Eps 12 Pendekar Jembel - Liang Ie Shen
Baca online Pendekar Jembel - Liang Ie Shen
Cersil Pendekar Jembel - Liang Ie Shen.
"Kukira begitu maju tentu lawan-lawan itu akan aku bikin kocar-kacir. Siapa tahu mereka sama sekali tidak gentar, hanya seorang saja yang ditampilkan untuk menghadapi aku. Orang itu adalah laki-laki setengah umur, usianya sebaya dengan aku, begitu berhadapan aku lantas menyerang tiga jurus sekaligus, tapi sedikit-pun aku tidak mendapat keuntungan, sebaliknya malah menelan kerugian."
"Apakah kau tidak menggunakan Pan-yak-tjiang, Yap-toako?"
Tanya Kirn Tiok-liu. Ia merasa heran Pan-yak-tjiang Yap Tiong-siau yang lebih hebat daripada Kang-suhengnya masakah malah mengalami kerugian.
"Sudah tentu aku menggunakan Pan-yak-tjiang,"
Sahut Yap Tiong-siau.
"Orang itu menyambut pukulanku dan hanya menjengek tertahan, badannya tergeliat, tapi tidak roboh. Menyusul dia lantas balas menyerang dengan pedang dan pukulan, serangannya dahsyat membadai. Aku hanya mampu menangkis pedangnya, tapi tidak sempat mengelakkan sebelah tangannya. Terasa igaku kesemutan, aku telah terkena. Untung ayahmu cepat mendorong pergi diriku sehingga aku tidak sampai terluka parah."
Habis berkata ia lantas membuka bajunya, terlihatlah di bawah iga ada tiga titik biru gosong bekas tutukan jari.
"Lawan menusuk dengan jarinya sebagai pedang, tutuk airnya sungguh aneh dan lihai. Untung bukan senjata tajam sungguhan, kalau tidak badanku pasti sudah berlubang"
Sambung lagi Yap Tiong-siau dengan tersenyum kecut Melihat bekas luka Yap Tiong-siau itu, semua orang menjadi melongo terkejut.
"Ah, kau pun tidak perlu merendah hati, Tiong-siau,"
Kata Kim Si-ih dengan tertawa.
"Lawanmu itu adalah jago ketiga pihak mereka, dia pun sudah terluka dalam oleh pukulanmu, cuma kau tidak mengetahui saja. Untung juga seorang di antara mereka itu terluka, kalau tidak, kami suami-istri tentu sukar membobol barisan 'Tjhit-sing-tin' (barisan bintang tujuh) yang mereka pasang."
Dalam pertempuran ramai itu, Kim Si-ih masih sempat menilai tinggi rendahnya kepandaian musuh, maka diam-diam semua orang merasa kagum tidak terhingga, termasuk pula Yap Tiong-siau.
"Sayang, sungguh sayang!"
Tiba-tiba Tiong Tiang-thong berseru.
"Apa yang kau sayangkan, pengemis tua?"
Tanya Kongsun Hong.
"Pertempuran itu pasti sangat hebat, sayang aku tidak bisa menyaksikan sendiri,"
Sahut Tiang-thong.
"Lalu cara bagaimana kalian memperoleh kemenangan, lekas ceritakan, Kim-tayhiap!"
Tetapi Kim Si-ih menggeleng kepala, katanya.
"Sungguh memalukan, meski secara kebetulan kami mengalahkan mereka, tapi asal-usul ilmu silat mereka toh sama sekali tidak kami ketahui. Ketujuh orang itu memakai senjata yang berbeda-beda dan rata-rata mempunyai kelihaiannya sendiri, tapi dari jurus permainan mereka agaknya berasal dari suatu aliran yang sama. Jurus serangan mereka agak ruwet dan cukup aneh, tapi ada juga titik-titik terang yang dapat ditemukan, yaitu perubahan dari ilmu pedang. Dua di antara mereka yang paling kuat adalah pemain pedang, aku menggunakan Si-mi-kiam-hoat untuk menjajal mereka, tapi tetap tak bisa mengungguli mereka."
"Kim-tayhiap mengaku tidak mendapat keuntungan apaapa, tetapi pihak lawan sebenarnya jauh lebih rugi,"
Demikian sambung Yap Tiong-siau dengan tertawa.
"Yang jelas di antara ketujuh lawan itu ada lima yang bersenjata dan empat di antaranya kena direbut senjatanya oleh Kim-tayhiap, hanya seorang yang berpedang itu tidak rela melepaskan senjatanya dan terpaksa harus merasakan pukulan Kim-tayhiap, akhirnya mereka lari semua."
Sampai di sini tiba-tiba ia bertanya kepada Kim Si-ih.
"Waktu itu mestinya Kim-tayhiap dapat membinasakan dia atau dengan mudah dapat menawannya untuk dimintai keterangan, tapi mengapa engkau membiarkan dia lari begitu saja?"
"Orang itu mampu menerima tujuh jurus seranganku barulah kalah, maka dia sudah terhitung tokoh pilihan yang jarang terdapat, mana boleh lagi aku membinasakan dia?"
Ujar Kim Si-ih.
Baru sekarang Yap Tiong-siau mengetahui bahwa Kim Si-ih rupanya menyayangkan ilmu silat lawan yang tidak gampang dipelajari, maka tidak tega mencelakainya.
Kini Le Lam-sing baru sempat maju memberi hormat kepada Kim Si-ih.
"Kiranya kau sudah kenal baik dengan Tiokliu,"
Kata Si-ih tertawa.
"Malahan kami adalah saudara angkat,"
Sambung Tiok-liu.
"Haha, bagus, bagus!"
Seru Kim Si-ih gembira.
"Hubungan akrab kalian ini sungguh tidak menyia-nyiakan hubungan baik kedua angkatan kita."
Menyusul Su Ang-ing dan kaum muda lain ikut maju memberi hormat.
"Nona Su, kau harus memberi hormat menurut adat kebesaran,"
Goda Tiong Tiang-thong kepada Ang-ing.
"Ai, mengapa Tiong-pangtju mengguyoni kaum muda,"
Sahut Ang-ing dengan wajah merah.
"Aku bicara dengan sungguh-sungguh,"
Ujar Tiang-thong.
"Pengemis tua justru tidak sabar lagi ingin minum arak pengantin kalian."
Kim Si-ih sudah diberitahu bahwa Su Ang-ing adalah calon menantunya, ia pun sangat senang, katanya kepada sang istri.
"Tji-hoa, sekejap saja 20 tahun sudah berlalu, anak-anak pun sudah waktunya berkeluarga dan berdikari."
Kok Tji-hoa menarik Su Ang-ing ke samping dan bertanya ini dan itu kepada murid Bin-san-pay itu, ia sudah diberitahu asal-usul Su Ang-ing yang lahir dari keluarga kotor, tapi si nona sendiri suci bersih bagai bunga teratai yang bersih meski tumbuhnya di tengah lumpur yang kotor.
Ayah Kok Tji-hoa sendiri adalah gembong penjahat yang ditakuti di masa lampau, maka asal-usul ibu mertua dan colon menantu boleh dikata rada mirip, sebab itulah Kok Tji-hoa menjadi lebih sayang kepada Ang-ing.
Begitulah dengan meriah sekali perjamuan dilanjutkan.
Di tengah makan minum yang menggembirakan itu, tiba-tiba Kim Si-ih teringat sesuatu, tanyanya.
"Tiok-liu, jurus ilmu pedangmu tadi kau belajar dari mana?"
Tergerak juga pikiran Kim Tiok-Liu, jawabnya.
"Ayah, aku pun ingin minta keterangan tentang ketujuh orang yang diketemukan di rumah Suheng, bukankah ilmu pedang mereka juga mirip dengan jurus ilmu pedangku tadi?"
"Benar, makanya aku ingin tahu apakah barangkali kau sudah pernah bergebrak dengan orang-orang itu?"
Tanya Si-ih.
"Ya, hari ini aku baru saja bertemu seorang sobat baru dan bertukar pikiran tentang ilmu silat dengan dia, ilmu pedangku tadi adalah hasil curianku dari dia, hanya sobat ini agaknya bukan orang sekaum dengan orang-orang yang ditemui ayah itu, malahan sobat baru itu sedang mencari ayah."
"Siapakah dia? Darimana asal-usulnya?"
Tanya Si-ih. Baru berbicara sampai di sini, tiba-tiba terdengar suara orang tertawa di luar pintu.
"Aha, tamu tak diundang kembali datang lagi."
Suara tawa orang itu nyaring menyerikan seperti dua benda logam yang bergesekan, Kim Si-ih terkejut, pikirnya.
"Lwekang orang ini bukan Tjing-pay dan juga bukan Sia-pay mwH bp|"m sempurna betul, tapi sudah tergolong tinggi. Hanya saja seperti sedikit kekurangan tenaga murni, jangan-jangan dia bani saja bergebrak dengan lawan tangguh sehingga tenaga murninya terganggu dan belum pulih kembali?"
Dalam pada itu Tiok-liu sedang berkata.
"Baru diomong orangnya lantas muncul. Ayah, inilah sobat yang kukatakan itu."
Belum lenyap suaranya, benar juga tertampak Boh Tjongtiu muncul, cepat Kim Tiok-Liu memapak maju dan menyapa.
"Boh-heng, kebetulan sekali kedatanganmu ini, ayahku sudah pulang ke sini."
"Hah, tadinya aku masih ragu-ragu, ternyata kabar yang kuterima memang tidak salah, aku justru sengaja datang kemarin untuk menemui ayahmu,"
Seru Boh Tjong-tiu dengan girang. Kim Si-ih menjadi heran daraimana orang mendapatkan beritanya, sementara itu Boh Tjong-tiu sudah lantas mendekatinya dan memberi hormat.
"Wanpwe Boh Tjong-tiu dari Hu-siang-to menyampaikan sembah hormat kepada Kimtayhiap."
Mendengar nama Hu-siang-to barulah Kim Si-ih sadar, kiranya orang-orang yang pernah dijumpainya itu adalah tokoh-tokoh Hu-siang-to, segera ia mengucapkan selamat.
"Sungguh sangat menggembirakan bahwa aliran Hu-siang-to kalian kini muncul kembali di tanah leluhur, semoga dunia persilatan selanjutnya akan menjadi tambah gemilang."
"Ah, Kim-tayhiap terlalu memuji saja, padahal ilmu silat dari leluhur kami yang tertinggal sekarang hanya sedikit sisa-sisa yang tidak lengkap, yang Wanpwe pelajari mungkin tiada sepersepuluh bagian saja,"
Sahut Boh Tjong-tiu.
"Cita-cita Wanpwe hanya berharap dapat menemukan kembali ilmu silat Hu-siang-to yang hilang sekian lamanya, walaupun tidak lengkap, asalkan bisa ketemu satu-dua bagian saja sudah boleh menghibur arwah guruku di alam baka. Untuk mana sangat diharapkan bantuan Kim-tayhiap."
"Cita-cita luhur Boh-heng itu sudah pasti akan membikin dunia persilatan bertambah jaya pula,"
Sahut Si-ih.
"Apakah Boh-heng belum bertemu dengan sesama perguruan kalian?"
"Belum,"
Sahut Boh Tjong-tiu.
"Aneh, jika demikian siapa lagi tokoh yang kau ketemukan tadi?"
Tanya Si-ih. Boh Tjong-tiu terperanjat tak terkatakan herannya, sahutnya "Darimana Kim-tayhiap mendapat tahu?"
"Dari suara Boh-heng yang agak lemah, kukira urat nadi Siau-yang-keng-meh pernah tergetar oleh Lwekang lawan, entah benar tidak ucapanku?"
Sungguh kagum dan kaget Boh Tjong-tiu tak terkatakan, hanya dari suara saja Kim Si-ih sudah dapat mengetahui kelemahannya akibat luka pertarungan tadi.
Baru sekarang ia sadar bahwa orang kosen di dunia ini masih terlalu banyak.
Dengan tersenyum Kim Si-ih berkata pula.
"Syukur Lwekang Boh-heng teramat kuat sehingga tidak terlalu parah, asal istirahat dua-tiga hari saja tentu akan pulih kembali. Entah lawan tangguh yang diketemukan Boh-heng itu siapa?"
"Sungguh memalukan, aku pun tidak menyelami asal usul mereka,"
Sahut Boh Tjong-tiu.
"Mereka adalah sepasang suami-istri."
Kiranya setelah Boh Tjong-tiu meninggalkan Tji-lay-san sehabis bertanding dengan Kim Tiok-liu dan Kang Hay-thian, ia menjadi masgul karena tidak mampu mengalahkan Kim Tiok-liu, apalagi melawan Lwekang Kang Hay-thian yang hebat itu.
Selagi kesal hati di tengah perjalanan tiba-tiba terdengar suara kelenengan kuda, ada sepasang laki-laki perempuan pertengahan umur menyemplak kuda mereka melampauinya.
Sambil melarikan kuda mereka dengan kencang, kedua orang ttupun sedang berbicara dan kebetulan ketika lewat di samping Boh Tjong-tiu, terdengar mereka seperti membicarakan nama Kim Si-ih.
Tergerak pikiran Boh Tjong-tiu, segera ia pun mempercepat langkahnya dan terdengar si lelaki sedang berkata.
"Suami istri Kim Si-ih dan istri Kang Hay-thian lewat di jalan ini, tampaknya mereka baru datang dari rumah Kang Hay-thian dan menuju ke Tji-lay-san, entah Hu-siang-tjhit-tju memergoki mereka tidak?"
Terkesiap hati Boh Tjong-tiu, pikirnya.
"Hu-siang-tjhit-tju (tujuh anak dari Hu-siang-to) yang mereka katakan itu janganjangan adalah orang-orang seperguruanku? Sungguh sangat kebetulan, tidak terduga di sinilah aku dapat memperoleh berita tentang orang seperguruan, bahkan jumlah mereka ada tujuh orang."
Memangnya Boh Tjong-tiu juga ingin tahu jejak Kim Si-ih, sekarang dari mulut orang didapatkan kedua berita penting itu, tentu saja tak dia ke sampingkan.
Dengan Ginkangnya yang tinggi segera ia menyusul ke depan dengan cepat.
Dalam pada itu terdengar yang perempuan sedang berkata.
"Tidak peduli mereka sudah kepergok atau belum, kita harus memberitahukan Hu-siang-tjhit-tju tentang pulangnya Kim Siih."
"Benar,"
Sahut si lelaki.
"Eh, siapa yang menyusul dari belakang?"
Rupanya ia telah mengetahui Boh Tjong-tiu yang mengejar di belakang mereka "Hei, harap kalian berhenti sebentar!"
Demikian seru Boh Tjong-tiu, menyusul ia mengerahkan segenap tenaganya, dua kali loncatan saja ia sudah mengadang di depan kuda orang itu.
Heran juga kedua orang itu melihat gerakan Boh Tjong-tiu yang luar biasa itu.
segera mereka melompat turun dan bertanya.
"Siapa kau? Selamanya kita tidak kenal, ada urusan apa kau merintangi perjalanan kami?"
Kedua orang itu rupanya suami-istri, hidung tinggi, mata lekuk, biji matanya rada kebiru-biruan, tampaknya bukan bangsa Han, tetapi berbicara bahasa Han dengan lancar.
Boh Tjong-tiu menjadi ragu-ragu, sahurnya "Aku bernama Boh Tjong-tiu.
Mungkin kalian pernah mendengar nama Tjayhe."
"O, barangkali kau adalah tokoh termashur. Tapi maaf, kami tidak pernah mendengar namamu yang besar itu,"
Sahut si lelaki dengan nada tak acuh.
"Bukan begitu maksudku, aku hanyalah seorang Bu-bengsiau-tjut (orang tidak terkenal) saja. Soalnya aku berasal dari Hu-siang-to, maka aku mengira kalian mungkin pernah mendengar namaku dari teman-teman kalian."
Mendengar Boh Tjong-tiu berasal dari Hu-siang-to, kedua orang itu terperanjat. Yang lelaki mengamat-amati Tjong-tiu sejenak lalu berkata "Darimana kau mengetahui aku punya teman-teman apa?"
"Tadi saudara seperti bicara tentang Hu-siang-tjhh-tju, maka aku ingin bertanya apakah Hu-siang-tjhit-tju itu bukan tujuh orang yang berasal dari Hu-siang-to?"
"Kau benar-benar keturunan keluarga Boh di Hu-siang-to?"
Orang itu menegas.
"Untuk apa aku mendustai kau?"
Sahut Tjong-tiu kurang senang.
"Tapi kukira rada tidak beres,"
Ujar si perempuan.
"Jika benar pengakuanmu, mengapa mereka tidak mengetahui akan dirimu ini?"
Memang ilmu silat aliran Hu-siang-to sudah lama terpecah menjadi tiga cabang, maka Tjong-tiu pikir mungkin orangorang yang mengaku Hu-siang-tjhit-tju itu berasal dari cabang lain perguruannya.
Tapi asalkan sudah saling mencocokkan ilmu silat masing-masing tentu satu sama lain tidak akan raguragu lagi, maka jawabnya "Benar atau tidak pengakuanku, harap kalian membawa aku menemui mereka tentu duduknya perkara akan menjadi jelas."
Perempuan itu masih ragu-ragu, katanya "Tidaklah sukar untuk membawa kau menemui mereka tapi kami belum kenal asal-usulmu, mana boleh kami menerima permintaanmu dengan begitu saja?"
Memang alasannya cukup masuk di akal, terpaksa Tjong-tiu menjawab.
"Habis cara bagaimana supaya kalian mau percaya pada omonganku?"
Yang lelaki seperti teringat sesuatu, tanyanya tiba-tiba "Kau baru saja datang darimana?"
"Dari Tji-Lay-san,"
Sahut Tjong-tiu.
"O, jadi kau sudah pergi ke sana apa kau tidak menemukan Kim Si-ih?"
Tanya laki-laki itu.
"Tidak, cuma puteranya sih memang sudah kujumpai di sana,"
Kata Tjong-tiu.
"Yang kau maksudkan itu apakah Kim Tiok-liu?"
Laki-laki itu menegas.
"Betul, aku berada bersama Auwyang Kian sehingga hampir menimbulkan salah paham mereka. Untung kemudian mereka percaya atas penjelasanku bahwa aku bermaksud meminta bantuan Kim-tayhiap untuk mencari kabar tentang orangorang seperguruanku."
"Hm, lalu bagaimana?"
Tanya pula si lelaki sambil mendengus.
"Tampaknya sudah akrab benar kau dengan Tiokliu?"
Melihat sikap orang yang rada kaku itu, Tjong-tiu menjadi heran, katanya kemudian.
"Ya, meski kami baru kenal tapi ayahnya pernah menyambangi Hu-siang-to kami, maka aku pun seperti kenalan lama dengan dia."
"Tadi kau bilang hampir menimbulkan salah pahamnya, apa persoalannya?"
Tanya lagi si lelaki.
"Soalnya mereka mendapat kabar bahwa pihak kerajaan akan mengganggu Suhengnya, sedangkan Auwyang Kian diketahui mereka ialah anjing pemburu kerajaan, sebaliknya aku tidak tahu,"
Tutur Tjong-tiu.
"Tadi kalian seperti bilang Kim-tayhiap baru saja lewat di sini, apakah kalian sudah bertemu dengan Kim-tayhiap dan adakah kabar apa-apa tentang kejadian di rumah keluarga Kang?"
"Hm, banyak amat hal-hal yang kau ingin tahu!"
Tiba-tiba yang perempuan menjengek.
"O, maaf, aku hanya bertanya sepintas lalu saja,"
Sahut ^Tjong-tiu melengak, samar-samar ia sudah merasakan gelagat jelek.
"Baiklah, aku mohon kalian membawa aku untuk menemui kawan-kawanmu, tentunya tidak keberatan bukan?"
"Membawa kau ke sana sih boleh juga, tapi cara bagaimana supaya kami bisa mempercayai kau orang Husiang-to?"
Ujar si lelaki. Akhirnya Tjong-tiu mendongkol juga, sahurnya dengan ketus.
"Katakan saja cara bagaimana supaya kalian mau percaya padaku?"
"Mudah sekali, akan kubelajar kenal dulu beberapa jurus padamu,"
Kata laki-laki itu.
Memang sudah lama ilmu silat Hu-siang-to tidak dikenal, maka dengan saling coba memang merupakan suatu jalan untuk membuktikan asal-usul Boh Tjong-tiu, namun Tjong-tiu menjadi ragu-ragu akan tujuan orang apakah bermaksud baik atau buruk terpaksa ia menjawab.
"Baiklah, boleh kita cobacoba sekedarnya, tidak perlu sampai menentukan kalah atau menang."
"Tak perlu banyak omong, majulah lekas!"
Kata laki-laki itu dengan ketus, habis bicara terus saja ia mendahului menyerang. Melihat serangan orang ternyata tidak mengenal ampun itu, Tjong-tiu menjadi gusar, pikirnya.
"Aku anggap kau sebagai sahabat, tapi kau menganggap aku seperti musuh. Kalau aku tidak menghajar padamu tentu kau kira aku orang lemah."
Segera ia mengegos sambil mengangkat kipasnya untuk mengarah 'Lau-kiong-hiat' di telapak tangan lawan.
Gerakan ini tdak tetap, seperti menutuk saja dan seperti juga akan menikam bagai pedang.
Memang inilah salah satu jurus ilmu pedang Hu-siang-to yang hebat yang dimainkan dalam bentuk lain.
Terdengar laki-laki itu bersuara heran pelahan, melihat gerakan itu dalam hati ia sudah dapat mempelajari asal-usul Boh Tjong-tiu memang benar dari Hu-siang-to.
Tapi lantaran diketahui juga bahwa Tjong-tiu bukan sekomplotan dengan Hu-siang-tjhit-tju, maka ia tetap berlagak bodoh dan tetap menghantam ke depan.
Tjong-tiu menjadi terkejut, ia heran apakah lawan punya kesaktian menutup seluruh Hiat-to di tubuh sendiri sehingga tidak gentar kepada ilmu Tiam-hiatnya yang hebat itu, lantaran tidak jelas pihak lawan itu kawan atau musuh, maka Tjong-tiu menjadi serba susah malah.
Belum habis berpikir, tiba-tiba dirasakan telapak tangan lawan mengeluarkan tenaga lengket, sehingga tanpa kuasa tubuhnya tertarik dan berputar, maka tutukan kipasnya menjadi melenceng, bahkan hampir kena dirampas orang itu.
Kiranya laki-laki itupun memiliki sejenis ilmu silat yang aneh dengan tenaga pukulan campuran keras dan lunak, sebaliknya Boh Tjong-tiu merasa ragu-ragu dan tidak menyerang dengan sepenuh tenaga, maka sekali gebrak saja ia sudah kecundang.
"Huh, ilmu silat Hu-siang-to masakah cuma begini saja?"
Jengek laki-laki itu sambil menyerang pula dengan kedua tangan sekaligus.
Tentu saja Boh Tjong-tiu menjadi murka, katanya mau coba-coba saja, tapi nyatanya menyerang dengan keji, segera ia balas menjengek.
"Jika kau ingin tahu ilmu silat sejati Husiang-to juga tidak sulit!"
Segera ia mengerahkan tenaga untuk menguatkan kuda-kudanya, berbareng kipas dan tangan sebelah lantas bekerja, dalam sekejap saja ia balas menyerang tiga kali.
Pukulan dahsyat orang itu sekali ini tidak dapat membikin Boh Tjong-tiu bergerak, sebaliknya terpaksa ia harus menangkis serangan balasan.
"Crit", bajunya sobek oleh kipas Boh Tjong-tiu, tetapi Tjong-tiu sendiri merasa sesak napas juga oleh gon-cangan tenaga pukulan lawan yang kuat itu.
"Bagaimana dengan ilmu silat Hu-siang-to?"
Ejek Tjong-tiu setelah mendesak mundur pihak lawan.
"Juga cuma begini saja!"
Sahut laki-laki itu sambil menerjang maju lagi dengan pukulan kedua telapak tangan.
Tjong-tiu mengira tenaga pukulan lawan tetap sebelah keras dan sebelah lunak, maka ia tetap melayani seperti cara tadi, tidak terduga sekali ini tenaga pukulan lawan bertambah dahsyat luar biasa.
Rupanya tenaga pukulan laki-laki itu dapat berganti-ganti dan berubah menurut keinginan, bisa satu keras dan satu lunak, bisa pula semua keras dan semua lunak.
Lantaran tidak terduga, hampir saja Tjong-tiu termakan, untung dia cukup cekatan, ia tertolak mundur tiga tindak dan tenaga pukulan lawan dapat dipatahkan sebagian besar.
Namun demikian dada terasa sesak, darah seakan bergolak di rongga dadanya laksana kena digodam satu kali.
"Bagus,"
Puji yang perempuan.
"Rupanya kulitmu cukup keras untuk menahan pukulan. Sekarang boleh kau coba-coba kepandaianku!"
"Hm, maju saja kalian berdua sekaligus!"
Sahut Tjong-tiu dengan ketus.
Belum lenyap suaranya tiba-tiba pandangannya menjadi silau, kiranya perempuan itu menanggalkan ikat pinggang sutera merahnya sebagai senjata terus menyabet.
Cepat Tjong-tiu menyampuk dengan kipasnya, tapi rasanya seperti membentur benda keras, keruan ia terkejut akan Lwekang lawan yang aneh itu.
Kalau tadi satu melawan satu Boh Tjong-tiu masih di atas angin, tapi sekarang setelah kedua laki-laki perempuan itu mengeroyoknya, seketika ia terdesak dan rada kewalahan.
"Hm, kukira ilmu silat Hu-siang-to juga tidak begitu hebat,"
Ejek si lelaki.
"Ilmu silat Hu-siang-to apa? Tampaknya dia hanya mengaku-aku saja, bukankah setiap orang Hu-sing-tjhit-tju jauh lebih hebat daripada dia ini,"
Sahut yang perempuan.
"Benar, marilah kita bekuk dia dan menanyai dia mengapa memalsukan nama orang dan berbohong,"
Kata si lelaki.
Tidak kepalang mendongkolnya Boh Tjong-tiu, ia pikir kedua orang itu jelas tidak mempunyai maksud baik padanya, buat apa aku mesti sungkan-sungkan lagi.
Walaupun tidak bisa mengalahkan mereka juga harus melabrak mereka habishabisan.
Begitulah yang laki-laki menjadi kaget ketika Boh Tjong-tiu mendadak menerjang sekuatnya, cepat ia mengelak "Ini, supaya kau pun kenal ilmu silat Hu-siang-to!"
Bentak Tjong-tiu.
Berbareng kipasnya terpentang dan mengebas untuk mengalihkan perhatian lawan, menyusul kipasnya lantas terkatup dan secepat kilat menutuk tiga Hiat-to penting di tubuh musuh.
Sudah tentu yang wanita tadi tidak tinggal diam, selendang suteranya juga bekerja cepat, mendadak selendang lemas itu melurus lempeng terus menusuk ke muka Boh Tjong-tiu.
Tanpa pikir Tjong-tiu membuka mulut hendak menggigit sambil kipasnya menutuk si lelaki.
Tak terduga selendang sutera si wanita benar-benar ajaib permainannya, ternyata gigitan Tjong-tiu tidak kena, sebaliknya ujung hidung Tjong-tiu terasa keserempet oleh ujung selendang.
Ujung hidung itu adalah tempat paling perasa di tubuh manusia, karena itu Tjong-tiu bersin dan tenaga murninya lantas bocor beberapa bagian.
Dengan demikian tutukannya pada Hiat-to maut si lelaki itupun tidak terlaksanakan.
Walaupun laki-laki itu berusaha melindungi ketiga Hiat-to yang diincar, tapi tidak urung sebuah Hiat-to tertutuk juga oleh Boh Tjong-tiu.
Hanya saja lantaran tenaga Tjong-tiu berkurang, maka laki-laki itu tidak sampai roboh.
Boh Tjong-tiu juga sudah tergetar urat nadinya oleh tenaga pukulan lawan tadi, dengan bocornya tenaga mumi ia pun tidak berani bertempur lebih lama lagi.
Pada kesempatan si lelaki terpaku kena tutukannya, cepat ia melarikan diri.
Wanita tadi terkejut melihat sang suami terpaku tak bergerak cepat ia medekati dan memeriksa keadaannya.
Namun sejenak saja laki-laki itu sudah mampu membuka Hiatto sendiri yang tertutuk itu, katanya.
"Tidak apa, sayang bocah itu sempat lolos."
"Agaknya belum jauh dia melarikan diri, marilah kita kejar!"
Kata si wanita.
Sementara itu Boh Tjong-tiu sudah melintasi sebuah tanjakan, kata-kata kedua orang itu sayup-sayup terbawa angin dan didengarnya.
Ia terkejut juga akan ketangkasan lawan, padahal sudah tertutuk Hiat-tonya yang penting, tapi dalam waktu singkat sudah pulih kembali, kalau sampai tersusul benar-benar dirinya bisa celaka, demikian pikirannya.
Begitulah setelah mendengarkan pengalaman Boh Tjongtiu, kemudian Kim Si-ih berkata.
"Setahuku, kira-kira tiga puluh tahun yang lalu ada seorang jago silat Arab bernama Timotato, pernah bertanding mendaki puncak Tjumulangma di pegunungan Himalaya dengan ketua Thay-san-pay, yaitu Tong Hiau-lan, Tong-lotjianpwe, akibatnya Timotato mati karena salju longsor. Jago Arab itu meyakinkan ilmu pukulan yang mirip dengan kedua laki-laki perempuan itu, maka besar kemungkinan mereka adalah anak murid Timotato. Ai, sekian banyak tokoh-tokoh ilmu silat telah berdatangan ke Tionggoan sini dan semuanya dapat ditarik untuk kepentingan kerajaan Boandjing, kukira selanjurnya dunia persilatan akan banyak terjadi huru-hara."
Tergerak hati Boh Tjong-tiu oleh kata "banyak"
Yang digunakan Kim Si-ih itu, jangan-jangan jago-jago silat yang dimaksudkan Kim Si-ih itu tidak cuma kedua suami istri itu saja, tapi termasuk juga Hu-siang-tjhit-tju.
Baru saja Tiong-tiu hendak bertanya, terdengar Kim Si-ih sudah berkata pula.
"Boh-siansing, apakah kau tahu sebab apa kedua suami-istri itu menganggap kau sebagai musuh mereka.?"
"Ya, Wanpwe memang tidak paham, mohon Kim-tayhiap memberi petunjuk,"
Sahut Tjong-tiu.
"Hendaklah kau jangan masgul jika aku ceritakan,"
Kata Siih.
"Aku sudah bertemu dengan teman-teman seperguruanmu, yaitu Hu-siang-tjhit-tju yang dikatakan itu."
Tjong-thi terkejut dan dapat menerka apa yang telah terjadi, cepat tanyanya.
"Dimanakah Kim-Tayhiap bertemu mereka? "Di rumah muridku,"
Sahut Kim Si-ih.
"Kiranya mereka adalah orang-orang kosen undangan Sat-tjongkoan yang dikatakan oleh Auwyang Kian,"
Kata Tjong-tiu dengan menghela napas menyesal. Kim Si-ih belum mengetahui persoalan Auwyang Kian, maka Tiong Tiang-thong lantas menjelaskan. Si-ih manggutmanggut, katanya.
"Mungkin betul, bahkan suami istri yang kau pergoki itupun sekomplotan dengan mereka."
Lalu Si-ih menceritakan pengalaman pertarungannya dengan ketujuh orang itu disertai seluk beluk menurut perkiraannya.
Tjong-tiu tak bisa bersuara setelah mengikuti uraian Kim Si-ih, cita-citanya semula pulang ke Tionggoan ini adalah untuk mencari saudara-saudara seperguruannya demi perkembangan perguruan mereka selanjutnya.
Tak terduga orang-orang sekaumnya telah membudak kepada pihak kerajaan, bahkan memusuhi Kim-tayhiap yang dipujanya.
Kejadian demikian sungguh tidak pernah terbayang olehnya.
Si-ih lantas menghiburnya dan berkata.
"Bisa jadi mereka pun seperti kau,, karena baru pulang ke Tionggoan dan belum jelas situasi di sini sehingga kena dibujuk oleh Sat Hok-ting. Jika kau dapat menasihati mereka agar cepat kembali ke jalan yang benar, maka jasamu sungguh tak terbilang besarnya."
"Semoga demikian,"
Sahut Tjong-tiu.
"Aku pun ingin mencari mereka."
"Tapi kalau mereka tetap tidak mau sadar dan memusuhi kau, bukankah kau menjadi seperti masuk jaring sendiri, maka setiap tindakan hendaklah kau pikirkan sebelumnya,"
Ujar Kim Tiok-liu.
"Segala kemungkinan memang bisa terjadi, tapi paling baik kalau mereka dapat diinsyafkan,"
Ujar Si-ih.
"Begini saja, aku akan pergi ke kotaraja bersama Boh -siansing."
"Masakah mesti membikin capek Kim-tayhiap,"
Sungguh girang Tjong-tiu tidak terperikan.
"Tidak untuk urusanmu saja, tapi ingin sekalian mencari beberapa sobatku yang telah puluhan tahun tidak berjumpa,"
Kata Si-ih.
"Setiba di kota raja hendaklah kau menyamar saja agar tidak dikenali kedua suami-istri itu, dan bila ada berita apa-apa hendaklah segara memberitahukan padaku supaya aku bisa bertindak menurut gelagat."
Sudah tentu Tjong-tiu sangat girang mendapatkan bantuan Kim Si-ih, segera ia membuat perjanjian dengan Kim Si-ih tentang waktu dan tempat pertemuan di kotaraja, lalu ia mohon diri dan berangkat.
Seperginya Boh Tjong-tiu, lalu Kim Si-ih menanyakan kejadian-kejadian selama 20-an tahun ini.
Dengan bergiliran Kim Tiok-liu dan Kang Hay-thian lantas menceritakan perubahan di dunia persilatan dan perlawanan kepada pihak kerajaan selama ini.
Tentang pasukan pergerakan Tiok Sianghu dan Siau Tji-wan di daerah Siau-kim-djwan.
Tidak lupa pula Kim Tiok-liu menceritakan jasa Yap Boh-hoa yang mahir ilmu militer itu dalam penggempuran terhadap pasukan musuh.
Kim Si-ih sangat girang dan mengucapkan selamat kepada Yap Tiong-siau yang mempunyai anak terpuji, sebaliknya Yap Tiong-siau memuji Kang Hay-thian yang berjasa mendidik sang murid.
Dengan rendah hati Kang Hay-thian mengucapkan terima kasih, lalu berkata.
"Kini pihak kerajaan sedang mengatur tipu muslihat untuk menumpas Tiok-lotjianpwe."
Lalu ia bercerita tentang apa yang dikatakan Hong Tju-tjiau tadi.
"Jika demikian kalian harus lekas berangkat ke sana,"
Ujar Si-ih.
"Kami juga akan kembali ke sana buat melaporkan tugas, kebetulan dapat menjadi petunjuk jalan bagimu, sebab pasukan Tick-lotjianpwe sekarang sudah beralih ke tempat yang dirahasiakan, orang luar sukar menemukannya,"
Kata Tjin Goan-ko.
"Kami"
Yang dia maksudkan sudah tentu termasuk Hong Biau-siang, mereka sudah menikah ketika berada di Tay-liang-san. Hong Tju-tjiau sangat senang katanya.
"Anak Siang, semoga perjuangan kalian selalu berhasil. Hidupku telah tersesat dan banyak menumpuk dosa, harapanku cuma kau yang dapat menebus kesalahanku itu."
Su Ang-ing juga berjanji untuk berangkat bersama Kim Tiok-liu, cuma di hadapan kedua calon mertua ia menjadi rikuh untuk berbicara. Li Tun tahu perasaannya, ia berkata.
"Su-pangtju, silakan berangkat saja bersama Kim-toako, segala urusan Pang akan dapat kuatasi dengan bantuan Kongsun-totju pula, tentu takkan terjadi apa-apa yang tidak diinginkan."
Le Lam-sing dan Kongsun Yan juga ingin ikut berangkat, cuma urusan Thian-mo-kau belum selesai seluruhnya, maka mereka hanya minta Kim Tiok-liu menyampaikan dulu maksud mereka kepada Tiok Siang-hu.
Tiba-tiba Si-ih teringat sesuatu, katanya dengan tertawa.
"Tiok-liu, agar perjalanan kalian bisa lebih leluasa biarlah pertunanganmu dengan nona Su diresmikan sekarang, kelak bila aku datang ke Siau-kim-djwan baru aku akan meresmikan perkawinan kalian."
Serentak semua orang bersorak gembira, Su Ang-ing juga sangat senang, tapi tertunduk malu.
Kok Tji-hoa menanggalkan pedang pusakanya 'Siang-hoakiam*, dan diserahkan kepada Su Ang-ing sebagai mas kawin.
Secara sederhana tapi khidmat pertunang Kin Tiok-liu dan Su Ang-ing ditetapkan.
Mala itu perjamuan kembali diadakan dalam suasana riang gembira.
Esok paginya kedua pasangan, yaitu Tiok-liu dan Su Anging serta Goan-ko dan Biau-siang lantas mohon diri berangkat ke Tay-liang-san.
Sudah tentu kedua pasangan merasa sangat bahagia dalam perjalanan mereka yang penuh arti itu.
Suatu hari mereka berlalu di kaki gunung Hoa-san, waktunya sudah dekat maghrib.
Alangkah indahnya puncak Hoa-san yang menjulang tinggi dipeluk lautan mega yang beraneka warna tersorot oleh sinar matahari senja.
Goan-ko tidak pernah mengunjungi pegunungan itu, maka tidak habis-habisnya dia memuji keindahan pemandangan alamnya.
Tiok-liu menjadi teringat kepada kematian Soh-tjiok To-djin, maka mereka sepakat untuk pesiar ke atas gunung sambil melayat ke depan layon Todjin yang menjadi korban keganasan Yang Go itu.
Setiba di Djing-hong-koan hari sudah mulai gelap, kuil itupun merupakan salah satu tempat terkenal di puncak Hoa-san.
Mereka segera disambut dengan kejut-kejut girang oleh para To-su penghuni kuil itu, ketika kemudian Tiok-liu memberitahukan tentang sakit hati kematian guru mereka sudah terbalas, para Tosu itu menjadi girang dan mengucapkan terima kasih.
Setelah bersembahyang di depan abu Soh-tjiok Todjin, mereka disediakan dua buah kamar untuk bermalam.
Tiok-liu sekamar dengan Goan-ko dan Su Ang-ing sekamar dengan Hong Biau-siang.
Asyik sekali Tiok-liu mengobrol dan bersenda-gurau dengan Goan-ko sehingga tanpa terasa sudah lewat tengah malam.
Sinar bulan menembus ke dalam kamar melalui celah-celah jendela, rupanya hari itu tepat hari bulan purnama.
Sesungguhnya Goan-ko sangat ingin keluar menikmati pemandangan Hoa-san di waktu malam purnama, tapi kuatir besoknya diomeli sang isteri, maka ia mengurungkan maksudnya.
Tiok-liu menggoda temannya, baru saja kawin sudah takut bini.
Namun Goan-ko balas menggoda, nanti kalau Tiok-liu sudah kawin baru tahu rasa betapa galaknya Su Ang-ing.
Tengah mereka berkelakar, mendadak terdengar suara siulan tajam, menurut pendapat Tiok-liu tentu suara manusia dan bukan binatang buas, Goan-ko ikut mendengarkan dengan cermat, akhirnya ia pun sependapat suara siulan itu jelas dikeluarkan oleh orang mempunyai Lwekang amat tinggi.
Diam-diam mereka sepakat keluar untuk melihat apa yang terjadi tanpa memberitahukan Su Ang-ing dan Biau-siang tapi baru saja mereka membuka pintu kamar, ternyata Su Ang-ing berdua sedang menuju ke kamar mereka sini.
"He, kalian sudah mendengar suara itu?"
Tanya Tiok-liu.
"Kami bermaksud keluar melihatnya."
Su Ang-ing mengangguk, sahutnya.
"Ya, kami pun tertarik oleh suara itu dan ingin tahu apa yang terjadi."
Begitulah di luar tahu para Tosu, mereka lantas keluar dari kuil itu.
Di bawah sinar bulan purnama Hoa-san memang sukar dilukiskan keindahan pemandangannya.
Keadaan Hoa-san juga sangat curam, hanya ada satu jalan saja untuk mendaki puncak pegunungan itu, yaitu jalan yang dibuat dengan membelah dinding batu, panjang jalan kira-kira dua li lebih, lebarnya hanya dua kaki, praktis hanya dapat dilalui satu orang saja.
Sepanjang jalan banyak pula tempat-tempat pemandangan yang bagus.
Pada ujung jalan itu adalah undak-undakan batu terdiri dari dua ratusan undakan sehingga mirip sebuah tangga langit yang menjulang tinggi ke atas menghilang ditelan awan.
Selagi mereka tidak habis memuji kehebatan pemandangan itu, tiba-tiba angin gunung berkesiur dan sayup-sayup Tiok-liu mendengar suara tertawanya orang, katanya terkejut.
"He, kedengarannya tidak cuma satu orang agaknya ada beberapa orang sedang berbicara dan bergurau di atas sana, mari kita lekas naik ke atas."
"Nanti dulu, belum lagi diketahui apakah benar suara manusia atau bukan?"
Ujar Ang-ing.
"Paling penting kita buktikan nanti, kuyakin pasti orang kosen yang luar biasa"
Kata Tiok-liu.
Dengan rasa ingin tahu segera mereka mempercepat langkah, setelah melintasi 'tangga seribu' tadi, tertampaklah dua puncak berjajar di kanan dan di kiri disela dengan jurang yang tidak terkirakan dalamnya.
Di bawah kaki mereka seakan-akan awan mengembang sehingga rasanya seperti berdiri di angkasa raya.
"Lihat itu, di sebelah sana benar-benar ada orang!"
Seru Goan-ko tiba-tiba.
Waktu Tiok-liu memandang ke arah yang ditunjuk, terlihat di depan sana ada sebuah balok batu yang panjangnya belasan meter melintang di antara kedua puncak gunung, sehingga mirip sebuah jembatan terapung.
Di sebelah jembatan sana ada beberapa batang pohon Siong tua yang mencuat tinggi ke langit, di bawah pohon yang rindang itu, samar-samar tertampak dua orang, sepertinya seorang lakilaki dan seorang perempuan.
"Kalian tunggu di sini, akan kulihat siapa mereka itu,"
Kata Tiok-liu. Segera ia maju ke depan dan melompat ke atas belan-dar batu sambil berseru.
"Wanpwe Kim Tiok-liu ingin berkenalan dengan para Tjianpwe, mohon bertemu."
Belum lenyap suaranya tertampak kedua orang itu sudah berbangkit, yang laki-laki berjenggot cabang tiga, yang wanita bersanggul tinggi di atas kepala, keduanya sudah setengah umur.
Dandanan mereka mirip orang kosen yang mengasingkan diri, laki-laki setengah umur itu lantas melompat pula ke atas belan-dar batu dan lurus menuju ke arah Kim Tiok-liu sambil menjawab.
"O, kiranya putera Kimtayhiap yang datang, jangan sungkan-sungkan, marilah kita berkenalan."
Padahal belandar batu itu hanya cukup untuk dilalui satu orang saja, tampaknya orang itu terus maju tanpa ada maksud mengelak.
Keruan Kim Tiok-liu terkejut, baru sekarang ia tahu orang tidak bermaksud baik, tapi sengaja mendesaknya terjerumus ke jurang.
Waktu itu Tiok-liu sampai di tengah belandar batu itu, kedua pihak sama-sama tak bisa mengelak lagi, kalau memutar balik, bukan mustahil pada waktu memutar tubuh, orang akan mendorongnya ke bawah dengan mudah, andaikan melangkah mundur rasanya juga sukar menahan tabrakan orang itu dari depan.
Dalam keadaan demikian Tiok-liu menjadi gusar, jengeknya segera.
"Banyak terima kasih atas sambutanmu, biarlah aku sendiri lewat ke sana saja!"
Bukannya mundur, bahkan ia pun melangkah maju, pikirnya ingin melihat kemampuan apa yang dimiliki laki-laki itu.
Tampaknya kedua orang akan segera bertabrakan dan bila terjadi tentu yang lemah akan terjatuh ke bawah, tapi juga bukan mustahil keduanya akan hancur bersama.
Dalam keadaan begitu, Goan-ko, Ang-ing dan Biau-siang menjadi kaget, tapi apa daya, untuk membantu juga tidak mungkin, tanpa terasa mereka berseru kuatir.
Laki-laki itu pernah menelan pil pahit dari Kim Si-ih, maka ia pun terkesiap ketika melihat putera Kim Si-ih itupun menabrak ke arahnya tanpa gentar.
Dia dapat berpikir cepat, mendadak ia menghentikan langkahnya sambil berkata.
"Terimalah salamku, Kim-siauhiap!"
Kedua tangan be ekap di depan dada terus membungkuk hormat kepada Kim Tiok-liu.
Tampaknya saja memberi hormat, tapi sebenarnya suatu jurus serangan maut yang bergaya 'Tong-tju-pay-kwan-im' atau anak kecil menyembah Kwan-im, jurus ini sebenarnya suatu gerakan biasa, tapi di bawah gerakan tangan orang ini berubah menjadi suatu jurus serangan yang mematikan, ujung jarinya mengarah ke depan menunjuk tempat-tempat berbahaya di bagian perut Kim Tiok-liu, bahkan disertai tekanan tenaga dalam yang dahsyat.
"Ah, saudara terlalu banyak adat,"
Sahut Tiok-liu sambil tertawa dingin.
Kedua tangannya juga dipakai seperti membalas hormat orang, tapi sebernarnya digunakan mematahkan tenaga serangan lawan.
Begitulah dua tenaga saling beradu, dengan tenaga benturan itu Kim Tiok-liu terus melompat ke atas, sekali berjumpalitan ia terus melayang ke sebelah belandar batu di sana.
Setenarnya tenaga pukulan-pukulan laki-laki itu sangat aneh, untung Tiok-liu pernah menyaksikan gerakan sekaumnya sehingga masih sanggup melayani, kalau tidak sukarlah dibayangkan akibatnya.
Orang itupun merasa bersyukur dapat terhindar dari bahaya bersama Kim Tiok-liu, segera ia berputar dan berkata.
"Kim-siauhiap benar-benar hebat!"
"Saudara ini tentunya termasuk salah seorang dari Husiang-tjhit-tju!"
Kata Tiok-liu. Kembali orang itu terkejut dan memuji.
"Tajam benar pandangan Kim-siauhiap. Ya, mungkin kau sudah mendengar dari ayahmu. Kami pernah belajar kenal ilmu silat ayahmu yang tiada bandingannya, sekarang kebetulan bertemu pula dengan Kim-siauhiap, sungguh kami sangat beruntung."
Nada ucapan orang itu kedengarannya menghormat tapi sikapnya angkuh.
Dasar anak muda, apalagi tadi hampir saja didesak jatuh ke jurang, tentu saja Tiok-liu itu sangat mendongkol.
Tanpa sungkan-sungkan lagi segera ia melolos Hian-tiat-pokiam dan menantang.
"Aku pun ingin menambah pengalaman dan berkenalan dengan ilmu pedang Hu-siang-to, marilah kita coba-coba."
Melihat warna Hian-tiat-pokiam yang hitam tak menarik, orang itu menjadi terkejut malah dan yakin tentu senjata itu lain daripada yang lain.
Segera ia pun melolos pedang sambil menjulurkan ujung pedangnya miring ke depan sebagai jurus pembukaan dan sekaligus menjajaki serangan lawan.
"Bagus!"
Puji Tiok-liu, tanpa lika-liku lagi ia mengangkat Hian-tiat-pokiam terus membacok.
Orang itu menduga Hian-tiat-pokiam pasti bukan senjata sembarangan, tapi tidak mengira kalau bobotnya sedemikian berat, baru saja pedang itu menurun sudah didahului tenaga tekanan yang dahsyat.
Untung dia sudah siap, begitu merasa gelagat jelek segera ia melompat ke samping sambil balas menabas.
"Aku baru saja menciptakan beberapa jurus ilmu pedang yang rada-rada mirip dengan ilmu pedangmu, harap kau sudi memberi petunjuk,"
Kata Tiok-liu sembari menyerang beberapa kali, yaitu jurus-jurus baru yang diubahnya dari ilmu pedang Hu-siang-pay sendiri, seketika orang itu menjadi kelabakan dan terpaksa mundur berulang-ulang.
Belasan jurus kemudian, orang itu bertambah terkejut, pikirnya dengan curiga.
"Apakah mungkin Kiam-boh (kitab ilmu pedang) aliran kami jatuh di tangannya?"
Melihat sang suami kewalahan, kejut istrinya juga tidak kepalang. Segera ia pun mencabut pedang dan membentak.
"Bagus, setelah mencuri Kiam-boh, sekarang kau berani main gila lagi kepada kami. Hayo, lekas serahkan Kiam-bohnya, kalau tidak, jangan kau harap bisa kabur dari sini."
"Hahaha, sungguh aneh, sungguh menggelikan!"
Seru Kim Tiok-liu sambil terbahak-bahak.
"Apa yang menggelikan?"
Omel wanita itu dengan murka.
"Habis, sudah sejak ratusan tahun aliran kalian terpecah menjadi tiga cabang, Kiam-boh kalian telah lenyap sehingga tidak seorang pun yang mahir mempelajari secara lengkap, lalu darimana aku bisa mencuri Kiam-boh kalian?"
Sahut Tiokliu. Laki-laki itu terkejut, tegurnya.
"Darimana kau mengetahui sedemikian jelas? Ilmu pedang kami teramat luas, sekalipun hanya sedikit memahami cecerannya saja sudah cukup untuk menjagoi dunia persilatan. Pendek kata serahkan saja barang curian-mu dan habis perkara."
Sebenarnya Kim Tiok-liu bermaksud menceritakan mengenai Boh Tjong-tiu kepada mereka, tapi ia jadi mendongkol mendengar ucapan mereka itu, dengan sengaja ia bergelak tertawa pula.
"Apalagi yang kau tertawakan?"
Semprot si wanita dengan gusar.
"Aku menertawakan kalian mirip katak di dalam sumur, picik benar pengetahuan kalian,"
Sahut Tiok-liu. Yang lelaki agaknya lebih sabar, tanyanya.
"Ya, mungkin kami seperti katak di dalam sumur seperti kata Kim-kongtju, maka mohon kau memberi penjelasan lebih lanjut."
"Setahuku ilmu silat tiada batasannya, di atas orang pandai masih ada yang lebih pandai,"
Kata Kim Tiok-liu.
"Terus terang kukatakan, beberapa jurus seranganku tadi meski perubahan dari ilmu pedang aliran kalian, tapi adalah hasil ciptaanku sendiri. Jika kalian tidak percaya, biarlah kugunakan ilmu pedangku yang asli untuk coba-coba lagi, lihat saja apakah lebih jelek daripada ilmu pedang kalian atau lebih bagus?"
Rupanya laki-laki inilah orang yang telah menggores cincin kemala yang dipakai Kim Si-ih.
Tatkala itu Kim Si-ih tidak memakai senjata, hanya dengan tenaga jari sakti ia menyelentik terpental pedang lawan, sebab itu meski laki-laki itu dikalahkan Kim Si-ih, tapi masih cukup yakin akan ilmu pedangnya sendiri dan belum tunduk benar-benar.
Apalagi sekarang adalah putera-nya yang dihadapinya, ia tidak percaya putera Kim Si-ih mampu mengalahkannya, segera ia menjawab.
"Baik, asalkan kau mengalahkan aku dengan ilmu pedang milikmu sendiri, kalah pun aku akan tunduk benarbenar."
Tiok-liu tertawa, segera ia memutar Hian-tiat-pokiam ke atas, lalu pelahan-lahan menusuk ke depan.
Pada umumnya ilmu pedang mesti mengutamakan kecepatan dan kegesitan, belum pernah laki-laki itu melihat gerakan pedang sedemikian pelahan.
Keruan ia terkesiap, tapi juga tidak berani memandang ringan lawannya, segera pedangnya juga bergerak dan balas menyerang secepat kilat.
Maksud laki-laki itu hendak mengatasi kelambatan gerakan lawan dengan gerak cepatnya, tak terduga baru saja ujung pedangnya memasuki lingkaran pedang Kim Tiok-liu, seketika ia merasa terkurung oleh serangan-serangan tersembunyi yang disiapkan lawan itu.
Kiranya Tiok-liu menggunakan 'Si-mi-kiam-hoat' yang lamban untuk mengatasi gerak cepat lawan.
Untung serangan orang itupun tersembunyi gerakan susulan yang hebat, begitu merasa gelagat jelek segera ia menarik diri.
Walaupun demikian toh dia menderita rugi sedikit, terdengar suara "tring"
Yang nyaring, pedangnya gumpil sedikit oleh sambaran Hian-tiat-pokiam.
Meski lebih unggul, dalam hati Kim Tiok-liu mengagumi juga kehebatan ilmu pedang lawan, sebab keunggulannya itu adalah berkat Hian-tiat-pokiam, kalau memakai senjata biasa tentu sukar membikin keder lawannya.
Wanita itu terkejut melihat sekali gebrak saja suaminya sudah kecundang, ia lantas mengejek.
"Hm, mengandalkan pedang pusaka saja, tampaknya bocah ingusan seperti kau tidak punya kepandaian apa-apa."
"Baik, boleh pinjam pedangmu,"
Sahut Tiok-liu. Mendadak Su Ang-ing berseru di seberang jembatan sana.
"Jangan tertipu olehnya!"
"Ang-ing, kemarilah dan tukar pedangmu dengan aku,"
Seru Tiok-liu.
"Tidak perlu repot-repot,"
Kata wanita tadi.
"Biar aku pun belajar kenal dengan ilmu pedangmu. Kau pakai pokiam, tentunya adil juga jika kami berdua melawan kau sendirian."
Rupanya wanita itu sengaja mengejek, tapi sebenarnya cuma buat alasan saja untuk mengerubutnya.
"Ya, adil, tentu adil!"
Sahut Tiok-liu tertawa.
"Bolehlah kalian maju bersama!"
Tanpa malu-malu lagi wanita itu benar-benar ikut menerjang maju, gabungan mereka berdua ternyata banyak mengubah keadaan.
Suami-istri itu bisa kerjasama dengan sangat baik, ketika pedang wanita itu menyambar tiba, Tiokliu tetap menggunakan gerakan Si-mi-kiam-hoat untuk menangkis.
Waktu Tiok-liu memutar pedangnya untuk menangkis, secepat kilat pedang si wanita menusuk pula.
Untung Tiok-liu sempat menggunakan Thian-lo-poh-hoat untuk menggeser ke samping, walaupun begitu ujung bajunya terobek juga oleh tusukan wanita itu.
Sebaliknya sesak juga napas wanita itu oleh tekanan kekuatan Hian-tiat-pokiam tadi walaupun tidak sampai terluka.
Ia terkejut akan kekuatan pedang pusaka itu, tapi sekali sudah berada di atas angin, segera ia menyerang lebih cepat lagi tanpa memberi kesempatan kepada Tiok-liu untuk balas menyerang.
Di bawah kerubutan suami-istri itu mau tak mau Tiok-liu terdesak juga.
Tiok-liu menjadi murka, segera ia berganti siasat, ia tidak melulu bertahan saja, tapi ia pun bermain cepat dan membarengi serangan musuh.
Yang digunakan sekarang adalah Tui-hong-kiam-hoat yang mengutamakan serangan.
Terkesiap kedua suami-istri itu akan ilmu pedang Tionggoan yang memang lain daripada yang lain.
Mereka saling memberi isyarat, ilmu pedang mereka segera berubah juga.
Pedang wanita itu berputar, tapi seperti berlatih sendiri saja, ia tidak mendekati Kim Tiok-liu tapi pedangnya terus berputar di samping Tiok-liu dengan lingkaran-lingkaran yang kerap sehingga laksana ombak yang gulung-gemulung mendampar ke arah Kim Tiok-liu.
Walaupun tidak mendekat, tapi asalkan Tiok-liu sedikit meleng saja tentu setiap saat tubuhnya bisa tertusuk oleh lawan.
Bila satu lawan satu tentu mudah bagi Tiok-liu untuk mematahkan ilmu pedang wanita itu betapapun anehnya, tapi sekarang dia harus satu lawan dua.
Kalau si wanita terus mengurung Tiok-liu dengan lingkaran-lingkaran pedangnya, adalah sebaliknya yang lelaki terus menusuk dari jarak dekat sehingga terbalik dengan istrinya.
Kerjasama mereka yang rapat ini membikin Kim Tiok-liu menjadi serba salah, bertahan tidak bisa, balas menyerang juga sulit.
Diam-diam Tiok-liu mengeluh, bila pertarungan tidak menentu ini diteruskan, lama-lama dirinya tentu bisa celaka.
Untuk mengadu jiwa dan gugur bersama musuh juga sukar rasanya.
Sebaliknya kalau mau melarikan diri sulit juga karena berada di puncak Hoa-san yang terjal itu, mundur ke belakang berarti masuk jurang yang tak terkira dalamnya, bila lari melalui jembatan batu tunggal itu masakah lawan-lawannya mau tinggal diam?
Karena tiada jalan, terpaksa ia bertempur mati-matian.
Di sebelah sana Su Ang-ing bertiga juga gelisah, Goan-ko dan Biau-siang merasa kepandaian mereka selisih terlalu jauh untuk memberi bantuan.
Dengan kuatir Biau-siang berkata.
"Gelagatnya tidak menguntungkan Kim-toako, mereka main keru-but, terpaksa kita pun menyeberang ke sana untuk melabrak mereka"
"Aku saja yang ke sana jika tidak tahan barulah kalian maju pula"
Ujar Ang-ing "Tidak, kita berdua maju ke sana kalau tak mampu membantu Kim-toako hendaklah Goan-ko lekas pulang memberi kabar kepada Kim-tayhiap,"
Kata Biau-siang.
Rupanya Biau-siang sadar dirinya juga tidak mampu memberi bantuan apa-apa tetapi ia pun tidak ingin membiarkan Su Ang-ing menghadapi bahaya sendirian, terpaksa ia menggunakan jalan demikian untuk menyelamatkan jiwa Goan-ko.
Goan-ko dapat memahami pikiran sang istri, ia sangat terharu.
Ang-ing juga berterima kasih atas kesetiakawanannya.
Dengan mengertak gigi Goan-ko menjawab.
"Tidak, kau saja yang pulang memberi kabar kepada Kim-tayhip, aku yang menyeberang ke sana bersama entji Ang-ing."
Tapi belum lenyap suaranya, tiba-tiba seorang telah mengejek.
"Hm, kalian sendiri saja bakal mampus masih ribut mau membantu orang segala. Daripada kalian mengantar nyawa ke sana. biarlah aku saja yang mengabulkan keinginan kalian."
Begitu selesai ucapannya tahu-tahu orangnya juga sudah datang, kontan Hong Biau-siang lantas dicengkeram lebih dulu.
Untung saja Su Ang-ing sempat melolos pedang, pada saat orang itu mencengkeram, secepat kilat Ang-ing juga menusuknya dengan demikian terhindarlah Biau-siang dari cengkeraman maut musuh.
Waktu ia perhatikan, kiranya penyerang itu ialah Auwyang Kian.
Kiranya kediaman Auwyang Kian terletak di puncak utara Hoa-san, jaraknya tidak jauh dari kuil Soh-tjiok Todjin.
Kedua suami-istri yang bertempur dengan Kim Tiok-liu itu adalah tamu ci rumahnya.
Sejak kekalahan di Tji-lay-san, Auwyang Kian tidak berani melapor ke kotaraja, tapi bersembunyi di rumah untuk berlatih lagi.
Setelah Hu-siang-tjhit-tju dikalahkan Kim-si-ih, mereka pun terpencar, sepasang suami-istri ini sengaja mencari Auwyang Kian karena mereka tahu dia adalah anak buah kepercayaan Sat Hok-ting.
Sungguh kebetulan, pada hari yang sama Tiok-liu berempat juga datang ke Hoa-san dan dapat dilihat oleh mereka.
Setelah mengetahui siapa Kim Tiok-liu dari cerita Auwyang Kian, mestinya mereka ingin mencari pemuda itu untuk menuntut balas karena kekalahan mereka oleh Kim Si-ih, tapi Auwyang Kian mengusulkan agar mereka malam-malam menggunakan suara suitan Lwekang untuk memancing Kim Tiok-liu datang ke puncak yang berbahaya itu.
Auwyang Kian sendiri bersembunyi di tempat yang tidak terlihat oleh Kim Tiok-liu.
Setelah gagal membinasakan Kim Tiok-liu di atas jembatan batu, kemudian kedua suami-istri itu mengembut Kim Tiok-liu sehingga kewalahan.
Melihat keadaan yang menguntungkan itu, Auwyang Kian sangat girang.
Sesuai dengan rencana semula, dia akan muncul dari tempat sembunyinya dan menyergap Su Ang-ing bertiga.
Untung Su Ang-ing cukup cekatan sehingga Biau-siang tertolong.
Biau-siang menjadi murka setelah tahu siapa lawannya itu, dampratnya.
"Bangsat, kau sudah membikin susah ayahku, sekarang kau mau membikin celaka padaku?"
"Huh, kata-katamu itu harus diputar balik,"
Jengek Auwyang Kian.
"Memang ayahmu anak buah Sat-taydjin dan diberi tugas bersamaku, tapi di tengah jalan dia berkhianat sehingga aku berbalik dibikin susah, aku justru mau mencari ayahmu untuk membikin perhitungan. Sekarang kalian masuk jaring sendiri ke sini, maka ikut aku saja ke kotaraja, asalkan kalian mengaku dimana pasukan pemberontak Tiok Siang-hu itu bersembunyi, maka jiwa ayahmu mungkin dapat aku ampuni."
"Persetan!"
Bentak Biau-siang sambil menusuk dengan pedangnya.
"Hahaha, genduk ingusan macam kau masakah sesuai untuk bergebrak dengan aku?"
Sem Auwyang Kian dengan berge-lak tertawa. Sekali jarinya menyentik.
"creng", kontan pedang Biau-siang terpental ke samping. Tapi Goan-ko dan Ang-ing segera menjulurkan pedang untuk mencegah serangan Auwyang Kian lebih jauh, hanya beberapa jurus saja Auwyang Kian sudah dipaksa mundur. Nyata ilmu pedang Su Ang-ing sekarang sudah jauh lebih maju pula setelah mendapat gemblengan Kim Tiok-liu akhir-akhir ini. Tadi karena bermaksud menangkap Hong Biau-siang, maka Auwyang Kian belum mengeluarkan kepandaiannya yang sejati. Sekarang setelah terdesak, diam-diam ia mengerahkan tenaga dan mengadakan persiapan serangan balasan.
"Hm, kalian bertiga jangan harap bisa lolos dari tanganku!"
Ejeknya sembari mulai memukulkan sebelah tangannya dengan membawa angin yang panas membakar.
Inilah 'Lui-sin-tjiang' (pukulan geledek) keluarga Auwyang Kian yang lihai, cuma pemakaiannya sangat merusak tenaga murni, maka bila tidak terpaksa jarang digunakan.
Begitulah hanya sekejap saja Ang-ing bertiga sudah mandi keringat, kepala pusing dan pandangan terasa kabur.
Lwekang Ang-ing lebih tinggi, maka lebih mendingan, sebaliknya Biausiang paling lemah, keruan ia menjadi payah dan megapmegap saking panasnya.
"Kau mengaso sebentar, entji Siang!"
Sem Ang-ing, segera ia mengeluarkan cambuknya, dengan pedang di tangan kanan dan cambuk di tangan kiri, ia menerjang maju untuk menghadapi gempuran Auwyang Kian yang hebat.
"Hm, budak hina, kau membantu orang luar dan membinasakan kakak kandung sendiri, sekarang kau berani main gila lagi padaku, hari ini aku harus menuntut balas bagi Su Pek-to,"
Damprat Auwyang Kian.
Setelah lawannya menyingkir satu, ia mengira akan lebih gampang mendapat kemenangan, terjangan Su Ang-ing itu dianggap sebagai perbuatan kalap belaka.
Tak diduganya bahwa permainan kombinasi pedang dan cambuk adalah kepandaian Su An-ing yang hebat, cambuknya bahkan lebih hidup daripada pedangnya.
Dahulu waktu dia pertama kali bertemu dengan Kim Tiok-liu juga pernah menggunakan cambuknya untuk menempur pemuda itu dengan sama kuatnya.
Sambaran cambuk yang lincah bagaikan ular itu, sedikit Auwyang Kian meleng.
"sret"
Punggung tangannya termakan, walaupun bukan tempat berbahaya, tapi juga kesakitan.
Auwyang Kian menjadi gusar, ia menubruk maju.
Tapi pedang Ang-ing lantas memapaknya dengan gerakan tiga kali, di atas menusuk leher, tengah mengancam Hiat-to di dada dan bawah mengincar perut.
Dimana pedangnya mengarah adalah tempat-tempat yang mematikan.
Menghadapi serangan yang memungkinkan mati itu, Auwyang Kian terkejut, ia tidak berani terlalu mendesak lagi, terpaksa mundur kembali.
Dalam pada itu dengan cepat Goanko juga menyerang dari samping.
Meski kepandaian Goan-ko lebih rendah, tapi ilmu pedang Bu-tong-pay juga termasuk satu di antara ilmu pedang kelas satu di dunia persilatan.
Sekarang ia pun menyerang dengan mati-matian, mau tak mau Auwyang Kian harus membagi perhatiannya.
Terpaksa ia harus menggunakan Lui-sin-tjing berturut-turut, pukulan beruntun itu dapat mendesak mundur Goan-ko.
Terbakar oleh hawa yang sangat panas itu, sekuatnya Goan-ko bertahan.
Setelah beberapa puluh jurus lewat masih belum bisa mengalahkan lawan-lawannya, Auwyang Kian menjadi gelisah juga.
Padahal dia sudah banyak kehilangan tenaga dalam setelah pertarungan sengitnya dengan Tiong Tiang-thong di Tji-lay-san tempo hari, untuk mana sedikitnya dia harus berlatih tiga tahun baru bisa pulih.
Sekarang dia banyak membuang tenaga pula dengan pukulan-pukulan Lui-sin-tjing yang dahsyat, tentu waktu untuk memulihkan tenaga yang terbuang itu akan bertambah lama.
Ia tidak tahu bahwa di pihak Ang-ing dan Goan-ko sebenarnya jauh lebih gelisah daripada dia.
Di bawah damparan hawa panas itu kedua muda-mudi itu sudah sangat payah dan cuma bertahan sekuatnya saja.
Di sebelah sana Kim Tiok-liu juga berada dalam keadaan payah, hanya kedudukannya jauh lebih baik daripada Ang-ing berdua.
Kedua lawannya mendesak semakin kencang, hanya berkat Hian-tiat-pokiam saja Tiok-liu masih dapat bertahan sebisanya.
Namun mau tak mau perhatiannya menjadi terbagi pula setelah mendengar keadaan Ang-ing di sebelah sana yang sama juga payah itu.
Memangnya Tiok-liu sudah terdesak di bawah keroyokan kedua lawannya, sekarang pikirannya kacau pula, tentu saja lebih susah melayani serangan-serangan musuh.
"Haha, bocah she Kim, lebih baik kau menyerah kalah saja, menjura saja tiga kali padaku dan taruh pedangmu itu, lalu bolehlah kau pergi,"
Kata laki-laki itu dengan tertawa. Rupanya ia pun melihat Hian-tiat-pokiam adalah benda pusaka yung sukar dicari.
"Kentut!"
Damprat Tiok-liu, pedangnya diangkat tinggi ke atas terus membacok bagai golok.
Laki-laki itu terkejut, tadinya ia menyangka keadaan Kim Tiok-Liu sudah payah, tapi nyatanya masih mampu menggunakan serangan ganas itu.
Cepat ia menggunakan gerakan yang enteng untuk mematahkan serangan Kim Tiok-Liu itu, namun demikian dia tergetar mundur juga.
Rupanya saking gelisah dan gusar, Tiok-liu mengerahkan tenaga murninya, serangan yang dahsyat ini hanya gertakan belaka.
Dengan gabungan kedua suami istri itu, dua-tiga gebrakan kemudian dapatlah mereka menjajaki tenaga Kim Tiok-Liu ternyata mulai kendur.
Legalah hati laki-laki itu, kembali ia mengejek lagi dengan tertawa.
"Sungguh bandel kau ini, masakah kau mampu lolos dari telapak tangan kami? Percuma kau bertempur lagi, lebih baik kau menyerah saja. Mengingat kau memang cukup gagah juga, bolehlah syarat menjura kubebaskan, tak perlu kau lakukan."
Kim Tiok-Liu jadi teringat kepada ajaran ayahnya bahwa menghadapi musuh jangan sekali-kali naik pitam, tapi harus tenang dan sabar, maka sebisanya ia menahan amarahnya, jawabnya.
"Hm, kalau mampu ambil saja sekalian nyawaku ini, tapi menyuruh aku menyerah dan meletakkan senjata, hm, jangan harap."
Baru saja Kim Tiok-Liu hendak mengeluarkan jurus-jurus serangan paling berbahaya, bila perlu gugur bersama musuh daripada menyerah kalah atau tertawan.
Pada saat itulah tibatiba terdengar suara heran seorang kedengarannya seperti suara perempuan.
Agaknya suami istri itu pun mendengar, wajah mereka menampilkan rasa terkejut heran.
Waktu Tiok-liu melirik, dilihatnya dari sebelah pepohonan sana muncul seorang perempuan muda, tampaknya usianya belum ada 20-an.
Seorang anak perempuan muncul di puncak Hoa-san di tengah malam, dengan sendirinya pasti bukan anak keluarga biasa.
Baru saja Kim Tiok-Liu melihat kemunculannya, dalam sekejap anak dara itupun sudah mendekat, betapa cepat dan gesitnya sungguh luar biasa, keruan Tiok-liu terkejut, pikirnya.
"Entah bagaimana ilmu silat anak dara ini, yang jelas Ginkangnya ini sudah dapat menyamai aku. Gerakannya sama sekali berbeda dengan Ginkang jago-jago silat Tionggoan, mungkin sekali dia adalah sekaum dengan Hu-siang-tjhit-tju."
Namun dia sudah tak menghiraukan mati-hidup sendiri lagi, maka biarpun musuh bertambah lagi satu orang juga bukan soal baginya.
Tiba-tiba anak dara itu menjemput beberapa potong batu kecil terus disambitkan ke arah kalangan pertempuran Tiok-liu bertiga.
Batu-batu itu tidak cuma diarahkan pada Kim Tiok-liu, tapi juga menyerang suami-isteri itu sekaligus, maka terdengarlah suara "trmg-tring-tring"
Nyaring, batu-batu itu tersampuk oleh pedang mereka, tapi tidak hancur.
Tiok-liu dan kedua lawannya sama-sama merasa tangan masing-masing kesemutan, walaupun tidak apa-apa, tapi sudah cukup merasa terkejut.
Maklum, ilmu silat mereka sudah dapat dinilai sebagai tokoh kelas satu, tapi sebiji batu kecil yang di-timpukkan anak dara itu dapat membuat tangan mereka kesemutan, kepandaian ini sungguh di luar dugaan mereka.
Malahan Tiok-liu semakin bingung, tadi disangkanya si anak dara adalah orang sekaum Hu-siang-tjhit-tju, tapi nyatanya dia menimpuk mereka bertiga tanpa pilih bulu.
Jadi anak dara itu sebenarnya kawan atau lawan, inilah yang membingungkan Kim Tiok-liu.
Agaknya kedua suami-istri itupun terkejut, berbareng mereka membentak.
"Siapa kau? Genduk ingusan macam kau juga berani ikut campur urusan orang?"
Gadis itu mengikik-tawa tanpa menjawab, tapi lebih dulu ia bertanya kepada Kim Tiok-liu.
"Yang kau pakai ini tentunya Hian-tiat-pokiam, jadi kau inilah Kim Tiok-liu, Kim-siauhiap?"
Melihat sikap orang yang tidak bermaksud jahat itu, dengan ramah Tiok-liu menjawab.
"Benar, akulah Kim Tiok-liu. Adakah nona hendak memberi petunjuk apa-apa."
Baru sekarang gadis itu menoleh dan bicara kepada kedua suami-istri itu.
"Kau tidak kenal padaku, tapi aku tahu kalian. Kalian orang Hu-siang-pay bukan?"
"Kalau benar mau apa?"
Sahut si wanita dengan ketus.
"Kabarnya di antara Hu-siang-tjhit-tju hanya terdapat sepasang suami-istri, yang laki bernama Tjiok Wi dan istrinya bernama Siang Djing, tentunya kalian berdua ini."
Laki-laki itu memang benar Tjiok Wi adanya. Ia menjadi kaget dan ragu-ragu, sahutnya kemudian.
"Usiamu semuda ini juga tahu akan asal-usul kami?"
Sebaliknya istrinya yang bernama Siang Djing ternyata I masih ketus, bentaknya.
"Hm, apa maksudmu sengaja menjajaki I asal-usul kami? Lekas bicara!"
"Apakah Boh Tjong-tiu tidak ikut bersama rombongan kalian?"
Tanya si nona.
"Siapa itu Boh Tjong-tiu? Tak kukenal!"
Sahut wanita itu. Sebaliknya suaminya terkejut, katanya.
"Yang kau maksudkan apakah keturunan keluarga Boh dari Hu-siang-to?"
"Benar, dia adalah keturunan lurus Boh Djong-long, pemimpin Hu-siang-pay angkatan kedua,"
Sahut si nona. Agaknya Tjiok Wi sama sekali tidak menduga akan hal demikian, katanya.
"Jadi orang keluarga Boh juga ada yang datang ke Tionggoan sini?"
"Baiklah jika ternyata dia tidak serombongan dengan kalian,"
Ujar si nona.
"Sebenarnya aku pun sudah menduga dia pasti takkan berada bersama kalian, pertanyaanku tadi sesungguhnya tidak perlu."
"Apa maksudmu sebenarnya?"
Tanya pula Siang Djing dengan ketus.
"Hu-siang-to meski jauh terpencil di luar lautan, tapi cikalbakalnya adalah pendekar berasal dari Tionggoan sini, anak murid Hu-siang-pay harus memahami ajaran cikal-bakalnya, mana boleh memusuhi kaum ksatria Tionggoan malah."
"Hm, apakah kau bermaksud mengajar kami?"
Jengek pula Siang Djing.
"Tidak,"
Sahut si nona.
"Aku hanya berpikir kalau Boh Tjong-tiu datang ke sini, tentu dia akan selalu ingat kepada ajaran leluhurnya dan takkan memusuhi Kim-tayhiap dan putranya."
Girang sekali Kim Tiok-liu, segera ia menyela.
"Terkaan-mu memang tepat, nona. Boh Tjong-tiu memang bukan sekomplotan dengan mereka. Jika kau ingin tahu kabarnya aku akan menceritakan padamu."
Sebaliknya Siang Djing menjadi gusar, katanya pula.
"Aku tidak ambil pusing siapa itu orang she Boh, yang jelas kau menyalahkan kami. Aku menjadi ingin bertanya padamu berdasarkan apa kau berani mengajar kami?"
"Bila tindak-tanduk kalian sesuai dengan ajaran leluhur, kenapa kalian mesti sirik atas pertanyaan orang lain?"
Sahut si gadis.
"Kau bicara tentang leluhur dan cikal-bakal segala, apakah kau anak murid Hu-siang-pay?"
Semprot Siang Djing.
"Hm, sekalipun kau adalah sesama perguruan, hanya genduk ingusan seperti kau juga tidak punya hak buat mengajar kami. Coba mainkan dulu beberapa jurus, bila kau mampu mengalahkan aku barulah nanti bicara lagi."
Sebenarnya Siang Djing juga sudah menyangsikan si nona adalah orang sealiran dengan mereka cuma dia tidak terima diolok-olok, maka sengaja mau menjajalnya.
"Baiklah, silakan Siang-sutji mulai!"
Sahut si gadis setelah mematahkan sebatang ranting pohon.
"Kau mau melawan aku dengan menggunakan ranting kayu itu?"
Tanya Siang Djing.
"Istilah melawan tak berani kugunakan, Siaumoay hanya ingin berlatih dengan Siang-sutji,"
Kata si gadis.
"Hm, kalau benar kau mahir memainkan ilmu pedang perguruan sendiri dan mampu melayani sepuluh jurus, nanti barulah kau panggil lagi Sutji padaku,"
Jengek Siang Djing sambil terus menusuk dengan pedangnya.
Pelahan-lahan gadis itu mengangkat ranting kayu dan menyampuk.
Gayanya memang benar ilmu pedang Hu-siang-pay, jelas pedang Siang Djing membentur ranting kayu lawan, tapi aneh, pedang yang tajam itu ternyata tidak mampu menabas putus ranting kayu itu, bahkan kena ditarik ke samping Tanpa terasa Kim Tiok-liu berseru memuji, pikirnya "Husiang-kiam-hoat nona ini tampaknya lebih tinggi daripada Boh Tjong-tiu.
Ternyata ilmu pedang mereka memang amat bagus.
Rasanya aku pun tidak sanggup melawan nona ini."
Tentu saja Siang Djing juga sangat terkejut, ia tidak berani memandang enteng lawannya lagi, ia memutar pedangnya dengan kencang, ia pikir pedangnya masakah akan dikalahkan oleh sebatang kayu saja sekalipun ilmu pedang lawan memang lebih tinggi.
Dalam pada itu Kim Tiok-liu juga tidak tinggal diam di pinggir, ia sedang menghitung.
"Jurus pertama, kedua, ketiga.....keenam.....haha, sudah jurus kedelapan!"
Sebelum mulai bergebrak tadi Siang Djing sesumbar akan mengalahkan si gadis dalam sepuluh jurus, agar dia tidak mungkir janji, maka Tiok-liu sengaja menghitungkan berapa kali mereka sudah bergebrak.
Sampai pada jurus kedelapan itulah, tiba-tiba terlihat si gadis memutar tubuh dengan cepat, laksana belut gesitnya mendadak ranting kayunya menyelonong ke tengah lingkaran pedang Siang Djing, terdengar suara "cret", pedang Siang Djing terlepas.
Rupanya urat nadi tangan Siang Djing tepat terhiruk oleh kayu si gadis.
"Ilmu pedangmu ternyata belum terlatih sempurna, hendaklah kau jangan pamer lagi supaya tidak membikin malu perguruan,"
Ejek nona itu.
Ketika nona itu memutar tubuh tadi ujung bajunya sedikit tersingkap sehingga kelihatan sulaman seekor ikan terbang pada bajunya itu, hal ini dapat dilihat oleh Kim Tiok-liu dan Tjiok Wi.
Tjiok Wi terkejut dan berseru.
"Nona, kau pernah ada hubungan apa dengan Lim-totju dari Hui-hi-to (pulau ikan terbang)"
"Beliau adalah ayahku,"
Sahut si gadis.
"Namun beliau sekarang sudah bukan Totju (kepala pulau) lagi. Apakah kau ingin menemui beliau?"
"O, kiranya kau adalah puteri Lim-supek, maafkan kami yang kurang hormat,"
Kata Tjiok Wi pula. Di sebelah sana Siang Djing telah jemput kembali pedangnya, katanya dengan lesu.
"Hayolah berangkat, masakah kau benar-benar mau ikut dia menemui Lim-supek segala?"
"Kim-siauhiap, tadi kau menyatakan hendak menceritakan diri Boh Tjong-tiu kepadaku?"
Tanya si nona tanpa menghiraukan kepergian Tjiok Wi dan isterinya.
"Benar, tunggu sebentar,"
Kata Tiok-liu.
Baru saja ia hendak pergi membantu Su Ang-ing, dilihatnya Auwyang Kian juga telah ngacir, sebelum sampai Tiok-liu menyeberangi jembatan, Auwyang Kian sudah menghilang di balik karang gunung sana.
Rupanya Auwyang Kian sudah terlalu banyak mengorbankan tenaga murni karena berulang kali menggunakan Lui-sin-rjiang, keadaannya juga sudah payah.
Ketika melihat kedua kawannya lari, tentu saja ia pun lekaslekas angkat langkah seribu.
Si gadis tadi ikut ke seberang sana dan menemui Ang-ing bertiga.
Baru sekarang Tiok-liu sempat mengucapkan terima kasih padanya dan memuji kehebatan ilmu pedang si nona.
Dengan muka merah si nona menjawab.
"Ah, Kim-siauhiap terlalu memuji saja, aku justru merasa malu karena perbuatan orang-orang seperguruanku itu. Bicara tentang ilmu pedang, aku harus kagum padamu. Ilmu pedang ciptaanmu yang mencakup gaya pedang kami itu sungguh hebat sekali."
"Ah, nona benar-benar rendah hati,"
Sahut Tiok-liu.
"Entah mengapa nona bisa datang ke sini dan darimana pula tahu akan asal-usulku?"
"Orang yang paling dipuja ayahku adalah ayahmu,"
Kata si nona.
"Tentang Hu-siang-tju pernah merecoki ayahmu juga sudah diketahui ayahku. Tapi kami tidak tahu apakah Boh Tjong-tiu termasuk di antara mereka bertujuh atau tidak, maka aku sengaja datang kemari untuk mencarinya menurut petunjuk seorang sahabat ayah."
Berturut-turut Ang-ing bertiga juga lantas memperkenalkan diri kepada nona itu, lalu Kim Tiok-liu balas bertanya nama si nona.
"Aku she Lim, bernama Bu-siang,"
Tutur si nona.
"Asalnya kami tinggal di Hu-siang-to dan sudah beberapa keturunan menetap di sana. Boh Tjong-tiu adalah kakak misanku."
"O, kiranya demikian,"
Sela Ang-ing.
"Bilakah kalian datang ke Tionggoan, apakah belum ada hubungan kabar dengan Boh Tjong-tiu."
"Sudah ada sepuluh tahun kami pulang ke Tionggoan sini,"
Sahut Lim Bu-siang.
"Sewaktu kecil kami tinggal bersama keluarga Boh, ibuku adalah bibi (saudara ayah) Tjong-tiu. Ilmu pedang kami adalah ajaran ibuku, tapi usia Tjong-tiu lebih tua sepuluh tahun dariku. Waktu kami pindah kemari aku baru berumur belasan, sebaliknya Tjong-tiu sudah dewasa. Maka kalau sekarang kami bertemu mungkin juga dia sudah pangling padaku."
"Apakah Boh Tjong-tiu tidak tahu kalau segenap keluargamu sudah pintah kemari?"
Tanya Tiok-liu.
"Begini soalnya,"
Tutur Bu-siang.
"Semula kami tinggal bersama keluarga Boh, kemudian lantaran ayah benci terhadap tingkah-laku orang Aino (Orang Jepang sekarang), beliau bersama serombongan nelayan menyingkir ke suatu pulau kecil dan mulai membuka tanah pertanian baru dan hidup bebas merdeka. Ayah memberi nama pulau itu sebagai Hui-hi-to (pulau ikan terbang), tapi sayang kehidupan yang aman sentosa itupun tidak berjalan lama. Kalau tadinya pulau karang itu tidak diperhatikan orang, setelah berkembang dengan pesat lantas mulai diincar orang."
"Apakah diincar kawanan bajak?"
Tanya Tiok-liu.
"Bukan bajak, tapi jauh lebih ganas daripada kawanan bajak, orang Aino yang telah merebut Hui-hi-to,"
Tutur Busiang.
"Padahal sudah tidak sedikit ayah memeras keringat untuk kemajuan pulau kecil itu, tapi akhirnya terpaksa meninggalkan pulau itu, karena serangan armada orang Aino dengan perlengkapan yang lebih kuat."
"Tak bisa menetap lagi di Hui-hi-to, dengan sendirinya pula kami tidak dapat kembali ke Hu-siang-to yang juga sudah diduduki oleh orang Aino,"
Tutur Bu-siang lebih lanjut.
Waktu itu Boh Tjong-tiu sedang mencari orang-orang seperguruannya di berbagai pulau kecil sehingga tidak diketahui berada dimana saat itu, akhirnya sekeluarga kami lantas pulang ke tanah air sini.
Selama sepuluh tahun kami tinggal di suatu perkampungan nelayan dan tiada orang yang tahu asal-usul kami kecuali seorang sahabat baik ayah."
"Siapakah sahabat ayahmu itu?"
Tanya Tiok-liu.
"Satu-satunya sahabat ayah setelah kami pindah kemari, namanya Utti Keng,"
Sahut Bu-siang.
"O, kiranya Utti Keng. Aku pernah bertemu dia, asalnya dia adalah begal besar di daerah Kwan-gwa. Sekarang dia telah menggabungkan diri dan menjadi salah seorang pemimpin pasukan pergerakan di Siau-kim-djwan."
"Benar, ketika pulang ke sini, jalan yang kami ambil adalah melalui Korea dan daerah Kwan-gwa kemudian masuk ke Tionggoan. Waktu itu Utti Keng masih melakukan pekerjaannya sebagai begal, tapi di samping itu juga melawan pihak kerajaan dan melabrak orang-orang Aino yang menyusup ke Kwan-gwa melalui Korea. Ayah pernah membantu Utti Keng. Sesudah berpisah hampir sepuluh tahun, akhir-akhir ini kami baru berjumpa lagi dengan dia."
"O, jadi orang yang kau maksudkan memberi petunjuk padamu agar mencari Boh Tjong-tiu ke Hoa-san sini adalah Utti Keng bukan?"
Tanya Tiok-liu.
"Benar, meski dia tidak kenal Tjong-tiu, tapi dia pernah bertarung dengan orang-orang Hu-siang-tjhit-tju. Berita tentang Hu-siang-tjhit-tju juga dia yang menyampaikan kepada ayahku. Pada suatu malam yang gelap tiba-tiba Utti Keng dan istrinya datang ke rumah kami. Semula kukira kawanan penjahat yang menyatroni rumahku, malahan aku menyerang mereka dengan segenggam kacang, sudah tentu seranganku dengan gampang dapat dibereskan oleh Ki Sengin, istri Utti Keng yang berjuluk Djian-djiu-kwan-im (Si dewi Kwan-im bertangan seribu) itu. Sebelum aku menyerang lebih lanjut, ayah sudah keburu keluar dan berseru mencegah, sebab lantas dikenalnya pendatang itu adalah sahabatnya. Dengan girang ayah lantas menyambut kedatangan Utti Keng itu. Rupanya Utti Keng memang telah lama mencari ayah dan kedatangannya itupun bermaksud mencari tahu asal-usul beberapa orang yang pernah dijumpainya, lalu Utti Keng menceritakan apa yang pernah dialaminya....."
Pada suatu hari yang cerah, Utti Keng dan istrinya sedang melarikan kuda mereka di jalanan Hopak utara dalam tugasnya menghubungi pemimpin Thian-Ii-hwe di kota Poting atas perintah Siau Tji-wan, pimpinan pasukan pemberontak di Siau-kim-djwan.
Di tengah jalan tiba-tiba mereka mendengar suara kelenengan kuda yang ramai dari belakang.
Waktu menoleh, tertampak debu mengepul, satu rombongan penunggang kuda sedang menyusul ke arah mereka.
Ada laki ada perempuan, ada yang tua ada yang muda, seluruhnya berjumlah tujuh orang.
Sebagai seorang bekas benggolan begal, Utti Keng mahir menilai kuda bagus.
Melihat datangnya rombongan penunggang kuda itu, ia pun terkejut, katanya kepada sang istri.
"Ketujuh ekor kuda mereka ini adalah kuda-kuda bagus yang sukar dicari. Orang-orang ini tentu bukan orang sembarangan."
"Bisa jadi mereka adalah pengusaha sejenis dengan kau, agaknya kita akan menjadi sasaran mereka,"
Ujar Ki Seng-in dengan tertawa.
"Jika betul demikian, sungguh aku akan menyambut mereka dengan gembira, bukan mustahil malahan aku akan menggabungkan diri dengan mereka,"
Sahut Utti Keng sambil bergelak.
Tengah bicara, jarak rombongan penunggang kuda itu sudah makin mendekat.
Utti Keng mengira mereka akan melampaui ke depan, maka ia menyingkirkan kuda ke pinggir untuk memberi jalan.
Tak terduga orang-orang itu lantas memperlambat lari kuda mereka dan selalu mempertahankan jarak belasan meter di belakang Utti Keng berdua.
Utti Keng menjadi curiga apakah orang-orang itu memang datang buat merecokinya.
Ia memberi isyarat kepada sang istri, lalu sengaja melarikan kudanya kemudian melambatkan, dicepatkan dan dilambatkan lagi.
Ternyata orang-orang itupun selalu mengikutinya baik cepat maupun lambat.
Dalam hati Utti Keng merasa geli, pikirnya.
"Jika benar mereka adalah kawanan begal, maka mereka benar-benar sial dangkalan, aku justru adalah kakek moyang kaum begal. Kebetulan aku dapat menukar kuda bagus mereka itu."
Jadi Utti Keng justru berharap rombongan itu lekas melakukan aksinya, sampai di suatu tempat sepi, dia dan istrinya mendadak menghentikan kuda untuk menunggu apa yang akan terjadi.
Ternyata orang-orang itu lantas berpencar dan mengambil posisi mengepung terhadap mereka berdua.
"Haha, kalian salah mata, sobat!"
Seru Utti Keng dengan tertawa. Maksudnya mengejek lawan-lawannya telah salah taksir akan sasarannya. Tertampak seorang laki-laki berjenggot panjang agaknya merupakan pemimpin rombongan itu menjawab.
"Salah mata apa? Kau Utti Keng bukan?"
Utti Keng berbalik terkejut, baru sekarang dilihatnya pada badan kuda-kuda mereka itu ada tanda cap bakar yang merupakan simbol milik kerajaan.
Dahulu Utti Keng pernah membobol penjara kerajaan dan membikin rusuh pesta ulang tahun Sat Hok-ting di kotaraja, boleh dikata sudah kenyang bertempur dengan jago-jago dan perwira kerajaan, sebab itulah ia cukup kenal cap bakar kuda milik kerajaan.
Maka sambil bergelak Utti Keng berkata pula "Hahaha agaknya aku sendiri yang salah mata.
Aku salah sangka kalian sebagai sobat kalangan hitam, tak tahunya kalian adalah anak cucu cakar alap-alap."
Terdengar seorang perempuan di antaranya berkata.
"Wiko, apa yang dia maksudkan?"
Rupanya ia tidak paham arti anak cucu cakar alap-alap yang dikatakan Utti Keng Laki-laki yang dipanggil engkoh Wi lantas menjawab.
"Aku pun tidak tahu artinya tapi dapat diduga pasti bukan kata-kata baik."
Seorang kawannya lantas menyambung.
"Hm, dia mengatakan kita adalah anjing kerajaan."
Kiranya setibanya Hu-siang-tjhit-tju di Tionggoan, mereka tidak sempat bergaul dengan kaum pendekar ksatria dan lebih dulu sudah diketahui oleh anak buah Sat Hok-ting sehingga tanpa sadar mereka kena diseret ke pihaknya.
Lama-lama mereka menyadari juga kesalahan mereka, tapi dua orang yang menjadi pemimpin rombongan mereka sudah telanjur kemaruk pangkat dan kehidupan mewah, maka masih tetap rela diperalat oleh Sat Hok-ting dan kawan-kawannya juga ikut-ikutan belaka.
Cuma terdapat suatu pendirian yang sama di antara mereka, yaitu mereka anggap sebagai orang-orang kosen yang diangkat Sat Hok-ting dan tidak sudi dianggap sebagai anjing alap-alap kerajaan.
Maka perempuan tadi menjadi gusar atas olok-olok Utti Keng, serunya.
"Kurangajar! Tjong-susiok, tunggu apa lagi, berilah hajaran setimpal padanya!"
Dengan gelak tertawa Utti Keng berkata pula.
"Kenapa kau tidak terima? Apakah kalian bukan anjing belaka? Hayolah lekas maju jika mau maju, golokku ini memang biasa dipakai menyembelih anjing, apakah tiga ekor atau lima ekor, kalau tujuh ekor maju sekaligus akan lebih baik lagi supaya aku bisa menghemat tenaga."
Keruan orang-orang itu menjadi gusar, serentak beberapa orang di antaranya lantas melolos senjata, namun laki-laki berjenggot tadi mencegah mereka, katanya.
"Utti Keng, kau terlalu memandang enteng orang lain, apakah kau berani bertaruh dengan aku?"
"Bertaruh apa?"
Tanya Utti Keng.
"Kabarnya ilmu silatmu sangat tinggi dan sudah biasa malang melintang dimana-mana,"
Kata laki-laki berjenggot.
"Maka sekarang aku sengaja menantang kau, marilah kita coba bertaruh kalah atau menang dengan senjata."
"Bagus, silakan maju semua atau satu lawan satu,"
Sahut Utti Keng.
"Kalian cuma suami-istri berdua, pihak kami ada tujuh orang, ada lelaki dan juga wanita,"
Ujar laki-laki itu.
"Sekalikali kami tidak akan main kerebut, biarlah yang lelaki menghadapi lelaki, yang perempuan lawan perempuan, satu lawan satu untuk menentukan kalah dan menang."
"Baik, baik sekali dan aku yang belajar kenal dengan kepandaianmu,"
Kata Utti Keng.
"Dan siapa lagi yang sudi memberi petunjuk padaku?"
Sambung Ki Seng-in dengan suara lembut. Serentak ada dua wanita yang melangkah maju, tapi lakilaki berjenggot itu lantas berseru.
"Anak He, biar Siangsutjimu yang maju."
Perempuan yang lebih muda mengiakan sambil mundur kembali. Siang-sutji yang dimaksudkan adalah Siang djing, yaitu perempuan yang merasa diolok-olok Utti Keng tadi.
"Nah, sekarang boleh kita dua lawan dua bertaruh pihak mana yang akan menang,"
Kata laki-laki berjenggot.
"Kalau kau kalah, kau harus....."
"Segera aku membunuh diri!"
Sela Utti Keng nyata ia yakin dirinya pasti takkan kalah. Laki-laki berjenggot itu tertawa, katanya.
"Tak perlu sampai begitu. Jika kau kalah, cukup kau ikut kami ke kotaraja saja, malahan aku dapat menjamin keselamatan jiwamu."
"Hahaha, tadi masih menyangkal sebagai anjing pemburu, tapi sekarang tertampaklah belangnya,"
Seru Utti Keng.
"Baik, jika kau mampu mengalahkan aku, akan kuturuti keinginanmu, tapi bagaimana jika kau yang kalah?"
"Aku pun terserah padamu, apa yang hendak kau lakukan,"
Sahut orang itu.
"Aku sih tidak menghendaki jiwamu, cukup mengambil kudamu saja,"
Kata Utti Keng.
"Bagus, laki-laki sejati harus bisa pegang janji, beginilah cara bertaruh kita ini dan tidak boleh menyesal,"
Kata orang itu.
"Dan sebagai seorang istri, aku hanya menurut pada suami, maka cara bertaruh kita juga sama,"
Kata Ki Seng-in kepada Siang Djing.
"Apakah kau rela mengorbankan kudamu?"
"Sesukamu, yang pasti aku takkan kalah,"
Sahut Siang Djing dengan gusar.
"Nah, silakan maju!"
"Baik, lihat saja nanti!"
Kata Ki Seng-in sambil mengayun cambuknya. Berturut-turut Siang Djing lantas menyerang tiga kali, kedua pihak sama-sama tidak kena, dalam hal kecepatan Ki Seng-in lebih unggul sedikit.
"Mereka sudah bertarung, maka kita pun boleh mulai,"
Kata Utti Keng.
"Baik,"
Sahut laki-laki berjenggot, tapi tidak lantas melolos pedangnya.
"Kenapa tak mengeluarkan senjatamu?"
Bentak Utti Keng sambil bersiap siaga.
"Kenapa buru-buru amat?"
Ujar lawannya dengan tertawa.
Mendadak pedangnya melesat keluar dari sarungnya terus menyambar ke depan.
Gerakan ini benar-benar di luar dugaan Utti Keng, ia terkejut juga ketika pandangannya silau oleh sinar pedang musuh.
Cepat ia mengangkat goloknya buat menangkis tapi sekaligus laki-laki berjenggot itu sudah memberondong beberapa serangan kilat sehingga Utti Keng rada kelabakan melayaninya.
Laki-laki berjenggot itu adalah Susiok atau paman guru keenam kawannya dia pun berkepandaian paling tinggi di antara Hu-siang-tjhit-tju.
Sekali dia sempat mencecar lawan, serangan-serangannya menjadi bertambah ganas.
Namun Utti Keng adalah jago kawakan, betapapun gawatnya, dia tetap tenang-tenang saja, maka dalam sekejap saja biarpun laki-laki itu sudah menyerang berapa puluh kali, tetap Utti Keng tidak memberi kelonggaran padanya ia pun dapat balas menyerang pula dengan sama tangkasnya Kedua orang sama-sama kejut dan kagum atas kepandaian masing-masing.
Selamanya Utti Keng belum pernah menemukan lawan sehebat laki-laki berjenggot itu.
Ilmu pedangnya berlainan dengan ilmu pedang Tionggoan umumnya kalau dia terus bertahan saja akhirnya pasti akan kecundang, demikian pikir Utti Keng.
Tapi setelah 50-an jurus, lambat-laun Utti Keng dapat mematahkan setiap serangan musuh dan mengatasinya, mendadak ia membentak.
"Sekarang ganti kau lihat permainan golokku!"
Serentak ia melancarkan serangan balasan secara kilat sehingga yang tertampak hanya sinar golok belaka yang gulung-gemulung disertai suara mendering beradunya kedua senjata.
Mau tak mau laki-laki berjenggot itu terdesak mundur juga oleh serangan Utti Keng yang membadai itu.
Sekarang dia terkejut akan Lwekang Utti Keng yang kuat itu, bila pertarungan berlangsung lama mungkin aku sendiri yang kecundang, demikian pikirnya.
Di sebelah sana Ki Seng-in juga sedang bertempur dengan sengit.
Ki Seng-in berjuluk 'Si Dewi Kwan-im bertangan seribu', cambuknya lihai, senjata rahasianya juga hebat.
Begitu mulai dia sudah mendahului melancarkan serangan secara berantai hingga lawannya berulang-ulang terdesak mundur.
Nyonya muda lawannya itu tinggi hati dan mengira kepandaiannya pasti cukup untuk menjagoi dunia persilatan di Tionggoan, terutama di kalangan tokoh-tokoh wanitanya.
Tak terduga begitu ketemu Ki Seng-in saja ia sudah tak bisa unggul, bahkan terdesak mundur terus.
Baru sekarang ia terkesiap dan sadar pandangannya yang picik.
Tapi ilmu pedang Hu-siang-pay juga ada bagian-bagian yang lihai, ketika ada kesempatan balas menyerang.
Ki Seng-in menjadi ragu-ragu terhadap gerak pedang lawan yang tak tentu arahnya itu, terpaksa ia harus mengelak dan bertahan.
Sekilas Seng-in melihat sang suami berada di atas angin, tapi tampaknya juga sukar mengalahkan lawannya dengan begitu saja pikirnya "Tampaknya Toako pasti tak akan kalah.
Sedikitnya aku pun harus mempertahankan taruhannya betapapun aku lidak boleh dijatuhkan oleh perempuan busuk ini."
Dalam pada itu nyonya muda yang bernama Siang Djing itu sudah mulai kekurangan tenaga namun dia masih terus melancarkan serangan yang aneh.
Menghadapi tipu-tipu serangan yang lain daripada yang lain ini terkadang Ki Seng-in rada bingung.
"Hm, kita toh bukan berkelahi secara anak kecil, sudah jelas kau tidak mampu melawan ilmu pedangku, kenapa kau tidak mengaku kalah saja?"
Seru Siang Djing.
"Darimana kau tahu kalau aku tak bisa melawan kau?"
Sahut Ki Seng-in.
"Hm, jangan omong besar, dalam tiga jurus saja akan kubikin pedangmu terlepas dari cekalan."
"Baik lihat saja pedang siapa yang terlepas nanti,"
Jengek Siang Djing dengan gusar.
"Sret", pedangnya lantas menusuk kedepan. Tapi mendadak Ki Seng-in juga mengayun tangannya, pedang pendek di tangan kirinya sekonyong-konyong dilemparkan ke arah lawan. Siang Djing mengira Ki Seng-in terpaksa melemparkan pedang karena terdesak serangannya yang lihai itu, dengan senang ia berseru.
"Nah, siapa yang melepaskan pedang sekarang? Kau mau mengaku kalah atau tidak!"
Belum habis ucapannya, tahu-tahu pedang lawan menyambar tiba.
Sebagai ahli silat, begitu melihat datangnya pedang segera Siang Djing sadar dugaannya tadi meleset, pedang lawan ternyata menyambar tiba sebagai senjata rahasia yang lihai.
Ia pikir asalkan kusampuk jatuh pedangmu ini, masakah kau bisa mungkir lagi akan kekalahanmu?
Maka sekuatnya Siang Djing memutar pedangnya untuk menyampuk tak terduga pedang Ki Seng-in yang meluncur tiba itu mendadak membelok ke samping.
Ujung pedang Siang Djing hanya sempat menyentuh pelahan pedang Ki Seng-in itu sehingga membuatnya melayang tinggi ke atas malah.
Jadi sam-pukannya tidak kena, tapi Siang Djing juga tidak sampai terserang, ia merasa senang dan berseru.
"Nah, apa katamu lagi? O, aduh....."
Suara girang Siang Djing itu mendadak berubah menjadi suara kejut kesakitan.
Rupanya pada detik itulah mendadak tangannya merasa sakit terkena sebuah Bwe-hoa-tjiam (jarum) yang disambitkan Ki Seng-in bersama saatnya ketika ia melemparkan pedangnya.
Sudah tentu Siang Djing tidak menduga bahwa di kala melemparkan pedangnya tadi sekaligus Ki Seng-in menggunakan pula senjata rahasia lain, karena itulah dia lantas termakan, pedang pun terlepas dari cekalan.
Si orang berjenggot itu dapat melihat kedudukan temannya yang terdesak itu, cepat ia melancarkan serangan kilat dan menusuk tenggorokan Utti Keng, betapa gesitnya Utti Keng ternyata tidak keburu menangkis serangan maut ini.
Akan tetapi pada saat yang menentukan itu, mendadak Utti Keng membentak, secepat kilat goloknya juga lantas membacok tanpa menghiraukan lehernya yang terancam, jelas ia bertekad mati bersama musuh.
Kedua orang sama-sama cepatnya, jiwa masing-masing sama terancam.
Kalau tusukan laki-laki berjenggot itu diteruskan pasti dapat menembus leher Utti Keng tapi dia sendiri juga akan terbacok kepalanya.
Rupanya laki-laki berjenggot ini rada takut mati, menghadapi keadaan demikian dengan sendirinya ia terus melangkah mundur dan menarik kembali pedangnya untuk menangkis.
Dalam keadaan menarik senjata dan menangkis itu dengan sendirinya tenaga laki-laki berjenggot itu menjadi kendur, sebaliknya Utti Keng tetap membacok dengan nekat.
Maka terdengarlah suara "trang"
Yang keras, pedang laki-laki berjenggot terpental lepas dari cekalan, untung dia keburu melompat mundur sehingga tidak terluka.
"Hahaha, apa katamu sekarang?"
Seru Utti Keng dengan tertawa.
"Maaf, akan kuambil hadiahnya!"
Sekali cemplak segera ia melarikan kuda laki-laki berjenggot itu.
"Ilmu pedangku toh tidak kalah daripadamu tentunya kau cukup jelas,"
Seru laki-laki itu.
"Ilmu pedang tidak kalah, tapi orangnya jelas sudah kalah, memangnya kau bisa mungkir?"
Bentak Utti Keng.
"Toako, tak perlu omong kosong dengan dia, marilah kita pergi!"
Seru Ki Seng-in kepada sang suami. Waktu itu ia pun sudah merampas kuda Siang Djing. Siang Djing lebih-lebih penasaran dengan kekalahannya, dampratnya.
"Hm, pakai senjata rahasia segala, terhitung lakilaki sejati macam apa?"
"Siapa bilang tidak boleh memakai senjata rahasia?"
Sahut Ki Seng-in sambil melarikan kudanya.
"Sudahlah, kita kan kaum wanita, janganlah berlagak sebagai laki-laki."
Sebagai bekas begal besar, kepandaian penunggang kuda Utti Keng dengan sendirinya sangat mahir.
Ketika seorang kawan laki-laki berjenggot tadi mencegatnya dari depan, tanpa gugup sedikitpun Utti Keng mendadak menarik tali kendali kudanya sambil menggertak sekerasnya, kuda tunggangannya terus melompat setinggi-tingginya sehingga melangkahi pencegatnya.
Saking kagetnya lekas orang itu menjatuhkan diri ke bawah kuda.
Ketika kawan-kawannya yang lain juga ikut mengudak lagi dengan kuda masingmasing, namun Ki Seng-in menghamburkan senjata rahasia yang lihai, yang diarah bukan orangnya, tapi kudanya sehingga binatang tunggangan itu meringkik riuh dan roboh, maka mati kutulah mereka dan tak bisa mengejar lagi.
Begitulah Utti Keng menceritakan pengalamannya.
Hui-hitotju terkejut akan munculnya Hu-siang-tjhit-tju di Tionggoan, tapi juga bersyukur karena sobatnya tidak mengalami cidera apa-apa, ia pun gegetun bahwa Hu-siang-tjhit-tju ternyata bisa diperalat oleh pihak kerajaan.
"Entah di antara ketujuh orang itu terdapat tidak Boh-toako?"
Tiba-tiba Bu-siang berkata. Ayahnya merenung sejenak, katanya kemudian.
"Dari uraian Utti-toako tadi, kukira empat orang di antaranya sudah dapat diterka."
"Yang berjenggot itu tentunya Tjong-susiok dari Toan-sahto bukan?"
Ujar Bu-siang.
"Benar, orang ini pernah datang ke Hui-hi-to, bicara tentang tingkatan, dia terhitung angkatan yang sama dengan aku. Namanya Tjong Sin-liong. Suami Siang Djing bernama Tiok Wi, mereka pernah ikut bertempur melawan gerombolan orang Aino, maka di kalangan Hu-siang-pay terkenal sebagai pendekar suami-istri. Sebaliknya nama Tjong Sin-liong di luar lautan tidak begitu harum, bisa jadi dia yang kemaruk kedudukan sehingga enam orang kawannya ikut terseret ke jalan sesat, sebab keenam orang itu terhitung angkatan yang lebih muda daripada dia."
"Ayah mengatakan dapat menerka empat orang di antaranya, lalu siapa lagi yang seorang?"
Tanya Bu-siang.
"Yaitu anak perempuan yang disuruh mundur oleh Tjong Sin-liong waktu mau maju menandingi Utti-toaso,"
Tutur Limtotju.
"Aku menduga dia adalah temanmu sewaktu masih kanak-kanak, Lian Djay-hong."
Lian Djay-hong adalah anak nelayan di Hui-hi-to, usianya lebih tua dua tahun daripada Bu-siang.
Dia pernah belajar ilmu silat dua tahun dari Lim-totju, tapi setelah Hui-hi-to diduduki orang Aino, putus pula hubungan mereka, kabarnya Lian Djayhong kemudian diterima sebagai murid istri Tjong Sin-liong.
"Jika betul anak perempuan itu adalah Lian-tjitji, bila bertemu tentu dia akan menurut kata-kataku,"
Kata Bu-siang.
"Hanya Boh-toako entah termasuk di antara ketiga orang yang lain atau tidak?"
Ia coba meminta penjelasan kepada Utti Keng tentang muka dan perawakan ketiga orang lainnya, namun sukar disimpulkan sebagai Boh Tjong-tiu atau bukan, sebab sesungguhnya mereka pun sudah belasan tahun berpisah.
Akhirnya Utti Keng memberi saran bilamana Lim-totju dan Bu-siang ingin tahu lebih jelas, dari anak buah Kay-pang, Utti Keng mendapat kabar bahwa Hu-siang-tjhit-tju juga pernah merecoki Kang Hay-thian, tapi di rumah Kang Hay-thian berbalik kepergok Kim Si-ih yang baru pulang dari tempat tirakatnya.
Dalam pertarungan yang tak terduga itu Hu-siangtjhit-tju dihajar dan lari tunggang langgang oleh Kim Si-ih.
Menurut penyelidikan pihak Kay-pang katanya yang menghubungkan Hu-siang-tjhit-tju kepada Sat Hok-ting adalah Auwyang Kian.
Sekarang Auwyang Kian sudah lari pulang ke kandangnya di lereng Hoa-san, maka kalau ingin menyelidiki Hu-siang-tjhit-tju lebih lanjut, Utti Keng mengusulkan datang saja ke Hoa-san.
Demikianlah Lim Bu-siang menceritakan sebab musabab kedatangannya ke Hoa-san ini.
Cuma ayahnya tidak ingin bertemu dengan Tjong Sin-liong, maka Bu-siang hanya datang sendirian.
Lalu Kim Tiok-liu bertanya tentang Utti Keng dan isterinya berada di mana sekarang.
Menurut cerita Bu-siang mereka telah berangkat ke Tayliang-san untuk mencari Lim To-kan dan Li Kong-he.
"Aneh, untuk apakah Utti Keng mencari kedua murid keponakanku itu?"
Ujar Tiok-liu.
"Sungguh celaka Tjong Sin-liong itu, dia rela diperalat pihak kerajaan, bukan saja membikin rusuh di rumah Suhengmu, bahkan bersama kawan-kawannya dia mengobrak-abrik markas Thian-li-hwe di kota POting."
Tiok-liu terkejut.
"Markas Thian-li-hwe telah dihancurkan mereka, bilakah terjadinya hal itu? Bagaimana dengan Thiotjongtotju sekarang?"
"Hal itu terjadi sebulan yang lalu, setelah mengacaukan markas Thian-li-hwe barulah Hu-siang-tjhit-tju bertemu dan bertempur dengar. Utti Keng,"
Tutur Bu-siang.
"Ketika Utti Keng sampai di POting, dia masih sempat mendengarkan pesan terakhir Thio-tjongtotju yang dilukai oleh Tjong Sinliong itu. Thio-tjongtotju itu memberi pesan agar Utti Keng mencari Lim To-kan yang merupakan putera ketua Thian-lihwe sebelum Thio Su-liong, untuk menggantikan kedudukannya. Sebab hulah Utti Keng harus cepat berangkat ke Sedjiang untuk mencari kedua murid keponakanmu."
Sementara itu pagi sudah tiba, dengan wajah merah tibatiba Bu-siang berkata pula.
"Kim-siauhiap, sudah kuceritakan padamu apa yang aku tahu. Tentang Boh-piauko....."
Tiok-liu paham apa maksud si nona, segera ia pun menceritakan pengalamannya tentang Boh Tjong-tiu.
Bu-siang sangat girang mengetahui Boh Tjong-tiu berangkat ke kotanya, terutama setelah mengetahui bahwa Boh Tjong-tiu tidak termasuk komplotan Tjong Sin-liong.
Dengan mengucapkan terima kasih lalu ia mohon diri.
Seperginya Bu-siang, dengan tertawa Su Ang-ing berkata.
"Melihat gelagatnya, tampaknya anak dara ini telah jatuh hati kepada sang Piauko."
Begitulah mereka lantas kembali ke kuil dan bebenah seperlunya, lalu meninggalkan Hoa-san yang indah permai itu dan menuju ke Tay-liang-san.
Setiba di tempat tujuan, benar juga Utti Keng dan istrinya sudah berada di sana, dengan gembira mereka saling mengutarakan perasaan rindu masing-masing selama berpisah ini.
Tiok-liu mengucapkan selamat kemenangan Utti Keng atas Hu-siang-tjhit-tju.
Tentu saja Utti Keng heran darimana Kim Tiok-liu mendapat kabar itu, maka berceritalah Tiok-liu tentang Lim Bu-siang yang sedang mencari Boh Tjong-tiu itu.
Mereka sama-sama bergembira karena dunia persilatan sekarang banyak muncul pula tokoh muda, terutama mereka ikut bergirang karena Lim To-kan dicalonkan sebagai ketua Thian-li-hwe yang baru.
Setiba di ruangan dalam, Tiok Siang-hu sudah menantikan mereka.
Lebih dulu Tiok-liu melaporkan keadaan Le Lam-sing dan Kongsun Yan yang sudah lepas dari bahaya itu.
Tiok Siang-hu sangat senang, terutama setelah mengetahui Thianmo-kau dan Ang-eng-hwe telah bergabung dengan ikut mengadakan perlawanan terhadap kerajaan Boandjing.
Kemudian Kim Tiok-liu menyampaikan pula berita rahasia yang diterima dari Hong Tju-tjiau itu, Tiok Siang-hu terkejut karena tidak menduga akan tipu muslihat Sat Hok-ting yang bermaksud mengadu-domba kepala-kepala suku bangsa di daerah Djinghay dengan pasukan pergerakan yang dipimpinnya.
"Utusan Sat Hok-ting saat ini sudah berangkat dari kotaraja, maka kita juga harus lekas mengirim orang ke Djinghay,"
Kata Tiok-liu.
"Jika Tiok-pepek tidak keberatan, Siautit siap menerima tugas ini."
"Lama Putih di Djinghay punya hubungan baik dengan ayahmu, Ginkangmu juga sangat bagus, dirimu benar-benar pilihan yang paling tepat, cuma sebaiknya kau pun dikawani lagi satu orang,"
Kata Tiok Siang-hu setelah berpikir sejenak. Ia memandang Su Ang-ing sekejap, lalu menyambung pula.
"Mestinya nona Su pantas pergi bersama kau, cuma kepalakepala suku di sana mempunyai kebiasaan yang memandang rendah kaum wanita."
"Masakah begitu?"
Omel Ki Seng-in penasaran.
"Memang begitulah adat-istiadat mereka, kita berkepentingan, terpaksa menuruti mereka,"
Kata Tiok Sianghu. Jelas maksudnya urusan yang akan dikirim terpaksa kaum lelaki semua.
"Aku pergi bersama kau, Tiok-liu,"
Tiba-tiba Utti Keng berseru.
"Hahaha, Utti Keng sudi berangkat bersama Tiok-liu, inilah pilihan paling bagus,"
Seru Tiok Siang-hu sambil tertawa. Setelah mengambil keputusan, Tiok Siang-hu lantas menulis sepucuk surat dan diserahkan kepada Utti Keng, pesannya.
"Kelima kelompok suku bangsa di Djinghay dikepalai oleh suku ltjam. Kalian bertindak sebagai utusan menemui Sultan Itjam. Tak usah peduli apakah dia sudah terbujuk oleh kerajaan Boan-djing atau belum, yang penting jelaskan untung-ruginya. Asalkan dia mau bekerja bagi kita, maka keempat kelompok suku yang lain menjadi mudah diatasi."
Namun Utti Keng menyerahkan surat itu kepada Tiok-liu karena merasa perangainya tidak cocok untuk menjadi utusan penting itu, ia meminta Tiok-liu saja yang memikul tugas itu, ia sendiri terima menjadi pengiring saja.
Karena tak bisa menolak, terpaksa Tiok-liu menerimanya, lalu Tiok Siang-hu mengeluarkan sebuah mainan semangka kemala dan sebatang Djingsom berumur ribuan tahun sebagai hadiah untuk Sultan Itjam yang terkenal serakah itu.
Besoknya Utti Keng lantas berangkat bersama Kim Tiok-liu, sedang istrinya Ki Seng-in, berangkat ke Poting bersama Lim To-kan dan Li Kong-he dan istri masing-masing untuk menyelesaikan urusan Thian-li-hwe.
Pada waktu mengantar keberangkatan Utti Keng dan Kim Tiok-liu, tiba-tiba Tiok Siang-hu teringat sesuatu lagi, ia memberi pesan agar Kim Tiok-liu menemui Tjongtat Wan-tjin, pemimpin Lama putih yang dipuja oleh kelompok suku Itjam.
Tjongtat Wan-tjin juga kenal Kim Si-ih, maka tidaklah sukar untuk minta bantuan pengaruhnya.
Perjalanan dari Tay-liang-san ke padang rumput di daerah Djinghay harus menyusuri hutan belukar yang berbahaya.
Untunglah sepanjang jalan tak terjadi apa-apa, akhirnya Kim Tiok-liu berdua tiba di Djinghay dengan selamat, mereka diterima dengan baik oleh Sultan Itjam.
Sultan itu sangat senang menerima hadiah berharga itu, tapi ia menjadi termenung ragu-ragu setelah membaca surat Tiok Siang-hu, segera Kim Tiok-liu menguraikan untung ruginya bila dia mesti memihak.
Namun Sultan itu masih raguragu dan menyatakan akan berunding dulu dengan kelompokkelompok suku yang lain.
Kim Tiok-liu tidak berani mendesak lebih jauh, terpaksa ia menunggu dulu dan kembali ke tempat penginapan tamu agung yang disediakan.
Besoknya Tiok-liu berkunjung kepada Lama Besar Tjongtat Wan-tjin.
Mengetahui bahwa Kim Tiok-liu adalah putera Kim Si-ih, Lama Besar itu sangat senang dan menyambutnya dengan hormat karena merasa berhutang budi kepa-di Kim Si-ih yang pernah membantu mengatasi kerusuhan dalam agamanya di masa lampau.
Kemudian Kim Tiok-liu mengemukakan maksud kedatangannya akan meminta bantuan pengaruh Lama Besar itu terhadap sang Sultan.
Untuk sejenak Tjongtat Wan-tjin berpikir, lalu berkata.
"Sudah tentu aku akan memberi bantuan padamu sedapat mungkin, tapi hendaklah kalian mengetahui bahwa utusan kerajaan Boan telah datang tiga hari lebih dulu."
Alangkah kejut dan kecewanya Kim Tiok-liu mendengar keterangan itu, terutama setelah diketahui bahwa utusan Boan-djing itu diberi tempat tinggal di dalam istana Sultan sendiri, sebaliknya Tiok-liu berdua hanya diberi tempat tinggal di tempat penampungan tamu, di sini sudah jelas kepala suku itu lebih condong terhadap utusan kerajaan.
"Aku perlu mengingatkan sesuatu lagi padamu bahwa kedatangan utusan kerajaan Boandjing itu telah bertekad harus terlaksana tugas mereka, dengan bertempat tinggal di dalam istana, mereka dapat merangkul pula orang-orang kepercayaan kepala suku, maka kalian harus waspada terhadap tipu muslihat mereka yang mungkin bisa membikin celaka kalian,"
Demikian Lama Besar itu mengingatkan.
Kim Tiok-liu mengucapkan terima kasih atas kebaikan hati Tjongtat Wan-tjin.
Setiba kembali di pondokan, benar juga, malamnya seorang dayang istana telah diutus sang Sultan untuk mengantarkan daharan dan minuman keras, katanya sebagai tanda penghormatan kepada tamunya.
Sudah tentu Kim Tiok-liu curiga, diam-diam ia membisiki Utti Keng dan memberikan sebutir Pik-ling-tan yang paling mustajab anti racun, lalu katanya.
"Banyak terima kasih pada maksud baik Ongya. Utti-toako, untuk menerima anugerah Ong-ya ini, marilah kita minum bersama."
Begitulah sekaligus mereka masing-masing minum tiga cawan arak itu, keruan dayang istana itu sangat senang dan yakin sejenak lagi kedua korbannya pasti akan roboh.
Tak terduga Utti Keng lantas bergelak tertawa dan berseru.
"Bagus, sungguh arak bagus!"
Mendadak ia menggabruk meja, kontan ujung meja itu sempal sebagian, keruan dayang itu melonjak kaget.
"Kau sudah mabuk Utti-toako,"
Kata Tiok-liu.
"Tidak, tidak mabuk Arak bagus ini telah memberi semangat padaku sehingga aku ingin coba-coba tenagaku,"
Sahut Utti Keng sambil berjingkrak tak keruan sebagaimana lagak orang mabuk.
"Eh, paduka tuan inipun pantas disuguhi tiga cawan. Marilah minum."
Padahal arak itu memang telah ditaruh racun yang bisa menghancurkan isi perut, keruan dayang itu ketakutan dan menjawab dengan gelagapan.
"Ti.....tidak, aku tidak.....tidak dapat minum arak."
"Kau tidak dapat atau tidak berani minum?"
Bentak Utti Keng tetap mabuk.
"Kau sengaja meracuni kami bukan? Arak ini tentu beracun."
"Ti.....tidak, arak ini bukan arak beracun,"
Sahut dayang itu ketakutan.
"Kalau tidak beracun, kenapa engkau tidak mau minum?"
Ujar Tiok-liu.
"Tapi kami juga tidak memaksa, arak ini akan kami suguhkan kembali kepada Ongya saja."
"Tidak, dia tidak bicara sejujurnya, dia harus minum dulu arak ini!"
Seru Utti Keng sambil mencengkeraman dada dayang itu dan berlagak akan mencekokinya.
Begitulah tindakan Utti Keng membikin dayang itu ketakutan setengah mati.
Maklum, arak beracun yang dia antar itu bukan atas perintah Sultan, jika benar Kim Tiok-liu menyuguh kembali arak itu kepada Sultan, maka perbuatannya di luar perintah itu pasti akan terbongkar.
Ia pun terkejut sekali melihat Utti Keng dan Kim Tiok-liu tidak terganggu apa-apa meski sudah banyak menenggak arak beracun antarannya itu, sebagai orang yang memuji malaikat, dia percaya Kim Tiok-liu berdua pasti dilindungi malaikat dan karena itu Tuhan pasti berada di pihak mereka yang benar ini.
Lantaran kejut dan takut, akhirnya dayang itu mengaku terus terang.
"Ya, benar, memang arak ini beracun. Tapi bukan urusan hamba, sebab hamba cuma disuruh oleh utusan kerajaan Boandjing."
"Baik, karena kau telah mengaku, maka jiwamu dapat diampuni,"
Kata Utti Keng.
"Dimana utusan kerajaan itu tinggal? Coba gambarkan tempatnya."
Terpaksa dayang itu melukiskan tempat tinggal utusan kerajaan Boandjing itu di tengah taman istana Sultan. Habis itu Utti Keng menutuk Hiat-to penidur dayang itu, katanya.
"Marilah kita bekuk utusan itu dan mengumumkan kejadian ini, lalu membinasakan dia."
"Jangan, kalau Sultan sudah condong ke sana, biarpun membunuh utusan itu juga tak berguna,"
Ujar Tiok-liu.
"Tetapi dengan terbunuhnya utusan itu, bukankah berarti membikin buntu pula peluang bagi Sultan untuk mengekor kepada kerajaan Boan?"
Kata Utti Keng. Karena kedua orang tidak sepaham, setelah berpikir sejenak, Tiok-liu berkata.
"Marilah kita bertindak menurut keadaan saja. Bawa dayang ini kepada Tjongtat Wan-tjin dan minta petunjuknya atas kejadian ini. Aku akan menyusup ke istana untuk menyelidiki gerak-gerik utusan kerajaan musuh, bila perlu barulah akan kuseret keluar mereka dan membeberkan kejadian ini."
Utti Keng setuju, segera ia menyadarkan dayang yang dia tutuk tadi dan memerintahkan dayang itu membawanya ke biara Lama Besar.
Dalam keadaan terancam dan takut akan kelihaian Utti Keng, dayang itu menurut saja segala perintah Utti Keng, segera ia membawa Utti Keng ke biara Lama Besar yang terletak di lingkungan istana.
Seperginya Utti Keng, kira-kira lewat tengah malam, Kim Tiok-liu lantas berganti pakaian malam dan menyusup ke istana Sultan.
Sesuai dengan lukisan dayang itu, dengan gampang dapatlah ia menemukan tempat tinggal utusan kerajaan Boan.
Terlihat kamarnya masih terang benderang, pada tabir jendela terbayang tiga sosok tubuh.
Seorang berdandan sebagai pembesar Boan, yang seorang lagi berjenggot.
Ginkang Kim Tiok-liu sudah sangat tinggi, boleh dikata menginjak salju tidak meninggalkan bekas.
Dengan enteng sekali ia melintasi sebuah gunung-gunungan dan baru saja hendak mendekati jendela untuk mendengarkan.
Tiba-tiba seorang di dalam membentak.
"Siapa itu di luar?"
Dengan cepat ia berbangkit dan membuka daun jendela.
Tiok-liu terkejut dan mengakui kelihaian orang, tapi ia pun cerdik, dilihatnya di atas pohon samping gunung-gunungan itu ada sebuah sarang burung, ketika orang di dalam bersuara, berbareng ia menggunakan tenaga jari sakti menyentik sarang burung itu dari jauh.
Seketika sarang burung itu tergoncang, seekor burung berkaok-kaok kaget dan terbang untuk kemudian hinggap kembali di sarangnya.
Orang berjenggot itu mendengus.
"Kurang ajar! Burung keparat! Bikin kaget saja!"
"Ah, kau pun terlalu curiga, mana ada orang berani datang kemari malam-malam begini?"
Ujar orang berdandan sebagai pembesar Boan itu.
"Betapapun kita harus waspada, soalnya pihak lawan adalah jago-jago yang lihai, bukan mustahil mereka akan datang merecoki kita,"
Kata si jenggot panjang.
"Apa kau maksudkan kedua utusan dari Tay-liang-san itu? Ya, aku memangnya ingin bertanya padamu kedua orang macam apakah mereka itu? Masakah dengan kepandaian Tjong-ya mesti gentar kepada mereka?"
Kata si pembesar.
Mendengar disebutnya "Tjong-ya", baru sekarang Tiok-liu sadar bahwa si jenggot panjang itu kiranya adalah Tjong Sinliong, kepala Hu-siang-tjhit-tju yang pernah bergebrak dengan Utti Keng.
"Kau jangan meremehkan mereka,"
Demikian terdengar Tjong Sin-liong sedang berkata.
"Mereka adalah putera Kim Sii! i dan yang seorang lagi adalah Utti Keng, itu bandit besar yang menjadi buronan pemerintah kalian."
"Hah, kiranya mereka!"
Terdengar si pembesar tadi berseru kaget.
"Pantas Tjong-ya bertindak dengan sangat prihatin. Tapi rasanya tipu daya kita toh takkan meleset, betapapun mereka takkan menduga kita bisa memperalat dayang istana untuk mengantar arak berbisa kepada mereka."
Di dalam hati Kim Tiok-liu merasa bersyukur bahwa sebelumnya Tjongtat Wan-tjin telah memperingatkan mereka, kalau tidak tentu sudah binasa diracun oleh musuh yang telah mengetahui lebih dulu akan kedatangannya.
Belum lenyap pikirannya, tiba-tiba terdengar Tjong Sinliong membentak lagi.
"Siapa itu berani mengintip ke sini?"
Tiok-liu terkejut karena mengira jejaknya konangan musuh, tapi tiba-tiba terdengar suara angin berkesiur, beberapa sosok bayangan manusia muncul di atas wuwungan.
Terdengar seorang di antaranya membentak.
"Keluar sini, Tjong Sinliong!"
Menyusul orang-orang itu lantas melompat ke bawah, kepalanya ternyata sudah dikenalnya, yaitu Boh Tjong-tiu.
Di samping Boh Tjong-tiu masih ada tiga orang lagi, dua di antaranya juga sudah dikenal Kim Tiok-liu, yaitu Tjiok Wi dan Siang Djing yang pernah bertempur di puncak Hoa-san tempo hari, seorang lagi adalah perempuan muda berumur 20-an.
Menurut dugaan Tiok-liu mungkin gadis inilah Lian Djay-hong yang pernah disebut oleh Lim Bu-siang itu.
Melihat munculnya ketiga murid keponakan bersama seorang asing, bahkan orang yang tak dikenal ini bersikap ketus padanya, Tjong Sin-liong menjadi heran dan terperanjat, tanyanya.
"Siapakah bocah ini?"
"Aku Boh Tjong-tiu, ahli-waris lurus Hu-siang-pay, meski tinggi angkatanmu dalam perguruan kita juga mesti tunduk kepada perintahku,"
Sahut Boh Tjong-tiu. Sekilas pandang Tjong Sin-liong melihat Tjiok Wi bertiga mengangguk seperti menguatkan apa yang dikatakan Boh Tjong-tiu.
"Hu-siang-pay sudah lama terpecah menjadi tiga cabang jabatan ahli-warismu ini adalah angkatan sendiri, aku tidak di bawah perintahmu,"
Sahut Tjong Sin-liong dengan gusar. Tjiok Wi lantas mencela.
"Tjong-susiok, daripada terpecahbelah ada lebih baik bersatu kembali. Sudah waktunya Husiang-pay kita harus dipersatukan demi perkembangan selanjutnya yang lebih jaya."
"Hm, jadi kalian telah mengakui dia sebagai Tjiangbundjin?"
Jengek Sin-liong.
"Baik Tjiangbundjin baru, ada apa dengan kedatanganmu ini?"
"Pertama, tidaklah pantas kau kemaruk kedudukan, aku melarang kau menyaru sebagai utusan kerajaan Boandjing untuk menipu orang di sini,"
Kata Boh Tjong-tiu.
"Ngaco-belo! Siapa bilang aku menyaru sebagai utusan kerajaan? Aku justru mendapat tugas penting dari kerajaan, tindakanku ini demi kejayaan perguruan kita Kau paham apa hingga berani mengajari aku?"
Jawab Sin-liong dengan gusar. Boh Tjong-tiu tidak menggubris ocehannya dan melanjutkan.
"Kedua, segala kitab pelajaran ilmu pukulan atau ilmu pedang tidak boleh dimiliki orang secara pribadi. Bagian yang berada padamu juga harus diserahkan kembali padaku!"
"Haha, kelihatan belangnya, kiranya kau ingin mengangkangi kitab-kitab pusaka perguruan?"
Ejek Tjong Sinliong.
"Hm, Tjong Sin-liong, ucapanmu itu hanya mengukur diri orang dengan diri sendiri,"
Sahut Tjong-tiu.
"Tapi aku pun tidak ambil pusing, aku cuma bertanya kau mau menurut atau tidak?"
"Kalau tidak menurut mau apa?"
Jawab Tjong Sin-liong.
"Terpaksa aku membikin pembersihan demi kesucian perguruan,"
Kata Boh Tjong-tiu.
Kim Tiok-liu sangat girang menyaksikan itu, dengan tindakan Boh Tjong-tiu itu, maka tidak perlu dirinya ikut campur dan sementara juga tidak perlu memperlihatkan diri.
Agaknya Tjong Sin-liong menjadi murka bentaknya.
"Terlalu kurangajar kau ini. Bagus, majulah jika kau mau membikin pembersihan perguruan. Dan kalian bagaimana Tjiok Wi dan Siang Djing?"
"Kami hanya membela kebenaran,"
Sahut Tjiok Wi dan isterinya.
"Apa yang dikatakan Boh-suheng memang benar."
Kiranya di antara Hu-siang-tjhit-tju akhirnya terjadi selisih paham, sebagian sadar akan kekeliruan mereka telah diperalat oleh kerajaan lalim itu, sebagian lagi masih mau mengekor kepada Tjong Sin-liong.
Setiba Boh Tjong-tiu di kotaraja, lebih dulu ia menemukan Lian Djay-hong yang dapat diinsyafkan olehnya.
Tjiok Wi dan Siang Djing memangnya tidak sepaham dengan Tjong Sinliong, maka mereka bertekad mendukung Tjong-tiu sebagai ketua Hu-siang-pay dan ikut ke Djinghay untuk menyusul Sinliong.
Begitulah Tjong Sin-liong bertambah murka karena Tjiok Wi dan istrinya memihak Boh Tjong-tiu, dengusnya.
"Baik, boleh kalian berdua maju sekalian supaya aku bisa menghemat tenaga. Dan bagaimana pula dengan kau, Djay-hong?"
Lian Djay-hong adalah murid istri Sing-liong yang sudah meninggal, maka nona itu dapat dianggap sebagai muridnya. Di luar dugaan Lian Djay-hong menjawab.
"Sebagai seorang perempuan aku hanya patuh pada ajaran. Di rumah ikut ayah, setelah menikah ikut suami."
"Apakah maksudmu, apa kau sudah gila?"
Teriak Tjong Sinliong.
"Kami sudah bertunangan, Djay-hong adalah bakal istriku,"
Sela Tjong-tiu.
"Sukdng, mengingat kebaikan Suhu, asalkan kau mau menyerahkan kitab pusaka leluhur kita, maka aku pasti akan memohonkan kelonggaran kepada Boh-toako,"
Kata Djayhong.
Kim Tiok-liu terkejut mendengar Lian Djay-hong telah bertunangan dengan Boh Tjong-tiu, lalu bagaimana dengan nasib Lim Bu-siang yang dari tutur-katanya tempo hari jelas telah jatuh cinta juga kepada Boh Tjong-tiu.
Suara bentakan mengejutkan Kim Tiok-liu dari lamunannya terlihat Tjong Sin-liong sedang menusukkan pedangnya ke arah Boh Tjong-tiu.
Ketika Tjong-tiu menekan kipasnya.
"Crit", pedang Tjong Sin-liong tertangkis ke samping, tapi kipas Tjong-tiu juga tertusuk suatu lubang kecil. Keduanya sama-sama terkesiap dan tahu telah menemukan lawan berat Bicara tentang kekuatan adalah Tjong Sin-liong lebih ulet, tapi tentang ilmu pedang adalah Tjong-tiu lebih bagus. Dia memainkan kipasnya sebagai pedang pendek, dalam sekejap saja sudah mengancam berbagai Hiat-to lawan, tetapi pedang Tjong Sin-liong juga tidak kalah lihainya. Kim Tiok-liu sampai menahan napas menyaksikan pertarungan sengit itu, ia pun tidak berani memastikan siapa yang lebih unggul akhirnya nanti. Dalam pada itu kawanan pengawal istana Sultan sudah sama berdatangan karena suara pertempuran itu.
"Kami dari Hu-siang-pay sedang membikin pembersihan perguruan sendiri dan tiada sangkut-paut dengan orang luar,"
Seru Tjiok Wi.
"Jangan percaya ocehannya, lekas maju membekuk kawanan perusuh ini!"
Teriak si pembesar utusan Boan.
"Orang ini bukan utusan resmi, dia cuma pesuruh Sat Hokting, seluk-beluknya akan kujelaskan kepada Ongya kalian nanti, sekarang hendaklah kalian tinggal diam dulu,"
Seru Tjong-tiu.
Kawanan pengawal itu tidak paham peraturan Kangouw, juga tidak percaya kepada omongan Boh Tjong-tiu, maka beramai-ramai mereka mengepung dari empat penjuru.
Mendadak Kim Tiok-liu menggertak dan melompat keluar dari tempat persembunyiannya, berbareng Hian-tiat-pokiam lantas bekerja, hanya sekejap saja sebuah gunung-gunungan ditabas hingga hancur, lalu bentaknya.
"Siapapun tidak boleh bergerak Apakah utusan Boan ini resmi atau tidak, yang pasti akan kubekuk untuk diadukan ke hadapan Ongya kalian karena dia mengadakan komplotan pembunuhan terhadap tamu-tamu Ongya kalian."
Melihat kelihaian Kim Tiok-liu, serentak kawanan pengawal itu menjadi kuncup nyalinya, sehingga tidak berani bergerak lagi.
Utusan Boan itupun ketakutan, ia pikir paling selamat melarikan diri saja.
Segera ia menyusup di antara kawanan pengawal itu terus berlari ke arah istana Sultan.
"Keparat! Hendak lari kemana?"
Mendadak seorang membentak, sekali cengkeram utusan Boan itu kena dibekuk.
Kiranya pendatang ini adalah Utti Keng, di belakangnya ikut lagi dua orang, yaitu Tjongtat Wan-tjin serta dayang yang mengantar arak beracun tadi.
"Tepat sekali kedatangan Utti-toako,"
Seru Tiok-liu girang.
"Lihatlah, orang itu ialah Boh Tjong-tiu, dia sedang membersihkan perguruannya, kita tak perlu ikut campur. Sebentar lagi kita temui Ongya."
Di sebelah sana pertarungan Tjong Sin-liong dan Boh Tjong-tiu masih berlangsung dengan seru, mendadak Tjongtiu membentak sambil melancarkan serangan-serangan kilat.
Tiok-liu merasa heran menyaksikan jurus serangan itu, kiranya kipas Boh Tjong-tiu yang dimainkan sebagai pedang itu mengeluarkan jurus serangan mirip Si-mi-kiam-hoat dan Tuihong-kiam-hoat.
Setelah berpikir, paham juga Kim Tiok-liu, kiranya Boh Tjong-tiu juga telah berhasil menyelami Thiansan-kiam-hoat yang hebat itu serta diciptakannya jurus ilmu pedang baru.
Diam-diam Tiok-liu mengakui kecerdasan orang yang tidak di bawahnya itu.
Hanya beberapa jurus Tjong Sin-liong sudah kelihatan kewalahan, mendadak Boh Tjong-tiu membentak lagi.
"Kena!"
Gagang kipasnya lantas mengetok, dengan tepat tulang pundak Tjong Sin-liong terpukul remuk sehingga tak bisa berkutik.
Setelah digeledah dan merampas Kiam-boh (kitab ilmu pedang), Tjong-tiu berkata pula.
"Mengingat kau adalah suami Suhu Djay-hong, jiwamu dapat diampuni. Nah, enyah!"
Tulang pundak telah remuk, ilmu silat tak bisa digunakan lagi, Sin-liong tak berani bersuara pula dan mengeluyur pergi.
Kemudian Tjongtat Wan-tjin memerintahkan kawanan pengawal kembali ke posnya masing-masing, ia sendiri bersama Utti Keng dan lain-lain lantas menggiring utusan Boan serta dayang pengantar arak itu untuk menemui Sultan.
Sebagai Lama Besar, sudah tentu Tjongtat Wan-tjin sangat disegani kepala suku itu, terkejut juga Sultan itu ketika menerima laporan dari Tjongtat Wan-tjin tentang apa yang terjadi, apalagi dari jauh ia sendiripun menyaksikan betapa lihainya Kim Tiok-liu menghancurkan gunung-gunungan dengan pedangnya.
"Katakan terus terang kepada Ongya!"
Bentak Tjongtat Wan-tjin sambil mendorong dayang pesakitan itu ke depan.
Dengan ketakutan terpaksa dayang itu mengaku segala apa yang telah dilakukannya.
Dengan ketakutan utusan Boan itu masih menyangkal.
"Aku adalah utusan kerajaan yang terhormat, kalian jangan sembarangan memfitnah orang baik."
Mendadak Boh Tjong-tiu tampil ke muka, serunya.
"Orang ini bukan utusan kerajaan, dia cuma utusan pribadi Sal Hokting saja. Sat Hok-ting sekarang sudah dipenjarakan oleh pemerintah kerajaan Boan. Ini, lihatlah bukti ini!"
Berbareng ia menyodorkan sehelai maklumat yang dibawanya dari kotaraja.
Kiranya waktu itu Sat Hok-ting memang telah dipecat dan dipenjarakan oleh Kaisar Boan, soalnya dia berkomplot dengan seorang Pangeran dan main kekuasaan serta melakukan korupsi.
Akhirnya dia dijatuhkan oleh dua Panglima besar yang memegang kekuasaan militer, terpaksa Kaisar memecat Sat Hok-ting dan memasukkannya ke penjara.
Perubahan yang tak terduga ini seketika menghilangkan rasa keraguan kepala suku Itjam itu, ia lebih-lebih percaya lagi setelah Kim Tiok-liu memperkenalkan Boh Tjong-tiu.
Segera utusan Sat Hok-ting itu dihukum rangket, lalu diusir pergi.
Begitulah Kim Tiok-liu telah sukses dengan tugasnya, kelompok-kelompok suku bangsa di Djinghay itu mengadakan persekutuan dengan pasukan pergerakan Tiok Siang-hu, lalu mereka mohon diri dan keluar istana dimana Lian Djay Hong dan lain-lain sedang menunggu.
Ketika Kim Tiok-liu memberitahukan pertemuannya dengan Lim Bu-siang di Hoa-san, Lian Djay-hong dan Boh Tjong-tiu sangat girang karena mendapat kabar dan alamat nona itu.
Namun dari sikapnya, sedikitpun Tjong-tiu tidak kelihatan perasaan mesra.
Rupanya dia memang tidak tahu bahwa diam-diam Lim Bu-siang mencintainya.
Kim Tiok-liu gegetun di dalam hati, terpikir olehnya dalam soal perjodohan memang tidak setiap orang terkabul menurut cita-cita.
Ia tidak bicara lagi dan lantas berpisah dengan mereka.
Setiba Tiok-liu dan Utti Keng di Tay-liang-san, ternyata ayahnya, yaitu Kim Si-ih, beserta Le Lam-sing dan Kongsun Yan juga sudah berada di situ.
Dengan girang Kim Tiok-liu lantas memberi hormat kepada ayahnya, lalu memberikan laporan kepada Tiok Siang-hu.
Siang-hu sangat senang dan memberi pujian, lalu katanya.
"Aku pun ingin menyampaikan kabar girang kepadamu, tapi lebih baik ayahmu sendiri saja yang memberitahukan padamu."
Kiranya Kim Si-ih telah mengambil keputusan pada tanggal 15 bulan berikutnya akan melangsungkan perkawinan Kim Tiok-liu dan Su Ang-ing, bahkan pada hari yang sama Kongsun Hong juga akan mengawinkan putrinya dengan Le Lam-sing.
Wajah Tiok-liu merah jengah mendengar berita itu, namun dalam hati tak terlukiskan senangnya.
Meski Tay-liang-san terpencil di daerah barat-laut, tapi putera Kim Si-ih kawin, sudah tentu tidak sedikit mendapat kunjungan tamu-tamu, terutama tokoh-tokoh persilatan terkemuka.
Di tengah perayaan itu, tiba-tiba pelayan melaporkan seorang nona Lim yang mengaku sobat Kim Tiok-liu juga datang memberi selamat.
Kiranya yang datang ialah Lim Busiang.
"Piauko tidak diketemukan di kotaraja, maka aku sengaja ke sini untuk memberi selamat padamu sekalian mencari kabar padamu,"
Kata Bu-siang. Dengan perasaan tak enak Kim Tiok-liu menjawab.
"Aku sudah bertemu Piaukomu, dia menyatakan akan mencari ke rumahmu."
Ia hanya berkata demikian karena tidak ingin memberitahukan hal yang bisa membikin sedih Lim Bu-siang.
Begitulah meski perasaan Kim Tiok-liu rada tertekan merasakan nasib Lim Bu-siang yang malang itu, namun pesta, yang riang gembira itu membikin suasana menjadi lebih semarak.
TAMAT
Baca Juga: Rahasia Peti Wasiat 4
Baca Juga: Pendekar Pemetik Harpa 2