Eps 11 Tujuh Pendekar Pedang Gunung ThianSan - Liang Ie Shen
Baca online Tujuh Pendekar Pedang Gunung ThianSan - Liang Ie Shen
Cersil Tujuh Pendekar Pedang Gunung ThianSan - Liang Ie Shen.
Katanya kemudian.
"Kau dihukum entengan, ialah kau harus menyulingkan satu lagu."
Mulut gadis menjengkit berlagak seperti tak sudi.
"Nak, baiknya kau lantas meniup saja!"
Si orang tua coba membujuk. Seakan terpaksa, si gadis mengangkat sulingnya sambil mengunjuk rasa dongkol.
"Baiklah, biar aku meniupnya"
Katanya kemudian.
Segera jarinya bekerja ia menyuling dengan nada yang penuh mengandung perasaan, sedang si orang tua menyanyikan suatu lagu mengiringinya.
Mendengar lagu yang dinyanyikannya itu, tiba-tiba Nilan Yong-yo terkejut.
Yang dinyanyikannya itu ternyata bukan lain daripada syair yang pernah ia tulis di atas dinding batu beberapa hari berselang, bagaimana dapat dibaca oleh gadis ini?
Seumpama telah dilihatnya syair itu, namun bagaimana begitu cepat sudah sampai di sini?
Apakah orang sengaja datang hendak mencari padanya?
Begitulah penuh tanda tanya hati Nilan Yong-yo.
Karena itu sengaja ia menjajalnya lagi.
"Lagu tadi kurang merdu, sekarang hukum lagi kau menyanyikan sendiri suatu lagu lainnya,"
Perintahnya kemudian pada si gadis.
Segera juga para serdadu bersorak menyatakan akur.
Terpaksa secara ogah-ogahan, si gadis tarik suaranya.
Dan belum habis lagu itu dinyanyikannya, Nilan Yong-yo telah dibikin lebih heran lagi.
Syair lagu yang dinyanyikannya itu ternyata adalah ayair ciptaannya mengenangkan isterinya, yakni syair yang pernah ia suruh nyanyikan seorang penyanyi sewaktu untuk pertama kalinya ia bertemu dengan Boh Wan-lian di taman istana Perdana Menteri, tatkala itu Boh Wan-lian menyamar sebagai jejaka, dan sehabis mendengarkan nyanyian dimana kemudian mereka saling mempersoalkan sajak dan sama-sama menikmati bunga teratai yang indah di empang.
Hati Nilan Ybng-yo jadi tergoncang, ia coba mengamatamati pula si gadis ini, kalau melihat potongannya memang mirip Boh Wan-lian, tetapi paras mukanya ternyata berlainan, ketika ia merasa heran dan sangsi, tiba-tiba sepasang matabola si gadis itu mengerling ke jurusannya.
Mendadak Nilan Yong-yo ingat pada sepasang mata Boh Wan-lian yang bersinar jernih, hatinya tergerak.
Waktu ia menegasi lagi, ia merasa potongan tubuh si gadis ini memang begitu dikenalnya samar-samar memang persis lenggaklenggok Boh Wan-lian.
Tetapi wajah mukanya tetap berlainan, ia merasa aneh sekali, lantas ia membentak membubarkan serdadu yang berkerumun dan kemudian membawa 'ayah dan gadis' itu masuk ke dalam perkemahannya.
Sedikitpun Boh Wan-lian tidak menunjuk rasa takut, ia mengikuti Niian Yong-yo masuk ke dalam tenda di tengah markas tentara Boan.
Nilan Yong-yo seorang diri menempati sebuah tenda besar, walaupun di tengah perjalanan pasukan, namun pajangan dalam kemah masih tampak teratur dan rajin sekali.
Lalu ia menyuruh pelayannya menyingkir semua dan kemudian menyilakan Pho Jing-cu dan Boh Wan-lian duduk.
"Di gurun luas dan tempat terpencil ini, susah mencari kawan sepaham, hari ini bisa bertemu kalian, sungguh hal yang menggembirakan sekali,"
Demikian dengan tersenyum Nilan Yong-yo berkata.
"Tetapi syairku yang jelek dan cetek, tiada harganya dilagukan dan dinyanyikan, maka harap nona suka menyanyikan pula satu lagu lainnya saja."
"Mengapa Kongcu lebih dulu congkak dan menghormat di belakang?"
Kata Wan-lian dengan senyum manis.
Akan tetapi tak urung ia penuhi juga permintaan orang, ia mengangsurkan sulingnya pada Pho Jing-cu agar mengiringinya dan kemudian ia menggerakkan bibirnya yang mungil menyanyi pula.
Yang dinyanyikan kali ini adalah sebuah lagu yang disebut 'Kim-lio-kiok', lagu gubahan salah seorang sahabat Nilan Yongyo yang bernama Koh Liang-fun, di dalam lagu ini mengandung sebuah cerita yang menarik.
Pada permulaan Kaisar Khong-hi bertakhta, salah seorang sahabat Nilan Yong-yo yang lain, Go Han-cah terkena perkara dan dibuang ke Ling-koh-tah, suatu tempat terpencil di perbatasan timur-laut.
Koh Liang-fun adalah sahabatnya juga maka khusus ia menulis dua syair 'Kim-lio-kiok' dan mengirimkannya pada Nilan Yong-yo dengan harapan meminta pertolongannya.
Dan karena kedua syair yang penuh rasa suka-duka itu, maka Nilan Yong-yo sangat tertarik, lalu ia memintakan pengampunan pada ayahnya dan berhasil menolong Go Hancah kembali.
Lagu yang dinyanyikan Boh Wan-lian tadi adalah satu di antara dua syair itu.
Maka dengan sendirinya mengandung arti yang dalam sekali.
Nilan Yong-yo memang cerdik, tentu saja segera ia dapat menangkap maksud nyanyian itu.
"Apakah nona ada hubungan sanak-famili dengan yang ditangkap tanpa berdosa?"
Tanyanya.
"Sukakah Kongcu menolong?"
Wan-lian berbalik bertanya.
"Lihat dulu siapa orangnya?"
Ujar Yong-yo.
"Jika orang nya seperti Go Han-cah yang terkenal itu, dengan sendirinya aku suka menolongnya."
"Go Han-cah hanya kaum terpelajar yang tinggi hati, tetapi kawanku itu ialah seorang pendekar kosen di zaman ini,"
Sahut Wan-lian.
"Siapa dia?"
Tanya Nilan Yong-yo tertarik.
"Leng Bwe-hong yang pernah membikin Kaisar sekarang ini tak enak makan dan tak enak tidur!"
Dengan tertawa Boh Wan-lian menerangkan. Keruan saja Nilan Yong-yo terperanjat, ia coba menenangkan diri, ia mengawasi Boh Wan-lian dan Pho Jingcu lagi dengan mata tak berkedip.
"Apa Kongcu tak kenal lagi pada sahabat lama?"
Sapa Wanlian pula dengan tertawa.
Girang luar biasa bercampur terkejut, sungguh Yong-yo tak menyangka akan bertemu dengan Boh Wan-lian di sini, tanpa terasa ia menggenggam kencang kedua tangan anak dara itu.
"Ah, nona Wan-lian kiranya?"
Tanyanya cepat dengan suara terputus-putus tak percaya atas penglihatannya sendiri.
"Tetapi mengapa wajahmu telah berubah? Dan dia ini siapa?"
"Ia adalah tabib tersohor di zaman ini, Ph"
Jing-cu,"
Wanlian memperkenalkannya.
Segera Nilan Yong-yo melepaskan tangan Boh Wan-lian untuk kemudian menggenggam kencang tangan Pho Jing-cu, berulang ia mengutarakan rasa kagumnya pada orang tua ini.
Pho Jing-cu selain tinggi ilmu silat dan ilmu tabibnya, ia pun tersohor dengan seni lukis dan seni sastranya, kalau dihitung masih tergolong tingkatan lebih tua daripada Nilan Yong-yo.
"Sudah lama aku mengagumi Pho-losiansing, di dalam kerajaan aku pun pernah melihat gambar Cianpwe, tetapi maafkan aku bertanya, mengapa parasnya berlainan dengan gambar yang pernah kulihat itu?"
Tanya Nilan Yong-yo setelah agak lama mengamat-amati orang.
"Bagaimana di dalam kerajaan bisa terdapat gambar Phopepek?"
Sela Wan-lian heran.
"Malah juga terdapat gambarmu!"
Kata Yong-yo tertawa.
"Sesudah malam itu kalian membikin onar di Jing-liang-si, dengan segera Hongsiang telah memerintahkan pelukis melukiskan wajah kalian sebagai bahan untuk menangkap kalian, apakah kau masih belum mengetahui?"
"Ya, oleh karena sudah menduga akan hal itu, maka dengan sedikit kepandaianku, aku telah merubah wajah asli kami,"
Kata Pho Jing-cu tertawa. Nilan Yong-yo bertambah kagum pula mengetahui orang masih mempunyai kepintaran menyamar.
"Ilmu pertabiban Losiansing sungguh hebat sekali,"
Ia memuji.
"Kalau begitu, paras nona Boh tentu juga buatan Losiansing."
"Ya,"
Wan-lian membenarkan.
"Kalau ingin kembali ke wajah yang sebenarnya, cukup asal ada sepanci air dingin saja."
"Lebih baik tak usah saja,"
Ujar Yong-yo sambil menggoyang tangannya. Wan-lian bertanya pula tentang diri Leng Bwe-hong, ternyata Nilan Yong-yo sendiri belum mendapat kabar beritanya.
"Aku sendiripun tidak tahu,"
Kata Yong-yo.
"Biarlah nanti kalau aku bertemu dengan Hongsiang, aku akan menyelidiki untukmu."Tetapi aku pun hendak menasehatimu, harap jangan membikin ribut lebih jauh di Sinkiang lagi. Sama seperti kalian, aku pun jemu peperangan, aku sangat menyesalkan perampasan yang telah dilakukan tentara kerajaan, tapi rupanya sudah takdir, kecil tak bisa melawan yang besar, apa gunanya lagi berkorban dengan sia-sia?"
"Aku tidak setuju dengan pendapat Kongcu,"
Bantah Wanlian.
"Kongcu orang pandai dan banyak membaca tentu mengetahui peribahasa yang mengatakan bahwa 'lebih baik menjadi Giok yang retak daripada menjadi genteng yang utuh', tanpa sesuatu alasan pasukan kerajaan telah menjajah, kenapa rakyat penggembala di padang rumput tidak boleh bangkit melawannya?"
Nilan Yong-yo terdiam atas debatan orang, lama dan lama sekali baru ia buka suara pula.
"Sudahlah, hari ini kita hanya berbicara tentang persahabatan saja dan jangan mempersoalkan urusan negara, maukah?"
Dalam hati kecilnya ia menderita sekali oleh perasaan yang bertentangan itu.
Kalau ia menaruh rasa simpati kepada pihak Boh Wan-lian, maka di samping itu ia pun tidak boleh mengkhianati keluarga kerajaan.
Oleh karena itu, lebih baik ia menghindari dan tidak membicarakan soal politik.
Tengah mereka bicara, tiba-tiba terdengar di kejauhan di luar perkemahan itu ada suara bentakan yang meminta jalan.
"Celaka, Hongsiang telah datang!"
Kata Nilan Yong-yo dengan kuatir.
"Lalu, apakah kami harus menyingkir untuk sementara atau tidak?"
Tanya Jing-cu cepat.
"Tak usah, Hongsiang takkan mengenali kalian,"
Kata Yongyo akhirnya setelah memandang mereka lagi.
Kemudian layar tenda disingkap, maka masuklah Khong-hi pelahan dengan membawa beberapa pengawal.
Oleh karena terpaksa, Pho Jing-cu dan Boh Wan-lian harus ikut menjura juga seperti Nilan Yong-yo.
S .
Ketika mereka melirik, ternyata seorang di antara pengawal itu ialah Thio Sing-pin, wakil pemimpin pasukan pengawal 'Kim-wi-kun', yaitu orang yang dulu pernah mengepung Bukeh-ceng di Ngo-tai-san.
Khong-hi sendiripun merasa heran waktu mengetahui di dalam tenda itu terdapat pula dua orang asing.
"Karena terlalu iseng, maka aku telah mengundang seorang nona gembala buat menyanyikan lagu-lagu daerah mereka,"
Lekas Nilan Yong-yo melapor untuk menghindarkan kecurigaan Khong-hi.
Ketika Khong-hi menampak Boh Wan-lian berparas cantik manis, maka ia pun mempunyai dugaan sendiri, ia hanya tersenyum saja dan kemudian menuding Pho Jing-cu pula.
"Dan siapa yang ini?"
Tanyanya tiba-tiba.
"Ayah nona ini,"
Jawab Yong-yo.
"Ia biasa menjalankan pertabiban di padang rumput, banyak mengetahui penyakit aneh di daerah perbatasan ini."
"Kau memang selalu suka bergaul dengan orang-orang aneh dari kaum pengembara semacam ini,"
Ujar Khong-hi.
"Tetapi baiklah, jika kau suka, maka aku boleh mengizinkanmu menahan mereka tinggal di dalam pasukanmu."
Nilan Yong-yo menyatakan terima kasihnya atas perkenan itu.
"Kalau orang ini paham ilmu pertabiban, aku ingin menyuruhnya coba mengobati Sam-pwelik dan yang lain,"
Terdengar Khong-hi berkata pula.
"Mereka berdua telah terkena penyakit bisul beku hebat sekali. Hai, apakah kau bisa mengobati penyakit itu?"
"Itu hanya penyakit kecil yang biasa terjadi di padang rumput,"
Sahut Jing-cu.
"Cukup asal diobati semacam rumput yang tumbuh di sini, tak usah tiga hari pasti akan sembuh."
"Bagus, kalau begitu kau boleh lantas pergi mengobatinya!"
Kata Khong-hi. Lantas ia memerintahkan pula seorang pengawal mengiringi Pho Jing-cu pergi.
"Coba lihat, bukankah aku sangat baik hati padamu?"
Bisik Khong-hi di pinggir telinga Nilan Yong-yo.
Nyata dikiranya Nilan Yong-yo telah menyukai nona gembala ini, maka dengan sengaja ia menjauhkan ayahnya agar Yong-yo bisa berada sendirian dengan nona gembala itu.
Yong-yo mengerti maksud perkataan Sri Baginda itu, keruan mukanya merah jengah, tapi sedikitpun ia tak bisa berbuat apa-apa.
"Aku memimpin pasukan sendiri menyapu bersih negeri lawan dan mengeluruk sampai di tanah perbatasan ini, membuka daerah baru dan merintis perluasan negeri, kejayaan negara ter-mashur hingga jauh,"
Demikian Khong-hi mengoceh dengan bergelak tertawa.
"Kau banyak membaca kitab kuno, coba katakanlah, kepala negara yang pintar selama beberapa dinasti berturut-turut ini, dapatkah aku termasuk seorang di antaranya?"
"Baginda punya kekuatan begini besar, dibanding dengan Cin-si-ong, Han-bu-te, Tong-thay-cong dan Song-thay-co tentu tidak kalah,"
Ujar Yong-yo.
"Jika di antara kebesaran itu dapat ditambah pula dengan pemerintahan yang baik dan bermanfaat bagi rakyat, pasti akan lebih meninggalkan nama harum dalam sejarah."
"Ah, bagaimanapun memang pandangan Susing (kaum sekolahan) saja"
Kata Khong-hi bergelak tertawa pula.
"Kita masuk ke pedalaman belum ada tiga puiuh tahun, sudah seharusnya keras dulu dan halus belakangan, jika tidak mengunjukkan kewibawaan tentara kita, bagaimana bisa menduduki empat penjuru negeri asing?"
Setelah temberang sebentar, dari mula sampai akhir ternyata Khong-hi tidak menyinggung soal Leng Bwe-hong.
Di luar tenda angin malam sudah mulai menderu, di kejauhan suara Ohka (semacam alat tiup suku bangsa di daerah utara) memperdengarkan lagu-lagu yang memilukan, cuaca ternyata sudah magrib.
Dan sesudah Khong-hi minta beberapa syair gubahan baru dari Nilan Yong-yo, tak lama kemudian ia pun berlalu.
"Sukalah Hongsiang meninggalkan Thio Sing-pin di sini, hamba ingin minta pelajaran beberapa jurus ilmu silat dari dia,"
Pinta Nilan Yong-yo sebelum Khong-hi melangkah pergi.
Nilan Yong-yo memiliki kepandaian 'Bun-bu-cwan-cay', kepandaian baik silat maupun surat, kecuali bersekolah, soal menunggang kuda, memanah dan sebagainya ia pun bisa "Hari ini kau menjadi begitu iseng?"
Kata Khong-hi tertawa Dan sudah tentu ia memenuhi permintaan orang.
Setelah mana dengan iringan pengawal lainnya segera ia berlalu dari tenda Nilan Yong-yo.
Sebenarnya Yong-yo tidak bermaksud belajar silat sebagaimana dikatakannya tadi, yang benar ialah hendak mencari kabar Leng Bwe-hong.
ia mengetahui di antara Thio Sing-pin dan Coh Ciau-lam ada sedikit selisih paham, maka dengan sengaja ia minta Thio Sing-pin ditinggalkan.
"Sudah lebih 20 tahun kau berada dalam kerajaan bukan?"
Tanya Yong-yo pada Thio Sing-pin sesudah Khong-hi pergi.
"Ya, sudah 27-28 tahun,"
Sahut Thio Sing-pin.
"Belum ada tiga tahun Kaisar yang dulu naik takhta, hamba sudah ada di sana."
"Hingga kini kau masih tetap menjabat Huthongling (wakil komandan) dari Kim-wi-kun?"
Tanya Nilan Yong-yo pula.
"Ya, hamba menjabat Huthongling juga hampir sepuluh tahun,"
Jawab Thio Sing-pin.
"Coh Ciau-lam malahan cepat sekali naik pangkatnya,"
Ujar Yong-yo seperti tidak sengaja.
"Itu sudah seharusnya"
Kata Sing-pin.
"la mempunyai ilmu silat tinggi, berulang-ulang menberikan pahala pula, kami orang-orang lama tak bisa dibandingkan dia lagi."
Walaupun berkata demikian, tapi dari sikapnya tampak ada rasa penasaran.
"Betulkah begitu?"
Kata Nilan Yong-yo tersenyum.
"Mengapa ia tidak kelihatan paling belakangan ini?"
"Sesudah ia menjabat Thongling, banyak sekali saudara kita yang gugur,"
Kata Thio Sing-pin pula, ternyata menyimpang dari pertanyaan orang.
"Tetapi kalau yang seorang berhasil dan yang lain harus berkorban, itupun tidak menjadi soal."
"Coh Ciau-lam terlalu suka berebut jasa aku tidak suka padanya,"
Ujar Yong-yo.
"Sebenarnya, sebagai pemimpin orangnya harus sedikit berbudi. Dalam hal ini, nyata kau lebih unggul daripada dia."
Thio Sing-pin merasa senang dipuji, segera ia berlutut dan berkata.
"Untuk selanjurnya masih mengharap bantuan dari Kongcu."
Nilan Yong-yo segera membangunkannya.
"Belum lama berselang, dengan Seng Thian-ting ia bertugas pergi dengan belasan orang pengawal kelas satu,"
Tutur Thio Sing-pin kemudian.
"Tetapi kecuali mereka berdua, yang lain ternyata terbinasa semua dan hanya dapat menangkap seorang musuh saja"
"Ha! Kalau begitu musuh tentu sangat lihai sekali,"
Seru Nilan Yong-yo.
"Dan siapakah yang tertangkap itu?"
"Leng Bwe-hong, orang yang pernah membikin ribut di penjara istana dulu itu,"
Sahut Thio Sing-pin menerangkan.
Habis berkata, ia memandang sekejap pada Boh Wan lian.
Tetapi Wan-lian sengaja menundukkan kepala dan pura-pura bermain dengan menggulung-gulung sapu tangannya "Nona gembala ini takkan tahu urusanmu yang tetek bengek, tiada halangannya kau bercerita terus,"
Kata Yong-yo dengan tersenyum.
"Meski sudah rugi begitu banyak orang, namun Hongsiang masih memuji padanya,"
Demikian Thio Sing-pin melanjutkan.
"Mengapa aku tidak mendengar Hongsiang bercerita tentang hal ini, apakah Leng Bwe-hong itu sudah dibunuh?"
Tanya Yong-yo.
"Beberapa hari ini Hongsiang sedang repot menggerakkan tentaranya untuk menyerbu ke Mongol dan Tibet, baru hari ini ada sedikit tempo luang, mungkin melihat Kongcu ada tamu, maka tidak ia ceritakan,"
Ujar Thio Sing-pin.
"Sedang Leng Bwe-hong sudah dibunuh atau belum, hamba sendiripun tidak mengetahui. Kabarnya Hongsiang telah menyerahkan pada Coh Ciau-lam untuk diputuskannya sendiri, dan kabarnya pula Coh Ciau-lam masih sayang untuk membunuhnya"
"Aneh, apakah mereka memang sahabat baik?"
Tanya Nilan Yong-yo heran.
"Lebih dari itu. Malahan mereka masih terhitung Suhengte (kakak beradik seperguruan),"
Thio Sing-pin menjelaskan.
"Kabarnya oleh sebab itu juga, maka Coh Ciau-lam hendak memaksa agar Leng Bwe-hong menyerahkan kitab pelajaran ilmu silat peninggalan guru mereka"
"Mengapa Coh Ciau-lam tidak menggiringnya ke sini?"
Tanya N ilan Yongtyo pula.
"Hongsiang memerintahkannya pergi membantu Sampwelik,"
Thio Sing-pin menerangkan.
Tanya-jawab sampai di sini, kemudian Nilan Yong-yo bertanya lagi beberapa soal ilmu silat, lalu menyuruh Thio Sing-pin pergi.
Sesudah Thio Sing-pin berlalu, hari sudah gelap.
Tiba-tiba Hongsiang menyuruh orang mengantarkan 'Liong-yan-hiang' keluaran Tibet dan pakaian Kiongli (dayang wanita kerajaan).
Nampak barang-barang itu, Nilan Yong-yo menjadi jengah dan serba salah, dengan muka merah ia menghadapi Boh Wan-lian.
Dengan mengirim barang itu, terang kaisar Khong-hi menganggap Boh Wan-lian sebagai selir baru dari Nilan Yongyo.
'Liong-yan-hiang' konon adalah semacam dupa wangi yang terbuat dari sesuatu bagian tubuh binatang yang khasiatnya membikin kuat tubuh.
Jika Nilan Yong-yo merasa jengah, adalah Boh Wan-lian bersikap biasa saja, ia pura-pura tidak tahu maksud barang itu, sesudah pesuruh pergi, ia berkata dengan tersenyum manis.
"Sahabat lama bertemu kembali, sambil membakar dupa mengobrol di malam hari, termasuk juga suatu kesenangan hidup manusia."
Melihat Boh Wan-lian berkata tanpa ragu dan berterus terang. Nilan Yong-yo menyesalkan diri sendiri berpikir yang tidak-tidak dan menyeleweng.
"Bila nona tidak tidur, maka baiklah aku pun takkan tidur,"
Kata Yong-yo akhirnya dengan tersenyum. Dengan api lilin yang menyala terang sambil membakar dupa wangi dan menghadapi air teh, mereka bercakap di malam hari.
"Nona benar-benar memandang berat sekali tentang persahabatan hingga rela menghadapi bahaya besar untuk Leng Bwe-hong,"
Kata Nilan Yong-yo.
"Dan semua itu masih mengharapkan bantuan Kongcu,"
Sahut Wan-lian.
"Coh Ciau-lam diperintahkan membantu Sam-pwelik In Te, kalau begitu kini ia tentu berada di Tibet,"
Ujar Yong yo.
"Di bawahan In Te terdapat banyak sekali jagoan mungkin tidak gampang untuk menolongnya." 'Pwelik* berarti Pangeran dalam bahasa Boan, Sam-pwe-lik artinya Pangeran ketiga "Asal sudah berusaha sekuat tenaga, berhasil atau tidak, itulah terserah takdir,"
Ujar Wan-lian.
"Sayang aku tidak bisa membantu kalian,"
Kata Yong-yo kemudian.
"Kau telah membantu dan berhasil mendapat kabarnya, kami sudah sangat berterima kasih,"
Sahut si gadis.
Habis itu, lalu pembicaraan mereka beralih ke soal syair dan sastra.
Asyik dan cocok sekali pandangan mereka dalam hal itu.
Di luar kemah angin malam menderu, sebaliknya di dalam kemah suasana hangat seperti di musim semi.
Setelah mendengarkan Boh Wan-lian menceritakan nasib keluarganya dan pengalaman hidupnya, Nilan Yong-yo merasa terharu dan ikut menyesal, tidak terkecuali pula merasa kagum.
"Tatkala itu, ayahmu meninggal dan ibu berpisah meski masih hidup, ketinggalan kau yang piatu mengembara ke seluruh pelosok, sungguh sulit juga keadaanmu,"
Katanya kemudian menghela napas.
"Ya, tapi kalau sudah biasa lantas tidak terasa,"
Ujar Wanlian.
"Sebenarnya aku pun tidak merasa kesunyian, aku punya Pho-pepek dan banyak pula kawan baik lain yang selalu berada bersamaku."
"Sebab itu juga, aku bilang kau lebih beruntung daripadaku,"
Kata Nilan Yong-yo.
Lalu ia pun terkenang pada mendiang isterinya yang tercinta itu, ia memandang gadis jelita yang berada di depannya, tak urung hatinya tergoncang juga.
Tiba-tiba ia jadi teringat pada 'kawan baik' yang disebut Boh Wan-lian tadi, tentunya termasuk juga 'anak tolol' itu.
Tak tertahan lantas ia bertanya.
"Itu itu,ah, aku lupa namanya, apa tidak datang ke sini bersamamu?"
"Ia bernama Kui Tiong-bing,"
Dengan tersenyum manis Boh Wan-lian menerangkan.
"Ia terlalu bodoh, aku kuatir, maka tidak menyuruh dia ikut."
Namun terasa sekali pada lagu suara si gadis itu penuh mengandung rasa kasih sayang yang tak terbatas, seketika Nilan Yong-yo merasa dirinya seperti disiram air dingin.
"Kalau Kui-heng tahu perhatianmu kepadanya, entah betapa ia akan berterima kasih padamu,"
Katanya kemudian dengan tertawa paksa.
"Kalau dua hati sudah menjadi satu, sudah tiada soal terima kasih lagi,"
Sahut Wan-lian.
"Betul, sungguh bodoh aku ini,"
Kata Nilan Yong-yo pula dengan tertawa sambil mengetok jidat sendiri.
"Perkataanku itu sama seperti tulisan jelek di dalam syair yang tak dapat mengutarakan perasaan sejati."
"Bertambah seorang yang dapat memahami isi hati masingmasing lantas banyak berkurang rasa kesunyian, maka baiknya kau lekas menyambung jodohmu lagi,"
Tiba-tiba Boh Wan-lian menasihati.
"Sudah terlalu banyak mengalami pahit getir, mungkin susah bagi hati tergerak pula,"
Ujar Nilan Yong-yo.
"Meskipun aku belum menikah, tetapi menurut pendapatku di antara suami-isteri, yang diharap apabila bisa cocok, itu sudah merupakan perjodohan bahagia"
Kata Wan-lian pula dengan tertawa.
"Maka jangan terlalu mengharapkan harus segalanya cocok. Misalnya aku dan Kui Tiong-bing, kami sama-sama putera-puteri dari kalangan Kangouw, aku suka pada ketulusan dan kejujurannya walaupun ia tidak paham tentang syair atau sajak, aku pun tidak menyesal. Dengan kedudukan dirimu, kau bisa leluasa mencari gadis yang berwatak halus dan berbudi, mengapa harus terlalu pilih-pilih."
"Terima kasih atas perhatian nona"
Kata Nilan Yong-yo mengangguk-angguk dengan kikuk.
Hari makin jauh malam dan pembicaraan mereka pun makin asyik.
Nilan Yong-yo merasakan bau dupa yang harum meresap memabukkan, membikin pikirannya melayang jauh.
"Tahun yang lalu kita bersama-sama menikmati keindahan bunga teratai di kota-raja,"
Katanya tiba-tiba.
"Habis itu senantiasa aku merasa bau harum itu tidak bisa dinikmati lagi selama hidup ini. Siapa kira masih ada pula pertemuan malam ini."
Boh Wan-lian cukup ceTdik, ia mengerti kemana arah perkataan orang hendak menuju, biji matanya berputar lantas ia menyimpangkan pokok pembicaraan orang.
"Kongcu adalah pujangga di zaman ini, aku beruntung bisa bicara lama dengan Kongcu, kalau tidak minta pelajaran sajak, apakah tidak sia-sia pertemuan malam ini?"
Katanya kemudian. Nilan Yong-yo sangat gembira mendengar orang berbicara mengenai sajak.
"Nona sendiri cerdik pintar, gubahan sajakmu tentu bagus sekali,"
Katanya sambil bertepuk tangan.
"Uraikanlah biar aku yang menulis,"
Kata Yong-yo pula sambi!
mengambil pit dan menyediakan kertas.
Tanpa ragu Boh Wan-lian pun mulailah bersajak, ia mengutarakan semua isi hatinya dalam sajaknya itu.
Sembari menulis, dalam hati Nilan Yong-yo pim berdebar.
"Sajak ini ternyata sengaja kautujukan padaku?"
Tanyanya dengan tersenyum getir sehabis sajak itu selesai ditulisnya. Boh Wan-lian mani anggut tanda tidak bersalah.
"Terima kasih atas kebaikanmu!"
Kata Yong-yo dengan suara rendah, lalu ia menggulung kertas yang berisikan syair itu.
Dengan syairnya itu, ternyata Boh Wan-lian telah mengutarakan seluruh rasa persahabatannya, tetapi di samping itupun mengandung arti yang dalam dan luas sekali.
Pertama-tama ia mengutarakan perasaannya yang membenci peperangan, tetapi karena persoalan mengenai tanah air, tak dapat tidak harus memanggul kewajiban sebagai putera-puteri ibu pertiwi untuk melawan musuh, dalam bagian tengah ia menyesalkan persahabatan mereka terpaksa hasus diikat di antara dua orang yang berkedudukan lain dan berada dalam pihak yang berlawanan, untuk bisa merapatkan persahabatan tanpa terhalang, terkecuali kalau pasukan Boan ditarik kembali ke tanah asalnya.
Tetapi kini hal itu sudah tentu tidak mungkin lagi.
Betapapun memang peperanganlah yang menjadi rintangan, sungguh merupakan penyesalan terbesar bagi kehidupan manusia Akan tetapi soal penyesalan ini, ada berapa gelintir manusia yang bisa merasakan?
Dan di bagian akhir, seakan ia telah langsung menjawab perkataan Nilan Yong-yo tadi.
Tadi Nilan Yong-yo mengutarakan kenangannya pada waktu mereka menikmati pemandangan di kota-raja.
Kini Wan-lian menjawabnya bahwa impian itu susah disambung lagi, lihatlah apa yang terjadi di depan mata sekarang ini, tentara Boan menjelajah sampai di padang rumput darah yang membeku di atas rumput dan pasir saja belum lenyap.
Dengan adanya pertempuran ini, impian muluk itu bagaimana bisa dilanjutkan pula?
Persahabatan kita ini hendaklah kau anggap sudah 'berlalu terbawa angin'.
Sedang mengenai diriku, aku masih tidak begitu lemah sebagaimana kaubayangkan.
Malahan mengenai dirimu, sebaliknya kuharap kau menjaga diri baik-baik, kau hidup di keluarga kerajaan yang biasa hidup terpencil, mungkin tak tahan oleh angin dingin di sini.
Aku mengharap kau dapat memegang teguh bahtera hidupmu, seperti perahu yang laju di samudra raya, walaupun tiada orang membantumu, namun kau dapat memegang kencang kemudinya.
Arti syair itu penuh rasa persahabatan yang tulus bersih, jauh di atas hubungan persahabatan yang biasa.
Tak tertahan kedua mata Nilan Yong-yo basah berkaca, tetapi dalam hatinya menjadi terang, ia merasa telah menodai perasaan Boh Wan-lian yang agung.
"Subuh sudah hampir tiba, aku antar kau berangkat saja!"
Kata Yong-yo akhirnya pelahan, ia menggenggam kencang kedua tangan Wan-lian di antara sinar lilin yang kebat-kebit tertiup angin.
"Sudah dekat pagi, kau juga harus mengaso,"
Begitulah dikatakan Han Ci-pang terhadap Kui Tiong-bing pada saat itu juga.
Kalau Boh Wan-lian bercakap sepanjang malam dengan Nilan Yong-yo, maka di lain pihak Kui Tiong-bing juga tidak tidur semalam suntuk.
Dalam beberapa hari ini, karena pesan terakhir Sin Liongcu, Han Ci-pang dan Kui Tiong-bing saling belajar menurut turunan kitab '108 jurus ilmu pukulan ajaran Tat-mo' yang diterima dari Sin Liong-cu itu.
Kui Tiong-bing sudah punya dasar yang kuat terhadap ilmu silat itu ia pun cepat memahami jauh melebihi orang biasa.
Maka tiada berapa hari ia sudah melampaui Han Ci-pang malah.
Malam itu, ia melatih tiap gerak tipu dari ilmu silat Tat-mo yang hebat itu, ia pelajari berulang-ulang, pelahan ia sudah dapat mempersatukan ilmu silat itu sesuai kehendak hatinya, Han Ci-pang menasihati agar pemuda itu pergi tidur, tetapi Tiong-bing tidak menurut, sebentar-sebentar ia duduk termenung, di lain saat ia melompat bangun lagi sambil kaki bergerak-gerak dan tangan menari-nari, seperti orang gendeng yang kesetanan.
Meskipun Ci-pang tidak begitu tinggi ilmu silatnya, tetap ia pun tahu bahwa latihan Tiong-bing telah sampai tingkat yang penting dan sedang memperdalam untuk memperoleh rahasia intisari ilmu silat Tat-mo itu.
Maka ia tak berani mengganggunya lagi, dengan tercengang ia menyaksikan di samping.
Pelahan Han Ci-pang tak tahan juga oleh hawa dingin yang menusuk di padang rumput itu, tiba-tiba suara ayam jago berkokok terdengar pula di kejauhan, fajar telah menyingsing.
Waktu Ci-pang memandang Kui Tiong-bing lagi, terlihat pemuda ini sedang berduduk lagi dengan sikap seperti Hwesio tua yang lagi bersemadi, sedikitpun tidak bergerak.
Han Ci-pang hendak memanggilnya, sekonyong-konyong terdengar Kui Tiong-bing berteriak keras.
"Ya, ya, sudah dapat sudah dapat!"
Setelah itu mendadak orangnya melompat bangun dan melolos pedang Theng-kau-pokiam, dengan menurut ajaran Tat-mo-kiam-hoat, segera pemuda itu bergerak cepat beterbangan hingga hanya tertampak sinar perak berkilauan membungkus tubuhnya.
Meskipun Han Ci-pang paham juga ilmu silat Tat-mo itu, tetapi pandangannya kabur juga karena sinar pedang yang gemerlapan itu.
Di kala Kui Tiong-bing memutar pedangnya hingga begitu cepat, kemudian mendadak merandek, lalu lambat lagi, kelihatan menusuk ke barat dan ke timur, seperti tidak bertenaga dan tidak sungguh-sungguh, tetapi buat kaum ahli, justru gerakan itu sudah sampai pada puncak ilmu kepandaian yang bisa mempersatukan pedang dengan kehendak hatinya, ia bisa bergerak semaunya menurut keinginannya Han Ci-pang menjadi kagum sekali nampak kemajuan pemuda itu.
"Soal ilmu silat, memang harus ada jodoh,"
Demikian ia menghela napas tak tahan. Dan belum lenyap suara perkataannya, mendadak terdengar ada orang menyambung dan memuji.
"Kiam-hoat bagus!"
Karena suara orang itu, cepat Tiong-bing memutar tubuh dan mendadak menarik pedang dan menghentikan permainannya.
"Lan-cu, pagi sekali kau!"
Sapanya segera. Lan-cu mengangguk dengan tersenyum. Tiba-tiba ia pun mencabut pedangnya "Kui-toako, marilah kita coba berlatih,"
Ajaknya tiba-tiba.
Tentu saja Kui Tiong-bing tercengang dan ragu, teringat olehnya dulu pernah saling gebrak dengan Ie Lan-cu pada waktu mereka bertemu untuk pertama kalinya di taman Perdana Menteri Nilan, kala mana ia agak unggul, kini setelah ia mendapatkan pula sari pelajaran Tat-mo-kiam-hoat, ilmu silatnya entah bertambah berapa kali lipat daripada dahulu.
Tetapi justru karena ia baru saja dapat menyelami intisari ilmu silat yang hebat itu, ia kuatir dirinya masih belum dapat menguasai seluruhnya, lagipu-la Tat-mo-kiam-hoat sangat ganas, jika seketika keliru tangan hingga melukai Lan-cu, hal ini tentu sangat tidak mengenakkan.
Oleh karena itu ia ragu dan tak lantas menjawab ajakan orang.
Di pihak lain Ie Lan-cu seperti telah mengetahui apa yang kawannya pikirkan, ia menggerakkan pedangnya dan lantas berkata pula.
"Tiada halangannya kau bergebrak dulu dengan Ngo-kim-kiam-hoat, nanti jika kau merasa aku sudah lebih maju daripada dahulu, barulah kau keluarkan rahasia ilmu silat dari dunia persilatan yang baru kaupelajari itu!"
Karena tak mungkin menolak lagi, terpaksa Tiong-bing menuruti ajakan orang. Selagi ia mengucapkan.
"Silakan menyerang!"
Tiba-tiba.
Ie Lan-cu sudah mendahului dengan sebuah serangan menuju ke dadanya.
Lekas Tiong-bing menangkis ke samping dengan pedangnya, dalam pada itu beruntun Lan-cu sudah menyusulkan pula tiga kali tusukan, Tiong-bing menarik pedangnya untuk menjaga diri sambil dalam hati merasa heran akan kecepatan dan kehebatan rangsekan kawannya itu.
Setelah saling gebrak hampir lima puluh jurus, Kui Tiongbing ternyata harus menahan dengan berat sekali, ia merasa seperti lebih berat daripada berhadapan dengan Coh Ciau-lam.
Segera ia pura-pura memberi sebuah serangan, setelah itu cara bersilatnya ia ubah, ia memainkan Tat-mo-kiam-hoat yang baru saja berhasil dipahaminya dalam sekejap saja serangannya yang aneh membanjir dengan perubahan yang tiada batasnya tak terputus-putus.
"Bagus!"
Seru Ie Lan-cu.
Pedang pendeknya berkelebat pula dengan hati-hati ia melayani kawannya yang sangat lihai ini, ia menerobos kian-kemari di antara sinar pedang lawan.
Makin lama pertempuran kedua orang makin cepat.
Pada saat sudah cepat, pedang Kui Tiong-bing dapat digerakkan sesuka hatinya, tiap gerakannya terasa angin menyambar dan sinar pedang berkelebat.
Namun le Lan-cu pun tidak kalah tangkasnya ia dapat berputar menurut gaya serangan lawan, bagaimanapun lihai dan aneh gerak serangan Tiong-bing, selalu ia dapat menghindarkan diri tepat pada waktu dan tempatnya.
Dengan cepat dan tak terasa, permainan Tat-mo-kiam-hoat Kui Tiong-bing sudah hampir selesai dimainkan, tetapi keadaan masih sama kuatnya.
Sementara itu tiba-tiba Ie Lan-cu membentak nyaring, pedangnya mengayun cepat, ia ganti merangsek dengan kencang, tubuhnya dengan gesit berlompatan dan pedangnya mendesak terus tak pernah kendor.
Tiong-bing terkejut sekali, tak pernah ia menyangka Ie Lancu bisa maju begitu cepat ilmu pedangnya hatinya tergerak segera ia keluarkan seluruh intisari pelajaran Tat-mo yang dipahaminya semalam, ia tidak mengurutkan cara Tat-mokiam-hoat yang ia mainkan tadi, tapi ia pisahkan sekehendak hatinya ditambah pula gerak serangan yang paling lihai dari Ngo-kim-kiam-hoat, ia telah menciptakan satu cabang Kiamhoat tersendiri yang tiada bandingannya, menyerang sambil bertahan, ia dapat membendung rangsekan Ie Lan-cu yang bertubi-tubi.
Karena itu, keadaan tetap setengah kati delapan tail alias sama kuat.
Satu pedang panjang dan yang lain pedang pendek, bagaikan dua naga yang beterbangan bertarung di udara dengan hebatnya.
Han Ci-pang yang menyaksikan di samping hanya nampak beribu titik perak yang berhamburan dari kedua pedang yang menari-nari itu dan sama pula beribu daun bunga rontok menyebar dari udara menghambur ke tubuhnya, tak bisa lagi ia membedakan siapa Kui Tiong-bing atau Ie Lan-cu.
Karena serunya pertempuran itu, timbunan salju di atas rumput saja tergetar hingga terbang bertebaran, hingga Han Ci-pang sendiri ternganga terpesona oleh pertarungan yang hebat itu.
Saking kagumnya ia berteriak.
"Bagus!"
Tetapi sesaat kemudian segera terdengar suara "trang, trang"
Dua kali, tanda beradunya senjata dibarengi dengan letikan api, tibatiba dua sinar putih dengan cepat menyambar dari depannya, waktu Han Ci-pang mengkeretkan tubuh dan menegasi lagi, tapi keadaan sudah kembali sepi seperti bermula.
Kui Tiongbing dan Ie Lan-cu masing-masing dengan pedang masih terhunus sudah berdiri di depannya.
"Maafkan kami, saking asyiknya kami bergebrak, sampai mengejutkan Han-sioksiok,"
Kata kedua muda-mudi itu dengan tertawa.
Cara bagaimanakah ilmu pedang Ie Lan-cu bisa mendadak bertambah begitu hebat dan aneh?
Hal ini memang bukan tiada sebabnya.
Kiranya pada waktu Kui Tiong-bing asyik mempelajari Tatmo-kiam-hoat, gadis itupun sedang melatih dan mempelajari intisari Thian-san-kiam-hoat dengan giat.
Pada waktu Leng Bwe-hong hendak berpisah dengannya tempo hari, ia menyerahkan kitab pelajaran dari Hui-bing Siansu untuk disimpan baik-baik oleh Ie Lan-cu.
Karena merasa dirinya masih belum mencapai taraf masak betul, maka sebenarnya Lan-cu berpikir bila Leng Bwe-hong sudah kembali dan ada tempo luang, ia akan minta pelajaran intisari Thian-san-kiam-hoat itu, tak terduga Leng Bwe hong telah mengalami nasib malang tertawan musuh di tepi sungai es.
Diam-diam Ie Lan-cu berjanji pada diri sendiri akan menolong Leng Bwe-hong, maka dengan segala keuletan serta kecerdasannya, dengan susah payah ia meyakinkan ilmu pedangnya, dalam belasan hari paling belakang ini, Thio Huaciau saja tidak ditetnuinya.
Dan karena kemauannya yang sungguh-sungguh itu, setelah lewat beberapa malam tanpa tidur nyenyak, ternyata intisari Thian-san-kiam-hoat sudah dapat dipahaminya walaupun dengan meraba-raba sendiri, nyata ia telah menjadi lebih pintar tanpa guru, ditambah pula Kiam-hoat tunggal ajaran Pek-hoat Mo-li, ia kombinasikan menjadi satu, kemudian ia pun terang segalanya, semua persoalan sulit dari ilmu silat yang dulu tak dipahaminya, kini telah dapat dipecahkannya.
Dalam kitab pelajaran ilmu pedang dan ilmu pukulan peninggalan Hui-bing Siansu itu, Leng Bwe-hong telah menambahkan lagi sekumpulan buah pendapatnya yang khusus mempersoalkan cara melayani Tat-mo-kiam-hoat.
Oleh karena itu, dalam pertandingan Ie Lan-cu dengan Kui Tiongbing ini, bukan saja sedikitpun ia tidak merasa kewalahan malahan dalam soal Kiam-hoat ia berada di atas angin.
Hanya kalau soal kekuatan, keuletan, Lan-cu memang masih agak kalah setingkat daripada Tiong-bing.
Oleh sebab itu, pertandingan tadi diakhiri dengan sama kuat dan setanding saja.
Sehabis pertandingan itu, rasanya Kui Tiong-bing agak masgul, ia merasa dirinya yang susah payah mempelajari ilmu dan sudah dapat memahami seluruh Tat-mo-kiam-hoat tak tahunya masih tetap begini saja, tak sanggup melebihi orang lain.
Tak ia duga, habis itu Ie Lan-cu lantas memuji padanya.
Katanya.
"Kui-toako, kini kau sudah boleh menjadi bapak dari suatu cabang silat."
"Lan-cu, mengapa kau malah mengolok-olokku,"
Ujar Kui Tiong-bing dengan kecewa.
"Tidak, bukan maksudku mengolok-olokmu, tapi aku bersungguh-sungguh,"
Kata Lan-cu.
"Walaupun usiaku masih muda dan pengalamanku masih cetek, tetapi sejak kecil aku sudah mengikuti Leng-sioksiok, maka terhadap Kiam-hoat dari berbagai cabang aku cukup kenal. Kini tampaknya, yang bisa menandingi Thian-san-kiam-hoat kelak hanya Kiam-hoat yang kauciptakan tadi. Terus terang saja, dalam beberapa hari ini, terhadap ilrnu pedang cabang sendiri, aku juga telah mempelajarinya secara mendalam dan aku yakin diriku sendiri sudah jauh lebih maju, tak terduga begitu bertanding denganmu, tetap masih belum bisa memperoleh, keunggulan."
Setelah mendapat penjelasan itu, baru Kui Tiong-bing dari masgul menjadi girang.
"Kalau enci Wan-lian dapat menyaksikan pertandingan kita tadi, tentu ia akan senang sekali,"
Katanya kelepasan mulut saking girangnya.
"Ya, tentu, kalau ia tahu kemajuan yang telah kaucapai, tentu ia akan memujimu,"
Segera Lan-cu menggoda dengan tertawa. Wajah Kui Tiong-bing menjadi merah kemalu-maluan. Sementara itu, dari jauh terdengar suara Thio Hua-ciau sedang memanggil.
"Lan-cu, Lan-cu!"
"Kini bolehlah aku menemuinya"
Kata Lan-cu tersenyum. Dan kemudian ia membalik tubuh mendekati kekasihnya itu.
"Han-sioksiok, harap kau jangan menertawai aku,"
Demikian kemudian dengan tertawa ketolol-tololan Tiong-bing berkata pada Han Ci-pang.
"Aku senantiasa merasa tidak sembabat menimpali enci Wan-lian, oleh karena itu dalam soal Kiam-hoat aku selalu berlatih lebih giat."
Mengetahui dua-sejoli muda-mudi itu begitu cinta-mencintai, tak tertahan Ci-pang sendiri merasa getir.
Han Ci-pang sudah belasan tahun mencintai Lauw Yu-hong, belakangan setelah mengetahui bahwa hati Lauw Yu-hong sudah terisi orang lain, kehancuran hatinya itu pelahan baru tenang dan sembuh kembali setelah lewat agak lama.
Ia menjunjung dan menghormati Leng Bwe-hong, malahan diam-diam dalam hatinya ia berdoa bagi Leng Bwe-hong dan Lauw Yu-hong berdua.
Ini bukan berarti ia tidak mencintai Lauw Yu-hong lagi, malahan rasa cintanya jauh lebih mendalam daripada dulu, hanya cintanya kini sudah bukan cinta yang bersifat 'monopoli', melainkan cinta yang mengharapkan kebahagiaan bagi orang yang dicintainya itu.
Maka setelah ia meninggalkan Kui Tiong-bing, dengan perasaan seperti kehilangan ia pergi mengetok pintu kamar Lauw Yu-hong.
"Bagaimana? Apakah sudah ada kabar Leng Bwe-hong?"
Tanya Yu-hong dengan suara terputus-putus setelah membuka pintu.
Dalam beberapa hari ini, Lauw Yu-hong memang mengurung diri dalam kamar, semua orang tahu betapa sedih penderitaan batinnya tapi tiada seorangpun yang dapat menghiburnya.
Kini demi nampak wajannya yang putih pucat itu dengan terharu tanpa berkata Han Ci-pang mengulurkan tangannya.
"Kalau menghitung hari perjalanan Pho Jing-cu dan yang lain selekasnya sudah bisa kembali "
Kata Yu-hong pula dengan suara rendah.
"Lauw-toaci, aku tidak pandai bicara,'' ujar Ci-pang.
"Tetapi begitu aku memperoleh kabar Leng-tayhiap, aku bersumpah, pasti aku akan membawanya kembali ke sampingmu."
Lauw Yu-hong mengulurkan tangannya dan membiarkan dipegang orang.
"Ci-pang, kau selamanya adalah sahabat dalam penderitaan,"
Katanya kemudian.
Dan pada saat yang sama itulah, Leng Bwe-hong juga sedang mengenang Lauw Yu-hong, ia dapat berkenalan juga dengan kawan-kawan bara dalam penderitaan.
Waktu itu ia dikurung di dalam istana Potala di Lhasa, ibukota Tibet.
Istana Potala sebenarnya adalah tempat kedudukan tertinggi Dalai Lamma, tetapi kini sudah berubah menjadi markas besar tentara penjajahan In Te.
Pangeran In Te menjalankan politik licin menurut perintah Khong-hi dengan baik, kecuali mengangkat Dalai yang baru, semua Lamma yang lain Tetap tinggal di tempat semula.
Tetapi dalam pada itu, jago-jago kerajaan Boan juga sudah penuh mengisi istana itu.
Jalan-jalan dalam istana Potala memang dibikin melingkarlingkar dan ruwet, setelah In Te datang, ia memerintahkan menambahi pula banyak pintu dan merubah di sana-sini hingga menambah keruwetan keadaan dalam istana itu.
Di antara pintu-pintu dan jalan keluar dalam istana semua terjaga oleh jago-jago terpilih dari pasukan Boan.
Dan Leng Bwe-hong dikurung dalam sebuah kamar rahasia di tengah istana yang hebat itu.
Di situlah Leng Bwe-hong mengalami pembahan jiwa yang hebat, sebuah kejadian aneh yang susah dipercaya orang telah terjadi.
Walaupun jari jempolnya telah terkurung dan mukanya penuh codet bekas luka pula, tetapi justru manusia yang berwajah jelek demikian inilah, seluruh badannya penuh daya tarik.
Pengawal yang menjaganya semua telah tertarik oleh daya penariknya yang aneh itu.
Cerita kepahlawanan Leng Bwe-hong memang seperti dongeng, sudah lama telah berkesan dalam pikiran para jago pengawal itu.
Kini Leng Bwe-hong ternyata tinggal bersama di antara mereka tiap hari, sudah tentu hal ini sangat menggemparkan mereka.
Semula mereka mendekati Leng Bwe-hong dengan perasaan heran saja, tetapi lama-lama tanpa terasa mereka telah 'terpelet' oleh jiwa kepahlawanan dan gerak-gerik kejantanannya.
Lebih-lebih pengawal yang muda rasa hormat mereka pada Leng Bwe-hong sungguh timbul dari lubuk hati mereka yang murni.
Di antara pengawal-pengawal muda itu, terdapat dua orang yang paling dekat dengan Leng Bwe-hong, seorang bernama Ciu Jing, dan yang lain bernama Be Hong.
Ciu Jing adalah jago pengawal atau bayangkara keturunan.
Kakeknya sudah mengabdi sebagai pengawal pada permulaan Kaisar Sun-ti masuk pedalaman, yakni di bawah Liap-cing-ong atau 'mangkubumi' Torkun, belakangan atas perintah atasannya ini ia melakukan sebuah tugas rahasia dan sehabis tugas itu terlaksana Liap-cing-ong telah membunuhnya dengan racun untuk melenyapkan saksi.
Sedang Be Hong adalah bangsa Hwe yang tadinya bergelandangan di Kangouw tiada tempat tinggal yang tetap, belakangan ia ditemukan oleh Sian Hun-ting, ketua gerombolan Tiat-sian-pang di daerah Sinkiang, dan lalu dipindahkan ke bawahan Coh Ciau-lam.
Leng Bwe-hong telah berhasil memperoleh keterangan tentang kematian kakek Ciu Jing dari pengawal lainnya juga ia dapat menyelidiki asal-usul Be Hong.
Maka tak lama kemudian, ia sudah dapat bersahabat karib sekali dengan mereka.
Pada suatu malam Ciu Jing dinas jaga, Leng Bwe hong bercerita padanya kisah tentang tindak-tanduk golongan Kangouw-Hohan atau orang-orang gagah dari pengembaraan, Ciu Jing tertarik sekali oleh cerita yang masih segar baginya itu.
Seperti sengaja atau tidak sengaja kemudian Leng Bwehong telah menyinggung kakek Ciu Jing, tiba-tiba ia berkata.
"Dalam dunia persilatan, yang diutamakan ialah kejujuran dan kesetiaan, berani berkorban untuk kawan tetapi pasti tidak saling bunuh di antara orang sendiri. Sebaliknya banting tulang untuk si tua bangka Hongte (Kaisar) walaupun berpangkat besar dan hidup jaya tapi harus juga kebat-kebit tiap hari, sudah takut dianiaya Hongte, takut pula diselomoti kawan sendiri. Laki-laki yang berdarah jantan tentu takkan terus melakukannya. Seperti halnya Engkongmu yang begitu gagah, akhirnya tidak terluput juga dari mati penasaran."
Mengenai Engkong atau kakeknya itu, samar-samar memang Ciu Jing juga sudah pernah mendengar, kini didengarnya pula langsung dari mulut Leng Bwe-hong, keruan ia berjingkrak.
"Darimana kau tahu? Dapatkah ceritamu ini dipercaya?"
Tanyanya cepat. Lalu Leng Bwe-hong bercerita pula terus terang. Maka tak ragu-ragu lagi Ciu Jing.
"Ya, peristiwa mengenai Engkongku ini aku pun pernah mendengar desas-desusnya, cuma sejak kecil aku sudah calon jago pengawal, selamanya setia kepada Hongsiang, adalah kewajiban yang sudah ditakdirkan bagi kaum 'hamba', tapi setelah kedatanganmu di sini, aku menjadi banyak bertambah pengalaman, ternyata di kalangan Kangouw terdapat hubungan antara manusia dan manusia secara begitu adil dan akrab,"
Demikian kata Ciu Jing pula.
Habis ini dengan semangat menyala-nyala segera ia hendak membantu Leng Bwe-hong melarikan diri.
Tapi Bwe-hong bisa mencegahnya agar bersabar dahulu menantikan saat baik.
Pada suatu malam pula, yang dinas jaga adalah Be Hong.
Kepadanya Leng Bwe-hong bercerita tentang penderitaan bangsa Hwe atau Hwe-hwe, suku bangsa Muslim di Tiongkok dan menceritakan juga kelakuan Sian Hun-ting dan Hek Huihong yang tak bisa diampuni orang Kangouw.
Karena itu wajah Be Hong menjadi merah, ia malu dirinya telah tersesat, cepat ia menjadi sadar dan sejak itu ia pun menjadi orang kepercayaan Leng Bwe-hong dalam tawanan.
Sementara itu sesudah Coh Ciau-lam mengurung Leng Bwe-hong di dalam kamar rahasia di dalam istana Petala ini, se-ringkali ia datang memaksa Bwe-hong agar menyerahkan Kun-keng dan Kiam-hoat (rahasia ilmu pukulan dan ilmu pedang).
Kemudian ketika diketahuinya benar-benar kitab yang dikehendakinya itu memang tiada pada Leng Bwe-hong, Ciau-lam lantas main paksa agar Bwe-hong mengulangi menulis kitab itu.
Akan tetapi lidah Bwe-hong terlalu lihai, setiap kali Coh Ciau-lam datang selalu didampratnya habis-habisan.
Pula Leng Bwe-hong tidak mendamprat secara ngawur, tapi ia mengupas kebusukan orang satu per satu, dari mulai Ciau-lam mendurhakai perguruan dan mempedayai Suheng, diam-diam membunuh kawan sendiri dan lain-lain perbuatan kotor, semuanya dicuci bersih tanpa ketinggalan sedikitpun.
Tentu saja kesemuanya itu membikin hati jago pengawal yang menjaga tergoncang.
Tentu saja Coh Ciau-lam luar biasa gusar dan dongkol pula, ia ingin memaksa orang menuliskan kitab pelajaran ilmu silat, tapi takut dicaci maki pula.
Sampai akhirnya sudah terang sulit harapannya terkabul, pelahan timbul napsu membunuhnya.
Syukur pada saat Coh Ciau-lam timbul napsu membunuhnya itu, ada sepasukan kecil orang melintasi padang rumput dan masuk ke Tibet dan bisa menyelundup ke dalam kota Lhasa untuk menantikan waktu yang baik buat menolong Leng Bwe-hong.
Kiranya pada hari ketujuh sehabis Kui Tiong-bing bertanding pedang melawan Ie Lan-cu, Boh Wan-lian dan Pho Jing-cu yang pergi mencari Nilan Yong-yo itu telah kembali dengan membawa berita keadaan Leng Bwe-hong, tentu saja semua orang tergirang mendengar pendekar besar itu masih hidup baik-baik.
Cuma bila mendengar Leng Bwe-hong dikurung di dalam istana Potala dan sekitarnya dijaga rapat oleh pasukan In Te yang tak terhitung banyaknya, lalu semua orang pun berkuatir pula.
Mereka kuatir akan lebih sulit daripada mengobrak-abrik penjara kerajaan dahulu itu.
"Tapi betapapun sulitnya, kita akan pergi menolongnya juga,"
Kata Ie Lan-cu kemudian.
"Ya, sudah tentu,"
Sahut Fuad, kepala suku bangsa Kazak yang masih muda.
"Leng-tayhiap adalah tuan penolong bangsaku, untuk dia, ke lautan api ataupun masuk air mendidih tidak nanti kami menolak. Cuma sedikitnya harus kita perhitungkan juga suatu rencana yang rapi. Kalau hanya beberapa orang yang pergi mungkin tiada berguna bagi usaha kita."
"Jika begitu, baiklah minta kau suka memilih tiga ratus orang yang berani berjibaku tapi perkasa, biar ikut pergi bersama kami,"
Kata Pho Jing-cu tiba-tiba sambil tertawa.
"Terlalu banyak orang lebih mudah diketahui musuh, cara bagaimana kita bisa menerobos kepungan pasukan Boan yang berada di perbatasan Tibet itu?"
Ujar Lauw Yu-hong.
"Jika dalam sepuluh hari kita bisa sampai di perbatasan Tibet, mungkin masih ada jalan buat lewat,"
Kata Jing-cu.
"Tapi kalau telat aku pun tak berani tanggung."
Tentu saja semua orang heran, segera mereka bertanya apa sebabnya? "Sebab aku sudah menduga bakal terjadi sesuatu, maka aku sudah mengerjakan sesuatu lebih dulu,"
Sahut Jing-cu tertawa.
Kiranya tempo hari waktu Pho Jing-cu berada dalam pasukan Boan dan disuruh Khong-hi pergi mengobati sakit bisul beku seorang Pangeran, dan penderita sakit itu ternyata segera-pun sembuh.
Keruan Khong-hi sangat senang, ia minta Jing-cu memberi resep.
Permintaan itu telah dipenuhi Pho Jing-cu dengan baik, bahkan ia mengumpulkan pula banyak rumput obat dan diracik menjadi beberapa ratus bungkus obat bubuk untuk persediaan prajurit yang sakitnya serupa.
Resep pengobatan sakit bisul beku yang diberi Jing-cu itu memang tulen, cuma dalam racikan obat bubuk itu telah ditambahi olehnya semacam rumput obat lain yang sangat lihai, bila obat bubuk itu dipoleskan di tempat luka tiada sesuatu tanda mencurigakan, malahan mula-mula akan terasa nyaman sekali, tapi beberapa hari kemudian sakit bisul beku itu akan kumat lagi, kalikan lebih, hebat daripada tadinya.
Maka Pho Jing-cu sudah memperhitungkan baik-baik, ia menaksir dalam sepuluh hari harus sudah sampai di perbatasan Tibet, dan pada saat itulah sakit bisul beku para prajurit yang memakai obatnya itu akan kumat sehebathebatnya Kembali tentang Nilan Yong-yo, sehabis Wan-lian pergi, ia termangu-mangu pula seorang diri mengenang si gadis itu.
Suatu hari, tiba-tiba didengarnya di luar perkemahan di kejauhan terdengar suara genderang perang yang riuh.
Tak lama kemudian kelihatan Kaisar Khong-hi masuk ke kemahnya dengan wajah marah.
"Yong-yo, kedua orang ayah dan anak yang datang tempo hari adalah mata-mata musuh,"
Demikian Khong-hi segera menegur. Yong-yo pura-pura meloncat kaget.
"Darimana kau tahu?"
Tanyanya cepat.
"Barusan komandan perintis jalan melaporkan padaku bahwa ada sepasukan begal kuda hendak menerobos garis kepungan melintasi padang rumput,"
Kata Khong-hi.
"Segera beberapa ribu prajurit telah dikerahkan untuk menangkapnya, tak terduga 9 dari 10 prajurit telah sakit bisul beku semua, bahkan hebat sekali kumatnya meski jumlah ribuan prajurit, tapi setelah bertempur sengit ternyata tak mampu menahan lawan yang berjumlah sedikit hingga perlu minta bala bantuan."
"Ai,"
Teriak Yong-yo pura-pura kuatir.
"Bila begitu, nyata hamba yang berdosa hingga kena dikelabui mata-mata musuh, maka mohon Sri Baginda memberi hukuman."
"Yang tidak tahu tidak berdosa aku pun tidak menyalahkanmu,"
Kata Khong-hi.
"Cuma setelah pengalaman ini, hendaklah selanjurnya jangan suka bergaul dengan orang yang tak terang asal-usulnya."
Yong-yo mengiakan berulang-ulang.
"Tapi baiknya perawatan batalion gerak cepat kujaga baikbaik, hakikatnya tidak menggunakan obat bubuk pemberian orang tua itu, maka kini sudah dapat dikirim ke sana,"
Tiba-tiba Khong-hi berkata pula senang.
"Agaknya gerombolan begal kuda itu tidak nanti bisa lolos dari tangan batalion gerak cepat yang sudah kulatih itu. Dan aku justru ingin melihat, apakah gerombolan begal kuda ini mempunyai hati harimau dan nyali macan tutul, masakah begini berani menerjang pasukan kita ini?"
Mendengar cerita itu, dalam hati Yong-yo sangat terkejut, ia kenal 'batalion gerak cepat' yang disebut itu adalah pasukan terlatih paling bagus di antara pasukan komando kota-raja dan langsung di bawah pimpinan Kaisar, memang tak bisa dipandang enteng Karena itu, setelah berpikir, segera Yong-yo mendapatkan akal, lantas katanya.
"Sampai batalion gerak cepat dikerahkan, tentu saja tidak susah menawan semua musuh itu, dan bila Hongsiang ada hasrat hendak pergi melihat, marilah hamba mengiringi pergi menonton pertempuran itu?"
Dan karena tertarik juga segera Khong-hi menyatakan baik, mereka memilih dua kuda bagus dan di bawah iringan sepasukan pengawal, segera mereka menuju ke perbatasan.
Batalion gerak cepat itu memang benar-benar cepat, dari markas besar mereka menuju ke garis depan, dalam jarak belasan li itu ditempuhnya hanya dalam waktu kurang setengah jam.
Tatkala itu Pho Jing-cu dan kawan-kawan sedang menerjang mati-matian buat membobol kepungan musuh, tapi ketika batalion gerak cepat itu membanjir tiba dan menyebar luas hingga seakan-akan di padang rumput itu sudah terpasang sebuah jaring dan pelahan mengkeretkan jarak kepungan itu ke tengah hingga Pho Jing-cu dan kawan-kawan bersama tiga ratus prajuritnya terkepung rapat.
Waktu Khong-hi dan Nilan Yong-yo tiba sampai di tempat itu, mereka mendengar suara pertempuran itu gegap gempita dan sinar senjata berkilauan, nyata pertempuran itu sem luar biasa.
Sambil berdiri di atas suatu tempat tinggi, Khong-hi menunjuk ke sini ke sana menyaksikan pertarungan itu bersama Nilan Yong-yo.
Tapi sejenak kemudian tiba-tiba wajahnya berubah.
"He, ini bukan begal kuda sembarangan!"
Katanya cepat.
Tatkala itu tiga ribu prajurit batalion gerak cepat di bawah pimpinan beberapa perwira yang tinggi ilmu silatnya meski bisa mengepung rapat musuh di tengah, tapi gerombolan 'begal kuda' itu kemana menerjang, di situ segera seperti arus air yang bersimpang jalan terpecah belah.
Hanya sekejap saja Khong-hi sudah menyaksikan beberapa perwiranya tewas di bawah senjata musuh.
Tak lama kemudian, kembali Khong-hi bersuara heran, sambil menuding ia berkata pada Nilan Yong-yo.
"Lihatlah orang tua itu!"
Ketika Yong-yo mamandang menurut arah yang ditunjuk, maka dilihatnya Pho Jing-cu dengan kudanya di garis paling depan, pedangnya diputar kencang, hanya sekejap saja beberapa musuhnya sudah digulingkan.
"Bukankah orang tua ini adalah si tabib tempo hari itu?"
Kata Khong-hi pula. Waktu Yong-yo menegasi lagi, dilihatnya Boh Wan-lian juga berada dalam pertempuran itu. Tiba-tiba ia mengkerut kening dan berkata pada Khong-hi.
"Eh, kiranya gadis itu pun begal kuda juga."
Dalam pada itu Khong-hi sudah dapat melihat Boh Wan-lian juga. Dan ketika ia hendak menyahut, mendadak dilihatnya Nilan Yong-yo mengeprak kuda membedal ke depan sambil berteriak.
"Kurangajar! Kalau aku tidak menangkap begal ini hidup-hidup, aku bersumpah takkan jadi manusia!"
"Eh, eh, jangan, jangan, lekas kembali!"
Teriak Khong-hi cepat dan kuatir.
Akan tetapi dengan cepat kuda Nilan Yong-yo sudah berlari jauh dan menerjang masuk ke medan pertempuran sengit itu.
Ketika para perwira dan prajurit batalion gerak cepat itu melihat Nilan-kongcu menerjang datang, mereka menjadi bingung dan heran.
Tatkala itu Thio Hua-ciau berdampingan dengan Ie Lan-cu lagi melabrak musuh hingga pikirannya butek, maka waktu mendadak Nilan Yong-yo menerjang datang, tanpa berkata lagi Hua-c iau membacok orang.
Sekuat tenaga Yong-yo menangkis, tapi hampir saja ia terjatuh dari kudanya.
Lekas Lan-cu menyikut Hua-ciau hingga pemuda ini tergontok ke samping, dan kemudian barulah Huaciau melihat jelas siapa adanya Nilan Yong-yo, keruan ia beseru terkejut.
Di lain pihak cepat Boh Wan-lian mengeprak kuda mendatangi juga, segera Yong-yo menyambut orang dengan sekali bacokan, ketika si gadis berkelit enteng, dengan suara rendah segera Yong-yo membisikinya.
"Lekas tangkap aku!"
Berbareng itu goloknya terus membabat lagi.
Tentu saja Tiong-bing tidak tinggal diam, dengan menggeram segera ia memburu datang.
Sementara itu Wanlian sudah mengulur tangan memegang pergelangan tangan Nilan Yong-yo terus diseret ke bawah dan dikempit.
"Tolol, lekas mundur!"
Kata Wan-lian sambil melotot pada Tiong-bing ketika dilihatnya pemuda ini memburu datang secara gegabah. Waktu itu Tiong-bing sudah dapat mengenali Nilan Yongyo, maka segera ia mendamprat.
"Ha, tadinya kami sangka kau orang baik-baik, tak tahunya kau juga suka berkorban jiwa untuk tua bangka Kaisarmu itu!"
Mendongkol bercampur geli juga Boh Wan-lian oleh pikiran Tiong-bing yang ketololan itu, lekas ia membentak dengan suara tertahan.
"Lekas kau pergi memanggil Pho-pepek ke sini!"
Sementara itu para prajurit musuh demi nampak Nilankongcu hanya sekali gebrak saja sudah tertawan, keruan saja luar biasa terkejut mereka, beramai-ramai segera mereka membanjir maju hendak menolong, namun pedang Ie Lan-cu sudah diputar kencang dan beberapa orang segera terguling.
Waktu Pho Jing-cu kemudian memburu datang, dari tangan Boh Wan-lian segera ia mengambil alih Nilan Yong-yo yang sengaja ditawan itu, dengan pedang melintang di leher o-rang sambil mengancam dengan suara bengis terhadap para prajurit Boan itu.
"Lekas berhenti, bila tidak, segera orang ini aku binasakan dulu!"
Para prajurit itu cukup tahu bahwa Nilan-kongcu adalah orang kesayangan atau 'anak-emas' Kaisar Khong-hi, sudah tentu mereka tak berani sembarangan bergerak lagi.
"Ada apa-apa katakanlah, jangan turun tangan dulu!"
Teriak komandan batalion gerak cepat ini yang ternyata Thio Sing-pin adanya, itu wakil komandan pasukan pengawal dengan jabatan rangkap.
"Haba, kiranya Thio-thongling adanya, baik-baikkah selarna ini?"
Jing-cu menyapa dengan tertawa. Trio Sing-pin tercengang mendengar orang menyapa, padahal tak dikenalnya siapa orang tua ini.
"Apakah peristiwa Bu-keh-ceng di kaki gunung Ngo-tai-san sudah dilupakan Thio-thongling?"
Segera Jing-cu mengingatkan orang.
"Dan aku adalah Kanglam Pho Jing-cu."
Semula Sing-pin rada ragu melihat wajah Pho Jing-cu yang sudah jauh berlainan, tapi demi mengingat orang pandai ilmu tabib, segera ia pun mau percaya.
"Dan kini adakah sesuatu petunjuk Pho-losiansing?"
Sahutnya segera sambil menjura.
Dahulu Thio Sing-pin juga orang yang berkecimpung di kalangan Kangouw, tindak-tanduknya cukup tenang dan bisa berpikir daripada Coh Ciau-lam.
Maka dulu waktu di Bu-kehceng, ia masih menemui Bu-Goan-ing secara peraturan.
Kini melihat Nilan Yong-yo sudah ditawan orang, ia pikir pasti musuh ada sesuatu yang hendak dipaksakan, maka tanpa panjang lebar segera ia bertanya dan menunggu pihak lawan 'membuka kartu'.
Tentu saja Pho Jing-cu mengerti akan maksud orang, segera ia mengunjuk jempolnya memuji.
"Thio-tayjin sungguh jagoan Kangouw, maka kami pun tidak banyak permintaan, hanya ingin Nilan-kongcu mengantar kami sepanjang 300 li saja."
"Hal ini aku tak bisa memutusnya,"
Sahut Sing-pin.
"Maka kalian sukalah menunggu sejenak, biar kulaporkan saja kepada Hongsiang?"
Habis itu ia pun meninggalkan medan peperangan itu dan melaporkan pada Khong-hi tentang syarat Pho Jing-cu itu. Khong-hi mengerut kening mendengar laporan itu.
"Suruh dia melepaskan Yong-yo dan kita biarkan mereka lewat,"
Demikian katanya kemudian. Dengan cepat segera Thio Sing-pin meneruskan jawaban itu kepada Pho Jing-cu. Tapi Jing-cu ternyata tidak gampang diselomoti.
"Hm, jika Thio-tayjin sendiri bisa memutuskan persoalannya, tentu tanpa ragu akan kami serahkan orangnya dan lewat begitu saja"
Satori Jing-cu menjengek.
"Tapi sekali ini adalah Hongsiang yang memutuskan. Terus terang saja kami tidak dapat mempercayai Hongsiang. Coba jawab, jika sekarang Nilan-kongcu kami bebaskan, tapi nanti Hongsiang menitahkan kau memimpin pasukan mengejar kami, lalu kau akan turut perintah itu atau berani membangkang perintahnya?"
Karena itu Thio Sing-pin tak berani menjawab, segera ia menyampaikan lagi kepada Khong-hi.
Sungguh tidak kepalang mendongkolnya Khong-hi, tapi apa daya, Nilan Yong-yo sudah berada di bawah cengkeraman orang.
Terpaksa ia berkata pula.
"Baiklah, bila tiada apa-apa atas diri Yong-yo, hitung-hitung mereka yang untung. Tapi kalau Yong-yo sudah dibawa pergi dan akhirnya tak dilepaskan kembali, lalu bagaimana?"
Lekas Thio Sing-pin menjura dan melapor.
"Orang tua itu bernama Pho Jing-cu."
"O, Pho Jing-cu?"
Sela Khong-hi tiba-tiba.
"Ya, kenal aku akan nama itu. Tapi wajahnya tidak mirip!"
"Ia pandai menyamar dan berganti rupa,"
Sahut Sing-pin, lalu ia merandek.* "Apa yang hendak kaukatakan, kenapa pakai sembunyisembunyi segala?"
Damprat Khong-hi kurang senang.
"Orang ini rada tersohor di kalangan Kangouw,"
Kata Singpin kemudian.
"Bila ia bilang satu pasti tidak dua, tidak nanti ia memungkiri janji."
Seketika wajah Khong-hi berubah oleh penuturan itu, ia menjengek sekali dan berpikir;
"Hm, mereka tidak bisa percaya padaku, sebaliknya kau malah mau percaya pada mereka."
Waktu itu Thio Sing-pin masih menjura di atas tanah, maka wajah Khong-hi tak dilihatnya, kembali ia melapor lagi.
"Bila perlu biar hamba ikut pergi bersama Kongcu untuk kemudian mengawalnya kembali."
Karena tiada jalan lain, terpaksa Khong-hi menerima syarat itu, cuma di samping itu ia menambahi pula empat jago bayangkara lain ikut pergi bersama Thio Sing-pin, dan hal mana dapat diterima juga oleh Pho Jing-cu.
Dan setelah kejadian ini, Khong-hi menjadi kurang senang pada Thio Sing-pin, maka di kemudian hari setelah kembali ke ibu-kota dengan alasan yang dicari-cari Thio Sing-pin dibunuhnya.
Begitulah, maka semua prajurit batalion gerak cepat yang mengepung itu.
lantas ditarik kembali, Thio Sing-pin bersama empat jago pengawal ikut pergi dengan Nilan Yong-yo sebagai jaminan.
Cuma mereka mengintil jauh di belakang, sebaliknya Nilan Yong-yo telah berganti kuda dan menunggang sendiri jalan berendeng bersama Pho Jing-cu dan kawan-kawan.
"Haba, dulu kami pernah menjadi tukang kebunmu, tapi kini kau menjadi tawanan kami, haha, sama-sama, seri!"
Kata Tiong-bing tiba-tiba dengan tertawa ketololan. Tapi cepat Pho Jing-cu menarik pemuda itu dan membisikinya.
"Apa kau kira Nilan-kongcu benar-benar dapat kita tawan? Tadi ia sengaja ikut dengan kita karena ingin menolong kita, tahu!"
Dalam pada itu Boh Wan-lian juga telah mengetok jidat pemuda ini sambil mengomel.
"Kau ini, bilakah baru kau akan pintar?"
Sesaat Tiong-bing masih bingung, tapi'kemudian ia pun mengertilah, segera tangan Nilan Yong-yo dipegangnya kencang.
"Ya, ya, kau benar-benar seorang baik!"
Katanya tertawa.
Melihat watak orang yang polos dan kekanakan, diam-diam Nilan Yong-yo ikut bergirang untuk Wan-lian.
Setelah berjalan dua hari, 300 li yang dijanjikan itu sudah cukup ditempuh, dengan perasaan berat lantas Nilan Yong-yo berkata.
"Jauh-jauh mengantar tuan, akhirnya harus berpisah juga. Harap saja persahabatan kita selalu terkenang di dalam hati, dan hendaklah jaga diri baik-baik."
Segera Pho Jing-cu menyuruh semua orang turun dari kuda dan duduk di atas tanah, arak dikeluarkan dengan dendeng sebagai lauk untuk perpisahan dengan Nilan Yong-yo.
Pada saat itu tiba-tiba timbul keinginan Kui Tiong-bing hendak memamerkan ilmu pedangnya yang baru dipahaminya itu di hadapan sang kekasih, karena sejak kembali, Boh Wanlian masih belum ada kesempatan melihatnya, maka pedang pusaka 'Theng-kau-pokiam' segera ia lolos, dengan tertawa ia berkata pada Nilan Yong-yo.
"Biarlah aku memainkan sejurus ilmu pedang untuk menghibur Kongcu minum arak!"
Habis itu, pedangnya diputar sekali lingkaran sebagai pembukaan, lalu ia pun memainkan 'Tat-mo-kiam-hoat' yang sudah lama menghilang di dunia persilatan itu.
Di antara rombongan mereka, kecuali Han Ci-pang dan le Lan-cu, belum ada yang melihat ilmu pedang yang hebat ini, maka mereka menjadi amat kagum.
Sedang asyik ilmu pedang itu dimainkan, tiba-tiba dari depan sana ada tiga orang penunggang kuda secepat kilat telah mendatangi.
Setelah dekat, mendadak mereka menahan kuda menyaksikan ilmu pedang yang dimainkan Kui Tiongbing itu.
Jing-cu rada heran melihat sikap ketiga orang itu.
Ketiga orang ini yang seorang adalah wanita cantik setengah umur, sedang kedua orang lainnya adalah laki-laki, seorang berusia lebih setengah abad dengan jenggot pendek kaku, sedang yang lain adalah seorang Tosu atau Imam tua berjenggot putih melambai.
Dari wajah ketiga orang yang aneh dan sinar mata mereka yang berkilat, Pho Jing-cu menduga pasti orang memiliki ilmu silat yang tinggi.
Dan selagi hendak menyapa mereka, setelah melihat sejenak, tiba-tiba ketiga orang itu saling memberi tanda, Imam tua itu bersama laki-laki yang lain terus menerjang Kui Tiong-bing berbareng, sebaliknya wanita setengah umur itu gerak tubuhnya lebih gesit pula, mendadak sekali lompat, tahu-tahu pedangnya terus menikam ke arah Nilan Yong-yo.
Karena tak menyangka, tanpa pikir lagi Pho Jing-cu mengayun lengan bajunya terus melibat pergelangan tangan orang dengan ilmu kepandaiannya yang tunggal 'Liu-in-hui-siu' atau awan meluncur lengan baju beterbangan, berbareng telapak tangan kanan terus menghantam pula dari bawah lengan baju itu.
Namun wanita cantik setengah umur itu tiba-tiba berjumpalitan di udara terus membalik turun ke belakang Pho Jing-cu dan menyusul pedangnya menusuk pula tanpa berhenti.
Dalam pada itu pedang Pho Jing-cu sudah dilolos juga, ketika tangannya membalik ke belakang, segera senjata musuh kena ditempelnya terus ditarik ke samping.
Namun sekalian wanita itu menyurung pergi gaya menempel itu, lalu pedangnya mengarah ke bawah sekalian buat membabat.
Diam-diam Pho Jing-cu heran luar biasa, tapi ia tidak lantas bertanya, melainkan mengangkat pedang menempur orang lagi.
Setelah sejurus lagi, tiba-tiba wanita cantik itu bersuara heran dan berkata.
"Ha, kau adalah jago Bu-kek-pay, kenapa terima menjadi orang rendah!"
Berulang-ulang Jing-cu mematahkan tiga kali serangan orang, lalu sambil tersenyum ia menjawab.
"Dan kau adalah jago Bu-tong-pay, kenapa berbicara secara begini kasar?"
Wanita itu menjadi gusar.
"Kau memakai sandang bangsa Han, tapi melindungi musuh malah, sungguh tak kenal malu!"
Demikian dampratnya dan secepat kilat beberapa tusukan dilontarkannya lagi.
Di sebelah sana pertarungan seru antara Kui Tiong-bing dan kedua orang tadipun sudah terjadi.
Imam tua itu ternyata ulet luar biasa, dimana ujung pedang Tiong-bing sampai, di situ segera terasa suatu kekuatan maha besar menghantam balik ke arahnya.
Sedang ilmu pedang laki-laki brewok itupun hebat dan bagus sekali.
Baiknya Tiongbing sudah melatih Tat-mo-kiam-hoat yang aneh dan lihai itu, ditambah pedangnya adalah pedang wasiat, maka masih dapat ia melawan keroyokan kedua orang dan sama kuatnya.
Kedudukan kedua orang itu sangat tinggi, tapi kini menempur seorang pemuda hanya sama kuatnya saja, mereka menjadi terkejut dan mendongkol.
Tiba-tiba kedua pedang mereka merangsek dari kanan-kiri dan mendesak makin kencang.
Akhirnya karena dikerubut dua orang, Tiong-bing merasa keuletan mereka agaknya tidak di bawah Ce Cin-kun, maka setelah bertahan sejurus lagi, jidatnya mulai tampak berkeringat.
Melihat setiap musuh berilmu silat sangat tinggi, dengan satu lawan satu Pho Jing-cu bisa lebih unggul, tapi Kui Tiongbing satu harus lawan dua, tampak sekali sudah bakal kalah, maka tanpa pikir lagi Lan-cu melolos pedangnya terus menubruk maju dan menikam ke arah Imam tua itu.
Ketika Imam itu mengangkat pedangnya menangkis, namun luput, Lan-cu sudah menarik kembali senjatanya dan menyusul serangannya dilontarkan pula bagai ombak yang gulung-gemulung tak berhenti.
Maka sekejap saja beberapa puluh jurus sudah berlangsung hingga Imam tua itu terdesak mundur terus.
Dan selagi Lan-cu hendak merangsek lebih kencang, mendadak Imam itu menangkis sekuatnya dan menggunakan tenaga dalamnya membikin Ie Lan-cu tergoncang mundur, lalu dengan suara keras ia berteriak.
"He, kau anak dara ini pernah apanya Pek-hoat Mo-li?"
Karena itu, sekali lengan bajunya menyabet, segera Pho Jing-cu mendesak wanita cantik itu meloncat mundur juga habis itu baru ia menyambung pertanyaan Imam tadi.
"Kalian bertiga jagoan dari Bu-tong-pay ini pernah ada hubungan apa dengan Toh-tayhiap?"
Melihat ketangkasan Pho Jing-cu, Imam berjenggot putih itu tak berani ayal, segera ia memberi hormat dengan merangkap kedua tangan dan menjawab.
"Toh-tayhiap adalah Suheng kami, mohon tanya siapakah nama tuan yang terhormat?"
Segera Pho Jing-cu memperkenalkan namanya.
Ketiga orang itu terkejut semua, mereka menjadi heran pula mengapa tabib sakti Pho Jing-cu, seorang jagoan terkemuka dari suatu aliran silat tersendiri, bisa minum arak bersama dengan pembesar bangsawan Boanciu?
"Dan dia adalah anak murid tak langsung Hui-bing Siansu,"
Kata Jing-cu pula sambil menuding Ie Lan-cu.
"Ia pun terhitung anak angkat pahlawan wanita Hui-ang-kin, maka ia memperoleh juga ajaran ilmu pedang tunggal Pek-hoat Mo-li."
"O, pantas ihnu pedangnya begitu lihai,"
Puji Imam tua itu.
"Sayang aku tiada kesempatan berkenalan dengan Hui-bing Siansu, tapi kini bisa menyaksikan ilmu pedang ciptaannya, boleh dikata banyak menambah pengalamanku juga."
Kiranya ketiga orang ini datang dari Ohpak.
Imam tua itu bergelar Hian-cin, ialah anak murid Wi-yap Tojin, paman guru Toh It-hang, dan kini menjabat Ciangbun (ketua) Bu-tong-pay, sedang wanita cantik setengah umur itu bernama Ho Lok-hua, ialah anak perempuan paman guru Toh It-hang yang lain pada waktu belum menjadi Imam, yaitu Pek-ciok Tojin.
Dan laki-laki brewok itu adalah suaminya.
Tapi karena.
Ho Lok-hua pintar bersolek, maka meski sudah setengah umur, tapi gayanya masih cantik menarik.
Beberapa puluh tahun yang lalu Toh It-hang adalah ketua Bu-tong-pay, umurnya selisih tidak banyak dengan para paman gurunya, tapi jauh lebih tua daripada adik seperguruan yang lain.
Dan sejak It-hang meninggalkan kedudukan sebagai ketua Bu-tong-pay dan tirakat ke Thian-san, anak murid Butong masih mengharapkan ia kembali.
Lebih 20 tahun lalu ketika Njo Hun-cong masih di Sinkiang, pernah seorang diri Ho Lok-hua mencari Toh It-hang ke Thian-san dan sebab itu makin menambah salah paham antara Toh It-hang dengan Pek-hoat Mo-li.
Dan sesudah It-hang lama wafat, baru kabar itu didengar anak murid Bu-tong-pay.
Belakangan dapat didengar pula kabar yang tersiar oleh Lamma dari Tibet bahwa ilmu rahasia Tat-mo yang menghilang selama ini telah muncul kembali di jagad ini.
Ilmu silat Tat-mo itu adalah ilmu kepandaian pusaka Bu-tong-pay mereka yang menghilang sekian lamanya, siapa saja asal anak murid Bu-tong semua mendapat pesan untuk ikut menemukannya kembali.
Sebab itulah ketua Bu-tong-pay sekarang, Hian-cin, membawa sendiri Sute dan Sumoaynya ini jauh-jauh datang ke Tibet untuk menyelidiki kebenaran berita itu, dan bila sudah terang jejaknya, kemudian mereka bermaksud naik ke Thian-san untuk memindahkan tulang Toh It-hang kembali ke Bu-tong-san.
Tak terduga tidak lama mereka masuk Tibet, kebetulan sekali pasukan Boan secara besar-besaran menyerbu datang juga hingga istana Potala diduduki In Te sebagai markas besar.
Dan karena tidak tahu kalau tapal batas sudah terkurung rapat, maka dengan lesu mereka hendak pulang ke selatan lagi, dan secara kebetulan di tengah jalan mereka melihat Kui Tiong-bing lagi bermain pedang.
Terhadap Tat-mo-kiam-hoat meski mereka tak paham, tapi dari perguruan mereka yang turun temurun ada lima-enam gerak tipu dari ilmu pedang itu dapat mereka kenali, pula dilihatnya Nilan Yong-yo bersama beberapa jago pengawal berada di situ juga, maka tanpa bertanya lagi segera mereka turun tangan melabrak orang.
Di lain pihak Hian-cin memang sengaja juga hendak menjajal betapa hebat Tat-mo-kiam-hoat itu.
Kini setelah Hian-cin mendengar nama Pho Jing-cu yang dikenalnya sebagai seorang tokoh terkemuka yang tidak nanti omong kosong, meski mengenai kedudukan Nilan Yong-yo tak diterangkannya, tapi dengan melindunginya begitu sungguhsungguh, diam-diam Hian-cin berpikir pasti ada alasannya maka ia pun tak enak buat mengusut lebih jauh.
Mengetahui ketiga orang itu hendak pergi ke Thian-san, dengan tersenyum Nilan Yong-yo berkata.
"Di tapal batas sana penuh dijaga tentara, meski Kiam-hoat Totiang (tuan Imam) tinggi, mungkin susah juga hingga menembusinya!"
"Sekalipun darah kami bertiga harus membasahi gurun pasir, tapi paling sedikit masih bisa membunuh juga berpuluh atau beratus anjing asing,"
Sahut Hian-cin gusar dengan mata melotot.
Tentu saja Thio Sing-pin dan kawan-kawan berubah hebat wajah mereka, tapi Nilan Yong-yo malah menganggap sepi caci-maki orang, tetap dengan tertawa ia berkata lagi.
"Dan kedua pihak sama-sama rugi, buat apa dilakukan? Jika Totiang tidak menolak, biarlah kembali kami membawa serta kalian melewati garis penjagaan. Kalian mengaku sebagai Imam pengembara, mungkin takkan terjadi apa-apa."
Sementara itu diam-diam Pho Jing-cu membisiki Hian-cin juga.
"Ini adalah sahabat baik kita, kukira ada lebih baik kau terima maksud baiknya saja."
Mendengar Jing-cu mengaku sahabat pada seorang asing yang menjadi musuh bangsa Hian-cin terkejut dan heran luar biasa.
Tapi bila dilihatnya sikap Yong-yo yang ganteng bersemangat, sifatnya lain dari yang lain, tanpa terasa perasaan antipati Hian-cin menjadi banyak berkurang.
Lalu ia pun tidak banyak bicara lagi.
Dan ketika Pho Jing-cu hendak memberi salam perpisahan, tiba-tiba Hian-cin menunjuk Tiong-bing dan berkata.
"Engko cilik ini biarkan sementara tinggal saja."
"Apa kau bilang? Berdasar apa kau menahan aku?"
Sahut Tiong-bing menjadi gusar. Tapi cepat Boh Wan-lian telah membisiki pemuda itu.
"Jangan sembrono, ketahuilah mereka adalah paman gurumu!"
Karena itu Tiong-bing tertegun dan serba salah.
Dan barulah ia teringat setelah dirinya mempelajari ilmu silat Tatmo itu, otomatis dia sudah menjadi anak murid Bu-tong.
Maka terpaksa ia lantas maju dansoja sambil memanggil.
"Susiok!"
"Eli, apa kau murid penutup Toh It-hang?"
Tanya Hian-cm heran.
"Bukan,"
Sahut Tiong-bing menggeleng kepala. Tapi segera ia pun merasa tidak tepat jawabannya itu, maka kembali ia mengangguk dan berkata pula.
"Tapi boleh juga dikata betul!"
"Mengapa bisa begitu?"
Kata Hian-cin mengkerut kening. Dari samping segera Ci-pang menyela.
"Ia adalah murid Tohtayhiap yang aku wakilkan menerimanya menurut pesan Sin Liong-cu sebelum ajalnya."
"Dan kau ini siapa, apa kau pun anak murid golongan kami?"
Tanya Hian-ijin sambil memelototi Ci-pang.
Namun Cipang menggeleng kepala.
Dan melihat percakapan mereka yang simpang-siur tak jelas itu, lekas Wan-lian maju ke tengah buat menerangkan dan sesudah susah payah akhirnya duduk perkaranya baru bisa dijelaskan seluruhnya.
Tentu saja Hian-cin menjadi kurang senang.
Golongan Butong mereka selamanya suka membeda-bedakan derajat, tak terduga hari ini baru saja bertemu dua Susiok sudah mengeroyok seorang murid keponakan dan ternyata masih tak bisa menang, bahkan sikap Tiong-bing sama sekali tidak menghormati mereka sebagai orang tua, seakan tidak rela mengaku mereka sebagai Susiok.
Tapi karena sungkan mengumbar dongkolnya itu di hadapan Pho Jing-cu dan kawan-kawan, kemudian Hian-cin bertanya lagi.
"Dan kini apa kau ada urusan penting lainnya?"
"Tentu saja, kalau tidak untuk apalagi jauh-jauh datang ke Tibet ini dengan menghadapi segala bahaya?"
Sahut Tiongbing tertawa. Keruan wajah Hian-cin makin bersungut oleh sahutan orang yang kasar itu, katanya pula.
"Bila begitu aku memberi tempo sebulan padamu, sehabis urusanmu selesai, segera kau harus datang ke puncak Onta di Thian-san untuk memindahkan tulang jenazah gurumu ke tanah air!"
Seketika Tiong-bing bingung tak bisa menjawab oleh pelintah itu. Namun dengan menarik muka, Hian-cin buka suara lagi.
"Meski aku tak cakap, namun sedikitnya Ciangbun dari Butong-pay, kau adalah anak murid golongan kita, kau harus tahu segala aturannya."
Lekas Pho Jing-cu menyela juga menjelaskan.
"Ia masih terlalu hijau plonco, wataknya lurus dan usianya masih muda, Totiang adalah angkatan lebih tua, hendaklah jangan menyesalkan dia. Baiklah, nanti bila sudah tiba waktunya pasti kusuruh dia ke Thian-san menuruti pesan Totiang tadi."
Karena itu, baru Tiong-bing menjawab dengan ketololan.
"Ya, Susiok tak perlu sungkan, kini tidak sempat, biarlah kelak kau suka memberi petunjuk lebih banyak."
Mendongkol sekali Hian-cin, ia menjengek sekali dan tak menjawab, habis itu ia lantas memberi salam perpisahan kepada Pho Jing-cu.
Dalam pada itu Nilan Yong-yo harus berpisah juga dengan Boh Wan-lian, rasanya sangat berat sekali, cuma di hadapan orang banyak tak berani ia mengunjuk perasaannya itu dan ditahan sedapat mungkin, ia menjadi duka dan getir tak terhingga.
Waktu ia memutar kuda kembali ke jalan semula, sepanjang jalan wajahnya muram terus, sudah tentu Thio Sing-pin dan kawan-kawan tak berani bertanya, tapi Ho Lok hua meski wanita, namun wataknya bebas dan suka bergurau, maka segera ia menggoda Nilan Yong-yo.
"He, orang muda, apa yang menyebabkan kau murung?"
Demikian tegurnya.
Tapi Yong-yo tidak menjawab, sebaliknya air matanya terus berlinang, lalu dari atas kudanya ia malah bersyair yang penuh mengandung perasaan terpendam.
Di antara semua orang itu Ho Lok-hua agak mengenal syair dan paham sajak, ketika mendengar lagu syair Yong-yo itu, seketika ia terkejut.
"Eh, apakah kau inilah penyair bangsa Boan yang bernama Nilan Yong-yo itu?"
Tanyanya segera.
"Hm, kiranya kau juga kenal nama Kongcu kami?"
Sela Thio Sing-pin menjengek dari samping. Hian-cin menjadi gusar melihat sikap orang.
"Di antara bangsamu yang berdosa itu hanya dia ini saja yang masih dapat dikatakan arang baik. Tapi kau masuk hitungan apa?"
Demikian dampratnya.
Berbareng ia terus menyikut hingga Thio Sing-pin disodok jatuh dari kuda.
Keruan jago pengawal lainnya menjadi gusar, segera mereka hendak melabrak, baiknya Nilan Yong-yo dan Ho Lokhua sama-sama mencegah.
Setelah rombongan Nilan Yong-yo itu sampai di tempat kedudukan pasukan Boan semula prajurit penjaga garis depan segera melaporkan ke belakang.
Kemudian Yong-yo berkata juga pada Hian-cin.
"Kini dapatlah kalian pergi saja."
Dan tidak lama sesudah Hian-cin bertiga pergi ke jurusannya sendiri, dari markas besar pasukan Boan sudah dikirim barisan gerak cepat untuk menyongsong kembalinya Nilan Yong-yo.
Tapi empat jago pengawal yang mengiring Nilan Yong-yo rupanya masih penasaran, mereka saling memberi tanda lalu mengajak lagi 5-6 kawan lain terus menyemplak kuda dengan cepat menuju ke selatan.
Sing-pin tahu jago pengawal itu tentu marah terhadap Imam tua yang kasar itu dan kepergiannya ini tentu akan menghajar adat mereka maka ia pun tinggal diam, bahkan mengalingi di hadapan Nilan Yong-yo bila bertanya.
Sementara itu Hian-cin dan kawan-kawan sudah melarikan kuda mereka sejauh belasan li, dan sudah keluar garis pengepungan tentara Boan itu.
Ketika tiba-tiba mereka mendengar dari belakang ada suara derapan kuda yang riuh diseling suara kele-ningan.
Mereka menoleh dan tertampak ada belasan penunggang kuda bagai terbang sedang menyusul datang.
Hian-cin tertawa dingin melihat musuh memburu, pedang mereka pun segera dilolos.
"Imam jahat berhenti dulu!"
Bentak jago pengawal yang menjadi pemimpin itu.
Namun tiba-tiba Hian-cin menjawab orang dengan sekali tusukan membalik ke belakang.
Dan karena jitu serta cepat, tanpa menduga jago pengawal itu terluka lengannya.
Segera pula para jagoan pengawal itu merubung maju dan mengepung Hian-cin bertiga di tengah.
Meski jago pengawal inipun terhitung jago kelas tinggi dari kerajaan, namun mana bisa mereka melawan Hian-cin dan kawan-kawan, hanya sejenak saja sudah ada tiga kawan mereka tertusuk jatuh dari kuda dan selebihnya lekas mengeprak kudanya lari tungganglang-gang.
Cepat Ho Lok-hua mengejar dan berhasil pula menggulingkan dua orang musuh, sekarang tinggal lima orang yang masih melarikan kudanya secepat terbang.
Melihat musuh sudah ngacir, senang luar biasa Hian-cin, ia bergelak tertawa sambil mengelus jenggotnya.
"Biarkan mereka lari!"
Demikian katanya.
Siapa tahu, belum lenyap suaranya mendadak kelima jago pengawal itu terjungkal dari kuda mereka.
Keruan saja Hiancin terkejut.
Sementara itu dilihatnya dari balik semak-semak batu sana telah muncul seorang gadis berbaju merah dan seorang pelajar berwajah putih.
Tiba-tiba gadis itu tertawa terkikik-kikik.
"Ha, Toya (tuan Imam) ini bagus amat ilmu pedangnya cuma sayang masih kurang keji."
Tentu saja Hian-cin kurang senang dicela.
"Jika begitu, tentunya nona adalah seorang ahli bukan?"
Demikian sahurnya dingin. Tetapi gadis itu tertawa tidak menjawab, hanya ditunjuknya beberapa jago pengawal yang sudah menggeletak itu dan kemudian baru berkata.
"Aku telah membantu kalian membasmi semua musuh ini, dan belum lagi kalian mengucapkan terima kasih padaku, sebaliknya lantas hendak menguji soal ilmu pedangku?"
Sebagai seorang ketua suatu aliran persilatan, tentu saja Hian-cin tak bisa menelan mentah-mentah rasa mendongkol itu, ketika pedangnya diangkat, dengan suara lantang segera ia menjawab.
"Ya memang Kiam-hoat kami tak berguna hingga musuh berhasil lolos, sungguh sangat memalukan. Tapi berkat petunjuk nona tadi, aku imam tua ini menjadi tak tahu diri dan ingin mencoba berkenalan beberapa jurus dengan nona."
Mendengar orang menantang, si pemuda pelajar cakap itu telah memandang gadis baju merah itu dengan sikap ragu.
"Tak perlu kau urus, tonton saja keramaian ini,"
Kata gadis itu tiba-tiba tertawa. Habis itu pedangnya menuding ke depan terus menjawab. Hian-cin.
"Baiklah, cuma maafkan Siaupwe yang kurang sopan."
"Seranglah!"
Sahut Hian-cin sambil bersiap.
Dalam hati Hian-cin menaksir meski gadis itu tadi sekaligus bisa merobohkan kelima jago pengawal dengan senjata rahasia dan ia merasa terkejut juga, tapi mengandalkan keuletan latihannya selama puluhan tahun, apalagi seorang ketua suatu aliran silat yang terkemuka, sesungguhnya ia tidak pandang berat atas diri si gadis itu.
Maka kini tujuannya ialah hendak menjajal orang sekalian memberi hajaran pada 'angkatan muda' ini.
Nyata ia tidak tahu bahwa gadis itu sebaliknya juga bertujuan hendak menjajalnya.
Kiranya sepasang muda mudi ini bukan lain daripada Li Jiak-sim dan Bu Ging-yao.
Ketika Pho Jing-cu dan kawan-kawan berangkat dari padang rumput Garsin, waktu Hui-ang-kin menerima kabar itu, ia menjadi kuatir sekali.
Dasar Ging-yao suka bergerak, segera ia minta perkenan kakak-gurunya itu buat pergi ke Sinkiang juga bersama Li Jiak-sim.
Li Jiak-sim sudah banyak berpengalaman di kalangan Kangouw, pula orangnya berbakat ilmu militer, ditambah lagi didampingi Bu Ging-yao yang sangat hafal seluk-beluk daerah perbatasan itu, maka sepanjang jalan mereka berdua tidak pernah terjadi apa-apa.
Malahan kadang Li Jiak-sim sekalian menyelidiki keadaan setempat yang dilalui dan memperhatikan cara tentara Boan mengatur diri dan diam-diam ia melukiskan peta biru bagi keperluan militer kelak.
Begitulah kedua muda-mudi itu melanjutkan perjalanan panjang dan cukup makan waktu itu, namun cinta asmara mereka pun kian hari kian bertambah.
Hari itu ketika hampir mereka melintasi perbatasan, dari jauh Jiak-sim melihat asap mengepul tebal, suara kuda perang meringkik ramai, tiba-tiba ia terkejut.
"Ah, di perbatasan ini pasti ditutup rapat oleh pasukan besar, lalu bagaimana baiknya?"
Demikian katanya.
"Padang rumput begini luas, belum tentu setiap tempat ada pasukan penjaganya,"
Ujar Ging-yao.
Setala!
Jiak-sim berpikir sejenak, lalu mereka memandang dari atas suatu tanah tinggi, tapi tiba-tiba dilihat mereka ada belasan jagoan tentara Boan sedang mengejar Imam tua.
Siapakah gerangan Imam tua itu?
Beraninya ia menerobos lewat tapal batas ini?"
Demikian Jiak-sim merasa heran.
Bila mereka menegas pula, nyata di samping itu masih ada seorang wanita cantik setengah umur dan seorang laki-laki bre-wok bersama Imam tua tadi sedang melawan belasan musuh itu.
Tentu saja mereka"bertamban heran.
"Aku tahu asal-usul ketiga orang ini."
Kata Ging-yao kemudian sesudah memandang sejenak.
"Ya, ketiga orang ini semuanya tokoh kelas tinggi dari Bulim (dunia persilatan),"
Sahut Jiak-sim.
"Bahkan angkatan tua juga dari Bu-tong-pay,"
Sambung Ging-yao tertawa.
"Coba biar aku membantu mereka sedikit, habis itu nanti aku menggoda mereka juga."
"Ah, kau selalu nakal,"
Ujar Jiak-sim.
Namun Ging-yao hanya tertawa tak menjawab lagi.
Padahal sekali ini bukannya Ging-yao sengaja berlaku nakal.
Sesudah tiga tahun gadis ini berguru pada Pek-hoat Mo-li, sedikit banyak sudah diketahuinya pula tentang sukaduka masa muda sang guru dengan Toh It-hang dan orang Bu-tong-pay lainnya.
Karena itu Ging-yao ikut penasaran bagi gurunya, ia pikir Suhu dan Toh-tayhiap sebenarnya adalah pasangan yang sangat sesuai, tapi paman-paman gurunya justru tampil ke muka merintangi dan macam-macam lagi hingga percintaan itu gagal dan gurunya selama beberapa tahun ini harus hidup sunyi di pegunungan dengan batin tersiksa.
Oleh sebab itu, kalau orang lain merasa tabiat Pekhoat Mo-li terlalu aneh dan menyendiri, adalah sebaliknya hanya Bu Ging-yao serta kakak-seperguruannya, Hui-ang-kin, yang paham perasaan sang guru.
Begitulah, maka sesudah Ging-yao dan Jiak-sim menyaksikan sejenak lagi pertarungan itu, kemudian Jiak-sim berkata pula.
"Ilmu pedang Bu-tong-pay nyata memang lihai."
"Cukup gesit dan tangkas, tapi soal kekejian masih jauh dari cukup,"
Ujar Ging-yao tertawa.
Betul saja, sampai akhirnya ada lima jago pengawal itu berhasil lolos.
Dan dengan tertawa Ging-yao telah menghamburkan jarum saktinya merobohkan kelima buronan itu.
Kembali tadi, oleh karena pancingan Bu Ging-yao hingga Hian-cin naik darah dan menyilakan si gadis membuka serangan.
Segera Ging-yao menerima baik tanpa sungkan.
Tiba-tiba bahu kirinya bergerak, Hian-cin menyangka si gadis hendak menyerang dulu ke dada kanannya maka cepat ia sedikit mengegos sambil mengayun pedangnya hendak menangkis dulu.
Tak ia duga gerak tubuh Ging-yao tadi hanya pura-pura saja bahu kirinya bergerak, tapi serangan tidak lantas dilontarkan sebaliknya pedang Hian-cin yang sudah telanjur ditangkiskan itu mendadak disampuknya dengan membentak.
"Pergi!"
Berbareng itu dengan gerak tipu 'Pek-ho-liang-ih' atau bangau putih pentang sayap, cepat ia memotong ke bawah sekalian hendak mengarah urat nadi pergelangan tangan lawan.
Ilmu pedang ciptaan Pek-hoat Mo-li nyata keji luar biasa, lebih-lebih tipu serangan Ging-yao ini sangat membahayakan, hanya dalam sekejap saja sama sekali Hian-cin tak menduga anak dara ini bisa melontarkan serangan begitu ganas, baiknya ia sudah cukup makan asam-garam, tepat pada waktunya ia sempat menarik tangannya ke pinggir, tubuh membungkuk terus menggeser ke samping, dengan demikian barulah ia mampu menghindarkan senjata si gadis yang lihai itu.
Namun sekali tak kena sinar pedang si gadis yang gemerlapan dengan cepat sudah menusuk pula.
Tapi Hian-cin tidak menjadi bingung, ia pasang kuda-kuda dengan kuat dan pedangnya diputar rapat menjaga seluruh tubuhnya dimana ujung pedang si gadis sampai, di situlah lantas terasa suatu kekuatan besar yang membentur kembali.
Maka tahulah Ging-yao, orang terlalu ulet dan sudah melindungi diri dengan ilmu pedang yang maha tinggi, ia pikir harus melontarkan serangan terlebih cepat dan jangan memberi kesempatan berganti napas pada musuh.
Maka beruntun kembali ia menusuk pula beberapa kali ke depan dan ke belakang, tiba-tiba dari kiri, tahu-tahu dari kanan pula kesemuanya tipu serangan yang membahayakan.
Dalam keadaan demikian, asal sedikit Hian-cin meleng maka tanpa ampun lagi darahnya pasti akan menyirami pasir kering.
Melihat pertarungan seru ini, suami-isteri Ho Lok-hua ikut berdebar, sebaliknya Bu Ging-yao diam-diam mengeluh juga.
Kiranya meski Kiam-hoat si gadis sangat keji, tapi soal keuletan harus diakui Hian-cin terlebih kuat.
Kalau sampai lama tak bisa merobohkan orang, akhirnya ia kuatir bisa kalah malah terhadap Imam tua ini.
Begitulah, maka yang satu terus merangsek dan yang lain tetap bertahan dan detik-detik berbahaya selalu menggetarkan orang.
Melihat setiap serangan Bu Ging-yao semakin cepat dan bertambah kencang daripada serangan lainnya meski tahu juga tidak sampai Hian-cin bisa kalah, namun tidak urung Ho Lok-hua berdua yang menonton di samping diam-diam kuatir.
Sementara itu Hian-cin sendiri sudah dapat melihat asalusul ilmu pedang Bu Ging-yao, ia menjadi sangat gusar.
Pikirnya.
"Hm, kiranya kau adalah anak murid Pek-hoat Mo-li, pantas kau sengaja hendak menguji aku!"
Karena itu, demi nama besar golongan Bu-tong-pay mereka, ia menjadi gemas tidak bisa sekali hantam mengalahkan si gadis.
Tetapi ilmu pedang tunggal ciptaan Pek-hoat Mo-li itu benar-benar keji luar biasa, betapapun Hian-cin tak berani berlaku sembrono.
Maka sesudah beberapa puluh jurus lagi, masih tetap ia tak bisa lebih unggul.
Hian-cin menaksir meski kepandaiannya lebih ulet daripada si gadis, kalau berlangsung lama tentu akan di atas angin, namun pihak lawan menang dalam hal usia lebih muda semangat menyala-nyala dan tenaga kuat, untuk menentukan unggul atau asor entah harus menunggu sampai kapan?
Padahal pasukan Boan hanya berada belasan li jauhnya bila konangan dan mengejar datang, bukankah itu berarti kedua pihak bakal celaka?
Maka dalam hati diam-diam ia pun mengeluh.
Di sebelah sana suami-isteri Ho Lok-hua berpikir begitu juga.
Tapi Hian-cin adalah Suheng mereka merangkap ketua, kalau sedang berada di bawah angin lalu kedua pihak dicegah buat berhenti bertempur, tentu buat pamor sang Suheng akan ku Tang baik, pula nama baik Bu-tong-pay mereka akan tercemar.
Ketika mereka ragu, sementara pertarungan kedua orang itu semakin sengit, tiba-tiba Ging-yao meloncat ke samping, menyusul dengan tipu serangan 'Ngo-eng-bok-tho' atau elang mencengkeram kelinci, dari samping pedangnya cepat menikam ke perut musuh.
Tapi latihan puluhan tahun Hian-cin tidak percuma, mendadak ia pun menggunakan tipu berbahaya, ketika senjatanya dia angkat dan orangnya menggeser ke samping, tampaknya seperti menghindari serangan, tak terduga mendadak malah terus maju balas menyerang, cepat pedangnya menyabet ke bawah sambil membentak.
"Awas kaki!"
Tak terduga ilmu pedang si gadis sangat cepat lagi keji, belum sempat serangan Hian-cin itu dilontarkan, tahu-tahu sinar tajam pedang Ging-yao sudah menyambar tiba ke lengannya, kalau Hian-cin membentak.
"Awas kaki!"
Sebaliknya ia memperingatkan.
"Awas tangan!"
Dan pada saat itulah segera terdengar suara gemerincing yang nyaring, pedang kedua orang tahu-tahu mencelat terbang ke angkasa.
Kiranya serangan Hian-cin tadi telah menggunakan seluruh tenaganya, tapi tipu tusukan Ging-yao yang cepat bisa tiba lebih dulu, dalam keadaan begitu kalau Hian-cin tidak menarik tangan, pasti pergelangan tangannya akan tertabas.
Siapa duga saking gusarnya Hian-cin menjadi nekad, mendadak pedangnya ia goncangkan keras menimpuk ke atas dengan kecepatan bagai anak panah.
Ketika Ging-yao coba menangkis, nyata tenaga yang terlalu besar itu tak dapat ditahannya hingga senjatanya ikut tergetar terbang, dibarengi letikan api kedua pedang itu mencelat ke angkasa untuk kemudian jatuh semua ke tanah rumput.
Serang-menyerang terjadi secepat kilat, tapi Ho Lok-hua dan Li Jiak-sim berbarengpun melompat ke tengah, Lok-hua menarik Hian-cin sambil berteriak.
"Berhenti, Suheng!"
Begitu pula Jiak-sim menahan Ging-yao sambil mencegah.
"Tahan dulu, Ging-moay!"
Karena itu, dengan napas yang masih tersengal Hian-cin memelototi Ging-yao tanpa buka suara.
"Sudahlah, kalian berdua sama kuatnya, tak perlu bertanding lagi,"
Demikian kata Lok-hua dan Jiak-sim bersama.
Segera Hian-cin menjemput pedangnya kembali, dan selagi Jiak-sim hendak menyuruh Bu Ging-yao meminta maaf, namun Hian-cin sudah mencemplak ke atas kudanya sambil berkata.
"Sungguh hebat, aku betul-betul kagum. Baiklah sebulan kemudian kita bertemu lagi di puncak Onta pegunungan Thian-san saja?"
Habis itu, tanpa menunggu jawaban si gadis, ketika kedua kakinya mengempit kencang, segera kudanya berlari pergi.
Setelah menyatakan maaf, segera suami-isteri Ho Lok-hua berdua pun mengeprak kuda menyusul sang Suheng.
"Ha, si hidung kerbau (kata olok-olok bagi Imam) sungguh sombong,"
Kata Ging-yao tertawa sesudah mengambil kembali juga pedangnya. Lalu ia pun menceritakan sebab-sebabnya ia menjajal orang tadi.
"Ya, meski orang Bu-tong-pay telah membikin menyesal gurumu, tapi kau pun keterlaluan!"
Ujar Jiak-sim tertawa juga. Dan bila kemudian pandangannya tertarik pada mayat jago pengawal yang menggeletak di tanah itu, tiba-tiba ia mendapatkan akal.
"Ah, sekarang kita ada jalan buat menembusi garis penjagaan musuh,"
Demikian katanya bertepuk tangan.
Segera ia mencopot pakaian lengkap dua jago bayangkara yang sudah tak bernyawa itu dan menyuruh Ging-yao menyamar juga, lalu mereka pun berlari menuju ke tapal batas.
Betul juga dengan menyamar sebagai dua jago bayangkara, kedua muda-mudi ini dengan selamat dapat mengelabui prajurit penjaga garis depan dan tanpa berhenti akhirnya mereka sampai di Lhasa, ibukota Tibet.
Di situ segera mereka berunding cara bagaimana harus mencari Pho Jing-cu dan kawan-kawan.
Kata Ging-yao.
"Ayahku mempunyai hubungan sangat rapat dengan saudara-saudara Thian-te-hwe di daerah barat-laut ini, istilah dan kode-kode rahasia yang biasa mereka gunakan aku pun tahu. Empat tahun yang lalu aku bersama ayah pernah datang ke Sinkiang bersama pemimpin Thian-te-we seperti Njo It-wi, Hoa Ci-san dan sebagainya, ada sebagian anggota Thian-te-hwe mereka yang disebar masuk ke Tibet, aku menduga mereka pasti berada di kota Lhasa ini, dan tentu ada cabang mereka di sini. Kota Lhasa tidak begitu besar, asal kita sering keluar masuk kedai arak dan rumah makan, besar kemungkinan akan bertemu dengan mereka. Seumpamanya tak bisa bertemu, asal kita meninggalkan kode rahasia, rasanya mereka pasti akan datang mencari kita."
Dan pada suatu hari, mereka berdua mendatangi sebuah restoran yang paling besar di Lhasa untuk makan-minum.
Tatkala itu waktu tengah lohor, tamu penuh sesak, baiknya mereka bisa mendapatkan sebuah meja di tempat bagus, mereka minta sepoci arak 'Tiok-yap-jing' yang terkenal dan asyik minum sambil pasang omong.
"Mari kita coba berlomba minum, maukah?"
Ajak Ging-yao tiba-tiba timbul hasratnya. Soal minum arak Li Jiak-sim boleh dikata 'jago minum', sudah tentu ia tidak mau kalah. Tapi dengan tertawa ia menjawab.
"Ah, kita ada tugas, jika kau mabuk lalu bagaimana?"
Namun Ging-yao tidak mau mengalah, dengan mulut menjengkit ia menjawab pelahan.
"Darimana kau tahu aku bakal mabuk?"
Mendengar itu, Jiak-sim menduga pasti si gadis akan memamerkan Lwekangnya, maka dengan pelahan ia membisikinya lagi.
"Di sini terlalu banyak orang, jangan kau sembrono main pamer."
"Jangan kau kuatir, aku tanggung tidak sampai diketahui orang lain,"
Sahut Ging-yao.
Tentang ilmu pedang Ging-yao yang hebat Jiak-sim sudah menyaksikannya, karena itu sesungguhnya ia pun ingin tahu betapa tinggi Lwekang si gadis.
Dan karena melihat Ging-yao terus mendesak, lalu ia pun berkata.
"Baiklah, tapi kita harus pakai taruhan."
"Taruhan apa?"
Tanya si gadis.
"Begini, siapa yang kalah, maka dia harus berjanji untuk menurut sepatah kata pihak yang menang,"
Kata Jiak-sim.
"Baik, akur!"
Sahut Ging-yao cepat.
Habis fy, secawan demi secawan mereka pun mulai minum sepuasnyaK Tidak lama kemudian, isi poci arak tadi berturut-turut sudah ditambah 4-5 kali, pelahan Li Jiak-sim tak tahan lagi akan pengaruh alkohol itu.
Ketika ia memandang Bu Ging-yao, ternyata kepala anak dara itu mengepulkan hawa panas, keringatnya berbutir-butir bagai hujan, maka tahulah ia gadis itu sedang menggunakan Lwekang yang tinggi untuk mendesak keluar arak yang sudah diminumnya itu.
Daerah perbatasan suhu dingin sekali, maka rakyat penggembala di barat laut itu suka minum arak buat obat penahan dingin, maka kekuatan minum mereka jauh lebih kuat daripada peminum arak daerah pedalaman umumnya.
Dan waktu itu di restoran itu juga tidak sedikit orang yang sedang minum besar, maka Jiak-sim pun tidak banyak menaruh perhatian.
Tapi Ging-yao adalah wanita yang menyamar sebagai lelaki, ia kuatir gadis ini terlalu banyak minum hingga kelihatan sifat kewanitaannya, hal ini akan membikin orang curiga.
Dan karena ia sendiri sudah delapan bagian terpengaruh air kata-kata itu, maka dengan suara rendah ia coba membisiki si gadis.
"Sudahlah, aku mengaku kalah saja."
Keruan saja senang luar biasa Ging-yao, matanya mengerling bening dan dengan tertawa baru ia berkata.
"Baiklah, boleh kau selesaikan rekening minum kita dan pulang. Dan nanti kau harus turut sepatah kata omonganku."
Tapi ketika Li Jiak-sim hendak memanggil pelayan buat membayar, tiba-tiba dilihatnya di meja sebelah ada seorang dengan sinar mata tajam tak berkedip lagi mengawasi mereka.
"Celaka!"
Kata Jiak-sim diam-diam.
Lekas ia membereskan rekening minum itu dan keluar dari restoran.
Waktu kemudian ia coba menoleh, dilihatnya orang tadi juga sedang mengintil di belakang mereka.
Karena itu, diamdiam Jiak-sim memberitahukan hal itu kepada Ging-yao.
"Bagus, biar nanti dia tahu rasa,"
Ujar Ging-yao tak gentar.
"Jangan,"
Cegah Jiak-sim.
"Orang ini kalau bukan kawan tentu adalah lawan. Jangan kau sembarangan turun tangan!"
Lalu mereka berdua memasuki sebuah gang kecil yang sepi, tiba-tiba.
dari depan sebuah gerobak sapi mendalangi.
Karena jalanan sempit, maka mereka harus mengegos tubuh buat lewat.
Tapi baru saja mereka melewati gerobak sapi itu, orang tadi tahu-tahu sudah berada di belakang mereka dan pura-pura menghindari tumbukan dengan gerobak itu, sekonyong-konyong tubuhnya sengaja menubruk ke depan terus menindih ke punggung Li Jiak-sim.
Tahu akan hal itu, diam-diam Jiak-sim mengumpulkan tenaga dalamnya dengan mementang kedua tangannya ke belakang dengan maksud memaksa orang itu melompat mundur.
Tak terduga orang itu terus menggunakan lututnya menyodok ke depan hingga tekukan lutut Li Jiak-sim linu pegal, rasanya menjadi lemas dan hampir jatuh mendeprok.
Keruan saja pemuda itu sangat terkejut.
Baiknya dengan cepat Bu Ging-yao membaliki tangan terus menotok hingga tanpa ampun lagi orang itu terguling.
Tapi cepat sekali dengan gerakan 'Le-hi-pak-ting' atau ikan lele meletik tubuh, orang itu segera bisa berbangkit lagi.
Segera Ging-yao hendak membentak bertanya, namun orang itu tiba-tiba menegur.
"Apakah kalian kenal Leng Bwehong?"
"Siapa kau?"
Balas Jiak-sim bertanya. Tampaknya orang itu menjadi gugup dan tak sabar.
"Jangan kau urus siapa aku,"
Demikian sahurnya. Lalu ia mendesak lagi.
"Aku hanya ingin bertanya apakah kau kawan Leng Bwe-hong?"
"Ada apa bila benar?"
Kata Ging-yao.
"Keadaan Leng Bwe-hong sangat berbahaya"
Tutur orang itu kemudian.
"Dan bila kedatangan kalian ini ialah untuk menolongnya, maka hendaklah diusahakan selekasnya."
"Darimana kau bisa tahu?"
Tanya Jiak-sim curiga.
"Tentu saja tahu,"
Sahut orang itu tertawa.
"Akulah orang yang menjaganya. Kelak bila ia menjalani hukuman, mungkin pula akulah yang menjadi algojonya. Cuma sungguh tak nanti aku bisa membunuhnya."
Mendengar itu, wajah Jiak-sim berubah hebat.
"Betulkah kata-katamu ini?"
Desaknya pula.
"Untuk apa aku mendustaimu?"
Sahut orang itu.
"Kalau begitu, lekas kau kembali menemui Leng-tayhiap dan bilang padanya pertemuan kita ini, dan malam nanti kita bertemu lagi di Se-sian-san,"
Kata Jiak-sim kemudian.
Kiranya orang itu adalah Bu-su atau jago silat bangsa Hwe yang baru diterima In Te, namanya Be Hong.
Bersama Ciu Jing ditugaskan menjaga Leng Bwe-hong itu, mereka berdua malah sudah menjadi orang kepercayaan Bwe-hong sekarang, maka tak pernah mereka lupa untuk berusaha menolong Leng Bwe-hong dari tawanan musuh.
Cuma sayang, karena orangnya sedikit dan tenaga lemah, maka sebegitu jauh mereka masih tak berdaya.
Seringkah di malam hari Leng Bwe-hong suka pasang omong dengan mereka dan menceritakan pengalamannya maka siapa yang menjadi kawan Bwe-hong, kedua orang itupun rada paham.
Be Hong sudah banyak berpengalaman mengembara di Kangouw, ketika hari ini di restoran itu dilihatnya Bu Ging-yao dan Li Jiak-sim berdua sedang minum besar, diam-diam ia menjadi heran dan curiga.
Kiranya wajah Li Jiak-sim dan Bu Ging-yao putih halus dan sikapnya lemah-lembut, terang kelihatan datang dari daerah pedalaman, tetapi kekuatan minum araknya ternyata tidak di bawah mereka yang hidup di daerah dingin, inilah yang telah menimbulkan perhatian Be Hong.
Setelah ia menegasi lagi, roman pemuda yang berdandan sebagai cendekiawan ini mirip sekali dengan orang yang pernah dilukiskan dalam cerita Leng Bwe-hong, dan sesudah ditanya, ternyata tidak salah lagi.
"Mengapa kau tidak berjanji bertemu di tempat penginapan saja?"
Tanya Ging-yao pada Li Jiak-sim sesudah Be Hong pergi.
"Perkataan orang ini boleh dipercaya, tapi juga tak boleh percaya seluruhnya,"
Kata Jiak-sim. Sambil jalan sambil bicara, sampai akhirnya tiba-tiba Bu Ging-yao memegang kencang tangan Jiak-sim sambil berkata dengan tersenyum.
"Li-kongcu, tadi kau telah kalah taruhan miniiTri arak., kini kau harus menurut sesuatu padaku."
"Baiklah aku menurut, katakanlah,"
Ujar Jiak-sim.
"Kau suka tidak terhadap padang rumput di Sinkiang?"
Tanya Ging-yao tiba-tiba dengan tertawa dan menundukkan kepala. 'Tidak datang di Sinkiang, belum bisa mengetahui luasnya negeri kita,"
Sahut Jiak-sim.
"Padang rumput yang luas tak berbatas, tak jemu-jemunya dalam pandangan mata, membikin semangat orang bangkit dan perasaan menjadi lapang, sungguh aku suka sekali."
"Kalau begitu aku ingin kau selama hidup ini tinggal di padang rumput dan senantiasa mendampingi aku, maukah?"
Kata Ging-yao pelahan sambil tangannya meremas tangan Li Jiak-sim. Hati Jiak-sim tergoncang mendengar permintaan orang, tapi segera ia pun menjadi girang.
"Memang inilah yang kuharapkan,"
Akhirnya ia berkata dengan suara rendah juga.
Pemuda yang hidup dalam keluarga militer dan sudah lama memimpin pasukan tentara ini, sedikit sekali ia memikirkan soal hubungan antara laki-perempuan.
Maka sejak berkenalan dengan Bu Ging-yao, walaupun dua hati sudah saling mencintai, namun selalu tak berani mengunjuk rasa cintanya itu.
Selama setengah bulan mereka dalam perjalanan, Ging-yao sebenarnya sudah lama menanti Li Jiak-sim mengutarakan cintanya, tak tahunya dalam soal ini, Jiak-sim jauh lebih pemalu daripada kaum wanita, oleh karena itu, di bawah pengaruh air kata-kata hari ini Bu Ging-yao telah mengutarakan perasaan hatinya yang selama ini tersekap.
Dengan saling bersandaran, kedua muda-mudi berjalan di jalan besar yang panjang dan sunyi, Li Jiak-sim merasa bau harum yang semerbak meresap seakan memabukkan orang, banyak sekali kata-kata dalam hatinya sampai ia tidak tahu cara bagaimana harus memulainya.
"Sudah sampai, apa kau masih hendak jalan terus?"
Akhirnya Ging-yao yang menegur dengan tertawa, sesudah mereka jalan pula tak lama dengan bergandengan tangan.
Dan ketika Li Jiak-sim mendongak, maka terlihatlah rumari penginapan mereka ternyata sudah di depan mata, tak terasa ia tersenyum.
Setelah mereka masuk ke rumah penginapan dan membuka pintu kamar, sekonyong-konyong terdengar suara pertanyaan o-rang tertahan dari dalam kamar.
"Baru kini kalian kembali?"
Waktu Jiak-sim memandang, maka tertampak di tempat tidurnya berduduk seorang tua, ternyata bukan lain daripada o-rang yang mereka harapkan siang dan malam, Pho Jing-cu adanya.
"Pho-pepek, ayahku mengirim salam selamat padamu, kenapa diam-diam kau pun datang ke sini!"
Segera Ging-yao memanggilnya.
"Orang kita telah dapat melihat tanda rahasiamu, dan aku lantas datang ke sini diam-diam!"
Jing-cu menerangkan.
"Pho-pepek telah membawa berapa orang kemari?"
Tanya Jiak-sim tiba-tiba.
"Tidak sedikit memang orang yang kita bawa, tetapi penjagaan di istana Potala kuat sekali, sedang Leng Bwe-hong belum diketahui pula disekap dimana?"
Sahut Jing-cu menghela napas.
"Kalau kita menggempurnya dengan berani, mungkin belum sampai masuk ke dalam, Leng Bwe-hong sudah kena dibunuh lebih dulu."
"Kalau ada bantuan dari dalam, pasti berhasil,"
Kata Jiaksim. Sinar mata Pho Jing-cu tiba-tiba menyorot terang, agaknya ia tersadar.
"Ya, apa di dalam pasukan Boan itu, kau mempunyai kenalan?"
Tanyanya cepat.
"Kenalan sih tidak ada, tapi sebaliknya sudah ada orang yang menghubungi kita,"
Sahut Jiak-sim. Lalu ia pun menceritakan pengalamannya tentang diri Be Hong. Pho Jingcu terdiam sejenak, ia sedang berpikir.
"Kalau begitu tiada halangannya coba menemuinya,"
Katanya kemudian.
"Tetapi harus berjaga juga jangan sampai terjebak, malam ini biar aku bersama beberapa saudara yang lain menunggu di Se-sian-san untuk membantumu bila perlu."
Sesudah berjanji baik-baik tanda rahasia dan waktu yang ditetapkan, Pho Jing-cu lantas berlalu sendirian.
Kiranya sesudah Pho Jing-cu bersama beberapa ratus orangnya berhasil menyelundup masuk ke Lhasa, segera mereka membagi diri dalam beberapa kelompok kecil, Pho Jing-cu tinggal di rumah seorang penggembala bangsa Kazak.
Waktu Jing-cu sampai di rumah tinggalnya itu dan baru saja melangkah masuk, ia sudah dipapaki oleh Lauw Yu-hong dengan muka muram.
"Ci-pang telah pergi tanpa pamit,"
Tutur Yu-hong dengan suara sedih.
"Kemana? Adakah ia meninggalkan surat?"
Tanya Jing-cu dengan heran.
"Tiada sama sekali,"
Kata Yu-hong pula. Jing-cu mengkerut kening oleh berita itu, ia berpikir sejenak, habis itu ia berkata pula.
"Ci-pang bukan manusia yang tamak hidup dan takut mati, kepergiannya ini kukira tentu ada sebabnya."
Kiranya selama Leng Bwe-hong tertawan, selalu Yu-hong muram dan tak suka berkata.
Beberapa hari ini Han Ci-pang senantiasa menghiburnya dengan penuh simpatik, ia benarbenar seorang sahabat baik dalam penderitaan.
Sebaliknya bila teringat akan sikapnya yang dingin selama sepuluh tahun ini terhadap Ci-pang, diam-diam Yu-hong merasa menyesal, ia kuatir kalau Han Ci-pang seperti kejadian di Hunkang dulu itu, telah pergi tanpa pamit.
Nampak Yu-hong bermuka muram tak bergembira, lekas Pho Jing-cu memberitahu padanya tentang Li Jiak-sim yang telah dapat menghubungi orang dalam pasukan Boan.
Hal inilah yang membikin Lauw Yu-hong menjadi girang.
Malamnya menurut waktu yang telah ditetapkan, Li Jiaksim dan Bu Ging-yao sudah menunggu di Se-sian-san.
Namun sesudah menunggu agak lama masih belum tampak batang hidung Be Hong, sudah tentu mereka sangat curiga.
Sementara itu sudah dekat tengah malam, sedang angin dan salju turun dengan lebat.
"Lebih baik pulanglah,"
Usul Ging-yao.
Tetapi Jiak-sim tidak menyahut.
Tiba-tiba ia bersuara heran dan bila Ging-yao berpaling, maka terlihat olehnya dari atas gunung itu tiba-tiba sesosok bayangan hitam berlari cepat menuju mereka.
"Toako, orang ini bukan Be Hong,"
Kata Ging-yao, ia biasa melatih ilmu menggunakan senjata rahasia Bwe-hoa-ciam, semacam jarum yang lembut, maka penglihatannya sangat tajam sekali.
Tak lama lagi, orang itu makin lama makin dekat, waktu Li Jiak-sim menegasi, ternyata orang yang mendatangi ini adalah seorang pemuda berusia antara dua puluhan tahun, padahal Be Hong sudah berusia setengah umur atau lebih dari empat puluh tahun.
"Ia hanya seorang diri, coba kau amat-amati dari samping, biar kutanya dia,"
Pesan Jiak-sim pada Bu Ging-yao.
Sedang mereka bicara, maka orang itupun sudah sampai di depan mereka dan segera mengucapkan tanda rahasia yang sudah ditetapkan dengan Be Hong, setelah mana tiba-tiba ia membuka tangannya lalu berkata.
"Ini adalah surat Lengtayhiap kepada kalian."
Jiak-sim kuatir kalau terjebak, untuk menjaga segala kemungkinan, maka diam-diam ia menggunakan gerakan 'Kim-na-jiu' atau ilmu cara memegang dan menangkap, dengan tiga jarinya ia memencet kencang urat nadi tangan orang, setelah itu baru ia melihat ke tangan orang.
Ia lihat di atas telapak tangan itu tertulis.
"Yang datang adalah sahabat baikku, boleh rundingkan cara-cara untuk merampas penjara."
Tidak salah lagi tulisan itu memang tulisan Leng Bwe-hong sendiri.
"Aku selamanya belum pernah berjumpa dengan Enghiong-hokiat (pahlawan dan orang gagah perkasa) dari kalangan Kangouw, kini aku telah mengenal Leng-tayhiap, dan dapat berkenalan pula dengan kalian, sungguh hal yang menggembirakan sekali dalam hidupku ini,"
Dengan tertawa orang itu mengutarakan perasaannya setelah tangannya dilepaskan oleh Li Jiak-sim.
"Eh, gerakan 'Kim-na-jiu' tadi bagus sekali, dari cabang manakah gerak tipu itu? Ah, sudah banyak sekali aku bercerita tapi masih belum memberitahu padamu, aku bernama Ciu Jing, dengan Be Hong, kami bersahabat baik sekali."
Melihat sifat erang yang lincah dan menarik, sungguh L i J iak-sirn.
heran mengapa pemuda yang sedikitpun belum berpengalaman di Kangouw, bisa menjadi bayangkara kepercayaan di kerajaan*?
Nyata ia tidak tahu bahwa Ciu Jing adalah pengawal yang telah turun temurun.
"Hari ini justru Be-toako berdinas jaga, karena itu aku yang mewakilinya kemari,"
Terdengar Ciu Jing berkata pula. Sembari omong sambil ia mengeluarkan selembar peta terr bikin dari kulit.
"Nampak itu, sungguh tidak kepalang girang Li Jiak-sim. Di atas peta itu ternyata dilukiskan semua jalan dan pintu di dalam istana Potala yang sangat ruwet itu, tempat dimana Leng Bwe-hong disekap, malahan diberi tanda bundaran merah pula.
"Inilah yang kami gambar secara diam-diam, beribu jalan dan pintu di dalam istana yang simpang-siur itu ada sebagian kami sendiri pun tidak jelas, oleh karena itu peta ini kami gambar hanya menurut ingatan kami saja,' kata Ciu Jing pula.
"Kalau kalian sudah hafal dan ingat betul, malam lusa, harap mengirim jagoan ke sana, kami nanti membantu dari dalam."
Dan sehabis Ciu Jing pergi, dengan tertawa berbahak lalu Pho Jing-cu unjukkan diri dari tempat gelap.
"Leng Bwe-hong sungguh hebat sekali!"
Katanya sambil mengacungkan jempolnya.
"Sampai musuh yang menjaganya kena dihasut menjadi sahabatnya."
Pada malam itu juga lantas mereka menentukan siasat untuk menggempur istana Potala.
Besoknya Li Jiak-sim dan Bu Ging-yao telah pindah dan sekalian tinggal bersama dengan Pho Jing-cu.
Kembali pada Leng Bwe-hong yang dikurung dalam istana yang agung itu, ia sudah hampir sebulan terkurung, tetapi di dalam penjara ia pun tidak membuang tempo percuma, ia pergunakan tiap kesempatan untuk berbicara dengan pengawal yang menjaganya, ia menceritakan kepada mereka kejadian dalam Kangouw yang menarik, kadang ia malah memberi petunjuk ilmu silat kepada mereka.
Di samping itu, pada malam-malam yang terasa panjang itu, ia selalu menyelami dan memperdalam rahasia ilmu silat yang lebih tinggi, bukan saja Thian-san-kiam-hoat sudah ia yakinkan hingga masak betul, bahkan ia menciptakan banyak gerak serangan baru dan aneh berdasarkan pengalamannya selama ini.
Ia merasa dirinya kini sudah jauh lebih matang daripada dahulu.
"Meskipun aku sudah tak memiliki jari jempol kanan, tetapi asal aku tidak mati dalam penjara, aku masih dapat mengajarkan orang memainkan pedang,"
Begitu pikirnya.
Ia tahan uji oleh segala penderitaan, ia merasa bangga kepada jiwanya sendiri yang kukuh teguh itu.
Dan akhirnya tibalah pada malam yang telah dijanjikan dengan Pho Jing-cu.
Dalam malam yang gelap gulita, sekonyong-konyong terdengar suara ledakan yang gemuruh.
Tak lama kemudian tertampak Ciu Jing berlari mendatangi, ketika ia memberi tanda dengan kedipan mata, menyusul segera terdengar Leng Bwe-hong menggertak terus meronta sekuatnya, semua borgol di badannya retak dan hancur semuanya, bahkan dengan telapak tangannya segera ia membikin hancur pula meja batu yang berada di dalam kamar penjara.
Beberapa pengawal yang menjaganya menjadi ternganga kaget oleh kejadian yang mendadak itu.
Sementara itu Ciu Jing pura-pura menjerit ketakutan dikejar oleh Leng Bwe-hong.
Maka tidak antara lama, kedua orang itu sudah melewati banyak pintu dan jalanan.
Bercerita pula mengenai Pho Jing-cu dan kawan-kawan, mereka telah menyerbu masuk ke dalam istana Potala dengan menurut apa yang dilukiskan dalam peta, meskipun tentara Boan berjumlah banyak, namun musuh yang datang semua terdiri dari ahli silat kelas tinggi, lagi pula di malam gelap dan diserbu mendadak, maka tanpa banyak rintangan penjagaan dibobol Pho Jing-cu dan kawan-kawan hingga masuk tiga lapis pintu luar.
Ketika Lauw Yu-hong sedang berteriak memanggil Leng Bwe-hong, mendadak tiga pintu lapisan sebelah dalam terbuka, dengan pedang tergantung di pinggang, Coh Ciaulam berdiri di tengah sambil tertawa terbahak.
"Hahaha, kalian jauh-jauh sudi datang ke sini, marilah silakan masuk minum dulu!"
Demikian teriak Coh Ciau-lam mengejek.
Tak sabar lagi Ie Lan-cu, cepat ia mengenjot tubuh, bagai burung terbang ia melesat maju dan pedangnya segera menusuk, namun Ciau-lam sempat menangkis.
Habis itu dengan cepat ia mundur pula masuk ke dalam pintu yang lain, berbareng Thio Hua-c iau dan Kui Tiong-bing pun memburu maju.
"Hati-hati!"
Terdengar Pho Jing-cu memperingatkan mereka tetapi tidak urung ia sendiripun ikut masuk ke dalam bersama orang banyak.
"Pho-lothauji, hayo kita bertanding sekali lagi,"
Tantang Ciau-lam dari dalam.
Akan tetapi Bu Ging-yao telah mewakilkan menjawab dengan segenggaman jarum peraknya disertai suara gelak tertawanya cepat Coh Ciau-lam mengenjot kaki dan tubuhnya lantas mencelat ke belakang, kembali ia masuk ke pintu yang lain lagi.
"Jangan buru-buru, kita boleh menyerbu masuk menurut peta, keparat ini pasti tak akan lolos, sementara ini jangan kita terjebak oleh tipu muslihatnya!"
Ujar Li Jiak-sim tenang Dan.belum habis ia berkata, mendadak pintu-pintu di sekitarnya berputar-putar cepat, setelah mana semua orang tak bisa membedakan pula jurusan mana yang harus ditempuh, mereka merasa pintu itu berderet-deret dan bersusun, tiap tempat seperti dijaga dengan kuat Li Jiak-sim mengeluh, tetapi segera ia memutar senjata 'Liu-sing-tui' dengan cepat ia menghantam hancur sebuah daun pintu, menyusul itu dari dalam segera menerjang keluar belasan jago pengawal secara beramai, tapi sehabis menempur beberapa jurus, kemudian dengan cepat mereka berpencar menghilang pula masuk ke dalam lapisan dinding dari pintu kecil dan melalui jalan lorong yang dibikin mirip seperti jala laba-laba.
Hanya sekejap saja mereka sudah menghilang tak tampak bayangannya yang terdengar hanya suara tertawa Coh Ciau-lam yang terkekeh-kekeh.
Kembali lagi pada Leng Bwe-hong, setelah ia pura-pura mengejar Ciu Jing sampai ruangan besar di tengah, tiba-tiba keadaan sepi senyap tak tampak barang seorang pun, ia merasa curiga tiba-tiba pintu-pintu di empat penjuru terbuka lebar semuanya dan beratus jago pengawal berbareng menerjang keluar di bawah pimpinan Coh Ciau-lam.
"Coh Ciau-lam, beranikah kau bertempur untuk menentukan mati-hidup denganku!'?"
Teriak Bwe-hong menantang dengan sikapnya yang angkuh dan gagah berani.
Dan karena bentakan itu, para pengawal itu jadi tertegun tak berani maju, tak terduga sedikit salah bertindak ia menjadi tertegun, seketika Ciu Jing pun berhenti berlari dan oleh karena itu tipu dayanya jadi ketahuan.
"Tangkap Ciu Jing dulu!"
Teriak Ciau-lam mendadak dengan bengis sambil menerobos maju di antara orang banyak.
Mendengar perintah itu, dua Thongling dari pasukan 'Kimwi-kun' segera mengembut maju juga, akan tetapi Leng Bwehong telah mendahului memapakinya, ketika kedua tangannya mengulur mendadak, segera seorang yang di depan telah kena terpegang.
"Pergi!"
Terdengar gertakan Leng Bwe-hong, menyusul ia lemparkan sekuatnya hingga orang yang datang belakangan itupun kena ditumbuk terguling sekalian, waktu tangannya bergerak lagi, maka ia menarik Ciu Jing dan segera dibawanya lari menuju pintu di samping kiri, dalam pintu itu sebenarnya ada beberapa penjaga tetapi mereka hanya berteriak tems menyingkir pergi.
Sambil mendukung Ciu Jing, Leng Bwe-hong melompat naik ke atas suatu pagar tembok, dan baru saja ia menancapkan kakinya di atas, tiba-tiba ia sudah merasakan di belakangnya ada angin tajam menyambar, dengan cepat senjata musuh sudah menyerang.
Lekas Leng Bwe-hong memutar tubuh menggeser pergi, ia mendorong Ciu Jing keluar pagar tembok sambil berkata.
"Lekas selamatkan jiwamu sendiri!"
Dalam pada itu, Yu-liong-kiam, pedang pusaka Coh Ciaulam sudah menyambar pula ke bawah iganya.
Leng Bwe-hong menarik dirinya ke belakang, tapi segera ia merasa sudah sampai di tepi pagar tembok itu, untuk mundur lagi sudah tak mungkin, dalam gugupnya ia memiringkan tubuh dan berkelit ke samping, namun perubahan serangan Coh Ciau-larn pun cepat Tiba-tiba Bwe-hong membaliki tangannya lantas menghantam. "creng" Terdengar suara nyaring, ternyata pokiam Coh Ciau-lam telah kena dipukul terpental dari cekalannya. Pukulan Leng Bwe-hong tidak lain adalah pukulan aneh yang ia ciptakan sendiri dan dikombinasikan dengan Thian-san-cio-hoat dan Tat-mo-cio-hoat. Coh Ciau-lam tak pernah menyangka lawan bisa menghantam dengan tipu pukulan itu, maka ia telah kecundang. Namun Coh Ciau-lam sudah biasa menghadapi musuh tangguh, begitu Leng Bwe-hong memukul, ia lantas tahu tak berdaya menghindari pukulan itu dan tak sempat menarik pedangnya, maka ia membarengi mengangkat sebelah kakinya mendu-pak. Sebaliknya begitu Leng Bwe-hong tangan kirinya memukul, tangan kanannya menyusul menahan ke depan, karena itu keduanya berbareng menyerang dan samasama terkena, di antara suara gablokan dua kali, Leng Bwehong kena terdupak dan Coh Ciau-lam menerima satu pukulan, mereka terjatuh ke bawah tembok. Namun sebelum berbangkit kembali, kaki Leng Bwe-hong bekerja lebih dulu, sambil duduk di atas tanah ia menyerampang pula, segera dua pengawal di dekatnya kena disapu pergi hingga jauh. Sementara itu Coh Ciau-lam menjemput kembali Yu-liong-kiamnya dan datang menyerang lagi. "Tanpa pedang aku pun sanggup menghajarmu pengkhianat ini!" Kata Bwe-hong dengan gusar. Segera dengan tangan kiri mengepal dan tangan kanan telapak terbuka, ia rnerangsek maju, sekalipun senjata Yuliong-kiam Coh Ciau-lam berulang-ulang menusuk dan membabat, namun sama sekali ia tak mampu mengenai sasarannya, sedang para pengawal lain mengelilingi empat penjuru tidak berani maju membantu. Kiranya Coh Ciau-lam yang menyangka dirinya memakai pokiam tentu tidak akan dikalahkan Leng Bwe-hong, oleh karena itu, sebelumnya ia sudah berpesan kepada kawankawannya agar jangan membantunya Memangnya banyak pengawal juga tak ingin bermusuhan dengan Leng Bwe-hong, maka sudah tentu mereka 1 ebih suka menonton saja di pinggiran. Maka dalam sekejap saja, kedua orang telah saling gebrak hampir tiga puluh jurus, namun Coh Ciau-lam sedikitpun masih belum bisa memperoleh keuntungan, sebaliknya Leng Bwe-hong telah mengunjuk kegagahannya, ia bertarung dengan siasat menyerang cepat, dengan tangan kosong ia memaksa hendak merebut pokiam Coh Ciau-lam. Karena itu Ciau-lam terpaksa melawan mati-matian, beruntun ia menusuk pula beberapa kali, tenaganya besar dan serangannya berat. Tak ia duga gerak tubuh Leng Bwe-hong ternyata sangat cepat, begitu berkelit segera ia balas menyerang, tiba-tiba ia sedikit berjongkok lantas melangkah maju, dua jarinya secepat kilat menjojoh ke muka Coh Ciaulam. Mengerti akan bahaya yang mengancam dirinya lekas Ciau-lam meloncat ke samping beberapa tindak dan beruntung baru bisa menghindarkan serangan itu. Nampak' pemimpin mereka terdesak, beberapa orang kepercayaannya tak menghiraukan lagi pesan Coh Ciau-lam, berduyun-duyun mereka segera maju. Sementara itu dengan gelak tertawa Coh Ciau-lam mundur sampai di pintu pojok. "Leng Bwe-hong, umpama kubiarkan kau lari, kau pun takkan bisa lolos keluar dari sini!" Demikian teriaknya. Setelah mana sekali ia memberi tanda, para pengawal yang ada di situ semuanya lantas menghilang pula masuk ke dalam pintu yang berlapis-lapis, beberapa pengawal yang mengembut Leng Bwe-bong pun mundur juga walaupun belum kalah. Sunyi senyap Leng Bwe-hong memandang sekelilingnya, ia coba melayang naik ke atas atap sebuah rumah untuk memandang, namun tetap tidak nampak bayangan seorang pun. la menerobos ke sini dan menyelusup ke sana, tapi meski sudah ribut sendirian setengah hari, masih tetap juga ia tak mendapatkan jalan keluar dari istana yang membingungkan itu. Dan pada waktu yang sama juga, Pho Jing-cu dan kawankawan pun terkurung di lapisan pintu ketiga di sebelah luar istana itu, mereka maju setindak demi setindak sambil menerobos ke sini dan menerjang ke sana, namun tetap belum mendapatkan jalan keluarnya sebaliknya dari segala jurusan dalam istana yang luar biasa itu penjaga-penjaga yang telah disiapkan lebih dulu bergerak serentak, tiap tempat yang pentung di situ pasti ada tentara Boan menghadang dengan memasang kaitan dan anak panah. "Bangsa tikus berani kurang ajar!" Pho Jing-cu menggertak gusar, setelah mana dengan pedangnya ia membacok sebuah pilar batu yang segera tergumpil, dan dengan sekali memutar, secepat kilat ia menubruk maju menuju tempat yang paling banyak terdapat penjaga. Kui Tiong-bing dan Ie Lan-cu pun tidak tinggal diam, dengan dua pokiam, mereka membuka jalan di kanan dan kiri, siapa yang berani merintangi tentu mati. Tetapi sekali berteriak ramai, tentara Boan yang tadinya menggerombol itu tahu-tahu berlari berpencar. Para pahlawan menerjang ke beberapa tempat, mereka memilih di mana terdapat banyak orang, di situlah mereka lantas menerjang. Dan setelah berputar kian kemari hampir setengah harian, tiba-tiba Pho Jing-cu berseru. "Berhenti!" Kemudian ia menuding pada sebuah tiang batu di sampingnya ternyata pada tiang itu tertampak tanda bekas bacokan pedangnya tadi, sesudah mereka berputar setengah hari, akhirnya ternyata kembali lagi pada tempat semula. "Sudahlah, paling baik kalau kita berdiam saja, agar tidak membuang tenaga percuma" Ujar Jing-cu. Lantas mereka berjajar menjadi sebuah lingkaran, dengan saling mendempet menghadap ke depan, mereka melayani anak panah yang menghujani mereka. "Tidak nyana setelah berjuang selama hidup ini, kini harus terbinasa di sini dengan penasaran," Demikian Li Jiak-sim menghela napas, ia putus asa setelah bertahan beberapa lama lagi masih tak berdaya. "Lauw-toaci, tidakkah kau membawa 'Coa-yam-ci'?" Tibatiba Bu Ging-yao bertanya pada Lauw Yu-hong. "Di tempat ini angin besar dan benda kering, nyalakan api dan bakar saja!" "Kita tidak tahu jalan keluarnya kalau menyalakan api nanti, jangan-jangan kita sendiri yang mati terbakar di lautan api," Kata Li Jiak-sim. Pho Jing-cu adalah satu-satunya orang yang paling tua dengan pengalaman yang luas pula namun ia pun hanya garuk-garuk kepala saja tanpa berdaya. Selagi mereka bingung dan kuatir, tiba-tiba dari pintu pojok sebelah barat terdengar ada suara orang membentak, menyusul itu terlihat seorang jago pengawal yang masih berusia muda secepat terbang sedang berlari keluar. "Ciu Jing apakah kau sudah gila mengapa berlari tak keruan?" Terdengar para penjaga lain pada berteriak ramai. Dalam pada itu, disertai suara tertawanya yang panjang, Pho Jing-cu tiba-tiba melayang maju, orang berikut pedangnya yang diputar cepat hingga merupakan selarik sinar perak terus menyergap dari atas. Kemudian tangan kirinya menjambret, bagai elang menyambar kelinci, sekaligus ia menarik naik tubuh Ciu Jing, berbareng itu pedang di tangan kanannya diayun pula hingga para pengawal yang mengejar datang kena disapu pergi simpang-siur. Dalam sekejap itu, Kui Tiong-bing dan Ie Lan-cu pun sudah menyusul di belakang Pho Jing-cu, kedua pedang mereka bekerja cepat, segera seperti memotong semangka dan merajang sayur saja belasan musuh kena dirobohkan. Karena itu, sambil berteriak ramai, kembali tentara musuh berpencar bubar pula ke empat penjuru. Tadi waktu rahasia Ciu Jing terbongkar oleh Coh Ciau-lam, berkat pertolongan Leng Bwe-hong, ia berhasil menyelamatkan jiwanya dengan melintasi pagar tembok, tentara dan pengawal lainnya belum mengetahui bahwa dia telah berkhianat, ternyata memberi kesempatan padanya untuk mengeluyur sampai di luar dan bergabung dengan Pho Jing-cu dan kawan-kawan. Maka sesudah berhasil menolong Ciu Jing, girang sekali rasa hati Pho Jing-cu, dengan cepat ia lantas tanya "Kenalkah kaujalan di sini?" "Boleh coba," Sahut Ciu Jing. Habis itu, dengan apa yang ia tahu, ia membawa para pahlawan menerjang menuju ke pintu keluar. Akan tetapi pada saat ilu juga, di antara anak panah yang laksana hujan itu, tifca-tiba Coh Ciau-lam telah menampakkan diri pula "Ciu Jing, kau banyak menerima budi dari negara, berani kau berkhianat?" Bentak Ciau-lam. Menyusul itu ia menyambar sebuah busur dan lantas memanah Ciu J ing. Tetapi Pho Jing-cu tidak membiarkan kejadian itu berlangsung, ia menarik Ciu Jing ke kiri, setelah itu pedangnya lantas menyampuk, anak panah itu tersampuk menceng terus menancap masuk ke sebuah tiang di jurusan lain. Bukan main takut Ciu Jing, sementara itu beruntun saling susul Coh Ciau-lam telah melepaskan pula dua panah. Kali ini Kui Tiong-bing yang mengunjukkan kemahirannya, ia mengayun tangannya, dua 'Kim-goan' atau anting emas segera menyambar dari tangannya dengan membawa suara angin mendesir dan dengan cepat membentur jatuh kedua panah yang dilepaskan Coh Ciau-lam itu, bahkan 'Kim-goan' itu masih berputar di angkasa sejenak, kemudian baru jatuh ke barisan tentara Boan. Coh Ciau-lam heran dan terperanjat sekali, ia tidak menyangka kepandaian 'bocah cilik' ini bisa maju begitu pesat, ia memberi tanda dengan tangannya, lalu mendadak pintu besar dari sebuah jalanan lorong terpentang lebar, segera ia menghilang pula masuk ke dalam. Sedang jago pengawal lainnya tampak berjalan kian-kemari di antara lorong yang berbentuk jala laba-laba itu, kadang mereka masih melepaskan pula anak panah. Ciu Jing coba membawa para pahlawan berputar lagi beberapa kali, tetapi akhirnya ia pun mengeluh. "Pintu-pintu sudah banyak berubah dan jalanan simpang-siur, aku sendiri tak mengenal lagi," Katanya terhadap Pho Jing-cu. Terpaksa Jing-cu berhenti sambil terpekur. "Bagaimana baiknya kini!" Mau tak mau ia pun mengeluh tanpa berdaya. Istana Potala itu sebenarnya adalah bangunan pujaan kaum Larnma, tapi sesudah In Te tiba, istana itu telah diubahnya menurut bentuk Pat-kwa, ia menambahi pintu dan merombak jalanan di dalamnya, yang Ciu Jing kenal hanya sebagian saja dan tidak mengenai semua rahasia di dalamnya. Karena itu, mereka tetap terkurung oleh Coh Ciau-lam. Setelah Pho Jing-cu menenangkan diri, tiba-tiba didengarnya di antara lapisan pintu itu berkumandang suara terompet dan genderang yang ramai saling sahut, mungkin pasukan musuh sedang disiapkan untuk mengepung mereka lebih rapat. Selagi ia berkuatir, tiba-tiba dari pintu di pojok kanan, dari dalam pasukan musuh mendadak muncul seorang bertopeng, kelihatan Coh Ciau-lam yang berada di dalam pintu besar jalanan lorong itu lagi membentak. "Tangkap dia, bunuh saja tanpa perkara!" Demikian bentak Ciau-lam. Menyusul itu empat jago pengawal segera memburu maju dengan cepat, Pho Jing-cu yang jaraknya agak jauh tak sempat maju buat membantu, karena itu ia hanya bisa menyaksikan saja dengan terkesima. Keempat jago pengawal yang memburu itu, semuanya adalah jagoan terpilih di antara 'Kim-wi-kun' itu, Coh Ciau-lam menaksir mereka tentu akan berhasil menangkap orang bertopeng itu. Waktu sudah dekat, seorang pengawal yang menggunakan 'Hui-jiau', semacam senjata berbentuk cakram bertali, segera hendak mencengkeram ke atas kepala orang, tetapi secepat kilat orang bertopeng tadi mendadak mendekam ke bawah untuk kemudian dengan sekali menggerakkan kakinya ia menyerampang dengan kuat, tak ampun lagi pengawal pemakai cakram kena disapu pergi, menyusul itu pengawai lain yang mengikut di belakangnya dengan senjata 'Kau-lianchio', semacam tombak berkali, tiba-tiba pun menjerit terguling pula. Pengawal ketiga memiliki ilmu silat paling kuat, ia menubruk maju sambil membentak, tetapi manusia bertopeng itu mendadak memapak maju, tiba-tiba ia menyeruduk ke depan malah, saking gugupnya karena tak menduga musuh bisa berbalik me-mapakinya, baru saja pengawal itu hendak menggunakan kedua ruyungnya, mendadak telapak tangan orang bertopeng sudah menghantam dari samping, tetapi belum sampai terkena, tiba-tiba pula diganti dengan menotok dengan dua jarinya, maka terdengarlah pengawal itu bersuara tertahan, kedua nryungnya terjatuh dan tubuhnya segera kena diangkat oleh orang bertopeng itu terus diayun ke belakang, keruan saja pengawal keempat yang baru saja tiba pun kena tersapu pergi jauh. "Lepas panah!" Terdengar Coh Ciau-lam memberi perintah. Tetapi manusia bertopeng itupun tidak kurang akal, ia mengayunkan tubuh pengawal yang ia tangkap tadi sambil terus berlari ke depan, karena kuatir akan mengenai kawan sendiri, di antara pasukan Boan itu hanya beberapa orang saja yang melepaskan panah. Sementara itu secepat angin orang bertopeng tadi sudah bergabung dengan rombongan Pho Jingcu. Hanya dalam beberapa gebrakan saja orang bertopeng itu sudah merobohkan empat jago pengawal, bukan saja Pho Jing-cu merasa heran, bahkan Coh Ciau-lam juga terperanjat. Orang itu berdandan sebagai pengawal 'Kim-wi-kun', akan tetapi Coh. Ciau-lam tak bisa ingat siapa di antara bawahannya yang memiliki kepandaian begitu tinggi, tak tertahan lagi ia sangat kuatir, ia tidak tahu di antara orangorangnya itu sebenarnya ada berapa banyak yang telah menjadi mata-mata musuh? Dan sesudah bergabung dengan rombongan Pho Jing-cu, orang bertopeng itu lantas membanting tubuh pengawal yang ditangkapnya itu ke tanah, sementara itu Pho Jing-cu sudah mendekatinya. "Siaute adalah Han Ci-pang," Tiba-tiba orang itu berkata dengan suara pelahan. Sungguh tak terduga oleh Pho Jing-cu bahwa orang ini ialah Han Ci-pang, ia terkejut bercampur girang. "Aku paham jalanan lama dalam istana ini, tapi jalanan baru yang ditambah paling belakang ini aku tidak kenal," Demikian Ci-pang berkata pula. Tapi sudah tiada tempo lagi bagi Pho Jing-cu bertanya sampai hal sekecil-kecilnya maka ia lantas memanggil Ciu Jing untuk merundingkan cara bagaimana mencari jalan keluar. Kiranya Han Ci-pang yang telah bersumpah pada Lauw Yuhong pasti akan menolong Leng Bwe-hong keluar dari bahaya diam-diam ia telah menghilang. Sesudah beberapa hari ia Yu-long pasti akan menolong Leng Bwe-hong keluar dari bahaya, diam-diam ia telah menghilang. Sesudah beberapa hari ia mencari, akhirnya ia menemukan beberapa Lamma yang habis diusir oleh In Te, Lamma-Lamma ini dengan yang masih tinggal di dalam istana Potala masih berhubungan dengan baik, malahan Lamma besar yang baru saja diangkat oleh In Te bukan lain ialah Congtat Wancin yang pernah mengawal 'Sik-li-ci' dulu. Sebagaimana diketahui, secara tak sengaja dulu Han Cipang telah merebutkan kembali 'benda suci' itu untuk Lamma Tibet dan ia telah diarak ke Lhasa dan dianggap sebagai tuan penolong mereka oleh karena itu, kalau ada sesuatu permintaan tiada yang pernah ditolak. Maka Han Ci-pang telah berdaya menemui Congtat Wancin dan berkat bantuannya lebih dulu ia menyamar sebagai Lamma dan bersembunyi di dalam istana Potala sampai pada waktu Pho Jing-cu dan kawan-kawan terkurung di dalamnya, ia berhasil mencuri pula seperangkap pakaian 'Kim-wi-kun', terus menyelusup masuk sampai di lapisan pintu ketiga dan berkat tipu silatnya yang aneh, sekaligus ia merobohkan empat jago pengawal. Kini setelah saling tukar pikiran dan menuturkan apa yang diketahui masing-masing dengan Ciu Jing, Boh Wan-lian pun mendengarkan di samping dengan cermat, berkat kecerdikan gadis ini, tak lama kemudian setelah ia mencorat-coret pula di atas peta yang Ciu Jing pernah lukis, akhirnya Wan-lian dapat menyelami seluruh jalan keluar dalam istana itu. "Kekuatan pasukan musuh sementara terpusat di sini, kita lebih baik menerjang keluar saja dahulu," Usul Ci-pang akhirnya. "Ya tiada jalan lain, terpaksa harus begitu," Kata Jing-cu dengan menghela napas. Kemudian segera Boh Wan-lian bersama Kui Tiong-bing membuka jalan, mereka menerjang keluar dari pintu yang satu ke pintu yang lain. Sebaliknya Coh Ciau-lam yang belum mengetahui bahwa mereka sudah dapat menyelami rahasia di dalam istana itu, ia perintahkan bawahannya jangan menempur mati-matian, rnelainkan mengurung saja mereka agar letih dan tak berdaya dengan sendirinya. Tak tersangka, Kui Tiong-bing dan Boh Wan-lian yang membuka jalan di depan dapat menerjang dengan leluasa dan cepat sekali, dalam sekejap saja mereka sudah menembusi beberapa lapis pintu, sesampainya di tiga pintu lapisan luar, baru pasukan Boan insyaf, namun sudah terlambat dan tak bisa mengepung lagi. Dan begitulah belasan pahlawan itu laksana banteng ketaton terus menerjang keluar dari istana Potala yang membingungkan itu. Kembali mengenai diri Leng Bwe-hong, sesudah ia berputar setengah hari sendirian, ternyata tak dapat ia menemukan jalan keluar, sedang bantuan dari luar pun tak tampak datang, ia sudah letih dan kelaparan, sementara itu Coh Ciau-lam bersama serombongan jago pengawal mendadak menampakkan diri lagi. "Sekalipun Leng Bwe-hong berkepandaian setinggi langit, akhirnya takkan lolos juga dari genggamanku," Kata Coh Ciaulam tertawa puas sambil memandang sombong ke barisannya sendiri dan meneruskan perkataannya. "Kini rupanya ia sudah sangat letih dan payah, siapa berani mewakilkan aku menangkapnya?" Tetapi para pengawal begundalnya itu, ada yang takut akan kewibawaan Leng Bwe-hong dan ada pula yang menaruh hormat dan segan padanya sebagai hasil hasutannya selama dalam penjara, kini ternyata tiada yang ingin bergebrak dengannya dan mereka pun hanya saling pandang saja. Melihat sikap bawahannya itu, sudah tentu Coh Ciau-lam mendongkol dan selagi ia hendak mengumbar amarahnya, mendadak dari dalam barisan telah melompat maju empat orang, yang tiga ialah orang kepercayaan Coh Ciau-lam, sedang yang seorang lagi ialah Be Hong. Dalam pada itu Leng Bwe-hong sudah maju menyerang sekali, ia bersiul panjang, telapak tangannya secepat kilat memotong ke pergelangan tangan seorang pengawal, namun pengawal itu ternyata tidak lemah juga, dengan gesit ia berkelit dan lantas balas menghantam. Siapa tahu ilmu pukulan Leng Bwe-hong ternyata lihai sekali, sekali memotong tidak kena, menyusul ia telah memukul pula, maka tak ampun lagi pengawal itu segera terpukul roboh, sementara itu dua pengawal yang lain berbareng maju pula dengan pedang mereka dan secepat kilat menusuk kedua bahu Leng Bwehong. Sekonyong-konyong Bwe-hong berjongkok ke bawah terus mendepak, seorang pengawal segera kena didepak terguling, berbareng itu juga Leng Bwe-hong mendadak menegak sambil menggertak, saking kagetnya pengawal yang lain lagi tanpa terasa melompat mundur. Pada saat lain, Be Hong menyerbu juga, kedua kepalannya memukul berbareng, sekilas Leng Bwe-hong melihat mata orang mengedip, segera ia tahu apa maksudnya, maka mendadak ia malah melompat maju. "plak" Segera terdengar, ternyata Be Hong sudah terpukul dulu pundaknya, sebaliknya dada Leng Bwe-hong sendiri pun sengaja diberikan, hingga dengan keras ia terkena satu pukulan juga dan terhuyunghuyung hendak roboh. Sementara itu dua pengawal yang terguling tadi, masih rebah di bawah, mereka mengambil kesempatan itu untuk menyandung kaki musuh, keruan saja Leng Bwe-hong terpaksa jatuh mencium tanah. Maka berantai Be Hong berempat lantas menubruk berbareng, empat orang delapan tangan mereka memegang Bwe-hong kencangkencang, namun dengan sekali mengangkat tangan, tahu-tahu keempat orang itu ternyata tak kuat menahan dan Leng Bwehong berbangku kembali. Dan selagi mereka merasa terkejut, mendadak Leng Bwehong menghela napas panjang, habis itu dengan meluruskan tangan ia berkata. "Baiklah, ambil tali dan ringkuslah aku." Tidak kepalang girangnya ketiga pengawal tadi, mereka mengerti sekali Leng Bwe-hong sudah omong begitu, mereka boleh mempercayainya maka mereka lantas minta tali rantai dari kawan mereka untuk mengikat kencang diri Leng Bwehong. "Ehm, orang Hwe ini ternyata boleh juga," Kata Coh-Ciaulam diam-diam setelah nampak keempat orangnya benjalbenjol dan babak-belur, lebih-lebih Be Hong terluka lebih parah hingga muntah darah. Setelah itu, lantas ia menotok 'Hun-hian-hiat', yakni tempat yang membikin Leng Bwe-hong tak sadarkan diri, lalu ia memerintah orangnya memanggil Seng Thian-ting untuk menjaga Leng Bwe-hong sendiri, malah ia membisiki di telinga Seng Thian-ting dan memberi pesan seperlunya Kiranya Be Hong yang menjadi sahabat Ciu Jing sesudah kawannya ini diketahui telah berkhianat, untuk keselamatannya sendiri agar tidak dicurigai orang, cepat Be Hong telah maju dan berhantaman dengan Leng Bwe hong, yang tersebut belakangan inipun tahu akan maksud orang, lagi pula ia sendiripun takkan bisa lolos lagi, maka dengan sukarela ia pura-pura tertangkap. Tapi Coh Ciau-lam pun jago kawakan, maka supaya tidak menimbulkan curiga Bwe-hong menggunakan pukulan yang tampak berat dari luar, tetapi sebenarnya enteng di dalam, Be Hong dipukulnya hingga muntah darah. Setelah Seng Thian-ting menggusur Leng Bwe-hong masuk ke kamar tahanan rahasia di tengah istana ia mengeluarkan sebungkus obat bubuk dan secara paksa ia mencekoki Leng Bwe-hong. Jika kemudian Leng Bwe-hong sadar kembali tahutahu seluruh badannya terasa lemas tak bertenaga. Obat bubuk yang Seng Thian-ting cekokkan pada Leng Bwe-hong itu ternyata adalah obat mujizat kerajaan yang khusus dipakai untuk mempermainkan orang yang memiliki ilmu silat tinggi, setelah minum obat itu lantas seperti minum arak yang keras, rasanya pening dan lemas tak bertenaga ditambah pula kini Seng Thian-ting menjaga pula di sampingnya seumpama kepandaian Leng Bwe-hong setinggi langit pun takkan bisa kabur lagi. Bercerita pula mengenai Pho Jing-cu dan kawan-kawan, sesudah kembali ke tempat kediaman mereka, lantas mereka berunding dan berdaya upaya agar bisa menolong diri Leng Bwe-hong. "Kini jalanan dalam istana itu kita sudah hafal, baiklah sekalian kita lantas kerjakan secara besar-besaran," Ujar Pho Jing-cu. "Orang-orang kita yang berada dalam kota Lhasa sini kalau kita kumpulkan sedikitaya ada dua-tiga ribu orang." "Ya memang kita bisa menggerakkan orang-orang kita secara serentak, kuatirnya bila kita sudah berhasil menyerbu ke dalam, sementara itu Leng-tayhiap sendiri sudah lebih dulu dicelakai," Demikian pendapat Li Jiak-sim. Karena perundingan mereka yang tidak menghasilkan sesuatu rumusan itu, maka yang paling merasa masgul ialah Lauw Yu-hong, seorang diri ia kembali ke kamarnya. Besok paginya Yu-hong ternyata masih murung oleh rasa sedih yang tertumpuk, karena itu ia merebah saja di pembaringan. Selagi pikirannya terbenam dalam lautan kedukaan, tiba-tiba didengarnya di luar jendela ada orang mengetok beberapa kali, menyusul itu terdengar pula suara Bu Ging-yao tertahan. "Lauw-toaci, di bawah loteng ada seorang hendak menemuimu," Demikian gadis itu. Waktu Yu-hong turun ke bawah, maka terlihatlah olehnya telah menunggu seorang laki-laki berperawakan tegap dan memakai serban atau ubel-ubel kain putih di kepalanya. "Orang gagah ini bernama Be Hong, ia adalah pengawal yang menjaga Leng Bwe-hong," Demikian Pho Jing-cu ikut berada di samping memperkenalkannya. Seperti diketahui, Be Hong adalah bangsa Hwe yang kebanyakan Muslimin, oleh karena itu memakai serban seperti Haji. Be Hong memandang Lauw Yu-hong dengan penuh perhatian, setelah itu baru ia bertanya "Apa kaukah Lauwtoaci, ketua dari Thian-te-hwe? Aku membawa sepucuk surat untukmu." "Su surat?" Tanya Yu-hong terputus-putus dan agak gemetar, ia memegang meja untuk menahan dirinya yang terasa lemas. "Ya surat dari Leng-tayhiap yang ditulisnya dengan darah jarinya tanpa menghiraukan bahaya" Kata Be Hong dengan suara terharu. "Dan sesudah berada di sini, aku pun tak bisa kembali ke sana lagi." Sambil memegang sampul surat yang diterimanya tadi, Yuhong terpekur sejenak, setelah itu ia menghirup hawa segar di pinggir jendela, lalu dengan pelahan baru ia membuka surat itu. Terlihat olehnya huruf dalam surat itu tertulis dengan men-cang-menceng, maka dapat dibayangkan betapa gemetarnya jari tangannya sewaktu menulis, malahan pada beberapa tempat, tulisan di atasnya samar-samar tak begitu jelas. Surat itu ternyata tertulis . "Enci Kheng, Malam nanti adalah saat terakhir hidupku sebelum ajal sudah seharusnya aku memberitahukan apa yang sesungguhnya padamu mengenai diriku. Dua puluh tahun yang lalu, dengan Enci pernah kita menikmati pemandangan air pasang di Ci-tong-kang, secara main-main Enci pernah berkata, 'Jika kau dapat dipercaya seperti air pasang yang datangnya tertentu, maka meskipun dalam peperangan atau dalam keadaan dunia kiamat misalnya, pasti aku akan menantikan kedatanganmu kembali'. Sayang, perkataan main-main itu kini betul-betul menjadi kenyataan. Enci tidak perlu berduka karena kesalah-pa-haman dulu itu, cinta sejati Enci sudah cukup seperti gelombang air di Ci-tong-kang yang berlebihan untuk membersihkan sepuluh kali kesalahanmu seperti itu sekalipun Pula, Enci tak usah bersedih akan kematianku, seorang Leng Bwe-hong mati, sepuluh Leng Bwe-hong segera akan tumbuh lagi. Manusia bercita-cita dan pahlawan setia adalah seperti rumput yang tumbuh tiada habisnya walaupun dibakar dan diinjak-injak yang harus disesalkan hanya janji untuk menikmati keindahan bersama di Thian-san, agaknya hanya bisa terlaksana pada jelmaan hidup yang akan datang. Tulisan akhir, Bok " Sehabis membaca surat itu, tiba-tiba penglihatannya menjadi lapat-lapat seperti berlapiskan kabut, nyata sekali lagi ia harus kehilangan dia. Ia cemas, pedih dan berat laksana puncak es di Thian-san dengan tepat menindih hatinya. Dan surat itupun terjatuh tanpa terasa. Kiranya 'Kheng' yang disebut itu ialah nama kecil Lauw Yuhong dan 'Bok' atau lengkapnya 'Bok-long', nama kecil Leng Bwe-hong, nama yang sebenarnya ialah Nio Bok-long, kakek moyangnya adalah kaum imigran dari daerah barat-laut. Dengan perasaan putus asa Yu-hong bersandar di depan jendela sambil termenung, mukanya pucat lesu. Para pahlawan yang lainpun tak berdaya, mereka mengerti dalam saat demikian ini, segala kata-kata menghibur hanya akan sia-sia belaka. Hanya Bu Ging-yao sendiri dengan sebelah,tangan memegang pundak Yu-hong dan tangan yang lain membelai rambutnya yang kusut. "Malam nanti apakah mungkin Leng Bwe-hong akan tertimpa bencana?" Tanya Jing-cu pada Be Hong diam-diam, setelah menariknya menyingkir ke ruangan lain. "Sejak terjadi penyerbuan istana, Coh Ciau-lam menjadi takut bukan kepalang," Demikian tutur Be Hong dengan perasaan tak tenteram. "Ya, jauh lebih takut daripada waktu ia terdesak di tepi sungai es oleh Leng Bwe-hong. Dalam pertempuran kemarin itu, ia mengetahui bahwa banyak di antara jago pengawal tidak ingin bermusuhan lagi dengan Leng Bwe-hong, sudah tentu tiada sesuatu yang lebih menakutkan daripada pengkhianatan dari dalam. Aku mendengar perundingannya dengan Seng Thian-ting, bahwa tengah malam nanti mereka diam-diam akan membereskan jiwa Leng-tayhiap, agar tidak membikin goncang pikiran orang lain di dalam penjara." Setelah mendengar penuturan ini, Pho Jing-cu menunduk, jidatnya berkerut kencang, terang ia sedang memeras otak berpikir. Dalam keadaan sunyi senyap karena tiada yang sanggup buka suara itu, mendadak Han Ci-pang menerobos masuk, kiranya ia sudah mendapat tahu juga tentang kabar buruk itu, maka buru-buru ia datang hendak mencari Lauw Yu-hong, tapi begitu ia masuk, segera ia terperanjat oleh suasana berduka dalam ruangan itu, tak tahan lagi ia menarik Lauw Yu-hong dan dengan suara terputus-putus ia bertanya. "Lauw-toaci, kenapakah kau? Ai, kau telah mencucurkan air mata? Aku masih ingat kau dahulu tidak pernah menangisi Leng-tayhiap, aku aku " "Memang betul-betul dia! Dialah yang dua puluh tahun lalu bersamaku menikmati pemandangan air pasang di Ci-tong kang, si anak tanggung itu!" Demikian sekonyong-konyong Yuhong mendongak dengan matanya yang tampak sayu guram dan berkata dengan cepat Ia melepaskan tangan Ci-pang, kemudian ia menjemput surat yang penuh noda darah dan air mata itu, cepat dimasukkan ke dalam sakunya, lalu La berkata pula dengan lemas tak bertenaga. "Ci-pang, bolehlah kau pergi, kini aku tak ingin mengatakan apa-apa lagi." Han Ci-pang tak berani bicara pula, dengan cemas ia hanya menggigit bibir sendiri, tapi tak tertahan ia ingin mengutarakan sekali lagi perasaan hatinya yang suci murni, perasaan suci yang selama ini menekan jiwanya sejak bertemu kembali dengan Lauw Yu-hong. Tetapi Yu-hong sedikitpun ternyata tidak memperhatikan lagi pada perkataannya. Tiba-tiba Ci-pang ingat pula apa yang pernah ia katakan pada beberapa tahun yang lalu tentang 'kenalan baru' yang memisahkan 'sahabat lama', tak terasa ia menjadi jengah dan parasnya berubah merah. Sungguh ia tak tahu bahwa Leng Bwe-hong justru adalah sahabat baik Lauw Yu-hong sejak masih kanak-kanak. Karena itu diam-diam Han Ci-pang mengeluyur pergi. Pho Jing-cu sedang termenung berpikir, yang lain pun sedang mengerumuni Lauw Yu-hong, maka tiada seorang pun yang memperhatikannya. Dengan cepat Han Ci-pang mendatangi sebuah kuil Lamma yang berdekatan, begitu bertemu dengan Lamma besar di dalam kuil itu, lantas ia minta diberikan obat luka, ketika ditanya apakah untuk mengobati kawannya yang terluka namun Ci-pang hanya mendesak lekas diberi obat yang ia minta tanpa menjawab. Obat luka bikinan Lamma di Tibet khasiatnya sangat manjur sekali, setelah mendapatkan itu segera Han Ci-pang kembali ke kamar tempat ia menginap dan lantas mengunci dirinya di dalam, tiba-tiba ia melolos pedang pusaka dari Thian-liong-pay pemberian Sin Liong-cu itu, sesudah bercermin pada kaca yang tergantung di tembok dan memperhatikan dirinya sejenak, mendadak ia mengangkat pedangnya terus menggores dua luka di mukanya, darah segar mengucur deras, saking sakitnya sampai ia menjerit. Terhadap kelakuan Ci-pang itu, Lamma besar memang SS sudah curiga, kini tiba-tiba didengarnya ada suara rintihan di dalam kamar, tanpa menunggu lagi segera ia mendobrak pintu kamar. "Ci-pang, mengapakah kau?" Demikian teriaknya segera. Sementara itu di antara suara gedubrakan itu, pedang Cipang pun terjatuh, lekas Lamma besar itu maju mendukungnya "Apa kau sudah gila?" Teriak pula Lamma itu. Akan tetapi Ci-pang lantas mengeluarkan obat luka yang ia dapatkan tadi agar diobati Lamma besar. "Harap kau lantas membawaku menemui Buddha Hidup," Pinta Ci-pang dengan tertawa getir sesudah lewat sejenak. Sudah tentu atas permintaan orang itu, Lamma besar menjadi bingung. "Harap kau mengingat jasaku atas 'Sik-li-ci', lakukanlah permintaanku dan jangan kau bertanya" Kata Ci-pang pula dengan suara rendah. Melihat pikirannya masih jernih dan tidak seperti orang sinting, kemudian Lamma besar itu menurut meski dengan ragu-ragu. "Bagaimana aku bisa menolak permintaan tuan penolong kami," Ujarnya kemudian. Lalu ia memberi sebuah mantel hitam pada Ci-pang dan lantas mengajaknya pergi melalui pintu belakang. Kembali pada Leng Bwe-hong rupanya ia sendiri merasa juga sudah dekat ajalnya sekalipun ia adalah seorang pahlawan yang tiada pernah merasa gentar, namun ia pun tidak terluput dari pikiran menyesal pada saat terakhir itu. "Terlalu kejamkah aku ini, tidak seharusnya aku berbuat demikian kejam terhadap Kheng-ci," Demikian teringat olehnya masa mudanya yang menggembirakan, malam terang bulan di tepi Ci-tong-kang di waktu air pasang dan sinar mata Lauw Yu-hong yang penuh penyesalan pada waktu di daerah Hunlam, dan entah mengapa ia menjadi teringat juga pada wajah Han Ci-pang yang jujur polos itu. Tiba-tiba timbul pikiran dalam hatinya. "Ya mengapa aku tidak merangkap jodoh mereka pada saat sebelum aku mati?" La berpikir apakah masih ada kesempatan untuk menulis pula sepucuk surat darah yang dikirim melalui penjaga keper-cayaarmya sebelum ia menghadapi elmaut*? Tetapi di sekelilingnya hanya kegelapan belaka, melulu sebuah lilin kecil yang kelap-kelip di pojokan. "Sudah waktu, apa ini?" Tanyanya cepat pada Seng Thian ting. "Masih ada sejam lagi akan menginjak tengah 0131301," Dengan tertawa Thian-ting menjawab. "Leng Bwe-hong sebelum kematianmu apakah kau masih ada pesan terakhir yang hendak kautinggalkan?" "Ada, kau boleh memberitahukan pada Coh Ciau-lam, bahwa manusia seperti dia yang terima menjadi anjing dan alap-alap bangsa asing, kalau tidak mau lekas insyaf, akhirnya maupun tiada tempat mengubur baginya," Demikian Bwe-hong menjawab menyindir, ia tahu bahwa Seng Thian-ting termasuk juga salah seorang yang mati-matian membela kepentingan pemerintah Boan, maka sengaja ia menyindirnya pula. "Coba, begitu gemasnya kau terhadap Suhengmu, padahal Suhengmu itu sebaliknya selalu memikirkan dirimu. Pada sebelum kau menjalani hukuman mati, masih ia mengizinkan Buddha Hidup datang bersembahyang untukmu dan membakar mayatmu menurut adat bangsa Tibet di sini," Dengan tertawa Seng Thian-ting berkata. "Dengarkan itu, suara tindakan orang di luar itu agaknya merekalah yang sudah datang. He, malah jauh lebih gasik daripada tempo yang telah ditetapkan." Kiranya Congtat Wancin, Budha Hidup angkatan In Te pada waktu senja sengaja pergi menemui In Te dan menyatakan bahwa Potala adalah istana agung dan suci dari agama Larnma, jika menghukum mati orang di dalam, seharusnya meminta persetujuannya dahulu dan harus memperkenankan ia pergi bersembahyang untuk orang hukuman itu. In Te mengetahui bahwa malam ini Coh Ciau-lam diamdiam hendak membereskan jiwa Leng-Bwe-hong dalam istana yang hebat itu, maka ia agak heran juga oleh kecepatan kabar yang Congtat Wancin terima, kemudian ia pikir dalam hal-hal kecil ini tiada halangannya menghargai adat istiadat mereka, maka ia lantas menyetujuinya Apalagi di dalam istana itu tiada tempat penting yang tak rapat dijaga oleh pengawal berkepan- Begitulah, maka waktu mendengar Seng Thian-ting berkata bahwa bakal ada Larnma yang datang bersembahyang untuknya, Leng Bwe-hong agak heran juga, ia membatin. "Sebagai laki-laki sejati mengapa harus takut mati?" Tetapi kemudian ia berpikir pula pada waktu merebut 'Sik-lik-ci' dulu, dirinya banyak membantu dan ada ikatan persahabatan dengan para Larnma besar itu, kini mereka hendak bersembahyang untuknya justru ada kesempatan untuk titip surat darah pada mereka. Sedang ia termenung, tiba-tiba dua bayangan orang telah mendatangi, yang di depan bukan lain adalah Congtat Wancin. Dengan senjata 'Boan-koan-pit' atau potlot jaksa yang siap sedia, Seng Thian-ting sedikit membungkuk memberi hormat, tetapi dalam sekejap itu juga Larnma yang berada di samping Congtat Wancin mendadak melompat maju, sekali jarinya men-jojoh, Seng Thian-ting telah kena ditotok hingga tak bisa berkutik. Jika kemudian Larnma itu menyingkap kerudung kepalanya, menyusul lantas terdengar suara seman orang kaget. "Hantoako, mengapa kau berubah begini?" Nyata Leng Bwe-hong sangat terkejut Sementara itu meski menggelongsor di atas tanah, mata Seng Thian-ting masih mendelik gusar, tetapi toh tak bisa berkutik. Sebenarnya Seng Thian-ting yang kepandaiannya jauh lebih tinggi daripada Han Ci-pang tak mungkin terjungkal begitu gampang, namun tadi ia sama sekali tidak menduga akan dibokong, lagipula Han Ci-pang telah banyak menambah pelajaran ilmu silat Tat-mo, dengan gerak serangan aneh, Ce Cin-kun saja pada waktu bertemu untuk pertama kalinya juga kena diselomoti, apalagi Seng Thian-ting. Maka setelah Seng Thian-ting diringkus di atas kursinya, segera Ci-pang melolos pedang pula mematahkan semua rantai dan borgol yang mengikat Leng Bwe-hong, kemudian baru ia berkata dengan suara pelahan. "Leng-tayhiap, keluarlah kau ikut tersama Buddha Hidup!" Dengan kecerdasan Leng Bwe-hong, tentu, saja segera ia mengerti apa maksud perkataan orang. "Terima kasih Hantoa-ko," Sahurnya kemudian dengan menggoyang kepala. "Sayang kau hanya membuang tenaga percuma saja, tidak mungkin aku pergi keluar dari sini." Tapi Ci-pang lantas, menyopot mantel dan kerudungnya serta diserahkan pada Leng Bwe-hong. "Aku yang tinggal di sini," Demikian katanya pula. "Keluarlah kau dengan memakai kerudung, mereka takkan mengenalimu." "Tidak, Han-toako," Sahut Bwe-hong tetap. "Itu tidak boleh jadi, bagaimana aku bisa membiarkan kau mati untukku." "Kau banyak lebih berguna daripadaku, kau harus tetap hidup dan biarlah aku yang mati," Ujar Ci-pang ikhlas. "He, apa kau ingin aku menjadi manusia yang tak berbudi?" Kata Leng Bwe-hong gusar. "Aku sendiri hidup, sebaliknya menyuruh kawan sendiri yang harus mati?" Namun Han Ci-pang tidak menjawab lagi, mendadak jarinya menotok Leng Bwe-hong di tempat 'Ah-hiat' atau tempat yang membikin orang menjadi gagu. Lerig Bwe-hong baru saja hilang dari pengaruh obat bubuk yang dicekokkan Seng Thian-ting itu, tenaganya masih lemas, ilmu silatnya yang begitu tinggi ternyata tak mampu dipergunakannya terpaksa ia hanya melihat dirinya diperbuat sesukanya oleh Han Ci-pang tanpa berdaya. Dengan cepat Ci-pang lantas mengenakan kerudung dan mantel pada Leng Bwe-hong, dan dipasrahkan pada Congtat Wancin. "Buddha Hidup, selanjurnya semuanya terserah padamu," Pesannya sambil memberi hormat pada Congtat Wancin. "Han-gisu (tuan yang budiman), kaulah yang benar-benar harus disebut Buddha Hidup," Kata Congtat Wancin mencucurkan air mata terharu sambil membungkuk mencium tungkak kaki Han Ci-pang. Habis itu ia memutar tubuh dan dengan setengah menarik setengah menyeret ia membawa Leng Bwe-hong keluar dari istana Potala yang luar biasa itu. Lalu Ci-pang duduk di atas dipan berhadapan dengan Seng Thian-ting, meskipun kadang ada jago penjaga yang dinas lewat di kamar tahanan itu dan tempo-tempo melongok ke dalam juga, namun perawakan Han Ci-pang yang memang tidak banyak berbeda dengan Leng Bwe-hong, ditambah mukanya ada bekas luka pula, sedang penerangan di dalam kamar pun guram, maka para penjaga itu sedikitpun tidak menaruh curiga. Dalam keadaan putus asa sambil menantikan saat terakhirnya itu, tiba-tiba Han Ci-pang mendengar di luar pintu ada penjaga yang berdinas sedang berkata. "Coh-mongling, waktunya belum tiba kenapa siang-siang kau sudah datang." "Aku ingin kapan ia mati, setiap waktu ia harus mati, kau berhak mengurus?" Terdengar Ciau-lam mendamprat. Sembari berkata, terdengar pintu kamar tahanan didorong. Agaknya Coh Ciau-lam masih ingin berusaha untuk penghabisan kalinya mendesak Leng Bwe-hong agar mengaku dimana kitab pelajaran peninggalan gurunya disimpan. Sementara itu, Han Ci-pang dengan tangan mengepal kencang sedang menantikan saat yang baik, saking bersemangatnya sampai tulang lengannya berkeretakan. "Seng Thian-ting, kau boleh keluar," Kata Coh Ciau-lam sesudah masuk dalam kamar tahanan itu. Akan tetapi yang diperintah ternyata diam saja dan membisu. Coh Ciau-lam melangkah maju dan selagi ia hendak bertanya pula, mendadak Han Ci-pang melesat maju, kepalannya segera memukul ke depan. Dalam terkejutnya Coh Ciau-lam masih coba menarik tubuh ke belakang, namun tidak urung dadanya sudah terkena pukulan yang tidak ringan itu. Di bawah sinar lilin yang remang-remang segera Coh Ciaulam dapat melihat bahwa musuh ini ternyata bukan Leng Bwehong lagi, keruan terkejutnya tidak kepalang. "Siapa kau? Kemana Leng Bwe-hong pergi?" Bentaknya segera Tapi belum habis bentakannya tiba-tiba dari belakang angin tajam menyambar pula, gerak tubuh Han Ci-pang yang se-bat dan aneh itu, sekali menyerang lalu menukar lain serangan pula hanya dilakukannya dalam sekejap saja Jika kemudian Coh Ciau-lam coba berkelit lagi, namun pinggangnya kembali terkena pula totokan Han Ci-pang. Dengan menggeram menahan sakit, senjata Yu-liong-kiam dengan cepat sudah ia cabut, lalu dengan mendengarkan angin membedakan senjata, ia mengayun pedangnya dan menyusul itu lelatu api bercipratan, Han Ci-pang berbalik kena tergetar mundur sampai di pinggir dinding baru dapat menahan diri. Sementara itu Coh Ciau-lam sudah berpaling, kini ia dapat melihat jelas siapa adanya lawannya ini. "Halia! Han Ci-pang, kau berani mengantarkan nyawamu!" Ciau-lam tertawa iblis dan segera menubruk maju pula. Sekali Yu-liong-pokiam bergerak, dengan cepat menuju tenggorokan Han Ci-pang. Berkat tipu serangan Tat-mo yang aneh, Han Ci-pang berhasil memukul dan menotok Coh Ciau-lam tadi, tapi sayang kepandaiannya masih selisih jauh dibanding lawannya itu, pula Coh Ciau-lam sudah bongkotan, pada waktu masuk ke kamar tahanan dan nampak gelagat mencurigakan, ia telah menutup rapat semua jalan darahnya, kepalan dan jari Ci-pang seperti mengenai kulit tebal saja, tangannya malahan terasa sakit sendiri. Kini melihat Coh Ciau-lam dengan gemas menusuk, tibatiba Ci-pang tergerak pikirannya untuk mengulur waktu, cepat ia menerobos ke samping berbareng pedangnya mencukit dan serangannya ia ubah lagi, jika kemudian Coh Ciau-lam menarik pedang buat rnerangsek, namun Ci-pang telah menerobos ke jurusan lain pula. Tetapi Coh Ciau-lam tidak gampang diselomoti, ia cukup cerdik, ia mengetahui Han Ci-pang sengaja mengandalkan gerak tubuhnya yang aneh untuk menggoda padanya. Pikirnya. "Han Ci-pang hanya seperti penyakit kulit saja yang tak usah digubris, yang penting adalah Leng Bwe-hong yang agaknya belum lama kabur, kalau sampai terlibat pertarungan dengan Han ci-pang, mungkin musuh yang terbesar menjadi lolos?" Oleh karena pikiran itu, lantas ia pura-pura membacok untuk kemudian segera berlari ke pintu sambil berteriak. "Leng Bwe-hong telah kabur, lekas uber!" Di pihak lain, tanpa berkata Han Ci-pang menyusul dari belakang dengan cepat terus menusuk, ketika tiba-tiba Ciaulam merasa hawa dingin seakan mengiris badannya, tahu-tahu ujung pedang musuh sudah sampai di bawah iga, ia jadi teringat bahwa Han Ci-pang pun memakai pokiam atau pedang pusaka, terpaksa ia menarik pedang buat menangkis. Karena benturan kedua pedang itu, kembali api meletik pula, tetapi pedang masing-masing tiada yang terusak. Coh Ciau-lam menjadi murka, ia pikir kalau tidak membunuh Han Ci-pang dahulu, susah untuk bisa keluar dengan leluasa. Maka Yu-liong-kiam segera berputar cepat, ia mengeluarkan tipu serangan mematikan yang paling hebat dari Thian-san-kiam-hoat, bagai angin badai secara kencang ia rnerangsek. "Han Ci-pang, sungguhkah kau tidak menginginkan jiwamu lagi?!" Bentaknya sengit. "Memangnya aku tidak mau jiwaku lagi, tetapi kau juga jangan mengharap bisa menyandak Leng Bwe-hong," Sahut Ci-pang membandel. Sudah tentu Coh Ciau-lam tidak mau membuang tempo lagi, pedangnya berputar dan menyerang bertubi-tubi, tapi berkat gerak tubuh Han Ci-pang yang aneh, seketika Coh Ciau-lam tak mampu melukainya. Baca Juga: Badai Awan Angin Pendekar Sejati 9 Baca Juga: Iblis Sungai Telaga Khu Lung