Eps 7 Dua Musuh Turunan - Liang Ie Shen
Baca online Dua Musuh Turunan - Liang Ie Shen
Cersil Dua Musuh Turunan - Liang Ie Shen.
Karena serangannya itu, Mie Ming jatuh duduk, tubuhnya tak lagi bergerak.
Mereka ini cekal kedua pundaknya, maksudnya untuk memimpin bangun, atau tiba-tiba di antara jeritan "Ayo!"
Dua pahlawan itu mundur terhuyung, iga mereka dirasakan sakit.
"Ha!"
Mereka itu berseru. Hong Hoe segera mengerti duduknya hal. Ia halangi kedua pahlawan itu, hingga mereka tak terhuyung terlebih jauh.
"Biarkan Tantai Tjiangkoen1."
Hong Hoe teriaki kedua pahlawan itu.
"Dia tengah empos tenaga dalamnya!....."
Hampir berbareng dengan itu, kelihatan Mie Ming bersenyum, terus ia manggut-manggut kepada si komandan, seperti ia hendak puji komandan itu.
Si orang tua turunkan tangannya yang terakhir, dia gunakan Taylek Kimkong tjioe, untung tenaga dalam si panglima Watzu pun liehay, ia pun luas pengalamannya, dari itu, dapat ia mengelakkan diri.
Ia turunkan pundaknya untuk menyambut serangan, kecuali mendak, tidak ada lain jalan lagi baginya.
Berbareng dengan itu, ia juga coba menyerang, guna meringankan pukulan si orang tua.
Walaupun itu semua, pakaian perangnya -lapis baja -telah menjadi korban, jikalau tidak, tentu rusaklah anggota-anggota dalam tubuhnya.
Juga si orang tua tidak menyangka, dalam keadaan terancam seperti itu, Mie Ming masih bisa mengelakkan diri, masih bisa membalas menyerang, ia terkejut ketika ia merasa tubuhnya seperti terbetot lawan itu.
Ia mencoba pula mengelakkan diri.
Syukur untuknya, serangan Mie Ming tak sekuat tenaganya -tenaga Mie Ming tengah terbagi -jadi serangan itu, dalam sepuluh cuma dua tiga bagian saja.
Jikalau tidak, juga si orang tua mesti rubuh seperti lawannya ini, yang jatuh duduk numprah.
Tapi tidak urung, sekeluarnya dari rumah Hong Hoe, ia mesti juga muntahkan diri, dan tempo ia kembali di pondoknya, ia mesti duduk bersemedhi guna memulihkan kesehatannya.
Mie Ming tetap bercokol sekian lama.
Ia lolos dari bahaya di dalam, ia tidak bebas dari luka di luar.
Tidak berani ia bicara.
Ia juga empos semangatnya, untuk mengalirkan jalan darahnya.
Hong Hoe mengawasi orang, terus ia berkata pada rekan-rekannya.
"Pertandingan sudah berakhir, sekarang silakan saudara-saudara pulang saja!"
Semua pahlawan itu juga kuatir nanti terlibat, maka itu, dengan segala senang hati mereka lantas pamitan dan pergi, kecuali dua pahlawan, yang terus berdiri diam, wajah mereka beda dari biasanya.
In Loei tak dapat berdiam lebih lama, hendak ia bicara kepada tuan rumahnya, atau mendadak, dua pahlawan itu membuka mulutnya.
"Sekarang ini masih pagi, Tantai Tjiangkoen pun belum pulih kesehatannya, kami berdua hendak berdiam dulu di sini,"
Demikian kata mereka.
"Tidak berani aku mengganggu djiewie,"
Kata Hong Hoe dengan cepat.
"Kami dua saudara pertama-tama ingin menemani Tantai Tjiangkoen, kedua kami hendak gunakan ketika ini untuk melanjutkan pertandingan ini,"
Kata pula mereka itu, yang bicaranya mendesak.
"ialah kami ingin belajar kenal sama ilmu golok dari Thio Thaydjin. Karena ini ada latihan belaka, untuk kemajuan kedua pihak, kami percaya Thio Thaydjin tentulah tak nanti sudi tak memberi petunjuk kepada kami."
Hong Hoe jadi berpikir keras.
Kedua pahlawan itu adalah orang-orang kepercayaannya Soeiee Thaykam Ong Tjin, si orang kebiri yang besar pengaruhnya.
Semasa kaisar masih menjadi putera mahkota, Ong Thaykam ini pernah mengajarkan ilmu silat padanya, sekarang, sebagai Soeiee Thaykam, dia jadi sangat berkuasa, dengan gampang dia dapat memfitnah menteri-menteri setia.
Dua pahlawan ini, yang bersaudara kandung, adalah Lou Beng dan Lou Liang, kepandaian mereka yang utama adalah genggaman tameng yang bernama ilmu silat Lakcapshalou Koengoanpay hoat, yang terdiri dari enam puluh tiga jurus.
Tameng itu istimewanya ialah bukan dikawani dengan golok, hanya dengan pedang, dan kedua saudara ini, yang satu menyekal pedang, yang lain memegang tameng, biasa mereka bertempur bersama.
Sebenarnya Hong Hoe tidak mengundang mereka ini, adalah mereka yang datang sendiri.
Bingung juga Hong Hoe.
Terang sudah, kedua saudara she Lou ini tidak mempunyai maksud baik.
Yang hebat baginya ialah selagi ia masih lelah habis melayani Mie Ming, tak dapat ia menampik dengan alasan masih letih itu.
Akhirnya, terpaksa ia ambil putusannya.
"Oleh karena djiwie mempunyai kegembiraan itu, baiklah, suka aku yang rendah menemaninya,"
Demikianlah penyahutannya.
"Tapi karena kita cuma melatih diri, aku harap kita hanya saling menyentuh saja, jangan kita bicarakan urusan kalah atau menang....."
"Itulah pasti!"
Tertawa kedua saudara Lou itu.
"Siapa kalah siapa menang, kita sambut dengan tertawa saja!"
Lalu, dengan mengambil tempat di kiri dan kanan, kedua pahlawan itu segera siap sedia dengan pedang dan tameng mereka. In Loei menjadi tidak puas sekali.
"Tidak keruan-keruan, kembali orang hendak bertanding,"
Pikirnya. Tapi ia ada orang luar, tidak dapat ia menyelak di tengah untuk mencegah pertandingan itu, terpaksa ia berdiri tetap di pinggiran. Thio Hong Hoe hunus goloknya, golok Biantoo.
"Silakan!"
Ia undang.
"Thio Thaydjin saja yang mulai!"
Lou Beng jawab. Hong Hoe mengerti persiapan kedua saudara itu, tak sudi ia hunjuk kelemahan dirinya.
"Baiklah!"
Ia jawab sambil tertawa.
"Maaf!"
Dengan satu gerakan menyabet dari ilmu golok Ngohouw Toanboen too, komandan Kimie wie sudah lantas menyerang lengannya Lou Beng.
"Trang!"
Demikian satu suara, ketika pahlawan Ong Tjin menangkis dengan tamengnya.
Itulah Lou Liang, yang mendalangi saudaranya.
Hong Hoe sudah menduga akan tangkisan itu, maka juga dengan menggunakan ketika itu, ia luncurkan goloknya di antara tameng itu, dengan menerbitkan sinar hijau yang menyilaukan mata, dengan jurus "Anghee toatbak,"
"Sinar layung menyilaukan mata,"
Ia menikam terus dengan ujung goloknya ke arah tenggorokan.
Justeru itu Lou Beng, dengan pedangnya yang tajam, majukan diri sambil memapas, akan tabas kutung lengan si orang she Thio.
Dengan cara ini ia berbareng menolongi saudaranya.
Dengan cepat Hong Hoe tarik pulang goloknya, untuk menangkis pedangnya.
Dalam tempo yang pendek itu Lou Liang dapat kenyataan, tamengnya pada bagian yang terbacok lawan telah melesak, memberi bekas bacokan golok, karena mana, ia terkejut.
"Kusangka dia sudah lelah, tidak tahunya dia masih tetap tangguh,"
Ia berpikir.
Karena ini, segera ia maju pula, guna membantu saudaranya.
Ia mencoba mendesak.
Dengan lantas ia perlihatkan liehaynya ilmu silat tamengnya.
Desakan ini ada baiknya untuk Lou Beng, yang jadi leluasa dengan pedangnya, sebab dia senantiasa terlindung tameng saudaranya itu.
Dalam keadaan biasa, dua saudara Lou itu bukan tandingannya Thio Hong Hoe, sekarang ini komandan itu masih lelah hingga golok yang tajam itu kurang lincah gerakkannya, dengan begitu, bertiga mereka jadi berimbang.
Lou Beng dan Lou Liang mencoba mendesak, sebentar saja mereka sudah bertempur kira-kira lima puluh jurus, bagus kerja sama mereka berdua, sempurna serangan dan pembelaan diri mereka, maka sulit bagi Hong Hoe untuk merubuhkan mereka, tidak peduli goloknya itu istimewa tajamnya.
Dalam percobaannya mendesak itu Lou Liang kembali menyerang dengan tamengnya, dengan jurus "Soenloei koanteng"
Atau "Geledek menyambar."
Ia arah batok kepalanya Thio Hong Hoe.
Komandan Kimie wie itu menginsyafi bahaya tameng itu, yang beratnya sedikitnya seratus kati.
Coba ia masih segar, tidak usah ia pikirkan itu.
Sekarang adalah lain, tidak mau ia melayani keras dengan keras.
Maka itu dengan cepat ia berkelit.
Karena ia mengalah, ia jadi terdesak, hingga segera ia berada di bawah angin.
Dilindungi tameng saudaranya, pedang Lou Beng mendesak berulang-ulang, bagaikan ular berbisa yang tak hentinya menyemburkan bisanya.
In Loei lantas menginsyafi bahaya yang mengancam Thio Hong Hoe itu, ia menjadi heran.
"Ini bukan caranya orang berlatih,"
Pikirnya.
Tiba-tiba tampak Lou Liang mendekam, tamengnya menutupi seluruh tubuhnya, habis itu dengan cepat, ia lompat bangun, tamengnya itu menyambar, dalam gerakan "Hengsaw tjiankoen" -"melintang menyapu ribuan serdadu."
Tameng itu mengarah kepinggang. Hong Hoe berkelit dengan gerakan "Liongheng hoeipou"
Atau "Naga terbang,"
Ia lolos di bawah tameng, sambil berkelit, ia membalas menyerang dengan bacokan.
"Tongleng tianpie"
Atau "Cengcorang pentang sayap."
Kalau ia barusan diarah pinggangnya, ia mengarah sepasang kaki orang. Inilah yang dikatakan "Tong long pok sian, oey tjiak tjay houw,"
Yaitu, sang cengcorang menubruk sang tonggeret, sang burung gereja mengintai di belakangnya.
Selagi Hong Hoe membabat kaki Lou Liang, Lou Beng di sampingnya pun menikam dengan pedangnya.
Sebab Lou Beng hendak menolongi Lou Liang, sang saudara.
In Loei saksikan kejadian itu, ia kaget hingga ia menjerit.
Tapi ia tidak hanya menjerit, berbareng dengan itu, jari-jari tangannya menyentilkan Bweehoa Ouwtiap piauw.
Lou Beng percaya betul, pedangnya akan mengenai sasarannya.
Ia tidak sangka, berbareng dengan satu suara "trang!"
Ujung pedangnya telah meleset, karena piauw menyampoknya hingga ujung pedang itu menggeser dari arahnya.
Coba tidak demikian, sudah tentu tubuh Hong Hoe bakal tertusuk bagaikan sate dipanggang.
Tak sempat berpaling lagi, untuk mencari tahu, siapa si pelepas piauw itu, Lou Beng berlompat mundur, sesudah itu, baharu ia pikir hendak menanya.
Berbareng dengan itu, juga In Loei hendak lompat maju, untuk majukan diri, atau ia telah didahului Tantai Mie Ming.
Panglima Mongolia ini mencelat maju seraya perdengarkan suaranya.
"Aku hendak bertempur pula satu gebrakan! Djiewie, kamu suka berdiam di sini, untuk temani aku, maka untuk membalas kebaikanmu ini, suka aku mengorbankan diri untuk menemani kau! -Thio Thaydjin, silakan kau undurkan diri!"
Mie Ming bergerak terus menyusuli kata-katanya itu, ia tak tunggu lagi jawabannya kedua saudara Lou itu atau Hong Hoe, tangan kirinya bekerja dibarengi dengan tangan kanan.
Kalau tangan kiri menyambar menangkap, tangan kanan menggempur menyampok.
Karena kagetnya, tameng Lou Liang sampai terlepas dari cekalannya, terpental tinggi, dan pedangnya Lou Beng kena dirampas, terus dibikin patah menjadi dua potong!
Maka melengaklah kedua saudara itu!
Tantai Mie Ming tidak berhenti sampai di situ.
Dia bekerja terus, kedua tangannya menyambar tubuh Lou Beng dan Lou Liang, yang terus dia angkat sambil berseru "Pergi!"
Maka kedua tubuh itu yang bagaikan ditiup angin puyuh, terapung kurang lebih satu tombak jauhnya, perdengarkan jeritan dari kesakitan, mata mereka berkunang-kunang, sebab mereka terbanting keras, sejenak itu juga mereka pingsan!
Tantai Mie Ming melenggak, ia tertawa ber-kakakan.
"Selama hidupku, inilah hari pertandinganku yang paling memuaskan!"
Kata dia dengan nyaring. Terus dia manggut terhadap Thio Hong Hoe, sedang terhadap In Loei, dia usapkan tangannya dan berkata.
"Aku hendak cari si orang tua tadi, maaf, tak dapat aku temani kamu terlebih lama pula!....."
Dan dia buka tindakan lebar untuk berlalu dari rumah Hong Hoe.
Tuan rumah she Thio itu segera lari menghampiri Lou Beng dan Lou Liang, untuk memeriksa keadaannya.
Ia dapat kenyataan, tulang iga Lou Beng patah dua buah dan gigi Lou Liang copot dua biji.
Sama sekali mereka tidak peroleh luka di dalam tubuh, hingga jiwa mereka tidak terancam bahaya.
Maka dengan hati lega, Hong Hoe lantas ambil obat dan obati mereka itu.
Habis itu, dengan keluarkan kata-kata tak tegas, dengan tindakan tidak tetap, kedua pahlawan itu juga ngeloyor pergi.....
Akhir-akhirnya, Hong Hoe menghela napas.
"Sungguh aku tidak duga....."
Keluhnya.
"Apakah yang kau tidak duga?"
In Loei tanya.
"Biasanya aku tidak pernah berhubungan dengan Ong Tjin,"
Sahut komandan Kimie wie itu.
"Dua orang ini adalah pahlawan-pahlawan Ong Tjin, mereka rupanya mendapat titah dari Ong Tjin untuk mencelakai aku. Mungkin ini disebabkan aku tak sudi pernahkan diri di bawah pengaruh orang kebiri itu....."
In Loei berdiam.
Baharu sekarang ia tahu, di kota raja ini, juga kaum pahlawan terdiri dari berbagai golongan, bahwa mereka saling berdengki.
Tentang ini, tidak sudi ia mencari tahu, ia tidak menanyakannya lebih jauh.
"Eh, mana sahabatmu itu, Siangkong Thio Tan Hong?"
Tanya Hong Hoe kemudian. Wajah In Loei menjadi bersemu merah.
"Sejak di Tjengliong Kiap, kita telah berpisah,"
Ia menyahut, terpaksa.
"Sayang, sayang,"
Mengeluh Hong Hoe.
"Coba kamu berdua ada di sini, dengan pedangmu bergabung menjadi satu, pasti sekali kamu dapat mengalahkan Tantai Mie Ming itu! Selama tiga hari beruntun, terus menerus Mie Ming menangkan belasan pertandingan, beruntung datang orang tua tidak dikenal itu yang membuatnya ia tahu rasa, sayang mereka bertanding seri, sama-sama mereka memperoleh luka..... Ah, sungguh, kali ini runtuhlah kaum pahlawan dari kota raja!....."
In Loei mengerti orang sangat berduka dan menyesal. Tapi ia tertawa.
"Sebenarnya kau belum terkalahkan Tantai Mie Ming!"
Ia kata.
"Syukur datang si orang tua, kalau tidak, tetap aku bakal kalah,"
Hong Hoe akui.
"Malah mungkin jiwaku akan lenyap bersama! Tidak tahu aku bagaimana cara datangnya orang tua itu, di sini banyak pahlawan, tidak seorang jua yang mengetahuinya....."
Ia berhenti sebentar, untuk menambahkan.
"Tantai Mie Ming juga ada seorang aneh. Kalau tadi dia tidak turun tangan, mungkin aku bercelaka juga. Biar bagaimana, aku mesti haturkan terima kasihku untuk Bweehoa Ouwtiap piauw-mu!"
In Loei tak gubris pujian itu. Ia mempunyai urusan lain.
"Thio Thaydjin,"
Katanya.
"aku datang ke kota raja ini untuk satu urusan penting. Hendak aku mohon bantuan kau!"
"Katakanlah,"
Jawab Hong Hoe.
"Mana dia sebawahanmu, si perwira muda she In?"
In Loei tanya.
"Aku minta supaya kau ajak dia menemui aku."
Hong Hoe mengawasi, nampaknya ia merasa heran.
"Adalah untuk ini saja kau datang ke kota raja ini?"
Dia tegaskan.
"Ya, untuk ini saja,"
In Loei pastikan.
"Sebenarnya kau menpunyai hubungan apa dengan In Tongnia itu?"
Hong Hoe tanya pula.
"Belum pernah aku dengar ia menyebut-nyebut kau....."
"Kita adalah dari satu she, aku ingin berkenalan dengannya,"
Sahut In Loei, yang masih belum ingin menerangkan jelas.
"Di kolong langit ini banyak orang yang sama she-nya,"
Pikir Hong Hoe.
"maka itu alasanmu tidak masuk diakal....."
In Loei tidak membiarkan orang bungkam.
"Jikalau Thaydjin ada punya urusan lain, tolong beritahukan saja alamatnya In Tongnia itu,"
Ia mendesak.
"Aku sendiri dapat mencari dia."
Tiba-tiba saja komandan itu bersenyum.
"Inilah urusan gampang,"
Katanya.
"Sekarang silakan kau masuk dulu."
In Loei heran, di dalam hatinya, ia kata.
"Kalau urusan ada gampang, untuk apa kau undang aku masuk dulu? Tidakkah cukup bila kau beri tahu aku alamatnya perwira muda itu?....."
Tapi ia adalah tetamu, tidak berani ia terlalu mendesak.
Hong Hoe pimpin tetamunya berlalu dari tanah lapang, untuk memasuki sebuah ruang tetamu di mana paling dulu ia titahkan pelayannya menyiapkan dua cangkir terisi teh wangi.
"Maaf, ingin aku salin pakaian dulu,"
Kata tuan rumah ini kemudian, lalu ia terus masuk.
Memang, setelah pertempuran hebat melawan Tantai Mie Ming, pakaian komandan Kimie wie itu telah robek dan kotor, begitupun rambutnya.
Mulanya In Loei, karena urusannya, tidak memperhatikan, sesudah orang menyebutkannya, baharu ia melihat terang.
Benar-benar tidak pantas tuan rumah menemani tetamu dengan pakaian tidak keruan macam itu.
Maka ia jadi tertawa.
"Sungguh liehay Tantai Mie Ming itu!"
Ia kata.
"Syukur kau yang melayani dia, coba orang lain, sudah tentu dia tidak sanggup....."
Hong Hoe bersenyum, ia jalan terus. Sebenarnya tidak lama, tapi In Loei menantikan dengan tidak sabaran, baharu hatinya lega apabila ia tampak tuan rumah itu muncul pula.
"Thio Thaydjin, di mana tinggalnya In Tongnia itu?"
Ia tanya tanpa menanti lagi.
Ia seperti tak sanggup kuasai pula dirinya.
Hong Hoe berlaku ayal-ayalan, ia singkap bajunya untuk duduk dengan tenang.
Ia pun angkat dulu cawan tehnya, untuk menghirup teh yang wangi itu.
"Sukar untuk menemui In Tongnia itu!"
Sahutnya kemudian, tapi sambil bersenyum. In Loei heran, hingga tak dapat ia tidak memperlihatkan roman kaget.
"Apa katamu?"
Tanyanya cepat.
"Dia kena-pakah?"
Hong Hoe lihat tegas kelakuan orang yang luar biasa itu. Itu menyatakan bahwa di antara kedua anak muda itu terdapat suatu hubungan yang erat, kembali ia bersenyum.
"Dia tengah menghadapi suatu kejadian di luar dugaan, hanya itu adalah kejadian yang baik,"
Jawabnya kemudian.
"Dia telah disetujui oleh Sri Baginda, dia telah diangkat menjadi siewie di dalam keraton. Karena ini dia tidak dapat sembarang keluar, jadi sulit untuk menemui dia."
In Loei jadi bingung.
"Apakah kau juga tak dapat memanggil dia keluar?"
Ia tanya.
"Sekarang ini dia bukan lagi sebawahanku, pasti tak dapat aku memanggil dia keluar,"
Sahut Hong Hoe. In Loei jadi seperti putus asa.
"Habis bagaimana?"
Tanyanya, lenyap kegembiraannya.
"Jikalau kau berniat menemui dia, mungkin setengah bulan lagi baharu ada ketikanya,"
Hong Hoe beritahu.
"Kenapa begitu?"
In Loei tanya.
"Apakah sebabnya?"
"Setengah bulan lagi tibalah waktunya Sri Baginda mengadakan ujian militer tahun ini,"
Komandan Kimie wie itu menerangkan.
"Dengan ujian militer"
Dia maksudkan ujian boe kiedjin.
"Saudara Tjian Lie sudah mendaftarkan namanya. Dia pandai ilmu silat, dia paham membaca kitab perang, ada harapan baginya lulus sebagai Boe tjonggoan. Umpama kata dia menjadi Boe tjonggoan, sudah pasti Sri Baginda akan berikan dia pangkat besar dan mendapat kedudukan lain hingga tak usah dia tinggal lebih lama di dalam keraton sebagai pahlawan."
Benar-benar lenyap harapan In Loei.
Ia jadi memikir untuk pamitan saja.
Akan tetapi Hong Hoe tanya ia ini dan itu, ia tetap diajak bicara.
Dan bicara tentang kejadian di Tjengliong Kiap, tuan rumah ini kembali puji Thio Tan Hong, ia kata, karena tipu dayanya Tan Hong itu, puteranya Tjioe Kian dan ia sendiri jadi dapat kebaikan.
Hati In Loei berdenyut setiap kali ia dengar disebutnya nama Tan Hong.
Hong Hoe lihat keadaan orang itu, ia menjadi heran sekali.
"Apakah benar Thio Tan Hong itu puteranya Thio Tjong Tjioe?"
Tanyanya kemudian.
"Benar,"
Jawab In Loei, terpaksa.
"Kalau benar begitu, benarlah, teratai keluar dari lumpur tetapi tidak kotor!"
Kata Hong Hoe.
"Melihat segala sepak terjangnya, terang dia adalah satu pemuda penyinta negara, maka harus ditertawai saudara Tjian Lie, dia baik dalam semua hal kecuali terhadap Tan Hong, dia sangat berkukuh, dia sangat benci Tan Hong itu."
In Loei berdiam, ia rasakan hatinya sakit.
"Apakah kau juga datang dari Mongolia?"
Kembali Hong Hoe menanya secara di luar dugaan.
"Di masa kecilku, pernah aku tinggal di Mongolia,"
In Loei akui.
"Kalau benar begitu, kau mirip dengan saudara Tjian Lie itu,"
Kata Hong Hoe.
"Tahukah kau orang macam apa pangeran asing serta Tantai Mie Ming yang datang ke Tionggoan ini?"
"Aku meninggalkan Mongolia sebelum berumur tujuh tahun,"
Sahut In Loei.
"maka itu mengenai Mongolia, sedikit sekali pengetahuanku. Kenapa Thaydjin tanya tentang kedua orang asing itu?"
"Sekarang pemerintah kita menghadapi suatu urusan penting,"
Jawab komandan itu.
"Itu adalah satu urusan aneh."
In Loei tidak menegaskan. Ia anggap ia adalah seorang rakyat jelata, tak ada pentingnya baginya untuk mengetahui urusan negara itu. Hong Hoe sebaliknya pandang "pemuda"
Ini sebagai sahabat karib, bagaikan saudara kandung, tanpa kekuatiran, ia membicarakannya terlebih jauh.
"Pangeran asing itu bernama Atzu,"
Ia berikan keterangan.
"di negerinya dia menjabat pangkat tiwan, yang berarti pejabat pemerintah, maka kekuasaannya berada di atasnya lain-lain pangeran, dia cuma berada di bawahan thaysoe. Kali ini dia datang ke negeri kita sebagai utusan, untuk membuat perundingan. Ada tiga syarat yang telah dikemukakan. Pertama-tama dia minta supaya daerah seratus lie di luar Ganboenkwan diserahkan pada negara Watzu, dan kota Ganboenkwan menjadi tapal batas kedua negara itu. Yang kedua dia minta diadakan penukaran antara barang-barang besi kita dengan kuda Mongolia. Dan yang ketiga dia minta supaya puteri raja kita dinikahkan dengan Toto Puhwa, putera raja Watzu itu. Ketiga permintaan itu ditentang keras oleh Ie Kokioo, yang tak dapat menerimanya. Ie Kokioo bilang, tanah daerah Tionggoan, satu dim juga panjangnya tak dapat diserahkan pada lain negara. Kalau besi kita diserahkan pada negara Watzu, itu ada seumpama kita pelihara harimau untuk mendatangkan ancaman bencana di belakang hari, sebab sekarang saja negeri Watzu sudah kuat sekali. Tentang pernikahan, meskipun itu ada urusan keraton, tetapi itu juga mengenai kehormatan kebangsaan, maka itu pun tak dapat diterima."
"Ie Kiam adalah satu menteri besar yang jujur, dia sangat setia kepada negara, sikapnya itu pasti tidak aneh,"
Kata In Loei, yang turut juga bicara.
"Ie Kiam menentang keras, ia memang tidak aneh,"
Hong Hoe jawab.
"yang aneh adalah sikapnya Ong Tjin. Dia juga menentang, sedang dia secara diam-diam, telah sekongkol dengan negeri Watzu itu, hal mana sudah dapat kita dengar semua. Pada sikap Ong Tjin itu ada satu sebabnya. Daerah seratus lie di luar Ganboenkwan berada dalam pengaruhnya Kimtoo Tjioe Kian, daerah itu tak lagi dapat dikendalikan oleh pemerintah kita. Inilah sebabnya Ong Tjin sangat benci pada Tjioe Kian, selama sepuluh tahun sudah sering dia kirim surat-surat rahasia pada panglima kota Ganboenkwan, mengijinkan panglima itu berserikat dengan tentara Watzu, untuk bersama menghajar dan memusnahkan Tjioe Kian. Karena sebab itu, kita percaya, Ong Tjin tentunya setuju untuk menyerahkan daerah itu kepada bangsa Watzu. Di luar dugaan, dia justeru menentangi! Tentang pertukaran besi Tionggoan dengan kuda Mongolia, hal itu sudah berjalan selama sepuluh tahun, yang melakukan itu, tentu saja secara diam-diam juga, adalah Ong Tjin sendiri."
"Mungkin Ong Tjin mainkan siasat, supaya orang tidak tahu jelas akal muslihatnya itu,"
Kata In Loei.
"Rupanya dia tidak mau main terang-terangan."
Thio Hong Hoe tertawa.
"Kenapa Ong Tjin tidak melakukan itu terang-terangan?"
Katanya.
"Ong Tjin itu sudah mempengaruhi Sri Baginda untuk membikin tunduk semua menteri. Di dalam istana, dia telah berkoncoh, mengumpulkan kawan sekongkol, karena itu, ada alasan apa maka ia tidak berani berterus terang? Kau tahu, sekalipun Sri Baginda selalu pandang mata padanya. Sri Baginda sendiri ada seorang yang berhati kecil, bila Ong Tjin menganjurkan perdamaian, tentu semua permintaan Watzu itu akan sudah diterima baik....."
"Tentang keadaan pemerintah aku tidak tahu suatu apa,"
Kata In Loei.
"Masih ada yang lebih aneh lagi daripada sikap Ong Tjin itu,"
Hong Hoe tambahkan.
"Sudah dia tentangi perdamaian, dia juga menganjurkan supaya utusan Watzu itu ditahan. Mengenai ini, Ie Kiam tidak mupakat. Ong Tjin biasa membantu Watzu, sekarang dia menganjurkan untuk menahan utusan negara itu, semua menteri tak ada yang tidak merasa heran....."
Mendengar ini, panas hati In Loei.
Kembali ia teringat pada urusan engkong-nya, yang diutus ke negeri Watzu, lalu ditahan, disiksa sebagai pengembala kuda selama dua puluh tahun, hidup menderita di tempat dingin, es dan salju.
"Walaupun kedua negara sedang berperang, tidak seharusnya utusan salah satu negara dibunuh mati!"
Kata dia dengan sengit.
"Karena itu, tidak selayaknya utusan Watzu mesti ditahan!"
"Mengerti aku tentang kebiasaan antara negara itu, kata Hong Hoe.
"Tapi usul penahanan utusan Watzu itu keluar dari Ong Tjin sendiri, itulah yang membuatnya semua orang tidak mengerti....."
Tanpa merasa, mereka telah bicara banyak, tahu-tahu sang magrib telah tiba, maka Thio Hong Hoe titahkan orangnya menyiapkan barang santapan untuk menjamu tetamunya.
"Di manakah In Siangkong ambil kamar?"
Tanya tuan rumah.
"Jikalau kau tidak cela rumahku yang kecil dan buruk ini, aku minta sukalah kau pindah saja pada aku di sini."
In Loei menampik dengan segera. Ia mengerti bahwa ia adalah satu gadis dan ia tidak merdeka untuk menumpang di rumah komandan ini. Untuk itu ia menghaturkan terima kasih.
"Kenapa ia pemaluan sekali, tingka polanya mirip dengan satu nona remaja?"
Hong Hoe berpikir.
"Dia beda jauh sekali daripada Thio Tan Hong."
Di waktu bersantap, In Loei tanyakan alamatnya Ie Kiam si menteri besar.
"Apakah kau berniat menemui Ie Thaydjin?"
Hong Hoe tegaskan.
"Dalam beberapa hari ini ia ada sangat repot dengan urusan pemerintahan, umpama kata dia sendiri sudi menemui kau, pengawal pintunya pasti akan tak mengijinkannya."
Walaupun ia menjawab demikian, Hong Hoe beritahukan juga alamat menteri yang setia itu.
Habis bersantap malam, In Loei pamitan tanpa tuan rumah mampu mencegah dia, maka itu Hong Hoe antar tetamunya sampai di luar.
Waktu hendak berpisah, sambil tertawa komandan Kimie wie ini berkata.
"Kalau nanti sahabatmu juga datang ke kota raja" -ia maksudkan Thio Tan Hong -"dan bila saudara Tjian Lie, telah lulus sebagai Boe tjonggoan, pasti aku akan jadi Lou Tiong Lian si juru perantara, untuk menjamu saudara Tjian Lie itu pada waktu mana kau harus menjadi tetamu yang mengawaninya....."
In Loei tertawa menyeringai, ia lihat sendirinya.
"Kau baik sekali, Thio Thaydjin,"
Katanya.
"Lebih dahulu aku haturkan terima kasih untuk perjamuan itu."
Lalu pemudi ini pamitan, akan pulang ke hotelnya.
Malam itu In Loei tidur gelisah, tak dapat ia lantas pulas.
Sebentar ia ingat akan kakaknya, di lain detik ia ingat Thio Tan Hong.
Ia menyesal, begitu jauh ia telah susul kakaknya itu, yang satu-satunya, siapa tahu, sesampainya di kota raja ini, masih ia tak dapat segera menemuinya.
Siapa nyana kakak itu telah berada di dalam istana.
Memang dapat ia menunggu kakaknya itu, sampai selesai ujian militer, di waktu mana mungkin si kakak akan ke luar sebagai pemenang, akan tetapi, sampai kapankah ia mesti menanti?
Pastikah si kakak bakal menang?
Siapa tahu, sesudah itu, tidak bakal menyusul lain urusan, yang dapat menghalangi pertemuan mereka?
Maka pada akhirnya, ia menghela napas seorang diri.
"Dasar nasibku buruk....."
Katanya dalam hatinya.
"Sampai saudara sendiri, sulit aku menemuinya....."
Ingat saudara sendiri, In Loei kembali teringat pada Tan Hong.
Ada sesuatu yang membikin ia selalu ingat pemuda itu.
Teringat pula ia akan kata-katanya Thio Hong Hoe tentang si anak muda.
Dengan sendirinya, ia tertawa meringis.
"Mana kau ketahui keluargaku dengan keluarganya bermusuhan hebat, laksana dalamnya lautan..."
Katanya di dalam hati.
"Kau berniat memberi nasehat kepada kakakku supaya dia akur dengan Tan Hong, pastilah percobaanmu itu, akan sia-sia belaka akhirnya....."
Ingat Tan Hong, segera In Loei ingat Ie Kiam.
Ia lantas rabah sakunya.
Ia keluarkan surat Tan Hong yang dititipkan padanya, untuk disampaikan kepada Ie Kiam, menteri setia itu.
Ia baca alamat surat itu.
Itulah tulisan tangan yang bagus, bagaikan "naga terbang atau burung hong menari."
Itulah tulisan si mahasiswa berkuda putih..... Mengawasi tulisan itu, ia bagaikan melihat wajahnya si penulis surat sendiri.
"Inilah untuk pertama Thio Tan Hong memasuki Tionggoan, cara bagaimana ia kenal Ie Kiam?"
Ia tanya dirinya sendiri.
"Kenapa ia menulis surat kepada Ie Kiam untuk memperkenalkan aku?"
In Loei berpikir Tan Hong itu agak jumawa tetapi orangnya sangat berhati-hati, hingga sebegitu jauh ia tahu, belum pernah Tan Hong melakukan kekeliruan, dan diapun belum pernah mendusta.
"Dia menulis surat kepada Ie Kiam, mesti ada sebab yang kuat alasannya,"
Ia pikir lebih jauh.
"Tidak ada jalan untukku akan menghadap Ie Kiam, baiklah aku pakai surat Tan Hong ini selaku pembuka jalan. Aku akan mencoba-coba saja! Ah, bagaimana jikalau pengawal pintu tak sudi mengijinkan aku menghadap Ie Kokioo? Apa aku mesti bertindak seperti di rumah keluarga Thio, untuk menyerbu saja? Ie Kiam adalah menteri kelas satu, dialah menteri tertua dan agung, yang dihormati di luar dan di dalam negara, bagaimana dapat aku berlaku lancang? Aku mempunyai kepandaian enteng tubuh, ah, baiklah aku datang saja pada waktu malam, aku datang secara diam-diam....."
Setelah malamnya ia mengambil keputusan, besok paginya In Loei sadar dengan segar, akan tetapi hari itu ia keram diri di dalam kamar, untuk pelihara diri, guna sebentar malam bekerja.
Begitulah, kira-kira jam tiga, ia sudah lantas salin pakaian, dengan yaheng ie, pakaian untuk keluar malam.
Secara hati-hati ia keluar dari hotelnya, lalu langsung mencari gedung Ie Kokioo.
Oleh karena Ie Kiam ada satu menteri, di mata In Loei, gedungnya mesti merupakan sebuah istana, besar dan tinggi lotengnya, indah dan agung pemandangannya, akan tetapi setelah ia dapat mencarinya, ia tercengang.
Ia dapatkan bukan istana yang bagaikan ia impikan, hanya sebuah rumah besar yang biasa saja, yang di belakangnya terdapat taman kecil.
Itulah rumah mirip dengan satu keluarga yang cukup saja.....
"Sungguh satu menteri setia,"
Akhirnya si nona menghela napas.
"Dengan melihat tempat kediamannya ini dapatlah diduga dia orang macam apa....."
Dengan pesat In Loei lompat naik ke atas genteng, mulai dari payon, ia naik ke atas.
Benar-benar ia tampak sebuah rumah yang biasa saja.
Ia dapatkan sebuah kamar dengan taman, tiga penjuru jendelanya ditutupi gorden yang berkembang, kembangnya kecil dan besar, tak rata.
Setiap jendela ada kacanya.
Manis hiasan jendela itu, dari mana muncul sinar api yang terang, hingga di atas meja kelihatan pohon bunga bwee, yang berbayang di jendela.
"Melihat cara menghiasnya, rumah ini tidak mirip dengan rumah seorang hartawan,"
In Loei berpikir terlebih jauh.
"Kamar ini pasti kamar tulisnya Ie Kokioo. Karena api belum padam, mungkin Kokioo belum tidur....."
Dengan tindakan perlahan sekali, In Loei menuju ke kamar itu.
Begitu ia datang dekat, segera ia dengar suara orang bicara.
Ia lantas pasang kuping.
Ia dapat mendengar dengan nyata, hatinya lantas saja goncang.
Ia kenali, itulah suaranya Thio Tan Hong.
"Bukankah aku tengah bermimpi?"
Ia tanya dirinya sendiri. Hatinya menjadi bimbang.
"Kenapa dia berada di sini? Kenapa dia datang secara begini tiba-tiba?"
Baharu malam kemarin In Loei mimpikan si anak muda atau sekarang ia dengar suaranya.
Ia memikir untuk tidak menemui pemuda itu.....
Ia bersangsi.
Apakah benar ia tak hendak menemuinya?
Tapi ia berdahaga sekali untuk menemui si mahasiswa.
Ah!.....
"Biarlah aku intip dia....."
Dan In Loei bertindak lebih jauh, dengan tindakan sangat enteng ia mendekati kamar tulisnya Ie Kokioo, untuk memasang mata.
Dari kain gorden, ia segera dapat melihat sepasang bayangan manusia.
Benar saja, satu di antaranya, adalah bayangannya Thio Tan Hong!
-ooo0dw00ooo-Bab XV Untuk sekian lama, In Loei berdiri tegak, tak bergeming.
Ia bagaikan terpaku.
Syukur untuknya, berselang sesaat, ia sadar kembali.
Segera ia menghela napas, untuk melegakan hati.
Ia hirup hawa yang berbau harumnya bunga di dalam taman itu.
Habis itu, dengan bersemangat, ia mendekam di jendela, untuk memasang kuping.
"Walaupun Toto Puhwa adalah raja Watzu, kekuasaan pemerintah berada ditangan Yasian,"
Demikian terdengar suaranya Tan Hong.
"Di samping Yasian ini, pangeran Atzu juga mempunyai sebagian kekuasaan atas tentara. Maka itu kenyataannya, Watzu adalah negara yang diperintah tiga orang. Ong Tjin menyarankan untuk menahan Pangeran Atzu, turut penglihatanku, inilah ada atas usulnya Yasian."
"Habis, bagaimana sekarang?"
Terdengar Ie Kiam menanya.
"Meminjam golok untuk membunuh orang, itulah suatu siasat untuk menyingkirkan lawan yang tanggu,"
Tan Hong berkata pula.
"Aku kenal baik, Yasian itu ada orang macam apa. Dia bercita-cita sangat besar. Dia pandang dirinya sebagai pengganti dari Djenghiz Khan. Maka itu, lambat laun, dia pasti akan merampas tachta kerajaan. Dia dapat membedakan antara Toto Puhwa dan Atzu, di antara raja Watzu dan pangerannya itu. Teranglah dia percaya, kalau dia sudah dapat menyingkirkan Atzu, dengan gampang nanti dia dapat me-rampas tachta kerajaan."
"Mendengar kau, terbukalah hatiku yang cupat,"
Kata Ie Kiam sambil menghela napas.
"Harus disayangi bahwa pihak kita sama sekali tak mengetahui keadaan dalam dari musuh sebagaimana yang kau mengetahuinya....."
"Walaupun demikian, apabila benar terjadi perang saudara di dalam negara Watzu, itu pun berarti rejekinya kerajaan Beng,"
Kata Tan Hong.
Tiba-tiba anak muda ini tertawa menyeringai, matanya dialihkan ke arah jendela.
In Loei terkejut, dengan cepat ia umpetkan diri di antara pohon bunga.
Ia berpikir keras, saking tak mengertinya.
"Thio Tan Hong anggap kaisar Beng sebagai musuh turunan, kenapa sekarang dia agaknya tengah bekerja untuk kerajaan Beng itu?"
Ia berpikir, heran. Tidak sempat si nona berpikir lama, atau ia sudah dengar pula suaranya pemuda she Thio itu, mengingat siapa senantiasa hatinya goncang.
"Ingin aku menjelaskan tentang Tantai Mie Ming."
Demikian si mahasiswa berkuda putih.
"Dia sebenarnya ada orang bangsa Han kelahiran negara Watzu. Dan dia bersahabat sangat erat dengan tiwan Atzu. Baharu kemarin aku bertemu dengan Tantai Mie Ming dan pasang omong dengannya, aku telah minta dia suka beri nasihat dan anjurkan ayahku agar ayah membantu memperbesar gelombang, untuk menyulut api dari sebelah dalam, supaya dengan begitu bisalah terjadi perang saudara di dalam negeri Watzu."
"Maukah ayahmu berbuat demikian?"
Ie Kiam tanya.
"Untuk tidak mendusta."
Kata Tan Hong.
"ayahku itu mempunyai cita-cita untuk merampas kerajaan Beng, akan tetapi di samping itu, ia tak lupa bahwa ia sendiri adalah putera Han, maka itu, di dalam hal ini, sulit bagiku untuk mengatakan dari sekarang bagaimana perkara ini nanti akan berakhir. Gagalkah atau berhasil?....."
"Jikalau begitu, sieheng,"
Tiba-tiba Ie Kiam berkata kepada Tan Hong.
"kenapa tidak kau sendiri saja yang menganjurkan ayahmu itu?"
"Sekarang ini belum dapat aku lekas-lekas pulang ke Watzu,"
Tan Hong akui terus terang.
"Kedatanganku ke Tionggoan ini adalah untuk satu tugas yang sangat penting. Hendak aku mencari satu benda berharga yang mengenai nasibnya negara."
Ie Kiam sibuk juga.
"Kekacauan di dalam negeri Watzu itu jadi boleh diharap dan boleh tidak,"
Ia kata.
"sebaliknya tindakan Watzu untuk menerjang Tionggoan ada seumpama, alis akan segera terbakar..... Bagaimana sekarang?"
"Sebenarnya tak usah kita berkuatir,"
Tan Hong jawab.
"Tionggoan besarnya berlipat puluh kali dibanding dengan negeri Watzu itu, bila semua rakyat dapat bersatu hati, tak usah kita kuatirkan musuh yang tanggu itu!"
"Yang dikuatirkan justeru tak adanya persatuan..."
Ie Kiam utarakan.
"Piauwkie Tjiangkoen Kwee Teng, Pengpou Tjoesoe Yo Hong, begitu juga Gielim koen Toatongnia Thio Hong Hoe adalah penyinta negara yang dapat diandalkan,"
Kata Tan Hong.
"maka berhubung dengan ini, baiklah thaydjin lekas membuat persiapan. Ong Tjin itu besar pengaruhnya, akan tetapi di antara menteri setia dan pengkhianat ada perbedaannya yang nyata, maka bila tiba saatnya negara terancam bahaya kemusnahan, asal thaydjin bergerak secara tepat, mesti thaydjin dapat sambutan hangat dari empat penjuru! Ong Tjin adalah satu hamba kebiri, dia dapat diumpamakan dengan seekor cengcorang yang menerjang kereta, mana dia dapat memusnahkan negara?"
Akan tetapi Ie Kiam menghela napas pula.
"Sungguh sukar untuk mengatakan, siapa yang akan berhasil dan siapa yang akan runtuh,"
Kata menteri setia ini.
"tetapi aku, akan aku habiskan semua tenagaku untuk mencoba melindungi negara!"
"Kesesatan tak dapat melawan kebenaran, hal ini harap thaydjin jangan sangsikan!"
Tan Hong menganjurkan.
"Siesieng, kau dapat melihat segala apa dengan tegas sekali, kau juga berpemandangan luas dan jauh, kau adalah satu orang cerdik pandai luar biasa untuk jaman ini,"
Berkata Ie Kiam.
"karenanya, sieheng, kenapa kau tidak sudi bekerja untuk pemerintah?"
Thio Tan Hong tertawa.
"Seseorang mempunyai pendiriannya sendiri-sendiri!"
Ia kata.
"Lagi pula, untuk satu laki-laki membela negara, apakah dia mesti selalu berdiri dipihak pemerintah?"
Ie Kiam diam, dia bungkam. Tan Hong insyaf bahwa ia telah bicara terlalu tandas, maka ia tertawa pula.
"Thaydjin adalah tiang negara, tentang thaydjin adalah lain,"
Ia tambahkan.
Bukan main tergeraknya hati In Loei mendengar pembicaraan antara Tan Hong dan menteri setia itu, teranglah sudah, mereka itu adalah penyinta-penyinta negara, hanya paham mereka itu yang berlainan.
Ia girang dan kagum untuk Tan Hong.
Ia kagum karena sepak terjang yang tak dapat diterka-terka dari anak muda itu.
Ia girang karena terbukti ia tak keliru mengenali orang -Tan Hong benar-benar satu pemuda gagah dan jujur.
Karena ini juga, dalam sekejap itu ia anggap benar-benar "tidak ada faedahnya permusuhan antara kedua keluarga mereka".....
Segera terdengar pula suaranya Tan Hong.
"Thaydjin, harap kau maafkan aku, sukalah kau percaya akan janjiku,"
Demikian pengutaraan si anak muda.
"Aku telah nelusup masuk ke kota raja ini, aku pun telah lancang menemui thaydjin, tindakanku ini penuh dengan ancaman bahaya, akan tetapi, lega hatiku, karena thaydjin telah mempercayai aku. Thaydjin, apabila di belakang hari kau membutuhkan aku, walaupun tubuhku mesti hancur lebur, masih itu tak cukup untuk aku membalas budi kebaikanmu ini."
"Jangan kau mengucap demikian, sieheng,"
Kata Ie Kiam "Untukku adalah sama, kau membalas untuk negara, sama dengan kau membalas untukku!"
"Satu laki-laki mesti membalas budi negara, tentang itu tak usah orang sampai dipesan lagi,"
Tan Hong kata.
"Sekarang sudah jauh malam, thaydjin harus beristirahat, maka itu harap thaydjin mengijinkan boanseng mengundurkan diri....."
Ie Kiam berdiam, ia bagaikan berbicara seorang diri.
"Bila kau akan datang pula padaku?"
Tanyanya kemudian.
"Kalau telah datang saatnya untuk bertemu pula, akan aku datang sendiri,"
Jawab Tan Hong.
