yang menyedihkan, menggembirakan, kejujuran, kejahatan, ketulusan dan kebohongan yang sedang berlangsung di alam semesta, tentu saja iapun mempunyai hukum dan kekuatan untuk menjatuhkan hukuman bagi mereka yang melanggar.

Tiba-tiba Thi Gi berkata lagi.

"Tapi Cia tayhiap harus berhati-hati, sebab Thi Kay-seng bukan seorang manusia yang mudah dihadapi, ilmu pedangnya jauh lebih cepat, jauh lebih menakutkan daripada lo-piautau di masa jayanya dulu"

"Apakah ilmu silatnya bukan ajaran Thi lo-piautau?", tanya Cia Siau-hong.

"Sebagian besar adalah ajarannya, tapi dalam rangkaian ilmu pedangnya, ia memiliki tiga belas jurus lebih banyak dari apa yang dimiliki lo-piautau!"

Tiba-tiba sinar matanya memancarkan rasa ngeri yang tebal, kembali katanya.

"Konon ke tiga belas jurus ilmu pedang yang dimilikinya ini bukan saja amat ganas, bahkan luar biasa hebatnya, hingga kini belum ada manusia dalam dunia yang sanggup untuk menghadapinya"

"Tahukah kau siapa yang telah mengajarkan ke tiga belas jurus ilmu pedang itu kepadanya?"

"Aku tahu!"

"Siapa?"

"Yan Cap-sa!"

OoooOOOOoooo Bab 23.

Darah Mengalir di Hong-ki-piaukiok Senja menjelang tiba, hujan telah lama berhenti.

Sang surya memancarkan sinar sorenya dengan sebuah bianglala yang indah tergantung di kaki langit, selewatnya hujan badai, suasana waktu itu tampak indah dan penuh ketenangan.

Konon, menurut orang tua, bila bianglala muncul di langit, itu pertanda datangnya kedamaian dan kebahagiaan bagi umat manusia.

Tapi, kenapa sinar senja tetap berwarna merah?

Panji Hong-ki-piaukiok pun tetap berwarna merah.

Tiga belas lembar panji di atas tiga belas kereta barang.

Rombongan itu berhenti tepat di halaman belakang sebuah rumah penginapan.

Berdiri di bawah wuwungan rumah yang masih meneteskan air, Thi Kay-seng memperhatikan panji di atas kereta-kereta itu, tiba-tiba serunya dengan lantang.

"Lepaskan semua panji-panji itu!"

Para piausu masih sangsi, ternyata tak seorangpun berani melaksanakan perintah tersebut. Dengan suara lantang Thi Kay-seng kembali berkata.

"Jika ada orang yang menghancurkan selembar panji kita, itu sama artinya beribu-ribu dan berlaksa panji kita telah hancur musnah semua sebelum dendam ini di balas, sebelum penghinaan ini dicuci, dalam dunia persilatan tak akan dijumpai lagi panji-panji dari perusahaan kita!"

Paras mukanya masih tanpa emosi, tapi suaranya begitu tegas dan penuh kebulatan tekad.

Apa yang ia perintahkan masih tetap merupakan suatu perintah.

Tiga belas orang segera maju ke depan, tiga belas buah tangan bersama-sama mencabut panji perusahaan tersebut, tiba-tiba ke tiga belas buah tangan itu berhenti di tengah udara, tiga belas pasang mata bersama-sama telah menyaksikan seseorang.

Itulah seorang manusia yang jauh berbeda dari orang lain, di saat kau tidak membiarkan ia pergi, ia justru pergi, tapi di kala kau tak menyangka dia akan kembali, ia justru telah kembali.

Rambut orang itu sudah amat kusut, pakaiannya yang basah oleh hujan masih belum mengering, ia tampak amat lelah dan keadaannya mengenaskan sekali.

Akan tetapi tiada orang yang memperhatikan rambut serta pakaiannya, tiada orang pula yang merasakan keletihan dan keadaan mengenaskan yang mencekam dirinya, karena orang itu tak lain adalah Cia Siau-hong.

Thi Gi sesungguhnya adalah seorang pemuda yang tinggi kekar, alis matanya tebal, matanya besar, ia merupakan seorang anak muda yang gagah dan perkasa.

Tapi setelah berdiri di belakang orang itu, keadaannya segera berubah ibaratnya seekor kunangkunang dengan sebuah rembulan, seperti sebuah lilin di bawah sinar sang surya.

Karena orang itu tak lain adalah Cia Siau-hong.

Thi Kay-seng melihat ia berjalan masuk, melihat ia berjalan ke hadapannya, lalu menyapa.

"Kau telah datang kembali!"

"Sepantasnya kau bisa menduga bahwa aku pasti akan datang lagi!", jawab Cia Siau-hong.

"Karena kau pasti sudah mendengar banyak cerita?", tanya Thi Kay-seng kemudian.

"Benar!"

"Dalam telapak tanganmu tiada pedang!"

"Benar!"

"Pedang itu masih berada dalam hatimu?"

"Apakah dalam hatiku ada pedang atau tidak, paling tidak seharusnya kau dapat melihatnya sendiri"

Thi Kay-seng menatapnya tajam-tajam, lalu berkata.

"Jika dalam hati ada pedang, hawa membunuh tentu berada di alis mata......!"

"Benar!"

"Dalam telapak tanganmu tiada pedang, dalam hatimu pun tiada pedang, lantas di manakah pedangmu?"

"Dalam tanganmu!"

"Pedangku adalah pedangmu?"

"Benar!"

Tiba-tiba Thi Kay-seng meloloskan pedangnya.

Ia sendiri tidak membawa pedang, anak yang berbakti pasti tak akan membawa senjata pembunuh di saat orang tuanya baru meninggal.

Tapi orang-orang yang mengikuti di belakangnya membawa pedang semua, walaupun bentuk pedang itu amat sederhana, tapi bagi orang yang berpengalaman segera akan mengenali bahwa setiap bilah pedang tersebut adalah pedang yang sangat tajam.

Pedang itu sama sekali tidak ditusukkan ke tubuh Cia Siau-hong........

Setiap orang hanya merasakan cahaya pedang berkelebat seakan-akan lepas tangan, tapi pedang tersebut masih berada di tangan Thi Kay-seng, hanya saja mata pedangnya telah terbalik dan tertuju ke arah diri sendiri.

Ia menjepit ujung pedang dengan ke dua jari tangannya, lalu pelan-pelan menyodorkan gagang pedang tersebut ke hadapan Cia Siau-hong.

Perasaan setiap orang mulai tercekat, peluh dingin mulai membasahi telapak tangannya.

Dengan tindakannya itu, bukankah hakekatnya seperti lagi bunuh diri.......?

Asal Cia Siau-hong telah memegang gagang pedang itu dan mendorongnya ke muka, siapakah yang bisa menghindarinya?

Siapa pula yang bisa membendungnya?

Cia Siau-hong menatapnya lekat-lekat, akhirnya pelan-pelan ia menjulurkan tangannya dan menggenggam gagang pedang tersebut.

