Eps 4 Hikmah Pedang Hijau - Gu Long
Baca online Hikmah Pedang Hijau - Gu Long
Cersil Hikmah Pedang Hijau - Gu Long.
maka dia lantas membawa muridnya, Giok-bin lo-cia (Lo Cia muka putih) Song Siau-hui serta sekalian jago lihay lainnya untuk mencari anak muda itu.
Setelah pertarungan berkobar, ia lihat Tian Pek menggunakan ilmu pedang Tui-hong-kiam-hoat dan keluarga Hoan, disangkanya pemuda itu ada hubungan dengan keluarga Hoan, sebab dia tahu An-lok Kongcu mempunyai hubungan yang akrab sekali dengan keluarga Hoan, takut terjadi salah paham, maka dia lantas menegur.
Siapa tahu Tian Pek telah menyangkal, bahkan ucapannya kasar dan jumawa sekali, maka meledaklah amarah Hiat-ciang-hwe-liong, dia lantas menantang anak muda itu untuk beradu pukulan sebanyak tiga jurus.
Dasar Tian Pek adalah pemuda yang tinggi hati, diapun tak kenal tingginya langit dan tebalnya bumi, betapa panas bati anak muda itu setelah mendengar tantangan tersebut, dianggapnya kakek itu memandang rendah dirinya.
Maka dengan angkuh dia menjawab.
'Baik!
Kuterima tantanganmu, coba katakan caranya!"
Lalu ia masukkan pedang ke sarungnya dan pasang kuda2 menanti serangan musuh.
"Bagus! Bocah bagus, kau memang punya nyali!"
Teriak Hiat-ciang hwe-liong dengan gusar.
Sambil membentak bahunya terangkat hingga tubuhnya melengkung ke depan, rambut yang putih pendek seperti duri landak makin kaku bagaikan kawat, muka yang merah makin membara, dia membentak.
'"Awas, bocah bagus, inilah pukulanku yang pertama!"
Sambil angkat telapak tangannya Hiat-ciang-hwe-liong mengerahkan tenaga pukulan Ang seh hiat heng-ciang hingga lima bagian, segera pukulan dahsyat menghajar dada Tian Pek.
Diam2 anak muda itu terperanjat, dari cara pengerahan tenaga yang berbeda dengan umum serta pancaran hawa merah membara dari telapak tangan musuh, dia tahu ilmu andalan si kakek muka merah ini adalah sejenis ilmu pukulan beracun.
Namun sifat angkuhnya membuatnya pantang takut, biar tahu lihay, ia tak sudi menghindar, ketika kakek muka merah itu mendorong telapak tangan ke depan, cepat iapun menghimpun hawa murninya dan menyambut datangnya ancaman tersebut dengan pukulan pula.
"Plak", benturan keras terjadi, pusaran angin kencang memancar, debu pasir beterbangan. Di tengah getaran keras itu, Tian Pek hanya merasakan tubuhnya bergeliat, namun ia masih tetap berdiri tak bergerak, sementara segulung hawa panas serasa menembusi telapak tangannya dan menyusup ke dalam tubuh. Terasa bawa panas membara bagaikan dibakar, aneh sekali rasa panas itu, bukan saja membuat tenggorokan jadi kering, kepala pun terasa pusing. Hiat-ciang-hwe liong sendiri terdesak mundur juga dua langkah. Hal ini disebabkan dia cuma memakai lima bagian tenaga dalamnya, sedang Tian Pek sudah mengerahkan sepenuh tenaganya. Semakin memuncak rasa gusar Hiat-ciang-hwe-liong. matanya melotot, segera ia meraung pula;
"Bocah keparat! Terima pula pukulan berikut ini!' Sambil meraung kakek itu menarik telapak tangan kanannya ke belakang, menyusul telapak tangan kirinya tsrus didorong ke depan, kali ini dia sertakan delapan bagian tenaganya, tentu saja kekuatannya jauh lebih hebat daripada serangan yang pertama tadi. Kebanyakan jago silat yang berpengalaman jarang ada yang mau bertarung menggunakan tenaga sepenuhnya pada pertempuran permulaan, seringkali mereka cuma menggunakan tenaga sebesar empat-lima bagian untuk mencoba kekuatan musuh, kemudian baru perhebat pada serangan berikutnya. Sebab itulah tenaga pukulan kcdua yang digunakan Hiat-ciang-bwe-liong lebih kuat daripada pukulan pertamanya, dengan demikan akan kehebatan makin lama bertarung makin perkasa dan bukan sebaliknya. Tian Pek masib muda dan kurang pengalaman, pada pukulan pertamanya dia sudah mengerahkan seluruh tenaganya, waktu pukulan kedua Hiat-ciang-hwe-liong menggulung tiba pula ia baru merasa tidak kuat menahan serangan maha dahsyat itu. Dasar sifatnya memang keras kepala dan pantang menyerah, meskipun tahu serangan itu maha dahsyat dan tak mungkin bisa dilawan dengan kekuatannya, namun ia tak sudi menghindar, seperti pada serangan pertama tadi, dia sambut pukulan dahsyat itu dengan tangan kirinya.
