Eps 2 Kelana Buana - Liang Ie Shen
Baca online Kelana Buana - Liang Ie Shen
Cersil Kelana Buana - Liang Ie Shen.
"Ong-toama kau mesti tahu, harap suka beritahu aku, beritahu kepadaku!"
"Ai,"
Ong-toama menghela, napas lagi, akhirnya ia membuka kata.
"Nona Hun sudah menikah!"
Seketika Song Theng-siau melongo dan menjublek seperti patung, hampir ia tidak mau percaya akan pendengaran kupingnya. Ong-toama menggeleng kepala, dengan lemah lembut ia membujuk.
"Sudah lima tahun dia menikah. Song-siauya, kau tidak perlu bersedih. Masih banyak perempuan cantik di kolong langit ini..."
Song Theng-siau menenangkan pikirannya, lalu berkata.
"Tidak, aku ingin tahu kepada siapa dia menikah?"
"Kabarnya seorang yang dipanggil Nyo-toaya."
"Orang macam apakah orang she Nyo itu?"
Ong-toama menggeleng kepala lagi, sahutnya.
"Aku tidak tahu. Nyo-toaya itu menetap dua malam di rumah ini, hari ketiga mereka bertiga lantas berangkat bersama. Semula kusangka Nyotoaya itu adalah famili jauh mereka, waktu mereka hendak berangkat, Hun-toaseng baru memberitahu bahwa dia adalah calon mantunya. Kuduga mereka pergi karena mendapat perlindungan mantunya itu. Sayang aku nenek tua ini tidak suka campur urusan orang lain, aku tidak mencari tahu orang manakah sebenarnya Nyo-toaya itu, maka aku pun tidak bisa memberi jawaban kepadamu."
Inilah suatu kejadian yang tidak bisa dibayangkan sebelummnya, selamanya Song Theng-siau tidak pernah mendengar keluarga Hun mempunyai seorang sahabat kental she Nyo, kalau begitu berarti Hun Ci-lo baru berkenalan dua hari lamanya, mana bisa begitu gampang lantas-menikah begitu saja dengan orang itu?
Kira-kira setengah tahun yang lalu baru dia berhasil mencari tahu.
Ternyata Nyo-toaya yang dimaksud itu adalah guru silat kenamaan di Siok-ciu yang bernama Nyo Bok.
Cepat-cepat ia menyusul ke Siok-ciu tujuannya adalah hendak berjumpa dengan Hun Ci-lo, tak terduga kejadian justru sudah berubah sama sekali, hal ini benar-benar di luar dugaannya.
Entah Nyo Bok ini benar-benar mati atau hanya pura-pura, tapi paling tidak untuk sementara jejaknya menghilang.
Dari kenyataan yang dianalisa oleh Kwi-hwe-thio, peristiwa yang misterius ini tentu ada sangkut paut yang erat dengan Beng Goan-cau.
Tapi kenapa Hun Ci-lo rela menikah dengan Nyo Bok?
Teka-teki ini masih belum dapat ia pecahkan.
Lalu ke mana pula sekarang ibunda Hun Ci-lo?
Semula ia pun punya pikiran yang sama dengan Ong-toama, sangkanya Hun-hujin tentu menetap bersama mantunya, setelah tiba di Siok-ciu baru ia tahu, bahwa tahun itu Nyo Bok cuma membawa pulang mempelai atau istrinya yang baru saja menikah, bahwasanya ia tidak pernah membawa pulang ibu mertuanya.
Akan tetapi persoalan ini sekarang dia pun tidak keburu hendak mengetahui, sebab sekarang ia sudah paham orang yang dicintai Hun Ci-lo bahwasanya bukan dirinya, maka bila dia sudah menikah dengan Nyo Bok atau menikah dengan Thio Sam atau Li Si tiada sangkut pautnya lagi dengan dirinya.
Sudah tentu dalam hal ini sedikit banyak ia masih rada ingin tahu seluk-beluk yang sesungguhnya.
Pula ia pun merasa rada penasaran bagi sahabat karibnya itu.
Meski Nyo Bok adalah seorang guru silat yang cukup tenar, tapi dalam pandangan hatinya, Hun Ci-lo menikah dengan Nyo Bok berarti burung cenderawasih ikut dengan burung gaok.
Bagi Song Theng-siau, tugas yang terpenting sekarang dia harus lekas-lekas menemukan Hun Ci-lo untuk menyerahkan putranya kembali.
Kalau tidak tugas untuk mengasuh dan membimbing bocah sekecil ini sampai besar, wah tugas ini terasa amat berat bagi dia.
Soalnya sekarang dia sendiri tiada punya pegangan dapat menemukan jejak Hun Ci-lo.
Setelah perutnya kenyang Nyo Hoa menggayut di atas batang pohon, mungkin saking lelah tanpa sadar ia jadi tertidur pulas, waktu ia bangun siuman pula dilihatnya Song Theng-siau masih berdiri di tempatnya dengan menjublek, tapi mukanya mengulum senyum manis, tidak seperti tadi berwajah kaku tidak punya perasaan.
Nyo Hoa jadi heran, sambil mengucek-ucek matanya ia melompat bangun seraya berseru.
"Paman, apa yang sedang kau pikirkan, sekarang kita bisa berangkat bukan?"
"Baik, sekarang juga kubawa kau mencari ibumu."
Nyo Hoa berjingkrak girang, serunya.
"Apa benar? Jadi tidak lama lagi aku sudah bisa ketemu ibu?"
"Jangan kau tergesa-gesa, kutanggung kau bakal ketemu dengan ibumu. Kalau hari ini tidak berhasil, paling lama satu bulan pasti sudah dapat kita ketemukan."
Beng Goan-cau sudah pulang ke Soh-ciu, ia tahu Hun Ci-lo pasti juga akan pulang ke Soh-ciu untuk menemui Beng Goan-cau.
Bukan mustahil di waktu ia sampai di rumah kebetulan mereka pun sedang menunggu kedatangannya.
-ooo00d0w00k0z0ooo-Hari sudah magrib, cahaya matahari yang kekuning-kuningan menyinari sebuah pedesaan kecil di luar kota Soh-ciu, pancaran cahaya emas yang kemilau membuat pedesaan yang nyaman dan menyegarkan ini laksana terdapat di dalam sebuah lukisan belaka.
Seorang perempuan yang mengenakan pakaian hitam sedang berlenggang di jalanan desa yang berlika-liku itu seorang diri.
Pemandangan pedesaan kecil yang indah ini memang sudah sangat dikenalnya, sekali berpisah delapan tahun sudah berselang, hari ini kembali ia pulang ke kampung halaman, pemandangan masih tetap seperti sedia kala, tapi perasaan hatinya sekarang jauh berlainan.
Dugaan Song Theng-siau memang tidak meleset, perempuan berpakaian hitam ini memang bukan lain adalah Hun Ci-lo.
Soalnya Song Theng-siau menempuh perjalanan sambil membawa anak kecil sudah tentu jauh lebih lambat kedatangannya.
Waktu itu Song Theng-siau masih berada di tengah jalan, sementara dia sudah beranjak di kampung halaman, di mana dia dulu dibesarkan, tempat dia bermain di waktu kecil.
Delapan tahun yang lalu sambil menahan air mata ia keluar dari pedesaan kecil ini, tatkala itu pujaan hatinya berada jauh di ujung barat sana.
malah mati hidupnya juga tidak diketahui sama sekali.
Hari ini dia kembali, keadaan masih tetap indah, meski orang yang selalu dipuja dan dikenang itu berada di depan mata, namun perasaannya tidak segembira dan seriang dulu.
Selama delapan tahun ini, setiap saat setiap waktu, malah dalam impian pun ia sangat mengharap dapat berjumpa kembali dengan Beng Goan-cau!
Tapi di kala harapan yang selalu dinanti-nanti itu bakal terlaksana, sekarang sebaliknya dia menjadi takut bertemu dengan Beng Goan-cau.
"Aku tahu Goan-cau akan dapat memaafkan aku, tapi kejadian masa silam yang merunyamkan ini, cara bagaimana aku harus menjelaskan kepadanya?"-Matahari sudah terbenam, cuaca sudah remang-remang, perasaan hati Hun Ci-lo, bak umpama pandangan mata yang gelap ini. Semakin dekat dengan rumahnya, hatinya semakin gundah dan gelisah. Dia sudah ingin melupakan kejadian masa silam, tapi mau tidak mau ia harus mengenangnya pula. Dua bulan setelah Goan-cau berangkat, perutnya yang semakin membesar sudah tidak mungkin dapat mengelabui orang lagi, terpaksa ia memberitahukan hubungan rahasia itu kepada ibunya. Sebetulnya umpama dia tidak memberitahu, ibunya pun sudah lama mengetahui keadaannya. Tapi ibunya tidak menyalahkan atau memarahi dia, sebab waktu pertama kali Beng Goan-cau datang, sejak itu pula ibunya sudah mengharap pada suatu ketika Beng Goan-cau bakal, menjadi mantunya. Tapi sebelum menikah secara resmi putrinya lantas melahirkan anak, kejadian ini membuat ibunya serba susah. Untung Beng Goan-cau ada janji paling lama satu tahun akan kembali, terpaksa ia hanya berharap-harap dalam setengah tahun mendatang Beng Goan-cau benar-benar sudah pulang, dan sebelum dia keburu pulang, terpaksa dia suruh putrinya selalu sembunyi di dalam kamar supaya tidak dilihat orang luar. Tak nyana belum lagi Beng Goan-cau pulang, secara tak terduga mereka mendapat sebuah berita, berita yang jelek mengenai dirinya. Orang yang membawa berita buruk ini adalah murid Kaypang yaitu Goan lt-tiong. Dari itu waktu Goan lt-tiong tiba di rumah mereka ia ada memberitahu. katanya Song Thengsiau dan Beng Goan-cau sama mendapat luka-luka yang amat berat, kalau Song Theng-siau masih ada harapan, adapun Beng Goan-cau keadaannya sangat menguatirkan, bicara secara terus terang mungkin saat mana dia sudah tidak berada di dunia fana lagi. Goan It-tiong adalah seorang tabib sakti yang terkenal ilmu pengobatannya, terutama luka-luka yang terkena racun berbisa, luka-luka yang dia anggap tidak bisa diobati, pasti orang itu akan mati, dia adalah sahabat karib Kim-to Lu Siu-gun, soal Lu Siu-gun mewakili muridnya meminang putri keluarga Hun pernah dibicarakan dengan dia, maka dia merasa dia punya tanggung jawab untuk menyampaikan berita ini kepada ibu beranak keluarga Hun, supaya Hun Ci-lo tidak tersia-sia masa remajanya. Namun dia tidak tahu bahwa Beng Goan-cau dan Hun Ci-lo bahwasanya belum lagi bertunangan secara resmi akan tetapi Hun Ci-lo sudah mengandung anaknya Beng Goan-cau. Belum selesai Hun Ci-lo mendengar penuturannya lantas jatuh pingsan. Waktu ia siuman pula Goan It-tiong sudah lama pergi, hanya ibunya yang berada di sisinya. Sambil mengalirkan air mata ibunya berkata kepadanya.
"Anakku, memang nasibmulah yang jelek, sekarang ada dua jalan harus kau pilih salah satu di antaranya."
"Dua jalan apakah itu?"
Berkatalah ibunya.
"Kau tidak mungkin sembunyi untuk selamanya, kalau terpaksa harus pergi ke tempat yang jauh. meninggalkan kampung halamanmu ini, atau sebaliknya kau harus lekaslekas mencari suami yang lain, ada lebih baik kalau orang itu dari luar daerah, punya cita-cita besar dan pandangan yang luas, sudi menjadi ayah bayi dalam kandunganmu pula."
Kedua jalan ini Hun Ci-lo tidak mau melakukannya.
Meskipun menurut penuturan Goan lt-tiong jiwa Beng Goan-cau lebih banyak ajal daripada selamat, bagaimana juga ia belum lagi sempat melihat kematian Beng Goan-cau sesungguhnya, maka Hun Ci-lo.
masih mempunyai setitik harapan, semoga dia masih tetap hidup.
Dia kuatir bila kelak Beng Goan-cau pulang tidak menemukan dirinya.
Soal menikah dengan orang lain, ia lebih tidak sudi.
Kalau dia diharuskan memilih satu di antara kedua jalan itu, terpaksa dia lebih suka, memilih jalan yang pertama, meninggalkan tempat itu dan pergi ke tempat nan jauh.
Sebetulnya ibunya pun hanya mengada-ada saja, mana ada orang yang demikian tepat dan secara kebetulan bisa mereka cari dan dijodohkan kepada putrinya?
Adalah di luar dugaan mereka, kejadian justru sangat kebetulan, malah tanpa mereka cari calon suami Hun Ci-lo yang diharapkan ini malah datang sendiri bertandang ke rumah mereka.
Di saat mereka sedang bersiap-siap untuk meninggalkan Soh-ciu, mendadak mereka kedatangan seorang tamu, orang ini adalah Nyo Bok, guru silat ternama dari bilangan Siok-ciu.
Di waktu pertama kali kelana di kangouw dulu Nyo Bok pernah mendapat bantuan dari ayah Hun Ci-lo, entah bagaimana ia berhasil mencari tahu alamat kediaman keluarga Hun ini, maka sengaja ia datang bertandang.
Entah berapa banyak orang-orang yang pernah mendapat bantuan dan kebaikan ayah Hun Cilo, semua kejadian itu boleh dikata Hun-hujin sudah sama melupakannya.
Tapi meski ia tidak punya kesan yang mendalam terhadap Nyo Bok ini, setelah bertemu muka dengan Nyo Bok, mau tidak mau lantas terpikirlah akan perkawinan putrinya.
Dan yang lebih kebetulan lagi kedatangan Nyo Bok ini justru juga hendak meminang putri keluarga Hun.
Kiranya sejak lama ia sudah pernah dengar bahwa keluarga Hun mempunyai putri tunggal yang cantik ayu, oleh karena itu meski ia tahu bahwa tuan penolongnya sudah ajal, ia pura-pura menggunakan berbagai alasan untuk datang menyambangi mereka ibu dan anak.
Belum lagi Hun-hujin menjelaskan keadaan mereka yang serba runyam ini, Nyo Bok lantas mengutarakan maksud kedatangannya.
Leluhur Nyo Bok juga keluarga persilatan, kepandaian silat Nyo Bok sendiri juga tidak lemah, perjodohan ini boleh dikata cukup setimpal.
Keluarga Nyo bertempat tinggal di Siok-ciu, seluruh sanak kadang keluarganya belum pernah ada yang melihat Hun Ci-lo, maka di kala ia membawa istrinya yang baru dinikah ini pulang, asal dia mau mengakui anak dalam kandungan Hun Ci-lo itu sebagai anaknya, siapa yang akan tahu perihal borok ini.
Segala sesuatunya persis dan tepat atau sesuai dengan syarat-syarat yang diajukan oleh Hunhujin, tapi ibu Hun Ci-lo tidak segera memberi persetujuannya karena ada dua persoalan yang mempersulit dirinya, pertama.
ia harus mendapat persetujuan langsung dari putrinya, kedua.
umpama ia mendapat persetujuan dari putrinya, cara bagaimana nanti ia harus memberi penjelasan soal kejadian yang memalukan ini kepada Nyo Bok.
Meskipun kedaan serba runyam, tapi Hun-hujin tidak menyia-nyiakan kesempatan baik ini, maka pertama-tama ia harus membujuk putrinya sendiri.
Di bawah bujukan dan penjelasan ibunya, Hun Ci-lo tidak menganggukkan kepala, tapi juga tidak menolak secara kekerasan seperti semula.
Karena terpikir olehnya suatu cara tersendiri.
Hari kedua seorang diri ia langsung menemui Nyo Bok.
Secara terus terang ia membeberkan perihal dirinya bahwa dia sudah mengandung, dan lagi ia mengajukan satu syarat, kalau Nyo Bok memang masih ingin mengawini dirinya, paling-paling ia hanya bisa menjadi suami istri tidak resmi dengan Nyo Bok.
Tapi harus menunggu selama tiga tahun, jikalau Beng Goan-cau memang tidak ada kabar beritanya, baru ia menjadi keluarga Nyo yang sesungguhnya.
Semula ia sangka Nyo Bok tidak akan sudi meluluskan permintaannya ini, di luar dugaan, tanpa ragu-ragu Nyo Bok memberikan persetujuannya, hal ini benar-benar di luar perhitungan Ci-lo sendiri, tapi syaratnya sudah ia kemukakan sendiri, kalau toh Nyo Bok sudah setuju, terpaksa ia harus menepati janji sendiri.
Mendapat penyelesaian ini, sudah tentu senang Hun-hujin bukan kepalang.
Sebenarnya ia sangat percaya akan keterangan Goan It-tiong, ia yakin bahwa Beng Goan-cau memang sudah ajal di perantauan, lagi demi menghilangkan rasa bimbang sanubari putrinya, terpaksa ia meluluskan permintaan putrinya, seorang diri ia menyusul ke Ki-lian-san untuk mencari tahu akan kebenaran dari berita Beng Goan-cau.
Hun Ci-lo sudah berjanji kepada Nyo Bok, kalau dalam tiga tahun ia tidak memperoleh berita Beng Goan-cau, baru dia rela menjadi istri Nyo Bok secara kenyataan.
Tiga tahun sebanyak seribu hari lebih, setiap siang malam, Hun Ci-lo selalu bermimpi sangat indah, ia mengharap ibunya bisa lekas-lekas pulang bersama Beng Goan-cau, seandainya tidak pulang bersama, paling tidak membawa berita Beng Goan-cau.
Tiga tahun sudah berselang, bukan saja ia tidak mendapat berita Beng Goan-cau, ibunya pun tidak pernah kembali lagi.
Dalam tiga tahun ini, Nyo Bok dapat menepati janji, entah berada di dalam kamar atau di hadapan orang banyak, ia tetap berlaku hormat dan sopan santun.
Anak Hun Ci-lo sudah berumur tiga tahun, bisa bicara memanggil ayah ibu, sudah tentu dia memanggil ayah kepada Nyo Bok.
Demi menepati janjinya sendiri, untuk membalas budi budi kebaikan Nyo Bok, supaya anak sendiri tidak digoda dan dihina orang lain pula, terpaksa dengan suka rela ia menjadi istri Nyo Bok.
Kenangan itu sangat pahit, tapi ada terselip pula perasaan madu mesra.
Tiga tahun sebagai suami istri pura-pura, lima tahun kemudian baru menjadi suami yang resmi, selama delapan tahun ini, sikap Nyo Bok terhadapnya tetap sama, menghormatinya, kasih sayang dan melindunginya dengan mesra, ia hidup serba berkecukupan.
Walaupun bayangan Beng Goan-cau masih tersembunyi di alam sanubarinya, tapi setelah dia menjadi istri Nyo Bok, lambat laun ia jadi merasa seolah-olah dirinya sudah jatuh cinta kepada Nyo Bok.
Namun hanya seolah-olah belaka, karena pada suatu hari, secara tak terduga ia mendengar berita mengenai Beng Goan-cau, sanubarinya yang sudah tentram sekian lamanya kini mulai bergolak dan gelisah,-baru sekarang ia tahu, anggapan 'cinta' terhadap suaminya ini kiranya tidak lebih cuma perasaan membalas kebaikan belaka, perasaan terima kasih karena iba.
Pergaulan Nyo Bok sangat luas, kawan-kawannya yang pergi datang, terdiri dari berbagai golongan.
Pada suatu hari datanglah seorang tamu, tamu ini adalah seorang piau-thau dari salah satu piaukiok di kota, menurut ceritanya dua tahun yang lalu ia pernah melindungi bahan obatobatan milik pedagang obat yang dikirim ke Su-cwan, bicara punya bicara akhirnya mereka menyinggung suasana pertempuran di perbatasan.
Nyo Bok lantas menanyakan beberapa enghiong yang menonjol di antara pimpinan laskar gerilya, kecuali menyebut dua pimpinan laskar gerilya yang hebat yaitu Ling Tiat-jiau dan Siau Ci-wan, tamu itu menambahkan lagi.
"Konon kabarnya pihak Siau-kim-jwan sekarang kedatangan banyak bala bantuan yang hebat-hebat, kecuali Ling dan Siau dua pimpinannya, muncul lagi dua pemuda pendekar yang berkepandaian sangat hebat pula."
Kebetulan Hun Ci-lo keluar menyuguhkan teh, mendengar ucapan tamunya ini tergeraklah hatinya, cepat ia bertanya.
"Siapakah nama kedua pendekar muda itu?"
Tamu itu menjawab.
"Kabarnya mereka bernama Beng Goan-cau dan Song Theng-siau, sayang pertempuran di Siau-kim-jwan itu baru saja berlangsung, kami para piau-thau jadi tidak berani membawa barang terlalu jauh ke arah pedalaman sehingga tiada kesempatan berkenalan dengan mereka."
Belum lagi ucapan sang tamu selesai.
"Prak!"
Tahu-tahu cangkir teh di tangan Hun Ci-lo terjatuh hancur berantakan, hatinya pun ikut hancur lebur.
Setelah tamu itu pulang, Hun Ci-lo lantas jatuh sakit.
Sudah tentu Nyo Bok tahu asal mula dari penyakit istrinya, ia menghindari menyinggung soal itu, dengan teliti dan cermat ia menjaga istrinya, setelah sakit Hun Ci-lo sembuh baru dia berkata.
"Aku tidak suka melihat kau menderita, kalau kau ingin menyusul ke Siau-kim-jwan, aku tidak merasa keberatan!"
Bicara sih gampang, namun jarak berlaksa li yang sedemikian jauhnya masa bisa ditempuh dalam waktu yang pendek, apalagi Hun Ci-lo sendiri pun tidak mau membuat Nyo Bok bersedih karena hal ini.
Selamanya Hun Ci-lo tidak pernah berbohong, tapi dalam keadaan yang terdesak ini, tidak bisa tidak ia harus mengelabui suaminya.
Katanya setelah penyakit ini sembuh, pengalaman yang lalu anggap saja sudah terpendam, yang dia cintai sekarang hanya suaminya, ia tidak ingin berjumpa pula dengan Beng Goan-cau.
Nyo Bok pun bukan laki-laki goblok, sudah tentu ia tahu meski lahirnya sang istri berseri tawa dan pura-pura gembira belaka, namun perasaan hatinya yang masih duka lara kelihatan juga dari tindak tanduknya.
Kalau permainan sandiwara menjadi sungguhan, kedua pihak sama-sama tidak mau membongkar kepalsuan dirinya, lahirnya mereka masih tetap hidup sebagai suami istri yang saling cinta mencintai.
Kalau istri sedang menderita, sang suami pun sedang sengsara.
Akan tetapi meski Hun Ci-lo berbohong kepada suami, tapi bukan seluruh ucapannya itu hanya membual belaka, dalam hati kecilnya diam-diam ia sudah berketetapan, kecuali Beng Goan-cau meluruk datang mencari dia, betapapun ia tidak bakal pergi mencari Beng Goan-cau.
Yang tidak terduga olehnya, Beng Goan-cau tidak datang mencari dia, tapi mengutus si maling sakti Kwi-hwe-thio mengirim surat kepada Nyo Bok.
Surat itu kini berada dalam kantong bajunya.
Sebetulnya surat itu dikirim tanpa sepengetahuan dia, tapi Nyo Bok justru menyerahkan surat itu kepadanya.
Surat Beng Goan-cau itu minta berunding dengan Nyo Bok.
Yaitu ia minta anaknya dikembalikan kepadanya.
Untuk permintaannya ini Beng Goan-cau sudah mengatur segala sesuatunya sedemikian sempurna dan demi kepentingan Nyo Bok pula, dikatakan supaya Nyo Bok pura-pura pergi keluar melancong, di luar tahu Hun Ci-lo ia bawa anak itu pergi ke Soh-ciu dan mengangkat dia sebagai guru, dia berjanji tidak akan membocorkan rahasia ini kepada putranya.
Kelak bila bocah itu sudah menanjak dewasa baru menyuruhnya pulang kembali ke keluarga Nyo.
Pergaulan Nyo Bok sangat luas, sembarangan saja ia bisa menyebut salah seorang nama Bulim Cianpwe.
katakan saja bahwa anaknya sudah mengangkat guru dengan beliau, kiranya rencana ini cukup dapat mengelabui Hun Ci-lo.
Adalah sudah menjadi kebiasaan di kalangan kangouw kalau putra sendiri diutus belajar silat kepada guru lain dan menetap di sana sampai delapan atau sepuluh tahun baru pulang.
Seandainya kelak Hun Ci-lo mengetahui duduk perkara yang sebenarnya juga tidak menjadi soal, karena masa itu usia mereka pun sudah sama menanjak tua, hal ini tidak akan membawa pengaruh bagi hubungan mereka suami istri.
Maka kalau dikatakan "minta' kembali sebetulnya istilah ini kurang tepat, tujuan yang sebenarnya ia cuma mohon kepada Nyo Bok untuk memberi kesempatan supaya mereka ayah beranak bisa menetap bersama selama beberapa tahun belaka.
Rencana ini sebetulnya memang cukup sempurna, tapi mimpi juga Beng Goan-cau tidak akan menyangka, bahwa Nyo Bok justru menyerahkan suratnya itu kepada istrinya.
Soalnya Nyo Bok sendiri juga mempunyai kesukarannya sendiri yang tidak mungkin bisa dibereskan.
Sang surya sudah terbenam di ufuk barat, seluruh jagat sudah merata ditabiri kabut malam, bulan sabit pun sudah bercokol setinggi pucuk pohon.
Seorang diri Hun Ci-lo beranjak di jalanan kampung yang berlika-liku, berjalan, berhenti, berjalan pula lalu berhenti lagi.
Surat kiriman Beng Goan-cau yang tersimpan dalam bajunya, seolah-olah berubah menjadi sebuah batu besar yang amat berat menindih sanubarinya, begitu berat rasanya sehingga langkah kakinya pun sangat lambat.
Sekonyong-konyong ia merasa kepalanya pening, tubuh pun sempoyongan, lekas-lekas ia menggayut di atas batang pohon di pinggir jalan, kerongkongannya mengeluarkan suara menguak tapi tiada yang tertumpah keluar.
Setelah istirahat sebentar, ia baru merasa perasaannya rada enteng dan segar kembali, tapi perasaaan hatinya semakin gundah dan tidak tentram.
Berdiri di puncak bukit, meski kabut malam semakin tebal, bulan sabit redup, tapi lapat-iapat dari kejauhan sudah kelihatan kedua pucuk pohon flamboyan di depan pekarangan rumahnya sudah mulai berkembang.
Di waktu bertempat tinggal di Soh-ciu dulu, di kala Beng Goan-cau menetap di rumahnya, kamar berloteng yang di tem-patinya dulu kebetulan dibangun di sebelah pohon flamboyan itulah.
Sambil meraba-raba surat itu, tanpa merasa, Hun Ci-lo tertawa getir, pikirnya.
"Dia sangat mengharap melihat putranya sendiri, siapa tahu sekarang justru aku datang membawakan anak orang lain!"
Di tengah jalan baru Hun Ci-lo mendapati bahwa dirinya sedang mengandung, Nyo Bok sendiri pun tidak tahu akan hal ini.
Secara resmi ia menjadi istri Nyo Bok selama lima tahun, selama itu belum melahirkan anak.
Meski Nyo Bok diam saja, tapi di waktu Nyo Hoa memanggil dia 'ayah' mau tidak mau Hun Ci-lo menjadi runyam dibuatnya, dia merasa dirinya berhutang budi dan bersalah terhadap suaminya, ia mengharap suatu ketika ia bisa melahirkan seorang bayi bagi suaminya yang baik hati ini.
Sekarang angan-angannya itu bakal terkabul, tapi anak dalam kandungan ini sekarang bukan membawa rasa senang bagi sanubarinya, adalah lebih membuat batinnya tertekan.
"Aku sudah mengandung anak Nyo Bok, masa enak menemui Beng Goan-cau? Pergi atau tidak?"
Serta merta Hun Ci-lo menjadi bingung dan bimbang.
Pulang ke kampung halaman kejadian masa lalu kembali terbayang di depan mata.
Di atas puncak bukit ini Beng Goan-cau pernah memetik kembang liar untuknya, di bawah pohon flamboyan sana, untuk pertama kalinya Beng Goan-cau mencurahkan isi hatinya kepadanya.
Kenangan selama delapan tahun laksana sebuah impian belaka, sekarang dia sudah tiba di depan pintu rumahnya, apakah harus tinggal pergi lagi secara diam-diam, begitu tega tanpa menjenguk dia?
Tapi kalau sudah bertemu muka, cara bagaimana ia harus memberi penjelasan semua kejadian ini?
Dalam hati Hun Ci-lo berpikir.
"Keluarga Beng turun temurun hanya tunggal, adalah seharusnya dia membawa kembali keturunannya. Aku harus memberitahu jejak anak Hoa kepadanya, supaya dia minta kembali anaknya kepada Nyo-toakoh. Dan lagi apakah ibuku dulu pernah berjumpa dengan dia, aku pun harus mencari tahu kepadanya."
Sudah tentu kedua alasan ini bukan alasan yang kuat, tapi dalam hati kecil Hun Ci-lo sebenarnya juga tersimpan suatu keinginan hendak menemuinya.
Dengan adanya kedua alasan itu, maka dia dapat memberanikan diri.
Pelan-pelan Hun Ci-lo turun dari lereng bukit, di saat ia sudah semakin dekat dengan rumahnya, tiba-tiba dilihatnya sesosok bayangan putih melesat terbang laksana anak panah, secara tiba-tiba muncul di hadapannya, sekejap saja bayangan itu sudah hinggap di atas tembok pekarangan belakang.
Hun Ci-lo menjadi kaget, batinnya.
"Ginkang orang ini cukup tinggi, kelihatannya seperti seorang perempuan, untuk apa dia hendak menyelundup masuk ke rumahku? Apakah dia, dia, adalah..."
Belum lenyap jalan pikirannya, orang itu tiba-tiba memutar tubuh dan terdengarlah "Ser!"
Dari atas menyambar sebuah panah terbang seraya membentak.
"Siapa?"
Sekali berkelebat Hun Ci-lo bersembunyi ke belakang sebatang pohon, panah terbang itu melesat lewat dari samping rambutnya dan menancap di atas pohon.
Seekor burung gagak yang berada di pucuk pohon menjadi kaget dan terbang sambil berkaok-kaok.
Sekarang Hun Ci-lo sudah melihat tegas bahwa orang itu memang adalah perempuan mengenakan pakaian serba putih mulus, berdiri di atas tembok, pakaiannya yang longgar melambai tertiup angin, di bawah sinar rembulan sabit, gerak geriknya laksana dewi yang turun dari kahyangan.
Pakaian yang dikenakan Hun Ci-lo kebetulan warna hitam, gerak geriknya cukup gesit lagi, maka kalau dia dapat melihat jelas perempuan berbaju putih di atas tembok itu, sebaliknya gadis baju putih tidak melihat dirinya yang sembunyi di belakang pohon.
Terdengar gadis baju putih itu tertawa dan bicara sendiri.
"Ternyata burung gaok, kukira ada' orang yang menguntit jejakku. membikin kaget belaka. Oh ya, biar aku membikin kaget Bengtoako saja."
Hun Ci-lo tertawa getir dalam hati.
"Dia anggap diriku sebagai gaok, apakah ini pertanda yang kurang baik bagi diriku?"
Lalu terpikir pula.
"Dia memanggil Goan-cau sebagai toako. entah siapakah dia adanya?"
Mendadak terasa sejalur hawa dingin menyesap ke dalam sanubarinya, terpikir pula olehnya.
"Delapan tahun Goan-cau berada di luaran, sekarang dia sudah menanjak tiga puluhan, mungkin, mungkin... ai, kalau benar demikian, aku jangan membuatnya serba salah. Aku sudah membuat Nyo Bok sengsara, maka jangan aku membawa derita ini kepadanya pula."
Berpikir sampai di sini Hun Ci-lo merasa hatinya mendelu dan bersedih, akhirnya ia berkeputusan untuk sementara jangan unjuk diri, seperti maling umumnya dia merunduk-runduk memasuki rumahnya sendiri, sembunyi di belakang pohon flamboyan, di mana waktu itu dia dan Beng Goan-cau mengikat janji sehidup semati di sini.
-ooo0000ooo-Di pojok loteng kecil itu.
masih terlihat sinar pelita yang remang-remang.
Beng Goan-cau sedang membaca buku di kamar bukunya, masih belum tidur.
Tapi hatinya sedang gundah, mana dia ada hati melanjutkan bacaannya?
Saking iseng ia jadi melamun, pikirnya.
"Semoga dia anggap aku sudah mati saja tapi kalau dia tahu kalau aku masih hidup, apakah dia bakal terbang kemari?"--"Dihitung waktunya seharusnya Kwi-hwe-thio sudah tiba di rumah keluarga Nyo entah cara bagaimana jalan pikiran N\o Bok, apakah dia mau meluluskan permintaanku? Apakah dia nanti bakal memberitahu akan rahasia ini kepada Hun Ci-lo?"
Karena pikiran sedang kalut sehingga ia tidak mendengar derap langkah di anak tangga, sampai gadis baju putih itu mendadak muncul di hadapannya baru dia berjingkrak,kaget.
(Gadis baju putih ini berjalan merunduk-runduk, tapi mengandal ketajaman kupingnya, kalau dalam keadaan biasa tentu sejak tadi ia sudah mengetahui).
Alam pikiran Beng Goan-cau sedang membayangkan bentuk tubuh Hun Ci-lo, mendadak melihat seorang gadis sedang berseri tawa kepadanya, tanpa merasa mulutnya lantas berteriak.
"Ci-lo!"
Gadis baju putih itu kontan cekikikan geli.
Nada tawanya melengking enteng bagai kelintingan.
tapi suara tajam seperti kelintingan ini sudah sangat dikenal oleh Beng Goan-cau.
karena di saat ia sakit keras, entah berapa kali ia pernah dengar suara yang merdu ini, suara ini pula yang telah membangkitkan semangatnya untuk bertahan melawan elmaut.
sehingga ia berjuang terus untuk hidup.
Kejut dan girang pula Beng Goan-cau dibuatnya, memegang tangan gadis baju putih itu.
ia berkata.
"Siau-sumoay. kiranya kau! Cara bagaimana kau bisa kemari?"
Tahun ini Lu Su-bi sudah genap berusia dua puluh dua. tapi dalam pandangan Beng Goan-cau tidak lebih masih sumoaynya yang 'kecil'.
"Suko!"
Ujar Lu Su-bi tertawa.
"Kau sangka siapa?"
Jengah muka Beng Goan-cau. sahutnya.
"Tidak kuduga kau adanya. Aku, aku..."
Lu Su-bi cekikikan lagi. katanya.
"Kau kira Hun-cici bukan? Hayo jangan mungkir, kudengar tadi kau memanggil namanya. Bukankah namanya yang harum adalah Ci-lo? Sudah lama aku tahu!"
Terpaksa Beng Goan-cau mengakui, dengan diam saja ia menuang secangkir air teh untuk menutupi sikapnya yang kikuk, tanyanya.
"Siau-sumoay, kenapa kau pun meninggalkan Siau-kimjwan?"
Setelah menerima cangkir teh itu Lu Su-bi duduk, tapi air teh tidak segera dihirupnya, pertanyaan Beng Goan-cau pun tidak segera ia jawab, ia menghela napas dulu lalu berkata.
"Suko, apakah kau masih kangen dengan Ci-lo cici? Dia tidak akan kemari mencari kau!"
Beng Goan-cau melengak, tanyanya.
"Darimana kau bisa tahu?"
"Aku mendapat cerita tentang dia, apakah kau mau tahu?"
"Berita apa?"
"Dia sudah punya suami dan melahirkan seorang putra, menurut kabarnya suaminya adalah seorang guru silat yang kenamaan di Siok-ciu bernama Nyo Bok, anak mereka tahun ini sudah berusia tujuh tahun."-Bicara sampai di sini. pelan-pelan ia menundukkan kepala meneguk air tehnya, seolah-olah masih ada beberapa patah kata yang hendak diucapkan tapi diurungkan. Beng Goan-cau tahu apa yang hendak dikatakan sumoaynya. Anak Hun Ci-lo sudah berusia tujuh, jadi berarti dia sudah menikah selama delapan tahun, ini berarti di waktu Beng Goan-cau berpisah dengan dia. tak lama kemudian dia lantas menikah dengan Nyo Bok.
"Mungkin Siausumoay anggap Hun Ci-lo adalah perempuan yang ingkar janji menjual cintanya kepada orang lain, dia ingin bujuk aku supaya tidak terpincut dan tergila-gila kepadanya lagi. Ai, mana dia tahu bahwa anak itu justru adalah putraku sendiri,"
Demikian pikir Beng Goan-cau.
"Suko,"
Ujar Lu Su-bi lagi.
"Kau tidak usah bersedih, bukankah kau sering berkata. Seorang laki-laki harus bisa mengambil dan bisa meletakkan kembali."
Karena Beng Goan-cau sudah sejak lama mengetahui hal ini, maka perasaan sedihnya tidak seperti yang dibayangkan Lu Su-bi.
Adalah Hun Ci-lo yang saat mana sedang sembunyi di belakang batu gunung mencuri dengar pembicaraan mereka jadi pilu dan mendelu, sanubari seperti sedang teriris oleh ujung pisau.
Diam-diam Hun Ci-lo menerawang.
"Ternyata gadis itu adalah sumoaynya, jadi dia adalah putrinya Lu Siu-gun. Kelihatannya ia sangat prihatin kepada Beng Goan-cau, demikian juga Goancau juga senang kepadanya. Ucapannya memang tidak salah, tidak seharusnya aku kemari mencari Goan-cau."
Beng Goan-cau menyeringai getir, katanya.
"Siapa yang beritahu berita itu kepadamu?"
"Seorang Piauthau she Liok,"
Sahut Lu Su-bi. Piauthau ini adalah orang yang pernah bertamu ke rumah Nyo Bok dulu.
"Piauthau itu sering pergi ke Sucwan membawa dagangan obat orang, dia adalah kenalan Nyo Bok, pernah melihat Hun Ci-lo di rumah Nyo Bok,"
Demikian sambung Lu Su-bi.
"Di waktu dia menyinggung namamu dan nama Song Theng-siau, agaknya Nyo-hujin itu sangat kaget, cangkir teh yang dia pegangi sampai terlepas jatuh. Piauthau she Liok ini merasa sangat heran, setelah pulang ia mencari tahu, akhirnya baru dia tahu bahwa, istri Nyo Bok itu adalah orang berasal dari Soh-ciu, bernama Hun Ci-lo. Song Theng-siau ada pernah beritahu kepadaku, katanya dia dan kau bersama sangat baik terhadapnya, kelihatannya dia pun tidak akan melupakan kalian. Cuma belum diketahui adalah karena Song Theng-siau atau karena kau sehingga dia memecahkan cangkir teh itu?"
"Bagaimana bisa dia menyinggung nama Theng-siau dan aku?"
"Sudah lama orang itu sangat kagum dan kenal nama kalian, waktu itu dengan menempuh bahaya dia berkunjung ke Siau-kim-jwan untuk menyambangi Ling Tiat-jiau, tujuannya adalah hendak berkenalan dengan kalian, sayang kalian sudah lama tidak berada di Siau-kim-jwan lagi. Hari itu, ibu kebetulan juga ikut hadir dalam pertemuan itu, maka aku dapat tahu dengan jelas."
"Jadi kau sengaja menyusul kemari untuk memberi kabar ini kepadaku?", sudah tentu ini hanya ucapan kelakar belaka. Di waktu Beng Goan-cau kembali ke dalam perguruan, usia Lu Su-bi masih kecil, mereka bertiga seumpama tiga saudara-serangkai, bicara dan kelakar tiada batas-batasnya. Tapi setelah Lu Su-bi tumbuh dewasa, Beng Goan-cau jadi jarang main kelakar dengan dia. Melihat sang suko tidak menjadi sedih seperti yang dibayangkan sebelumnya, malah bisa main kelakar lagi, segera ia pun jadi girang, katanya tertawa.
"Ibu suruh aku kemari ikut kau, supaya kau melindungi dan menjaga diriku, aih, kau takut menghadapi kesukaran tidak?"
Sejenak Beng Goan-cau me-lengak, lalu tertawa gelak-gelak, serunya.
"Kau kan bukan nona kecil lagi, masa perlu perlindungan dan dijaga apa segala?"--Dalam hati sebaliknya ia berpikir.
"Jikalau sunio memang punya maksud demikian, wah, mempersulit diriku saja!"
"Suko,"
Ujar Lu Su-bi.
"Biarlah aku bicara sesungguhnya. Aku membawa kabar Ling-toasiok untuk kau!"
"O, jadi Ling Tiat-jiau menarik diriku supaya lekas pulang?"
"Tidak, adalah sebaliknya, kata Ling-toasiok kau boleh sementara tidak usah kembali ke Siaukim-jwan. Pasukan laskar gerilya perlu seseorang kurir untuk menghubungi para orang-orang gagah di berbagai tempat, dia hendak menyerahkan tugas ini kepadamu. Umpamanya Kang Tayhiap, Kang Hay-thian dari kerisidenan Tang-ping di Soatang bersama sutenya Kim Tiok-liu, Thian-li-kau Kaucu Lim To-kan dari Poting di Hopak, Cong-tocu Ang-ing-hwe Le Lam-sing di Holam, Kongsun Yan suami istri, majikan besar dari tiga belas peternakan di Koan-tang Utti Keng dan Ki Seng-in suami istri, Ling-toasiok ingin supaya kau pergi mencari hubungan dengan mereka. Dia pun mengharap supaya kau kelana saja di kangouw, setiap saat selalu berhati-hati dan waspada untuk memilih dan mencari para tunas-tunas muda yang punya cita-cita dan tujuan yang sama untuk membantu gerakan laskar gerilya. Tugas ini tidak diberi batas waktu tertentu, memberi kesempatan bagi kau untuk lebih banyak berkenalan dengan para enghiong dari manamana, baik tidak menurut penda-patmu?"
Beng Goan-cau sangat kegirangan, serunya.
"Sungguh baik sekali!"
"Kalau dibicarakan, kau harus mengucap terima kasih kepadaku, karena akulah maka Lingtoasiok teringat untuk memberi tugas yang berat ini kepadamu!"
"Masa benar? Tapi ada sebab apa lagi?"
"Pada suatu hari, paman Ling dan Siau berdua ada mengobrol dengan ibu, mendadak ibu kangen rumah dan kampung halaman, katanya hendak pulang untuk menjenguk famili. Dikatakan pula sudah lama tidak mendapat kabar beritamu, sungguh sangat kangen, ia pun hendak ke Sohciu untuk menjengukmu. Paman Ling dan Siau membujuk, katanya meski peristiwa sudah terjadi lama, tapi tujuh di antara jagoan yang mengepung ayah dulu cuma lima yang ditumpas, siapa lagi yang tidak kenal akan nama kebesaran istri Kim-to Lu Siu-gun yang kenamaan? Sekali muncul tentu akan menimbulkan perhatian orang banyak, kiranya kurang setimpal untuk menempuh bahaya ini."
"Setelah mendengar percakapan itu aku segera ikut menimbrung, lebih baik biar aku seorang saja yang pergi, di waktu aku ikut ayah kelana, usiaku masih sangat kecil, sekarang sudah tumbuh dewasa, kalau muncul di muka umum belum tentu dapat dikenali oleh kawanan cakar alap-alap."
"Tapi Siau-sioksiok masih kuatir, katanya, seorang diri aku pergi mencari kau ke Soh-ciu sih tidak menjadi soal, tapi kalau pulang rumah menyambangi sanak kadang ke kampung halaman adalah sangat berbahaya. Soalnya Sam-ho berada di propinsi Hopak, tempatnya terlalu dekat dengan kota raja, daerah itu merupakan daerah penting yang dijaga ketat oleh bhayangkari istana raja."
"Akhirnya Ling-toasiok mendapat suatu akal, yaitu tugas yang kuberitahukan kepadamu tadi. Menurut katanya kalau kau mau menerima tugas ini, di waktu kau menuju ke utara untuk menemui Lim-kaucu dari Thian-li-hwe, sekaligus kau bisa bawa aku ikut serta. Poting dan kerisidenan Sam-ho sama berada dalam wilayah Hopak, jaraknya hanya ratusan li. Seumpama kau harus mengantar aku pulang baru meneruskan ke utara menuju ke Koantang menemui Utti Keng suami istri juga masih belum terlambat, kesempatan ini sekaligus dapat kita menunaikan dua tugas, kepentingan umum dan keperluan pribadi bukan?"
"Suko, sekarang giliranku tanya kau, apakah kau tidak merasa kesulitan membawa beban seperti diriku ini?"
Lapat-lapat Beng Goan-cau dapat menerka ke mana juntrungan maksud hati sunionya, sudah tentu ia merasa serba sulit, tapi tak enak untuk menolak tugas ini, terpaksa ia berkata.
"Siausumoay, kepan-daianmu sekarang sudah tidak kalah olehku, jalan bersama aku mungkin akulah yang harus minta bantuanmu, mana boleh dikata menjadi bebanku? Hehehe, kita berpisah baru setahun lebih, kenapa kau bicara begitu sungkan kepadaku?"
Beng Goan-cau mengeluarkan tawa kering, tapi nada tawanya terdengar kurang wajar.
Lu Su-bi adalah seorang gadis polos yang tidak berprasangka, mendengar ucapan sukonya ia malah sangat kegirangan, katanya.
"Jadi kau mau meluluskan permintaanku! Ha, aku bakal bisa bertemu dengan Kang Hay-thian, Kim Tiok-liu, Le Lam-sing, Kongsun Yan dan lain-lain para orangorang gagah yang kenamaan, sungguh senang sekali hatiku!"
Kalau Lu Su-bi sedang kegirangan adalah Hun Ci-lo yang mendekam di luar jendela sebaliknya sedang mendelu, air mata tak tertahan mengalir keluar, batinnya sedih sekali.
"Ada sumoaynya sebagai kawan jalan, kenapa aku harus menemui dia? Urusan Hoa-ji biarlah diselesaikan lain kesempatan saja atau pesan pada lain orang untuk menyampaikan kepadanya,"
Demikian Hun Cilo berpikir.
Kalau toh hati ingin segera tinggal pergi, adalah kedua kakinya sudah tidak mau dengar perintah dan tidak kuasa mengerahkan tenaga.
Apalagi ia kuatir mengeluarkan suara, terpaksa ia tenangkan pikiran dan tekan perasaan, setelah gejolak hatinya sudah menjadi tenang baru bertindak lebih lanjut.
Baru saja ia melayangkan pikirannya, tiba-tiba didengarnya suara Beng Goan-cau berkata.
"Siau-sumoay, aku ingin menetap beberapa hari lagi di sini, apa kau bisa bersabar menanti aku?"
"Ibu suruh aku ikut kau, ke mana kau pergi ke situ aku tiba. Kalau kau belum berangkat sudah tentu aku harus tetap tinggal di sini."
Mendengar percakapan ini lagi-lagi pedih hati Hun Ci-lo, pikirnya.
"Goan-cau tidak mau segera berangkat, mungkin sedang menunggu si maling sakti membawa berita soal diriku, ai, dia tidak akan menduga bahwa sekarang justru aku sudah berada di bawah jendelanya, tapi dia sudah berkawan Siau-sumoaynya. Tapi terhadapku dia masih belum melupakan cintanya, apa pula yang harus kumohon kepadanya? Sebetulnyalah aku sudah harus merasa sangat puas!"
Memang dalam hati ia berpikir demikian, tapi tak tertahan hati masih sangat pedih, pikirnya pula.
"Kalian tidak mau pergi, dalam beberapa hari ini ke mana aku harus menempatkan diriku?"
Mendengar jawaban Siau-sumoaynya, mau tidak mau Beng Goan-cau mengerutkan kening, katanya tertawa getir.
"Apakah sunio ada pesan apa pula kepadamu?"
"Ibu cuma suruh aku ke Soh-ciu mencari kau, kalau ketemu boleh ikut kau saja dan dengar perintahmu. Coba kau katakan betapa ibu sangat percaya kepadamu, beliau serahkan putrinya yang tunggal kepadamu untuk melindunginya!" -Lu Su-bi seorang gadis pegunungan yang tidak punya pikiran sempit dan berhati lapang, dia melansir seluruh kata-kata ibunya tanpa tedeng aling-aling, di luar tahunya bahwa sebetulnya dia sudah menyerahkan jiwa raganya seumur hidup ini kepada Beng Goan-cau. Tapi kalau dikata dia tidak tahu isi hati ibunya adalah tidak benar, karena sebelum ia berangkat ibunya ada berpesan kepadanya.
"Sepuluh tahun yang lalu ayahmu suruh Goan-cau pergi ke Sohciu menetap di rumah keluarga Hun, tatkala itu usiamu masih kecil, maka kami tidak pernah berpikir demi hari depanmu. Paman Hun adalah saudara angkat ayahmu, putrinya berusia sebaya dengan Goan-cau, ayahmu pernah menulis sepucuk surat kepada paman Hun, tapi paman Hun sudah meninggal, menurut laporan Goan-cau katanya dia serahkan surat itu kepada bibi Hun. Dalam surat itu ayahmu ada menyinggung lamaran Goan-cau kepada putrinya. Semula aku duga bibi Himmu itu tentu akan setuju akan perjodohan ini, tapi tidak duga kejadian justru di luar perhitungan manusia, kabarnya nona Hun itu kini sudah menikah dengan orang lain dan punya seorang putra. Kalau Goan-cau mendapat kabar ini mungkin dia sangat sedih. Maka kau harus membujuk dan menghibur hatinya, pada suatu hari bila kalian bisa pulang bersama menemui aku, tentu aku teramat girang." --Meski ia tidak utarakan maksudnya secara jelas, tapi sebagai gadis yang sudah berusia dua puluh satu, sudah tentu Lu Su-bi sudah dapat menangkap maksud kata-kata ibunya itu. Bukan Lu Su-bi tidak pernah memikirkan hari depannya, tapi sebelum ibunya membicarakan pesannya itu, dalam benaknya ada terbayang dua bentuk laki-laki, di antara bayangan Beng Goancau dan Song Theng-siau ia masih sulit menentukan pilihannya. Terhadap sukonya ia menaruh hormat tapi watak dan perangai Song Theng-siau justru lebih cocok dengan sifat-sifatnya. Kedua orang ini sama menanam budi kepada keluarganya, demi jiwa mereka ibu beranak, hampir saja mereka mengorbankan jiwa sendiri, lain halnya Beng Goan-cau adalah sukonya sendiri, hubungan cukup dekat, tapi ada kalanya ia merasa sikap Goan-cau yang terlalu serius sehingga ia tidak berani banyak dekat padanya, tapi seolah-olah pula jauh lebih dapat dipercaya dari Song Theng-siau. Maka setelah ia dapat meresapi isi hati ibunya, dalam hati sudah mengambil keputusan, asal suko suka kepadaku, dia pun akan rela meninggalkan Song Theng-siau yang jauh lebih cocok dalam perangai dan pikiran. Mendapat bimbingan dan asuhan dari perguruan membuat Goan-cau menaruh sayang kepada Siau-sumoaynya ini, tapi kini Lu Su-bi sudah seperti kuntum kembang yang sudah mekar sedang berdiri di hadapannya, mau tidak mau membuat hatinya gundah dan pikiran keruh. Diam-diam ia mengeluh dalam hati.
"Sunio menyerahkan putri tunggalnya kepadaku, sayang aku seorang yang sudah pernah mengalami pahit getirnya asmara, bagaimana aku bisa mengobarkan semangat mudaku lagi?"
"Tidak apa-apa,"
Kata Beng Goan-cau kemudian.
"Sudah sekian lama kau mengobrol, tapi kau tidak pernah menyinggung Song Theng-siau, apakah sunio hanya menyuruh kau mencari aku dan tidak suruh kau mencari dia?"
"Kalian kan tinggal dalam satu kampung, kalau ketemu, tanpa kutanya tentu kau pun akan membawa aku menemui dia. Apa perlunya ibu harus memberi pesan soal hal ini?"
"Sebetulnya aku pun mengira Song Theng-siau ada di rumah, tapi waktu aku kembali, ternyata tidak berhasil menemukan dia. Semoga dia lekas kembali dalam beberapa hari ini!"
"Jadi kau hendak tinggal beberapa hari lagi untuk menunggu kedatangannya?"
Demikian tanya Lu Su-bi. ? Dalam batin Beng Goan-cau berpikir.
"Mana kau tahu yang kutunggu justru berita mengenai Hun Ci-lo."
Selamanya ia belum pernah berbohong kepada Siau-sumoaynya, tapi Hun Ci-lo seorang nyonya yang sudah punya suami, mana bisa dia menjelaskan duduk perkara sebenarnya?
Terpaksa ia mengada-ada dan menjawab sambil tertawa dibuat-buat.
"Masa kau sendiri tidak ingin jumpa dengan Theng-siau?"
Dasar polos dan jujur Lu Su-bi tidak bisa menutupi isi hatinya, katanya tertawa.
"Dulu kita selalu bermain bersama, kalau bisa ketemu dengan Song-suko sungguh menggirangkan. Kita bertiga bisa berkesempatan tamasya ke Telaga Barat!"
Sontak teringat oleh Beng Goan-cau pengalaman dulu, di kala ia bersama Ci-lo dan Theng-siau tamasya di Telaga Barat, serta merta hatinya jadi rawan dan tertekan.
"Suko, kenapakah kau? Aku sedang bicara dengan kau, kelihatannya kau sedang memikirkan urusan lain!", demikian desak Lu Su-bi aleman. Tiba-tiba Beng Goan-cau seperti tersentak kaget oleh sesuatu yang didengarnya, cepat mulutnya mendesis lalu pasang kuping sekian saat baru ia berkata.
"Siau-sumoay, sepanjang jalan tadi adakah kau melihat seseorang menguntit di belakangmu?"
"Tidak!"
"Benarkah kau tidak ketemu dengari seseorang yang rada mencurigakan?"
Lu Su-bi berpikir sebentar lalu berkata.-"Beberapa hari yang lalu di tengah jalan aku ada bertemu dengan empat orang, keadaan mereka memang rada menyolok, tapi akhirnya aku tidak menemukan jejak mereka .apakah mengutit diriku."
"Orang macam apa keempat orang itu?"
"Empat orang yang bentuk muka dan dandanannya sama dan mirip sekali. Keempat orang ini bertubuh tinggi berkaki panjang, badan mereka kelihatan bergoyang gontai di atas tunggangan seperti sebuah galah. Bentuk mereka itu memang jarang terlihat, apalagi sekaligus muncul empat orang yang bersamaan. Maka wafttu bersua dengan mereka tidak tertahan lagi aku lantas tertawa geli."
Beng Goan-cau pernah dengar perihal Tiam-lam-su-hou yang berbentuk aneh itu, maka dalam hati ia lantas berpikir.
"Bukan mustahil keempat orang yang dilihat oleh Siau-sumoay adalah mereka? Tapi bagaimana keempat mustika itu bisa sekaligus muncul di daerah Kanglam ini?"--Tanyanya.
"Akhirnya bagaimana?"
"Keempat orang itu sama mendelikkan mata mengawasi aku, agaknya kurang senang, tapi mereka tidak bertindak apa-apa. Kuda tunggangan mereka berlari sangat pesat, sekejap saja sudah lewat dan lari jauh, selanjutnya aku tidak pernah melihat jejak mereka lagi."
"Waktu kau masuk kampung tadi, adakah orang yang menguntit di belakangmu?"
Saat mana Hun Ci-lo sedang menghimpun semangat menekan perasaan, ia sudah siap begitu perasaan longgar dan pikiran jernih dan dapat mengembangkan ginkang segera akan tinggal pergi.
Mendadak ia mendengar pertanyaan Goan-cau kepada sumoaynya ia jadi terkejut, pikirnya.
"Apakah waktu aku masuk tadi Goan-cau sudah tahu kedatanganku?"
Teringat kejadian tadi tak tertahan Lu Su-bi segera tertawa geli, katanya.
"Waktu aku lompat masuk ke taman bunga tadi, seolah-olah ada orang menguntit aku, kontan aku persen sebatang panah terbang. Ha, coba kau terka? Kiranya seekor burung gaok!"
"Seekor burung gaok? Apa kau tidak salah lihat?"
Lu Su-bi melengak heran, tanyanya.
"Bukan burung gaok, lalu apa?"-Sementara dalam hati ia membatin.
"Masa burung gaok kau anggap aku tidak mengenalnya?"
Pelan-pelan Beng Goan-cau berkata.
"Kukira adalah empat ekor harimau."
Lalu ia meninggikan suara dan berteriak lantang.
"Julukannya empat harimau, kenapa sembunyi di tempat gelap dan tidak berani unjuk muka, terhitung orang gagah macam apa? Hayo menggelundung keluar!"
Maka terdengarlah empat pekik panjang seperti lolong serigala di malam buta rata di bawah sinar rembulan yang remang-remang, tampak di semak rumput sana beruntun melompat keluar empat sosok bayangan manusia.
Seorang laki-laki yang menjadi pimpinan di antara mereka segera berseru lantang.
"Beng Goan-cau, terhitung matamu tajam, kau kenal kita Tiam-lam-su-hou, hayolah menyerah saja ikut kami ke kota raja!"
Diam-diam Hun Ci-lo mengeluh dalam hati, pikirnya.
"Ternyata bukan diriku yang dimaksud oleh Goan-cau. Tapi entah kapan ke empat orang ini masuk kemari, sedikit pun aku tidak merasa, dibanding Goan-cau aku memang terpaut jauh sekali!"
Sebetulnya ginkang Hun Ci-lo jauh lebih tinggi dibanding keempat Orang ini, kepandaian mendengar angin membedakan senjata pun terpaut tidak jauh dengan Beng Goan-cau, soalnya setelah dia masuk taman bunga seluruh perhatiannya ia tumpahkan untuk mencuri dengar percakapan Beng Goan-cau dengan sumoaynya, maka kapan Tiam-lam-su-hou masuk sedikit pun ia tidak tahu.
Beng Goan-cau terbahak-bahak, serunya.
"Tiam-lam-su-hou (empat harimau dari Tiam-lam) dalam pandanganku tidak lebih merupakan empat ekor kerbau yang dungu!"-Seiring dengan gelak tawa dan kata-katanya, ia dorong jendela terus melompat keluar. Bergegas Lu Su-bi mengintil di belakangnya, dan sengaja hendak pamer ginkangnya, di tengah udara tubuhnya berputar seperti burung dara jumpalitan, dengan ringan tanpa bersuara hinggap di tanah dan berdiri berjajar dengan Beng Goan-cau. Tertua dari Tiam-lam-su-hou menjengek dingin, sindirnya.
"Di sini bukan Siau-kim-jwan. Beng Goan-cau, kunasehati supaya kau jangan terlalu pongah! Kalau kau tidak sudi terima arak suguhan dan lebih senang arak hukuman, baiklah kita tentukan dengan kepandaian silat siapa lebih unggul!"
Lo-ji atau harimau kedua dari Tiam-lam ini adalah hidung belang yang suka kepincut paras cantik, melihat gerak-gerik Lu Su-bi yang lemah gemulai dan cantik rupawan lagi, tak tertahan ia bersorak memuji.
"Betina ini sungguh ayu, kami kuntit kau kemari, terpaksa nanti kau pun harus kuseret pulang. Tapi kalian harus serahkan betina ini kepadaku."
Lo-sam tertawa, katanya.
"Belum lagi mangsamu kau dapatkan, lagi-lagi kau sudah saling rebut dengan kami!"
Lo-su juga menimbrung.
"Masih ada lagi Song Theng-siau, terpaksa kita harus cari dan kompes keterangan Beng Goan-cau nanti."
Bertaut alis Lu Su-bi, bentaknya.
"Suko, keempat kerbau dungu ini, berikan kepadaku biar kusembelih mereka!"
"Nanti dulu, biar kutanya mereka,"
Demikian ujar Goan-cau kalem.
"Hai, sarang kalian ada di Tiam-lam, kenapa hendak membawa aku ke kota raja?"
Lo-toa berkata.
"Kami mendapat perintah Sa-congkoan untuk mengundangmu ke sana, seorang lagi yang bernama Song Theng-siau juga termasuk orang yang diundang. Asal kalian mau menyerah dan berbakti pada pemerintah kerajaan, kutanggung kalian bakal memperoleh kedudukan dan pangkat yang tinggi."-Mendengar ucapan Beng Goan-cau tidak seketus tadi, ia sangka orang suka berkompromi. Sa-congkoan yang dimaksud adalah Komandan Bhayangkari di istana raja yang bernama Sa Hok-ting, bukan saja dia menjadi Komandan Bhayangkari, malah dia pun punya kaki tangan dari sampah persilatan yang sudi mengabdi kepadanya, umumnya kaki tangannya ini disebut cakar alap-alap yang punya tugas khusus yaitu tukang meringkus kaum pendekar dan cendekiawan yang melawan pemerintah. Beng Goan-cau menyeringai dingin, ejeknya.
"Maaf, maaf. Ternyata Tiam-lam-su-hou sekarang sudi menjadi anjing pemburu dari Sa Hok-ting yang lalim itu. Aku justru paling suka menggebuk anjing buduk yang malas, tidak perlu kalian susah payah mencari Song Theng-siau, marilah dengar kata terima kuhajar saja, aku seorang sudah lebih dari cukup untuk menundukkan kalian bersama."
Keruan Tiam-lam-su-hou berjingkrak gusar, serempak mereka sama melolos senjata serta melompat berpencar mengurung Beng Goan-cau.
"Suko,"
Seru Lu Su-bi.
"Tadi kau berkata hendak beri kesempatan kepadaku!"-Sebetulnya permintaan Lu Su-bi tadi belum lagi diluluskan oleh Beng Goan-cau.
"Siau-sumoay, keempat ekor anjing ini sama gila, pepatah ada bilang, mulut anjing tidak bakal tumbuh gading, kenapa kau harus bertingkah seperti mereka ?"
"Anjing gila menggigit orang, maka dia harus dibikin mampus, sudah lama kita tidak bertemu, silakan kau tonton apakah ilmu golokku sudah banyak maju tidak?"
Lotoa segera membentak.
"Kalian jangan banyak cerewet! Yang terang kalian tidak akan bisa lolos, kalau kalian tidak mau turun tangan, kamilah yang segera harus membekuk kamu!"-Harus diketahui Tiam-lam-su-hou ini pun merupakan tokoh yang punya nama dan kedudukan di kalangan kangouw, betapapun mereka harus menjaga gengsi. Dalam hati Beng Goan-cau berpikir.
"Kabarnya Tiam-lam-su-hou masing-masing membekal kepandaian yang berlainan, dengan empat orang maju bersama, entahlah apa aku mampu melawan mereka. Tapi, Siau-sumoay merengek-rengek kalau tidak kuberi kesem-.patan tentu dia akan marah-marah kepadaku nanti."-Terpaksa ia tertawa dan berkata.
"Baiklah, kuberi kesempatan kepadamu, kau harus hati-hati, awas jangan sampai digigit anjing gila."
Lu Su-bi kegirangan, serunya.
"Baik, kau minggir dan jangan ikut turun tangan."
"Ya, terserah kepadamu."
Lahirnya ia berkata demikian, umpama nanti Lu Su-bi menghadapi bahaya, tentu dia tidak akan berpeluk tangan saja. Tertua dari Tiam-lam-su-hou kuatir Beng Goan-cau melarikan diri, bentaknya.
"Jangan harap kau bisa lari!"-Ilmu latihannya adalah Pun-Iui-ciang, baru saja Beng Goan-cau bergerak hendak mundur, kontan ia merangsak dengan sekali pukulan kepada Beng Goan-cau. Siapa tahu serangan ini sudah cukup cepat, tapi Lu Su-bi lebih cepat lagi, sekonyong-konyong tampak sinar golok kemilau berkelebat laksana kilat menyambar, kesiur angin dingin pun berkembang, tahu-tahu Lu Su-bi sudah menyekal sepasang golok di tangannya, satu panjang satu pendek, golok panjang di tangan kiri menahas ke pergelangan tangan Lotoa, sementara golok pendek di tangan kanan menusuk miring ke arah Loji yang menyerang tiba dari arah sampingi Lotoa dan Loji sama terkejut, batinnya.
"Tak diduga budak kecil ini merupakan lawan yang cukup tangguh juga."-Tanpa berjanji terpaksa kedua orang ini sama menggeser langkah serta mengubah permainan. Beng Goan-cau bergelak tertawa, dengan berlenggang ia berjalan lewat dari samping mereka berdiri di luar gelanggang. Dikata lambat kenyataan sangat cepat, sementara itu Losam dan Losu sudah merangsak tiba pula kepada Lu Su-bi. Di mana sinar hijau berkilat.
"sret"
Pedang panjang Losam tahu-tahu sudah menusuk ke ulu hati Lu Su-bi dari sebelah punggung. Beng Goan-cau tersentak kaget, batinnya.
"Cepat benar orang ini melancarkan serangannya!"
Dengan gaya naga melingkar kaki berputar sebat sekali Lu Su-bi berkelit, menghindar seraya balas menyerang, cepat sekali ia pun sudah lancarkan jurus Jay-hong-toh-ou (burung hong merebut sarang), badan bergerak mengikuti serangan goloknya, dari terdesak menjadi pihak yang menyerang dan berada di posisi yang lebih menguntungkan, sekejap saja ia berada di samping kanan Losam, kontan ia kembangkan serangan kedua golok bersama, seketika sinar kemilau dari sambaran goloknya beterbangan menari-nari di tengah udara laksana kembang salju.
Belum lenyap jalan pikiran Beng Goan-cau maka terdengarlah suara "Trang, tring"
Beberapa kali seperti orang bermain musik, kiranya dalam waktu yang sekejap itu, golok dan pedang kedua pihak beruntun saling bentur dan beradu tujuh delapan belas kali.
Losam ini dapat memainkan pedangnya secepat angin menyambar, tapi kecepatan permainan ilmu golok Lu Su-bi adalah jauh lebih cepat lagi dari ilmu pedang lawan.
Baru sekarang Beng Goan-cau merasa lega.
diam-diam ia bersorak bagi permainan siausumoaynya yang hebat ini.
batinnya.
"Ternyata siau-sumoay sudah sempurna melatih ginkang Menyelinap Kembang Mengitari Pohon, demikian pula Yu-sin-pat-kvva-to-hoat pun sudah memperoleh ajaran suhu yang murni dan sudah mencapai tingkat yang boleh dibanggakan, dapat menambah dan memberi variasi lagi. Yang diperlukan sekarang harus berlatih lwekang lebih lanjut, bicara mengenai kehebatan permainan golok serta kelincahannya, mungkin aku sendiri belum bisa mengungkuli dia. Naga-naganya umpama dia tidak mampu mengalahkan Tiam-lam-suhou ini, kiranya juga tidak nanti sampai kena dikalahkan. Losam dan Losu merangsak datang dalam waktu yang bersamaan. Losam setindak datang lebih cepat sehingga ia bergebrak lebih dulu dengan Lu Su-bi, maka, kilasan yang lain Losu pun sudah menubruk tiba. Tiba-tiba Lu Su-bi menegakkan golok panjangnya, sementara golok pendek dibolang balingkan di depan mata Losam, keruan Losam merasa silau dan kabur pandangannya, cepat ia melompat mundur setindak. Maka seenteng cengcorang menutul di atas air gesit sekali Lu Su-bi melesat lewat di sampingnya.
"Rebahlah!"
Losu membentak dari samping, dua batang senjata boan-koan-pitnya yang hitam mengkilap mendadak menyelo-nong tiba menotok jalan darah Ki-bun-hiat di bawah ketiak Lu Subi.
Lu Su-bi menjengek dingin, cemoohnya.
"Jangan takabur!" -'Trang"
Di mana golok panjangnya menabas tiba lengan baju Losu kena tertabas sebagian besar dan beterbangan seperti kupu-kupu.
Kiranya tabas maka lengan baju itu menjadi tertabas hancur beterbangan. Maka disusul lagi dengan suara "Trang" Yang lebih nyaring, kali ini lelatu api berpercik. tampak langkah Lu Su-bi sempoyongan mundur tujuh delapan langkah baru bisa berdiri tegak lagi. Ternyata meski permainan goloknya, cukup hebat dan lincah, sayang tenaganya jauh tidak memadai. Dalam pada itu Lotoa dan Loji yang terpukul mundur tadi sementara itu sudah menubruk tiba lagi, tangan Loji sudah menyekal sebuah cambuk lemas. "Wut, wut" Angin deras menyambar memetakan bayangan pecut yang bergulung-gulung. Sementara Lotoa sencfiri tidak menggunakan senjata, tapi kedua telapak tangannya beruntun ditarikan dengan gesit dan cukup liehay pula, lapat-lapat terdengarlah suara gemuruh seperti bunyi geledek. Kedua golok Lu Su-bi dapat bergerak rapat melindungi badan, kaki bergerak selincah kera menari berputar dan berloncatan seenteng daun melayang, laksana perahu terombang ambing di tengah samudra, timbul tenggelam terapung dan bergoyang gontai tidak menetap. Semula Beng Goan-cau bisa berlega hati, kini mau tidak mau ia merasa kuatir bagi sumoaynya, pikirnya. "Tiam-lam-su-hou ternyata memang punya kepandaian khusus masing-masing, samasama liehay dan hebat. Tak heran Ling Tiat-jiau ada pesan supaya bila aku kebentur mereka tidak boleh memandang enteng. Penilaianku terhadap mereka tadi, mungkin sudah menyalahi peringatan itu, memandang enteng mereka." Ternyata Tiam-lam-su-hou ini merupakan dua pasang anak kembar yang sekandungan, Lotoa bernama Kiau Lui, ia kenamaan karena Iwekangnya yang hebat, kepandaian tunggalnya adalah Pun-lui-ciang. Loji Kiau Tian, menggunakan cambuk lemas, julukannya Bu-ing-pian (cambuk tanpa bayangan), Losam bernama Kiau Hong, ia mempelajari Cui-hong-kiamhoat (ilmu pedang pengejar angin). Losu bernama Kiau Hun, seorang ahli menutup jalan darah, senjata yang digunakan adalah sepasang potlot baja. Tiam-lam-su-hou sama-sama berkaki dan bertangan panjang, tinggi badan Lu Su-bi hanya sedada lawan. Maka empat orang ini menggasak lawan kecilnya ini dari atas ke bawah, sekonyong-konyong melancarkan gempuran bersama. "Kena!" Serempak mereka membentak. Cambuk panjang Kiau Tian mendadak melingkar-lingkar, yang digunakan adalah jurus Ko-thungjan-siok (menjalin menggubat pohon), tujuannya hendak membelit sepasang mata kaki Lu Su-bi. Adalah Kiau Hong melancarkan ilmu pedangnya yang cukup lincah itu, dengan jurus Menyingkap Rumput Mencari Ular, tajam pedangnya rada miring menabas turun mengarah pahanya. Sementara sepasang boan-koan-pit Kiau Hun mcnotok tiba mengarah dada dari sebelah depan, kedua senjata ini bersilang masing-masing menotok ke jalan darah Hian-ki-hiat dan Yo-toh-hiat. Lebih liehay lagi serangan telapak tangan Kiau Lui yang mengepruk ke atas batok kepala Lu Su-bi. Pukulan tangan, cambuk, pedang dan potlot baja tiga macam senjata empat macam rangsakan yang dilancarkan dalam berbagai variasi dan permainan, seketika batok kepala, dada, kaki dan paha Lu Su-bi dalam incaran senjata musuh, keadaan ini boleh dikata teramat berbahaya sekali. Beng Goan-cau kaget sekali, baru saja ia hendak turun tangan, tiba-tiba didengarnya tawa Lu Su-bi yang nyaring serta menyahut lantang. "Belum tentu !", di mana tubuhnya berkelebat dan melayang pergi datang, kain bajunya melambai-lambai, tahu-tahu tubuhnya sudah menyelinap keluar dari kepungan berbagai senjata yang mematikan itu, demikian juga pukulan telapak tangan Kiau Lui mengenai tempat kosong, jangan kata kena, ujung bajunya saja tidak berhasil mereka sentuh. "Ke mana mau lari!" Kiau Lui membentak gusar seraya mengejar. Lu Su-bi cekikikan, ujarnya. "Siapa hendak lari? Kau sendiri tidak mampu pukul aku, kenapa salahkan orang lain?" Tampak ia menusuk ke sebelah kiri, tahu-tahu membacok sebelah kanan, kedua goloknya ditarikan gesit sekali, menunjuk timur menggempur barat, menuding selatan merangsak ke utara. Keruan Tiam-lam-su-hou sama mencak-mencak dan ikut berputar-putar. Pemainan macam ini jauh lebih dapat memegang posisi yang menguntungkan dalam penyerangan, sambil berlari berputarputar dia menggempur dan menggasak musuh-musuhnya ganti berganti, dalam sekejap saja ia sudah merubah kedudukan dan posisi ratusan kali banyaknya, bukan saja Tiam-lam-su-hou tidak berhasil memukul lawan kecilnya ini, malah mereka sendiri harus berlaku waspada oleh sergapan lawan yang mendadak sudah mengancam dirinya. Baru sekarang Beng Goan-cau benar-benar lega. Pikirnya. "Kukira penilaianku semula tidak tepat, ternyata penilaianku terhadap siau-sumoay juga kurang tepat. Gin-kangnya memang hebat, meski Kiau Tian dan Kiau Hong dua lawan cukup tangguh, kalau dibanding dia masih terpaut terlalu jauh. Kalau musuh menggunakan cara yang sama menghadapi permainannya ini, meski ia tidak gampang memperoleh kemenangan, tapi jelas sudah terdesak di bawah angin!" Mau tidak mau Hun Ci-lo yang mencuri lihat dari belakang gunung-gunungan palsu pun memuji dalam hati. "Bicara mengenai ginkang belum tentu aku kalah, tapi kalau harus bertempur melawan empat keroyokan dengan masih bisa bergerak begitu lincah dan wajar, dengan gaya dan gerak gerik yang elok lagi, mungkin aku tidak mampu!" Dengan berlega hati, Beng Goan-cau berdiri di luar gelanggang sambil menikmati permainan v Siau-sumoaynya yang sedang mengembangkan ilmu ginkangnya. Lu Su-bi bergerak cepat, semakin putar semakin cepat, tapi permainan goloknya sedikit pun tidak menjadi terpengaruh karenanya, laksana menari saja ia bergaya di tengah gelanggang. Mendadak ia lancarkan serangan golok kilat memukul mundur musuh, tiba-tiba pula membalik menabas dengan rangsakan yang cukup hebat pula. Saking terpesona Beng Goan-cau sampai melamun, pikirnya. "Lincah laksana naga terbang, gesit seperti belut." Pujian ini kiranya cukup setimpal bagi siausumoay. Sayang Song Theng-siau tidak berada di sini, kalau tidak betapa ia akan berjingkrak kegirangan melihat gin-kang siau-sumoay sudah dilatihnya sedemikan sempurna? Ternyata ilmu ginkang Lu Su-bi yang elok dan lincah ini hasil latihan waktu masih berada di Siau-kim-jwan di bawah bantuan dan petunjuk Song Theng-siau. Setiap musim semi datang, kembang liar bertaburan di seluruh Siau-kim-jwan. Meski tidak seindah di Kanglam, tapi kembang-kembang liar yang tumbuh di dalam pegunungan sini cukup banyak dan menyegarkan pula. Selama beberapa tahun waktu berada di Siau-kim-jwan, begitu musim semi tiba, maka Lu Su-bi lantas merecoki Beng Goan-cau dan Song Theng-siau untuk menemaninya pergi ke hutan untuk melatih ginkang Coan-hoa-yau-su-sin-hoat (gerak-gerik memutari pohon menyelinap di antara bunga-bunga). Tapi Beng Goan-cau sering menyingkir dengan berbagai alasan, ia biarkan Song Theng-siau seorang menemani sumoaynya ini berlatih. Waktu permulaan melatih gin-kangnya ini, kedua mata Lu Su-bi masih terpentang lebar, dia berlari-lari mengitari pohon menyelinapi kembang-kembang, sampai pada tingkatan dapat berlari bagai terbang di antara semak-semak kembang itu tanpa menyentuh sekuntum bunga atau menyentuh rontok daun pohonnya, baru terhitung berhasil dalam latihan permulaan. Untuk latihan tingkat kedua, maka ia harus menutupi matanya, bila dengan mata tertutup ia pun dapal berlari dan bergerak sesuka hati dengan sama cepat dan gesitnya tanpa menjatuhkan atau menyentuh kembang dan daun, baru dia mulai dengan latihan tingkat ketiga. Untuk tingkat ketiga ini diperlukan dua orang. Dengan menutupi matanya Lu Su-bi harus berlari kencang ke mana saja ia menyelinap sambil dikejar oleh Beng Goan-cau atau Song Theng-siau, sampai ia kena ditangkap baru berhenti. Beng Goan-cau pernah beberapa kali menemani siau-sumoaynya ini latihan, namun selanjutnya adalah menjadi tugas Song Theng-siau. Sudah tentu Beng Goan-cau dan Song Theng-siau bisa gampang saja menangkap dia. Setiap kali kena tertangkap mereka pasti bergelak tawa terpingkal-pingkal. Kini sepasang golok Lu Su-bi melawan Tiam-lam-su-hou, ia pun kembangkan ginkangnya yang hebat itu, saking terpesona pikiran Beng Goan-cau jadi melayang mengenang pengalaman pada masa silam. "Sayang Song Theng-siau sekarang tidak di sini."-Tak tertahan lagi diam-diam Beng Goan-cau menghela napas. Pemandangan yang dilihat di hadapannya ini mendadak berubah, Siau-sumoay yang lincah jenaka ini seolah-olah berubah menjadi Hun Ci-lo. Delapan tahun yang lalu bukankah Hun Ci-lo juga selincah dan nakal seperti siau-sumoaynya sekarang? Bukankah mereka sama-sama elok seperti kembang mekar di musim semi? "Dulu aku pernah mengikat janji setia bersama Ci-lo di bawah pagar kembang, kini aku sudah pulang, pagar sudah keropos kembang pun sudah layu, taman bunga ini menjadi liar tak terurus, penghuninya pun sudah lama pergi. Ci-lo, oh, Ci-lo, di mana kau? Di mana kau?" Di kala Beng Goan-cau ter-longong-longong itulah mendadak didengarnya benturan senjata yang keras, menyadarkan lamunannya. Waktu ia angkat kepala, tampak Lu Su-bi sudah terkepung dalam libatan permainan Tiam-lam-su-hou yang sudah semakin ketat bekerja sama. Lotoa Kiau Lui adalah seorang gembong silat yang cukup punya pengalaman, begitu merasa posisi tidak menguntungkan segera ia berseru memberi peringatan. "Jangan ikut berlarian dengan budak busuk ini!"-Kiau Tian, Kiau Hong dan Kiau Hun seketika sadar cepat mereka meniru perbuatan toakonya sama menghentikan kaki dan menduduki sebuah posisi. Dengan demikian, meski mereka sudah mengendorkan rangsakan terhadap Lu Su-bi, tapi posisi mereka jadi mengepung Lu Su-bi di tengah, untuk menjebol kepungan ini kiranya Lu Su-bi harus memeras keringat. Tapi Lu Su-bi masih berlaku wajar, makinya. "Goblok! Benar-benar goblok! Baru sekarang kalian hendak mengepung aku? Kini tibalah giliranku menghajar anjing-anjing gila." Kiranya meski Kiau lotoa benar merubah strategi tempurnya, tapi toh sudah terlambat. Untung dia berkepandaian tinggi dan cukup mending bagi dia, adalah ketiga adiknya yang kena dibikin pusing tujuh keliling mengikuti Lu Su-bi berputar-putar tak hentinya, keadaan mereka sudah cukup payah. Bagi Lu Su-bi, dia rada rugi karena Iwekangnya belum matang, kini Tiam-lam-su-hou sudah dalam keadaan pusing, maka dia tidak perlu takut lagi kepada mereka. Seiring dengan lengking tawanya. Lu Su-bi berputar sambil memainkan goloknya, seketika timbul ah cahaya kemilau membundar dari atas ke bawah membelit tubuhnya, kedua goloknya panjang pendek laksana pelangi seperti sambaran kilat, sekaligus mengembangkan permainan golok yang keras dan, menyerang dengan ganas, kontan Tiam-lam-su-hou kena dibikin kocarkacir. Berbagai penjuru yang terlihat adalah bayangan Lu Su-bi, kedua bilah golok panjang pendek yang dinamakan Liu-yap-to (golok daun liu) beterbangan hantam kanan bacok kiri, tusuk utara membabat selatan, berputar dan menari dengan gaya yang sangat indah dan semakin cepat pula, yang terlihat cuma cahaya golok yang kemilau tidak terlihat bentuk badannya. Dua jalur sinar golok saling berkutat bergulung-gulung seperti air tumpah dari langit, laksana kuntum kembang berterbangan di tengah angkasa! Tak tertahan lagi Beng Goan-cau sampai berseru memuji. "Siausumoay! Ilmu golok yang hebat!" Lu Su-bi masih sempat cekikikan, ujarnya. "Beng-suko, tadi kukatakan tidak perlu kau ikut turun tangan, nih lihat, aku tidak membual bukan?"-Lenyap suara tawanya golok pendeknya pun menabas miring, kontan terdengar jerit kesakitan. Losam Kiau Hong dari Tiam-lam-su-hou ke lima jari tangan kirinya kena terpapas kutung tiga di antaranya. Tersipu-sipu Loji Kiau Tian menyabetkan cambuknya datang menolong. Tapi sekali injak Lu Su-bi berhasil mematahkan serangan orang, seraya bentaknya. "Lepas tangan!" Menyelusuri cambuk orang golok panjangnya mengiris ke atas, meski Kiau Tian cepat-cepat lepas tangan dan berkelit dengan cepat, tak urung lengan kanannya kena tergores oleh ujung golok Lu Su-bi sampai lima senti panjangnya. Sekali kembangkan ilmu golok ajaran ayahnya yang murni sekaligus Lu Su-bi berhasil melukai Kiau Tian dan Kiau Hong, sekali berputar lagi kebetulan ia menyam-buti sepasang boan-koan-pit Losu Kiau Hun yang menolok tiba. Lu Su-bi menyeringai dingin. "Diberi tidak membalas tentu kurang hormat, nih kau pun merasakan ilmu totokku." La putar balik punggung goloknya dan sekali ketuk secara tepat ia kena menotok jalan darah pelemas di bawah ketiak Kiau Hun. Kau Hun terhuyung mundur seperti sebatang kayu terus terbanting roboh. Sigap sekali Kiau Lui meraihkan tangan memeluk pinggang Kiau Hun lalu dikempit di bawah ketiak, bentaknya. "Budak busuk, biar aku adu jiwa dengan kau!" Di mulut ia menggertak hendak adu jiwa, adalah kakinya seolah-olah sudah dilumuri minyak sehingga kakinya melangkah cepat melarikan diri. Sudah tentu Kuu Tian dan Kiau Hong yang sudah terluka itu meniru perbuatan toakonya ikut melarikan diri. Sambil membolang-balingkan kedua goloknya, Lu Su-bi maju mengejar seraya membentak. "Lari ke mana?" "Siau-sumoay, mereka sudah keok, sudah jangan dikejar lagi!" Lekas-lekas Beng Goan-cau berteriak memanggilnya kembali. "Tidak." Sahut Lu Su-bi. "Anjing gila ini kalau tidak dihajar kelak tentu bakal menggigit orang lagi." Ginkang Kiau Lui memang kalah dibanding kepandaian Lu Su-bi, dia harus mengempit adiknya lagi, sudah tentu larinya semakin lambat, baru saja ia berlari sampai di bawah batu-batu gunung di mana Hun Ci-lo sedang sembunyi, ia sudah terkejar oleh Lu Su-bi. Baru saja Lu Su-bi ayunkan goloknya hendak membacok, sekonyong-konyong didengarnya sebuah suara berkata dingin. "Nona cilik, jangan kau sombong akan kepandaianmu!". Suaranya terdengar orangnya pun sudah tiba. Tampak dari gunung-gunungan palsu sebelah depan sana beruntun lompat keluar dua sosok bayangan orang. Satu di antaranya langsung menubruk ke arah Lu Su-bi sementara seorang yang lain memapak ke arah Kiau Lui dan memberi bantuan, orang ini bantu membebaskan jalan darah Kiau Hun yang tertotok. Kedua orang ini melompat masuk ke dalam taman melampaui batu gunung-gunungan, gerak geriknya amat gesit seperti burung terbang. Melihat kehebatan ilmu ginkang mereka mau tidak mau Beng Goan-cau terperanjat dibuatnya. Orang yang menubruk ke arah Lu Su-bi itu berwajah kuning kurus kering, di bawah sinar rembulan yang remang-remang kelihatannya seperti mayat hidup. Sekali bacok Lu Su-bi menyerang kepadanya. "Trang" Goloknya kena kesampuk miring oleh selentikan jari orang itu. Cepat Beng Goan-cau berseru. "Sumoay mundur!"-Dengan gaya Sip-hiong-kiau-hoan-in Lu Su-bi mencelat mundur jumpalitan ke belakang sejauh satu tombak, sementara Beng Goan-cau sudah memapak ke depan, bentaknya. "Siapa kalian?" Kedua orang aneh itu masing-masing sama mengacungkan tangannya, jengeknya dingin. "Beng Tayhiap, kau bukan keroco yang tidak ternama di kangouw. Kukira kau pun sudah kenal pada kami Tiam-jong-siang-sat bukan?" Beng Goan-cau angkat kepala pandang ke depan, ia pernah melatih ilmu "mata malam", sinar bulan remang-remang, tapi ia cukup melihat jelas telapak tangan kedua orang aneh ini sama berwarna merah darah dan yang lain berwarna hitam seperti arang. Setelah tahu bahwa kedua orang ini adalah Tiam-jong-siang-sat, meski Beng Goan-cau berkepandaian tinggi dan bernyali besar pun tak urung terkejut juga. Kiranya Tiam-jong-siang-sat adalah dua tokoh terliehay dari Tiam-jong-pay di daerah Hun-lam. Yang tua bernama Pok Thian-tiau, yang muda bernama Toan Siu-si. Berlainan dengan Tiam-lamsu-hou yang serupa dan sebentuk itu, adalah mereka berlainan satu sama lain, bukan saja bentuk muka dan perawakan mereka lain, kelahiran pun tidak sama. Pok Thian-tiau adalah bayi buangan yang ditemukan gurunya Tiam-jong Siang-jin di gunung Tiam-jong-san, kabarnya bapaknya orang liar di hutan dan ibunya adalah seekor lutung besar, cuma benar tidak berita ini kurang jelas, yang terang bentuk rupanya memang tiga bagian seperti manusia, tujuh bagian seperti lutung, bermulut runcing berdagu panjang, kulit kuning bertubuh kurus, sekilas pandang seperti orang penyakitan yang baru saja sembuh dari atas pembaringan. Orang yang menyergap ke arah Lu Su-bi adalah orang aneh ini. Lain halnya Toan Siu-si adalah putra dari keluarga besar yang ternama di negeri Tayli, leluhur keluarga Toan pada jaman kerajaan Song pernah menjabat raja di negeri Tayli yang kecil itu, meski negara Tayli sudah musnah, tapi selama beratus tahun mendatang, keluarga Toan ini masih merupakan tuan tanah yang terbesar di daerah barat itu. Wajah Toan Siu-si cukup cakap ganteng, bermuka halus berkulit putih, kelihatannya bersikap sopan santun, siapa yang melihat tentu sama memuji akan pemuda perlente yang bagus ini? Tapi entah kenapa, justru dia benci akan kehidupan yang serba mewah dan berkecukupan ini, meninggalkan keluarga menghilang ke atas gunung menjadi murid Tiam-jong Siangjin, menjadi gembong iblis yang sangat disegani dan ditakuti oleh kaum persilatan. Konon kabarnya sebetulnya dia punya nama lain yang diberikan oleh leluhurnya, oleh karena benci akan kehidupan yang serba palsu dan berhati dengki serta culas lagi, maka ia tinggalkan nama aslinya dan mengganti dengan namanya sekarang. Selama sepuluh tahun ini dia sudah malang melintang di kalangan kangouw sehingga namanya cukup tenar, orang luar sama tahu Tiam-jong-pay ada seorang gembong iblis bernama Toan Siu-si, nama aslinya malah dilupakan orang. Pok Thian-tiau dan Toan Siu-si sepasang suheng-tc ini punya asal usul dan wajah yang berlainan tapi mereka punya persatuan yang nyata, yaitu sama kejam dan telengas, setrap turun tangan tidak kenai kasihan, malah mereka juga sama melatih semacam ilmu pukulan yang beracun. Tiam-jong-pay memang berdiri di antara kesesatan dan kemurnian, sepak terjang kedua suheng-te ini juga teramat aneh, mereka bekerja menurut keisengan hati melulu. Pada suatu ketika guru Beng Goan-cau, Lu Siu-gun, pernah pergi ke Tiam-jong-san mencari bahan obat-obatan, secara kebetulan pernah bentrok dengan kedua orang ini, waktu itu pukulan beracun mereka belum lagi sempurna, hanya beberapa gebrak saja, mereka kena digebah lari ketakutan oleh ilmu Bian-ciang Lu Siu-gun yang dapat meremukkan batu gunung yang keras itu, tapi Lu Siu-gun sendiri juga terkena sekali pukulan Toan Siu-si, setiba di rumah ia rebah sakit beberapa lamanya. Menurut penuturan Lu Siu-gun, ilmu pukulan yang dilatih Pok Thian-tiau bernama Hek-sa-ciang, kalau pukulan ini dilatih sempurna, cukup mengandal tenaga pukulan dapat memecah hancurkan sebuah batu besar. Sementara pukulan yang dilatih Toan Siu-si bernama Ce-sa-ciang, kabarnya jauh lebih liehay dari Hek-sa-ciang yang dilatih suhengnya. Keliehayan Pok Thian-tiau cuma terletak pada tenaga luarnya, adalah Toan Siu-si kecuali tenaga luar, lwekangnya pun cukup hebat. Karena memandang rendah kedua musuhnya inilah Lu Siu-gun hanya menggunakan pukulan Bian-ciang tanpa menggunakan golok emasnya, maka ia kena kecundang oleh Toan Siusi. Teringat akan kata-kata gurunya itu, diam-diam terkejut hati Beng Goan-cau, dalam hati ia menerawang. "Ilmu pukulan Tiam-jong-siang-sat kini sudah sempurna, mungkin aku pun tidak akan mampu menghadapi mereka. Bagaimana juga aku tidak bisa membiarkan siau-sumoay menempuh bahaya." Baru saja pikirannya bekerja, terdengarlah Lu Su-bi sudah men-jengek dingin. "Kukira siapa? Kiranya adalah dua pecundang yang pernah dibikin keok oleh ayahku." Pok Thian-tiau menyeringai iblis, ujarnya. "Sayang ayahmu mampus terlalu cepat." Maksud katanya jelas menganggap bahwa Lu Su-bi tidak setimpal menjadi lawannya. Tadi Lu Su-bi kena dirugikan sedikit oleh Pok Thian-tiau, rasa amarahnya belum lagi terlampias. seketika berkobar amarahnya, semprotnya. "Kunyuk macam kau ini juga berani memandang rendah diriku!" "Siau-sumoay!" Lekas-lekas Beng Goan-cau berseru mencegah. *'Kau sudah menang satu babak, babak selanjutnya sudah menjadi bagianku."--Sesuai dengan kebiasaan kaum bulim ia lintang-kan goloknya ke samping sambil unjuk soja tanda penghormatan kepada lawan serta serunya lantang.-"Tak beruntung guruku sudah meninggal, tapi masih ada aku. Kalau kalian hendak membalas sekali pukulan guruku dulu, aku yang rendah tidak becus ini suka mewakili guruku membual perhitungan dengan kalian!" Toan Siu-si bergelak tertawa, ujarnya. "Beng Tayhiap kenapa sungkan. Beng Tayhiap sudah memperoleh ajaran murni perguruan, siapa yang tidak kenal akan kebesaran namamu? Bicara terus terang, jikalau kami tidak tahu bahwa Beng Tayhiap berada di sini, masa kami sudi meluruk kemari?" "Baik, mari silakan kalian memberi petunjuk!" ' "Dua lawan satu, tidak adil!" Lu Su-bi berteriak. "suheng, aku..." "Siau-sumoay!" Tukas Beng Goan-cau cepat. "Babak kedua ini kularang kau ikut campur tangan!" "Kau kenapa?" Jengek Pok Thian-tiau. "Kalau tidak takut mati, ayo maju!" "Sret," Kontan Lu Su-bi mencabut golok seraya berteriak. "Suko, kau sendiri mendengar orang menantang kepadaku!" "Siau-sumoay," Cegah Beng Goan-cau tertawa kalem. "Kau sudah mengalahkan Tiam-lam-suhou, tadi aku kan tidak berebutan dengan kau, kini aku cuma menghadapi dua orang, kenapa kau hendak saling rebut dengan aku? Oh, ya, coba kau ke rumah Song-toako saja, mungkin sekarang dia sudah kembali." Lu Su-bi memonyongkan mulut, katanya cemberut. "Kau hendak mengalihkan diriku, masa begitu gampang aku kau tipu. Baiklah, babak ini kuserahkan kepadamu, tapi aku harus berdiri di sini untuk menjaga segala kemungkinan." --Tadi Lu Su-bi kena dirugikan oleh Pok Thian-tiau. ia tahu bahwa Tiam-jong-siang-sat ini entah berapa lipat lebih lichay dari Tiam-lam-su-hou karena tidak mau memberi hati kepada musuh dan merendahkan derajat diri sendiri, maka ia tidak berani bicara terang-terangan. Lotoa Kiau Lui dari Tiam-lam-su-hou tidak terluka, losu Kiau-hun pun sudah dibebaskan jalan darahnya dan mampu bertempur lagi, dengan adanya Tiam-jong-siang-sat sebagai tulang punggung, nyali mereka menjadi besar, kata Kiau Lui. "Budak busuk ini berani mentang-mentang, kebetulan dibereskan sekalian!" Membalik kedua mata Pok Thian-tiau, jengcknya. "Jangan bikin lelucon dan mengganggu gerak-gerik tangan saja, hayo pergi!" Bahwasanya Toan Siu-si sedikit pun tidak menghiraukan mereka lagi, sambil soja ia berkata kepada Beng Goan-cau. "Kukira Beng Tayhiap pernah mendapat tahu dari gurumu, kami Tiamjong-siang-sat selamanya masuk dan keluar bersama. Melawan seorang musuh kami maju bersama, melawan seratus orang kami pun maju bersama." --Sebetulnya kata-katanya ini hanya untuk menutupi rasa malu belaka, sebab yang sebenarnya karena mereka merasa jeri kepada Beng Goan-cau. Beng Goan-cau muncul di percaturan dunia persilatan baru beberapa tahun terakhir ini, namun namanya sudah menggetarkan kangouw, Tiam-jong-siang-sat pernah dengar orang lain memperbincangkan dirinya, dikatakan bahwa kepandaian silat Beng Goan-cau sekarang tidak di sebelah bawah gurunya dulu. Toan Siu-si kuatir bila bertempur satu lawan satu, dia bukan tandingan lawannya. Karena umpakannya tidak berhasil malah dimaki dan dihardik lagi. keruan Kiau Lui merasa malu, terpaksa menyeret adik-adiknya ngeloyor pergi. Sambil menghunus golok emasnya Beng Goan-cau tertawa besar, serunya. "Kalian jangan anggap ucapan siau-sumoayku masuk dalam hitungan. Silakan mulai saja!" Pok Thian-tiau menyeringai sadis, ejeknya. "Beng Goan-cau, kenapa kau cepat-cepat ingin menghadap Giam-lo-ong, baiklah biar kusempurnakan kau."-Seiring dengan seringainya lengan panjangnya terjulur maju, kelima jarinya laksana cakar, mencengkeram dengan ganasnya. "Beng Goan-cau berdiri sekokoh gunung, sedikit pun ia tidak bergerak, sekonyong-konyong ia menggentakkan lengannya mengayun tangan, sinar emas kontan berkelebat menyilaukan mata, dengan jurus Tay-bing-can-sip (burung elang pentang sayap), golok emasnya menabas miring ke samping. Jurus permainan goloknya dilancarkan tepat pada waktunya, di saat cakar beracun Pok Thian-tiau hampir mengenai sasarannya, dan belum lagi serangannya mencapai^ujuan yang sebenarnya, tenaga serangannya sudah terkuras sedikit demi sedikit. Sebaliknya Beng Goan-cau sudah menghimpun tenaga dan semangat pun bergelora, tajam goloknya untuk pertama dijajal melawan musuh, sesuai benar dengan ajaran ilmu tempur yang berbunyi. menghindari kekuatan pokok, menggempur tempat kelemahan musuh. Gerak serangan kedua pihak adalah sedemikian cepatnya, jelas dalam sedetik lagi seluruh lengan Pok Thian-tiau bakal kena tertabas kutung oleh golok emas Beng Goan-cau. Sekonyongkonyong terdengar Toan Siu-si memuji "Bagus!", belum lenyap suaranya, tahu-tahu ia sudah menubruk maju, telapak tangannya pun sudah mengepruk datang. Setelah melancarkan serangannya baru ia buka bicara. "Ilmu golok Beng Tayhiap memang bukan olah-olah hebatnya, aku orang she Toan terpaksa harus memperlihatkan kebodohan-ku, harap jangan ditertawakan!" Bahwasanya ia orang yang pernah membaca buku tahu adat istiadat, tidak seperti Pok Thian-tiau orang liar berdarah campuran, cara bicaranya sungkan dan tahu merendahkan diri. Tapi meski ucapan Toan Siu-si jauh lebih lemah lembut dan kenal tata krama, tapi cara turun tangannya justru lebih ganas dan culas dari suhengnya. Pukulan tangannya ini kelihatannya dilancarkan secara enteng dan tidak bertenaga, sebenarnyalah dia sudah kerahkan tenaga Siauthian-sing-ciang dari aliran Lwekeh. Kekuatan Siau-thian-sing-ciang dapat melukai urat nadi dan jalan darah, pukulannya ini mengincar ulu hati Beng Goan-cau lagi, kalau sampai kena terpukul, urat nadi jantungnya pasti hancur lebur. Memang hebat Beng Goan-cau, begitu merasa kesiur angin menyambar datang, tajam goloknya kontan berputar arah, tahu-tahu ia kibatkan goloknya membabat ke sebelah belakang, menuju arah yang berlawanan. Lagi-lagi Toan Siu-si berseru memuji. Lekas-lekas kakinya berputar dengan langkah naga berputar mengitari pohon, tahu-tahu ia sudah merubah tempat beralih kedudukan, kini tubuhnya sudah berkelebat memutar ke samping kiri Beng Goan-cau. Kontan hidung Beng Goan-cau mengendus bau amis darah yang memualkan. Itulah bau amis dari pukulan beracun di telapak tangan Toan Siu-si. Cepat-cepat Beng Goan-cau menahan napas dan mengerahkan hawa murni. Untung Pok Thian-tiau mendapat bantuan dari sutenya, di kala bacokan golok membalik Beng Goan-cau mengarah kepada Toan Siu-si, cepat sekali ia sudah menggeser kedudukan berganti tempat, lolos dari kurungan cahaya sinar golok Beng Goan-cau. Tapi rang-sakan Beng Goan-cau itu serba guna, dapat menyerang sekaligus untuk membela diri pula, di kala membalikkan tangan membacok, tajam goloknya menyambar lewat rada miring, meski Pok Thian-tiau mundur dengan cepat, tak urung lengan bajunya kena terpapas sebagian oleh tajam goloknya. Dengan kena sedikit dirugikan Pok Thian-tiau jadi beringas, bagai binatang buas yang kelaparan segera ia melejit setinggi tiga tombak, seraya menggerung keras tubuhnya menukik turun seperti burung elang mengembangkan kesepuluh cakar tangannya mencengkeram ke batok kepala Beng Goan-cau. Cepat Beng Goan-cau menggunakan Hong-tiam-thau golok emasnya diputar kencang di atas kepala, menyusul dengan jurus Ki-hwe-liau-thian tangannya sebelah menusuk ke atas, di samping ia menangkis dengan putaran goloknya ia pun balas menyerang dengan pukulan tangan kepada Toan Siu-si, pukulan yang menyerang Toan Siu-si ini adalah ajaran murni perguruannya yang terkenal yaitu Bian-ciang yang dapat meremukkan batu menjadi bubuk. Seperti diketahui gurunya Li Siu-gun terkenal karena Kim-to (golok emas) dan Bian-ciangnya (pukulan kapas). Dulu Toan Siu-si pernah merasakan kehebatan dari Bian-ciang ini, maka ia tidak berani menyerang terlalu bernafsu dengan kekerasan, cepat ia merubah permainannya. Karena tubrukannya luput di tengah udara Pok Thian-tiau jumpalitan terus meluncur turun di samping kanan Beng Goan-cau, ia mengambil posisi berlawanan dengan Toan Siu-si untuk mengepung Beng Goan-cau dari dua jurusan. Melihat ginkang orang liehay, gerak-geriknya gesit seperti setan gentayangan, sulit dijaga dan diperhatikan, diam-diam Goan-cau memuji dalam hati. Beberapa jurus serang menyerang adu jiwa yang sangat berbahaya ini, membuat Lu Su-bi yang menonton di pinggir gelanggang, serta Hun Ci-lo yang mengintip sama kabur pandangan dan menahan napas. Di bawah cahaya sinar bintang-bintang, di dalam taman kembang yang belukar tidak terurus lagi terjadilah pertempuran yang amat seru dan menegangkan urat syaraf. Tiam-jong-siang-sat maju mundur bekerja sama sangat serasi dan ketat, gerak-gerik mereka bagai angin lagi, ada kalanya melejit ke udara menubruk dari atas tiba-tiba menggelinding di tanah menyerang tidak kalah hebatnya. Boleh dikata di kala merangsak tiba seperti kera memanjat pohon, di waktu mundur selicin belut, bila melejit seperti burung rajawali terbang ke langit, dan menubruknya laksana harimau kelaparan. Maka terlihatlah bayangan tubuh seliweran datang pergi simpang siur, bayangan kedua orang ini seketika seperti menjadi bayangan puluhan orang yang merangsak dan menyerbu berbareng ke arah Beng Goan-cau dari delapan penjuru angin. Dengan tenang dan mantap Beng Goan-cau melayani rang-sakan hebat kedua musuhnya, ia jaga diri dengan rapat. Peduli lawan menyerang dengan kekerasan atau dengan pancingan belaka, ia masih berlaku tenang dan sabar, sedikit pun ia tidak terpengaruh dan terburu nafsu. Pertahanannya kokoh dan kuat laksana tanggul besar membendung air bah, betapapun besar damparan gelombang pasang, ia masih tetap bercokol di tempatnya tanpa bergeming sedikit pun. Cara tempur Beng Goan-cau adalah menjaga diri, lebih banyak bertahan daripada menyerang, jauh berlainan dengan cara tempur Lu Su-bi yang mempermainkan Tiam-lam-su-hou tadi. Tapi setiap kali musuh memperlihatkan lubang kelemahan dan kesempatan balas menyerang tentu tidak disia-siakan, sinar goloknya lantas bergerak malang melintang, daya kekuatan goloknya kiranya tidak lebih asor dari permainan Lu Su-bi menggasak Tiam-lam-su-hou tadi. Selama menyecar musuhnya dengan serbuan yang gencar tanpa memperoleh hasil, diam-diam Tiam-jong-siang-sat juga merasa terkejut dalam hati, pikirnya. "Bocah ini ternyata tidak lebih asor dibanding gurunya dulu, agaknya terpaksa harus menggunakan pukulan berbisa untuk menempuh kemenangan." Dari samping menonton pertempuran yang sengit dan seru ini, sungguh Lu Su-bi girang tapi tegang, dalam hati ia membatin. "Tak heran di waktu ayah masih hidup setiap kali menyinggung suko tentu ia memujinya tidak kepalang tanggung, meski aku adalah putri keluarga Lu, tapi yang benar-benar memperoleh ajaran murni kepandaian ayah adalah suko. Aku tekun dan giat belajar beberapa tahun, kukira sudah dapat menyandak kemampuan suko, siapa tahu kiranya masih terpaut sedemikian jauhnya!" Demikian pula Hun Ci-lo yang mengintip dari belakang batu gunung, hatinya ikut berdebar keras dan was-was. Malah perhatiannya lebih besar dari Lu Su-bi, sedemikian tekun dan cermat ia menonton setiap jurus dan tipu-tipu permainan adu kepandaian ini seolah-olah kuatir ketinggalan. Memang jalan pikiran dan keadaannya berlainan dengan Lu Su-bi, Lu Su-bi pernah berkumpul lima tahun selama di Siau-kim-jwan dengan sukonya, entah berapa kali pula mereka mengalami pertempuran besar kecil dan berjuang berdampingan. Adalah di kala masih di Soh-ciu dulu. meski Hun Ci-lo sering latihan bersama dengan Beng Goan-cau, tapi pertempuran Beng Goan-cau menghadapi musuh tangguh yang benar-benar baru pertama kali ini ia saksikan. Bukan saja takjub ia pun terpesona dibuatnya. Sayang Hun Ci-lo hanya tumplek perhatian pada permainan ilmu golok pujaan hatinya yang hebat itu, namun tidak pernah ia perhatikan permainan kedua lawan Beng Goan-cau yang menyerang begitu culas dan ganas, meski saat itu kelihatannya Beng Goan-cau masih kuat bertahan dan balas menyerang dengan sama kuatnya, tapi tenaga dan kemauan hati lama kelamaan terpaut semakin jauh. Mengukur kepandaian silat .mungkin kemampuan Lu Su-bi belum tentu melebihi Hun Ci-lo, tapi pengalaman bertempur melawan musuh mungkin dia lebih luas dari Hun Ci-lo. Kalau Hun Ci-lo belum dapat meraba keadaannya, adalah Lu Su-bi sudah melihat titik kelemahan ini dan ia tahu bahwa sang suko sedang menghadapi el-maut yang bisa merenggut nyawanya setiap waktu. Memang permainan ilmu golok Beng Goan-cau cukup tangguh, mantap dan lincah, meski pukulan berbisa lawan sangat ganas dan berbahaya, bicara dalam permainan tipu-tipu dan variasinya mungkin dia tidak kalah, tapi yang menjadi kekuatiran hatinya adalah bahwa pukulan musuh berbisa, di samping mengerahkan lwekang untuk melandasi permainan goloknya, ia pun harus mengerahkan hawa murni untuk menolak hawa beracun dari sambaran pukulan lawan, lama kelamaan, betapapun tenaga akan terkuras dan ini secara langsung akan mempengaruhi ilmu goloknya, sehingga hati ada niat melawan tapi tenaga sudah terkuras habis. Adalah semakin mengikuti jalannya pertempuran hati Lu Su bi semakin terkejut, diam-diam ia membatin. "Lwekangku jauh tidak ungkulan dibanding suheng, cara bagaimana baru aku bisa membantu dia?"-Tiba-tiba tergerak pikirannya, karena sekonyong-konyong terbayang olehnya semacam ilmu permainan golok yang diajarkan oleh ayahnya, yaitu Kwi-to (permainan golok cepat). Ajaran ilmu golok ini memang khusus diciptakan oleh Lu Siu-gun untuk menjaga dan menghadapi Tiam-jong-siang-sat yang sewaktu-waktu bakal meluruk datang menuntut balas, setelah memeras keringat dan jerih payah puluhan tahun, di masa tuanya baru terpikir dan terciptalah ilmu golok cepat ini. Tatkala itu Beng Goan-cau berada di Soh-ciu, maka hanya Lu Su-bi seorang saja yang mempelajari ilmu golok ini. Tak lama sesudah ia sempurna mempelajari imu golok ini, tak beruntung ayahnya pun wafat. Dasar dan inti dari ilmu golok ini adalah kecepatan, dan lagi harus dilancarkan dalam jarak yang amat dekat dengan bacokan dan tabasan seperti membabat benang rami yang serabutan, menabas kutung pergelangan tangan musuh baru berhasil meruntuhkan pukulan berbisa musuh. Masih segar dalam ingatan Lu Su-bi di waktu ayahnya mengajar ilmu golok ini, pernah berpesan wanti-wanti kepadanya, yaitu setelah sepuluh tahun kemudian baru boleh menggunakan ilmu golok ini. Lu Su-bi pernah mengajukan keheranannya, sang ayah menjawab. "Ilmu golok ini perlu dikombinasikan dengan Iwekang yang kuat, kalau tidak mana mampu mendekati musuh? Mengandal lwekang-mu sekarang, jangan kata mendekati musuh, cukup kau tersambar hawa beracun dari pukulan berbisa lawan kau tidak akan kuat bertahan. Meskipun sepuluh tahun mendatang, kau pun perlu bernyali besar cermat dan hati-hati!-Waktu itu ayahnya tidak secara langsung menyebut nama Tiam-jong-siang-sat, Lu Su-bi menyangka bahwa ilmu goloknya ini cuma khusus untuk mematahkan pukulan beracun belaka. Karena ada batas sepuluh tahun kemudian baru boleh digunakan maka biasanya Lu Su-bi segan melatih ilmu golok cepat ini secara tekun dan rajin. Sekarang baru ia insyaf bahwa ilmu golok ciptaan ayahnya itu kiranya adalah khusus untuk melawan ilmu pukulan dari Tiam-jong-siang-sat ini. Namun menyesal pun sudah terlambat. Bahwa dia kurang latihan bukan soal yang penting. Yang penting adalah bahwa kini baru berselang lima tahun, ini berarti bahwa bekal lwekangnya untuk melandasi ilmu goloknya ini dia baru mencapai separahnya. Kalau secara nckad dan menempuh bahaya melancarkan ilmu golok ini untuk membunuh Tiam-jong-siang-sat, bukan saja ia belum pasti mampu melukai musuh malah akibatnya ia sendiri yang kena terbunuh atau terluka oleh pukulan berbisa lawan. Begitulah Lu Su-bi menjadi bimbang dan sulit mengambil keputusan, waktu ia angkat kepala, tampak Beng Goan-cau sudah mandi keringat, di atas kepalanya terhimpun uap putih yang bergulung-gulung, maklum dengan mengerahkan seluruh Iwekang dan tenaga murninya Beng Goan-cau harus menempur mati-matian Tiam-jong-siang-sat, betapapun ia tidak mungkin selalu menahan napas selama itu. sedikit atau banyak dia harus bernapas dan ini berarti ia harus menghirup hawa beracun dari pukulan berbisa musuh, untuk ini ia perlu menghimpun hawa mumi mengubah hawa beracun itu menjadi keringat dan dikeluarkan dari badannya. Melihat keadaan sukonya ini. Lu Su-bi insyaf bahwa sukonya sudah di ambang ancaman elmaut. mau tidak mau ia harus mengambil putusan nekad. "Demi kita ibu beranak, suko hampir saja mengorbankan jiwanya, kini dia sendiri terancam bahaya, masa aku tega berpeluk tangan menonton saja? Seandainya pukulan beracun Tiam-jong-siang-sat membinasakan aku. betapapun aku harus coba-coba menempuh bahaya ini." Untuk mengejar waktu, di saat Beng Goan-cau masih kuat bertahan mati-matian, dalam hati selintasan ia membayangkan jalan permainan ilmu golok cepat itu. Pengalaman' tempur menghadapi musuh memang Hun Ci-lo tidak seluas Lu Su-bi. namun dasar pengertiannya dalam ajaran silat jauh melebihi Lu Su-bi. Maka di kala ia melihat uap putih yang bergulung di atas kepala Beng Goan-cau itu. mau tidak mau hatinya mencelos. Tepat di kala Lu Su-bi teringat akan ilmu golok ajaran ayahnya itu berbareng Hun Ci-lo juga teringat akan tiga jurus ilmu pedang ajaran ayahnya. Seperti diketahui ayah Lu Su-bi >aitu Lu Siu-gun dan ayah Hun Ci-lo yaitu Hun Ciong-san adalah sahabat karib, di waktu Lu Siu-gun terlibat dalam perkelahian dengan Tiam-jong-siang-sat dulu. kebetulan mereka masih bergaul maka Lu Siu-gun pernah ajak Hun Ciong-san tukar pikiran mencari akal. menghadapi ilmu silat Tiam-jong-siang-sia. Kedua orang ini sama-sama ahli dalam bidangnya, masing-masing. Hun Ciong-san seorang tokoh ahli pedang, sementara ilmu golok Lu Siu-gun tiada tandingan, kepandaian mereka sama setingkat dan setanding. Tapi karena Lu Siu-gun sering mengembara dan lari sana sembunyi sini. beberapa tahun terakhir mengalami kehidupan dalam kejaran musuh, sulit memperoleh waktu untuk memperdalam ilmu goloknya. Maka di kala Hun Ciong-san berhasil menciptakan tiga jurus ilmu pedang yang khusus dapat memecahkan ilmu pukulan tangan Tiam-jong-siang-sat. itu terjadi beberapa tahun sebelum Lu Siu-gun berhasil menciptakan ilmu golok cepatnya ini. Tatkala itu Hun Ci-lo masih berusia empat belas tahun. Beng Goan-cau pun belum datang ke Soh-ciu. Intisari ketiga jurus ilmu pedang ini senyawa dengan inti permainan ilmu golok cepat itu. Yaitu harus dilancarkan dalam waktu yang singkat dan cepat seperti kilat. Tapi permainan pedang jauh lebih ganas dan keji dari ilmu golok, ketiga jurus ilmu pedang ini sama mengarah ke jalan darah mematikan di tubuh lawan, cukup sejurus mengenai sasarannya, kontan ilmu pukulan beracun lawan tentu kena dipecahkan. Akan tetapi ilmu pedang ini cuma tiga jurus, kalau dikatakan memang gampang, bahwasanya setiap jurusnya justru mengandung banyak perubahan yang sangat rumit, kini di kala Hun Ci-lo berniat menggunakannya, serta merta ia pun merasa menyesal kenapa ia malas berlatih selama ini. Persoalan yang mempersulit Hun Ci-lo adalah, sekarang dia tidak suka muncul dan dilihat oleh Beng Goan-cau. Karena ia hendak merangkap perjodohan Beng Goan-cau dan Lu Su-bi, bilamana Beng Goan-cau sampai melihat dirinya, hal ini akan membawa pengaruh besar bagi hubungan mereka. Soal Iwekang dia malah tidak perlu kuatir seperti keadaan Lu Su-bi sekarang. Karena usianya enam tahun lebih tua dari Lu Su-bi, mengandal latihan Iwekangnya sekarang, paling pendek dalam sesulutan dupa ia masih mampu bertahan tidak sampai kena terpengaruh oleh hawa berbisa dari pukulan beracun musuh. Keluar membantu Beng Goan-cau atau harus tetap sembunyi di tempatnya saja. Kalau tidak lekas keluar Beng Goan-cau mungkin bakal melayang jiwanya. Di saat Hun Ci-lo memperhitungkan cara yang sempurna dan menguntungkan bagi kedua pihak, yaitu cara bagaimana ia keluar tanpa dikenal oleh Beng Goan-cau akan dirinya, dan baru saja ia bersorak dalam hati, tepat pada saat itulah mendadak didengarnya Lu Su-bi berseru. "Suko, mari kubantu menggebah kedua musuh laknat ini."-Melolos golok secepat kilat ia terjun ke dalam gelanggang pertempuran. Di mana sinar goloknya berkelebat kontan terdengar jeritan orang, lalu disusul tubuh Lu Su-bi terpental mudur sempoyongan beberapa langkah ke belakang. Ternyata tangan Pok Thian-tiau kena sejurus tusukan goloknya, tapi Lu Su-bi sendiri tak urung kena didorong mundur oleh sebuah pukulan Toan Siu-si. Betapapun Iwekang Lu Su-bi merupakan kunci yang menentukan, tabasan goloknya tidak berhasil mengutungi pergelangan tangan Pok Thian-tiau, tapi dia kena dipukul mundur sempoyongan oleh tenaga dalam Toan Siu-si, kontan darah bergolak di rongga dadanya, isi perut seperti dipelintir dan jungkir balik, sakit bukan buatan. Keruan Beng Goan-cau kaget sekali, serunya. "Siau-sumoay, bagaimana kau?" Lu Su-bi mengertak gigi, serunya lantang. "Tidak apa. Kunyuk tua itu sudah terluka. Mari kita gempur mereka bersama." Meskipun ia menahan sakit sekuat-kuatnya dan bicara meninggikan nada, tapi mana bisa ia mengelabui kuping Beng Goan-cau. Sebagai seorang ahli dalam bidangnya, suara siau-sumoay yang sedikit gemetar itu, terutama beberapa kata terakhir bukan saja gemetar bahkan terdengar sumbang dan semakin lemah, sekilas memperhatikan lantas Beng Goan-cau tahu bahwa hawa murninya sudah terganggu dan kurang terpusatkan, ini pertanda bahwa dia sudah terluka dalam. Dalam pada itu, Pok Thian-tiau menggerung sekeras-kerasnya sambil menubruk maju, hardiknya. "Budak liar yang tidak tahu mati hidup, berani kau melukai aku, aku ingin mencabut jiwamu!" Sungguh culas dan kejam amat, pada hal sebelah tangan kirinya sudah tergantung berayunayun hampir putus berlepotan darah oleh bacokan golok Lu Su-bi, hampir saja sudah ambil perpisahan dengan badannya, tapi sedikit pun ia tidak mengerut alis atau mengeluh kesakitan, dengan kalap ia menubruk datang pula. Di bawah penerangan cahaya rembulan yang redup, kelihatan rona wajahnya beringas dan menyeringai sadis, seperti setan ganas yang hendak menebus jiwa manusia. Tangan kanannya terangkat tinggi, telapak tangannya menjadi hitam legam. Meski lengan kiri sudah terluka pukulan beracunnya masih ada, maka seluruh kekuatan pukulan berbisanya ia kerahkan ke telapak tangan kanan. Betapapun besar nyali Lu Su-bi, melihat wajahnya yang sedemikian mengerikan, tak urung ia bergidik ketakutan. Lekas-lekas ia berpaling muka tidak berani melihat lagi, di samping lekas-lekas ia kembangkan ginkangnya yang hebat diselingi permainan ilmu golok cepat. Ilmu goloknya masih bisa dilancarkan secara baik, namun setelah terluka dalam, ada niat tenaga tidak memadai, sekali kakinya gentayangan tabasan goloknya tidak mengenai Pok Thian-tiau. Untung gerak-geriknya cukup gesit, maka pukulan berbisa Pok Thian-tiau pun tidak mengenai dia. Lekas Beng Goan-cau memelintir dan membolang-balingkan golok emasnya, dengan sejurus Tiang-ho-loh-jit bagaikan hujan badai goloknya merangsak melindungi sumoaynya sembari menjaga serbuan musuh lebih lanjut. Sekali gentak Toan Siu-si mendorong Pok Thian-tiau ke samping menghindari serangan golok Beng Goan-cau, sementara telapak tangan yang lain bergerak membundar setengah lingkaran, ia bergaya hendak menyerang kepada Lu Su-bi, gerakan ini sekaligus dapat memancing perhatian Beng Goan-cau untuk menyelamatkan sumoaynya. Dan cepat sekali ia sudah melejit mundur juga beberapa langkah, terdengar ia bergelak tertawa. "Apa yang kau tertawakan?" Bentak Beng Goan-cau. "Kutertawakan budak ini bisa berpura-pura dan bermuka-muka, memang persis sekali... Tapi kuperingatkan jangan kau mengeraskan kepala berusaha bertahan secara kekerasan." "Kau membual apa?" Sentak Lu Su-bi sambil mengacungkan pedangnya, sebetulnya ia hendak melabrak maju tapi kuatir tenaga tidak mengijinkan, sekali bergerak dan menyerang secara kekerasan keadaan luka dirinya tentu diketahui lawan. "Nona cilik," Ujar Toan Siu-si tertawa. "Sungguh aku kagum pada kau. Kau terkena Ang-saciangku, betapa sakit dan derita yang kau rasakan tanggung orang biasa tidak akan kuat bertahan, namun kau masih bisa berpura-pura begitu persis seperti tidak terjadi apa-apa." Lalu ia berpaling ke arah Pok Thian-tiau, katanya. "Suheng! Luka-luka budak kecil ini jauh lebih parah dari lukamu, kau pun tidak perlu mengumbar amarah begitu besar!" "Sute!" Seru Pok Thian-tiau gusar "Apa-apaan omonganmu ini? Apa kita tidak perlu menuntut balas lagi dan mengampuni jiwa mereka demikian saja? Kejadian malam ini bila sampai tersiar luas di Bulim, orang lain sih tidak tahu. tentu mereka anggap kita tidak mampu mengalahkan putri dan murid Lu Siu-gun, di mana muka Tiam-jong-siang-sat ditaruh selanjutnya?" Tahu bahwa sang sumoay memang sudah terkena pukulan beracun musuh, sungguh kejut dan marah Beng Goan-cau bukan kepalang. "sret" Kontan ia tusukkan pedangnya ke arah Toan Siu-si, sembari bentaknya. "Baik, Beng Goan-cau mengadu jiwa dengan kalian." Tapi Toan Siu-si tidak melayani serangannya, sebat sekali ia melompat mundur menghindar, teriaknya. "Nanti dulu, aku ada omongan!" "Kau sudah melukai sumoayku, ada omongan apa pula yang harus kukatakan kepadamu?" Pok Thian-tiau menjadi gugup, teriaknya. "Sute, kau..." Dengan cepat dan mahir sekali Toan Siu-si lekas membubuhi obat Kim-jong-yok pada luka-luka Pok Thian-tiau, ujarnya. "Suheng tidak usah kuatir, aku tidak akan membuat kau kehilangan muka. Tapi permusuhan gampang di kat sulit dilerai, asai kedua pihak sama-sama memperoleh bagiannya, apa halangannya diadakan gencatan senjata sementara?" Walaupun Pok Thian-tiau sebagai suheng, tapi pengetahuan dan kepandaian ilmu silatnya diungkuli sutenya, maka selamanya ia bersikap hormat dan patuh kepada sutenya. Maka setelah mendengar kata-kata Toan Siu-si ia berkata. "Baik, asal muka dan gengsi Tiam-jong-siang-sat kita tidak sampai dirugikan, aku menurut saja." Sumoay sudah terluka, gencatan senjata memang adalah yang diharapkan oleh Beng Goan-cau, maka cepat ia pun berseru. "Baik, lalu bagaimana maksudmu? Silakan jelaskan!" "Luka-luka sumoaymu jauh lebih parah dari suhengku, kalau dilanjutkan, kalian tidak bakal memperoleh keuntungan, bukan saja jiwa sumoaymu mungkin tidak bisa diselamatkan lagi, mungkin jiwamu sendiri pun harus kau pertaruhkan." Beng Goan-cau menjengek dingin. "Aku orang she Beng memang sudah tidak ingin hidup lagi, ucapanmu ini tidak perlu kau lanjutkan, lekas kau jelaskan cara selanjutnya saja."-Sementara dalam batin ia berpikir. "Gembong iblis ini menempatkan diri sebagai pihak pemenang, jelas hendak tawar menawar dan mengulur waktu. Ai, asal jiwa sumoay bisa diselamatkan, meski harus sedikit menderita dan kena malu pun tidak menjadi soal." Toan Siu-si terbahak-bahak, serunya. "Ucapanmu terlalu berat. Biasanya orang suka berkata, membunuh orang tidak jarang cuma menganggukkan kepala belaka. Apalagi yang mengikat permusuhan adalah gurumu, untuk apa kami harus mencabut nyawamu? Tapi pepatah ada bilang juga, hutang ayah putra-putrinyalah yang harus bayar, bagi kaum persilatan guru bagai ayah, gurumu berhutang satu pukulan pada kami suheng-te, entah apakah Beng Tayhiap sudi menebus hutang gurumu ini?" "Baik," Sahut Beng Goan-cau tanpa pikir panjang. "Silakan kalian maju masing-masing pukul satu kali!" Keruan Lu Su-bi terperanjat, teriaknya. "Suheng, jangan!" Toan Siu-si menyengir ujarnya. "Meski lwekang Beng Tayhiap ampuh, belum tentu kau kuat bertahan dari pukulan berbisa dari Tiam-jong-siang-sat. Bila sampai jiwa Beng Tayhiap melayang ini jadi bertentangan dengan maksud kami semula, jangan begitu caranya!" "Sebetulnya apa kehendakmu? Kenapa bicara pelintat-pelintut!" Berkatalah Toan Siu-si pelan-pelan. "Hal ini dapat kau lakukan, malah gampang sekali. Cukup asal kau berlutut dan menyembah tiga kali kepada kami, anggap saja ini sebagai penebus hutang gurumu. Untuk selanjutnya permusuhan di antara kita terhitung sudah lunas!" Muka Lu Su-bi yang semula sudah pucat pasi seketika merah membara, makinya. "Kentutmu busuk! Bajingan, sengaja kau hendak menghina kami, bukan saja menghina kami, kau pun menghina ayahku almarhum! Suheng, kau bisa sabar, aku harus labrak dia!" "E, eh," Seru Toan Siu-si. "Dua jiwa ditukar menyembah tiga kali, hitung dagang yang cukup ringan dan menguntungkan bagi kalian masa kalian tidak sudi?" Bertaut alis Beng Goan-cau, matanya mendelik bundar. Hardiknya. "Beng Goan-cau lebih baik ajal daripada bikin malu perguruan, hari ini kalau kau tidak mampus biarlah aku yang mati! Silakan maju!" Maklum biasanya Beng Goan-cau paling menghormati gurunya, kalau Tiam-jong-siang-sat hanya menyuruh dia menyembah, demi jiwa sumoaynya mungkin bisa dilakukan, atau paling tidak bisa dipertimbangkan. Tapi' Toan Siu-si menjelaskan bahwa ia menyembah sebagai balas dosa akan perbuatan gurunya dulu, sekali ia menyembah berarti nama dan gengsi gurunya ia sapu bersih, mana sudi dia melakukan. Bahna gusarnya Beng Goan-cau mainkan goloknya dengan bernafsu, beruntun ia putar goloknya sekencang angin menyerbu Tiam-jong-siang-sat. Di luar sadarnya justru ia kena dipancing oleh Toan Siu-si, bahwa menghadapi pukulan beracun Tiam-jong-siang-sat sebetulnya Beng Goan-cau sudah kepayahan, sekali ia mengumbar nafsu amarah, keadaannya semakin payah dan tak kuasa bertahan lama. Pok Thian-tiau sangat benci Lu Su-bi, sambil menyeringai iblis ia berkata. "Budak busuk, matamu buta melek, berani melukai aku, aku pun tidak perlu mencabut nyawamu, cukup asal kau tebus dengan kedua biji matamu saja?", sambil mengayun lengannya yang berlepotan darah dengan gencar ia merabu Lu Su-bi. Beberapa gebrakan Lu Su-bi masih kuasa bertahan, namun kepala sudah pusing dan mata pun berkunang-kunang, bumi rasanya berputar dan hampir kiamat. Disamping harus mengerahkan tenaga murni untuk menolak hawa beracun Beng Goan-cau harus selalu memperhatikan keadaan sumoaynya pula, dalam pertempuran sengit itu tiba-tiba terdengar "cras", secuil kain baju Beng Goan-cau kena dicomot robek oleh Toan Siu-si. Toan Siu-si bergelak tertawa, seninya. "Beng Goan-cau, apa kau masih keras kepala anggap dirimu sebagai Hohan? Sayang, sayang! Sayang ilmu silatmu ini. Sebetulnya aku tidak ingin mencabut nyawamu, tapi terpaksa kau harus kutamatkan riwayatmu." Toan Siu-si sudah anggap Beng Goan-cau sebagai ikan yang masuk ke dalam jalanya, siapa tahu belum lagi suara tawanya lenyap, dari batu gunung di sebelah belakangnya sana, di mana terdapat gerombolan liar mendadak terbang keluar sesosok bayangan hitam, laksana kilat tiba-tiba menubruk ke arah dirinya. Tidak perlu dijelaskan orang ini tentu Hun Ci-lo adanya. Tapi Beng Goan-cau tidak tahu sama sekali. Sejak kecil Hun Ci-lo sudah suka kebersihan, tapi supaya dirinya tidak dikenali oleh Beng Goancau, terpaksa ia comot tanah terus diusapkan ke mukanya di samping itu ia sobek lengan bajunya yang warna hitam untuk membungkus sanggul rambutnya. Gerakan pedang Hun Ci-lo laksana kilat. "Sret" Dengan tipu Pek-hong-koan-jit ujung pedangnya menusuk ke Tay-yang-hiat di kepala Toan Siu-si. Keruan Toan Siu-si terkejut, batinnya. "Entah dari mana perempuan gila ini muncul tiba-tiba, liehay benar permainan pedangnya!"-Tersipu-sipu ia gunakan Hong-tiam-thau menghindar berbareng pindah tempat menggeser kedudukan sembari membalikkan telapak tangan memukul ke belakang. Di mana sinar pedang berkelebat, seketika Toan Siu-si merasa kepalanya menjadi dingin. Ternyata setengah rambut kepalanya sudah terpapas rontok oleh tajamnya pedang Hun Ci-lo. Kepalanya menjadi botak kelimis seperti rumput terbabat sampai seakar-akarnya. Hun Ci-lo cuma mengandal tiga jurus permainan pedangnya untuk memperoleh kemenangan, jurus pertama ia tidak berhasil menusuk luka musuh, diam-diam ia merasa sayang, cepat sekali ia sudah menggeser kaki pindah posisi, jurus kedua Hian-oh-jan-sa, kali ini sasarannya adalah Pok Thian-tiau. Ginkang Toan Siu-si sebetulnya setanding dengan Hun Ci-lo, soalnya dia harus menghindar baru melancarkan serangan balasannya, maka tamparan telapak tangannya itu mengenai tempat kosong, ujung baju lawan pun tidak tersentuh. Memang kepandaian Pok Thian-tiau tidak ungkulan dibanding sang sute, sudah terluka lagi, kini tinggal sebelah tangannya saja yang mampu menghadapi musuh maka ia tidak mampu meluputkan diri dari serangan jurus pedang Hun Ci-lo yang memang khusus diciptakan untuk mematahkan pukulan berbisanya itu. Begitu Pok Thian-tiau melayangkan telapak tangannya memukul kontan terdengar "Cras"! tepat sekali Lau-kiong-hiat di telapak tangannya kena tertembus oleh ujung pedang Hun Ci-lo. Lekas sekali Hun Ci-lo sudah mencabut keluar pedangnya, terus ditabaskan ke sebelah belakang dengan jurus Giok-Ii-to-soh, tepat sekali ia sambuti pukulan berbisa Toan Siu-si dari sebelah belakang. Bagi setiap orang yang sama berlatih pukulan berbisa pada tubuhnya ada tiga tempat jalan darah penting yang pantang kena dilukai musuh, yang pertama adalah Tay-yang-hiat di pelipis, kedua adalah Tam-tian-hiat di bawah perut dan yang ketiga adalah Lau-kiong-hiat di telapak tangan. Kalau Lau-kiong-hiat kena tertembus pedang maka pukulan beracunnya punah dan tak bisa digunakan lagi. Toan Siu-si tahu akan bahaya ini, lekas-lekas ia tarik telapak tangannya dan merubah permainannya, betapapun tepat gerak pembahan permainannya tak urung di mana sinar hijau berkelebat, tajam pedang Hun Ci-lo berhasil menggores luka panjang tiga inci di lengannya. Begitu telapak tangannya dilubangi ujung pedang, pukulan berbisa Pok Thian-tiau tidak berguna lagi, seraya menggerung kesakitan ia jumpalitan mundur tiga tombak. Meski ia ada berlatih kepandaian yang lain, tapi pukulan berbisa, yang diandalkan sudah tidak mampu dilancarkan lagi, mana ia berani bertempur lebih lama lagi? Luka ringan Toan Siu-si bila dibanding luka suhengnya boleh dikata tidak menjadi soal apa-apa. Tapi keadaan Pok Thian-tiau tidak mungkin kuat bertahan lagi, seorang diri sudah tentu ia tidak kuasa melawan lagi, terpaksa ngacir saja lebih baik. Malam itu bulan sabit, pancaran sinarnya redup dan kurang terang, gerak-gerik Hun Ci-lo teramat cepat lagi, kedatangannya yang mendadak dan tak terduga-duga pula, seperti elang menerkam kelinci saja, beruntun tiga jurus gebrakan ia memukul roboh Tiam-jong-siang-sat, sehingga Beng Goan-cau sedikit pun tidak melihat jelas siapa dia adanya. Begitu tiga jurus pedangnya selesai dilancarkan dengan hasil yang cukup gemilang, baru Hun Ci-lo menghela napas lega dan bersyukur dalam hati, sekilas ia mencuri pandang ke arah Beng Goan-cau, lalu tanpa menoleh lagi ia tinggal pergi. Cepat Beng Goan-cau berteriak. "Musuh sudah lari tidak usah dikejar, harap Inkong (tuan penolong) lekas kembali dan terimalah hormat terima kasihku."-Belum lenyap suaranya bayangan Hun Ci-lo sudah terbang laksana burung malam melewati pagar tembok dan menghilang ditelan kegelapan. Dia sangka Hun Ci-lo pergi mengejar musuh, mana dia tahu bahwa dengan rasa getir dan mendelu memang sengaja ia menghindari pertemuan dengan Beng Goan-cau. Tapi bagaimana juga dia adalah orang yang dulu menjadi sahabat karib Beng Goan-cau malah jadi kekasihnya pula, setiap gerak-geriknya sudah sangat hafal dalam pandangan Beng Goan-cau, meskipun Beng Goan-cau tidak melihat jelas siapa dia adanya, tapi di kala ia melompati pagar tembok, meski hanya satu dua detik saja, tak tertahan tergeraklah sanubarinya, terasa olehnya bayangan orang seperti sudah amat dikenal. Di saat hati Beng Goan-cau tergerak dan berpikir. "Siapakah orang itu?" Tiba-tiba didengarnya Lu Su-bi tertawa geli, namun disusul ia mengeluh kesakitan terus sempoyongan hampir jatuh. Kiranya setelah hatinya lega kaki tangan lantas merasa lemas dan tidak kuat bertahan lagi. Beng Goan-cau kaget, cepat ia memburu memayang sumoaynya. Setelah menarik napas Lu Subi berkata. "Istirahat sebentar cukuplah. Untung tertolong oleh orang itu, lekas kau mengundangnya kembali, dia adalah seorang perempuan, masa kau tidak melihatnya? Jangan berkaok-kaok saja memanggilnya Inkong segala!"-baru sekarang Beng Goan-cau tahu karena dia berteriak memanggil Inkong itulah sumoaynya tertawa geli. Waktu Beng Goan-cau menegas tampak wajah sumoaynya pucat pasi bagai kertas, di antara tengah alisnya terselubung hawa hitam, tak tertahan ia menghela napas, katanya. "Siau-sumoay, jangan kau coba-coba mengeraskan hati, mari kubantu masuk rumah istirahat. Aku tahu kau ingin membalas kebaikan orang, tapi bila penolong itu sudi bertemu muka dengan kita, dia akan datang sendiri kemari lagi, kalau sebaliknya kita kejar pun tidak berguna!" Sambil menggayut pada suhengnya Lu Su-bi berkata. "Aneh, kenapa dia menolong kita, tapi sengaja menghindari kita pula, dapatkah kau mengira-ngira siapakah dia adanya?" "Darimana aku bisa tahu? Kesehatanmu lebih penting, tak usah urus siapa dia, marilah istirahat dulu!" Lahirnya Beng Goan-cau berkata begitu, namun dalam hati diam-diam ia menerka. "Bukan mustahil Ci-lo adanya? Kalau betul dia, kenapa tidak sudi terlihat oleh aku? Selama delapan tahun ini betapa aku menderita merindukan dia, apakah dia tidak lagi rindu kepadaku?" Mendadak teringat olehnya dua bait syair yang dulu ia baca bersama Hun Ci-lo. "Bersua seperti tidak ketemu, ada hati seakan-akan tiada cinta!" Hatinya jadi hampa, namun dari sini lapat-lapat ia dapat menangkap alasan kenapa Hun Ci-lo tidak mau menemui dirinya, karena keadaan dua pihak yang tidak lagi mengi-jinkan. Walau merasa letih tapi Lu Su-bi tidak bisa pulas, sepasang matanya tidak berkisar dari suhengnya. Dilihatnya Beng Goan-cau menggayut di jendela, mukanya menghadap keluar entah apa yang sedang dipikirkan, maka segera ia bertanya. "Suko, apakah dia kembali?" Beng Goan-cau seperti tersentak sadar, ia berpaling dan bertanya hampa. "Siapa maksudmu?" "Nah sikapmu yang linglung itu, siapa kau kira yang kumaksud?" Goda Lu Su-bi. "Sudah tentu perempuan penolong kita yang seperti naga yang kelihatan kepala tidak terlihat ekornya!" "Jadi kau masih pikirkan dia? Sejak tadi ia sudah pergi jauh, tidak akan kembali lagi!" "E, eh, darimana kau bisa tahu?" "Bukankah kau katakan dia sebagai kepala naga yang tidak terlihat ekornya? Demikian juga pandanganku, kalau dia benar-benar hendak bertemu dengan kita sejak tadi ia sudah berada di sini!" "O, jadi kau bukan memikirkan dia lalu siapa yang sedang kau pikirkan?" Diam-diam Beng Goan-cau mengeluh dalam hati, batinnya. "Karena aku siau-sumoay terluka parah, sebaliknya aku selalu merindukan Ci-lo."-Maka seperti membujuk bocah kecil layaknya ia berkata. "Apapun tidak kupikirkan, cuma aku berdoa dan mengharap supaya kau lekas sembuh. Nih kuberi sebutir pil, setelah makan obat ini lekaslah tidur saja."-Pil yang dia berikan ini adalah Siau-hoan-tan buatan Siau-lim-si yang khusus untuk mengobati luka-luka dalam. Obat Siau-hoan-tan ini adalah pemberian dan Leng Tiat-jiau, pernah suatu ketika dalam pertempuran besar ia terluka cukup berat, maka Leng Tiat-jiau memberinya tiga butir Siauhoan-tan dari pemberian Tau-pi Siansu dari Siau-lim-pay, karena sayang ia masih simpan satu butir. Setelah menelan pil obat itu, berkatalah Lu Su-bi tersenyum. "Kau anggap obat ini sebagai permen dan membujuk aku tidur ya? Tapi aku masih tidak ingin tidur." Tergerak hati Beng Goan-cau. katanya. "Dulu waktu kau merawat penyakitku sering bernyanyi dan bersenandung bagi aku. Tapi aku tidak bisa nyanyi, biar kutiup seruling saja, kau mau dengar tidak?" "Baik, baik sekali!" Seru Lu Su-bi girang. "Aku masih ingat di waktu berada di Siau-kim-jwan, kau dan Song-suko yang satu meniup seruling yang lain bersenandung, sudah lama aku tidak dengar tiupan serulingmu." "Sayang Theng-siau tidak berada di sini, tiada orang senandung bagimu."-Lalu pelan-pelan ia meniup serulingnya. Yang ditiup adalah sebuah lagu daerah Kang-lam yang sangat populer di sana, nada lagunya sebetulnya sangat lincah dan enteng, namun perasaan Beng Goan-cau sebaliknya sedang mendelu dan pedih. Karena delapan tahun yang lalu di dalam taman kembang ini pula ia sering meniup lagu ini untuk didengar oleh Hun Ci-lo. Lu Su-bi tidak tahu akan seluk beluk ini, namun ia mendengar dengan seksama. Masih segar dalam ingatannya di kala mereka masih di Siau-kim-jwan, Song Theng-siau juga pernah menyanyikan lagu ini bagi dia. Dari irama seruling yang merdu menawan hati ini. lapat-lapat ia seperti mendengar suara nyanyian Song Theng-siau terngiang di pinggir kupingnya. Lagu ini merupakan gubahan dari lagu selingan drama "bilik barat' yang sangat populer di Kang-lam, di mana mengisahkan sepasang kekasih--Thio Seng dan Ing-ing--sedang memadu kasih, suatu ketika Thio Seng harus pergi ke tempat jauh dan lama tidak kunjung pulang, seorang diri Ing-ing menunggu dan merindukan pujaan hatinya. Lagu dalam adegan babak ini cukup lincah dan mengasyikkan maka banyak orang, entah dari kalangan tinggi atau kaum rendah, sama suka menyanyikan lagu ini. Begitu asyik Lu Su-bi mendengarkan, hatinya seperti dikili-kili oleh buaian asmara terbayang akan musim semi nan cerah di bumi Siau-kim-jwan yang indah dan permai itu, di dalam hutan yang penuh ditaburi kembang-kembang liar, Beng Goan-cau menggayut pohon meniup seruling, sementara Song Theng-siau bernyanyi pelan-pelan. Bayangan di depan mata semakin remangremang dan tanpa terasa Lu Su-bi sudah terlelap dalam buaian impian. Akhirnya lagu itu selesai ditiup, namun gema suaranya masih berkumandang di tengah udara. Adalah perasaan Beng Goan-cau jus-teru dicekam kepedihan yang tak terhingga. Terbayang sebuah gambar lukisan dalam pandangan matanya. Cuma lukisan itu sudah kotor berlepotan debu, warnanya sudah mulai luntur. Delapan tahun yang lalu sebelum dia berangkat menunaikan tugas, di dalam taman kembang di bawah teras kembang sana untuk yang terakhir ia meniupkan lagu ini untuk Hun Ci-lo. Masih teringat olehnya pada waktu itu ia pernah berkata kepada Hun Ci-lo. "Aku bukan Thio Seng dan kau pun bukan Ing-ing. Aku pasti masih bisa kembali di bawah teras kembang ini kutiupkan pula lagu ini bagimu." Sekarang dia benar-benar kembali sesuai dengan janjinya, dan bukan Thio Seng yang ingkar janji dan menyia-nyiakan kekasihnya, tapi Hun Ci-lo justru seperti Ing-ing ternyata sudah menikah dengan orang lain. Taman kembang ini sudah menjadi liar dan tidak terurus lagi. teras kembang itu pun sudah roboh, dia pun tidak akan dapat menemukan Hun Ci-lo untuk mendengar tiupan lagunya ini. Tapi dapatkah hal ini hanya menyalahkan Hun Ci-lo? Masih teringat olehnya setelah ia mengucapkan kata-katanya itu. dengan pedih Hun Ci-lo menghela napas, katanya rawan. "Begitulah. Semoga kelak aku masih bisa mendengar tiupan lagumu ini." Dikatakannya pula. "Kalau kau sampai lama tidak kembali, entah berapa malam aku tidak akan bisa tidur pulas, aku akan berdiri di sini termakan air embun sampai pagi menjelang." Betapa murni cintanya itu, kini masih terngiang di pinggir kupingnya. Betapapun ia tidak percaya bahwa Hun Ci-lo benar-benar sudah melupakan dirinya, ataukah dia hanya bisa menyalahkan takdir yang mempermainkan mereka? Lu Su-bi sudah lelap dalam impian, mukanya yang pucat bersemu merah dan mengulum senyum manis, mungkin ia sedang bermimpi sangat indah dalam pulasnya. "Sayang impian indahku sudah lama tercerai berai." Demikian dalam hati Beng Goan-cau berkata. Rasa duka tidak tertahan lagi. Siau-sumoay sudah pulas, Beng Goan-cau tidak perlu main sembunyi lagi untuk menutupi rasa kepedihan hatinya. Memandang ke luar jendela, tampak sinar bulan yang redup serta bintang-bintang berkelapkelip, angin malam menghembus sepoi-sepoi, merontokkan dedaunan pohon yang mulai menguning. Tak tahan lagi Beng Goan-cau angkat pula serulingnya, mulailah ia meniup lagulagunya untuk melimpahkan rasa kepedihan hati yang mencekam sanubarinya. "Ci-lo. Ci-lo di mana kau? Di mana kau? Kau dengar tiupan serulingku? Dengarkah kau akan irama serulingku ini?" Tiupan seruling Beng Goan-cau ini memang ditujukan kepada Hun Ci-lo, dia sedang mengharap, mengharap Hun Ci-lo mendengar tiupan serulingnya, dan mau kembali pula secara diam-diam untuk bertemu muka sekali saja dengan dia. Sinar bintang semakin pudar, cahaya bulan pun sudah semakin doyong ke barat, harapan Beng Goan-cau yang penghabisan kali ini pun ikut pudar dan sirna. Irama seruling nan merdu mengalun tinggi terpencar ke segala penjuru memasuki hutan menembus udara malam. Dalam hutan gelap sana Hun Ci-lo sedang melangkah goyang gontai, satu dua langkah ia pasti berpaling ke belakang. Memang Hun Ci-lo mendengar suara serulingnya. Tapi dapatkah dia kembali? Irama seruling seperti gelisah, menyesali dan kangen, seperti menangis dan sesambatan akan nasib yang menimpa ini. Hun Ci-lo sampai terlongong seperti orang linglung. Sehingga ia tidak menyadari bahwajauh di belakang dirinya sedang dikuntit orang. la tahu bahwa Beng Goan-cau sedang memanggil dirinya, hampir ia tidak kuasa menahan gejolak hati ini hendak memburu balik, namun meski setiap satu dua langkah ia berpaling, namun langkahnya tidak pernah bergeser arah, terus maju ke depan. "Aku tidak bisa kembali, aku tidak bisa kembali! Sekali aku pulang tentu aku tidak kuasa mengendalikan diri lagi, perjodohan yang setimpal antara Goan-cau dengan sumoaynya juga bakal kurusak demikian saja," Jantung Hun Ci-lo bergejolak semakin cepat, begitulah ia memperingatkan dirinya sendiri. Kalau kakinya terus melangkah ke depan, adalah pikirannya sudah melayang kembali pada masa silam di mana dulu ia hidup bersama Beng Goan-cau. Delapan tahun yang lalu, dia masih merupakan seorang gadis yang duduk di bawah teras kembang sedang asyik mendengarkan tiupan lagu Beng Goan-cau, raut wajahnya nan cantik laksana kembang mekar di musim semi, perasaannya seperti pula kembang yang semerbak mekar di dalam kalbunya. Delapan tahun kemudian, hari ini ia masih belum tua, namun perasaan hatinya seperti daundaun pohon di musim rontok sedang berguguran, demikian juga parasnya sudah mulai kuyu dan kurus seperti tetumbuhan di musim rontok. Irama seruling yang merawan hati itu, mengalun menembus udara masuk ke dalam hutan, terngiang ke dalam kupingnya, membuat hatinya tambah pilu dan luka. "Aku tidak bisa pulang, aku tidak boleh pulang. Betapapun aku tidak bisa bertemu lagi dengan Goan-cau!" Demikian Hun Ci-lo berpikir dan bertekad. Akan tetapi meski bumi dan langit sedemikian besar dan luasnya, ke mana pula ia harus menempatkan dirinya? Rumahnya sendiri ia tidak bisa pulang, rumah Nyo Bok lebih tidak mungkin pula. Ke mana dia harus pergi? Ke mana? "Kelanjutan hidupku mungkin harus kuhabiskan dalam kelana di kangouw. Ai, Hoa-ji, anak Hoa! Hanya karena kaulah ibu masih tetap hidup sampai sekarang!" Teringat kepada putranya, langkahnya semakin dipercepat dan tidak menoleh lagi. Tatkala itu bulan sabit sudah doyong ke pucuk pohon. Tak lama lagi hari sudah akan terang tanah. Tidak lama setelah dia pergi, ada seorang mengeluarkan suara mengejek muncul dari dalam gerombolan rumput. Hun Ci-lo pasti tidak akan menyangka akan hal ini. Silakan para pembaca yang cerdik coba menebak, siapakah orang yang menerobos keluar dari semak rumput ini? Ternyata dia adalah suami Hun Ci-lo, tak lain tak bukan guru silat dari Siok-ciu yaitu Nyo Bok adanya. Di waktu Nyo Bok merencanakan pura-pura mati, pernah ia bicara terhadap istrinya, tujuannya adalah hendak menyempurnakan hubungan istrinya dengan Beng Goan-cau. Sudah tentu tindakan ini membuat Hun Ci-lo serba susah dan malu lagi, semula Hun Ci-lo menentang keras, pernah dia membujuk dan meminta-minta di hadapan suaminya supaya membatalkan niatnya itu, malah dia pernah hendak bersumpah kepada suaminya, untuk selanjutnya bertekad melupakan Beng Goancau, hanya me-nyintai suami saja. Tapi Nyo Bok lantas menutup mulutnya, tidak memberi kesempatan ia mengucapkan sumpahnya. Karena dia tahu bahwa hati nurani istrinya bukan menjadi miliknya, meski sumpah segala juga tiada gunanya. Karena kewalahan oleh libatan suaminya ini, dan lagi ia tidak ingin hubungan mereka selama delapan tahun ini menjadi retak, terpaksa akhirnya ia menyetujui tindakannya, ia berjanji untuk merahasiakan seluk beluk kematian suaminya ini. Sejak mula ia menyangka bahwa suaminya entah menyembunyikan dirinya di mana, mana dia duga bahwa orang ternyata sedang menguntit jejaknya. Tapi umpama Hun Ci-lo tahu dirinya sedang dikuntit pasti ia pun tidak mengenalnya. Karena sekarang dia mengenakan sebuah topeng tipis yang dibuat sedemikian rupa sehingga benar-benar menyerupai kulit muka orang. Jauh sebelum ia menikah, salah seorang sahabatnya yang pulang dari daerah Biau memberikan topeng itu kepadanya. Bahwasanya Hun Ci-lo tidak tahu bahwa suaminya ada menyembunyikan topeng palsu itu. Dandanan Nyo Bok biasanya pun sudah ia salin dengan lain bentuk dan coraknya. Sambil terkekeh dingin Nyo Bok menerobos keluar dari semak rumput, dalam hati ia membatin. "Mungkin mimpi juga Ci-lo tidak akan menduga bila aku bakal berada di belakangnya. Tapi perubahan malam ini memang berada' di luar dugaanku pula. Untuk selanjutnya anggap sajalah tiada manusia macam Nyo Bok ini dalam dunia fana ini." Adegan malam itu masih segar dalam ingatannya. Setelah ia ucapkan kata-katanya itu, Hun Ci-lo memeluk punggungnya dan menangis gerung-gerung. Kini bayangan punggung Hun Ci-lo sudah menghilang dari pandangan matanya, teringat akan kejadian malam itu, serta bayangan punggung istrinya yang menghilang itu, tak terasa mulutnya mengulum senyum sinis dan dingin, dalam hati ia mencemooh diri sendiri. "Kukira tindakanku ini dapat memincut sanubarinya, siapa tahu kenyataan gagal total!" Ternyata maksud Nyo Bok sebenarnya tidaklah seperti apa yang pernah ia ucapkan itu, ingin menyempurnakan hubungan Hun dan Beng berdua, adalah sebaliknya, meski ia memerankan seorang suami yang gagal dalam membina rumah tangganya, sebetulnya dalam sanubarinya tidak rela mengakui kegagalan ini. Bahwa dia pura-pura mati dan mengundurkan diri dari gelanggang asmara ini tidak lain hanyalah merupakan suatu tipu daya belaka, seperti seorang yang sedang berjudi, berjudi dengan nasib, harapannya ia dapat merebut cinta kasih istrinya yang sudah hilang ini kembali ke dalam pelukannya. Dia tahu kelemahan sanubari Hun Ci-lo, setelah ia laksanakan tindakannya itu, pasti Hun Ci-lo merasa menyesal dan bertobat dan lagi pasti akan sangat terharu dan terima kasih akan pengorbanannya. Perubahan rasa sanubari itu sendiri justru sangat aneh dan sulit diraba sebelumnya, seperti pepatah ada bilang, menggunakan hati mengganti hati. Siapa tahu dengan terjadinya tragedi dalam percintaan ini, Hun Ci-lo dapat terpengaruh dan terketuk sanubarinya, bisa mencintai dirinya setulus dan sesungguhnya. Demikianlah menurut perhitungannya. Sejak ia menghilangkan jejaknya, belum tentu istrinya ini pergi mencari Beng Goan-cau, mungkin karena merasa menyesal dan terketuk sanubarinya tetap tinggal di rumah menunggu dirinya pulang. Sudah tentu ia pun pernah memikirkan bahwa perhitungannya ini belum tentu bisa terlaksana, tapi paling tidak separuh bisa berhasil sesuai dengan harapannya, seperti berjudi saja layaknya. Kini dadu sudah dilempar keluar, kesudahan dari judinya itu pun sudah terbentang di depan mata. Bukan saja istrinya segera pergi mencari Beng Goan-cau, malah dari kejadian malam ini, dia lebih menyelami perasaan istrinya, bahwa Hun Ci-lo benar-benar sangat mencintai Beng Goan-cau, cinta ini justru jauh lebih besar dari perhitungannya semula. Tapi ia tidak tahu bahwa dalam keadaan kepepet dan tiada jalan lain yang harus ditempuh, setelah mengalami perang batin, baru Hun Ci-lo nleluruk pulang menjenguk Beng Goan-cau. Perhitungan Nyo Bok sebetulnya tidak meleset, memang Hun Ci-lo teramat iba dan terima kasih kepadanya, malah hatinya pun rada menyesal dan berat. Kalau Hun Ci-lo tahu, suami yang selamanya ia anggap seorang bijaksana, terutama setelah adanya kejadian ini, sebelum ini ia kagum dan anggap sang suami betul-betul seorang ksatria, malah pernah terpikir dalam angan-angannya untuk kembali saja keharibaan suaminya, ternyatalah sang suami adalah seorang picik dan pintar mengatur tipu daya jangka panjang, betapa ia akan terkejut? Kalau bayangan punggung Hun Ci-lo sudah menghilang, namun gejolak hati Nyo Bok masih belum tenteram. "Memang dia sekarang meninggalkan Beng Goan-cau, dia pun berbuat supaya Beng Goan-cau tidak mengenali dirinya, tapi kenapa dia harus berbuat demikian? Apakah ini bukan demi Beng Goan-cau juga?" "Dia berani menempuh bahaya terancam jiwa melolos pedang menggasak Tiam-jong-siang-sat dan mengalahkannya, namun ia tidak beri kesempatan Beng Goan-cau mengenali dirinya. Ini karena dia hendak memberi kesempatan Beng Goan-cau merangkap jodoh bahagia dan rela berkorban sendiri, inilah baru betul-betul cinta yang suci, cinta yang murni!" Berpikir sampai di sini timbul ah rasa sirik dan jelus dalam sanubari Nyo Bok, batinnya pula. "Meski kelak Beng Goan-cau benar-benar menikah dengan sumoaynya, seumpama kelak Hun Ci-lo benar kembali ke haribaanku, tapi hatinya masih berada di tempat Beng Goan-cau sana, aku memperoleh dia tanpa memiliki hatinya, apa gunanya?" Mendadak timbul sebuah pikiran lain dalam hati. "Untuk memadamkan cintanya ini, kecuali Beng Goan-cau dibunuh!"-Benar, hanya cara ini baru bisa melampiaskan penasaran hatiku. Kalau Beng Goan-cau sudah dibunuh, seandainya aku masih belum bisa memiliki hatinya, paling tidak Beng Goan-cau pun tidak akan bisa memiliki dia!" Tapi cara bagaimana untuk membunuh Beng Goan-cau? Tadi dia mendekam di luar tembok, membikin sebuah lubang untuk mengintip, keadaan Beng Goan-cau menempur Tiam-jong-siangsat tadi dilihatnya sejelas-jelasnya. Sekarang ia pejamkan mata, seolah-olah masih melihat golok emas Beng Goan-cau yang diobat-abitkan itu mengeluarkan deru angin yang keras, permainannya begitu lincah dan hebat sekali laksana naga mengamuk saja. Meski rasa cemburu sudah membakar hati Nyo Bok, namun masih belum hilang pikiran jernihnya, ia masih sadar, mengandal kepandaian sendiri untuk membunuh Beng Goan-cau, mungkin bukan saja tidak berhasil malah jiwa sendiri yang bakal melayang. Bagi Nyo Bok yang memang berotak encer dan banyak tipu dayanya, setelah pikir bolak-balik, akhirnya ia mendapat sebuah akal. Itulah cara membunuh meminjam golok, dia mendapat suatu akal untuk membantu Tiam-jong-siang-sat membunuh Beng Goan-cau Setelah berketetapan hati, ia tidak lagi menguntit istrinya, cepat ia putar haluan terus mengejar ke jurusan Tiam-jong-siang-sat. Di ufuk timur sang surya sudah mulai muncul, hari sepagi itu jalanan belum tampak orang berlalu lalang, hanya Tiam-jong-siang-sat berdua saja. Setelah melarikan diri dari rumah keluarga Hun, kira-kira mereka sudah lari dua puluh li, badan pun terasa letih, akhirnya mereka mengendorkan langkah kaki. Toan Siu-si hanya terkena luka luar yang cukup ringan, tidak mengganggu gerak-geriknya, lebih parah keadaan suhengnya Pok Thian-tiau. Lengan kiri Pok Thian-tiau kena terbacok oleh golok Lu Su-bi, sehingga seluruh lengannya hampir terbacok putus, sementara pedang Hun Ci-lo pun tepat mengenai jalan darah Lau-kiong-hiat, telapak tangannya berlubang tertembus pedang, ilmu pukulan berbisanya punah dan tidak bisa digunakan lagi. Bakat Pok Thian-tiau memang kalah dibanding sutenya Toan Siu-si, untuk melatih Hek-sa-ciang ini, ia menggunakan waktu sepuluh tahun lamanya, kini ilmu yang paling dibanggakan itu musnah oleh sekali tusukan pedang Hun Ci-lo, kalau hendak dilatih lagi dari permulaan, mungkin harus memeras keringat pula selama sepuluh tahun, tapi juga belum tentu bisa berhasil. Sepanjang jalan ini, mulut Pok Thian-tiau terus mengumpat caci kalang kabut, memaki Beng Goan-cau, mengumpat perempuan siluman cilik pula, dia pun memaki perempuan laknat yang keji dan buruk rupa itu. Sudah tentu ia tidak tahu bahwa perempuan laknat buruk rupa itu bukan lain adalah Hun Ci-lo yang pada masa remajanya merupakan gadis tercantik di bilangan Soh-ciu. Mendengar makian suhengnya Toan Siu-si sendiri merasa sebal dan tidak sabar lagi, tiba-tiba ia berkata tawar. "Aku sebaliknya rada kagum terhadap Beng Goan-cau!" Pok Thian-tiau tercengang, teriaknya. "Apa, semalam kau pun kena rugi oleh mereka, bagaimana sekarang kau memuji dan kagum kepada musuh malah!" "Sebenarnya Beng Goan-cau bukan musuh utama kita, musuh kita adalah suhunya." "Tok-kang (pukulan berbisa) latihanku sudah amblas karena gara-garanya, sedang kau pun kena tergores oleh golok sumoaynya itu, masih kau katakan mereka bukan musuh kita!"-Jikalau biasanya Pok Thian-tiau tidak segan dan patuh terhadap sutenya, mungkin ia sudah mengumbar nafsu dan memaki kalang kabut. Toan Siu-si manggut-manggut, ujarnya. "Ucapanmu juga tidak salah. Setelah terjadi perkelahian semalam, sudah tentu kita sudah mengikat permusuhan dengan Beng Goan-cau. Tapi tidak bisa tidak aku masih kagum terhadap dia." "Dalam hal apa kau kagum terhadap Beng Goan-cau?" "Akan kagum karena dia seorang laki-laki sejati, dan lagi permainan ilmu goloknya itu pun sangat menakjubkan. Bicara terus terang, bila berkelahi satu lawan satu kita berdua terang bukan tandingannya. Semalam bisa menghadapi secara langsung pelajaran murni ilmu golok ciptaan Lu Siu-gun, terhitung kita tidak sia-sia dalam perjalanan ini." "Jadi maksudmu, dendam sakit hati ini kau tidak ingin membalasnya?" "Bukan begitu maksudku, kagum dan membalas dendam dua persoalan yang berlainan. Cuma aku hendak menggunakan cara lain untuk menuntut balas." "Cara apa?" "Aku belum sempat memikirkan, cuma aku tidak ingin berkelahi cara adu jiwa dengan dia. Aku akan berlatih kepandaian lebih tinggi supaya dia tunduk lahir batin kepadaku," Demikian ujar Toan Siu-si. Pok Thian-tiau tahu bahwa sute-nya ini jauh lebih cerdik dan banyak tipu akalnya, suka menuruti isi hatinya lagi, apa yang pernah dipikirkan tentu harus dilakukan. Kepandaian silat Pok Thian-tiau memang lebih asor dibanding sute-nya, apalagi ilmu pukulan beracun pun sudah musnah, terpautnya semakin jauh. Walaupun Pok Thian-tiau kurang senang hati-, tapi ia tidak berani mengumbar adatnya, terpaksa ia berkata. "Aku jelas tidak mampu lagi, semoga kau kelak dapat menuntut balas dan melampiaskan dendam sakit hatiku pula!" Tengah mereka bicara, mendadak dilihatnya seseorang sedang berlari-lari kencang dan tergesa-gesa ke arah mereka. Waktu Pok Thian-tiau angkat kepala, dilihatnya seorang laki-laki yang berpakaian dekil serta mengenakan baju luar besar yang banyak tambalannya, saking kotor pakaiannya ini sampai mengkilap dan berbau apek, raut wajahnya pucat bersemu kelabu, boleh dikata tiada warna darah sedikit pun, waktu berlari hanya tumit kakinya yang menyentuh tanah, ringan laksana asap melayang ke depan bagaikan mega mengambang, cepat sekali. Diam-diam Pok Thian-tiau menggerutu dalam hati. "Darimana munculnya makhluk aneh ini seperti setan liar atau sukma gentayangan yang diusir dari kelenteng besar dan tidak diterima di biara kecil." Hatinya sedang dirundung kekesalan dan uring-uringan lagi, keruan ia menjadi sebal dan benci, begitu putar tubuh ia memaki sambil menuding laki-laki yang mendatangi itu. "Kau ini kunyuk, bukan setan bukan manusia, main kuntit secara sembunyi-sembunyi di belakang kami mau apa?" Laki-laki itu berkata tawar. "Pok-siansing, harap kau jangan memaki orang, kulihat keadaanmu sekarang begitu runyam, tampangmu sendiri pun tidak begitu enak dipandang." "Oho, kau setan keparat ini juga berani mengolok aku," Teriak Pok Thian-tiau gusar. "Meski tuanmu malam ini kalah berkelahi, untuk menggebah kau rasanya masih berkecukupan!"-Meski ilmu pukulan berbisanya sudah musnah, kepandaian silat yang lain masih mampu dimainkan, dalam gusarnya ia gunakan sebelah tangan yang luka enteng, telapak tangannya menampar ke depan. Laki-laki itu berkata. "Kenapa marah-marah, masa kau tidak tahu bahwa aku membawa manfaat bagi kalian." Suaranya dingin dan mukanya pun tidak mengunjuk mimik perubahan. Terdengarlah suara "Blang!" Tamparan Pok Thian-tiau mengenai badan orang, tapi laki-laki itu hanya tergeliat sedikit saja, sebaliknya Pok Thian-tiau sendiri terhuyung mundur tiga langkah. Mana Pok Thian-tiau tahu, laki-laki yang dia anggap seperti setan liar ini tak lain tak bukan adalah guru silat kenamaan di Siok-ciu, Nyo Bok adanya. Biasanya Nyo Bok paling mengutamakan kebersihan pada muka, seorang guru silat yang paling mentereng berpakaian, untuk menguntit jejak isterinya dengan sembunyi-sembunyi, meski ia mengenakan kedok muka palsu, tapi ia pun berjaga-jaga jika sampai kepergok dan kuatir dikenali oleh Hun Ci-lo, maka ia menyamar sekotor mungkin. Dia tahu pukulan beracun Pok Thian-tiau sudah musnah oleh tusukan pedang Hun Ci-lo, maka ia memberanikan diri mandah ditampar sekali. Dalam hal latihan lwekang memang dia lebih unggul setingkat dari Pok Thian-tiau, kini Pok Thian-tiau sudah terluka parah lagi, maka jaraknya terpaut semakin jauh, sudah tentu tamparannya itu sedikit pun tidak bisa melukainya. Betapapun Toan Siu-si memang jauh lebih berpengalaman dan bisa berpikir cermat, cepat ia tarik Pok Thian-tiau ke samping serta katanya. "Orang asli sengaja menyembunyikan dirinya, kalau mau unjukkan diri tentu dia bukan yang asli. Mungkin tuan ini tidak suka diketahui siapa kau sebenarnya? Baik, kami pun tidak usah tanya siapa nama kebesaran tuan, hanya kami ingin tahu ada petunjuk apa tuan menyijsul kami?"-Secara langsung kata-katanya sudah menyatakan bahwa dia tahu bahwa Nyo Bok mengenakan kedok palsu, rupanya sekarang bukan wajah aslinya. Nyo Bok manggut-manggut, katanya pelan-pelan. "Ternyata Toan-siansii g seorang yang suka terus terang, maka aku pun bicara terus terang saja. Terus terang kejadian semalam aku sudah tahu seluruhnya, kalian mau tidak menuntut balas kepada Beng Goan-cau?" "Kalau mau kenapa?" Sela Pok Thian-tiau. "Meski ilmu silatmu cukup lumayan, belum tentu kau dapat mengalahkan Beng Goan-cau. Hm, hm, jika aku tidak terluka, paling-paling kau hanya bisa berimbang dengan aku, masa mengandal kemampuan ini kau bisa bantu kami menuntut balas?" "Ya, bicara sejujurnya aku pun bukan tandingan Beng Goan-cau," Demikian ujar Nyo Bok. "Tapi kalah berkelahi bisa menggunakan akal, asal kalian suka bekerja menurut tipu daya ini, aku punya caraku sehingga Beng Goan-cau suka berlutut dan menyembah di hadapan kalian!" Pok Thian-tiau ragu-ragu, katanya menyeringai. "Benarkah kau punya kemampuan itu? Baik bila kau bisa membuat Beng Goan-cau berlutut terhadap kami, maka aku pun suka menyembah -kepadamu!" "Jangan, kurasa tidak perlu," Ujar Nyo Bok. "Sute," Kata Pok Thian-tiau. "Aku tahu kau tidak ingin membunuh Beng Goan-cau, tapi bila dapat membuat dia berlutut dan menyembah kepada kita, dendam sakit hati ini dapatlah kuanggap impas saja. Sekilas Toan Siu-si memandang Nyo Bok, lalu katanya. "Tapi aku malah ingin tahu, kenapa tuan ini kelihatannya begitu bernafsu untuk menuntut balas bagi kami?" "Bicara terus terang, aku pun punya pertikaian dengan Beng Goan-cau, jadi bukan melulu demi kalian saja," Demikian Nyo Bok coba menjelaskan. "O, jadi begitu!" Ujar Toan Siu-si. "Maka kalau kalian setuju, kuanjurkan marilah kita ikat janji untuk mengerjakan hitung dagang ini," Demikian Nyo Bok menawarkan. Toan Siu-si menyeringai dingin. "Terhitung kau sudah memperoleh pembelinya. Ini merupakan suatu dagang gelap bukan?" "Tidak salah!" Seru Nyo Bok bergelak tertawa. "Sekarang belum lagi terang tanah, boleh saja kontrak ini dianggap suatu dagang gelap." "Ada omongan lekas katakan, mau kentut lekas lepaskan, bagaimana caramu itu?" Sela Pok Thian-tiau tidak sabaran. Kata Nyo Bok. "Beng Goan-cau punya seorang sahabat karib bernama Song Theng-siau, kukira kalian sudah tahu akan orang ini bukan?" Kata Toan Siu-si. "Waktu mereka berada di Siau-kim-jwan, selamanya mereka tidak pernah berpisah. Kabarnya kepandaian silat orang ini tidak lebih rendah dari Beng Goan-cau, apa benar?" Nyo Bok manggut-manggut, katanya lebih lanjut. "Aku sih pernah melihat ilmu silatnya, lebih rendah sedikit dibanding Beng Goan-cau. Beng Goan-cau punya seorang anak..." Sekonyong-konyong Pok Thian-tiau menyeletuk seraya memaki. "Kau membual apa, Beng Goan-cau belum lagi menikah, darimana ia memperoleh anak? Bukankah kau sengaja hendak menipu kami?" "Pek-heng, kau hanya tahu satu tidak tahu yang kedua," Jengek Nyo Bok. "Meski belum menikah juga boleh saja punya anak, anak itu adalah anak haram Beng Goan-cau." Dasar Pok Thian-tiau seorang dungu, ia garuk-garuk kepala dan berpikir setengah hari baru paham, katanya. "Ya, kalau jantan dan betina tinggal bersama lantas bisa punya anak, belum tentu harus melalui upacara resmi? Betul, betul, ucapanmu tidak salah, tapi lantas bagaimana pula?" "Bocah itu kini sedang dibawa oleh Song Theng-siu menuju ke Soh-ciu," Demikian Nyo Bok melanjutkan keterangannya. "Mereka menempuh jalan besar, tentu kalian sangat mudah menemukan mereka." Baru sekarang Toan Siu-Si paham segala-galanya, serunya. "O, jadi kau hendak menggunakan bocah itu sebagai sandera? " "Tepat, cara kita membalas dendam terletak pada bocah itu. Ilmu silat Song Theng-siau walau tidak lemah, tapi dia harus melindungi bocah itu, bagaimana juga bukan tandingan kalian. Dengan mudah pasti kalian dapat merebut bocah itu dari tangannya!" "Untuk apa aku bocah kecil itu? Mencari kesulitan saja!" Ujar Pok Thian-tiau. Nyo Bok tertawa-tawa, serunya. "Anak Beng Goan-cau berada di tangan kalian, apa yang kalian inginkan dia harus menurut perintah, masa dia berani membangkang?" Pok Thian-tiau menepuk kepala, teriaknya. "Betul! Urusan yang begini gampang, kenapa aku tidak bisa memikir sebelumnya." Nyo Bok lantas mengeluarkan sebuah Han-giok, katanya lebih lanjut. "Beng Goan-cau, sendiri selamanya belum pernah melihat putranya itu, apa yang kalian katakan belum tentu dia mau percaya. Namun meski ia tidak kenal anaknya, batu mainan ini kukira masih dikenalnya dengan baik." Ternyata Han-giok itu adalah pemberian Beng Goan-cau kepada Hun Ci-lo sebelum mereka berpisah malam itu. Sebagai seorang yang cermat berpikir, sebelum berangkat ia ada berpikir panjang, ia tahu keadaan peperangan yang sulit diduga ini, mungkin kelak bakal terjadi sesuatu perubahan yang tak terduga sebelumnya, maka ia tinggalkan sebentuk mainan batu jade peninggalan leluhurnya dan berpesan kepada Hun Ci-lo, kelak bila anak mereka sudah besar, batu mainan itu supaya diserahkan kepada anak mereka. Siapa tahu terjadi sesuatu perubahan antara suami istri dan anak mereka tidak bisa berkumpul bersama, maka ia tinggalkan batu jade itu sebagai tanda pengenal di kelak kemudian hari. Setelah Hun Ci-lo menikah dengan Nyo Bok, pada suatu ketika Nyo Bok menemukan batu mainan jade yang disembunyikan Hun Ci-lo ini serta menanyakan asal-usulnya. Pertama Hun Ci-lo anggap Beng Goan-cau sudah wafat, kedua ia berterima kasih akan kebaikan sang suami, maka tanpa tedeng aling-aling lagi ia ceritakan asal-usul batu mainan itu kepada suaminya. Malam itu Hun Ci-lo membawa keluar puteranya, sebelum berangkat ia ada mencari batu mainan itu tapi tidak ketemu, maklum dalam keadaan bingung dan tergesa-gesa lagi, ia menyangka lupa menyimpannya entah di mana, terpaksa ia tinggal pergi tanpa mencarinya lagi sampai ketemu. Sedikit pun ia tidak pernah curiga pada suaminya, di luar tahunya justru batu mainan itu memang dicuri oleh Nyo Bok. Setelah mengeluarkan batu mainan itu, Nyo Bok berkata. "Setelah kalian merebut anak Beng Goan-cau silakan taruh batu mainan ini di atas lehernya, selanjutnya boleh kalian lantas menemui Beng Goan-cau. Memang Beng Goan-cau seorang laki-laki sejati, tapi tiga kali menyembah ditukar putra kandungnya sendiri, aku berani pastikan Beng Goan-cau pasti akan berlutut tiga kali." "Baik, baik," Teriak Pok Thian-tiau berjingkrak girang. "Cara ini bagus sekali." "Benar, meski demikian terhitung sakit hati kami sudah terbalas. Tapi di dalam hitung dagang gelap ini, apa pula keuntungan yang hendak kau keruk?" Toan Siu-si cukup pintar untuk main diplomasi. Nyo Bok kertak gigi, katanya penuh kebencian. "Aku ingin mendapatkan jiwa Beng Goan-cau." "O, betulkah kau mempunyai dendam kesumat sedemikian besarnya terhadap Beng Goan-cau?" Toan Siu-si menegas. "Tapi, meski dia berlutut terhadap kami, aku tidak mau mewakili kau membunuhnya!" "Tidak perlu kalian turun tangan," Kata Nyo Bok mantap. "Di saat dia berlutut terhadap kalian aku bisa mencabut nyawanya dengan senjata rahasiaku." Memang Nyo Bok membekal senjata rahasia yang dilumuri racun jahat, ia membatin. "Bila Beng Goan-cau tidak mau berlutut, melihat putra kandungnya berada di tangan musuh, pasti pikiran kacau dan batin terpukul, saat mana kukira tidak sulit aku membunuh dia dengan panah beracunku!" "Adakah syarat lainnya?" Tanya Toan Siu-si. "Ada," Sahut Nyo Bok. "cuma merepotkan kalian saja." "Kau sudah membantu kami, sedikit kerepotan juga tidak menjadi soal, silakan kau jelaskan," Pok Thian-tiau berkata. "Setelah urusan selesai, aku akan menguntit kalian secara diam-diam, hari kedua baru bersua dengan kalian di tengah jalan. Tatkala itu mungkin dandananku sudah berubah sama sekali, berubah bentuk lain. Tapi suaraku ini masih bisa kalian ingat bukan?" "Sudah tentu ingat," Sahut Pok Thian-tiau. "Tapi untuk apa kau berbuat demikian?" "Aku ingin bocah itu. Kuharap jangan sekali-kali kalian membongkar kejadian ini serta mengaku kenal dengan diriku. Setelah bertemu di tengah jalan aku akan pura-pura naik pitam dan mungkin memaki kalian pula dan akhirnya berkelahi, kuharap kalian tidak ambil di hati. Kalian pura-pura kena kukalahkan sehingga berhasil merebut anak itu." Pok Thian-tiau mengerutkan alis, katanya. "Kau ingin Tiam-jong-siang-sat pura-pura kalah di tanganmu, tidak boleh jadi!" "Kalau begitu biarlah aku kena terluka, boleh kau pukul aku sehingga terluka tapi akhirnya kalian tetap membiarkan bocah itu kena kurebut." "Nah begitu sih bolehlah. Yang terang aku sih tidak ingin bocah liar itu." "Jadi jelasnya, hitung dagang ini boleh teken kontrak lho!" Ujar Nyo Bok kegirangan. Ternyata sebelumnya Nyo Bok sudah merancang rencana jangka panjang, kalau dia berhasil merebut anak itu, jika hal ini diketahui oleh Hun Ci-lo, akan tiba suatu ketika ia akan pulang mencari dirinya. Sudah tentu Hun Ci-lo tidak akan curiga bahwa dialah yang membunuh Beng Goan-cau, apalagi bocah itu sendiri bisa menjadi saksi bahwa Beng Goan-cau memang dibunuh oleh Tiam-jong-siang-sat. Kelak bisa saja ia membuat alasan pada Hun Ci-lo, bahwa dia kangen dan menguatirkan keselamatannya maka menyusul ke Soh-ciu, di tengah jalan itulah dia bentrok dengan Tiam-jong-siang-sat. Tatkala itu musuh asmara sudah lenyap, sekali lagi pasti Hun Ci-lo akan berterima kasih pada dirinya yang telah merebut dan menyelamatkan putranya. Bukankah selanjutnya dia bakal memiliki hati cinta Hun Ci-lo? Rencana ini memang cukup sempurna, cuma dia rada meleset menilai pribadi Toan Siu-si. Meskipun Toan Siu-si terkenal sebagai gembong iblis yang jahat, tapi jiwa dan martabatnya bukanlah seorang yang berpandangan sempit dan hina dina. Waktu Nyo Bok menguraikan syaratnya yang kedua, Toan Siu-si mandah berdiri di samping sambil mendengarkan dengan tenang, tanpa menyeletuk sepatah pun. Dia tidak mengenakan kedok muka, tapi raut wajahnya seperti raut muka Nyo Bok yang mengenakan kedok palsu, kaku tanpa ekspresi. Mengira rencana kerjanya bakal terlaksana dan berhasil, Nyo Bok mengulurkan tangan, katanya. "Toan-toako, batu jade ini kuserahkan kepadamu. Tiga hari kemudian kira-kira pada kentongan ketiga, aku menunggu kedatangan kalian di belakang taman itu." Waktu dia datang di tengah jalan ia melihat Song Theng-siau sedang menempuh perjalanan membawa anak Hun Ci-lo, jalannya lambat dan ketinggalan jauh di belakang, kira-kira ratusan li lebih, maka dia dapat memperhitungkan waktu secara tepat, dalam jangka tiga hari, Tiam-jong-siang-sat pasti dapat menunaikan tugasnya ini dengan baik, dan kembali ke rumah keluarga Hun. Tak duga belum lagi ia bicara habis, Toan Siu-si mendadak menamparkan telapak tangannya ke arah mukanya. Sudah tentu kejut Nyo Bok bukan kepalang, betapapun dia seorang guru silat yang cukup berpengalaman, mendapat serangan mendadak ini, meski terkejut tapi tidak menjadi kacau, cepat sekali ia gunakan Hong-tiam-thau menghindar berbareng Kim-kong-lak-yang-jiu pun sudah menyongsong ke depan. Untung ia bisa bergerak secara reflek, dalam keadaan yang gawat itu dapat menghindar dari tamparan telapak tangan Toan Siu-si yang besar. Tapi tak urung ujung jari Toan Siu-si menyerempet di bawah kupingnya, keruan Nyo Bok rasakan mukanya kesakitan dan panas membara. Kim-kong-lak-yang-jiu yang dimainkan Nyo Bok ini sejurus mengandung enam perubahan selingan, aneh dan lurus saling bertentangan, perubahannya sulit diraba. Meskipun kepandaian Toan Siu-si jauh di atas Nyo Bok, soalnya ia belum pernah melihat ilmu pukulan yang hebat ini, sementara waktu ia tidak berani terlalu mendesak atau pandang ringan musuh, sekali serangan tidak berhasil, lekas-lekas ia melompat miring tiga tindak. "Tang" Batu mainan yang dipegang Nyo Bok itu pun terjatuh di atas tanah. "Toan-siansing!" Teriak Nyo Bok. "Kalau dagang batal, hubungan antar kita masih ada, ada omongan apa silakan dirunding dengan aturan." Dari samping lekas Pok Thian-tiau ikut membujuk. "Iya, jite, kulihat orang ini tidak bermaksud jahat terhadap kita, kenapa kau turun tangan menyerang dia?" Toan Siu-si mendengus ejek, katanya menuding Nyo Bok. "Memang aku orang she Toan ingin menuntut balas, tapi membalas dendam harus secara terang-terangan dan menggunakan cara yang lazim pula. Menggunakan panah beracun membokong orang, terhitung perbuatan manusia macam apa? Hm hm! Kau hendak bikin kami menjadi manusia rendah hina dina, sebaliknya kau hendak pura-pura menjadi hohan. masa ada urusan yang begitu gampang di dunia ini? Cara hitung dagangmu ini sungguh memalukan." Bicara sampai memalukan, mendadak ia meninggikan nada dan berteriak lebih keras. "Menghadapi manusia rendah hina dina macam kau ini, pakai aturan apa segala? Lekas kau menggelinding pergi! Kalau tidak jangan kau menyesal kalau aku tidak kenal kasihan padamu!" Selama hidup Nyo Bok selalu disanjung puji dan banyak orang menjilat padanya, kapan ia pernah dicaci maki dan dihina sedemikian? Kalau tamparan Toan Siu-si itu tidak mengenai sasarannya, tapi harga diri dan gengsinya kena digasak habis-habisan oleh orang. Baru sekarang mendadak ia merasakan bahwa dirinya dalam pandangan orang lain ternyata adalah manusia rendah hina dina, apalagi orang yang memaki dirinya ini malah seorang gembong iblis yang sudah dianggap tersesat. Seketika itu terketuk sanubari Nyo Bok, serta merta hatinya merasa sangat menyesal. Pipi masih terasa panas, sebaliknya sekujur badan basah oleh keringat dingin. Cuma sayang rasa menyesal ini hanya selintasan belaka mengetuk sanubarinya. Namun dia tidak berani mengumbar adat terhadap Toan Siu-si. Malah dia dikejutkan oleh rasa kesemutan dan gatal-gatal pada kulit mukanya, pikirnya. "Aku mengenakan kedok muka, tidak terkena tamparan tangannya, mungkinkah bisa terkena pukulan beracunnya?" Karena menginsyafi keliehayan pukulan beracun Toan Siu-si, Nyo Bok tidak berani bertingkah lagi, katanya. "Agaknya kau salah paham akan maksud baikku. Baiklah kalau kau hendak anggap diri sebagai ksatria, silakan saja!" Setelah melontarkan kata olok-olok balasan untuk melampiaskan kedongkolan hatinya, terus ngeluyur tinggal pergi. Toan Siu-si terbahak-bahak, semula memang ia tertawa menggila kesenangan, tapi akhirnya suaranya semakin rendah dan lirih mengandung kegetiran hatinya. Dalam hati ia pun berpikir. "Kumaki dia sebagai manusia rendah hina dina, tapi sepak terjangku terhadap Beng Goan-cau apakah terhitung perbuatan laki-laki sejati?" "Jite," Ujar Pok Thian-tiau. "Menurut ucapanmu, jadi keparat itu anggap kita ini manusia dogol yang gampang ditipu?" "Benar. Kali ini kelihatannya kau lebih pintar," Sahut Toan Siu-si. "Kalau begitu, apa lagi yang sedang kau pikirkan. Marilah pulang saja, seorang laki-laki membalas dendam sepuluh tahun pun belum terlambat." "Aku sedang berpikir... ya, toako, kita tidak usah tergesa-gesa pulang, mari kita rebut anak itu!" "Benar, kita rebut anak itu dan paksa Beng Goan-cau bertekuk lutut terhadap kita, kalau kita suruh dia menyembah tiga kali, pasti dia tidak berani menyembah dua kali, di samping itu laki-laki keparat itu pun tidak akan bisa mengeruk keuntungan." "Aku ingin merebut anak itu, tapi bukan begitu maksud tujuanku." "Ada maksud apa lagi kau?" Toan Siu-si menengadah melihat cuaca, di ufuk timur sudah mulai terang, surya segera akan muncul keluar dari lapisan mega. Berkatalah Toan Siu-si. "Hari ini cuaca amat baik, saat nyaman untuk melakukan perjalanan, mari kita rebut dulu bocah itu, kelak dalam kesempatan lain kututurkan rencanaku." Pok Thian-tiau tidak tahu jalan pikiran sutenya, dalam hati ia membatin. "Dalam sepuluh tahun mendatang, jelas aku tidak akan mampu menuntut balas terhadap Beng Goan-cau. Peduli apa rencana sute, asal saja bertujuan merebut anak Beng Goan-cau, biarlah Beng Goan-cau dibikin bersedih dan kuatir terhadap nasib anaknya." Maka, dengan rasa riang ia ikuti langkah sutenya terus berlari-lari menempuh jalan besar, mereka hendak menyongsong kedatangan Song Thengsiau yang membawa anak Beng Goan-cau di tengah jalan. Setelah keserempet tamparan Toan Siu-si, seperti anjing yang kena gebuk dan lari terbirit-birit mencawat ekor, menyesal malu dan dongkol pula hati Nyo Bok. "Siapa kira seorang guru silat kenamaan di kangouw seperti diriku ini bakal mendapat malu dan penghinaan begini rupa, untung tadi tidak dilihat orang lain," Demikian batin Nyo Bok. Waktu ia berpaling ke belakang, Tiam-jong-siang-sat tidak dilihatnya mengejar datang, baru legalah hatinya, lambat-lambat ia melangkahkan kakinya. Terpikir pula oleh Nyo Bok. "Daripada minta-minta kepada orang lain lebih baik mohon pada diri sendiri. Ilmu silat turunan leluhurku betapapun tidak akan terkalahkan oleh Beng Goan-cau, aku sendirilah yang harus disalahkan, biasanya tidak tekun belajar dan rajin berlatih. Buktinya Toaci dapat mengkombinasikan tenaga positif dan negatif dalam permainan Kim-kong-liok-yang-jiu yang lebih liehay. Apalagi Lwc-kang-sim-hoat keluarga Nyo kami, ayah hanya menurunkan kepada aku seorang. Asal aku mau belajar lebih giat, berlatih lagi beberapa tahun, kepan-daianku tentu akan lebih unggul dari Toaci, tatkala itu rasanya belum terlambat membuat perhitungan dengan Beng Goan-cau." "Tapi tahun-tahun mendatang ini cara bagaimana aku harus melewatkan hidupku. Untuk melatih ilmu lwekang yang sulit dan rumit itu, sudah tentu memerlukan suatu tempat yang tersembunyi dan sepi, pagi malam berlatih tidak kenal lelah, sedikit pun tidak boleh diganggu oleh urusan luar, adakah aku punya kesabaran ini? Bila di saat latihan teringat bahwa istri sendiri ternyata mencintai laki-laki lain, dapatkah aku mengendalikan perasaan hatiku? Dan lagi, belum tentu berhasil dalam latihan, umpama berhasil dapatkah mengalahkan Beng Goan-cau, semua ini sulit diduga dan diketahui." Pikir punya pikir kepalanya menjadi pusing dan hati pun resah, karena ia mengenakan kedok palsu, mukanya terasa gerah dan gatal-gatal. Nyo Bok celingukan dan tidak terlihat ada orang di sekelilingnya, lekas-lekas ia mencopot kedok palsunya serta menarik napas lega. Di saat pikiran kacau dan hati kesal itulah, mendadak dirasakan angin berkesiur mendatang dari belakang. Nyo Bok terkejut sadar dari lamunannya, lekas ia berpaling, tampaklah seorang laki-laki mengenakan pakaian serba hitam tahu-tahu sudah berdiri di belakangnya. Seperti tertawa tidak tertawa laki-laki baju hitam ini menyapa. "Nyo-busu! Selamat bertemu! Selamat bertemu!" Waktu Nyo Bok melihat tegas, tak teringat olehnya di mana dan kapan ia pernah ketemu orang ini, cepat ia menjawab. "Kau salah mencari orang, orang rudin seperti aku ini, bukanlah seorang Busu yang kenamaan segala." Seperti diketahui guru silat Nyo Bok dari Siok-ciu yang kenamaan itu sudah masuk liang kubur, sudah tentu Nyo Bok tidak suka bahwa kematian palsunya diketahui oleh seseorang yang belum pernah dikenalnya ini. Nyo Bok membatin dalam hati. "Orang ini aku tidak kenal, mungkin hanya kaum keroco yang tidak punya nama di kangouw, entah di mana dia pernah melihatku satu dua kali. Walaupun kini aku tidak mengenakan kedok, tapi cara dandananku yang serba dekil dan kotor seperti laki-laki rudin ini, mukaku yang kisut lagi, mana bisa disamakan dengan guru silat kenamaan dari Siok-ciu yang bernama Nyo Bok? Asal aku menyangkal dengan ketus, orang ada yang sama, barang ada yang sebentuk, tentu akhirnya dia menyangka salah mengenali orang." Tak diduga setelah mendengar Nyo Bok menyangkal, laki-laki baju hitam itu malah bergelak tertawa, nada tawanya sangat menusuk kuping, lalu katanya. "Nyo Busu, tidak salah aku mencari kau, malah kau yang salah menemukan orang lain!" Nyo Bok jadi gusar, serunya. "Sudah kutegaskan aku bukan Nyo Busu, kau masih cerewet dan bikin ribut apa? Apa pula maksudmu?" Dengan nada suara seperti banci, orang itu berkata. "Nyo Busu, di hadapan seorang laki-laki sejati jangan kau bicara melantur, pengalamanmu semalam dan kejadian tadi pagi sudah kuketahui, kau mencari Tiam-jong-siang-sat minta mereka menuntut balas bagi kau, bukankah kau salah menemukan orang? Lebih benar kalau kau mencari aku!" Nyo Bok terperanjat dibuatnya, timbul ah niatnya membunuh untuk menutup mulut, pikirnya. "Kalau keparat ini sampai menyiarkan rahasiaku ini, cara bagaimana aku harus menjadi orang selanjutnya? Aku tidak bisa membiarkan dia tetap hidup!" Timbul niat membunuh, Nyo Bok berkata tawar. "Sahabat, sungguh tajam pandanganmu, aku Nyo Bok sungguh kagum terhadapmu." Mulut bicara, mendadak ia melangkah dua tindak, tiba-tiba pukulannya melayang menyerang ke arah laki-laki baju hitam. Laki-laki baju hitam itu terbahak-bahak, serunya. "Kau hendak bunuh orang buat menutup mulutnya?" Di tengah suara tawa dan sambaran pukulan lawan, tiba-tiba telapak tangan kirinya terangkat membuat setengah bundaran, dengan gaya Kim-na-jiu-hoat, sementara telapak kanan menyelo-nong ke depan dari bawah ketiak, kedua jarinya terangkap menotok ke urat nadi Nyo Bok. Tipu yang digunakan Nyo Bok adalah jurus mematikan dari Kim-kong-Iiok-yang-jiu, kekuatan pukulannya keras dan dahsyat, meski sepotong batu besar pun bisa terpukul remuk. Tak diduga permainan Kim-na-jiu-hoat laki-laki itu terlebih liehay, serangannya ini justru memaksa lawan untuk menyelamatkan diri lebih dulu, belum lagi Nyo Bok mengerahkan penuh tenaganya, pergelangan tangannya sudah terketuk oleh jari-jari orang, kontan ia rasakan seluruh lengannya sakit kesemutan. Untung gerak perubahan permainan Nyo Bok cukup sebat pula, sehingga urat nadi yang penting tidak sampai kena secara telak. Terdengar laki-laki baju hitam itu tertawa dingin. "Kim-kong-liok-yang-jiu dari keluarga Nyo ternyata memang hebat, cuma untuk membunuh aku, agaknya tidak sedemikian gampang!" Baru sekarang Nyo Bok sadar akan kesalahan perhitungannya, bahwa ternyata lawannya ini seorang tokoh yang amat liehay. Diam-diam Nyo Bok membatin bahwa dirinya jelas tidak bakal menang melawan laki-laki di hadapannya, tiga puluh enam jalan, lari adalah yang paling tepat, begitu putar tubuh ia ngacir seperti dikejar setan. Agaknya laki-laki baju hitam itu tidak melepas dirinya begitu saja, begitu Nyo Bok lompat ke depan hendak lari, belum lagi kakinya menginjak tanah, terdengarlah angin berkesiur dari lambaian baju orang, tahu-tahu laki-laki baju hitam itu sudah melompat tinggi melampaui atas kepalanya dan menghadang jalan larinya. Nyo Bok kertak gigi, bentaknya. "Baik, aku adu jiwa dengan kau." Kedua tangan bekerja, tangan kiri dengan jurus Liok-liong-ping-ka, sementara tangan kanan dengan jurus Thian-ma-hing-khong, sejurus Kim-kong-liok-yang-jiu mengandung enam gaya selingan, dengan kedua telapak tangan dilancarkan bersama, dalam jurus sembunyi, gaya di belakang gaya masih ada tipu-tipunya lagi, seluruhnya ada dua belas tipu-tipu sisipan, di dalam pelajaran ilmu pukulan, permainannya ini boleh dikatakan merupakan ilmu yang paling rumit dan sangat liehay. Tak nyana Kim-na-jiu-hoat lakilaki itu justru jauh lebih hebat dan aneh, tidak kalah rumit dan liehaynya daripada Nyo Bok. Laki-laki baju hitam itu juga menyongsongkan kedua telapak tangannya, sedikit pun Nyo Bok tidak tahu jurus permainan apa yang dilancarkan lawannya, seketika ia melihat berbagai penjuru sekelilingnya yang kelihatan hanya bayangan telapak tangan dan bentuk sosok tubuhnya. Dua belas tipu-tipu pukulan Kim-kong-liok-yang-jiu yang dilancarkan Nyo Bok ternyata sekaligus dapat dipatahkan semua. Malah tidak demikian saja kesudahannya, laki-laki itu masih berputar secepat angin selicin belut, telapak tangan memotong sementara jari mengetuk, tiga belas jalan darah penting di tubuh Nyo Bok seketika di bawah ancaman Kim-na-jiu-hoat lawan yang liehay. Namun seperti kucing mempermainkan tikus saja, laki-laki baju hitam itu hanya bergaya saja mencengkeram atau menotok, bahwasanya ia tidak betul-betul lancarkan serangan secara telak. Keruan Nyo Bok merasa terpukul gengsinya, teriaknya gusar. "Mau bunuh silakan bunuh, seorang laki-laki masa mandah kau permainkan?" Laki-laki itu mencemooh dalam hati. "Kau pun berani mengagulkan diri sebagai laki-laki?"-Tapi lahirnya ia bersikap ramah dan menaruh hormat, sambil menarik kedua tangannya ia berkata tertawa nyaring. "Tidak berkelahi tidak akan kenal, sekarang kita boleh mulai bicara saja? Nyo Busu, kau sendiri yang mengatakan hendak mengadu jiwa padaku, sebaliknya aku tiada maksud begitu. Maksudku cukup baik terhadap kau, tanpa mengandung maksud-maksud jelek!" Kejut Nyo Bok masih belum hilang, setelah ia mengamati orang, akhirnya bertanya. "Siapakah tuan? Ada petunjuk apa?" Laki-laki itu berkata tawar. "Nyo Busu, Tiam-lam-su-hou yang semalam kau lihat semua adalah anak buahku. Dari sini kukira kau dapat mengira-ngira bagaimana jabatan dan kedudukanku?" Lebih kejut lagi Nyo Bok dibuatnya, serunya. "Harap tuan suka memberi penjelasan." "Dengan maksud baik, aku ingin mengikat persahabatan dengan kau, maka tidak perlu aku mengelabui kau lagi. Aku adalah Ciok Tio-ki, wakil komandan dari Gi-lim-kun, mungkin sebelum ini kau pernah mendengar namaku?" Seketika mengkirik bulu kuduk Nyo Bok, mimpi pun ia tidak menduga laki-laki yang dianggapnya kaum keroco tak bernama ini kiranya adalah wakil komandan Gi-lim-kun. Pergaulan Nyo Bok memang cukup luas, para sahabat dari aliran hitam atau putih semua ada, tapi seorang pejabat tinggi seperti komandan Gi-lim-kun ini, baru pertama kali ini ia bertemu. Sudah tentu rasa kejut Nyo Bok ini bukan hanya karena Ciok Tio-ki adalah wakil komandan Gilim-kun saja. Sebelum Ciok Tio-ki menduduki jabatannya sekarang, dulu ia pun seorang tokoh kosen dalam bulim yang disegani. Memang seperti apa yang diucapkan oleh Ciok Tio-ki, memang Nyo Bok sudah lama kenal kebesaran namanya. Masih segar dalam ingatan Nyo Bok di kala ia mendengar para sahabat pendekar membicarakan bahwa Ciok Tio-ki kini terima menghamba dan menjadi kaki tangan pihak pemerintah penjajah, ia pernah menghela napas dan merasa sayang, sebagai seorang tokoh yang kenamaan kenapa terima diperbudak oleh musuh. Nyo Bok mengangkat kepala serta katanya. "Aku orang she Nyo hanyalah rakyat kecil belaka, mana berani bersahabat dengan para pembesar segala!" "Nyo-heng terlalu sungkan," Ujar Ciok Tio-ki. "Kau adalah guru silat yang kenamaan di lima propinsi utara, selamanya aku pun kagum terhadapmu?" Karena diumpak dan diagulkan, meski Nyo Bok belum sampai lupa daratan, dalam hati ia merasa syur dan tambah gengsi, cepat ia berkata. "Tidak berani. Entah untuk urusan apa Cioktayjin mencari diriku ?" "Bicara sejujurnya, aku merasa simpatik terhadap kau, kedatanganku ini ingin membantu kesulitanmu, di samping itu aku pun membawakan oleh-oleh pangkat kedudukan dan harta kekayaan bagi kau. Asal kau suka dengar nasehatku, bukan saja sakit hatimu bisa terbalas, kau pun bisa hidup mewah dan bahagia." "Aku tidak mengharap kedudukan atau pangkat segala, tapi kenapa Ciok-tayjin begitu bersemangat hendak membantu aku menuntut balas?" Ciok Tio-ki cengar-cengir, katanya. "Manusia hidup demi kepentingannya. Memang belum tentu kau mau percaya bila aku suka melolos golok membanty kesu-litanmu. Bahwa aku suka membantu-kau sudah tentu membawa keuntungan dan manfaat bagi kedua pihak." "Keuntungan atau manfaat apa yang Tayjin maksudkan?" Tanya Nyo Bok. "Beng Goan-cau adalah murid didik Lu Siu-gun, sedang Lu Siu-gun adalah buronan pemerintah yang harus diringkus, kedua persoalan ini, kukira kau sudah tahu bukan?" Dengan kaku tanpa menunjukkan perasaan, Nyo Bok manggut-manggut sebagai jawaban mengerti. Maka Ciok Tio-ki melanjutkan. "Sepuluhan tahun yang lalu, empat orang Bhayangkari dan tiga ang-gauta Gi-lim-kun telah mengejar jejak Lu Siu-gun dan tiga anggauta keluarganya. Di tengah jalan mereka bertemu dan terjadilah pertempuran seni, akhirnya meski Lu Siu-gun terluka parah, tapi lima orang dari pihak kami kena dibinasakan oleh golok emas Lu Siu-gun. Cuma seorang anggauta Bhayangkari dan seorang Gi-lim-kun yang berhasil melarikan diri membawa luka-luka yang parah, untung mereka tidak sampai mati. Anggauta Gi-lim-kun itu tidak lain tidak bukan adalah diriku." Bicara sampai di sini, dengan sorot dingin Ciok Tio-ki melirik ke arah Nyo Bok. Nyo Bok masih diam tak memberi reaksi apa. Ciok Tio-ki lantas menyambung. "Setelah terluka parah Lu Siu-gun menyembunyikan diri di hutan pegunungan, serta memanggil pulang muridnya dari Soh-ciu untuk melindungi keluarga gurunya. Mendapat perintah guru, lekas Beng Goan-cau pulang sambil membawa sahabat karibnya Song Theng-siau, sementara itu kaki tangan pihak pemerintah terus disebar luas untuk menyelidiki jejak Lu Siu-gun sekeluarga. Akhirnya lima orang anggauta Bhayangkari dari istana raja meluruk ke tempat persembunyian Lu Siu-gun, tatkala itu Lu Siu-gun sudah keburu mangkat, namun mereka masih belum tahu. Akhirnya di hutan pegunungan mereka bertempur pula mati-matian dengan amat serunya, kelima orang ini beruntun kena dibunuh pula oleh Beng Goan-cau dan Song Theng-siau. Waktu itu karena luka-lukaku belum lagi sembuh jadi aku tidak ikut menggrebek ke sana, kalau tidak, siapa bakal mati di tangan siapa belum lagi bisa dipastikan. Tapi meski aku tidak ikut, karena aku pernah dibacok golok emas guru Beng Goan-cau serta anak buahku pun kena dibunuhnya pula, maka permusuhanku dengan Beng Goan-cau jelas sudah terikat sejak lama." Nyo Bok masih mendengarkan dengan tenang dan diam saja dengan sikap dingin. Setelah menghela napas, Ciok Tio-ki meneruskan ceritanya. "Sudah tentu bukan hanya karena urusan pribadi saja aku bermusuhan dengan Beng Goan-cau, kukira hal itu kau pun sudah tahu... beberapa tahun belakangan ini, apa saja yang dia kerjakan di Siau-kim-jwan. Hehe, sekarang dia sudah menjadi salah seorang tokoh penting yang harus dibekuk batang lehernya, seperti juga.gurunya itu, dia merupakan buronan pemerintah yang sewaktuwaktu harus dihukum pancung. Kenapa aku mau membantu kau menuntut balas, hehehe, Nyo Busu, kini kau sudah paham bukan?" "Sudah paham!" Sahut Nyo Bok kaku. "Kau karena tugas..." Ciok Tio-ki bergelak tertawa, belum habis Nyo Bok bicara ia sudah menukas. "Tepat, aku karena tugas dan kau hendak menuntut balas. Kalau kita berdua kerja sama menghadapi Beng Goan-cau, bukankah akan membawa keuntungan bagi dua pihak." Gelak tawanya bernada tinggi rendah seperti kokok beluk mengoceh di malam hari, tak enak didengar dan menusuk kuping. Orang licik seperti Nyo Bok pun tak urung mengkirik bulu romanya. Sebetulnya tak perlu Nyo Bok mendengar penjelasannya sampai selesai, sejak mula ia sudah dapat meraba ke mana tujuan orang. Di waktu Nyo Bok mendengarkan tadi, lahirnya ia bersikap kaku tanpa perasaan, sebetulnya sanubarinya sedang bergulat dengan tegangnya. Dasar cerdik dan orang yang pintar menggunakan akal liciknya, di kala timbul niatnya hendak membunuh Beng Goan-cau, belum pernah Nyo Bok berpikir lebih mendalam. Orang yang hendak dia bunuh ini bukan saja seorang lawan asmaranya, malah seorang tokoh dalam laskar gerilya. Lebih tidak pernah terpikirkan olehnya, pada akhirnya ia bakal kerjasama dengan wakil komandan Gi-lim-kun untuk menghadapi Beng Goan-cau seorang. "Adalah cukup pantas dan jamak kalau aku kerjasama dengan Tiam-jong-siang-sat, bila aku kerja sama dengan wakil komandan Gi-lim-kun, kalau rahasia ini sampai bocor dan diketahui khalayak ramai, para hohan di kangouw apakah tidak menghina dan menterta-wakan aku? Mungkin bukan hanya ditertawakan saja, untuk berdiri dan kelana di kangouw pun mungkin tiada tempat lagi bagi aku," Demikian Nyo Bok menerawang. Kawan-kawan Nyo Bok terdiri dari aliran putih dan golongan hitam, tapi hubungan yang paling kental sudah tentu terdiri dari orang-orang aliran pendekar, dan lagi walaupun ia tidak menerjunkan diri dalam barisan melawan pemerintah penjajah, paling sedikit dalam percakapan dan semangat ia sangat setuju dan menyokong sepak terjang para kawan-kawannya itu. Oleh karena itu di kala ia mendadak berpikir, mungkin suatu ketika bakal menjadi musuh para kawankawannya itu. Tidak bisa tidak ia jadi gundah dan was-was, malah rada gentar dan takut. Sepihak rasa cemburu membakar hati, pihak lain ia harus berpikir panjang sebelum bertindak mengingat akibatnya kelak. Maka terpikir pula oleh Nyo Bok. "Untuk menuntut balas sendiri, mungkin harus berlatih lagi sepuluh tahun juga belum tentu bisa berhasil, sulit mencari seorang tokoh kosen yang kini menawarkan diri untuk membantu, kesempatan baik ini apakah harus, kusia-siakan? Ya, kalau Ciok Tio-ki menarik aku sebagai pembantunya, tentu dia sendiri tidak mampu menghadapi Beng Goan-cau. Kalau begitu aku minta dia menutup rahasiaku ini sebagai imbalan dari kerjasama ini, masa dia berani menolak?" Nyo Bok beranggapan bahwa ia sudah punya modal untuk main tawar menawar dengan orang, siapa tahu bahwa hakikatnya dia sudah tergenggam di dalam telapak tangan orang untuk dimainkan saja. Dengan dingin Ciok Tio-ki mengawasi dia, katanya menyeringai. "Seorang laki-laki dapat berkcputusan sekejap kata, kenapa main ragu-ragu segala? Bagaimana, bicaralah terus terang!" Nyo Bok kertak gigi, katanya. "Baik, tapi apakah hanya kita berdua saja?"-Semula ia mengharap intrik mereka ini tidak diketahui oleh orang ketiga, pertanyaan ini hanyalah untuk memancing keterangan Ciok Tio-ki lebih lanjut, tak nyana jawaban Ciok Tio-ki justru jauh di luar dugaannya. Dalam hati Ciok Tio-ki bersorak girang. "Ikan sudah terjaring!" Mendadak dia bergelak tertawa, katanya. "Sudah cukup asal kau setuju kerjasama dengan aku, soal menuntut balas, tidak perlu sekarang juga harus dilaksanakan!" Nyo Bok melengak, tanyanya. "Jadi kau belum siap untuk berangkat bersama aku membunuh Beng Goan-cau?" "Kulihat betapa kecil nyalimu ini." Demikian ejek Ciok Tio-ki. "Bicara terus terang, aku sendiri tidak punya pegangan pasti berhasil membunuh Beng Goan-cau. Tapi asal kau mau dengar petunjukku, aku berani tanggung akan datang suatu ketika kau akan berhasil membalas sakit hatimu. Ya, benar, ada sebuah soal lain kau masih belum memberi jawaban kepadaku." Nyo Bok terkejut pula, katanya. "Harap Ciok-tayjin suka jelaskan, pangkat kedudukan atau kekayaan apa yang hendak diberikan kepadaku? Cara bagaimana pula kau hendak menghadapi aku?" Kata Ciok Tio-ki pelan-pelan. "Sat-tayjin sangat tertarik padamu, beliau ingin menarik kau menjadi Bhayangkari kelas dua dari istana raja. He he he, sekali muncul ja-batanmu lantas Bhayangkari kelas dua, kedudukan pangkat dan keuntungan yang bakal kau terima selanjutnya tentu tidak kecil!" Nyo Bok terkejut, sahutnya. "Aku orang she Nyo tidak berani mengharapkan... mengharapkan..." Belum selesai ia berkata, Ciok Tio-ki sudah berjengek dingin, katanya. "Tidak mau pun harus kau terima! Kalau tidak, aku pun tidak usah bunuh kau, cukup aku membeber segala apa yang tadi malam dan pagi ini kulihat dan kudengar kepada khalayak ramai, bahwa istri Nyo Bok sebelumnya sudah punya gendak dan melahirkan anak, Nyo Busu yang kenamaan itu tidak mampu membalas sakit hatinya sendiri, dia lari mencari bantuan kepada Tiam-jong-siang-sat serta mengatur tipu daya keji untuk merampas anaknya sendiri! Eh, salah omong, anak haram dari istrinya dan musuh besarnya itu, karena takut menghadapi gendak istrinya itu beberapa tahun ini terpaksa Nyo Busu harus mengakui anak itu adalah putranya! Hahaha, kalau kejadian ini sampai tersiar luas akan kulihat kau Nyo Busu ini apakah ada muka tetap hidup? Seandainya kau masih bandel menebalkan muka berhadapan dengan orang, kalau orang tidak menghina dan mentertawakan kau sebagai pengecut, tentu pula mereka memandang rendah dan hina kepadamu!" Betapa kotor dan menusuk kuping ucapan Ciok Tio-ki ini, mungkin sanubari Nyo Bok tidak sebejat dan seburuk seperti apa yang dikatakan ini (umpamanya ia mengakui Nyo Hoa sebagai anak, bukan seperti apa yang dikatakan oleh Ciok Tio-ki, soalnya waktu itu ia sudah beranggapan bahwa Beng Goan-cau sudah mati), tapi beberapa persoalan ini memang menjadikan Nyo Bok merasa sirik dan kuatir bila sampai diketahui orang luar. Sebagai guru silat kenamaan, di mana Nyo Bok berada selalu mendapat sanjung puji dan dihormati orang, terhadap gengsi dan nama ia sangat prihatin, setelah mendengar uraian Ciok Tioki yang mengorek boroknya ini, mencelos dingin perasaan hatinya, diam-diam ia berpikir. "Jikalau benar sampai tersiar luas rahasiaku itu, benar-benar lebih baik mati daripada hidup dengan nama busuk." Akan tetapi jikalau dia meluluskan syarat yang diajukan Ciok Tio-ki? "Bukankah aku sudah terima menjadi anjing alap-alap pemerintah penjajah? Seandainya tidak sampai terbunuh oleh para sahabat dari kaum pendekar atau patriot laskar gerilya, apa pula tujuan hidupku?"-Tiba-tiba teringat oleh Nyo Bok akan tamu dari piaukiok yang berkunjung ke rumahnya tiga tahun yang lalu. Piau-thau itulah yang membawa kabar di hadapan Hun Ci-lo bahwa Beng Goan-cau hakikatnya masih hidup di dunia ini. Masih segar dalam ingatannya di kala piauthau itu mengisahkan kepahlawanan Beng Goan-cau dan Song Theng-siau dalam perjuangan melawan penjajah adalah sedemikian gagah dan perwiranya! Tatkala itu meski ia sudah tahu bahwa Beng Goan-cau adalah musuh asmaranya, tidak bisa tidak ia pun turut mengumpak dan memuji. "Kalau aku benar-benar menjadi anjing alap-alap pemerintah penjajah, mungkin seorang piauthau yang kerjanya keluyuran itu pun akan memandang rendah dan hina kepadaku!" Lalu terpikir pula oleh Nyo Bok. "Yang jelas khalayak ramai sekarang anggap aku sudah mati, kedua jalan itu sama membuat aku hidup tidak mati pun tidak, kalau begitu aku tidak usah mengunjukkan diri saja untuk selamanya, anggap saja diriku sendiri pun sudah ajal!" "Tapi apakah Ciok Tio-ki man-dah membiarkan aku hidup bebas seorang diri tanpa ikatanikatan lainnya? Kalau urusan sudah terlanjur, kecuali aku betul-betul mati, kalau tidak bisakah aku selama hidup ini selalu sembunyi tanpa bertemu dengan beberapa orang kenalan? Apalagi tahun ini aku baru berusia tiga puluh enam, apakah aku harus merelakan diri hidup mengasingkan diri di hutan pegunungan menunggu ajal belaka?" Lahir dan batin sedang bergolak dalam sanubari Nyo Bok, perang batin antara kebajikan dan kesesalan, ke mana ia harus menuju atau menempatkan diri? Begitulah Nyo Bok berpikir pulang pergi, namun selalu ia menemui jalan buntu dan sukar mengambil keputusan. Kelihatannya Ciok Tio-ki dapat meraba jalan pikirannya, mendadak ia terbahak-bahak, ujarnya. "Nyo Busu! Yang kau takutkan hanya bila rahasiamu diketahui orang lain. keteranganku belum lagi selesai kujelaskan, coba kau dengar lebih lanjut, tentu tidak akan mempersulit keadaanmu." Kata Ciok Tio-ki lebih lanjut. "Pangkat yang kami berikan kepadamu hanya tituler belaka, tak perlu kau harus pergi ke kota raja menjabat kedudukanmu ini. Kecuali Sat-congkoan, aku dan komandan Gi-lim-kun yahg bernama Lam Kiong-sin tiada orang ke empat yang tahu. Seperti keadaanmu sekarang kau pun boleh saja berhubungan erat dengan para kawan-kawanmu lama. bagaimana cukup melegakan bukan?" Nyo Bok masih bimbang sekian lamanya, akhirnya ia berkata. "Benarkah hanya pangkat tituler belaka? Tak perlu aku. aku..." Ciok Tio-ki menyeringai sinis, ujarnya. "Bila namamu sudah tercantum di dalam daftar, berarti kau adalah orang kami sendiri, sudah tentu kau harus melakukan tugas-tugas yang kami serahkan kepadamu. Tapi kau tidak usah kuatir, hal ini akan kami rahasiakan sehingga tidak diketahui orang luar." "Entah tugas apa saja yang Ciok-tayjin hendak serahkan kepadaku?" "Kau seorang cerdik, masa belum paham? Kami ingin supaya kau menjadi mata kuping (matamata) pihak kerajaan!" "Maksudmu jadi mata-mata pihak kerajaan!" Ujar Nyo Bok gemetar, sekarang paham dia, bahwa Ciok Tio-ki hendak menjadikan dia sebagai penyelidik gelap, yaitu ia harus bergaul erat sama kawanan pemberontak atau pasukan gerilya memata-matai semua gerak gerik dan memberikan laporan seperlunya. Tiba-tiba Ciok Tio-ki menarik muka, hilang seri tawanya, dengan muka kereng dan bengis ia menambahkan. "Bekerja giat demi kepentingan kerajaan adalah tugas dan kewajibanmu, apalagi aku sudah berjanji membantu kau menuntut balas. Untuk ini aku sudah mengatur secara sempurna, kini aku tinggal menunggu jawaban tegasmu." Gundah dan gelisah pula hati Nyo Bok. namun Ciok Tio-ki mendesak sedemikian rupa tidak memberi kesempatan atau peluang sedikit pun untuk berpikir dan menimang-nimang. Ia tahu Ciok Tio-ki sangat culas dan kejam, cara kejahatan apapun bisa dilakukan olehnya. Maka dalam kedaan terdesak, yang terpikir olehnya hanya bila dia tidak menyetujui ajakan Ciok Tio-ki, bukan saja tidak mampu menuntut balas, nama dan gengsi bakal hancur berantakan. Kalau terima ajakannya kemungkinan bisa menutupi rahasianya ini. Sedikit pun tidak terpikir olehnya, bila dia menjadi anjing alap-alap atau mata-mata pihak kerajaan, bukan saja nama gengsi sendiri pun bisa hancur berantakan akibatnya pun akan lebih lagi. Akhirnya Nyo Bok tunduk pada tekanan dan bujuk rayu Ciok Tio-ki, katanya. "Ciok-tayjin suka berpikir demi kepentinganku, siaujin dengan suka hati rela menyumbangkan tenaga bagi Tayjin!" Ciok Tio-ki bergelak tertawa, ujarnya. "Bok-heng tidak usah sungkan, kini kita terhitung orang sendiri! Tapi, ada sebuah ucapan perlu kupertegas, kau bekerja bukan demi kepentinganku, adalah demi kepentingan kerajaan." "Ya, ya!" Nyo Bok mengiakan sambil merunduk-runduk. Ciok Tio-ki berkata lebih lanjut. "Kali ini tidak banyak bantuan yang kubawa dari kota raja, tapi kau tidak usah kuatir, betapapun Beng Goan-cau tidak akan dapat lolos dari cengkeraman tanganku. Silakan kau pulang ke rumahmu, suatu ketika aku bisa mengutus seorang kurir untuk mencari hubungan dengan kau." Sementara dalam batin ia berpikir. "Ikan besar yang berhasil kukail ini, pahalanya lebih besar dari pada membekuk batang leher Beng Goan-cau." Ternyata Ciok Tio-ki ini memang seorang cerdik pandai yang pintar mengatur tipu daya, kali ini ia membawa-Tiam-lam-su-hou keluar dari kota raja, waktu lewat di Soh-ciu didapat kabar bahwa Beng Goan-cau pulang ke rumah keluarga Hun. Karena dia sendiri rada jeri menghadapi Beng Goan-cau, maka ia perintahkan Tiam-lam-su-hou menyirapi gerak-gerik Beng Goan-cau lebih dulu. Tak nyana Tiam-lam-su-hou kena dilabrak habis-habisan hanya oleh sumoay Beng Goan-cau. Tak lama kemudian ia sendiri pun menonton perkelahian Beng Goan-cau melawan Tiam-jong-siang-sat yang sengit dan seru. Begitu takjub dan jeri hatinya sehingga ia tidak berani unjukkan diri. Dengan bertangan kosong sudah tentu ia sulit memberikan laporan dari kegagalan tugasnya, dasar cerdik, ia gunakan akal untuk memelet Nyo Bok ke pihaknya. Nyo Bok seorang guru silat yang kenamaan dan berhubungan luas dengan para kaum persilatan, meski dia tidak masuk jadi ang-gauta laskar gerilya, namun ada hubungan erat dengan pihak orang-orang gagah dan para ksatria. Orang macam ini kalau sudi mengekor dan menjadi mata-mata pihak kerajaan, sudah tentu merupakan seorang pilihan yang paling tepat. Cara Ciok Tio-ki menghadapi Nyo Bok sebenarnya di luar rencana tugas atau perintah dari atasannya, adalah setelah dia mengetahui rahasia pribadi Nyo Bok baru timbul akalnya dan bekerja menurut putusan hati sendiri. Bujuk rayunya pada Nyo Bok akan diberi pangkat dan kedudukan apa segala, bahwasanya ia hanya memalsu dan mencatut nama kebesaran atasannya belaka. Bahwa Sat-congkoan yaitu komandan Gi-lim-kun pernah membicarakan Nyo Bok kepada dirinya memang benar. Pernah Sat Hok-ting mengutarakan hasratnya hendak memelet Nyo Bok jadi kaki tangannya, namun karena kemungkinan berhasil terlalu kecil, saat itu hanya dibicarakan sambil lalu saja. Sungguh tidak nyana, dicari merusakkan sepatu besi tidak ketemu, begitu ketemu sedikit pun tidak mengeluarkan tenaga. Di bawah tekanan atau ancaman serta bujuk rayu secara halus Ciok Tio-ki, di luar dugaan ia berhasil mengail mangsanya ini sedemikian mudah, keruan girang bukan buatan. Saking senang diam-diam Ciok Tio-ki berpikir. "Tak kira hanya dengan makanan pangkat Bhayangkari kelas dua aku berhasil mengail seekor ikan besar. Meski aku mencatut dan memalsu perintah Sat-congkoan, tapi aku berhasil mengail ikan besar bagi kepentingannya, pahala ini jauh lebih besar dari aku menerima sepuluh anggauta Bhayangkari kelas satu, betapapun ia akan memuji dan memberi persen kepadaku dari pada memakiku atau menentang tindakanku ini!" Terpikir pula oleh Ciok Tio-ki. "Kalau aku bekerja sama dengan Nyo Bok menghadapi Beng Goan-cau, kemungkinan bisa berhasil membekuk batang lehernya, tapi bila sampai dia berhasil meloloskan diri, untuk selanjutnya Nyo Bok pasti tidak bisa lagi bergaul bebas di hadapan umum sebagai kaki tangan pihak kerajaan. Demi tugas yang lebih penting dan toh rencana ini cukup memakan waktu, soal membekuk Beng Goan-cau sih boleh dianggap urusan kecil, tapi untuk mengulur pancing mengail ikan besar jauh lebih sulit. Lebih baik aku jangan sembarangan bertindak, sekali-kali aku harus melindungi rahasia Nyo Bok lebih penting." Sebagai seorang yang berpikiran tenang dan licik, maka ia gunakan alasan hendak membalaskan sakit hati Nyo Bok, setelah Nyo Bok kena dipelet, lantas dia membujuk Nyo Bok supaya jangan terlalu gugup untuk menuntut balas, malah menyuruhnya pulang ke kampung halaman lebih dulu. Mendengar orang menyuruh dirinya pulang ke kampung halaman, Nyo Bok jadi serba susah, dengan ragu-ragu ia berkata. "Mungkin Ciok-tayjin belum tahu bahwa aku sudah pura-pura mati. Kecuali istriku seorang, semua sanak kadang dan familiku serta kawan-kawanku tiada yang tahu akan seluk beluk ini, mana bisa aku pulang ke kampung halaman dan unjuk muka secara terangterangan di muka umum?" "Kejadianmu aku tahu jelas, sudah tentu aku punya akal supaya kau hidup lagi, dan akalku ini sedikit pun tidak akan bikin malu kepadamu!" "Harap Tayjin suka jelaskan!" Berkata Ciok Tio-ki pelan-pelan. "Kau boleh beri alasan bahwa kematianmu yang pura-pura ini adalah untuk menghindari kejaran pihak kerajaan!" Nyo Bok terperanjat, serunya. "Maksudmu aku harus menyaru sebagai buronan pihak kerajaan?" "Tidak salah, malah kau boleh bicara lebih tandas bahwa orang yang ditugaskan untuk meringkus kau adalah aku ini." "Kalau begitu, cara bagaimana pula aku harus pulang secara terang-terangan? Apa tidak takut kau dengar berita dan meluruk datang menangkap aku?" Bertaut alis Ciok Tio-ki, katanya. "Kelihatannya kau cukup pintar, kenapa begitu ceroboh. Siapa yang suruh kau mengunjukkan diri di muka umum? Maksudku hanya beberapa sanak kadang dan para sahabat dekatmu saja yang melihat kau, dan mereka harus diberitahu asal mula kenapa kau harus pura-pura mati." Sebetulnya Nyo Bok tidak seceroboh seperti yang dikatakan, tujuan Ciok Tio-ki menyuruh dia berbuat demikian sebetulnya siang-siang sudah.dapat ia tebak dalam benaknya. Bahwa dia purapura tidak mengerti karena nuraninya masih belum tega untuk melakukan sesuatu yang mengingkari martabat seorang lurus, apa lagi harus membungkuk-bungkuk menjadi boneka Ciok Tio-ki dan terima diperintah segala. Tapi sang korban sudah terkail, mana mungkin Ciok Tio-ki mau melepasnya demikian saja? Maka setelah secara halus membujuk dan menekannya pula, sambil tertawa ia berkata. "Kau tidak usah kuatir dan takut, sekembalimu ini kutanggung para sahabat dan sanak ka-dangmu malah akan menyanjung dan memuji kau, sedikit pun tidak akan merugikan kebaikan nama dan gengsimu. Hm, bukankah kau punya murid yang bernama Bun Seng-liong, sekarang menjadi piauthau dari Tin-wan Piaukiok, dan murid kedua adalah anak hartawan di Siok-ciu yang bernama Gak Hou, ya bukan?" Dalam waktu singkat Nyo Bok tidak tahu ke mana juntrungan kata-kata orang, sambil manggut ia mengiakan. Kata Ciok Tio-ki pula. "Iparmu atau suami toacimu punya seorang paman, yaitu Su-hay-sinliong Ki Kian-ya yang kenamaan di empat penjuru kangouw, betul tidak?" Dengan kaku Nyo Bok mengiakan lagi seraya manggut-manggut. "Baik, menurut apa yang kutahu, Bun Seng-liong dan Gak Hou sama hendak mencari buku silat peninggalanmu. Waktu kau pulang datanglah pada tengah malam secara sembunyi-sembunyi, pertama kau temui kedua muridmu itu. Lalu pergilah ke Poting menemui tetua dari familimu yaitu Su-hay-sin-liong Ki Kian-ya!" "Bila Gak Hou tahu kau adalah buronan pemerintah tentu sangat terkejut, malah mungkin secara diam-diam memberi lapor kepada pejabat setempat, tapi memang begitulah tujuanku, dengan demikian persoalanmu bahwa kau buronan tulen bisa segera tersebar luas dan diketahui umum..." "Tin-wan Piaukiok adalah perusahaan ekspedisi yang terbesar di kota raja, usia Bun Seng-liong masih muda namun sudah menjabat sebagai piauthau dari sebuah perusahaan besar, kuduga dia pun tidak akan rela merusak masa depannya. Tapi dia tidak berkeluarga dan punya harta seperti Gak Hou, dan lagi ingin mendapatkan buku rahasia ajaran silatmu, kuduga ia tidak akan lapor kepada pejabat. Boleh kau serahkan buku ajaran silatmu kepadanya, soal buku ajaran silat itu tulen atau palsu terserah kepadamu untuk memberi putusan." "Menurut dugaanku, setelah Bun Seng-liong memperoleh buku ajaran silatmu, kemungkinan besar dia akan membawa pulang rahasiamu ini kepada Cong-piauthau, minta Cong-piauthau suka mencarikan akal baginya. Tiada halangannya kuberitahukan kepadamu, sedikit banyak aku rada curiga terhadap Han-congpiauthau dari Tin-wan Piaukiok ini, demikian ingin aku tahu, dia suka melindungi kau atau tidak, dari sini aku dapat meraba seluk beluknya. Lebih baik kalau dia suka melindungi kau, setelah mengetahui rahasianya, lebih lanjut kau bisa tahu seluk beluk dari para sahabat kangouw lainnya. "Soal Su-hay-sin-liong Ki Kian-ya, sudah tentu dia akan membantu kesulitanmu. Kalau kau dapat memperoleh kepercayaannya, para kaum kangouw yang menamakan dirinya kaum pendekar atau orang-orang gagah dari laskar gerilya, tentu anggap kau adalah orang segolongan mereka sendiri. Betapa banyak manfaat yang kau peroleh tidak perlu kujelaskan sekarang kepadamu!" Mendengar uraian yang panjang lebar ini mencelos perasaan hati Nyo Bok, pikirnya. "Tipu muslihat orang ini sangat cermat dan teliti, betapa culas tujuannya, sungguh sulit dinilai dari tampangnya. Namun lahirnya terpaksa ia harus mengumpak. "Rencana tipu muslihat Ciok-tayjin sungguh mengagumkan, kagum, kagum! Tapi..." "Tapi apa?" "Bun dan Gak dua bocah itu mudah dihadapi, kuatirnya Su-hay-sin-liong Ki Kian-ya sulit ditipu mentah-mentah." "Bukan soal sulit, mari kubisiki!" Tempat mereka bicara adalah di jalan pegunungan, waktu masih sangat pagi, orang jalan belum kelihatan, bila Ciok Tio-ki hendak bicara sebetulnya tidak perlu main bisik-bisik segala. Nyo Bok tahu orang hanya pura-pura bertingkah belaka bahwa urusan cukup penting dan tidak boleh bocor, hatinya menjadi geli, maka seperti badut yang main di atas panggung ia pun bergaya cepat-cepat maju dua langkah serta menjura di hadapan Ciok Tio-ki, katanya. "Harap Ciok-tayjin memberi petunjuk!" Baru saja kata-kata 'petunjuk' lenyap, mendadak Ciok Tio-ki ayun sebelah tangan terus menggablok ke arah dadanya. Betapapun Nio Bok tidak menyangka bila dirinya bakal diserang. Untung sebagai guru silat yang cukup pengalaman di medan laga, reaksinya pun amat cepat, namun betapapun cepatnya ia berkelit, tak urung dadanya toh terserempet oleh jari-jari Ciok Tio-ki, kontan ia rasakan dadanya sakit dan panas membara. Sakit terkejut badannya terpental mundur dan jatuh terjengkang menghadap ke langit, dalam kejutnya ia berteriak. "Ciok-tayjin, kau, apa-apaan kau..." Belum habis ia bicara tampak Ciok Tio-ki sudah memburu maju memayang badannya seraya tertawa cengar-cengir, ujarnya. "Nyo-heng, maaf, maaf! Soalnya kalau tidak demikian, Su-hay-sinliong Ki Kian-ya mana mau percaya kepadamu?" Baru sekarang Nyo Bok menjadi paham, katanya. "Ciok-tayjin, jadi kau suruh aku menggunakan tipu menyiksa diri?" "Benar. Coba kau buka baju dan lihat keadaan dadamu!" Waktu Nyo Bok menyingkap baju dan menunduk, dilihatnya di kulit dadanya berbekas lima jari tangan warna merah membara seperti dicap saja layaknya, keruan mencelos hatinya. Tapi ia pun paham bahwa Ciok Tio-ki sengaja menaruh belas kasihan, kalau tidak mungkin dirinya tidak akan tersiksa hanya kesakitan kulitnya saja. Berkatalah Ciok Tio-ki pelan-pelan. "Bekas jari tangan ini mungkin dalam setengah tahun tidak akan hilang. Su-hay-sin-liong Ki Kian-ya banyak pengalaman dan berpengetahuan luas, tidak mungkin dia tidak bisa melihat bahwa bekas jari ini adalah hasil dari pukulan Lui-sin-ciang aku orang she Ciok. He, he soal cara bagaimana kau merangkai cerita untuk menipu dia, kukira Nyoheng seorang pemain sandiwara kawakan, kiranya aku tidak perlu beri petunjuk lebih lanjut." Girang dan kejut pula Nyo Bok dibuatnya, pikirnya. "Aku bisa menggunakan alasan bahwa Ciok Tio-ki berhasil menyirapi hubungan rahasiaku dengan pihak laskar gerilya lalu mengancam aku menyerah dan takluk padanya, aku tidak mau tunduk, maka dia lantas menggunakan Lui-sin-ciang melukai aku. Setelah terluka, demi menyelamatkan diri terpaksa aku pura-pura mati. Tanggung Ki Kian-ya seratus persen percaya akan bualan-ku ini! Asal Ciok Tio-ki sendiri tidak membocorkan rahasia ini, orang-orang gagah dari kaum persilatan masih akan anggap diriku pahlawan menentang penjajahan." Terbayang bahwa dirinya bakal memperoleh gelar pahlawan melawan penjajah, hati Nyo Bok merasa syur dan seperti dikili-kili. Terpikir pula olehnya. "Begitu nama kebe-saranku tersebar luas, akan datang suatu ketika Hun Ci-lo bisa mendengar berita ini. Tidak perlu aku mencari dia, pasti dia sendiri akan datang menemui aku." Ternyata dengan berbagai daya upaya Nyo Bok berusaha memper-isteri Hun Ci-lo, memang dia kepincut akan kecantikan dan kepandaian sastra serta ilmu silat Hun Ci-lo, tapi kecuali itu, dia pun mempunyai dua sebab lainnya. Sebab pertama yaitu karena dia tahu benar bahwa ilmu silat Hun Ci-lo jauh lebih tinggi dari kemampuan sendiri terutama dalam hal lwekang, bila dapat memperisteri dia tentu dapat mempelajari ajaran lwekang tingkat tinggi dari leluhur istrinya. Tujuan ini sudah berhasil dicapainya. Dan sebab yang kedua karena Hun Ci-lo adalah putri Hun Cong-san. Lahirnya Hun Cong-san adalah seorang tokoh Bulim yang sudah mengundurkan diri, namun secara sembunyi-sembunyi ia ada hubungan teramat kental dengan para pahlawan penentang penjajah, malah dia merupakan seorang tokoh terpenting dari barisan gerilyawan. Orang luar tiada yang tahu, namun Nyo Bok jelas sekali mengetahui hal ini. Sebetulnya Nyo Bok tiada minat ikut menerjunkan diri dalam gelanggang percaturan adu kekuatan antara pemerintah penjajah dengan gerilyawan yang bekerja secara main sembunyi, tapi besar pula hasratnya untuk mencari ikatan dengan para patriot bangsa. Cara ini bukan saja dapat mengharumkan nama dan memperluas pergaulannya, dan lagi bila kelak pihak gerilya memperoleh posisi yang lebih menguntungkan, dirinya pun bakal disanjung dan dihargai oleh sesama kaum persilatan. Begitu sang ayah demkian pula sang putri, setelah menikah meski Hun Ci-lo tidak kuasa mewarisi cita-cita ayahnya, tapi dia paling menghargai orang-orang gagah yang melawan pemerintah, pernah berulang kali ia membujuk suaminya, menyuruhnya memberi sekedar bantuan para patriot bangsa itu. "Kalau Hun Ci-lo mendapat tahu bahwa suaminya ternyata adalah patriot bangsa melawan pemerintah penjajah, betapa senang hatinya! Bukan mustahil dia bakal benar-benar mencintai aku sepenuh hatinya." Angin pagi menghembus lewat, tanpa merasa Nyo Bok bergidik kedinginan dibuatnya, terpikir pula olehnya. "Tapi seandainya sampai diketahui bahwa aku patriot bangsa melawan penjajah yang palsu, bahwasanya adalah kaki tangan pihak kerajaan, dia, cara bagaimana dia hendak menghadapi aku?" -Teringat oleh Nyo Bok kata-kata istrinya yang biasa ditujukan kepada dirinya setiap membicarakan salah seorang kaum persilatan terima mengekor dan menjadi budak pihak pemerintah kerajaan, tentu dia mengertak gigi dan benci setengah mati. Membayangkan betapa kebencian istrinya itu, serta merta berdiri bulu kuduk Nyo Bok. "Cara bagaimana dia hendak menghadapi aku?"-Nyo Bok tidak berani memikirkan lebih lanjut. "Kau masih ada kesukaran apa? Agaknya kau sedang memikirkan isi hati apa-apa?"-Melihat dia terlongong, segera Ciok Tio-ki mengajukan pertanyaan sambil menyunggingkan senyum sinis. "Ti... tidak apa-apa. Aku cuma sedang berpikir cara bagaimana merangkai cerita supaya bisa menipu Su-hay-sin-liong!" Ciok Tio-ki tertawa seperti tidak tertawa, ujarnya. "Waktu masih cukup panjang, belum terlambat kau berpikir pelan-pelan. Baik, sekarang sudah terang tanah, jalanan bakal banyak orang, sudah saatnya kita berpisah. Lekaslah kau pulang saja!" Cepat Nyo Bok mengiakan sambil membungkuk-bungkuk lagi, sementara dalam hati ia tertawa getir. "Bahwasanya hubungan kita ini sebetulnya memang tidak bisa dilihat sinar matahari."-Kuatir di tengah jalan bisa kepergok dengan Song Theng-siau, lekas-lekas ia mengenakan kedoknya pula, bergegas ia menempuh perjalanan lewat jalan pegunungan, jadi bingung dan kuatir, tangan kecilnya dengan kencang menariknya ke depan. -oo0dw0oo-Sepanjang jalan ini, Song Theng-siau pun selalu memikirkan Hun Ci-lo. Semakin dekat Soh-ciu jantungnya berdebur semakin keras, tanpa merasa ia tertawa geli sendiri. "Hm, kenapa sih aku ini. tidak memikirkan lagi pada Ci-lo, kenapa pula aku takut menghadapi dia? Demikian juga terhadap sahabat kentalku, Beng Goan-cau?" "Paman, kenapa kau berhenti? Apa yang sedang kau pikirkan?" -Sudah tentu Nyo Hoa tidak bisa menyelami jalan pikiran Song Theng-siau, karena semakin semakin lambat dan akhirnya berhenti, tak tertahan lagi rasa herannya. Song Theng-siau terlongong, entah dia dengar tidak teguran Nyo Hoa, sesaat kemudian mulutnya menggumam. "Cepat, cepat!" Nyo Hoa keheranan, tukasnya. "Paman, apa katamu? Semakin jalan kita semakin lambat kenapa kau malah mengatakan cepat?" Melihat sikap linglung Song Theng-siau ia jadi bingung dan kuatir, tangan kecilnya dengan kencang menarik kedepan. Tiba-tiba Song Theng-siau tersentak sadar, setelah menenangkan hatinya dengan tertawa geli ia berkata. "Tinggal lima enam puluh li lagi, bakal tiba di rumah nenek luarmu. Kalau jalan kita cukup cepat, nanti malam kau bisa bertemu dengan ibumu.' Nyo Hoa mengkedip-kedipkan matanya, dengan sikap kurang mengerti dan heran ia menegas. "Nenek luarku, Paman apa kau tldak menlpu,aku? Masa aku punya nenek luar?" Song Theng-siau geli, sahutnya. "Kalau tiada nenek luar, di sana kau masih punya ibu kan?" "Menurut ibu, nenek luar berada di tempat yang sangat jauh sekali, ibu sendiri pun tidak tahu tempat itu. Waktu kutanya ayah, ayah malah bilang mungkin nenek luar sudah lama meninggal, suruh aku selanjutnya tldak usah bertanya kepada lbu" Anak kecil belum tahu dan belum bisa membedakan antara kata-kata 'hilang dan meninggal' serta makna kata 'tiada' apalagi selama dia belum pemah melihat nenek luar, ayah ibunya berkata begitu pula, maka dianggapnya bahwa dirinya memang tidak punya nenek luar lagi. "Memang nenek luarmu pergi ke tempat yang amat jauh," Demikian Song Theng-siau menjelaskan. "Tapi rumah beliau ada di tempat ini. Rumah nenek luarmu adalah rumah ibumu pula, kau tahu tidak?" Nyo Hoa manggut-manggut, sahutnya. "Aku paham." "Apakah nenek luarmu sudah kembali, aku belum tahu. Tapi aku tahu bahwa ibumu pasti ada di rumah." "Apa benar?" Teriak Nyo Hoa kegirangan. "Kalau begitu sebentar aku bisa ketemu dengan ibu?" "Ya. Kau senang tidak? Ibu melihat kau betapa dia lebih girang pula!" Sementara dalam batin Song Theng-siau berpikir. "Bukan saja kau melihat ibu, kau pun bisa ketemu ayah kandungmu!" Dalam bayangan Song Theng-siau, bahwa Goan-cau dan Hun Ci-lo pasti sudah kumpul kembali, kaca bundar yang pecah sudah kembali aslinya. "Mereka menghadapi ujian berat, mengalami penderitaan dan kesengsaraan yang berat pula, baru sekarang berkesempatan rujuk kembali, seharusnya aku ikut girang dan mengucapkan selamat kepada mereka. Ai, anggap saja bocah ini sebagai kado yang kubawa bagi mereka. Setelah menyerahkan bocah ini, tiada urusan yang melibatkan diriku, aku bebas menuju ke tempat nan jauh," Demikian pikir Song Theng-siau dengan senang, namun ia pun merasa hambar dan berduka pula. Pikiran Song Theng-siau yang amat ruwet ini, jangan kata Nyo Hoa tidak akan mengerti, seumpama Hun Ci-lo sendiri berada di dampingnya pun tidak akan bisa menebak isi hatinya. Mendengar sebentar malam bakal bisa ketemu dengan ibunya, Nyo Hoa lantas berjingkrak kegirangan, sambil menarik tangan Song Theng-siau ia berteriak riang. "Paman, ayolah jalan lebih cepat!" Song Theng-siau seperti kehilangan semangat, pikirnya. "Ya, benar, seharusnya aku memberanikan diri menyampaikan selamat bahagia terhadap mereka!" ---katanya. "Baik, baik ayo jalan lebih cepat!" Di saat pikiran Song Theng-siau kalut dan hati tidak tenteram itulah, mendadak didengarnya di belakang sana ada orang berteriak memanggil. "Song Theng-siau, Song-tay-hiap! Song Thengsiau!"--Mendengar ada orang memanggil namanya serta merta Song Theng-siau menghentikan langkah dan berpaling ke belakang. Waktu ia melihat tegas, pendatang ini kiranya seorang laki-laki berparas cakap berdandan sebagai sastrawan umumnya memegang kipas, berusia tiga puluhan. Melihat orang tidak dikenal dan masih asing ini, Song Theng-siau jadi heran, pikirnya. "Siapa orang ini, agaknya belum pernah aku melihat dia? Naga-naganya dia punya urusan penting hendak mencari aku?" Melihat orang yang dipanggilnya berpaling, sementara mukanya mirip dengan apa yang pernah digambarkan oleh Nyo Bok, Toan Siu-si tahu bahwa dia tidak salah menemukan orang yang sedang dicarinya. Cepat sekali ia sudah menyusul tiba, serunya. "Song tayhiap, kau tidak tahu aku, tapi aku kenal kau. Ada sebuah urusan perlu aku jelaskan kepadamu." Heran Song Theng-siau, tanyanya. "Siapakah saudara ini? Selamanya kita belum pernah kenal dan ketemu, ada urusan apa hendak dibicarakan dengan aku?" Toan Siu-si berkata sambil menunjuk Nyo Hoa. "Tak perlu kau tahu siapa aku, ayah bocah ini apakah Beng Goan-cau?" Nyo Hoa segera menimbrung dengan bersungut. "Omong kosong. Ayahku adalah Nyo Bok dari Siok-ciu, siapa tidak tahu dan kenal akan nama ayahku?" Adalah Song Theng-siau yang berjingkrak kaget, teriaknya. "Kau, darimana kau bisa tahu?" "Paman!" Seru Nyo Hoa gugup. "Dia seorang penipu, jangan kau percaya obrolannya. Bukankah kau sendiri pernah suruh aku berlutut di makam ayah minta diri? Masa kau belum tahu bahwa ayahku seorang she Nyo?"-Meski usia Nyo Hoa baru tujuh tahun, tapi otak encer dan cerdik, ia merasa dari nada pertanyaan Song Theng-siau seakan-akan ia mengakui apa yang dikatakan orang itu adalah benar, hati kecilnya serta merta menjadi gugup dan kebingungan. Toan Siu-si tersenyum manis, katanya. "Kiranya kau belum menjelaskan seluk beluk ini kepada bocah ini." "Kau membicarakan bocah ini, apa tujuanmu?" Berkata Toan Siu-si. "Bicara terus terang, aku mendapat pesan dari Beng-tayhiap untuk menerima bocah ini, harap kau serahkan dia kepadaku!" "Paman, jangan kau percaya obrolannya," Teriak Nyo Hoa dongkol dan merengek. "Jangan kau percaya dia! Dia adalah penipu, penipu!" Sebetulnya Toan Siu-si tidak gentar akan kepandaian Song Theng-siau yang cukup tinggi, soalnya dia tidak ingin main kekerasan, maka sengaja ia gunakan cerita bohong hendak menipunya secara halus. Tapi sayang ada beberapa kenyataan yang tidak diketahui oleh Toan Siusi maka akal muslihatnya sudah tentu tidak dapat mengelabui Song Theng-siau. Dasar Song Theng-siau pun seorang yang cerdik dan cermat, setelah terkejut, lekas ia dapat membongkar kebohongan orang, dalam hati ia lantas membatin. "Hun Ci-lo bahwasanya tidak pernah ketemu dengan si maling sakti Kwi-hwe-thio, Kwi-hwethio sendiri juga tidak meluruk ke Soh-ciu, betapapun Hun Ci-lo dan Beng Goan-cau tidak bisa menujum, bahwa aku membawa pulang putra mereka?" "Apalagi mengandal hubungan eratku dengan Beng Goan-cau, seandainya ia sudah tahu persoalan ini, pasti dengan lega hati ia man-dah menunggu saja di rumah menunggu kedatanganku membawa pulang anaknya. Mana mungkin dia membocorkan rahasia pribadinya kepada orang luar, sebaliknya mengutus seorang asing yang tidak kukenal menyambut pulang putranya ini?" Toan Siu-si pura-pura unjuk tawa, katanya membujuk Nyo Hoa. "Anak baik, aku tidak menipu kau. Kau tidak percaya silakan tanya pamanmu."--Dia unjuk seri tawa sambil melangkah maju hendak menarik Nyo Hoa, tidak duga belum lagi ia bicara habis, mendadak dilihatnya mata Song Theng-siau mendelik garang seperti harimau kelaparan, alis pun bertaut, bentaknya keras. "Tidak salah! Dia seorang penipu!"-Seiring dengan bentakannya, kedua jarinya merangkap terus menjulur ke depan menotok ke arah lawan. Tujuan Song Theng-siau hendak menawan orang hidup-hidup untuk dikompes keterangannya. Maka ia hanya melancarkan ilmu totoknya, tanpa melancarkan ilmu yang ganas. Mana dia menduga bahwa bekal kepandaian silat dan lwekang Toan Siu-si bahwasanya malah lebih unggul dari dirinya, ilmu menutup jalan darah justru adalah keahliannya. Kalau dia gunakan Cong-jiu-hoat melancarkan totokannya, mungkin sedikitnya bisa bikin Toan Siu-si merandek karena kesemutan, lalu melabraknya dengan gencar, mungkin tindakannya ini menempatkan dirinya pada posisi yang lebih menguntungkan. Tapi yang dia gunakan justru ilmu totok yang paling umum, mana bisa dia merobohkan lawannya? Begitu jari Song Theng-siau menotok ke depan, memang jarinya menyentuh tubuh lawan, tapi ia seperti menotok sebuah benda yang lemas seperti kapas empuknya, sedikit pun tidak kuasa mengerahkan tenaga. Untung Song Theng-siau pun seorang kawakan dalam bidangnya, begitu merasa ganjil cepat sekali ia mengganti jurus melancarkan tipu lainnya sementara kakinya cepat sekali melangkah menyingkir dengan gerakan Ih-sing-hoan-wi, menggeser kedudukan menarik kembali tangannya. Semula Toan Siu-si hendak melaksanakan niatnya dengan akal muslihat saja, tapi rencananya ternyata gagal, terpaksa harus menggunakan kekerasan. Gerak kedua pihak sama cepatnya, di saat Song Theng-siau menggeser langkah menempatkan diri pada lain posisi sementara telapak tangan Toan Siu-si yang mengandung bau amis tahu-tahu sudah menyelonong tiba. Untunglah selama beberapa tahun berada di Siau-kim-jwan, karena sering diajak latihan oleh Lu Su-bi mengembangkan ilmu ringan tubuh mengitari pohon menyelinap di antara taburan kembang, dengan sendirinya Song Theng-siau pun sangat mahir akan ilmu ginkang ini, dan saat inilah ia manfaatkan latihannya selama beberapa tahun dulu, dalam keadaan yang gawat itulah tahu-tahu ia sudah menyelinap menyingkir meluputkan diri dari sambaran telapak tangan berbisa Toan Siu-si. Begitu mengendus bau amis yang memualkan, keruan Song Theng-siau terperanjat, beruntun ia menyurut mundur tiga langkah. Bicara lambat kenyataan teramat cepat, pada saat itulah mendadak Toan Siu-si bukan mengejar ke arah dirinya malah memutar haluan menubruk ke arah Nyo Hoa, tangannya meraih ke arah bocah cilik ini seraya bergclak tertawa. "Hahaha, anak yang pintar, kaulah yang salah, aku tidak menipu kau. Kau jangan takut, ikut saja dengan aku!" Mana Song Theng-siau mandah membiarkan orang merebut lari Nyo Hoa? Belum lagi raihan tangan Toan Siu-si mengenai tubuh Nyo Hoa, tiba-tiba dirasakannya angin berkesiur menyambar dari sebelah belakang. "Sret!" Tahu-tahu Song Theng-siau sudah menusukkan pedangnya mengarah punggungnya. Tahu orang melatih pukulan berbisa, tanpa sungkan Song Theng-siau dipaksa melolos pedangnya menghadapi musuh. Ilmu keluarga Song mengutamakan kelincahan dan enteng, tipu serangan ini tepat sekali datangnya, sedikit pun tidak meleset, sehingga musuh didesak untuk menolong diri sendiri sebelum sempat melukai orang lain. Toan Siu-si insyaf akan keliehayan tusukan pedang lawan, tanpa hiraukan cengkeraman kepada Nyo Hoa tiba-tiba ia membalikkan telapak tangannya menyampuk. Pukulan membalik ini seperti menutup laksana mengunci, di samping menyerang juga mengandung unsur menjaga diri, sungguh serasi dan tepat sekali cara ia melayani serangan pedang lawan, memang kepandaian mereka cukup setanding, apalagi Song Theng-siau juga rada jeri menghadapi ilmu pukulan lawan yang mengandung racun, begitu tusukannya mengenai tempat kosong lekas ia mundur tidak berani merangsak lebih lanjut, tersipu-sipu ia menggeser ke samping untuk melindungi keselamatan Nyo Hoa. "Song-tayhiap!" Ujar Toan Siu-si. "Memang aku tadi hanya membual, tapi aku tidak mengandung maksud jahat kepada bocah ini." "Apapun yang kau katakan, tujuanmu adalah ingin merebut bocah ini, jangan harap kau bisa melaksanakan niatmu," Demikian hardik Song Theng-siau. "Urusan hari ini kukira kau sendiri tidak akan bisa pegang kepu-tusan!" Demikian ejek Toan Siusi tertawa besar. Suara lenyap orangnya pun sudah merangsak tiba. "Wut, wut, wut!" Beruntun ia melancarkan tiga pukulan berantai, damparan angin pukulannya laksana ombak badai sungai Tiang-kang yang mengamuk bergulung-gulung menerpa ke depan. Kekuatan tenaga pukulan yang dilandasi lwekang yang hebat ini, memang bukan olah-olah hebatnya, tak urung bercekat hati Song Theng-siau. Tapi dengan nekad dan beraninya Song Theng-siau putar kencang pedangnya, sesenti pun pantang bergeser dari kedudukan. Teriaknya. "Keponakan Hoa, sembunyi di belakangku, sembunyi rada jauh sedikit!" Mendadak Toan Siu-si tertawa, ujarnya. "Masa kau mampu melindungi dia?"--Belum lenyap suaranya mendadak didengarnya Nyo Hoa menjerit keras, teriaknya. "Paman tolong aku!"-Waktu Song Theng-siau berpaling ke belakang, tahu-tahu dilihatnya seorang laki-laki berdagu panjang lancip-bermata sipit sudah mengempit Nyo Hoa di bawah ketiaknya. Ternyata sebelumnya Toan Siu-si sudah mengatur rencana dengan suhengnya, dia suruh Pok Thian-tiau bersembunyi di sekeliling gelanggang, kalau cara tipuannya gagal, Pok Thian-tiau harus cepat turun tangan merebut bocah itu dan dibawa lari. Dasar sejak kecil Pok Thian-tiau memang dibesarkan di hutan pegunungan, biasanya suka bermain dan berkawan dengan orang hutan, maka ilmu ginkangnya itu boleh dikata adalah pemberian alam tanpa latihan seperlunya, maka begitu berhasil merebut Nyo Hoa cepat sekali ia sudah melarikan diri, sekejap saja bayangannya sudah menghilang dan tidak terlihat pula jejaknya. Sudah tentu kejut Song Theng-siau bukan kepalang, meski ia tahu belum tentu ia mampu mengejar Pok Thian-tiau, tapi ia masih berusaha mengejar dengan kencang. Kuatir sang suheng kepayahan setelah terluka berat, begitu berlari jangka panjang lama kelamaan tentu kehabisan waktu, mungkin bisa terkejar oleh Song Theng-siau. Maka, seperti bayangan mengikuti bentuknya Toan Siu-si pun membuntuti di belakangnya. Dengan suara pongah ia berkakakan, oloknya. "Song-tayhiap, bukankah tadi kau ajak aku berkelahi? Kenapa lari?" Ilmu ginkangnya memang setanding dan berimbang dengan Song Theng-siau, maka setiap waktu Song Theng-siau harus berlaku waspada kuatir lawan menyergap dan membokong secara licik dari sebelah belakang. Lama kelamaan Song Theng-siau jadi murka, semprotnya. "Baik, aku adu jiwa saja dengan kau!" Tiba-tiba ia putar tubuh, sementara pedangnya memancarkan cahaya terang. "Sret!" Dengan jurus Pek-hong-koan-jit, ujung pedangnya tahu-tahu sudah menyambar ke teng-gorokan Toan Siu-si. Toan Siu-si tertawa, ujarnya. Baca Juga: Sebilah Pedang Mustika 4 Baca Juga: Panji Wulung 2