Eps 11 Pendekar Jembel - Liang Ie Shen
Baca online Pendekar Jembel - Liang Ie Shen
Cersil Pendekar Jembel - Liang Ie Shen.
"Ketika aku mencari kalian di lembah Tho itu, aku pun melihat air terjun di sana, cuma sayang aku tidak tahu bahwa di balik air terjun itu ternyata ada dunia lain."
"Setelah lolos dengan selamat, mestinya kami hendak pergi mencari kau,"
Tutur Lam-sing lagi.
"Tapi kabar yang kami peroleh di tengah jalan ternyata pasukan pergerakan sudah mengundurkan diri dari Sedjiang, pangkalan di Thay-liang-san juga sudah dipindahkan, terpaksa maksud kami itu dibatalkan. Adik Yan minta aku ikut dia pulang untuk meminta bantuan ayahnya buat menuntut balas. Tapi sebelum ke sana kami datang ke sini lebih dulu, inipun di luar dugaan. Kukira kau pun sudah mengetahui sebabnya setelah kau bertemu dengan ayahnya."
"O, jadi di tengah jalan kalian mendapat kabar tentang terlukanya Kongsun-totju,"
Kata Tiok-liu.
"Benar, terutama orang telah memalsukan diriku, mana boleh aku tinggal diam,"
Sahut Lam-sing.
"Maka lebih dulu aku lantas datang ke sini. Kupikir dengan kekuatan Kongsun-totju rasanya pukulan Siu-lo-im-sat-kang paling-paling hanya bisa membuatnya terluka saja, untuk ini beliau tentu sanggup menyembuhkannya sendiri."
"Memang benar dugaanmu, dalam waktu belasan hari ini kesehatan Kongsun-lotjianpwe pasti akan pulih kembali,"
Kata Tiok-liu.
"Waktu berangkat dari rumah,"
Demikian Lam-sing menutur pula.
"Ibu memberikan sebuah peta pangkalan Thian-mo-kau ini padaku, sebenarnya kau disuruh mencari genta besar yang berukir Pek-tok-tjin-keng itu. tapi kemudian diketahui Pek-toktjin-keng telah didapatkan Li Tun, genta raksasa itupun sudah dimusnahkan, maka selama ini aku tidak jadi datang ke sini. Tak terduga sekarang peta pemberian ibu menjadi ada gunanya."
"Pantas kau tidak gentar terkurung di dalam kamar tadi,"
Ujar Tiok-liu dengan tertawa.
"Jika begitu nona Kongsun tentunya menunggu di jalan keluar ini."
"Benar, aku menyuruh dia menjaga di luar situ,"
Kata Lamsing.
"Tempat keluar ini terletak di belakang gunung, tempatnya sunyi dan ada pesawat rahasianya, orang luar pasti tidak tahu. Dan bagaimana dengan nona Su?"
"Dia menyaru sebagai peronda, sekarang bagian dalam sudah geger, entah dia sudah kepergok musuh atau belum,"
Kata Tiok-liu. Sementara itu mereka sudah dekat dengan lubang keluar jalan rahasia itu, Kim Tiok-liu seperti merasakan sesuatu, ia bersuara heran dan berkata.
"He, di luar seperti ada suara benturan senjata."
Saat itu di luar sana memang sudah terjadi kegemparan.
L Di bawah hujan gerimis dan angin malam yang dingin Su Anging yang menyaru sebagai peronda menantikan keluarnya Kim Tiok-liu dengan rasa gelisah.
Padahal sudah cukup lama Tiokliu meninggalkan dia, tapi suasana masih sunyi, ia tidak berani sembarangan tinggal pergi, terpaksa menunggu lagi.
Tidak lama pula, selagi gelisah, tiba-tiba Ang-ing melihat empat orang mendekatinya dari kanan kiri.
Terkesiap hati Ang-ing jika yang datang itu adalah penjaga baru, kenapa empat oiang banyaknya?
Ia merasa gelagat jelek, tapi juga tidak berani sembarangan bertindak.
Selagi Ang-ing merasa ragu-ragu, pihak musuh sudah turun tangan leibh dulu.
Serentak terdengar suara angin mendesir, keempat orang itu menyambitkan empat buah senjata rahasia dari empat penjuru yang rapat, tak peduli kemana Ang-ing menghindar tentu akan terkena salah satu senjata rahasia itu.
Dari suara desiran angin senjata-senjata rahasia itu Ang-ing lantas mengetahui musuh yang datang bukanlah kaum lemah.
Untuk mencabut pedang buat menangkis rasanya tidak keburu lagi, mendadak ia memutar tubuh sambil membuka mantel, sebagai perisai saja ia mengebas mantel itu seputaran.
Kontan keempat senjata rahasia yang menyambar datang dari arah berbeda-beda itu kena disampuk jatuh.
Sudah tentu tindakannya ini seketika pula membongkar penyamarannya.
Keempat orang itu beramai-ramai membentak.
"Kurangajar, bocah ini ternyata memang matamata musuh!"
"Bocah apa? Dia adalah budak hina keluarga Su!"
Teriaki yang lain.
"Aha, kiranya perempuan hina Liok-hap-pang yang mengkhianati kakaknya sendiri itu!"
Ejek seorang lagi.
"Perhitungan Yang-lotjianpwe sungguh hebat, dugaannya ternyata tepat,"
Kata pula yang lain.
Kiranya saat itu di dalam benteng sudah terjadi kegaduhan,) jejak Kim Tiok-liu dan Le Lam-sing telah dipergoki, Yang Go lantas mengatur anak buahnya, sebaliknya Su Ang-ing belum tan hu apa-apa.
Yang Go memang tua-tua keladi dan bisa berpikir, dia menduga berhasilnya Kim Tiok-liu menyusup masuk bentengnya tentu salah seorang penjaganya telah dikerjai, dan bukan mustahil ditukar oleh teman Kim Tiok-liu pula.
Sebab itulah orang yang dia kirim untuk menyelidiki urusan ini tentu bukan jago lemah, tapi adalah jago pilihan Thian-mokau.
Cara Ang-ing menyambut jatuh senjata rahasia tadi adalah; kepandaian keluarga Su yang terkenal, maka dengan segera dua orang di antara empat jago yang dikirim Yang Go itu mengetahui siapa Su Ang-ing.
Begitulah keempat orang itu serentak menerjang maju, yang seorang memakai golok tebal, yang kedua memakai ruyung baja yang ketiga memakai gada tembaga dan yang keempat adalah seorang kakek baju kuning yang tak bersenjata.
Tapi justru kepandaian kakek inilah paling tinggi di antara mereka.
Kakek baju kuning datang belakangan tapi menyerang lebih dulu.
Kebasan mantel Su Ang-ing yang hebat dapat menggoncang pergi golok dan ruyung musuh, tetapi ternyata tidak mampu menahan tangan kosong si kakek itu, terdengarlah suara "bret"
Yang keras, mantel yang tebal itu kena dirobek mentah mentah menjadi dua oleh Eng-djiau-kang (tenaga cakar elang) yang hebat si kakek.
"Bagus,"
Seru Ang-ing sambil menggeser ke samping.
Sekonyong-konyong sinar perak berkelebat, di tengah selasela mantel yang robek itu tahu-tahu menyambar keluar sebatang pedang mengkilat.
Sama sekali si kakek tidak menduga gerakan Su Ang-ing ^bisa sedemikian cepat, lekas ia menarik tangannya berbareng i sikut kiri dipakai menyodok, namun tidak urung lengan bajunya terkupas juga sebagian, untung dia cepat mengkeretkan tangannya, kalau tidak jarinya pasti sudah kutung.
Sebaliknya Ang-ing juga hampir tersikut, ia tergetar mundur beberapa tindak.
Mantel robek segera dibuang olehnya tangan kiri lantas melepaskan cambuk yang melilit di pinggang.
Gebrakan ini benar-benar sangat bahaya dan sama menggunakan gerakan mematikan, diam-diam Su Ang-ing mengeluh akan kerubutan empat jago musuh yang lihai ini.
Sebaliknya si kakek baju kuning juga terkejut.
Dia punya Engdjiau-kang mestinya beruntun tiga kali serangan, tapi karena ilmu pedang Ang-|ing yang lihai memaksa dia mesti menarik kembali tangannya sehingga jurus ketiga gagal dilancarkan.
Orang yang bersenjata gada tadi mengira Su Ang-ing sutdah sempoyongan, segera ia berseru.
"Hayolah maju, kawankawan!"
Berbareng gadanya lantas mendahului menghantam pedang Su Ang-ing, ia yakin bila pedang si nona dibentur jatuh tentu pundak si nona itu akan remuk kena dikemplang olehnya.
Temannya yang bersenjata ruyung baja itu selamanya bertempur berduaan dengan pemain gada, begitu temannya berseru baju, tanpa disuruh segera ruyungnya juga lantas menyabet kaki Ang-ing.
Yang satu menyerang bagian atas dan yang lain mengincar lagian bawah, kerjasama mereka benar-benar sangat rapi.
Kalau Ang-ing sedikit gugup dan salah menangkis, temu salah satu sepangan, entah atas entah bawah tentu sukar dihindarkan dan pasti ia akan roboh oleh hantaman gada atau ruyung.
Tak terduga langkah Ang-ing yang sempoyongan tadi sebenarnya adalah 'Tjui-pat-sian' (dewa mabuk) yang aneh dan sukar diraba.
Dengan Ginkang yang hebat, ditambah kepandaian ganda ilmu pedang dan cambuk, sekalipun kerjasama gada dan ruyung kedua lawan yang hebat itupun tak mampu menembus penjagaannya.
Segera Ang-ing menggunakan cambuknya untuk melawan ruyung musuh yang juga lemas, dan menggunakan pedang untuk menandingi gada lawan.
Sekali sabet, ujung cambuknya melilit di atas ruyung musuh, pedangnya juga menyampuk sehingga gada lawan tergetar ke samping, tapi mendadak musuh yang memakai ruyung itu menarik sekuatnya.
Ang-ing tidak tahan oleh betotan yang kuat itu, tubuhnya mendoyong ke depan, tapi tetap ia menggunakan langkah 'dewa mabuk' untuk menubruk ke depan.
"Sret", ia terus menusuk ke arah yang tak diduga oleh musuh yang memakai gada.
"Cret", tanpa ampun lagi pundak orang itu tertusuk. Untung orang itu memakai rompi kulit tebal sehingga pedang Ang-ing tidak sampai menembus tulang pundaknya. Dalam pada itu si kakek baju kuning sudah lantas menubruk maju, merasa sambaran angin yang kuat itu, tanpa menoleh Ang-ing lantas tahu yang menyerang pasti si kakek berkepandaian paling tinggi. Terpaksa ia menarik kembali pedangnya untuk menangkis serangan Eng-djiau-kang musuh yang lihai. Berbareng itu ia pun menyendal cambuknya untuk melepaskan lilitan pada ruyung musuh, dengan gesit ia menggeser ke samping, cambuknya menyabet sekaligus, dengan tepat golok musuh yang membacok dari samping kena ditangkis juga. Bicara tentang kepandaian sendiri-sendiri, kalau satu lawan satu, maka tiada seorang pun di antara keempat musuh itu mampu menandingi Ang-ing. Tapi di bawah kerubutan mereka, mau tak mau Ang-ing rada kewalahan juga. Ia tahu lama-lama dirinya tentu kecundang, padahal keadaan Kim Tiok-liu entah bagaimana. Tanpa pikir lagi segera ia berseru dengan ilmu 'mengirimkan gelombang suara' untuk memanggil Kim Tiokliu. Ia tidak tahu bahwa pada saat yang sama Tiok-liu dan Lam-sing sudah [berada di dalam jalan rahasia di bawah tanah sehingga seruan dengan gelombang suara itu tidak sampai di telinga Tiok-liu. Keempat orang ini adalah jago pilihan Thian-mo-kau, mereka merasa malu berempat tak mampu membekuk seorang anak perempuan. Dengan mendongkol, si kakek baju kuning lantas mengeluarkan Kim-na-djiu-hoat yang lihai sehingga Su Ang-ing terdesak mundur dan menghindar ke sana kemari. Ia mengejek 'dengan gelak tertawa.
"Hahaha, bocah she Kim itu sudah tertangkap di dalam sana, biarpun tenggorokanmu sampai bejat juga tak berguna teriakanmu itu. Jika kau ingin bertemu bocah she Kim itu sebaiknya kau buang senjata dan ikut kami masuk ke sana!"
Belum habis ucapannya mendadak terdengar suara mendesingnya senjata rahasia, menyusul lengking suara mirip genta mengejek.
"Jangan takabur! Ini dia masih ada aku di sini! Tak berlu Kim Tiok-liu juga aku dan Su-tjitji sanggup membereskan kalian kawanan bangsat ini!"
Orang yang bergelak itu bertenaga paling besar di antara kawan-kawannya, tapi gerak-geriknya juga paling lamban.
Saat Senjata rahasia mendesing, belum sempat ia menggeser langkah, tahu-tahu pinggangnya terasa kesemutan, ia kena disambit oleh sebuah piau mata uang.
Baru saja sempat menjerit, kontan tu-buhnya lantas roboh.
Dalam pada itu secepat angin seorang perempuan berbaju pitam bersenjatakan sepasang pedang sudah menerjang tiba.
Kejut dan girang pula Su Ang-ing, serunya.
"Kongsun-tji-tji, kiranya kau....."
"Ya, sebelum menuntut balas masakah aku rela mati?"
Saput Kongsun Yan dengan tertawa.
Munculnya Kongsun Yan secara mendadak membikin keempat jago Thian-mo-kau itu sangat terkejut.
Mereka tidak takut kepada Kongsun Yan, tapi jeri pada ayahnya, yaitu Kongsun Hong yang di dunia persilatan namanya hanya di bawah Kang Hay-thian saja.
Belum lama berselang Kongsun Hong baru saja dijebak dan terluka oleh Siu-Io-im-sat-kangnya Yang Go, tapi dia masih mampu menerjang keluar sarang Thian-mo-kau.
Pertarungan itu benar-benar membikin setiap orang Thian-mo-kau rontok nyalinya menyaksikan ketangkasan ketua Ang-eng-hwe itu.
Maka mereka masih kuatir kalau-kalau jago tua itu akan datang menuntut balas bila lukanya sembuh.
Sekarang munculnya Kongsun Yan mau tak mau menimbulkan kekuatiran mereka akan ikut datangnya Kongsun Hong.
Bukan mustahil jago tua itu sekarang sudah bersembunyi di sekitar situ untuk menyaksikan cara bagaimana puterinya melabrak musuh.
Dalam pada itu bagai angin cepatnya Kongsun Yan sudah menerjang tiba, sepasang pedangnya bekerja cepat, kontan kakek baju kuning segera ditusuk tenggorokannya, berbareng itu pedang lain menahas musuh yang bergolok.
Gentar oleh wibawa Kongsun Hong, si kakek menjadi jeri dan berseru.
"Aku selamanya menghormati ayahmu, ada urusan apa hendaklah nona bicarakan dengan baik-baik."
Tapi betapa cepat serangan Kongsun Yan itu, belum habis ucapan si kakek tahu-tahu iganya sudah tertusuk, padahal kalau dia tidak gugup, sedikitnya si kakek mampu menandingi Kongsun Yan, tapi lantaran keder, maka sekali gebrak saja sudah kena.
Laki-laki bergolok itu adalah orang kasar yang tidak kenal takut, maka sekuatnya golok dipakai menangkis tabasan Kongsun Yan tadi.
"Mengingat kesegananmu terhadap ayahku, biarlah kuampuni jiwamu!"
Seru Kongsun Yan terhadap si kakek baju kuning tadi. Segera ia menarik pedang terus melingkar ke depan laki-laki bergolok, menyusul pedang yang lain lantas menusuk ke tengah lingkaran, jengeknya.
"Hra, kau berani padaku, maka tak bisa kuampuni kau!"
Laki-laki bergolok itu terhitung jagoan di dalam Thian-mokau, tapi dibanding tokoh-tokoh dunia persilatan paling-paling hanya terhitung jago kelas tiga saja.
Sebaliknya ilmu pedang Kongsun Yan sudah mendapat ajaran asli ayahnya, gerak serangannya ganas dan lihai, mana dia mampu melawan.
Tanpa ampun lagi terdengar.
"erat", sebelah tangan orang itu kena dikutungi pedang Kongsun Yan, menyusul dadanya juga tertusuk, terjungkallah dia dan seketika tak berkutik lagi. Di sebelah sini Kongsun Yan membereskan dua musuh, di sebelah sana Su Ang-ing juga tidak mau kalah, seperti berlomba dengan Kongsun Yan, cepat saja cambuk dan pedang Ang-ing juga bekerja dengan cepat, sekali sabet cambuknya membikin pecah batok kepala lawan bersenjata ruyung itu dan terguling, menyusul pedangnya menusuk dan merobohkan pula musuh bersenjata gada. Saking girang karena datangnya Kongsun Yan sampai Su Ang-ing tak mampu bicara untuk sesaat, dengan tertawa Kongsun Yan lantas bicara dulu.
"Tentu kau tidak menyangka akan kedatanganku ini bukan? Kabarnya kau telah menjabat Pangtju Liok-hap-pang kalian, terimalah ucapan selamat dariku."
"Soal ini boleh kita bicarakan nanti,"
Ujar Ang-ing.
"Dimanakah Le-toako?"
"Ada orang memalsukan dia dan menjadikan Thian-mokautju, maka dia pergi mencari orang itu buat membikin perhitungan."
Saat itu tepat Yang Go sedang mengerahkan anak buahnya untuk mengepung Kim Tiok-liu serta Le Lam-sing, maka suara ramai di ruangan pendopo dalam benteng sayup-sayup dapat didengar.
"Kedatanganku dengan Tiok-liu justru untuk urusan ini,"
Kata Ang-ing.
"Eh, coba dengarkan! Di dalam seperti sudah mulai bertempur. Marilah kita lekas masuk ke sana."
"Tidak perlu masuk, ikutlah aku, tanggung kutemukan mereka,"
Kata Kongsun Yan.
Dalam pada itu terdengar suara teriakan ramai di sana-sini, gerombolan musuh membanjir tiba, maka tanpa pikir lagi Angin u lantas ikut berlari bersama Kongsun Yan.
Tidak lama kemudian sampailah mereka di belakang gunung, para pengejar sudah jauh tertinggal, bahkan suara teriakan mereka pun tak terdengar lagi-Kongsun Yan berhenti pada suatu tempat dan menggumam sendiri.
"Ya, kukira di sinilah tempatnya."
"Untuk apa kau membawa aku kemari?"
Tanya Ang-ing heran sebab tempat mereka sekarang hanya semak belukar belaka.
"Di sini ada suatu jalan rahasia yang menembus ke ruangan dalam Thian-mo-kau,"
Tutur Kongsun Yan.
"Le-toako telah berjanji dengan aku, bilamana sudah terjadi kegemparan di dalam sana, tentu dia akan keluar melalui jalan rahasia ini."
Tengah bicara, tiba-tiba Ang-ing bersuara heran.
"He, suara apa ini? Apakah....."
Belum lenyap suaranya, terdengar suara kresak-kresek baju tertiup angin, benar juga seorang berlari tiba.
Ang-ing terkejut, ia heran siapakah yang memiliki Gin-kang sedemikian tinggi, sedangkan Kongsun Yan lantas membentak.
"Siapa itu?"
Sekonyong-konyong sesosok bayangan muncul di depan mereka dan mengejek dengan tertawa dingin.
"Hehe, kiranya kalian berdua budak busuk ini. Bagus, malam ini kalian kepergok olehku, kebetulan kugunakan untuk tumbal kematian anak Tiong."
Kiranya orang ini tak lain tak bukan adalah Bun To-tjeng.
Puteranya yaitu Bun Seng-tiong mati dalam pertempuran di Se-djiang, ia sendiri berhasil lolos, maka sekarang bersumpah akan menuntut balas kematian anaknya setiap lawan yang diketemu-kan pasti akan dibunuh olehnya.
Ang-ing kenal kelihaian orang, segera ia mendahului menyerang, cepat pedangnya menusuk bahu kiri lawan.
Kongsun Yan juga tidak tinggal diam, ia pun melompat maju secepat terbang untuk mengimbangi Ang-ing, pedangnya terus menusuk bahu kanan Bun To-tjeng.
Ilmu pedang kedua nona sama-sama mengutamakan kegesitan dan kecepatan, tapi siapa duga betapa cepat serangan mereka toh mengenai tempat kosong.
Di tengah berkelebatnya sinar pedang dan deru angin pukulan, terdengar suara "Biang"
Yang keras, sebatang dahan pohon sebesar lengan patah.
Tenaga pukulan Bun To-tjeng melanda tiba laksana gugur gunung dahsyatnya.
Lekas Ang-ing menyingkir mengitari pohon sehingga tidak terkena pukulan lawan, namun demikian, terkejut juga dia akan i kelihaian pukulan lawan.
"Kenal belum kelihaianku? Ini rasakan lagi!"
Seru Bun Totjeng sambil terkekeh-kekeh, kembali ia memukul, sekali ini ke arah Kongsun Yan.
Kongsun Yan coba menjaga diri dengan memalangkan pedangnya tapi sedemikian dahsyat tenaga pukulan lawan hingga ujung pedang mendering dan tergetar.
Segera Ang-ing melancarkan serangan pula namun pukulan ketiga Bun To-tjeng juga lantas dilontarkan.
Kalau kedua pukulannya tadi sangat dahsyat, adalah pukulan sekali ini tampaknya enteng-enteng saja tanpa suara.
Ang-ing tercengang, mendadak ia merasa gelagat jelek terasa tenaga pukulan lawan membanjir tiba bagai air bah menerjang dengan tebatnya Untung Ginkang Su Ang-ing sangat ting-gi, begitu merasa gelagat jelek segera ia melompat dan berjum-palitan ke belakang.
Walaupun caranya menghindar sangat bagus, namun dada terasa sesak juga seperti digodam, isi perutnya seakan-akan terjungkir balik.
Kiranya Bun To-tjeng menggunakan Sam-siang-sin-kang yang sakti.
Terkejut dan heran pula Ang-ing, dia sudah kenal Samiang-sin-kang lawan, pernah juga bergebrak ketika bertemu di Sedjiang, tatkala itu ia sanggup melawannya paling sedikit juga belasan jurus, tapi malam ini ternyata begini berat, hanya dua-tiga gebrakan saja sudah hampir celaka, la heran cara bagaimana Sam-siang-sin-kang lawan bisa maju begitu pesat dalam waktu dua-tiga bulan saja.
Sudah tentu Ang-ing tidak tahu bahwa Sam-siang-sin-kang itu mestinya dapat disempurnakan melalui Lwekang dari golongan Tjing-pay, dengan demikian terhadap badan sendiri tak berbahaya.
Tapi sejak Bun To-tjeng kematian anaknya, karena ber-napsu hendak menuntut balas, pikirannya menjadi gelap, keadaannya sudah dalam keadaan kurang waras, maka dia menempuh jalan sesat, menyempurnakan Sam-siang-sin kang dengan Lwekang kaum Sia-pay yang cepat dipakai, tapi merusak badan sendiri.
Memang hasilnya menakjubkan, tapi setelah itu barulah Bun To-tjeng mengetahui latihannya menimbulkan tandatanda 'Tjau-hwe-djip-mo', semacam kortsluiting, kesesalan latihan.
Biasanya setengah tahun atau paling lama setahun tentu dia akan lumpuh dan cacad untuk selamanya.
Setelah mengetahui penyakitnya itu, bukannya Bun Totjeng menyesal, sebaliknya ia menjadi tambah bernapsu akan menuntut balas dalam waktu singkat Kedatangannya ke Tjilay-san ini tujuannya hendak bergabung dengan Yang Go untuk menumpas musuh-musuhnya satu persatu.
Namun Su Ang-ing selama beberapa bulan berkumpul dengan Kim Tiok-liu juga banyak mendapat kemajuan dalam hal Lwekang atas petunjuk pemuda itu.
Sebab itu, meski rada payah, tapi sekuatnya ia masih bisa bertahan.
Sebaliknya Kongsun Yan yang Lwekangnya lebih rendah menjadi kewalahan, di bawah gempuran Sam-siang-sin-kang Bun Totjeng, hampir saja ia tidak mampu bernapas.
Saat itu Kongsun Yan berdiri di muka lubang terowongan, ia menjadi gelisah karena sudah sekian lamanya masih belum nampak munculnya Le Lam-sing dan Kim Tiok-liu.
Terpaksa ia mencari kesempatan meng-hindar ke belakang pohon, setelah berganti napas, cepat ia ber-suit panjang.
