Sebilah Pedang Mustika 4

Eps 4 Sebilah Pedang Mustika - Liang Ie Shen

Baca online Sebilah Pedang Mustika - Liang Ie Shen

Cersil Sebilah Pedang Mustika - Liang Ie Shen.

"So So adalah seorang anak yang manis,"

Berkata isteri itu perlahan.

"adalah kita yang bukan ayah-bundanya yang baik...Entah bagaimanakah perasaanmu sendiri...Buat aku, aku merasa malu..."

"Aku berlipat lebih malu daripada kau,"

Kata Bu Yang, air matanya bercucuran. Nyonya In menghela napas dalam2, kemudian sambil menunjuk tubuh Tan Hian Ki yang rebah dihadapan mereka, ia berkata;

"Matanya So So jauh lebih tajam daripada mata kita, Anak ini baik hatinya, ia polos dan sederhana, ia dapat dibuat harapan, maka itu, dengan aku memberikan tiga butir pil, kau harus dapat mengerti maksud hatiku, Mengertikah kau?"

"Aku mengerti, Kalau sebentar dia mendusin, So So tentu juga sudah pulang, maka didepan mereka berdua akan aku meluluskan keinginan mereka, supaya mereka dapat menjadi suami isteri, Poo Cu, kau..."

Isteri itu tersenyum sekelebat, dan air mukanya lantas menjadi guram pula;

"Aku tidak dapat menanti sampai pulangnya So so,"

Ia berkata.

"Ah, kasihan So So... Anaknya Thian Tok pun belum dewasa, dia lebih2 harus dikasihani...Sebenarnya aku hendak memelihara dan merawat dia hingga besar dan dia menjadi seorang yang berguna, tetapi sekarang, aku tidak dapat lagi, Tetapi gambar itu, pernah aku menjanjikan Thian Tok untuk mengantarkan kerumahnya, dari itu aku mesti pergi kesana dan aku mesti tiba dalam tempo tiga hari."

Tenang suaranya nyonya In ini tetapi sebenarnya hatinya kusut, dan Bu Yang bisa merasakan juga goncangan hati isterinya hanya dengan mendengar saja suaranya, Ia berdiam, Sebelumnya ia menyangka isterinya itu hendak mati bersama dengannya, siapa tahu, ternyata orang masih mempunyai pikiran lain, Biar bagaimana, ia berduka, Tapi, ia bangga mempunyai isteri seperti Poo Cu, Ia melengak sebentar dan akhirnya tertawa panjang.

"Poo Cu,"

Katanya.

"selama duapuluh tahun, belum pernah aku perlakukan kau dengan baik, maka siapa sangka, selagi tidak bisa kita terlahir dalam tahun yang sama, dalam bulan dan hari yang sama, Sekarang kita bakal menutup mata dalam tahun, bulan dan hari yang bersamaan! Isteriku, apa lagi yang aku siorang she In hendak memintanya pula? Poo Cu, kau pergilah! Segala apa yang tidak benar dari pihakku terhadapmu, biarlah dilain penitisan saja aku menebusnya..."

Nyonya In menunduk.

"Bu Yang..."

Katanya, perlahan, Ia berhenti sebentar, kemudian baru ia meneruskan.

"urusan dibelakang hari adalah urusan yang samar2, maka itu kalau untuk urusan yang sekarang ini kau dengar pesanku, aku sudah akan merasa puas, Baiklah, aku berangkat sekarang! Aku khawatir dalam tempo tiga hari aku nanti tidak dapat sampai dirumah keluarga Cio, maka itu baiklah aku pinjam kuda putihnya Hian Ki, kalau nanti ia mendusin, kau beritahukanlah suruh dia bersama So So pergi kerumah keluarga Cio untuk mengurus jenazahku, untuk dia sekalian mengambil pulang kudanya itu, Ah, mungkin... mungkin ada terlebih baik untuk tidak memberitahukan pada mereka, biarkan aku menitahkan anaknya Thian Tok saja yang mengantarkan kuda ini..."

Bu Yang berdiam, ia mengawasi isterinya berjalan keluar, Kuda putih Hian Ki berada diluar pintu pekarangan tengah memakan rumput, ketika Bu Yang keluar, ia lihat isterinya sudah naik keatas punggung kuda itu.

Nyonya In tertawa sedih, lalu ia mengangkat cambuknya;

"Didalam dunia ini, tidak ada pesta yang tidak berakhir!"

Katanya nyaring.

"Demikian hari ini kita berpisah! Didalam hatimu ada aku, didalam hatiku ada kau, bukankah ini ada jauh terlebih bermakna daripada impian?"

Cambuk itu digetar keudara, mengancam sang kuda putih, kuda itu lantas mengerakkan keempat kakinya, untuk berlari, dan akan segera lenyap dalam cuaca samar2.

Inilah yang dinamakan berpisah mati, bercerai hidup...

Bingung Bu Yang mengawasi isterinya itu, yang telah dibawa lari sang kuda turun dari gunung, setelah orang sudah tak tampak lagi, baru ia menghela napas panjang, Ketika ia berpaling, ia merasakan sunyi segala apa, hingga tak tahu ia mesti berduka atau bergembira, Ia ingat, selama duapuluh tahun, ia seperti asing dengan isterinya itu, baru hari ini, ia mengerti akan sang-isteri, Bukankah si isteri telah membeberkan rahasia hatinya?

Dengan tangannya memainkan cabang pohon bunga bwee, hati suami ini bekerja.

"Aku tidak menyangka mereka berdua demikian mirip satu dengan yang lain, sama2 bertulang gagah seperti baja, sama2 berperasaan halus bagai air... Ah, segala perbuatanku yang bersalah tak dapat ditutup dengan apapun juga... ."

Diluar kamar, sang angin malam menebusi pohon2 bwee, Diatas pohon itu ada tersisa bunga, dan sekarang bunga itupun rontok pula.

Tiba2 Bu Yang ingat almarhum isterinya, Selama duapuluh tahun, hampir setiap malam isteri itu jalan mondar mandir dibawah pohon bunga bwee ini, setiap ia melihat bayangan isterinya itu diantara bunga2, Dan sekarang ia seperti melihatnya pula...

"Soat Bwee!"

Mendadak ia berseru dan ia maju menubruk.

Pohon bwee lantas ber-goyang2, daun2nya pun pada rontok, Dalam sekejap itu, Dimatanya Bu Yang terbayang dua bayangan, yakni bayangan isterinya yang pertama, yang telah meninggal dunia, dan isterinya yang belakangan, yang baru saja pergi meninggalkan dirinya, Lalu dalam hayalnya, ia mendapatkan dua bayangan itu bercampur menjad satu, tidak bisa ia membedakan lagi, yang mana Poo Cu, yang mana Soat Bwee, Ketika ia menubruk, ia menubruk bunga bwee, sebab ke-dua2 bayangan itu telah lenyap seketika..

Sang malam semakin larut, dan sekarang sang rembulan telah mulai muncul.

In Bu Yang berjalan mondar mandir dibawah pohon bunga bwee itu, Tidak tahu ia, berapa lama sudah ia berada disitu, melainkan sang rembulan yang naik terus, dan terus bergeser kearah barat.

Seperti biasa, dari dalam rimba datanglah pekikan si-kera dan mengaumnya sang harimau, Mendengar suara hewan tersebut, Bu Yang bagaikan tersadar dari mimpi yang menakutkan, Didalam pekerangannya itu, tersinari cahaya rembulan, ia melihat malang melintangnya mayat2, ia menjadi muak, Maka berkatalah ia didalam hatinya.

"Tidak dapat aku membiarkan semua makhluk kotor ini menodai bungaku ini!"

Ia lantas menjemput peles perak yang tergeletak ditanah, Itulah peles, yang ia dapatkan dari tubuhnya Lo Kim Hong, didalam sana ada pil Hoakut-tan, yaitu obat untuk memusnahkan mayat, yang biasanya dipakai setelah membunuh orang, untuk menghilangkan jejak tubuh, Nyonya In tidak mengenal obat itu, dan tadi hampir saja ia akan pakai sebagai obat biasa.

Tanpa buang waktu lagi, In Bu Yang gusur beberapa mayat itu, dibawa keluar, ketempat yang sepi, disitu ia menumpuknya, lalu ia gunakan obatnya Lo Kim Hing itu, Setelah itu semua mayat itu berubah menjadi cair, dan disitu juga ia pendam semua sisa tubuh2 itu.

Setelah selesai, tiba2 ia ingat.

"Mereka ini adalah bangsa telur busuk semuanya, tetapi kalau aku dibandingkan dengan mereka, dapatkah aku?...Aku benci mereka itu, selayaknya, aku juga harus membenci diriku sendiri!"

Manusia itu, disaat ajalnya akan tiba, biasanya pikirannya menjadi sadar, ia ingat baik sekali segala macam perbuatannya yang sudah2, Demikian dengan In Bu Yang, Ia bukan sedang menghadapi kematian, tetapi mendadak ia ingat akan segala perbuatannya itu.

ada yang baik, ada yang buruk, tetapi lebih banyak yang buruk, dan itu tidak dapat ditebus dengan segala yang baik!

Sementara itu angin bertiup semakin keras, hingga In Bu Yang merasakan hawa dingin yang meresap ke buku2 tulangnya, Kembali, dengan se-konyong2, ia ingat kepada Tan Hian Ki, Segera ia masuk kedalam, lalu ia pondong tubuh anak muda itu, Ketika ia memeriksa nadinya, nadi itu tenang2 saja, Hanya orangnya masih belum mendusin.

Diantara sinar rembulan Bu Yang memandang wajahnya anak muda itu, Tiba2 ia merasakan sesuatu yang luar biasa, Pemuda ini, yang tidur demikian tenang, mirip dengan So So anak gadisnya yang ia sayangi itu, Maka ia menatapnya terlebih jauh.

Ah!

inilah roman yang ia merasa kenal, seperti dimana ia pernah melihat wajah semacam ini, Maka ia lantas mengingat2nya, Tengah ia meng-ingat2 itu, ia tertawa dengan sendirinya.

Ketika dahulu waktu ia mengasingkan diri di Holan-san, bukankah Tan Hian Ki ini masih seorang bayi?

Maka kenapa ia heran untuk wajah orang, Tapi ia tidak mengerti, terhadap bocah ini, ia seperti mempunyai hubungan bathin yang kuat, hubungan yang bukan disebabkan kaitannya dengan So So anak gadisnya itu.

Bu Yang membopong Hian Ki kekamar tulis, lalu ia merebahkannya diatas pembaringan, Dengan selimut ia menutupi tubuh itu, kemudian ia menurunkan kelambu, Perbuatannya ini mirip dengan pelayanannya So So diwaktu ia masuk tidur.

Setelah itu ia menyalakan dupa, Ia juga membuka sebuah daun jendela, dan mengundang masuknya angin malam yang membawa harumnya bunga dan bau rumput, Ketika ia memandang keluar, ia melihat sinar rembulan telah berada ditengah2 cakrawala.

"Ah, mengapa So So masih belum kembali?"

Ia menanya dirinya sendiri.

XI.

Lagi CINTA SEJATI.

So So tengah mencari Hian Ki, Ia tidak mengetahui pemuda itu justeru berada didalam kamar tulisnya, lagi tidur nyenyak....Ditengah gunung tampak si puteri malam naik dengan perlahan2, Didalam rimba, kecuali suara tindakan kakinya, hanya ada suara daun2 yang rontok, Adalah suara daun yang rontok itu mengganggu sekali hati yang risau, Masih So So berjalan terus didalam rimba, Ia bergidik kalau dari jauh ia mendengar auman hariman dan pekikkan kera yang memecah kesunyian sang hutan, suara mana terbawa oleh angin malam, So So tidak takut, Hanya hatinya tidak tenang karena urusan ayahnya.

Mimpi pun tidak dia, bahwa ayahnya telah melakukan perbuatan jahat, dosa yang tak terampunkan, Tetapi bagaimana juga dia tetap adalah ayahnya, Ayahnya itu telah menceritakan segala apa kepadanya, dan ia dapat melihat mata yang penuh dengan sinar kesengsaraan hati, juga mendengar suara yang bergetar pilu, dari seorang berdosa yang hampir melepaskan napasnya yang terakhir, Maka itu, kuatkah dirinya menegur ayahnya itu?

Lalu ingatlah ia kepada Tan Hian Ki, Hian Ki yang sangat ia harapkan, Hanya dengan berada disampingnya Hian Ki, orang yang paling ia percayakan buat andalan, baru takutnya itu dapat dikurangi sedikit...

Mendadak didalam rimba itu terdengar suara orang berlari2, seperti orang sedang berkejaran, Apakah itu adalah Hian Ki?

Kalau benar, dia bersama siapakah ?

Tindakan kaki itu lantas datang semakin dekat, Lalu terdengar suara panggilan ber-ulang2;

"Enci Un Lan! Enci Un Lan !"

Suara panggilan itu menggetar, tanda suara dari hati yang goncang, Suara itu mirip dengan suara ayahnya ketika didalam goa, saat ayahnya me-manggil2 padanya, Ia mengenali, orang itu bukanlah Tan Hian Ki tetapi Siangkoan Thian Ya.

So So melompat naik keatas sebuah pohon, matanya memandang kearah dimana suara ber-lari2 itu terdengar.

Disana tampak seorang wanita dengan rambut riap2an, lagi berlari kencang sekali, dan dia berlari terus walaupun ada teriakannya Siangkoan Thian Ya, teriakannya itu sampai terdengar parau, Tidak juga mau dia menghentikan larinya.

"Ah, dialah Siauw Un Lan!"

Pikir So So.

"Kenapa dia menjadi begini? Apakah dia telah mengetahuinya urusan engko Hian Ki dengan aku?"

Dalam masa terajuk sang cinta, perasaan seorang nona paling gampang tersinggung, paling gampang ia ingat dan berandai2 dalam halnya nona yang lain.

Tiba2 So So menjadi ikut merasa kasihan terhadap Un Lan, Ia memang bersimpati pada siapapun yang bersahabat dengan Hian Ki, asal yang berhubungan baik dengan Hian Ki-nya itu, tidak perduli orang yang hendak merampas Hian Ki dari tangannya...

Dan lantas saja So So menguntit dua orang itu, Untuk itu ia dapat bertindak dengan leluasa sekali, Dalam hal ilmu meringankan tubuh, ia menang jauh daripada Un Lan dan Thian Ya, Jangan kata disaat itu selagi dua orang itu tak tenang hatinya, sekalipun di-saat2 biasa, tidak nanti mereka dapat mengimbangi.

Siangkoan Thian Ya baru saja pulih tenaganya, telah sekian lama ia mengejar, masih tidak dapat ia menyandak si nona, Hatinya menjadi gelisah.

"Enci Un Lan!"

Ia memanggil dengan tajam.

"kau mau hidup atau mati, aku tetap akan menemani bersama kau! Apakah benar didalam hatimu cuma ada satu Tan Hian Ki?"

Sampai disitu, Un Lan menghentikan larinya, Ia tertawa dingin sambil menoleh.

"Inginkah kau mati bersama aku?"

Ia menanya.

"Sudah sekian banyak tahun, apakah kau masih belum tahu hatiku?"

Balik tanya sianak muda. Un Lan berkata pula dengan dingin;

"Tampaknya kau sangat menurut pada Tan Hian Ki! Hian Ki menguatirkan tidak ada orang yang menginginkan aku, maka dia menghendaki kau menjadi seperti bayanganku mengikuti aku! Hm! Kecewa kau menjadi seorang laki-laki!"

"Eh, apakah maksud dari perkataanmu itu?"

Thian Ya tanya.

"Tan Hian Ki menghendaki aku mencari kau, itu juga karena maksud yang baik."

Un Lan memperlihatkan wajah yang muram, diterangi sinar rembulan, tampak kulit wajahnya yang pucat, yang membuat dingin hati siapa yang memandangnya, melihat paras itu, Thian Ya melengak.

Jarak diantara mereka hanya satu tindak, Thian Ya sudah mementang kedua tangannya, akan tetapi ia tidak berani menghampiri, untuk merangkul.

"Maksud baik?"

Kata Un Lan dingin.

"Kalau begitu, aku bersyukur tak habis2nya, Baiklah, Siangkoan Thian Ya! Benar2kah kau hendak hidup dan mati bersama denganku?"

"Kau titahkan saja,"

Sahut Thian Ya.

"Kedalam air, kedalam api, aku akan terjun! Seratus kali juga, tidak nanti aku menolak!"

"Bagus!"

Kata si nona, tetap dingin.

"Nah, pergilah kau bunuh Tan Hian Ki! Habis itu kau kembali kesini, nanti kita sama2 terjun kedalam jurang ini!"

Siangkoan Thian Ya kaget, hingga ia berjingkrak.

"Enci Un Lan! dia berseru.

"Kau...kau...kau gilakah?"

Cinta dan benci bagaikan hanya terpisah sehelai kertas, Un Lan sangat menyintai tetapi juga ia sangat penasaran, dan pula ia sangat gusar, maka ia ingin mati bersama, So So mengerti perasaannya itu, tapi tidak demikian halnya dengan Siangkoan Thian Ya, maka pemuda ini kaget tak terkira.

Melihat orang terdiam, Un Lan berkata pula, dingin;

"Nah, baiklah, pergi kau temani sahabat baikmu itu, jangan lagi kau melibat pula aku!"

Kata2 ini ditutup dibarengi gerakan tangannya, menotok kearah pemuda didepannya.

Siangkoan Thian Ya tidak berprasangka apa2, ia kena ditotok dengan jitu, maka seketika itu juga dia terguling robah.

Melihat itu si nona tertawa terbahak, nyaring sekali, terus dia lari bagaikan angin puyuh ke-dalam rimba yang lebat!

Syukur Siangkoan Thian Ya tidak terluka parah, begitu cepat ia dapat mengempos semangatnya, tenaganya pulih, lalu ia bangun berdiri, sesudah ia menggerakkan kaki dan tangannya, tidak terdapat kekurangan sesuatu apa, ketika ia hendak mengejar si nona, Tapi rimba lebat sekali, dan si nonapun telah lari dengan keras, kemanakah dia dapat dicari?

Ketika itu dilangit terlihat melayang mega hitam, sang Puteri Malam kena terhalang karenanya, menyebabkan rimba itu menjadi gelap dan seram, begitu juga hati Thian Ya menjadi kusut sekali.

Siangkoan Thian Ya adalah seorang pemuda yang hatinya bebas, inilah untuk pertama kali ia mendapat pukulan yang hebat itu, Ia menjadi seperti orang kalap.

"Enci Un Lan! Enci Un Lan!"

Ia ber-teriak2 pula didalam rimba itu, berteriak se-keras2nya.

"Hai, Kaukah yang memanggil nama Nona Siauw?"

Sekonyong2 datang teguran yang tak ter-duga2.

Justeru saat itu gumpalan mega tadi melayang terus melewati rembulan,maka cahayanya si Puteri Malam mulai tampak lagi, dan disitu, dihadapannya, Thian Ya melihat empat orang dengan pakaian mereka yang serba hitam, Dengan lantas mereka itu mengambil sikap mengurung.

Orang yang berdiri dikiri adalah seorang tua dengan tubuh kate, romannya bengis mirip malaikat Hian Tan Kong, Dia maju sambil berjingkrak, matanya mendelik, Agaknya dia hendak menelan bulat2 pemuda she Siangkoan ini.

"Kau siapa?"

Bertanya Thian Ya dengan mendongkol.

"Aku memanggil enci Un Lan-ku, ada sangkut pautnya apa dengan kamu?"

Orang kate itu maju satu tindak mendekati, matanya menatap tajam.

"Hm!"

Terdengar suaranya yang dingin seram.

"Kaukah Siangkoan Thian Ya?"

Ia menanya.

"Habis kenapa ?"

"Kaukah ahli waris yang baru diangkat dari Butong-pay ?"

Siangkoan Thian Ya heran, Tentang diangkatnya dirinya menjadi Ciangbunjin, ahli waris yang akan memegang tampuk pimpinan partainya, masih belum resmi, dan yang mengetahuinya pun hanya beberapa tetua partainya, maka heran dia, kenapa orang tua ini telah mendapat tahu juga?

Bukankah dia ini orang luar?

Berbareng dengan itu, ia juga muak melihat kelakuan orang.

"Habis bagaimana?"

Ia menanya.

Belum berhenti suara pemuda ini, tiba2 sebelah tangan siorang tua sudah melayang kearah telinganya, Inilah serangan yang tidak di-duga2, syukur ia bermata jeli dan gesit, dengan berkelit ia meluputkan telinganya sebagai sasaran, Hanya karena serangan itu sangat dahsyat sambaran anginnya, menyebabkan ia merasa sedikit sakit pada kulit pipinya, Oleh karena itu, ia menjadi naik darahnya.

"Oh, bangsat tua!"

Ia mendamprat.

"Apakah kau kira aku dapat dibuat permainan?"

Kata2 ini dibarengi Thian Ya dengan serangannya "Kwahouw tengsan"(Menunggang harimau mendaki-gunung), semacam tipu silat dari "Tiangkun"(kuntaow panjang).

Siorang tua menangkis, terus ia berlenggak dan berkata sambil tertawa lebar;

"Mengandali jumlah yang banyak untuk menghina orang, itulah perbuatan biasa dari partai kamu Butong-pay! Bouw Tok It tidak mempunyai anak atau cucu, maka itu pembalasan atas dirinya harus ditimpahkan kepada dirimu! Sekarang kau berlakulah jinak, kau berlutut dan meng-angguk2 tiga kali kepada kami, lalu kau turut segala perintahku!"

Siangkoan Thian Ya tidak pandai beradu bicara, ia tidak menggubris perkataan orang, ia hanya melanjutkan penyerangan beruntun hingga tiga kali, Dengan itu ia mengumbar hawa amarahnya.

Mau tidak mau, siorang tua muka hitam itu, menjadi terdesak, hingga ia mundur tiga tindak, Menyaksikan itu, siorang berpakaian hitam yang berdiri disebelah barat berseru;

"Ti Toako, buat apa bicara saja tidak karuan dengan dia?"

"Benar!"

Menimbrung siorang berpakaian disebelah utara.

"Ti Toako, kamu berdua saudara baiknya menghajar habis dirinya! Apa yang kita kehendaki, Mustahil tak akan didapatkan?"

"Kamu benar!"

Tertawa siorang tua kate itu.

"Adikku, mari! Eh, bocah kau tidak tahu diri, maka dilain tahun hari ini adalah hari ulang tahun kematianmu!"

Atas seruan itu, dari sebelah kanan, seorang tua lain, yang bertubuh kate juga, sudah lantas menyahuti seraya dia mengajukan diri, dari itu, Thian Ya lantas dikepung berdua dikiri dan dikanan, Dua yang lain, kawannya dua penyerang itu, lalu memasang mata.

Sekarang Siangkoan Thian Ya baru dapat melihat tegas dua musuhnya itu, Mereka sama2 bertubuh kate, usianya juga hampir sama, yang terlihat berbeda secara menyolok sekali, ialah yang satu bermuka merah, yang lainnya hitam, yang satu bertangan hitam seperti tinta, yang lain merah seperti sapuan cusee, dan setiap kali tangan itu menyambar, anginnya menyiarkan bau bacin.

Siangkoan Thian Ya terkejut, dia lantas berseru;

"Hai, dua bangsat tua bangka, apakah kamu Kauwhun Siangsat?"

Pemuda ini menduga tepat, Memang dua orang tua itu ialah Kauwhun Siangsat,(Dua malaikat jahat Tukang membetot arwah), Merekalah dua saudara kembar, yang hitam mukanya si-kakak, bernama Ti-Eng, pelajarannya ialah Tiatseeciang,( Tangan pasir besi) dan yang bermuka merah sang adik, namanya Ti Pa, kepandaiannya yaitu Ceksee-ciang,(Tangan pasir merah), Tangan mereka itu beracun, siapa kena terhajar, akan keracunan, dalam tempo duabelas jam setelah racunnya bekerja, binasalah si korban, Karena itu, mereka diberikan julukan yang menakutkan, Untuk golongan Hitam dipropinsi Shoatang, nama mereka sangat tersohor.

Siorang tua muka hitam itu tertawa ter-bahak2 mendengar pertanyaan pemuda itu;

"Kau telah mengetahui namanya Kauwhun Siangsat, bocah!"

Katanya mengejek.

"Kenapa kau tidak hendak lantas berlutut dan meng-angguk2 tiga kali kepada kami?"

Si muka merah sebaliknya membentak;

"Kau masih hendak melawan? Hm! Hm! Benar2kah kau tidak lagi menghendaki jiwamu?"

Siangkoan Thian Ya adalah seorang yang bertabiat keras, dia lebih gampang dihadapi dengan sikap lunak, daripada diperlakukan kasar, demikian, sikapnya dua saudara she Ti itu cuma membangkitkan kekesalannya, hingga ia tidak memperdulikan walau mereka itu lihay dan kenamaan.

"Baru orang2 semacam kamu dengan dua pasang kuku anjing kalian!"

Katanya balik mengejek.

"tidak nanti kamu dapat membetot arwah orang atau merampas roh manusia!"

Kata2 ini dibarengi serangan dengan tipu silat "Membengkokkan busur memanah burung rajawali,"

Tangan kiri menyerang Ti Eng, tangan kanan menghajar Ti Pa, Maka repotlah dua saudara kembar itu.

Pertempuran berlangsung terus, dengan cepat telah berjalan hingga belasan jurus, Sebab ke-dua2 pihak bersikap bengis, Dua saudara Ti penasaran dan hendak lekas menyudahi, sedangkan Thian Ya hendak membela diri serta melampiaskan kekesalannya, Selama itu, kedua malaikat jahat itu kewalahan juga.

"Hm! Hm!"

Ti Eng kemudian mengeluarkan suaranya yang dingin.

"Adik, bocah ini tidak tahu mampus tidak tahu hidup, mari kita kepung dia sepert kita mencekuk kura2 didalam keranjang!"

Perkataan itu dibuktikan dengan penyerangan, yang disusul oleh Ti Pa, mereka menyerang dengan serentak, Dengan cepat mereka merangsek, mendesak sehingga gelanggang menjadi ciut, dan lantas Thian Ya menjadi terancam bahaya.

Dengan dua musuh bertangan beracun, ia sebenarnya kalah angin, Untuknya, penyerangan hanya dapat dilakukan setiap ada lowongan, tetapi sekarang, kesempatan itu seperti telah ditutup, Dan dialah dipihak yang diserang!

Desakan Ti Eng dan Ti Pa berlangsung terus, mereka maju dengan perlahan, kalangan terus menjadi semakin ringkas, Thian Ya melihat itu, ia mengerti ancaman bahaya itu bagi dirinya, maka ketika kalangan tinggal kira2 delapan kaki, mendadak ia berseru nyaring, tangannya digerakkan, dari tangan terbuka menjadi kepalan, dengan tangan ia menyerang bagaikan "kapak-membelah gunung"

Atau "martil memecah batu"

Ia telah menggunakan dua2 Kimkong-ciang,(Tangan-Kimkong) serta Lohan-kun,(Kepalan arhat), guna menggempur kedua musuh tangguh itu, Ia pun telah mengerahkan semua tenaga sesuai yang diminta dua rupa ilmu silat itu.

Itulah ilmu warisannya Bouw It Siok, yang mahir kedua ilmu luar dan ilmu dalam yang telah menciptakan pukulan menukar tangan terbuka dengan kepalan.

Dua saudara Ti itu segera juga ber-teriak2;

"Celaka bocah ini nekat!"

Sembari berteriak, mereka mengundurkan diri, mereka mengambil sikap membela diri, Rupanya mereka berlaku cerdik, tidak mau mereka keras dilawan keras.

Memang benar Thian Ya telah berlaku nekat, Kalau ia terhajar Ti Eng atau Ti Pa, celakalah dia, Sebaliknya kalau mereka itu terkena kepalannya, mereka pun bakal dapat dapat susah, mereka bisa mati seketika atau ringannya terluka parah.

Kauwhun Siangsat adalah orang2 kenamaan, malu mereka roboh ditangan seorang muda, sedang mereka pun telah merasa pasti bahwa merekalah yang bakal meraih kemenangan.

Siangkoan Thian Ya tidak mau men-sia2kan kesempatan yang baik, Satu kali ia sudah lolos dari kepungan, tidak ingin ia nanti kena terkepung lagi, Ia menyerang terus ber-tubi2, dengan pelbagai pukulannya, yang semuanya jurus2 dari Kimkong-ciu dan Lohan-kun itu, antaranya jurus "Membentur roboh tiang langit"

"Meng-injak2 gunung Holao-san"

Dan "Lo Cia mengaduk laut"

Setiap serangan itu bertambah kehebatannya, Di-akhirnya, sambil melompat menubruk, dia menghajar dengan tipu silatnya "Burung garuda menyerang diudara"

Kepada Ti Pa, yang diarah batok kepalanya!

Orang she Ti siadik itu menjadi kaget sekali, untuk menyelamatkan dirinya, ia menjatuhkan tubuh ketanah, terus ia bergulingan beberapa kali.

Dengan begitu bebaslah Thian Ya dari kepungan yang telah terpecahkan itu, Akan tetapi ia bebas bukan untuk dapat bernapas, Segera ia diserang pula, kali ini oleh siorang berbaju hitam yang tadi ber-jaga2 disebelah timur.

"Bocah yang baik, kau hendak kabur?"

Demikian dia itu membentak dengan ejekannya.

"Jangan-harap! Disini masih ada aku Thongciu Siang San Liong!"

Dan dia maju dengan Kauwkin Hongliong-pian,(Cambuk Naga Berduri) yang panjangnya setombak lebih, maka waktu digeraki, ujung cambuk itu mengeluarkan suara angin keras, Karena panjangnya itu, kalau dipakai mencambuk memutar, jangkauannya jadi luas beberapa tombak, Siapa yang kena terhajar, jangan kata langsung oleh cambuknya, kelanggar durinya saja, sudah celaka.

Maka beratlah Thian Ya, yang bertangan kosong itu, Begitu diserang ia menjejak tanah, untuk melompat keatas, setelah cambuk itu melewati kakinya, ia berjumpalitan, lalu turun disebelah belakangnya sekitar tiga tombak jauhnya, Ia baru mendarat belum lagi kuat kuda2nya, seorang musuh yang berjaga2 disebelah barat, juga melompat maju menikam dirinya dengan pedang ditangannya, sasarannya adalah punggung orang, Dia merasa pasti dan dia bakal berhasil, sambil menikam itu dia tertawa ter-bahak2 lalu berseru;

"Kau hendak lari, bocah cilik? Hm, disini ada aku Kongya Liang!"

Siang San Liong dan Kongya Liang ini juga adalah orang2 jahat kenamaan dari Golongan Hitam, bahkan mereka lebih terkenal daripada Kauwhun Siangsat, Maka mendengar nama mereka, Siangkoan Thian Ya menjadi terlebih kaget lagi.

Murid Butong Pay ini kenal baik aturan dari partainya, apa lagi sekarang ia telah dipilih sebagai Ciangbunjin, Adalah aturan itu yang melarang orang Butong Pay menjadi penjahat, bahkan tak boleh juga menjadi piauwsu,(Orang yang mengantar/melindungi barang berharga dan uang) Karena itu meski pihak Butong tidak bersahabat dengan kaum Golongan Hitam, mereka juga tidak bermusuhan, lebih2 Thian Ya ini, yang baru mulai muncul dalam dunia kangouw, Kenapa sekarang ia dihadapkan musuh2 yang kesohor ini, malah jiwanya se-akan2 hendak dirampas mereka itu?

Tidak sempat Siangkoan Thian Ya untuk berpikir, Heran tinggal heran, sedangkan ia lagi terancam bahaya, Maka ia mesti berusaha, untuk melindungi dirinya.

Siang San Liong dan Kongya Liang sudah merangsek, yang satu dengan cambuk panjang, yang lain dengan pedang pendek, Hanya aneh mereka ini, selagi mendesak, mereka agaknya tidak mau menurunkan tangan jahat, meskipun sianak muda terpaksa mundur, mereka tidak lantas melukai, hanya lawan dipaksa kembali kekalangan dimana tadi dia dikepung dua saudara Ti, hingga dia kembali terkurung pula Kauwhun Siangsat!

Tindakan Siang San Liong dan Kongya Liang ini adalah cara kaum Golongan Hitam menolong kawan mereka untuk mendapat muka, Ti Eng lantas tertawa lebar.

"Terima kasih, saudara2!"

Ia mengucap, Ti Pa sebaliknya gusar dan ingin melampiaskannya, tanpa berkata-kata, ia menyerang dengan hebat, tangannya kelihatan merah, bau bacinnya terbawa angin pukulannya, Ia menyerang kedadanya sianak muda.

Siangkoan Thian Ya repot atas desakan musuh, sedangkan kepalanya dirasakan pusing akibat bau bacin itu, maka atas serangan dahsyat itu, ia merasa tidak berdaya untuk menghindarkan diri lagi.

Disaat yang sangat berbahaya itu, telinga sianak muda ini mendengar suara nyaring, tetapi halus;

"Paman Ti, berlakulah murah hati!"

Ternyata pada saat kritis itu muncul Siauw Un Lan, Hal itu membuat Thian Ya keheranan, dan Ti Pa melengak, ia menarik pulang serangannya itu, Otot dijidatnya pada timbul dan terlihat matang biru.

Siangkoan Thian Ya juga melengak, Ia sebetulnya mau memanggil si nona, akan tetapi belum lagi ia membuka mulutnya, jalan darah Siauwhu-hiat dirusuknya telah kena ditotok, maka tidak ampun lagi, robohlah tubuhnya, Sebab ia telah diserang Kongya Liang, yang menimpuk dengan sebutir batu pada jalan darahnya itu.

Walaupun tubuhnya tidak dapat bergerak, Thian Ya tetap bisa melihat dengan kedua matanya, Ia mendapatkan dua saudara Ti dan Siang San Liong serta Kongya Liang itu berdiri dalam dua baris, terhadap Siauw Un Lan mereka bersikap menghormat, Kemudian terdengarlah suaranya Ti Eng itu;

"Dengan titahnya Lootocu, nona diminta pulang!"

"Aku tidak mau pulang!"

Menjawab Un Lan.

"Lootocu kangen sekali terhadap nona,"

Berkata pula Ti Eng.

"Sekarang ini Lootocu sudah memilih hari yang baik untuk ia mencuci tangan guna membungkus pedangnya dan menutup pintunya, Maka itu diminta nona suka pulang untuk mewakilkan menjadi penggantinya!"

"Aku tidak mengharapkan itu!"

Kata si nona pula, singkat. Matanya Kongya Liang berkedip, Ia maju satu tindak;

"Nona Siauw,"

Ia berkata.

"ayahmu sudah berusia lanjut, ia tidak mempunyai anak laki2 kecuali kau satu anak perempuan, maka juga usahanya ini, yang ia bangun dengan susah payah, adalah bagianmu! Mungkin kau tidak mengharapkan warisan ini, akan tetapi kau juga tentu ingat ayahmu itu..."

Un Lan terdiam.

"Ayahmu telah mengatakan, nona,"

Berkata Siang San Liong, yang turut bicara.

"Asal nona pulang, se-gala2nya ayahmu akan mendengar kata2mu, Urusan dengan keluarga Kim itu ayahmu tidak akan menyebutnya pula."

Siangkoan Thian Ya dapat mendengar semua pembicaraan itu, ia tertegun, Ia heran mendapat keempat jago Shoatang itu demikian menghormati Un Lan, tetapi keheranan itu lantas merupakan kesadaran setelah mendengar kata2nya Ti Eng, bahwa orang tua si nona hendak mencuci tangan, serta menanggalkan pedang dan menutup pintunya.

"Jelaslah kiranya ayah dari Un Lan ini adalah pemimpin kaum Rimba Hijau,"

Katanya didalam hati.

Sudah tiga tahun ia berkenalan dan bergaul dengan Siauw Un Lan, belum pernah ia menanyakan asal-usul si nona, Memang pernah nona itu menyebutkan bahwa dia berasal dari keluarga yang mengerti ilmu silat, Kata nona itu.

"Kalau seorang pria boleh merantau mencari pengalaman, kenapa seorang wanita tidak?"

Sikap ini ia hargai, Ia merasa angan2 si nona mirip dengan angan2nya sendiri, Karena itu, senang ia mengikat janji sendiri untuk menyintai si nona, agar kelak si nona ini bisa menjadi isterinya, Ia menganggap si nona adalah seorang nona yang gagah perkasa dan mulia, tidak tahunya, sekarang ternyata dialah puterinya seorang bandit....Tetapi Thian Ya masih berpikir terus, Apakah artinya Puteri seorang bandit?

Dapatkah ia memandang hina kepada nona itu?

Ia menjadi berduka sendirinya, Ia hargai nona itu, ia berlaku jujur terhadapnya, siapa tahu si nona justeru mengelabuinya, si nona menyimpan rahasia dirinya, dan ia dipandang sebagai orang luar...

Kenapa si nona meninggalkan rumahnya?

Adakah sebabnya itu?

Apakah sebab itu?

Bukankah si nona wajahnya masgul?

Dan ia sendiri, mengenai kedatangannya kerumah In Bu Yang, untuk meminta kitab ilmu pedang, tidakkah iapun telah mendustai nona itu?

Kecuali dalam urusan ini, apakah si nona masih menyembunyikan soal lainnya lagi?

Nona Un Lan seperti memikirkan sesuatu, ia berdiri menjublak, matanya mengawasi pemuda didepannya, Hati Siangkoan Thian Ya bergoncang keras.

"Kenapa kamu menangkap dia?"

Si nona tanya. Ti Eng menjura.

"Harap nona ketahui, bocah ini bernama Siangkoan Thian Ya,"

Ia menyahuti, menerangkan.

"Dialah Ciangbunjin yang baru dari Butong Pay,"

"Aku tahu!"

Kata si nona singkat.

"Memang,"

Berkata pula Ti Eng.

"Kalau Lootocu bukannya telah mendengar selintingan dan khawatir nona nanti kena terpedaya, tidak nanti dia menjadi demikian gelisah dan memerintahkan aku menyusul nona."

Sembari mengatakan begitu, Ti Eng tersenyum menyeringai.

"Ya, dia Ciangbunjin dari Butong Pay, Habis bagaimana?"

Un Lan tanya, Ia tidak menggubris sikap orang.

"Ayahmu telah malang melintang diselatan dan utara Sungai Besar, seumur hidupnya belum pernah ada orang yang berani memusuhi dia,"

Menjawab Ti Eng.

"hanya satu kali saja, diluar tahunya, dia roboh ditangannya satu bangsat tua, Dia menganggap itulah suatu hinaan besar untuknya, Bangsat tua itu ialah Bouw Tok It, Ciangbunjin generasi kedua dari Butong Pay!"

"Tentang itu ayah pernah menceritakan padaku,"

Kata pula Un Lan.

"Habis ada apa hubungannya itu dengan dia ini?"

Mendengar itu barulah Thian Ya sadar, Pantas ketika pertama kali mendengar ia adalah Ciangbunjin, ahli waris dari Butong Pay, nona itu terperanjat. Ti Eng memperdengarkan dengan suara "Hm!"

Beberapa kali.

"Kenapa tidak ada hubungannya?"

Sahutnya.

"Dialah cucu murid Bouw Tok It! Dialah ahli waris Butong Pay!"

"Peristiwa telah berselang tigapuluh tahun,"

Berkata si nona.

"ketika itu dia ini masih belum lahir! Aku bilang tidak ada hubungannya, tetap tidak ada hubungannya!"

"Kalau nona mengatakan hendak melepaskan dia, budakmu yang tua tidak berani menentangmu,"

Berkata Ti Eng.

"hanya budakmu khawatir Lootocu sebaliknya mengatakan ada hubungannya, dan budakmu ditegur, maka kalau itu sampai terjadi, sungguh aku tidak sanggup menerimanya!"

Sepasang alisnya Un Lan berbangkit berdiri.

"Kau cuma tahu membebaskan dia!!"

Ia membentak.

"Aku sendiri yang nanti bicara dengan ayahku!"

Inilah kata2 si nona yang diharapkan Ti Eng, Itu artinya ia telah lepas dari tanggung jawab, Memang ayahnya itu memerintahkan mencari anaknya untuk diajak pulang, sebab ia mendengar kabar sianak berhubungan erat dengan Siangkoan Thian Ya.

"Ti Toako,"

Berkata Kongya Liang.

"karena nona suka pulang bersama kita, baiklah kita lepaskan saja bocah ini, Cuma kitab ilmu itu harus kita minta pulang darinya,"

Un Lan heran.

"Kitab pedang apakah itu?"

Tanyanya. Sementara itu Kongya Liang, dengan satu totokan jari tangannya, telah membebaskan Siangkoan Thian Ya.

"Enci Un Lan, kau hendak pulang kemana?"

Menanya sianak muda, Ia baru berjalan mendekat, namun segera ia dihalangi oleh ke-empat orang.

"Dengan memandang nona, kami beri ampun padamu!"

Kongya Liang mengatakan.

"Apakah kau masih tidak mau mengembalikan kitab ilmu pedang Tat Mo Kiampouw itu?"

"Tat Mo Kiampouw apakah itu?"

Thian Ya balik menanya.

"Kau berlagak pilon saja, bocah!"

Kata Kongya Liang, tertawa dingin.

"Tat Mo Kiampouw apa, kau bilang? Kiampouw yang tigapuluh tahun lalu Bouw Tok It ambil dengan tipu dayanya yang licik! Apakah itu bukannya Tat Mo Kiampouw? Habis apakah itu?"

"Aku justeru menghendaki kitab itu!"

Sahut Thian Ya.

"Habis apa yang mesti aku serahkan padamu?"

Kongya Liang menatap.

"Mustahil bila Bouw Tok It membawa kitab itu kedalam peti matinya?"

Dia tanya.

"Kau ahli waris Butong Pay, kalau kitab tidak ada ditanganmu, habis dimanakah adanya?"

Un Lan menjadi heran, Ia menyelak didepan Kongya Liang.

"Kalau kitab pedang itu adalah kitab miliknya Butong Pay, perlu apa kita menghendaki itu?"

Ia kata.

"Tidakkah itu akan jadi merusak nama baik ayahku?"

Kongya Liang memperlihatkan wajah heran.

"Ah, nona,"

Katanya.

"Apakah ayahmu belum pernah memberi keterangan kepadamu? Kitab itu pada asalnya bukan kepunyaannya Bouw Tok It!"

"Mustahil kitab itu adalah milik ayahku?"

Si nona tanya, Ia pun heran.

"Belum pernah aku mendengar ayah me-nyebut2 tentang kitab pedang itu."

""Hal yang se-benar2nya,"

Berkata Ti Eng.

"Tat Mo Kiampouw itu bukan kepunyaannya Bouw Tok It, bukan juga kepunyaan ayahmu, hanya setelah sampai saat ini, orang yang bersangkutan dengan kitab pedang itu telah menutup mata, maka kecuali ayahmu tak ada lain orang yang tepat untuk menjadi pemiliknya,"

So So yang ditempat persembunyiannya diatas pohon telah mendapat dengar semua pembicaraan itu, ia juga turut merasa heran.

"Dahulu ibuku telah membantu ayah mencuri kitab itu,"

Katanya didalam hati.

"karena perbuatannya itu, ibu menyesal seumur hidupnya, Pasti sekali ibu tidak mendustai aku...Kenapa kitab itu bukan miliknya engkong luarku?..."

So So heran, Siangkoan Thian Ya terlebih heran pula, Memang Pit Leng Hong pernah mengatakan bahwa kitab pedang itu bukan milik kakek gurunya, tetapi Pit Leng Hong juga mengatakan, kitab itu adalah milik seorang sakti yang menyerahkan kepada seorang gagah terkenal yang sama tersohornya dengan kakek gurunya itu, Orang gagah itu ialah Tan Teng Hong, Maka kenapa sekarang ayahnya nona Un Lan pun bersangkutan dengan Tat Mo Kiampouw itu ?

Un Lan tak kurang herannya, Ti Eng tertawa, ia berkata pula;

"Kalau nona kurang jelas, silahkan nona pulang untuk menanyakannya kepada ayahmu, Eh, bocah, kau telah mendapatkan kembali nyawamu, apakah kau masih tidak rela mengeluarkan kitab itu?"

Kata2 yang belakangan itu ditujukan kepada Siangkoan Thaian ya. Thian Ya panas sekali hatinya.

"Kitab itu tidak ada hubungannya dengan aku?"

Ia berkata nyaring.

"Baiklah, aku beritahu kepada kalian! Tat Mo Kiampouw berada ditangannya In Bu Yang, jikalau kalian menghendakinya, pergi kalian ambil sendiri pada In Bu Yang itu, jangan kalian gembrengin aku! Sekarang ini aku hanya hendak bicara dengan tenang dengan enci Un Lan!"

Siang San Liong, yang sejak tadi berdiam saja, memperlihat wajah bengis.

"In Bu Yang!"

Katanya.

"Dimana adanya dia?"

"Dia ada diatas gunung Holan-san ini!"

Sahut Thian Ya , nyaring pula.

"Hm, kau menggunakan nama In Bu Yang untuk menggertak kami?"

Kata Kongya Liang, dingin. Tapi, Ti Eng berpikir lain.

"Nona, apakah bocah ini bicara benar?"

Ia menanya Un Lan.

"Tentang kitab pedang itu aku tidak tahu sama sekali,"

Menyahut si nona.

"Hanya mengenai Siangkoan Thian Ya, belum pernah dia berkata bohong, dan ini aku ketahui dengan baik!"

"Kalau begitu, maafkan kami hendak geledah dulu padanya!' berkata Ti Eng. Alisnya si nona berdiri.

"Ti Eng!"

Serunya bengis.

"Nona,"

Kata orang she Ti itu, hormat. Tapi dengan dingin, ia menambahkan;

"Maafkan budak tuamu yang berlaku kurang ajar! Bukannya budakmu tidak mau memberi muka kepada nona, hanya saja kitab pedang itu adalah sangat penting, jikalau tidak sekarang aku menggeledah dia, akan lenyaplah kesempatan ini! Kalau nanti Lootocu menegur, siapakah yang berani bertanggung jawab? ... Geledahlah dia!"

Un Lan gusar hingga dia menggigil, Empat orang itu memang adalah pengikut ayahnya, akan tetapi memang benar, mereka juga masih terhitung pamannya sendiri, Bahwa Ti Eng menyebut dirinya "Budak tua,"

Itu cuma sebagai tanda menghormat, Sebenarnya, ayahnya pun memandang tinggi pada Ti Eng dan kawan2nya itu, Kalau mereka ini tidak mentaati titah ayahnya, bagaimana pertanggung jawabannya nanti?

mengerti akan hal ini, Un Lan menjadi serba salah.

Justeru itu Ti Eng sudah lantas melompat kedepan Thian Ya.

"Bocah yang baik, angkat tangan!"

Ia membentak dengan perintahnya. Siangkoan Thian Ya menjadi sangat gusar, benar ia telah angkat sebelah tangannya, tetapi ia lakukan itu sebagai satu serangan, Dan diapun berseru;

"Kenapa aku mesti mengijinkan kamu menggeledah aku?"

Hampir saja Ti Eng kena dihajar, Dia menjadi gusar sekali.

"He, bocah, kau berani berlaku kasar! bentaknya.

"Kalau begitu, kau mesti dibekuk dulu!"

Habis berkata, Ti Eng balas menyerang, perbuatannya itu diikuti Ti Pa saudaranya, Dengan berbareng mereka menggerakkan tangan mereka, disertai dengan dua buah rantai besi!

memperdengarkan suara yang nyaring.

Ke-dua2 rantai itu mengarah kebagian lehernya Siangkoan Thian Ya, seperti hendak dikalungkan.

Kongya Liang dilain pihak menekan dengan pedangnya kepada punggung orang, sedang Siang San liong dengan cambuknya menyambar kedua kaki orang.

Diserang berbareng secara demikian, biarpun ia sangat gagah, Siangkoan Thia Ya tidak berdaya, Disaat ia bakal kena disambar cambuk dan dikalungi rantai, mendadak saja terdengar seruan seorang wanita.

"Tahan!"

Seruan itu seperti datang dari tempat jauh, terdengarnya berulang2, Suara itu halus tetapi berpengaruh, dan dapat mendatangkan rasa hormat orang.

Ti Eng terkejut, sedang tiga kawannya pada melengak, Tapi, didalam hati mereka, mereka berkata;

"Tidak, tidak bisa jadi dia! Mana mungkinkah dia?"

Tengah mereka itu terbengong, mendadak terlihat suatu sinar berkelebat didepan mata mereka, Sinar itu bagaikan bianglala yang menyambar turun dari langit, Menyusul sinar itu, muncullah seorang wanita pertengahan umur, yang tangannya mengibaskan sehelai selendang merah, gerakannya sangat lincah, Dan belum sempat mereka melihat jelas, senjata mereka berupa cambuk, pedang pendek dan rantai besi, telah kena dilibat selendang itu!

Herannya Siangkoan Thian Ya juga tak kalah dengan keempat lawannya itu, Suara wanita itu bukanlah suara Siauw Un Lan, Ia lantas mengangkat kepalanya, untuk melihat, lalu ia mendengar lagi suaranya wanita itu;

"Benar apa yang ia katakan! Kitab pedang itu memang ada ditangannya In Bu Yang!"

Saat itu keempat jago Rimba Hijau itu berdiri tegak bagaikan patung, tidak berani mereka mengeluarkan suara, mereka seperti lagi menghadapi sesuatu yang sangat berpengaruh, wajah mereka pucat pasi, tanda dari rasa takut yang hebat, Seperti ketakutan mereka saat menghadapi majikan mereka!

Beberapa saat kemudian, adalah Ti Eng yang tersadar lebih dulu, Lalu ia mengeluarkan suara tertahan "Mari!"

Katanya, Dengan dipinpim olehnya, tiga orang kawannya mengikuti dia berlutut dihadapan wanita itu.

"Toa siocia, kau...kau..."

Kata mereka, suaranya menggetar.

"Ini...ini..."

"Tidak salah, inilah aku!"

Menyahut wanita itu, yang mempunyai wajah yang cantik, lalu sebelah tangannya dikibaskan.

"Apakah kamu tidak mempercayai kata2ku?"

"Hanya, ini...ini bagaimana sebenarnya?"

Menanya Ti Eng gugup.

"I...In. ."

"Diam!"

Membentak si wanita.

"Aku melarang kamu menyebutkan pula nama itu! Aku juga melarang kalian mengatakan pada siapapun, bahwa kalian telah bertemu dengan aku!"

Ti Eng berempat saling memandang, Tidak ada satu diantaranya yang berani membuka mulut.

Siangkoan Thian Ya menjadi semakin heran, Beruntun beberapa hari ia telah menemui hal2 aneh, dan hari ini adalah yang ter-aneh.

"Siapakah nyonya ini?"

Pikirnya.

"Kenapa empat jago Rimba Hijau ini demikian takut dan begitu menghormatinya? bahkan takutnya mereka itu jauh melebihi pada enci Un Lan! Kenapa mereka memanggilnya dengan sebutan Toa siocia? Bukankah, dari nada suara panggilan mereka, empat jago ini seperti mengakuinya bahwa mereka adalah bujang atau budak2nya nyonya ini?"

Selagi Thian Ya masih terbenam dalam pikirannya itu, Siauw Un Lan telah mendahului dia mengajukan pertanyaan, karena si nona ter-lebih2 heran lagi daripada pemuda ini, Dia telah berpikir ber-ulang2, Seingatnya belum pernah sekalipun bertemu dengan nyonya ini, maka heranlah dia, melihat bawahan ayahnya demikian menurut kata2nya si nyonya, Lalu ia maju satu tindak;

"Aku mohon bertanya, apakah she-mu, Nyonya, dan dengan ayahku bagaimana kau memanggilnya?"

Wanita itu tersenyum, Ia menggerakkan tangannya, memberi tanda untuk Ti Eng berempat agar berbangkit.

"Apakah nona ini puterinya Siauw Koan Eng?"

Ia tanya mereka itu, Sama sekali ia tidak segera memberikan jawaban kepada si nona.

"Benar,"

Menjawab Ti Eng mengangguk.

"Siauw Tocu menggantikan memegang pimpinan tocu sudah duapuluh tahun,"

Nyonya itu tertawa, ia menoleh kepada si nona yang menanyanya.

"Kau bertanya aku ini siapa, nona kecil?"

Katanya manis.

"Pergi kau pulang, kau tanyakan ayahmu, lantas kau akan mengetahuinya! Hari ini adalah kali pertama kau bertemu denganku, aku tidak mempunyai apa2 untuk dihadiahkan padamu, maka itu aku hanya dapat mengucapkan beberapa patah kata,'Manusia itu ada mempunyai saat2 berduka dan bersuka-ria, bercerai dan berkumpul, diibaratkan rembulan ada saatnya guram dan terang bercahaya, bundar dan somplak, Itu artinya didalam dunia ini tidak ada benda yang sempurna dan tanpa cacat, Maka itu andaikata kau mempunyai sesuatu yang tidak menyenangkan atau mencocoki hatimu, jangan kau simpan itu didalam sanubarimu."

Mendengar itu, Un Lan tercengang, Ia melihat sinar mata tajam dari si Nyonya seperti menyapu wajahnya, bahwa hanya dalam saat sekejap itu, si Nyonya seperti telah mengetahui rahasia hatinya, Ia merasakan, hanya dengan beberapa patah kata si Nyonya itu, hatinya seperti telah dapat diredakan banyak...

Diantara mereka itu, masih ada seorang lain yang tak kurang herannya, Dia itu adalah In So So, Saat dia mengawasi wanita itu, dia merasa hatinya tidak tenteram.

"Ah, dia mirip dengan ibuku!..."demikian sekilas pikirannya.

"Bukan hanya mirip dalam sifat, dalam wajahnya yang terlukis kedukaan, sinar matanya yang seperti menyembunyikan sesuatu..."

Tanpa sadar, So So jadi mengingat akan ibunya sendiri, Ia ingat kematiannya Cio Thian Tok itu dimalam yang menakutkan.

"Ya, kemanakah ibu telah pergi?"

Ia bertanya pada dirinya.

Nona yang harus dikasihani ini, sedikitpun ia tidak mengetahui bahwa ibunya pernah kembali dan telah bertemu dengan ayahnya, untuk minta diri, untuk pamitan...

Lamunan So So telah dibuyarkan oleh suaranya si Nyonya, Sebab pertanyaan Nyonya itu yang ditujukan kepada Siangkoan Thian Ya telah menggoncangkan hatinya, Karena pertanyaan itu mengenai diri "Tan Hian Ki".

Siangkoan Thian Ya sendiri sebaliknya tengah memikirkan nama "Siauw Koan Eng,"

Pernah ia mendengarnya nama itu, Tiba2 ia ingat!

Pernah gurunya Bouw It Siok, pada suatu ketika menyebutnya nama itu, Itulah namanya seorang pemimpin Rimba Hijau di-lima propinsi Utara, Ketika itu, ia tidak memperhatikannya, Sekarang ini lain, Ia tidak menyangka bahwa Siauw Koan Eng itu adalah ayahnya Siauw Un Lan.

Tiba2 lamunannya dipotong si Nyonya, Thian Ya lantas mengangkat kepalanya, mengawasi Nyonya itu, Ia mendapatkan si Nyonya tengah memandang dirinya.

"Bukankah kau Siangkoan Thian Ya?' Nyonya itu menanya.

"Bukankah Tan Hian Ki itu sahabat karibmu?"

"Tidak salah!"

Ia memberi jawabannya.

"Kenalkah kau pada Hian Ki?"

Sinar matanya si Nyonya itu bercahaya.

"Sekarang, dimana Tan Hian Ki?"

Ia bertanya tanpa memperdulikan pertanyaan yang diajukan kepadanya.

"Dia baru saja pergi mengikuti Nyonya In,"

Sahut Thian Ya.

"Nyonya In itu siapa?"

Si Nyonya menanya.

"Isterinya In Bu Yang, Digunung Holan-san ini, dimana ada Nyonya In lainnya lagi?"

Tiba2 wajah si Nyonya menjadi guram, sinar matanya pun tak bercahaya lagi seperti tadi.

"Apa?"

Katanya, suaranya bergetar.

"Hian Ki...dia...dia pergi kerumah keluarga. .keluarga In ?"

Siangkoan Thian Ya mengawasi, Ia heran akan kelakuannya orang, setelah itu terdengar si Nyonya menghela napas.

"Oh, pohon bwee yang habis menderita dimusim dingin, dapatkah kau mempertahankan dirimu lagi dari serangan sang angin?..."

Katanya perlahan, Kemudian ia menoleh kepada empat jago Rimba Hijau itu, sembari mengibaskan tangannya, lalu ia berkata nyaring;

"Ti Eng, Ti Pa, pergilah kalian! Ingat pesanku, apa yang terjadi dan lihat hari ini, jangan kau beritahukan pada orang lain dan siapapun juga!"

Setelah mengucapkan begitu, tanpa menanti jawaban dan menunggu orang berlalu, nyonya ini terus memutar tubuhnya, lalu pergi, Gesit sekali gerakannya itu, ia tidak tampak seperti berlari, namun dalam sekejap saja sudah tak tampak lagi bayangannya.

Menyaksikan caranya orang berlalu itu, Siangkoan Thian Ya terkejut, Ia tahu ilmu meringankan tubuh apa yang telah digunakan nyonya luar biasa itu, Sebab itulah ilmu "Mengeser rupa,-menukar bayangan"

Ilmu meringankan tubuh yang lihay dari Tan Teng Hong, seorang tayhiap yang namanya kesohor sejajar dengan kakek gurunya.

So So yang mendekam dibelakang pohon kayu besar, mengawasi nyonya itu berlalu, hanya sekelebat saja tampak punggungnya, lalu sekejap kemudian telah menghilang, Berbareng dengan kepergiannya nyonya itu, lantas ia teringat sesuatu hal.

"Dia sangat memperhatikan Hian Ki, adakah dia ibunya Hian Ki?"

Ia tanya dirinya sendiri, Ia pernah mendengarnya Hian Ki menyebut ibunya itu, disaat itu ia seperti berkesan baik terhadap ibu orang, maka sekarang saat memikir si nyonya, ia merasakan kemiripannya, Tanpa terasa, ia menjadi girang hatinya, Hanya ia merasa heran mengapa nyonya itu melarang Ti Eng dan kawan2nya menyebut nama ayahnya.

"Melihat sikapnya, mendengar suaranya, ia sepertinya membenci keluarga In..."

Pikirnya pula.

"Ada hubungan apakah diantara dia dengan keluargaku?..."

Segera ia mendengar suaranya Un Lan, yang berbicara seorang diri.

"Ah, siapakah dia?"

Nona ini maksudkan ialah nyonya yang luar biasa itu.

"Nona Siauw, silahkan kau plang,"

Berkata Ti Eng, yang menyahuti si nona, walaupun bukannya ia yang ditanya.

"Setibanya kau dirumahmu, segala apa akan lantas menjadi jelas."

Un Lan menoleh kepada Thian Ya, hanya sekejap, lantas ia menjawab siorang she Ti itu;

"Baiklah, mari kita pulang bersama!"

Katanya.

"Mari kita melanjuti pekerjaan ayah yang ujung goloknya berlumuran darah!"

"Enci Un Lan, kau tunggu aku,"

Berkata Siangkoan Thian Ya.

"Kalau mau jadi penjahat, marilah kita ber-sama2 pergi lakukan!"

"Eh, bocah cilik, kau banyak rewel!"

Kata Siang San Liong, yang tertawa mengejek.

"Untuk menjadi penjahat juga kau belum tepat!"

Lalu ia mengulur cambuknya, untuk menghalangi, Un Lan memandang kelangit, ia tertawa sedih;

"Benar, tiap orang ada masing2 jodohnya,"

Katanya.

"jodoh itu tidak dapat dipaksakan, Sebagaimana manusia, ada waktunya bersedih dan gembira, berpisah dan berkumpul, demikian juga dengan rembulan, ada kalanya guram gelap, ada waktunya juga bundar dan bercacat...Ya, benarlah katanya si nyonya, maka Siangkoan Thian Ya, kau berdiamlah disini, kalau sebentar kau bertemu dengan Tan Hian Ki, kau wakilkan aku memberi selamat padanya, aku mendoakan dia dan si nona In itu hidup bersama sampai tua, tak ada dukanya, tak ada sedihnya, biar seumur hidup tidak ada hal2 yang melukai hati mereka!"

Terharu si nona ketika ia mengutarakan itu, So So dan juga Thian Ya yang mendengarnya itu dengan jelas, Nyatalah si nona masih menyintai Hian Ki, Siangkoan Thian Ya berdiri menjublak, dan dari mulutnya itu berulang keluar kata2;

"Benar, orang ada masing2 jodohnya, jodoh itu tidak dapat dipaksakan... .Kata2 itu jelas ditujukan kepadanya, Ia mengangkat kepalanya, ia melihat si Puteri Malam diatas pohon, Un Lan sebaliknya telah pergi jauh....Siangkoan Thian Ya merasakan kesepian yang dahulunya tak pernah ia rasakan, Didalam dunia yang luas ini, tidak dapat ia menemukan seorang juga yang menyatu dengan hatinya, Ada Un Lan tetapi hati si nona tidak menyintai padanya, Ia lantas ingat Hian Ki, Tidak salah, Hian Ki pernah berkorban untuknya, dia dianggap sebagai saudara kandung, tetapi, Hian Ki juga tidak mengerti akan perasaannya, Ia menjadi merasa tidak karuan, ia merasakan dirinya seperti benar2 sendirian, Ia merasa didalam dunia ini, orang yang benar2 mengerti dan memahami dia ialah hanya gurunya yang baru, guru yang tubuhnya bercacat itu...

"Suhu, suhu,"

Ia lalu ber-kata2 seorang diri.

"suhu, kenapa untukku kau masih hendak merampas pedang itu, serta kitab ilmu pedang itu juga? Sebaiknya kita ber-sama2 cepat2 meninggalkan tempat ini yang melukakan hati..."

Se-konyong2 pemuda ini mendapat jawaban yang tidak ia duga2.

"Thian Ya, ah, kau disini? Apakah yang kau ucapkan itu?"

Itulah suaranya seorang tua, dengan suara yang dalam. Dengan cepat anak muda ini menoleh, maka tampaklah disana kelima gurunya, yang tengah berjalan memasuki rimba, Ia menjadi berdiri tercengang.

"Cara bagaimana kau dapat lolos dari tangan lihay si bangsat tua In Bu Yang?"

Ti Wan bertanya.

"Ah, apakah kau terluka?"

Melihat Thian Ya diam saja, Ti Wan Tiangloo menyangka keponakan muridnya itu telah terluka dihajar In Bu Yang. Siangkoan Thian Ya mundur satu satu tindak;

"Mulai saat ini dan selanjutnya, aku tidak akan perdulikan lagi urusan Tat Mo Kiampouw itu!"

Katanya tiba2.

"Jikalau kamu menghendakinya, pergilah kamu minta sendiri pada In Bu Yang!"

Ti Wan heran hingga ia melengak.

"Apa kau bilang?"

Dia menegasi.

"Coba kau periksa nadinya,"

Berkata Ti Hong Tiangloo.

"Mungkin benar2 dia telah terluka..."

Siangkoan Thian Ya mengibaskan tangannya.

"Siapa bilang aku terluka?"

Tanyanya.

"Baik, urusan Kiampouw, kita bicarakan saja dikemudian hari,"

Kata Ti Hong.

"sekarang mari kita pulang dulu ke Butong-san!"

Empat imam yang lainnya mengangguk berbareng, Mereka sependapat , In Bu Yang tidak dapat diajak bicara, dilawanpun mereka tidak dapat mengalahkannya, dari itu paling benar mereka pulang dulu kegunung Butong-san, untuk memastikan dulu kedudukan Cingbunjin mereka itu, Baru kemudian menyusun langkah selanjutnya, apakah mereka nantinya akan mengumpulkan orang2 Rimba-Persilatan dari golongan cianpwee, untuk ber-sama2 mereka datangi pula In Bu Yang, guna menghukum....Tapi, mereka mendapat sambutan yang diluar dugaan mereka, Siangkoan Thian Ya mengangkat kepalanya dan berkata dengan jelas dan tegas.

"Aku tidak mau pulang ke Butong-san! Aku pun bukan lagi Ciangbunjin dari Butong Pay!"

XII. TIDAK KESAMPAIAN... Ti Wan Tiangloo heran bukan main.

"Siangkoan Thian Ya!"

Ia membentak.

"Apakah kau sudah gila? Kenapa kau melepaskan kedudukanmu itu yang demikian baik?"

"Aku tidak suka akan kedudukan itu, tetapi pasti ada orang lain yang menginginkannya!"

Menyahut Thian Ya tenang. Matanya imam itu membelalak.

"Siapakah yang menghendaki itu?"

Ia menanya, berteriak.

"Supek, beberapa suheng yang menjadi muridmu, semuanya lebih menang daripada aku,"

Sahut Siangkoan Thian Ya.

"Hm!"

Imam itu mengejek.

"Siapakah yang telah mempengaruhi dirimu?"

"Akulah yang ingin mundur sendiri!"

Menyahut pula Thian Ya.

"Dengan begitu tidak usahlah supek dan susiok sekalian bersusah hati lagi mengurus aku, Beberapa suheng itu tentulah sudah menerima panggilanmu dan telah tiba di Butong-san, maka itu untuk apa aku pulang ikut membantu meramaikan ?"

Ti Wan memang telah mempunyai pikirannya sendiri, ia bermaksud hendak mengatur murid2nya itu, bagaimana cara agar bisa merebut kedudukan Ciangbunjin, untuk salah satu muridnya itu, Tapi sekarang rahasia hatinya itu telah dibeber oleh Siangkoan Thian Ya, ia menjadi malu dan gusar.

"Kau ngaco belo!"

Ia membentak pula.

"Apakah kedudukan Ciangbunjin boleh dibuat permainan? Andaikata benar kau hendak menyerahkan kedudukan itu kepada suhengmu, kau juga mesti pulang dulu ke Butong-san, disana kita nanti mengadakan rapat untuk membicarakan dan memutuskannya!"

Siangkoan Thian Ya tertawa dingin;

"Kenapa mesti begitu rumit, mem-buang2 waktu?"

Ia berkata.

"Sejak hari ini, aku bukan lagi Ciangbunjin dari Butong Pay! Maka itu urusan dalam partaimu, aku tak akan mencampurinya lagi!"

Ti Wan girang bercampur sangat mendongkol.

"Kau berani mengkhianati partai dan sucouw?"

Ia membentak dalam murkanya.

"Terhadap budi dan pelajaran suhu Bouw Tok It tidak berani nanti aku melupakannya,"

Berkata Siangkoan Thian Ya.

"Akan tetapi didalam Rimba Persilatan, sesudah guru menutup mata, kalau murid mencari guru lain, hal itu bukanlah tidak diperbolehkan."

"Bagus benar!"

Ti Wan berteriak.

"Kau telah berguru lagi kepada siapa?"

Empat imam lainnya pun juga gusar sekali.

"Butong Pay adalah partai sejati dalam Rimba Persilatan!"

Kata mereka itu.

"Semenjak dahulu, ada juga orang yang membuang apa yang sesat untuk kembali kepada jalan yang benar, tidak ada yang melepaskan jalan yang benar untuk pergi kepada yang sesat!"

"Ngaco belo!"

Membentak yang lain.

"Masa seorang Ciangbunjin pergi memasuki partai lain?"

Maka itu berisiklah suara mereka berempat, Dalam keadaan kacau itu, karena murkanya lima tetua dari Butong Pay itu, Justeru dari tempat jauh terdengar suara 'ting tong'nya tongkat besi, suara itu datangnya cepat sekali.

Butong Ngoloo dapat mendengar suara tongkat itu, wajah mereka berubah dengan segera, Tanpa terasa, suara mereka terhenti serentak.

Segera setelah itu terdengar suara tertawanya Pit Leng Hong, yang terus berkata;

"Kelima tua bangka dari Butong Pay, bukankah aku Pit Leng Hong tidak mendustai kalian? Bukankah Ciangbunjin kalian telah mengangkat aku menjadi gurunya karena atas kemauannya sendiri, dan bukannya aku yang merampas dia? Haha, Siangkoan Thian Ya, kau telah mendengar tegas, bukan?"

Siangkoan Thian Ya menjura;

"Semua aku telah mendengarnya dengan jelas,"

Sahutnya. Butong Ngoloo saling mengawasi.

"Pit Leng Hong!"

Kemudian Ti Wan Tiangloo berkata dengan gusar.

"Kau hebat sekali ya! Kau harus ketahui, Butong Pay tidak dapat dihina sembarang orang!"

Pit Leng Hong tertawa ter-bahak2, Ia memutar tongkat besinya, Dengan begitu mukanya yang jelek menjadi bertambah jelek, mehjadi bengis menakutkan, Dia tertawa dingin.

"Biarpun aku Siorang she Pit sudah bercacat, aku tidak merasa takut pada siapa juga!"

Katanya nyaring.

"Baiklah, Biarpun kalian kaum Butong Pay adalah laksana gunung Tay San yang dapat menimpa mengubur, aku siorang she Pit akan melonjorkan tanganku untuk menahannya!"

Saking murkanya, paras kelima tetua Butong Pay itu menjadi merah padam, tetapi meskipun demikian, mereka harus menguasai diri mereka, Ditangan In Bu Yang mereka telah terluka terkena pukulan Itci-sian, meski mereka sudah makan obat Siauwhoan-tan, kesehatan mereka belum pulih kembali, sedang kepandaiannya Pit Leng Hong ini mereka telah menyaksikannya dengan mata mereka sendiri, Mana dapat mereka melawan keras dengan keras?

"Hari ini dapat kau mengumbar bacotmu!"

Membentak Ti Wan.

"Kau tunggu saja lagi sampai tiga bulan, biar nanti aku akan mengumpulkan semua rekan Rimba Persilatan untuk membuat perhitungan denganmu!"

Pit Leng Hong tertawa terbahak;

"Siapa yang mempunyai kesabaran untuk menunggu sampai tiga bulan!"

Katanya memandang hina.

"Tiga hari juga aku tak sudi menantinya!"

"Kau suka menanti atau tidak, terserah kepadamu!"

Berkata Ti Wan.

"Kami akan mencari dirimu untuk berurusan atau tidak, itulah tergantung pada kami sendiri! Biarpun kau menjelajahi ke-ujung langit, tetap aku pasti akan mencari dirimu!"

Lagi2 Pit Leng Hon tertawa.

"Hm!"

Ia bersuara, seraya ia menancapkan tongkatnya ditanah, matanya mengawasi Butong Ngoloo berlalu pergi, Dengan mengejek, ia berkata;

"Sesudah tiga bulan kamu hendak mencari aku? Haha! waktu itu kamu boleh pergi menghadap Giamlo Ong (Raja neraka) untuk meminta orang!"

"Suhu,"

Berkata Siangkoan Thian Ya kaget.

"walaupun beberapa paman guruku telah berlaku lebih mementingkan dirinya sendiri, tetapi mereka bukanlah orang2 berdosa tak berampun, maka itu andaikata dibelakang hari, mereka sampai datang untuk menuntut balas, aku minta sudilah suhu memandang diriku dan janganlah suhu berlaku bengis terhadap mereka..."

Pit Leng Hong memperlihatkan wajah guram bercambur sedih, ketika ia tertawa, ia tertawa berduka;

"Siapa yang mengatakan aku hendak membinasakan mereka itu?"

Katanya.

"Ah, anak, kau tidak mengerti apa2, Jodoh kita bakal akan segera berakhir, maka kenapa kau masih menyebut-nyebut hal2 dibelakang hari?..."

Aneh, Thian Ya mendengar kata2 gurunya itu, ia heran bukan kepalang.

"Kalau begitu, apakah artinya kata2 suhu bahwa jika hendak menagih orang kepada raja akhirat?"

Katanya dalam hati, Karena penasaran, ia lantar menanya.

"Suhu, kita baru saja bertemu lagi, mengapa suhu menyebut jodoh kita bakal habis? Apakah mungkin tecu telah melakukan sesuatu kesalahan?"

Pit Leng Hong meng-geleng2kan kepalanya, ia tertawa pula, tertawa pilu, dan terlihat kepalanya mengeluarkan keringat, lalu seperti ada hawa yang keluar bagaikan uap.

"Pedang Kungo-kiam serta kitab pedang Tat Mo Kiampouw, dua2nya tidak dapat aku mengambilnya kembali untuk diserahkan padamu,"

Berkata ia masgul. Siangkoan Thian Ya menduga gurunya bersusah hati karena disebabkan pedang dan kitab itu, buru2 ia berkata.

"Segala benda sampiran itu, tecu juga tidak menghiraukannya lagi! Suhu, untuk tecu kau telah menempur In Bu Yang, hal itu saja telah membuat tecu sangat bersyukur! Suhu, marilah kita cepat berlalu dari tempat yang tidak karuan ini!"

Siangkoan Thian Ya berkata demikian karena ia tidak mengetahui bahwa gurunya ini sudah terkena totokan Itci-sian dari In Bu Yang, hingga dia terluka didalam badan, bahkan luka itu lebih hebat dan parah dari luka yang didapat oleh In Bu Yang darinya, dan tadi sikap Pit Leng Hong terhadap Butong Ngoloo, lima tetua dari Butong Pay itu hanyalah gertakan belaka.

Dengan bantuan tongkat besinya, Pit Leng Hong pun duduk.

"Mari dengar, anak, kemari,"

Ia berkata per-lahan2.

"Tidak boleh tidak, tentang kitab pedang itu mesti hari ini aku menceritakannya kepada kamu, jikalau tidak, lain hari tidak ada kesempatannya lagi."

Siangkoan Thian Ya hatinya berdenyutan, Ia melihat bagaimana sungguh2 sikap gurunya itu, Ia menjadi berkhawatir dibuatnya.

Ketika itu rembulan mulai bergeser ke-tengah2 cakrawala, Dalam kesunyian sang malam, dari atas gunung terdengar pula suara auman siraja hutan.

"Selam beberapa hari ini kau telah menemui tak sedikit kejadian2 yang luar biasa,"

Berkata itu guru.

"dan seperti malam ini dapat juga membuat ciut hati orang, maka tidaklah heran bila kau ingin cepat2 berlalu dari gunung ini, Pada duapuluh tahun yang lampau, aku juga pernah menemui malam yang seperti ini, bahkan kejadiannya lebih mengherankan lagi..."

Siangkoan Thian Ya memasang telinganya.

"Ketika itu aku pun masih muda belia seperti kau sekarang,"

Pit Leng Hong mulai bercerita lebih jauh.

"Semangatku sedang ber-kobar2, aku ber-cita2 membangun suatu usaha besar, Kakakku Pit Leng Hi, berdiam didalam markasnya Thio Su Seng, namanya saja ia menjadi pangcu (ketua) dari Kay Pang (partai Pengemis di Utara), namun segala pekerjaannya, sebenarnya akulah yang mewakilkan dia mengurusnya, Tabiatku juga gemar pesiar dan merantau, maka itu pernah juga aku pergi ke-selatan dan utara Sungai Besar, bahkan sampai juga ditapal batas."

Siangkoan Thian Ya ketarik hatinya, ia mendengarkan terus.

"Pada suatu hari, tibalah aku digunung Bekcek-san,"

Pit Leng Hong melanjuti.

"Didalam gunung itu aku tersesat, Kala itu disaat magrib ketika aku dengan tiba2 melihat angin menderu2 , kemudian pada waktu yang bersamaan aku juga mendengar suatu suara yang datangnya dari bawah kakiku, Awalnya aku menyangka pada bumi yang gempa, Tapi tak lama kemudian, aku mendengar suara yang menyayatkan hati yang keluarnya dari dalam tanah, Dimana tanah dibawah kakiku pada saat itu tiba2 terasa menjadi lembek dan buyar, Aku lantas menusuk dengan tongkatku, Dan ternyata aku mendapatkan sebuah liang yang mirip seperti mulut goa, Mulut goa itu tertutup batu, Lalu batunya lantas aku geser kesamping, kemudian terlihatlah sebuah goa batu yang kosong. Siangkoan Thian Ya menjadi semakin tertarik.

"Aku memberanikan diri, Dengan bantuan tambang, aku turun kedalam lubang goa itu, Didalam keadaannya agak gelap, tetapi didalam gelap itu aku melihat berkelebatnya pelbagai senjata tajam, aku merasakan desiran angin yang ditimbulkan pelbagai senjata itu, Ternyata disitu ada orang yang sedang bertempur. Dulu pernah aku meyakinkan cara melepaskan senjata rahasia, dan itu aku pelajari ditempat terang, maka itu bila ditempat gelap, mataku menjadi kurang awas, Lalu aku berdiam tidak bergerak, dan memasang mata terus, beberapa saat kemudian, ketika aku sudah mulai menjadi terbiasa, walaupun masih samar2, tetapi aku sudah dapat melihat adanya tiga orang yang sedang bertarung, yaitu dua orang yang bertubuh besar sedang mengepung seorang tua, dan siorang tua itu terlihat berbaring rebah diatas pembaringan tanah sedang menangkis golok dan pedang dua orang itu secara bergantian, serangan yang dilancarkan dengan cara membacok dan menikam itu kelihatannya sangat dahsyat, akan tetapi yang kadang2 mengeluarkan suara seruan dan jeritan itu justru adalah dua orang pengeroyok itu! Maka dari itu, kejadian itu sungguh luar biasa."

Setelah berhenti sejenak, lalu dilanjutkan lagi.

"Ketika itu aku masih muda, aku biasanya selalu menuruti kehendak hatiku, Dua orang bertubuh besar dan kuat mengepung seorang tua, bahkan seorang tua yang kelihatannya lagi sakit, hatiku menjadi panas, Itulah perbuatan yang tidak pantas, hina sekali, Maka timbullah niatku untuk membantu siorang tua, Lantas saja aku mengambil keputusan, seketika itu juga aku melompat, dan maju menerjang dengan memutar tongkatku,"

Akan tetapi, sebelum seranganku tiba, aku justru telah mendengar suara teriakan siorang tua.

"Anak muda, kau mundur jauh sedikit! Hati2, supaya kau sendiri tidak turut terlibat dan terpelanting!"

"Hebat tenaga dalam siorang tua, suaranya itu mendengung didalam goa, Aku tercengang bahkan heran, dan cepat-cepat aku mundur kebelakang, Untung buatku, mataku semakin terbiasa diruang yang gelap itu, Sekarang aku dapat melihat siorang tua menggengam sebatang rotan, dengan itu ia melayani kedua penyerangnya itu, dan juga melihat bagaimana dua musuh itu dapat kena dia permainkan, bagaikan kucing menggoda tikus, Buyarlah serangan kedua orang itu, Beberapa kali terlihat mereka mencoba menyingkir, tetapi selalu saja mereka terhalang oleh rotan yang cukup panjang itu, Akhirnya baru aku menginsafi bahwa siorang tua itu sangat lihay, Karena itu, jadi timbul rasa kasihanku terhadap dua penyerang itu, Yang sebelumnya aku muak terhadap mereka, yang telah menghina seorang tua yang sakit2an pula, Begitulah aku memintakan keampunan untuk mereka."

Kataku.

"Karena sudah jelas mereka tidak dapat melukai kau,Loojinkee, baiklah mereka disuruh pergi saja." 'Orang tua itu tertawa ter-bahak2.

"Baiklah!"

Katanya, 'Dengan memandang kau, saudara kecil, 'suka aku memberi sedikit kelonggaran...' Dan kata2 itu dibarengi dengan dua serangannya yang saling susul, hebat sekali serangannya itu, Diluar dugaanku, kedua lawannya itu terbinasa seketika.

'Mari!' ia memanggil aku, tangannya menggapai, dan aku lalu menghampirinya, 'Kau meminta ampun untuk mereka ini, tahukah kau, siapa mereka?' ia tanya aku, suaranya dingin, Aku memang tidak kenal mereka, maka aku lantas menjawab dengan terus terang, bahwa aku tidak tahu.

'Bukankah kau datang kemari untuk mencari kitab pedang Tat mo Kiampouw?' siorang tua tanya lagi padaku.

Atas pertanyaannya ini, aku menjawab bahwa aku sebenarnya belum pernah mendengar tentang kitab ilmu pedang itu, Mendengar jawabanku ini, agaknya dia menjadi terlebih lunak.

'Jikalau bukannya tadi aku melihat hatimu baik,' katanya kemudian, 'hari ini kau jangan harap dapat keluar dari goa ini, Kau lihat!

Selama duapuluh tahun lebih, mereka yang pernah datang kegoa batu ini, mereka semua berkumpul disitu!' Dia menunjuk, dan aku mengikuti jari tangannya itu, Terlihat dipojok tembok banyak bertumpuk tulang-belulang dan tengkorak manusia, Bergidik aku menyaksikan semua kerangka itu.

Siorang tua itu menghela napas panjang, Ia berkata pula.

'Sama sekali bukannya aku kejam, tetapi jikalau aku membiarkan mereka keluar lagi dari sini, maka didalam dunia kangouw bakal terbit gelombang yang semakin dahsyat, kata peribahasa, Jin wi cay su, niauw wi sit bong, (Manusia mati karena harta, burung mati karena makan), Inilah tepat sekali, Demikian juga dengan mereka yang paham ilmu silat, banyak diantaranya yang terbinasa karena pedang mustika, atau kitab ilmu pedang yang luar biasa, Semua itu hanya disebabkan satu kata2 tamak!

Tapi kau beda, kau datang kemari bukan dengan sengaja, suka aku...

untuk pertama kali...

.bertindak diluar kebiasaan, aku akan membiarkan kau pergi keluar...Ah, anak muda, siapakah namamu?' Untuk pertanyaan itu, aku memberitahukan she dan namaku, Mendengar itu, matanya siorang tua terbelalak.

'Pernah apakah kau dengan Pit Ceng Coan?' dia tanya, Itulah ayahku, aku menjawab.

'Pit Leng hi?' dia tanya lagi, Itulah kakakku.

'Lantas saja dia tertawa ter-bahak2, Jikalau begitu, kau bukanlah orang luar!' katanya gembira, 'Pernahkah ayah dan kakakmu itu menyebut namaku?

Aku adalah Tamtay It Ie,' Mendengar nama itu, aku heran hingga aku memperdengarkan suara kaget, Aku tahu Tamtay It Ie ini, Dia masih termasuk golongan cianpwee dari ayahku, dan dia telah menghilang sejak beberapa puluh tahun yang lampau, siapa tahu dia sebenarnya masih hidup, Tamtay It Ie menunjuk kepada tumpukan tulang belulang manusia itu, 'Aku mentertawakan mereka,' ia berkata, perlahan, 'sebab mereka tidak sanggup membuang ketamakkan mereka, Karena kitab ilmu pedang, mereka terbinasa, Hanya tadinya, akupun hampir tak beda dengan mereka itu, Hanya karena kitab pedang, aku mengasingkan diri, aku rela hidup sepi selama sisa hidupku, Hendak aku meyakinkan semacam ilmu silat yang sakti, Tetapi sekarang walaupun aku berhasil juga, aku sendiri bakal tidak bisa hidup lebih lama lagi...' Aku terbengong mengawasi orang tua itu, dia rebah diatas pembaringan dengan wajahnya yang menandakan bahwa dia sedang diserang penyakit, tubuhnya kurus hingga menggiriskan hati bagi yang melihatnya, Tapi dia masih dapat tertawa tawar, lalu ia berkata lagi.

'Kau tentu tidak dapat melihat bahwa sebenarnya aku telah Cao hwee jip mo (tersesat jalan), hingga sebagian dari tubuhku tak dapat digerakkan lagi, Selama setengah bulan ini, aku hidup hanya mengandalkan pada batu stalactite,' Mendengar keterangannya orang tua itu, aku merasakan lidahku menjadi kering, Selama setengah bulan orang tak makan nasi dan lainnya, kecuali batu itu, Orang yang demikian sempurna tenaga dalamnya, sungguh sukar dicari keduanya.

'Tamtay It Ie meneruskan ceritanya; 'Kitab pedang Tat Mo Kiampouw itu asalnya ialah warisan dari Tat Mo Couwsu (Bodhidarma) pendiri dari Siauwlim Pay, buah hasil setelah bersamedhinya selama delapan belas tahun menghadap tembok, Sesudah menciptakan ilmu pedangnya itu, Bodhidarma lantas menbuat kitabnya, Maka itu, untuk dapat meyakinkan ilmu pedang itu.

terlebih dahulu orang mesti mempunyai latihan tenaga dalam yang sempurna dasarnya, Inipun sebabnya kenapa didalam kitab ada tertera kecuali ilmu pedang juga terlampir ilmu melatih jalan pernapasan untuk mengempos semangat, Beberapa puluh tahun aku sudah berdiam didalam goa ini untuk meyakinkannya, namun aku hanya dapat melatih bagian luarnya saja, tidak berani aku menyebutnya sudah meyakinkan dengan mahir.' 'Disaat berakhirnya kerajaan Song,' orang tua itu menerangkan lebih jauh, Siauwlim Pay terpecah menjadi Siauwlim Pay dan Butong Pay dan kitab Tat Mo Kiampouw ini telah terjatuh kedalam tangan Butong Pay itu, Sesudah penyerbuan bangsa Mongolia, kitab ilmu pedang ini hilang tidak ketahuan rimbanya, karena itu para jago2 silat dari berbagai golongan sibuk mencarinya, untuk mendapatkannya kembali, Barulah pada tigapuluh yang berselang aku berhasil memperoleh keterangan, Kiranya ditengah kalutnya peperangan, kitab itu telah dirampas oleh seorang guru negara bangsa Mongol bernama Atujin, Belasan jago Butong Pay yang melindungi kitab itu, yang mencoba menyelamatkan diri, telah terbinasa dalam peperangan itu, Itulah sebabnya kenapa prihal kitab itu menjadi hilang jejak, Atujin sendiri tidak mengerti akan isinya kitab, lalu ia serahkan kitab itu kepada muridnya yang bernama Moa Ek Can, Murid ini mengetahui pentingnya kitab itu, tetapi ia juga tidak dapat meng-artikan isinya, lalu untuk memperoleh hasil ia mendapat suatu akal, Ia lantas mengundang ahli2 silat pedang, alasannya ialah untuk meyakinkan ber-sama2, Dari sepuluh orang yang diundang, yang sembilan menolak, jago2 silat yang menerima undangan itu, akhirnya celakalah dirinya, Moa Ek Can sangat licik, Ia selalu mencurigai ahli2 silat itu, ia khawatir, setelah jago2 itu mengerti ia takut kitab itu akan disalin dan dibawa pergi, Maka ia tidak pernah memperlihatkan kitab itu secara utuh seluruhnya, ia menyalinnya menjadi banyak bagian secara terpisah2, ia menyuruh mereka masing2 memahami bagiannya, Dan ia juga gagal dengan usahanya yang licik ini, Sebab mana dapat kitab itu di-pecah2?

Dengan dipisahkan, artinya tak akan dapat dipahami dengan sempurna, Namun usaha kerasnya akhirnya berhasil juga walaupun hanya sedikit, Lalu datanglah tindakannya yang terakhir, yang telengas, Semua ahli silat undangannya itu diracun, agar ia sendirilah yang akan menjagoi dunia!

Tapi ada seorang ahli dapat meloloskan diri, hanya sewaktu melarikan diri, ia kena terpanah dengan anak panah beracun,' 'Kau tahu, jago silat yang berhasil buron itu adalah salah satu sahabatku,' siorang tua itu melanjutkan, 'Ketika hampir tiba saatnya ia hendak menghembuskan napas terakhirnya, ia membuka rahasia itu kepadaku, Setelah mengetahui rahasia itu, aku lantas bertindak, Tujuanku ada dua, per-tama2 aku tidak ingin kitab ilmu pedang itu terjatuh kedalam tangan bangsa Mongolia, Kedua, aku sendiri berharap untuk menjadi jago silat nomor satu dikolong langit ini, Begitulah dengan diam2 aku pergi ke-istana kaisar Mongolia, disana aku berhasil mencuri kitab ilmu pedang itu, Untuk itu aku sampai mesti membinasakan delapan belas pahlawan bangsa Mongolia itu, Aku lantas melarikan diri, untuk mmenyingkir dan akhirnya aku bersembunyi mengasingkan diri didalam goa ini,' Aku menjadi sangat kagum saat mendengar penuturan Tamtay It Ie itu, Sungguh ia hebat, Dan untuk ilmu silat pedang itu, hampir separuh hidupnya ia tak pernah melihat sinar matahari, Kemudian aku tidak dapat berdiam diri mendengarkan saja, Lalu aku berkata; 'Sekarang ini dunia sedang kacau, orang2 gagah tengah berjuang untuk mengusir bangsa asing, Aku rasa waktu berhasilnya hanya tinggal menunggu hari saja, maka itu aku ingin dapat berdiam disini untuk merawat kau, loojinkee, Aku percaya setelah kau sembuh, bukankah kau dapat keluar dari sini untuk mewujudkan impianmu?' Tamtay It Ie menyeringai mendengar kata2ku itu, 'Karena kerasnya tekadku mempelajari ilmu pedang, aku tersesat,' ia berkata, berduka, 'sekarang ini tidak ada obat lagi untuk menyembuhkan aku, bahkan aku tidak tahu lagi, berapa lama aku akan tinggal hidup didalam dunia yang fana ini, Hanya karena maksud hatiku belum tercapai, kalau nanti aku meninggal dunia, mataku susah dimeramkan..."

Siangkoan Thian Ya terus mendengarkan. Pit Leng Hong melanjutkan lagi;

"Aku lantas bertanya, apa lagi yang diberatkan siorang tua, Dia menghela napas dan berkata. 'Separuh dari hidupku aku gunakan untuk memahami kitab itu, akhirnya aku berhasil juga, Karena tidak boleh kitab ini mengikuti aku terkubur didalam goa, aku mau mencari satu orang yang dapat dipercaya dan diandalkan, untuk membuat kitab ini tersebar terus turun temurun,' Mendengar itu, hatiku tercekat, Tamtay It Ie melirik diriku, Ia berkata. 'Kau berhati mulia, kau dapat menjadi orang perantaraku, tetapi dengan kepandaian kau seperti sekarang ini, apabila kau mem-bawa2 kitabku ini, kitab ini bisa membuat kau celaka, Maka itu, tidak dapat kitab ini aku serahkan padamu,' Ia lalu terus menunjuk kepada tumpukan tulang belulang orang korban2nya itu, katanya; 'Inilah manusia yang tidak tahu diri, yang berani datang kemari untuk memperoleh kitab ini, Ya, dengan kepandaian yang mereka punyai, walaupun mereka berhasil mendapatkan kitab, mereka juga tidak dapat berbuat apa2, sebab belum cukup pengetahuan bagi mereka untuk meyakinkannya,' Mendengar itu, aku berdiam saja, hanya aku sedikit gegetun. Tamtay It Ie menghela napas, lalu ia melanjutkan lagi perlahan2. ' Di-hadapan mataku hanya ada tiga orang yang dapat mewariskan kitab pedang ini, Dari mereka itu, yang satu belum tentu sudi menerimanya, Orang yang kedua justru tak aku sukai, tidak nanti akan aku berikan kitab ini padanya, Maka itu kini tinggallah orang yang ke-tiga, Dialah Tayhiap Tan Teng Hong,' Mendengar itu, aku heran sekali, aku lantas bertanya, siapa dua orang itu yang disebutkan duluan, 'Tiga orang yang aku maksudkan itu,' ia menyahuti, 'yang pertama adalah Pheng Hweesio, Yang lainnya yaitu Bouw Tok It, dan yang ketiga ialah Tan Teng Hong yang telah aku sebutkan, Pheng Hweesio adalah seorang guru besar, pelajarannya pun pelajaran asli, pastilah dia tidak akan menghiraukan kitab pedang ini, maka kalau aku serahkan kitab ini kepadanya, dia bisa akan merasa terhina, Dia lebih lihay daripada aku, mana mau dia menerima warisan dari aku? Orang yang kedua adalah Bouw Tok It, Dalam hal ilmu pedang, dialah orang satu2nya dijamannya itu, Karena kitab ini asalnya kepunyaan Butong Pay, tepat kalau kitab diserahkan padanya, tetapi mengenai dirinya, aku bersangsi dan aku bercuriga, Sebab aku mempunyai tabiat yang aneh, Semakin orang menghendaki kitab ini, semakin tidak sudi aku memberikan padanya, pasti aku tidak akan memberikannya!"

Mendengar sampai disitu, Siangkoan Thian Ya memotong; Aku sama sekali belum pernah bertemu dengan couwsu Bouw Tok It,"

Kata dia.

"Akan tetapi aku pernah mendengarnya dari orang-orang tua tentang perbuatan2nya yang mulia, Kenapa Tamtay It Ie mengatakan demikian tentang dirinya?"

"Memang!"

Sahut Pit Leng Hong.

"Pada awalnya akupun berpikir seperti kau ini, aku sampai menanyakan dia, Atas pertanyaanku itu, dia menunjuk kepada salah satu dari dua penyerangnya yang baru saja dia binasakan itu, Kau lihat, dia berkata, orang ini ialah murid kepala dari Bouw Tok It, Tidak tahu darimana Bouw Tok It dapat selintingan, dia telah memerintahkan muridnya ini datang mencariku, untuk meminta kitab kembali dengan paksa, Maka itu tak sudi aku memberikannya! Memang kitab ini milik Butong Pay, tetapi setelah kitab ini menghilang begitu lama, dan aku yang mendapatkannya dengan taruhan nyawaku, serta aku telah menggunakan separuh usiaku untuk meyakinkannya, dengan sendirinya aku pantas menjadi si-pemilik dari kitab ini! dan Butong Pay tak lagi berhak untuk memintanya kembali!"

Mendengar itu, Siangkoan Thian Ya berpikir;

"Benar-benar soal yang pelik sekali, Couwsu ingin cepatcepat mendapatkan kitab ini kembali, karenanya dia jadi dipandang sebelah mata oleh Tamtay It Ie, Melihat persoalannya, sebenarnya tidak terlalu penting,"

Tengah ia berpikir, Pit Leng Hong sudah berkata lagi;

"Setelah bicara jelas tentang kitab pedang itu, Tamtay It Ie lantas meminta aku suka pergi mencari Tan Teng Hong, untuk menyampaikan pesan, supaya Tan Teng Hong segera datang mengambil kitab itu dari dirinya, Aku menerima tugas itu dengan senang hati, Sebabnya? pertama, karena aku memang mengharapkan Tayhiap Tan Teng Hong itu, dan yang kedua, aku memang punya tujuan sendiri..."

Disaat mengucapkan demikian, pada wajahnya yang jelek itu terlihat rona merah, seperti orang yang lagi merasa jengah.

Siangkoan Thian Ya merasa heran, tetapi ia berdiam saja, Ia hanya memasang telinga, lalu Pit Leng Hong melanjutkan lagi;

"Sekarang ini aku telah tua dan jelek wajahku, maka itu kalau aku menceritakan riwayatku dulu itu, mungkin kau tak akan mentertawakan aku, Dahulu Bouw Tok It dan Tan Teng Hong itu sama2 terkenal, orang2 gagah di jamannya menamakan mereka dua Tayhiap tanpa tandingan, Sementara itu mereka sama-sama mempunyai anak dara yang luar biasa juga, ke-dua2nya nona itu elok bagaikan bunga, indah bagaikan kumala, dan dua2nya juga pintar dan gagah, Puterinya Bouw Tok It bernama Poo Cu, sedangkan puterinya Tan Teng Hong ialah Soat Bwee, Banyak kaum pendekar muda didunia kangouw, tidak ada seorang juga yang tidak berharap menjadi menantu salah satu diantara mereka itu, Ketika itu aku belum sejelek sekarang ini, terhadap Nona Tan, aku pernah memikir yang muluk-muluk, Maka aku pikir, setelah nanti pertemuanku dengan jago tua itu, aku akan mempergunakan kesempatan ini untuk menjalin hubungan erat dengan Tan Teng Hong, karena Aku sangat mengharapkan, setelah aku membantu dia mendapatkan kitab ilmu pedang, aku akan lebih leluasa membuka mulut dengan mengirim seorang perantara untuk meminang puterinya. Sebelum aku meninggalkan goa, aku pergi mencari banyak buah2an dan juga memburu seekor babi hutan, semua itu aku serahkan pada Tamtay It Ie untuk makanan dia beberapa hari, Setelah itu, aku lalu berangkat menuju kerumah Tan Teng Hong, Namun perjalananku kali ini kurang beruntung, karena setibanya aku dirumah keluarga Tan itu, kebetulan tuan rumah sedang bepergian, Atas pertanyaanku maka aku diberitahukan, bahwa Nona Tan baru saja menikah pada bulan yang lalu, dan mempelai laki2nya ialah sahabat kakakku..In Bu Yang, Kepergiannya Tan Teng Hong inipun untuk mengantarkan puterinya itu, Oleh sebab itu, aku menjadi sangat berputus asa, Meskipun begitu, aku tidak lantas meninggalkan rumah keluarga Tan itu, aku masih berdiam beberapa waktu untuk menantikan kembalinya tuan rumah, Ketika kemudian Tan Teng Hong pulang dan menerima pesanku, dia girang bukan kepalang, Dia memuji tinggi diriku, Dia mengatakan aku benar2 berbaik hati dan tidak tamak, bahwa aku dapat dipercaya dan dapat memegang kehormatan orang2 kangouw, Dihari kedua, dia lantas ajak aku berangkat ke Bekcek-san, untuk menjumpai Tamtay It Ie, Setibanya digunung itu, aku harus mentaati aturan yang keras dari kaum kangouw, Yaitu disaat seorang Cianpwee bila hendak mewariskan sesuatu kepada orang yang bakal jadi ahli warisnya, selaku orang luar tidak dapat aku hadir bersama, maka itu, aku tidak turut masuk kedalam goa, setelah menunjukkan letak goa itu kepada Tan Teng Hong, aku lantas disana duduk seorang diri untuk menantikan. Akan tetapi, Ternyata kedatangan kami berdua telah terlambat, sebab, ketika kami tiba, Tamtay It Ie sudah menutup mata, Sudah begitu, Tan Teng Hong juga kalah selangkah oleh Bouw Tok It, Karena Bouw Tok It begitu ia kehilangan murid kepalanya, dia lantas datang mencari, Dan dia sampai digoa lebih dulu satu tindak daripada Tan Teng Hong, dia bahkan telah berhasil mendapatkan kitab Tat Mo Kiampouw itu, setelah mendapatkan kitab itu ia bergirang bukan main, sampai2 ia seperti lupa daratan, ia me-muji2 dengan suara keras, Saat itu, Tan Teng Hong juga telah tiba, Maka bertemulah kedua orang kenamaan itu didalam goa rahasia itu. Berbicara terus terang, hal pertemuannya mereka itu, baru belakangan hari aku mengetahuinya dengan jelas, waktu itu aku tak tahu bagaimana persoalannya mereka jadi bentrok, Mereka sama2 kesohor, tetapi hanya karena kitab pedang itu, mereka jadi seperti lupa diri, mereka telah bertempur hebat antara hidup dan mati! Sungguh, itulah pertempuran yang sangat dahsyat, Tan Teng Hong mempunyai pedang Kungo-kiam, pedang pusakanya, sebilah pedang mustika pula, Begitu bergerak, dia lantas berada diatas angin, Dari dalam goa, mereka bertempur sampai keatas, dan sampai pula keluar ditempat terbuka, yaitu diatas puncak yang datar, Keduanya telah mengeluarkan segenap kepandaian mereka masing2, semua pukulan-pukulan yang mematikan. Aku menyaksikannya sambil sembunyikan diri dibelakang batu, aku sampai susah bernapas, Aku tidak berani mengeluarkan suara. Pertempuran itu berlangsung sampai seribu jurus lebih, berlanjut terus hingga matahari mulai doyong kebarat, Sampai akhirnya, pedang mustika dari Tan Teng Hong dapat membabat putus pedangnya Bouw Tok It, Melihat itu, aku girang bukan main, Aku memang meng-harap2kan Tan Teng Hong yang memperoleh kemenangan, dalam kegiranganku, aku melihat didalam arena pertempuran terjadi hal yang diluar dugaan, Setelah pedang terkutung, bukannya Bouw Tok It menjadi terdesak, tapi justru dia jadi lebih lihay, dia berkelahi dengan lebih bersemangat, Ternyata dia telah menggunaka ilmu simpanannya yang telah diyakinkan olehnya puluhan tahun yaitu ilmu silat Tayceng Hiankang. Bicara dari hal tenaga dalam, dijaman itu adalah Pheng Hweesio yang nomor satu, Dibanding dengan Tan Teng Hong, Bouw Tok It menang seurat, karena itu, mereka jadi berimbang, Sesudah bertempur sekian lama, keduanya menjadi letih dengan sendirinya, Selama itu, pedangnya Tan Teng Hong telah melukai Bouw Tok It dibeberapa tempat, Bouw Tok It sebaliknya dapat menghajar Tan Teng Hong dengan dua sabetan tangan terbuka. Sampai pada satu ketika, se-konyong2 Bouw Tok It berseru dengan ancamannya. 'jikalau tetap kau tidak tahu diri, akan aku rampas pedangmu!' Diancam begitu, Tan Teng Hong menjadi sangat murka. 'Baiklah!' serunya, 'jikalau kau sanggup merampas pedangku, didalam kalangan kangouw sudah tidak ada lagi orang yang bernama Tan Teng Hong!' Tan Tayhiap pintar dan halus budi pekertinya, biasanya kalau bergaul dengan orang, ia bersikap lemah lembut, akan tetapi kali ini ia dihina Bouw Tok It, ia menjadi seperti kalap, Maka ia menyerang secara hebat sekali, Ia sepertinya bersedia untuk binasa bersama! Dengan tiba2 saja pedangnya berkelebat, dan pundak Bouw Tok It mengucurkan darah segar, tetapi Bouw Tok It malah tertawa Terbahak, sebab dipihak lain terlihat Tan Teng Hong terhuyung mundur beberapa tindak, paras mukanya pucat pias, dan juga dua buah gelang pedangnya telah kena dirampas putus oleh Bouw Tok It! Demikian hebat keadaan mereka berdua, Saking kaget dan takut, aku jadi lupa akan diriku sendiri yang sedang bersembunyi, aku berseru! sambil berteriak, akupun melompat keluar dari tempat persembunyianku, Segera aku mendengar suara tertawa nyaring yang panjang, yang berkumandang dilembah, sedang Bouw Tok It tak tampak lagi bayangannya, sebab ia telah angkat kaki karena menyangka aku adalah kawannya Tan Teng Hong, Dilain pihak, Tan Teng Hong duduk numprah ditanah. 'Syukur ada kau! katanya padaku. Ternyata Tan Teng Hong terluka didalam, lukanya itu lebih parah daripada luka pedang dari Bouw Tok It, Cuma waktu itu ia memaksakan diri, dia tidak mau memberitahukan kepadaku, Sesudah beristirahat sebentar, dia lantas mengajak aku lekas pulang, Aku mengantarkan dia sampai dirumahnya, Dia terluka parah dan sangat letih, keesokannya dia jatuh sakit, dan lantas mengirim orang ke Huiliong Pang (Partai Naga Terbang), mengundang Pangcu (ketua)nya partai itu, Yaitu Siauw Koan Eng..."

Siangkoan Thian Ya terperanjat;

"Siauw Koan Eng?"

Tanyanya.

"Bukankah ia yang mempunyai beberapa pengikut yang lihay, seperti Ti Eng dan Ti Pa serta Siang San Liong dan Kongya Liang ?"

Pit Leng Hong meng-angguk2 seraya menunjukkan roman heran;

"Nyatanya bukan sedikit urusan kaum kangouw yang kau ketahui,"

Katanya, sambil terus melanjuti.

"Sebenarnya mereka itu berasal dari orang2 tidak ternama, tetapi setelah dipimpin Siauw Koan Eng, baru mereka memperoleh nama besar, Siauw Koan Eng itu adalah calon murid dari Tan Teng Hong, Belakangan lagi baru aku mendapat tahu, Tan Teng Hong memanggil muridnya itu untuk memesan agar si-murid mengurus jenazahnya nanti."

Kalau itu adalah pesan terakhir, mengapa Tan Teng Hong tidak memanggil pulang saja anak dan mantunya? Siangkoan Thian Ya tanya.

"In Bu Yang berada jauh di Kanglam dan waktu itupun tengah pecah peperangan, Tan Teng Hong sendiri lagi menghadapi saat-saat kritis, mana ada waktu lagi untuk memanggil itu anak dan mantunya?"

Menjawab Pit leng Hong.

"Hanya saja, sungguh aku tidak menyangka, lantaran aku kebetulan bertemu dengan Tamtay It Ie, aku jadi seperti terlibat urusan mereka itu, Di-malam saat Tan teng Hong menghembuskan napasnya yang terakhir, hanya ada aku dan Siauw Koan Eng didepan pembaringannya, Tan Teng hong memberitahukan kepada Siauw Koan eng perihal kitab pedang itu serta segalanya, sampai dia bertempur dengan bouw Tok It, sehingga mendapat luka itu, Pada akhirnya, dia minta kami suka menerima pesannya, Dia kata. 'Dari kalian berdua, yang satu adalah murid angkatku, yang lain ialah orang yang mengetahui duduknya persoalan dari awal hingga akhir. Pit Leng Hong kaulah orang yang mengajak aku menemui Tamtay It Ie, dan yang membuat Bouw Tok It kaget sampai melarikan diri, yang merawati dan mengantar aku sampai dirumah ini, kalau tidak ada kau, tentulah aku terbinasa ditengah jalan, Maka itu aku sangat bersyukur kepadamu, Kalau aku telah menutup mata, pesanku aku serahkan pada kalian berdua, Diantara kalian tidak perduli siapa, Siapa yang sanggup merampas kitab ilmu pedang itu dari tangan Bouw Tok It, maka kitab itu menjadi hak miliknya, Aku berharap sukalah kalian menjalankan baik2 pesanku ini, Disini aku telah menulis surat wasiatku, dimana aku telah mencatat segala sesuatu dengan jelas, dari itu, andaikata dikemudian hari karena kitab ini terjadi kesulitan dengan pihak Butong Pay, kalian boleh perlihatkan surat wasiatku ini, Untuk saat ini, surat wasiat ini biarlah Pit Leng Hong yang pegang,' Habis berkata demikian, berhenti sudah napasnya, Maka demikianlah akhir perjalanan dari seorang Tayhiap (Pendekar) yang tidak beruntung, yang telah berpulang kealam baqa dengan membawa penasaran. ."

Pit Leng Hong menghela napas panjang, setelah itu baru ia meneruskan lagi;

"Sesudah Tan Teng Hong menutup mata, aku lantas bersepakat dengan Siauw Koan Eng, Kami telah setuju untuk menggunakan segala cara dan kebiasaan kami, untuk mendapatkan kembali kitab pedang itu, hanya ada sedikit beda dari amanat Tan Teng Hong, kamu berjanji, siapapun diantara kami berdua yang berhasil, kitab itu harus diberikan kepada puterinya Tan Teng Hong, se-kali2 kami tidak boleh memilikinya sendiri."

"Bukankah pikiran ini asalnya keluar dari suhu ?"

Siangkoan Thian Ya tanya.

"Benar,"

Jawab Pit Leng Hong.

"Bagaimana kau dapat mengetahui itu ?"

Siangkoan Thian Ya tersenyum, Didalam hatinya, ia berkata.

"Rupanya suhu tidak dapat melupakan puterinya Tan Teng Hong, Nona itu sudah menikah, belum tentu dia mengetahui apa yang suhu pikirkan tentang dirinya...Untuk si nona, suhu berani hendak merampas kitab dari tangannya ahli pedang nomor satu dikolong langit itu, inilah cara menyatakan cintanya yang sangat dalam, Kalau begitu, dibanding aku dengan Siauw Un Lan, aku kalah..."

Pit Leng Hong melanjuti lagi penuturannya.

"Kami berdua menginsafi bahwa kepandaian kami masih sangat rendah, masih kalah sangat jauh dibanding dengan Bouw Tok It, oleh karena itu kami berjanji akan meyakinkan dulu ilmu silat kami selama sepuluh tahun, setelah itu baru kami pergi mencari Bouw Tok It, Walaupun ada janji itu, aku sendiri tidak dapat bersabar demikian lama, Begitulah, baru lima tahun semeninggalnya Tan Teng Hong, seorang diri aku telah pergi mencari Bouw Tok It."

"Kenapa begitu ?"

Siangkoan Thian Ya tanya, heran.

"Ketika itu Thio Su Seng telah mati dalam peperangan disungai Tiangkang, Bersama dia telah binasa juga kakakku, Pheng Hweesio dan yang lainnya, Dari tiga pahlawan Thio Su Seng, yang dapat meloloskan diri hanya In Bu Yang satu orang, Isterinya In Bu Yang yaitu Tan Soat Bwee, puterinya Tan Teng Hong, kabarnya pun turut terbinasa didalam peperangan di Tiangkang itu, Mendengar kabar itu, tentu sekali akupun berduka, Disamping itu, kemudian aku mendapat kabar lain, yang membuat kedukaanku bertambah, Itulah kabar bahwa tidak lama setelah meninggalnya isterinya, In Bu Yang telah menjadi menantunya Bouw Tok It."

"Ada kemungkinan In Bu Yang tidak mengetahui sebab dari kematian mantan mertuanya, biarpun begitu, aku sangat merasa menyesal untuk Tan Soat Bwee, Sayang, belum lagi jenazahnya dingin, suaminya sudah menikah lagi, bahkan yang dinikahi justru puteri musuh ayahnya, Setahu kenapa, semenjak saat itu aku jadi membenci In Bu Yang, Sebenarnya dari kakakku, secara tidak langsung aku pernah pelajari ilmu silat Siauwyang Hiankang dari Pheng Hweesio, tetapi karena tekad yang keras, aku tidak terus mempelajarinya sampai sempurna, aku ambil jalan lain yang singkat, yaitu aku meyakinkan dengan satu ilmu lain yang tak kalah sakti bernama Hanim citsat-ciang, Aku percaya, apabila aku dapat meyakinkannya selama sepuluh tahun, aku akan sanggup melayani seorang jago kelas satu, tetapi aku tidak dapat bersabar, aku khawatir Bouw Tok It keburu mewariskan kepandaiannya kepada menantunya, Benar aku membenci In Bu Yang, akan tetapi pada waktu itu, tidak terlintas pada diriku untuk membinasakan orang yang pernah dinikahi Tan Soat Bwee."

Siangkoan Thian Ya heran akan sikap orang ini, tetapi ia berdiam saja.

"Kebetulan tahun itu Bouw Tok It merayakan ulang tahunnya yang ke-51,"

Pit Leng Hong kembali melanjuti ceritanya.

"Aku lantas mencari keterangan tentang keluarga Bouw Itu, Aku memakai perantara para anggota2 dari Kay Pang (partay Pengemis), Lalu tepat dihari pesta ulang tahun itu, aku menyusup diantara tamu2 undangan, Sewaktu Bouw Tok It melayani tetamunya, dengan diam2 aku masuk kedalam kamar tidurnya, Adalah maksudku untuk mencari dan mencuri kitab pedang itu, Disaat aku baru menemukan dua gelang, yang Bouw Tok It rampas dari pedang Tan Teng Hong, tiba2 aku mendengar tindakan kaki orang diluar pintu, cepat2 aku menyembunyikan diri dikolong pembaringan, Ternyata yang datang itu bukannya Bouw Tok It, tetapi adalah In Bu Yang bersama isterinya yang baru dinikahi, Aku lantas mendengar suaranya In Bu Yang. 'Kau cepat cari kitab pedang itu, aku akan menunggu kau diluar, di-gunung2an palsu, Kalau ada sesuatu, aku akan memberi tanda dengan berdehem dan batuk2,' Ketika itu ditangan In Bu Yang ada membawa sebatang pedang, yaitu pedang pusaka dari Tan Teng Hong, Menurut Tan Teng Hong oleh Siauw Koan Eng pedang itu akan diserahkan kepada Tan Soat Bwee, maka itu, melihat pedang itu ada ditangan In Bu Yang, aku jadi curiga. Aku kenal pedang itu, maka tentu Bouw Tok It pun mengenalnya, Andaikata dia benar2 tidak tahu bahwa In Bu Yang adalah bekas menantunya Tan Teng Hong, tapi dengan melihat pedang itu, seharusnya ia bercuriga, dengan demikian, kenapa Bouw Tok It justru menikahkan puterinya pada In Bu Yang? Selagi aku berpikir demikian, aku mendengar suara perlahan dari Bu Yang yang me-manggil2. 'PooCu! Poo Cu! Atas panggilan itu, isterinya lantas saja membenahi barang2 yang telah ia geser, Baru saja ia selesai, gorden pintu telah tersingkap, dan Bouw Tok It berjalan masuk diikuti keponakannya, yaitu Bouw It Siok. Bouw Tok It heran melihat anaknya itu; 'Ah, kiranya kau disini!' kata si-ayah itu. 'Bu Yang diluar lagi mencari kau,' Anak itu cerdik, ia menyahuti; 'Aku khawatir ayah kena diloloh, maka itu aku datang kemari untuk melihat, Mau apa Bu Yang mencari aku?' Sang ayah tertawa dan berkata; 'Mana begitu gampang2 aku diloloh hingga mabuk? Oh, ya, Bu Yang ada diluar, pergi kau tanya sendiri padanya!' Anaknya itu lantas bertndak keluar, selang sesaat, setelah berlalunya anaknya itu, aku mendengar suara Bouw Tok It; 'Orang mengatakan anak perempuan berpihak pada orang luar, ini adalah benar, bukan omong kosong belaka...Hm! It Siok, selama kau berada ber-sama2 Bu Yang, apakah kau melihat sesuatu yang mencurigakan pada diri dia itu?' 'Aku tidak melihat sesuatu,' menyahut It Siok, sang keponakan. Bouw Tok It lantas me-nepuk2 perlahan pada tembok, disitu ia memutar sebuah batu bata dan mencabutnya, maka disitu terlihat sebuah kotak yang terbungkus kain sulaman, Ia meletakkan kotak itu diatas meja. Karena kitab pedang ini, sia2 belaka Tan Teng Hong mengorbankan jiwanya,' katanya menghela napas, 'selama banyak tahun terakhir ini, hatiku pun tidak tenteram, Kau adalah anggota keluarga Bouw, anggota satu2nya yang pria, oleh sebab itu dikemudian hari kitab ini mesti diwariskan kepada kau, maka itu ilmu silat pedang Tat Mo Kiamhoat selanjutnya akan menjadi ilmu pedangnya keluarga Bouw, Eh, It Siok, tahukah kau kenapa aku mengambil In Bu Yang sebagai menantuku ? "Inilah justru hal yang hendak aku tanyakan kau, paman,' sahut It Siok. Itu disebabkan karena isterinya yang telah meninggal dunia adalah puterinya Tan Teng Hong, menerangkan Bouw Tok It, Ketika dahulu waktu Tan Teng Hong bertempur dengan aku memperebutkan kitab ini, aku menduga dia pasti binasa dibawah pukulan dari ilmu silatku Tayceng Sinciang, maka itu aku percaya, selain Tan Teng Hong, tidak ada orang Rimba persilatan yang mengetahui kitab ini ada padaku. Akan tetapi Tan Teng Hong mempunyai anak perempuan serta mantunya, Pada saat ajalnya Tan Teng Hong, adakah dia memberitahukan hal kitab pedang ini kepada anak dan mantunya itu? Inilah soal yang selalu membuat aku berpikir, Sebenarnya aku juga berniat membinasakan Bu Yang, Namun perbuatan itu sepertinya bertentangan dengan hati-nuraniku, Semasa hidupku aku selalu menganggap diriku seorang yang mulia, karena itu belum pernah aku membunuh seseorang yang tidak bersalah dan berdosa. Bahwa aku telah mencelakai Tan Teng hong, itu juga kulakukan karena saking terpaksa, dan peristiwa itu membuat aku sangat menyesal dan berduka hingga sekarang, Oleh karena itu, mana dapat hanya disebabkan kecurigaan saja aku membunuh Bu Yang? maka dari itu, aku lantas nikahkan Poo Cu kepada Bu Yang itu, Dengan begitu aku bisa menyelidiki Bu Yang, apakah dia mengetahui atau tidak tentang kitab ilmu pedang ini, Andaikata benar dia mendapat tahu, dengan adanya ikatan mertua dan menantu, aku percaya urusan bisa disudahi saja, Tapi sebenarnya In Bu Yang adalah seorang yang licin, yang harus diwaspadai, sebab selama beberapa bulan ini, tidak pernah ia membuka rahasia mengenai urusan kitab ilmu pedang ini, Aku Khawatir, sepeninggalnya aku nanti, tidak ada orang lain yang dapat mengendalikan dia, Poo Cu benar adalah anakku, akan tetapi aku tidak ingin kitab ini terjatuh ketangan orang lain she, Maka inilah sebabnya kenapa sekarang aku bicara jelas begini, kepadamu, Aku ingin kau membantu aku menyelidiki Bu Yang dan Poo Cu, tentang gerak-geriknya, apabila kau mendengar atau melihatnya, kau mesti cepat2 memberitahukan padaku, Kau tahu, kejadian barusan membuat aku tak dapat tidak bercuriga..."

Mendengar sampai disitu, bulu-roma Siangkoan Thian Ya bangun sendirinya, pikirnya;

"Sucouw menyebut dirinya orang gagah dan mulia, siapa tahu diapun selicik ini, Dari sini dapat diketahui ternyata kitab Tat Mo Kiampouw itu adalah barang yang membawa sial,"

Habis menutur begitu, Pit Leng Hong pun menghela napas, Ternyata pandangan dan anggapan dia mirip dengan Siangkoan Thian Ya, Setelah melegakan dadanya, ia melanjuti lagi;

"Sungguh, kitab ilmu pedang itu tak sedikit mencelakai orang, Aku melihat dan merasakannya sendiri, bagaimana satupersatu jago2 silat telah membuang nyawanya, bahkan aku sendiri telah dibikin jadi bercacat dan jelek semacam ini karenanya,"

Waktu dia mengucapkan perkataan itu, suara Pit Leng Hong makin lama semakin lemah, napasnya makin mendesak.

"Sudahlah, suhu,"

Kata Thian Ya, coba menghibur.

"urusan yang memilukan ini baiknya jangan di-sebut2 lagi..."

Tetapi Pit Leng Hong berpikir lain, Lalu ia berkata pula;

"Beberapa saat kemudian, Bouw It-Siok pun berlalu, maka didalam kamar itu tinggallah Bouw Tok It seorang, Kitab ilmu pedang pun tetap terletak diatas meja, Tidak berapa lama kemudian, Bouw Tok It duduk menyender ditempat tidur, kedua kakinya diturunkan hingga kedua kaki itu tepat berada didepan hidungku, Hatiku menjadi tegang sendirinya, Inilah saat yang paling baik untuk aku turun tangan, Mungkin diluar sadarku sendiri, aku telah mengeluarkan sedikit suara, Sekonyong2 aku mendengar bentakannya Bouw Tok It; 'Siapa yang sembunyi dikolong pembaringan? Lekas keluar!' Aku tidak memberikan jawaban, sebaliknya, aku mengerahkan tenagaku pada kedua tanganku, lalu dengan hebat aku sambar kakinya, dengan begitu kuku tanganku telah mencakar luka jalan darah yongcoan-hiat dikakinya itu, Lantas hawa dingin yang beracun dari tanganku itu menyerang masuk kedalam jalan darahnya itu, terus menerjang ke-ulu hatinya, Bouw Tok It boleh menjadi seorang ahli silat kenamaan dijamannya itu, Tapi mana dia ketahui ilmu silat tanganku yang istimewa! Hanya saja dia memang sangat lihay, meski dia sudah terluka, tapi dia masih dapat menggunakan tenaganya dan mendepak aku, hingga aku terguling roboh, Ketika dia telah melihat diriku, Dia tertawa dingin dan berkata; 'Kiranya kau, Giokbin Kayhiap Pit Leng Hong! Apakah perlunya kau mendekam dikolong pembaringanku ini?' Aku menghendaki kitab pedang,' aku jawab dia, 'Kau serahkan kitab itu padaku, nanti aku berikan kau obat pemunah untuk mengobati lukamu,' Tapi dia tertawa lebar dan berkata; 'Aku siorang she Bouw, selamanya belum pernah aku mengemis apapun juga dari orang lain! Lagi pula orang dengan kepandaian seperti kau ini, mana dapat kau melukai aku?' Mendadak wajahnya berubah menjadi bengis, dia membentak diriku; 'Ha, Engkaukah orang itu yang di-Bekceksan!' Dia rupanya telah mengenali suaraku, Aku menjadi nekat, mendadak saja aku menubruk dia, tanganku menyambar beruntun hingga tiga kali, dan diapun menjadi sangat gusar, sambil berteriak dia menyabet tanganku hingga patahlah sebelah lenganku, Dengan tertawa dingin dia berkata lagi; 'Baiklah, kau harus diberi tanda mata!' Aku lantas merasakan sambaran angin pada mukaku itu lalu seperti di-tusuk2 rasa dingin, Dalam kaget dan takut, aku melompat ke jendela, Bouw It Siok yang telah mendengar suara berisik, segera muncul, akan tetapi ia tidak berhasil membekuk aku.

"Dan bagaimana dengan kakek guruku itu ?"

Tanya Thian Ya, suaranya tergetar.

"Bouw Tok It berniat menyiksa aku, dia tidak sadar bahwa dirinya telah terkena tanganku,"

Berkata Pit Leng Hong, menyahuti.

"Dia telah terhajar pukulan Hanim Citsat-ciang, tenaganya tak dapat menuruti kemauan hatinya, dia menolak obat pemunahku, dengan begitu, karena pukulan hawa dinginku sudah menyerang sumsumnya, maka walaupun ia percaya akan kesempurnaan tenaga dalamnya, tapi semua itu sudah terlambat untuk dapat menolong dirinya, dan dia hanya mengobral mem-buang2 tenaganya sendiri, Semenjak itu dia rebah diatas pembaringannya, tubuhnya makin lama menjadi semakin lemah, Setelah tenaganya habis, matilah dia secara tiba2, berbareng dengan itu, In Bu Yang si-menantu yang manis setelah dapat mencuri kitab ilmu pedangnya itu, juga segera mengangkat kaki meninggalkan rumah keluarga Bouw!...Tapi bagaimana dengan aku? Penderitaanku lebih hebat dan menyedihkan daripada Bouw Tok It itu, Aku berubah menjadi seorang yang setengah hidup setengah mati, aku telah bercacat lengan dan mukaku, yang menjadi begini jelek, aku menjadi sipengemis yang celaka, Lenyap sudah semangatku, Semangat yang hendak menunggangi harimau dan menakluki naga, pupus cita2ku terbawa hanyut sang air!"

Mendengar itu, Siangkoan Thian Ya bergidik sendirinya, Sungguh hebat peristiwa yang panjang ekornya itu, Setelah sekian lama mereka berdiam, lalu Pit Leng Hong berkata lagi, suaranya serak dan perlahan, katanya;

"Sekarang ini pelakunya bakal tiba pada babak penutupnya, In Bu Yang telah terhajar pukulanku Hanim Citsat-ciang, paling lama dia hanya dapat bertahan tiga hari, maka itu sekarang lekaslah kau pergi kerumah dia, kau salin kitab ilmu pedang itu yang telah dia ukir didalam kamar batunya, setelah itu, kau rusak dan musnahkan temboknya itu! Selanjutnya kaulah satu2nya orang yang mewarisi ilmu silat pedang Bodhidarma itu! Cepat, cepat pergi! Jangan takut! Sekarang ini biarpun Bu Yang dapat mengukir langit, dia tak dapat berbuat apa2 lagi terhadap dirimu!"

PENUTUP. SEMUANYA DIBAWA HANYUT...

"Sudahlah, jangan sebut2 lagi kitab pedang itu!"

Barkata Siangkoan Thian Ya.

"Siapa yang memiliki kitab itu, dia tidak akan ada hari akhir yang beruntung! Suhu, paling benar kita cepat meninggalkan tempat hantu ini! Pit Leng Hong membuka mulutnya tetapi suaranya sangat perlahan, dengan susah payah barulah Thian Ya dapat mendengar, Ia menjadi kaget sekali.

"Suhu!"

Katanya, suaranya gemetar.

"Apa suhu bilang? Apakah suhupun terluka oleh pukulan Itci-Sian dari In Bu Yang itu? Apakah suhu juga mau pergi ?"

Pit Leng Hong mengangguk, lalu ia memperlihatkan senyuman sedih, tangannya diangkat, dipakai untuk menunjuk kerumah keluarga In, Tidak lama kemudian, parasnya seperti membeku, ketika Siangkoan Thian Ya mengulurkan tangannya untuk meraba, tubuh gurunya itu sudah tidak ada napasnya lagi....Mendadak saja anak muda ini merasakan dadanya sesak, pikirannya kacau, Ia ingin menangis dan menjerit, tetapi suaranya tak mau keluar, Tidak ada jalan lain, ia lalu menyingkapi tumpukan rumput, dan menggali tanah, kemudian didalam sana ia letaki tubuh gurunya, lalu diuruk, untuk ditutupi...

"Tan Teng Hong! Tan Teng Hong!"

Mendadak Siangkoan Thian Ya ber-seru2 sendirinya, Itulah nama yang ia rasanya kenal baik, Siapakah yang pernah menyebutnya?

Se-konyong2 terdengar suara tajam didalam rimba, lalu sebuah tubuh manusia terlihat mencelat, lari kearah rumah keluarga In.

"So So!"

Berteriak Thian Ya, yang dapat mengenal tubuh orang itu, In So So tidak berpaling, dia lari terus, Rupanya dia telah dapat mendengar semua perkataannya Pit Leng Hong. Heran Thian Ya.

"Kalau dia telah bersembunyi disini dan mencuri dengar pembicaraan kami, kenapa dia tidak mau menemui aku ?"

Thian Ya tanya dirinya sendiri, Hati anak muda ini menjadi goncang, tubuhnya menggigil, Lantas saja ia lari, untuk menyusul In So So...

***** In Bu Yang menanti sekian lama, puterinya masih belum kembali, Ia membuka lebar jendela dan pintunya, untuk membuat sinarnya rembulan dapat memancar masuk, masuk bersama bayangannya pohon bwee, kedalam kamar tulisnya itu, Waktu itu si Puteri Malam sudah berada di-tengah2 cakarawala, menandakan hari sudah jauh malam Angin bersiursiur, membawa harumnya bunga bwee.

In Bu Yang berdiam, pikirannya terlintas segala peristiwa yang telah berlalu, Ya, segala macam perbuatannya, ada yang baik, ada juga yang buruk, Bagaikan kilat, semuanya itu datang dan pergi, Dalam keadaan tidak karuan rasanya itu, ia mendengar tindakan kaki yang ringan, hingga ia terperanjat.

"So So!. ."

Serunya, Lalu;

"Ah!...kau..."

Itu bukanlah So So, puterinya, tetapi adalah seorang lelaki yang tubuhnya kasar, yang usianya sudah lima puluh tahunan, Mukanya orang ini ada bekas luka goresan, kumisnya pendek dan kaku.

In Bu Yang yang telah mengawasinya, segera ia mengenalinya.

"Kaukah Siauw Koan Eng, pangcu dari Huiliong Pang! katanya. Orang itu mengangguk;

"Ingatanmu masih bagus!"

Sahutnya.

"Ketika kau menikah dengan Siocia kami, aku pernah gajak gijik membantu kamu, aku telah membantu mengatur pesta! Hanya, kau sekarang telah menjadi menantunya keluarga Bouw, kau bukan lagi menantu keluarga Tan! Ha, sungguh sukar bila kau masih ingat kami!"

Itulah kata2 yang bernada sindiran.

"Habis kau mau apa?"

Menanya Bu Yang, suaranya dingin. Siauw Koan Eng pangcu dari Huiliong Pang (partai Naga Terbang) menyahuti dengan sabar;

"Maksud kedatanganku,"

Katanya.

"pertama, untuk meminta kitab ilmu pedang, dan kedua untuk meminta orang,"

In Bu Yang mendongak dan tertawa lebar.

"Kembali datang seorang yang mau minta kitab ilmu pedang!"

Katanya nyaring.

"Ha, apakah kaupun tepat memiliki kitab ilmu pedang itu?"

Siauw Koan Eng tetap berlaku tenang.

"Jikalau Siocia kami masih belum meninggal dunia, kitab ilmu pedang itu memang mesti menjadi miliknya,"

Ia menjawab.

"tapi karena kau sekarang adalah menantunya keluarga Bouw, sedang kitab ilmu pedang keluarga Bouw itu dapatnya dari hasil mencuri dari keluargan Tan, mana dapat kitab itu tetap berada ditangannya menantu dari musuhnya Tan Teng Hong? sedangkan Tan Teng Hong itu hanya mempunyai aku murid satu2nya!"

In Bu Yang tertawa dingin ketika ia memberikan jawabannya.

"Kitab ilmu pedang itu tidak mungkin aku dapat membawanya keliang kubur, meski begitu, tidak dapat aku kembalikan kepada kau! Sekarang tentang orang! Siapakah dia yang hendak kau minta aku serahkan?"

"Pit Leng Hong!"

Sahut Siauw Koan Eng singkat. In Bu Yang bergidik dengan tiba2, Hanya sebentar, lantas ia tertawa pula ter-bahak2. Siauw Koan Eng menjadi gusar;

"In Bu Yang, kau tertawakan apa?"

Dia membentak.

"Aku tidak menyangka,"

Menjawab Bu Yang.

"Pit Leng Hong si-siluman begitu aneh tetapi masih mempunyai sahabat karib, dan kau sebagai sahabat yang kesudian mengurus jenazahnya!"

"Apa?"

Tanya Koan Eng heran.

"Apakah Pit Leng Leng telah mati?"

In Bu Yang menyahutnya dengan tawar.

"Pit Leng Hong telah terhajar olehku dengan Itci-sian, dan telah tertutup tujuh jalan darahnya, maka aku percaya dia tidak bakal sanggup keluar dari gunung ini, jikalau kau mencari dia, tak usah sampai satu harian, asal kau mengitari tempat ini sejauh sepuluh lie, pasti kau bakal menemukan mayatnya!"

Matanya Siauw Koan Eng menjadi gelap secara mendadak, kemurkaan dan kedukaannya berkumpul menjadi satu, Sekonyong2 ia tertawa bagaikan kalap.

"In Bu Yang, kau...kau bagus sekali, sudah menurunkan tangan jahatmu itu!"

Ia berseru.

"Pit Toako, ah Pit Toako! Ingatkah kau dahulu kita telah menerima pesan dari guru yang baik hatinya dan bagaimana kita telah bersumpah, walau tubuh kita hancur lebur, kita akan dapatkan kitab Tat Mo Kiampouw itu? Kau memang adalah seorang ksarria, kau menepati sumpahmu! Hanya tidaklah kau duga, kau bukannya mati ditangan bangsat tua she Bouw itu, kau justru terbinasa ditangan mantu yang jempolan dari Tan Teng Hong, ditangannya In Bu Yang! Oh, guruku yang baik dan kau Pit Toako, mana dapat kalian di-alam baqa memeramkan mata? Pit Toako, kau sebagai orang luar tetapi kau mendahului aku mati, apakah dengan begitu tidak kecewa aku yang menjadi murid partaiku ?"

Hebat suaranya Siauw Koan Eng ini, bagi pendengarannya Bu Yang itu adalah terlebih hebat daripada cacian, Akan tetapi, In Bu Yang juga baru sekarang mengerti duduknya persoalan, katanya dalam hati.

"Aku menyangka Pit Leng Hong dan mertuaku tidak mempunyai sangkut pautnya satu dengan lain, aku heran kenapa diantara mereka ada sakit hati yang begini hebat, tak tahunya semua itu kiranya disebabkan oleh kitab ilmu pedang..."

Dalam murkanya itu, Siauw Koan Eng menatap dengan mata tajam, In Bu Yang juga mengawasi, lalu dengan nada dingin dia bertanya.

"Siauw Koan Eng, apakah benar2 kau hendak menempur aku?"

Koan Eng tidak takut, dia menyambut tantangan itu, Sebenarnya Koan Eng bisa muncul disitu adalah untuk mencari puterinya, Setelah dia mengutus Ti Eng berempat, dia mendapat kabar bahwa Siangkoan Thian Ya berada bersama seorang yang bernama Tan Hian Ki, orang yang sedang dicari pihak pemerintah, sebab Tan Hian Ki dipandang sebagai pemberontak, setelah dia menerima kabar ini dengan perasaan khawatir, sebab Siangkoan Thian Ya dan Tan Hian Ki itu adalah sahabat-sahabat puterinya, Sekarang Hian Ki lagi dikepung2 pahlawan2 kaisar, Inilah barbahaya, Dia khawatir puterinya dipincuk Siangkoan Thian Ya, Kalau itu sampai terjadi, ada kemungkinan puterinya nanti akan celaka ditangan pahlawan2 kaisar itu, Dia juga khawatir Ti Eng berempat tidak nanti sanggup melindungi puterinya, Maka itu, dia melakukan perjalanan dengan ter-gesa2, Sebenarnya dia tak tahu bahwa In Bu Yang tengah mengasingkan diri digunung itu, Hanya, setelah memasuki gunung, secara tidak sengaja ia menemukan bekas jejak tongkatnya Pit Leng Hong.

Dengan Pit Leng Hong, dia sudah lebih dari sepuluh tahun tidak bertemu, tapi setelah melihat bekas tongkat itu, dia percaya sahabatnya itu juga berada didalam gunung ini, dan dia percaya pasti ada sebab2nya kenapa Pit Leng Hong itu bisa berada digunung ini.

Oleh sebab itu, ia lantas mengikuti bekas jejak tongkat itu, untuk mencari sahabatnya, Diluar dugaannya ia telah menyusul sampai dirumahnya keluarga In, Maka bertemulah ia dengan In Bu Yang, Tapi, yang terlebih tidak disangka, disini ia mendengar kabar buruk tentang diri Pit Leng Hong, Prihal kematian diri sahabatnya itu.

Ia adalah muridnya Tan Teng Hong, walaupun murid tidak resmi, namun Tan Teng Hong telah membantu dirinya, hingga ia menjadi pemimpin utama kaum Rimba Hijau dilima propinsi Utara, Maka itu, tentu saja ia selalu mengingat akan kebaikan dan kecintaan dari gurunya itu, oleh karenanya iapun selalu ingat akan pesan gurunya mengenai kitab ilmu pedang.

Dan pula ia ingat Pit Leng Hong walau sebagai orang luar, tetapi Pit Leng Hong telah mengorbankan dirinya, Dilain pihak, ia merasa muak terhadap In Bu Yang, Orang she In ini adalah Mantu keluarga Tan, kenapa samapai ia melupakan ikatan keluarga itu?

Kenapa, selain sudah menikah dengan puterinya Bouw Tok It, dia juga membinasakan Pit Leng Hong?

Maka itu naiklah darahnya, ia tidak menghiraukan lagi akan hidup matinya!

Demikian katanya.

"Sekali pun Bouw Tok It aku tak takut, kenapa aku mesti jeri terhadapmu?"

Dia berteriak.

"Baiklah! Jikalau kau benar mempunyai kepandaian, ayo! kau binasakanlah aku sekalian!"

Dia menatap muka orang, hingga dia dapat melihat bekas luka diwajah Bu Yang, luka bekas goresam pedang, In Bu Yang mengawasi dengan sikapnya yang dingin, yang memandang ringan.

"Kau hendak menuntut balas untuk Pit Leng Hong?"

Katanya.

"Nah, inilah saatnya yang paling baik! Eh, mengapa kau masih tidak mau turun tangan ?"

Siauw Koan Eng berseru keras, bersamaan dengan itu sebelah tangannya diangkat lalu diayunkan kebawah dengan jurus "Menggempur gunung Hoa San,"

Ia arahkan batok kepala sebagai sasaran, Ia menyadari bahwa ia bukanlah tandingan In Bu Yang, maka itu ia telah mengerahkan segenap tenaganya, untuk menyerang antara hidup dan mati, atau se-tidak2nya akan terluka bersama.

Atas ancaman bahaya itu, In Bu Yang tidak bergerak, ia terus duduk diam, tanpa menangkis, tidak berkelit, dan wajahnya tidak wajar.

Melihat itu, Siauw Koan Eng menjadi heran, hingga ia membatalkan serangannya, lalu ia mengawasi, maka segera terlihat olehnya perubahan atas wajah Bu Yang itu, yang sekarang parasnya menjadi matang biru tipis dan sinar matanya menjadi guram, mirip dengan matanya bangkai ikan.

Ah!"

Ia berseru akhirnya.

"Kau pun telah terhajar Hanim Citsat-ciang dari Pit Leng Hong?"

"Maka itu, aku mengatakan bahwa inilah saat yang paling baik untukmu!"

Menjawab Bu Yang sambil tertawa menyeringai.

"Kenapa kau masih tidak mau turun tangan? Jikalau kau berhasil membunuh aku, aku tanggung namamu bakal menggemparkan Rimba Persilatan, dan semenjak hari ini hingga seterusnya, kaulah orang gagah satu2nya dikolong langit ini!"

Siauw Koan Eng merasa ragu, tangannya itu berhenti diatas kepalanya In Bu Yang, Ia sendiri adalah seorang jago kangouw, dan selalu menganggap dirinya gagah, karena itu mana dapat ia menurunkan tangan kepada seorang yang tak bersedia untuk melawannya, apalagi lawannya itu adalah seorang jago yang tengah menderita luka parah?

Namun, jikalau ia benar2 melewatkan kesempatan emas ini, dibelakang hari ia pasti akan mengalami kesulitan, Bagaimana kalau nanti In Bu Yang dapat sembuh dari lukanya ini?

Siapa nanti yang dapat mengalahkan dirinya?

Tidak dapat Siauw Koan Eng bersangsi lama2, Akhirnya ia berseru.

In Bu Yang, jangan kau memancing kemarahanku!

Biarlah dunia mentertawakan diriku, tapi hari ini, aku mesti membinasakan kau, seorang manusia tak berbudi!"

Sambil berseru begitu, ia gerakkan pula tangannya.

Tepat disaat yang kritis itu, mendadak terdengar suara seruling yang seakan datang dari tempat yang jauh...

Awalnya, suara itu halus terdengar, lalu nadanya dengan cepat berubah menjadi tinggi, kemudian iramanya berubah lagi, seperti gembira bercampur duka, bagaikan orang menangis ter-sedu2, mirip tangisan janda yang diceraikan atau ditinggal mati suaminya, dan dilain saat lagi, suara itu dingin bagaikan es membeku....Selagi suara seruling itu merayu-rayu, wajah Siauw Koan Eng pun menjadi pucat sekali, karena dihadapannya, ia melihat tubuh In Bu Yang bergemetar keras, menggigil seluruhnya, Mana ia dapat menghajar lawan dalam keadaan seperti itu?

Se-konyong2 Siauw Koan Eng menjerit tajam, tubuhnya melompat keluar, sedang In Bu Yang tetap duduk berdiam bagaikan patung batu yang tak bernyawa.

Tiba diluar, Koan Eng memanggil nyaring dengan suara menggetar.

"Toa...toasiocia, ini..ini.. apakah ini mimpi belaka?..."

"Ya, apakah ini adalah impian?"

Demikian terlintas dipikiran In Bu Yang.

Itulah suara seruling yang dikenal baik, yang mengingatkan Bu Yang pada saat2 dari tigapuluh tahun yang telah lampau Ketika itu ia bersama Tan Soat Bwee ber-main2 dengan gembira dan asyik, Soat Bwee yang tengah gembira meniup seruling...

Akan tetapi ini bukanlah mimpi, ini adalah kenyataan.

Sesaat kemudian, terdengarlah satu suara, suara yang menggoncangkan hati.

"Bukan, ini bukanlah impian...Yang benar adalah aku telah kembali...Kau datang kesini, apakah yang kau cari?"

Demikian suara itu, jawaban yang merupakan pertanyaan juga.

"Aku...aku. ."

Sahut Siauw Koan Eng.

"Kitab ilmu pedang...Pit. .Pit Leng Hong...Dia bersama aku telah menerima pesan terakhir dari ayahmu, untuk mendapatkan kembali Tat Mo Kiampouw, dan diserahkan padamu, Pit...Pit Leng Hong. .dia mati karena mencari kitab ilmu pedang itu..."

Tidak tegas kata2nya Koan Eng, suaranya pun menggetar, suatu tanda betapa tegangnya perasaannya, Kalau dia berkhawatir, Sebaliknya In Bu Yang sangat ketakutan, dia sampai seperti merasakan telah hilang kesadarannya...

Dalam kehidupannya, In Bu Yang telah mengalami entah berapa banyak ancaman bahaya, entah sudah berapa banyak pula musuh tangguh yang dia hadapi, tetapi belum pernah dia merasakan saat yang seperti ini, sekarang ini dia merasa menjadi begini lemah dan tak berdaya, Selamanya belum pernah ada seorang pun seperti wanita ini yang dapat membuatnya demikian takut, Inilah wanita yang pernah sangat menyintainya, tetapi sekarang dia merasakan takut yang luar biasa, sedangkan sebelumnya, tidak pernah seharipun ia tidak mengingat wanita ini, tetapi sekarang begitu si wanita muncul, ia menjadi takut terhadapnya!

Diluar terdengar suaranya Siauw Koan Eng, samar2 dan menggetar.

"Siocia, karena kau sudah datang, tidak usahlah aku mencapaikan diri lagi meminta kitab ilmu pedang itu, hanya sayang, kau telah datang terlambat satu tindak, karena kitab itu, Pit Leng Hong telah berkorban jiwa."

"Apa, Pit Leng Hong?"

Bertanya si wanita.

"Apakah dia Giokbin Kayhiap si Pengemis Mulia-Berwajah Kumala? Ah, kitab ilmu pedang itu entah telah mencelakai berapa banyak orang..."

Wanita ini tidak begitu berduka mendengar kematiannya Pit Leng Hong, sebab dia datang untuk suatu urusan lain.

Siauw Koan Eng menghela napas perlahan, Ia mengetahui juga sedikit tentang perasaan hatinya Pit Leng Hong, maka ia tidak menyangka si wanita yang Pit Leng Hong cintai itu, sedikit pun tidak mengetahui isi hati orang, bahkan namanya pun hampir telah dilupakan...

"Kalau begitu, Siocia, biarlah aku pergi lebih dulu,"

Kata ia pula.

"Aku masih hendak menolong Pit Leng Hong mengurus jenazahnya itu."

"Baiklah, kau boleh pergi,"

Menyahut si wanita, yang dipanggil Siocia (Nona) itu.

"Anak perempuanmu baru saja ber-sama2 Ti Eng dan Ti Pa sekalian pergi turun gunung..."

"Oh, begitu?"

Kata Koan Eng agak kaget.

"Jadi benar Un Lan ada disini?"

Habis berkata, dia lalu melompati tembok pekarangan, dan lantas meninggalkan rumah In Bu Yang itu.

Tindakan Siauw Koan Eng yang berat dan cepat itu dirasakan Bu Yang seperti menginjak hatinya.

Dengan kepergiannya Koan Eng, maka disitu tinggallah si wanita seorang diri, Suara langkahnya lantas saja terdengar perlahan, Dia tengan berjalan masuk kedalam kamar, Tangannya memegang seruling kumala, bajunya putih laksana salju.

Dimatanya Bu Yang, sidia masih seperti dahulu, ketika dia berjalan mondar mandir diantara pohon2 bwee itu, Yaitu sehabis meniup sebuah lagu, lalu ia akan ber-jalan2, perlahanlahan, Sudah duapuluh tahun mereka berpisah hidup ibarat bercerai mati, namun terlihat lagi sekarang wajahnya tetap tidak berubah, hanya gerak-geriknya sedikit beda, tidak seperti dulu lagi, Dahulu dia adalah seorang Nona yang lincah, tetapi sekarang alisnya yang kecil berkerut karena menanggung duka, Ia tidak berani mengawasi dia, ia tidak berani menatap sinar matanya itu...

Sinar mata yang tajam, melebihi tajamnya pedang Kungo-kiam, yang membuat orang lain tak dapat menatapnya, Wanita itu berjalan terus, setindak demi setindak, hingga berada didepannya.

Siapakah wanita ini?

Dialah Tan Soat Bwee, isterinya yang terdahulu, atau isteri pertamanya si In Bu Yang!

Benarkah itu?

Bukankah dahulu In Bu Yang telah menyaksikannya dengan kepala dan matanya sendiri, tubuh isterinya itu telah digulung gelombang sungai Tiangkang, dan dibawa hanyut pergi?

Tetapi sekarang bagaimana dia dapat muncul disini dengan tidak kekurangan sesuatu apapun, dan dengan keadaan sehat walafiat.

"Bu Yang, kau baik,"

Katanya.

"Ya, kau baik..."

Bu Yang berseru.

"Soat Bwee! Kau...kau..."

Dia hendak melompat maju, tetapi dia terhalang oleh tatapan mata dingin dari wanita itu.

Keduanya berdiri diam, sinar mata mereka bentrok, Cinta dan penasaran mengaduk menjadi satu-dalam hati Soat Bwee, Beberapa saat kemudian, baru ia berkata, perlahan sekali;

"Kau tentunya telah menyangka sudah lama aku telah terbinasa, hanya sayang Thian (Tuhan) tidak sudi menuruti pengharapanmu itu, Aku masih belum mati! Apakah kau menyesal dan putus asa? Aku tahu, sekarang ini kaulah ahli pedang nomor satu dikolong langit ini, maka itu kau hunuslah Kungo-kiam, kau boleh bunuh lagi diriku!"

"Soat Bwee! Soat Bwee!"

Kata Bu Yang, suaranya bergemetar.

"Sudahlah, kau jangan mengucapkannya lagi..."

Tapi Tan Soat Bwee tertawa dingin.

"Haha! In Bu Yang yang menganggap dirinya orang gagah, ahli pedang yang terbesar, juga tahu takut! Pada duapuluh tahun yang silam, kau telah joroki aku tercebur kedalam sungau Tiangkang, waktu itu kau sedikitpun tidak terlihat jeri, maka kenapa sekarang kau takut?"

Bu Yang mukanya pucat pias bagaikan mayat, tubuhnya menggigil, mulutnya ber-gerak2, seperti ia hendak mengatakan sesuatu, ia telah mencobanya, tetapi gagal, Kata2nya itu tercegah suaranya Tan Soat Bwee, suara yang mengandung kemarahan;

"Apakah kau takut aku bicara?"

Demikian isteri itu.

"Aku justeru hendak membuka mulutku! Ketika dahulu waktu kau joroki aku kedalam sungai Tiangkang, tahukah kau apa yang ada didalam pikiranku kala itu? Hari itu junjungan kita bertempur mati2an dengan Cu Goan Ciang, kau bersama aku telah merampas sebuah perahu kecil, diantara gelombang yang dahsyat, terjadi hujan anak panah yang deras dan kita menerjang keluar, Aku telah terkena panah beracun dari musuh, napasku tinggal satu2, Ketika itu aku berpikir, walaupun kau sering mengatakan padaku bahwa kita akan selalu sehidup semati, tetapi waktu itu hatiku tak tega mengajak kau mati bersama... Aku melihat kau juga terluka, sedang waktu itu perahu kita hampir terkejar musuh... Ketika itu aku merasakan sangat bahagia, aku berani bersumpah kepada Tuhan...bahwa ketika itu aku menyintai kau melebihi daripada aku menyayangi diriku sendiri, lebih berlipat seratus kali, mungkin juga seribu kali! Ketika itu aku menguatkan diriku, aku pergi keluar perahu, niatku untuk terjun kedalam sungai, agar kau dapat terluput dari kejaran musuh, Akan tetapi kau...adalah waktu itu, kau telah muncul dan berada dibelakangku...Aku menyangka kau dapat menerka maksud hatiku, dan kau hendak mencegah aku mencebur, tetapi siapa duga, kau justeru menolak punggungku, kau menolak dengan kuat hingga membuat aku tercebur kedalam gelombang sungai Tiangkang itu! Haha, In Bu Yang! Coba kau terlambat sedikit saja menjoroki aku, sudah pasti aku telah melompat kedalam air, waktu itu tentulah aku akan mati dengan rela, karena aku mati untuk orang yang kucintai, Tapi sekarang, aku belum mati, sebaliknya kau, kau telah mati dalam hatiku!"

Muka Bu Yang dari biru menjadi pucat, dari putih menjadi merah, dan dari merah kembali putih pula...ia berganti rupa beberapa kali, Dan beberapa kali ia mau membuka mulut, tetapi selalu gagal, Akhirnya, dapat juga ia berkata perlahan;

"Kalau aku mengingatnya sekarang, sungguh aku ingin mati waktu itu...Ya, selama dua puluh tahun ini, aku telah membuatnya kau sengsara, tetapi aku sendiri, mana pernah aku hidup bahagia? Setiap hari, setiap malam, aku selalu menegur diriku sendiri, aku tersiksa liangsim-(hati nurani)ku, Kesengsaraanku itu mungkin terlebih hebat daripada siksaan dalam delapan belas tingkat Neraka, Tidak, aku tidak berani memohon maaf dari kau! Nah! kau cacilah aku, kau cacilah secara hebat, sesukamu!..."

Tan Soat Bwee terus tetap bersikap dingin, tapi pada sinar matanya terlihat masih ada sisa dari rasa kasih sayang saat ia menyapu pada wajah suaminya itu, Dan ia tidak membuka mulutnya meski Bu Yang meminta ia mencacinya.

"Kau tidak sudi mencaci aku, aku akan mencaci diriku sendiri,"

Berkata pula Bu Yang.

"Soat-Bwee, tahukah kau apa yang aku pikir waktu itu? Ya, Dalam keadaan yang sangat berbahaya itu, kau masih memikir untuk aku, sedangkan aku, aku memikir untuk diriku sendiri! waktu itu kau terluka parah, aku merasa bahwa aku tidak akan sanggup menyelamatkan kau, maka aku berpikir. 'Daripada kau ditawan musuh, hingga kau bakal menderita siksaan dan sengsara, lebih baik kau kupendam dalam ganasnya gelombang sungai Tiangkang itu,' Pikiranku itu sebenarnya adalah pikiran untuk menghibur diri sendiri, semuanya palsu belaka, Sebenarnya aku mempunyai maksud lain, Maksud yang aku tidak dapat mengatakan untuk menjelaskannya, Sebenarnya aku takut mati, dan aku tamak akan kehidupan, disaat yang genting dan berbahaya itu, aku melepas kewajibanku melindungi isteri, aku hanya berpikir bagaiamana cara meloloskan diri sendiri, bahkan aku berpikir, setelah kau menutup mata, aku akan menjadi ahli pedang nomor satu dikolong langit ini! Memang, banyak orang2 yang menganggap aku adalah seorang yang gagah perkasa, tetapi mana mereka tahu, bahwa hatiku sebenarnya busuk sekali! Disaat yang kritis seperti itu, aku justru menjoroki kau kedalam sungai! Dan aku telah mengambil pedang pusakamu! Didalam kepungan musuh, aku menerobos keluar, belum lagi pakaianku kering, aku telah lari pergi mencari Bouw Tok It, Semua itu aku lakukan untuk kepentingan diriku sendiri, agar aku dapat menjadi jago pedang yang utama, Ya, Soat Bwee, kau cacilah aku, kau cacilah!"

Air matanya Tan Soat Bwee mengalir turun, tetes demi tetes, Ia tidak menyangka bahwa In BU Yang akan memberikan pengakuannya itu, Maka hatinya yang lembut dan mulia, lantas hendak memaafkannya, Tapi ia masih dapat menguasai dirinya, Dan ia tertawa dingin.

"Maka dengan begitu jadilah kau menantunya keluarga Bouw itu!"

Katanya tajam.

"Ha, aku sampai lupa! Sampai sekarang ini, aku masih belum melihat pengantinmu yang baru itu! Mana pengantinmu itu?"

Soat Bwee bukannya tidak tahu, Waktu telah lewat duapuluh tahun, Bu Yang dan Poo Cu telah menikah lama, tetapi kata2

"pengantin"

Itu telah keluar dengan sendirinya. In Bu Yang tertawa sedih.

"Dia?"

Katanya.

"Dia sudah pergi...Siapa yang mementingkan dirinya sendiri, lambat laun dia pun bakal disia2kan oleh orang lain...Kau menganggap aku telah mati, maka dia...dia tentu telah menganggapnya aku telah mati juga...Aku ingat, seumur hidupku, belum pernah aku memuji didepanmu, memuji wanita yang kedua, akan tetapi sekarang tidak dapat aku tidak mengatakannya, Sesungguhnya, Poo Cu mirip dengan kau, dialah seorang nona yang baik sekali, tetapi aku, dengan segala kepalsuan aku telah menipu dia, aku telah menipunya untuk kepentinganku menyuruh dia mencuri kitab ilmu pedangnya Bouw Tok It! Itulah aku, dari isteriku yang pertama telah aku dapatkan pedang mustika nomor satu dikolong langit ini, dan dari isteriku yang kedua, aku memperolehnya kitab ilmu pedang yang tidak ada tandingannya dalam dunia ini! Dengan begitu jadilah aku jago pedang nomor satu didalam dunia, Tapi akibatnya, aku kehilangan cintanya kedua isteriku...Ah, kitab ilmu pedang itu masih mempunyai ceritanya sendiri yang ber-liku2, Sebenarnya, Soat Bwee, kitab itu adalah kitab milik ayahmu, maka sekarang didalam dunia ini, kau pemilik yang sah dari kitab itu!"

Soat Bwee tertawa dingin.

"Aku telah sangat menderita, duapuluh tahun aku menanggung penasaran,"

Ia berkata.

"sekarang aku datang mencari kau, apakah kau anggap aku datang untuk kitab ilmu pedang itu?"

Bu Yang mementang semua pintu dan jendela.

"Aku menginsafi bahwa kesengsaraanmu itu tak dapat kutebus,"

Ia berkata, perlahan sekali.

"Selama duapuluh tahun ini, aku selalu memikirkan daya untuk mengurangi penderitaanku, tetapi selama ini belum pernah aku berhasil menebus dosaku, Hanya, aku tahu, tidaklah sukar untuk kau mengetahui isi hatiku yang se-benar2nya, Nah, cobalah kau melihatnya! Itu bunga bwee diluar jendela! Cara mengaturnya kamar tulis ini! Semuanya itu aku mengikuti caramu!"

Mau tidak mau, Soat Bwee memandangnya, Diluar terlihat sisa2 pohon bwee yang daun2nya telah rontok, tetapi dicabangnya masih ada beberapa kuntum bunga itu, Iapun memandang ke sekeliling kamar tulis itu, Ia memandangnya tanpa mengeluarkan suara.

In Bu Yang melanjuti.

"Aku telah mengajarkan anak perempuanku memasak sayur yang biasa paling kau sukai, aku menyuruhnya membuat pakaian yang paling kau gemari, Sekarang dia telah berusia delapan belas tahun, Tanpa terasa aku telah mengajari dia, hingga dia menjadi mirip dengan kau, hatinya begitu lembut, begitu jujur, dalam kehidupannya dia tidak mengetahui bahwasanya dunia ini begitu kotor, Itu disebabkan aku ingin selalu melihat bayanganmu didalam dirinya!"

Dengan sangat perlahan Soat Bwee mengucapkan sesuatu, Kata2nya Bu Yang ini sangat menyentuh hatinya, Sebenarnya ia sangat bersedih, tetapi iapun lega dan terhibur, maka tanpa merasa, buyarlah sebagian dari rasa penasarannya.

"Benarkah itu?"

Katanya perlahan.

"Kau pun telah mempunyai seorang anak perempuan?"

Bu Yang mengangguk.

"Kau tunggu sebentar,"

Katanya.

"dia akan segera pulang."

Tapi, tiba2 Soat Bwee merasakan sesuatu yang sangat menyakitkan hatinya.

"Bu Yang!"

Katanya tajam.

"Tahukah kau, kenapa malam ini aku datang mencari kau? Tahukah kau apa yang ada dalam pikiranku? Sebenarnya aku telah bersumpah, selama sisa hidupku ini, tidak sudi aku melihat kau lagi, aku juga tidak menghendaki kitab ilmu pedang itu, akan tetapi aku telah melanggar sumpahku itu! Kau tahu, ini semua kulakukan demi anakku, untuk seorang anak laki-laki2!"

In Bu Yang terkejut.

"Apa?"

Katanya.

"Anak laki2mu? Oh, jadi kita mempunyai seorang anak laki2 ? Tan Soat Bwee mengangguk perlahan.

"Disaat kau menjoroki aku kedalam sungai Tiangkang, aku tengah mengandung dua bulan,"

Menerangkan isteri ini. Bu Yang menjerit, dia berjingkrak, lantas dia memukul dadanya, Air matanya pun segera bercucuran deras.

"Aku pantas mati, aku pantas mati!"

Ia men-jerit2.

"Oh, hampir akupun membinasakan anakku sendiri..."

Amarahnya Tan Soat Bwee bangkit kembali.

"Dia bukanlah anakmu!"

Katanya sengit, dan dingin.

"Seumur hidupnya dia belum mengetahui bahwa dia mempunyai seorang ayah seperti kau!"

"Ya, memang benar demikian,"

Kata Bu Yang, perlahan.

"Memang aku tidak lagi mempunyai muka untuk menjadi ayahnya..."

"Selama duapuluh tahun, aku sendiri yang memelihara dan merawat dia,"

Berkata Soat Bwee.

"akulah yang telah mendidik dia menjadi seorang manusia yang hatinya putih bersih, Dia dengan kau sudah tidak ada hubungan apa2! Aku telah mengatakan padanya, bahwa ayahnya telah lama mati!"

Hati Bu Yang terasa sakit bagai di-sayat2, Tidak berani ia memandang sinar mata isterinya itu, Setelah ia terdiam sekian lama, beberapa saat kemudian baru ia membuka mulutnya.

"Soat Bwee, aku mengerti kau.

"ia kata.

"Kau tidak menghendaki ia mengenali ayah semacamku ini, Memang aku tidak pantas menjadi ayahnya! Sekarang aku hanya ingin minta kau dapat menceritakan sesuatu tentang anak itu, kemudian biarlah aku akan melihat dia, untuk satu kali saja...Ah, kita sudah berpisah duapuluh tahun lamanya, kalau di-hitung2, dia tentu telah berusia duapuluh tahun juga, Selama duapuluh tahun itu bagaimana kehidupan kalian ibu dan anak?..."

Hati Soat Bwee tercekat.

"Ya, mungkin mereka bakal bertemu juga,"

Pikirnya, Ia mengawasi suaminya itu.

Bu Yang berada didepan jendela, berdiri diam, wajahnya basah dengan air mata, tangannya memegang sebatang cabang pohon bwee, agaknya dia menahan tubuhnya dengan mengandalkan pohon bwee itu, kemudian ia menghela napas.

"Jikalau bukan karena dia, tidak nanti aku hidup sampai sekarang ini,"

Ia berkata sesaat kemudian.

"Ketika kau joroki aku kedalam sungai, walaupun aku terluka parah, aku berupaya melawan arus yang dahsyat, disebabkan untuk melindungi dia, Aku bergulat melawan gelombang, dan akhirnya aku berhasil menyelamatkan diriku, Demikian, bersama dia aku hidup, kami bersama hidup selama duapuluh tahun ini... Selama duapuluh tahun itu, aku mengajari dia ilmu surat, aku juga ajari dia ilmu silat dan jurus pedang, Semua paman2nya adalah bekas rekan2mu dulu, semuanya turut menurunkan ilmu silatnya, Duapuluh tahun aku hidup menyembunyikan diri, tidak ada seorangpun juga yang mengetahui aku masih hidup dalam dunia ini..."

Bu Yang terkejut.

"Semua bekas rekanku mengajari dia ilmu silat?"

Ia menanya.

"Benar! Tapi mereka tidak tahu, bahwa dia adalah anakmu,"

Sahut isteri itu.

"Aku hendak menjadikan dia seorang yang berkepandaian tinggi, maka dengan membekali warisan bekas junjunganku, aku memerintahkan dia pergi mencari Ciu Kong Bit, dan Ciu Kong Bit menganggap dia adalah anaknya bekas rekannya, melihat dia cerdas dan nyali besar, dia sangat disayangi, oleh paman2 lainnya, mereka juga memberi ilmunya dengan sungguh2. Ya, sekarang aku baru mengerti, semua pamannya itu, bekas rekan2mu semua, ternyata juga mempunyai maksud tertentu..."

Ciu Kong Bit itu adalah kepala dari bekas pengikutnya Thio Su Seng, setelah runtuh sang junjungan Thio Su Seng, dia menyembunyikan diri, tetapi dia tetap ber-cita untuk bangkit kembali, guna melanjutkan angan2 besar dari junjungannya itu.

Tubuh Bu Yang gemetaran.

"Apa maksud dari mereka itu?"

Ia bertanya. Soat Bwee tertawa dingin.

"Mereka bermaksud menyuruh dia membunuh kau!"

Sahutnya.

"Apa? Dia hendak membunuh aku?"

Bu Yang menegaskan.

"Mereka itu tidak tahu bahwa dia adalah anakmu,"

Kata pula Soat Bwee.

"Tetapi mereka tahu Cu Goan Ciang mau mengundang kau turun gunung!"

Bu Yang menjadi sangat bernapsu. Cepat bilang, Cepat!"

Desaknya.

"Siapakah namanya anak kita itu?"

"Aku tidak menghendaki dia she In, aku ingin dia memakai she-ku,"

Sahut sang isteri.

"Dia bernama Tan Hian Ki! Bukankah dia pernah datang dirumahmu ini? jikalau bukan karena dia, tidak bakalan aku datang kegunung Holan-san ini! Eh, eh, Bu Yang, kau...kau kenapakah?"

Tubuh Bu Yang mendadak limbung, tanpa berdaya dia roboh terbanting, mukanya pucat sekali bagaikan mayat.

"Oh, Thian!..."

Keluhnya tajam.

Sekarang mengertilah Bu Yang akan segalanya, Tan Hian Ki itu adalah puteranya sendiri, Tetapi Tan Hian Ki juga adalah pemuda yang sangat dicintai puterinya!

maka inilah pukulan sangat hebat untuknya.

Soat Bwee heran bukan main, ia kaget bukan kepalang, Kenapa suaminya itu roboh?

Kenapa dia bisa pingsan secara demikian mendadak?

Tanpa pikir panjang, ia menubruk suami itu, untuk disadarkan dirinya, Setelah duapuluh tahun, inilah kali pertama tangannya kembali menyentuh tangan suami itu, Dan tangan itulah yang pada duapuluh tahun yang lalu menjoroki dia tercebur ketengah gelombang sungai Tiangkang!

sesaat kemudian Bu Yang sadar, Saot Bwee hendak menarik pulang tangannya, tapi mendadak ia merasakan tangan Bu Yang itu dingin sekali, Ia lalu menatap Bu Yang juga menatap dirinya, maka kedua mata mereka bentrok satu dengan lainnya.

Soat Bwe melihat wajah Bu Yang sangat guram, sinar matanya merah tua.

"Kenapa?"

Tanyanya.

"Apakah kau terluka parah? Mengapa kau tidak mengatakannya sejak tadi?"

Soat Bwee adalah seorang ahli silat, ia mengerti luka yang didapat Bu Yang tak dapat diobati lagi, Saat itu, buyarlah segala budi, dan segala sakit hati, Ia dapat merasakan bagaimana tangan Bu Yang meng-usap2 tangannya, mengusap dengan perlahan seperti duapuluh tahun yang lampau itu..Hati Bu Yang telah dilimpahkan semua kepada anak gadisnya.

"Kalau So So ketahui ini..."

Pikirnya, Ia tidak berani memikirnya.

"Syukur So So belum pulang..."

Tan Hian Ki dan In So So adalah anak Bu Yang, dan kedua anak itu saling menyintai!

Kalau saja mereka sampai menikah, menjadi suami isteri!...

Ia menguatkan hatinya, ia mencoba bangkit bangun, Lalu ia berkata keras.

"Soat Bwee, Lekas! cepat! cepat kau bawa dia pergi!"

Tapi Soat Bwee bingung, tak dapat ia memahami hati suami itu, Ia tidak menginsafi luka hati suami yang sangat hebat berlipat ganda, daripada luka hatinya sendiri.

Soat Bwee menjublak, Ia melihat tubuh Bu Yang itu gemetaran, lalu ia melihat mata Bu Yang itu diarahkah kepembaringan didalam kamar tulis itu, Dan kelambu pembaringan itu mendadak bergerak sendirinya, Segera satu pikiran melintas dikepalanya.

"Apa?"

Serunya.

""Hian Ki disini?"

Hian Ki baru saja sadar, ia membuka matanya dengan perlahan2, ketika ia menyingkap kelambu, justru ia melihat ibunya menghampiri dirinya, Bermimpikah dia?

Ia lantas menggigit jari tangannya!

Oh, tidak!

Ia sadar!

Soat Bwee girang bercampur sedih.

"Hian Ki! Hian Ki!"

Serunya.

"Kau baik?"

"Baik, ibu!"

Sahut anak itu cepat.

"Aku terluka dari Lo Kim Hong, lalu aku, ditolong oleh dia! dan Hian Ki menunjuk kepada Bu Yang. Soat Bwee melirik suami itu, ia berkata dengan dingin.

"Kiranya kau...kau juga... Sebenarnya hendak Tan Soat Bwee mengatakan.

". .kau juga masih mempunyai kasih sayang seorang ayah..."

Akan tetapi ia menjadi terkejut sekali, Ia melihat mata Bu Yang mendelik, tangannya di-ulap2kan, lalu ia berseru dengan suara serak.

"Cepat kalian pergi, lekas! Pergilah yang jauh, untuk selama2nya jangan kalian menginjak lagi gunung Holan-san ini..."

Tiba2 saja, Soat Bwee menjadi gusar.

"Bagus ya!"

Ia berseru.

"Kau mengusir kami! Duapuluh tahun kami ibu dan anak hidup bersama, siapa...siapa..."

Bu Yang menguatkan hatinya, ia memotong.

"Sudah, jangan bicara lebih jauh! Lekas pergi, cepat!"

Dalam gusarnya Soat Bwee heran.

"Dia ketakutan! Apa yang dia takuti?"

Pikirnya. Hian Ki juga heran bukan kepalang.

"Selama duapuluh tahun ibu tidak pernah keluar dari rumah, kenapa sekarang ibu bisa kenal In Bu Yang?"

Ia melihat sikap yang luar biasa diantara ibunya itu dengan In Bu Yang, ia menjadi heran pula, Inilah sangat mengherankan, Suasana saat itu sangat tegang, Maka, dari bergirang, Hian Ki jadi menggigil sendirinya.

"Anak Ki, mari kita pergi!"

Tiba2 Soat Bwee berkata, Anak itu dicekal tangannya oleh ibunya, tetapi Hian Ki berontak, Ia tampaknya sangat bingung.

"Tidak,"

Katanya perlahan.

"Aku mau menanti pulangnya So So...Ibu, kau tentu akan menyukai dia..."

Hati Soat Bwee terkesiap, Hendak ia bertanya.

"Siapa, itu So So?"

Tetapi puteranya telah maju dua tindak, mendekati Bu Yang, dengan sinar mata memohon, ia kata perlahan.

Kau telah menjanjikan aku, agar So So mengikuti aku pergi, maka itu aku hendak menantikan dia kembali, sampai dia kembali!"

Kata2 itu terdengar oleh Soat Bwee bagaikan Halilitar, Tengah ia bingung , ia melihat wajahnya Bu Yang pucat bagaikan mayat, tubuh Bu Yang limbung, Justru pada saat itu, terdengar Hian Ki menjerit tajam, matanya tertuju keluar kamar, Disana, dibawah pohon Bwee, satu bayangan orang berkelebat melintas, terlihat ujung baju melambai diantara sambaran angin.

"So So! So So!"

Hian Ki memanggil.

"Ibuku... ."

Mendadak kata2 ini terhenti, Ia kaget, ia melihat wajah So So sangat pucat, seperti orang yang sangat ketakutan, seperti hatinya sangat terluka, Semuanya itu tampak nyata disinar matanya si Nona.

Hian Ki menjadi sangat bingung.

Baca Juga: Hikmah Pedang Hijau 5

Baca Juga: Laron Pengisap Darah 8

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger