Eps 5 Hikmah Pedang Hijau - Gu Long
Baca online Hikmah Pedang Hijau - Gu Long
Cersil Hikmah Pedang Hijau - Gu Long.
"Setelah kau pingsan sehabis minum arak hari itu, Siau-hong membohongi kakak bahwa kau sendiri yang mengisi Te-sim-han-cwan-sui di bak mandi itu, sekaiipun dia tinggi kedudukannya dalam keluarga kami. Dengan perbuatannya membohongi majikan menunjukkan dia tidak setia kepada majikan, dosa semacam itu tak dapat diampuni. Selain itu dengan bersungguh hati engkohku ingin mengikat tali persahabatan dengan kau, tapi Siau-hong mencelakakan tamunya, perbuatan seperti ini sama artinya tidak menghormati tamu majikannya. Oleh sebab itulah, setelah ditegur oleh engkohku, dia jadi malu, untuk menebus kesalahannya hanya ada satu jalan saja yang bisa ditempuh, yakni bunuh diri dengan perbuatannya itu bukan saja ia telah menebus dosa bahkan telah menunjukkan pula keberanian yang bertanggung jawab, tindakannya ini mengagumkan dan bukan kesalahan kakakku, karenanya aku jadi heran melihat engkau begitu benci kepada engkohku, aku lantas berpikir bila tiada alasan lain, tak mungkin engkau bersikap demikian, benar tidak ucapanku ini?"
Memang lihay Kim Cay-hong menganalisa persoalan itu, diam2 Tian Pek merasa kagum sekali pada kecerdasannya.
Anak muda ini tidak berani bicara lebih jauh dengan gadis itu, dia kuatir jika pembicaraan dilanjutkan maka sebelum dia mengetahui latar belakang musuhnya, rahasia sendiri mungkin akan terbongkar lebih dahulu, kalau sampai terjadi begitu, niscaya rencananya untuk membalas dendam akan berantakan.
Maka setelah termenung sebentar, ia pun alihkan pokok pembicaraan ke soal lain.
"Kalau memang air dingin Te-sim-han-cwan-cui itu beracun, kenapa kalian pasang di kamar mandi, jangan-jangan ..."
Sebelum anak muda itu menyelesaikan kata2nya, Kim Cay-hong lantas menyela dengan tertawa.
"Ah, kau ini ada2 saja! Bila kami mau mencelakai orang, apakah perlu kami pancing orang itu masuk ke kamar mandi? Ketahuilah, air itu khusus disediakan bagi ayahku untuk berlatih ilmu."
"Ayahmu?"
Seru Tian Pek dengan mata terbelalak.
"masa ayahmu berada di rumah? Kenapa selama ini tak pernah kulihat ayahmu?"
"Ayahku tentu saja tinggal di rumah, cuma beliau kurang leluasa bergerak. maka jarang menemui tamu!"
Sahut Kim Cay-hong dengan heran.
"Lalu dia berdiam di mana?"
Tanya Tian Pek pula. Kim Cay-hong tidak lantas menjawab, ditatapnya anak muda itu dengan heran, sahutnva kemudian.
"O, Tian-siauhiap kenal dengan ayahku?"
Tian Pek tertawa pedih, ucapnya.
"Nama besar Cing-husin Kim Kiu sudah termashur di seluruh jagat, siapakah yang tak kenal nama kebesarannya?"
"O, jadi kau cuma mendengar nama tapi tak pernah berjumpa?"
Tian Pek mengangguk tanda membenarkan.
"Memang benar!"
Ucap Kim Cay-hong pula.
"sudah puluhan tahun ayahku tak pernah melakukan perjalanan keluar, usiamu masih muda, tak mungkin pernah bertemu dengan ayahku!"
"Kenapa begitu?'' Kim Cay-hong tidak menjawab, terpancar sinar matanya yang ragu dan heran, katanya kemudian.
"Tian-siauhiap, tampaknya engkau menaruh perhatian khusus terhadap ayahku?"
Merah muka Tiau Pek, ia tahu pertanyaan sendiri terlalu menonjol dan telah menimbulkan curiga orang. Cepat ia menggelengkan kepala dan menyahut.
"Ah, aku cuma bertanya lantaran ingin tahu saja, coba bayangkan! Ayahmu kan seorang tokoh yang ternama dan berkedudukkan tinggi di dunia persilatan, kenapa puluhan tahun berdiam di rumah dan tak pernah berkecimpung di dalam dunia persilatan?"
Rasa curiga Kim Cay-hong lantas lenyap, terlihat rasa sedih menghiasi wajahnya yang cantik, ucapnya dengan muram.
"Belasan tahun yang lalu ayahku mengidap suatu penyakit aneh, setelah sembuh dari sakitnya maka kedua kakinya menjadi lumpuh dan tak bisa bergerak lagi. Oleh karena itu beliau jarang keluar rumah, selama ini dia hanya beristirahat di ruang Gi-cing-wan di belakang gedung sana!"
Sekarang Tian Pek baru tahu sebab musababnya mengapa tokoh lihay itu tidak kelihatan.
Diam2 ia sudah punya pendirian, maka ia tidak bertanya lagi, Sejak itulah Tian Pek merawat lukanya di gedung keluarga Kim, setiap hari Kim Cay-hong berkunjung ke situ.
Sementara Siang-lin Kongcu sendiri karena sibuk dengan tamunya, ia jarang menyambangi Tian Pek.
Dengan cepat 3 hari telah lalu, senja hari ketiga, sakit Tian Pek sudah sembuh, sebenarnya dia ingin pamit dan pergi, kebetulan Siang-lin Kongcu tak berada di rumah, Kim Cay-hong berusaha menahannya.
tapi anak muda itu bersikeras akan pergi juga.
Dari sikap Kim Cay-hong yang berat melepaskan pemuda itu, dapatlah diketahui bahwa selama dua hari berkumpul, diam2 gadis yang mendapat julukan "Perempuan paling cantik di seluruh wilayah Kanglam"
Ini telah jatuh cinta kepada Tian Pek-Sebaliknya anak muda itu sendiri sama sekali tidak menaruh perhatian apapun terhadap gadis cantik yang menjadi pujaan kebanyakan orang itu, sikap Kim Cay-hong yang lembut dan perkataannya yang hangat sama sekali tidak menggerakkan perasaan Tian Pek, malahan memandangpun enggan.
Manusia memang makhluk yang aneh, semakin sukar mendapatkan sesuatu, semakin besar pula hasratnya untuk mendapatkannya.
Semakin tawar sikap anak muda itu, semakin bergairah anak dara itu mendekatinya, rasa cintapun makin menebal.
"Engkau kan baru sembuh, kenapa ter-buru2 pergi dari sini?"
Tanya Kim Cay-hong sambil menatap wajah anak muda itu dengan pandangan lembut.
"masa kau tak sudi tinggal beberapa hari lagi di rumahku?"
"Tidak mungkin!"
Jawab Tian Pek dengan tegas.
"sekarang juga aku harus pergi, aku masih ada urusan penting lainnya yang harus segera diselesaikan!"
"Mungkin rumahku tidak baik atau pelayanan kurang memuaskan hatimu. .."
Tanya si nona dengan sedih.
"Aku tak pernah berkata begitu!"
Tukas Tian Pek cepat.
"aku cuma tidak bisa tinggal lebih lama lagi di sini."
"Masa menginap semalam lagi kau pun tak mau... .?"
Pinta Kim Cay-hong dengan air mata meleleh. Melihat wajahnya yang sedih dan air mata yang berlinang sehingga mirip butiran embun di atas kelopak bunga, mau-tak-mau hati Tian Pek terguncang.
"Ai, hal ini , . .. .tak mungkin.. ."
Katanya dengan menyesal.
Tian Pek bukan pemuda yang bodoh, bukan pula pemuda yang tak berperasaan, iapun dapat meresapi kasih mesra yang diperlihatkan Kim Cay-hong kepadanya, tapi dendam yang terpendam dalam hatinya membuatnya tak dapat menerima cinta kasih si nona.
Maka dengan perasaan yang kusut ia panggul Pedang Hijau dan melangkah pergi tanpa berpaling lagi.
Anak muda itu menyadari akan posisinya saat ini, ia sadar bila tidak cepat2 pergi, bisa jadi dia tak tega lagi tinggalkan gedung keluarga Kim.
Ia tahu bila dirinya tidak mampu menguasai perasaannya dan jatuh cinta pada puteri musuh maka itu berarti untuk selamanya dia akan terikat dan tak dapat lagi menuntut balas.
Baru dua langkah Tian Pek berjalan, tiba2 Kim Cayhong menarik tangan pemuda itu sambil ber-seru dengan sedih.
"Tunggulah sebentar lagi, dengarkan dulu sepatah kataku kepadamu ....!"
Belum sempat Tian Pek menjawab, mendadak terdengar bunyi ujung baju berkibar tersampuk angin, menyusul sesosok bayangan orang lantas menerobos masuk lewat jendela.
Orang ini tak lain adalah murid kesayangan Cing-hu-sin.
saudara seperguruan kedua Kim bersaudura yaitu Giok-bin-siau-cing-hu Beng Ji-peng adanya!
Waktu itu Beng Ji-peng mengenakan pakaian ringkas warna hitam pekat, mukanya yang tampan tampak pucat, dengan mata melotot ia membentak.
"Sumoay, biarlan dia pergi dari sini!"
"Hm, siapa yang suruh kau campur urusanku? "
Sahut Kim Cay-hong dengan tak senang.
"Lebih baik cepat kau enyah dari sini, tak perlu kau mencampuri urusanku."
Beng Ji-peng melengak, tak diduganya Sumoay yang sejak kecil dibesarkan bersama ini dapat bicara padanya sekasar ini.
Sikap Kim Cay-hong yang kasar ini semakin mengobarkan rasa gusarnya, teriaknya dengan mendongkol.
"Saat ini Suko tidak di rumah. kalau bukan aku lantas siapa yang akan mengurusi kau? Akan membiarkan kau bikin malu keluarga Kim....?"
"Plok!"
Tempelengan telak bersarang di muka pemuda itu, dengan muka pucat karena menahan marahnya. Kim Cay-hong berteriak.
"Perbuatan apa yang memalukan? Koko sendiripun tak berani memaki begitu padaku."
Beng Ji-peng tak menyangka Kim Cay-hong akan menamparnya, untuk sesaat ia berdiri tertegun, pipinya yang putih segera tertera lima jalur jari tangan yang barwarna merah.
Dengan muka pucat hijau ditatapnya beberapa kejap si nona, kemudian kepada Tian Pek ia berkata.
"Anak busuk! Kulau malam ini kau tidak tinggalkan gedung keluarga Kim, tuan muda akan suruh kau mampus tanpa terkubur."
Habis berkata ia lantas melayang keluar ruangan itu. Tian Pek tertawa dingin.
"Hehe, karena kau menantang, maka malam ini aku sengaja akan menginap lagi di sini, ingin kulihat apa yang bisa kau lakukan!"
Sayang Beng Ji-peng sudah pergi, ucapan tersebut tak terdengar oleh yang bersangkutan. Kim Cay-hong yang berada di sisinya segera berseru.
"Tian-siauhiap jangan kuatir, selama aku berada di sini, tak nanti dia berani ganggu seujung rambutmu!"
"Aku tak ingin membonceng kekuasaan nona, aku percaya masih sanggup menghadapi dia."
Kim Cay-hong mengawasi anak muda itu sejenak, akhirnya dia menghela napas panjang dan menggeleng kepala, katanya kemudian.
"Bukannya kupuji diri sendiri, setiap orang yang bertemu dengan aku, tak seorangpun yang tidak memuji kecantikanku, mereka berusaha menyanjung, menjilat agar aku tertarik dan ingin mempersunting diriku, tapi tak pernah kugubris mereka, aku tak pernah tertarik kepada mereka. Tapi sejak kujumpai Tian siauhiap, entah mengapa aku. .,.."
Berbicara sampai disini tiba2 mukanya berubah jadi merah dan bungkam.
Sekalipun dia adalah seorang gadis persilatan yang lebih suka berbuat bebas dan berbicara terbuka, tapi bagaimanapun dia tetap seorang nona, dengan sendirinya ia malu meneruskan ucapannya, Tian Pek mengakui kecantikan si nona memang tidak ada bandingannya, apalagi si nona sendiri jatuh cinta padanya, sayang gadis ini adalah puteri musuh besarnya, tak mungkin baginya untuk menerima cintanya, hal ini mungkin sudah suratan nasib.
Karena itu, untuk beberapa saat lamanya Tian Pek hanya berdiri termangu tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Selagi mereka sama2 berdiri termangu dan membungkam, tiba2 terdengar gelak tertawa yang nyaring berkumandang di luar jendela, suara tertawa itu keras sekali hingga menggetar dinding ruangan.
Menyusul terdengar seorang berseru.
"Keponakan yang baik, kudengar engkau telah membikin malu keluarga Kim, apakah lantaran bocah keparat itu."
Air muka Kim Cay-hong dan Tian Pek berubah seketika, serentak mereka melompat keluar. Dengan muka pucat karena marah, Kim Cay-hong langsung memaki dengan suara melengking;
"Beng Ji-peng, apa maksudmu menfitnah orang dengan kata2 yang kotor? Hm, mulai hari ini kita putus hubungan, aku Kim Cay-hong tidak mengakui kau sebagai Suheng lagi!"
Tian Pek sendiripun tak kalah mendongkolnya, sambil tertawa iapun menyindir.
"Hahaha, kukira kau masih ada ilmu simpanan, hingga berani omong besar seberti tadi. Huh, tak tahunya kau pergi mencari bala bantuan dan mengharapkan orang lain yang turun tangan bagimu."
Hati Beng Ji-peng sudah panas ketika dimaki Kim Cayhong, apalagi sekarang disindir lagi oleh Tian Pek, keruan tak terbendung lagi gusarnya, segera ia berteriak.
"Anak busuk she-Tian, bukan maksudku mencari bantuan, kuundang kehadiran kedua Ciandwe ini untuk bertindak sebagai saksi, jangan kau anggap istana keluarga Kim adalah tempat yang boleh kau main gila sesukamu, cukup seorang tuan Beng saja dapat mencabut jiwa anjingmu."
Mengapa Giok-bin-siau-cing-hu begitu benci terhadap Tian Pek?
Tidak sukar menjawab pertanyaan ini.
Tentu saja karena camhuru yang mengakibatkan terjadinya peristiwa ini, Sejak kehadiran Tian Pek di gedung keluarga Kim, terutama dua hari beruntun setelah pemuda itu sakit, boleh dibilang Kim Cay-hong senantiasa menjaga anak muda itu disisi pembaringannya, ia menyuapkan obat, memberi minum, sikapnya begitu mesra dan penuh perhatian, semua ini membikin panas hati Beng Ji-peng.
Sudah ber-tahun2 pemuda she Beng ini mencintai adik seperguruannya, tapi selama ini belum pernah ia cicipi adegan mesra semacam itu sekalipun ia sakit.
Bisa dibayangkan betapa cemburu dan gusar anak muda itu, kalau bisa dia ingin menghajar Tian Pek sampai mampus sehingga saingan ini tersingkir.
Beng Ji-peng berusaha menasihati Sumoaynya agar menjauhi anak muda itu, tapi Kim Cay-hong tak mau menurut perkataannya.
kemudian ia menyaksikan pula Tian Pek hendak pergi, tapi gadis itu merasa berat untuk melepaskannya, malahan menarik tangannya.
Adegan itu kontan membuat darahnya tersirap ia tak mampu menguasai dirinya lagi dan segera tampil kemuka.
Siapa tahu Kim Cay-hong bukannya menuruti perkataannya, malahan membantu Tian Pek dan menyerangnya dengan kata2 pedas, dengan dongkol dia menuju ke ruang depan dan mengundang Tiat-pi-to-liong serta Tiat-ih-hui-peng, kedua kakek "pengawal baja"
Istana keluaga Kim.
Cemooh dan hinaan Tian Pek seketika memuncakkan hawa amarahnya, apalagi setelah Kim Cay-hong memutuskan hubungan persaudaraan, ia tambah kalap.
Tanpa bicara lagi dia berpekik nyaring.
ia mencabut pedangnya, dengan jurus Sin-liong-jut-sui (naga sakti muncul dari air), pedangnya langsung menyambar dan menusuk perut Tian Pek.
Dengan tenang Tian Pek berkelit, berbareng iapun hendak melolos pedang hijaunya.
Tentu saja Beng Ji-peng tidak memberi peluang bagi musuhnya untuk melolos senjata.
beruntun ia melancarkan tiga kali serangan berantai dengan jurus Wu-in-pit-gwat (awan hitam menutupi rembulan), Siau-ki-lam-thian (sambil tersenyum menunjuk langit selatan) serta Hian-niau-hua-sah (burung hitam mencakar pasir), semua mengarah Hiat-to penting di tubuh musuh.
Karena serangan berantai musuh, Tian Pek kehilangan kesempatan, terpaksa dia harus berkelit, melompat dan menyingkir untuk melepaskan diri dari ancaman tersebut.
Meskipun cukup gesit dia mengelak, namun akhirnya toh tetap terlambat satu tindak, bajunya terpapas sebagian, hampir saja paha kanannya ikut tertabas oleh sambaran pedang Beng Ji-peng itu.
Terperanjat Tian Pek, dalam pada itu iapun sempat melolos pedang pusakanya.
Kim Cay-hong terperanjat melihat Tian Pek hampir terluka, tapi setelah menyaksikan Tian Pek lolos dari ancaman dengan selamat, hatinya merasa lega, dengan penasaran ia berteriak terhadap Beng Ji peng.
"Huh! Begitukah caramu menghadapi lawan? Apa kau sengaja hendak bikin malu keluarga Kim?"
"Perbuatan apa yang pernah kubikin malu keluarga Kim?"
Teriak Beng Ji-peng.
"kau sendiri yang bikin malu keluarga Kim, perbuatanmu yang pantas dikatakan perbuatan memalukan.'"
Merah padam wajah Kim Cay-hong karena marah, sekujur badan gemetar, dengan benci ia berteriak.
"Kau tak perlu mencampuri urusan pribadiku, caramu bertempur tanpa menunggu lawan melolos senjata, tahu2 kau menyerang lebih dulu, begitukah kepandaian yang berhasil kau yakinkan selama ini? Hm, nama baik ayah pun ikut ternoda oleh perbuatan rendahmu itu!"
"Tutup mulut!"
Bentak Beng Ji-peng dengan kalap.
"kalau dia mampus, itu salah dia sendiri yang tak becus, kalau dia tak mampu mencabut pedangnya sendiri, memangnya perlu orang lain yang memberikan pedang kepadanya?"
Cekcok mulut antara kakak beradik seperguruan berlangsung makin tajam, siapapun tak mau mengalah. Tian Pek sendiri tetap bersikap tenang.
"sret"
Begitu Pedang Hijau terlolos, terpancarlah cahaya kemilauan di ambang senja.
Sementara itu malam telah tiba, lampu telah dipasang dan baberapa orang pelayan laki2 maupun perempuan membawa pula beberapa buah lampu lentera mengitari gelanggang, ini membuat suasana tempat itu jadi terang benderang bagaikan di siang hari.
Air muka para pelayan yang mengitari gelanggang itu tiada yang menunjuk rasa kaget atau kuatir, malahan rata2 menunjuk rasa gembira karena sebentar lagi akan berlangsung suatu pertarungan seru, ini suatu tanda bahwa kaum hamba keluarga Kim juga sudah terbiasa dengan pertarungan orang Kangouw ini.
Pelahan Tian Pek menggetar pedang mestikanya hingga memancarkan cahaya hijau, kemudian sambil melangkah ke tengah gelanggang, serunya dengan lantang.
"Nona Kim, silakan menyingkir kesamping, berilah kesempatan bagi Tian Pek untuk menghadapi orang kosen pada malam ini!"
"Hahaha, bagus, bagus sekali!"
Teriak Tiat-pi-to-liong.
"Hayo maju!"
Begitulah watak aneh sepasang "pengawal baja"
Itu, bukannya melerai, mereka malahan menganjurkan berlangsungnya pertarungan. Sebelum Kim Cay-hong sempat buka suara, Beng Ji-peng mengejek pula dengan nyaring.
"Hei, cecunguk cilik, sekarang kau telah memegang pedang, jika mampus tentu kau tak dapat bilang apa2 lagi bukan? Nah, anak busuk, serahkan jiwamu!"
Berbareng dengan perkataan tersebut, Beng Ji-peng segera meloncat ke udara, pedangnya berputar menciptakan selapis cahaya terus merabas kepala Tian Pek.
Tian Pek tidak berani gegabah, dari gerak tubuh musuh yang enteng, gesit dan lincah serta jurus pedangnya yang ganas, ia tahu Kungfu lawan cukup tangguh, Belum tiba serangan itu, hawa pedang yang tajam dan dingin serasa menyayat tubuhnya, cepat ia pusatkan perhatiannya, dengan jurus Koan-te-hoan-thian (menggulung bumi membalik langit) pedangnya menangkis ke atas.
Pedang Hijau Bu-cing-pek-kiam memang pedang mestika yang amat tajam, mengikuti gerakan itu terciptalah selapis cahaya hijau yang menyilaukan mata dalam sekejap cahaya pedang yang terpancar oleh serangan Beng Ji-peng tadi tergulung lenyap.
Beng Ji-peng sendiri tentu saja dapat merasakan pedang lawan adalah senjata mestika, namun ia tidak berusaha menghindar, sebab ia hendak manfaatkan tenaga tekanan dari udara untuk memperbesar daya serangannya atas lawan ia himpun tenaga pada pergelangan tangan, dengan sekuat tenaga ia menabas ke bawah.
"Cring!"
Benturan nyaring terdengar, kedua senjata saling bentur dan menimbulkan percikan bunga api, terciptalah pemandangan menakjubkan di udara-Kedua orang sama2 merasakan lengan kaku kesemutan, nyata tenaga kedua orang sama kuat.
Sudah tentu posisi Beng Ji-peng lebih menguntungkan, sebab dia menekan ke bawah, namun dia harus melayang turun beberapa kaki di sebelah sana, sedang Tian Pek tetap berdiri tegak di tempatnya, cepat kedua orang memeriksa senjata masing-masing.
Pedang hijau Bu-cing-pek-kiam tetap mulus tiada cacat apapun, sebaliknya pedang hitam Beng Ji-peng pun tetap bercahaya tajam, ternyata senjata itupun tidak mengalami kerusakan apa2.
Meskipun pedang hitam yang digunakan Beng Ji-peng bentuknya jelek dan tiada keistimewaan, namun senjata itu sebenarnya terbuat dari inti baja yang berusia laksaan tahun dari dasar laut, tajamnya luar biasa dan keras pula.
Sebab itulah meski Beng Ji-peng sutelah melihat pedang yang dipakai Tian Pek memancarkan sinar tajam dan pasti pedang mestika, namun ia tidak gentar, bahkan memperkuat tenaga tabasannya, ia justeru ingin mengutungi pedang Tian Pek lebih dahulu.
Siapa tahu pedang mestika lawan bukan saja tidak cedera malahan mampu menandingi kekerasan senjatanya, hal ini sungguh di luar dugaan Beng Ji-peng.
Tian Pek sendiripun terperanjat, dia tak mengira pedang baja yang jelek bentuknya milik lawan ternyata sanggup menandingi ketajaman pedang mestikanya.
Tapi justeru dengan terjadinya peristiwa ini, maka kedua pihakpun mempunyai perhitungan sendiri tentang kekuatan musuh, merekapun tahu kemenangan tak mungkin dapat diraih dengan mengandalkan ketajaman pedang mestikanya.
Pertarungan lantas dilanjutkan dengan mengandalkan ilmu silat sejati yang dimiliki masing2.
Tampaklah pedang hijau Tian Pek berputar di udara menerbitkan sinar bagai bianglala membelah udara, sebaliknya pedang hitam Beng Ji-peng menyambar kian kemari bagaikan naga hitam mengaduk samudera, cahaya hijau dan hitam saling bergumul, membuat suasana gelanggang berubah seram, hawa pedang yang tebal menyelimuti sekujur badan kedua orang muda itu.
