Ceritasilat Novel Online

Perguruan Sejati 1

Eps 1 Perguruan Sejati - Khu Lung

Baca online Perguruan Sejati - Khu Lung

Cersil Perguruan Sejati - Khu Lung.

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com

___________________________________________________________________________

Jilid 1________ Sebuah sungai yang jernih, berliku-liku mengitari kaki gunung.

Sepanjang tepian tumbuh dengan subur pohon-pohon liu yang rimbun.

Di bagian sungai yang sempit merentang sebuah titian kecil, menghubungi undakan tangga batu sebuah gedung besar, yang berdiri dengan megah di lereng gunung.

Rumah itu berpintu hitam bertembok kuning, di sebelah kanan dan kiri dari pintu muka terdapat sepasang singa-singaan dari batu.

Di bagian timur gedung itu terdapat paviliun yang digunakan sebagai tempat belajar.

Saat ini diruangan itu guru tua.

Akibat teriknya matahari, hawa menjadi panas dan mendatangkan rasa mengantuk bagi guru itu.

Sedangkan suara pelajar-pelajar semakin lama semakin kendur tapi masioh terus terdengar !

Seorang pelajar mengawasi pada gurunya, lalu menyikut kawan di sebelahnya .

"Toa Sun Cu, sudah waktunya, tunggu apa lagi ?"

"Tunggu sebentar lagi, biar dia pulas benar,"

Jawab Toa Sun Cu.

"Lihat pit yang dipegang sudah jatuh kelantai, pasti sudah pulas !"

Toa Sun Cu tersenyum girang, digoyangkan tangannya, suara membaca semakin perlahan dan hilang tidak terdengar lagi, suasana menjadi sunyi.

Toa Sun Cu memperhatikan dengan seksama untuk mengetahui apakah gurunya sudah pulas benar atau belum, setelah yakin guru itu sudah pulas.

Dipeloporinya kawan-kawannya meninggalkan seorang-seorang dengan tertib tanpa mengeluarkan suara.

Seorang anak berbaju biru tidak turut keluar ia masih tekun dengan bukunya.

"In Tiong Giok !"

Toa Sun Cu "

Engkau tidak turut ?"

"Kalian saja yang pergi, aku masih mau menghafal !"

"Baiklah, nanti kuberi seekor ikan besar, asal saja melindungi kami jika guru marah2 !"

Sebelum berlalu ia masih sempat menjulurkan lidah mengejek yang tidur menggeros-geros. Baru saja anak-anak berlalu, sang guru membuka matanya sambil tersenyum.

"Tiong Giok marilah kita mulai dengan pelajaran yang benar !"

Bagaimana latihan ilmu dalammu apakah ada kemajuan ?"

"Ya suhu, bahkan telah kunulai kepelajaran Hoan-pou-kuil-cin atau menghilangkan kepalsuan mencari kebenaran. Hawa sejati rasanya bergolak keras dan mendatangkan rasa sakit."

"Itu tak apa-apa, nah coba perhatikan padaku!"

In Tiong Giok menyedot napas dalam2 lalu mengeluarkan jeriji kanannya ditotokan kepada buku yang dipegang gurunya. Siuut ! pukulannya mendatangkan suara dan "beng"

Berbunyi sekali, buku yang dipegang gurunya terpental beberapa depa.

Waktu diperiksa buku itu telah berlubang, dilingkaran lubang itu hitam seperti kebakar !

"Ah anak ini luar biasa, dalam waktu lima tahun sudah mencapai taraf ini, waktu aku belajar, selama delapan tahun tidak selihay dia.

Dasar maunya Allah didunia persilatan akan muncul seorang gagah perkasa.

Hatinya merasa girang tapi tidak diutarakan pada parasnya.

Ia hanya menyruh muridnya mengeluarkan buku berbahasa Sangsekerta.

"Apakah bahasa asing ini sudah kau kuasai ?"

"Selama lima tahun kupelajari mati-matian dapat dikatakan sudah kukuasai semua !"

Jawab In Tiong Giok.

Sang guru menngujui kepandaian muridnya dalam bahasa Sangsekerta seecara lisan mereka bertanya jawab dengan tenangnya.

Sementara itu diluar terdengar suara Toa Sun Cu dan kawan-kawannya.

"Tumben mereka kembali secepat ini,"

Kata sang guru yang terus berlagak tidur lagi seperti tadi.

In Tiong Giok memasukan buku pelajaran bahasa Sangsekertanya kedalam saku.

Toa Sun Cu dating paling dulu, napasnya senen kemis, seolah-olah ia lupa telah berbolos.

Datang-datang berseru .

"Suhu ! Suhu lekas.. lekas lihat ! Singa batu.."

Guru itu pura-pura kaget dan bangun .

"Ada apa ribut ribut ? "Itu...itu singa batu menangis !"

Jawab Toa Sun Cu.

"Masakah singa batu bisa menangis ?"

"Benar suhu !"

Jawab yang lain dengan serentak.

"Menangis sampai keluar air mata darah !"

Toa Sun Cu menjelaskan.

"Coba kita periksa"

Kata sang guru sambil melangkah keluar, diikuti murid-muridnya dari belakang.

Apa yang diterangkan Toa Sun Cu memang benar, bahwa singa-singaan batu mengeluarkan air mata darah.

Guru itu menuil darah itu dan menjilatnya dengan lidah.

Ia merasakan dan tahulah, darah itu darah manusia.

Dengan rasa kaget ia celingukkan keempat penjuru.

Tapi tidak mendapatkan sesuatu yang menimbulkan kecurigaan.

"Tentu ada seseorang yang luka tangannya dan memeperkan kemata singa-singaan ini. Toa Sun Cu ambil kain basah dan bersihkan mata singa-singaan ini. Sesudah itu kalian boleh pulang, pelajaran hari ini sampai disini saja."

"Suhu..."

Kata In Tiong Giok.

Dengan pandangan tajam guru itu mengawasi muridnya, bibirnya bergerak perlahan, lalu membalik badan kembali kedalam kelas.

Diluar tahu kawan-kawannya In Tiong Giok dapat menangkap percakapan gurunya yang memakai ilmu mengantar suara atau Toan Im.

Guru itu memesan kepadanya, malam ini jangan kemana-mana biarpun mendengar keributan apapun.

Ia menjadi heran, diawasinya guru itu dari belakang, segera juga berbayang-bayang kejadian lima tahun berselang didepan matanya.

Saat itu gurunya pertama kali dating.

Ia dasn kawan-kawannya sedang asyik mandi disungai.

Dengan penuh perhatian guru itu mengawasi mereka berenang, tapi dengan tiba-tiba is dipanggil naik.

"Siapa namamu nak ? Tahun ini umur berapa ?"

Tanyanya lemah lembut.

"Namaku In Tiong Giok masa suhu lupa ? Kini berusia tiga belas tahun !"

"Tiong Giok ? Tiga belas tahun ? Itu tanda luka sejak kapan adanya ?"

"menurut ibu sejak kecil sudah ada."

"Apakah ibumu masih ada?"

Tiong Giok sungguhpun menjawab, hatinya merasa dongkol atas pertanyaan yang kurang pantas .

"Suhu kenapa berkata begitu ? Yang mengundang suhu kemari adalah ayah dan ibuku, kenapa bertanya lagi ?"

Sang guru berkemak kemik seorang diri.

"Tanda itu...tiga belas tahun...mungkinkah di dunia ini terjadin hal serba kebetulan ? Ah,...tak mungkin..."

Ia berpaling kepada Tiong Giok sambil tersenyum memukul jidatnya sndiri .

"Ha ha ha jangan heran nak, hari ini otakku kurang beres. Sebenarnya bukan apa-apa, Aku ngeri melihatmu mandi di sungai yang deras, kuatir terbawa hanyut ! Lekaslah pakai bajumu !"

Kenapa guru itu memperhatikan demikian, terhadap tanda luka di pundaknya ?

Kenapa memberikan pelajaran tenaga dalam dan bahasa Sangsekerta ?

Pertanyaan demi pertanyaan yang tidak terjawab memenuhi benak hatinya .

sering ia bertanya soal itu, tapi tak pernah mendapat jawaban dari gurunya.

Dalam lima tahun guru itu sungguh-sungguh mengajarf dirinya .

mula pertama mendatangkan rasa heran, lama kelamaan menjadi biasa lagi.

Malam harinya Tiong Giok tidak bisa tidur bulak balik ia berpikir.

"Kenapa singa-singaan itu bias mengeluarkan air mata darah ? Apa yang dimaksud dengan perkataan keributan"

Dari guru itu ?

Sungguhpun guru itu melarangnya ia keluar kamar, harinya sudah siang-siang meninggalkan kamar itu.

Tapi semalaman telah berlalu dengan tenang tanpa suatu kejadian apapun, Baru saja matahari terbit, ia sudah keluar kamar menuju keruang belajar sambil berseru-seru .

"Suhu! Suhu! Suhu!"

Begitu masuk ia melihat gurunya sedang memangku tangan berdiri tegak dengan tenang, memandang kedepan tembok.

Tiong Giok diam-diam menghampiri gurunya, begitu ia memandang ketembok yang diawasi gurunya, tak alang kepalang kagetnya.

Kiranya ditembok itu terlihat tujuh semut mati tertusuk jarum halus !

Sang guru menatap terus kepada semut-semut itu, dan terdengar ia berkata perlahan.

"Dua puluh tahun tidak bertemu, nyatanya sudah maju banyak..."

"Suhu!"

Tiba-tiba In Tiong Giok bertanya penuh heran.

"Oh,"

Jawab guru itu seraya mengebutkan lengan bajunya ketembok, jarum-jarum berikut semut berguguran jatuh. Dengan lengan baju jarum-jarum itu digulung secara hati-hati. Ia mengangguk kepada muridnya.

"Mari kesini!"

Begitu masuk kedalam kamar, guru itu mengeluarkan sebuah kotak kecil. Jarum-jarum tadi dimasukkan ke dalam.

"Kemauan Tuhan tidak bisa ditentang, tapi biar waktu itu tinggal sehari, masih dapat dipergunakan sebaik-baiknya!"

"Maksud suhu bagaimana?"

"Jangan bertanya lagi, waktu sangat berharga. Kita sebagai guru dan murid selama lima tahun, selama itu kita hidup bersama-sama, tapi mulai kini, aku sebagai guru akan memberikan dua macam ilmu membela diri! Sungguhpun ilmu ini bukan pelajaran yang luar biasa tapi sangat berguna untuk dikemudian harimu. Maka itu segala keheranan dan kekusutan pikiranmu kesampimgkan semua, konsentrasi pikiranmu, dan sedapatnya bisa mengingat pelajaran ini. Sang guru segera menguraikan semacam ilmu yang bernama Kiu Toan Bie Cong Po atau Sembilan putaran langkah gaib. Lalu disusul dengan semacam ilmu lagi yang bernama Cap Jie Siang Liong Ciu atau dua belas macam ilmu menangkap naga. Cara sang guru memberikan pelajaran lain dari biasa, begitu tegas dan mendetail, juga minta dipraktekkan saat itu juga, setiap kesalahan kecil yang dilakukan mendatangkan makian dan teguran pedas, sifat welas asih dan sabarnya seperti hilang. Seolah-olah ilmu pelajaran yang diturunkan itu, harus ditelan muridnya saat itu juga. In Tiong Giok memusatkan segala pikiran pada pelajaran, sedikitpun tak berani berpikir kearah lain. Dua pelajaran yang diuraikan sekali itu sudah memakan waktu sampai tengah hari.

"Makan dulu lekas, sekalian beritahu Toa Sun Cu dan yang lain hari ini libur. Setengah jam kemudian kita lanjutkan ilmu pelajaran ini."

Seharian penuh guru dan murid tidak keluar dari ruangan belajar, mati-matian memburu waktu, hal ini membuat nyonya In merasa kuatir dan menitahkan pelayannya dating menjenguk.

"Sian seng nyonya mengatakan ilmu pelajaran memang penting, tapi kesehatanpun sangat penting, nyonya mengharapkan Kong tju beristirahat, besok baru belajar lagi."

Guru itu menarik nafas panjang dan berkata.

"Ya, memang apa yang diperkatakan nyonya memang benar, nah Tiong Giok engkau boleh beristirahat, besok kembali lagi kita lanjutkan pelajaran ini!"

In Tiong Giok segera berlalu, tapi baru saja kakinya melangkah pintu, sang gurusudah memanggilnya lagi.

"Muridku, sebelum tidur pikirkanlah masak-masak, jangan sampai capai lelah yang menjadi guru hilang percuma! Ini sepucuk surat simpan baik-baik, sebelum fajar menyingsing, jangan dibuka..."

Kata-katanya tidak diucapkan sampai selesai, sedangkan air matanya tampak tergenang memenuhi kelopak matanya.

"Suatu saat anak naga akan terbang ke angkasa, karena ia bukan cacing dilumpur. Murid yang baik pergi istirahat!"

Kata-kata yang terakhir di ucapkan berbareng sedu sedatnya.

Malam itu In Tiong Giok tidak bisa pulas, pikirannya selalu berputar pada kejadian tadi siang, kelakuan gurunya hari itu sangat luar biasa, membuatnya tidak habis berpikir.

Ia merasakan sang guru itu pertama kali berbuat demikian selama lima tahun.

Mungkinkah soal singa batu mengalirkan air mata darah merupakan alamat buruk dan bisa mendatangkan bencana?

Ia ingat pada surat gurunya, dibawanya ke bawah sinar lampu, disampulnya tiada tulisan apa-apa, sedangkan didalamnya bukan seperti kertas surat.

keras dan ganjil.

Surat apa ini ?

Kenapa harus menantikan esok baru boleh di buka ?

Mendadakan saja, keinginan tahu jiwa kecilnya menggolak dan sukar ditahan.

"Suhu menyerahkan surat ini tentu ingin berbicara denganku, tapi kenapa harus menanti sampai besok, bukankah besok bertemu muka lagi dan bisa bicara langsung, kenapa harus memakai surat? Surat ini untukku? Ia berpikir lagi, segera bantahan keluar dari dirinya sendiri, tidak ! Biar bagaimana tidak boleh kubuka sebelum pagi, sebagai murid harus taat pesan guru ! Otaknya berjalan terus, Tiong Giok belum juga tidur, pikirannya masih tetap berkecamuk antara buka dan tidak. Dengan perasaan ingin tahunya yang berlebih-lebihan, surat itu dibukanya. Di dalam terlihat surat dari kertasbiasa dan sebuah sampul surat dari kulit kambing yang tertutup rapat. Agaknya seperti surat rahasia saja, dan diluarnya tertulis. Untuk Thay Cin To Tjiang di Tay Heng San. Siapa Thay Cin To jin ia tidak kenal, maka surat itu diletakkannya. Ia meneliti surat dari kertas biasa, baru saja membaca sebaris, hatinya sudah kaget tak keruan. Karena itulah surat perpisahan dari gurunya yang berbunyi kurang lebih seperti berikut, Muridku yang baik, engkau tak perlu bersedih hati, karena pepatah mengatakan tiada suatu pesta tanpa perpisahan, demikian juga antara aku dan engkau. Sebagai guru, aku mengetahui apa yang engkau pikirkan selama lima tahun tentang diriku, demikian juga dengan aku terhadap dirimu. Bahkan sampai kini soal yang ingin kuketahui masih merupakan teka-teki yang belum terpecahkan. Muridku engkau anak yang cerdas, tentu mengetahui juga apa sebabnya singa batu mengucurkan air mata darah ? Kini boleh kuterangkan, itulah perbuatan dari seorang musuhku, musuh itu memiliki kepandaian tinggi, ia mencariku sudah dua puluh tahun lamanya, kini baru bertemu, maka itu pertempuran antara hidup dan mati tidak dapat kuelakkan. Tapi bagaimanapun tak usah engkau kuatir. Biarpun suhu itu sudah tua akan tetapi masih percaya takkan dikalahkan, hanya suatu soal saja yang membuatku menyesal, kalah ataupun menang tidak bisa kembali berkumpul denganmu. Hanya kita yakin, disuatu saast kita bisa bertemu lagi, maka tak perlu engkau sedihkan perpisahan ini. Sebenarnya sudah kusediakan waktu tujuh tahun untuk menurunkan segala kepandaianku kepadamu, tapi apa mau dikata sebelum sampai waktunya harus berpisah. Sungguhpun begitu sebagai orang yang cerdas dan berbakat, engkau dapat melatih sendiri segala pelajaran yang kuberikan, kudoakan engkau akan berhasil. Kecuali itu kuminta, pertama tama engkau pergi ke Tay Heng San, dan ingat selama di perjalanan engkau harus menjaga tanda luka di pundak kiri jangan sampai diketahui oleh orang, karena bisa menbahayakan jiwa. Dan kedua bila ada orang yang menanyakan usiamu harus menambah dua dan jangan mengatakan yang sebenarnya. Ketiga ilmu Hiat Cie ling (jari-jari berdarah) jika tak sampai terdesak sekali jangan dipergunakan. Empat, begitu bertemu dengan Thay Tjin Tojin harus berlaku hormat. Jika ia menanyakan nama suhu, engkau boleh mengatakan "Penunggang Hiu dari Honglay, pelajar miskin dari Pegunungan Salju."

Ia akan mengerti sendiri. Lima tahun kita bersama2, kini harus berpisah untuk ini ingatlah pesanku yang terakhir.

"Laki-laki sejati harus berani menghadapi hidup."

Dibaris terakhir tiada surat, hanya terdapat garis-garis bulat yang berdempetan. Begitu In Tiong Giok selesai membaca surat segera ia lari keluar sambil berseru .

"Suhu! Suhu!"

Dipagi sunyi, sinar surya baru saja terlihat diufuk timur dengan samar-samar, sekeliling masih terbenam kesunyian.

In Tiong Giok berlari kearah timur dimana gurunya tinggal.

Ia masuk dan melongo, kamar telahj kosong, gurunya telah pergi tanpa pamitan.

Tiada terasa lagi air matanya bercucuran.

Dengan pandangan guram, ia mengawasi surat kulit kambing untuk Thay Tjin To Djin di Tay Heng San.

Ia tidak mengenal siapa Thay Tjin To djin itu, hanya tahu bahwa surat itu mengandung rahasia besar, untuk kehidupannya hari kemudian.

Ingin ia mengetahui selekasnya rahasia didalam kulit kambing itu, setelah terpekur agak lama juga, sesuatu keputusan telah di ambilnya...

akan meninggalkan rumah berangkat ke Thay Heng San.

***** Rumah makan Tiang Thay di kota Hek Ciu sang,at terkenal akan panggang ayam dan panggang bebeknya, maka itu tidak heran banyak kaum pelancong dari dekat maupun jauh yang kesitu, untuk mencicipi kedua masakan itu.

Saat ini baru tengah hari, tepat waktunya orang makan, seratus meja lebih dari rumah makan itu yang terdapat di loteng maupun di bawah telah penuh para tamu.

Tiba-tiba dari arah luar terdengar suara sepatu kuda, dua laki-laki gagah dengan cepat sudah turun dari kudanya.

Yang jalan di depan mukanya berewokan, sedangkan yang satu lagi mukanya pucat, tubuhnya kurus.

Mereka mengenakan pakaian serba hitam, dan menyoren pedang dipinggang.

Pemilik retoran begitu melihat kedatangan dua tamu, wajahnya agak berubah, cepat-cepat meninggalkan tempat duduknya, menyambut dengan terbungkuk-bungkuk "Liok-ya dan lie-ya selamat siang, bagaimana baik-baikkah selama ini ?"

"Apa yang jadai baik ? Tidakkah kau tahu hampir-hampir aku gila karena mendongkol !"

Jawab si brewok dengan kasar.

"Ya, harap Lie ya jangan gusar, mari minum arak untuk menghilangkan kejengkelan !"

Kata si Tauke dengan tersenyum.

"Ya sudah jangan bicara yang tidak keruan kedatanganku kesini sudah tentu ingin minum arak sediakan lekas !"

Kata sibrewok dengan kasar.

"Lo lie tak usah meladeni mereka, urusan kita sendiri belum beres, mari kita makan secepatnya, dan menjelaskan terus pekerjaan kita,"

Kata si kurus pucat.

Atas kedatangan dua orang ini, suasana ramai dirumah makan menjadi sepi, para tamu makan sambil tunduk dan tidak berkata-kata, agaknya semua tamu merasa jeri terhadap dua orang ini.

Diantara sekalian tamu, terdapat seorang muda sederhana.

Sedang makan dan minum denga enaknya.

Seorang pelayan denga hormat membungkukkan badan sambil memohon .

"Benar-benar maaf, dapatkah Yuan memberi muka kepadaku agar pindah kemeja sebelah duduk bersama dengan Tuan ini? Hal ini terpaksa dilakukan kaena tamu keliwat banyak."

Sehabis berkata, pelayan itu tanpa minta persetujuan lagi, segera memindahkan makanan dan minuman kedua tamu itu kemeja yang berada disebealah.

Anak muda itu nampaknya tidak puas dan menunjukkan perasaan gusar, untung siorang tua dengan sabar mencegahnya.

"Kongcu tak perlu gusar, orang yang bepergian, kurang sedikit lebih sedikit tak apa-apa, mari kita pindah."

Pemuda berbaju biru menoleh kemeja sebelah, dilihat seorang laki berusia tiga puluh enam tahun, mengenakan pakaian sastrawan, bermata sipit berhidung bengkung, wajahnya penuh ciri kelicikan.

Membuatnya ragu-ragu sejenak.

Sedangkan laki-laki itu telah bangun dan merangkapkan kedua tangannya mempersilahkan duduk.

"Kebetulan duduk sendirianpun merasa sepi, jika tidak keberatan marilah kita duduk bersama-sama."

Agaknya perkataan laki-laki itu membuat pemuda berbaju biru merasa likat, segera membalas hormat dan duduk.

"Ah, mengganggu Saudara saja, lagi pula dua tamu itu sok betul..."

"Ssst kuharap Lotee mengerti, mereka adalah orang-orang Pok Tian Pang (Perserikatan pemecah langit), kita sebagai sastrawan yang lemah, tak baik bertengkar dengan meereka!"

Sehabis makan laki-laki itu memperkenalkan diri sebagai Pang Hui, seorang Siucay pengembara, dan iapun minta kenal dengan sipemuda dan orang tua itu.

Agaknya sipemuda kurang senang terhadap teman semeja itu, ia hanya menjawab singkat.

"Namaku In Tiong Giok, dan orang tua ini adalah pembantu rumahku yang setia!"

Pang Hui banyak bicara kebarat ketimur tak henti-hentinya.

Hal ini membuat In Tiong Giok sebal dan menyesal bisa duduk semeja dengaannya.

Biarpun Pang Hui banyak bicara dan bertanya ini itu, hanya mendapatkan jawaban singkat dan tawar.

Karena disamping rasa sebal kepadanya, perhatiannya lebih banyak dicurahkan kepada dua orang Pok Thian Pang.

Siberewok dan sikurus pucat begitu duduk, segera mengalir makanan dan minuman semeja penuh.

Sambil makan kedua orang itu sambil memaki-maki orang lain, nampaknya sedang mendongkol benar-benar."

"Ah sialan betul, segala golok dan pedang mudah ditangkis, kenapa kemendongkolanku sukar dilupakan? Aku orang she Lie hidup puluhan tahun tapi baru kali ini mengalami peristiwa semacam ini. Yang menjadi atasan kita tahunya setiap hari makan enak dan main perempuan, sedikitpun tidak mengetahui kesulitan kita, taunya salah sedikit maki-maki dan marah-marah."