Thi Kay-seng mengendorkan jari tangannya ke bawah.

Ke dua orang itu saling bertatapan lama sekali, sorot mata merekapun memancarkan suatu sikap yang sangat aneh.

Tiba-tiba cahaya pedang kembali berkelebat lewat, menyambar seenteng angin yang berhembus dan menyergap secepat sambaran kilat.

Tiada orang yang bisa menghindari serangan tersebut, Thi Kay-seng pun tidak menghindarkan diri.

Tapi tusukan tersebut sama sekali tidak menusuk ke arahnya, cahaya pedang berkelebat lewat, tahu-tahu ujung pedang tersebut sudah menempel di atas tenggorokan Thi Gi.

Paras muka Thi Gi segera berubah hebat, paras muka setiap orangpun berubah hebat.

Hanya Thi Kay-seng tetap tenang seperti biasa, perubahan yang sangat mengejutkan itu agaknya sudah berada dalam dugaannya.

Thi Gi merasa tenggorokannya seperti tersumbat, lewat lama sekali ia baru bisa bersuara kembali.

Dengan suara yang parau dan gemetar bisiknya.

"Cia tayhiap, kau........kau apa-apaan ini?"

"Kau tidak mengerti?", tanya Cia Siau-hong.

"Aku tidak mengerti!"

"Kalau begitu kau memang dasarnya terlalu bodoh!"

"Aku sebenarnya memang seorang yang bodoh"

"Kalau sudah tahu bodoh, kenapa justru suka berbohong?"

"Siii....siapa.......siapa yang bohong?"

"Cerita yang kau susun memang sangat bagus, permainan sandiwaramu pun amat hidup dan mempesonakan, bahkan setiap peranan dalam sandiwara tersebut bisa kau kombinasikan secara bagus, malah adegan demi adegan bisa dilangsungkan dengan indahnya, sayang kau telah membuat satu kekeliruan besar"

"Kekeliruan? Kekeliruan apakah itu?"

"Tiga hal setelah Thi lo-piautau dikebumikan, Thi Kay-seng segera mengusir ke empat orang itu dari perusahaan, bahkan kaulah yang diutus untuk membunuh mereka?"

"Benar!"

"Tapi kau tak tega untuk turun tangan, maka hanya kau bawa empat stel pakain yang berlepotan darah untuk memberi laporan?"

"Benar!"

"Dan Thi Kay-seng pun mempercayai semua perkataanmu?"

"Selamanya ia memang percaya kepadaku!"

"Tapi ke empat orang yang telah kau bunuh itu tiba-tiba hidup kembali hari ini, Thi Kay-seng telah melihat sendiri kemunculan mereka, namun ia masih tetap mempercayaimu, malah suruh kau menyelidiki asal-usul mereka, apakah kau anggap dia seorang dungu? Tapi kau lihat dia agaknya sangat tidak mirip?"

Thi Gi tak sanggup berbicara lagi, keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya seperti hujan deras. Cia Siau-hong menghela napas panjang, katanya lebih lanjut. ~Bersambung ke Jilid-15 Jilid-15

"Aaaaii....! Seandainya kau ingin agar aku bisa membantumu melenyapkan Thi Kay-seng, seandainya kau menginginkan dua ekor bangau berkelahi dan membiarkan kau si nelayan tinggal memungut hasil, maka kau harus mengarang suatu cerita yang lebih bagus lagi, atau paling tidak kau harus tahu dengan jelas bahwa sekuntum bunga mutiara semacam itu, tak mungkin dapat dibeli dengan uang sebesar tiga ratus tahil perak........"

Tiba-tiba ia memutar mata pedangnya dan menjepit ujung pedang tersebut dengan ke dua jari tangannya, setelah itu menyerahkan pedang tersebut kepada Thi Gi.

Kemudian ia putar badan menghadap ke arah Thi Kay-seng dan ujarnya dengan hambar.

"Mulai sekarang, orang ini orangmu!"

Ia tidak memandang lagi ke arah Thi Gi walaupun hanya sekejap matapun, sebaliknya Thi Gi menatapnya lekat-lekat, menatap tengkuk serta tulang tengkorak bagian belakangnya, tiba-tiba sinar pembunuhan memancar keluar dari matanya, lalu secepat kilat pedangnya meluncurkan tusukan ke depan.

Cia Siau-hong tidak berpaling, pun tidak menghindar, hanya terasa sekilas cahaya pedang menyambar lewat dari sisi tengkuknya kemudian menembusi tenggorokannya Thi Gi.

Tidak sampai di situ saja, ternyata sisa kekuatan yang kemudian terpancar keluar telah menyeret tubuhnya sejauh tujuh-delapan depa lebih dan terpantek hidup-hidup di atas sebuah kereta barang.

Panji merah di atas kereta berkibar-kibar terhembus angin.

Ketika itu sinar senja sudah semakin redup dan samar, bianglala yang indahpun telah lenyap tak berbekas.

Ada orang yang memasang lampu dalam halaman itulah lampu berwarna merah.

Sinar lampu menerangi wajah Thi Kay-seng yang pucat sehingga berwarna kemerah-merahan.

Cia Siau-hong memandang ke arahnya lalu berkata.

"Sejak pertama kali tadi kau sudah tahu kalau aku pasti akan kembali lagi"

Thi Kay-seng mengakuinya.

"Karena aku tentu sudah mendengar banyak perkataan, kau percaya aku pasti dapat menemukan titik kelemahan di balik pembicaraan itu......", kata Cia Siau-hong lebih jauh.

"Ya, tentu saja! Karena kau adalah Cia Siau-hong!"

Wajahnya masih juga tanpa emosi, tapi setelah menyebut kata 'Cia Siau-hong' wajahnya segera menunjukkan sikap hormat yang luar biasa.

Dari balik sorot mata Cia Siau-hong muncul senyuman ramah, kembali ia berkata.

"Apakah kau bersiap-siap mengundangku minum arak barang dua cawan....?"

"Selamanya aku tak pernah minum setetes arakpun", jawab Thi Kay-seng. Cia Siau-hong segera menghela napas.

"Minum sendiri tentu tidak menyenangkan, agaknya aku terpaksa harus angkat kaki dari sini"

"Sekarang kau masih belum boleh pergi!"

"Kenapa?"

"Kau harus meninggalkan dua macam barang terlebih dahulu!"

"Apa yang harus kutinggalkan?"

"Tinggalkan kuntum bunga mutiara itu!"

"Bunga mutiara?", tanya Cia Siau-hong.

"Benda itu aku telah membelinya dengan harga tiga ratus tahil perak untuk dihadiahkan untuk orang lain, aku tak dapat menghadiahkannya kepadamu!"

Kelopak mata Cia Siau-hong segera berkerut.

"Jadi benar-benar kau yang membeli? Jadi kau benar-benar menyuruh Thi Gi yang pergi membeli?"

"Tidak bakal salah lagi!"

"Tapi bunga mutiara seperti itu nilainya paling tidak di atas delapan ratus tahil perak, mana mungkin kau bisa membelinya dengan uang tiga ratus tahil?"