Pertarungan berlangsung kian cepat, dalam waktu singkat empat puluhan gebrakan sudah lewat.
Tiat-pi-to-liong mengikuti pertarungan itu sambil mengelus cambangnya, kadang2 dia berteriak memuji, memberi penilaian terhadap jurus serangan mereka.
Sementara Tiat-ih-hui-peng menonton dengan serius, ia mengawasi jalannya pertarungan dengan sorot mata tajam, tapi mulutnya tetap bungkam tanpa memberi komentar.
Gadis paling cantik di seluruh wilayah Kanglam diam2 menguatirkan keselamatan pujaan hatinya, dia tahu ilmu silat Suhengnya telah hampir mewarisi seluruh kemahiran ayahnya, selama ini jarang ada yang mampu menandingi dia.
Kawanan pelayan baik laki2 ataupun perempuan yang mengerumuni seputar gelanggang, sama menonton dengan mata terbelalak, memang seringkali mereka menyaksikan pertarungan seru, akan tetapi belum pernah melihat pertarungan tegang dan sengit begini.
Sementara itu pertarungan sudah meningkat tegang dan menentukan mati dan hidup.
Beng Ji-peng lebih mahir melancarkan serangan, gerakgeriknya juga lebih lincah, serangannya lebih ganas, selalu mengincar bagian2 mematikan di tubuh Tian Pek, saking gemasnya, sekali tusuk dia ingin menembusi dada lawan cintanya ini.
Sebaliknya Tian Pek lebih sempurna dalam hal tenaga dalam, dia lebih mengutamakan ketenangan dan kemantapan, jurus2 serangannya terang dan kuat, anggun dan wibawa se-olah2 seorang tokoh suatu aliran besar.
Setelah pertarungan berlangsung sekian saat, Beng Ji-peng mulai heran, dengan jelas ia lihat betapa sederhana ilmu pedang yang dipakai Tian Pek, hanya ilmu pedang Sam-cay-kiam-hoat yang sangat umum dan dipelajari banyak orang, biarpun lawan menyelingi pula beberapa jurus serangan yang aneh, itupun tidak membuat ilmu pedangnya jadi lebih tangguh.
Kendatipun demikian, namun serangan Ji-peng yang cepat dan dahsyat tak pernah berhasil menambus pertahanan lawan, bahkan setiap kali serangan mematikan yang tampaknya tak mungkin bisa dihindarkan musuh, tanpa gugup sedikitpun tahu2 Tian Pek dapat mematahkannya dengan jurus yang amat sederhana.
Tentu saja hal ini amat mengejutkan dia.
Sudah tentu Beng Ji-peng tak menduga kalau Tian Pek telah mempelajari isi kitab Soh-kut-siau-hun-pit-kip yang hebat itu, apalagi semua urat nadi penting di tubuh lawan ini telah tertembus semua sehingga Lwekangnya kuat luar biasa.
Walaupun dalam hal tenaga dalam lebih tangguh daripada Ji-peng, akan tetapi Tian Pek kalah bagus jurus pedangnya, kecuali serangkaian iliran pedang Sam-cay-kiam-hoat yang sederhana, boleh dibilang dia tak memiliki kepandaian yang lain.
Untung sudah lama ilmu pedang ini dilatihnya dengan tekun, walaupun jurus serangannya sederhana dalam permainannya telah berubah menjadi cukup lihay.
Tian Pek dapat memahami bahwa untuk menang seseorang harus memiliki jurus serangan yang aneh dan diluar dugaaan musuh, bila lawan sudah mengetahui akan jurus serangannya, percumalah dia melepaskan serangan itu, sebab akhirnya tak mampu melukai musuh, Karena itulah, setiap kali mendapat kesempatan yang baik ia lantas mencoba untuk menyerang dengan jurus Tui-hong-kiam-hoat yang berhasil di sadapnya dulu, sayang permainanya belum matang hingga kurang keampuhannya.
Maka kedua pihak tetap bertahan dalam keadaan seimbang meskipun sudah bertarung sekian lama, sukar untuk menentukan siapa lebih tangguh di antara kedua jago muda itu dalam waktu yang yang singkat.
Sementara itu pertarungan telah berlangsung hampir mendekati seratus gebrakan, akan tetapi menang-kalah belum juga bisa ditentukan, lama2 Beng Ji-peng menjadi tidak sabar.
Kebetulan waktu itu pedang Tian Pek sedang menyabat kepala lawannya dengan jurus Lip-sau-ih-yu (berdiri tegak menyapu jagat), cepat Beng Ji-peng mendak ke bawah, setelah lolos dari sambaran pedang itu, pedang baja hitamnya dengan jurus Sui-tiong-lau-gwat (menangkap rembulan di dalam air), dia babat tubuh bagian bawah Tian Pek.
Dengan cepat Tian Pek melayang ke udara, pedang balas menutul Hoa-kay-hiat pada ubun2 Beng Ji-peng dengan jurus Han-seng-peng-gwat (bintang tajam mengejar rembulan).
Menurut peraturan, bila terancam oleh serangan tersebut, biasanya dia akan menggunakan jurus Hui-hong-hud-liu (pusaran angin menyapu pohon liu) atau Bun-hong-si-sui (kawanan lebah bermain di atas putik) untuk meloloskan diri dari ancaman.
Akan tetapi Beng Ji-peng tidak berbuat begitu, sebab ia penasaran dan ingin merebut kemenangan dengan menempuh bahaya, bukannya menghindar atau berkelit, dengan cepat dia menerobos maju ke depan, dengan jurus Ban-hoa-cam-hud (selaksa bunga menyembah Buddha) dia tangkis pedang musuh kemudian sambil mendesak maju dia bacok dada Tian Pek.
Gerakan ini amat berbahaya, jika Tian Pek memiliki Ginkang yang tinggi dan bisa melompat tiga depa lebih keatas, lalu ujung pedangnya tetap menusuk ke bawah dengan gerakan yang tak berubah, niscaya jalan darah Hoa-kay-hiat pada ubun2 Beng Ji-peng akan tertembus.
Rupanya setelah pertarungan berlangsung seratusan gebrakan, Beng Ji-peng melihat gerak gerik musuh amat lamban, menurut perkiraannya tak mungkin Tian Pek bakal melayang ke udara untuk menyergap dirinya, maka iapun mengambil keputusan untuk melakukan serangan berbahaya.
Lalu, apakah Tian Pek mampu melayang lebih tinggi dan melakukan sergapan dari situ?
Mampu!
Dia mampu melakukan hal ini.
terutama sesudah tenaga dalamnya memperoleh kemajuan yang pesat, hanya saja ia tidak tahu sampai di manakah kemajuan yang dicapainya, selain itu iapun kekurangan pengalaman tempur, makanya setelah melepaskan tusukan tadi, dia mengira Beng Ji-peng pasti akan berkelit ke samping.
Siapa tahu bukannya mundur, Beng Ji peng malahan mendesak maju dan langsung membacok dadanya, dalam keadaan demikian tidak sempat lagi untuk menghindar, tampaknya dadanya pasti akan berlubang.
"Hei, Siau-hu-cu! Masa begitu caramu bertarung?"
Teriak Tiat-pi-to-liong dengan lantang, cepat ia menerjang maju ke depan, rupanya jago tua ini melihat gelagat jelek.
Tapi belum sempat jago tua itu menerjang masuk ke tengah gelanggang.
keadaan telah mengalami perubahan mendadak.
Kiranya dalam gugupnya Tian Pek telah menghimpun segenap tenaga pada pergelangan tangannya, kemudian dengan sekali sentakan.
"trang!"
Pedang beradu, Beng Ji-peng merasakan tangannya kesemutan, tanpa ampun lagi pedangnya terlepas dari cekalan.
Dengan kesempatan itu Tian Pek terus putar pedang Bu-cing-pek-kiam ke depan, tahu2 ujung pedang yang tajam telah menempel di tenggorokan musuh.
Pucat wajah Beng Ji-peng, bukan saja usahanya merebut kemenangan mengalami kegagalan total, bahkan dia sendiri yang kecundang, bisa dibayangkan betapa sedih perasaan anak muda itu, selama hidup baru kali ini dia mengalami kekalahan secara mengenaskan.
Tian Pek sendiri tak menyangka tenaga dalamnya telah mencapai tarap sedemikian tingginya, dan dapat digunakan menurut kehendaknya Setelah berhasil menggetar jatuh pedang lawan, bahkan ujung pedangnya terus mengancam pula tenggorokan pemuda she Beng itu, untuk sesaat dia berdiri tertegun dan tidak melanjutkan tusukan maut.
Bagaikan embusan angin cepatnya Tiat-pi-to-liong menyusup maju kedepan dan berdiri di antara kedua anak muda itu, sambil tertawa ia berkata.
"Hahaha, engkoh cilik. kau memang hebat! Kemenanganmu ini kau raih secara gemilang dan mengagumkan ... Hahaha, di antara kalian kan tiada permusuhan apapun? Maka pertarungan ini hanya saling mengukur kepandaian saja, silakan kau tarik kembali senjatamu."
Tiat-pi-to-liong Kongsun Coh adalah kakek bermuka merah dan bercambang, tubuhnya meski agak bungkuk tapi kekar dan gagah, suaranya keras bagaikan bunyi guntur, berwibawa dan disegani orang.
Tian Pek bukan pemuda pengecut, ia tak sudi membunuh orang yang tak mampu melawan, selain itu, sebelum yakin benar Cing-hu-sin Kim Kiu adalah pembunuh ayahnya, dia tak ingin membuat onar dalam gedung ini, maka setelah mendengar perkataan Tiat-pi-to-liong, cepat ia tarik kembali pedangnya dan mundur ke belakang.
"Kalau Locianpwe sudah berkata begitu, tentu saja Wanpwe menurut saja,"
Lata Tian Pek, Lalu ia berpaling dan berkata kepada Beng Ji-peng.
"Asal kau tahu rasa dan selanjutaya tidak congkak lagi "
"Anak busuk, jangan latah!"
Bentak Beng Ji-peng mendadak.
"Nih, rasakan kelihayan tuanmu ini!"
Di tengah bentakan Giok-bin-siau-cing-hu itu ia ayun tangan ke depan, segumpal cahaya hijau yang menyilaukan mata segera menyambar kearah Tian Pek.
Rupanya setelah dikalahkan oleh Tian Pek, karena malunya Beng Ji-peng jadi nekat, diam2 ia merogoh sakunya dan meraup segenggam senjata rahasia Cing-hu-kim-ci-piau andalan perguruan, di kala musuh tidak siap, segera ia menyergapnya dengan gerakan Boan-thian-boa-uh (hujan bunga memenuhi angkasa).
"Suheng, kau berani main curang... ?"
Jerit Kim Cayhong dengan kuatir.
"Ji-peng, kau..."
Tiat-pi-to-liong juga membentak.
Sebagai tamu keluarga Kim saja Tian Pek sedia menurut.
sedangkan Beng Ji-peng sebagai orang sendiri malahan tidak memberi muka kepadanya, bahkan menyergap lawan dikala tidak siap, tentu saja ia sangat gusar.
Di tengah bentakan keras segera ia menghantam ke depan, segulung angin pukulan langsung menyambar ke arah cahaya hijau yang sedang berhamburan itu.
Senjata rahasia Cing-hu-kim-ci-piau andalan Cing hu-sin ini dibuat secara khusus dan dilancarkan dengan cara yang khusus pula, kendatipun angin pukulan yang dilancarkan Tiat-pi-to-liong sangat kuat, akan tetapi pukulan itu belum sanggup untuk merontokkan semua senjata rahasia itu.
Jilid ke -11 Dentingan nyaring terjadi secara beruntun, sebagian senjata rahasia itu berhasil dirontokkau oleh angin pukulan dahsyat tersebut, tapi ada pula beberapa batang di antaranya berhasil menembusi angin pukulan jago tua itu dan tetap meluncur cepat dan menyambar tubuh Tian Pek.
"Cringl Cring! Cring!"
Terdengar dentingan nyaring menggema di udara menyusul terjadinya percikan bunga api.
Rupanya Kim Cay-hong telah bertindak, iapun melepaskan tiga buah Cinghu-piau untuk melontokkan senjata rahasia Beng Ji-peng.
Meskipun tiga senjata rahasia itu berhasil dipukul jatuh, namun masih ada empat Cung-hupiau lain yang melucur ke depan dengan kecepatan penuh, dua buah mengancam bahu Tian Pek sedangkan dua lagi mengancam kedua kakinya.
Dalam keadaan begini, tak sempat lagi bagi Kim Cayhong untuk ambil senjata rahasia, dengan cemas ia pandang ke sana dan tak tahu apa yang akan terjadi.
Tapi Tian Pek mengelak kekanan dan mengegos ke kiri, tiga senjata rahasia itu dapat dihindarkan dengan baik tapi akhirnya ada sebuah yang tak terhindar.
"Cret!"
Senjata rahasia itu bersarang pada bahunya, darah segar lantas mancar keluar.
Kejadian itu lambat untuk diceritakan, tapi semuanya berlangsung dalam sekejap, begitu menyaksikan Tian Pek terluka, semua orang melengak, kecuaIi sebagian kecil hampir semua orang merasa tidak puas atas tindakan Beng Jipeng itu.
Sebab tadi kalau Tian Pek bermaksud membunuhnya, maka ujung pedang yang telah menempel pada tenggorokannya cukup didorong sedikit ke depan dan pemuda itu pasti sudah mampus, namun Tian Pek telah menuruti nasihat dan melepaskan lawan.
Tapi kesempatan itu malah digunakan Beng Ji peng untuk menyerang Tian Pek secara keji, tindakan semacam ini bagi orang Kangouw boleh dikatakan sangat memalukan.
Tapi Beng Ji peng adalah murid kesayangan Cing-hu-sin, pemilik istana keluarga Kim, kedudukannya hampir sederajat dengan Siang lin Kongcu, tindakannya yang rendah dan memalukan ini sungguh tak terduga oleh siapapun juga.
Tian Pek segera merasakan hawa dingin merasa tulang, segera ia tahu senjata rahasia itu beracun.
Meskipun sakitnya tidak kepalang pemuda itu tidak mengluh, ia mengertak gigi dan mencabut senjata rahasia itu.
Kim Cay-bong menghampiri anak muda itu sambil memberi sebtir obat, katanya dengan pedih.
"Tian-siauhiap, lekas bubuhkan obat ini pada lukaniu, kalau tidak.........."
Tian Pek berdiri dengan muka menyeringai, matanya melotot penuh kegusaran, darah menetes keluar dari kelopak matanya dan membasahi pipinya, sementara Cinghu-piau yang berlumuran darah masih targenggam di tangannya, ia tidak menghiraukan perkataan anak dara itu.
Terperanjat Kim Cay hong melihat keadaan Tian Pek.
"Tian siauhiap?"
Katanya dengan gemetar, janganlah beginI, perbuatan Suhengku memang tak benar.
Biar engkohku pulang pasti akan kulaporkan kejadian ini kepadanya, akan kuminta kakak memberikan keadilan secara bijaksana."
Dengan lembut dan penuh kasih sayang dia menggenggam lengan kiri Tian Pek, setelah merobek pakaian disekitar luka obat penawar tadi dibubuhkan pada lukanya, pelahan ia memijit sekitar luka yang membengkak itu .......
Tian Pek tetap berdiri mernatung, sorot matanya yang penuh kemarahan memandang jauh ke sana, seperti sedang memikirkan sesuatu yang sangat menyedihkan, tapi orang lain tak tahu apa yang sedang dipikirnya?
"Hmmm!"
Beng Ji-peng mendengus ketika melihat Kim Cay-hong bersikap begitu mesra terhadap musuhnya, api cemburu kembali membakar hatinya, rasa bencinya terhadap Tian Pek semakin menjadi, pelahan ia merogoh kantong dan siap mengarnbil senjata rahasia lagi.
Tiat-pi-to-liong menyaksikan perbuatan anak muda itu, dengan gusar ia membentak.
"Ji-peng, apa yang hendak kaulakukan? Masa kau tak tahu malu. Apakah perlu aku si bungkuk turut campur persoalan ini ....?"
Percakapan orang2 itu dan Kim Cay-hong membubuhi lukanya dengan obat, semua ini se-olah2 tidak diketahui Tian Pek.
Kiranya ia sedang membayangkan kembali kematian ayahnya yang mengenaskan, ia raerasa Cing hu-piau yang berlumuran darah ini persis seperti mata uang tembaga yang ditinggalkan ayahnya itu.
Dalam khayalnya terbayang olehnya ayahnya dikerubut keenam tokoh besar dan ayahnya melakukan perlawanan yang sengit dengan Pedang Hijau, setelah tenaga terkuras habis, lalu Cing-hu-sin Kim Kiu menyergapnya dengan senjata rahasia hingga terluka, mungkin juga keenam orang itu bersama menyerang ayahnya dengan senjata rahasia, setelah ayahnya tak berkutik barulah mereka mencincangnya......
Herannya mereka bertujuh terkenal sebagai saudara angkat dan bersumpah setia, mengapa keenam saudaranya bersekongkol untuk membunuh ayahnya itu sekeji?
Inilah teka-teki yang sukar dipecahkan.
"Ai, seandainya ayahnya tidak meninggal dan Kanglam jit tayhiap masih hidup dengan rukun hingga kini, sekalipun aku tak bisa menyamai kedudukan Bu-lim-su kongcu, paling sedIkit hidupku takkan sengsara dan terhina seperti sekarang ini, paling tidak aku bersama orang tuaku dapat hidup bahagia di tempat yang aman sentosa...... Akan tetapi,"
Demikian Tian Pek berpikir lebih jauh.
"sekarang terbukti bahwa Cing hu-piau adalah senjata rahasia andalan Kim Kiu, itu berarti pula Kim Kiu adalah salah seorang pembunuh ayahku, mengapa tidak kubunuh pemuda ini lebih dulu? Sekalipun selama ini tak sempat kujumpai Kim Kiu, tapi jika pemuda ini sudah kubunuh, masakah ia takkan tampil? Kesempatan baik ada di depan mata, bila tidak kumanfaatkan sekarang juga, aku akan menunggu sampai kapan lagi?"
Barpikir sampai di sini, anak muda itu segera membontak nyaring.
"Hei, berhenti!"
Bentakan ini dilontarkan dalam keadaan gusar dan penuh perasaan dendam, suaranya keras luar biasa ibarat bunyi guntur membelah bumi, semua orang merasa anak telinga jadi sakit dan mendengung.
Sementara itu Beng Ji-peng yang dibentak Tiat-pi to liong sedang memungut pedangnya dan mundur ke belakang, mendengar bentakan tersebut, cepat ia berhenti dan membalik badan.
"Berhenti ya berheti, memangnya aku jeri padamu?"
Jengeknya sambil menatap Tian Pek dengan melotot.
"Hm jangan kau kira dengan sedikit ilmu pedang busuk itu lantas bisa menangkan tuanmu? kalau aku tidak salah perhitungan, kau kira bisa memperoleh kemenangan itu? Bangsat cilik, untung Kongsun-Cianpwe mintakan ampun bagimu, hm, kalau tidak, sejak tadi kau sudah mampus tertembus Cing--hu sin-plan tuanmu!"
Tian Pek tidak melayani ejekan musuh, sekali lagi dia melolos pedangnya, lalu berkata.
"Apa gunanya mengobrol, kalau belum puas, hayo kita ulangi kembali pertarungan ini, mari kita tentukan siapa yang lebih unggul."
"Hehehe, memangnya aku takut padamu?"
Teriak Bang Ji-peng sambil lolos pedangnya yang hitam. Kim Cay hong merasa kuatir, ia tarik lengan kiri Tian Pek dan berseru.
"Tian-siauhiap, engkau telah terluka, jangan kau layani orang gila itu..........."
Tiat-pi-to-liong pun berusaha melerai.
"Sudahlah Siauhiap apa gunanya menuruti emosi dan beradu nyawa, kan di antara kalian tidak ada sakit hati apapun........."
Tian Pek melepaskan pegangan Kim Cay-hong, dia angkat pedangnya dan berseru.
"Siapapun tak ada yang bisa mengalangi niatku, hari ini kalau bukan dia yang mampus biarlah aku yang mati!"
Diarn2 semua orang terperanjat dan mengira kedua anak muda itu benar2 telah kalap, mereka tidak tahu dendam Tian Pek dan tidak menyangka cernburu Beng Ji pang yang berkobar.
"Baik!"
Beng Ji-peng menyambut tantangan Tian Pek dengan suara lantang.
"sebelum salah satu pihak mampus, pertarungan ini takkan berakhir."
Di tengah bentakannya yang nyaring, dia loncat ke udara, pedang hitam rnemancarkan sinar tajam langsung menusuk ke muka Tian Pek dengan jurus Jik-khong-koan-jit (bianglala merah menembus sinar sang surya).
Sekarang Tian Pek tahu tenaga dalam sendiri lebih kuat dibandingkan lawan, kalau selama ini Beng Ji peng mampu bertahan pada posisi seimbang, hal ini tak lain karena dia mengandalkan jurus pedangnya yang lebih lincah.
Kuatir kehilangan kesempatan yang menguntungkan, maka begitu melihat Beng Ji-peng menubruk maju, cepat ia pun ikut meloncat ke atas menyongsong ancaman itu dengan keras lawan keras.
Pedang Hijau menciptakan selapis dinding cahaya untuk mengunci serangan lawan dengan jurus Hoan-tiau-lam-hay (pasang naik di laut selatan).
Pertarungan macam begini sangat jarang terjadi di dunia persilatan, bukan saja para penonton yang berada di sekitar gelanggang, bahkan Tiat pi-to-liong, Kim Cay-hong serta Tiat-ih-hui peng juga sama bersuara kuatir.
Tubrukan kedua anak muda itu dilakukan dengan cepat sekali, belum lenyap suara orang berseru kaget kedua pedang telah saling membentur.
Percikan bunga api muncrat ke empat penjuru, dentingan nyaring memekak telinga, kedua orang segera terpisah dan turun kembali ke atas tanah.
Beng Ji-peng merasakan separoh badannya kesemutan dan kaku, telapak tangan terasa sakit, hampir saja pedang hitamnya tak mampu dipegang lagi, ketika mencapai permukaan tanah, ia sempoyongan beberapa langkah dan akhirnya baru dapat berdiri tegak.
Sebaliknya Tian Pek tetap tenang se-akan2 tak pernah terjadi sesuatu, begitu mencapai permukaan tanah, ia segera menerjang lagi ke depan.
"Sret! Sret! Sreet!"
Beruntun dia melancarkan beberapa kali serangan sehingga Beng Ji peng yang sombong itu dibikin kelabakan, bukan saja tak mampu melakukan serangan balasan, untuk mempertahankan diripun repot.
Namun Giok-bin-siau-cing-hu Beng Ji-peng cukup tangkas juga, sekalipun terdesak, dengan kelincahan dan kecepatannya bertahan terus meski dia harus mundur belasan kaki, tapi tidak sampai tertuka.
Karena terdesak, Beng Ji-peng telah mundur hingga dekat pagar kebun bunga, dengan sendirinya para penonton yang berkerumun sama menyingkir.
Mendadak Tian Pek memburu ke depan, dengan jurus Heng-sau-ngo-gak (menyapu rata lima bukit), dia sabat pinggang lawannya.
Beng Ji-peng berkelit, dengan lincah dia menghindar ke belakang pagar kebun.
Serangan Tian Pek itu menggunakan tenaga yang keras, untuk menarik kembali serangannya tak mungkin lagi, kontan sederetan pot bunga yang berada di atas pagar tcrsambar hingga hancur berantakan.
Sementara itu Beng Ji peng sempat berganti napas, segera iapun unjuk gigi.
"Sret! Sret! Sreet!"
Beruntun diapun melancarkan belasan kali serangan, karena jurus serangan juga tidak kurang ganasnya, yang diarah adalah bagian mematikan, maka Tian Pek juga terdesak mundur dengan repot.
Tapi sekali mengendur serangan Beng Ji peng, Tian Pek segera balas mendesak lawan, dengan begitu maka pertarungan berlangsung dengan seru, ke dua pihak secara bergilir mendesak mundur lawannya, dengan begitu posisi kedua orang tetap sama kuat.
Dalam dunia persilatan jarang terjadi pertarungan seperti ini, tentu saja kawanan jago yang berkumpul disekitar gelanggang, termasuk juga kedua "pengawal baja"
Itu, dibuat tertegun dan melongo, saking terpesonanya sampai mereka lupa untuk melerai .....
Hanya Kim Cay-hong yang paling gelisah dan kuatir, meskipun dia tidak mengharapkan Tian Pek terluka di tangan Beng Ji-peng, tapi iapun tidak berharap Beng Ji-peng dilukai Tian Pek.
Berulang kali in berteriak untuk melerai, namun teriakannya tak pernah digubris, bagaikan harimau terluka keduanya tetap saling menggempur, tak seorangpun yang mau menurut.
Aneh sekali jalannya pertarungan itu, di satu pihak mengandalkan kelincahan dan keampuhan jurus pedangnya, di lain pihak mengandalkan tenaga dalamnya yang kuat serta keganasan jurus pedang yang hebat, dalam waktu singkat seluruh halaman telah diobrak-abrik menjadi tidak keruan, dinding ambrol dan tiang roboh, banyak pot bunga yang hancur, dalam waktu singkat taman itu menjadi porak poranda .....
Ratusan gebrakan sudah lewat, akan tetapi menangkalah belum lagi bisa ditentukan, banyak orang mulai menghela napas gegetun, semuanya memuji dan menyatakan kagum, mereka anggap pertarungan sengit mi jarang ditemui di dunia persilatan.
Banyak pula di antara jago2 itu yang merasa cemas dan kuatir, mereka ingin tahu bagaimana pertarungan itu bisa diakhiri?
Dan bagaimann pula akhir dari pertarungan tersebut.
Jangankan jago2 lain, kedua "pengawal baja"
Istana keluarga Kim itupun dibikin terkesima sehingga untuk sesaat mereka lupa kedudukan dan tugas kewajiban mereka sebagai pengawal istana. Tiat-pi-to-liong berulang kali berseru.
"Bagus!" -Sementara tangannya mengelusi cambangnya sang lebat, sebaliknya Tiat-ih hui pang yang bermuka murung juga gelisah, biji matanya memancarkan sinar tajam dan terbelalak lebar. Lambat laun, Giok-bin-siau-hing-hu Beng Ji -pen. yang kalah tenaga dalam mulai mandi keringat. Berbeda dengan Tian Pek, rnakin bertempur ia semakin gagah, sekalipun darah segar mengucur derasnya dari luka di bahu kiri, namun ia tak pernah berhenti menyerang, se olah2 lwekangnya tiada habisnya, malahan makin bertarung makin bertambah kuat. Lambat laun Beng Ji-peng menjadi gelisah, ia tahu jika pertarungan berlangsung terus dalam ke adaan begini, maka lama2 dia pasti akan kalah, ia menjadi nekat, diam2 ia rnerogoh kantong dan manyiapkan segenggain senjata rahasia Clog hu-kim ci-piau. Kim Cay-hong sendiri tidak bersuara lagi, mungkin disebabkan Tian Pek sudah di atas angin, dia tahu bila Tian Pek menang, maka pedangnya pasti tidak kenal ampun dan Beng Ji-peng pasti akan dibunuh olehnya. Sebaliknya iapun melihat wajah Beng Ji-peng yang menyeramkan, iapun tahu kalau Suhengnya berniat jahat, apalagi setelah melihat dia merogoh lagi senjata rahasia Cing-hu-piau, asal senjata rahasia itu disebarkan, maka sekalipun Tian Pek dapat lolos dari kematian, paling tidak pasti juga akan terluka parah. Padahal ia tidak mengharapkan kematian di antara kedua orang itu, dia ingin urusan diselesaikan secara damai saja, keadaan ini membuatnya gelisah dan panik, pucat wajahnya, ketenangan dan kecerdikannya pada hari biasa kini lenyap, ia menjadi bingung dan kehabisan akal. Tiba2 ia teringat pada Kim-hu-siang-tiat-wi (sepasang pengawal baja istana Kim), kalau engkohnya tidak ada di rumah, berarti hanya mereka berdua yang sanggup mengatasi pertikaian ini, maka ia lantas berpaling ke arah Tiat-ih-huipeng yang sedang mengikuti pertarungan sengit itu dengan terkesima.
"Pa-jisiok, cepatlah lerai mereka!"
Teriaknya.
"Kalau pertarungan itu dibiarkan berlangsung terus, lama kelarnaan akan........."
Tapi dilihatnya air muka Tiat-ih hui-peng menunjukkan rasa prihatin, perkataannya sama sekali tak digubris dan tetap mengawasi jalannya pertarungan dengan terbelalak.
Teringatlah anak dara ini watak aneh parnan ini bukannya melerai, bisa jadi malah akan me!akukan hal2 yang tak terduga.
Maka ia lantas berseru kepada Tiat-pi-to hong.
"Paman Kongsun, cobalah lerai mereka, jangan berlanjut lagi pertarungnn itu"
"Hahaha, nona tak usah kuatir!"
Jawab Kong-sun Coh sambil bergelak tertawa.
"Meski mereka saling gempur dengan serunya, kemenangan belum bisa ditentukan dalam waktu singkat ...... wah celaka!"
Kiranya ketika Tiat-pi-to-liong sedang berbicara dengan Kim Cay-bong, mendadak terdengar jeritan ngeri, di mana cahaya pedang berkelehat, berhamburkan darah membasahi permukaan tanah, dengan wajah pucat seperti mayat Beng Ji-peng mundur beberapa Iangkah dengan sempoyongan, lengan kirinya sebatas bahu telah terpapas kutung.
Jerit kaget dan teriakan panik berkumandang dari mulut orang2 istana Kim menyaksikan murid kesayangan majikan mereka terluku parah.
Rupanya tatkala Kim Cay hong sedang mohon bantuan Tiat-pi-to-liong untuk melerai pertarungan itu, saat itu juga Tian Pek melihat Beng Ji-peng meragoh kantong untuk mengambil senjata rahasia Cing-hu-kim-ci-piau, ia rnenjadi gusar, beruntun ia melancarkan beberapa kali serangan berantai, sebagai puncak serangan tersebut dia gunakan jurus Cay-sian-sia-pau (melempar miring benang berwarna), suatu jurus serangan ampuh dari Tuihong-kiam hoat.
Jurus serangan ini sangat hebat, gerakannya sukar diraba, tampaknya tertuju pada lengan kanan Bang Ji-peng, tapi sewaktu anak muda itu menangkis dengan pedangnya sambil berputar ke kiri, kesempatan yang baik ini digunakan Tian Pek untuk menabas lengan kiri lawan yang siap melepaskan senjata rahasia Cing-hu-piau itu.
Beng Ji peng sama sekali tak menduga akan tabasan itu, dalam keadaan begitu dia tak sempat menghindar, tanpa ampun lagi lengan kirinya kena tertabas kutung sebatas bahu Senjata rahasia Cing hu-kini-ci-piau yang berada dalam genggam tangan kiri yang kutung itupun berserakan di lantai.
Sesungguhnya hal ini terjadi secara kebetulan, seandainya Kim Cay-hong tidak mangajak bicara Tiat-pi-to-liong, niscaya jago tua itu takkan terpencar perhatiannya dan pasti dapat menyelamatkan Beng Ji-peng.
Tiat ih-hui-peng sendiri meski menyaksikan peristwa itu dengan jelas, akan tepi ia segan untuk mencegah, sebab menurut jalan pikirannya, kalau orang berani bertarung maka dia harus berani puIa menanggung risikonya, jila kalah dan terluka atau mampus, maka itulah konsekwensi yang harus diterimanya sebagai seorang jago silat, salahnya sendiri mengapa tak becus.
Jangankan orang lain, sekalipun orang itu adalah putera kandungnya sendiri juga takkan dihiraukan, sebab ia anggap tidak marem pertandingan yang tidak mencucurkan darah.
Setelah bencana berlangsung, Tiat-pi-to-liong tak dapat berpeluk tangan dengan begitu saja, ia segera membentak dan menerjang masuk ke tengah gelanggang, selagi masih berada di udara sebuah pukulan keras dilancarkan ke arah Tian Pek, sementara tubuhnya melayang ke arah Beng Ji-peng.
Rapanya jago tua ini kuatir Tian Pek melancarkan serangan mematikan yang lebih keji di kala lawannya sudah terluka.
Tiat-pi-to-liang cepat, Tiat-ih-hui peng jauh lebih cepat lagi, sayap bajanya segera terpentang lebar, ibarat seekor hurung ia terbang ke udara, sayap bajanya mengebas ke batok kepala Tian Pek.
Tian Pek tak berani menyambut serangan itu dengan kekerasan, cepat ia melompat jauh ke samping.
"Blang!"
Suara benturan keras menggelegar di udara, angin pukulan beradu dengan kebasan sayap, debu pasir seketika berhamburan. Tian Pek tak gentar, sambil melintangkan pedang di depan dada ia berkata.
"Apakah kedua Ciaupwe juga ingin memberi petunjuk padaku?"
Tiat pi-to-liong tidak menjawab, ia sibuk menutuk Hiat-to di bahu Beng Ji peng untuk menghentikan darah yang mengalir, setelah itu ia memerintahkan dua anak buahnya memayang pergi anak muda itu untuk dibubuhi obat luka.
Tiat ih-hui-peng lantas berkata dengan ketus.
"Anak muda, kutungi sendiri sebuah lenganmu agar aku tidak perlu turun tangan!"
Berkerut alit Tian Pek, tapi sebelum ia buka suara, Tiat-pi-to liong telah terbahak2, katanya.
"Hahaha, Pa loji, biarkan urusan kaum niuda diselesaikan sendiri oleh kaum muda, untuk apa kita ikut campur urusan mereka? Kalau tersiar orang Kangouw mungkin akan menuduh kita menganiaya kaum niuda ...!"
Gook-bin-siau cing-hu Bang Ji-peng telah dipayang dua Iaki2 kekar, sebelum berlalu dari situ in sempat melotot sekeja pada Tian Pek dan mengancam.
"Nantikanlah pembalasanku, selama hidup aku Beng Ji-peng takkan melupakan sakit hati buntungnya tangan ini."
"Setiap saat kunantikan kedatanganmu,"
Jawab Tian Pek.
Dalarn pada itu Tiat-in-hui-peng tampaknya sudah menuruti perkataan Tiat pi-to-liong, dia tidak berbicara lagi.
Hanya Kim Cay hong, mukanya berubah pucat, ia kelabakan sendiri dan tak tahu apa yang mesti dilakukannya.
Akhirnya Tian Pek nenjura kepada Tiat pi to-liong, katanya dengan lantang "Locianpwe, apakah engkau masih ada pesan lain?
Kalau tidak ada, maka aku akan mohon diri."
"Engkoh cilik, kenapa ter-buru2?"
Ujar Tiat pi-to liong.
"bagaimana kalau menunggu sampai besok saja? Besok Kongcu pasti pulang, kan !ebih enak berpamitan sendiri dengan Kongcu kami?"
"Maaf, aku masih ada urusan penting yang harus kuselesaikan, tak mungkin aku menunggu lagi,"
Sahut Tian Pek.
"Terima kasih atas perhatian Locianpwe, maaf, kumohon diri."
Setelah masukkan pedang ke dalam sarungnya dan memberi hormat, ia puter badan dan bertalu.
"Tian-siauhiap............"
Kim Cay hong berseru dengan gelisah.
Namun Tian Pek tidak berpaling lagi, dengan langkah lebar ia berjalan menuju ke luar.
Tiat-pi-to-liong berdiri tertegun mengikuti kepergian Tian Pek yang kian menjauh dan akhirnya lenyap di balik pintu, ia tak bersuara lagi untuk mencegah kepergian orang.
Sekeluarnya dari istana keluarga Kim, Tian Pek tidak mencari penginaparn dia langsung berangkat menuju ke "duabelas gua batu karang"
Pada malam itu juga.
==mch== Bulan sabit menghiasi angkasa, air sungai mengalir dengan derasnya, di bawah cahaya rembulan yang redup Yan-cu ki menjulang tinggi di tepi sungai ibarat seekor burung raksasa yang siap terbang ke langit.
Angin meniup sepoi2, suasana hening sepi, kecuali dua-tiga pelita perahu nelayan berkelip jauh di tengah sungai, Tian Pek menengadah dan mengembus napas panjang.
Kini ia merasa puas tapi juga tidak puas.
merasa gembira juga merasa murung, ia berjalan menyusuri sungai itu dengan perasaan yang bercampur aduk.
la puas karena ilmu silatnya telah mendapat kemajuan yang pesat, malahan sudah mampu mengalahkan Beng Ji-peng, murid tunggal Cing-hu-sin Kim Kiu, musuh besar pembunuh ayah.
Tapi iapun merasa tak puas, merasa kecewa karena kepandaian yang dimiliki kedua "pengawal baja"
Ternyata amat lihay, ia merasa tak mungkin bisa menandingi mereka dengan Kungfu yang dimilikinya sekarang, apalagi jago yang menjaga istana Kim begitu banyak jumlahnya, tak mungkin dia bisa rnenandingi kekuatan mereka dengan seorang diri, itu berarti tiada harapan baginya untuk membalas sakit hati ayahnya.
Sedangkan perasaan gembira dan murung sukarlah untuk menerangkan, dia hanya merasa bayangan tubuh Kim Cay-hong yang jelita itu selalu muncul dalam benaknya, iapun sering terbayang kembali kasih mesra Kim Cay-hong selama dua hari dia jatuh sakit, itu mendatangkan rasa manis dan getir, ada yang menggembirakan juga ada yang membikin hatinya menjadi kesal.
Dengan pikiran yang dirundung pelbagai masalah, Tian Pek meianjutkan perjalanan menuju ke jalan pegunungan yang rnenghubungkan pantai dengan "dua belas gua karang", ia tidak ter-buru2 sebab ia sendiripun tak tahu Sin lutiat-tan berdiam di mana, dia akan mencari tokoh persilatan Itu secara pelahan.
Sudah tiga buah gua karang yang diperiksa olehnya, tapi kecuali segerombol kelawar yang terbang ketakutan, tiada sesuatu apapun yang terlihat olehnya.
Meskipun gua2 karang itu terpencil letaknya, akan tetapi di sana-sini masih terlihat bekas2 kaum pelancong, seringkali di atas dinding gua terbaca olehnya catatan tanggal si pengunjung, ada pula bait2 syair yang sengaja diukir di sana sebagai kenangan, di lantai gua tersisa kulit buah2an yang berserakan, kotor sekali tempatnya.
Diam2 Tian Pek merasa kecewa, sebab ia berpendapat Sin-lo tiat-tan tak mungkin berdiam di tempat kotor yang ramai didatangi kaum pelancong ini, diam2 iapun mulai meragukan keterangan si "orang mati hidup"
Walaupun sangsi, namun dia masih terus melakukan pencarian dengan saksama.
Kembali tiga buah gua sudah diperiksa, namun hasilnva tetap tiada sesuatu yang ditemukan.
Makin tinggi ia mendaki bukit karang itu suasana makin hening, baru saja anak muda itu melewati sebuah bukit karang, tiba2 terdengar seorang gadis sedang berseru dengan suara merdu.
"Ini tidak masuk hitungan, hayo sekali lagi!"
Lalu seorang kakek dengan suara serak menjawab.
"Eeh, anak perempuan, ada2 saja tingkah polahmu, orang tua juga kau permainkan. Tidak aku tidak......... tidak mau lagi!"
Suara serak tua lain segera bergelak tertawa, katanya.
"Hahaha, jangan coba2 menolak ya. Hahaha, kalau kau tak mau mengulangi kembali, maka kau harus mengaku kalah!"
"Hm, tidak segampang itu untuk mengalahkan aku!"
Suara pertama tadi berseru apula.
"Jangan kau kira kakiku cacat, lalu mempersulit aku dengan permainan begini!"
Sampai di sini, lapat2 terdengar kibaran kain baju tersampuk angin.
Tian Pek merasa tertarik, ia merasa; sudah kenal suara ketiga orang itu, cuma seketika tidak ingat siapa mereka.
Ia heran apa yang sedang dilakukan ketiga orang itu di bukit ini pada tengah malarn buta?
Permainan apa yang sedang mereka lakukan?
Timbul rasa ingin tahunya, dengan hati2 ia mendekati tempat suara itu, berkat rindangnya pepohonan ia mengintip ke sana.
Di depan sana ada tanah datar yang agak menonjol tinggi dengan sebuah batu raksasa yang rata permukaannya, batu ini tinggi dua-tiga tombak dan lebar hampir sepuluh tombak, di sekeliling tetumbuhan permai, batu raksasa ini mirip sebuah panggung alam.
Di samping batu itu terdapat beberapa batang pohon siong yang sangat besar, di depan pohon siong itu berdirilah seorang nona berbaju putih dan seorang kakek berjenggot putih, di depan mereka ada pula seorang kakek yang aneh, kedua kakinya sebatas, paha ke bawah sudah buntung dan sebagai gantinya dipasang dua potong kayu, waktu itu si kakek buntung lagi berjungkir dengan kaki di atas dan kepala di bawah, dan sedang berloncatan kian-kemari secepat terbang.
Kayu pengganti kakinya itu berbentuk aneh, bagian atas dekat paha besar dan kasar, bagian ujung lebih kecil, gerakgeriknya aneh dan lucu se-akan2 dia sedang membawakan tarian setan.
Setelah memperoleh kemajuan pesat dalam tenaga dalam, ketajaman mata Tian Pek luar biasa, sekalipun jaraknya cukup jauh, namun ia dapat melihat jelas keadaan di sekitar sana.
Ia melihat kakek aneh yang sedang membawakan "tarian setan"
Itu tak lain adalah kakek buntung yang tiga hari berselang pernah membuat Kanglam-ji-ki lari ter-birit2.
Sedangkan kakek berambut putih itu tak terlihat jelas karena jaraknya terlampau jauh, tapi ia yakin orang itupun pernah dijumpainya, sedangkan anak dara berbaju putih itu ternyata tak-lain-takbukan adalah Tian Wan-ji yang lincah itu.
Waktu Tian Pek terluka di restoran Hin-liong-ciu-lau tempo hari dan ditolong oleh Wan-ji serta dibawa ke rumah Hoat-si-jin dan Si-hoat-jin, anak muda itu sama sekali tak tahu, maka ia heran melihat anak dara itu berada di sini bersama kedua kakek aneh itu.
"Aneh, mengapa dia bisa berada di sini?"
Demikian pikirnya.
"Bukankah dia berada di rumahnya tempo hari? Mau apa dia berkumpul dengan kedua kakek aneh di bukit yang sunyi ini? Permainan apa yang sedang mereka lakukan......... Sementara Tian Pek keheranan, kakek buntung yang sedang menari dengan tangan menggantikan kaki itu sudah meloncat bangun berbareng meraih kedua tongkat penompang tubuhnya, lain dengan, bangga dia berkata.
"Coba, hebat bukan? Hahaha jangan kalian mengira aku tak punya kaki, kan sudah kulakukan juga permainan ini?"
Wan-ji menghela napas, katanya.
"Ai, kukira Kungfu kalian selisih tidak banyak dan sukar ditentukan, siapa lebih unggul, kurasa lebih baik tak dilanjutkan pertandingan ini !"
"Selisih tidak banyak apa?"
Teriak kakek rambut putih itu dengan penasaran.
"Anak perempuan, bilang saja bahwa Kungfu kami sangat tinggi dan luar biasa. Hehe, bagaimanapun juga, aku harus menentukan siapa yang lebih unggul dengan dia."
"Betul!"
Sarnbung kakek buntung itu dengan cepat.
"Kita sudah bertanding selama tiga hari tiga malain dan tetap belum tahu siapa yang lebih unggul, mungkin sernua Kungfumu sudah kau kuras keluar semua. Huh, apakah mungkin kau memiliki jurus lain lagi yang bisa kau gunakan?"
"Tapi, kalian akan bertanding apa lagi?"
Seru Wan ji.
"Ilmu pukulan, pakai senjata tajam, ilmu senjata rahasia, tenaga dalam, gerakan tubuh maupun kecepatan langkah, sernua telah kalian pertandingkan, kukira kita sudah kehabisan bahan untuk melanjutkan pertandingan ini, lebih baik dianggap seri saja."
"Tidak, tidak bisa,"
Teriak si kakek rambut putih sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Hahaha, ini dia, ada persoalan baru lagi, barusan telah kedatangan satu orang dan orang itu bersembunyi di sana sedang rnengintip gerak-gerik kita .........."
Sebelum kakek itu selesai berkata, kakek buntung lantas tertawa terbahak2.
"Hahaha, jangan kau anggap aku tidak tahu apa2, sedari tadi akupun sudah tahu akan kedatangannya. Itu dia, sembunyi di belakang pohon sana?"
Sambil berkata iapun menuding ke tempat sembunyi Tian Pek.
Betapa terperanjatnya anak muda itu demi mendengar perkataan tersebut, ia mengira tempat sembunyinya cukup rahasia, tak tahunya tetap tak dapat mengelabui kedua kakek itu.
Dalam keadaan begini tentu saja ia tak dapat berdiam terus di situ, terpaksa Tian Pek berbangkit dan siap unjuk diri.
"Eeh, tunggu sebentar, teriak kakek rambut putih itu mendadak.
"kau jangan keluar dulu dari tempat persernbunyianmu........."
Sekali lagi Tian Pek terperanjat, pikirnya.
"Aku belum bergerak dan dia lantas dapat menebak isi hatiku, memangnya dia memilki ilmu gaib?"
Selagi dia masih termenung, kakek rambut putih itu telah berkata pula.
"Nah, sekarang marilah kita menebak orang ini, siapa yang dapat menebak dengan jitu, dialah yang menang, siapa yang tak mampu menebak, dia yang tak becus. Nah, setuju?"
Tanpa menanti jawaban, kakek itu melanjutkan pula kata-katanya.
"Hayolah, kita menebak berapa usia pendatang ini, laki2 atau perempuan? Kalau kau tak mampu menebaknya, lebih baik jadi kunyuk saja, setuju bukan?"
Kakek cacat kaki itu bergelak tertawa.
'Haha, setan tua penunggang keledai, sekalipun tipu muslihatmu banyak, jangan kauharap akan menipu diriku, kalau pendatang itu orang yang sudah kaukenal, kan aku yang rugi?
Memangnya aku dapat kautipu?"
Mula2 Tian Pek agak terkejut sewaktu mendengar disebutnya "si penunggang keledai", dengan cepat iapun paham, bukankah kakek berambut putih ini adalah Sin lutiat tan (keledai sakti peluru baja) Tan Jian-li yang sedang dicarinya?
Setelah mengetahui siapa kakek ini, Tian Pek tak dapat menahan emosin)a lagi, iapun tak mau tahu pertaruhan apa yang sedang dilakukan kedua kakek itu, segera ia melayang ke atas panggung batu itu sambil berseru lantang.
'O, Tang-lociaupwe sungguh susah Wanpwe mencari jejakmu ...
Tang Jian-li melengak, dengan ketajaman pendengarannya sebenarnya kakek itu mengetahui ada seorang bersembunyi di belakang pohon, dan langkah kakinya yang mantap ia tahu orang itu pasti masih muda dan jelas seorang laki2, maka diajukannya syarat pertandingan itu dengan maksud akan mengalahkan si kakek cacat.
Siapa tahu pendatang ini benar2 kenal padanya, kejadian ini sama sekali tak terduga olehnya, sebab ia merasa sudah puluhan tahun lamanya mengasingkan diri, sudah jarang ada orang persilatan yang kenal nama aslinya.
Kini Tian Pek menyebut namanya dengan jitu, itu berarti orang yang sudah kenal seperti apa yang tuduhkan si kakek cacat tadi.
Dengan sorot mata yang tajam ia menatap Tian Pek tanpa berkedip, kemudian in bertanya.
"Heh anak muda, darimana kautahu aku she Tang?"
Belum lagi Tino Pek menjawab, kakek cacat itu sudah tertawa ter kekeh2 dan berkata.
"Hehehe, kau tak perlu main sandiwara lagi, kan sudah kukatakan sedari tadi, kau si setan tua penunggang keledai ini banyak akal muslihatnya, rupanya dugaanku memang tak keliru. Hahaha, kau sengaja menyuruh seorang muda bersembunyi di sana untuk menipu aku. Huh, biarpun anak berusia tiga tahunpun tak bisa kautipu."
Gusar Sin-lu-tiat-tan Tang Jian li mendengar tuduhan itu, dia angkat telapak tangannya dan melayang ke depan sambil melepaskan suatu pukulan teriaknya dengan gusar.
"Tua bangka, tak usah cerewet lagi, rasakan pukulanku ini ...... !"
Serangan itu tidak membawa desiran angin, akan tetapi tenaga pukulan yang terpancar ternyata sangat hebat.
"Huh, biarpun seratus kali pukulan juga akan kulayani,"
Jengek si kakek buntung.
Sambil bicara kakek cacat itu terus bergerak, setelah tongkat penompang digantolkan pada sikunya, tangannya berputar, segulung angin pukulan dingin terpancar dari telapak tangannya.
Dua gulung angin pukulan salirg bentur dan menimbulkan suara keras, kedua orang sama tergentak ke atas, dengan cepat mereka terlibat pula dalam serentetan pukulan dahsyat.
"Blang! Biang! Blang!"
Dalarn waktu singkat mereka telah beradu tenaga pukulan beberapa kali.
Suara benturan itu tidak terlalu keras bunyinya, namun memantul cukup jauh dan menimbulkan gema yang bergemuruh.
Diam2 Tian Pek terperanjat, gerak tubuh kedua orang yang sangat cepat dan aneh ini menandakan kepandaian mereka sungguh luar biasa.
Tian Wan-ji terkejut dan gembira melihat kemunculan Tian Pek tadi, tapi ketika dilihatnya anak muda itu tidak menggubrisnya tapi terkesima oleh pertarungan kedua kakek, Nona itu jadi sedih, katanya dengan rawan.
"Ai, mereka telah saling hantam dan mungkin sukar diakhiri. Sungguh tak terduga, usia mereka sudah setua itu, akan tetapi emosi mereka masih begitu besar, entah bagaimana akhirnya nanti?"
Tian Pek tetap membungkam, ia sedang terkesima oleh kelincahan serta kegesitan kakek cacat itu, meski kedua kakinya buntung, dan sebagai penggantinya adalah kaki kayu yang besar di atas dan kecil di bawah, akan tetapi semua itu sama sekali tidak mengurangi kegesstannya, kedua telapak tangannya masih terus berputar kian kemari tanpa alangan, tubuhpun bisa mengegos ke kiri kanan atau merendah atau meloncat dengan leluasa, sedikitpun tidak berada di bawah kelihayan Siu-lu-tiat-tan yang bertubuh sempurna.
Diam2 anak muda ini kagum sekali, iapun heran dan bertanya.
"Kenapa kedua kakek ini saling bergebrak?"
"Akupun tidak tahu kenapa mereka saling bargebrak!"
Jawab Wan-ji sambil menggeleng.
"aku datang kemari untuk mencari kau, bukan kau yang kutemukan, tapi merekalah yang kulihat sedang bertarung, katanya mereka telah bertempur selama tigahari tiga malam. Sewaktu aku tiba di sini tadi, katanya baik pukulan bertangan kosong, senjata tajam, tenaga dalam dan semua telah dipertandingkan tapi mereka belum berhasil menentukan siapa yang lebih unggul, maka mereka lantas minta aku sebagai wasit dan mengajukan berbagai acara pertandingan, sudah kugunakan macam2 cara yang sulit, tapi mereka tetap sama tangguhnya, ketika engkau datang tadi, mereka sedang mempertandingkan ilmu langkah Ni-gong-huan-ing (lintas angkasa bayangan semu), sekalipun kakek aneh itu tak punya kaki, tapi ia telah menggantikan kakinya dengan tangan dan tetap tidak kurang gesitnya, maka keadaan pun masih tetap seri!"
Setelah mendengar penuturan tersebut sedikit banyak Tian Pek dapat meraba garis besar kejadian itu, tapi dia tetap tidak tahu sebab apa kedua kakek saling bergebrak.
Tiba2 hatinya tergerak, dia berpaling dan bertanya.
"Wan-ji, kau bilang sedang mencari aku? Ada urusun apa kau mencari ku?"
Sedih Wan-ji, hampir saja air mata menetes.
"Dengan susah payah kutolong dirimu hampir saja nyawaku ikut berkorban, masa kau sama sekali tidak mengetahuinya?"
Demikian pikir anak dara itu. Meskipun berpikir demikian, namun perasaan tersebut tidak sampai diutarakannya, ucapnya.
"Bukankah kau terluka oleh Hiat-ciang-hwe-liong ketika berada di restoran Hin-liong-cin-Iau? Memangnya siapa yang menyelamatkan jiwaniu? "O, jadi nona yang telah menyelamatkan jiwaku?"
Seru Tian Pek.
"Kalau begitu tentunya engkau telah bertemu dengan Hoat-si-jin bukan? Tapi aneh, ke mana kau pada waktu itu? Kenapa tidak kulihat dirimu di sana?"
Merah wajah Wan-ji membayangkan peristiwa pahit yang dialaminya itu, hampir saja ia menangis ter-sedu2.
"Eh, sudah selesai belum kalian mengobrol?"
Tiba2 dr tengah pertarungan seru itu terdengar teriakan "Kalau sudah cakup kongkou hendaknya cepat menyingkir dari sini, awas, aku akan melepaskan serangan yang mematikan!"
"Hehe. besar amat mulutmu!"
Ejek si kakek cacat sambil tertawa.
"Tua bangka penunggang keIedai, Iebih baik kurangi teriakaimu, kalau memang mau kentut hayolah lepaskan kentutmu itu, kalau mau pamer kepandaian cepatlah pamerkan, jangan kuatir, semua permainanmu pasti akan kuterima dengan tangan terbuka!"
"Ciaat! ."
Tiba2 Sin-lu-tiat-tanberteriak gusar,menyusul segulung angin keras mendampar disertai suara gemuruh yang mernekak telinga.
Karena damparan angin pukulan yang dahsyat itu, baik Tian Pek maupun Wan-ji tak sanggup berdiri tegak lagi, mereka sama2 melompat turun dari panggung batu itu dan meloncat ke atas pohon liong di depan situ Sambil bicara mereka menonton jalannya pertarungan yang semakin seru itu.
Kedua kakek itu mernang sama2 lihaynya, semua jurus serargan maupun gerakan tubuh dilakukan dengan secepat kilat angin pukulan mereka pun sama2 santar dan kuat, meskipun sama2 menggunakan tenaga lunak, akan tetapi kekuatan yang terpancar dari serangan masing2 tetap sangat hebat.
Setelah merapelajari ilmu menurut isi kitab Soh-kut-siau hun pit-kip, ditambah pula urat penting dalam rubuhn)a telah lancar semua, baik pendengaran ataupun penglihatan Tian Pek boleh dibilang sudah mencapai kesempurnaan, sekalipun berada di kegelagran ia sanggup melihat benda dengan cukup jelas.
Namun begitu tetap tak dapat dimanfaatkan untuk mengikuti jalannya pertarungan itu, ia merasa kabur gerak tubuh kedua orang tua itu sehingga semua gerak-gerik sukar diikuti.
Kalau Tian Pek saja tak mampu mengikuti pertarungan itu, apalagi Wan-ji?
"Blang!
Blang ..!"
Beberapa kali benturan berkumandang rnemecah kesunyian malam yang mencekam itu, dengan gerakan cepat kedua orang itu saling memisahkan diri.
"Hehehe, setan tua penunggang keledai,"
Teriak kakek cacat itu sambil tertawa.
"tadinya kukira pukulan Ki-heng-tui-hong-ciang (pukulan aneh pengajar angin) sangat lihay, hah, tak tahunya hanya begini saja. Hayo kalau punya simpanan lain yang lebih baru dan lebih segar, keluarkan saja semuanya, jadi manusia jangan terlalu pelit."
Sin-lu-tiat-tan sudah tersohor pada puluhan tahun yang lalu, ilmu silatnya sangat tinggi dan sudah mencapai puncaknya, semakin menanjak usianya boleh dibilang makin berkurang ambisinya untuk cari nama, sebab itulah sudah puluhan tahun dia rnengasingkan diri dan sudah dilupakan oleh dunia persilatan.
Sekalipun begitu, kadangkala dia muncul juga di dunia Kangouw dengan menyaru sebagai pedagang kecil atau penjual makanan.
Selamanya dia hanya suka mempermainkan orang lain dan belum pernah merasakan dipermainkan orang lain.
Sekarang berjumpa dengan kakek buntung yang tak diketahui namanya ini, sudah tiga-haritiga malam mereka bertempur, akan tetapi menang-kalah belum juga dapat ditentukan.
Apalagi kakek buntung ini suka ber olok2 dan mengejek, setelah berlangsung tiga-hari tiga malam, habis juga kesabarannya, mendengar ejekan tadi kontan saja dia rnernbentak murka.
"Hei, makhluk tua kau jangan latah, ini, rasakan dulu dua buah peluru bajaku ini! Sambil berseru tangannya lantas terayun ke depan, sejalur cahaya tajam meluncur ke, depan. Dengan membawa desing angin keras cahaya tersebut langsung mengancam muka kakek cacat itu. Tapi kakek cacat itu malahan menengadah dan tertawa ter-babak.
"Hahahaha, permainan anak kecil begini juga berani diparnerkan di hadapanku ejeknya. Dengan suatu gerakan seenaknya, kakek itu angkat tongkat kanannya rnenangkis ke atas.
"Criing .... !"
Denting nyaring terdengar, peluru baja yang meluncur tiba itu mencelat ke udara.
Sin-lu-tiat-tan membentak gusar, kembali peluru baja kedua menyambar pula ke depan, tapi arah yang dituju sekali ini bukan si kakek cacat melainkan menghantam peluru baja pertaina yang terpental oleh tangkisan tongkat si kakek btintung tadi.
"Tring . !"
Kcdua peluru baja itu saling membentur di udara, terjadilah percikan bunga api yang membura ke bawah bagai hujan sinar perak disertai suara mendengung, dari kanan-kiri kedua peluru itu mengancam lambung si kakek buntung.
Melengak juga kakek cacat itu oleh kelihayan senjata rahasia yang aneh itu, dengan tertawa berseru.
"Haha, permainan tukang jual obat ini belum lagi mampu merepotkan aku!"
Sambil bicara tongkatnya menangkis pula.
"Tring, tring..... !"
Kedua biji peluru itu tahu2 mencelat lagi ke udara. Tapi kedua biji peluru itu seperti benda hidup saja, setelah berputar satu lingkaran, lalu saling berturnbuk lagi.
"tring!"
Kedua peluru baja itu menyambar pula ke dada kakek aneh itu.
"Haha, setan tua penunggang keledai, tak kusangka permainanmu lumayan juga, hahaha, begini-baru menyegarkan badan!"
Sambil berkata si kakek buntung angkat tongkat menangkis pula, dentingan nyaring sekali lagi menggema, kedua biji peluru baja itu terpental ke udara, tapi bagaikan bersayap benda itu segera berputar balik dengan dentingan nyaring dan menyambar pula mengancam jalan darah penting di sekujur badan musuh.
Cara melepaskan senjata rahasia yang aneh oleh kakek perrunggang keledai ini boleh dibilang jarang ada di kolong langit ini, baik Tian Pek maupun Wan-ji mengikuti jalannya pertarungan dari atas dahan pohon dengan mulut melongo dan lupa berbicara lagi.
Akan tetapi kakek aneh itu sama sekali tak pandang sebelah mata terhadap ancaman yang tiba, sambil mengoceh terus mengejek lawannya dia mengegos ke sana dan menghindar sini dengan gesitnya, setiap kali tongkat berputar, peluru baja yang mendekat segera mencelat jauh ke udara.
Melihat dua biji peluru baja gagal melukai lawan, Sin-lutiat-tan berkata.
"Makhluk tua, supaya kau puas bermain dengan peluruku ini kutambah satu biji lagi."
Berbareng dengan ucapan tersebut, peluru ke tiga segera menyambar ke depan.
Peluru ketiga ini bentuknya jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan kedua peluru yang duluan, setelah dilepaskan bukan suara mendengung yang terdengar, tapi suara mendenging seperti suara sempritan, gerak luncurannya juga sangat cepat, malahan jauh lebih cepat daripada kedua peluru yang pertama, terus menyambar ke muka si kakek buntung.
"Eeh jangan tambah lagi, aku bisa kewalahan nanti ..... !"
Teriak kakek aneh sambil rnenjerit seperti orang kerepotan.
Meskipun di mulut di mulut ber kaok2, tapi tangannya tidak rnengarggur, sebelum peluru sakti itu mengenai badannya, cepat dia putar tongkat untuk menangkis.
Tapi sekali ini dia kecelik, ternyata tangkisan itu mengenai tempat kosong, sebelum ujung tongkat nienyentuh peluru tersebut, secara otomatis senjata itu mengegos ke samping.
Kiranya peluru kecil itu dibikin secara khusus, apabila menjumpai rintangan, maka secara otomatis senjata rahasia itu akan berbelok arah, maka dengan sendirinya tangkisan si kakek aneh itu meleset.
Sementara itu peluru kecil tadi sudah berputar satu lingkaran dan mengancam pula telinga kiri si kakek.
Kakek aneh itu tidak menyangka akan sergapan luar biasa ini, hampir saja ia kena diterjang, untung ilmu silatnya sudah mencapai puncak kesempurnaannya, ke mana ia mau bergerak, secara otomatis tenaganya tersalur dengan sendirinya.
Ketika desiran angin tiba2 muncul di tepi telinganya, serentak dia tarik kepalanya ke belakang lalu rnenghindar ke samping, diiringi desingan tajam, peluru itu menyambar lewat.
Baru lolos dari ancaman pertama, kedua peluru yang mencelat ke udara tadi tiba2 menyambar kembali ke bawah.
Dengan cekatan kakek aneh itu putar tongkat untuk menangkis, siapa tahu peluru ketiga yang meleset tadi sudah menikung balik dan menyambar lambungnya, hal ini membuat si kakek rada kelabakan dan ber kaok2.
Ketiga peluru sakti milik Sin-lu-tiat-tan memang tersohor akan kelihayannya, jarang sekali ia menggunakan ketiga pelurunya itu sekaligus, biasanya hanya cukup menggunakan sebiji saja, kawanan jago persilatan baik dari golongan putih maupun dari kalangan hitam pasti akan lari terbirit2.
Bilamana dua biji peluru digunakan jelas terlebih sukar melawan apalagi sekarang tiga biji peluru digunakan sekaligus, ia yakin si kakek buntung pasti tidak mampu, menahannya.
Tian Pek serta Wan ji sampai kabur mengikuti jalannya pertarungan itu dari atas dahan, mereka tak mampu mengikuti lagi jalannya pertarungan dengan jelas, hanya terlihat serentetan cahaya perak, ibarat tiga ekor ular lincah berputar dan menyambar tiada hentinya mengitari badan kakek aneh itu, denging nyaring bercampur aduk menciptakan gema suara yang membetot sukma, ditambah pula suara benturan nyaring yang menerbitkan bunga api, membentuk serangkaian pemandangan yang indah dan aneh pula.
Setelah ketiga biji peluru berhasil membuat musuh kalang kabut barulah Sin lu-tiat tan berdiri sambil berpeluk tangan, katanya dengan tertawa.
"Bagairnana rasanya peluru saktiku, kawan? Hahaha! Ketiga biji peluruku sekaligus, rasanya tentu lain bukan?"
Si kakek aneh meraung gusar, kedua tongkatnya kencang.
terdengar dering nyaring dan letupan bunga api, ketiga peluru itu tertangkis mancelat jauh, tiba2 ia sendiri menjatuhkan diri ke atas tanah, Ketika ketiga peluru tadi berputar satu lingkaran di udara dan menyambar balik ke sasarannya, jejak si kakek aneh itu sudah lenyap.
Dangan begitu, ketiga peluru itupun kehilangan sasarannya, benda itu hanya berputar terus di udara.
Melenggong juga Sin lu tiat tan menghadapi kejadian yang tak terduga ini, ia angkat tangan dan menarik kembali senjata rahasianya.
Selagi berdiri melongo, tiba2 dari belakang di dengarnya kakek aneh itu mengejek.
"Huh, tiga biji pelurumu juga tidak mampu menandingi ilmu Sansinbu-ing (tubuh berkelebat tanpa bayangan), hehe, apabila aku tidak jaga harga din', sejak tadi kau tentu sudah terluka oleh seranganku dari belakang!"
Sin-lu-tiat-tan menarik muka, mendadak ia putar badan sambil melontarkan pukulan pelahan. Segulung angin pukulan yang lunak terus mendampar ke belakang.
"Hah, Lui-im-hud-ciang!"
Teriak kakek aneh itu dengan terperanjat Mendadak ia jatuhkan diri ke tanah, dan tahu2 bayangan tubuhnya sudah lenyap pula.
Karena sasaran yang dituju menghilang mendadak, maka angin pukulan yang dahsyat itu langsung menggulung ke depan dan menumbuk sebatang pohon siong.
"Blang!"
Suara gemuruh keras memecah kesunyian, pohon siong itu patah menjadi dua dan tumbang. Pasir debu dan patahan ranting pohon berhamburan, suasana terasa mengerikan.
"Sungguh hebat tenaga pukulan itu!"
Puji Tian Pek sambil menjulurkan lidah.
"Seorang mampu melatih ilmu silatnya hingga tingkat setinggi ini, sungguh sukar untuk dibayangkan."
"Memang ilmu pukulan yang lihay!"
Sahut Wan Ji mengangguk.
"seringkali kulihat jago silat kelas wahid yang berkumpul dirumahku saling beradu tenaga pukulan, tapi belum pernah kulihat seorang yang memiliki tenaga pukulan sedahsyat ini!"
Menyinggung keluarga gadis itu, tanpa terasa Tian Pek teringat kembali akan dendamnya, dia lantas bertanya.
"Apakah ayahmu bernama Ta sangjiu Buyung Ham?"
"Engkau kan sudah tahu, kenapa bertanya lagi?"
Omel Wan-ji sambil mengerling sayu.
"Aku cuma heran, kalau Buyung Ham benar ayahmu, mengapa kau tidak she Buyung, tapi she Tian?"
"Eeh, kau benar2 seorang pelupa atau sengaja berlagak bodoh?"
Kata gadis itu dengan kurang senang.
"Kan sejak mula sudah kuterangkan padamu bahwa aku ikut she ibuku!"
"Di dunia ini umumnya anak ikut she ayahnya, jarang yang ikut she ibunya. Atau nona Wan, jangan2 kau bukan ana k kandung Ti-seng-jiu?"
Hebat sekali perubahan air muka Wan-ji katanya dengan gusar.
"Kau tidak percaya padaku dan mengira aku berdusta?"
Tian Pek menjadi sedih, pikirnya.
"Wan-ji adalah gadis yang masih suci murni dan baik hati, sudah dua kali dia selamatkan jiwaku. Bila suatu hari kucari ayahnya untuk menuntut balas, oh, entah betapa sedih dan bencinya nona ini padaku?"
Jelas Wan-ji jatuh cinta kepada Tian Pek, kaIau tidak tentu dia tak perlu meninggalkan rumah secara diam2 dan menempuh bahaya untuk mencari anak muda itu.
'Tapi apa mau dikata?
Wan-ji tak lain adalah putri musuh besarnya, mungkinkah hubungan cinta ini dapat berlangsung dengan lancar dan langgeng?
Melihat Tian Pek termenung dengan alis berkernyit, Wan-ji mengira kata2nya yang kasar tadi telah menyinggung perasaan anak muda itu.
Maka ia menjadi tak tega dan cepat berkata pula.
"Engkoh Tian, engkau marah kepadaku?"
Tian Pek menggeleng dan tarik napas panjang2. jawabnya.
"Aku tidak marah, aku cuma .... ahh!"
Mendadak pemuda itu menjerit kaget dan perhatiannya ke atas pauggung baru, rupanya pertarungan yang berlangsung antara kedua jago tua itu telah mencapai saat yang gawat.
Kaget juga Wan-ji mendengar seruan tersebut, cepat iapun menengok ke sana, dilihatnya kedua kakek itu sedang saling melotot sambil mengitari gelanggang.
Gerak-gerik mereka persis dua ekor ayam jago yang siap bertarung.
Pertarungan mereka tidak berlangsung dengan kecepatan tinggi lagi, kedua orang sama bergerak mengitari gelanggang dengan langkah yang sangat lambat, dengan mata melotot tajam saling pandang tanpa berkedip, beberapa lingkaran kemudian baru kedua orang saling hantam satu kali dengan dahsyat.
Sekilas pandang pertarungan mereka memang berlangsung lamban dan Iucu, tapi justeru pertarungan macam inilah yang paling banyak menggunakan tenaga serta banyak menanggung resiko.
Baik Tian Pek maupun Wan-ji, keduanya cukup tahu apa yang sedang terjadi, mereka tahu resiko pertarungan macam begitu.
Bukan saja segenap tenaga dalam yang mereka miliki harus diadu, malahan setiap pukulan pasti pukulan mematikan, siapa meleng dia akan celaka.
Tian Pek menguatirkan keselamatan Sin-lu-tiat-tan, sebab hanya orang tua inilah yang mengetahui tentang kematian ayahnya, hanya dia pula akan menambah ilmu silatnya jadi lebih lihay.
Bila Sin-lu-tiat-tan kalah, bukan saja harapannya untuk belajar akan musnah, bahkan siapa pembunuh ayahnya juga takkan diketahuinya, maka ia ikut tegang hingga keringat dingin membasahi tubuhnya.
Ilmu silat kakek aneh itupun sangat lihay, malahan boleh dibilang hampir seimbang dengan Sin-lu-tiat-tan, tapi Tian Pek tak pernah ingin belajar silat padanya, apalagi tingkah laku kakek itu-pun rada kurang beres, gaya ilmu silatnya tidak mirip Kungfu aliran baik bahkan kakek aneh itu pun tidak tahu tentang kematian ayahnya.
Berdasarkan alasan inilah, maka Tian Pek lebih condong untuk menjagoi Sin-lu tiat tan dari pada kakek aneh itu, kendatipun kedua orang kakek itu sama sekali tak ada hubungan apa2 dengan dia.
Wan-ji sendiri sama sekali tidak memperhatikan jalannya pertarungan kedua kakek itu, seluruh pikiran dan perhatiannya hanya tertuju kepada Tian Pek seorang.
Betapa cemasnya gadis itu ketika dilihatnya Tian Pek duduk dengan dahi berkerut, badan menggigil karena tegang dan keringat membasahi sekujur badannya.
"Engko Tian, apa gunanya ikut tegang? Kedua kakek itu sama2 anehnya, siapa menang dan siapa kalah kan tak ada hubungannya dengan kita......"
Tian Pek sama sekali tak meuggubris bisikan lembut si nona, mendadak ia menyingkirkan Wan ji yang bersandar di bahunya itu, kemudian ia melompat turun dari dahan pohon dan melayang ke atas panggung batu.
"Engkoh Tian, jangan!"
Seru Wan-ji dengan kuatir, cepat iapun melompat turun menyusul ke atas.
Kiranya pertarungan waktu itu sudah berhenti, kedua kakek itu tidak mengitari gelanggang lagi melainkan berdiri saling berhadapan dengan telapak tangan saling menenipel, sementara tenaga dalam mereka rnengalir keluar tiada hentinya dari tangan masing2.
Uap mengepul keluar dari atas kepala kcdua orang tua itu, sedangkan kaki mereka sama ambles ke dalam batu karang itu.
Melihat gelagatnya, dapat diketahui bahwa pertempuran telah mencapai puncaknya yang paling gawat.
Air muka Sin-lu-tiat-tan tampak prihatin, kuda2nya kuat, rambut sama berdiri seperti duri landak, matanya melotot, sepatunya sudah pecah, kakinya sudah ambles sedalam tiga dim di dalam batu karang, tampaknya ia sudah kepayahan.
Kakek buntung itu lebih aneh lagi, kaki palsunya sudah menancap ke dalam batu separoh bagian, telapak tangannya yang direntangkan sejajar dada tampak gemetar.
kabut putih yang mengcpul dari kepalanya juga lebih tebal daripada kabut di kepala Sin lu tiat-tan, dari keadaan itu dapat diketahui bahwa jago tua inipun tidak lebih unggul.
Tian Pek tahu pertarungan adu tenaga adalah pertarungan yang paling berbahaya, apabila salah satu pihak kalah kuat, niscaya isi perutnya akan hancur berantakan terhajar tenaga pukulan lawan dan akhirnya binasa.
Sebaliknya jika kekuatan mereka berimbang, maka risikonya kedua pihak akan sama2 terluka atau lebih parah lagi bisa mengakibatkan kedua orang itu gugur bersama.
Dengan gelisah Tian Pek menghampiri kedua orang tua itu.
serunya dengan lantang.
"Locianpwe berdua, kalau ada perselisihan alangkah baiknya dibicarakan secara baik2, buat apa kalian mesti berkelahi mati2an begini?"
Waktu itu pertempuran sudah berlangsung mencapai puncaknya, mereka tidak menghiraukan ucapan Tian Pek, umpama mendengar juga tak sempat menjawab.
Tian Pek semakin gelisah, dia luntas mendekati mereka, maksudnya mau memisah.
Terperanjat Wan-ji, cepat ia menariknya dan berseru.
"Jangan ke situ, engkoh Tian! Pertarungan mereka telah mencapai puncaknya, Lwekang mereka telah tersebar di empat penjuru, jika engkau berani mendekati mereka, engkau sendiri yang akan terluka......... ."
"Tapi kita tak boleti berpeluk tangan menyaksikan kedua orang kakek itu mati konyol!"
Sahut Tian Pek sambil melepaskan pegangan Wan-ji dan melangkah maju pula.
Tapi sebelum rnendekat, segera Tian Pek merasa ditahan oleh suatu tenaga yang tidak kelihatan.
Untuk melangkah maju lagi sudah tidak mampu, keruan Tian Pek terkejut.
Namun ia masih coba lagi.
"Blang!"
Tian Pek sendiri tergetar mundur, dada terasa sesak dan telinga mendengung.
"Hebat sekali!"
Gumamnya sambil menjulur lidah. Cepat Wan-ji memapah anak muda itu dan bertanya kuatir.
"Engkoh Tian, terluka tidak?"
"Ah, tidak apa2........."
Sahut pemuda itu sambil menggeleng.
Mendadak terdengar bentakan kedua kakek, seperti ledakan hawa, sekonyong2 angin keras terpancar ke segenap penjuru.
Padahal Tian Pek dan Wan-ji berdiri jauh di tepi panggung, tapi tidak urung mereka terdesak mundur dan akhirnya jatuh ke bawah.
Untungnya mereka berdiri rada jauh, lagi pula tenaga pukulan yang dilancarkan kedua orang tua itu bukan ditujukan ke tubuh mereka, maka kendatipun tergetar jatuh dari panggung batu mereka tidak terluka.
Begitu menyentuh tanah, sekali kaki menutul, kembali mereka meloncat ke atas panggung batu.
Tapi setelah tahu keadaan di atas panggung, mereka jadi terkejut.
Sin lu-tiat-tan Tan Cian-li dengan wajah pucat seperti mayat duduk di tempat semula, rambut, jenggot dan ujung bibirnya berlepotan darah, mata terpejam rapat, jelas menderita luka dalam yang cukup parah.
Keadaan kakek buntung itupun sama parahnya seperti Sin lu-tiat tan, kaki palsunya serta kedua tongkat penyanggah badannya patah semua, separoh badannya berduduk dengan mata terpejam muka kuning pucat dan ujung bibirnya berkelepotan darah, keadaannya juga cukup parah.
Tian Pek memburu ke depan, menghampiri Sin-lu-tiiat-tao, tanyanya dengan kuatir.
"Tang-locianpwe, parahkah Iukamur Sin lu tiat-tan tetap membungkarn dengan mata terpejam, selang sesaat kemudian dia merogoh sakunya dan mengambil keluar beberapa biji obat, obat itu ditelannya sekaligus. Kemudian baru ia membuka mata dan mengejek dengan tertawa rawan.
"Hei, makhluk tua, engkau masih hidup?"
"Hahaha, jangan kuatir!"
Sahut kakek aneh itu sambil membuka matanya.
"selama kau si penunggang keledai belum mampus, tak nanti aku mampus duluan!"
Segera iapun keluarkan sebungkus obat bubuk dan ditelannya. Menyaksikan ketangguhan lawannya, Tang Cianli menghela napas, ia berkata.
"Ai, makhluk tua! Kuakui kau ini lawan tangguh yang belum pernah kujumpai sepanjang hidupku."
"Hahaha, kauanggap aku paling tangguh, aku-pun anggap kau paling lihay, selama hidupku belum pernah ketemu tandingan, tak tersangka pada saat ajalku bisa kutemui orang setangguh kau. meskipun kita tak akan hidup lama lagi, tapi pertarungan ini cukup memuaskan hatiku. Hahaha, orang belajar silat mati karena ilmu silat, itulah namanya cocok, mati pada ternpatnya yang tepat "
"Eeh makhluk tua, sebenarnya siapakah engkau? Mengapa aku merasa asing atas dirimu, aku rnerasa belum pernah menjumpai kau di dunia persilatan? Siapakah namarnu? Dapatkah kau memberitahu agar kematian kita ini tidak sia2."
Kakek aneh itu menengadah dan tertawa terbahak2, tentu saja suaranya kalah nyaring jika dibandingkau sebelum bertempur tadi.
"Hahaha, percuma kau bernama Sin-lu (keledai sakti), masa kau tak pernah mendengar nama Sin kau (monyet sakti)?"
"Ah, jadi kau ini Sin kau Tiat Leng yang sepuluh tahun yang lalu bercokol di Le-kung-san?"
"Tepat, itulah diriku. Meskipun kita belum pernah bertemu, namun nama kita Lam-kau-pak-lu (monyet dari selatan, keledai dari utara) sudah tersohor sejak puluhan tahun berselang, itu berarti nama kita sudah bersahabat sejak lama. Hahaha!"
Tian Pek maupun Wan-jt merasa heran bercampur kaget, mereka tak menyangka kalau kakek aneh itu adalah "monyet sakti"
Yang sudah tersohor namanya puluhan tahun yang lalu.
Sekalipun sudah belasan tahun tak muncul di muka umum, namun kelihayan dan kesaktiannya seringkali dibicarakan orang, tidaklah heran apabila generasi muda masih kenal namanva.
Sementara itu Tang Cian-li telah tertawa pula dengan suara serak, kemudian berkata.
"Sejak puluhan tahun berselang aku sudah punya niat menemui diriniu, sayang pada waktu itu terlalu banyak pekerjaan yang harus kuselesatkan sehingga rencana itu terbengkalai, sungguh tak tersangka puluhan tahun kemudian kita masih dapat bertemu. Hahaha, sekarang harapan kita sudah terkabul, matipun merasa puas dan tak rnenyesal."
"Apanya yang puas?"
Teriak Sin kau dengan mata melotot.
"bisa bertemu dengan kau si keledai ini memang memuaskan, tapi tidak berarti tiada lagi hal lain yang menyesalkan."
Sin-lu Tang Cian-li melanggong, katanya.
"Usiaku sudah mendekati seratus tahun, kupercaya umurmu juga hampir satu abad, hidup sampai setua ini bagi kita orang persilatan bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, apa lagi bisa mati di tangan sahabat tua yang sama2 kagum, memangnya kau menyesalkan urusan apalagi?"
Sin-kau menggeleng sedih.
"Ai, pikiranku tidak terbuka seperti dirimu, coba bayangkan, kalau kita mampus di sini, bukan saja jenazah kita tak ada yang mengurus, bahkan setelah mati, mayat kita mungkin akan dimakan atau dirusak binatang buas, apakah kematian semacam ini kematian yang aman?"
"Ya, hidupku salama ini hanya cari ketenangan, tidak beristeri tak beranak, juga tak pernah menerima murid, sudah kuputuskan beberapa karat tuIangku ini akan kuberi makan anjing. Akan tetapi kudengar kau si monyet tua ini pernah menerima dua orang murid, memangnya kedua muridmu itu tak dapat membereskan jenazahmu setelah kau mati?"
Air maka Sin-kau tiba2 berubah jadi gemas bercampur benci katanya.
"Jangan kau sebut lagi kedua murid durhaka itu, setiap kali teringat mereka, aku jadi benci dan ingin melalap mereka. Hmm, coba lihat ini ....
"Dia menuding kedua kakinya yang buntung, lalu meneruskan .
"Lantaran mereka, kakiku terkutung, selama pu!uhan tahun aku takbisa berkelana di dunia Kangouw, inilah hadiah yang diberikan kedua murid murtad itu!"
"Tapi mengapa kedua murid durhaka itu kau lepaskan begitu saja?"
Kata Sin-lu. Sin-kau melotot sekejap lawannya, katanya.
"Hm, omong lagi? Jika bukan gara2mu yang mengalangi diriku, niscaya kedua murid murtad itu sudah mampus di ujung tongkatku, mana mereka bisa kabur lagi?!"
"Haah, jadi kedua orang yang kau kejar sampai lari terbirit2 tiga hari yang lalu itu adalah murid2 yang mencelakai darimu?"
Seru Tang Cian-li dengan terperanjat.
"Lalu siapakah si cebol itu? Apakah dia juga muridmu?"
"Dua orang itulah murid murtad yang sedang kucari"
Sahut Sin-kau dengan sedih "sedangkan si cebol itu adalah ahliwaris mereka berdua.
Tentunya sekarang kau maklum bukan, betapa gusarnya hatiku ketika engkau mengalangi niatku membinasakan mereka, jadinya kita berdua yang saling labrak, mungkin waktu itu kau anggap aku ini orang jahat."
Dia menghela napas panjang, lalu menyambung pula.
"Waktu itu aku memang terlalu ceroboh, tanpa penjelasan lantas kulabrak kau, kemudian ketika kukenali kau sebagai kesempatan bertanding ini tidak kusia-siakan. Tapi kedua murid durhaka itu lantas kabur, aku jadi gagal membunuh mereka, setelah kuamati mereka pasti akan semakin malang melintang, entah keonaran apalagi yang akan mereka lakukan di masa mendatang?"
Betapa menyesalnya Sin-lu-tiat-tan setelah mendengar penjelasan itu, dia menghela napas dan berkata.
"Ai, akupun tak mengira pertolonganku justeru malahan menyelamatkan kedua keparat itu dan kematian, agaknya mau berbuat kebaikan juga perlu berhati2, sekali bertindak gegabah akibatnya jadi salah besar."
Waktu itulah Tian Pek lantas maju ke depan, ia memberi hormat dan berkata.
"Lociaupwe berdua telah menderita luka yang cukup parah, kesalahpahaman sudah jelas, apa gunanya banyak berbicara lagi, lebih baik aturlah pernapasan dan sembuhkan dulu luka kalian,"
"Huh, memangnya kaukira kami berdua tua bangka ini masih dapat hidup?"
Kata Tang Cian-li dengan mata melotot. Tian Pek melengak mendengar jawaban tersebut. Tapi Sin-kau lantas berkata dengan menyengir.
"Tampaknya hatitnu tidak jelek, anak muda, tapi tenaga murni kami telah terpakai meleblhi batas, isi perut kami sudah terluka parah dan jiwa kami cuma bisa dipertahankan beberapa hari saja, kalau sekarang tidak ber-cakap2 sepuasnya, memangnya kami mesti menunggu masuk neraka dahulu?"
Kembali Tian Pek melengak, dengan terharu ia berkata.
"Apakah luka Locianpwe berdua tak mungkin bisa diobati lagi? Sekalipun aku Tian Pek masih muda dan belum berpengalaman, tapi aku bersedia mencarikan obat buat kalian, bila Locianpwe tahu di mana ada obat mujarab atau tabib sakti, katakanlah kepadaku dan Wanpwe akan segera berangkat untuk mengusahakannya."
"Benar!"
Sambung Wan-ji dari samping.
"di rurnahku banyak terdapat bahan obat2an yang amat mujarab, ada Jinsom seribu tahun, ada Lengci sakti dan ber-macam2 obat lainnya, asal aku pulang ke rumah dan minta kepada ayahku, niscaya obat mujarab bisa kudapatkan, selain itu, To-ki-sin ih (tabib sakti) paman Liang juga bnrada di rumahku........."
"Hai, anak perempuan, siapakah ayahmu?"
Sela Sin-kau tiba2. Sebelum Wan-ji menjawab, Tang Cian-li telah menimbrung dari samping.
"Siapa lagi kalau bukan Ti-seng-jiu Buyung Ham?"
"Engkau maksudkan Losarn dari Kanglamjit-hiap?"
Sinkau menegas.
"Kalau bukan......... memangnya ada orang lain?"
Kata Sin-lu.
"O, jadi kau kenal ayahku?"
Seru Wan ji dengan heran.
"Hahaha, ayahmu adalah tokoh silat yang tersohor, salah seorang di antara empat keluarga persilatan terbesar di dunia persilatan dewasa ini, jangankan aku, hampir semua umat persilatan yang sering mengadakan perjalanan pasti kenal namanya."
Ajar Sin-lu dengan tertawa.
"O, jadi Buyung Ham sudah menjadi salah satu di antara empat keluarga persilatan yang terbesar? Puluhan tahun aku berkecimpung di dunia Kangouw, tak nyana banyak generasi muda telah menjagoi dunia persilatan. Dan siapa pula ketiga keluarga besar yang lain?"
"Hei, monyet tua, pengetahuanmu ternyata sangat dangkal, jaman ini bukan saja generasi muda banyak yang menonjol, malahan putera merekapun terhitung jago silat kenamaan di dunia persilatan. Orang persilatan menyebut mereka sebagai Bu-Iimsu-toa-kongcu, yaitu Ao lok Kongcu, Leng-hong Kongcu, Toan hong Kongcu serta Siang-lin Kongcu. Hahaha, sayang kau si monyet tua sudah hampir pulang ke alam baka hingga tak sempat lagi bertemu dengan jago2 muda itu....."
Monyet Sakti Tint Lang melotot, serunya tak sabar.
"He, keledai busuk, jangan omong.tak keruan, bagaimana ceritanya dengan keempat keluarga besar? Belum jelas keterangannya sudah melantur pula kepada empat Kongcu besar. Lekas kau ceritakan sejelasnya agar mampuspun aku bisa tenang di alam baka."
"Dasar picik pengetahuanmu, tanya melulu,"
Sahut Tang Clan li sambii tertawa.
"pada hakikatnya ernpat keluarga besar dan empat Kongcu adalah satu cerita yang sama. Leng-hong Kougcu adalah kakak nona yang ada di depanmu ini atau putera Ti-seng-jiu Buyung Ham, An-lok Kongcu adalah putera Kian-kun-ciang In Tiong-liong, Toan-hong Kongcu adalah anak Kun-goan-ci Sugong Cing sedangkan Siang-lin Kongcu adalah anak Cing-hu-sin......... Kim Kiu......... Mengenai keernpat keluarga besar dunia persilatan, mereka adalah bapaknya keempat Kongcu tadi, selain keempat Kongcu ini masih ada seorang lagi yakni Pak-ong-pian (cam buk raja bengis) Hoan Hui yang bercokol di kota Tin kang, sekalipun kekuatannya tidak sebesar keempat saudara angkatnya, namun dia terhitung juga seorang jago yang berkekuasaan besar. Nah, monyet tua, sekarang tentunya kau tahu dunia persilatan jaman ini milik siapa?"
Sin-kau Tiat Lang manggut2, katanya.
"Berbicara soal kelima orang itu, aku jadi teringat pada Kanglam-jit-hiap yang namanya tersohor di masa lalu, bila kelima orang itu telah menjadi jagoam yang berkuasa kenapa tidak kau ungkap juga Pek-lek-kiam (pedang geledek) Tian In-thian yang menjadi pemimpinnya Kanglam-jit-hiap? Masakah Tian In-thian yang hebat malahan kalah dibandingkan saudata2 nya sehingga terpaksa mesti mengasingkan diri?"
Mata Tian Pek seketika melotot demi mendengar kedua orang itu menyinggung ayahnya, perubahan air mukanya sukar menutupi guncangan perasaannya.
Dengan penuh arti Tang Ciang-li melirik sekejap ke arah pemuda itu, kemudian menjawab.
"Dan In thian sudah tewas dikerubut oleh berpuluh tokoh persilatan..."
Sampai di sini Tian Pek tak tahan lagi, dengan air mata bercucuran ia menubruk kedepan Sinlu-tiat-tan, sambil menangis ia memohon.
"Locianpwe, sudilah kiranya engkau memberitahukan nama pembunuh ayahku, agar Wan pwe dapat membalaskan dendam kematian ayahku ..........."
Seketika Sin-kau melotot dan berteriak.
"Jadi Tian In-thian benar telah mati?"
"Masa kubohongi kau? Bukankah sekarang ada keturunan Tian In-thian yang bisa menjadi saksi,"
Kata Sinlu.
Dengan sorot mata murka, Sin-kau melototi Tian Pek sambil angkat telapak tangan kanannya, tapi ketika ia menghimpun tenaga dalamnya, ternyata kekuatan yang dimilikinya telah buyar, ketika itu baru teringat dirinya terluka parah.
Tanpa terasa ia menghela napas, dia turunkan kembali telapak tangannya dengan lemas, lalu katanya.
"Ah, tak kusangka Tian In-thian sudah mati, itu berarti persoalannya denganku tak dapat diperhitungkan lagi ...."
Tian Pek tidak memperhatikan perubahan sikap Sin kau itu, dia tetap berlutut di hadapan Tang Cian-li dan memohon agar diberitahu mama pembunuh ayahnya ...........
Baru sekarang Wan-ji tahu bahwa Tian Pek adalah keturunan Pek lek-kiam Tian Ih-thian, ia terkejut dan bergirang.
Ia terkejut karena engkoh Thian yang rudin dan telantar ini adalah keturunan dari seorang pendekar besar.
Iapun bergirang karena ayahnya dan ayah Tian Pek sama2 anggota Kanglam jit-hiap, itu berarti ada hubungan kekeluargaan yang erat antara mereka.
Sebab itulah cepat dihiburnya pemuda itu dengan kata2 manis dan berusaha membangunkannya.
Sin-lu-tiat-tan melengak ketika melihat sikap benci Sinkau, cepat ia bangunkan Tian Pek.
lalu ia berkata kapada Sin-kau.
'Eh.
monyet tua, kau pernah bersengketa dengan Tian In-thian?"
Bagaimana akhir daripada kedua kakek sakti yang sudah sarna2 payah itu ?
Siapakah sebenarnya Sin-kau Tiat Leng, si Monyet Sakti yang buntung ini dan apa hubungannya dengan misteri kematian ayah Tian Pek ?
Jilid 12 Sin-kau Tiat Leng menghela napas panjang, bibirnya bergetar seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi tak tahu darimana ia mesti mulai berbicara, untuk sesaat jago tua itu jadi gelagapan sendiri.
Tang Cian-li segera berkata lagi.
"He, monyet tua, bagaimanapun Tian In-thian sudah mati, sedangkan kita juga tak akan hidup lama lagi di dunia ini, masa ada sesuatu yang hendak kaurahasiakan?"
Setelah didesak berulang kali, akhirnya Sin-kau menghela napas dan berkata.
"Ai, kalau diceritakan, mungkin kaupun tidak percaya, selama hidupku kuanggap ilmu silatku paling top dan tiada tandingannya di dunia ini, tak tersangka aku menderita kekalahan satu jurus di tangan Tian In-thian!"
"Aku psrcaya penuh pada perkataanmu, sebab bila Tian In thian masih hidup, tentu akupun bukan tandingannya,"
Kata Sin-lui.
"Setan tua penunggang keledai. jadi kau anggap ilmu silatmu jauh lebih lihay dibandingkan ilmu silatku?"
Kontan Sin-kau mencaci maki. Tang Cian-li tidak menyangka rekannya sedemikian besar ambisinya ingin menang, ia tersenyum getir dan berkata.
"Bila ilmu silatku lebih tinggi daripadamu, tak nanti hasil pertarungan ini berakhir dengan sama2 terluka. Sudah hampir mampus saja, kenapa mesti ribut urusan yang tak ada gunanya. Hayo, lanjutkan saja ceritamu!"
Setelah rasa marahnya agak mereda, Sin-kau melanjutkan kisahnya.
"Beberapa puluh tahun yang lalu, Tian In-thian berkunjung ke tempat pertapaanku di Le-kun-san, dia bilang hendak meminjam sebentar mutiara sakti penolak air milikku, meskipun permintaan itu di ajukan secara halus dan sopan, akan tetapi mutiara penolak air itu adalah benda mestikaku, memangnva benda tersebut boleh dipinjam orang seenaknya? Selain itu, ia tidak mengemukakan alasannya, hanya menjamin mutiara tersebut pasti akan dikembalikan, bahkan ia menjamin dengan nama baik Kanglam jit-hiap! "Ketika kuketahui bahwa Tian In-thian tak lebih cuma seorang pendekar muda yang baru menonjol di dunia pcrsilatan, aku lebih2 tak sudi meminjamkan benda mestika itu kepadanya. Pikirku, jika mutiara penolak air kupinjamkan, maka di dunia persilatan pasti akan tersiar berita se-olah2 aku keder pada nama kebesarm Kanglam~jit hiap. Karena itulah kuajukan syarat dengan adu kepandaian, bila dia berhasil mengalahkan aku, maka mutiara penolak air itu akan didapatnya, sebaliknya bila dia kalah, maka jangan harap bisa meninggalkan Le-kun-san dengan hidup."
"Akhirnya kau si monyet tua ini dibikin keok oleh Tian In-thian, bukan?"
Sela Tang Cian-li tiba2.
"Setan tua, dengarkan dulu!"
Kata Sin-kau dengan mendongkol.
"setelah syaratku disetujui, maka selama tigahari-tiga-malam kami bertarung sengit di depan gua Kiu-ci-tong Le-kun-san, keadaannya persis seperti apa yang kits alami sekarang, cuma ia tidak terluka waktu itu. Ketika pertarungan sudah berlangsung sampai puncaknya, pedang hijaunya berhasil meninggalkan goresan di depan dadaku. tapi hanya merobek satu jalur panjang pada pakaianku dan tidak sampai melukai kulit dagingku, kutahu dia sengaja memberi kelonggaran padaku, akan tetapi hal ini bagiku jauh lebih tersiksa daripada ia membinasakan aku. segera aku berteriak. 'Tian In-thian, mengapa tidak sekalian kau bunuh aku. Cepat binasakan aku!'"
"Akhirnya, Tian In-thian tidak membunuh kau?"
Kembali Tang Ciang-li mcnyela.
"Omong kosong!"
Jerit Sin kau dengun penasaran.
"bila dia membunuh diriku waktu itu, hari ini tentu aku tak akan bertarungan denganmu hingga sama2 terluka begini, justeru karena ia tidak membunuhku, maka aku terlebih menderita, seperti yang dijanjikan, mutiara penolak air itu kuserahkan kepadanya, kutantang pula untuk bertempur lagi tiga tahun mendatang di tempat yang sama."
Kembali "monyet sakti"
Ini berhenti sebentar, kemudian melanjutnya.
"Setelah dia pergi, aku lantas menutup diri untuk meyakinkan beberapa macam ilmu sakti. Ai, siapa tahu ketika latihanku mencapai tingkat yang paling kritis, dua orang muridku telah membawa lari kitab pusaka 'Sinkang-pit-kip', hal mana membuat aku mengalami kelumpuhan total, setelah kakiku kukutungi, kedua mund murtad itu kabur membawa kitab pusaka, malahan sebelum pergi mereka menyumbat guaku dengan harapan agar aku mati kelaparan di dalam gua "
Sebelum Sin-kau menyelesaikan kisahnya, kembali Tang Cian li menyela.
"Sejak kepergian Pek lek-kiam Tian In-thian, iapun tak pernah muncul kembali untuk mengembalikan mutiaramu, begitu bukan?"
"Tentu saja Tian In-thian tak pernah muncul kembali!"
Sahut Sin-kau sambil menggigit bibir dan menahan emosi.
"sejak gagal berlatih ilmu dan kedua kakiku kukutungi sendiri, dengan susah payah aku mempertahankan hidupku dalam gua itu, untung ilmu silatku tidak punah, setelah lukaku sembuh, gua itu kudobrak dan muncul kembali ke dunia persilatan. Tujuanku yang terutama adalah mencari kedua mund murtad itu dan membinasakan mereka. Kedua akan kucari Tian In-thian untuk membalas dendam atas kekalahan yang kuderita tempo dulu. Ai, siapa tahu gara2 kepergok kau si tua bangka, bnkan saja kugagal membinasakan kedua murid durhaka itu, maksudku membalas dendam juga buyar"
"Sungguh aku menyesal karena telah mengalangi niatmu membinasakan kedua muridmu itu, tapi kejadion sudah telanjur begini, menyesalpun tak ada gunanya. Mengenai Tian In-thian tidak mengembalikan mutiaramu sesuai janjinya, hal ini bukan lantaran dia ingkar janji, tapi maksud tujuannya pinjam mutiara tersebut adalah untuk mencari satu partai harta karun di dasar telaga Tong-ting-ou, di sana Tian In-thian telah mati dikerubut belasan orang, kalau orangnya sudah mati, dengan sendirinya mutiara itu tak dapat dikembalikan kepadamu? Kukira setelah Tian In-thian mati, urusanmu dengan dia tentu juga impas, adapun urusan kita berdua, jika kau monyet tua ini tetap tak puas, mari kita lanjutkan kembali pertarungan ini!"
Sin-kau melengak.
"Tenaga murni kita sudah buyar, isi perut kita terluka parah, keadaan kita sekarang tiada ubahnya seperti orang biasa, apanya yang bisa ditandingkan lagi?"
"Locianpwe berdua tak usah kuatir"
Sela Wan-ji.
"asal kupulang ke rumah dan mengambil obat mujarab milik ayahku, niscaya jiwa kalian dapat di-selamatkan!"
Wan-ji adalah gadis yang polos, kendatipun ia tak tahu kehadiran kedua kakek ini akan menguntungkan atau merugikan dirinya dan Tian Pek tapi ia merasa tak tega membiarkan kedua orang itu tersiksa.
Habis berkata, ia lantas menarik tang-an Tian Pek untuk diajak pulang mengambil obat-Sin-kau adalah seorang tokoh yang berwatak aneh, baginya bila utang budi harus dibalas, ada dendam mesti di tuntut, maka ketika dilihatnya Wan-ji yang cantik berulang kali mengusulkan akan mengambil obat, ia jadi sangat terharu.
"Anak perempuan yang baik hati, kemuliaan-mu sungguh mengagumkan hatiku!"
Katanya kemudian.
"Dahulu kuanggap di dunia ini tiada orang yang baik, tak tersangka hari ini kujumpai seorang yang benar2 berjiwa mulia seperti dirimu, tampaknya pandanganku harus berubah. ..."
Tang Cian-l tertawa, dia ikut beikata.
"Nona, tak perlu repot kau, sekalipun ayahmu memiliki obat mujarab juga tak mampu menandingi kemanjuran Si-mia-san (puyer penyambung nyawa) yang diminum si monyet tua tadi serta Toa-hoan-wan milikku, jika obat maha manjur yang telah kami minum ini tak dapat menyelamatkan jiwa kami, apa lagi obat lainnya?"
Wan-ji kurang percaya, ia berpaling ke arah Sin-kau. dilihatnya "monyet sakti"
Itupun mengangguk membenarkan, ia menjadi sedih katanya.
"Kalau begitu, jadi jiwa kalian tak dapat ditolong lagi?"
"Nona tak perlu berduka,"
Hibur Tang Cian-li.
"mati-hidup manusia telah ditentukan oleh takdir, apalagi kami sudah hidup selama hampir seabad, hidup kami sudah lebih dari cukup, kami sendiri tidak sedih, kenapa kau malahan murung sendiri?"
Sin-kau seperti mau mengatakan suatu, tapi Tang Cian-li telah melanjutkan ucapannya.
"He, aku ada usul yang bagus, dengan caraku ini bukan saja ada orang yang akan mengurusi mayat kita, bahkan kitapun bisa melanjutkan kembali pertarungan kita yang belum selesai ini."
"Setan tua penunggang keledai, sekalipun tidak kaukatakan juga kutahu apa rencanamu itu!"
Seru Sin-kau dengan memutar biji matanya.
"bukankah kau hendak mengusulkan agar kita masing2 menerima seorang murid untuk mewarisi ilmu silat kita, kemudian suruh mereka pula yang mengurusi jenezah kita serta melanjutkan pertarungan kita yang belum selesai ini? Huh, suruh mereka mengurus jenazah kita memang bisa saja, tapi kalau suruh mereka saling beradu silat, jelas sukar terlaksana."
"Hahaha, monyet tua, kau memang cerdik, orang bilang monyet adalah binatang yang pintar, setelah kubuktikan sekarang baru kuakui bahwa uoapan itu memang benar. Cuma sayang pintarnya monyet tua macam kau agak keblinger, usulku cuma sebagian saja yang bisa kautebak, sedang sebagian yang lain tetap ketinggalan!"
"Hm, coba terangkan,"
Jengek Sin-kau.
"Ditinjau dari sikap mereka yang begitu mesra, tentu saja tak mungkin kita menyuruh mereka saling bertarung mati2an, tapi kita kan dapat mendidik mereka dengan berbagai ilmu kemudian suruh mereka mendemontrasikan ilmu itu di hadapan kita? Siapa lebih cekatan dan lebih banyak menguasai ilmunya, dia dianggap menang. Coba, bagus tidak usulku ini?"
"Kalau begitu, jadi kaupilih yang laki2?"
Tanya Sin-kau.
"Tentu saja, Tian In-thian adalah musuh besarmu, tentu saja kau tak akan sudi memberi pelajaran ilmu silat kepada puteranya!"
Lama sekali Sin kau mengamati wajah Tian Pek dan Wan-ji tanpa berkedip, setelah itu baru berseru.
"Setan tua, kau curang, tentu saja kau bakal menang, jelas tenaga dalam yang dimiliki anak laki2 ini jauh lebih kuat daripada yang perempuan!"
"Tapi dalam ilmu meringankan tubuh yang perempuan kan lebih hebat daripada yang laki2? Kedua pihak memiliki keistimewaannya masing2, itu berarti kedudukan kita seri, siapapun tidak menarik keuetungan dari yang lain."
Sin kau kembali termenung sebentar, akhirnya dia manggut.
"Baik, aku setuju dengan usulmu itu, tapi, berapa lama lagi kita bisa hidup? Nah, setan tua penunggang keledai, kita harus tetapkan batas waktunya!' "Kurasa takkan lebih seratus hari lagi!"
Diam2 Sin kau menghitung, kemudian ia berseru tegas.
"Bagus, akupun kira2 cuma tahan seratus hari lagi, kalau begitu kita tetapkan batas waktu selama tiga bulan, akan kusaksikan ilmu silat dari utara atau dari selatan yang lebih unggul?!"
"Kalau setuju, hayo kita bertepuk tangan tiga kali!"
Tang Cian-li meronta bangun, dengan sempoyongan ia menghampiri Sin-kau dan "Plok! Plok!"
Kedua kakek itu saling bertepuk tangan sebanyak tiga kali.
Tepukan mereka sudah tak bertenaga, nyata mereka sudah tiada ubahnya seperti orang biasa.
Mendengar hubungan mereka dikatakan mesra, air muka Tian Pek dan Wan-ji menjadi merah jengah.
tetapi ketika dilihatnya kedua kakek itu sama2 tak mau mengalah kendatipun dekat ajalnya, seketika merekapun melengak.
Setelah tiga kali tepukan dilakuka dan kedua kakek itu berpaling memanggil, Tian Pek dan Wan-ji baru saling pandang, kemudian menhampiri kedua kakek itu.
"Anak muda, hayo ikut padaku!"
Seru Tang Cian-li kepada Tian Pek.
Habis berkata, dengan sempoyongan ia menuju ke tepi panggung batu itu, lantaran tenaga dalamnya sudah buyar dan isi perutnya terluka, ia tak mampu lagi melompat turun panggung yang tinggi itu.
Ia kelabakan sendiri mengitari panggung batu itu, dia menghela napas, lalu meminta.
"Anak muda, harap kaugendong aku turun dari panggung batu ini."
Baru sekarang Tian Pek yakin jago tua itu tidak ber-pura2, Sin-lui tiat tan yang tersohor betul2 telah menjadi manusia biasa yang cacat dan seluruh ilmu silatnya punah, pemuda ini membatin dengan cara bagaimana ilmu sakti kakek ini akan diajarkan kepadanya?
Walaupun ragu namun Tian Pek tidak membantah perintah kakek itu, dia segera menggendong Tang Cian-li dan membawanya loncat turun dari panggung batu, menurut petunjuk kakek itu, akhirnya mereka menyusup masuk ke dalam sebuah gua rahasia di balik lereng sana.
Bagaimanapun juga Tian Pek ingin tahu nama2 pembunuh ayahnya, selain itu iapun ingin memperdalam ilmu silatnya, maka meski ragu ia turuti segala kehendak si kakek.
Menanti bayangan kedua orang itu sudah lenyap dari pandangan, Sin-kau yang cacat baru menegur.
"Anak perempuan, bagaimaaa caranya kita tinggalkan tempat ini?"
Kaki palsu serta tongkat penyangganya telab patah, tentu saja "monyet sakti"
Itu malu untuk minta digendong seorang gadis, maka dia ajukan partanyaan tersebut. Tak terduga air muka Wan-ji hanya berubah merab sedikit, tapi dengan tegas dia segera menjawab.
"Tampaknya kau tak sanggup berjalan sendiri, biarlah kugendong kau pergi dari sini! Tapi kemana kita akan pergi?"
Cara bicara Wan-ji tidak seramah Tian Pek, tapi justeru sikap semacam inilah yang cocok dengan watak Sin kau. 'Di sekitar sini banyak sekali gua rahasia, bolehlah kita mencari sebuah gua,"
Katanya dengan tertawa.
"tapi jangan mencari gua yang terlalu jauh letaknya. sebab tiga bulan kemudian dengan mata kepala sendiri ingin kusaksikan kau mengalahkan ahliwaris si tua bangka penunggang keledai itu...."
"Ah. ogah!"
Seru Wan-ji cepat.
"Gua di sekitar sini gelap lagi kotor, mana kubetah tinggal di gua begini selama tiga bulan?"
"Masa kau tidak ingin belajar ilmu sakti?"
Tanya Sin-kau dengan melengak.
"Kan boleh juga dilakukan di atas panggung batu ini!"
Kafa Wan-ji.
"Wah, tidak bisa, belajar silat harus dirahasiakan, kesatu harus menghindarkan diintip orang, kedua bisa juga akan terganggu oleh sesuatu. Bila kuwariskan beberapa macam ilmu silat yang maha sakti yang aku sendiri tidak berhasil melatihnya, tanggung ahliwaris keledai tua itu pasti bukan tandinganmu."
Habis berkata dia bersenyum misterius pada si nona. Sudah tentu Wan ji tak percaya, katanya.
"Kalau kau sendiri tak bisa, cara bagaimana akan kau ajarkau padaku? Apalagi ilmu silatmu sudah punah, kau pun terluka sekarang"
"Sebetulnya kau ingin belajar atau tidak.. .?"
Teriak Sinkau dengan melotot.
"Tidak"
Jawab Wan-ji terns putar badan dan melangkah pergi.
"Heh he..jangan pergi dulu!"
Seru Sin-kau, ia memohon dengan sangat.
"Kau menyaksikan sendiri aku telah mengikat janji dengan keledai tua itu, kami sudah bertepuk tangan tiga kali masa kau hendak pergi begitu saja? "
Tidak tega Wan-ji menolak permohonan orang yang ber sungguh2 itu, ia kembali ke sisi Sin-kau seraya berkata.
"Kalau ingin kuturut kemauanmu, maka kau harus menurut kehendakku, kita berlatih di panggung batu ini ."
Sin-kau tampak serba susah, ia termenung sebentar, lalu menjawab.
"Anak manis, kautahu rahasia ilmu silat sakti tak boleh didengar pihak ke tiga, lagi pantang diganggu kejadian yang tak terduga, hilangnya kedua kakiku ini merupakan contoh yang nyata, jangan kau kuatir aku akan berbuat jahat padamu, tujuanku hanya mcwariskan ilmu silatku kepadamu agar dapet mengalahkan ahliwaris si keledai tua itu .."
Sesudah berhenti sebentar, ia membujuk lebih jauh.
"Nah turutluh perkataanku, bawalah aku ke sebuah gua rahasia, di sana akan kuwariskan ilmu silat yang maha sakti kepadamu, selain waktu berlatih, kau boleh bebas pergi ke manapun, setuju?"
"Ai, sebenarnya aku tak berminat belajar silat, akan tetapi akupun tak tega menolak permintaanmu, tampaknya aku terpaksa mesti menuruti kehendak hatimu ini!"
Jawab Wan-ji. Ia lantas berjongkok di depan Sin-kau dan siap menggendongnya, girang sekali "monyet sakti"
Itu, cepat ia merangkul leher gadis itu dan mendekam di atas punggungnya.
Begitulah, dengan dipanggul oleh Wan-ji berangkatlah mereka menuruni panggung batu untuk mencari tempat yang cocok buat belajar silst.
Akan tetapi meskipun sudah mencari beberapa buah gua, ternyata tempat2 itu tidak cocok dengan kehendak hati Sinkau.
Akhirnya sampailah mereka di sebuah gua di sisi sepotong batu padas raksasa, dengan agak mendongkol Wan-ji mengomel.
'Kali ini tak boleh di-tolak lagi, jelek atau bagus kita akan nenetap di gua ini, kalau kau tak senang, lebih baik mencari orang lain saja, aku ogah nienggendong kau terus menerus .."
Sampai akhir ucapannya itu, Wan-ji tak dapat menahan rasa gelinya lagi, ia tertawa sendiri dan Sin-kau diturunkan di mulut gua.
Dengan sorot matanya yang tajam seperti mata monyet, Sin-kau memperhatikan sekejap sekeliling gua tersebut, lalu dengan dahi berkerut gerutunya.
"Wah, gua ini lebih jelek daripada kedua gua yang kita periksa tadi, coba, angin keras ini, bisa jadi gua ini bukan gua yang buntu . ."
"Ah, peduli amat, pokoknya aku tak mau cari gua lain lagi, jika kau takut angin, akan kubawa kau ke dalam sana dan pasti tak ada anginnya!"
Lalu Wan-ji berjongkok lagi siap menggendong orang tua itu.
"Ai. tak tersangka aku si manyet sakti Tiat Leng yang pernah malang melintang tiada tandingan di dunia ini, sebelum ajalku masih harus di-buat jengkel oleh anak perempuan macam ini!"
Demikiau Sin-kau menggerutu. Serentak Wan-ji berbangkit lagi dan berseru dengan marah.
"Kalau kau tak senang dengan aku, biarlab aku pergi dari sini dan batal semuanya! Hm, jangan kaukira aku ingin belajar ilmu silatmu supaya kau tidak mendongkol melulu, lebih baik kita berpisah menempuh jalannya masing2." -Habis berkata ia berlagak hendak melangkah pergi. Cepat Sin-kau berseru.
"Eeh, anak perempuan, mau ke mana kau? Jangan marah dulu, hayo kemari, aku turut semua kemauanmu!"
"Kalau mau nurut, maka selanjutnya tidak boleh lagi memanggil anak perempuan segala, namaku Tian Wan ji, bila perlu panggil saja namaku,"
Demikian kata si nona.
"Baik! Aku turut perintah!"
Sin-kau manggut2.
"Anggaplah selama hidupku baru pertama kali ini jeri kepada orang lain ."
"Keliru, bukan untuk pertama kalinya, paling sedikit di dunia ini sudah ada dua orang yang kau takuti, kecuali diriku, ada pula Tian In-thian, si pedang geledek dari Kanglam-jit-hiap yang pernah mengalahkan dirimu."
Kontan Sin-kau mendelik dengan mendongkol.
"Tidak! selama hidup tak pernah kutakut pada orang kedua, dengan kepandaianku sekarang, aku mampu mengalahkan Tian In thian, apalagi kalau aku diberi waktu untuk meyakinkan pula beberapa macam ilmu saktiku, huh, jangankan melawan, mungkin satu jurus saja Tian In-thian tak tahan"
"Ckk ...cckk, jangan ngibul!"
Ejek Wan-ji "Masa engkau benar2 sehebat itu? Padahal sekarang seorang kakek saja tak mampu kaukalahkan."
Ucapan ini kontan membungkamkan Sin-kau, tapi sekilas terbayang rasa bencinya terhadap Sin-lu tiat-tan bertambah mendalam.
Rupanya Wan-ji sendiripun merasa ucapannya kelewat batas dan mungkin menyinggung perasaan orang.
ia jadi tak tega.
Sambil berjongkok dihadapannya dia coba menghibur.
"Sudahlah, urusan yang sudah lewat biarkan lewat, mari kita hadapi saja masalah yang akan datang, sekarang mari kugendong kau mencari tempat yang tak ada anginnya!"
Sin-kau Tiat Leng tidak bicara lagi, ia menggelendot di punggung Wan-ji dan membiarkan gadis itu menggendongnya ke dalam gua.
Gua itu aneh sekali bentuknya, meskipun mulutnya tidak begitu besar, namun lorong dibalik gua itu panjangnya bukan kepalang, sudah puluhan tombak Wan-ji menembusi gua itu, bukan saja belum mencapai ujungnya, bahkan semakin ke dalam semakin banyak jalan bercabang yang ditemui.
Dari tiap mulut gua yang ditemuinya terasalah embusan angin yang menderu kencang.
Diam2 mereka merasa gelagat tidak enak, tapi keduanya tetap membungkam.
Tampaknya Sin-kau sudah cukup kenal tabiat Wan-ji, meskipun cantik wajahnya dan baik hatinya, namun berwatak lebih keras dari pada batu karang.
Iapun sadar apabila banyak cincong, bisa jadi si nona akan marah dan mungkin dia akan di tinggalkan dengan begitu saja di gua ini.
Padahal kakinya buntung, tongkat penyanggah badannya sudah patah, sejengkalpun ia tak mampu melangkah, bila ditinggalkan dengan begitu saja kan bisa berabe?
Oleb sebab itulah, meskipun ia merasa gelagat kurang baik, terpaksa ia membungkam dan membiarkan Wan-ji menggendongnya ke depan.
Wan ji sendiripun dapat merasakan pula bahwa gua itu tidak cocok digunakan untuk berlatih silat, tapi berhubung telanjur mengatakan akan tetap berada di gua ini, tentu saja ia malu untuk menjilat kembali kata2nya.
Ginkang Wan-ji cukup hebat, apalagi tubuhnya ramping dan kecil serta mendapatkan didikan Nia-gong-hoan-ing ( mengrjar udara bayangan setan) dari Buyung Ham, dengan sendirinya gesit dan lincahnya gerak-gerik Wan-ji.
Maka ia terus menerobos masuk ke dalam gua, kendatipun suasana remang2 dan permukaan tanah tinggi-rendah tak menentu, namun ia mampu bergerak maju dengan kecepatan tinggi.
Setanakan nasi kemudian, mereka sudah beberapa li memasuki gua, sekalipun suasana gelap gulita dan jalannya ber-liku2 tidak rata, namun gadis itu tahu bahwa perjalanan yang di tempuh sudah amat jauh, sementara ujung gua belum nampak juga.
Timbul pikiran kedua orang untuk mengundurkan diri dari tempat itu, sekalipun niat tersebut tidak sampai diutarakan, akan tetapi langkah Wan-ji sudah mulai lambat daripada tadi.
Suatu ketika, tiba2 gadis itu menjerit kaget.
"Wan-ji, ada apa?"
Cepat Sin-kau menegur, sejak tenaga dalamnya punah, ketajaman mata dan telinga jadi mundur juga.
"Coba lihat, di sini ada mayat manusia."
Ketika mereka menghampiri barulah Sin-kau dapat melihat sesosok mayat yang bermandikan darah berdiri bersandar dinding gua.
Mula2 mereka mengira mayat tersebut berdiri bersandar dinding, akan tetapi setelah diamati dengan saksama.
tampaklah pada ulu hati mayat tersebut tertancap sebatang senjata rahasia yang berbentuk seperti piau tapi tidak mirip Piau, seperti cundrik tapi juga bukan cundrik, yang pasti sekitar senjata itu mengkilap ke-biru2an.
Bagi jago silat yang berpengalaman, sekilas pandang saja segera akan tahu bahwa senjata tersebut pasti beracun, panjang senjata itu kira2 belasan senti dan menancap dari hagian dada hingga tembus ke punggung, jadi mayat itu bukan mati bersandar di dinding, justeru mayatnya tak sampai roboh lantaran badannya terpantek di dinding.
Wan-ji tertegun, akhirnya ia berkata.
"Rupanya orang ini mati karena terserang oleh senjata rahasia beracun, karena terpantek di dinding maka tu buhnya tak roboh. Darah yang menodai badannya tampak masih baru, mungkin mati belum lama. Apakah engkau kenal senjata rahasia yang digunakan si pembunuh ini?"
Sin kau mengamati sekejap benda itu, kemudian menggeleng.
"Sudah puluhan tahun aku berkelana di dunia persilntan, tapi belum pernah ku jumpai senjata rahasia macam ini, yang jelas tenaga serangan orang ini kuat sekali dan lagi senjata rahasia ini beracun keji!"
"Locianpwe kenal tidak dengan korban ini?"
Tanya Wanji pula.
Sin-kau coba mengamati mayat itu, ia lihat orang itu mengenakan baju sutera halus berwarna hijau, memakai ikat kepala dengan sebiji mutiara di teagahnya, pakaian orang ini mewah, tubuhnya kekar berotot, alisnya tebal dan mukanya berewok, sekilas pandang dapat diketahui bahwa dia adalah seorang jago silat.
Walaupun sudab mati, mukanya masih kelihatan seram dan gagah perkasa.
Karena tidak kenal orang itu, Sin-kau menggeleng.
"Aku jarang sekali bergerak di daerah Tionggoan, apalagi puluhan tahun terakhir ini tak pernah kuinjak dunia persilatan, entahlah siapa orang ini?"
Milihat kematian laki2 yang mengerikan dengan darah berlumuran di dadanya, Wan-ji merasa gua ini penuh bawa pembunuhan dan menyeramkan. Namun lahirnya ia tetap berkata dengan angkuh.
"Locianpwe, aku yakin dalam gua ini ada hal yang aneh, siapa tahu kalau pembunuhnya masih bersembunyi di sini, bagaimana kalau kita melanjutkan perjalanan ke dalam sana?' "Terserah pada nona, toh bagaimanapun juga bukan kehendakku masuk ke sini,"
Sahut Sin-kau sambil tertawa.
Wan-ji mendongkol, ia tidak menggubris kakek itu lagi, dengan gemas langkahnya dipercepat.
Tak jauh dua sosok mayat kembali mereka temui, dandanan maupun potongan badan kedua mayat ini tidak berbeda dengan korban pertama, cuma punggung mereka tertancap senjata rahasia beracun dan roboh tertelungkup, karena itulah mukanya tidak kelihatan.
Darah meleleh dari mulut dan berlepotan di tanah, lkat kepala seorang terlepas jauh di sana dan kelihatan rambutnya yang kusut masai.
Wan-ji bergidik menyaksikan adegan seram itu, tapi ia tak mau menyerah, apalagi hatinya lagi mendongkol, dengan cepat ia menerobos pula lebih jauh ke dalam gua.
Sin-kau tetap membungkam, diam2 iapun bergidik, ia pikir sekarang ilmu silatnya telah punah, sedangkan gadis itu kurang berpengalaman, bila ada sergapan gelap niscaya mereka tak mampu melawan dan akan mengalami nisib seperti mayat2 tadi.
Tidak jauh sampailah mereka di depan sebuah dinding batu, embusan angin di situ agak lemah, dengan sangat berhati2 Wan-ji menghampiri dinding batu itu.
Ada sebuah pintu batu di samping dinding itu, agaknya sebuah ruangan, Wan-ji trus melangkah masuk.
"Awas! ....!"
Teriak Sin-kau.
Wan-ji terperanjat dan berhenti, dari kegelapan mendadak meluncur keluar sebuah tangan hitam terus mencengkeram ke muka si nona.
Saking terkejut Wan-ji menjerit kaget dan lompat mundur.
berbareng ia angkat tangannya hendak balas menyerang.
Sin-kau telah punah ilmu silatnya, tapi dia berpengalaman luas, segera ia berseru.
"Wan-ji, jangan gugup! Hanya sesosok mayat belaka!"
Gadis itu mengamati lawannya dengan seksama, memang benar ucapan si monyet tua itu, hanya sesosok mayat yang berdiri di depannya, sebilah pedang Siang-bun-kiam yang memancarkan cahaya hijau tergeletak di tanah.
Sekarang ia baru tahu, rupanya korban ini bersembunyi di belakang pintu dan menyergap musuh dengan pedang, tapi sergapan itu berhasil di-hindarkan, sebaliknya ia terbunuh oleh sebuah pukulan berat yang mematikan.
Sebuah lubang berdarah tertera di dada laki2 yang mati ini, tampaknya lubang besar inilah penyebab kematiannya, dari bukti ini Sin-kau berdua yakin ilmu silat si pembunuh pasti sangat tinggi.
Dalam ruangan dekat dinding sana menggeletak pula sesosok mayat, bersenjata Poan-koan pit, luka besar tertera di dada, kematian yang dialami orang ini tak berbeda dengan korban di belakang pintu, cuma wajah mayat ini masih menunjuk rasa ngeri dan takut, ini membuktikan bahwa sang korban sangat jeri terhadap pembunuhnya.
Senjata Poan-koan-pit yang dipegang tak semput dipakai, sebelum melakukan perlawanannya ia sudah dihantam mati.
"Kedua koiban ini mati dipukul dengan ilmu pukulan keras apa?"
Tanya Wan ji.
"Tampaknya mereka dibunuh oleh sebangsa Kim-kong-ci atau It-ci-sian (tenaga jari sakti), Kim-kong-ci atau It-ci-sian si pembunuh ini jelas telah mencapai puncak kesempurnaan,"
Jawab Sin-kau dengan prihatin.
"Ah, Cianpwe, lihatlah!"
Kembali si nona berseru.
"coba lihat, di sini ada dua peti batu permata"
Dalam ruangan batu itu terdapat dua buah peti besi berukuran setengah meter persegi, tutup peti terbuka hingga tampak isinya yang berupa mutu manikam yang tak terhingga jumlahnya.
Sin-kau memang tokoh yang aneh, dia tidak tertarik sedikitpun oleh dua peti intan permata itu.
Wan-ji sendiri adalah puteri salah seorang empat keluarga besar, intan permata semacam itu sudah sering dilihatnya di rumahnya, maka iapun tidak tertarik.
Wan ji menurunkan kakek itu ke lantai, kemudian menghampiri peti batu permata itu dan memeriksanya satu demi satu, dilihatnya batu permata di dalam peti tersebut bukan barang sembarangan, mutiara dan intan yang ada di situ rata2 amat besar dan berkilat, malahan jauh lebih besar daripada benda yang tersimpan di rumahnya.
Terutama kedua peti ymg berukir indah itu terang serupa dengan peti besi yang terdapat di rumahnya.
Wan ji makin heran, ia tertegun dan berpikir.
"Aneh, jangan2 benda mestika ini dicurinya dari rumahku."
Sementara ia melamun tiba2 Sin-kau berseru.
"Wan ji, daripada kita lari ke sana kemari, alangkah baiknya kita berdiam ssja di ruangan ini, biarlah kuwariskan ilmu silatku di sini."
Seruan tersebut menyadarkan Wan-ji dari lamunannya. dengan dahi berkerut ia berkata.
"Apa? Kita harus tinggal bersama dua sosok mayat ini? Aku tidak mau!"
"Memangnya kenapa? Kalau kau jijik bercampur dengan mereka, seret saja mayat itu keluar kan beres?"
"Kalau ingin membuang mayat itu, kau saja yang lakukan,"
Kata si nona. Sin-kau menyengir menghadapi kebandelan anak dara itu, ucapnya.
"Wan-ji kalau aku bisa berjalan sendiri, aku tak akan suruh kau menggendong diriku "
"Kalau begitu, tidak perlu banyak omong lagi, pokoknya aku tak mau menyentuh mereka, lebih baik kita pergi dan mencari tempat lain saja!"
Setelah mengembalikan batu permata itu ke dalam peti, ia menggendong Sin-kau dan berlalu dari ruang batu itu.
Belum jauh mereka lanjutkan perjalanan, sampailah kedua orang itu di mulut gua.
Ternyata gua ini menembus perut bukit dan mempunyai pintu masuk yang berbeda, malahan jaraknya dari ruang batu ke mulut gua ini dekat sekali.
Menghirup udara segar di tempat terbuka serta memandang cahaya sang surya yang gemilang, Wan-ji berdua merasa dada jadi lega, rupanya fajar telah menyingsing, sudah dua-tiga jam Wan-ji berdua menyusuri gua itu.
Keadaan Sin-kau sudah payah, setelah bertempur selama tiga hari tiga malam melawan Tang Cian-li, kemudian masih harus melakukan perjalanan setengah malaman digendong Wan-ji, kesehatannya telah jauh lebih menurun, sekalipun ia sudah makan bubuk Si mia-san, ia merasa lapar dan dahaga, sekeluar dari gua, ketika melihat sebuah selokan yang mengalirkan air jernih, ia segera berseru.
"Oo .... air. Air! Aku sangat haus, aku ingin minum!"
Wan-ji sendiri juga merasa lapar dan dahaga, tanpa di suruh lagi ia menghampiri selokan itu dan menurunkan Sinkau untuk minum ber-sama2.
"Jangan minum air itu!"
Tiba2 seorang berseru dengan nyaring.
"lebih baik mati dahaga daripada minum air selokan itu! Masa kalian tidak tahu akan kata2 tersebut bila sudah berani memasuki 'lembah pemutus nyawa'!"
Betapa kaget Sin kau serta Wan-ji demi mendengar teguran itu, mereka menengadsh dan terlihat seorang pemuda tampan berdiri di lereng bukit di seberang sana.
Pemuda itu baru berusia dua puluhan, badannya jangkung, tegap dengan wajah yang cakap, sekalipun dandanannya sederhana mirip dandanan petani, namun tidak mengurangi ketampanannya.
Sembil bergendong tangan ia berdiri di lereng bukit itu, sikapnya yang santai dan tenang menambah gayanya yang mempesona.
"Eh, bocah. jangan kau sembarang omong,"
Sera Sin kau dengan mata melotot.
"Kalau berani bergurau atau sengaja menakut2i aku, hmm, jangan menyesal bila kubikin kau mampus tak terkubur."
Wan-ji geli mendengar kecongkakan Sin kau, ia merasa orang tua ini terlalu jumawa, ilmu silat sendiri saja telah punah, terluka dan badan cacat, tapi bicaranya masih garang dan tak mau kalah.
Padahal dilihatnya pemuda itu tampan dan berilmu silat, sinar matanya tajam dan badannya tegap, bila benar terjadi pertarungan, hanya satu gebrak saja "monyet tua"
Ini pasti akan terkapar.
Karena merasa geli, air yang terkumur di mulutnya tersembur keluar, ia tertawa cekikikan.
Terkesima pemuda itu menyaksikan kecantikan Wan ji, melihat si nona tertawa geli, ia berkata pula dengan heran.
"Jadi kalian tidak percaya dengan peringatanku? Coba lihatlah ke sebelah sana."
Seraya berkata dia menuding ke hulu sungai kecil itu. Mengikuti arah yang ditunjuk, tampaklah di samping selokan terpancang sebuah papan kayu putih, di atas papan tertulis beberapa huruf.
"Air selokan ini beracun keras, tujuh langkah pencabut nyawa, jangan sekali2 diminum!"
Air muka Wan ji kontan berubah pucat, jeritnya kuatir.
"Wah, celaka, aku sudah banyak minum air ini, bagaimaaa sekarang?"
"Wan-ji, jangan gugup!"
Hibur Sin-kau dengan tenang.
"Siapa tahu kalau dia cuma membohongi kita?"
"Aku tak berbohong, peringatanku tadi hanya timbul dari maksud baik, jika kalian tidak mau percaya, ya apa boleh buat?"
"Coba lihat, betul bukan perkataanku?"
Kata Sin-kau sambil berpaling ke arah Wan-ji dan tertawa.
"sekali tebak saja kutahu orang itu sengaja me-nakut2i kita, kalau air sungai ini benar2 beracun jahat, kenapa perut kita tidak merasakan apa2?"
"Betul juga,"
Pikir Wan ji.
"kalau air sungai kecil ini beracun, kenapa perutku tidak merasakan gejala apa2?"
Diam2 ia mengagumi Sin-kau yang sudah berpengalaman dan tidak mudah tertipu itu.
"Aku tidak bohong!"
Kembali pemuda itu menegaskan ucapannya.
"racun yang terkandung di dalam air ini benar2 sangat istimewa, bukan saja tidak berbau, tidak berwarna, bahkan tidak terasa apa2, baik manusia maupun hewan yang minum air ini, asalkan tidak bergerak, maka tiada perasaan apa pun yang dalamnya, tapi kaiau berdiri dan berjalan, maka tidak sampai tujuh langkah, ususmu akan rantas dan mati ....!"
Sin-kau tertawa ter-bahak2.
"Hahaha, kalau dulu Coh Cu-kian (pujangga di jamas Sam Kok) bisa membuat syair dalam tujuh langkah, sekarang aku bisa putus usus dalam tujuh langkah. wah, itulah kejadian yang pantas dicatat dalam sejarah. Sayang aku tidak punya kaki sehingga tidak mampu berjalan sediri. andaikata kakiku utuh, niscaya akan kulangkah tujuh tindak untuk membuktikan apukah benar ususku akan rantas atau tidak?"
"Engkau tidak berkaki tapi kakiku kan utuh!"
Sambung Wan ji, jangankan tujuh langkah, tujuh puluh atu tujuh ratus langkahpun akan kulalui. Hm, air sudah kenyang kita minum, peduli amat dengan urusan tetek-bengek ini."
Segera ia menggendong pula si "monyet sakti"
Dan akan meninggalkan sungai kecil ini ...
, Tapi mendadak dengan gerakan enteng bagaikan burung walet melayang di udara, pemuda tampan itu melompat dari turun lereng seberang sana dan hinggap di depan Wanji.
Katanya dengan sungguh2.
"Nona, kuanjurkan agar jangan keras kepala, ketahuilah aku tidak bermaksud bohong, setiap perkataanku adalah kata2 sejujurnya, selokan ini bernama Sui gin-han-cwan (sumber air dingin berwarna perak) dan sudah ter-sohor kelihayannya. Jangan kau anggap perutmu masih segar setelah minum air itu, sekarang kau memang belum merasakan apa2, tapi lama kelamaan ususmu akan rantas dan akhirnya putus. Ketahuilah air ini sungai mengandung air rasa, bobot air rasa sangat berat dan sanggup merantas usus dan merusak isi perut, bila orang tetap diam, maka air perak itu bergerak agak lambat, tapi kalau orangnya bergerak, maka air rasa juga cepat bergerak ke dalam usus, dengan sendirinya luka yang timbul juga makin cepat. Untung aku membawa obat penawarnya, Nah, kuhadiahkan kalian seorang sebungkus ... ."
Sebelum Wan ji buka suara, dengan cepat Sin kau menggoyangkan tangannya.
"Sudahlah, tak usah banyak omong, cepat pergi dari sini!"
Serunya tidak sabar "Jangankan air itu tak beracun, sekalipun kami sudah keracunan juga tak perlu kau turut kuatir . ... !"
Berbicara sampai di sini, ia mendesak Wan-ji agar cepat2 pergi.
Wan-ji merasa pemuda itu bukan orang jahat, tetapi ia tak berani menerima obat pemberian orang yang tak dikenal ini, maka ketika pemuda itu mengangsurkan dua bungkus obat tadi, ia tidak menerimanya, tapi berkata.
"Terima kasih atas maksud baikmu, biarlah kami terima di hati saja!"
Habis berkata segera ia melompat ke sana dan akan pergi.
Tapi baru saja bergerak, tiba2 Wan-ji merasakan perutnya melilit dan sakit luar biasa, ia anjlok ke bawah mendadak, untung Ginkangnya cukup lihay sehingga tidak sampai jatuh terjengkang.
Air muka Wan-ji berubah pucat.
perutnya semakin sakit seperti disayat dengan pisau, akhirnya dengan dahi berkerut jeritnya.
"Oo, Locianpwe, kita benar2 keracunan ..!"
Karena Wan-ji anjlok dari atas, Sin-kau yang sudah kehilangan tenaga dalamnya tak mampu ber-tahan lagi, isi perutnya juga mengalami goncangan keras.
Tanpa ampun lagi, pandangannya jadi gelap, perut kesakitan seperti di sayat2, akhirnya iapun tak sadarkan diri.
Cepat pemuda tampan tadi memburu maju, katanya.
' Nona, sekarang tentunya kau percaya perkataanku bukan?
Hayo cepat makan obat penawar ini!"
Perutnya yang sakit terasa tak bisa ditahan lagi, dalam keadaan begitu Wan-ji tidak peduli lagi apakah obat penawar pemuda itu benar2 obat penawar atau bukan, bungkusan itu segera diterima, dibuka lalu isinya ditelan.
Dalam waktu singkat tubuhnya lantas terasa nyaman, rasa sakit yang melilit tadi berhenti dan jadi segar kembali.
Sekarang gadis itu baru percaya bahwa pemuda ini memang bermaksud baik kepada mereka, dengan sorot mata penuh rasa terima kasih ditatapnya sekejap pemuda itu.
Karena pandangan si nona.
hati pemuda itu berdebar keras, Dari sakunya kembali ia keluarkan sebungkus obat penawar lagi dan diserahkan kepada Wan-ji.
katanya.
"Nona, kakek yang kau gendong ini pingsan, minumkan obat penawar ini kepadanya, niscaya dia akan segera sadar kembali "
Wan ji tidak ragu lagi sekarang, ia percaya penuh perkataan pemuda itu, obat penawar diterimanya, ia baringkan Sin-kau ke tanah, kemudian melolohkan bubuk obat itu ke dalam mulutnya.
Sesaat kemudian, Sin-kau sadar kembali dan pingsannya, dengan mata melotot ia berteriak keras.
"Aduh, perutku sakit"
Melihat Sin-kau juga sudah tertolong, Wan-ji berkata kepada pemuda itu.
"Terima kasih atas bantuanmu apakah boleh kutahu siapa nama Kongcu? Bila perkataanku tadi menyinggung perasaanmu harap sudi dimaafkan"
"Nona terlalu rcudah hati, aku bernama Sugong Siang-cin"
"Oo. jadi engkaulah Toan-hong Kongcu?"
Seru Wan-ji dengan terkejut.
"jadi engkaulah yang disebut Toan hong si Kongcu yang suka gentayangan, salah satu di antara Bu lim-su kongcu?"
"Tepat sekali tebakan nona!"
Sahut pemuda itu sambil tertawa, malu aku disanjung oleh kawan persilatan sebagai salah satu dari Su-kongcu, padahal aku tidak lebih hanya seorang pemuda yang suka gentayangan kian kemari seorang diri tanpa tujuan tertentu!"
Tertegun Wan-ji menatap pemuda di hadapannya, ia merasa pemuda ini sungguh ganteng dan menawan hati, sekalipun pakaian yang dikenakan amat sederhana, namun memiliki daya pesona yang kuat.
Makin dipandang Wan-ji merasakan jantungnya makin berdebar keras, pujinya di dalam hati;
"Oo..alangkah tampannya pemuda ini, tampaknya di dunia saat ini belum ada pemuda setampan dia"
Teringat pada engkoh Tian yang dicintainya, seketika merah padam wajahnya, cepat ia tundukkan kepala dan tak berani lagi memandang pemuda itu.
"Aku tak boleh punya pikiran pada pemuda lain"
Demikian ia menggerutu pada diri sendiri.
Kalau Wan-ji berdebar oleh ketampanan Toan-hong Kongcu, sebaliknya Toan-hong Kongcu juga tidak kurang terpesonanya oleh kecantikan Wan-ji.
Sudah banyak gadis cantik yang dijumpai Toan-hong Kongcu, namun tak seorangpun yarg dapat melawan kecantikan Wan-ji.
Ia merasa kecantikan gadis ini bak bidadari yang turun dari kahyangan, matanya yang jeli, hidungnya yang mancung, bibirnya yang mungil tubuhnya yang semampai dan kulit badannya yang putih halus, benar2 suatu perpaduan yang indah mempesona.
Untuk sesaat lamanya Toan-hong Kongcu berdiri termangu2, kecantikan gadis itu serta kerlingan matanya membuat ia terkesima, hampir lupa pada keadaan di sekitarnya, Semua gerak gerik kedua muda-mudi itu tak lepas dari pengawasan Sin-kau, karena wataknya yang aneh, ia tidak suka dingan pat-gulipat orang muda semacam ini, segera ia berdeham lalu berseru.
"Wan-ji, kalau sudah mengucapkan terima kasih, marilah kita berangkat!"
Merah muka Wan ji, tapi sebelum ia buka suara, Toanhong Kongcu telah berseru pula.
"Sudah kuketahui nama harum nona, tapi belum tahu tempat tinggal nona sarta apa hubunganmu dengan orang tua itu, bolehkah aku mengetahuinya?"
Belum Wan-ji menjawab, dengan melotot Sin-kau segera berseru.
"Anak muda yang tak tahu diri, jangan kaukira dengan sedikit budimu itu akan memperoleh balasan yang lebih besar. Hm, bila berani banyak bicara lagi, jangan salahkan aku tidak sungkan2 lagi!"
"Hei, kenapa kau begini bengis?"
Omel Wan-ji.
"Toanhong Kongcu telah menyelamatkaii jiwa kita, Kongcu inipun sangat sopan kepada kita, masa kau membalas air susu dengan air tuba!"
Lalu iapun berkata kepada Toan-hong Kongcu.
"Aku sama sekali tiada hubungan apa2 dengan orang tua ini, kami hanya berjumpa secara kebetulan saja! Aku she Tian bernama Wan-ji, rumahku di Ce-lam dan terkenal sebagai perkampungan Pah-to-san-ceng, bila Kongcu ada waktu, silakan hampir dan bermain beberapa hari di rumahku "
Toan-hong Kongcu terkejut setelah mengetahui asal-usul anak dara ini.
"O, jadi nona masib sanak keluarga Ti-seng-jiu Buyung-cengcu?"
Demikian ia bertanya.
"Ya, beliau adalah ayahku!"
Jawab Wan-ji sambil tertawa. Toan-hong Kongcu jadi melengak.
"Tapi...kenapa nona she Tian? "
Sin-kau tidak sabar lagi. ia jadi berang din menukas.
"Anak muda, sudah selesai belum obrolan kalian' Kalau ngoceh melulu. jangan salahkan aku tidak sungkan2 lagi. ."
Wan-ji jadi tak senang hati, ia akan mendamperat, tapi Toan-hong Kongcu keburu berkata sambil tertawa.
"Air muka Locianpwe ini lesu dan kuyu. sinar matanya buyar dan buram, bukan saja terluka dalam yang parah, bahkan kematian sudah berada di depan mata. tak tersangka masih juga pemberang begini "
Perkataan yang sederhana ini cukup menggusarkan hati Sin-kau, hampir saja dadanya meledak saking mendongkolnya. Segera ia membentak.
"Bagus, anggaplah matamu memang tajam, tenaga dalamku memang sudah buyar dan nyawaku akan melayang, tapi dengan kondisi seperti ini aku masih sanggup membereskan jiwa anjingmu. Nah, sambutlah seranganku ini, jurus Hoan ciu lam-hay (dayung sampan di laut selatan)!"
Tindakan aneh kakek itu bukan saja mencengangkan Toan hong Kongcu, Wan ji juga melengak. Pikirnya.
"Tenaga dalamnya telah punah, bagaimana caranya dia akan bertempur .."
Ia berpaling ke arah Sin-kau, dilihatnya kakek itu masih duduk di tanah tanpa bergerak sedikitpun.
"Eh kautahu bila jurus seranganku ini kumainkan, maka dengan cepat akan kuhantam dulu hiat-to maut di kanan telingamu,"
Teriak Sin-kau masih tetap berduduk di tanah.
"Di tengah serangan ini banyak pula gerak perubahannya, bila kau tidak menghindar maka jalan darah kematian di telingamu akan terhajar telak dan jiwamu pasti melayang! Sebaliknya bila kau menghindar, kedua kepalanku tidak kutarik, cuma sikut segera bergerak menyongsong jalan mundurmu, kalau kau berkelit ke kiri maka jalan darah Sim gi-hiatmu akan tersikut, sebaliknya kalau menghindar ke kanan maka jalan darah Seng-bun hiat akan menumbuk sikut kiriku, itu berarti berkelit ke kiri atau ke kanan hanya jatah kematian bagimu. Sebaliknya kalau kau merasa sanggup untuk membendung tenaga pukulan Ceng-goan-cing-khi yang sudah kulatih enam puluh tahun. umpama kau menangkis dengan jurus Po-in kian-jit (menyingkap kabut melihat sang surya), maka waktu itulah kedua kepalan kutarik kembali dan .... Nah, bayangkan saja, kau punya nyawa serep berapa lembar? Mampus tidak kau oleh jurus serangan dayung sampan di laut selatan ku ini?"
Setelah mendengar ocehan si kakek barulah Wan ji dan Toan hong Kongcu mengerti maksud-nya, ternyata kakek itu hanya menyerang Toan-hong Kongcu dengan suatu jurus ampuh yang di lontarkan dengan uraian saja.
Kendatipun tenaga dalam yang dimiliki Sin-kau ini sudah punah, lagi -erangannya hanya di-utarakan dengan kata2 akan tetapi baik Wan ji maupun Toan hong Kongcu amat terperanjat.
Jurus serangan Hoan-ciu lam-hay yang dipergunakan kakek itu memang benar2 tangguh, jangankan ditangkis, dihindaripun sukar.
Lebih2 Toan-hong Kongcu, keringat dingin membasahi tubuhnya, biasanya ia yakin ilmu silat-nya tinggi, namun bila benar2 menghadapi jurus serangan si kakek tadi, memang betul hanya ada jalan kematian baginya.
Dengan dahi berkeringat dan jantung berdebar segera ia berkata.
"Locianpwe, ilmu silatmu memang ampuh, aku merasa tak sanggup memecahkan jurus seranganmu itu."
Satu pikiran tiba2 terlintas dalam benak Wan-ji, cepat ia menimbrung.
"Huh, apanya yang lihay, toh jurus serangan itu masih bisa dihindari, asal kita loncat ke depan lalu mengegos, bukankah ancaman itu akan terhindar? Kemudian dengan .."
"Hahaha, tak usah kemudian apa segala!?"
Tukas Sin-kau sambil tertawa "Tanyakan saja kepadanya, mampukah ia menghindari seranganku itu dengan meloncat ke depan?"
Dengan wajah ber-sungguh2 Toan-hong Kongcu menggeleng.
'Perkataan Locianpwe memang benar, baik melompat ke muka ataupun menjatuhkan diri bergelinding hasilnya tetap nihil.
Kuakui jurus serangan itu memang sangat ampuh, sungguh ber-untung aku tak sampai mati ditanganmu, atas kemurahan hati Locianpwe kuucapkan terima kasih, selamat tinggal!"
Setelah memberi hormat ia lantas melayang ke seberang selokan itu, hanya dua-tiga lompatan saja bayangannya lantas menghilang di balik batu padas sana.
Dengan ter mangu2 Wan-ji memandangi lenyapnya bayangan punggung Toan-hong Kongcu.
akhirnya ia berkata kepada Sin-kau.
"Wah, Locianpwe, kau memang hebat. hanya dengan mulut saja Toan-hong Kongcu yang termashur dapat kau bikin kabur ...."
"Wan-ji, sekarang percaya bukan dengan kehebatanku?"
Kata Sin-kau dengan bangga.
"asal kau dapat berlatih lima bagian saja ilmu silatku, maka dunia persilatan akan kau jelajahi tanpa tandingan!"
"Huh, apanya yang hebat?"
Ejek Wan-ji mendadak.
"sekalipun berhasil melatih sampai sepuluh bagian, buktinya seorang kakek penunggang keledai saja tak dapat kau kalahkan."
Betapa mendongkolnya Sin-kau demi mendengar olok2 itu, dia ber-kaok2 gusar.
"Hei, anak perempuan, tak perlu kaubikin panas hatiku, sampai detik ini kekuatan kami masih seri, menang kalah belum ada kepastian, lagi pula .... lagi pula aku telah berjanji dengan setan tua itu untuk bertanding lagi. aku punya keyakinan akan mengalahkan dia ... !"
"Ah, sudahlah, kalau aku ogah berlatih ilmu silatmu, apa yang bisa kau lakukan?"
Ejek Wan ji"
"Pula, sekalipun sudah kupelajari ilmu silatmu, tapi aku tak sudi bertanding dengan engkoh Tian, lalu bagaimana caramu mengalahkan dia?"
Tertegun Sin-kau mendengar perkataan itu, akhirnya dengan air muka kecewa ia berkata.
"Tentunya, tentunya kau takkan ingkar janji bukan? Kau sudah menyanggupi permintaanku, masa sekarang kau hendak membatalkan janji ini secara sepihak?"
Geli Wan-ji menyaksikan kepanikan orang, ia tertawa cekikikan, katanya.
"Hihihi, kapan pernah kusanggupi permintaanmu? Dan kapan pula aku setuju belajar silat darimu? Sejak awal sampai akhir kan kau yang mengoceh sendiri...."
"Jadi, jadi kau tak mau belajar ilmu silatku lagi?"
Seru Sin-kau dengan air muka berubah hebat.
"Memangnya aku senang belajar silatmu?"
Ejek Wan-ji lebih lanjut.
"Huh, umpama kakek celaka penunggang keledai itu berhasil kau kalahkan atau kepandaian kalian bergabung menjadi satu, apa itu berarti tidak ada tandingannya di kolong langit ini? Huh, kukira bila ada jago nomor satu di dunia ini maka dia tak lain adalah Pek-lek-kiam Tian In-thian, sebab bagaimanapun Tian-tayhiap tak pernah kalah, yang pasti kau pernah keok ditangannya "
"Mati aku !"
Jerit Sin-kau saking kekinya, dada jadi sesak, darah segar tersembur dari mulutnya, ia roboh terjengkang.
(xxxxx) Sementara itu di gua yang lain Tian Pek telah mendapat ajaran ilmu pukulan Lui-im-hud-ciang dari si keledai sakti, bahkan iapun mengetahui kisah pembunuhan yang menimpa ayahnya di masa lampau.
Ayah Tian Pek, Pek-lek-kiam (pedang geledek) Tian In-thian adalah seorang pendekar besar yang amat lihay, bukan saja ilmu silatnya sangat tinggi, iapun berbudi luhur dan berjiwa besar, dengan pedang hijau Bu-cing-pek-kiam dia malang melintang tanpa tandingan di kolong langit, oleh karena wataknya yang jujur dan lebih mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi, maka banyak orang yang suka dan kagum kepadanya, tapi juga ada yang membenci dan dendam kepadanya.
Yang tak terduga lalah Tian In-thian bukan mati di tangan musuh, tapi justeru menemui ajalnya di tangan keenam saudara angkatnya sendiri.
Waktu itu bersama keenam saudaranya mereka tersohor sebagai Kanglam-jit-hiap (tujuh perdekar Kanglam).
Selain Ti-seng-jiu Buyung Ham, saudara angkatnya yang lain ialah Kian-kun-ciang (Pukulan sapu jagal) In Tiongliong, Cing-hu-sin (dewa kecapung hijau) Kim-Kiu.
Kun-goan-ci (Jari sakti) Sugong Cing, Pak-ong-pian (cambuk raja bengis) Hoan Hui serta Gin-san-cu (kipas perak sakti) Liu Tiong-goan.
Kalau Tian In-thian mengutamakan kepentingan umum dan berjiwa ksatria, maka keenam saudaranya jauh bertolak ke belakang, mereka sering mengeluh dan menggerutu kalau diajak saudaranya menghadapi pertarungan sengit demi kepentingan umum, kemudian mereka merasa tiada keuntungan apa2 yang diperoleh selama ini, maka timbul rasa tidak puas dalam hati masing2.
Kalau hanya sampai di situ saja mungkin urusan tak akan bertambah serius, jasteru karena watak Tian In-thian yang aneh dan lebih mengutamakan kepentingan umum itulah, seringkali ia bertindak tanpa mempedulikan keberatan2 saudara angkat lainnya, pedomannya asal tindakan itu tidak melanggar peraturan persilatan dan demi kepentingan umum, maka semuanya akan dilaksanakan tanpa pamrih.
Oleh sebab beberapa hal itulah, rasa tidak puas dalam hati keenam orang saudara angkatnya kian menjadi.
Kendatipun begitu, mereka tak berani membangkang ataupun melakukan perlawanan secara terang2an, sebab nama Kanglam-jit-hiap semakin tenar dan harum, betapapun mereka tak berani ribut dengan pimpinannya sendiri.
Suatu ketika tanpa sengaja Ti-seng-jiu Buyung Ham menemukan sebuah peta harta karun di sebuah gua rahasia dipuncak Ay-lau-san, menurut keterangan yang tertera di peta itu dapat diketahui bahwa pada dasar telega Tong-ting-oh terpendam satu partai harta pusaka yang telah berusia ribuan tahun, barang siapa berhasil mcndapatkan harta itu maka dia akan jadi kaya raya di dunia ini.
Betapa girangnya Buyung Ham sukar dilukiskan, teringat betapa menderitanya selama berkecimpung di dunia persilatan selama ini, timbul niatnya uutuk mendapatkan harta karun itu dan mengundurkan diri dari keramaian dunia, betapa bahagianya hidup mewah di kemudian hari.
Maka berangkatlah Buyung Ham menuju ke tepi Tong-ting-oh untuk mencari harta karun itu.
Apa mau dikata, di sana sudah banyak sekali jago silat yang bergerombol di seputar telaga itu.
Sebagai seorang cerdik Buyung Ham tak berani bertindak gegabah, ia tidak langsung mencari harta karun sebaliknya ia melakukan penyelidikan yang saksama di sekitar sana.
Akhirnya berhasil diketahui olehnya bahwa berita tentang adanya harta karun di dasar Tong ting-oh telah bocor dan diketahui oleh umum, jago silat yang berdatangan ke situ banyak sekali jumlahnya.
Kemudian didengar pula bahwa kecuali harta karun konon ada pula se
Jilid kitab pusaka Bu hak-cin-keng, sepotong batu pualam Pi-sui-giok-pi serta tiga biji obat mujarab Toa-lo kim-wan.
Menurut kabar ceritanya, kitab pusaka Bu hak cin-keng adalah peninggalan Jik-siong-cu, seorang tokoh silat setengah dewa yang memiliki kepandaian tinggi, dalam kitab tercatat pelbagai ilmu yang sukar ditemukan di dunia ini, barang siapa berhasil mempelajari ilmu silat yang tercantum dalam kitab itu maka dia akan menjagoi dunia tanpa ada tandingannya.
Sedangkan Pi-sui-giok-pi (batu kemala penolak air) bukan saja mampu menolak air, dengan membawa benda mestika tersebut maka makhluk berbisa tak berani mendekat, bagi mereka yang bersemadi dan berlatih ilmupun tidak takut akan menghadapi bahaya-bahaya kelumpuhan, malahan katanya menambah kekuatan dan mempercepat latihannya.
Tentang pil Toa-lo-kim-wan lain lagi kehebatannya, konon bila orang biasa yang makan obat itu, maka rambut yang beruban akan menjadi hitam kembali, mereka yang giginya sudab ompong bisa tumbuh lagi giginya, akan awet muda dan tak kenal tua.
Sebaliknya bila orang persilatan yang makan pil itu, maka tenaga dalam mereka akan seperti mendapat tambahan enam puluh tahun latihan, kalau tiga butir dimakan sekaligus akan panjang umur dan mendekati seperti dewa.
Bayangkan, siapa yang tidak tergiur oleh ke-tiga macam benda mestika yang sangat bermanfaat bagi umat persilatan ini?
Apalagi masih terdapat batu permata yang tak terhingga jumlahnya, siapa saja yang berhasil mendapatkan harta itu berarti akan menjadi manusia yang palin kaya di dunia dan jago silat tanpa tandingan di kolong langit.
Tidak mengherankan apabila dunia persilatan lantas bergolak dan berkumpul di seputar telaga Tong ting oh.
Cemas dan girang Ti-seng jiu Buyung Ham setelah memperoleh berita itu, ia girang karena peta pusaka sudah didapatkannya, tapi merasa cemas karena berita tentang harta kekayaan itu telah bocor ke seluruh dunia persilatan.
Ia sadar dengan kekuatannya sendiri tak mungkin bisa menghadapi jago persilatan sebanyak itu.
Ada lagi satu hal yang terpenting, sekalipun ia mempunyai peta pusaka, namunn tak pandai berenang, itu berarti tak mnngkin baginya untuk masuk ke dasar telaga.
Karena tak berdaya, terpaksa Ti-seng-jiu Buyung Ham berunding dengan keenam saudara angkatnya.
Ti seng-jiu Buyung Ham adalah orang licin tentu saja dihadapan keenam saudaranya ia tak berani mengungkapkan keserakahannya akan mengangkangi sendiri kekayaan tersebut, sebaliknya dia pakai alasan bahwa peta pusaka itu di dapatkan tanpa sengaja, karena tak berani mengangkangi sendiri penemuannya itu, maka diajaknya keenam saudara lainnya untuk menikmati bersama.
Pek-lek-kiam Tian In-thian yang berbudi luhur menentang usul keenam saudaranya untuk mendapatkan harta tersebut demi kepentingan sendiri, ia usulkan agar harta karun itu digunakan menolong rakyat jelata di beberapa propini yang tertimpa bencana alam.
Waktu itu rakyat di sekitar daerah itu sedang mengalami penderitaan yang hebat, mereka kekurangan bahan makanan, sedang pihak pemerintah tak mampu memberikan pertolongannya, setiap hari ada be-ribu2 orang mati kelaparan.
Benta sedih itu sangat menyentuh perasaan Tian In-thian, maka dia ingin menggunakan harta karun untuk membeli bahan makanan dan menolong rakyat yang menderita.
Dingin hati Buyung Ham mendengar usul tersebut, ia sadar harapannya untuk memperoleh batu permata itu demi kepentingan prihadi tak mungkin terlaksana lagi, tapi ia tak menyerah begitu saja, ia mengusulkan agar ketiga macam benda mestika itu dibagi rata ....
Tapi kelima saudara lainnya menganggap sama sekali tak ada manfaatnya untuk mengambil harta kekayaan itu dengan pertaruhan nyawa, padahal tiada keuntungan apa2 bagi mereka, maka mereka sama menasehati Tian In-thian agar membatalkan niatnya itu.
Akan tetapi Tian In thian tetap bersikeras dengan pendiriannya, untuk mengatasi sergapan dari jago2 silat lainnya dia mengusulkan agar ketiga macam benda mestika itu dipersembahkan saja kepada dunia persilatan, sedangkan mutu manikam itu digunakan untuk menolong rakyat yang tertimpa bencana alam, menurut pendapatnya umat persilatan hanya mengincar ketiga macam benda mestika itu saja, maka bila ketiga benda itu diserahkan kepada mereka, bukan saja niat mereka menggali harta karun takkan digangggu, bisa jadi malahan akan memperoleh bantuan mereka sehingga tujuan mulia dari Kanglam-jit-hiap akan terwujud.
Buyung Ham semakin dingin hatinya, ia lantas mcndukung usul kelima saudara lainnya untuk batalkan maksud mereka menggali harta karun.
Tapi Tian In-thian bertekad akan mewujudkan tugas mulia itu.
ia tak peduli lagi pikiran ke enam saudara angkatnya dan meneruskan rencananya, Keenam saudaranya tak berani membantah keputusan Tian In-thian itu, maka berangkatlah mereka menuju ke tepi telaga dan berunding dengan para jago yang berkumpul di situ.
Alhasil usul Tian In-thian memperoleh persetujuan dari kawanan jago silat, segera dibentuk suatu panitia yang terdiri dari tokoh2 Bu-tong-pay Go-bi-pay, Siau-lim-pay dan perguruan besar lainnya untuk ber-sama2 menyelam ke dasar telaga dan membantu Kanglam-jit-hiap mencari harta karun.
Apabila harta karun ditemukan, maka mutu manikam yang berhasil didapatkan akan digunakan menolong rakyat yang kelaparan sementara ketiga macam benda mestika itu akan diperebutkan dalam suatu pertemuan besar para jago yang akan diadakan di puncak Kun-san, dalam pertemuan itu akan diadakan pertarungan secara adil, barang siapa tangguh maka dialah yang akan berhak mendapatkan ketiga macam benda mestika itu, untuk ini Kanglam jit-hiap juga harus ikut serta.
Setelah hasil perundingan itu diumumkan, semua orang dapat menerima usul tadi, bahkan Buyung Ham yang sudah putus asa merasa ada harapan lagi untuk momenangkan ketiga macam benda mestika itu.
Begitulah peta harta karun itupun diserahkan kepada panitia dan dipelajari bersama, alhasil ditemukan bahwa harta pusaka itu berada di dasar telaga Tong-tlng-oh yang amat luas dan dalam itu.
Berhubung di antara Kanglam-jit-hiap hanya Gin-san-cu (kipas perak sakti) Liu Tiong ho saja yang mahir menyelam, maka diutuslah jago ini untuk melakukan pencarian.
Dua hari dua malam lamanya Gin-san-cu berada di dasar telaga untuk melakukan pencarian, tapi ketika muncul kembali di permukaan air, dia menderita luka yang cukup parah.
Kiranya dasar telaga itu be-ratus2 kaki dalam-nya, bukan saja daya tekanan air sangat besar, arus didasar telaga pun sangat deras, Liu Tiong-ho yang mahir menyelampun hampir kehilangan nyawanya di sana.
Secara beruntun jago lain yang merasa punya kepandaian berenang juga menyelam ke dasar telaga untuk melakukan penyelidikan, hasilnya semua orang menderita luka cukup parah, malahan banyak di antaranya yang tidak berhasil mencapai ke dasar telaga itu, ada pula yang penasaran dan berulang kali berusaha mencapai dasar telaga, akibatnya nyawa mereka melayang ke akhirat.
Gagal dengan cara ini, jago2 itu berusaha dengan pelbagai cara yang lain, kembali berpuluh orang jadi korban di dasar telaga tanpa hasil apapun-Setelah mengalami kegagalan demi kegagalan, akhirnya mereka jadi putus asa, banyak diantaranya segera berlalu dari sana.
Lama2 orang yang berkumpul ratusan orang itu pergi semua, bahkan Kanglam-jit-hiap sendiripun lepaskan harapan untuk menggali harta karun itu.
Beberapa tahun kemudian, meski terkadang masih juga ada satu dua rombongan jago silat yang datang ke situ untuk mencari harta karun, tapi kebanyakan mereka kalau bukan pulang dengan luka parah, tentu nyawa mereka ikut terkubur di dasar telaga.
Sejak itu tak seorangpun yang berani lagi mencari harta karun di dasar telaga Tong-ting oh.
Malahan dalam dunia persilatan lantas timbul kata2 ejekan yang ditujukan kepada para pencari harta karun.
"Kalau ingin kaya, pergilah ke telaga Tong-ting-oh!"
Lima atau enam tahun kemudian, kebanyakan orang sudah melupakan harta karun di dasar telaga Tong-ting-oh itu.
Pada waktu itulah Tian In thian mendapat tahu bahwa Sin-kau (monyet sakti) Tiat Leng yang bercokol di Le-kun san di bilangan propinsi Hunlam memiliki sebutir "mutiara penolak air"
Yang sakti, katanya dengan membawa mutiara tersebut bukan saja air akan memisah dengan sendirinya, pakaianpun tak akan sampai basah.
Berita tersebut menggerakkan ingatan Tian In-thian, ia merasa bila mutiara penolak air itu bisa dipinjam, niscaya harta karun di dasar telaga Tong-ting-oh bisa diperoleh dengan mudah.
Seorang diri berangkatlah Tian In thian kedaerah suku Miau dan mendaki Le-kung-san untuk meminjam mutiara mestika, di situ dia melakukan pertempuran selama tigahari tiga-malam melawan Sin-kau, akhirnya ia berhasil menangkan pertaruhan itu dan mendapatkau mutiara penolak air.
Serta merta ia kembali ke wilayah Kanglam untuk mengumpulkan keenam saudara angkatnya, dan ber-sama2 berangkat menuju Tong-ting-oh.
Tak disangka karena usahanya inilah Tian In thian harus menemui ajalnya dibunuh oleh keenam saudara angkatnya sendiri.
Maklum, dalam usaha pencarian harta karun ini, Kanglam-jit-hiap bertindak secara rahasia, jarang orang yang tahu tindakan mereka itu, tak heran kalau kematian Tian In-thian di tangan keenam saudara angkatpun tidak diketahui orang luar.
Lewat beberapa tahun kemudian, semua orang telah melupakan kejadian itu, sedang keenam saudara angkat itupun sama menikah dan punya anak, mereka hidup terpisah dan boleh dibilang jarang berkumpul.
Sebab itulah orang lain mengira Tian In-thian mati dibunuh musuh, tiada orang menyangka dia justeru dicelakai oleh keenam saudara angkatnya sendiri.
Dengan modal harta karun yang berhasil di-dapatkan dari dasar telaga itulah, Ti-seng-jiu Buyung Ham, Kian-kunciang In Tiong-liong, Cing-hu-sin Kim Kiu serta Kun-goan-ci Sugong Cing membeli tenaga jago persilatan untuk memupuk kekuatan sendiri dan akhirnya terbentuklah empat keluarga besar dunia persilatan.
Pak-ong-pian Hoan Hui yang berdiam di kota Tin-kang tidak mengumpulkan jago persilatan, kendatipun demikian kekuatan serta kekuasaannya tidak di bawah keempat saadara-angkatnya.
Hanya Gin-san-cu Liu Tiong-ho saja yang kabur keluar lautan dan tak tahu kabar beritanya, mungkin mengasingkan diri karena menyesal telah membunuh saudara angkatnva sendiri.
Peristiwa ini jarang diketahui orang, sekali pun sahabat karib mendiang Tian In-thian seperti Tay-pek-siang-yat Lui Ceng-wan serta Bu-ing-sin tau (pencuri sakti tanpa bayangan) Hoa Jing-coan dan lain2 siang-malam melakukan penyelidikan hasilnya tetap nihil.
Begitulah akhirnya Sin-lu-tiat-tan berkata.
"Hanya aku saja yang mengetahui peristiwa itu, inipun kuselidiki dan kubuktikan kebenarannya selama ber-tahun2, apabila tidak bcrtemu dengan Sin-kau dan ia tidak berceritera tentang ayahmu pinjam mutiara penolak air miliknya, mungkin sampai kinipun aku tak tahu caranya ayahmu mengangkat harta karun itu dari dasar telaga"
Tian Pek tidak mencucurkan air mata, akan terapi ia melotot beringas setelah tabu jelas kisah terbunuhnya ayah.
Sin-lu-tiat-tan menghela napas panjang, ia tahu betapa benci dan dendam si anak muda, maka katanya dengan lembut.
"Sayang aku bertindak menuruti nafsu dan melayani monyet tua itu hingga akibatnya sama2 terluka. dalam kcadaan begini aku tak mungkin bisa membantu kau membalas dendam, hidupku tinggal beberapa hari lagi, ilmu silat yang kuwariskan kepadamu juga tak bisa terlalu banyak, sekarang lebih baik tekan duhulu rasa sedihmu, mumpung aku masih bernapas, akan kuwariskan semua ilmuku padamu. Nah, sekarang dengar baik2 kunci ilmu saktiku ini!"
"Ucapan Locianpwe sangat tepat, seorang ksatria sejati tak boleh sedih, aku harus dapat mengendalikan perasaan sendiri, silakan Locianpwe menguraikan ilmu silatmu, akan kuperhatlkan dengan saksama!"
Maka Sin-lu-tiat-tan lantas mewariskan segenap ilmu silatnya yang paling ampuh kepada anak muda itu serta teori cara bagaimana merebut kemenangan bila berhadapau dengan musuh.
Tian Pek berbakat bagus untuk berlatih ilmu silat, selain itu iapun memiliki dasar tenaga dalam yang kuat hasil pelajaran dari Thian-hud-pit-kip, maka tak heran kalau kemajuannya pesat sekali.
Kecerdikan Tian Pek memang lain daripada yang lain, hampir semua pelajaran dapat dipahaminya dengan cepat, hal ini sangat menggirangkan hati Sin-lu tiat tan sampai lupa pada keadaan sendiri yang payah, segenap tenaga dan pikiran yang dimilikinya dicurahkan untuk mendidik anak muda itu.
Sayang waktu yang tersedia minim sekali, hari itu adalah hari ke sembilan puluh Sin-lu-tiat-tan menurunkan ilmu silatnya kepada Tian Pek, karena terlalu banyak memeras tenaga dan pikirannya, genap tiga bulan keadaan jago tua itupun makin payah, keadaannya tak ubah seperti pelita kehabisan minyak.
Tian Pek keranjingan belajar ilmu silat, sayang selama ini tak pernah ketemu guru yang pandai.
kendatipun Lui Ceng-wan telah menghadiahkan Soh-kut-siau-hun-thian-hud-pit-kip kepadanya, itupun harus dilatih sendiri dengan jalan meraba, betul atau salah dan bagaimana kemajuan yang dicapai, ia sama sekali tidak tahu.
Dan kini ia berjumpa dengan Sin-lu-tiat-tan yang lihay, setiap patah kata yang diwariskan kepadanya merupakan intisari paling tinggi suatu ilmu silat, bisa dibayangkan betapa rajin dan tekunnya pemuda itu mempelajari ilmu silat tersebut, kecuali makan dan minum, boleh dibilang dia lupa tidur dan lupa beristirahat, seluruh perhatiannya ditujukan pada ilmu, keadaan Sin-lu-tiat-tan yang makin lemahpun tidak diperhatikan olehnya.
Dalam gua itu sudah tersedia bahan makaran dan air minum, selama tiga bulan hampir Tian Pek tak pernah keluar gua, ia mempelajari semua ilmu silat yang diwariskan kepadanya, pada hari yang ke sembilan puluh, hampir sembilan puluh persen ilmu kepandaian itu telah dikuasainya.
Hari itu juga keadaan Sin-lu-tiat-tan semakin payah, untuk berbicarapun sudah tak mampu, setelah beristirahat lama sekali baru orang tua itu buka mata seraya berkata.
"Aku hanya mampu mewariskan ilmu silatku sampai di sini saja, untung kau memiliki kitab Thian-hud-pit-kip yang ampuh, asal kau berlatih terus dengan tekun dan rajin, tidak susah untuk mencapai tingkatan melebihi diriku ....aku .... aku rasa jodoh kita hanya sampai di sini saja, keluarlah kau ..dari gua ini...."
Ucapannya kian lama kian lemah dan lirih, akhirnya tinggal mulutnya saja yang berkomat-kamit namun tak terdengar lagi suaranya.
Baca Juga: Pendekar Binal 1
Baca Juga: Amanat Marga Khu Lung