"Pribahasa kuno mengatakan.
"Kepala putih bagaikan baru, membuka tenda bagaikan biasa,"
Pribahasa itu cocok dengan kita,"
Kata Ie Kiam.
"Dalam usiaku yang lanjut ini, aku masih dapatkan satu sahabat sebagai kau, sieheng, sungguh aku puas sekali. Sieheng pandai main tabuhan, main catur, melukis gambar juga, kebetulan baru-baru ini aku telah mendapatkan gambar lukisannya Tio Yoe, 'Liang Hoe Gim Touw,1 aku harap sieheng sudi menuliskan sebaris syair untuk gambar itu, untuk dijadikan peringatan di kemudian hari. Sudikah kau menulisnya, sieheng?"
Dengan pribahasanya itu.
"Kepala putih bagaikan baru, membuka tenda bagaikan biasa,"
Ie Kiam maksudkan.
Ada beberapa orang yang telah bersahabat satu dengan lain, sampai rambut mereka telah ubanan, persahabatan itu masih sama seperti sahabat-sahabat baru, masing-masing tetap tak mengerti satu pada lain.
Atau, ada beberapa orang yang telah bertemu di tengah jalan, mereka hentikan kereta mereka, mereka membuka tenda kereta mereka, untuk pasang omong, asyik pembicaraan mereka, hingga mereka jadi mirip dengan sahabat-sahabat lama.
Dengan itu diartikan, persahabatan itu, kekal atau tidak, tidak disebabkan melulu dari waktunya bersahabat sudah lama atau masih baharu, hanya dari mereka saling mengerti atau tidak.
Atas permintaan menteri itu, Tan Hong jawab.
"yang terlebih tua telah memintanya, mana berani aku menampik? Baiklah, akan aku menuliskannya dengan syair The Soe Siauw,"
In Loei di luar jendela dengar semua pembicaraan itu, lalu ia dengar juga suara goresan, dari jalannya pit di atas kertas, cepat dan tetap, maka tahulah ia, Tan Hong tengah menulis syairnya itu di atas gambar lukisan "Liang Hoe Gim Touw" -"Liang Hoe tengah bersenanjung."
Lalu habis itu, terdengarlah Ie Kiam membacakan syair itu, membacanya sambil bersenanjung.
"Sungguh indah! kata si menteri kemudian.
"Entah bagaimana sieheng telah terpengaruh syair ini....."
Tiba-tiba saja Thio Tan Hong tertawa bergelak, menyusul mana, ia pun bersenanjung.
"Di dalam dadaku ada sumpah laksana dalamnya lautan, yang dapat membuat negara bagaikan karam terendam..... Boanseng tidak minum arak tetapi boanseng bagaikan telah mabuk, maka haraplah, thaydjin sudi memaafkan kelakuanku ini yang lancang! Di belakang hari masih ada waktu untuk kita bertemu muka pula, dari itu tidak usahlah thaydjin mengantar aku!"
Kata-kata itu disusul oleh Ie Kiam, yang membukakan pintu, atas mana lalu terdengar tindakan kaki Tan Hong, yang pergi berlalu.
Sejenak itu, kusut pikirannya In Loei.
Ia bimbang, baik ketemui Tan Hong atau jangan.
Tak dapat ia ambil putusan dalam sekejap.
Sementara itu, Tan Hong sendiri sudah keluar dari kamar tulis, dia tengah memohon Ie Kiam tidak mengantar dia keluar.
Di saat tegang itu, mendadak In Loei ingat kata-katanya Tan Hong.
"Kalau mesti tertawa, tertawalah! Kalau mesti menangis, menangislah! Kenapa segala apa mesti dipaksakan?....."
Karena ini, ia pikir.
"Kalau begitu aku pun mesti, kalau mesti bertemu, mesti aku menemuinya, kenapa aku mesti kuatirkan ocehan orang luar?"
In Loei segera merasa darahnya berjalan cepat sekali, hatinya menjadi goncang, tapi ia sudah lantas ambil putusannya.
Hanya, pada saat ia hendak lompat, untuk menyusul, sekonyong-konyong ia merasa ada angin halus yang menyambar pada bebokongnya, lalu ia merasa ada benturan perlahan pada pinggangnya.
Ia kaget, segera ia rabah pinggangnya.
Akhirnya ia menjadi kaget sekali.
Pedang Tjengbeng kiam, pemberian gurunya, telah dicabut orang, hingga di pinggangnya tinggal sarungnya saja, yang kosong!
Walaupun ia sangat kaget, tidak berani ia menjerit, tapi ia teruskan berlompat, kedua tangannya dibuka ke kiri dan kanan.
Itulah sampokan untuk menyusul tangan yang membuatnya pedang itu terbang.
Tiba-tiba saja, ia rasakan sebelah lengannya lemas bergemetar, lalu ia tampak, di depan matanya, satu tubuh berkelebat bagaikan bayangan.
Kecewa dia, yang pandai ilmu silat, telah ditotok orang tanpa dapat bersiap.
Dalam keadaan lemah itu, ia merasa orang telah menyambar tubuhnya, dikempit, terus dibawa pergi cepat sekali bagaikan terbang, sampai tak dapat ia berteriak.
Tapi selagi dibawa kabur itu, di kupingnya, ia dengar suara Thio Tan Hong.
"Turunkan dia! Turunkan dia! -Eh, adik kecil, adik kecil! Benarkah kau?"
In Loei merasa bahwa Tan Hong, yang berkata-kata itu, tengah menyusul ia.
Larinya cepat luar biasa orang yang mengempit itu, In Loei merasa seperti dibawa terbang di tengah udara.
Ilmu enteng tubuh Thio Tan Hong sudah liehay sekali, dalam dunia kangouw jarang ada tandingannya, tetapi kali ini, orang itu seperti melebihinya sebab di lain saat, dia telah membuatnya si mahasiswa berkuda putih jauh tertinggal, di sebelah belakang.....
In Loei kaget dan gusar, ia mendongkol tanpa ada gunanya.
Sama sekali ia tidak mampu berontak, untuk membebaskan diri dari kempitan.
Adalah tidak lama kemudian, si nona merasa ada orang menepuk bebokongnya, menyusul mana dengan perlahan ia dilepaskan, diturunkan ke tanah.
Itu waktu, orang telah berhenti berlari-lari yang pesatnya bagaikan terbang.
Ia pun segera merasa, darahnya telah mengalir seperti biasa.
Sebenarnya, ketika ia menoleh, akan pandang orang yang membawa ia kabur, ia kenali dia adalah si orang tua yang lihay ilmu Taylek Kimkong Tjioe-nya dengan apa dia dapat melukai Tantai Mie Ming!
Sedetik saja, kata-kata ketus yang sudah siap untuk dikeluarkan, ia batalkan mengucapkannya, ia tarik kembali ke dalam perutnya.....
Si orang tua buat main pedang Tjengbeng kiam-nya, dibulak-balik di tangannya, lalu dengan sepasang matanya yang bersinar tajam, ia tatap si nona.
Dengan tiba-tiba dia menanya.
"Bukankah gurumu Hoeithian Lionglie Yap Eng Eng dari Siauwhan San di Soetjoan Utara?"
Tanpa bersangsi, In Loei menjawab.
"Ya."
Orang tua itu lantas menghela napas.
"Sudah belasan tahun aku tak pernah bertemu pula dengan dia,"
Ia kata suaranya tak sekeras tadi.
"walaupun demikian, dengan melihat pedangnya, aku bagaikan melihat dia sendiri. Dia telah serahkan Tjengbeng kiam kepadamu, rupa-rupanya dia sudah berhasil mewujudkan dua tugas yang menjadi pesan kakek gurunya"
Cepat-cepat In Loei manggut kepada orang tua itu.
Ia tahu tentang gurunya.
Itulah kejadian pada dua belas tahun yang lampau.
Ketika itu Hoeithian Lionglie, si Puteri Naga Terbang, yaitu Yap Eng Eng, telah melanggar pesan gurunya, ialah Hian Kee It Soe.
Kesalahan itu ialah.
dia bersama Tjia Thian Hoa, secara diam-diam telah saling menukar pelajaran ilmu silat pedang.
Karena kesalahan itu, Yap Eng Eng dihukum duduk bersemedhi menghadapi tembok di gunung Siauwhan San selama lima belas tahun, dan selama lima belas tahun itu, dia dimestikan menjelesaikan dua rupa urusan, dua tugas.
Yang kesatu dia mesti melatih sempurna dua rupa ilmu silat yang paling sulit untuk dipelajarinya, dan yang kedua, dia mesti berhasil mendidik satu murid yang pandai "Pekpian Hian Kee Kiamhoat"
Yaitu ilmu silat pedang yang mempunyai seratus jurus perubahannya.
"Loodjinkee, bukankah kau Kimkong Tjioe Tang Toasoepee?"
Dia lantas tanya. Ia percaya betul, tidak ada lain orang lagi yang mengetahui hal ikhwal gurunya itu. Orang tua itu, yang benar ada Kimkong Tjioe Tang Gak, tertawa bergelak.
"Hai, bocah, kau cerdik sekali!"
Katanya.
"Kemarin malam di rumah Thio Hong Hoe kau menggondol pedang ini dibebokongmu, aku sudah lantas perhatikan padamu, cuma disebabkan kau menyamar sebagai satu pemuda, aku tidak berani berlaku lancang. Nyatalah kau benar ada keponakan muridku! Tahukah kau kenapa aku melarang kau turun tangan?"
Heran In Loei "Apa?"
Dia tanya. Di dalam hatinya sendiri, dia kata.
"Aku toh tidak memikir untuk turun tangan terhadap siapa juga.....?"
"Bukankah tadi kau berniat munculkan diri untuk membunuh Thio Tan Hong?"
Tang Gak tegaskan.
"Jikalau kau bunuh dia kau lakukan satu kekeliruan."
In Loei meringis. Nyata sudah paman guru itu telah keliru. Tapi ia cerdik. Ingin ia ketahui, apa yang menyebabkan kekeliruan paman guru itu.
"Kenapa keliru?"
Demikian ia tanya.
"Thio Tan Hong itu,"
Sahut Tang Gak, menerangkan.
"sekalipun benar dia ada puteranya Thio Tjong Tjioe, akan tetapi mendengar kata-katanya dan melihat sepak terjangnya, dia adalah satu penyinta negara. Kemarin ini setelah aku tempur Tantai Mie Ming, malamnya aku datangi tempat kediamannya si pangeran Mongolia, untuk mendengar kabar. Di sana dapat aku dengar pembicaraan antara Thio Tan Hong dengan Tantai Mie Ming itu. Mereka tengah merundingkan suatu urusan rahasia yang maha penting. Tentang itu, tak usah kau mengetahuinya jelas, tetapi itu ada sangat besar faedahnya untuk Tionggoan. Oleh karena itu, meski aku berniat memberi juga satu gaplokan lagi kepada Tantai Mie Ming, kesudahannya aku beri ampun juga padanya."
Mendengar ini, In Loei tertawa di dalam hatinya.
"Halmu ini telah aku ketahui....."
Demikian pikirnya. Tang Gak tidak ketahui apa yang si nona pikir, ia bicara lebih jauh.
"Coba kau pikir, jikalau sampai terjadi kau binasakan Thio Tan Hong, tidakkah karenanya kau jadi melakukan satu kekeliruan besar?"
Katanya.
"Lagi pula, dalam hal ilmu silat, kau bukan tandingannya Tan Hong..... Ah, apakah kau belum pernah menyaksikan kepandaiannya yang asli?"
"Baharu sebagian saja,"
In Loei jawab paman guru itu. Orang tua itu kerutkan alisnya.
"Nah, itulah tak tepat,"
Katanya.
"Satu anggota dari Rimba Persilatan tidak seharusnya menuruti saja ambekannya tanpa mengukur tenaga sendiri. Eh, ya, apakah namamu?"
"Aku bernama In Loei,"
Si nona jawab.
"Ah!"
Seru si orang tua, agaknya ia terkejut sekali.
"Inilah yang pribahasa bilang, orang mencari sesuatu dengan memakai sepatu besi, sampai sepatu itu rusak, yang dicarinya tetap tak dapat diketemukan, sebaliknya, bila ada jodohnya, yang dicari itu dapat diketemukan dalam tempo sedetik, tanpa susah payah. Kiranya kau adalah adiknya In Tiong! Sungguh beruntung! Sekarang aku tak merasa aneh lagi kenapa kau, sekalipun kau ketahui kau bukan tandingan Tan Hong, tetap kau hendak mencoba membunuh dia!....."
In Loei meringis pula. Tak dapat ia menangis, tak dapat ia tertawa.
"Kemarin malam aku dengar Thio Tan Hong bilang, malam ini hendak dia menghadap Ie Kiam,"
Tang Gak bicara pula.
"karena itu, aku pun telah datang kemari. Di tengah jalan tadi, satu urusan telah memhuatnya aku datang terlambat, maka itu, ketika aku tiba, Tan Hong sudah pergi, hingga tak tahu aku apa yang telah mereka bicarakan. Apakah kau dengar pembicaraan mereka itu?"
"Aku tak dapat mendengar nyata,"
Sahut In Loei, yang tidak gembira untuk omong banyak.
"Aku cuma dengar mereka menyebut-nyebut Watzu dan Tionggoan, mereka hendak menerbitkan perang saudara di Watzu. Ya, tak ingat aku semua apa yang mereka itu katakan."
"Itulah soalnya!"
Kata Tang Gak.
"Aku dengar In Tiong juga berada di sini. Pernahkah kamu bertemu satu dengan lain?"
In Loei menjawab dengan suara dalam, tanda ia berduka.
"Kakakku itu telah diangkat menjadi pahlawan dalam keraton,"
Ia beri tahu. Mendengar itu, Kimkong Tjioe menghela napas.
"Bagus cita-cita bocah itu,"
Ia kata.
"hanya kali ini, tak tepat tindakannya. Dia berpendapat, untuk dapat membalas sakit hati kakeknya, guna menyuci malu negara, mesti dia menghamba dahulu kepada pemerintah, untuk mendapat pangkat dan pengaruh besar."
"Toasoepee benar,"
Kata In Loei.
"Di mana ada dorna yang berkuasa dalam pemerintahan, sekalipun Lie Kong yang gagah tak ada jasanya!"
Itulah kata-katanya Tang Gak dalam suratnya kepada Kimtoo Tjioe Kian. Heran Tang Gak hingga ia mengawasi si nona.
"Eh, apakah kau pun melihat surat itu?"
Dia tanya.
"Sayang si Tiong tak menginsyafi dalil itu. Aku kuatir, karena sikapnya si Tiong itu, akan sukar untuk kita menemui dia....."
"Mungkin, lagi setengah bulan akan ada ketika-nya,"
In Loei beritahu. Ia utarakan dugaannya Thio Hong Hoe mengenai In Tiong.
"Sekarang begini saja,"
Kata Tang Gak kemudian.
"Aku pulang secara mendadak, untuk satu urusan sangat penting. Perlu aku segera menemui kakek gurumu. Ini pun sebabnya, sampai aku tak sempat mengunjungi pula Kimtoo Tjioe Kian yang namanya telah lama aku kenangkan. Bahwa aku telah mampir di kota raja ini, itulah untuk sekalian menengok si Tiong. Tidak dapat aku berdiam lama di sini, maka itu, kalau kau bertemu dengan kakakmu, kau sampaikan pesanku ini."
In Loei menyanggupi, ia manggut.
"Kamu berniat mencari balas untuk keluargamu terhadap keluarga Thio,"
Berkata pula Tang Gak.
"Mengenai ini, jikalau kita pakai aturan kaum Rimba Persilatan, tidak dapat aku mencampurinya. Tapi satu hal hendak aku terangkan. Thio Tan Hong itu adalah orang kaum kita dan dia tidak ada hubungannya dengan perbuatan leluhurnya, yang bermusuhan dengan keluargamu, maka itu aku harap, kalau bisa, bereskanlah permusuhan itu. Kakakmu menjadi putera sulung, dalam hal menuntut balas, kau mesti turut pendapat dia. Kau sampaikan kata-kataku ini kepadanya, untuk dia pikirkan dan fahamkan."
Turut kebiasaan Rimba Persilatan, mengenai permusuhan ayah, ibu dan leluhur, meskipun satu guru, dia cuma dapat menganjurkan perdamaian, tak bisa dia memerintah atau melarang pembalasannya.
Demikian, Tang Gak berikan pesannya itu.
"Tentang Thio Tjong Tjioe itu, dia ada seorang baik atau seorang busuk, aku masih belum tahu suatu apa,"
Tang Gak lanjutkan.
"Shatee Thian Hoa terkurung di dalam keraton bangsa Ouw, tentang dia, tentang kejadian yang sebenarnya, aku pun tak mengetahuinya. Karena itu, hendak aku menemui kakek gurumu, ingin aku minta supaya kakek gurumu itu mengijinkan gurumu turun gunung....."
"Mungkin sekarang ini djiesoepee sudah sampai di Siauwhan San,"
In Loei utarakan dugaannya. Ia beritahukan warta perihal Tiauw Im Hweeshio, djiesoepee-nya itu, paman guru yang kedua.
"Bagus, bagus!"
Tertawa Tang Gak.
"Rupa-rupanya kita ke empat saudara seperguruan akan melakukan suatu apa yang menggemparkan di tapal batas bangsa Ouw, malah mungkin kakek gurumu juga akan turut terlibat, hingga dia turut turun gunung!....."
Hian Kee Itsoe telah sekap diri selama tiga puluh tahun lebih, In Loei belum pernah bertemu dengan kakek gurunya itu, maka itu, di dalam hatinya, ia kata.
"Untuk melibat kakek gurumu turun gunung, itulah pekerjaan sangat sulit....."
Tentu saja, mengenai orang-orang pihak tertua, In Loei tidak berani campur tahu, karenanya, ia tidak menanyakan terlebih jauh. Tang Gak pun berdiam, ia cuma memandang langit.
"Jam sudah hampir pukul empat,"
Ia kata.
"karena sebentar pagi aku mesti lantas meninggalkan kota raja ini, tak dapat aku antar kau pulang. Di mana kau tinggal?"
"Aku tinggal di rumah penginapan,"
Sahut In Loei.
"Toasoepee, silakan berangkat! Aku pun tak dapat mengantar kau."
Waktu itu mereka berdua berada di luar kota, di tempat di mana mereka berdiri, terdapat sebuah empang kecil, maka itu, selagi rembulan bersinar terang, tegas sekali bayangan mereka berpeta di muka air itu.
Ketika Tang Gak berpaling ke muka air, tiba-tiba ia menghela napas.
"Buat belasan tahun aku lewatkan waktuku di tanah yang ber-es dan bersalju, tanpa merasa, rambut kepalaku pun telah berubah menjadi putih,"
Dia kata, menyesal.
"Sungguh, sang waktu lewat pesat sekali! Ketika dulu aku berpisah dari gurumu, gurumu itu mirip dengan kau sekarang ini....."
Diam-diam tergerak hatinya In Loei.
Ia ingat lelakon asmara antara gurunya itu dengan samsoepee-nya, paman guru yang ketiga.
Mengenai kata-katanya toasoepee ini, ia separuh mengerti dan separuh tidak, ia diam saja, tunduk.
Maka itu, ketika kemudian ia angkat kepalanya, ia dapatkan paman guru itu sudah tidak ada dihadapannya.....
Sampai di situ, In Loei segera putar tubuhnya.
Ia tidak balik ke hotelnya, ia hanya menuju kembali ke rumah Ie Kiam.
Tepat ketika ia sampai, ia dengar suara kentongan empat kali.
Pada waktu itu, ia dapat lihat kamar si menteri masih terang benderang seperti tadi.
Heran ia.
"Ah, apakah dia masih belum tidur?"
Dia tanya dirinya sendiri. Dengan perlahan, ia menghampiri pintu. Tanpa sangsi-sangsi, ia mengetok dengan perlahan, beberapa kali. Ie Kiam belum tidur, lantas ia membukakan pintu.
"Nona In, silakan masuk!"
Menteri itu mengundang, sambil tertawa manis.
"sudah lama aku tunggui kau!"
In Loei tercengang.
Ia dandan sebagai satu pemuda, ia anggap tidak ada orang yang ketahui atau kenali padanya, siapa tahu, Ie Kiam sekarang buka rahasianya itu!
"Thio Tan Hong telah menuturkan halmu kepadaku,"
Ie Kokioo kata pula, menambahkan.
"Dia juga telah melukiskan potongan tubuhmu dan wajahmu kepadaku. Apakah kau baharu sampai?"
Melihat sikap orang demikian ramah tamah, tanpa merasa In Loei jadi sangat terharu, hingga air matanya mengucur.
Ia lantas saja berlutut, untuk memberi hormat.
Ie Kiam membungkuk, untuk memimpin bangun nona itu.
"Ketika dahulu aku diangkat menjadi Hanlim, adalah kakekmu yang menjadi ketua ujian,"
Ie Kiam kata pula.
"Maka itu, andaikata aku tidak dipandang lancang, ingin aku panggil kau titlie saja."
Titlie ialah keponakan perempuan. Mendengar disebutnya engkong-nya, In Loei menjadi terlebih berduka.
"Bagaimana meninggalnya kakekku itu?"
Dia tanya sambil menangis tersedu-sedu.
"Benarkah dia diberikan kematian oleh raja? Peehoe, tahukah kau keadaan yang sebenarnya?"
In Loei sudah lantas memanggil peehoe, paman, kepada menteri itu.
"Kau duduk dulu,"
Berkata Ie Kiam serta menuangkan orang secangkir teh, yang masih panas.
"Kau seka air matamu, nanti aku jelaskan padamu."
In Loei mengucap terima kasih, ia seka air matanya. Ie Kiam mengawasi, ia menghela napas pula.
"Ketika hari itu kakekmu menemui kecelakaannya, aku telah menjadi Pengpou Sielong,"
Menteri ini menutur.
"Begitu kita dapat kabar buruk dari kota Ganboenkwan, semua menteri, sipil dan militer, menjadi kaget sekali, mereka berduka berbareng gusar.
Semua orang anggap kakekmu itu sudah meninggalkan nama baik di negara asing.
Selama dua puluh tahun kakekmu mengembala kuda di daerah ber-es dan bersalju, tak sudi ia menyerah di bawah tekanan musuh, sungguh dia mirip dengan Souw Boe yang setia dan keras hati, dialah satu manusia yang langka!
Kakekmu menemui ajalnya secara demikian mengenaskan, manusia dan langit bergusar bersama.
Demikian satu giesoe yang tak takut mati sudah memajukan surat kepada raja, untuk membalas kakekmu itu, ia minta supaya raja mencuci penasaran itu, agar nama kakekmu diperbaiki, untuk selanjutnya diberi pangkat mulia.
"Apa benar In Tjeng telah meninggal dunia?"
Tanya raja setelah ia baca surat giesoe itu.
"Aku masih belum tahu. Baiklah, nanti aku cari keterangan. Suratmu ini akan ditangguhkan dulu."
"Lantas raja menitahkan membubarkan persidangan di singgasana."
Menteri besar yang bernama Lauw Tek Sin tidak puas dengan sikap raja. Ia berbangkit, ia susul raja sampai di kamar tulis.
"Bukankah Sri Baginda yang membubuhi tanda tangan atas surat titah yang menghadiahkan kematian kepada In Tjeng itu?"
Dia tanya.
"Raja mencoba menyangkal tapi bicaranya tidak jelas.
"Mengetahui rajanya disusul Lauw Tek Sin, Soeiee Thaykam Ong Tjin datang menyusul.