"Ciangkwe dari toko Thian-po adalah bekas kasir perusahaan Hong-ki-piaukiok, maka harga yang dia perhitungkan kepadaku istimewa murahnya, apalagi di dalam dagang mutiara, keuntungannya paling banyak dan gampang dicari sebab itu meskipun ia menjual kepadaku dengan harga sekecil itu, diapun tak bakal rugi"

Perasaan Cia Siau-hong semakin tenggelam, segulung hawa dingin tiba-tiba muncul dari dasar kakinya dan menyusup naik sampai ke atas kepala.

......Jangan-jangan aku sudah salah menuduh Thi Gi.

......Thi Kay-seng menyuruhnya pergi menyelidiki asal usul ke empat orang tersebut, apakah hal inipun merupakan suatu jebakan?

Tiba-tiba saja ia menemukan bahwa bukti yang berhasil diperoleh dan data yang bisa disimpulkan terlampau sedikit, pelu dingin segera membasahi tubuhnya.

"Kecuali bunga mutiara", kata Thi Kay-seng.

"kaupun harus meninggalkan darahmu, darah untuk mencuci Hong-ki kami!"

Lalu sepatah kata demi sepatah kata ia berkata.

"Penghinaan atas hancurnya sebuah panji hanya bisa dicuci bersih dengan darah, kalau bukan darahmu itu berarti darahku!"

Angin dingin berhembus kencang, tiba-tiba seluruh jagad diliputi oleh hawa nafsu membunuh yang sangat tebal. Akhirnya Cia Siau-hong menghela napas panjang, katanya.

"Kau adalah seorang yang pintar, kau benar-benar pintar sekali......"

"Bagi seorang pintar, dengan uang se-sen-pun bisa membeli sebuah kereta", kata Thi Kay-seng.

"Sebetulnya aku tak ingin membunuhmu"

"Tapi aku terpaksa harus membinasakan dirimu"

Cia Siau-hong segera menatapnya tajam-tajam lalu berkata.

"Ada suatu persoalan, akupun terpaksa harus menanyakan dulu kepadamu hingga jelas"

"Persoalan apakah itu?"

"Thi Tiong-khi, Thi lopiautau, apa benar-benar adalah ayah kandungmu?"

"Bukan!"

"Sesungguhnya apa yang menyebabkan kematiannya?"

Tiba-tiba kulit wajah Thi Kay-seng yang sekeras batu karang mengejang keras, serunya dengan suara menggeledek.

"Perduli apapun yang menyebabkan kematian dari dia orang tua, hal ini sama sekali tiada hubungan atau sangkut pautnya denganmu"

Tiba-tiba ia meloloskan pedangnya, meloloskan dua bilah pedang dan menyambitnya ke tanah hingga menancap di atas permukaan hingga tinggal gagangnya.

Itulah dua bilah pedang yang sederhana, dua bilah pedang dengan gagang yang dibungkus kain hitam.

"Walaupun ke dua bilah pedang ini ditempa bersama dalam sebuah tungku yang sama, namun ada perbedaan berat ringannya", demikian Thi Kay-seng berkata.

"Kau terbiasa memakai yang mana?"

"Dalam sekali tempaan ada tujuh bilah pedang yang telah dibuat, ke tujuh bilah pedang tersebut pernah kugunakan semua dengan enak, maka dalam hal ini aku jauh lebih beruntung daripadamu"

"Itu tak menjadi soal!"

"Meskipun ilmu pedangku mengandalkan kecepatan sebagai keistimewaannya, tapi di dalam suatu pertarungan antara jago lihay, rasanya kemantapan masih tetap merupakan titik pokok yang terpenting"

"Aku mengerti!"

Tentu saja ia mengerti.

Dengan tenaga dalam yang mereka miliki sekalipun pedang yang lebih beratpun dalam tangan mereka sama saja enteng dan leluasa kalau digunakan.

Tapi dua bilah pedang yang sama besar kecilnya, bila salah satu di antaranya jauh lebih berat, tentu saja bahan pedang tersebut berarti jauh lebih baik.

Semakin berat sebagai bahan pedang itu berarti pula membantu sebagian tenaga kekuatannya, padahal dalam suatu pertarungan antara dua jago lihay, selisih yang kecilpun bisa mengakibatkan hal-hal yang amat fatal.

"Aku tak rela memberikan yang lebih berat kepadamu, akupun tak ingin mencari keuntungan bagi diriku sendiri, sebab itu lebih baik kita saling beradu nasib", kata Thi Kay-seng. Cia Siau-hong memandangnya lekat-lekat, dalam hati kecilnya kembali ia bertanya.

"......Sesungguhnya pemuda macam apakah dirinya itu?"

Ternyata di hadapan Cia Siau-hong yang tiada tandingannya di dunia pun, dia tak ingin mencari keuntungan barang sedikitpun?

Manusia seangkuh dia, mana mungkin bisa melakukan terkutuk yang keji dan jahat?

Thi Kay-seng kembali berkata.

"Silahkan, silahkan memilih sebilah lebih dulu!"

Gagang pedang itu semuanya berbentuk sama.

Ujung pedang pun sama-sama menancap hingga menembusi permukaan tanah.

Sesungguhnya pedang yang manakah yang terbuat dari bahan lebih baik?

Pedang mana kah yang lebih berat bobotnya?

Siapapun tak berhasil untuk mengetahui.

Lantas bagaimana kalau tak dapat melihatnya?

Apa pula gunanya ada pedang?

Apa pula gunanya tanpa pedang?

Pelan-pelan Cia Siau-hong membungkukkan badannya dan menggenggam sebilah gagang pedang tapi ia tidak mencabutnya keluar.

Ia sedang menunggu Thi Kay-seng.

Meskipun ujung pedang masih di tanah, tapi tangannya telah menggenggam gagang pedang, hawa pedang seakan-akan telah menembusi tanah dan muncul keluar.

Sekalipun sedang membungkukkan badan, melengkungkan pinggang, tapi posisinya itu hidup dan indah, sama sekali tidak menutup kemungkinan buat dirinya untuk melancarkan serangan secara tiba-tiba.

Thi Kay-seng memperhatikan dirinya, dalam pandangan matanya seakan-akan telah muncul kembali sesosok bayangan manusia yang lain, seseorang yang sama-sama dihormati olehnya.

Bukit yang terpencil diliputi keheningan, kadangkala bulan bersinar terang, kadang kala hujan turun amat deras, bukan saja orang itu telah mewariskan ilmu pedang Tui-hun-toh-mia-kiam-hoat kepadanya, seringkali menceritakan kisah tentang Cia Siau-hong kepadanya.

Sekalipun orang itu belum pernah saling berjumpa dengan Cia Siau-hong, akan tetapi ia sangat memahami akan segala tindak-tanduk dari Cia Siau-hong, mungkin jauh lebih memahami daripada siapapun dalam dunia ini.

Sebab sasarannya yang terutama selama hidupnya adalah ingin mengalahkan Cia Siau-hong.