"Tapi tidak bisa menyalahkan atasan kita, iapun mendapat perintah dari Kangcu, engkau jangan melihat dia galak dan garang, jika sampai dipusat tak ubahnya seperti kura-kura, kepalanya ngerepot dan lebih-lebih dari kita."

Kata sikurus pucat.

"Tapi akupun heran kenapa memerintahkan kita mengerjakan hal yang aneh pikirlah didunia ini berapa banyak pemuda berusia delapan belas tahun ? Kitapun tak bisa melakukan pemeriksaan satu-satu sambil membuka baju mereka untuk melihat ada tandanya atau tidak.

"Sabarlah tak usah marah-marah terus, engkaupun harus hati-hati, ini tempat umum, sedangkan tugas kita harus dirahasiakan betul-betul. Sibrerewok kaget juga mendengar peringatan temannya, ia celingukan keempat penjuru lalu duduk lagi sambil berkata keras .

"Ya baiklah tidak kukatakan lagi, mari minum !"

In Tiong Giok yang mendengar percakapan mereka menjadi heran sekali, diam-diam ia menjadi kaget, karena ia tahu pundak kirinya terdapat tanda dan usianyapun delapan belas tahun.

"Untuk apa mereka mencari pemuda itu?"

Pikirnya dan diam-diam berlaku waspada pada orang Pok Tian Pang. Siberewok menyenggol temannya sambil berkata.

"Hei, Lo Liok bukankah engkau mengatakan di penginapan Hong Sin ada pemuda yang patut dicurigakan ? Tapi aku merasa inipun sia-sia saja, karena berulang kali kita melakukan kesalahan mencurigakan orang yang tidak bersalah.

"Mari kita berangkat."

"Sekali ini pasti tidak salah, kaena Cu Lay cu melihat denga kepala sendiri waktu pemuda itu mandi, dipunggungnya terlihat sebuah tanda."

"Biarpun dipunggungnya ada tanda jika saat ini usianya bukan delapan belas tahun, bukankah sama denga nol ?"

"Maka itu kita bekerja harus hati-hati."

Kata Skurus pucat.

"Sebelum kita menangkap kita Tanya dulu usianya, dan memaksanya memperlihatkan tanda dipunggungnya, jika benar segera kita tangkap, jika tidak ya kita lepaskan!"

"Ya benar, pendeknya kalau sekali berhasil, kita akan mendapat uang banyak, dan bisa pergi cuti untuk bersenang-senang."

"Kalau sekali ini berhasil kitapun bisa ikut mencari pemuda yang pandai bahasa Sangsekerta untuk diajukan kepada Pangcu, karena kudengar barang siapa bisa mencari orang yang pandai bahasa itu akan mendapat upah besar, dan kitapun bisa naik pangkat!"

"Ah sudahlah jangan membicarakan hal itu, mari kita kerjakan yang berada didepan mata."

Mereka berlalu tanpa membayar.

"Ah benar-benarkah mereka mencari orang yang pandai bahasa Sangsekerta?"

Kata Pang Hui tanpa terasa. Iapun segera pamitan dari In Tiong Giok dan cepat berlalu.

"Apakah Pang Heng pandai bahasa Sangsekerta?"

Tanya In Tiong Giok.

"Ah tidak !"

Katanya seraya memanggil pelayan.

"Berapa semuanya?"

"Dua ketip empat sen."

"Hitunglah jadi tiga ketip, uang ini sekalian masukkan kedalam rekening In Kong Cu, lebihnya enam sen boleh kau ambil."

In Tiong Giok merasa dongkol, ia tidak keberatan untuk membayarkan makanan Pang Hui, tapi caranya yang berutal dan kurang ajar itu membuatnya mendongkol, sehingga timbul penilaiannya bahwa Pang Hui lebih busuk dari orang-orang Pok Tian Pang.

"Apakah orang she Pang itu adalah langgananmu?"

Tegur Tiong Giok pada pelayan.

"Bukan, baru beberapa hari ini saja ia sering dating makan disini. Pang Kongcu itu orang aneh, setiap makan tidak lebih dari tiga ketip, dan selalu ia makan dengan kawannya, dan selalu dibayar!"

Hanya hari ini ia datang sendiri. Dan kebetulan pula harus Kongcu yang membayari."

Disini banyak temannya ia tinggal dihotel Hong Sing..."

Begitu mendengar perkataan Hong Sing, Tiong Giok tergerak dan cepat-cepat menyelak.

"Jauhkah tempat itu dari sini?"

"Tidak, belok dari gang kecil yang didepan sudah sampai !"

In Tiong Giok segera memesan pada In Hok.

"Tunggu disini sebentar akau mau kesana."

Orang tua itu jadi melongo.

"Kongcu mau kesana mari kutemani."

"Tidak usah, hanya sebentar, jika dalam waktu setengah jam tidak kembali engkau boleh menyusul,"

Kata Tiong Giok yang segera tanpa menunggu jawaban lagi dari pengikutnya.

"Sesampainya didepan pintu hotel, Tiong Giok tertegun sejenak dan berpikir .

"Saat ini baru jam dua tengah hari, mungkin orang-orang dari Pok Tian Pang berani memeriksa tamu hotel dengan sewenang-wenang. Dan apa tujuan mereka memeriksa orang muda berusia delapan belas tahun denga tanda dipunggungnya itu"

Lebih lebih mengingat Pang Hui yang menjemukan, ia tidak masuk, emlainkan menantikan didepan hotel sambil mondar-mandir.

Tak jauh dari diri terlihatnya banyak orang sedang berkerumun, seolah-olah ada pengumuman penting dari yang berwajib.

Begitu ia mendekat terdengar salah seorang berkata .

"Ah ini rejeki nomplok, saying kita tidak mampu, bagaimana kalau kita beritahu Tan pocu, dia orang terpelajar, pasti bisa melakukan pekerjaan ini !"

"Ha ha ha,"

Yang lain tertawa.

"Memang dalam soal pengetahuan. Ia lebih unggul dari kita, tapi dalam hal ini iapun tak bedanya dengan kita."

"benar,"

Sahut yang lain lagi. Kuingat Cie Sian-seng. Ia pedagang keliling, sedikit banyak menguasai bahasa asing denga baik, coba suruh dia, siapa tahu..."

"Apa? Hm, memang ia bisa berkata-kata sedikit bahasa asing, yang lucu orang asing sendiri tidak mengerti apa yang di ucapkannya ! Apalagi dalam pengumuman ini terang-terang mencari seorang yang pandai bahasa Sangsekerta."

Tiong Giok menyelak diantara orang banyak sambil bertanya.

"Cuwie, sebenarnya apa sih yang dikatakan rezeki nomplok?"

"Kongcu sebagai pelajar, mungkin bisa juga bahasa Sangsekerta. Untuk ini akan mendapat sepuluh ribu tail emas, didunia tidak ada cara mencari uang yang lebih mudah dari ini !"

"Apa susahnya dengan bahasa Sangsekerta, aku In Tiong Giok sejak usia tiga belas tahun sudah belajar bahasa ini ?"

"Benar-benarkah Kongcu mengerti?"

Yanya seorang setengah percaya.

Dalam pengumumam itu dikatakan bahwa Ngo Liu Cung (perkampungan Ngo Liu) mencari seorang penterjemah yang mahir dalam bahasa Sangsekerta, jika benar-benar orang itu bisa dipakai akan diberi honorarium sepuluh ribu tail emas.

Dan untuk orang yang bisa memcarikan tenaga yang dibutuhkan itu akan mendapat upah lima puluh tail perak.

"Maafkan aku bukan orang sini, dapatkah Cuwie menunjukkan jalan menuju Ngo Liu Cung ?"

"Tak usah Kongcu pergi jauh-jauh kedua orang itu adalah dari Ngo Liu Cung!"

Tiong Giok menoleh kearah yang ditunjuk, benar saja terlihat dua orang sedang ke hotel Hong Sing dengan tergesa-gesa.

Kedua orang itu setelah ditegasi bukan lain dari pada Si berewok dan Si kurus pucat yang diketemukan dalam restoran tadi.

Cepat-cepat ia melangkah ke hotel.

Kedua orang itu baru sampai didepan pintu hotel, berpapasan dengan seorang muda berpakaian perlente, hampir mereka saling tubruk.

Dengan sopan santun pemuda perlente memberi hormat dan menghaturkan maaf.

Tapi kedua orang itu bukan saja tidak membalas hormat, melainkan mendelik dan bertanya dengan kasar .

"Hei engkau mau kemana?"

"Mau keluar sebentar, jie wie ada perlu apa"

"Tidak apa-apa, hanya mau bicara sebentar denganmu,"

Kata sikurus pucat dengan dingin.

"Hal apa yang hendak jie wie bicarakan,"

Kata sipemuda dengan heran.

"Apakah engkau She Yo?"

Tegur si berewok. Pemuda itu menganggukkan kepala.

"Apakah usiamu tahun ini delapan belas tahun,"

Sipemuda menganggukkan kepala lagi. Dua orang itu saling berpandangan dengan puas, siberewok sengaja menepak gagang pedangnya dan berkata dengan girang.

"Hei apakah dipunggungmu terdapat satu tanda?"

Pemuda itu mundur mundur bebrapa langkah "Apakah maksud jie wie bertanya ini?"

"Tidak apa-apa"

Kata siberewok.

"kami hanya menginginkan engkau membuka baju dan memperlihatkan tanda dipunggung itu."

Pemuda ini menjadi gugup, sungguhpun begitu ia tidak mau membuka bajunya, sipucat kurus mendengus sekali dan berkata.

"Lo Lie waktunya engkau bertindak."

Tanpa disuruh kedua kalinya siberewok segera menyambar baju pemuda itu.

Tapi dengan gaya berputar pemuda itu berhasil berkelit dan melakukan balasan.

Akibat terlalu memandang enteng, siberewok kena ditampar, tentu saja membuatnya gusar sekali, pedangnya segera dihunus.

Demikian juga denga sikurus pucat.

Aganya pemuda itu hanya memiliki ilmu bela diri yang sederhana saja.

Berbukti setelah ditodong denga dua senjata tajam, ia tidak berdaya, matanya clingukan mengharapkan bintang penolong, sedangkan keringatnya bercucuran turun membasahi bajunya.

Akan tetapi seorang yang terlalu didesak akan timbul nekatnya, demikian juga sipemuda itu, ia tidak menyerah!

Waktu sipucat kurus mau menangkapnya ia masih melakukan perlawanan, tapi bagaimanapun yang lemah itu tidak bisa menang melawan yang kuat.

Tak selang lama ia sudah tertotok dan tidak berdaya.

Siberewok dngan kasar, membeset baju pemuda itu, dan benar saja dipunggungnya terdapat tanda.

"Lo Lie jaga baik-baik bocah ini, akan kuberi kabar pada Cunggu."

Kata sikurus pucat.

Tapi belum pula ia meninggalkan hotel, dari arah luar telah dating lima kuda memasuki pekarangan hotel, empat diantaranya mengenakan pakaian Lie dan Liok, sedang yang satu lagi adalah seorang tua yang sudah lanjut usianya mengenakan pakaian panjang waarna hijau, janggutnya yang panjang bergoyang-goyang tertiup angin, wajahnya tenang dan berwibaww dilehernya tergubat sehelai sutra biru yang mengkilap.

Lie dan Liok segera memapak kedatangan lima orang ini, dan memberi hormat pada orang tua itu.

"Yang rendah Lie Guan Ciang dan Liok Beng Can menghaturkan hormat pada Cungcu."

"Bukankah engkau kutugaskan mencari seseorang,"

Tegur si Cungcu.

"kenapa berada disini?"

"Orang yang dimaksud itu berada dipenginapan ini."

Kata sipucat kurus.

"Bahkan sudah ditangkap!"

"Kebetulan sekali,"

Kata siorang tua.

"bawa kemari orang itu."

Dengan cepat siberewok menenteng pemuda perlente yang telah tertotok kehadapan siorang tua.

"Buka jalan darahnya!"

Perintah orang tua. Begitu jalan darahnya dibuka pemuda itu menjadi gusar dan melakukan protes keras.

"Hei kalian bangsat dan rampok, ditengah hari bolong berani berlaku sewenang-wenang, memang didepan mata kalian tidak ada undang-undang Negara?"

"Diam!"

Seru siorang tua.

"Kutanya berapa usiamu kini ?"

"Delapan belas tahun!"

"Coba putar badanmu, ingin kulihat punggungmu!"

"Tidak mau!"

Seru pemuda dengan bandel.

Liok Beng Can dan Lie Goan Ciang segera merejeng pemuda itu, dan menyingkap bajunya yang sidah robek.

Orang tua itu memperlihatkan tanda dipunggung pemuda itu, lalu mengeluarkan selembar kertas dari sakunya.

Setelah mengukuri sejenak, kertas itu dilipat kembali dan ia sendiri tertawa sinis "Lepaskan dia."

"Cungcu mungkinkah....."

Kata Lie dan Liok hampir berbareng.

"Orang yang dikehendaki mempunyai tanda bekas bacokan dipundak kirinya, sedangkan dia mempunyai tanda dekat pinggang, pasti bukan, maka kulepas, lain kali bekerja lebih cermat jangan sembarangan lagi!"

In Tiong Giok yang menyaksikan kejadian ini, diam-diam masuk kedalam hotel, tanpa terasa ia mengusap tanda dipundak kirinya, keringatnya mengucur sendiri.

"Tak heran Suhu memesan jangan sampai tandaku ini dilihat orang, danjangan mengaku usia yang sebenarnya, kiranya ada bertalian dengan soal misterius yang tidak kumengerti? Ya apapun hubungannya dengan kedua orang Pok Tian Pang ? Kenapa mereka hendak menciduk pemuda berusia delapan belas tahun dengan tanda dipundak kiri? Mungkinkah orang yang mereka cari itu aku adanya?"

In Tiong Giok tidak alang kepalang kagetnya sewaktu mendengar orang menegur padanya.

"Anak muda sedang apa kau disini?"

In Tiong Giok kena dikagetkan, dalam sejenak tidak bisa menjawab.

"Hei anak muda apakah engkau tidak mendengar, Cungcu bertanya padamu?"

Tegur salah seorang pengawal baju hitam.

"Oh, tidak sedang melihat pengumuman di luar hotel...."

Jawabnya agak gugup.

"Siapa namamu?"

Tegur si Cungcu.

"In Tiong Giok!"

"Oh, kiranya engkau, aku dating kesini karena mendengar ada seorang bernama In Tiong Giok yang pandai bahasa Sasngsekerta, kiranya engkau kata!"

Si cungcu dengan nada suara berubah ramah tamah.

"Ya benar,"

Jawab Tiong Giok.

"Aku situa ini bernama Tan Toa Tiau tinggal disebelah barat kota yang disebut Ngo Liu Cung, kedatanganku sengaja untuk mengundang Kong Tju dating kerumahku. Mungkin Kongtju sudah membaca pengumuman itu dan mengerti apa imbalan jasa yang akan kami berikan kepada seseorang yang pandai bahasa Ssangsekeerta...."

Ya, memang sudah kubaca, tapi bukan karena aku sok kaya, soal uang tak berarti amat besar bagiku."

"Ya, memang uang itu untuk pelajar sejati tidak berarti, itu hanya tandanya hormat dari kami saja, dan mungkin Kongcu tak berkeberatan bila sekarang juga kuundang datang ke Ngo Liu Cung."

"Undangan Cungcu merupakan kehormatan yang tidak bisa kutolak, hanya saja."

"Apa yang Konngcu kehendaki, tinggal katakana, orang-orangku bisa membantu!"

"Di rumah makan Tiang Thay ada seorang pengikutku yang bernama In Hok, Aku harus kesana dulu, agar ia tidak kuatir....."

"Tidak usah Kongcu pergi sendiri, orangku bisa menyampaikan pesan, juga sekalian mengundang In Hok datang!"

Kata Tan Toa Tiau yang segera menyuruh pengawalnya menjalankan perintah.

Waktu ia mengikuti Tan Toa Tiau, si pemuda She Yo tadi masih ada di depan pintu, saat ini kebetulan Tiong Giok menoleh kearahnya.

Entah bagaimana pemuda itupun sedang memandang kearahnya,kepalanya goyang sedikit seolah-olah memberi tanda agar ia jangan mau ikut.

Tiong Giok mengangguk dan tersenyum menyatakan terima kasih atas peringatannya si pemuda itu.

Di tengah perjalanan Tan Toa Tiau banyak bertanya.

"Kongcu berusia berapa?"

"Dua puluh tahun!"

"Kongcu sebagai pelajar, juga seperti seoarang yang mengerti ilmu silat, apakah pandanganku benar?"

"Seorang pelajar seperti aku ini, memang mempelajari juga ilmu silat, tapi hanya kembang-kembangnya saja, sekedar gerak badan, lain dengan ahli silat dari Rimba Hijau!"

Selanjutnya Tan Toa Tiau menanyakan soal keluarganya denga npanjang lebar, semua ini di jawab Tiong Giok dengan sejujurnya, Ngo Liu Cungcu menjadi puas, sehingga kata-katanya semakin ramah-tamah.

Tak lama tibalah mereka disebuah benteng yang terbuat dari batu-batu.

Benteng ini sekelilingnya di kitari selokan dan tertutup pepohonan yang rimbun.

Samar-samar terlihat penjaga-penjaga benteng yang gagah dari celah-celah pepohonan, nampaknya penjagaan keras sekali.

Untuk masuk ke benteng itu harus melalui jembatan gantung, Tan Toa Tiau hanya memberi tanda, penjaga jembatan segera menurunkan.

Mereka dengan mudah masuk kedalam benteng.

Di dalam terlihat sebuah bangunan berloteng yang mentereng di pekarangan terlihat lima batang pohon Liu yang besar-besar.

Tak uash di tebak lagi nama perkampungan Ngo Liu dari situ datangnya.

Dengan ramah Tan Toa Tiau mengajak tamunya masuk kedalam gedung, dan terus naik keloteng.

Baru saja sampai di pintu seorang pengawal menyambut dengan membungkukkan badan.

Mereka bicara sejenak, nampak Tan Toa Tiau bersseri seri dengan kaget.

"Ah kebetulan sekali, dimana dia?"

"Di ruangan tunggu!"

"Suruh dia tunggu, aku segera menemuinya,"

Kata Tan Toa Tiau, dan lalu berpaling kepada Tiong Giok.

"Kongcu mari ikut denganku."

Diajaknya Tiong Giok masuk kekamar buku.

"Harap Kongcu tunggu sebentar, aku ingin menemui seseorang!"

"Oh, silahkan!"

Kata Tiong Giok.

Seberlalunya si tuan rumah, membuatnya sendirian.

Ia memperhatikan bahwa kamar buku ini dekorasinya begitu indah penuh seni, lemari lemari penuh dengan buku buku tua, di dinding tergantung lukisan lukisan antik.

Dari segi ini dapat dinilai bahwa tuan rumah seorang, yang banyak pengetahuannya dan terpelajar tinggi.

Jika dibanding dengan keadaan diluar, yakn penting dan pengawai yang gagah, nyata benar perbedaannya, dan tidak serasi antara luar dan dalam.

Sejenak berlalu Tuan rumah belum kembali membuatnya kesal juga, ditambah kesunyian kamar tidak alang kepalang.

Waktu ia ingin menghilangkan kesal sambil melihat buku, ia menjadi kaget, karena samar samar mendengar didekat rak buku ada yang sedang berbicara.

Sayang suara itu begitu lemah dan tidak terdengar tegas.

Sikirannya timbul untuk mendengari percakapan disebelah.

Baru saja lengannya menyentuh rak, tiba tiba rak bergerak dan terbuka dengan sendirinya.

Dengan gaya reflek yang cepat, ia menarik se

Jilid buku sambil mundur dua langkah dan pura pura membaca.

Dari arah rak terlihat Tan Toa Tiau dengan seoarang sastrawan masuk kedalam ruangan.

Sastrawan itu bermata sipit dan berhidung bengkung, yang kaku lain Pang Hui adanya.

Ia menjadi heran, sedang Pang Hui dengan wajah liciknya tersenyum dan memberi hormat.

"Tak dikira kita bisa bertemu lagi, sudah lamakah saudara In ?"

"Oh jiwie nyatanya sudah kenal satu sama lain, tak perlu repot repot aku memperkenalkan lagi !"

Kata Tan toa Tiau.

"Ya, aku bersama saudara In secara kebetulan makan bersama sama direstoran Tiang Thay."

"Kini mari ikut denganku, karena minuman dan sedikit hidangan sudah disediakan !"

Diruangan makan benar saja sudah disediakan hidangan mewah, tuan rumah mempersilahkan tamunya duduk.

Pang Hui berlaku tak sungkan, segala ikan dan kidik main caplok, minuman main tenggak.

Sedangkan In Tiong Giok karena pikirannya masih memikir mikir maksud dari tuan rumah tidak seberapa napsu makan.

"Aku merasa beruntung dalam satu hari bisa mendapat dua orang ahli bahasa Sangsekerta, untuk secawan arak !"

In Ting Giok merasa heran, karena ia mendengar bahwa Pang Hui sewaktu dirumah makan mengatakan tidak mengerti bahasa Sangsekerta, kenapa sekarang mengaku bisa.

Sungguhpun ia mengangkat cawan dan mengarangkan keheranannya, tetap ada sedangkan Pang Hui dengan sikap wajar, tersenyum senyum.

"Aku sejak kecil sudah kenyang membaca berbagai buku ilmu pengetahuan, ditambah sifatku yang senang merantau, waktu kecil sudah pernah ke India, maka itu pelajaran bahasa sangsekerta kupelajari disana, bahkan bukan itu saja bahasa asing lainnyapun banyak yang kumengerti, Hari ini kebetulan bertemu Cungcu sehingga hatiku girang, karena pelajaran yang kumiliki dapat kukembangkan dengan penghargaan besar."

In Tiong Giok tahu orang she Pang itu sedang menyombongkan diri, maka dengan cepat ia berkata .

"Kalau begitu pengetahuan Pang Heng luar biasa sekali, sedangkasn aku yang sejak kecil dirumah melulu, pantas jika minta petunjuk-petunjuk dari Pang Heng,"

"Untuk memberikan pelajaran aku tidak berani, untuk menceritakan pengalamanku diluar negeri boleh sedia."

"Yang ingin kuketahui, sejak kapankah India dan Tionghoa mengadakan hubungan ?"

Tanya Tiong Giok.

"Oh, tidak heran kalau Lo tee yang masih berusia muda tidak mengetahui hal ini, baiklah kuterangkan. Ketahuilah pada Ahala Tang ada seorang Biku yang bernama Tong Sam Cong pergi kebarat atau India untuk mengambil kitab suci, nah sejak itulah perhubungan antara India dan Tiong Goan dimulai, jelas ?"

Mendengar keterangan itu Tiong Giok merasa ingin tertawa, hampir hampir arak yang berada di dalam mulutnya tersembur keluar, bahwa gelinya.

"Bagaimana apakah yang juterangkan jurang jelas ?"

Tanya Pang Hui.

"Soal Tong Sam Cong mengambil buku suci yang terdapat dicerita See Yu memang benar. Tapi soal hubungan antara Tionggoan dan India terjadi sejak itu, kurasa tidak tepat !"

"Habis sejak kapan ?"

Tanya Pang Hui.

"Menurut sejarah orang pertama yang pergi ke India terjadi di Ahala Kim, yakni waktu Hoat Sian mempelajari agama Buddha, hal ini terjadi dua ratus tahun sebelum Tong Sam Cong datang ke India, mungkinkah Pang Heng yang sudah kenyang baca buku, tidak mengetahui soal ini ?"

"Saudara In, untukku segala pengetahuan yang tidak seberapa penting itu tidak kuingat, lebih lebih kini yang benar benar dibutuhkan Tan Cungcu adalah ahli bahasa Sangsekerta bukan ?"

Untuk apa membicarakan soal yang tidak berguna ! Sehabis berkata ia bergelak-gelak dan minum arak .

"Saudara In mari minum, kuakui untuk mengingat tahun tahun sejarah engkau lebih mahir dariku, aku menyerah kalah."

Sebenarnya Tiong Giok ingin membuat susah Pang Hui dalam bahasa Sangsekerta tapi ia tidak tega berlaku demikian, sedangkan Ngo Liu Cunggu pun hanya tertawa saja tanpa memberikan komentar.

"Ah nyata-nyata Pang Hui tidak memiliki kepandaian tinggi, tapi berani betul melamar pekerjaan ini apa maksudnya ? Mungkinkah dirinya itu sebagai orang Pok Thian Pang yang pura-pura sebagai ahli bahasa, tapi yang sebenarnya untuk mengawasi diriku ? Tengah ia berpikir dari luar terlihat seorang pengawal memberri laporaan. Pengikut In Kongcu sudah datang !"

"Suruh dia istirahat dulu, tak usah menemuiku !"

Kata Tiong Giok yang sedang berpikir keras, menghadapi situasi keadaan dirinya kini.

Mereka makan minum dari tengah hari sampai lampu-lampu dinyalakan belum juga bubar.

Saat ini dari arah luar terdengar suara tambur tiga kali.

Menyusul terlihat seorang pengawal masuk kedalam.

Ia memberi hormat pada Tan Toa Tiau sambil berkata.

"Nona Pek Wan Jie dari markas pusat telah datang."

Tan Toa Tiau agak terkejut.

"Ih ada apa ia datang."

"Kenapa?"

Terdengar suara garing dari luar.

"tidak senangkah atas kedatanganku sebagai tamu tak diundang ?"

Tan Toa Tiau tergelak-gelak dan buru-buru menyambut.

"Diundang tidak datang tidak diundang datang, sebenarnya angin apa yang meniup nona datang kesini?"

Gadis itu bukan sendirian, malainkan bertiga.

Yang paling depan kira-kira usianya tujuh belas tahun berbaju merah, raut wajahnya begitu cantik, ditambah ada lesung pipitnya waktu tertawa, benar-benar membuat silau pemandangan.

Dibelakangnya mengikuti dua gadis berbaju kuning yang ringkas dan bersenjata pedang.

"Paman Tan engkau tidak akan mengira, kedatanganku kesini yakni untuk melihat orang yang pandai bahasa Sangsekerta !"

"Bagaimana engkau tahu, padahal baru sore tadi kukirim kabar melalui merpati pos?"

"Ya burung itu terbangnya cepat dan sudah tiba dimarkas pusat,"

Kata Pek Yan sambil tersenyum.

"Tan Cungcu jangan percaya omongannya, pikir saja dari sini kepusat berapa jauhnya? Andaikata kami terbangpun, dalam sehari pasti belum sampai kesini,"

Kata salah seoarng gadis baju kuning.

"Ha ha ha,"

Pek Wan Jie tertawa.

"kami sebenarnya secara kebetulan saja sedang pesiar ke Telaga Tong Teng, dan dari orang-orang di sana mendengar bahwa Cungcu berhasil menemukan In Kongcu yang pandai berbahasa Sangsekerta ? Maka itu buru-buru dating kesini !"

Tiong Giok dan Pang Hui menjadi silau pandangan matanya, tanpa terasa mereka berdiri dengan berbareng.

Gadis berbaju merah mencegah sambil menggoyangkan tangan.

Jiwie tak usah berlaku demikian, aku Pek Wan Jie dan dua pengikutku Siaw Eng dan Siaw Hong sudah biasa berlaku ugal-ugalan, maka jangan ditertawakan."

"Pek Kounio adalah murid satu-satunya dari Pangcu, disayang serta dimanja,"

Kata Tan Toa Tiau.

"Ah, paman Tan bagaimana sih, baru ketemu sudah membongkar rahasia orang?"

Kata Wan Jie sambil trsenyum dan matanya menyapu tajam sambil bertanya.

"Yang mama In Kongcu ?"

In Tiong Giok merangkapkan tangan menghaturkan hormat.

"Yang rendah adalah In Tiong Giok."

Pek Wan Jie membuka mata lebar-lebar, mengawasi dari atas sampai bawah.

"Ah benar ganteng !"

In Tiong Giok tidak bisa bergurau, wajahnya menjadi merah dan tunduk tak berani menatap sinona. Tan Toa Tiau segera memperkenalkan Pang Hui.

"Pang Kongcu inipun seorang ahli bahasa Sangsekerta, bahkan iapun sudah pernah pergi kenegeri barat, misalnya India, Persia dan lain-lain."

"Ah kebenaran sekali, aku ingin bertanya sepatah kata bahasa Persia yang tidak kumengerti, bolehkah Pang Kongcu mengartikan?"

Pang Hui tampaknya kaget, terpaksa tersenyum.

"Boleh saja, perkataan apa yang Kounio maksud?"

"Pang Kongcu, Asana apa artinya?"

In Tiong Giok maupun Tan Toa Tiau berbareng mengawasi Pang Hui menantikan jawaban. Tanpa terasa suasana didalam kamar men jadi sunyi sekali.

"Asana kata Pang Hui seperti mengingat-ingat arti dari kata itu. Bagaimanapun ia memeras otak, belum juga ia dapat artikan, wajahnya menjadi pucat.

"Pang Kongcu perbah pergi ke Persia, masakan "Asana"

Saja tidak tahu artinya?"

Pang Hui menjadi garuk-garuk kepala tak gatal. Keringatnyapun mengucur semakin deras.

"Asana...Asana...ini...rasanya belum pernah kudengar !"

"Hi HI HI kuterangkan "Asana"

Adalah nama kucing belangku dari Persia, tak heran engkau belum pernah mendengar"

Tan Toa Tiau dan In Tiong Giok terpingkal-pingkal, sedangkan Pang Hui menarik napas lega, seolah-olah baru keluar dari lubang jarum.

Ngo Liu Cungcu berlaku telaten pada Wan Jie, ccepat-cepat menyuruh bawahannya menyiapkan lagi meja baru untuk menjamu tamunya.

Tapi sinona dengan tersenyum mencegahnya.

"Tak usah repot-repot sebaiknya suruhlah mereka lekas-lekas menyiapkan kereta, malam ini juga kami akan berangkat mengajak dua Kongcu ini kepusat. Tak usah memberabekan orang-orang dipusat dating kemari."

"Kini sudah malam bagaimanapun Kounio sudi bermalam disini, besok baru berangkat."

"Kasur disini tak bisa kutiduri,"

Kata Wan Jie, pokoknya asal paman merasa lega, mumpung belum terlalu malam kami lantas berangkat."

Mendengar percakapan ini, In Tiong Giok merasa heran, lalu menanya.

"Kedatangan kami kesini yakni melamar kerjaan pada Ngo Liu Cungcu, kenapa harus pergi kepusat segala ?"

Wan Jie melirik kearah Ngo Liu Cungcu.

"Apakah paman belum menjelaskan, pokok persoalan pada mereka ?"

"Belum sempat kujelaskan, Kounio sudah dating, nah terangkanlah pada mereka sekarang!"

"Oh, In Kongcu belum tahu,"

Kata Wan Jie.

"Sebenarnya tidak terhitung rahasia lagi, kalau Ngo Liu Cungcu menjabat ketua Pok Tian Pang disini, ketua kami sedang mencari seseorang yang pandai bahasa Sangsekerta. Maka itu semua ketua cabang menjalankan perintah melakukan pengumuman keantero semua pelosok mencari seorang yang ahli bahasa itu. Tugas utama untuk alih bahasa sangsekerta ini, tidak lain sebagai penterjemah, karena dipusat ada sebuah buku yang ditulis dalam bahasa Ssangsekerta. Nah, tugas Kongcu kepusat tak lain untuk menterjemahkan buku itu kedalam bahasa Tionghoa!"

"Buku apa yang akan di terjemahkan itu?"

"Mana kutahu, pokoknya setelah kongcu kesana akan mengetahui sejelas-jelasnya."

"Jauhkah letaknya pusat Pok Tian Pang,"

Tanya Tiong Giok.

"Dengan kereta dapat di tempuh dalam empat lima hari!"

"Aku sedia melakukan pekerjaan ini, jika buku itu berada disini, kalau terlau jauh.."

"Perjalanan empat lima hari mana terhitung jauh?"

Sela Wan Jie.

"yang aku tahu laki-laki harus bersifat jantan, Kongcu sudah dating melamar pekerjaan dan di terima, bagaimanapun harus dilakoni juga!"

Perkataan sinona ini membuat In Tiong Giok tak enak hati.

"Ya kalau begitu kuturuti, tapi patut kujelaskan, jika buku itu termasuk porno tak akan kukerjakan walau dibayar berapa."

"Syarat Kongcu kami hargakan, aku berani menjamin buku itu bukan porno, Kongcu akan percaya setelah melihatnya,"

Kata Wan Jie penuh keyakinan.

Sementara mereke berkata, kaum pelayan telah siap dengan meja baru dan segala hidanganpun baru pula.

Nampaknya Ngo Liu Cungcu berdaya sekuatnya untuk menahan tamunya bermalam juga.

Melihat kesungguhan hati tuan rumah Wan Jie mengalah dan menginap juga semalam.

***** Hari kedua, Tan Toa Tiau telah menyiapkan sebuah kereta, dan memerintahkan empat pengawal mengiringi.

Tiong Giok dan Pang Hui naik kereta, sedangkan Wan Jie dan dua pengikutnya naik kuda.

Rombongan ini berikut kusir kereta berjumlah sebelas orang, perlahan-lahan meninggalkan Ngo Liu Cung.

Di tengah perjalanan Pang Hui tidak banyak bicara seperti kemarin, ia lebih banyak tidur!

Sedangkan Tiong Giok selalu menatap keluar, menikmati panorama, seumur hidupnya pertama kali ini ia melakukan perjalanan, mendatangkan gembira dan kesenangan baginya.

Senja hari rombongan ini tiba di sebuah kota kecil, Wan Jie menyewa losmen bagian belakang, malam harinya keempat pengawal itu melakukan penjagaan dengan bergilir.

Tiong Giok merasa heran menyaksikan ini, tak ubahnya seperti mau menghadapi musuh saja.

Waktu makan malam ia mengemukakan keheranannya itu pada Pek Wan Jie.

Sinona tertawa kecil dan berkata.

"Bukan apa-apa karena kita diikuti terus oleh cecunguk-cecunguk yang tak kenal mati!"

"Toh kita tidak bermusuhan dengan mereka, kenapa diarah terus?"

"Mungkin mereka senang berbuat demikian siapa yang larang,"

Kata Pek Wan Jie.

"tapi kongcu sebagai seorang sastrawan, kalau terjadi suatu apa-apa sebaiknya tenang-tenang dan tak perlu kuatir."

Malam berlalu dengan tenteram, Tiong Giok terbangun dari tidurnya setelah matahari terbit.

Cepat-cepat ia turun dari pembaringan merapihkan baju, matanya yang tajam melihat secarik kertas didekat bantal.

Cepat dilihatnya kertas yang berbunyin.

Demi hidupnya kawan-kawan di rimba hijau, mau tidak mau kami memperingatimu sekeras-kerasnya.

Batalakan segera niatmu sebagai penterjemah, dan cepatlah menyingkir, jika tidak, menyesalpunt tak brguna."

Tiong Giok merasa kaget, dan tahu ada orang memasuki kamarnya tadi malam tanpa diketahuinya, jika pendatang itu bermaksud buruk, siang-siang jiwanya bisa melayang.

Kaget tetap kaget, sebisanya di tenangkan dan bagai tidak terjadi apa-apa carikan kertas itu dikantonginya.

Lalu keluar kamar dengan wajar.

Dilihatnya yang lain sedang makan pagi, Wan Jie tersenyum atas kedatangannya yang lambat.

"In Kongcu pantasnya tidurnya nyenyak."

"Ya nyenyak !"

"Mari kita sarapan dulu, kemudian kita lanjutkan perjalanan !"

In Tiong Giok begitu duduk, merasakan bahwa Pang Hui sedang mengawasi kearahnya dengan sinar mata tajam, waktu ia menoleh cepat menundukkan kepala, gerak geriknya sangat mencurihakan sekali.

Dalam sekilas saja, hati Tiong Giok jadi bergerak dan berpikir.

"Iapun melamar sebagai penterjemah, apakah iapun menerima surat ancaman juga ? Gerak geriknya selalu mencurigakan, mungkin suatu ancaman ini perbuatan dia, aku harus menyelidiki darinya."

Seperti kemarin, Tiong Giok dan Pang Hui bersama-sama naik kereta. Belum pula kereta berjalan jauh, Tiong Giok yang sedang berpikiran kacau menoleh kearah Pang Hui dan bertanya .

"Pang Heng bagaimana tadi malam, tidur nyenyakkah ?"

"Aku mempunyai suatu kebiasaan tidak bisa tidur nyenyak ditempat baru."

"Oh, jadi tidak tidur ? Adakah mendengar sesuatu gerakan yang mencurigakan ?"

"Gerakan apa ?"

Jawab Pang Hui seperti tersinggung ulu hatinya.

"sedikitpun tidask mendengar apa-apa."

"Aku menerima sepucuk surat ancaman !"

"Surat ancaman ? Bolehkah kulihat ?"

"Seharusnya kaupun menerima sepucuk surat sepertiku,"

Kata In Tiong Giok menyindir.

"Mungkjin melihatmu belum tidur, tak berani orang itu memberikannya, kuatir menimbulkan kegaduhan !"

Sambil memberikan surat itu, Tiong Giok memperhatikan mimik dan ekspresi wajah orang. Begitu menerima dan membaca surat itu, terlihat lengannya Pang Hui gemetar dan wajahnya pucat.

"Waduh tak terkira pekerjaan ini bisa mendatangkan mala petaka ! Tahu begitu biar dibayar lebih sepuluh tikel takkan kulakukan !"

"Bagaimana baiknya kalau begini ?"

"Emas memang menggiurkan, tapi jiwa terlebih penting,"

Kata Pang Hui.

"kalau begini sebaiknya lekas kita membatalkan pekerjaan ini !"

"Tapi pepatah mengatakan semut mati digula, manusia mati diharta,"

Kata In Tiong Giok.

"betapapun sangat sayang rejeki yang berada di tangan dibuang percuma."

"Oh, maksudmu biar maut menghadang akan pergi juga ke Pok Tian Pang ?"

"Apa yang harus ditakuti ? Sepuluh ribu tail emas cari dimana lagi ?"

Percakapan mereka terganggu derapan sepatu kuda yang berisik, serentak mata mereka memandang keluar, tak usah menunggu lama dari balik pepohon sebelah kiri, terlihat tiga penuggang kuda berbaju hitam yang serupa dengan pengawal Ngo Liu Cung.

"Celaka ! Habislah sudah !"

Seru Pang Hui.

Wan Jie dan dua pengikutnya maupun empat pengawal melihat ketiga penunggang kuda itu mendekat, menghentikan segera kereta.

Empat pengawal menghunus senjata hampir berbareng, menjaga segala kemungkinan.

"Ihh, bukankah mereka pengawal Ngo Liu Cung ?"

Kata Siau Eng.

"Tak perduli siapa, kita harus waspada !"

Kata Pek Wan Jie.

Jilid 2________ Tiga penunggang kuda melarikan tunggangannya demikian cepat, dan menghentikan mendadak sekali.

Mau tak mau kuda itu mengangkat kaki depannya, debu beterbangan.

Empat pengawal memaki-maki, tapi tak dihiraukan tiga pendatang itu, serentak merentangkan tangan, senjata bertebaran menembus debu, pengawal tidak siap sedia akan seraangan mendadak ini.

Antaranya dua segera terjungkal dari kuda, melihat serangannya berhasil tiga pendatang menghunus senjata menerjang kearah kereta.

Kejadian ini berlangsung sekejap mata.

Siaw Eng dan Siaw Hong serentak menghadang dua penyerang, sedangkan yang seorang menggunakan kesempatan lompat dari kudanya menerjang kepintu kereta.

Matanya memancar tajam, saat ini Tiong Giok mengenali penyerang ini, bukan lain pemuda she Yo yang dijumpainya dipenginapan Hong Sing.

Pemuda she Yo itu, segera membuka pintu kereta matanya memancarkan napsu membunuh.

Tiong Giok tahu kedatangannya tidak bermaksud baik, tapi sebelum ia bisa berbuat apa-apa, merasakan pundaknya dicengkeram orang dan sedikitpun idak bisa bergerak lagi.

Adapun manusia yang mematikan jalan darahnya itu Pang Hui adanya !

Dikata cepat juga tepat, tiba-tiba saja tubuhnya pemuda she Yo itu gemetar dan pedang ditangannya menjadi jatuh.

Lalu terjungkel dari kereta tanpa berkutik ;agi.

"Pang Heng lepaskan lenganmu, apa-apaan ini?"

"Aduh, maaf...maaf saking takut kupegangi pundakmu... untung pek Kounio turun tangan tepat pada waktunya!"

"Hm, bilang saja terlalu cepat sedikit!"

Kata In tiong Giok.

Dilihatnya Pek Wan Jie berada tujuh delapan meter dari keretanya, lengannya menghunus pedang wajahnya terlihat guram.

Disamping kereta menggeletak pemuda She Yo, tubuhnya tidak berkutik lagi, mati terbunuh senjata rahasia.

Sedangkan dua penyerang lainnya, sudah dibikin satu mati satu menderita luka, yang luka itu adalah seorang tua bearjanggut putih.

Karena tak kuat melawan lagi ia leloloskan diri sekuat-kuatnya.

Pek Wan Jie mencegah melakukan pengejaran, ia memeriksa dua pengawal yang terkena senjata rahasia, untung tidak terkena bagian yang mematikan hanya menderita luka parah.

Lalu ia menghampiri kekereta .

"Kuharap Jiewie Kongcu tidak usah berkecil hati atas peristiwa ini, kejadian didunia Kang Auw sudah lumrahnya bunuh membunuh. Ada aku sebagai pengawal, Jiewie pasti akan tiba dengan selamat."

"Ya mereka seharusnya melakukan pengejaran ke Pok Tian Pang jika benar-benar gagah berani, kenapa mau membunuhku yang tak berdaya apa-apa?"

Kata In Tiong Giok.

"Karena mereka ingin mencegah Jiwie bekerja pada Pok Tian Pang,"

Kata Pek Wan Jie.

"tapi kelakuan yang tak tahu diri ini,hanya mendatangkan kematian bagi mereka."

Pang Hui diam saja, matanya seperti berkaca-kaca, entah terharu mendengar kata-kata Pek Wan Jie.

Sedangkan Tiong Giok tidak alang kepalang geregetannya pada orang She Pang itu, tapi didiamkan saja dalam hati tanpa dikentarakan.

Tak selang lama mereka melanjutkan perjalanan.

Hari ketiga mereka tiba kota pedesaan, Pek Wan Jie menyuruh kereta kembali, empat pengawal tidak turut pulang.

Tampaknya mereka gembira dan tidak kesal sekali, seolah-olah sudah tiba ditempat sendiri.

In Tiong Giok menanyakan kenapa kereta disuruh pulang.

"Maju lagi kemuka sudah daerah pegunungan, kereta tidak bisa digunakan lagi. Kongcu kepaksa harus berkuda,"

Jawab Pek Wan Jie.

"Bukankah Kounio mengatakan harus menempuh empat sampai lima hari perjalanan?"

"Ya kalau berkereta,"

Jawab Pek Wan Jie.

"tapi perjalanan mengitar makan waktu dan berbahaya, kupikir untuk secepatnya tiba di tujuan memotong jalan saja. Esok Kongcu harus berkuda dan pasti meletihkan, nah sebaiknya istirahat siang-siang."

Tengah malam Tiong Giok bangun dari tidurnya, ia merasa kerongkongannya terasa haus sekali.

Ia tahu akibat terlalu banyak minum arak waktu siangnya.

Cepat-cepat ia bangun dari pembaringan dan mengambil teh, begitu menuangkan the dari teko, timbul curiga, dan hatinya berpikir.

"kenapa the ditengah malam masih hangat sekali!"

Diambilnya sebatang jarum perak dan dicelupkan ke air, ia jadi kaget, sebab jarum perak menjadi hitam, tanda air beracun.

Ia berpikir sejenak, lalu naik lagi kepembaringan tanpa mengeluarkan suara, pura-pura nyenyak.

Tiba-tiba dari balik jendela erlihat sesosok bayangan hitam, sejali lihat dapat dikenali, tak lain dari Pang Hui adanya.

"Saudara In ! Saudara In !"

Pang Hui memanggil-manggil.

In Tiong Giok pura-pura tidur terus tanpa menjawab.

Setelah memanggil lagi beberapa kali, tanpa mendapat jawaban, Pang Hui membuka jendela tubuhnya mencelat masuk dengan ringan sekali tanpa menimbulkan sedikit suarapun.

Melihat ilmu meringankan tubuh yang demikian lihay Tiong Giok merasa kaget.

"Hmm, kurang ajar, kau pura-pura berlaku bodoh, tak tahunya berilmu silat tinggi ! Tapi jangan dikira aku sebagai oang lemah, segala akal kejimu untuk mencelakakan diriku sebenarnya untuk tujuan apa ? Begitu masuk kekamar, Pang Hui berlaku hati-hati dan cermat tubuhnya dirapatkan ke dinding sekian lamanya. Dan memanggil lagi pada Tiong Giok beberapa kali sambil mendekat pembaringan. Tiong Giok diam-diam sudah siap dengan ilmu Hiat ce lengnya. Sungguhpun tiada niatnya membunuh Pang Hui, tapi kesiap siagaan untuk menjaga kalau -kalau merupakan yang wajar untuk membela diri. Pang Hui tidak langsung kepembaringan, ia membuka tutup teko dulu. Begitu dilihatnya air masih penuh, wajahnya membayang niat membunuh dengan menyala-nyala. Tubuhnya berputar, belati segera terhunus..."

Tok...Tok...Tok..."

Terdengar pintu diketuk dari arah luar disusul dengan suara In Hok.

"Kongcu...kongcu sudah tidurkah ?"

Pang Hui dengan cepat menyembunyikan belati dibalik lengannya dan mencelat kepojokan yang lebih gelap.

"Oh siapa ?"

"Aku In Hok, Kongcu cepat buka pintu!"

"Malam-malam begini mau perlu apa ?"

"Kulihat Kongcu banyak minum arak waktu siang, kupikir kalau mendusin tengah malam akan haus, maka kubawakan air teh hangat !"

In Tiong Giok merasa lucu, kenapa orang tua ini datang secara tepat pada waktunya, bila terlambat sedikit, dikamar ini mungkin terjadi peristiwa pembunuhan.

Begitu pintu dibuka Tiong giok menunjuk ke atas meja,"aku masih ada air the hangat yang belum diminum"

"Malam ini terakhir diperjalanan, pengawal-pengawal mengatakan penjagaan diperketat. Kongcu tidur harus menyalakan lampu, dan jangan sembarangan makan atau minum yang disediakan pelayan-pelayan hotel ini, kuatir diracun......."

"Apakah engkau melihat Pek Kounio ?"

"Barusan ada di belakang, mungkin tak lama lagi ia memeriksa sampai kesini,"

Sambil bekata ia menyalakan pelita.

Begitu keadaan terang, Tiong Giok memandang sekeliling ruangan, bayangan Pang Hui entah sejak kapan tiada di situ lagi!

