Eps 1 Kelana Buana - Liang Ie Shen
Baca online Kelana Buana - Liang Ie Shen
Cersil Kelana Buana - Liang Ie Shen.
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com/. Kelana Buana You Jian Jiang Hu Karya . Liang Ie Shen Saduran . OKT.
Jilid 1 Jenazah itu membujur di tengah pendopo, sekitarnya penuh dikelilingi orang-orang yang berduka cita mengenakan kain blaco tanda berkabung, sepasang lilin besar menyala terang mengepulkan asap hitam.
Suara isak tangis terdengar di sana-sini, abu kertas beterbangan.
Yang menangis gerung-gerung adalah putra almarhum yang masih kecil, sedang yang sesenggukan adalah janda muda, suara bisik-bisik dan helaan napas adalah para pelayat dan para murid almarhum.
Suasana duka cita dalam pendopo sama mengetuk dan menekan perasaan semua yang hadir.
Orang yang meninggal she Nyo bernama Bok.
Seorang guru silat yang kenamaan dalam bilangan kota Siok-ciu.
Sebetulnya berusia lanjut, sakit dan mati adalah kelarasan hidup manusia, maka semua sanak saudara dan para sahabatnya tidak akan merasa.berduka cita.
Tapi kematian Nyo Bok ini justru tidak karena berusia lanjut atau terserang penyakit, usianya masih sedang menanjak, badan sehat dan penuh semangat, cuma mendadak ia meninggal secara aneh.
Tahun ini usianya baru tiga puluh delapan.
Meski cuma baru berusia tiga puluh delapan, tapi karena dia merupakan seorang guru silat yang sedang menanjak dan tenar, dalam perguruannya ia sudah punya t-nam orang murid pewaris.
Murid terbesar bernama Bun Scng-liong, tahun ini berusia dua puluhan, tiga tahun yang lalu sudah tamat belajar, dan sekarang sudah bekerja menjadi piauthau di Tin-wan-piaukiok yang kenamaan di kota raja.
Murid kedua, Gak Hou berusia 21 tahun, tahun yang lalu baru saja tamat belajar, karena dia anak seorang hartawan maka tidak perlu keluar pintu mencari pekerjaan di lain tempat, nganggur di rumah tapi sering datang menyambangi gurunya.
Murid ketiga Phui Liang.
Murid ke empat Hoan To.
Kedua orang ini anak-anak bilangan daerah tempat itu, tahun ini berusia di antara tujuh delapan belas, karena tempat tinggal mereka tidak jauh, setiap hari datang belajar silat di rumah gurunya setelah malam baru pulang rumah.
Yang menetap di rumah Nyo Bok cuma murid ke lima Song Beng-ki dan murid ke enam Oh Lian-ba, berusia lima belas dan empat belas.
Tatkala terjadi kematian Nyo Bok secara aneh itu, Cuma kedua muridnya yang terkecil ini ikut hadir.
Nyo Bok tidak punya sanak kadang, cuma seorang kakak perempuan yang sudah menjadi janda, bertempat tinggal di Poting dalam keluarga Ki yang berjarak kira-kira tiga ratus li jauhnya.
Murid ketiga Phui Liang mendapat perintah dari sang Subo memberi kabar ke Poting dan saat itu masih belum pulang.
Yang sekarang mengenakan pakaian duka cita dalam pendopo besar itu cuma istri Nyo Bok yang masih muda belia dan ayu rupawan bernama Hun Ci-io dan seorang putranya yang berusia tujuh tahun bernama Nyo Hoa.
Kalau Nyo Bok seorang guru silat yang termasyhur, justru istrinya yang masih muda ini dari keluarga sekolahan yang lemah lembut, menurut kabarnya sedikit pun tidak mengenal pelajaran ilmu silat.
Delapan tahun yang lalu waktu Nyo Bok pulang kelana dari Kanglam membawa pulang istri mudanya yang belum lama dia kawini.
Orang lain cuma tahu bahwa istrinya ini berasal dari Soh-ciu, keluarga sekolahan yang punya kedudukan dan sangat disegani di bilangan rumahnya.
Soal bagaimana mereka bisa berkenalan, selamanya Nyo Bok tidak pernah menceritakan rahasia ini, maka orang luar tiada seorang pun yang bisa tahu.
Kedua suami istri ini hidup rukun dan saling mencintai penuh kasih sayang, selama delapan tahun ini belum pernah mereka ribut mulut atau bertengkar.
Orang sering memuji bahwa perkawinan mereka memang sangat setimpal.
Siapa nyana kehidupan manusia dalam dunia fana ini memang kadang-kadang sudah ditentukan oleh suratan takdir, suami istri yang hidup bahagia ini secara mendadak harus ditimpa kemalangan yang menyedihkan ini.
Memangnya Hun Ci-lo seorang perempuan yang berparas cantik berperawakan langsing dan rupawan, sikapnya lemah lembut lagi, setelah mengenakan pakaian duka yang serba sederhana itu, lebih kelihatan lagi betapa sedih dan pilu hatinya, sungguh kasihan sekali.
Tapi di saat ia meratapi kematian suaminya di pinggir layon itu.
adalah seseorang yang ujung mulutnya menyunggingkan senyum sinis dan mengejek.
Orang yang mengulum senyum ejek dan sinis ini adalah murid kedua Nyo Bok yang bernama Gak Hou, sekilas ia melirik Subonya dengan pandangan hina, batinnya dalam hati.
"Kau Cuma berpura-pura dan bermuka-muka di hadapan orang banyak, kalau tingkah lakumu dapat mengelabui orang banyak, jangan harap dapat mengelabui aku."
Tapi semua orang yang hadir dalam ruang pendopo itu tiada, seorang pun yang-pernah memperhatikan senyum dingin dan pandangan hina Gak Hou ini.
Dasar dari keluarga pendidikan Hun Ci-lo dapat membaca dan tahu adat kesopanan sikapnya ramah tamah dan welas asih terhadap semua orang, setia pada suami dan mendidik putranya dengan giat dan tekun, sering pula dia mengulur tangan menolong para tetangga yang tertimpa malang dan perlu diberi bantuan, maka semua orang dalam bilangan desanya itu sama segan dan mengindahkannya.
Oleh karena itu pula, maka meski kematian Nyo Bok rada aneh, semua orang cuma menyangka bahwa kehidupan manusia memang sudah ditentukan oleh takdir ilahi, tiada seorang pun yang menaruh curiga terhadap Hun Ci-lo.
Tangis Hun Ci-lo sedemikian menyedihkan, semua orang yang hadir sama merasa kasihan dan simpatik pada penderitaannya.
Siapa yang tidak akan terketuk sanubarinya?
Jangan kata tawa dingin Gak Hou tiada seorang pun yang mendengar atau memperhatikan, seumpama ada orang yang Vnelihat juga mereka tidak akan menduga bahwa jengek tawanya itu ditujukan kepada Subonya (ibu guru).
Mendadak terdengar seseorang berseru.
"Suhu, suhu!""
Seorang pemuda beralis tebal bermata besar menerobos masuk dengan sempoyongan langsung menuju ke pendopo. Gak Hou jadi girang dan terkejut pula, teriaknya.
"Toa suheng. kau sudah tiba!"-Laki-laki yang datang ini adalah Piauthau dari Tin-wan piaukiok di Pakkhia, murid terbesar Nyo Bok yang bernama Bun Seng-liong. Dengan suara serak dan tersendat Bun Seng-liong berteriak se-sambatan.
"Suhu, aku datang terlambat! Oh suhu, suhu! Kenapa kau tidak beri kami kesempatan untuk bertemu muka yang penghabisan lantas tinggal pergi?"
Berlutut di depan layon kedua tangannya menepuk-nepuk peti mati lalu menyembah tiga kali.
Setelah menyembah Bun Seng-liong berdiri, sambil pelototkan kedua biji matanya yang besar, ia pandang Hun Ci-lo, katanya.
"Sunio, cara bagaimana kematian suhuku?"
Muka Hun Ci-lo pucat pias, sahutnya sambil sesenggukan.
"Aku, aku tidak tahu ia terserang penyakit apa. Dua malam yang lalu, dia mendadak mengatakan jantungnya sakit, dalam sekejap saja kaki tangannya lantas kejang dan dingin terus tak bisa bicara lagi."
"Adakah suhu meninggalkan pesannya yang terakhir?"
Tanya Bun Seng-liong.
"Ti......tidak!"
Sahut Hun Ci-lo. Seorang laki-laki tua maju menimbrung.
"Gurumu meninggal mendadak terserang penyakit, mana ada tempo buat menulis pesan atau warisan segala? Kau boleh beristirahat sebentar!"
Pembicara ini adalah seorang paman jauh dari Nyo Bok, dulu pernah menerima kebaikan dari Hun Ci-Io, sengaja dia datang ikut bela sungkawa dan bantu mengurus segala keperluan.
Tapi Bun Seng-liong tidak gubris seruan orang, serunya.
"Aku adalah murid terbesar suhu, bagaimana urusan perguruan selanjutnya harus dibereskan, masa tidak boleh aku mengetahui?"
Nyo Toa-siok atau orang tua yang bicara tadi walaupun seorang desa bukan dari kalangan persilatan tapi sedikit banyak ia tahu juga peraturan Bu-Iim, begitu mendengar perkataan Bun Seng-liong ini, lantas dia tahu urusan apa yang dimaksud dan sangat diperhatikannya itu.
Segera ia berkata pula.
"Meskipun gurumu tidak meninggalkan pesan apa, tapi kau sebagai murid terbesar, menurut adat kebiasaan dan peraturan umumnya, maka kedudukan Ciangbun Tecu adalah menjadi hak dan bagianmu. Beberapa sutemu itu kiranya juga tiada yang hendak main rebut kedudukan dengan kau."
Menurut kebiasaan dan peraturan Bulim umumnya, Ciangbun Tecu boleh mengangkat murid terbesar, tapi juga boleh mengangkat murid kecil lainnya yang dirasa lebih setimpal atau berbakat.
Cuma kalau murid terbesar tidak pernah melakukan sesuatu hal atau perbuatan yang tercela, delapan atau sembilan bagian dari sepuluh, kedudukan ini bakal diangkat dari urutan yang terbesar.
Kejadian seperti ini sudah menjadi peraturan Bulim yang sudah turun temurun secara tidak resmi.
Cuma soalnya karena tidak ada pesan atau peninggalan warisan apa-apa, maka Bun Sengliong sendiri jadi tidak enak mengutarakan isi hatinya.
Kalau toh dia mengajukan pertanyaannya tadi, tujuannya tidak lain supaya ibu gurunya mengeluarkan kata-katanya ini.
Tapi sekarang ganti paman gurunya yang mengutarakan maksud hatinya itu, walaupun tidak selengkap seperti yang di damkan, paling tidak peraturan dan kedudukan dirinya sudah tercatat dalam pendengaran semua hadirin.
Merah jengah selebar muka Bun Seng-liong karena isi hatinya dikorek oleh Nyo Toa-siok ini, cepat ia berpura-pura.
"Bukan begitu maksudku. suhu belum lagi dikebumi-kan mana boleh membicarakan soal pengangkatan Ciangbun baru apa segala?"
"Tidak,"
Terdengar Gak Hou menyela.
"Hal ini merupakan suatu peristiwa yang cukup penting. Pepatah bilang. negara tak boleh sehari pun tiada pimpinan, rumah pun tak boleh tiada majikan, bagi kami aliran persilatan pun ada pula ujar-ujar demikian. Suhu sebagai seorang persilatan yang kenamaan, mana boleh tanpa seorang pewaris yang setimpal? Toa-suko, kami beramai sama setuju menjunjung kau sebagai Ciangbun, setelah kami sama menanggalkan pakaian duka cita ini segera kita adakan upacara pengangkatan ini. Maka untuk selanjutnya segala.urusan perguruan ini menjadi tanggung jawabmu seperti keadaan suhu dahulu."
Calon terkuat yang dapat menjadi saingan Bun Seng-liong jadi Ciangbun Tecu cuma Gak Hou seorang, tapi kenyataan sekarang Gak Hou rela tunduk dan terima menjadi anak bi ah belaka benar-benar di luar perkiraan Bun Seng-liong sendiri.
Serta mendengar ucapan Gak Hou ini betapa senang dan syur hati Bun Seng-liong, tapi lahirnya ia pura-pura, cepat goyang tangan serta berkata.
"Urusan ini boleh dibicarakan belakangan, suhu baru meninggal, aku, hatiku sungguh menjadi gundah dan pikiran pun jadi kalut, entah bagaimana aku harus bekerja."
Sampai di sini ia berhenti, mendadak seperti teringat sesuatu semangatnya jadi berkobar, serunya.
"Ya benar, sunio ada sebuah hal penting yang ingin kutanyakan kepadamu. Buku pelajaran silat milik suhu disimpan di mana, sekali-sekali jangan sampai hilang, harap kau suka tolong mencarinya dan diserahkan kepadaku."-Dia berani minta buku pelajaran silat milik gurunya, jelas bahwa dia sudah anggap dirinya sebagai ahliwaris perguruan. Bertaut alis Hun Ci-lo. agaknya ia jadi hilang sabar dan seperti tidak perhatikan obrolan Bun Seng-liong, katanya.
"Tidak pernah aku melihat gurumu punya buku pelajaran silat apa, jikalau ada, tentu disimpan di kamar buku gurumu, boleh kau pergi ke sana mencari sendiri."
Bun Seng-liong rada kikuk dan canggung, layon gurunya masih membujur di tengah pendopo, dirinya lantas pergi menggeledah barang peninggalan gurunya, sebe-tulnyalah kejadian macam ini rada keterlaluan.
Di saat dia kebingungan terdengar Gak Hou menyela bicara.
"Setiap urusan ada ukuran penting dan berat ringannya, sebagai murid adalah jamak menjaga ruang pendopo ini, tapi buku pelajaran silat peninggalan guru juga perlu cepat-cepat dikeluarkan, suhu kan juga ingin para muridnya bisa mengangkat nama tinggi perguruan, kalau sampai hilang, masa beliau bisa meram di alam baka."
Kira-kira setengah jam kemudian Bun Seng-liong dan Gak Hou berdua baru keluar pula, rona wajah mereka sama mengunjuk rasa penasaran dan serba curiga. Bun Seng-liong bertanya.
"Sunio, kucari di kamar buku tidak ketemu. Harap tanya di manakah Pit-kip perguruan kita disimpan?"
Kata Hun Ci-lo sambil mengerut kening.
"Ucapanmu ini seolah-olah menuduh aku yang telah melalapnya. Kalian kan tahu aku tidak kenal ilmu silat, untuk apa kusimpan?"
"Agaknya sunio juga terlalu curiga,"
Sela Gak Hou.
"Aku percaya bukan ke situlah maksud perkataan suheng, cuma mohon bantuan, sumo untuk mencarikan saja."
Cepat-cepat Bun Seng-liong manggut-manggut, serunya.
"Ya, betul! Begitulah maksudku."
Hun Cin-Io tidak bersuara lagi, namun air mata semakin deras menetes dari ujung matanya. Cepat Nyo Toa-siok menimbrung bicara.
"Sekarang sudah saatnya berangkat ke pekuburan. Biarlah sunio kalian merampungkan penguburan suhu kalian lebih dulu, besok kalau ada senggang biar bantu kalian mencarinya. Toh malam ini kalian masih berada di sini, kukira tiada orang yang berani mencurinya. Kalau kalian tidak lega, boleh silakan berjaga-jaga saja di sini. Merah jengah selebar muka Bun Seng-liong, ujarnya.
"Oh, maaf, aku tidak tahu bila sekarang juga layon akan diberangkatkan ke pekuburan sehingga mengganggu sunio."
Tapi sebaliknya Gak Hou berjingkrak kaget, teriaknya.
"Apa tidak menanti kedatangan Toaci suhu dan para keponakannya lantas hendak dikubur begini saja?"
"Di masa hidupnya suhu kalian paling benci segala tata peradaban, maka setelah dia meninggal sudah tentu lebih cepat menguburnya, akan menentramkan arwahnya di alam baka. Kalau Toacinya datang berani mengomel atau banyak mulut, suruh dia bicara dengan aku saja,"
Demikian Nyo Toa-siok memberi keputusan terakhir, memangnya dia sebagai famili dekat angkatan tua almarhum, dengan dia yang mengatur dan mengurus segala pekerjaan dan memberi keputusan pula, meski para murid Nyo Bok sama menggerundel tapi tiada seorang pun yang berani menentang kehendaknya.
Maka mulailah para murid Nyo Bok beramai-ramai mengusung peti mati, tanah perkuburan terletak tidak jauh di belakang rumah keluarga Nyo, liang kubur sudah lama digali demikian juga batu Bongpaynya sudah ditegakkan.
Penguburan dilakukan secara sederhana, dan tanpa upacara tetek bengek, setelah layon dikebumi-kan.
Hun Ci-lo bersama putranya berlutut memeluk batu nisan sambil menggerung-gerung sedu sedan, beberapa kali hampir saja ia jatuh pingsan saking berduka.
Diam-diam Gak Hou membatin dalam hati.
"Baru berselang dua hari, segala sesuatunya ternyata sudah dipersiapkan seluruhnya. Hm, sulit juga untuk berpura-pura menangis sedemikian persis dan sedih!"
Tanpa disadari mulutnya menyungging senyum ejek dan mendenguskan hidung.
Kalau waktu di rumah tadi senyuman sinisnya tidak bersuara, namun kali ini tak tertahan lagi sampai bersuara, meski suaranya tidak keras, tapi Bun Seng-liong yang kebetulan berada di sampingnya mendengar jelas sekali.
Untung sekelilingnya masih diliputi suara sesenggukan dan sedu sedan yang bersahutan, jadi jengek tawanya tenggelam oleh suara tangis banyak orang.
Kecuali Bun Seng-liong yang punya rasa was-was dan rada sirik ini, orang lain tidak memperhatikan.
Dengan rasa heran dan tidak mengerti Bun Seng-liong berpaling, Gak Hou lalu berbisik.
"Toasuko, malam ini harap datang ke rumah Siaute, ada sesuatu hal yang perlu kuberitahu kepadamu!"
Waktu bicara ia tutupi raut mukanya dengan lengan baju, selesai berkata ia pura-pura sesenggukan dan mengusap air mata. Bun Seng-liong jadi geli, pikirnya.
"Suteku ini ternyata setanding dan sama liehaynya dengan sunio. keduanya sama-sama pandai berpura-pura main sandiwara jadi sungguhan."
Kira-kira kentongan ketiga hampir tiba, sesuai yang dijanjikan Bun Seng-liong datang ke rumah Gak Hou, tampak olehnya kecuali Phui Liang yang belum kembali dari Poting, semua orang sudah sama duduk berkeliling.
Kata Bun Seng-liong.
"Kiranya kau mengundang para saudara seperguruan semua. Perkara apa yang hendak dirundingkan?"
"Peristiwa yang menyangkut kematian suhu kali ini,"
Gak Hou menjelaskan.
"Coba Toasuko suka memberi keadilan dan keputusan terakhir nanti."
"Agaknya kau rada sirik dan tidak senang terhadap sunio, kenapa?"
Tanya Bun Seng-liong.
"Bukan saja tidak senang,"
Jengek Gak Hou tertawa dingin.
"Menurut dugaanku, kematian suhu ini mungkin dicelakai oleh sunio sendiri!"
Semua orang yang hadir sama berjingkrak kaget oleh kata-katanya ini. Hoan To murid ke empat adalah murid yang paling jujur dan tahu adat kesopanan, cepat ia menyela.
"Ji-suko, tanpa bukti lebih baik jangan kau sembarang omong!"
"Bukti yang nyata memang tiada, tapi berbagai kecurigaan dapat kita selami bersama. Coba kutanya, apakah kau sendiri ada melihat jenazah suhu?"
"Tidak!"
Sahut Hoan To.
"Hari itu pagi-pagi benar aku sudah datang ke rumah suhu, peti mati sudah dipaku dan didempul rapat."
"Itulah! Harap tanya kenapa begitu buru-buru harus dipaku dan didempul tanpa memberi kesempatan pada kita untuk menjenguk wajah suhu yang terakhir?"
Hoan To berkata.
"Nyo Toa-siok kuatir sunio terlalu berduka, maka setelah suhu meninggal cepat beliau menutup dan memaku peti mati supaya dia tidak melihat wajah suhu. Mungkin pula karena hawa terlalu panas, jazadnya bisa lekas membusuk. Tapi meskipun aku sendiri tidak melihat jenazah suhu, tapi Nyo-sute dan Lak-sute malam itu kan ada di tempat kejadian itu."
"Beng-ki, Lian-ba,"
Tanya Bun Seng-liong.
"Waktu suhu meninggal malam itu, apakah sunio mengundang kalian masuk? Raut muka suhu apakah menjadi hitam? Tujuh lubang indranya apakah mengeluarkan darah?"
Song Beng-kie dan Oh Lian-ba merupakan bocah yang masih berusia empat lima belasan, kena digertak oleh pertanyaan Toa-suhengnya jadi ketakutan. Kata Song Beng-ki dengan gelagapan.
"Tatkala itu aku sendiri sedang ketakutan dan sedih, tidak terpikir olehku untuk memeriksanya."
"Telur busuk yang ceroboh!"
Maki Bun Seng-liong.
"Tapi hal ini sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa kematian suhu sangat mencurigakan,"
Demikian sela Gak Hou.
"Pertama beberapa orang di antara kami tiada seorang pun yang pernah memeriksa jenazah suhu, malah dua bocah yang tidak tahu apa-apa ini pun telah diutus sunio untuk melakukan sesuatu. Kedua. dari hari kematian sampai penguburan cuma tiga hari, kenapa harus begitu tergesa-gesa, apakah bukan takut perbuatannya yang terkutuk itu ketahuan? Silakan kalian pikir bersama!"
Kata Hoan To.
"Tangis sunio sedemikian sedih dan memilukan, kalian juga melihat sendiri, masakah perbuatannya itu pura-pura belaka?"
"Siapa tahu kalau perbuatannya itu memang pura-pura dan bermuka-muka belaka demi mengelabui mata orang lain?"
Jengek Bun Seng-liong.
"Sedikit pun tidak akan salah, memang berpura-pura dan bermuka-muka saja!"
Seru Gak Hou dengan tandas.
"Darimana kau bisa tahu?"
Tanya Hoan To heran, dalam hati ia membatin.
"Kau kan bukan cacing dalam perut sunio."
Kata Gak Hou.
"Sudah tentu aku tahu. Cui-hoalah yang beritahu kepada aku, dan tanggung tidak akan salah. Secara diam-diam pernah kutanya kepadanya, menurut katanya sunio hanya menangis bila berada di ruang pendopo, begitu kembali ke kamarnya sedikit pun tidak memperlihatkan sikap sedih atau berduka. Dan lagi setiap makan sunio pasti makan dua mangkok nasi, setelah suhu meninggal beberapa hari ini tetap bisa menghabiskan dua mangkok dengan lauk pauk yang lezat."
Cui-hoa yang dimaksud adalah budak yang melayani segala keperluan Hun Ci-lo, parasnya memang cukup cantik.
Tapi budak ini bukan pembawaan Hun Ci-lo dari keluarganya sendiri, adalah di kala Gak Hou masuk perguruan demi mengambil hati sang guru ia sengaja beli budak ini diberikan kepada sunio.
Tanya Hoan To.
"Kenapa Cui-hoa cuma bilang dengan kau tidak mengatakan juga kepadaku?"
Bun Seng-liong jadi geli mendengar pertanyaan yang lucu ini, katanya.
"Si-sute, semula kuduga cuma Ngo-sute dan Lak-sute saja yang ceroboh dan gendeng, ternyata kau jauh lebih goblok dan pikun! Masa kau bisa dibanding dengan Ji-sukomu, sejak lama memang dia sudah main sekongkol dengan Cui-hoa, tahu!"
"Toa-suko, kau menggoda saja,"
Ujar Gak Hou sambil mengunjuk rasa bangga, sambungnya.
"Untuk menyelidiki duduk perkara sebenarnya, terpaksa Siaute menggunakan sedikit akal. Bicara terus terang Cui-hoa sudah kepelel sedemikian rupa sehingga dia patuh sekali kepadaku, apapun yang dia ketahui pasti dilaporkan kepadaku. Menurut katanya, jangan kalian anggap hubungan sunio dan suhu begitu mesra, itu mereka lakukan di kala berhadapan dengan orang lain. Di belakang orang selalu sunio bermuram durja, belum pernah ia melihat sunio unjuk seri tawa di kala berhadapan sendiri dengan suhu. Malah beberapa kali ia dengar sunio menangis di dalam kamarnya."
Bun Seng-liong berpura-pura jadi paham sambil menepuk paha, serunya.
"Sekarang aku paham, mungkin sunio anggap suhu seorang kasaran yang tidak mengenal cinta kasih dan main asmara. Atau mungkin dia mempunyai seorang pujaan hati lainnya."
Tak tahan Hoan To menyela.
"Suko, sebelum mendapat bukti bahwa dia benar mencelakai suhu, betapapun dia adalah sunio kita, Guru laksana ayah, sunio seperti ibu, Toa-suko, ucapanmu ini, rada..."
Sebetulnya ia hendak mencerca ucapan Toa-suko tadi yang menghina dan merendahkan kesucian dan martabat sunionya, tapi di bawah tekanan dan wibawa Toa-sukonya yang garang itu akhirnya ia telan kembali kata-katanya.
"Ucapanku bagaimana?"
Sentak Bun Seng-liong gusar.
"Kau jadi merasa kikuk dan menusuk pendengaranmu? Kalau kau ingin menjadi putranya Hun Ci-lo yang berbakti silakan kau lanjutkan, tapi jangan kau tarik lain orang. Tapi mungkin usiamu sudah cukup dewasa, menjadi adiknya kiranya lebih cocok"-sebetulnya ia hendak mengatakan menjadi "gendaknya", serta melihat sikap Hoan To yang ketakutan dan tidak tentram itu, ia jadi merasa kata-katanya ini terlalu kotor dan merendahkan derajat sendiri sebagai calon Ciangbun Tecu, maka, akhirnya ia ubah dengan katakata menjadi 'adik'nya. Gak Hou ikut menjengek dingin.
"Buka mulut sunio, tutup mulut sunio, begitu mesra panggilanmu, tak heran biasanya Hun Ci-lo paling sayang kepadamu!"
"Harap suheng berdua jangan marah,"
Ujar Hoan To.
"Bukan maksud siaute hendak membela sunio, aku cuma bicara menurut keadilan belaka. Beberapa keterangan yang diuraikan Ji-suko tadi tidak lebih cuma beberapa bahan kecurigaan yang belum bisa dibuktikan, bisakah kita memutuskan persoalan demikian saja."
Setelah mengumbar adat mendengar pula penjelasan Hoan To ini, Bun Seng-liong jadi berpikir secara cermat, terasa olehnya debat Hoan To ini memang masuk di akal.
Watak Hoan To jujur, polos dan setia kawan, biasanya ia sangat mengindahkan segala petunjuk Toa-sukonya, setelah marah-marah tadi Bun Seng-liong jadi merasa menyesal juga, demi mengambil hati dan menarik ke pihaknya, terpaksa ia mengubah sikap, serunya sambil tertawa keras.
"Si-sute, ada kalanya kau terlalu ceroboh, tapi ada waktunya pula kau cukup cermat hati-hati dan matang menghadapi persoalan. Sesuai dengan ucapanmu, untuk menghadapi Hun Ci-lo, kami harus memperoleh buktibukti yang nyata."
Gak Hou termenung beberapa kejap lalu berkata.
"Untuk membuktikan dosa-dosanya tidak lebih cuma ada dua cara, yaitu mencari saksi manusia dan bukti benda."
Kata Hoan To.
"Bila suhu memang dicelakai sampai mati, aku bersumpah untuk menuntut balas bagi suhu. Tapi sekarang kami belum mendapat saksi dan bukti barang apa-apa, masa kita harus percaya saja sekedar obrolan Cui-hoa lantas menuduh bahwa sunio-Iah yang telah mencelakai jiwanya?"
"Barang bukti sih tidak sulit dicari, cuma harus menempuh sedikit bahaya, tapi bila sampai..."
Gak Hou jadi ragu-ragu.
"Loji, bicaralah secara gamblang, barang bukti apa yang hendak kau cari?"
Tanya Bun Sengliong.
"Jenazah suhu!"
Sahut Gak Hou pendek. Bun Seng-liong terkejut, serunya.
"Jadi maksudmu harus membongkar kuburan membuka peti mati?"
"Ya, Toa-suko, bagaimana menurut pendapatmu?"
"Kurasa rada, rada.... kurang tepat. Seandainya suhu tidak mati karena keracunan, kejadian ini bisa menjadi buah tertawaan orang banyak!"
"Ditertawakan orang sih tidak menjadi soal. Yang terang kita semua bakal dinista dan dicerca oleh seluruh sahabat persilatan di seluruh jagat ini. Dosa-dosa semacam ini, maaf aku tidak berani melakukan."
"Maka tadi kukatakan mencari barang bukti memang rada sulit dan serba runyam, terpaksa cari dulu seorang saksi,"
Demikian Gak Hou berdiplomasi. Kata Bun Seng-liong.
"Paling banyak Cui-hoa hanya bisa membuktikan bahwa Hun Ci-lo bahwasanya tidak merasa sedih karena kematian suhu, dapatkah dia kita seret menjadi saksi?"
"Sudah tentu bukan melulu menyeret dia seorang saja."
Bun Seng-liong melengak, katanya.
"Jadi maksudmu masih ada seorang saksi lain. Siapa orang itu, apakah dia pernah menyaksikan bahwa Hun Ci-lo benar-benar turun tangan mencelakai jiwa suhu?"
"Aku sendiri tidak tahu siapa dia,"
Gak Hou menjelaskan pula.
"Apakah dia pernah lihat apaapa, aku pun tidak tahu. Tapi kita dapat mengompes sedikit keterangannya."
Bun Seng-liong semakin heran dan garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal, ujarnya.
"Sebetulnya apa sih yang sedang kau rencanakan, kalau toh segalanya kau sendiri tidak tahu, cara bagaimana kau bisa mencari orang itu?"
Mendadak Gak Hou berkata.
"Ngo-sute, Lak-sute. Malam di mana suhu meninggal itu, ada terjadi keributan soal seorang pencuri yang main gerayang di gedung suhu, apakah kalian tahu akan hal ini?"
"Jadi gedung suhu pernah kemalingan,"
Seru Bun Seng-liong kaget dan heran pula.
"Pencuri manakah yang begitu besar nyalinya?"
"Peristiwa itu terjadi semalam sebelum kematian suhu, malam kedua lantas suhu dikabarkan meninggal secara mendadak,"
Ujar Gak Hou. Oh Lian-ba ikut menimbrung.
"Malam itu tidurku sangat pulas, sedikit pun tidak tahu terjadinya peristiwa itu."
"Aku sih ada dengar suara genteng yang terjatuh pecah berhamburan, waktu aku memburu keluar, kutemui Cui-hoa, dia tertawakan aku terlalu bodoh dan linglung, tiada kejadian mencari keributan sendiri, cuma kucing bertengkar saling kejar di atas genteng katanya!"
Song Beng-ki ikut memberi penjelasan. Gak Hou jadi tertawa geli, katanya.
"Suhulah yang menyuruh dia tutup mulut maka dia bersikap kasar terhadap kau. Kau ini memang bodoh, masa suara kucing berkelahi dan jejak orang berjalan malam tidak bisa membedakan, begitu gampang kau mau percaya keterangannya."
"Kenapa suhu melarang dia bicara terus terang?"
Tanya Song Beng-ki uring-uringan.
"Malam itu ketika mendekati kentongan ketiga, Cui-hoa mendengar suara jeritan, disusul melihat sesosok bayangan berkelebat di luar jendela kamarnya. Tak lama kemudian suhu dan sunio lantas menyusul keluar dan menyuruh dia jangan bikin ribut dan kaget, katanya cuma seorang maling kecil yang sudah digebah lari oleh suhu. Soal kenapa Cui-hoa dilarang membocorkan kejadian itu, aku pun tidak tahu."
Demikian penjelasan Gak Hou lebih lanjut. Dalam hati Hoan To membatin.
"Apa sulitnya menebak hal itu?"
Katanya.
"Mungkin demi gengsi dan nama kebesaran suhu sebagai guru silat yang kenamaan."
"Tidak mungkin,"
Sela Bun Seng-liong.
"Kau sih belum dapat menyelami perangai suhu, biasanya dia paling mengagulkan diri sebagai tokoh yang sudah tenar di kalangan Kangouw, menjadi sirik dan benci bila ada orang memandang rendah derajatnya. Kedatangan pencuri kecil itu justru melanggar pantangannya ini. Demi gengsi dan nama bukan mustahil dia akan menghajar dan menyiksa maling kecil itu, atau mungkin membunuhnya sekalian untuk tutup mulutnya. Sebab kalau beliau melepaskan seorang maling kecil, bagi orang yang tidak tahu bisa anggap dia tidak mampu meringkus seorang maling kecil, bukankah hal ini malah akan menjatuhkan pamornya? Apalagi seumpama beliau mendapat pujian sebagai seorang luhur yang baik budi, tapi mengandal kebesaran nama suhu, ternyata maling kecil itu tidak tahu apakah beliau tidak kehilangan muka. Aku paling tahu martabat suhu, kejadian seperti itu betapapun beliau tidak akan memberi kelonggaran."
Hoan To menjadi merinding dan berdiri bulu romanya; pikirnya.
"Tidak, tidak. Martabat suhu tidak mungkin begitu menakutkan seperti yang diuraikan Toa-suheng barusan."
Gak Hou malah tertawa, ujarnya.
"Jadi kalau menurut pendapat Toasuko, bahwa maling kecil itu memang sengaja dilepaskan oleh suhu?"
"Kecuali ada udang di balik batu, kalau tidak pasti kepandaian maling kecil itu teramat tinggi, suhu tidak mampu meringkus dia!"
"Malam pertama pencuri itu datang, malam berikutnya suhu lantas mati, suhu dan sunio sama hendak menutup rahasia tentang kedatangan si pencuri itu, hal-hal ini cukup mencurigakan juga bukan!"
Kata Gak Hou.
"Jadi, jadi maksudmu suhu kena dilukai oleh pencuri itu?"
Tanya Hoan To.
"Bukan, bukan begitu, kau nge-lantur ke mana sih?"
Olok Gak Hou "Seorang maling kecil masa mampu melukai guru kita? Malah sebaliknya guru kita yang berhasil melukai dia!"
"O, kalau'begitu dua kemungkinan yang kita bicarakan itu kini tinggal satu kemungkinan belaka. Bukan guru kita yang tidak mampu meringkus pencuri itu, kenyataan bahwa dalam peristiwa ini ada tabir rahasianya,"
Demikian Bun Seng-liong mengajukan pendapatnya.
"Memang aku sekarang sedang menyelidiki tabir rahasia itu,"
Ujar Gak Hou.
"Untuk itu kami harus mengompes keterangan dari si pencuri itu akan kejadian malam itu."
Bun Seng-liong jadi girang. katanya.
"Jadi saksi yang kau maksudkan tadi'kiranya, adalah pencuri itu, kau sudah berhasil meringkus dia?"
"Untung mendapat bantuan Ting-thocu dari pihak Ui-liong-pang, semalam aku sudah berhasil membekuk maling itu. Sebetulnya kepandaian maling itu cukup lumayan, soalnya kakinya sudah pincang dilukai oleh guru, tapi dia berani melawan puluhan orang dari orang-orang Ui-liong-pang, mungkin ada beberapa anggauta Ui-liong-pang yang terluka olehnya, maka akhirnya setelah badannya kena dihajar babak belur baru dia dapat kita ringkus. Semalam waktu diantar kemari, keadaannya masih payah dan empas empis, jadi sukar mengompes keterangannya, setelah kupanggil tabib untuk mengobati, barusan kudapat laporan katanya dia sudah mampu menghabiskan tiga mangkok bubur."
Dasar Gak Hou ini keturunan dari keluarga hartawan, suka royal lagi maka hubungannya cukup luas dengan berbagai golongan, perkumpulan dan Pang.
Pencuri ini berhasil ia bekuk setelah dia main sogok dengan uangnya sehingga kawanan Ui-liong-pang mau bekerja demi kepentingannya.
"Dia dapat menghabiskan tiga mangkok bubur berarti sudah mampu bicara, lekas kau giring dia kemari untuk kita mintai keterangan bersama,"
Kata Seng-liong.
Segera Gak Hou keluarkan perintahnya kepada pelayannya, tak lama kemudian dua laki-laki kekar menggiring pencuri itu masuk.
Tampak pencuri ini bermuka kuning seperti malam, kaki tangannya penuh luka-luka, demikian juga pakaiannya sudah dedel dowel.
dan penuh berlepotan darah, luka-lukanya memang tidak ringan.
Tapi sepasang matanya masih berkilat penuh semangat.
Luka-lukanya itu sudah cukup berat, tapi kedua laki-laki yang menggusur datang itu masih kuatir terjadi sesuatu, kedua tangannya ditelikung ke belakang dan di kat tali besar.
Setelah Gak Hou menyuruh kedua pembantunya itu keluar, ia turun tangan sendiri membebaskan belenggu tangan si maling serta memapahnya bangun, tanyanya.
"Siapa namamu?"
"Pekerjaanku adalah mencuri yang dianggap rendah, kalau kukatakan namaku cuma mengotori nama leluhurku saja,"
Jawab maling itu.
"Kau tidak mau menyebut nama pun tak menjadi soal,"
Ujar Gak Hou.
"Tapi kau harus bicara terus terang, kenapa kau menggerayangi gedung guruku? Apakah kau tidak tahu beliau adalah Nyo-busu yang kenamaan di lima propinsi daerah utara?"
"Tidak tahu!"
Sahut si maling singkat, melihat keadaannya mungkin dia memang sengaja tidak mau menjawab pertanyaan Gak Hou. Dengan sabar dan suara halus Gak Hou berkata.
"Asal kau mau bicara terus terang, tanpa menyimpan rahasia nanti kulepas kau pergi. Apa yang kau lihat pada malam itu di rumah guruku?"
"Apapun tiada yang kulihat, tahu-tahu aku sudah ketimpuk oleh senjata rahasia. Bagaimana, jawabanku ini sudah cukup memuaskan bukan? Ketahuilah bahwa guru dan ibu gurumu sama liehaynya!"
"Kalau guruku toh sudah berhasil melukai kau bagaimana mungkin dia melepas kau lari?"
"Bagaimana aku bisa tahu?"
Jengek simaling.
"Kenapa kau tidak tanya pada gurumu sendiri?"
"Kau sengaja hendak mengutuk kita ya,"
Bentak Bun Seng-liong gusar.
"Guruku sudah meninggal, tahu!"
Si maling merasa heran dan tak percaya, teriaknya.
"Nyo Bok sudah mati?"
Meskipun jawaban si maling ini selalu menyimpang dari tujuan pertanyaan yang tepat, tapi dari jawaban-jawaban ini diam-diam Gak Hou sudah dapat menemukan titik kelemahannya.
Kini mendengar orang menyebut nama gurunya lagi, tambah besar rasa curiganya.
diam-diam ia berpikir.
"Ilmu silat guru cukup tinggi, kalau dikatakan liehay adalah jamak, tapi sunio bahwasanya tidak bisa main silat, keliehayan apa yang dia miliki? Tapi maling ini berani mengatakan bahwa sunio liehay tentu ada maksud yang tertentu, mungkin bukan melulu menunjuk soal kepandaian silat. Inilah titik kelemahan pertama. Semula dia mengatakan tidak kenal nama kebesaran guruku, kini bisa menyebut namanya, merupakan titik kelemahan yang kedua. Agaknya dugaan Toa-suko memang tidak meleset, peristiwa malam itu tentu ada tabir rahasianya yang sulit dipecahkan. Sayang keparat ini tidak mau bicara terus terang, bagaimanakah baiknya?"
Maka Gak Hou semakin berlaku sabar dan lemah lembut, bujuknya.
"Orang pandai tidak menunjukkan keahliannya, orang ahli tidak suka menunjukkan kepandaiannya. Meski aku tidak tahu siapa kau, tapi kuduga tentu seorang tokoh kosen yang mengasingkan nama dan menyembunyikan asal usul di dunia Kangouw, yang jelas bahwa kau kenal dengan guruku. Sebetulnya untuk keperluan apa kau malam itu meluruk datang ke rumah guruku. Apa yang kau lihat, sudikah kau menjelaskan kepada kami? Kami tidak akan menyakiti kau, luka-lukamu bahkan akan kami obati sampai sembuh dan kuantar kau pulang. Tapi kalau kau tidak mau bicara terus terang, terpaksa kau kami serahkan kepada Ui-liong-pang."
Dengan mengancam dan membujuk secara halus ini Gak Hou mengira akan dapat mengorek keterangannya, tak nyana maling ini ternyata masih bersikap acuh tak acuh, matanya berkedipkedip serta katanya tawar.
"Kau salah alamat', orang kosen memperoleh kebesarannya, bagi aku segala sanjungan-mu tadi sedikit pun tidak cocok. Aku tidak lebih cuma seorang maling kecil, apapun aku tidak tahu!"
Gak Hou jadi naik pitam, baru saja ia hendak mengumbar amarahnya, tiba-tiba didengarnya Bun Seng-liong membentak.
"Siapa yang mencuri dengar di luar?!" --Seiring dengan katakatanya ia dorong terbuka jendela sekaligus menimpukkan tiga biji mata uang. Kiranya kupingnya yang tajam mendengar ada orang sedang melompat turun dari atap rumah, mengira musuh kontan ia menyerang dengan senjata rahasianya. Pelajaran menimpuk senjata rahasia Bun Seng-liong mendapat didikan langsung dari gurunya, tak duga timpukan uangnya seperti batu tenggelam ke dalam lautan sedikit pun tidak berbekas dan tidak terdengar reaksinya, jadi sulit diketahui apakah timpukannya mengenai sasarannya. Sudah tentu Bun Seng-liong terkejut, cepat ia melolos pedang dan baru saja ia membuka pintu, maka terdengarlah suara Sam-sutenya Phui Liang berkata di luar.
"Inilah Nyo-sukoh (bibi guru) telah tiba!"
Baru sekarang Bun Seng-liong berlcga hati, batinnya.
"Julukan taci suhu adalah Loak-jiu-koanim (Dewi Koam-im yang gapah tangan), kiranya memang tidak bernama kosong. Kepandaian menyambuti senjata rahasia yang dia pamerkan ini agaknya jauh berada di atas suhu sendiri."
Tersipu-sipu Bun Serfg-liong, Gak Hou dan lain-lain memburu keluar menyambut, tampak di luar pekarangan sana berdiri jajar tiga orang, kecuali taci suhunya Loak-jiu-koan-im Nyo-toakoh dan Sam-sutenya yang berdiri di sebelah kanan adalah pemuda yang berusia enam atau tujuh belasan.
Nyo-toakoh tersenyum, katanya.
"Seng-liong, tak malu kau sebagai murid terbesar dari perguruan Nyo, kepandaian menimpuk senjata rahasia dengan tipu Sam-hoan-to-gwat sudah cukup dari lumayan. Kiat-ji, kembalikan mata uang itu kepada Bun-suheng."
Pemuda itu membuka telapak tangannya, tampak di tengah telapak tangannya berjajar tiga keping mata uang tembaga.
Baru sekarang Bun Seng-liong tahu bahwa pemuda itu adalah keponakan gurunya yang bernama Ki Si-kiat.
Sudah tentu rasa kagetnya bukan kepalang, semula ia menyangka Loak-jiukoan-im yang berhasil menyambuti senjata rahasianya, tak duga bocah yang masih ingusan inilah kiranya.
Kata Phui Liang.
"Hari ini baru aku sempat menyusul tiba bersama sukoh, menurut perhitungan semula masih keburu ikut melawat, tak kira suhu sejak pagi sudah dikebu-mikan. Baru saja kami datang dari rumah suhu. Sukoh ingin segera ketemu dengan kau maka kubawa beliau kemari, karena terburu-buru terpaksa tanpa permisi lebih dulu."
Tanpa membuang waktu segera Nyo-toakoh bertanya.
"Seng-liong, cara bagaimana kematian gurumu? Kenapa Hun Ci-lo begitu buru-buru mengebumikan adikku tanpa memberi kesempatan padaku untuk menjenguk wajahnya yang terakhir?" -Kiranya Nyo-toakoh juga merasa curiga akan kematian adiknya ini. Diam-diam Bun Seng-liong bersorak dalam hati, sahutnya.
"Sukoh, setelah kau orang tua tiba. urusan bakal lebih gampang diselesaikan. Memang kami sedang menyelidiki kematian suhu. Mari silakan bicara di dalam saja."
Dengan langkah lebar Nyo-toakoh memasuki kamar, begitu melihat maling kecil itu kontan ia menjerit, teriaknya.
"Kenapa kau pun berada di sini, siapa yang melukai kau sedemikian rupa?"
"Nyo-toakoh,"
Ujar si maling kecil itu sembari tertawa kecut.
"Tak nyana, bertemu kau di sini. Kau tanya saja kepada murid keponakanmu."
Kejut dan girang pula Gak Hou dibuatnya, pikirnya.
"Akhirnya toh ada orang yang kenal asal usul maling ini."
Tanyanya.
"Sukoh, siapakah dia?"
"Masa kalian tidak kenal dia,"
Kata Nyo-toakoh.
"Dia bukan lain adalah Biau-jiu-sin-toh Kwihwe-thio yang kenamaan di kalangan kangouw itu."
Bun dan Gak dua orang sama terperanjat. Batin Gak Hou.
"Untung aku tadi tidak bersikap kasar terhadapnya."
Ternyata maling kecil ini nama aslinya Thio Siau-yau, kepandaian silatnya sih termasuk kelas rendah-an, tapi kepandaian mencurinya justru tiada tandingannya di seluruh dunia, karena itu jelek-jelek di kalangan kangouw dia sudah punya nama, tapi justru cara hidupnya kurang genah dan suka nyeleweng, ada beberapa perusahaan Piaukiok hendak memberi pekerjaan ia tolak, beberapa raja bandit minta dia jadi komplotannya ia pun tidak sudi, tapi ia lebih suka pekerjaan bebas yang tidak terkekang, yaitu mencuri.
Karena menurut anggapannya mencuri cukup menyenangkan dan bebas tidak terikat, maka dia menggunakan namanya dengan Siau-yau yang berarti bebas dan julukannya adalah Kwi-hwe-thio (Thio yang suka membadut).
Kata Gak Hou.
"Malam di mana guru diberitakan meninggal dia pernah berada di rumah suhu. Ting-thocu dari Ui-liong-pang tahu bahwa kami sedang menyelidiki kematian suhu. maka mereka mengundangnya kemari."
Nyo-toakoh mengunjuk rasa heran, tidak tanya sebab musababnya, sebaliknya ia berkata.
"Siau-thio (Thio si kecil), dengan kepan-daianmu, tidaklah heran bila adikku yang meringkus kau, tapi cara bagaimana kau bisa terjatuh di tangan kawanan Ui-liong-pang? Bukankah berarti perahu besar terbalik dalam selokan?"
Maling sakti Thio Siau-yau yang bergelar Kwi-hwe-thio (Thio si badut) serta mendengar pertanyaan Nyo-toakoh ini jadi tidak gembira, sambil tertawa getir ia menjawab.
"Ki-hujin, pandanganmu tidak salah, meskipun kepandaianku tidak becus, betapapun tidak akan begitu mudah terjatuh di tangan Ui-liong-pang. Cuma siapa sebenarnya yang melukai aku agaknya kau salah duga."
"Apakah bukan adikku?"
Tanya Nyo-toakoh.
"Bukan, istri dari adikmu itulah!"
Sahut Kwi-hwe-thio. Seketika semua orang sama melcngak dan heran mendengar keterangannya ini.
"Apa, istri adikku yang melukai kau?"
Tanya Toakoh menegas. Phui Liang, Hoan To dan lain-lain tanpa berjanji berseru bersama.
"Wah urusan semakin aneh, bukankah sunio tidak bisa main silat!"
"Tidak bisa main silat?"
Jengek Kwi-hwe-thio dingin.
"Marilah kuperlihatkan sebuah benda kepada kalian."-lalu dirogohnya keluar sebentuk tusuk kuridai yang terbuat dari perak terus disodorkan kepada Nyo-toakoh, sambungnya.
"Hiat-to di lututku ini terluka oleh tusuk kundai timpukan istri adikmu itu."
Nyo-toakoh menerimanya serta diamat-amati, tampak tusuk kundai itu masih berlepotan darah, dan barang itu memang adalah milik Hun Ci-lo.
Murid ke lima Song Beng-ki yang menetap di rumah suhunya juga mengenali tusuk kundai itu, katanya menimbrung.
"Memang betul, sunio biasanya memang mengenakan tusuk kundai ini di atas sanggulnya."
Kwi-hwe-thio tertawa getir, ujarnya.
"Kini kalian mau percaya bukan! Jikalau senjata rahasia timpukan istri adikmu tidak melukai aku, masa perahu besar bisa terbalik di dalam selokan. Harap maaf kalau aku bicara kurang hormat, kau tahu bahwa aku paling mengutamakan budi dan dendam, kejadian ini merupakan peristiwa yang memalukan dan kegagalanku yang pertama selama hidupku ini. Kau pernah menanam budi kepadaku, tapi istri adikmu menyakiti hatiku, maka tusuk kundai itu harap kau kembalikan kepadaku, akan kukembalikan sendiri kepada istri adikmu kelak."
Maksudnya bahwa ia hendak menuntut balas kepada Hun Ci-lo karena timpukan senjata rahasianya sehingga ia terluka dan jatuh pamor habis-habisan.
"Bicara terus terang, sekarang aku sedang menyelidiki kematian adikku itu, kalau terbukti teraniaya oleh budak jalang itu, dendam ini tidak perlu kau mencari balas kepadanya."
"Kau boleh mencari balas dendam padanya, tapi aku harus membalas sakit hatiku. Dua persoalan ini tidak bisa disatukan. Tapi..."
Maling sakti itu merandek seolah-olah ada sesuatu yang sungkan dikatakan.
"Siau-thio,"
Kata Nyo-toakoh.
"Waktu suamiku masih hidup dulu, hubungannya begitu akrab dengan kau sebagai sahabat karib, maka kuharap kau suka bicara jujur dan terus terang kepada aku. Tapi apa maksudmu?"
Ternyata dulu Kwi-hwe-thio pernah mendapat pertolongan dari suami Nyo-toakoh ini.
Nyotoakoh pun mengetahui karakter Kwi-hwe-thio, kalau dengan kekerasan mengompes keterangannya, meski dihajar sampai mati pun ia tetap akan membandel tidak mau buka mulut, maka dengan cara balas budi ia hendak mengorek keterangannya.
"Toakoh, bicara secara terus terang, meski Hun Ci-lo melukai aku, tapi menurut hematku, belum tentu adikmu mati karena dicelakai Hun Ci-lo."
Gak Hou segera menyela bicara dengan tawa dingin.
"Hun Ci-lo pura-pura tidak bisa main silat, beberapa tahun ini kita semua kena dikelabui mentah-mentah, berdasar alasan ini cukup kita menilai betapa culas dan keji hatinya. Kecuali suhu tidak meninggal secara penasaran, kalau tidak lalu siapa pembunuhnya?"
Nyo-toakoh goyang-goyang tangan, katanya.
"Gak Hou, jangan kau sembarangan menduga dan menista, Siaw-thio pasti bisa memberikan pandangannya secara jelas dan gamblang. Siau-thio coba terangkan, untuk apa kau meluruk ke rumah adikku, malam itu apa yang kau lihat dan apa pula yang kau dengar. Dengan alasan apa pula kau berani mengatakan kematian adikku bukan dicelakai oleh istrinya?" , Teka teki misterius ini bakal segera terbongkar, pandangan semua orang sama tertuju ke arah Kwi-hwe-thio, mereka ingin sekali mendengar penjelasannya. Tapi Kwi-hwe-thio malah garuk-garuk kepalanya, katanya tertawa kecut.
"Ki-hujin, mungkin aku cuma membuat kecewa kalian belaka. Meski malam itu aku ada melihat dan mendengar sesuatu, tapi mengenai sebab musabab kematian adikmu, tidak berani aku mengatakan sudah jelas duduk perkaranya. Apalagi beberapa pertanyaan yang kau ajukan itu, aku pun tidak bisa menjawab secara terus terang."
"Baiklah, berapa banyak yang dapat kau jelaskan silakan saja!"
"Pertama-tama yang harus kutandaskan kepadamu adalah bahwa kedatanganku ke rumah adikmu bukan bertujuan mencuri."
"Untuk ini aku bisa maklum. Benda berharga apa yang bisa kau curi dari rumah adikku!"
"Bicara terus terang, ada seseorang yang mengutus aku kesana. Orang itu minta aku menyampaikan sepucuk surat kepada adikmu."
"Siapakah orang itu?"
"Maaf, siapakah dia tidak bisa kujelaskan. Aku cuma bisa berita-hu, pertama. Aku pernah mendapat pertolongan orang ini. Kedua. kepandaian silat orang itu teramat liehay, selama hidup aku tidak kenal takut kepada langit dan bumi, cuma takut menghadapi dia. Surat yang dia berikan kepadaku, aku pun tidak berani membuka untuk mencuri baca."
Diam-diam Nyo-toakoh membatin.
"Siapakah orang itu? Didengar dari nada Kwi-hwe-thio, kepandaian orang itu seharusnya jauh lebih liehay dari adikku. Tokoh kangouw yang memiliki kepandaian begitu tinggi dapat dihitung dengan jari, cepat atau lambat pasti aku dapat menyelidiki hal ini."
Maka segera ia berkata.
"Baik, teruskan saja penjelasanmu. Bagaimana setelah kau sampai di rumah adikku?"
"Aku langsung mencari kamar tidur adikmu, tapi yang berada di dalam kamar cuma seorang perempuan. Dia sedang berkeluh kesah!"
"Perempuan itu sudah tentu Hun Ci-lo adanya. Apa yang sedang dia keluh kesahkan?"
"Aku tidak tahu apa yang sedang dirisaukan, tapi setelah itu dia lantas mengeluarkan sebuah gambar. Gambar itu akhirnya berhasil kucuri!"
Cepat Nyo-toakoh meminta.
"Bolehkah aku lihat gambar itu?"
"Boleh. Tapi kau harus kembalikan kepadaku,"
Ujar Kwi-hwe-thio, lalu dia merobek bajunya mengeluarkan segulung gambar, lalu dibeber di hadapan orang banyak.
Tampak di atas gambar itu tertera lukisan seorang laki-laki yang berwajah cakap ganteng, di samping gambar ada dua baris syair, yang mengisahkan suka duka sepasang kekasih yang sedang memadu cinta.
Walaupun Nyo-toakoh orang kasaran yang tidak mengenal ilmu sastra, tapi makna dari dua bait syair itu sangat gamblang, sedikit banyak ia tahu arti dari syair itu.
Saking marah raut wajah Nyo-toakoh sampai berubah pucat, katanya gemetar.
"Tak nyana perempuan jalang itu ternyata punya seorang gendak lainnya! Dia sudah menikah dengan adikku, putranya pun sudah berusia tujuh tahun, tapi dia masih terkenang akan madu cinta pada masa silam."
Cepat Bun Seng-liong berkata.
"Gambar ini merupakan bukti, dengan gambar ini kita bisa secara langsung menuduh dan menimpakan dosa-dosa ini kepada Hun Ci-lo!"
Tapi Nyo-toakoh menggulung gambar itu lalu diserahkan kembali kepada Kwi-hwe-thio katanya.
"Apa yang pernah kita katakan harus ditepati. Sekarang aku sudah tahu perihal hubungan cinta lama Hun Ci-lo, aku akan berhadapan langsung dengan dia, tanpa membawa gambar ini, kukira dia pun tidak akan berani memungkiri perbuatannya."
Melihat Nyo-toakoh betul-betul menepati janji dan dapat dipercaya, legalah hati Kwi-hwe-thio, maka ia melanjutkan cerita pengalamannya.
"Surat itu harus diserahkan langsung kepada Nyobusu, dalam kamar tidurnya tiada, maka aku pun tiada minat mendengar keluh kesah istrinya itu. Maka segera aku mencari ke kamar bukunya, kali ini aku berhasil menemuinya, tapi sekali pandang sungguh aku kaget setengah mati."
"Urusan apa yang membuat kau begitu terkejut?"
Tanya Nyo-toakoh.
"Orang yang memberi surat kepadaku ada pesan supaya aku menyampaikan surat itu secara diam-diam kepada Nyo-busu jangan sekali-kali diketahui atau terlihat oleh orang ketiga, asal surat ini bisa jatuh ke tangan Nyo-busu, bolehlah aku tidak usah muncul di hadapannya. Maka malam itu aku bergerak main sembunyi untuk mencari Nyo-busu.
"Waktu aku tiba di luar kamar bukunya, di sini aku pun mendengar helaan napas seseorang, aku jadi heran, cepat aku bergelantungan di atas rumah dan mencuri lihat ke dalam kamar, ingin kupastikan apakah orang yang berada di dalam benar Nyo-busu adanya. Toakoh, coba kau terka, apakah yang telah kusaksikan ?"
"Sebetulnya kejadian aneh apa yang kau lihat, lekas kau terangkan saja,"
Sahut Nyo-toakoh.
"Benar-benar suatu kejadian aneh yang berada di luar dugaanku. Adikmu itu sedang berdiri di atas meja, di atas belandar kamar bukunya ada menjulur turun seutas tali, ujung tali itu sudah dibuatkan kolongan, di kala aku melongok ke dalam kebetulan adikmu sedang memasukkan kolongan tali itu ke dalam lehernya, meja ditendang kedua kakinya lantas tergantung berayunayun!"
"Bohong,"
Sentak Bun Seng-liong.
"Tanpa sebab kenapa guruku bisa bunuh diri!"
Gak Hou juga tidak ketinggalan memaki.
"Pembual! Malam itu setelah ribut-ribut adanya maling, guruku sendiri berlari keluar bicara dengan Cui-hoa, mana mungkin dia bunuh diri dengan jalan menggantung?"
Kwi-hwe-thio menarik muka, ujarnya dingin.
"Kalau tidak percaya jangan tanya kepadaku. Kan belum kujelaskan lebih lanjut bahwa guru kalian tidak segera mampus."
Nyo-toakoh tahu bahwa Kwi-hwe-thio tidak akan membual kepadanya, dengan lembut ia membujuk.
"Siau-thio, kenapa kau ajak ribut mulut dengan mereka, teruskan saja ceritamu, aku percaya kepadamu."
Kata Kwi-hwe-thio lebih lanjut.
"Waktu aku hendak turun untuk menolongnya, di saat itulah kudengar suara berkesiur lalu "Tas!"
Sekeping uang tembaga melesat masuk melalui jendela, kebetulan menimpuk putus tali sebesar jari tangan itu, belum lagi badan Nyo-busu terbanting di tanah, menerobos masuklah seseorang memeluk tubuhnya.
Orang ini bukan lain adalah Hun Cilo."
Nyo-toakoh merasa di luar dugaan, pikirnya.
"Semula kukira Hun Ci-lo perempuan jalang itu mengharap benar adikku lekas-lekas mati, bagaimana mungkin dia menolong jiwanya malah?"
Kwi-hwe-thio melanjutkan.
"Surat itu tidak bisa kusampaikan di hadapan istrinya, maka terpaksa aku tetap sembunyi di atap rumah mencuri lihat lebih lanjut."
"Tampak Hun Ci-lo membuka tali di atas leher suaminya, katanya sambil sesenggukan.
"Bok-ko, kenapa kau hendak tinggalkan aku?' --Nyo busu berkata. 'Aku hanya main-main saja terhadap kau. untunglah pertolongan cepat datangnya, maka setelah istirahat sebentar ia lantas dapat bicara lagi."
Kata Hun Ci-lo.
"Mana ada cara main-main demikian? Apakah ada sesuatu yang salah kulakukan, sehingga kau hendak menghukumku sedemikian rupa, bicaralah terus terang kepadaku."
Nyo-busu berkata lirih.
"Beberapa tahun ini kau tidak mau meninggalkan aku, aku sudah merasa cukup puas. terima kasihku terhadap kau belum sempat kuucapkan masa berani aku menggerundel kepadamu? Cuma aku berpikir tidak seharusnya aku menahanmu lagi, maka terpaksa kutempuh jalanku ini. Pertama aku dapat bebas dari dosa, kedua kau pun jadi merdeka untuk membebaskan diri dari keluarga Nyo."
"Tidak!"
Sahut Hun Ci-lo.
"Kau tidak tahu sebetulnya aku tidak ingin meninggalkan kau lagi!"
"Aku tahu,"
Sahut Nyo-busu.
"Tapi aku tahu bahwa kau mempunyai ganjalan hati yang sulit kau limpahkan."
"Segala urusan kan bisa dirundingkan dengan baik, kenapa kau harus bunuh diri?"
"Ucapanku belum lagi selesai, perbuatanku ini memang setengah-setengah. Setengah sungguhsungguh dan setengah pura-pura."
"Apa maksud ucapanmu? Sedikit pun aku mengerti."
"Aku sendiri juga kurang paham, soal bunuh diri mana bisa setengah sungguh setengah purapura apa segala? Di kala aku pasang kuping mendengar lebih lanjut, tiba-tiba kudengar Nyo-busu bertanya.
"Ci-lo. kau datang bersama siapa?"-Terdengar Hun Ci-lo menjawab.
"Cuma aku seorang saja, kenapa kau bertanya demikian, masa..masa kau curigai aku..."-Belum habis ucapannya, Nyo-busu lantas berteriak.
"Kalau begitu lekaslah kau keluar, coba lihat siapa dia? Dia datang lebih pagi setindak dari kau, jelas kuketahui dia masih belum pergi sekarang !"
"Di kala Nyo-busu mencari kematian tapi masih dapat mengetahui jejak kedatanganku, kepandaian silatnya yang tinggi memang harus dipuji, tapi hal ini justru membuatku runyam. Karena aku harus menyerahkan surat itu langsung ke tangannya dan tidak boleh bocor, bagaimana baiknya? Belum habis pikiranku, Hun Ci-lo sudah melejit keluar dan mulai memeriksa, dalam gugupku lantas timbul sebuah akal, di kala dia melangkah keluar kamar, cepat surat itu kulipat membungkus sekeping uang tembaga terus kutimpukkan ke dalam lewat jendela belakang."
"Begitu aku bergerak Hun Ci-lo lantas mengetahui jejakku, dengan tertawa dingin ia menjengek.
"Maling kecil yang bernyali besar, masih ingin lari ya?"-belum lenyap suaranya, tampak selarik sinar perak berkelebat, belum sempat aku angkat kaki tahu-tahu Hoan-tiau-hiat di lututku sudah kena timpuk tusuk kundainya.
"Sebetulnya aku pasti bisa teringkus olehnya, untung pada saat itu juga terdengar Nyo-busu mendadak berteriak.
"Ci-lo kembalilah, sahabat lama kita menyuruh orang mengirim surat kepada kita."
"Sebetulnya orang itu ada pesan wanti-wanti bahwa surat itu sekali-kali tidak boleh diketahui oleh istrinya, tapi kalau toh Nyo-busu sendiri yang memberitahu kepada istrinya, aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku sudah terluka bukan mustahil bakal terjadi sesuatu atas diriku, terpaksa aku lari sipat kuping."
Nyo-toakoh tertawa dingin, jengeknya.
"Tak kira Hun Ci-lo memiliki kepandaian menimpuk senjata rahasia yang sedemikian liehaynya, sekian lamanya aku sendiri pun kena dikelabui olehnya."
Kwi-hwe-thio melanjutkan.
"Untung adikmu memanggilnya kembali sehingga aku berhasil lolos. Waktu aku lewat kembali di kamar tidur adikmu teringat olehku aku harus membawa sesuatu tanda mata untuk membuktikan bahwa kerjaanku sudah kulaksanakan dengan baik. Gambar itu masih terletak di atas meja, mungkin saking tergesa-gesa Hun Ci-lo berlari keluar sehingga tidak keburu menyimpannya, maka gambar itulah yang kuincar dan kubawa lari. Bagaimana kejadian selanjutnya, aku tidak tahu sama sekali."
Setelah cerita Kwi-hwe-thio selesai, para murid perguruan Nyo ini sama saling pandang, rona wajah meraka menunjukkan perasaan hati yang berlainan, seperti pepatah ada berkata.
"Hati manusia tidak sama, sesuai dengan bentuk mukanya yang berlainan."
Song Beng-ki dan Oh Lian-ba berdua sama mengunjuk rasa hampa, seolah-olah mereka baru siuman dari impian buruk yang masih mempengaruhi sanubarinya, sekian lama masih terlongong kebingungan.
Murid ke empat Hoan To agaknya masih setengah percaya setengah curiga, keadaannya pun kosong dan hampa seperti digugah dari impian buruknya.
Adalah murid ketiga Phui Liang seorang yang pandai melihat arah angin, sepasang matanya jelilatan melirak-lirik kian kemari, dalam hati ia membatin.
"Toh ada Toasuko yang bakal tampil ke depan, tidak perlu aku sendiri unjuk diri."
Sebaliknya murid terbesar Bun Seng-liong dan murid kedua Gak Hou masing-masing mempunyai jalan pikiran dan perhitungannya sendiri, mereka sama memperhitungkan cara bagaimana mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari peristiwa yang berlangsung ini.
Setelah saling pandang akhirnya mereka tujukan pandangan bersama ke.arah Nyo-toakoh, tiada seorang pun yang ingin mendahului buka suara.
Kata Nyo-toakoh dingin.
"Seng-liong, bagaimana menurut pendapatmu?"
"Sukoh pun sudah dengar duduk perkaranya dengan jelas. Menurut hematku kita tidak usah ragu-ragu dan banyak curiga lagi, kematian suhu pasti adalah buah tangan Hun Ci-lo."
Nyo-toakoh manggut-manggut. Tapi tak tertahan Kwi-hwe-thio justru menggelengkan kepala.
"Siau-thio,"
Kata Nyo-toakoh.
"Kau sendiri sudah lihat secara sembunyi-sembunyi Hun Ci-lo menyimpan dan mencuri lihat gambar itu, kau pun dengar percakapan mereka suami istri, jelas dan gamblang bahwa Hun Ci-lo mempunyai gendak lain, malah sudah diketahui pula oleh adikku, dengan alasan apa kau berani memastikan bahwa bukan dialah pembunuhnya?"
"Tapi aku pun pernah menyaksikan dia menggagalkan usaha suaminya untuk bunuh diri, memeluk suaminya dia bertobat sambil menangis, dia mengatakan tidak rela berpisah dan ditinggal oleh suaminya, sikap dan kelakuannya, menurut penglihatanku pasti bukan ia lakukan secara pura-pura."
Gak Hou segera menjengek dingin, timbrungnya.
"Justru Hun Ci-lo memang pandai main sandiwara menjadi sungguhan, waktu di pendopo besar tadi pagi dia pun menangis gerunggerung sampai jatuh pingsan berulang kali!"
"Benar, urusan ini harus kita selesaikan secara cermat dan teliti! Siau-thio bukan aku tidak percaya kepadamu, bahwasanya perempuan jalang itu memang teramat mencurigakan!"
"Aku hanya bicara menurut pengalaman dan pendapatku sendiri, mana berani aku mencampuri urusan rumah tangga kalian? Bagaimana kalian hendak menjatuhkan vonis kepada Hun Ci-lo adalah urusan kalian. Aku sudah bicara secara jelas, aku harus segera pergi."
"Terima kasih akan keterangan-mu sebanyak itu. Inilah sebutir Him-tan-hoan, tepat untuk kau gunakan, silakan kau terima."
Him-tan-hoan adalah obat mujarab untuk mengobati luka-luka dalam. Kata Kwi-hwe-thio dengan tawar.
"Baiklah, anggap saja kita sudah melangsungkan suatu usaha dagang."-Setelah menerima pemberian obat Nyo-toakoh segera ia keluar dan terus menghilang di atap rumah. Cuma sehari saja luka-lukanya diobati di rumah keluarga Gak, luka-luka luarnya belum lagi sembuh, tapi sudah mampu mengembangkan ginkang sedemikian hebatnya, para murid perguruan Nyo sama terkejut dan takjub. Setelah Kwi-hwe-thio pergi, Bun Seng-liong lantas berkata.
"Duduk perkaranya sudah jelas, harap tanya Sukoh, bagaimana kita harus mengatur langkah-langkah selanjutnya?"
Pelan dan tegas Nyo-toakoh bersuara.
"Gali kuburan dan bongkar peti mati!"
Hoan To terperanjat, teriaknya.
"Gali kuburan dan bongkar peti mati?"--Dia pernah main debat karena persoalan ini dengan Gak Hou, sungguh ia tidak mengira bahwa Nyo-toakoh sendiri juga setuju akan saran ini.
"Benar. Kau takut apa? Kalau ada apa-apa akulah yang tanggung jawab!"
Gak Hou jadi takabur dan kesenangan, ujarnya.
"Nah, aku pun punya jalan pikiran yang sama. Dengan jalan gali kuburan dan membongkar peti mati baru kita dapat membuktikan dosa-dosa Hun Ci-lo, kalau tidak tanpa bukti dia pun masih bisa berkeras kepala, memungkiri segala perbuatannya. Apalagi Kwi-hwe-thio yang bisa menjadi saksi sudah tinggal pergi."
"Hoan To,"
Sentak Bun Seng-liong.
"Soalnya kau cuma takut kalau putusan kita ini salah langkah, seandainya suhu tidak mati keracunan, maka dosa membongkar kuburan ini harus kita tanggung bersama, paling-paling kita berdosa karena mengganggu ketenteraman arwah suhu dalam baka. Tapi sekarang kenyataan sudah terpapar di hadapan kita, kita semua dapat melihat dan membedakan benar buruknya persoalan ini. tidak perlu disangsikan lagi bahwa suhu pasti dicelakai oleh Hun Ci-lo! Apa pula yang kau kuatirkan ?"
Betapapun Hoan To merasa urusan masih rada ganjil, tapi terpaksa ia cuma berkata.
"Kematian suhu sangat janggal, sudah seharusnya kita selidiki biar jelas. Kalau Sukoh dan Toasuheng menganggap perlu gali kuburan dan membongkar peti mati, aku sendiri sih tidak bisa menyumbangkan akal pikiranku, masa aku berani banyak bertingkah segala."
Nyo-toakoh melihat cuaca lalu berkata.
"Sekarang sudah kentongan ketiga, kalau kalian semua sudah setuju, sekarang juga kita berangkat!"
Cuaca gelap, angin malam menghembus keras, kabut malam mengembang rendah menambah suasana malam semakin kelam dan sunyi senyap.
Di depan pusara Nyo Bok justru saat mana kelihatan obor dipasang tinggi menerangi hutan sekelilingnya.
Di malam nan sunyi itu terdengarlah suara gedepukan dan beradunya suara cangkul menggali tanah, dari dalam hutan terdengar pula pekik burung kokok beluk yang sayu dan mengerikan, burung sama beterbangan kaget oleh suara gaduh yang tiba-tiba melingkupi suasana hening di tengah malam buta rata.
Ada delapan orang bekerja sama menggali kuburan, mereka bukan lain adalah Nyo-toakoh bersama putranya dan keenam murid Nyo Bok.
Gak Hou sebelumnya memang sudah menyiapkan segala keperluan, mengandal tenaga delapan orang, tak lama kemudian kuburan Nyo Bok sudah berhasil mereka gali.
Terutama Bun Seng-liong dan Gak Hou bekerja paling bernafsu, cepat mereka masuk ke dalam liang dengan kekuatan mereka bersama mengangkat keluar peti mati.
Sambil mengelus-elus peti mati Nyo-toakoh bersabda.
"Adikku, demi membalaskan dendam sakit hatimu, terpaksa kami mengganggu jenazahmu, harap tidak marah dan salahkan kami beramai."
Setelah bersembahyang dengan kedua tangannya sendiri ia membuka peti mati itu.
Begitu tutup peti mati terbuka, tenggorokan Nyo-toakoh seperti tersendat sesuatu barang, suara tangisnya spontan berhenti dan disusul jeritannya yang melengking.
Dalam sekejap itu keenam murid dari perguruan Nyo itu juga sama berdiri melongo dan menjublek.
Siapapun tiada yang mengira bakal terjadi keanehan ini.
Ternyata yang berada di dalam peti mati itu hanya setumpukan batu merah.
Ke manakah jenazah Nyo Bok?
Ke mana?
Dia benar-benar mati?
Atau pura-pura mati?
Atau istrinya Hun Ci-lo telah menyembunyikan jenazahnya untuk menghilangkan jejak kejahatannya?
"'Mari kita cari Hun Ci-lo!
Mari kita cari Hun Ci-lo!"
Nyo-toakoh, Bun Seng-liong dan Gak Hou serta yang lain-lain sama berseru tanpa berjanji sebelumnya. Belum lagi mereka bertindak, tiba-tiba terdengar sebuah suara dingin berkata.
"Sudah sejak tadi Hun Ci-lo menunggu di sini!"
Tampak Hun Ci-lo melangkah keluar dari balik pohon sambil menuntun putranya, ia mengenakan pakaian berkabung serba putih bersih, pakaiannya panjang menyentuh tanah, melambai-lambai terhembus angin lalu.
Pelan-pelan ia maju mendatangi.
Saking kagetnya para murid Nyo Bok itu.
serempak melompat berpencar, mereka mengambil kedudukan mengurung bundar, sunio mereka kepung di tengah.
Nyo Hoa si anak yatim yang masih berusia kecil tak tahu apa-apa melihat para suheng yang biasanya ajak bermain, sekarang bermuka bengis dan buas, menjadi takut dan menjerit tangis.
Demi kedudukan dan gengsi, Nyo-toakoh tidak ikut turun gelanggang, dengan pandangan dingin ia awasi gerak gerik Hun Ci-lo dari samping.
Melihat bibinya yang biasanya paling sayang pada dirinya pun bersikap garang dan mendelik gusar.
Nyo Hoa semakin takut dan tangisnya lebih keras, jeritnya.
"Bu, aku takut, aku takut!"
Hun Ci-lo mengelus kepalanya serta memeluknya dengan kencang, katanya lembut.
"Ibu berada di sisimu, tak perlu takut!"
"Lepaskan sute kami!"
Bentak Bun Seng-liong. Hun Ci-lo berkata tawar.
"Putraku sendiri tidak turut aku turut siapa? Sudah kuduga sebelumnya bakal terjadi peristiwa malam ini. baik, kalau toh kalian sudah curiga bahwa akulah yang membunuh suamiku atau guru kalian, terang kami tidak bisa menetap lagi di sini, terpaksa kami tinggal pergi saja. untuk selanjutnya aku bukan sunio kalian lagi, jangan sekali-kali kalian mengganggu jalan hidupku yang akan datang."
Nyo-toakoh marah, bentaknya.
"Hun Gi-lo begitu gampang kau hendak tinggal pergi? Cara bagaimana kau bunuh adikku, hayo bicara terus terang!"
Bun Seng-liong ikut menyela dingin.
"Kau pembunuh suhu, masa masih ingin kami panggil kau sunio? Kcmana kau sembunyikan jenazah guru, serahkan!"
Ujung mulut Hun Ci-lo menyungging senyum ejek yang menghina, katanya.
"Bukan aku yang membunuh guru kalian, sebetulnya pernah kupikir bolak balik, apakah perlu membocorkan peristiwa yang serba rahasia ini kepada kalian. Sekarang kalian bersikap begini terhadap aku, aku sudah berkeputusan untuk tidak main debat lagi, kalian menuduh aku membunuh guru kalian, anggap saja memang aku yang membunuh! Tapi, kalian tidak mengijinkan aku pergi, kukira kalian tidak akan mampu berbuat apa-apa atas diriku."
Secara diam-diam Bun Seng-liong memberi isyarat kepada Nyo-toakoh, katanya.
"Kalau urusan sampai tersiar keluar bisa mengotori nama baik guru, suruh dia meninggalkan sute dan menyerahkan buku pelajaran ilmu pedang dan pukulan milik suhu, setelah itu baru kita pikir apakah perlu kita beri kebebasan hidupnya?"
Maklum tujuan Bun Seng-liong cuma ingin mendapat buku pelajaran sUat perguruannya, soal balas dendam kepada Hun Ci-lo adalah urusan kedua.
Tapi seumpama Hun Ci-lo bisa mereka tipu menyerahkan buku pelajaran silat perguruannya, maka jiwanya bakal tergenggam di tangan mereka bersama.
Sudah tentu Nyo-toakoh tahu ke mana maksud tujuan Bun Seng-liong, setelah berpikir sejenak, maka ia lantas pura-pura bersikap urusan seperti tidak begitu penting dan menegangkan, katanya.
"Hun Ci-lo, bagaimana menurut pendapatmu?"
Kata Hun Ci-lo.
"Bun Seng-liong punya tujuan yang tidak lurus, suamiku pernah mengatakan bahwa dia tidak cocok menjadi Ciangbun Tecu perguruan keluarga Nyo."
Mendengar kata-kata Hun Ci-lo yang terakhir ini Bun Seng-liong berjingkrak gusar seperti kebakaran jenggot.
Sebetulnya meski ia tidak mau mengakui sunionya ini, tapi tak berani bersikap kasar dan kurang ajar, kini saking marah kontan ia menarik muka, mulutnya lantas mencaci maki.
"Perempuan jalang, kau..."
Baru saja kata-kata 'kau' tercetus dari mulutnya disusul terdengar suara "plak!"
Yang nyaring, tahu-tahu pipinya sudah kena digampar oleh Hun Ci-lo.
Gamparan Hun Ci-lo agaknya cukup berat, kontan sebelah pipi Bun Seng-liong seketika melepuh segede bakpao berwarna hijau, hitam dan merah.
Bun Seng-liong adalah murid terbesar Nyo Bok, dengan usia yang masih muda ia sudah menjabat Toa-piauthau dari Tin-wan Piaukiok di kota raja yang kenamaan, kepandaian silatnya sudah tentu tidak rendah, tak nyana gamparan Hun Ci-lo ini datang begitu cepat dan mendadak sehingga ia tidak mampu berkelit atau menyingkir, jangan kata menangkis atau melawan.
Para sutenya yang lain cuma melihat berkelebatnya sebuah bayangan putih lalu terdengar tamparan yang begitu keras disusul tubuh suheng mereka tersurut mundur genteyongan, baru mereka tahu bahwa Toa-suheng telah kena digampar pipinya.
Tapi cara bagaimana orang turun tangan tiada seorang pun yang melihat jelas.
Waktu melihat dengan tegas, sunio mereka sudah berdiri di tempatnya semula lagi, mulutnya masih mengulum senyum ejek yang menghina, seolah-olah sejak tadi belum pernah bergerak, kecepatan gerak-geriknya sungguh sulit dibayangkan dan di kuti pandangan mata biasa.
Seketika terkesiap jantung para murid-murid perguruan Nyo itu.
Melihat cara kerja Hun Ci-lo begitu cepat laksana kilat, Nyo-toakoh sendiri juga bercekat hatinya, batinnya.
"Kepandaian perempuan jalang ini agaknya jauh lebih tinggi dari adikku, ilmu silat yang dia mainkan juga bukan dari perguruan Nyo kita, naga-naganya memang ia menyembunyikan diri dan punya asal usul perguruan lainnya. Dia sudah paham dan menyelami intisari ilmu silat perguruan kami, sebaliknya aku tidak bisa meraba asal-usulnya, kalau bergebrak mungkin belum tentu aku dapat mengalahkan dia."
Bun Seng-liong menjublek sekian lama sambil mendekap pipinya, mendadak ia menghardik keras.
"Kenapa kalian tidak lekas labrak dia untuk menuntut balas bagi suhu!"
Gak Hou cukup cerdik, cepat ia menambahi, teriaknya. '"Benar! Hayo maju semua labrak dia!"
Meski Bun Seng-liong dan Gak Hou sudah jeri dan gentar, tapi mengingat ada Nyo-toakoh yang menjadi andalan mereka kalau sampai dihajar, paling-paling cuma kena dirugikan sedikit saja, lambat atau cepat dengan kekuatan mereka bersama, pasti dapat membekuk Hun Ci-lo, maka dengan menebalkan muka dan membesarkan nyali, dia kobarkan semangat para sutenya untuk maju menyerang bersama.
Hoan To merangkap tangan unjuk soja dan berkata.
"Hun Ci-lo. dulu kau adalah sunio kami. aku tidak akan berani kurang ajar terhadap kau, tapi sekarang kau tidak mau bicara terus terang menjelaskan cara kematian guru kita, terpaksa aku menuduh kau dan kaulah yang jadi musuh besar kami!"
Hun Ci-lo berkata tawar.
"Sudah kukatakan aku akan membela diri di bawah ancaman kalian bersama, kalau kau mau mendengar hasutan para suhengmu, terserah!"
Kata Hoan To pula.
"Kalau begitu, jangan kau salahkan aku tidak sungkan-sungkan lagi."-Cepat ia melolos goloknya, dialah orang pertama 'yang merangsak dengan serangan golok kepada Hun Ci-lo. Waktu berunding di dalam kamar rahasia, Hoan To selalu berdebat demi kebaikan nama sunionya, sekarang dia melabrak maju lebih dulu, para sutenya jadi ikut berkobar semangatnya, beramai-ramai mereka ikut menubruk maju. Diam-diam Bun dan Gak merasa menyesal dan malu pula, terpaksa mereka pun mengeluarkan senjata ikut maju mengeroyok. Nyo-toakoh berdiri di pinggir sambil menggendong tangan, dengan cermat ia menonton jalannya pertarungan sengit ini. Sebagai seorang ahli silat yang banyak pengalaman, sengaja ia biarkan saja para keponakan muridnya ini melabrak musuh lebih dulu, dengan kesempatan ini ia bisa memperhatikan dan menyelami permainan silat Hun Ci-lo. Dengan tungkak kakinya sebagai poros tiba-tiba badan Hun Ci-lo berputar cepat, ujung kakinya yang lain menggores sebuah bundaran di atas tanah, katanya lembut.
"Anakku manis, jangan takut, dengar kata-kata ibu, duduklah di sini, jangan menangis dan jangan lari!"
La letakkan anaknya di tengah bundaran itu, lalu berkata lantang.
"Siapa yang berani memasuki bundaran ini, jangan salahkan kalau nanti aku berlaku telengas kepadanya!" -Di kala bicara pandangannya tertuju ke arah Nyo-toakoh dan putranya. Ki Si-kiat segera mendengus, sementara Nyo-toakoh tetap menggendong tangan tanpa memberi reaksi apa-apa. Kejadian sungguh teramat cepat, para murid-murid itu segera meluruk datang pula dari berbagai penjuru. Terutama Hoan To yang paling bernafsu, dengan jurus Kiau-hu-bun-lo (penebang kayu tanya jalan), sinar goloknya berkelebatan beruntun ia lancarkan bacokan dan babatan berulang-ulang. Disusul ujung tombak Phui Liang yang berkilauan itu ikut menyelonong tiba. Tapi bacokan golok dan tusukan tombak sama sekali tidak berhasil mengenai ujung baju Hun Ci-lo, tiba-tiba pandangan mereka menjadi kabur, sebuah bayangan putih berkelebat, tahu-tahu Hun Ci-lo sudah menghilang dari hadapan mereka berdua. Bun Seng-liong menghardik keras menghalangi jalan lari sang sunio, sepasang Jit-gwat-lun senjata andalannya segera mengepruk ke batok kepala lawan. Jit-gwat-lun atau roda bulan dan matahari merupakan semacam senjata yang lain dari yang lain, senjata ini peranti untuk mengunci dan memutuskan golok dan sebangsa senjata ringan lainnya, pinggir dari kedua roda besar kecil ini tajam luar biasa, jangan kata kena teriris oleh tajam giginya, cukup kesambar ujung bajunya saja seumpama Hun Ci-lo mampu meloloskan diri, paling tidak kena dibikin malu. Maka terdengarlah Hun Ci-lo terkekeh dingin tiga kali, setiap tawa dinginnya ia kembangkan kegesitan tubuhnya, beruntun tiga gerak langkah kakinya yang begitu enteng dan lincah, ia berhasil keluar dari kurungan sepasang roda musuh. Gak Hou menjadi girang dan terbangkit semangatnya, sebilah pedangnya panjang cepat menusuk ke uluhati Hun Ci-lo dari sebelah belakang, bentaknya.
"Aku boleh mengampuni jiwamu, tapi arwah suhu di alam baka pasti tidak akan memberi ampun kepadamu."
Beruntun Hun Ci-lo berkelit tiga kali serta menjengek dingin.
"Kupandang muka suhu kalian maka aku masih menaruh belas kasihan. Tapi kalau kalian berlaku bandel tidak tahu kebaikan, terpaksa aku mewakili suhu kalian memberi hajaran kepada kalian."
Belum lenyap suaranya cepat ia kebutkan lengan bajunya ke belakang, seolah-olah punggungnya tumbuh sepasang mata kebetulan ia menyampuk miring tusukan pedang Gak Hou dari sebelah belakang.
Maka terdengarlah suara "trang", di kala Hun Ci-lo menggeser kaki dan berpindah kedudukan, pedang Gak Hou yang terbelit oleh ujung bajunya ikut terseret ke samping dan kebetulan menusuk ke dalam roda matahari Bun Seng-liong.
Lelatu api terpercik, dua gigi di atas roda matahari kena tergupil, sementara pedang Gak Hou juga putus ujungnya.
Cepat Gak Hou berteriak.
"Toa-suheng inilah pedangku!"--Untung ia berteriak cepat, kalau tidak bukan saja pedang, lengan kanannya itu pun bakal tertabas kutung. Bun Seng-liong jadi sengit dan memaki.
"Kau taruh di mana matamu? Aduh, hai, cepat-cepat, jaga pintu hidup berputar ke jalan lurus, jangan sampai dia melarikan diri!"
Kiranya para murid perguruan Nyo ini menggunakan intisari Ngo-hing-pat-kwa untuk mengepung sunio mereka.
Kelihatannya mereka bekerja secara individu menyerang seenaknya sendiri, ribut dan tidak keruan, sebetulnyalah di situ letak intisari dari barisan yang serba rumit dan banyak perubahannya, Bun Seng-liong yang menjadi pimpinan dari Lak-yang-tin ini.
Di luar sangkanya Hun Ci-lo ternyata tidak melarikan diri cuma ia bergerak memutar, tiba-tiba ia melejit tiba di hadapan Hoan To.
"siut"
Tiba-tiba ia angkat kakinya menendang keluar, kontan Hoan To kena didepak jungkir balik, di kala badannya terjungkal kena ditendang itu lapat-lapat kuping Hoan To mendengar orang berkata di pinggir telinganya.
"Kau adalah anak baik, hari-hari selanjutnya kau harus waspada menghadapi kedua suhengmu."
Hun Ci-lo bicara menggunakan lwekang gelombang suara mengirim kata-katanya ke dekat kuping Hoan To.
hanya Hoan To seorang yang mendengar ucapannya.
Hoan To mencelat terbang dan jungkir balik tiga tombak jauhnya, tapi sungguh aneh, sedikit pun ia tidak merasa sakit dan terluka, seolah-olah tubuhnya dijinjing terus diletakkan lagi di atas tanah jatuhnya ringan-ringan saja.
Baru sekarang Hoan To sadar bahwa sunionya, memang sengaja hendak memberi kelonggaran kepadanya, setelah merangkak bangun ia berdiri terlongong hati terasa hampa.
"Hun Ci-lo berani kau melukai orang!"
Seraya membentak Bun Seng-liong merangsak maju pula sambil menyerang dengan kedua senjata rodanya, dengan jurus Siang-liong-jut-hay, kedua rodanya itu laksana cakar naga terkembang dari atas dan bawah menusuk dan membabat bagian atas dan tengah badan Hun Ci-lo.
"Bun Seng-liong,"
Jengek Hun Ci-lo.
"Kau memang terlalu kurang ajar, meski aku sungkan melukai kau, terpaksa aku harus beri tanda mata kepadamu !"
Kepandaian menggunakan sepasang rodanya ini Bun Seng-liong sudah melatihnya selama sepuluh tahun, bekal kepandaiannya boleh dikata sudah cukup sempurna.
Tapi serta mendengar Hun Ci-lo mengancam hendak memberi tanda mata di atas badannya, hatinya terkejut, tak berani menyerang, ia menjaga diri lebih rapat, kedua rodanya ia putar dan tarikan begitu cepat dan rapat sekali, seumpama hujan juga tidak bakal bisa tembus membasahi badannya, pikirnya.
"Dengan cara bertempur bertangan kosong, ingin kulihat cara bagaimana kau bisa menyerang masuk dari pertahananku dan bisa melukai aku?"
Nyo Bok bisa menggunakan delapanbelas macam senjata dan pukulan, maka keenam muridnya pun menggunakan senjata yang berlainan.
Gak Hou menggunakan senjata pedang, Phui Liang membe-kal senjata tombak, dua muridnya yang terkecil Song Beng-ki dan Oh Lan-ba masingmasing menggunakan ruyung baja dan toya tembaga, meski kepungan kini sudah dikurangi Hoan To, tapi ke lima murid ini menggunakan lima'macam senjata yang berlainan pula permainannya untuk mengeroyok dan merabu kepada Hun Ci-lo, meski kepandaiannya cukup tinggi, ia jadi kerepotan dan terdesak juga.
Obor sudah padam maka tanah pekuburan yang membelakangi hutan itu ditabiri kabut malam nan kelam, pertempuran berjalan semakin seru, senjata-senjata tajam dan berat sama berkilauan memetakan sinar senjata yang berlainan warna.
Sedemikian seru dan sengit pertempuran berlangsung.
Nyo-toakoh yang berpengalaman tempur sekian tahun pun jadi terpesona dan tegang oleh tontonan yang mendebarkan ini.
Sekonyong-konyong selarik cahaya putih laksana lembayung seperti naga hidup tampak selulup timbul memanjang menggubat dan menyusup di antara sambaran senjata-senjata berkilauan dari berbagai arah itu.
Ternyata Hun Ci-lo terpaksa mengeluarkan ikat pinggangnya dari pakaian berkabungnya yang berwarna putih dijadikan senjata.
Hanya gerak putarannya yang cepat luar biasa dilihat dari kejauhan seolah-olah seperti selarik cahaya putih.
Selintas pandang lantas Nyo-toakoh mengeluh dalam hati bahwa kelima keponakan muridnya bakal celaka dan terjungkal.
Tapi dia tetap tidak mau turun tangan.
Diam-diam Nyo-toakoh berpikir.
"Semoga mereka masih mampu bertahan kira-kira sesulutan dupa, saat itu tentu aku sudah keburu dapat menyelami cara permainannya."
Belum lenyap pikirannya, tampak Hun Ci-lo sedang melangkah legat legot seperti ular sakti, maka terdengarlah suara gemerincing yang ramai, dalam sekejap mata saja, kelima murid pengeroyok itu seketika merasa telapak tangan tergetar keras, ruyung Song Beng-ki.
dan toya Oh Lian-ba lebih dulu jatuh ke tanah, tombak Phui Liang juga terpental terbang ke tengah udara, sedang pedang panjang Gak Hou terampas oleh Hun Ci-lo, sementara sepasang roda Bun Seng liong saling berhantam dan tak terkuasai lagi, saking besar benturan dari kedua senjatanya itu, roda bulannya malah terpental balik menusuk ke mukanya sendiri.
Sudah tentu kejut Bun Seng-liong bukan alang kepalang, di kala ia cepat-cepat melepas tangan dan mengendorkan tenaga serta memiringkan kepala, namun sudah terlambat sedetik, roda rembulan itu terbang lewat dari samping lehernya dan giginya yang tajam dengan telak kena mengiris jatuh sebelah kupingnya.
Tadi Hun Ci-lo mengancam, hendak memberi tanda mata kepadanya, kini ancaman itu sudah menjadi kenyataan, sebuah kupingnya tanggal dari kepalanya sebagai tanda mata yang tidak mungkin dihilangkan selama hidup, yang lebih celaka lagi justru ia sendiri yang turun tangan memberi tanda mata di atas badannya sendiri.
Yang lebih menakjubkan adalah cara Hun Ci-lo memainkan senjata.
menggunakan waktunya yang tepat, tenaganya yang persis serta perhitungan cara lawan pasti menggunakan senjata perlawanannya sedikit pun tidak meleset.
Ilmu kepandaian yang hebat dan sakti begini sungguh sulit dibayangkan dan belum pernah terjadi.
Adalah Nyo-toakoh mau tidak mau harus memuji dan kagum dalam hati, diam-diam ia membatin.
"Selama puluhan tahun ini, aku belum pernah kebentur musuh tangguh, malam ini mungkin aku kepergok musuh tangguh!"
Dalam pada itu terdengarlah Hun Ci-lo berkata pelan-pelan.
"Beng-ki, Lian-ba kepandaian kalian masih harus berlatih lagi lebih giat dan rajin, jangan ikut-ikutan para suhengmu bermain kasar kurang ajar."
Setelah memberi peringatan kepada kedua murid terkecil ini lalu pelan-pelan memutar badan berkata kepada Gak Hou.
"Kau bersekongkol dengan Bun Seng-liong, seharusnya aku harus beri tanda mata pula kepadamu, cuma mengingat kau tidak sekurang ajar seperti Bun Seng-liong, bolehlah kali ini kuampuni kau. Tapi pedangmu ini tidak bisa kukembalikan kepadamu."
Lalu ia rangkapkan kedua jarinya pelan-pelan mengetuk ke atas batang pedang itu.
"Tak"
Pedang panjang Gak Hou kontan putus jadi dua.
Pucat pias muka Gak Hou, tanpa merasa bergidik seluruh badannya, saking gemetar kaki terasa lemas dan sempoyongan ke belakang.
Nyo Hoa masih duduk dalam kalangan yang dibuat ibunya, segera ia berteriak sambil tepuk tangan.
"Ibu menang, ibu menang. Ibu apakah kau hendak berkelahi dengan bibi juga? Caramu berkelahi sungguh baik sekali, aku tidak takut lagi."
Sebetulnya hatinya takut, tapi meski berusia kecil betapapun ia adalah putra seorang Busu yang kenamaan, kecil-kecil sudah punya hobby bermain silat, meskipun takut tapi rasa senangnya menonton itu menjadikan rasa takutnya lumer.
Biasanya ia sering menonton ayahnya berlatih dengan para suheng-nya, tapi perkelahian ini lain, dalam benak kecilnya samar-samar merasa bahwa keenam suhengnya sedang mengeroyok ibunya, inilah perkelahian yang sungguh-sungguh, bukan latihan silat seperti ayahnya dengan para suhengnya dulu itu.
Maka begitu melihat ibunya menang, tak kuasa lagi ia berteriak memuji, sementara dalam hati kecilnya berpikir.
"Air muka bibi sangat jelek, tapi bila dia menyakiti ibu aku tidak akan peduli lagi padanya lebih baik mereka jangan berkelahi, tapi jika sampai berkelahi tentu, aku membantu ibu."
Sementara itu Bun Seng-liong menjemput kedua rodanya terus menghampiri Nyo-toakoh dan berlutut di depannya, katanya.
"Tecu tidak becus, membikin malu perguruan belaka, budi dan sakit hati guru sulit kubalas, harap Sukoh suka memberi keadilan kepada kami!"
Nyo-toakoh diam saja, kedua matanya yang tajam mengawasi gerak-gerik Hun Ci-lo, melirik pun tidak ke arah Bun Seng-liong yang berlutut di hadapannya.
Bun Seng-liong jadi serba runyam dan mengeluh di dalam hati, dalam hati ia membatin.
"Apakah Loak-jiu-koan-im juga gentar menghadapi Hun Ci-lo, tidak berani menantangnya berkelahi?"
Setelah Bun Seng-liong selesai memberi laporan baru Nyo-toakoh mengidapkan tangannya, katanya dengan nada berat.
"Apakah belum cukup kau bikin malu perguruan? Menggelindinglah pergi, jangan mengganggu gerak-gerik kaki tanganku!"
Kena dicaci maki Bun Seng-liong malah kesenangan, bergegas ia melompat bangun seraya meng-iakan berulang-ulang dan menyingkir ke samping.
Mendengar ucapan Nyo-toakoh yang terakhir itu lantas dia maklum bahwa Sukohnya sudah siap menempur Hun Ci-lo.
Sebagai jago yang sudah keok, kuatir kena senjata nyasar sudah tentu ia menyingkir paling jauh sembunyi di balik pohon di dalam hutan, malah dia jongkok di belakang sebuah batu besar.
Waktu ia angkat kepala, bayangan Gak Hou, Phui Liang dan lain-lain juga sudah menghilang, agaknya mereka pun lari sembunyi ke dalam hutan.
Dalam tanah pekuburan itu, kini tinggal Nyo-toakoh dengan Hun Ci-lo dan putranya, keadaan kembali menjadi hening lelap, kesunyian yang mencekam sanubari.
Dengan ujung bajunya Hun Ci-lo mcngebuti kotoran di atas badannya, dengan sikap wajar ia pandang Nyo-toakoh lalu katanya.
"Cici masih ada omongan apa yang ingin kau ucapkan? Kalau tidak maaf aku segera harus mohon diri."
Lahirnya kelihatan ia sangat tenang dan bersikap wajar, sebenarnyalah batinnya sedang bergejolak di rongga dadanya. Nyo-toakoh berkata dingin.
"Siapa sudi jadi Cicimu. Hun Ci-lo. jangan kau kira demonstrasi kepandaian silat kucingmu tadi lantas dapat menggertak takut aku. Kau hendak merat, kukira tidak segampang menurut kehendakmu."
"O, jadi kau melarang aku pergi?"
Ucapan Hun Ci-lo pun tidak kalah dinginnya.
"Tapi kalau kau ingin menahan aku kukira juga belum tentu sedemikian gampang."
Dua belah pihak sudah sama siap siaga seperti dua jago aduan yang siap bertempur. Ki Si-kiat yang berdiri di samping sejak tadi, berpikir.
"Perempuan jalang ini terang bukan tandingan ibuku, tapi kalau dia menggunakan putranya sebagai sandera, terpaksa ibu harus bertindak secara hatihati. Lebih baik aku rebut Piaute lebih dulu urusan selanjutnya tentu lebih mudah diselesaikan."-Usia Ki Si-kiat baru menanjak dewasa, darah panas pikiran masih terlalu sederhana, meski Hun Cilo pernah mengancam barang siapa berani melangkah masuk ke dalam kalangan yang dia gambar di tanah menyentuh putranya, dia tidak akan main sungkan turun tangan dengan telengas. Tapi sedikit pun Ki Si-kiat tidak ambil perhatian ancaman ini. Justru karena ancaman Hun Ci-lo ini lebih menimbulkan rasa sirik dan gairahnya untuk melawan Hun Ci-lo. Sebuah lengking jeritan kaget memecahkan suasana sunyi dan tegang dalam malam nan sunyi di pekuburan di pinggir hutan. Secepat kilat Ki Si-kiat mendadak menubruk masuk ke dalam kalangan bundar, Nyo Hoa yang sedang duduk menjadi kaget dan menjerit sekeras-kerasnya. Sebetulnya Ki Si-kiat bisa menggunakan kekerasan menyeret Nyo Hoa keluar, tapi biasanya, dia sangat sayang kepada adik misannya ini, tidak ingin dia membuatnya kaget dan takut, maka cepat ia menggandeng tangannya serta membujuk dengan kata-kata lembut.
"Piaute jangan takut, mari kuajak ke dalam hutan mencari jeng-kerik."
Nyo Hoa meronta dan berteriak.
"Tidak mau, aku tidak mau jengkenk, aku hendak ikut ibu!"
Begitu mendengar jerit suara puteranya seketika berubah air muka Hun Ci-lo, cepat ia layangkan telapak tangannya menusuk ke depan.
Sejak tadi Nyo-toakoh sudah menghimpun semangat waspada menanti serangan musuh, menurut anggapannya mengandal kepandaian silat Hun Ci-lo, kalau orang tidak mengamuk itulah baik, tapi sekali mengamuk tentu sekaligus turun tangan secara keji, maka tanpa mengejar kemenangan dia menjaga diri lebih dulu, cepat ia bergerak dengan jurus Thi-so-heng-co (rantai besi membelenggu perahu), inilah jurus yang sudah dipersiapkan menurut rencananya, kedua telapak tangan bersilang melindungi dada, siap berjaga segala kemungkinan dari semua perubahan serangan musuh, sekaligus dapat melancarkan serangan balasannya yang ganas dan mematikan.
Nyo-toakoh membekal kepandaian silat dari dua aliran perguruan yang sama liehaynya (semasa masih hidup suaminya adalah seorang cikal bakal sebuah perguruan), jurus Thi-so-heng-co ini adalah merupakan kombinasi dari kedua aliran silat yang dia sempurnakan sendiri.
Jurus ini mempunyai keistimewaannya pula, dapat berjaga untuk balas menyerang, sedikit saja pihak musuh lena dan menyerang tanpa perhitungan yang matang, tentu berakibat sangat fatal karena tergetar luka oleh tenaga pukulan balasannya.
Jurus pukulannya ini secara diam-diam mengandung tiga gelombang tenaga terpendam, gelombang demi gelombang lebih kuat dan mantap, kecuali lwekang lawan lebih kuat, kalau sebaliknya, jangan harap lawan dapat menggempur pertahanannya yang kokoh dan rapat ini.
Cara pertahanannya ini sebetulnya merupakan kepandaian silat tingkat tinggi yang sangat serasi pula dengan keadaan.
Di luar perhitungannya cara serangan Hun Ci-lo justru berada di luar dugaannya.
Meski belum terhitung lebih unggul dan pintar dari dirinya, tapi paling tidak sudah membuatnya salah duga dan terjebak.
Ternyata itulah tipu daya Hun Ci-lo bersuara di timur menggempur di sebelah barat, ia bergaya melancarkan rangsakannya ke depan, seakan-akan hendak menubruk kepada Nyo-toakoh, tibatiba badannya justru melompat jumpalitan ke belakang, karena Nyo-toakoh berjaga-jaga membela diri, ia jadi kelabakan dan terlambat untuk mengejar maju, tahu-tahu Hun Ci-lo sudah menggunakan gaya Sip-siong-kiau-hoan-hun (jumpalitan di tengah awan sambil mengempiskan dada), di kala tubuhnya meluncur turun kebetulan ia hinggap masuk ke dalam kalangan.
Secara sembrono Ki Si-kiat berani serampangan menerobos masuk ke dalam kalangan terlarang, diam-diam Nyo-toakoh sudah mengeluh dan menginsyafi akan akibatnya yang fatal tapi dia tidak menduga akan permainan gertak sambel Hun Ci-lo yang cukup licin ini dilakukan secara lincah dan gesit pula, untuk memburu maju memberi pertolongan terang sudah terlambat.
Dalam kejutnya terpaksa Nyo-toakoh berteriak keras.
"Kiat-ji lekas menyingkir!"
Seumpama anak domba yang tidak takut menghadapi harimau bukan saja Ki Si-kiat melarikan diri, dengan beraninya ia membalik sebelah tangannya begitu merasa adanya sambaran angin keras yang menyampuk datang dari sebelah belakang.
Terdengarlah jengekan dingin Hun Ci-lo.
"Kau berani mengusik putraku, kalau tidak kuberi hukuman kepadamu, tentu kau anggap laranganku cuma bualan belaka."
Dengan sejurus Hudhun-jiu ia kebutkan lengan bajunya menyampuk tenaga pukulan Ki Si-kiat ke samping serta menyeretnya ke belakang, seketika Ki Si-kiat tidak mampu menguasai badan ikut terhuyung dan berputar satu kali.
Di saat orang berputar tiba di hadapannya persis kedua jari Hun Ci-lo sudah terangkat ke depan persis memapak kedua biji matanya, dalam sedetik lagi kedua jari yang putih halus itu bakal berlumuran darah mencolok keluar dua biji mata Ki Si-kiat.
Maka terdengarlah hardikan Nyo-toakoh seperti geledek mengguntur.
"Berani kau melukai putraku, kuadu jiwa sekalian dengan kau."
Sepak terjang Hun Ci-lo sebenarnya tidak lebih cuma menggertak saja supaya Ki Si-kiat kuncup nyalinya, mendengar teriakan Nyo-' toakoh, ia jadi berpikir.
"Kalau kutarik balik tanganku, pasti dia anggap aku takut ancamannya. Baik seumpama aku tidak perlu mengorek biji matanya, paling tidak harus kuberi tanda mata kepadanya."--begitu hawa amarah berkobar kedua jari tangannya menyerang secara sungguh-sungguh, ejeknya dingin.
"Untuk apa biji mata anakmu yang tidak bisa melihat ini!"
Dalam keadaan yang gawat itu, Ki Si-kiat masih berusaha berkelit, lekas ia gunakan Hong-tiamthau (burung hong menganggukkan kepala) berbareng telapak tangannya terkepal menggenjot ke depan memukul ke dada Hun Ci-lo dengan tenaga penuh.
Itulah cara berkelahi yang tidak mau kena dihina dan bersikap nekad lebih suka gugur bersama.
Mengandal bekal Iwekang Hun Ci-lo yang cukup tinggi meski dadanya kena digenjot oleh Ki Sikiat pun tidak bakal bisa terluka.
Tapi bilamana kedua jarinya diteruskan berhasil mengorek bolong batok kepalanya, kalau batok kepala Ki Si-kiat sampai terluka tentu jiwanya segera melayang?
Walaupun Hun Ci-lo rada marah karena perbuatan bocah yang tidak aturan ini, betapapun ia belum tega untuk membikin buta matanya, apalagi mencabut nyawanya?
Untung latihan kepandaian ilmu silat Hun Ci-lo sudah mencapai kesempurnaannya, dapat dilancarkan dan ditarik balik menurut suka hatinya, cepat-cepat dengan gaya Ih-sing-hoan-wi (merubah bentuk pindah kedudukan), kelima jarinya terkembang, jurus Ji-liong-jiang-cu (dua naga berebut mestika) ia rubah menjadi gerakan Hun-jiu yang hebat, telak sekali telapak tangannya kena menyanggah di bawah ketiak Ki Si-kiat serta membentak.
"Pergi!" --Kepalan Ki Si-kiat mengenai tempat kosong, sehingga badannya tersurut ke depan begitu kena disanggah dan disentak ke atas kontan badannya mencelat terbang keluar dari kalangan. Di kala Nyo-toakoh memburu tiba, kebetulan Ki Si-kiat di tengah udara sedang jumpalitan dengan gaya burung dara menukik turun tepat sekali ia hinggap di depan ibunya. Melihat sang putra tidak cedera baru Nyo-toakoh merasa lega, tapi ia berkata tawar.
"Hun Ci-lo, terhitung kau tahu melihat gelagat!"
Sebetulnya Hun Ci-lo hendak membanting Ki Si-kiat jatuh celentang sebagai hukuman yang setimpal, kejadian justru tidak terlaksana seperti perhitungannya, hal ini betul-betul berada di luar dugaannya, dalam hati ia berpikir.
"Meskipun aku kurang menggunakan tenaga lebih keras, tapi dia kena kusengkelit masih mampu mengembangkan ginkangnya, dalam usia yang semuda ini kepandaian ini boleh dipuji juga."
Cepat ia berkata dingin.
"Sayang putramu ini she Ki, antara paman dan keponakan tiada hubungan guru dan murid lagi, kalau tidak Ciangbun Tecu dari perguruan Nyo ini jelas bakal menjadi jabatannya. Soalnya aku tidak ingin pelajaran silat keluarga Nyo kalian putus turunan, baru kuampuni jiwanya. Kau sangka aku gentar kau gertak?"
Ucapannya ini seperti memuji tapi juga cukup pedas sindirannya.
Maklum keluarga Ki merupakan keluarga besar yang sama tenar dan seangkatan dengan keluarga Nyo.
Kini Hun Ci-lo memuji Ki Si-kiat sudah berhasil mempelajari ajaran silat murni dari perguruan Nyo, secara tidak langsung ia mau bicara bahwa Ki Si-kiat belum atau tidak mampu mempelajari kepandaian silat dari keluarga Ki.
Kalau soal ini lebih diselami lagi timbul pertanyaan, kenapa pelajaran silat murni dari aliran keluarga sendiri tidak becus dipelajari?
Jawaban ini ada dua sebab, yaitu.
pertama, pelajaran silat keluarga Ki hakikatnya tidak setanding dengan kepandaian silat keluarga Nyo, maka Ki Si-kiat lebih suka belajar silat perguruan lain dari pelajaran turunan leluhurnya sendiri.
Kedua, bahwa Nyo-toakoh memberikan bekal pelajaran silat keluarganya sendiri secara tekun kepada putranya, sehingga terjadilah kombinasi bekal kepandaian kedua aliran kedua keluarga itu, tapi pendapatan yang dia peroleh dari pihak ibunya jauh lebih banyak lebih matang dari ajaran yang diberikan dari ayahnya.
Namun biasanya di dalam Bulim ada sebuah aturan yang tidak resmi yaitu anak putri yang sudah menikah, kecuali mendapat ijin dari ayah atau sanak kadang terdekat dari keluarganya, kalau tidak sekali-kali dilarang memberikan ajaran silat pembawaan dari keluarga aslinya kepada sang putra.
Sudah tentu ada kekecualiannya, pula seumpama sang keponakan diangkat jadi murid oleh paman dan diajari silat dari keluarga ibunya.
Secara gamblang Hun Ci-lo memuji bahwa Ki Si-kiat sudah mendapat ajaran murni dari keluarga Nyo, ditinjau dari sudut lain secara tidak langsung hal ini telah merendahkan derajat keenam murid Nyo Bok malah.
Apalagi dikatakan pula dia cukup setimpal menjadi Ciangbun Tecu perguruan Nyo, dalam pendengaran Bun Seng-liong ia jadi mual seperti isi perut sudah jungkir balik sulit dirasakan.
Mau tidak mau Bun Seng-liong jadi berpikir.
"Kemungkinan besar buku pelajaran silat milik suhu disimpan dan dicaplok oleh Hun Ci-lo, tapi bukan mustahil pula sudah diambil oleh Nyo-toakoh!"
"Hun Ci-lo,"
Terdengar Nyo-toakoh tertawa dingin.
"apakah belum puas kau mencelakai jiwa adikku, dan kini mengobarkan rasa sirik dan mengadu domba di antara keluarga kita? Hm, hm, sekarang kau bukan warga keluarga Nyo, urusan keluarga Nyo tidak perlu kau turut campur lagi!"
Anggapannya dia hendak membongkar akal licik Hun Ci-lo.
Sebetulnya Hun Ci-lo tidak mempunyai maksud-maksud jahat dan keji sedemikian jauh.
Meskipun dalam hati kecilnya ia sangat benci terhadap Bun Seng-liong.
Hun Ci-lo tidak mau main debat, dengan tawar ia tertawa, ujarnya.
"Ucapanmu tidak salah, memang aku sekarang bukan warga keluarga Nyo. Hoa-ji! Mari kita pergi!" -sambil menggandeng anaknya segera ia tinggal pergi. Cepat Nyo-toakoh membentak.
"Hoa-ji adalah keturunan tunggal adikku merupakan tulang daging keluarga Nyo pula, tidak kuijinkan kau membawanya pergi!"
Hun Ci-lo menyeringai dingin, jengeknya.
"Aku sudah melepaskan anakmu, apakah sebaliknya kau tidak rela memberi kelonggaran pada anakku?"
"Memang aku harus berterima kasih dan menaruh hormat kepadamu karena kau sudah memberi pengampunan jiwa kepada Si-kiat. Sekarang baiklah tidak kupersoalkan lagi peristiwa pembunuhanmu terhadap adikku, untuk ini kukira cukup setimpal untuk mengimpas kebaikanmu."
"Banyak terima kasih,"
Hun Ci-lo tertawa dingin pula.
"Tapi hati nuraniku sendiri bicara bahwa aku tiada dosa terhadap siapapun jua, maka tidak perlulah kau pura-pura mengobral budi kebaikan terhadapku."
Sebenarnya bukan Nyo-toakoh tidak ingin menuntut balas bagi kematian adiknya, soalnya ia tiada pegangan untuk mengalahkan Hun Ci-lo, maka dengan akal lain ia pura-pura main budi dan kebaikan.
Tapi sesuai dengan nama gelarannya Loak-jiu-koan-im (dewi Koan-im bertangan gapah), adalah sangat ganjil dan belum pernah terjadi selama ini bahwa dia bisa menaruh belas kasihan dan main budi apa segala.
Untuk ini dia sendiri sudah merasa sangat janggal merendahkan martabatnya dan cuma bermuka-muka saja terhadap Hun Ci-lo.
Siapa tahu justru Hun Ci-lo tidak mau memberi muka dan mengalah terhadapnya sehingga ia serba runyam dan kikuk, mau tidak mau berkobar amarahnya.
Sambil menggandeng tangan putranya Hun Ci-lo tinggal pergi ke arah depan sana, seolah-olah dia tidak ambil peduli terhadap Nyo-toakoh, namun dalam hati ia selalu waspada dan berhati-hati.
Maklum pertempuran bagi kaum persilatan tingkat tinggi yang diperjuangkan cuma soal waktu dan kesempatan, kalau Nyo-toakoh rada gentar menghadapi dia, sebaliknya Hun Ci-lo sendiri juga cukup jeri melawan dia.
Sikapnya cukup tenang dan wajar seperti memandang rendah pada lawannya, tujuannya ini memang hendak membangkitkan amarah Nyo-toakoh.
Betul juga belum lagi pikirannya lenyap, terdengarlah Nyo-toakoh menjengek dingin.
"Hun Cilo, kau boleh bawa pergi putramu asal kau dapat lolos dari sepasang telapak tanganku ini!"
Gerak tubuhnya laksana kilat, seiring dengan suaranya badannya pun sudah menubruk tiba menghadang jalan Hun Ci-lo, kedua telapak tangannya terayun bersama.
Telapak tangan kanan menyerang kepada Hun Ci-lo sementara tangan kiri merebut putranya secara kekerasan.
"Jangan kau lukai putraku!"
Hun Ci-lo membentak, dalam sekejap itu kedua telapak tangan Hun Ci-lo pun terayun menari.
Begitu empat telapak tangan kebentur di tengah jalan, terasalah perubahan dan kekuatannya yang sama aneh dan liehaynya.
Di mana telapak tangan kiri Hun Ci-lo merangsak ia seperti membentur dinding baja yang kokoh kuat mengeluarkan suara benturan keras seperti bunyi geledek.
Sementara telapak tangan kanan sebaliknya seperti memukul setumpukan kapas yang lemas dan empuk tiada membawa reaksi apapun.
Meski kepandaian Hun Ci-lo cukup tinggi dan liehay, mau tidak mau bercekat juga hatinya.
"Kepandaian Kim-kong-lak-yang-jiu perempuan galak ini ternyata sudah terlatih sedemikian liehay dan sempurna, sekali-kali aku pantang memandang rendah padanya!"
Demikian batinnya.
Kim-kong-lak-yang-jiu adalah ilmu tunggal dari ajaran keluarga Nyo, kekuatan pukulan tangannya yang keras dan ulet sudah lama menggetarkan dunia persilatan.
Ilmu pukulan ini merupakan jiplakan dari Tay-Iik-kim-kong-jiu dari Siau-lim-pay, tapi antara Tay-lik-kim-kong-jiu dengan Kim-kong-lak-yang-jiu mempunyai perbedaan yang teramat menyolok sekali.
Jurus-jurus permainan Tay-lik-kim-kong-jiu sangat sederhana, setiap pukulan cuma sejurus saja, meskipun dilandasi kekuatan yang hebat dan keras sekali tapi tiada mengandung perubahan apa-apa, yang diandalkan hanyalah Iwekang yang hebat untuk mengalahkan musuh.
Adalah Kim-kong-jiu dari keluarga Nyo ini justru setiap jurusnya mengandung tipu-tipu yang banyak ragam perubahannya, satu kali pukulan secara tidak terduga tersembunyi enam macam gerak perubahan yang teramat liehay.
Dalam ilmu pukulan umumnya sejurus ilmu pukulan mengandung dua gerak perubahan sudah sulit dipelajari, apalagi sejurus mengandung enam tipu gerak perubahan, hal ini benar-benar sulit dicari tandingannya di Bulim.
Oleh karena itu perbawa pukulan ini mungkin memang tidak bisa menandingi Kim-kong-jiu dari Siaulim-pay, tapi bila menghadapi lawan yang setanding, Kim-kong-lak-yang-jiu dari keluarga.
Nyo ini kiranya cukup berlebihan untuk menggasak dan merobohkan lawan dalam keadaan kurang siaga dan waspada.
Ilmu pukulan yang menggunakan landasan kekuatan keras atau negatif macam Kim-kong-lakyang-jiu umumnya tidak cocok dipelajari kaum hawa, tapi Nyo-toakoh justru dapat mencangkoknya secara aneh dengan menggunakan cara-cara yang cukup berbelit-belit, menambah berbagai perubahan dan variasi dalam ilmu pukulan asli dari keluarga Nyo ini, mengurangi sedikit kekuatan tenaga keras atau negatifnya dan diganti dengan berbagai tenaga lunak atau positif, dari ajaran murni kekuatan keras dikombinasikan dengan landasan negatif dan positif.
Oleh karena itu meski Kim-kong-lak-yang-jiu yang dipelajari Nyo-toakoh memang boleh dikata mendapat warisan murni keseluruhannya dari ajaran leluhurnya, tapi sedikit banyak sudah ia rubah dan tambah berbagai ciptaan yang lebih sempurna, lebih liehay dan hebat dari ajaran mumi semula, malah Kim-kong-lak-yang-jiu yang dia bekal ini jauh lebih telengas dan keji pula.
Selama sepuluh tahun lebih Hun Ci-lo menjadi istri Nyo Bok, sudah tentu ia sangat hafal dan dapat menyelami sampai di mana tingkat kepandaian Kim-kong-lak-yang-jiu dari keluarga Nyo ini, adalah di luar dugaannya bahwa Kim-kong-lak-yang-jiu permainan Nyo-toakoh ini justru jauh berbeda dari apa yang pernah dia selami, untuk sesaat ia jadi bingung dan kehilangan akal untuk berpikir cara bagaimana untuk mengatasi dan mengalahkan ilmu pukulan lawan, seketika ia terdesak hebat oleh pukulan Nyo-toakoh yang gencar.
Akan tetapi bekal kepandaian silat Hun Ci-lo sendiri memang cukup tinggi, dalam waktu dekat Nyo-toakoh pun tidak akan mampu merobohkannya.
Tapi meski demikian betapapun Hun Ci-lo di pihak yang kena dirugikan.
Begitu segebrak dapat menempatkan posisi di tempat yang lebih unggul sudah tentu Nyo-toakoh tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, laksana hujan badai pukulan tangannya memberondong mengincar badan Hun Cilo.
Karena tenaga pukulan tangannya mengandung kekuatan negatif dan positif perbawanya pun cukup hebat, kadang-kadang angin menderu laksana angin taufan di padang sahara, ada kalanya pula menjadi lembek laksana dahan pohon yang melambai tertiup angin lalu, antara keras dan lunak saling atas mengatasi dan berubah ganti berganti tidak kenal putus, kelihatannya pukulan yang dilancarkan dilandasi kekuatan keras, namun tiba-tiba berubah menjadi tenaga lunak, Hun Ci-lo jadi sukar menyelami dan meraba gerak perubahan permainan lawan, terpaksa ia main mundur dan mundur lagi.
Selain itu masih ada pula segi-segi yang merugikan bagi Hun Ci-lo yaitu dia harus melindungi putranya, maka dia hanya bisa menggunakan sebelah tangannya melawan musuh, apalagi dia tidak berani melangkah lebih tiga tindak dari tempat putranya, oleh karena itu gerak geriknya yang cukup lincah dan gesit jadi sulit dikembangkan.
Dalam pertarungan yang sengit itu, tiba-tiba pukulan Nyo-toakoh menyelonong tiba tanpa bersuara, jelas Hun Ci-lo sudah tidak mampu lagi melawan, terpaksa dia harus berlaku nekad mandah kena diga-blok dengan keras supaya putranya tidak kena cedera, adalah dalam waktu yang gawat itu tiba-tiba Nyo-toakoh merubah permainannya menyerang ke arah tempat kosong yang berlawanan dengan kedudukan keponakannya.
Kontan tergerak hati Hun Ci-lo, terbayang olehnya suatu akal untuk merebut kemenangan dalam posisi yang terdesak ini.
Sebetulnya dia berada di muka menutupi putranya, kini mendadak mundur ke samping sehingga putranya dibiarkan berada di sebelah mukanya.
Dalam hati ia berpikir.
"Ah-hoa kau anggap sebagai keturunan tunggal keluarga Nyo, betapapun kau tidak akan berani melukainya!"
Benar juga Nyo-toakoh terperanjat, cepat ia rubah pukulan telapak tangan menjadi cengkeraman, maksudnya hendak meraih Nyo Hoa, tiba-tiba dari membela diri Hun Ci-lo balik merangsak dengan gencar, delapan penjuru angin terbayang berlapis-lapis telapak tangan yang serabutan dan menggempur dengan gencar, selintas pandang orang akan kabur pandangannya.
Kiranya ilmu pukulan yang dia lancarkan ini bernama Loh-ing-ciang-hoat.
Ilmu ini adalah ciptaan seorang pendekar pada ratusan tahun yang lalu.
Nyo-toakoh sendiri belum pernah melihat ilmu pukulan yang aneh dan hebat ini!
Untuk melancarkan ilmu Loh-ing-ciang-hoat ini perlu dikombinasikan dengan ilmu ginkang yang tinggi, Hun Ci-lo sendiri ada mem-bekal semacam ilmu yang dinamakan Coan-hoa-sau-siok-hoat (gerak tubuh mengitari pohon menyelundup ke dalam rumpun bunga), langkah kakinya laksana awan mengembang seperti air mengalir, indah gemulai mempesona, tiba-tiba berada di depan mendadak memutar ke sebelah belakang, sekonyong-konyong berkelebat ke kiri dan tahu-tahu sudah berada di sebelah kanan pula, gerak-geriknya sungguh serasi benar dengan permainan Lohing-ciang-hoat yang dia kembangkan.
Kalau tadi Hun Ci-lo harus melindungi putranya tidak berani mainkan ilmu pukulannya kini dengan tanpa kuatir dan tiada ganjalan hati apa-apa posisinya jauh lebih untung, lambat laun malah semakin mendesak berada di atas angin, cukup sepuluhan jurus saja ia bikin lawannya kerepotan dan terdesak mundur.
Sembari mundur Nyo-toakoh menjadi sengit dan memaki dengan gemas.
"Perempuan jalang yang keji, berani kau gunakan keponakanku sebagai tameng keselamatanmu?"
Acuh tak acuh Hun Ci-lo menyahut dingin.
"Kau sendiri yang takut melukai bocah ini, kalau takut mari tentukan waktu dan tempat yang lain, kutantang kau bertanding satu lawan satu. Kalau aku kalah, kami ibu beranak rela kau hukum dan terima nasib. Kalau kau yang kukalahkan untuk selanjutnya kularang kau mengurusi bocah ini, bagaimana kau berani dan setuju?"
"Kau kira aku gampang kau tipu?"
Semprot Nyo-toakoh gusar.
"Untuk bertanding satu lawan satu cukup di sini saja. Kau tempatkan anakmu di dalam hutan, biar Si-kiat melindunginya. Kalau kau mampu mengalahkan aku kubiarkan kau pergi membawa anakmu!"
"Kau tidak percaya padaku, masa aku sebaliknya harus percaya kepadamu?"
Demikian jengek Hun Ci-lo. Nyo-toakoh menjadi gusar, bentaknya.
"Perkataan seorang kuncu seumpama kuda yang berlari kencang, aku kaum hawa, ucapanku pasti dapat dipercaya, berani kau tidak percaya akan omonganku!"
Pelan-pelan Hun Cin-lo berkata.
"Memangnya ucapanku juga tidak dapat dipercaya? Kenapa pula kau tidak percaya akan kata-kataku? Apalagi seumpama aku percaya akan omonganmu, belum tentu aku percaya pada putramu, lebih aku tidak bisa percaya sama Bun Seng-liong, Gak Hou bocah-bocah kurang ajar yang tidak tahu tata kehormatan."
Sembari bicara sepasang telapak tangan Hun Ci-lo masih bekerja dengan cepat, belum lagi ucapannya selesai Nyo-toakoh sudah terdesak mundur puluhan langkah ke belakang, jengeknya pula.
"Jelas kau tidak akan mampu merintangi keberangkatan kami ibu beranak maka kuanjurkan pada kau perkara bikin habis saja sampai di sini. Berikanlah kesempatan kepada kami pergi supaya kedua belah pihak masih punya hubungan yang cukup intim supaya kelak masih ada muka untuk berjumpa kembali."
Hun Ci-lo menganggap bahwa dirinya sudah berada di atas angin, kemenangan jelas bakal dicapainya, tanpa hiraukan Nyo-toakoh sudi atau tidak memberi jalan ia terjang terus dengan kekerasan.
Siapa duga sesuai dengan nama julukan Nyo-toakoh Loak-jiu-koan-im, sudah tentu gelar namanya ini tidak diperolehnya secara sia-sia dan tanpa sebab.
Sekilas ia mengerut kening tiba-tiba terbayang olehnya sebuah tipu akal.
"Kenapa aku tidak membalasnya dengan caranya yang sama!"
Setelah mantap hatinya berke-putusan, kedua telapak tangannya serentak merabu gencar balas menyerang dengan jurus-jurus Kim-kong-lak-yang-jiu yang mematikan!
Malah kali ini ia kerahkan tujuh bagian tenaga negatifnya yang keras dan deras.
Hun Ci-lo terkejut, batinnya.
"Mungkinkah dia berani melukai puteraku ?"
Betapa cepat serangan Nyo-toakoh, belum lagi lenyap jalan pikiran Hun Ci-lo, kedua serangan telapak tangannya sudah melayang tiba laksana geledek menyambar kilat berkelebat!
Dinilai dari daya kekuatan pukulannya ini agaknya ia sudah berlaku nekad dan tidak menaruh kekuatiran apapun jua!
Cepat-cepat Hun Ci-lo harus melindungi keselamatan putranya, dengan meng-empos tenaga sekuatnya ia berusaha memunahkan rangsakan musuh, tapi tak urung ia balas terdesak kembali ke tempatnya semula.
Nyo-toakoh tertawa dingin.
"Sebagai seorang ibu kau tidak hiraukan keselamatan putramu, apalagi aku yang menjadi bibinya masa harus menaruh belas kasihan malah! Seumpama sampai melukai dia, kukira adiku pasti akan dapat memaafkan aku di alam baka. Karena sekarang aku sedang menuntut balas bagi kematiannya!"
Kiranya Kim-kong-lak-yang-jiu yang dimainkan Nyo-toakoh ini ternyata berada di atas dari penilaian Hun Ci-lo semula, tenaga pukulannya sudah mencapai taraf yang sempurna dapat dilancarkan dan ditarik balik sesuka menurut kehendak hatinya, seandainya benar-benar pukulannya kena di tubuh Nyo Hoa tidak akan bisa membikinnya mampus.
Paling-paling bocah itu kena dibikin kaget dan terjatuh, luka ringan jelas tidak bisa terhindar lagi.
Nyo-toakoh justru sudah berketetapan menempuh bahaya yang telah diperhitungkan sebelumnya ini.
Benar juga Hun Ci-lo kena ditipunya, sudah menjadi kodrat alam seorang ibu sangat sayang dan pasti melindungi putranya, melihat serangan Nyo-toakoh benar-benar ganas dan telengas bagaimana dia tidak akan gelisah?
Saat itu seandainya ia tahu bahwa Nyo-toakoh tidak akan tega melukai Nyo Hoa, tapi masa dia sendiri berani mempertaruhkan jiwa putranya dalam pertempuran yang sengit ini.
Apa boleh buat sekuat tenaga ia harus berusaha melindungi jiwa Nyo Hoa meski ia sendiri harus mempertaruhkan jiwa.
Kepandaian mereka boleh terhitung setail delapan uang alias setanding dan setingkat.
Kini sepihak punya rasa kekuatiran dan harus berjaga-jaga terhadap putranya, sebaliknya pihak yang lain menggempur gencar dengan sekuat tenaga, sudah tentu Hun Ci-lo jadi tidak mampu lagi menghadapi amukan Nyo-toakoh ini.
Nyo Hoa sembunyi di belakang Hun Ci-lo, melihat roman wajah bibinya sedemikian bengis dan garang, menggasak dan memberondong ibunya mundur berulang-ulang, saking takut akhirnya ia menangis, teriaknya.
"Ibu, kalian jangan berkelahi lagi, aku takut, aku takut!"
Dengan sejurus jian-jiu (tangan memutar) Nyo-toakoh merangsak lagi untuk menutup kesempatan rangsakan balasan Hun Ci-lo, bentaknya.
"Hun Ci-lo, tinggalkan saja keponakanku ini, kuberi, kesempatan kau pergi! Kalau tidak jangan sesalkan kalau aku berlaku telengas, tidak menjadi soal jiwamu melayang, namun jiwa putramu yang tidak berdosa masa harus ikut dikorbankan !"
Hun Ci-lo menghela napas, ujarnya.
"Kenapa kau sedemikian kukuh hendak memisahkan kami ibu beranak?"
"Anak ini adalah keturunan tunggal keluarga Nyo kita, aku tidak bikin panjang urusan kau membunuh suami, masa kau masih berkukuh hendak berebut anak itu denganku?"
"Dengan dalih apa kau berani mengatakan anakku sebagai keturunan tunggal keluarga Nyo kalian..."
"Anak ini kan putra adikku, sudah tentu menjadi keturunan keluarga Nyo kita, kau sendiri sudah bukan menjadi warga keluarga Nyo, masih ada muka kau minta-minta kepadaku?"
Hun Ci-lo jadi berpikir.
"Lebih baik tidak kuberitahukan kepadanya, kalau tidak mungkin jiwa putraku ini pun sulit kuselamat-kan."
Tapi Nyo Hoa menjerit-jerit.
"Aku tidak mau ikut bibi, aku suka ikut ibu!"
"Keponakanku yang baik jangan menangis lagi, ibumu bukan orang baik, dialah yang mencelakai jiwa..."
Berdiri alis Hun Ci-lo, hardiknya.
"Jangan kau menista diriku di hadapan putraku, atau aku harus adu jiwa dengan kau!"
Harapan Nyo-toakoh hanya minta kembali keponakannya, maka terpaksa ia telan kembali katakata yang sedia diucapkan, katanya.
"Baik. sekarang tidak kukatakan, setelah dia besar kelak tentu akan paham sendiri duduk perkaranya. Suruhlah dia ikut padaku!"
"Kau harus berjanji padaku untuk merawatnya baik-baik!"
"Sungguh menggelikan dan omong kosong belaka! Nyo Hoa adalah tulang daging keluarga Nyo, bagaimana mungkin aku tidak akan merawatnya baik-baik?"
"Baik. Kalau begitu aku rela dan cukup lega. Hoa-ji, kau boleh ikut bibi pulang saja!"
Tiba-tiba ia mencium kedua pipi anaknya terus mendorongnya ke depan sambil menutup mukanya ia berlari pergi.
Suara tangis anaknya laksana ujung panah menghunjam ke uluhatinya, kuatir kalau dia menghentikan langkah tidak akan tega melihat putranya yang tersayang, terpaksa ia berlari semakin kencang dan tidak menoleh lagi.
Setelah melihat Hun Ci-lo pergi jauh tak terlihat lagi, para murid dari perguruan Nyo itu baru beramai-ramai keluar dari tempatnya sembunyi.
Sebagai calon Ciangbun Tecu cepat-cepat Bun Seng-liong menjura dan mengucapkan banyak terima kasih kepada Nyo-toakoh, katanya.
"Kepandaian silat Sukoh memang hebat dan tiada tandingan, akhirnya perempuan jalang itu berhasil digebah pergi dan melindungi nama baik perguruan kita. Kami para murid sungguh banyak terima kasih dan semoga arwah suhu di alam baka dapat istirahat dengan tentram.'"
Gak Hou pun ikut menimbrung.
"Cuma sayang Hun Ci-lo berhasil melarikan diri.'"
"'Berkat jiwa besar Sukoh baru dia berhasil lari, kalau tidak masa perempuan jalang itu masih bisa hidup?"
Demikian umpak Bun Seng-liong. Cepat-cepat Gak Hou menambahkan.
"Benar, sepak terjang Sukoh memang amat mengagumkan, antara budi dan tekanan serta kebaikan sekaligus telah dilaksanakan dalam selintas tindak, kami para murid sungguh kagum!"
Sementara dalam hati ia membatin.
"Cara kepandaian suheng menepuk pantat ternyata jauh lebih liehay dari aku. Kali ini jikalau Sukoh tidak mempertaruhkan jiwa sute cilik untuk menekan dan mengancam Hun Ci-lo, siapa unggul siapa asor mungkin sulit diduga."
Rona wajah Nyo-toakoh membeku dingin, hidungnya mendengus lalu berkata.
"Jangan kalian menempel emas di mukaku, malam ini betapapun aku tidak kuasa membekuk atau mengalahkan dia. menguntungkan perempuan jalang itu saja! Tapi akan datang suatu ketika aku akan mencari perhitungan dengan dia. Baiklah, kalian tidak usah cerewet lagi, kalian boleh lekas pulang. Mencari buku pelajaran silat guru kalian lebih penting."
Mendengar ucapan Sukohnya ini diam-diam Bun Seng-liong girang, pikirnya.
"Sukoh berkata demikian, buku pelajaran silat itu pasti masih tersimpan di rumah guru."-Semula ia curiga bahwa Hun Ci-lo sudah melalapnya, akhirnya curiga pula pada Nyo-toakoh, cuma biasanya tindak tanduk Nyo-toakoh cukup terang-terangan dan cerdik lagi. sekali turun tangan tidak mengenal belas kasihan, setiap musuhnya pasti merasakan kekejaman tangannya. Setelah menempur puluhan jurus melawan Hun Ci-lo. seandainya buku pelajaran silat adiknya berada di tangan Hun Ci-lo, mengandal ketajaman dan pengalamannya pasti dapat melihat tegas dari segala gerak-geriknya. Bahwa dia tidak mengancam dan meminta kepada Hun Ci-lo untuk menyerahkan buku pelajaran itu, ini membuktikan bahwa buku rahasia silat itu memang benar-benar tidak berada di tangan Hun Ci-lo. Apalagi mengandal nama dan kedudukan Nyo-toakoh. betapapun dia tidak akan bicara bohong atau membual terhadap para keponakan muridnya. Kalau toh dia suruh para keponakan muridnya pulang mencari di rumah, sekali lagi membuktikan bahwa buku pelajaran silat perguruan mereka memang tidak tercuri hilang. Oleh karena itu semula Bun Seng-liong merasa putus asa dan tiada harapan, setelah mendengar ucapannya yang terakhir hatinya bersorak kegirangan. Mendadak Nyo Hoa menjerit gerung-gerung, teriaknya.
"Kalian kenapa memaki ibuku, aku tidak mau pulang dengan kalian. Aku ingin ikut ibu. aku ingin ikut ibu!"
Dengan suara halus Nyo-toakoh lantas membujuknya.
"Anak manis jangan menangis, ibumu orang jahat, bibi akan sayang kepadamu!"
"Tidak!"
Teriak Nyo Hoa.
"Kalian menjelek-jelekkan ibu, kau inilah orang jahat!"
Nyo-toakoh mengerutkan kening, makinya.
"Anak kecil tidak tahu aturan, tidak boleh sembarangan omong!"-Sekali raih ia mengangkatnya terus dibopong kencang, sehingga Nyo Hoa tidak bisa berkutik dalam pelukannya, terpaksa hanya menjerit-jerit dan menangis gerung-gerung. Nyo-toakoh tidak peduli tangis dan jeritannya, dengan kekerasan ia bawa anak kecil ini pulang ke rumah. Begitu tiba di rumah Nyo Bok. langsung Nyo-toakoh menyerahkan Nyo Hoa kepada Cui-hoa, itu pelayan yang kena dipelet oleh Gak Hou. Dengan memimpin semua keponakan muridnya ia memeriksa dan menggeledah kamar tidur Hun Ci-lo. Cuma demi gengsi dan kedudukan ia hanya memberi petunjuk dan samping tanpa ikut turun tangan. Geledah punya geledah buku pelajaran silat yang dicari tidak ketemu tapi mereka mendapatkan sepucuk surat peninggalan Nyo Bok. Pertama-tama Ki Si-kiat yang bersuara heran, serunya.
"Bu, inilah surat Kuku (paman) yang ditujukan kepadamu!"
Waktu Nyo-toakoh menerima sampul surat itu, tampak di mana tertulis.
"Disampaikan kepada Lian-ci"
Sewaktu masih perawan nama asli Nyo-toakoh adalah Nyo Lian. Nyo-toakoh kenal gaya tulisan adiknya, diam-diam hatinya menjadi heran dan curiga. Sambil menyobek sampul surat itu dalam hati ia membatin.
"Mungkinkah adikku sudah tahu bahwa dirinya akan dicelakai oleh Hun Ci-lo, sebelumnya sudah menyiapkan surat peninggalan terakhir ini mohon aku, menuntut balas baginya? Surat ini disimpan dalam laci lemari toilet Hun Ci-lo, masa Hun Ci-lo tidak menemukannya sebelum ini?"
Soalnya terlalu tebal kepercayaan Nyo-toakoh bahwa adiknya dicelakai oleh Hun Ci-lo, maka, sedikit pun ia tidak pernah memikirkan liku-liku lainnya dalam sebab musabab peristiwa itu.
Siapa tahu setelah ia membaca surat itu, baru ia sadar bahwa dugaannya ternyata meleset.
Tampak dalam surat itu berbunyi.
"Lian-ci yang budiman. Adik terlibat dalam suatu pertikaian yang sulit kukemukakan kepadamu, cuma kematianlah yang dapat membebaskan diriku dari libatan persoalan itu. Segala kejadian ini tiada sangkut paut dengan adik iparmu (maksudnya Hun Ci-lo), setelah aku mangkat, jangan kau menekan dia berkabung menjadi janda, seumpama dia hendak pergi membawa putra kami. kau pun jangan merintangi, berilah kebebasan kepadanya. Sebab musabab kematianku kau pun tidak usah tanya atau menyelidiki dari mulut iparmu. Pendek kata sekali-kali jangan kau mempersulit kepadanya, atau meski adikmu tiba di alam baka pun tidak akan meram dengan tentram. Apalagi seumpama adikmu beruntung tidak sampai ajal dalam persoalan ini, sepuluh tahun yang akan datang pasti akan kujelaskan segala seluk beluknya kepadamu. Cuma mati atau hidup sulit ditentukan, tergantung kepada Tuhan yang maha pengasih untuk memberikan peluang hidup bagiku. Tapi di hadapan orang kau harus anggap bahwa aku memang sudah ajal benar-benar, kalau tidak, seumpama aku beruntung terhindar dari bencana kali ini. elmaul akan selalu mengancam keselamatanku juga."
Bunyi surat ini sembunyi-sembunyi kurang gamblang, Nyo-toakoh menaruh heran dan curiga, tapi hatinya pun menjadi lega dan girang pula. Nyo-toakoh bersikap wajar, diam-diam ia membatin.
"Dari nada bicara surat ini, jelas bahwa adik memang bunuh diri. Tapi bagaimana mungkin bisa beruntung terhindar dari bencana?"
Tiba-tiba teringat olehnya akan cerita si maling sakti di malam si maling sakti Kwi-hwe-thio menemukan Nyo Bok hendak bunuh diri dan ketahuan oleh Hun Ci-lo serta menolongnya, Nyo Bok pernah berkata.
"Bunuh diriku ini hanya setengah-setengah, separuh sungguh-sungguh separuh pura-pura. Di saat Kwi-hwe-thio mengisahkan ucapan Nyo Bok ini, ia pernah mengomentari dengan rasa heran dan tidak mengerti.
"Bunuh diri ya bunuh diri, masa ada bunuh diri setengah sungguh-sungguh setengah pura-pura?"
Saat ini Nyo-toakoh pun merasa serba curiga dan gundah, tapi seolah-olah ia sudah dapat meraba sedikit juntrungannya.
dari ucapan dalam surat yang kurang gamblang ini, bukankah secara langsung sudah memberi penjelasan mengenai 'setengah sungguh dan setengah pura-pura' itu?
Bahwasanya adikku benar-benar mati atau pura-pura mati?
Setelah melihat surat itu Nyotoakoh jadi menduga-duga dan bertanya-tanya dalam hati.
Peti mati sudah dibongkar tanpa menemukan jazatnya, jelas bahwa kematian ini hanya pura-pura saja.
Tapi kalau adik masih hidup kenapa dia harus menjelaskan sepuluh tahun kemudian?
Bukankah cuma aku seorang sanak kadangnya yang terdekat!
Begitulah Nyo-toakoh berpikir-pikir.
Pikir punya pikir sanubarinya terketuk, tanpa merasa ia jadi duka dan lara.
Tapi betapapun harapan ada, semogalah sepuluh tahun mendatang ia dapat jumpa kembali dengan adiknya.
Oleh karena itu meski hatinya duka dan sedih, tapi merasa terhibur juga.
Ki Si-kiat bersama Bun Seng-liong dan lain-lain menunggu sambil menahan napas, setelah sinar mata Nyo-toakoh beralih dari pucuk surat itu.
tanpa berjanji Ki Si-kiat dan Bun Seng-liong bertanya bersama.
"Bu. apa yang ditulis Kuku dalam suratnya itu?" -"Sukoh, suhu ada meninggalkan pesan apa? Apa beliau ada menyinggung soal buku pelajaran silatnya itu?"
Pelan-pelan Nyo-toakoh melipat surat itu terus disimpan dalam kantong bajunya, sahutnya tawar.
"Tiada apa-apa."
"Tiada apa-apa?"
Seru Bun Seng-liong dengan nada heran dan tak percaya. Nyo-toakoh mendengus, katanya dingin.
"Bun Seng-liong, ternyata yang kau perhatikan cuma buku pelajaran silat perguruanmu saja ya?"
Berubah kelam dan pucat rona wajah Bun Seng-liong, cepat ia berseru tersipu-sipu.
"Tidak, tidak! Sukoh, kau jangan salah paham. Tecu mendapat budi pertolongan dan bimbingan suhu, kami para muridnya akan segera berusaha menuntut balas bagi beliau menurut petunjuknya. Kupikir suhu pasti sudah maklum bila kami bukan tandingan Hun Ci-lo, mungkin ada meninggalkan rahasia pelajaran silat perguruan kita kepada kami sekalian, supaya kami dapat meningkatkan kepandaian untuk membalas dendam bagi beliau. Tapi kalau suhu tidak menyinggung hal itu sudah tentu kami tidak akan berani sembarangan bertanya."
Sejak pulang dari tanah pekuburan. Hoan To tidak pernah membuka mulut, kini tak tahan lagi ia bertanya.
"Sebetulnya cara bagaimana kematian suhu, apakah dalam pesannya itu tidak menjelaskan?"
"Kenapa kau bertanya lagi, sudah tentu dicelakai oleh Hun Ci-lo,"
Jengek Nyo-toakoh.
"Sudah lama ia mendapat firasat bahwa Hun Ci-lo memang hendak mencelakai jiwanya, maka ia tinggalkan surat pesannya ini kepada aku."
Bukan maksud Nyo-toakoh hendak menista dan mempersulit Hun Ci-lo, soalnya adiknya ada pesan supaya jangan membocorkan bahwa dia masih hidup dalam dunia fana ini, maka demi rahasia ini tidak bocor terpaksa ia memperkuat tuduhan dan dugaan para murid-murid itu bahwa memang Hun Ci-lolah yang membunuh guru mereka, percaya para murid itu tidak akan banyak cincong lagi.
Dalam hati Nyo-toakoh berpikir.
"Asal aku tidak mencari Hun Ci-lo dan mempersulit dia, masa mereka berani mengganggu usik seujung rambutnya saja. Hun Ci-lo bersikap kasar dan tidak tahu kehormatan kepadaku, kalau aku membuatnya ketimpa tuduhan yang penasaran ini kiranya cukup setimpal!"
Adalah Hoan To juga berpikir dalam hati.
"Tapi kenapa kau sendiri tidak memberi komentar dan mengambil suatu tindakan apa-apa?"
Ini hanya kecurigaan dalam hati sudah tentu ia tidak berani mengutarakan hal itu kepada Sukoh-nya. Tapi agaknya Nyo-toakoh dapat meraba jalan pikirannya, segera ia menambahkan dengan suara tawar.
"Sebetulnya seumpama tiada surat peninggalan ini, aku pun sudah tahu siapa pembunuhnya. Ada atau tidak surat ini hakikatnya sama saja bagi aku."
"Benar,"
Kini Gak Hou menyela bicara.
"Dengan adanya beberapa bukti ini, siapa berani mengatakan bahwa bukan Hun Ci-lo yang menjadi pembunuhnya?"-Di kala bicara sengaja ia mendelik kepada Hoan To. Hoan To menundukkan kepala tanpa bicara lagi, dalam batin ia berpikir lagi.
"Pasti ada latar belakang dalam persoalan rumit ini, aku tidak percaya bahwa guru mati dicelakai oleh sunio."
"Pemeriksaan terus dilanjutkan. Aku hendak keluar menengok Hoa-ji!"
Kata Nyo-toakoh lalu mengundurkan diri.
Tatkala itu Nyo Hoa masih menangis dan menjerit-jerit di ruang pendopo, Cui-hoa berusaha membujuknya makan, tapi piring mangkok kena dibantingnya hancur.
Nyo-toakoh mengerutkan kening, katanya.
"Hoa-ji, kenapa kau begitu tidak dengar kata? Cuihoa, biar aku yang memberi makan padanya. Hoa-ji kalau masih nakal dan rewel saja bibi tidak sayang lagi dan akan pukul kau."
Di luar dugaan bukan saja Nyo Hoa tidak mau makan nasi yang dibawa Nyo-toakoh, malah dia mengumbar adatnya lebih besar, tiba-tiba ia gigit lengan tangan Nyo-toakoh serta berteriak.
"Kau mengusir ibuku, aku benci kepadamu!"
Timbul amarah Nyo-toakoh, makinya.
"Kau sangka aku tidak berani menghajar kau?"
Dengan bersikap garang ia pura-pura layangkan telapak tangannya hendak menampar ke muka Nyo Hoa. Mendadak didengarnya seseorang membentak.
"Tahan!"
Nyo-toakoh berjingkrak kaget, cepat ia angkat kepala, tampak seorang orang yang mengenakan kerudung hitam tahu-tahu sudah berdiri di hadapannya.
Gelaran Nyo-toakoh adalah Loak-jiu-koan-im, bukan saja membekal kepandaian Kim-kong-lakyang-jiu yang hebat, kepandaian menimpuk senjata rahasia pun sangat mahir, bagi seorang yang pandai menimpuk senjata rahasia maka ia pun punya kepandaian untuk mendengar angin membedakan senjata rahasia.
Cukup sedikit gerakan saja pasti tidak akan dapat mengelabui kupingnya.
Tapi orang berkedok ini tahu-tahu sudah berada di hadapannya baru ia ketahui, maka bukan kepalang kejutnya.
Betapapun Nyo-toakoh seorang kawakan yang sudah pernah mengalami berbagai pengalaman besar kecil, meski hatinya sangat terkejut, ia masih cukup tenang, setelah rasa kejutnya hilang cepat ia sudah dapat menguasai diri dan siap siaga.
Tampak orang ini mengenakan kedok lebar warna hitam yang menutupi seluruh kepalanya, cuma dua lubang mata saja yang kelihatan.
Kedua biji mata orang sedang jelalatan mengamati dirinya dari atas sampai bawah.
Nyo-toakoh jadi gusar dan membentak.
"Siapa kau, untuk apa kau main terobosan ke dalam rumahku?"
Orang berkedok itu menjengek dingin, sahutnya.
"Kau tentu adalah Toaci dari Nyo Busu, tokoh yang diberi nama gelar Loak-jiu-koan-im Nyo-toakoh!"
Kedua belah pihak hampir bersamaan mengajukan pertanyaan kepada lawannya. Nyo-toakoh menyeringai dingin, katanya.
"Kau sudah tahu akan gelaranku, kenapa berani bersikap begitu kurang ajar kepadaku."
"Huh!"
Orang berkedok mende-nguskari hidung, jengeknya.
"Orang lain takut pada kau, aku justru kemari untuk mencari kau. Kau tidak perlu tahu siapa aku, aku hanya ingin kau menjawab dua pertanyaanku."
"Kalau aku tidak mau jawab kau mau apa?"
"Kalau begitu boleh nanti kau coba-coba, kau yang bertangan jahil atau aku yang bertangan ga-pah!"
Bergelora amarah Nyo-toakoh, namun karena tertarik dan heran sedapat mungkin ia menahan sabar, katanya.
"Baik, cobalah kau katakan, ingin aku mendengar pertanyaanmu. Soal menjawab atau tidak tergantung dari senang tidak aku membuka mulut!"
"Pertanyaan pertama, adikmu mati betul-betul atau mati pura-pura? Pertanyaan kedua, ke mana Hun Ci-lo telah pergi?"
Berubah air muka Nyo-toakoh, tanyanya dengan suara lirih tertekan.
"Apa sangkut pautmu dengan Hun Ci-lo. kenapa kau perhatikan dirinya?"
"Sekarang akulah yang bertanya kepadamu, belum tiba giliranmu!"
"Tanpa kau jelaskan aku pun sudah tahu. Kau adalah gendak lama Hun Ci-lo bukan? Hm, besar benar nyalimu berani meluruk ke rumahku."
"Tutup mulutmu!"
Bentak si orang berkedok.
"Jangan kau menista dan menghina Hun Ci-lo!"
"Aku justru akan membeber boroknya, kau mau apa? Baik, dua pertanyaanmu akan kujawab sekaligus. Hun Ci-lo mencelakai jiwa suaminya dan siang-siang sudah melarikan diri! Kini aku sedang menyelidiki siapakah yang menjadi biang keladi dari pembunuhan ini!"
Kelihatannya orang berkedok jadi melongo, kepalanya digeleng-gelengkan, mulutnya menggumam.
"Salah, salah. Ai, masa..."
Saat itu Nyo-toakoh sudah berdiri di hadapannya, dua biji matanya yang mencorong tajam sedang menatap dirinya, kuatir orang menyergap mendadak.
Orang berkedok itu tersentak sadar, maka ucapan selanjutnya ia telan kembali.
"Apanya yang salah!"
Jengek Nyo-toakoh.
"Hun Ci-lo menikah dengan adikmu, meski burung cendrawasih ikut burung gaok, tapi nuraninya sangat luhur dan bijaksana, kalau toh nasi sudah menjadi bubur, dia pasti menikah dengan ayam ikut ayam, menikah dengan anjing ikut anjing."
"Kau adalah gendaknya dan dia perempuan serong, kalian bersekongkol membunuh adikku, berani kau di dalam pendopo di hadapan pemujaannya menghina dan memakinya!"
Sebagai seorang ahli silat meski orang berkedok belum turun tangan namun Nyo-toakoh insyaf bahwa lawan punya kepandaian silat liehay seperti setan keluar dan malaikat muncul, terutama kedua biji matanya yang berkilat tajam dapatlah dinilai bahwa orang pasti seorang kosen dari Bulim.
Mau tidak mau terpikir oleh Nyo-toakoh.
"Ya, mungkin Bok-te sudah tahu bahwa perempuan jalang itu ada berlaku serong, tahu bahwa kekasih atau gendaknya ini adalah seorang tokoh Bulim yang berkepandaian tinggi, untuk menjaga bila dirinya bukan tandingan maka pura-pura mati saja. Mungkin karena Bok-te bersikap sangat baik terhadap perempuan jalang itu, nuraninya terketuk dan mengingat hubungan suami istri sekian lamanya maka cukup ia minta Bok-te selanjutnya tidak muncul di hadapan umum, sehingga dia dapat rujuk kembali dengan gendaknya yang lama, maka dia pun tidak akan mempersulit dirinya. Demi terlaksananya angan-angannya ini sudah tentu dengan suka rela ia mau menutupi rahasia kematian Bok-te.' Menurut prasangka Nyo-toakoh bahwa jalan pikirannya ini cukup beralasan dan sesuai dengan keadaan, maka sikapnya jadi ketus menaruh sikap bermusuhan terhadap orang terkedok ini, tapi ia tidak berani memberikan data-data yang benar atau membocorkan rahasia yang menurut anggapannya tepat dengan dugaannya, supaya orang main tebak akan cara kematian adiknya yang pura-pura itu. Bahwa dengan gamblang ia tuding si orang berkedok bersekongkol dengan Hun Ci-lo membunuh adiknya, maksud tujuannya adalah supaya orang main reka dan percaya bahwa adiknya memang sudah mati. Soal siapakah pembunuh yang sebenarnya terserah kepada si orang berkedok untuk menganalisa dan menebaknya sendiri. Dicaci maki dan dicerca oleh Nyo-toakoh sudah tentu orang berkedok jadi gusar, bentaknya.
"Kau perempuan galak ini jangan sembarangan omong dan main tuduh !"
Nyo-toakoh menyurut selangkah, diam-diam ia kerahkan tenaga murninya siap siaga menjaga serangan musuh, jengeknya dingin.
"Kau mau apa ?"
Nyo-toakoh menyangka si orang berkedok segera hendak turun tangan, di luar dugaan orang berkelebat memberosot lewat dari samping tubuhnya serta menyerong maju dua tindak sampai ke depan meja pemujaan.
Gerak langkah kakinya menggunakan Ngo-heng-pat-kwa-pou-hwat, di mana terkandung langkah-langkah tersembunyi yang sulit diraba, jelas ia pun sudah bersiap melawan rangsakan Nyo-toakoh.
Sepiring nasi yang dibawa oleh Nyo-toakoh untuk Nyo Hoa ditaruh di atas meja pemujaan itu, karena Nyo Hoa tidak mau makan, kini masih penuh dan berada di pinggir meja, sementara dengan senggaksengguk anak kecil itu pun berdiri di samping meja, waktu ia angkat kepala didapatinya sang bibi sedang perang mulut dengan orang berkedok.
Memang dia sudah terlanjur benci pada bibinya, melihat orang berkedok berani memaki dan melawan bibinya, sedang sang bibi kelihatannya rada gentar terhadap si orang berkedok, diam-diam hatinya bersorak kegirangan.
"Apa yang hendak kau lakukan?"
Bentak Nyo-toakoh.
"Aku tidak sudi melayani perempuan galak seperti kau ini! Tapi setelah kau mengusir Hun Ci-lo maka tidak kuijinkan kau menganiaya dan menyiksa bocah ini."
Tangan terulur dengan lemah lembut ia mengelus-elus kepala Nyo Hoa, katanya lembut.
"Anak manis, mari kuajak kau menemui ibumu, bagaimana kau mau tidak?"
"Hore!"
Nyo Hoa bersorak dengan berjingkrak kegirangan.
"Aku tidak mau ikut bibi aku hendak mencari ibu !"
Di kala si orang berkedok mengelus kepala Nyo Hoa badannya terbungkuk jadi sebelah bagian bawah badannya menempel meja pemujaan, sementara Nyo-toakoh berada di sebelah meja yang lain, mendadak ia menggebrak meja seraya membentak.
"Kurang ajar! Lepaskan keponakanku!"
Kekuatan pukulan Kim-kong-jiu Nyo-toakoh dapat disalurkan melalui sesuatu benda yang dipukulnya, telapak tangannya menggebrak meja, tujuannya memang ia ingin menggunakan lwekang tingkat tinggi melukai si orang berkedok secara mendadak dan membokong.
Maka terdengarlah "blang"
Meja pemujaan itu kontan pecah menjadi dua persis dari tengahtengahnya, barang-barang sesajian jadi beterbangan ke mana-mana.
Tapi sedikit pun si orang berkedok tidak bergeming, sebaliknya Nyo-toakoh sendiri yang tergetar mundur dua tindak.
Kaget dan gusar pula Nyo-toakoh dibuatnya.
Kiranya pukulan tenaga dalam Nyo-toakoh yang disalurkan dari pukulannya ke meja kena dipukul kembali oleh kekuatan perlawanan lawan, malah tenaga balik yang memberondong itu jauh lebih besar dan kuat.
Urusan sudah terlanjur terpaksa Nyo-toakoh bekerja tidak kepalang tanggung.
Menggunakan Gun-goan-it-ou-kang si orang berkedok berhasil memukul balik Kim-kong-cianglat Nyo-toakoh, melihat Nyo-toakoh cuma tersurut mundur dua tindak dan tidak sampai terjungkal jatuh, diam-diam hatinya pun bercekat, pikirnya.
"Loak-jiu-koan-im ternyata memang tidak bernama kosong, untung Gun-goan-it-ou-kangku sudah sempurna kulatih.
"Nyo-toakoh,"
Seru orang berkedok sambil membopong Nyo Hoa yang berhasil direbutnya.
"Kau memang tidak tahu diri dan perlu dihajar adat."
Demikian ancamnya sambil melayangkan telapak tangannya. kalau tidak belum tentu aku dapat mengatasinya!"-Terpikir pula olehnya.
"Dia rela menghancurkan meja sembahyangan adiknya, naga-naganya kematian Nyo Bok memang bukan isapan jempol belaka."
Belum habis ia berpikir, tiba-tiba dirasakannya angin kesiur merangsang datang, kiranya Nyotoakoh sudah menubruk tiba!
Sekilas dilihatnya bayangan telapak tangan menari serabutan, itulah sejurus serangan mematikan dari Kim-kong-lak-yang-jiu yang hebat.
Setiap jurus Kim-kong-lak-yang-jiu yang mengandung enam gerak perubahan sekali dikembangkan perbawanya memang bukan olah-olah liehaynya.
Dalam sekejap itu delapan penjuru semua adalah bayangan Nyo-toakoh melulu, seluruh badan si orang berkedok kena terbendung dan dikurung di dalam tenaga pukulan telapak tangannya.
Terdengar Nyo-toakoh membentak dengan pongah.
"Tidak kau lepaskan keponakanku, jangan harap kau dapat meninggalkan pintu keluarga Nyo kami!"
Belum lenyap suaranya mendadak angin bergolak hebat, suara deru sampukan angin makin keras menusuk pendengaran, bayangan telapak tangan yang merabu dari delapan penjuru angin laksana hujan badai itu seketika kuncup dan sirna hilang.
Dengan menjulurkan ke bawah kedua tangannya lekas-lekas Nyo-toakoh melejit setombak lebih ke belakang, sementara si orang berkedok sambil menggandeng tangan Nyo Hoa tahu-tahu sudah tiba di ambang pintu.
Jengek si orang berkedok dingin.
"Mau datang atau pergi sesuka hatiku, siapa kuasa merintangi aku?"
Nyo-toakoh tidak bersuara mendadak ia gertak gigi, di mana ia ayun tangannya sekaligus menyambitkan segenggam Bwe-hoa-ciam, dalam hati ia membatin.
"Seumpama sampai melukai Hoaji, aku pun tidak dapat berbuat apa-apa."
Bwe-hoa-ciam milik Nyo-toakoh ini sangat lembut seperti bulu kerbau, waktu disambitkan tak bersuara, setiap timpukannya khusus mengarah Hiat-to penting di tubuh orang.
Gelar Loak-jiukoan-im yang dia dapatkan kebanyakan justru karena senjata rahasianya yang liehay dan cukup ganas ini.
Tatkala itu kebetulan si orang berkedok sudah putar tubuh membelakangi dirinya.
Dengan sambitan Bwe-hoa-ciam yang tersebar atas bawah dan kanan kiri itu, Nyo-toakoh menyangka usahanya pasti berhasil.
Tak diduga kepandaian mendengar angin membedakan senjata rahasia orang berkedok jauh lebih unggul dari kemampuan Nyo-toakoh sendiri, belakang kepalanya seperti tumbuh mata saja, secara tepat dan kebetulan waktu sambitan Bwe-hoa-ciam musuh sampai dekat di belakang punggungnya, si orang berkedok tiba-tiba mengebutkan lengan bajunya yang panjang dan lebar itu ke belakang, sekaligus ia gulung seluruh sambitan Bwe-hoa-ciam Nyo-toakoh ke dalam lengan bajunya, waktu dibuka kembali tampak puluhan Bwe-hoa-ciam sama berjajar lurus menembusi kedua lengan bajunya.
Tapi tiada sebatang pun yang berhasil menembus lewat mengenai jalan darahnya.
Maka tertawalah si orang berkedok dingin, jengeknya.
"Nyo-toakoh, kalau kau tidak tahu diri, jangan menyesal setelah kau merasakan keliehayanku. Baik, diberi tidak membalas rasanya kurang hormat, nih, kau pun harus merasakan keliehayan kepandaian sambitan senjata rahasiaku!"
Berbareng orang berkedok menggertak kedua lengan bajunya, puluhan jarum yang berjajar di kedua lengan bajunya laksana kena pegas berbareng melesat keluar, segulung tabir kuning sekaligus memberondong balik ke arah Nyo-toakoh.
Ki Si-kiat dan keenam murid perguruan Nyo pada saat itu kebetulan mendengar ribut-ribut dan memburu datang, Ki Si-kiat dan Bun Seng-liong berjalan paling depan.
Dalam kejutnya, tersipusipu Nyo-toakoh mendorong telapak tangannya, kontan ia dorong putranya tergentak ke samping.
Sinar kuning berkilauan tersebar luas, laksana bintang kelap kelip di malam kelam deras dan rapat laksana hujan angin.
Untung Ki Si-kiat sempat didorong minggir oleh pukulan ibunya sehingga ia tidak kena terluka apa-apa.
Melihat Nyo-toakoh dapat menggunakan kekuatan pukulan Kim-kong-lak-yang-jiu yang kuat dan keras itu menjadi tenaga lunak dan empuk, bukan saja kuasa menahan daya sambitan Bwehoa-ciam sambitan baliknya, sekaligus telah menyelamatkan jiwa putranya lagi, cara permainannya pun cukup cekatan dan lincah, mau tidak mau si orang berkedok memuji dan kagum dalam hati.
Tahu bahwa dirinya bukan tandingan orang, terpaksa Nyo-toakoh cuma main gertak dengan suara berat.
"Mengandal kekuatan kau merebut keponakanku, kelak jangan kau menyesal karenanya. Kecuali sekarang juga kau bunuh aku, kalau tidak akan datang suat u hari aku akan mencarimu untuk membalas dendam."
"Meski kau galak dan garang, tapi dosamu belum setimpal dihukum mati. Untuk apa aku bunuh kau? Aku tidak gentar kau menuntut balas berani pula bicara secara cengli. Memang anak ini adalah keponakanmu, tapi dia masih punya keluarga yang lebih dekat, demi ibunya maka dia kurebut dari tanganmu yang gapah itu, ke mana pun untuk mengadukan secara keadilan aku akan selalu menghadapi kau"--Mulut bicara sementara kaki si orang berkedok tidak berhenti melangkah, di kala kata-katanya habis diucapkan bayangannya pun sudah tidak kelihatan lagi. Jaraknya sudah cukup jauh, tapi setiap patah katanya masih terdengar jelas. Dengan lesu Nyo-toakoh duduk di atas kursi. Mendadak didengarnya Gak Hou berseru kejut.
"Toasuko-' Kenapa kau!"
Waktu Nyo-toakoh berpaling, tampak selebar muka Bun Seng-liong berlepotan darah dan mulutnya pun sedang merintih-rintih.
Ternyata mukanya penuh tertancap puluhan batang Bwehoa-ciam.
Segenggam jarum lembut yang disambitkan balik oleh si orang berkedok sebagian besar memang kena disampuk runtuh oleh pukulan Nyo-toakoh, tapi ada sebagian kecil pula yang bersarang ke muka Bun Seng-liong.
Untung karena bobot jarum lembut itu sangat ringan, jadi menancapnya tidak terlalu dalam, maka rasa sakit Bun Seng-liong tidak begitu hebat, soalnya hatinya sudah kuncup saking degdegan tanpa disadari mulutnya merintih-rintih.
Seluruh perhatian semua orang dipusatkan kepada si orang berkedok tadi, setelah musuh pergi baru mereka memperhatikan keadaannya.
Nyo-toakoh sedang uring-uringan dan jengkel, melihat kelakuan orang yang tengik ia semakin dongkol, semprotnya.
"Sudah untung orang menaruh belas kasihan tidak membutakan sepasang matamu. Beberapa jarum itu tidak akan mencabut jiwamu, merengek apa kau? Tidakkah malu kau sebagai calon Ciangbun Tecu. menjadi buah tertawaan para sutemu saja. Kemari biar kuperiksa dan kuobati!"
Bun Seng-liong pun membatin.
"Kau cuma menolong putra sendiri tanpa hiraukan keselamatanku. Hm, kau sendiri juga terjungkal di tangan orang, apa kau sendiri tidak kena malu, bisa saja kau lampiaskan dan dongkolanmu kepada aku!"-Tapi mendengar Nyo-toakoh suka memberi pengobatan, rasa jengkelnya jauh berkurang. Nyo-toakoh mengeluarkan sekeping besi sembrani, seluruh jarum yang menancap di muka Bun Seng-liong disedot keluar semua, katanya.
"Bwe-hoa-ciam milikku ini tidak kububuhi racun, kau bisa polesi dengan Kim-jong-yok saja!"
"Toa-suko,"
Sela Gak Hou.
"Mari kubantu membubuhi obat!" --untuk mengambil hati suhengnya ia mengumpak.
"Masih untung lubang jarum ini sangat kecil setelah sembuh tidak akan meninggalkan bekas apa-apa."
Hoan To segera ikut menimbrung sambil menahan geli.
"Sayang kalau wajah suko yang ganteng ini kelak menjadi burik."
Bun Seng-liong jadi gusar.
"Jadi kau senang kalau aku burikan?"
Dampratnya.
"Bukan,"
Sahut Hoan To cepat.
"Maksudku aku menaruh simpatik akan luka-lukamu."
"Sukoh,"
Ujar Bun Seng-liong.
"Tecu kena terhina adalah soal kecil. Tapi sute cilik kena direbut orang, hal ini dapat menodai nama baik perguruan, kalau sampai diketahui orang luar, orang itu berhasil merebut sute dari tangan Sukoh, wah hal ini akan semakin runyam!"
Nyo-toakoh mendengus, katanya.
"Tak usah kau memancing kemarahanku, kalau aku tidak balas sakit hati ini, selanjutnya jangan kalian panggil aku Loak-jiu-koan-im lagi!"
"Ada Sukoh yang bertanggung jawab, tak usah kuatir sakit hati ini kelak tidak akan terbalas,"
Demikian Gak Hou yang licik ini ikut menimbrung.
"Yang menyulitkan bahwa kita tiada yang kenal siapakah sebenarnya orang berkedok itu."
"Tidak tahu masa tidak bisa menyirapi?"
Jengek Nyo-toakoh.
"Walau aku tidak melihat mukanya, tapi aku sudah menjajal kepandaian silatnya, permainan silatnya itu merupakan sumber penyelidikan. Baiklah, kalian teruskan pencarian buku pelajaran silat guru kalian secara pelan-pelan, sekarang juga aku harus pulang."
"Masa Sukoh tidak tinggal lagi barang dua tiga hari?"
Tanya Bun Seng-liong.
"Apakah kami para murid berlaku kurang adat?"
"Bukankah kau sendiri ingin segera membalas dendam?"
Semprot Nyo-toakoh.
"Maka harus lekas-lekas kembali untuk memberi laporan kepada Siok-co Si-kiat."
Bun Seng-liong jadi girang, serunya.
"Apakah beliau sudah kembali?"
Ternyata Siok-co (kakek) Ki Si-kiat adalah Su-hay-sin-liong Ki Kian-ya yang sangat kenamaan di kalangan kangouw.
Bukan saja kepandaian silat Ki Kian-ya teramat tinggi, pergaulannya pun sangat luas, lebih banyak waktunya untuk mengembara di luar dari menetap di rumah, jarang pulang lagi.
Maka untuk menyirapi asal-usul seseorang-persilatan kiranya cukup minta petunjuk kepada dia orang tua, harapannya cukup besar untuk berhasil.
Agaknya Nyo-toakoh menjadi sebal akan pertanyaan-pertanyaan yang berulang kali, untuk selanjutnya ia tidak hiraukan pertanyaan lagi.
Berkatalah Ki Si-kiat.
"Sudah sepuluhan hari yang lalu Siok-kong kembali, kabarnya tak lama ini akan keluar lagi."
Nyo-toakoh berkata.
"Kau sudah tahu bahwa Siok-kongmu segera akan keluar lagi, masih banyak kata apa lagi di sini? Membuang waktu saja!"
Ki Si-kiat mengiakan, perbekalan memang sudah disiapkan, saat itu juga mereka ibu beranak segera berangkat meningggalkan rumah Nyo Bok.
-ooo0000ooo-Tatkala itu si orang berkedok sedang berjalan cepat sambil menggandeng tangan Nyo Hoa, tapi tujuan mereka berbeda dengan arah perjalanan Nyo-toakoh berdua.
Tujuannya adalah tanah pekuburan di belakang rumah keluarga Nyo itu, ia ke sana hendak mencari tempat kuburan Nyo Bok.
Dengan berhasil mengalahkan Loak-jiu-koan-im yang kenamaan di dunia persilatan, sedikit pun ia tidak merasa senang, hatinya terasa hampa dan kosong.
Soalnya dua pertanyaan yang mengganjal sanubarinya masih belum terjawab.
Sebetulnya Nyo Bok betul mati atau pura-pura mati?
Entah ke mana pula sekarang Hun Ci-lo berada?
Tangan Nyo Hoa digandeng dibawa berjalan cepat laksana berlari terbang tanpa menginjak tanah, angin menderu di pinggir kupingnya, pohon-pohon di kedua samping jalan sama berkelebat mundur ke sebelah belakangnya, hatinya jadi senang dan takut pula.
Mendadak terasa badan menjadi enteng, karena tidak terduga-duga Nyo Hoa sampai menjerit kaget.
Pelan-pelan orang berkedok menurunkan ke tanah, katanya tersenyum lembut.
"Membuat kaget kau ya?"
"Sungguh menyenangkan, sedikit pun aku tidak takut,"
Ujar Nyo Hoa tertawa mungil.
"Paman, ginkangmu sungguh baik, lebih baik dari ayah. Siapakah kau sebenarnya?"
"Aku she Song,"
Sahut orang berkedok.
"Aku adalah teman karib ibumu. Kau panggil aku Songtoasiok saja!"
"Song-toasiok, ke mana sekarang kita hendak pergi?"
"Kali ini kau turut aku keluar pintu, entah kapan baru akan kembali pula ke rumah. Sekarang kubawa kau untuk menyampaikan selamat tinggal dengan ayahmu."
Terunjuk kurang mengerti pada wajah Nyo Hoa, katanya.
"Bukankah tadi kau berkata hendak membawa aku mencari ibu?"
"Benar. Tapi aku sendiri tidak tahu kapan baru akan menemukan ibumu, maka kupikir kau harus pamitan dulu pada ayahmu."
"Tapi ayah pun sejak lama sudah menghilang, apakah kau dapat menemukan dia?"
"Maksudku kubawa kau ke tempat pusaranya di mana kau berlutut minta diri, bukankah ayahmu dikcbumikan di belakang gunung sana ?"
"Tidak, ke sana kau pun tidak akan menemukan dia."
"Sudah tentu tidak dapat menemukan dia. Kau tidak paham, kau ikut aku saja." -Dia anggap anak kecil masih belum tahu urusan, adalah di luar tahunya bahwa tanah kuburan itu beberapa saat yang lalu sudah dibongkar. Soalnya Nyo Hoa sendiri ikut menyaksikan kejadian itu, terbukti ayahnya tiada dalam peti mati itu maka ia keluarkan ucapannya itu. Karena dibawa lari kencang, Nyo Hoa tidak berani banyak bicara, cepat ia mengiakan.
"Ya, ya, aku ikut, mengikutimu saja"
Dalam hati orang berkedok berpikir.
"Bocah ini sudah berusia tujuh tahun, masih belum tahu urusan, kalau tidak bisa menemukan Hun Ci-lo, terhitung aku mencari kesulitan sendiri."
Tapi lantas terpikir pula olehnya.
"Setelah kehilangan anaknya tentu Hun Ci-lo sangat sedih. Betapapun harus ada seseorang yang harus melakukan pekerjaan bodoh ini membawakan anaknya keluar lalu pelan-pelan menemukan dia. Beng Goan-cau tidak datang, terpaksa aku Song Theng-siau yang melakukan pekerjaan bodoh ini."
Tiba-tiba teringat olehnya beberapa patah makian kotor Nyo-toakoh, dalam hati ia tertawa getir, terpikir pula olehnya.
"Perempuan galak itu mengatakan aku adalah kekasih lamanya, sebaliknya aku memang mengharap demikian. Cuma sayang sampai detik ini juga aku masih belum paham, ke manakah sebetulnya hatinya berkiblat. Sudah tentu ia tidak secara suka rela dinikahkan dengan Nyo Bok, namun entahlah orang yang dia benar-benar cintai adalah aku atau Beng Goan-cau!"
Hati sedang gundah pikiran pun butek, pengalaman yang sudah lalu terbayang lagi dalam benaknya, seketika rongga dadanya bergejolak.
Dua puluh tahun yang lalu, waktu itu Hun Ci-lo masih merupakan seorang nona kecil yang menguncir dua rambutnya, mereka sudah merupakan sahabat intim.
Karena mereka sama menetap dalam bilangan satu kampung, demikian pula ayah dan keluarga mereka adalah sahabat, hubungan sangat kental.
Keluarga Hun Ci-lo pindah datang ke Soh-ciu dari luar daerah, akhirnya baru dia ketahui bahwa ayah Hun Ci-lo ternyata adalah seorang tokoh kosen persilatan yang menyembunyikan nama mengasingkan diri, di waktu mudanya pernah kelana di kangouw dan pernah pula angkat nama, punya hubungan dan pengalaman yang pahit getir dalam perjuangan hidup bersama ayahnya.
Mungkin karena usia sudah lanjut dan suka kesepian ingin menetap bersama sahabat tua maka beliau pindah ke Soh-ciu itulah.
Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, setelah ayah kedua keluarga ini sama meninggal, hubungan kedua keluarga ini masih tetap erat dan intim -dewi-.
Di puncak bukit, dalam taman bunga di pinggir sungai entah berapa kali dan lama dia bersama Hun Ci-lo menghabiskan waktu dengan suka ria?
Hun Ci-lo menganggap dirinya sebagai kakak, ia anggap Hun Ci-lo sebagai adik.
Keduanya sama tiada perasaan apa-apa, demikianlah keadaan mereka di waktu masih kecil.
Tapi di kala Hun Ci-lo menginjak usia lima belas, keadaan yang tiada perasaan apa-apa itu mau tidak mau harus berubah secara mendadak.
Bukan karena usia mereka lambat laun menanjak dewasa, adalah karena adanya orang ketiga yang mendesak di antara mereka secara tidak terduga-duga.
Orang ketiga yang dimaksud ini adalah Beng Goan-cau yang akhirnya menjadi sahabat karib mereka juga.
Beng Coan-cau ada hubungan sanak dengan keluarga Hun, kalau tidak salah leluhur Beng Goan-cau masih sangat dekat dengan keluarga Hun.
Sejak Beng Goan-cau datang sifat Hun Ci-lo menjadi berubah sama sekali, setiap kali Song Theng-siau ajak Hun Ci-lo keluar pesiar dia selalu mengajak Beng Goan-cau ikut serta.
Demikian pula sebaliknya bilamana Beng Goan-cau berada bersama dia, Song Theng-siau pun tidak akan keting-galan.
Perawakan Beng Goan-cau kekar dan tegap, badannya kuat dan sehat, wajahnya halus di tengah alisnya terbayang hawa jernih, orangnya pendiam tak suka bicara.
Hun Ci-lo paling suka menggodanya, dikatakannya dia ini seperti sebuah gunung di Kanglam.
Song Theng-siau jauh lebih lincah dan suka kelakar, dia pandai memetik harpa tindaktanduknya serba halus lembut dan sopan santun, tapi bila dia mengumbar adatnya garangnya luar biasa.
Hun Ci-lo pun suka menggoda dia, dikatakan dia seperti air di Kanglam.
Teringat oleh Song Theng-siau pada suatu ketika mereka bertiga sama pergi ke Hangciu dan tamasya di Sec-ouw, itu telaga barat yang termasyhur.
Setengah harian mereka putar kayun menggayuh perahu lalu naik ke atas Oh-san memetik kembang Bwe jalan-jalan lagi di pesisir telaga.
Waktu itu hari sudah menjelang magrib matahari sudah hampir tenggelam, ketiganya sama terpesona, oleh panorama yang terbentang di hadapan mereka Song Theng-siau tidak tahu apa yang mereka pikirkan, adalah dia sendiri sedang memikirkan isi hatinya.
Angin telaga menghembus sepoi-sepoi, hidungnya mengendus bau harum dari rambut Hun Ci-lo.
Mendadak dia jadi besar nyalinya, terasa ada beberapa patah kata dia harus bicara dengan Hun Ci-lo.
Saat mana Hun Ci-lo sama Beng Goan-cau sedang asyik bersenandung serta membaca syairsyair karya beberapa pujangga yang terukir di batu-batu gunung, satu sama lain sedang debat dan saling memuji syair karya pujaan hatinya.
Yang jelas kedua syair yang mereka debatkan sama memuji akan keindahan panorama pegunungan dan permukaan air danau yang terpancar sorot cahaya matahari.
Terpaksa Song Theng-siau datang sama tengah melerai.
Katanya.
"Dulu ada seorang Se-si yang terkenal sebagai perempuan tercantik di Soh-ciu dan kau adalah perempuan tercantik di Soh-ciu pada jaman kini. Entahlah kau menyukai pandangan air danau yang kemilau? Atau menyukai puncak Oh-san yang penuh diliputi kabut halus mengembang enteng?"
Mendengar pertanyaan ini kontan jengah muka Hun Ci-lo, semprotnya.
"Sembarangan mengoceh kau."
Song Theng-siau tertawa, ujarnya.
"Cuma guyon-guyon saja kenapa sih? Tapi aku jadi ingin tahu benar-benar kau suka gunung atau menyenangi air?"
Beberapa kejap kemudian baru Hun Ci-lo berkata tertawa.
"Syair karya So Tong-poh ini sudah memberi jawaban bagiku, cahaya danau baik, panorama pegunungan pun bagus, keduanya samasama elok dan menyegarkan!"
Usaha Song Theng-siau untuk mengorek isi hatinya kali ini boleh dikata gagal, tak lama kemudian karena suatu peristiwa yang tak terduga akhirnya mereka harus berpisah.
Kepada siapa hati Hun Ci-lo berkiblat, sejak mula sampai sekarang masih merupakan teka-teki.
-oooo000oooo-Dengan perasaan hati yang tidak keruan Song Theng-siau beranjak terus ke depan, kedua kakinya sedang berlari demikian juga hatinya sedang berdebur keras seperti kuda pingitan yang berlari tiba di pesisir telaga barat menanjak bukit Oh-san, kembali pada penghidupan masa lalu, kehidupan yang lalu satu-satu berkelebat dalam benaknya.
Suara bocah bagat kelintingan dari mulut Nyo Hoa menyentak sadarkan lamunannya.
"Paman, jangan lari jauh-jauh, kita sudah sampai. Tuh lihat, mana dapat kau menemukan ayah di situ?"
Waktu Song Theng-siau melihat tegas, tampak batu nisan sudah ambruk, gundukan tanah kuburan sudah morat-marit terbongkar dan berlubang besar, di samping lubang peti mati terbuka lebar tanpa isi, kosong melompong.
Kalau isi hati Hun Ci-lo belum lagi mampu ia pecahkan, adalah kematian Nyo Bok yang menjadikan kecurigaan dalam hatinya kini sudah terkupas.
Tanya Song Theng-siau.
"Di mana ayahmu? Kau tahu di mana dia sembunyi?"
Nyo Hoa menggeleng kepala, sahutnya.
"Aku tidak tahu. Mereka sama mengatakan ayah tidur di dalam peti mati ini, tapi kenyataan ayah tidak berada di dalam peti mati ini. Paman, kenapa mereka suka menipu aku?"
"Kelak kalau ketemu ibumu boleh kau tanya kepadanya. Bagaimana pula dengan ibumu?"
"Ibu kena dikalahkan oleh bibi lalu lari!"
"Apakah bibimu yang membongkar kuburan ini?"
"Ya, dibantu oleh para suko. Selama ini aku anggap mereka orang baik-baik, tapi mereka membongkar kuburan ayah, dan berkelahi dengan ibu, maka mereka kuanggap bukan orang baik. Paman, apakah ucapanku betul?"
"Benar! Bibimu dan para suhengmu bukan orang baik-baik. Tapi kau tidak usah pedulikan mereka, kair ikut aku saja, kelak bila kau sudah besar, siapapun takkan berani menyakiti kau lagi."
Tiba-tiba Nyo Hoa berkata.
"Tidak, sekarang aku tidak mau pergi."
"Kenapa? Bukankah tadi kau mengatakan suka ikut aku?"
"Perutku lapar, kau menyeret aku, aku pun tidak akan kuat berlari lagi,"
Ternyata karena tadi mengumbar adat dan merengek-rengek sehingga tidak sempat makan, kini perutnya sedang keroncongan minta di si. ] Song Theng-siau tertawa geli, ujarnya.
"Tak usah kuatir, aku punya makanan enak untuk kau makan."
Lalu ia mengeluarkan sebuah dos roti, katanya pula.
"Nih, kau pilih sendiri, bolu kukus, kue lapis, ada permen madu dan lain-lain, tentu kau suka makan, habiskan saja."-Ternyata dos roti yang dia bawa ini adalah kesukaan Hun Ci-lo di masa kecilnya dulu, hadiah yang dia bawa untuk ibunya kini telah dihabiskan oleh anaknya. Nyo Hoa makan dengan lahapnya, mulutnya memuji berulang-ulang.
"Enak benar, sungguh nikmat!" -Dari samping sambil tersenyum lebar Song Theng-siau mengawasi bocah yang jenaka ini makan roti dan permen, tiba-tiba dirasakan olehnya sepasang mata si bocah yang bundar itu berkedip-kedip seperti seseorang. Sepanjang jalan ini karena Song Theng-siau sedang memikirkan isi hatinya, belum sempat ia mengamati bocah ini. Kini bukan saja ia merasa bocah ini sangat mirip seperti pinang dibelah dua, seolah-olah ia sedang berhadapan langsung dengan orang itu. Mendadak terpikir oleh Song Theng-siau sebuah pertanyaan yang tidak seharusnya ia pikirkan.
"Anak siapakah dia, anak siapakah dia?"
Melihat sorot mata orang yang ganjil Nyo Hoa jadi terkejut, ia letakkan rotinya bertanya.
"Paman, kenapa kau mendelikkan mata melihat aku, apakah aku terlalu serakah?"
"Tidak, tidak, kau makan saja sesukamu. Aku cuma terkenang pada seseorang."
"Siapakah dia?"
Tanya Nyo Hoa, hati kecilnya diliputi rasa curiga, kenapa paman mengamati aku jadi terkenang pada seseorang. Belum lenyap suaranya mendadak Song Theng-siau pun membentak.
"Siapa itu? Hayo menggelundung keluar!"
Tampak dari semak rumput di sana menerobos keluar seseorang, sambil tertawa cengar-cengir ia berkata.
"Song-tayhiap, selamat bertemu. Masih kenal aku si maling sakti Kwi-hwe-thio tidak?"
Nyo Hoa membatin.
"Kiranya si maling yang datang malam itu, jadi paman sedang memikirkan dia." --Mana dia tahu bahwa Song Theng-siau mendengar di semak rumput sana ada suara keresekan baru dia tahu bila ada seseorang sembunyi di sana. Orang yang dia sedang pikirkan bukanlah si maling sakti Kwi-hwe-thio, tapi adalah sahabat karibnya Beng Goan-cau. Begitu melihat si maling sakti Kwi-hwe-thio, Song Theng-siau merasa heran dan curiga, katanya.
"Kwi-hwe-thio, untuk apa kau sembunyi di tempat itu?"
"Semalam memang aku sudah sembunyi di sini untuk melihat orang berkelahi."
Ternyata Kwi-hwe-thio si maling sakti tak dapat menahan keinginan hatinya karena heran, setelah tahu bila Nyo-toakoh dan Bun Seng-liong hendak membongkar kuburan tak tahan lagi ia meluruk ke sini untuk menonton keramaian.
"Jadi kau sembunyi di situ untuk melihat Nyo-toakoh berkelahi dengan Hun Ci-lo, tapi perkelahian mereka sudah bubar, kenapa kau masih sembunyi di situ tidak mau pergi?'"
Demikian tanya Song Theng-siau.
"Ya, memang aku sedang menunggu kau!"
"Menunggu aku? Kau tahu bila aku pasti datang kemari?"
"Waktu terang tanah sebetulnya sudah mau kutinggal pergi, di waktu sampai di kaki bukit, kulihat kau sedang bergoyang gontai di jalan raya menuju ke rumah keluarga Nyo, kuduga tentu kau seperti aku ingin membongkar rahasia kematian Nyo-busu, maka lekas aku kembali-ke sini untuk menunggu kau."
"Kenapa kau harus menunggu aku?"
"Ada sebuah urusan ingin aku mohon bantuanmu, bukankah kau hendak kembali ke Soh-ciu?"
"Kalau benar, kenapa?"
"Bicara terus terang, kedatanganku ke sini adalah mengirimkan surat Beng Goan-cau, dia minta suratnya disampaikan kepada Nyo Bok, lalu mengambil sebuah barang bukti sebagai tanda mata untuk membuktikan bila aku sudah menyelesaikan tugasku. Kau tahu hidupku sudah biasa bebas kelana ke mana suka, bila ada sesuatu persoalan mengikat diriku aku selalu merasa risi dan benci. Jikalau kau sudi bantu aku mengembalikan tanda mata itu kepada Beng tayhiap, maka aku tidak perlu lari jauh-jauh ke sana. Yang jelas kau adalah sahabat karib Beng tayhiap, kalau kau kembali ke Soh-ciu tentu dapat jumpa dengan dia."
"Baiklah, tanda mata apa. coba berikan kepadaku!"
Waktu Song Theng-siau membuka gambar itu, tampak laki-laki yang terlukis dalam gambar itu sahabat karibnya Beng Goan-cau.
Setelah membaca dua bait syair di sebelah pinggirnya, seketika Song Theng-siau berdiri terlongong.
Kwi-hwe-thio tidak tahu bahwa hatinya sedang gundah dan gelisah, katanya dengan tertawa.
"Mirip tidak gambar itu? Inilah buah karya tangan Hun Ci-lo sendiri, kukira Beng tayhiap mau percaya akan tanda mata yang kubawa ini."
Teka-teki yang selama ini mengganggu pikirannya kini sudah terbongkar, Hun Ci-lo mencintai Beng Goan-cau.
Song Theng-siau mengamat-amati Beng Goan-cau dalam gambar itu lalu mengawasi pula Nyo Hoa di hadapannya, tak terasa hatinya jadi rawan dan mendelu.
Gambar orang dalam lukisan dan bocah di hadapannya ini benar-benar mirip seperti pinang dibelah dua.
Secara langsung teka-teki yang lain pun jadi tertebak pula.
"Dia 'adalah putra Beng Goan-cau, dia adalah putra Beng Goan-cau!" --Mendadak Song Theng-siau jadi sadar dan paham duduk perkaranya. Kalau satu dua teka-teki sudah tertebak, namun masih serentetan persoalan yang mencurigakan masih terikat dalam alam pikirannya. Pertanyaan yang terbesar adalah. kalau orang yang dicintai Hun Ci-lo adalah Beng Goan-cau, kenapa ia menikah pula dengan Nyo Bok? Dan lagi, Hun Ci-lo menikah dengan Nyo Bok sudah delapan tahun, meski waktu itu Beng Goan-cau tidak tahu. tapi setelah berselang sekian tahun, paling tidak tentu juga pernah dengar. Kenapa Beng Goan-cau tidak datang mencarinya? Mungkinkah dia tidak tahu bila Hun Ci-lo sudah melahirkan anaknya? Apakah dia seorang yang sudah mengecap manis sepah dibuang? Tidak, karakter Beng Goan-cau tidak seperti itu. Sejak kecil dia adalah sahabat terdekat dengan Beng Goan-cau, dialah yang paling hafal dan tahu sedalam-dalamnya martabat dan watak Beng Goan-cau. Beng Goan-cau adalah seorang laki-laki sejati yang setia akan setiap ucapannya, kecuali dia tidak mau, kalau sesuatu urusan sudah ia setujui tentu dia akan membereskan dengan sempurna. Apalagi terhadap kekasih yang dicintainya? Apalagi, Nyo Bok tidak tahu akan rahasia ini? Apakah mungkin dia sudah tahu akan rahasia ini. maka dia lantas bunuh diri atau hanya pura-pura mati belaka? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Serentetan pertanyaan ini tak kuasa ia menjawabnya sendiri, sehingga hati Song Theng-siau merasa hampa. Sikap Song Theng-siau yang terlongong seperti linglung ini menarik perhatian dan rasa heran Kwi-hwe-thio, sebagai seorang cerdik, lapat-Iapat ia dapat menduga-duga, tapi ia berpikir.
"Entah di antara mereka bertiga ada hubungan apa, yang sangat rumit, yang kukejar adalah membebaskan belenggu yang mengikat diriku, kenapa aku turut campur mengurus tetek bengek."
Segera ia berkata.
"Song tayhiap, tanda mata ini harap kau suka membawanya pulang, kalau kau tiada pesan apa-apa, aku ingin segera pergi."
"Tunggu sebentar, ada sebuah pertanyaan ingin kutanya kepadamu, Beng tayhiap titip surat kepadamu supaya disampaikan kepada Nyo Bok, apakah kau tahu apa yang tertulis dalam surat itu?"
Kwi-hwe-thio menggeleng kepala, sahutnya.
"Song-tayhiap, kau kan tahu Bcng-tayhiap seorang yang tidak suka banyak bicara, dia tidak menjelaskan apa isi suratnya, sudah tentu aku pun tidak berani banyak tanya, lebih-lebih aku tidak berani mencuri baca."
Song Theng-siau sudah menduga orang akan menjawab demikian, soalnya surat itu merupakan kunci yang sangat penting, maka ia ajukan juga pertanyaannya.
Song Theng-siau berpikir sebentar lalu bertanya pula.
"Kapan kau bertemu dengan Bengtayhiap?"
"Satu bulan yang lalu."
"Berapa lama dia kembali ke Soh-ciu?"
"Maaf hal ini tidak pernah kutanyakan kapadanya."
"Paling tidak dia tentu pernah membicarakan diriku dengan kau bukan?"
"Betul, soal itu memang dia pernah bicara sama aku, katanya dia tidak tahu kau kapan akan kembali, tapi dia akan menunggu kau kembali ke Soh-ciu baru dia akan berangkat lagi."
"Baiklah, aku tidak banyak tanya lagi, silakan kau pergi!"
Setelah Kwi-hwe-thio pergi, Song Theng-siau masih berdiri menjublek di pinggir peti mati kosong itu, seperti mabok laksana orang sinting ia terkenang dan memikirkan isi hatinya.
"Kenapa dia mau menikah dengan Nyo Bok? Kenapa dia mau menikah dengan Nyo Bok?"
Song Theng-siau sedang menyelami pertanyaan ini untuk mendapat jawabannya.
Pengalaman lama kembali terbayang dalam benaknya.
Terbayang olehnya di kala dia berpisah dengan Hun Ci-lo.
Tidak lama setelah mereka kembali dari tamasya ke Hang-ciu, terjadilah satu peristiwa yang tidak terduga, karena kejadian itulah maka dia bersama Beng Goan-cau harus berpisah dengan Hun Ci-lo.
Masih segar dalam ingatannya, kejadian pada suatu malam hujan gerimis, karena tidak berhasil mengorek isi hati Hun Ci-lo dia sedang dirundung gundah dan bingung, duduk ongkang-ongkang sambil menikmati gambar-gambar lukisan di atas dinding.
Mendadak Beng Goan-cau seorang diri datang bertandang ke rumahnya.
Memang Song Theng-siau sedang kesepian dan iseng, segera ia bawa temannya itu ke dalam kamar bukunya, tanyanya sambil tertawa.
"Kenapa kau menjenguk aku seorang diri, kenapa kau tidak menemani Hun Ci-lo? Kini kentongan kedua baru lewat, kukira Hun Ci-lo tidak akan tidur sepagi ini."
Maksud kata-katanya adalah menyalahkan temannya ini kenapa tidak ajak Hun Ci-lo datang sekalian. Sahut Beng Goan-cau.
"Ada sebuah persoalan aku ingin berunding dengan kau, sementara ini tidak ingin aku diketahui oleh Hun Ci-lo."
"O, jadi kau punya persoalan yang mengelabui Hun Ci-lo? Apakah yang terjadi?"
Mau tidak mau Song Theng-siau jadi heran dan terkejut. Kata Beng Goan-cau pelan-pelan.
"Untuk soal ini aku ingin mohon bantuanmu. Kim-to Lu Siugun, nama pendekar tua ini kukira kau pernah dengar bukan?"
Song Theng-siau bergelak tawa, katanya.
"Maksudmu Kim-to Lu Siu-gun dari karesidenan Samho di Ih-pak itu? Pendekar tua itu justru adalah paman dekatku. Di masa mendiang ayahku masih hidup beliau punya dua sahabat karib, seorang adalah ayah Ci-lo yaitu Hun Ciong-san, dan seorang yang lain adalah dia itulah. Coba kau lihat gambar ini, inilah buah karya ayahku tiga puluh tahun yang lalu, tiga orang dalam gambar ini adalah mereka. Dulu mereka seperti keadaan kita sekarang ini, sering bergaul bersama."
Waktu Beng Goan-cau menegasi, tampak dalam gambar itu ada tiga pemuda sedang mencongklang kuda di padang rumput, pemuda di sebelah kiri, samar-samar terlihat seperti Song Theng-siau, sudah tentu pemuda dalam gambar itu adalah ayahnya, Song Sip-lun, di pinggir lukisan itu ada sebuah syair yang menggambarkan keadaan dan asal-usul persahabatan mereka bertiga.
Beng Goan-cau menggulung kembali gambar lukisan itu dikembalikan kepada Song Theng-siau, katanya tersenyum.
"Benar, tiga puluh tahun yang lalu, sejarah mereka yang malang melintang bersama pernah kudengar. Tapi, akhirnya ayahmu putus hubungan dengan pendekar tua she Lu itu bukan?"
"Darimana kau bisa tahu?"
Beng Goan-cau tersenyum, sepatah demi sepatah ia berkata.
"Karena Kim-to Lu-lo-enghiong dari Sam-ho itu adalah guruku."
Song Theng-siau berseru kejut, katanya.
"O, jadi kau adalah murid Kim-to Lu Siu-gun, kenapa selama ini kau tidak pernah beritahu kepadaku?"
"Sudah tentu ada sebabnya. Sebab yang kumaksud adalah sebab kenapa akhirnya ayahmu tidak berhubungan pula dengan guruku itu."
"Memang aku ingin sekali tahu "sebab"-nya itu, kuharap kau suka menjelaskan kepadaku."
Beng Goan-cau meneguk secangkir air teh Liong-kin sebagai pelicin tenggorokan, katanya.
"Kalau dibicarakan sangat panjang kisahnya. Baiklah kujelaskan dulu orang macam apa sebenarnya guruku itu."
"Lahirnya guruku membuka Bu-koan (perguruan) menerima murid, seorang guru silat kampungan kecil yang tidak tahu menahu urusan dunia luar, sebenarnyalah beliau adalah seorang patriot bangsa yang melawan pemerintah Boan-ciu."
"Tiga puluh tahun yang lalu, dalam istana raja ada seorang durna bangsa Boan yang bernama Ho Kun, sekarang kalau orang-orang tua lanjut usia membicarakan orang ini, tentu masih kertak gigi dan menyumpah-nyumpah. Kukira kau pun tahu akan hal ini."
"Ya, aku pernah dengar perihal durna yang laknat itu dari beberapa orang tua. Menurut kabarnya semula dia cuma tukang tandu Kian-Iiong, karena wajahnya mirip dengan salah seorang selir Kian-liong yang meninggal, tak berselang lama dari seorang tukang tandu naik pangkat jadi perdana menteri. Setelah menjadi perdana menteri kerjanya cuma menjilat kepada sang junjungan, memeras rakyat jelata dan main bunuh terhadap bangsa Han kita, di mana-mana ia mengumbar kejahatan. Dia berkuasa selama dua puluh tahun, koleksi harta bendanya hasil rampasan dan rampokannya dari rakyat tak terhitung banyaknya, jauh lebih besar dari milik negara. Setelah Kian-Iiong mampus, Ka-ging menerima jabatan, akhirnya dia beri anugerah padanya untuk 'bunuh diri' dan menyegel rumahnya. Maka pada waktu itu ada tersebar luas ucapan rakyat jelata yang mengatakan 'Ho Kun jatuh, Ka-ging kenyang', ujar-ujar ini sampai sekarang masih luas dibicarakan kalangan rakyat jelata."
"Guruku justru sangat benci pada Ho Kun ini, tiga puluh tahun yang lalu, di kala beliau berkelana sama ayahmu dan paman Hun, diam-diam dia sudah membuat rencana untuk membunuh Ho Kun itu secara menggelap. Soalnya dia tidak mau merembet para sahabatnya maka beliau mengelabui ayahmu.
"Sebetulnya guruku sudah mengundang tiga jago kosen untuk meluruk ke dalam istana untuk membunuh Ho Kun, tak diduga tepat tiba pada hari yang sudah direncanakan, yang datang cuma satu orang. Dua orang yang lain entah karena takut atau terjadi urusan lain, akhirnya menyembunyikan diri tidak mau menemuinya. Guruku jadi kewalahan, terpaksa beliau melanjutkan rencana semula bersama seorang kawannya itu dengan menempuh bahaya."
"Akhirnya karena dikerubut sekian banyak musuh, setelah mereka berhasil merobohkan delapan belas jago bhayangkari dari istana raja, mereka sendiri pun kena tcrluka. Guruku rada beruntung, luka-lukanya tidak membahayakan jiwanya, adalah sahabat yang membantunya itu tak beruntung akhirnya meninggal karena luka-lukanya yang berat.
"Sahabatnya yang tidak beruntung dan akhirnya meninggal itu adalah ayahku."
Song Theng-siau menaruh hormat, katanya.
"Jadi kau keturunan patriot bangsa melawan penjajah, baru sekarang aku tahu."
"Peristiwa ini terjadi pada dua puluh empat tahun yang lalu, waktu itu aku belum dilahirkan, aku adalah putra dalam kandungan ibuku, tahun kedua baru aku lahir."
"Setelah usaha pembunuhan itu gagal, malam itu juga guruku bersama ibuku meninggalkan Pak-khia, masuk gunung dan sembunyi di sana. Tahun kedua begitu aku lahir guruku lantas menerima aku sebagai muridnya. Suhu, suhu, guruku memang sesuai benar dengan namanya, sebagai guru menjadi ayah pula, dengan kedua tangannya itu beliau mendidik dan mengasuh aku sampai besar."
"Peristiwa ayahmu membunuh Ho Kun, apakah paman Hun mendapat tahu?"
"Paman Hun sudah tentu tahu."
Song Theng-siau mengerut kening, katanya.
"Kenapa hanya mengelabui ayahku seorang?"
"Bukan guruku suka membeda-bedakan hubungan satu sama lain, adalah karena asal-usul dan kedudukan ayahmu dengan paman Hun berlainan."
"Apanya yang berbeda?"
"Secara rahasia paman Hun juga menjadi salah satu anggota dari patriot bangsa melawan penjajah, di waktu guruku membuat rencana untuk membunuh Ho Kun sebetulnya ingin mengundang dia supaya membantu, tapi karena saat itu paman Hun mempunyai tugas rahasia lain yang tidak kalah pentingnya, jadi kurang leluasa ikut dalam usaha itu, apalagi bila asal-usul dan wajahnya sampai diketahui musuh. Maka akhirnya guruku membatalkan niatnya, setelah berusaha beberapa tahun kemudian baru dia memperoleh pembantu yang benar-benar dapat diandalkan.
"Pertama karena ayahmu tidak menjadi anggauta, kedua beliau pun seorang hartawan dari Soh-ciu yang kenamaan, punya harta, punya keluarga maka guruku dan paman Hun tidak mau sampai merembet pada beliau. Setelah gagal membunuh Ho Kun guruku jadi buruan pemerintah, maka dia harus hati-hati bertindak supaya orang tidak tahu akan hubungan karibnya dengan ayahmu. Itulah sebabnya kenapa beliau selalu menghindar diri untuk bertemu muka dengan ayahmu."
"Sebetulnya meski ayahku tidak menjadi anggota, tapi beliau pun membenci penjajah Boan-ciu. Bukan aku suka menempel lapisan emas di muka ayahku, mengandal ilmu silat dan kepandaian sastranya, sebetulnya dapat ikut ujian mendapat pangkat dan kedudukan yang tinggi, entah sebagai pembesar sipil atau pembesar militer. Tapi dia lebih suka hidup bertani di kampung halaman, dari sini dapatlah membuktikan akan jiwanya yang luhur dan terbuka."
"Aku tahu. Kalau tidak masa guruku dulu bisa bersahabat dengan ayahmu, demikian juga akhirnya paman Hun harus mencari perlindungan kepada ayahmu."
Perasaan Song Theng-siau jadi rada longgar, katanya tertawa.
"Meski gurumu tidak memberi tahu ayahku, tapi menurut dugaanku, rahasia gurumu akhirnya diketahui juga oleh ayahku. Lihatlah bait syair di bawahnya, di mana ada disebut beberapa tokoh pembunuh gelap pada jaman kuno yang kenamaan, bukankah secara tidak langsung menggambarkan peristiwa pembunuhan Ho Kun yang gagal oleh gurumu itu. Menurut hematku, memang sengaja ayahku memilih syair ini bukan karena ayahku secara kebetulan kelahiran Sam-ho dan mengenang pengalaman lama mereka bertiga."
"Benar, makna syair ini memang ada mengandung arti seperti yang kau katakan."
Kata Goancau. Sementara dalam hati ia membatin.
"Mungkin setelah paman Hun datang baru memberitahukan persoalan guruku itu kepadanya."
Beng Goan-cau melanjutkan.
"Setelah guruku jadi buronan pemerintah, bukan saja pihak istana hendak membekuk dia, malah menyelidiki semua komplotannya. Hubungan paman Hun dengan guruku meski serba rahasia cuma kabar berita di luaran terlalu santer, betapapun harus berjaga dari segala kemungkinan. Apalagi paman Hun merupakan salah seorang tokoh penting dari salah satu anggota patriot bangsa melawan penjajahan itu, setelah tidak bisa menetap di lima propinsi daerah utara, terpaksa membawa istri dan putrinya hijrah ke selatan serta minta perlindungan ayahmu."
"Lalu kau bagaimana, kau pun melarikan diri karena persoalan yang sama?"
"Boleh dikata demikian, tapi juga ada sebab lainnya."
"Bagaimana duduk perkara sebenarnya?"
"Aku tidak lebih cuma kaum keroco yang baru menongolkan kepalaku, belum sempat menjadi incaran pihak istana sebagai tokoh penting dalam melawan penjajah. Tapi aku mendapat perintah dari guruku untuk datang ke tempat kalian ini, bila dikatakan untuk menghindari kesulitan juga bolehlah dikatakan demikian."
"Kini aku harus kembali pada persoalan pertama, setelah Ho Kun ditumpas oleh Ka-ging, guruku beranggapan kejadian sudah sekian tahun lamanya, belum tentu pihak istana masih begitu ketat mengawasi segala gerak-geriknya, maka beliau jadi rada lena dan kurang waspada, tak terduga jejaknya dapat diendus oleh pihak pemerintah, beberapa tahun belakangan ini, hidupnya selalu dalam pelarian."
"Tiga tahun yang lalu. Dasar ilmu silat perguruan kami baru saja dapat kupelajari. Pada suatu hari guru lantas berkata kepadaku. 'Bukan aku tidak suka kau berada di dampingku, segala waktu aku bisa ketimpa malang yang tidak terduga sebelumnya. Kau adalah satu-satunya keturunan keluarga Beng yang masih ada, jikalau sampai ikut ketimpa bencana bersama aku, bagaimana aku harus memberi pertanggungan jawab pada arwah ayahmu? Maka aku ingin kau pergi ke suatu tempat untuk menyelamatkan diri sementara waktu.'"
"Sudah tentu aku tidak mau menurut pesannya, tapi guruku berkata lagi. 'Mengandal ilmu silatmu sekarang, kau tidak akan bisa banyak membantu kesulitanku, adalah lebih baik setelah kepan-daianmu jadi sempurna baru kau kembali membantu aku. Di sana ada dua sahabat kentalku, setelah berada di sana tak perlu kau buron sana lari sini ikut menderita secara langsung kau bisa memperoleh petunjuk mereka pula yang berharga, belajar dan berlatih dengan tekun dan rajin, sudah tentu jauh lebih gampang dibanding sekarang ini. Kau harus dengar dan patuh akan ucapanku.'"
"Perintah guru sukar ditampik, apa boleh buat terpaksa aku menurut saja akan semua pesannya. Baru setelah itu guruku menyebut nama ayahmu dan paman Hun, malah dia pun menambahkan. 'Aku pun sangat ingin tahu berita kedua kawan lamaku ini, tapi aku tidak bisa ke sana menjenguk mereka, karena itu kau harus ke sana untuk mengetahui keadaan mereka'. Paman dan bibi Hun waktu kecil aku pernah melihatnya, guruku menyuruh aku mengaku sebagai famili dari keluarga Hun, datang untuk minta perlindungan, maklum peperangan sudah terjadi di mana-mana. Tapi tak nyana paman Hun dan ayahmu sudah meninggal, kedatanganku sangat terlambat, tak bisa aku bertemu dengan mereka."
"Namun meski aku tidak beruntung dapat bertemu dengan kedua paman ini, hubungan kental kita dari generasi mendatang kiranya tidak kalah erat dan intimnya dari mereka, selama tiga tahun ini, aku, kau dan Ci-lo laksana saudara sepupu saja bukan?"
"Waktu pertama kali datang, aku takut merembet kau, maka tidak berani memberitahukan asalusulku yang sebenarnya kepadamu, tapi aku selalu berharap dan menunggu kesempatan untuk memberitahukan hal ini kepadamu. Sekarang tibalah saatnya aku harus memberi-tahu segalagalanya kepadamu."
Girang dan haru pula perasaan Song Theng-siau, dengan kencang ia genggam tangan Beng Goan-cau, katanya tersendat.
"Banyak terima kasih, Beng-heng. Terima kasih akan kepercayaanmu kepadaku, kau beberkan semua rahasia kepadaku."
Mendengar ucapannya ini, tak urung diam-diam Beng Goan-cau merasa menyesal dalam hati, ternyata dia masih mempunyai suatu rahasia yang masih mengelabui Song Theng-siau, meskipun rahasia itu termasuk rahasia pribadinya.
Sebenarnya dia ada mengesampingkan satu persoalan, di waktu gurunya menyuruhnya datang menetap di rumah Hun, ada pernah berpesan wanti-wanti kepadanya.
"Berkorban hidup demi keadilan dan kebenaran adalah sepak terjang kaum cendekia dan patriot bangsa seperti kita. Tapi kau adalah keturunan keluarga Beng satu-satunya, kuharap setelah kau menikah dan mempunyai anak, baru kuijinkan kembali untuk berjuang berdampingan denganku, bahagia atau ketimpa bencana diresapi bersama. Paman Hunmu punya seorang putri, kuharap kau dapat menikah dengan dia."
Gurunya ada menulis sepucuk surat menyuruhnya menyerahkan langsung kepada paman Hun, dalam suratnya itu ia ada menyinggung maksudnya itu.
Ayah Hun Ci-lo sudah meninggal, adalah ibunya sudah pernah membaca surat itu.
Sebelum Beng Goan-cau datang, calon mantu yang dipenujui dalam hati Hun-hujin sebetulnya adalah Song Theng-siau, soalnya usia mereka pada waktu itu masih kecil, maka tidak pernah ia menyinggung soal perjodohan.
Setelah Beng Goan-cau datang, sepihak karena isi surat itu, meski Kim-to Lu Siu-gun tidak secara terang-terangan menjelaskan, tapi secara tidak langsung sudah mencurahkan harapan hatinya, semoga muridnya ini dapat memperoleh jodoh yang setimpal.
Mengharap supaya Hun-hujin suka membantu untuk menyempurnakan cita-citanya.
Ini jelas bahwa secara tidak langsung suratnya itu meminang putrinya untuk dijodohkan dengan muridnya.
Hubungan Kim-to Lu Siu-gun dengan keluarga Hun bukan hubungan biasa, kalau toh dia sudah mengajukan lamaran bagi muridnya, tidak bisa tidak Hun-hujin harus mempertimbangkan secara mendalam.
Pihak kedua, watak Beng Goan-cau tegas lurus dan penuh keyakinan, sifatnya jujur dan polos lagi.
sebaliknya Song Theng-siau suka membawa adatnya sebagai anak hartawan yang serba mewah, kalau dibandingkan.
Hun-hujin jauh lebih tertarik dan penujui perangai dan martabat Beng Goan-cau.
Ada dua persoalan yang berhubungan erat satu sama lainnya ini, lambat laun Hun-hujin mulai meru-bah sikap dan haluan, dia serahkan keputusan terakhir kepada putrinya untuk memilih sesuka hatinya.
Tapi meski dia tidak campur tangan dalam keputusan terakhir ini, toh secara diam-diam ia rada memberi angin dan memberi peluang bagi Beng Goan-cau.
Pengaruh seorang tua terutama seorang ibu kepada putrinya adalah teramat besar, meski pemberian angin dan peluang ini tidak memberikan bekas-bekas yarig nyata, tapi putrinya secara langsung akan merasakan secara wajar.
Oleh karena itu.
akhirnya Hun Ci-lo memang jatuh cinta kepada Beng Goan-cau, walaupun bukan karena pengaruh ibunya, tapi hal-hal itu merupakan unsur-unsur kesuksesan yang tidak bisa dikesampingkan begitu saja.
Tiga tahun kemudian setelah Beng Goan-cau berada di Soh-ciu.
sebetulnya secara diam-diam antara Beng Goan-cau dengan Hun Ci-lo sudah ada sumpah setia sebagai suami istri, tapi karena mereka tidak tega membuat Song Theng-siau berduka, maka sementara mereka mengelabuinya.
Kini Song Theng-siau mengenang kejadian malam itu kembali, tanpa merasa ia tertawa getir dalam hati.
pikirnya.
"Semula kuanggap Goan-cau sudah mencurahkan seluruh isi hatinya kepadaku, siapa tahu ternyata ia masih menyembunyikan satu rahasia besar kepadaku. Ai, kecewa aku mengagulkan diri sebagai pelajar yang cerdik pandai, sebetulnyalah aku begitu goblok seperti babi. mereka sudah sumpah setia dan mengikat janji sebagai suami istri, adalah aku masih main raba dan menebak-nebak."
Hatinya gundah pikiran pun kalut.
Teringat akan kejadian malam itu.
Song Theng-siau jadi merasa bahwa dirinya kena dipermainkan begitu runyam.
Sebab bukan saja ia sudah dikelabui, malah dia anggap dirinya adalah orang yang paling mengenal perangai dan sifat-sifat Hun Ci-lo.
Malam itu.
Beng Goan-cau ada menuturkan tentang hubungan dirinya dengan kedua keluarga Hun dan Lu.
serta sebab musabab kenapa ia sampai meluruk datang ke Soh-ciu.
semua itu sudah jelas bagi Song Theng-siau, lalu Song Theng-siau berkata.
"Tadi kau mengatakan ada sesuatu hal yang mohon ban-tuanku. entah perihal apa yang kau maksud?"
"Sebuah hal yang ada sangkut pautnya dengan guruku."
Sahut Goan-cau. Song Theng-siau girang, tanyanya.
"Kau sudah memperoleh kabar dari gurumu?"
"Benar. Hari ini ada seorang murid Kaypang yang datang membawa kabar dari sunio kepadaku, beliau minta aku segera kembali."
"Kenapa kabar dari suniomu, bagaimana dengan suhumu?"
"Dia orang tua terluka parah, kabarnya keadaannya sudah sangat payah tinggal menunggu waktu saja."
Song Theng-siau terkejut, serunya.
"Kepandaian silat Kim-to Lu Siu-gun teramat tinggi, siapakah yang mampu melukainya?"
"Seorang gagah tak kuasa menghadapi orang banyak, jejak beliau ketahuan oleh sepasukan berkuda, setelah dikerubuti tujuh jagoan kelas tinggi dari istana raja, dengan mati-matian ia bertempur dan berhasil menerjang keluar kepungan. Tapi luka-luka yang dia derita pada tubuhnya jauh lebih parah dibanding waktu dia membunuh Ho Kun dulu."
Beng Goan-cau melanjutkan.
"Sunio mendesak aku segera pulang, maksudnya supaya aku bisa bertemu muka pada penghabisan kalinya dengan suhu. Tapi yang kukuatirkan bukan melulu keadaan suhu saja!"
Sebagai seorang cerdik, apa yang terpikir oleh Beng Goan-cau sudah tentu dia pun dapat memikirkannya, katanya.
"Keadaan suniomu sekarang tentu teramat berbahaya. Sudah semestinya dia memerlukan bantuan seorang murid yang dapat dipercaya."
Beng Goan-cau manggut-mang-gut, ujarnya.
"Justru karena soal itulah, maka aku harus mendapat bantuanmu. Seluruh keluarga guruku, sekarang sama sembunyi di Ki-lian-san, tempat sembunyi itu meski sangat rahasia, bukan mustahil bisa ketahuan oleh musuh juga. Guru sedang luka parah, sute dan su-moay masih berusia kecil, seorang diri masa sunio mampu melawan musuh? Umpama aku sempat datang juga mungkin tidak kuasa melindungi keselamatan mereka. Apakah kau sudi membantu kesulitanku ini?"
"Kim-to Lu Siu-gun merupakan pamanku juga, meski aku belum pernah ketemu dengan beliau, sejak lama aku sudah kagum dan kangen padanya. Kini dia sedang mengalami kesukaran, jiwa terancam lagi. masa aku tega berpeluk tangan? Beng-heng, apapun yang kau katakan ini seolaholah anggap aku orang luar saja."
"Banyak terima kasih akan kesediaanmu ini, biarlah aku bicara secara gamblang saja, bagaimana kalau besok juga, kita lantas berangkat?"
"Menurut hematku masih ada seorang yang bisa kita ajak sekalian."
"Siapa?"
Song Theng-siau rada kurang senang, katanya.
"Kau sudah tahu sengaja tanya lagi. Tentunya Hun Ci-lo yang kumaksud! Beng-heng, persoalan ini sebetulnya kau jangan mengelabui dia, kita kan tri tunggal, kau boleh memberi tahu padaku, kenapa tidak boleh memberitahu kepadanya?"
"Aku tidak ingin dia ikut kena perkara, lain dengan kau dia adalah anak perempuan..."
"Kali terlalu pandang enteng Hun Ci-lo,"
Cepat Song Theng-siau menukas.
"Dia adalah seorang Srikandi, jangan kau samakan dia dengan perempuan umumnya! Ilmu silatnya tidak di sebelah bawah aku atau kau, betul-betul seorang pembantu yang paling baik, kenapa kau tidak undang dia?"
"Ini, ini... ai,"
Beng Goan-cau tergagap tak mampu bicara.
"Kau tidak tahu, bukan saja aku tidak ingin dia tersangkut, apalagi, apalagi..."
"Apalagi apa?"
"Kalau terdesak terpaksa aku harus beritahu kepadanya,"
Diam-diam Beng Goan-cau membatin dan ambil putusan. Sambil kertak gigi, ia berkata.
"Apalagi seumpama kuundang dia belum tentu dia sudi ikut sama kita!"
Song Theng-siau tertawa, katanya.
"Hun Ci-lo tidak mau pergi! Haha! Ucapanmu ini rasanya terlalu ceroboh dan tanpa pertimbangan, darimana kau bisa tahu bila dia tidak mau pergi? Bengheng, bukan aku suka mengunggulkan diri, perangainya aku jauh lebih paham dari kau."
Sebetulnya Beng Goan-cau hendak memberitahu rahasia Hun Ci-lo kepadanya, tapi mendengar ucapan Song Theng-siau ini, terpaksa ia telan kembali. Katanya.
"Aku cuma menduga-duga saja, kupikir mereka ibu beranak hidup saling memerlukan, belum tentu Ci-lo tega meninggalkan ibunya."
Tak terasa Song Theng-siau bergelak tawa mendengar alasannya ini. Beng Goan-cau jadi dongkol, katanya.
"Song-heng menertawakan dugaanku yang tidak berdasarkan alasan yang tepat?"
"Untuk itu tidak bisa salahkan kau, kau cuma tiga tahun bergaul dengan Ci-lo, adalah aku sejak kecil dibesarkan bersama, terhadap perangai, watak dan karakternya sudah tentu aku jauh lebih jelas dari kau. Jangan kau anggap sikapnya yang lemah lembut itu, lantas kau anggap dia seorang nona aleman yang tidak tega meninggalkan ibunya, bahwasanya justru dia sangat merasa sebal hidup dalam pengasingan yang sepi ini, sejak lama dia sudah ingin berkelana, keluar menerjang berbagai kesulitan hidup nan luas ini. Bukan saja dia memiliki perangai yang hangat dan lembut, dia pun punya jiwa ksatria yang gagah berani. Kau paham belum?"
Sikap Beng Goan-cau kaku tanpa ekspresi, sahutnya.
"Sudah paham, sudah paham. Tapi aku tidak ingin pergi mengundangnya."
"Kalau kau merasa rikuh mengundang dia, biar aku mewakili kau. Sekarang belum lewat kentongan ketiga, mungkin Ci-lo belum lagi tidur. Kau tunggu aku di sini, sebentar aku kembali.
"Baiklah, baik juga kau pergi coba-coba!"
Hujan gerimis masih terus berlangsung, membawa hatinya yang berkobar dan semangat yang menyala-nyala, sambil berlari-lari kecil Song Theng-siau menempuh hujan meluruk ke rumah Hun Ci-lo dan memanggilnya keluar.
Tak nyana sesuai dengan dugaan Beng Goan-cau, bujuk punya bujuk Hun Ci-lo tetap tidak mau ikut mereka pergi.
Mereka berdiri berendeng di teras dalam taman bunga, selama itu Hun Ci-lo diam saja mendengarkan penjelasannya.
Lampu lampion di teras sebelah pojokan sana tergoyang gontai terhembus angin malam, tapi dari cahaya sinar lampion yang remang-remang itu masih dapat terlihat jelas sikap dan segala gerak-gerik Hun Ci-lo.
Hun Ci-lo seperti pulas dalam impiannya, kedua matanya mende-long lurus ke depan entah apa yang dilamunkan.
Agaknya dia terkejut oleh berita yang sangat mendadak ini, gugup dan menjadi hampa pula.
Kadang kala saja ia ikut menimbrung beberapa patah.
"Kau kemari bukan suruhan Beng Goan-cau bukan?"-"O, jadi besok benar-benar hendak berangkat?"
Reaksi yang dihadapi sama sekali berbeda dengan dugaan sebelumnya, sedikit pun ia tidak kelihatan terharu, berat dan tidak terpengaruh sedikit pun.
Waktu Song Theng-siau selesai memberi penjelasan, tampak tanah di sekitar kakinya penuh ditaburi kelopak kembang.
Ternyata sambil mendengar penjelasannya, Hun Ci-lo, di luar kesadarannya, meremas-remas kelopak-kelopak kembang mawar, entah berapa banyak kuntum kembang mawar yang sudah dihancurkannya.
Song Theng-siau teramat gelisah, tanyanya.
"Sebetulnya kau mau ikut atau tidak?"
Dengan tertekan Hun Ci-lo menyahut.
"Aku ingin pergi, sayang aku tidak bisa pergi!"
"Kenapa?"
"Tidak kenapa-kenapa. Ayahku sudah meninggal, aku harus menjaga ibuku. Berat rasanya meninggalkan beliau."
Ai, kiranya jawabannya persis seperti dugaan Beng Goan-cau.
"Hm, kukira kau adalah Srikandi yang gagah berani, siapa kira tindak tandukmu tepat seperti yang dikatakan oleh Beng Goan-cau, ternyata nona pingitan yang berat meninggalkan ibunya!"
Selamanya Song Theng-siau belum pernah mengumbar amarahnya kepada Hun Ci-lo, kali ini adalah yang pertama kali. Pecah tangis Hun Ci-lo, katanya sesenggukan.
"Terserah apa yang kau katakan, untuk selanjutnya kau tidak usah hiraukan diriku."
Sambil berlari masuk kamar.
"biang"
Ia tutup pintunya terus dikunci dari dalam.
Di bawah jendelanya Song Theng-siau mengeluarkan banyak kata-kata bujukan, entah berapa lamanya Hun Ci-lo baru menghentikan tangisnya, terdengar suaranya berkata.
"Kau jangan banyak curiga, aku tidak salahkan kau. Kita masih sebagai sahabat karib. Aku cuma benci pada diriku kenapa aku tidak bisa ikut pergi. Sekarang cuaca hampir terang tanah, mungkin Goan-cau sudah tidak sabar menunggu kau, lekaslah kau pergi menemuinya!"
Mimpi pun tidak nyana beginilah akhirnya, kalau datangnya Song Theng-siau membawa semangat yang menyala-nyala, kembalinya menjadi lesu seperti jago yang kalah di medan laga.
Sungguh ia menyesal kenapa tadi dia marah-marah kepada Hun Ci-lo, lebih menyesal pula akan kecerobohan dirinya.
Mengawasi Nyo Hoa di hadapannya ini, dalam hati ia berpikir.
"Ternyata pada waktu itu perutnya sudah mengandung anaknya Beng Goan-cau, sudah tentu tidak bisa salahkan dia tidak mau ikut pergi."
Setelah perutnya kenyang, melihat Song Theng-siau masih berdiri menjublek seperti kehilangan semangat, mematung tidak bergerak, hati Nyo Hoa jadi kesal dan waswas, katanya.
"Paman Song, bukankah kau sudah berjanji hendak membawa aku mencari ibu?"
"Benar, aku hendak membawa kau. Tapi kau baru saja habis makan, tidak baik melanjutkan perjalanan, istirahat sebentar lagi."
Kenangan lama kembali terbayang dalam benaknya, karena Nyo Hoa merengek hendak mencari ibunya, teringat olehnya pada tiga tahun yang lalu di kala dia kembali ke Soh-ciu dengan tujuan hendak menemui Hun Ci-lo.
Sebelumnya dia sudah berjanji dengan Beng Goan-cau, bilamana gurunya beruntung tidak sampai ajal, setelah gurunya sembuh mereka akan segera dapat kembali.
Sebaliknya bila gurunya meninggal, maka dia harus mengantar keluarga gurunya menuju ke Siau-kim-jwan.
Karena di Siau-kim-jwan sana ada laskar gerilya.
Pemimpin dari laskar gerilya ini adalah Leng Tiat-jiau dan Siau Ci-wan, kedua orang ini adalah sahabat karib gurunya.
Pendeknya, bila tiada terjadi sesuatu di luar dugaan, paling cepat setengah tahun, paling lama satu tahun mereka bakal bisa kembali ketemu lagi dengan Hun Ci-lo.
Tak nyana, sekali mereka pergi lima tahun kemudian baru kembali, waktu berangkat adalah sepasang teman karib, di kala pulang cuma dia seorang diri.
Malah waktu dia tiba di rumah keluarga Hun, keadaan gedung kediamannya masih tetap seperti sedia kala, cuma penghuninya sudah kosong.
Selama lima tahun ini, penghidupan yang dialaminya adalah sedemikian tegang dan penuh mara bahaya, begitu tegangnya sampai-sampai ada kalanya dia tidak sempat mengenang Hun Cilo.
Waktu berangkat dari Soh-ciu mereka menempuh perjalanan siang malam, setiba di Ki-lian-san kebetulan masih sempat bertemu muka dengan guru Beng Goan-cau.
Waktu itu Beng Goan-cau berlutut di depan pembaringan gurunya dengan lirih ia mengucapkan beberapa patah kata, entah apa yang diucapkan tidak terdengar jelas cuma lapat-lapat Song Theng-siau ada mendengar 'cita-cita kau orang tua sudah terlaksana' dan beberapa patah kata lain yang dia tidak mengerti.
Setelah mendapat laporan muridnya, rona wajah Lu Siu-gun kelihatan senang dan berseri tawa lebar, sambil menunjuk putrinya, ia berkata kepada Song Theng-siau.
"Aku bersahabat dengan ayahmu, aku bisa melihat kau, seperti juga melihat ayahmu, aku sangat senang. Tapi mungkin aku tidak bisa bicara tentang pengalaman yang lalu dengan kau, kedua putra putriku ini, harap kau bersama Goan-cau suka memberi bimbingan dan perlindungan."
Melihat Lu Siu-gun mengulum senyum lebar, semangatnya banyak pulih kembali, mereka sama mengira bahwa dia ada harapan sembuh kembali, tak kira setelah memberikan pesan-pesannya yang perlu, tiba-tiba kedua kakinya menjulur lurus, saat mana juga beliau telah meninggal.
Secara kenyataan Lu Siu-gun meninggal, sudah tentu mereka tidak bisa segera kembali ke Sohciu, terpaksa melaksanakan rencana kedua yaitu mengantar keluarga Lu Siu-gun menuju ke Siaukim-jwan.
Tapi sebelum mereka berangkat, secara tak terduga-duga mereka mengalami kejadian diluar dugaan Sebetulnya bukan 'di luar dugaan', seharusnya siang-siang sudah mereka duga sebelumnya, sebab cakar alap-alap pihak istana raja sudah menemukan jejak Lu Siu-gun, sekali tidak berhasil membekuk dia, kena dirugikan besar-besaran lagi, sudah tentu mereka tidak akan berhenti di tengah jalan, mereka masih mengerahkan kaki tangannya yang tersebar di mana-mana untuk mengejar buronan penting ini.
Secara kebetulan justru mereka berdua kebentur dengan peristiwa macam itu, yaitu bentrok dengan para jagoan kosen dari istana raja yang untuk kedua kalinya meng-grebek tempat sembunyi mereka.
Hari itu kebetulan adalah hari ketiga setelah wafatnya Lu Siu-gun, untung mereka sudah mengebumikan Lu Siu-gun, kalau tidak terjadi peristiwa yang di luar dugaan ini, menurut rencana hari kedua mereka sudah akan berangkat.
Para jagoan istana yang meluruk datang kali ini ada lima orang, ke lima orang ini sama pernah ikut dalam penggrebekan Lu Siu-gun yang pertama kali dulu.
Penggrebekan pertama kepada Lu Siu-gun tempo hari ada tujuh jagoan kosen, untung dua di antaranya yang berkepandaian paling tinggi luka-lukanya masih belum sembuh, mereka tidak ikut datang, kalau tidak, malam itu, bagaimana akibatnya sulitlah dibayangkan.
Pihak musuh pun mempunyai perhitungan yang matang, dulu mereka bertempur mati-matian melawan Lu Siu-gun sampai kedua pihak sama jatuh korban dan terlu-ka parah, tapi luka-luka yang diderita Lu Siu-gun jauh lebih berat, meski tidak segera mampus, kiranya juga tidak akan mampu melawan lagi.
Menurut anggapan mereka paling-paling mereka harus menghadapi istri Lu Siu-gun saja, maka meski mereka kurang dua jagoan yang paling tinggi kepandaiannya, toh masih memberanikan diri meluruk datang.
Adalah rekaan mereka hanya tepat separuh saja, memang Lu Siu-gun sudah wafat, tapi justru pihak sini kedatangan rjua bantuan Beng Goan-cau dan Song Theng-siau, dua pemuda seperti anak domba yang tidak takut menghadapi harimau.
Untung pihak musuh dikurangi dua jagoan kosen, maka pihak keluarga Lu baru bisa beruntung memperoleh kemenangan.
Tapi meski demikian, Beng dan Song dua orang di dalam pertempuran sengit itu boleh dikata hampir saja mereka gugur.
Peristiwa itu sudah berselang beberapa tahun yang lalu, teringat akan pertempuran sengit malam itu, hati Song Theng-siau masih berdebar keras.
Lu Siu-gun mempunyai dua anak, seorang putra dan putri.
Putrinya bernama Lu Su-bi, tahun itu berusia lima belas, putranya bernama Lu Su-hou.
usianya jauh lebih kecil, cuma sembilan tahun.
Malam itu hanya putra terkecil dari keluarga Lu ini saja yang tidak terjun ke dalam medan laga.
Pihak sini ada empat, jadi empat lawan lima, memang jumlahnya masih kalah dari pihak musuh, tapi Beng Goan-cau dan Song Theng-siau baru pertama kali ini benar-benar menghadapi musuh tangguh.
Terutama Lu Su-bi, meski masih merupakan bocah kecil yang tenaganya belum lagi matang, dengan ajaran keluarganya yang hebat yaitu Pat-kwa-yu-sin-to-hoat, ilmu golok yang baru saja berhasil dia pelajari.
Keempat orang ini hanya Lu-hujin seorang yang sudah biasa menghadapi pertempuran yang menegangkan urat syaraf ini, tapi dia baru saja kematian suami, sudah tentu tenaga dan semangatnya banyak berkurang.
Dalam pertempuran sengit itu, Song Theng-siau sendiri tidak tahu berapa banyak ia kena terluka, luka-lukanya itu pun tidak terasakan sakit sama sekali, tahunya cuma bertempur matimatian dan kalap, ganyang dan bunuh semua musuh-musuhnya.
Dari tengah malam mereka berhantam sampai terang tanah, baru pertempuran sengit itu berakhir.
Kelima jagoan kosen dari istana pemerintah sama dapat ditumpas di alas pegunungan itu.
Jiwa mereka melayang tanpa ada tempat liang kubur.
Setelah Song Theng-siau menyaksikan musuh terakhirnya kena dirobohkan, baru dia sempat menarik napas lega, tapi begitu perasaan menjadi longgar, ia sendiri pun tak kuat bertahan lagi, jatuh semaput.
Setelah peristiwa itu berselang, baru Song Theng-siau tahu bahwa badannya kena tiga tabasan golok yang cukup berat, di samping itu kena sekali pukulan Thi-sa-ciang, tertusuk piau terbang musuh yang dilumuri racun jahat lagi.
Luka-luka golok sih gampang diobati, adalah pukulan Thi-sa-ciang itu telah menggetar luka isi perutnya, lebih liehay pula senjata rahasia beracun itu, karena senjata rahasia itu sudah direndam dalam racun air Khong-ciok-tam dan Ho-ting-ang, racun ini tidak bisa disembuhkan dengan sembarangan obat pemunah umumnya.
Mungkin memang ajal Song Theng-siau belum sampai, hari kedua secara kebetulan datang seorang murid Kaypang yang bertandang hendak menemui Lu-hujin, orang ini bernama Goan Ittiong, murid dari Kaypang Pangcu sekte utara Tiong Tiang-jong.
Murid-murid Kaypang banyak yang pandai menggunakan racun dan memunahkan racun, Goan It-tiong ini pun punya hubungan intim dengan Bu-ay Siansu, pemuka dari Cap-pwe-lo-han yang kenamaan dari Siau-lim-pay.
Untung dia membawa tiga butir Siau-hoantan dari pemberian Bu-ay Siansu, menggunakan ajaran pengobatan pihak Kaypang yaitu tusuk jarum memunahkan racun ia sedot dan membubuhi obat pula bagi luka-luka Song Theng-siau, pula ia berikan sebutir Siau-hoan-tan untuk menambah tenaga dan memulihkan hawa murninya, karena pertolongan yang tepat dan mujarab ini baru jiwanya dapat diselamatkan.
Meski demikian, Song Theng-siau harus berbaring tiga hari tiga malam di atas ranjang baru siuman kembali.
Tatkala itu Goan It-tiong sudah pergi, dari penuturan Lu-hujin, baru dia tahu bahwa siapa yang telah menolong jiwanya.
Bahwa luka-luka Song Theng-siau sudah amat berat, tapi luka-luka yang diderita Beng Goancau jauh lebih parah lagi.
Luka di seluruh tubuh Beng Goan-cau sulit dihitung, kalau dikatakan seluruh badan babak belur kiranya tidak berkelebihan.
Yang paling berbahaya dan paling mengancam jiwanya adalah tiga belas batang Bwe-hoa-ciam beracun yang mengenai tubuhnya, ketiga belas jarum-jarum lembut ini tersebar mengenai berbagai jalan darah di tubuhnya.
Murid Kaypang Goan It-tiong sendiri sampai kewalahan dan tidak mampu menyembuhkan lukaluka yang kena tertusuk jarum pada jalan darahnya, terpaksa ia tinggalkan kedua butir Siau-hoantan dan satu resep obat kepada Lu-hujin, terus pamitan karena masih ada tugas-tugas lain yang harus dia kerjakan.
Entah karena perawakan Beng Goan-cau yang tegap dan kuat, atau karena cara perawatan yang tekun dan pengobatan yang tepat, setelah tujuh hari tujuh malam dia pingsan tidak sadarkan diri, ternyata tidak mati, sebaliknya kembali siuman dan hidup lagi.
Bahwa Beng Goan-cau dapat luput dari kematian dan hidup kembali, memang berkat kedua unsur yang dikisahkan di atas, tapi yang terbesar adalah karena jasa-jasa Lu Su-bi.
Dalam tujuh hari tujuh malam itu, Lu Su-bi tidak mengenal lelah, siang malam merawatnya sampai sembuh, dengan besi semberani menyedot keluar jarum yang menusuk ke dalam jalan darahnya, menggodok obat serta melolohkan-nya, sehari tiga kali mengunyah obat pil lalu dijejalkan ke mulutnya pula.
Dan yang lebih mengagumkan dan mengharukan, dengan mulutnya yang kecil mungil itu ia menyedot keluar darah beracun pada luka-luka Beng Goan-cau.
Sudah tentu sikap baik Lu Su-bi ini bukan saja cuma terhadap suhengnya, terhadap Song Theng-siau pun demikian.
Setelah setengah tahun berbaring dan dirawat serta diobati dengan tekun baru luka-luka mereka sembuh seluruhnya.
Untunglah ada Lu Su-bi yang menjadi teman dan selalu ajak mereka bicara sebagai pelipur lara, sehingga selama setengah tahun itu mereka tidak merasa kesepian, penyakit pun sembuh lebih cepat dari dugaan semula.
Karena bukan saja Lu Su-bi sudah memperlihatkan pengabdiannya yang luar biasa, adalah dia pula yang telah memberi semangat dan kekuatan.
Walaupun seluruh sanubari Song Theng-siau sudah diarahkan kepada Hun Ci-lo, namun sedikit pun tidak menjadi halangan akan kenangannya terhadap Lu Su-bi.
Setiap kali ia terbayang pada nona kecil yang lincah dan pintar ini, hatinya pun menjadi hangat dan gembira.
Dikatakan Lu Su-bi memberikan semangat dan kekuatan bukan berarti bahwa mereka berdua sudah jatuh cinta kepadanya, keadaan justru terbalik, hakikatnya mereka belum pernah memikirkan ke arah itu, entah kelak pada suatu ketika mungkin mereka bisa jatuh cinta kepadanya.
Nona kecil yang berusia lima belasan bak umpama sekuntum bunga yang mulai mekar, jiwanya diliputi kekuatan hidup yang menyala-nyala, bagi seorang yang berbaring sakit di atas ranjang selama setengah tahun, bukan mustahil merasa kesal dan sebal, gelisah dan gugup lagi.
Di kala mereka terganggu oleh perasaan-perasaan inilah seperti seekor burung kecil Lu Su-bi terbang hinggap di pinggir ranjang mereka, ajak mereka bicara dan berkelakar, menghilangkan kekesalan hati.
Ada kalanya tanpa dia membuka mulut, cukup hanya melihat tingkah lakunya yang lucu dan jenaka berloncatan sebagai nona cilik, mereka lantas merasa betapa indahnya jiwa itu, secara wajar nalarnya lantas mengejar akan kehidupan yang lebih panjang dan menyenangkan ini.
Dalam pandangan mereka sama menganggap Lu Su-bi sebagai adik kecilnya.
Tapi kuncup kembang bisa mekar, budak cilik pun lekas tumbuh dewasa.
Mendadak suatu hari, sekonyongkonyong mereka sama merasa bahwa adik kecil ini bukan lagi sebagai budak kecil yang masih ingusan, sekarang, sudah menjadi dewasa sebagai gadis yang sedang mekar semerbak.
Sudah tentu mereka tidak dalam waktu yang sama menyadari akan hal ini.
Yang pertama-tama mendapati perubahan ini adalah Song Theng-siau, kejadian itu berlangsung di kala mereka sudah berada di Siau-kim-jwan.
Di dalam waktu setengah tahun mereka merawat sakit itu, demi menghindari sergapan musuh lagi.
Lu-hujin harus berpindah-pindah beberapa kali dari rumah ke rumah yang lain, tapi mereka tetap bergerak di pegunungan Ki-lian-san.
Setelah luka-luka mereka sembuh seluruhnya baru mereka meninggalkan Ki-lian-san.
Sepanjang jalan itu banyak kesulitan dan penderitaan harus mereka alami, bukan saja selalu waspada akan kejaran musuh, mereka pun harus melawan hawa dan cuaca yang buruk, melewati jurang yang dalam.
Pada musim semi tahun kedua akhirnya mereka tiba juga di Siau-kim-jwan.
Adalah Lu Su-bi selama dalam perjalanan ini secara diam-diam ia sudah melampaui hari ulang tahunnya yang ke tujuh belas.
Di kala mereka tiba di Siau-kim-jwan, kebetulan pasukan besar pemerintah Boan sedang datang menggempur, sudah tentu mereka harus membantu pihak laskar gerilya untuk memukul musuh, maka rencana untuk kembali ke Soh-ciu terpaksa tertunda lagi.
Pada suatu hari, Song Theng-siau bersama Lu Su-bi keluar meronda, kebetulan kebentur dengan sepasukan kecil tentara pemerintah, mengandal kekuatan mereka berdua cukup berkelebihan membikin musuh berlari kocar-kacir dan banyak yang terbunuh pula.
Song Thengsiau pernah memujinya.
"Siau-sumoay, kau sungguh berani, jauh melebihi keberanian seorang laki-laki."
Lu Su-bi menjawab dengan aleman.
"Aku kan bisa tumbuh dewasa, kau anggap aku sebagai budak kecil yang tidak berguna dulu itu?"
"Apa benar? Coba biar kupandang, o, ya, memang kau sudah tumbuh besar, tapi kau jangan salah paham, maksudku dulu kau pun cukup berani dan banyak jasanya, apa lagi sekarang sudah dewasa lebih berguna."
Bahwasanya Song Theng-siau sendiri belum menyadari akan arti 'tumbuh dewasa' yang dimaksudkan oleh Lu Su-bi.
Sambil berjalan berendeng mereka kembali ke markas, sepanjang jalan bercakap-cakap dan bersendau gurau, entah mengapa, akhirnya mereka membicarakan Hun Ci-lo.
Mendadak Lu Su-bi bertanya.
"Kudengar katanya Hun-cici sangat cantik molek, apa benar?"
"Ya, dia cantik molek,"
Song Theng-siau menjawab pendek.
Lu Su-bi lantas menunduk, agaknya sedang memikirkan sesuatu.
Mendadak terpikir oleh Song Theng-siau bahwa 'adik cilik' ini sekarang sudah benar-benar 'tumbuh dewasa', di hadapan seorang gadis ia memuji kecantikan gadis yang lain, adalah mungkin menimbulkan rasa kurang senang orang, maka dengan tersenyum ia lantas menambahkan.
"Siau-sumoay, kau sendiri pun sangat elok dan rupawan."
Biasanya Beng Goan-cau selalu memanggil Lu Su-bi dengan sebutan Siau-sumoay, Song Thengsiau adalah sahabat karibnya, maka ia pun jadi kebiasaan ikut memanggil Siau-sumoay kepada Lu Su-bi.
"Jangan kau membujuk senang hatiku, mana bisa aku lebih cantik dari Hun-cici?"
"Kau anggap aku membual belaka, bukan aku saja yang memuji kecantikanmu."
"Masih ada siapa lagi?"
"Masih ada Toa-suhengmu Beng Goan-cau."
"Apa yang dia katakan?"
"Katanya budak kecil berambut kuning berubah delapan belas kali, kau semakin besar jadi semakin ayu!"
Jengah muka Lu Su-bi, katanya pura-pura bersungut.
"Beng-toako seorang polos, masa dia juga seperti kau suka menggoda orang?"-Kata-katanya seperti tidak percaya dan pura-pura aleman, sebenarnya dalam hati ia sangat girang, mukanya yang bersungut itu tidak bisa mengelabui perasaan senang hatinya. Song Thengsiau tahu akan hal ini, dalam hati menjadi geli, baru sekarang secara tiba-tiba ia merasa bahwa Siau-sumoay yang dianggapnya masih kecil ini ternyata sudah tumbuh dewasa.
"Sedikit pun aku tidak menipu kau, bersama Hun Ci-lo kalian mempunyai keelokan masingmasing. Jikalau kalian berdiri berjajar, orang lain pasti menyangka kalian adalah sepasang saudara yang sama cantik dan rupawan."
"Sayang aku tidak punya keberuntungan seperti itu,"
Lalu Lu Su-bi bertanya lebih lanjut.
"Kalian sama menyenangi Hun-Cici itu bukan?"
"Benar, tapi kami sama-sama pula menyenangi kau,"
Lahirnya ia berkata demikian, tapi Song Theng-siau sendiri paham, kedua 'senang"
Dan 'senang' ini mengandung arti yang berlainan, terpaut amat jauh.
"Lalu bagaimana dengan Hun-cici? Dia lebih suka kepadamu, atau lebih menyenangi Beng toako?"
Song Theng-siau tidak pernah menyangka Lu Su-bi bakal menanyakan hal ini, tepat pula mengenai rasa sirik hatinya, seketika Song Theng-siau merasa sangat hampa dan kebingungan, sesaat lamanya baru dia menjawab tersekat.
"Aku, aku tidak tahu. Mungkin sama saja?"-Maklum justru pertanyaan itulah yang memang dia kejar-kejar jawabannya, sekian lamanya dia masih belum memperoleh jawaban yang positif. Lu Su-bi tertawa.
"Tidak mungkin sama saja. Menurut pandanganku, Hun-cici tentu lebih senang kau, sebab kau pandai bicara."
Song Theng-siau tak tertahan tertawa geli, ujarnya.
"Aku sendiri tidak tahu, masa kau bisa tahu malah!"
Lu Su-bi cekikikan, katanya.
"Apa yang kuterka di antara sepuluh ada delapan yang tepat, kalau kau tidak tahu berarti kau ini bodoh!"
Dalam hati Song Theng-siau berpikir.
"O, budak ini kiranya sudah mulai mekar asmaranya. Kelihatannya dia pasti menyenangi Beng Goan-cau."-Sudah tentu Song Theng-siau memang mengharap percintaan mereka terjadi, karena bila mereka jatuh cinta, berarti Beng Goan-cau adalah sahabatnya, dan tidak mungkin bakal menjadi lawan asmaranya. Tapi secara diam-diam Song Theng-siau pun memperhatikan dengan pikiran dingin, diketahui olehnya bahwa Beng Goan-cau bersikap rada dingin terhadap Siau-sumoaynya yang sudah menanjak dewasa ini, sering ia sengaja menjauhkan diri dengan berbagai alasan supaya Siausumoaynya ini bergaul lebih dekat dengan Song Theng-siau. Naga-naganya Beng Goan-cau sudah mendapat tahu akan perubahan Siau-sumoaynya ini, maksud tujuannya sama dengan pandangan dirinya. Tentang Lu Su-bi sendiri sikapnya memang seperti dulu, sulit diraba atau diterka terhadap siapa dia lebih suka. Orang kuno suka mengibaratkan seorang gadis yang lincah Jenaka dan pintar serta nakal sebagai 'kembang pelipur lara', ibarat ini justru sangat cocok bagi Lu Su-bi. Selama beberapa tahun hidup dalam suasana kacau peperangan itu, untunglah ada Lu Su-bi berada di samping mereka sehingga tekanan batin banyak menjadi ringan, kalau tidak Song Theng-siau pasti merasa hidupnya sangat menderita dan sengsara. Namun demikian, tak urung hidup dalam lautan hutan lebat dan puncak bersalju membuat kenangan Song Theng-siau sering melayang ke Soh-ciu yang terkenal dinamakan sorga dunia, karena di sana ada Hun Ci-lo yang selalu dikenangnya. Hidup dalam peperangan sangat menegangkan urat syaraf, tapi setiap kali ada waktu senggang, mau tidak mau pikirannya lantas mengenang Hun Ci-lo, ingin rasanya ia tumbuh sayap dapat terbang ke sampingnya. Rencana semula cuma satu tahun pasti dapat kembali, tak nyana tahu-tahu lima tahun sudah lewat, Song Theng-siau masih berada jauh di pedalaman. Kapan baru aku, bisa kembali berada di sampingnya? Demikian ia sering berpikir. Harap punya harap akhirnya tibalah suatu kesempatan yang sangat diharapkan. Dalam suatu pertempuran kedua pasukan laskar gerilya dari Siau-kim-jwan dan Tay-liang-san dapat menggabungkan diri, bersama menggempur pasukan pemerintah yang memblokir pasukan mereka, sehingga untuk beberapa lama kemudian mereka memperoleh suasana yang cukup aman dan tentram. Kedudukan Song Theng-siau dalam laskar gerilya itu tidak lebih sebagai tamu belaka, kalau toh situasi sudah cukup tenang, sudah tentu dengan sesuka hatinya ia boleh meninggalkan pasukan. Sebetulnya dia hendak pulang bersama Beng Goan-cau, tapi Beng Goan-cau terpaksa harus menunaikan suatu tugas penting pergi ke Tay-liang-san, terpaksa ia pulang seorang diri. Tugas Beng Goan-cau itu teramat penting, memerlukan seseorang yang benar-benar mahir dan cerdik untuk melaksanakannya. Adalah Beng Goan-cau memberanikan diri menerima tugas berat ini. Menghadapi seluk beluk dan urusan dalam laskar memang dia jauh lebih bersemangat dan gairahnya memang lebih besar dari pada Song Theng-siau. Membawa hati yang menyala dan gembira Song Theng-siau meninggalkan pedalaman yang penuh ditaburi salju dan semak belukar itu, langsung kembali ke Soh-ciu, kebetulan ia tiba di Kanglam pada musim semi. Lima tahun sudah ia meninggalkan kampung halamannya, apakah Hun Ci-lo masih dalam keadaan dulu? Tentu dia tumbuh lebih matang lebih cantik? Melihat aku kembali betapa dia akan kegirangan? Karena ingin segera bisa ketemu dengan Hun Ci-lo belum lagi Song Theng-siau pulang ke rumah sendiri sudah meluruk ke rumah Ci-lo lebih dulu, sepanjang jalan pikirannya membayangkan berbagai kemungkinan, akhirnya ia tiba di depan rumahnya. Kembang buah Tho di halaman rumah sedang mekar semerbak, tapi pintu besar rumah Hun Cilo tertutup rapat. Song Theng-siau merasa sangat heran, kenapa siang hari bolong kok tutup pintu? Menekan jantungnya yang berdebur keras, ia menggedor pintu sekeras-kerasnya.
"Ci-lo, Ci-lo, lekas buka pintu! Coba kau lihat siapa yang sudah kembali?"
"Blum, blum, blum!", yang dia dengar cuma suara gedoran pintu melulu, tanpa mendapat penya-hutan suara Hun Ci-lo. Entah berapa lama dan berapa kali ia berteriak-teriak dan menggedor semakin keras, akhirnya ada seseorang kena dikejutkan oleh keributan ini dan memburu keluar. Tapi orang itu bukan Hun Ci-lo seperti yang diharapkannya. Orang ini adalah Ong-toama, seorang tetangga Hun Ci-lo. Ong-toama adalah perempuan yang sudah lanjut usia, sekian lama ia mengamat-amati Song Theng-siau, akhirnya baru mengenalnya, teriaknya merasa di luar dugaan.
"Oh, kiranya kau Songsiauya. Kau sudah pulang!"
Cepat Song Theng-siau bertanya.
"Ke mana nona Hun?"
Ong-toama menghela napas, sesaat baru ia berkata.
"Song-siauya, kau datang terlambat! Nona Hun, dia, dia..."--Ong-toama tahu akan isi hati Song Theng-siau. Deburan jantung Song Theng-siau serasa hendak melonjak keluar, tanyanya dengan suara gemetar.
"Kenapa dia?"
"Mereka ibu beranak sudah lama meninggalkan rumah ini!"
"Kapan mereka pergi? Apa dia ada memberitahu hendak pindah ke mana?"
Ong-toama menggeleng kepala, sahutnya.
"Setelah kalian pergi kira-kira setengah tahunan, mereka pun lantas meninggalkan Soh-ciu, aku sendiri tidak tahu ke mana tujuan mereka. Waktu Hun-toaseng (ibu Ci-lo) hendak berangkat, dia ada berpesan kepadaku supaya menunggu rumahnya baik-baik. Setiap bulan aku pasti kemari untuk membersihkan rumah ini."
"Kenapa mereka pergi?"
"Ini, ini..."
Baca Juga: Pendekar Bayangan Setan 1
Baca Juga: Pendekar Pengejar Nyawa 3