Apa yang pernah ia katakan, tak pernah dilupakan oleh Thi Kay-seng.....

......Hanya orang yang berhati lurus dan tidak dicabangkan oleh persoalan lain, baru dapat melatih suatu ilmu pedang yang tiada tandingannya di dunia ini.

......Cia Siau-hong adalah manusia semacam itu.

Ia tak pernah memandang enteng musuhnya, oleh sebab itu setiap kali melancarkan serangan, ia pasti menyerangnya dengan sepenuh tenaga.

Hanya cukup dalam hal ini, setiap orang yang ingin belajar pedang di dunia ini sudah sepantasnya kalau mengambilnya sebagai contoh yang paling baik.

Meskipun tangan Thi Kay-seng dingin seperti es, darahnya panas seakan-akan sedang mendidih.

Bila bertempur dengan Cia Siau-hong, hal ini dianggapnya sebagai suatu peristiwa yang paling dibanggakan dan paling digembirakan selama hidupnya.

Ia berharap bisa menangkap pertarungan ini dan menangkap namanya hingga termashur di manamana, diapun ingin menggunakan darah Cia Siau-hong untuk mencuci bersih penghinaan yang telah dialami Hong-ki-piaukiok.

Tapi dalam dasar hati kecilnya, mengapa justru menaruh rasa hormat dan kagum yang luar biasa terhadap orang ini?

"Silahkan!"

Baru saja perkataan itu diutarakan, pedang Thi Kay-seng telah dicabut keluar lalu menusuk ke depan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Tentu saja ia lebih-lebih tak berani memandang enteng musuhnya, karena itu begitu serangan dilancarkan segenap tenaga yang dimiliki telah digunakan.

Thi-khi-kuay-kiam (pedang kilat si penunggang kuda baja) tersohor di mana-mana, seratus tiga puluh satu gerakan Lian-huan-kuay-kiam (pedang kilat berantai) nya begitu lihay sehingga serangan yang satu lebih ganas daripada tusukan yang lain.

Dalam sekejap mata, ia telah melepaskan tiga kali tujuh dua puluh satu tusukan.

Ini ilmu Luansian-si bagian pertama dari ilmu pedang kilat.

Karena biasanya di saat ia pergunakan jurus yang ke dua puluh satu ini, pihak lawan tentu akan menangkis serangannya dengan tangkisan pedang.

Suara beradunya sepasang pedang akan menimbulkan suara dentingan yang memekikkan telinga, karenanya serangan tersebut disebutnya sebagai jurus yang memekikkan.

Tapi sekarang sekalipun jurus yang kedua puluh satu telah dilancarkan ternyata sama sekali tak terdengar sedikit suarapun.

Karena di tangan lawan sama sekali tiada pedang, hanya ada selembar ikat pinggang berwarna hitam yang bercahaya tajam.

Itulah kain hitam yang sebenarnya digunakan untuk membungkus gagang pedang.

Ternyata Cia Siau-hong tidak mencabut pedang tersebut dia hanya melepaskan kain pengikat gagang pedang tersebut.

Kain pengikat juga boleh, pedangpun juga boleh, sesudah berada di tangan Cia Siau-hong, maka semuanya akan berubah menjadi bertuah dan memiliki kekuatan yang mengerikan.

Ibaratnya panah sudah terlepas dari busurnya pertarungan telah berlangsung dan Thi Kay-seng sudah tiada pilihan lain lagi.

Kain pengikat tersebut ternyata membawa semacam tenaga kekuatan yang sangat aneh, kekuatan itu telah menggerakkan pedangnya untuk ikut bergerak pula.

Hakekatnya ia sudah tak mampu untuk menghentikan serangannya lagi.

Kembali tiga kali tujuh dua puluh satu tusukan telah dilancarkan, kali ini yang digunakan adalah gerakan Toan-sian-sin bagian terakhir dari ilmu Thi-khi-kuay-kiam nya.

Di sini pula terletak semua intisari kehebatan dari ilmu pedang kilat.

Di antara kilatan cahaya pedang yang menyilaukan mata, lamat-lamat terdengar suara derap kaki kuda yang memekikkan telinga serta suara teriak-teriakan di medan pertempuran.

Sewaktu masih muda dulu napsu membunuh yang meliputi benak Thi Tiong-khi sangat tebal, biasanya dari ke seratus tiga puluh dua jurus Lian-huan-kuay-kiam nya itu baru digunakan jurus yang ke delapan sembilan puluh jurus, pihak lawan pasti sudah tewas di ujung pedangnya.

Seandainya jurus bagian yang terakhirpun harus dipergunakan itu berarti musuhnya pasti sangat tangguh, karenanya dalam ilmu pedang bagian yang terakhir ini, semua jurus serangan yang dipergunakan merupakan jurus-jurus ganas yang tiada sayangnya untuk mengajak musuhnya untuk beradu jiwa.

Oleh sebab itu setiap serangan yang dilancarkan tak pernah meninggalkan tempat luang bagi lawannya untuk menghindar, tidak pula untuk dirinya sendiri.

Karena dua puluh satu tusukan terakhir ini sesudah dilepaskan, maka semua jurus serangannya akan berakhir.

Hawa pedang menyelimuti angkasa, dalam waktu singkat ia telah melancarkan kedua puluh satu tusukan yang terakhir, setiap tusukan yang dilancarkan semuanya ibarat seorang ksatria yang membunuh musuh, semuanya merupakan serangan-serangan keji yang tidak memberi peluang buat lawannya.

Sedemikian hebatnya serangan itu, rasanya tiada ilmu pedang manapun di dunia ini yang bisa dibandingkan.

Tapi setelah dua puluh satu tusukan itu lewat, ibaratnya batu yang tercebur di tengah samudra, lenyap dan hilang dengan begitu saja, sedikitpun tiada kabar beritanya.

Menanti hingga tiba saat seperti ini, sekalipun orangnya belum mati, jurus pedangnya telah berakhir, tidak matipun terpaksa harus mati juga.

Ketika para pengikut Thi Kay-seng yang hadir di sana menyaksikan cong piautau-nya mengeluarkan jurus serangan yang terakhir, tanpa terasa semua orang memperdengarkan helaaan napas yang disertai dengan rasa kaget.

Siapa tahu, begitu jurus serangan yang terakhir lewat, tiba-tiba Thi Kay-seng merubah jurus pedangnya, dengan suatu gerakan yang enteng ia lepaskan sebuah tusukan lagi.

Bila dalam melancarkan serangannya tadi hawa pedang dan hawa pembunuhan menyelimuti angkasa dengan tebalnya ibarat awan tebal di angkasa, maka tusukan tersebut ibaratnya awan tebal yang tiba-tiba membuyar dan sang suryapun bersinar kembali, sekalipun bukan sinar matahari yang memberikan kehangatan, tapi sinar panas yang membuat emaspun meleleh, sinar yang merah seperti darah.

Ketika Thi Kay-seng melancarkan serangan dengan ilmu pedang yang gagah perkasa tadi, agaknya Cia Siau-hong masih tidak memandangnya di dalam hati.

Tapi begitu tusukan terakhir dilepaskan, tiba-tiba ia bersorak kegirangan.

"Bagus, bagus, suatu ilmu pedang yang amat bagus!"

Baru selesai beberapa patah kata itu, Thi Kay-seng telah melepaskan kembali empat tusukan, setiap tusukan tersebut seakan-akan menghadang perubahan yang tiada habisnya, tapi seakanakan juga tanpa perubahan apapun, begitu melayang, begitu mantap, begitu enteng, tapi sesungguhnya ganas dan hebat.

Cia Siau-hong tidak menyerang, diapun tidak menangkis.

Dia hanya melihat.

Ia seakan-akan sedang menyaksikan seorang gadis cantik yang masih muda berada dalam keadaan bugil, seakan-akan ia dibikin terpesona hingga lupa daratan.

Tapi ke empat buah tusukan tersebut sama sekali tidak berhasil melukai tubuhnya, bahkan seujung rambutpun tidak.

Thi Kay-seng merasa heran sekali.

Tusukan yang dengan jelas ia lihat menembusi dadanya, ternyata di saat yang terakhir hanya bergeser lewat dengan menempel di atas dadanya, sebuah serangan yang dengan jelas telah menembusi tenggorokannya, ternyata meleset sama sekali.

Setiap tusukan dan arah sasaran maupun perubahan dari gerak pedangnya itu seakan-akan telah berada di dalam dugaannya semua.

Tiba-tiba serangan pedang dari Thi Kay-seng berubah menjadi amat pelan, pelan sekali.

Tusukan itu dilepaskan bukan saja tanpa sasaran tertentu, bahkan sama sekali tak beraturan.

Akan tetapi tusukan itu seakan-akan mata dalam lukisan naga, sekalipun kosong tapi memiliki kunci perubahan yang sama sekali tak terduga.

Bagaimanapun juga lawannya akan bergerak, asal bergerak sedikit saja, maka akibatnya serangan berikut akan menembusi tubuhnya dan merenggut nyawanya.

Gerakan Cia Siau-hong hampir berhenti sama sekali, pada detik itu tampaklah gerakan pedang yang lamban dan kasar yang sedang menusuk tiba pelan-pelan itu, mendadak berubah menjadi selapis hujan bunga yang menyilaukan mata.

Ya, itulah bunga pedang yang memenuhi seluruh angkasa, hujan pedang yang menyelimuti udara, tiba-tiba saja berubah menjadi serentetan bianglala yang menyilaukan mata.

Itulah tujuh buah bianglala yang berwarna-warni, tujuh buah tusukan maut yang bergetar di udara, bergetar sambil melakukan pelbagai perubahan yang tak terhitung banyaknya.

Tapi tiba-tiba saja semua bianglala tergulung di balik awan tebal berwarna hitam.

Itulah kain pengikat berwarna hitam.

Tiba-tiba Thi Kay-seng menghentikan gerakannya, peluh dingin membasahi seluruh tubuhnya dan bercucuran seperti air hujan.

Cia Siau-hong menghentikan pula semua gerakannya, lalu sepatah kata demi sepatah kata bertanya.

"Inikah ilmu pedang Toh-mia-cap-sa-kiam dari Yan Cap-sa........?"

Thi Kay-seng membungkam. Membungkam berarti dia telah mengaku.

"Bagus, ilmu pedang yang sangat bagus!", seru Cia Siau-hong lagi. Tiba-tiba ia menghela napas panjang lagi, lalu berseru.

"Sayang........sayang......!"

"Apanya yang sayang?", tak tahan Thi Kay-seng bertanya.

"Sayang hanya ada tiga belas jurus, kalau masih ada jurus yang ke empat belas maka aku pasti kalah"

"Mungkinkah masih ada jurus yang ke empat belas?", tanya Thi Kay-seng keheranan.

"Ya, pasti ada!"

Sesudah termenung lama sekali, pelan-pelan ia baru berkata lebih lanjut.

"Jurus ke empat belas baru merupakan inti sari dari seluruh ilmu pedang ini!"

Intisari dari ilmu pedang berarti nyawa bagi manusia sama-sama tak berwujud dan melayanglayang, sekalipun tidak terlihat dengan mata, akan tetapi tiada seorang manusiapun yang menyangkal akan kebenarannya.

Cia Siau-hong berkata kembali.

"Semua perubahan dan kekuatan yang berada dalam Toh-mia-cap-sa-kiam baru akan terpancar keluar di dalam jurus yang ke empat belas, bilamana jurus ke empat belas dapat dipecahkan lagi, maka ilmu pedangnya akan berubah menjadi suatu ilmu pedang yang tiada tandingannya di dunia ini......"

Tangan bergetar keras, tiba-tiba saja kain tersebut menjadi lurus dan kaku persis seperti sebilah pedang.

Ketika pedang itu bergerak ibaratnya sinar di waktu senja, seperti pula matahari, seperti bianglala, seperti awan hitam, seperti bergerak tapi tenang, seperti kosong tapi nyata, seperti ada di kiri seperti pula ada di kanan, seperti ada di depan seperti juga di belakang, seperti cepat seperti pelan, seperti kosong seperti pula berisi.

Sekalipun yang bergerak tak lebih hanya sebilah kain pengikat, tapi dalam sekejap mata telah berubah menjadi sebilah senjata tajam yang jauh lebih mengerikan daripada senjata tajam manapun juga.

Dalam saat yang amat singkat inilah, peluh dingin telah membasahi seluruh pakaian Thi Kay-seng.

Ia hampir boleh dibilang tak bisa mematahkan lagi serangan tersebut, tak mampu menangkis, tak mampu menyambut, tak mampu pula untuk menghindarkan diri.

"Inilah jurus yang ke empat belas!", kata Cia Siau-hong. Thi Kay-seng tak mampu berbicara lagi.

"Jika kau gunakan jurus serangan ini, maka semua jalan mundurku akan kau sumbat hingga aku menjadi terjepit", Cia Siau-hong berkata lebih jauh. Thi Kay-seng sedang menyesal, ia menyesal kenapa selama ini tak sanggup untuk memikirkan perubahan tersebut.

"Sekarang kau sudah melihat jelas jurus seranganku ini?", tanya Cia Siau-hong lagi. Thi Kay-seng telah melihat jelas, sejak kecil ia sudah mulai belajar ilmu pedang, ia melatihnya terus dengan tekun. Dalam bidang ini ia memang seorang manusia cerdas yang berbakat, lagipula pernah mengucurkan keringat, pernah mengucurkan darah........

"Coba kau ulangi sekali lagi!", Cia Siau-hong berseru. Thi Kay-seng mainkan lagi semua jurus dan perubahan dari jurus pedang itu sekali lagi, kemudian baru bertanya.

"Sekarang apakah kau dapat mengingat semuanya?"

Thi Kay-seng mengangguk.

"Kalau begitu cobalah kau gunakan!"

Thi Kay-seng memandang ke arahnya, ia masih belum memahami maksudnya yang sebenarnya.

"Aku inginkan kau gunakan jurus pedang itu untuk menghadapiku, coba lihatlah apakah dapat mengalahkan ilmu pedangku?", kata Cia Siau-hong. Mencorong sinar mata dari balik mata Thi Kay-seng, akan tetapi dengan cepat sinar mata tajam itu sirap kembali.

"Aku tak dapat berbuat demikian!", sahutnya.

"Aku mengharuskan kau berbuat demikian"

"Kenapa?"

"Sebab akupun ingin mencoba apakah jurus itu bisa mematahkan ilmu pedangku?"

Karena ilmu pedang tersebut meski diciptakan olehnya, akan tetapi perubahan intisarinya jurus berasal dari ilmu Toh-mia-cap-sa-kiam (Tiga belas jurus ilmu pedang perenggut nyawa).

Nyawa dari jurus tersebut termasuk juga nyawa dari Yan Cap-sa.

Thi Kay-seng sudah mulai memahami maksudnya, mencorong sinar kagum dari balik matanya.

"Kau memang seorang lelaki yang pantas merasa tinggi hati!"

"Aku memang demikian!"

"Tapi kau memang pantas untuk bersikap demikian!"

"Ya, aku memang begitu!"

OoooOOOOoooo Bab 24.

Kemunculan Yang Tak Terduga Ketika serangan itu dilancarkan hawa pedang yang dingin menyeramkan segera menyelimuti angkasa, bahkan sinar lentera pun kehilangan cahayanya.

Cia Siau-hong sedang mundur ke belakang.

Serangan tersebut telah menyumbat semua jalan mundur bagi gerakan pedangnya maka terpaksa ia harus mundur.

Mundur bukan berarti kalah.

Meskipun ia sedang mundur, bukan berarti ia sudah kalah.

Tubuhnya yang tertekan oleh hawa pedang telah melengkung ke belakang, melengkung bagaikan sebuah gendewa.

Tapi semakin kencang, gendewa itu melengkung, setiap saat kemungkinan besar akan memberikan daya pantulan yang besar, semakin besar daya tekanannya semakin besar pula daya pantulnya.

Bila saat seperti itu telah tiba, maka saat itu pula mati hidup menang kalah mereka akan ditentukan.

Siapa tahu di saat semua tenaganya tertekan, hingga mencapai pada puncaknya dan sebelum sempat dipancarkan keluar, tiba-tiba dari belakang kereta barang, dari balik serambi ruangan bermunculan empat bilah sinar pedang yang berkilauan.

Padahal semua perhatian dan semua kekuatannya sedang ditujukan pada pedang di tangan Thi Kay-seng, semua kekuatannya sedang dipersiapkan untuk menyambut datangnya serangan tersebut, ia sama sekali tidak memiliki sisa kekuatan lagi untuk memikirkan persoalan lain.

Cahaya pedang berkelebat lewat, tiga bilah pedang bersama-sama telah menusuk bahu, paha kiri dan punggungnya.

Seketika itu juga semua kekuatannya gugur dan hilang.

Serangan pedang dari Thi Kay-seng pun telah menyongsong tiba, ujung pedangnya telah menyambar ke bagian yang mematikan di atas tenggorokannya.

Ia tahu dirinya tak nanti bisa menghindar atau menangkis lagi, akhirnya dia harus merasakan bagaimana rasanya menghadapi saat kematian.......

......Perasaan yang bagaimanakah keadaan seperti itu?

......Benarkah di saat menjelang kematiannya, seseorang bisa terkenang kembali semua kejadian yang pernah dialaminya di masa lampau....?

......Sepanjang penghidupannya di dunia ini, sesungguhnya berapa banyak kegembiraan yang telah ia terima?

Berapa banyak kesedihan yang dia alami?

Sebenarnya orang lain yang bersikap masa bodoh kepadanya?

Ataukah dia yang telah menyia-nyiakan pengharapan orang?

Semua pertanyaan semacam itu, kecuali dirinya sendiri, boleh dibilang tak seorangpun bisa menjawabnya.

Tapi ia sendiripun tak mampu menjawab.

Ujung pedang yang dingin dan keras telah menusuk tenggorokannya.

Dia hanya merasakan hawa dingin yang merasuk tulang menembusi tubuhnya, begitu dingin sehingga rasanya amat getir.

Akhirnya Cia Siau-hong roboh ke tanah, roboh di ujung pedang Thi Kay-seng dan tergeletak di atas genangan darah sendiri.

Ia bahkan tak sempat mengetahui siapakah empat orang penyergapnya itu.

Tapi Thi Kay-seng melihatnya dengan jelas.

Kecuali Cho Han-giok serta dua bersaudara dari keluarga Wan, masih ada lagi seorang manusia asing yang tinggi semampai dengan pakaian yang perlente, tapi wajahnya justru memancarkan rasa sedih, murung, letih dan kesal yang amat tebal.

Wan Ji-im sedang tersenyum sambil berkata.

"Kionghi Cong-piautau, akhirnya kau berhasil juga merobohkannya, nama besarmu pasti akan termashur di mana-mana"

Paras muka Thi Kay-seng sama sekali tidak memancarkan perubahan apa-apa, pedangnya telah terkulai lemas ke bawah.

"Sekalipun dalam serangan kali ini, kamipun menyumbangkan sedikit tenaga, tapi sesungguhnya cong-piautau-lah yang telah memegang peranan penting", kata Wan Ji-im lebih jauh.

"Kami berempat menyerang bersama-sama tanpa melukai tempat yang mematikan di tubuhnya, apakah hal ini kalian siapkan agar aku yang membunuhnya dengan tanganku sendiri?", Thi Kayseng bertanya. Wan Ji-im sama sekali tidak menyangkal Thi Kay-seng memperhatikan laki-laki asing berbaju perlente itu sekejap, kemudian katanya.

"Sahabat ini adalah......."

"Dia adalah kongcu dari keluarga Hee-ho, Hee-ho Seng adanya!"

Thi Kay-seng menghela napas panjang, lalu bergumam.

"Terima kasih banyak, terima kasih banyak....."

Suaranya pelan dan rendah, seakan-akan ia merasakan keletihan yang luar biasa, semacam keletihan yang akan dirasakan sehabis meraih suatu kemenangan. Kata Wan Ji-im kembali.

"Sekarang darahnya belum dingin mengapa cong-piautau tidak pergunakan darahnya untuk menambah kesemarakan dari panji merah perusahaanmu.....?"

"Ya, aku memang sedang bermaksud untuk berbuat demikian!"

Ketika kata terakhir melompat keluar, tiba-tiba pedangnya yang terkulai ke bawah itu menyambar ke depan dan masuk ke tubuh Wan Ji-im.

Dengan terperanjat Wan Ji-im menyambut serangan itu dengan tangkisan, suara beradunya senjata segera berkumandang memecahkan keheningan.

Dengan suara keras Thi Kay-seng berkata.

"Peristiwa ini bukan aku yang mengatur, Thi Kay-seng bukan manusia rendah yang begitu tak tahu malu. Penghinaan hanya bisa dicuci dengan darah, kalau bukan darah kalian adalah darahku!"

Ucapan tersebut seakan-akan ditujukan untuk Cia Siau-hong, tapi mungkinkah orang mati masih bisa menangkap suara?

Selama ini Hee-ho Seng menatap terus tubuh Cia Siau-hong yang tergeletak di tanah dengan penuh kesedihan, kemarahan dan kebencian yang meluap-luap, tiba-tiba ia melompat ke depan dan menusuk lambungnya.

Siapa tahu sebelum tusukan itu mencapai sasaran, tiba-tiba Cia Siau-hong melompat bangun dari genangan darah dan menyusup ke depan.

"Dia belum mati.......dia belum mati.......", teriak Hee-ho Seng dengan suara keras. Suaranya yang penuh dengan luapan emosi itu hampir mendekati suatu kekalapan, permainan pedangnya lantaran luapan emosi tersebut berubah pula mendekati kekalapan, bagaikan seorang yang kalap ia mengejar dari belakang Cia Siau-hong dan melepaskan serangan yang semuanya ditujukan pada bagian-bagian mematikan di tubuhnya. Cia Siau-hong telah mencabut keluar pedang yang menancap di tanah itu dan memutar senjatanya sambil melancarkan serangan balasan. Dia tidak berpaling, tapi setiap titik kelemahan yang terdapat dalam ilmu pedang Hee-ho Seng tampaknya sudah ia perhitungkan dengan tepat, meskipun hanya babatan pedang yang sederhana, akan tetapi semua tempat titik kelemahan di tubuh Hee-ho Seng telah diserang olehnya. Bagaimanapun Hee-ho Seng berusaha untuk merubah gerak serangannya, setiap kali pula serangan tersebut kandas di tengah jalan dan hancur berantakan. Tapi dalam keadaan luka lama belum sembuh, luka baru telah muncul, ayunan tangannya itu segera mendatangkan rasa sakit yang luar biasa pada bahunya yang robek. Betul serangan pedangnya menang dalam teknik, sayang kalah dalam tenaga.

"Triiiiing.....!", ketika sepasang pedang saling membentur, kembali pedangnya digetarkan sehingga terlepas dari cekalannya. Cahaya pedang bagaikan bintang kejora dengan kecepatan luar biasa senjata itu mencelat keluar dinding pekarangan. Menyaksikan pedang sendiri mencelat ke udara, Cia Siau-hong hanya merasakan lambungnya tiba-tiba berkerut seakan-akan menyaksikan kekasihnya tiba-tiba jauh meninggalkan dirinya, seperti pula kakinya tiba-tiba menginjak di tempat yang kosong dan terjerumus ke dalam sebuah jurang yang beribu-ribu kaki dalamnya. Belum pernah dia mengalami pengalaman seperti ini. Sesungguhnya kejadian seperti ini tak akan terjadi pada dirinya. Mata pedang yang dingin telah menempel di atas tengkuknya, hampir saja memotong nadi besar di atas lehernya. Hee-ho Seng telah menghentikan gerakan tangannya, lalu sepatah demi sepatah kata ia bertanya.

"Kau tahu siapakah aku?"

"Agaknya tenaga dalam yang kau miliki telah peroleh kemajuan yang amat pesat!", kata Cia Siauhong.

"tapi sebenarnya kau tak pernah menyergap orang dari belakang!"

Hee-ho Seng memutar badannya dan telah tiba dihadapannya, mata pedangpun melingkari tengkuknya, bergeser pula ke depan sehingga meninggalkan sebuah jalur panjang berdarah seperti seorang bocah perempuan yang memakai kalung merah di lehernya.

Mulut luka yang ditusuk Thi Kay-seng tadi kini darahnya telah membeku, seperti batu mirah yang tergantung pada seuntai kalung merah.

Cia Siau-hong sama sekali tidak mengerutkan dahinya, dengan hambar ia berkata.

"Sungguh tak kusangka keluarga persilatan Hee-ho memiliki pula sebilah pedang yang sedemikian tajamnya!"

Hee-ho Seng tertawa dingin.

"Kejadian tak terduga yang terjadi di dunia ini sesungguhnya memang banyak sekali", katanya.

"Ya, memang banyak sekali!", sambung Cia Siau-hong sambil menghela napas panjang. Tiba-tiba Hee-ho Seng merendahkan suaranya sambil berbisik.

"Sekarang dia berada di mana?"

"Siapa yang kau maksudkan?"

"Semestinya kau tahu siapa yang sedang kutanyakan?"

"Kenapa aku semestinya harus tahu?"

Hee-ho Seng menggertak giginya keras-keras menahan rasa bencinya yang meluap-luap, katanya.

"Sejak kawin denganku, dengan sepenuh hati aku melayani dirinya, aku hanya berharap bisa hidup bahagia dengannya sampai akhir tua nanti, setengah langkahpun tidak meninggalkan dirinya, tapi dia........dia.....aiii, dia........"

Ketika berbicara sampai di sini, tiba-tiba suaranya gemetar lewat sesaat kemudian ia baru bisa melanjutkan kembali kata-katanya.

"Setiap kali ada kesempatan, ia selalu berusaha dengan segala macam akal muslihat untuk kabur dari sisi tubuhku, pergi berjudi, minum arak, bahkan menjadi pelacur, seakan-akan asal meninggalkan diriku, maka apapun yang suruh dia lakukan, dengan senang hati ia bersedia untuk melakukannya"

Cia Siau-hong memandang ke arahnya, timbul juga perasaan simpatik dalam hatinya.

"Mungkin hal ini dikarenakan kau telah melakukan sesuatu kesalahan!", katanya.

"Aku tidak bersalah, dialah yang bersalah, kaulah yang bersalah!", jerit Hee-ho Seng seperti orang kalap.

"Aku yang salah?"

"Hingga sekarang aku baru mengerti, kenapa ia bisa melakukan perbuatan semacam ini"

"Kenapa?"

"Karena.......karena......"

Sambil menggigit bibir, tiba-tiba badannya melingkari kembali tubuh Cia Siau-hong satu lingkaran, mata pedang sekali lagi meninggalkan bekas darah yang melingkar di atas tengkuk Cia Siau-hong, ini membuat ia tampak lebih indah, tapi keindahan yang mengenaskan dan mengerikan hati orang.

"Pedang ini adalah sebilah pedang yang tajam!", kata Hee-ho Seng kemudian.

"Ya, aku mengerti!"

"Asal aku melingkari tengkuk tiga kali lagi, maka batok kepalamu segera akan rontok ke tanah"

"Aku tahu!"

"Kalau begitu seharusnya kaupun musti tahu karena apa ia berbuat demikian?"

"Aku tak tahu!"

"Ia berbuat demikian karena kau!", teriak Hee-ho Seng keras-keras. Suaranya gemetar semakin keras, bahkan tangan dan kakinya ikut menggigil keras.