Keesokannya Tiong giok bertemu Pang Hui di meja makan, begitu bertemu saling mengucapkan selamat pagi dan saling tersenyum.

Pang Hui seperti biasa saja, seolah-olah tadi malam tidak terjadi apa-apa.

Tak selang lama dari luar terlihat seorang brpakaian kuning diiriingi enam pengawal berpakaian hitam yang serupa dengan pengawal dari Ngo Liu Cung.

Lelaki itu lebih kurang berusia empat puluh tahun, tubuhnya jangkung, kurus, matanya yang besar memancar tajam, pinggangnya menyoren pedang !

Bajunya berkilatan tersulam benang emas, tampaknya agak angker sekali.

Pek Wan Jie dan lelaki berdiri menyambut kedatangan orang itu sambil memberi hormat.

"Lie Congleng (komandan pengawal) kebetulan datang, kemarin diperjalanan terjadi perkelahian, membuatku cemas dan kuatir, bahkan dua peengawal menderita luka-luka".

"Pek Kounio perjalanan ini tentu membuatmu sengsara saja!"

"Ah bekrja untuk Lo Cucang (kakek moyang) mana bisa dihitung sengsara !"

"Kenapa pengawal-pengawal ini tidak berguna sekali !"

Kata Lie Congleng dengan wajah ditekuk.

"Tidak bisa menyalahkan mereka, karena penyerangpun menyamar mengenakan pakaian hitam yang serupa dengan pengawal kita, kata Pek Wan Jie sambil tersenyum. Lalu ia memperkenalkan Pang dan In.

"Inilah kedua ahli bahasa Sangsekerta yang dibutuhkan.

"juga memperkenalkan Lie Congleng yang bernama Lie Kee Cie kepada Pang dan In. Dengan sepasang matanya yang tajam Lie Kee Cie menatap In Tiong Giok dan Pang Hui serta In Hok. Sungguhpun ia tersenyum, pancaran sinar matanya yang tajam membuat orang menjadi gentar. Pang Hui menundukkan kepala Dengan cepat Lie Kee Cie menegurnya.

"Pang Siangkong, seolah-olah kita pernah bertemu muka entah dimana ?"

"Benarkah ? Dimana, sedikitpun aku tak bisa ingat lagi."

Jawab Pang Hui terbata-bata.

"Aku mempunyai suatu kebiasaan, yakni paling bisa mengingat seorang yang mengesankan sungguhpun baru sekali melihatnya. Lebih kurang setengah tahun yang lalu, aku pergi ke propinsi An, disitulah kuberjumpa dengan Pang siangkong !"

"Ah tidak ! Mungkin Lie Heng salah lihat..."

"Tidak bisa salah"

Selak Lie Kee Cie dengan tegas.

"Kuingat waktu itu Pang siangkong mengenakan pakaian sastrawan seperti sekarang, coba ingat-ingat."

"Mungkinkah...tapi...ah tidak bisa kuingat lagi..."

"Jelasnya saat itu Pang Siangkong sedang berada disebuah rumah makan, sedang membuat sajak dengan asyiknya, tiba-tiba datang seorang pengemis bertekuk lutut dan menyodorkan tangan meminta-minta, agaknya kedatangan pengemis itu mengganggu keasyikan Siangkong dan menghilangkan ilham yang sudah ada. Dengan kesal Siangkong mengusir mereka sambil melemparkan satu tail perak tamu-tamu lain menganggap Siangkong terlalu bodoh dan menghambur-hamburkan uang, untukku keroyalan Siangkong memberikan kesan yang tidak bisa dilupakan, sehingga mau tidak mau merasa kagum ! Saat itu Siangkong tidak mungkin memperhatikan dieiku, karena disamping belum berkenalan juga konsentrasi Siangkong berada pada sajak-sajak !"

Pang Hui agak terkejut, lalu ia tertawa sambil mengangggukkan kepala .

"Oh, benar...benar...jika tidak dijelaskan kejadian itu hampir-hampir kulupakan !"

Lie Kee Cie pun tertawa, sehingga suasana jadi meriah, akan tetapi alangkah cepatnya keadaan berubah, tiba-tiba saja Lie Kee Cie mengerlingkan mata pada pengawalnya seraya berseru .

"Ciduk budak She Pang ini !"

Kejadian ini mengherankan sekalian yang hadir, mereka berbareng berdiri sambil mengawasi kearah Lie Kee Cie, dan sedangkan pengawal yang di perintah telah menghunus senjata mengurung Pang Hui.

"Orang She Pang nyalimu sungguh besar,"

Kata Lie Kee Cie, menggunakan kesempatan sebagai ahli bahasa sangsekerta, engkau berani menyelusup ke pusat Pok Tian Pang....? Hmm, saying nasibmu sial betul, boleh-boleh bertemu denganku!"

"Apa alasanmu berkata begini?"

Tanya Pang Hui dengan wajah berubah.

"Hm, baik kuterangkan, apa yang kukatakan tadi hanya karangan belaka, karena hampir setahun lamanya tak pernah aku meninggalkan pusat Pok Tian Pang? Tak kira engkau yang menganggap diri pintar, nyata pintar kebelinger!"

"Hm, beruntunglah Pok Tian Pang mempunyai orang semacammu,"

Kata Pang Hui,"

Tapi engkau jangan bergirang dulu, banyak orang bulim yang tidak menyerah pada Pok Tian Pang, sedangkan buku yang ingin kalian terjemahkan jangan harap terlaksana untuk selama-lamanya..."

Sehabis berkata tubuhnya mencelat meninggalkan kursi menyerang pengawal yang mengurungnya dengan belati di tangan.

Ia tidak melarikan diri, melainkan menggunakan kesempatan didesak, langkahnya mundur ke arah In Tiong Giok, lau mengayunkan belati pada pemuda kita dengan mendadak.

Sekali-kali Tiong Giok tidak memikir Pang Hui akan mencelatkan dirinya, orang-orang Pok Tian Pang tidak bisa melakukan pertolongan, karena kejadian terlalu tiba-tiba.

Sebenarnya Tiong Giok bisa mengengoskan diri dengan ilmu Kiu Coan Bie Cong To secara mudah.

Tapi dengan demikian segala rahasia dirinya akan terbuka.

Dalam keadaaan bingung, ia merasakan kakinya seperti didorong orang dan tubuhnya terjerunuk kemuka lalu jatuh tengkurap.

Serangan Pang Hui mengenai angin.

Siau Eng dan Siau Hong menggunakan kesempatan menyelamatkan In Tiong Giok, sedangkan Pang Hui segera terkurung lagi.

Menghadapi keadaan buruk baginya Pang Hui berlaku nekad, belatinya dittikamkan kerongkongannya sendiri, tapi niatnya itu batal, sebab Lie Kee Cie mengebaskan lengan, tenaga pukulannya membuat belati menceng, Pang hui hanya luka ringan.

Berbareng dengan itu lengannya merambes cepat, belati ditangan Pang Hui sudah pindah kelengannya, ia tidak brhenti disitu, sekalipun lengan satunya lagi melakukan totokan, membuat Pang Hui mati kutu dan tak berkutik.

"Bawa mereka kepusat dan jangan diapa-apakan dulu!"

Kata Lie Kee Cie pada anak buahnya.

"In Tiong Giok jika engkau menterjemahkan buku mereka, sampai mati dan menjadi satupun jiwamu tidak akan kuampuni !"

"Oh kiranya berulang kali ia akan mencelakai diriku, semata-mata mencegah aku menjadi penterjemah buku Pok Tian Pang!"

Piker In Tiong Giok.

"Oh, kelakuannya yang licin, membuat aku terpedaya, untung Lie Tongleng datang kalau tidak, bisa-bisa celaka!"

"Sebelum menerangkan pada Kounio sudah kuciduk orang ini, harap maaf saja! Nah, sekarang bolehlah kita melanjutkan perjalanan lagi !"

Kata Lie Kee Cie.

"Bukankah Lie Conglengpun harus memeriksa keadaan diriku ?"

"Tidak usah! Barusan serangan Pang Hui kepadamu, sudah mewakili aku bertanya denga jelas!"

"Untung In Kongcu bukan mata-mata, jika tidak bukan saja perjalanan ini sia-sia belaka, akupun akan menerima dampratan dari Lo Cucong!"

Kata Pek Wan Jie.

"Mana siorang tua itu, kenapa tak kelihatan"

Tanya Lie Kee Cie.

In Tiong Giok celingukan, benar saja tidak terlihat bayangan In Hok.

Belum pula ia mencari, dari kolong meja In Hok merayap keluar dengan bermandikan keringat.

Wajahnya pucat, tubuhnya masih menggetar, rasa kagetnya belum hilang dari otaknya.

Tiba-tiba Tiong Giok ingat barusan seperti ada yang mendorong dirinya dari bawah, disambung mengingat ketebatan In Hok mengantar air wakltu malam, timbul rasa anehnya, mungkinkah semua ini In Hok yang...

tapi pikirannya cepat berubah, dan ia yakin jongos tua itu yang sudah puluhan tahun bekerja pada ayahnya hanya manusia biasa yang tidak berkepandaian sama sekali.

Maka tertawalah ia melihat siorang tua yang baru keluar dari kolong itu, sedangkan Lie Kee Cie dengan pandangan tajam mengawasi dan berpaling kearah In Tiong Giok.

"Siapa orang tua ini?"

"Ia adalah pengikutku namanya In Hok! "Keadaan dipusat Pok Tian Pang lain seperti disini, tidak sembarangan orang boleh datang kesitu, menurut hematku sebaiknya orang tua ini diam saja disini tak perlu ikut serta!"

"Kongcu, kejadian diperjalanan selalu berbahaya, sebaiknya pulang saja, untuk apa harus bekerja, dirumah segala cukup bukan?"

Kata In Hok. In Tiong Giok menganggukkan kepala lalu berkata pada Lie Kee Cie.

"Ia disuruh kedua orang tuaku mengikutiku keluar rumah, bukan sembarang orang yang tidak dipercaya. Jika Congleng tidak mengijinkannya ikut serta akupun tidak mau pergi, mau pulang saja !"

"Lie Congleng, ijinkan saja ia ikut serta, jangan membuat In Kongcu menjadi susah hati !"

Kata Pek Wan Jie.

"Aku tidak mengatakan tidak boleh seratus persen, jika Kounio menyuruh aku menurut saja!"

Kata Lie Kee Cie.

Dengan cepat rombongan itu meninggalkan penginapan dan berjalan keatas pegunungan.

Pang Hui terikat dan ditaruh dipelana kuda, sedangkan empat pengawal dari Ngo Liu Cung disuruh pulang.

Tak selang lama Lie Kee Cie menyuruh rombongan berhenti, dan dari sakunya mengeluarkan dua kerudung hitam.

"Kupersilahkan Jiewie mengenakan ini."

"Untuk apa menggunakan belongsong ini ?"

Tanya In Tiong Giok dengan heran.

"Ini peraturan perkumpulan kami, setiap tamu yang datang kepusat hrus mengenakan belongsong, agr sesuatu mengenai keadaan dipusat tidak bisa dibocorkan keluar!"

"Aku adalah tamu undangan untuk bekerja, bukan datang atas kehendakku sendiri,"

Kata Tiong Giok merasa tersinggung.

"In Kongcu jangan gusar,"

Kata Pek Wan Jie.

"peraturan yang dikeluarkan Lo Cucong berlaku pada siapapun, bukan pada Kongcu sendiri, dulu sewaktu Siaw Eng dan Siaw Hong pertama kali datang, merakapun dikenakan kerudung hitam, hanya anggauta Pok Tian Pang tidak terkena peraturan ini !"

In Tiong Giok dengan terpaksa mengenakan jiga belongsong hitam itu, pandangannya menjadi gelap, hanya dibagian mulut dan hidung ada liangnya dan bisa bernapas maupun berkata-kata dengan bebas.

Lie Kee Cie memeriksa belongsong itu ada yang pecah atau tidak, setelah itu menitahkan Siau Eng dan Siau Hong menjaga In Tiong Giok, sedangkan In Hok dituntun dua pengawalnya.

In Tiong Giok tidak bisa melihat keadaan, hanya mengandalkan kedua telinganya dan perasaannya untuk mengira-ngira sudah berjalan berapa jauh dari rumah penginapan yang disinggahi terakhir.

Iapun merasakan keadaan yang sejuk, dan turun naiknya jalanan, serta terdengar suara aliran sungai.

Perhatiannya kini dipusatkan pada letaknya sungai mengalir hingga belongsong yang membuatnya seperti berada didalam kegelapan tidak terasa lagi, jadi biasa.

Setelah berjalan lama sekali, suara sungai tidak terdengar lagi, rombongan membelok ke kanan dan terus kedepan.

Kira-kira sepermakanan nasi meraka berhenti, terdengar suara Lie Kee Cie bercakap dengan ramah tamah, agaknya bertemu denga patroli Pok Tian Pang.

Mereka segera turun dari kuda, Siau Eng membuka belongsong Tiong Giok.

Membuat pemuda kita menarik napas lega.

Pandangan matanya bebas, dan bisa melihat keadaan dirinya berada dilereng gunung, talk berapa jauh farinya terlihat bebrapa rumah batu, disitu terlihat dua puluh pengawal berpakaian hitam dan seorang tua kira-kira berusia llima puluh tahun berbaju biru.

"Inilah Kwee Fut Hoat (penasehat) Kim lo Cianpwee,"

Kata Pek Wan Jie memperkenalkan kim Fut Hoat itu menggoyangkan tangan tak berapa mau meladeni.

"Kim Fut Hoat tidak berapa suka bicara, tambahan bahasa Tionghoanya tidak lancar, ia orang asing !"

"Dari mana asal negaranya !"

Tanya In Tiong Giok.

"Ia adalah orang-orang yang di bawah Lo Cucong dari Korea, namanya Kim Can ! dua lagi bernama Wang wang Can dan Pu Ka Lun, mereka sebagai penasehat yang selalu mendampingi Lo cucong...."

In Tiong Giok memperhatikan Kim Tak Can, dan mendapatkan kesan bahwa orang itu sangat kasar perawakannya, pipinya penuh berewok, sekali pandangpun bisa tahu orang ini bengis dan berkepandaian"

Tinggi. Apakah yang dipanggil Lo Cucong itu ketua Pok Tian Pang ?"

"Bukan!"

Kata Pek Wan Jie.

"Lo Cucong adalah Sucouw (kakek guru) ku sedangkan Suhuku barulah ketua Pok Tian Pang ! Hal ini tidak akan bisa dijelaskan dalam sepatah dua patah ! Nanti engkau akan tahu sendiri !"

"Apakah yang dimaksud pusatg disini tempatnya ?"

Tanya in Tiong Giok.

"bukan, ini merupakan pintu gerbang pertama, kesana masih jauh sekali ! Disini kita makan dan mengaso, juga sampai disini engkau tak usah mengenakan lagi belongsong hitam untuk seterusnya!"

"Tidakkah kalian kuatir rahasia disini dibocori orang?"

Tanya Tiong giok. Belum pula Wan Jie menjawab, Lie Kee Cie sudah mendahului.

"In Kongcu terus terang saja sesampainya disini, jika tidak mendapat ijin dari kami, siapapun tidak bisa meloloskan diri dari sini!"

"Kenapa begitu ?"

Tanya In Tiong Giok keheranan.

"Nah coba lihat !"

Kata Lie Kee Cie menggapaikan tangannya. Tiong Giok menghampiri.

"Cobalah lihat kbawah!"

Begitu mata memandang, baru sadarlah ia berada disuatu bukit yang terpisah dari bukit-bukit lain, begitu tinggi rasanya.

Kebawah hanya yang bisa dapat terlihat batu-batu cadas-cadas gunung yang runcing dan terjal.

Ia menganggukan kepala dan memuji.

"Tempat ini luar biasa dan sukar didatangi orang, tapi rasanya tadi seperti naik tangga datang kemari ? Dimana tangga itu berada ?"

"Ha ha ha."

Lie Kee Cie tertawa dengan senangnya.

"dimana ada tangga? Tadi kita naik melalui sebuah tangga baja yang dikerek dari atas setelah tak terpakai disimpan lagi. Pendeknya kita terpisah dari dunia luar, tiada jalan sama sekali, kecuali dengan tangga baja tadi."

Melihat keadaan ini Tiong Giok diam-diam merasa kaget.

"Aku bisa datang kemari tapi untuk pulang tiada harapan lagi."

Sedang otaknya berpikir, seorang pengawal datang memberikan laporam bahwa makanan sudah disediakan.

Dengan tersenyum Pek Wan Jie mengajak tamunya kesebuah rumah batu yang agak besar.

Didalam ruangan diterangi sebuah lampu besar, ditengah-tengah terlihat meja bulat yang penuh barang hidangan, siorang berbaju biru sudah duduk ditengah-tengah.

Tiong Giok duduk diantara Kee Cie dan Wan Jie.

Tanpa menawari lagi Kim Tak Can menegak arak tiga cawan besar juga tanpa mengucapkan sepatah kata, berlalu kedalam ruangan belakang seorang diri.

Kepergiannya Kim Tak Can membuat Lie Kee Cie menarik napas panjang, kini Siaw Eng dan Siaw Hong baru diajak makan bersama-sama.

"Kenapa kim Fut Hoat hanya minum dan tidak makan ?"

Tanya Tiong Giok.

"Jangan banyak bertanya, kalau dikelaskan bisa-bisa kita tak napsu makan !"

Kata Pek Wan Jie.

"Memang kenapa ?"

Tiong Giok semakin mau tahu.

"Ia tidak makan barang matang, setiap hari ia makan lima kati daging sapi, dua kelinci dan tiga empat ayam atau bebek, semuanya dalam keadaan mentah-mentah; suka juga makan darah mentah sebagai kuah! Maka itu ia suka makan sendiri."

"Orang biadab kalu begitu!"

Kata Tiong Giok.

"Ssst, bukan biadab tapi setengah biadab!"

Kata Wan Jie.

Sesudah makan mereka mengaso sejenak lalu melanjutkan perjalanan dengan berkuda lagi.

Kim Tak Can sudah menantikan mereka dimulut gua yang berjeruji besi.

Setiap yang melalui gua harus mengeluarkan tanda pengenal.

Lie Kee Cie dan Wan Jie pun tidak terkecuali.

Ia berlaku tegas dan keras menjalankan tugasnya.

Tiong Giok dan Pang Hui mempunyai kartu undangan sebagai tamu, tapi In Hok tidak, maka ditahan dan tidak diijinkan masuk.

"Ia adalah pengikutnya In Kongcu, dan sudah ada izin masuk kedalam!"

Kata Lie Kee Cie.

"Pokoknya kartu tamu hanya dua berlaku untuk dua orang, bagaimanapun tak boleh masuk."

Kata Kim Tak Can dengan dingin.

"Bagaimana kalau kartu tamu menyusul belakangan ?"

Tanya Lie Kee Cie.

"Pendeknya tiada kartu tamu, tak boleh masuk!"

Kata Kim Tak Can kukuh.

"Kongcu.....bagaimana?"

Kata In Hok dengan wajah ketakutan.

"Kalau begitu kunantikan saja sampai ada kartu undangan untuk In Hok baru masuk,"

Kata In Tiong Giok.

"Mana bisa, karena Pangcu sudah tahu saat kapan Kongcu tiba, pasti sedang menantikan..."

Kata Pek Wan Jie.

"Mana boleh menyalahkan aku, semua ini karena peraturan Pok Tian Pang yang kelewat baras!"

"Kim Siok-siok berilah ia masuk dulu, aku yang bertanggung jawab, kartu tamu segera menyusul, bolehkah ?"

Mohon Wan Jie.

"Satu kartu untuk seorang, tidak ada tawar menawar lagi!"

Kim Tak Can tetap pada pendiriannya.

Untung Wan Jie bisa berpikir cepar, ditunda Pang Hui pada penjaga, lalu diajaknya in Hok masuk, Kim Tak Can tidak memperdulikan yang lain-lain tahunya satu kartu untuk seorang tidak perduli orang itu siapa.

Mereka masuk kedalam gua yang lebar, panjangnya lebih tiga meter, setiap sepuluh meter terdapat sinar terang dari atas, membuat keadaan tidak gelap sekali.

Selewatnya terowongan, pandangan mata menjadi luas, tampak gunung-gunung mengitari air terjun dari gunung berkumpul kelembah, karena tiada jalan keluar air itu menjadi sebuah danau besar, tak ubahnya seperti laut, ditengah-tengah terlihat tiga pulau.

Pemandangan yang indah itu tak ubahnya dalam lukisan saja.

Disini mereka menemui lagi penjaga yang dikepalai seorang tua berbaju biru juga, wajahnya tersungging senyum, beda denga Kim Tak Can tadi, usianya lebih kurang tujuh puluh tahun, tapi masih gagah sekali.

"Aha Cuwie kenapa terlambat, Pang Cu sudah dua kali menanyakan Cuwie sudah datang apa belum, sudah kesal menunggu."

Kata orang tua itu.

"Hei"

Kata Tiong Giok pada Wan Jie, siapa dia, kenapa tidak kau perkenalkan dia dengan aku ?"

"Rupanya engkau senang dengan raut wajahnya yang selalu tersenyum."

Tanya Wan Jie tidak menjawab.

"Ya benar, lain dengan Kim Fut Hoat tadi yang begitu bengis.

"Tapi kalau aku disuruh memilih diantara dua orang ini menjadi teman, pasti kupilih Kim Fut Hoat", kata Wan Jie.

"Kenapa begitu ?"

"Jangan melihat paras luarnya, kekejamannya luar biasa sekali, kalau engkau pernah mendengar namanya pasti akan kaget sendiri !"

"Siapa namanya ?"

"Sebenarnya seorang pelajar sepertimu kujelaskan juga tak berguna,"

Kata Pek Wan Jie.

"untuk tidak penasaran baik kuterangkan, didunia persilatan terdapat tiga belas manusia ajaib yang lazim disebut Bulim Cap Sa Kie. Antaranya ada yang disebut tiga besar dari selatan atau Thian Lam Sam Kui, nah dia ini seorang dari iblis itu yang bernama Tok Kay Tong dengan gelar Bin Busiang, iblis bersenyum.

"Ya aku tak pernah mendengar soal tiga belas manusia ajaib."

Kata In Tiong Giok ,"

Dapatkah kuketahui yang dua belas lagi ?"

"Mudah saja jika mau mengetahui mereka asal bisa mengingat Jiak, Sie Koey, Sih, Sian, Yauw, Mo, Jui, penjelasan selanjutnya nanti saja kalau ada waktu !"

Dari mulut terowongan mereka turun melalui tangga batu sampai dipinggir danau yang luas mereka naik sebuah perahu yang sudah disediakan dan terus meluncur ketengah menuju kesalah satu pulau.

Tak berapa lama mereka sampai disebuah tempat yang menyerupai palabuhan pulau itu.

Disini terlihat dua puluh perahu yang ditambat, perlahan-lahan sampan menepi kepantai, didarat terlihat sepuluh pengawal berpakaian hitam sedang menantikan, begitu melihat perahu segera menyongsong.

Sesudah mendengar Lie Kee Cie berkata pada Pek Wan Jie .

"Pek Kounio, karena harus mengambil kartu undangan untuk Pang Hui aku akan kembali lagi kesana sedangkan soal In Kongcu kuserahkan pada Kounio !"

Pek Wan Jie menganggukkan kepala, lalu menyuruh Siau Eng dan Siau Hong mengajak in Hok ketempat beristirahat, ia sendiri mengajak In Tiong Giok ke istana Pok Thian Pang dengan kereta.

