Eps 8 Pendekar Jembel - Liang Ie Shen
Baca online Pendekar Jembel - Liang Ie Shen
Cersil Pendekar Jembel - Liang Ie Shen.
Belum mendekat, Su Pek-to sudah lantas melancarkan pukulan dari jauh.
Hanya pukulan dari jauh ini saja Li Bo sudah tidak tahan, seketika dadanya terasa sesak seperti digodam, namun begitu Li Bo tetap pantang mundur.
Baru saja Su Pek-to hendak menghabisi jiwanya, sekonyong-konyong sinar dingin berkelebat dari samping, Tan Kong-tjiau menusuk dengan Peng-pok-han-kong-kiam yang lihai sambil membentak.
"Bukankah kalian hendak menuntut balas padaku, nah, sekarang aku sudah datang sendiri."
Lwekang Su Pek-to sangat tinggi, sudah tentu hawa dingin Han-kong-kiam tidak dapat melukainya, hanya membuatnya merasa dingin saja. Ia terkejut dan girang pula, pikirnya.
"Aku kehilangan Hian-tiat-pokiam, kebetulan dapat kurebut pedang ini sebagai gantinya."
Segera ia mengincar dengan baik, sekali jarinya menyentik.
"ering", pedang Tan Kong-tjiau itu diselentik pergi. Seketika Kong-tjiau merasa tangannya pegal, terasa pula panas dan dingin berkecamuk seperti di musim panas mendadak direndam di dalam kolam air es, tanpa kuasa Kongtjiau menggigil sendiri. Kiranya selentikan Su Pek-to itu telah menolak kembali hawa dingin yang terpancar dari Peng-pok-han-kong-kiam, hingga menyerang Tan Kong-tjiau sendiri. Su Pek-to tertawa senang, katanya "Bisa berbuat apa pedangmu ini padaku? Lebih baik kau berikan saja padaku daripada tak sesuai bagimu."
Berbareng ia terus menubruk maju, segera ia hendak mencengkeram pedang Kong-tjiau itu.
Hanya sekali gebrak saja Kong-tjiau sudah kecundang, mau tak mau timbul penilaian rendah Su Pek-to terhadap Kong Tjiau.
Tak terduga meski Lwekang Kong-tjiau tidak dapat menandinginya, tapi dia masih mempunyai kepandaian simpanan lain.
Ketika Su Pek-to mengulurkan tangan, Kongtjiau lantas membentak.
"Jika mampu boleh coba ambil!"
Mendadak sinar pedang gemerlapan, seketika Su Pek-to tidak tahu darimana datangnya serangan pedang Kong-tjiau itu.
Sekonyong-konyong Su Pek-to merasa beberapa Hiat-to tertentu terasa diserang hawa dingin, keruan ia terkejut, ia tidak berani ^mencengkeram lebih lanjut, cepat ia memukul untuk mendesak mundur Kong-tjiau.
Kiranya ilmu pedang Kong-tjiau itu adalah ajaran Pengtjoan Thian-li yang belum pernah dikenal Su Pek-to, lantaran terlalu memandang enteng lawannya sehingga hampir ia termakan.
Untung tenaga dalam Su Pek-to sangat tinggi, cepat ia me-nutup Hiat-to dan menjalankan hawa murni, dalam sekejap saja pawa dingin yang menyusup ke dalam tubuhnya telah dipunahkan semua.
Dalam pada itu belum lagi Kong-tjiau sempat berdiri tegak karena tenaga pukulan lawan tadi, dengan cepat sekali Su Pek-to udah menubruk maju lagi.
Sekarang Su Pek-to tidak berani memandang enteng laannya ia menyerang dengan hebat, hanya beberapa jurus saja Kong-tjiau sudah terdesak dan kelabakan.
Mendadak Su Pekto melihat suatu kesempatan, ia membentak.
"Lepas pedangmu!"
Berbareng ia terus mencengkeram tulang pundak lawan.
Dalam keadaan demikian, kalau Kong-tjiau ingin memper-|fahankan pundak dan lengannya terpaksa ia harus memutar pe-"ang untuk menangkis.
Padahal Su Pek-to sudah siap dengan seangan susulan yang seketika dapat merampas pedangnya itu.
Tampaknya Kong-tjiau pasti akan terjebak tipunya, tahuahu pandangan Su Pek-to menjadi silau oleh berhamburnya ama-warni, seutas ular panjang mendadak memagut ke arahfea.
Keruan ia terkesiap dan tidak tahu senjata aneh apakah yang enyerangnya ini?
Sebelum tahu jelas apa senjata aneh itu, terpaksa ia hanya menghindar saja.
Namun begitu toh tidak urung punggungnya tersabet juga oleh senjata berwarna-warni itu.
Sesudah diperhatikan, baru diketahui bahwa orang yang datang membantu Kong-tjiau itu adalah seorang 'gadis cantik', seketika rasa gusar Su Pek-to buyar, katanya dengan tertawa.
"Eh, kiranya nona Hek-koh bukan? Apakah kau tahu siapa aku? Ho-toanio, coba ke sini....."
Belum selesai ucapannya, tibatiba punggungnya terasa gatal luar biasa sehingga terpaksa ia menggeliat dan ingin menggaruk. Kong-tjiau tertawa geli, katanya kepada Hek-koh.
"Adik Hek, sungguh tidak nyana dia masih mempunyai kepandaian memainkan joget monyet."
Kiranya senjata Tjiok Hek-koh itu disebut 'Kim-tjoa-sok' (tali ular emas), senjata berbentuk ular yang terbuat dari logam, ujung kepala yang mirip ular itu tersimpan obat bubuk, siapa saja yag terkena bubuk obat itu seketika akan terasa gatal tak kepalang dan dengan sendirinya tidak punya semangat buat bertempur lebih lama.
Jika tiada obat pemunah yang tepat, maka bagian yang kena obat bubuk itu akan membusuk dalam waktu tiga hari dan akhirnya orangnya akan binasa.
"Jangan kuatir Pangrju, aku punya obat pemunahnya!"
Seru Ho-toanio.
Su Pek-to merasa lega, ia pikir bocah ini harus kubereskan dulu, nanti saja kuminta obat kepada Ho-toanio.
Dasarnya dia memang seorang yang sok gagah, sambil menahan rasa gatal ia malah bergelak tertawa dan berkata.
"Hanya sedikit racun saja bisa berbuat apa padaku? Biar kau kenal dulu kelihaianku!"
Habis berkata, segera ia melontarkan pukulan yang dahsyat.
Pedang Kong-tjiau tergoncang ke samping, bahkan Kong-tjiau sendiri-pun tergetar mundur sempoyongan.
Lekas Hek-koh maju membantu pula, tapi sekali ini Su Pekto sudah siap sedia.
Begitu 'Kim-tjoa-sok' disabetkan oleh Hekkoh, segera ia mengibaskan lengan baju untuk melibat tali ular itu sambil mengejek.
"Bagus juga senjatamu ini, berikan saja padaku!"
Sekali terlibat, Tjiok Hek-koh tidak kuat menguasai senjatanya lagi, seketika Kim-tjoa-sok terbetot lepas.
Menyusul Su Pek-to lantas melancarkan pukulan dahsyat untuk memaksa Tan Kong-tjiau menyingkir, dengan demikian Kong-tjiau dan Hek-koh menjadi terpisah.
Cepat Ho-toanio memburu maju, seru Su Pek-to.
"Eh, bujuklah nonamu ini, mana boleh dia berkelahi dengan aku, kan lucu namanya!"
Tjiok Hek-koh menjadi gusar, dampratnya.
"Kurangajar, kau mengoceh apa?"
Ho-toanio lantas merintangi Hek-koh, katanya dengan tertawa.
"Siotjia, barangkali kau belum tahu. Orang yang pernah kubicarakan padamu adalah Su-pangtju ini. Kelak kalian akan menjadi suami-istri, mana boleh kalian berkelahi sendiri?"
"Siapa sudi menjadi suami-istri dengan dia,"
Damprat Hekkoh.
"'Jika kau suka boleh kau kawin sendiri dengan dia."
"Ai, usiaku sudah selanjut ini, biarpun aku mau pasti dia lidak sudi,"
Sahut Ho-toanio tertawa.
"Siotjia, selama ini kuanggap kau seperti anak kandungku sendiri, kenapa kau tidak membiarkan hidupku selanjutnya rada bahagia sedikit. Rasanya juga bidak merugikan kau, jika kau mendapatkan suami seperti Su-pangtju."
Saat itu Kong-tjiau sedang dilabrak oleh Su Pek-to, keadaannya rada runyam tapi Hek-koh tak berdaya karena dirintangi Ho-toanio. Saking gusarnya terpaksa ia mengancam.
"Toanio, ludimu akan kubalas dengan caraku sendiri, tapi kalau kau me-feiaksa aku menjadi istri bangsat she Su ini, hm, sekali-sekali ti-Bak bisa. Nah, jika kau mendesak lagi, terpaksa aku pun tidak lenai lagi padamu."
Ho-toanio sengaja berlagak menyesal, katanya "Ah, terpyata kau tidak dapat memahami maksud baikku.
Sekarang kau udah besar dan tidak mau mendengar nasehat mak inang lagi, ya, apa yang dapat kukatakan.
Cuma jangan kau lupa, tujuh hari lagi racun dalam badanmu akan kambuh, untuk itu kau masih memerlukan obat pemunah dariku."
Dengan mendongkol Hek-koh menjawab.
"Memang kaulah yang membesarkan aku, paling-paling kuserahkan kembali jiwaku ini padamu, juga tidak sudi aku mengemis obat pemunah segala."
Belum lenyap suaranya, tiba-tiba terdengar seorang memuji.
"Betul nona Tjiok jangan takut terhadap gertakannya. Kukira masih ada orang lain mampu memunahkan racun yang dia berikan padamu."
Dari suaranya itu segera Tjiok Hek-koh kenal siapa pembicara itu, keruan ia kegirangan, sebaliknya kaget Hotoanio tidak kepalang, kiranya Kim Tiok-liu sudah tiba.
Baru saja Ho-toanio bermaksud lari, tertampak sesosok bayangan melayang ke hadapannya.
"Keparat, biar aku mengadu jiwa padamu!"
Bentak Hotoanio dengan nekat. Sepuluh jarinya bagaikan cakar burung terus mencengkeram, sepuluh kuku jarinya yang panjang itu terendam semua oleh air racun.
"Hm, kematianmu sudah di depan mata, kau masih berani membikin susah orang lain!"
Jengek Kim Tiok-liu, berbareng pedangnya lantas menyambar. Sungguh indah dan tepat sekali tebasan pedangnya kontan kesepuluh kuku jari Hotoanio tertebas kurung hingga hampir rata sampai akarnya.
"Ampuni dia Kim-tayhiap!"
Teriak Tjiok Hek-koh.
Kontan Kim Tiok-liu mengangkat kakinya Ho-toanio ditendangnya hingga terguling, dampratnya "Kau perempuan siluman ini benar-benar lebih jahat daripada germo yang memeras anak piaraannya.
Mengingat permintaan ampun nona Tjiok, aku hanya mengurungi kukumu yang berbisa ini.
Jika kau masih tidak mau insyaf dan tetap mau membikin susah nona Tjiok, lain kali pasti akan kupenggal kepalamu."
Cepat Ho-toanio merangkak bangun, kalau bisa ia ingin punya empat kaki, terbirit-birit ia berlari kembali ke markas Liok-hap-pang, mana dia berani menanggapi ancaman Kim Tiok-liu tadi.
Dengan cepat luar biasa begitu Ho-toanio digebah lari, segera Kim Tiok-liu melompat ke hadapan Su Pek-to.
Saat itu Su Pek-to sedang mengangkat sebelah tangannya hendak menabok ke atas kepala Kong-tjiau, tiba-tiba nampak sinar pedang berkelebat, Kim Tiok-liu menabas pinggangnya terpaksa Su Pek-to menarik kembali pukulannya kepada Kongtjiau sambil mengegos ke samping.
"Tan-toako,"
Seru Tiok-liu.
"Silakan kau dan nona Tjiok pergi membantu kawan-kawan kita dari Kay-pang, biar aku sendiri yang menjajal Su-toapangtju ini."
Kong-tjiau memangnya sudah kepayahan setelah matimatian melawan Su Pek-to sekian lamanya ia pun sadar tidak bisa memberi bantuan apa-apa kepada Kim Tiok-liu, terpaksa ia menurut ucapan Kim Tiok-liu itu dan mengundurkan diri.
"Hahaha Su-toapangtju, bukankah kau sengaja mencari aku buat menentukan siapa yang lebih unggul? Nah, lekaslah maju. Hayo, biar aku mengalah tiga jurus padamu!"
Seru Tiok-I liu lengan bergelak tertawa.
Dalam batin Su Pek-to sangat terkejut, ia pikir bocah ini benar-benar luar biasa.
Sudah terang tadi dia terkena jarum berbisa Ho-toanio dan tampak rada payah, sebab itulah tadi dia tidak berani bertempur dengan aku.
Mengapa selang sebentar saja | dia sudah pulih seperti tidak terjadi apa-apa.
Tapi sebagai seorang Pangtju, sudah tentu ia tidak mandah diolok-olok oleh Kim Tiok-liu di depan orang banyak, kontan ia balas membentak.
"Kurangajar, kau adalah jago yang sudah keok di bawah tanganku, siapa minta kau mengalah padaku?"
"Aku kan cuma menimbang kekuatanmu sudah banyak berkurang sesudah bertempur sekian lamanya dengan Tantoako, aku tidak bisa mengambil keuntungan demikian ini, maka aku harus mengalah tiga jurus padamu,"
Kata Tiok-liu. Gusar sekali Su Pek-to, bentaknya.
"Baik. boleh coba kau mengalah. Mungkin kau harus menjilat kembali ludahmu nanti!"
Segera ia mengerahkan tenaga dalam, sekaligus ia terus menghantam dengan kedua telapak tangannya.
"Ai, keji amat!"
Seru Tiok-liu sembari menggeser ke samping dengan langkah sempoyongan, tampaknya langkahnya itu lambat, tapi mendadak ia berjumpalitan lewat di sebelah bawahnya.
Tadinya orang lain menduga pukulan Su Pek-to itu pasti akan mengenasi sasarannya, tak terduga ujung baju Kim Tiokliu saja tidak tersenggol.
Sebaliknya sesudah berdiri tegak lagi, Kim Tiok-liu lantas mengejek dengan tertawa.
"Sungguh lihai! Tapi untung tidak kena!"
Kong-tjiau merasa lega dan baru tahu Kim Tiok-liu sengaja mempermainkan Su Pek-to.
Dalam pada itu kedua pihak sudah terlibat dalam pertempuran sengit.
Orang Liok-happang jauh lebih banyak daripada anak buah Kay-pang sehingga keadaan rada terdesak.
Terpaksa Kong-tjiau dan Hek-koh berlari ke sana untuk membantu pihak Kay-pang.
Dalam pada itu, karena serangan pertama tidak kena, pukulan kedua dan ketiga susul menyusul dilancarkan lagi oleh Su Pek-to.
Tenaga pukulan susul menyusul itu benar-benar sangat dahsyat, namun tetap tak bisa mengenai Kim Tiok-liu, sebaliknya mendadak bayangan Kim Tiok-liu memenuhi sekelilingnya.
Keruan Su Pek-to kaget dan tidak tahu dari arah mana lawannya akan menyerang, lekas ia menarik kembali tangannya untuk membela diri.
Tiba-tiba ia merasa tengkuknya silir dingin, kiranya Kim Tiok-liu mengitar ke belakang dan meniupkan hawa padanya.
Sungguh gusar Su Pek-to tak terkatakan, bentaknya murka.
"Bangsat cilik, berani mempermainkan aku!"
Tangannya kembali memukul, meski belum sampai tubuhnya memutar, namun tempat yang diserang selalu bagian yang mematikan di tubuh Kim Tiok-liu.
Karena jarak kedua orang teramat dekat, sekalipun Kim iTiok-liu cukup gesit menghindar.
"bret", tidak urung bajunya terobek juga. Berturut-turut Kim Tiok-liu menghindar tiga kali serangan, meski tidak sampai terluka, namun juga sudah berkeringat, ia pikir tidak boleh lagi sok aksi dan sudah waktunya melayani lawan dengan sungguh-sungguh. Segera ia melolos pedang, katanya dengan tertawa.
"Su-toapangtju, sudah cukup aku mengalah tiga I jurus, ada ubi ada talas, sudah diberi harus membalas. Sekarang aku tidak mengalah lagi."
Dari malu Su Pek-to tambah murka, ia berjingkrak seperti I singa luka, segera ia menerjang lagi.
la tidak tahu juga kemurkaannya inilah yang diminta Kim Tiok-liu, di saat musuh sudah Hcalap, Tiok-liu justru menggunakan Thian-lo-poh-hoat yang lin-fcah untuk main kucing-kucingan dengan lawan, seperti kupu-kupu menari saja ia menyelinap kian kemari di sisi Su Pek-to.
[pedangnya juga tidak tinggal diam, sebentar menabas, lain saat menusuk, yang diarah selalu tempat mematikan di tubuh Su Pek-to.
Keadaan Su Pek-to sekarang sama halnya dengan seperti [Kim Tiok-liu pada pertarungan pertama tadi, karena terkena racun gatal dari Kim-tjoa-soknya Tjiok Hek-koh sehingga perha-iian Su Pek-to terpencar, maka daya tahannya juga berkurang, bedanya tadi Kim Tiok-liu cukup tahu diri, ia lantas menghindarkan pertarungan lebih lama, sebaliknya sekarang Su Pek-to terlalu kepala batu, ia sengaja menyerang dengan lebih kalap.
Di tengah sambaran angin pukulan dan berdesingnya pelangnya, terkadang Su Pek-to mesti berjingkrak dan membungkuk sembari menggeliat, lagaknya sangat lucu.
Kiranya obat bubuk yang ditaburkan oleh Tjiok Hek-koh di atas punggungnya itu sudah terserap ke dalam kulit dan melimbulkan rasa gatal yang aneh.
Hal inilah yang membuat Su iek-to tidak tahan, celakanya ia mesti menghadapi Kim Tiok-liu |engan sepenuh tenaga sehingga tidak sempat mengerahkan Lwekang untuk menolak serangan racun itu.
"Hahaha, singa ngamuk sekarang berubah menjadi joget monyet!'* ejek Kim Tiok-liu dengan tertawa.
"Eh, apakah kau masih ingin meneruskan pertarungan ini?"
Meski mulutnya menyatakan jangan meneruskan pertarungan ini, namun pedangnya berbalik menyerang dengan lebih gencar dan lebih lihai.
Ketiga Hiangtju yang diandalkan Su Pek-to serta Bun Totjeng saat ini masih sibuk mencari Kim Tiok-liu di kota barat, tak tahunya Kim Tiok-liu sekarang sudah berada di timur dan sedang melabrak Su Pek-to.
Diam-diam Su Pek-to menyesalkan dirinya sendiri yang salah mengatur, sehingga jago-jago yang diandalkan itu belum nampak kembali.
Terpaksa ia mengambil keputusan untuk mengundurkan diri dulu, seorang laki-laki sejati harus bisa mulur dan bisa mengkeret menurut gelagat, kalau tidak lekas menyingkir sekarang mungkin sebentar lagi akan mengalami kerugian lebih besar.
Maklumlah sudah sekian lamanya ia terkena racun gatal itu, ia pikir harus lekas pulang untuk minta obat pemunah kepada Ho-toanio.
Sekuatnya Su Pek-to memukul lagi untuk mendesak mundur Kim Tiok-liu, lalu bentaknya.
"Malam ini aku mengalah padamu, nanti akan kubikin perhitungan padamu secara total. Li-totju, kau harus sadar bahwa takkan menguntungkan kalian bila pertempuran ini diteruskan. Mengingat hubungan kita selama ini yang selalu damai, urusan malam ini kita sudahi sampai di sini saja, bagaimana pendapatmu?"
Situasi saat itu memang menguntungkan Liok-hap-pang walaupun Su Pek-to tidak unggulan melawan Kim Tiok-liu, lantaran Kim Tiok-liu sudah muncul dengan selamat, Li Bo juga tidak ingin banyak menimbulkan korban anak buahnya, segera ia menjawab.
"Baik, kau minta ampun, biarlah aku meluluskan kau. Adapun urusan lain hari biarlah tergantung keadaan lain hari, apa kau mau menuntut balas atau tidak juga boleh terserah, rasanya Kay-pang juga tidak takut padamu."
Segera kedua pihak sama-sama menarik kembali pasukannya, cepat Su Pek-to pulang ke rumah untuk minta obat pemunah kepada Ho-toanio.
Kim Tiok-liu dan Kong-tjiau serta Hek-koh juga ikut Li Bo kembali ke markas cabang Kaypang.
Selesai Kim Tiok-liu menuturkan pengalamannya di Liokhap-pang, tiba-tiba Kong-tjiau teringat sesuatu, tanyanya.
"Kim-heng, tadi kau mengolok-olok nenek iblis itu, katanya racun yang dia minumkan kepada Hek-koh itu tidak memerlukan obat pemurahnya. Apakah ucapanmu ini sungguh-sungguh? Tapi sampai saat ini Le-toako masih belum ditemukan."
"Kata-kataku itu sudah tentu sungguh-sungguh,"
Sahut Tiok-liu tertawa.
"Orang yang mampu memunahkan racun rahasia Thian-mo-kau ini sekarang juga berada di sini. Silakan keluar. Li-heng."
Begitulah Kim Tiok-liu lantas memperkenalkan Li Tun kepada yang lain, lalu katanya.
"Meski Le-toako belum ditemukan, tapi hadirnya Li-heng ini akan sama saja, sebab Liheng ini sudah mahir betul mempelajari isi Pek-tok-tjin-keng Thian-mo-kau, kepandaian-nya memunahkan racun kuyakin jauh di atas perempuan iblis reyot itu."
Kong-tjiau dan Hek-koh kegirangan, cepat mereka mengucapkan terima kasih lebih dulu kepada Li Tun.
Sesudah memeriksa nadi Tjiok Hek-koh, lalu Li Tun memberi sebungkus obat pemunah serta mengajarkan cara mengurut untuk memunahkan racun kepada Kong-tjiau.
Dengan demikian Kong-tjiau yang harus mengadakan penyembuhan bagi Hek-koh.
Untungnya cara mengurut itu tidak terlalu sukar sehingga de-pgan cepat Kong-tjiau sudah memahaminya.
Kemudian Kong-tjiau minta sebuah kamar kepada Li Bo, i situlah ia mengobati Hek-koh menurut petunjuk Li Tun.
Seangkan Kim Tiok-liu dan Li Tun lantas berunding dengan Li I tentang langkah-langkah selanjurnya.
"Kim-heng, ada sesuatu yang tadi belum sempat kukatakan bpadamu,"
Kata Li Tun.
"Ketika di Sedjiang aku sudah berjumpa dengan Suhengmu Kang Hay-thian."
"Oo, apakah dia menitipkan pesan apa-apa untukku?"
Seru Tiok-liu dengan girang.
"Sudah tentu Kang-tayhiap tidak tahu aku bakal bertemu dengan kau."
Sahut Li Tun.
"Cuma, di tempat mereka sana jelas sangat memerlukan tenaga. Melihat suasananya, sesudah geger-geger malam ini. Su Pek-to pasti akan mengadakan penjagaan yang keras. Jago-jago Liok-hap-pang jauh lebih banyak daripada kita, untuk sementara kukira sukar buat menolong nona Su. Menurut pendapatku, ada lebih baik kita berangkat ke Sedjiang saja untuk menantikan mereka masuk lubang sendiri."
Kim Tiok-liu lantas tahu apa maksud Li Tun, selanya.
"Benar, setelah peristiwa ini, tentu Su Pek-to pasti akan mengantar adik perempuannya ke Sedjiang untuk dinikahkan dengan Swe Beng-hiong secara paksa, di sini kita tidak bisa menandingi dia, di Sedjiang tentu kita dapat melabraknya."
"Saat ini kota Sedjiang masih diduduki oleh pasukan kerajaan, tapi di luar kota adalah wilayah kekuasaan pasukan pergerakan yang berpangkal di Thay-liang-san,"
Demikian Li Tun meneruskan.
"Pemimpin pasukan pergerakan Tiok Sianghu adalah tokoh Bu-lim angkatan tua, Kang-tayhiap juga sudah berada di sana. Jika Su Pek-to mengantar adik perempuannya ke sana tentu akan kebetulan bagi kita untuk mencegatnya dengan bantuan dari kawan-kawan di sana."
"Cukup seorang Kang-tayhiap, sekalipun ada tiga orang Su Pek-to juga bukan tandingannya,"
Ujar Li Bo dengan tertawa.
"Baik, aku pun ikut ke sana bersama kalian."
Memangnya Kim Tiok-liu lagi kuatir kalau-kalau Su Pek-to menuntut balas kepada Kay-pang bilamana mereka sudah berangkat, sekarang Li bo mau ikut pergi, hal ini menjadi kebetulan, katanya dengan tertawa,.
"Bagus, di Yangtjiu sini sukar bagimu untuk melawan Liok-hap-pang yang berpengaruh, nanti setiba di Sedjiang baru kita membikin perhitungan total dengan Su Pek-to."
Selesai mengambil keputusan, maka ketika fajar tiba segera mereka pun berangkat.
Keadaan Tjiok Hek-koh sudah pulih kembali setelah diobati oleh Kong-tjiau menurut petunjuk Li Tun.
Bersama orang banyak Kong-tjiau dan Hek-koh juga ikut ke Sedjiang.
Setelah mengobrak-abrik Liok-hap-pang, meski Kim Tiok-liu tidak berhasil menolong Su Ang-ing sedikitnya muslihat Su Pek-to sudah digagalkan.
Untuk sementara Su Ang-ing masih terkurung, tapi rasanya takkan membahayakan jiwanya, hal yang maling membuatnya kuatir hanyalah Le Lam-sing saja.
Bagaimana dengan keadaan Le Lam-sing dan kemana perginya?
Pada malam itu setelah terserang senjata rahasia Ho-toa-Inio, untuk menghindari pengejaran lebih lanjut dan kuatir disusul oleh Su Pek-to, terpaksa Le Lam-sing terjun ke dalam sungai.
Arus sungai bagian itu kebetulan rada deras, untung Le Lam-sing mahir berenang, arus yang mengalir deras itu dapat dia gunakan menghemat tenaga.
Ia mengerahkan Lwekang untuk menutup Hiat-to yang dekat dengan tempat luka keracunan, ia membiarkan tubuhnya dihanyutkan oleh ombak dengan tangan tetap menggenggam kencang Hian-tiatpokiam.
Dengan daya apung air, untuk membawa pedang yang berat itu menjadi tidak sukar baginya.
Meski terluka Le Lam-sing masih dapat bertahan, tidak terlalu lama ia sudah terhanyut jauh ke hilir, kota Yangtjiu telah |auh ditinggalkannya di belakang.
Namun begitu, Lamsing habis bertempur sengit, sekarang harus bergulat pula di tengah ge-ilombang ombak, masih harus pula memegangi Hian-tiat-pokiam yang ratusan kati beratnya, sesudah berada di tempat yang tenang arusnya terpaksa ia harus berenang untuk mencapai tepi.
Tenaga yang dikeluarkan lambat-laun berkurang dan sukar dipertahankan lagi, tapi Lam-sing masih sayang membuang pelang pusaka itu.
"He, ada ikan besar! Lekas kalian membantu!"
Demikian teriak nelayan tua dengan girang, lalu beramai-ramai mereka mengangkat jaring yang berisi Le Lam-sing itu.
Remang-remang kelihatan di kejauhan ada berkelipnya api, iSeperti pelita pada perahu nelayan.
Ia pikir asalkan masih sanggup bertahan sebentar lagi mungkin akan dapat mencapai perahu nelayan itu.
Tak terduga, lantaran tenaganya banyak susut, pe-nutup Hiat-to menjadi kurang kuat, racun di dalam badan mulai bekerja, kepala terasa pusing.
Ia tahu gelagat jelek, mestinya bermaksud timbul ke permukaan air untuk berteriak minta tolong, tapi celaka, sekali dia menggunakan tenaga, bukannya timbul ke atas sebaliknya malah tenggelam ke bawah.
Hal ini disebabkan dia membawa Hian-tiat-pokiam yang berarti badannya diberi beban lebih seratus kati, sekali tenaganya sudah lemah, tentu saja sukar baginya untuk timbul ke permukaan air.
Sebenarnya pada saat antara hidup dan mati itu, ia harus membuang pedangnya, tapi lantaran bekerjanya racun tera-mat cepat dan di luar dugaan, ketika ia menyadari keadaan berbahaya itu, namun dalam sekejap saja pikirannya menjadi gelap.
Dalam keadaan demikian secara otomatis tangan Le Lam-sing masih terus menggenggam kencang Hian-tiat-pokiam.
Saat itu sudah dekat fajar.
Dasar belum waktunya Le Lamsing harus menghadap raja akhirat, kebetulan kepergok oleh se-buali perahu nelayan yang pagi-pagi itu sudah keluar menjala ikan.
Nelayan di atas perahu itu terdiri dari tiga orang ayah berranak, ketiga nelayan tua itu menebarkan jaringnya, kebetulan Le Lam-sing terjaring.
Ketika nelayan itu menarik sekuatnya dan badan Le Lam-sing berputar, hampir saja nelayan tua itu terseret jatuh ke dalam air.
Keruan nelayan tua itu terkejut dan bergirang pula, serunya cepat.
"He, ada ikan besar! Lekas kalian membantu!"
Kedua puteranya yang masih muda dan tangkas itu lantas [memburu maju membantu menarik jaring.
"Ah, mana mungkin ada ikan besar seberat ini?"
Ujar puteranya yang sulung. Belum lenyap suaranya, putera nelayan yang kecil juga sudah berteriak.
"He, bukan ikan, tapi manusia!"
"Manusia juga tidak seharusnya begini berat?"
Ujar kakaknya setelah menggerundel.
"Menolong sesama adalah kewajiban setiap orang, lekas menariknya ke atas,"
Kata nelayan tua. Beramai-ramai mereka lantas mengangkat jaring dan melepaskan Le Lam-sing. Kedua puteranya itu terheran-heran, yang seorang berkata.
"Orang ini tidak kekar, tampaknya malah seperti anak sekolah yang lemah, mengapa bobotnya begini berat? Jangan-jangan pada badannya membawa emas perak yang berharga?"
"Mana mungkin orang terjun ke dalam air dengan membawa serta emas perak beratus kati beratnya?"
Sanggah yang lain.
"Aku berani memastikan dia tidak membawa emas perak segala hanya kulihat ada sebatang pedang. Ai, janganjangan dia adalah bajak laut?"
Habis berkata ia coba meraba badan Le Lam-sing, lalu katanya pula dengan tertawa "Benar juga dugaanku, dia sama sekali tidak gablek duit satu sen pun. Hm, bajunya sih tampak mentereng"
Rupanya pakaian Le Lam-sing masih tetap pakaian pengantin kemarin yang belum sempat berganti, sudah tentu ia pun tidak membawa sangu apa-apa ketika lari keluar dari kamar pengantin.
Si nelayan tua lantas berkata.
"Kita adalah nelayan yang mengutamakan kebajikan, masakah kita boleh mengincar harta benda orang? Tak peduli siapa dia, kita selamatkan dia paling perlu."
Saat itu ada sebuah kapal dagang yang berlabuh di tepi sungai seperti terkejut oleh apa yang dialami perahu nelayan ini, kapal itu sedang didayung kemari.
Karena sibuk menolong orang, maka si nelayan tua tidak ambil pusing datangnya kapal lain.
Nelayan tua menyuruh kedua puteranya menggencet keluar air yang memenuhi perut Le Lam-sing, untuk ini pedang yang masih tergenggam di tangan Lam-sing harus disingkirkan dulu.
Putera sulung nelayan itu pernah belajar sejurus dua silat kampungan, ia berlagak seperti jagoan, Hian-tiat-pokiam terus hendak diangkat begitu saja.
Sudah tentu sama sekali tak tersangka olehnya bahwa pedang itu mempunyai bobot lebih seratus kati, keruan ia menjerit kaget, Hian-tiat-pokiam tergeser ke samping Le Lamsing, nelayan muda itupun keseleo tulang pinggangnya, dan terbanting jatuh.
Papan perahu sampai pecah karena jatuhnya Hian-tiat-pokiam.
Si nelayan tua terkejut dan cepat mengangkat bangun pujteranya, omelnya "Ai, kenapa kau tidak hati-hati."
"Tak apa-apa"
Sahut anak muda itu.
"Sekarang tahulah aku. bukan orangnya yang berat, tapi pedangnya ini yang sangat berat."
Adiknya menjadi tertarik, ia coba memegang Hian-tiatpokiam, benar juga bergeming saja tidak meski dia sudah memeras segenap tenaganya.
Selagi ayah beranak itu merasa heran, sementara itu kapal Idagang tadi sudah merapat di samping perahu nelayan, seorang laki-laki baju hitam berewok tiba-tiba melompat tiba.
Nelayan tua kaget dan rada takut-takut pula ia coba berta-I nya.
"Ada keperluan apakah tuan ini?"
"Kulihat kalian sedang menolong seseorang, maka sengaja melihat ke sini,"
Sahut laki-laki baju hitam itu.
"He, bukankah dia si Ong? Hai, Ong, kenapa kau!"
Kejut dan senang pula si nelayan tua, cepat ia tanya "Apakah dia kawanmu?"
"Benar, baru kemarin dulu kami berjumpa di Yangtjiu, mapan kami pesiar bersama-sama, kenapa dia terjaring oleh kapan dari dalam sungai. O ya memang kutahu dia sedang sedih karena sesuatu urusan, tapi mestinya tidak perlu membunuh diri legala. Ai, jangan-jangan ini cuma suatu kecelakaan saja atau pia memang sengaja bunuh diri?"
Laki-laki baju hitam itu bermuka kasar dan berbadan kekar, tapi ceriwis seperti perempuan bawel. Putera sulung nelayan menjadi tidak sabar, katanya.
"Kami tidak tahu apa-apa, boleh kau tanya dia bila dia sudah siuman."
"Aneh, mengapa dia masih belum siuman,"
Kata nelayan tua.
"Baiklah akan kutolong dia, banyak terima kasih atas bantuan kalian, dan pedangnya itupun kubawa sekalian,"
Kata laki-laki itu sembari menyodorkan sepotong uang emas kepada nelayan tua, katanya.
"Ini sedikit tanda terima kasih harap sudi menerimanya."
Sebagai rakyat kecil yang tidak suka terkena perkara, si nelayan tua memang lagi kuatir kalau-kalau orang yang ditolongnya dari dalam sungai itu tidak bisa hidup kembali, maka maksud orang baju hitam membawa pergi temannya itu menjadi kebetulan baginya, cepat ia menjawab.
"Ah, menolong sesama adalah kewajiban kita, mana boleh kami menerima pemberian-mu.
"Ah, jangan sungkan,"
Ujar laki-laki itu, sebelah tangannya mengempit Le Lam-sing, tangan yang lain mengangkat Hiantiat-pokiam, lalu ia melompat kembali ke kapalnya sendiri.
Keruan ketiga ayah beranak nelayan itu terkesima semua, mereka pikir laki-laki ini bertenaga begini besar, besar kemungkinan adalah kawanan yang sekomplotan dengan si Ong tadi.
Ketika laki-laki baju hitam melompat kembali ke haluan kapal sendiri, di situ sudah menunggu seorang nona, dengan heran si nona bertanya.
"Siapakah dia, ayah? Pedang ini....."
Nona itu berlatih silat sejak kecil, walaupun belum terhitung ahli.
juga dapat melihat bahwa Hian-tiat-pokiam itu tentu bukan senjata biasa, kalau tidak, pasti takkan seberat itu.
Yang membuatnya lebih heran adalah ayahnya yang biasanya tidak pernah berbuat sesuatu yang bajik, mengapa sekali ini mau menolong seorang yang belum dikenalnya?
"Jangan kau urus, pindahkan dulu orang ini ke dalam kabin dan tutup jendelanya,"
Kata laki-laki itu.
Dengan ragu-ragu si nona terpaksa melakukan apa yang diperintahkan, lalu laki-laki itu memerintahkan juru mudi menjalankan lagi perahunya.
Sesudah memindahkan Le Lam-sing ke dalam kabin, si nona merasa lega ketika diketahui pernapasan Lam-sing cukup lancar.
Ia coba memberikan secawan arak, tidak tahu bahwa Lam-sing keracunan, sesudah dicekoki arak, menjalarnya racun menjadi bertambah cepat.
Selang tidak lama Le Lam-sing masih tak sadar, waktu si nona memeriksa lebih teliti, dilihatnya di tengah alis Lam-sing bersemu hitam kebiru-biruan.
Jidatnya juga panas sekali, si nona menjadi kuatir dan gugup.
"Kenapa masih belum siuman? Apakah dia keracunan atau tertutuk Hiat-ro tertentunya?"
Ujarnya.
Untung Le Lam-sing pernah mendapat ajaran inti Lwekang dari Kim Si-ih, hawa murni di dalam tubuh terus bekerja tanpa berhenti, meski di bawah sadar juga timbul kemampuannya menolak racun.
Hanya saja tidak sebaik seperti pengerahan tenaga dalam keadaan biasa.
Begitulah dalam keadaan samar-samar mendadak Le Lamsing merasa perutnya seperti disayat-sayat, tanpa terasa ia merintih.
"Aduh, Tiok-liu! Dimana kau Tiok-liu!"
Si nona menjadi girang, serunya.
"He, kau memanggil siapa? Bangun, bangunlah! Tapi setelah menyebut nama Tiok-liu dua kali, saking sakitnya, kembali Lam-sing pingsan lagi. Keruan nona itu tak berdaya, terpaksa ia keluar untuk minta petunjuk kepada ayahnya, saat itu masih pagi sepi, sekitar situ tiada perahu lain. Laki-laki baju hitam itu memerintahkan juru mudi berlabuh ke tepi. Keruan tukang perahunya heran dan bertanya.
"Di sini bukan tempat keramaian, katanya tuan mau ke Yangtjiu, kenapa berlabuh di sini?"
Belum habis pertanyaannya, mendadak tukang perahu itu sudah roboh tertutuk. Kebetulan si nona baru menongol dari dalam kabin, ia menjadi terkejut dan berseru.
"He, ayah, apa yang kau lakukan?"
Namun laki-laki itu sudah lantas mencekik pula leher si tukang perahu, lalu diangkat dan dilemparkan ke dalam sungai. Si nona bermaksud mencegah, tapi sudah terlambat.
"Ai, ayah, kenapa engkau membunuh orang yang tidak berdosa?"
Seru si nona penuh penyesalan.
"Hahaha, selama hidup ayahmu sudah tidak sedikit membunuh orang, hanya seorang tukang perahu saja apa artinya?"
Ujar laki-laki itu. Apa daya, urusan sudah terjadi, terpaksa si nona menahan tangisnya, pikirnya.
"Setelah dihajar sekali oleh Kim Tiok-Iiu, kukira ayah sudah insyaf akan perbuatannya selama ini. Siapa duga watak jahatnya masih tidak berubah, apa yang dikatakan hanya untuk membohongi aku saja."
"Dasar budak bodoh, yang mati toh bukan ayahmu, kenapa kau berduka,"
Omel laki-laki baju hitam.
"Eh, bocah itu sudah siuman belum?"
"Orang itu seperti keracunan, sukar membuatnya siuman,"
Jawab si nona.
"O. coba kuperiksa,"
Kata laki-laki itu sembari mendayung perahunya ke dalam semak alang-alang di tepian sungai, lalu ia masuk ke dalam kabin perahu dengan memegang Hian-tiatpo-kiam.
Selesai memeriksa keadaan Lam-sing, laki-laki itu menggumam sendiri.
"Ya, seperti keracunan, tapi biarkan dia mati saja asalkan pedang ini tidak hilang."
"Siapakah dia, ayah?"
Tanya si nona.
"Aku tidak kenal bocah ini, hanya aku tahu akan Hian-tiatpokiam ini."
"Hian-tiat-pokiam apa maksud ayah?"
"Su Pek-to mendapat sebuah benda mestika yang disebut Hian-tiat yang bobotnya puluhan kali lebih berat daripada besi biasa. Kutahu sudah lama Su Pek-to bermaksud menggembleng besi mumi itu menjadi pedang untuk dipersembahkan kepada Sat-tjongkoan, tetapi kemudian kabarnya Hian-tiat itu dicuri orang, ada berita yang mengatakan pencurinya adalah adik perempuan Su Pek-to sendiri dan ada yang bilang dicuri oleh Kim Tiok-liu, yang pasti aku tidak tahu jelas. Kedatangan kita kali ini justru hendak menemui Su Pek-to, Hian-tiat-pokiam ini entah mengapa bisa berada di tangan bocah yang tak dikenal ini. Demi pedang ini terpaksa aku menolong dia dan akan kita serahkan kepada Su Pek-to, orang bersama pedangnya. Haha, ini benar-benar suatu kejadian yang sangat kebetulan."
"Tapi tukang perahu yang tak berdosa ini kenapa juga ayah bunuh?"
Ujar si nona.
"Hian-tiat-pokiam ini adalah benda mestika yang diincar oleh setiap orang Bu-lim, sekalipun Su Pek-to sendiri juga ingin merahasiakannya. Dengan membunuh si tukang perahu, apa yang terjadi takkan diketahui orang lain. Haha, dengan Hian-tiat-pokiam ini kita dapat pergi menemui Su Pek-to dan kukira dia pasti akan suka padamu."
"Kau bilang apa? Mengapa aku perlu disukai orang she Su itu?"
Omel si nona.
"Anak Siang apakah kau masih terkenang kepada bocah she Tjin itu? Kukira lebih baik kau melenyapkan pikiranmu, orang adalah murid kaum Tjing-pay, mana dia sudi padamu? Andaikan dia mau juga aku tidak boleh. Kedatangan kita mencari Su Pek-to sekali ini, adalah kumaksudkan meminta dia menjadi saudara agar Kim Tiok-liu keparat itu tidak berani main gila padaku. Memangnya kau sangka perbuatannya secara paksa menjodohkan kau kepada bocah she Tjin itu, benar-benar timbul dari sukarelaku?"
Kiranya laki-laki baju hitam ini adalah Hong Tju-tjiau yang pernah menjadi jago pengawal itu dan si nona adalah puterinya, Hong Biau-siang.
Tempo hari Hong Tju-tjiau kepergok Kim Tiok-liu di tengah jalan, ia menjadi ketakutan melanjutkan perjalanannya ke kotaraja dan terpaksa pulang ke rumah, tapi makin dipikir makin dendam.
Tidak lama Hong Tjiu-tjiau mendengar berita tentang pengacauan Kim Tiok-liu di rumah Sat Hok-ting, tapi kabarnya dikalahkan oleh Pangtju Liok-hap-pang Su Pek-to dan melarikan diri.
Sudah tentu berita itu tidak seluruhnya benar, namun Hong Tju-tjiau percaya sepenuhnya.
Ia pikir kalau bisa berdaya mengadakan kontak dengan Su Pek-to, jika puterinya bisa dijodohkan kepada Su Pek-to, maka selanjurnya tidak perlu takut lagi kepada Kim Tiok-liu yang dianggap selalu merongrongnya.
Sebenarnya Hong Tju-tjiau sudah kenal Su Pek-to, hanya tidak dapat berhubungan, la tahu beberapa tahun yang lalu Su Pek-to telah kematian istrinya dan sampai sekarang belum menikah lagi, isteri yang mati juga tidak meninggalkan anak.
Walaupun usia Su Pek-to sudah mendekati 40-an, tapi tidaklah merendahkan puterinya jika Su Pek-to mau.
Soalnya sekarang adalah dengan cara bagaimana supaya Su Pek-to mau mengambil puterinya sebagai isteri.
Hong Tju-tjiau pikir puterinya tidaklah jelek, pertama harus diusahakan agar Su Pek-to melihat muka Biau-siang, kalau ada maksud, baru kemudian gampang mencari orang perantara.
Karena itulah ia mendustai Biau-siang dan mengajaknya keluar mencari Tjin Goan-ko.
Seperti diketahui, Hong Biau-siang mengetahui ayahnya telah dipaksa oleh Kim Tiok-liu agar menjodohkannya kepada Goan-ko, meski ia merasa tindakan Kim Tiok-liu itu rada-rada sembrono, tapi di dalam hati Biau-siang merasa senang, maka ia percaya saja kepada bujukan ayahnya.
Tak terduga belum sampai di Yangtjiu sudah menemukan Le Lam-sing bersama Hian-tiat-pokiam.
hal ini membuat Hong Tju-tjiau kegirangan karena mendapatkan kado yang tepat untuk Su Pek-to.
Begitulah Biau-siang menjadi kebat-kebit setelah mengetahui maksud tujuan ayahnya itu.
Ia pikir dahulu ada Kim Tiok-liu yang menyelamatkan dia, sekarang kemana mencari seorang Kim Tiok-liu lagi?
Teringat pada Kim Tiok-liu, tiba-tiba hati Biau-siang tergerak, segera ia berkata.
"Ayah, bagaimana baiknya dengan orang yang masih belum siuman ini."
Hong Tju-tjiau mengerut kening, katanya.
"Mestinya dia akan kuserahkan kepada Su Pek-to, tapi melihat gelagatnya dia tak bisa hidup lebih lama lagi, terpaksa kubiarkan dia lebih cepat meninggalkan dunia fana ini."
Mendadak Biau-siang mencegahnya.
"Jangan ayah, orang ini jangan kau bunuh."
"Sebab apa?"
Tanya Hong Tju-tjiau dengan mendelik.
"Tahukah kau siapa dia?"
Tanya Biau-siang.
"Memangnya kau tahu?"
Kebetulan saat itu Le Lam-sing menggeliat, tiba-tiba tergerak hati Biau-siang, katanya.
"Akan kucoba dia mengatakan sendiri siapa dia?"
Habis itu ia lantas berjongkok dan mendadak berteriak di tepi telinga Lam-sing.
"Kim Tiok-liu datang! Kim Tiok-liu datang!"
Dalam keadaan samar-samar mendadak Le Lam-sing mendengar teriakan itu, seketika ia siuman dan berseru.
"Dimana dia? Dimana?"
Hong Tju-tjiau terkejut, tanyanya segera.
"Pernah apamu Kim Tiok-liu itu?"
Pelahan-lahan Le Lam-sing membuka katanya, katanya heran.
"He, mengapa aku berada di sini? Tempat apakah ini? Siapa kalian? Dan dimana Kim Tiok-liu?"
Lantaran Lam-sing pernah meyakinkan inti Lwekang ajaran Kim Si-ih, biarpun dalam keadaan tak sadar juga hawa murni di dalam tubuh tetap bekerja.
Pengaruh arak yang diminumnya itu sudah lenyap, mestinya ia baru akan sadar sedikit waktu lagi.
Cuma disebabkan ia selalu teringat pada Kim Tiok-liu, ketika Hong Biau-siang meneriaki nama Kim Tiokliu di tepi telinganya, seketika ia seperti terjaga bangun dari mimpi.
"Aku adalah kawan Kim Tiok-liu, coba katakan padaku Kim Tiok-liu sekarang berada dimana, akan kuundang dia ke sini,"
Kata Biau-siang. Seketika timbul letikan harapan dalam benak Le Lam-sing, katanya.
"Aku adalah saudara angkat Kim Tiok-liu, dia sekarang berada di Yangtjiu, asalkan kau bertemu dengan orang Kay-pang tentu akan lantas mengetahui dimana Kim Tiok-liu berada."
"Baik, pasti akan kuhubungkan dengan Kim Tiok-liu, silakan kau mengaso dulu,"
Kata Biau-siang. Ia merapatkan pintu kabin, lalu ayahnya ditarik ke haluan perahu, katanya dengan bisik-bisik.
"Ayah, sekarang kau sudah tahu siapakah dia, mana boleh kau membunuhnya lagi?"
"Dia adalah saudara angkat Kim Tiok-liu, aku bertambah napsu untuk membunuhnya,"
Ujar Hong Tju-tjiau.
"Apakah ayah mampu melawan Kim Tiok-liu? Apalagi jika engkau membunuh saudara angkatnya, mustahil dia mau mengampuni kau?"
Teringat kepada kepandaian Kim Tiok-liu yang tinggi itu, mau tak mau Hong Tju-tjiau mengkirik juga, tapi ia tetap berkata dengan kepala batu.
"Siapa yang tahu jika aku membunuhnya?"
"Apakah keluarga nelayan itu tidak akan menyiarkan berita tentang orang yang ditolong mereka dari sungai, apalagi ada sebatang pedang yang luar biasa beratnya, bukan tidak mustahil Kim Tiok-liu akan dapat mengusutnya."
"Ya, tadi seharusnya kubunuh sekalian nelayan-nelayan itu."
"Tapi biarpun ayah membunuh keluarga nelayan itu juga tiada gunanya."
"Sebab apa?"
"Karena masih ada orang yang mengetahui perbuatanmu."
"Siapa?"
"Aku!"
"Kau? Jadi kau juga akan melawan aku, ayahmu sendiri?"
"Anak tidak berani, tapi aku harus merintangi perbuatan ayah justru karena untuk kebaikan ayah sendiri. Terutama mengingat ayah sudah berjanji akan menjadi orang baik."
"Hm, tampaknya kau memang anak perempuan berbakti, kukira yang kau lakukan adalah untuk kebaikan bocah she Tjin itulah, Kim Tiok-liu adalah teman Tjin Goan-ko dan orang ini adalah saudara angkat Kim Tiok-liu, makanya kau lebih suka membela orang luar. Pendek kata aku harus membunuhnya."
"Ayah, untuk membunuhnya kau harus melangkahi dulu mayatku, kalau tidak mulutku takkan dapat kau sumbat."
Hong Tju-tjiau menjadi serba runyam, katanya kemudian.
"Baik, aku takkan membunuh dia. Tempat ini sudah dekat Yangtjiu, akan kuserahkan dia kepada Su Pek-to saja. Aku tidak mampu melawan Kim Tiok-liu, tapi Pangtju Liok-happang tentunya tidak gentar padanya."
"Ayah, sebenarnya apa maksud tujuanmu membawa aku .pergi ke Yangtjiu ini, dari nada ucapanmu tadi agaknya tidak cocok dengan bujukanmu padaku. Kukira lebih baik ayah jangan menuju ke Yangtjiu sana."
Serba susah juga Hong Tju-tjiau, ia tahu kalau secara terang-terangan mengatakan maksud tujuannya, tentu anak perempuannya itu takkan menurut.
Sebaiknya dirahasiakan saja, kalau sudah tiba di Yangtjiu masakah anak dara ini bisa lari?
Segera ia berkata.
"Apa sebabnya kau menganjurkan jangan ke Yangtjiu?"
"Bukankah Kim Tiok-liu sekarang berada di sana, padahal kau pun tahu Su Pek-to pernah juga dikalahkan oleh Kim Tiokliu, maka tidak perlu kau mimpi akan mendapatkan sandaran yang mampu menjagoi kau."
Sesungguhnya Hong Tju-tjiau sudah kapok benar-benar menghadapi Kim Tiok-liu, tapi ia pun tidak rela menyianyiakan kesempatan akan dapat menjilat Su Pek-to, maka dengan tetap kepala batu ia menjawab.
"Ah, mana bisa. Su Pek-to adalah jago nomor satu di dunia ini, betapapun lihainya bocah she Kim itu juga tidak berani menginjak Yangtjiu."
Belum habis pembicaraan mereka, tiba-tiba sebuah kapal layar meluncur tiba menghilir dengan cepat.
Haluan kapal itu terpancang sebuah panji hitam bergambarkan enam tengkorak, itulah tanda pengenal Liok-hap-pang.
"Itulah kapal Liok-hap-pangr seru Hong-tjiau dengan girang, segera ia mendayung perahunya keluar dari semak alang-alang. Sementara itu kapal layar itu sudah mendekat, seorang laki-laki yang berdiri di haluan kapal kebetulan dikenal. Orang Liok-hap-pang itu mengkerut kening ketika melihat Hong Tju-tjiau, pikirnya sungguh sial, telah kuhindarkan kawan-kawan lain, di sini kepergok lagi kenalan lama. Kiranya saat ini orang Liok-hap-pang ini bermaksud melarikan diri dari kekangan Liok-hap-pang makanya dia kuatir kepergok oleh orang yang dikenalnya. Orang ini bernama Ong Kiat, ketika Li Tun masih di dalam Liok-hap-pang mereka adalah teman yang cukup baik. Berkat pengaruh Li Tun, sudah lama Ong Kiat ingin kembali ke jalan yang benar. Selama dua tahun ini banyak juga anak buah Liok-hap-pang yang tidak puas terhadap sepak terjang Su Pek-to. Sebab itulah Ong Kiat lebih-lebih ingin melepaskan diri dari genggaman Su Pek-to, sayangnya selama ini belum ada kesempatan. Sekali ini berhubung Su Pek-to ingin menemukan kembali Hian-tiat-pokiam yang dibawa kabur Le Lam-sing itu, ia mengerahkan belasan kapal ke sepanjang sungai dengan harapan akan menemukan mayat Lam-sing dan di situ akan dicari Hian-tiat-pokiam yang tenggelam ke dasar sungai. Arus sungai Tiangkang di daerah Yangtjiu itu cukup deras, sebab itulah yang dikirim adalah perahu-perahu cepat kemudi satu orang. Selain mahir mengemudikan perahu cepat itu harus pula ahli menyelam. Dan Ong Kiat adalah seorang di antaranya yang ditugaskan mencari Le Lam-sing itu. Mestinya Ong Kiat berangkat bersama teman-temannya, tapi berkat hafalnya akan wilayah perairan Yangtjiu, di tengah jalan ia meninggalkan teman-temannya dan meluncurkan perahunya ke hilir, saat itu sudah 60 -70 li jauhnya dari Yangtjiu dan boleh dikata sudah di luar wilayah pengaruh Liok-hap-pang. Asal beberapa puluh li lagi sudah dapat mencapai lautan bebas dan berarti selamatlah dia melepaskan diri dari Liok-hap-pang. Tak terduga di sini ia kepergok oleh Hong Tju-tjiau, sebe-Bum sempat berbuat apa-apa Hong Tju-tjiau sudah menyapanya [lebih dulu. Terpaksa Ong Kiat mendekatkan perahunya sesudah mendapat akal, balasnya menyapa.
"Aha, kiranya Hong-taydjin adanya!"
Karena tidak ingin bertemu dengan orang Liok-hap-pang, segera Hong Biau-siang masuk ke kabin untuk menjaga I e Lam-sing. Dalam pada itu Hong Tju-tjiau sedang menjawab.
"Kudatang untuk berkunjung kepada Pangtju kalian, apakah Su-pang-tju baik-baik saja? Sudah lama tidak bertemu, silakan pindah kemari untuk bicara."
"Aku masih ada tugas, biarlah kita mengobrol sebentar saja dengan begini. Eh, kedatangan Hong-taydjin ini sangat baik, tapi Pangtju kami dalam keadaan kurang baik."
Hong Tju-tjiau terkejut, cepat ia tanya.
"Apa yang terjadi?"
"Sungguh memalukan bila diceritakan, semalam Liok-happang kami telah diserbu musuh, sampai-sampai Pangtju kami pun terluka."
"Hah, selama ini Pang kalian malang melintang di seluruh Kangouw, siapa yang begitu berani memusuhi kalian?"
"Yang memusuhi kami adalah Kay-pang, katanya kami mengekor kepada kerajaan, maka mereka bertekad akan menumpas kami."
"Kepandaian Li Bo yang memimpin cabang Kay-pang di Yangtjiu kan bukan apa-apa kalau dibandingkan Pangtju kalian, memangnya Pangtju mereka si pengemis tua Tiong Tiang-thong telah datang sendiri ke Yangtjiu?"
"Pengemis tua tidak datang, tapi pengemis cilik yang datang. Kepandaian pengemis cilik itu sungguh lihai, empat Hiang-tju kami pernah kecundang semua, semalam Pangtju kami juga dilukai olehnya."
Sungguh kejut Hong Tju-tjiau tidak kepalang, dari kata-kata Ong Kiat itu sudah dapat diperkirakan siapakah pengemis cilik yang dimaksudkan itu, namun ia masih bertanya.
"Siapakah pengemis cilik itu? Darimana Kay-pang mendapatkan tokohtokoh selihai itu?"
"Dia bukan anggota Kay-pang, hanya dia suka berdandan sebagai pengemis. Hong-taydjin, kabarnya kau pernah mendatangi rumah Kang Hay-thian bersama Bun To-tjeng, malahan Bun To-tjeng juga pernah kecundang, tentunya kau tahu siapa dia."
"Hah, jadi Kim Tiok-liu adanya? Sungguh aku tidak percaya Su-pangtju kalian juga kecundang di tangannya."
"Ya memang Kim Tiok-liu, putera Kim Si-ih dan Sute Kang Hay-thian itu. Lihai amat dia, hanya sekali mengadu pukulan dengan Pangtju kami, sesaat itu tidak apa-apa tapi sekembalinya di rumah, Pangtju lantas muntah darah, melihat keadaannya itu agaknya cukup parah."
Padahal luka yang diderita Su Pek-to adalah karena bubuk racun yang ditebarkan Tjiok Hek-koh dan sekarangpun sudah sembuh.
Kata-kata Ong Kiat yang sengaja dilebih-lebihkan itu hanya bertujuan menakut-nakuti Hong Tju-tjiau saja agar lekas pergi.
Hong Tju-tjiau menjadi bungkam, dalam hati ia mengeluh.
"Wah, celaka! Kukira Su Pek-to dapat diandalkan sebagai sandaran, tak tahunya dia pun dikalahkan bocah she Kim itu, malahan Kay-pang juga sudah memusuhi Liok-hap-pang, jika aku terus ke Yangtjiu kan berarti masuk jaring sendiri."
Dalam pada itu Ong Kiat berkata pula "Sekarang Pangtju berbaring tak bisa bergerak, beliau kuatir Kay-pang dan bocah she Kim itu menyerbu lagi, maka sedang minta bantuan.
Aku juga ditugaskan mencari bala bantuan makanya kubilang kedatangan Hong-taydjin ini sangat kebetulan dan dapat pula membantu Pangtju kami.
Nah, maafkan jika sekarang aku harus buru-buru melanjutkan perjalanan."
Begitulah Hong Tju-tjiau menyaksikan Ong Kiat pergi dengan perasaan bimbang, la tidak tahu bahwa pada saat itu Ong Kiat sedang tertawa geli karena dia kena digertak dan tampaknya pasti tidak berani menuju ke Yangtjiu lagi, hal ini berarti akan memperlambat diketahui kaburnya Ong Kiat oleh Su Pek-to.
Sementara itu Le Lam-sing sedang duduk bersila dan lagi menghimpun tenaga sedikit demi sedikit.
Namun caranya ini hanya dapat sekadar untuk melawan bekerjanya racun, untuk memunahkan harus digunakan penyembuhan dengan tusuk jarum, untuk ini diperlukan pertolongan orang lain.
Maka waktu Hong Biau-siang masuk, segera ia berkata "Apakah kau punya batu sembrani?"
"Apakah kau hendak menggunakannya untuk mencabut Am-gi?"
Sahut Biau-siang "Baiklah, akan kubantu kau. Kita sama-sama putera-puteri Kangouw, tidak perlu pantang tentang laki-laki dan perempuan segala Dimanakah tempat lukamu?"
"Di punggung, di belakang pundak, koreklah daging yang membusuk itu, lalu sedot jarumnya dengan batu sembrani!"
Kata Lam-sing.
"Aku tahu,"
Sahut Hong Biau-siang. Segera ia merobek baju Lam-sing sehingga kelihatan lukanya yang hitam, ia terkejut.
"He, lihai amat jarum berbisa ini!"
Ia coba menekan daging sekitar luka itu, lalu bertanya "Sakit tidak?"
"Tak apa-apa koreklah,"
Sahut Lam-sing.
Dengan pisau kecil yang tajam, Biau-siang lantas mengorek daging yang sudah membusuk itu dan memencet keluar darah yang berbisa menyusul batu sembrani digunakan menyedot jarumnya.
Sedikitpun Lam-sing ternyata tidak merintih.
Selesai mencabut jarum berbisa itu, kebetulan Biau-siang mendengar percakapan Ong Kiat yang mengatakan Su Pek-to telah dikalahkan Kim Tiok-liu, keruan ia bergirang.
Dilihatnya Lam-sing lagi mengumpulkan semangat, selang sejenak barulah Lam-sing membuka mata dan bertanya "Apakah kau punya jarum perak buat Tjiam-tjiu (penyembuhan tusuk jarum)."
"Jarum jahit sih ada,"
Sahut Biau-siang.
"Jarum jahit tidak bisa digunakan."
Kata Lam-sing. lalu ia mencoba mengalihkan pandangan ke atas kepala si nona. Tergerak hati Biau-siang, segera ia mencabut tusuk konde perak, katanya.
"Apakah ini bisa dipakai?"
"Bisa, hanya....."
"Tidak apa, katakanlah padaku cara mencocok jarum ini,"
Kata Biau-siang yang dapat menerka apa maksud Lam-sing itu.
Kiranya penyembuhan dengan tusuk jarum untuk memunahkan racun, perlu melepaskan pakaian agar tujuh Hiat-to yang bersangkutan dapat ditusuk, selain itu lengan celana juga perlu digulung agar Koan-tiau-hiat di bagian dengkul bisa ditusuk.
Walaupun putera-puteri Kangouw tidak mempersoalkan pantangan laki-laki perempuan juga kurang sedap dilihat orang.
Pada saat itulah tiba-tiba Hong Tju-tjiau melangkah masuk, rupanya Ong Kiat baru saja pergi, serunya dengan tertawa "Eh, kau sudah segar kembali.
Apakah kau hendak melakukan pemunahan racun dengan tusuk jarum?
Baiklah akan kubantu."
"Jangan ayah!"
Tiba-tiba Biau-siang menyela.
"Kenapa?"
Tanya Tju-tjiau bingung.
"Eh, rupanya ayah lupa bahwa penyakit rematik tanganmu sering kumat dan suka gemetar, mana bisa tepat tusukan jarumnya nanti. Biarlah aku saja yang melakukan."
"Sakit rematik?"
Kata Tju-tjiau melenggong, tapi segera ia tahu maksud anak perempuannya yaitu kuatir kalau-kalau dia mencelakai bocah ini.
Sudah tentu Hong Tju-tjiau tidak punya maksud baik terhadap Le Lam-sing, tapi untuk sementara ia masih raguragu karena kuatir Kim Tiok-liu akan menuntut balas padanya.
Pula ia tahu maksud jahatnya pasti akan dirintangi puterinya, terpaksa ia hanya tertawa dan berkata "Ya.
memang benar ucapanmu.
Bolehlah kau menyembuhkan dia aku akan menjaga di luar."
Le Lam-sing lantas mengajarkan cara tusuk jarum, lalu ia melepaskan bajunya dan membiarkan Biau-siang menusuk Hiat to tertentu dengan tusuk konde perak tadi.
Karena belum begitu paham, sampai lama barulah selesai dan jidat Biausiang sudah penuh keringat.
Sesudah mengaso sebentar sambil menunggu Lam-sing memakai bajunya kembali, lalu Biau-siang berkata "Apakah kau mendengar apa yang dibicarakan ayah dengan kenalannya tadi?"
"Tidak, ada berita apa?"
Tanya Lam-sing, lantaran sedang memusatkan tenaga dalam buat menolak racun, maka Lamsing tidak mendengar apa-apa yang terjadi di luar.
Baru saja Biau-siang hendak menjelaskan, tiba-tiba Hong Tju-tjiau masuk lagi dan berkata.
"Aku akan memberitahukan Le-kongtju bahwa kita tidak bisa menuju ke Yangtjiu."
"Sebab apa?"
Tanya Lam-sing.
"Saudara angkatmu she Kim itu telah bertarung dengan Su i Pek-to dan kedua orang sama-sama terluka sedikit, meski Kim Tiok-liu mendapat bantuan Kay-pang, tapi pengaruh Liokhap-pang terlalu besar, kabarnya Kay-pang sudah lari keluar Yangtjiu dan Kim Tiok-liu sudah meninggalkan kota itu, maka kupikir lebih baik kuantar kau ke Kimleng saja di sana juga ada cabang Kay-pang. Pula di sana kau akan lebih mudah mencari kabar Kim Tiok-liu, apakah kau setuju?"
Walaupun bohong tapi uraiannya mendekati kenyataan, sebab Le Lam-sing menyaksikan sendiri Kim Tiok-liu terkurung di markas Liok-hap-pang, maka ia tidak sangsi akan keterangan Hong Tju-tjiau itu, katanya "Banyak terima kasih atas pertolonganmu, sampai sekarang aku masih belum tahu nama tuan penolong yang mulia?"
Kuatir namanya pernah diceritakan oleh Kim Tiok-liu, maka Tju-tjiau sengaja mengaku suatu nama palsu, lalu berkata.
"Silakan kau mengaso baik-baik, aku bertanggung jawab mengantar kau ke Kimleng. Anak Siang, marilah kita keluar, kau pun perlu membuat sedikit daharan bagi Le-kongtju."
"Kenapa kau mendustai dia ayah?"
Tanya Biau-siang dengan berbisik sesudah berada di luar kabin.
"Bukankah kau enggan menemui Su Pek-to dan sekarang kan cocok dengan keinginanmu bila kita tidak bakal ke Yangtjiu?"
Ujar Tju-tjiau dengan tertawa.
"Baiklah, aku takkan membongkar kebohongan ayah dan aku pun menurut begitu ke Kimleng, tapi jangan sekali-kali ayah bermaksud mencelakai orang,"' kata Biau-siang.
"Budak bodoh, justru kesempatan ini akan kugunakan untuk mengambil hati Kim Tiok-liu dengan perantaraan saudara angkatnya ini, mana bisa aku membikin celaka dia malah?"
Ujar Tju-tjiau. Hong Biau-siang menjadi percaya, katanya dengan girang.
"Ayah, sungguh aku bersyukur jika engkau benar-benar bermaksud demikian. Tapi mengapa kau tadi tidak mengatakan namamu yang sebenarnya?"
"Aku hanya kuatir dia curiga, nanti setelah dia sembuh tiada halangannya kujelaskan padanya."
Karena ucapan sang ayah rada masuk diakal, dengan perasaan lega Biau-siang pergi menanak nasi, Le Lam-sing sendiri lantas bersemedi lagi.
Selang agak lama semangatnya telah banyak pulih lagi, hanya saja badannya masih terasa lemah.
Dekat magrib, Hong Biau-siang telah menyiapkan sekadar daharan, mereka bertiga lantas bersantap bersama.
Sesudah kenyang, Lam-sing coba melemaskan otot, katanya dengan tertawa.
"Pang-loyatju. kepandaianmu mengemudikan perahu boleh juga, besok rasanya aku sudah dapat membantu kau."
"Pang"
Adalah she palsu yang dikatakan Hong Tju-tjiau tadi, ia menjadi waswas, katanya.
"Jangan buru-buru, lebih baik kau mengaso beberapa hari lagi."
"Akan kucoba tenagaku, sudah pulih belum,"
Kata Lam-sing dengan tertawa sembari memegang Hian-tiat-pokiam. Meski sudah kuat, tapi tampaknya rada dipaksakan, napasnya lantas memburu.
"Untuk menggunakan pedang ini rasanya belum kuat, tapi tenaga mengemudikan perahu agaknya sudah cukup."
Sambungnya lagi. Tju-tjiau menjadi gelisah, pikirnya.
"Cepat benar sembuhnya bocah ini, dua hari lagi mungkin aku sukar melawannya. Jika aku bermaksud membunuhnya harus cepatcepat kulaksana-kan, tapi bagaimana baiknya sekarang, bunuh dia atau tidak? Cara bagaimana pula aku harus mengelabui budak Siang?"
Waktu tidur, Biau-siang memberikan kamar kabin kepada Lam-sing, ia sendiri tidur di ruang depan bersama ayahnya.
Tapi Hong Tju-tjiau tidak dapat pulas, yang dia pikirkan adalah berbuat atau tidak, mana yang lebih menguntungkan, membunuh Lam-sing atau tidak?"
Teringat kepada Hian-tiat-pokiam, ia pikir kalau Lam-sing sudah sembuh tentu akan dibawanya pergi.
Kalau bocah itu kubunuh, pedang pusaka inipun tak bisa kuserahkan kembali kepada Su Pek-to, sebab Su Pek-to sendiri dalam keadaan kepepet.
Tapi pedang itu dapat kupersembahkan kepada Sattjongkoan.
Sesudah menerima persembahanku tentu aku akan mendapat balas jasa, sedikitnya pangkatku semula akan dikembalikan.
Jika aku sudah kembali di dalam barisan jagojago pengawai tentu takkan takut lagi kepada Kim Tiok-liu.
Begitulah napsu membunuh lantas berkobar dalam benak Hong Tju-tjiau, soalnya sekarang hanya cara bagaimana mengelabui anak perempuannya.
Ia pikir kalau Lam-sing tetap dalam keadaan tak sadar tentu akan banyak kesempatan untuk turun tangan.
Tiba-tiba ia mendapat suatu akal, cepat ia bangun, tapi baru saja duduk sudah terdengar seruan Biausiang.
"Kau belum tidur ayah?"
"O, aku ingin minum,"
Sahut Hong Tju-tjiau.
Dalam batin ia tahu budak ini sedang mengawasi gerak-geriknya, tapi ia ingin tahu anak dara itu sanggup bertahan sampai kapan.
Habis minum teh, segera ia kembali tidur lagi dan pura-pura mengeluarkan suara mendengkur.
Karena bekerja keras pada siang harinya sesungguhnya Biau-siang memang sangat lelah, apalagi mendengar suara ngorok ayahnya, tanpa terasa ia pun terpulas tak lama kemudian Tju-tjiau begirang, ia coba memanggil dua kali dan tidak mendapat jawaban.
Segera ia merangkak bangun, diambilnya sesuatu, lalu menuju ke kamar kabin dengan jalan berjengkit-jeng-kit.
Benda yang dia bawa adalah sebuah bumbung yang berisi 'Keh-bin-ngo-koh-hoan-hun-hiang', yaitu sejenis obat tidur ber-bentuk bubuk.
Bilamana bubuk itu ditiupkan, orang yang mengisap baunya harus menunggu sampai subuh tiba, di waktu ayam sudah mulai berkokok barulah dapat siuman kembali.
Hong Tju-tjiau sendiri sudah minum obat penawar, lalu ia masukkan bumbung itu melalui celah-celah pintu, bubuk itu lantas ditiup ke dalam kamar.
Ia pikir kalau Lam-sing sudah tidak sadarkan diri, dengan mudah ia dapat menutuk Hiat-to yang mematikan.
Dengan demikian kematian Le Lam-sing itu takkan menimbulkan kecurigaan Biau-siang, tapi akan mengira kemati-annya adalah karena kambuhnya racun jarum di dalam tubuhnya.
Enak saja Hong Tju-tjiau mengatur rencananya, tak terpikir olehnya bahwa Le Lam-sing adalah seorang ahli racun, walaupun selamanya ia sendiri tidak pernah menggunakan racun, maka obat bius yang ditiupkan Hong Tju-tjiau ini baginya adalah seperti permainan anak kecil saja.
Saat itu Le Lam-sing sedang dalam keadaan layap-layap hampir pulas, ketika mendadak mengendus bau harum, seketika pikirannya menjadi jernih kembali, la heran siapakah yang berani naik ke atas kapal untuk mengejar dia?
Mimpi pun tak disangkanya bahwa yang berbuat itu adalah Hong Tjutjiau.
Ia pura-pura diam saja seperti orang yang tak sadar, Hong Tju-tjiau sangat girang karena sekian lamanya tiada nampak sesuatu suara di dalam.
Pelahan-iahan ia lantas menggeremet ke dalam, ketika menyentuh tubuh Le Lam-sing, baru saja ia mencari Hiat-to yang mematikan untuk ditutuk.
sekonyongkonyong iganya seperti terasa kesemutan, bersuara saja tidak sempat ia sendiri lantas roboh terkulai.
Ternyata sebelum dia sempat menutuk Le Lam-sing sebaliknya ia malah sudah kena ditutuk lebih dulu oleh Lam-sing.
Ilmu tutukan Le Lam-sing itu berasal dari Kim Si-ih, dalam keadaan tak bisa berkutik Hong Tju-tjiau merasa badannya seperti ditusuk-tusuk oleh beribu-ribu jarum, sakitnya tidak kepalang, ingin berteriak tak bisa pula.
"Hm, bangsat dari mana, berani kau menggerayangi diriku?"
Omel Le Lam-sing sembari menyalakan pelita, lalu serunya.
"Pang-loyatju, kemarilah, aku dapat menangkap seorang pencuri! He, kenapa kau?"
Demikian ketika di bawah sinar pe-lita dilihatnya pencuri yang ditangkapnya ternyata adalah Pang-loyatju, keruan ia melenggong, tanyanya kemudian.
"Kau telah menolong aku, kenapa sekarang hendak mencelakai aku pula, Pang-loyatju?"
Hong Tju-tjiau hanya mendelik saja dengan tenggorokan mengeluarkan suara ngorok, maksudnya ingin bicara, tapi sukar I membuka mulut.
Lam-sing baru ingat orang telah ditutuknya dan dengan sendirinya tak bisa bicara.
Selagi Lam-sing hendak membuka Hiat-to yang ditutuk-I nya, tiba-tiba ada suara orang yang berseru kuatir.
"Ampun, Le-|kongtju!"
Kiranya Hong Biau-siang juga telah terjaga bangun dan I segera ia memburu datang, ketika mendadak melihat Le lamsing hendak berbuat sesuatu atas diri ayahnya, maka disangkanya ayahnya hendak dibunuh, ia tidak tahu Lam-sing bermaksud i membuka Hiat-to Hong Tju-tjiau.
Lam-sing pikir ada baiknya jangan membuka dulu Hiat-to yang ditutuknya itu sebelum mendapat pengakuan yang jelas.
[Melihat gerak-gerik orang tua itu masih harus diragukan apakah dia kawan atau lawan, segera ia mengurungkan maksudnya tadi dan berkata kepada Biau-siang.
"Kedatangan nona Pang sangat kebetulan, aku memang ingin minta keterangan bagaimana persoalan ini?"
Dengan menahan air mata Biau-siang berkata.
"Sungguh nemalukan apa yang diperbuat ayah ini. Aku tidak she Pang, tapi she Hong, ayah bernama Hong Tju-tjiau dan aku Biausiang, mungkin kau pernah mendengar nama kami."
Le Lam-sing memang pernah mendengar cerita dari Kim Tiok-liu tentang urusan Tjin Goan-ko dengan Hong Biau-siang, maka tahulah dia duduknya perkara, katanya.
"O, kiranya engkau ini nona Hong."
Biarpun diketahuinya Hong Tju-tjiau adalah bekas kaki tangan pihak kerajaan, tapi nona Hong ini adalah tunangan Tjin Goan-ko, apalagi si nona tadi telah menyelamatkan dirinya, mau tak mau Lam-sing harus mengampuni orang.
Segera ia membuka Hiat-to Hong Tju-tjiau yang ditutuknya tadi, katanya.
"Kim Tiok-liu pernah bercerita tentang dirimu, dia pernah mengampuni kau dengan harapan kau mau kembali ke jalan yang benar, siapa duga kau tetap tidak sadar. Coba katakan, mengapa kau hendak membikin susah padaku?"
Dengan wajah merah Hong Tju-tjiau menjawab.
"Le-kongtju, bukan maksudku hendak membunuh kau, aku hanya bermaksud melemparkan kau ke daratan agar kau tidak mendapat susah dari pihak Liok-hap-pang. Maafkan perbuatanku yang ceroboh tadi karena ingin selamat sendiri."
"Tapi bagaimana sekarang, aku masih tetap berada di perahumu ini, kalau ada musuh menyusul tiba, apakah kau akan menyergap aku lagi?"
Kata Lam-sing. Hong Tju-tjiau terus berlutut dan bersumpah.
"Jika timbul maksud jahat, biarlah aku mati secara tidak wajar."
Biau-siang tidak tega melihat sikap ayahnya yang memalukan itu, ia berpaling dan berkata.
"Ayah, mudahmudahan kau sudah benar-benar insyaf dan jangan berbuat jahat lagi, Kim-tayhiap telah mengampuni kau. Untuk ketiga kalinya jika kau menemukan ksatria lain, mungkin sukar mendapat pengampunan lagi."
Sudah tentu Le Lam-sing tidak percaya sepenuhnya terhadap pribadi Hong Tju-tjiau.
ia pikir tiga hari lagi kira-kira sudah bisa sampat di kota Kimleng, asalkan waspada mungkin takkan terjadi apa-apa lagi.
Begitulah mereka lantas berlayar terus ke hilir.
Besok paginya Le Lam-sing ikut membantu memegang kemudi, terhadap kejadian semalam tidak disinggungsinggung lagi.
Sikap Hong Tju-tjiau tampak menurut, hari itu berlalu dengan aman tenteram.
Hari ketiga menjelang lohor, ketika perahu mereka menyusuri sungai yang bertepikan jalan ramai, mendadak Hong Tju-tjiau yang sedang memegang kemudi melihat seorang penunggang kuda berlalu di situ.
Hong Biau-siang tidak menaruh perhatian, tapi sekilas Tju-tjiau mengenali penunggang kuda itu adalah Bun Seng-tiong, putera Bun Torjeng.
Dahulu pernah timbul maksud Hong Tju-tjiau untuk menjodohkan puterinya kepada pemuda she Bun itu.
Tju-tjiau sangat girang, tapi pura-pura tidak terjadi apa-apa katanya "Le-kongtju, tolong pegang kemudi sebentar."
Tanpa curiga Le Lam-sing mendekatinya mendadak Hong Tju-tjiau mendorong kemudi perahunya berbareng jarinya terus menutuk ke pinggang Le Lam-sing.
Belum lagi sempat Lam-sing memegang kemudi, tahu-tahu orang menyerangnya Iganya terasa kesemutan, Hian-tiat-pokiam direbut oleh Hong Tju-tjiau, tapi Hiat-to Le Lam-sing yang hendak ditutuk Hong Tju-tjiau juga tidak berhasil.
Setelah merebut Hian-tiat-pokiam, segera Hong Tju-tjiau berteriak sekerasnya.
"Bun-siheng! Lekas kemari! Lekas!"
Bun Seng-tiong memang ditugaskan oleh Su Pek-to untuk mencari jejak Le Lam-sing di sepanjang sungai.
Ketika mendengar teriakan Hong Tju-tjiau, segera ia memutar balik kudanya.
Sekilas lantas dilihatnya Le Lam-sing dan Hong Biausiang berdiri di haluan perahu, keruan ia kegirangan, serunya cepat.
"Hong-lotjianpwe, lekas rapatkan perahu, agar aku dapat membantu kau!"
Dalam pada itu Le Lam-sing menjadi gusar, dampratnya.
"Sungguh kurangajar, dasar manusia berhati binatang. Lekas kembalikan pedangku, kalau tidak jangan kau menyalahkan tindakanku!"
"Jika mampu boleh coba ambil kembali!"
Sahut Tju-tjiau dengan tertawa.
Berbareng itu ia lantas melolos pedang wasiat itu, sekali putar ia lantas menahas lebih dulu ke arah Le Lam-sing.
Cepat Lam-sing mengangkat dayung perahu untuk menangkis, sudah tentu dayung tak bisa melawan Hian-tiatpokiam.
"erat", dayung terkurung sebagian. Baru saja Hong Biau-siang menjerit kuatir, sekonyongkonyong Le Lam-sing mengambil tindakan kilat, tahu-tahu ia menerjang ke tengah lingkaran pedang lawan. Dayung yang tinggal sepotong itu digunakannya sebagai Boan-koan-pit untuk menu-tuk. Terdengar jeritan Hong Tju-tjiau, mendadak Hian-tiatpokiam terlepas dari tangannya. Rupanya pergelangan tangannya tertutuk oleh ujung dayung kutung Le Lam-sing. Sementara itu perahu mereka sudah menepi. Hian-tiat-pokiam yang mencelat dari cekalan Hong Tju-tjiau itu melayang ke daratan, kesempatan itu segera digunakan Bun Seng-tiong untuk menyambarnya. Di tengah gelak tertawa senang Bun Seng-tiong dengan cepat Hong Tju-tjiau lantas melompat juga ke daratan. Diam-diam Lam-sing merasa sayang, mestinya ia bermaksud merebut kembali pedangnya, tapi pada saat menentukan tadi tiba-tiba Biau-siang memburu maju. Tujuan Biau-siang hendak menolong Lam-sing yang disangkanya sukar melawan ayahnya yang bersenjata, tak tahunya perbuatan Biau-siang itu berbalik merintangi Le Lam-sing, pedang tidak berhasil dirampas kembali, bahkan Hong Tjutjiau sempat lari ke daratan. Tapi Lam-sing tidak tinggal diam, seperti bayangan saja segera ia menyusul Hong-Tju-tjiau ke daratan. Dengan tertawa Bun Seng-tiong berkata kepada Hong Tjutjiau.
"Paman Hong, silakan kau membujuk dan mengajak pulang puterimu. Bocah she Le ini boleh serahkan saja padaku."
Sekali pedang pusaka sudah jatuh di tangan Bun Sengtiong, Hong Tju-Tjiau sadar sukar lagi untuk memintanya kembali.
Dalam pada itu Hong Biau-siang juga sudah melompat ke daratan, la melepaskan pedangnya sendiri dan diberikan kepada Lam-sing.
"Le-kongcu, pakailah pedangku!"
Begitulah ayah beranak itu menjadi berdiri di pihak yang berlawanan. Keruan Bun Seng-tiong menjadi cemburu dan murka, ejeknya.
"Nona Hong, apakah kau telah berganti pacar lagi? Apa kau sudah lupa pada bocah she Tjin?"
"Keparat, dasar mulut anjing masakah tumbuh gading!"
Damprat Biau-siang.
"O, tentunya kau membela pacarmu yang baru bukan? Apa boleh buat, terpaksa aku harus membereskan dia?"
Kata Bun Seng-tiong sambil mendesak maju ke arah Lam-sing.
Menyadari musuh tangguh berada di depan mata, sedangkan diri sendiri masih lemah, segera Lam-sing mencurahkan segenap perhatiannya.
Ketika musuh sudah dekat, mendadak ia menggertak.
"Lihat serangan!"
"Kau cari mampus!"
Sahut Bun Seng-tiong sembari menangkis dengan Hian-tiat-pokiam, menyusul ia lantas balas menahas. Tapi mendadak ia berteriak.
"Auuh!"
Berbareng terdengar suara.
"Bret", bajunya robek terkena ujung pedang Le Lam-sing.
"Bun-siheng jangan mengentengkan lawan, dia adalah saudara angkat Kim Tiok-Liu!"
Seru Hong Tju-tjiau.
"Hm, kalau saudara angkat Kim Tiok-liu lantas mau apa?"
Jengek Bun Seng-tiong.
"Sret-sret-sret", sekaligus ia menabas tiga kali secepat kilat. Karena pedang yang digunakan adalah pedang biasa, sudah tentu Lam-sing tidak berani mengadu senjata. Namun dengan langkah ajaib Thian-lo-poh-hoat, ia dapat menggeser kian kemari dengan leluasa, serangan berantai Bun Seng-tiong itu sedi-kitpun tidak berdaya, ujung bajunya saja tidak tersenggol. Hanya saja Lam-sing baru sembuh dari keracunan, ditambah lagi dia baru bertempur dengan Hong Tju-tjiau di atas kapal, tenaganya sudah banyak berkurang, sebaliknya Bun Seng-tiong memakai Hian-tiat-pokiam, setelah 30-an jurus, jidat Lam-sing sudah mulai berkeringat. Dalam pada itu Hong Tju-tjiau coba mendekati Biau-siang dan membujuknya.
"Anak Siang, kau jangan marah, apa yang ayah lakukan adalah demi kebaikanmu,"
"Demi kebaikanku, yang benar ayah hendak menjerumuskan anak perempuan sendiri,"
Sabut Biau-siang.
"Sekarang aku tidak lagi memaksa kau pergi ke Yangtjiu untuk menemui Su Pek-to, bukankah aku telah menuruti keinginanmu? Ada hal apa kebaikan bocah she Tjin itu, jika kau ikut dia tentu akan sengsara selama hidup. Bun-siheng ini juga sudah kau kenal, dia adalah putera tokoh ternama, jika kau mau "Ucapanmu hanya bikin kotor telingaku saja, aku tak mau mendengar,"
Teriak Biau-siang sambil menutup kupingnya.
"Sudahlah, anggap saja ayah tidak punya puterimu ini, anggaplah puterimu sudah mati!"
Hong Tju-tjiau menjadi marah, dampratnya.
"Kurangajar! Kau berani membangkang pada ayahmu?"
Sampai di sini tiba-tiba ada orang berkata di samping sana.
"Wah, ramai benar! Ada orang berkelahi, ada lagi yang bertengkar, berhenti dulu, ayah, marilah menonton keramaian ini!"
Kiranya di situ tahu-tahu sudah ada dua orang ayah beranak.
Si ayah berusia 50-an, berjubah biru longgar, tangan memegang sebuah Huntjwe (cangklong) panjang, potongan orang kampung tulen, sebaliknya puterinya yang baru berumur 20-an itu berwajah cantik dan berdandan secara sederhana, tapi cukup menarik.
Mendengar ada orang membicarakan pertempuran mereka.
Hong Tju-tjiau menoleh, tapi menjadi terkejut sebab mengenali orang yang mirip kakek kampungan itu adalah pemimpin Ang-eng-hwe, Kongsun Hong adanya.
Ang-eng-hwe adalah suatu organisasi Kangouw yang sama besarnya dengan Liok-hap-pang, bahkan Hong Tju-tjiau mengetahui kepandaian Kongsun Hong sukar diukur, mesti tidak pernah menyaksikan sendiri, tapi semua orang Kangouw mengatakan pasti lebih lihai daripada Su Pek-to.
Hong Tju-tjiau pikir nona itu tentu puteri Kongsun Hong yang bernama Kongsun Yan.
Kabarnya sangat disayang oleh sang ayah, belum ada setahun nona itu mengembara di Kangouw, tapi namanya sudah termashur karena dia suka campur urusan, banyak tokoh Kangouw yang jeri padanya.
Diam-diam Hong Tju-tjiau mengeluh jika nona usilan itu sampai ikut campur, tentu urusan bisa runyam, mungkin sekali Bun Seng-tiong juga akan kecundang.
Benar juga, tiba-tiba terdengar Kongsun Hong berkata.
"Eh, perkelahian ini nampaknya menarik juga, anak Yan, kau tidak pernah melihat Thian-san-kiam-hoat, sekali ini kau dapat menambah pengalaman. Bocah yang menjadi lawannya itu kurang dalam hal ilmu pedang, tapi Sam-siang-sin-kang yang dilatihnya juga sudah lumayan."
Kongsun Hong pernah melihat Le Lam-sing ketika gegergeger di kediaman Sat Hok-ting tempo hari, tapi Bun Sengtiong belum dikenalkan karena waktu Sat Hok-tiong berulang tahun pemuda itu tidak ikut hadir bersama ayahnya.
Kongsun Hong mengenali asal usulnya, berdasarkan gaya ilmu silatnya.
Ia pikir putera Bun To-tjeng pasti juga bukan manusia baikbaik, tapi aku mana boleh bergebrak dengan seorang angkatan muda dengan cara bagaimana aku harus membantu Le Lam-sing?
Dalam pada itu Kongsun Yan berkata "Thian-san-kiam-hoat benar-benar sangat hebat, tapi tampaknya dia seperti tidak sanggup menandingi lawannya apakah sebabnya?"
"Ini disebabkan karena dia baru saja sembuh dari sakit,"
Ujar Kongsun Hong.
"Selain itu juga karena lawannya memakai Hian-tiat-pokiam yang bobotnya berpuluh kali lebih berat daripada pedang biasa, apakah kau tidak dapat melihatnya?"
Ucapan Kongsun Hong membikin Seng-tiong terperanjat, katanya dalam hati.
"Kakek kampungan ini ternyata seorang ahli ilmu silat, bukan saja dia dapat menilai ilmu silatku, bahkan mengetahui pedang yang kupakai adalah Hian-tiatpokiam."
Lam-sing juga terheran-heran, pikirnya.
"Kongsun Hong benar-benar luar biasa, hanya sekali pandang saja lantas mengetahui aku baru sembuh dari luka parah. Menurut cerita Kim Tiok-liu, katanya waktu mengacau di rumah Sat Hok-ting, ia telah banyak mendapat bantuan dari Kongsun Hong. Cuma sekarang aku tidak boleh timbul pikiran akan mengandalkan tenaga bantuan orang lain."
Dasar Bun Seng-tiong memang congkak, ia menjadi mendongkol karena ucapan Kongsun Hong tadi menilai tinggi Le Lam-sing dan menilai rendah dirinya.
Segera ia mengeluarkan segenap kemahirannya, ia memutar Hian-tiatpokiam dan mendesak lebih kencang.
Le Lam-sing juga tidak mau kehilangan muka di hadapan Kongsun Hong, segera ia pun mengerahkan semangat untuk bertempur mati-matian.
Cuma sayang tenaganya mulai lemah, kalah pula pada dalam hal senjata sehingga berulang-ulang ia terdesak mundur oleh serangan Bun Seng-tiong yang gencar.
Dalam pertarungan sengit itu, Bun Seng-tiong menggunakan satu jurus 'Lik-bi-hoa-san' atau sekuat tenaga memotong Hoa-san.
Pedangnya menabas miring dari samping, cepat Le Lam-sing berkelit ke balik sebatang pohon Liu, maka terdengarlah suara gemuruh, pohon Liu itu roboh tertabas kutung oleh H ian-tiat-pokiam.
"Ya, benar-benar pedang wasiat yang jarang ada bandingannya,"
Puji Kongsun Yan, mendadak ia melompat maju dan berseru.
"He, kau berikan saja pedang ini padaku!"
"Mengapa harus kuberikan padamu?"
Sahut Bun Sengtiong.
"Lawanmu masih lemah karena dia baru sembuh dari sakit, sehingga kau mendapat keuntungan dalam hal ini,"
Ujar Kongsun Yan.
"Juga kau memakai lagi Hian-tiat-pokiam, cara pertempuran ini kan menjadi tidak adil."
"Peduli apa kau ikut campur urusan orang?"
Damprat Bun ' Seng-tiong dengan gusar.
"Dasarnya aku memang suka ikut campur urusan orang, tak peduli kau suka dan tidak,"
Sahut Kongsun Yan tertawa.
"Kau boleh berkelahi terus, tapi harus secara adil. Kau menang dengan mengandalkan pedang wasiat, aku merasa penasaran, sekarang aku memberi dua pilihan bagimu. Pertama, hendaklah kau serahkan pedangmu padaku, lalu pakailah pedangku yang biasa ini untuk bertempur, jika menang pedangmu akan kukembalikan, kalau kalah pedangmu harus diberikan kepada lawanmu sebagai ganti rugi. Aku hanya ingin menjadi wasit yang jujur dan adil, bukan bermaksud mengincar pedang wasiatmu ini."
"Siapa yang minta kau menjadi wasit?"
Omel Bun Sengtiong dengan mendongkol.
"Lekas kau menyingkir, pedangku tidak punya mata, kalau keserempet jangan menyalahkan aku."
Sembari bicara Bun Seng-tiong tidak pernah mengendurkan pedangnya, tapi Kongsun Yan malah melangkah lebih dekat. Sekarang dia sudah berada di samping Le Lam-sing, katanya dengan mendengus.
"Hm, jadi yang pertama tidak dapat kau terima. Terpaksa silakan pilih jalan kedua saja, yakni kau berkelahi dengan aku, meski kau sudah lelah karena telah bertempur, tapi kau pakai pokiam, tetap masih cukup adil kan."
Habis berkata, tanpa permisi lagi ia terus menyelinap ke tengah kedua orang yang sedang bertempur sehingga Le Lam-sing dipaksa menyingkir.
Le Lam-sing tahu dia adalah puteri Kongsun Hong, rasanya tidak sampai dikalahkan Bun Seng-tiong, maka tanpa kualir ia lantas membiarkan si nona menggantikan dia.
Sebaliknya Bun Seng-tiong menjadi kebat-kebit, ia berhenti dan berkata.
"Boleh juga jika kau ingin bertempur dengan aku, tapi kalau kau kalah harus berjanji takkan mencari alasan lain lagi."
"Nah kau jangan kuati,"
Tantang Kongsun Yan pada Bun Seng-tiong.
"Sekarang boleh kau gunakan pedang-u kau boleh menyerang lebih dulu."
Sementara itu Hong Tju-tjiau ngacir terbirit-birit menawat ekor.
"Apa barangkali kau takut ayahku akan membantu? Hm, rasanya kau pun tidak sesuai baginya,"
Kata Kongsun Yan pula.
"Ayah, coba katakan, biar bocah ini merasa lega."
"Hahaha,"
Kongsun Hong tertawa.
"Selamanya aku tidak bergebrak dengan kaum muda. Anak perempuanku yang ikut campur urusanmu ini, jika kau mampu boleh bunuh saja dia, sekali-kali aku tidak ambil pusing."
"Nah, kau jangan kuaur lagi,"
Kata Kongsun Yan pada Bun Seng-tiong.
"Sekarang boleh kau gunakan pedangmu, boleh kau menyerang lebih dulu."
Bun Seng-tiong menjadi gusar, pikirnya.
"Kakek kampungan ini tampaknya seperti seorang ahli silat. Hm, asalkan dia benar-benar tidak ikut campur, masakah aku mesti takut terhadap seorang budak kecil ini?"
Segera ia menerima tantangan Kongsun Yan, katanya.
"Baik, kau harus pegang janji. Silakan siapkan senjatamu!"
"Kau boleh melancarkan seranganmu, buat apa banyak bicara?"
Sahut Kongsun Yan.
Saking murkanya, tanpa bicara lagi Bun Seng-tiong terus menusuk sambil menggertak.
Ketika Kongsun Yan mengegos, cepat pedangnya berputar ke atas untuk segera menabas lagi miring ke bawah.
Jurus serangan ini disebut 'Wan-kiong-sia-tiau' atau pentang busur memanah rajawali, adalah ilmu pedang paling dibanggakan Bun Seng-tiong.
Ia menyangka seorang budak cilik saja punya kepandaian apa, tabasannya seumpama tidak mengurungi sebelah bahunya juga paling sedikit akan membuatnya ter-luka.
Siapa duga Kongsun Yan hanya mengegos dengan enteng saja dan kembali tabasan Bun Seng-tiong mengenai tempat kosong.
"Hihi, tidak kena!"
Demikian Kongsun Yan menggoda dengan tertawa.
"Sekarang menjadi giliranku untuk membalas seranganmu!"
Ketika tubuhnya berputar, tahu-tahu seutas ikat pinggang sudah dilepas, sekali sendai ikat pinggang yang lemas itu lantas menyambar kencang ke pinggang Bun Seng-tiong. Bun Seng-tiong membatin.
"Pedangku mampu memotong besi seperti memotong daging, masakah takut pada sebuah ikat pinggang saja?"
Tidak tersangka ikat pinggang Kongsun Yan itu selincah ular, tabasan Bun Seng-tiong tidak kena, sebaliknya ikat pinggang itu terus menekuk ke bawah.
"plok", dengan tepat dahi Bun Seng-tiong keserempet hingga merah pedas.
"Hihi, sayang kau tidak membawa cermin sehingga tidak tahu mukamu sendiri sekarang telah berubah seperti muka badut!"
Goda Kongsun Yan dengan tertawa Kejut dan gemas pula Bun Seng-tiong, ia memutar Hiantiat-pokiam secepat kitiran.
Dikeluarkan ilmu pedang 'Samtjay-kiam-boat' yang 1ihai.
Sekarang ia sudah tahu betapa hebat kepandaian Kongsun Yan, sehingga tidak berani memandang enteng lagi.
Saking gusarnya timbul napsu membunuhnya tanpa menghiraukan jiwa putri Kongsun Hong yang disegani itu.
Karena ilmu pedang Bun Seng-tiong yang hebat itu, seketika ikat pinggang Kongsun Yan tidak mampu menembus lingkaran pedangnya.
Tapi pedang Bun Seng-tiong juga tidak mampu menabas kutung ikat pinggang si nona sebab ikat pinggang adalah benda lemas, sambaran Hian-tiat-pokiam yang membawa deru angin keras hu menggoncang pergi lebih dulu ikat pinggang si nona sebelum pedang menyentuhnya.
Apalagi bobot Hian-tiat-pokiam ada ratusan kali beratnya lama-lama Bun Seng-tiong menjadi kewalahan sendiri karena kehabisan tenaga, napasnya mulai terengah-engah seperti kerbau.
Hong Tju-tjiau mengetahui Kongsun Yan adalah puteri Kongsun Hong, ia pikir sekalipun Bun To-tjeng dan Su Pek-to datang sendiri juga jeri terhadap si tua ini, tampaknya Bun Seng-tiong sudah pasti akan menelan pil pahit.
Ai, lebih baik jangan kuharapkan lagi Hian-tiat-pokiam ini, paling selamat angkat langkah seribu saja.
Setelah mengambil keputusan itu, segera Hong Tju-tjiau menyemplak ke atas kuda Bun Seng-tiong, terus dilarikan sambil berseru.
"Bun-siheng, silakan bertempur terus, maafkan aku berangkat lebih dulu!"
Dia buru-buru ingin menyelamatkan diri sampai-sampai anak perempuannya sendiri juga tak dihiraukan lagi, keruan Hong Biau-siang sangat mendongkol dan sedih, dengan pandangan hampa ia menyaksikan sang ayah membedal kudanya secepat terbang.
Dengan suara pelahan Le Lam-sing lantas berkata padanya "Nona Hong, jangan kuatir, biarkan saja dia pergi."
Kaburnya Hong Tju-tjiau itu membikin Bun Seng-tiong menjadi bingung pula Hian-tiat-pokiam yang berat itu makin lama makin menjadi beban baginya.
Sebaliknya ikat pinggang Kongsun Yan menyambar semakin gesit seperti larian indah, jurus serangannya tambah lihai.
"Kepandaianmu terlalu rendah dan tidak cocok memakai pedang ini."
Jengek Kongsun Yan.
"Lebih baik serahkan saja pedangmu padaku dan lekas enyah dari sini!"
Baru lenyap suaranya ikat pinggang merah itu melingkar mirip segumpal awan merah membungkus sinar perak, tahutahu ikat pinggang sutera itu sudah melilit batang pedang Bun Seng-tiong, tanpa ampun lagi Hian-tiat-pokiam itu kena direbut.
Cepat Bun Seng-tiong angkat kaki melarikan diri sembari berteriak.
"Pedang itu adalah milik Su-pangtju dari Liok-happang, kau budak hina ini berani merampasnya coba beri tahukan namamu!"
Karena kecundang dan melarikan diri secara mengenaskan, untuk melampiaskan rasa dongkolnya ia hendak menggunakan nama Su Pek-to untuk menutupi kekalahannya ku.
Dengan tertawa Kongsun Hong lantas menjawab.
"Aku Kongsun Hong, boleh kaukatakan kepada Su Pek-to bahwa pedang ini akulah yang mengambil. Jika dia tidak terima boleh suruh dia mencari aku. Bila dia tidak berani datang sendiri boleh sekalian ajak serta ayahmu."
Baru sekarang Bun Seng-tiong mengetahui bahwa si tua kampungan ini kiranya adalah ketua Ang-eng-hwe yang namanya menggetarkan Kangouw, keruan ia ketakutan dan lari lebih cepat, mana dia berani bersuara lagi.
Kongsun Hong hanya ber-gelak tertawa saja dan tidak merintanginya.
Kemudian Le Lam-sing dan Hong Biau-siang menghaturkan terima kasih kepada Kongsun Hong dan puterinya.
Kongsun Hong sangat senang, katanya.
"Anak Yan, inilah Le-kongtju yang pernah kuceritakan tempo hari, dia inilah yang mengacaukan pesta ulang tahun Sat Hok-ting bersama Kim Tiok-liu."
"Banyak terima kasih atas bantuan nona tadi,"
Lam-sing memberi hormat lagi. Kongsun Yan tertawa.
"Untung tidak gagal tugasku ini, benda ini kuserahkan kembali kepada pemiliknya."
Berbareng ia mengangsurkan Hian-tiat-pokiam yang dirampasnya dari Bun Seng-tiong tadi.
"Senjata baik harus dipakai oleh orang yang cocok, pedang ini adalah hasil rampasan nona, maka silakan ayah nona sudi menerimanya,"
Kata Lam-sing. Kongsun Yan tersenyum, sahutnya.
"Selamanya ayah tidak memakai senjata, dia mengatakan akan mengambil pedang ini hanya bermaksud menggertak Su Pek-to saja Memangnya kau sangka dia benar-benar menginginkan pedangmu ini?"
Ucapan Kongsun Yan ini membuat Le Lam-sing tidak dapat menolak lagi, sebab kalau banyak omong pula akan berarti menghina Kongsun Hong. Terpaksa Lam-sing menerima kembali Hian-tiat-pokiam itu.
"Le-heng, mengapa kau bertempur di sini dengan Bun Seng-tiong?"
Tanya Kongsun Hong.
"Ceritanya cukup panjang,"
Tutur Lam-sing, lalu diceritakan pengalamannya sejak di Yangtjiu dan seterusnya.
"O, kudengar Kay-pang kedapatan dua tokoh muda, kira nya yang meributkan Liok-hap-pang adalah kau dan Kim Tiokliu,"
Kata Kongsun Hong.
"Berita apalagi yang didengar Kongsun-lotjianpwe,"
Tanya Lam-sing.
"Memang aku baru datang dari Yangtjiu dua hari yang lalu, kabarnya Su Pek-to tidak mau menerima tamu, maka aku pun malas mampir ke rumahnya,"
Tutur Kongsun Hong.
"Menurut cerita teman di Yangtjiu, katanya kalau aku datang lebih pagi dua hari, tentu akan ikut menyaksikan keramaian itu. Temanku itu bukan anggota sesuatu perkumpulan apa-apa disangkanya bentrokan biasa antara Kay-pang dan Liok-happang, diketahui Su Pek-to mengalami sedikit kerugian, cuma duduknya perkara tidak begitu jelas."
Cepat Lam-sing bertanya pula "Apakah Kim Tiok-liu diketahui masih berada di Yangtjiu atau tidak? Apakah Lotjianpwe mampir ke markas cabang Kay-pang?"
"Cabang Kay-pang sudah dipindahkan, aku menemui tempat kosong di sana"
Sahut Kongsun Hong.
Jadi jelas kabar tentang Kim Tiok-liu juga tidak diperolehnya.
Di sebelah sini Le Lam-sing sedang bicara dengan Kongsun Hong, di sebelah sana Kongsun Yan juga lagi asyik berbicara d;ngan Hong Biau-siang.
Dasar watak Kongsun Yan memang baik dan suka terus terang, ia memegang tangan Biau-siang dan berkata "Hong-tjitji, pertengkaran dengan ayahmu tadi telah kudengar semua."
Muka Biau-siang menjadi merah dan mengembeng air mata, untuk sesaat ia tidak sanggup bersuara.
"Hong-tjitji kau tidak perlu sedih, engkau mirip bunga teratai yang timbul dari air lumpur, sesungguhnya aku sangat kagum dan tak nanti memandang hina padamu,"
Kata Kongsun Yan pu-la.
"Sementara ini engkau hendak menuju kemana Hong-tjitji?"
"Aku sudah tidak punya rumah lagi, terpaksa menuju kemanapun jadilah,"
Sahut Biau-siang.
"Jika kau tidak mencela, bagaimana kalau menemani aku saja."
Biau-siang kegirangan, sahutnya cepat.
"Jika nona sudi menerimaku, itulah melebihi permohonanku. Justru akulah yang kuatir akan menambah susah padamu."
"Ah, mana bisa jadi,"
Ujar Kongsun Yan.
"Aku belum ada setahun mengembara di luaran, pengalamanku sangat cetek, selanjurnya jika kita berada bersama masih diharapkan petunjuk darimu."
Biau-siang merasa heran juga akan keterangan itu, padahal ayahnya adalah ketua Ang-eng-hwe yang termashur di dunia Kangouw, mana bisa jadi dia berpengalaman cetek, tapi cara bicara Kongsun Yan tampaknya sangat sungguh-sungguh, sedikit-pun tidak nampak berpura-pura.
Tiba-tiba Kongsun Hong menegur puterinya.
"Anak Yan, apakah kau masih ingat akan memenuhi janji pertemuanmu dengan Tiok Djing-hoa?"
"Habis, mengapa ayah tidak mau menemani aku? Ya terpaksa aku mencari sendiri teman perjalanan ke sana,"
Sahut Kongsun Yan dengan manja. Kongsun Hong tersenyum, ia menoleh dan berkata kepada Le Lam-sing.
"Le-laute kau hendak pergi kemana sekarang?"
"Aku bermaksud ke Sedjiang,"
Sahut Lam-sing.
Rupanya ia menduga Su Pek-to tentu akan mengantar adik perempuannya ke Sedjiang untuk dipaksa kawin dengan Swe Beng-hiong, ia yakin hal ini tentu sudah dipikirkan pula oleh Kim Tiok-liu, sebab itulah setiba di Sedjiang tentu akan dapat bertemu kembali dengan saudara angkatnya itu.
"Baiklah, jika demikian kalian bertiga boleh menjadi teman perjalanan,"
Ujar Kongsun Hong dengan tertawa. Lam-sing melengak.
"O, jadi nona Kongsun juga bermaksud ke Sedjiang?"
Ia menegas.
"Tempat tujuannya adalah Thay-liang-san di utara Sedjiang,"
Sahut Kongsun Hong.
"Thay-liang-san adalah tempat pangkalan pasukan Tiok Siang-hu. Guru besar ilmu silat Tiok Siang-hu tentu sudah pernah kau dengar bukan?' "Ya, pernah kudengar dari cerita Kim Tiok-liu,"
Lam-sing mengangguk.
"Kabarnya Tiok-lotjianpwe ini dan Suheng Tiokliu, yaitu Kang Hay-thian, adalah teman baik, ilmu sikunya katanya tidak di bawah Kang-tayhiap."
"Dan Tiok Siang-hu punya seorang anak perempuan, namanya Tiok Djing-hoa,"
Tutur Kongsun Hong.
"Tahun yang lalu aku dan anak perempuanku bertamu ke rumahnya, rupanya kedua anak perempuan itu satu sama lain sangat cocok seperti saudara sekandung. Ketika Tiok Siang-hu terjebak oleh pasukan ke-rajaan sehingga terpaksa meninggalkan kota Sedjiang serta mundur ke Thay-liang-san, lalu terputus kabar berita mereka. Anak perempuanku rada kuatir akan keadaan Tiok Djing-hoa. Syukur baru-baru ini diterima berita, katanya Djing-hoa akan menikah tahun depan, kawin dengan murid Kang Hay-thian yang bernama Li Konghe."
"Benar, Tiok-liu juga pernah mengatakan padaku bahwa dia punya murid keponakan bernama Li Kong-he adalah keturunan pahlawan Li Bun-sing,"
Kata Lam-sing dengan girang.
"Jika murid keponakannya permulaan tahun depan akan kawin dengan puteri Tiok Siang-hu, pasti dia akan hadir juga ke sana."
"Tapi sayang, aku tak bisa meninggalkan urusan Ang-enghwe, apalagi situasi akhir-akhir ini rada goncang, aku harus cepat pulang untuk memegang pimpinan sendiri, pesta pernikahan mereka terpaksa aku tak sempat hadir,"
Kata Kongsun Hong.
"Tapi anak perempuanku harus pergi ke sana, sekarang menjadi kebetulan karena kalian berdua dapat menemani dia ke sana. Le-laute, dia adalah budak liar yang masih hijau, sepanjang jalan kuharap bantuanmu suka mengawasi dia."
Begitulah mereka lantas berpisah, Kongsun Hong pulang ke tempatnya, Kongsun Yan bersama Le Lam-sing dan Hong Biau-siang menuju ke Sedjiang.
Luka di luar badan Le Lam-sing sudah sembuh, tapi luka di dalam hati yang belum sembuh, maka sepanjang jalan ia masih murung dan jarang bicara.
Hong Biau-siang juga murung lantaran perpecahan dengan ayahnya.
Hanya Kongsun Yan yang bersifat riang, sepanjang jalan ia banyak bicara dan tertawa sehingga mengurangi kesepian mereka.
Tidak sampai sebulan mereka sudah melintasi propinsi Kangsoh, Anhui dan Holam, mereka sudah memasuki wilayah propinsi Siamsay.
Sementara itu sudah menginjak bulan kesembilan, sudah pertengahan musim rontok.
Daerah Siamsay lebih banyak jalan pegunungan, namun Lam-sing sudah menyiapkan dua buah tenda, bila sukar mendapatkan tempat pondokan, mereka lantas memasang tenda dan berkemah di tengah perjalanan.
Baiknya mereka adalah dua perempuan dan seorang lelaki sehingga banyak mengurangi kekikukan.
Suatu hari mereka sampai di bukit Tjhit-boan-nia dan harus melintasi suatu lereng yang terjal.
Tanpa terasa hari sudah dekat magrib, Kongsun Yan melihat di depan sana ada sebuah tanah rumput yang datar dengan bunga-bunga yang mekar semerbak, pepohonan menghijau permai di sekelilingnya.
"Sungguh suatu tempat yang indah, meski hari belum gelap, tapi biarlah kita bermalam di sini saja,"
Kata Kongsun Yan. Selesai memasang tenda, Kongsun Yan berkata.
"Hongtjitji, kau yang menanak nasi, aku akan pergi mencari laukpauk."
"Le-toako, boleh kau temani Kongsun-tjitji,"
Ujar Biausiang.
"Tidak perlu, berburu adalah permamanku,"
Sahut Kongsun Yan.
"Tapi dia pun tidak boleh menganggur, dia harus membantu kau membuat api, mengambil air dan sebagainya. Maha, dengan tugas-tugas ini sudah cukup membuatnya sibuk."
Tiada jalan lain, terpaksa Lam-sing tinggal bersama Hong Biau-siang.
Rupanya Kongsun Yan sengaja membiarkan Lam-sing dan Biau-siang berkumpul lebih lama, meski dengan cepat ia berhasil memburu dua ekor kelinci, tapi dia sengaja menunda sampai hari sudah gelap barulah dia kembali.
Sampai di dekat tanah lapang itu, tiba-tiba terdengar suara alunan seruling yang mengharukan.
Kiranya Le Lam-sing mempunyai kesukaan bermain musik, dia mempunyai kecapi antik sudah diberikan kepada Kim Tiokliu, sebagai gantinya beberapa hari yang lalu dia memotong sebatang bambu dan dibuat sebuah seruling.
Karena Kongsun Yan yang ditunggu-tunggu masih belum nampak kembali, dalam isengnya ia lantas membunyikan serulingnya itu.
Sejak mengetahui hubungan Kim Tiok-liu dengan Su Anging, meski Lam-sing sudah mengambil keputusan akan memutuskan rasa cintanya kepada Ang-ing, tapi cinta dapat diputuskan, namun luka dalam hati sukar disembuhkan dalam waktu singkat.
Maka tanpa terasa isi hatinya yang hampa itu disalurkan melalui suara serulingnya.
Mendengar suara serulingnya yang memilukan itu, Kongsun Yan yang biasanya paling periang menjadi ikut terharu, pikirnya.
"Le-toako punya tekanan batin apa-apa, kalau tidak tentu dia takkan pendiam sepanjang jalan. Suara serulingnya ini benar-benar sangat merawan hati. Ai, buat apa Le-toako mesti merana begini?"
Ia bersembunyi di balik pohon dan mendengarkan sekian lamanya, ketika pandangannya dialihkan kepada Hong Biausiang, tampak nona itu duduk membelakangi Le Lam-sing dan sedang mengusap air mata dengan saputangan.
Tiba-tiba Kongsun Yan merasa seperti paham sesuatu.
"Ya, tentu mereka berdua sedang cekcok. Le-toako menyangka Hong-tjitji tidak suka padanya, makanya berduka. Tapi apa sebabnya Hong-tjitji menangis? Apakah dia tidak suka kepada Le-toako? Atau karena Le-toako yang tidak memahami isi hatinya sehingga dia marah padanya?"
Begitulah Kongsun Yan menganggap dirinya seperti orang yang maha tahu, padahal ia tidak mengetahui bahwa tangisan Hong Biau-siang itu adalah karena terharu oleh suara seruling yang memilukan itu, sehingga teringat kepada Tjin Goan-ko.
Kongsun Yan berdehem dulu, lalu muncul dari tempat persembunyiannya, katanya dengan tertawa.
"Le-toako, tiupan serulingmu ini kurang sedap didengar, coba lihat, kau membikin Hong-tjitji menangis. Gantilah dengan satu lagu yang enak didengar saja."
Cepat Biau-siang mengusap lagi air matanya, katanya.
"Ah, tidak, tiupan serulingnya justru sangat bagus. Mataku kelilipan, aku tidak menangis."
Le Lam-sing menyimpan kembali serulingnya, katanya dengan tersenyum getir.
"Aku tidak sanggup memainkan lagu yang enak didengar."
"Sudahlah, tidak mau meniup lagi juga tak apa, lekas bantu aku memanggang kelinci saja,"
Katanya Kongsun Yan. Selesai makan malam, Lam-sing masuk dulu ke kemahnya untuk istirahat. Kongsun Yan berkata kepada Hong Biau-siang.
"Hong-tjitji, tempat ini sungguh sangat indah, cahaya bulan begini terang pula. Marilah kita pergi memetik bunga, tentu kau belum mengantuk bukan?"
"Baiklah, memangnya aku belum mengantuk,"
Sahut Biausiang. Sesudah agak jauh dari kemah mereka, tiba-tiba Kongsun Yan bertanya.
"Hong-tjitji, menurut pandanganmu, bagaimana pribadi Le-toako ini?"
Biau-siang menjadi salah sangka akan maksud Kongsun Yan, diam-diam ia geli sendiri.
"Eh. kiranya anak dara ini sudah mulai ada main."
Segera ia menjawab.
"Ya, Le-toako serba pintar, sudah tentu tidak jelek."
Kongsun Yan mengikik tawa, katanya.
"Baiklah, akhirnya kau bicara terus terang. Besok akan kuberitahukan pada Letoako agar dia senang."
Hong Biau-siang menjadi melengak malah, katanya.
"Apa maksudmu ini?"
"Ah, jangan pura-pura lagi, Hong-tjitji,"
Kata Kongsun Yan.
"Kalian berdua lagi purikan, memangnya kau sangka aku tidak tahu? Ai, Hong-tjitji, jika kalian sudah suka sama suka, kenapa mesti berlagak pilon? Selama ini aku telah mengikuti sikap kalian, kulihat Le-toako selalu masgul, tapi bila kau pernah gembira pula? Buat apa mesti begini?"
Baru sekarang Biau-siang tahu apa arti kata-kata Kongsun Yan tadi, kiranya nona itu telah salah paham, ia menjadi geli, sahutnya dengan tertawa.
"Kau mengikuti sikap kami, tapi duga-anmu salah sama sekali."
"Apa? Memangnya kau tidak suka pada Le-toako."
Pikir Biau-siang.
"Memangnya Le-toako belum punya pacar, kenapa aku tidak merangkap perjodohan mereka ini? Kongsun Yan telah salah paham, pantasnya kuceritakan isi hatiku padanya."
Maka dengan tertawa ia menjawab.
"Kau bermaksud menjadi comblang bagiku bukan? Haha aku justru hendak menjadi comblang bagimu!"
Kongsun Yan berbalik melengak, katanya pula.
"Aku bicara sungguh-sungguh dengan kau, kenapa kau bergurau dengan aku?' "Aku pun bicara secara sungguh-sungguh,"
Sahut Biausiang.
"Bukankah kau pun setuju bahwa pribadi Le-toako tidaklah jelek? Maka dari itu aku tidak perlu kau menjadi comblangku, sebaliknya aku perlu menjadi comblangmu."
Kongsun Yan menjadi tidak senang, katanya.
"Apa artinya kata-katamu ini? Mana bisa aku merebut orang yang kau sukai?"
"Kau salah sama sekali,"
Ujar Biau-siang dengan tertawa.
"Apa? Jadi kau tidak suka padanya?"
Kongsun Yan menegas lagi.
"Aku menghormati Le-toako, hormat tidak sama dengan suka sama suka sebagaimana hubungan antara dua mudamudi. Sekarang kau paham tidak?"
Tanya Biau-siang. Baru sekarang Kongsun Yan tahu duduknya perkara.
"O, kiranya kau sudah mempunyai pacar lain?"
Wajah Biau-siang menjadi merah, katanya dengan lirih.
"Makanya kau bilang kau tidak perlu sibuk bagiku. Comblang yang kau maksudkan sudah lama ada orang yang melakukannya."
"Kenapa tidak kau katakan dulu-dulu,"
Seru Kongsun Yan girang.
"Siapakah pacarmu?"
"Tjin Goan-ko dari Bu-tong-pay."
"Tjin Goan-ko? Ehm, nama ini seperti pernah kudengar."
Tjin Goan-ko adalah tokoh muda Bu-tong-pay.
maka Biausiang tidak heran jika Kongsun Yan pernah mendengar namanya sehingga dia tidak bertanya lebih jauh.
Sebaliknya Kongsun Yan menerocos tanya lagi.
Biau-siang juga tidak menutupi lagi persoalannya, segera ia menceritakan perkenalannya dengan Goan-ko dahulu.
"O, kiranya kau merasa kesal lantaran tidak mendapat kabar berita Goan-ko?"
Ujar Kongsun Yan dengan tertawa. Sampai di sini tiba-tiba ia berseru.
"Aha, ingatlah akui"
"Kau ingat apa? Kenapa berteriak segala?"
Tanya Biau-siang heran.
"Bukankah ketua Bu-tong-pay Lui Tjin-tju mempunyai seorang murid she Tjin?"
Tanya Kongsun Yan.
"Betul."
"Tentu dia itu Tjin Goa-ko adanya. Dahulu waktu ayah mendengar urusan itu juga pernah menyebut nama Tjin Goanko, pantas aku seperti pernah mendengar namanya, hanya seketika aku tidak ingat saja."
"He, kau mengetahui dimana beradanya Goan-ko? Urusan tentang apalagi?"
Tanya Biau-siang cemas-cemas girang.
"Dalam waktu tiga hari, aku tanggung kau akan dapat berjumpa dengan Goan-ko,"
Sahut Kongsun Yan.
"He, kenapa kau? Saking senangnya kau menjadi linglung."
Hampir Biau-siang tidak percaya pada telinganya sendiri, selang sejenak baru tercetus dari mulutnya.
"Sungguhkah?"
"Sudah tentu sungguh, buat apa aku berdusta. Sementara ini bersabar dulu, dengar ceritaku ini. Di sebelah selatan Pokeh, di kaki bukit Tjin-nia ada sebuah kampung yang disebut Tjui-in-tjeng. Pemilik perkampungan itu In Liong namanya, cukup terkenal juga di dunia Kangouw. Apa kau kenal dia?"
"Aku jarang berkelana di Kangouw, sesungguhnya pengalamanku sangat cetek sehingga tidak tahu menahu tentang Tjui-in-tjeng segala. Menurut ceritamu ini, janganjangan Tjin Goan-ko sekarang berada di perkampungan itu?"
"Benar."
"Mengapa dia bisa berada di sana?"
"Di bukit Tjin-nia sana ada segerombolan bandit, pemimpinnya bernama Lo Tay-kui yang bersenjatakan golok tebal. Dia bertiga saudara angkat semuanya punya kepandaian tinggi. In Liong mempunyai seorang anak perempuan bernama In Tiong-yan, namanya juga pakai Yan seperti diriku."
"Cantik, cantik sekali,"
Sambung Kongsun Yan dengan pelahan-lahan.
"Haha, agaknya ada orang yang penujui dia."
Biau-siang rada kuatir, tanyanya cepat.
"Siapa yang penujui dia?"
Kongsun Yan tertawa, katanya.
"Kau jangan kuatir, pasti bukan Tjin-kongtjumu itu, tapi adalah kepada bandit di atas bukit Tjin-nia itu. Lo Tay-kui tidak rela, tiga hari kemudian dia mengirim sepucuk surat dan menyatakan akan memilih hari baik buat mengambil pengantin perempuan. Untuk menghadapi kemungkinan itu, terpaksa Tjui-in-tjeng minta bala bantuan kepada kawan-kawan di berbagai tempat."
"Kebetulan waktu itu seorang Hiangtju dari Ang-eng-hwe kami bernama Tjiok Hian juga berada di kota Pokeh, ketika mengetahui kesulitan In-tjengtju itu, bersama seorang temannya di kota itu, mereka lantas pergi ke sana untuk membantu. Menurut cerita Tjiok Hian, katanya waktu Lo Taykui bersama gerombolannya datang merebut pengantin perempuan telah terjadi pertempuran yang cukup sengit. Karena jumlah kawanan bandit itu lebih banyak, semula keadaan tidak menguntungkan pihak Tjui-in-tjeng, untung pada saat gawat itu mendapat bantuan seorang ksatria muda. Dengan gagah berani pemuda itu menempur Lo Tay-kui sehingga terluka parah, tapi akhirnya kepala bandit itu-pun terkena tusukan pedangnya hingga binasa."
Biau-siang sudah dapat menduga beberapa bagian, cepat ia tanya.
"Pemuda itu..."
"Ialah jantung hatimu Tjih Goan-ko itu,"
Sahut Kongsun Yan.
"Ketua Bu-tong-pay Lui Tjin-tju adalah kawan karib Intjengtju, meski dia tidak mendapat permintaan bantuan dari In Liong, tapi demi mendengar kabar itu ia lantas mengutus murid kesayangannya untuk membantunya. Tjiok Hian tidak mengenal Goan-ko, hanya waktu itu ia mendengar orang sama menyebut Tjin-siauhiap padanya. Sepulangnya di rumah, Tjiok Hian melaporkan kejadian itu kepada ayah, ayahku bilang murid Bu-tong-pay itu tentu Tjin Goan-ko adanya. Hong-tjitji, jarak Tjui-in-tjeng itu hanya tiga hari perjalanan dari sini, bukankah dalam waktu itu pula kau akan dapat berjumpa dengan orang yang senantiasa kau kenangkan itu?"
Di samping girang, terasa kuatir pula Biau-siang, cepat ia bertanya lagi.
"Kau bilang Goan-ko terluka parah, bagaimanakah keadaannya?"
"Janganlah kuatir, meski tidak ringan lukanya, tapi tidak membahayakan jiwanya. Di Tjui-in-tjeng tidak kekurangan obat luka yang mustajab."
"Jadi sementara ini Goan-ko masih merawat lukanya di Tjui-in-tjeng? Kapan terjadinya peristiwa itu?"
"Kira-kira lima-enam bulan yang telah lalu. Menurut cerita Tjiok Hian, keadaan Tjin Goan-ko tidak berbahaya, hanya terlalu banyak mengeluarkan darah sehingga perlu dirawat cukup lama. Seriba kita di sana nanti mungkin keadaannya sudah sehat kembali, kau pasti akan dapat bertemu dengan dia."
"Ya, semoga dia sudah baik,"
Kata Biau-siang dengan perasaan lega. Tiba-tiba dilihatnya Kongsun Yan seperti sedang mengenangkan sesuatu, tanyanya pula.
"Entji Yan, agaknya kau ingin bicara apa-apa kepadaku bukan?"
"O, tidak apa-apa, kupikir orang-orang Tjui-ing-tjeng tentu akan melayani Goan-ko dengan baik atas bantuannya,"
Jawab Kongsun Yan.
Padahal Kongsun Yan memang benar-benar sedang memikirkan suatu soal lain yang mungkin terjadi.
Soalnya menurut desas-desus orang-orang Tjui-in-tjeng yang didengar oleh Tjiok Hian, katanya karena merasa berhutang budi, maka In Liong ada maksud menjodohkan anak perempuannya kepada Goan-ko.
Sudah tentu Kongsun Yan tidak dapat memberitahukan kabar ini kepada Biau-siang.
Begitulah besok paginya Kongsun Yan menyampaikan juga kepada Lam-sing tentang maksud mereka hendak menuju ke Tjui-in-tjeng.
Lam-sing ikut bergirang dan mengucapkan selamat kepada Hong Biau-siang karena dalam waktu singkat akan dapat bertemu dengan sang kekasih.
Keruan muka Biausiang menjadi merah, tapi di dalam had sangat senang.
Petang hari kedua mereka sudah sampai di Liong-koan, Tjui-in-tjeng terletak di kaki bukit Tjin-nia.
Dari Liong-koan sudah nampak jelas lereng bukit Tjin-nia.
"Malam ini kita menginap di dalam kota saja, besok siang kita dapat tiba di Tjui-in-tjeng, kukira nona Hong takkan terburu-buru menempuh perjalanan malam bukan?"
Ujar Lamsing. Muka Biau-siang menjadi merah, sahurnya.
"Ah, Le-toako suka bergurau saja, memang kita lebih baik tiba di sana pada siang hari."
"Le-toako apakah kau memperhatikan sesuatu?"
Tiba-tiba Kongsun Yan bertanya.
"Apakah kau maksudkan orang-orang yang kita lihat sepanjang jalan?"
Sahut Lam-sing. Sepanjang jalan memang banyak mereka temukan berlalulalangnya rombongan orang bersenjata sekali pandang saja dapat diketahui adalah orang-orang Kangouw semua.
"Ya, jalanan ini adalah jalan pegunungan, pantasnya jarang dilalui orang. Entah mengapa terdapat sekian banyak orang Kangouw yang lewat di sini? Apa barangkali di sekitar Tjin-nia sini ada perkumpulan apa-apa yang sedang mengadakan pertemuan?'* kata Kongsun Yan.
"Setiba di Tjui-in-tjeng kita dapat bertanya pada In-tjengtju,"
Ujar Lam-sing.
"Bukan maksudku mencari perkara orang lain, aku cuma merasa heran,"
Kata Kongsun Yan. Tengah bicara, kembali ada dua penunggang kuda mendatangi lagi. Sesudah dekat, seorang diantaranya tiba-tiba berseru.
"He, bukankah ini nona Kongsun? Apakah kau masih kenal padaku, nona Kongsun?"
Begitu bicara, kedua penunggang kuda itu lantas melompat turun dan memberi hormat kepada Kongsun Yan. Kongsun Yan sendiri tertegun, katanya.
"Kau ini Li-tjetju dari Him-ma-djwan bukan?"
"Ya, akulah Li Hou-dji adanya,"
Sahut orang tadi.
"Dan ini adalah kawanku Thio-tjotju, Thio Peng-hui dari Tiau-hou-kan."
Kiranya Li Hou-dji pernah bertamu ke Ang-eng-hwe sebagai penghormatan kepada Kongsun Hong dan Kongsun Yan yang menyuguhkan teh padanya.
"Eh, hendak kemanakah kalian ini, tampaknya terburuburu?"
Tanya Kongsun Yan.
"Kami hendak menghadiri pesta pernikahan, besok harus sampai di Tjui-in-tjeng?"
Sahut Li Hou-dji. Kongsun Yan terkejut.
"Pesta penikahan siapa?"
Tanyanya.
"In-tjengtju dari Tjui-in-tjeng mengawinkan puterinya besok, tentu kau tahu In-tjengtju bukan? Tjiok-hiangtju kalian tempo hari juga pernah datang ke sana."
"Ya, pernah kudengar ceritanya, katanya putri In-tjengtju itu bernama In Tiong-yan bukan?"
"Benar, besok adalah hari nikahnya,"
Sahut Li Hou-dji.
"Siapakah menantu In-tjengtju?"
Tanya Kongsun Yan.
"Kabarnya seorang ksatria muda she Tjin,"
Tutur Li Hou-dji. Jawaban ini seakan-akan bunyi halilintar di siang bolong, bukan saja wajah Hong Biau-siang seketika pucat pasi, bahkan Kongsun Yan juga menegak alis, tanpa pikir ia terus bertanya.
"Tjin siapa?"
"Entah, aku hanya tahu dia she Tjin, namanya tidak tahu,"
Sahut Li Hou-dji yang seketika rada tercengang melihat perubahan muka Kongsun Yan.
Thio Peng-hui yang diperkenalkan itu rupanya lebih lugu, dia tidak tahu akan perubahan air muka Kongsun Yan, dia ikut berkata.
"Kabarnya pemuda she Tjin itu pernah memberikan bantuan kepada Tjui-in-tjeng dalam perlawanan terhadap kawanan bandit Tjin-nia, konon kepala bandit Lo Tay-kui terbunuh oleh pemuda she Tjin itu. Nona Kongsun hendak kemana sekarang? Apakah kalian tidak hadir juga dalam pesta pernikahan putri In-tjengtju besok?"
"Hm, tentu aku akan ke sana, tidak perlu kau mengajak,"
Jawab Kongsun Yan setengah menjengek. Keruan Thio Peng-hui merasa bingung karena mendapat jawaban yang kaku. Li Hou-dji tahu gelagat, cepat ia menyela.
"Baiklah, jika nona Kongsun ada urusan lain, biarlah kami berangkat lebih dulu."
Segera mereka mohon diri dan berangkat. Kongsun Yan sangat mendongkol, katanya kepada Biausiang.
"Hong-tjitji, kau jangan sedih, marilah kita pergi ke Tjuiin-tjeng untuk membikin perhitungan dengan Tjin Goan-ko itu."
Perasaan Biau-siang seperti diiris-iris, dengan menahan air mata ia menjawab.
"Untuk apalagi aku pergi ke Tjui-in-tjeng?"
"Cari dan tanya dia, laki-laki yang ingkar janji demikian, andaikan kau mengampuni dia tetapi aku tidak,"
Kata Kongsun Yan. Air mata Biau-siang bercucuran, katanya.
"Entji Yan, jangan kau berbuat demikian, anggap saja nasibku yang buruk dan bukan salah Goan-ko. Memangnya kami juga belum ada ikatan janji apa-apa, mana boleh melarang dia memilih jodoh lain? Kumohon engkau memikirkan diriku, janganlah ribut ke sana."
Kongsun Yan masih penasaran, katanya.
"Biarpun tiada ikatan janji apa-apa juga dia mesti tahu akan hatimu padanya."
"Banyak sekali hal-hal yang mengecewakan di dunia ini, perubahan dalam urusan percintaan lebih-lebih sering di luar dugaan orang,"
Ujar Lam-sing dengan menghela napas.
"Soal jodoh tidak dapat dipaksakan, ucapan nona Hong ada benarnya, yang sudah biarlah sudah."
"Jadi menurut pendapatmu urusan ini tidak perlu kita ikut campur?"
Tanya Kongsun Yan.
"Kukira urusan ini sukar diselesaikan oleh orang luar, bahkan kita masih ada urusan lain yang lebih penting,"
Kata Lam-sing.
"Kau maksudkan urusan kepergian kita ke Sedjiang ini?"
Tanya Kongsun Yan.
"Benar,"
Kata Lam-sing.
"Perjuangan di Sedjiang sana bukankah jauh lebih penting daripada urusan ini? Hal-hal yang mengecewakan toh sukar ditarik kembali, maka sebaiknya dikesampingkan dan jangan dipikir lagi."
Karena merasakan senasib, maka ucapan Lam-sing ini sebenarnya sengaja diperdengarkan kepada Hong Biau-siang. Biau-siang manggut-manggut, katanya.
"Ya, kata-kata Letoako memang tepat."
"Jika demikian apa malam ini kita akan menginap di dalam kota?"
Tanya Kongsun Yan.
"Sudah sampai di sini, masakah kita bermalam lagi di tempat terbuka,"
Ujar Lam-sing tertawa.
"Dari Liong-koan besok kita langsung menuju ke Sedjiang dan tidak perlu mampir lagi ke Tjui-in-tjeng."
"Kau tidak mau ikut campur urusan ini, aku justru ingin ikut campur. Biarlah nanti akan kulakukan menurut keadaan bila sudah berada di Liong-koan,"
Demikian dalam hati Kongsun Yan mengambil keputusan sendiri.
Begitulah mereka lantas memasuki kota dan mendapatkan sebuah hotel.
Sebelum mereka tiba di hotel itu sudah ada dua orang tamu lebih dulu, kedua tamu itu adalah laki-laki yang kekar dan gagah, tampaknya juga orang Kangouw.
Ketika Lam-sing bertiga masuk hotel, kebetulan terdengar tamu yang lebih muda sedang bertanya pada pengurus hotel.
"Jalan mana yang menuju ke Tjui-in-tjeng? Harap besok pagipagi kami dibangunkan, sebelum lohor kami harus sampai di sana."
"Jangan kuatir, tuan tamu, mana bisa kami membikin kalian terlambat menghadiri pesta kawin di Tjui-in-tjeng,"
Sahut pengurus hotel.
"Jalan ke Tjui-in-tjeng harus menuju ke selatan, setiba di kaki bukit lalu belok ke timur, di sana ada sebuah perkampungan, itulah Tjui-in-tjeng adanya."
Setelah kedua tamu itu masuk kamarnya sendiri, Kongsun Yan juga bertanya pada pengurus hotel.
"Apakah jauh letak Tjui-in-tjeng itu?"
"Jauh sih tidak, kurang lebih SO-an li saja,"
Kata pengurus hotel.
"Jika berangkat pagi, sebelum lohor tentu sudah sampai di sana. Apakah nona juga akan ke sana?"
"O, tidak, kami bertanya karena sering mendengar nama In-tjengtju yang tersohor itu."
Kata Kongsun Yan.
Pada saat itulah ada seorang tamu melewati pintu hotel, karena Lam-sing bertiga asyik berbicara dengan pengurus hotel sehingga mereka tidak melihat orang itu.
Dengan air muka heran dan kejut orang itu lantas buru-buru melangkah pergi.
Kongsun Yan mengira orang biasa saja yang lewat, maka tidak menaruh perhatian walaupun kelakuan orang rada aneh.
Mereka menyewa dua kamar, Lam-sing tinggal satu kamar sendiri dan kedua nona bersama satu kamar.
Sesudah berada di dalam kamar, Biau-siang menutup pintu kamar dan berkata dengan suara pelahan.
"Entji Yan, janganlah kau mencari gara-gara ya."
"Jangan kuatir, apa kau anggap aku seperti anak kecil?"
Sahut Kongsun Yan tertawa, tapi di dalam batin ia berpikir lain.
Selesai makan malam, lantaran besok pagi-pagi harus berangkat, pagi-pagi Lam-sing sudah pergi tidur.
Sebaliknya Hong Biau-siang yang berhati risau, sukar baginya untuk puias.
Sampai tengah malam, tiba-tiba Kongsun Yan menyentuhnya dan berbisik.
"Hong-tjitji, jangan dipikir lagi, tidurlah!"
"Baiklah, tidurlah kau,"
Sahut Biau-siang "Asal kau sudah tidur, barulah aku merasa tenteram,"
Kata Kongsun Yan. Mendadak ia menutuk Hiat-to penidur Hong Biau-siang, sudah barang tentu Biau-siang tidak menduga akan tindakan Kongsun Yan ini, keruan ia tidak bisa berkutik.
"Jangan marah padaku, Hong-tjitji, kalau aku sudah pulang besok pagi mungkin kau malah akan berterima kasih padaku,"
Kata Kongsun Yan dengan tertawa.
Yang dia gunakan hanya tutukan ringan saja, dua tiga jam kemudian Hiat-to yang tertutuk itu akan punah dengan sendirinya.
Begitulah Kongsun Yan lantas berganti pakaian malam, ia membuka jendela dan melompat keluar.
Karena Ginkangnya memang tinggi sehingga Le Lam-sing yang tidur di kamar sebelah sama sekali tidak tahu.
Dengan Ginkangnya, jarak 50-an li dapat ditempuh Kongsun Yan dalam waktu satu jam.
Dilihatnya rumah keluarga In dipajang dengan megah dan meriah sebagaimana lazimnya orang hendak mengadakan pesta, cuma waktunya sudah lewat tengah malam, maka suasana sudah sepi.
Pintu gedung utama sudah tutup dan tiada penjaga, keadaan juga sunyi senyap.
Menurut jalan pikiran Kongsun Yan, urusan ini sebaiknya mencari Tjin Goan-ko sendiri untuk dibicarakan langsung padanya, tetapi mendadak teringat bahwa dirinya belum kenal Tjin Goan-ko, cara bagaimana pemuda itu dapat dicari?
Namun sudah telanjur berada di tempat tujuan, terpaksa ia masuk dulu ke situ baru mencari akal lagi.
Tidak terduga, baru saja ia melompat ke dalam pekarangan, seketika ia disambut oleh bentakan seseorang.
"Siapa itu?"
Serentak dari semak-semak pohon muncul beberapa orang, malahan ada di antaranya terus menimpukkan senjata rahasia dan seorang di antaranya terus membacok dengan golok.
Cepat Kongsun Yan mengebaskan lengan bajunya sehingga tiga batang Tau-kut-ting kena disampuk jatuh.
Berbareng itu ia pun sudah melolos pedang terus memutar balik dan tepat bacokan golok lawan tertangkis, sekali puntir pula Kongsun Yan membikin golok lawan itu mencelat ke udara.
Menyusul ia lantas berseru.
"Kedatanganku ini bukan untuk berkelahi!"
"Eh, kiranya seorang perempuan! Tadinya kukira sisa-sisa gerombolan Tjin-nia!"
Demikian beramai orang-orang itu berseru. Seorang di antaranya malah menambahkan dengan setengah menjengek.
"Memangnya sisa-sisa gerombolan tidak mungkin ada perempuannya?"
Kongsun Yan menjadi gusar, dampratnya.
"Ngaco-belo, sembarangan omong! Bandit-bandit Tjin-nia itu dijadikan jongosku saja masih tidak sesuai, tapi kalian berani mengatakan aku adalah gerombolan mereka? Hm, mestinya aku tidak mau berkelahi, tapi kalau perlu akan kulayani kalian."
Orang-orang itu adalah murid In Liong semua, mereka terkejut demi mendengar nada Kongsun Yan yang garang itu. Murid In Liong yang kedua bernama Lim Kang, segera ia bertanya.
"Jika demikian, apa dapat kau memberitahu maksud kedatanganmu?"
Kongsun Yan pikir urusan sudah telanjur begini, betapapun harus bicara secara terus terang, segera ia menjawab.
"Panggilkan pengantin laki-lakinya, aku mau bicara dengan dia."
Keruan orang-orang itu terheran-heran, Lim Kang bertanya pula.
"Calon pengantin sudah tidur semua, buat apa kau hendak bertemu dengan dia?"
"Sudah tentu aku ada urusan penting, sudah tidur juga harus kau bangunkan,"
Sahut Kongsun Yan.
"Baiklah, silakan nona menunggu sebentar, akan kupanggilkan dia,"
Kata Lim Kang.
Tapi baru saja ia hendak pergi melapor kepada gurunya, ternyata In Liong sudah keluar karena mendengar suara ribut-ribut.
Ia menjadi heran juga mendengar calon menantunya dicari oleh seorang perempuan muda lagi cantik.
Melihat munculnya seorang tua serta sikap Lim Kang dan lain-lain yang menghormat, Kongsun Yun menduga tentu sedang berhadapan dengan tuan rumah, segera ia menyapa.
"Apakah In-tjengtju adanya? Maafkan Wanpwe membikin ribut di sini secara sembrono."
In Liong mengamat-amati Kongsun Yan sejenak, lalu berkata.
"Benar, akulah In Liong. Numpang tanya siapakah nama nona yang mulia?"
"Wanpwe Kongsun Yan, ayahku Kongsun Hong dari Angeng-hwe, mungkin In-tjengtju sudah kenal?"
In Liong terkejut, katanya.
"O, kiranya ayahmu adalah Kongsun-totju? Sudah lama namanya sangat aku kagumi, pula pernah mendapat bantuan beliau, maafkan atas kelakuan murid-muridku yang kasar tadi atas kedatangan nona."
"Ah, memangnya aku yang lancang masuk kemari tanpa permisi, soalnya karena ada urusan penting, maka Wanpwe tidak memikirkan adat istiadat lagi,"
Kata Kongsun Yan. In Liong menjadi sangsi, tanyanya.
"Urusan penting apakah yang mendorong nona datang kemari, sudilah menerangkan?"
"Kabarnya putrimu akan kawin besok, benarkah?"
Tanya Kongsun Yan.
"Ya,"
Sahut In Liong.
"Untuk urusan inilah kedatanganku. Harap panggilkan menantumu, akan kubicarakan berhadapan dengan dia dan engkau juga akan jelas duduknya perkara."
Sampai di sini puteri dan menantu In Liong juga telah muncul karena mendengar suara ribut-ribut tadi. Segera In Liong memanggil mereka.
"Kalian kemari, nona Kongsun ini hendak bertemu dengan kalian."
"Apakah ini Entji In Tiong-yan adanya? Baiklah, kita dapat bicara bertiga secara terang-terangan,"
Kata Kongsun Yan. In Tiong-yan menjadi curiga dan cemburu seketika, sahutnya dengan dingin.
"Untuk apa kau mencari dia?"
"Aku ingin menasihati kau, lebih baik jangan menikahi dia, sebab dia adalah laki-laki yang suka ingkar janji,"
Sahut Kongsun Yan. Sungguh gusar In Tiong-yan tak terkatakan, dengan merah padam ia menjengek kepada bakal suaminya.
"Bagus sekali, Toasuko, kiranya kau sudah punya kekasih, tapi kau mendustai aku selama ini."
Calon pengantin laki-laki menjadi gelisah dan bingung, cepat ia buka suara.
"Nona Kongsun, apa artinya ucapanmu tadi? Selamanya aku tidak kenal kau!"
Kongsun Yan melenggak, tapi lantas berkata dengan kurang senang.
"Jangan omong seenakmu, sudah tentu selamanya aku tiada sangkut-paut dengan kau. Yang kumaksudkan adalah Hong Biau-siang. Apakah kau berani bilang selamanya juga tidak kenal dia?"
"Hong Biau-siang?"
Calon pengantin laki-laki itu tampak mengerut dahi dan menegas.
"Siapa dia? Namanya saja baru kudengar sekarang!"
"Bagus caramu menyangkal benar-benar licin,"
Kata Kongsun Yan dengan marah.
"Coba katakan, kau Tjin Goan-ko bukan?"
Pengantin laki-laki itu tampak bingung, katanya kemudian.
"O, tahulah aku sekarang. Kiranya yang hendak kau cari adalah Tjin Goan-ko bukan?"
"Apakah kau sendiri bukan Tjin Goan-ko?"
Kongsun Yan menegas.
"Aku sih memang she Tjin, tapi Goan-ko bukankah namaku,"
Sahut pengantin laki-laki dengan tertawa. Segera In Liong menyambung.
"Dia adalah muridku Tjin Siau-yang. Goan-ko adalah murid kesayangan ketua Bu-tongpay Lui Tjin-tju. Nona Kongsun, yang hendak kau cari sebenarnya siapa?"
Muka Kongsun Yan menjadi merah, baru sekarang ia sadar telah salah paham dan membikin lelucon yang menertawakan.
Dalam pada itu beberapa tamu yang menginap di rumah In Liong juga telah datang beramai-ramai, karena kualir tuan rumah sedang menghadapi musuh.
Di antara tamu-tamu itu terdapat pula Li Hou-dji dan Thio Peng-hui yang bertemu dengan Kongsun Yan di tengah jalan siang tadi.
Lantaran malu, tanpa terasa Kongsun Yan lantas melampiaskan amarahnya terhadap Li Hou-dji berdua, omelnya.
"Gara-gara kecerobohan kalian, mengapa kalian mengatakan calon menantu In-loenghiong adalah Tjin Goanko?"
"Kukira nona Kongsun yang salah dengar,"
Sahut Li Hou-dji dengan menahan tawa.
"Aku mengatakan calon pengantin laki-laki she Tjin, tapi tidak mengatakan namanya Goan-ko."
Thio Peng-hui berwatak jujur, segera ia meminta maaf dan berkata.
"Akulah yang salah. Tadinya aku pun seperti nona, menyangka mereka berdua adalah orang yang sama."
Segera In Liong memberi penjelasan.
"Siau-yang adalah muridku yang sulung, selama dua tahun ini ia lebih sering berkelana di luaran. Permulaan tahun ini ketika kawanan bandit Tjin-nia mencari perkara ke sini, Siau-yang sendiri tidak berada di rumah, dia baru pulang dari Siau-kim-djwan bulan yang lalu. Sudah tentu muridku ini tak bisa dibandingkan dengan Tjin siauhiap dari Bu-tong-pay, tapi banyak temanteman yang tidak tahu duduknya perkara seringkah keliru mengira mereka berdua adalah orang yang sama."
Tjin Siau-yang yang mendengar persoalan demikian tentu saja merasa kikuk, syukur In Tiong-yan lantas membisikinya.
"Orang lain mungkin hanya kenal Tjin-siauhiap dari Bu-tongpay, tapi bagiku hanya ada kau."
Lega dan besarlah hati Tjin Siau-yang demi mendengar ucapan bakal istrinya itu.
Sebenarnya semula In Liong memang ada maksud menjodohkan putrinya kepada Tjin Goan-ko, tapi In Tiong-yan sendiri sudah ada ikatan janji dengan Toasukonya, maka waktu mengetahui maksud ayahnya, segera ia mendahului membeberkan isi hatinya.
Sebab itulah In Liong lantas membatalkan niatnya.
Begitulah Kongsun Yan menjadi malu sendiri setelah jelas duduknya perkara, ia lantas minta maaf kepada kedua calon mempelai.
"Sedikit salah paham saja bukan soal, kedatangan nona ini kebetulan sekali, harap tinggal sampai besok untuk sekadar ikut minum secawan arak,"
Kata In Liong tertawa.
"Apakah Tjin Goan-ko masih berada di sini? Aku ingin minta dia ikut pergi menemui Hong-tjitji, habis itu barulah kami ikut menghadiri pesta In-loenghiong?"
Kata Kongsun Yan.
"Tjin-siauhiap memang masih tinggal di sini,"
Sahut In Liong.
"Cuma hari ini dia ada urusan dan keluar, sampai saat ini masih belum pulang."
"Ya, aneh juga, mengapa sampai saat ini Tjin-siauhiap belum pulang, padahal besok dia harus menjadi pengiring pengantin,"
Sela Lim Kang.
"Baju apa yang dipakai oleh Tjin Goan-ko waktu keluar?"
Tanya Kongsun Yan.
"Berjubah sutera biru,"
Sahut Lim Kang.
"Ah, jika demikian mungkin sekali dia sudah melihat kami di kota,"
Seru Kongsun Yan.
Dasar wataknya memang tidak sabaran, habis bicara buru-buru ia mohon diri meninggalkan Tjui-in-tjeng.
Keruan In Liong dan lain-lain merasa bingung, segera ia menyuruh beberapa muridnya menyusul ke kota untuk melihat apa yang terjadi.
Dugaan Kongsun Yan memang benar.
Orang yang pemah hendak masuk hotel tempat mereka menginap itu memang betul Tjin Goan-ko adanya.
Waktu itu Goan-ko melihat Hong Biau-siang berada bersama seorang pemuda, sebab itulah ia urung memasuki hotel itu untuk menegurnya, tapi hatinya menjadi bimbang setelah menyaksikan kejadian itu.
Goan-ko tidak tahu menahu tentang Kim Tiok-liu memaksa Hong Tju-tjiau menjodohkan puterinya kepada Goan-ko, tapi ada lagi seorang lain yang paling suka menjadi comblang sudah menghubungi gurunya di Bu-tong-san tentang perjodohannya itu.
Orang itu adalah ketua Kay-pang Tiong Tiang-thong.
Mestinya Lui Tjin-tju tak setuju mengingat asal-usul Hong Tju-tjiau yang tidak baik, tapi karena bujukan Tiong Tiangthong yang menjamin akan cinta Hong Biau-siang kepada Tjin Goan-ko serta pribadi si nona yang berbeda daripada ayahnya, terpaksa Lui Tjin-tju tidak merintangi lagi walaupun di dalam batin tetap tidak setuju.
Walaupun perjodohan itu belum tetap, tapi sedikitnya Goan-ko sudah mengetahui akan hati Hong Biau-siang kepadanya Selama dua tahun ini Goan-ko juga sangat ingin tahu di-mana beradanya si nona sama sekali tak terduga bahwa di kota pegunungan Liong-koan inilah ditemukan nona yang dirindukannya didampingi seorang pemuda lain.
Sesudah menjauhi hotel itu, Goan-ko menjadi sangsi dan penuh tanda tanya "Apakah dia sudah menikah?
Kalau tidak, mengapa bermalam di hotel dengan seorang pemuda?
Tapi mungkin mereka hanya bertemu secara kebetulan saja di hotel itu?"
Begitulah karena diliputi macam-macam pikiran itu, Tjin Goan-ko menjadi tidak tahu kemana dia harus membuang langkah.
Ia coba memasuki sebuah tempat minum, ia duduk terma-ngu-mangu sendirian, tanpa terasa hari sudah gelap.
Tiba-tiba ia mendapat suatu pikiran.
"Buat apa aku mendugaduga secara ngawur, kan lebih baik malam ini kupergi ke sana untuk menyelidiki, jika mereka tinggal satu kamar, terang mereka adalah suami istri."
Ia menunggu sampai tengah malam, lalu menuju ke hotel tadi, setiba di sana kebetulan Kongsun Yan barus saja meninggalkan hotel itu menuju ke Tjui-in-tjeng sehingga keduanya tidak kepergok.
Baru saja keluar dari hutan situ, tiba-tiba cuaca berubah dan dapatlah ia menemukan kamar Hong Biau-siang.
Ia mengintip ke dalam kamar, samar-samar dilihatnya Biau-siang sedang tidur menghadap ke dalam.
Hati Goan-ko merasa lega setelah jelas mengenal yang tidur sendirian itu adalah Biausiang, pikirnya "Kiranya dia dan pemuda itu belum menjadi suami-istri."
Lantaran girangnya, sedikit ayal gerak-geriknya menerbitkan suara.
Le Lam-sing yang tidur di kamar sebelah segera mendengar suara kresekan pelahan di luar situ.
Sebagai seorang yang berpengalaman, segera ia mengetahui kedatangan orang.
Cepat ia membuka jendela dan membentak dengan suara tertahan.
"Siapa itu?"
Keruan Goan-ko terkejut, maksud kedatangannya ini sudah tentu tidak leluasa dijelaskan kepada orang lain, maka cepat ia melarikan diri.
Larinya Goan-ko ini segera menimbulkan dugaan Lam-sing akan maksud kedatangannya yang bertujuan buruk.
Baru saja ia hendak mengejar, tiba-tiba teringat olehnya "Celaka kenapa Biau-siang dan Kongsun Yan tidak bersuara?"
Dengan rasa sangsi terpaksa Lam-sing memeriksa dulu ke dalam kamar Hong Biau-siang. Ia mendorong pintu kamar dan memanggil.
"Nona Kongsun, nona Hong!"
Ia bertambah kuatir karena tidak mendapat jawaban, tanpa pikir lagi ia lantas memasuki kamar nona-nona itu dan menyalakan lampu.
Dilihatnya hanya Hong Biau-siang seorang saja yang tidur di atas ranjang.
Sebagai seorang ahli, sekali pandang Lam-sing lantas tahu Hong Biau-siang dalam keadaan tertutuk Hiat-to tidurnya.
Cepat ia membuka Hiat-to si nona yang tertutuk itu dan bertanya.
"Apakah kau mendapat perlakuan tidak senonoh oleh bangsat itu?"
Biau-riang kucek-kucek matanya yang masih sepat, jawabnya bingung.
"Bangsat apa? Eh, kemana perginya Entji Yan?"
Lam-sing merasa lega, ia tidak sempat bertanya lebih banyak kepada Biau-siang, ia hanya menjawab.
"Tunggu sebentar akan kupergi membekuk bangsat tadi!"
Ia menduga Hong Biau-siang ditutuk musuh dan Kongsun Yan telah menguber keluar.
Tadi waktu Le Lam-sing keluar dari kamarnya, segera dikenalinya Goan-ko adalah pemuda yang mendampingi Biausiang siang harinya, ia pikir sekalipun mereka belum menjadi suami-istri tentu juga sudah menjadi kekasih.
Goan-ko punya Ginkang lebih rendah daripada Lam-sing, tapi dia berlari lebih dulu sehingga untuk waktu singkat Lamsing tidak dapat menyusulnya.
Kebetulan pada saat itu Kongsun Yan kembali dari Tjui-intjeng, ketika melihat seorang laki-laki lari terbirit-birit mendatangi, sepintas lalu Kongsun Yan mengenali seperti pemuda yang pernah dilihatnya siang harinya, cepat ia menegur.
"He, siapa kau?"
Belum sempat ia bertindak apa-apa, dari belakang orang itu terdengar suara Le Lam-sing berseru.
"Cepat tangkap dia, jangan sampai lolos, dia adalah penjahat cabul!"
Dalam batin Goan-ko mengeluh, tadinya dia dipergoki sedang mengintip kamar Hong Biau-siang.
Tengah malam buta mengintip kamar wanita, pantas saja orang menyangka dia hendak berbuat tidak senonoh.
Untuk menjelaskan persoalannya kepada mereka tentu juga sulit, mumpung Hong Biau-siang belum ikut menyusul tiba, lebih baik cari jalan meloloskan diri saja, demikian pikir Goan-ko.
Tak terduga Ginkang Kongsun Van sangat tinggi, begitu Goan-ko putar haluan hendak kabur, tahu-tahu Kongsun Yan sudah merintangi di depannya sambil membentak.
"Berhenti! Jawab dulu pertanyaanku!"
"Aku bukan penjahat, nona!"
Seru Goan-ko, ia bergerak ke arah lain hendak kabur lagi.
"Bukan penjahat kenapa kau gugup dan ingin lari'?"
Kata Kongsun Yan.
"Bekuk dia dulu dan urusan belakang!"
Seru Le Lam-sing sambil berlari mendatangi. Segera Kongsun Yan mengejar maju lagi dan membentak.
"Siapa kau, lekas katakan, kalau tidak terpaksa aku pakai kekerasan!"
Berbareng jarinya terus menutuk ke punggung lawan.
Tiada jalan lain terpaksa Goan-ko memutar tangannya balas mencengkeram ke belakang untuk menghindarkan tutukan Kongsun Yan itu.
Usia Kongsun Yan masih muda, tapi dia adalah puteri tokoh persilatan yang termashur, pengetahuannya luas, maka cukup beberapa gebrak saja segera ia dapat mengenali gaya silat Butong-pay yang dimainkan Tjin Goan-ko itu.
Sementara itu Le Lam-sing sudah menyusul tiba, serunya.
"Nona Kongsun serahkan dia padaku, akan kubekuk dia!"
"Nanti dulu,"
Sahut Kongsun Yan, lalu ia bertanya pada Goan-ko.
"Apakah kau hendak lari pulang ke Tjui-in-tjeng?"
"Darimana kau tahu?"
Jawab Goan-ko terkejut.
"Jika demikian, apakah kau ini Tjin....."
Belum habis ucapan Kongsun Yan, ternyata Hong Biau-siang menyusul tiba dengan napas terengah-engah dan berseru dari jauh.
"Sabar dulu, entji Yan, dia, dia Tjin Goan-ko adanya!"
Sudah tentu Biau-siang tidak tahu apa yang terjadi, disangkanya Kongsun Yan yang mencari perkara ke Tjuiin~ tjeng dan dari sana Goan-ko diajaknya berkelahi sampai di sini.
Lam-sing terkejut juga, katanya.
"Apa? Dia inilah Tjin Goanko? Jika demikian mengapa dia menutuk Hiat-tomu?"
Kongsun Yan tertawa, katanya.
"Hiat-to entji Hong akulah yang menutuknya."
Dengan wajah merah Goan-ko lantas memberi salam hormat kepada Biau-siang, katanya.
"Semoga kalian hidup sampai hari tua bersama. Tadi aku tiada bermaksud jahat kepadamu dan hanya ingin melihat mukamu saja Apakah aku boleh pergi sekarang?"
"Apa maksudmu?"
Sahut Biau-siang bingung.
"Kau sendiri adalah orang suijungan Tjui-in-tjeng, aku yang harus mendoakan kau dan nona In hidup bahagia sampai hari tua."
Mendadak Kongsun Yan bergelak tertawa, sudah tentu Biau-siang dan Goan-ko menjadi bingung.
"Pengantinnya ternyata bukan dia!"
Sejenak kemudian barulah Kongsun Yan dapat menerangkan.
"Dari In-tjengtju aku mendapat penjelasan bahwa yang menjadi pengantin adalah murid yang sulung bernama Tjin Siau-yang. Hong-tjitji, ini benar-benar salah paham yang maha besar, semuanya gara-garaku."
Dengan heran Goan-ko bertanya.
"Siapakah nona yang terhormat? Selamanya kita tidak kenal mengapa kau pergi ke Tjui-in-tjeng?"
"Aku bernama Kongsun Yan, teman baik Hong-tjitji,"
Sahut Kongsun Yan dengan tertawa.
"Karena mengira kau dipungut menantu oleh keluarga In, akulah yang ingin menanyai kau mengapa kau mengingkari Hong-tjitji."
Goan-ko menjadi girang dan lega, pikirnya.
"Kiranya dia belum berubah, kalau tidak, masakah dia kuatir aku menjadi menantu orang lain, tapi entah siapakah pemuda ini?"
Hong Biau-siang lantas memperkenalkan mereka.
"Le-toako ini adalah saudara angkat Kim-tayhiap. Berkat pertolongannya, kalau tidak, tentu hari ini aku tidak dapat bertemu lagi dengan kau."
"Kau cuma bicara sebagian saja, yang benar kau yang menyelamatkan diriku lebih dulu, lalu yang menolong kau juga bukan aku melainkan nona Kongsun Yan ini,"
Ujar Lam-sing tertawa.
"Jangan kau puji diriku, aku hanya ingin ditemani Hongtjitji, makanya aku mengajak dia, jadi aku tidak membantu dia tapi untuk kepentinganku sendiri,"
Kata Kongsun Yan.
Lalu ia pun menuturkan pertemuannya dengan Hong Biau-siang tempo hari.
Hong Biau-siang juga lantas bercerita perkenalannya dengan Le Lam-sing.
Baru sekarang Goan-ko tahu akan duduknya perkara dan salah pahamnya, cepat ia menghaturkan terma kasih kepada Le Lam-sing dan Kongsun Yan.
"Kami bertiga hendak pergi ke Sedjiang mencari Kim Tiokliu, kau akan ikut ke sana tidak?"
Kata Kongsun Yan. Tiba-tiba ia tertawa, lalu melanjutkan.
"Ah, pertanyaanku ini agak berlebihan. Hong-tjitji berada di sini, mana bisa kau tidak ikut?"
"Tapi sekali ini kau keliru, nona Kongsun Yan, sebab aku mesti kembali ke Tjui-in-tjeng lagi,"
Sahut Goan-ko dengan tertawa riang.
"Kau tidak mau pergi ke Sedjiang?"
Kongsun Yan menegas.
"Besok aku masih harus menjadi pengiring pengantin?"
Sahut Goan-ko.
"O, kiranya demikian, kusangka kau takkan pergi ke Sedjiang untuk selamanya,"
Kata Kongsun Yan.
"Selewatnya besok tentu saja aku akan ke sana,"
Sahut Goan-ko dengan sungguh-sungguh sehingga giliran Kongsun Yan tertawa.
Ketika sedang berbicara, Lun Kang dan dua-tiga Sutenya datang pula, maka beramai-ramai mereka lantas menuju ke Tjui-in-tjeng.
Esoknya sesudah pesta perkawinan usai, Le Lam-sing, Kongsun Yan dan Hong Biau-siang ditambah Goanko berempat lantas berangkat ke Sedjiang.
Pertunangan Goan-ko dan Biau-siang jelas sudah pasti, meski mengalami banyak rintangan.
Sudah tentu sepanjang jalan tidak jarang nampak mereka bermesraan biarpun secara halus.
Sebaliknya adegan roman demikian makin membikin masgul Le Lam-sing yang patah hati itu.
Kemurungan Lam-sing itu dapat diketahui pula oleh Kongsun Yan, ia merasa heran, pikirnya.
"Tadinya aku salah sangka Le-toako bercinta dengan Hong-tjitji, sungguh menertawakan, tapi mengapa Le-toako sekarang tampak masgul lagi?"
Dengan perasaan heran itu, sampai di Sedjiang ia tetap tidak sempat mengajukan pertanyaan kepada Le Lam-sing.
Suatu hari mereka mengitari kota Sedjiang dan sampai di Thay-liang-san, tanah pegunungan pangkalan pasukan pergerakan Tiong Siang-hu.
Mereka disambut oleh puteri Tiok Siang-hu, yaitu Djing-hoa, Li Kong-he dan lain-lain.
Kongsun Yan sangat senang bertemu dengan Tiok Djinghoa, katanya dengan tertawa.
"Aku sengaja datang buat minum arak pernikahanmu, hari baik kalian sudah ditetapkan belum?"
"Belum,"
Sahut Djing-hoa dengan malu-malu.
"Maksud ayah baru akan melangsungkan pernikahan kami bilamana Sedjiang sudah direbut kembali."
Sifat Tiok Djing-hoa juga periang dan suka terang-terangan seperti Kongsun Yan, maka tanpa rikuh ia pun mengatakan terus terang urusan perjodohannya.
"Jika demikian rasanya tidak lama lagi,"
Ujar Kongsun Yan tertawa.
"Ilmu silat ayahmu tiada bandingnya, dibantu pula oleh ksatria sebanyak ini, hanya kota sekecil Sedjiang saja mustahil takkan terebut kembali dalam waktu singkat."
"Jangan kau pandang enteng pihak musuh."
Kata Djinghoa.
"Ilmu silat panglima kerajaan yang menjaga Sedjiang, yaitu Swe Beng-hiong, juga tidak rendah, bahkan ayah pernah kena disergap olehnya secara licik. Paling akhir musuh banyak menambah pasukan pula di kota itu, bisa jadi mereka malah akan menyerang kita lebih dulu. Eh, kita hanya bicara sendiri saja, sampai melupakan beberapa kawanmu ini....."
"Benar di sini ada seorang angkatan tua, sepantasnya kau lekas memberi hormat kepadanya,"
Ujar Kongsun Yan dengan tertawa.
Waktu Djing-hoa mengawasi, dilihatnya usia Le Lam-sing dan Tjin Goan-ko sebaya dengan dirinya, malahan Hong Biausiang tampak lebih muda lagi, ia menjadi heran orang mana yang dimaksudkan sebagai angkatan tua.
Ternyata Li Kong-he sudah lantas maju memberi hormat kepada Le Lam-sing sambil berkata.
"Terimalah hormatku, Lesioksiok."
Seperti diketahui, Kong-he sudah kenal Goan-ko ketika di rumah Kang Hay-thian dahulu dan Goan-ko sudah memberitahukan padanya tentang persaudaraan antara Lamsing dan Kim Tiok-liu.
"Nah Le-toako ini adalah saudara angkat Kim Tiok-liu, kau dan Kong-he harus memanggil paman padanya,"
Ujar Kongsun Yan dengan tertawa.
"Aku sendiri cukup memanggil Toako padanya, bukankah kau lebih rendah satu angkatan daripadaku?"
"Ah, kau masih tetap suka bercanda seperti anak kecil saja,"
Sahut Djing-hoa.
"Padahal kau pun sudah cukup dewasa untuk menjadi pengantin."
Betapapun nakalnya Kongsun Yan, tidak urung merah-jengah juga mukanya, lalu Djing-hoa memberi hormat kepada Le Lam-sing.
"Sudahlah,"
Kata Lam-sing dengan tertawa.
"Kita bergaul sendiri-sendiri semuanya, anggap seperti satu angkatan saja agar tidak terikat oleh macam-macam adat istiadat, padahal kalau mau bicara tentang angkatan dalam dunia persilatan, tiga malam juga tidak jelas dihitung."
Beramai-ramai mereka lantas masuk ke dalam.
Ketika mengetahui Le Lam-sing adalah saudara angkat Kim Tiok-liu, Tiok Siang-hu sengaja hendak mengujinya.
Pada waktu memberi hormat pelahan Tiok Siang-hu menahan dengan tangannya, Lam-sing merasa suatu tenaga maha kuat mengangkat bangun padanya, lekas ia menggunakan tenaga berat untuk menekan tubuhnya ke bawah, tapi hanya setengah berlutut saja dan tidak dapat menjalankan penghormatan sebagaimana lazimnya.
"Le-laute benar-benar hebat,"
Kata Tiok Siang-hu kemudian.
"Kudengar kau dan Kim Tiok-liu membikin geger kotaraja, benar-benar pahlawan telah tumbuh di kalangan muda."
Lam-sing menjawab dengan rendah hati, lalu bertanya.
"Apakah Tiok-liu sudah sampai di sini?"
"Siapa bilang dia akan datang ke sini?"
Sahut Tiok Siang-hu heran.
"Sampai saat ini belum nampak bayangannya."
"Menurut berita yang diperoleh Kongsun-totju di Yangtjiu, katanya Tiok-liu bersama rombongan Kay-pang sudah lama meninggalkan kota itu,"
Tutur Lam-sing.
"Ketika di Pakkhia, dia juga menyatakan akan datang ke tempat Lotjianpwe sini, kusangka dia sudah kemari."
"Mungkin terhalang oleh urusan-urusan di tengah jalan, sedikit hari lagi tentunya akan sampai di sini,"
Kata Tiong Siang-hu.
Tiada terdapatnya Kim Tiok-liu rada di luar dugaan Le Lamsing, ia pikir Tiok-liu berangkat lebih dulu daripadaku, mengapa dia belum sampai.
Apa mungkin dia telah memasuki kota Sedjiang?
Tiok Siang-hu seperti tahu pikirannya, katanya kemudian.
"Saat ini ada belasan jago kerajaan berkumpul di Sedjiang, kekuatan pasukan musuh juga banyak bertambah, penjagaan diperkeras. Aku harus menunggu datangnya pasukan bantuan dari Siau-kim-djwan baru dapat melakukan serangan terhadap Sedjiang. Maka kalau tiada urusan maha penting, sebaiknya kita jangan sembarangan memasuki kota itu."
Sebenarnya Lam-sing memang bermaksud menyusup ke Sedjiang untuk mencari berita, tapi ia mengurungkan maksudnya demi mendengar ucapan Tiok Siang-hu.
Beberapa hari lagi, tetap Kim Tiok-liu belum muncul, keruan Le Lam-sing menjadi gelisah.
Tapi demi menjaga tata tertib, ia tidak dapat pergi begitu saja, terpaksa ia harus menuggu lagi.
Masih ada lagi seorang yang merasa terlalu iseng, ialah Kongsun Yan.
Tiok Djing-hoa dan Hong Biau-siang sudah punya tunangan semua, meski mereka bertiga selalu bermain bersama, tapi Kongsun Yan merasa tidak enak menyelinap di antara mereka yang sedang berkasih-kasihan.
Kongsun Yan tinggal di kemah wanita sehingga tidak dapat sering bertemu dengan Le Lam-sing.
Entah mengapa, setiap kali ia merasa iseng dan masgul, selalu ia ingin bertemu dengan Lam-sing.
Sudah tentu ia tidak berani mengatakan isi hatinya itu kepada siapa pun juga termasuk Tiok Djing-hoa yang paling akrab itu.
Mengapa bisa demikian perasaannya, ia sendiri pun tidak tahu.
Padahal sebelum kenal dengan Le Lamsing, ia adalah seorang nona periang yang tidak kenal apa artinya murung.
Suatu malam, saking isengnya Kongsun Yan keluar jalanjalan, tiba-tiba didengarnya suara seruling yang sendu merawan berkumandang dari tengah hutan di sebelah sana.
Ia kenal suara seruling yang ditiup Le Lam-sing itu, pikirnya.
"Tentunya Le-toako juga terlalu iseng seperti aku, maka dia sengaja meniup serulingnya. Tapi mengapa ia membawakan lagu sedih memilukan seperti ini?"
Tanpa terasa ia terus melangkah ke arah suara seruling.
Dilihatnya Le Lam-sing berhenti meniup seruling, tiba-tiba menghela napas, lalu bersenandung.
Kongsun Yan tidak paham syair lagu yang dibawakan Le Lam-sing itu, tapi dari nadanya dapat dirasakan kepiluan yang melebihi suara seruling tadi.
Ia tidak tega mendengarkan terus nada-nada sedih demikian, ia pikir berduka hanya akan merusak badan saja, biar aku menggodanya agar dia tidak murung lagi.
segera ia meraup segenggam pasir terus ditaburkan ke arah Le Lam-sing.
Dengan kepandaian Lam-sing, sebenarnya tidaklah sampai kena diserang secara menggelap oleh orang, tapi sekarang ia sedang melamun, pula tempat ini adalah pangkalan Tiok Siang-hu yang dijaga ketat, maka hakikatnya ia tidak berjagajaga akan diserang musuh, sebab itulah ia baru mengetahui ketika Kongsun Yan sudah menebarkan pasirnya.
Tepat sekali pasir yang ditebarkan Kongsun Yan itu mengenai 'Siau-yau-hiat' di pinggangnya, yaitu tempat yang membikin tertawa.
Tanpa terasa Lam-sing mengikik.
Cuma sambitan pasir Kongsun Yan itu tidak keras, pula Lwekang Lam-sing juga lebih kuat, maka dia hanya mengikik sekali saja lalu berhenti, Hiat-to yang disambit telah lancar kembali.
Dengan tertawa geli Kongsun Yan lantas melompat keluar, serunya.
"Sekali ini kau menjadi gembira bukan?"
"Kiranya kau, sungguh nakal,"
Omel Lam-sing sambil menyengir.
"Aku tidak suka pada lagu-lagu sedih demikian, bawakanlah satu lagu yang gembira saja,"
Pinta Kongsun Yan.
"Maaf, aku tidak dapat menyanyikan lagu yang baik,"
Sahut Lam-sing.
"Jika demikian bagaimana kalau aku yang menyanyi?"
"Bagus, menyanyilah lekas!"
Kata Lam-sing.
Maka bernyanyilah Kongsun Yan suatu lagu jenaka yang mengolok-olok kaum pemuda yang berkeluh-kesah sendiri tanpa alasan.
Sudah tentu Lam-sing tahu maksud si nona, ia pikir mana kau tahu akan isi hatiku, dengan tersenyum getir katanya kemudian.
"Nona Kongsun, sudahlah aku sangat iri padamu."
"Mengiri tentang apaku?"
Tanya Kongsun Yan.
"Aku iri akan kebebasanmu, kau benar-benar seorang nona cilik yang tidak kenal apa artinya sedih,"
Ujar Lam-sing.
"Jangan kau sok berlagak tua, paling-paling kau cuma lebih tua beberapa tahun dariku. Padahal umurku juga sudah 19 tahun, aku bukan nona cilik lagi."
"Baik, jika begitu anggaplah kau sudah nona besar,"
Ujar Lam-sing tertawa.
"Sudahlah, kita jangan bertengkar lagi. kau bilang aku tidak kenal apa artinya sedih, lantas apa sebabnya kau sendiri selalu sedih?"
"Darimana kau mengetahui aku sedih?"
"Kau tak bisa mendustai aku, sepanjang jalan kau selalu murung, siapa yang tidak tahu? Setiap kali kau meniup seruling juga selalu membawakan lagu yang memilukan."
Lam-sing pikir anak dara ini ternyata suka memperhatikan diriku, dengan tertawa ia lantas menjawab.
"Aku pun tidak punya apa-apa yang perlu disedihkan. Hanya saja di dunia ini memang ada dua macam manusia, yang satu macam adalah orang periang seperti kau. Macam lain adalah seperti diriku, lebih banyak murung daripada gembira. Hal ini mungkin adalah sifat pembawaan masing-masing."
"Aku tidak percaya,"
Ujar Kongsun Yan menggeleng.
"Sifat seorang tidak selalu karena pembawaannya, kau selalu murung tentu ada sebab-sebabnya."
"Ya, mungkin karena keadaan asal-usulku berbeda dengan kau. Aku dibesarkan di pulau terpencil, jauh dari keramaian sehingga menjadikan watakku yang rada aneh."
"Tidak, menurut pandanganku, meski lahirnya kau dingin, tapi batinmu sangat panas. Kudengar dari ayah bahwa kau dan Kim Tiok-liu telah membikin geger kotaraja, waktu menerjang kepungan musuh, kalian sama tidak menghiraukan bahaya sendiri dan berusaha menyelamatkan kawan. Persahabatan demikian sungguh sangat mengharukan. Hongtjitji selamanya tidak kenal kau, tapi lantaran dia adalah teman Kim Tiok-liu, maka kau pun banyak membantu dia. Maka dari itu aku berani memastikan kau adalah seorang yang dingin di lahir dan panas di batin."
"Apa betul begitu? Haha, kau seperti lebih kenal diriku daripada aku sendiri,"
Ujar Lam-sing dengan tertawa.
"Le-toako,"
Kata Kongsun Yan.
"Orang hidup memang perlu kawan yang baik, jika ada urusan, lebih baik dibicarakan dengan seorang kawan daripada disekap di hati sendiri. Mungkin dalam pandanganmu aku belum sesuai untuk menjadi teman obrolanmu?"
"Bukan demikian soalnya, nona Kongsun. Aku....."
"Kenapa?"
Sela Kongsun Yan dengan tatapan tajam.
"Aku sangat berterima kasih akan maksud baikmu. Memang betul aku sedang murung, cuma kemurungan ini adalah salahku sendiri dan tiada sangkut-pautnya dengan orang lain. Aku percaya kemurungan ini lambat-laun akan lenyap. Biarlah kelak saja akan kuberitahukan padamu."
"Jika kau keberatan menceritakan sekarang juga, aku tidak dapat memaksa, semoga kemurunganmu lekas lenyap,"
Ujar Kongsun Yan.
"Eh, seperti ada orang memanggil aku. Malam sudah larut, silakan kau pulang saja,"
Kata Lam-sing.
Waktu Kongsun Yan mendengarkan dengan cermat, benar juga seperti suara Tjin Goan-ko sedang memanggil Le Lamsing.
Betapapun ia juga merasa rikuh jika sampai Goan-ko memergoki dia berada bersama dengan Le Lam-sing, maka cepat ia berkata.
"Baiklah aku akan pulang lebih dulu, sampai bertemu lagi besok."
Seperginya Kongsun Yan, Lam-sing termangu-mangu sendiri dan tanpa terasa mengembeng air mata.
"Le-toako,"
Terdengar seruan Goan-ko, langkahnya sudah mendekat. Lekas Lam-sing mengusap air matanya, lalu ia menjawab.
"Aku berada di sini!"
"Kiranya kau bersembunyi di sini meniup seruling,"
Kata Goan-ko.
"Lekaslah pulang. Li Bo dan orang-orangnya sudah datang semua!"
Kejut dan girang Lam-sing, cepat ia menegas.
"Kau maksudkan Li-totju yang memimpin cabang Kay-pang di kota Yang-tjiu itu?"
"Benar, tidak sedikit anak buah Kay-pang yang datang bersama dia,"
Sahut Goan-ko.
"Bagaimana dengan Kim Tiok-liu, dia ikut datang tidak,"
Tanya Lam-sing.
"Hanya Kim Tiok-liu saja yang tidak nampak datang."
"Aneh, apa sebabnya?"
Tanya Lam-sing heran.
"Kabarnya seorang diri dia pergi ke Sedjiang. Begitu Li Bo datang, aku lantas keluar mencari kau. Maka bila ingin lebih jelas lekas kau pulang menanyakan kepada Li Bo sendiri."
Dalam pada itu sesudah kembali ke kemahnya, semalam suntuk Kongsun Yan tak bisa pulas karena bergeloranya perasaan.
Menjelang pagi, ketika dia mau pulas saking lelahnya, tiba-tiba datang Hong Biau-siang memanggilnya.
"Budak malas, lekas bangun, marilah kita pergi menemui seorang Tatji yang baru datang."
"Tatji baru siapa?"
Tanya Kongsun Yan sambil melompat bangun.
"Tatji itu bernama Tjiok Hek-koh, tunangan Tan Kong-tjiau yang juga teman baik Kim Tiok-liu,"
Tutur Biau-siang.
"O, kiranya Kong-tjiau dan Tjiok Hek-koh sudah datang,"
Kata Kongsun Yan.
"Kau kenal mereka?"
Tanya Biau-siang.
"Pernah kudengar nama mereka dari ayahku,"
Sahut Kongsun Yan.
"Katanya, mereka adalah jago-jago angkatan muda pilihan. Tan Kong-tjiau adalah putera Tan-tayhiap dari Sohtjiu. Hanya asal-usul Tjiok Hek-koh tidak begitu jelas bagiku. Kabarnya dia mahir menggunakan racun, bisa jadi dia adalah orang Thian-mo-kau. Namun menurut penilaian ayahku atas tingkah-lakunya, dia terhitung juga seorang pendekar wanita dari kalangan yang baik."
"Kiranya kau lebih jelas akan diri mereka daripada aku, inilah sangat kebetulan, Tjiok-tjitji telah mengatur dia bersatu kemah dengan kau, tentu dengan cepat kalian akan menjadi karib."
"Cara bagaimana mereka datang ke sini?"
Tanya Kongsun Yan.
"Mereka juga datang bersama Li Bo, baru tiba tengah malam tadi. Kabarnya Tiok-pepek dan Le-toako telah mengadakan pembicaraan sepanjang malam dengan mereka."
Tergerak hati Kongsun Yan, katanya.
"Li-totju dari Yang-tjiu maksudmu? Nenurut Le-toako, Kim Tiok-liu berada di rombongan Kay-pang itu. Apakah dia juga sudah datang kemari?"
"Itu dia datang!"
Kata Biau-siang tiba-tiba.
"Apa? Kim Tiok-liu datang ke kemah kita ini?"
Kongsun Yan menegas heran. Biau-siang bergelak tertawa, sahutnya.
"Maksudku bukan Kim Tiok-liu, tapi Tjiok-tjitji dan Tiok-tjitji berdua yang datang kemari!"
Kiranya Kongsun Yan menghadap ke dalam, sehingga tidak melihat Tiok Djing-hoa dan Tjiok Hek-koh saat itu sedang memasuki tempat mereka.
Setelah berhadapan, baru Kongsun Yan hendak minta keterangan Tjiok Hek-koh, namun Tiok Djing-hoa sudah bicara.
"Kim Tiok-liu yang kalian pikirkan tidak datang, sebaliknya seorang di sini malah sudah berangkat lagi lantaran Kim Tiok-liu."
"Siapa yang berangkat?"
Tanya Kongsun Yan.
"Le Lam-sing!"
Sahut Djing-hoa. Kongsun Yan terkejut.
"Le-toako sudah pergi? Pergi kemana dia?"
"Kau jangan gugup dulu, dengarkan cerita Tjiok-tjitji,"
Ujar Biau-siang tertawa.
"Begini urusannya,"
Tutur Tjiok Hek-koh.
"Waktu kami lewat Lotjiu, dari orang Kay-pang di sana diterima suatu berita yang meyakinkan, katanya Su Pek-to dan adik perempuannya serta empat Hiangtju Liok-hap-pang mereka mendahului kami dari jalan lain menuju ke Sedjiang. Menurut berita, katanya Su Pek-to bermaksud mengawinkan adik perempuannya dengan panglima di Sedjiang yaitu Swe Beng-hiong. Mendengar berita itu, Kim Tiok-liu menjadi gelisah. Mestinya kami hendak mengitari Sedjiang terus ke sini, tapi demi menerima berita tadi, seorang diri Kim Tiok-liu lantas menuju ke Sedjiang."
"Mengapa dia menjadi gelisah begitu?"
Tanya Kongsun Yan.
"Adik perempuan Su Pek-to adalah nona yang cantik dan baik budi, sama sekali berbeda dari Su Pek-to sendiri, kabarnya Kim Tiok-liu berhubungan sangat baik dengan dia, mungkin sekali kedua orang sudah mengikat janji, cuma Kim Tiok-liu tidak mau mengaku,"
Tutur Hek-koh tertawa.
"O, kiranya demikian. Tapi seorang diri Kim Tiok-liu memasuki Sedjiang apa tidak berbahaya?"
Tanya Kongsun Yan.
"Ya, memang. Maka aku dan Kong-tjiau bermaksud ikut dia ke sana, tapi dia menolak. Mungkin dia menganggap kepandaian kami yang rendah tidak cukup untuk membantunya."
"Ah, Tjiok-tjitji terlalu rendah hati,"
Ujar Biau-siang.
"Cuma aku cukup kenal watak Kim-siauhiap, dia sendiri suka ugalugalan, tapi terhadap teman sangat baik sekali. Jika ada bahaya tentu dia tanggung sendiri dan tidak mau membikin susah teman."
Lantaran Kim Tiok-liu merangkapkan perjodohannya, maka Biau-siang menaruh kesan baik pada Kim Tiok-liu.
"Aku tahu, aku pun pernah mendapat pertolongannya,"
Ujar Hek-koh.
"Perundingan yang kami adakan semalam dengan Tiok-lotjianpwe juga mencari jalan cara bagaimana pergi membantu Kim Tiok-liu. Yang jelas di kota Sedjiang kekuatan pasukan musuh meliputi beberapa puluh ribu prajurit, jago-jago kelas tinggi juga berkumpul, Tioklotjianpwe tidak dapat mengerahkan pasukannya hanya untuk kepentingan seorang saja. Sebaliknya orang biasa juga sukar memasuki kota Sedjiang. Sebab itulah Le-toako sengaja berangkat sendiri, karena tekad Le-toako itu tidak dapat dicegah, terpaksa Tiok-lotjianpwe dan lain-lain tak bisa berbuat lain."
Kongsun Yan termanggu-manggu. Biau-siang tahu isi hatinya, katanya dengan tertawa.
"Entji Yan, Tiok-lotjianpwe pasti juga takkan meluluskan kepergianmu."
Muka Kongsun Yan menjadi merah, omelnya.
"Siapa bilang aku ingin pergi?"
Padahal ia memang sedang memikirkan akan mengajukan niatnya itu kepada Tiok Siang-hu, hanya saja kuatir ditertawai orang. Biau-siang berkata.
"Kepandaian Le-toako sangat tinggi, membawa pula Hian-tiat-pokiam, dengan Kim-siauhiap mereka berdua tiada tandingannya lagi, betapapun banyak jago yang terdapat di Sedjiang juga sukar mengurung mereka. Kukira Yan-tjitji tidak perlu kuatir."
Wajah Kongsun Yan tambah merah, omelnya.
"Tjis, siapa yang kuatir? Dia toh bukan aku punya Toako, kau sendiri juga panggil dia Toako."
Begitulah mereka bersenda-gurau dengan riangnya, walaupun begitu perasaan Kongsun Yan tetap tertekan.
Le Lam-sing berangkat sendiri menghadapi bahaya ke Sedjiang, betapapun ia merasa kuatir.
Malam itu Kongsun Yan gulang-guling di tempat tidurnya tidak bisa pulas, mendadak teringat olehnya.
"Aneh mengapa aku begini menguatirkan dia? Jangan-jangan aku benar-benar telah menyukai Le-toako?"
Tiba-tiba mengetahui rahasianya sendiri, tanpa terasa mukanya menjadi merah. Tetapi Kongsun Yan adalah gadis yang berani, pikirnya.
"Cinta kasih antara muda-mudi soal biasa, seumpama aku menyukai Le-toako juga bukan sesuatu yang memalukan. Letoako rela menghadapi bahaya bagi teman, kenapa aku tidak boleh menempuh bahaya bagi Le-toako? Jika aku mohon secara terang-terangan mungkin Tiok-lotjianpwe takkan meluluskan kepergi-anku. Biarlah aku berangkat secara diamdiam saja, bila mereka mau menertawai perbuatanku, biarkan mereka tertawa saja."
Begitulah setelah mengambil keputusan, seketika itu juga Kongsun Yan lantas bertindak seperti apa yang dia lakukan terhadap Hong Biau-siang tempo hari, diam-diam ia pun menutuk Hiat-to tidur Tjiok Hek-koh, lalu melompat keluar jendela terus meninggalkan Thay-liang-san.
Karena berangkat tanpa persiapan, maka Kongsun Yan tidak membawa rangsum sedikitpun.
Ia mengeluarkan Ginkang yang tinggi terus berlari, sampai pagi mendatang baru ia merasa perutnya lapar.
Tanah pegunungan sudah tentu tiada rumah penduduk, terpaksa ia mencari buahbuahan sekadar tangsal perut.
Tapi waktu itu meski belum musim dingin, namun di dataran tinggi barat-laut hawa lebih dingin daripada musim dingin di daerah selatan.
Sampai sekian lamanya tetap Kongsun Yan tidak menemukan buahbuahan yang dapat dimakan, bahkan binatang-binatang kecil juga tidak dijumpai.
Kongsun Yan menghela napas, ia pikir terpaksa harus menahan lapar sambil meneruskan perjalanan.
Baru saja keluar dari hutan situ, tiba-tiba cuaca berubah buruk, bunga salju mulai bertebaran, sedang ia masgul, tibatiba didengarnya suara berkeriutnya roda kereta.
Ia kegirangan, ia pikir paling tidak akan dapat meminta bantuan sedikit makanan kepada penumpang kereta itu.
Tapi mendadak terdengar pula suara orang membentak bengis.
Cepat ia memanjat ke atas sebatang pohon besar dan memandang jauh keluar hutan sana.
Tertampak dua orang berdandan seperti perwira sedang mencegat sebuah kereta keledai yang atapnya terbuka.
Di atas kereta tampak ada tujuh atau delapan orang, di antaranya seorang laki-laki tua, selebihnya adalah kaum wanita, semuanya membawa alat tetabuhan, agaknya seperti serombongan pengamen.
Terdengar kedua perwira itu sedang membentak.
"Turun, lekas turun! Siapa kalian ini, datang darimana dan hendak kema-na?"
Kongsun Yan terkejut ketika dari jauh melihat kedua perwira itu.
Kedua orang itu terdiri dari seorang tinggi dan yang lain pendek.
Yang tinggi berkepala gundul kelimis, yang pendek di pinggangnya terselip sepasang Boan-koan-pit.
Sebelumnya Kongsun Yan tidak pernah melihat kedua orang ini, tapi lantaran potongan mereka rada istimewa, maka begitulah segera Kongsun Yan dapat menerka asal-usul mereka.
Maklum, sebagai puteri pemimpin Ang-eng-hwe yang termashur, setiap tokoh Kangouw kenamaan tentu dikenalnya, tidak kenal orangnya tentu kenal namanya.
Dari ayahnya, Kongsun Yan pernah mendengar cerita bahwa ada seorang murid murtad Siau-lim-si bernama Peng Ki-yong, serta seorang bernama Lian Sing-hou yang terkenal sebagai ahli Tiam-hiat nomor satu, kedua orang ini adalah antek Perdana Menteri Tjo Tjin-yong yang berkuasa sekarang, karena perbuatan mereka yang sewenang-wenang, beberapa kali Kongsun Hong bermaksud membunuh mereka, cuma belum ada kesempatan.
Maka ia berpesan pada anak perempuannya harus hati-hati bilamana memergoki kedua orang itu di kalangan Kangouw.
Begitulah Kongsun Yan jadi mendongkol melihat kedua orang ternama itu hendak membikin susah wanita-wanita pengamen itu, ia pikir tak bisa tinggal diam menyaksikan kejadian itu, tapi menurut cerita ayahnya kepandaian kedua orang itu cukup tinggi, untuk melayani mereka mungkin harus menggunakan akal.
Dalam pada itu terlihat penumpang-penumpang kereta itu sudah turun semua, orang tadi sedang menjawab.
"Kami adalah rombongan sandiwara Lok-keh-pan, akan menuju ke Sedjiang."
"O, ke Sedjiang,"
Kata Peng Ki-yong.
"Apa kau pemimpin rombongan?"
"Benar,"
Sahut si kakek dengan hormat. Entah lantaran takut atau sebab lain, napasnya kelihatan terengah-engah.
"Baiklah, silakan kau istirahat dulu,"
Ujar Peng Ki-yong sambil menarik kakek itu ke samping.
Waktu menarik ia sengaja memegang urat nadi si kakek untuk mencobanya.
Tapi segera diketahui kakek itu sama sekali tidak memiliki tenaga dalam, rupanya si kakek juga tidak tahu bahwa orang sengaja hendak mengujinya.
"Biarpun menjadi abu juga aku kenal Ho-lotoa,"
Pikir Peng Ki-yong sambil melepaskan si kakek.
"Orang ini tidak paham ilmu silat, logatnya juga tidak cocok tentu dia bukan Ho-lotoa."
Dalam pada itu dengan pandangan tajam, mendadak Lian Sing-hou menuding salah seorang wanita pengamen itu dan bertanya.
"Siapa dia?"
"Anak perempuanku,"
Sahut si kakek.
"Apa kau ini penyanyinya?"
Tanya pula Lian Sing-hou. Nona itu tampak malu-malu, dengan menunduk ia menjawab pelahan.
"Baru belajar beberapa tahun, suaraku kurang baik."
Mendengar logat suaranya adalah logat daerah pegunungan barat-laut, sama sekali berbeda dari logat Soatang Ho-lotoa dan anak perempuannya yang mereka cari, mau tak mau Peng Ki-yong dan Lian Sing-hou menjadi raguragu.
Tapi mereka tahu pengamen-pengamen demikian mahir menyamar, betapapun harus diteliti lagi agar tidak tertipu.
Begitulah setelah mengamat-amati dengan sorot mata tajam, tiba-tiba Lian Sing-hou berkata pula.
"Bagus benar tusuk kundaimu itu, coba kulihat!"
Tusuk kundai bukanlah sesuatu benda yang mengherankan, tapi tusuk kundai perak yang dipakai nona pengamen itu memang sangat indah, terukir seekor burung Hong dan sangat hidup nampaknya.
Dengan mendengus Peng Ki-yong berkata.
"Hm, seorang wanita pengamen saja mengapa punya tusuk kundai sebagus ini?"
Si kakek cepat menyela dengan hormat.
"Tusuk kundai ini adalah emas kawin bakal mertuanya, calon suaminya adalah tukang emas pada suatu perusahaan perhiasan, tusuk kundai ini adalah buatannya sendiri."
"Mengapa tidak membikin tusuk kundai dalam bentuk lain dan mesti mengukir seekor burung Hong?"
Tanya Lian Singhou.
"Boleh jadi sebagai lambang Hong yang membawa rejeki,"
Sahut si kakek. Sudah tentu dari tempat persembunyiannya Kongsun Yan tidak jelas tusuk kundai apa yang dibicarakan, tapi tanya jawab mereka membuatnya terkejut, pikirnya.
"Kiranya Djayhong Tji-tji dia. Sungguh pintar cara menyamarnya, kalau tidak ada tusuk kundainya, aku pun tidak mengenal dia."
Kiranya nona pengamen itu tak lain tak bukan adalah Ho Djay-hong yang pernah hendak diculik oleh putera Tjo Tjinyong di tepi Thay-beng-oh waktu dia mengamen bersama ayahnya dalam perjalanan mencari tunangannya, yaitu Li Tun, syukur waktu itu Kim Tiok-Iiu dan Kiong Peng-hoan dari Angeng-hwe menolengnya dari gangguan Tjo-kongtju yang dijagoi oleh Peng Ki-yong dan Lian Sing-hou.
Peng Ki-yong dan Lian Sing-hou sekarang ditugaskan oleh Tjo Tjin-yong mengantar kado untuk pernikahan Swe Benghiong.
Sebagai panglima yang memegang kekuasaan meliter, Tjo Tjin-yong sengaja hendak memeletnya untuk memupuk kedudukannya supaya lebih kuat.
Sebab itulah sebagai Perdana Menteri ia tidak segan-segan mengutus kedua orang kepercayaannya itu mengantar kado kepada Swe Beng-hiong.
Begitulah Peng-Ki-yong dan Lian Sing-hou bertambah sangsi demi melihat tusuk kundai perak tadi.
Logat suaranya tidak cocok, tapi tusuk kundai itu agaknya menyerupai lambang dari nama si nona yang hendak mereka cari itu.
Setelah merenung sejenak, kemudian Lian Sing-hou bertanya pula.
"Untuk apa kalian menuju ke Scdjiang?"
"Besok lusa adalah hari pernikahan Swe-tjiangkun yang akan dirayakan secara besar-besaran di segenap pelosok kota, sebagai pemain sandiwara tentu kami tidak melewatkan kesempatan mencari nafkah yang baik ini,"
Sahut si kakek.
"Baiklah, kami percaya omonganmu, kebetulan kami juga akan menuju ke Sedjiang, anak perempuanmu ini boleh berangkat lebih dulu bersama kami,"
Kata Lian Sing-hou. Keruan si kakek terkejut, cepat ia menjawab.
"Ta.....tapi dia adalah sri-panggung kami, jika dia....."
"Justru karena dia adalah sri-panggung kalian, maka aku ingin membawanya berangkat lebih dulu dan menyuruh dia main di hadapan Swe-tjiangkun agar beliau gembira dan memberi hadiah kepadanya,"
Kata Lian Sang-hou dengan tertawa.
Baca Juga: Pendekar Bayangan Setan 7
Baca Juga: Misteri Pulau Neraka 4