Eps 9 Pendekar Jembel - Liang Ie Shen
Baca online Pendekar Jembel - Liang Ie Shen
Cersil Pendekar Jembel - Liang Ie Shen.
Kiranya Lian Sing-hou mencurigai penyamaran Ho Djayhong itu, maka ia sengaja hendak membawanya berangkat lebih dulu, setiba di kota Sedjiang, asalkan disuruh mencuci muka saja, pasti wajah asli Ho Djay-hong akan tampak lebih jelas.
Tentu saja Djay-hong menjadi kuatir.
Belum lagi ia berbuat apa-apa, sekonyong-konyong terdengar suara ringkikan kuda yang kesakitan.
Waktu Lian Sing-hou dan Peng Ki-yong menoleh, mereka menjadi kaget dan tak bisa bicara lagi.
Kiranya kedua ekor kuda yang tadinya diumbar di tepi hutan untuk makan rumput, sekarang sedang berlari-lari menahan sakit, pada bokong kuda-kuda itu menancap sebilah belati yang mengkilap.
Kejut dan gusar pula Peng Ki-yong berdua, serentak mereka membentak.
"Bangsat darimana, berani mengganggu kudaku!"
Tanpa menghiraukan Ho Djay-hong lagi mereka terus mengejar ke sana.
Sesudah menyambitkan dua buah belati sehingga kudakuda itu terluka, lalu Kongsun Yan sengaja tertawa mengikik di tengah hutan.
Segera Peng Ki-yong dan Lian Sing-hou membagi tugas, yang seorang pergi mengudak kuda-kuda yang lari kesakitan itu, yang lain mencari di dalam hutan.
Kongsun Yan sadar kepandaiannya kalah kuat daripada Peng Ki-yong, tapi Ginkangnya lebih unggul, apalagi Peng Kiyong tidak mengetahui tempat persembunyiannya, di tengah hutan yang rimbun itu sukar pula mencari jejaknya, maka Kongsun Yan lantas main kucing-kucingan untuk menggodanya.
Setelah berputar-putar di dalam hutan untuk memancing pergi Peng Ki-yong, lalu Kongsun Yan menyusup keluar lagi dari jurusan lain.
Karena tidak menemukan jejak musuh, bahkan bayangan pun tidak nampak, keruan Peng Ki-yong menjadi jeri, disangkanya kepandaian musuh jauh di atasnya, janganjangan akan masuk perangkap di tengah hutan lebat itu, maka cepat ia berlari keluar menggabungkan diri dengan l.ian Singhou.
Sementara itu Lian Sing-hou sudah berhasil menyusul kuda-kudanya, tapi karena keluar darah terlalu banyak, meski tidak mati juga kuda-kuda itu tidak bisa dipakai lagi.
Setelah berunding, Lian Sing-hou juga merasa ngeri, katanya.
"Ginkang orang itu sedemikian tinggi, entah keparat Kim Tiokliu atau bukan?"
"Asalkan kita selalu bergabung dengan rapat, betapapun bocah she Kim itu tak bisa mengapa-apakan kita,"
Ujar Peng Ki-yong.
"Entah dia membawa teman tidak, kukira lebih baik kita lekas berangkat ke Sedjiang saja,"
Kata Lian Sing-hou.
"Karena perempuan tadi toh juga akan menuju ke Sedjiang, biar dia berangkat sendiri saja. Setiba di sana masakah kita tak bisa menyelidikinya dia?"
Maklumlah mereka sekarang sudah kehilangan kuda tunggangan, jika membawa serta orang perempuan, akan berarti menambah beban perjalanan, maka terpaksa mereka mambatalkan niat membawa Ho Djay-hong.
Menunggu sesudah Peng Ki-yong berdua pergi jauh.
barulah Kongsun Yan keluar menemui Ho Djay-hong.
"Kongsun-moaytju,"
Seru Djay-hong terkejut bercampur girang.
"Kiranya kau yang bersembunyi di dalam hutan dan menolong aku. Mengapa engkau berada di sini pula?? "Ceritaku sangat panjang, coba ceritakan dulu kisahmu,"
Sahut Kongsun Yan.
"Bukankah kau sudah mendengar tadi, aku hendak mengamen ke Sedjiang,"
Sahut Djay-hong tertawa "Aku tidak percaya kau sudi ikut meramaikan perkawinan Swe Beng-hiong, katakanlah hal yang sesungguhnya!"
"Ya memang kami hanya pura-pura menjadi pengamen, yang benar kami hendak melakukan serangan gelap padanya"
Kongsun Yan terkejut, katanya.
"Betapa tinggi ilmu silat Swe Beng-hiong, jangan kalian anggap enteng!"
"Justru itulah maka diperlukan tenaga gotong-royong kita bersama"
Ujar Djay-hong, lalu ia memberi penjelasan lebih jauh.
"Menurut rencana Li Tua. tidak sedikit jago-jago yang akan ikut meramaikan pesta kawin Swe Beng-hiong, ada yang datang secara terang, ada yang secara gelap, cara yang dipakai juga berbeda-beda, aku biasa mengamen, maka menyaru sebagai pemain sandiwara kelilingan."
"Ya, kabarnya kau sudah menikah dengan Li Tun, dimanakah Tjihu?"
"Dia sudfJh berangkat lebih dulu. Rombongan ini terdiri dari kaum wanita semua kecuali pemimpin rombongan, ia merasa kikuk berada bersama rombongan ini."
"Tadinya kukira pimpinan rombongan inipun penyamaran ayahmu, kepandaian menyamar kalian sungguh pintar. Tadi kalau bukan tusuk kundai yang ditanyakan kedua bangsat itu, sungguh aku pun tidak akan kenal kau lagi."
Kiranya dahulu Ho Djay-hong ikut ayahnya berkunjung ke Ang-eng-hwe, tusuk kundai itu justru adalah hadiah pemberian ibu Kongsun Yan kepada Djay-hong.
"Sudahlah, sekarang giliranmu menceritakan urusanmu,"
Kata Djay-hong.
"Aku juga bermaksud minta bantuanmu untuk mengubah sedikit wajahku agar aku dapat ikut rombongan kalian ini ke Sedjiang,"
Sahut Kongsun Yan.
"He, jadi kau juga mau pergi ke sana?"
Djay-hong menegas.
"Benar,"
Segera Kongsun Yan menceritakan secara ringkas pengalamannya selama ini.
"Baiklah, akan kubantu kau bersolek, tanggung nanti tiada orang yang dapat mengenal kau lagi,"
Kata Djay-hong.
"Padahal jika kau tidak tergesa-gesa, besok lusa kau juga dapat ikut menggempur Sedjiang bersama pasukan pergerakan Thay-liang-san."
"Darimana kau mengetahui lusa pasukan Thay-liang-san akan menggempur kota Sedjiang?"
Tanya Kongsun Yan heran.
"Aku sendiri baru datang dari sana dan tidak mengetahui berita ini."
"Pihak Siau-kim-djwan yang dipimpin Leng Tiat-djiau merencanakan serangan pada malam lusa, dia sudah membawa pasukannya menuju ke Thay-liang-san untuk bergabung dengan Tiok Siang-hu, ayahku adalah penghubung dari Siau-kim-djwan dan Thay-liang-san, diduga petang hari ini beliau sudah bisa sampai di Thay-liang-san."
"Tapi lusa siang Swe Beng-hiong akan menikah, sedangkan pasukan pergerakan baru akan sampai di sana pada malam harinya, keramaian pesta perkawinannya sudah tidak keburu diikuti lagi, maka dipikir lebih baik berangkat lebih dulu bersama kalian,"
Kata Kongsun Yan tertawa.
"Jangan kau anggap mainan, katahuilah bahwa tugas rombongan kami ini cukup berat, bahaya yang kami hadapi juga cukup besar. Pasukan musuh yang menjaga Sedjiang sangat kuat, maka dikuatirkan serangan dari luar sukar membobol benteng kota, sebab itulah bantuan kita dari dalam kota sangat diperlukan."
"Ya, aku tahu tugas kita yang tidak ringan itu, setiba di dalam kota aku pun akan berhati-hati agar tidak dicurigai musuh,"
Sahut Kongsun Yan. Begitulah setelah menyamar, Kongsun Yan merasa dirinya telah berubah sama sekali, ia bertepuk tangan memuji.
"Bagus, sungguh bagus! Sampai aku hampir tidak mengenali diriku sendiri."
"Wah, runyam!"
Mendadak Djay-hong berseru karena teringat sesuatu.
"Ada apa?"
Tanya Kongsun Yan.
"Rombongan kita ini seluruhnya berdelapan orang, terdiri dari tujuh perempuan dan satu laki-laki, tadi kedua jahanam sudah menanyai kami, mungkin mereka masih ingat jumlah kita Jika nanti diketahui mendadak bertambah satu orang, tentu akan menimbulkan curiga mereka."
Kongsun Yan juga tercengang, hal ini memang perlu dipertimbangkan, tapi ia pun tidak ingin melepaskan kesempatan ikut masuk ke Sedjiang. Setelah berpikir ia berkata.
"Betapapun aku meski ke sana jika sekiranya kurang leluasa biarlah aku memisahkan diri saja toh sekarang wajahku sudah berubah, rasanya musuh takkan mengenali diriku."
"Jangan, jangan!"
Kata Djay-hong.
"Jika kau berangkat sendiri juga tidak baik. Begini saja boleh kau pura-pura menjadi orang sakit dalam rombongan kami, bila Peng Ki-yong dan Lian Sing-hou memeriksa kita waktu memasuki kota, maka akan kukatakan kau selalu berbaring di dalam kereta dan sudah sakit sekian hari, sudah tentu kita harus menempuh sedikit bahaya mungkin dapat mengelabui musuh."
Kongsun Yan pikir asalkan bisa bertemu dengan Le-toako, bahaya apapun juga aku sanggup menghadapinya Begitulah mereka lantas melaksanakan rencana tadi.
Kembali bercerita tentang Le Lam-sing yang berangkat sendirian ke Sedjiang.
Saat itu ia pun sedang menghadapi persoalan sulit karena tidak dapat masuk ke dalam kota.
Sebenarnya ia hendak menggunakan Ginkangnya yang tinggi untuk melintasi benteng kota di tengah malam buta tapi setiba di atas bukit tepi benteng, sekali pandang ia menjadi tercengang.
Ternyata di atas tembok benteng dipasang lampu terang benderang, senjata prajurit penjaga gemilapan bersiap di tempatnya.
Dalam keadaan demikian sudah tentu Le Lam-sing tidak dapat menyusup ke dalam kota.
Terpikir juga olehnya akan masuk kota di waktu siang dengan menyamar sebagai orang desa, tapi pertama, dia tidak mahir omong logat daerah, yang kedua, dia membawa pedang, orang desa mana yang pernah membawa senjata ke dalam kota?
Sebaliknya kalau Hian-tiat-pokiam tak dibawa serta, lalu kema-na harus ditaruh?
Sebegitu jauh Lam-sing belum memperoleh akal yang baik, tanpa terasa sang dewi malam sudah condong ke barat, sudah dekat subuh, turun salju pula sehingga lereng bukit sekitarnya laksana berlapiskan perak.
Ketika Lam-sing mendongak, tanpa sengaja tiba-tiba dilihatnya di atas bukit di depan sana muncul dua orang berpakaian perwira.
Lam-sing terkejut, lekas ia mencari tempat sembunyi.
Terdengar ada orang bertepuk tangan tiga kali, maka kedua perwira itupun bertepuk tangan tiga kali.
Sesudah itu dari semak-semak belukar sana mendadak melompat keluar seorang.
Lam-sing menjadi heran.
"Kiranya kedua perwira itu ada janji dengan orang. Aneh, mengapa mereka mengadakan pertemuan dengan seorang kampungan di tengah pagi buta begini?"
Belum lenyap pikirannya, tiba-tiba salah seorang perwira tadi membentak.
"Hah, Li Tim, kiranya kau! Lihatlah siapakah aku ini?"
Habis berkata orang itu lantas membuka kopyahnya sehingga tampak kepalanya yang gundul.
Kiranya laki-laki gundul ini adalah Peng Ki-yong dan perwira yang lain adalah Lian Sing-hou.
Mereka berdua telah dibikin kaget oleh Kongsun Yan di tengah jalan sehingga buru-buru menunju ke Sedjiang di tengah malam buta.
Tak terduga setiba di bukit di luar kota Sedjiang ini mereka mendengar tiga kali suara tepukan tangan Li Tun tadi.
Sebagai orang Kangouw yang ulung, begitu mendengar suara tepukan tangan Li Tun itu, mereka lantas tahu ada orang memberi kode pertemuan.
Sebab itulah mereka lantas membalas tepuk tangan tiga kali sehingga Li Tun terpancing keluar.
Sebenarnya Li Tun berjanji dengan dua orang lain, yaitu dua perwira rendahan di dalam kota yang menjadi mata-mata bagi pasukan pergerakan.
Karena malam gelap gulita.
Di tempat persembunyiannya, Li Tun melihat yang datang itu adalah dua orang, maka disangkanya adalah orang-orang yang telah berjanji dengannya itu, ketika mendengar jawaban tepukan tangan segera ia melompat keluar.
Yang ditakuti Peng Ki-yong dan Lian Sing-hou hanya Kim Tiok-liu saja, Li Tun bagi mereka adalah terlalu sepele.
Maka begitu mengenali Li Tun, segera Lian Sing-hou menubruk maju lebih dulu.
Li Tun mengeluh, dalam pada itu dengan cepat sekali Lian Sing-hou sudah menubruk tiba.
"Lihat serangan!"
Bentak Li Tun sambil mengayun tangannya.
"Blang", sebuah benda bundar yang dilemparkan Li Tun lantas meledak, di tengah sinar api disertai kabut tebal itu terdengar pula suara mencicit nyaring. Cepat Lian Sing-hou dan Peng Ki-yong melompat mundur sambil memukul, angin pukulan mereka dapat memadamkan api senjata rahasia Li Tun, kabut juga lantas buyar, jarum yang bercampur di tengah asap tebal tadi juga tersampuk jatuh semua. Akan tetapi sesudah asap buyar dan keadaan tenang, bayangan Li Tun pun sudah menghilang.
"Ingin kulihat kau dapat bersembunyi dimana?"
Jengek Peng Ki-yong.
"Lian-heng mari kita mencarinya dari dua jurusan."
Lian Sing-hou lebih licik, katanya dengan tertawa.
"Kita tidak perlu buang-buang tenaga percuma gunakan saja cara memanggang tikus untuk memaksa keparat itu keluar dari tempat persembunyiannya."
Baru saja Lian Sing-hou bermaksud menyalakan api untuk memaksa Li Tun keluar, sekonyong-konyong ada orang membentak.
"Kawanan bangsat kurangajar!"
Tiba-tiba Le Lam-sing melompat keluar terus menahas dengan pedang.
Semula Lam-sing tidak ingin mencari perkara, kemudian ia menjadi heran ketika mengenali senjata rahasia yang digunakan Li Tun itu adalah senjata rahasia khas Thian-mokau, maka barulah ia ingat nama Li Tun itu seperti sudah dikenalnya, kiranya dia inilah Li Tun yang pernah mencuri Pektok-tjin-keng di Tji-lay-san dahulu sebagaimana diceritakan oleh Kim Tiok-liu.
Begitulah ia menjadi tidak dapat berpeluk tangan setelah ingat Li Tun adalah sahabat Tiok-liu.
Melihat pendatang baru itu bukan Kim Tiok-liu, Peng Kiyong tidak gentar, ia balas membentak.
"Bocah darimana berani kau ikut campur urusan orang lain?"
Berbareng ia sambut kedatangan Lam-sing dengan pukulan dari jauh.
Tenaga pukulan Peng Ki-yong sangat dahsyat, kalau senjata biasa saja tentu akan terpental terkena goncangan angin pukulannya, tapi yang dipakai Lam-sing sekarang adalah Hian-tiat-pokiam yang beratnya ratusan kati, betapapun tenaga pukulan Peng Ki-yong tidak dapat membuatnya tergetar melenceng.
Ta-hu-talhu Lam-sing tetap menubruk maju dan tebasan Hian-tiat-pokiam tetap menyambar tiba.
Karena Peng Ki-yong terperanjat, hendak menghindar pun sudah kasip, tanpa ampun lagi tebasan Lam-sing itu membikin tubuh Peng Ki-yong terbelah menjadi dua.
Namun dada Le Lam-sing juga seperti kena godam karena tenaga pukulan Peng Ki-yong tadi.
Baru sekarang ia sadar bahwa yang terbunuh olehnya sesungguhnya adalah jago silat kelas berat.
Mula-mula Lian Sing-hou juga memandang enteng Lamsing, disangkanya Peng Ki-yong lebih dari cukup untuk membereskan seorang bocah ingusan begitu.
Tak terduga hanya sekali gebrak saja Peng Ki-yong yang berbalik dibereskan oleh 'bocah ingusan'.
Keruan tidak kepalang kaget Lian Sing-hou, dengan murka ia membentak.
"Anak jadah! Biarlah aku mengadu jiwa dengan kau!"
Sepasang Boan-koanpitnya lantas bekerja dengan cepat dan menghujani Le Lamsing dengan tutukan maut. Lekas Le Lam-sing memutar balik pedangnya untuk menahas, tapi luput.
"Bret", lengan bajunya berbalik tembus kena tutukan ujung potlot baja lawan. Segera ia berganti cara bertempur, la memutar Hian-liat-pokiam dengan rapat terus mendesak maju. Ilmu tutukan Lian Sing-hou sebenarnya adalah kepandaian khas dalam dunia persilatan, lincah dan gesit, jitu dan keji, tapi menghadapi Hian-tiat-pokiam ia benar-benar mati kutu, sedikit-pun tak berdaya Di tengah pertarungan sengit itu, mendadak sinar pedang Le Lam-sing memancar, satu jurus 'Hing-in-toan-hong' (awan melintang memotong puncak gunung) dilontarkan, sinar pedangnya menyambar ke pinggang lawan. Karena terpaksa, mau tak mau Lian Sing-hou menangkis dengan kedua Boan koan-pit. la yakin kedua potlot bajanya itu masih cukup kuat dan takkan terkurung meski ketemu pedang wasiat. Siapa tahu begitu terbentur Hian-tiat-pokiam.
"krek", bukan cuma kedua potlot bajanya terkurung semua, bahkan tangannya juga tergetar lecet.
"Tawan dia hidup-hidup!"
Seru Li Tun.
"Baik akan kukerjakan dia seperti cara dia mengerjakan orang lain!"
Kata Lam-sing sembari mendorong pelanan ujung pedangnya ke depan, kontan Hiat-to Lian Sing-hou tertutuk. Dengan girang luar biasa Li Tun lantas bertanya pada Le Lam-sing.
"Apakah benar saudara ini adalah saudara angkat Kim Tiok-liu?"
"Benar,"
Sahut Lam-sing.
"Kau mahir menggunakan Tokbu-kim-tjiam-ten, tentunya Li Tun, Li-toako. Tapi darimana engkau mengetahui Siaute adalah Le Lam-sing?"
"Aku mengenali pedangmu ini,"
Sahut Li Tun.
"Pada malam kalian membikin geger Liok-hap-pang di Yangtjiu, aku pun berada di sana, aku berjumpa dengan Kim Tiok-liu dan mengetahui kau terserang senjata rahasia nenek siluman she Ho itu, maka kami sangat menguatirkan dirimu. Syukur kau sudah sembuh sekarang."
"Kau berjumpa dengan Kim Tiok-liu? Jika demikian sekarang kau tentunya akan pergi ke Sedjiang untuk menemuinya lagi, bukan?"
"Betul, memang begitulah maksudku."
"Tapi penjagaan di Sedjiang ini teramat rapat, mungkin lalat pun sukar memasukinya."
"Jangan kuatir, aku ada akal baik,"
Ujar Li Tun.
Belum lenyap ucapannya, tiba-tiba terdengar suara tepukan tangan tiga kali, dari pengkolan sana muncul dua sosok bayangan.
Le Lam-sing mengira musuh lagi yang datang, baru saja ia bersiap hendak melabrak musuh, ternyata Li Tun sudah mendahului memapak ke sana sembari membalas tepuk tangan tiga kali.
Kedua orang berlari-lari mendatangi dengan napas tersengal-sengal, begitu berhadapan lantas berkata.
"Wah, celaka, Li-toako. Ai, apa daya kita?"
Mereka menjadi terkejut ketika mengetahui mayat yang menggeletak di situ serta melihat Le Lam-sing yang tidak mereka kenal.
"Le-toako ini adalah kawan baik kita,"
Tutur Li Tun tertawa.
"Kedua orang yang sudah menjadi mayat dan terluka ini adalah begundal Perdana Menteri dorna Tjo Tjin-yong, tadi aku salah mengenali mereka dan hampir terjebak muslihat mereka, untung Le-toako ini membantu aku."
"He, bukankah mereka ini adalah Peng Ki-yong dan Lian Sing-hou?"
Seru kedua orang itu berbareng.
"Kalian tidak mengira bukan?"
Uajr Li Tun.
"Kedua tokoh kenamaan dari Hek-to ini hanya satu gebrakan saja sudah dibinasakan dan dilukai oleh Le-toako."
Mendengar itu, seketika kedua orang itu menaruh penilaian lain dan amat kagum terhadap Le Lam-sing.
Sebaliknya di dalam hati Le Lam-sing merasa kikuk, sebab kalau tidak memakai Hian-tiat-pokiam mungkin yang terluka bukanlah lawan, tapi adalah dirinya.
Menyusul itu, Li Tun lantas memperkenalkan kedua orang ilu.
"Ini adalah Lau-toako dan yang itu Kwan-toako, semuanya icman kita yang dipasang di dalam kota Sedjiang, untuk masuk ke sana justru kita minta bantuan mereka ini."
"Tapi kami mungkin tak bisa membantu lagi,"
Sahut orang she Kwan itu dengan tersenyum kecut.
"Kalian masing-masing membawa serta seorang teman juga tidak bisa?"
Tanya Li Tun. Orang she Lau menjawab.
"Besok lusa adalah hari nikah Swe Beng-hiong, dia kuatir orang-orang Kangouw juga akan menyusup ke dalam kota untuk mengganggu hari baiknya, sebab itu dalam dua hari ini penjagaan diperkeras, hanya boleh keluar dan dari luar dilarang masuk. Sekalipun perwira bawahannya juga perlu minta izin lebih dulu jika ingin membawa anggota keluarga masuk ke kota. Apalagi kalian berdua berlogat daerah lain, rasanya sukar sekali untuk masuk ke sana."
Li Tun tersenyum, katanya.
"Aku punya akal."
Lalu dia menggeledah tubuh Lian Sing-hou dan mendapatkan sebuah kotak kado. Waktu kotak itu dibuka, ternyata berisi sepasang perhiasan kecil semangka jamrud.
"Sepasang semangka jamrud ini sedikitnya berharga sepuluh ribu tail perak,"
Kata Li Tun dengan tertawa.
"Maklumlah, kado pemberian Perdana Menteri memang lain daripada yang lain. Tapi entah betapa banyak darah keringat rakyat jelata yang telah dihisap olehnya."
"Apakah Li-toako punya maksud hendak menyaru sebagai orang suruhan dari istana Perdana Menteri dengan membawa ha-dian perkawinan ini?"
Tanya Le Lam-sing.
"Tapi Su Pek-to dan Swe Beng-hiong sudah kenal semua pada Siaute."
Ketika Li Tun menggeledah lagi mayat Peng Ki-yong, ia tidak menemukan surat atau benda lain.
Surat pengantar kado itupun cuma dibubuhi nama Tjo Tjin-yong tanpa menyebut siapa pengantarnya.
Rupanya Tjo Tjin-yong merasa malu jika sampai asal usul Peng Ki-yong dan Lian Sing-hou sebagai bekas penjahat diketahui, kemudian dilindungi oleh seorang Perdana Menteri, padahal Peng Ki-Yong berdua toh sudah dikenal oleh wali pihak pengantin perempuan, yaitu Su Pek-to, maka tidak perlu menegaskan siapa pengantarnya dalam surat pengantar kadonya itu.
Dengan tertawa Li Tun berkata.
"Tjo Tjin-yong tidak menjelaskan siapa dan berapa orang pengantar kadonya ini, maka di sinilah letak akal kita. Dengan menyamar kita dapat berpura-pura menjadi pengiring Lian Sing-hou."
Lau dan Kwan berdua bersorak akur, kata mereka.
"Akal ini sangat bagus. Pada waktu hendak menikah, tentu Swe Benghiong terlalu sibuk. Urusan dari Perdana Menteri tentu akan dia sambut sebagai tamu terhormat, sedangkan pengiring utusan tentunya akan dilayani tersendiri oleh bawahannya dan diberi tempat tinggal lain."
"Apakah Lian Sing-hou mau kita dalangi sesuka kita?"
Ujar Lam-sing.
"Le-toako mahir ilmu racun, tentu pernah mendengar cara menyerang racun dengan racun,"
Kata Li Tun. Baru sekarang Lam-sing paham, katanya.
"Ya, cuma sayang aku sendiri tidak suka memakai racun, maka tidak membawa sesuatu bahan racun."
"Racun juga mirip senjata sebangsa pedang dan golok, asal penggunaannya tepat, apa halangannya?"
Kata Li Tun.
"Letoako, harap kau membukakan Hiat-to keparat itu."
Dari ucapan Li Tun ini, Le Lam-sing tahu tentu dia membawa bahan racun yang diperlukan.
Benar juga, begitu Lam-sing membuka Hiat-to Lian Sing-hou, begitu pula Li Tun menusukkan sebatang jarum kecil ke dalam tubuh Lian Singhou.
Lian Sing-hou meraba dadanya yang kesemutan, tapi hanya sekejap saja lantas lenyap.
Sebagai seorang bekas bandit, pengalamannya cukup luas.
Ia tahu semakin hebat racun yang digunakan, semakin tiada terasa sakit.
Dengan gusar ia lantas berkata.
"Jika mau bunuh boleh lekas bunuh saja, kenapa kalian sengaja menyiksa diriku?"
"Kau membawa kami masuk kota, selesai urusan ini tentu tikan kuberi obat pemunahnya, kalau tidak jiwamu hanya tinggal tiga hari saja,"
Kata Li Tun. Terkejut juga Lian Sing-hou, tapi setengah sangsi, maka ia termenung diam saja.
"Setiap orang kami selalu memegang janji apa yang diucapkannya, kau sendiri mengenal orang-orang pergerakan kami, tentu kau cukup tahu,"
Kata Li Tun pula. Bingung juga Lian Sing-hou, ia masih bungkam tak bisa memberi jawaban. Li Tun dapat meraba pikirannya, katanya kemudian.
"Ya, sudah tentu sehabis urusan ini kau pun tak bisa pulang lagi pada Perdana Menterimu itu. tapi kau sendiri adalah keturunan keluarga persilataa, buat apa mesti menjadi budak orang? Bahkan setiap saat harus kuati' akan melayangnya jiwamu. Jika selanjutnya kau mau kembali ke jalan yang benar, biarpun hidup sederhana, namun dapat tidur dengan nyenyak."
Muka Lian Sing-hou sebentar merah sebentar pucat, malunya tak terkatakan.
Maklumlah asal-usul Lian Sing-hou tidak sama dengan Peng Ki-yong.
Karena kemaruk harta dan kedudukan, Peng Ki-yong berani mengkhianati perguruan dan mengekor menjadi antek kerajaan.
Lian Sing-hou sendiri adalah keturunan keluarga persilatan, dia telah salah bergaul dan tersesat, di waktu iseng sering juga ia menyesali perbuatannya yang menodai nama baik leluhur.
Bujukan Li Tun benar-benar kena pada lubuk hatinya, pikirnya "Paling-paling hanya mati saja, daripada mati menjadi kaki tangan orang, lebih baik mati berjasa bagi kaum patriot daripada mati konyol tanpa arti."
Berpikir demikian pikirannya menjadi terbuka, ia menyeka keringatnya dan berkata.
"Baik, aku akan menurut kepada Li-toako."
Li Tun mahir merias muka, segera dia sendiri dan Le Lamsing menjadi pengiring Lian Sing-hou dan benar juga dapatlah mereka masuk Sedjiang dengan lancar.
Sesudah masuk kota mestinya mereka menuju ke rumah penginapan resmi untuk istirahat, lalu Lian Sing-hou sebagai utusan mengantar kado ke istana panglima.
Menurut perhitungan Li Tun, dalam kesibukannya tentunya Swe Benghiong akan menyambut utusan Perdana Menteri sebagaimana layaknya dan tidak mungkin menjenguknya ke tempat penginapannya.
Siapa tahu dugaan Li Tun ternyata hanya tepat separoh, Swe Beng-hiong memang tidak datang menjenguk, tapi dia mengutus Su Pek-to sebagai wakilnya untuk datang menyambut utusan Perdana Menteri.
Sebelum mereka sampai di rumah penginapan resmi itu, tahu-tahu Su Pek-to sudah menunggu di sana.
Su Pek-to memang sudah kenal Lian Sing-hou, maka begitu bertemu ia lantas bergelak tertawa dan berkata.
"Aha, kiranya kau adanya. Tapi biasanya kau tidak pernah berpisah dengan Lau Peng, kenapa sekali ini dia tidak muncul?"
Terpaksa Lian Sing-hou berbohong.
"Tjo-kongrju ingin ke kotaraja, maka tuan besar mengirim Lau Peng ke Tjelam sebagai pengawai pribadi Tjo-kongtju."
"O, kiranya demikian,"
Kata Su Pek-to.
"Lian-heng, kau harus tinggal beberapa hari lebih lama di sini. Engkau adalah jago Tiam-hiat nomor satu di dunia ini, kesempatan berkumpul kita ini akan kugunakan untuk meminta belajar beberapa jurus ilmu tutukan darimu."
Pertemuan di antara jago-jago silat memang biasa saling memuji akan kepandaian khas pihak lain, dalam hal ini Su Pekto bicara sebagai wakil tuan rumah yang menghormati tamunya dan bukan sungguh-sungguh ingin belajar segala Tapi bagi pendengaran Lian Sing-hou, ucapan Su Pek-to itu kena benar di lubuk hatinya, mukanya menjadi merah.
Sepasang Boan-koan-pitnya sudah ditebas kutung oleh pedang wasiat Le Lam-sing, cara bagaimana dia dapat memainkan ilmu tutukan segala?
Ia pikir keganjilan demikian harus dijaga jangan sampai diketahui.
Dengan tertawa yang dibuat-buat lalu ia menjawab.
"Wah, sedikit kepandaianku yang tak berarti, mana berani ku-perlihatkan kepada jago nomor satu di dunia ini?"
Sebagai seorang ahli silat, sedikit memperhatikan saja Su Pek-to lantas tahu bahwa Lian Sing-hou tidak membawa sesuatu senjata, keruan ia menjadi heran, katanya dengan tertawa.
"Eh, mengapa ahli Tiam-hiat termashur seperti kau sampai ketinggalan senjata? Ini kan seperti juru tulis tidak membawa pena?"
"Di kota ini berkumpul jago-jago sebanyak ini, masakah aku kuatir tidak aman sehingga perlu membawa senjata segala?"
Sahut Lian Sing-hou dengan tertawa kikuk.
Sudah tentu jawaban ini tidak masuk akal, apakah di tengah jalan juga kau tidak perlu membawa senjata untuk menjaga diri?
demikian pikir Su Pek-to.
Tapi Lian Sing-hou adalah jago pengawal Tji Tjin-yong, hal ini tidak bisa dipalsukan.
Meski Su Pek-to menduga di balik hal ini tentu ada sesuatu yang tidak beres, tapi ia tidak berani membayangkan bahwa kedatangan Lian Sing-hou ini ternyata tidak menguntungkan Swe Beng-hiong.
Su Pek-to pikir tidak enak terlalu banyak bertanya, nanti kalau sudah berada di istana panglima tentu dapat dimintai keterangan lebih lanjut.
Lian Sing-hou juga kuatir dicurigai, cepat ia berkata.
"Supangtju, engkau tentu sibuk karena besok adalah hari bahagia adik perempuanmu. Jika perlu silakan saja kembali, nanti setelah selesai mengatur tempat pondokan segera akan kukunjungi Swe-tjiangkun."
Sekilas pandangan Su Pek-to berpindah dari Li Tun kepada Le lam-sing pula. Ia tambah heran karena kedua orang itu seperti sudah pernah dilihatnya entah diroana, segera ia menjawab.
"O, tidak apa-apa, kedua saudara ini....."
"Mereka adalah pengiringku,"
Sela Lian Sing-hou.
"He, kenapa kalian tidak tahu sopan santun. Su-Pangtju tanya pada kalian, kenapa kalian tidak lekas memberi hormat."
Li Tun dan Le Lam-Sing terpaksa melangkah maju dan memberi hormat, masing-masing memperkenalkan suatu nama palsu.
"Bahana, kalian tidak perlu banyak adat, mungkin kelak kita masih harus bantu-membantu, marilah kita bersahabat,"
Kata Su Pek-to sembari mengulurkan tangannya.
Rupanya Hiantiat-pokiam yang dibawa Le Lam-sing itu tidak terhindar dari perhatian Su Pek-to, maka lebih dulu ia hendak menjabat tangan Lam-sing untuk menjajal kepandaiannya.
Detik itu Le Lam-sing benar-benar menghadapi antara mati dan hidup, menghadapi ujian berat yang menentukan.
Ia tidak tahu apakah Su Pek-to sudah mengenalnya atau belum, jika tidak melawan dengan tenaga dalam, jangan-jangan Su Pek-to lantas menyerangnya.
Sebaliknya kalau menggunakan tenaga dalam tentu seketika asal-usulnya akan kenangan.
Ia pernah bergebrak beberapa kali dengan Su Pek-to, Lwekangnya yang khas sukar mengelabui Su Pek-to.
Sesaat itu pikiran Le Lam-sing berubah beberapa kali, akhirnya ia bertekad mengambil resiko dengan pura-pura tidak paham Lwekang, ia pura-pura menjerit kesakitan.
"Aduh, hebat benar tenaga Su-pangtju!"
Walaupun sudah timbul rasa curiga tapi Su Pek-to juga kuatir membikin celaka kaum hamba Perdana Menteri.
Maka ketika melihat orang memang tidak paham Lwekang, dengan tertawa ia lantas mengendurkan tangannya, katanya.
"Watakku memang kasar, harap kau jangan marah. Eeh, tampaknya saudara mahir main pedang, bolehkah kulihat senjatamu?"
Le Lam-sing mana berani memperlihatkan Hian-tiat-pokiam, sedapat mungkin ia bersikap tenang dan menjawab.
"Ah, hanya pedang biasa yang baru kubeli dari toko senjata besi tua, tidak ada harganya bagi Su-pangtju."
Diam-diam ia sudah mengambil keputusan bilamana Su Pek-to berkeras ingin melihat, terpaksa ia harus bertindak dan mengadu jiwa di tempat ini juga.
Syukurlah pada saat itu tiba-tiba tampak Wan-hay Hwesio berlari datang dan berkata.
"Pangtju, Tang Tjap-sah-nio minta engkau lekas pulang!"
"Ada urusan apa?"
Tanya Su Pek-to.
Melihat cara bicara Wan-hay yang serba susah itu, Su Peklo menduga tentu ada apa-apa yang tidak beres, ia pikir apakah terjadi sesuatu atas diri Su Ang-ing?
Melihat ada kesempatan, segera Le Lam-sing berkata "Rupanya Pangtju ada urusan, biarlah sebentar nanti akan kukunjungi engkau untuk minta belajar beberapa jurus ilmu pedang."
Su Pek-to pikir andaikan mereka adalah penyamaran musuh, sekali sudah masuk kota Sedjiang juga sukar lolos keluar lagi, maka ia lantas menjawab.
"Ah, tidak perlu, silakan kalian tunggu saja di sini, sebentar lagi aku akan kembali."
Begitulah Su Pek-to kembali ke kediamannya dengan tergesa-gesa. Setelah bertemu Tang Tjap-sah-nio, ia lantas bertanya "Terjadi apa lagi?"
"Hmm, bimyak juga tingkahnya tanya saja sendiri padanya"
Jengek Tang Tjap-sah-nio dengan mulut berjengkit ke kamar Ang-ing.
Waktu Su Pek-to ke kamar Su Ang-ing, dilihat adik perempuannya sedang berhias, tampaknya tenang-tenang saja legalah hati Su Pek-to, tanyanya "Moaytju, lusa adalah hari bahagiamu, janganlah kau membikin onar."
"Siapa bikin onar?"
Sahut Ang-ing.
"Tapi kau juga harus melaksanakan beberapa permintaanku jika kau ingin mendapat kedudukan dan kemewahan."
"Kau jangan mengemukakan macam-macam soal sulit, ndikku,"
Sahut Su Pek-to dengan mengiring tawa.
"Aku kira juga bukan soal sulit, sebaliknya kuyakin sangat mudah bila kau memang mau menuruti permintaanku,"
Kata Ang-ing.
"Kalau tak dapat kulaksanakan bagaimana?"
Tanya Pek-to.
"Jika soal-soal segampang ini juga tak bisa kau laksanakan, maka jangan kau harap lagi aku mau menikah dengan Swe Beng-hiong."
"Baiklah, coba kaujelaskan apa permintaanmu?"
"Liok-hap-pang kita adalah organisasi besar, maka pernikahan ini harus dirayakan secara besar-besaran dan semeriah-meriahnya"
"Sudah tentu, untuk ini kau tidak perlu kuatir. Orang-orang Swe-tjiangkun tentu akan mengatur dan dirayakan besarbesar-an.
"Tapi mengapa pintu gerbang kota Sedjiang tertutup rapat, rakyat dilarang masuk kota?"
"Eh, darimana kau tahu? Siapa yang mengatakan hal ini padamu?"
"Kau tidak perlu tanya darimana aku mendapat tahu, yang penting betul tidak hal ini?"
Dalam hati Su Pek-to menggerutu, orang terlalu usil mulut memberitahukan adik perempuannya ini, terpaksa ia menjawab.
"Ah, hendaklah adik jangan salah paham, justru Swe-tjiangkun kuatir terjadi kerusuhan pada hari bahagiamu lusa, makanya dia harus berlaku hati-hati. Terutama harus dijaga agar kawanan bandit Tiok Siang-hu di Thay-liang-san itu jangan sampai menyusup ke dalam kota."
"Merayakan pernikahan dengan menutup pintu kota, lalu dimana letak keramaiannya? Di kota ini bercokol berpuluhpuluh ribu prajurit pimpinan Swe Beng-hiong, ditambah lagi seorang Pangtju besar memangku sebagai jago nomor satu di dunia seperti kau, masakah masih takut akan dikacau orang? Hah, kalau hal ini tersiar, mustahil takkan dibuat tertawaan orang Kang-ouw? Mereka mungkin takkan menertawai kelicikan Swe Beng-hiong, tapi akan menertawai kalian yang berhati penakut seperti tikus."
"Kau tidak perlu membikin panas padaku,"
Sahut Su Pek-to.
"Tapi katakan saja apa sebenarnya kehendakmu?"
"Aku menghendaki setiap rakyat di bawah kekuasaan Swe Beng-hiong ikut bergembira ria, mulai besok pagi pintu kota harus dibuka secara bebas bagi keluar-masuknya penduduk. Mulai lusa, setiap rumah makan dan warung minum di dalam kota harus melayani rakyat jelata secara gratis, Swe Benghiong yang harus membayar."
"Wah, tak nyana kau juga gemar akan kemewahan."
"Kalau tidak, buat apa aku menjadi istri seorang Tjiangkun? Dengan demikian baru dapat dikatakan meriah. Mungkin korupsi Swe Beng-hiong sebulan dan uang gaji prajuritprajuritnya sudah lebih dari cukup untuk kerajaan ini."
"Ini bukan soal uang, tapi kalau kau berkeras harus demikian, biarlah nanti aku rundingkan dengan Swetjiangkun."
"Katakan padanya, jika tak sanggup melaksanakan, jangan harap bisa menikahi aku."
"Lalu ada syarat apalagi darimu?"
"Syarat kedua adalah urusan pribadiku, kau tahu Km Yok adalah pelayanku yang setia dia sudah mengikat janji dengan kakak, misalnya dia tidak ingin ikut aku ke rumah mertua maka aku pun tidak ingin memaksa dia Sebab itulah aku minta kau membiarkan dia pulang kampung saja."
"Syarat ini dapat kupenuhi, selesai pesta besar ini, akan kuantar dia pulang."
"Tidak, besok juga dia ingin pulang."
"Kenapa mesti terburu-buru? Seorang gadis juga kurang aman berangkat sendiri."
"Kutahu kau diperlukan Swe Beng-hiong untuk membantu dia mempertahankan kota ini, kukira dalam waktu sebulan dua bulan kau tidak mungkin pulang. Rupanya budak ini sudah terlalu merindukan rumah, pula aku sudah meluluskan permintaannya lebih baik dia pulang saja dulu. Sedikit banyak dia juga sudah belajar silat dariku, asal kau minta Swe Benghiong memberikan surat jalan padanya kukira takkan terjadi sesuatu dalam perjalanannya."
"Baiklah, kuterima permintaanmu ini. Lalu syarat ketiga?"
"Senjataku harus kau kembalikan padaku."
Kiranya senjata yang digunakan Su Ang-ing adalah cambuk lemas serta pedang pendek, keduanya telah dirampas Su Pekto waktu tertawan tempo hari.
"Sebagai pengantin baru, buat apa menghendaki senjata segala?"
Ujar Su Pek-to.
"Kutahu pikiranmu, kau kuatir aku mencelakai Swe Benghiong bukan? Hm, jika aku tidak suka menjadi isterinya, andaikan tiada senjata juga dapat kubunuh dia kalau mau. Dengan merampas senjataku, sama saja aku diperlakukan sebagai tawanan, aku tidak bisa menerima hinaan untuk kepentinganmu pula Besok kau suruh Tang Tjap-sah-nio saja yang kawin dengan dia."
Su Pek-to garuk-garuk kepala yang tidak gatal, sahutnya dengan tersenyum kecut.
"Apa-apaan kau ini, yang dikehendaki Swe-Tjiangkun adalah dirimu dan bukan Tjapsah-nio. Baiklah, cmbukmu akan kukembalikan, tapi pada hari upacara kau tidak boleh membawa senjata. Kan aneh jika pengantin baru membawa senjata segala."
"Yang penting kembalikan dulu senjataku, padahal dengan kepandaian Swe Beng-hiong yang tinggi itu masakah takut padaku. Kau melarang aku membawa senjata aku justru akan bawa, peduli amat."
Su Pek-to geleng-geleng kepala, katanya.
"Dasar budak kepala batu. Sudahlah terserah padamu."
"Dan masih ada satu syarat lagi, aku tidak suka pada cecongor Tjap-sah-nio. Mulai sekarang dia dilarang menginjak kamarku."
Kiranya sejak berada di Sedjiang, Su Ang-ing selalu didampingi Tang Tjap-sah-nio.
Bo-tan dan Kin-yok adalah dua dayang kepercayaan Ang-ing, tapi kedua budak itu sengaja disingkirkan keluar kamar oleh Tjap-sah-nio.
Su Pek-to pikir jika Tjap-sah-nio ditarik pergi, janganjangan budak ini akan membikin gara-gara lagi.
Tapi kalau tidak dituruti, mungkin juga akan timbul onar pula.
Terpaksa ia berkata "Baiklah, jika kau suka pada Bo-Tan, akan kusuruh dia melayani kau."
"Dan bagaimana dengan membuka pintu gerbang kota serta surat jalan bagi Kin Yok?"
Tanya Ang-ing.
"Saat ini juga akan kupergi bicara dengan Swe-tjiangkun,"
Sahut Pek-to.
"Eh, Tjap-sah-nio, ambilkan senjata Ang-ing."
Tjap-sah-nio berjaga di luar kamar, sudah tentu apa yang dibicarakan Ang-ing tadi didengarnya semua.
Segera ia mengangsurkan cambuk dan pedang ke dalam kamar dengan mendongkol, Su Pek-to sendiri yang menyerahkan kepada Ang-ing.
Seperginya Su Pek-to, Ang-ing lantas memanggil kedua pelayannya yaitu Bo-tan dan Kin-yok, pintu kamar lantas ditutup dari dalam, la tahu Tang Tjap-sah-nio pasti ingin mendengarkan di luar, sebab itulah mereka sengaja bicara hal-hal yang tidak penting dengan suara keras.
Namun tangan Ang-ing juga bekerja jarirya mencelup air teh buat menulis di atas meja dengan cara demikianlah mereka berunding dan mengatur siasat Kembali mengenai Su Pek-to, buru-buru ia menuju ke istana Tjiangkun hendak bicara dengan Swe Beng-hiong.
Tapi ia diberitahu oleh penjaga bahwa Tjiangkun sedang menerima utusan Perdana Menteri.
Tergerak hati Su Pek-to, kiranya Lian Sing-hou sudah datang menemui Swe Beng-hiong, bukan saja kedua pengiringnya itu mencurigakan, bahkan Lian Sing-hou sendiri juga rada aneh.
Segera ia berkata kepada penjaga.
"Harap panggilkan Ho-toa-nio."
Ho-toanio adalah mak inang Tjiok Hek-koh yang mahir menggunakan racun itu, kali ini ia pun ikut Su Pek-to ke Sedjiang.
Swe Beng-hiong telah mengenal kemahirannya maka diundangnya tinggal di istana sebagai tamu agung, diminta bantuannya mengatasi pengantin perempuan yang kepala batu itu dengan racun pada malam pertama nanti.
Waktu bertemu Su Pek-to, dengan tertawa Ho-toanio lantas berkata "Su-pangtju begitu sibuk, kenapa masih ada tempo buat bertemu dengan aku?"
"Tjo-taydjin mengirim seorang utusan, aku menaruh curiga padanya,"
Kata Su Pek-to.
"Bukankah utusannya itu adalah Lian Sing-hou? Sudah cukup lama dia mengabdi kepada Tjo Taydjin, masakah kau mencurigai dia?"
"Keluarga Lian terkenal dengan ilmu Tiam-hiat yang tiada bandingnya, tapi Lian Sing-hou ternyata tidak membawa Boan-koan-pit, coba aneh atau tidak?"
"Ya ini memang aneh, cuma Lian Sing-hou agaknya tidak berani mempunyai sesuatu pikiran jahat. Jika dia hendak berbuat apa-apa yang merugikan Swe-tjiangkun tentu senjatanya takkan ditinggal."
"Terhadap Lian Sing-hou sendiri aku memang tidak curiga, yang kucurigai adalah kemungkinan dia berada di bawah ancaman orang. Aku seperti pernah melihat kedua pengiringnya cuma tidak ingat dimana."
Ho-toanio baru paham maksud Su Pek-to, katanya "O, barangkali kau ingin bantuanku untuk memeriksa keadaan Lian Sing-hou, apakah dia keracunan?"
"Benar, ilmu silat Lian Sing-hou tidak rendah, jika dia sampai diancam orang, tentu dia telah terjebak oleh racun. Sebagai seorang ahli, sekali pandang saja tentu dapat kau ketahui."
"Tapi sekarang dia sedang bicara dengan Swe-tjiangkun, mana boleh aku menerobos ke sana untuk melihatnya."
"Apa susahnya"
Ujar Su Pek-to tertawa lalu ia mengemukakan tipu dayanya.
Berulang-ulang Ho-toanio memuji tipu bagus itu, segera ia melakukan apa yang direncanakan itu.
Saat itu memang Lian Sing-hou sedang berbicara dengan Swe Beng-hiong, tiba-tiba seorang nenek datang membawa teh.
Swe Beng-hiong tampak terheran-heran, katanya "He, Hotoanio, kenapa kau....."
Tapi Ho-toanio keburu mengedipinya dan memotong.
"Budak-budak cilik itu sama keluar entah kemana tiada orang yang melayani, terpaksa aku yang membawakan teh."
Lian Sing-hou mengira Ho-toanio adalah kaum hamba tua yiuig punya derajat lebih tinggi, maka ia pun tidak sangsi dan menyatakan terima kasih.
Baru saja ia hendak menerima teh itu, mendadak tangan Ho-toanio gemetar, cangkir teh yang dipegangnya tertumpah ke tubuh Lian Sing-hou.
Ho-toanio pura-pura kaget dan gugup, cepat ia mengusap-usap baju Lian Sing-hou.
"Tidak apa-apa silakan kembali saja kau,"
Kata Lian Singhou dengan serba runyam.
Tengah bicara, seperti tidak sengaja jari Ho-toanio mengusap tangan Lian Sing-hou.
Menurut kebiasaan kalangan pembesar, jika tuan rumah menyuguhkan teh untuk kedua kalinya berarti sudah waktunya sang tamu harus mohon diri.
Maka setelah Ho-toanio masuk, segera Lian Sing-hou berbangkit lantas pamit.
Tak terduga belum lagi Lian Sing-hou keluar ruang tamu, tampak Su Pek-to datang tergesa-gesa sambil berseru.
"Nanti dulu, Lian-heng!"
Lian Sing-hou tertegun, katanya kemudian.
"Adakah sesuatu petunjuk Su-pangtju?"
"Mohon Lian-heng memberi pelajaran beberapa jurus ilmu Tiam-hiat!"
Kata Su Pek-to sambil mencengkeram ke arah Lian Sing-hou.
Keruan Lian Sing-hou terkejut, cepat ia menangkis sambil menutuk, dengan tepat tangan Su Pek-to terhiruk, tapi sekali berputar, berbalik pergelangan tangan Lian Sing-hou lantas terpegang oleh Su Pek-to.
"He, ada apakah ini, Su-toako?"
Seru Swe Beng-hiong bingung, ia tidak tahu mengapa kedua orang yang sudah kenal baik itu hendak saling gebrak.
Mendadak Su Pek-to bergelak tertawa sembari melepaskan pegangannya katanya "Maaf Lian-heng, bukan maksud Siaute berbuat kurang ajar, soalnya Lian-heng sendiri ada penyakit, tapi pantang diobati, demi untuk menolong Lian-heng terpaksa Siau-te berbuat kasar padamu."
Ucapan ini membuat wajah Lian Sing-hou berubah menjadi pucat seketika. Sekarang Swe Beng-hiong juga tahu, di balik gebrakan mereka tadi tentu ada sesuatu yang tidak beres, segera ia bertanya.
"O, kiranya Lian-taydjin menderita sakit apa?"
"Bukan sakit, tapi kena jebakan orang,"
Kata Su Pek-to.
"Namun Lian-heng juga tidak perlu kualir, nenek yang mengantarkan teh tadi adalah tokoh Thian-mo-kau yang mahir menggunakan racun, dia juga mahir memunahkan racun."
"He, jadi Lian-taydjin keracunan?"
Swe Beng-hiong menegas dengan terkejut. Lian Sing-hou tergagap tidak berani menjawab. Su Pek-to lantas berkata.
"Menurut Ho-toanio, racun yang dideritanya kalau tidak diobati, dalam tiga hari tentu dia akan binasa, tadi waktu tutukannya mengenai aku, juga merasa tidak bertenaga, tampaknya apa yang dikatakan Ho-toanio bukan cuma untuk menakuti saja."
Baru sekarang Swe Beng-hiong sadar bahwa tindakan Su Pek-to tadi hanya untuk menjajal tenaga dalam Lian Sing-hou.
"Lian-heng, kita adalah sahabat lama, kau ada kesukaran apa marilah dirundingkan bersama,"
Kata Pek-to pula dengan tertawa.
"Benar, supaya Ho-toanio leluasa mengobati kau, silakan kau tinggal saja di sini agar kita pun dapat berbicara lebih leluasa,"
Kata Swe Beng-hiong. Begitulah dengan setengah bujuk dan setengah paksa, Swe Beng-hiong dan Su Pek-to lantas menggusur Lian Sing-hou ke dalam sebuah kamar rahasia, di situ Su Pek-to lantas bertanya.
"Lian-heng, tidak perlu kau mendustai aku lagi, kedua pengi-ringmu itu adalah palsu bukan? Apakah kau masuk perangkap mereka sehingga terpaksa diperalat mereka?"
Walaupun Lian Sing-hou ada pikiran buat kembali ke jalan yang benar, tapi tekadnya belum bulat.
Sekarang tahu rahasianya sudah tersingkap, ia pikir Ho-toanio dapat menyembuhkan racunnya sehingga tidak perlu mengandalkan Li Tun lagi, tanpa pikir segera ia mengaku terus terang apa yang telah dialaminya.
Kejut dan gusar pula Su Pek-to mendengar cerita itu.
"Hm, kiranya kedua bocah itu yang main gila."
"Hahaha, sungguh kebetulan mereka yang mau masuk jaring sendiri, sekali ini biar tumbuh sayap juga mereka takkan lolos lagi,"
Seru Swe Beng-hiong tertawa.
"Lian-heng, silakan istirahat saja di sini, nanti kalau kedua bocah itu sudah tertangkap, lantas kusuruh Ho-toanio mengobati kau."
Di balik kata-kata Swe Beng-hiong itu, seakan Lian Singhou hendak dijadikan sandera, keruan diam-diam Lian Singhou mengeluh, tapi apa daya, menyesal juga sudah terlambat.
Swe Beng-hiong dan Su Pek To lantas meninggalkan Lian Sing-hou, setiba di ruangan lain, Swe Beng-hiong berkata.
"Su-toako, syukurlah engkau telah memecahkan tipu muslihat musuh. Kedatangan Le Lam-sing tentu ada hubungannya dengan adik perempuanmu. Hm, dia berani mengacau di tempatku ini, jika aku tidak membikin dia menjadi abu, tidak terlampiaskan dendamku."
"Bocah she Le itu telah mencuri aku punya Hian Tiat-pokiam, aku juga ingin membinasakan dia,"
Ujar Su Pek-to.
"Li tun yang telah mengkhianati aku, dia juga pantas dimampuskan, biarlah sebentar aku sendiri pergi menangkap mereka."
"Kenapa tidak sekarang saja?"
Ujar Swe Beng-hiong.
"Kedua bocah itu tentu belum tahu tipu muslihat mereka sudah terbongkar, di kota ini masakah mereka mampu lolos?"
Ujar Su Pek-to.
"Apa barangkali Su-toako ada urusan penting lain?"
Tanya Beng-hiong.
"Ah, sebenarnya juga bukan urusan penting, hanya saja, ai, rada rikuh untuk dikatakan. Benar-benar sifat anak kecil adik perempuanku itu."
Swe Beng-hiong terkejut, cepat ia bertanya.
"Apakah..... Apakah ada perubahan urusan nikah ini?"
"Perubahan sih tidak ada, hanya dia ada beberapa permohonan kepadamu."
Lega sekali hati Swe Beng-hiong, katanya dengan terbahak.
"Hahaha, asalkan pernikahan ini berjalan lancar, antara suami-istri sendiri, permohonan apa yang tidak bisa kupenuhi?"
"Dia mohon Tjiangkun membuka pintu kota agar rakyat juga bisa ikut merayakan hari gembira kalian. Selain itu dia minta sebatang panah kebesaran sebagai ijin jalan untuk seorang pelayannya yang ingin pulang kampung. Justru permohonannya yang pertama kukuatirkan akan memberi kesempatan kepada kaum pengacau untuk menyusup masuk kota."
"Hahaha, hanya urusan kecil begini saja, boleh kau katakan kepada adik perempuanmu bahwa aku meluluskan semua permintaannya,"
Kata Swe Beng-hiong dengan tertawa "Soal keamanan akan kuperintahkan penjagaan diperkeras.
Apalagi setiap saat bila perlu kita dapat menutup lagi pintu gerbang kota.
Hanya saja pelayan yang hendak dipulangkan oleh adikmu itu kukira perlu diawasi."
"Pertimbangan Tjiangkun memang tepat,"
Kata Su Pek-to.
"Budak itu sejak kecil sudah dijual kepada keluarga kami, biasanya tiada sesuatu tingkah-lakunya yang mencurigakan. Sekarang mendadak dia minta pulang kampung, untuk amannya kita dapat mengirim seorang mengikuti jejaknya."
Begitulah setelah disepakati, Su Pek-to lantas mohon diri, langsung ia menuju ke tempat pondokan Le Lam-sing dan Li tun.
Tak terduga setiba di sana kedua orang yang dicari itu sudah keluar.
Menurut pengurus pondokan, katanya habis makan malam kedua orang itu lantas keluar hendak jalanjalan.
"Aku akan menunggu di sini, lekas kau mengirim orang pergi mencari mereka,"
Kata Su Pek-to.
Tak terduga meski sudah ditunggu sampai sekian lamanya tetap tidak nampak Le Lam-sing dan Li Tun pulang ke pondokan.
Orang yang disuruh mencari juga pulang dengan tangan hampa, katanya tidak menemukan jejak mereka.
Rupanya Su Pek-to mengira Li Tun berdua tidak ada persiapan apa-apa, padahal mereka sudah memperhitungkan segala kemungkinan.
Saat itu mereka bersembunyi di rumah seorang teman Li Tun yang sengaja ditanam di kota Sedjiang sebagai mata-mata.
Hampir tengah malam tetap Li Tun berdua tidak nampak kembali, tahulah Su Pek-to dirinya sudah tertipu.
Tapi apa boleh buat, terpaksa ia berpesan pada pegawai rumah pondokan itu untuk mencari lagi ke segenap pelosok kota Besok paginya Su Ang-ing minta Lengtji (panah kebesaran tanda ijin jalan) kepada Su Pek-to serta minta disediakan dua ekor kuda.
"Dua ekor kuda untuk apa?"
Tanya Pek-to.
"Akan kuantar Kin-Yok keluar kota"
Sahut Ang-ing. Pek-to mengerut kening, katanya "Besok juga kau akan menjadi pengantin, mana boleh berkeliaran lagi di luar?"
"Setiap orang tahu aku adalah wanita Kangouw, kenapa mesti takut keluar rumah?"
Sahut Ang-ing.
"Menurut kau, Swe Beng-hiong sudah menyanggupi membuka lebar pintu kota maka aku pun sengaja hendak memeriksa sekeliling kota ingin kulihat apakah janjinya terlaksana tidak?"
Karena tak bisa mengelak, terpaksa Su Pek-to berkata.
"Baiklah, akan kutemani kau."
"Hm, apakah kau kuatir aku lari? Jika mau lari, juga aku tidak perlu ikut ke sini,"
Jengek Ang-ing.
Munculnya Su Ang-ing di tengah kota seketika membikin geger segenap penduduk yang berduyun-duyun keluar hendak melihat pengantin perempuan.
Meski di sekeliling Ang-ing dijaga oleh pengawal-pengawal, tapi dimana Ang-ing lewat selalu dikerumuni orang, hanya saja mereka tak dapat mendekati Su Ang-ing.
Sampai di pintu gerbang timur, benar juga tampak pintu gerbang terbuka lebar, meski orang yang keluar-masuk tidak banyak, tapi cukup lancar, kebetulan pada saat itu ada sebuah kereta kuda hendak masuk kota, di atas kereta menumpang seorang kakek dan beberapa wanita muda.
Prajurit penjaga segera hendak memeriksa kereta itu, tapi cepat mereka memberi hormat ketika melihat kedatangan Su Ang-ing.
"Siapakah orang-orang di atas kereta itu?"
Tanya Ang-ing.
"Satu rombongan pemain sandiwara yang diundang panitia perayaan,"
Lapor komandan jaga.
"Jika rombongan seniman yang diundang panitia perayaan, kenapa mesti diperiksa segala? Dari sini dapat dibayangkan betapa peliknya kalian memeriksa rakyat jelata yang akan masuk ke kota, lalu apa artinya membuka pintu kota, lebih baik ditutup saja,"
Omel Ang-ing.
Keruan penjaga-penjaga itu menjadi ketakutan dan mengiakan berulang-ulang, kesempatan itu segera digunakan oleh kakek di atas kereta itu untuk melarikan kudanya ke dalam kota.
Wanita-wanita yang bergabung di atas kereta itu termasuk Ho Djay-hong dan Kongsun Yan, mereka merasa lega dan bersyukur Peng Ki-yong dan Lian Sing-hou tidak datang memeriksa sendiri.
Sudah tentu mereka tidak tahu bahwa saat itu Peng Ki-yong sudah binasa dan Lian Sing-hou sendiri lagi terkurung.
"Kudengar adik perempuan Pangtju Liok-hap-pang ini jauh berbeda daripada kakaknya, mengapa dia rela kawin dengan Swe Beng-hiong?"
Ujar Kongsun Yan dengan suara tertahan.
"Tak perlu mengurus dia, yang akan kita hadapi hanyalah Swe Beng-hiong,"
Ujar Djay-hong.
"Tapi juga kalau dia mengekor ke pihak sana, besok akan kupersen dia sebilah pisau terbang,"
Kata Kongsun Yan. Dalam pada itu di tengah hiruk-pikuk keramaian itu, tibatiba telinga Su Ang-ing mendengar suara orang berbisik.
"Tangkap ini!"
Kejut dan girang Ang-ing, terasa mendesirnya angin, cepat ia menangkap sesuatu yang menyambar ke arahnya.
Ketika diremas, kiranya adalah satu gulung kecil kertas.
Kuatir diketahui orang, lekas Ang-ing memasukkan gulungan kertas itu ke dalam saku.
Waktu ia memandang sekelilingnya, dilihatnya sang kakak sedang bicara dengan komandan jaga tadi dengan membelakanginya Prajurit-prajurit yang mengawalnya tetap siap siaga melihat gelagatnya ternyata tiada seorang pun yang mengetahui kejadian itu.
Tapi Ang-ing sendiri juga tidak menemukan orang yang menyambitkan gulungan kertas padanya itu.
"Cara menyambit senjata rahasia orang ini benar-benar maha sakti, jika dia tidak memperingatkan aku lebih dulu, sungguh sedikitpun aku tidak mengetahui pada zaman ini siapakah yang memiliki kepandaian setinggi ini?"
Demikian Ang-ing membatin.
Lebih-lebih cara mengirimkan suara bisikan tadi, jika tidak memiliki Lwekang yang sempurna, rasanya tidak mampu mengirimkan gelombang suara yang khas dari tempat jauh.
Seketika perasaan Ang-ing menjadi bimbang.
"Jangan-jangan dia sudah datang?"
Sekeluamya dari pintu kota, Ang-ing lantas menyerahkan panah kepada Kin-yok, katanya "Perpisahan hari ini sukar dibayangkan kapan dapat bertemu lagi.
Selamat jalan, semoga cita-citamu tercapai, bahagialah pasangan kalian."
"Harap Siotjita menjadi diri baik-baik, aku pun mendoakan cita-cita pasangan kalian akan tercapai dan hidup bahagia"
Ujar Kin-yok.
"Mungkin aku tidak punya rezeki seperti kau,"
Sahut Anging tersenyum getir.
"Sudahlah, boleh pulang sekarang,"
Sela Su Pek-to yang mengintil di belakang.
Begitulah Su Ang-ing dan Kin-yok berpisah dengan mengucurkan air mata.
Setiba kembali di kediamannya, Su Ang-ing menutup pintu kamar dan memeriksa gulungan kertas itu.
Ternyata kertas itu membungkus sebatang jarum perak, ujung jarum itu tampak kehitam-hitaman.
Ketika diteliti, di atas kertas itu tertulis pula tulisan-tulisan kecil yang berbunyi.
"Aku sudah datang, jangan kualir, simpanlah jarum berbisa ini, mungkin berguna". Ang-ing mengenali tulisan itu adalah tulisan tangan Kim Tiok-liu, keruan girangnya tak terkatakan, pikirnya.
"Ternyata benar dia sudah datang, tapi biasanya dia tidak memakai senjata rahasia berbisa, darimana dia memperoleh jarum beracun ini? Apa barangkali Le Lam-sing juga sudah datang? Mungkin mereka berdua sudah bertemu dan jarum ini adalah pemberian Lam-sing?"
Dugaan Ang-ing hanya betul separoh, Kim Tiok-liu dan Le Lam-sing memang sudah datang semua, cuma mereka berdua belum saling bertemu.
Jarum itu diperoleh Kim Tiok-liu ketika dia diserang oleh Ho-toanio di markas Liok-hap-pang di Yang tjiu.
Maksud Kim Tiok-liu dengan menyimpan jarum berbisa itu adalah hendak membalas dendam kepada Ho-toanio, sekarang jarum itu kebetulan ada gunanya.
Kembali bercerita tentang Kin-yok.
Sekeluamya dari kota, ia melarikan kudanya dengan cepat, tapi aneh, makin lama makin lambat lari kuda itu, tidak lama kemudian malahan mulut kuda berbusa, lalu tidak sanggup melangkah lagi.
Kiranya kuda pemberian Su Pek-to ini memang sengaja telah diberi obat tertentu.
Celakanya saat itu dia berada di tanah pegunungan sunyi, Kin-yok tidak punya pengalaman Kangouw, tapi melihat kudanya roboh binasa ia pun sadar gelagat tidak baik.
Tengah ia bingung, terdengar suara derapan lari kuda mendatangi, tahu-tahu Tang Tjap-sah-nio menyusul tiba, cepat Kin-yok berlari ke dalam hutan.
Tapi Tjap-sah-nio lantas membentaknya.
"Tidak perlu kau lari, lekas berhenti!"
"Eh, kiranya Tang-hiangtju adanya, kukira orang jahat tadi!"
Ujar Kin-yok dengan lagak takut-takut.
"Kebetulan kedatangan Tang-hiangtju, tolonglah hamba, entah mengapa mendadak kudaku ini mati."
Selagi Tang Tjap-sah-nio menyiksa Kin-yok untuk mendapatkan pengakuan isi surat Su Ang-ing, tiba-tiba Kim Tiok-liu muncul "Jika kau menurut perintahku, nanti kuberi seekor kuda padamu,"
Sahut Tang Tjap-sah-nio.
"Tang-hiangtju ada perintah apa?"
Tanya Kin-yok.
"Serahkan barang yang kau terima dari Siotjia,"
Pinta Tang Tjap-sah-nio. Segera Kin-yok merogoh keluar segenggam pecahan perak, katanya.
"Ini adalah sangu yang kuterima dari Siotjia. Tidak jadi soal kalau Tang Tjap-sah-nio mau mengambilnya, tapi aku akan kapiran di tengah jalan."
"Siapa ingin mengambil uangmu? Ada barang lain tidak, umpamanya surat?"
Kata Tang Tjap-sah-nio dengan gusar.
"Surat darimana? Engkau tahu sendiri, di kamar Siotjia toh tiada alat tulis segala"
"Adakah pesan pribadi Siotjia kepadamu? Lekas katakan!"
Muka Kin-yok menjadi merah, sahutnya dengan tergagap "Ini.....ini....."
"Ini itu apa? Lekas katakan!"
Bentak Tang Tjap-sah-nio. Kin-yok memperlihatkan rasa malu-malu dan berkata terpaksa.
"Siotjia tahu akan pertunanganku dengan kakakmisan, maka beliau memberi pesan....."
"Hus, siapa tanya urusan pribadimu? Yang kutanya adalah urusan pribadi Siotjia"
Bentak Tang Tjap-sah-nio.
"Lekas mengaku, dia menyuruh kau menyampaikan berita kepada siapa?"
"Berita apa? Tidak ada!"
Sahut Kin-yok.
"Hm, jika tidak, kuhajar kau, tentu kau belum kenal kelihaianku,"
Jengek Tang Tjap-sah-nio. Segera ia melompat turun dari kudanya kontan ia menampar tiga-empat kali pipi Kin-yok. Namun sekuatnya Kin-yok menahan sakit dan tetap tidak mengaku.
"Keras juga tulangmu ya? Sebentar kalau kugeledah dan ada buktinya tentu akan kusiksa kau,"
Ancam Tang Tjap-sahnio. Menyusul ia terus menutuk Kin-yok hingga tak bisa berkutik, lalu menggeledah badannya Tapi selain uang perak tadi, Kin-yok tidak membawa barang-barang lain.
"Jika tidak mengaku segera aku membelejeti bajumu sampai telanjang bulat,"
Jengek Tang Tjap-sah-nio pula.
"Breet,"
Ia trrus menarik baju Kin-yok hingga robek.
"Kau bunuh aku saja, buat apa kau menyiksa diriku?"
Teriak Kin-yok. Ia tetap tidak mengaku, tapi sikapnya kelihatan i.ikut.
"Enak saja permintaanmu!"
Jengek Tjap-sah-nio.
"Bret,"
Kembali baju rangkap Kin-yok dirobeknya.
Maka menjeritlah Kin-yok, terus jatuh pingsan.
Dari dalam bajunya mendadak terjatuh keluar sehelai saputangan yang terlipat rajin.
Cepat Tjap-sah-nio menjemput sapu tangan itu, baru saja hendak dibuka, tiba-tiba terdengar suara mendengingnya senjata i.ihasia cepat luar biasa senjata rahasia itu menyambar tiba sehingga Tjap-sah-nio tidak sempat menghindar, pergelangan tandannya tepat tertimpuk oleh sebutir batu kecil, saputangan tadi kembali jatuh ke tanah.
Dalam pada itu secepat angin sesosok tayangan orang menubruk tiba.
Sungguh kejut Tjap-sah-nio tak terkatakan, waktu ia mengungkai kepak, tahu-tahu bayangan orang itu sudah berada di depannya siapa lagi kalau bukan musuh kebuyutannya, Kim 1 iok-liu.
Kiranya Kim Tiok-liu sudah menyusup ke Sedjiang, setelah melemparkan gulungan kertas ke Ang-ing, mestinya bermaksud kembali ke pondokannya tapi tiba-tiba terpikir olehnya "Sedemikian serius Ang-ing mengantar keberangkatan seorang l>el Karena kesangsian itulah, segera ia mengitar ke pintu ger-Imng lain, lalu melintas keluar kota lantaran itu pula ia datang rdikit terlambat, tapi masih keburu. Tjap-sah-nio sudah mengenal kepandaian Kim Tiok-liu mg lebih tinggi dari dia, tiada pilihan lain, terpaksa ia nekad bertempur mati-matian. Di tengah berkebatnya sinar pedang dan bayangan cambuk, sekonyong-konyong terdengar suara "sret" Pelahan, ikat pinggang Tjap-sah-nio putus terpotong pedang Kim Tiokliu. "Anak jadah, berani kau menggoda aku!" Maki Tjap-sah-nio dengan muka merah. "Hehe, jangan kau salah paham," Sahut Kim Tiok-liu dengan tertawa. "Biarpun aku laki-laki, juga tidak sudi mengincar perempuan setengah tua macam kau. Soalnya kau ahli membe-lejeti pakaian orang lain, maka hanya dengan menggunakan caramu untuk dikerjakan atas dirimu saja, lain tidak!" Sungguh murka Tjap-sah-nio tidak kepalang, tapi sebelum dia mencaci-maki, tahu-tahu Kim Tiok-liu sudah menubruk maju lagi, jarinya sebagai kaitan tajam terus mencengkeram tulang pundaknya. Lekas Tjap-sah-nio mengegos, cambuknya lantas menyabet. Tapi dengan cepat luar biasa, pada saat itulah jari Kim Tiok-liu sempat menjepit leher baju lawannya terus ditarik. "bret" Tanpa ampun baju luar Tjap-sah-nio tertanggal. Tjap-sah-nio juga cukup lihai, sikutnya menyodok, tapi Kim Tiok-liu keburu meloncat ke atas sehingga cambuk lawan menyambar lewat di bawah kakinya. "Kau telah merobek pakaian orang dan tidak mau memberi ganti rugi, aku hanya menuntut keadilan saja, jangan menyeleweng pikiranmu," Seru Kim Tiok-liu dengan tertawa sesudah berdiri tegak kembali. Berbareng itu ia terus berlari ke samping Kin-yok, ia membuka Hiat-to yang tertutuk dan berkata padanya. "Perawakan Tjap-sah-nio hampir sama dengan kau, bajunya ini mungkin cocok bagimu." Tanpa pikir lagi Kin-yok lantas memakai baju luar yang ditarik Kim Tiok-liu dari badan Tjap-sah-nio tadi. Dengan gembira ia berkata. "Kim-tayhiap, harap kau persen dia beberapa kali tamparan!" Tjap-sah-nio menjadi gusar. "Kurangajar! Biar kubinasakan budak ini!" Berbareng ia terus menghamburkan senjata rahasia Tapi sekali memutar pedangnya Kim Tiok-liu menyampuk lemua senjata rahasia yang disambitkan Tang Tjap-sah-nio itu. "Ilahaha apakah tidak malu seorang Hiangtju hanya berani kepada kaum lemah? Aku berada di sini, kau bisa berbuat apa?" Katanya Habis berkata ia terus menubruk maju lagi dengan pedangnya. Cepat Tjap-sah-nio-memutar cambuknya untuk membela diri, namun baru dua-tiga kali gebrakan, tahu-tahu sebagian cambuknya tertabas putus oleh pedang Kim Tiok-liu. Di bawah kurungan sinar pedang Kim Tiok-liu, hendak mengadu jiwa juga sukar bagi Tjap-sah-nio. Mendadak rasa ngeri dirasakan oleh Tang Tjap-sah-nio, dia berharap bisa lekas mati saja Sekonyong-konyong ia mengacung ujung pedang pendek ke ulu hati sendiri. Tak terduga hendak membunuh diripun tidak bisa. Dengan cepat luar biasa Kim Tiok-liu menubruk maju terus merampas senjatanya "Aku ingin mati juga kau intangi?" Teriak Tjap-sah-nio. "Tidak perlu mati!" Sahut Tiok-liu tertawa. Sekali jarinya mcnyentik, dengan tepat Koan-goan-hiat di tengah telapak tangan tertutuk, cambuk terlepas dari cekalan, sekujur badan Tjap-sah-nio terasa lemas dan tidak bisa berkutik lagi. "Kau bukan biangnya penjahat, maka dosamu tidak sampai dihukum mati," Ujar Kim Tiok-liu. "Tapi kau ikut berbuat sewenang-wenang, hukuman badan tak bisa diampuni." Begitulah ia terus menampar muka Tjap-sah-nio beberapa kali, lalu ia berpaling dan bertanya pada Kin-yok. "Nah, apa sudah cukup?" Kin-yok tertawa gembira katanya kemudian. "Sudahlah cukup, Kim-tayhiap. Siotjia ada pesan suruh aku menyampaikan padamu." Lebih dulu Kim Tiok-liu melemparkan Tjap-sah-nio ke tengah semak-semak rumput. Hiat-to yang ditanaknya itu baru bisa terbuka sendiri dalam 12 jam kemudian. Ketika ia berpaling, dilihatnya Kin-yok menjemput saputangan tadi. "Apakah Siotjia yang menyuruh kau keluar kota mencari aku?" Tanya Tiok-liu. "Benar," Sahut Kin-yok. "Siotjia menyuruh aku mencari kau dengan minta bantuan Kay-pang, tak terduga di sini sudah lantas bertemu engkau." "Di dalam kota tadi aku sudah melihat dia, malahan aku sempat melempar secarik surat kepadanya cuma sayang tidak sempat bicara," Kata Tiok-liu. "Wah, sangat kebetulan jika demikian, aku pun membawakan surat Siotjia untukmu," Tutur Kin-yok. "O, dimanakah suratnya?" Tanya Tiok-liu. Kin-yok mengangsurkan saputangan tadi kepada Tiok-liu katanya "Tertulis di atas saputangan ini. Siotjia memang menduga engkau mungkin sudah berada di Sedjiang, maka hari ini beliau sengaja memakai alasan mengantar diriku, tujuannya hendak keliling kota Cuma beliau juga kuatir engkau tidak datang, maka telah disiapkan surat di atas saputangan ini." Tiok-liu sangat terharu akan cara mengatur Su Ang-ing yang rapi itu. Segera ia membentang saputangan itu, ternyata penuh tertulis huruf kecil merah, agaknya ditulis dengan menggunakan kuku dicelup pada gincu. Saputangan itu masih berbau harum. Isi surat terbagi dua bagian, yang pertama Su Ang-ing mengutarakan isi hatinya lebih dulu ia menjelaskan apa sebabnya 'menikah' dengan Swe Beng-hiong, tujuannya tiada lain hanya ingin membunuh panglima kerajaan yang lalim itu dan bukan rela menjual diri padanya akhirnya dirinya sudah bertekad untuk mati. Bagian kedua Ang-ing menyatakan rasa cintanya kepada Kim Tiok-liu, meski masing-masing belum mengemukakan perasaan, tapi ia percaya kedua orang mempunyai pikiran yang sama Hanya dikuatirkan tekadnya membunuh Swe Beng-hiong, maka perjodohan mereka hanya akan buyar seperti cermin rembulan di permukaan air saja. Surat itu tertulis dengan penuh mesra dan penuh perasaan, terutama pada bagian-bagian yang pernah menimbulkan salah paham Kim Tiok-liu dahulu. Saking terharu, Kim Tiok-liu menyesali diri sendiri pula yang tolol karena tidak memahami perasaan si nona tak tertahan lagi air mata Tiok-liu berlinang. Dalam keadaan biasa rasanya Ang-ing tidak mungkin mengutarakan isi perasaannya secara begitu berani dan blakblakan kepada Kim Tiok-liu, hanya pada saat ia sudah bertekad akan mati barulah berani ditulisnya. "Kim-tayhiap, kenapa kau menangis? Apa gunanya menangis? Kau harus berdaya menolong Siotjia itulah jalan satu-satunya yang tepat!" Seru Kin-yok. Tiok-liu tersadar, katanya. "Benar, aku harus cepat kembali ke sana dan berdaya menolong Siotjiamu, kau pun harus lekas berangkat!" Kuda Kin-yok sudah mati, untung masih ada kuda tunggangan Tjap-sah-nio tadi, maka Kin-yok lantas berangkat dengan kuda baru itu. Kim Tiok-liu menyimpan baik-baik saputangan yang penuh arti itu. Di dalam kegirangannya tiba-tiba timbul suatu pikiran. "Sedemikian cinta Ang-ing padaku, tapi belum tentu Le Lamsing Toako mengetahui hal ini. Dalam pikiran Le Lam-sing Toako mungkin menganggap persahabatan Ang-ing sebagai curahan perasaan cinta." Dari tulisan di saputangan tadi salah paham Kim Tiok-liu di waktu lampau menjadi lenyap semua Ia tahu perasaan Anging terhadap Le Lam-sing adalah persahabatan murni, maka tentang 'perkawinan' tempo hari, tanpa penjelasan juga Kim Tiok-liu paham isi hati Ang-ing. Teringat kepada 'pernikahan' itu, betapapun hal mana masih mengganjal di dalam hati Kim Tiok-liu. Bukti sudah menunjukkan bahwa kejadian itu hanya jebakan Su Pek-to untuk menipu Le Lam-sing, sebabnya Ang-ing pura-pura menyanggupi pernikahan itu juga karena nona itu menganggap Le Lam-sing Toako adalah sahabatku, tujuannya agar punya bala bantuan untuk menghadapi kakaknya. Tapi malam itu baru saja mereka masuk kamar pengantin, serentak juga terjadi pertempuran, entah Ang-ing sempat menjelaskan duduknya perkara kepada Le-toako atau belum. Le-toako sudah menjalankan upacara nikah, resminya Ang-ing adalah istrinya, mana boleh aku merebutnya lagi. Seumpama nanti dapat memberi penjelasan kepada Le-toako, tapi cara bagaimana aku harus bicara? Ai, hal ini tidak hanya akan membikin malu Le-toako, bahkan akan melukai hatinya. Begitulah Kim Tiok-liu berpikir. Ia tidak tahu bahwa yang melakukan upacara nikah tempo hari bukanlah Ang-ing sendiri melainkan seorang pelayannya, ha) itu telah diketahui semua oleh Le Lam-sing, bahkan karena merasa malu mencintai kekasih saudara angkatnya, maka saat itu Lam-sing menyusul ke Se-djiang dan ingin mencari Kim Tiok-liu untuk menjelaskan urusan ini. Cuma sayang, meski diketahui Kim Tiok-liu sudah berada di Sedjiang, tapi sukar untuk mencarinya. Malam itu, Le Lam-sing dan Li Tun sengaja meninggalkan pondoknya dan tinggal di rumah seorang teman Li Tun. Orang itu bernama Kwan Tay-Iun, dia bekerja dalam istana Swe Beng-hiong dan melakukan tugas mata-mata bagi pihak pemberontak. Lantaran dia punya jabatan tertentu di dalam istana Tjiangkun, maka penggeledahan besar-besaran pada malam harinya itu dapat terhindar, Le Lam-sing dan Li Tun dapat bersembunyi dengan aman di rumahnya. Tentang pengantin perempuan memperlihatkan diri di tengah kota telah membikin gempar seluruh kota, hal ini juga didengar Le Lam-sing dan Li Tun. Menurut dugaan Le Lamsing, mungkin sekali Kim Tiok-liu akan muncul di tempat yang dilalui Ang-ing, cuma sayang ia sendiri tidak dapat keluar. Menjelang lohor K wan Tay-lun kembali dengan membawa suatu berita, katanya. "Li-toako, kau jangan kuatir lagi, Toaso (ipar, maksudnya Ho Djay-hong, istri Li Tun) sudah masuk kota dengan selamat. Dia masuk kota dengan mencampurkan diri bersama rombongan pengamen. Waktu masuk kota, kebetulan bertemu dengan Su Ang-ing sehingga mereka terhindar dari pemeriksaan. Selain dia ada lagi seorang yang ikut menyusup masuk kota. Coba Li-toako terka dia? Kukira kau tak akan bisa menerkanya!" Li Tun sangat senang mendengar kabar istrinya telah masuk kota dengan selamat, katanya dengan tertawa. "Orang yang ikut datang bersama dia tentu juga kaum wanita apakah Tiok Djing-hoa, puteri Tiok Siang-hu." "Bukan, tapi Kongsun Yan, puteri Kongsung Hong, gembong Ang-eng-hwe," Tutur Kwan Tay-lun. "Hahaha, di luar dugaan bukan?" "Sungguh di luar dugaan," Sahut Li Tun terkejut girang. "Apakah Kongsun Hong juga datang ke Thay-liang-san sini?" "Kurang jelas," Sahut Tay-lun. "Tapi kedatangan anak perempuannya ke sini tentu akan membikin Su Pek-to berpikir dua kali." Maklumlah bahwa Ang-eng-hwe adalah organisasi besar yang pengaruhnya tidak di bawah Liok-hap-pang, kalau putri Kongsun Hong sampai ikut tampil ke muka membantu pihak pemberontak, mau tak mau Su Pek-to mesti hati-hati pada setiap langkahnya. "Orang kita sudah mengadakan kontak dengan rombongan pengamen, Toaso juga tahu engkau berada di sini," Tutun Kwan I ay-tun pula. "Cuma untuk keamanan, kuminta dia jangan dalang ke sini menjenguk engkau. Tentunya kau tidak marah bu-kun?" "Ah, sudah seharusnya begitu, jangan Kwan-toako menggoda aku," Sahut Li Tun tertawa. "Entah mengapa mereka pun mengetahui kedatangan Leloako ini," Kata Kwan Tay-lun. "Tapi orang kita yang kontak dengan mereka tidak tahu kalau Le-toako tinggal di sini, maka mereka malah meminta bantuan orang kita mencarikan kabar di-mana beradanya Le-toako." "Aneh, istriku belum pernah kenal Le-toako, darimana dia mengetahui akan dirinya?" Ujar Li Tim heran. "Kongsun Yan datang dari Thay-Jiang-san, mungkin dia yang memberitahu," Kata Lam-sing. "Katanya Kongsun-siotjia itu berulang-ulang menanyakan dirimu, apakah perlu diberitahu bahwa kau berada di sini?" Tanya Tay-lun dengan tertawa. "Kukira tidak perlulah," Ujar Lam-sing. "Ya, rombongan mereka tentunya juga di bawah pengawasan, sebaiknya orang kita jangan terlalu sering berhubungan dengan mereka," Ujar Li Tun. Setelah mengetahui Kongsun Yan juga datang ke Sedjiang, perasaan Lam-sing menjadi tidak tenteram, semalaman itu ia tidak dapat pulas, pikirnya. "Kedatangannya ini tentu di luar tahu Tiok Siang-hu dan tujuannya hendak mencari aku. Ai, tidak disangka sedemikian perhatiannya padaku dan rela menghadapi bahaya. Cuma sayang, mungkin aku harus mengecewakan maksud baiknya." Walaupun begitu pikirannya, tapi begitu Lam-sing mengatupkan mata, seketika bayangan Kongsun Yan yang menyenangkan itu lantas timbul dalam benaknya Esok paginya tiba 'hari bahagia' Swe Beng-hiong yang akan kawin, upacara ditetapkan berlangsung siang hari. Li Tun dan Lam-sing menyamar sebagai pengiring Kwan Tay-lun dan ikut masuk ke dalam istana Tjiangkun. Di dalam istana Tjiangkun sudah penuh dengan tamu, di luar ruangan upacara adalah pekarangan yang luas, di sebelah sana ada sebuah panggung sandiwara, sebelah lain ada pemain musik, ada lagi sebuah panggung pemain akrobat dan tontonan lain-lain. Di taman bunga sana juga ada macammacam tontonan. Orang-orang yang merasa tidak diundang, masuk ruangan upacara terpaksa berjubel di pekarangan luar untuk menonton keramaian di situ. Setelah berdesakan sampai di pekarangan situ, Kwan Taylun melihat banyak sekali pengawal berpakaian preman tersebar mengawasi orang-orang yang berlalu-lalang, yang lebih mengejutkan adalah di pintu masuk ruangan upacara dijaga oleh para Hiangtju dari Liok-hap-pang. Jelas kelihatan Tang Tjap-sah-nio, dan di sampingnya berdiri Djing-hu Todjin serta Wan-hay Hwe-sio. Dengan tatapan tajam mereka sedang mengawasi gerak-gerik tamu yang masuk keluar. Le Lam-sing ikut berdesakan dengan orang banyak dan sampai di samping undak-undakan, didengarnya Wan-hay Hwe-sio sedang berkata "Mana itu keparat Kim Tiok-liu, biarpun menjadi abu juga kukenal dia. Kalau dia berani datang, jiwaku melayang juga akan kubalaskan sakit hatimu kemarin." "Apa yang kau teriakkan?" Omel Tang Tjap-sah-nio. "Apakah kau sengaja hendak membikin malu diriku? Hm, kukuatir keparat itu takkan datang." Seperti diketahui, kemarin Tjap-sah-nio terhiruk oleh Kim Tiok-liu dan dilemparkan ke tengah semak-semak, mestinya 12 jam kemudian baru Hiat-to yang terhiruk akan terbuka sendiri. Untung Su Pek-to lantas mengirim Djing-hu Todjin dan Wan-hay untuk mencarinya lantaran sampai lama sekali Tjapsah-nio masih belum kembali, di semak belukar itulah Tjapsah-nio di-ketemukan, tentu saja Tjap-sah-nio sangat dendam kepada Kim Tiok-liu. Swe Beng-hiong juga terkejut ketika mendapat laporan kedatangan Kim Tiok-liu, makanya ia memperketat penjagaan istananya. Karena penjagaan Tjap-sah-nio dan teman-temannya yang ketat itu, Li Tun dan Lam-sing tidak berani mendekat. Terpaksa mereka mengurungkan maksud untuk masuk ke ruangan upacara dan mencampurkan diri di antara orang banyak, pura-pura menonton keramaian. Diam-diam Le Lam-sing bergirang mengetahui Kim Tiok-liu sudah datang, ia menduga Tiok-liu juga berada di pelataran luar situ, maka cincin kemala pemberian Kim Tiok-liu itu lantas dipakainya dengan harapan Kim Tiok-liu akan mengenalinya. Ia mencoba mengawasi orang-orang di sekitarnya, tapi sebegitu jauh tiada seorang pun yang dirasa mirip Kim Tiokliu. Kecewalah Lam-sing, ia heran mengapa saudara angkatnya itu tidak kelihatan. Sementara itu rombongan sandiwara mulai main, Ho Djayhong sedang menembang membawakan perannya di atas panggung. Li Tun mendesak ke depan panggung. Karena tidak menemukan Kim Tiok-liu, terpaksa Lam-sing juga ikut mendengarkan lakon sandiwara itu. Dilihatnya Kongsun Yan juga menyamar sebagai anggota rombongan sandiwara itu, cuma sepasang matanya yang besar itu mudah untuk dikenal. Baru saja Lam-sing memikirkan suatu akal untuk menyapa Kongsun Yan, tiba-tiba terdengar suara musik bergema disusul letusan mercon yang riuh. Kiranya joli pengantin perempuan sudah tiba. Su Pek-to tampak mengantar joli adik perempuannya dengan berjalan di belakang, para tamu di pekarangan luar lantas memberi jalan. Ketika joli diturunkan, Su Pek-to menuntun adik perempuannya keluar, lalu pengantin perempuan disongsong ke dalam ruangan upacara oleh seorang pengiring dan seorang budak, yaitu Bo-tan yang setia. Di waktu Su Ang-ing melangkah ke atas undak-undakan pendopo dan mau masuk ruangan upacara, baik Kongsun Yan dan Ho Djay-hong, maupun Le Lam-sing dan Li Tun, semuanya menjadi gelisah. Mereka bermaksud membantu Ang-ing membunuh Swe Beng-hiong, tapi hakikatnya mereka tidak diberi kesempatan mendekati sasarannya, terpaksa hanya menyaksikan Su Ang-ing memasuki ruangan dalam. Sudah tentu yang paling gelisah adalah Le Lam-sing, kedatangannya itu sudah bertekad akan mengorbankan jiwa sendiri untuk menolong Su Ang-ing sekadar menebus kesalahannya. Tapi apa daya, Tjap-sah-nio dan kawankawannya menjaga ketat di depan pintu, Su Ang-ing diawasi pula oleh Su Pek-to, tanpa Kim Tiok-liu, seorang diri tentu tak mampu berbuat banyak. Dalam pada itu terdengar musik upacara sudah bergema. Lam-sing bertambah gelisah, menuruti wataknya, sungguh ia ingin menyerbu ke dalam dengan segala akibatnya. Syukur Li Tun lantas menahannya dan berkata. "Sabarlah, bertindak menurut gelagat saja nanti." Pada saat itu tiba-tiba ada tiga orang mendatangi panggung sandiwara itu. Saat mana Ho Djay-hong masih menembang di atas panggung, ketiga orang itu masingmasing adalah An Tjun-ting, kepala rumah tangga istana Tjiangkun, yang kedua Lian Sing-hou dan yang ketiga ialah Ho-toanio. Kejut Li Tun tak terkatakan melihat kedatangan mereka, Lian Sing-hou mestinya sudah berada dalam cengkeramannya, tapi sekarang datang bersama An Tjun-ting tentu saja gelagatnya tidak enak. Cepat Li Tun menjawil Lam-sing, mereka lantas menguntit di belakang Lian Sing-hou bertiga. Belum Ho Djay-hong menghabiskan tembangnya mendadak An Tjun-ting membentak. "Berhenti!" Keruan pemimpin rombongan pengamen itu terkejut dan cepat maju minta ampun, sebab disangkanya tembang Ho Djay-hong itu tidak memenuhi selera pendengarnya. Kiranya Lian Sing-hou itu takut mati, di bawah desakan Su Pek-to dan An Tjun-ting, terpaksa ia mengaku terus terang apa yang terjadi atas dirinya serta tentang Li Tun dan Le Lamsing, B melaporkan pula rombongan sandiwara yang mencurigakan dan dijumpainya tempo hari itu. Memangnya An Tjun-ting sedang mencari jejak musuh, mendapat keterangan itu, segera mereka mendatangi rombongan Ho Djay-hong. Karena bentakan tadi, Ho Djay-hong pura-pura malu dan berhenti menabuh kendang, katanya "Barangkali tembangku tidak baik, mohon Taydjin memaafkan." Sekarang ia pun sudah melihat Li Tun dan Le Lam-sing di tengah orang banyak, maka ia harus bersikap tenang dan mengulur waktu agar Lam-sing berdua dapat mendekat. Namun Lian Sing-hou sudah lantas berkata dengan tertawa. "Nona Ho, kau tidak perlu main sandiwara lagi, kedokmu sudah terbuka. Hehe, lebih baik kau ikut kami masuk ke sana untuk menerima persen saja" "Eh, Lok-lothau," Kata An Tjun-ting kepada pemimpin rombongan sandiwara tadi. "Anggota rombongan tampaknya banyak juga nona-nona cantik, terutama yang itu. Suruhlah dia ikut kemari untuk menerima hadiah!" Berbareng ia menuding, ternyata yang dimaksudkan adalah Kongsun Yan. Kiranya An Tjun-ting juga seorang jago silat ulung, bahwa di tubuh Kongsun Yan tersimpan senjata tajam, sekali pandang saja diketahui olehnya. Dasar watak Kongsun Yan memang tidak sabaran, seketika ia lantas melolos senjata terus menubruk ke bawah. Terpaksa Ho Djay-hong juga ikut turun tangan, katanya dengan mendengus. "Lian Sing-hou Taydjin, kau ingin hadiah, biarlah aku yang memberi!" Berbareng ia terus menyambitkan pemukul kendang kecil itu. Pemukul kendang ini tampaknya terbuat dari kayu, tapi sebenarnya adalah baja yang dicat, ini adalah senjata rahasia khas milik Ho Djay-hong. Sebelum Kongsun Yan menginjak tanah, di pihak lain Hotoanio juga sudah bertindak, sekaligus ia menyambitkan tiga buah Tok-tjit-le, pelor berduri dan berbisa senjata rahasia ini cukup berat bobotnya. Ho-toanio menduga betapa tinggi Ginkang si nona juga sukar menghindari serangan tiga pelor berduri itu, paling tidak satu di antaranya pasti kena sasarannya. Tak terduga belalang menangkap tonggeret, dia sendiri diincar oleh burung gelatik. Pada saat senjata rahasianya menyambar ke arah musuh, mendadak terdengar suara gertakan orang yang menggelegar. Menyusul cahaya putih berkelebat, Le Lam-sing tahu-tahu melayang tiba sambil memutar Hian-tiat-po-kiam. Maka terdengarlah suara mendering nyaring memekak telinga tiga buah Tok-tjh-le yang disarnbitkan Ho-toanio tadi tertabas pecah menjadi enam buah dan mucrat ke segala penjuru, keruan para tamu sama menjerit kaget dan beramai-ramai lari menyingkir. "Le-toako, kau kiranya" Seru Kongsun Yan demi mengenali Lam-sing. Di sebelah sini Lam-sing berhasil menggagalkan serangan Ho-toanio, di sebelah sana alat pemukul kendang yang ditimpukkan Ho Djay-hong tadi juga disampuk jatuh oleh An Tjunting. Sebagai kepala rumah tangga istana Swe Beng-hiong, sudah tentu ilmu silatnya tidak lemah. Habis mencambuk jatuh alat pemukul kendang Ho Djay-hong, menyusul ia terus mencengkeram, yang dia mainkan ternyata Tay-lik-eng-djiaukang, cengkeraman cakar elang bertenaga raksasa yang lihai. "Robohlah kau!" Tiba-tiba terdengar bentakan Li Tun. Sebelum cengkeraman An Tjun-ting mencapai sasarannya, tiba-tiba angin bersiur dari belakang disertai bau amis, ternyata jarum berbisa yang disarnbitkan Li Tun sudah menyebar di dekat punggungnya. Keruan An Tjun-ting terkejut, cepat ia menggunakan gerakan 'Hui-go-tjiong-siau' atau burung dara terbang ke langit, ia meloncat sekuatnya sehingga tiga buah jarum berbisa menyambar lewat di bawah kakinya, karena itu pula ia pun tidak berhasil mencengkeram Ho Djay-hong. Ginkang Ho Djay-hong juga lumayan, ia terus melompat ke sebelah sana, pedang dilolos, Lian Sing-hou lantas ditusuk. Karena sudah dua hari terkena racun, percuma saja Lian Sing-hou memiliki ilmu silat tinggi, tapi tak bisa digunakan karena tak bertenaga lagi. Ia menghela napas putus asa menghadapi serangan Ho Djay-hong itu, katanya. "Memangnya aku tidak ingin hidup lagi, bolehlah kau bunuh aku!" Begitulah tanpa melawan ia menerima ajalnya. Tetapi sebelum Ho Djay-hong menamatkan riwayat Lian Sing-hou, tiba-tiba An Tjun-ting sudah menyusul tiba goloknya membacok dari belakang. Terpaksa Ho Djay-hong memutar balik pedangnya untuk menangkis. Li Tun lantas mendekati Lian Sing-hou dan menepuk bahunya, ejeknya. "Lian Sing-hou Taydjin, baik benar kau terhadap kawan. Karena kau lebih mengutamakan kedudukan, terpaksa aku tak bisa memberikan obat pemunahnya. Tapi aku pun tidak ingin membunuh kau, boleh kau pergi untuk menyesali dosamu saja." Lalu Li Tun melolos pedang, bersama Ho Djay-hong mereka bertempur bahu membahu, dengan rasa malu dan menyesal pula terpaksa Lian Sing-hou menyingkir pergi. "Bagus, bocah she Le!" Terdengar Ho-toanio berteriak pula. "Kiranya kau belum mampus, baiklah sekarang akan kusempurnakan kalian untuk menjadi pasangan sehidup semati." "Awas, cakar perempuan siluman ini berbisa!" Seru Lamsing. Dalam pada itu dengan cepat sekali cengkeraman Hotoanio sudah menyambar ke punggung Kongsun Yan. Tapi dengan amat gesit dapatlah nona itu mengegos ke samping. "Hari ini harus kupotong cakarmu yang jahat itu!" Kata Lam-sing dengan gusar, segera ia memutar kencang Hian-tiatpokiam. Tahu akan lihainya pedang wasiat itu, maka Hotoanio tak berani sembrono. Segera juga pengawal-pengawal berpakaian preman yang bercampur di antara tamu-tamu tadi lantas melolos senjata dan merubung maju membantu Hotoanio. "Ini, agar kalian kenal kelihaian nonamu," Bentak Kongsun Yan, sekonyong-konyong bayangan orang berkelebat kian kemari disertai gemerlap sinar pedang. Ia mengeluarkan Ginkangnya yang khas sehingga mirip kupu-kupu menari, ia menyusur ke sana kemari di antara orang banyak, suara nyaring benturan senjata berjangkit berulang-ulang diseling suara jeritan dan mengaduh. Hanya sekejap saja senjata para pengawal bertebaran di lantai. Kiranya dengan ilmu pedang kilat, urat nadi pergelangan tangan setiap pengawal itu kena tusukan Kongsun Yan, sedi-kitpun mereka tidak sempat menangkis. Saking semangatnya bertempur, Kongsun Yan terus membentak pula "Perempuan siluman, kau pun rasakan pedangku!" Berbareng Ho-toanio lantas ditusuknya Tapi tiba-tiba angin kuat menyambar, seorang laki-laki tegap tahu-tahu menyelinap di tengah-tengah mereka, sekali pegang, tahu-tahu pedang Kongsun Yan kena dirampas olehnya. Orang ini adalah The Hiong-toh, bandit besar daerah utara yang terkenal, semula ia dibeli oleh Sat Hok-ting, waktu Swe Beng-hiong menghadiri pesta ulang tahun Sat Hok-ting, melihat ilmu silat The Hiong-toh cukup tinggi, maka dia diundang pula ke Sedjiang untuk diangkat menjadi pelatih pasukan pengawal. Walaupun berhasil merampas pedang Kongsun Yan, namun pergelangan tangan The Hiong-toh tidak urung tertusuk pedang si nona, hanya tidak kena urat nadinya, maka tidak berbahaya. Melihat ada kesempatan baik, segera dua pengawal menubruk maju dan menusuk berbareng ke tubuh Kongsun Yan, melihat keadaan bahaya si nona Lam-sing sampai menjerit kuati r. Tapi dia terhalang oleh Ho-toanio sehingga tidak mampu menerjang ke sara. "Jangan kuatir, biar mereka pun kenal kepandaianku merebut pedang!"seru Kongsun Yan tertawa. Dua pengawal yang sedang menusuk tadi mendadak merasa tangan mereka menjadi enteng, pedang mereka terlepas dari cekalan berbareng. Dengan kepandaian khas, Kongsun Yan benarbenar telah merampas pedang kedua lawan, bahkan caranya lebih cekatan daripada cara The Hiong-toh merebut pedangnya tadi. "Satu tukar dua aku lebih untung malah?" Kata Kongsun Yan dengan tertawa sambil mengacungkan kedua pedang rampasannya Menyusui ia bergerak lagi, cepat ia mencegat di hadapan The Hiong-toh. "Lepas pedang!" The Hiong-toh bermaksud menggunakan cara tadi buat merebut pedang. Akan tetapi mendadak pedang di tangan kiri Kongsun Yan membalik ke belakang secepat kilat, maka terdengarlah suara mengaduh dan jeritan dua kali, dua pengawal di belakang Kongsun Yan tertusuk roboh. Serangan kilat yang disebut 'Seng-tong-kik-se' atau suara di timur yang diserang barat, benar-benar tak terduga oleh siapa pun, bahkan cara bagaimana Kongsun Yan merobohkan kedua pengawal itu tidak diketahui orang. Keruan The Hiong-toh terkesiap, pukulannya tadi luput, sebaliknya dua teman sendiri yang roboh, baru sekarang ia tahu ilmu pedang si nona ternyata jauh di atas penilaiannya ia tidak berani memandang enteng lawan lagi. "Nah, sekarang giliranmu, jika mampu boleh coba rebut lagi pedang ini!" Demikian Kongsun Yan mengejek. Sedikit menggeser, pedang lantas bergerak. Sebelum The Hiong-toh sempat melancarkan pukulan Thi-sah-tjiang yang dahsyat, tahu-tahu pundaknya terasa sakit, ternyata sudah terkena pedang Kongsun Yan. Sebenarnya ilmu pedang Kongsun Yan memang tak bisa di atasi oleh The Hiong-toh, soalnya tadi si nona tidak mau banyak menimbulkan korban jiwa maka yang ditusuk adalah perge-langan tangan, tak terduga kepandaian The Hiong-toh jauh lebih tinggi daripada para pengawal biasa lantaran salah perhitungan itulah pedang Kongsun Yan kena direbut oleh The Hiong-toh. Sekarang si nona sudah bersiap-siap, serangannya cepat dan ganas pula tentu saja The Hiong-toh mati kutu, bukan saja tidak mampu merebut pedang lagi, sebaliknya hendak menyelamatkan diri saja sukar. Setelah terluka The Hiong-toh menjadi nekat "Budak liar, biarlah aku mengadu jiwa padamu!" Teriaknya murka Dengan pukulan 'pasir besi' yang dahsyat ia pikir biarpun tertusuk pedang lagi juga akan menghantam mati si nona Tak terduga gerak tubuh Kongsun Yan ternyata sangat aneh, ketika pukulan The Hiong-toh dilontarkan, ia berbalik memutar tubuh membelakangi musuh. Selamanya The Hiongtoh tidak pernah melihat cara berkelahi demikian, ia menjadi tercengang. Sekejap saja lantas terdengar bentakan Kongsun Yan. "Kena!" "Plok-plok" Dua kali, menyusul kemudian terdengar suara "trang" Yang nyaring. Telapak tangan kiri The Hiong-toh tembus tertusuk, telapak tangan kanan tergores luka lantaran pukulan tangan kanannya lebih dahsyat, maka sebelah pedang Kongsun Yan juga kena dipukul jatuh. Kongsun Yan hanya kehilangan sebuah pedang, tapi kedua telapak tangan The Hiong-toh terluka semua bahkan lebih parah daripada luka pundaknya tadi. Keruan sakitnya tidak kepalang, The Hiong-toh mengerang sambil melompat mundur, tapi terus roboh ke belakang. Waktu itu Ho-toanio berdiri membelakangi The Hiong-toh, ketika merasa diseruduk oleh sesosok tubuh, entah kawan entah lawan, terpaksa Ho-toanio harus membela diri, ia mencengkeram ke belakang terus ditolak ke samping sambil membentak. "Pergi!" Kontan tubuh The Hiong-toh yang gede itu terlempar beberapa meter jauhnya Betapa cepatnya Kongsun Yan, seperti bayangan saja ia sudah menyusul tiba. "Sret", ia menambahi pula sekali tusukan, The Hiong-toh masih ingin melawan, kedua tangannya mengepal, tapi sebelum memukul, tahu-tahu tangannya menjadi lemas, rubuhnya terkulai binasa. Kongsun Yan menjadi heran, padahal tusukannya tadi tidak mengenai tempat yang mematikan, mengapa The Hiong-toh binasa begitu saja. la tidak tahu cakar Ho-toanio itu berbisa cengkeramannya tadi tepat mengenai luka di pundak The Hiong-toh, jadi kematiannya itu adalah lantaran serangan racun. Di lain pihak, karena cengkeraman dan tolakannya kepada The Hiong-toh, mau tak mau hal ini rada mengganggu perhatian Ho-toanio, sedikit merandek itu sudah cukup memberi kesempatan kepada Le Lam-sing untuk menyerangnya. Sekali pukul ia membikin Ho-toanio tergentak mundur, menyusul pedangnya lantas menahas. Yang diandalkan Ho-toanio adalah cakarnya yang lihai, mana ia sanggup menahan tebasan Hian-tiat-pokiam. Kedua tangannya bermaksud memukul, tapi berbalik tertabas kutung. Segera Kongsun Yan menambahkan satu tusukan lalu tak mempe-dulikan mati-hidupnya. "Lekas pergi membantu Li-toako!" Seru Lam-sing. Kongsun Yan mengiakan. Pada saat itulah mendadak terdengar suara gedebukan yang keras disertai jerit kaget orang. Kiranya Lian Sing-hou menjadi putus asa melihat Hotoanio sudah mati, ia membunuh diri dengan membenturkan kepalanya pada batu. Para tamu yang berjubel tadi sudah sama ketakutan oleh pertarungan sengit itu, dalam sekejap saja mereka sudah berlari pergi semua Maka sekarang pekarangan itu menjadi luang. Dua jago undangan Su Pek-to, yaitu Ko Tay-sing dari Djing-liong-pang dan Toh Tay-giap dari Pek-hou-pang, yang seorang memakai gada bergigi dan yang lain menggunakan gaetan, berbareng mereka menghadapi Le Lam-sing dan Kongsun Yan. Pedang Lam-sing lantas menabas, Ko Tay-sing menganggap tenaga pembawaannya memang luar biasa kuatnya tanpa pikir ia terus menangkis dengan gadanya. Tak tersangka "erat", tahu-tahu gadanya terkurung sebagian oleh Hian-tiat-pokiam, tangan Ko Tay-sing sampai lecet oleh getaran kedua senjata itu, cepat ia berkelit ke samping, gadanya masih tetap terpegang kencang olehnya. Le Lam-sing juga merasa tangannya kesemutan, ia tidak sempat menyerang lagi, segera ia menyelinap lewat di samping Ko Tay-sing. Sementara itu Kongsun Yan sempat juga menusukkan pedangnya. "Kau juga berani main gila padaku!" Teriak Ko Tay-sing dengan murka. Gadanya terus saja menangkis sekuatnya dengan maksud membentur jatuh pedang si nona. Tak tahunya pedang Kongsun Yan seperti melengkung saja "erat", tahu-tahu bahu kiri Ko Tay-sing tertusuk. Lekas Toh Tay-giap menubruk maju dengan kedua gaetannya yang khusus digunakan merebut senjata. Berulangulang Kongsun Yan menyerang, meski pedangnya tidak sampai terkunci oleh gaetan Toh Tay-giap, tapi sukar juga mematahkan lipu serangan lawan. Sesudah terluka, Ko Tay-sing menjadi semakin kalap, gadanya diputar sekencang kitiran sehingga membawa deru angin yang keras. Untuk melukainya lagi terang sulit bagi Kongsun Yan. Jelek-jelek Ko Tay-sing dan Toh Tay-giap adalah kepala dari suatu gerombolan ternama, ilmu silat mereka tidak lemah, dengan gabungan tenaga mereka lambat-laun Kongsun Yan menjadi kewalahan dan terdesak mundur. Yang paling tinggi ilmu silatnya di tengah pekarangan itu adalah An Tjun-ting. Meski Li Tun mengerubutnya bersama Ho Djay-hong masih terasa kewalahan. Untung Le Lam-sing keburu datang, kontan Hian-tiat-pokiam menabas dalam gerakan 'Lik-bik-hou-san' atau membelah Hoa-san sekuat tenaga. An Tjun-ting terkejut mendengar sambaran senjata tajam yang kuat, pikirnya "Hebat benar bocah ini, mungkin sukar melawan dengan tenaga!" Gesit juga caranya menyambut serangan lawan, lebih dulu ia menggeser ke samping untuk menghindari serangan Li Tun dan Ho Djay-hong, berbareng senjatanya Tjhit-tjiat-pian (ruyung tujuh ruas) berputar pelahan sehingga Hian-tiatpokiam Le Lam-sing terseret melenceng ke samping. Namun Hian-tiat-pokiam teramat tajam, meski An Tjun-ting dapat mematahkan serangan Le Lam-sing itu, tidak urung satu ruas ruyungnya tertabas putus. Kini di tengah pekarangan itu sebagian besar jagoan pengawal sudah terluka yang tidak terluka juga sukar ikut serta dalam pertempuran. Ketika Le Lam-sing menabas dan membabat tiga kali lagi, kembali ruyung An Tjun-ting terkurung dua ruas, ruyung tujuh ruas sekarang tinggal empat ruas saja. Keruan An Tjun-ting mulai gugup, anehnya pertempuran sedemikian dahsyatnya di luar situ ternyata tidak mendapatkan bantuan sedikitpun dari jagoan-jagoan di dalam ruangan upacara. Melihat gelagat jelek, terpaksa An Tjun-ting berteriak minta bala bantuan. Tak terduga pada saat yang sama di ruangan upacara juga terjadi hiruk-pikuk, berbareng ada orang juga berteriak minta bala bantuan dari luar, menyusul orang-orang sama berlari keluar dari dalam ruangan upacara, kiranya adalah para tamu yang menyelamatkan diri. Jelas di dalam ruangan upacara juga terjadi kegegeran, bahkan lebih hebat. Tadi dengan didukung Bo-tan, pelahan-lahan Su Ang-ing melangkah ke dalam ruangan upacara. Dari balik kerudung muka dapatlah Su Ang-ing melihat hadirin yang berada di situ, antara lain Bun To-tjeng, Bun Seng-tiong, Soa Djian-hong dan lain-lain, bahkan Yang Go, jago Siu-lo-im-sat-kang yang lihai juga tampak hadir, ditambah lagi kakaknya, yaitu Su Pek-to beserta ketiga Hiangtjunya. Boleh dikata ruangan upacara penuh dengan tokoh-tokoh ternama. Diam-diam Su Ang-ing kuatir juga melihat suasana demikian. Ia tidak menguatirkan dirinya sendiri, sebab ia sendiri sudah bertekad untuk mati. Yang dia kuatirkan adalah Kim Tiok-liu. Pemuda itu belum kelihatan, tapi ia yakin Kim Tiok-liu pasti akan datang. Namun menghadapi jago-jago sebanyak itu, mungkin sukar bagi Kim Tiok-liu untuk menyelamatkan diri bila mendadak ia muncul di situ. Dalam pada itu terdengar pembaca upacara sedang berteriak. "Upacara dimulai! silakan pengantin laki-laki keluar!" Maka muncullah Swe Beng-hiong dengan berseri-seri, tangannya membawa kipas lempit. Menurut adat kebiasaan setempat, pengantin laki-laki harus menyingkap kerudung muka pengantin perempuan dengan kipasnya, habis itu sepasang mempelai lantas sembahyang. Munculnya pengantin laki-laki, dengan sendirinya Su Pek-to yang mengantar pengantin perempuan harus menyingkir ke pinggir, pengantin perempuan hanya diiringi oleh pelayannya saja. Ketika pengantin laki-laki menjulurkan kipasnya, tiba-tiba terdengar pengantin perempuan mendengus, menyusul pengantin laki-laki berseru. "Kau....." Sekonyong-konyong pengantin perempuan menyingkap kerudungnya sendiri, tangan kanan sudah memegang sebilah pedang pendek, tangan kiri memegang cambuk panjang, cambuk menyabet ke samping, pedang pendek terus menikam ke dada pengantin laki-laki. Kiranya pada saat Swe Beng-l.iong hendak menyingkap kerudung mukanya tadi, mendadak Su Ang-ing menancapkan jarum berbisa yang telah disisipkan di jarinya itu ke bahu Swe Beng-hiong. Cambuk dan pedang pendek Su Ang-ing itu disembunyikan di tubuh pelayannya, yaitu Bo-tan. Swe Beng-hiong dan Su Pek-to hanya memperhatikan Su Ang-ing saja dan tidak mencurigai pelayan yang ikut di belakangnya itu. Sama sekali mereka tidak menduga bahwa budak itu berani berkomplot dengan Su Ang-ing tanpa menghiraukan nyawanya sendiri. Gerakan Su Ang-ing menyambitkan jarum berbisa, mengambil cambuk dan pedang dilakukan serentak secepat kilat. Di tengah jeritan orang banyak, tiba-tiba pedang pendek Su Ang-ing sudah menikam ke dada Swe Beng-hiong. Sekalipun di tengah ruangan itu penuh jago terkemuka juga susah menolongnya. Sesaat itu semua orang sama menahan napas, mereka menduga Swe Beng-hiong pasti akan binasa tertikam. Tapi lantas terdengar suara "Jret" Pelahan, Swe Beng-hiong tampak melompat mundur dan tidak roboh, bahkan dadanya tidak nampak berdarah. Rupanya Swe Beng-hiong yang sudah berpengalaman luas, ilmu silatnya juga tinggi meski sudah terkena jarum berbisa lebih dulu ia tidak menjadi gugup. Pada detik yang gawat itu ia tidak sempat melolos senjata untuk menangkis, segera ia menggunakan kipasnya, kipas itu dibentangkan, menggunakan tenaga dalam yang tinggi ketika tikaman Su Ang-ing sampai, kipas itulah yang tertembus, sehingga tikaman meleset mengenai dadanya. Hampir berbareng dengan tembusnya kipas Swe Benghiong itu, terdengarlah suara jeritan dan jatuhnya tubuh beberapa kali. Kiranya Su Ang-ing menyerang sekaligus dengan pedang dan cambuk berbareng. Ketika pedang menikam ke depan, cambuknya juga menyabet ke samping sehingga beberapa tamu jatuh terkapar dan menjadi penghalang di tengah Swe Beng-hiong dan Su Ang-ing. Tamu-tamu yang mendapat kehormatan mengikuti upacara perkawinan Swe Beng-hiong itu sudah tentu terdiri dari orangorang kalangan atas, namun Swe Beng-hiong tidak mempeduli-kan lagi, siapa saja yang merintangi di depannya terus didorong ke samping. Dalam pada itu dengan cepat sekali Su Ang-ing sudah menyapu lagi dua-tiga kali, keruan tamu-tamu yang menjadi korban bertambah banyak dan bergelimpangan memenuhi ruangan. Kejut dai gusar Su Pek-to, ia membentak. "Budak liar! Apa kau mau memberontak, apa kau sudah bosan hidup?" "Benar, memang aku mau memberontak, aku sudah bosan hidup!' jengek Su Ang-ing. "Tapi kematianku harus disertai salah seorang di sini, ialah Swe Beng-hiong yang kau jilat itu." Swe Beng-hiong berlagak tenang, serunya dengan tertawa. "Haha, hanya sebuah jarum kecil saja mana mampu membikin jiwaku melayang, nona Su, lebih baik taruh senjatamu dan lekas minta maaf kepada para tamuku, segala urusan masih dapat kita rundingkan." Yakin pada Lwekangnya sendiri yang tinggi, semula Swe Beng-hiong memang tidak kuati r terhadap sebuah jarum berbisa sekecil itu. Tak terduga belum lenyap suaranya, tibatiba setengah badan terasa kaku, baru sekarang ia sadar jarum berbisa itu tidak boleh dianggap sepele, cepat ia mengatur napas dan mengerahkan tenaga untuk melawan serangan racun, ia tidak berani sembarangan bergerak lagi. "Swe-tjiangkun, silakan kau masuk dan mengaso dulu, budak hina ini serahkan kepadaku saja," Kata Su Pek-to. Sambil memutar cambuknya yang tidak pernah berhenti Su Ang-ing membentak. "Kau berani maju? Jika maju, maka yang mati bersamaku tidak cuma seorang saja!" "Hm, kepandaianmu adalah ajaranku, masakah kau berani main gila padaku?" Jengek Pek-to. Berbareng ia terus memukul dari jauh, angin pukulannya yang dahsyat membikin cambuk Su Ang-ing tergoncang ke samping, menyusul Su Pekto lantas menubruk maju. "Eb, jangan sembrono, Su-pangtju!" Teriak seorang ajudan Swe Beng-hiong. Rupanya di lantai banyak bergelimpangan tamu-tamu yang berkedudukan tinggi, jika Su Pek-to jadi berkelahi dengan adik perempuannya, terang tubuh tamu-tamu tingkat tinggi itulah yang akan menjadi korban karena terinjak-injak. "Jangan kuatir!" Sahut Su Pek-to. Ia terus melangkah maju, mendepak berulang-ulang, para tamu yang menggeletak di lantai itu ditendangnya ke ambang pintu satu persatu. Anehnya orang-orang yang ditendang itu jatuhnya lantas berdiri tegak seperti bukan ditendang, tapi diangkat orang untuk kemudian didirikan secara halus. Kiranya cara Su Pek-to melontarkan tenaga tendangan sedemikian bagusnya sehingga tamu-tamu itu sedikitpun tidak kesakitan. Sebaliknya cambuk Su Ang-ing tergoncang pergi oleh angin pukulan Su Pek-to, sehingga tidak mampu berbuat apa-apa. Begitulah para tamu yang diselamatkan itu cepat lari terbirit-birit, ada beberapa di antaranya saking ketakutan menjadi lemas dan jatuh terkulai lagi, cepat ajudan Swe Benghiong tadi memerintahkan pengawal-pengawal memayang mereka keluar. Dalam sekejap saja ruangan itu sudah bersih dari tamu-tamu yang mengganggu. Hanya tinggal Bo-tan saja yang masih berada di sebelah Su Ang-ing. Gemas sekali Su Pek-to kepada pelayan yang berani bersekongkol dengan Ang-ing itu, ia membentak, sebelah kakinya lerus menendang Bo-tan. Cepat Su Ang-ing mengayun cambuk sekuatnya untuk memaksa Su Pek-to menarik kembali tendangannya tapi mendadak Su Pek-to menyambut cambuk itu dengan tangkapan, sedangkan kakinya tetap melayang ke arah Bo-tan. Tampaknya jiwa si budak tentu akan melayang, Su Ang-ing tentu juga akan celaka jika cambuknya sampai terpegang, pada detik yang gawat itulah mendadak terdengar suara gemuruh yang keras, sesosok tubuh turun dari atas. Siapa lagi dia kalau bukan Kim Tiok-liu. Kiranya semalam sesudah Kim Tiok-liu menyusup ke dalam kota di luar tahu siapa pun juga ia berhasil menyusup ke dalam istana Swe Beng-hiong dan bersembunyi di balik pigura besar di tengah ruangan pendopo itu. Begitulah mendadak Su Pek-to merasa kakinya kesemutan, rupanya telapak kakinya kena tertimpuk sebuah mata uang oleh Kim Tiok-liu. Ie memakai sepatu tebal, pula sedang menendang sekuatnya, jelas sebuah mata uang saja tak bisa melukainya. Tapi munculnya Kim Tiok-liu secara tiba-tiba mau tak mau membuat kaget Su Pek-to. Ia tidak tahu serangan susulan lihai apalagi yang akan dilontarkan Kim Tiok-liu, maka terpaksa Su Pek-to menarik kembali semua serangannya dan mengegos ke samping. Pigura besar tempat sembunyi Kim Tiok-liu tadi juga telah dihantam jatuh olehnya, keruan pengawal-pengawal yang berdekatan lekas melompat menyingkir. Ada dua orang yang rada lamban, kepala mereka menjadi benjol terkena pecahan kayu pigura itu. Pada saat Su Pek-to kaget mendadak dan berkelit ke sana, secepat kilat Kim Tiok-liu melompat maju, Bo-tan dirangkulnya sambil dibisikinya "Lekas pergi! Aku yang akan membela Siotjiamu!" Berbareng ia melemparkan dayang itu keluar pintu. "Bocah keparat, besar amat nyalimu!" Bentak Su Pek-to dengan murka. "Hahaha, aku memang sedang mencari kau untuk melemaskan otot!" Sahut Tiok-liu tertawa. Hanya sekejap saja mereka sudah bergebrak dua-tiga jurus, pedang lawan pedang dan pukulan tanding pukulan. Suatu ketika kepalan Kim Tiok-liu menonjok ke depan dengan ruas jari tengah menonjol, tampaknya dia menjotos, tapi sebenarnya yang lihai adalah tonjokan jari tengah ke bawah telinga yang lemah itu. Sudah tentu Su Pek-to tidak gampang kecundang, cepat ia membalas dengan gerakan "rhian-ong-thok-tah' atau Raja langit mengangkat menara, tangannya memutar ke atas untuk menangkis, turunnya segera digunakan untuk menangkap lawan, dari bertahan berbalik Su Pek-to balas menyerang. Tak terduga serangan Kim Tiok-liu itu hanya pancingan belaka, tangkapan Su Pek-to ternyata mengenai tempat kosong, menyusul terdengar jeritan orang kesakitan, sesosok tubuh tampak mencelat ke sana dengan muka berlumuran darah. "Su-pangtju, bagaimana dengan kepandaianku mencabut gigi?" Kata Kim Tiok-liu dengan tertawa. Mendadak secomot benda merah amis menyambar ke arah Su Pek-to. Semula Su Pek-to mengira senjata rahasaia apa, ia tidak berani menangkapnya karena kuatir berbisa, ia hanya mengebas dengan lengan baju, benda itu digulung dan diperiksa, kiranya adalah dua buah gigi depan yang masih berdarah. Orang yang rontok giginya kena pukulan Kim Tiok-liu kiranya adalah Soa Djian-hong, gembong Hay-soa-pang yang sial. Ketika pertempuran bertambah sengit antara Su Pek-to dan Kim Tiok-liu, Soa Djian-hong mengira Kim Tiok-liu sudah terdesak, ia pun ingin menarik keuntungan dengan menyergap dari samping. Tak tahunya panca indera Kim Tiok-liu teramat tajam, ia pura-pura tidak tahu dan tetap menempur Su Pek-to, tapi begitu Soa Djian-hong mendekat, mendadak ia pura-pura menyerang ke arah Su Pek-to, tapi sebenarnya terus menonjok ke belakang, keruan rontoklah gigi Soa Djian-hong tanpa ampun. "Jangan mentang-mentang kau, Kim Tiok-liu!" Bentak Bun To-tjeng, secepat terbang ia lantas menyerbu maju. Pada saat itulah dengan tiba-tiba cambuk Su Ang-ing menyambar, tepat pinggang Soa Djian-hong terlibat, sebelum sempat Soa Diian-hong berdiri tegak, ia menjadi tidak mampu berkelit, tulang iganya kesemutan oleh lilitan cambuk Su Anging dan tahu-tahu tubuhnya terangkat. Kebetulan Bun Totjeng sedang memburu maju, segera Su Ang-ing mengayun cambuk, Soa Djian-hong dilemparkan ke arah Bun To-tjeng laksana bola. Sudah tentu Bun To-tjeng tidak dapat membiarkan Soa Djian-hong terluka, terpaksa ia mengangsurkan kedua tangan untuk menangkap tubuh Soa Djian-hong dengan lunak, lalu dilepaskan lagi. Keruan Soa Djian-hong berkaok-kaok karena berulang-ulang kecundang. Kekuatan Su Pek-to sebenarnya di atas Kim Tiok-liu, tapi ia terkesiap juga melihat kepandaian Kim Tiok-liu yang sukar diukur itu. "Su-pangtju, apa kau s-akit gigi, akan kucabut gigimu kalau perlu!" Kata Tiok-liu dengan tertawa. "Kurangajar!" Damprat Su Pek-to, namun begitu ia pun kuatir Kim Tiok-liu benar-benar menggunakan cara yang aneh untuk menggodanya. Keadaan sebenarnya tidak menguntungkan Kim Tiok-liu, karena dia harus melawan jumlah musuh yang banyak. Su Pek-to menduga lawan sukar meloloskan diri, maka dia tidak perlu tergesa-gesa, yang penting harus menjaga diri jangan sampai kecundang. Maka ketika Kim Tiok-liu menubruk maju cepat ia mengegos ke samping. Tak terduga, kembali Kim Tiok-liu menggunakan gerakan palsu, pada detik itulah terdengar ia bersuit panjang, mendadak ia melompat ke atas, laksana burung melayang ia menyambar ke ttmping Swe Beng-hiong. Sama sekali Swe Beng-hiong tidak menduga akan tubrukan Kim Tiok-liu itu, ia menjadi kaget. Dalam pada itu dengan cepat luar biasa Kim Tiok-liu sudah berhasil mencengkeram pergelangan tangannya. Namun Swe Beng-hiong juga amat lihai, meski pergelangan tangan terpegang musuh, ia tidak menjadi gugup, ia masih berusaha mengembalikan kekalahannya, dengan gerakan 'Toat-sin-kay-kah' atau menanggalkan baju melepaskan diri, tubuhnya mengkerut ke bawah, tenaga dikerahkan ke lengan, pergelangan tangan menarik ke bawah, sekali putar badan Kim Tiok-liu terpaksa melepaskan cengkeramannya karena tidak tahan kekuatan lawan, mestinya kalau pegangan Kim Tiok-liu itu ditambahi serangan pedang, tanpa ampun jiwa Swe Beng-hiong pasti sudah melayang. Pada saat itulah dua sosok bayangan menubruk ke arah Kim Tiok-liu, mereka adalah Yang Go dan Bun To-tjeng. 'Siulo-im-sat-kang' yang diyakinkan Yang Go sudah mencapai tingkat kesembilan yang sempurna, belum mendekat orangnya, dia sudah melancarkan pukulan dari jauh. Meski Kim Tiok-liu memiliki 'Hou-deh-sin-kang' juga terasa menggigil oleh pukulan maha dingin lawan itu. "Hendak lari kemana kau!" Bentak Bun To-tjeng sambil melancarkan pukulan dahsyat Sam-siang-sin-kang ke punggung Kim Tiok-liu. Sungguh hebat Kim Tiok-liu, diserang dari muka dan belakang, ia masih sempat meloncat ke atas dengan Ginkangnya yang tinggi. Terbenturlah tenaga pukulan Siu-loim-sat-kang dengan Sam-siang-sin-kang sehingga mengeluarkan suara gemuruh yang dahsyat, kedua orang sama-sama tergentak mundur dua-tiga tindak, sedangkan Kim Tiok-liu sudah melayang lewat di atas kepala Bun To-tjeng laksana burung terbang. Meski sergapan Kim Tiok-liu terhadap Swe Beng-hiong tidak berhasil, tapi sudah dapat memancing beberapa tokoh utama yang terpaksa harus menyelamatkan Swe Beng-hiong lebih dulu, sehingga mereka tidak sempat mengembut Su Ang-ing. Tatkala itu yang bertempur dengan Su Ang-ing hanya Su Pek-to sendiri, kepandaian Su Pek-to jauh di atas adik perempuannya tapi sergapan mendadak Kim Tiok-liu terhadap Swe Beng-hiong membuat Pek-to menjadi kuatir dan serba susah. Ia ragu-ragu, apakah mesti menolong Swe Beng-hiong atau membekuk adik perempuannya lebih dahulu? Beberapa kejap ragu-ragunya itu, tahu-tahu secepat kilat Kim Tiok-liu sudah memutar balik ke arahnya. Dalam pada itu meski Swe Beng-hiong berhasil lolos dari cengkeraman Kim Tiok-liu, tapi sekujur badannya lantas terasa kaku, jelas racun di dalam tubuh sudah mulai meluas. Ia menjadi kuatir, ia pikir sebaiknya lekas mencari Ho-toanio untuk mengobati racunnya. Nyata ia tidak tahu bahwa saat itu Ho-toanio sudah terbunuh oleh Le Lam-sing. Saat itu para tamu sedang berlari tunggang-langgang menyelamatkan diri. Dari ambang pintu memandang keluar, Swe Beng-hiong tidak mendapatkan orang yang dicarinya cepat ia berseru. "Lekas panggil Ho-toanio ke sini!" Belum lenyap suaranya "sreng", mendadak sejalur api biru melayang tinggi ke angkasa. Dalam sekejap saja dari beberapa arah juga gemerlapan dengan kembang api yang memenuhi angkasa. "Ada mata-mata musuh!" Teriak para pengawal dengan panik. Sayup-sayup mulai terdengar suara meriam kuno yang sedang menembaki benteng kota. Kembang api yang bertebaran di angkasa itu jelas adalah tanda rahasia terang di dalam kota sudah tersembunyi matamata musuh, bahkan tidak sedikit jumlahnya. Kiranya kembang api yang menjulang ke angkasa pertama kali tadi dilepaskan oleh Ho Djay-hong, teman-teman dari pihak pemberontak yang memang sudah bersembunyi di dalam kota serentak melepaskan pula kembang api di beberapa tempat, ini memang kode rahasia yang sudah dijanjikan sebagai tanda bergerak serentak. Swe Beng-hiong memang seorang panglima yang pandai, meski suasana mulai kacau, tapi ia tidak menjadi gugup. Di samping memerintahkan pasukan penjaga melawan segala kemungkinan dengan tenang, segera ia pun mengirim jagojagonya untuk menangkap Le Lam-sing dan kawan-kawannya. Tapi ia sendiri terkena jarum berbisa sehingga tidak dapat memimpin sendiri semua gerakan itu. Apalagi yang lebih penting dirinya harus diobati dahulu, maka tanpa menghiraukan pertempuran lebih lanjut di ruangan pendopo itu, segera ia keluar mencari Ho-toa-nio. "Le-toako ada di luar!" Seru Kim Tiok-liu girang kepada Su Ang-ing. Ia memutar pedangnya dengan kencang dan mendahului menerjang keluar. Su Pek-to tidak mampu menahan serangan gabungan Kim Tiok-liu dan Su Ang-ing, terpaksa ia menyingkir dan memberi jalan. Di ruangan pendopo banyak juga jago-jago pilihan, tapi yang benar-benar tokoh kelas wahid cuma beberapa orang tertentu saja. Yang Go dan Bun To-tjeng salah berhantam sendiri, saat itu keduanya sedang sibuk mengatur tenaga dalam masing-masing agar tidak terluka. Soa Djian-hong sudah mengalami dua kali kerugian besar, maka lukanya parah dan ia sudah kapok sehingga tidak berani maju lagi. Jago-jago lain seperti Tang Tjap-sah-nio, Djing-hu Todjin, Wan-hay Hwesio, Kiong Peng-ya (murid Yang Go), Bun Sengtiong dan lain-lain, meski mereka mempunyai kepandaian tertentu, tapi mereka hanya tergolong jago kelas dua, mereka sudah kapok terhadap Kim Tiok-liu, mereka sama jeri ketika melihat Kim Tiok-liu menenang keluar laksana banteng keraton. Setiba di pintu keluar, Kim Tiok-liu menggertak satu kali, pedang terus menusuk Wan-hay Hwesio yang menjaga di situ. Terpaksa Wan-hay memutar golok untuk menangkis. "trang", goloknya terkurung menjadi dua, sukma Wan-hay seakanakan terbang raganya, saking takutnya cepat ia meloncat ke samping secara ngawur. "blang", tanpa ampun dua orang pengawal kena ditumbuk olehnya dan terjungkal mampus. Selesai mengenyahkan Wan-hay, tanpa ayal tusukan Kim Tiok-liu berikutnya lantas diarahkan kepada Tang Tjap-sah-nio sambil menjengek. "Perempuan busuk, jiwamu sudah kuampuni kemarin, sekarang kau berani pulang ke sini untuk memusuhi aku? Apakah kau ingin aku membelejeti kau lagi?" Dengan kepandaian Tjap-sah-nio, mestinya ia cukup kuat untuk melawan beberapa gebrakan Kim Tiok-liu, tapi sekarang hatinya sudah jeri lebih dulu, merasa malu pula oleh ejekan Kim Tiok-liu tadi, semangatnya jadi lesu, caranya bertempur menjadi ngawur, baru dua-tiga gebrakan. "plok" Tahu-tahu mukanya kena ditampar oleh Kim Tiok-liu. Di sebelah sana Su Ang-ing memainkan cambuknya, Bun Seng-tiong tidak kenal gelagat, ia menubruk maju untuk mencegatnya, tapi sebelum mendekat tubuhnya sudah kena dipecut, keruan ia berjingkrak kesakitan. Cepat Djing-hu Todjin maju membantu. "Hm, pohon roboh kera buyar, kukira lebih baik kau pulang kandang menjadi imam yang baik!" Jengek Su Ang-ing. Kelakuan Djing-hu Todjin tidak terlalu jahat dibandingkan tokoh-tokoh Liok-hap-pang yang lain, biasanya juga tidak memusuhi Su Ang-ing, melihat suasana sekarang, hati Djinghu Todjin menjadi dingin, sahutnya pelahan. "Terima kasih atas petuah nona!" Tanpa banyak omong lagi ia lantas memberi jalan. Maka dengan leluasa dapatlah Su Ang-ing menerjang keluar. Keruan saja Su Pek-to menjadi gusar, ia melayang maju. "biang", kontan ia menendang Djing-hu Todjin hingga terkapar. Menyusul ia terus mencengkeram ke punggung Su Ang-ing sambil membentak. "Biar kubekuk budak ini baru nanti aku membikin perhitungan dengan kau!" Tapi Kim Tiok-liu sempat membalikkan tangannya untuk menangkis cengkeraman Su Pek-to itu. Djing-hu Todjin cepat merangkak bangun, katanya dengan lantang. "Sebagai orang luar aku pun tidak tega mencelakai nona Su, kau adalah kakaknya tapi kau malah ingin memperalat dia demi kcpcntinganmu, hal ini betapapun tidak dapat kebenarkan. Sejak kini masing-masing menuju ke jalan sendiri-sendiri. Aku akan menunggu kau di kuilku, hanya saja mungkin kau tidak punya kesempatan lagi untuk membikin perhitungan padaku." Sebabnya Djing-hu Todjin berani membangkang kepada Su Pek-to, pertama karena dia penasaran kena tendangan sang Pangtju, pula ia pun melihat gelagat tidak menguntungkan, saat itu baik di dalam maupun di luar kota sudah bergemuruh dengan suara pasukan yang sedang bertempur, tampaknya bobolnya kota Sedjiang oleh stbuan pasukan pemberontak hanya soal waktu saja, daripada nanti tertawan dan dituduh sebagai begundal Su Pek-to. ia pikir lebih baik sekarang saja memutuskan hubungan dengan Su Pek-to dan mengambil hati Su Ang-ing. Dalam pada itu di luar dalam gedung Tjiangkun itu sudah terjadi pertempuran gaduh, para pengawal sibuk melayani musuh, siapa pun tidak sempat menghiraukan Djing-hu Todjin yang berkhianat itu. Cuma Djing-hu Todjin juga tidak berani angkat senjata terhadap Su Pek-to, ia hanya mengeluyur pergi secara diam-diam. Karena tangkisan Kim Tiok-liu tadi, Su Pek-to menjadi murka teriaknya. "Biarpun kalian menyerang kota sebelum kota bobol juga akan kucabut dulu nyawamu!" "Benar, betapapun juga jangan mengampuni mereka!" Seru Bun To-tjeng. "Anak Tiong, lekas ikut kemari, kita harus menuntut balas." Lwekang Bun To-tjeng sangat tinggi, sedikit gangguan tadi telah dipulihkan kembali, sekarang ia memburu keluar, kedua tangannya menyerang ke kanan dan ke kiri, Tiok-liu dan Anging dihantamnya sekaligus. Ia dendam kepada Su Ang-ing yang telah mencambuk puteranya, maka sebagian besar serangannya memberondong ke arah Ang-ing. Su Pek-to mendongkol juga karena Bun To-tjeng tidak mau menerjang Kim Tiok-liu, sebaliknya memilih lawan yang empuk. Tapi tidak tega turun tangan keji pada adik perempuannya sendiri, lebih baik orang lain yang membunuhnya sebab itu ia tidak peduli serangan ganas Bun To-tjeng terhadap Ang-ing, ia sendiri melawan Kim Tiok-liu dengan sengit. Menyusul Yang Go juga memburu keluar, di bawah kerubutan jago kelas wahid, sukar bagi Kim Tiok-liu dan Su Ang-ing untuk menerjang keluar. Saat itu Le Lam-sing sedang menggeser ke arah Kongsun Yan, hanya belum bergabung. Lawan Kongsun Yan adalah Ko Tay-sing dan Toh Tay-giap. Ilmu silat mereka tidak lemah dan tenaganya kuat, lambat laun Kongsun Yan merasa kewalahan juga, terutama kalah tenaga. Di pihak Le Lam-sing, meski ia dibantu Li Tun dan Ho Djayhong mengembut An Tjun-ting, tapi sekarang An Tjun-ting dibantu dua-tiga otang pengawalnya sehingga Le Lam-sing bertiga berbalik terkepung. Ketika mendadak Lam-sing mendengar panggilan Tiok-liu, ia menengadah ke sana dilihatnya Kim Tiok-liu dan Su Ang-ing pedang bertempur sengit melawan keroyokan tiga jago utama, tampaknya mereka pun rada kewalahan. Sesaat itu Lam-sing merasa kuatir dan girang pula tapi juga rada sedih. Sedikit meleng saja mendadak ruyung An Tjunting telah menghantam, tepat pundak Lam-sing tersabet dan babak belur. Tapi sabetan itupun lantas menyadarkan Lam-sing. "Berkorban bagi sahabat, biarpun mati juga rela!" Pikirnya. Seketika darah bergolak, entah darimana datangnya tenaga. "sret", mendadak senjata seorang pengawal berbentuk toya kena ditebas kutung, menyusul pedangnya menyambar ke samping, kembali ruyung An Tjun-ting kena ditabas kutung satu ruas. Saat itu ruyung tujuh ruas An Tjun-ting sudah tinggal tiga mas saja. Kepungan keempat pengawal mestinya sangat rapat, tapi terkurungnya toya seorang temannya membuat garis kepungan mereka menjadi bobol. Cepat Lam-sing menerjang keluar, beberapa kali loncatan, laksana burung melayang ia sudah sampai di sebelah Kongsun Yan. Ketika mendengar suara sambaran senjata dari belakang, Ko Tay-sing terkejut, cepat ia menangkis sambil memutar tubuh. Namun begitu toh terlambatnya juga, baru saja gadanya terangkat, tahu-tahu pedang Lam-sing sudah menebas. Mana Ko Tay-sing mampu menahan kekuatan Hiantiat-pokiam yang ampuh? "Trang", gada bergigi terbelah, tangan Ko Tay-sing lecet berdarah, orangnya terguling sejauh dua tiga meter. Lekas Toh Tay-giap hendak lari, tapi betapa cepat Kongsun Yan. "cret", dengkul lawan kena ditusuknya, tanpa ampun lagi Toh Tay-giap bertekuk lutut tak sanggup berdiri lagi. "Yan-moay, lekas pergi membantu Li Tun berdua," Seru Lam-sing, habis bicara dengan tergesa-gesa ia berlari ke arah Kirn Tiok-liu dan Su Ang-ing. Waktu Kongsun Yan menoleh, dilihatnya keadaan Li Tun dan Ho Djay-hong memang sedang payah di bawah kerubutan musuh, alangkah kejutnya Kongsun Yan, cepat ia melompat ke sana untuk membantu. Setelah melintasi dua gunung-gunungan palsu, kebetulan Lam-sing kepergok Swe Beng-hiong yang keluar hendak mencari Ho-toanio. "Bagus, bocah ini ingin cari mampus!" Bentak Swe Benghiong, segera ia mendahului mengambil kedudukan baik di atas gunung-gunungan, dari atas ia mendesak Lam-sing. "Huh, perempuan siluman she Ho itu sudah mampus, boleh kau menyusul ke akherat saja," Jengek Lam-sing. Hian-tiatpokiam diputar, segera ia menyerang lebih dulu. Swe Beng-hiong menjadi ragu-ragu akan kematian Hotoanio, apakah sungguh-sunguh atau gertakan Lam-sing saja? Ia pikir paling perlu binasakan dulu bocah ini. Dahulu ia pernah bertempur sekali dengan Le Lam-sing tatkala itu Lam-sing dihantamnya hingga terluka parah, sebab itulah ia menjadi tidak gentar meski tahu pedang yang dibawa Lam-sing itu adalah Hian-tiat-pokiam. Tak terduga, begitu kedua senjata beradu. "trang", seketika golok yang dipakai Swe Beng-hiong terkurung menjadi dua. Keruan Swe Beng-hiong terkejut, ia tidak tahu bahwa sebabnya dia berhasil memukul Lam-sing dahulu itu adalah karena pemuda itu sebelumnya sudah terluka. Kini keadaan berbalik, Swe Beng-hiong sendiri terluka pa-rah terkena jarum berbisa lebih dulu, sedangkan Lam-sing dalam keadaan sehat dan kuat, perubahan yang terbalik ini tentu saja membuat Swe Beng-hiong kecundang. Namun Swe Beng-hiong lantas memakai akal, karena kedudukannya di atas gunung-gunungan itu lebih menguntungkan, dari atas ia lantas menggunakan kakinya untuk menjungkit sepotong batu padas ke arah Lam-sing yang sedang menyerang sambil menengadah ke atas. Cepat Lamsing mengayun pedangnya. "krak", batu padas itu terbelah menjadi dua disertai letikan api. Berturut-turut Swe Beng-hiong mendepak pula batu kedua dan ketiga susul-menyusul melayang ke bawah. Lam-sing memutar pedangnya dengan cepat, sekaligus ia menabas lima potong batu sambil merangsek maju ke atas. Swe Beng-hiong mengegos ke samping, tangannya membalik terus memegang tangan kiri Lam-sing. Tebasan pedang Lamsing luput mengenai sasarannya dan kena batu gununggunungan itu sehingga menerbitkan suara gemuruh. Kim-na-djiu-hoat (ilmu menangkap dan memegang) Swe Beng-hiong sangat lihai, tapi tebasan pedang Lam-sing yang dahsyat itupun membikin Swe Beng-hiong tergetar sehingga langkahnya tidak kukuh, ia terpeleset ke bawah sembari menarik tangan Le Lam-sing. Lam-sing tidak sempat memutar balik pedangnya, terpaksa ia mendepak sekuatnya sembari membentak. "Pergi!" Kontan Swe Beng-hiong terdepak jatuh ke bawah gunung-gunungan dan melepas cengkeramannya tadi. Beberapa gebrakan itu berlangsung dengan amat cepat, meski beramai-ramai jago-jago pengawalnya memburu datang, lapi tidak sempat menyelamatkan Swe Beng-hiong dari depakan Le Lam-sing itu. Sebaliknya meski Le Lam-sing berhasil menendang Swe Beng-hiong dan membuatnya terguling sehingga terbalaslah pukulan yang dideritanya dari Swe Beng-hiong dahulu, tapi dia pun tidak sempat lagi menerjang ke sana untuk bergabung dengan Kim Tiok-liu. Dari jago-jago yang memburu datang hendak membantu Swe Beng-hiong itu terdapat Soa Djian-hong, Kiong Peng-ya, Wan-hay Hwesio, Tjap-sah-nio dan lain-lain. Ketika Lam-sing meloncat bangun sementara itu orang-orang sudah sampai di bawah gunung-gunungan, sekejap kemudian Su Pek-to juga menyusul tiba. Lam-sing menarik napas dingin melihat begitu banyak musuh yang datang, pikirnya. "Melulu Su Pek-to seorang saja aku sudah kewalahan melawannya, meskipun aku membawa Hian-tiat-pokiam, apalagi ditambah jago-jago sebanyak itu. Biarlah sudah, asalkan adik Tiok Liu dan nona Su dapat lolos dari bahaya, aku rela mati untuk mereka." Dalam pada itu Su Pek-to yang memburu datang paling iikhir itu, menerjang ke atas gunung-gunungan. Setelah mengambil keputusan dan membulatkan tekad, segera Lam-sing, berseru. "Hian-te, terimalah pedang ini!" Hian-liat-pokiam berubah menjadi selarik sinar dan menyambar ke urah Kim Tiok-liu dengan membawa suara menderu. Betapa dahsyatnya sambaran Hian-tiat-pokiam dari tempat yang tinggi itu, Su Pek-to tahu kelihaian pedang ini, meski tinggi kepandaiannya juga tidak berani sembarangan merebut senjata itu. Terpaksa ia mengegos ke samping, Hian-tiatpokiam melayang lewat di atas kepalanya. Saat itu hanya tinggal Bun To-tjeng dan Yang Go saja yang melawan Kim Tiok-liu dan Su Ang-ing. Karena itu kekuatan kedua pihak boleh dikatakan seimbang, seketika sukar menentukan menang dan kalah. Dalam pada itu dengan cepat luar biasa Hian-tiat-pokiam melayang tiba dengan membawa suara gemuruh. Bun Totjeng juga kenal kelihaian pedang wasiat itu, jika Su Pek-to saja tidak berani menangkap senjata itu, mana dia berani? Tanpa ayal Bun To-tjeng dan Yang go menyingkir ke pinggir sehingga pedang itu menyambar ke arah K i m Tiok-liu. Tapi Kim Tiok-liu hanya mengegos sambil menabok ke gagang pedang, seketika ujung pedang berganti arah. jalan meluncurnya juga merandek, maka sebelah tangan Kim Tiokliu yang lain lantas meraup, dengan kencang gagang pedang kena terpegang olehnya. Kiranya Le Lam-sing pernah mendapat ajaran ilmu pedang dari Kim Si-ih, ayah Kim Tiok-liu, gerak melempar pedang ini adalah salah satu jurus dari Si-mi-kiam-hoat yang khas, sudah tentu Kim Tiok-liu terlebih mahir cara melempar dan menangkap pedang yang dilepaskan dengan jurus tersebut. Sebab itulah Le Lam-sing berani menimpukkan Hian-tiatpokiam pada Kim Tiok-liu dan ternyata tidak mengecewakan harapannya, dengan cara sederhana saja ia dapat menangkap pedang itu. Namun sesudah menerima pedang itu, hati Tiok-liu menjadi terkesiap, ia tidak menjadi senang, berbalik merasa kuatir, pikirnya "Dengan melepaskan pedang ini, cara bagaimana Letoako akan melayani Su Pek-to." Bobot Hian-tiat-pokiam ada ratusan kati, melemparkannya dari atas ke bawah lebih mudah, dari bawah hendak dilemparkan ke atas sudah tentu jauh lebih sulit. Baru saja Kim Tiok-liu hendak menimpukkan pedang itu pada Le Lamsing sebisa mungkin, pada saat itulah tiba-tiba terdengar Le Lam-sing mengerang keras, kiranya dia kena dipukul oleh Su Pek-to dan terjungkal ke balik gunung-gunungan sebelah sana. Tempat tergulingnya Le Lam-sing terletak di tengah-tengah antara dua gunung-gunungan yang lain, maka bagaimana akibat tergulingnya Le Lam-sing itu mereka tidak melihat jelas. Yang terang Su Pek-to kelihatan meloncat ke sebelah sana tak perlu dijelaskan, tentu ia menyusul ke sana buat menangkap Le Lam-sing. Pedih perasaan Tiok Liu laksana disayat-sayat, ia menjadi nekat, betapapun ia tidak bisa membiarkan Le-toako berkorban baginya. Karena pikiran demikian, segera ia memutar pedang dengan kencang, bentaknya "Matilah yang menghalangi aku!" La terus menerjang ke sana dengan diikuti Su Ang-ing. Yang Go mengerahkan tenaga pukulan Siu-lo-im-sat-kang tingkat sembilan dengan maksud merintangi mereka Akan tetapi kelihaian Siu-lo-im-sat-kang terletak pada hawa maha dinginnya dan bukan tenaga pukulannya, sedangkan Kim Tiokliu tidak takut pada pukulan dingin itu, tanpa pikir ia terus menahaskan pedangnya mana sanggup Yang Go menangkis Hian-tiat-pokiam yang berat itu? Merasa t'dak sanggup menangkis, secara mendadak Yang Go menggerung sekerasnya seorang pengawal di sebelahnya dicengkeram untuk digunakan sebagai tameng. Ketika tabasan Kim Tiok-liu itu tiba muncratlah darah, tanpa ampun jiwa pengawal tadi melayang, namun jiwa Yang Go sendiri dapat diselamatkan, ia melempar mayat pengawal itu terus angkat langkah seribu. Melihat begitu kejam cara Yang Go, takut ikut dijadikan korban, pengawal yang lain tiada satu pun yang berani maju lagi. Hanya Bun To-tjeng yang yakin Sam-siang-sin-kang telah sempurna benar, mundurnya pengawal segera digantikan olehnya. Ia mendengus. "Hm, aku justru mau coba-coba betapa kuat Hian-tiat-pokiam yang hebat ini!" "Baiklah, cobalah maju!" Sambut Kim Tiok-liu. Dengan gerak tipu 'Hiang-in-toan-hong" Atau awan melintang memotong puncak gunung, dengan membawa suara menderu Hian-tiat-pokiam terus membabat ke pinggang lawan. Melihat pedang wasiat itu benar-benar lihai, terpaksa Bun To-tjeng mengeluarkan senjatanya yang jarang digunakan, sebatang golok yang panjang tipis, dengan pclahan goloknya me-nyampuk pedang Tiok-liu yang berat. Bentuk golok Bun To-tjeng itu memang aneh, mirip golok dan mirip pedang, lebarnya cuma selebar dua jari, tapi panjangnya lebih satu meter. Kiranya pedang lemas ini digembleng dari belasan golok baja, jadi intisari belasan golok baja menghasilkan sebuah senjata aneh ini. Sebagai seorang ahli silat, Bun To-tjeng tahu untuk melawan Hian-tiat-pokiam yang berat itu adalah tepat sekali menggunakan senjata yang lemas. Maka terdengarlah suara "uang'" Yang nyaring, ujung pedang lemas Bun To-tjeng menyampuk pelahan batang Hiantiat-pokiam, pedang lemas lantas melengkung, tenaga tabasan Hian-tiat-pokiam yang hebat itupun kena dipunahkan sebagaian, gebrakan ini meski Bun To-tjeng mengalami kekalahan, tapi tangkisan telah dapat dilakukan. Kim Tiok-liu juga berkesiap ketika merasakan tenaga gempuran membalik dari lawan itu, pikirnya. "Sam-siang-sinkang jahanam ini sungguh hebat, jika aku tak bisa mengenyahkan dia tentu sukar menolong Le-toako. Terpaksa aku harus mengadu jiwa dengan dia" Dengan menggertak, cepat Hian-tiat-pokiam menahas lagi. Saking napsunya entah darimana timbulnya tenaga Hian-tiatpokiam yang berat itu terasa seperti sebatang kayu saja dalam pegangannya. Pedang itu diputarnya dengan kencang, menahas, menusuk, semuanya dilakukan dengan gesit dan lincah. Dalam sekejap saja ia telah melancarkan beberapa serangan kilat. Terdengar suara "trang-tring" Terbenturnya kedua senjata Sebenarnya Bun To-tjeng sendiri yakin kekuatannya melebihi Kim Tiok-liu, siapa tahu sesudah beberapa gebrakan, ia merasa tangan sendiri panas pedas, hampir-hampir tidak kuat lagi memegangi senjatanya. Setiap kali kedua senjata terbentur, pedangnya yang lemas lantas bertambah bengkok. Keruan ia terperanjat, ia pikir kalau terus begitu, bukan mustahil nanti pedangnya akan patah dan orangnya binasa. Tiada jalan lain terpaksa ia melompat ke samping, memberi jalan kepada Kim Tiok-liu untuk berlalu ke sana. Saat itu Su Ang-ing juga sudah mendesak mundur Bun Seng-tiong dan lain-lain, segera ia menyusul Kim Tiok-liu. "Bagaimana kau," Tanya Tiok-liu kuatir ketika mendengar napas si nona rada payah. Tertampak Ang-ing lantas menggigil, giginya sampai ber-Ikeretukan, sahutnya terputus. "Ti.....tidak apa-apa?" Rupanya dia terserang oleh hawa dingin pukulan Siu-lo-Imsat-kang yang dilancarkan Yang Go tadi, ditambah lagi ia habis bertempur sengit, karena Lwekangnya memang jauh di bawah Kim Tiok-liu, tentu saja ia tidak tahan. Melihat air muka si nona saja Tiok-liu lantas tahu sebabmusababnya segera ia menggenggam kencang tangan kiri Ang-ing, dengan tenaga dalamnya yang kuat disalurkannya untuk membantu si nona memunahkan hawa dingin yang meresap di tubuhnya. "Sudahlah cukup, lekas kau pergi menolong Le-toako," Kapi Ang-ing. Tiok-liu mengiakan, segera mereka berlari ke depan. Ginkang kedua orang memang sembabat, hanya sekejap saja mereka ludah sampai di gunung-gunungan tadi. Munculnya Kim Tiok-liu membikin Tjap-sah-nio, Wan-hay, Soa Djian-hong, Kiong Peng-ya dan lain-lain menjadi gugup. Cepat mereka memencarkan diri dan tidak berani menempumya. Tiok-liu melompat ke balik gunung-gunungan itu sambil berseru. "Le-toako! Le-toako!" Namun tiada nampak banyangan Le Lam-sing, sebaliknya Su Pek-to menyambutnya dengan gelak tertawa katanya "Le Lam-sing sejak tadi sudah kubunuh, boleh kau menemuinya di akhirat saja!" Namun mayat-mayat yang bergelimpangan di situ tiada satu pun yang mirip Le Lam-sing, Kim Tiok-Iiu pikir Le-toako tentu telah melompat ke balik gunung-gunungan sana untuk bergabung dengan Li Tim dan kelompoknya Cuma kalau dipikir lagi, setelah melemparkan Hian-tiat-pokiam padanya pasti Lam-sing tidak mampu melawan Su Pek-to, di bawah kerubutan musuh kuat sebanyak ini mana dia sanggup meloloskan diri?" Kim Tiok-Iiu merasa ragu-ragu, mendadak ia menjadi gusar, bentaknya "Kau berani menyumpahi Le-toako, ini rasakan pedangku!" Tanpa mempedulikan apa yang dikatakan Su Pek-to tadi benar atau tidak, segera ia memutar Hian-tiatpokiam dan melancarkan serangan maut. Mendadak Su Pek-to menimpukkan pedangnya katanya dengan tertawa. "Kim Tiok-Iiu, ia telah mencuri Hian-tiat-po kiamku, lantas kau sangka aku tak bisa berbuat apa-apa padamu? Hm, cobalah maju, biarpun kau membawa sepuluh Hian-tiat-pokiam bisa berbuat apa padaku?" "Krek", pedang yang disambitkan Su Pek-to itu terkurung menjadi dua oleh pedang Kim Tiok-Iiu, tapi tenaga Su Pek-to lebih kuat daripada Kim Tiok-Iiu, tentu saja lemparan pedang itu tidak kepalang hebatnya, Kim Tiok-Iiu sampai tergetar mundur dua tindak. Cepat Ang-ing memburu maju, Tiok-Iiu berkata "Kau pergi mencari Le-toako saja!" Dalam pada itu dengan cepat sekali Su Pek-to sudah menerima senjata baru dari seorang anak buahnya senjata itu adalah Tok-kah-tong-djin (orang-orangan tembaga berkaki satu), ia menubruk maju sambil membentak. "Budak hina, menyingkir sana, aku tidak ingin membunuh kau dengan tanganku sendiri!" Meskipun Tok-kah-tong-djin itu tidak seberat Hian-tiatpokiam, tapi bobotnya juga ada 50-an kati. Ketika pedang Kim Tiok-Iiu menusuk. "Cret", lelatu api menciprat, orang-orangan tembaga itu gumpil setitik, tapi tangan Kim Tiok-Iiu juga kesemutan. Rupanya Su Pek-to sengaja menyiapkan senjata baru ini untuk melayani Hian-tiat-pokiam. Dalam sekejap saja Kim Tiok-Iiu sudah melancarkan berasan kali serangan, Su Pek-to juga memutar senjatanya menangis dengan sama cepatnya. Terdengar suara mendering nyaring engilukan, badan orang-orangan tembaga itu babak belur pe-uh luka tapi dapat menerima setiap benturan Hiantiat-pokiam dan tidak sampai terkurung. Tadi Soa Djian-hong kena dicambuk satu kali oleh Su Anging, ia masih dendam, melihat Kim Tiok-Iiu sedang terlibat pertarungan dengan Su Pek-to, segera ia menubruk maju hendak menangkap Ang-ing, serunya dengan nada dingin. "Nona yang baik, jika kau mampu, coba cambuklah aku lagi!" Kepandaian Ang-ing tidak di bawah Soa Djian-hong, hanya saja ia telah bertempur lama, tenaga sudah banyak susut, maka setelah belasan gebrakan, Ang-ing sudah mandi keringat, sebaliknya Soa Djian-hong mendesak lebih gencar sehingga Ang-ing terpaksa main mundur terus. Melihat gelagat menguntungkan, Kiong Peng-ya juga lantas ikut maju membantu Soa Djian-hong. Siu-lo-im-sat-kang yang dilatih Kiong Peng-ya baru mencapai tingkatan ketujuh, namun begitu angin pukulannya sudah cukup dingin, keruan Su Ang-ing menggigil, dalam keadaan sedang berkeringat terus disambar oleh hawa dingin. Ia terperanjat dan semakin payah menghadapi serangan kedua lawannya. "Lepas cambukmu!" Bentak Soa Djian-hong, tangan kiri menyampuk, tangan kanan sudah kena memegang ujung cambuk Ang-ing dengan ilmu 'Hou-djiau-kang' (cakar harimau). Sekuatnya Ang-ing bertahan agar cambuknya tidak terlepas, tenaga disalurkan ke ujung cambuk. Sungguh lihai permainan si nona, meski tercengkeram di tangan musuh, tapi ujung cambuk masih terus membelit laksana ular mencari lubang buat meloloskan diri, tangan Soa Djian-hong sampai kesakitan mencengkeramnya. Soa Djian-hong menjadi murka bentaknya "Bagus, coba kau tarik!" Segera ia memasang kuda-kuda dan menggunakan ilmu memberatkan tubuh, lalu membetot sekuatnya. Su Ang-ing sudah mengerahkan segenap tenaganya, keruan betotan ini membuat tubuhnya ikut terseret maju. Kiong Peng-ya tidak menyia-nyiakan kesempatan baik ini, segera ia melompat maju, jarinya seperti cakar terus mencengkeram pundak si nona. Tampaknya Su Ang-ing sukar lolos dari cengkeraman maut itu, syukur pada saat yang gawat terdengarlah gertakan kim Tiok-liu, menyusul orangnya melayang tiba, pedang terus menahas ke arah Soa Djian-hong. Meski tidak mudah bagi Kim Tiok-liu untuk mengalahkan Su Pek-to yang bersenjatakan Tok-kah-tong-djin tadi, tapi untuk melepaskan diri dari pertarungan itu adalah tidak sukar. Soa Djian-hong mengira Kim Tiok-liu pasti tidak sempat mengikuti pertarungan di sebelah sini, kini mendadak Kim Tiok-liu melayang tiba, keruan ia menjadi gugup, cambuk Su Ang-ing yang dibetotnya hingga kencang laksana tali busur yang dipen-tang, tiba-tiba sinar pedang berkelebat, ujung cambuk tertabas kutung, Soa Djian-hong kehilangan keseimbangan badan, ia terlempar dan jatuh terjengkang, mukanya pucat pasi seperti mayat. Rupanya sambaran pedang Kim Tiok-liu terlalu cepat datangnya, mestinya Soa Djian-hong hendak melepaskan pegang annya, tapi ujung cambuk toh tetap tertabas putus. Untung dia keburu menghindar, kalau tidak, tentu tangannya sudah buntung. Sedangkan cengkeraman Kiong Peng-ya tadi mestinya dapat mengenai sasarannya, tapi ia menjadi kaget karena gertakan Kim Tiok-liu yang menggelegar tadi, sedikit merandek saja Kim Tiok-liu sudah keburu tiba, kontan Kiong Peng-ya ditendangnya hingga terguling. Menyusul cambuk Su Ang-ing lantas menyambar lagi, serunya. "Orang she Soa, kau sendiri yang minta dicambuk, maka jangan menyesalkan diriku!" Saat itu Soa Djian-hong masih berdebar-debar karena bani saja menyelamatkan diri dari sambaran pedang Kim Tiok-liu, tapi sabetan cambuk Su Ang-ing tak bisa terhindar, tepat sekali mukanya termakan hingga babak-belur keluar kecap merah, bahkan ingus dan airmata juga mengucur. Sayang cambukan Su Ang-ing kurang keras, kalau tidak kepalanya tentu pecah. Tiok-liu menggenggam tangan kiri Su Ang-ing, tenaga murninya disalurkan untuk membantu si nona memunahkan hawa dingin yang menyusup ke tubuhnya Dalam pada itu dengan cepat sekali Su Pek-to sudah menubruk tiba, Tok-kahtong-djin lantas menghantam. Saat itu Su Pek-to sudah kalap, biarpun adik perempuannya akan ikut terhantam mati juga tak terpikir lagi olehnya. "Jangan hiraukan diriku, kau melarikan diri saja!" Seru Su Ang-ing. la tahu Ginkang Kim Tiok-liu amat tinggi, membawa Hian-tiat-pokiam pula untuk melarikan diri rasanya tiada seorang musuh pun yang mampu merintanginya. "Hidup bersama matipun biarlah bersama!" Kata Tiok-liu sambil tetap menggenggam kencang tangan kiri Ang-ing, hanya tangan kanan digunakan untuk memutar pedang menangkis serangan Su Pek-to. Terdengar suara nyaring beradunya Hian-tiat-pokiam dan Tok-kah-tong-djin, Su Pek-to mendesak dengan senjatanya yang berat itu, Kim Tiok-liu tidak sanggup menahan daya tekanan itu, maklum sebelah tangannya ini masih menggenggam tangan Su Ang-ing, tenaga dalamnya terpencar karena sedang disalurkan ke tubuh si nona "Hayo maju, mana orangnya!" Teriak Su Pek-to memanggil bantuan. Memang pada saat demikian, jika ada orang melancarkan serangan pula kepada Kim Tiok-liu, dia pasti sukar menyelamatkan diri. Syukur pada saat itu Soa Djian-hong dan Kiong Peng-ya yang berada di situ sudak kapok dihajar oleh Kim Tiok-liu, mereka ragu-ragu untuk maju membantu. Sementara itu Tiok-liu merasa telapak tangan Ang-ing sudah mulai hangat, segera ia melepaskan tangannya. Didahului menggertak, ia memutar Hian-tiat-pokiam terlebih kuat. "trang", kembali orang-orangan tembaga Su Pek-to bertambah satu luka, mau tak mau Su Pek-to juga tergetar mundur. Pada saat itulah terdengar seman seorang. "Sayang, aku terlambat! Tapi juga belum terlalu kasip!" Kiranya Bun Totjeng adanya. Sudah tentu dia tidak penakut seperti Soa Djian-hong dan lainnya, dengan Sam-siang-sin-kang yang disalurkan ke pedangnya, hanya beberapa gebrakan saja ia telah memisahkan Su Ang-ing dan Kim Tiok-liu. "Kau wakilkan aku membekuk budak itu, bocah she Kim ini serahkan padaku, dia bukan tandinganku," Kata Su Pek-to. Lantaran telah membantu Su Ang-ing dengan tenaga murninya, apalagi kekuatannya memang di bawah Su Pek-to, sudah tentu kini Kim Tiok-liu bertambah lemah, makanya Su Pek-to yakin cukup mampu mengatasi lawannya. Sebaliknya Bun To-tjeng juga merasa lebih untung jika cuma menghadapi Su Ang-ing saja, dengan tersenyum ia lantai menjawab. "Baiklah, terpaksa aku membikin susah adik perera puanmu!" Begitulah pertarungan sekarang terbagi menjadi dua partai, dengan demikian kekuatan kedua pihak menjadi tampak semakin nyata Tiba-tiba terdengar suara seorang gadis berseru. "Le-toako, dimana kau Le-toako? He, dimanakah kau?" Kiranya Kongsun Yan yang menerjang tiba tadi dia ter halang di sebelah sana gunung-gunungan, keadaan pertempuran Le Lam-sing melawan Su Pek-to tidak jelas dilihat olehnya. Ha nya jeritan Le Lam-sing yang memilukan tadi dapat didengar olehnya. Lantaran kuatir, dengan nekat ia tems melancarkan serangan-serangan maut. Sebenarnya dia dan Li Tun suami istri sedang menempui An Tjun-ting serta empat jago pengawal. Pertama toya salah seorang pengawal itu ditabas kutung oleh Le Lam-sing sehingga kepungan mereka bobol. Menyusul ketiga jago pengawal itupun dilukai oleh Kongsun Yan, jadi jago lawan hanya tinggal An Tjun-ting saja yang masih gagah, Kongsun Yan menduga Li Tun dan Djay-hong cukup kuat melayani musuh itu, maka cepat ia memburu kemari untuk mencari Le Lam-sing. Kecepatan ilmu pedang Kongsun Yan adalah ilmu tunggal ayahnya yang terkenal di Bu-lim, mana bisa Kiong Peng-ya dan Bun Seng-tiong menahannya. Hanya sekejap saja kembali ada tiga jago pengawal terkena pedangnya. Cepat Kongsun Yan melintasi gunung-gunungan dan menggabungkan diri bersama Kim Tiok-liu dan Su Ang-ing. Tiok-liu terkejut melihat Kongsun Yan datang sendiri cepat ia bertanya. "Apa kau tidak melihat Le-toako?" Padahal dia mengira Le Lam-sing sudah menggabungkan diri dengan Kongsun Yan, siapa tahu sekarang si nona malah datang mencarinya. Karena perhatian Kim Tiok-liu sedikit terpencar, kesempatan itu digunakan Su Pek-to, mendadak ia menggertak, orang-orangan tembaga itu tems mengemplang ke atas kepala, begitu hebat hingga tangkisan Hian-tiatpokiam hampir tidak kuat. Kim Tiok-liu merasakan gempuran tenaga dalam lawan yang maha dahsyat, dadanya serasa digodai, darah di rongga dada tergetar dan bergolak, isi perutnya seakan tergoncang. Tampaknya Kim Tiok-liu pasti akan celaka tertindih oleh orang-orangan tembaga musuh dan Su Pek-to lagi merasa senang, sekonyong-konyong angin tajam menyambar, dari belakang Kongsun Yan menusuk ke punggung Su Pek-to. Dari tempat yang diarah serta sambaran angin yang tajam, Su Pekto mengetahui betapa lihainya serangan Kongsun Yan itu. Keruan ia terkejut, anak perempuannya saja begini lihai, apalagi Kongsun Hong. Dan si tua ini entah datang atau tidak? Demikian Su Pek-to menimang-nimang dalam hati. Terpaksa ia mengendurkan daya tekanannya terhadap Kim Tiok-liu, tangan kiri memukul balik untuk menyampuk pedang Kongsun Yan. Dalam pada itu Su Ang-ing juga mengalami saat kritis di bawah serangan gencar Bun To-tjeng. Karena tekanan musuh mulai kendur, kesempatan itu segera digunakan Kim Tiok-liu untuk memutar ke sana, Hian-tiat-pokiam dipakai sebagai golok terus membacok kepala Bun To-tjeng. Bun To-tjeng terkejut dan cepat menggeser ke samping, pada saat itu pernapasan Kim Tiok-liu belum lagi teratur baik karena baru saja menghadapi tekanan Su Pek-to yang berat, kalau Bun To-tjeng berani mengadu senjata secara keras pasti Kim Tiok-liu tak bisa menandingi. Setelah menyampuk pedang Kongsun Yan, segera Su Pekto mendesak maju, dengan Kim-na-djiu-hoat yang lihai ia bermaksud merebut senjata si nona, berbareng itu tangan yang lain memotong disusul menutuk, setiap jurus serangannya selalu ganas dan hampir mengenai tubuh sasarannya. Namun Kongsun Yan juga sangat gesit, dalam sepuluh jurus ia masih mampu balas menyerang empat kali, lantaran jaraknya terlalu dekat, angin pukulan lawan seakan-akan mengiris kulit mukanya bemapaspun sukar rasanya. Ketika Kongsun Yan berkelit dan melompat ke samping, segera ia berteriak. "Keparat Su Pek-to ini berani menganiaya anak, lekas datang membantu anakmu, ayah!" Su Pek-to terkesiap, satu jurus serangan dahsyat mendadak ditahan, katanya "Aku dan ayahmu adalah sahabat baik, kau jangan ngaco, lekas pergi saja!" Maklumlah Kongsun Hong adalah Pangtju Ang-eng-hwe yang merupakan perkumpulan Kangouw terbesar, kekuatannya bahkan lebih besar dari Liok-hap-pang, juga ilmu silat Kongsun Hong sendiri lebih tinggi daripada Su Pek-to, makanya Kongsun Hong termasuk salah seorang yang disegani oleh Su Pek-to. Ia pikir si tua Kongsun Hong entah benar-benar ikut datang atau tidak, buat apa aku bermusuhan dengan dia Biarlah anak dani ini kulepaskan saja tapi si bocah she Kim itu harus kubekui Dengan keputusan demikian segera Su Pek-to memutar balik, ia bergabung dengan Bun To-tjeng mengerubuti Kim Tiok-liu. Untung Su Pek-to telah dihalangi sejenak oleh Kongsun Yan sehingga Kim Tiok-liu sempat berganti napas, dengan sendirinya Hou-deh-sin-kang dapat bekerja lancar, tenaga dalamnya cepat timbul kembali, meski belum pulih seluruhnya tapi sebagian besar sudah bekerja lagi. Cepat ia memutar pedangnya, sekaligus ia menyerang Su Pek-to di sebelah kiri dan menyerang Bun To-tjeng di sebelah kanan. Serangan kepada Su Pek-to hanya gerakan pancingan saja sehingga tidak sampai kebentur orang-orangan tembaga yang berat itu, tapi jurus serangannya cukup lihai, sekaligus mengancam beberapa Hiat-to lawan. Ketika Su Pek-to menarik senjatanya buat menjaga diri, terdengarlah "tring" Yang nyaring, Bun To-tjeng didesak mundur dua tindak. Kiranya serangan Kim Tiok-liu kepada Bun To-tjeng itu adalah serangan sungguh-sungguh, walaupun pedang lemas Bun I o-tjeng tidak sampai terkurung oleh Hian-tiat-pokiam, tapi tidak sanggup menahan daya gempur pedang wasiat yang lihai itu. Dalam pada itu Kongsun Yan sedang menengok ke sana kemari dan tetap tidak menemukan Lam-sing. Mendadak Bun Seng-tiong menjengek. "Bocah she Le itu sudah dibinasakan oleh Su-pangtju, kau dara manis ini lebih baik ikut aku saja!" Dasar watak Bun Seng-tiong memang suka main perempuan, sekalipun tahu kepandaian Kongsun Yan cukup lihai, tapi ia menyangka seorang nona yang telah terkepung rapat mampu berbuat apa, maka ia maju hendak menangkap Kongsun Yan. Ketika mendengar pernyataan Kim Tiok-liu bahwa Lam-.ing tidak dilihatnya tadi, Kongsun Yan sudah merasakan firasat tidak enak. Karena kata-kata Bun Seng-tiong itu, laksana halilintar di siang bolong yang membuatnya bertambah kaget, hampir saja ia jatuh kelengar. Alangkah senangnya Bun Seng-tiong melihat si nona tertegun kaget, segera ia menubruk maju. Di luar dugaan mendadak Kongsun Yan sadar, rasa gusarnya lantas memuncak. "Awas!" Cepat The Hiong-toh memperingatkan kawannya, tapi sudah kasip, dimana sinar pedang berkelebat, Kongsun Yan menyerang dengan murka. "cret" Bahu kiri Bun Sengtiong kontan tertembus. Tanpa peduli mati-hidup Bun Seng-tiong, cepat Kongsun Yan menarik pedangnya terus menyerang ke arah Su Pek-to. Su Pek-to menjadi gusar, dampratnya. "Aku hanya mengingat akan ayahmu, maka memberi jalan hidup padamu, jika kau sendiri yang mencari mampus, maka jangan salahkan aku lagi!" "Kau yang membunuh Le Lam-sing kan? Kau yang membunuhnya bukan?" Teriak Kongsun Yan berulang-ulang dengan suara serak. Su Pek-to berpikir kalau mengatakan tidak pernah membunuh Le Lam-sing tentu orang lain akan mengira dia takut pada Kongsun Hong, maka dengan angkuh ia menjawab. "O, kiranya kau telah jatuh hati kepada bocah she Le itu? Ya, memang aku telah membunuhnya. Apanya yang baik bocah seperti itu? Ai, keponakanku yang baik kau jangan bersedih, nanti akan kuganti dengan seorang pacar yang ganteng." Le Lam-sing memang betul terluka parah kena pukulan Su Pek-to, cuma mati atau hidup tidak diketahui dengan pasti oleh Pek-to sendiri, hanya ia yakin Le Lam-sing pasti sudah mati. Kongsun Yan berteriak pula "Le-toako mati, aku pun tidak ingin hidup lagi! Biar kau bunuh aku sekalian, tentu ayah akan menuntut balas padamu. Su Pek-to, hari ini aku pasti mengadu jiwa denganmu!" Berbareng itu, sekaligus ia memberondong belasan kali serangan ke arah Su Pek-to. Serentak Kim Tiok-liu dan Su Ang-ing sama-sama berpikir. "O, kiranya Le-toako sudah mempunyai kekasih, nona Kongsun ini benar-benar tak terbatas mencintainya." Mereka merasa sangat terhibur karena Le Lam-sing telah mendapatkan jodoh, tapi mereka menjadi kuatir juga karena mati atau hidup Le Lam-sing tidak diketahui. Namun menghadapi musuh tangguh, terpaksa mereka harus memusatkan perhatian untuk bertempur sekuatnya tanpa bisa banyak berpikir lagi. Tempat luang di antara dua gunung-gunungan itu sangat terbatas, Kim Tiok liu, Su Pek-to dan Bun To-tjeng adalah jago-jago kelas wahid, pertarungan sengit di antara mereka bertiga mana bisa disela oleh orang lain, tapi The Hkmg-toh ternyata tidak tahu diri, ia mengira ilmu Tiat-soa-tjiangnya cukup lihai, maka berani maju membantu. Tidak terduga goncangan angin yang dijangkitkan Hian-tiat-pokiam saja sudah membuatnya terhuyung-huyung dan tepat terbentur oleh orang-orangan tembaga yang diputar Su Pek-to, tanpa ampun lagi ia terkapar binasa. Dalam pada itu Bun To-tjeng juga menguatirkan puteranya, ia berseni memanggil. "Anak Tiong, bagaimana keadaanmu?" "Aku terluka parah oleh anak busuk itu, balaskan sakit hatiku ini, ayah!" Teriak Bun Seng-tiong dengan suara lemah. Bun To-tjeng tidak tahu persis keadaan luka puteranya itu, pikirannya menjadi kacau. Su Pek-to berkata padanya. "Putera-mu pasti takkan mati, dari suaranya dapat kuduga akan hal ini, kau jangan kuatir." "Lukanya seperti sangat parah," Ujar Bun To-tjeng. "Tidak sampai mati," Kata Su Pek-to dengan nada dingin. "Sekalipun mati juga berkorban bagi Sri Baginda jasa kalian ini tidaklah kecil." Terkesiap hati Bun To-tjeng, pikirnya "Benar, pada saat yang menentukan ini aku harus mengambil keputusan tegas dan tidak dapat mundur. Jika aku memikirkan anak, tentu tidak dapat memikirkan kedudukan dan nama lagi." Namun demikian toh hatinya tetap merasa kuatir. Posisi sekarang menjadi dua lawan tiga. Di pihak Kim Tiokliu meski lebih banyak satu orang, tapi kepandaian Kongsun Yan dan Su Ang-ing lebih lemah, bahkan tenaga mereka tidak tahan lagi setelah bertempur sekian lamanya. Untung Su Pekto merasa jeri terhadap Kongsun Hong, betapapun ia tidak berani melukai Kongsun Yan. Sebaliknya Bun To-tjeng terpencar perhatiannya karena memikirkan keselamatan puteranya, dengan demikian pertempuran kedua pihak menjadi seimbang. Di tengah pertarungan sengit itu tiba-tiba terdengar suara dentuman meriam yang keras, makin lama makin kerap. Tidak lama kemudian suara gemuruh medan pertempuran pasukan besar serta derap kuda yang riuh juga sayup-sayup terdengar. Saat itu Swe Beng-hiong sedang ubek-ubekan mencari Hotoanio, ketika mendengar suara dentuman meriam, seketika hatinya tidak tenteram. Tiba-tiba dilhatnya An Tjun-ting sedang diuber-uber oleh sepasang laki perempuan. Rupanya sesudah pem-bantu-pembantunya dikocar-kacirkan oleh Kongsun Yan, sekarang An Tjun-ting juga tidak mampu melawan Li Tun dan is-terinya Meski terluka, tapi kepandaian Swe Beng-hiong jauh di atas Li Tun berdua, cepat ia maju membantu An Tjun-ting sehingga Li Tun berdua digempur mundur. "Dimana Ho-toanio?" Tanya Swe Beng-hiong. "Ho-toanio sudah..... sudah terbunuh oleh bocah she Le itu," Sahut An Tjun-ting dengan napas terengah-engah. "Apa? Dia......dia sudah mati?" Seru Swe Beng-hiong kuatir, tanpa terasa darah segar tertumpah dari mulutnya saking cemasnya. "Bagaimana kau, Swe-tjiangkun?" Seru An Tjun-ting. Pada saat itulah seorang berlari datang dengan tergesagesa dan memberi laporan dengan napas megap-megap. "Tjiang..... Tjiangkun, pintu gerbang timur dan barat telah bobol diserang kawanan bandit, Tjiangkun diminta memimpin sendiri pertempuran, kalau tidak, mungkin sekali tidak mampu membendung kekuatan musuh." Padahal sesudah terkena jarum berbisa, berkat Lwekangnya yang kuat, Swe Beng-hiong telah bertahan sekian lamanya, betapapun tenaganya sudah lemah. Kematian Hotoanio membikin dia putus asa pula akan memperoleh obat pemunahnya, sekarang dia sedang gelisah dan kacau pikiran, mana dia ada semangat buat memimpin pertempuran segala Namun pasukan pemberontak sudah membobol benteng kota sebentar lagi pasti akan menyerbu tiba. Terus bercokol di dalam istana juga bukan jalan yang terbaik, terpaksa ia bersikap tenang dan menjawab. "Baiklah, segera aku akan memimpin sendiri pertempuran, An-tjamtjiang, lekas kumpulkan barisan pemanah, gunakan panah berbisa mampuskan semua bangsat itu!" "Bagaimana dengan Su Pek-to dan Bun Seng-tiong?" Tanya An Tjun-ting. "Peduli apa dengan mereka," Sahut Swe Beng-hiong gusar, la sudah terlalu gemas terhadap Kim Tiok-liu, maka dia lebih suka mengorbankan kawan sendiri daripada Kim Tiok-liu lolos bersama Su Ang-ing. Biarpun di mulut Swe Beng-hiong menyatakan hendak memimpin sendiri pertempuran, tapi di dalam batin sebenarnya dia sedang memikirkan jalan untuk menyelamatkan diri sendiri, terutama untuk memunahkan racun di dalam tubuhnya jiwa lebih penting daripada pangkat segala. Dalam pada itu terdengar suara pertempuran pasukan kedua pihak sudah semakin mendekat. Melihat gelagatnya pertempuran pasukan kedua pihak sudah terjadi di loronglorong dalam kota lekas Swe Beng-hiong mengganti pakaian sebagai prajurit biasa, lalu mengeluyur keluar kediamannya Tapi baru saja ia melangkah keluar pekarangan, dari depan ia dipapak oleh seorang tua berewok dengan tubuh kekar. Begitu kepergok, orang tua itu lantas membentak. "Rasakan pukulanku ini, Swe Beng-hiong!" Ternyata kakek ini bukan lain adalah Siangkoan Thay yang pernah kena dilukainya secara pengecut dahulu itu. Terpaksa Swe Beng-hiong menangkis sekuatnya "biang", kedua tangan beradu, Swe Beng-hiong mencelat terpental beberapa meter jauhnya, kembali darah segar tersembur dari mulutnya. Siangkoan Thay tidak tahu kalau Swe Beng-hiong sudah banyak kehilangan tenaga, ia rada melengak juga karena begitu gampang lawannya dihantam terpental. Pada saat ia tertegun itulah Swe Beng-hiong sempat melompat bangun terus berlari keluar dan menyembunyikan diri di tengah prajurit-prajurit yang saat itu berlarian serabutan. Tang Tjap-sah-nio tidak kenal kelihaian Siangkoan Thay, ia menubruk maju sambil membentak. "Tua bangka darimana kau?" Cambuknya lantas menyabet. "Perempuan siluman itu paling jahat, jangan ampuni dia, Siangkoan-tjianpwe!" Seru Ho Djay-hong. "Begitukah?" Ujar Siangkoan Thay, berbareng itu dengan tangan kiri ia terus memotong sehingga cambuk Tang Tjapsah-nio putus menjadi dua. Saking napsunya membetot Tang Tjap-sah-nio sampai jatuh terjengkang. Tanpa ampun lagi Li Tun dan Djay-hong menambahkan dua buah Hui-to, kontan jiwa Tang Tjap-sah-nio melayang. Ketika di Liok-hap-pang dahulu Li Tun banyak menerima hinaan dan baru sekarang rasa dendamnya terlampias. Melihat temannya sudah binasa, Wan-hay Hwesio menjadi ketakutan, cepat ia memutar tubuh dan angkat langkah seribu. Di dalam istana tidak kurang jago-jago pilihan, tapi dalam keadaan kacau, setiap orang sama mencari selamat sendirisendiri, mana ada orang yang mau menjual jiwa lagi bagi Swe Beng-hiong? Dengan susah payah akhirnya An Tjun-ting baru mendapatkan belasan pemanah dan dipasang di balik gununggunungan terus menghamburkan anak panah ke medan pertempuran. Su Pek-to menjadi gusar, teriak; "Kurang ajar! Masakah aku pun hendak kalian panah?" Dengan menjinjing senjatanya yang berat itu, ia terus melompat ke atas gunung-gunungan itu hendak membikin perhitungan pada An Tjun-ting. Tapi mendadak senjata rahasia berhamburan seperti hujan, cuma senjata-senjata rahasia itu tidak diarahkan padanya, juga bukan ke jurusan Kim Tiok-liu di sebelah bawah sana, tapi menyambar kebalik gunung-gunungan, tempat sembunyi regu pemanahnya itu. Seketika terdengarlah suara jeritan riuh ramai, belasan pemanah itu roboh semua terkena senjata rahasia. Mendadak dari atas rumah dan pagar tembok sana serentak muncul belasan orang menubruk tiba laksana burung melayang, mereka adalah Ubun Hiong, Kang Hiau-hu, Li Kong-he, Lim To-kan. Siangkoan Wan, Tiok Djing-hoa, ketiga pasang suamiistri ini adalah anak murid Kang Hay-thian. Di samping itu ada pula Tan Kong-tjiau, Tjiok Hek-koh dan Tjin Goan-ko serta Hong Biau-siang berdua pasangan. Pasukan pemberontak saat itu belum tiba, tapi belasan jago muda ini sudah mendahului menyerbu ke dalam istana Swe Beng-hiong, keruan musuh menjadi keder. Siangkoan Thay lantas membentak. "Pasukan pergerakan sudah masuk kota, yang ingin hidup lekas menyerahkan diri!" Pengawal-pengawal istana sebagian terluka parah atau mati, sebagian lagi sudah kabur, ada pula merasa percuma saja melawan, maka beramai-ramai mereka lantas membuang senjata dan menyerah. Jago-jago undangan Swe Beng-hiong yang lain banyak yang berlari ke sana kemari mencari selamat sendiri-sendiri. Dengan memutar orang-orangan tembaga yang berat itu Su Pek-to terus menerjang keluar sambil membentak. "Yang ingin mampus boleh cepat maju!" "Baik, kau ini Pangtju Liok-hap-pang tentunya? Aku justru ingin tahu betapa kelihaianmu!" Seru Ubun Hiong, berbareng ia terus menubruk maju sambil mengayun pedangnya. "Trang", pedang menahas di atas orang-orangan tembaga, Ubun Hiong merasa tangan kesemutan, badan tergetar mundur, tapi segera ia mendesak maju lagi. Su Pek-to terkejut karena Ubun Hiong tidak roboh oleh getaran senjatanya yang berat itu. Dalam pada itu terasa angin tajam menyambar juga dari belakang, pedang Tiok Djing-hoa tusuk punggungnya dengan gesit sekali. Lekas Su Pek-to meloncat setinggi mungkin, menyusul orang-orangan tembaga terus menghantam ke bawah, walaupun sempat menghindar, terasa sesak juga dada Tiok Djing-hoa oleh daya tekanan senjata musuh itu. Kembali Su Pek-to melengak karena hantamannya meleset, hampir pada saat yang sama Li Kong-he dan Lim To-kan juga menerjang maju dari kanan kiri, yang seorang bersenjata pedang dan yang lain golok, semuanya menabas bagian bawah tubuh Su Pek-to, golok menabas paha, pedang menusuk lutut. Senjata Su Pek-to teramat berat sehingga kurang gesit, maka bagian bawah memang merupakan tempat kelemahannya, keruan Su Pek-to terkejut, diam-diam ia mengakui kecerdikan kedua anak muda itu. Lekas kedua kakinya menendang susul-menyusul, dengan tepat pedang Lim To-kan kena ditendang lepas. Tenaga Kong-he lebih besar, walaupun goloknya tertendang juga, tapi tidak terlepas, ia hanya tergetar mundur. Namun tumit sepatu Su Pek-to juga tertabas oleh goloknya, hanya saja tidak sampai terluka. Namun begitu sudah cukup membikin Su Pek-to terkejut, pikirnya "Darimana datangnya setan-setan cilik ini, ternyata satu lebih lihai daripada yang lain. Kalau aku tidak lekas angkat kaki bukan mustahil bisa kapal terbalik di selokan." Rupanya tenaga Su Pek-to sudah banyak susut setelah sekian lamanya bertempur melawan Tiok-liu, sebaliknya Ubun Hiong dan kawan-kawan baru saja datang, sebab itulah mereka masih sanggup melawannya. "Siaususiok! Siaususiok!" Demikian Kong-he berteriak memanggil Kim Tiok-liu. Hubungannya paling baik dengan Tiok-liu, maka ia sudah sangat rindu kepada paman ciliknya itu, padahal saat itu keadaan Kim Tiok-liu tidak diketahui, maka ia buru-buru ingin menemuinya. Baru lenyap seruannya, terdengarlah suitan panjang, suara Kim Tiok-liu menjawab. "Inilah aku!" Berbareng itu ternyata ada dua sosok bayangan orang mengapung ke udara. Yang seorang melayang lewat di sebelah gunung-gunungan, yang lain melompat ke atas gunung-gunungan itu. Yang belakangan ini ladalah Kim Tiok liu, sedangkan yang duluan itu ternyata Bun To-tjeng adanya Bun To-tjeng tidak berani terlibat dalam pertempuran itu lebih lama ia menghindarkan diri dari sambutan rombongan LJbun Hiong dan buru-buru ingin mencari puteranya yang tidak diketahui bagaimana keadaan lukanya. Sementara itu jago-jago istana Swe Beng-hiong itu sebagian sudah kabur kecuali yang mati atau yang terluka parah. Bun To-tjeng memandang sekitarnya tidak lama dapatlah ia menemukan Bun Seng-tiong yang sedang kelabakan dicecar oleh serangan seorang wanita badan puteranya itu sudah belepotan darah. Wanita itu bukan lain adalah Hong Biau-siang, Kiong Pengya yang berdampingan dengan Bun Seng-tiong tadi sudah kabur lebih dulu, Bun Seng-tiong sendiri terluka parah, ia kuatir mati di tengah pertempuran sengit itu, terpaksa ia bertahan sekuat tenaga ia coba merangkak ke suatu tempat aman. Tapi sebelum tercapai maksudnya dia sudah kepergok Hong Biau-siang, mau tak mau ia harus bertempur lagi matimatian. Hong Biau-siang masih benci pada Bun Seng-tiong yang pernah memaksa kawin dengannya dahulu, tapi tiada tekad untuk membunuh pemuda itu. Sebaliknya Bun Seng-tiong yang ketakutan sendiri, begitu kepergok si nona ia omong tak keruan. "Adik Siang, harap ingat kebaikan dahulu, janganlah merintangi aku!" Maksud Bun Seng-tiong hendak meminta ampun, tetapi sebaliknya menimbulkan rasa benci Hong Biau-siang pada peristiwa dahulu, segera Biau-siang menjengek. "Hubungan baik apa antara kau dan aku? Hm, jika aku melepaskan kau, menandakan kelakuanku yang tidak genah malah?" Tanpa pikir lagi ia segera menusuk. Dalam keadaan luka parah, mana bisa Bun Seng-tiong melawan si nona. Hanya beberapa gebrak saja pergelangannya sudah tertusuk pedang Hong Biau-siang, senjata terlepas dari cekalan. Sebenarnya noda darah di tubuh Bun Seng-tiong itu adalah karena tusukan pedang Kongsun Yan tadi, namun Bun Totjeng menjadi kuatir, cepat ia membentak. "Jangan mencelakai anakku!" Dari jauh segera ia mengirim dulu satu pukulan sehingga pedang Bun Seng-tiong yang mencelat ke udara itu tertolak ke arah lain. Secepat kilat menyambar ke jurusan Tjin Goan-ko yang berada di belakang Hong Biausiang. Menyusul dengan cepat luar biasa Bun To-tjeng memburu maju, tubuh Bun Seng-tiong dirangkulnya dengan tangan kiri, pedang lemas di tangan kanan terus menyerang Hong Biau-siang. Beberapa gerak serangan Bun to-tjeng itu dilakukan hampir dengan sekaligus, sungguh seorang jago kelas wahid. Walaupun dia sudah bertempur sengit sejak tadi, tapi tenaga dalamnya masih tetap lebih hebat dari Tjin Goan-ko dan Hong Biau-siang. Untung Tjin Goan-ko sudah mendapat Lwekang murni Butong-pay, pedangnya berputar sambil mengegos ke samping, sambaran pedang yang didorong itu dapat dipunahkan dan menancap di atas tanah. Sebaliknya Hong Biau-siang yang kewalahan menangkis tusukan pedang Bun To-tjeng, sinar pedang berkelebat, tahutahu lengan baju Biau-siang sudah hancur bertebaran. Syukur Goan-ko lantas memburu maju, dengan jurus 'Pek-hong-koan djit' atau pelangi menembus sinar matahari, segera ia pun menusuk ke tubuh Bun Seng-tiong dalam rangkulan Bun Totjeng itu. Terpaksa Bun To-tjeng harus menyelamatkan puteranya, ia menarik kembali pedangnya untuk menangkis, dengan demikian barulah Biau-siang terhindar dari renggutan elmaut. Setelah rada tenang kembali, dengan gemas Bun Sengtiong berkata dengan suara lemah. "Ayah, bunuhkanlah bocah keparat itu!" Dari suaranya yang lemah, Bun To-tjeng tahu puteranya terluka tidak ringan. Entah jiwanya dapat diselamatkan tidak. Matinya menjadi sedih, sahutnya. "Baik, akan kulaksanakan keinginanmu ini!" Berbareng pedangnya berputar cepat, seketika Goan-ko dan Biau-siang terkurung di tengah lingkaran sinar pedangnya. Di sebelah sana Tan Kong-tjiau juga memergoki musuhnya, yaitu Wan-hay Hwesio dari Liok-hap-pang. Dua tahun yang lalu ketika Wan-hay membegal di daerah Siamsay, kebetulan perbuatannya dipergoki Kong-tjiau. Kedua orang lantas bergebrak, Wan-hay dilukai oleh pedang Kong-tjiau, sebaliknya jiwa Tan Kong-tjiau hampir melayang terkena senjata rahasia berbisa yang dihamburkan Wan-hay. Sekarang keduanya bertemu lagi, keruan Kong-tjiau tidak tinggal diam, sekali gebrak segera ia menerjang. Baca Juga: Pendekar Panji Sakti 12 Baca Juga: Pedang Bunga Mei 1