Sebelum itu ia memerintahkan pada seorang pengawal, untuk melaporkan bahwa ia dan In Kongcu akan menghadap pangcu.

"Engkau tak perlu khawatir menemui Pangcu atau suhuku, ia sangat baik dan ramah tamah !"

Kata Wan Jie.

Dengan cepat mereka telah tiba, Wan Jie mengajak tamunya kedalam sebuah bangunan besar.

Inilah yang disebut istana Pok Thian Pang pikir Tiong Giok.

Begitu mewah dan indah, sebelum masuk kedalam aula, mereka terhalang sehelai horden.

Disini Wan Jie memberi hormat, diikuti In Tiong Giok.

"Jangan sungkan, silahkan masuk,"

Terdengar suara dari balik horden yang segera terbuka.

Tiong Giok mula pertama berpikir Pok Thian Pang yang ambisius untuk menguasai dunia persilatan tentu dipimpin seorang gagah berwajah bengis.

Tapi begitu mendengar suara garing yang halus membuatnya tertegun dan pandangannya terbuka, herannya bertambah-tambah, karena...

Pangcu itu adalah seorang wanita cantik berusia tiga puluh lima tahun.

Pangcu itu melihat In Tiong Giok yang begitu tampan kaget pula, matanya mengawasi dengan tajam penuh keheranan.

Pek Wan Jie mempersilahkan tamunya duduk, lalu mendekati pangcunya sambil menuturkan soal bagaimana Pang Hui berniat jahat dan kena di pecahkan siasatnya oleh Lie Kee Cie secara singkat.

Wanita berbaju merah itu mendengari sambil tersenyum, sedikitpun tidak menunjukkan rasa marah, bahkan ia berkata .

"Sebagai pohon perserikatan kita ini semakin besar, maka itu angin yang ingin merobohkan bertiup semakin besar juga, itu soal biasa ! Beritahu pada Lie Kee Cie jangan menyiksa Pang Hui, kalau bisa tundukkan dengan lemah lembut, dan taruh di istana pencuci otak, perlakukan baik-baik!"

Dengan tetap tersenyum iapun menyapa In Tiong Giok .

"Kudengar In Kongcu mengetahui pengetahuan yang luas, tentu mendapat didikan di bawah guru yang pandai. Kami sangat menghargai kepandaian Kongcu, untuk sementara Kongcu boleh istirahat dulu beberapa hari, jangan sungkan dan likat, anggap bagai rumah sendiri."

"Terima kasih atas kebaikan Pangcu!"

Jawab In Tiong Giok seraya memberi hormat.

"Bolehkah kutahu berapa usia Kongcu tahun ini ?"

Tanya Pangcu.

"Dua puluh tahun."

"Orang tuamu tentunya dalam keadaan sehat-sehat saja."

"Terima kasih atas perhatian Pangcu."

"Wan Jie sebentar malam engkau gantikan aku menjamu In Kongcu, anak muda bertemu anak muda lebih cocok bukan ?"

Wan Jie menjadi merah mukanya.

"Dimanakah In Kongcu malam ini harus bermalam suhu ?"

"Sementara di Villa tenang saja!"

"Bukankah lebih baik di villa bamboo saja ?"

"In Kongcu adalah pelajar, tentu lebih senang ditempat sunyi, lain dengan engkau yang berlaku ugal-ugalan,"

Kata Pangcu itu dengan tetap senyum.

Sehabis berkata ia bangun, dan dengan diiringi delapan pelayan berbaju kuning ia masuk ruang belakang.

Pek Wan Jie mengajak Tiong Giok keluar, jelas wajahnya terlihat sedikit murung.

"Villa tenang,"

Gerutunya tak puas.

"Kounio, gurumu begitu cantik dan masih muda, benar diluar dugaanku... Ya caranya menempatkan engkau di villa tenanglah diluar perkiraanku! "Memang kenapa ?"

"Engkau tidak tahu villa Tenang dan Asmara Bambu di mana kutinggal letaknya jauh sekali....."

"Jauh dekat tak jadi soal bukan ?"

"Hm, sangat penting, engkau..."

Tiba-tiba saja Wan Jie menghentikan kata-katanya, dan lalu menundukkan kepala, sedangkan dua bayangan merah tertera di kedua belah pipinya.

Tiong Giok merasakan juga goncangan hatinya dan mengerti apa tujuan kata-kata gadis itu, diam-diam ia tertawa geli dan berkata .

"Biar jauh diseberang lautan, tetap dekat pikiran, kenapa Kounio harus..."

"In Kongcu jangan salah artikan, maksudku ini,"

Ia menekan suaranya semakin perlahan, maksudku tidak engkau memikirkan soal nasibmu sendiri ?"

"Soal nasibku ?"

Tanya In Tiong Giok menegasi.

"Pendeknya engkau harus ingat, disini penjagaan amat keras, gerak-gerikmu harus hati-hati, jangan sembarangan pergi kemana, sukar aku menjelaskan."

"Terima kasih atas perhatian dan nasehat Kounio!"

Mereka berkereta lagi menyusuri jalan kecil dan masuk kessebuah tempat sunyi, disitu terdapat villa yang terkurung pepohonan, kelihatannya tenang sekali.

Villa itu terdiri dari lima kamar, tiga kamar sangat terang karena sinar matahari masuk sedangkan yang dua agak gelap.

Semuanya teratur rapih dan bersih.

"Mungkin dulunya di sini ada yang tinggal bukan ?"

Wan Jie menganggukkan kepala perlahan.

"Coba, apa yang masih rasa kurang, boleh kutitahkan Siau Hong membawanya ke sini. Aku piker budak itu sebaiknya tinggal di sini agar bisa merawatmu dengan baik!"

"Aku rasa semua sudah cukup, Siau Hong tak usah repot-repot mengurusku, untukku In Hok sudah cukup!"

Tiong Giok melihat-lihat buku yang berada di lemari, lalu mengambilnya se

Jilid .

"Buku-buku ini sangat antik dan sukar di dapat, mungkin penghuninya dulu seorang pelajar tinggi, saying aku tidak jodoh menemuinya!"

Wan Jie seperti tidak mendengar apa yang diucapkan Tiong Giok, ia terpekur diam seperti memikirkan sesuatu yang tidak bisa diutarakan dengan kata-kata.

Walaupun Tiong Giok bergaul baru tiga hari, ia sudah kenal sifat Wan Jie yang periang, tetapi timbullah herannya, waktu mendengar Pangcunya menetapkan dirinya diam di villa tenang, terus menerus berwajah murung.

"In Kongcu,"

Tiba-tiba Wan Jie menegur.

"terus terang saja, apakah engkau benar-benar bisa bahasa Sangsekerta ?"

"Sejak kecil aku sudah mempelajari bahasa itu,"

Jawab Tiong Giok.

"apakah Kounio meragukan akan kebiasaanku? Jangan samakan diriku dengan Pang Hui!"

"Aku tak berpikir atau curiga seujung rambut padamu. Tetapi jika engkau tidak paham bahasa Sangsekerta dan datang hanya sebagai mata-mata, mungkin itu lebih baik sedikit."

"Aku tak mengerti maksud Kounio!"

"Baiklah kujelaskan, susul-menyusul disini pernah itnggal sastrawan yang benar-benar pandai bahasa Sangsekerta. Kedatangan mereka atas undangan Pangcu sepertimu juga. Tapi setiap baru mau bekerja, entah bagaimana satu persatu mati terbunuh !"

Tiong Giok merasa kaget .

"Disini banyak pengawal, mungkinkah bisa terjadi peristiwa semacam itu ?"

"Ya, mungkin didalam Pok Thian Pang sendiri ada penghianat,"

Kata Wan Jie.

"Setelah kejadian itu Lo Cucong marah besar, sampai tiga Tongleng di bunuhnya, belum juga diketahui siapa penjahatnya!"

"Kalau begitu jiwaku dalam keadaan bahaya dan Pok Thian Pang tidak bisa melindungi bukan ?"

"Tapi setelah terjadi tiga kali peristiwa itu penjagaan sudah diperkuat lipat ganda, tambahan Lie Kee Cie adalah seorang yang cerdas dan lihay, juga tak seberapa jauh dari sini, adalah Suhengku, jika terjadi sesuatu, ia bisa memberikan bantuan, mungkin sekali ini tidak akan terulang kejadian seperti dulu!"

Belum pula suara Wan Jie hilang dari pendengaran, dijendela berkelebat sosok bayangan hitam. Dengan cepat Wan Jie menegur .

"Siapa ?"

Tidak ada jawaban. Mereka keluar rumah, dilihatnya seorang muda berbaju merah lebih kurang berusia tujuh belas tahun, wajahnya tampan, hanya sedikit merah, pucat sedang berdiri ditaman bunga.

"Oh, kiranya Suheng, membuat kami kaget saja !"

Pemuda itu tidak menjawab hanya mengangguk kecil, sedangkan matanya dengan penuh keangkuhan memandang kepada In Tiong Giok.

"Suheng kemari, kukenalkan dengan In Kongcu...."

Tanpa memperdulikan sedang diajak bicara ia ngeloyor pergi dengan wajah sinis. Wan Jie merasa jengah sendiri tak diladeni.....

"Siapa dia ?"

Tanya In Tiong Giok.

"Ia adalah putera tunggal guruku, namanya Pek Kim Kiam Hong, tuh tinggalnya diperkampungan Awan Putih.

"Dilihatnya macamnya seperti tak senang padaku,"

Kata in Tiong Giok.

"Tidak!"

Bantah Wan Jie.

"Memang sudah wataknya demikian ia selalu menyendiri dan tidak dengan siapapun !"

"Mungkin Siau Pangcu tidak ada kepuasaan dalam hidupnya ?"

"Tidak bisa disalahkan, seorang anak tidak berbapak mana bisa hidupnya bahagia ......

"Memang ayahmu kemana ?"

"Tidak kutahu, ini merupakan teka-teki, mungkin di dunia hanya guruku dan Lo Cucong yang mengetahui, tapi mereka merahasiakan sekali."

"Apakah Suhengmu tidak menanyakan juga ?"

"Ditanyakan tidak berguna, suhu selalu membelokkan pertanyaan kesoal lain, agaknya berat untuk menjelaskan kandungan hatinya. Lebih-lebih Lo Cucong bukannya menjawab malahan memaki-maki."

Lain kali jangan engkau tanya-tanya lagi soal ini, ayahmu adalah manusia berbudi rendah dan sangat memalukan, sebelum engkau lahir ia sudah mati !"

"Lalu kenapa ia memakai She Pek ?"

"Ia ikut She ibunya, suhuku bernama Pek Cin Nio !"

"Alangkah kasiannya Suhengmu itu, sampai soal ayahnya sendiri tidak diketahuinya, tak heran kelakuannya suka menyendiri dan berwajah kecut, sungguhpun demikian jika ada kesempatan ingin aku berkenalan dengannya !"

Ia bersifat dingin sekali, sebaiknya engkau jangan dekat-dekat dengannya !"

Tak selang lama Siau Hong datang mengajak In Hok, mereka memberesi rumah .

Wan Jie meminta disediakan makan dan minuman untuk menjamu tamunya.

Waktu makan Wan Jie mengusulkan lagi agar Tiong Giok suka memakai Siau Hong, tapi dengan halus ditolaknya.

Wan Jie tidak memaksa terus perjamuan ini berjalan tawar, masing-masing mempunyai pikiran sendiri-sendiri, waktu malam mendatang mereka berpisah.

Sehabis mandi Tiong Giok menyuruh In Hok tidur, ia sendir sambil berpangku tangan berjalan perlahan-lahan keluar rumah.

Taman bunga dalam keadaaan tenang, dan dari jauh terdengar suara berkericok air.

Disebelah kiri terdapat Pek In Sancung (perkampungan awan putih).

Sebelah kanan terlihat tembok penjara dengan pengawal-pengawal yang mondar mandir tak henti-hentinya.

Dari keadaan ini dapat dilihat jika orang jahat ingin masuk ke villa tenang, sukar melalui jalan kiri dan kanan, hanya dari muka dan belakang rumah dimana terdapat bukit kecil musuh bisa masuk, maka tempat inilah sepatutnya mendapat perhatian.

"Pok Thian Pang berdaya upaya buku berbahasa Sangsekerta yang dimilikinya dapat diterjemahkan, sebaliknya banyak pula kaum rimba persilatan yang mati-matian mencegahnya. Di villa ini sudah tiga penerjemah yang mati, dan waktu ditengah jalan Pang Hui berusaha mencelakakan dirinya. Dari sini dapat ditarik kesimpulan buku itu penting sekali. Sebenarnya dia datang untuk menterjemahkan buku itu, tapi keanehan buku itu sudah memikat hatinya, dan ingin ia bisa secepatnya melihat buku itu. Ia mundar-mandir, sedangkan malam semakin larut, keadaan benar-benar tenang sekali dan sunyi senyap, tiada terdengar suara apa-apa, sampai suara bernapas In Hok yang tidur dapat terdengar tegas ! Perlahan-lahan ia masuk kekamar, tak siang kepalang kagetnya, begitu kakinya melangkah pintu kamar, karena ia melihat sesosok tubuh di kursi malas sedang menyandar dan mengangkat kaki seenaknya ! "Siapa kau !"

Bentak Tiong Giok. Tidak ada jawaban, seolah-olah orang itu tidak mendengar, keruan saja Tiong Giok jadi degdegkan, sambil berlaku waspada ia membentak lagi .

"Siapa kau, dan apa maumu datang kemari ?"

Orang itu dengan perlahan menarik kakinya sehingga wajahnya terlihat tegas, kiranya bukan lain dari Lie Kee Cie adanya. Semua ini diluar dugaan Tiong Giok, cepat-cepat ia memberi hormat .

"Kiranya Lie Tongleng, maafkan kekurang ajaranku !"

"In Kongcu malam-malam masih jalan-jalan keluar, tak ubahnya seperti seniman pengagum alam saja,"

Lie Kee Cie menyindir dingin.

"Ya untuk orang baru, segala yang baru menarik perhatian, maka itu biarpun diwaktu malam tetap menarik juga !"

Tiba-tiba saja sepasang mata Lie Kee Cie yang memancarkan sinar tajam dan dingin menyapu wajah sipemuda.

"Apakah In Kongcu mengetahui kejadian dan segala perubahan di rumah ini ?"

"Yang kudengar soal bagaimana matinya tiga penterjemah dirumah ini dari Pek Kounio !"

"Apakah hal ini tidak membuat Kongcu takut ?"

"Ya sejujurnya tabiatku tidak takut pada setan atau iblis !"

"Soal setan atau iblis adalah abstrak, yang benar tiga penterjemah mati terbunuh ! Tapi yang menurunkan tangan jahat dapat berbuat begitu cermat dan tidak meninggalkan jejak untuk bahan pengusutan, sehingga kejadian itu tetap gelap."

Ia berhenti sejenak, sepasang matanya mengawasi terus pada In Tiong Giok, sudah selang lama ia berkata .

"Kongcu adalah penterjemah yang keempat datang ke sini, maka itu kuminta Kongcu bisa berlaku hati-hati, dan bekerjasama denganku !"

"Harus bagaimana aku ini Lie Tongleng ?"

"Maksudku engkau kujadikan umpan untuk memancing penjahat keluar !"

"Ah terlalu bahaya, salah-salah jiwaku bisa melayang !"

"Jangan kuatir, sebelum engkau beres menterjemahkan buku, tak bisa kami membiarkan engkau gampang-gampang mati !"

Sebaliknya bagaimana kalau pekerjaanku sudah selesai....."

"Mungkin Pangcu dan lo Cucong bisa memberi kesempatan Kongcu masuk menjadi anggota ?"

"Jika aku tak mau menjadi anggota ?"

"Kongcu pasti mau, karena jalan satu-satunya untuk hidup !"

Sehabis berkata Lie Kee Cie segera berlalu.

Perkataan terakhir dari Tongleng itu membuat Tiong Giok tertegun, tak terasa lagi badannya jadi bergidik.

Tak heran kalau Wan Jie mengatakan, jika engkau tidak bisa bahasa Ssangsekerta dan hanya sebagai mata-mata akan lebih baik lagi.

Bukankah dengan begitu sinona menjelaskan setelah pekerjaannya selesai dirinya akan dibunuh untuk menutup mulut ?

Lebih-lebih melihat keadaan kini, bagaimana Lie Tongleng keluar masuk kedalam kamarnya dengan leluasa membuat hatinya semakin ciut.

Otaknya berkecamuk tak keruan, akhirnya keberaniannyapun timbul dan berkata dalam hati secara pasti .

"Tujuan mereka tidak baik, jangan aku bekerja dengan baik pula, ya harus berdaya upaya untuk meloloskan diri secepatnya !"

Akibatnya terlalu banyak berpikir sampai malam hari ia tidak tidur ! Pagi-pagi Wan Jie sudah datang, begitu melihat mata Tiong Giok yang merah karena tak tidur segera bertanya dengan heran .

"Mungkin malam tak tidur ya ? Apakah tempat ini terlalu sepi dan mendatangkan ketidak betahanmu ?"

"Aku tidak, justeru karena tempat ini terlalu indah sehingga membuatku tak dapat tidur !"

"Keadaan tempat kami ini terpisah-pisah dari dunia luar, sepanjang tahun keadaan alam tidak berubah, pemandangan selalu indah, jika engkau senang aku bersedia menjadi penunjuk jalan, keliling keempat penjuru, memuaskan pandangan mata !"

"Mungkinkah aku diijinkan untuk meninjau dan pesiar ditempat ini ?"

"Siapa bilang tidak ? Bahkan suhu sudah memesan agar aku menemani engkau dlam beberapa hari ini kemana engkau suka, yah mari kita berjalan-jalan !"

Tanpa menunggu jawaban, lengan Tiong Giok ditariknya dan diajak jalan-jalan.

In Tiong Giok mengerti inilah siasat Pok Thian Pang yang sengaja menjadikan dirinya sebagai umpan, dan dipamerkan supaya semua orang tahu dirinya sebagai penterjemah.

Guna menarik perhatian untuk semua orang-orang yang bermaksud buruk .

Sebaliknya ia sendiri menggunakan kesempatan ini untuk mencari jalan meloloskan diri !"

Mereka berjalan-jalan dengan enaknya, tanpa terasa lagi seluruh pulau kena dikelilingi.

Sepanjang jalan Wan Jie tak jeemu-jemunya memberitahu nama-nama tempat.

Semakin jalan perasaan Tiong Giok merasa kesal, kaena melihat dimana-mana penjagaan sangat keras sekali, bagaimanapun untuk mencari kesempatan lari tak mungkin bisa lari.

Senja hari mereka baru kembali, dengan alas an letih Tiong Giok membuat Wan Jie berlalu, ia sendiri naik kepembaringan, begitu lesu dan lemas, segala harapan untuk lari menjadi hilang dan tinggal angan-angan saja !

Akhirnya akibat keletihan yang berlebih-lebihan, ia tertidur pulas.

Waktu malam Tiong Giok terbangun dengan kaget, karena pintu rumah digedor dari luar.

Dilihatnya In Hok tergesa-gesa membuka pintu dari luar masuk Lie Kee Cie dan seorang laki-laki beralis tebal, dilihat dari seragamnya menandakan ia wakil Tongleng.

"Cuwie dimalam hari datang kesini ada keperluan apa ?"

Tegur In Tiong Giok. Lie Kee Cie dengan pancaran mata yang tajam menyapu keliling ruangan, lalu berkata .

"Bukan soal apa-apa, hanya menjenguk In Kongcu saja, karena ada seorang mata-mata didaerah sini !"

"Tapi disini aman tak kurang sesuatu apa-apa !"

"Mata-mata itu mencoba mencuri perahu, tapi kepergok dan lari kesini !"

Kata Lie Kee Cie.

"Tapi kami tidak merasakan ada yang masuk kesini."

Jawab In Tiong Giok.

"Demi keselamatan Kongcu, maka ijinkanlah kami melakukan penggeledahan seisi rumah !"

"Silahkan ! Silahkan ! Jika benar berada disini, ini bukan main-main!"

Lie Kee Cie menganggukkan kepala dan menoleh kepada laki-laki beralis kereng .

"Suruhlah pengawal-pengawal melakukan penggeledahan !"

Belasan pengawal dengan obor terang memeriksa kesetiap ruangan.

Suasana menjadi hiruk pikuk.

Saat inilah Wan Jie dengan dua pengikutnyapun datang, membantu memeriksa dan mencari penjahat biarpun sudah diperiksa dengan teliti tidak juga ditemui penjahat yang dimaksudkan.

Laki-laki beralis kereng merasa penasaran, diambilnya onor dari pengawal dan dia masuki kamar Tiong Giok dan In Hok, kolong-kolong diperiksa, dan lemari-lemari dibuka, tapi hasilnya nihil.

Heran, mungkinkah ia bisa menghilang ?"

Gerutunya perlahan.

"Apakah kalian benar-benar melihat tegas penjahat itu masuk kesini ?"

Tanya Wan Jie.

"Pasti tidak salah,"

Kata Lie Kee Cie dengan suara mantap.

"Apakah taman bunga dan perkampungan Awan Putih sudah diperiksa juga, siapa tahu penjahat itu bersembunyi disana."

Kata Pek Wan Jie.

"Perkataan Pek Kounio memang benar, disana lebih banyak gunung-gunung yang cocok untuk menyembunyikan badan"

Kata Lie Kee Cie yang segera permisi berlalu sambil membawa anak buahnya.

"Kata apa ?"

Kata Pek Wan Jie.

"keadaanmu selalu dalam bahaya, bagaimana jika benar penjahat datang, sedangkan kalian tidak bisa bersilat. Mau tidak engkau menrima Siau Hong sebagai pelindung ?"

"Menurut Lie Tongleng penjahat itu berniat merampas perahu dan bukan untuk mencelakan aku, dari sini dapat ditarik kesimpulan itu bukan mata-mata melainkan ada seseorang didalam Pok Thian Pang yang ingin melarikan diri dan berhianat pada perserikatan !"

"Engkau tidak bisa melihat keadaan baik dan buruk, maksudku menaruh Siau Hong disini demi keselamatanmu, tapi engkau seperti takut padanya, ia toh tidak bisa memakanmu bukan ?"

"Lie Tongleng seorang cerdik dan tangkas adanya dia sebagai penjaga hatiku merasa tentram! Soal Siau Hong bukan apa-apa hanya...seorang pelajar aku merasa kikuk tinggal bersama-sama dengan seorang gadis !"

"Ah engkau benar-benar pandai menggoyang lidah, membuatku tak berdaya ! kata Pek Wan Jie, seraya mengajak kedua pengikutnya berlalu. Dengan cepat dua hari telah berlalu, selama ini In Tiong Giok kurang tidur, malam inipun tidak terkecuali, perasaannya amat risau. Ia berjalan kejendela memandang keadaan ,alam, waktu baru tengah malam masih jauh kepagi. Untuk menghilangkan kesalnya ia membaca buku, untuk ini ia harus menyalakan lampu, malang baginya minyak pelita sudah kering. Maka dipanggilnya In Hok, tapi tidak mendapat jawaban, hal ini mengherankannya. Biasanya orang tua itu sekali dipanggil sudah menyahut, kenapa malam ini bisa tidur nyenyak sekali. Dihampirinya kamar pembantu itu, ia jadi melongo karena In Hok tidak ada dikamar ! Saat inilah dari arah jauh terdengar kentongan bahaya, dalam sekejap suasana jadi ramai dari teriakan para pengawal. Tiba-tiba dari luar berkelebat sesosok bayangan yang segera membuka baju dan terus naik ke ranjang makai selimut. Kejadian ini berlangsung hanya sekilas mata saja, menandakan orang ini memiliki kepandaian yang luar biasa sekali. Tapi Tiong Giok mengenali orang itu bukan lain dari In Hok adanya ! Penemuan yang tidak disengaja ini membuatnya menggigil tak keruan, hampir-hampir ia berseru kaget, untung tertahan. In Hok adalah pembantu ayahnya puluhan tahun, tak mungkin sebagai seorang lihay yang menyembunyikan kepandaian sekian lamanya tanpa ketahuan. Diluar rumah sudah terdengar langkah-langkah pengawal, Tiong Giok buru-buru masuk keranjangnya dan pura-pura tidur ! lalu dengan gaya sepeerti barubangun dipanggilnya In Hok membuka pintu, karena pintu sudah diketuk dari luar. In Hok benar-benar seperti baru bangun sambil memakai baju ia membuka pintu. Lie Tongleng dan wakilnya tersenyum sinis melangkah masuk dengan sepuluh pengawal.

"Untuk ketiga kalinya aku mengganggu, tapi sekali ini tidak akan salah lagi, dengan mata kepala sendiri kulihat ada yang masuk kedalam rumah !"

Tanpa permisi lagi ia mengeluarkan perintah pada anak buahnya .

"Periksa !"

Laki-laki beralis kereng dengan cerfmat melakukan pemeriksaan demikian juga dengan anak buahnya, tapi hasilnya tetap nihil !

Lie Tongleng wajahnya menjadi masam, dengan tajam ia memandang kepada In Hok.

Sedangkan yang diawasi sikapnya sangat wajar dan layu, masih mengantuk.

Begitu lama Lie Tongleng mengawasi, belum juga membuka mulut, membuat In Tiong Giok kaget dan cepat berkata memecahkan kesunyian .

"Cuwie tentu amat letih bertugas sepanjang malam, mari mengaso dulu, In Hok lekas sediakan the dan jangan membengong saja disini !"

In Hok segera ngeloyor pergi.

"Tidak usah,"

Kata lie Tongleng, kami masih sedang bertugas, tidak bisa lama-lama berada disini, atas kejadian ini harap jangan merasa terganggu, semua ini untuk keselamatan Kongcu !"

"Terima kasih atas kebaikan Tongleng!"

Kata In Tiong Giok sambil merangkapkan tangan."

"Bolehkah aku menanyaorang tua ini sudah berapa lama menjadi pembantu dirumahmu ?"

Kata Lie Tongleng. Diam-diam Tiong Giok menjadi kaget, tapi parasnya tetap tenang dan menjawab secara wajar.

"Sejak umur belasan tahun ia membantu ayahku sampai sekarang!"

"Ia pengawal lama dan orang kepercayaan ayahmu, maka itu kesetiaannya tak usah diragukan lagi bukan ?"

Perkataan Lie Tongleng tidak berarti apa-apa, tapi Tiong Giok sudah mengenal wataknya yang cerdik, maka iapun menjawab seenaknya.

"Ya, memang ia orang kepercayaan ayahku !"

"Ia begitu setia dan bekerja sudah puluhan tahun, apakah sudah berkeluarga ?"

"Ini..."

Belum pula Tiong Giok berkata habis, In Hok sudah mendahului.

"Anakku sudah sebesar Tongleng!"

Jawaban ini hampir-hampir membuat sekalian pengawal tertawa dibuatnya.

"In Kongcu katamu belum selesai,"

Kata Lie Tongleng dengan cepat.

"Ini terjadi sebelum aku lahir!"

Jawab Tiong Giok dengan cepat pula.

"Untuk apa Tongleng bertanya hal ini ?"

"Memang seperti tidak berguna tapi bermanfaat besar bagiku, tunggu saja nanti, aku bisa memberikan laporan yang benar-benar bisa mengejutkan Kongcu, nah sekarang sudah lama kami mengganggu dan permisi !"

Dengan sekali menggoyang tangan sekalian pengawal mengiringinya keluar.

In Tiong Giok masih terpekur, setelah langkah-langkah para pengawal menjauh ia baru merasa lega.

Cepat ditutupnya pintu, lalu dipanggilnya in Hok.

"Engkau sebenarnya siapa, lekas bilang !"

"Kongcu masakan sama aku si budak tua tidak kenal ? Aku In Hok!"

"Sampai sekarang In Hok belum berkeluarga sebaliknya terus terang saja siapa dirimu ? Dan In Hok telah engkau apakan ?"

"In Hok tiba-tiba tertawa.

"Harap Kongcu tenang, pengikutmu itu tidak kurang suatu apa dan sudah pulang dengan selamat kerumahmu !"

"Untuk apa engkau menyamar sebagai In Hok, terangkan lekas, jangan sampai aku berteriak dan membuatmu nanti mati secara sia-sia."

"Manusia tidak mau mencelakakan Harimau, sebaliknya harimau mau mencelakakan manusia", kata In Hok palsu.

"tidakkah Kongcu ingat dua kali terlepas bahaya berkat pertolonganku ?"

Berbareng dengan habisnya bicara, lengannya dengan cepat menjambak dada In Tiong Giok.

Dengan tangkas pemuda kita menggunakan ilmu menggeser tubuh Kiu toan bie cong pou, tubuhnya berkelebat dan lolos daro serangan.

"Ih, kiranya ada permainannya juga,"

Kata In Hok sambil mengebaskan tangan membuat pelita padam.

Lalu tubuhnya merendah dan melancarkan serangan Kui ong tan jiau (raja setan mengcengkeram) kearah ketiak lawan.

Tapi dengan cepat dan gusar Tiong Giok melancarkan serangan balasan kearah jalan darah musuh.

Serangannya yang cepat dan tepat membuat In Hok kaget, dan menarik tangannya sambil berseru .

"Ih Siong liong ciu (ilmu menangkap naga)!"

"Hemm, kau kenal juga, nah ini apa !"

Kata In Tiong Giok seraya mengumpulkan tenaga untuk melancarkan ilmu mautnya.

Tapi dengan tiba-tiba ia ingat pesan gurunya dan buru-buru membatalkan niatnya.

Tapi gerakannya saja sudah dikenali In Hok orang tua itu jadi tersenyum.

"Hm, tahan dulu si kutu buku itu apamu ?"

"Aku tidak kenal siapa si kutu buku !"

"Lalu siapa yang memberikan pelajaran Sing Liong ciu dan Hiat cie leng padamu ?"

"Sudah tentu guruku !"

"Siapa gurumu ?"

"Penunggang Hiu dari daerah Honglay, pelajar miskin dari Pegunungan Salju !"

"In Hok menarik nafas panjang, lalu menyalakan pelita. Dibawah sinar lampu.

"In Hok telah bersalin rupa. Rambutnya putih, matanya memancar tajam, usianya lebih tua dari In Hok asli, tapi wajahnya kemerah-merahan seperti gadis remaja ! "Engkau siapa ?"

"Ha ha ha budak cilik, lihatlah yang tegas !"

Orang tua itu tertawa dan mengusap wajahnya, warna kemerah-merahan menjadi hilang berubah kecoklat-coklatan, sikapnya penuh wibawa, dialah Ngo Liu Cungcu Tan Toa Tiau.

In Tiong Giok menyedot nafas, mengumpulkan tenaga siap dengan Hiat Cie Leng.

"Jangan kesusu, lihat lagi yang tegas,"

Lagi-lagi si orang tua bersalin rupa persis seperti Lie Kee Cie. In Tiong Giok kebingungan dan menggeleng-gelengkan kepala sambil menarik nafas.

"Engkau sebenarnya siapa ? Setan atau manusia ?"

Orang tua itu mengeset selaput tipis dari wajahnya, menampakkan kembali wajah aslinya yang kemerah-merahan seperti anak gadis remaja. Ia tertawa puas .

"Lohu adalah setengah manusia setengah setan, ketemu manusia jadi orang ketemu setan jadi iblis ! Bocah, belum kenal juga padaku ?"

In Tiong Giok menjadi bingung.

"Hari-hari belum pernah ketemu mana kukenal engkau siapa, lagi pula yang mana wajah aslimu !"

"Ah benar-benar celaka sampai orang sendiri tidak dikenal. Menurut tingkatan engkau harus memanggil Siok-siok (paman) padaku, tak kira berbalik dijadikan pelayanmu !"

"Sebenarnya engkau ini siapa ?"

"Gurumu si kutu buku itu adalah kawan karibku dari banyak tahun,"

Kata si orang tua.

"Dalam hal menulis dan membuat sajak aku tak memadai kepandaiannya, tapi dalam hal minum arak dan menggerogot daging anjing aku lebih lihai darinya ! Jika engkau mewarisi kepandaiannya dan menjadi muridnya, tentu kenal siapa aku ?"

"Suhu tak pernah menceritakan orang-orang Kang Ouw, bahkan sampai namanya sendiri tak pernah dikatakan!"

Jilid 3________ "Ah benar heran, sedang main apa si kutu buku itu... tapi sedikitnya engkau pernah mendengar apa yang dinamai Bulim Cap sa kie bukan ?"

"Oh yang engkau maksudkan dengan Jiak sie to koey kay sin sian yauw mo kui itu ? aku baru tahu beberapa hari saja dari Pek Kounio, artinya sama sekali tidak jelas !"

"Ya ketiga belas orang ini empat puluh tahun yang lalu merupakan jago dunia persilatan yang tiada taranya !"

"Aku heran sepuluh huruf itu kenapa bisa jadi tiga belas orang ?"

"Antaranya yang disebut Yauw ialah Hekpek Siangyauw suami istri, atau dua jejadian hitam dan putih. Sedangkan To adalah penganut Taois dari Lau Tze bernama Thay Cin Tojin dari pegunungan Hengsan. Kui artinya gadis, yang dimaksud adalah Liap In Eng yang bergelar Piau Hio Kiam atau sipedang semerbak . Sin mewakili Tong Cian Lie yang bergelar Lui Sin atau malaikat petir . Sian adalah Gan Kong Hu dengan gelar Sit bok-sian ong atau dewa bermata hijau, sedangkan Sie mewakili Biku yakni Kay Kong Kiansu . Mo adalah Hiat Mo setan berdarah Kim Kay, sedangkan kui atau setan mewakili Thian Lam Sam Mo, tiga iblis dari daerah selatan yang terdiri dari Siau bin Busiang (iblis tersenyum) , Tok Kay fong, Kiucie Busiang (iblis berjeriji sembilan) Kam Peng Hoo dan Tokpit Busiang (iblis bertangan satu) Ciau Cie Hiong...."

"Engkau hanya menjelaskan artinya delapan huruf, masih ada Jiak dan Kay yang belum dijelaskan !"

"Kedua orang itu sebenarnya tak perlu dijelaskan engkau harus tahu sendiri !"

Kata si orang tua sambil mengangkat -angkat pundak.

"Kelihatannya engkau pintar, nyatanya bodoh dan harus dikasihani . Jiak adalah pelajar, yakni gurumu si kutu buku Han Bun Siang dengan gelar Lo-to sen (sipelajar miskin) dan Kay atau pengemis adalah aku Cu lit dengan gelar manis yakni Cian Bin Sin Kay atau pengemis seribu muka !"

Kaget dan girang bercampur dijiwa Tiong Giok, cepat-cepat ia membungkukkan badan memberi hormat .

"Tak kukira bahwa Lo Cianpwee dan guruku adalah Bulim Cap sakie. Boanpwee benar-benar tidak tahu dan maaf atas kekuranganku.

"Sudah jangan berkata begitu,"

Kata Cian Bin Sin Kay,"Sejujurnya dulu bulim capsahkie namanya tenar, tapi untuk kini telah berubah menjadi Bulim Capsahkie Siu (tiga belas keburukan)... untuk apa ?"

Bocah apakah engkau tahu kedatanganku ke sini ?"

"Boanpwee tidak tahu,"

Jawab In Tiong Giok.

"Aku ingin mencari seseorang yang tidak imannya..."

Mendadak ia diam dan memiringkan kepala mendengari sesuatu.

"Sst jangan bersuara dibelakang rumah datang seseorang berkepandaian tinggi !"

Hm, ingin kulihat manusia macam apa dia itu !"

Cepar-cepat selaput tipis dikenakan kemukanya, membuatnya menjadi In Hok kembali.

"Lo Cianpwee jangan lupa, pura-pura tidak pandai silat, agar tak ketahuan,"

Kata In Tiong Giok.

"Ya engkau benar, hampir-hampir kulupa dan terbongkar rahasia kita !"

Berdua-dua mereka berdiam dipojok ruangan ssmbil menahan napas, tak perlu lama-lama mereka menanti, dibelakang rumah terdengar suara berkeresek...

Cianbin Sinkay dengan ilmu Toan Im (mengirim suara) berbisik pada kawannya "Binatang ini bermaksud tidak baik, dalam keadaan terpaksa akan kutindak, engkau tetap saja berlagak bodoh !"

Sesosok bayangan hitam masuk kedalam, tubuhnya kurus dan mengenakan pakaian warna kelabu, wajahnya tertutup kedok, hanya matanya saja terbuka memancar tajam.

Ia bersenjata, gerakannya ringan, dugaan sipengemis tidak salah, tamu tak diundang ini berkepandaian tinggi.

Tiong Giok memperhatikan terus gerak gerik orang itu.

Sibaju kelabu seolah-olah mengenal baik keadaan rumah, ia menuju ke kamar In Tiong Giok.

Pintu memang setengah terbuka, tubuhnya memiring dan mencelos masuk tanpa bersuara.

Tapi dengan cepat pula is keluar lagi dari dalam kamar.

"Kawan !"

Tegur In Tiong Giok, sambil menerkam dan melancarkan serangan Cesiu Puliong (dengan tangan menjirat naga) mencengkeram kearah pundak.

Tanpa menoleh, sibaju kelabu tiba-tiba mengengos dan menyerosotkan kakinya, tubuhnya sudah berpisah satu meter, lalu berbalik melepaskan tamparan !

Tiong Giok menyerang tergesa-gesa, cepat-cepat tubuh bagian atas diputar, dan menarik tangan kanannya, kembali menyiapkan seangannya itu yang dikeluarkan dengan jurus In Liong Sian Jiau (naga memperlihatkan kuku diawan), tapi gamparan musuh mengandung kekuatan hebat, tubuhnya hampir terpukul jika tidak ada Cianbin Sinkay yang menalang menangkis !

Sungguh begitu tak urung terhuyung-huyung tiga empat langkah.

Sibaju kelabu menggunakan kesempatan ini melompat peergi dan terus hilang kearah jendela.

Cianbin Sinkay menyusul dengan cepat, tapi kehilangan jejak, ia merasa kagum, sambil menggoyang-goyang kepala ia kembali kerumah.

"Engkau menyuruh aku menyembunyikan kepandaian, kenapa engkau sendiri tak tahan menghadapi keadaan ?"

"Sebab dia bukan orang Pok Thian Pang !"

"Bagaimana engkau tahu ?"

Ia berkepandaian tinggi dan tidak bersenjata, begitu masuk lantas kekamarku tapi ia segera keluar lagi, karena mengetahui kamar kosong.

Dari sini kupikir tentu dia orangnya yang tiga kali berturut-turut membunuh penterjemah bahasa Sangsekerta.

Tujuannya dari pembunuhan untuk mencegah jangan sampai buku yang berada ditangan orang-orang Pok Thian Pang diterjemahkan, sungguhpun kelakuannya sangat telengas ia berniat melindungi juga kaum bulim, saying kita tidak berhasil membekuknya !"

"Tapi disini hanya aku dan engkaulah yang terhitung orang luar, jika orang itu bukan anggota Pok Thian Pang kenapa bisa masuk kesini !"

"Bisa saja, didunia ini apa yang tidak mungkin ?"

Kata In Tiong Giok.

"Buktinya seperti Locianpwee bisa salin wajah, mungkin dia juga demikian !"

"Ilmu salin rupaku dapat dikatakan tidak ada duanya diatas dunia ini, sehingga mendapat julukan Cianbin, sungguhpun begitu harus menjadi budakmu dulu baru bisa datang kesini !"

"Tujuannya orang itu mencegah aku menterjemahkan buku, jika kita belum meninggalkan tempat ini pasti dia akan datang lagi ! Untuk kedua kalinya kita harus berhasil menangkapnya, mungkin dia itu bisa dijadikan kawan baik !"

Kata In Tiong Giok, lalu ia ingat perkataan siorang tua tadi .

"Locianpwee ingin mencari orang yang tak kuat imannya itu siapa ?"

"Dia adalah salah seorang Bulim Capsahkie, entash kenapa terdengar diluaran namanya tercantum sebagai anggota Pok Thian Pang kalau benar terbukti, dengan tangan ini akan kubunuh dia !"

"Maksudmu Thian Lam Sam Kui ?"

"Sam Kui termasuk orang apa ? Yang kumaksud adalah Thay Cin Tojin dari Thay Hengsan !"

"Apa ? Dia juga jadi anggota Pok Thian Pang..... ah mana mungkin !"

"Ini kuketahui dari anggota Pok Thian Pang diluaran, bahkan ia berada diistana "sorga"

Menikmati segalanya, sayang usahaku merampas perahu tidak berhasil. Jika tidak, hmm !"

In Tiong Giok turut sedih mendengar itu, karena orang yang dimaksud itu, justeru yang hendak diketemukannya, jika sampai benar-benar Thay Cin Tojin jadi anggota Pok Thian Pang bagaimana baiknya ?

Biarfpun ia seoarang yang pintar menghadapi keadaan begini jadi hilang pendapat.

Dipegangnya surat kulit kambing di sakunya dengan bengong, tapi tidak dikeluarkannya untuk diberi tahu pada Cian Bin Sin Kay.

"Perkataan sebelah pihak belum tentu benar biarlah nanti kuselidiki untuk mencari kebenaran !"

"Menyelidiki tidak ada gunanya juga, yang baik kau berusaha mendapatkan sebuah perahu !"

"Ya akan kuusahakan sedapat mungkin, tapi waktu sangat mendesak sekali !"

"Engkau boleh mengulur waktu !"

"Tapi gerak gerik Locianpwee sudah mendatangkan kecurigaan Lie Kee Cie, asal ia mengirim pos ke Ngo Liu Cung untuk memeriksa keadaan rumahku, segala kebohongan yang diucapkan Locianpwee bukanlah terbongkar semua ?"

"Aku tak berpikir sampai kesitu, mungkinkah Lie Kee Cie secermat engkau ?"

"Ia licin dan cerdik, buktinya Pang Hui kena dibongkar rahassianya,"

Kata In Tiong Giok, lebih-lebih Locianpwee yang berturut-turut dua malam mengganggu mereka, pasti mendatangkan kecurigaan !"

"Andaikata ia berbuat seperti yang engkau duga, paling sedikit masih ada waktu lima hari. Waktu ini cukup lama, andaikata ketahuan sekuat tenaga kulindungi engkau sampai berhasil lolos dari sini, lalu kutempur mereka mati-matian, bagaimana mereka tidak bisa berbuat apa-apa padaku."

Waktu berjalan dengan cepat, sementara mereka bercakap-cakap, fajar sudah menyingsing. Tak terasa sudah siang Kongcu sebaiknya istirahat dulu, Lohu akan masak nasi !"

"Ah ada-ada saja, yang pantas Boanpwee menyediakan untuk Locianpwee !"

Biar masih ada lima hari, sandiwara ini sebaiknya berjalan terus, duduklah dan akan kubuatkan masakan "Ayam pengemis"

Untukmu !"

In Tiong Giok mengawasi Cu Lit kedapur, perubahan malam ini biarpun sudah membuka sebagian tabir asap, tapi mendatangkan lagi tabir baru.

Bagaimanapun rahasia Cu Lit tidak bisa bertahan lama.

Jangka waktu lima hari dalam sekejap mata akan berlalu, sampai saatnya, dengan cara apa bisa meloloskan diri dari tempat berbahaya ini ?"

Karena merasa risau ia keluar rumah berjalan-jalan di taman sambil menghirup hawa segar.

Ia melangkah perlahan sambil menundukkan kepala, waktu ia dongkak lagi nampak seorang muda berbaju merah sedang berdiri disekat gunung-gunungan terpekur dan memandang ketempat jauh.

"Nah, ini Pek Kian Hong,"

Pikirnya, ia berjalan mendekati !

Pek Kiam Hong tetap berdiri tegak memandang kearah jauh sambil berpangku tangan, seolah-olah ia tidak tahu kedatangan In Tiong Giok, juga seperti tahu tapi tidak meladeninya.

Melihat keadaan ini Tiong Giok menghentikan langkah dan niat mundur.

"Pagi benar In Heng bangun ?"

Tiba-tiba pemuda itu menegur dengan nada dingin. Cepat In Tiong Giok memberi hormat .

"Selamat pagi Siau Pangcu !"

"Untukku sudah tak pagi lagi,"

Jawabnya kasar, aku berdiri dan berdiri setiap hari ditempat ini sebelum surya terbit, tanpa terasa sudah sepuluh tahun, selama itu belum pernah absen seharipun !"

In Tiong Giok tidak tahu harus bagaimana menjawabnya, ia tertawa dan berkata .

"Ya sepuluh tahun seperti sehari, kemantapan Siau Pangcu dan daya tahan yang luar biasa membuatku kagum. Seperti tertawa Pek Kiam Hong berkata.

"In Heng menganggap kelakuanku aneh dan enggan bergaul bukan ?"

"Tidak, sedikitpun ridak mengandung maksud begitu, hanya saja."

"Hanya saja engkau telah dipengaruhi perkataan Pek Sumoy soal diriku yang aneh bukan ?"

"Sebenarnya Pek Kounio tidak mengatakan apa-apa, hanya dengan baik hati ia memesan jangan mengganggu ketenangan dari Siau Pangcu."

"Yang dikatakan memang benar, tapi ia tidak mengetahui kepenatan hatiku, perasaan hati yang terbenam dan tidak diutarakan pada orang lain, sama dengan memelihara adat sendiri dan timbul keanehan untuk orang lain, sehingga sukar bergaul."

"Perkataan Siau Pangcu memang benar, masing-masing orang mempunyai tabiat sendiri-sendiri. Bagaimanapun kita tertawa untuk menggembirakan orang lain, tidak berarti kegirangan bagi diri sendiri. Tapi begitu kita sedikit pendiam dianggap sombong dan menyendiri, ah memang jadi orang tidak mudah !"

Perkataan ini mendatangkan suatu kesenangan bagi Kiam Hong, matanya yang memancar tajam menatap pada Tiong Giok .

"Apakah In Heng mempunyai juga kandungan hati yang tak bisa diutarakan pada orang lain ?"

"Tidak, tapi aku mengerti apa yang dirasakan Siau Pangcu !"

"Apa yang pernah diucapkan Pek Sumoy kepadamu ?"

"Ia menuturkan secara ringkas hal ikhwal Siau Pangcu..."

Belum pula Tiong Giok habis berkata, wajah Kiam Hong sudah ditekuk lagi.

"Ah Pek Sumoy terlalu bawel, kenapa ia berkata begitu pada orang luar !"

"Biarpun aku orang luar, apa yang kukatakan adalah kejujuran, harap Siau Pangcu tidak gusar."

Agaknya Pek Kiam Hong menjadi malu hati atas kejujuran Tiong Giok, dilihatnya pemuda kita, parasnya berubah baik, tapi dengan tiba-tiba saja ia berlalu dengan cepat.

In Tiong Giok menggelengkan kepala dan menarik napas panjang melihat sikap si pemuda itu.

Tapi dalam perasaan hatinya bisa menilai bahwa pemuda itu tidak seaneh dan dingin seperti yang dibicarakan Wan Jie, tapi ia menyesal percakapan berakhir dengan tak sedap.

Sekembalinya kerumah Cu Lit sudah selesai dengan "ayam pengemisnya"

Yang menebarkan.

"Lekas dicicipi bagaimana rasanya buah tanganku, sudah banyak tahuntak turun tangan sendiri, entah masih boleh entah tidak !"

Dengan sungkan-sungkan Tiong Giok menggerogoti ayam itu, dalam sebentar saja sudah tinggal separuh, nyatanya kelezatannya luar biasa sekali.

Setelah ayam itu habis semua, baru ingat bahwa orang tua itu belum makan.

"Tak apa-apa masih ada empat lagi, mari kita makan sepuasnya, lewat lima hari lagi sulit mencari makan..."

Tiba-tiba dari luar terdengar suara tertawa dari Siau Hong dan Siau Eng .

"Hm, harum benar ! In Kongcu beruntung betul pagi-pagi sudah makan panggang ayam, bolehkah kami mencoba ?"

"Masih banyak, mari makan,"

Kata Cu Lit, dan jangan lupa bawakan sebelah untuk Pek Kounio!"

"Mengapa Pek Kounio tidak turut serta ?"

Tanya In Tiong Giok.

"Tiap hari bertemu muka, mungkinkah merasa kangen ?"

Tanya Siau Eng.

"Aku ingin membicarakan sesuatu hal yang penting dengannya, bukan main..."

"Kebetulan Kouniopun menyuruh kami menjemput Kongcu kesana !"

Kata Siau Hong.

"Dimana dia ?"

"Di aula belakang istana !"

In Tiong Giok kaget tapi tak menanyakan lebih lanjut, cepat-cepat ia mengenakan baju, sebelum keluar ia sempat memesan Cu Lit.

"Siapkan ayam, mungkin aku akan makan siang bersama Kounio disini."

"Lebih baik kami yang mengambil, karen kemungkinan besar Kounio menahan Kongcu makan diistana !"

In Tiong Giok menganggukkan kepala dan keluar dari villa Tenang bersama-sama kedua pelayan wanita itu.

Diluar telah tersedia kereta, Siau Eng mempersilahkan Tiong Giok masuk.

Begitu ia berada didalam hatinya jadi girang, karena ada Wan Jie !

Sedangkan Siau Eng dan Siau Hong naik di depan mengendarai kuda.

"Jalan perlahan-lahan,"

Pesan Wan Jie.

"Ya, nona,"jawab pelayan itu. Benar saja kereta jalannya tak ubah seperti kura-kura merayap. Di dalam kereta terasa sangat harum dan membuat In Tiong Giok heran, dicekalnya lengan si gadis, begitu dingin dan sedikit bergetar. Hal ini membuatnya jadi bergetar juga, dilihatnya si gadis menatap sayu kearahnya, disekalnya lengan si gadis bertambah erat.

"In Kongcu sejak bertemu di Ngo Liu Cung aku sangat menghargaimu, tapi ada satu hal yang aku minta kejujuranmu, benar-beanrkah engkau bisa berbahasa Sangsekerta ?"

"Mengapa Kounio bertanya lagi, jika tidak mampu apa gunanya aku kemari ?"

"Aku percaya padamu, tetapi suhu dan Lo Cucong merasa curiga, karena mereka mendengar tadi malam terjadi sesuatu di villa Tenang, benarkah ?"

"Benar, bahkan Lie Tongleng telah melakukan pemeriksaan !"

"Ya, biang kerok justru Lie Tongleng adannya,"

Kata Pek Wan Jie.

"ia melaporkan pada Pangcu bahwa mata-mata itu In Hok adanya, bahkan engkaupun dicurigai pula."

"Bagaimana ia boleh sembarngan menfitnah orang baik ?"

"Menurut dia dengan mata kepala sendiri melihat penjahat masuk kedalam villa, dan potongan tubuhnya mirip In Hok, tetapi waktu memeriksa tak ada bukti. Juga waktu ia menanya In Hok kau melindunginya !"

"Aneh... biasanya penjahat mendatangkan malapetaka bagi penterjemah,"

Kata In Tiong Giok.

"Lie Tongleng seharusnnya mengoreksi diri sendiri, Karena sebagai petugas tak berhasil menjalankan kewajiban, kenapa berbalik menfitnah kami sebagai mata-mata. In Hok adalah pengikut ayahku dari puluhan tahun, sedikitpun tak bisa silat, mana bisa jadi penjahat ! Ini terang-terang ia tak bisa bekerja ! Apakah Pangcu percaya ocehannya ?"

"Pangcu sebenarnya tak percaya, dan membentaknya buat membuktikan ! Tapi Lo Cucong yang mengetahui kejadian ini, dia segera memerintahkan mengirim merpati pos, meminta Ngo Liu Cung menyelidiki sampai kedasarnya, lalu menyuruh aku mengundangmu untuk dites..."

"ini cara yang baik, bagaimanapun emas murni tidak takut dibakar !"

Kata In Tiong Giok memegat pembicaraannya.

"Semoga apa yang kau ucapkan benar semua, ketahuilah Lo Cucong tabiatnya jelek, waktu menjawab segala pertanyaan harus hati-hati.....ah, hatiku sangat risau, jika dipikir membuatku kuatir sekali..."

"Apa yang engkau kuatirkan ?"

"Ada pirasat seolah-olah kita akan berpisah !"

Kata Pek Wn Jie dengan suara sedikit bergetar.

"Entah apa sebabnya, hatiku kuatir berpisah denganmu, kemudian hari entah masih bisa bertemu entah tidak..."

Ia terdiam air matanya berderai turun. Tergetar sanubari Tiong Giok .

"Wan Jie engkau menangis ?"

Wan Jie menggeleng kepala, tapi isak tangisnya keluar tanpa dirasa. Dengan perasaan saying, Tiong Giok merangkul pundak sigadis dan bertanya .

"Wan Jie engkau kenapa begitu baik kepadaku, kenapa ?"

Dengan lemah sigadis menyandarkan tubuhnya kedalam dada Tiong Giok .

"Tak dapat kukatakan kenapa mungkin memang sudah nasib, mau ketemu di Ngo Liu Cung, begitu melihatmu lantas... ia tidak meneruskan.

"Kounio ! Sudah sampai !"

Terdengar suara Siau Hong.

Wan Jie melepaskan diri dari Tiong Giok, cepat-cepat menyeka air mata, pintu kereta sudah dibuka Siau Eng.

Kedua orang turun di sebuah taman yang besar dengan beraneka ragam bunga indah.

Dengan merapikan baju Wan Jie membuka jalan diikuti tamunya dari belakang.

Meeka melewati taman bunga dan naik keundakan tangga, dua penjaga dengan senjata terhunus berdiri tegak, diam tak bertanya.

Setibanya mereka didalam, terlihat dua orang berpakaian biru, satu tinggi satu pendek.

"Kedua orang ini adalah Wang Fut Hoat dan Pu Fut Hoat dari Korea !"

Kata Wan Jie.

"Tiong Giok merangkapkan tangan memberi hormat .

"Yang rendah adalah In Tiong Giok."

Kedua Fut Hoat itu tidak membalas hormat, dan tidak berkata sepatah katapun, yang jangkung dengan tiba-tiba saja mencekal kedua tangan Tiong Giok sedangkan yang pendek melakukan penggeledahan.

Setelah itu sijangkung mengangguk kepada Wan Jie, mengizinkan masuk.

Kelakuan ini membuat Tiong Giok tersinggung.

"Sabar,"

Kata Wan Jie, yang terus melangkah kesebuah kamar.

Begitu masuk benar-benar diluar dugaan, karena Pek Cin Nio berada disitu, kedua Fut Hoat entah kemana tidak terlihat lagi.

Sang Pangcu duduk dikursi bersarapkan kulit harimau, dikiri kanannya tidak terlihat seorang pelayanpun.

Wajahnya sangat cantik tersenyum manis, begitu ramah seperti kemarin-kemarin.

"In Kongcu silahkan duduk, mari kita membicarakan sesuatu mengenai pekerjaan menterjemahkan buku Sangsekerta itu."

Wan Jie berdiri dibelakang gurunya, sedangkan Tiong Giok mengambil tempat duduk di bagian selatan.

Diam-diam Wan Jie memberi kode dengan memoncongkan mulut ke arah utara, dimana terdapat pintu yang tertutup kain tipis.

Seolah-olah menyuruhnya berhati-hati.

Pertama-tama Pangcu menanyakan soal keluarga Tiong Giok, yang dijawab dengan sejujurnya.

Disamping menjawab iapun memperhatikan kearah utara, kini ia sadar, kiranya dibalik kain tipis, samar-samar terlihat bayangan orang.

Mungkin itulah yang disebut Lo Cucong dengan kedua Fut Hoat tadi.

Antara pintu berkain tipis dan dimana Tiong Giok duduk saling berhadapan.

Orang-orang dibalik kain tipis itu pasti dapat melihat dengan tegas pemuda kita, sebaliknya Tiong Giok hanya melihat bayangan-bayangan saja dan tidak bisa melihat wajah mereka.

"In Kongcu untuk menyingkat waktu, baiklah kita mulai dengan pekerjaan menterjemahkan itu."

Kata Sang Pangcu , seraya menyerahkan sehelai kertas tipis.

"Nah Kongcu coba lihat apa artinya tulisan ini ?"

Dengan kedua tangan Tiong Giok menyambut kertas itu, dan melihat sejenak lalu menyerahkan kembali dan menjelaskan .

"Maknanya dari kata-kata itu bersangkutan denganilmu silat, Hauw Sian adalah nama dari sipenulis, Ciu Lok tulisan tangan.

"Keng Thian Cit Su"

Nama dari ilmu itu yang berarti .

"Tujuh gerakan menjangkau langit."

Sang Pangcu mendengari tenang-tenang wajahnya menunjukkan sinar puas.

"Kongcu adalah pemuda berbakat dan berpengetahuan dalam bisa mendapat bantuanmu, peerkumpulan kami marasa bangga dan beruntung !"

Ia tersenyum kearah Wan Jie, sigadis mengerti apa yang dimaksud gurunya, maju menerima kertas dari gurunya dan melangkah masuk kedalam pintu berkain tipis.

Bayangan-bayangan orang dibalik kain tipis terlihat bergerak-gerak dan berkata-kata dengan perlahan, sesudaah itu terlihatlah Wan Jie keluar, ditangannya membawa sehelai kertas lain.

Sang Pangcu menerima dan memberikan pada Tiong Giok sambil berkata .

"Silahkan Kongcu membacakannya, apa artinya tulisan di kertas ini ?"

Setelah membaca sebentar Tiong Giok berkata .

"Oh ini prakata dari buku Keng Thian Cit Su, yang menjelaskan keistimewaan ilmu pedang tujuh gerakan menjangkau langit. Sungguhpun bernama tujuh jurus, sesungguhnya mencakup keseluruhan ilmu pedang, yang dapat berubah tak terpanai banyaknya. Maka itu orang-orang yang kurang cerdas dilarang mempelajari seorang diri, karena bisa tersesat dan gila. Karena pelajaran ini terdiri dari dua jilid, pertama dan kedua. Untuk dipelajari berdua dan dimainkan berdua juga, dengan bersatu padunya pemain, kelihayan dan kekuatan ilmu pedang ini baru dapat dikembangkan menjadi kekuatan yang tiada taranya. Perbedaan besar dengan ilmu pedang biasa yakni setiap yang mempelajari harus sungguh-sungguh dan tekun..."

Tiba-tiba saja dari balik kain tipis berdehemnya suara halus.

"Kongcu benar-benar dikurniakan yang Maha Kuasa kepintaran yang melebihi orang lain!"

Kata sang pangcu dengan tersenyum.

"untuk mengingat kata-kata ini terlalu panjang, maka itu kuminta Kongcu untuk menuliskannya dibuku"

Ia menoleh pada Wan Jie "sediakan alat-alat tulis !"

Ia bangun dan masuk kedalam, bayangan-bayangan dibagian kain tipispun bergerak dan hilang.

Wan Jie menarik napas panjang, dan tersenyum kearah Tiong Giok .

Senyumnya mengandung, girang, haru, bersyukur dan banyak-banyak yang tak dapat dituliskan.

"Sekarang engkau percaya padaku ?"

Tegur in Tiong Giok.

"Hm."

Wan Jie mendelik dan terus masuk kedalam mengambil alat-alat tulis, dengan cepat ia kembali lagi. Diambilnya pit dan ia menulis dimeja .

"Jangan terlalu jujur mengeluarkan keahlian atau kepintaran, kamu pura-pura seperti menghadapi kesulitan, makin lambat makin baik. Wan Jie cepat-cepat menghapusnnya lagi tulisan itu. Tak selang lama Sang Pangcu datang lagi dan mengawasi Tiong Giok bekerja, gerak geriknya demikian ramah dan selalu tersenyum-senyum, sekali-sekali iapun bertanya keistimewaan dari Sangsekerta kelakuan ini begitu wajar dan bebas, tak ubahnya seperti seorang ibu sedang mendampingi anaknya. In Tiong Giok menurut permintaan Wan Jie pura-pura menggigit seperti berpikir, dan menulis dengan perlahan-lahan. Sampai tengah hari, ia baru berhasil menterjemahkan satu halaman. Sang Pangcu meneliti hasil teerjemahan iotu, dengan puas dimasukinya kedalam saku .

"In Kongcu, kepandaianmu ini mendatangkan penghargaan Lo Cucong, ia menghadiahkan semeja makanan dan minuman sebagai imbal jasa jerih payahmu hari ini . Wan Jie temani In Kongcu makan disini ! Sesudah itu ajaklah berperahu, agar kepenatan hari ini tersapu bersih, dan bisa memelihara semangat untuk hari esok..... tapi, disebabkan terjadinya dua keributan dimalam hari, kuminta kalian pergi disiang hari. Dan pekerjaan ini dilakukan pada malam hari !"

Sepuluh pelayan datang membawa hidangan dan minuman, begitu banyak dan harum-harum.

Pangcu sebagai tanda hormatnya, memberikan secawan arak pada Tiong Giok baru berlalu.

Wan Jie makan dengan bernafsu, karena segala kerisauan pikirannya dalam beberapa hari, sudah hilang pergi berikut perginya sang Pangcu.

Sedangkan In Tiong Giok disamping rasa girang tidak luput timbul rasa kagetnya .

yang menggirangkan adalah Sang Pangcu memberi ijin berperahu, yang mengagetkan pekerjaan menterjemahkan harus dilakukan pada malam hari.

Dengan begini bisa menghambat usahanya bersama Cu Lit untuk melarikan diri.

Kemungkinan disiang hari bisa meloloskan diri.

Ya, biar bagaimana tinggi kepandaian Cian Bin Sin Kay, dengan berdua saja.

"Eh, bagaimana engkau ? Maukah main perahu ?"

"Sudah tentu, siapa mau melewatkan kesempatan ini !"

Wan Jie cepat-cepat meminta kartu perahu dari Pangcu dengan girang ia mengajak Tiong Giok keluar istana.

"Main perahu paling enak mengayuh sendiri, maka kuminta perahu kecil yang muat dua orang saja !"

"Hm,"

Dengus Wan Jie dengan pipi merah,"

Kutahu engkau mempunyai maksud tak baik ! Nah kuserahkan kartu ini dan engkau pillih sendiri perahunya ! Coba saja lihat, Siau Hong dan Siau Eng bisa marah-marah !"

In Tiong Giok tidak memperdulikan, ia memilih perahu kecil. Siau Eng danSiau Hong bertolak pinggang dengan mangkel karena mengerti bakalan tak diajak.

"Kalian atak usah menunggu kami bisa pulang sendiri,"

Kata Tiong Giok yang terus mengajak Wan Jie naik perahu.

Dengan pesatnya perahu lalu menerjang air membiru, makin lama makin kecil dan hilang dari pandangan mata.

Wan Jie duduk diburitan, mengemudikan perahu, sedangkan Tiong Giok duduk berhadapan sambil mengayuh perahu.

"Kita pergi melihat air terjun dulu, lalu mampir ditempat pemerahan sapi, minum susu segar, bagaimana ?"

Tanya Wan Jie. Tiong Giok menggelengkan kepala.

"Kalau begitu kita pergi dulu kepasir putih, mencari kerang, bagaimana ?"

In Tiong Giok menggelengkan kepala lagi.

"Baiklah kuajak kesuatu tempat, dimana banyak pepohonan yang rindang, perahu kita tambat dan pergi kehutan mendengari kicauan burung...."In Tiong Giok sudah geleng kepala lagi.

"Ih habis mau kemana, jangan goyang kepala saja !"

"Kuingin pergi kepulau itu, disana kulihat ada rumah seperti dipulau ini setujukah ?"

Kata In Tiong Giok.

"Tidak bisa !"

Kata Wan Jie dengan tegas.

"kemana saja boleh engkau pergi, hanya kedua pulau itu terlarang untukmu !"

"Kenapa ?"

"Pokoknya tidak boleh !"

"Sedikitnya harus kuketahui alasannya, kenapa tidak boleh ?"

"Baiklah kujelaskan padamu, dikedua pulau itu terdapat dua isstana yang bernama "Sorga"

Dan "Hayal"......."

"Menarik benar nama kedua istana itu, alangkah senangnya kalau aku bisa mengunjunginya kesana !"

"Kedua istana itu khusus untuk menjamu tamu-tamu terhormat !"

Kata Wan Jie dengan terpaksa, sedangkan kedua pipinya menjadi merah.

"Disana adalah tempat menjijikkan, guruku melarang gadis-gadis pergi kesana, mengertikah ?"

"Asal pikiran kita benar, melihatpun tidak menjadi soal........"

"Pokoknya bagaimana engkau maupun tidak kuijinkan !"

Kata Wan Jie.

"lebih-lebih kalau sampai guruku tahu, bisa didamprat habis-habisan dan membuatku menaruh muka dimana lagi ?"

"Ya tidak boleh ya sudah ! Marilah kita lihaat air terjun !"

"Perahu laju kearah tujuaan, suara air terjun semakin dekat semakin terdengar. Begitu membisingkan sekali, jika dongak ke atas, terlihat air itu tak putus-putusnya dari puncak-puncak terjun kebawah dan terjadilah percikan air tak ubahnya seperti kabut pagi. In Tiong Giok jagum melihat air terjun ini, tapi tidak menyenangkannya, karena pikirannya masih tetap mengingat "Istana Sorga"

Dan "Istana Hayal". Tiba-tuba saja terpikir olehnya sesuatu akal, ia pura-pura memandang keindahan alam sekitarnya dan terus berkata .

"Tadi engkau mengatakan dimana terdapat hutan untuk mendengari burung berkicau ?"

"Disebelah barat, nah lihatlah, burung-burung beterbangan disana !"

Kata Wan Jie sambil menunjuk.

"Jauh sekali, rasa-rasanya tak kuat aku mengayuh kesana !"

"Ah, dasar pelajar lemah,"

Kata Wan Jie, dengan sebelah tangan aku masih sanggup mengayuh pulang pergi, kalau begitu engkau saja yang pegang kemudi !"

In Tiong Giok tak menampik, segera tukar tempat.

"Sebagai pelajar, aku kurang bergerak badan, tidak seperti engkau yang belajar silat"

Ia tak dapat melanjutkan kata-katnya, sebab dengan terjadinya pertukaran tempat, membuat perahu oleng.

Tapi dengan ilmu Cian kin tui (menindih dengan seribu kati) Wan Jie membuat perahu tak bergerak.

Sedangkan In Tiong Giok puntang panting tak keruan, dan baru bisa diam sesudah tangannya memegang tubuh si gadis yang berdiri tegak.

Entah disengaja atau tidak, dari memegang tahu-tahu menjadi memeluk.

"Eh, kira-kira...jangan main-main disini, jika sampai dilihat parng-orang pulau itu, bisa dijadikan bahan tertawaan!"

Iapun segera melepaskan diri dan mengayuh sedang Tiong Giok mengemudi.

Wan Jie hati-hatinya berdebar karena pelukan tadi, maka itu ia mengayuh tanpa menoleh kanan kiri, melainkan tunduk, karena merasa likat dipandang terus si pemuda.

Kesempatan ini dipergunakan Tiong Giok sebaik-baiknya, perahu itu dikemudikan kearah pulau terlarang.

"Eh..., mengapa engkau diam saja ?"

Tanya In Tiong Giok.

"maukah engkau mendengar ceritaku ?"

"Mau"

Kata Wan Jie dengan tersenyum.

Sekali-kali ia tidak mengetahui maksud Tiong Giok, dengan cerita perhatiannya jadi teralih sedangkan perahu berjalan terus kearah dua pulau.

Waktu aku masih kecil, pernah terserang penyakit keras.

Sepanjang haritak makan dan tak munum juga tak bicara, penyakitnya aneh sekali sampai melihatpun tak bisa mengenali siapa-siapa !

Kedua orang tuaku menjadi cemas segala tabib yang pandai diunangnya dari segala tempat, satupun tak ada yang tahu aku sakit apa, perkiraan mereka aku tidak tertolong lagi "

Orang tuaku bersedih hati, pikiran mereka kematianku takkan lama lagi, maka itu segala keperluan mati sudah di siapkan.

Pada saat itulah tiba-tiba datang seorang Tojin kerumah aku, sambil nyanyi bagai orang gila.

"Jangan kuatir, jangan susah hati, yang harus mati tak hidup, yang wajib hidup tidak mati, asal tuan dsan nyonya mau menjamu aku rasanya masih ada harapan untuk menolongnya "

Kata Tojin itu.

Permintaan itu, saat itu juga dikabulkan, dan Tojin itu makan dengan lahapnya, sesudah kenyang, dengan tertawa-tawa ia menghampiri aku dan menepuk jidat aku tiga kali dan menjejali sebutir pil kemulut, lalu membalik badan dan pergi.

Pil itu membuatku mules, waktu buang air tak ada kotoran hanya puluhan cacing hitam yang keluar.

Penyakitkupun menjadi baik..."

"Tojin itu tak ubahnya seperti dewa saja, tidakkah orang tuamu menanyakan namanya ?"

"Oh..., sudah tentu, ia bernama Thay Heng Thay Cin Tojin..."

"Apa ?"

Tanya Wan Jie terkejut terus bangun membuat perahu goyang. Tiong Giok menggunakan kesempatan ini pura-pura mau menolong sigadis .

"Duduk ! Nanti perahu terbalik"

Tak ampun lagi perahu itu benar-benar terbalik, kedua-duanya masuk ke dalam air.

Wan Jie berlaku sebat, cepat-cepatlah ia mencelat dari air dan melompat keperahu yang sudah terbalik.

Dengan tajam ia memandang sekeliling mencari kawannya.

Tiba-tiba terlihat In Tiong Giok yang tenggelam timbul, segera ia terjun memberi pertolongan.

Anehnya sudah dekat, tubuh pemuda itu hilang entah kemana, membuat cemas sekali.

"Kongcu! Kongcu ! Kongcu! Dimana engkau !"

Teriaknya keras-keras.

Sedikitpun ia tidak menduga pelajar lemah itu, sejak kecil biasa mandi dikali dan pandai berenang.

In Tiong Giok muncul lagi beberapa meter dari sigadis, dengan pura-pura kelelap timbul.

Tetapi setiap Wan Jie sampai, ia menghilang.

Dengan begini tanpa terasa sudah mendekat pulau.

Sesudah menghitung dengan cepat, begitu sigadis datang lagi untuk menolongnya, In Tiong Giok mencekal lengan si gadis kuat-kuat, cara ini memang tepat !

Sedikitpun tidak mendatangkan kecurigaan sigadis, dan tak membuatnya sulit, karena kepandaiannya lihay, ditotok dulu pemuda itu, baru dibawanya kedarat.

Dengan cepatTiong Giok ditengkurupi dan diangkat perutnya, kasian pemuda itu tidak memuntahkan air, tapi terus diurut, sampai yang ada dikantong nasinya semua keluar melalui mulut.

***** Saat ini terlihat empat enam orang datang ke arah mereka, dibawah pimpinan seorang laki-laki tua berewokan.

Mereka adalah pengawal-pengawal pulau, begitu melihat Wan Jie siberewokan segera tersenyum .

"Angin apa yang membawa nona kesini ?"

"Kam Lo Cianpwee ia adalah seorang pelajar kau lihat perahu kami terbalik ?"

Kata Wan Jie.

"Oh terbalik ?"

Kata siberewok.

"dan siapa itu ?"

"Dia adalah penterjemah yang diundang Pangcu, namanya In Tiong Giok !"

"Oh kiranya tamu terhormat,"

Katanya sambil bergelak-gelak, kedatangannya membuat istana disini bertambah terang. Ia memanggil kedua pengawalnya untuk membawa Tiong Giok.

"Kam Lo Cianpwee, ia adalah seorang pelajar lemah, asal engkau dapat menyediakan baju kering sudah cukup, tak perlu mendapatkan segala "servis"....

"Ya baju Kouniopun basah, apa salahnya mampir dulu dan tukar pakaian."

"Hm, siapa mau memakai pakaian busuk mereka,"

Kata Wan Jie sambil menggelengkan kepala, angkat perahu kami, segera beangkat lagi"

Agaknya si berewok itu menghormat betul pada Wan Jie, disuruhnya beberapa pengawal mengambil perahu, juga memaksa sigadis datang ketempatnya beristirahat.

Sedangkan Wan Jie menggelengkan kepala terus.

In Tiong Giok pura-pura siuman dari pingsannya dan berkata perlahan .

"Aduh, perutku sakit, ada air jahe tidak, ambilkan aku secawan."

"Badan In Kongcu lemah, jangan birakan ia kena inflensa, lekaslah bawa ke istana untuk pengobatan selanjutnya,"

Kata si berewok.

"Jika Kounio menganggap perempuan-perempuan disini kotor, kami bisa memerintahkan mereka diam dikamar dan tak boleh berkeliaran !"

Sesudah berpikir sejenak, akhirnya Wan Jie menganggukkan kepala.

Lelaki tua itu membuka jalan, mereka melalui taman-taman yang indah, belok kekanan dan kiri denagn rumitnya, mendatangkan kesan bagi Tiong Giok, tak sembarang orang bisa datang kesini, kepemasakan nasi berlalu, mereka sampai disepan sebuah istana.

"Sebaiknya aku tak masuk,"

Kata Wan Jie.

"Kounio harus tahu orang-orang yang berada di istana "Sorga"

Ini adalah jago-jago Bulim kelas wahid, mereka tak berani berlaku tak sopan kepada Kounio ?"

Kata si berewok, dan iapun memerintahkan kepada bawahannya membersihkan loteng dan membuatkan pakaian baru untuk Wan Jie.

Atas perlakuannya yang telaten ini Wan Jie terpaksa takmenolak lagi, dan ikut masuk ke dalam.

Terus naik keatas loteng yang terhias rapi dan indah, dari sini bisa memandang kepantai, dan menghirup hawa sejuk, membuat Wan Jie senang juga.

Tak selang lama terlihat seorang perempuan pertengahan tahun atang keloteng membawa pakaian.

Begitu ia melihat Wan Jie segera bertekuk lutut memberikan hormat.

"Pek Kounio sudah sepuluh tahun tidak terlihat, masih ingatkah dengan aku yang rendah ini ?"

"Ih, Hoo Hoa kenapa engkau bisa ada disini ?"

Tanya Wan Jie keheranan.

"Kounio tentu tahu, sejak terjadi peristiwa hari itu, Lo Cucong memberikan hukuman mati padaku dan Teng Pauw masih tetap sebagai pengawal sedangkan aku membantu Thay Cin Tojin mengurus kamar-kamar. Budi kebaikan gurumu, seumur hidup takkan kami lupakan..."

Habis berkata air matanya berderai turun.

"Ah Pek Kounio pertama kali datang kesini engkau jangan membuat hatinya risau dan sedih !"

Kata si berewok.

"Jangan perdulikan dia Hoo Hoa, kita bicara urusan kita!"

Kata Wan Jie, bagaimana selama sepuluh tahun ini ..."

Si berewok hanya tersenyum dan menemui Tiong Giok.

"Kam Lo Cianpwee, jangan engkau mengajak In Kongcu ketempat kotor, sudah salin pakaian ajak lagi kesini, kami segera berangkat !"

"Jangan kuatir ! Disini tidak ada harimau yang bisa memakan orang !"

Kata si berewok dan terus berpaling kearah Tiong Giok.

"Penyakitnya perempuan, senang sekali bertemu teman lama, tak putusnya bercerita, tapi tak lupa mengasi lelaki. Ha ha ha."

"Maaf Lo Cianpwee, dapatkah kutahu namamu yang besar ?"

"Namaku Kam Kong, pengurus istana Sorga."

In Tiong Giok ingat nama itu, tambahan melihat jeriji orang yang kurang satu.

Dialah satu dari tiga iblis dari selatan yang bergetar, Kiu cie hu siang.

Sungguhpun tampangnya kejam dan jelek tapi kata-katanya lucu dan menarik.

Dengan tersenyum Tiong Giok berkata .

"Sudah lama kudengar nama besar Lo Cianpwee, dapatkah kiranya mengijinkan aku meninjau keadaan Istana Sorga ini ?"

"Kutahu engkau pasti mempunyai keinginan kesitu,"

Kata Kam Kong dengan bergerak gerik, lelaki memang bersifat mata keranjang dan senang pelisiran .

lebih-lebih keadaan istana Sorga yang luar biasa hebatnya, pasti memberikan suatu kepuasan padamu.

Tapi ingat jangan sampai dia tahu !"

In Tiong Giok tidak memperdulikan kata-kata orang, ia salin pakaian dan memeriksa sakunya, untung surat kulit kambing itu tidak basah. Lalu mengikuti Kam Kong meninjau istana Sorga.

"In Kongcu sebaiknya meninjau istana ini silakukan seorang diri, agar kau bebas bergerak seenak-enaknya !"

Kata Kam Kong.

"Tapi soalnya aku tak tahu peraturan istana ini..."

Disini tempat bebas, tidak ada peraturan, perempuan-peempuan yang ada semuanya sebagai pelayan.

Yang datang kesini adalah tamu-tamu terhormat dari Pok Thian Pang, mereka boleh bertindak sesuka hatinya, tidak perlu memikirkan segala ikatan atau peraturan untuk mengekang diri.

Pokoknya engkau boleh pergi keistana luar itu, itu khusus untuk kaum Fut Hoat mencuci otak.

Ia tersenyum dan mengeluarkan palu kecil dari sakunya, dipukulnya genta kecil tiga kali.

Suara genta memecah kesunyian, segera terlihat pintu terbuka, wewangian menyerang hidung, terlihat dua perempuan muda yang cantik menghadap ke arah mereka.

"Kongcu ini adalah tamu terhormat. San San Ting Ting ! Hati-hatilah mengajak Kongcu !"

Kata Kam Kong. Dengan hormat kedua pelayan itu mengampit Tiong Giok. Mari Kongcu."

Kat amereka hampir berbareng.

Dengan likat In Tiong Giok menoleh kearah Kam Kong, tapi orang tua itu sudah lari entah kemana.

Tiong Giok diajak masuk kedalam ruangan yang indah sekali dan besar, dikiri kanan terlihat pintu-pintu kamar yang berhorden kain tipis dn jarang.

Ditengah-tengah ruangan terdapat sebuah kolam dan air mancur yang menerbarkan wewangian.

Sebuah patung nud yang memegang kendi, menumpahkan cairan kuning mengucur kedalam kolam, menebarkan harumnya arak.

Disekitar kolam terdapat permadani, disitu terlihat belasan perempuan-perempuan muda, ada yang melonjor, ada yang rebahan, ada yang duduk dan macam-macam.

Semuanya cantik dan menggiurkan, membuat seorang berada dalam mimpi.

Perempuan-perempuan itu dengan kerlingan tajam mengawasi pemuda kita, dengan keheran-heranan.

"Sejak istana ini dibangun, kaum tamu terdiri dari orang-orang tua melulu, orang semacam Kongcu adlah yang pertama kali, tak heran menimbulkan keanehan pelayan-pelayan disini,"

Kata san san. Ting Ting mengebutkan lengan bajunya, sebagai sambutan terdengar irama halus yang mengasyikkan.

"Kongcu mau mendengarkan nyanyian merekakah ? Atau minum-minum anggur dengan mereka ? "Tidak ! Tidak ! kedatanganku hanya meninjau, asal melihat-lihat ya sudah."

Kata Tiong Giok.

"Kongcu tak usah ketakutan tak keruan, disini lain dengan istana Hayal, disini bersifat pasif !"

In Tiong Giok menyaksikan belasan dara-dara cantik, hanya mengerlingkan mata dan bergerak-gerak untuk mendapat perhatian, tapi tak seorangpun yang mendekatinya membuat Tiong Giok merasa tenang.

San San menuju kolam dan menyendok airnya.

"Kongcu coba minum, bagaimana rasanya air kolam ini ?"

Tiong Giok meminumnya, merasakan harum dan segar, itu bukan air tapi anggur yang enak.

"alangkah harumnya anggur ini "

Pujinya.

"Jika Kongcu tidak senang melihat tarian dan mendengar nyanyian, mari kuajak kekolam Merpati ?"

Ajak San San.

Belum pula Tiong Giok menjawab, tiba-tiba mendengar suara tertawa yang keras menyusul terlihat salah satu pintu kamar terbuka dan keluarlah tiga orang.

Yang ditengah adalah seorang tua kurus berpotongan seperti Tojin, usianya lebih dari tujuh puluh tahun, lengan kiri dan kanannya menggandeng dara-dara cantik usia belasan tahun, mulutnya menyanyi-nyanyi jalannya terhuyung-huyung, mukanya penuh senyuman cabul, benar-benar tidak senonoh.

Dara-dara yang berada dipinggiran kolam begitu melihat orang tua ini, dulu mendahului memeluk, ada yang menarik janggutnya, ada yang membuka bajunya, segala kemaksiatan dilakukan dengan penuh kekotoran, dalam sekejap orang tua itu hilang dibawah timbunan dara-dara cantik.

Betapa muaknya Tiong Giok menyaksikan kejadian ini.

"Siapa orang tua itu ? Kenapa tua-tua tidak tahu malu ?"

Tanya Tiong Giok.

"Oh dia ? Ia terkenal sebagai Tojin gila, setiap hari tidak ketinggalan arak dan perempuan, pelayan-pelayan disini sudah biasa gila-gilaan menghadapinya, tapi kalau disebutkan namanya, bisa mengagetkan yang mendengar !"

"Siapa namanya ?"

"Thay Heng Thay Cin Tojin !"

"Apa ?"

Tanya Tiong Giok kaget, dikucek-kucek matanya dan menegasi .

"Dia Thay Cin Tojin ?"

"Benar !"

Jawab San San, jangan dilihat ia gila-gila dulunya adalah salah seorang jago Rimba Hijau yang terkenal, tapi sekarang ia menjabat sebagai ketua Fut Hoat di Pok Thian Pang !"

In Tiong Giok hampir tak percaya dengan pendengarannya sendiri, karena orang yang dicari ini didapati dengan mudah, tapi ia menyesal orang yang dicari ini, tak lebih dari seorang tua bangka yang gila-gilaan dan bejat moralnya.

Saat ini dara-dara cantik telah menggotong sang tojin kesebuah balai-balai, sepatunya dicopot, rame-rame mengurutnya, sedang kedua tangan Tojin itu tak pernah nganggur, memeluk ini, meraba sana, tak ubahnya sudah sekarat dn memuaskan nafsu hati sebelum mati.

In Tiong Giok menghampiri, dengan wajah muram ia berkata .

"Numpang bertanya apakah Lo Cianpwee benar Thay Cin dari Thay Heng san ?"

"He he he, kawan cilik aku memang Thay Cin Tojin, ada perlu apa mencaari Lohu, mari duduk !"

"Boanpwee bernama In Tiong Giok ada sedikit keperluan dengan Locianpwee, bisakah menyediakan sedikit waktu untuk bicara dengan empat mata ?"

"Mau bicara, silahkan bicara, tak usah empat mata segala ! Mereka boleh menyanyi dan menari engkau boleh berkata-kata, apa salahnya ?"

"Locianpwee adalah seorang ternama, tapi tak kira bisa berbuat sesat sedalam ini, tidakkah kuatir jika halini keluar bisa merusak namamu yang besar ?"

"Anak muda apa yang engkau tahu ? Saatnya bersuka ria harus bergirang hati, saatnya sedih harus menangis, bukankah begitu ? Kehidupan di dunia ini jangan terikat oleh nama kosong, aku mengerti dulu sebagai salah seorang Bulim Cap sahkie dan terkenal kemana-mana, atas itu aku bangga dan senang, tapi segalanya itu jika dibanding dengan sekarang, hanya nama kosong yang tak berarti bukan ?"

"Sebagai seorang yang kenamaan apakah engkau hidup dipiara orang semacam ini ? Biarpun aku bodoh, tapi bisa menilai perbuatan Tojin ini tidak ada harganya dan rendah dipandang umum !"

"Dipiara ? Ha ha ha ha !"

"Kira Locianpwee perkataanku lucu dan patut ditertawakan ?"

"Bukan saja harus ditertawakan, juga boleh dikasihani,"

Kata Thay Cin Tojin.

"Anak muda sebagaimu saatnya mempergunakan waktu sebaik-baiknya, kenapa harus mempunyai pikiran setolol ini ? Ha ha ha !"

"Oh dengan ini kenallah aku siapa sebenarnya Locianpwee,"

Kata In Tiong Giok.

"sejujurnya yang harus ditertawakan dan dikasihani bukannya aku, tapi adalah seorang kawan lama Locianpwee !"

Sehabis berkata ia mengeluarkan surat kulit kambing dari sakunya dan melemparkan ke lantai.

"Ha ha ha seorang Tojin mana mempunnyai kawan atau saudara lagi ?"

Katanya tanpa melihat apa yang dilempar sianak muda.

San san memunggut surat kulit kambing itu dan membuka, ia hanya melihat sebuah gambar sebatang pohon cemara menjulang tinggi sampai keawan, dibawahnya terlihat bibit cemara yang baru tumbuh, tak jauh dari pohon tampak seorang petani menyiram tunas yang baru tumbuh itu.

San san tak mengerti apa yang dimaksud dengan gambar itu.

"Heran tidak ada sepotong suratpun hanya sebuah lukisan, apa artinya ini ?"

Thay Cin Tojin hanya melirik sebentar, lalu merampasnya dari San San dan menyobek-nyobek sampai hancur.

"Segala gambar setan apa bagusnya ! Ambil arak lekas, kita minum-minum dan menyanyi baru betul !"

In Tiong Giok terkesiap menyaksikan perbuatan si Tojin, tapi tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia berjingkat keluar.

Ia berdaya uapaya sampai ke Istana Sorga, tapi bukannya kegembiraan yang diperoleh, melainkan kekesalan dan kemendongkolan.

Maka itu waktu kembali dari pulau ia termenung, tanpa bersuara ia mengayuh perahu, sedangkan Wan Jie berhadapan, dengannyapun tampak diam saja seperti tak gembira.

"Eh kenapa diam saja, tak senangkah ? Apa dongkol kepadaku ?"

Tanya Tiong Giok.

"Jangan banyak pikiran tak karuan, aku sedang memikirkan satu hal."

"Bolehkah kutahu soal itu ?"

"Apakah engkau tahu Teng Jiso tadi siapa ?"

"Bukankah ia bernama Hoo Hoa, seperti yang dia sebutkan tadi ?"

"Ya benar, kalau diceritakan nasibnya kasihan sekali,"

Kata Wan Jie, dulunya dia adalah pelayan dari Soat Kouw, waktu kecil ia sering memomongku, entah kenapa pada suatu saat ia sangat intim dengan seorang pengawal bernama Peng Pauw, diam-diam mereka mengadakan pertemuan digoa-goa yang terdapat ditaman bunga, hal ini diketahui orang dan membuat Lo Cucong marah besar dan menjatuhkan mereka hukuman mati, untung ada Soat Kouw dan guruku yang memintakan ampun, kalau tidak siang-siang mereka sudah mati...."

"Siapa Soat Kouw itu, tak pernah kulihat dia !"kata In Tiong Giok.

"Soat Kouw adalah adik seperguruan suhuku,"

Kata Wan Jie, waktu suhu jadi Pangcu ia menjadi wakilnya atau Hupangcu. Lima tahun yang lalu ia menerima tugas dari Lo Cucong, sejak itu ia tidak kembali lagi !"

"Oh, kata In Tiong Giok, ia heran kenapa sebagai Hupangcu, selama tahun tidak diutarakan ia hanya berkata. Sekarang Teng Jieso tidak kurang suatu apa, untuk apa memikirkannya lagi ?"

"Bukan soal dia yang kupikirkan, dan engkau tak mengerti, jika bukan sesama anggota, tak diijinkan menikah !"

"itu sudah tentu, apa herannya. Agar sesuatu rahasia Pok Thian Pang tidak sampai bocor, kata In Tiong Giok, tapi Teng Pauw dan Hoo Hoa sesama anggota kenapa dilarang menikah dan dihukum ?"

"Hm, cuma-cuma engkau hidup selama dua puluh tahun, sampai soal itu tidak mengeerti !"

Bentak Wan Jie marah.

Tiong Giok diam saja, karena benar-benar tidak mengerti.

Mereka bicara perahu laju terus tanpa terasa mereka telah mendarat.

Sesampainya di villa Tenang Wan Jie berkata dengan tawar .

"Besok aku datang, agar engkau dapat berpikir menjadi pintar. Malam kukirim kereta menjemputmu untuk menterjemahkan buku."

"Apa yang harus kupikirkan ?"

"Memikirkan soal yang engkau tak mengerti !"

Tanpa menunggu jawaban lagi Wan Jie berlalu.

In Tiong Giok mengantar kepergian gadis itu dengan pandangan matanya, ia tidak mengerti disaat mana berlaku salah, kepala digelengkan dan membalik badan masuk dalam rumah.

Banyak soal yang terbenam dihatinya, cepat-cepat dicarinya Cu Lit untuk menuturkan kandungan hatinya.

"Lo Cianpwee,"

Serunya.

"Kongcu baru pulang, ada tamu yang menunggumu !"

Kata Cu Lit sambil menunjuk kedalam dengan serius sekali.

Tak ia mengira tamunya itu adalah pemuda aneh bernama Pek Kiam Hong.

Begitu melihat tuan rumah masuk, Pek Kiam Hong segera memberi hormat dan berkata dengan manis .

"Siapa yang In Heng maksud Lo Cianpwee ?"

Tegurnya. Tiong Giok cukup tangkas menjawab .

"Tidak ! Kumaksud Lo Cianpwee seorang yang patut dihormat. Barusan setelah bekerja sebentar ia menitahkan Wan Jie menemaniku keliling danau, sehingga baru pulang, sudah lamakah ?"

"Oh, dasar peruntunganmu sangat baik, mendapat hadiah makan dan jalan-jalan dengan perahu, aku sendiri belum pernah diundang makan bareng sekalipun."

"In Hok sediakan minuman dan makanan,"

Kata Tiong Giok.

"Tak usah, barusan dua ekor ayam panggang In Heng telah kumakan, kelezatannya luar biasa sekali, atas kelancanganku ini harap In Heng maafkan !"

"Oh tidak apa-apa,"

Kata In Tiong Giok. Ia merasa heran juga pemuda ini bisa berubah sangat ramah tamah dan tidak seperti kemarin-kemarin.

"Apakah In Heng heran atas kedatanganku yang tidak diundang ?"

"Siau Pangcu tentu mempunyai sesuatu soal barangkali ?"

Tanya Tiong Giok.

"Sebenarnya bukan soal apa-apa yang maha penting,"

Kata Pek Kiam Hong.

"tadi pagi setelah bertemu In Heng aku termenung dan merasakan apa yang kulakukan sangat salah, maka itu datang kesini meminta maaf."

"Oh, begitu, sejujurnya aku yang harus meminta maaf kaerna berkata tanpa beerpikir-pikir !"

"In Heng, sejak sekarang maukah engkau menjadi kawanku ?"

"Aku sebagai pelajar lemah..."

"Soal berkawan bukan dari kedudukan seseorang,"

Kata Pek Kiam Hong.

"aku kagum atas kejujuran In Heng, dan patut dijadikan kawan. Sejujurnya apa yang harus kubanggakan sebagai Siau Pangcu ? Tujuh belas tahun hidup menyendiri, dengan pakaian mentereng ini, tak ubahnya diriku seperti boneka hidup, atau sebagai mayat hidup dalam bahasa kasarnya..."

"Siau Pangcu jangan berkata begitu..."

"Sudah tujuh belas tahun kata-kata ini terbenam dalam benakku,"

Kata Pek Kiam Hong.

"tapi belum bisa diutarakan kepada orang lain, karena tidak ada sahabat maupun saudara, diriku ini seorang tak berayah yang patut dikasihani !"

"Bukan Siau Pangcu seorang saja yang belum pernah melihat ayah sendiri, didunia ini banyak yang bernasib begitu !"

"Tapi sebagai anak ingin aku melihat ayahku, bagaimana potongan badannya, raut mukanya.....semua ini hanya hayalan belaka....aku hanya tahu dulunya ayahku seorang jago persilatan, tapi terbunuh orang sebelum aku lahir."

"siapa yang membunuhnya ?"

"Mana kutahu !"

"Jika tidak tahu, kenapa tahu ayahmu terbunuh orang ?"

"Ibuku yang menceritakan,"

Kata Pek Kiam Hong.

"pembunuh itu sudah dua puluh tahun hilang tanpa kerana, mungkin sudah mati !"

"Jika begitu sakit hati ini seumur hidup takkan terbalas !"

"Biar dia sudah mati aku bisa menuntut balas pada anak istrinya,"

Kata Pek Kiam Hong, beberapa tahun Pok Thian Pang mengejar dan mencari terus seorang muda yang mempunyai tanda luka dipundak kirinya..."

"Apakah pemuda yang bertanda dipundak kiri itu sebagai anaknya pembunuh ayahmu ?"

"Benar"

"Kenapa anak itu bisa mempunyai tanda dipundaknya ?"

"Tujuh belas tahun yang lalu, soal ayahku diselakakan orang tersiar luas, ibuku dan Soat Kouw mengajak jago-jago lainnya mengejar pembunuh itu, sungguhpun dikerubuti penjahat itu dapat meloloskan diri, tapi anaknya yang digendong dan diajak bertempur itu, terkena bacokan, jika tidak mati pasti ada tandanya !"

"Tujuh belas tahun yang lalu anak itu baru setahun, terkena bacokan golok kurasa lebih banyak matinya dari pada hidupnya, jika ayah dan anaknya sudah mati, sama dengan dendam habis sudah. Maka menurutku Siau Pangcu tak usah memikirkan lagi soal itu, masih banyak pekerjaan menantikan kita lakukan, kenapakah harus berkecamuk terus di dalam soal dendam selalu."

Baca Juga: Misteri Pulau Neraka 1

Baca Juga: Harimau Kemala Putih 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert