Eps 10 Pendekar Jembel - Liang Ie Shen
Baca online Pendekar Jembel - Liang Ie Shen
Cersil Pendekar Jembel - Liang Ie Shen.
"Trang", golok Wan-hay menangkis, tapi mata pedang Tan Kong-tjiau terus menyerempet ke samping dan mendadak Wan-hay merasa pundaknya kesakitan, ternyata sudah terluka. Sebenarnya kepandaian kedua orang selisih tidak banyak, meski Wan-hay lebih lemah juga tidak nanti terluka sekali gebrak saja. Soalnya pikirannya sudah kacau lantaran Tang Tjap-sah-nio sudah binasa dan kawan-kawannya yang lain telah ngacir, sebaliknya Kong-tjiau menyerang dengan jurus mematikan karena bertekad akan membalas dendam. Keruan Wan-hay bertambah keder, tanpa pikir lagi segera ia memutar tubuh dan angkat kaki. Namun Kong-tjiau juga tidak kalah cepat, segera ia menubruk maju.
"Sret-sret-sret"
Tiga kali, tusukan ketiga tak bisa dihindarkan lagi oleh Wanhay, dengan tepat punggungnya tertembus pedang, tamatlah seketika riwayatnya.
Tjiok Hek-koh yang mengikuti pertarungan itu di samping, kini dapat mengetahui keadaan pertempuran kacau itu, katanya.
"Ubun Hiong dan teman-teman mengerubuti Su Pekto, mereka tidak berbahaya, sebaliknya Goan-ko dan Biausiang yang melawan Bun To-tjeng mungkin bisa celaka."
"Baiklah, lekas kita ke sana membantu mereka,"
Sahut Tan Kong-tjiau.
Tadinya Bun To-tjeng mengira sekali dua gebrak saja sudah bisa membinasakan Tjin Goan-ko, siapa tahu meski kepan daian Goan-ko jauh lebih rendah daripada dia, tapi juga masih sanggup bertahan kalau cuma belasan jurus saja sekarang Kong-tjiau berdua keburu menyusul tiba di sebelah sana tampak Kim Tiok-liu melompat ke atas gunung-gunungan dan mengeluarkan suitan panjang.
Bun To-tjeng tahu Kong-tjiau adalah putera Tan Thian-ih.
kepandaiannya lebih tinggi daripada Goan-ko, belum lagi Tjiok Hek-koh yang mahir menggunakan racun, hal inipun tidak diremehkannya.
Biarpun tidak takut, tetapi kalau mereka berempat mengerubutnya betapapun sukar bagi Bun To-tjeng untuk mengalahkan mereka.
Apalagi Kim Tiok-liu sudah lolos dari kepungan di sebelah sana, jika Kim Tiok-liu memburu maju ke sini tentu sukar dibayangkan akibatnya nanti.
Terpaksa Bun To-tjeng harus mengambil keputusan buat meloloskan diri lebih dulu meski dalam hati menyesal tidak bisa mengabulkan harapan puteranya tadi.
Cepat ia memutar pedangnya dengan kencang, ia memaksa Goan-ko dan Biausiang melompat mundur, lalu seperti kerbau gila ia menerjang keluar.
Saat itu Kong-tjiau sudah dekat melihat Bun To-tjeng hen dak lari, segera ia menyambitkan senjata rahasia yang tiada ban dingnya di dunia ini, yaitu 'Peng-pok-sin-tan' (Peluru inti es), senjata rahasia ini menyerang musuh dengan hawa dingin yang khas.
Namun Bun To-tjeng sudah meyakinkan Sam-siang-sin kang dengan sempurna, hawa dingin peluru inti es itu tidak bisa mengapa-apakan dia.
Ketika ia menghantam, seketika peluru es itu hancur dan barulah menjadi gulungan kabut dingin.
"Hm, mana lagi senjata rahasiamu yang lain!"
Jengek Bun To-tjeng dengan sombong, berbareng ia melompat ke arah Tjiok Hek-koh.
Lekas Kong-tjiau memburu ke sana untuk menolong, tak terduga ini cuma tipu muslihat Bun To-tjeng saja untuk memancing mereka berdua bergabung menjadi satu, lalu ia menerjang ke arah lain dengan selamat.
Setelah keluar dari istana hati Bun To-tjeng merasa rada lega, terutama Kim Tiok-liu tidak nampak mengejarnya, maka ia yakin akan dapat kabur dengan selamat.
Baru saja ia bermaksud memberi obat kepada puteranya tiba-tiba dirasakannya tubuh Bun Seng-tiong sudah kaku, keruan kejutnya tidak terkatakan.
Kiranya Peng-pok-sin-tan yang disambitkan Kong-tjiau tadi meski tak bisa melukai Bun To-tjeng, tapi Bun Seng-tiong yang dalam keadaan terluka parah itu tidaklah tahan oleh serangan hawa maha dingin itu, darahnya seketika membeku, sekalipun malaikat dewata juga sukar menyelamatkan jiwanya.
Mengetahui puteranya sudah mati, betapa sedih hati Bun To-tjeng sudah tentu sukar dilukiskan, tapi sekarang ia dalam keadaan terpencil sendirian, mana dia berani kembali ke kota untuk menuntut balas, terpaksa ia memondong mayat puteranya dan menyelamatkan diri.
Kembali mengenai keadaan Su Pek-to di tengah keroyokan jago-jago muda ia masih memutar orang-orangan tembaga yang berat itu dengan ganasnya, sama sekali belum terlihat tanda-tanda kekalahannya, walaupun demikian hatinya sudah mulai keder, terutama sesudah melihat Bun To-tjeng melarikan diri dan munculnya Kim Tiok-liu.
Dalam hati Su Pek-to mencaci-maki Bun To-tjeng yang pengecut, tahunya menyelamatkan diri tanpa menghiraukan teman.
Pada saat itulah tiba-tiba sinar pedang berkelebat, tahu-tahu dadanya terancam tusukan pedang, Su Pek-to terkejut dan heran akan hebatnya ilmu pedang penyerangnya.
Kiranya Kang Hiau-hu yang menusuk, sejak kecil Hiau-hu mendapat didikan dari Kang Hay-thian, dalam hal ilmu silat sejati bahkan lebih hebat daripada Ubun Hiong dan lain-lain.
Lekas Su Pek-to mengegos dan mendoyongkan badan kebelakang, walaupun cukup cepat ia menghindar, tidak urung bahu kiri tergores luka oleh ujung pedang.
Keruan Su Pek-to menjadi murka, lalu dengan menggertak ia meloncat ke atas, orang-orangan tembaga terus menghantam ke bawal).
"Kematianmu sudah di depan mata, kau masih berani berlagak garang?,' bentak Khn Tiok-liu. Dalam keadaan mengapung di udara Su Pek-to sudah dapat merasakan sambaran angin Hian-tiat-pokiam yang berat. Jika senjatanya terus menghantam ke bawah, sekalipun jiwa Kang Hiau-hu melayang, tapi ia sendiri pun pasti akan mati di bawah pedang Tiok-liu. Terpaksa ia berjumpalitan sekuatnya, orang-orangan tembaga terus ditimpukkan ke arah Kim Tiok-liu, ketika Kim Tiok-liu menyampuk jatuh orangorangan tembaga itu, saat mana Su Pek-to melompat ke balik gunung-gunungan sana dan meloloskan diri dari kepungan. Tatkala itu Su Ang-ing meloncat ke atas gunung-gunungan itu, melihat kekalahan kakaknya yang begitu mengenaskan, dalam hati ia gegetun, jika mau insyaf dulu-dulu tentu kau takkan mengalami nasib seperti sekarang, demikian pikirnya. Kim Tiok-liu mendekati Ang-ing dan memegang tangannya sambil berbisik.
"Mengasolah dulu, Ang-ing!"
Ia tahu aoa yang terkandung dalam pikiran si nona, maka dengan alasan membantu menyalurkan tenaga dalamnya untuk membikin tenang pikiran si nona, berbareng menghindarkan diri mengejar dan membunuh Su Pek-to.
Dalam pada itu Su Pek-to sudah melintasi dua buah gunung-gunungan, baru merasa lega, tiba-tiba Tan Kong-tjiau dan Tjiok Hek-koh sudah menyambutnya lagi dari depan.
"Hendak lari kemana, keparat!"
Bentak Tjiok Hek-koh.
Ia masih dendam kepada Su Pek-to, maka dengan gemas senjatanya yang menyerupai ular terus menyabet ke depan.
Senjata aneh itu adalah buatan Hek-koh sendiri, namanya 'Kim-tjoa-soh', tali ular emas, pada badan tali itu terdapat tujuh buah gelang emas, kalau disendai, gelang-gelang emas itu akan tersentak lepas dan merupakan senjata rahasia yang lihai, ujung tali yang mirip kepala ular itu mengandung bubuk racun pula yang halus dan hampir tak kelihatan.
Senjata aneh ini memang disiapkan oleh Hek-koh untuk menghadapi Su Pek-to, ketika di Yangtjiu belum ada kesempatan digunakan, baru sekaranglah dapat dipakai.
Kini Su Pek-to sudah tidak bersenjata, ia pun tahu Tjiok Hek-koh mahir menggunakan racun, maka ia kuatir akan kena batunya.
Cepat ia menarik sebelah tangannya ke dalam lengan baju, lalu lengan baju itu dikebalkan sambil membentak.
"Lepas!"
Sekali menggulung, seketika Kim-tjoa-soh Tjiok Hekkoh terlibat dan kena dibetot lepas.
Meski senjata Tjiok Hek-koh terlepas dari tangan, tapi ketujuh gelang emas yang tertempel di atas Kim-tjoa-soh itu lantas tersentak lepas.
Su Pek-to sudah hampir kehabisan tenaga sesudah bertempur sekian lamanya, lengan bajunya hanya mampu melibat Kim-tjoa-soh dan tidak kuat menyampuk gelang-gelang emas itu dengar angin kebasinnya.
Namun Su Pek-to benar-benar hebat, meski tidak kuat menyampuk jatuh gelang-gelang emas itu, pada saat yang berbahaya ia masih sanggup meloncat tinggi sehingga sinar emas berseliweran menyambar lewat di sisi tubuhnya, tapi tidak urung jidatnya terkena juga sebuah senjata rahasia itu sehingga darah mengucur, la berjumpalitan di atas dan ternyata tidak sampai jatuh terguling.
Untung jidatnya tersambar gelang emas yang bertepi tajam itu pada saat dia berjumpalitan sehingga kepalanya tidak sampai pecah melainkan cuma keserempet saja.
Dalam pada itu dengan cepat luar biasa Kong-tjiau juga lantas menubruk maju, pedang terus menusuk.
Su Pek-to menjadi murka, bentaknya.
"Kurangajar, kau pun berani main gila padaku!"
Di tengah berkelebatnya pedang, tiba-tiba terdengar suara "tring"
Sekali, pedang Tan Kong-tjiau kena diselentik oleh Su Pek-to.
Dengan sisa tenaga yang masih ada itu, tenaga selentikan Su Pek-to benar-benar hebat sehingga pedang Kong-tjiau terpental jatuh.
Menyusul itu Su Pek-to bermaksud menambahi serangan maut lagi untuk membereskan Kong-tjiau.
Tapi mendadak sekujur badan terasa gatal, tenaga sukar dikerahkan, mestinya ia bermaksud melompat maju, tapi baru setengah langkah sudah tidak kuat lagi, dengan sendirinya pukulannya menjadi sia-sia.
Kiranya tanpa terasa Su Pek-to terkena bubuk racun yang berada di ujung senjata Tjiok Hek-koh tadi, bubuk racun itu walaupun tidak jahat, tapi membuatnya gatal tidak kepalang sehingga iusanya ingin sekali menggaruk badannya yang gatal tak tertahankan itu.
Di sebelah sana, sesudah pedangnya terlepas dari tangan, kuatir lawan menubruk maju lagi, cepat Tan Kong-tjiau juga menyambalkan tiga butir Peng-pok-sin-tan.
Kontan Su Pek-to bergidik merinding.
Jika dalam keadaan biasa, ketiga butir peluru es itu mana bisa membuatnya kedinginan, paling-paling malah membuatnya merasa nyaman.
Tapi sekarang ia merasakan hawa dingin yang tak tertahankan, maka dapat dibayangkan betapa lemah tenaga dalamnya, ini pertanda keadaannya yang sudah payah seperti pelita yang hampir kehabisan minyak.
Sekuatnya Su Pek-to menggigit ujung lidahnya, rasa sakil gigitan ini lantas membelokkan rasa gatal yang tak tertahankan tadi, rasa dingin badan juga rada berkurang.
Ia tidak berani bertempur lagi, lekas ia menarik napas panjang, lalu menerjang keluar.
Dengan demikian tertampak pula keadaannya yang sudah payah itu.
"He, Su-toapangtju, kenapa kau lari terbirit-birit seperti anjing digebuk?"
Ejek Kong-tjiau.
Sungguh mendongkol sekali Su Pek-to, tapi apa mau dika ta, dalam keadaan demikian terpaksa ia pura-pura tidak mendengar dan paling perlu menyelamatkan diri.
Ternyata Siangkoan Thay sudah siap di ambang pintu, serunya dengan tertawa.
"Aku tidak ingin menggebuk anjing lari, tapi untuk lolos dari rintanganku kau harus menyambut pukulan-ku ini!"
Terpaksa Su Pek-to harus nekat, ia menghimpun seluruh sisa tenaga untuk menyambut pukulan Siangkoan Thay.
"plak", Siangkoan Thay tergetar mundur dua langkah, sebaliknya Su Pek-to muntah darah. Sebagai tokoh angkatan tua persilatan, Siangkoan Thay enggan menyerang lawan yang berada dalam keadaan payah seperti Su Pek-to saat ini. Ia pun kagum juga atas tenaga Su Pek-to yang hebat itu meski sudah payah toh masih mampu menerima pukulannya tadi, ia pun tidak sudi merintangi lagi dan bermaksud melepaskan lawannya. Tak terduga Su Pek-to ternyata sangat licik, ia menyangka orang siap akan menyerangnya lebih lanjut. Kebetulan saat itu ada seorang prajurit yang berlari lewat di sebelahnya tanpa bicara lagi Su Pek-to mencengkeramnya terus dilemparkan ke arah Siangkoan Thay dengan kepandaian 'Keh-but-toan-kang' (melancarkan tenaga melalui benda lain). Keruan saja perajurit itu menjerit ketakutan setengah mati, Siangkoan Thay menjadi tidak sampai hati untuk mencelakainya, namun untuk menghindari juga tidak sempat lagi, terpaksa ia memegang prajurit itu untuk diturunkan. Tidak terduga, karena maksud baiknya itu, berbalik ia hampir celaka di bawah ilmu 'Keh-but-toan-kang' yang dilontarkan Su Pek-to itu. Biarpun seperti pelita yang sudah hampir padam kehabisan minyak, tapi gontokan Su Pek-to yang terakhir ini sungguh sangat lihai. Kalau Siangkoan Thay mau menggunakan tenaga tentu prajurit itu dapat dihantam terpental dan dia sendiri takkan cidera apa-apa. Cuma sekarang ia hendak menyelamatkan prajurit itu dan hanya memegangnya untuk diturunkan ke bawah, dengan demikian sisa kekuatan Su Pekto yang dilontarkan melalui badan prajurit itu seketika menindih datang laksana gugur gunung dahsyatnya. Ia merasa seperti digodam dadanya, matanya sampai berkunang-kunang, lekas ia melepas tangan sehingga prajurit itu terjatuh dan binasa. Ternyata maksud baik Siangkoan Thay itu tetap tak bisa menolong jiwa si prajurit, sebaliknya ia sendiri pun terluka dalam sedikit. Untung ia lantas melepas tangan dan melangkah mundur sehingga sebagian tenaga gontokan Su Pek-to itu dapat dielakkan. Melihat itu, cepat Siangkoan Wan, Tiok Djing-hoa, Ubun Hiong dan lain-lain memburu maju.
"Bagaimana kau, ayah?"
Tanya Siangkoan Wan.
"Tidak apa-apa,"
Sahut Siangkoan Thay dengan tersenyum pahit.
"Tak kusangka dia mirip anjing gila saja, maksudku hendak melepaskan dia, siapa tahu dia malah menggigit."
Setelah mengerahkan sisa tenaganya tadi, keadaan Su Pekto bertambah payah, la berlari keluar, terasa separoh badannya sudah kaku.
Rupanya daya tahan badannya sudah berkurang, maka bubuk racun serta hawa dingin peluru es serentak bekerja di dalam tubuhnya.
Sebisanya Su Pek-to mengerahkan tenaga untuk melawan rasa dingin dan gatal aneh itu, ia berteriak sekuatnya.
"Semua orang Liok-hap-pang ikut aku menerjang keluar!"
Kedatangan Su Pek-to ke Sedjiang untuk mengawinkan adik perempuannya ini membawa serta tidak sedikit anak buahnya, walaupun banyak yang melarikan diri, tapi sisanya masih ada ratusan.
Jika ratusan anak buah ini mau ikut menerjang bersama, bukan mustahil akan dapat membobol kepungan dan bisa menyelamatkan diri.
Anehnya anak buahnya itu ternyata tidak melarikan diri sejak tadi, tapi saat itu nampak sedang berkumpul di pekarangan sana.
Biasanya perintah Su Pek-to sangat berwibawa, ia mengira dengan bentakannya tadi tentu anak buahnya akan taat kepada perintahnya.
Di luar dugaan, ratusan anak buahnya itu lantas berteriak.
"Su Pek-to, kau berbuat sewenang-wenang, siapa yang sudi mengaku kau lagi sebagai Pangtju?"
"Ya, kami sudah mendukung nona Su sebagai Pangtju baru!"
Teriak yang lain.
Kiranya hal ini adalah jasa Li Tun.
Di tengah kekacauan, ratusan anggota Liok-hap-pang ini sempat di-kumpulkan oleh Li Tun yang mereka kenal, lalu Li Tun memberi nasehat agar kembali ke jalan yang benar dan meninggalkan Su Pek-to yang kejam itu.
Melihat gelagatnya memang tidak menguntungkan, mau tak mau anggota-anggota Liok-happang itu menerima baik bujukan Li Tun.
Keruan Su Pek-to menjadi beringas, lalu bentaknya dengan murka.
"Bagus, kalian berani mengkhianati aku, akan kubunuh kalian satu persatu!"
Ia menggigit lidah sendiri sehingga menyemburkan darah, dengan rambut terurai laksana binatang buas ia terus menubruk maju.
Rupanya menghadapi keadaan yang terpencil itu, saking gusarnya pikirannya menjadi kurang waras.
Anggota-anggota Liok-hap-pang itu telah kenyang ditindas oleh Pek-to, sekarang melihat bekas pemimpinnya itu menerjang dengan kalap, betapapun mereka menjadi takut juga.
Tiba-tiba Su Pek-to melihat kudanya sedang dituntun oleh tukang kuda dan meringkik ketakutan di sudut sana, segera ia memburu ke sana.
Kudanya itu bernama 'Tjiau-ya-say-tju' (Singa cahaya malam), termasuk kuda pilihan yang jarang ada bandingannya, kalau kuda itu dapat dirampas kembali, maka tidak sulit baginya untuk meloloskan diri.
Di luar dugaan, sesudah dekat, mendadak tukang kuda itu mencabut belati dan mengadang dengan muka pucat.
"Lekas minggir! Kau juga berani membangkang padaku?"
Bentak Su Pek-to sambil melangkah maju dan menjotos. Ia mengira tukang kuda itu pasti akan lari ketakutan digertak. Tak tersangka tukang kuda itupun menjadi nekat dan balas membentak.
"Selama ini kau tidak pernah memandang aku sebagai manusia kenapa aku tidak berani membangkang padamu? Baik, kau garang, kau kejam, jiwaku tidak bernilai sepeser pun, biar aku mengadu jiwa saja padamu!"
Jotosan Su Pek-to itu ternyata tidak dihiraukan tukang kuda itu, sebaliknya ia pun membarengi menikam dengan belatinya.
Rupanya tukang kuda itu mula-mula bermaksud melarikan diri, ia mencabut belati hanya ingin membela diri saja.
Tapi ketika mendadak Su Pek-to menghardiknya dengan bengis dan akan menghantamnya, seketika timbul bayangan macammacam perlakuan Su Pek-to pada masa yang lampau, tanpa terasa ia menjadi murka, rasa dendamnya seperti dibakar dan memuncak, seketika seorang pengecut berubah menjadi pemberani dan melupakan rasa takut.
Su Pek-to melengak juga ketika melihat si tukang kuda berani melawannya.
Dalam pada itu tiba-tiba tangannya terasa sa-kit, kiranya kepalan yang menjotos ke depan itu kena belati si tukang kuda sehingga tulang jari putus dan darah bercucuran.
Sudah tentu sedikit luka ini tidak membikin jeri Su Pek-to, segera ia mendesak maju, belati si tukang kuda lantas direbut, menyusul kakinya melayang.
"biang", tukang kuda itu ditendang terjungkal. Dengan bergelak tertawa Su Pek-to lantas menyemplak ke atas kuda. Di luar dugaan, belum habis tertawanya, duduknya di atas pelana juga belum benar, mendadak kakinya terasa lemas dan terperosot jatuh ke bawah. Seperti dikatakan tadi, keadaan Su Pek-to sudah seperti pelita kehabisan minyak, hanya karena kalapnya saja ia masih sanggup menghajar si tukang kuda. Tapi setelan kena belati tukang kuda itu, rasa garangnya seketika punah, laksana balon gembos saja ia menjadi lemas dan tidak sanggup naik kuda lagi. Dalam pada itu si tukang kuda telah merangkak bangun, kemudian balas mengejek dengan terbahak-bahak.
"Su Pek-to Toapangtju, ternyata kau pun bisa mengalami nasib seperti sekarang? Hahaha! Katanya kau mau membunuh aku? Hayolah lekas bunuh diriku, lekas! Hahaha, kalau tidak, akulah yang akan membunuh kau!"
Su Pek-to juga merangkak bangun, ia pelototi si tukang kuda yang sedang mendekatinya dengan pelahan.
Ia menghela napas putus asa, ia tahu tukang kuda itu tidak mati kena tendangannya, ini menandakan dirinya sudah tak berguna lagi.
Anggota-anggota Liok-hap-pang tadi melihat si tukang kuda saja berani nekat melawan Su Pek-to, mau tak mau mereka menjadi tabah, sambil berteriak mereka lantas merubung maju.
"Su Pek-to, dalam keadaan demikian apakah kau masih tetap tidak mau insyaf?"
Seru Kini Tiok-liu. Saat itu Su Pek-to sudah berdiri di hadapan si tukang kuda, sinar mata si tukang kuda yang penuh dendam kesumat itu membuatnya keder juga, pikirnya.
"Selama ini aku malang melintang dan berkuasa, terhadap orang-orang seperti dia ini biasanya memukul atau memaki sesukaku, pantas juga jika mereka benci padaku. Kim Tiok-liu mau mengampuni aku, tapi orang-orang ini apakah mau? Andaikan orang-orang inipun mau memaafkan aku, lalu kemana wibawaku selama ini harus kutaruh? Terang tiada tempat berpijak lagi bagiku."
Selama hidup Su Pek-to entah betapa banyak musuh tangguh yang telah dihadapi, tapi belum pernah timbul rasa takutnya seperti sekarang ini.
Seorang tukang kuda yang sepele, yang tidak pernah digubris olehnya pada hari-hari biasa, ternyata telah membuatnya sedemikian kuatir.
Soalnya bukan karena si tukang kuda itu berkepandaian tinggi, tetapi pada diri si tukang kuda itulah dirasakan ngerinya seorang pemimpin yang telah ditinggalkan oleh anak buahnya.
Terasa seramnya orang yang bermusuhan dengan umum.
Cuma sayang baru sekarang ia tahu akan keadaan demikian dan sudah terlambat.
Sekalipun Su Pek-to adalah seorang yang berkepala batu, biarpun pada saat ajalnya tetap pantang menyerah.
Tapi di bawah tatapan berpuluh pasang mata, di bawah tudingan orang banyak, mau tak mau ia menjadi takut dan menundukkan kepala, la menghindarkan sinar mata si tukang kuda yang tajam itu, ia menghela napas, katanya.
"Tidak perlu kau membunuh aku, biarlah aku menyerahkan jiwaku ini kepada kalian!"
Habis berkata.
"Bles", ia menikam dada sendiri dengan belati yang dirampasnya dari si tukang kuda tadi dan tamatlah jiwanya. Su Ang-ing sudah menduga akan kemungkinan nasib kakaknya seperti sekarang ini, namun ia pun tidak tega menyaksikan kematian kakaknya yang mengenaskan itu. Segera ia melengos dan mendekap di atas bahu Tiok-liu. Tiok-liu berkata.
"Swe Beng-hiong belum tertangkap, ma-J rilah kita pergi mencari dia. Pula....."
"Benar,"
Sahut Su Ang-ing.
"Swe Beng-hiong adalah biang keladi dari segala kejahatan ini, jangan sekali-kali membiarkan dia lolos. Pula Le-toako harus kita ketemukan."
Rupanya Kim Tiok-liu kuatir Su Ang-ing berduka atas kematian kakaknya itu, maka sengaja menyebut dua soal itu untuk mengalihkan perhatiannya.
Dalam pada itu si tukang kuda telah menuntun kuda asuhannya ke hadapan Su Ang-ing, katanya.
"Nona Su, biasanya engkau sangat baik terhadap kami. Engkau menjadi Pangtju saja dan kami akan mengabdi dengan sepenuh hati. Hamba telah memaksa kematian bekas Pangtju, kalau nona menganggap tidak pantas, hamba rela dihukum....."
"Ini bukan salahmu,"
Sahut Ang-ing dengan suara rendah "Dosa kakakku memang pantas menerima ganjarannya. Kau tetap kembali kepada tugasmu dan mengabdi untuk kepentingan Pang kita."
"Baiklah, kuda ini silakan dipakai,"
Kata si tukang kuda.
Tjiau-ya-say-tju ini adalah kuda pilihan yang sehari mam pu berlari ribuan li jauhnya, menggunakannya untuk mengejai musuh sudah tentu sangat tepat.
Su Ang-ing juga tidak banyak bicara, ia memanggut setuju terus menyemplak ke atas kuda.
Sementara itu pertempuran di dalam kota sudah hampir selesai, kerugian di pihak pasukan kerajaan sangat besar, yang mati atau luka dan yang menyerah ada separah, sisanya sama melarikan diri.
Dari seorang prajurit, Ang-ing mendapat kabar, katanya pasukan kerajaan melarikan diri melalui pintu gerbang utara.
Ke jurusan itulah Ang-ing lantas mengejar dengan kudanya, hanya sekejap saja Kim Tiok-liu sudah tertinggal jauh di belakang, Kuatir Ang-ing mengalami apa-apa karena mengejar musuh sendirian, terpaksa Tiok-liu merebut seekor kuda di tengah kota yang kacau itu, lalu ikut mengejar.
Setelah belasan li jauhnya, tiba-tiba satu regu pasukan pergerakan membawa kembali tiga tawanan.
Ketika ditanya, kiranya tawanan itu adalah perwira bawahan Swe Beng-hiong.
Cepat Ang-ing bertanya.
"Dimana Swe Beng-hiong?"
Namun tawanan itu tetap menutup mulut tak mau menjawab.
"Bagus, barangkali kalian memang minta dihajar dahulu!"
Teriak Ang-ing dengan gusar, ia memutar cambuknya dan bermaksud memaksa pengakuan tawanan-tawanan itu.
"Nona Su,"
Tiba-tiba komandan regu pasukan pergerakan itu mencegah.
"Mereka sudah menjadi tawanan kita, janganlah kita anggap lagi mereka sebagai musuh di medan perang. Mereka mau memberi keterangan atau tidak adalah kebebasan mereka. Yang penting kita harus menghancurkan musuh, andaikan panglima mereka berhasil melarikan diri juga tidak menjadi soal."
Kiranya pemimpin pasukan pergerakan, yaitu Yap Boh-hoa telah memberikan perintah perlindungan kepada tawanan.
Sebab itulah komandan regu tadi telah berbicara kepada Anging dengan ramah mengingat si nona bukan anggota mereka, namun politik melindungi tawanan itupun sudah cukup dijelaskan olehnya.
Tawanan-tawanan itu tadinya mengira nasib mereka pasti mati, tapi mereka menjadi girang setelah mengetahui politik perlindungan kepada tawanan yang didengarnya itu.
Sekarang mereka sama bicara tanpa diminta.
"Kami memang tidak tahu ke-mana larinya Swe Beng-hiong."
"Orang yang baru saja lolos dari rombongan kami adalah An Tjun-ting, orang kepercayaan Swe Beng-hiong, mungkin dia mengetahui jejak atasannya itu,"
Kata yang lain. Meski tidak tahu kemana perginya Swe Beng-hiong, tapi sedikitnya sudah mendapat petunjuk yang berharga.
"O, kiranya An Tjun-ting baru saja lolos, akan kukejar dia sekarang juga!"
Kata Ang-ing.
"Buat apa nona Su mengambil resiko mengejar musuh seorang diri?"
Komandan regu pasukan pergerakan tadi menasihati.
"Aku tahu lolosnya satu-dua orang panglima musuh di medan perang tidaklah menjadi soal,"
Sahut Ang-ing.
"Tapi dendamku kepada Swe Beng-hiong sedalam lautan, kalau aku tidak menangkapnya hatiku tetap penasaran."
Habis berkata, Ang-ing lantas melarikan kudanya ke arah yang ditunjuk.
Tidak lama kemudian, benar juga dilihatnya An Tjung-ting menunggang seekor kuda apkiran sedang melarikan diri ke jurusan tempat sepi.
"An Tjun-ting, kau tak bisa lari lagi!"
Bentak Ang-ing dari jauh.
Kepandaian An Tjun-ting sebenarnya tidak di bawah Anging, cuma ia tidak tahu apakah di belakang si nona masih ada teman atau tidak, maka ia tidak berani terlibat pertempuran lagi.
Ketika Ang-ing sudah memburu maju, segera ia menyambutnya dengan tiga buah pisau terbang.
Tjiau-ya-say-tju adalah kuda perang yang berpengalaman dan sangat tangkas, begitu melihat bahaya mengancam, tanpa diperintah lagi sudah lantas meloncat ke samping.
Berkat kegesitan kuda itu, dapatlah Ang-ing menghindarkan dua bilah pisau terbang itu.
Berbareng pisau yang ketiga lantas digulungnya dengan ujung cambuk.
"Kalau menerima tanpa memberi adalah kurang sopan!"
Teriak Ang-ing, segera ia menyendal ujung cambuk, pisau yang tergulung itu lantas disambitkan kembali kepada tuannya.
"Blek", dengan tepat pantat kuda Ang Tjun-ting terkena pisau itu, tapi tepat kena tulang paha sehingga tidak menancap. Diam-diam Ang-ing gegetun, cepat ia memutar kudanya dan mengejar lagi. Walaupun pisau terbang itu tidak mengenai An Tjun-ting, namun sudah cukup membuatnya terkejut, la pikir kudanya pasti tak dapat meloloskan diri dari kejaran si nona, apalagi sekarang Sudah terluka. Terpaksa ia harus nekat mengadu jiwa, tapi kuatir pula Ang-ing membawa bala bantuan. Sementara itu Ang-ing sudah mengudak sampai di belakangnya lagi, jaraknya tinggal beberapa meter saja. Sekilas pandang tiba-tiba An Tjun-ting seperti menemukan sesuatu, cepat ia berseru.
"Nona Su, untung kau menguber diriku? Aku hanya anak buah saja, musuhmu yang benar kan Swe Beng-hiong adanya!"
"Baik, lekas kau katakan dimana Swe Beng-hiong berada dan aku akan mengampuni kau,"
Kata Ang-ing.
"Jauh di ujung langit, dekat di depan mata, beberapa orang yang bersembunyi di sana itu terdapat pula Swe Beng-hiong,"
Kata An Tjun-ting.
"Baik, rasanya kau pun tak bisa lolos dari tanganku, bilamana kau berbohong, sekembalinya akan kubikin perhitungan padamu,"
Kata Ang-ing.
Segera ia melarikan kudanya ke arah yang dituding An Tjun-ting, dilihatnya hanya ada beberapa prajurit kerajaan bersembunyi di tengah semaksemak itu.
Kecewalah Ang-ing dan mengira An Tjun-ting memang menipunya, pada saat itu beberapa prajurit itu mendadak berhangkit terus berteriak melarikan diri dengan ketakutan.
Anging Juga tidak mengejar mereka.
Tiba-tiba dilihatnya tidak jauh dari tempat itu masih meringkuk seorang prajurit, ia heran mengapa lidak ikut lari.
Sekilas punggung prajurit yang mendekam di situ ftu seperti sudah dikenalnya.
Ia coba mendekati, cambuknya diayun, maksudnya hendak menarik prajurit itu untuk dilihat mukanya.
Tidak tersangka orang itu mendadak melompat bangun, ujung cambuk Ang-ing terus dipegang sambil membentak.
"Turun!"
Karena betotan yang keras dan lagi di luar dugaan, Ang-ing menjadi kaget dan tertarik jatuh ke bawah kuda.
Kiranya orang itu memang Swe Beng-hiong yang hendak dicarinya itu, dia telah bertukar pakaian prajurit biasa, mukanya dibikin kotor lagi dan berhasil lolos dari kota.
Semula ia pun berada bersama An Tjun-ting, tapi pada saat genting An Tjun-ting lantas meninggalkan atasannya untuk menyelamatkan diri sendiri.
Dengan mendekam di tengah semak-semak itu, Swe Benghiong mengira Ang-ing akan menyangka dia sebagai prajurit yang telah mati.
Tak terduga si nona malah mendekatinya, terpaksa ia melabraknya secara mendadak.
Swe Beng-hiong telah terkena jarum berbisa, tenaganya juga tinggal satu-dua bagian dari tenaga biasanya.
Namun Ang-ing juga sudah kepayahan karena telah bertempur sengit sekian lamanya, karena itu keadaan mereka sekarang menjadi berimbang.
Tapi lantaran Swe Beng-hiong menarik di luar dugaan sehingga Ang-ing kecundang dan terperosot ke bawah kuda, tanpa ayal lagi Swe Beng-hiong terus mengirim pukulan pada saat Su Ang-ing baru saja berdiri.
Cepat Ang-ing mengegos ke samping, tangan kanan tetap menarik cambuknya, tangan kiri lantas menutuk Hiat-to lawan.
Namun Swe Beng-hiong sempat menangkis, segera ia mendesak maju, tangan yang lain terus mencengkeram dada Ang-ing.
Malu dan gusar pula Su Ang-ing, sekali menggeliat dapatlah ia mengelak, menyusul lantas menutuk 'Lau-kiong-hiat' di tengah telapak tangan Swe Beng-hiong.
Karena serangan mendadak dari jarak dekat, tanpa ampun lagi Hiat-to itu tertutuk.
Tapi tangan Su Ang-ing juga keserempet oleh pukulan Swe Beng-hiong, cambuknya terlepas, terpaksa ia metompak mundur.
Swe Beng-hiong sendiri merasa lengannya sukar dikuasai lagi, kaku tak bertenaga, takut Su Ang-ing menyusulkan serang lebih lihai, lekas ia pun melompat ke samping.
Jalan pikiran Swe Beng-hiong sungguh amat cepat bekerjanya, setelah tidak berhasil menundukkan Su Ang-ing, segera ia berganti haluan hendak merebut kuda Tjiau-ya-saytju.
Di luar dugaan Tjiau-ya-say-tju ini benar-benar kuda yang luar biasa, binatang ini hanya kenal pada sang majikan saja.
Selain Su Pek-to dan Ang-ing kakak beradik yang dapat menungganginya, orang lain tak bisa diterima olehnya.
Dahulu Kim Tiok-liu juga pernah merebut kuda ini dan pernah kena didepak.
Berkat kepandaiannya yang tinggi akhirnya Kim Tiokliu dapat menaklukkannya, maka dapatlah dibayangkan betapa galak sifat binatang tunggangan itu.
Jika tidak terluka, tentu tidak sulit bagi Swe Beng-hiong untuk menguasai seekor kuda, tapi sekarang ia menjadi cari penyakit sendiri.
Baru saja ia memegang pelana dan mau menyem-plak ke atas, mendadak Tjiau-ya-say-tju membeda!, kaki belakang lantas mendepak menyusul terus melompat sambil meringkik.
Saat itu Swe Beng-hiong bani hendak melangkah, karena itu jidatnya kena didepak, kontan ia jatuh ke bawah.
Dalam pada itu cepat sekali Su Ang-ing mencabut pedangnya yang pendek terus menubruk maju dan menikam.
Untung Swe Beng-hiong sempat berguling ke samping, ia menyambar ranting kayu terus melompat bangun, katanya dengan menye-ngir.
"Su Ang-ing, kau masih rindu padaku bukan? Baiklah, boleh kau ikut aku ke akhirat untuk menjadi suami-istri di sana."
Kini ia sudah dilukai dua kali oleh Su Ang-ing, ia menjadi kalap dan bertekad akan mati bersama si nona.
Dalam keadaan kalap, walaupun sudah payah, namun ranting kayu di tangan Swe Beng-hiong itu tiada ubahnya seperti senjata, ia menyerang dengan gencar, semuanya mengarah titik-titik berbahaya di tubuh Ang-ing.
Ang-ing melihat keadaan Swe Beng-hiong sudah semakin payah, racun pada lukanya selekasnya akan bekerja, maka ia melayani dengan kalem, pula Ginkangnya memang lebih hebat dari lawan, dalam beberapa puluh jurus ia terus menghindar ke sana kemari.
Karena menyerang secara gencar itu, akhirnya Swe Benghiong kehabisan tenaga sendiri, pada suatu kesempatan.
"sret", ranting kayu lawan kena ditabas kutung oleh pedang Su Ang-ing. Tapi Swe Beng-hiong bertambah nekat, ranting kayu dibuang, kembali ia menerjang dengan tangan kosong. Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara derapan kuda, seorang penunggang kuda muncul dari balik rimba sama. Anging bergirang, serunya.
"Lekas kemari, Tiok-liu!"
Tapi ia menjadi terkejut ketika melihat yang datang itu ternyata bukan Kim Tiok-liu, sebaliknya adalah An Tjun-ting yang tadi sudah pergi dan sekarang datang kembali.
Kiranya kuda An Tjun-ting itu sudah terluka parah, sejak tadi ia belum jauh meninggalkan rimba itu.
Semula ia takut ada pengejar lain, tapi tak seberapa lama tiada nampak orang lain lagi kecuali pertarungan Swe Beng-hiong dan Su Ang-ing yang terdengar masih terus berlangsung.
Maka dengan menabahkan hati ia mencoba kembali untuk menjenguk.
Ia sudah mengambil keputusan akan bertindak menurut arah angin.
Bila Swe Beng-hiong menang, maka ia akan membunuh Su Ang-ing.
Kalau dalam waktu singkat pertarungan kedua orang itu tak bisa berakhir, maka ia bermaksud merampas Tjiau-ya-say-tju untuk melarikan diri.
Begitulah Ang-ing menjadi gelisah ketika melihat yang datang itu justru adalah begundal musuh, untung seruannya tadi menyebut nama Kim Tiok-liu hingga membikin keder An Tjun-ting dan tidak berani sembarangan bertindak Melihat keraguan An Tjun-ting, Swe Beng-hiong menjadi kelabakan, cepat ia berteriak.
"An Tjun-ting lekas bantu aku membinasakan budak ini, jasamu tentu akan kubalas dengan setimpal!"
Jika Swe Beng-hiong tidak mengiming-iming dengan balas jasa mungkin An Tjun-ting tidak sangsi, tapi janji balas jasa Swe-hiong berbalik membuatnya merinding sendiri.
Maklum, yang menunjukkan tempat persembunyian Swe Beng-hiong tadi adalah dia sendiri walaupun tidak sengaja.
Mustahil kelak rahasia ini takkan ketahuan dan tentu dirinya akan celaka.
Sebagai ajudan, sudah tentu An Tjun-ting cukup kenal watak atasannya itu, sedangkan Bun To-tjeng dan Su Pek-to saja bila perlu dikorbankan oleh Swe Beng-hiong, apalagi dia.
la menjadi ngeri sendiri bilamana membayangkan perintah Swe Beng-hiong agar pasukan pemanah menghujani panah sekalipun korbannya termasuk kawan sendiri.
Su Ang-ing juga cerdik, melihat An Tjun-ting ragu-ragu tidak berani maju, ia menduga di antara kedua orang itu tentu ada penyakitnya, tiba-tiba ia mendapat akal, dengan tertawa ia berkata.
"An-tjongkoan, banyak terima kasih atas keteranganmu tadi, benar juga bangsat Swe Beng-hiong dapat kutemukan di sini."
Keruan An Tjun-ting kaget, cepat ia menjawab.
"Nona Su, kau jangan sembarangan mengaco!"
"Ah, kenapa kau masih takut kepada Swe Beng-hiong, dia kan seperti binatang buas yang sudah dekat ajalnya. Kukira kau lebih baik membantu aku saja membinasakan dia, jasamu tentu juga tidak kecil bagi pihak pergerakan kami,"
Kata Anging. Walaupun mendongkol, sedapat mungkin Swe Beng-hiong berpura-pura tenang dan berkata.
"Aku tidak nanti percaya ocehan budak liar ini, dia hanya ingin mengadu domba saja. An Tjun-ting jangan ragu-ragu, lekas bantu membinasakan budak ini!"
Biarpun begitu ucapan Swe Beng-hiong, tapi dari nadanya dapatlah An Tjun-ting membayangkan rasa curiga atasannya itu terhadap dia.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara Kim Tiok-liu berkumandang dari rimba sana.
"Jangan takut, Ang-ing! Segera aku tiba!"
Cepat Swe Beng-hiong berseru lagi.
"Jangan kuatir, Tjunting sedikitnya bocah she Kim itu masih beberapa li jauhnya. Lekas kita membinasakan budak ini, lalu melarikan diri dengan Tjiau-ya-say-tju milik Su Pek-to itu."
Memang taksiran Swe Beng-hiong tidak salah, saat itu Kim Tiok-liu masih cukup jauh, namun An Tjun-ting paling takut pada Kim Tiok-liu.
Kedatangannya ini memang cuma akan melihat gelagat saja.
Swe Beng-hiong menyebut Tjiau-ya-saytju jadi seperti menyadarkan dia malah.
Segera ia mengambil kepu-tasan untuk mendahului lari dengan kuda bagus itu.
Begitulah tanpa bicara lagi segera ia memburu ke tempat Tjiau-ya-say-tju, sekali loncat ia menyemplak ke atas kuda itu.
Tetapi Tjiau-ya-say-tju lantas mengamuk, meloncat-loncat dan berjingkrak.
Namun An Tjun-ting yang masih tangkas itu cukup kuat untuk mengatasi kuda itu, sekali tarik tali kendali, kedua kakinya mengetok perut kuda, segera Tjiau-ya-say-tju membedal keluar rimba.
Dari jauh barulah An Tjua-ting berseru.
"Swe-tjiangkun, ilmu silatmu tiada taranya masakah kau tidak mampu mengalahkan budak itu? Sekalipun ditambah Kim Tiok-liu juga bukan soal bagimu. Maafkan aku berangkat lebih dulu!"
Sungguh tidak kepalang rasa dongkol Swe Beng-hiong.
Dalam pada itu terdengar suara Kim Tiok-liu sedang memanggil lagi, sebentar di sebelah timur, lain saat di sebelah barat.
Rupanya Kim Tiok-liu sedang menjajaki tempat beradanya Su Ang ing suaranya terdengar, tapi orangnya belum nampak.
Namun jaraknya sudah lebih dekat daripada tadi.
Ang-ing menarik napas kuat-kuat, lalu berseru.
"Tiok-liu, aku berada di sini, lekas kemari!"
Baru lenyap suaranya sudah lantas terdengar seman Kim Tiok-liu.
"Inilah aku!"
Padahal dalam sekejap itu mana bisa muncul mendadak, seruan Kim Tiok-liu ini hanya untuk membesarkan hati Ang-ing saja.
"Sudah kasip!"
Kata Swe Beng-hiong dengan tertawa.
Pada waktu Ang-ing berseru sekuatnya, kesempatan itu segera digunakan Swe Beng-hiong untuk menubruk maju.
Jari kiri menutuk kedua mata Ang-ing, telapak tangan kanan memotong perge-langan si nona pula.
Serangan kilat ini membikin Ang-ing rada kewalahan, ia mengegos sambil menahaskan pedangnya, tapi tidak bisa mengenai Swe Beng-hiong, sebaliknya tangannya lantas merasa kesemutan, pedang jatuh ke tanah.
Cepat Ang-ing memutar tubuh dan lari.
"Lari kemana? Hehe, lebih baik ikut aku saja!"
Jengek Swe Beng-hiong sambil menyungkit dengan ujung kaki, pedang Ang-ing yang jatuh itu mencelat ke atas dan disambar olehnya.
Menyusul pedang itu disambitkan ke arah si nona sebagai senjata rahasia.
Syukur Ang-ing sempat menganggukkan kepala sehingga pedang itu menyerempet lewat di atas gelung rambutnya.
Sekuatnya Ang-ing berlari ke arah suara Kim Tiok-liu tadi, Ginkang-nya memang lebih tinggi daripada Swe Beng-hiong, cuma sayang keadaannya sudah payah, sebaliknya Swe Benghiong mengerahkan segenap sisa tenaganya untuk mengudak, ia bertekad akan mati bersama si nona.
Ang-ing tidak berani menoleh, hanya terdengar suara lari orang di belakangnya semakin dekat.
Sekonyong-konyong sesosok bayangan berkelebat dari tengah rimba, Kim Tiok-liu muncul.
Sungguh girang Ang-ing tak terkirakan, cepat ia berteriak.
"Lekas kemari, Tiok-liu!"
Jarak mereka waktu itu sedikitnya masih beberapa puluh meter jauhnya, saking napsunya memburu maju, sedikit meleng, kaki Ang-ing kesandung batu, ia terjerembab dan jatuh.
Swe Beng-hiong terbahak-bahak, serunya.
"Coba kau bisa lolos dari cengkeramanku apa tidak?"
Sekali loncat ia lantas menubruk maju dan mencengkeram ke atas kepala Ang-ing.
Cepat Ang-ing berguling ke samping sehingga cengkeraman Swe Beng-hiong mengenai tempat kosong.
Sekamnya Swe Heng-hiong menjemput sepotong batu terus ditimpukkan sekuatnya, katanya dengan menyeringai.
"Aku harus mampuskan kau budak liar ini!"
Ang-ing tidak sempat menghindar, bila tertimpuk batu itu jiwanya pasti akan melayang, maka Ang-ing menjadi putus asa ketika mendengar sambaran angin sudah berada di belakang kepalanya, hatinya jadi dingin, pikirnya.
"Baiklah, biarlah Tiok-liu membalaskan sakit hatiku."
Ia memejamkan mata menanti ajal, menunggu jatuhnya batu itu.
Tak terduga mendadak terdengar suara gemuruh, batu itu tidak jatuh ke bawah, sebaliknya seperti meledak, lalu terjadilah hujan batu kerikil.
Cepat Ang-ing meloncat bangun, belum sempat berdiri lagi tahu-tahu tubuhnya dirangkul orang.
Keruan Ang-ing amat terkejut, menyusul terdengarlah suara jeritan ngeri, itulah suara Swe Beng-hiong.
Habis itu baru terdengar suara Kim Tiok-liu yang halus membisiki telinganya.
"Sudah beres, Ang-ing. Aku datang terlambat sehingga membikin kuatir kau."
Baru sekarang Ang-ing tahu benar yang memeluknya itu adalah Kim Tiok-liu.
Waktu ia membuka mata, ternyata Swe Beng-hiong sudah menggeletak tidak jauh di sebelah sana, dada tertancap pedang, bahkan gagang pedang itu tampak masih bergetar pelahan.
Kiranya pada saat Swe Beng-hiong menimpukkan batu besar tadi, dari tempat sejauh belasan meter Kim Tiok-liu juga menimpukkan Hian-tiat-pokiam, pedang pusaka itu mencoblos batu itu sehingga batu hancur, malahan terus meluncur dan memantek Swe Beng-hiong di atas tanah.
Dengan lemas Su Ang-ing mendekap dalam pelukan Kim Tiok-liu, terdengar pemuda itu membisikinya.
"Ang-ing, banyak terima kasih atas kiriman saputangan bersyairmu itu. Aku baru mengetahui bahwa diriku sesungguhnya teramat tolol. Tidak perlu penjelmaan yang akan datang, dalam hidup ini saja kita dapat mengikat janji."
"Soalnya aku tidak tahu apakah dapat berjumpa lagi dengan kau, kiranya pada hari itu juga kau sudah menerima saputanganku,"
Kata Ang-ing.
Begitulah keduanya sama mencurahkan isi hati masingmasing.
Selagi mereka asyik memadu kasih, tiba-tiba terdengar suara gerakan pasukan.
Dari jauh nampak Yap Bohhoa memimpin pasukan sedang menuju ke arah mereka.
Segera Tiok-liu mencabut kembali Hian-tiat-tiat-pokiam dan membersihkan darahnya, lalu disimpan ke dalam sarung pedang.
Ia lantas memapak maju dan menegur.
"Boh-hoa, kebetulan kedatanganmu ini, aku memberi suatu hadiah kepada kalian."
Cepat Boh-hoa melompat turun dari kudanya dan memberi hormat, sahutnya.
"Kiranya Swe Beng-hiong sudah dibunuh oleh Susiok. Selamat atas jasa Susiok ini, apakah ini nona Su adanya?"
"Benar,"
Sahurnya, lalu Tiok-liu memperkenalkan Boh-hoa kepada Ang-ing, katanya.
"Meski dia terhitung Sutitku, tapi kepandaiannya berperang jauh lebih pintar daripada aku. Perang besar ini adalah di bawah komandonya."
"Ah, Susiok terlalu memuji diriku,"
Kata Boh-hoa dengan rendah hati, lalu ia memerintahkan memotong kepala Swe Beng-hiong dan dibawa pulang untuk diperlihatkan kepada khalayak ramai, katanya pula kepada Kim Tiok-liu.
"Susiok, Tiok-lotjian-pwe sudah berada di kota, beliau sangat ingin menemui engkau, marilah kembali ke sana."
"Baik,"
Jawab Tiok-liu.
"Apakah gurumu juga sudah datang?"
"Suhu tinggal di Siau-kim-djwan, mungkin beberapa hari lagi baru akan datang ke sini karena masih ada sesuatu urusan yang harus diselesaikan di sana."
Boh-hoa lantas memilihkan dua ekor kuda untuk Tiok-liu dan Ang-ing, ia sendiri sengaja tinggal di belakang dan membiarkan mereka berdua jalan di depan.
Sekarang Kim Tiok-liu dan Su Ang-ing melarikan kuda mereka berendeng, sudah tentu perasaan mereka sekarang berbeda jauh daripada waktu berangkatnya tadi.
Macammacam salah paham dahulu sekarang sudah buyar semua, sekarang hanya rasa senang yang menyelimuti hati mereka berdua.
Kini tinggal satu hal lagi yang masih mengganjal perasaan mereka, yaitu Le Lang sing, tetapi mereka sudah dapat membayangkan.
"Apakah kau sudah mendapat berita tentang diri Le-toako?"
Tanya Ang-ing.
"Tidak,"
Sahut Tiok-liu.
"Aku buru-buru menyusul ke sini, tapi sepanjang jalan tidak nampak jejak Le-toako."
"Semoga dia dapat melarikan diri dengan selamat,"
Ujar Ang-ing.
"Ya, Tuhan pasti melindungi orang baik,"
Kata Tiok-liu.
"Marilah kita kembali ke sana dan meminta bantuan kawankawan untuk mencari dia."
"Nona Kongsun itu tentunya puteri Kongsun Hong dari Angeng-hwe, kulihat dia sangat memperhatikan Le-toako."
"Tidak cuma perhatian saja, aku pernah bertanya pada Li Tun, dia bilang dari gelagatnya tampaknya mereka sudah merupakan sepasang kekasih. Terus terang, selama ini aku selalu merasa tidak enak terhadap Le-toako, kukira di dalam hatinya hanya terisi oleh dirimu seorang, sekarang aku baru mengetahui bila dugaanku itu tidak benar. Di dalam hatinya ternyata ada bayangan orang lain, yaitu nona Kongsun, dengan demikian legalah hatiku."
Setiba mereka di kota Sedjiang, beramai-ramai Tjin Goanko, Hong Biau-siang, Ubun Hiong, Kang Hiau-hu dan lain-lain sama keluar menyambut, hanya Li Tun dan istrinya tidak kelihatan.
Baru saja Kim Tiok-liu hendak bertanya, Goan-ko sudah lantas memberitahukan lebih dulu.
"Li Tun suami-istri, Tan Kong-tjiau serta Tjiok Hek-koh sudah berangkat pergi mencari Le Lam-sing. Mereka dibantu pula oleh anggotaanggota Liok-hap-pang, maka Kim-heng tidak perlu kuatir lagi, bila Le Lam-sing masih hidup, masakah orang begitu banyak takkan mene mukan dia kembali?"
"Dan dimanakah nona Kongsun?"
Tanya Tiok-liu.
"Sebelum pertemuan di sini berakhir, nona Kongsun sudah keluar kota,"
Tutur Hong Biau-siang.
"Dia adalah orang pertama yang pergi mencari Le Lam-sing."
Kim Tiok-liu merasa lega setelah mengetahui begitu banyak orang dikerahkan untuk mencari jejak Le Lam-sing. Dalam pada itu Tiok Siang-hu juga keluar menyambut, cepat Tiok-liu memberi hormat.
"Aku berbesanan dengan Kang-suhengmu, maka kita terhitung satu angkatan, kau tidak perlu sungkan-sungkan padaku,"
Kata Tiok Siang-hu dengan tertawa. Namun begitu Kim Tiok-liu tetap memberi hormat dengan setengah menjura, Tiok Siang-hu mengangkatnya bangun dengan kedua tangan, katanya pula dengan tertawa.
"Pahlawan memang selalu tumbuh dari kaum muda, hal ini memang nyata. Kim-siauhiap, tidak perlu sampai sepuluh tahun lagi tentu keya-kinanmu sudah melampaui Suhengmu."
Rupanya dengan mengangkatnya bangun tadi, Tiok Sianghu sudah sempat menjajal kekuatan Kim Tiok-liu.
Begitulah di dalam istana bekas kediaman Swe Beng-hiong itu lantas diadakan perjamuan besar.
Sejak dua tahun yang lalu kehilangan kota Sedjiang, baru sekarang dapatlah Tiok Siang-hu kembali ke tempatnya, maka sungguh tak terlukiskan rasa senangnya.
Setelah minum beberapa cawan arak, dengan semangat Tiok Siang-hu lantas berkata.
"Di ruangan inilah dahulu aku diserang oleh Swe Beng-hiong, sekarang kita mengadakan perjamuan kemenangan di sini, sebaliknya Swe Beng-hiong sudah binasa, meski bukan aku sendiri yang membunuhnya, paling tidak sakit hatiku toh sudah terbalas. Marilah Kim-siauhiap, terimalah suguhan tiga cawan dariku sebagai tanda terima kasihku padamu yang telah mengambilkan kepala Swe Beng-hiong."
"Ah, semua ini adalah jasa para kawan-kawan pula, marilah para hadirin juga ikut minum tiga cawan,"
Ajak Tiok-liu. Setelah semua orang sama-sama mengeringkan tiga cawan arak, lalu Tiok Siang-hu bicara lagi.
"Dahulu aku teledor sehingga kehilangan kota ini, sungguh aku sangat malu. Hari ini para kawan telah membantu aku merebutnya kembali, maka betapa pun takkan kuhilangkan lagi kota ini. Jika musuh berani datang lagi, aku bersumpah mati menjaga kota ini sampai titik darah penghabisan."
Habis berkata ia memegang sebuah cawan term dibanting sebagai pernyataan sumpahnya.
Mendadak sesosok bayangan melompat maju, sebelum cawan arak itu jatuh ke lantai sudah keburu disambar olehnya, kiranya dia adalah Yap Boh-hoa.
Dengan heran Tiok Siang-hu bertanya.
"Yap-heng, kenapa kau melarang aku bersumpah?"
"Tekad Tiok-lotjianpwe akan menjaga kota ini mati-matian, cita-cita ini sungguh harus dipuji,"
Kata Boh-hoa tersenyum "Cuma, menurut pendapat Wanpwe, sebaiknya kota ini dilepaskan saja."
Kalau orang lain yang mengemukakan kata-kata seperti itu tentu Tiok Siang-hu akan gusar, tapi Yap Boh-hoa adalah pemimpin pasukan yang nyata dalam peperangan barusan ini, Tiok Siang-hu juga tahu akan kemahirannya dalam hal pengaturan militer, maka meski pikirannya tidak setuju dengan pernyataan Boh-hoa tadi, terpaksa ia bertanya padanya.
"Yap-heng, sungguh aku tidak pa-ham akan pendapatmu itu. Jika kita harus melepaskan kota ini, lalu buat apa hari ini kita merebutnya dengan mati-matian?"
"Menurut pikiranku, kekuatan musuh jauh lebih besar daripada kita, jika mereka menghimpun kekuatan baru dan menyerang Sedjiang lagi, maka kedudukan kita pasti berada di pihak yang bertahan melulu,"
Ujar Boh-hoa. Tiok Siang-hu merasa kurang puas, katanya.
"Memang tidak salah perhitunganmu, tapi apakah kita harus takut kepada kekuatan musuh yang lebih besar. Pula, asalkan ada tekad, masakah kita mesti takut kepada musuh yang lebih kuat?"
"Soalnya bukan takut atau tidak, tapi harus kita perhitungkan untung-ruginya,"
Sahut Boh-hoa.
"Kekuatan musuh jauh lebih besar daripada kita, kalau kita bertempur mati-matian toh kerugian terletak di pihak kita. Maka menurut pendapat Wanpwe. untuk memperoleh kemenangan kita harus memiliki tempat pertempuran yang menguntungkan dan waktu yang tepat. Bila kita yakin akan menang barulah kita mau berperang, tanpa keyakinan demikian lebih baik kita menghindari perang."
"Seperti kemenangan kita sekali ini adalah karena syaratsyarat yang memang menguntungkan kita. Pertama Swe Beng-hiong lengah, dia mengira dirinya cukup kuat dan menyangka kita tidak berani menyerang, maka dia mencurahkan perhatiannya mengurusi pesta pernikahannya. Kedua, sebelumnya kita sudah menyembunyikan bala bantuan di dalam kota, Swe Beng-hiong telah dilukai pula oleh serangan nona Su, pasukan musuh kehilangan pucuk pimpinan, maka serangan kita berjalan lebih lancar daripada rencana semula. Ketiga, Le-toako berhasil menaklukkan sebagian besar anggota Liok-hap-pang yang berarti kehilangan sebagian kekuatan Swe Beng-hiong, maka dengan gampang istananya ini dapat kita bobol. Korban di pihak kita dalam pertempuran ini tidak banyak, tapi separoh lebih kekuatan musuh dapat kita tumpas. Ini sama dengan modal sedikit mendapat untung besar. Peperangan demikian sudah tentu bisa diteruskan, tapi serangan kilat demikian hanya bisa terjadi satu kali dan sukar diulangi lagi. Kalau kita bertahan mati-matian dalam kota ini, maka kita akan berada di pihak yang pasif dan musuh yang berada di pihak aktif, perang demikian tidaklah menguntungkan."
"Sebab itu, kupikir janganlah kita mempersoalkan satu dua kota yang telah kita rebut ini, lebih baik kita bertahan di desa, kita memilih tempat lain yang menguntungkan untuk menyergap musuh. Yang penting rakyat jelata harus berada di pihak kita. Di tengah rakyat yang banyak kita menjadi seperti ikan mendapat air. Dengan demikian setiap peperangan akan sangat menguntungkan kita."
Uraian Yap Boh-hoa yang panjang lebar ini sangat mengagumkan Tiok Siang-hu, katanya dengan tertawa.
"Haha, jika demikian lebih baik kita kembali ke Thay-liang-san saja kan? "Memang begitulah pendapatku,"
Ujar Boh-hoa.
"Tapi juga tidak perlu terburu-buru, musuh baru saja kalah, dalam waktu singkat terang sukar menghimpun kembali kekuatan baru. Kita dapat berdiam sementara di dalam kota untuk menenteramkan rakyat. Kalau ada rakyat yang mau ikut kita ke Thay-liang-san akan kita beri waktu untuk persiapan bagi mereka."
"Benar, memangnya aku sedang bingung memikirkan nasib rakyat bilamana kita tinggalkan, sekarang soalnya menjadi terpecahkan dengan mudah,"
Kata Tiok Siang-hu.
Setelah selesai berunding, perjamuan dilanjutkan dengan meriah, hanya Kim Tiok-liu dan Su Ang-ing saja yang tampak kurang gembira karena memikirkan Le Lam-sing.
Dengan tertawa Tiok Siang-hu menghibur mereka.
"Sudah beberapa ratus orang dikerahkan mencari Le-siauhiap, asalkan dia masih hidup, dalam tujuh hari tentu sudah ada beritanya. Marilah kita minum sepuas-sepuasnya saja."
Tak terduga selama beberapa hari, berturut-turut rombongan orang yang ditugaskan pergi mencari Le Lam-sing itu mulai kembali, namun yang dicari tetap tiada kabar beritanya.
Sampai hari keenam, Li Tun, Ho Djay-hong, Tan Kong-tjiau dan Tjiok Hek-koh juga sudah pulang mereka juga tidak menemukan Le Lam-sing.
Akhirnya semua orang yang pergi mencari Le Lam-sing sudah pulang seluruhnya, hanya tinggal seorang yang tidak kelihatan, ialah Kongsun Yan.
Nona itu sudah berangkat sendirian sebelum berakhirnya pertempuran, maka siapa pun tidak tahu kemana dia pergi.
Le Lam-sing tidak ditemukan kembali, Kongsun Yan hilang lagi, keruan Kim Tiok-liu bertambah gelisah, maka dia dan Su Ang-ing mengambil keputusan akan berangkat mencari mereka, bila yang dicari sudah diketemukan, barulah mereka mau kembali ke pangkalan pasukan pergerakan di Thay-liang san.
Kemana perginya Kongsun Yan dan bagaimana pengalamannya?
Apakah dia sudah berjumpa dengan Le Lamsing?
Jawabnya adalah belum.
Pada saat Kim Tiok-liu berduaan dengan Su Ang-ing, saat itu pula Kongsun Yan berada di tengah perjalanan tanpa arah seorang diri.
Hari itu Kongsun Yan keluar kota sendirian untuk mencari Le Lam-sing, tanpa terasa ia telah jauh meninggalkan pasukan dan para kawannya.
Menurut pertimbangan Kongsun Yan sendiri, hilangnya Le Lam-sing secara mendadak terjadi pada waktu pertempuran sengit di tempat kediaman Swe Beng-hiong.
Kalau dia tidak mati kemungkinan ditawan musuh.
Sebab Kim Tiok-liu dan lain-lain semuanya berada di tempat, bila Le Lam-sing bisa lolos tentu dia sudah kembali menemui teman-temannya.
Menurut keyakinan Kongsun Yan pula, bilamana Le Lamsing tertawan, maka yang menawannya pasti bukan prajurit biasa, kalau bukan perwira tentulah jago yang diundang Swe Beng-hiong.
Orang-orang itu kenal kedudukan Le Lam-sing, dengan menawan pemuda itu berarti mereka mendapat jasa yang besar, sedikitnya cukup untuk menebus kekalahan mereka.
Kongsun Yan terus mengejar ke jurusan lari pasukan musuh tanpa menghiraukan prajurit-prajurit yang berceraiberai dan ketinggalan di sepanjang jalan dalam kelompokkelompok yang tak teratur.
Ada juga beberapa prajurit yang berani mengganggu Kongsun Yan, tapi semuanya dibunuh oleh si nona.
Sepanjang jalan, Kongsun Yan terus berganti kuda segar yang banyak terdapat di jalan, dua hari kemudian jejak Lamsing masih belum diketahui, jago musuh juga tiada seorang pun yang dijumpai.
Hari keempat, di tengah jalan Kongsun Yan bertemu dengan seorang kenalan, yakni Kiong Peng-hoan, tangan kanan ayahnya sendiri.
Di dalam Ang-eng-hwe, baik kepandaian maupun kedudukan Kiong Peng-hoan ini hanya di bawah Kongsun Hong saja.
Sungguh girang sekali Kongsun Yan, ia lantas menyapa.
"Kiong Peng-hoan Sioksiok, kau pun datang kemari?"
"Justru lantaran kau, ayahmu merasa kuatir, maka aku diutus mencari kau,"
Sahut Kiong Peng-hoan tertawa.
"Kabarnya Sedjiang sudah direbut oleh pasukan pergerakan, entah betul tidak. Mestinya aku akan mencari kau ke kota itu."
"Memang betul kabar itu,"
Kata Kongsun Yan.
"Temanmu yang baik Kim Tiok-liu berada di sana."
"Lalu kau sendiri kenapa tidak di sana, sebaliknya sendirian berada di sini?"
Tanya Kiong Peng-hoan.
"Aku lagi mencari seorang kawan yang terluka, aku menyangsikan dia ditawan musuh,"
Tutur Kongsun Yan.
"Paman Kiong, dalam perjalananmu apakah kau melihat orang menggiring seorang pemuda yang terluka?"
Kiong Peng-hoan menggeleng katanya.
"Tidak, siapakah pemuda yang kau maksud itu?"
"Le Lam-sing!"
Sahut si nona.
"O, kiranya dia. Kabarnya ilmu silat Lam-sing juga sangat hebat. Siapakah yang mampu menawan dia?"
"Aku hanya mengetahui dia terluka oleh pukulan Su Pek-to, siapa yang menawan dia, aku pun tidak tahu. Paman Kiong Peng-hoan, engkau juga kenal dia?"
"Aku pernah melihat dia ketika tahun lalu dia bersama Kim Tiok-liu membikin onar di istana Sat Hok-ting. Jika aku bertemu dia di tengah jalan, tentu aku masih ingat akan wajahnya."
Kongsun Yan sangat kecewa, ia coba bertanya lagi.
"Apakah di tengah jalan kau tiada melihat orang yang mencurigakan?"
"Orang macam apakah yang mencurigakan?"
Tukas Kiong Peng-hoan sambil berpikir sejenak.
"Rasanya toh tidak ada. O ya, aku menjadi teringat pada dua orang guru-murid yang kulihat itu, mereka jarang muncul di dunia Kangouw selama ini. Mungkin mereka termasuk orang-orang yang mencurigakan?"
"Siapakah mereka itu dua orang guru-murid?"
Tanya si nona cepat.
"Yang Go dan Kiong Peng-ya. Kabarnya mereka adalah orang sealiran Beng Sin-thong. Yang Djik-hu, ayah Yang Go adalah Sute Beng Sin-thong. Sesudah Beng Sin-thong dan Yang Djik-hu mati, di zaman ini yang mahir ilmu Siu-lo-im-satkang hanya tinggal mereka guru-murid saja."
"Jangan kau bercerita tentang asal-usul mereka, tuturkan dulu dimana dan kapan kau melihat mereka?"
Sela Kongsun Yan cepat.
"Semalam ketika aku menginap di suatu penginapan kecil di kota kecil yang bernama Hek-tjiok-kang di depan sana. Aku tidak mempunyai hubungan baik dengan Yang Go, hanya pernah mengenalnya saja. Waktu aku masuk penginapan itu, pantasnya dia menyapa padaku, tapi entah mengapa dia purapura tidak tahu. Kuanggap dia kepala besar, maka aku pun tak mempeduiikan dia,"
"Ya, tentu mereka itulah,"
Seru Kongsun Yan girang.
"Sayang kau tidak mencari tahu tingkah laku mereka, besar kemungkinan Lam-sing tertawan oleh mereka dan disembunyikan di kamar dalam keadaan Hiat-to tertutuk."
"Rasanya Yang Go jarang sekali berhubungan dengan kaum pembesar, mengapa sekali ini dia hadir di tempat Swe Benghiong?"
"Mereka guru dan murid justru adalah tokoh undangan Swe Beng-hiong, dalam pertempuran sengit di kediaman Swe lleng-hiong itu, pernah juga Yang Go muncul dalam waktu lingkat, agaknya telah mengadu pukulan satu kali dengan Kim liok-liu, kemudian entah kemana larinya. Kiong Peng-ya juga pernah bergebrak dengan aku, lalu juga menghilang. Sekarang "nisannya menjadi jelas, tentu Yang Go yang telah menawan Le Lam-sing, dalam keadaan kacau itulah mereka mengeluyur pergi lebih dulu."
"Benar, benar, uraianmu memang masuk diakal. Pantas Yang Go pura-pura tidak melihat aku, rupanya kuatir aku menanyai dia."
"Marilah kita menyusul ke sana, mungkin masih keburu. Ke jurusan manakah mereka itu?"
"Karena ingin lekas menemui kau, maka pagi tadi aku sudah meninggalkan penginapan itu sebelum Yang Go berangkat Hek-tjiok-kang ada dua jalan yang menuju ke Lantjiu dan Hong-tiong. Entah mereka mengambil jalan yang mana."
"Baik, jika begitu marilah kita menyusul mereka masingmasing satu jurusan. Untung tiada jalan simpang ketiga."
"Nanti dulu,"
Cegah Kiong Peng-hoan.
"Bagaimana ilmu silat Yang Go itu masih belum diketahui jelas. Tapi mengingat dia meyakinkan Siu-lo-im-sat-kang, maka kepandaiannya pasti sangat hebat, kita jangan memandang enteng padanya. Kita boleh mengejarnya dari dua jurusan, tapi kalau kau menemukan dia, jangan buru-buru bergebrak dengan dia. Kuberi sebatang Tjoa-yam-tji (panah berapi) padamu, bila kau menemukan jejak mereka segera lepaskan panah berapi ini sebagai tanda. Daerah Hok-tjiok-kang seluas puluhan li adalah tanah lapang, rasanya api panah ini dapat kulihat dari jauh. Sebaliknya kalau aku yang menemukan mereka juga akan kulepaskan panah isyarat ini."
Kongsun Yan menyatakan baik dan menerima Tjoa-yam tji itu terus berangkat.
Mereka membagi dua jurusan untuk men cari jejak Le Lam-sing.
Kuda tunggangan Kongsun Yan sudah berlari beberapa hari, sekarang dia mempercepat lagi larinya, kira-kira satu jam kemudian kuda itu mulai lelah dan terpaksa dilambatkan, jalanai pegunungan di depan juga semakin terjal.
Hati Kongsun Yan tambah gelisah, sayang tiada kuda ram pasan yang dapat dibuat ganti.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar sayup-sayup suara seruling yang merawan hati, sungguh girang Kongsun Yan tak terperikan, ia menjadi lupa pada pesan Kiong Peng-hoan, tanpa terasa ia terus berteriak.
"Le-toako! Lc-toako!"
Ia tidak tahu peniup seruling itu Le Lam-sing atau bukan, dan apakah pemuda itu mendengar teriakannya.
Yang jelas suara seruling tadi mendadak berhenti setelah teriakannya itu.
Seketika Kongsun Yan sadar, pikirnya.
"Celaka! Teriakan-ku tadi tentu pula didengar oleh Yang-Go dan bisa jadi dia akan mengambil tindakan yang tidak menguntungkan Le-toako."
Tapi sudah telanjur salah, terpaksa Kongsun Yan melepaskan Tjoa-yam-tji untuk memanggil Kiong Peng-hoan, lalu ia mempercepat lari kudanya menyusul ke depan.
Setelah melintasi suatu tanjakan, benar juga terlihat ada tiga orang berada di atas bukit sana.
Seperti dugaannya, ketiga orang itu adalah Yang Go, Kiong Peng-ya dan Le Lamsing.
Sebenarnya Yang Go telah menutuk Hiat-to Le Lam-sing, [tapi menghadapi jalan pegunungan yang sukar dilalui, pula merasa telah jauh meninggalkan kota Sedjiang, maka Yang Go membuka Hiat-to pemuda itu dan memaksa dia berjalan sendiri.
Ia menduga Le Lam-sing takkan mampu lari meski dia membuka Hiat-to yang tertutuk itu, karena pemuda itu sudah terluka dalam.
Selain itu Yang Go juga ingin memperalat Lamsing, yaitu bermaksud membangun kembali Thian-mo-kau.
Dalam keadaan serba susah, lari tidak mampu, mati pun tidak bisa, untuk menghibur hati yang kesal itu Lam-sing meniup seruling, tak terduga suara serulingnya telah memancing kedatangan Kongsun Yan.
Keruan Lam-sing terkejut melihat munculnya si nona, cepat ia berseru.
"Adik Yan, lekas kau kembali!"
"Jangan buka mulut!"
Bentak Yang Go. Berbareng Kiong Peng-ya juga mencabut belati dan mengancam mulut Le Lam-sing.
"Suhu menyuruh kau tutup bacot, dengar tidak? Jika kau berani buka mulut lagi, segera kutikam dengan belati ini!"
"Kau berani mengganggu seujung rambutnya, akan kuminta ayah membinasakan kalian!"
Teriak Kongsun Yan dengan gusar dan kuatir.
"Hahaha!"
Yang Go bergelak tertawa.
"Apakah kau kira aku kena digertak dengan nama ayahmu? Pula, tangan ayahmu juga tidak mampu menjulur sepanjang ini, seumpama seperti keinginanmu, kelak ayahmu dapat membunuh kami, tapi apa yang dapat diperbuat ayahmu jika sekarang juga kami membinasakan dulu kekasihmu ini? Eh, anak dara, kukira lebih baik kita berunding saja dan kau tidak perlu omong besar."
Kongsun Yan menjadi kuatir juga, terpaksa ia menjawab.
"Apa yang bisa dirundingkan dengan kalian?"
"Terus terang kukatakan bahwa sebenarnya kami tidak bermaksud jahat terhadap Le-kongtju, sebaliknya kami malah hendak mengangkat dia menjadi Kautju Thian-mo-kau kami. Soalnya dia tidak menerima maksud baik kami, maka terpaksa kami mesti membikin susah dia. Nona Kongsun, hendaklah kau membantu kami membujuk dia agar suka menjadi Kautju dan kau sendiri akan menjadi nyonya Kautju, bukankah serba baik semuanya?"
"Adik Yan, jangan mau diapusi oleh kata-katanya yang manis, percayalah padaku, lekas kau pulang saja!"
Seru Lamsing. Kiong Peng-ya menjadi gusar.
"Plak-plak", beberapa kali ia menampar muka Le Lam-sing sambil membentak.
"Keparat yang tidak tahu maksud baik orang, rupanya kau lebih suka dihajar adat? Tutup bacotmu saja, kalau tidak, hm, belatiku ini benar-benar akan masuk mulutmu!"
Berbareng ia mengacungkan belatinya ke muka Le Lam-sing. Namun Le Lam-sing hanya menjawab dengan tersenyum mengejek meski darah mengalir dari sudut mulutnya.
"Peng-ya tidak perlu buru-buru menghajar dia,"
Kata Yang Go. Kongsun Yan menjadi gusar juga, teriaknya.
"Kau.....kau berani menganiaya dia?"
"Muridku ini memang rada berangasan, nona Kongsun, kau jangan marah,"
Kata Yang Go.
"Bagaimana kalau aku mengusulkan kau ikut perjalanan kami ini, jika kau tidak mau membujuk dia, juga aku tidak memaksa, cukup sepanjang jalan kau merawatnya saja."
Sembari bicara Yang Go terus memapak maju seperti mau menyambut kedatangan Kongsun Yan. Sejenak Kongsun Yan merasa ragu-ragu, mendadak ia berseru.
"Baik!"
Berbareng pecutnya menyabet, ia melarikan kudanya ke atas bukit.
Kiranya Kongsun Yan belum kenal kelihaian Yang Go, ia pikir dapat menangkap Yang Go secara mendadak untuk memaksanya membebaskan Le Lam-sing.
Tak terduga Yang Go juga mempunyai pikiran yang serupa, Kongsun Yan hendak ditawannya sebagai sandera untuk mengancam Kongsun Hong.
Sekonyong-konyong Lam-sing meloncat ke bawah jurang yang tak diketahui betapa dalamnya, selagi rubuhnya masih melayang di udara, dia sempat berteriak.
"Adik Yan, turutilah kata-kataku, lekas pulang saja!"
Menurut jalan pikiran Lam-sing, dengan kematiannya sendiri walaupun akan membikin si nona berduka, tapi dapat memaksanya pulang.
Pertama ia merasa dirinya sudah terluka parah, kedua ia tidak sudi teraniaya dan dihina, ketiga ia cukup mengetahui Kongsun Yan sekali-kali bukan tandingan Yang Go, ia tidak ingin merembet si nona ikut tertawan musuh, maka bertekad membunuh diri saja.
Kiong Peng-ya yang bertugas menjaga Lam-sing sama sekali tidak menyangka pemuda itu akan membunuh diri.
Ketika mendengar suara Lam-sing, keruan ia kelabakan dan cepat hendak meraihnya, namun sudah terlambat.
Sesaat itu baik Kongsun Yan maupun Yang Go sama-sama kaget.
Setelah tertegun sejenak, segera Konsun Yan merasa kepala pusing, bumi dan langit terasa berputar, benaknya hampa se-ikan-akan dirinya sendiri pun lenyap.
Secara samarsamar ia menyebut nama Lam-sing, entah berduka atau gusar, dengan sendirinya ia terus menerjang ke atas.
Yang Go sehabis tertegun, segera timbul maksud membunuh si nona untuk menutupi dosanya ini, agar rahasianya me maksa kematian Le Lam-sing tidak sampai diketahui Kim Tiok-liu dan lain-lain.
Begitulah kedua orang sama-sama berlari mendekat, Yang Go menghimpun kekuatan pada telapak tangan mendadak ia melontarkan Siu-lo-im-satkang yang ampuh.
Terdampar oleh tenaga pukulan yang dahsyat itu, kud-Kongsun Yan tergetar berjingkrak dan si nona terlempar ke atas Untung juga dia terlempar ke atas sehingga kudanya itu yang mesti terkena pukulan Yang Go, namun ia pun merasakan angin dingin menyambar lewat di bawah kakinya.
Hawa dingin merasuk tulang itu sedikit menjernihkan pi kiran Kongsun Yan, dalam keadaan masih terapung itu segera ia berjumpalitan, laksana elang menyambar mangsanya, ia menu kik sambil menusukkan pedangnya ke arah Yang Go.
Pukulan Siu-lo-im-sat-kang rada membuang tenaga mumi, saat itu Yang Go belum sempat menghimpun tenaga lagi untuk melancarkan pukulan lebih lanjut, sementara itu sinar pedang su dah berkelebat, ujung pedang Kongsun Yan sudah menusuk kt ubun-ubun kepalanya.
Sungguh kejut Yang Go tak terkatakan, sebisanya ia mengebaskan lengan bajunya ke atas, jari tangan yang terlindung di bawah lengan baju itu juga menjentik "Cring", lengan baju Yang Go terobek, sebagian ujung jan tengahnya juga teriris pedang, tapi tusukan Kongsun Yan itupun meleset.
Betapa ganasnya Yang Go, begitu memutar tubuh segera i* melancarkan serangan maut, kelima jarinya laksana kaitan teri-meraih dan menangkap, untung Kongsun Yan cukup gesit, ceng keraman ke pundaknya itu dapat dihindarkan, namun terasa p-nas pedas juga terserempet oleh jari-jari lawan itu.
Dengan tertawa menyeringai Yang Go berkata.
"Ingin balas dendam terang kau tidak mampu, lebih baik aku sempunak.m kalian saja agar kau dan Le Lam-sing bisa menjadi sepasang merpati di akhirat."
Tiba-tiba Kongsun Yan teringat kepada Lam-sing, ia pikir memang betul juga aku harus menyusulnya.
"Enyah!"
Bentaknya mendadak, berturut-turut tiga serangan nekat memaksa Yang Go cepat mengegos ke samping.
Tanpa ayal Kongsun Yan lantas menyelinap lewat ke sebelah sana, keruan Kiong Peng-ya kaget, disangkanya yang dituju si nona adalah dia, terpaksa ia bersiap menghadapi musuh.
Dalam pada itu dengan cepat luar biasa Kongsun Yan sudah menerjang tiba, pedangnya terus menusuk ke mukanya.
Terpaksa Kiong Peng-ya berjongkok ke bawah, tangan kanan menyanggah dari bawah dan tangan kiri dipakai memegang per-gelangan tangan lawan.
Gerakan Kiong Peng-ya ini sebenarnya adalah cara merebut senjata lawan dengan tangan kosong, suatu gerak tipu yang bagus.
Siapa duga serangan Kongsun Yan teramat cepat, baru saja ia mulai bergerak, tahu-tahu pundaknya sudah kena pedang duhi.
Bahkar.
Kongsun Yan terus membentak.
"Enyah!"
Kontan muka Kiong Peng-ya babak belur terkena cap tangan, dengan tepat ia kena digampar oleh Konsun Yan dan jatuh terkapar.
"Mati aku!"
Keluh Kiong Peng-ya dalam hati.
Di luar dugaan, Kongsun Yan ternyata tidak menggubrisnya lagi, tapi terus melompati tubuhnya melayang ke depan dan berlari ke tepi jurang.
Kongsun Yan melongok ke bawah, tertampak awan tebal mengapung di udara hingga keadaan jurang di bawahnya tidak kelihatan, hanya sayup-sayup terendus bau harum bunga semerbak, bayangan Lam-sing sama sekali tidak nampak.
Namun dalam benak si nona tiba-tiba timbul suatu lukisan seakan di bawah jurang itu adalah sorga dunia lain, dengan tersenyum bahagia Le lam-sing tampak menjulurkan kedua tangannya sedang menantikan kedatangannya.
"Engkoh Lam, tunggulah aku!"
Teriak Kongsun Yan. Pada saat itulah tiba-tiba terdengar seman Kiong Pengiman.
"Jangan, anak Yan!"
Akan tetapi sudah tertambat, Kongsun Yan sudah terjun ke bawah jurang.
Rupanya begitu melihat Tjoa-yam-tji dilepaskan Kongsun Yan tadi, segera Kiong Peng-hoan memburu datang, namun toh masih tetap terlambat sejenak, menyaksikan si nona membunuh Bin terjun ke jurang tanpa berdaya menolongnya.
Dari sedih Kiong Peng-hoan menjadi murka.
"siuuur", seperti anak panah terlepas dari busurnya, ia terus melayang ke depan dari punggung kudanya, selagi terapung di udara pedang sudah dilolosnya, secepat kilat ia menusuk ke arah Yang Go.
"Kiong-hiangtju, kau sendiri menyaksikan nona Kongsun membunuh diri sendiri dan tiada sangkut-pautnya dengan aku,"
Leru Yang Go.
"Kentut!"
Bentak Kiong Peng-hoan yang wataknya memang keras.
"Bukan kau yang memaksa kematiannya, masakah dia bisa membunuh diri."
Dengan sengit dalam sekejap saja ia ludah menyerang enam kali enam sama dengan 36 kali.
Kiong Peng-hoan adalah jago pedang nomor satu dalam Ang-eng-hwe, kepandaiannya jauh di atas Kongsun Yan.
Di bawah serangannya yang membadai itu, Yang Go sama sekali tidak sempat balas menyerang dengan mengerahkan Siu-loim-wt-kang.
Terpaksa ia berusaha menangkis sebisanya.
Lantaran tidak sempat menggunakan Siu-lo-im-sat-kang, lama-lama Yang Go bertambah payah, terasa ujung pedang lawan seakan mengiris-iris mukanya dan setiap saat jiwanya bisa imblas, sungguh kejut Yang Go tak terhingga, cepat ia berteriak, Teng-ya, lekas gunakan Siu-lo-im-sat-kang!"
Sebenarnya Kiong Peng-ya sedang ketakutan, karena teriikan sang guru itu terpaksa ia menabahkan hati dan melancarkan "Tangan.
Cuma Siu-lo-im-sat-kang yang dilatihnya belum sempurna, Kiong Peng-hoan hanya dibuat menggigil dingin saja.
Numun begitu sudah memberi kesempatan bernapas bagi Yang Uo, dari bahaya berubah menjadi selamat.
Dalam pada itu Kiong Peng-ya telah menghimpun tenaga dan memukul lagi.
Dua kali diganggu, Kiong Peng-hoan menjadi gemas, bentaknya.
"Kurangajar! Biar kubinasakan kau lebih dulu!"
Habis berkata ia terus menubruk ke arah Kiong Peng-ya.
Keruan Kiong Peng-ya ketakutan setengah mati, ia bermaksud menghindar, tetapi sudah kasip, terdengar suara jeritan ngeri dibarengi dengan berkelebatnya sinar pedang, kontan pe dang Kiong Peng-hoan mengurungi tubuh Kiong Peng-ya menjadi dua potong.
Meski dengan gampang Kiong Peng-hoan berhasil memotong badan Kiong Peng-ya.
tapi kesempatan itu digunakan oleh Yang Go untuk melancarkan Siu-lo-im-satkang lagi.
Sudah tentu Siu-lo-im-sat-kang Yang Go berbeda jauh daripada muridnya, baru saja Kiong Peng-hoan membalikkan tu buh, sudah terasa sambaran angin dingin, satu tenaga pukulan dahsyat menimpa ke arahnya.
"Biarlah aku mengadu jiwa dengan kau!"
Bentak Kiong Peng-hoan nekat.
Di tengah sambaran angin pukulan dan berkelebatnya sinar pedang, mendadak terdengar jeritan Yang Go, sambil melompat mundur beberapa meter jauhnya, tubuhnya tc lah terluka tiga tempat oleh tusukan pedang.
Kiong Peng-hoan bermaksud menambahi serangan lagi, tiba-tiba pergelangan tangan sendiri terasa kaku, pedang hampir terlepas dari cekalan.
Kiranya dia telah dilukai oleh pukulan Siu-lo-im-sat-kang Yang Go yang dahsyat dan maha dingin itu, darahnya hampir membeku, persendian juga kaku.
Yang Go bersandar pada suatu batu pedas, katanya dengan terengah-engah.
"Cobalah kau maju kemari!"
Ia tidak tahu bagaimana keadaan luka lawannya, maka tidak berani sembarang an menyerang lagi.
Ia menduga luka Kiong Penghoan tentu juga tidak ringan, kalah atau menang hanya tergantung pada siapa yang bisa bertahan lebih lama, maka ia sengaja diam saja dan menyuruh lawan yang maju.
Untung juga Yang Go tidak berani menyerang lagi, Kiong Peng-hoan juga merasakan gelagat tidak menguntungkan, paling penting sekarang menyelamatkan diri, pulang dan melapor saja kepada cukongnya, yaitu Kongsun Hong.
Maka ia pura-pura hendak menerjang maju, tapi mendadak menjatuhkan diri dan menggelinding ke bawah bukit.
Kuda tunggangan Kiong Peng-hoan sudah terlatih, ketika melihat majikannya jatuh ke bawah, cepat ia berlari mendekati.
Sekuatnya Kiong Peng-hoan merangkak ke atas kuda, lalu melarikan diri.
Baru sekarang Yang Go mengetahui keadaan Kiong Penghoan jauh lebih parah daripada dia, diam-diam ia menyesal tidak menyerang lebih lanjut sehingga lawan sempat lari.
Tapi ia menaksir luka parah akibat pukulan Siu-lo-im-sat-kang itu pasti takkan tahan lama, di tengah jalan Kiong Peng-hoan pasti akan mati.
Karena Yang Go sendiri terluka tidak ringan, terpaksa ia pun melanjutkan perjalanan sesudah membubuhkan obat luka untuk menghindari kejaran musuh lain Dugaan Yang Go ternyata tidak meleset, tidak terlalu jauh Kiong Peng-hoan melarikan diri, ia sudah tidak tahan lagi, badannya kedinginan luar biasa, akhirnya ia terperosot jatuh dari kudanya dan tak sadarkan diri.....
Kembali mengenai Kim Tiok-liu dan Su Ang-ing yang berangkat bersama untuk mencari Le Lam-sing.
Hari itu di tengah jalan, tiba-tiba mereka bertemu dengn seorang petani yang terus menegur.
"Apakah kalian datang dari Sedjiang?"
Kim Tiok-liu membenarkan dan balas bertanya ada urusan apa?
Petani itu menjawab bahwa tetangganya, paman Thio, menyuruhnya menyampaikan kabar kepada ksatria di Sedjiang yang bernama Kim Tiok-liu.
Keruan Tiok-liu heran, padahal dia tidak tahu siapakah paman Thio itu, darimana kenal padanya?
Segera ia bertanya lagi.
"Aku justru kenal baik dengan Kim Tiok-liu, kabar apa yang ikan kau sampaikan padanya, coba beritahukan padaku, nanti aku akan meneruskan padanya."
Maka petani itu lantas menjawab.
"Kemarin dulu paman Thio telah menolong seorang sakit parah, orang itu mengatakan mempunyai seorang kawan baik bernama Kim Tiok-liu yang kini berada di Sedjiang, paman Thio diminta memanggilkan tuan Kim itu. Namun paman Thio sudah terlalu tua, ia sendiri tidak sanggup berangkat, terpaksa aku yang disuruhnya."
Kejut dan girang pula Kim Tiok-liu, ia menyangka orang yang sakit parah itu tentu Le Lam-sing adanya. Cepat ia berkata lagi.
"Jika demikian, lekas kau membawa kami pergi menjenguk teman yang sakit keras itu dan berdaya mengobatinya."
Petani itu mengiakan, cepat ia membawa Kim Tiok-liu berdua kembali ke dusunnya.
Ketika memasuki gubuk seorang petani tua, dilihatnya di atas dipan berbaring seorang, ternyata Kiong Peng-hoan adanya.
Kim Tiok-liu terkejut, serunya.
"He, Kiong-heng, mengapa kau berada di sini, kenapa kau?"
Ternyata Kiong Peng-hoan tidak bisa menjawab.
Menurut keterangan petani tua, katanya sejak pagi Kiong Peng-hoan sudah tidak sadarkan diri, kaki dan tangannya juga sudah kaku dan dingin.
Cepat Tiok-liu memegang nadinya, memang terasa badan Kiong Peng-hoan sedingin es, cuma nadinya masih bekerja walaupun lemah.
"Bagaimana?"
Tanya Ang-ing pelahan.
"Dia terluka kena racun dingin Siu-lo-im-sat-kang, mungkin ilmu silatnya sukar pulih seluruhnya,"
Kata Tiok-liu.
Ia coba mengerahkan tenaga murni sendiri untuk melancarkan jalan darah Kiong Peng-hoan.
Selang agak lama, ubun-ubun Kim Tiok-liu tampak mengepul kabut tipis, keringat bercucuran.
Tapi wajah Kiong Peng-hoan yang tadinya pucat sudah mulai bersemu merah dan akhirnya matanya pelahan melek.
Girang sekali Ang-ing dan si petani tua, Kiong Peng-hoan lantas mengenali Kim Tiok-liu, dengan mengulum senyum, bibirnya tampak bergerak-gerak seperti mau bicara.
Cepat Tiok-liu menempelkan telinganya.
Dengan suara lemah Kiong Peng-hoan berkata.
"Keadaanku tiada harapan lagi, kecuali kalau ada obat mujizat. Tolong kau suka....."
"Jangan kuatir, aku justru punya obat mujizat, lebih baik kau mengaso dulu, rawatlah badanmu lebih penting,"
Sela Kim Tiok-liu dengan tertawa. Su Ang-ing heran, ia menarik Kim Tiok-liu ke pinggir dan bertanya pelahan.
"Darimana kau punya obat mukjizat?"
"Benar, bahkan obat ini adalah milik keluargamu,"
Sahut Tiok-liu tertawa.
"Apakah kau lupa pada sumbangan kakakmu pada hari ulang tahun Sat Hok-ting."
"O, kiranya yang maksudkan Ho-siu-oh yang berumur ribuan tahun itu,"
Tukas Ang-ing.
Sebagaimana diketahui berulang-ulang Su Pek-to mengganti kado ulang tahun yang dikirimkannya kepada Sat Hok-ting dahulu, akhirnya yang dikirim adalah Ho-siu-oh yang sukar dicari itu.
Tak terduga Ho-siu-oh itupun jatuh ke tangan Kim Tiok-liu ketika berarhai-ramai mereka mengacau pesta ulang tahun Sat Hok-ting.
"Ho-siu-oh ini mestinya kusimpan untuk kau, kebetulan Kkarang dapat digunakan menolong jiwa Kiong-toako,"
Kata Tiok-liu, lalu ia mengeluarkan Ho-siu-oh (sejenis tumbuhtumbuhan bahan obat sebangsa Kolesom) dan dipotong menjadi lapisan-lapisan kecil tipis, petani tua itu diminta tolong menyeduh menjadi teh untuk diminumkan kepada Kiong Penghoan.
Menurut taksiran Kim Tiok-liu-liu, setelah tiga kali minum leh Ho-siu-oh itu, tiga hari paling lambat tentu Kiong Penghoan Nidah bisa bangun.
Keadaan ternyata lebih cepat daripada duga-Mi Kim Tiok-liu, pagi hari kedua keadaan Kiong Peng-hoan sudah tampak segar, maka buru-buru ia menyatakan isi hatinya.
"Kim-heng, aku mohon bantuanmu mengirim kabar kepada To-||u kami bahwa puteri Totju telah tewas."
"Haah, Kongsun Yan tewas?"
Seru Ang-ing dan Tiok-liu bersamaan dengan kaget.
"Ya, aku menyaksikan sendiri dia terjun ke bawah jurang,"
Tutur Kiong Peng-hoan.
"Menurut pengamatanku, kematian nonn Yan adalah karena didesak oleh Yang Go, tapi tampaknya juga timbul dari dorongan hatinya."
"Kenapa bisa demikian?"
Tanya Tiok-liu tidak paham. Pikiran Ang-ing tergerak, katanya.
"Tujuan Kongsun Yan adalah mencari Le Lam-sing, jangan-jangan dia mendapatkan berita apa-apa yang menyedihkan tentang Lam-sing?"
"Memang tidak salah dugaanmu,"
Ujar Kiong Peng-hoan "Waktu terjun kudengar dia menyerukan nama Le Lam-sing, sebelumnya aku tidak mengetahui bahwa mereka ternyata sudah jatuh cinta satu sama lain."
"Kau juga bertemu dengan Le Lam-sing?"
Tanya Tiok-liu.
"Tidak, dari seruannya yang mengharukan, kukira Le Lamsing sudah mendahuluinya tewas di bawah jurang itu."
"Dimana letak tempat itu? Marilah kita menyelidikinya, andaikan benar mereka sudah mati harus kita temukan juga jc nazahnya,"
Ujar Tiok-liu.
Namun Kiong Peng-hoan tidak dapat mengatakan dengan tepat apa nama tempat kejadian itu, hanya diketahui suatu bukit terjal yang terletak di timur Hok-tjiok-kang.
Untuk mencari tem pat yang tepat waktu Kongsun Yan bunuh diri menurut Kiong Peng-hoan adalah sukar.
Kim Tiok-liu pikir kesehatan Kiong Peng-hoan sedikitnya memerlukan waktu belasan hari baru bisa pulih kembali, mana dia sabar menunggu sekian lamanya.
Keruan ia menjadi gelisah Jika Kongsun Yan dan Le Lam-sing benar-benar sudah mati ti-1 daklah menjadi soal lagi, tapi kalau cuma terluka parah yang mc merlukan pertolongan, maka terlambat datangnya akan berarti celaka pula bagi kedua muda-mudi itu.
Mendadak Kiong Peng-hoan teringat kepada suasana yany menyolok di atas bukit tempat kejadian itu, cepat ia berkata "Warna tanah bukit itu rada berbeda daripada tempat lain, yaitu rada bersemu merah, di atas bukit penuh tumbuh bunga-bunga liar."
"Aku tahu tempat itu,"
Tiba-tiba si petani tua menimbrung.
"Bukit itu namanya Tu-tjiok-san, di bawahnya adalah suatu lembah yang curam, namanya Tho-hoa-kok Jaraknya dari sini kira-kira 70 li, dari dusun langsung menuju ke selatan, bilamana sudah tercium bau harum bunga yang semerbak maka itulah tempatnya."
"Baik, segera aku berangkat ke sana,"
Kata Tiok-liu. 'Tapi tempat itu tidaklah mudah untuk didatangi,"
Kata pula si petani tua.
"Apa sebabnya?"
Tanya Tiok-liu.
"Coba ceritakan lebih jelas."
"Tho-hoa-kok itu adalah sebuah lembah sunyi yang dikelilingi bukit-bukit sehingga tiada terdapat jalan masuk ke sana. Untuk bisa mencapai dasar lembah itu harus merambat langsung ke bawah dari atas bukit Tu-tjiok-san itu. Lebih berbahaya lagi dasar lembah itu adalah tempat yang angker. Di dasar lembah itu tumbuh beribu-ribu pohon Tho liar, pada musim semi seperti sekarang ini, bunga Tho mekar semerbak dan di dasar lembah itu-pun timbul Tho-hoa-tjing."
"Tho-hoa-tjing? Apakah kau maksudnya semacam kabut yang berbisa?"
Kim Tiok-liu menegas.
"Tapi jangan kuatir, aku punya obat penawar racun yang mujarab, betapapun lihainya juga takkan mengganggu diriku."
Petani tua itu percaya ucapan Kim Tiok-liu karena telah menyaksikan pengobatannya kepada Kiong Peng-hoan.
Ia hanya menambahkan pesan agar Tiok-liu berhati-hati bila berangkat ke lana.
Tiok-liu mengucapkan terima kasih, lalu meninggalkan Su Ang-ing untuk merawat Kiong Peng-hoan, segera ia berangkat ke Tu-tjiok-san.
Sesuai dengan petunjuk petani itu, setiba di Tu-tjiok-san, dengan gampang saja Tiok-liu dapat menemukan Tho-hoakok.
Dipandang dari atas jurang tempat Kongsun Yan berdiri dahulu, memang benar hawa berbisa yang menguap dari dasar lembah itu sangat tebal, bau harum bunga juga menusuk hidung, hanya menghirup napas beberapa kali saja kepala Rim Tiok-liu sudah terasa pusing.
Untuk keselamatannya Tiok-liu mengulum Pik-ling-tan buatan dari teratai salju Thian-san, lalu dengan Ginkangnya yang tinggi ia merambat ke bawah laksana kera gesitnya.
Tidak terlalu lama akhirnya dia dapat mencapai dasar lembah itu.
Diam-diam ia merasa kuatir, lembah sedalam itu, ditambah lagi hawa berbisa begitu keras, mungkin Lam-sing dan Kongsun Yan sudah tewas di situ.
Akan tetapi setelah melangkahi tanah lembah itu, mau tak mau Kim Tiok-liu merasa heran.
Ternyata di atas tanah laksana dilapisi bunga yang amat tebal sehingga kakinya seperti menginjak permadani dari bulu.
Ia coba menginjak dengan kuat, ternyata di bawahnya adalah tanah lumpur.
"Le-toako! Nona Kongsun!"
Tiok-liu berteriak nyaring namun tiada jawaban, setelah menjelajahi lembah bunga Tho, juga tidak nampak bayangan seorang pun.
Setiba di ujung hutan Tho, terlihat sebuah air terjun mencurah keras dari dinding jurang sebelah atas dan menimbulkan suara gemuruh, ternyata ke depan lagi sudah buntu, tiada jalan keluar.
Tiok-liu heran, ia pikir kalau kedua muda-mudi itu sudah mati tentu juga meninggalkan tulang-belulang.
Namun ia pun tidak berani mempunyai pikiran mengharapkan kedua temannya itu masih hidup, meski tidak menemukan tulang jenazahnya juga terpaksa menganggap mereka sudah mati.
Sedih rasa hati Kim Tiok-liu, terutama bila teringat pada peristiwa pelemparan Hian-tiat-pokiam dari Le Lam-sing kepadanya di tengah pertempuran sengit itu, dengan pedang pusaka itulah baru ia sendiri mampu menandingi Su Pek-to dan Bun To-tjeng berdua Jadi jiwanya sendiri boleh dikata Lam-sing yang menyelamatkan.
Coba kalau Lam-sing tidak melemparkan Hian-tiat-pokiam kepadanya tentu Yang Go tidak mampu menawannya Pemuda itu telah berkorban untuknya tapi dirinya menemukan tulang belulangnya saja tidak mampu.
Makin dipikir makin pedih hati Kim Tiok-liu.
Kembali ia memanjat ke atas gunung sehingga tempo sehari suntuk hilang percuma Besoknya ia kembali ke rumah petani tua itu, ternyata Kiong Peng-hoan sudah bisa berjalan dengan bersandar dinding, la menceritakan apa yang dilihatnya di Tho-hoa-kok itu kepada Kiong Peng-hoan serta Su Ang-ing.
Kiong Penghoan juga menduga Lam-sing dan Kongsun Yan tentu sudah mati, ia menjadi sedih dan mengalirkan air mata mengingat tidak dapat memenuhi kewajibannya sebagaimana ditugaskan oleh sang Totju.
Setelah termenung-menung sejenak, Su Ang-ing berkata "Kau bilang dasar lembah itu penuh tertimbun rontokan bunga yang tebal, tanahnya juga lunak.
Dalam keadaan demikian orang yang terjun di situ belum tentu akan jatuh mati."
"Semoga demikian hendaknya"
Kata Tiok-liu.
"Tapi andaikan masih hidup rasanya juga sukar keluar dari lembah itu dengan selamat."
"Sudahlah, paling penting sekarang kita berusaha membalaskan sakit hati mereka"
Kata Kiong Peng-hoan.
"Cuma keadaanku sukar pulih dalam waktu singkat, tugas mengirim berita....."
"Mengirim berita kepada Kongsun-lotjianpwe tugasku,"
Lela Tiok-liu.
"Cuma kau harus mencari suatu tempat perawatan yang lebih sempurna."
Esoknya Kim Tiok-liu lantas menyewakan sebuah kereta dan mengawal Kiong Peng-hoan ke Thay-liang-san.
Saat itu pandean pergerakan sudah melepaskan kota Sedjiang dan kembali ke pegunungan yang merupakan pangkalan utama gerakan militer untuk sementara berhenti.
Ketika mengetahui nasib Le Lam-king dan Kongsun Yan itu, semua orang sama merasa gegetun.
I -Kim Tiok-liu berjanji pada Tiok Siang-hu, sesudah membiaskan sakit hati Le Lam-sing segera dia akan kembali.
Sedangkan langkah pertama menuntut balas itu ialah menyampatkan berita duka kepada Kongsun Hong.
Keberangkatan Kim Tiok-liu ke selatan dengan sendirinya disertai oleh Su Ang-ing.
Li Tun dan Ho Djay-hong memimpin anggota-anggota Liok-hap-pang pulang dulu ke Yangtjiu, pesan yang ditinggalkan kepada Su Ang-ing ialah minta si nona bersama Kim Tiok-liu lekas kembali ke Yangtjiu untuk menggantikan kedudukan Pangtju secara resmi.
Begitulah Kim Tiok-liu dan Su Ang-ing lantas berangkat menuju tempat kediaman Kongsun Hong.
Sepanjang jalan tiada terjadi apa-apa.
Suatu hari sampailah di Hoa-im-koan di daerah Siamsay.
Pegunungan Hoa-san yang terkenal terletak di selatan kota kabupaten itu.
Waktu itu sudah bulan ketiga musim semi, pemandangan indah permai.
Kim Tiok-liu bercerita kisah dunia persilatan di masa lampau, katanya.
"Di atas Hoa-san, dahulu tinggal seorang tabib sakti sahabat ayahku dan ayah angkat Toasuheng pula Konon ilmu pengobatannya sangat sakti, segala macam penyakit aneh juga dapat disembuhkan olehnya. Cuma sayang ilmunya itu sekarang telah lenyap."
"Apakah kau maksudkan Hoa-san-ih-un Hoa Thian-hong?"
Tukas Ang-ing.
"Meski dia sudah lama meninggal, tapi ilmunya tidaklah lenyap."
"O, kiranya kau pun tahu akan tabib sakti itu,"
Kata Tiok liu.
"Memang dia punya seorang anak perempuan dan mewarisi ilmunya. Tapi menurut cerita ayah, katanya puterinya itu diper istri oleh seorang raja suatu negeri kecil di wilayah barat sana. dengan sendirinya ia tak melakukan pengobatan lagi bagi orang sakit."
"Rupanya kau tidak mengetahui bahwa Hoa-lotjianpwe itu masih mempunyai ahli waris lain, yaitu seorang bekas kacungnya yang kini umurnya kira-kira 20-an tahun,"
Kata Ang-ing.
"Kacung itu sekarang memakai nama agama Sok-sik Todjin, dulu dua orang Liok-hap-pang kami pernah terkena senjata rahasia berbisa musuh dan telah disembuhkan oleh Sok-sik Totiang, makanya aku kenal asal-usulnya."
"O, barangkali dia masih kecil ketika ayahku berkenalan dengan Hoa-lotjianpwe, makanya ayah tidak pernah menyebut dia. Kalau diurutkan, Sok-sik Totiang itu masih terhitung teman kita, sayang kita harus meneruskan perjalanan dan tidak sempat menjenguknya."
Tengah berbicara, tiba-tiba dari atas gunung berjalan turun seorang wanita tani dengan menangis sedih. Ang-ing merasa kasihan, lalu ia mencoba menegurnya.
"Ada apa bibi menangis sedemikian sedih? Cobalah katakan, mungkin aku bisa memberi bantuan seperlunya."
"Banyak terima kasih atas maksud baik nona,"
Sahut wanita tani itu.
"Tapi dasar nasibku yang sial. Anakku mendapat penyakit berat, menurut tabib kita, katanya sukar disembuhkan kecuali mengundang tabib sakti yang tinggal di puncak Hoa-san sana. Namun memang nasibku yang jelek sehingga semuanya sia-sia belaka."
"Ada apa dengan tabib Totiang di atas Hoa-san itu? Apakah dia keluar berkelana atau menolak undanganmu?"
Tanya Tiokliu.
"Bukan, bukan,"
Sahut wanita itu.
"Totiang itu justru sangat baik hati, cuma sayang, beliau sudah mati kemarin."
Sampai di sini kembali ia menangis sedih lagi.
"Totiang itu sudah mati?"
Ang-ing menegas dengan terkejut.
"Ya, tidak salah lagi, malahan peti matinya masih belum dikubur, orang yang datang melayat juga masih berkumpul di utas gunung sana,"
Sahut wanita itu.
"O, meninggalnya Totiang itu berarti pula jiwa anakku tak tertolong lagi, aku pun tidak Ingin hidup merana lagi di dunia ini."
"Bibi jangan kuatir, mungkin aku dapat mengobati penyakit anakmu itu,"
Ujar Kim Tiok-liu.
"Pil ini kau bawa pulang dan minumkan kepada anakmu, selain itu kuberi lagi sepuluh tail penik, belikan jamu kuat dan makanan yang berguna bagi kesehatan anakmu."
Kiranya pil yang diberikan Kim Tiok-liu itu adalah Siauhoan-tan yang diperolehnya dari Ki Hiau-hong, pil itu berasal dari Siau-lim-si dan merupakan obat mujarab untuk macammacam penyakit dalam.
Sebenarnya wanita tani itu sukar mempercayai keterangan Kim Tiok-liu, tapi orang bermaksud baik, daripada hilang harapan, apa salahnya kalau dicoba.
Maka sambil mengucapkan terima kasih banyak, wanita itu menerima obat dan uang pemberian Kim Tiok-liu, lalu pulang.
Seperginya wanita tani itu, Su Ang-ing berkata kepada Kim Tiok-liu.
"Aku merasa urusan ini rada-rada tidak beres."
"Benar,"
Sahut Tiok-liu.
"Kematian Sok-sik Todjin tentu ada apa-apanya. Sebagai kawan kekeluargaan, sepantasnya kita melayat juga ke atas gunung."
Begitulah mereka lantas naik ke Hoa-san, sampai di ping gang gunung tertampaklah sebuah kuil, di depan pintu tergan tung tenglong, di dalam kuil terdengar suara ribut orang banyak.
Dahulu Hoa Thian-hong sendiri tinggal di puncak Hoa-san, sam pai di tangan Sok-sik Todjin untuk memudahkan pengobatan kepada rakyat-rakyat dusun, maka di tengah gunung itu telah di bangun cabang kuil itu.
"Tentu inilah kuil kediaman Sok-sik Totiang,"
Kata Tiok liu.
"Aneh, orang sudah mati kenapa ribut-ribut seperti ada yang bertengkar di tempat ini?"
Mereka coba masuk ke kuil itu, terdengar suara kasar seorang sedang berteriak.
"Aku tidak percaya, coba buka peti matinya, aku ingin melihat."
Seorang lagi menjawab.
"Guruku benar-benar sudah wafat, peti mati beliau juga sudah dipantek rapat."
"Sudah dipantek rapat juga harus dibuka!"
Teriak orang tadi.
Menyusul terdengarlah suara berkeriutnya tutup peti mati, kebetulan Kim Tiok-liu dan Su Ang-ing sempat ikut menyaksikan pembukaan tutup peti mati.
Ketika tutup peti dibuka, beberapa laki-laki tegap segera merubung maju untuk melihat, terdengar mereka berseru.
"He. benar-benar Sok-sik Todjin adanya!"
"Memangnya aku sudah mengatakan guruku telah meninggal, tapi kalian tetap tidak percaya dan memaksa membuka peti mati segala. Hm, sekarang kalian mau percaya tidak?"
Omel seorang, rupanya murid Sok-sik Todjin.
"Ya, aneh, seperti mati keracunan? Tidak perlu disangsikan lagi, tentu perbuatan keji Thian-mo-kau?"
Demikian beberapa laki-laki tegap tadi saling ribut dan kecewa. Kim Tiok-liu juga terkejut, pikirnya di dalam hati.
"Mengapa mereka mencurigai perbuatan keji Thian-mo-kau?"
Segera ia mendesak maju dan berseru.
"Coba kulihat!"
Ternyata mayat yang terbujur di dalam peti mati itu tampak tidak wajar, muka gelap dan lubang hidung berdarah.
Tiok-liu menjadi sangsi, sebab keadaan demikian memang mirip kena jarum berbisa Thian-mo-kau, tapi nenek she Ho itu sudah mati.
siapa lagi yang mahir menggunakan jarum berbisa begitu?
Li Tun pasti tidak mau berbuat demikian.
Mendadak seorang di antara hadirin itu mengenali Ang-ing dan berseru.
"He, nona Su, engkau juga datang! Sobat ini....."
Ang-ing meiengak, segera ia pun ingat siapa penegur itu, sahurnya.
"O, kiranya Sun-hiangtju dari Tiang-keng-pang."
"Benar, Tjayhe memang Sun Pek-siu dari Tiang-keng pang,"
Kata orang itu.
"Kawan-kawan, inilah adik perempuan Su-pangtju dari Liok-hap-pang."
"Kim-siauhiap ini adalah Sute Kang-tayhiap, Kang Hay thian,"
Ang-ing memperkenalkan pula Kim Tiok-liu.
Tiang-keng-pang adalah salah satu gerombolan berpenga ruh di lembah Hongho, termasuk gerombolan yang tunduk ke pada pimpinan Liok-hap-pang.
Sun Pek-siu pernah berkunjung ke Yangtjiu, maka Ang-ing kenal dia.
Cuma Pek-siu tidak tahu Su Pek-to sudah mati di Sedjiang serta penggantian Ang-ing atas jabatan Pangtju kakaknya itu.
Kang Hay-thian dan Su Pek-to adalah tokoh-tokoh yang terkenal oleh setiap orang Kangouw, maka begitu mengetahui mereka masing-masing adalah Sute Kang Hay-thian dan adik perempuan Su Pek-to, beramai-ramai orang yang hadir di situ antas maju memberi hormat.
"Kedatangan Kim-siauhiap sungguh amat kebetulan, urusan ini mungkin hanya Kang-tayhiap saja yang bisa memberi keadilan kepada kami,"
Kata pula Sun Pek-siu.
"Bagaimana duduknya perkara, harap menjelaskan,"
Pinta Liok-liu. Sun Pek-siu menutup kembali tutup peti mati tadi dan meminta maaf kepada tuan rumah, lalu menutur.
"Lantaran tidak sabar dan ingin minta pertolongan Sok-sik Totiang untuk mengobati ketua-ketua dari beberapa perkumpulan kami yang diracun oleh Thian-mo-kau, maka kami membikin ribut di sini. Tak tersangka Sok-sik Totiang sendiri juga mengalami nasib jelek."
"Thian-mo-kau meracuni pemimpin-pemimpin kalian, bukankah Thian-mo-kau sudah bubar lebih 20 tahun yang lalu, mengapa sekarang muncul kembali dan berbuat sekeji ini?"
Tanya Kim Tiok-liu.
"Tapi dengan dasar apa kalian mengatakan semua ini adalah perbuatan Thian-mo-kau?"
"Memang Thian-mo-kau dahulu telah dibubarkan berkat tindakan ayah Kim-siauhiap,"
Kata Sun Pek-siu.
"Tapi barubaru ini muncul Kautju baru, Thian-mo-kau telah dibangun kembali. Permusuhan beberapa perkumpulan kami dengan Thian-mo-kau juga timbul dari urusan ini."
"Siapakah Kautju Thian-mo-kau yang baru itu?"
Tiok-liu menegas.
"Kabarnya adalah cucu keponakan Le Seng-iam, cikal-bakal Thian-mo-kau, namanya Le Lara-sing,"
Tutur Sun Pek-siu.
"Le Lam-sing? Mana bisa dia? Kalian tidak keliru?"
Seru Tiok-liu terkejut.
Kim Tiok-liu bertanya lebih lanjut duduknya perkara, lalu Sun Pek-siu menceritakan pengalaman mereka.
Kiranya bulan yang lalu mereka mendapat undangan dari Thian-mo-kau agar menghadiri kebangkitan kembali Thian mo-kau oleh Pangtju baru bernama Le Lam-sing, ternyata undangan itu disertai pula dengan gertakan dan ancaman.
"Sebagai seorang yang hidupnya selalu bermain senjata, sudah tentu kami tidak gentar terhadap segala ancaman, namun demikian kami pun tidak berani memandang enteng Thian-mo-kau dan senantiasa waspada,"
Demikian Sun Pek-siu menutur lebih lanjut.
"Tak terduga ancaman Thian-mo-kau itu ternyata bukan gertakan omong kosong belaka, Pangtju kami tetap kena perangkap Thian-mo-kau. Waktu itu Pangtju kami baru pulang dari suatu tugas di tempat lain, di suatu kedai di tengah perjalanan beliau berhenti minum, pemilik kedai itu adalah teman kami sendiri sehingga tidak perlu disangsikan. Siapa duga sehabis Pangtju kami minum semangkuk teh, hanya sebentar saja Pangtju melanjutkan perjalanan lantas merasa perut seperti dibakar, makin lama makin parah, maka tahulah Pangtju tentu keracunan Dua orang teman yang mengiringi Pangtju segera bertindak, yang seorang mengawal Pangtju pulang kemari, seorang lagi kembali ke sana mencari si kakek pemilik kedai."
"Tapi setiba di kedai itu ternyata kakek itu sudah mati terbunuh, di samping mayatnya tertinggal sepucuk surat yang menyatakan korban-korban yang ingin hidup hendaklah minta ampun kepada Thian-mo-kau. Sudah jelas maksud kejinya agar kami diharuskan tunduk kepada Thian-mo-kau. Oleh karena kami tidak sudi menyerah, maka datang kemari hendak minta tolong kepada Sok-sik Totiang, tak terduga beliau juga sudah meninggal dengan nasib yang sama."
Selesai Sun Pek-siu menutur, yang lain-lain juga menceri takan pengalaman masing-masing dan ternyata hampir serupa seperti apa yang dialami Tiang-keng-pang.
"Coba Kim-siauhiap,"
Kata Sun Pek-siu pula.
"Betapa kejinya bocah she Le itu, baru saja menjadi Kautju sudah bertindak sekejam itu. Kami merasa tidak sanggup melawan Thian-mo-kau, maka sekarang hanya mohon Kim-siauhiap membela kami secara adil."
"Baiklah, tentu akan kuselidiki urusan ini dengan jelas,"
Sahut Kim Tiok-liu.
"Cuma perlu kalian ketahui, Su Pek-to dari Liok-hap-pang sekarang sudah meninggal."
"Su-pangtju sudah meninggal, setinggi itu kepandaian beliau, masakah juga kena dicelakai bocah she Le itu?"
Seru Sun Pek-siu kaget.
"Su-pangtju tidak tewas di tangan Le Lam-sing, tapi dia membunuh diri sendiri,"
Kata Kim Tiok-liu.
"Tentunya kalian maklum, manusia yang berbuat tidak baik tentu akan menebus dosanya sendiri dengan setimpal. Percuma saja Su Pek-to berkepandaian tinggi, tapi dia rela menjadi anjing alapalap Kerajaan, akhirnya dia terpencil sendiri dan menghadapi jalart buntu, lalu membikin tamat riwayatnya sendiri."
Sun Pek-siu dan lain-lain melongo bingung mendengar kematian Su Pek-to itu. Kim Tiok-liu lantas melanjutkan.
"Mungkin kalian belum lahu apa yang terjadi di Sedjiang? Su Pek-to menggabungkan diri dengan Swe Beng-hiong, anak buah Liok-hap-pang tak sudi lagi menjadi pengekor pemimpinnya sebelum Su Pek-to membunuh diri semua anak buahnya mengangkat nona Su menjadi Pangtju baru, walaupun nona Su adalah adik kandung Su Pek-to, lapi pribadinya tidak sama, nona Su sendiri yang membinasakan Swe Beng-hiong, Liok-hap-pang sekarang sudah resmi menggabungkan diri ke dalam pasukan pergerakan."
"Kematian kakakku adalah akibat kejahatannya sendiri,"
Su Ang-ing menyambung.
"Aku sendiri merasa malu karena ti-ilnk bisa menyadarkan dia ke jalan yang benar. Semoga kalian menganggap kematian kakakku sebagai cermin dan jangan sampai tersesat lagi."
Sun Pek-siu dan lain-lain biasanya memang tunduk di bawah pengaruh Liok-hap-pang, cuma rasa takut mereka lebih besar daripada rasa tunduk kepada Su Pek-to, sekarang diketahui Liok-hap-pang telah berganti pimpinan, mereka menjadi girang dan menyatakan akan tetap setia di bawah pimpinan Liok-hap-pang.
"Li Tun yang kami angkat menjadi wakil Pangtju mahir memunahkan segala macam racun yang dikerjakan Thian-mokau, maka kalian jangan kuatir, tentu akan kusuruh dia menyembuhkan Pangtju-pangtju kalian. Soal menghadapi Thian-mo-kaii juga kami akan berdaya dengan cara paling baik, cuma dalam urusan ini banyak hal-hal yang mencurigakan, aku dan Kim-siauhiap akan menyelidiki dulu duduknya perkara, sebelum persoalannya menjadi jelas, hendaklah kalian bersabar dan jangan bentrok dengan Thianmo-kau."
Sun Pek-siu dan lain-lain mengucapkan terima kasih dan menyatakan taat kepada perintah Su Ang-ing itu, lalu Ang-ing dan Kim Tiok-liu mendahului meninggalkan kuil itu.
"Urusan ini benar-benar sangat aneh, bagaimana menurut pandanganmu?"
Tanya Ang-ing kepada Tiok-liu di tengah jalan.
"Aku yakin Kautju baru Thian-mo-kau tentu Le-toako palsu,"
Sahut Tiok-liu.
"Setahuku Yang Go pernah menggunakan macam-macam cara untuk memaksa Le-toako agar menerima menjadi Kautju baru mereka, waktu itu Letoako bahkan marah dan bergebrak dengan mereka, coba pikir, masakah sekarang din mau mencari susah sendiri dengan membentuk kembali Thian-mo-kau?"
"Ya, aku juga berpikir tentu Le-toako palsu, cuma ada sesuatu tanda tanya besar yang tak bisa kupahami."
"Apakah kau menyangsikan Le-toako mungkin sekait musih hidup?"
"Benar, sebab kalau dia benar-benar sudah tewas, darimana lagi Le Lam-sing palsu ini munculnya? Tidak sedikit orangorang Bu-lim yang mengenal Le-toako, masakah Le Lam-sing palsu ini tak takut kedoknya bakal terbongkar oleh orangorang yang mengenal dia?"
"Apakah maksudmu mungkin Le-toako berada di bawah pengaruh dan paksaan orang?"
"Aku mengenal watak Le-toako yang keras, tidak nanti dia mau takluk di bawah pengaruh orang lain, cuma kalau misalnya Yang Go memberinya semacam obat yang membuat pikiran sehatnya menjadi kabur, lalu menjadikan dia sebagai boneka, bukankah hal ini mungkin sekali terjadi?"
"Memang bukan mustahil bisa terjadi demikian, sebab cara menaruh racun orang Thian-mo-kau memang teramat aneh. Cuma ada suatu yang kusangsikan. Menurut cerita Kiong Peng-hoan, sesudah bergebrak dengan dia tempo hari, Yang Go sendiri terluka tidak ringan, dalam keadaan demikian masakah dia berani terjun ke bawah jurang untuk mencari Letoako."
"Kalau begitu bagaimana pandanganmu? Apakah kita harus langsung menemui Kautju baru itu untuk mengetahui asli atau palsu?"
Tanya Ang-ing.
"Menemui Kautju baru itu adalah pasti akan kita lakukan, cuma sebelumnya akan lebih baik bila kita bisa memperoleh bahan-bahan keterangan yang lebih banyak. Untuk sekarang ini biarlah kita teruskan rencana semula, yaitu menemui Kongsun Hong lebih dulu. Pertama, kita harus menyampaikan pesan dari Kiong Peng-hoan yang tidak bisa ditunda lagi. Kedua, sebagai organisasi Kangouw yang besar tentu Thianmo-kau mengundang juga pihak Ang-eng-hwe untuk menghadiri kebangkitan kembali agama mereka itu. Entah Kongsun Hong sendiri hadir ke sana atau tidak? Kalau hadir tentu dia sudah bertemu dengan Kautju baru itu, maka dapatlah kita mendapat keterangan lebih jelas bila sudah bertemu dengan Kongsun Hong nanti!"
"Benar juga pendapatmu, marilah kita lantas menuju ke rumah Kongsun Hong,"
Sahut Ang-ing.
Begitulah mereka lantas langsung menuju ke kota Bu-koh di Soatang.
Nama Kongsun Hong sangat terkenal di kota itu, maka tanpa susah-payah dapatlah Kim Tiok-liu mendapat ketelengan dimana tempat ketua Ang-eng-hwe itu.
Di tengah jalan, mereka pernah dilampaui beberapa kelom pok penunggang kuda, semuanya sama berpaling memperhatikan mereka berdua.
Kim Tiok-liu tidak curiga apaapa, ia mengira orang-orang itu mungkin sekali adalah anak buah Ang eng-hwe yang mendahului pulang memberi laporan kepada pimpinannya.
Rumah Kongsun Hong terletak di suatu dusun di selatan kota, setelah menyusur sebuah hutan cemara, dari jauh tertampaklah sebuah gedung besar.
Ternyata di depan rumah sudah menunggu sederetan orang.
Ang-ing mengenal dua di antaranya, yaitu Tjeng Wan dan Tjin Tjong, masing-masing menduduki pimpinan ketiga dan keempat dalam Ang-eng-hwe.
Menyangka pihak tuan rumah hendak menyambut kedatangan mereka, Tiok-liu dan Ang-ing sangat senang, cepat mereka memapak maju.
Baru saja Kim Tiok-liu hendak membuka suara, mendadak rombongan orang-orang Ang-enghwe itu terpencar, lalu mengepung mereka di tengah.
Semuanya menghadapi mereka dengan sikap bermusuhan.
Keruan Kim Tiok-liu heran, katanya.
"Apa.....apa artinya ini?"
"Bukan urusanmu, Kim Tiok-liu, kau minggir ke sana,"
Seru Tjeng Wan. Sedangkan Tjin Tiong sudah menuding Ang-ing dan mendamprat.
"Selama ini Ang-eng-hwe tidak pernah gentar terhadap Liok-hap-pang kalian, tapi budak busuk macam kau sekarang berani main gila lagi ke sini?"
Su Ang-ing terkejut dan bingung sahurnya.
"Apa maksud ucapan Tjin-hiangtju ini? Kedatanganku adalah untuk menemui Tjongtotju kalian. Bilamana perbuatan Liok-happang kami di masa lalu ada sesuatu yang tidak layak, biarlah nanti di hadapan Kongsun-totju akan....."
Belum selesai ucapannya, orang-orang Ang-eng-hwe itu sudah mencaci-maki dengan berisik, Tjeng Wan yang marahmarah dan memaki.
"Kongsun-totju belumlah mati, jika kau dalang buat mencari kabar kematiannya tentu kau akan kecewa."
"Cari kabar apa?"
Teriak Tjin Tiong.
"Kedatangannya ini jelas hendak menghina kita, tak perlu banyak bicara lagi dengan dia, Teng-toako, kau maju dulu atau aku saja."
"Baiklah Su Ang-ing, marilah kita satu lawan satu, lolos senjatamu,"
Bentak Tjeng Wan segera. Sudah tentu Kim Tiok-liu ikut heran, pikirnya.
"Jika cuma urusan percekcokan kedua organisasi rasanya mereka takkan begini murka, tentu dalam hal ini ada sebab-sebab lain."
Segera ia melangkah maju dan berseru.
"Ada urusan apa marilah kita bicara baik-baik, bagaimana kalau kita bicarakan setelah menemui Kongsun-totju?"
"Kim Tiok-liu, kami menghormati kau dan Suhengmu, hendaklah kau jangan membela budak busuk itu, bila kau membelanya terpaksa kami juga tidak sungkan lagi padamu!"
Bentak Tjin Tiong. Di sebelah sini masih bicara, di sebelah sana Tjeng Wan sudah tidak sabar lagi dan mulai menyerang Su Ang-ing.
"Kau tidak mau memakai senjata, bolehlah kita coba-coba ilmu pukulan!"
Bentak Tjeng Wan sambil melancarkan pukulan dari kanan kiri.
"Berhenti!"
Bentak Tiok-liu.
"Kalian ini tahu aturan tidak? Maksud kedatangan nona Su belum diketahui kalian, kenapa kau tidak memberi kesempatan bicara padanya?"
Tjing Tiong segera melolos senjata, jengeknya.
"Maksud kedatangan budak liar ini sudah kami ketahui, sebaliknya maksud kedatanganmu yang belum kami ketahui. Sesungguhnya kau akan membantu pihak mana?"
"Hah, masakah perlu ditanya lagi, dia datang bersama budak itu, dia adalah teman baik Le Lam-sing pula, jelas dia juga musuh kita, buat apa sungkan padanya pula!"
Demikian beberapa anak buah Ang-eng-hwe lantas berteriak.
Tapi Tjin Tiong hanya merintangi majunya Kim Tiok-liu saja, mungkin dia sungkan kepada Kang Hay-thian, maka tidak berani sembarangan bergebrak dengan Kim Tiok-liu.
Dalam pada itu ilmu pukulan Tjeng Wan yang lihai sudah membikin Su Ang-ing terdesak mundur, dalam keadaan terkepung Su Ang-ing menjadi tidak leluasa mengeluarkan Ginkang-nya yang diandalkan itu.
Melihat keadaan yang gawat dan sukar diselesaikan dengan kata-kata, terpaksa Kim Tiok-liu harus bertindak.
Saat itu dilihatnya Tjeng Wan sudah mengirim satu pukulan geledek dan tampaknya Su Ang-ing sukar menghindar.
Tanpa pikir lagi Tiok-liu lantas membentak.
"Minggir!"
Mendadak tubuhnya menggeliat, selicin belut saja tahu-tahu sudah menyusup lewat di sisi Tjin Tiong.
Sama sekali Tjin Tiong tidak menduga akan gerakan Kim Tiok-liu yang aneh itu, ketika goloknya diangkat hendak membacok, tahu-tahu Kim Tiok-liu sudah menggeser sampai di sebelah Su Ang-ing.
Ketika tangan Kim Tiok-liu bergerak, seketika tenaga pukulannya terpancar.
Tjeng Wan merasa suatu tenaga lunak seakan-akan menghadang di depannya, tenaga pukulan lunak itu tidak keras rasanya, tetapi cukup membuatnya tergetar mundur.
Rupanya Kim Tiok-liu hanya menggunakan tenaga pukulan Tay-si-mi-tjiang yang lunak sekadar membikin keder lawan saja.
Bahkan tenaga yang terpancar meluas ke sekitarnya sehingga Tjin Tiong dan lainlain juga terdesak mundur.
Tjin Tiong menjadi gusar, dengan mencaci maki goloknya terus membacok, tapi yang di arah adalah Su Ang-ing.
Betapapun ia harus berpikir dua kali untuk menyerang Sute Kang-tay-hiap.
Mendengar sambaran senjata di belakangnya, Kim Tiok-liu tidak peduli serangan itu ditujukan kepada siapa, tanpa pikir ia merebut sebatang gada seorang anak buah Ang-eng-hwe terus disampukkan ke belakang.
"Trang,"
Golok Tjin Tiong mencelat ke udara, sebaliknya gada Kim Tiok-liu itupun terkutung menjadi dua.
Kim Tiok-liu membuang kutungan gada itu dan diam-diam merasa kagum terhadap tenaga Tjin Tiong yang kuat itu.
Melihat golok yang berat mencelat ke udara dan melayang jatuh ke bawah, anak buah Ang-eng-hwe menjadi panik dan beramai-ramai lari menyingkir.
Pada saat itulah Kim Tiok-liu dan Su Ang-ing bergandengan tangan dan melompat ke atas sepotong batu besar yang menyerupai panggung.
Dalam pada itu Tjin Tiong telah menangkap kembali goloknya, dengan muka merah padam ia menuding Kim Tiokliu dan berteriak.
"Jika berani, janganlah kau lari, marilah kita coba-coba lagi."
"Sebelum bertemu Kongsun-totju masakah aku mau pergi sekalipun kau mengusir kami,"
Kata Tiok-liu dengan tertawa.
"Kongsun-totju tidak mau menemui kau!"
Seru Tjin Tiong gusar.
"Belum kau laporkan, darimana kau mengetahui Kongsuntotju tidak meu menemui aku?"
Kata Tiok-liu.
"Baiklah, kau tak mau menyampaikan kedatanganku ini, terpaksa aku menyampaikan sendiri maksud kedatanganku ini."
Habis berkata mendadak ia berseru lantang.
"Kim Tiok-liu dan Su Ang-ing mohon bertemu dengan Kongsun-totju, tapi entah mengapa dihalangi oleh para Hiangtju kalian, harap Kongsun-totju mengizinkan bertemu."
Dari nada ucapan dan sikap orang-orang Ang-eng-hwe itu, Kim Tiok-liu menduga bisa jadi Kongsung Hong sedang sakit atau lagi mengalami sesuatu urusan di luar dugaan, tapi asalkan dia di rumah pasti akan mendengar suaranya.
Yang digunakan Kim Tiok-liu adalah ilmu penyusupan gelombang suara yang hebat, keruan semua orang merasa anak telinga tergetar, semuanya menjadi takut.
Memang Kim Tiok-liu sengaja juga memamerkan kelihaiannya, segera ia melolos Hian-tiat-pokiam pula dan menggumam sendiri.
"Alas batu ini tidak rata, terpaksa kita harus membikin licin dulu untuk bisa duduk enak."
Habis berkata pedangnya bekerja dengan cepat menabas kian kemari, hanya sekejap saja permukaan batu besar yang tadinya tidak rata itu telah dikupas sehingga licin seperti permukaan meja.
Melihat kepandaian Kim Tiok-liu yang luar biasa itu, Tjin Tiong dan anak buahnya yang sudah mengepung di sekeliling batu itu menjadi keder dan tidak berani sembarangan menyerang lagi.
Dengan tersenyum Tiok-liu lalu berkata.
"Marilah kita mengaso dulu di sini Ang-ing, kita menunggu berita penerimaan Kongsun-totju sebentar lagi."
Habis itu mereka lantas duduk seenaknya di atas altar batu itu.
Keruan Tjin Tiong dan lain-lain sangat mendongkol, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
Benar juga dugaan Kim Tiok-liu, tidak lama kemudian keluarlah seorang dan berseru padanya.
"Kim-siauhiap, Kongsun-totju menyilakan engkau masuk."
Yang keluar ini adalah tokoh kelima Ang-eng-hwe, yaitu Tjiok Hian.
"Dan bagaimana dengan nona Su?"
Tanya Tiok-liu.
"Nona Su diharap menunggu sementara di luar sini, Kongsun-totju ingin bicara sendiri dengan Kim-siauhiap,"
Kata Tjiok Hian.
Kim Tiok-liu memandang sekelilingnya, tampaknya Tjin Tiong dan lain-lain masih marah dan bukan mustahil Ang-ing akan diserang lagi bila ditinggalkan sendirian.
Melihat keraguan Kim Tiok-liu, Tjiok Hian lantas berseni pula.
"Totju ada perintah agar nona Su jangan diganggu meski dia adalah adik Su-pangtju Liok-hap-pang yang bermusuhan dengan kita. Apalagi Nona Su datang bersama Kim-siauhiap, hendaklah kalian menghormati-nya seperti tamu-tamu yang lain."
Tjeng Wan dan lain-lain menunduk sambil mengiakan.
Tjing Tiong tidak bersuara, tapi tidak berani melanggar perintah pemimpinnya itu.
Dengan hati lega barulah Kim Tiok-liu mengikuti Tjiok Hian masuk ke rumah Kongsun Hong, setelah mengetahui Tjiok Hian adalah orang yang pernah ikut membantu In-tjengtju di samping Tjin Goan-ko, ketika putri In-tjengtju hendak diculik oleh kawanan bandit, maka Kim Tiok-liu mempunyai kesan baik terhadap tokoh kelima Ang-eng-hwe ini.
Cuma sayang, ketika ditanya keadaan Kongsun Hong apakah sakit atau ada halangan lain, ternyata Tjiok Hian tidak mau memberi keterangan.
Terpaksa Kim Tiok-liu tidak bertanya lebih jauh lagi, dengan penuh tanda tanya ia tetap mengikuti Tjiok Hian ke dalam ' kamar tidur Kongsun Hong.
Dilihatnya Kongsun Hong berba-Lring di tempat tidurnya dengan muka pucat kuning, dahinya ber-semu kehitam-hitaman.
Kim Tiok-liu terkejut, baru sekarang ia [tahu bahwa ketua Ang-eng-hwe itu kiranya keracunan.
Dalam hati Kim Tiok-liu membatin apakah dia juga kena dikerjai oleh ketua Thian-mo-kau yang baru itu.
"Kebetulan sekali kedatanganmu ini, Kim-siauhiap, silakan Iduduk, marilah kita bicara sedikit,"
Sambut Kongsun Hong dengan suara lemah. Setelah memberi salam hormat dan baru Kim Tiok-liu hen-Wak buka suara, namun Kongsun Hong sudah mendahului.
"Aku Ltahu kau tentu sangsi dan ingin minta keterangan padaku, sebaliknya aku pun ada macam-macam pertanyaan padamu."
"Entah Kongsung-loijianpwe ingin mengetahui urusan apakah?"
Tanya Kim Tiok-liu.
"Bukankah kau baru datang dari Sedjiang?"
Tanya Kongsun Hong.
"Benar!"
"Anak perempuanku Kongsun Yan juga berada di sana, apakah kau melihat dia?"
Kim Tiok-liu menjadi serba susah, padahal maksudnya hendak menyampaikan berita titipan Kiong Peng-hoan tentang kecelakaan Kongsun Yan, siapa duga Kongsun Hong sendiri se-Uang sakit, bila peristiwa anak perempuannya itu diberitahukan, mungkin sekali akan menambah berat penyakitnya.
Melihat Kim Tiok-liu terdiam, Kongsun Hong menghela napas, katanya pula.
"Barangkali anak perempuanku mengalami nasib buruk bukan, hanya saja aku masih mempunyai sedikit harapan, semoga berita ini tidak benar adanya."
Kim Tiok-liu menjadi heran darimana ketua Ang-eng-hwc ini memperoleh kabar? Terpaksa ia menjawab dengan nada sedih.
"Jika Lotjianpwe sudah tahu, maka aku pun tidak perlu bicara lagi. Namun aku pernah menyelidiki lembah Tho-hoakok itu dan tidak menemukan jenazah putrimu. Bisa jadi seperti apa yang diharapkan Lotjianpwe, masih ada harapan baik."
Sebaliknya Kongsun Hong menjadi bingung sekarang, ia menegas.
"Apa yang kau maksudkan? Jadi putriku tidak tewas di kota Sedjiang?"
Kim Tiok-liu bertambah heran, cepat ia bertanya.
"Sebenarnya berita apa yang telah sampai pada Lotjianpwe?"
"Jika dia tidak tewas di Sedjiang lalu siapa pula orang yang membunuh dia?"
Gumam Kongsun Hong. Tahu hal ini tentu ada suat u yang ganjil, cepat Kim Tiok-liu menerangkan.
"Yang Go yang memaksa putrimu terjun ke dalam jurang itu bersama Le Lam-sing."
"Hah, kau bilang musuh anak perempuanku itu ialah Yang Go?"
Kongsun Hong menegas.
"Bahkan Le Lam-sing juga mengalami nasib sama berbareng dengan anak Yan? Ah, ini benar-benar sukar dipercaya."
"Habis menurut kabar yang Lotjianpwe terima, siapakah musuh putrimu itu?"
Tanya Kim Tiok-liu.
"Apa bukan Su Pek-to dari Liok-hap-pang?"
"Siapakah yang menyampaikan berita ini kepada Lotjianpwe?"
"Siapa lagi kalau bukan Le Lam-sing!"
Keruan Kim Tiok-liu tak habis bingungnya katanya "Kau bertemu sendiri dengan Le Lam-sing. Sendiri?"
"Ya, sepuluh hari yang lalu aku bertemu dengan dia h* sendiri yang mengatakan padaku, mana bisa keliru lagi."
Tiba-tiba pikiran Kim Tiok-liu tergerak, tanyanya "Kong sunlotjianpwe seperti keracunan, siapakah yang melakukan hal ini?"
"Juga perbuatan keparat Le Lam-sing itu!"
Sahut Kongsun Hong.
"Inilah aneh, jika dengan maksud baik Le Lam-sing menyampaikan kabar padamu, kenapa meracuni Lotjianpwe pula?"
Sebagai orang yang berpengalaman, Kongsun Hong menduga ucapan Kim Tiok-liu itu tentu ada hal-hal yang tidak beres, katanya kemudian.
"Kejadian ini rada panjang untuk diceritakan. Kim-siauhiap, kau bilang Yang Go yang mencelakai anak perempuanku, apakah kau menyaksikan sendiri?"
"Kiong Peng-hoan sendiri yang melihatnya"
Kata Tiok-liu.
"Tapi Su Pek-to membunuh diri kusaksikan sendiri. Waktu Su Pek-to mati, puterimu masih baik-baik berada di sana maka tentang Le Lam-sing ysng menjadi Kautju baru Thian-mo-kau itu tulen atau palsu, yang jelas berita yang disampaikan kepada Lotjianpwe jelas adalah palsu."
"Tapi kenapa Kiong Peng-hoan tidak melaporkan sendiri kepadaku,"
Kata Kongsun Hong.
"Sebab dia terluka oleh Siu-lo-im~sat-kang Yang Go,"
Kata Kim Tiok-liu menceritakan pengalaman Kiong Peng-hoan tempo hari serta apa yang telah dilihatnya di Tho-hoa-kok.
Jika yang menceritakan kejadian itu adalah orang lain tentu Kongsun Hong .tidak percaya tapi sekarang Kim Tiok-liu yang menceritakan padanya walaupun tetap ragu-ragu, mau tak mau ia percaya juga.
"Jika demikian, akulah yang telah masuk perangkap mereka,"
Kata Kongsun Hong kemudian.
"Le Lam-sing yang ditemui Lotjianpwe itu mungkin adalah samaran yang sangat mirip,"
Kata Kim Tiok-liu.
"Ya, sekarang aku pun curiga. Akan kuceritakan pengalamanku tempo hari, coba kita pecahkan persoalan ini nanti."
Setelah minum seteguk, lalu Kongsun Hong melanjutkan.
"Tahun yang lalu aku dan anak perempuanku bertemu dengan Le lain sing dan Hong Biau-siang di tepi Tiang-kang, di situlah anak perempuanku ikut mereka ke Sedjiang, kejadian ini tentu sudah kau ketahui bukan?"
"Ya, nona Hong memberitahukan padaku,"
Sahut Tiok-liu "Waktu itu Le-toako menderita luka dan tak bisa melawan putera kesayangan Bun To-tjeng, sehingga nona Hong juga hampir tertawan musuh.
Untung puterimu menolong mereka sehingga Bun Seng-tiong digebah lari.
Bulan yang lalu nona Hong meni-kah dengan Tjin Goan-ko dari Bu-tong-pay di Thay-liang-san, mereka merasa berhutang budi atas pertolongan kalian dahulu ini."
"O, syukurlah nona Hong itu kini mendapatkan jodoh yarnjj baik, sungguh menggembirakan,"
Kata Kongsun Hong.
Dahulu ia menyangka Hong Biau-siang adalah kekasih Le Lam-sing.
maka ia tidak berani mengemukakan maksudnya akan memungut menantu pemuda itu.
Akan tetapi sekarang puterinya mengalami nasib malang dan Le Lam-sing tidak diketahui baik bu suknya atau memang benar pemuda itulah yang sekarang menjabat sebagai ketua Thian-mo-kau?
Ia pikir buat apalagi mengoriangkan urusan ini selagi puterinya sudah tiada.
Melihat wajah Kongsun Hong menjadi muram, Tiok-liu tahu tentu orang tua itu sedang berduka, ia coba menghiburnya.
"Jika Le Lam-sing belum mati, maka putrimu tentu juga masih hidup. Yang penting sekarang kita mesti menyelidiki dahulu tulen atau palsunya Le Lam-sing yang menjadi ketua Thianmo-kau itu."
"Ya, marilah kita kembali pada pokok persoalan ini,"
Kata Kongsun Hong.
"Waktu itu karena cukup lama tiada berita dari puteriku yang berada di Sedjiang, maka aku menyuruh Kiong Peng-hoan menjenguknya ke kota itu. Tak terduga belum lagi Kiong Peng-hoan pulang, suatu hari aku menerima sepucuk surat undangan Le Lam-sing yang meminta aku hadir menyaksikan pengangkatannya sebagai Kautju baru, aku diminta datang lebih dini dua hari untuk berunding urusan penting. Pertemuanku jadi di langsungkan, tapi sungguh tidak nyana akhirnya aku mesti menelan pil pahit di tangan seorang bocah ingusan, benar-benar memalukan."
"Aku sendiri tidak setuju bangkit kembalinya Thian-mo-au, sebagaimana pendirian ayahmu beberapa puluh tahun yang lalu ketika menasihatkan mereka untuk membubarkan agama itu. Buat apa susah-susah membangun perkumpulan yang sudah punah itu sementara banyak pasukan pergerakan sudah berkembang dengan pesatnya dan sedang berjuang di medan perang?"
"Tepat ucapan Lotjianpwe, Le Lam-sing pernah menolak ujukan Yang Go untuk menjadi ketua Thian-mo-kau dengan alasan demikian,"
Kata Tiok-liu.
"O, jadi jauh sebelumnya sudah terjadi hal demikian?"
Tanya Kongsun Hong.
"Ya, makanya aku tidak percaya Le Lam-sing mau mengupendiriannya di bawah kekangan Yang Go."
"Walaupun demikian aku tetap memenuhi undangannya, rutama aku sangat ingin tahu kabar tentang puteriku. Dua hari bih dini aku sudah pergi ke Tji-lay-san untuk menemuinya, berbareng itu aku pun berpikir akan menasihatkan dia untuk mengurungkan maksudnya membangun kembali Thian-mokau."
Tiba-tiba pikiran Kim Tiok-liu tergerak, tanyanya.
"Setiba Tji-lay-san, apakah kau bertemu juga dengan Yang Go?"
"Justru dia yang menyambut kedatanganku. Sayang waktu aku tidak tahu dialah orang yang membikin celaka puteriku, kalau tidak tentu sudah kupukul mampus dia."
"Apa yang dikatakan Yang Go padamu?"
Tanya Tiok-liu.
"Dia bilang Le-kautju baru saja pulang dari Sedjiang, lantaran terlalu lelah, maka jatuh sakit dan belum lagi sembuh, maka mungkin sekali tak bisa banyak bicara dengan aku."
"Itulah suatu titik yang mencurigakan, mungkin karena dia Le Lam-sing palsu, maka kuatir terbongkar kedoknya jika banyak bicara,"
Ujar Tiok-liu.
Ya, waktu itu kukatakan bahwa aku hanya ingin bicara sekedarnya dan mau tahu urusan penting apa yang hendak dirundingkan dengan aku, lalu Yang Go mengantar aku ke ruangan dalam untuk menemui Le Lam-sing."
"Apakah kau jelas melihat Le Lam-sing itu benar-benar orang yang asli?"
"Kulihat wajahnya rada pucat, mukanya memang mirip Lam-sing, hanya rada kurus sedikit. Tatkala itu kukira dia sedang sakit, maka tidak begitu memperhatikannya. Tapi kalau dipikir sekarang, selain mukanya rada kurasan daripada Lam-sing, Kautju baru itupun berbeda suara, sayang waktu itu aku tidak menaruh curiga sehingga kena diperdayai olehnya."
"Menurut cerita Kautju baru itu,"
Demikian Kongsung Hong melanjutkan.
"Katanya sesudah dia bersama puteriku berada di Sedjiang, segera mereka ikut dalam penyerbuan kediaman Swe Beng-hiong, di situlah puteriku katanya tewas terbunuh oleh Su Pek-to, dia sendiri juga terluka, untung ditolong oleh Yang Go dan berhasil melarikan diri. Berita itu membuat aku sangat gusar dan berduka, dia lantas membujuk dan menghasutku untuk menghadapi Liok-hap-pang bersama dengan Thian-mo-kau mereka, katanya mumpung Su Pek-to belum pulang ke tempat pangkalannya sebaiknya Liok-happang digempur dan dicaplok saja, bila anak buahnya sudah kocar-kacir tentu akan memudahkan membalas dendam kematian putriku."
"Sungguh akal yang keji,"
Kata Tiok-liu.
"Dalam hal ini justru aku ingin minta saran darimu. Katamu tadi Yang Go dan Su Pek-to adalah sekaum, bila Kautju baru ini adalah boneka Yang Go, mengapa dia mengajak aku mencaplok Liok-hap-pang?"
"Agaknya Lorjianpwe belum tahu bahwa Liok-hap-pang sekarang sudah berganti Pangtju. Pangtju baru Liok-hap-pang sekarang ialah nona Su Ang-ing, Su Pek-to sendiri sudah mati di Sedjiang. Yang Go dan begundalnya tentu sudah menduga, setelah nona Su menjabat Pangtju pastilah Liok-hap-pang tidak mau mengekor mereka lagi dan tentu bergabung dengan pasukan pergerakan. Makanya mereka ingin turun tangan lebih dulu, dengan meminjam senjata Ang-eng-hwe kalian untuk menggempur Liok-hap-pang."
"Untung aku tidak masuk perangkapnya. Padahal untuk I menuntut balas kematian puteriku yang waktu itu kusangka di-I bunuh oleh Su Pek-to, juga tidak perlu kuminta bantuan mereka dan menyerang Liok-hap-pang secara mendadak selagi pemim-I pinnya tidak di tempat. Oleh sebab itulah dengan ketus aku menolak ajakannya, sebaliknya sebagai orang tua aku lalu membujuk dia mengurungkan maksudnya membangun kembali Thian-mo-kau. Lantaran pembicaraan satu sama lain tidak cocok, pula tidak mau mengganggu orang yang sedang sakit, segera aku mohon diri. Sesuai adat istiadat, Kautju baru itu menyuguhkan teh dan mengantar tamu."
"Itulah dia, Di dalam teh itu pasti ada apa-apanya, Lorjianpwe telah meminumnya?"
"Aku tetap menyangka dia sebagai Le Lam-sing yang tulen, meski pembicaraan tidak cocok toh aku tidak curiga dia akan meracuni aku, maka tanpa sangsi teh yang dia suguhkan padaku lantas kuminum. Tapi begitu masuk perut segera aku merasakan sesuatu yang tidak beres, namun sudah kasip, terdengar suara gemerantang, keparat itu membanting cangkir teh terus berlari masuk ruangan belakang. Ternyata di belakang tempat tidurnya itu ada pintu rahasianya."
"Cepat aku mencengkeram dia, tapi luput. Berbareng Yang Go lantas menyerang aku dengan Siu-lo-im-sat-kang, katanya, 'Kongsun-totju, sekali kau sudah datang ke sini, maka silakan tinggal saja di sini.' Hm, biarpun sedikit kepandaian Yang Go Itu rasanya masih belum mampu menahan diriku. Baru saja ia bicara, sekali hantam kupatahkan dua potong tulang iganya, kontan membikin suara tertawanya berubah menjadi jeritan ngeri, cuma sayang tenaga pukulanku tidak sempat kukerahkan sepenuhnya sehingga tidak membinasakan dia."
"Rupanya kamar tidur itu banyak pesawat rahasianya, begitu Yang Go tergetar keluar oleh pukulanku segera ia mengerahkan pesawat rahasianya, tiga lapis papan baja lantas anjlok sehingga aku terkurung di tengah. Dari luar Yang Go mengejek, katanya, 'Di dalam teh itu hanya ditaruh sedikit Toan-djong-san (puyer pemutus usus), dengan Lwekang Kongsung-totju yang tinggi mungkin tidak memerlukan obat pemunah kami, tapi bila sekali-kali kau tidak tahan, maka sebaiknya kau jangan kepala batu, silakan berunding saja dengan kami.' Hm, ia menyangka dengan demikian aku dapat digertak dan dipaksa, hm, sungguh tidak kenai watakku, rupanya dia belum kenal siapa aku ini."
"Wah, kiranya begitu rapi mereka mengatur, kemudian cara bagaimana Kongsun-lotjianpwe meloloskan diri?"
Tanya Tiok liu.
"Serapi-rapinya pengaturan mereka toh ada lubangnya juga,"
Ujar Kongsun Hong dengan tertawa.
"Mereka sama sekali tidak menyangka aku akan membobol atap rumah dan menerjang keluar."
"Sungguh hebat pukulan Lotjianpwe, tentu atap rumah itu jebol diterjang olehmu bukan?"
Seru Tiok-liu.
"Ya, setelah menerjang keluar, aku merebut pula seekor kuda tanpa ada yang mampu merintangi diriku,"
Kata Kongsun Hong dengan bangga.
"Setiba di rumah barulah terpaksa aku berbaring, tapi diserang iblis itu membungkuk sedikit saja aku tidak sudi."
Kagum sekali Khn Tiok-liu terhadap ketangkasan jago tua itu, katanya dengan tertawa "Kukira bukan pengaturan mereka yang kurang tapi, soalnya mereka tidak menyangka bahwa setelah Lotjianpwe minum Toan-djong-san masih mampu memukul ambrol atap rumah, sampai-sampai tiga lapis papan baja di tambah pukulan Siu-lo-im-sat-kang Yang Go juga tidak mampu mengurung engkau."
"Tapi dengan demikian terpaksa aku harus berbaring sebu lan lebih lama untuk memunahkan racun di dalam badanku,"
Ku ta Kongsun Hong dengan senyum getir.
"Dan karena aku tidak dapat bangun sehingga terjadi salah paham hari ini. Kalau tidak tentu anak-buahku takkan bersikap kasar terhadap kalian tadi."
"Inilah tak bisa menyalahkan mereka"
Kata Tiok-liu.
"Hubunganku yang baik dengan Le-toako cukup diketahui mereka sebelum jelas tulen palsunya Le-toako tentu mereka tidak berani membiarkan aku menemui engkau. Apalagi mereka menganggap Su Pek-to sebagai musuh pembunuh puterimu."
"Walaupun demikian juga tidak pantas sikap kasar mereka itu terhadap kalian,"
Kata Kongsun Hong.
Lalu ia menyuruh Tjiok Hian memanggil masuk Tjin-tiong dan Tjeng Wan serta mengundang Su Ang-ing, di hadapan mereka diterangkan duduknya perkara yang menimbulkan salah paham itu.
Lalu Tjeng Wan dan Tjin Tiong diperintahkan minta maaf kepada Kim Tiok-liu dan Su Ang-ing.
"Sayang karena kesehatanku, mungkin aku harus istirahat belasan hari lagi,"
Kata Kongsun Hong.
"Lotjianpwe tidak perlu banyak berpikir, segera aku dan nona Su akan berangkat ke Tji-lay-san,"
Kata Tiok-liu.
"Terhadap keparat Yang Go itu rasanya Wanpwe masih sanggup melayani."
"Menurut perkiraanku, tidak sedikit begundal yang dikumpulkan Yang Go dalam usahanya membangun kembali Thian-mo-kau, maka Kim-siauhiap hendaklah hati-hati bila masuk sarang mereka."
"Banyak terima kasih atas perhatian Lotjianpwe, sudah tentu Wanpwe sedapat mungkin akan menghindarkan pertempuran terbuka dengan mereka yang berjumlah jauh lebih banyak. Wanpwe lebih menitik-beratkan menghantam mereka dengan tipu daya."
"Harap menjelasan,"
Pinta Kongsun Hong.
"Maksudku hendak menyusup ke ruangan induk Thian-mokau dan membekuk hidup-hidup Kautju baru mereka itu. Asalkan dia mengaku sebagai Le Lam-sing palsu, tentu anak buah Thian-mo-kau yang lama akan mengangkat senjata dan berontak. Tatkala mana Yang Go dan sisa-sisa begundalnya tentu tak bisa berbuat apa-apa lagi."
"Waktu aku lolos dari sana, terhadap bangunan di sana lapat-Iapat masih ingat, akan kulukiskan sebuah peta yang mungkin ada manfaatnya bagimu."
Tiok-liu bergirang dan mengucapkan terima kasih pula.
Begitulah malam itu Kim Tiok-liu dan Su Ang-ing lantas menginap di rumah Kongsun Hong, besoknya mereka lantas berangkat ke Tji-lay-san setelah menerima gambar peta.
Suatu malam yang tenang di lereng gunung Tji-lay-san, di bawah sinar bulan yang remang-remang, sayup-sayup terdengar suara kresak-kresek pelahan seperti jatuhnya daun kering.
Itulah suara dua orang pejalan malam yang memiliki Ginkang sangat tinggi.
Mereka adalah Kim Tiok-liu dan Su Ang-ing.
Tji-lay-san bukan tempat asing lagi bagi Kim Tiok-liu, cuma kedatangannya kali ini dengan perasaan yang lain daripada dulu.
Waktu dulu dia adalah 'pengemis cilik' yang suka menggelandang kian kemari, pesiarnya ke Tji-lay-san terdorong oleh hasratnya ingin menikmati pemandangan pegunungan itu.
Sekarang dia datang lagi dengan maksud tujuan tertentu, kalau bisa ia ingin dalam sekejap saja sudah berada di sarang Thian-mo-kau dan membongkar teka-teki Le Lam-sing tulen atau palsu itu.
Mereka berlari arak-berarak, Kim Tiok-liu berada di depan.
Tidak lama kemudian, samar-samar tembok sebuah kelenteng bobrok di tanjakan depan sudah kelihatan, kata Tiok-liu.
"Kelenteng bobrok ini tadinya adalah tempat pemujaan Thianmo-kau, menurut Kongsun-totju, Thian-mo-kau semula berada di atas gunung, maka kelenteng bobrok ini mungkin tidak diperhatikan dan ditelantarkan begitu saja. Bicara tentang kelenteng bobrok ini aku menjadi teringat kepada suatu peristiwa yang secara tidak langsung ada juga sangkutpautnya dengan dirimu."
"O, kejadian apa yang menyangkut-pautkan diriku?"
Tanya Ang-ing dengan tertawa.
"Di dalam kelenteng inilah aku mengenal Li Tun,"
Tutur Liok-liu.
"Malam itu dia bersembunyi di situ dan sedang membakar ubi, aku masuk ke situ dan minta sedekah padanya. Kebetulan Djing-hu Todjin dan Djiau Sik yang diutus kakakmu juga menguber tiba. Aku membantu menyembunyikan Li Tun di dalam sebuah genta raksasa, lalu mempermainkan Djing-hu Todjin dan Djiau Sik sehingga Li Tun terhindar dari bahaya. Ternyata di dalam genta raksasa itu terukir rahasia isi Pek-tok-tjin-keng, kitab pusaka Thianmo-kau, terhindar dari bahaya, Li Tun mendapatkan untung pula. Kemudian baru aku mengetahui sebabnya dia dicari kakakmu adalah karena dia mencuri serenteng mutiara mestika yang sedianya oleh kakakmu akan dikirim kepada Sat Hok-ting sebagai hadiah ulang tahunnya"
"Akulah yang membantu mencuri mutiara mestika itu,"
Kata Ang-ing tertawa.
"Ya, makanya aku bilang ada sangkut-pautnya dengan dirimu secara tidak langsung. Peristiwa itulah yang menimbulkan seleraku untuk merampas hadiah ulang tahun yang akan dikirimkan kakakmu itu, sehingga kemudian aku dapat mengenal kau."
Tengah bicara jarak kelenteng bobrok itu sudah semakin dekat, tiba-tiba Ang-ing bersuara heran, katanya "He, di dalam kelenteng ada sinar api.
Aku seperti mencium bau sedap, bisa jadi ada orang sedang memanggang makanan di situ."
Belum habis ucapannya, Kim Tiok-liu sudah lantas mele-tat ke depan, sekilas Ang-ing mendengar Tiok-liu membisikinya "Lekas kau periksa kelenteng itu, hati-hati sedikit!"
Kiranya sembari mengeluarkan Ginkang yang tinggi dan berlari ke depan, berbareng Kim Tiok-liu menggunakan ilmu mengirim gelombang suara untuk bicara kepada Ang-ing sehingga meski tubuhnya sudah melayang jauh ke depan kedengaran wperti dia bicara dengan berbisik di tepi telinga Ang-ing.
Ang-ing merasa heran, tapi dilakukannya juga apa yang dibalakan Tiok-liu itu.
Ginkang Ang-ing tidak sehebat Tiok-liu, maka tidak lama kemudian sesudah dia masuk kelenteng itu Kim Tiok-liu juga sudah datang.
"Di dalam sini hanya terdapat gundukan api unggun ini dan tidak nampak ada orang,"
Kata Ang-ing.
"Kemanakah kau barusan?"
"Siapa yang kau cari?"
"Tadi apa kau tidak melihat sesosok bayangan orang bersembunyi di balik tembok pagar di belakang kelenteng ini, samar-samar setengah kepalanya kelihatan menongol."
"Apa betul?"
Ang-ing sangat heran.
"Aku sendiri tidak tahu. O, barang kali aku tidak terlalu memperhatikannya."
"Begitu aku melihat bayangannya, orang itu lantas menghilang seperti bayangan setan. Padahal di belakang kelenteng tiada terdapat tempat yang dapat dibuat bersembunyi, jangan-jangan dia bersembunyi ke dalam hutan."
"Pantas mendadak kau berlari ke sana sehingga membikin kaget aku, lalu apa yang kau ketemukan di sana?"
"Tidak menemukan apa-apa, bahkan suara sedikitpun tidak terdengar."
"Dengan Ginkangmu sekarang, dapatlah dihitung dengan jari orang di zaman ini yang mampu menandingi Ginkangmu, maka begitu kau melihat dia dan terus mengubernya, seharusnya sukar baginya untuk bisa lolos."
"Ya, paling tidak jejaknya pasti dapat kulihat, tapi hutan yang tidak terlalu lebat itu ternyata tiada terdapat apa-apa. Sungguh aku tidak percaya orang tadi bisa bersembunyi dengan begitu cepat. Namun di atas langit masih ada langit, orang pandai masih ada yang lebih pandai....."
"Jika betul ada seorang yang punya Ginkang lebih lihai daripada kau, maka hal ini benar-benar luar biasa dan aneh. Jangan-jangan dia....."
Ternyata apa yang terpikir oleh Ang-ing juga terpikir oleh Tiok-liu.
"Kau sangka dia adalah Le-toako?"
Tanyanya. Ang-ing mengangguk, katanya.
"Ya, entah mengapa aku seperti mempunyai firasat Le-toako pasti belum mati. Bila dia mengetahui ada orang memalsukan dirinya tentu dia akan datang ke sini untuk menyelidiki. Bisa jadi secara kebetulan juga datang pada malam ini."
"Aku berharap angan-anganmu ini akan benar-benar menjadi kenyataan,"
Kata Tiok-liu tertawa.
"Kau tidak percaya dia masih hidup?"
Tanya Ang-ing.
"Andaikan masih hidup, tetapi dia terluka oleh Siu-lo-imsat-kang Yang Go, mana bisa dia datang ke tempat sejauh ini dengan luka parah yang belum sembuh, bahkan bisa menggunakan Ginkang yang begitu hebat Pula, bila melihat kita, mustahil Le-toako tidak segera muncul untuk menemui kita?"
"Urusan ini kita ke sampingkan dulu, yang penting malam ini kita harus menyelidiki, yang pasti di kelenteng ini tadi memang ada orangnnya. Coba lihat api unggun yang masih menyala ini, bahkan ubi bakar juga belum habis dimakan."
"Keadaan sekarang sangat mirip dengan pertemuanku dengan Li Tun dahulu, tapi orang ini pasti bukan Li Tun. Ginkangnya selisih jauh dengan orang tadi."
"Bisa juga orang yang membakar ubi ini sudah pergi sebelum kita tiba. Sebaliknya orang yang kau uber itu entah benar atau cuma bayangan belaka."
"Ya, ucapanmu ini membikin aku ikut sangsi juga, mungkin mataku sudah kabur. Ah, sudahlah, tak perlu diurus lagi. Ubi bakar ini enak benar baunya, coba kita bagi rejeki ini."
"Wah, tampaknya kau hampir-hampir mengiler,"
Goda Su Ang-ing tertawa.
"Memangnya perutku sudah lapar, marilah kita makan kenyang agar nanti bisa bertugas dengan baik disarang Thinmo-kau."
Sementara itu sudah lewat tengah malam, hawa terasa dingin, malam yang remang-remang itu menambah seramnya suasana bahkan turun hujan gerimis lagi.
"Inilah cuaca paling baik bagi pejalan malam seperti kita,"
Kata Tiok-liu dengan girang.
"Marilah kita berangkat."
Setiba di atas gunung, terlihat bangunan berdiri di sana-sini berjajar laksana benteng.
Rupanya tidak sedikit begundal yang dikumpulkan Yang Go sehingga dalam waktu beberapa bulan saja sarang Thian-mo-kau itu dapat berkembang dengan pesat.
Dengan Ginkang mereka memanjat ke atas pohon besar yang amat tinggi, dari atas dapatlah mereka mengikuti keadaan di dalam benteng.
Tertampak di bagian luar adalah selapis pagar tembok dengan empat pintu besi pada empat penjuru.
Di dalam pagar tembok terdapat beberapa puluh rumah, satu di bagian tengah paling megah, menurut petunjuk peta yang dibuat Kongsun Hong, itulah pendopo tempat tinggal Kautju Thian-mo-kau.
Empat buah pintu gerbang itu sudah tertutup rapat dan dijaga oleh seorang peronda yang mondar-mandir dengan membawa tetabuhan.
Di emper pintu tergantung lampu angin yang cukup terang, bila ada orang bermaksud menyusup ke dalam pasti akan terlihat oleh penjaga itu.
"Meski tinggi pagar tembok itu tidaklah menjadi soal bagi kita, yang sulit adalah cara bagaimana membereskan penjaga itu,"
Bisik Ang-ing.
Maklumlah penjaga itu merangkap sebagai peronda, bila penjaga itu dibunuh, tentu di bagian dalam takkan mendengar suara tetabuhan tanda waktu dan seketika akan menimbulkan curiga.
Selagi bingung, tiba-tiba mereka melihat datangnya dua orang, rupanya seorang adalah kepala jaga dan yang lain adalah penjaga baru yang sudah waktunya menggantikan temannya.
Setelah selesai mengganti penjaga, kepala jaga memberi pesan agar penjaga baru itu menjalankan tugasnya dengan baik, lalu pergi ke pos jaga yang lain.
Seperti kawannya, terdengar penjaga baru membunyikan tanda waktu sambil menggerundel sendiri.
"Sungguh sial, sudah dingin, hujan lagi!"
Mendadak Kim Tiok-liu mendapat akal, ia mematahkan sebatang ranting kayu terus disambitkan ke punggung penjaga yang waktu itu berdiri membelakangi arahnya.
Dengan tepat Hin-sui-hiat penjaga itu tersambit.
Selagi penjaga itu menggeliat B sempoyongan, bagai burung cepatnya Kim Tiok-liu melayang dan sempat memegangi tubuh si penjaga sebelum roboh, lalu tetabuhan tanda waktu itu pun dipukul menirukan si penjaga tadi.
Penjaga-penjaga di empat pintu gerbang itu masing-masing terpisah jauh, hanya saling mendengar suara tanda waktu yang dibunyikan dan tidak bisa melihat muka masing-masing.
Bila suara tanda waktu di sebelah sini terdengar tentu ketiga penjaga yang lain tidak menaruh curiga.
Sesudah Ang-ing ikut meloncat turun, Tiok-liu lantas berkata.
"Lekas kau pakai baju penjaga itu dan pakai topinya pula."
Penjaga itu badannya kurus kecil sehingga rada cocok bajunya dipakai Ang-ing, selesai berdandan, Tiok-liu berkata pula I "Ang-ing, untuk sementara hendaklah kau menjadi peronda.
Bila kepergok orang boleh kau bunuh saja dia Asalkan dalam waktu setengah jam aku tak diketahui musuh tentu segala sesuatunya akan beres kuselidiki."
Segera Ang-ing mengambil alat tetabuhan dan dibunyikan, sedangkan Kim Tiok-liu mengangkat tubuh penjaga tadi dan dilarikan ke dalam hutan, disembunyikan di antara dua potong batu besar sehingga sukar terlihat.
Habis itu dengan Ginkang yang tinggi Kim Tiok-liu melintasi pagar tembok menurut petunjuk peta tanpa diketahui setan sekalipun tahu-tahu dia sudah berada di ruangan dalam tempat tinggal Kautju Thianmo-kau.
Dilihatnya kamar itu masih ada cahaya lampu, bayangan orang terbayang di tirai jendela.
Kim Tiok-liu bersembunyi di belakang sebuah gunung-gunungan yang paling dekat dan coba mengintip ke dalam, ia terkejut karena orang yang dilihatnya ternyata mirip benar dengan Le Lam-sing, diamdiam ia mengakui betapa pandai cara penyamaran orang itu.
Agaknya orang di dalam kamar itupun merasakan sesuatu dan tampaknya sedang pasang kuping, mendadak ia menyirap-kan lampu.
Dasar kepandaiannya tinggi, nyali Kim Tiok-liu juga besar.
Tanpa peduli segala bahaya ia terus meloncat maju dan menolak daun jendela, cepat ia melayang masuk ke dalam kamar.
"Siapa kau?"
Bentak orang itu dengan suara tertahan.
Belum lenyap suaranya, sekali cengkeraman Kim Tiok-liu sudah memegang orang itu, tapi dari suaranya tadi Tiok-liu menjadi heran dan sangsi pula.
Sebab tidak hanya penyamaran orang itu sangat mirip Le Lam-sing, bahkan suaranya juga sama.
Padahal menurut cerita Kongsun Hong, katanya suara Kautju baru itu rada serak, karena itu Kongsun Hong kemudian menyesal mengapa tidak menaruh curiga kepada orang yang bersuara serak yang bukan suara Le Lamsing itu.
Tapi sekarang yang didengar Tiok-liu adalah benar-benar suara Le Lam-sing, ia menjadi tertegun dan heran akan kemiripan orang Rupanya kepandaian orang itupun tidak lemah, begitu kena dicengkeram Kim Tiok-liu segera ia menggunakan tipu 'melolos baju melepaskan diri', dengan licin ia mengelakkan diri, lalu balas menutuk 'Ih-gi-hiat' di bawah iga Kim Tiok-liu.
Biarpun keadaan gelap, tapi jitu amat tempat yang di arah olehnya.
Kembali Tiok-liu bersuara heran sambil menangkis tutukan orang, serunya.
"Siapa kau ini?"
Kiranya Tiok-liu mengenali tipu serangan orang adalah satu jurus ciptaan ayahnya sendiri. Benar juga, segera terdengar orang itupun berseru kaget.
"He, kau adik Tiok-liu?"
Rupanya setelah bergebrak satu-dua jurus, orang itupun segera mengenali kepandaian Tiok-liu. Kejut Tiok-liu lebih hebat, pikirnya.
"Apa mungkin Le-toako betul-betul. Tapi, ah, tidak bisa, mana Le-toako mau mengekor di bawah perintah orang lain dan melakukan kejahatan bersama bangsat tua Yang Go? Tapi gerak tipunya barusan memang benar-benar Le-toako adanya."
Dengan rasa sangsi ia mengelak ke samping, lalu meraba meja dan bermaksud menyalakan lampu.
Tapi mendadak orang itu bersenandung pelahan membawakan syair perkenalan mereka untuk pertama kalinya dahulu, syair ini hanya Le Lam-sing dan Kim Tiok-liu yang tahu, orang lain pasti tidak.
Maka dengan sangsi lagi Tiok-liu berseru tertahan.
"He, kiranya benar Le-toako adanya. Tapi.....tapi bagaimana bisa terjadi begini?"
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara tindakan orang mendatangi, bisik Le Lam-sing.
"Cobalah kau melihat apa yang akan terjadi sebentar lagi dan tentu kau akan jelas duduknya perkara."
Segera ia menarik Tiok-liu dan bersembunyi di belakang tempat tidur. Sementara itu dua orang sudah dekat di luar kamar, terdengar suara Yang Go berkata.
"Coba kau pikirkan masakmasak malam ini, besok kita bicara lagi."
Dengan lirih Lam-sing membisiki Tiok-liu.
"Orang yang datang bersama Yang Go inilah Kautju gadungan yang memalsukan diriku itu."
Dalam pada itu terdengar suara seorang lagi, yaitu Kautju gadungan yang dimaksud Le Lam-sing itu sedang berkata.
"Eh, Yang-supek, aku ingin bicara lagi dengan engkau, silakan duduk sebentar di dalam kamar."
Rupanya dia ingat betul waktu keluar kamar tadi daun jendela telah ditutup rapat, sekarang diketahui terbuka, maka ia menduga telah terjadi apa-apa di dalam kamarnya.
Maka ia pura-pura mengajak Yang Go ke dalam kamar, tapi sebenarnya sebagai isyarat "Kebetulan sekali kedatangan mereka,"
Bisik Tiok-liu kepada Le Lam-sing.
Pada saat malah daun pintu didobrak Yang Go, belum lagi melangkah masuk segera ia melancarkan pukulan Siu-lo-imsat-kang Di luar dugaan, pada saat yang sama cepat Kim Tiok-liu juga melompat keluar dari tempat persembunyiannya, kedua jarinya laksana pisau terus menutuk ke Soan-ki-hiat di dada lawan.
Hebat juga Yang Go, serangan tiba-tiba itu tidak membuatnya bingung, cepat ia memutar balik tangannya, dengan Kim-na-djiu-hoat ia hendak memegang pergelangan tangan Kim Tiok-liu.
Namun Kim Tiok-liu tidak kalah cepat, tangannya ditarik ke bawah, dari menutuk berubah menjadi telapak tangan terus memukul ke dada Yang Go.
Cepat Yang Go menangkis, kedua tangan beradu, Yang Go tergetar mundur dua tiga tindak, Tiok-liu sendiri tergetar keluar kamar.
Sungguh kejut Yang Go tidak terkatakan, Siu-lo-im-satkangnya yang sudah mendekati tingkatan paling sempurna ternyata tidak mampu merobohkan lawannya, bahkan berani beradu tangan dan mendesaknya mundur malah.
Yang Go sudah pernah beberapa kali bergebrak dengan Kim Tiok-liu, sekarang dalam keadaan gelap walaupun belum melihat jelas mukanya juga sudah tahu siapa yang dihadapinya.
Saat itu Kautju gadungan tadi yang ikut di belakang Yang Go baru saja mau masuk ke dalam kamar, lekas Yang Go berseru padanya.
"Lekas lari!"
"Tak bisa lari lagi!"
Seru Tiok-liu dengan tertawa, bagai burung terbang saja ia terus menyambar ke arah Kautju itu.
Tentu saja Yang Go maklum murid keponakan yang diang katnya menjadi Kautju itu tidak mungkin sanggup menahan serangan Kim Tiok-liu, terpaksa ia pun menirukan gerakan Kim Tiok-liu, ia pun meloncat ke atas dan mengadu pukulan pula di udara dengan Kim Tiok-liu.
Sembari berlari menyingkir Kautju gadungan itupun berteriak.
"Ada mata-mata musuh! Lekas tangkap!"
Tapi baru beberapa langkah ia sempat berlari, tahu-tahu tulang pundaknya sudah terasa sakit, kiranya ia kena dicengkeram oleh Le Lam-sing.
Dalam pada itu Yang Go merasa dadanya seperti digodam karena adu pukulan tadi, waktu turun ke bawah ia berada di balik gunung-gunungan sana dan menduduki tempat yang menguntungkan dan siap melayani serangan Kim Tiok-liu, jengeknya.
"Kim Tiok-liu, sekalipun kau punya tiga kepala dan enam tangan juga malam ini jangan harap bisa lolos dari sini! Jangan kau sangka kami dapat digertak karena Kautju kami tertangkap oleh kalian, sebaiknya kita berunding secara baikbaik saja."
Sementara itu anak buah Thian-mo-kau sudah merubung tiba ketika mendengar teriakan sang Kautju tadi, sedangkan Le Lam-sing juga menyeret tawanannya ke dalam kamar dan berseru kepada Kim Tiok-liu.
"Kim-hiante, lekas masuk ke sini!"
Tiok-liu menjadi heran, pikirnya.
"Kenapa Le-toako begini gegabah? Jumlah musuh sangat banyak, jika menerjang keluar mati-matian mungkin bisa lolos. Tapi kalau bersembunyi di dalam kamar bukankah akan mirip burung masuk kurungan dan mati konyol?"
Tapi lantaran Le Lam-sing sudah mendahului masuk, terpaksa ia mengikuti juga.
Sungguh senang Yang Go tak terhingga melihat Lam-sing dan Tiok-liu bersembunyi ke dalam kamar.
Ia terbahak-bahak dan berseru lantang.
"Kim Tiok-liu, masakah kalian mau menjadi kura-kura selama hidup dengan mengkeret di dalam kamar? Ini, biar kalian kenal dulu sedikit kelihaianku!"
Habis berkata ia terus mengambil sepasang busur dan panah beracun dari anak buah Thian-mo-kau yang sementara itu sudah berbondong tiba dan mengepung rapat kamar itu.
"Le Lam-sing kau adalah ahli racun, sekarang silakan periksa kedua panah ini, coba cukup lihai tidak racun pada ujungnya?"
Seru Yang Go pula sambil membidikkan dua anak panah susul-menyusul ke dalam kamar dan menancap di dinding.
Habis itu ia mengambil pula sebuah bumbung penyemprot, sekali tekan pesawat bumbung seketika api tersembur, kontan daun jendela kamar terjilat api dan berkobar.
Tanpa ayal Kim Tiok-liu melontarkan pukulan, angin pukulan dahsyat seketika memadamkan api yang baru mulai berkobar itu.
Namun lantas tercium bau busuk yang memusingkan kepala jelas api semprotan itupun beracun.
"Kim Tiok-liu,"
Kata Yang Go pula "Kalau cuma beberapa pasang busur panah dan beberapa buah semprotan saja tentu tak bisa mengapa-apakan dirimu, tapi sekarang tersedia beratus, bahkan beribu alat senjata tersebut, sekalipun kepandaianmu setinggi langit dan punya serep nyawa sepuluh juga tak bisa selamat.
Hehe, paling-paling aku membiarkan Sutitku ikut terbakar bersama kalian, dalam sekejap saja kamar itu dapat kumusnah-kan dan kalian akan menjadi abu, maka kalau kau cukup cerdik, lekas menyerah saja.
Untuk ini kuberikan tempo setengah jam, boleh coba kalian pikirkan!"
Dari dalam kamar Kim Tiok-liu dapat melihat panah dan bumbung semprotan tak terhitung banyaknya dan semuanya sudah diarahkan ke pintu dan jendela kamar, pikirnya.
"Melihat gelagamya, sekalipun menerjang keluar juga sukar menyelamatkan diri. Namun daripada mati konyol di sini tanpa berdaya."
Baru saja ia hendak bicara dengan Le Lam-sing, tiba-tiba Lam-sing membisikinya.
"Jangan kuatir, aku ada akal untuk menyelamatkan diri. Coba kaujaga keparat ini, tidak perlu menutuk Hiat-tonya"
Sambil mencengkeram tulang pundak Kautju gadungan itu, Tiok-liu mengancamnya.
"Jangan coba bergerak sekali bergerak segera kuhabisi nyawamu!"
Dilihatnya Le Lam-sing sedang memindahkan tempat tidur besar itu, lalu berjongkok dan meraba-raba lantai, terdengar dia menggumam sendiri.
"Tiga kaki setengah dari dinding, di atas ubin ada tanda dekukan mirip gelang. Nah, inilah dia!"
Kiranya dahulu waktu ayah-bunda Lam-sing membangun kamar tidur Kautju itu, dipakai ubin hijau yang kuat dan tebal, oleh sebab itu selama lebih 20 tahun ini belumlah rusak.
Bangunan-bangunan tambahan yang didirikan Yang Go ini sama sekali tidak dipengaruhi bangunan lama, tetapi terutama ponda sinya ada yang diperbaiki juga cuma bagian atasnya.
Begitulah setelah Lam-sing membongkar dua buah ubin besar, maka tertampaklah sebuah lubang, seketika terendus ban busuk apek.
Tiok-liu mengeluarkan dua biji Pik-ling-tan buatan teratai salju Thian-san yang khasiatnya sangat bagus untuk menawarkan racun.
Sebiji diberikan kepada Lam-sing, dia sendiri minum sebiji, lalu Kautju gadungan yang memalsukan Le Lam-sing itu sekalian diseret masuk ke dalam liang itu.
Lam-sing menyalakan geretan, ternyata di bawah adalah sebuah jalan lorong yang tak terlihat ujungnya.
Lubang masuk itu ada dua sayap daun pintu batu.
Sesudah masuk, Lam-sing merapatkan lagi daun pintu batu itu, katanya dengan tertawa.
"Mereka tidak paham cara membuka dan menutupnya, untuk membobol pintu batu ini sedikitnya memakan waktu dua tiga hari."
Rupanya Kautju gadungan itu sama sekali tidak menduga bahwa di bawah tempat tidur terdapat sebuah jalan rahasia demikian, keruan ia melongo heran, hawa busuk di dalam lorong itu lantas terhisap lebih banyak ke dalam perutnya, seketika perutnya berontak dan tumpah habis-habisan.
"Nah, biarpun kau memalsukan diriku dan menjadi Kautju segala toh kau tidak mengetahui tempat rahasia ini,"
Ejek Lam-sing dengan mendengus.
"Sekarang lekas kau mengaku terus terang, kau bersengkongkol dengan Yang Go dan melakukan hal-hal memalukan ini, sebenarnya apa tipu muslihat yang kalian rencanakan?"
Dengan menahan bau busuk apek dengan muka cemberut terpaksa Kautju gadungan itu minta ampun, katanya.
"Hal ini tidak ada sangkut-pautnya dengan diriku, aku cuma menjadi boneka Yang Go belaka. Dia adalah Supekku, dia bilang wajahku rada mirip kau, maka aku diharuskan menyaru sebagai dirimu dan diangkat menjadi Kautju, terpaksa aku menurut saja. Tujuannya dengan menjadikan diriku sebagai bonekanya, Thian-mo-kau dibangun kembali dan digunakan sebagai alat pemeras terhadap pemerintah kerajaan untuk mengadakan tawar-menawar, dengan modal inilah dia ingin mendapatkan kedudukan dan kekuasaan. Demikianlah harap Kautju memberi ampun!"
"Hm, siapa sudi menjadi Kautju segala?"
Jengek Lam-sing.
"Hm, kau keparat ini biarpun bukan biang keladinya, tapi kau sudi didalangi orang, kau pun harus merasakan sedikit kelihaianku. Kematianmu dapat diampuni, hukuman badan tidak boleh tidak."
Lalu ia menutuk Hiat-to orang itu dan membuatnya tak bisa berkutik, katanya pula.
"Biar kau tidur dua hari di sini, sesudah Yang Go menjebol pintu batu tentu kau akan tertolong keluar, kalau Yang Go tidak datang adalah nasibmu yang sial."
Habis itu barulah Lam-sing sempat bertanya pada Kim Tiokliu.
"Kim-hiante, cara bagaimana kau mendapat tahu urusan di sini? Dimanakah nona Su, apakah dia datang bersamamu?"
"Dia menunggu di luar, entah kepergok musuh tidak?"
Sahut Tiok-liu.
"Aku sudah bertemu dengan Kongsun Hong, bagaimana dengan Kongsun Yan?"
"Dia juga menunggu di luar,"
Kata Lam-sing.
"Marilah kita keluar mencari mereka."
Begitulah sambil berjalan lalu Le Lam-sing menuturkan pengalamannya tempo hari.
Ketika dia terjun ke bawah jurang dahulu itu, Lam-sing mengira jiwanya pasti akan melayang.
Tak tersangka, waktu badannya jatuh di tanah, rasanya seperti jatuh di atas permadani yang empuk, walaupun rada sakit juga, tapi tidak terluka sedikit-pun.
Kemudian dia baru mengetahui bahwa rontokan daun dan bunga di dasar lembah sunyi itu lama kelamaan berubah menjadi tanah dan lumpur yang lunak sehingga jiwanya dapat diselamatkan.
Hawa di dasar jurang itu sumpek dan lembab, padahal musim semi belum lagi tiba, hawa di luar masih dingin, tapi di bawah jurang itu beratus ribu pohon Tho mekar bunganya dengan semarak.
Menghadapi pemandangan indah dan aneh itu, semangat Lam-sing terbangkit, cepat ia merangkak bangun.
Siapa tahu kejadian aneh masih menyusul lagi, tiupan angin pegunungan sayup-sayup membawa suara orang bertempur di atas jurang sana, keruan Lam-sing terkejut, ia pikir mengapa Kongsun Yan masih berada di situ dan tidak mau lekas pergi.
Belum lenyap pikirannya, tiba-tiba terdengar suara angin menderu, sesosok tubuh jatuh lagi dari atas dan tepat jatuh di sebelah Lam-sing.
Cepat Lam-sing membangunkannya, ketika diperiksa, siapa lagi kalau bukan Kongsun Yan.
Lolos dari maut, kedua muda-mudi merasa seperti baru saja bermimpi buruk saja, perasaan Lam-sing sangat terguncang.
Maklumlah, maksudnya terjun ke jurang karena dia tidak mau membikin susah Kongsun Yan, ia mengira setelah menyaksikan dia membunuh diri tentu si nona akan melarikan diri.
Siapa tahu Kongsun Yan terus ikut terjun ke jurang, sama sekali berlawanan dengan perkiraannya.
Begitulah tanpa terasa mereka saling menggenggam tangan masing-masing dengan kencang dengan airmata berlinang.
"Sungguh tidak nyana bahwa kita bisa selamat,"
Kata Lamsing kemudian.
"Tapi kita sama-sama terluka oleh Siu-lo-imsat-kang, di bawah jurang setinggi dan curam begini, cara bagaimana kita bisa keluar dengan selamat?"
"Pendeknya tekadku sudah bulat, mati atau hidup biarlah kita berada bersama,"
Sahut Kongsun Yan.
"Maka kalau kita tak bisa keluar dengan selamat dari sini juga tidak menjadi soal."
Kata-kata ini diucapkan dengan nada tegas sehingga membikin Lam-sing merasa terharu dan malu sendiri malah.
Maklumlah Lam-sing pernah patah hati, walaupun sebelumnya ia pun mengetahui Kongsun Yan menaruh hati padanya, tapi selama itu ia pura-pura tidak tahu dan menganggap si nona seperti adik perempuannya saja.
Tak terpikir olehnya bahwa sedemikian mendalam Kongsun Yan jatuh cinta padanya.
Saking terharunya tanpa terasa ia terus memeluk erat si nona, ia pikir orang sudi berkorban baginya, mana boleh dirinya mengecewakan cintanya yang suci itu.
"Adik Yan, sekarang aku menjadi tidak ingin mati lagi,"
Kata Lam-sing kemudian dengan tertawa.
"Bukankah sudah kukatakan, kau hidup, maka aku pun hidup di sampingmu,"
Sahut Kongsun Yan.
"Hanya takdir mau mengabulkan cita-cita kita atau tidak?"
"Bisa hidup sehari lebih lama biarlah kita hidup sehari lagi. Kupikir, mengalami bahaya besar tidak mati tentu bakal mendapat rejeki. Kukira kita pasti dapat keluar dari sini dengan selamat."
"Benar, kita rawat dulu kesehatan kita di sini pelahan kita mencari jalan keluar."
Walaupun begitu katanya, tapi ucapan Lam-sing itu hanya sekedar menghibur Kongsun Yan saja.
Luka pukulan Siu-lo-imsat-kang terang sukar disembuhkan dengan obat kecuali menggunakan tenaga dalam sendiri yang sudah sempurna, padahal Lwekang Kongsun Yan belum tinggi, bahkan juga Lam-sing sendiri.
Tapi seperti kata-kata Kongsun Yan tadi, terpaksa mereka pasrah nasib saja dan melewatkan waktu menurut keadaan.
Dan untuk mempertahankan hidup, mereka harus mencari makanan.
Padahal di lembah pohon Tho itu kabut berbisa sangat tebal, jangankan manusia dan binatang sukar hidup di situ, bahkan burung juga tidak berani bersarang di situ.
Sebagai seorang ahli racun, setelah memeriksa sekitar hutan Tho itu, Lam-sing lantas mengetahui betapa lihainya hawa beracun di lembah ini, untuk mengisi perut hanya boleh memetik buah Tho saja, tapi ada hawa bunga Tho beracun, tentunya buah Hio sendiri juga beracun.
Namun Kongsun Yan tidak peduli, katanya dengan tertawa.
"Buah Tho ini beracun atau tidak bukan soal, toh hidup kita hanya untuk menanti ajal saja. Coba lihat, sebelum mati kita dapat berdiam di tempat sorga yang indah ini, sungguh mati pun aku tidak kecewa"
Mendengar si nona menyebut lembah yang penuh bau busuk itu sebagai sorga indah.
Mau tak mau Lam-sing tersenyum kecut.
Tiba-tiba pikirannya tergerak, pikirnya "Ya aneh, mengapa sudah sekian lamanya aku mengisap hawa berbisa ini, bukan saja belum mati, bahkan merasa pusing kepala saja tidak?"
Ia lihat wajah Kongsun Yan juga tiada tanda-tanda lesu bahkan semangat si nona kelihatan tambah segar, ia bertanya.
"Adik Yan. coba kau bernapas panjang, apakah dadamu terasa sesak dan muak."
Dengan tersenyum Kongsun Yan lalu menarik napas panjang lalu berkata "Ehm, harum sekali sungguh menyegarkan!"
Lam-sing menjadi bingung malah.
Ia heran, mestinya mereka bertambah parah karena mengendus hawa berbisa ini, tapi sekarang bahkan racun dingin pukulan Siu-lo-im-sat-kang yang mengeram di dalam tubuh mereka menjadi berkurang malah.
Tanpa terasa mereka mendekati sebuah air terjun, tiba-tiba Kongsun Yan berseru girang.
"Lihatlah kakak Lam, ada makanan di sini!"
Kiranya di kolam air terjun itu banyak terdapat ikan.
Lam-sing terheran-heran, padahal burung saja tidak berani bersarang di lembah ini, tapi di dalam air ada ikannya hal ini sungguh di luar dugaannya.
"Sayang kita tidak punya pancing,"
Kata Kongsun Yan.
"Biarlah kuminum sekenyangnya."
"Jangan!"
Cegah Lam-sing karena kualir air kolam itu beracun. Namun Kongsun Yan sudah berjongkok dan menghirup air kolam itu beberapa teguk lalu ia mengangkat kepala dan menjawab.
"Kenapa jangan? Air ini rasanya segar dan manis!"
Lam-sing tertegun, pikirnya.
"Cepat atau lambat toh akan mati. Peduli air dan ikan itu beracun atau tidak, paling penting sekarang adalah menyambung hidup!"
Begitulah, tanpa berkata lagi segera ia terjun ke dalam kolam, dia memang mahir menyelam, maka dengan gampang ia irapat menangkap beberapa ekor ikan.
Malam itu mereka berpes-la dengan dahar ikan bakar.
Ikan segar yang ditangkap dari kolam itu ternyata gemuk dan lezat rasanya, mereka makan dengan lahap, kata Kongsun Yan dengan tertawa.
"Asalkan setiap hari makan ikan lezat begini, maka puaslah aku hidup bersama kau di lembah bunga Tho ini selamanya."
Tak terduga selesai makan ikan bakar itu, mendadak Kongsun Yan merasa perutnya menjadi panas. Tak lama kemudian sekujur badan serasa dibakar.
"O, matilah aku!"
Ia merintih dan tanpa pikir ia terus melompat ke dalam kolam untuk berendam dengan air dingin.
Kuatir si nona mengalami sesuatu, cepat Lam-sing juga ikut terjun ke kolam.
Terdengar Kongsun Yan berkata pula dengan tertawa.
"Alangkah segarnya berendam di sini daripada badan panas seperti terbakar."
Seketika pikiran Lam-sing tergerak lagi, pikirnya.
"Mestinya kami terkena racun dingin pukulan Siu-lo-im-sat-kang, mengapa berendam di dalam air tidak merasa dingin sedikitpun? Jangan-jangan hawa berbisa di lembah ini dan ikan yang kami makan adalah obat mujarab penyembuh racun dingin?"
Maka ia tidak mencegah lagi, sebaliknya ikut bermain air di dalam kolam bersama si nona.
Sebagai ahli racun ia tahu teori yang disebut 'serang racun dengan racun7.
Benar juga, setelah tiga hari berturut-turut mereka makan ikan bakar, ketika mereka coba mengerahkan tenaga, ternyata hawa murni di dalam tubuh dapat bergerak dengan lancar.
Sampai hari kelima hawa berbisa dari pukulan Siu-lo-im-satkang Yang Go sudah dapat dipunahkan seluruhnya.
"Ikan ini tidak boleh dimakan lagi,"
Kata Lam-sing.
"Jika makan lebih banyak lagi tentu kita akan keracunan malah."
Ia termenung-menung sejenak, mendadak ia berjingkrak girang dan berseru.
"Kita bisa lolos dengan selamat! Marilah ikut padaku!"
Kongsun Yan merasa sangsi, tanyanya.
"Apakah kau mendapatkan jalan keluarnya? Untuk memanjat jurang sedemikian! curam ini mungkin kita tidak sanggup."
"Tak perlu susah-susah, lembah ini ada jalan keluarnya,"
Sahut Lam-sing tertawa. Girang Kongsun Yan, tapi ia masih ragu-ragu dan kembali menegas.
"Apa betul? Tapi lembah ini sudah kita periksa dan tiada suatu jalan keluar yang kita temukan?"
"Di belakang situ!"
Kala Le Lam-sing sambil menunjuk ke arah air terjun.
"O, darimana kau tahu?"
Tanya Kongsun Yan dengan kejut-kejut girang.
"Ikan di dalam kolam ini datangnya ikut air terjun, kau memperhatikan tidak?"
Tanya Lam-sing.
"Lalu bagaimana?"
Tanya si nona.
"Di tengah air terjun sukar hidup bagi ikan, maka dapat diperkirakan ikan-ikan pasti tidak terjun dari atas gunung. Telah kuperiksa selama beberapa hari ini bahwa ikan yang terjun ke bawah ini datangnya pasti dari tempat yang tingginya beberapa meter saja. Di bawah ketinggian ini tampak jatuhnya air mendadak bertambah besar, warna air juga rada keruh, jelas ini menandakan adanya dua arus air yang bertemu pada suatu percu-rahan. Maka menurut dugaanku di balik air terjun ini pasti ada sumber air yang lain, asalkan kita menemukan arah sumber air ini tentu pula kita akan menemukan jalan keluar."
Lam-sing memangnya mahir berenang, Kongsun Yan juga dibesarkan di tepi sungai Tiang-kang, maka air bukanlah rintangan bagi mereka.
Dengan Ginkang yang tinggi mereka lantas pemanjat ketinggian belasan meter, lalu mereka melompat ke balik air terjun dengan gaya 'burung seriti menyusup tirai', setelah melintasi tirai air terjun, benar juga mereka mendapatkan sebuah gua alam.
Ternyata ada mata air yang mengalir keluar dari gua itu, untung airnya tidak dalam, hanya sebatas pinggang saja.
Dengan dibantu Lam-sing, dapatlah Kongsun Yan ikut meditasi gua berair yang panjang itu.
Akhirnya mereka menemu-kan sebuah jalan keluar yang terletak di balik gunung.
Mereka melihat sinar matahari lagi.
Mendengar sampai di sini Kim Tiok-liu berkata dengan tertawa.
Baca Juga: Lembah Nirmala 1
Baca Juga: Tiga Mutiara Mustika 3