"Sri Baginda, apakah Baginda telah lupa menulis firman itu?"
Ia tanya.
"Oh, ya, ya,"
Kata raja itu gugup.
"Memang benar, akulah yang menulis firman itu. Ya, kenapakah dia diberi hadiah kematian? Baiklah, nanti aku pikir-pikir....."
"Ong Tjin, yang mendampingi raja, lantas membantu mengingat. Dia kata, In Tjeng menjadi utusan, dengan tidak tahu malu, dia bekerja kepada musuh. Begitulah maka dia dihadiahkan kematiannya....."
"Benar, benar!"
Kata raja.
"Karena itu dia dihukum mati"
"Lauw Tek Sin menjadi sangat murka.
"Teranglah kau yang membuat firman palsu, jahanam!"
Dia damprat orang kebiri itu.
"Kau telah memfitnah satu menteri setia dan membinasakannya, kau pakai nama Sri Baginda, dengan begitu kau membuatnya Sri Baginda tak disukai menteri-menterinya!"
"Akan tetapi Ong Tjin menjadi gusar sekali. Dia perintahkan menawan Lauw Tek Sin, untuk dijebluskan ke dalam penjara istana, habis mana, dengan mencari akal, menunjuk orang berdosa, dia hendak hukum mati pada menteri itu. Hal ini membangkitkan kegusarannya menteri-menteri sipil dan militer dalam istana, mereka ini memprotes, mereka menuduh Ong Tjin. Karena protes ini, Lauw Tek Sin bebas dari kematian, tetapi dia dipecat, dijadikan rakyat jelata. Sedang giesoe yang setia itu, yang membelai kakekmu, juga dihukum, yaitu dihukum buang ke Haylam. Tidak lama kemudian, giesoe itu terbinasa di bawah tangan jahat dari Ong Tjin. Kemudian lagi, satu demi satu, menteri-menteri yang protes dorna kebiri itu, telah menerima bagiannya, pembalasannya Ong Tjin itu. Aku sendiri tidak terkecuali, aku telah diturunkan pangkat, dipindah ke Kangsee menjadi soenan."
Mendengar keterangan itu, bukan kepalang mendongkolnya In Loei.
"Sungguh satu dorna kebiri yang sangat menjemukan!"
Dia berseru.
"Jadi dialah yang membinasakan kakekku itu? Kenapa dia membinasakan kakekku?"
"Hal itu baharulah kita ketahui kemudian,"
Sahut Ie Kiam.
"Sejak siang-siang Ong Tjin itu telah membuat perhubungan rahasia dengan Yasian ayah dan anak, secara diam-diam mereka itu menukar besi kita dengan kuda Mongolia. Perdagangan tukar-menukar secara gelap ini dilakukan secara besar-besaran, dengan begitu Yasian telah mengeruk uang dalam jumlah yang besar sekali. Turut kabar, untuk Mongolia, perdagangan semacam itu dilakukan secara terang-terangan. Kakekmu adalah satu menteri besar, dia ternama baik, sudah begitu, untuk dua puluh tahun dia telah melindungi kesetiaannya, kesetiaan itu tak kalah dengan kesetiaan Souw Boe yang mengembala kambing, umpama kata dia dapat kemerdekaannya, pulang ke negeri, pasti sekali dia akan perbaiki tata tertib di dalam istana, untuk mana tentulah dia akan singkirkan segala dorna. Karena ini semua, pasti Ong Tjin jeri terhadap kakekmu itu, Ong Tjin mestinya telah menerka yang kakekmu telah ketahui rahasianya. Untuk menjaga bahaya di belakang hari, Ong Tjin telah menggunakan firman palsu, untuk mendahului turun tangan terhadap kakekmu itu. Dia berpangkat Soeiee Thaykam, cap kerajaan berada di tangannya, karena semua surat-surat, dari luar dan dari dalam, mesti terlebih dahulu lewat ditangannya, kecuali jikalau yang dihaturkan pribadi oleh suatu menteri. Karena kekuasaannya itu, gampang sekali baginya untuk memalsukan firman."
Sampai di situ, In Loei teringat halnya Thio Tjong Tjioe telah memesan Tantai Mie Ming untuk menyampaikan tiga buah kimlong kepada kakeknya.
Memang kimlong itu -surat tertutup, yang untuk sementara dirahasiakan dulu -ada luar biasa.
Dulu, dimasa ia kecil, In Loei tidak ketahui suatu apa tentang kimlong itu, adalah kemudian, sesudah ia dewasa, ia dengar hal itu dari Tiauw Im Hweeshio, dari Kimtoo Tjioe Kian juga, dan belakangan lagi, dari Thio Tan Hong.
Dari ketiga kimlong, yang ketiga memuat sebutir pil lahwan, dan di dalam lahwan ini -lilin bundar -terdapat lagi sehelai surat.
Itulah suratnya Ong Tjin yang di alamatkan kepada To Huan (ayahnya Yasian) serta Thio Tjong Tjioe, maksud yang tak adalah surat urusan pertukaran besi Tionggoan dengan kuda Mongolia.
Surat rahasia itulah yang menyebabkan In Tjeng ditawan.
Sebenarnya Tjia Thian Hoa telah dititahkan pergi ke kota raja, untuk menyerahkan lahwan kepada Ie Kiam, supaya Ong Tjin didakwa.
Sayang telah terjadi kegagalan.
In Tjeng bukan melainkan kena ditawan, dia malah segera dibinasakan.
Meski begitu, terang sudah, itulah maksud baik dari Thio Tjong Tjioe berdua.
Surat itu kesampaian.
Ingat kebinasaan kakeknya "
Apabila lahwan dapat diserahkan kepada Ie Kiam, pasti sudah Ong Tjin dan kawan-kawannya serta pengaruhnya tak jadi sehebat sekarang ini.
Dengan bukti itu belum tentu Ong Tjin tak dapat dirubuhkan....."
Setelah menutur, Ie Kiam menghela napas.
"Memang sakit hati In Thaydjin belum dapat dicuci bersih,"
Kata dia.
"akan tetapi ia mempunyai satu cucu perempuan sebagai kau, di alam baka, dia tentunya dapat meramkan mata."
Ingat itu, In Loei berpikir itu, hati In Loei panas dengan tiba-tiba. Tiba-tiba saja ia tepuk kedua tangannya satu dengan lain, seraya berseru.
"Jikalau aku tidak berhasil mencingcang hancur tubuh dorna kebiri itu, aku bersumpah tak sudi menjadi manusia!"
Tapi Ie Kiam menggeleng-gelengkan kepala.
"Nona In, sekarang ini, aku tidak setuju kau pergi menuntut balas!"
Dia kata. In Loei heran. Ia memang sedang murka.
"Loopee, apakah artinya perkataanmu ini?"
Ia tanya.
"Sekarang Ong Tjin sedang besar pengaruhnya dan orang-orangnya pun banyak sekali,"
Menteri itu berikan keterangan.
"di samping itu, di dalam angkatan perang, banyak panglima yang menjadi anak pungutnya. Maka sekarang lebih baik kita pusatkan seluruh tenaga kita untuk menghadapi penyerbuan bangsa Watzu. Jikalau kita turuti hati saja, bisa-bisa kita mencelakai diri sendiri, bisa kita merusak urusan besar. Tidakkah pepatah mengatakan, 'Kalau seribu orang menuding, tak sakit pun orang dapat mati?' Jikalau orang telah penuh dengan kedosaan dan kejahatan, mana dapat dia hidup senang untuk selama-lamanya? Pendeknya kalau nanti telah tiba saatnya dari terbukanya kebusukan itu, taruh kata kau tidak pergi membalasnya sendiri, mungkin ada lain orang yang akan menyingkirkan dia! Kau pandai silat dan gagah, tapi kau harus ingat, tangan sebelah tak dapat perdengarkan suara. Maka sedikitnya kau mesti tunggu sampai kau bertemu dengan kakakmu, baharu dapat kau berichtiar."
In Loei berdiam.
Ia anggap pikiran menteri itu benar sekali.
Tapi ia jadi sangat bersedih, hingga air matanya membasahi ujung bajunya.
Dengan perlahan-lahan, Ie Kiam berbangkit, akan bertindak ke jendela, yang daunnya ia tolak.
"Ah, sudah hampir terang tanah!"
Katanya.
"Keponakan Loei, kau tinggal di mana?"
Nada suara itu seperti mengandung maksud.
"Aku tinggal di rumah penginapan,"
Sahut In Loei.
"Di rumah penginapan terdapat orang dari segala macam, kau bersendirian saja, kau pun menyamar, pastilah kau kurang merdeka,"
Berkata menteri itu.
"Bukankah ada terlebih baik untuk pindah saja kemari, untuk tinggal bersama aku? Di sini juga kabar-kabar datangnya terlebih cepat."
"Jikalau peehoe kehendaki itu, aku menurut saja"
Sahut si nona.
"Baik, akan aku pulang dulu ke pondokku, untuk mengambil barang-barangku."
Justeru itu waktu, dari kamar sebelah, terdengar satu suara bocah perempuan yang terang sekali.
"Ayah, kembali untuk satu malam kau tidak tidur....."
Bangun alisnya Ie Kiam, ia tertawa.
"Segera akan aku tidur,"
Ia menyahuti. Ia terus berpaling pada In Loei, untuk meneruskan.
"Anakku meminta aku masuk tidur, maka lekaslah kau pergi untuk lekas kembali. Seringkah, karena repot, aku tidak tidur satu malaman, untukku tidak berarti apa-apa, cuma kasihan bagi anak itu, dia jadi kesepian....."
Itulah kecintaan antara ayah dan anaknya, mengetahui itu, In Loei teringat pada kakek dan ayahnya.
Ie Kiam ini, dalam hal usianya, tak berbeda daripada kakeknya pada sepuluh tahun yang lampau.
Bedanya ialah, kakeknya tidak semanis budi seperti menteri ini.
Segera nona ini memberi hormat, untuk berlalu, dan di lain saat, ia telah kembali.
Ia pun segera menjadi kawannya si nona tadi, puterinya Ie Kiam.
Puterinya Ie Kiam bernama Sin Tjoe,4j usianya baharu sembilan tahun, akan tetapi ia cerdik sekali dan gesit.
Ia panggil entjie kepada In Loei, yang sudah lantas dandan sebagai satu nona.
In Loei pun senang mendapat kawan yang manis ini.
Selama menumpang pada keluarga Ie, In Loei ada kandung suatu maksud.
Ialah, ia harap-harap datangnya Tan Hong kembali untuk menemui Ie Kokioo.
Akan tetapi, setengah bulan sudah lewat, pemuda itu masih belum kelihatan juga.
Sementara itu si pangeran asing beserta Tantai Mie Ming, enam hari sesudahnya In Loei pindah ke rumah Menteri Ie, telah berangkat pulang ke negeri mereka, sebabnya ialah karena pembicaraan mereka gagal.
Setelah lewat setengah bulan, tiba-tiba ingatlah In Loei akan omongannya Thio Hong Hoe tentang ujian militer Boe kiedjin istimewa untuk tahun yang sedang berjalan.
Hal itu sangat menarik perhatiannya, maka sering sekali ia tanyakan Ie Kokioo, bilamana ujian itu akan diadakan.
"Keponakanku yang baik, kau sabarlah,"
Kata Ie Kokioo sambil tertawa ketika ia ditanyakan yang terakhir.
"Kalau nanti kakakmu turut ambil bagian, pasti sekali akan aku pertemukan kau dengannya!"
"Apakah ujian sudah dimulai?"
Si nona tanya.
"Sekarang baharu permulaan saja. Banyak sekali jumlah mereka yang mengambil bagian. Nanti aku pergi ke Kementerian Perang untuk mencari tahu angka ujiannya kakakmu itu."
Lima hari telah lewat sejak pembicaraan itu, atau pada hari ke enam, pagi-pagi sekali, Ie Kiam telah memanggil In Loei, dan semunculnya si nona, ia tertawa dengan manis.
"Bukankah kau ingin menemui kakakmu?"
Ia tanya. In Loei berjingkrak.
"Peehoe, apakah sekarang juga kau hendak ajak aku menemuinya?"
Tanya ia, yang girangnya tak kepalang.
"Benar,"
Jawab paman itu.
"Hanya kau harus merendahkan sedikit dirimu. Kau menyamar sebagai pengiringku, nanti aku ajak kau ke lapangan pieboe untuk menyaksikan pertandingan."
In Loei girang bukan main, dengan lantas ia salin pakaian.
Ia sudah biasa menyamar sebagai priya, untuk jadi pengiring atau kacung, iapun tak berkeberatan.
Ia seperti tak pedulikan segala apa, asal ia dapat bertemu dengan kakaknya.
Kiranya hari itu adalah hari terakhir, untuk memilih Boe tjonggoan.
Sudah dikatakan, ujian ada istimewa, maka itu, setelah ujian main panah sambil menunggang kuda, ujian lisan ilmu perang, datanglah ujian untuk pieboe, guna mengadu kepandaian silat.
Usul atau saran keluar dari otaknya Taylwee Tjongkoan Kong Tiauw Hay.
Dia ambil alasan, ilmu silat ada banyak macamnya, tak berbatas cuma dengan ilmu panah di atas kuda, ada ilmu tombak atau golok, juga dengan bertangan kosong, tanpa ini, ilmu silat itu tidak lengkap.
Senantiasa berdiam di dalam keraton, atau istana, kaisar merasa kesepian, maka itu satu kali ia dengar akan diadakan keramaian -di antaranya termasuk pieboe -dengan segera dia terima baik usul Kong Tjongkoan itu.
Demikian di tengah-tengah lapangan segera dibangun satu ioeitay -panggung untuk adu silat itu -dengan di empat penjurunya diberdirikan pula panggung-panggung untuk penonton.
Kaisar pun tidak datang menonton sendiri, ia diiring para pahlawan dan thaykam, pun Menteri Perang dan semua menteri lainnya turut mendampingi padanya.
Sebenarnya usul Kong Tiauw Hay ini disebabkan dia mempunyai maksud sendiri -urusan pribadi.
Dia mempunyai dua soehengtee, saudara-saudara seperguruan yang liehay ilmu silatnya, dia ingin kedua saudara itu memamerkan kepandaiannya, supaya mereka peroleh nama dan kedudukan baik.
Tapi kedua saudara itu terlalu rendah pengetahuannya mengenai kitab ilmu perang, maka itu diciptakan akal ini, ialah adu kepandaian silat.
Sekitar lapangan dijaga tentara Gielim koen, pasukan pribadi kaisar.
Kaisar sendiri, diiring oleh para pangeran dan orang kebiri, mengambil tempat di panggung tengah, yang menghadapi langsung panggung ioeitay.
Ie Kiam beserta In Loei, bersama Menteri Perang dan menteri lainnya, mengambil panggung timur, dari mana orang pun dapat melihat tegas ke panggung raja.
"Kau lihat,"
Kata Ie Kokioo pada pengiringnya sambil berbisik.
"itu orang dengan juba naga di belakang siapa berbaris pahlawan-pahlawan adalah Sri Baginda raja. Di kiri raja, orang yang berdiri mendampinginya adalah Thaykam Ong Tjin."
Dengan mata tajam, In Loei awasi orang kebiri itu, untuk mengenali dengan baik roman orang dan potongan tubuhnya.
Semua boe kiedjin, yang berhak turut ujian, berkumpul di bawah panggung di mana ada sebuah gubuk istimewa untuk mereka menanti atau beristirahat, sebab sebelum tiba gilirannya, tak dapat mereka sembarang menaiki panggung ioeitay.
"Ujian istimewa kali ini namanya saja boleh diikuti oleh siapa saja asal berkepandaian silat dan telah terpilih,"
Ie Kiam terangkan pada In Loei.
"akan tetapi kenyataannya, kecuali mereka yang memang sudah memangku pangkat dalam tentara, dia mesti diberi pertanggungan oleh suatu orang berpangkat, yang pangkatnya mesti sedikitnya sudah tingkat ketiga. Inilah sebabnya kenapa Sri Baginda berani turut datang menonton."
Mendengar ini, di dalam hatinya, In Loei kata.
"Kalau begitu orang kangouw, yang benar-benar gagah, tak dapat kesempatan untuk turut serta....."
Tiba-tiba terdengarlah suara tambur nyaring, tiga kali.
Itulah tanda bahwa pieboe sudah akan dimulai.
Mendengar suara tambur itu, In Loei merasa tegang sendirinya, segera ia mengawasi ke arah ioeitay.
Yang pertama kali maju adalah dua orang yang romannya kasar, mereka masing-masing bersenjatakan golok tantoo dan sebuah tombak.
Sebentar saja, si pemegang golok peroleh kemenangan.
Menyusul itu adalah tiga pertandingan lagi.
Siapa yang menang, dia mesti bertanding terus.
Siapa menang dua kali beruntun, dia dapat hak untuk beristirahat, untuk nanti diadu pula dengan pemenang lainnya.
Begitu seterusnya.
Selama itu, In Loei belum lihat kakaknya.
Pertandingan, ke empat telah selesai, dan pemenangnya adalah seorang yang tubuhnya tinggi tujuh kaki, besar dan tegap, gegamannya adalah sepasang gembolan.
Selama itu, kuranglah perhatian In Loei.
Sampai ia dengar bicaranya Pengpou Siangsie, menteri perang, kepada Ie Kokioo.
Kata menteri itu.
"Pemenang ini adalah Tjiangkoen Ouw Tay Keng, panglima yang baru diangkat oleh Kementerian Perang, kedua tangannya bertenaga seribu kati. Sebenarnya jumlah peserta ada banyak sekali, semuanya sembilan puluh enam orang, tetapi Sri Baginda hendak menyaksikan yang paling kosen saja, maka kemarin diadakan ujian istimewa oleh Kementerian, hingga kesudahannya, dari sembilan puluh enam peserta itu sekarang tinggal dua puluh empat orang. Sri Baginda pun ingin supaya ujian selesai dalam hari ini. Dalam ujian kemarin, Ouw Tjiangkoen ini dapat angka baik sekali."
Ie Kiam sambut keterangan itu dengan senyuman.
Ia tahu, Ouw Tay Keng adalah sanaknya Pengpou Siangsie, sudah tentu Siangsie itu, menteri, mengharap-harap si sanak keluar sebagai pemenang.
Segera juga terdengar suaranya kiepaykhoa di muka panggung.
"Lim Too An, kiedjin nomor sembilan, naiklah ke atas panggung! Penanggung jawabnya adalah Leepou Tjoesoe Lie Soen."
Pemberitahuan itu menunjukkan bahwa peserta Lim Too An bukan perwira, maka ia memerlukan orang yang menanggung dirinya.
Heran juga In Loei, maka perhatiannya jadi tertarik sekali.
Ia lantas lihat, Lim Too An lompat naik ke atas ioeitay dengan sebelah tangannya menggoyangkan kipas, dandannya pun tidak keruan, ialah sembarangan saja.
Dia adalah puteranya Lim Tjhoengtjoe, sahabatnya Hongthianloei Tjio Eng.
Dia juga yang beberapa bulan yang lalu telah melamar Nona Tjio Tjoei Hong akan tetapi dia kena dikalahkan Nona Tjio.
Too An beri hormat pada Ouw Tjiangkoen sambil menjura seraya pegangi terus kipasnya itu.
Ia kata dengan lagu suaranya yang agak seram.
"Ouw Tjiangkoen, aku mengharap belas kasihanmu....."
"Sial!"
Keluh Ouw Tay Keng di dalam hatinya.
"Dari mana datangnya makhluk aneh ini, priya bukan wanita bukan?....."
Tapi waktu menjawab, sambil mengayunkan gembolannya, dia membentak.
"Belas kasihan apa! Ini ada tempat resmi! Apakah kau anggap ini bagaikan sandiwara? Lekas kau keluarkan senjatamu!"
Jumawa panglima ini, tetapi Lim Too An tidak menghiraukannya.
"Boanseng empunya senjata ialah kipas ini,"
Dia menyahut, suaranya halus bagaikan suara wanita.
Ia pun membahasakan diri boanseng, artinya yang mudaan.
Ouw Tay Keng menjadi gusar sekali, segera ia menghajar dengan sebelah gembolannya.
Lim Too An berkelit sambil mendak, berbareng dengan itu kipasnya yang ia buat kuncup, diulurkan ke arah iga dari panglima itu, untuk menotok jalan darah djoanmoa hiat.
Lincah gerakannya, tapi tidak segarang lawannya itu.
Ouw Tay Keng bertubuh besar, ia kurang gesit, tidak ampun lagi, begitu kena ditotok, tubuhnya itu bergelimpang rubah jatuh di lantai panggung dengan menerbitkan suara keras!
Lim Too An tidak berhenti sampai di situ, dengan sebat ia angkat sebelah kakinya, untuk dipakai mendupak, maka tersapulah tubuh besar dari panglima itu, jatuh terbanting ke bawah panggung.
"Maaf, boanseng terima kalah!"
Kata dia sambil tertawa. Masih dia mengejek. Gembira kaisar menampak pertempuran itu.
"Bagus!"
Serunya dengan pujiannya.
"Pertandingan yang menyusul akan lebih bagus lagi!"
Kata Ong Tjin.
"Lekas Baginda lihat!"
Kiepaykhoa segera perdengarkan pula suaranya.
"Nomor 10!"
Kali ini yang lompat naik adalah seorang dengan sebelah tangannya mengangkat tinggi sehelai tameng.
Dia adalah Lou Liang, adiknya Lou Beng.
Lou Beng sendiri kemarin telah dijatuhkan oleh satu anak muda, hingga Lou Liang mesti maju seorang diri.
Dua saudara Lou ini adalah orang-orang kepercayaannya Ong Tjin.
Lim Too An layani ilmu tameng Koengoan pay dari keluarga Lou dengan tameng besinya, Lou Liang lindungi diri dari totokan ujung kipas.
Untuk sementara, Too An tidak bisa berbuat suatu apa, maka itu dengan cepat pertandingan telah melalui kira-kira lima puluh jurus.
Lou Liang tahu orang pandai tiamhiat hoat, ilmu totok jalan darah, setelah bertanding sekian lama, ia menggunakan akal.
Ialah mengangkat tamengnya demikian rupa hingga ia membuatnya satu lowongan.
Too An girang melihat ketika yang baik ini, ia tidak sia-siakan itu, dengan memutar kipasnya, segera ia menotok jalan darah soankee hiat pada dada lawan.
Ia percaya, setelah lawan nampaknya lelah, ia akan berhasil.
Tiba-tiba saja tameng bergerak sangat cepat.
"Prak!"
Demikian terdengar satu suara.
Too An kaget bukan main, karena kipasnya kena dihajar hingga patah seketika.
Ia tahu selatan, segera saja ia lompat turun dari panggung.
Ong Tjin lantas saja tertawa, wajahnya berseri-seri.
"Kongkong, pahlawanmu benar kosen!"
Kaisar memuji. Ia membuatnya orang kebiri itu bergirang dan bersyukur.
"Kiedjin No.
", See Boe Kie, naik ke panggung! Penanggung jawabnya Hoetongnia Yo Wie dari Gielim koen!"
Demikian suara kiepaykhoa.
In Loei terkejut pula.
Ia tidak sangka, juga penjahat besar ini, yang telengas, turut serta dalam ujian, malah dengan ditunggui oleh komandan muda dari tentara raja.
Ia ingat benar, See Boe Kie adalah orang yang lamarannya telah ditolak Tjoei Hong.
Begitu ia mencelat naik ke atas panggung, See Boe Kie tidak berlaku sungkan lagi.
"Dengan kepalanku ini akan aku sambut tamengmu!"
Katanya dengan jumawa. Lou Liang gusar terhadap sikap kasar itu.
"Baik, kau sambutlah!"
Dia jawab, dan tamengnya segera menyambar dari atas kebawah Hebat serangan itu, sampai tameng itu mendatangkan siliran angin.
See Boe Kie berkelit ke samping, dari situ ia membalas menyerang dengan kepalannya dibuka, hingga lima jarinya jadi berbaris rapat.
Lou Liang terkejut apabila ia tampak telapak tangan hitam dari lawannya ini.
Itulah Toksee tjiang -Tangan Pasir Beracun.
Lekas-lekas ia menangkis.
See Boe Kie sebat sekali, ketika serangan pembalasannya itu gagal, ia menyusul dengan tangan yang lain, ia barengi selagi orang menangkis.
Kali ini ia berhasil menimpa pundak orang.
"Aduh!"
Teriak Lou Liang yang dibarengi dengan menggelindingnya tubuhnya ke bawah panggung.
Ia sebenarnya kosen tetapi ia kalah sebat.
Wajah Ong Tjin menjadi matang biru, karena mendongkolnya, sebab pahlawan yang ia banggakan itu, rubuh sebelum mencapai tiga jurus.
Jangan gusar, kongkong1."
Tertawa Kong Tiauw Hay.
"Pada babak selanjutnya, binatang itu tak akan bertahan lama!....."
Lalu terdengar suara kiepaykhoa'.
"No. 12, Liok Thian Peng! Penanggungnya, Tayiwee Tjongkoan Kong Tiauw Hay!"
Segeralah lompat naik seorang yang tubuhnya tegap, di pinggangnya terlibat cambuk lemas Kimsie Djoanpian. Dia tidak loloskan senjata itu, hanya sambil tertawa ia kata pada See Boe Kie.
"Toksee tjiang-mu liehay sekali, tapi biarlah aku mengalah, kau menyerang dulu dua kali! Bila aku berkelit, anggaplah, aku kalah!"
See Boe Kie melengak. Orang ada lebih terkebur daripadanya.
"Hayo mulai!"
Kata Liok Thian Peng.
"Kenapa kau belum menyerang juga? Di sini ada ioeitay tempat pieboe, jikalau kau tetap tidak hendak menyerang, hendak kau menggelinding turun saja dari atas panggung ini!....."
See Boe Kie mendongkol, ia penasaran.
"Mungkinkah tubuhnya kebal hingga ia tidak mempan racun tanganku yang liehay?"
Dia berpikir.
"Belum pernah aku dengar ilmu kebal semacam itu....."
Lantas ia kata dengan tawar.
"Tanganku beracun, Tuan Liok, harap kau berhati-hati!....."
Belum berhenti si jago tangan beracun ini berbicara, atau sebelah tangannya sudah menyambar ke arah muka lawan. Sambil menyerang, ia berpikir.
"Pada tubuhnya ada bajunya, yang mungkin menjadi alingan, maka akan aku hajar mukanya, yang kulitnya tipis! Mungkinkah mukanya pun kebal?....."
Pada saat tangan lawan hampir sampai pada mukanya, mendadak Liok Thian Peng mendak berkelit, menyusul mana, tangannya diangkat, dipakai membentur sikut orang.
Hebat benturan ini, See Boe Kie merasakan sakitnya sampai di jantungnya, lengannya yang dibentur pun lantas saja turun tergantung, tetapi ia kuat, masih dapat ia bertahan, maka dengan menuruti amarahnya, ia tidak mau menyerah kalah, lantas dengan menggunakan tangannya yang lain, ia menyambar ke iga Liok Thian Peng, mengarah jalan darah kematian.
In Loei saksikan pertempuran itu, ia tahu, kalau sambaran itu tidak gagal, mesti celaka Liok Thian Peng.
Tapi yang menjerit hebat adalah See Boe Kie, tangannya semper, tubuhnya rubuh ke bawah panggung.
"Hebat!"
Kata In Loei di dalam hatinya. Ia insyaf atas orang punya ilmu "Tjiamie sippattiat" -"Membentur baju, delapan belas kali terguling."
Itulah ilmu tenaga dalam yang paling sempurna. Sedikit benturan saja sudah cukup membuatnya orang kesakitan dan rubuh. Maka berpikirlah ia lebih jauh.
"Dalam ujian ini turut ambil bagian orang kosen semacam ini, aku kuatir kakakku tidak akan dapat merebut gelar Boe tjonggoan....."
Liok Thian Peng adalah soetee, adik seperguruan, dari Kong Tiauw Hay, kepandaiannya berimbang dengan Tiauw Hay sendiri.
Tentu saja dia jadi sangat puas dengan kemenangannya itu, hingga dia jadi bangga sekali.
Kemudian terdengar pula seruannya kiepaykhoa.
"Kiedjin No. 14 naik ke panggung!"
Bukan kepalang girangnya In Loei apabila ia tampak, siapa calon yang ke empat belas itu, dialah In Tiong, kakaknya.
"Ha, In Tongnia juga naik!"
Tertawa Liok Thin Peng.
"Silakan tongnia keluarkan senjatamu!"
Belum lama In Tiong masuk dalam kalangan Gielim koen akan tetapi namanya menaik dengan cepat sekali, hingga hampir menyamai kesohornya ketiga jago utama dari kota raja.
Tentu saja, terhadap tongnia ini, Liok Thian Peng tidak berani memandang enteng, maka itu, ia sudah lantas loloskan cambuk lemasnya.
Ia malah segera rebut tempat di kepala di mana ia berdiri dengan siap sedia.
Cambuk lemas itu terbuat dari rotan tua terlibat dengan urat harimau, keuletannya istimewa, dapat melibat juga golok atau pedang.
Karena In Tiong bersenjatakan golok Angmo Pootoo, dalam tandingan, ia kalah imbangan.
Baharu ia hunus goloknya, atau Liok Thian Peng sudah mulai menyerang padanya.
Dahsyat serangan cambuk itu, akan tetapi mengimbangi kegesitan lawan, In Tiong kelitkan diri.
Nampaknya ia akan tercambuk, tapi kesudahannya, bajunya pun tidak tersentuh.
Sebaliknya ia, dari samping, segera membalas membacok.
Liok Thian Peng benar-benar liehay.
Ia terancam bahaya tapi, dengan mudah ia egoskan tubuhnya, untuk selanjutnya, menyambuk pula berulang-ulang tiga kali, guna mendesak lawannya, yang pun gesit sekali, hingga tiga cambukan itu tidak memperoleh hasil.
In Tiong tidak cuma berkelit, dia pun berlompatan pesat, dan di bawah bayangan cambuk itu, ia melakukan serangan pembalasannya.
Serangan tiga kali saling susul dari Liok Thian Peng itu adalah serangan jurus-jurus "Kenghong sauwlioe"
Atau "Angin besar menyapu pohon yanglioe,"
Biasanya sulit untuk orang menghindarkan diri dari bahaya itu, maka itu kagum Thian Peng, terhadap lawannya.
Ia pun mengelakkan diri dari pelbagai bacokan, sesudah mana, lagi satu kali ia menyerang hebat, untuk melibat lengan orang.
Apabila ia berhasil, yang paling dulu akan terjadi adalah golok In Tiong mesti terlepas dari cekalan dan terlempar.
In Tiong perdengarkan suara, bagaikan kaget, berbareng dengan itu, tangan kirinya, yang hendak dilihat itu, dilonjorkan lempang dan kaku, atas mana, dengan sendirinya, libatan cambuk lolos dan cambuk lemas itu mental, tidak mendapatkan korbannya.
Tapi itu belum semua, selagi dilonjorkan, tangan In Tiong dan kepalannya, berbareng dipakai menjotos dada lawannya!
"Bagus"
Teriak Liok Thian Peng, yang kaget dan kagum.
Kakinya tidak digerakkan, hanya tubuhnya digeser sedikit, untuk melewatkan kepalan itu, menyusul mana tangan kirinya, dengan lima jarinya, dipakai menunjuk, akan menyambuti kepalan lawan itu.
Kelihatannya kepalan dan jari-jari tangan akan bentrok satu dengan lain, akan tetapi di saat yang berbahaya, keduanya mundur sendirinya, diganti dengan gerakan cambuk dan golok -cambuk bagaikan terbang, golok bagaikan menari.....
Kedua pihak nampak merenggangkan diri tetapi sebenarnya, mereka asyik mengadu kepandaian mereka, hingga penonton rata-rata menjadi kagum, ada yang menyaksikannya seperti matanya kabur.
Ilmu silat "Tjiamie Sippattiat"
Dari Liok Thian Peng liehay, akan tetapi, kali ini, menghadapi ilmu silat "Taylek Kimkong Tjioe"
Dari In Tiong, dia repot juga. Kelihatannya dia cuma dapat bertahan. Maka itu, dia lantas berlaku sangat hati-hati, dia keluarkan seluruh kepandaiannya untuk dapat melayani terus.
"Bagus, bagus!"
Kaisar memuji berulang-ulang. Ia kagum dan girang. In Loei sebaliknya, berdebar-debar hatinya. Pertempuran seru berjalan terus, sampai kemudian In Loei lihat, gerakan kaki kedua pihak mulai ayal.
"Kali ini umpama kata kakak menang,"
Pikir In Loei kemudian.
"ia pasti akan jadi sangat lelah, sedang menurut aturan pertandingan, dia mesti melayani terus lawan-lawan baru hingga dua pertandingan, baharu ia boleh beristirahat. Jikalau tandingan kakak yang kedua ada sebangsa Liok Thian Peng kosennya, pasti lenyaplah gelaran Boe tjonggoan1. Sekarang masih belum ada kepastiannya....."
Pertempuran berjalan untuk banyak jurus, kedua pihak masih sama imbangannya, kejadian itu membuatnya kedua pihak tegang sendirinya.
In Tiong berkemauan keras untuk menang, ia berani melakukan penyerangan-penyerangan yang berbahaya sekalipun untuk dirinya sendiri, setiap kalinya, pukulannya bertambah berat.
Untuk ini ia berlaku lambat dan sebat dengan tiba-tiba.
Ia mainkan siasat, ia mencari lowongan, sekalipun dengan memancing.
Liok Thian Peng lebih berpengalaman, dia tidak membiarkan dirinya dipancing, dia berlaku tenang, matanya pun dipasang dengan tajam.
Selagi pertandingan berjalan, tiba-tiba tubuh In Tiong terhuyung, lalu lolos di antara cambuk, ia menyerang dengan kedua tangannya, golok di tangan kanan, kepalan di sebelah kiri.
"Bagus!"
Seru Liok Thian Peng atas serangan tiba-tiba itu.
Ia berkelit dari kepalan dan menangkis golok, sesudah mana, ia pun membalas, yaitu ia membarengi, meneruskan gerakan cambuknya, yang ia pakai menyerang membalas.
Hampir In Loei keluarkan seruan karena menyaksikan saat yang sangat berbahaya itu, atau segera ia dengar jeritan "aduh!"
Dari Liok Thian Peng.
Ia pun belum melihat nyata atau ia saksikan Thian Peng rubuh, cambuknya terlempar, tubuhnya terguling di atas panggung.
Dengan tibanya serangan membalas itu, tiba-tiba Thian Peng merasakan lengannya tertusuk jarum yang sakit rasanya.
Tentu saja ia menjadi sangat kaget, apapula pada saat itu, serangan In Tiong datang menyusul.
Tak ada jalan lain, sambil melepaskan cambuknya, ia buang dirinya ke panggung, guna berkelit dari serangan Kimkong tjioe yang dahsyat.
Selagi bergulingan, di dalam hatinya, ia kata.
"Hm! Kiranya di tangan bocah ini masih ada senjata rahasianya! Kecewa aku terpedaya!"
Tapi ia bungkam.
Di dalam pieboe itu tidak disebutkan larangan menggunakan senjata rahasia.
Tentu saja, ia pun tidak ketahui, penyerang dengan jarum rahasia itu bukannya In Tiong.
Di bawah panggung, In Loei heran.
Di atas panggung, In Tiong tidak kurang herannya kenapa lawannya itu rubuh sedang serangannya belum lagi mengenal sasarannya.
Dengan begitu, selesailah sudah pertempuran itu, maka kembalilah kiepaykhoa dengan tugasnya, memperdengarkan suaranya seperti biasa.
"Kiedjin ke lima belas, Thio Tan Hong, naik ke panggung! Penanggungnya Thio Hong Hoe, Tjongkauwtauw dari Gielim koen merangkap Tjiehoei dari Kimie wie!"
In Loei mendengar nyata, ia menjadi kaget hingga semangatnya bagaikan terbang pergi.
Ia berdiri menjublak.
Ia heran bukan main.
Kenapa Thio Tan Hong juga turut dalam ujian?
Kenapa Thio Tan Hong hendak perebutkan gelar Boe tjonggoan dengan kakaknya itu?
-ooo00dw00ooo-Bab XVI Thio Tan Hong lompat naik ke atas panggung dengan sikap yang tenang dan wajah berseri-seri.
Seperti biasanya, dia dandan dengan pakaian putih, pun ikat kepalanya putih juga.
Sepatunya adalah sepatu yang enteng.
Indah gerakannya ketika tubuhnya mencelat ke atas panggung Ioeitay, bagaikan "pohon kemala ditiup angin"
Atau "bunga lay beterbangan antara salju."
Dia pun muda dan cakap romannya, halus gerak-geriknya. Para kiedjin bersorak, waktu mereka menyaksikan munculnya saingan ini.
"Sungguh satu pemuda yang cakap!"
Raja memuji setelah menyaksikan kiedjin No. 15 ini. Hingga ia berkata kepada Kong Tiauw Hay.
"Orang ini sepantasnya turut dalam ujian Boen tjonggoan....."
"Ya,"
Sahut Kong Tiauw Hay, acuh tak acuh, sebab kedua matanya sedang menatap Thio Tan Hong. Terang nampaknya, dia heran atau curiga....."
Sesampainya di atas panggung, Tan Hong tidak segera tantang In Tiong, dia hanya memandang sekelebatan, menyapu dari kaisar sampai kepada yang lainnya.
Terkejut Kaisar Kie Tin ketika sinar matanya bentrok dengan sinar mata Tan Hong, tanpa merasa, ia bergidik sendirinya.
Kaisar ini heran sekali, orang ada demikian lemah lembut, kenapa matanya tajam sekali, pada sinarnya seperti berbayang "hawa pembunuhan."
Tentu sekali raja ini tidak tahu, leluhur Thio Tan Hong adalah musuh besar dari leluhurnya sendiri -musuh dalam perebutan negara.
Munculnya Tan Hong tidak hanya mengejutkan In Loei seorang.
Ie Kiam dan In Tiong juga tak menyangkanya sama sekali.
Ie Kokioo berpikir.
"Tan Hong adalah seorang luar biasa, telah berulang kali aku menganjurkan dia bekerja untuk pemerintah, untuk itu bersedia aku menanggung dia dengan rumah tanggaku, dengan jiwaku, dia senantiasa menampiknya, kenapa sekarang dia muncul di sini hendak memperebutkan segala gelar Boe tjonggoan?"
In Tiong sebaliknya berpikir.
"Binatang ini adalah pengchianat yang bekerja untuk bangsa Watzu, kenapa dia datang untuk perebutkan gelaran Boe tjonggoan denganku? Apa tidak baik jikalau aku beber saja rahasianya? Tapi dia ditanggung oleh Thio Hong Hoe, pemimpinku, bagaimana?"
Karena ini, terpaksa ia bungkam, ia cuma telan sendiri kemendeluannya.
Tak berayal lagi, Thio Tan Hong menghadap In Tiong.
Ia bersenyum lebar dengan tangannya di gagang pedang.
Dengan dalam ia menjura, terus ia berkata dengan hormat.
"Saudara In, aku mohon belas kasihanmu....."
In Tiong gusar bukan kepalang, kedua matanya sampai bersinar bagaikan api menyala, akan tetapi dia berada di atas panggung, dia mesti kendalikan dirinya, dia harus mengindahkan adat istiadat, maka itu, dia pun membalas menghormat sambil menjura, cuma waktu dia buka suara, walaupun perlahan, dia kata.
"Hari ini jikalau bukannya kau yang mati, aku yang mampus!"
Akan tetapi Tan Hong tertawa.
"Itulah tak usah!....."
Katanya, sabar.
Belum orang menutup mulutnya, In Tiong sudah mulai menyerang.
Setelah mereka satu pada lain memberi hormat, tak perlu lagi mereka main hormat-hormatan terlebih jauh.
Gerakkannya adalah "Kwahouw tengsan,"
Atau "Menunggang harimau mendaki gunung."
In Loei telah menyaksikan itu, tanpa merasa, tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Ia berkuatir tak terkira. Di atas panggung, Tan Hong telah perdengarkan seruannya.
"Bagus!"
Lalu tubuhnya bergerak, mengegos dari bacokan In Tiong, atas mana, In Tiong, menyusul dengan bacokan lagi dari samping.
Ia jadi penasaran karena bacokannya yang pertama itu dengan mudah dapat dielakkan lawan.
Kali ini Tan Hong mencoba tenaga orang, ketika ia melewatkan bacokan itu, ia bentur lengan pemuda she In itu, hingga terjadilah satu peraduan tangan yang keras.
Ia pakai tangan kanan, In Tiong tangan kiri.
"Nyata Taylek Kimkong Tjioe dari Toasoepee bukan nama belaka!"
Kata Tan Hong dalam hatinya setelah benturan itu, terus saja ia balas menikam.
"Bagus!"
Seru In Tiong tanpa disengaja ketika ia berhasil mengelakan diri dari tikaman yang berbahaya itu.
Ia juga kagumi liehaynya lawan ini.
Kedua pihak bertempur dengan hati-hati, apa-pula In Tiong, yang tahu pedang lawan adalah pedang mustika dan goloknya, walaupun tajam, tak akan sanggup melawan pedang itu.
Ia tidak membiarkan goloknya dipapas, sedang ia sendiri, ia selalu menahas pedang lawan dari samping.
Kedua pihak, berlaku hati-hati, tapi kedua pihak pun saling menyerang secara hebat.
Sesudah pertempuran berjalan sekian lama, tiba-tiba Tan Hong merubah gerak-geriknya.
Satu kali ia berseru panjang, lalu tubuhnya berkelebat bagaikan bayangan, ke kiri dan kanan, hingga In Tiong seperti dikurung musuh-musuh diempat penjuru.
Menghadapi musuh demikian gesit, In Tiong pernahkan diri di tengah-tengah.
Ia berputar ke mana lawan berkelebat, ia menangkis sambil membalas membacok.
Ia telah mencoba, akan menahas kutung pedang lawan, tapi belum pernah ia berhasil.
Ia berlaku sangat cepat, tapi lawan lebih cepat pula.
Bagaikan capung menyambar air, demikian samberan Tan Hong dan lewatlah tubuhnya pesat sekali.
Sepasang alis kaisar bangun ketika menyaksikan pertempuran setelah tujuh puluh jurus.
"Bagus! Bagus!"
Pujinya berulang-ulang.
In Loei kagum, tetapi kekuatirannya menjadi lebih besar.
Ia takut kalau-kalau Tan Hong melukai In Tiong, ia kuatir saudaranya nanti melukai mahasiswa itu.....
Di mata banyak penonton, kedua pemuda itu setanding, tetapi di mata In Loei, keadaan ada sebaliknya.
In Tiong gagah tetapi ia tetap kalah gesit, kalah mantap daripada Tan Hong.
Tubuh si mahasiswa, juga pedangnya, bergerak dengan terlebih bebas.
In Loei sering bertempur melawan musuh bersama Tan Hong, ia tahu baik tentang liehaynya pemuda ini.
Adalah kemudian, lega juga hati si nona.
Ia merasa bahwa Tan Hong mempunyai belas kasihan terhadap kakaknya itu.....
Ie Kiam pun berkuatir, hingga membuka mulutnya.
Ia seperti berbicara sendiri, seperti mengatakan pada In Loei.
Katanya.
"Kalau dua ekor harimau berkelahi salah satu mesti terluka..... Apakah perlunya itu? Apakah perlunya itu?....."
Tapi pertandingan ini resmi, siapa juga tidak berhak untuk menghentikannya.
In Tiong telah mengerahkan seluruh kepandaiannya, tapi ia hanya dapat bertanding seri terhadap lawan itu, dengan sendirinya, hatinya menjadi tegang.
Ia pun baru saja berkutat mati-matian dengan Liok Thian Peng, hingga ia merasa letih bukan main.
Maka pada akhirnya, ia menjadi lelah sendirinya.
Aneh sikap Tan Hong terlebih jauh.
Satu kali agaknya ia peroleh lowongan, lalu ia lepaskan itu, ia sebaliknya bagaikan terancam golok In Tiong.
Beberapa kali hal ini terjadi, In Tiong lantas menduga, bahwa Tan Hong tidak berniat mengalahkannya.
Tapi hal ini membuatnya ia menjadi panas hati, ia tidak puas.....
Bertempur lebih jauh, In Tiong berlaku telengas.
Goloknya, di tangan kanan, dan kepalan kirinya mendesak terus hingga tiga kali beruntun.
Ia mendesak begitu rupa , hingga Tan Hong mesti mundur.
Kemudian, sambil lompat mutar, ia mundur teratur, agaknya desakan itu tidak memberi hasil.
Tan Hong tertawa di dalam hatinya.
"Kau hendak gunakan akal, siapa sudi terkena tipumu?"
Kata mahasiswa ini.
Ia segera gunakan akal untuk melawan akal.
Ialah ia maju, untuk menyusul.
Justeru itu, mendadak In Tiong lompat mutar pula, tangan kirinya turut bergerak, melemparkan tujuh butir senjata rahasia Thielian tjie, semacam biji teratai besi, yang semuanya menuju keberbagai anggota berbahaya dari si pemuda she Thio.
Itulah senjata rahasia Hian Kee Itsoe.
Itulah serangan sangat berbahaya, para penonton menjadi terkejut.
Menyusul serangan teratai besi itu, terdengar suara bentrokan nyaring, lalu sirap, hingga orang menjadi heran, cuma In Tiong yang hatinya gentar, sebab ia tahu, serangan itu telah digagalkan lawan.
Malah ia menduga juga, senjata rahasia yang dipakai menentanginya adalah sebangsa jarum, yang kecil sekali, hingga heranlah ia, kenapa senjata halus itu dapat melemahkan bijih-bijih besi yang jauh terlebih berat.
Lain dari itu, senjata Tan Hong ini membuatnya In Tiong ingat kejadian tadi sewaktu ia bertanding dengan Liok Thian Peng.
Tadi ketika berhadapan dengan Thian Peng, In Tiong tahu benar mereka berdua sudah menghadapi jalan buntu, ia mesti celaka, demikian juga Thian Peng, akan tetapi pada saat terakhir, Thian Peng rubuh tanpa sesuatu sebab.
Tidak mengerti In Tiong, kenapa lawannya itu kalah tanpa alasan apa-apa.
Tapi sekarang, melihat senjata rahasia Tan Hong, segera ia mengerti, ia sadar.
Teranglah sudah, tadi Tan Hong telah menyerang Thian Peng secara diam-diam.
Maka bingunglah ia kenapa "musuhnya" -"musuh besar" -telah membantu ia secara diam-diam itu.
Pada saat itu, In Tiong jadi merasa malu berbareng bersyukur.
Malu karena serangannya itu gagal, bersyukur sebab "musuh"
Telah membantu padanya, telah menolong ia dari ancaman bahaya besar.