"Meskipun kawin denganku, tapi dalam hatinya hanya ada kau, tahukah kau selama hidupmu ini sudah berapa banyak perkumpulan yang hancur di tanganmu? Sudah berapa pasang suami isteri yang cerai berai karena perbuatanmu?"

Tiba-tiba wajah Cia Siau-hong mulai mengejang keras, mengejang karena penderitaan yang hebat.

Bila seorang lelaki ternyata dicintai seorang perempuan, apakah kesalahan ini terletak pada pihaknya?

Jika seorang perempuan telah mencintai seorang laki-laki yang pantas ia cintai, apakah perbuatannya inipun salah?

Jika mereka tidak bersalah, siapa pula yang bersalah?

Ia tak sanggup menjawab, diapun tak dapat menjelaskan.

Kombinasi dari sepasang pedang dua bersaudara Wan telah mengunci Thi Kay-seng di posisinya semula.

Sudah sepuluh keturunan keluarga Wan menjagoi dunia persilatan, nama besar mereka tak pernah runtuh, tentu saja ilmu pedang keluarga mereka telah mengalami penempaan yang matang, perduli siapapun ingin mematahkan kerja sama dari sepasang pedang mereka, hal ini tak mungkin bisa dilakukan secara mudah.

Malahan beberapa kali Thi Kay-seng sudah hampir mampu untuk melancarkan serangan yang berhasil mematahkan lawan.

Ilmu Toh-mia-cap-sa-kiam yang dimilikinya seakan-akan merupakan ilmu pedang tandingan dari ilmu pedang semacam itu, asal ia pergunakan jurus yang "ke empat belas", niscaya kerja sama sepasang pedang itu akan hancur berantakan.

Akan tetapi ia selalu tidak mempergunakan jurus pedang tersebut.

Ia terlalu angkuh.

Bagaimanapun juga jurus pedang itu merupakan hasil ciptaan Cia Siau-hong, padahal antara dia dengan Cia Siau-hong masih ada persoalan yang harus diperhitungkan.

Walaupun ia tak dapat membiarkan Cia Siau-hong dicelakai orang lantaran terdesak oleh jurus ciptaannya itu akan tetapi diapun tak dapat menggunakan jurus itu untuk melukai orang.

Selamanya dia adalah seseorang yang mengerti akan pertarungan.

Sayangnya Toh-mia-cap-sa-kiam (tiga belas pedang pencabut nyawa) kekurangan satu jurus seperti melukis naga yang tidak diberi mata, sekalipun tampak hidup, sayangnya sama sekali tak berkekuatan.

Sewaktu bertarung melawan Cia Siau-hong tadi, ia telah mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya, sekarang tenaganya kian lama kian lemah dan tak tahan, serangan-serangannya juga makin lama semakin macet karena dibendung semua oleh dua bersaudara Wan.

Cho Han-giok tertawa dingin, menyaksikan kesemuanya itu, ia sudah tak sudi untuk turun tangan lagi, anehnya para piausu dari perusahaan Hong-ki-piaukiok pun hanya berpeluk tangan belaka, tak seorangpun di antara mereka yang bermaksud maju ke depan membantu cong piautau-nya.

Cahaya pedang berkilauan, di atas leher Cia Siau-hong telah bertambah lagi dengan beberapa buah luka berdarah, kali ini mata pedang tersebut mengiris lehernya lebih dalam, darah segar telah mengucur keluar dan membasahi seluruh pakaiannya.

"Mau bicara tidak?", bentak Hee-ho Seng sambil menatapnya tajam-tajam.

"Bicara apa?"

"Asal kau katakan dimanakah ia berada sekarang, segera kuampuni selembar jiwamu"

Sinar mata Cia Siau-hong dialihkan ke tempat kejauhan sana, seakan-akan sama sekali tidak melihat akan orang yang berada dihadapannya ini. Lewat lama sekali, pelan-pelan ia baru berkata.

"Kalau memang dalam hatinya tiada kau, buat apa kau mencari dirinya? Setelah ketemu, apa pula gunanya?"

Otot hijau di atas jidat Hee-ho Seng telah menonjol keluar, peluh dingin setetes demi setetes meleleh keluar.

"Apalagi akupun tak ingin kau mengampuni jiwaku", kata Cia Siau-hong lagi.

"kalau ingin membunuhku, kau masih belum pantas!"

Hee-ho Seng membentak marah, tiba-tiba pedangnya di dorong ke muka menusuk tenggorokan Cia Siau Hong.

Akan tetapi baru saja pedang itu bergerak, tiba-tiba terdengar "Plaaaak....", mata pedang tersebut tahu-tahu sudah dijepit oleh sepasang telapak tangan Cia Siau-hong.

Hee-ho Seng ingin mencabut pedangnya, namun tak berhasil mencabutnya hingga terlepas.

Diapun tahu tenaga dalam serta ilmu pedang yang dimilikinya telah peroleh kemajuan yang pesat, semenjak kalah di tangan Yan Cap-sa, ia benar-benar telah manfaatkan setiap kesempatan untuk berlatih diri dengan tekun, sayangnya ia masih belum bisa menandingi kehebatan dan kesempurnaan dari Cia Siau-hong.

Bahkan Cia Siau-hong yang sudah terluka parahpun tak sanggup ditandingi.

Ia telah menyadari bahwa dirinya jangan harap bisa menandingi Cia Siau-hong selama hidup, baik di dalam bagian manapun.

Menyuruh seseorang mengakui akan kekalahan serta kegagalan dirinya sendiri bukanlah suatu pekerjaan yang gampang, setelah sampai pada saat tak bisa tidak harus mengakuinya, perasaan tersebut bukan hanya rasa malu dan marah saja, bahkan rasa sedih yang meluap, semacam rasa sedih yang penuh penderitaan dan keputus-asaan.

Di atas wajahnya bukan hanya basah oleh keringat saja, air mata ikut jatuh berlinang.

Di sisi tubuhnya masih ada seseorang sedang menghela napas.

Dengan langkah yang pelan, Cho Han-giok telah mendekatinya, di tengah helaan napasnya terkandung pula rasa simpatik dan kecewa.

"Seandainya tidak terdapat seorang manusia romantis yang tak berperasaan macam dia, enso tentu dapat menjaga harga dirinya sebagai seorang perempuan, saudara Hee-ho pun tak akan menelantarkan ilmu silat karena hatinya selalu gundah dan tak tenang. Dengan kecerdasan serta ilmu pedang warisan keluarga Hee-ho, belum tentu kau tak bisa menandingi Cia Siau-hong dari perkampungan Sin-kiam-san-ceng"

Apa yang dia katakan memang merupakan suatu kenyataan.

Setia atau tidaknya seorang istri yang dikawini seorang pria, seringkali akan menentukan pula nasib kehidupan selanjutnya di dunia ini.

Hee-ho Seng menggigit bibirnya kencang-kencang, perkataan itu menyinggung secara telak hatinya yang sakit dan terluka.

Cho Han-giok kembali tertawa, katanya.

Baca Juga: Rumah Judi Pancing Perak 1

Baca Juga: Elang Terbang Di Dataran Luas 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert