Eps 14 Kisah Pedang Bersatu Padu - Okt
Baca online Kisah Pedang Bersatu Padu - Okt
Cersil Kisah Pedang Bersatu Padu - Okt.
"Sudah lama aku tidak pernah menggunakan pedangku, bangsat tua ini agaknya lihai, baik kau serahkan dia padaku! Kau setujukah?"
In Tiong tertawa.
"Ya!"
Sahutnya.
"Tapi di sana datang pula seorang yang bersenjatakan pedang! Apakah kau kuatir nanti tidak mendapatkan ketikamu yang baik?"
Tamtay Keng Beng berpaling, maka ia melihat Yang Cong Hay tengah berlompat keperahu besar. Ia menjadi sangat girang. Ia tertawa dan kata.
"Oh, YangToakiamkek! Baiklah, lawan ini lebih baik lagi!"
Ketika itu Yang Cong Hay sudah berlompat maju.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Tamtay Keng Beng menyambut dia dengan satu tikaman!
Yang Cong Hay berlompat menyusuli Law Tong Sun.
ia melihat Tong Sun kena dibikin tercebur, ia kaget sekali.
Ia lantas berpikir.
"Jadi di perahunya Seng Lim masih ada orang gagah lainnya? Thian Touw tidak segagah orang itu!..."
Ketika itu ia sudah sampai di perahu, matanya lantas melihat In Tiong.
yang ia kenali, kagetnya bertambah, ia bahkan ketakutan.
Tapi ia sudah menaruh kaki, tak sempat ia berpikir lagi, Nyonya In Tiong sudah menyerang padanya.
Tamtay Keng Beng menyerang ke bawah.
Itulah siasat untuk membikin musuh bingung.
Cong Hay lantas menangkis.
Karena kaki kirinya belum menginjak tetap, tubuhnya dimiringkan ke kanan.
Tangkisan itu tidak berhasil seluruhnya.
Ujung pedang si nona meneroboskan celananya, hampir mampir di betisnya.
Ia menjadi nekad, maka juga ia lantas menyerang.
"Bagus!"
Berseru Tamtay Keng Beng.
Ia menangkis, habis mana, ia menyerang, bahkan beruntun hingga tiga kali.
Ia mendesak untuk membikin lawan tak sempat memperbaiki kedudukannya.
Itulah serangan seumpama kata badai dan hujan lebat.
Tengah isterinya itu merangsak Yang Cong Hay, pertempuran di lain kalangan sudah lantas sampai pada akhirnya.
Dengan pukulan Taylek Kimkong Ciang, Tangan si Arhat Kuat, In Tiong sudah menghajar Koan Sin Liong sampai tubuh jago tua bertangan satu itu terlempar tinggi!
Yang Cong Hay kaget, ia lantas lompat untuk mengundurkan diri, tetapi Nyonya In Tiong menyusul ia, menusuk dengkulnya, hingga ia tergores sedikit.
Tubuhnya mencelat terus.
Celakajago yang licik ini, ketika ia baru menaruh kaki, Koan Sin Liong yang terlempar itu justeru jatuh ke arahnya.
Ia kembali kaget.
Tapi ia tidak dapat berbuat apa-apa.
Sin Liong sudah menaruh kaki di pundaknya, untuk menjejaknya, buat dia berlompat pula menyingkirkan diri ke perahunya sendiri.
Ia berlaku sebat, ia pun terus lompat ke perahunya.
Hanya sayang, ia tidak sampai, ia kecebur ke laut!
Adalah di lain saat, Koan Sin Liong sudah mengangkat dua kawan yang basah kuyup itu seperti dua ekor ayam yang kecebur di air.
untuk mereka lekas mengaburkan perahu kecil mereka.
"Sayang! Sayang!"
Kata Tamtay Keng Beng menyesal.
"Aku sedang bergembira sekali, jahanam itu kabur dengan meminjam jalan air!"
In Tiong tertawa mendengar kejenakaan isterinya itu. Thian Touw lantas menghampirkan, buat memberi hormat, untuk memperkenalkan diri.
"Telah aku mendengar Thio Tan Hong memuji ilmu pedangmu!"
Kata Tamtay Keng Beng.
"Barusan aku telah menyaksikan itu, benarlah pujian untuk dirimu itu!"
Yang lainnya pun lantas menemui sepasang suami isteri itu, setelah mana Sin Cu mengajaknya masuk ke dalam perahu.
Yap Seng Lim sudah mendusin, mendapatkan datangnya In Tiong berdua, ia girang bukan main.
"Susiok!"
Ia memanggil pada paman gurunya itu seraya ia mau berbangkit.
"Jangan bergerak!"
Kataln Tiong.
"Nanti aku mengobati dulu padamu!"
In Tiong jauh terlebih mahir tenaga dalamnya dari pada Hok Thian Touw, dalam waktu yang jauh terlebih singkat, ia dapat menyembuhkan Seng Lim.
Lebih dulu embun-embunannya pemimpin tentara rakyat suka rela ini menghembuskan uap putih, lantas dia merasakan tubuhnya nyaman dan segar.
Itulah tanda bahwa racun telah diusir habis.
Berbareng dengan itu Tamtay Keng Beng pun bergantian menolongi Kiam Hong dan In Hong.
Karena luka mereka ini berdua ringan, mereka tertolong lebih cepat lagi.
Maka ketiga orang itu menghaturkan terima kasih mereka yang sudah ditolongi dari ancaman maut.
"Susiok, kenapa susiok datang ke mari?"
Kemudian Seng Lim menanya. Ia heran paman guru itu berdua datang dalam waktu yang tepat sekali. In Tiong tidak menyahuti, hanya menoleh kepada Sin Cu, ia tertawa dan kata.
"Gurumu yang menitahkan kami berdua datang kemari! Sayang sekali kami datang terlambat..."
Dari suaranya In Tiong ini teranglah sudah bahwa Thio Tan Hong sudah mendapat tahu dari siang-siang yang benteng air di pulau Hokpoo To telah terancam bahaya.
Hal ini mengherankan Seng Lim semua..Rata-rata mereka berpikir.
"Thio Tan Hong memang pandai melihat sikap musuh akan tetapi dia tinggal jauh di gunung Chongsan di Tali, terpisahnya dari sini laksaan li, mungkinkah dia benar-benar pandai ilmu nujum hingga dia ketahui segala apa yang bakal terjadi? Kalau benar, sungguh dia lihai luar biasa..."
In Tiong dapat mengerti keheranan orang banyak itu. Ia tertawa dan kata.
"Thio Tan Hong tidak pandai ilmu meramalkan! Sekarang pun dia sudah tidak tinggal lagi di gunung Chongsan! Raja yang sekarang hendak membikin lunak kemarahan rakyat, dia terpaksa membikin bersih penasarannya le Koklo dan mengakui jasanya Koklo terhadap negara, begitulah di tepi telaga Seouw di Hangciu ia telah memperbaik kuburan Koklo dan membuatkan juga rumah abunya. Bukankah itu kamu telah mengetahuinya? Oleh karena penasaran Ie Koklo telah dicuci bersih dan kehormatannya telah dipulihkan, dengan begitu dengan sendirinya sekalian orang yang dahulu hari ada sangkut pautnya dengannya menjadi bebas juga, perkara mereka itu tidak ditarik panjang pula..."
Mendengar sampai di situ, Sin Cu menggeleng kepala. Dia agaknya masgul.
"Apa maksud yang sebenarnya dari pemerintah, tak dapat kita mengetahuinya,"
In Tiong menyambungi.
"akan tetapi singkatnya firman raja demikianlah adanya. Oleh karena itu milik Tan Hong yaitu Thayouw Sanchung yang dulu hari telah disita sudah dikembalikan. Sebenarnya itulah milik dua keluarga Thio dan Tamtay. Sekarang milik itu dijaga dan dirawat orangnya Keluarga Tamtay. Ketika di musim dingin yang lalu Tan Hong kembali dari kota raja, sebenarnya ia tidak pulang ke Chongsan, ia hanya lantas tinggal di Thayouw Sanchung. Rombongannya Yang Cong Hay rupanya tidak menyangka akan kejadian itu, rupanya mereka tidak menduga Tan Hong demikian bernyali besar, atau mungkin, meski mereka mendapat tahu tetapi mereka tidak berani menyateroni Tan Hong, maka selama beberapa bulan berdiam di sanchung itu, Tan Hong tidak mendapat gungguan apa-apa. Tatkala kami berdua mendengar halnya Tan Hong itu, kami juga pulang kesana dan tinggal bersama. Baru bulan yang sudah kami pindah."
"Kami justeru berniat pergi ke Chongsan,"
Kata Thian Touw.
"dengan begini tak usah kami membuat perjalanan jauh dengan sia-sia belaka."
In Tiong mengangguk, terus ia melanjuti keterangannya.
"Benar Tan Hong berdiam di sanchung dari mana ia tidak pernah ke mana-mana akan tetapi segala peristiwa di luaran, ia mengetahuinya dengan baik. Paycu Pit Keng Thian dari Kaypang, Partai Pengemis, sebenarnya berada di propinsi Shoatang, ketika dia mendengar kabar Tan Hong berada di Thayouw, segera dia pergi membuat kunjungan. Dia menghaturkan terima kasih halnya dia telah diberi ketika untuk mengubah cara hidupnya yang tersesat. Kebetulan sekali datangnya Pit Keng Thian ini, dia lantas dipakai tenaganya oleh Tan Hong guna mencari tahu segala kejadian di luaran. Demikian terdengar selentingan gerak-gerik selama setengah bulan ini dari rombongannya Koan Sin Liong yang telah berkumpul di kota Hangciu, bahwa sunbu dari propinsi Ciatkang pun sudah tukar orang. Pula telah dapat diketahui halnya Yang Cong Hay dan Law Tong Sun, dua orang kepercayaannya raja, sudah berkumpul juga di kota Hangciu itu. Mengumpul semua berita itu, Tan Hong lantas mengambil kesimpulan. Ia percaya pemerintah bakal mengambil sesuatu tindakan yang pasti tidak baik untuk pihak tentera rakyat, maka kami berdua lantas diminta berangkat kemari guna memberi kisikan kepada kamu, hanya sayang Yang Cong Hay sudah bertindak demikian cepatlcedatangan kami terlambat sedetik."
"Kenapa suhu tidak datang sendiri?"
Tanya Giok Houw tentang suhu ---gurunya itu. Sepasang alisnya In Tiong terbangun.
"Di sana masih ada suatu urusan penting yang memerlukan tenaganya sendiri,"
Ia menyahut.
"Itu pula urusan paling penting yang kami hendak sampaikan kepada kamu! Kamu tahu, Kiauw Pak Beng dan Koan Sin Liong, dua hantu itu, telah hendak mengadakan satu pertemuan di gunung Laosan..."
Hati Thian Touw bercekat.
"Itulah justeru urusan untuk mana aku hendak menemui Thio Tayhiap,"
Ia campur bicara.
"Hanya, menurut apa yang aku dengar, waktu pertemuan kedua hantu itu mungkin di bulan ke delapan nanti..."
"Bukan!"
Berkata In Tiong.
"Menurut keterangan yang diperoleh Pit Keng Thian, Kiauw Pak Beng sudah sampai di Laosan di mana dia berdiam di kuil Siangceng Kiong. Mereka telah menggeser maju waktunya pertemuan itu, mungkin itu hendak dibarengi dengan sepak terjang mereka membasmi tentara rakyat..."
"Jikalau begitu tidaklah heran Kiauw Siauw Siauw bersama Yang Cong Hay semua telah muncul di sini,"
Berkata In Hong.
"Pastilah si hantu tua Kiauw Pak Beng yang menitahkan mereka bekerja di sini untuk mendirikan pahala yang pertama!"
"Kiauw Siauw Siauw itu, anak tunggal kesayangannya Kiauw Pak Beng, baru saja mampus di ujung pedangnya enci Leng!"
Menerangkan Sin Cu.
"Bukan!"
Kata In Hong tertawa.
"Dia justeru terbinasa karena bunga emasmu!"
Sin Cu heran.
"Bagaimana, enci?"
Ia tanya.
"Sebabnya begini, adikku!"
Sahut In Hong, yang terus menuturkan kematiannya Kiauw Siauw Siauw disebabkan Yang Cong Hay hendak memfitnahkan mereka.
"Dengan begitu pasti Kiauw Pak Beng akan sangat membenci kita dan akan berniat keras membalaskan sakit hati anaknya itu."
"Sungguh keji Yang Cong Hay!"
Kata Sin Cu.
"Memang benar Kiauw Pak Beng pasti akan memandang kita sebagai musuh besarnya! Tapi tak apalah, kita justeru hendak mencari mereka itu!"
Thio Giok Houw gembira sekali.
"Suhu bakal datang, hantu itu tak perlu ditakuti lagi!"
Katanya.
"Siauw Houw Cu, kau benar si anak kerbau yang tak takut harimau!"
Kata In Tiong tertawa.
"Kau tahu, gurumu justeru sedikit berkuatir. Ketika tahun dulu itu Kiauw Pak Beng tunduk di ujung pedang gurumu, dia telah bersumpah untuk menuntut balas, dia telah berjanji, sebelum dia merasa pasti akan dapat mengalahkan gurumu, tidak nanti dia turun gunung atau muncul pula! Sekarang dia muncul, maka gurumu percaya dia telah berhasil menyampaikan Siulo Imsat Kang tingkat ke sembilan, tingkat terakhir itu, dan pasti sekali dia juga sudah berhasil meyakinkan dan menggabung kedua ilmu sesat dan lurus."
"Biarnya dia telah berhasil itu!"
Kata Giok Houw nyaring.
"pasti suhu tidak jeri terhadapnya!"
"Itulah pasti!"
Kata pula In Tiong, tertawa.
"Akan tetapi kau harus ketahui, gurumulah seorang yang sangat sabar dan terliti. Musuh bakal datang dalam jumlah besar, gurumu tidak berani memandang enteng pada mereka. Kabarnya Kiauw Pak Beng telah mengundang banyak orang lihai ---orang-orang dari kaum sesat. Maka itu gurumu pun melepas undangan kepada banyak kaum lurus dan undangan itu disampaikan oleh Pit Keng Thian, yang memakai tenaganya anggauta-anggauta Kaypang. Selain orangorang gagah dari beberapa propinsi di Kanglam, gurumu mau pergi sendiri mengundang ciangbunjin dari Siauwlim Pay di Siongsan dan Binsan Pay, untuk minta bantuan mereka itu. Di akhirnya gurumu minta kami menyampaikan dua hal kepada kamu. Yang pertama yaitu supaya Yap Seng Lim segera mengundurkan diri, dan yang kedua supaya kamu segera berangkat ke Laosan untuk bertemu nanti di Siangceng Kiong, guna menemui sekalian hantu itu. Sekarang ini markas kamu sudah musna, soal penarikan mundur bukan soal lagi. Sekarang tinggal yang kedua, ialah kamu mesti segera berangkat ke Laosan. Siapa yang suka pergi, dia boleh turut kami berdua!"
Darahnya semua orang menjadi tegang. Warta itu hebat dan juga menggembirakan. Cuma Yap Seng Lim seorang yang wajahnya menjadi guram. Sin Cu melihat itu, ia dapat membade hati suaminya.
"Seng Lim,"
Katanya.
"aku turut pergi, dengan begitu kau seperti turut bersama. Asal musuh itu dapat disingkirkan, buat apa kau mesti membinasakannya dengan tanganmu sendiri?"
Sin Cu kenal tabiat suaminya, maka suka ia mewakilkan suami itu.
Seng Lim masgul karena ia tidak dapat turut, karena ia mesti memernahkan rakyatnya.
Ia sangat bersakit hati terhadap Koan Sin Liong bertiga Yang Cong Hay dan Law Tong Sun, sebab merekalah yang memusnakan markasnya itu yang ia telah bangun dengan susah payah.
Tapi sekarang ia mendengar suara isterinya, ia tidak bisa berbuat lain, dapat juga ia menenangkan hatinya.
Seperti diketahui tentera rakyat suka rela di Tanghay, laut Timur ini, menguasai tiga belas pulau dan pusatnya ialah pulau Hokpoo To, tetapi sekarang pusat itu kena dirampas tentera negeri, telah dimusnahkan, maka untuk mengumpulkan sisa tenteranya, Seng Lim terpaksa mengambil sebuah pulau kecil di antaranya.
Ia mintaLiu Tek Chong dan Chio Peng Kin membantu pekerjaannya itu.
Yang lainnya semua turut In Tiong dan Tamtay Keng Beng berangkat ke Laosan.
Berselang setengah bulan tibalah rombongan itu di kaki gunung yang dituju itu.
Di gunung itu bakal dilakakan satu pertempuran yang dahsyat, tidak heran apabila hati rombongan itu tegang sekali.
Hok Thian Touw merasa tegang sebab berbareng pikirannya ruwet...
Gunung Laosan itu berada di sebelah belakang Ceng To, sebelahnya nempel dengan daratan, sebelah yang lain berbatas dengan Honghay.
Laut Kuning.
Dan di laut Honghay itu terdapat pula sejumlah pulau kecil-kecil.
Dilihat dari atas gunung, kepulauan itu mirip suatu tedeng aling.
Di situ terdapat pemandangan alam yang permai.
Akan tetapi di dalam keadaan seperti itu, tidak ada orang yang ketarik untuk pesiar, buat membuka mata mereka.
"Aku harap inilah badai dan gelombang yang terakhir untukku,"
Kata Thian Touw dalam hatinya.
"Habis ini aku tidak mau merantau pula dalam dunia Kangouw!"
Ia melirik isterinya, ia mendapatkan In Hong tengah berjalan dengan asyik dengan Sin Cu, mata mereka itu diarahkan ke depan. Melihat sikap isterinya itu, hatinya menjadi tawar, pikirnya pula.
"Di saat ini pastilah In Hong lagi memikirkan caranya untuk mengalahkan musuh. Ada kemungkinan, sehabisnya ini, ia tidak bersedia mengikut aku pulang ke Thiansan..."
Thian Touw merasa selama beberapa bulan ini, meski ia dan Ia Hong menjadi suami isteri tetapi hati In Hong berada lebih dekat pada Sin Cu...
Mereka berjalan terus.
Satu kali angin bertiup ke arah mereka, lantas mereka menjadi heran.
Angin itu membawa datang bau bacin.
"Ah, apakah itu?"
In Hong berseru, terus ia lompat ke sebelah depan di mana ia menyingkap setumpuk rumput kering. Untuk kagetnya semua orang, di situ rebah satu tubuh manusia.
"Ah!"
Kok Tiok Kun berseru.
"inilah Thianloei Kiam In Bwee Kok!..."
Jago tua ini mengulur tangannya meraba tubuh yang rebah itu, ia merasakan tubuh yang dingin sekali. Ia pun memegang nadinya. Lalu ia berkata, heran.
"Inilah aneh! Nadinya belum berhenti seluruhnya, mengapa tubuhnya sudah kaku begini?"
Ia baru berkata atau ia kaget hingga ia menggertak pulang tangannya, la merasa hawa dingin dari tubuhnya In Bwee Kok tersalurkan ke tangannya terus ke tubuhnya sendiri.
Tapi segera ia dapat menduga.
Pastilah In Bwee Kok telah menjadi kurbannya Kiauw Pak Beng!
Selagi Tiok Kun terbenam dalam keheranan itu, yang lain-lainnya pun lantas menemui beberapa kurban lagi, di antaranya dikenali sebagai Liokhap Ciang Touw Cu Peng, Kiu Ku Gi ahli pedang dari Butong Pay, Cecu Tie Leng Sek dari benteng Imma coan dari Shoatang, dan Tee Lip Ong, guru silat yang telah berusia lanjut dari Hoolam.
Tubuh mereka beku seperti tubuhnya In Bwee Kok itu.
Di antaranya, nadi Kiu Ku Gi masih berdenyut perlahan dan jarang seperti nadi In Bwee Kok.
Semua orang berdiri melengak.
Mereka heran dan bingung.
Hati mereka, yang tegang, menjadi bertambah tegang.
Teranglah semua orang itu orang-orang undangannya Thio Tan Hong, tetapi mereka sampai di situ untuk menerima nasib celaka secara kecewa.
Dan terang pula Kiauw Pak Beng sudah tidak memakai aturan Kangouw, dia mestinya telah menghajar orang tanpa segan-segan.
Kok Tiok Kun kenal kurban-kurban itu, saking berduka ia menangis.
"Kiauw Pak Beng, kau sangat kejam!"
Katanya sengit.
"Sekarang ini bukan waktunya berduka,"
Kata Giok Houw.
"Mari kita maju terus! Semua harus waspada, supaya kita jangan sampai kenadibokong."
Kejadian itu pun membuat orang berpikir bahwa tentulah Thio Tan Hong belum sampai, jikalau tidak, tidak nanti ia memberi ijin Kiauw Pak Beng menurunkan tangan jahat itu.
Sungguh berbahaya keadaan mereka semua.
Berjalan lebih jauh, keheranan mereka bertambah, hati mereka semakin giris.
Masih mereka menemui beberapa kurban lagi.
Ketika mereka tiba di puncak Tinhay Hong.
ialah puncak yang ketiga, jumlah kurban yang diketemukan itu tujuh belas buah.
Dari tujuh belas kurban itu, kecuali In Bwee Kok dan Kiu Ku Gi, ada satu orang lagi yang nadinya masih berdenyut, ialah Liap Tong Ceng, pangcu atau ketua, dari partai Tinhay Pang di Kanglam.
Kelihatan nyata semua kurban itu kurban-kurban baru sekali-baru saja terhajar Kiauw Pak Beng.
Thian Touw mencelos hatinya menyaksikan peristiwa hebat itu.
"Kiauw Pak Beng dapat robohkan banyak orang dalam tempo begini singkat, tidak lain pastilah sebab dia telah berhasil menyampaikan tingkat ke sembilan dari Siulo Imsat Kang,"
Pikirnya.
Kok Tiok Kun lantas bekerja.
Dengan meminta bantuan kawan-kawannya, ia menggotong In Bwee Kok, Kiu Ku Gi dan Liap Tong Ceng ke dalam sebuah guha.
Kepada Thian Touw ia minta tiga butir pel.
ia kata.
"Asal mereka masih ada napasnya, aku akan berbuat apa yang aku bisa untuk menolongi mereka!"
Itulah kata-kata dari harapan yang tak ketentuan...
Ie Sin Cu menahan keluarnya air matanya.
Ia memerintahkan dua tauwbak yang dapat diandalkan guna membantu ;Tiok Kun.
Yang lainnya semua manjat terus.
Tiba di lembah yang sempit, di mana orang dapat jalan seorang diri, tidak bisa dengan berendeng berdua sekalipun, sedang di kiri dan kanan ada lamping gunung, orang mendengar siulan yang panjang dan keras, menyusul itu sebuah batu besar, jatuh bergelinding dari atas!
In Tiong lantas berteriak, dia memasang kudakudanya dan mengangkat kedua tangannya.
Dia mengerahkan tenaga Taylek Kimkong Ciu.
Ketika batu besar itu tiba, dia menyambuti untuk dibarengi ditolak keras.
Maka jatuhlah batu itu ke dalam lembah hingga tanah muncrat menjadi debu.
Ie Sin Cu pun membarengi melepaskan tiga buah kimhoa, bunga emasnya, atas mana lantas terdengar tiga kali suara bentrokan nyaring.
Kejadian ini membikin orang tahu, kecuali batu besar itu, ada pula senjata rahasia yang dipakai menyerang mereka!
Hok Thian Touw bersama Leng In Hong berlompat maju, untuk menaruh kaki di pinggiran lamping di mana ada batu munjul keluar, ketika mereka memandang ke atas, di sana terlihat Le Kong Thian yang justeru mengasi dengar suaranya yang keras.
"Siapa naik kemari, dia bagian mati, dia tak akan hidup lagi!"
In Hong mendongkol sekali. Ia menjemput dua potong batu dengan apa ia menimpuk manusia bagaikan raksasa itu. Kong Thian mengangkat boneka kuningannya, untuk menangkis.
"Aduh!"
Demikian jeritan di belakangnya.
Itulah seorang yang sembunyi di belakang Kong Thian, yang terkena salah satu batu.
Dialah orang yang tadi menimpuk dengan tiga buah bandringan, yang ditangkis bunga emasnya Sin Cu.
Dia bertubuh kate dan kecil, maka itu, dengan berdiam di belakang Kong Thian, dia tak segera terlihat.
Thian Touw semua maju terus.
Sesampainya mereka di atas, Kong Thian dan kawannya itu sudah tidak ada, hanya terdengar saja helaan napas perlahan dari orang she Le itu.
Kong Thian berkesan baik terhadap Thian Touw, maka itu ketika tadi dia melemparkan batu besar itu, dia mendahuluinya dengan siulannya, baru kemudian dia mengasi dengar ancamannya.
Dengan tindakannya itu dia mengharap Thian Touw jangan naik terus ke atas karena dia tidak ingin orang she Hok ini menjadi korbannya Kiauw Pak Beng, gurunya itu.
seperti tujuh belas orang tadi.
In Tiong telah menjemput salah satu bandringan itu, ia tertawa dingin dan berkata.
"Juga Sintwi Cui Poo San telah datang kemari. Rupa-rupanya Kiauw Pak Beng juga mengundang bala bantuan yang tak sedikit!"
Cui Poo San itu ialah murid kepala dari Cio Sam Tay, ahli senjata rahasia di kota Pooteng.
Dengan sebelah tangan.
Sam Tay itu dapat melepaskan dua belas potong bandringannya.
Poo San melepaskan hanya tiga buah, mungkin dia menyangka itu pun tak dapat orang menghindarinya.
Orang maju dengan hati berdebaran.
Mereka masih belum menampak Kiauw Pak Beng.
Maka mereka mendaki terus.
Tanpa rintangan mereka sampai di puncak terutama dari gunung Laosan, maka tak jauh dari situ mereka lantas melihat Siangceng Kiong, kuil bangsa imam (tosu).
Justeru itu mereka mendengar siulan nyaring yang dahsyat sampai telinga mereka dirasakan ketulian dan nyeri.
Hok Thian Touw terkejut.
Ia tahu itulah suaranya Kiauw Pak Beng.
"Benar-benar hebat kemajuannya hantu itu!"
Katanya. In Tiong ialah seorang ahli, dari siulan Kiauw Pak Beng ia dapat membedakan nada, maka dengan keheranan ia kata.
"Kiauw Pak Beng mesti lagi menempur lawan yang tak kalah lihainya dengannya! Jikalau dia bukannya hongthio dari Siauwlim Si, mungkin ketua dari Binsan Pay! Inilah aneh"
Ia lantas memasang pula telinganya.
"Bagaimana?"
Tanya Sin Cu.
"Yang menempur Kiauw Pak Beng itu bukannya satu orang,"
Kata In Tiong.
Sin Cu heran.
Kalau orang ialah ketua Siauwlim Si atau Binsan Pay, tidak nanti mereka berkelahi sambil mengeroyok.
Hanya, kalau bukan mereka itu, siapa dapat menandingi Kiauw Pak Beng?
Tapi Siangceng Kiong sudah tertampak, maka tak usahlah orang menduga-duga terlebih lama.
Mereka berlari-lari menghampirkannya.
Tidak lama atau mereka lantas melihat, benar-benar Kiauw Pak Beng tidak menghadapi satu musuh, hanya musuh-musuh itu bukannya ketua-ketua dari Siauwlim Pay dan Binsan Pay!
Di depan kuil Siangceng Kiong di mana ada pekarangan yang lebar telah penuh dengan banyak orang yang bertempat di empat penjuru, di tengahtengah mereka, yang merupakan sebuah gelanggang, terlihat empat orang lagi bertempur.
Atau lebih benar, tiga orang pendeta tengah mengepung Kiauw Pak Beng si jago Siulo Imsat Kang.
Dari tiga orang suci itu, yang dua bersenjatakan tongkat Kiuhun Sianthung, dan yang satunya lagi bergegaman kebutan Hiansi Hudtim.
Kiauw Pak Beng sebaliknya bertangan kosong.
Yang hebat ialah kekebalan Pak Beng.
Beberapa kali dia terhajar lawannya, bukan dia roboh atau terluka, bagian tubuhnya yang terhajar itu mengasi dengar suara nyaring.
Tubuhnya itu seperti juga terdiri dari besi atau baja!
"Ah, itulah tiga toasinceng dari Siauwlim Si!"
Kata In Tiong separuh berseru.
Karena ia mengenali mereka, ia menjadi heran sekali.
Toasinceng itu ialah pendeta-pendeta yang terhormat.
Ketua dari Siauwlim Si ialah Bu Cu Siansu.
Ia mempunyai tiga sute, adik seperguruan, yang paling lihai, yang masing-masing diberi tugas penting, ialah kamsi, pengawas kuil.
hokkeng, pelindung kitab-kitab, dan hengteng, penjabat pelaksaan hukuman.
Merekalah Bu Sek, Bu Ngo dan Bu Siang.
Orang mengatakan mereka bertiga sangat lihai tetapi kecuali berdiam terus di dalam gereja di mana mereka menjalankan ibadat dan mengajar murid, belum pernah mereka bertanding dengan orang luar.
dari itu taklah ada orang ketahui sampai di mana kelihaian mereka.
Maka anehlah sekarang mereka berada di gunung Laosan ini, dan berbareng bertiga, bersama-sama, mengepang Kiauw Pak Beng.
In Tiong lantas dapat melihat Bu Siang mengebut dengan kebutannya, yang lantas menjadi buyar ribuan lembar, hingga tubuh Kiauw Pak Beng seperti ketutupan karenanya.
Setiap lembar benang kebutan itu mencari jalan darah musuh.
Kebutan ialah senjata luar biasa, siapa tidak mahir tenaga dalamnya, tidak dapat membikin tali kebutan menjadi kaku sesuka hatinya In Tiong memuji di dalam hati menyaksikan lihainya pendeta Siauwlim Si itu.
Diserang secara berbahaya itu, Kiauw Pak Beng berseru, meniup dengan keras, tubuhnya pun mencelat tinggi, kedua tangannya dipentang.
Dengan gerakannya itu, dia membebaskan diri dari bahaya.
Kedua tangannya menangkis tongkatnya Bu Ngo dan Bu Sek, hingga kedua tongkat mental menghajar pohon kayu di samping mereka sampai kedua pohon tergetar, daun-daunnya rontok meluruk.
Dari kagum dan girang, In Tiong terkejut.
"Ketiga pendeta ini benar-benar lihai,"
Pikirnya.
"Hanya heran, mereka toh tidak dapat berbuat banyak terhadap Kiauw Pak Beng. Pantaslah Thio Tan Hong telah memandang hantu itu sebagai musuh yang tangguh..."
Lain keanehan ialah halnya ketiga pendeta itu.
Menurut martabat mereka, mestinya mereka menempur Pak Beng satu lawan satu.
Dengan mengepung bersama, derajat mereka tak berarti lagi.
Akan tetapi sekarang buktinya mereka main keroyok...
Dalam hal ini, In Tiong melihat hanya satu pihak.
Ia seperti melupai Pak Beng dengan Siulo Imsat Kang, ilmu silatnya, yang istimewa itu.
Sebenarnya juga terpaksa Bu Sek bertiga mengepung Pak Beng.
Mereka telah didesak turun tangan oleh Siulo Imsat Kang dari Pak Beng itu.
Thio Tan Hong telah minta bantuannya Siauwlim Si, ia telah mengundang Bu Cu Siansu sendiri.
Kebetulan pendeta kepala itu hendak "menutup diri,"
Maka dia mengirim Bu Sek bertiga sebagai wakilnya.
Tan Hong girang sebab ia percaya mereka itu akan dapat melebihkan Boa Cu seorang diri.
Ketiga pendeta tidak berangkat bareng bersama Tan Hong.
Tan Hong masih hendak mengundang ketua Binsan Pay serta mesti mengurus satu hal lain.
Maka ia minta ketiga pendeta berangkat lebih dulu sekalian untuk menilik kawan-kawan lainnya yang datang membantu.
Nyatalah kesudahannya bantuan untuk Tan Hong itu masih kurang.
Rombongannya In Bwee Kok roboh di tangannya Kiauw Pak Beng yang telengas itu.
Kiauw Pak Beng tidak sudi pakai aturan Kangouw, dia main rabuh.
Orang tiba belum lama, dia memegat dan menyerang.
Untuk mencegah jago itu mengambil lebih banyak kurban, terpaksa Bu Sek bertiga mengepung dia, hingga dia tidak dapat berpesta dengan pukulan-pukulan Siulo Imsat Kang-nya itu.
Kiauw Pak Beng sudah mencapai tingkat terakhir dari ilmu kepandaiannya itu, dia jadi sangat lihai, hingga Bu Sek, Bu Ngo dan Bu Siang, tidak dapat berbuat banyak terhadapnya.
Bahkan ketiga pendeta telah terserang hawa dingin sampai keuletan mereka menjadi berkurang.
Karena itu, sambil berkelahi mereka bertiga mesti mengerahkan tenaga dalamnya, buat mengobati luka di dalam itu sambil terus memperkuat diri.
Demikianlah, untuk sementara, merekajadi sama unggul.
Ketika rombongan Sin Cu tiba, Kiauw Pak Beng lantas dapat melihatnya.
Dia mengenali Nyonya Yap Seng Lim, mendadak napsu amarahnya bangkit.
"Ketiga toasinceng, kamu beristirahatlah!"
Dia berseru.
Dia lantas bersiul nyaring, terus dia berlompat, tangan kirinya menyamber tongkat Bu Sek, tangan kanannya menyamber tongkatnya Bu Ngo.
Dia mengadu kedua tongkat hingga bentrok keras, hingga muncrat lelatu apinya, lalu dia pinjam tenaga kedua tongkat itu untuk berlompat lebih jauh.
lompat ke arah Sin Cu.
Bu Sek dan Bu Ngo kena tergempur tenaga dalamnya, tubuh mereka terhuyung, terus mereka jatuh duduk, muka mereka pucat.
Bu Siang kaget, ia lompat kepada dua saudaranya, untuk menolongi, hingga ia seperti melupai kewajibannya untuk memegat dan merintangi Kiauw Pak Beng.
Sangat cepat seperti burung garuda, tubuh Kiauw Pak Beng sudah mencelat ke arah Sin Cu.
"Tahan!"
Berteriak In Tiong, yang segera lompat menyerang.
Dia menggunakan dua-dua tangannya.
Dia hendak melindungi Nyonya Yap Seng Lim.
Kiauw fak Beng mesti menoleh, bahkan ia mesti menangkis serangan itu.
Tidak dapat ia berkelit lagi.
Tangan kedua pihak beradu satu pada lain.
keras sekali, hingga terdengar suara beradunya itu.
Kiauw Pak Beng mengasi dengar suara tertahan "Hm!"
Dan tubuhnya mental dua tombak.
Taylek Kimkong Ciu dari In Tiong hebat walaupun Kiauw Pak Beng sudah mempersatukan kemahirannya ilmu sesat dan ilmu lurus, dia masih terhajar terpental itu.
Syukur dia tak tergempur anggauta tubuhnya bagian dalam.
Di lain pihak In Tiong, oleh karena bentrokan itu, segera merasakan tangannya dingin dan rasa dingin itu terus tersalurkan ke tubuhnya.
Hawa dingin bagaikan es itu menyerang ke ulu hatinya.
Lantas ia menggigil.
Ia sebenarnya mau mengulangi serangannya, apa mau tenaganya seperti habis, hingga ia tidak dapat melakukan keinginannya itu.
Ia terkejut, hatinya berdebaran.
Sungguh lihai orang she Kiauw itu dan sungguh berbahaya keadaannya apabila musuh menyerang pula padanya.
Kiauw Pak Beng terpental tetapi tak terluka apa-apa, begitu ia melihat ke arah Sin Cu, begitu ia lompat untuk mengejar.
Belum lagi ia lari, dua sinar pedang berkelebat dihadapannya.
Ia dirintangi Thian Touw dan In Hong, yang lompat menghadang di depannya.
Hanya dalam segebrakan itu, Kiauw Pak Beng lantas mendapat tahu berapa pesat majunya sepasang suami isteri itu.
Ia bercekat.
Maka ia lantas menggunakan kepandaiannya untuk melayani kedua musuh ini.
Ketika ia diserang pula, dengan tangan kirinya ia mengibas, dengan jari tengah tangan kanan ia menyentil.
Dengan begitu ia mempunahkan pedangnya In Hong.
pedang pedangnya Thian Touw kena terpentil hingga menerbitkan suara nyaring.
Thian Touw terkejut, juga jago tua itu.
Jago ini kaget lantaran ujung bajunya kena dirobek pedang si nyonya.
Thian Touw sebaliknya terkejut lantaran pedangnya kena tersentil mental, segera ia merasakan tangannya dingin luar biasa, sampai hampir-hampir tak dapat ia mencekal terus pedangnya itu.
Mau atau tidak, ia mundur setindak.
Dengan begitu, pedang mereka suami isteri tak dapat bersatu padu dalam sejenak itu.
Kiauw Pak Beng tertawa berkakak.
Dengan adanya lowongan, dia lompat untuk menyingkir dari kepungan.
"Hok Thian Touw!"
Dia berkata, nyaring.
"ilmu pedang Thiansan Pay kamu benar-benar telah dapat disempurnakan, maka sebentar aku akan menempur pula kamu!"
Habis berkata, ia memutar tubuhnya, untuk mengejar pula le Sin Cu.
Nyonya Yap Seng Lim telah memisahkan diri tiga tombak dari si jago tua, ketika ia dikejar pula, ia lari.
In Tiong, juga Thian Touw dan isterinya, mengejar.
Mereka hendak melindungi Sin Cu tak perduli jago tua itu lihai sekali.
Hanya ketika itu mereka ketinggalan belasan tombak.
Sin Cu cerdik.
Ia lari ke dalam rimba di mana, dengan menggunakan ilmu "Coanhoa jiauwsi."
Ia berputaran di antara pohon-pohon yang tumbuh tak teratur.
Ia bergerak dengan sangat cepat dan lincah.
Sia-sia Kiauw Pak Beng mengejar, tak dapat ia menghajar tubuh orang.
Akhirnya ia menjadi sangat mendongkol.
"Bayar pulang jiwa anakku!"
Ia berteriak, menyusul mana ia menyerang ke arah pohon di belakang mana Sin Cu berlindung.