Maksudnya bersuit adalah sebagai tanda minta tolong kepada Kim Tiok-liu dan Le Lam-sing, tetapi Bun To-tjeng menyangka si nona sedang minta bantuan kepada ayahnya keruan Bun To-tjeng menjadi jeri, menghadapi nona itu saja sukar menang dalam waktu singkat, apalagi kalau datang lagi Kongsun Hong yang lihai.
Kongsun Yan sangat cerdik, begitu melihat serangan Bun To-tjeng rada merandek, segera ia dapat menerka pikiran lawan, cepat ia berseru.
"Lekas kemari, ayah!"
Tapi Bun To-tjeng berbalik menyerang lebih dahsyat, ejeknya.
"Hm, sekalipun si tua bangka Kongsun Hong datang sendiri juga aku tidak takut. Yang jelas kau tidak sempat bertemu lagi dengan ayahmu."
Sekonyong-konyong terdengar suara gemuruh, sebatang pohon dihantam tumbang oleh Bun To-tjeng sehingga hampir Kongsun Yan tertindih oleh pohon roboh itu.
Robohnya pohon itu berarti Kongsun Yan kehilangan tempat berlindung pula segera Bun To-tjeng menubruk maju dan mencengkeram.
Lekas Ang-ing memburu maju, cambuknya menyabet dan pedangnya menusuk serangan berganda ini sangat lihai sehingga Bun To-tjeng terpaksa meninggalkan Kongsun Yan dan berbalik buat menghadapi Su Ang-ing, bentaknya "Akan kubinasakan kau budak busuk ini!"
Secepat kilat ia menerjang maju.
"bret", tahu-tahu baju di pundak Ang-ing terobek. Untung pada detik paling berbahaya itu Ang-ing sempat mengelak ke samping. Pada saat itu pula Kongsun Yan juga menyerang untuk memaksa musuh harus menjaga diri. Ketiga orang sama-sama bergerak secepat kilat, Bun To-tjeng tidak sempat menyerang Ang-ing lebih lanjut, tangannya membalik.
"creng", pedang Kongsun Yan terjentik ke pinggir. Menyusul kedua telapak tangan menghantam sekaligus dengan tipu 'Lui-tian-kau-hong' atau halilintardan geledek menghantam sekaligus. Kepandaian Kongsun Yan lebih rendah daripada Ang-ing. tentu saja ia tidak sanggup menghadapi hantaman dahsyat tenaga Sam-siang-sin-kang.
"Trang", pedang si nona terpukul jatuh lebih dulu, lekas Kongsun Yan melompat buat menghindar.
"Lari kemana!"
Bentak Bun To-tjeng, bagai bayangan saja ia lantas memburu. Pada saat punggung Kongsun Yan hampir tercengkeram oleh Bun To-tjeng, mendadak terdengar pula suara "biang"
Yang gemuruh.
Batu yang menyumbat mulut terowongan itu menggelinding pergi, Kim Tiok-liu dan Le Lam-sing muncul berbareng.
Saat itu Ang-ing sendiri belum sempat menolong Kongsun Yan karena sempoyongan tergetar oleh tenaga pukulan musuh.
Keruan Tiok-liu dan Lam-sing terkejut, cepat Kim Tiokliu memburu ke arah Ang-ing dan Lam-sing lekas berusaha merintangi Bun To-tjeng.
"Bayar kembali jiwa anakku!"
Teriak Bun To-tjeng sambil menyeringai kalap, berbareng sebelah tangan mencengkeram kepala Lam-sing, tangan yang lain memukul dada bahkan sebelah kakinya dipakai menendang perut pemuda itu, sekaligus tiga serangan dilontarkan.
Lam-sing terkejut, ia heran apakah orang ini sudah gila?
Lekas ia menggunakan Thian-lo-poh-hoat untuk menghindarkan tendangan dan mencengkeram lawan.
Tapi pukulan Bun To-tjeng yang datangnya dari jurusan tengah tetap sukar terhindar.
Lam-sing menjerit dan mendadak berjumpalitan beberapa meter ke belakang.
Keruan Kim Tiok-liu juga terkejut, sungguh tak terduga bahwa hanya sekali gebrak saja Le Lam-sing sudah dikalahkan Bun To-tjeng, tanpa pikir lagi ia memburu ke sana.
"Hahaha, jadi kau anak jadah inipun datang! Haha, sungguh kebetulan!"
Seru Bun To-tjeng dengan terbahakbahak seperti orang gila.
Secepat kilat Kim Tiok-liu menerjang maju sambil berputar kian kemari, pukulan Bun To-tjeng juga dilancarkan dengan cepat.
Dalam sekejap saja Kim Tiok-liu mengeluarkan macammacam gerakan aneh sehingga pukulan dahsyat lawan dipatahkan seluruhnya.
"Gunakan Hian-tiat-pokiam!"
Seru Ang-ing.
Setelah bergebrak beberapa kali Tiok-liu juga terheran-heran mengapa kepandaian Bun To-tjeng bisa mendadak bertambah selihai ini?
Di tengah pertarungan sengit itu, saat Bun To-tjeng menghantam, tiba-tiba Kim Tiok-liu menjerit dan jatuh.
Keruan Lam-sing terkejut dan bermaksud maju menolong, tapi baru saja kakinya bergerak segera dada terasa sesak, rupanya ia terluka oleh getaran tenaga pukulan Bun To-tjeng tadi.
Lamsing mengeluh karena merasa tak mampu membantu temannya.
"Jangan kuatir Le-toako!"
Seru Ang-ing tiba-tiba Waktu Lam-sing memandang pula ke sana ternyata Tiok-liu sudah melompat bangun dan menghunus Hian-tiat-pokiam.
"Bun To-tjeng, keluarkan senjatamu, marilah kita cobacoba ilmu pedang!"
Seru Kim Tiok-liu lantang, sebaliknya tangan Bun To-tjeng tampak memegang sepotong robekan kain.
Kiranya Kim Tiok-liu menjadi teringat pada pedang pusaka yang dibawanya setelah diingatkan oleh Su Ang-ing, tadi dia tidak sempat melolos pedangnya, maka digunakan suatu gerakan aneh, ia pura-pura jatuh dan terguling, kesempatan itulah digunakan untuk mencabut Hian-tiat-pokiam.
Tapi Bun To-tjeng juga amat cepat, ia menubruk maju sehingga baju Kim Tiok-liu terobek.
Dengan terkekeh-kekeh Bun To-tjeng lantas menerjang maju, mendadak selarik sinar hitam menyabet ke arah Kim Tiok-liu.
Kiranya Bun To-tjeng memakai pedang lemas buatan baja biasanya kalau tidak terpakai digunakan sebagai sabuk.
Ketika di Sedjiang tempo hari sudah pernah ia menggunakannya untuk melawan Hian-tiat-pokiam, sekarang ia telah memperbaharui pula pedang lemas itu dengan rendaman racun, asalkan terluka dan berdarah sedikit saja sang korban akan terus mati seketika.
"Awas Hiante, pedangnya berbisa!"
Cepat Lam-sing memperingatkan Kim Tiok-liu.
"Pantas pedangnya mengkilat kehitam-hitaman, kiranya beracun,"
Demikian pikir Kim Tiok-liu, maka ia pun bertambah waspada, tapi tak gentar.
Dengan Hian-tiat-pokiam yang berat itu segera ia membacok.
Bun To-tjeng telah menyempurnakan Sam-siang-sin-kang, pedangnya sekarang sudah berbeda daripada dahulu.
Ketika ia menangkis dan kedua pedang beradu.
"creng", pedang lemas itu hanya melengkung saja, Hian-tiat-pokiam tidak mampu raengu-tunginya.
"Lihat serangan!"
Bentak Bun To-tjeng, mendadak pedangnya mendal ke atas terus menusuk ke dada Kim Tiokliu.
Cepat Tiok-liu menekan Hian-tiat-pokiam ke bawah sehingga pedang lemas lawan tergetar pergi lagi, namun Bun To-tjeng lantas menusuk pula ke Koh-tjing-hiat di bahunya.
Segera Kim Tiok-liu menggunakan langkah ajaibnya Thian-lopoh-hoat untuk menghindar dan balas menyerang pula.
Begitulah dalam sekejap saja mereka sudah serang menyerang belasan kali.
Semakin lama semakin kuat damparan tenaga lawan, Kim Tiok-liu merasa tenaga Bun To-tjeng seperti ombak mendampar, ombak yang satu lebih hebat daripada ombak yang lain.
Padahal pedang lemas Bun To-tjeng itu kecil tipis, tapi ternyata mampu menahan Hian-tiat-pokiam yang amat berat itu.
Sampai 30-an jurus Kim Tiok-liu merasakan ujung pedang sendiri laksana diganduli sepotong batu, makin lama makin berat, permainan pedangnya menjadi tidak segesit tadi.
Tiok-liu terkejut, ia tahu Bun To-tjeng menggunakan ilmu 'Keh-but-thoan-kang' (menyalurkan tenaga melalui benda lain), tujuannya hendak membikin Kim Tiok-liu terluka dalam dan akhirnya roboh.
Diam-diam Kim Tiok-liu mengeluh, kalau tidak lekas mengalahkan lawan dengan serangan aneh, lamalama tentu dirinya sendiri akan kecundang.
Begitulah di tengah pertarungan sengit itu berulang-ulang im Tiok-liu mengeluarkan tipu-tipu serangan aneh, selalu meerang dari arah yang sama sekali tak terduga oleh lawan.
Kean Bun To-tjeng kaget, diam-diam ia mengakui tipu serangan eh pemuda itu benar-benar luar biasa, mungkin tiada bandingannya di zaman ini sekalipun Kang Hay-thian.
Sebagai seorang ahli silat, sebelum jelas cara permainan lawan, segera Bun To-tjeng berganti siasat, untuk sementara ia hanya menjaga diri dengan rapat saja.
Karena itu serangan Kim Tiok-liu selalu kena ditangkis olehnya.
Di sebelah lain Le Lam-sing, Su Ang-ing dan Kongsun Yan yang belum pulih tenaganya juga tidak berani sembarangan maju membantu.
Dalam keadaan tak berdaya Le Lam-sing lantas memejamkan mata untuk mengumpulkan tenaga diharapkan tenaga muminya lekas pulih agar dapat membantu Kim Tiok-liu.
Makin sengit pertempuran di tengah kalangan itu, sekonyong-konyong Bun To-tjeng membentak.
"Anak keparat, biar kau pun kenal kelihaianku!"
Ketika kedua pedang beradu, terdengar "trang", sekali ini pedang lemas Bun To-tjeng tidak melengkung lagi, sebaliknya Hian-tiat-pokiam yang tidak tahan akan daya tekanan lawan, tanpa kuasa Kim Tiok-liu terdesak mundur.
Kiranya setelah berlangsung sekian lamanya tenaga Kim Tiok-liu banyak terbuang percuma tanpa bisa merobohkan lawan, maka permainan Hian-tiat-pokiam menjadi lamban pula.
Le Lam-sing yang sedang mengumpulkan tenaga dengan mata tertutup, mau tak mau membuka mata ketika mendengar seruan kuatir Kongsun Yan dan Su Ang-ing Ia terkejut juga melihat Kim Tiok-liu terdesak mundur, andaikan dia hendak mengumpulkan tenaga lagi dengan tenang sudah tentu tidak dapat pula.
Mereka tidak tahu bahwa keadaan Kim Tiok-liu lebih celaka daripada perkiraan mereka.
Setelah mengadu senjata beberapa kali, racun dari pedang lemas Bun To-tjeng merembes ketangan Kim Tiok-liu.
Walaupun tangan Kim Tiokliu tidak ter-luka sehingga racun itu tidak membahayakan jiwanya, tapi tangan sudah terasa gatal, ia harus mengerahkan tenaga dalam untuk menolak racun yang bisa menjalar itu.
Sementara itu pertempuran sudah berjalan sekian lamanya, karena perhatian terbagi, dengan sendirinya Kim Tiok-liu bertambah payah.
Untung Bun To-tjeng juga jeri terhadap Hian-tiat-pokiam, pula Tiok-liu menggunakan Thian-lo-pohhoat yang aneh sehingga dalam waktu singkat Bun To-tjeng tak bisa mengalahkan Tiok-liu.
Lam-sihg sendiri belum pulih tenaganya dan merasa cemas karena tidak bisa membantu, tak terduga pada saat demikian justru datang pula seorang lawan tangguh.
Kiranya Yang Go setelah sekian lamanya mengepung kamar itu dan Kim Tiok-liu berdua tetap tidak mau keluar, segera ia menyuruh anak buahnya menerjang ke dalam dengan lebih dulu menghujani panah beracun dan semprotan api.
Tapi setelah kamar itu bobol ternyata tidak nampak bayangan apapun.
Baru sekarang Yang Go tahu telah tertipu.
Ketika diperiksa, dilihatnya ada sebuah lubang terowongan, tapi bagian dalam ada pintu batu yang tertutup rapat, untuk membobol pintu batu itu tidaklah mudah.
Yang Go bukan orang bodoh, ia menduga Kim Tiok-liu berdua tentu sudah lolos dari jurusan lain.
Segera ia memimpin anak buahnya keluar memeriksa sekitar pegunungan itu.
Rupanya suara pertempuran Bun To-tjeng dan Kim Tiok-liu di belakang gunung itu didengar olehnya akhirnya dapatlah Yang Go menemukan mereka.
Sekali lihat saja Yang Go lantas tahu kemenangan Bun Totjeng sudah pasti, ia menjadi girang.
Ia menduga pengaruh pukulan Siu-lo-im-sat-kang terhadap Le Lam-sihg dan Kongsun Yan tentu masih dirasakan oleh kedua muda-mudi itu, asal dia turun tangan lagi sekarang tentu dengan gampang dapat membekuk mereka.
Maka dengan terbahak ia mendekat dan berkata.
"Bocah she Le, kukira kau sudah lari dengan mencawat ekor, siapa duga kau masih belum lolos dari genggamanku. Nah, kau dan budak busuk itu boleh maju semua untuk menerima kematian."
"Aku justru hendak mencari kau!"
Teriak Lam-sing dengan gusar.
Bersama Kongsun Yan mereka lantas berdiri di tempa) yang menguntungkan dan siap bertempur.
Yang Go lantas menghantam, seketika hawa dingin menyambar, dalam lingkaran seluas beberapa meter rasanya dingin seperti di dalam peti es.
Lam-sing dan Kongsun Yan tergetar, tapi bersin saja tidak Sebaliknya Su Ang-ing yang berdiri di samping menjadi menggigil kedinginan malah.
Kiranya Lam-sing berdua setelah menyembuhkan racun dingin Siu-lo-im-sat-kang di Tho-hoa-kok, secara otomatis timbul daya tahan racun pukulan itu dalam tubuhnya, maka mereka tidak gentar lagi pada pukulan Siu-lo-im-sat-kang Yang Go seka rang.
Hanya saja tenaga Le Lam-sing belum pulih seluruhnya se hingga ia rada payah.
Sebaliknya Kongsun Yan menjadi girang dan tambah berani, ia memutar pedangnya dengan kencang katanya dengan ter tawa.
"Tua bangka she Yang, barangkali kau hendak mengipasi aku? Ehm, nyaman benar!"
Berbareng ia menusuk tiga kali susul-menyusul ke tempat berbahaya di tubuh musuh.
Su Ang-ing juga tidak tinggal diam, ilmu pedangnya sama cepatnya dengan Kongsun Yan, segera ia pun menusuk tiga kali ketiga Hiat-to lawan.
Cepat Yang Go memukulkan kedua tangannya telapak ta ngan kiri menggetar pergi pedang Kongsun Yan, tangan kanan menggunakan Kim-na-djiu-hoat memaksa mundur Su Ang-ing Habis itu mendadak kedua kakinya menendang susulmenyusul untuk mematahkan serangan Le Lam-sing.
Seorang melawan ti ga toh Yang Go masih lebih unggul, namun demikian diam-diam ia pun merasa heran mengapa mereka tidak takut kepada Siu-lo-im-sat-kang?
Ketika pertempuran di sini berlangsung dengan sengit, di sebelah sana keadaan Kim Tiok-liu tambah berbahaya.
Waktu itu sebagian besar tenaga Kim Tiok-liu telah diperas oleh Bun To-tjeng, walaupun tenaga Bun To-tjeng sendiri juga banyak terbuang, tapi tidak sehebat Kim Tiok-liu.
la mengerahkan Sam-siang-sin-kang habis-habisan dan mendesak lebih kuat, sedangkan Kim Tiok-liu makin lama makin berat memainkan Hian-tiat-pokiam, keadaannya mulai payah.
Mengira kemenangannya segera akan menjadi kenyataan, dengan terkekeh-kekeh Bun To-tjeng berseru.
"Anak Tiong! Sekarang tiba saatnya ayahmu membalaskan sakit hatimu, bocah she Kim ini akan kubinasakan, lalu budak busuk Su Ang-ing itu. Ya anak perempuan Kongsun Hong dan bocah she Le itupun takkan kuampuni. Hehehe, empat jiwa akan mengiringi kau ke alam baka tentunya kau pun akan puas."
Begitulah ia tertawa dan berteriak seperti orang gila tapi pedangnya yang lemas itu bekerja lebih kencang.
Kiranya pada saat itu Bun To-tjeng mulai merasakan dadanya seperti dibakar, itulah tanda-tanda akan kumatnya penyakit Tjau-hwe-djip-mo.
Mestinya tidak begitu cepat timbulnya penyakit itu, tapi lantaran sekarang dia bertempur dengan sengit sehingga dia tak bisa menguasai diri lagi.
Pikiran sehat Bun To-tjeng sudah mulai kabur, hanya satu pikiran saja yang masih terang baginya yaitu menuntut balas bagi Bun Seng-tiong, putera kesayangannya itu.
Sebenarnya Kim Tiok-liu tak pernah kenal apa artinya takut, tapi sekarang demi melihat tingkah laku Bun To-tjeng yang mirip binatang buas dan kalap serta menubruk maju itu, mau tak mau ngeri juga rasanya.
Mendadak dirasakan tenaga lawan melanda tiba dari sekelilingnya begitu hebat daya tekanan lawan sampai-sampai langkah Thian-lo-poh-hoat terasa sukar digunakan.
Terkejut juga Kim Tiok-liu, ia heran mengapa tenaga lawan mendadak bisa bertambah begitu hebat?
Melihat Kim Tiok-liu kewalahan, Su Ang-ing menjerit kuatir.
Sedikit meleng saja memberi kesempatan kepada Yang Go untuk menyerang, lebih dulu ia mendesak mundur Kongsun Yan, menyusul tangannya lantas mencengkeram ke arah Ang-ing, walaupun Ang-ing sempat menghindar, tidak urung robek juga lengan bajunya?
Kim Tiok-liu tidak tahu bahwa kekuatan Bun To-tjeng yang mendadak bertambah besar itu adalah rontaan orang yang mendekati ajal.
Untuk tidak membikin kuatir Su Ang-ing, segera ia berganti siasat, ia mengeluarkan ilmu pedang Si-mikiam-hoat yang mengutamakan bertahan dengan rapat untuk menghadapi lawan yang lebih tangguh.
Dengan demikian Bun To-tjeng sukar juga mengalahkan Kim Tiok-liu dengan segera meski dia menerjang dan menubruk semakin kalap.
Yang Go menjadi cemas setelah menyerang pula dengan sengit dan tetap tak bisa menang, pikirnya.
"Aneh, mengapa mereka tidak muncul?"
Yang dimaksudkan Yang Go adalah anak buahnya, padahal tempat pertempuran mereka tidak terlalu jauh dari depan gunung, seharusnya saat itu anak buahnya sudah menyusui tiba Kalau Yang Go merasa gelisah, maka Le Lam-sing sendiri jauh lebih gelisah pula.
Ia sangat menghargai jiwa setia kawan Kim Tiok-liu, betapapun ia tidak mau membiarkan Kim Tiok-liu menghadapi bahaya dilukai oleh Bun To-tjeng.
Kini tenaganya sudah pulih sebagian besar, jika digabung tenaga mereka bertiga lagi untuk mengeroyok Bun To-tjeng tentu gampang mendapat kemenangan, untuk ini Yang Go harus dikalahkan lebih dulu.
Lantaran ingin membantu Kim Tiok-liu, tanpa pikir lagi Le Lam-sing mendesak maju dan menyerang, hal ini malah memberi kesempatan kepada Yang Go untuk mengincar kelemahannya Mendadak Yang Go membentak, kelima jarinya yang mirip cakar tahu-tahu mencengkeram ke bahu Le Lamsing.
Kongsun Yan selalu berdampingan dengan Le Lam-sing, melihat gelagat jelek segera pedangnya menusuk.
Terpaksa pula Yang Go menarik kembali tangannya sebelum tulang pundak am-sing sempat diremasnya cepat ia menggeser ke samping, alu balas memukul ke arah Kongsun Yan.
Walaupun begitu terlempar juga tubuh Le Lam-sing lak-ana bola melayang ke udara, untung tidak terluka maka begitu jatuh ke tanah segera Lam-sing meloncat bangun.
Di tengah berkelebatnya sinar pedang dan melesatnya baangan orang, terdengar Yang Go membentak pula "Lepas peang!"
Tahu-tahu sepasang pedang Kongsun Yan sudah terlepas ari cekalan dan mencelat ke udara.
Berbareng tubuh si nona ju-a ikut mencelat dan meloncat beberapa meter jauhnya ke bela-g-Kiranya pedang Kongsun Yan kena dirampas oleh Yang o dengan Kim-na-djiu-hoat yang lihai, untung Ginkang si nona ukup hebat, begitu senjata terlepas segera ia melompat mundur.
Pada saat hampir bersamaan itulah terdengar pula seorang membentak.
"Siapa yang berani mencelakai puteriku!"
Begitu keras suara bentakan itu sehingga Yang Go terkejut tergetar mundur, kiranya pendatang ini tak lain tak bukan Jalah Kongsun Hong, ketua Ang-eng-hwe yang termashur.
ahkan tidak cuma Kongsun Hong saja yang muncul bersama ia masih ada lagi seorang lain, yaitu tokoh yang diakui sebagai go nomor satu di dunia persilatan Kang Hay-thian adanya.
Ketika menengadah dan melihat munculnya Kang Hay-ian, keruan pecah nyali Yang Go.
Sedangkan Kongsun Yan menjadi girang luar biasa seraya "Ayah!"
Berbareng ia terus menyongsong maju, Kongsun Tong memegang erat-erat kedua tangan anak perempuannya menjadi heran puterinya tiada sedikitpun tanda-tanda keracunan leh pukulan Siu-lo-im-sat-kang.
Padahal menurut ukuran Lwe-ng Kongsun Yan sekarang jauh daripada cukup untuk mela-ni ilmu Yang Go yang lihai itu.
Kedua tangan Kongsun Yan yang dipegang oleh sang ayah tiba-tiba terasa disaluri oleh hawa yang panas.
Hanya sekejap saja sekujur badan rasanya sangat segar, kiranya Kongsun Hong menggunakan Lwekangnya untuk melancarkan peredaran darah anaknya.
Ketika Kongsun Yan menarik napas panjang, ia merasa semangatnya bertambah menyala, tenaga bertambah kuat, cepat ia berseru.
"Lam-sing, lekas kemari!"
Saat itu Le Lam-sing baru saja melompat bangun, setelah merasa dirinya tidak terluka, segera ia maju memberi hormat kepada Kongsun Hong.
Untuk sejenak Kongsun Hong mengamat-amati Le Lamsing, lalu tertawa terbahak-bahak.
Kongsun Yan menjadi bingung.
"Ayah, apakah kau sudah pangling kepada Lam-sing?"
Tegurnya dengan aleman.
"Anak Yan,"
Sahut Kongsun Hong tertawa.
"Kau tidak tahu bahwa ayah memang telah tertipu satu kali, seorang Thianmo-kautju gadungan kusangka sebagai kakakmu Lam-sing ini!"
Di sebelah sini Kongsun Hong asyik berbicara dengan puterinya dan Le Lam-sing seakan-akan tidak memandang sebelah mata kepada Yang Go di sampingnya, keruan Yang Go menjadi serba kikuk, la tahu kepandaian Kongsun Hong jauh lebih tinggi dari dia tetapi terpaksa ia menabahkan hati dan menantang.
"Kongsun tua kepandaianmu jauh lebih lihai dariku, boleh kau maju saja. Mati di tanganmu rasanya masih berharga."
Saat itu Bun To-tjeng sudah berada dalam keadaan gila, dia kenal Kongsun Hong dan Kang Hay-thian, tapi sekarang dia tidak kenal takut lagi kepada mereka.
Mendengar kata-kata Yang Go tadi, mendadak ia pun tergelak tertawa serunya sambil berjingkrak.
"Hahaha kau keparat Yang Go jangan coba-coba berebut lawan dengan aku. Hahaha Kongsun Hong dan Kang Hay-thian, kedatangan kalian sangat kebetulan, memangnya aku bersumpah akan membabat habis kalian untuk mengganti nyawa puteraku. Pendek kata hari ini kalian tak bisa lolos lagi dari tanganku, kalian harus mati!"
Bun To-tjeng berjingkrak-jingkrak seperti orang gila setiap gerakannya ternyata merupakan tipu serangan mematikan pula keruan Kang Hay-thian melengak, pikirnya pula "Kepandaian Kim-sute sungguh hebat, aku sendiri juga akan kewalahan menghadapi pertarungan gila seperti ini."
Sebaliknya semangat Kim Tiok-liu terbangkit seketika demi nampak datangnya Kang Hay-thian.
Bun To-tjeng berjingkrak dan menyerang seperti orang gila maka ia pun menggunakan macam-macam tipu aneh ciptaan baru untuk mematahkannya.
Dalam pada itu Kongsun Hong juga menggenggam kedua gan Le Lam-sing dan menyalurkan tenaga dalam, hanya sekejap saja wajah Le Lam-sing yang tadinya pucat bersemu merah embali, pada saat itulah Yang Go menantangnya Dengan tertawa Kongsun Hong melepaskan tangan Lamsing, lalu menjawab Yang Go.
"Hm, kau ini kutu macam apa? lasakah aku perlu turun tangan sendiri. Anak Yan, boleh kau usnahkan ilmu silatnya bersama Le-toako."
Kongsun Yan dan Le Lam-sing mengiakan berbareng lalu lompat maju bersama.
Dalam hati Yang Go merasa girang, tapi lahirnya ia puraura marah, katanya "Kongsun tua kau terlalu menghina orang Jangan-jangan sebentar lagi puteri dan menantu kesayanganmu kubunuh, maka tak boleh kau menyalahkan aku."
"Huh, hanya sedikit kepandaianmu ini rasanya juga tidak bisa mencelakai mereka"
Sahut Kongsun Hong.
"Apa kemahiranmu boleh kau keluarkan semua jika kau mampu lolos di bawah tangan mereka maka selanjurnya aku pun tidak perlu mencari setori lagi padamu."
Yang Go menyebut Le Lam-sing sebagai menantunya hal liini tidak dibantah oleh Kongsun Hong, sama halnya dia membenarkan perjodohan kedua muda-mudi itu, keruan wajah Kongsun Yan menjadi merah, tapi girang di dalam hati.
Sebaliknya Yang Go juga girang karena Kongsun Hong berjanji takkan turun tangan sendiri, segera ia berkata pula.
"Bagus, seorang laki-laki sejati harus bisa pegang janji. Nah, silakan maju, nona Kongsun dan Le-kongtju!"
Su Ang-ing menjadi ragu-ragu apakah mesti maju membantu lagi atau tidak, syukur Kongsun Yan lantas berseru padanya.
"Su-tjitji, boleh kau membantu Kim-toako menghajar bangsat she Bun itu. Marilah kita balapan, coba siapa yang menang lebih dulu!"
Melihat Kongsun Yan berbicara dengan penuh keyakinan akan menang, Ang-ing menduga tentu Kongsun Hong yang telah mengatur pasangan mereka untuk menghadapi Yang Go, maka jawabnya.
"Baiklah, akan kubantu Kim-toako sekuatnya, tapi jelas tak bisa menandingi pasangan kalian."
"Hehe, siluman cilik, kau juga datang? Hehe, sangat kebetulan, akan kubalaskan juga sakit hati Su Pek-to,"
Seru Bun To-tjeng dengan mengekek-tawa.
"Wahai Su Pek-to, hendaklah di akhirat nanti kau mengawinkan puteraku itu. Puteraku tidak menginginkan Hong Biau-siang lagi, tapi menginginkan adik perempuanmu ini."
"Orang gila!"
Damprat Ang-ing.
"Ini, lihat serangan!"
Segera pedangnya menusuk ke punggung Bun To-tjeng, tapi mendadak tangan Bun To-tjeng membalik, punggungnya seperti punya mata, pedang Su Ang-ing diselentik terpental, menyusul pergelangan tangan si nona hendak dicengkeramnya.
"Lihat seranganku!"
Bentak Kim Tiok-liu, Hian-tiat-po-kiam segera membacok.
Meski Bun To-tjeng sudah kehilangan akal sehatnya, tapi caranya bertempur ternyata tidak ngawur, sebaliknya malah lebih gesit dan cepat.
Mendadak pedang lemas hitam itu menyendat ke depan untuk menahan Hian-tiat-pokiam, menyusul pedang melengkung balik, secepat kilat lantas menusuk Ih-gi-hiat di bagian iga Kim Tiok-liu.
Saat itu penyakit Tjau-hwe-djip-mo di tubuh Bun To-tjeng sudah hampir meledak, kekuatannya sudah banyak berkurang walaupun Hian-tiat-pokiam mampu ditahannya, tapi tenaga pukulannya yang dilontarkan kepada Su Ang-ing sudah banyak berkurang.
Ang-ing sempat mengelakkan cengkeraman Bun To-tjeng tadi, menyusul ia balas menusuk ke perut musuh.
"Haya, anak Tiong! Gagal pula kau mendapatkan bini!"
Te-Itiak Bun To-tjeng sambil menggeser ke samping dengan sempoyongan seperti orang mabuk tapi dengan tepat serangan Ang-ing dapat dihindarkan.
Di lain pihak Le Lam-sing dan Kongsun Yan juga mulai melabrak Yang Go, sudah tentu Yang Go memandang enteng kedua lawannya, ia tidak tahu bahwa tenaga kedua mudamudi jitu kini sudah pulih seluruhnya, maka ia menjadi kaget ketika Le iLam-sing menusuk dengan tenaga maha kuat.
Bahkan Kongsun pan juga membarengi serangan-serangan kilat beberapa kali sehingga Yang Go kelabakan.
Ketika Lam-sing mendesak maju dan menabas pula.
Yang fco menggunakan tenaga Siu-lo-im-sat-kang untuk menangkis, [tapi mendadak terdengar "cret"
Pelahan, tahu-tahu kulit pundak kiri Yang Go terkupas oleh pedang Kongsun Yan.
Sadarlah Yang Go sekarang sukar memenangkan lawanlawan muda itu, ia pikir untuk lari rasanya masih bisa dan tentu HCongsun Hong takkan menjilat kembali ludahnya dan merintanginya.
Dengan kalap ia lantas menyerang, ia keluarkan Siu-lo-im-sat-kang sepenuhnya untuk menerjang ke arah Kongsun Yan.
"Haha, sudah kepepet mau nekad,"
Seru Kongsun Yan dengan tertawa.
"Anjing gila harus digebuk!"
Kata Lam-sing. Ia pun mendesak maju, sekaligus ia menusuk beberapa tempat Hiatto musuh.
"Sref', dari arah tak terduga secepat kilat Kongsun Yan penusuk pula, sebelum Yang Go sempat melancarkan tenaga ukulannya, kembali bahu kirinya terluka lagi. Berturut-turut terluka dua kali, untung hanya luka ringan saja, namun terasa kesakitan juga, saking murka Yang Go berkaok-kaok dan menerjang dengan kalap.
"Anjing gila jangan dibiarkan lagi, kalau lari tentu akan menggigit orang lagi,"
Kata Lam-sing dengan tertawa.
"Mana dia bisa lari!"
Ujar Kongsun Yan sambil menyerang pula Selama beberapa hari tinggal di Tho-hoa-kok, antara Lamsing dan Kongsun Yan telah berhasil diyakinkan ilmu pedang gabungan, kini kebetulan bagi mereka untuk menggunakan Yang Go sebagai percobaan.
Tenaga Lam-sing lebih kuat, ia menghadapi serangan Yang Go dari depan, sedang gerakgerik Kongsun Yan lebih lincah, ia selalu mengincar musuh dari samping.
Walaupun baru pertama kali ini mereka mencoba ilmu pedang baru mereka tapi kerja-sama mereka ternyata sangat baik.
Alangkah senangnya Kongsun Hong menyaksikan hal demikian, ia mengelus jenggotnya sambil tersenyum puas, terutama terhadap calon menantunya yang hebat itu.
Dalam pada itu Yang Go sudah terkurung oleh sinar pedang kedua muda-mudi itu, melihat hal itu Kang Hay-thian berdecak kagum, katanya pada Kongsun Hong.
"Kongsun-lorjian-pwe, sungguh hebat anak perempuanmu itu, semuda itu dia sudah bisa memunahkan kekuatan Siu-lo-im-sat-kang. Benar-benar tunas muda terpuji Terimalah ucapan selamat dariku."
"Ah, Kang-taybiap terlalu memuji,"
Sahut Kongsun Hong.
"Sesungguhnya bukanlah ajaranku kesanggupannya menahan racun dingin Siu-lo-im-sat-kang musuh. Di zaman ini yang mampu memunahkan Siu-lo-im-sat-kang aku kira hanya gurumu saja. Sungguh aku menajdi kepingin tahu cara bagaimana dahulu gurumu mengalahkan Beng Sin-thong, jago ahli Siu-lo-im-sat-kang tertinggi."
Rada heran juga Kang Hay-thian bahwasanya Kongsun Hong mendadak membicarakan peristiwa di masa lampau itu, tapi ia lantas paham maksudnya, kiranya Kongsun Hong ingin aku memberi isyarat kepada Le Lam-sing cara mematahkan Siu-lo-im-sat-kang Yang Go itu dan memunahkan ilmu silatnya pula maka berkatalah Kang Hay-thian.
"Menurut cerita guruku, asalkan Lwekawng sudah terlatih sampai tingkatan tidak takut akan serangan racun, maka sangatlah mudah untuk mematahkan Siu-lo-im-sat-kang. Puterimu jelas tidak gentar akan racun dingin lawan, maka kemenangan puterimu segampang membalik telapak tangan sendiri saja."
Akhir ucapan Kang hay-thian itu ditekankan kepada katakata "telapak tangan", seketika Le Lam-sing dapat menerima isyarat itu.
Kiranya orang yang meyakinkan Siu-lo-im-sat-kang, bila sudah mencapai tingkatan tinggi, maka hawa dingin yang j dihimpun itu pasti terkumpul pada telapak tangannya.
Asalkan .
Lau-kiong-hiat di tengah telapak tangan itu tertusuk tembus, maka punahlah seluruh ilmunya.
Begitulah ia lantas mendesak maju, ia mengincar telapak tangan Yang Go terus menusuk dengan pedangnya.
Benar juga Yang Go tampak terkejut dan gugup, lekas ia menggenggamkan tangannya.
Ilmu silat Yang Go tidak lemah, sudah tentu tidaklah gampang bagi Le Lam-siang untuk menusuk Hiat-to maut itu hanya sekali tusuk saja.
Melihat serangan Lam-sing itu segera Kang Hay-thian tahu pemuda itu dapat menangkap isyaratnya tadi.
Maka ia tidak mengurus di sebelah sini lagi, tapi berpaling ke sana untuk mengikuti pertarungan Kim Tiok-liu melawan Bun To-tjeng.
Kekuatan Tiok-liu dan Bun To-tjeng sebenarnya selisih tipak banyak, setelah Su Ang-ing membantunya keruan mereka menjadi lebih unggul.
Terdengar Bun To-tjeng berteriak aneh, mendadak darah segar menyembur dari mulurnya, sikapnya makin beringas.
Kang Hay-thian terkejut.
"Hati-hatilah, Sute!"
Serunya. Kongsun Hong merasa heran juga, katanya kepada Kang Hay-thian.
"Meski dia kalap, tapi sudah mirip pelita kehabisan minyak, tampaknya ajalnya sudah hampir tiba, masakah Kangtayphiap kuatir dia balas menyerang lebih hebat?"
"Memang benar ucapan Lotjianpwe, melihat gelagatnya dia seperti kena penyakit Tjau-hwe-djip-mo, jiwanya sukar diselamatkan lagi,"
Sahut Kang Hay-thian.
"Cuma muntah darahnya ini bukanlah karena terluka dalam, tapi dia sedang mengerahkan Thian-mo-kay-deh-tay-hoat." 'Thian-mo-kay-deh-tay-hoat' adalah sejenis Lwekang kaum Sia-pay yang paling kejam, yang menggunakan ilmu ini harus merusak badan sendiri, setelah mengeluarkan darah, tenaganya akan bertambah sekali lipat Tapi pemakaian ilmu ini sangat merugikan diri sendiri, andaikan tidak mati tentu juga akan ca-cad untuk selamanya. Sebab itulah ilmu ini hanya digunakan tokoh Sia-pay di kala mereka sudah bertekad akan mati bersama musuh. Memang benar, setelah menggigit pecah ujung lidah sendiri dan menyemburkan darah, Bun To-tjeng menggunakan Thianmo-kay-deh-tay-hoat untuk menambah tenaga, ternyata serangannya menjadi bertambah hebat. Hian-tiat-pokiam yang diputar Kim Tiok-liu hampir tidak kuat menahan tenaga pukulannya, Su Ang-ing lebih-lebih tidak mampu mendekatinya. Dengan kuatir Kongsun Hong berkata pula.
"Tampaknya kita terpaksa harus maju. Kau atau aku, Kang-tayhiap? "Lotjianpwe tidak perlu kuatir,"
Sahut Hay-thian, di balik kata-katanya ini jelas dia yang akan maju bila perlu. Namun habis berkata dia tetap mengikuti pertarungan sengit itu dengan tenang-tenang saja.
"Kim Tiok-liu!"
Seru Bun To-tjeng dengan menyeringai.
"Dengan Hian-tiat-pokiam saja kau tidak mampu melukai aku seujung rambut pun. Jadi jelas ilmu silatku nomor satu di dunia ini, kau menyerah atau tidak? Hahaha, jika kau tidak terima, lekas panggil bapakmu ke sini, kutanggung bapakmu juga bukan tandinganku. Hahahahaha!"
Di tengah suara tertawanya yang seperti orang gila itu, kedua tangan Bun To-tjeng terus menghantam naik turun sehingga tenaga pukulannya mendampar ke segenap penjuru.
Walaupun Kim Tiok-liu dan Su Ang-ing dapat menghindar kian kemari dengan cepat, tidak urung dada mereka terasa sesak, hampir saja tidak bisa bernapas.
Sekonyong-konyong Bun To-tjeng berteriak tajam seperti orang menangis.
"Anak Tiong, ai, anak Tiong, tentu kau kesepian di dunia fana itu. Biarlah ayahmu mencarikan seorang gadis manis untuk temanmu. Nah, ini dia Su Ang-ing, lekas kau menyusul anakku saja!"
Dengan teriakan melengking tajam memekak telinga mendadak Bun To-tjeng menubruk maju, pedangnya menyambet dan tangan memukul.
"krek", cambuk Su Ang-ing tertabas kutung I sebagian. Kim Tiok-liu terkejut melihat Su Ang-ing terancam, cepat ia mengadang di depannya tapi pukulan Bun To-tjeng yang dahsyat membikin Hian-tiat-pokiam Kim Tiok-liu tak bisa berkutik sama sekali. Mendadak Bun To-tjeng membentak, tubuhnya berputar dan pedangnya yang lemas menyendat, Hian-tiat-pokiam terbentur ke samping, sedang Bun To-tjeng mengitar sampai di depan Su Ang-ing, kelima jarinya bagai kaitan terus mencengkeram ke batok kepala nona itu. Karena berhadapan, Ang-ing dapat melihat muka Bun Totjeng yang kejang beringas menakutkan, keruan ia menjerit kaget. Melihat Ang-ing terancam bahaya tanpa pikir lagi Kongsun Hong lantas melangkah maju, tapi baru saja kakinya bergerak, tiba-tiba terasa seorang mendahului melesat ke depan. Ternyata dengan kecepatan luar biasa Kang Hay-thian sudah berdiri di depan Bun To-tjeng. Sebaliknya Kim tiok-liu dan Su Ang-ing bergandengan tangan sempat melompat keluar lingkaran tenaga pukulan Bun To-tjeng yang hebat. Dengan cara bagaimana Kang Hay-thian menolong Ang ing, sampai Kongsun Hong pun tidak dapat melihat jelas. Diamdiam ia merasa malu sendiri dan mengakui Kang Hay-thian memang tidak bemama kosong sebagai jago nomor satu di dunia ini. Dalam pada itu Bun To-tjeng sedang mendelik pada Kang Hay-thian, katanya dengan suara setengah sinting.
"Aku kenal kau, kau Kang Hay-thian. Gurumu tidak berada di sini, orang bilang ilmu silatmu nomor satu. Apa kau berani bertanding dengan akur' "Ilmu silat tidak kenal nomor satu, demikian sering dikatakan guruku walaupun beliau sudah menjelajahi seluruh jagat tanpa tandingan,"
Sahut Hay-thian.
"Hahahaha! Siapa bilang tiada ilmu silat nomor satu? Ini, aku inilah nomor satu. Kau takut padaku bukan? Hm, biarpun kau takut juga akan kuhajar kau. Kau telah membunuh puteraku, aku harus menuntut balas!"
Kata Bun To-tjeng dalam keadaan kurang waras, siapa pun yang ditemuinya sekarang semuanya dianggap sebagai musuh pembunuh anaknya. Dengan tenang Kang Hay-thian menjawab.
"Aku tidak takut padamu, tapi aku pun tidak ingin membunuh kau."
"Kau tidak membunuh aku, akulah yang akan membunuh kau!"
Seru Bun To-tjeng.
"Sret"
Segera pedangnya menusuk. Tapi mendadak terdengar "ering"
Yang keras, tahu-tahu pedang lemas Bun To-tjeng itu mencelat ke udara.
"Sungguh tenaga jari yang maha sakti!"
Kongsun Hong berseru memuji.
"Kau punya ilmu sakti, aku pun punya ilmu sakti!"
Teriak Bun To-tjeng tak mau kalah.
Tanpa menghiraukan pedangnya yang terpental itu, kedua telapak tangannya lantas menyodok ke depan, dalam lingkaran seluas beberapa meter seketika bergemuruh dengan batu pasir bertaburan.
Rupanya inilah himpunan segenap tenaga sakti Sam-siang-sin-kang yang dikerahkan untuk menghadapi Kang Hay-thian yang dianggapnya musuh paling tangguh.
Namun Kang Hay-thian tetap berdiri tanpa bergerak.
Terdengar suara "brak,"
Empat tangan beradu dan seperti melengket.
Hanya sebentar saja Bun To-tjeng merasa telapak tangannya seperti kena ditusuk oleh jarum sehingga hawa mumi dalam tubuhnya merembes keluar melalui lubang tusukan itu.
Seketika ia lemas lunglai laksana balon gembes, melongo dan lesu ia memandang Kang Hay-thian.
Tapi aneh juga meski hawa muminya terus bocor keluar, tapi pikirannya menjadi makin jemih.
Sampai akhirnya ia sudah tidak bertenaga lagi, maka pikirannya menjadi sadar pula seluruhnya.
Meskipun badannya lemas, namun rasanya segar malah.
Dengan pelahan Kang Hay-thian berkata "Kau kematian seorang anak, lantas kemana-mana hendak menuntut balas.
Padahal orang yang dibunuh kalian ayah dan anak entah berapa banyaknya jika semua orang juga menuntut balas padamu lantas bagaimana?"
Bun To-tjeng tahu ilmu silatnya sendiri sudah dipunahkan oleh Kang Hay-thian, kata-kata Kang Hay-thian itu seakanakan kemplangan keras di atas kepalanya.
Tanpa terasa ia manggut-manggut, katanya dengan menghela napas.
"Benar aku tak bisa melawan kau, bolehlah kau bunuh saja diriku."
"Buat apa aku membunuh kau, asal kau mau kembali ke jalan yang benar, selanjurnya kau masih dapat menjadi orang baik,"
Kata Kang Hay-thian.
"Kini aku sudah mirip orang cacad, apa gunanya hidup di "dunia ini?"
Kata Bun To-tjeng dengan putus asa.
"Tidak, meski Sam-siang-sin-kangmu sudah lenyap, paling sedikit kau masih dapat mengajarkan ilmu itu kepada angkatan yang akan datang,"
Ujar Hay-thian.
Kiranya Kang Hay-thian te-lah memunahkan ilmu silat Bun To-tjeng, akan tetapi juga telah menyembuhkan penyakit Tjau-hwe-djip-mo dan merenggutnya dari malaikat elmaut.
Sebagai seorang tokoh, Bun To-tjeng cukup sadar apa artinya penyakit Tjau-hwe-djip-mo itu, kini dia dapat ditolong oleh Kang Hay-thian, sekalipun ilmu silatnya meski dikorbankan juga rela dia.
Setelah jernih kembali pikirannya, timbul juga semangatnya untuk hidup terus, dengan wajah merah ia menghaturkan terima kasih kepada Kang Hay-thian.
"Apa yang kulakukan sekarang adalah sama seperti guruku terhadap pamanmu dahulu, semoga Bun-siansing dapat memahami maksud baik guruku itu,"
Ujar Hay-thian.
"Terima kasih atas nasihat kalian,"
Sahut Bun To-tjeng sambil melangkah pergi dengan bantuan sebatang kayu.
Dengan tertawa kemudian Kongsun Hong berkata "Kangtayhiap, aku sangat kagum atas kebijaksanaanmu, bukan saja penyakit badaniah Bun To-tjeng telah kau sembuhkan, bahkan penyakit rohaniahnya juga kau sembuhkan, semoga dia benarbenar sembuh."
Dalam pada itu Kim Tiok-liu dan Su Ang-ing mendekati Kongsun Hong dan memberi salam hormat.
Ketika Kim Tiok-liu mengawasi Le Lam-sing, pemuda itu tampak masih bahu membahu dengan Kongsun Yan, keadaan sangat menguntungkan mereka kemenangan sudah pasti.
Maka dengan tertawa ia pun berkata.
"Tampaknya selekasnya bangsat tua Yang Go itupun akan mengalami nasib seperti Bun To-tjeng cuma ada sesuatu yang mengherankan, mengapa begundalnya dan anggota Thian-mo-kau tiada nampak seorang pun? Padahal sudah cukup lama kita berada di sini?"
"Hal ini segera akan kau ketahui,"
Ujar Kongsun Hong. Mendadak terdengar Su Ang-ing menjerit kuatir.
"Celaka!"
Kim Tiok-liu terkejut, ketika ia berpaling, dilihatnya Yang Go sedang meloncat ke atas, kedua tangannya dihantamkan kc atas kepala Kongsun Yan, inilah serangan yang hebat dan bila perlu siap gugur bersama lawan.
Kiranya Yang Go tidak percaya Kongsun Yan dan Lam-sing mau mengampuni jiwanya karena itu ia menjadi nekat dan melancarkan serangan maut.
Tapi perhitungannya meleset, Le Lam-sing tidak kalah cepatnya juga menubruk maju.
Terdengarlah suara jeritan seram, dua larik sinar melayang ke udara Kongsun Yan melompat jauh ke samping, sebaliknya Yang Go menggeletak di atas tanah dengan muka berlumuran darah.
Rupanya pada saat kedua tangan Yang Go memukul tadi, Lau-kiong-hiat di telapak tangannya sempat ditusuk oleh Le Lam-sing, tenaga pukulan Yang Go dapat menggetarkan pedang Kongsun Yan sehingga terpental, tapi hawa murninya juga bocor keluar melalui Hiat-to telapak tangan yang berlubang itu, tenaganya habis, maka Kongsun Yan yang terkena pukulan tidak cidera apa-apa sebaliknya sekilas pada detik pedang Kongsun Yan akan terpental tadi, ujung pedang menggores muka Yang Go dan membutai sebelah matanya.
Cepat Kongsun Hong memburu maju dan memegangi puterinya melihat Kongsun Yan tidak terluka apa-apa barulah ia merasa lega Le Lam-sing lantas mendamprat.
"Bangsat keparat, maksudku hendak mengampuni jiwamu, kenapa kau begini keji?"
Sementara itu Yang Go telah merangkak bangun, katanya "Kongsun-totju, apa yang telah kau ucapkan tetap berlaku tidak?"
Sebelum bertarung tadi Kongsun Hong hanya memberi pesan agar Le Lam-sing dan puterinya memunahkan ilmu silat Yang Go dan tidak menyatakan mencabut jiwanya. Maka Kongsun Hong menjawab.
"Apa yang telah kukatakan sudah tentu tetap berlaku."
"Baiklah, bangsat tua macam kau rasanya selanjutnya juga tak bisa main gila lagi,"
Ujar Lam-sing sambil menyimpan kembali pedangnya.
Seperti Bun To-tjeng tadi, dengan menjemput sepotong kayu sebagai tongkat, lalu Yang Go bermaksud mcngeluyur pergi.
Mendadak Kongsun Hong membentaknya "Nanti dulu!"
Keruan Yang Go terkejut, katanya.
"Kongsun tua ucapanmu bisa dipercaya tidak?"
"Hm, apa yang kau takutkan? Sekali aku sudah menyatakan takkan mancabut nyawamu, andaikan kau menyembah padaku dan minta aku membunuh kau juga aku tak sudi,"
Kata Kong-sun Hong.
"Tapi kau tidak boleh pergi begitu saja, urusan Thian-mo-kau belum lagi beres, tidak sedikit temanteman yang kau undang sebagai bala bantuanmu, masakah sama sekali kau tidak memberikan sesuatu pertanggungjawaban?"
"Benar, biar tampangnya diketahui dan supaya begundalnya mengetahui bagaimana akhir riwayatnya,"
Ujar Kongsun Yan dengan tertawa.
Yang Go menjadi malu, ia pikir daripada dihina ada lebih baik mati saja tadi.
Tapi lantas terpikir olehnya Siu-lo-im-satkangnya yang ampuh itu masih dapat diturunkan kepada murid keponakannya, andaikan angkatan ini tidak dapat menuntut balas toh masih ada angkatan berikutnya.
Dasar jiwanya memang lebih licin daripada Bun To-tjeng, maka ia pura-pura menuruti segala perintah Kongsun Hong.
Begitulah mereka lantas menggiring Yang Go ke atas gunung, setelah melintasi sebuah tanjakan, terdengarlah suara hiruk-pikuk yang ramai.
Agaknya di situ ada dua kelompok sedang bertanding.
Baru sekarang Kongsun Yan tahu, katanya "Ayah, kiranya kau tidak datang sendiri."
Rupanya sebagian jago dan anak-buah Ang-eng-hwe ikut datang bersama ketua mereka.
"Nona Su,"
Kata Kongsun Hong kepada Ang-ing.
"Li-hupangtju kalian juga datang dengan anak buahnya. Berita mereka sungguh sangat cepat, belum lagi aku mengirim kabar ke sana mereka sudah mengetahui engkau dan Kim-siauhiap datang ke Tji-lay-san sini."
"Pantas anak buah Yang Go tidak seorang pun yang datang membantu pemimpinnya kiranya dicegat oleh teman-teman kita"
Kata Kongsun Yan.
"Jadi Li tun juga datang?"
Seru Ang-ing dengan girang.
"Ya dia datang bersama isterinya pula"
Sahut Kongsun Hong.
"Li Tun memang cerdik dan pintar, tentu dia sudah dapat menduga Thian-mo-kautju gadungan itu dan yakin kita pasti datang ke sini buat menyelidiki perkaranya"
Kata Kim Tiok-liu.
"Li Tun paling mahir mengobati racun orang Thian-mo-kau, kedatangannya sungguh sangat kebetulan."
Tengah bicara mereka sudah sampai di atas gunung, orang-orang kedua pihak juga sudah melihat kedatangan mereka.
Kelihatan tiga Hiangtju Ang-eng-hwe, yaitu Tjiok Hian, Tjin Tiong dan Tjeng Wan hadir semua di situ, Li Tun sedang berbicara dengan seorang tua pihak lawan.
Malahan Kim Tiok-liu dapat mengenali di antara hadirin itu ada pula tokoh-tokoh dari berbagai perkumpulan Kangouw, malahan beberapa orang yang pernah bertemu di Hoa-san juga tampak berada di antara orang-orang Thian-mo-kau.
Begundal Yang Go menjadi terkejut ketika melihat sang pemimpin digiring datang dalam keadaan konyol, orang-orang Thian-mo-kau juga terkejut dan heran melihat kedatangan Le Lam-sing.
Maka berkatalah Li Tun dengan bergelak tertawa "Nah itu dia inilah Kautju kalian yang tulen, sekarang kalian percaya tidak dengan omonganku?"
Orang tua yang bicara dengan Li Tun tadi termasuk orang lama Thian-mo-kau dan sangat setia kepada ayah-bunda Lamsing, cuma dia belum pernah mengenal Lam-sing.
Sekarang melihat wajah Lam-sing yang rada-rada mirip dengan Kautju gadungan mereka ia menjadi ragu-ragu dan bingung.
"Bagaimana urusan yang sebenarnya ini?"
"Mungkin kau adalah Hiangtju Tiong-dji-tong, Han Tjing-rat bukan? Ayah sering menyebut dirimu karena beliau pernah kau gendong pulang waktu mengalami cidera di daerah Eklam dahulu,"
Kata Lam-sing.
Peristiwa di masa lampau itu tidak pernah diketahui orang lain, kedudukan Han Tjing-tiat di dalam Thian-mo-kau juga cuma diketahui beberapa orang lama saja, maka dengan kejut-kejut girang Han Tjing-tat menjawab.
"Ah, kiranya engkau benar-benar tuan muda. Jika demikian, jadi Kautju itu adalah palsu."
Lam-sing mengangguk katanya.
"Ya, semuanya ini adalah tipu muslihat yang diatur Yang Go, sekarang biarlah dia sendiri yang bicara kepada kalian."
Terpaksa Yang Go menguraikan apa yang telah dikerjakannya selama ini di hadapan orang banyak.
Dalam pada itu Le Lam-sing dan Han Tjing-tat memasuki ruangan dalam Thian-mo-kau dan menyeret keluar Kautju gadungan yang saat itu sudah megap-megap hampir mati.
Dengan keterangan Yang Go sendiri ditambah bukti hidup yang ada, maka jelaslah duduknya perkara yang sebenarnya.
Banyak orang lantas mencaci-maki Yang Go dan mengalihkan segala dosa kepadanya dengan harapan begundalnya itu bisa diampuni.
"Hahaha! Yang kami hukum hanya biang keladinya dan tidak pengikutnya, yang perlu bila kalian ada yang berbuat jahat hendaklah selanjutnya memperbaiki diri, kalau tidak, pada suatu saat kalian tentu akan menerima ganjaran setimpal,"
Seru Kong sun Hong.
"Nah, sekarang bolehlah kalian pergi."
Keruan tanpa disuruh kedua kalinya, serentak orang-orang itu bubar, hanya tertinggal anggota Thian-mo-kau saja yang masih berada di situ.
Tiba-tiba Su Ang-ing merasa kehilangan Kim Tiok-liu yang tadi berada di sebelahnya, sekarang entah pergi kemana.
la coba menoleh ke sana sini juga tidak nampak Kim Tiok-liu berada di antara orang banyak.
Dalam pada itu Kongsun Hong membubarkan pula begundal Yang Go, lalu katanya.
"Le-kongtju, tentang orangorang Thian-mo-kau kuserahkan padamu sendiri."
Dengan suara lantang Han Tjing-tat lantas berseru.
"Kautju muda, kembalinya kami ke Tji-lay-san sini adalah karena ingin mendukung engkau, tak tahunya kami telah tertipu oleh tua bangka Yang Go. Sekarang segala sesuatu sudah menjadi jelas, adalah tugasmu untuk menduduki kembali jabatan Kautju dan mengembangkan agama kita."
Serentak beratus-ratus anggota Thian-mo-kau yang lain bersorak mendukung.
"Banyak terima kasih atas maksud baik kalian,"
Kata Lamsing.
"Tapi hendaklah kalian mendengarkan keteranganku. Dua puluh tahun yang lalu ayahku telah membubarkan agama ini atas anjuran Kim-tayhiap, buat apa sekarang kita mesti membangun kembali. Pula usiaku terlalu muda kepandaianku rendah, tidak sesuai untuk menjadi Kautju kalian."
"Lain dulu lain sekarang,"
Kata Han Tjing-tat.
"Dahulu agama kita dibubarkan lantaran terlalu banyak kemasukan golongan-golongan jahat. Sekarang sebagian besar orang demikian sudah mati atau kabur, maka sisa-sisa seperti kami ini sengaja pulang mengabdi kepada Kautju muda bukan tiada sama sekali orang jahat di antara kami, tapi sedikitnya yang baik lebih banyak daripada yang jahat, maka janganlah Kautju muda mengecewakan harapan mereka ini."
Le Lam-sing merasa serba susah, katanya kemudian.
"Aku ada suatu usul, hendaklah kalian pikirkan dahulu. Sekarang Ang-eng-hwe dan Liok-hap-pang adalah dua organisasi terbesar di dunia Kongouw dan tidak perlu disangsikan citacita perjuangan mereka. Maka kalau kalian ada maksud berjuang lagi, kukira le-bih baik kalian masuk saja dalam kedua perkumpulan tadi daripada mendirikan cabang lain?"
Karena Le Lam-sing tetap menolak menjadi Kautju baru mereka, usulnya juga masuk diakal, maka sesudah berunding Han Tjing-tat dan kawan-kawan menyatakan setuju.
Beramai-ramai Han Tjing-tat dan anak buahnya lantas meminta semua orang masuk lagi ke ruang pendopo Thianmo-kau untuk sekadar diadakan perjamuan.
Ketika Su Ang-ing bermaksud pergi mencari Kim Tiok-liu, tiba-tiba datang beberapa orang memberi hormat padanya kiranya adalah Sun Pek-siu dan kawan-kawannya, yaitu orangorang yang pernah dijumpai dahulu di atas Hoa-san.
Sun Pek-siu berkata.
"Tempo hari kami mendengar nona Su dan Kim-siauhiap akan datang ke sini membikin perhitungan dengan Kautju gadungan itu, padahal kami biasanya tunduk di bawah Liok-hap-pang, sekarang nona Su yang menjadi Pangtju, sudah tentu kami ingin datang memberi semangat sekalipun tidak bisa memberi bantuan apa-apa, selain itu tempo hari nona Su pernah menyatakan seorang Li-hupangtju kalian mahir memunahkan racun Thian-mo-kau, kini keadaan Pangtju kami sudah payah, terpaksa kami usung kemari dan mohon nona Su sudi mengizinkan Li-hupangtju mengobati Pangtju kami."
Rupanya kedatangan Sun Pek-siu dan kawan-kawannya itu yang utama adalah minta pengobatan, sudah tentu Su Ang-ing dengan suka hati memenuhi keinginan mereka, segera ia bertanya.
"Dimana Pangtju kalian sekarang?'' "Berkat bantuan Han-lotjianpwe dari Thian-mo-kau tadi, sekarang Pangtju kami dibaringkan di kamar tidur,"
Tutur Su Pek-siu. Su Ang-ing lantas memanggil Li Tun dan memperkenalkan mereka serta menguraikan apa maksudnya, sudah tentu Li Tun mengiakan dengan senang hati.
"Kubantu kau, Li-Toako,"
Seru Lam-sing.
Sun Pek-siu dan lain-lain sekarang sudah mengetahui Lamsing adalah putera Thian-mo-kautju yang sebenarnya di masa lalu, mereka menduga kepandaiannya mengobati racun tentu lebih mahir daripada Li Tun, maka mereka menjadi girang.
Ketika bicara mengenai kejadian tempo hari, orang-orang itu lantas menanyakan Kim Tiok-liu.
Baru sekarang Ang-ing ingat lagi akan diri pemuda itu, katanya.
"Ya, aku pun sedang mencari dia, entah kemana dia pergi, tadi masih berada di sini."
Sementara itu hari sudah menjelang petang, melihat sang Sute masih belum pulang, Kang Hay-thian merasa sangsi juga, segera bersama Su Ang-ing keluar mencari, Sun Pek-siu dan lain-lain juga ikut keluar bantu mencari Kim Tiok-liu.
Sesungguhnya kemanakah perginya Kim Tiok-liu?
Kiranya dia telah menemukan seorang yang dikenalnya di antara begundal-begundal Yang Go itu, dia bukan lain daripada Hong Tju-tjiau, ayah Hong Biau-siang.
Hati Kim Tiok-liu tergerak, teringat olehnya urusan perjodohan Tjin Goan-ko dan Hong Biau-siang yang belum ada penyelesaian secara resmi itu, kedatangan Hong Tju-tjiau menjadi sangat kebetulan baginya.
Sebaliknya ia pun sangsi, jangan-jangan Hong Tju-tjiau datang dengan tugas rahasia tertentu mengingat dia adalah bekas anak buah Sat Hok-ting.
Waktu itu Hong Tju-tjiau sudah pergi jauh, tanpa memberitahu siapa-siapa termasuk Su Ang-ing, segera Kim Tiok-liu menyusul ke sana.
Dengan Ginkangnya yang tinggi, tidak terlalu usah baginya untuk memburu Hong Tju-tjiau.
Setelah melintasi suatu pengkolan bukit, dilihatnya Hong ju-tjiau sedang berjalan bersama dua orang dan tampaknya se-ang asyik bicara dengan pelahan.
Padahal anak buah Yang Go abur semua ke bawah gunung, hanya tiga orang ini yang me-ambil jalan ke belakang gunung agaknya tidak ingin bercam-dengan orang banyak.
Diam-diam Kim Tiok-liu mendekati mereka dengan Gin-g yang tinggi, setiba di belakang Hong Tju-tjiau, dengan ter-wa ia mengulur tangan buat menabok pundaknya sambil me-gur.
"Hei, kau masih ingat padaku tidak?"
Tabokan Kim Tiok-liu itu sudah diperhimngkan, tak peduli Hong Tju-tjiau berkelit ke sebelah manapun sukar menghindar akan tertutuk Hiat-tonya oleh Kim tiok-liu.
Ternyata Kim Tiok-liu juga salah hitung, sama sekali ia tidak memikirkan kedua teman Hong Tju-tjiau itu, maka ketika tangannya sudah bergerak menabok mendadak laki-laki sebelah kanan Hong Tju-tjiau menjengek.
"Hm, bocah she Kim, terlalu iurangajar kau. Kongsim Hong saja tidak berani mengusik kami, tapi kau malah berani mencegat kepergian kami. Baiklah, akan kucoba, apa kepandaianmu sehingga berani kau main gila padaku."
Ketika kedua tangan beradu, Kim Tiok-liu merasa tangannya panas seperti terbakar, keruan ia kaget, sebaliknya orang itu sambil bicara, tapi tenaganya tak berkurang, beberapa kali Kim Tiok-liu menggunakan macam-macam gaya pukulan dan tetap sukar melepaskan diri dari serangan lawan.
Namun begitu Kim Tiok-liu juga sudah mengetahui dimana letak kekuatan lawan, mendadak terdengar "cres"
Satu kali, jari Kim Tiok-liu tepat me-nyelentik Lau-kiong-hiat di telapak tangan orang itu.
Walaupun bukan titik lemah Hiat-to yang diselentik oleh Kim Tiok-liu, tapi tergetar juga orang itu dan cepat menarik kembali pukulannya.
"Hm, kukira siapa, tak tahunya adalah jago yang pernah keok di tangan Tiong-pangtju!"
Kiranya orang ini adalah Auwyang Kian, putera Auwyang Pek-ho yang terkenal dengan pukulan sakti 'Lui-sin-tjiang'?
Tapi ketika kepergok Tiong Tiang-thong, ketua Kay-pang, di puncak Hoa-san dahulu, ilmu silat Auwyang Pek-ho telah dipunahkan oleh Tiong Tiang-thong.
Tiga tahun yang lalu Auwyang Kian juga kebetulan bertemu Tiong Tiang-thong di lereng Tji-lay-san, dalam suatu pertempuran sengit, Auwyang Kian tidak mampu membalas sakit hati ayahnya, sebaliknya ia pun keok.
Kejadian itu disaksikan oleh Kim Tiok-liu tatkala dia mencari Tjin Goan-ko ke rumah Hong Tju-tjiau sebagaimana diceritakan pada awal cerita ini.
Begitulah Auwyang Kian menjadi gusar karena olok-olok Kim Tiok-liu tadi, jengeknya.
"Bagus, biarlah kau coba-coba lagi Lui-sin-tjiangku!"
Segera Auwyang Kian melancarkan pukulan lebih dahsyat lagi sehingga hawa panas memancar dengan hebat.
Kim Tiokliu menghindari adu pukulan lagi, ia menggunakan Thian-lopoh hoat untuk melayani lawan, begitu ada kesempatan baru ia balas menyerang.
Bicara tentang kepandaian sejati, Kim Tiok-liu tidak di bawah Auwyang Kian, soalnya tadi dia baru bertempur sengit melawan Bun To-tjeng, sekarang tenaga belum pulih seluruhnya.
Sebaliknya Auwyang Kian habis melatih diri selama tiga tahun hingga kekuatannya jauh lebih tangguh daripada melawan Tiong Tiang-thong dahulu.
Maka selang tak lama Kim Tiok-liu sudah mandi keringat, rasanya seperti dipanggang oleh hawa panas yang terpancar dari pululan lawan.
Dalam pada itu Hong Tju-tjiau yang mengikuti pertarungan mereka di samping tampaknya rada gelisah.
Heran juga Kim Tiok-liu melihat Hong Tju-tjiau tidak kabur.
Selain Hong Tju-tjiau, yang ikut menonton di samping masih ada seorang lagi, yaitu seorang laki-laki setengah umur berdandan sebagai seorang Susing (pelajar) dengan memegang kipas, sikapnya gagah.
Setelah menonton sebentar, tiba-tiba orang itu berkata.
"Wah, panas benar! Selamat Auwyang-heng, kau punya Luisin-tjiang sudah berhasil diyakinkan bahkan jauh lebih hebat daripada mendiang ayahmu."
Rupanya Auwyang Kian menjadi senang oleh pujian itu, sahurnya dengan gelak tertawa.
"Ah, sedikit kepandaianku ini masakah ada harganya untuk dipuji Boh-heng dengan ilmu silat Hu-siang-to yang termashur itu, hanya untuk dipakai melayani bocah ini rasanya jauh daripada cukup."
Ilmu silat Hu-siang-to dimulai dari Kiu-sik-khik di zaman dinasti Tong.
Kiu-sik-khik, diturunkan kepada Boh Djong-long yang sangat terkenal pula pada zaman Khong-khong-dji dan Tiat-mo-lek Tapi setelah turun temurun sejak dinasti Song, Goan, Beng dan Tjhing, entah mulai kapan ilmu silat aliran Husiang-to itu sudah tak terdengar lagi.
Beberapa tahun yang lampau Kim Si-ih juga pernah mendatangi pulau itu untuk mencari keturunan keluarga Boh, tapi juga tidak bertemu.
Dalam batin Kim Tiok liu berpikir.
"Kiu-sik-khik dan Boh Djong-long adalah pendekar-pendekar besar pada zaman dahulu, bilamana orang ini adalah keturunan mereka, kenapa dia tidak bergaul dengan kaum ksatria yang baik, sebaliknya berkumpul dengan golongan Sia-pay?"
Setelah memuji Auwyang Kian, tiba-tiba orang tadi memuji Kim Tiok-liu pula, katanya.
"Puteranya begini, dapatlah diketahui bapaknya. Setiap orang mengatakan ilmu silat Kim Si-ih nomor satu di dunia ini, tampaknya memang tidak bernama kosong. Engkoh cilik inipun tidak malu sebagai putera Kim-tay-hiap."
Auwyang Kian menjadi panas.
Ia tidak buka suara, tapi menyerang lebih gencar.
Tenaga Kim Tiok-liu belum pulih seluruhnya, walaupun bermandi keringat namun dia masih cukup kuat untuk bertahan.
Sambil menggoyang-goyang kipasnya, laki-laki she Boh tadi berkata pula.
"Kabarnya ilmu pedang Kim Si-ih memetik intisari dari berbagai aliran lain, sedangkan Hian-tiat-pokiam juga raja daripada semua senjata. Kenapa engkoh cilik ini tak mau menggunakan pedang?"
Dengan gusar mendadak Auwyang Kian menghentikan pukulannya dan berkata.
"Baiklah kau keluarkan pedangmu, Kim Tiok-liu!"
Sebenarnya kalau Kim Tiok-liu mau menggunakan Hiantiat-pokiam, maka dapat dipastikan dia takkan terkalahkan, tapi dia justru kepala batu.
Orang she Boh mengingatkan dia memakai pedang, dia berbalik tidak sudi.
Maka ketika Auwyang Kian menarik pukulannya, ia justru menyerang dengan pukulannya sambil membentak.
"Terima seranganku ini!"
"Suruh kau memakai pedang, apa kau tuli?"
Teriak Auwyang Kian dengan gusar.
"Tanpa menggunakan Hian-tiat-pokiam juga aku sanggup melayani kau, pendek kata apa yang kau gunakan aku pun menggunakan dengan cara yang sama, aku tidak sudi mengambil keuntungan atas dirimu!"
Sahut Tiok-liu.
Ilmu pukulan Kim Tiok-liu secepat kilat dan sukar diraba, karena didahului, Auwyang Kian malah menjadi kelabakan menangkisnya, terpaksa ia melayani dengan penuh perhatian.
Sungguh gemasnya tak terkatakan, kalau bisa sekali hantam ia ingin memampuskan Kim Tiok-liu.
Tapi lantaran naik darah itulah ia berbalik kena didesak sampai belasan jurus oleh Kim Tiok-liu.
Laki-laki she Boh tadi geleng-geleng kepala lagi dan mengakui kebandelan Kim Tiok liu.
Ia tahu bila pertarungan begitu diteruskan, walaupun Kim Tiok-liu bisa memberondong serangan lebih dulu, tapi lama-lama tentu tidak tahan.
Dalam keadaan belum ada ketentuan itu, tiba-tiba berkumandang suara seorang tua berkata.
"Auwyang Kian, marilah kita coba-coba lagi, ingin kulihat apakah selama tiga tahun ini kepandaianmu sudah bertambah maju atau tidak?"
Kiranya yang muncul ini adalah Tiong Tiang-thong, tokoh utama Kay-pang. Dengan tertawa Kim Tiok-liu menyambut.
"Tiok-pangtju, aku hanya main-main saja dengan dia, belum lagi menentukan unggul atau asor."
"Hahaha, Kim-Iaute, apakah kau kuatir beberapa kerat tulangku yang sudah lapuk ini tidak tahan pukul? Ah, tidak apa, aku justru ingin melemaskan otot, silakan menonton di samping saja, Kim-laute,"
Seru Tiong Tiang-thong dengan tertawa sambil melompat ke depan Auwyang Kian, lalu berkata pula.
"Kau sudah berkelahi lebih dulu, tapi umurku lebih tua darimu, tentunya kau takkan mengatakan aku menarik keuntungan darimu."
Auwyang Kian tahu bila Kim Tiok-liu memakai Hian-tiatpokiam tentu dirinya tak bisa menang kalau sekarang si pengemis tua bangka yang sebelah kakinya sudah di ambang liang kubur ini mau maju, mustahil sekarang dirinya bisa dikalahkan seperti dahulu?
Yakin akan kemampuannya sendiri, dengan nada dingin Auwyang Kian lantas berkata.
"Pengemis tua, jika kau sendiri yang ingin mencari mampus, terpaksa aku sempurnakan kau. Cuma aku tidak ingin mencabut nyawamu, kau pernah menghancurkan ilmu silat ayahku, maka aku hanya akan menuntut balas dengan cara yang sama saja."
"Haha, aku sendiri memang sudah bosan hidup, maka boleh kau berbuat sesukamu, hanya saja siapa yang kecundang mesti tunggu dan lihat nanti,"
Ujar Tiong Tiangthong tertawa.
Kim Tiok-liu cukup kenal watak si pengemis tua yang kepala batu itu, apalagi dia bicara dengan penuh keyakinan, terpaksa Tiok-liu mengalah.
Dalam pada itu Auwyang Kian sudah mulai menyerang dengan pukulan-pukulan dahsyat, namun Tiong Tiang-thong melayani dengan seenaknya.
Ketika kedua tangan beradu, mau tak mau kedua orang sama-sama terkejut.
Tadinya Auwyang Kian mengira Tiang-thong sudah tua bangka, tak terduga tenaga pukulan pengemis tua itu ternyata sangat lunak sehingga tenaga pukulan sendiri tidak dapat memancarkan kekuatannya, baru sekarang ia tahu Tiong Tiang-thong tua-tua keladi, makin tua makin sakti, Lwekangnya jauh lebih lihai daripada tiga tahun yang lalu.
Sebaliknya Tiong Tiang-thong juga terkejut dan mengakui kepandaian Auwyang Kian sudah jauh lebih maju daripada dulu.
Mungkin sekarang dirinya akan sukar mengalahkan dia.
Kim Tiok-liu tidak tahu Tiong Tiang-thong telah menggunakan segenap kekuatannya, ia merasa kagum melihat cara bertempur pengemis tua itu yang seenaknya saja, maka ia tidak merasa kuatir lagi bagi Tiong Tiang-thong, dilihatnya Hong Tju-tjiau sedang memandang ke arahnya seperti ingin bicara apa-apa padanya.
Selagi Tiok-liu bermaksud mendekati dan mengajak bicara, tiba-tiba laki-laki she Boh tadi telah berada di depannya.
Karena bermaksud berkenalan dengan dia, segera Tiok-liu mendahului memberi salam dan berkata.
"Kepandaian tuan sungguh amat tinggi, Siaute teramat kagum, entah ada petunjuk apakah?"
"Ah, hanya bicara saja kan gampang, kalau bertempur sungguhan mungkin aku bukan tandinganmu,"
Sahut orang she Boh itu.
"Entah Kim-laute masih berminat buat melemaskan otot lagi dengan aku atau tidak?"
Kim Tiok-liu melenggong, baru sekarang ia tahu bahwa orang ternyata ingin menjajalnya, diam-diam ia mendongkol.
Dasar sifat Tiok-liu memang angkuh, meski sekarang dia cukup lelah tapi ia tidak mau dipandang rendah, segera ia menjawab.
"Sudah lama kudengar ilmu silat Hu-siang-to tiada bandingannya, kalau sekarang ada kesempatan buat membuktikannya, kebetulan bagiku bila tuan sudi memberi petunjuk sejurus dua."
"Kim-siauhiap tidak perlu sungkan, yang jelas ayahmu terkenal sebagai tokoh nomor satu pada zaman ini, maka secara sembrono aku ingin berkenalan dengan Kiam-hoat keluargamu yang termashur itu,"
Sahut orang she Boh. Tiok-liu menduga kepandaian orang ini tentu jauh di atas Auwyang Kian, maka tanpa sungkan ia lantas mengeluarkan Hian-tiat-pokiam, katanya.
"Jika begitu terpaksa aku menurut saja, silakan keluarkan senjata."
Orang she Boh itu menggoyang-goyang kipasnya dan berkata.
"Kim-siauhiap sudah bertempur dua babak, sedangkan kita hanya sekadar belajar kenal saja, maka aku tidak boleh mengambil keuntungan darimu. Biarlah aku memakai kipas mi menyambut beberapa jurusmu, harap Kimsiauhiap jangan salah paham dengan maksudku."
Semula Kim Tiok-liu memang mendongkol karena merasa dihina, tapi orang sudah mendahului bicara demikian, terpaksa ia tidak bisa menolak, katanya.
"Baik, silakan mulai!"
"Tamu harus menghormati tuan rumah, silakan Kimsiauhiap lebih dulu,"
Sahut orang she Boh.
Watak Kim Tiok-liu memang tidak suka bertele-tele, segera ia mendahului menusuk ke depan, cepat orang itu menggunakan kipasnya untuk menekan batang pedang sehingga Hian-tiat-pokiam yang beratnya ratusan kati itu tertolak ke samping.
Kim Tiok-liu terkejut, segera ia mengganti serangan, pedang berputar terus menahas pergelangan lawan.
"Bagus!"
Seru orang itu sambil mengegos, kipasnya lantas menusuk 'Ih-gi-hiat' di dada Kim Tiok-liu, ternyata yang digunakan juga satu jurus ilmu pedang yang sangat bagus.
Serangan orang itu memaksa Kim Tiok-liu harus menyelamatkan diri lebih dulu, mau tak mau Tiok-liu berseru memuji kehebatan tipu serangan lawan.
Diam-diam ia merasa malu pula, dirinya memakai Hian-tiat-pokiam, tapi ternyata tidak mampu mengatasi senjata lawan yang cuma berupa sebuah kipas saja.
Sebaliknya orang she Boh itupun kagum terhadap Kim Tiokliu, mestinya ia berniat mencari Kim Si-ih bertanding dengan dia, tapi sekarang putera Kim Si-ih yang diketemukan lebih dulu, puteranya saja sedemikian lihai apalagi ayahnya Begitulah kedua orang bertempur dengan hati-hati dan tidak mau kalah.
Kipas orang she Boh itu dimainkan sedemikian hebat dalam bentuk macam-macam senjata tapi tetap sukar menembus pertahanan Kim Tiok-liu yang rapat itu.
Sedang pertandingan itu berlangsung dengan seru, tibatiba terdengar suara seorang tua berseru.
"Siapakah yang berani main gila di sini? Ah, kiranya Tiong-pangtju! Eh, bocah itu adalah Auwyang Kian!"
Menyusul suara seorang nyaring berseru.
"Lekas kemari, Kang-tayhiap, mungkin Tiok-liu bukan tandingan orang ini!"
Kiranya Kongsun Hong, Su Ang-ing dan Kang Hay-thian datang bersama yang menarik bagi Kongsun Hong adalah partai Tiong Tiang-thong melawan Auwyang Kian, sebaliknya yang [diperhatikan Su Ang-ing dengan sendirinya adalah Kim Tiok-liu.
Waktu Kongsun Hong berpaling ke arah Kim Tiok-liu, ia penjadi terkejut dan berkata kepada Kang Hay-thian.
"Siapakah orang ini? Sungguh hebat! Tampaknya umurnya baru tiga puluhan saja pada waktu aku berusia sekian mungkin aku tidak ampu menandingi dia"
Kang Hay-thian juga merasa heran akan jago yang tak ikenalnya ini, katanya.
"Entah dari aliran manakah ilmu silat orang ini, tapi tampaknya dia tidak berniat jahat. Biarlah kita menonton saja untuk menghindarkan salah paham."
Kongsun Hong mengiakan, tapi lantas berkata pula.
"Namun Auwyang Kian itu tampaknya hendak mengadu jiwa dengan Tiong-pangtju, untuk itu kita tidak bisa tinggal diam."
"Hahaha!"
Mendadak Tiang-thong bergelak tertawa.
"Pengemis tua sedang bermain-main dengan anak kecil ini, Kong-sun-laute, hendaklah kau jangan ikut campur!"
Saat itu dia sudah ratusan jurus bertempur dengan Auwyang Kian, dan keadaan kedua pihak masih sama kuat.
Tenaga Tiang-thong mulai surut, tetapi Lui-sin-tjiang yang dimainkan Auwyang Kian juga sangat memakan tenaga, lamalama ia pun merasa payah.
Walaupun Kongsun Hong dan Kang Hay-thian hanya menonton saja, tapi Auwyang Kian yang merasa gugup melihat kedatangan mereka.
Di tengah pertarungan sengit itu sekonyong-konyong Tiong Tiang-thong menggertak.
"Pergi!"
Terdengar suara keras tangan beradu, Auwyang Kian mencelat pergi beberapa meter jauhnya, lalu Tiang-thong menjengek.
"Pergilah berlatih lagi sepuluh tahun baru mencari padaku pula, tapi sepuluh tahun kemudian mungkin pengemis tua sudah pulang ke dunia nirwana Semoga kau bisa memahami maksud baikku ini, hendaklah kelak kau menjadi orang baik-baik."
Kiranya Tiong Tiang-thong menggunakan 'Kun-goan-it-kikang' untuk memecahkan Lui-sin-tjiang musuh, walaupun ilmu Auwyang Kian tidak menjadi punah tapi untuk memulihkan ilmu pukulan Lui-sin-tjiang itu sedikitnya diperlukan waktu 10 tahun.
Mana Auwyang Kian berani bicara lagi, pada saat terpental tadi ia terus berjumpalitan lebih jauh, lalu melarikan diri.
Melihat kekalahan Auwyang Kian itu, terdengar Hong Tjutjiau berseru kaget sambil termangu-mangu memandangi larinya Auwyang Kian, entah apa maksudnya, agaknya dia serba susah, tapi tidak ikut berlari pergi.
"Kang-tayhiap, Kongsun-laute, untung kalian datang sehingga keparat Auwyang Kian itu ketakutan sendiri. Sesungguhnya kalau dia tidak gugup rasanya sukar untuk mengalahkan-nya"
Demikian kata Tiong Tiang-thong kemudian.
"Pengemis tua kau benar-benar tua-tua jahe, makin tua makin pedas, sungguh aku sangat kagum. Kenapa kau tidak memunahkan ilmu silatnya agar tidak mendatangkan bahaya di kemudian hari?"
Kata Kongsun Hong.
"Ah, jangan Kongsun-laute memoles emas di mukaku, sedangkan sebelah kakiku sudah menginjak liang kubur masakah aku ada harganya untuk dikagumi segala?"
Sahut Tiong Tiang-thong dengan tertawa.
"Tentang Auwyang Kian itu, dia hanya ingin menuntut balas bagi bapaknya pribadinya sih tidak begitu jahat. Aku sudah memunahkan ilmu silat ayahnya maka aku tidak ingin menghabisi kedua-duanya kuberi dia waktu sepuluh tahun agar ia punya kesempatan memperbaiki diri"
Dalam pada itu Hong Tju-tjiau mendekat, ia memandang Tiong Tiang-thong dan Kang Hay-thian pula dengan air muka sebentar pucat sebentar merah, seperti mau bicara, tetapi tidak jadi.
"Eh, kiranya kau pun berada di sini, Hong Tju-tjiau,"
Tegur Tiong Tiang-thong.
"Apa yang hendak kau katakan?"
"Aku.....aku ingin.....ingin bicara dengan Kang-tayhiap....."
Sahut Hong Tju-tjiau dengan gelagapan.
"Mau bicara apa lekas katakan!"
Bentak pula Tiong Tiangthong.
Karena digertak, Hong Tju-tjiau bertambah mengkeret dan sukar bicara.
Pada saat itulah terdengar Su Ang-ing bersuara heran, ketika Kang Hay-thian menoleh, dilihatnya Kim Tiok-iiu sedang menahas dengan pedangnya sebaliknya orang she Boh sedang menggunakan kipasnya untuk menekan batang pedangnya dan bergeser ke samping.
Kim Tiok-iiu seperti bermaksud menarik kembali pedangnya untuk berganti jurus serangan lagi, tapi pedangnya sukar ditarik, kipas orang itupun lengket di atas pedang dan tak bisa diangkat.
Begitulah kedua orang mengadu Lwekang, keduanya samasama berdiri tegak bagai patung, lama-lama dari ubun-ubun mereka mengepulkan kabut tipis.
Melihat keadaan demikian, Kang Hay-thian berkata.
"Baiklah, nanti sebentar lagi kau bicara, Hong Tju-tjiau."
Kemudian ia memasuki kalangan pertandingan dan berkata.
"Kalian sukar menentukan kalah dan menang, sebaiknya berhenti sampai di sini saja."
Sembari berkata pelahan-lahan ia menyentik sekali di atas Hian-tiat-pokiam.
Seketika kedua orang merasa tangan masing-masing tergetar, Hian-tiat-pokiam tergeser dan kipas orang she Boh juga dapat ditarik kembali.
Kedua orang sama-sama melompat mundur.
Melihat dengan sekali menyentik saja Kang Hay-thian sudah dapat memisahkan mereka, betapapun orang she Boh itu merasa malu dan berterima kasih, pikirnya.
"Murid Kim Siih saja sudah begitu lihai, berdasar kepandaian apa aku berani menantang dia? Maka cepat ia melempit kipasnya dan memberi hormat kepada Kang Hay-thian, katanya.
"Ilmu Kang-tayhiap yang maha sakti sungguh sangat mengagumkan!"
"Boh-siansihg ini adalah ahli waris Hu-siang-to,"
Tiok-liu memberitahu. Kang Hay-thian terkejut, cepat ia membalas hormat orang dan menjawab.
"Ilmu silat golongan kalian sudah termashur sejak ribuan tahun yang lampau, kukira sudah putus turunan, tidak terduga hari ini dapat menyaksikan kembali ilmu sakti kalian, sungguh tidak bernama kosong."
Dengan bergelak tertawa Kongsun Hong juga melangkah maju katanya.
"Ilmu silat aliran Hu-siang-to muncul kembali di wilayah Tionggoan, ini benar-benar suatu kejadian baik bagi dunia persilatan. Hanya ada sesuatu yang membingungkan aku, entah mengapa Boh-siansing bisa berada bersama Auwyang Kian, jangan-jangan Boh-siansing belum tahu asalusulnya?"
Sekarang Kim Tiok-liu ikut bicara pula dan minta keterangan nama orang she Boh itu.
"Aku bernama Boh Tjong-tiu,"
Kata orang itu.
"Tentang perkenalanku dengan Auwyang Kian agak panjang kalau diceritakan dan ada sedikit sangkut pautnya juga dengan Kang-tayhiap, biarlah aku mulai dulu dengan maksud tujuan kedatanganku ke Tionggoan sini."
Memangnya Kang Hay-thian dan lain-lain sangat ingin mengetahui asal-usulnya, maka serentak mereka menyambut dengan gembira.
"Leluhurku tidak banyak menerima anak murid,"
Demikian Boh Tjong-tiu memulai.
"Tetapi setelah ribuan tahun lamanya, akhirnya anak muridnya terbagi juga dalam tiga cabang. Husiang-to sudah lama dijajah kawanan bajak (orang Jepang pada I waktu itu), maka keturunan keluarga Boh kami banyak yang mengasingkan diri dan tidak berani menonjol di dunia ramai, dengan sendirinya ilmu silat keluarga kami menjadi terpendam pula, setahuku paling-paling tinggal dua-tiga bagian saja ilmu silat leluhur kami yang masih dapat dipertahankan, jago-jagonya juga dapat dihitung dengan jari. Karena tersebarnya keturunan keluar-ga Boh kami, maka sekarang biarpun berhadapan juga aku tidak kenal kepada sanak keluarga sendiri."
"Kiranya demikian, pantas ayahku tidak menemukan keturunan keluarga Boh ketika beliau mencarinya ke Hu-siangto,"
Pikir Kim Tiok-liu. Sementara itu Boh Tjong-tiu lagi meneruskan ceritanya.
"Di antara ketiga cabang ilmu silat keluarga Boh kami, dua cagbang yang lain entah tinggal dimana dan bagaimana perkembangannya sama sekali aku tidak tahu. Hanya aku mempunyai cita-cita akan menjelajahi seluruh pelosok negeri ini untuk men-bari orang-orang sesama perguruan, kuharap akan dapat meng-Rimpun kembali ilmu silat yang telah tercecer dan memulihkannya seperti sediakala."
"Kiranya dia bermaksud membuka cabang dan mendirikan aliran, besar juga ambisinya,"
Pikir Kongsun Hong.
"Aku telah mencari sesama perguruan di segenap pulaupulau pantai, walaupun tidak sama sekali gagal, tapi hasilnya juga cuma sedikit,"
Demikian Boh Tjong-tiu melanjutkan.
"Kupikir setelah ribuan tahun ini, tentu ada sebagian sesama perguruan pulang ke Tionggoan, maka timbul juga pikiranku untuk datang ke sini mencari teman seperguruan. Nama gurumu, Kim-tayhiap, yang termashur sudah tentu kudengar juga. Kim-tayhiap mempunyai pergaulan sangat luas, sebab itu pernah juga kudatang ke pulau kediaman Kim-tayhiap, tapi sayang kebetulan beliau tidak berada di tempat sehingga tidak bertemu."
"Bilakah Boh-siansing mencari ayahku?"
Tanya Kim Tiok-liu.
"Kira-kira setengah tahun yang lalu,"
Sahut Boh Tjong-tiu.
"Lantaran tidak ketemu ayahmu, barulah timbul pikiranku, untuk datang ke Tionggoan sini."
Diam-diam Kim Tiok-liu membatin.
"Ayah pernah mengatakan ingin melakukan perjalanan ke Tionggoan sini, jangan-jangan sekarang beliau sudah datang?"
Maka ia lantas bertanya pula.
"Jika demikian apakah Bohsiansing bertemu dengan paman Ki? Apakah beliau tidak mem-beritahu kemana ayahku pergi?"
"Sungguh sayang, Ki Hiau-hong, Ki-lotjianpwe sudah meninggal dunia, di pulau itu aku tidak menemukan siapasiapa, hanya batu nisan Ki-lotjianpwe yang dibangun ayahmu itulah yang kulihat."
"Hah, Ki-lotjianpwe sudah meninggal?"
Seru Tiok-liu kaget.
Ki Hiau-hong adalah seorang maling sakti budiman, pada masa tua ia merasa bosan akan kehidupannya di dunia Kangouw itu, maka ia mencari Kim Si-ih dan tinggal di pulau terpencil bersama sobat lamanya itu.
Meski usia Ki Hiau-hong jauh lebih tua, tapi Kim Tiok-liu paling senang bergaul dengan dia.
Teringat kepada kakek yang setiap hari diajak bermain itu, Kim Tiok-liu merasa sedih juga atas wafatnya.
"Karena tidak bertemu ayahmu,"
Demikian Boh Tjong-tiu menyambung.
"Pada waktu pulang, di suatu pulau kecil yang indah permai aku memergoki seorang tokoh, meski ilmu silatnya belum tentu mampu menandingi ayahmu dan Kangtayhiap, tapi pergaulanku dengan dia boleh dikata pengalaman aneh."
Kongsun Hong menjadi heran, siapakah tokoh di zaman ini yang pantas dikagumi selain Kim Si-ih dan Kang Hay-thian. Sebaliknya Tiong Tiang-thong seperti teringat kepada seseorang, tiba-tiba ia berseru.
"He, apakah orang kosen yang kau ketemukan itu she Yap."
"Benar,"
Sahut Boh Tjong-tiu.
"Beliau she Yap bernama Tiong-siau."
"O, kiranya dia,"
Baru sekarang Kongsun Hong maklum.
Seperti diketahui, Yap Tiong-siau adalah putera mahkota sebuah kerajaan kecil di daerah barat (Tibet).
Dia sengaja menyerahkan takhta kepada adiknya, lalu menyingkir keluar lautan.
Kok Tiong-lian, isteri Kang Hay-thian adalah adik perempuan Yap Tiong-siau, Yap Boh-hoa, murid utama Kang Hay-thian juga putera Yap Tiong-siau.
"Selama tiga hari aku bertukar pikiran tentang ilmu silat dengan Yap-totju di sana Ketika beliau mengetahui aku akan pulang ke daratan, aku diminta melakukan dua hal. Pertama disuruh menyambangi Kang-tayhiap yang dikatakan sebagai iparnya."
"Kudengar Yap-toako mau pulang kemari, entah mengapa sampai sekarang dia belum datang,"
Ujar Hay-thian dengan girang.
"Beliau sekarang lagi asyik meyakinkan Pan-yak-tjiang-hoat yang paling tinggi, setelah selesai barulah beliau berangkat,"
Kata Boh Tjong-tiu.
"Dan urusan kedua pesan Yap-totju itu adalah permintaan nyonya Yap-totju. Nyonya Yap ingin mengetahui berita sanak keluarganya makanya aku mencari Auw yang Kian."
Isteri Yap Tiong-siau, Auwyang Wan, adalah keponakan Auwyang Pek-ho, jadi terhitung kakak perempuan Auwyang Kian.
Waktu Auwyang Wan menikah, Auwyang Kian sendiri masih ingusan.
Lantaran perjodohan Yap Tiong-siau dan Auwyang Wan terjadi di luar izin orang tua mereka boleh dikala putus hubungan dengan keluarga Auwyang, maka tidak heran jika Auwyang Wan ingin sekali mengetahui seluk-beluk sanak keluarganya yang tinggal Auwyang Kian seorang saja itu.
"Mestinya aku ingin menyambangi Kang-tayhiap dulu,"
Tutur Boh Tjong-tiu pula.
"Tapi kabarnya Kang-tayhiap sudah berangkat ke Siau-kim-djwan, terpaksa aku mencari Auwyang Kian lebih dulu. Aku cuma tahu Auwyang Kian mempunyai hubungan dengan keluarga Yap-totju, tentang bagaimana pribadinya memang aku tidak tahu."
"Kau ingin menemui Suhengku kan sangat mudah, kenapa tidak kau katakan sejak tadi,"
Ujar Tiok-liu tertawa.
"Auwyang Kian mengajak aku mencari Yang Go, katanya Yang Go paling paham akan semua tokoh-tokoh persilatan, lantaran kurang pengalaman aku hanya menurut saja dan ikut ke sini. Sampai di sini, setelah menyaksikan kejadian-kejadian tadi barulah aku mengetahui bagaimana duduk perkaranya tapi betapapun aku adalah tamu Auwyang Kian, aku tidak bisa membikin susah padanya maka terpaksa aku ikut berangkat lagi dengan dia kupikir kelak akan kujumpai Kang-tayhiap sendirian, tidak terduga Kim-siauhiap mengikuti jejak kami sehingga terjadilah seperti sekarang ini."
"Pertemuan ini sungguh sangat menggembirakan,"
Ujar Kang Hay-thian dengan tertawa "Bilamana Boh-siansing tidak menolak, marilah mampir dulu ke tempat kami agar bisa berca-kap lebih asyik."
"Agaknya kalian ada urusan penting yang harus dirundingkan, maka biarlah aku mohon diri saja,"
Kata Boh Tjong-tiu.
"Baiklah, jika Boh-siansing masih ada urusan lain, maka aku pun tidak menahan lebih jauh,"
Kata Hay-thian.
"Semoga citacitamu lekas terkabul sehingga dunia persilatan akan bertambah jaya. Sampai bertemu lagi."
Hong Tju-tjiau ikut menyaksikan keberangkatan Boh Tjongtiu dengan rasa gelisah, tampaknya dia ada pikiran apa-apa yang berat dan belum sempat diucapkan.
"Baiklah sekarang giliranmu Hong Tju-tjiau, kalau mau kentut lekas hembuskan,"
Kata Kongsun Hong.
"Ya memang Tjayhe mau bicara sedikit dengan Kangtayhiap dan Kim-siauhiap, hanya entah kalian sudi memaafkan aku tidak,"
Kata Hong Tju-tjiau dengan muka merah. Dan sampai sekian lamanya ia tergagap-gagap tidak bisa bicara lagi sambil memandangi Kim Tiok-liu.
"O, barangkali kau masih harus mengucapkan terima kasih kepada comblang seperti aku ini,"
Kata Tiok-liu dengan tertawa "Ai, dasar hamba ini memang berotak udang, pernah punya pikiran jahat akan memperalat anak perempuanku demi kepentingan diriku sehingga mengingkari maksud baik Kimsiauhiap,"
Kata Hong Tju-tjiau dengan menyesal.
"Sesungguhnya hamba malu untuk bertemu dengan Kimsiauhiap dan juga tidak punya muka buat menjumpai lagi anak perempuanku sendiri. Cuma aku sangat ingin tahu keadaan anak perempuanku itu, dapatkah kiranya Kim-siauhiap memberi keterangan?"
"Jika demikian, kau telah setuju perjodohan anak perempuanmu dengan Tjin Goan-ko?"
Tanya Kim Tiok-liu.
"Tjin-siauhiap adalah murid Bu-tong-pay yang termashur, aku kuatir dia yang tidak sudi mempunyai mertua seperti diriku ini,"
Sahut Hong Tju-tjiau.
"Asalkan kau mau insyaf akan kesalahanmu, maka sebagai comblang aku akan menyuruh menantumu itu mengakui kau sebagai bapak mertua"
Kata Tiok-liu dengan tertawa.
"Mereka sekarang berada di Tay-liang-san, semuanya baik-baik, kau tidak perlu kuatir."
"Berkali-kali Kim-siauhiap menanam budi padaku, sungguh aku tidak tahu cara bagaimana membalasnya,"
Kata Hong Tjutjiau dengan girang-girang cemas, tampak sekali dia masih ada sesuatu urusan yang membuatnya tidak tenteram.
"Bukankah kau bilang ada urusan yang akan dibicarakan dengan Suhengku,"
Tanya Kim Tiok-liu.
"Ya, Kang-tayhiap, ada.....ada sesuatu urusan aku merasa berdosa padamu,"
Kata Tju-tjiau dengan tergagap-gagap. Kang Hay-thian menjadi tidak paham akan maksud orang, katanya.
"Segala urusan aku sudah memaafkan kau."
"Ti.....tidak, yang kumaksudkan ada sesuatu yang sedang berlangsung, hal ini harus kuceritakan padamu,"
Kata Tjutjiau.
"Baiklah, boleh kau katakan sekarang,"
Sahut Hay-thian.
"Keberangkatanku dari kotaraja sekali ini dengan membawa perintah Sat Hok-ting agar aku mencelakai anggota keluargamu,"
Tutur Tju-tjiau.
"Haha, rupanya Sat Hok-ting sedemikian tinggi menilai dirimu!"
Seru Tiok-liu dengan tertawa Maklumlah, istri Kang Hay-thian adalah ketua Bin-san-pay, biarpun ilmu silatnya tidak sehebat Kang Hay-thian juga dapat ditonjolkan sebagai seorang di antara sepuluh tokoh terkemuka pada zaman ini, jangankan cuma seorang Hong Tju-tjiau, 20 orang Hong Tju-tjiau juga bukan tandingannya.
Keruan muka Hong Tju-tjiau menjadi merah, katanya "Sudah tentu Sat Hok-ting tidak menugaskan aku sendirian, dia hanya menyuruh aku menjadi pembantu Auwyang Kian."
"Menyuruhmu menjadi pembantu Auwyang Kian?"
Kongsun Hong menegas dengan melengak.
"O, jadi keparat itu telah mengekor kepada kerajaan. Tiong-pangtju, jadi tadi kau salah mengampuni orang jahat."
Dalam hati ia membatin, pantas ketika Auwyang Kian pergi tadi tampak Hong Tju-tjiau seperti mau bicara sesuatu tapi urung. Maka Tiong Tiang-thong menjawab.
"Untuk bisa menandingi Kang-hudjin kukira keparat Auwyang Kian itu masih jauh daripada mampu."
"Apakah kau maksudkan ada orang kosen yang lain lagi?"
Tanya Kang Hay-thian kepada Hong Tju-tjiau sesudah merenung sejenak.
"Selain Bun To-tjeng dan Yang Go berdua dari manakah Sat Hok-ting mendapatkan orang kosen lagi?"
Ujar Tiok-liu.
"Dunia tidak seluas daun kelor, orang kosen dimana-mana selalu ada"
Kata Hay-thian.
"Seperti Boh Tjong-tiu tadi kan juga seorang kosen yang terkenal?"
Wajah Tiok-liu menjadi merah dan tidak bicara lagi.
"Tepat ucapan Kang-tayhiap tadi, memang betul ada orang kosen lain lagi yang ditugaskan Sat Hok-ting,"
Kata Hong Tjutjiau.
"Siapakah orang kosen itu?"
Tanya Tiok-liu.
"Aku tidak tahu, tapi bisa jadi ialah Boh Tjong-tiu,"
Sahut Tju-tjiau. Semua orang terkesiap oleh kata-kata Hong Tju-tjiau ini.
"Kukira bukan dia"
Ujar Kang Hay-thian.
"Tadi dia menceritakan sebab musabab pergaulannya dengan Auwyang Kian, kulihat ia pun tidak mirip orang licik dan jahat."
"Tetapi manusia palsu tidaklah sedikit terdapat di dunia Kangouw,"
Kata Kongsun Hong.
"Betul juga tapi sementara ini tak perlu kita meraba-raba tidak keruan, dengarkan dulu uraian Hong Tju-tjiau,"
Kata Tiong Tiang-thong. Tergerak hati Hay-thian, ia merasa nada ucapan Tiongpangtju itu seperti ada sesuatu yang diketahuinya lebih dulu. Maka Hong Tju-tjiau lantas melanjutkan.
"Kejadiannya begini. Ketika Bun To-tjeng lari dari Sedjiang, berita yang dia sampaikan ke kotaraja adalah Kang-tayhiap beserta anak muridnya semua berada di Siau-kim-djwan serta Sedjiang, mendengar laporan itu Sat Hok-ting merasa ada kesempatan bagus untuk membalas sakit hati kerajaan dari kejadian seratus tahun yang lalu."
Su Ang-ing merasa bingung, tanyanya "Untuk mencelakai keluarga Kang-tayhiap kenapa Sat Hok-ting memakai alasan yang tak keruan juntrungannya itu?"
"Sat Hok-ting memang bukannya tidak beralasan,"
Kata Tiok-liu dengan tertawa.
"Aku pernah mendengar cerita dari ayahku, bahwasanya cikal bakal Bin-san-pay, Tok-pi Sin-ni, ialah puteri kerajaan Beng, rahasia ini sudah lama diketahui ke-rajaan Boandjing, hanya saja tidak berani disiarkan, kemudian Kaisar Yong-tjing terbunuh oleh Lu Si-nio, murid Tok-pi Sin-ni, sudah tentu kerajaan Boandjing lebih sakit hati kepada Bin-san-pay. Terbunuhnya Kaisar merupakan peristiwa yang memalukan bagi keluarga kerajaan, maka selama itu tetap dirahasiakan. Hanya secara diam-diam mereka berusaha menuntut balas dan untuk itu terpaksa tidak bisa mengerahkan kekuatan secara terang-terangan. Selama ratusan tahun seringkah pihak kerajaan mengirim jago-jago kosen untuk membunuh tokoh-tokoh Bin-san-pay, tapi selalu gagal di tengah jalan. Lu Si-nio adalah ketua Bin-san-pau angkatan kedua, ibuku adalah ketua angkatan ketiga, mereka adalah buronan kerajaan yang selalu diincar sehingga banyak bahaya yang mereka alami selama hidup. Sekarang isteri Kang-suhengku adalah ketua Bin-san-pay angkatan keempat, beliau tetap dipandang sebagai musuh kerajaan, maka tidaklah mengherankan jikalau Sat Hok-ting bermaksud membikin susah padanya."
"Semula Sat Hok-ting seperti mau menugaskan urusan ini kepada Bun To-tjeng, tapi kemudian karena Bun To-tjeng tampak kurang waras lantaran latihan Sam-siang-sin-kang mengalami Tjau-hwe-djip-mo, maka terpaksa Sat Hok-ting mengangkat jago yang lain. Sayang siapa jago pilihannya sampai saat ini aku tidak mengetahui. Yang jelas tugasku adalah bergabung dengan Yang Go di Tji-Iay-san sini dan menjadi pembantu Auw-yang Kian. Adapun terpakainya Auwyang Kian oleh Sat Hok-ting adalah karena dia menyanggupi akan mengundang jago kosen yang mampu menandingi Kang-tayhiap. Bisa jadi Auwyang Kian telah menyebut nama orang kosen yang dia andalkan kepada Sat Hok-ting, hanya saja aku tidak diberitahu. Atau mungkin orang kosen itu tidak cuma seorang saja, tapi lebih."
"Tadinya aku mengira orang kosen yang dimaksud Auwyang Kian adalah Yang Go, tapi setiba di sini dan mengetahui kesibukan Yang Go membangun kembali Thianmo-kau baru diketahui bukan Yang Go yang dimaksudkan. Kemudian mereka dapat dikalahkan habis-habisan, rupanya juga di luar dugaan mereka. Waktu mereka melarikan diri, aku pun ikut bersama orang she Boh, karena dia berada bersama Auwyang Kian, maka aku mengira dia adalah orang kosen yang dimaksudkan Auwyang Kian itu."
Kim Tiok-liu berpikir bisa jadi kata-kata Boh Tjong-tiu tadi benar-benar bohong maka harus dikuatirkan bilamana orang she Boh itu diam-diam pergi mengerjai sang Sutjo (kakak ipar, istri Kang Hay-thian) yang sama sekali tidak berjaga-jaga itu.
Kongsun Hong menjadi teringat juga pada kebohongan Hong Tju-tjiau terhadap Le Lam-sing dahulu, maka ia pun curiga, tanyanya pula.
"Hong Tju-tjiau, yang kau katakan apakah betul-betul?"
Dengan penasaran Hong Tju-tjiau bermaksud menegaskan, tiba-tiba Tiong Tiang-thong menyela.
"Dengan tulus hati Hong Tju-tjiau bermaksud kembali ke jalan yang benar, hal ini aku bersedia menjadi saksinya. Apa yang dia katakan sekali ini memang betul."
"O, jika demikian tentu Tiong-pangtju sudah mendengar berita-berita apa, biasanya memang Kay-pang adalah sumber berita yang bisa dipercaya,"
Ujar Kongsun Hong "Benar, justru lantaran kudengar Kang-tayhiap berada di sini, maka aku sengaja datang ke sini buat menyampaikan berita ini.
Kang-tayhiap, kukira lebih baik kau pulang rumah lebih dulu,"
Ujar Tiang-thong.
"Tapi aku tetap tidak percaya Boh Tjong-tiu sudi mengekor kepada kerajaan,"
Kata Hay-thian.
"Apalagi Yang Go dan Auwyang Kian sudah tidak berdaya, tinggal Boh Tjong-tiu sendiri, andaikan dia benar-benar hendak mencari setori ke rumahku juga rasanya isteriku cukup kuat menghadapinya."
"Apakah berita yang didengar Tiong-lotjianpwe ada termasuk Boh Tjong-tiu di antara orang-orang kosen yang dimaksudkan Auwyang Kian itu?"
Tanya Kim Tiok-Hu.
"Kabar yang kudapatkan menyatakan Sat Hok-ting bertekad usahanya kali ini pasti berhasil, katanya beberapa tokoh pilihan yang jarang muncul di Kangouw telah dapat dia undang, tapi aku tidak tahu kalau Auwyang Kian juga ikut dalam komplotan mereka, kalau tidak, tentu aku tadi tidak melepaskan dia. Meski aku tidak tahu apakah Boh Tjong-tiu ikut atau tidak di dalam komplotan mereka, tapi berita yang dikatakan Hong Tju-tjiau tadi dapat kujamin akan kebenarannya dan karena itu Boh Tjong-tiu menjadi terbebas dari kecurigaan, bisa jadi tokoh-tokoh yang jarang muncul di Kangouw itu adalah sanak saudara seperguruannya."
"Di sinilah letak kesalahanmu, pengemis tua,"
Kata Kongsun Hong.
"Kalau kau sudah tahu persoalannya, mengapa kau tidak memikirkan bahaya yang mengancam Kang-hudjin, bagaimana jadinya jika jago-jago yang dikirim Sat Hok-ting itu tidak cuma satu rombongan saja tapi ada rombongan lain yang langsung mencari setori ke rumah Kang-tayhiap."
"Jangan buru-buru menyalahkan aku, Kongsun-laute, kan ceritaku belum habis,"
Sahut Tiong Tiang-thong tertawa.
"Aku justru sudah mengirim berita kepada orang-orang Bin-san-pay dan menyuruh keempat murid utama mereka lekas pergi memberi bantuan."
"Meski kepandaian keempat murid utama Bin-san-pay tidak lemah, tapi rasanya jauh daripada cukup untuk menandingi Boh Tjong-tiu,"
Kata Kongsun Hong.
"Lantaran itulah maka aku mendesak Kang-tayhiap lekas pulang saja lebih dulu,"
Sahut Tiang-thong.
"Tapi aku masih harus bertemu dengan teman-teman untuk merundingkan persoalan pergerakan kita yang maha besar, mana boleh karena urusan rumah tanggaku sendiri aku harus mengesampingkan urusan yang lebih penting."
"Tapi urusan yang menyangkut keselamatan keluargamu kan juga tidak kurang pentingnya,"
Ujar Kongsun Hong.
"Kalau dibandingkan urusan pergerakan bangsa dan urusan negara kan soal rumah tanggaku adalah urusan sepele,"
Sahut Kang Hay-thian.
"Apalagi musuh-musuh yang bakal datang ke sana belum tentu termasuk Boh Tjong-tiu, sebaliknya kan jago-jago Bin-san-pay juga sudah sama datang membantu."
Tiong Tiang-thong kenal watak Kang Hay-thian yang keras dan teguh, terpaksa ia berkata.
"Untungnya rumahmu tidak terlalu jauh dari sini, biarlah besok pagi-pagi aku menemani kau pulang dan jangan sampai terlambat."
"Benar, yang penting sekarang kita harus kembali menghadiri perjamuan kemenangan dan besok saja aku berjanji akan pulang,"
Sahut Kang Hay-thian.
"Hong-siausing, kau telah meninggalkan yang gelap dan menuju jalan yang terang, maka perjamuan perayaan kemenangan ini kau juga harus ikut."
"Tapi aku.....aku....."
Hong Tju-tjiau gelagapan dengan muka merah.
"Eh, bukankah Hong-siansing tadi bilang mau bicara apaapa pula?"
Tanya Tiok-liu.
"Ya ada sesuatu kabar lagi yang hendak kukatakan padamu, jika di depan orang banyak aku merasa tidak enak untuk bicara"
Sahut Tji-tjiau. Dan baru saja Hong Tju-tjiau akan bicara lebih lanjut, tibatiba Kongsun Hong berseru heran.
"He, siapa lagi yang datang?"
Belum habis ucapannya tiba-tiba dari hutan sana muncul dua sosok bayangan orang. Waktu Hong Tju-tjiau berpaling ia menjadi terkejut tercampur girang, serunya "Anak Siang kalian sudah kembali!"
Kiranya kedua pendatang itu bukan lain daripada puteri-nya Hong Biau-siang dan Tjin Goan-ko.
Melihat ayahnya berada bersama Kim Tiok-liu dan lain-lain, Hong Biau-siang juga tercengang sehingga seketika tak bisa bicara.
"Kedatangan kalian sungguh sangat kebetulan,"
Seru Tiokliu dengan tertawa.
"Tjin-heng, aku sudah berhasil menjadi comblang kalian, lekas kau memberi hormat kepada bakal mertua-mu. Lantaran belum tahu duduk perkara yang sebenarnya, Tjin Goan-ko dan Biau-siang menjadi ragu-ragu dan serba susah.
"Eh, biar kukatakan saja kepada kalian. Ayah nona Hong sekarang sudah insyaf, dia menyanggupi perjodohanmu, bahkan boleh dikata sekarang dia sudah orang kita sendiri,"
Kata Tiok-Iiu dengan bergelak tertawa.
"Ya, memang begitulah halnya, Goan-ko, lekas kau memberi hormat,"
Sela Tiong Tiang-thong.
Mendengar ucapan gembong Kay-pang itu barulah Goan-ko dan Biau-siang percaya penuh pada apa yang dikatakan Kim Tiok-liu, keruan girang mereka sukar dilukiskan.
Segera mereka memberi hormat kepada Hong Tju-tjiau, yang seorang memanggil ayah dan yang lain menyebut bapak mertua.
Dengan senang Hong Tju-tjiau membangunkan mereka, dalam hati ia merasa bersyukur memilih jalan yang tepat.
"Tjin-heng, bagaimana kalian pun datang ke sini?"
Tanya Tiok-liu kemudian.
"Karena kalian keluar mencari nona Kongsun dan tidak pulang, Tiok-lotjianpwe menjadi kuatir, maka segera kami disuruh mencari kalian, kami datang ke tempat Kongsun-totju dan mengetahui beliau berada di sini, maka cepat kami menyusul kemari,"
Tutur Goan-ko.
"Banyak terima kasih atas perhatian kalian,"
Kata Kongsun Hong.
"Tentang anak perempuanku dan Le-kongtju sudah dike-temukan dalam keadaan selamat, sekarang mereka pun berada di sini, sebentar kalian dapat bertemu dengan mereka."
"Kabarnya kalian berada di tengah pasukan pergerakan, sungguh aku sangat senang,"
Kata Hong Tju-tjiau.
"Dahulu aku telah banyak berbuat dosa dan selalu memusuhi pihak pergerakan, sekarang aku diberi kesempatan menebus dosaku."
Tiba-tiba pikiran Kim Tiok-liu tergerak, katanya "Berita yang kau maksudkan tadi apa ada hubungannya dengan pasukan pergerakan?"
"Benar, dari Sat Hok-ting sendiri kudengar pihak kerajaan sudah ada rencana menghadapi pasukan pergerakan kalian yang bersembunyi di tanah pegunungan, maka mereka merencanakan akan mengadu-domba dengan menghasut lima kepala suku di daerah Djinghay agar memusuhi kalian."
Kang Hay-thian terkejut, katanya "Keji benar tipu muslihat ini.
Jika rencana mereka terlaksana maka sukarlah bagi pasukan Tiok-lotjianpwe untuk bercokol di Tay-liang-san, bahkan kalau kurang waspada bisa jadi akan timbul persengketaan antar suku bangsa."
Wilayah Djinghay ini adalah tempat tinggal bermacammacam suku bangsa yang utama adalah bangsa Hwe, bangsa Han sebaliknya merupakan minoritas di propinsi ini.
Selama ini pergaulan antar suku bangsa itu berlangsung dengan aman tenteram, perbekalan bagi pasukan Tiok Siang-hu juga banyak mendapat bantuan dari suku Hwe di Djinghay.
Maka bila muslihat Sat Hok-ting berhasil, bukan saja Tiok Siang-hu akan repot menghadapi suku bangsa itu, bahkan soal perbekalan juga akan menimbulkan kesulitan baginya.
"Untung kita mengetahuinya terlebih dulu dan bisa lekas memberitahukan Tiok-lotjianpwe agar beliau berusaha mencegah usaha licik kerajaan musuh itu,"
Kata Kim Tiok-liu.
"Setahuku waktu itu Sat Hok-ting telah mengirimkan utusan ke tempat kepala-kepala suku untuk menghasut mereka. Kukira hanya ada dua cara yang mereka gunakan untuk memancing yaitu dengan harta dan menjanjikan pangkat,"
Kata Tju-tjiau.
"Kita harus memberi penerangan kepada kepala-kepala suku itu, kukira di antara mereka tentu juga ada yang bijaksana"
Kata Kang Hay-thian.
"Maka sebaliknya kita pun lekas mengirim utusan ke sana, paling baik kalau mendahului utusan Sat Hok-ting itu."
"Aku bersedia menjadi utusan demikian, besok pagi aku lantas berangkat,"
Kata Kim Tiok-liu.
Kang Hay-thian menerima baik maksud Kim Tiok-liu itu, ia yakin sang Sute yang berkepandaian tinggi itu pasti bisa memenuhi tugasnya, lalu ia mengucapkan terima kasih atas berita yang dipaparkan Hong Tju-tjiau itu, beramai-ramai mereka lantas kembali ke pendopo Thian-mo-kau.
Dengan girang Han Tjing-tat menyambut kembalinya mereka, Kang Hay-thian lantas memperkenalkan tamu-tamu yang baru padanya serta menjelaskan tentang Hong Tju-tjiau menggabungkan diri dengan pihak pergerakan.
Setiba di ruangan dalam, terlihat Sun Pek-siu dan beberapa pemimpin perkumpulan lain ikut menyambut kedatangan mereka.
Rupanya beberapa kawan Sun Pek-siu yang keracunan itu telah disembuhkan oleh Li Tun dan Le Lam-sing.
Kembali Sun Pek-siu mengucapkan terima kasih kepada Su Ang-ing dan menegaskan lagi akan taat dan tunduk di bawah pimpinan Liok-hap-pang.
"Hanya sedikit urusan saja adalah jamak kita saling menolong,"
Kata Ang-ing.
"Sekarang kita harus bersatu-padu, marilah kita sama-sama membantu pihak pasukan pergerakan, entah bagaimana pendapat kalian."
"Su-pangtju telah memberikan jalan kepada kami, dengan segala senang hati kami minta Su-pangtju menjadi Bengtju (ketua perserikatan) kami,"
Seru Sun Pek-siu. Serentak beberapa pemimpin perkumpulan Kangouw lain ikut berseru setuju.
"Usiaku masih terlalu muda dan pengalaman cetak, mana aku sanggup memikul tugas berat ini,"
Kata Su Ang-ing.
"Menurut pikiranku pilihan yang paling tepat ialah Kongsuntotju."
"Haha, aku sudah tua bangka, masakah aku mampu memikul kewajiban ini?"
Kata Kongsun Hong.
"Sudahlah, kalian tidak usah ribut, terus terang kukatakan, di sini sudah ada seorang calon Bengtju yang jauh lebih sesuai daripada kalian. Cuma aku mau usul, sebelum pahlawan besar ini kusebut, kuminta kaitan mengubah dulu jabatan resminya dia takkan menjadi Bengtju dari berbagai gerombolan kalian, tapi kita angkat dia menjadi Bu-lim Bengtju, dengan demikian baru cocok dengan kedudukannya"
Seru Tiong Tiang-thong.
"O, apakah Tiong-lotjianpwe maksudkan....."
"Benar, sesungguhnya dia sudah lama diakui sebagai Bulim Bengtju oleh siapa pun juga dia ini Kang Hay-thian, Kangtayhiap adanya!"
Oleh dunia persilatan memang Kang Hay-thian telah diakui sebagai tokoh nomor satu, maka dengan serentak semua orang lantas bersorak setuju.
"Eh, mana boleh jadi, masakah aku cocok menjadi Bu-lim Bengcu segala?"
Ujar Kang Hay-thian dengan rendah hati.
"Kalau Kang-tayhiap tidak cocok, lalu siapa lagi yang cocok?"
Kata Tiong Tiang-thong "Saat ini kita sangat memerlukan pemimpin yang dapat diterima oleh semua pihak.
Kukira dengan nama Kang-tayhiap, tiada seorang pun yang takkan tunduk Apalagi cita-cita Kang-tayhiap juga mengutamakan melawan penjajah Boan dan membangun kembali negeri Han kita.
Kau pun masih muda dan kuat, masakah engkau meski takut kesukaran dan menolak tugas penting ini?"
Terpaksa Kang Hay-thian menerima dengan baik katanya "Atas penghargaan kalian terhadap diriku, sungguh aku sangat berterima kasih.
Baiklah sementara ini aku menerima pengangkatan kalian sebagai penghubung daripada berbagai golongan dan aliran, tentang Bu-lim Bengtju segala kukira harus ditentukan pada rapat besar para tokoh persilatan."
"Asalkan kau bersedia menjadi pemimpin, maka cukuplah urusannya tentang sebutan Bu-lim Bengcu atau bukan tidaklah menjadi soal, sebab aku yakin kelak juga takkan ada orang lain yang mampu berebut gelar itu dengan kau,"
Kata Tiangthong.
Begitulah semua orang mengangkat Kang Hay-thian sebagai pemimpin mereka, perjamuan lantas dimulai dan masing-masing bergiliran memberi selamat kepada Kang Haythian.
Di tengah perjamuan yang riang gembira itu sudah tentu banyak yang membicarakan ilmu silat, banyak pula yang membincangkan kepandaian Kang Hay-thian dan ada pula yang membesar-besarkan ceritanya dengan berlebihan.
Pada sudut ruangan perjamuan sana bersatu meja beberapa Thaubak dari Tiang-keng-pang, Liok-hap-pang dan lain-lain.
Selain itu ada pula seorang laki-laki berbaju hijau yang tak dikenal asal-usulnya, karena dia duduk di meja sudut sini, maka sama menyangka dia cuma seorang Thaubak kecil saja dari salah satu Pang atau Hwe yang belum saling kenal.
Beberapa Thaubak itu asyik mengobrol tentang kepandaian Kang Hay-thian dan saling membual tentang pengalaman sendiri.
Ada yang mengatakan bahwa sekarang ilmu silat Haythian terhitung nomor satu, tapi tidak lama kemudian mungkin harus berganti orang, lalu pembicara itu menonjolkan Kim Tiok-liu.
Katanya Kim Tiok-liu dalam waktu singkat tentu akan melebihi sang Suheng, sebagai bukti pertarungan Kim Tiok-liu melawan Bun To-tjeng, Yang Go dan Boh Tjong-tiu siang tadi.
Di tengah obrolan mereka itu ternyata ada seorang yang diam saja, ia tidak ikut bicara, sebaliknya dari ujung mulutnya seringkah menampilkan rasa cemoohnya bualan orang-orang itu.
Pendengar yang diam saja ini bukan lain daripada laki-laki baju hijau yang tak dikenal itu.
"Wah, jika melihat ketangkasan Kim-siauhiap tadi, mungkin sekarang juga dia sudah nomor satu di dunia ini,"
Demikain kata seorang Thaubak Tiang-keng-pang.
"Tidak, sekarang tetap Kang-tayhiap lebih kuat,"
Sahut temannya.
"Tapi beberapa tahun lagi bukan mustahil Kimsiauhiap akan menduduki kursi pertama di dunia persilatan."
Selagi orang-orang itu menyanjung puji pada Kim Tiok-liu, mendadak terdengar laki-laki baju hijau itu tertawa dingin beberapa kali, aneh benar suara tertawanya dan sangat menusuk telinga.
Keruan semua orang melengak kaget oleh suara tawa ejekan itu, Thaubak dari Tiang-keng-pang tadi lantas menegur dengan gusar.
"Kenapa saudara tertawa dingin?"
"Tidak apa-apa aku cuma tertawa karena kalian mirip katak di dasar sumur,"
Sahut orang itu.
Keruan Thaubak Tiang-keng-pang menjadi gusar, cepat ia melompat maju dengan tangan mengepal, segera ia bermaksud melabrak orang.
Syukur teman di sebelahnya lantas menariknya sehingga Thaubak itu sadar, orang berbaju hijau yang aneh itu jangan-jangan bukan sembarangan tamu.
Tapi dengan mendongkol ia bertanya lagi.
"Mengapa kau bilang kami seperti katak di dalam sumur, coba jelaskan?"
"Dunia begini luas, sudah berapa banyak orang kosen yang pernah kalian lihat? Mengapa sedikit-sedikit kalian lantas memberi sebutan nomor satu, bukankah cara kalian ini terlalu menggelikan?"
Ujar si baju hijau.
Tjin Tiong, Hiangtju dari Ang-eng-hwe berwatak paling berangasan, mendengar kata-kata si baju hijau itu seketika ia naik pitam, katanya "Hm, caramu bicara ini jangan-jangan kau pun mengaku dirimu sebagai orang kosen?
Kau sengaja memandang enteng atas diri Kang-tayhiap dan Kim-siauhiap?"
"Ah, mana aku berani menganggap demikian, aku hanya seorang gunung, mana dapat disebut sebagai orang kosen segala. Cuma kedua pendekar besar dan kecil yang kalian sebut-sebut itu, hehe, menurut pandanganku, biarpun kepandaian mereka memang boleh juga tapi juga belum dapat dianggap sebagai jago nomor satu di dunia ini,"
Kata si baju hijau dengan angkuh.
Padahal selama puluhan tahun terakhir ini, nama Kang Hay-thian boleh dikata gilang gemilang dan tiada seorang pun yang berani memandang enteng padanya.
Keruan Tjin Tiong bertambah gusar, lalu katanya.
"Baik Kang-tayhiap tak bisa dianggap jago nomor satu, tentunya kau inilah yang nomor satu. Aku orang she Tjin hanya pernah belajar beberapa jurus cakar kucing saja, biarlah aku minta belajar kenal kepandaianmu."
Kembali orang berbaju hijau itu mendengus, katanya.
"Pertama, aku tidak pernah menyatakan silatku nomor satu di dunia ini. Kedua, aku pun tidak menuduh kepandaian saudara hanya beberapa jurus cakar kucing saja, semua itu adalah kau sendiri yang omong. Yang kukatakan ialah kepandaian Kang Hay-thian dan Kim Tiok-liu belum pasti terhitung nomor satu di dunia ini, jika kalian tidak percaya aku siap sedia untuk coba-coba dengan mereka."
Tentu saja ucapan ini seketika membikin gempar semua orang, dalam hati mereka sama berpikir apa orang ini sudah gila, masakah berani menantang terang-terangan terhadap Kang-tay-hiap dan Sutenya?
Waktu Kang Hay-thian memperhatikan orang itu, ternyata air mukanya kaku tanpa perasaan sedikitpun.
Keruan ia heran, jelas orang sengaja hendak mengukur kepandaianku, tetapi tampaknya dia sengaja menyembunyikan wajah aslinya seperti kualir dikenali orang lain.
Dengan ragu-ragu Kang Hay-thian coba mendekati orang itu, ia memberi hormat dan menyapa.
"Numpang tanya siapakah nama saudara yang mulia?"
"Buat apa buru-buru, sesudah aku menjajal kau kan masih banyak waktu untuk memberitahukan namaku,"
Sahut si baju hijau dengan tertawa.
Melihat sikap orang yang sombong itu, Kang Hay-thian tidak menjadi marah, ia tahu Lwekang orang sangat tinggi, mukanya tak berperasaan, tentunya memakai kedok yang tipis.
Maka dengan tenang, ia berkata lagi.
"Kalau saudara tidak mau memberitahu nama, maka aku pun tidak berani memaksa. Cuma tentang pujian kawan-kawan padaku tadi hendaklah saudara jangan menganggap sebagai sungguhan. Hanya sedikit kepandaianku ini masakah dapat dianggap sebagai nomor satu di dunia ini seperti dikatakan saudara tadi, maka sekali-kali aku tidak berani main jajal dengan saudara."
Tertampak orang itu menggeleng kepala, katanya.
"Bicara secara adil, meskipun kau belum bisa dianggap nomor satu di dunia ini, tapi sudah terhitung tokoh terkemuka. Bicara terus terang sebenarnya aku ingin menambah pengalaman dan mencoba kepandaianmu. Kalau kau tidak sudi memberi pelajaran, maka sungguh sangat mengecewakan aku."
Semakin Hay-thian merendah hati, semakin sombong dan takabur pula orang itu. Sebaliknya yang ikut mendengarkan juga tambah mendongkol, dengan gusar Tjin Tiong lantas berseru pula.
"Kang-tayhiap masakah sudi bergebrak dengan orang macam kau? Jika kau sudah gatal minta digebuk, biarlah aku saja yang main-main dengan kau. Bila kau dapat menangkan aku barulah menantang Kang-tayhiap lagi."
"Tjing Tiong,"
Tiba-tiba Kongsun Hong berseru.
"Janganlah kau banyak bicara dan ditertawai orang belaka. Sobat ini bukanlah sembarangan orang, aku saja tidak berani menjajalnya, berdasarkan apa kau berani mati menantangnya?"
"Benar, kukira Kang-tayhiap sendiri tentu bisa menyelesaikannya,"
Tiong Tiang-thong ikut bicara.
"Jika Kangtayhiap mau coba-coba dengan sobat ini, tentu akan besar manfaatnya bagi pengalaman kita."
Mendengar ucapan kedua tokoh puncak itu, barulah semua orang percaya bahwa orang berbaju hijau tidak dikenal itu memang bukan sembarangan orang sebagaimana mereka sangka semula.
Di bawah dukungan Tiong Tiang-thong itu, Kang Hay-thian masih ragu-ragu apakah mesti menerima tantangan orang itu atau tidak, mendadak Kim Tiok-liu berseru.
"Jika Suheng tidak ingin melelahkan diri, biarlah aku saja yang belajar kenal dengan sobat ini. Kan sobat ini tadinya akan memberi petunjuk padaku."
Kiranya Kim Tiok-liu juga dapat mengetahui orang berbaju hijau itu sengaja menutupi wajah aslinya, bahkan suaranya saja sengaja dibikin lain.
Sebab itulah ia pun menaruh curiga jangan-jangan orang asing ini adalah teman Boh Tjong-tiu dari Hu-siang-to.
Dasar Kim Tiok-liu memang masih muda dan berdarah panas, pula dia ingin lekas membongkar rahasia diri si baju hijau, sebab itulah dia sengaja tampil ke muka untuk mewakili sang Suheng.
Si baju hijau mengamat-amati Kim Tiok-liu sejenak lalu berkata.
"Hari ini kau baru saja menempur tiga tokoh pilihan, mungkin semangatmu belum pulih seluruhnya "
"Kita kan cuma coba-coba saja dan bukan bermaksud mengadu jiwa,"
Ujar Tiok-lhi.
"Asal kau mampu mengalahkan aku, maka dengan tulus hati aku akan mengakui keunggulanmu tanpa alasan apapun juga."
"Hehe, keberanianmu sungguh harus dipuji, tapi aku tidak mau mengambil keuntungan atas dirimu,"
Sahut si baji hijau.
"Biarlah begini saja, memangnya aku ingin mencoba kepandaian kalian berdua, maka boleh kalian maju sekaligus agar aku bisa menghemat waktu dan tenaga."
Keruan ucapannya, kembali membikin terperanjat semua orang, Tjing Tiong lantas berteriak lagi.
"Coba, masakah di dunia ini ada manusia sedemikian sombong!"
"Kata-katamu ini hendaklah disimpan dulu sebelum aku kalah,"
Ujar si baju hijau.
"Sekarang pertandingan belum lagi dimulai kalah atau menang belum tahu, mengapa kau sudah menuduh aku sombong?"
Mau tak mau Kim Tiok-liu mendongkol juga, tanyanya.
"Kau sendirian mau bertempur melawan kami berdua?"
Si baju hijau mengangguk, katanya.
"Benar, masakah perlu dibuat heran?"
Dalam hati Kim Tiok-liu menggerutu, apa orang ini barangkali sudah gila. Tak terduga mendadak terdengar Kang Hay-thian berkata padanya.
"Sute, menghormat lebih baik daripada menurut. Jika Lotjianpwe ini sudah sedemikian menilai tinggi kita, maka sepantasnya kita mengiringi kemauannya."
Ucapan Kang Hay-thian ini kembali membuat semua orang terkejut, sebab mereka maklum Kang Hay-thian telah diakui secara umum sebagai jago nomor satu, sudah bertahun-tahun lamanya tidak pernah menyaksikan dia bertempur sendiri, sekarang kejadiannya bahkan terbalik, dia malah mau menempur si baju hijau berkawankan Sutenya.
Hal ini benarbenar sama sekali di luar dugaan.
Padahal tadi Kang Hay-thian juga menyatakan menolak tantangan orang dengan rendah hati, kenapa sekarang pikirannya berubah mendadak?
Mengapa pikiran Kang Hay-thian mendadak berubah, hal inipun tidak dipahami Kim Tiok-liu.
Dalam pada itu si baju hijau berkata.
"Kang-tayhiap memang orang yang suka blak-blakan. Nah, bolehlah kita mulai sekarang!"
Sementara itu meja kursi di tengah ruangan telah disingkirkan sehingga terlubang satu lingkaran, si baju hyau lantas turun ke tengah kalangan.
Hati Tiok-liu menjadi panas akan kesombongan orang, segera ia bermaksud menerjang maju, tapi Kang Hay-thian menariknya untuk berdiri di sebelahnya dan menunggu sebagai tanda menghormat kepada pihak lawan.
Keruan semua orang terheran-heran melihat Kang Haythian sedemikian menghormati lawannya.
Kim Tiok-liu tidak berani membangkang, terpaksa ia berdiri di sebelah sang Suheng dengan mendongkol, katanya.
"Baiklah kami sudah siap, silakan Lotjianpwe mulai memberi petunjuk"
Mulurnya menyebut "Lotjianpwe", tapi nadanya sudah tidak begitu menghormat lagi.
"Dan dimana kau punya Hian-tiat-pokiam, kenapa tidak dicemarkan?"
Tiba-tiba si baju hijau melirik hina padanya.
"Apa? Kau bermaksud melawan Hian-tiat-pokiam dengan jertangan kosong?"
Kim Tiok-liu menegas dengan menahan gusar.
"Benar, kudengar Hian-tiat-pokiara adalah senjata yang paling ampuh, aku ingin berkenalan,"
Sahut si baju hijau.
"Tapi pedangku itu tidak bermata;"
Kata Tiok-liu dengan nada dingin.
"Haha, pedangmu tidak bermata, namun mukamu kan bermata,"
Sahut si baju hijau sambil mengakak.
"Kau jangan kuatir, betapapun lihainya Hian-tiat-pokiam mungkin tak gampang untuk melukai aku."
Keruan banyak di antara hadirin yang mendongkol dan mengomel melihat kecongkakan orang itu. Tjin Tiong juga memaki.
"Orang ini barangkali sudah gila dan mencari mampus."
Tokoh-tokoh tua seperti Kongsun Hong dan Tiong Tiangthong juga merasa sikap si baju hijau terlalu takabur, tapi sebaliknya Kang Hay-thian tampak sangat prihatin seperti memikirkan sesuatu, tentu saja Kongsun Hong dan lain-lain menjadi tidak habis herannya.
Dengan hormat Kang Hay-thian lantas berkata.
"Sute, kalau Lotjianpwe ini minta kau memakai Hian-tiat-pokiam tentu beliau ingin memberi petunjuk berapa jurus ilmu pedang padamu, kesempatan bagus ini jangan disia-siakan, hendaklah kau minta belajar dengan tulus hati."
Terpaksa Kim Tiok-liu mengiakan, walaupun di dalam hati ia pun mendongkol atas sikap orang yang sombong itu, segera ia melolos Hian-tiat-pokiam.
"Harap Tjianpwe memberi pelajaran,"
Kata Hay-thian pula.
"Kalian minta belajar padaku, lebih dulu kalian harus mengunjukkan sejurus dua padaku,"
Sahut si baju hijau. Semua orang sama menggeleng kepala khekhi, masakah semakin Kang-tayhiap merasa sungkan, sebaliknya orang semakin sombong.
"Baik,"
Kata Hay-thian, segera ia mulai dengan jurus pembukaan ilmu pukulan Thian-san-pay, kedua tangan bergabung di depan dada lalu menyodok ke depan.
Jurus pembukaan ini meski tampaknya sepele saja tapi da-|tam permainan Kang Hay-thian menjadi dahsyat luar biasa.
Diam-diam Kongsun Hong mengakui kehebatan pukulan Kang 1 Hay-thian itu, ia ingin tahu cara bagaimana si baju hijau akan menyambut pukulan itu.
Tidak terduga orang itu hanya me-nyampuK seenaknya saja dengan sebelah tangan, sama sekali tidak nampak jurus apa yang dia gunakan.
Anehnya sampukan yang sepele itu ternyata sudah dapat menyingkirkan hantaman Kang Hay-thian tadi, bahkan Kang Hay-thian tampak tergeliat.
Keruan saja Kongsun Hong saling pandang dengan Tiong Tiang-thong dan sama-sama menyatakan keheranan mereka maka hadirin yang lain sudah tentu lebih terkejut.
Kim Tiok-liu merasa heran juga akan cara bertempur orang aneh itu, sama sekali tidak kelihatan jurus serangannya dan sang Suheng sudah dipaksa mundur, ia menjadi ragu apakah Kang-suhengnya sengaja mengalah atau memang sudah kalah satu jurus?
Segera ia pun ingin menjajal, dengan langkah ajaib Thian-lo-poh-hoat ia menubruk maju, telapak tangan kiri melingkar ke atas, dengan gerak kilat ia terus memukul ke dada lawan.
Kim Tiok-liu menggunakan sembilan bagian tenaganya ia pikir andaikan pihak lawan tak bisa dirobohkan juga sedikitnya akan dapat mengukur sampai dimana kekuatan lawan itu.
Siapa duga lawan cuma mengangkat tangan kanan dan mengebas ke samping, ujung jarinya menyerempet pelahan di tepi telapak tangan Kim Tiok-liu, seketika tenaga pukulan Kim Tiok-liu yang maha dahsyat itu kena dibelokkan dan punah.
Jadi sedikitpun Kim Tiok-liu tidak merasakan tenaga perlawanan musuh, sampai dimana kekuatan lawan juga sama sekali tak bisa diukur.
Setelah memunahkan serangan Kim Tiok-liu, orang aneh itu lantas berkata "Si-mi-tjiang-hoat mengutamakan kelunakan, cara seranganmu yang dahsyat ini agaknya tidak tepat."
Si-mi-tjiang-hoat ini adalah ciptaan Leng Bwe-hong, tokoh angkatan tua Thian-san-pay, ilmu pukulan ini dipelajari Kim Siih pada 30 tahun yang lalu dari ketua Thian-san-pay pada masa itu, yaitu Tong Hiau-lan.
Kemudian Kim Si-ih banyak menambah dan memberikan variasi yang aneh-aneh sehingga yang kenal pukulan ini hanya terbatas beberapa jago tua yang dapat dihitung dengan jari.
Tapi sekarang si baju hijau bukan saja kenal ilmu pukulannya, bahkan mampu menunjuk titik kelemahan Kim Tiok-liu.
Biarpun anak muda dan berhati panas seperti Kim Tiok-liu mau tak mau terkejut juga dan merasa kagum, tapi sebelum bisa menjajal sampai dimana kepandaian lawan, Kim Tiok-liu tetap penasaran.
Tampaknya si baju hijau dapat membaca pikiran Tiok-liu, katanya.
"Kau belum lagi menggunakan Hian-tiat-pokiam, jangan khawatir, pakai saja sesukamu!"
Setelah mengetahui kepandaian si baju hijau sukar diukur tingginya, Kim Tiok-liu tidak perlu kuatir dan sungkan lagi, segera ia memutar Hian-tiat-pokiam.
"sret", segera ia menusuk dengan jurus 'Tay-boh-koh-yan' atau asap mengepul di gurun pasir.
"Ehm, jurus serangan ini tidak jelek!"
Puji si baju hijau.
Padahal ilmu pedang Kim Tiok-liu entah sudah berapa banyak mengalahkan jago silat kelas wahid, sebaliknya si baju hijau ini hanya memuji seakan sang guru yang sedang menguji murid saja, keruan semua orang merasa mendongkol.
Tapi segera terbukti bahwa si baju hijau memang bukan orang sembarangan, begitu tusukan Kim Tiok-liu tiba, secepat kilat si baju hijau memutar ke samping, lengan bajunya lantas mengebas pelahan dan pedang Kim Tiok-liu lantas ikut melenceng arahnya.
Tangan si baju hijau masih tetap terselubung dalam lengan bajunya yang longgar, tapi secara gampang saja serangan Kim Tiok-liu yang lihai itu dihindarkan olehnya.
Baru sekarang semua orang terkejut dan sadar bahwa si baju hijau itu memang orang kosen.
Tahu kepandaian si baju hijau sukar diukur tingginya, tanpa sungkan lagi Kim Tiok-liu melolos Hian-tiat-pokiam terus menyerang dengan jurus 'Tay-boh-koh-yan' bersama Kang Hay-thian ia mengeroyok si baju hijau yang takabur itu.
Sudah tentu yang paling terkejut adalah Tiok-liu, Hian-tiatpokiamnya ada ratusan kati beratnya, sebaliknya lengan baju adalah benda lemas dan enteng, tapi hanya sedikit mengebas saja orang itu sudah mampu membelokkan arah tusukan pedangnya, jelas ini adalah ilmu sakti 'Si-nio-boat-djian-kin' (empat tail me-nyampuk ribuan kati) yang termashur dalam ilmu silat.
Kim Tiok-liu juga pernah belajar ilmu sakti demikian itu, tapi ia harus mengakui tidak mampu berbuat sehebat orang aneh itu, bahkan selama hidupnya tidak pernah melihat cara penggunaan ilmu sakti itu secara demikian bagus, termasuk Suheng dan ayahnya.
Walaupun kagum di dalam hati, tapi Kim Tiok-liu tetap tidak mau menyerah, apalagi asal-usul pihak lawan saja belum diketahui, segera ia menyerang lagi sambil beseru.
"Suheng, dia ingin menjajal kita berdua, kenapa kau tidak maju?"
"Hahaha, benar, Kang-tayhiap tidak perlu sungkan, maju saja sekalian,"
Seru orang aneh itu.
Padahal Kang Hay-thian tahu sesungguhnya dirinya tadi sudah kalah satu jurus, ia menjadi sangsi sebab mendadak teringat kepada seorang, hanya saja ia belum yakin benar akan dugaannya.
Lantaran seman Kim Tiok-liu serta ucapan si baju hijau sendiri, terpaksa Kang Hay-thian melangkah maju lagi, katanya.
"Harap Tjianpwe sudi memaafkan kelancanganku, Wanpwe tidak berani bilang bertanding, hanya mohon Tjianpwe sudi memberi petunjuk"
"Kau tidak turun tangan, cara bagaimana aku bisa memberi petunjuk?"
Sahut si baju hijau.
"Sudahlah jangan banyak bicara, kau punya kepandaian apa boleh keluarkan seluruhnya."
Dengan penuh hormat Kang Hay-thian mengiakan, kedua tangan menyodok ke depan.
Di sebelah sana Kim Tiok-liu juga tidak tinggal diam, pedang dan sebelah tangan lain juga menyerang sekaligus, si baju hijau hanya punya dua tangan, betapapun saktinya tentu tidak mampu sekaligus mematahkan serangan mereka dari kanan kiri.
Dalam hati Kim Tiok-liu yakin.
"Sekali ini ingin kulihat apakah kau tidak terpaksa mengeluarkan ilmu silatmu yang asli?"
Ia pikir begitu orang mengeluarkan ilmu silatnya tentu segera akan dikenali asal-usul lawan itu. Di luar dugaan terdengar si baju hijau memuji.
"Betapapun memang sang Suheng jauh lebih pintar, Si-mi-tjiang-hoatnya ini boleh dikata sudah mencapai puncak kesempurnaannya."
Padahal ilmu silat Kang Hay-thian secara umum diakui sebagai jago nomor satu, tak tersangka di mulut si baju hijau hanya mendapatkan penilaian "boleh dikata sempurna"
Saja.
Maka tertampaklah di tengah berkelebatnya sinar pedang dan menderunya angin pukulan, si baju hijau tetap mengebas pe-lahan dengan lengan bajunya tusukan Hian-tiat-pokiam Tiok-liu yang tiba lebih dulu disampuk hingga berubah arah dan menusuk ke arah sang Suheng.
Lekas Kang Hay-thian mengganti pukulan menjadi mendorong, suatu gelombang tenaga dahsyat dapat menggoncang kembali tusukan Hian-tiat-pokiam itu.
Kedua kakak beradik perguruan itu sama-sama melompat mundur dua-tiga tindak.
Jurus yang digunakan si baju hijau ini lebih indah daripada tadi, bukan saja tetap ilmu 'Si-nio-boat-djian-kin' yang digunakan bahkan meminjam untuk memukul lawan, tusukan Hian-tiat-pokiam dipinjam untuk melawan pukulan Kang Haythian, dan dia punya kepandaian sejati tetap tidak ditonjolkan.
Setelah Kang Hay-thian dan Kim Tiok-liu melompat mundur, si baju hijau tidak menggunakan kesempatan itu untuk mendesak lebih jauh, sebaliknya lantas berhenti dan berkata.
"Hayo, coba lagi! Kang-tayhiap, pukulanmu tadi rada cepatan, harus lebih pelahan sedikit."
"Banyak terima kasih atas petunjuk Tjianpwe, Tetju sekalikali tidak berani disebut sebagai Tayhiap,"
Sahut Hay-thian.
"Ah, kau tidak perlu sungkan, aku tidak memuji ilmu silatku, tapi aku memuji pribadimu dan perbuatanmu yang tidak malu untuk dipanggil sebagai Tayhiap,"
Kata si baju hijau.
Begitulah Kim Tiok-liu dan Kang Hay-thian lantas menyerang lagi.
Kang Hay-thian memainkan Si-mi-tjiang-hoat dengan prihatin seakan-akan murid sedang latihan di depan sang guru.
Si baju hijau juga berulang-ulang memanggut tanda memuji sambil mematahkan setiap serangan Kang Haythian.
"Kepandaian kami sudah dikeluarkan, mohon Lotjianpwe juga sudi memberi tambahan pengalaman kepada kami,"
Seru Kim Tiok-liu. Ia menjadi sangsi juga terhadap si baju hijau karena melihat sikap sang Suheng yang begitu menghormat kepada lawan itu.
"Hahaha, aku hanya paham sedikit kepandaian biasa saja, dan tiada harganya untuk dipamerkan,"
Sahut si baju hijau.
"Tapi kalau kau ingin melihat, maka silakan lihat ini."
Di tengah tertawanya itu, si baju hijau lantas pasang kudakuda seperti guru silat kampungan mengajar murid, kepalan lantas memukul ke depan sehingga Kang Hay-thian terdesak mundur, bahkan sebelah tangannya segera terangkat ke atas sehingga serangan Kim Tiok-liu tertangkis.
Hanya dua gerakan saja si baju hijau memainkannya, serentak gemparlah di antara para penonton sebab apa yang dimainkan si baju hijau hakikatnya cuma ilmu silat biasa saja, yaitu ilmu pukulan 'Su-peng-kun' yang paling umum pada waktu itu bagi setiap orang yang baru belajar silat.
Tadinya semua orang menyangka si baju hijau pasti punya kepandaian tinggi yang mengejutkan, siapa tahu permainannya hanya 'Su-peng-kun' yang rendah, keruan semua orang sama heran.
Akan tetapi 'Su-peng-kun' yang dipandang sepele oleh setiap orang dalam permainan si baju hijau itu ternyata mempunyai kekuatan yang dahsyat, sehingga Kang Hay-thian dan Kim Tiok-liu rada kewalahan melayani, tentu saja ini lebih mengherankan orang banyak.
Begitulah meski Kang Hay-thian dan Kim Tiok-liu mengeluarkan kepandaian mereka yang hebat, selalu mereka terdesak kembali oleh setiap gerakan si baju hijau yang sepele itu.
Bahkan beberapa kali Hay-thian dan Tiok-liu terpaksa harus mengegos dan menghindar ke sana kemari.
Kongsun Hong terkejut juga setelah mengikuti sejenak pertarungan itu, katanya kepada Tiong Tiang-thong dengan pelahan.
"Kepandaian orang ini benar-benar sudah mencapai tingkatan yang maha sakti. Pengemis tua, apakah kau bisa mengenali asal-usul orang ini?"
"Tampaknya segala macam ilmu silat sepele akan menjadi maha sakti dalam permainan orang aneh ini,"
Sahut Tiangthong.
"Dahulu waktu Kim Si-ih mengalahkan Beng Sin-thong di Kosan agaknya belum mencapai tingkatan setinggi si baju hijau ini."
Kecuali Tiong Tiang-thong dan Kongsun Hong, ada sebagian penonton yang mengira Kang Hay-thian sengaja mengalah kepada lawannya dan Kim Tiok-liu yang jahil itu belum mau menyerang dengan sungguh-sungguh.
Mereka tidak tahu bahwa Kang Hay-thian dan Kim Tiok-liu memang tidak mampu melawan si baju hijau, saat mana mereka sedang mengeluh.
Meski si baju hijau hanya menggunakan ilmu silat pasaran yang sepele saja, tapi setiap jurus serang Kang Hay-thian dan Kim Tiok-liu seakan selalu terduga olehnya.
Kemanapun mereka menyerang selalu kecelik, bahkan selalu terdesak mundur lagi karena lawan sudah siap dengan serangan balasan yang jitu.
Semula Kim Tiok-liu mengira gerakan lawan akan dapat diketahui asal-usulnya, siapa tahu orang itu hanya memainkan Su-peng-kun yang sepele saja, keruan sukar pula diketahui dari aliran mana ilmu silatnya itu.
Lama-lama Kim Tiok-liu menjadi gopoh dan merasa kehilangan muka bila kedua saudara seperguruan tidak mampu melawan seorang yang tidak terkenal itu.
Mendadak ia bersuit panjang ia mengeluarkan jurus ilmu pedang yang aneh, Hian-tiat-pokiam gemerdep dan menyerang ke arah yang sama sekali sukar diraba.
Semua orang tiada yang kenal ilmu pedang apa yang dimainkan Kim Tiok-liu, kiranya ilmu pedang itu setengahnya adalah hasil curian Kim Tiok-liu, setengah lagi adalah ciptaannya sendiri, Kim Tiok-liu memang maha pintar, siangnya waktu bertanding dengan Boh Tjong-tiu, dari berbagai ragam ilmu silat yang dimainkan orang she Boh itu sebagian dapat diselaminya dengan baik Boh Tjong-tiu memakai senjata kipas, sekarang Kim Tiok-liu menggunakan Hian-tiat-pokiam dan memainkan jurus-jurus serangan yang dicurinya dari Boh Tjong-tiu disertai dengan variasi-variasi yang sukar diduga.
Kim Tiok-liu mempunyai tujuan tertentu dengan permainan ilmu pedang yang aneh itu, soalnya kepandaian si baju hijau terlalu lihai, Kim Tiok-liu tahu betapapun bagus ilmu pedangnya yang aneh itu juga sukar mengalahkan lawan.
Cuma tujuannya bukan hendak mengalahkan lawan, hanya ingin memaksa si baju hijau mengeluarkan ilmu silat aslinya saja Sebab ia menyaksikan si baju hijau mungkin adalah orang kosen dari Hu-siang-to sebagaimana diceritakan oleh Boh Tjong-tiu bahwa keturunan Hu-siang-to itu terpecah menjadi tiga cabang, kepandaian Boh Tjong-tiu juga cuma sebagian kecil saja dari warisan leluhurnya maka bukan mustahil aliran Hu-siang-to itu masih ada tokoh lain yang jauh lebih kosen daripada Boh Tjong-tiu.
Dan bila benar si baju hijau dari Husiang-to, bila mendadak bertemu ilmu silat dari perguruan sendiri tentu secara otomatis akan mematahkan serangan itu dengan ilmu silat perguruannya sendiri pula.
Begitulah maka serangan Kim Tiok-liu tadi agaknya membikin si baju hijau rada terkejut dan bersuara heran pelahan.
Diam-diam Kim Tiok-liu bergirang, pikirnya "Nah, sekali ini ingin kulihat apakah kau takkan mengeluarkan kepandaian aslimu?"
Tak terduga meski si baju hijau bersuara heran, tapi ketika serangan Kim Tiok-liu tiba dia masih tetap menggunakan satu jurus Su-peng-kun yang sepele dan sekaligus ilmu pedang Kim Tiok-liu yang luar biasa itu sudah terpatahkan.
Dengan sendirinya Kim Tiok-liu sangat kecewa tapi mendadak tergerak pikirlannya, dalam kecewanya itu tiba-tiba timbul harapan pula.
Ru-Ipanya karena tangkisan si baju hijau atas jurus serangan cipta-lannya yang baru tadi sehingga memberi peluang baginya untuk mengetahui sesuatu.
Tiok-liu mengedipi sang Suheng, lalu melancarkan pula ju-[rus serangannya yang serba baru itu secara membadai.
Diam-diam Kang Hay-thian menertawakan napsu Tiok-liu yang ingin menang itu, tapi supaya tidak membikin kecewa sang Sute, terpaksa ia pun melancarkan serangan lebih ketat untuk bekerja sama dengan Kim Tiok-liu.
Sekaligus Kim Tiok-liu menyerang sampai belasan kali, ketika pandangan semua orang seakan kabur oleh berkelebatnya sinar senjata dan bayangan orang, sekonyongkonyong terdengar suara "trang"
Yang nyaring Hian-tiat pokiam terlepas dari tangan Kim Tiok-liu, dia sendiri juga terpental jatuh sampai beberapa meter jauhnya.
Keruan Kang Hay-thian terkejut, tapi sebelum dia sempat berpikir lebih jauh tiba-tiba Kim Tiok-liu sudah melompat bangun sambil berseru.
"Ayah, kiranya engkau sengaja bergurau dengan anak!"
Mendengar itu, legalah hati Kang Hay-thian, cepat ia bersujud memberi hormat sambil berkata dengan girang.
"Suhu, ternyata benar engkau adanya!"
"Hahaha! Boleh juga kau, Hay-thian, sudah jauh lebih maju daripada dulu!"
Sahut si baju hijau sambil bergelak tertawa Ketika ia menggosok mukanya, selapis kain kedok yang sangat tipis dicopotnya sehingga tertampak wajah aslinya, siapa lagi kalau bukan Kim Si-ih, guru Kang Hay-thian dan ayah Kim Tiok-liu.
Usia Kim Si-ih sudah lebih 60 tahun, tapi lantaran Lwekangnya sangat tinggi dan mahir berdandan, tampaknya dia baru Berumur 40-an tahun dan dapat dikenali oleh angkatan tua seperti Kongsun Hong dan Tiong Tiang-thong.
Ai, dasar aku sudah pikun, seharusnya sejak tadi kuduga akan dirimu,"
Kata Tiang-thong.
"Sungguh tidak nyana sifatmu yang suka bercanda ini masih tetap serupa dulu, masakah murid dan putera sendiri juga digoda."
"Kalau aku tidak menjajal mereka, darimana aku bisa mengukur kepandaian mereka, apa maju atau mundur?"
Sahut Kim Si-ih tertawa.
"Hm, bicara tentang ini harus kusalahkan kau."
"Eh, kau mengajar muridmu sendiri, kenapa aku yang disalahkan,"
Kata Tiang-thong.
"Habis, kalian menyanjung mereka sebagai jago nomor satu segala kalau aku tak menghajar mereka kan sama saja membikin mereka bertambah sombong?"
Ujar Kim Si-ih.
"Tiok liu, jauh sekali bila kau dibandingkan Suhengmu. Ilmu silatmu kalah kuat daripada Suhengmu, kesabaranmu juga kurang, kau harus banyak belajar dari Hay-thian."
"Wah, Kim-tayhiap juga kurang adil,"
Kata Tiang-thong dengan tertawa.
"Meski puteramu tidak sekuat Suhengnya tapi jurus serangan yang dia ciptakan sendiri itu sungguh hebat. Soal dia belum dapat menandingi sang Suheng hanya karena usianya jauh lebih muda"
"Benar,"
Hay-thian ikut bicara.
"Kepintaran Sute harus dipuji. Coba kalau bukan dia yang memanggil, mungkin sampai saat ini aku takkan kenal Suhu lagi."
"Cuma sayang kepintarannya tidak digunakan menurut cara yang baik,"
Ujar Si-ih.
"Hay-thian, kau juga tertipu olehnya. Apa kau menyangka dia mengenali aku dari cara permainan silatku tadi? Hm, dia justru menggunakan kepandaian Ki Hiauhong terhadap diriku, maka masih murah baginya cuma aku hukum jatuh terjungkal saja."
Kiranya pada saat Kim Tiok-liu menerjang dengan dahsyat tadi, secara istimewa dia mengetahui si baju hijau adalah ayahnya sendiri.
"Hahaha rupanya Kim-tayhiap merasa penasaran lantaran kalah satu jurus dari puteranya sendiri, makanya kau memberi hajaran padanya"
Seru Tiang-thong dengan tertawa.
"Hah, menurut pendapatku, kepandaian mencopet itu asal dipakai untuk tujuan yang betul kan tidak jelek juga?"
"Kim-tayhiap,"
Seru Kongsun Hong.
"Dengan kembalinya engkau, maka sebutan jago nomor satu di dunia ini oleh murid dan puteramu harus diserahkan kepada engkau."
Mendadak Kim Si-ih bicara dengan sungguh-sungguh.
"Tidak, dunia ini terlalu luas dan dimanapun terdapat orang kosen. Jika kalian menganggap aku jago nomor satu, maka kalian benar-benar salah besar."
Tiang-thong mengira Kim Si-ih cuma berkelakar dan bicara dengan rendah hati saja segera ia berkata pula "Kukira sifatmu tidak berubah, nyatanya toh ada sedikit berubah juga.
Dahulu kau tidak begini rendah hati, apakah hal ini kau belajar dari muridmu?"
"Soalnya dahulu aku tidak tahu luasnya jagad ini dan sekarang baru tahu aku sesungguhnya mirip katak di dalam perigi, terus terang kukatakan, kemarin aku baru saja bertanding pedang dengan orang dan telah terjungkal."
Melihat cara bicara Kim Si-ih yang sungguh-sungguh itu, Tiong Tiang-thong dan lain-lain terheran-heran. Mereka sukar mempercayai bahwa di dunia ini masih ada orang yang lebih lihai daripada Kim Si-ih.
"Mungkin kalian tidak percaya?"
Kata Si-ih pula.
"Baik mana cincin kemala yang kau curi dari bajuku tadi, Tiok-liu?"
Dengan muka merah Kim Tiok-liu menyerahkan kembali cincin yang disebut itu kepada sang ayah, lalu Si-ih berkata pula sambil menunjukkan cincin itu kepada Tiong Tiang-thong "Coba kalian lihat yang teliti, bukankah di atas cincin ini ada satu garis retak?"
Sebagai seorang ahli pedang, Kongsun Hong terkejut melihat keadaan cincin itu, tanyanya.
"Apakah ini bekas goresan pedang?"
"Benar,"
Sahut Si-ih.
"Aku menggunakan Sian-tji-sin-kang (tenaga jari sakti) untuk menyelentik pedang lawan, meski pedangnya terlepas dari cekalan, tapi cincin kemala inipun ditinggali bekas pedang. Untung juga aku memakai cincin ini, kalau tidak mungkin jariku sudah putus."
Mendengar penuturan Kim Si-ih itu, semua orang sama terperanjat.
Lebih-lebih beberapa tokoh angkatan tua yang kenal akan asal-usul Han-giok-kay-tji (cincin kemala dingin) itu.
Kemala dingin atau inti kemala itu asalnya adalah salah satu benda pusaka tinggalan Kiau Pak-beng dalam bentuk panah dan busur.
Lalu busur itu telah dirombak oleh Kim Si-ih menjadi sebuah kotak kemala dan dihadiahkan kepada Kok Tiong-lian, istri Kang Hay-thian.
Tiga buah anak panah kemala dibuat menjadi tiga buah cincin kemala.
Sebuah cincin itu diberikan kepada Le Lam-sing, sebuah lagi untuk Kim Tiok-liu dan sisanya satu lagi dipakainya sendiri.
Inti kemala itu kerasnya tiada bandingannya segala senjata tajam tidak mempan merusaknya.
Sekarang toh bisa terdapat bekas goresan pedang, maka dapat diketahui senjata yang dipakai orang itu bukan saja pedang wasiat, bahkan ketinggian Lwe-kangnya pasti tidak di bawah Kim Si-ih.
Ilmu tenaga jari sakti Kim Si-ih boleh dikata tiada taranya kalau pedang lawan sampai terlepas oleh selentikannya maka pertandingan itu terang dimenangkan oleh Kim Si-ih.
Tapi kalau tidak memakai cincin pusaka itu dan benar-benar jarinya tertabas putus, maka keadaan yang seorang kehilangan senjata dan yang lain jarinya putus, maka dapat dianggap seri saja.
Tapi ucapan Kim Si-ih bahwa dirinya kalah satu jurus dalam pertandingan pedang itu sesungguhnya tidak keliru.
Keruan semua orang melongo heran mendengar cerita itu dan sama bertanya.
"Siapa orang kosen itu? Dimana dia sekarang?"
"Asal-usul orang itu belum diketahui, tapi aku tahu mereka datang untuk kalian, dengan lain perkataan mereka adalah musuh-musuh kalian,"
Sahut Si-ih.
"Kalau mereka mengetahui kalian berada di sini, bisa jadi mereka akan mencari kemari."
Dari kata "mereka"
Yang diucapkan Kim Si-ih, terang yang dimaksudkan itu tidak cuma seorang kosen saja keruan semua orang tambah terkesiap. Belum selesai uraian Kim Si-ih, sekonyong-konyong di luar ada suara ribut.
"Siapa kau? Mau apa kau datang ke sini? Kenapa masuk rumah orang tanpa permisi?"
Tampaknya penjaga di luar sedang mencegah seseorang tamu yang tak dikenal yang mau menerobos masuk secara paksa tapi suara ribut-ribut itu ternyata tidak didengar pendatang yang dimaksud itu.
"Hm, benar-benar dia mencari ke sini, apakah dia mencari mampus, coba kita keluar melihatnya"
Jengek Tiang-thong dengan gusar.
Kang Hay-thian juga mengira pendatang itu adalah orang yang dimaksudkan sang guru tadi, segera Kang Hay-thian mendahului keluar.
Baru sampai di depan pintu dia sudah kepergok dengan pendatang yang dimaksud, tertampak orang itu memberi hormat dengan gaya Tong-rju-pay-kwan-im (anak kecil menyembah Kwan-im).
Seketika orang-orang yang ikut di belakang dan di samping Kang Hay-thian tergeliat ke samping.
Kongsun Hong terkejut, katanya pula "Pengemis tua milah Pim-yak-tjiang-lik mumi dari kaum Buddha."
"Benar, pandangan Kongsun-laute memang tidak meleset,"
Sahut Tiang-thong tertawa.
Saat itu Kang Hay-thian juga sedang membalas hormat orang, bahu pendatang itu tampak terangkat sedikit, sebaliknya baju longgar yang dipakai Kang Hay-thian seketika melembung dan bergerak.
Agaknya kekuatan Kang Hay-thian lebih tinggi, tapi dalam pertandingan Pan-yak-tjiang ini dia berbalik kalah setingkat.
Kongsun Hong tidak mengenal pendatang itu, ia menjadi heran dan kuatir Kang Hay-thian akan kewalahan menghadapi musuh.
Belum habis pikirannya tiba-tiba terlihat Kang Haythian sedang menjabat erat tangan orang itu dan berkata sambil tertawa.
"Yap-toako, kau punya Tay-seng-pan-yak tjiang benar-benar sudah sempurna, Siaute mengaku kalah, sungguh mengagumkan!"
"Dua puluh tahun tidak bertemu, ternyata kekuatanmu juga sudah jauh lebih hebat daripada dulu,"
Sahut orang itu.
"Betapapun aku tetap tak bisa mengungguli kau. Sekali ini aku benar-benar kalah dengan setulus hati. Eh, kabarnya kau telah mengangkat Boh-hoa sebagai murid ahli warismu. Untuk mana belum lagi aku sampaikan terima kasih padamu. Hahahaha!"
Baru sekarang Kongsun Hong dan lain-lain mengetahui bahwa pendatang ini bukankah lawan melainkan kawan, semuanya menjadi lega.
Kiranya pendatang ini adalah ipar Kang Hay-thian, yaitu Yap Tiong-siau, ayah Yap Boh-hoa.
Sudah puluhan tahun Yap Tiong-siau mengasingkan diri keluar lautan, maka tokoh Bulim yang mengenalnya sudah jarang sekali.
Namun begitu banyak juga yang mengetahui akan hubungan keluarga antara Yap Tiong-siau dengan Kang Hay-thian.
Begitulah dengan tertawa Kim Si-ih berkata kepada orang banyak.
"Nah, ucapanmu bahwa di dunia ini tiada ilmu silat nomor satu kan terbukti lagi? Masing-masing mempunyai keistimewaannya sendiri-sendiri, mana ada orang yang serba komplit mahir segala macam ilmu silat secara sempurna? Seumpama Pan-yak-tjiang tadi, jelas Hay-thian tidak mampu menandingi Tiong-siau, tapi bicara tentang ilmu pedang aku pun belum tentu mampu mengalahkan beberapa anak muda yang kulihat kemarin."
"Ah, paman terlalu memuji diriku saja, terlalu jauh diriku dibandingkan dengan Kang-heng,"
Kata Yap Tiong-siau.
"Cuma kepandaian beberapa orang kemarin itu memang jarang ada, coba kalau kemarin paman tidak berada di situ tentu aku sudah terjungkal habis-habisan."
"Kalian bicara tentang kejadian kemarin, sebenarnya bagaimana duduknya perkara?"
Tanya Tiong Tiang-thong.
"O, kukira Kim-tayhiap sudah bercerita kepada kalian,"
Kata Tiong-siau.
"Belum, aku baru saja mengatakan aku kalah satu jurus,"
Kata Si-ih.
"Eh, mereka sudah datang juga. Hay-thian, biar isteri-mu sendiri saja yang bercerita kepadamu."
Belum habis ucapannya tiba-tiba beberapa orang berlari masuk ke dalam dan berseru melapor.
"Wah, sungguh peristiwa yang menggembirakan, kedua ketua Bin-san-pay dari dua angkatan telah hadir semuanya."
"O, kiranya Subo (ibu guru) juga ikut datang"
Seru Haythian kegirangan.
Isteri Kim Si-ih, yaitu Kok Tji-hoa, adalah ketua Bin-san-pay yang dulu, ketua yang sekarang adalah Kok Tiong-lian, isteri Kang Hay-thian, maka begitu mendapat laporan tentang datangnya ketua Bin-san-pay dua zaman, segera Kang Haythian mengetahui ibu guru dan isterinya datang semua.
Belum selesai kata-katanya, benar juga tampak Kok Tji-lioa dan Kok Tiong-lian telah masuk, bahkan ikut bersama mereka adalah Auwyang Wan, isteri Yap Tiong-siau serta tokoh Binsan-pay, Kam Djin-tiong.
"Hahaha, sekali ini benar-benar ramai, anggota keluarga kalian bolehlah bercengkeraman dengan gembira,"
Seru Tiong Tiang-thong dengan senang. Tiba-tiba Kang Hay-thian menyadari cerita Kim Si-ih tadi, katanya.
"Suhu, apakah orang-orang kosen yang kau ketemukan itu terjadi di rumah murid?"
"Benar,"
Jawab Kim Si-ih.
"Orang-orang itu adalah jago kiriman kerajaan Boandjing yang ditugaskan menangkap kalian suami-isteri."
Segera Kok Tiong-lian bercerita.
"Kemarin pagi Kam-su-,heng dan ketiga Suheng yang lain datang dari Bin-san secara ^tergesa-gesa katanya ada kabar pihak kerajaan akan merecoki aku. Benar juga malamnya orang-orang itu lantas datang. Untungnya kita sudah siap lebih dulu, kalau tidak tentu sukar dibayangkan apa yang akan terjadi. Entah darimana munculnya, seluruhnya yang datang ada tujuh orang ada laki-laki ada perempuan, ada yang tua dan ada yang muda, semuanya berilmu silat tinggi. Sungguh memalukan, meski begitu banyak jumlah mereka, tapi seorang pun tidak dikenal asal-usulnya"
"Terjadilah pertarungan sengit, Pek-suheng, Lok-suheng dan Li-suheng tersuka parah, aku dan Kam-suheng untung terhindar dari bahaya tapi juga sudah kepayahan menghadapi musuh. Orang-orang itu mengepung rapat aku dan Kamsuheng serta memaksa kami menyerah. Waktu itu aku sudah bertekad bunuh diri daripada dihina musuh. Tak terduga pada detik yang menentukan itulah Suhu, Subo, Toako dan Toasoh (ipar, isteri kakak) telah datang sekaligus sehingga dari kalah kami berbalik bisa menang."
Cerita Kok Tiong-lian membuat semua orang sama terperanjat, mereka tahu jago-jago Bin-san-pay yang disebut itu adalah putera-putera pendekar besar Kam Hong-ti, Loh Intjiarn, Pek Thau-koan dan Li Goan (bacalah kisah tokoh-tokoh ini dalam Tiga Dara pendekar), semuanya berkepandaian tinggi, tapi meski ditambah dengan isteri Kang Hay-thian toh masih kewalahan menghadapi musuh dan terluka parah, maka dapatlah dibayangkan betapa lihainya pihak lawan itu.
"Kedatangan kami ke sana bukanlah secara kebetulan, sebab kami mampir dulu ke Bin-san dan mendapat kabar tersebut,"
Kata Kim Si-ih.
Kiranya sesudah tinggal 20-an tahun di luar lautan, Kim Siih menjadi rindu kepada handai-taulan yang sudah berpisah sekian lamanya di daerah Tionggoan (daratan), ia lantas mengajak suami isteri Yap Tiong-siau untuk pulang ke tanah air.
Yap Tiong-siau asalnya adalah putera mahkota sebuah kerajaan kecil Masar di wilayah Sinkiang, Tibet.
Dia sengaja melarikan diri untuk memberikan takhta kepada adiknya hal itupun sudah berselang 20-an tahun, la pikir sekarang tidak berhalangan lagi untuk pulang menjenguk sanak keluarganya itu, maka ajakan Kim Si-ih diterima dengan baik, mereka lantas pulang bersama.
Kim Si-ih dan Kang Hay-thian pernah menerima budi kebaikan dari Lu Si-nio, ketua Bin-san-pay angkatan kedua.
Isteri Kim Si-ih, Kok Tji-hoa juga murid dan anak pungut Lu Sinio.
Maka setibanya di Tionggoan, tugas utama yang mereka lakukan adalah berziarah ke makam Lu Si-nio dan Bin-san.
Alasan lain kedatangan Kim Si-ih dan rombongannya ke Bin-san, karena Kok Tiong-lian adalah pejabat ketua Bin-sanpay sekarang, seringkah"
Kok Tiong-lian mesti tinggal di atas Bin-san dan terkadang ditemani Kang Hay-thian sendiri, maka dengan mampir dulu ke Bin-san menurut perkiraan Kim Si-ih tentu akan bisa memperoleh berita tentang putera kesayangannya dan bertemu dengan sang murid, dua orang yang paling dirindukan Kim Si-ih.
Dari Pek Ing-kiat dan murid-murid Bin-san-pay yang masih tinggal di Bin-san, dapatlah Kim Si-ih mendapat kabar bahwa pihak kerajaan akan merecoki Kang Hay-thian dan bahwa keempat murid utama Bin-san-pay baru saja berangkat ke rumah Kang Hay-thian untuk memberi bantuan.
"Untung aku mampir dulu ke Bin-san sehingga menerima kabar itu, maka dapatlah aku menyusul tepat pada waktunya"
Kata Kim Si-ih kemudian.
"Waktu kami sampai di rumah Tiong-lian, suara pertempuran tadinya tidak begitu kami hiraukan, siapa tahu begitu maju kami lantas menelan pil pahit,"
Sambung Yap Tiong-siau.
Rupanya setelah 20-an tahun tinggal di luar lautan dan sudah berhasil meyakinkan Tay-seng-pan-yak-tjiang, sudah tentu Yap Tiong-siau menjadi getol mencoba ilmunya itu.
Kebetulan setiba di rumah Kok Tiong-lian melihat adik perempuannya itu sedang dikepung musuh, segera Yap Tiongsiau minta Kim Si-ih menjaga garis belakang, ia sendiri lantas maju membantu, pikirnya hendak menghajar habis-habisan kawanan myatron itu.
Semula Kim Si-ih juga mengira Yap Tiong-siau sudah cukup mampu menghadapi musuh, tapi setelah mengikuti beberapa jurus segera ia tahu gelagat tidak enak, cepat ia pun ikut turun tangan dan ternyata sudah terlambat sedikit.
"Ketujuh orang penyatron itu memasang barisan yang rapat untuk menghadapi aku,"
Tutur Yap Tiong-siau lebih lanjut.
Baca Juga: Lembah Patah Hati Lembah Beracun Khu
Baca Juga: Iblis Sungai Telaga 12