Eps 1 Pendekar Wanita Penyebar Bunga - Liang Ie Shen
Baca online Pendekar Wanita Penyebar Bunga - Liang Ie Shen
Cersil Pendekar Wanita Penyebar Bunga - Liang Ie Shen.
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com/ . Pendekar Wanita Penyebar Bunga San Hoa Lie Hiap Karya . Liang Ie Shen Saduran . Bu Beng Cu
Jilid 1 Suara tertawanya sekawanan anak nakal telah memecahkan kesunyian suatu dusun pegunungan.
Pesta Goan-siauw (Capgomeh) baru lewat tiga hari, tapi sang bunga sudah mekar di seluruh lembah.
Entah gunung Couwlay san yang menahan angin utara barat, entah musim semi memangnya datang terlalu siang, tapi kenyataannya adalah daerah pegunungan itu seakan-akan sudah ditutup dengan rangkaian bunga yang beraneka warna.
Couwlay san terletak di propinsi Shoatang, sebelah utara Sungai Besar (Tiangkang),akan tetapi keadaannya pada waktu itu adalah seperti suasana dalam musim semi di daerah Kanglam (sebelah selatan Sungai Besar).
Di sana-sini orang dapat melihat beberapa rumah penduduk yang bersembunyi di antara pohon-pohon yang rindang daunnya.
Di luar dusun, di sebidang tanah yang agak datar, terdapat satu empang besar, entah milik siapa.
Kawanan anak nakal itu sedang bermain-main di pinggir empang, dengan disoroti oleh matahari lohor yang hawanya hangat.
Ada yang sedang menangkap kutu-kutu kecil tanpa memakai baju, ada yang berlari-lari main petak dan sebagainya.
Di antara mereka terdapat seorang anak yang macamnya agak luar biasa.
Anak itu berusia kira-kira dua belas tahun, mukanya yang hitam agak berminyak di bawah sinar matahari, kedua kakinya yang telanjang memperlihatkan urat-urat yang berwarna hijau, badannya tegap, sedang paras mukanya yang seperti jagoan memberi kesan bahwa dia itu adalah pemimpin dari kawan-kawannya.
Mendadak ia membuka baju.
"Hei!"
Ia berseru.
"Siapa berani turut aku turun ke empang menangkap ikan?"
Meskipun dihangatkan sinar matahari, tapi tanpa baju kapas, hawa dingin masih terlalu hebat.
Kawanan anak nakal itu saling mengawasi, tak satu pun yang berani menurut contohnya si Hitam.
Salah seorang berjongkok dan mencelupkan sebelah tangannya ke dalam air.
"Fui!"
Ia berseru.
"Siauw Houwcu (si Harimau Kecil), otakmu benarbenar miring!Air luar biasa dinginnya, kau mau menyebur, nyeburlah sendiri."
Si Hitam yang dina makan "Siauw Houwcu"
Senyum tawar, kedua matanya menyapu kawan-kawannya."Setan-setan pengecut!"
Ia berteriak.
"Tak ada satu yang berani nyebur?"
Kawan-kawannya semua menggelengkan kepala sembari tertawa. Siauw Houwcu mengawasi satu kawannya dan berseru.
"Siauw-liong (si Naga Kecil)! Kau saja turut aku!"
"Aku lebih suka berlutut tiga kali dihada-panmu!"
Jawab Siauw-liong.
"Baiklah,"
Kata si Hitam.
"Mari sini kau!"
Ia jambret bajunya Siau-wliong yang lantas didorong.
"Plung!", Siauwliong kecebur, lalu disusul olehnya. Ia ambil segenggam lumpur yang lalu dipoleskan di mukanya Siauwliong. Kawan-kawannya lantas saja menepuk-nepuk tangan sambil berteriak-teriak kegirangan.
"Dingin! Mati aku!"
Berteriak Siauwliong, badannya menggigil.
"Justa!"
Berteriak si Hitam sembari nyengir.
"Kau pakai baju kapas, mana bisa dingin?"
"Baju ini baju baru,"
Kata Siauwliong, meringis.
"Baru dijahit oleh ibu."
Siauw Houwcu tidak menggubris, ia terus mengeduk lumpur yang langsung dipoleskan ke muka dan bajunya Siauwliong.
Selagi ramai bersen-da gurau, kawanan anak nakal yang berada di daratan mendadak menengok ke belakang dan suara tertawa tiba-tiba berhenti.
Siauw Houwcu meno-ngolkan kepalanya dari dalam air dan melihat, dari dalam selat gunung muncul tiga orang yang menunggang kuda.
Di sebelah barat Couwlay san terdapat jalan raya yang menerus sampai di kota Ceelam.
Dahulu, antara jalan raya tersebut dan dusunnya Siauw Houwcu terdapat sebuah jalan gunung yang cukup baik.
Akan tetapi, oleh karena diserang banjir dan lama tak pernah dibikin betul, maka sekarang jalan gunung itu sudah jadi rusak sekali.
Penduduk dusun yang berjalan kaki masih dapat juga menggunakan jalan itu, akan tetapi, bagi orang luar, terutama yang menunggang kuda, jalan tersebut sungguh sukar dilewati.
Dusun tersebut yang dikurung gunung-gunung, sebegitu jauh belum pernah kedatangan tetamu.
Maka dapatlah di mengerti, jika kawanan anak nakal itu menjadi sangat heran melihat kedatangannya tiga penunggang kuda itu, dua antaranya adalah perwira tentara yang memakai sepatu tinggi, sedang yang satunya lagi adalah seorang laki-laki brewokan yang kedua matanya bersinar terang dan berusia tiga puluh tahun lebih.
Sebaliknya ketiga tetamu itu pun tak kurang herannya melihat kawanan anak nakal tersebut, terlebih pula ketika Siauw Houwcu muncul dari dalam air dengan celana kuyup.
Pakaian ketiga penunggang kuda itu, walaupun terbuat dari sutera, kelihatan compang-camping dan penuh debu, seperti juga mereka baru habis berkelahi.
Kedua perwira itu agaknya lelah sekali dan pada bajunya terlihat noda-noda darah.
Pada jalan gunung di mulut dusun terdapat lubang akibat banjir, yang lebarnya kira-kira dua tombak.
Lubang itu belum ditutup dan di atasnya hanya dipasangkan beberapa lembar papan kayu, yang selalu bergoyang-goyang jika ditiup angin dan tak mungkin dapat dilewati kuda yang badannya berat.
Begitu tiba di depan lubang, mereka loncat turun dari kudanya dengan niatan turun ke bawah untuk melewati solokan itu.
Siauw Houwcu yang berdiri di tengah empang, mengawasi tiga tetamu itu dengan sorot mata tajam, tanpa berkata suatu apa.
Melihat sikapnya si Hitam, perwira yang jalan paling dulu berpaling ke belakang.
"Loohoan,"
Katanya kepada lelaki brewokan.
"Mula-mula aku sunguh tak percaya bahwa di dalam dusun ini bersembunyi orang pandai. Tapi sekarang ternyata, bahwa mungkin sekali di sini terdapat naga atau harimau yang menyembunyikan dirinya."
Orang yang dipanggil "Loohoan"
Senyum lebar sembari tuntun kudanya turun ke solokan.
Tiba-tiba di belakang mereka terdengar berbengernya kuda.
Larinya binatang itu luar biasa cepat.
Barusan saja, ditaksir dari suaranya, dia masih berada kira-kira setengah lie jauhnya, tapi di lain detik, binatang itu tahu-tahu sudah berada di belakang mereka!
Sebelum sempat menengok, mereka merasakan kesiuran angin yang sangat tajam dan satu bayangan hitam loncati kepala mereka, akan kemudian hinggap di seberang solokan!
Ternyata, kuda itu bersama penunggangnya sudah meloncati solokan itu yang lebarnya kira-kira dua tombak.
Kedua perwira dan "Loo-hoan"
Saling mengawasi dengan perasaan terkejut, sedang kawanan anak nakal itu bersoraksorai dengan girangnya.
Begitu tiba di seberang, si penunggang kuda lantas saja turun dari tunggangannya yang ke empat kakinya putih bagaikan salju, sedang badannya penuh dengan totol-totol putih.
Kedua perwira itu adalah orang-orang yang banyak pengalamannya dan pernah melihat beribu-ribu kuda jempolan, tapi mereka sungguh belum pernah melihat kuda yang sebagus itu.
Orang yang dipanggil "Loohoan"
Lebih-lebih kaget.
"Apakah dia kembali munculkan diri dalam dunia Kangouw?"
Ia menanya dalam hatinya.
Begitu melihat tegas macamnya si penunggang kuda, mereka terkesiap.
Ia itu adalah seorang pemuda yang baru berusia kira-kira enam belas tahun, badannya kurus dan mukanya cakap luar biasa, dengan kulit yang putih laksana batu pualam.
Sembari menuntun kuda, perlahan-lahan, dengan tindakan ayu, ia menghampiri kawanan anak nakal itu.
Gerakan-gerakan badannya ada sedemikian rupa, sehingga, jika ia tidak mengenakan baju busu (orang yang pandai silat), orang tentu akan menduga, bahwa ia itu adalah wanita cantik yang menyamar sebagai lelaki.
Kawanan bocah nakal yang barusan lari berpencaran akibat "terbangnya"
Si penunggang kuda, sekarang sudah berkumpul kembali.
Mereka jadi hilang takutnya oleh karena melihat penunggang kuda itu adalah seorang muda yang usianya cuma lebih tua sedikit dari mereka dan pada bibirnya yang merah, tersungging senyuman ramah tamah.
Sembari menggapai ke tengah empang, pemuda itu berkata.
"Eh, sahabat kecil! Kau naiklah!"
Siauw Houwcu merangkak naik ke darat, sikapnya yang kaku berbeda dengan lain-lain kawannya.
"Eh, aku tidak mengenal kau, untuk apa kau panggil-panggil aku?"
Ia menanya sembari mendelikkan matanya.
Badan Siauw Houwcu yang jangkung hanya lebih kate (pendek) sedikit dari pemuda itu.
Melihat sikap menantang itu, si pemuda jadi tertawa, suaranya merdu nyaring, bagaikan kelenengan perak.
"Tertawa apa kau?"
Menanya Siauw Houwcu, agak kaget.
"Kau tertawai mukaku jelek, bukan?"
Dengan mukanya yang seperti pantat kuali dan badannya yang telanjang, Siauw Houwcu kelihatan sangat lucu, terutama ketika ia membetulkan celananya yang merosot turun.
Mukanya si pemuda bersemu dadu dan kemudian ia berkata pula.
"Siapa kata, mukamu jelek? Sebaliknya, mukamu sungguh menarik. Apa tak dingin menangkap ikan di empang itu?"
"Tidak", jawabnya.
"Hanya kawanan setan pengecut yang takut dingin. Hm! Aku malahan kepanasan!"
Pemuda itu senyum-senyum urung.
"Benar,"
Katanya.
"Aku pun merasa gerah. Orang-orang gagah memang tak takut dingin."
Sehabis berkata begitu, ia mengeluarkan sebuah kipas indah dan segera berkipas-kipas dengan perlahan, sambil mengusap-usap mukanya yang berkeringat.
Sikap Siauw Houwcu berobah, ia mengawasi sembari tertawa-tawa.
"Yah", katanya.
"Boleh juga kau mendapat julukan orang gagah. Eh, untuk apa kau panggil aku?"
"Aku mau tanya, di mana rumahnya Thio Toasiok (Paman Thio)?"
Kata si pemuda. Pertanyaan si pemuda disambut dengan suara tertawa oleh kawanan anak nakal itu.
"Thio Toasiok?"
Berkata salah seorang anak.
"Thio Toasiok adalah ayahnya sendiri. Kau tak tahu?"
Pemuda itu jadi girang sekali.
"Ha!"
Ia berseru.
"Kalau begitu, dugaanku tepat sekali. Siapa namamu?"
"Namanya Thio Houwcu. Siauw Houwcu."
Seorang anak mendahului.
"Oh, Siauw Houwcu?"
Kata si pemuda.
"Siauw Houwcu! Tolong kau antarkan kepada ayahmu."
Siauw Houwcu tidak tertawa lagi. Ia mengawasi dengan mata dibuka lebar-lebar.
"Kau ingin bertemu dengan ayahku?"
Menanya ia.
"Benar,"
Jawab si pemuda.
"Antarlah aku. Sebentar aku persen kembang gula."
Mendadak si Hitam angkat kedua tangannya yang penuh lumpur, dan sebelum orang dapat menduga, ia berbuat apa, kedua tangan itu sudah me-nyamber ke arah muka si pemuda!
Kawan-kawannya mengeluarkan seruan tertahan.
Semua orang mengetahui, bahwa si Hitam nakal luar biasa.
Akan tetapi, bahwa dia berani berlaku begitu kurang ajar terhadap seorang tetamu, adalah di luar dugaan kawankawannya.
Si pemuda pun kelihatan agak terkejut, tapi pada bibirnya terus tersungging senyuman manis.
"Siauw Houwcu, aku tak mempunyai tempo buat main-main dengan kau,"
Katanya sembari mengipas. Kipasan itu mengeluarkan sambaran angin tajam dan air berlumpur lantas saja berbalik menghantam mukanya si Hitam. Kedua perwira dan "Loohoan"
Kaget bukan main. Sedikitpun mereka tidak menduga, bahwa pemuda itu mempunyai tenaga dalam yang begitu kuat dan dapat mengeluarkan ilmu menimpuk dengan senjata rahasia yang sedemikian indah.
"Plung!"
Siauw Houwcu sudah menyebur lagi ke dalam air.
"Aku juga tak mempunyai tempo untuk mengantar kau,"
Ia berseru.
"Hm! Ayahku tak sudi menemui siapa juga. Apa pula kau!"
"Tapi mungkin ayahmu suka menemui aku,"
Kata si pemuda sembari tertawa.
"Tidak! Tidak!"
Berteriak Siauw Houwcu.
"Ayahku tak suka bertemu dengan siapa juga. Pergi! Pergi kau!"
"Siauw Houwcu, jangan kau terlalu nakal,"
Kata si pemuda.
"Antarlah aku. Kau lihat! Aku mempunyai sebotol kembang gula."
"Apa anehnya kembang gula?"
Menjawab si nakal.
"Jangan ganggu aku! Kalau nyalimu besar, turun kemari!"
Ia tepuktepuk air yang pada muncrat ke atas. Si pemuda mengerutkan kedua alisnya. Ia agaknya merasa sedikit mendongkol.
"Siauw Houwcu, jika kau membandel, aku akan paksa kau naik!"
Kata ia.
"Setan kecil!"
Memaki si Hitam.
"Jangan sombong! Kakekmu sekali kata tak naik, tetap tak naik!"
"Kau tak percaya?"
Kata si pemuda sembari tertawa.
"Aku kata kau naik, kau mesti naik!"
Ia membungkuk dan memungut beberapa batu kecil.
Ia mengayun tangannya dan menimpuk air empang dengan sebutir batu.
Heran sungguh, orangnya begitu muda, tenaga dalamnya si pemuda begitu kuat.
Begitu mengenakan air, batu itu menerbitkan gelombang hebat dan kemudian air kotor menyambar ke arah si Hitam.
Buru-buru Siauw Houwcu menyelam, tapi begitu lekas ia menongolkan kepala, si pemuda lalu menimpuk pula dengan batunya.
Dengan cepat, Siauw Houwcu terdesak ke pinggir empang, Siauw Houwcu bukan saja tidak dapat menyelam terlalu lama, akan tetapi, walaupun berada di dalam air, ia selalu harus berjaga-jaga jangan sampai kesambar batu.
Siauwliong menonton pertunjukan itu dengan hati berdebar-debar.
Meskipun batu-batu itu bukan ditujukan kepadanya, akan tetapi, sebagai seorang kawan, ia sangat kuatirkan keselamatannya si Hitam.
Tiba-tiba Siauw Houwju menggapai ia.
Tanpa perdulikan sambaran batu, ia berenang menghampiri kawannya itu.
Si pemuda yang rupanya kuatir Siauwliong kena tertimpuk, segera menghentikan timpukannya.
Sesudah berbisik-bisik di kuping kawannya, Siauw Houwcu mendadak angkat badannya Siauwliong yang lalu dilemparkan ke daratan, sedang ia sendiri lalu menyelam.
Sesudah berenang kira-kira setombak, ia menongolkan kepalanya di atas air seraya berteriak.
"Aku tak akan naik!"
"Aku tetap mau kau naik!"
Membalas si pemuda.
Oleh karena di empang hanya ketinggalan Siauw Houwcu seorang, pemuda itu menimpuk semakin gencar dan dalam tempo sekejap, si Hitam sudah terdesak ke pinggir.
Selagi pemuda itu menimpuk dengan gembira, tiba-tiba di belakangnya terdengar bentakan.
"Menghina anak kecil! Benar tak tahu malu!"
Kedatangan pemuda itu membikin semua orang jadi terkejut.
Ia berparas sangat cakap dan menunggang seekor kuda bulu putih yang sangat garang.
Begitu loncat turun dari tunggangannya, ia mengga-pe Siauw Houwcu.
"Hei Sahabat kecil! Kau naiklah."
Kata ia.
Siauw Houwcu segera merangkak naik kedarat.
Si pemuda memutar badan dan dihadapan-nya berdiri seorang lelaki brewokan yang bukan lain daripada "Loohoan".
Barusan, kedua perwira itu terkejut ketika lihat "Loohoan"
Menghampiri si pemuda dengan paras muka gusar. Mereka mau mencegah, tapi sudah tidak keburu lagi.
"Aku hanya main-main, kenapa kau begitu usilan?"
Si pemuda balas membentak.
"Kau lihat, apa aku lukakan seujung rambutnya?"
"Dia memang anak nakal, tapi apa kau juga bukan bocah liar?"
Kata "Loohoan".
"Hei, Siauw Houwcu! Gebuk padanya atau jangan?"
Si pemuda mengeluarkan suara di hidung.
"Hm!"
Katanya.
"Orang gagah dari mana unjuk lagak di sini? Masih basah kuyup, sudah berani berkokok lagi. Dasar ayam!"
Mukanya "Loohoan"
Lantas saja berobah merah.
"Binatang kecil! Jangan rewel!"
Ia membentak sembari menjotos dengan ilmu pukulan Siauwlim pay. Si pemuda menutup kipasnya yang segera digunakan untuk menyampok sang lawan.
"Loohoan"
Pasang kuda-kuda dan mengecas dengan lengannya. Buru-buru si pemuda membuat satu lingkaran dengan kipasnya dan kemudian secara mendadak menyodok ke depan.
"Loohoan"
Mundur setindak dan dengan menggunakan tenaga dalam, tangan kirinya menyodok dengan gerakan Tuikho-eng bonggoat (Mendorong jendela melihat bulan).
Dalam segeb-rakan itu, kedua belah pihak mengetahui, bahwa sang lawan bukan sembarang orang.
Tapi jika dibandingkan, ilmunya "Loohoan"
Masih sedikit lebih rendah dari si pemuda dan itulah sebabnya, kenapa barusan ia sudah menggunakan tenaga dalamnya.
Melihat kedua orang sudah bertempur, kawanan anak nakal itu pada berpencaran dan menonton dari tempat yang agak jauh.
Mereka bersorak-sorai dan menepuk-nepuk tangan untuk menambah semangatnya kedua orang yang sedang bertempur.
Siauwliong yang basah kuyup juga turut berdiri menonton di antara kawan-kawannya.
Tiba-tiba Siauw Houwcu yang masih merendam di air, mendeliki ia.
Siauwliong mendadak menangis keras.
"Aku pulang!"
Ia berseru.
"Aku pulang beritahukan ibu. Siauw Houwcu mesti ganti pakaianku!"
Sembari berteriak-teriak begitu, ia lari pulang.
Kawan-kawannya merasa heran.
Mereka tahu, meskipun Siauwliong tidak begitu kepala batu seperti Siauw Houwcu, tapi dia sedikitnya bukan satu pengecut "cengeng"
Yang sedikit-sedikit segera mengeluarkan air mata.
Sungguh mereka belum pernah melihat Siauwliong berlaku begitu rupa.
Tapi mereka tak dapat memikir banyak-banyak, perhatian mereka sudah tertarik kembali oleh jalannya pertempuran.
Ketika itu, tiga serangan berantai dari "Loohoan"
Semuanya sudah dapat dipunahkan oleh si pemuda, sedang beberapa totokan si pemuda pun telah diegos oleh "Loohoan". Setiap kali "Loohoan"
Maju dua tindak, ia terpaksa mundur kembali tiga tindak, sedang si pemuda pun begitu juga, saban-saban menyerang selalu dipukul mundur kembali.
Kedudukannya si pemuda berada di atas angin, tapi ia belum berhasil mendapat kemenangan yang memutuskan.
Diam-diam "Loohoan"
Mengeluh.
Sebagai seorang kenamaan dalam kalangan Kangouw, ia merasa malu sekali masih belum dapat menjatuhkan satu bocah sesudah bertempur begitu lama.
Dalam jengkel nya, lantas saja ia mengambil putusan untuk mengeluarkan ilmu silat Lohan kun guna bertarung mati hidup dengan pemuda itu.
Tapi sebelum ia me-robah cara bersilatnya, si pemuda mendadak menutup kipasnya dan berkata dengan suara nyaring.
"Aku sungkan berpemandangan seperti Kedatangan pemuda itu membikin semua orang jadi terkejut. Ia berparas sangat cakap dan menunggang seekor kuda bulu putih yang sangat garang. Begitu loncat turun dari tunggangannya, ia menggape Siauw-houw-cu.
"Hei Sahabat kecil! Kau naiklah", kata ia. Siauw-houw-cu segera merangkak naik ke darat.
"kau! Aku tak mempunyai tempo lagi untuk meladeni kau!"
Dengan sekali mengenjot badan, ia sudah duduk di atas punggung kuda yang lantas dilarikan keras sekali. Kedua perwira itu dan "Loohoan"
Sendiri merasa sangat heran.
Terang-terangan, si pemuda berada di atas angin.
Tapi, kenapa ia mabur dengan begitu saja?
Siauw Houwcu sudah merangkak naik ke daratan.
Ia menepuk-nepuk tangan dan berkata sembari tertawa.
"Bagus! Pertempuran bagus sekali!"
Mukanya "Loohoan"
Jadi berobah merah.
"Siauw Houwcu,"
Kata ia.
"Apa ayahmu ada di rumah?"
"Kau pun tanyakan ayah?"
Kata si Hitam sembari mendelik dan menepuk dadanya "Loohoan"
Dengan tangannya yang kotor.
"Loohoan"
Menyampok dengan tangannya, berbareng menggaet dengan kakinya dan si Hitam segera jatuh celentang.
Tapi, begitu jatuh, dengan gerakan Leehie Tateng (Ikan gabus meletik), begitu ia loncat berdiri kembali.
"Apa kau Hoan Toa-ko?"
Menanya Siauw Houwcu. Si brewok manggut-manggutkan kepalanya.
"Benar,"
Katanya sembari tertawa.
"Kau masih ingat?"
Yah, si Hitam masih ingat padanya.
Pada empat tahun berselang, ia pernah menginap semalaman di rumah ayahnya Siauw Houwcu.