Hebat serangan itu.
Dengan satu suara berisik, pohon itu roboh.
Sin Cu lompat menyingkir.
Ia toh terhalang pohon itu.
Justeru begitu, mendadak ada orang berlompat dari samping rujuk rumput dekatnya, orang mana membarengi menikam dengan pedangnya.
Yang hebat ialah segera dikenali penyerang itu Koan Sin Liong adanya, yang rupanya telah bersembunyi di dalam rimba lebat itu.
Sin Cu menangkis serangannya Koan Sin Liong itu.
Ia bingung sekali.
Ia terkepung oleh Sin Liong dan Pak Beng, dua-duanya musuh sangat lihai.
Habis menangkis ia menjadi kaget sekali.
Tak dapat ia menarik pulang pedangnya, sia-sia belaka ia mencobanya Sin Liong lihai, ia menyerang untuk terus menempel pedang si nyonya.
Di dalam hal ilmu "Menempel,"
Ia lihai luar biasa.
Melihat orang tidak dapat lolos, ia tertawa.
Sebenarnya, kalau ia mau, ia bisa meneruskan menikam nyonya itu dan mungkin orang terlukakan, akan tetapi ia sudah tidak berbuat demikian, ia mau memberi jasa kepada Kiauw Pak Beng, ia ingin mendapat muka dari jago tua itu, ia mau membiarkan Pak Beng yang membunuhnya.
Pak Beng hendak menuntut balas jiwa puteranya.
Leng In Hong telah menyusul, ia kaget.
Ia tahu Sin Cu terancam bahaya.
Oleh karena tidak ada jalan, sebelum datang dekat, ia menyerang dengan menimpuk dengan pedangnya Ia mengarah punggung Kiauw Pak Beng, yang sudah lompat ke arah Nyonya Seng Lim.
Pak Beng lihai, ia mendengar suara angin menyamber.
Tanpa menoleh, ia menjejak tanah, untuk berlompat melewati pohon di samping.
Ia tidak ungkulan menangkis timpukan yang sangat berbahaya itu.
Pedang In Hong meluncur terus, baru berhenti setelah menancap pada sebuah pohon.
Pak Beng berlompat terus, hingga ia datang dekat pada Sin Cu.
Jarak di antara mereka berdua tak ada tiga tombak lagi.
Juga Koan Sin Liong telah ada yang serang seperti Pak Beng itu.
Ia tertawa belum berhenti ketika serangan itu datang.
Ia merasakan dorongan angin yang keras sekali.
Tidak ayal lagi, ia menyerang ke belakang.
Lalu ia terkejut.
Serangannya itu seperti serangan pada tembok kokoh tegar, sasarannya itu tak bergeming.
"Kau rebahlah!"
Begitu ia mendengar bentakan habis ia menghajar ke belakang itu. Ia terkejut, lantas ia tidak berdaya lagi. Ia satu jago tetapi ia dengar kata, tubuhnya lantas roboh terjengkang! "Han Locianpwee!"
Terdengar In Tiong memanggil, suaranya nyaring dan bernada kegirangan.
Penyerangnya Koan Sin Liong itu ialah Sinkun Butek Han Tiat Ciauw si Kepalan Tak Tandingan, ciangbunjin, atau ketua, dari Binsan Pay.
Kalau Koan Sin Liong melawan dia dengan pedang, ia mungkin bisa melayani sampai lima puluh jurus, tapi ia lagi menempel pedang Sin Cu, terpaksa ia menangkis dengan tangan kosong.
Maka tempo ia diserang pula, ia roboh tak ampun lagi.
Ketika itu Kiauw Pak Beng telah menyandak.
Dia telah melihat apa yang sudah terjadi.
"Kau pun roboh!"
Dia berteriak padaHan Tiat Ciauw, yang dia serang dengan pukulan Siulo Imsat Kang tingkat ke sembilan. Serangan itu keras sekali dan hawanya pun dingin luar biasa.
"Kau lihat siapa yang roboh!"
Kata Tiat Ciauw sambil tertawa.
Ia tidak takuti serangan orang, ia segera menangkis.
Ketua Binsan Pay ini telah berlaku keliru dengan ia mengasi dengar suaranya.
Justeru ia membuka mulut, justeru hawa dinginnya Pak Beng menyerang masuk ke dalam mulutnya itu.
Ia kaget dan gelagapan.
Berbareng dengan itulah kedua kepalan beradu satu dengan lain.
Hebat bentrokan itu, Pak Beng terhuyung mundur tiga tindak.
Tiat Ciauw sebaliknya, kecuali dia terhuyunghuyung hampir jatuh, tubuhnyajuga menggigil keras.
Kiauw Pak Beng tidak menggubris perintahnya itu.
mau terus mengejar pula Sin Cu.
Nyonya itu sembunyi di belakang pohon.
Dalam murkanya.
Pak Beng menyerang keras kepada pohon yang menjadi penghalang di depannya itu.
"Bruk!"
Demikian pohon itu roboh ambruk.
Habis itu, Pak Beng berlompat.
Sin Cu terpegat pohon itu.
Tiat Ciauw terperanjat, ia menyamber dengan tangannya.
Apamau.
ia tak punya tenaga lagi, tangannya tidak sudi turut perintahnya.
Pak Beng tidak kena terjambret.
Syukur Pak Beng lagi mengarah Sin Cu, coba dia menyerang pula, ketua Binsan Pay ini bisa menemui ajalnya.
"Kau masih memikir untuk lolos?"
Pak Beng bentak Sin Cu.
Ia lompat seraya mengulur tangannya yang panjang.
Tengah isterinya Seng Lim itu terancam bahaya maut, di antara mereka terdengar satu siulan yang lama dan nyaring, di situ cuma ada Sin Cu dan Pak Beng berdua tetapi Pak Beng mendengar suara ini.
"Kau membanggakan diri sebagai seorang guru besar yang tidak ada tandingnya, kau justeru menghina seorang anak perempuan, apakah kau tidak malu?"
Pak Beng terkejut hingga tercengang. Dengan begitu dengan sendirinya serangannya kepada Sin Cu menjadi tertunda Ia bukan kaget disebabkan suara itu. yang di kirim menurut ilmu "Coanim jipbit,"
Suara yang dari jauh seperti terbawa angin sampai di telinganya orang yang dimaksudkan.
Ia kaget sebab ia kenali orang yang mengasi dengar suara itu.
Ialah musuh besarnya yang satu-satunya.
Thio Tan Hong!
Benar di saat itu muncullah Tan Hong itu, yang nerobos di antara pepohonan.
Paling nyata ialah pakaiannya yang putih.
"Suhu!"
Sin Cu berteriak ia telah melihat gurunya itu.
Ia girang hingga ia menangis.
Pak Beng mengawasi, ia heran atas datangnya orang, yang seperti tak terlihat munculnya.
Tan Hong bertindak dengan sabar, ketika ia berkata kepada muridnya, ia tertawa.
Katanya.
"Sin Cu, bukankah ini yang pertama kali kau kena dihinakan orang? Baiklah, gurumu akan mencoba membikin lampias penasaranmu ini!"
Pak Beng tidak takut, sembari tertawa ia mendahului bicara. Ia tidak mau menunggu sampai ditegor. Ia kata.
"Ketika dulu hari kita bertempur di kuil Hianbiauw Koan di Sesan, aku si orang she Kiauw telah mendapat kefaedahan yang tak kecil, selama dua tahun, tak pernah aku melupakannya! Dulu hari itu aku pernah berjanji terhadapmu, yaitu asal mendapat kemajuan satu dim saja, aku akan membikin kunjungan kepada kau untuk memohon pengajaran pula dari kepandaian kau yang istimewa, maka syukur sekali hari ini kau datang kemari tanpa diundang! Inilah ada baiknya untuk aku, sebab aku jadi dapat menghemat segalanya, tak usah aku pergi membikin perjalanan jauh ke bukit Chongsan! Thio Tan Hong, kau boleh utarakan apa saja yang kau kehendaki! Aku si orang she Kiauw, aku bersedia menerima baik cara apa juga! Hanya sebelum kita bergerak, ingin aku memberi penjelasan lebih dulu. Kau mengatakan aku menghina muridmu! Hm! Hm! Kau hendak melampiaskan penasarannya muridmu, bagaimana dengan aku? Kau tahu, anakku terbinasa secara kecewa! Apakah aku si orang she Kiauw tak dapat membalaskan sakit hati anakku?" * Mendengar itu, Sin Cu tertawa mengejek.
"Siluman tua bangkotan she Kiauw!"
Katanya tanpa menanti gurunya menyahuti.
"apakah benar-benar kau menyangka aku yang membinasakan anak mustikamu itu?"
Kiauw Pak Beng mementang kedua matanya lebarlebar.
"Jikalau bukannya kau, siapa?"
Tanyanya bengis.
"Orangmu sendiri!"
Sahut Sin Cu.
"Dialah Yang Cong Hay!"
"Ngaco belo!"
Pak Beng berseru.
"Mana bisa Yang Cong Hay membinasakan Siauw Siauw? Laginya dia terang-terang telah terkena bunga emasmu! Apakah kau tetap menyangkal?"
Sepasang alisnya Sin Cu terbangun. Dia mendongkol bukan main.
"Jikalau kau tidak percaya, terserah padamu!"
Ia berseru.
"Anakmu itu memang bagian mampus! Taruh kata benar aku yang membinasakan, dia pantas menerima bagiannya itu!"
Matanya Pak Beng menjadi merah seperti bara, tetapi di depan Tan Hong, ia tidak berani segera menurunkan tangan jahat terhadap nyonya muda itu.
Thio Tan Hong tidak gusar menghadapi peristiwa di depannya itu, sebaliknya, ia tertawa, la kata dengan tawar.
"Kiauw Pak Beng, jangan gusar dulu! Coba kau lihat di sana, siapa itu yang lagi mendatangi?"
Pak Beng lantas menoleh.
Dari dalam rimba terlihat munculnya empat orang.
Tiga yang di sebelah depan ialah Butong Kiamkek Ku Kiu Gi.
Thianloei Kiam In Bwee Kok dan Pangcu Liap Tong Ceng dari partai Tinhay Pang dari Kanglam.
Yang paling belakang yaitu Sinie Kok Tiok Kun si tabib pandai.
Dan mata mereka itu, selagi mendatangi itu, merah sebagai api, tandanya mereka gusar tak kepalang kepada si orang she Kiauw.
Bukan main herannya Pak Beng, hatinya sampai berdebaran.
Ia tahu baik, dengan pukulan-pukulan dari Siulo Imsat Kang ia telah menghajar roboh tujuh orang gagah terhitung Ku Kiu Gi bertiga ini, ia percaya mereka semua sudah terbinasakan, siapa tahu mereka ini bertiga masih hidup.
"Sayang aku berlaku hemat dengan tenagaku."
Pikirnya, menyesal.
"aku cuma menyerang dengan tenaga tingkat ke lima dari Siulo Imsat Kang..."
Tapi segera ia berpikir lebih jauh.
"Dengan tenaga dalam mereka ini bertiga, taruh kata mereka dapat hidup, mereka mestinya terus-terusan batuk-batuk dan bernapas sesak, tidak nanti mereka menjadi begini segar bugar seperti sediakala. Kok Tiok Kun dijulukkan Sinie, tetapi tidak nanti dia dapat menyembuhkan begini cepat! Ah, tidak bisa lain, mereka tentu ditolong Tan Hong, yang sudah mengusir hawa beracun dari dalam tubuh mereka. Kalau begini, meskipun aku telah mencapai Siulo Imsat Kang tingkat ke sembilan, mungkin aku tidak bisa merebut kemenangan..."
Thio Tan Hong mengawasi tajam pada jago Siulo Imsat Kang itu.
"Muridku ini belum pernah omong dusta!"
Katanya nyaring.
"tetapi karena kematian anakmu itu sukar dicari saksinya, tak usahlah aku banyak omong lagi untuk membantahnya. Baiklah, kau boleh anggap saja anakmu benar dibunuh muridku! Tapi kau dengar! Dengan tangan dingin kau telah membinasakan empat belas orang Kangouw yang kenamaan, di antara mereka itu, setiap orangnya tak ada satu yang kurang berharganya daripada anakmu, bahkan jauh melebihkannya! Oleh karena yang satu hendak dibikin impas dengan jiwa anakmu, sekarang kau masih berhutang tiga belas jiwa lagi!"
Pak Beng tidak dapat menyangkal atau membantah lagi, akan tetapi dia sudah norek, maka sepasang matanya mendelik.
"Memang aku yang membunuh mereka itu, habis kau mau apa?"
Dia kata dingin.
"Jangan kata baru tiga belas jiwa mereka, sekalipun seratus tiga puluh jiwa, aku akan mengakuinya, aku akan bertanggung jawab atasnya! Jikalau kau dapat menagih jiwa, kau tagihlah! Thio Tan Hong, apakah sekarang juga kita bertanding?"
Thio Tan Hong menunjuki sikapnya yang keren dan agung. Ketika iamemberikan jawabannya, ia berlaku sabar.
"Dulu hari di waktu bertempur Di kuil Hianbiauw Koan di Sesan, aku tidak mau menang sendiri daripada kau,"
Sahutnya.
"Sekarang begitu juga, tetap aku tidak mau menang sendiri. Dulu hari itu kau habis menempur hebat Hek Pek Moko, aku berikan kau pil Siauwhoan Tan untuk kau dapat memulihkan tenagamu. Sekarang pun kau baru saja melayani ketiga toasinceng, maka seperti dulu hari itu. suka aku memberikan sebuah pil lagi, habis makan itu, kau boleh beristirahat secukupnya. Dengan begitu, setelah menempur aku, andaikata kau mati, kau tidak akan menyesal dan penasaran!"
Habis berkata, Tan Hong mengeluarkan peles obat, akan mengambil sebutir obat, sambil disentil dengan kedua tangannya, ia meluncurkan itu kepada Pak Beng.
Kiauw Pak Beng sekarang bukannya Kiauw Pak Beng dulu hari itu.
Benar dia habis menempur ketiga pendeta dari Siauwlim Si tetapi tenaganya yang dia pakai cuma kira-kira tiga bagian, hingga .itu taklah berarti banyak untuknya.
Sebenarnya tak ingin ia menerima pil itu, tetapi ia mendengar kata-kata terakhir dari Tan Hong, supaya ia mati "tak menyesal dan penasaran,"
Hatinya menjadi panas, la merasa kata-kata itu benar.
Maka tanpa merasa ia menyambuti obat Siauwhoan Tan itu.
Ia lantas mendengar pula perkataannya Thio Tan Hong, yang melanjuti bicara dengan setiap kata-katanya terdengar jelas sekali.
"Dulu hari itu kejahatan kau masih belum terlihat tegas,"
Kata orang she Thio itu.
"maka suka aku memberi ketika padamu untuk kau mengubah perbuatanmu yang keliru, untuk kau memperbaiki diri. tetapi sekarang --kali ini kita bertempur, aku tidak akan menaruh belas kasihan lagi! Itu artinya, jikalau bukan kau yang mati, tentulah aku!"
Mukanya jago tua itu menjadi pucat, tapi hanya sebentar, segera dia tertawa bergelak-gelak.
"Aku si orang she Kiauw berani muncul pula di muka umum,"
Ia kata, keras.
"dan aku berani menempurpula padamu, sudah pasti aku telah mengambil keputusan untuk kita bertempur hingga kau hidup atau aku terbinasa! Maka kata-katamu itu tak usahlah kau sebutkan! Kau telah melepas budi besar padaku dengan kau memberikan obatmu yang mustajab, untuk itu tidak berani aku menghaturkan terima kasihku. Sebentar aku si orang she Kiauw pasti akan melawan kau dengan aku akan mengeluarkan semua tenaga dan kepandaianku, pasti aku tidak bakal membuat kau hilang harapan dan kecewa! Haha, Thio Tan Hong, kau hebat sekali, pantas orang menyebutmu sebagai tayhiap, seorang pendekar. Sebentar tak perduli aku terbinasa di tanganmu atau kau terbinasa di tanganku, terangnya aku telah mengagumimu!"
Benar-benar Kiauw Pak Beng kagum terhadap lawannya itu.
Habis berkata itu, dihadapan orang banyak itu, yang mengawasi tajam padanya, ia lantas telan obat Siauwhoan Tan dari Tan Hong.
Tatkala itu semua orang sudah berkumpul, tak terkecuali ketiga toasinceng, pendeta-pendeta dari Siauwlim Si, yang sudah pulih kesehatannya.
Mereka menemui Tan Hong sambil mendahului berkata.
"Kami malu sekali..."
Tan Hong sebaliknya lantas bilang.
"Aku telah datang terlambat satu tindak, hampir aku membikin gagal urusan besar, aku pun telah membikin capai kepada sinceng bertiga, aku menyesal sekali. Sinceng bicara tentang malu, aku terlebih-lebih malu lagi. Baiklah sinceng ketahui, hantu ini sudah berhasil meyakinkan Siulo Imsat Kang tingkat ke sembilan, sinceng dapat melayani mereka dengan tidak kurang suatu apa, itu tandanya tenaga dalam sinceng sangat mengagumi, kamu membuatnya aku tunduk!"
Tan Hong tidak bicara merendah.
Sehabisnya menolongi Ku Kiu Gi, In Bwee Kok dan Liap Ceng Tong bertiga, benar-benar ia telah mengurbankan tenaga dalamnya tidak sedikit, karena itu insaflah ia hebatnya Siulo Imsat Kang tingkat sembilan dari Kiauw Pak Beng itu.
Thio Tan Hong berlaku jujur dan sebagai laki-laki sejati ketika ia membagi obat mujarab kepada Kiauw Pak Beng.
Pula perbuatan itu ada baiknya untuknya.
Ia membutuhkan waktu sebanyak bisa untuk ia diam-diam menyalurkan tenaga dalamnya, guna dikumpul pula, guna membikin ia segar seperti sediakala.
Ketika itu orang-orang gagah yang hendak menghadiri rapat telah tiba.
Tadinya mereka berjalan bersama Thio Tan Hong, tetapi sebab Tan Hong dan Han Tiat Ciauw mendengar suara pertempuran, dua orang ini lantas mendahului, untuk melihat, dengan begitu mereka jadi ketinggalan.
Kiauw Pak Beng girang sehabisnya ia makan pil Siauwhoan Tan pemberian Tan Hong.
Ia merasa sangat nyaman.
Jalan darahnya tersalur baik sekali, pernapasannya menjadi lega.
Maka ia menduga, untuk menjadi segar seperti sediakala cukup asal ia dapat beristirahat setengah jam.
Karena ini ia lantas berpikir sambil matanya menyapu ke seluruh arah.
"Thio Tayhiap telah mengundang begini banyak orang pandai, sungguh kedatangan mereka menambah bukan sedikit kegembiraan untuk pertemuan ini,"
Katanya kemudian.
"Aku si orang tua juga mempunyai beberapa sahabat Rimba Persilatan, dengan pertempuran kita ditunda untuk sementara waktu, aku pikir mengecewakan buat membiarkan mereka duduk menantikan saja, pasti mereka menjadi iseng sekali. Oleh karena itu, menurut aku, bukankah tidak ada halangannya untuk mereka itu memilih sendiri tandingannya guna bertempur terlebih dulu? Bagaimana pikiran tayhiap?"
"Benar,"
Tan Hong menjawab.
"Jikalau sahabatsahabat Kiauw Losianseng sudi main-main secara sahabat, guna melatih diri, tidak ada halangannya apa juga."
Baharu berhenti suaranya Tan Hong itu maka dari sampingnya Pak Beng muncul seorang dengan tubuh kate dampak, terus saja dia berkata nyaring.
"Sudah lama aku mengagumi julukan Nona Ie sebagai Sanhoa Lihiap, sekarang aku si orang she Cui yang bodoh, suka aku minta Nona Ie mengadu senjata rahasia!"
Dialah Cui Poo San, orang yang tadi di lereng gunung menggunakan pahat terbang melakukan pembokongan.
Diam-diam Kiauw Pak Beng girang sekali.
Orang she Cui itu saudara angkat dari Le Kong Thian.
Dia sudah lama mengandung keinginan buat mengangkat ia menjadi guru.
Dia tahu ia membenci Ie Sin Cu sebab Nona Ie dituduh sudah membunuh Kiauw Siauw Siauw.
maka dia memikir menggunakan ketika baik ini membinasakan Nyonya Yap Seng Lim itu.
Dia sudah pikir baik-baik, setelah dia membinasakan Sin Cu, dia akan mengajukan permintaannya itu.
Dia akan minta tunjangannya Kong Thian.
Dia menduga pasti ia tidak bakal menampik.
Ia dapat membade hati orang, dari itu ia mengawasi dengan sinar matanya yang menganjuri aksi orang itu.
Thio Tan Hong tidak berkeberatan muridnya ditantang, akan tetapi ia kuatir muridnya tidak kenal siapa penantang itu, maka ia berkata.
"Sin Cu, kau tahu. di jaman ini. di kolong langit, ada dua ahli senjata rahasia yang paling kenamaan! Yang satu yaitu Keluarga Tong di kecamatan Bankoan di propinsi Sucoan. yang lainnya Keluarga Cio di Pooteng. Hoopak. Dan ini Cui Busu adalah muridnya Chungcu Cio Sam Tay dari dusun Cio Keechung dari Pooteng itu. Sekarang baik-baiklah kau mohon pengajaran dari Cui Busu!"
Sin Cu tertawa.
"Dengan kepandaiannya Cui Busu, aku pernah belajar kenal satu atau dua kali!"
Katanya.
"karena itu tak usahlah suhu memesan, muridmu tahu bagaimana harus menemani dia main-main."
Cui Poo San mendengar pembicaraan di antara itu guru dan muridnya, ia menjadi tidak senang. Ia mendapat kesan orang sangat tidak memandang mata terhadapnya.
"Sebentar kau tahu rasa!"
Katanya dalam hati. Kedua pihak sudah lantas berdiri berhadapan sejarak tiga tombak satu dengan lain.
"Silahkan, Ie Lihiap!"
Kata Poo San hormat.
"Tuan rumah tak mendahului tetamu, silahkan kau yang mulai, Cui Busu."
Sahut Sin Cu. Cui Poo San tidak berlaku sungkan, baru si nona menyahutnya "Silahkan,"
Ia sudah lantas menyerang.
Sebatang pusutnya sudah lantas terbang menyamber.
Ia telah tidak menghiraukan bahwa perbuatannya ini dapat merendahkan dirinya sebagai seorang kenamaan.
Biar bagaimana, itulah satu cara membokong.
Sedang serangannya itu pun telah dipikir matang dan dengan inceran.
Sin Cu tidak menjadi kaget karena dibokong dengan cara itu.
Ia bahkan tertawa.
Sebuah kimhoa, bunga emasnya, sudah lantas terbang, menyambuti senjata rahasia musuh.
Hingga kedua senjata bentrok di tengah jalan, keduanya lantas jatuh ke tanah, hanya bunga emas masih melesat ke samping, hinggajatuhnya jadi belakangan.
Kimhoa merupakan senjata terlebih kecil dan terlebih enteng, tenaganya Cui Poo San juga terlebih besar daripada tenaganya si nyonya muda, akan tetapi kedua senjata bentrok dengan kesudahan si kecil yang menang, kejadian itu dapat dilihat oleh orang-orang gagah kedua pihak, mereka lantas mendapat tahu Sin Cu menggunakan tipu silat "meminjam tenaga untuk memukul tenaga."
Maka itu lantas orang bersorak memuji. Air mukanya Poo San tak berubah, ia pun turut memuji.
"Bagus!"
Di dalam hati, ia sebenarnya terkejut dan mendongkol.
Sudah kepalang tanggung, ia menyerang pula tanpa mau memberi ketika pada lawannya.
Ia menyerang beruntun dengan tiga potong senjata rahasianya, masing-masing mengarah jalan darah yangpek di alis.
lenghu di dada, dan kiauwim di iga.
Serangan pun terlebih hebat daripada yang pertama Sin Cu melihat serangan itu, ia menimpuk dengan enam biji bunga emasnya.
Setiap dua buah Kimhoa dipakai menyambut sebatang senjata lawannya Kali ini ia mengambil sikap tak meruntuhkan senjata lawannya itu, ia cuma menyambutnya membikin ketiga senjata itu nyasar dari sasarannya.
Ia tahu, lawan tentu menggunakan tenaga luar biasa besar.
"Benarlah nama kesohor dari Sanhoa Lihiap!"
Cui Poo San berseru memuji.
"Nah, sambutlah lagi sekali!"
Kata-kata itu dibarengi dengan ulapan tangan, setiap tangan menerbangkan tiga batang, akan tetapi di waktu menyerang, masing-masing ke atas, ke tengah dan ke bawah, dari itu, Sin Cu diserang dengan masing-masing sepasang pusut.
Pula setiap sepasang pusut terpecah ke kiri dan kanan, hingga ia menjadi terkurung.
Membela diri dari serangan sangat berbahaya itu, Sin Cu menangkis sambi!
tubuhnya berlompat tinggi, dalam gerakan "Cecapung terbang menowel air"
Atau "Kupukupu menembusi bunga."
Ia dapat membebaskan diri, sedang senjata musuh menghantam tanah, hingga debunya mengepul, hingga pakaiannya kena terkotorkan.
Para penonton kaget dan kagum.
Cui Poo San tertawa menyeringai, sebelum Sin Cu menaruh kakinya di tanah, dia sudah menyerang pula sambil menyerukan.
"Bagus! Sambutlah pula!"
Kali ini tangannya terulapkan dengan meluncurkan sebuah barang bundar sebesar kepalan, menyambernya pun menerbitkan suara "swing!"
Sasarannya adalah kepala lawannya Akan tetapi, sebelum mengenai sasarannya, tepat di atasan kepalanya Nyonya Yap.
senjata itu lantas meledak sendirinya hingga meletiklah banyak lelatu seperti kembang api!
Jadinya senjata rahasia itu senjata yang dicampuri barang meledak seperti peluru.
Sin Cu terkejut, dengan sebat ia lompat melesat ke kanannya.
Untuk ini ia memiliki kepandaian ringan tubuh yang sempurna.
Cui Poo San sudah menduga orang bakal menyingkir ke arah mana, tepat si nona lompat ke samping itu, ia menimpuk pula.
Sekarang ia menggunakan Bweehoa ciam, jarum "Bunga Bwee,"
Yang halus seperti bulu kerbau.
Hingga sulitlah senjata halus itu ditangkisnya Menampak demikian, Sin Cu lantas menyerang dengan kedua tangannya.
Ia menggunakan tenaga dalamnya, yang pun sudah mahir.
Ia bukannya menangkis, hanya membarengi menyerang, untuk mempunahkannya.
Maka itu.
belum lagi jarum-jarum itu mengenai tubuhnya, semuanya telah kena tersampok balik, semua jatuh ke tanah.
Di saat si nyonya menyerang jarumnya itu.
hingga orang pun tak nanti sempat menggunakan bunga emasnya, kembali Cui Poo San sudah mendahului menyerang terlebih jauh.
Dia telah menggunakan duadua tangannya, yang diulapkan berbareng.
Bahkan kali ini ia menggunakan senjata rahasia paling istimewa dari Keluarga Cio.
yaitu dua belas batang Tokliong Cui, pusut Naga Beracun, sebab semuanya senjata rahasia itu telah dicelup dalam bisa!
Itulah bukan lagi pertandingan senjata rahasia untuk mengadu kepandaian, itulah sama dengan percobaan merampas jiwa, untuk membunuh.
Melihat demikian maka beberapa penonton yang keras tabiatnya lantas mengasi dengar cacian mereka Dalam pada itu, diserang secara demikian telengas, Ie Sin Cu tidak berdiam saja.
Ia berlompat untuk melindungi dirinya, tubuhnya terapung.
Orang terkejut melihat dia seperti menghampirkan tiga buah pusut yang membawa bahaya maut itu.
Hanya ia bukan memasang dirinya sebagai sasaran, ia justeru berjumpalitan, hingga senjata rahasia lewat di tempat yang kosong.
Itulah suatu tipu dari "Coanhoajiauwsi,"
Ilmu "Menembusi Bunga Memutari Pohon."
Ia juga bukan cuma main lompat jumpalitan, sembari berjumpalit itu, tangannya menghunus pedangnya, maka dengan pedang itu ia sekalian menyampok pusut lainnya.
Ia menyampok dengan pukulan "Tianghong Kengthian,"
Atau "Bianglala Melintang! Langit,"
Sinar pedangnya berwarna hijau.
Maka terdengarlah berulangkali suara nyaring, tandanya pelbagai pusut kena dirabuh runtuh pedang itu.
sedang enam yang lainnya lewat tanpa hasil.
Lantas si nyonya berseru.
"Jikalau ada kunjungan tak dibalas, itu namanya kurang hormat! Kau juga sambutlah bunga emasku!"
Belum lagi ia turun ke bawah, sebelah tangannya sudah terayun. Itulah timpukan "Thianli Sanhoa,"
Atau "Bidadari menyebar bunga."
Tidak kepalang tanggung, ia menyebar sama sekali dua puluh empat buah kimhoa!
Pusutnya Cui Poo San, semuanya berjumlah dua puluh empat potong.
Pertama kali ia menyerang, ia menggunakan satu biji, kedua kalinya tiga biji, ketiga kalinya enam biji, lalu ke empat kalinya dua belas biji, jumlah sudah dua puluh dua, maka itu ia masih menyimpan sisanya dua potong.
Tentu sekali dengan sisa dua potong itu ia tidak dapat menangkis dua puluh empat kimhoa si nyonya, maka terpaksa ia menggunakan lain macam senjata rahasia ialah tiat poutee atau biji boddhi dari besi.
Kali ini ia cuma mengharap dapat meruntuhkan semua senjata rahasia lawannya, sebab tak ada kesempatannya guna menyerang pula.
Kelihatannya kimhoa Sin Cu kacau tetapi sebenarnya serangan itu ada sasarannya.
Maka juga, ketika kimhoa kena dihajar tiat poutee, selagi biji boddhi besi itu terus jatuh, kimhoa mental nyamping menyamber terus!
Cui Poo San kaget bukan main.
Untuk menolong diri, lupalah ia bahwa ialah seorang yang berkenamaan.
Tadi pun ia melupakan nama baiknya ketika pertama kali ia menyerang separuh membokong.
Ia tidak mau menangkis lagi dengan senjata rahasianya, hanya ia menjatuhkan diri untuk terus bergulingan di tanah.
Tak malu ia dengan keadaannya yang menyedihkan itu.
Walaupun demikian, meski juga ia sangat gesit, ia masih tidak dapat membebaskan diri seluruhnya.
Ia mengeluarkan jeritan yang menyayatkan hati ketika tujuh buah kimhoa nancap di tubuhnya, hingga tubuhnya tak dapat bergulingan terlebih jauh, sebaliknya ia mesti berkoseran!
Kimhoa-nya Sin Cu mengenai otot-otot di tangan dan kaki, putuslah semua otot yang menjadi kurban itu, benar Poo San tidak sampai terbang nyawanya, tetapi lukanya itu tak dapat ditolong lagi, yaitu otot-ototnya tidak bisa disambung pula maka selanjutnya habislah ilmu kepandaiannya Thio Tan Hong mengurut-urut kumisnya.
Ia bersenyum.
Ia kata dalam hatinya.
"Sin Cu bertindak rada telengas, tetapi tak apalah, karena jahanam she Cui ini telah memulainya, sedang juga, sebagai muridnya guru silat kenamaan --dan dia sendiri berkenamaan juga --dia sudah membantu orang jahat, jadi dia pantas menerima ganjarannya ini!"
Tan Hong girang karena ia mendapat kenyataan kepandaian muridnya ini telah melebihkan isterinya --In Loei --dulu hari itu.
Le Kong Thian sudah lantas lari ke tengah gelanggang, guna mengangkat pergi saudara angkatnya itu, guna ditolongi.
Kiauw Pak Beng kaget dan gusar.
Hebat kesudahannya pertandingan itu.
Ia.
tengah memulihkan kesegarannya, hampir ia tersesat saking kaget dan murkanya itu.
Syukur ia lekas dapat menenteramkan diri.
Ia pun pikir.
"Sekarang ini yang paling penting ialah merobohkan Thio Tan Hong! Buat apa aku perdulikan Cui Poo San hidup atau mati?"
Maka ia berdiam terus. Justeru itu, Tek Seng Siangjin mengajukan diri.
"Pada sepuluh tahun dulu."
Katanya nyaring.
"aku pernah menerima pengajarannya kedua tayhiap Thio dan In, dan selama sepuluh tahun itu, tak pernah aku melupakan budi besar itu, maka sekarang, ingin aku membalas budi. Oleh karena Thio Tayhiap sudah berjanji dengan Kiauw Losianseng, baiklah, sekarang aku ingin minta menambah pelajaran dari In Tayhiap, sedikitnya untuk beberapa jurus!"
Ketika sepuluh tahun dulu Tan Hong dan In Tiong mengacau di dalam istana, In Tiong telah membinasakan Tokliong Cuncia, sahabatnya Tek Seng Siangjin.
dan Tek Seng sendiri bertempur seri dengannya, maka juga sekarang orang suci ini berani mengajukan tantangan.
Selama sepuluh tahun ia telah berlatih keras, ia percaya ia sudah memperoleh kemajuan.
Jadi sekarang tepat waktunya untuk ia mencari balas sekalian membalaskan juga sakit hati sahabatnya itu.
In Tiong tertawa mendengar tantangan orang.
"Aku pun mengandung serupa maksud!"
Katanya.
"Dulu hari itu belum terdapat kepastian siapa kalah, maka hari ini mesti ada hasil kesudahannya! Siangjin, silahkan kau maju!"
"Terima kasih!"
Mengucap Tek Seng sambil segera ia menyerang dengan "Tek Seng Ciu,"
Pukulan "Memetik Bintang."
Ia bergerak sangat cepat dan jitu incarannya.
Selagi menyerang itu, ia membuka lima jari tangannya, guna dipakai menjambak.
Jikalau ia berhasil, ia akan melukai musuh hingga ludaslah tenaga melawan dari musuhnya itu.
"Bagus!"
In Tiong berseru kapan ia melihat cara menyerangnya si orang suci.
Ia bukannya berkelit atau menangkis, ia justeru meluncurkan tangannya untuk menghajar.
Ialah menyambuti serangan dengan terjangan!
Tek Seng terperanjat.
Ia melihat orang bergerak lambat, akan tetapi kesudahannya, ia merasai penolakan keras.
Dengan lekas ia menarik pulang tangannya, dengan sebat ia berkelit.
Tapi ia gagal.
Tangannya In Tiong mampir pada pundaknya, hingga ia merasakan sakit sampai di ulu hatinya!
Selama sepuluh tahun itu, In Tiong ada bersama Thio Tan Hong, maka itu latihannya maju secara luar biasa.
Itu artinya, ia punya ilmu Taylek Kimkong Ciu telah memperoleh tambahan tenaga dalam yang lurus dari Tan Hong, hingga sekarang ini ia tak usah kalah dari ketiga toasinceng, ketiga pendeta dari Siauwlim Si itu.
Tek Seng menyangka, setelah digempur Kiauw Pak Beng.
tenaganya In Tiong pasti berkurang, atau orang terluka hawa dingin Siulo Imsat Kang, siapa tahu, dugaannya itu meleset.
Memang benar, tenaga In Tiong berkurang dua bagian tetapi sisanya masih cukup untuk menandingi si orang suci.
In Tiong tidak berhenti dengan serangan yang pertama itu, lalu ia mengulangi buat kedua kalinya, bahkan kali ini dengan tenaga yang diperlipat besarnya.
Para hadirin telah melihat tegas, dalam halnya tenaga dalam, In Tiong lebih unggul daripada Tek Seng Siangjin, maka itu menyaksikan serangan ulangan itu, mereka menduga si orang suci tak bakal lolos dari tangannya orang she In itu.
Melainkan Tan Hong, menampak cara menyerangnya ipar itu, ia menggoyang-goyang kepala.
Segera juga orang mendengar satu suara nyaring.
Lantas terlihat tubuh Tek Seng terpental hingga setombak lebih.
Sebaliknya In Tiong, dia terhuyung dua tindak.
Hebat In Tiong.
Ia berseru, tubuhnya teras berlompat.
Ia hendak mengulangi lebih jauh serangannya.
Ia seperti tak sudi mengasi hati kepada lawannya.
Dari antara para penonton, tujuh sampai delapan bagian tak ada yang melihat jelas apa yang terjadi.
Mereka itu menyangka Tek Seng telah terhaj ar hehat.
Tapi yang dua bagian, orang-orang yang terpandai, melihat tegas justeru In Tiong yang terkena tangannya si orang pertapaan.
Maka juga mereka ini menjadi heran dan di pihak In Tiong, orang terkejut.
Thio Tan Hong pun melihatnya, tetapi dia aneh, kalau tadi dia menggeleng kepala menampak In Tiong mendesak, sekarang dia bersenyum.
Sama-sama toh ln Tiong yang menerjang pula.
Thio Giok Houw mendampingi gurunya itu.
ia heran akan sikapnya sang guru.
Tapi ia mengerti baik sekal i, tak nanti tak ada sebabnya kenapa guru itu bergirang.
Ia tidak berani mengajukan pertanyaan kepada gurunya, hanya di dalam hati, ia pun girang.
Ia percaya In Tiong bakal mendapat kemenangan.
Sebenarnya, dalam sepuluh tahun ini, Tek Seng Siangjin telah memperoleh kemajuan berarti.
Dia mengambil pokok cepat, telengas dan banyak perubahan.
Maka mengenai keringanan tubuh, atau kegesitan, dia menang daripada In Tiong.
Demikian hasilnya barusan disebabkan di saat sangat genting itu ia menunjuki kesehatannya.
Dia yang diterjang tetapi dia yang beruntung dapat menghajar penyerangnya.
Itulah terjadi saking gesitnya iarrfenggeraki tubuhnya guna mementahkan diri.
Hanya karena In Tiong menang tenaga dalam, kedudukannya jauh terlebih kokoh kuat.
In Tiong kena terhajar sebelah tangan musuh, dia tergempur, tubuhnya terhuyung.
Tidak demikian dengan Tek Seng, meski dia yang berhasil, diajugayang terpental jauh.
bahkan telapakan tangannya terasakan sangat sakit.
Karena itu, ln Tiong penasaran, tak mau ia mensia-siakan tempo, lantas ia menerjang pula Setelah dua gebrakan itu.
Tek Seng Siangjin mengerti baik sekali bahwa dia kalah tenaga dalam.
Itu berarti tak cocoklah dugaannya bahwa dengan pukulan Siauw Liokchee, atau Enam Bintang Kecil, dapat ia menggempur pembelaan diri In Tiong.
Oleh karena ini, ia menjadi jeri sendirinya.
Tapi ia pun insaf bahwa ia sudah menunggang harimau, tak dapat ia turun dengan begitu saja.
Terpaksa ia mesti menggunakan segala kebisaannya guna melayani terus pada musuh yaug ia tantang itu.
In Tiong terhajar lawan, ia menerjang pula.
Berhubung dengan terhajar itu, ia menggunakan pikirannya.
Ia kata dalam hati kecilnya.
"Ketika suhu mengajari aku Kimkong Ciang, ia pernah membilangi bahwa ilmu silat itu keras sekali, di waktu dipakai bertempur, dapat terjadi karena sangat ingin menyerang musuh, pembelaan diri jadi teralpakan. Itulah satu cacat. Tan Hong juga sering menunjuki aku kelemahan ini. Aku selalu ingat pengajaran suhu dan Tan Hong tetapi aneh di waktu bertanding, kenapa aku melupakannya?"
Oleh karena keinsyafan ini, In Tiong lantas menukar siasat.
Ia maju tapi tak lupa ia pada pembelaan diri.
Demikianlah, hebat serangannya tapi rapat tubuhnya terlindung.
Tek Seng Siangjin membebaskan diri dari terjangan barusan, habis itu, ia melakukan penyerangan membalas.
Sekarang ia menghadapi kesukaran.
Tidak ada lagi lowongan seperti tadi hingga walaupun ia diserang, ialah yang berhasil meninju musuh.
Sekarang ia seperti digabruki pintu, sia-sia belaka ia mencoba mendesak.
Di dalam waktu yang singkat, lima puluh jurus sudah lewat.
Segera setelah banyak jurus, hati Tek Seng menjadi semakin kecil.
Tenaganya seperti menentang hatinya.
Tak dapat ia bergerak sebal seperti kehendaknya.
Peluhnya lantas mengucur keluar umpama kata turunnya hujan deras...
"Jikalau begini terus-terusan, aku dapat mati letih..."
Pikirnya, bingung.
Maka ia menggigit giginya atas dan bawah, ia menjadi nekad.
Dengan berani ia mendesak.
In Tiong melihat desakan lawan, ia menyambut.
Dengan tangan kiri ia membabat ke pinggang, dengan tangan kanan dari atas ia membacok ke bawah.
Itulah pukulan Taylek Kimkong Ciang yang lihai.
Tek Seng Siangjin melawan juga.
Ia menyambut dengan totokan jari tangan kanan, sedang dengan tangan kiri ia pun membabat, menghajar sikut lawannya itu.
Oleh karena kedua pihak sama-sama menggunakan tenaganya, tangan mereka beradu keras.
Akibatnya itu ialah Tek Seng Siangjin roboh terguling ke tanah, sedang In Tiong berdiri diam dengan muka pucat dan peluhnya menetes dalam titik-titik sebesar kacang kedele.
Orang keduapihak kaget, beberapa di antaranya lompat ke dalam gelanggang, untuk menolongi jago masing-masing.
Tek Seng Siangjin menyerang dengan dua tipu silatnya.
"Coanin Ci"
Atau jari tangan "Menembusi Mega,"
Dan "Tek Seng Ciu,"
Atau tangan "Memetik Bintang."
Itulah dua rupa tipu silatnya yang ia harapkan akan membawa kemenangan untuknya.
Kalau ia berhasil, In Tiong dapat dibikin putus otot-ototnya dan dibetot tulang selangkanya.
Jikalau hal terjadi sebelum In Tiong insaf dan tak menjaga diri, mungkin si orang pertapaan berhasil.
Sayang waktunya tak tepat lagi.
lawannya sudah menukar siasat.
In Tiong melihat musuh merangsak, ia menduga musuh mesti mengandalkan sesuatu.
Ia tidak mau membarengi menyerang, ia juga tidak mau lantas menangkis.
Ia hanya menunggu waktu.
Begitu totokan tiba, ia menyambut dengan cengkeraman.
Tenaga jeriji tangannya memang kuat bagaikan baja.
Tek Seng merasakan jepitan sepuluh jari tangan, habislah tenaganya saking sakitnya, seketika juga dia roboh pingsan.
Tapi In Tiong pun tak bebas seluruhnya.
Nadinya kena tersentil juga, benar ototnya tidak putus tetapi ia terluka dan sakitnya bukan kepalang.
Maka lekas-lekas ia menelan sebutir pil Siauwhoan Tan, hingga dengan perlahan-lahan ia mendapat pulang kesegarannya.
Kiauw Pak Beng terkejut dan mendongkol melihat orangnya kembali kena dikalahkan.
Ia tidak berani mengumbar kemarahannya, dari itu.
ia mengerutkan alisnya.
Ia lantas memikir untuk minta Koan Sin Liong yang turun tangan.
Belum sempat ia membuka mulut, atau ia melihat pada pihak lawan ada seorang yang bertindak maju.
Ia batalkan niatnya.
Ia pun lantas mendengar suara orang pihak sana itu.
"Han Tiat Ciauw dari Binsan Pay ingin minta pengajaran dari Tiatleng Samsinkun!"
Tiatleng Samsinkun itu ialah tiga Sinkun, atau Malaikat, dari gunung Tiatleng.
Mereka bukan lain daripada tiga saudara kandung yang telah menjagoi di Kwangwa di tapal batas, dengan pusat kedudukannya di gunung Tiatleng, Gunung Besi, di tepi sungai Bouwtan Kang.
Untuk Kwangwa, belum pernah ada tandingan untuk mereka karenanya mereka menjadi kepala besar, mereka menjuluki diri sendiri.
Malaikat, singkatnya Tiga Malaikat.
Malaikat yang tertua memakai gelaran Tinthian Sinkun, Malaikat Penunggu Langit.
Yang kedua yaitu Hunthian Sinkun, Malaikat Pengacau Langit.
Dan yang ketiga si bungsu, ialah Kengthian Sinkun, Malaikat Mengagetkan Langit.
Kira belasan tahun yang lalu.
Tinwan Piauwkiok dari Pakkhia, kota raja.
telah mengantar dan melindungi piauw untuk Kwangwa.
Itulah pengangkutan yang pertama kali.
Di luar dugaan, piauw itu, yang berharga sejuta tahil perak, dirampas ketiga Malaikat.
Kesudahannya itu, Tinwan Piauwkiok rudin dan mesti ditutup, sedang pemiliknya, atau piauwsu kepala, In Bok Ya namanya, terluka parah, sepulangnya ia ke kota raja, karena luka atau sakitnya itu, tak lama ia meninggal dunia.
In Bok Ya itu sahabatnya Han Tiat Ciauw, benar ia tidak meninggal pesan untuk Tiat Ciauw menuntut balas untuknya, tetapi sebagai sahabat, orang she Han ini telah memikir untuk membikin pembalasan.
Sekian banyak tahun dilewatkan Tiat Ciauw, ia belum juga dapat kesempatan mewujudkan niatnya itu.
Sebab yang terutama dari kelambatan ini, kesatu karena letaknya Kwangwa yang jauh, dan kedua, tak lama Tiat C iauw diangkat menjadi ketua Binsan Pay, partainya itu, hingga tak ada waktunya yang luang untuk pergi ke Bouwtan Kang.
Kali ini Tiat Ciauw dapat datang juga karena ia mendapat kabar dari pihak Kaypang, partai Pengemis, bahwa di antara orang-orang undangannya Kiauw Pak Beng ada Tiatleng Samsinkun.
Warta itu disampaikan Pit Keng Thian, yang mengutus pesuruh istimewa.
Kebetulan sekali Thio Tan Hong datang mengundang, tidak ayal lagi, Tiat Ciauw menerima baik undangan itu.
Tiatleng Samsinkun tidak kenal Han Tiat Ciauw, karena itu, mereka pun tidak ingat urusannya In Bok Ya.
Mereka minta keterangan pada Le Kong Thian, si manusia raksasa.
"Dialah ketua dari Binsan Pay,"
Kong Thian menerangkan.
"dia yang orang gelarkan Sinkun Butek Han Tiat Ciauw. Harap saja sinkun bertiga berhati-hati."
"Hm!"
Tin Thian Sinkun mengejek, la kata dalam hatinya.
"Apa itu Sinkun Butek? Bukankah tadi dia tak sanggup menyambut satu hajaran saja dari Kiauw Pak Beng? Dasar ahli-ahli silat dari Tionggoan doyan ngepul!"
"Sinkun Butek"
Berarti "Malaikat Tanpa Lawan."
Julukan Sinkun itu menjadi bentrok dengan julukan ketiga Malaikat itu.
"Kalau begitu orang she Han ini ialah seorang yang berkenamaan kosong!"
Berkata Hunthian Sinkun, memandang enteng.
"Hahaha! Kiranya dia pun kenal nama kita Tiatleng Samsinkun!"
Saudara yang tua turut tertawa, juga yang bungsu.
Jadi tiga-tiganya mereka memandang tak mala kepada ketua Binsan Pay itu.
Tinthian Sinkun lantas dongak melenggak, bertiga bersama saudaranya ia maju ke tengah gelanggang, lantas dengan jumawa ia tanya.
"Orang she Han, apakah kau sendiri saja?"
"Benar!"
Sahut Tiat Ciauw.
"Di sini ini, kecuali aku satu orang, siapa lagi yang kenal kamu?"
Jawaban itu pun berupa penghinaan halus. Hunthian Sinkun tertawa lebar.
"Jadinya kau datang kemari karena kau mengagumi nama kami?"
Ia kata, mengejek.
"Nah, kami bertiga saudara berada di sini, sekarang kau bilang, siapa satu di antara kami yang kau hendak minta tolong memberi pengajaran padamu? Baiklah kau ijinkan aku memikir dan memilihnya untukmu! Toako kami bukanlah lawan kau, dari itu baiklah kau main-main dengan aku saja!"
Hunthian Sinkun rada tolol, dia menyangka orang kagum terhadap mereka bertiga. Han Tiat Ciauw bersenyum ewah. Ia kata dingin.
"Aku tidak mempunyai kesabaran untuk melayani kamu satu demi satu, sudah tentu aku mengundang kamu bertiga maju berbareng!"
Ketiga Sinkun terperanjat, lantas yang tua menjadi gusar.
"Orang she Han, kau sangat jumawa!"
Bentaknya. Justeru itu terdengar suara nyaring dari Kiauw Pak Beng.
"Han Toaciangbun seorang diri mau melayani ketiga Sinkun, inilah pertandingan yang paling tepat, maka kita semua pastilah bakal dibuka mata kita!"
Kengthian Sinkun, Malaikat yang termuda, adalah orang yang paling berhati-hati di antara tiga saudara itu.
mendengar suaranya Kiauw Pak Beng, ia mengerti itulah pemberian ingat untuk mereka agar mereka berhati-hati.
Maka ia mau menduga.
mungkin benar Tiat Ciauw lihai.
Karena ini ia lantas kata pada saudaranya.
"Toako, karena Han Toaya ini menantang kita bertiga, baiklah kita menerimanya, jangan kita berlaku kurang hormat. Mari kita iringi segala kehendaknya!"
Tinthian Sinkun juga disadarkan kata-kata Kiauw Pak Beng, tetapi dia mementang kedua matanya dan kata dengan nyaring.
"Baiklah, orang she Han! Kaulah yang cari mampusmu sendiri, jangan nanti kau sesalkan lain orang! --Kau humuslah senjatamu!"
Han Tiat Ciauw memperlihatkan kedua tangannya yang kosong. Ia tertawa lebar.
"Selama beberapa puluh tahun, belum pernah ada orang yang menyuruh aku si orang she Han menggunakan senjata!"
Katanya.
"Kecuali sepasang kepalanku aku tidak mengerti menggunakan senjata apa juga!"
Tinthian Sinkun menjadi sangat gusar.
"Oh, tua bangka sangat terkebur!"
Dia berteriak.
"Baiklah, aku mau lihat kau benar Sinkun Butek atau bukan!"
Dengan serentak, tiga saudara itu menghunus senjatanya masing-masing.
Si tua ialah sebatang pedang besi yang berat, yang kedua golok yang tajam di dua mukanya, dan yang ketiga sepasang ruyung kuningan.
Di antara tiga saudara itu, Tinthian Sinkun yang bertenaga paling besar, pedangnya itu berat empat puluh tiga kati, maka itu begitu dihunus, terdengar suara menjeredetnya yang nyaring dan terlihat sinarnya berkilauan.
"Pantas mereka terjulukkan Sinkun,"
Pikir Tiat Ciauw.
"iidak aneh In Bok Ya roboh ditangan mereka."
Karena ini, ia mau berlaku waspada.
Ketika ia diserang Tinthian Sinkun, lantas ia berkelit, sembari berkelit, kedua tangannya terbuka, yang satu untuk mengimbangi diri.
yang lain menyampok!
Hanya segebrak itu, Tinthian Sinkun terkejut.
Pedangnya telah tersampok mental.
Inilah ia tidak sangka.
Samberan angin tangannya lawan pun keras.
Hunthian Sinkun lantas bekerja.
Dia membacok dengan goloknya yang bermuka dua itu, dan bacokannya ialah tipu silat "Menggempur gunung Hoasan."
Han Tiat Ciauw berlompat ke samping kiri lawannya itu begitu golok orang mengancam kepalanya, terus dengan tangan kiri ia menyangga batang golok, sedang dengan tangan kanan ia meninju.
Begitu cepat ia turun tangan, maka menjeritlah lawannya itu, yang dua tulang iganya kena dibikin patah!
Kengthian Sinkun memutar sepasang ruyungnya untuk merangsak, guna mencegah saudaranya kena didesak.
Karena ia maju dari kiri, Tinthian Sinkun maju dari kanan, untuk menggencet.
Mau atau tidak.
Tiat Ciauw membatalkan menyerang pula pada Hunthian Sinkun.
Ia terus mendak seraya mementang kedua tangannya dalam gerak "Menarik gendewa, memanah garuda."
Dengan begitu dapatlah ia menyampok senjatanya kedua musuh itu. Hunthian Sinkun si sembrono atau tolol itu berteriak.
"Hai, kau hebat, ya! Nyata tenagamu lebih besar daripada tenagaku! Baiklah, julukan Sinkun Butek itu aku serahkan kepada kau!"
Di antara tiga saudara itu, Hunthian paling kuat, maka kalau ia berburu ke atas gunung, biasa ia menempur biruang dengan tangan kosong, karena tubuhnya kebal, ia tak dapat dilukai cakar binatang liar itu.
Sekarang ia terlukakan Han Tiat Ciauw ia kaget berbareng kagum, saking jujurnya, ia suka mengaku kalah.
Hanyalah, ia sungkan menyerah, maka itu bertiga saudaranya, ia maju pula tanpa ia menghiraukan luka di iganya itu.
Kali ini tiga saudara itu dapat berkelahi dengan rapi.
Dengan berani Hunthian merangsak.
Ia mengandalkan tenaga kerbaunya.
Tinthian menggunakan pedangnya dengan sempurna, ia pun cerdik.
Dan Kengthian dengan ruyungnya mengimbangi kedua saudaranya itu.
Han Tiat Ciauw gagah tetapi tidak dapat ia membentur senjata tajam dengan tangan kosongnya, dalam pertempuran dahsyat itu, sering ia terdesak, tetapi lain pihak, ada kalanya ia merangsak hingga ketiga musuhnya mesti mundur dengan cepat.
Para penonton kagum sekali, mereka sampai menonton dengan melongo.
Menghadapi musuh-musuh tangguh itu.
Han Tiat Ciauw mesti menggunakan kecerdikannya.
Ketika ia berhasil, ia membuatnya senjata mereka itu beradu keras dan nyaring sekali.
Dengan satu kebutan, Tiat Ciauw dapat melibat pedangnya Tinthian Sinkun.
Dengan sebat ia teruskan menyamber lengan orang, untuk ditarik hingga pedang musuh bentrok dengan ruyungnya Kengthian.
Menang pedang itu, ruyung kena tertabas kutung.
Selagi begitu, ia berkelit lincah ke belakang Hunthian, maka berhasillah ia mengirim tinju ke punggung musuh itu.
Hunthian Sinkun kedot, tetapi tak sanggup dia bertahan dari kepalan Sinkun Butek, kembali dia menjerit, mulutnya terus memuntahkan darah hidup, sedang goloknya terlepas dari cekalannya.
Baru itu waktu Han Tiat Ciauw berseru.
"Apakah kamu masih ingat Piauwtauw In Bok Ya dari Tinwan Piauwkiok? Ketika itu tangan kamu semua telah berlumuran darah! Tapi hari ini aku tidak mau membunuh kamu, cukup asal kamu menggantinya dengan tiga pasang tangan kamu!"
Kata-kata itu disusul dengan gerakan yang sangat cepat, belum suaranya berhenti, tangannya sudah bergantian mematahkan kedua lengannya Tinthian Sinkun dan Kengthian Sinkun, setelah mana menyusul patahnya tangan kanan dari Hunthian Sinkun.
Kepada si jujur ini ia kata.
"Mengingat kau seorang laki-laki, suka aku meninggalkan sebelah lenganmu, supaya kau dapat mengurus kedua saudaramu ini!"
Tinthian dan Kengthian telah roboh pingsan karena dipatahkannya tangan mereka, sedang Hunthian selain iganya patah dan muntah darag, dua buah giginya pun rontok hingga dia mesti mengasi dengar suara dari kesakitannya!
Hebat kekalahan itu untuk Kiauw Pak Beng.
Le Kong Thian lantas menolongi ketiga Sinkun itu.
Koan Sin Liong mengawasi Kiauw Pak Beng.
"Tunggulah lagi sebakaran sebatang hio..."
Kata jago tua itu perlahan.
"Segera setelah tenagaku pulih, aku akan bertindak. Sekarang kau layanilah mereka untuk satu giliran..."
Terpaksa Koan Sin Liong menebalkan kulit mukanya. Dia muncul. Dia menantang Hok Thian Touw dan Leng In Hong suami isteri. Ketika itu In Hong berdiri di sisi Tan Hong.
"Apakah kau merasa pasti?"
Tanya jago she Thio itu bersenyum.
"Jikalau aku melawan dia bersama Thian Touw, belum tentu kami dapat dikalahkan,"
Berkata si nyonya muda.
"hanya untuk merebut kemenangan, aku tidak merasa pasti..."
"Tadi aku telah menyaksikan ilmu pedangmu, itulah bagus,"
Kata Tan Hong.
"Kau telah menyampaikan puncak tertinggi. Untukmu sekarang tinggal memperhatikan gelagat dan kecerdikanmu harus digunai!"
Habis berkata, Tan Hong menunjuki pelbagai kelemahan orang yang tadi ia lihat seraya memberikan petunjuknya, mendengar mana, In Hong gembira sekali hingga sepasang alisnya bangun bergerak-gerak.
Koan Sin Liong mendapat lihat orang berbicara itu, dia tertawa dingin dan berkata mengejek.
"Apakah kamu masih hendak belajar lagi tiga tahun baru kamu mau mengadu pedang pula denganku?"
"Jangan tergesa-gesa!"
Berkata In Hong bersenyum.
"Sebenarnya sudah bagus untukmu yang aku telah berikan ketika untuk kau hidup lagi sekian lama!"
Habis berkata, berbareng bersama suaminya, In Hong bertindak maju.
Suami isteri yang tampan cantik dan gagah ini jalan berendeng.
Thian Touw maju begitu lekas isterinya meliriknya habis si isteri bicara dengan Tan Hong.
Koan Sin Liong melihat orang bersikap tenang, diamdiam hatinya gentarjuga.
Setelah berdiri di hadapan lawan, In Hong tertawa dan berkata.
"Kau ingin lekas-lekas pergi ke lain dunia untuk menitis pula, kenapa kau tidak mau lantas maju menyerang?"
Sin Liong mendongkol bukan main, ia menjadi gusar sekali.
"Hari ini jikalau bukan kau yang mampus tentulah aku yang binasa!"
Dia berteriak, dan dia menghunus pedangnya hingga bersuara nyaring, anginnya pun menyamber.
Dengan lantas dia menyerang Thian Touw.
Suaminya In Hong berlaku sebat.
Ia memang sudah siap sedia.
Ia menangkis.
Koan Sin Liong menyerang tetapi tak sudi ia mengadu senjata, begitu musuh menangkis begitu ia menarik pulang pedangnya seraya tubuhnya berkisar dengan tindakan kaki "Iekiong hoanwi,"
Ialah "Menukar istana, mengganti kedudukan."
Ia bukannya menyingkir, hanya pedangnya terus ditikamkan ke arah isteri orang!
Bukan melainkan In Hong yang dapat petunjuk dari Thio Tan Hong, juga Koan Sin Liong dari Kiauw Pak Beng.
Pak Beng pernah menempur suami isteri itu, ia kenal baik ilmu pedang bersatu padu dari mereka itu, iamengisiki kawannya itu.
Ia melihat, In Hong lebih telengas daripada Thian Touw, sebaliknya Thian Touw terlebih pandai mengurung diri.
Ia melihat juga sifatnya suami isteri itu berlainan.
In Hong lebih berani, Thian Touw lebih tenang.
Itu artinya, Thian Touw terlebih lambat, In Hong terlalu gesit.
Itulah sifat yang dapat mengganggu persatu paduan suami isteri itu.
Inilah sebab kenapa hati Sin Liong menjadi lebih mantap.
Ia telah mempunyai rencananya.
Begitulah mula-mula ia menyerang Thian Touw, lalu ia meninggalkannya selagi Thian Touw membalas menyerang kepadanya, untuk ia meneruskan menyerang In Hong.
Tapi In Hong pun telah mempunyai rencananya.
Petunjuk Tan Hong barusan berarti besar sekali untuknya sekalipun petunjuk itu ringkas dan sambil lalu.
Sama sekali Nyonya Thian Touw tidak tergesa-gesa atas datangnya serangan, ia menunggu sampai pedang lawan sudah tiba, baru ia menangkis.
Ia bersikap tenang tetapi gesit.
Justeru itu, Thian Touw telah mengambil sikap menyerang, maka ketika isterinya berbalik menyerang juga, bersatu padulah bekerjanya pedang-pedang mereka, cepat sekali mereka menyerang berbareng; baru dua kali mereka mengulangi, Sin Liong sudah kelabakan.
biarpun dia berlaku gesit, tidak urung tangan baj unya kiri dan kanan telah kena dicoblos ujung pedang sepasang suami isteri itu!
Bukan main kagetnya Sin Liong lantaran hampirhampir kedua pedang lawan menggores kulit dan dagingnya!
Dia lantas mengeluarkan keringat dingin.
Mendapatkan hasil itu, Thian Touw dan In Hong menjadi bersemangat, segera mereka menyerang pula, dalam gerakan "Jiliong chiocu,"
Atau "Dua ekor naga berebut mutiara."
Koan Sin Liong boleh gagah perkasa tetapi sesaat itu ia telah kena dilibat, tubuhnya terkurung sinar pedang suami isteri itu.
Syukur untuknya, ialah jago mayang berhati tabah dan berpengalaman, untuk sementara itu tak dapat ia lantas kena dirobohkan.
Dapat ia bertahan dari rangsakan, dapat ia memecahkan setiap serangan, baik dengan menangkis maupun dengan berkelit.
Ia mengambil kedudukan "kiukiong patkwa"
Atali garis delapan penjuru.
Thio Giok Houw gembira bukan main menonton pertempuran itu, dengan sendirinya ia memperoleh banyak kefaedahan.
Maka berkatalah ia sambil tertawa pada Liong Kiam Hong di samping siapa ia berdiri.
"Ilmu pedang enci In Hong telah merupakan satu cabang sendiri, meski mungkin ia belum dapat mengalahkan suaminya tapi ia taklah ada di sebelah bawah! Hm, aku ingin lihat apakah Thian Touw masih memandang tak mata padanya! Ah, sayang, sayang!"
Ketika itu In Hong sedang menyerang dengan tipu "Burung hitam menggaris pasir,"
Ia sudah menyontek ujung bajunya Koan Sin Liong, apamau Thian Touw lambat sedikit, maka jago tua itu keburu membebaskan diri.
Thian Touw gagal sejurus itu tetapi dia sangat cerdas, ia lantas menginsafinya.
Ia pun memang terlebih lihai daripada isteriny?.
itu.
Hanyalah, lantaran In Hong dapat petunjuknya Tan Hong, kali ini ia ketinggalan.
Karena cerdasnya, ia lantas mengadakan perubahan, maka juga selang tiga puluh jurus, lantas ia dapat mengimbangi isterinya itu.
Koan Sin Liong lantas terdesak benar-benar, sia-sia belaka dia berpengalaman dan lihai, dia tidak sanggup lagi melakukan penyerangan membalas, dia dipaksa mesti selamanya menjaga dan membela dirinya.
Tan Hong menonton sambil bersenyum.
Ia mengurut kumisnya dan berkata pada Sin Cu, murid wanita yang berada di dampingnya.
"Di dalam negara kita bakal ada orang yang baru yang akan muncul, demikian di kalangan sastera, demikian di kalangan ilmu silat! Ilmu pedang ciptaan Thian Touw dan In Hong, apabila dibandingkan, dapat diimbangi dengan syair-syairnya Li Thay Pek dan Touw Hok! Kelak dikemudian hari, ilmu silat mereka akan merupakan suatu cabang baru!"
Sin Cu mengangguk-angguk. Ia cocok dengan pendapat gurunya itu. Hanya ketika ia ingin minta keterangan, mendadak Kok Tiok Kun datang pada mereka, untuk melaporkan kepada Tan Hong. katanya.
"Kira-kira belasan li dari kaki gunung ini rupanya ada sebuah pasukan tentara besar lagi bergerak ke arah sini!"
"Tidak apa!"
Menyahut Tan Hong dengan tenang. Tapi lantas ia menambahkan.
"Kok Sinshe, lihatlah itu! Ilmu pedang semacam itu sungguh sukar untuk dapat dilihat lagi!"
Dan ia menunjuk kepada pertempuran Thian Touw bersama In Hong melawan Sin Liong.
Tiok Kun heran berbareng kagum.
Bukankah aneh orang tak bergeming dari warta yang dia anggap penting itu dan sebaliknya lebih memperhatikan pertempuran perseorangan?
Meski begitu, ia pun mempunyai kepercayaan besar, maka ia kata di dalam hatinya.
"Thio Tayhiap pandai berpikir, jikalau dia bilang tidak apa tentulah tidak ada halangannya!"
Maka ia pun lantas berdiri mengawasi ke gelanggang pertempuran.
Ketika itu Thian Touw dan In Hong tengah menyerang dengan semakin seru, dengan rapi dan keras mereka mendesak.
Thian Touw telah menggunakan ketika akan menyerang setelah mengerahkan tenaganya.
Sin Liong membela dirinya.
Justeru begitu, In Hong tidak mau mengasi kesempatan pada lawannya itu ---ia lantas membarengi menikam!
Sin Liong repot menangkis, atau ia pun segera diserang pula Thian Touw.
Begitu cepat serangan ini, datangnya seperti berbareng dengan serangan si nyonya.
Pedang In Hong telah mencari iga kanan, sedang pedang Thian Touw mengincar ke kiri.
Kedua pedang berkilauan sinarnya.
Dua-dua itu mesti ditangkis atau dikelit.
Untuk Sin Liong, sulit untuk menangkisnya.
Ia cuma dapat menangkis salah satunya, lantas lengan tunggalnya bakal terbabat kutung...
Di dalam keadaan seperti itu, tidak dapat ia berayal.
Sebenarnya ia telah menggunakan otaknya, tapi ia masih kalah cepat.
"Bret!"
Begitu satu suara nyaring, tahu-tahu bajunya dibetulan iga telah dirobek pedang In Hong.
Dia kaget dan gusar, maka dia menjerit, pedangnya lantas dilunjurkan.
Bisalah dimengerti jikalau dia telah menggunakan tenaga sebesar-besarnya.
Dia menangkis satu kali untuk menghalau kedua pedang, tubuhnya sendiri digeser mundur secepat kilat!
Ketiga senjata lantas bentrok keras sekali, kesudahannya itu, pedang Sin Liong terkutung dua!
Bentrokan itu mempunyai tenaga membal yang keras sekali, walaupun In Hong berhasil, ia toh mesti terhuyung mundur dua tiga tindak.
Thian Touw dapat bertahan, tetapi di dalam hatinya ia kata.
"Orang ini benarlah seorang guru besar! Dia sudah kalah, biarlah!"
Memang, di saat ln Hong dapat berdiri tegak. Koan Sin Liong sudah berlompat jauh untuk terus lari ke dalam rimba di dekat mereka. Dari dalam rimba itu lantas terdergar suaranya.
"Maafkan aku, aku tidak punya guna. hendak aku berlalu terlebih dulu!"
Jago tua ini telah menutup diri, maka itu lukanya tidak parah, hanyalah hatinya sudah lemah.
Musuhnya tangguh semua dan di belakang mereka ada Thio Tan Hong sebagai tulang punggung, dia menjadi hilang harapan, dengan terpaksa dia meninggalkan kawan.
"Hm!"
Bersuara Pak Beng, yang mendengar nyata suara kawan tak setia itu.
"Baiklah, kau boleh pergi biar jauh, supaya selanjutnya tak usah kau bertemu pula denganku!"
Koan Sin Liong sebaliknya berkata di dalam hatinya.
"Jikalau sebentar Thio Tan Hong mengambil jiwamu, aku kuatir apabila aku ingin menemui kau, kau pun tak dapat melihat aku lagi!..."
Dan tanpa ragu-ragu, dia lari terus! "Bus!"
Mendadak terdengar satu suara meletus, tepat di sisinya jago tua yang licik ini, lalu api berkobar, beberapa cahaya terang menyamber ke arahnya.
Tak ampun lagi dia menjerit keras, tubuhnya roboh terguling.
Berbareng dengan itu, dari atas pohon di depannya Sin Liong ini, sepasang muda-mudi terlihat berlompat turun dengan berbareng, yang pria mendahului lompat lebih jauh, ketika ia mengayun goloknya, kepalanya jago tua itu terpisah dari tubuhnya sebatas leher, setelah mana pemuda itu berkata dengan sedih.
"Ayah. hari ini anakmu telah membalas sakit hatimu!"
Itulah Ban Thian Peng dan Im Siu Lan, yang datangnya tepat selagi Koan Sin Liong mengangkat kaki, maka mereka lantas turun tangan.
Paling dulu Im Siu Lan telah menimpuk dengan Tokbu Kimciam Hweeyam tan, peluru apinya yang berupa jarum emas dengan uapnya yang beracun, karena mana, siapa terkena senjata rahasia itu, selain lukanya juga napasnya tertutup uap beracun itu, hingga dia mesti roboh pingsan.
Sudah begitu, celakanya untuk Sin Liong, selagi dia roboh itu, Thian Peng telah membarengi menyerang juga dengan tujuh batang kimpit, senjata rahasia yang berupa seperti alat tulis, hingga dia terkena jalan darahnya, luka-luka mana membuatnya tak berdaya lagi, dia roboh tak sadarkan diri dan terus batang lehernya dipenggal!
Demikianlah akhirnya satu jago buruk, yang mesti menerima bagiannya dari dua anak muda.
Ketika Liong Kiam Hong menampak munculnya Nona Im, ia girang bukan kepalang.
Ia berseru dan menggapai-gapai dengan kegirangan.
Im Siu Lan tahu aturan, lebih dulu ia menghampirkan Thio Tan Hong, guna memberi hormat seraya mengucapkan beberapa kata-kata perlahan, habis itu baru ia menemui Nona Liong.
"Bagaimana caranya kau lolos dari bahaya?"
Kiam Hong tanya.
"Panjang untuk menuturkan itu,"
Sahut Siu Lan tertawa.
"Tidak lama kau bakal ketahui sendiri! Juga. enci Liong, sebentar kau akan menyaksikan suatu pertunjukan yang ramai sekali, maka kau tunggu saja!"
Kiam Hong heran, ia berpikir.
"Dia baru sampai, cara bagaimana dia ketahui Thio Tayhiap bakal bertempur dengan Kiauw Pak Beng? Apakah mungkin dia bicara dari lain hal yang jauh terlebih hebat dari pertempuran tayhiap ini?"
Sementara itu Kiauw Pak Beng telah mengasi lihat wajah yang bermuram durja.
Empat kali sudah ia kalah dan enam jago pilihannya telah roboh, kekalahan itu membikin gentar hati kawan-kawannya.
Dengan suara dalam ia berkata.
"Kong Thian, mari, serahkan bonekamu padaku!"
Le Kong Thian, sang murid, menyerahkan senjatanya yang luar biasa dan berat itu. Dengan membawa boneka kuningan itu. dengan tindakan perlahan, Pak Beng maju ke arah gelanggang.
"Suhu. inilah pedang!"
Berkata Sin Cu pada gurunya.
Ia melihat musuh membekal senjata, ia menyerahkan pedang mustikanya, --pedang Cengbeng kiam.
Thio Tan Hong tidak membekal senjata.
Ia bersikap tenang.
Agaknya ia berpikir.
Akhirnya ia kata.
"Baiklah!"
Lantas ia menyambuti pedang dari tangan muridnya, dengan membawa itu, ia pun maju dengan tindakan sabar.
Sudah sepuluh tahun Tan Hong tidak pernah menggunakan senjata, sedang ketika baru ini ia menempur Pak Beng, ia menggunakan pedang biasa saja.
Baru sekarang ia membutuhkan gegaman dan justeru ia mendapatkan pedang mustika.
Dalam sebentar saja, dua orang musuh sudah berdiri berhadapan di tengah medan adu jiwa.
Yang satu ialah kiamkek atau ahli pedang nomor satu di kolong langit ini, dan yang lainnya yaitu hantu nomor satu di dalam dunia.
Maka dengan wajar mata para hadirin diarahkan terhadap dua jago itu.
Kedua jago itu berdiri berhadapan dengan mata mereka saling memandang tajam.
Keduanya tenang, yang beda ialah Pak Beng suram, wajah Tan Hong sungguh-sungguh.
Thio Tan Hong dapat melihat sinar mata orang, ia dapat menerka orang yang asal sesat itu telah mendapatkan pelajaran tenaga dalam yang lurus, hingga sesat dan lurus tergabung menjadi satu.
Sinar mata Pak Beng itu tajam tetapi tidak jernih.
"Sayang! sayang!"
Katanya seorang diri.
Ia menyayangi i-.i|>m lelah Pak Beng mempelajari kedua ilmu sesat dan lurus, setelah berhasil, sepak terjangnya tetap sesat.
Mendengar suara itu, cuma Sin Cu yang dapat membade hati gurunya.
Guru itu sangat menyayangi kepandaian orang, maka juga Tan Hong menyesal mesti melayani orang pandai dan kosen yang bandel itu.
Kiauw Pak Beng, yang pun mendengar suara orang, berkata dengan tawar.
"Jikalau kau terbinasa di tanganku, kau pun sama harus dikasihani! Di kolong langit ini, ada banyak sekali urusan yang harus disayangi, dari itu tak usahlah kita membicarakannya banyakbanyak!"
Tan Hong mencabut pedangnya, ia mengpngguk.
"Kau benar,"
Sahutnya.
"Nah, kau majulah!"
Kiauw Pak Beng menggeraki tokkaktongjin, boneka kuningannya itu, ia mendorong dengan jurus "Badak memandangi sang rembulan."
Thio Tan Hong meluncurkan pedangnya, akan menowel boneka itu, -perlahan ia menowelnya akan tetapi kedua senjata bentrok dengan menerbitkan suara yang nyaring dan lama mengaumnya, bagaikan genta mengalun.
Pula sedikit lelatu kuningan telah meletik buyar!
Sebagai kesudahan terbenturnya kedua senjata satu dengan lain itu Thio Tan Hong merasakan hawa dingin yang tersalurkan ke tangannya terus ke nadinya.
Ia lantas menghembuskan napas perlahan, guna mengasi keluar hawa dingin itu.
Atas itu Kiauw Pak Beng merasai angin dingin bertiup ke mukanya, meski hanya sekelebatan, hawa itu dingin sekali, baru selewatnya itu, mukanya terasa nyaman.
Sebagaijuga iklim musim dingin ditukar dengan iklim musim bulan tiga!
"Heran!"
Pikirjago tua ini. Ia tidak pernah menyangka tenaga dalam Tan Hong sedemikian mahirnya. Sebaliknya Tan Hong pun berkata dalam batinya.
"Benar-benar dia telah mencapai Siulo Imsat Kang tingkat kesembilan!"
Tan Hong menyambuti hawa dingin yang tersalurkan kepadanya dengan segera ia mengemposnya keluar, karena hawa dingin itu kembali pada Pak Beng, dia ini merasai dingin dan lantas nyaman.
Hawa nyaman itu ialah hawa asli dari Tan Hong, sedang hawa dingin ialah hawanya sendiri yang dikembalikan.
Dari kejadian sepintas lalu itu menjadi ternyata, hawa dinginnya Pak Beng menyerbu Tan Hong sebagaijuga sebutir batu dilemparkan ke dalam telaga, bukan telaga bergelombang dahsyat tapi cuma airnya bergoyang sedikit...
Oleh karena percobaan ini, Thio Tan Hong lantas mengambil keputusannya.
Ia tahu berbahaya untuk hanya bertahan dari hawa dingin musuh.
Jadi ia memerlukan pertandingan cepat.
Putusan yang cepat pun akan mencegah kedua-duanya sama-sama mendapat kecelakaan.
Pak Beng juga sependapat dengan lawannya itu.
Habis bentrokan yang pertama itu, ia lantas menyerang pula, dengan sekeras-kerasnya, hingga bonekanya bergerakgerak sambil menghembuskan angin keras.
Thio Tan Hong tidak bersangsi untuk melayani dengan sama serunya.
Maka juga sering sekali terdengar suara nyaring yang memekakkan telinga.
Sebab di mana perlu, tak takut Tan Hong mengadu pedang yang kecil dan enteng dengan boneka yang besar dan berat.
Sebagai kesudahan dari bentrokan itu, setiap kali beradu, boneka kena dibikin sedikit bercacat, kuningannya pecah hancur sedikit dan hancurannya itu pada meletik.
"Hebat!"
Berseru Pak Beng di dalam hati. Tengah bertarung itu, Tan Hong menyerang dengan tipu silat "Bianglala panjang melintangi langit."
Pedangnya menyambar dari samping.
Kiauw Pak Beng menghindarkan diri dengan menolak dengan bonekanya.
Hebat permainan senjatanya itu, ia membikin kedua tangan boneka dapat bergerak sebagai tangan manusia hidup, tangan itu menyamber ke dada untuk menotok jalan darah!
Demikian kalau kedua jago bertempur, setiap gerakan mereka cepat seperti kilat.
Totokan itu segera tiba pada dada, segera terdengar suaranya.
Sin Cu dan Giok Houw terperanjat, hampir mereka berseru, akan tetapi setelah berkelebatnya sinar hijau dari pedang cengbeng kiam, hati si nyonya muda menjadi lega, dengan perlahan ia kata pada orang di dampingnya.
"Ah, suhu tidak terlukai"
Thio Tan Hong telah menangkis totokan dengan babatan pedangnya, yang membikin kedua jari tangan boneka itu terpapas kutung!
Habis itu, setelah beberapa gebrakan, keduanya nampak lambat gerak-geriknya.
Kelincahan mereka semula seperti lenyap secara tiba-tiba.
Sebaliknya daripada saling serang dengan cepat dan bengis, mereka justeru jalan berputaran, mata mereka saling mengawasi tajam, senjata mereka masing-masing siap sedia.
Setelah lewat banyak detik, maka Kiauw Pak Beng-lah yang mulai pula dengan penyerangannya.
Rupanya dia telah selesai dengan pengerahan tenaganya.
Dia bergerak berbareng dengan seruannya.
Tokkak tongjin menyerang dari atas ke bawah.
Itulah kemplangan sangat dahsyat.
Atas datangnya serangan itu Thio Tan Hong bersikap tenang tapi sebat.
Ia menangkis menyontek sambil berkelit sedikit, kaki kirinya diajukan, maka itu tangannya yang kiri dapat sekalian diluncurkan guna membalas menyerang.
Kedua senjata beradu keras.
Tubuhnya Kiauw Pak Beng seperti terangkat akibat sontekan Tan Hong itu.
Dengan tubuh berada "di tengah udara"
Itu.
selagi turun, ia menyerang dengan tangan kirinya.
Kedua tangan bentrok, lalu Kiauw Pak Beng berjumpalitan, mundur hingga tiga tombak jauhnya.
Semua berjalan dengan cepat, tak terlihat tegas para penonton.
Selagi Pak Beng itu mental mundur, tubuh Tan Hong, yang berdiri di tempatnya, bergoyang sedikit seperti juga sebuah perahu kecil di antara gelombang.
Itulah akibat bentrokan tangan mereka masingmasing.
Inilah bentrokan yang terlebih hebat dari bentrokannya boneka dengan pedang.
Teranglah kedua pihak sama-sama tergempur.
Terang sudah Pak Beng kalah unggul, sebab tubuhnya terpental.
Tapi Tan Hong pun tak menang seluruhnya, hingga tubuhnya itu bergoyang-goyang untuk mempertahankannya.
Itulah hawa dingin dari Siulo Imsat Kang tingkat sembilan, yang menyerang ke dalam tubuh lawan.
Setelah itu, kedua pihak sama-sama berdiam, melainkan mata mereka saling memandang tajam.
Samasama mereka menenangkan diri, untuk mengumpul tenaga mereka yang barusan terhamburkan itu.
Kiauw Pak Beng nampak mandi peluh, sedang Tan Hong dari embun-embunannya kelihatan mengepulnya uap putih.
Perlu waktu beberapa menit untuk mereka mendapat pulih tenaga mereka.
Dalam pada itu, bonekanya Kiauw Pak Beng telah menjadi tidak "tuh lagi, selain duajerij inya yang tadi kena terpapas putus, bagian-bagian anggauta yang lainnya pada bercacad akibat ujung pedang Tan Hong, bahkan kuping dan hidungnya kutung juga-Kiauw Pak Beng sangat mendongkol dan berduka dan berkuatir.
Kemarahan membuat rambutnya yang kusut pada bangun berdiri, kumis dan jenggotnya menjadi kaku, sedang otot-ototnya pada keluar hingga terlihat cahayanya hijau matang.
Maka itu, berdiri berendeng dengan bonekanya itu, dia nampak mirip sepasang hantu yang bengis.
Aneh pemandangannya itu tetapi tidak ada orang yang berani mentertawainya.
Semua hadirin tegang dan cemas hatinya, sesuatunya bergelisah sendirinya.
Selagi kedua pihak beristirahat sambil mengumpul semangat itu, maka dari kejauhan terdengar suara bergerak dan meringkiknya kuda-kuda peperangan, begitu juga suara bentroknya banyak alat senjata, semua itu terbawa angin, mulanya samar-samar, lalu perlahanlahan menjadi terang dan nyata sekali.
Teranglah itu suara tentera bertarung di kaki gunung, hingga suasana menjadi terlebih menggelisahkan.
Luar biasa sungguh suasana di medan adu jiwa ini.
Tidak perduli suara pertempuran pasukan perang itu, meskipun sesuatunya cemas dan bergelisah, mereka tetap memasang mata kepada Kiauw Pak Beng dan Thio Tan Hong.
Mereka seperti tak menghiraukan lagi ancaman bahaya besar.
Pihaknya Tan Hong mungkin berpikir.
"Perduli apa tentara musuh datang, mereka toh tidak bakal dapat membinasakan aku tetapi pertempuran ini, inilah tak dapat dikasih lewat atau orang akan menyesal sampai hari matinya!..."
Juga Tan Hong dan Pak Beng tidak menghiraukan segala apa di luar gelanggang mereka, bagaikan tuli dan buta.
Mata mereka, perhatian mereka, ditumplak saja satu kepada lain.
Sambil mengumpul tenaga, mereka memasang mata.
Jarak di antara mereka ada lima atau enam tombak jauhnya.
Segera juga datang saatnya kedua pihak mulai bergerak lagi.
Mereka bertindak menghampirkan satu pada lain.
Ayal tindakan mereka masing-masing.
Setiap tindakannya Kiauw Pak Beng meninggalkan tapak kaki yang dalam.
Itulah bukti dari tegangnya hatinya, dari hebatnya ia menancap kaki, memasang kuda-kuda.
Tan Hong sebaliknya, tindakannya tak menyebabkan debu mengepul.
Ie Sin Cu dapat melihat nyata gurunya itu, hatinya menjadi lega.
"Pastilah guru kita bakal dapat kemenangan,"
Ia kata perlahan pada Giok Houw.
"Kau lihat, bangsat tua she Kiauw itu telah mencapaikan puncak ketegangannya, ia sangat bergelisah, sebaliknya suhu tetap tenang, bahkan ia lebih tenang dari biasanya!..."
Di saat sangat tegang itu maka terdengarlah suara memanggil nyaring berulangkah .
"Thio Tayhiap! Thio Tayhiap!"
Dengan sendirinya semua hadirin menoleh ke arah dari mana panggilan datang.
Itulah suaranya sepasang pria dan wanita, yang muncul dari tikungan gunung dibalik sebuah batu besar.
Mereka itu lari mendatangi ke arah gelanggang.
"Ah!"
Thio Giok Houw mengasi dengar suara herannya. Ia menoleh sebentar, lantas ia mengawasi pula gurunya. Ia tidak mau berlaku alpa. Liong Kiam Hong sebaliknya berseru.
"Ah. itulah enci Cio dan SengToako!"
Di dalam saat sesunyi itu, suaranya nona itu terdengar mendengung, hingga banyak mata diarahkan ke arahnya.
Agaknya ia jengah sendirinya, mukanya menjadi bersemu merah.
Dengan lantas ia menoleh pula ke arah Tan Hong.
Kedua pihak, yang maju terus tanpa memperdulikan segala apa di sekitarnya, sudah mendekati hingga tujuh kaki satu pada lain.
Paras mukanya Pak Beng gelap sekali.
Dia diliputi hawa keinginan membunuh.
Sebaliknya Thio Tan Hong bersenyum sabar, ia sangat tenang.
Walaupun demikian, nyata sekali keduanya sama-sama siap sedia...
Sepasang pria dan wanita yang lari mendatangi itu, yang tadi memanggil-manggil Tan Hong, benar Cio Bun Wan dan Seng Hay San adanya.
Ketika mereka tiba, mereka lantas berdiri diam, mata mereka pun mengawasi.
Dengan sendirinya mereka terpengaruh ketegangan medan pertempuran itu.
Kok Tiok Kun menghampirkan Hay San, untuk menarik lengan orang, buat mengajak dia duduk di sisinya.
Hay Sah lantas berbisik.
"Pasukan tentera negeri telah kita kurung di dalam lembah. Yang Cong Hay dan Law Tong Sun ada di dalam barisan pemerintah itu."
Tiok Kun mengangguk tandanya ia mengerti.
Seng Hay San datang untuk minta bantuan, tetapi melihat suasana di gelanggang, tidak dapat ia mengajukan permintaannya itu.
Ia turut menjadi ketarik pengaruh yang luar biasa itu.
Di dalam gelanggang, orang tak dapat berdiam terus lama-lama.
Akhir-akhirnya kedua matanya Kiauw Pak Beng dipentang lebar-lebar begitupun mulutnya.
Mendadak dia berseru.
"Jikalau bukan kau yang mati tentulah aku!"
Terus dengan bonekanya ia menghajar dengan bengis sedang tangan kirinya menyerang juga dengan Pekkhong ciang, pukulan "Udara Kosong."
Dia telah menggunakan tenaga dari Siulo Imsat Kang tingkat sembilan, yang baru saja dia kerahkan pula. Dan inilah tenaga seluruhnya. Jurus yang dia gunakan juga satu durus dari "Hokchio Sinkang,"
Ilmu "Menaklukkan Gajah."
Dia hebat sekali sebab dia dapat menggunakan dua-dua tangannya dengan tenaga yang sama besarnya.
Ketiga pendeta dari Siauwlim Si, Han Tiat Ciauw dan yang lainnya, terkejut hingga mereka mengeluarkan seruan tertahan.
Mereka semua ahli tapi mereka toh heran dan terperanjat.
Tan Hong di pihaknya tidak berdiam saja.
Orang menyerang ia dengan dua-dua tangan, ia juga menyambut dengan dua tangannya.
Dengan pedang ia menangkis boneka, dengan tangan kosong ia menyambut tangan kosong lawan.
Bentrokan hebat terdengar karenanya.
Kali ini pedang Cengbeng kiam berhasil membabat kutung kedua lengannya tokkak tongjin.
Sebab pedang itu tak dapat segera ditarik pulang, sekalian saja rambutnya Pak Beng pun kena terbabat kutung.
Syukur jago tua itu masih sempat berkelit mendak.
Akan tetapi Pak Beng tidak menjadi gugup, dengan kesehatan luar biasa, ia berkelit terus ke belakang musuh, maka tempo ia menghajar dengan tinju kirinya, ia berhasil mengenai punggung musuhnya.
Tan Hong terjerunuk karenanya.
Tapi jago ini lihai.
kakinya terus menjejak tanah, tubuhnya mencelat balik.
Tengah orang masih kaget, ia sudah membalas menyerang, hingga sinar pedangnya berkelebatan seperti bunga pedang.
Di antara para hadirin cuma Bu Siang Siansu yang dapat melihat tegas serangan Tan Hong ini.
Untuk hadiah satu tinju pada punggungnya, ia membalas dengan tujuh buah tikaman pedangnya, yang semuanya mengenai tepat kepada sasarannya!
Kiauw Pak Beng berseru keras sekali, dengan bonekanya ia menimpuk!
Pasti sekali itulah timpukan dengan setakar tenaganya.
Thio Tan Hong dapat melihat serangan mati hidup itu.
Sekarang ia tidak berani menyambuti dengan menangkis dengan pedang di tangan.
Ia juga menelad contoh.
Ia lantas menimpuk juga dengan pedangnya.
Kedua senjata tepat masing-masing sasarannya, maka itu di tengah jalan, keduanya beradu.
Cengbeng kiam yang tajam luar biasa nancap di tubuh boneka kuningan, terus nembus.
Boneka tertahan sedikit lajunya, terus jatuh ke tanah.
Pedang sebaliknya meluncur, nancap di sebuah pohon di sebelah depannya!
Orang semua terkejut, tetapi cuma sebentar, lantas semuanya sadar.
Pertempuran boneka melawan pedang itu sudah berhenti tetapi kedua jagonya tidak turut berhenti karenanya.
Keduanya sama-sama maju, untuk melanjuti pertarungan dengan sama-sama bertangan kosong.
Kedua tangan mereka sama-sama diluncurkan, guna saling bertahan, karena itu, tubuh mereka pun samasama diam, hingga mereka mirip dua buah patung hidup.
Habis terluka dan menimpuk, Kiauw Pak Beng telah menutup dirinya, maka itu ia dapat mencegah mengalir keluarnya darah dari liang lukanya akibat tikamam pedang Tan Hong.
Ia mengerahkan tenaganya, ia lompat menerjang musuhnya.
Jikalau ia mau, Tan Hong dapat menyingkir dari serangan dahsyat itu, akan tetapi ia dapat membade maksudnya Kiauw Pak Beng, ia bersedia untuk melayani.
Pak Beng penasaran, dia menjadi nekad, maka di detik terakhir ini, dia menyerang dengan Siulo Imsat Kang dengan tenaganya yang penghabisan.
Ia tahu, kalau ia berkelit, Pak Beng bakal mati tak puas, dari itu, ingin ia mempuaskan hati orang.
Ia pun, dengan begitu, hendak menguji tenaganya sendiri.
Ia menyambut dengan duadua tangannya.
Kecuali ketiga pendeta dari Siauwlim Si, tidak ada orang lainnya yang ketahui pengerahan tenaga terakhir dari Pak Beng ini.
Meskipun dia telah ditikam tujuh kali, darahnya masih belum mengucur keluar, cuma mukanya sajayang tampak bengis dan seram, kedua matanya merah mendelik.
Sin Cu percaya gurunya lihai tetapi ia toh berkuatir juga.
Semua orang menonton dengan menahan napas.
Tenaganya Pak Beng sudah disalurkan ke tangannya.
Itulah tenaga terakhir tetapi dahsyatnya bukan main.
Benar-benar Siulo Imsat Kang tak dapat dibuat permainan.
Thio Tan Hong bertahan hingga terdengar sambungan tulang-tulangnya bersuara meretek.
Kecuali kuda kudanya, ia pun memusatkan tenaga di tangannya, guna menangkis hawa din|in.
Ia merasakan desaKan"
Tenaga Pak Beng seperti tak ada habisnya, bagaikan gelombang mendampar saling susul.
Sayangnya untuk Pak Beng, meski ia telah berhasil menggabung dua ilmu sesat dan lurus, tempo latihannya masih terlalu pendek, tak dapat ia menandingi Tan Hong yang lurus seluruhnya.
Umpama kata ia belum ter'nka, masih belum tentu ia dapat melawan terus.
Tepat di saat ia insaf bahwa ia kalah, habislah tenaganya Pak Beng, tubuhnya menjadi lemah.
Thio Tan Hong merasakan lenyapnya tolakan keras seperti tadi, ia lalu mendorong dengan perlahan, sembari berbuat begitu, ia kata sabar.
"Kiauw Pak Beng, kau pergilah baik-baik!"
Pak Beng menghela napas, segera tubuhnya roboh, begitu tenaganya habis, begitu luka-lukanya mengalirkan darah. Tak dapat ia menutup diri lagi.
"Kiauw Pak Beng, apa pesanmu?"
Tanya Tan Hong, suaranya berduka.
"Aku puas terbinasa di ujung pedangmu, kebinasaan ini berharga,"
Kata Pak Beng lemah.
"Hanya sayang pelajaranku, yang aku latih seumur hidupku, bakal lenyap dari dunia ini..."
"Di dalam hal ini, aku tak berdaya menolongmu,"
Kata Tan Hong, menghela napas.
Orang bengong, orang kagum.
Orang pun terharu.
Itulah pertempuran paling dahsyat dan luar biasa.
Sampai sekian lama orang masih berdiam saja, sampai akhirnya mereka disadarkan suaranya satu orang.
"Kiauw Pak Beng sudah mati!"
Mendengar itu rombongannya Pak Beng pun mendusin, tetapi mereka bukan lantas bertindak menuntut balas, hanya saking takut, mereka lari serabutan guna menyingkirkan diri, cuma satu yang lari ke arah Pak Beng, guna mengangkat tubuhnya, buat terus dibawa lari turun gunung!
Orang itu ialah Le Kong Thian, muridnya jago Siulo Imsat Kang itu.
Dia bukan lari mendaki gunung, hanya ke arah jurang.
"Le Kong Thian, kau hendak kabur ke mana?"
Membentak Thio Giok Houw, yang terus mencabut golok --goloknya Bianto -dan mengejar.
"Thio Houwcu, biarkan dia pergi!"
Tan Hong mencegah.
Murid itu melengak, dia menghentikan larinya.
Ketika itu cepat sekali Le Kong Thian sudah sampai di tepi jurang, lantas orang melihat, sambil terus memanggul tubuhnya Pak Beng, gurunya itu, dia terjun ke dalam jurang, hingga lantas juga terdengar suara air menjubiar keras.
Sebab katanya jurang itu penuh air yang nembus ke laut...
Orang banyak lantas menduga tindakannya Le Kong Thian itu ialah tindakan si murid untuk melindungi keutuhan tubuh gurunya, karenanya dia tak sayangsayang lagi mengurbankan jiwanya bersama-sama.
Tentu sekali tidak ada orang yang menyangka bahwa itulah tindakan satu-satunya guna dia mencoba menolongi gurunya itu.
Hal yang sebenarnya ialah jurang itu berdasarkan air di mana pun terdapat sebuah guha mirip guha Cuiliam Tong, dari guha mana orang bisa merayap keluar ke tempat yang aman.
Le Kong Thian pernah tinggal selama beberapa bulan di dalam kuil Siangceng Kiong di atas gunung Laosan ini.
Imam dari kuil itu, Hay Jiak Tojin, adalah sahabat kekalnya.
Karena pernah berdiam lama di gunung itu, ia menjadi mendapat tahu tentang jurang itu serta guhanya Maka itu, ia bukan bawa gurunya lari ke bawah gunung, hanya justeru ke jurang tersebut.
Ia menduga, kalau ia lari turun gunung, orang bakal mengejarnya.
Ia tentu tidak tahu sikap laki-laki dari Tan Hong.
Terjun ke dalam jurang itu, Kong Thian tidak nampak rintangan oyot pohon atau lainnya, langsung mereka tercebur ke air, maka di akhirnya berhasillah ia membawa gurunya ke tempat yang aman.
Kiauw Pak Beng belum putus jiwa benar-benar, karena terkena air dan tertolong muridnya, napasnya bekerja pula, jantungnya berdenyut lagi.
Pula dari kitab Pektok Cinkeng pernah ia dapat resep dan membuat obat pemunah racun yang luar biasa, obat mana dapat menguatkan tubuhnya.
Ia telah menyiapkan dua rupa obatnya, ia serahkan itu pada Kong Thian untuk disimpan, guna dipakai di saat yang tepat, sekarang murid itu telah menggunakannya.
Pertolongan Kong Thian inilah yang mengakibatkan Kiauw Pak Beng selamat jiwanya, hingga kemudian dia menyingkir ke sebuah pulau mencil, di mana dia melewatkan sisa hidupnya dalam kesunyian, dan sampai berumur seratus tahun lebih, barulah dia meninggal dunia.
Semua orang menganggap Kiauw Pak Beng sudah menemui ajalnya, bahkan Thio Tan Hong tak menduga juga.
Ie Sin Cu bersama Thio Giok Houw, Seng Hay San, Cio Bun Wan dan lainnya lantas menghampirkan Tan Hong.
Mereka mendapatkan sesuatu yang gelap di punggung jago tua itu.
Itulah tapak tangan yang hitam pada kulit tetapi saking tedasnya terlihat nembus di baju sutera putih yang tipis.
Semua menjadi kaget.
Tengah orang heran itu, Thio Tan Hong berkata, lancar.
"Bagus! Kepala penjahatnya sudah disingkirkan, selanjutnya tak usah aku bekerja sendiri lagi! Sin Cu, Giok Houw, pergi kamu membantui Cio Locianpwee!"
Thio Tan Hong telah bekerja sempurna sekali.
Sebelum turun tangan, ia sudah menyerapi kabar, terus ia membuat persiapan.
Yang Cong Hay bersama Law Tong Sun sudah siap sedia.
Mereka kuatir kawanan Tan Hong nanti menyulitkan dan menggagalkan ichtiar mereka, lantas mereka menyembunyikan tiga ribu serdadu.
Mereka berniat menyapu dari meringkus rombongan Tan Hong, supaya tak ada seorang jua yang dapat meloloskan diri.
Tan Hong sebaliknya mengatur daya untuk melawan tentera negeri itu.
Maka Cio Keng To diminta membawa datang semua sisa tentera rakyat dari pulau.
Di lain pihak, selagi kota Hangciu kosong.
Seng Hay San ditolongi dari dalam penjara, hingga pemimpin tentera rakyat itu dapat datang bersama Tindakan Tan Hong ini yang membikin ia datang sedikit lambat.
"Suhu, apakah kau tidak kurang suatu apa?"
Tanya Giok Houw sebelum pergi. Guru itu bersenyum.
"Kiauw Pak Beng belum mempunyai kepandaian cukup untuk mengajak aku pergi bersama-sama dianya!"
Sahutnya.
"Kau jangan kuatir!"
Giok Houw.
begitu juga Sin Cu, sangat cerdas, tetapi mereka tidak dapat menangkap bahwa dalam katakatanya Tan Hong itu ada tersembunyi maksud lainnya.
Mereka percaya betul guru mereka tidak kurang suatu apa.
Maka pergilah mereka dengan hati tetap, untuk membekuk Yang Cong Hay.
Hal yang sebenarnya tidaklah seperti dikatakan Tan Hong.
Kecuali hajaran di punggung itu, ia pun menderita sangat gempuran Siulo Imsat Kang dari Kiauw Pak Beng.
Ia menyambuti gempuran itu dengan maksud membikin Pak Beng kalah dengan puas.
Ia terluka bukannya ringan.
Syukur untuknya, tenaga dalamnya telah mahir sekali, ia dapat bertahan hingga orang tidak melihat pada wajahnya tanda-tanda penderitaannya itu.
Menurut latihannya, Tan Hong dapat hidup sedikitnya sampai seratus tahun, tetapi lukanya ini membikin ia mati sebelum masuk usia enam puluh.
Ie Sin Cu semua mengajak rombongannya turun gunung.
Segera mereka mendapat kenyataan satu pasukan tentera negeri kena dikurung pihaknya.
Tentera negeri itu berdiam di dalam lembah, sebaliknya barisan tentera rakyat di bawah pimpinan Cio Keng To, meski jumlahnya lebih kecil, dapat menguasai mereka dari sebelah atas, dari sela-sela gunung.
Sering sekali tentera negeri dihajar dengan batu besar dan balok-balok yang digelindingkan turun hingga tentera itu, yang tidak berdaya, pada menjerit-jerit.
Untuk kabur, jalan mereka sudah terhalang dan terpegat.
Ie Sin Cu maju di muka, ia berteriak nyaring.
"Bangsat tua Kiauw Pak Beng telah terbinasakan! Apakah kamu masih hendak berkelahi mati-matian tanpa ada perlunya, seperti binatang yang sudah mogok terkurung?"
Mendengar itu, hati Cong Hay mencelos.
Dia justeru paling mengharap Kiauw Pak Beng, dan mengharap juga Pak Beng nanti naik ke gunung, guna memecahkan pengurungan atas diri mereka ini.
Sekarang habislah harapannya.
Dia melihat yang datang ialah semuanya musuh.
Maka dia percaya, kalau Pak Beng tidak binasa, Pak Beng tentulah telah kena dikalahkan.
Maka tahulah dia harus mengambil sikap bagaimana.
Law Tong Sun pun tahu sikapnya.
Dia mengibarkan lengki, bendera perintah, seraya berteriak nyaring berulang-ulang.
"Toblos kurungan!"
Sementara itu rombongannya Sin Cu sudah maju menerjang.
"Apakah kamu masih berniat kabur?"
Sin Cu berteriak sambil ia maju terus.
Ia nyeplos pergi datang di antara tentera negeri, guna mencari Yang Cong Hay.
Sama sekali ia tidak mengganggu tentera negeri itu.
Di pihak musuh, Sat Lek Hiong masih percaya betul atas ketangguhannya.
Ia memutar sepasang gembolannya untuk menghajar setiap musuh yang menghadang di hadapannya.
Ia hendak mentaati titah Law Tong Sun untuk nerobos dan kabur bersama barisan negeri itu.
Ia sudah merobohkan beberapa tauwbak tentera rakyat ketika ia mendengar bentakan.
"Berhenti!"
Sat Lek Hiong tidak mau memperdulikan perintah itu, ia menyerang terus secara membabi buta.
Tiba-tiba ia menjadi kaget.
Gembolannya itu kena orang tanggapi, untuk ditangkap, sia-sia belaka ia menggunakan seluruh tenaganya untuk menarik pulang, buat dilepaskan.
"Kau masih hendak berontak?"
Tanya orang yang menangkap gembolan itu.
Memang Sat Lek Hiong hendak berontak, akan tetapi belum ia sempat berdaya atau melihat lawannya, tubuhnya telah kena ditarik.
Lantaran ia bertahan, ia tidak dapat melepaskan kedua senjatanya.
Ia pun kalah sebat.
Tahu-tahu kedua tangannya sudah dicekal keras, lantas ia merasa tubuhnya yang besar dan berat itu diangkat, diteruskan diputar, maka di lain detik, ia sudah dilemparkan!
Celaka untuknya, ia jatuh menimpa seorang opsir tentera negeri yang lagi mengayun goloknya, maka tubuhnya menimpa golok itu.
Ketika ia roboh, ia mandi darah, jiwanya melayang.
Di lain pihak, si opsir pun tertimpa dan tertindih untuk terus mati bersama!
Orang ypng merobohkan Sat Lek Hiong ialah In Tiong.
Tidak perduli Lek Hiong bertenaga raksasa, ia masih kalah dengan tenaga Taylek Kimkong Ciu dari orang she In itu, maka gembolannya ditangkap, tubuhnya disamber dan diangkat, untuk dilemparkan!
Ketika itu Yang Cong Hay si licik sudah kabur sampai di mulut selat.
Tiba-tiba ia mendengar suara mengaung, lalu tertampak sinar-sinar terang berkelebatan menyamber ke arahnya.
Itulah senjata rahasia.
Ie Sin Cu berhasil mencari musuhnya.
Dia lantas menyerang dengan kimhoa, bunga emasnya, lantaran orang terlalu licin dan gesit.
Dengan menggunakan ilmu ringan tubuh, yaitu "Coanhoa jiauwsi" --"Menembusi bunga, mengitarkan pohon."
Ia memegat dan terus menimpuk.
Thio Giok Houw pun terus mencari, tepat Sin Cu merintangi, ia pun tiba di samping Yang Cong Hay.
Orang licik itu menangkis serangan Sin Cu sambil ia terus menyingkir.
Ia tidak mau membuat perlawanan sebab itu berarti bahaya.
Karena di sampingnya ada Giok Houw, ia lari ke lain arah.
Sekarang barulah ia merasa jeri benar-benar.
Baru beberapa tindak, In Hong muncul di depannya.
"Mari, Yang Tayjin! Mari!"
Mengundang Nyonya Hok Thian Touw tertawa riang.
"Mari aku belajar kenal pula dengan ilmu pedangmu!"
Di damping In Hong itu ada suaminya.
Semangat Cong Hay terbang, tanpa membilang apaapa, ia lari ke lain arah.
Sudah ia jeri terhadap Sin Cu dan Giok Houw, sekarang ia lebih jeri pula terhadap suami isteri dari Thiansan itu.
Baru beberapa tindak Cong Hay menyingkir dari hadapan In Hong dan Thian Touw, atau ia kaget pula ketika ada suara meledak dihadapannya, api segera menyamber ke arahnya.
Itulah ledakan Tokbu Kimciam Hweeyam tan.
peluru api yang berasap racun dan mengandung jarum emas kepunyaannya Im Siu Lan, puterinya Cit Im Kauwcu.
Siu Lan muncul bersama Ciu Ci Hiap.
dia memegat dengan lantas menyerang dengan senjata rahasianya yang meledak dan beracun itu.
Di hari-hari biasa, walaupun Siu Lan lihai, Yang Cong Hay tidak takut, atau sedikitnya, ia tidak akan biarkan dirinya terhajar senjata rahasia itu.
Tapi sekarang, selagi mogok dan ketakutan itu, bokongan itu membuatnya tidak berdaya.
Begitu senjata rahasia meledak, begitu jarum emasnya melesat mengenai ia, sedang pernapasannya, juga matanya, terganggu uap.
Tengah ia merasa kepalanya pusing dan matanya kabur, dari arah belakangnya, datang Cio Keng To bersama Kok Tiok Kun.
"Biar bagaimana aku pernah menjadi congkoan dari istana, jikalau aku mesti mati tidak nanti aku mati di tangan kamu!"
Cong Hay berteriak. Dengan pedangnya, ia lantas menikam tenggorokannya, maka robohlah ia dengan napasnya lantas berhenti jalan! Di situ ia rebah sebagai mayat yang mandi darah.
"Lepaskan senjatamu!"
Kok Tiok Kun berteriak kepada tentera negeri.
"Kamu boleh berlalu dari sini!"
Tentara negeri itu memang lagi mati jalan, mendengar suara itu, hampir serempak mereka melemparkan senjata mereka, lantas semua berlerot ngeloyor pergi, hingga lembah itu menjadi penuh dengan golok dan tombak mereka.
Semua orang menarik napas lega karena kemenangan ini, hanya kemudian orang menyesal tidak mendapatkan Law Tong Sun, yang semenjak tadi tak kelihatan mata hidungnya.
Rupanya dia dapat menyamar sebagai serdadu biasa dan lolos.
Cio Keng To mengatur barisan rakyat itu, yang ia serahkan kepada beberapa tauwbak, untuk mereka mengundurkan diri terlebih dulu, ia sendiri bersama Thio Giok Houw semua mendaki gunung, guna melihat Thio Tan Hong.
Kelentingnya Hay Jiak Tojin luas dan besar serta banyak kamarnya, akan tetapi ketika Thio Tan Hong pergi kesana, seluruhnya sudah kosong.
Hay Jiak menyingkir bersama semua muridnya.
Maka kebetulan sekali, semua orang dapat memakai semua kamar itu.
Tan Hong lagi beristirahat di dalam sebuah kamar.
Keng To tidak berani lantas menemui, dari itu mereka lantas mengatur persiapan barang hidangan.
Di kelenting itu terdapat banyak barang makanan, yang tadinya disediakan Hay Jiak Tojin untuk rombongannya Kiauw Pak Beng, guna Yang Cong Hay merayakan kemenangan mereka...
Tatkala itu sudah magrib, orang berkumpul di pekarangan dalam.
Perjamuan dilakukan selama rembulan terang.
Semua orang bergembira, kecuali Hok Thian Touw.
Jago Thiansan itu duduk seorang diri di suatu pojok dari mana ia memandang In Hong, isterinya, lagi memasang omong dengan asyik dengan Sin Cu, Giok Houw, Kiam Hong dan lainnya.
Setelah tiga idaran arak, Cio Keng To mengumumkan dua buah berita, yang satu buruk, yang lainnya bagus.
Berita itu ialah tentera negeri, habis merampas Hokpo To, pulau yang menjadi markas mereka, sudah berhasil merampas beberapa pulau lainnya.
Karena itu, Yap Seng Lim mengajak barisannya mengundurkan diri.
Seng Lim tidak mau bentrok dengan tentera negeri, sebab itu berarti mengurbankan anak buahnya.
Meski begitu, ada sebagian tentera rakyat itu yang ditinggalkan di pesisir di mana mereka hidup seperti rakyat jelata dengan begitu, kapan perlu, mereka dapat bersatu menentang perampok-perampok bangsa kate.
Yang lainnya semua berangkat ke Utara, untuk mempersatukan diri dengan barisannya Ciu San Bin.
Dengan menyatukan diri, mereka itu dapat melanjuti usaha mereka memperkuat diri, untuk mencapai cita-cita luhur mereka.
Ketika itu timbul ancaman dai i suku bangsa Tartar di Barat Daya serta juga dari suku Nuchen di Manchuria, yang setiap waktu dapat menyerbu Tionggoan.
Pemerintah lagi memperkuat tenteranya tetapi itu diperuntukan menumpas tentera rakyat.
"Maka itu Ciu San Bin membutuhkan bantuan banyak orang,"
Kata Keng To akhirnya.
Semua orang berduka mengetahui ludasnya markas Seng Lim.
sebaliknya mengetahui persiapan San Bin, semua bergembira.
Maka juga pesta ini mereka jadikan sekalian pesta untuk bersumpah bekerja sama menentang serbuan bangsa asing.
Hok Thian Touw terus memperhatikan isterinya.
Ia melihat In Hong sangat ketarik dengan keterangan Cio Keng To, ada kalanya dia mementang mata dan mengertak gigi, ada saatnya dia bergembira dan bersemangat.
Jadi hati isteri itu tetap ada pada gerakan kebangsaan itu.
"Apa aku mesti bilang?"
Pikir jago Thiansan ini.
Ia merasa sulit untuk membujuki isteri itu.
bahkan sukar juga untuk membuka mulutnya.
Maka ia menjadi masgul dan tawar hatinya.
Ia menjadi merasa sangat kesepian.
Ia membayangi.
ia dan isterinya benar-benar berada di dalam dua benua yang terpisah.
Lama setelah memperhatikan isterinya itu, Thian Touw melihat In Hong berbangkit dan bertindak ke arahnya.
Itulah terjadi sesudah sang isteri celingukan, rupanya untuk mencari padanya.
Ia menduga pasti isteri itu bakal bicara kepadanya.
Ia lantas mengawasi isteri itu, sebagai isyarat, lalu diam-diam ia ngeloyor keluar.
Ketika itu Thio Giok Houw bersama Liong Kiam Hong juga sudah pergi keluar, menuju ke rimba.
Liong Kiam Hong telah mengambil keputusan untuk berangkat ke Utara.
Tadi pun mereka sudah minum arak sumpah persatuan, hingga tak perlu mereka bicara banyakbanyak lagi.
Sampai itu waktu, sang Puteri Malam telah naik tinggi dan sinarnya indah permai.
Maka di darat terlihat puncak, di air nampak lautan di mana air dan langit seperti nempel satu pada lain.
Alam di detik itu benarbenar indah sekali.
Suara menderunya Laut Kuning pun terdengar tegas.
Dan hati Kiam Hong dan Giok Houw berjengut bagaikan ombak itu.
Mereka sama-sama berhati muda.
Tiba-tiba mereka mendengar tertawa yang sangat gembira.
"Dengar, itulah adik Siu Lan bersama Ciu Toako!"
Kata Kiam Hong. Giok Houw sedang mendengarnya, tetapi ia menarik tangan nona didampingnya.
"Mari kita pergi kesana, jangan kita ganggu mereka!"
Ia mengajak.
Di lain bagian dari rimba itu mereka melihat bayangannya dua orang, yang berendeng, yang kepalanya tunduk, nempel satu dengan lain.
Mereka itu tidak tertawa, rupanya keduanya tengah berbisik.
"Itulah enci In Hong dan Hok Toako,"
Kata Giok Houw.
"Sungguh mereka erat hubungannya."
"Ya, mereka beda sekali dari hari-hari yang sudah,"
Kata Kiam Hong heran.
"Sekarang mereka tidak berselisih mulut lagi. Baik, mari kita pergi kesana, supaya mereka jangan memergokinya, nanti mereka menjadi tak enak hati..."
Keduanya dapat saling mengerti, maka Giok Houw mengajak isterinya bertindak ke lain jurusan. Semua orang, habis pesta itu, seperti pada menggadangi rembulan.
"Ha, langit bakal jadi terang!'"
Kata Kiam Hong setelah berselang lama.
Ia agaknya terperanjat menyaksikan sang fajar mulai menyingsing.
Giok Houw pun seperti tersadar.
Ketika itu terlihat Ciu Ci Hiap dan Im Siu Lan lagi bertindak pulang.
"Eh, lihat di sana!"
Kiam Hong berkata kemudian, tangannya menunjuk.
Giok Houw menoleh ke arah yang ditunjuk itu.
Di sana, di bawah sebuah pohon besar, terlihat In Hong berjalan seorang diri.
Bersama Kiam Hong, ia segera menghampirkan.
Mereka mendapatkan nyonya itu beroman berduka, air matanya masih mengembeng.
Teranglah In Hong dan Thian Touw telah bentrok pula dan kali ini tak ada jalan untuk mendapatkan pula kecocokan satu dengan lain.
Hanya kali ini mereka tidak bercedera seperti biasanya beberapa kali yang lalu.
Giok Houw dan Kiam Hong sangat masgul.
Tapi, apa mereka bisa bilang?
Sekian lama In Hong berdiam, lalu mendadak kedua tangannya menyamber masing-masing sebelah lengannya Kiam Hong dan Giok Houw seraya ia berkata bernapsu.
"Mari kita mengambil jalan yang sama! Mari kita pulang!"
"Ya, sekarang pun matahari sudah mulai naik!"
Kata Giok Houw dan Kiam Hong berbareng!
Demikianlah.
Sekor burung hong terbang sendirian.
Bercerai dari rombongan di saat pertemuan.
Ikatan lama lepas, habis bagaimana?
Nyali keras, hati lunak, Keduanya kosong harapannya...
Itulah mirip, Goe Long dengan Cit Li, Si gembala dan si nona tukang tenun.
Di gunung Thiansan, hati putus, nyasar...
T A M A T
Baca Juga: Golok Yanci Pedang Pelangi Gu Long
Baca Juga: Perguruan Sejati 6