Sebaliknya, ia juga mendongkol, karena musuh itu sangat tanggu dan tak dapat dirubuhkan.
Selagi In Tiong diliputi pelbagai perasaan itu, tiba-tiba terdengar suara Tan Hong.
"Lihat pedang!"
Seru pemuda she Thio itu sambil tertawa, lalu pedangnya berkelebat, bersinar di muka orang she In itu.
In Tiong masih sadar akan dirinya, maka dengan sebat ia tangkis tikaman itu, setelah mana, ia melakukan pembalasan.
Ia terpaksa membalas, sebab setelah tikaman itu, Tan Hong mengulanginya, hingga dia mesti dilayani terus.
In Tiong berpikir, baik atau tidak ia serahkan saja gelar Boe tjonggoan kepada Tan Hong, karena pertempuran mereka ini luar biasa dahsyatnya.
Kalau ia mengalah, bahaya sudah tidak ada.
Tapi ia didesak, ia jadi berpikir lain.
Semuanya terjadi dalam sekejap itu.
Tidak banyak waktu untuk berpikir lama-lama.
Maka, setelah satu tangkisan tangan kiri disusul dengan bacokan tangan kanan, dengan goloknya, ia memikir untuk menggunakan serangan "Pengin liatsek"
Atau "Awan buyar, batu gempur."
"Jangan!"
Tiba-tiba terdengar suaranya Tan Hong, perlahan.
"Lekas gunakan Samyang kaytay....."
Tanpa merasa, In Tiong ubah serangannya, lalu tiga kali beruntun ia memberikan bacokan.
Benar saja, ia telah menggunakan tipu silat yang disebutkan pemuda she Thio itu.
Tan Hong menutup dirinya dengan tipu silat "Pathong hongie" -"Hujan angin di delapan penjuru,"
Tetapi percuma saja, pembelaannya dapat dipecahkan, hingga ia jadi terdesak, kalau tadi ia menjadi penyerang, sekarang ia berbalik menjadi orang yang diserang, karenanya, ia perdengarkan jeritan terancam bahaya.
In Tiong lanjutkan desakannya, ia membuat Tan Hong mundur terus, sampai di pinggir panggung di mana sudah tak terdapat tempat lagi untuk mundur lebih jauh, di saat itu tiba-tiba pemuda she Thio itu mencelat tinggi, ia apungkan dirinya, berjumpalitan, hingga di lain saat, ia telah berada di bawah panggung!
Tubuhnya itu telah melayang bagaikan layangan putus.....
Bergemuruhlah suara di bawah panggung, sebab pieboe telah berakhir untuk kekalahannya Thio Tan Hong dan kemenangannya In Tiong.
Semua orang puji In Tiong dengan jurusnya yang terakhir itu.
"Samyang kaytay," -"Selamat tahun baru"
Di antara semua penonton, cuma In Loei yang bernapas lega, yang ketahui kemenangan In Tiong itu, sebab Thio Tan Hong bukannya kalah, hanya mengalah.
Adalah maksud Tan Hong turut dalam pieboe, bukan untuk merebut kemenangan, bukan untuk menjadi Boe tjonggoan, hanya guna membantu In Tiong, supaya In Tiong dapat menjadi tjonggoan militer, supaya In Tiong berhasil dengan angan-angannya mencari kedudukan tinggi guna nanti mencapai cita-citanya.
Tan Hong mengetahui, dua saudara seperguruan dari Tayiwee Tjongkoan Kong Tiauw Hay turut dalam ujian militer itu.
Inilah berbahaya untuk In Tiong sekalipun ia ketahui kepandaian In Tiong dibanding dengan dua saudara seperguruan dari Tiauw Hay itu berimbang.
Bahayanya ialah kalau In Tiong mesti bergantian melayani dua musuh tanggu itu, sedang di lain pihak, masih ada beberapa calon lainnya yang tak kurang berbahayanya.
Maka ia paksa pernahkan dirinya dalam keadaan berbahaya itu, guna secara diam-diam membantui In Tiong, agar orang she In ini dapat memastikan kemenangannya.
Untuk ini, Tan Hong dapat bantuannya Thio Hong Hoe, yang menjadi orang penanggungnya.
Bahwa In Tiong sampai sebegitu jauh tidak ketahui Tan Hong turut dalam ujian itulah karena, dalam ujian-ujian pertama, mereka dipisahkan rombongannya, hingga baharulah di babak ini mereka diberikan ketika untuk berhadapan satu pada lain.
Kemarinnya, dalam ujian pertama, Tan Hong telah merubuhkan tiga calon yang liehay, yaitu pertama satu soeheng lainnya dari Kong Tiauw Hay, kedua ahli silat Kimkauw Gouwhong, dan ketiga pahlawan istana Lou Liang.
Ini pun membantu meringankan In Tiong untuk memasuki babak terakhir.
Pada akhirnya, Tan Hong membantu ia merubuhkan Liok Thian Peng, sesudah mana, ia maju sendiri, ia berpura-pura kalah sesudah mengajari In Tiong bagaimana ia harus mendesak padanya.....
Begitu rupa Tan Hong telah bertindak, sehingga Thio Hong Hoe dan Ie Kiam tidak mengetahui maksud yang disembunyikan itu.
Tetapi ini tidak berarti Tan Hong tidak menghadapi ancaman malapetaka.
In Tiong melengak atas kemenangannya itu.
Ia berpikir keras karena kemenangan yang tidak wajar itu, walaupun tidak ada satu orang jua yang mengetahuinya.
Tengah ia berdiri diam, gemuruhlah seluruh tanah lapang itu.
Lalu, di saat ia masih belum ingat untuk mengundurkan diri, guna beristirahat, ia dengar satu teriakan dari panggung muka.
"Lekas tangkap pemberontak! Lekas tangkap pemberontak!"
In Loei kaget mendengar suara itu, In Tiong pun tak terkecuali, hingga ia jadi sadar.
Di panggung muka itu, ialah panggung untuk kaisar menyaksikan pieboe, Kong Tiauw Hay perdengarkan suara nyaring berulang-ulang.
Dia berteriak-teriak menitahkan pasukan raja menangkap Thio Tan Hong.
Ketika dua soesiok, atau paman guru, dari Kong Tiauw Hay dikalahkan Tan Hong dan In Loei di selat Tjengliong Kiap, maka kedua orang itu -ialah Tiatpie Kimwan Liong Tjin Hong dan Samhoa Kiam Hian Leng Tjoe -sudah lari pulang ke kota raja.
Mereka ini telah bertemu dengan Kong Tiauw Hay, lalu mereka tuturkan tentang Tan Hong dan In Loei, terutama mereka lukiskan tegas roman Tan Hong.
Tiauw Hay sangat perhatikan keterangan kedua guru itu, maka sekarang melihat Tan Hong, ia segera dapat mengetahui tidak peduli kedua paman gurunya tak turut menyaksikan pieboe itu.
Sekian lama ia telah mengawasi Tan Hong, selama itu ia telah mengambil keputusannya.
"lebih baik keliru menangkap orang daripada meloloskannya,"
Maka juga, habis pieboe, ia maju kemuka panggung dan berikan titahnya itu.
Semua orang menjadi heran, gemuruh pun lenyaplah.
Barisan Gielim koen tidak kurang herannya.
Dalam kesunyian setelah teriakan-teriakan Kong Tiauw Hay itu, menyusullan suara tertawa yang tajam dar nyaring, lalu tampaklah Thin Tan Hong lari ke muka -ke panggung muka -panggung kaisar, di atas mana Tiauw Hay tengah menuding kepada pemberontak yang ia titahkan menawannya.
Tayiwee Tjongkoan itu tak dapat berteriak lebih jauh, begitu lekas Thio Tan Hong lari sampai di muka panggung, dia pun menjerit keras, tubuhnya terus terguling, jatuh ke bawah panggung.
Karena Tan Hong tidak mau membiarkan orang pentang terus bacotnya, dia telah menghadiahkan hoeitjiam, senjata rahasia jarum yang liehay.
Kembali orang kaget, mereka menjadi gempar.
Semua pahlawan lantas lari maju, untuk memburu.
Sekarang mereka tahu pasti, siapa yang dimaksudkan sebagai si pemberontak yang mesti ditawan itu.
Tengah orang berlari-lari, di antara suasana kacau itu, Thio Tan Hong segera perdengarkan suitan mulut yang panjang, menyusul mana, dari satu jurusan datanglah kuda Tjiauwya saytjoe ma yang larinya sangat pesat, menuju ke arah majikannya.
Thio Tan Hong lantas perdengarkan tertawa berkakakan.
Dengan satu enjotan, tubuhnya sudah mencelat naik di bebokong kudanya, sesudah mana, ia mainkan pedangnya secara liehay.
Sebab waktu itu, kecuali serdadu-serdadu yang memburu, anak-anak panah juga sudah datang saling sambar, maka anak panah itu mesti ditangkis, disampok jatuh, supaya tidak mengenai sasarannya.
Tjiauwya saytjoe ma lari pesat sekali keluar lapangan tanpa ada yang bisa mencegah!
Ong Tjin jadi sangat mendongkol, hingga tubuhnya gemetar.
"Celaka betul!"
Teriaknya.
"Lekas tawan si penanggung jawab, Thio Hong Hoe!"
Demikian ia berikan titahnya.
"Tunggu dulu!"
Tiba-tiba terdengar raja mencegah.
"Coba tanya dulu Kong Tiauw Hay, bagaimana duduknya perkara!"
Raja memang tidak mengetahui duduknya perkara itu.
Kong Tiauw Hay adalah seorang gagah, akan tetapi sekarang dia seperti tak berdaya.
Saking sakitnya, dia rubuh dari atas panggung.
Hoeitjiam tidak meminta jiwanya, akan tetapi jarum itu yang membuat jalan darahnya terganggu dan beberapa uratnya terluka.
Untuk menolong dirinya, terlebih dahulu harus dicabut jarum rahasianya dengan kekuatan besi berani.
Tapi ia tanggu, dan jatuhnya pun tidak membikin ia terluka parah, maka ia berbangkit, lalu dengan timpang ia bertindak mendaki panggung, untuk menghampiri raja.
"Kau kenapa?"
Tanya kaisar. Tidak berani Kong Tiauw Hay bicara terus terang, ia malu, ia mesti lindungi nama baiknya.
"Oleh karena kesusu hendak menawan pemberontak, budakmu telah terjeblos jatuh di pinggir panggung....."
Demikian ia menjawab junjungannya itu.
Kong Tiauw Hay adalah Tayiwee Tjongkoan, dengan diam-diam ia bersaingan dengan Thio Hong Hoe, kepala Gielim koen, komandan Kimie wie.
Ia ingin rebut nama sebagai orang kosen nomor satu untuk kota raja.
Tentu saja ia akan merasa malu kalau orang mengetahui ia rubuh di tangan orang sebawahannya Thio Hong Hoe itu.
Bukankah Tan Hong pun tak dikenal?
Mendengar jawaban tjongkoan itu, kaisar tertawa.
"Apakah Thio Tan Hong itu benar-benar pemberontak?"
Tanya pula junjungan ini.
"Benar,"
Sahut tjongkoan itu.
"Dia pernah melukai Taytongnia Thio Hong Hoe dari Gielim koen, dia pernah merampas persakitan utama dari tangan Thio Hong Hoe, yaitu putera pengkhianat pemberontak Tjioe Kian! Bukankah Thio Hong Hoe pernah melaporkannya semua kejadian itu? Si perampas persakitan utama itu adalah Thio Tan Hong!"
Tanpa pikir panjang lagi, mengikuti kemendongkolannya, Kong Tiauw Hay telah mengucapkan kata-katanya itu.
Dengan begitu juga hendak ia lindungi nama baik kedua paman gurunya yang telah dipecundangkan Tan Hong.
Dengan begitu ia tumpahkan kesalahan atas diri Hong Hoe.
Mendengar jawaban itu, raja tertawa berkakakan.
"Aykeng, kau telah membuat kekeliruan!"
Kata raja ini. Ia memanggil "aykeng" -"hambaku yang disayang"
Kepada tjongkoan-nya itu.
"Jikalau Thio Tan Hong itu pernah melukai Thio Hong Hoe, cara bagaimana sekarang Thio Hong Hoe kesudian menjadi penanggung atas dirinya? Aku lihat Thio Tan Hong itu meski benar dia kena dikalahkan In Tongnia, tidak lemah ilmu silatnya. Dia mempunyai roman yang baik, tenaganya juga dapat dipakai. Sayang kau menyebabkan dia menyingkirkan diri. Sekarang pergilah kau cari dia, untuk mengajak dia pulang, jangan kau membuat dia ketakutan terus menerus!"
Kaisar Kie Tin ini, walaupun setiap hari dia dipengaruhi Ong Tjin, belum dapat dikatakan dia kaisar dungu, malah dia sebenarnya gemar juga memperlihatkan kecerdasannya.
Demikian kali ini, dia anggap pandangannya jauh terlebih sadar daripada Kong Tiauw Hay, maka dia bergurau dengan hambanya itu, habis mana, dia menjadi puas sekali, dia anggap Kong Tiauw Hay tolol, telah mencari kepusingan sendiri.
Thio Hong Hoe telah mendengar semua, dia keluarkan keringat dingin.
Dia girang sekali yang raja tidak memperpanjang kejadian itu, kalau tidak, bisa sulit kedudukannya.
Habis kekacauan itu, pieboe dilanjutkan pula.
In Tiong telah menangkan dua kali, dia dapat hak untuk masuk dalam babak terakhir, karenanya, dia boleh beristirahat.
Dengan majunya Tan Hong sebagai calon ke lima belas, masih ada sembilan calon lagi.
Sudah diterangkan, cuma ada dua puluh empat calon yang berhak pieboe di atas ioeitay.
Pertandingan dilanjutkan antara sembilan calon itu, kesudahannya ada satu orang, yang beruntung menang dua kali beruntun.
Dia adalah Hoan Tjoen, salah satu dari tiga jago di kota raja Kengsoe samtoa kotjioe.
Dialah adik kandung dari Hoan Tiong, itu Gietjian siewie, kepandaiannya Hoan Tiong yang mengajarkan.
Dibanding dengan In Tiong, dia masih beda jauh, maka itu, sebelum pertandingan berakhir, belum sampai tiga puluh jurus, dia telah dirubuhkan In Tiong.
Kembali terdengar suara gemuruh diseluruh lapangan.
Sebagai penghormatan, In Tiong dikerebongi mantel sendiri oleh kaisar, yang mengumumkan dia adalah Boe tjonggoan.
In Loei girang tak terhingga.
Begitu pulang ke gedung Ie Kiam, dia nanti-nantikan In Tiong peroleh sesuatu jabatan, untuk In Tiong pindah keluar dari istana.
Waktu itu dia berpikir akan minta bantuannya Thio Hong Hoe, supaya mereka dua saudara, kakak dan adik, diperkenalkan, dipertemukan satu dengan lain.
Tapi, beberapa hari telah berselang, kabar yang ditunggu-tunggu itu tidak juga kunjung tiba, hingga, selainnya In Loei, Ie Kiam juga turut merasa heran.
Menurut kebiasaan, siapa sudah diangkat jadi boe tjonggoan, sedikitnya dia akan diangkat menjadi tjiangkoen, jenderal, dia akan diberikan satu gedung tersendiri untuknya, jadi tidak usah dia berasrama lagi di dalam istana.
Maka kali ini, sia-sia saja orang menantikan pengumuman dari kaisar tentang pengangkatan boe tjonggoan itu.
Inilah kejadian yang langka.
Ie Kiam menjadi bingung juga meski benar ia ada satu menteri, di dalam hal pemberian pangkat atau gelar atau hadiah, dia tidak punya hak untuk mencampurinya.
In Tiong sendiri, setelah kemenangannya itu, terus terbenam dalam keragu-raguan, hingga ketika ramai orang memberi selamat, sama sekali ia tidak pernah tertawa.
Ia kembali ke asrama, tetap ia menjadi pahlawan, kalau malam, masih ia bertugas meronda keraton.
Di dalam istana terdapat batas di antara istana dan keraton.
Keraton adalah istana bahagian dalam.
Dan bahagian In Tiong adalah keraton, yang disebut iweeteng, perdalaman.
Ketika ia kembali ke asramanya, dia lantas keram diri di dalam kamarnya, beberapa rekannya telah datang untuk memberi selamat, tetapi ia tidak mau menemuinya.
Karena sikapnya ini, ada rekannya yang menganggap dia jadi angkuh dan kepala besar, tapi ada juga yang mengerti dan percaya bahwa dia sangat letih hingga dia perlu beristirahat.
Hanya anehnya, sejak hari kemenangan itu, In Tiong lantas saja menjadi seorang yang pendiam, tidak lagi dia bergembira seperti biasa, malah dia nampaknya tak tenang.
Ini pun sebabnya kenapa dia keram diri di dalam kamar.
Cuma In Tiong sendiri yang ketahui kenapa ia bawa sikap yang luar biasa ini.
Ia tahu, Boe tjonggoan itu ia dapatkan bukan karena kepandaiannya, ia hanya seperti dihadiahkan Thio Tan Hong, yang telah mengalah terhadapnya, hal ini membuatnya ia merasa malu sendiri.
Tidakkah ia diberi hadiah oleh "musuh?"
Tapi, gelar itu telah ia dapatkan, mustahil kalau ia kembalikan kepada Kaisar.
Karena ini, ia jadi berpikir keras, makin ia berpikir, makin ruwet pikirannya.
Demikian dalam keadaan bimbang dan berduka itu, tiba-tiba satu thaykam kecil datang padanya, mengetok pintu kamarnya, sambil berkata bahwa kaisar memanggil ia.
In Tiong terkejut berbareng girang.
Dengan lekas ia salin pakaian, terus ia ikut thaykam itu, melintasi lorong yang panjang, sampai di pendopo Boenhoa thian di mana terdapat giesie pong, kantor kaisar.
Dalam kantor itu, yang apinya dipasang terang-terang tampak raja duduk seorang diri.
Melihat datangnya Boe tjonggoan, raja memberi tanda kepada thaykam untuk mengundurkan diri sambil menutup pintu kamar.
"Liehay keng punya ilmu silat, keng telah menjagoi di kolong langit ini, maka keng harus bergembira, seharusnya keng diberi selamat!"
Kata raja sambil tertawa. Dan ia beri selamatnya. Muka In Tiong menjadi merah.
"Terima kasih untuk pujian Sri Baginda,"
Kata ia, dengan likat.
"Untuk budi Sri Baginda ini, walaupun hancur lebur tubuh sin, tidak dapat sin membalasnya."
Dengan kata "sin,"
In Tiong membahasakan dirinya "hambamu."
Kaisar awasi tjonggoan baru ini.
"Sebenarnya keng asai mana?"
Ia tanya. ("Keng"
Adalah kata hormat seperti "kau"
Atau "kamu"
Untuk menteri.) In Tiong bersangsi ketika ia menyahuti.
"Leluhur sin berasal dari Kayhong dipropinsi Hoolam."
Mata kaisar bagaikan terbalik, ia menatap pula.
"Kalau begitu,"
Kata raja dengan sekonyong-konyong.
"keng berasal dari satu kampung dan satu she dengan menteri In Tjeng dari pemerintah yang terdahulu. Pernah apakah keng dengan In Tjeng itu?"
Terharu In Tiong, hingga lantas saja ia bertekuk lutut. 'In Kimsoe adalah sin empunya kakek,"
Sahut ia. Ia menyebutnya "kimsoe" -"utusan kaisar" -terhadap engkong-nya itu. Sekian lama In Tiong sembunyikan diri sebagai turunan dari In Tjeng, yang dipandang sebagai "menteri yang berdosa,"
Tidak berani ia memberitahukan itu kepada siapa juga, tetapi sekarang, ditanya raja, tidak berani ia mendusta. Raja pun terkejut, wajahnya sampai berubah.
"In Tjonggoan, adakah keng mengandung rasa benci terhadap tim?"
Dia tanya. ("Tim"
Adalah istilah raja membahasakan dirinya sendiri selagi bicara dengan menterinya.) In Tiong merasa hatinya sakit bagaikan disayat-sayat.
"Kakek sin itu sangat setia terhadap negaranya, maka itu sin mohon semoga Baginda suka mencuci bersih noda atas namanya itu,"
Ia mohon. Setelah mengucap demikian, air matanya segera bercucuran. Raja tidak mengeluarkan air mata akan tetapi ia berpura-pura menyusut matanya.
"Kakekmu itu setia, inilah tim ketahui,"
Ia kata.
"Dalam hal tim menghadiahkan ia kematian, itulah sebenarnya bukan kehendak tim sendiri....."
In Tiong heran, ia angkat kepalanya akan mengawasi kaisar.
"Hanya,"
Kaisar lantas menambahkan.
"untuk tim mencuci noda kakekmu itu, guna memulihkan kehormatannya, haruslah ditunggu lain hari....."
Benar-benar, kaisar ini bukan kaisar tolol, dia tidak berdaya karena sejak kecil dia selalu dikekang Ong Tjin, hingga dia tak dapat berdiri sendiri.
Pernah dia memikirnya, berulangkah, untuk merampas kembali kekuasaan, haknya sebagai kepala pemerintahan, tetapi pengaruh Ong Tjin besar sekali, hingga dia merasa sulit.
Maka tidak ada lain jalan daripada bertindak dengan perlahan-lahan, untuk ini, dia juga perlu mengumpulkan tenaga-tenaga pembantu, akan mengimbangi kekuatan kawannya si dorna kebiri.
Sekarang dia lihat In Tiong setia, dan In Tiong kebetulan bermusuh dengan Ong Tjin, orang semacam In Tiong inilah yang sedang dicari.
In Tiong sementara itu sedang menangis tersedu-sedu mengetahui kakeknya telah menjadi korbannya Ong Tjin, tidak peduli dihadapan raja tidak dapat ia kuatkan hati lagi.
Sekarang telah berubah pandangannya, maka ia mengambil keputusan akan bekerja untuk raja ini, supaya ia dapat membantu menyingkirkan dorna.
Raja mengawasi Boe tjonggoan itu, ia tunggu sampai orang menyeka kering air matanya, lalu ia bersenyum dan berkata.
"Keng, janganlah kau terburu napsu, kau mesti bersabar, sekarang ini belum sampai ketikanya hingga tak dapat kita menggeprak rumput membikin ular kaget....."
"Jikalau diperkenankan Sri Baginda,"
In Tiong lantas minta.
"sin mohon diberikan tugas di tapal batas, untuk sin memimpin suatu pasukan, supaya bila dikemudian hari tiba saatnya untuk berperang, sin nanti bisa mengumpulkan pasukan-pasukan yang bersetia kepada Sri Baginda. Bila sin mempunyai kekuasaan ketentaraan, sesudahnya memukul mundur angkatan perang Watzu, sin akan segera pulang ke dalam negeri untuk menyapu bersih kawanan dorna!"
Raja bersenyum pula.
"Tindakan itu pun harus dilakukan dengan sabar,"
Kata dia. Mendengar ini, In Tiong menjadi lesu. Ketika ia pandang kaisar, raja itu sedang mengawasi dia. Kaisar sudah lantas tertawa.
"Bukankah boe kiedjin yang tadi bertanding dengan kau bernama Thio Tan Hong?"
Raja ini tanya.
"Tim lihat ilmu silatnya tak dapat dicela!"
In Tiong merasakan mukanya panas, hatinya pun berdebar. Ia kertek giginya, untuk dapat menguasai diri.
"Harap Sri Baginda mengetahui,"
Dia berkata.
"ilmu silat Thio Tan Hong itu sebenarnya berada di atasan sin. Gelar Soe tjonggoan ini pun aku peroleh karena dia mengalah dan memberikannya kepada sin."
Kalau tadinya ia merasa tidak tenang, setelah mengucapkan kata-katanya yang terachir ini, hati In Tiong menjadi lega.
Wajah raja sedikit berubah setelah mendengarkan perkataan tjonggoan itu.
Tiba-tiba dia tertawa pula sambil terus mengatakan.
"Keng benar jujur! Sebenarnya, tanpa kau mengatakannya, itu sudah dapat dilihat....."
In Tiong terperanjat, ia heran.
"Raja tinggal di dalam istana, dia tentunya tidak mengerti ilmu silat, ia sekarang ketahui Tan Hong mengalah, inilah aneh,"
Pikirnya.
"Sekalipun ahli-ahli silat di sekitar Ioeitay tidak ada yang sadar akan peranan Tan Hong itu....."
Benar-benar boe tjonggoan itu tak mengerti.
"Tahukan kau, orang macam apa Thio Tan Hong itu?"
Tanya pula raja kemudian.
"Tentang ini justeru sin hendak menuturkan kepada Sri Baginda,"
Jawab In Tiong.
"Thio Tan Hong adalah puteranya Thio Tjong Tjioe, menteri muda dari negara Watzu. Dia sekarang melusup masuk ke dalam negeri kita, sin kuatir dia mengandung maksud yang tidak baik....."
Raja agaknya heran.
"Apa, dia puteranya Thio Tjong Tjioe?"
Dia ulangi.
"Ya,"
In Tiong pastikan.
"Mengenai dia, mungkin Thio Hong Hoe belum tahu jelas, cuma karena melihat dia pandai silat, maka Hong Hoe berikan pertanggungannya. Thio Tongnia setia, sin mohon dia tidak dicurigai."
"Siapa tidak bersalah, dia tidak dapat dipersalahkan,"
Kata raja.
"Tentang kecurigaan, ah, sebenarnya tim tidak mencurigai Thio Hong Hoe....."
In Tiong terperanjat, wajahnya sampai pucat.
"Thio Tan Hong mengalah, dia serahkan gelar Boe tjonggoan kepada sin, tidaklah mengherankan jikalau Baginda merasa curiga ia lekas berkata.
"Harap Baginda ketahui, Thio Tan Hong itu adalah musuh keluarga sin\"
Untuk membuktikan perkataan ini, In Tiong terus tuturkan duduknya permusuhan itu dan akhirnya ia perlihatkan surat wasiat dari kakeknya. Setelah mendengar dan menyaksikan itu, raja tertawa.
"Aku pun tidak curigai kau,"
Katanya kemudian.
"Sepak terjang Thio Tan Hong itu, menurut penglihatan tim, adalah untuk melepas budi atas dirimu, supaya kau melupakan permusuhan kekeluargaan itu, dan juga tentang sakit hati negara. Tim lihat, kau tentunya tidak akan terpedayakan dia....."
In Tiong setujui pendapat raja itu.
"Sekarang kemari kau,"
Kata pula raja, kemudian. Tim hendak perlihatkan keng sehelai gambar lukisan."
Raja menghampiri lemari bukunya, lalu membuka pintunya, akan mengambil gambar yang ia maksudkan itu. Di situ terlukis satu orang yang memakai mahkota, jubanya bersulamkan naga-nagaan, romannya keren.
"Coba keng lihat, miripkah Thio Tan Hong dengan orang dalam gambar ini?"
Tanya raja setelah ia menunjukkan gambar itu.
In Tiong awasi gambar itu, ia terperanjat.
Ia tampak potongan muka dan tubuh yang sama, kecuali orang dalam gambar ini ada terlebih kasar, kalah halus dan tenang dengan Thio Tan Hong.
"Mungkinkah Thio Tan Hong seorang anggauta keluarga raja?"
Ia menduga-duga dalam hatinya.
"Tidakkah mereka agak mirip?"
Raja menegaskan.
"Ya, mirip,"
Sahut In Tiong, suaranya tak tegas. Sekonyong-konyong wajah raja berubah, secara tiba-tiba dia tuding gambar itu sambil mengatakan dengan keras.
"Kau telah mati tetapi kau tidak meramkan mata, kau masih menugaskan anak cucumu untuk merampas negaraku?"
In Tiong kaget, ia heran bukan main.
"Dia..... dia siapakah?"
Ia tanya. Raja menyahut sambil tertawa tawar.
"Raja bangsat di dalam gambar ini adalah Thio Soe Seng, kaisar dari kerajaan Tjioe yang palsu!"
Dia jawab.
"Thio Tjong Tjioe dan Thio Tan Hong adalah anak cucunya! Hm! Dia pakai nama Tjong Tjioe, bukankah dengan itu dia bermaksud meminjam tenaga bangsa asing untuk membangunkan pula kerajaan Tjioe itu, untuk memusnakan kerajaanku?"
Inilah untuk pertama kali yang In Tiong ketahui Thio Tan Hong adalah turunan Thio Soe Seng.
Inilah di luar dugaannya.
Maka itu, ia jadi menjublek saja, tak dapat ia mengatakan suatu apa.
Tapi, dalam hatinya, ia berpikir.
"Pantas mereka ayah dan anak sangat membenci kerajaan Beng. Hanya heran, cara bagaimana Sri Baginda ketahui ini? Raja sudah ketahui Tan Hong siapa, kenapa ia tidak titahkan menawan Tan Hong selagi pieboe berlangsung?"
Raja seperti tidak mempedulikan orang terheran, ia berikan keterangannya terlebih jauh. Ia kata.
"Ketika dahulu Thio Soe Seng perebutkan negara dengan leluhurku, mereka telah melakukan pertempuran yang memutuskan disungai Tiangkang. Dia kalah, dia pun terbinasa. Menurut ceritera, pada saat menghadapi ajalnya yang terakhir, Thio Soe Seng sudah pendam kekayaannya, yang berupa emas dan, perak dan permata mulia, di suatu tempat di daerah Souwtjioe. Di situ terpendam tidak hanya harta besar itu, juga sehelai peta bumi negara, di mana terlukis jelas tempat-tempat yang penting untuk pergerakan tentara. Kalau peta itu tetap masih ada, itulah berbahaya sekali untuk keamanan negara, karena itu, leluhurku telah meninggalkan pesan agar turunan keluarga Thio itu dibasmi habis, supaya harta dan peta itu dicari, agar dengan secara demikian, amanlah kerajaan Beng. Thio Tan Hong sudah lolos, mestinya dia terus meninggalkan kota raja, tim duga dia pasti menuju langsung ke Souwtjioe, untuk mencari tempat menyimpan harta dan peta itu. Sekarang tim berikan keng seekor kuda, dengan itu keng mesti segera pergi ke Souwtjioe, untuk menyusul Thio Tan Hong. Tugas keng adalah, selama Thio Tan Hong belum berhasil membongkar harta dan peta itu jangan keng turun tangan atas dirinya, adalah setelah ia berhasil mendapatkan harta dan peta itu, baharu keng bunuh padanya, keng rampas harta dan peta itu, untuk dibawa pulang, untuk diperlihatkan kepada tim."
In Tiong bergidik seorang diri, ia sampai tidak menyahuti raja. Raja pun melanjutkan perkataannya. Ia bicara sambil tertawa.
"Akan tim titahkan tujuh pahlawan untuk turut kau, guna membantu padamu,"
Katanya.
"Kamu nanti bertemu di Souwtjioe saja. Jangan kau kuatir."
In Tiong terima tugas ini.
Ia pikir, meskipun Tan Hong lebih gagah daripadanya tapi dengan mendapat bantuan dari tujuh pahlawan pilihan, pasti dia akan dapat kemenangan.
Ia hanya tidak tahu, kenapa raja ketahui asal-usul Thio Tan Hong.
Sebenarnya, duduknya hal, ada sederhana saja.
Thio Tan Hong turut dalam ujian setelah ia memikir masak-masak, ia sudah mengatur rencana.
Ia telah siap sedia bila ada orang hendak turun tangan terhadap dirinya.
Karena ini, sesudah bertanding dengan In Tiong, dan Kong Tiauw Hay memberi titah untuk membekuk padanya, dia mendahului turun tangan.
Begitu lekas dia telah menghadiahkan jarum rahasia kepada Kong Tiauw Hay, begitu juga ia lemparkan segumpal kertas ke arah raja.
Itulah kertas yang ia tulis dan sediakan siang-siang.
Ia memang mempunyai kepandaian luar biasa dalam hal melepaskan senjata rahasia.
Bukan saja oran lain, raja sendiri tidak merasa yang orang telah menimpuki dengan segumpal kertas kecil itu, yang tepat masuk ke dalam sakunya.
Adalah sekembalinya ke keraton, selagi hendak beristirahat, raja dapatkan gumpalan kertas itu.
Di dalamnya lebih dahulu Tan Hong membeber rahasia bangsa Watzu akan menyerbu Tionggoan, lantas ia beri nasihat supaya raja membedakan menteri-menteri setia dari dorna supaya raja bersiap sedia menghalau serbuan dari luar.
Tan Hong juga memberi bukti dari hal persekongkolan antara Ong Tjin dan raja Watzu dan dimintanya raja bersiap-siap juga.
Habis itu baharu Tan Hong tuturkan yang ia, ialah keluarganya, bermusuhan dengan keluarga raja.
Meski begitu, ia jelaskan dalam suratnya itu, jikalau raja bersungguh-sungguh hendak melawan musuh, ia bersedia untuk membasmi permusuhan di antara mereka.
Akhirnya, Tan Hong beri nasihat supaya raja jangan lagi mencelakai menteri-menteri setia, kalau tidak, hendak ia ambil kepala raja itu.
Ia kata, untuk mengambil kepala raja, kerjaannya sama gampangnya seperti orang membalikkan telapak tangan.
Terang dan jelas bunyi surat itu, halus dan keras sifatnya.
Tan Hong ambil sikap demikian karena ia masih menyintai negaranya, tidak peduli negara itu sedang diperintah oleh musuhnya.
Ia hanya tidak sangka, bagaimana nanti kesan raja setelah raja membaca suratnya itu.
Mulanya raja terperanjat, kemudian ia berpikir.
"Kenapa di dalam dunia ada manusia tolol semacam dia?"
Demikian pikir raja ini mengenai Tan Hong.
"Jikalau dia tidak siang-siang disingkirkan, bukankah jiwaku terancam di dalam tangannya?"
Lantas raja menduga, mestinya Tan Hong ada turunan Thio Soe Seng.
Bukankah Tan Hong menyebut-nyebut permusuhan keluarga?
Untuk dapat kepastian, ia keluarkan gambar Thio Soe Seng, yang disimpan di dalam keraton.
Melihat tampang Thio Soe Seng, raja kaget.
Tampang itu mirip dengan tampang Tan Hong.
Maka ia percaya, tak salah lagi dugaannya itu.
Karena ini, ia tak mengambil mumat lagi atas kebaikan Tan Hong, yang sudah membeber rahasia dorna dan memberikan ia nasihat, sebaliknya, ingin ia membinasakan Tan Hong.
Begitulah ia berikan tugasnya kepada In Tiong.
Thio Tan Hong, dalam tindakannya menulis surat kepada kaisar, untuk membuka rahasia dorna dan memberi nasehat, ada seumpama orang memainkan tabuhan kim terhadap seekor kerbau, hasilnya tak usah diharap.
Hanya, ada juga sedikit kebaikannya, yaitu yang mengenai Thio Hong Hoe.
Yaitu, sebelum Tan Hong tertawan, raja tidak berani mengambil tindakan apa-apa terhadap pemimpin Gielim koen dan Kimie wie itu.
Demikian, karena tugasnya ini, In Tiong seperti telah menghilang dari kota raja.
Pada hari kedua, dia sudah lantas berangkat secara diam-diam.
Dia mendapat kuda istana, kuda itu tidak dapat menandingi Tjiauwya saytjoe ma, kuda Tan Hong, akan tetapi perbedaannya tidak seberapa, cuma enam atau tujuh hari.
Setelah melewati dua propinsi Hoopak dan Shoatang, dia menuju ke propinsi Kangsouw, pada suatu hari tibalah ia di kecamatan Gouwkoan, yang bertetangga dengan kota Souwtjioe, maka itu, dia mulai memperlambat kudanya.
Jarak kedua kota itu cuma setengah hari perjalanan.
Kanglam adalah satu daerah yang indah, yang kesohor, In Tiong dapat kesempatan untuk melihat-lihat.
Pernah ia menyaksikan gurun pasir, yang gundul, yang berhawa panas, sekarang ia menyaksikan Kanglam, sungguh suatu perbedaan besar.
Ia merasa seolah-olah hatinya terbuka.
Malah ia insaf juga, sebenarnya hidup bergulat, untuk memperebutkan nama, tidak ada artinya....."
Setelah berjalan sekian lama, In Tiong singgah di depan sebuah telaga.
Ia turun dari kudanya, ia rebahkan diri di tepi telaga itu, yang airnya jernih dan indah.
Langit waktu itu bersinar kebiru-biruan.
Dekat tempat In Tiong berbaring terdapat sebuah kuburan tua, selagi berpaling ke arah kuburan itu, matanya terpaku pada batu bongpay atau nisan, yang ada huruf-hurufnya.
Ia lantas mengawasi, hingga dapat ia baca huruf-huruf ukiran itu.
Ia menjadi heran sekali.
Bongpay itu berbunyi.
"Kuburan Tantai Mie Ming."
"Tantai Mie Ming menjadi jenderal bangsa Watzu,"
Ia berpikir.
"bulan yang lalu dia masih ada di Pakkhia, kenapa sekarang di sini terdapat kuburannya. Kenapa kuburan ini beda daripada yang lainnya? Teranglah ini bukan kuburan baru....."
Keras In Tiong berpikir, ketika tiba-tiba datang satu bocah angon, di tanduk kerbaunya tergantung sejilit buku. Dengan perlahan bocah itu berjalan di tepi telaga.
"Engko kecil, numpang tanya, tempat ini tempat apa?"
In Tiong tegur bocah itu.
"Dan kuburan ini kuburan siapa?"
Bocah itu memandang orang yang menanya dia, dia tertawa.
"Tuan tentu orang yang datang dari tempat jauh,"
Ia menyahut.
"Desa ini dipanggil Tamtay Tjoen, dan telaga ini dinamakan Tamtay Ouw. Dan kuburan ini, inilah kuburan leluhur keluarga kami."
In Tiong menjadi tambah heran.
"Apa?"
Dia tanya pula.
"Kuburan kaum keluargamu?"
Bocah itu tertawa pula.
"Tuan, aku lihat kau tidak mirip dengan orang yang tidak bersekolah,"
Dia kata.
"Mustahil sampaipun Tamtay Biat Beng macam apa kau tidak tahu?"
In Tiong melengak.
"Tahukah kau akan pepatah yang berbunyi.
"Melihat orang dari romannya saja, orang akan keliru mengenali Tjoe Ie?"
Bocah itu kembali menanya. Ditanya begitu, In Tiong menjadi kurang senang.
"Ah, engko kecil, kau menguji aku!"
Dia kata.
"Pepatah itu adalah kata-katanya Khong Hoe Tjoe. Tjoe Ie adalah muridnya Khong Hoe Tjoe, dia pandai, cuma dia beroman jelek. Maka itu Khong Hoe Tjoe mengatakannya demikian. Artinya ialah supaya melihat orang tidak dari romannya saja."
"Ya, benarlah begitu,"
Kata bocah itu.
"Leluhur kami, Tamtay Biat Beng, adalah salah satu dari ke tujuh puluh dua murid Khong Hoe Tjoe, alias Tjoe Ie. Siapa saja, yang telah membaca kitab Soe Sie, pasti mengetahui tentang ini. Telaga ini mulanya adalah tempat kedudukannya rumah keluarga kami, kemudian karena suatu perubahan alam, tanah ini melesak ke dalam, lalu berubah menjadi telaga, maka itu, namanya dipanggil Tamtay Ouw. Tentang ini, dalam buku riwayat kecamatan kami, ada catatannya."
Penyahutan bocah itu membuatnya In Tiong melengak.
Guru In Tiong, yaitu Tang Gak, adalah seorang boenboe tjoantjay, yang paham ilmu surat dan ilmu silat berbareng, maka itu selama In Tiong ikuti gurunya, ia juga sekalian belajar surat, hingga pernah ia membaca buku klassik.
Memang, di antara murid-murid Khong Hoe Tjoe, ada yang bernama Tamtay Biat Beng itu.
Ia ingat sekarang bagaimana pada waktu bermula ia dengari nama Tantai Mie Ming, panglima bangsa Watzu itu, ia merasa lucu, hingga ia tertawa dalam hatinya, sebab seorang militer, malah seorang asing, memakai nama seorang yang terpelajar dalam ilmu surat pada jaman dahulu.
Ia mengira.
"Tantai"
Itu she bangsa Mongolia, begitupun nama "Mie Ming"
Itu.
Tapi sekarang ia dapat kenyataan, Tamtay Biat Beng itu benar-benar ada, malah kuburannya masih ada dikecamatan Gouwkouw ini, Kangsouw.
Tapi ia percaya, kuburan ini mungkin pernah diperbaiki oleh turunannya, meskipun bentuk kuburan, bentuk bongpay dan huruf-hurufnya sedikit mirip dengan jaman setelah kerajaan Tjin atau Han, jadi bukan kuburan buatan jaman Tjoen Tjioe.
Perbedaannya ialah dalam cara membacanya, antara Tantai M i e Ming dan Tamtay Biat Beng.
Bocah itu tertawa, ia kata.
"Melihat orang dari romannya saja, orang akan keliru mengenali Tjoe Ie, maka sekarang terbuktilah kata-katanya nabi!"
Lalu, habis mengucap demikian, ia bawa serulingnya ke mulutnya, untuk meniup lagu, sedang kerbaunya ia jalankan perlahan-lahan....."
In Tiong awasi orang berlalu, sambil memikirkan pepatah itu, yang benar-benar tepat. Ia jadi berpikir keras.
"Kalau begitu, aneh Tantai Mie Ming itu. Itulah nama orang Han. Kenapa dia memakainya sebagai she dan namanya sendiri? Sengajakah dia memakai nama sasterawan jaman dahulu itu? Tantai Mie Ming beroman keren dan jelek, ia dapat disamakan dengan Tamtay Biat Beng, tetapi tentang kepintaran dan penghidupannya tidak. Dia telah pergi dan tinggal di negara asing dengan memakai nama asing juga! Adakah ia mengandung sesuatu maksud? Yaitu ia ingin orang jangan hanya memandang ia dari romannya saja? Atau mungkinkah nama Mie Ming itu ia pakai justeru untuk diartikan sebagai kenyataannya, yaitu untuk membikin musnah kerajaan Beng? Mungkinkah Tantai Mie Ming bercita-cita demikian besar?"
Setelah beristirahat cukup, In Tiong berbangkit, untuk melanjutkan perjalanannya.
Ia memasuki dusun Tamtay Tjoen itu.
Karena ia telah peroleh kesan, masih ia pikirkan halnya Tantai Mie Ming.
Ia ingat ketika malam itu ia serang si pangeran asing di Tjengteng.
Tantai Mie Ming benar-benar kosen, tapi Mie Ming tidak menurunkan tangan jahat terhadap dirinya.
Ia ingat juga kepada pieboe di dalam rumah Thio Hong Hoe, waktu itu secara diam-diam Tantai Mie Ming telah menghalau musuh.
Ia jadi seperti dibikin pusing.
"Ah, sudahlah!"
Katanya kemudian seorang diri.
"Kenapa aku mesti pusingkan kepala bahwa dia Tantai Mie Ming atau Tamtay Biat Beng?"
Ia tertawa seorang diri, ia jalan terus.
Hari waktu itu sangat panas, In Tiong merasa sangat berdahaga, tenggorokannya kering.
Ia hanya merasa aneh, kenapa tempat itu tidak seperti kebanyakan tempat di Kanglam -umpamanya Souwtjioe dan Hangtjioe -di mana banyak kedapatan warung teh atau arak.
Sekarang, dia telah melintasi dua petak sawah di kiri dan kanannya, tapi tak tampak olehnya orang membajak sawah, di situ tidak ada warung teh atau arak.
"Mungkinkah Tamtay Tjoen ini tidak ada penduduknya?"
Akhirnya In Tiong tanya dirinya sendiri.
Ia menengok kesana kesini, ia jalankan kudanya terus.
Ia rasakan lehernya semakin kering.
Syukur baginya, akhirnya ia tampak juga sebuah warung teh model paseban dan penjualnya adalah seorang wanita tua.
Baharu sekarang ia bisa tertawa.
"Begitu jauh aku berjalan, baharu sekarang aku dapatkan tempat untuk minum teh,"
Kata dia seorang diri.
"Syukur tidak semua tempat di daerah ini ada semacam dusun ini, kalau tidak, boleh aku anggap bahwa aku tengah membuat perjalanan di padang pasir....."
In Tiong tambat kudannya, ia memasuki paseban.
"Ada tamu! Anak Beng, tuangkan teh!"
Kata si nyonya tua, yang dengan manis menyambut tetamunya.
Dari ruang dalam lantas muncul satu bocah wanita umur kira-kira empat atau lima belas tahun, ia membawa tehkoan serta cangkirnya, terus ia tuangkan teh hijau ke dalam cangkir itu, yang disuguhkan kepada tetamunya itu.
Anak dara itu berpakaian kain kasar akan tetapi dia mempunyai kulit halus.
"Memang Kanglam indah tanahnya, sekalipun penduduk desanya tak sembarang,"
Pikir In Tiong. Oleh karena iseng, In Tiong ajak si nyonya tua bicara, ia tanyakan she-nya.
"Kami di sini satu desa, semua penduduknya she Tamtay,"
Sahut orang tua itu.
"Untuk aku, cukup kau memanggilnya Tamtay Toanio."
Selagi dua orang ini bicara, satu penunggang kuda lewat di depan paseban itu. Orang ini beroman kasar. Tanpa turun dari kudanya, dia bertanya dengan suaranya yang kaku.
"Eh, orang tua, ingin aku bertanya, adakah kemarin seorang mahasiswa yang menunggang kuda putih lewat di sini atau tidak?"
"Mahasiswa berkuda putih!"
Pikir In Tiong, yang menjadi kaget sendirinya. Tidak salah, orang mesti maksudkan Thio Tan Hong. Nyonya tua itu membuka kedua matanya lebar-lebar.
"Aku tidak dengar nyata!"
Dia sahuti. Penunggang kuda itu lompat turun dari kudanya.
"Aku tanya kau, adakah kau lihat seorang anak sekolah yang naik seekor kuda putih?"
Dia ulangi pertanyaannya, suaranya keras, seolah-olah menggetarkan genteng. Nyonya itu membuka matanya dan mulutnya ternganga, tetapi ia bungkam. Gusar penunggang kuda itu.
"Taruh kata kau tuli, tapi seharusnya kau dapat melihat!"
Dia berteriak.
Dia bertindak masuk ke dalam paseban, agaknya dia hendak menjambret si nyonya tua.
In Tiong heran.
Tidak dapat ia biarkan kejadian kurang ajar itu di hadapannya, maka itu, sebelum tangan kasar si penunggang kuda mengenai si nyonya tua, ia mendahului melonjorkan tangannya sendiri, untuk mencegah.
Ia kerahkan tenaga dalam Taylek Kimkong Tjioe, karena mana, hampir saja penunggang kuda itu terpelanting.
Dia jadi kaget, dia mengawasi dengan tidak berani bertindak kasar terlebih jauh.
In Tiong pandang orang itu, ia tertawa.
"Kalau mau bicara, bicaralah dengan baik-baik, untuk apa kau bergusar?"
Katanya.
"Nyonya tua ini kupingnya kurang sempurna....."
Sebenarnya nyonya itu tidak tuli, tadi pun ia dapat bicara seperti biasa dengan In Tiong.
Si anak muda mengatakan demikian hanya untuk meredakan suasana.
Si nyonya tua tertawa mendengar perkataan orang itu.
"Kupingku ini aneh,"
Kata dia.
"Kalau suara terlalu keras, aku tidak dapat dengar, begitupun suara terlalu perlahan, aku tidak dapat dengar juga, hanya suara yang tidak keras dan tidak perlahan, baharu aku dapat dengar nyata. Tadi kau menanyakan apa? Coba kau ulangi."
Penunggang kuda itu kendalikan hawa amarahnya.
"Aku ingin menanya tentang seorang mahasiswa yang menunggang kuda putih,"
Demikian ia ulangi pertanyaannya.
"apakah dia telah lewat di sini?"
"Oh, mahasiswa penunggang kuda putih?"
Kata si orang tua.
"Ya, benar! Kemarin ada seorang mahasiswa menunggang kuda putih, tepat pada waktu seperti ini telah lewat di sini. Dia malah telah meninggalkan pesan kepadaku, yaitu kalau ada orang yang menanyakan tentang dia, dia minta disampaikan undangannya pada orang itu untuk besok tengah hari pergi ke Souwtjioe guna membuat pertemuan di Koaywa Lim, dia akan mengundang minum arak."
Begitu dengar jawaban itu, tanpa berkata suatu apa lagi, si penunggang kuda lari kepada kudanya, lalu lompat naik ke bebokongnya, untuk segera dikaburkan.
Si nyonya tua mengawasi sambil tertawa dingin.
"Anak Beng, kau catat!"
Dia berkata. Nona muda tadi, yang duduk di satu pojok sambil menyulam, menyahuti.
"Sudah dicatat!"
Terus dia balik sulamannya, maka di situ terlihat sulaman dari tujuh tangkai bunga merah, ada yang benar, ada yang kecil. Ia pun menambahkan.
"Inilah yang ke tujuh!"
In Tiong berdiam, ia merasa heran.
Ia duga nyonya tua dan si nona muda itu bukan sembarang orang.
Tapi ia tidak takut, ia percaya akan kepandaiannya sendiri.
Maka itu, ia pun tidak ambil mumat pantangan kaum kangouw untuk jangan lancang mencampuri utusan lain orang.
"Siapakah mahasiswa penunggang kuda putih itu?"
Demikian ia tanya.
"Dan di manakah letak Koaywa Lim?"
Nyonya tua itu pandang tetamunya, ia tertawa.
"Tuan, kau seorang baik, aku suka memberi keterangan padamu,"
Ia jawab.
Koaywa Lim letaknya di dalam kota Souwtjioe, itu adalah tempat untuk menghamburkan uang.
Katanya dahulu, pada masa Thio Soe Seng menjadi kaisar di Souwtjioe, di sana ia telah membangun satu istana peristirahatan.
Kemudian, ketika Thio Soe Seng terbinasa dalam peperangan, Koaywa Lim disita pembesar negeri, sebab dipandang sebagai milik pemberontak, lalu dijual.
Sekarang ini pemilik dari Koaywa Lim itu adalah Kioetauw Saytjoe In Thian Sek si Singa Berkepala Sembilan, dia membuatnya menjadi taman yang besar, menjadi tempat pelesir dan judi, hingga dia mendapat untung besar terdiri dari uang tak halal, uang itu terus dipakai membeli sawah dan tanah, sampai dia membelinya ke-kecamatan Gouwkoan ini.
Begitulah, tanah di dusun Tamtay Tjoen ini, dalam sepuluh bahagian, tujuh atau delapan bahagian telah menjadi kepunyaannya."
"Jikalau begitu, Kioetauw Saytjoe itu adalah okpa besar!"
Kata In Tiong. Dia menyebutnya "okpa," -"hartawan jagoan."
"Bagaimana mengenai si mahasiswa berkuda putih? Apakah hubungannya dengan dia itu?"
"Nanti aku jelaskan,"
Sahut si nyonya tua, yang suka berbicara dengan anak muda ini.
"Tempat di mana pasebanku ini berdiri adalah tanah miliknya Kioetauw Saytjoe, setiap bulannya dia pungut sewa sebanyak tiga tail enam tjhie. Mengenai sewa tanah itu, kami sudah berhutang tiga bulan. Kemarin Kioetauw Saytjoe mengirimkan dua guru silatnya, mereka ini memaksa hendak membawa anak Beng untuk dijadikan budak, katanya sebagai tanggungan dari hutang kami itu. Kebetulan tengah kita berbicara, si mahasiswa penunggang kuda putih itu lewat di sini, dia singgah, begitu dia ketahui duduknya perkara,dia lantas tolongi kami membayar hutang itu. Itu belum semua, dia juga telah menghajar kedua guru silat itu hingga mereka sungsang sumbel."
Si nona muda tiba-tiba campur bicara.
"Tetapi, ibu, si mahasiswa itu tidak memukul orang itu! Sebaliknya kedua guru silat itu yang memukul padanya! Ah, sungguh menarik hati! Baharu saja kepalannya kedua guru silat itu mengenai tubuh si mahasiswa, lantas mereka menjerit kesakitan, sama sekali tidak terlihat si mahasiswa membalas menyerang, tahu-tahu kedua guru silat itu rubuh terguling-guling. Ketika kemudian mereka dapat merayap bangun, aku lihat kepalan mereka menjadi bengkak matang biru, sebesar mangkok! Tuan, kau tentu banyak pengalaman, luas pengetahuanmu, tahukah kau ilmu silat apa yang digunakan si mahasiswa itu?"
"Aku tidak tahu,"
Jawab In Tiong, sekalipun ia tahu betul, si anak muda pasti telah menggunakan tipu silat Tjiamie sippattiat atau sebangsanya yang liehay.
"Kedua guru silat itu tidak berdaya, cuma mulutnya yang besar,"
Kata si nyonya tua.
"Begitulah terhadap si mahasiswa berkuda putih itu, mereka menantang, katanya. Jikalau kau benar laki-laki, pergilah ke Koaywa Lim untuk menemui Kioetauw Saytjoe kami. Atas itu, si mahasiswa tertawa besar, sambil tertawa melenggak, dia jawab. Lagi dua hari, akan aku pergi menemui dia! Hendak aku lihat, bagaimana galaknya Kioetauw Saytjoe itu!"
In Tiong heran. Ia jadi berpikir.
"Thio Tan Hong pergi ke Souwtjioe terang-terang untuk mencari harta benda leluhurnya, kenapa sekarang dia mencampuri urusan ini? Dia telah bertentangan dengan satu okpa besar, apa dia tidak kuatir rahasianya nanti terbuka? Jikalau dia hendak berbuat baik, sudah cukup bila dia menghajar kedua guru silat itu dan menolong melunaskan hutang sewa tanah nyonya tua ini dan anaknya. Di kolong langit ini, bangsa okpa sangat banyak dan tak akan habis dengan dihajar saja..... Bukankah dia mempunyai urusan sangat penting, cara bagaimana dia dapat dengan gampang berlaku usilan?"
Berpikir sampai di situ, In Tiong tetap tidak mengerti.
Ia ingat, Thio Tan Hong itu cerdik sekali, tindak tanduknya senantiasa secara rahasia, yang mengandung maksud dalam dan sukar diduga-duga.
Si nyonya tua belum bercerita habis, maka itu dia menambahkan.
"Mahasiswa penunggang kuda putih itu, setelah menghajar kedua guru silat hingga mereka itu kabur pergi, sudah lantas berkata kepadaku. pergi kau beritahukan semua orang lelaki di desamu ini, titahkan mereka untuk pergi ke Koaywa Lim guna menyaksikan keramaian, di sana aku mempunyai uang untuk dibagi-bagikan kepada mereka. Tuan, kau tentu tidak menghendaki uangnya itu, sebaliknya, kau tentu sudi menonton keramaian, bukan?"
In Tiong manggut.
"Sudah lama aku dengar perihal keindahan taman-taman di Souwtjioe,"
Ia menyahut.
"kebetulan akan ada keramaian, sudah pasti aku suka pergi ke sana!"
Habis berkata, ia membayar tehnya sambil melirik kepada si nona muda, maka terlihatlah olehnya, nona itu sudah menyulam bunga merah yang ke delapan!
In Tiong kaburkan kudanya, yang dapat lari keras, sebelum matahari terbenam, dia sudah sampai di Souwtjioe.
Yang pertama ia lihat adalah jalan besar yang lantainya berbatu besar kecil dan berwarna belang, yang teratur rata dan rapih, sedang rumah-rumah nampaknya indah, umumnya berbeda daripada yang biasa terlihat di lain-lain kota.
Juga terdapat banyak pohon-pohonan, umpamanya pohon-pohon gouwtong dan yanglioe, yang muncul keluar dari tembok-tembok pekarangan.
Rumahnya di mana-mana terdapat taman.
Jadi Souwtjioe beda jauh sekali daripada gurun pasir.
Diam-diam ia menghela napas dan berkata dalam hatinya.
"Benarlah perkataan, Sang Yoe Thian Tong, Hee Yoe Souw Hang!....."
"Siang Yoe Thian Tong, Hee Yoe Souw Hang"
Berarti.
"Di atas langit ada sorga, di muka bumi ada kota-kota Souwtjioe dan Hangtjioe."
Berhubung dengan tugasnya, In Tiong lantas pergi ke kantor soenboe.
Ia minta keterangan tentang tujuh pahlawan dari kota raja, yang diperbantukan kepadanya.
Ia dapat kenyataan, belum satu dari ke tujuh orang itu yang tiba.
Tapi ia mesti menjalankan tugas, tanpa pembantu, ia suka lantas bekerja.
Bukankah ia telah mendengar halnya Thio Tan Hong, ke mana tujuan si mahasiswa berkuda putih itu?
Begitulah, malam itu ia beristirahat, lalu besok paginya, dengan dandan sebagai rakyat jelata, ia menuju ke Koaywa Lim, taman penglipur.
Koaywa Lim terletak di luar kota Souwtjioe sebelah utara.
Itu adalah satu taman yang luas.
Begitu sampai di pintu, orang dapatkan lorong yang panjang, yang banyak tikungannya, sedang di kedua belah temboknya, terdapat banyak sekali tulisan-tulisan jaman dulu.
Rupanya pemilik taman tak tahu cara melindungi huruf-huruf itu, waktu itu banyak huruf yang telah gugur dan tampaknya tak tegas lagi.
In Tiong tidak mengenal tulisan-tulisan bagus itu tetapi ia menyayangi, ia menghela napas.
Setelah melewati lorong, di kiri dan kanan lantas tampak pelbagai macam pohon, pohon kayu dan bunga, bambu dan tumpukan-tumpukan batu, yang merupakan gunung buatan, ada selatnya, empang teratai dan pasebannya, yang semuanya indah.
Yang disayangi ialah di mana-mana dalam taman itu terdapat tempat-tempat perjudian, ada banyak pelancongnya, hingga di situ berisik dengan teriakan-teriakan mereka itu.
Tentu saja, suasana itu tak tepat dengan keindahan taman.
Diam-diam In Tiong memasang mata.
Dengan lantas ia dapat kenyataan, di mana-mana terdapat orang-orang sebagai si tukang pukul, yaitu gundal-gundal.
Rupa-rupanya Kioetauw Saytjoe sudah bersedia-sedia untuk menyambut tantangan si mahasiswa berkuda putih, karenanya dia telah menyiapkan orang-orangnya itu.
Dengan sikapnya sebagai pelancong biasa, In Tiong cari satu tempat di mana ia dapat memperhatikan sesuatu sambil duduk beristirahat, akan tetapi, sampai lewat tengah hari, ia masih belum tampak Thio Tan Hong muncul.
Mungkinkah, karena sesuatu hal, Tan Hong mengadakan perubahan dengan mendadak, hingga ia tak datang hari ini?"
Ia menerka-nerka.
Justeru ia tengah menduga-duga, apa yang menjadi sebab hingga Tan Hong gagal menetapi janji, tiba-tiba kelihatan serombongan orang mendatangi dengan suara yang berisik.
Yang menjadi kepala adalah seorang berumur lima puluh tahun, yang mukanya berewokan.
"Kioetauw Saytjoe, hari ini aku datang untuk bertaruh denganmu, untuk main, guna melewatkan waktu yang terluang!"
Begitu terdengar suaranya yang besar dan nyaring. Sejenak saja, taman menjadi sunyi, semua orang berhenti berjudi. In Tiong lantas dengar beberapa orang bicara berbisik. Antaranya ia dengar nyata.
"Liong pangtjoe dari Hay liong Pay telah tiba. Teranglah dia mempunyai maksud untuk merubuhkan panggung Kioetauw Saytjoe. Maka lantas juga kita akan menyaksikan keramaian!....."
In Tiong menjadi heran.
Inilah di luar dugaannya.
Dia muncul di situ untuk menantikan Thio Tan Hong, siapa tahu sekarang telah datang Liong Pangtjoe, Ketua Liong atau Naga, dari Hayliong Pang atau Kawanan Naga Laut.
Dari pendengaran terlebih jauh, ia percaya Hayliong Pang Pangtjoe itu mesti ada salah satu okpa dari kota Souwtjioe.
Dari sebelah depan, menghadapi rombongan Hayliong Pang itu, dari antara rombongan orang banyak, yang lantas membuka jalan, kelihatan muncul satu orang yang tubuhnya kasar, alisnya tebal, matanya besar.
Dia mengenakan thungsha, baju panjang, yang dilapis dengan makwa, semacam rompi, atau baju pendek tanpa tangan.
Dia unjuk sikap sebagai satu anak sekolah, yang lemah lembut, tetapi dandanannya tak tepat dengan romannya dan lagaknya.
Ia pun diiringi tujuh atau delapan boesoe, guru silat.
Ia maju menghampiri Liong Pangtjoe, terus dia angkat kedua tangannya, lalu dirangkapkan, untuk memberi hormat.
"Liong Pangtjoe, hari ini angin apa telah meniup kau sampai di sini?"
Dia tanya. Dia mencoba bersikap ramah tamah.
"Silakan duduk, silakan duduk! Mari kita minum teh! -Eh, anak-anak, lekas kamu perintahkan supaya lekas disajikan beberapa rupa kuwe!"
Orang telah bersikap manis tetapi si Liong Pangtjoe, dengan roman keren, membawa sikap dingin.
"Kioetauw Saytjoe, hari ini aku ketagihan,"
Demikian jawabnya.
"maka itu sengaja aku datang kemari, untuk bertaruh denganmu! Untuk minum teh, jangan kau kesusu, marilah kita bertaruh dahulu!" ' Nampaknya Kioetauw Saytjoe In Thian Sek agak jeri terhadap Ketua dari Hayliong Pang itu, dia diperlakukan demikian kasar dan dingin, masih dia bisa tertawa manis.
"Kita berdua bersahabat, untuk apa kita membuat renggang persahabatan itu?"
Berkata ia, dengan sabar.
"Kau hendak menitahkan apa? Titahkanlah asal saja yang adikmu sanggup kerjakan!"
Ketua Hayliong Pang itu kembali tertawa dingin.
"Lao In, siapa yang membuka rumah makan, mustahil dia jeri terhadap perut besar dari tetamu-tetamunya?"
Begitu dia menjawab.
"Kau telah membuka rumah judi, mana dapat kau tolak aku yang telah datang untuk turut adu peruntungan? Apakah kau kuatirkan aku tidak punya uang? Kau tanyakan padaku, apa yang aku hendak titahkan padamu! Nah, aku menghendaki kau berjudi dengan aku! Kau sanggup melakukan ini, bukan?"
Habislah kesabaran dari In Thian Sek, mukanya menjadi pucat. Maka berkatalah ia.
"Setiap orang ada mukanya, setiap pohon ada kulitnya, karena kau telah mendesak aku di muka orang ramai ini, tidak ada jalan lain, terpaksa aku temani kau! Baiklah! Kau hendak bertaruh apa?"
"Main dadu paling menyenangkan!"
Sahut Liong Pangtjoe.
"Kita lempar dadu! -Eh, Lao Kwee, tanganmu dingin, mari kau wakilkan aku melemparnya! -Dan kau, Lao In, apakah kau hendak melemparkan sendiri atau diwakilkan oleh guru besarmu?"
Setelah mengucap demikian, dari rombongan Hayliong Pang muncul satu orang tua kurus kering yang romannya tak luar biasa, sambil membuka kopiah kulitnya, dia berkata kepada In Thian Sek.
"Aku Kwee Hong, toako, terimalah hormatku!"
Selama dia belum membuka kopiahnya, orang tua itu memang beroman biasa, akan tetapi setelah kepalanya tak bertutup lagi, dia membuatnya semua orang heran.
Nyata dia mempunyai rambut yang semuanya berwarna merah, rambut itu kusut seperti awan, numpuk di batok kepalanya.
In Tiong malah terkejut, karena ia kenali orang tua itu.
"Ah, kiranya dia adalah Anghoat Vauwliong Kwee Hong!"
Kata dia dalam hatinya. Dia pun heran.
"Kenapa dia datang kemari?"
Kwee Hong adalah pahlawan dorna kebiri Ong Tjin, dalam seluruh tahun, dia keram diri di dalam gedung Soelee Thaykam she Ong itu, karena tugasnya adalah melindungi diri si thaykam.
Jarang sekali dia pergi ke mana-mana, maka itu jangan kata orang kangouw jarang mengetahui dia, malah pahlawan atau guru-guru silat di kota raja sendiri, tak banyak yang pernah melihat dia.
Keistimewaannya adalah rambutnya yang merah itu.
In Tiong juga belum pernah melihat Kwee Hong, ia hanya pernah mendengar dari Thio Hong Hoe, baharu sekarang, ia melihat untuk pertama kalinya, sesudah orang perkenalkan diri sambil membuka kopiahnya.
Oleh karena rambutnya juga, Kwee Hong telah memakai julukan itu, Anghoat Yauwliong, si Naga Siluman Rambut Merah.
"Inilah aneh,"
In Tiong berpikir pula.
"Ong Tjin telah menjadi hartawan, kenapa dia utus pahlawannya datang kemari untuk dengan satu okpa merebut sebuah taman? Dan Kwee Hong sendiri, karena kedudukannya sebagai pahlawan dorna, tidak sepantasnya dia menjadi kawan atau pembantu seorang pangtjoe. Benar-benar aneh!"
Sementara itu, Kioetauw Saytjoe In Thian Sek telah menjawab Liong Pangtjoe.
"Oh, Kwee Soehoe yang mewakilkan kau?"
Katanya.
"Baiklah, aku tidak akan memakai wakil, aku akan turun tangan sendiri."
Liong Pangtjoe itu lantas saja tertawa terbahak-bahak.
"Bagus!"
Serunya. Di sini ada cek seharga sepuluh laksa tail, inilah cek dari bank besar. Kau lihat biar tegas! Dengan satu dadu, aku bertaruh sepuluh laksa tail perak!"
"Ditanganku tidak ada uang demikian banyak,"
Berkata In Thian Sek. Liong Pangtjoe tertawa pula, sampai dia melenggakkan kepalanya.
"Apakah kau sangka aku tidak tahu tentang kekayaanmu?"
Dia kata.
"Sawah, kebun dan toko-tokomu berharga empat puluh laksa tail, dan taman Koaywa Lim ini juga berharga empat puluh laksa tail, jadi dengan begitu, kau mempunyai pokok berjudi delapan puluh laksa tail! Maka itu, janganlah kau kuatirkan suatu apa....."
In Thian Sek menjadi mendongkol. Tapi ia tertawa bergelak.
"Oh, kiranya kau memikir untuk memiliki Koaywa Lim ini?"
Dia kata.
"Ah, jangan kau mengatakan demikian. Apa benar, sebelumnya kalah, kau sudah jeri?"
Tanya Liong Pangtjoe.
"Aku kuatir kau tak akan berhasil dengan maksudmu,"
In Thian Sek baliki.
"Baiklah! Silakan periksa dulu dadunya."
Kwee Hong lantas periksa dadu itu.
"Kwee Toako, dadu itu tidak palsu bukan?"
Liong Pangtjoe tanya kawannya. Kwee Hong tidak menyahuti, dia hanya angsurkan dadu kepada In Thian Sek.
"Kioetauw Saytjoe, kau adalah tuan rumah, silakan kau yang mulai!"
Kata ia. In Thian Sek sambuti biji-biji dadu itu, segera saja ia lemparkan sambil berseru.
"Satu"
Lantas enam biji dadu itu berputaran di dalam mangkok yang besar dan cekung. Dan menyusul itu, seorang membuka suaranya.
"Dua, enam! satu, empat! Enam belas! Toa"
Dalam perjudian dadu itu, angka terbesar adalah delapan belas, maka itu, untuk mendapatkan biji enam belas pun sukar, meski demikian, In Thian Sek telah menyeka keringat dingin ketika ia kata kepada lawannya.
"Nah, orang she Kwee, kau susullah aku!"
Orang tua berambut merah itu bersenyum, dengan sikap sangat tenang, dia raup semua biji dadu itu, kemudian dengan lekas dia gerakkan jeriji-jeriji tangannya, lalu dilemparkan.
Segera tukang tunggu biji pun berseru.
"Dua, enam! satu, lima! Tujuh belas! Toa\"
Dengan mengatakan "Toa,"
Bandar maksudkan angka besar. Paras Kioetauw Saytjoe menjadi pucat.
"Ha, ada saitannya!"
Dia berseru.
"Mari, lagi satu kali!"
"Baik!"
Sambut si orang tua rambut merah.
"Kali ini kita bertaruh dua puluh laksa tail!"
Tangan Thian Sek berkeringatan, suaranyapun agak gemetar ketika ia berteriak.
"It sek"
Berbareng dengan itu, biji-biji dadu pun telah dilemparkan. Bandar lantas perdengarkan suaranya seperti biasa.
"Dua, enam, satu lima! Bagus! Kembali tujuh belas!"
Mendapat angka tujuh belas berarti kemenangan hampir pasti, maka itu kali ini In Thian Sek tampak bersenyum.
Seperti lagaknya tadi, si orang tua tidak mengatakan sesuatu, dengan tenang ia raup gambar biji-biji dadu itu, untuk segera dilemparkan, nampaknya ia seperti acuh tak acuh.
Para hadirin segera berubah parasnya.
Bandar pun berteriak.
"Tiga merah, empat! Itsek"
Itsek itu, satu warna, apapula warna merah, adalah angka paling besar. Si orang tua berambut merah tertawa, dia kata dengan sabar.
"Kau memanggilnya, dia tidak datang! Aku tidak memanggil, dia justeru datang! Nah, mari kita main terus! Kali ini tarohannya empat puluh laksa tail!"
In Thian Sek menyeringai, tapi ia terima tantangan itu. Merah urat-urat di dahinya.
"Sekarang, kau yang melempar lebih dulu!"
Dia kata.
"Baik!"
Sahut si orang tua muka merah itu.
"Akan aku melempar lebih dahulu!"
Baca Juga: Pendekar Gelandangan 4
Baca Juga: Meteor Kupu Kupu Dan Pedang Gu Long