Ketika itu, ia pernah mengajarkan ilmu menggaet Houw-wiekak (Ilmu menggaet buntut harimau) kepada Siauw Houwcu.
Barusan, waktu digaet dengan ilmu Houwwiekak, ingatlah Siauw Houwcu kepada Hoan Toako, si kakak berewokan yang pada empat tahun berselang, brewoknya tidak setebal sekarang.
Si Hitam lantas saja tertawa haha hihi.
"Hoan Toako,"
Katanya.
"Bagus betul kau punya pukulan berantai tiga kali beruntun. Hoan Toako, tolong kau ajarkan aku tiga pukulan itu."
"Loohoan"
Mengawasi cap tangan lumpur di dadanya akibat pukulan Siauw Houwcu. Ia terbahak-bahak seraya berkata.
"Siauw Houwcu! Kau benar jempol! Lagi dua tahun, Hoan Toako tak dapat mengajar kau lagi. Baiklah. Mari kita berangkat sekarang."
"Kalian bertiga?"
Menanya si Hitam.
"Benar,"
Jawab "Loohoan".
"Kedua Tayjin (panggilan menghormat untuk orang berpangkat) ini adalah sahabatku."
Mendengar pembicaraan itu, kedua perwira itu merasa kagum oleh karena si Hitam yang masih begitu kecil rupanya sudah mengerti baik ilmu silat.
Mereka menghampiri dan sembari senyum-senyum, mereka mengangsurkan tangan.
Tapi sambutannya si nakal tak diduga-duga.
Ia hanya melirik dan tidak meladeni.
"Baiklah,"
Katanya kepada "Loohoan".
"Dengan memandang mukamu, aku akan antarkan kalian. Akan tetapi, kalau ayahku tak suka menemui, jangan kau menyalahkan aku."
"Loohoan"
Merasa geli dalam hatinya mendengar perkataan si Hitam, yang meskipun masih begitu kecil, sudah berbicara seperti seorang Kangouw kawakan.
Di lain pihak, kedua perwira itu yang kena "membentur tembok", sudah merasa mendongkol sekali, tapi mereka tentu saja tak dapat melampiaskan rasa gusarnya terhadap satu bocah cilik.
Sambil menuntun kuda, ketiga tetamu itu lantas saja jalan mengikuti Siauw Houwcu.
Sesudah berjalan kira-kira sejam dengan melewati jalanan gunung yang sukar dan berbilukbiluk, tibalah mereka di depan sebuah rumah batu yang dibuat di lamping gunung.
Rumah batu itu ber-bentuk sebagai benteng dan tingginya hampir dua tombak, pekarangannya cukup luas, sedang di depannya terdapat beberapa pohon siong tua.
Sesudah menambat tunggangan mereka.
"Loohoan"
Dan kedua kawannya segera menghampiri pintu, yang dirapati. Siauw Houwcu sudah mendahului masuk dengan berlari-lari.
"Thia!"
Ia berseru.
"Si Brewok, Hoan Toako, datang berkunjung."
Tapi dari dalam sama sekali tidak terdengar jawaban.
"Hoan Toako!"
Si Hitam berseru sembari menggapai.
"Mari! Mari sini!"
Hoan Toako dan kedua perwira itu lantas saja masuk ke ruangan depan.
Pada tembok batu, di ruangan itu, mereka lihat tiga kuntum bunga bwee yang berwarna merah.
Bunga ternyata merupakan ukiran, beberapa dim dalamnya di dalam batu itu.
"Loohoan"
Terkesiap. Ia masuk ke beberapa kamar, tapi tak dapat menemui tuan rumah atau tanda-tanda lain. Segala perabotan tetap berada di tempatnya, sama sekali tidak terdapat tanda-tanda bekas diganggu.
"Mungkin tanda itu adalah tandanya seorang Kangouw,"
Berkata salah seorang perwira.
"Mungkin penjahat yang liehay sekali."
Siauw Houwcu men-jebi, seperti juga mau mengatakan, bahwa hal itu tak usah disebutkan lagi, sebab sudahlah terang bagaikan siang.
"Mungkin tanda yang ditinggalkan oleh pemuda tadi,"
Kata perwira yang satunya lagi.
"Loohoan"
Mendadak menepuk kedua tangannya.
"Benar,"
Berseru ia.
"Sepuluh sembilan mestinya dia!"
"Pemuda itu sangat liehay,"
Berkata pula perwira yang pertama.
"Apakah tak bisa jadi, sahabatmu sudah kena dibinasakan olehnya?"
"Kentut!"
Berteriak Siauw Houwcu sembari mendelik.
"Ayahku sudah binasakan entah berapa banyak orang gagah! Walaupun kepandaiannya bocah itu dua kali lipat lebih tinggi, ayahku tak pandang sebelah mata. Berani benar kau ngaco belo!"
Perwira itu jadi naik darah, tapi sebelum ia unjuk kegusarannya.
"Loohoan"
Buru-buru menarik Siauw Houwcu ke samping dan berkata dengan suara membujuk.
"Maksudnya Tayjin baik sekali. Ia tak pernah katakan, ayahmu tidak mempunyai kepandaian tinggi."
Siauw Houwcu tetap merengut, hatinya tetap mendongkol.
"Siauw Houwcu,"
Kata "Loohoan"
Sembari tertawa.
"Coba lihat! Lihat apa ayahmu sudah pulang atau belum. Kami menunggu di sini. Besok pagi, aku akan ajarkan kau pukulan berantai tiga kali. Eh, Siauw Houwcu! Toako datang, kau tak menyuguhkan apa-apa? Kalau kau terus main marahmarahan, lain kali aku tak akan datang lagi di sini."
Mendengar omongan itu, Siauw Houwcu jadi tertawa.
"Hoan Toako,"
Katanya.
"Aku ingat, kau suka sekali minum arak. Waktu itu, diam-diam kau ajarkan aku minum, hampirhampir diketahui ayah. Baiklah. Aku akan menyuguhkan dua botol arak dan tiga kati daging macan. Macan itu adalah hasil perburuanku, kau tahu?"
"Aduh! Macan Kecil binasakan macan tua!"
Memuji "Loohoan"
Sambil mengacungkan jempolnya.
"Benar-benar jempol!"
Si Hitam jadi bunga sekali hatinya, sembari haha hihi ia berjalan keluar.
"Kerbau kecil itu besar benar ambeknya!"
Kata salah seorang perwira sembari menggeleng-gelengkan kepala.
"Eh, Loohoan, kau kata, Lounghiong itu adalah ayahnya?"
"Tak salah,"
Sahutnya.
"Coba kau lihat. Anaknya saja sudah begitu liehay! Kau boleh legakan hati."
"Siapa namanya?"
Menanya perwira yang satunya lagi.
"Kenapa kau masih belum mau memberitahukan?"
"Sedari delapan tahun berselang, jago tua itu sudah menutup pintu dan menyimpan golok,"
Menerangkan "Loohoan".
"a tak suka orang menyebut-nyebut pula namanya. Sebentar, sesudah mendapat permisi, ia sendiri bisa memberitahukan namanya pada kalian."
"Kalau ia sudah menutup pintu, guna apa kau mengajak kami ke sini?"
Menanya perwira itu.
"Urusan kita perlu pertolongan lekas. Jika ia menampik, bukankah seanteronya akan menjadi gagal?"
"Mungkin sekali, dengan memandang mukaku, ia suka mengadakan kecualian,"
Kata "Loohoan".
"Manakala jiwie Tayjin merasa kurang tepat, baiklah kalian mencari orang lain saja. Aku, si orang she Hoan, tak dapat melihat jalan yang lain."
Kedua perwira itu saling mengawasi tanpa berkata apa-apa lagi.
Sesudah menunggu sekian lama Siauw Houwcu belum juga muncul, kedua perwira lalu membuka baju luarnya untuk menukar obat pada luka di pundak mereka.
"Penjahat bertopeng itu sungguh liehay,"
Kata satu antaranya.
"Loohoan, antara beberapa ratus orang, mungkin hanya kau seorang yang tidak mendapat luka."
"Aku pun hampir-hampir kesabet toyanya,"
Jawab si Brewok.
"Apa dengan seorang diri Lounghiong itu bisa berhasil?"
Menanya pula perwira itu dengan perasaan sangsi.
"Jika ia sudi meluluskan, tenaganya melebihi laksaan tentara."
Sahut "Loohoan"
Dengan suara tetap. Kedua perwira itu lalu saling menceritakan liehaynya penjahat bertopeng itu.
"Jika gagal, habislah jiwa kita serumah tangga,"
Kata satu antaranya.
"Sekarang tak ada lain jalan daripada mengandalkan padanya,"
Kata yang lain.
"e Toako, dalam keadaan begini, janganlah kau mengeluarkan kata-kata yang kurang baik."
"Loohoan"
Tutup mulutnya.
Ia merasa agak mendongkol melihat sikap kedua orang itu.
Mendadak pintu yang hanya dirapati itu, didorong orang dan Siauw Houwcu meloncat masuk ke dalam.
Mulut bocah itu ditutup rapat-rapat, parasnya sangat tak enak dilihatnya.
"Loohoan"
Terkejut. Siauw Houwcu kembali dengan tangan kosong, tidak membawa arak dan daging yang dijanjikan olehnya.
"Hoan Toako! Apa kau cinta sahabat atau tidak?"
Menanya ia.
"Kenapa, Siauw Houwcu?"
Tanya "Loohoan".
"Jika kau menyinta sahabat, beritahukanlah maksud kedatanganmu,"
Sahut si Hitam.
"Kalau tidak, aku akan beritahukan ayah, supaya ia tidak meladeni kau."
"Kau tahu, ayahmu berada di mana?"
Menanya pula "Loohoan."
"Tentu saja,"
Jawabnya.
"Lekas katakan! Dengan siapa kau mau ajak ia bertempur?"
Sebenar-benarnya, Siauw Houwcu tidak mengetahui, kenapa ayahnya mendadak menghilang.
Selama tujuh delapan tahun, ayahnya tidak pernah keluar dari rumah pada waktu begitu.
Dalam otak kecilnya, Siauw Houwcu merasa bahwa menghilangnya sang ayah mempunyai hubungan rapat dengan beberapa orang asing yang baru datang itu, antaranya si pemuda yang bersenjata kipas.
Barusan ia telah mencuri dengar pembicaraan antara "Loohoan"
Dengan kedua perwira itu dan ia merasa, bahwa kedatangan mereka dapat mendatangkan akibat jelek bagi ayahnya. Itulab sebabnya kenapa ia sudah menjustai si Brewok. Untuk sementara.
"Loohoan"
Kelihatan bersangsi. Beberapa kali ia melirik kedua perwira itu.
"Baiklah,"
Katanya sesudah berselang beberapa saat.
"Siauw Houwcu, kau bukan seperti bocah yang kebanyakan. Aku akan beritahukan kau secara terus terang."
Ia mendehem dan kemudian menyambung perkataannya sambil menunjuk kedua perwira itu.
"Tayjin itu adalah Ie Tongleng, yang ini adalah Liok Koantay. Aku telah bantu mereka melindungi barang angkutan. Dari Ouwpak, kami antar tiga puluh laksa tahil perak, ke kota raja. Setibanya di Shoatang, yaitu kemarin dulu, di sebelah selatan gunung Thay-san, perak itu sudah kena dirampok oleh seorang penjahat bertopeng."
"Hoan Toako, kau tak dapat melawan padanya?"
Menanya Siauw Houwcu.
"Kalau aku dapat melawan ia, tak perlu kami datang kemari,"
Sahutnya.
"Kedua Tayjin ini kena dibikin luka. Beberapa ratus serdadu sudah disapu bersih olehnya, ditawan atau dibunuh. Hanya kami bertiga yang dapat meloloskan diri."
"Ha! Liehay benar penjahat itu!"
Kata si Hitam yang jadi ketarik sekali.
"Benar,"
Kata "Loohoan".
"Jika bukan begitu, aku tentu tidak berani sembarangan mengganggu ayahmu. Aku datang kemari untuk memohon bantuan ayahmu guna membekuk penjahat itu dan ambil pulang perak yang sudah dirampas itu."
Begitu habis "Loohoan"
Menutur, Siauw Houwcu menarik tangannya yang dipegang oleh si Brewok.
"Hoan Toako,"
Katanya.
"Kau ternyata tidak cinta sahabat!"
"Kenapa tak menyinta sahabat?"
Si Brewok balas menanya dengan perasaan heran. Siauw Houwcu tertawa dingin.
"Hm! "
Katanya dengan suara di hidung."Thia thia paling benci segala pembesar anjing!Sekarang kau mau ajak ia keluar untuk menjadi budak pula dari kawanan pembesar. Hm! Tidak! Aku tak dapat meluluskan!"
"Loohoan"
Dan kedua perwira itu menjadi bengong, mereka kesi-ma mendengar kata-kata yang tidak diduga-duga itu.
Tiba-tiba dengan satu suara keras, kedua daun pintu batu ditutup oleh Siauw Houwcu yang sudah meloncat keluar sebelum tiga tetamunya sadar dari kagetnya.
Daun pintu itu dibuat dari batu yang tebalnya tidak kurang dari satu kaki, sehingga satu orang yang tidak mempunyai kekuatan kira-kira lima ratus kati, tidak akan dapat menutupnya.
Di lain saat, di luar kamar terdengar suara tindakannya Siauw Houwcu yang berlari-lari dengan cepat sekali.
"Penjahat cilik!"
Memaki kedua perwira itu sembari coba mendorong pintu.
Tapi percobaan itu sia-sia belaka, oleh karena sudah dikunci dari luar oleh si Hitam.
Kamar batu itu tak mempunyai jendela, hanya di atasnya terdapat beberapa lubang kecil untuk keluar masuknya hawa.
Kedua perwira itu gusar bukan main, mereka memaki kalang kabut, sambil menyesalkan juga si Brewok yang sudah mengajak mereka datang kesitu.
"Kau sudah tahu sahabatmu sangat membenci pembesar negeri, tapi kau toh sudah mengajak juga kami datang ke sini,"
Kata salah satu antaranya.
"Dia juga tentu bangsa penjahat!"
Kata yang lain.
"Eh, Loohoan! Apa sih maksudmu yang sebenarnya?"
Paras mukanya "Loohoan"
Berubah gusar.
"Jiewie Tayjin tak usah mencaci,"
Katanya dengan suara keras.
"Majikan rumah ini pernah menjabat pangkat yang lebih tinggi dari atasanmu!"
Kedua perwira itu berhenti serentak.
"Siapa ia?"
Mereka menanya hampir berbareng. Mereka kaget, tercampur sangsi.
"Loohoan"
Senyum.
"Majikan rumah ini pernah menjadi Tongleng (pemimpin) barisan Gielimkun (barisan yang menjaga keselamatan pribadi kaizar),"
Menerangkan ia dengan suara perlahan.
"a pun pernah menjabat pangkat Ciongciehui (pemimpin) dari pasukan Kimiewie (pasukan pahlawan kaizar yang mengenakan seragam sulam) dan pada sepuluh tahun berselang, ia dikenal sebagai ahli silat nomor satu di seluruh kota raja. Ia bukan lain daripada Thio Hong Hu, Thio Tayjin!"
"Thio Hong Hu, ahli silat utama di seluruh kota raja?"
Menegasi kedua perwira itu dengan suara terkejut.
"Tak salah! Ahli silat nomor satu di seluruh kota raja!"
Mengulangi "Loohoan".
Mukanya kedua perwira itu berubah pucat dan keringat dingin mengucur dari dahinya.
Thio Hong Hu adalah pahlawan utama yang paling diandalkan oleh Kie Tin, Kaizar Engcong dari kerajaan Beng.
Ia pernah berkuasa atas barisan Gielimkun dan Kimiewie dan beberapa kali pernah berjasa besar dalam medan peperang.
Berhubung dengan kegagahannya, namanya sudah menggetarkan seluruh Tiongkok.
Dahulu, dalam peperangan dengan negeri Watzu di Tobok-po, seantero tentara Beng boleh dibilang musnah semuanya, sedang Kie Tin sendiri telah ditawan musuh.
Dalam kekalahan yang hebat itu, seorang diri dan dengan menunggang seekor kuda, tujuh kali Thio Hong Hu menerjang masuk ke dalam tentara musuh dan tujuh kali ia dapat menoblos keluar pula dengan selamat.
Walaupun gagal dalam usaha menolong kaizar, namanya sudah berhasil membikin pecah nyali musuh dan orang-orang gagah di seluruh negara tidak ada satupun yang tidak kagum padanya.
Belakangan, Ie Kiam, seorang menteri yang sudah berhasil menolong kerajaan Beng dari kemusnahan, telah mengirim In Tiong ke Watzu sebagai utusan istimewa guna mengadakan perdamaian.
In Tiong berhasil dan Kie Tin dapat dibawa pulang ke Tiongkok dengan selamat.
Akan tetapi adiknya Kie Tin yang bernama Kie Giok, atau Kaizar Bengtay-cong, sungkan menyerahkan kembali takhta kerajaan kepada kakaknya itu.
Ia penjarakan sang kakak di Istana Lamkiong dan memberi gelar kehormatan Thaysianghong kepada Kie Tin.
Mulai waktu itulah, Thio Hong Hu menghilang.Ada yang mengatakan, ia tak dapat melupakan majikan yang lama (Kie Tin) dan sungkan bekerja di bawah perintah kaizar baru.
Ada juga yang bercerita, ia sudah merasa tawar akan segala keduniawian dan pergi bertapa di pegunungan yang sunyi.
Tapi hal yang sebenarnya adalah.
Ia sudah mengundurkan diri atas nasehat sahabatnya yang bernama Thio Tan Hong.
Dengan rasa sakit dalam hatinya, ia telah menyaksikan segala keburukan dalam kalangan pemerintahan kaizar yang baru.
Segala penghianat dan dorna memegang kekuasaan besar, sedang orang-orang pandai dan bijaksana tidak mendapat kedudukan yang sesuai dengan kepandaiannya.
Bahkan Ie Kiam sendiri, seorang menteri yang jasanya luar biasa besar dalam membangun kembali kerajaan Beng, hanya mendapat pangkat Pengpo Siangsie (Menteri Pertahanan), tanpa kekuasaan yang sebenarnya.
Itulah sebabnya, sesudah mendapat nasehat Thio Tan Hong, ia segera menutup pintu dan menyimpan golok, lalu hidup mengasingkan diri di pegunungan Couwlay san.
Kedua perwira itu sama sekali tidak pernah mengimpi, bahwa majikan dari rumah itu adalah Thio Hong Hu yang namanya menggetarkan seluruh kerajaan Beng.
Mengingat sikapnya tadi dan cacian "penjahat"
Yang barusan diucapkan, hati mereka benar-benar merasa tidak enak.
"Loohoan"
Hanya senyum-senyum melihat laga mereka dan lalu menyandar pada tembok tanpa bicara lagi. Sesudah melirik beberapa kali, hati mereka jadi semakin tidak enak.
"Saudara Hoan,"
Kata satu antaranya.
"Kami mempunyai mata, tapi tak dapat melihat gunung Thaysan yang besar. Kami tak tahu, bahwa Hoan-heng (Saudara Hoan) sebenarnya adalah seorang Cinjin (orang berilmu) yang sungkan menonjolkan muka. Kami sungguh merasa menyesal, bahwa di sepanjang jalan, kami sudah berlaku kurang hormat terhadap Saudara."
Permintaan maaf itu mempunyai latar belakang.
Untuk mengangkut tiga puluh laksa tahil perak uang negara itu, Khoan Kie, Yamun-su (pembesar yang berkuasa atas pengangkutan garam) dari Ouwpak-Ouwlam, telah minta bantuan Sunbu Ouwpak, yang segera perintahkan dua panglimanya yang paling dibuat andelan pergi menjalankan tugas tersebut.
Kedua perwira itu lantas saja menyiapkan lima ratus serdadu pilihan untuk bantu mengantar, dan menurut dugaan mereka, dengan pasukan sekuat itu, tugas tersebut akan dapat diselesaikan secara mudah.
Tak dinyana, sebelum berangkat, Yamunsu Khoan Kie sudah pujikan seorang piauwsu (ahli silat yang biasa mengantar barang angkutan) dan piauwsu itu adalah Hoan Eng.
Kedua perwira itu lantas saja jadi mendongkol lantaran menganggap Hoan Eng sebagai saingan yang mau merebut sebagian jasa mereka yang sudah kelihatan di depan mata.
Secara diam-diam kedua perwira itu menyelidiki.
Mereka mendapat kenyataan, bahwa dalam sejumlah piauwkiok (perusahaan yang mengantar barang dari satu ke lain tempat) di beberapa propinsi Tiongkok Selatan, sama sekali tidak terdapat orang yang bernama Hoan Eng.
Oleh karena itu, mereka menyangsikan, apakah Hoan Eng benar-benar adalah seorang piauwsu.
Akan tetapi, walaupun merasa kurang senang, mereka tidak dapat menolak, oleh karena Hoan Eng adalah orang yang dipujikan oleh Yamunsu.
Di luar dugaan, Hoan Eng mempunyai kepandaian yang sangat tinggi.
Pada waktu terjadinya perampokan, hanya dia seorang yang dapat bertempur sehingga puluhan jurus dengan si perampok bertopeng, tanpa dapat dilakukan.
Sekarang, ia pun ternyata mempunyai hubungan rapat dengan Thio Hong Hu.
Mengingat itu, kedua perwira itu saling mengawasi dengan perasaan sangsi dan berkuatir.
Mereka tak dapat menebak asal usulnya si Brewok.
Hoan Eng senyum mendengar penghaturan maaf kedua perwira itu.
"Jiewie Tayjin janganlah bicara begitu,"
Katanya.
"Aku hanya seorang piauwsu biasa. Mana berani menganggap diri sebagai Cinjin?"
Sehabis berkata begitu, ia menyandar pula pada tembok dan meramkan kedua matanya.
Kedua perwira itu merasa lebih tidak enak.
Mereka sebenarnya ingin menanyakan hubungan antara Hoan Eng dan Hong Hu, akan tetapi, sesudah mendapat jawaban yang tawar itu, mereka tak berani membuka mulut lagi.
Sembari menyandar, otak Hoan Eng bekerja keras.
Ia tidak nyana, bahwa sesudah mengundurkan diri, Thio Hong Hu jadi begitu membenci segala apa yang berbau pembesar negeri.
Ia merasa menyesal sudah meluluskan permintaan Khoan Kie untuk bantu melindungi perak negara itu.
Ia berkuatir, bukan saja kawan-kawan kalangan Kangouw akan mencurigai dirinya, tapi Thio Hong Hu pun akan menganggap ia sebagai seorang manusia yang mengejar harta dan pangkat.
"Hai!"
Katanya di dalam hati, sembari menghela napas panjang.
"Kenapa juga aku mencari penyakit sendiri? Kedua manusia ini tak mengetahui asal-usulku, tapi kawan-kawan Kangouw sedikit banyak mengenal namanya Soanhoahu Hoan Eng. Yah, kenapa juga aku rela menjadi orang suruhannya pembesar negeri? Siapa suruh aku menjadi keponakannya Hoan Tiong? Siapa suruh aku menjadi saudara angkatnya Yamunsu Khoan Kie?" * * * Dahulu, Thio Hong Hu, Hoan Tiong dan Khoan Tiong dikenal sebagai tiga serangkai jagoan utama di kota raja. Belakangan, Thio Hong Hu telah mengikat tali persahabatan dengan musuh besar kaizar Beng, yaitu Thio Tan Hong. Secara diam-diam, Khoan Tiong telah menjual saudara angkatnya dan memberitahukan rahasia itu kepada kaizar. Thio Tan Hong yang mengetahui penghianatan itu, sudah turun tangan dan membinasakan Khoan Tiong, sehingga menimbulkan salah mengerti di pihaknya Thio Hong Hu. Dalam pertempuran di Tobokpo, Hoan Tiong telah membinasakan menteri dorna penjual negara yang bernama Ong Cin, tapi ia juga harus mengorbankan jiwa dalam pertempuran itu. Khoan Kie, pute-ranya Khoan Tiong, belakangan berkecimpung dalam kalangan pembesar negeri, dan berkat bantuan sahabat-sahabat mendiang ayahnya, ia mendapat pangkat Yamunsu bagian wilayah Ouw-pak-Ouwlam. Pangkat Yamunsu, atau pengurus garam, adalah pangkat yang mendatangkan keuntungan besar. Adiknya Hoan Tiong yang bernama Hoan Cun dahulu pernah menjadi pahlawan istana. Sesudah kakaknya mengorbankan jiwa untuk negara, ia lalu menurut contohnya Thio Hong Hu dan menyembunyikan diri di rumah leluhurnya di Ouwpak. Thio Hong Hu, Hoan Tiong dan Khoan Tiong adalah saudarasaudara angkat, sedang hal penghianatan Khoan Tiong hanya diketahui oleh Thio Tan Hong dan Thio Hong Hu berdua. Mereka adalah ksatria-ksatria yang sungkan menguarkan kejelekan orang, sehingga kejadian itu jadi tertutup rapat. Itulah sebabnya kenapa perhubungan baik antara ketiga keluarga tetap tidak berubah. Sebagai Yamunsu, Khoan Kie berkedudukan di kota Buciang. Dalam pengiriman tiga puluh laksa tahil perak ke kota raja, satu jumlah yang bukan main besarnya, hatinya tetap menyangsikan kepandaian dua panglima Sunbu Ouwpak itu. Oleh karena itu, beberapa kali ia memohon bantuannya Hoan Cun. Berhubung dengan usianya yang sudah lanjut, Hoan Cun menolak permohonan itu dan mengirim saja puteranya, yaitu Hoan Eng, untuk memberi bantuan. Dalam kalangan Hek-to (Jalanan hitam, atau kalangan penjahat), Hoan Eng mempunyai banyak hubungan. Secara diam-diam ia sudah mengadakan hubungan dengan sahabat dan kenalannya di sepanjang jalan, sehingga sebegitu jauh pengangkutan itu dapat berlangsung dengan selamat. Tapi, siapa nyana, baru saja menginjak wilayah propinsi Shoatang, di sebelah selatan gunung Thaysan, mereka telah dicegat oleh seorang penjahat bertopeng yang sudah berhasil menyikat bersih Seantero angkutan. Waktu itu.
"Perayaan Tahun Baru"
Baru saja lewat.
Di sepanjang jalan, dengan riang gembira, kedua perwira itu terus mengagul-agulkan diri sendiri.
Secara temberang mereka mengatakan, bahwa kawanan penjahat pada lari sipat kuping akibat keangkeran tentara negeri.
Mereka tidak mengetahui, bahwa keselamatan mereka sudah terjamin sampai di situ, berkat perlindungan Hoan Eng.
Tapi mereka pun sebenarnya mempunyai alasan untuk merasa gembira.
Sesudah melewati Shoatang, mereka akan segera masuk ke propinsi Hopak yang berada dalam wilayah kekuasaan tentara kaizar dan perjalanan antara Hopak dan kota raja boleh tidak usah dikuatirkan lagi.
Hari itu, mereka bermalam di satu kota kecil yang terpisah kira-kira lima puluh lie dari kota Bongim.
Pada malamnya, beberapa pengemis datang ke tempat penginapan dan minta sedekah.
Liok Koantay segera perintah beberapa serdadu untuk gebuk dan mengusir mereka.
Apa yang agak luar biasa, adalah ketika mau berlalu, beberapa pengemis itu tertawa terbahak-bahak.
Hoan Eng yang sudah kawakan dalam kalangan Kangouw, lantas saja merasa tidak enak dalam hatinya.
Dan benar saja, pada besok harinya, ketika mereka tiba di sebelah selatan Thaysan, tiba-tiba terdengar suara tertawa dan segerom-bolann perampok menerjang keluar, dengan, di kepalai oleh beberapa pengemis itu.
Kawanan perampok itu semuanya menunggang kuda dan dengan sekali menyerbu, pasukan negeri lantas saja menjadi kalut.
Sebelum Hoan Eng sempat membuka mulut, beberapa pengemis itu sudah dapat merubuhkan kedua perwira itu.
Oleh karena terpaksa, Hoan Eng turun tangan juga dan melukakan dua orang pengemis.
Tiba-tiba, diiringi dengan tertawa nyaring, seorang penjahat bertopeng kaburkan kudanya dan menerjang bagaikan kilat.
Dengan sekali menyabet dengan toya-nya, seorang perwira rendahan rubuh binasa.
Perwira Ie dan Liok, yang ilmu silatnya lebih tinggi dan otaknya lebih cerdik, buru-buru panjangkan langkah, tapi meskipun begitu, tak urung pundak mereka kena juga dihantam toya.
Hoan Eng majukan kudanya dan menyambut toya musuh dengan kampaknya yang dibuat dari logam-logam pilihan.
Begitu kedua senjata itu berbentrok, satu suara nyaring segera terdengar.
Sesudah bertempur kira kira tiga puluh jurus, kampaknya Hoan Eng sudah menjadi gompal.
Penjahat itu tertawa terbahak-bahak.
"Kau boleh dihitung sebagai orang gagah,"
Katanya.
"Pergilah!"
Sehabis berkata begitu, ia mengedut kendali kuda untuk menyingkir dari hadapan Hoan Eng dan menghampiri keretakereta besi yang terisi perak.
Setelah tiga kali menghantam dengan toyanya, lapisan besi setebal beberapa dim menjadi pecah dan isinya jatuh berhamburan di atas tanah.
Dengan beruntun ia merusakkan tiga kereta dan kemudian perintah anak buahnya mengumpulkan dan mengisi perak itu dalam karung-karung yang lalu di tempatkan di atas punggung kuda.
Antara lima ratus serdadu negeri itu, yang binasa ada kira-kira enam tujuh bagian, yang luka dua tiga bagian, sedang sisanya, yaitu serdadu-serdadu yang paling gagah, telah ditawan.
Hanya perwira Ie dan Liok serta Hoan Eng yang dapat meloloskan diri.
Hoan Eng memutar otaknya, tapi ia tidak dapat menebak siapa adanya penjahat bertopeng itu.
Ia ingat, antara begitu banyak orang-orang gagah yang ia kenal, hanya Thio Hong Hu yang mungkin dapat menaklukkan penjahat itu.
Tetapi sekarang, bukan saja Thio Hong Hu tak ketahuan ke mana perginya, tapi ia sendiri pun sudah kena dikurung dalam kamar batu oleh si nakal.
* * * Selagi melamun sambil bersandar, kuping Hoan Eng mendadak mendengar suaranya si perwira.
"Si... si nakal belum juga balik. Bisa-bisa kita mati kelaparan!"
Ia sebenarnya mau menggunakan istilah "si penjahat", tapi urungkan niatannya dan menggunakan saja perkataan "si nakal".
Hoan Eng tertawa dan membuka matanya.
Keadaan dalam kamar gelap gulita, di lubang-lubang kecil juga tidak kelihatan sinar terang, mungkin siang sudah berganti malam.
Ia pun merasa lapar, tapi berbeda dengan kedua perwira itu yang tak hentinya menggerutu, ia lalu bersila dan melatih Iweekangnya.
Diam-diam Hoan Eng berkuatir.
Dusun itu tidak berapa besar.
Kenapa Siauw Houwcu pergi begitu lama?
Apa ia tidak dapat mencari ayahnya?
Dan apakah Thio Hong Hu menemui bencana?
Tapi segera juga ia membantah sendiri pertanyaan itu, oleh karena mengingat kegagahannya orang tua itu.
Sebaliknya, kenapa ia belum juga pulang ke rumah?
Sesudah berselang beberapa jam, hawa udara jadi semakin dingin, sebagai tanda sudah jauh malam.
Kedua perwira itu mepet di sudut tembok dengan kelaparan dan kedinginan.
"Hoan Toako!"
Berbisik perwira yang satu.
"Ada apa?"
Menanya Hoan Eng.
"Bagaimana sih hubunganmu dengan Thio Tayjin?"
Menanya perwira she Ie.
"Empat tahun berselang, aku pernah berjumpa dengan ia,"
Jawabnya.
"Celaka!"
Ie Koantay mengeluh.
"Kalau begitu, kau tidak mempunyai hubungan rapat! Aku kuatir, bukan saja ia sungkan menolong, malahan kita sendiri bisa mati kelaparan di sini. Kenapa ia begitu membenci kaizar? Mungkin ia ingin mencelakakan kita."
Hoan Eng mendongkol tercampur geli."Thio Tayjin adalah ksatria sejati,"
Katanya dengan suara tawar.
"Jika ia maui jiwa kalian, tak nanti ia menggunakan segala akal bulus."
Kedua perwira itu jadi ketakutan setengah mati dan gemetar sekujur badannya.
"Kau... kau maksudkan, ia benarbenar maui jiwa kita?"
Mereka menanya dengan suara terputus-putus. Hoan Eng tertawa besar.
"Orang-orang yang binasa dalam tangannya adalah orang yang namanya besar,"
Katanya.
"Orang-orang seperti kita ini mungkin belum cukup berharga untuk mati dalam tangannya!"
"Tapi kenapa ia tak mau pulang untuk melepaskan kita?"
Menanya perwira she Liok.
"Malahan si bocah nakal juga tak kelihatan mata hidungnya."
"Bagaimana aku bisa tahu?"
Hoan Eng balas menanya dengan hati mendeluh.
Baru saja kedua perwira itu mau membuka mulut, di lubang-lubang kecil mendadak kelihatan sinar terang.
Semangat mereka lantas saja terbangun.
Tiba-tiba terdengar suara tertawa aneh yang kedengarannya seperti juga jeritan setan, sehingga bulu badan mereka menjadi bangun.
"Thio Tayjin,"
Demikian terdengar suara satu orang.
"Enak benar kau hidup sembunyi di tempat yang nyaman ini! Tapi sungguh sengsara kami berdua saudara mencari kau."
Hoan Eng tahu Thio Hong Hu sudah pulang.
"Kenapa suara orang itu begitu tak sedap didengarnya? Apa ia musuh Thio Siepeh (Paman Thio)?"
Menanya ia dalam hatinya.
Sebagai seorang yang berpengalaman dalam dunia Kangouw, ia mengetahui adanya mara bahaya.
Ia menekan tangan kedua perwira itu, supaya mereka jangan mengeluarkan suara, dan kemudian ia merayap ke atas dengan menggunakan ilmu Pekhouw yuciang (Cecak merayap di tembok).
Ia menempelkan matanya pada sebuah lubang dan mengintip ke kamar sebelah.
Kamar itu adalah kamar buku.
Di tengah-tengah kamar terdapat sebuah meja batu bundar di mana kelihatan berduduk tiga orang, satu antaranya, yang menghadap ke arah Hoan Eng, adalah Thio Hong Hu sendiri.
Waktu itu Thio Hong Hu sudah berusia lima puluh tahun lebih, akan tetapi, keangkerannya masih tetap seperti di waktu muda.
Orang yang duduk di sebelah kiri mempunyai kepala yang luar biasa besarnya, tapi badannya kate (pendek) dan kecil, sehingga kelihatannya aneh sekali.
Yang duduk di sebelah kanan adalah seorang yang berparas tawar dan kedua pipinya menonjol ke atas.
Dilihat dari parasnya, dapat diketahui, bahwa ia mempunyai Iweekang (tenaga dalam) yang sangat kuat.
Di sebelah belakang meja itu terdapat dua lemari besar yang penuh dengan buku-buku.
Dahulu, Thio Hong Hu hanya mengenal sedikit mata surat, akan tetapi, berkat pengaruhnya Thio Tan Hong, semen-jak hidup menyendiri, ia banyak mempelajari ilmu surat.
"Apakah maksud kedatangan kedua Tayjin?"
Menanya Thio Hong Hu sesudah mendehem beberapa kali.
"Tayjin sudah hidup menyendiri delapan tahun lamanya, dan selama itu, Hongsiang (kaizar) selalu memikirkan kau,"
Kata orang yang paras mukanya tawar.
"Tiga kali aku coba mencari, tiga kali gagal. Tak tahunya, Tayjin hidup senang di tempat ini. Aku mengetahui, tanpa ikatan pangkat, Tayjin dapat hidup bebas, akan tetapi, sesudah delapan tahun hidup bahagia, rasanya kini sudah tiba saatnya akan Tayjin membantu Hongsiang."
Thio Hong Hu mengawasi dengan mata berkilat, seakanakan ingin melihat isi perut dua orang itu.
Orang yang kepalanya besar tertawa haha hehe dan lalu menyambung perkataan kawannya "Benar.
Sekarang negara sedang menghadapi banyak sekali urusan.
Mendengar tambur perang, Hongsiang jadi ingat panglimanya dan aku kuatir beliau tak dapat mengijinkan Tayjin terus hidup secara begini."
"Jiewie Tayjin mungkin keliru,"
Menjawab Thio Hong Hu dengan sikap tenang.
"Aku mengetahui, bahwa kini dalam dewan kerajaan berjejer penuh menteri-menteri sipil dan militer yang berkepandaian tinggi, seperti Jiewie Tayjin yang merupakan tihangnya negara. Apakah kegunaannya manusia seperti aku, yang sudah tua dan jompo, sehingga Hongsiang mau mencapekan hati untuk memikirinya? Di sebelahnya itu, aku pun mengetahui, bahwa pada waktu ini, seluruh negara sudah aman, sedang di dalam negeri Watzu justru lagi timbul kerusuhan dan Yasian sendiri sudah disingkirkan. Maka itu, menurut pendapatku, adalah keliru jika dikatakan, bahwa negara tengah menghadapi banyak urusan. Sungguh aku kurang mengerti maksud omongan Jiewie Tayjin."
Kata-kata itu yang dikeluarkan secara sopan santun, bukan main tajamnya. Orang yang bermuka tawar lantas saja tertawa terbahakbahak.
"Thio Tayjin,"
Katanya sembari mendongakkan kepala.
"Kami adalah orang-orang yang isi perutnya lurus dan tidak biasa bicara terputar-putar. Apakah Tayjin mengetahui, bahwa sekarang Thay-sianghong (Kie Tin) sedang bersekutu untuk merebut takhta? Apakah Tayjin mengetahui, bahwa dalam tempo belakangan ini, ia sudah membentuk suatu persekutuan yang cukup kuat?"
"Selama delapan tahun, semenjak menuntut penghidupan sebagai seorang rakyat pengunungan. aku tak pernah mencampuri urusan luar, lebih-lebih urusan keluarga kaizar,"
Jawab Thio Hong Hu.
"Oleh karena itu, urusan ini sama sekali berada di luar pengetahuanku."
"Ada yang kata, Tay-jin mengundurkan diri oleh karena tak dapat melupakan majikan lama dan tak sudi mengeluarkan tenaga untuk kepentingan Hong-siang,"
Kata pula si muka tawar.
"Apa benar omongan itu?"
Paras muka Thio Hong Hu lantas saja berubah. Dengan satu tangan menyekal pinggir meja, ia menyahut dengan suara menyeramkan.
"Jika Hongsiang menyangsikan aku, dengan secarik firman, ia dapat menghadiahkan kebinasaan pada diriku! Guna apa mengirim Jiewie Tayjin datang ke sini untuk mengadakan penyelidikan menggelap!"
Selagi berkata begitu, Hong Hu teringat riwayat In Ceng, seorang menteri setia yang sudah "dihadiahkan"
Hukuman mati oleh kaizarnya, dan mengingat itu, suaranya yang penuh perasaan mendongkol menjadi keras dan sedikit ge-meter.
"Thio Tayjin bicara terlampau berat,"
Kata si muka tawar.
"Adalah karena percaya kepadamu, maka Hongsiang sudah perintah kami pergi mencari Tayjin. Itulah merupakan tindakan mulia dari seorang junjungan dalam usaha mencari menteri yang pandai, dan oleh karena itu, tidaklah dapat Tayjin menggunakan istilah penyelidikan menggelap."
Sesudah berdiam beberapa saat, si muka tawar lantas sambung pula perkataannya.
"Barusan Bun Tongleng telah mengatakan, bahwa negara sedang menghadapi banyak urusan. Yang dimaksudkan bukannya urusan dari luar, akan tetap sebagai orangnya, sudah tentu beliau akan melarang aku memberikan keterangan ini kepada Tayjin."
Thio Hong Hu yang darahnya semakin lama naik semakin tinggi, duduk menjublek tanpa mengeluarkan sepatah kata.
Hanya kedua matanya semakin berkilat-kilat!
Si kepala gede lantas saja tertawa haha hehe dan berkata dengan suara dibuat-buat.
"Dahulu, ketika Tayjin menyembunyikan diri, kami berdua saudara terpaksa memikul tanggungan yang sangat berat. Kini, setelah Tayjin keluar pula, kami dapat melepaskan pikulan itu. Sungguh beruntung! Thio Tayjin! Janganlah Tayjin berlaku sungkan dan menolak jabatan yang diserahkannya. Lihatlah! Inilah firman rahasia dari Hongsiang! Di atas firman, terang-terangan ditulis. 'Mengangkat Thio Hong Hu ke dalam jabatannya yang semula, yaitu Tongleng barisan Gielimkun merangkap Ciongcie-hui pasukan Kimiewie. Lihatlah, Thio Tayjin! Kami tak berjusta. Terhadap Tayjin, budinya Hongsiang besar bagaikan gunung!"
Hoan Eng yang mendengarkan pembicaraan tersebut, menjadi kaget.
Kedua orang itu ternyata adalah pemimpinpemimpin Gielimkun dan Kimiewie.
Memang juga, mereka berdua adalah ahli-ahli silat kelas berat pada jaman itu.
Orang yang paras mukanya tawar bernama Cian Sam San, Ciongciehui dari pasukan Kimiewie, atau pasukan ahli-ahli silat yang menjaga keselamatan pribadi kaizar.
Ia mahir dalam ilmu Hun-kin cokut khiu (ilmu memecah otot memindahkan tulang), serupa ilmu tunggal dalam Rimba Persilatan.
Ketika baru datang di kota raja, ia pernah mengadu silat di Giewan (taman dalam istana kaizar).
Dalam tempo sehari, dengan menggunakan Hunkin cokut khiu, ia berhasil mematahkan lengannya dua belas busu (pahlawan) kelas satu, dan berhubung dengan itu, namanya sudah menggetarkan seluruh kerajaan.
Si kepala gede yang bernama Bun Tiat Seng juga tidak kurang liehaynya, meskipun potongan badannya agak aneh dan lucu.
Ia mahir dalam ilmu pedang Ngoheng kiam yang bukan saja dapat menikam, tapi juga dapat menotok jalan darah musuh.
Ia pun pandai melepaskan senjata rahasia beracun dan paham ilmu silat tangan kosong Teetong kun dari Pakpay (Partai Utara).
Kini ia menjabat pangkat Tongleng, atau pemimpin, barisan Gielimkun, yaitu tentara yang menjaga istana kaizar.
Bahwa kaizar sudah perintah mereka membujuk Thio Hong Hu, adalah kejadian yang sebenarnya.
Paras muka Thio Hong Hu segera berubah menjadi merah padam.
"Firman itu aku tak berani menerima,"
Katanya dengan suara perlahan.
"Apa pangkatnya terlalu rendah?"
Menanya Bun Tiat Seng.
"Seorang menteri tak boleh menuruti kekeliruan rajanya, tapi haruslah menuntun rajanya ke jalanan yang benar,"
Menyahut Hong Hu.
"Aku mohon menanya Jiewie Tayjin. Bila Tayjin melihat 'tulang dan daging' (saudara-saudara sekandung) saling bunuh membunuh, apakah kalian akan membujuk agar mereka rukun kembali, ataukah kalian akan mengipas api yang sedang berkobar-kobar dan membantu salah satu pihak?"
Kedua pembesar itu terkejut.
Mereka tak menduga, Thio Hong Hu berani berkata begitu, yang sedalam-dalamnya merupakan kritik terhadap kaizar yang masih bertakhta.
Begitu hilang kagetnya, Bun Tiat Seng lantas saja tertawa terbahak-bahak seraya berkata.
"Aku tak duga, Thio Tayjin sudah meninggalkan bu (silat) dan mengambil bun (ilmu surat) serta sudah dapat berbicara seperti seorang sasterawan lemah. Thio Tayjin! Jangan gusar jika aku berterus terang. Perundinganmu yang barusan menyeleweng jauh dari kepantasan."
"Apa?"
Membentak Thio Hong Hu sembari mendelik.
"Perebutan takhta antara Thaysianghong dan Hongsiang merupakan kenyataan yang tak dapat dicegah, baik olehmu, maupun olehku,"
Menjawab Bun Tiat Seng dengan suara keras.
"Menurut kebiasaan, seorang menteri haruslah bersetia kepada satu majikan. Thio Hong Hu! Sekarang aku mau menanya. Siapakah yang kau anggap sebagai majikanmu?"
"Aku ini tak lebih dan tak kurang hanya seorang rakyat kecil dari daerah pegunungan,"
Sahut Hong Hu dengan suara dingin.
"Bagiku, siapa yang menjadi kaizar tak merupakan soal. Siapa juga yang bercokol di singgasana, aku tetap membayar pajak."
Bun Tiat Seng garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia benar-benar kewalahan menghadapi orang gagah yang adatnya keras itu. Akhirnya, dengan suara terpaksa ia berkata pula.
"Thio Tayjin, kau memang mempunyai hak sepenuhnya untuk mengambil keputusan sendiri. Tapi cara bagaimana kami berdua saudara harus memberi laporan kepada Hongsiang?"
Sebelum Hong Hu menyahut, Cian Sam San tiba-tiba tertawa sembari berkata.
"Lain hal aku tak dapat meramalkan, hanya satu yang aku berani pastikan sedari sekarang. Jika Thaysianghong berhasil dalam usahanya, ada seorang besar yang tak akan dapat menyelamatkan jiwanya!"
"Siapa?"
Tanya Hong Hu.
"e Kokloo,"
Sahutnya. (Kokloo adalah panggilan menghormat kepada seorang perdana menteri. Dengan Ie Kokloo dimaksudkan Ie Kiam).
"Sungai dan gunung (negara) dari kerajaan Beng sudah tertolong dari kemusnahan berkat jasanya Ie Kokloo seorang,"
Berkata Hong Hu.
"Siapakah yang tidak mengetahui kenyataan ini?"
Bun Tiat Seng tertawa bergelak-gelak.
"Hongsiang yang sekarang sudah dinaikkan ke atas takhta oleh Ie Kiam dan oleh karena tindakan Ie Kiam itu, Thaysianghong jadi kehilangan takhtanya,"
Kata Bun Tiat Seng.
"Siapakah yang tidak mengetahui kenyataan ini?"
"Akan tetapi tindakan itu sudah diambil lantaran keadaan yang memaksa dan hal ini sudah dimaklumi oleh seantero rakyat di seluruh negeri,"
Berkata pula Thio Hong Hu.
"Waktu itu Thaysianghong masih jadi tawanan di negara lain, sedang di dalam negeri tidak boleh ada satu hari tanpa jungjungan."
"Hanya aku kuatir ada satu manusia yang sungkan mengerti,"
Berkata Cian Sam San.
"Dan orang itu adalah Thaysianghong sendiri."
Bun Tiat Seng tertawa dan menyambung perkataan rekannya.
"Thio Tayjin! Tak gunanya kau membela Ie Kokloo di tempat ini. Jalan satu-satunya adalah menerima baik panggilan Hongsiang dan dengan segala kesetiaan, mencegah usahanya Thaysianghong. Hanya dengan begitu saja barulah Tayjin dapat menolong jiwanya Ie Kokloo."
Hatinya Hong Hu berdebar-debar dan mukanya segera berubah pucat. Ia tak mengucapkan sepatah kata, rupa-rupa pikiran datang ke dalam otaknya.
"Sebagai seorang yang sudah menolong negara dari kemusnahan, Ie Kokloo dipuja oleh rakyat seluruh negeri,"
Katanya di dalam hati.
"Andaikata Thaysianghong berhasil dalam usaha merebut takhta, belum tentu ia berani menentang rakyat dengan membunuh Ie Kokloo."
Tapi memikir sampai di situ, tiba-tiba ia ingat perkataan Thio Tan Hong dahulu hari.
Waktu itu, adalah Thio Tan Hong bersama In Tiong yang telah pergi ke Watzu untuk mengambil pulang Thaysianghong.
Menurut pendapat Thio Tan Hong, Thaysiang-hong adalah seorang manusia "bongim pweegie" (manusia yang tak ingat budi orang), sehingga apa yang dikatakan oleh Cian Sam San dan Bun Tiat Seng bukanlah suatu hal yang mustahil.
Sementara itu, Hong Hu pun mengetahui, bahwa kaizar yang sekarang juga bukannya manusia baik-baik.
Sebagai seorang yang pernah berdiam lama di istana, ia mengetahui betapa kejamnya seorang kaizar.
Dari kata-katanya Cian Sam San dan Bun Tiat Seng, ia mengetahui, bahwa mereka berusaha memaksa padanya dengan menggunakan keselamatan Ie Kokloo sebagai alasan.
Mengingat itu, ia jadi bergidik dan tak dapat mengambil keputusan.
"Thio Tayjin,"
Kata Cian Sam San sembari mendorong firman yang terletak di atas meja.
"Lebih baik kau menerima saja."
Tiba-tiba paras muka Hong Hu berubah, sedang Cian Sam San memasang kupingnya.
"Ah, tak dinyana semalaman ini aku harus menerima dua rombongan tetamu,"
Kata Hong Hu sambil menghela napas.
Hoan Eng yang sedang mendengarkan dengan penuh perhatian, sekonyong-konyong melihat Cian Sam San dan Bun Tiat Seng sambar firman itu yang lalu dimasukkan ke dalam saku dan kemudian berkata dengan suara berbisik.
"Thio Tayjin, celaka atau selamat, semua terserah kepadamu."
Sehabis berbisik begitu, buru-buru mereka lari ke belakang lemari buku.
Hoan Eng merasa sangat heran.
Ketika itu, Thio Hong Hu sudah membuka pintu dan di bawah sinarnya obor kayu siong, mukanya kelihatan menyeramkan sekali.
Sekonyong-konyong, berbareng dengan suara kresekan, dari luar pintu meloncat masuk dua orang yang mengenakan seragam busu (pahlawan istana) berwarna hitam.
Gerakan mereka luar biasa cepatnya dan kepandaian mereka juga tidak berada di sebelah bawah Cian Sam San atau Bun Tiat Seng.
Thio Hong Hu rangkapkan kedua tangannya dan memberi hormat.
Kedua tamu itu tertawa terbahak-banak.
"Antara sahabat lama, buat apa menggunakan segala pera-datan,"
Kata yang satu.
"Lama sekali aku sudah mendapat dengar nama besarnya Thio Tayjin dan baru sekarang dapat kesempatan untuk bertemu muka,"
Kata yang lain. Sembari menyekal lubang tembok, Hoan Eng mengangkat naik badannya sedikit dan mengintip keluar. Orang yang masuk lebih dulu berbadan langsing dan mukanya cakap.
"Liok-heng,"
Kata Thio Hong Hu.
"Siapakah adanya sahabat ini? Mataku yang lamur tak dapat mengenali."
Orang yang kedua itu berbadan tinggi besar, justru sebaliknya dari kawannya. Sembari merangkapkan kedua tangannya, ia berkata.
"Saudara Tian Peng adalah sahabat lamaku. Dengan Thio Tayjin, baru kali ini aku bertemu muka. Mungkin sekali saudara Tian Peng pernah menyebutkan namaku yang rendah."
Thio Hong Hu tertawa seraya berkata.
"Ah! Tak dinyana, Peklek khiu (si Tangan Geledek) Tong Samko yang aku sudah dengar lama nama besarnya."
Hoan Eng kembali terkejut.
Kedua orang itu sama-sama mempunyai nama besar.
Orang yang berbadan langsing bernama Liok Tian Peng, sutee-nya (adik seperguruan) Kong Tiauw Hay, Congkoan (kepala pengurus) istana.
Pada Cengtong tahun kel3.
Ia pernah turut dalam ujian Butjonggoan.
Dalam babakan-babakan pendahuluan, ia telah menjatuhkan banyak sekali ahli-ahli silat ternama dan akhirnya harus berhadapan dengan In Tiong dalam perebutan gelar Buconggoan.
Sesudah bertempur ratusan jurus, mereka tetap setanding, sampai akhirnya, berkat bantuan Thio Tan Hong, In Tiong dapat menjatuhkan orang she Liok ini dan merebut gelar tersebut.
Berhubung dengan pertandingan itu, walaupun kalah, namanya Liok Tian Peng jadi kesohor dan belakangan ia ditarik ke istana sebagai pahlawan.
Jika di hitung-hitung, ia adalah rekannya Thio Hong Hu.
Orang yang bertubuh tinggi besar adalah Tong Kee Cun.
Sebelum Liok Tian Peng masuk ke istana, mereka berdua sudah berkawan lama dan pernah bersama-sama malang melintang di daerah Kanghoay dan mendapat julukan Kanghoay Jiepa (Dua jago dari daerah Kanghoay).
Ilmu silatnya Tong Kee Cun cukup tinggi dengan mempunyai Tokseeciang dan Kimkong ciu, sehingga dalam kalangan hekto (penjahat), ia terkenal sebagai manusia yang tangannya sangat beracun.
Tong Kee Cun kembali tertawa.
"Thio Tayjin,"
Katanya.
"Mulai dari sekarang, kita adalah menteri-menteri dari satu kerajaan dan aku mengharap bisa mendapat banyak petunjuk dari Tayjin. Sekarang ijin-kanlah aku memberi hormat."
Thio Hong Hu terkesiap dan meloncat ke samping untuk menolak pemberian hormatnya.
"Tong Suhu! Apa artinya ini?"
Ia menanya.
"Firman rahasia Hongsiang ada di sini Harap Thio Tayjin suka menerima,"
Berkata Liok Tian Peng dengan suara nyaring. Hoan Eng menjadi bingung.
"Eh, eh! Kenapa ada lagi firman rahasia?"
Katanya di dalam hati.
"Bukankah tadi Cian Sam San dan Bun Tiat Seng sudah membawa firman?"
Ketika itu, dengan kedua tangannya Thio Hong Hu menjunjung firman tersebut dan dengan sikap menghormat lalu berlutut tiga kali.
"Aku mengharap kalian sudi memaafkan, bahwa aku tidak dapat menerima firman ini,"
Katanya.
"Dan aku memohon Liok-heng sudi memberi penjelasan yang baik dihadapan Thaysianghong."
Sekarang Hoan Eng sadar.
Orang yang dipanggil "Hongsiang" (kaizar) oleh Liok Tian Peng bukannya Kaizar Kie Giok yang sekarang memerintah, akan tetapi Thaysianghong Kie Tin yang telah ditahan dalam istana Lamkiong oleh Kie Giok.
Liok Tian Peng lantas saja membuat lagu seperti orang terkejut dan berkata.
"Orang kata. Satu hari menjadi menteri, mengabdi seumur hidup. Sekarang Cukong (majikan) sedang memerlukan tenaga Thio-heng, kenapa Thio-heng menolak firman?"
Harus diketahui, bahwa pada jaman itu, ialah jaman kerajaan Beng, dalam perhubungan antara raja dan menteri terdapat suatu peraturan yang sangat keras.
Thio Hong Hu adalah menteri lama dari Kaizar Kie Tin dan di samping itu, tugas melindungi keselamatan Kie Tin jatuh di atas pundaknya sebagai Ciongciehui pasukan Kimiewie dan Tongleng barisan Gielimkun.
Menurut peraturan waktu itu, walaupun Thio Hong Hu sudah meletakkan jabatannya, ia tak dapat menolak firman kaizarnya.
"Sekarang ini Cukong adalah orang yang paling dihormati di seluruh negeri dan telah dirawat secara baik oleh Hongtee (kaizar),"
Kata Hong Hu.
"Ada ketidak puasan apakah, sehingga beliau perintah Jiewie mengunjungi rumah gubuk ini di tengah malam buta?"
Liok Tian Peng tertawa dingin."Aku tak tahu, apa Thio Tayjin benar-benar tidak mengetahui, atau hanya berlaga tidak mengetahui,"
Ia menyindir.
"Takhta kerajaan sebenarnya adalah miliknya Cukong, tapi Ek-ong (gelaran Kie Giok sebelum menjadi kaizar) sungkan mengundurkan diri dan secara tidak patut terus menduduki takhta dan perbuatannya itu, tidaklah beda dengan merebut takhta secara paksa. Lebih hebat lagi, Cukong sendiri telah di penjarakan di istana Lamkiong. Apakah orang bisa bersabar terhadap perlakuan itu? Kita semua adalah menteri-menteri tua dan menurut kepantasan, kita haruslah membantu Cukong untuk merampas pulang takhta kerajaan. Hanya dengan begitu saja barulah kita tidak melanggar peraturan antara raja dan menterinya."
Thio Hong Hu kerutkan alisnya dengan perasaan mendongkol sekali.
Sungguh ia merasa sangat sebal jika harus mencampur urusan perebutan takhta dalan satu keluarga.
Memikir begitu segera ia berkata dengan suara tawar.
"Bukan sekali-kali Hong Hu melupakan budinya Cukong dahulu hari, akan tetapi dengan sungguh-sungguh aku tak dapat mencampuri urusan pribadi dari keluarga kaizar."
"Apa ini urusan pribadi?"
Tong Kee Cun menyindir. Liok Tian Peng membuka firman itu seraya berkata.
"Thio Tayjin, baca dulu firman ini."
Dengan terpaksa, Hong Hu membaca firman tersebut yang mengatakan, bahwa ia diberi pangkatnya yang lama dengan ditambah pangkat Engbupek dan bahwa ia harus segera berangkat ke kota raja untuk melaporkan diri.
"Thio Tayjin, apa kau sudah mengerti maksudnya?"
Menanya Liok Tian Peng. Thio Hong Hu membungkuk dan menjawab dengan sikap menghormat.
"Banyak terima kasih untuk budi Thaysianghong yang sangat besar, akan tetap hamba tak berani menerima firman."
"Masih kau menolak?"
Menegasi Liok Tian Peng dengan suara keras.
"Hong Hu tak berani mengacau,"
Jawabnya dengan suara tetap.
"Pangkat Ciongciehui dari Kimiewie dan pangkat Tongleng dari barisan Gielimkun sudah ada lain orang yang memegangnya." (Hong Hu berkata begitu, oleh karena dalam firman tersebut di tulis, bahwa ia diberi pangkatnya yang lama yaitu pangkat Ciongciehui Kimiewie merangkap Tongleng dari Gielimkun. Sepengetahuan Hong Hu sampai pada saat itu, kedua pangkat tersebut dijabat oleh Cian Sam San dan Bun Tiat Seng yang sedang bersembunyi di belakang lemari buku.) "Thio Tayjin,"
Berkata Tong Kee Cun.
"Apa benar-benar kau sudah baca firman itu dengan teliti!"
Mendengar pertanyaan begitu diajukan berulang-ulang, Hong Hu jadi bercuriga.
"Apa?"
Ia menegasi. Liok Tian Peng tertawa dingin dan menyahut.
"Cukong sekarang sudah bukan Thaysianghong lagi! Aku memberitahukan kau sebenar-benarnya. Dengan didukung oleh para menteri, kemarin Cukong sudah kembali pada takhtanya!"
Itulah pernyataan tak diduga-duga, bagaikan halilintar di tengah hari bolong!
Thio Hong Hu jadi kesima dan untuk beberapa saat, tak dapat mengeluarkan sepatah kata.
Kedua matanya yang berkilat-kilat mengawasi Liok Tian Peng dan Tong Kee Cun, seolah-olah ingin menembuskan isi perutnya kedua orang itu.
"Kau tak percaya?"
Menanya Liok Tian Peng.
"Di dalam hati, mungkin kau berkata. Dari kota raja ke sini, dengan menunggang kuda masih harus menggunakan tempo tiga hari. Cara bagaimana kamu berdua dapat mengetahui kejadian yang terjadi kemarin?"
Benar! Bukan saja Hong Hu, tapi Hoan Eng pun memikir begitu. Sesudah berkata begitu, Tian Peng mengawasi Hong Hu dengan mata tajam dan kemudian menyambung pula perkataannya.
"Akan tetapi, perhitungan Hongsiang adalah tepat bagaikan perhitungan malaikat, yang tak akan dapat ditaksir oleh orang-orang sebangsa kau. Siang-siang beliau sudah membuat persiapan yang tak dapat meleset lagi. Sesudah itu, barulah beliau perintah aku pergi mencari kau. Jika Hongsiang masih merasa sangsi, beliau tentu tak akan menulis terang-terangan, bahwa kau dikasi kembali pangkatmu yang dulu. Thio Hong Hu! Sesudah memberi keterangan jelas, apakah kau masih tak mau menerima firman?"
Tong Kee Cun dan Liok Tian Peng lantas saja membentang firman itu dan menunggu jawaban Hong Hu.
Hong Hu berdiri tegak bagaikan patung, seakan-akan kehilangan semangatnya.
Diam-diam Liok Tian Peng tertawa dalam hatinya.
"Hm! Ada juga takutnya, kau!"
Pikir ia. Tiba-tiba Hong Hu membuka mulutnya.
"Bagaimana dengan Ie Kokloo?"
Ia menanya. Liok Tian Peng kaget, tapi lantas saja ia tertawa tengal.
"Oh! Kalau begitu, di matamu hanya ada Ie Kiam seorang?"
Katanya. Ia saling melirik dengan Tong Kee Cun dan lalu berkata pula.
"Urusan ini, kau tanya saja sendiri kepada Hongsiang. Kami hanya ingin mendapat kepastian, kau menerima atau tidak menerima firman ini."
Thio Hong Hu dongakkan kepalanya."Tidak terima!"
Jawabnya.
"Thio Toako adalah laki-laki yang sekali kata satu tidak berubah dua,"
Kata Liok Tian Peng dengan suara lunak.
"Kalau begitu putusan Toako, kami berdua ingin pamitan saja dengan mengharap supaya Toako menjaga kesehatan baik-baik."
Heran benar Thio Hong Hu mendengar perkataan itu.
Itulah kata-kata berpisahan antara sahabat-sahabat kekal, sedang ia dan Liok Tian Peng sedari dulu tak dapat hidup rukun.
Dengan perlahan Liok Tian Peng menggulung firman itu.
Hong Hu merasa terharu, sehingga kedua matanya mengembeng air.
"Liok-heng,"
Katanya.
"Aku memohon pertolonganmu untuk menanyakan kesehatannya Ie Tayjin. Di samping itu, aku pun memohon supaya dihadapan Hongsiang, kau sudi bicara baik untuk alamatnya Ie Tayjin."
"Tentu saja,"
Kata Tian Peng sembari menyoja, sedang Hong Hu pun segera membalas pemberian hormat itu.
Pada saat itulah, tangannya Tong Kee Cun mendadak berkelebat dan menghantam pundak Thio Hong Hu!
Ternyata, kedua orang itu sudah menerima perintah rahasia Kie Tin untuk membinasakan Thio Hong Hu, jika ia menolak firman!
Sebagai seorang yang ilmu silatnya tinggi, walaupun dibokong, secara otomatis Hong Hu dapat mengerahkan tenaga dalamnya.
Dengan satu suara "buk!", si pembokong terpelanting di atas lantai!
"Manusia tak mengenal malu!"
Membentak Hong Hu.
"Berani benar kau membokong aku!"
Sementara itu, Liok Tian Peng sudah mencabut keluar Kimsie Joanpian (Pecut lemas) yang segera disabetkan ke pundak Hong Hu.
Melihat serangan pengecut itu, Hoan Eng gusar bukan main.
Ia hanya menyesal tak dapat mendobrak pintu untuk membantu pamannya.
Begitu terguling, Tong Kee Cun meloncat bangun dengan gerakan Leehie Tateng (Ikan gabus meletik) dan lalu mengayun kedua tangannya.
Dengan suara-suara "srr, srr, srr"
Yang sangat halus, belasan jarum Ngotok ciam beracun menyambar Hong Hu."Thio Hong Hu!"
Ia berseru.
"Meskipun kau mempunyai kepandaian menembus langit, malam ini kau jangan harap dapat meloloskan diri!"
Dengan tangan kiri menindih pecut musuh, Hong Hu mengebas dengan tangan kanannya dan belasan jarum lantas saja berbalik menghantam pihak tuannya.
Pecut Liok Tian Peng adalah senjata istimewa, dibuat dari benang emas yang dililitkan kepada urat harimau dan rotan gunung yang usianya ribuan tahun, sehingga senjata itu mempunyai keulatan dan kekuatan yang luar biasa.
Sesudah menindih, Hong Hu membetot pecut itu, tetapi senjata ini tak menjadi putus, meskipun tangan Liok Tian Peng sampai terbeset dan berdarah akibat betotan yang sangat hebat itu.
Dalam kagetnya, Tian Peng mendengar suara menyambarnya jarum dan buru-buru ia menundukkan kepala dengan gerakan Honghong Tiamtauw (Burung Hong manggutkan kepala).
Belasan jarum lewat di atas kepalanya, tetapi satu antaranya sudah menembuskan lengannya!
Bukan main kagetnya Liok Tian Peng.
Ia tak menyana, jika dalam tempo belum cukup delapan tahun, tenaga dalamnya Hong Hu sudah mendapat kemajuan begitu jauh.
"Liok-heng!"
Berseru Tong Kee Cun.
"Tempel pundak! Dia sudah kena Toksee ciang (Tangan pasir beracun). Desak terus sampai dia mampus."
Sesaat itu Hong Hu merasakan pundaknya kesemutan dan lengannya agak kaku. Buru-buru ia bernapas dalam-dalam untuk menahan naiknya racun. Tong Kee Cun membuat satu "loncatan harimau"
Dan sembari berseru "heh!", ia menghantam pula dengan tangan beracunnya.
Tapi kali ini Hong Hu sudah siap sedia.
Ia berlaga kebingungan dan membiarkan musuhnya datang dekat padanya.
Mendadak, ia membalikkan tangannya dan menghantam sambil mengerahkan tenaga dalamnya.
Dengan kaget, Tong Kee Cun coba mundur, tapi sudah terlambat.
Pada pergelangan tangannya yang kena dihajar dengan kontan timbul lima tapak jari yang berwarna merah dan tangan itu tak dapat digunakan lagi.
Dengan beruntun Liok Tian Peng menyabet tiga kali dengan pecutnya dan kemudian memutarkan badan untuk melarikan diri.
"Jangan kasi dia bernapas!"
Berseru Tong Kee Cun.
"Kalau hari ini dia tak mampus, kita berdua sukar menyelamatkan jiwa di belakang hari."
Sehabis berkata begitu, ia melemparkan dua butir yowan (pel) dan menyambung perkataannya.
"Sambut ini obat pemunah!"
Hong Hu menggeram bagaikan harimau terluka, tangan kanannya memapas, tangan kirinya menyambut yo wan itu.Liok Tian Peng menyampok dengan pecutnya, sembari menyambut yo wan itu dengan sebelah tangannya, tapi ia hanya dapat satu butir, sedang sebutir lainnya sudah kena dirampas Hong Hu.
Tian Peng yang lengannya ditembuskan Ngotok ciam buru-buru menelan yo wan itu, sedang Hong Hu pun segera caplok obat rampasannya.
Sesaat itu, Hong Hu sudah berdiri di tengah pintu dan mencegat jalan mundur kedua musuhnya.
"Binatang!"
Ia membentak.
"Kenapa kau orang membokong aku? Lekas bilang! Jika tidak, jangan harap kau orang bisa meloloskan diri!"
Liok Tian Peng ketakutan setengah mati, mukanya pucat bagaikan kertas. Tiba-tiba Tong Kee Cun mengeluarkan teriakan "aduh!"
Ternyata, pukulan Hong Hu tadi yang luar biasa hebatnya sudah mencopotkan tulang pergelangan tangannya, dan barusan, ia menggeser tulang itu ketempat asalnya.
Dapat di mengerti, bahwa penggeseran itu sudah menerbitkan kesakitan yang sangat hebat, sehingga tanpa merasa ia mengeluarkan teriakan "aduh!"
Liok Tian Peng memberi tanda kepada kawannya dengan lirikan mata, supaya mereka segera angkat kaki.
"Liok-heng,"
Berkata Kee Cun.
"Tak dapat kita melepaskan dia. Lebih baik mati bertiga. Obatku adalah pemunah Ngotok ciam, bukan obat Toksee ciang. Hayolah! Kita desak terus sampai dia mampus!"
Tian Peng menganggap perkataan kawannya memang ada benarnya.
Thio Hong Hu bukan main liehay-nya.
Dengan Iweekang-nya yang sudah sempurna, dalam sepuluh hari saja ia sudah akan dapat menyembuhkan luka akibat pukulan Toksee ciang.
Sesudah sembuh, Hong Hu tentu akan membalas sakit hatinya.
Meskipun Toksee ciang dan Ngotok ciam menggunakan racun yang sama, akan tetapi cara bekerjanya berlainan sekali.
Jarum Ngotok ciam yang halus terutama digunakan untuk menyerang jalan darah.
Pukulan Toksee ciang, dapat mengakibatkan luka di dalam dan di luar pada tubuh musuh.
Di samping itu, sebuah tangan adalah beberapa puluh kali lebih besar daripada jarum, sehingga racunnya pun puluhan kali lebih hebat.
Oleh karena itu, yo wan yang dimaksudkan untuk memunahkan racun jarum dan yang sudah ditelan sebutir oleh Hong Hu, tak akan menolong banyak.
Dalam pada itu, Hong Hu sendiri sudah mengerahkan tenaga dalamnya untuk menahan naiknya racun.
Dapat di mengerti, bahwa usaha itu sudah sangat mengurangkan tenaganya yang harus digunakan untuk melawan dua musuhnya.
Maka sebab itulah, dengan dua lawan satu, walaupun Liok Tian Peng dan Tong Kee Cun masih jatuh di bawah angin, Hong Hu sendiri merasa sangat kepayahan.
Mati-matian mereka bertempur.
Sesuatu pukulan adalah pukulan yang membinasakan.
Dalam sekejap, belasan jurus sudah lewat.
Liok Tian Peng berkelahi secara licik sekali.
Ia tak berani datang dekat dan menggunakan siasat "gerilya".
"Thio Hong Hu!"
Ia berseru.
"Jika benar kau seorang gagah, kau harus membunuh diri sendiri jangan sampai ditertawai oleh orangorang gagah di kolong langit."
"Kentut!"
Membentak Hong Hu.
"Satu hoohan (orang gagah) harus menyerah disembelih olehmu? Bagus!"
"Thio Hong Hu!"
Berteriak pula Liok Tian Peng dengan suara mengejek.
"Malam ini kami berdua menjalankan perintah Hongsiang. Sebagai seorang menteri, jika raja perintah kau mampus, kau mesti mampus. Kau mengerti?"
Perkataan Liok Tian Peng, walaupun ejekan, bukannya tidak beralasan.
Pada jaman itu, kekuasaan kaizar tiada batasnya.
Jika kaizar menghendaki jiwa menterinya, menteri itu harus segera menyerahkan jiwanya, tanpa banyak rewel.
Akan tetapi, Liok Tian Peng tidak mengetahui, bahwa sesudah bergaul dengan Thio Tan Hong, alam pikiran Hong Hu sudah sangat dipengaruhi oleh sahabatnya itu.
Ia sudah menjadi sadar dan sungkan mengorbankan jiwanya untuk satu keluarga yang sedang berebut kekayaan dunia, walaupun keluarga itu adalah keluarga kaizar.
Mendengar ejekan itu, darahnya Hong Hu naik tinggi.
"Liok Tian Peng!"
Ia membentak.
"Manusia rendah yang tak mengenal malu! Kau ingin menggunakan darahku untuk menaikkan pangkatmu? Bagus! Tak malu kau, mengatakan begitu!"
Sembari memaki, kedua tangannya menghantam bagaikan hujan dan angin. Mendadak terdengar suara "buk!"
Dan badannya Tong Kee Cun terpental menubruk tembok, sampai hampir-hampir dia pingsan. Liok Tian Peng buru-buru menghadang di tengah jalan guna menolong kawannya.
"Thio Hong Hu!"
Ia pentang bacotnya lagi.
Hongsiang benar cerdik.
Siang-siang beliau sudah tahu, kau mempunyai tulang penghianat.
Thio Hong Hu!
Kau tahu satu penghianat harus mendapat hukuman apa?
Jika kau menyerah dibelenggu, hanya kau seorang yang mampus.
Tapi jika kau melawan, serumah tanggamu akan dibasmi habis!"
Mendengar perkataan itu, Hong Hu merasakan dadanya mau meledak.
Belasan tahun ia melindungi Kie Tin.
Dalam peperangan di Tobokpo, ia bela kaizar itu tanpa memperdulikan keselamatan jiwanya sendiri.
Kesetiaannya sudah tak dapat disangkal pula dan kegagahannya dikagumi orang sejagat.
Maka, oleh sebab itu cara bagaimana ia tidak gusar ketika mendapat cap "penghianat"?
Dengan hebat ia mengirim tiga pukulan berantai, sehingga Kee Cun dan Tian Peng terpaksa mundur beberapa tindak.
"Waktu Yasian menyerang, di mana kau? Hm! Sekarang, kaulah menteri setia, sedang aku satu penghianat. Bagus! Bagus betul!"
"Thio Hong Hu, kau tak rela dicap penghianat?"Tian Peng mengejek terus.
"Kau kira orang tak tahu segala gerakgerikmu? Perhubunganmu dengan Thio Tan Hong sudah diketahui Hongsiang. Siapa Thio Tan Hong? Apa kau tak tahu? Dalam undang-undang kerajaan terang-terang ditulis. Siapa juga yang bersekutu dengan pemberontak, mendapat hukuman yang sama dengan pemberontak itu. Apa lagi kau mau kata? Selainnya itu, ketika Ie Kiam menco-kolkan kaizar baru, kau menjadi isi perutnya (orang sebawahan yang setia) Ie Kiam. Apa itu bukannya berhianat?"
Baru habis perkataan itu diucapkan, biji mata Hong Hu berputar dan rambutnya berdiri, bahna gusarnya.
"Kalau begitu, Ie Kokloo juga penghianat?"
Ia membentak sekuat suaranya.
"Apa lagi?"
Jawab Liok Tian Peng sembari senyum-senyum dingin.
"Hongsiang sudah mengatur rapih. Begitu ia naik takha, begitu Ie Kiam masuk penjara. Diserahkan kepada Makamah Agung, diumumkan kedosaannya dan dicabut jiwanya! Haha! Thio Hong Hu! Sekarang juga, aku kuatir kau punya Ie Kokloo sudah hilang kepalanya!"
Mata Hong Hu berkunang-kunang, hampir-hampir ia rubuh pingsan. Melihat kesempatan baik, Tong Kee Cun dan Liok Tian Peng lantas saja menyerang sehebat-hebatnya. Tiba-tiba Thio Hong Hu mendelik.
"Sudahlah! Sudahlah!"
Ia berteriak.
"Jika Ie Kokloo dianggap penghianat, guna apa aku hidup terus? Baiklah! Aku sekarang memberontak! Hm! Tindakan pertama adalah ambil jiwa anjingmu!"
Berbareng dengan perkataannya, Thio Hong Hu, jago nomor satu di kerajaan Beng, segera menerjang dengan menggunakan seantero kepandaiannya dan seluruh tenaga dalamnya!
Seram benar terjangan itu!
Tong Kee Cun yang belum mengenai sampai di mana liehaynya Hong Hu, segera merangkap kedua tangannya di depan dada untuk coba menyampok sambaran tangannya Hong Hu.
Begitu kebentrok, tulang lengan Kee Cun di bawah pundak, kontan patah dua!
Tapi Tong Kee Cun benar-benar bandel.
Sesudah lengannya patah dan darah mengalir tak hentinya, mulutnya masih berteriak.
"Jangan kasi dia bernapas. Racunku sudah bekerja!"
Panjang pecut Liok Tian Peng ada lebih dari setombak.
Dengan mengandalkan senjatanya yang panjang, ia terus berkelahi secara licik, lari berputar-putar di seluruh kamar dan menyerang bila mendapat kesempatan baik.
Dilawan secara itu, sedikitnya untuk sementara, Hong Hu tak dapat menghantam si licik ini.
Toksee ciangnya Tong Kee Cun liehay luar biasa.
Waktu baru kena, berkat Iweekang-nya yang dalam, Hong Hu masih dapat menahan menjalarnya racun tersebut.
Akan tetapi, sesudah lewat berapa lama, lengan kanannya mulai kesemutan dan semakin lama jadi semakin kaku.
Melihat musuhnya mulai kepayahan, Liok Tian Peng lantas saja tertawa terbahak-bahak.
"Thio Hong Hu!"
Ia berteriak.
"Kalau kau mempunyai pesanan apa-apa, lekas-lekas beritahukan kepadaku. Mengingat kecintaan sebagai rekan untuk banyak tahun, aku pasti akan menolong kau!"
Ejek-ejekan yang tak henti-hentinya itu mempunyai satu tujuan berbahaya.
Jika seorang yang terkena racun, naik darahnya, racun itu akan menjalar terlebih cepat dan sang korban akan rubuh terlebih siang pula.
Dalam gusarnya, Thio Hong Hu menendang meja batu, yang lantas saja terpental dan melintang di tengah pintu.
Sesudah itu, ia menghantam kalang kabut segala perabotan, seperti sekosol, meja, kursi dan sebagainya, sehingga barangbarang itu pada menggeletak di atas lantai.
Setelah menyingkirkan rintangan-tangan itu, sembari menggeram, Thio Hong Hu menubruk Tian Peng, yang jadi terbang semangatnya dan coba menolong jiwanya dengan lari berputar-putar, bagaikan tikus diubar kucing.
Dengan satu bentakan keras, Hong Hu berhasil menyekal pecut musuh.
Tian Peng melepaskan senjatanya dan menggulingkan diri sampai di bawah lemari buku.
Thio Hong Hu menendang dengan sekuat tenaga.
Dengan suara gedubrakan, kakinya mampir di lemari buku yang menjadi dobrak dan roboh.
Di antara ramai suara itu, terdengar teriakan.
"Awas!"
Dan hampir berbareng, Cian Sam San dan Bun Tiat Seng munculkan diri. Sembari tertawa seram, tangannya Cian Sam San mendadak menyambar tulang pundaknya Hong Hu.
"Saudara Bun! Mampuskan padanya!"
Ia berseru.
Hong Hu benar-benar kaget.
Ia tak pernah mengimpi bisa terjadi peristiwa begitu.
Sebagai pemimpin Gielimkun dan Kimiewie dari Kie Gok, Cian Sam San dan Bun Tiat Seng adalah musuh-musuh Liok Tian Peng dan Tong Kee Cun yang menjadi orang kepercayaannya Kie Tin.
Menurut dugaan Hong Hu, walaupun tidak membantu padanya, Cian Sam San dan Bun Tiat Seng sedikitnya tidak akan membantu pihak musuh.
Hunkin cokut khiu dari Cian Sam San adalah ilmu silat kelas utama dalam Rimba Persilatan.
Dengan lima jerijinya yang seperti jepitan besi, ia menyengkeram tulang pundak Hong Hu yang lantas saja merasakan bagian atas badannya lemah tidak bertenaga.
Sementara itu, Bun Tiat Seng sudah mengeluarkan Joankiam (pedang lemas) dari pinggangnya.
"Thio Tayjin, hari ini adalah hari kebinasaanmu!"
Katanya sembari tertawa dan menyabetkan pedangnya ke arah kepala Hong Hu. Hampir berbareng, Liok Tian Peng pun sudah bangun dan pungut lagi pecutnya.
"Cian-heng dan Bun-heng,"
Kata ia sembari tertawa benar.
"Seorang gagah memang harus bisa melihat salatan. Mulai dari sekarang, kita semua adalah menteri dari satu kerajaan."
Sembari berkata begitu, ia menyabet Hong Hu dengan senjatanya.
Selama beberapa detik, Hong Hu coba menggunakan beberapa macam ilmu silat untuk meloloskan diri.
Akan tetapi, Hunkin cokut thjiu sungguh-sungguh ilmu istimewa.
Lima jerijinya Cian Sam San seperti juga lengket pada tulang pundak Hong Hu dan tak dapat dibikin terlepas.
Sesaat itu, Joankiam dan Joanpian menyambar hampir berbareng.
Pada detik yang sangat berbahaya itu, tiba-tiba saja Thio Hong Hu membentak.
Hebat sungguh bentakan itu!
Bagaikan guntur atau bagaikan geram harimau yang masuk dalam jebakan!
Pada detik-detik itu, keangkerannya Thio Hong Hu berkumpul menjadi satu.
Bun Tiat Seng dan Liok Tian Peng jadi kesima.
Tanpa merasa, pecut dan pedang terhenti di tengah udara.
Pada saat itulah, kaki kiri dan kaki kanannya Hong Hu menendang dengan berbareng dan dengan kontan kedua musuhnya jatuh terpelanting!
Sehabis menendang, ia menyikut dengan sikut kiri dan menyengkeram musuh dengan tangan kanan.
* * * Cian Sam San adalah seorang manusia licik.
Tadi, selagi bersembunyi di belakang lemari, ia sudah dapat mendengar segala pembicaraan dan mengetahui, bahwa Kie Tin sudah berhasil merebut takhta.
Pada saat itu juga, ia segera mengambil putusan buat tinggalkan majikan lama (Kie Giok) dan menghamba kepada majikan baru (Kie Tin)."Thaysianghong paling membenci Ie Kiam, Thio Tan Hong dan Thio Hong Hu,"
Pikir dia.
"e Kiam sudah dibekuk, Thio Tan Hong yang berkepandaian paling tinggi tak ketahuan berada di mana, maka yang ketinggalan hanya Thio Hong Hu seorang. Thaysianghong coba pancing dia dengan pangkat tinggi, tapi dia menolak, sehingga tidaklah heran jika beliau maui jiwanya.Jika aku bisa membinasakan Hong Hu, pahala itu akan dapat digunakan untuk menebus dosa dihada-pan majikan baru."
Akan tetapi, ia pun merasa jeri terhadap Hong Hu yang kepandaiannya tinggi. Sesudah mengasah otak liciknya beberapa detik, lantas saja ia mendapat jalan yang sangat baik.
"Lebih baik menonton dulu perkelahian antara harimauharimau itu,"
Katanya di dalam hati.
"Sesudah mereka rusak, barulah aku turun tangan. Jika tidak mampus, Liok Tian Peng dan Tong Kee Cun tentu mesti luka berat. Dan siapa lagi yang bakal kantongi pangkat Tongleng Gielimkun? Ha-ha! Inilah yang dinamakan sebutir batu menghasilkan tiga ekor burung!"
Demikianlah ia menunggu sambil memasang mata.
Apa mau, gelanggang pertempuran pindah ke tempat bersembunyinya dan lemari buku kena ditendang oleh Thio Hong Hu, sehingga mau tidak mau ia mesti keluar juga.
Ia mengetahui, bahwa pundak kanan Hong Hu sudah terkena pukulan Toksee ciang, sehingga lengan kanannya tak dapat digunakan lagi.
Maka itu, ia menyengkeram tulang pundak kiri Hong Hu, supaya dua-dua lengannya tak dapat bergerak dan dengan gampang dapat dibinasakan.
* * * Akan tetapi, perhitungannya Cian Sam San ternyata meleset, oleh karena, dalam detik yang sangat berbahaya, Hong Hu masih mempunyai tenaga untuk balas menyerang.
Begitu kena disikut, ia merasakan kesakitan hebat pada dadanya, dan hampir berbareng, tangannya Hong Hu menyengkeram nadinya.
Dengan satu teriakan hebat, ia berontak sembari melepaskan cengkeramannya pada tulang pundak Hong Hu, dan di lain saat, mereka berdua sudah jatuh terguling di atas lantai.
Pada detik yang sama, dalam kamar sebelah terdengar suara gedubrakan, seperti juga ada orang jatuh dari atas ke bawah.
Suara itu adalah akibat jatuhnya Hoan Eng.
Teriakan "Awas!"
Tadi adalah teriakan Hoan Eng.
Tak dinyana, oleh karena teriakannya itu, tempat bersembunyinya sudah diketahui oleh Tong Kee Cun.
Walaupun satu lengannya patah, Tong Kee Cun masih dapat menggunakan tangan yang satunya lagi.
Sebagai seorang ahli senjata rahasia yang dapat mencari musuhnya dengan hanya mendengar suaranya musuh itu, ia segera mengayun tangannya dan melepaskan sebatang Ngotok ciam ke arah lubang tembok.
Meskipun Hoan Eng masih keburu miringkan kepalanya sehingga jarum itu tidak mengenakan matanya, tapi satu jerijinya yang memegang pinggir tembok, tak urung menjadi korban.
Sesudah bertahan beberapa saat, ia roboh terguling ke bawah.
"Dikamar sebelah ada orang!"
Berseru Tong Kee Cun sesudah menimpuk.
Dengan gerakan Lee-hie Tateng (Ikan gabus meletik), Tian Peng loncat bangun.
Tapi, sebelum ia dapat bergerak, Hong Hu sudah menghadang di tengah jendela seraya membentak.
"Mau lari ke mana, kau!"
Berbareng dengan bentakannya, ia menyapu dengan tangannya.
Dengan cepat Tian Peng berkelit, tapi Hong Hu terlebih cepat lagi dan tangannya mengenakan jitu pada pinggang musuh.
Di waktu biasa, tenaga tangan Hong Hu dapat membelah batu besar, maka tidaklah heran, begitu kehantam, mata Tian Peng berkunangkunang.
"Matilah aku!"
Ia berteriak. Tiba-tiba terdengar suara tertawanya Bun Tiat Seng.
"Liokheng,"
Katanya.
"Jangan takut. Dia sudah terluka hebat. Tenaganya sangat berkurang. Mari kita kepung padanya!"
Mendengar perkataan itu, Liok Tian Peng menjadi sadar.
Benar juga, biarpun sakit bukan main, badannya masih dapat bergerak.
Buru-buru ia menarik napas dalam-dalam dan merangkak bangun.
Ia melihat lengan kanan Hong Hu sudah seperti tergantung pada pundaknya dan tidak dapat bergerak-gerak lagi, sedang bajunya penuh darah.
Lengan kirinya masih dapat digunakan, tapi gerakannya sudah sangat kaku.
Sesudah terkena pukulan Toksee ciang, tangan kanan Hong Hu memang sudah menjadi kaku.
Tadi, dalam keadaan mati hidup, bagaikan api lilin yang bersinar terang sebelum padam, tangan itu dapat memecahkan cengkeraman Hunkin cokut khiu.
Tapi, oleh karena gerakan itu, lengan tersebut copot dari tempatnya dan tak dapat bergerak lagi.
Waktu kena dicengkeram, beberapa lembar urat lengan kiri Hong Hu telah menjadi putus, sehingga tenaganya jadi sangat berkurang.
Itulah sebabnya kenapa, walaupun mendapat pukulan telak, Liok Tian Peng tidak sampai menjadi binasa.
Sambil menahan sakit, Tian Peng segera pungut lagi pecutnya dan kembali maju menerjang.
Sesaat itu, muka Cian Sam San kelihatan pucat bagaikan mayat, sedang badannya bergoyang-goyang.
Bun Tiat Seng pun pincang-pincang jalannya dan tidak berani loncat menyerang.
Lima orang yang berada di dalam kamar itu, sebenarnya sudah terluka semua.
Tong Kee Cun patah sebelah lengannya dan keadaannya payah sekali.
Bun Tiat Seng terluka kakinya akibat tendangan, Cian Sam San patah tulang dadanya lantaran kena disikut, sedang Liok Tian Peng sendiri mendapat luka berat pada isi perutnya.
Akan tetapi, jika dibandingkan, Thio Hong Hu-lah yang mendapat luka paling berat.
Di lain saat, mereka sudah bertempur pula untuk mendapat ke-putusan mati atau hidup.
Sesudah melayani belasan jurus, Hong Hu merasa tak dapat bertahan lebih lama lagi.
Di antara kawan-kawannya, adalah Bun Tiat Seng yang lukanya paling ringan.
Oleh karena kakinya sakit, lantas saja ia menggulingkan diri dan menyerang dengan ilmu Kuntee-tong dari Partai Utara.
Sembari bergulingan, Joankiam-nya diputar bagaikan titiran untuk menyabet kedua kaki Hong Hu.
Hong Hu jejek kedua kakinya dan badannya melesat tinggi untuk meloloskan diri dari babatan pedang, dan ketika melayang turun, ia menubruk Cian Sam San yang lantas saja terpental.
Cian Sam San mementang kedua tangannya dengan niatan memeluk musuhnya dengan menggunakan ilmu Hunkin cokut khiu.
Akan tetapi, tangan Hong Hu cepat luar biasa.
Bagaikan kilat, ia cekal pergelangan tangan musuhnya sambil membentak.
"Rasakan bagaimana enaknya lengan copot!"
Cian Sam San mengeluarkan teriakan menyayatkan hati, badannya berguling-guling sampai di kaki tembok, dengan satu tangannya memegang tangan yang lain, yang sudah putus hubungan dengan lengannya!
Sementara itu, badan Thio Hong Hu kembali melesat tinggi dan sebelah tangannya sudah menyekal sebatang golok mustika yang mengeluarkan sinar dan hawa dingin.
Semenjak mengundurkan diri, ia tak pernah menggunakan goloknya, yaitu golok Bianto, yang selalu digantung dalam lemari buku.
Sekarang, dalam pertarungan mati hidup, ia mengambil goloknya itu, dan dalam sekejap, keadaannya jadi berobah, bagaikan harimau bertambah sayap.
Bukan main kagetnya Liok Tian Peng.
Dengan muka pucat, ia mundur beberapa tindak.
"Binatang!"
Membentak Hong Hu.
"Jika hari ini kau orang bisa keluar dari pintuku, aku akan menulis terbalik nama Thio Hong Hu!"
Baru saja Liok Tian Peng memutar badan untuk coba melarikan diri, kesiuran angin tajam menyambar punggungnya dan bajunya sudah kena dirobek golok.
Pada detik mati hidup, selagi Liok Tian Peng mau membalikkan badan untuk menangkis serangan yang menyusul, tiba-tiba Thio Hong Hu berteriak dan mundur beberapa tindak dengan sempoyongan.
"Tikus!"
Membentak Hong Hu.
"Kau belum mampus?"
Sembari berteriak, ia menendang.
Hampir berbareng, Tong Kee Cun mengeluarkan jeritan hebat, tubuhnya bergulingan beberapa kali dan terus tidak bergerak lagi, rokhnya pulang ke alam baka!
Ternyata, barusan waktu mengubar Liok Tian Peng, Hong Hu sudah tidak memperhatikan Tong Kee Cun yang sudah menggeletak di atas lantai dengan luka berat.
Meskipun sebelah lengannya patah, ia ternyata masih dapat menggunakan tangan yang satunya lagi.
Demikianlah, ketika Hong Hu lewat di dekatnya, dengan sekuat tenaga ia menimpuk dengan sepuluh batang jarum beracun, yang semuanya menancap pada lutut Hong Hu!
Melihat musuhnya sudah tinggal matinya, Bun Tiat Seng jadi girang.
"Cian-heng! Cian-heng!"
Ia berseru.
"Hayo bantu sepukulan lagi!"
Dengan terpaksa, Cian Sam San, yang sudah copot sebelah tangannya, maju menyerang.
Keadaan Hong Hu benar-benar sudah payah sekali.
Kaki tangannya terluka berat, ditambah dengan racun hebat yang sudah mulai naik sampai di jantungnya.
Sambil kertek gigi, dengan menggunakan seantero tenaga yang masih ketinggalan, ia terjang tiga musuhnya dengan ilmu golok Ngohouw toanbun tohoat (ilmu golok lima harimau).
Sungguh tak usah malu Thio Hong Hu bergelar Jagoan Nomor Satu di seluruh kota raja.
Walaupun sudah empas-empis, serangannya masih tetap hebat dan ketiga musuhnya terpaksa mundur dengan terpencar.
"Jangan melawan rapat!"
Berseru Cian Sam San.
"Paling lama dia bisa tahan setengah jam lagi!"
Thio Hong Hu tentu saja mengetahui keadaannya sendiri.
Tapi ketika itu ia sudah menghitung dirinya mati dan tujuannya adalah mati bersama-sama tiga musuhnya.
Maka itulah, tanpa menjaga diri, ia menyerang bagaikan harimau edan.
Antara ketiga musuhnya, adalah Bun Tiat Seng yang lukanya paling ringan.
Dengan dilindungi oleh orang she Bun itu, Cian Sam San dan Liok Tian Peng berkelahi sembari lari berputar-putar dan menyerang apabila ada lowongan.
Tujuan mereka adalah "mengikat"
Hong Hu dengan seranganserangan "gerilya", sampai musuh itu rubuh sendirinya.
Semakin lama, kedua matanya Hong Hu jadi semakin kabur.
Sekarang ia sudah tak dapat melihat tegas musuhmusuhnya, yang dilihatnya hanya seperti gundukan-gundukan bayangan hitam.
Sekarang marilah kita tengok Hoan Eng yang jatuh dari atas tembok lantaran jerijinya disambar jarum beracun.
Sesaat kemudian, ia merasa jerijinya kesemutan dan sebagai seorang yang banyak pengalaman, lantas saja ia mengetahui, bahwa ia sudah dilanggar senjata beracun.
Buru-buru ia mencabut goloknya dan menggurat ujung jerijinya, akan kemudian memencet keluar darah beracun yang berwarna hitam.
Sesudah itu ia beset bajunya untuk membalut lukanya.
"Loohoan, bagaimana kita?"
Menanya perwira yang satu.
"Thio Hong Hu sudah memberontak. Bagaimana kita?"
Menanya yang lain.
Hoan Eng tak meladeni mereka.
Ia tempelkan kupingnya di tembok, mendengarkan suara beradunya senjata.
Ia bingung sekali, tak tahu siapa yang menang siapa yang kalah.
Mengingat kekejaman kaizar, mengingat di pengarakannya Ie Kiam dan dikepungnya Hong Hu, darahnya jadi meluap.
Bagaikan kalap, ia angkat goloknya dan membacok tembok berulang-ulang.
Suara bacokan itu terdengar di gelanggang pertempuran.
Bun Tiat Seng dan dua kawannya tentu saja tak tahu, bahwa kamar sebelah sudah dikunci oleh Siauw Houwcu.
Mereka menduga, bahwa pembantu Thio Hong Hu sedang membuka pintu untuk memberi bantuan.
Antara mereka, adalah Liok Tian Peng yang nyalinya paling kecil.
Dialah yang paling dulu loncat keluar dari gelanggang dan sambil menyeret pecut, ia coba melompati jendela.
Hong Hu menarik napas dalam-dalam.
Buat sesaat, kedua matanya terang kembali.
Sambil membentak keras, ia membacok.
Sekali ini orang she Liok itu tak dapat singkirkan dirinya lagi.
Golok Hong Hu mampir tepat di pundaknya dan ia roboh dengan tidak bernyawa lagi!
Cian Sam San bengong sedetik, saking kagetnya.
Sebelum mencabut Bianto dari tubuh musuhnya, Hong Hu mengirim satu tendangan dengan kaki kirinya.
Kali ini pun ia berhasil, kakinya mengenakan tepat pada dadanya Cian Sam San.
"Bun-heng..."
Berseru Cian Sam San dengan suara lemah dan rubuh tanpa berkutik lagi. Selagi Hong Hu "membereskan"
Kedua musuhnya.
Bun Tiat Seng loncat dan menikam punggungnya Hong Hu dengan Joankiam-nya.
Pada saat ujung pedang menempel pada punggung musuhnya dan selagi ia mau menyodok ke depan, mendadak ia dengar teriakannya Cian Sam San yang menyayatkan hati.
Ia terkesiap, sehingga gerakan Joankiam jadi agak lambat.
Pada detik itu, Hong Hu sudah meloncat ke depan, akan kemudian memutarkan badannya.
"Hm! Sekarang hanya ketinggalan kau seorang!"
Membentak Hong Hu dengan suara menyeramkan.
"Thio Tayjin, ampuni aku!"
Memohon Bun Tiat Seng dengan suara gemetar.
Thio Hong Hu mendelik sambil menimpuk dengan goloknya.
Dengan disertai sinar dingin, Bianto menyambar ke uluatinya Bun Tiat Seng dan terus menembus sampai di punggungnya!
Tanpa mengeluarkan suara, dia roboh celentang.
Sembari tertawa terbahak-bahak, Hong Hu memungut senjatanya dan menyingkirkan meja batu yang melintang di tengah pintu.
Ia menghampiri pintu batu dan membentak.
"Siapa di dalam? Keluar semuanya!"
Hoan Eng dorong keluar kedua perwira itu dan ia sendiri pun mengikuti dari belakang. Melihat Hoan Eng, sambil melintangkan senjata, Hong Hu menanya.
"Hoan Eng, ada urusan apa kau datang ke sini? Siapa yang kirim dua perwira ini?"
Kedua perwira itu pucat mukanya.
"Kami... kami datang untuk memohon pertolongan Tayjin,"
Jawab salah satu antaranya dengan suara terputus-putus.
"Apa?"
Membentak Hong Hu.
"Kau rasa boleh keluar masuk sesukamu di rumahku?"
Sedang kedua perwira itu gemetar sekujur badan, Hoan Eng mengawasi jago tua itu dengan hati duka.
Ketika itu, seluruh badannya Hong Hu berlumuran darah, tapi keangkerannya masih tetap seperti sediakala.
Tanpa merasa, Hoan Eng mengucurkan air mata dan menyekal tangannya orang tua itu.
"Thio Pehpeh, bagaimana keadaanmu?"
Ia menanya dengan suara terharu.
"Kenapa kau?"
Membentak Hong Hu.
"Kenapa kau ajak orang luar datang ke sini?"
"Pehpeh,"
Jawabnya.
"Kau mengaso dulu. Sebentar aku akan ceritakan."
"Baiklah,"
Kata Thio Hong Hu yang lantas masuk ke kamar batu dan duduk bersila. Buru-buru Hoan Eng mengeluarkan obat luka untuk mengobati pamannya. Hong Hu mendelik.
"Taroh!"
Ia memerintah.
"Siapa perintah kau bikin laga seperti neneknenek. Lekas bilang! Siapa dua pembesar itu?"
"Apa yang dikatakan mereka adalah hal yang sebenarnya,"
Menjawab Hoan Eng sesudah menjalankan kehormatan.
"Dari Ouwpak, mereka mengantar uang negara sebanyak tiga puluh laksa tahil perak. Di tengah jalan, perak itu kena dirampok. Mereka datang ke sini buat memohon pertolongan Pehpeh."
"Ada sangkut paut apa dengan kau?"
Menanya sang paman.
"Aku turut melindungi uang itu,"
Sahutnya.
"Kenapa kau begitu tolol!"
Membentak Hong Hu. Hoan Eng buru-buru berlutut dan berkata.
"Uang itu adalah kiriman Khoan Samtee. Aku tak dapat menolak mengingat hubungan mendiang ayahanda... Pehpeh, bagaimana kau rasakan?"
Tadi, ketika belum mengetahui maksud kedatangan Hoan Eng dan kedua perwira itu, untuk sementara, Hong Hu dapat mempertahankan dirinya.
Sekarang, sesudah mengetahui mereka tak bermaksud jahat, perasaan tegangnya hilang dan mukanya lantas saja berobah pucat dan badannya bergoyanggoyang.
Hoan Eng bangun dan coba memberi pertolongan.
"Tak usah,"
Berkata Hong Hu.
"Selagi aku masih dapat bicara, kau dengarlah omonganku."
Hoan Eng merasa tak tega dan mau juga coba memegang badannya orang tua itu.
"Kau mau dengar perintahku atau tidak!"
Membentak sang paman.
"Hm! Kau kena Ngotok ciam. Lekas ambil obat pemunah dari badannya Tong Kee Cun."
Hoan Eng mengawasi lukanya.
Warna merah ternyata sudah melebar sampai di telapakan tangannya.
Ia terkejut oleh karena tidak menduga racun Ngotok ciam sedemikian liehay.
Mengingat, bahwa Hong Hu pun kena racun serupa, buru-buru ia menggeledah mayatnya Tong Kee Cun dan mendapat sebungkus yowan, yang lantas saja diserahkan kepada Hong Hu.
"Benar,"
Kata sang paman.
"Kau telan tiga butir."
"Thio Pehpeh, kau juga harus makan obat itu,"
Kata Hoan Eng. Hong Hu tertawa sedih seraya berkata.
"Jika satu jam lebih siang, mungkin masih ada harapan. Tapi sekarang, meskipun mendapat obat dewa, sudah tidak menolong lagi!"
Sebagai seorang yang sudah kawakan dalam dunia Kangouw, Hoan Eng tak membantah omongan pamannya.
Dengan hati bergoncang ia mengawasi mukanya jago tua itu, yang dari berwarna abu-abu sekarang sudah berobah menjadi hitam.
Tanpa merasa, bungkusan obat itu terlepas dari cekalannya dan jatuh di atas lantai.
"Thio Pehpeh,"
Katanya sembari berlutut.
"Pesanan apakah yang Pehpeh hendak berikan kepada siauwtit (keponakan)?"
Thio Hong Hu tertawa bergelak-gelak."Budi dan sakit hati sudah terbalas semuanya, ada apa lagi yang aku dapat memesan?"
Kata ia.
"Hm! Hanya satu! Kau dengarlah!"
"Bret!"
Ia membeset bajunya yang penuh darah.
"Bawalah sobekan baju ini dan golokku dan pergilah kau mencari Thio Tan Hong!"
Kata sang paman.
"Sesudah perak dapat diambil pulang, suruh Khoan Kie segera meletakkan jabatannya!"
Dengan air mata bercucuran. Hoan Eng menyambuti sobekan baju dan golok mustika itu.
"Ada apa lagi?"
Ia menanya.
"Ketika datang di sini, apakah kau tidak bertemu Siauw Houwcu?"
Menanya Hong Hu.
"Siauw Houwcu pergi mencari Pehpeh,"
Jawabnya.
Tubuhnya Hong Hu bergemetar, tapi parasnya tetap tenang.
Dalam menghadapi maut, orang gagah itu sama sekali tak menjadi gentar dan Hoan Eng merasa kagum sekali.
Bagaikan api lilin yang mendadak terang sebelum padam sama sekali, Hong Hu tiba-tiba membuka kedua matanya.
"Jika Siauw Houwcu masih hidup,"
Katanya dengan suara terburu-buru, seolah-olah kuatir keburu mati.
"Serahkanlah golokku kepadanya dan suruhlah ia mengangkat Thio Tan Hong sebagai guru."
Sehabis berkata begitu, ia mengebas tangannya dan menyambung perkataannya.
"Dengan penduduk dusun, aku mempunyai hubungan yang sangat baik. Jenazahku tentu dirawat baik-baik oleh mereka. Kau sendiri boleh segera berangkat. Dengan tangan sendiri, aku telah membalas segala sakit hatiku, sehingga meskipun mati, aku mati dengan mata meram. Hanya... satu... penyesalan... aku tak dapat... bertemu pula... dengan Ie Kokloo... Thio Tan Hong..."
Suaranya semakin lama, semakin lemah dan sesudah mengucapkan perkataan "Hong", ia meramkan kedua matanya.
Hoan Eng loncat dan meraba dadanya.
Ahli Silat Nomor Satu di seluruh kota raja sudah tiada lagi dalam dunia!
Hoan Eng menangis tersedu-sedu.
Ia tak nyana, bahwa jago yang begitu disegani orang, harus menutup mata dalam sebuah kamar batu, tanpa disaksikan oleh puteranya sendiri.
Sesudah kenyang menangis, Hoan Eng segera berlutut diha-dapan jenazahnya sang paman, sebagai pemberian hormat yang penghabisan kali.
Mendadak, kupingnya jang tajam mendengar suara kresekan.
"Ah, memang juga aku tak boleh berdiam lamalama di sini."
Katanya di dalam hati.
Buru-buru ia masukkan sobekkan bajunya Hong Hu ke dalam saku dan sambil menenteng Bianto, ia berjalan keluar dari kamar itu.
Suara yang didengar Hoan Eng, ternyata adalah suaranya kedua perwira itu, yang sesudah menunggu lama di luar dengan tidak sabaran, coba melongok-longok ke dalam buat mencari tahu, bagaimana kesudahan pertemuan Hoan Eng dengan Thio Hong Hu.
Melihat Hoan Eng berjalan keluar dengan menenteng golok yang sinarnya berkilauan, mereka terkejut.
"Loohoan, bagaimana?"
Menanya satu antaranya.
"Sebulan kemudian, kalian tunggui aku di tepi telaga Thayouw,"
Jawabnya dengan pendek.
"Apa?"
Menegasi mereka.
"Thio Tayjin sudah meluluskan permohonanmu,"
Sahutnya.
"Satu bulan kemudian, dihitung dari hari ini, kalian berdua tunggui aku di tepi telaga Thayouw untuk mendapat tahu kesudahannya."
"Sebulan kemudian? Bagaimana kami dapat menunggu begitu lama?"
Kata mereka. Hoan Eng jadi naik darah.
"Jika kalian tak dapat menunggu, aku pun tak dapat menolong lagi,"
Katanya dengan suara keras.
Sehabis berkata begitu, ia lantas berjalan dengan tindakan cepat.
Kedua perwira itu mengudak sembari berteriak-teriak, tapi, sesaat kemudian, di bawah sinar rembulan, mereka hanya dapat melihat bayangan Hoan Eng yang kaburkan kudanya keras sekali.
Mereka tak berani balik ke rumah Hong Hu dan dengan menunggang kuda, mereka coba menyusul, tapi Hoan Eng sudah meninggalkan mereka jauh sekali dan terus kaburkan tunggangannya ke arah utara.
Mereka kaget tercampur heran.
"Dia kata, di pinggir Thayouw, tapi kenapa dia pergi ke utara dan bukan ke selatan?"
Kata satu antaranya.
"Apa bukan dia guyon-guyon?"
Mereka tahan tunggangannya dengan perasaan duka sekali.
Sungguh mereka tak mengerti perkataan Hoan Eng.
* * * Empat hari kemudian, kota raja mendapat kunjungan seorang tamu yang pakaiannya penuh debu.
Orang itu adalah Hoan Eng.
Dengan membedal kudanya siang malam, dalam empat hari, ia sudah tiba di kota raja.
Di jalan-jalan di seluruh kota Pakkhia, ia melihat berdiri pintu-pintu gerbang indah dengan tengloleng beraneka warna.
Pada saban pintu gerbang, terdapat tulisan yang bunyinya seperti berikut.
"Sianghong kembali ke atas takhta, seantero rakyat memberi selamat."
Akan tetapi, paja-ngannya adalah pajangan pesta, suasananya adalah suasana kesedihan.
Siapa yang tak buta akan dapat melihat paras duka pada mukanya setiap orang.
Hoan Eng naik ke loteng sebuah rumah makan besar.
Di atas tembok, ia melihat pemberiantahu dengan tulisan.
"Jangan bicarakan urusan negara."
Di situ hanya terdapat beberapa tamu yang sedang bicara satu dengan yang lain sambil berbisik-bisik.
Hoan Eng teriaki pelayan dan minta arak putih dengan dua kati daging sapi.
Sambil makan, ia memasang kupingnya.
Beberapa tamu itu ternyata sedang membicarakan halnya Ie Kiam.
Pem-beriantahu di atas tembok ternyata tidak digubris mereka.
Dari rumah makan itu, Hoan Eng pergi ke beberapa tempat yang biasanya ramai.
Dari penyelidikannya itu, kasar-kasar ia sudah mendapat satu gambaran tentang keadaan di kota raja pada waktu itu.
Apa yang dikatakan oleh Liok Tian Peng, adalah benar.
Sesuai dengan rencananya, Kie Tin sudah berhasil merebut kembali takhta kerajaan.
Sebagaimana diketahui, sedari pulang ke Tiongkok, ia sudah di penjarakan di Lamkiong oleh adiknya (Kie Giok), yang sungkan mengembalikan takhta itu kepadanya.
Untuk menjaga kakaknya, Kie Giok merasa perlu menggunakan tenaganya seorang jenderal yang berpangkat Cengwanpek, Ong Kie namanya.
Tapi, tak dinyana, semua kewaspadaan itu tak dapat mencegah persekutuan Kie Tin.
Perlahan-lahan, Kie Tin bersekutu dengan para menteri dan pada akhirnya, ia malahan berhasil menarik Ong Kie ke dalam persekutuannya.
Demikianlah, pada Kengthay tahun ke-8, yaitu tahun ke delapan semenjak Kie Giok naik ke takhta, pada malam kedua dari perayaan Goansiauw (Capgomeh), Ong Kie membuka pintu Lamkiong lebar-lebar dan membiarkan tentaranya Kie Tin masuk, yang lantas saja mengepung keraton kaizar.
Pada besok hari, Kie Tin sudah kembali ke takhtanya dengan didukung oleh menteri-menteri yang sudah bersekutu dengan ia.
Berbareng dengan itu, ia mengumumkan, bahwa Kie Giok sudah "wafat".
Kie Tin bertindak cepat.
Ia mengumumkan nama "Thiansun"
Sebagai nama pemerintahannya, memberi pengampunan umum kepada persakitan di seluruh negeri, dan pada hari pengampunan itu, ia jebluskan Ie Kiam ke dalam penjara istana!
Rakyat di kota raja berduka bukan main.
Banyak, banyak sekali rakyat, secara diam-diam memasang meja sembahyang di rumahnya untuk memohon kepada Tuhan, agar keselamatan Ie Kiam dilindungi.
Macam-macam desas-desus tersiar di seluruh kota.
Banyak orang mengatakan, bahwa sejumlah hiapsu (pendekar) sedang bersiap-siap untuk membongkar penjara.
* * * Malam itu, di dekat penjara istana kelihatan berkelebat bayangan orang.
Orang itu adalah Hoan Eng.
Di luar penjara, serdadu-serdadu penjaga mundar-mandir tak henti-hentinya.
Hoan Eng mengawasi dengan mata tajam, sedang otaknya diasah guna mencari jalan untuk masuk ke dalam.
Tiba-tiba terdengar suara terompet.
Berbareng dengan itu, di atas genteng muncul banyak bayangan hitam yang segera menuju ke arah utara barat dengan berbondongbondong.
Hoan Eng merasa heran.
Ia tak tahu, apa artinya itu semua.
Akan tetapi, itu adalah kesempatan luar biasa baginya.
Buru-buru ia mengeluarkan dua butir batu hui-hongsek dari sakunya dan melontarkan batu-batu itu ke tengah-tengah udara.
Begitu berbentrok, kedua batu itu mengeluarkan suara keras.
Dua penjaga loncat keluar untuk menyelidiki suara itu.
Tanpa bersangsi, Hoan Eng mengenjot badan dan hinggap di atas tembok.
Malam itu adalah malam tak berbintang.
Dengan pakaiannya yang berwarna hitam dan dengan ilmu entengkan badannya yang cukup tinggi, gerakan Hoan Eng sama sekali tak dapat dilihat oleh kedua penjaga itu yang kepandaiannya masih sangat rendah.
Hati-hati, Hoan Eng merangkak di atas genteng.
Sayupsayup ia mendengar teriakan-teriakan di tempat jauh.
Baru saja melewati dua wuwungan, tiba-tiba ia dibentak dengan perkataan "Thiansun".Hoan Eng tahu, bahwa "Thiansun"
Adalah kata-kata rahasia yang digunakan pada malam itu. Dengan suara tak terang, ia menjawab dengan dua perkataan pula.
"Apa?"
Membentak orang itu.
"Lebih keras sedikit!"
Hoan Eng meloncat, panah tangannya menyambar tenggorokan orang itu.
Tanpa bersuara ia roboh di atas genteng.
Hoan Eng lalu membuka pakaian penjaga itu yang lantas saja dipakai olehnya sendiri.
Sesudah itu, ia loncat turun dan bersembunyi di tempat gelap.
Beberapa saat kemudian, seorang penjaga lain mendatangi sambil menengteng lentera.
Hoan Eng meloncat dan kebaskan goloknya di muka orang itu.
"Di mana Ie Kokloo di penjarakan?"
Ia membentak dengan suara perlahan. Penjaga penjara yang tadi kaget setengah mati, mendadak tertawa girang.
"Kau mau menolong Ie Kokloo?"
Ia menegasi.
"Di kamar (sel) persakitan yang mendapat hukuman mati, kamar nomor delapan. Dari sini jalan terus, sampai di ujung biluk ke kanan. Hitung saja, kamar yang ke delapan adalah kamarnya Ie Kokloo."
Hoan Eng masukkan Bianto ke dalam sarung, tapi, selagi ia mau bertindak, penjaga penjara itu berkata pula.
"Eh, tanda rahasia malam ini adalah Thiansun Banlian (Thiansun berlaksa tahun). Ingatlah!"
Sesuai dengan petunjuk itu, dengan hati tetap, Hoan Eng masuk ke dalam. Setiap bentakan "Thiansun", dijawabnya dengan "Banlian"
Dan dapat berjalan terus tanpa rintangan.
Antara sipir-sipir itu, terdapat satu dua orang yang merasa curiga oleh karena suara Hoan Eng yang agak asing, akan tetapi, mereka diam-diam saja.
Di depan kamar nomor delapan berdiri seorang penjaga dengan menyekal pedang terhunus.
Mendadak, Hoan Eng menubruk, sambil mengayun golok.
Tapi orang itu gesit luar biasa.
Walaupun di-bokong, ia mash dapat berkelit.
"Celaka!"
Hoan Eng mengeluarkan seruan tertahan. Penjaga itu memutar badan, tapi aneh sungguh, sebaliknya dari menyerang ia bersenyum! "Lekas bacok diriku, di tempat yang tidakmembinasakan,"
Katanya.
Hoan Eng terkesiap, tapi lantas saja ia menjadi sadar.
Penjaga penjara itu pun ingin menolong Ie Kiam!
Mengingat kemulian orang.
Hoan Eng jadi terharu, sehingga ia tak tega untuk menurunkan tangan.
"Lekas!"
Kata penjaga itu.
"Setengah jam lagi, tukar penjaga."
Sambil mengeraskan hati, Hoan Eng mengangkat goloknya dan menggurat kaki orang itu.
"Jangan begitu! Lebih dalam sedikit!"
Kata penjaga itu sembari cekal tangannya Hoan Eng yang memegang golok dan membacok dengkulnya sendiri.
Sesudah itu, ia menotok jalan darah Ahhiat (jalanan darah yang membikin orang jadi gagu) di pinggangnya sendiri.
Di lain saat, ia roboh sambil menahan sakit, tapi mukanya terlukis senyuman!
Sembari menghela napas panjang, Hoan Eng membacok kunci yang lantas saja jatuh berarakan di atas lantai, tiba-tiba ia dengar suara seorang tua yang bersyair dengan suara perlahan.
"Di antara laksaan serangan ku munculkan diri, api membakar ku tak perduii, badan hancur 'ku tak takuti, asai nama bersih dalam dunia ini."
Itulah suatu syair, yang pada peristiwa "Tobokpo", telah digunakan oleh Ie Kiam untuk memperlihatkan kebersihan dirinya.
Dengan perlahan Hoan Eng menolak pintu, kedua tangannya meraba-raba kamar yang gelap itu.
"Siapa? Apa Cu-jie (anak Cu)?"
Menanya Ie Kiam.
"Kenapa kau tak turut omongan ayah dan kembali datang ke sini?"
Oleh karena keadaan mendesak, Hoan Eng tak sempat menanyakan siapa adanya "Cu-jie". Buru-buru ia menyalakan bahan api yang dibawanya dan berbisik.
"e Kokloo, apa kau terluka? Ijinkanlah aku menggendong kau untuk keluar dari sini."
Di bawah penerangan yang remang-remang, Ie Kiam, yang rambutnya sudah putih semua, duduk bersila dengan kedua tangan diborgol.
Dalam keadaannya yang menyedihkan itu, kedua matanya tetap bersinar dan keangkerannya tetap tidak berkurang.
"Siapa?"
Ia membentak. Hati Hoan Eng berdebar keras, air matanya mengucur deras. Sambil menekuk lututnya, ia menjawab dengan suara perlahan.
"Ayahku adalah Siewie Hoan Cun, dahulu pernah jadi pengikut Kokloo."
"Oh!"
Berkata Ie Kiam.
"Kalau begitu, kau adalah keponakannya Hoan Tiong, puteranya Hoan Cun. Untuk apa kau datang kemari?"
"Aku datang untuk menolong Kokloo keluar dari tempat ini,"
Sahutnya sembari mencabut Bianto untuk membabat borgolan.
"Inilah pekakas menghukum dari kerajaan, tak dapat sembarangan diganggu,"
Berkata orang tua itu. Hoan Eng menjadi bingung.
"Jika borgolan tidak diputuskan, cara bagaimana kita dapat melarikan diri?"
Kata ia.
"Aku adalah seorang menteri besar dari kerajaan Beng!"
Ie Kiam membentak dengan mata melotot.
"Cara bagaimana aku dapat melarikan diri dengan jalan kabur dari penjara?"
Hoan Eng tak menduga, orang tua itu sedemikian "tolol".
"Tayjin!"
Ia berkata dengan suara bingung.
"Jika Tayjin sungkan kabur, penasaranmu akan tetap merupakan suatu penasaran."
Ie Kiam tertawa terbahak-bahak.
"Jika aku takut mati, dahulu hari aku tentu tidak perintah In Tiong pergi ke Watzu untuk menyambut Hongsiang,"
Katanya dengan suara nyaring.
"Aku memang sudah menduga bakal ada kejadian seperti di ini hari. Hoan Hiantit! Kau pergilah!"
Tetapi manalah Hoan Eng mau gampang-gampang berlalu.
"Aku sudah mengambil putusan pasti,"
Berkata Ie Kiam dengan gusar.
"Aku bersumpah tak akan melarikan diri!"
"Kokloo!"
Berkata Hoan Eng dengan suara memohon.
"Apakah Kokloo tidak merasa kasihan kepada rakyat di seluruh negeri?"
"Usiaku sekarang sudah enam puluh tahun lebih, sehingga meskipun tidak lantas mati, aku adalah seperti lampu yang sudah kehabisan minyak,"
Berkata orang tua itu sambil menghela napas.
"Di antara putera dan puteri Tiongkok, jumlah ksatria tak dapat dihitung berapa banyaknya. Satu Ie Kiam mati, ratusan atau ribuan Ie Kiam munculkan diri. Tak dapat kau bicara begitu."
"Akan tetapi, mati secara Kokloo, adalah mati secara tidak berharga!"
Berkata Hoan Eng dengan bernapsu.
"Kenapa tidak berharga?"
Menanya Ie Kiam.
"Jika matiku tidak berharga, maka matinya Gak bubok ong (Gak Hui) juga tidak berharga. Ketika itu, dalam tangannya ia memegang kekuasaan atas ratusan laksa serdadu, tapi ia toh masih sungkan melanggar undang-undang kerajaan dan rela menerima hukuman. Meskipun aku tak berani menelad contohnya, tapi sedikitnya aku pun sungkan melanggar undang-undang!"
Harus diingat, bahwa semenjak muda sehingga menjabat pangkat yang sangat tinggi, dalam alam pikirannya, Ie Kiam hanya mengetahui, bahwa seorang menteri yang setia harus tunduk pada kemauan sang jungjungan.
Cara berpikir yang sedemikian sudah melekat dalam otaknya selama beberapa puluh tahun, sehingga Hoan Eng tentu saja tidak dapat merubahnya dalam tempo yang sangat pendek itu.
Hoan Eng masih ingin membujuk terus, akan tetapi, kupingnya mendadak mendengar suara bergulingan dari si penjaga penjara yang barusan sudah melukai dirinya sendiri.
Ia mengetahui, bahwa itu adalah satu peringatan, supaya ia bekerja terlebih cepat.
"Tayjin... Tayjin..."
Ia mengeluh.
"Pergi!"
Membentak Ie Kiam.
"Jika kau tak menurut, aku akan benturkan kepala di tembok, supaya binasa di hadapanmu!"
Hoan Eng menghela napas panjang.
"Kokloo,"
Katanya dengan suara duka sekali.
"Apa Kokloo mempunyai pesanan apa-apa?"
"Aku tak pernah berdosa terhadap Tuhan, tak pernah menyakiti sesama manusia,"
Kata orang tua itu dengan suara tenang.
"Ada apa yang aku harus memesan? Pergilah!"
Dengan air mata mengucur, Hoan Eng memutar badan dan bertindak keluar.
"Ada satu urusan, harap kau tolong menyampaikannya,""
Ie Kiam mendadak berkata. Hoan Eng hentikan tindakannya.
"Pergilah ke telaga Thayouw dan cari Thio Tan Hong,"
Memesan Ie Kiam.
"Suruh ia lekas-lekas melarikan diri."
"Kokloo legakan hati,"
Kata Hoan Eng.
"Pesanan ini aku akan segera jalankan."
Baru habis ia berkata begitu, pintu penjara kedengaran ditendang terpental.
"Ada orang membongkar penjara!"
Demikian teriakan beberapa orang. Begitu loncat keluar dari kamar Ie Kiam, Hoan Eng putarkan goloknya dan menerjang beberapa musuh yang sudah tiba dihadapan-nya. Dengan suara "trang!"
Senjata beberapa orang itu sudah terbabat putus oleh Bianto yang tajam luar biasa. Mereka mundur dengan kaget, dan tanpa sia-siakan ketika bagus, Hoan Eng loncat naik ke atas genteng.
"Jangan lari!"
Satu bentakan terdengar, disusul dengan kesiuran angin tajam di belakang kepala Hoan Eng.
Hoan Eng berkelit sembari menyampok dengan goloknya.
Dengan satu suara keras, lelatu api berhamburan.
Hoan Eng terkesiap oleh karena bukan saja Bianto tak dapat menguntungkan senjata musuh, malahan tangannya sendiri terasa sakit dan kesemutan.
Ia mengawasi dan ternyata musuhnya adalah seorang Wiesu (pahlawan istana) yang berseragam hitam dan bersenjata golok besar yang beratnya kira-kira lima puluh kati.
Golok itu adalah senjata yang biasanya digunakan dalam peperangan dengan menunggang kuda.
Bahwa Wiesu tersebut dapat menggunakannya dalam pertempuran di atas genteng yang memerlukan loncatanloncatan tinggi, dapatlah dibayangkan berapa liehaynya pahlawan itu.
Hoan Eng kaget, tapi musuhnya pun tidak kurang kagetnya.
ia adalah seorang Giecian Siewie (pengawal pribadi kaizar) kelas satu yang ditugaskan untuk menjaga penjara istana.
Begitu golok besarnya kebentrok dengan Bianto yang tipis kecil, ia merasakan tangannya kesemutan dan goloknya pun sempoak sebagian.
"Hei! Mana yang lain! Lekas datang!"
Ia berteriak.
Dengan gerakan Tiangcoa Cueng (Ular keluar dari lubang), Hoan Eng membacok.
Sekonyong-konyong, berbareng dengan satu bentakan, dua bola besi menyambar mukanya.
Hoan Eng menundukkan kepalanya dengan gerakan Honghong Tiamtauw (Burung Hong manggutkan kepala) sambil menyampok dengan goloknya.
Dengan satu suara "trang!"
Kedua bola besi itu sudah ditarik pulang.
Dengan satu lirikan, Hoan Eng dapat kenyataan, bahwa di sebelah kirinya sudah muncul seorang Wiesu lain yang berseragam hitam.
Dua bola besi itu bukan senjata rahasia, tapi kepalanya senjata Liancu tui, atau bandringan.
Liancu tui adalah semajam senjata yang sukar digunakan.
Bahwa Wiesu itu dapat menggunakannya secara begitu leluasa, dapatlah dibayangkan, bahwa ia itu bukannya seorang lawan enteng.
Dalam jarak kurang lebih setombak, Wiesu itu segera menyerang dengan bandringannya.
Panjang rantai Liancu tui ada delapan kaki lebih dan jika diputar, kedua bola besinya dapat menghantam segala apa yang berada dalam jarak satu tombak.
Oleh karena itu, untuk sementara, Hoan Eng tak dapat menoblos keluar.
Sementara itu, Wiesu yang bersenjata golok sudah menyabet pinggangnya.
Hoan Eng berkelit, sembari menyampok dengan Bianto.
Tiba-tiba di sebelah kanan kembali terdengar bentakan dan lagi bayangan hitam berkelebat masuk ke dalam gelanggang pertempuran.
Begitu musuh baru itu menggerakkan tangannya, dua kesiuran angin tajam menyambar jalan darah Kiankeng hiat, di kedua pundak Hoan Eng.
Dengan gerakan Huihong payliu (Angin meniup pohon liu), Hoan Eng buru-buru membungkuk, goloknya menyampok Liancu tui, kakinya menendang golok musuh, disusul dengan satu loncatan ke samping.
Musuh ketiga yang baru datang itu adalah seorang yang berbadan kecil dan kate (pendek), sedang dalam kedua tangannya ia menyekal sepasang Poankoan pit yang panjang hanya delapan dim.
Tak usah disangsikan lagi, bahwa seorang yang dapat menggunakan senjata sedemikian kecil, pastilah seorang ahli menotok jalan darah.
Andaikata kepandaian Hoan Eng dua kali lipat lebih tinggi, ia masih tak akan gampang-gampang meloloskan diri.
Ketiga Wiesu itu adalah Giecian siewie kelas satu, sedang masingmasing senjatanya mempunyai ke-liehayan yang berbedabeda.
Golok besar adalah senjata berat yang tak takut membentur golok mustika, Liancu tui adalah senjata yang dapat menghantam dari jauh dan dari dekat, sedang Poankoan pit selalu menyambar jalan darah.
Tiga rupa senjata itu, dengan tiga macam serangannya, sudah membikin Hoan Eng bingung sekali.
Sesudah bergebrak kurang lebih tiga puluh jurus, Hoan Eng sudah merasa tak tahan lagi.
Sementara itu, di bawah genteng sudah terdengar teriakan-teriakan dari para penjaga penjara.
Belasan orang yang dapat meloncat tinggi, sudah naik ke genteng dan mengurung di empat penjuru.
Hoan Eng kertek giginya dan berkelahi bagaikan banteng edan tanpa memperdulikan lagi keselamatan dirinya.
Pada detik yang sangat berbahaya, di wuwungan sebelah tiba-tiba berkelebat bayangan orang yang mengenakan pakaian serba putih dan melihat gerakan-gerakannya, Hoan Eng merasa seperti sudah pernah bertemu dengan orang itu.
Saat itu, Wiesu yang bersenjata Poankoan pit mendadak menghantam dengan senjatanya sembari berseru.
"Kena!"
Oleh karena goloknya sedang menyampok Liancu tui, Hoan Eng tidak sempat menyambut Poankoan pit musuh, dan dalam keadaan kedesak, buru-buru ia mengerahkan pernapasannya guna menutup semua jalan darahnya.
Di lain saat, pinggangnya kesemutan oleh karena jalan darah Cengpek hiat sudah terkena totokan.
Dan, berbareng dengan itu, Wiesu yang bersenjata golok besar membacok kepalanya dengan senjatanya yang berat.
Walaupun mengerti ilmu Piekie huhiat (Menutup hawa melindungi jalan darah), tenaga dalam Hoan Eng belum mencapai puncaknya.
Maka itu, begitu pinggangnya terkena totokan, tenaga lengannya segera berkurang.
Ia mengetahui, bahwa tenaganya tidak cukup untuk menyambut golok musuh yang beratnya kira-kira lima puluh kati.
Akan tetapi, lantaran tiada jalan lain, apa boleh buat ia mengangkat Bianto untuk menyambut.
"Matilah aku!"
Ia mengeluh.
Tapi, pada detik Bianto dan golok besar hampir beradu, tak diduga-duga Wiesu itu mengeluarkan teriakan kesakitan dan goloknya terpental dari tangannya.
Dan secara kebetulan sekali, golok yang terpental itu menghantam Liancu tui dan, berbareng dengan satu suara keras, bandringan itupun jatuh ke bawah genteng.
Satu suara tertawa nyaring yang sangat merduh tiba-tiba terdengar.
Hoan Eng mengawasi dan mendapat kenyataan, bahwa bayangan putih yang barusan berkelebat di wuwungan seberang adalah seorang pemuda.
Di lain saat, pemuda itu mengayun tangannya dan belasan Kimhoa (Bunga emas) yang berkredep melesat ke tengah-tengah udara yang gelap itu.
Para Wiesu tak pernah mengimpi, bahwa dalam dunia terdapat senjata rahasia yang begitu liehay.
Siapa juga yang kelanggar Bunga emas itu, badannya lantas lemas dan roboh di atas genteng.
Dalam tempo sekejap, sebagian besar dari belasan Wiesu yang mengurung sudah pada rebah tanpa berkutik.
Bunga emas itu ternyata tak membedakan kawan atau lawan.
Satu antaranya menyambar lengan Hoan Eng dan tangan kanannya lantas saja tak dapat digunakan lagi.
"Lekas panggil Yo Tayjin!"
Berseru Wiesu yang bersenjata Poankoan pit.
Baru habis ia berseru begitu, sekuntum bunga menyambar dan ia rubuh sesudah sempoyongan beberapa tindak.
Hoan Eng tak berani berlaku ayal.
Sambil memindahkan goloknya ke tangan kiri, ia menarik napas dalam-dalam dan lalu kabur dengan menggunakan ilmu entengkan badan.
Sesudah melewati dua wuwungan, ia menoleh ke belakang.
Di atas genteng kelihatan dua bayangan yang sedang ubarubaran dan satu antaranya adalah si pemuda, pemuda penyebar Kimhoa.
Dalam tempo sekejap, mereka sudah menghilang ke jurusan utara barat.
Hoan Eng berdiam sejenak sambil meng-mengingat-ingat.
Tertawa yang nyaring, gerakan yang bagaikan kilat...
ah, ia sekarang ingat!
Pemuda itu bukan lain dari pada si anak sekolah berkuda putih yang telah mempermainkan Siauw Houwcu!
Saat itu, ratusan obor sudah dipasang terang-terang, sedang di atas genteng kelihatan berlari-lari puluhan orang, beberapa antaranya sudah memburu ke arahnya.
Hoan Eng menghela napas.
Dengan lengan mendapat luka dan kepandaian yang masih sangat rendah, ia tahu tak akan dapat berbuat apa-apa.
"Ah, biarlah tugas menolong Kokloo aku serahkan kepada si pemuda penyebar bunga,"
Katanya di dalam hati dan lain kabur dengan menggunakan ilmu entengkan badan Lioktee huiteng (Terbang di atas bumi).
Ia tiba di rumah penginapan pada jam empat pagi.
Ia membuka bajunya dan untung, lukanya hanya luka di luar.
Baru saja memakai obat luka, tiba-tiba kepalanya puyeng dan matanya berkunang-kunang, lalu rubuh di atas pembaringan.
Tak tahu sudah lewat berapa lama, barulah Hoan Eng sadar dari pingsannya.
Ia membuka mata dan melihat api lampu yang kelak-kelik.
Di lain saat, ia terkesiap sebab Tiamsiauwjie (pelayan) dengan mengenakan pakaian berkabung, sedang berdiri di kepala ranjang sambil mengucurkan air mata.
"Eh, aku toh belum mati! Kenapa kau menangis?"
Ia menanya.
"e Tayjin..."
Sahutnya.
"e Tayjin sudah pulang kealam baka!"
"Apa benar?"
Hoan Eng berseru, matanya dibuka lebarlebar.
"Pagi ini beliau berpulang,"
Sahut si pelayan sambil manggutkan kepalanya.
"Seluruh penduduk Pakkhia, kecuali kawanan menteri bangsat, berkabung semuanya!"
Dengan satu teriakan menyayatkan hati, Hoan Eng kembali pingsan! Setelah sadar, si pelayan ternyata masih duduk di kepala ranjang.
"Jam berapa ini?"
Menanya Hoan Eng.
"Kau pingsan sehari dan setengah malam,"
Jawabnya.
"Ini adalah malam hari kedua."
Hati Hoan Eng seperti diiris-iris. Ia tak nyana, bahwa kaizar bebodoran itu berani mengambil jiwa Ie Kiam, seorang menteri utama yang sudah menolong kerajaan Beng dari kemusnahan.
"Hoan Giesu (ksatria),"
Kata si pelayan.
"Bagaimana kau rasakan? Jika bisa jalan, baik kau segera meninggalkan kota raja ini."
Mendengar si pelayan memanggil ia "Giesu", Hoan Eng terkejut.
"Apa kau kata?"
Ia menanya.
"Giesu, jangan kau berkuatir,"
Sahutnya.
"Kemarin malam, ketika kau pulang, golokmu masih bernoda darah."
Berita tentang percobaan membongkar penjara pada malamnya, sudah tersiar luas pada besok paginya.
Melihat pingsannya Hoan Eng dan goloknya yang bernoda darah, ditambah dengan pertanyaannya mengenai Ie Kiam pada siang harinya, si pelayan lantas saja menduga, bahwa tetamunya itu adalah orang yang sudah menyatroni penjara.
Ia segera minta pertolongan seorang tabib yang dapat dipercaya, guna memeriksa keadaan Hoan Eng.
Tapi Hoan Eng hanya mendapat luka di luar yang tidak berbahaya.
Bahwa ia pingsan begitu lama, adalah lantaran kelelahannya yang melewati batas.
Sesudah mengaso sehari dan setengah malam, keadaannya segera pulih kembali.
Hoan Eng segera mengambil goloknya yang lantas dibersihkan dari segala tanda-tanda darah.
"Hm!"
Ia menggerendeng.
"Sungguh sayang aku tak dapat mampuskan lebih banyak manusia jahat."
"Giesu,"
Berbisik si pelayan.
"Hebat benar desas-desus di luaran. Katanya, segala orang yang mempunyai hubungan dengan Ie Kokloo sudah ditangkap. Giesu, lebih baik kau menyingkirkan diri."
Hoan Eng menghela papas sambil mengusap-usap Bianto.
"Dengan membikin ribut di penjara, sebaliknya dari menolong, aku sudah mempercepat kebinasaannya Ie Kokloo,"
Katanya.
"Ah, apa guna aku hidup lebih lama lagi!"
"Giesu tak boleh berpikir begitu,"
Kata pula si pelayan.
"Matinya satu ksatria berarti negara kehilangan satu tenaga berharga. Ie Kokloo yang sudah meninggal dunia, tak akan bisa hidup lagi. Giesu yang masih hidup, haruslah menjaga diri baik-baik."
Mendengar kata-kata si pelayan, Hoan Eng jadi kaget.
"Siapa kau?"
Ia menanya.
"Aku hanya satu pelayan rendah dari rumah penginapan ini,"
Jawabnya. Lagi-lagi si Brewok menarik napas.
"Ah! Dalam dewan kerajaan hanya berjajar kawanan penjilat, sebaliknya di antara rakyat jelata, orang masih dapat menemukan ksatria-ksatria sejati,"
Katanya. Sesudah berdiam beberapa saat, ia menanya.
"Apa jenazah Ie Kokloo sudah dirawat?"
"Menurut katanya orang, Hongsiang sudah perintah Tan Kui merawat jenazah Ie Kokloo, tapi kepalanya masih terpancer di pintu kota sebelah timur,"
Menerangkan si pelayan. Hoan Eng berjingkrak sambil mengeluarkan teriakan keras. Kedua matanya terputar dan badannya gemetar, saking gusarnya.
"Berikan aku sedikit makanan,"
Ia memerintah.
Si pelayan segera berjalan keluar dan balik dengan membawa sekati arak putih dan dua kati daging sapi.
Tanpa berkata suatu apa, Hoan Eng sapu bersih makanan itu dan kemudian lalu membayar uang sewa kamar dan makanan.
"Terima kasih untuk segala budi kebaikanmu, harap saja di lain hari kita akan dapat bertemu pula,"
Kata ia sembari membuka jendela dan di lain saat, ia sudah menghilang di antara gelapnya sang malam.
Dengan menggunakan ilmu entengkan badan, Hoan Eng menuju ke pintu kota sebelah timur.
Malam itu adalah malam yang gelap, sang rembulan yang melengkung bagaikan alisnya seorang gadis, hanya memberi penerangan remang-remang.
Hoan Eng dongakkan kepalanya.
Ia melihat, di atas tembok kota berdiri sebatang tihang bendera dan di ujung tihang tergantung serupa benda bundar yang bentuknya seperti kepala manusia.
Hoan Eng tak dapat mempertahankan dirinya lagi.
Ia lantas menangis tersedu-sedu.
Tanpa memperdulikan segala bahaya yang mengancam, sekali mengenjot badan ia sudah hinggap di atas tembok dan lalu menyabet tihang bendera itu dengan goloknya.
"Digantungnya kepala Ie Kiam di atas pintu kota, merupakan satu jebakan yang dipasang oleh Kie Tin yang kejam. Maka itu, manalah Hoan Eng bisa gampang-gampang mencapai maksudnya. Baru saja ia mengangkat golok, berbareng dengan suara tertawa dingin, dua bayangan hitam sudah menerjang dari tempat gelap. Hoan Eng meloncat tinggi untuk menghindari sepasang Kautiam khio (tombak yang ada gae-tannya), sedang goloknya memapas ke bawah untuk menyampok sambarannya sebatang tongkat besi.
"Ha-ha!"
Tertawa seorang lawannya.
"Tepat sekali perhitungannya Yo Tayjin. Satu kodok buduk bau sudah masuk ke dalam jaring!"
Bukan main gusarnya Hoan Eng. Dengan gerakan Pekho liangcie (Bango putih mementang sayap), ia mengirim dua bacokan hebat.
"Bagus benar golokmu!"
Berkata orang yang bersenjata Kauw-liam khio.
"Aku ampuni jiwamu, jika kau menyerahkan golokmu dan menakluk."
"Kau mau golok?"
Membentak Hoan Eng.
"Inih!"
Ia membacok dengan sepenuh tenaga, sehingga lawannya terpaksa menggulingkan diri.
Dengan mengandalkan senjatanya yang berat, orang yang bersenjata tongkat besi segera maju menerjang.
Tapi, begitu kedua senjata kebentrok, tangannya kesemutan dan hampirhampir tongkatnya terlepas.
Hoan Eng mendesak, sambil menendang.
Mendadak, betisnya sakit luar biasa.
Ternyata, Siewie yang barusan menggulingkan diri, sudah menggait betisnya dengan Kauw-liam khio.
Pada saat yang sangat berbahaya, tanpa memperdulikan keselamatannya lagi, Hoan Eng mengenjot badannya, sembari memapas dengan goloknya.
Orang yang menggait tidak menduga, bahwa Hoan Eng masih dapat mengirim serangan membalas yang begitu hebat, dalam bingungnya, ia melepaskan senjatanya dan menggulingkan diri.
Sambil merapatkan gigi, Hoan Eng mencabut Kauwliam khio itu dari betisnya dan lantas ditimpukkan ke arah Siewie yang bersenjata tongkat.
Siewie itu berkelit dan Kauwliam khio membentur tembok, akan kemudian jatuh ke bawah.
Melihat musuhnya berkelahi seperti harimau edan, Siewie yang bersenjata tongkat, jadi merasa gentar.
"Masa kau takut kodok buduk pincang!"
Berseru kawannya yang bersenjata Kauwliam khio.
"Tempel pundak dan hantam padanya!"
Walaupun sudah kehilangan sebelah senjatanya, tapi serangan Siewie itu tak berkurang hebatnya.
Sesudah mendapat bantuan semangat dari kawannya.
Siewie yang bersenjata tongkat besi jadi lebih mantap hatinya dan ia pun segera menyerang secara dahsyat.
Dikepung secara begitu, Hoan Eng yang sudah terluka, lambat laun jatuh di bawah angin.
Hoan Eng berkelahi dengan mata merah.
Sesudah lewat beberapa jurus lagi, ia sengaja membuka satu lowongan untuk memancing musuhnya.
Sembari tertawa menyeramkan, Siewie yang bersenjata Kauwliam khio segera menyodok dada Hoan Eng.
Bagaikan kilat, Hoan Eng mengegos dan, dibarengi dengan bentakan keras, ia membacok sekuat tenaga.
"Trangl", suara beradunya senjata memecah kesunyian malam. Siewie itu terkesiap. Ternyata ujung Kauwliam khio melengkung, sedang tangannya berdarah! Tapi ia pun bukan orang sembarangan, sebab, meskipun dihantam begitu keras, senjatanya masih tetap tercekal dalam tangannya. Hoan Eng menggeram bagaikan harimau terluka dan segera menerjang pula. Sekonyong-konyong dari tempat gelap, di bawah tihang bendera, meloncat keluar seorang lain.
"Manusia tolol!"
Ia membentak.
"Kodok buduk pincang saja kau orang tak mampu bereskan. Mundur!"
Hoan Eng mengawasi. Musuh itu mengenakan seragam perwira Gielimkun dan tangannya menyekal sebilah golok melengkung, model golok Arab. Tiba-tiba ia merandek dan berkata.
"Eh! Bianto Thio Hong Hu cara bagaimana bisa berada dalam tanganmu?"
"Thio Hong Hu pinjamkan senjatanya kepadaku dan perintah aku ambil jiwamu!"
Jawabnya, sembari membacok. Perwira itu bukan main gusarnya.
"Kebinasaan sudah berada depan matamu, kau masih berani ngaco belo!"
Ia berseru.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Hoan Eng segera menyerang dengan seru.
Beruntun-runtun ia mengirim bacokan-bacokan yang membinasakan, tapi semuanya dengan gampang sudah dipunahkan oleh lawannya.
"Kalau tidak diberi sedikit hajaran, kau tak tahu liehaynya Tong-hong Lok,"
Kata perwira itu dengan suara dingin.
Dengan penuh amarah, Hoan Eng mengerahkan tenaga dalamnya dan lalu membacok sekuat tenaga.
Secara tenang, Tonghong Lok mengangkat goloknya untuk menyambut golok musuh.
Tenaganya Hoan Eng luar biasa besar dan dalam perhitungannya, bacokannya yang hebat itu tak akan dapat disambut oleh musuhnya.
Tapi tak dinyana, begitu kedua golok kebentrok, goloknya Tonghong Lok terus menempel kepada Bianto.
Hoan Eng terkesiap.
Tonghong Lok tertawa berkakakan, sedang goloknya yang dibulang balingkan ke kiri kanan terus "mengikat"
Bianto, Hoan Eng yang belum mahir dalam ilmu silat golok, tak mengetahui cara bagaimana harus melepaskan goloknya dari "katan"
Itu.
Mau tak mau, goloknya terus mengikuti golok musuh berputar-putar dan, dalam sekejap, kedua matanya sudah-sudah berkunang-kunang.
Dalam bingungnya, secara mendadak Hoan Eng menendang dua kali beruntun dengan kaki kanan dan kiri, dan berbareng dengan itu, tangan kirinya membabat musuh.
Senjata yang biasa digunakan Hoan Eng adalah kampak dan pukulan tersebut, yang membabat bagaikan babatan kampak adalah pukulan simpanannya, sedang tendangannya yang barusan adalah Lianhoan tui (Tendangan berantai) yang sangat hebat.
Tonghong Lok terkejut, ia tak menduga lawannya mempunyai "bekalan"
Yang serupa itu.
Tonghong Lok adalah Hutongleng Gielimkun, yaitu pembantunya Liok Tian Peng yang telah dibinasakan oleh Thio Hong Hu.
Walaupun pangkatnya lebih rendah setingkat, tapi kepandaiannya kira-kira setanding dengan Lio Tian Peng dan berada jauh di atas Hoan Eng.
Untuk menyambut serangan Hoan Eng, sebenarnya ia dapat menggunakan tipu Bengtek hianto (Beng-tek mempersembahkan golok), yaitu membalik tangannya dan menyabet lehernya musuh.
Akan tetapi, jika ia menggunakan tipu tersebut, Hoan Eng pasti akan binasa.
Ia bengong sejenak dan lalu berkelit ke samping.
Dengan berlaku begitu, bukan sekali-kali Tonghong Lok merasa kasihan atau sengaja mengampuni Hoan Eng.
Yang menjadi sebab adalah golok Bianto.
Ia mengetahui, bahwa Bianto adalah miliknya Thio Hong Hu yang tidak nanti meminjamkan golok mustikanya kepada orang lain.
Kemungkinan satu-satunya ialah Hong Hu sudah binasa dan golok itu jatuh ke dalam tangannya Hoan Eng.
Perginya Liok Tian Peng guna mencari Hong Hu, tentu saja diketahui oleh Tonghong Lok.
Maka itu, demikian ia memikir, jika Hong Hu sudah binasa, golok itu tentulah jatuh ke dalam tangannya Liok Tian Peng.
Tapi kenapa Bianto sekarang berada ditangannya si Brewok?
Ia memang sedang bercuriga, kenapa sampai sekarang Liok Tian Peng belum juga balik ke kota raja.
Apa ia celaka?
Dalam kesangsiannya itu, Tonghong Lok segera mengambil putusan untuk menangkap Hoan Eng hidup-hidup guna mengorek keterangan dari mulutnya.
Akan tetapi, dengan berkelahi secara nekat, tidaklah gampang-gampang Hoan Eng dapat ditawan.
Sesudah bertempur kurang lebih dua puluh jurus, Tonghong Lok berhasil menggores pundak lawannya dengan goloknya dan berbareng dengan itu, tendangannya mengenakan jitu lutut Hoan Eng.
Sembari berteriak, Hoan Eng segera menggulingkan diri.
"Bekuk padanya!"
Tonghong Lok memintah kedua Wiesu tadi.
Akan tetapi, sebelum mereka bergerak, satu suara nyaring yang luar biasa hebat, mendadak terdengar.
Suara itu ternyata disebabkan oleh seorang yang gerakannya cepat bagaikan kilat.
Begitu munculkan diri, dengan beberapa loncatan saja, ia sudah berada di atas tembok, dan dengan sekali menghantam dengan toyanya, tihang bendera patah dua dengan mengeluarkan suara yang sangat nyaring itu.
Tihang bendera itu dibuat dari tembaga murni yang tak akan dapat diputuskan dengan bacokan kampak atau golok.
Bahwa dengan sekali hantam saja, orang itu dapat merobohkan tihang tersebut, dapatlah dibayangkan berapa besar tenaga dalamnya!
Dua Wiesu yang hendak membekuk Hoan Eng, telah dibikin kesima oleh suara itu, dan tanpa sia-siakan kesempatan baik, dengan gerakan Leehie Tateng (Ikan gabus meletik), Hoan Eng loncat bangun sembari mengayun golok.
Tapi, ia terkejut bukan main oleh karena pundaknya, yang barusan kena digores, sakit luar biasa dan lengannya tidak menurut kemauannya lagi.
Sesaat itu, Wiesu yang bersenjata Kauwliam khio dan tongkat besi sudah menerjang padanya.
Dengan sebelah lengan yang baru sembuh dari lukanya dan lengan lain tak dapat digerakkan lagi, Hoan Eng mengawasi menyambarnya senjata musuh dengan hati mencelos dan menduga, bahwa sekali itu, ia tak akan lolos pula dari kebinasaan.
Akan tetapi, di luar segala dugaan, pada detik yang sangat berbahaya, kedua Wiesu itu mendadak mengeluarkan jeritan dan rubuh di atas genteng.
Di lain saat, Hoan Eng dapat kenyataan, bahwa Tonghong Lok sudah bertempur seru dengan seorang bertopeng di kaki tihang bendera.
Hoan Eng heran berbareng kagum.
"Siapa ia?"
Ia menanya dirinya sendiri.
"Cara bagaimana, dari situ senjata rahasianya masih dapat melukakan musuh?"
Harus diketahui, bahwa jarak antara Hoan Eng dan tihang bendera, paling sedikit ada empat tombak.
Ia sungguh tidak mengerti, dari jarak begitu jauh, cara bagaimana orang itu masih dapat membinasakan kedua Wiesu dengan senjata rahasianya!
Selain daripada itu, dalam pertempuran antara jago dan jago, masing-masing pihak tidak dapat memecah perhatiannya ketempat lain.
Maka itu, ia jadi lebih-lebih merasa kagum, cara bagaimana, sedang dirinya sendiri tengah dikurung oleh sinar golok Tonghong Lok, orang itu masih dapat melepaskan senjata rahasia yang menyambarnya begitu jitu!
Mendadak saja semangat Hoan Eng terbangun.
Ia memindahkan Bianto dari tangan kanan ke tangan kiri dan berniat lantas menyerbu ke gelanggang pertempuran.
Sekonyong-konyong terdengar jeritan Tonghong Lok yang terbirit-birit loncat ke bawah tembok, akan kemudian menghilang di tempat gelap.
Orang bertopeng itu tertawa terbahak-bahak.
Dengan tangan kanan menengteng toya dan tangan kiri menyekal kepala Ie Kokloo, ia mengenjot badannya dan tubuhnya melayang ke bawah bagaikan seekor burung.
Hoan Eng terkesiap.
Didengar dari suara tertawanya dan dilihat gerak-gerakannya, orang itu adalah si penjahat bertopeng yang telah merampas tiga puluh laksa tahil perak di propinsi Shoatang!
Hoan Eng kemudian menunduk dan mengawasi kedua Wiesu itu yang menggeletak tanpa berkutik lagi.
Begitu melihat, hatinya jadi lebih kaget lagi.
Pada jalan darah Tayyang hiat mereka, terlihat nyata bekas Kimhoa!
Bunga emas, atau Kimhoa, adalah senjata rahasia si pemuda baju putih.
Apakah pemuda baju putih itu adalah si penjahat bertopeng?
Akan tetapi, hal itu tak mungkin, oleh karena potongan badan si baju putih berbeda dengan badan si penjahat.
Apakah si penjahat juga dapat menggunakan senjata rahasia Kimhoa?
Demikianlah Hoan Eng berdiri bengong, tanpa dapat memecahkan "cangkeriman"
Itu.
Tiba-tiba, kesunyian sang malam dipecahkan suara bentrokan dua kuntum Kimhoa!
Dan hampir berbareng dengan itu, dihadapan Hoan Eng berdiri si pemuda baju putih!
Hoan Eng adalah seorang yang berkepandaian cukup tinggi dan sudah kawakan dalam dunia Kangouw.
Akan tetapi, ia sama sekali tidak mengetahui, dari mana datangnya pemuda itu.
Begitu terdengar suara bentrokan senjata rahasia, begitu ia muncul dihadapannya!
Dapatlah dibayangkan, betapa cepat gerakan orang itu.
Pemuda itu tertawa nyaring, nyaring bagaikan kelenengan perak.
"Apakah orang bertopeng itu sahabatmu?"
Ia menanya.
"Bukan!"
Jawab Hoan Eng. Paras muka si baju putih berobah dengan mendadak.
"Ah!"
Katanya sembari memutarkan badan dan menjejek kedua kakinya.
"Hiapkek (pendekar)! Bolehkah kau memberitahukan she dan namamu yang mulia?"
Berseru Hoan Eng.
Tapi ia tidak menjawab, badannya sudah melayang turun ke bawah tembok.
* * * Pada besok paginya, masih remang-remang, dengan seekor kuda dan sebatang golok, Hoan Eng sudah berangkat.
Sesudah kepala Ie Kokloo dicuri orang, atas nasehat si pelayan hotel, Hoan Eng meninggalkan Pakkhia secepat mungkin untuk pergi ke Thayouw guna mencari Thio Tan Hong.
Tunggangannya adalah kuda pilihan yang larinya cepat sekali dan kira-kira tengah hari, ia sudah melalui seratus lie lebih.
Sesudah melewati Lamwan, lalu lintas tidak begitu ramai lagi dan ia dapat kaburkan tunggangannya tanpa banyak rintangan.
Selagi larikan kudanya, ia mendapat kenyataan, bahwa di belakangnya mengikuti seorang lain.
Dilihat dari dandanannya, orang itu adalah seorang saudagar.
Ia menunggang seekor kuda belang dan pada pelana tergantung dua tas kulit yang tidak terlalu besar.
Semula Hoan Eng tidak memperhatikannya dan menduga, bahwa ia itu adalah seorang saudagar biasa.
Di waktu magrib, ia tiba disuatu kota kecil, yaitu kota Liulieho, yang terpisah dua ratus lima puluh lie lebih dari Pakkhia.
Sesudah Hoan Eng masuk ke dalam kota dan berhenti di depan sebuah rumah penginapan, secara tidak di sengaja ia menoleh ke belakang dan melihat saudagar itu sedang mengikuti dari sebelah kejauhan.
Ia terkejut.
Cara bagaimana, tunggangan saudagar itu, yang kelihatan seperti kuda pasaran, dapat menyusul ia?
Ketika masuk ke dalam hotel, ia sangat berwaspada, tapi segera juga ia tertawa sendiri oleh karena saudagar itu mengambil penginapan lain.
Hoan Eng adalah seorang yang sudah kawakan dalam dunia Kangouw.
Walaupun saudagar itu tidak terlalu menyurigakan, akan tetapi, pikirnya lebih berhati-hati ada lebih baik.
Memikir begitu, sesudah mengobati lukanya, yang untung juga hanya luka di luar, ia bersamedhi untuk memelihara semangat dan kemudian tidur dengan menggunakan goloknya sebagai bantal kepala.
Besoknya, sebelum jam lima pagi, ia sudah bangun, bayar uang sewa kamar dan lalu berangkat.
Pada jaman itu terdapat satu nasehat untuk mereka yang melakukan perjalanan.
"Sebelum malam mengasolah di rumah penginapan, sesudah terang tanah barulah berjalan."
Maka itu, si pelayan merasa agak heran melihat Hoan Eng sudah berangkat sebelum fajar menyingsing.
Sekeluarnya dari kota kecil itu, Hoan Eng mendongak.
Bulan sabit dan beberapa bintang masih memancarkan sinarnya yang remang-remang, sedang kawanan burung masih tidur nyenyak dalam sarangnya.
Ia senyum dan lalu kaburkan tunggangannya.
Kira-kira tengah hari, ia sudah berada di tempat yang terpisah kurang lebih seratus lima puluh lie dari Liulieho.
Ia menahan kudanya dan menengok ke belakang.
Ia kaget oleh karena saudagar itu ternyata sedang mengikuti dari jauh.
"Apakah ia sengaja menguntit aku?"
Ia menanya pada diri sendiri.
Muka orang itu agak berminyak, kepalanya memakai topi kulit, sedang di punggungnya menggemblok sebentuk tudung.
Dilihat dari mukanya dan dipandang dari kudanya, ia hanyalah seorang saudagar biasa.
Hoan Eng sangat bersangsi.
Siapa orang itu dan apa maunya?
Sesudah melirik lagi sekali, ia menyabet kudanya dan binatang itu lantas saja kabur sekeras-kerasnya.
Si saudagar tenang-tenang saja, sama sekali tidak mengunjukkan keinginan untuk sengaja menyusul Hoan Eng.
Dalam sekejap, saudagar itu sudah tidak kelihatan bayang-bayangannya lagi dan Hoan Eng menjadi lega hatinya.
Hoan Eng adalah seorang yang sangat berhati-hati.
Sesudah larikan lagi kudanya beberapa lama, ia mem-biluk ke suatu jalan kecil dan di waktu magrib, tibalah ia di kota Pekkouw yang terletak seratus lie lebih di sebelah timur kota Poteng.
Dalam kota itu, yang terlebih kecil daripada Liulieho, hanya terdapat sebuah rumah penginapan.
Sesudah mendapat kamar dan bersantap malam, ia merasa pasti si saudagar tidak akan mengikutinya ke kota kecil itu.
Tapi, tak dinyana, baru saja ia memikir begitu, di luar sudah terdengar suara berbengernya kuda dan saudagar itu sudah berada di depan pintu hotel.
Sekarang benar-benar ia kaget.
Sudah tak dapat disangsikan lagi, orang itu sedang menguntit ia.
Sebelum orang itu masuk, dengan cepat ia masuk ke dalam kamarnya, di mana ia mendengar saudagar itu memesan makanan dan minta air cuci muka, tiada beda dengan seorang pelancong biasa.
Sesudah makan, saudagar itu masuk ke kamarnya yang berhadapan dengan kamar Hoan Eng.
Hoan Eng merasa sangat tidak enak hatinya, ia bersamedhi sembari menyekal golok.
Tapi sesudah menung-kuli setengah malam, sama sekali tidak terjadi kejadian luar biasa.
"Jika orang itu mempunyai niatan kurang baik, dalam dua hari ia tentu sudah menyerang,"
Pikirnya.
"Jika maksudnya baik, siang-siang tentu ia sudah menegur aku. Tapi kenapa, tanpa menyerang atau menegur, ia menguntit terus menerus? Apa kawan, apa lawan?"
Jam tiga sudah lewat, tapi tetap tak ada pembahan luar biasa.
Mendadak Hoan Eng ingin kencing dan sembari menengteng golok, ia pergi ke kakus yang terletak di pojok pekarangan hotel.
Selagi kencing, dari sela-sela pintu kakus, ia melihat satu bayangan manusia mendekam di atas genteng.
Begitu ia keluar dari kamar kecil, bayangan itu menghilang dengan gerakan cepat luar biasa.
"Sahabat dari mana di situ?"
Membentak Hoan Eng dengan suara perlahan.
"Lekas keluar!"
Ia menimpuk dengan sebutir batu kecil, tapi bayangan itu tetap tak muncul lagi.
Dengan penuh kecurigaan, cepat-cepat Hoan Eng kembali ke kamarnya dan membesarkan api lampu.
Pembahan besar tak ada tapi toh ia terkejut bukan main, oleh karena buntalannya yang tadi berada di tengah-tengah meja sekarang sudah berkisar ke kiri dan bentuk ikatan buntalan pun sudah berobah.
Sebagai seorang yang biasa berkelana di kalangan Kangouw, ia selalu berhati-hati dan semua barangnya ditaroh di tempat tertentu, malah ada juga yang diberi tanda, sehingga tergeser sedikit saja, ia pasti akan mengetahuinya.
Ia yakin, bahwa dalam tempo yang sangat pendek, yaitu selagi ia pergi ke kakus, buntalannya sudah dibuka orang.
Buru-buru ia membuka buntalan itu dan ternyata beberapa stel pakaiannya tidak diganggu.
Setelah menimbang-nimbang beberapa saat, Hoan Eng mengambil putusan buat mabur secepat mungkin.
Ia meninggalkan sepotong perak di atas meja sebagai pembayaran sewa kamar dan kemudian cemplak kudanya yang lantas saja dikaburkan sekeras-kerasnya.
Sesudah berjalan kurang lebih setengah jam, di sebelah depan kelihatan hutan yang melintang menutup jalan.
Ia loncat turun dari tunggangannya dan masuk ke dalam hutan dengan menuntun kudanya.
Belum berapa lama ia berjalan, ketika tiba-tiba di sebelah belakangnya terdengar suara berbengernya seekor kuda.
Ternyata si saudagar sudah mengubar sampai di situ dan tanpa menghiraukan larangan Kangouw yang berbunyi.
"Bertemu hutan, janganlah masuk", dikepraknyalah kudanya yang lantas menerobos masuk ke dalam hutan. Melihat orang itu tidak berkawan, hati Hoan Eng jadi mantep. Ia memutarkan badan dan sambil menyekal goloknya keras-keras, ia menanya.
"Kenapa tuan terus menerus menguntit aku?"
Orang itu tertawa dingin.
Dengan sekali menggoyangkan tangan kirinya, ia menyalakan bahan api yang lantas dilemparkan kerumput kering, sehingga rumput itu lantas jadi terbakar.
Sesudah menyapu dengan matanya ke kiri kanan, barulah ia berkata.
"Kau jalan di jalanmu, akupun jalan di jalanku sendiri. Kenapa tuan menjadi curiga?"
Hoan Eng mengetahui orang itu membakar rumput lantaran kuatir adanya musuh yang bersembunyi.
Dari sini dapat diketahui, bahwa orang itu benar-benar sudah kawakan dalam kalangan Kangouw dan dapat memikir begitu cepat dalam tempo yang begitu pendek.
Sambil melintangkan goloknya, Hoan Eng lantas saja tertawa terbahak-bahak.
"Bahwa tuan meneruskan perjalanan di tengah malam buta, adalah satu kejadian yang sungguh-sungguh mengherankan aku!"
Katanya dengan suara nyaring. Orang itu turut tertawa berkakakan seraya berkata.
"Kalau begitu, apakah kelakuan tuan yang juga kaburkan kuda di tengah malam buta, tidak sama mengherankannya?"
"Sekarang lebih baik kita bicara terus terang saja,"
Berkata Hoan Eng.
"Aku adalah seorang pemburon. Dan siapakah adanya kau?"
"Kau pemburon, aku adalah orang yang menguntit pemburon!"
Jawabnya.
"Jika begitu, kau tentunya orang dari istana,"
Kata Hoan Eng sembari tertawa tawar.
"Baiklah! Aku siap sedia untuk melayani kau!"
"Bukan aku, tapi kau yang berkata begitu,"
Kata orang itu.
"Siapa yang mau berkelahi denganmu? Jika kau pemburon, kenapa tidak cepat-cepat kabur?"
Hoan Eng terkejut.
"Siapa sebenarnya kau?"
Ia membentak.
"Di hadapan ksatria, orang tidak berjusta."
Kata si saudagar.
"Dan kau, siapa sebenarnya kau?"
Baca Juga: Dendam Asmara 7
Baca Juga: Golok Yanci Pedang Pelangi 3