"Blang!"
Kembali benturan keras yang memekak telinga, ketika kedua gulung angin pukulan saling membentur.
begitu dahsyat pancaran angin pukulan itu membuat jago2 yang berada di sekitar situ tak sanggup berdiri tegak dan sama terdesak mundur.
Hiat-ciang-hwe-liong yang berperawakan tinggj besar sama sekali tidak bergerak dari kedudukan semula, sebaliknya Tian Pek sekali ini tergetar dua langkah ke belakang.
Kalau cuma mundur saja masih mendingan, yang lebih celaka lagi hawa pukulan yang mengalir masuk membuat telapak tangan kiri anak muda itu kepanasan seperti dibakar, keringat membasahi sekujur badannya, kepalanya terasa pusing, hampir saja ia jatuh terjungkal.
Meski kedua pukulan dahsyat yang disambut Tian Pek secara beruntun itu membuat isi perutnya terbakar luka, namun dia tetap bertahan, tubuhnya tetap tegak bagaikan bukit, hal ini tentu saja membuat gempar para jago yang ikut menyaksikan itu.
Dengan mata terbelalak karena heran bercampur kaget, puluhan jago persilatan yang berkumpul disitu sama meleletkan lidah sambil membatin.
"Hebat benar bocab ini, tak tersangka dia sanggup menerima dua kali pukulan berantai Hiat-ciang hwe-liong yang tak pernah ketemu tandingan itu"
Rupanya Hiat ciang hwe-liong sendiripun dapat menyadari gawatnya keadaan, ia sudah telanjur omong besar akan merobohkan Tian Pek dalam tiga kali pukul, kini dua kali sudab berlangsung, jika pukulan ketiga juga tak mampu merobohkan lawan, maka tamatlah nama baiknya.
Iapun tahu tenaga anak muda itu sudah mulai lemah, ia tidak memberi kesempatan bernapas lagi pada lawan, segera ia membentak pula.
"Pukulan ketiga! Robohlah kau, anak muda!"
Di tengah bentakan itu, Hiat ciang-hwe-liong angkat kedua telapak tangannya sambil mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya terus menghantam dada Tian Pek.
Kebesaran nama Hiat-ciaug-hwe-lioug memang tidak omong kosong, kedahsyatan pukulan yang dilancarkan ini ibaratnya bendungan yang dadal, membanjir dengan hebatnya menekan lawan.
Seketika Tian Pek mcrasakan sambaran hawa panas, dada terasa sesak dan susah untuk bernapas.
sadarlab anak muda ini bahwa pukulan musuh terlampau berat baginya untuk disambut dengan kekerasan seperti tadi, akan tetapi dasar dia memang kepala batu, dia tak mau tunjuk kelemahan di depan orang banyak, dia tetap mengerahkan segenap tenaga pada kedua telapak tangan dan menolak ke depan.
"Blang! Krak! Krak!"
Di tengah benturan keras, debu pasir beterbangan hingga pemandangan di sekitar gelanggang jadi buram dan kawanan jago yang berada disekitar gelanggang tak tahu jelas apa yang terjadi.
Selang sesaat, angin reda dan debu hilang, keadaan di depan jadi jelas kelihatan kembali, tampak Hiat-ciang-bwe-liong masih tetap berdiri saling berhadapan dengan Tian Pek, tak seorangpun di antara mereka ada yang roboh.
Suasana menjadi gempar lagi, semua orang sama terkcsiap, mereka tak mengira kekuatan anak muda itu bisa sedemikian hebatnya.
"Siapakah gerangan anak muda ini? Cara bagaimana ia latih ilmu silatnya hingga mampu menahan tiga kali pukulan Yau-locianpwe?"
Demikian mereka membatin.
Semua orang kaget, diam2 juga kagum, belum pernah terjadi adu kekerasan yang begini hebatnya dalam dunia persilatan, apalagi yang terlibat dalam pertarungan ini adalah Hiat-ciang-hwe-liong, seorang tokoh kosen yang sudah punya nama besar sejak belasan tahun yang lalu, sebaliknya lawannya cuma seorang pemuda yang sama sekali tak terkenal.
Orang lain kaget, Hiat-ciang-hwe-liong jauh lebih kaget, ia tak menyangka kalau tiga kali pukulan dahsyat yang dilancarkan olehnya dapat disambut oleh pemuda itu dengan kekerasan.
Ketka pukulan kedua dilancarkan dengan tenaga delapan bagian tadi, ia sudah merasakan anak muda itu pasti tak mampu menahan pnkulannya yang ketiga.
Siapa tahu dugaan itu ternyata meleset, ketika pukulan ketiga dengan sepenuh tenaga dilontarkan, bukan saja pemuda itu tetap menerimanya dengan keras lawan keras, malahan orang sama sekali tak roboh.
Hiat ciang hwe liong tabu sampai di manakah kekuatan sendiri, ia tahu pukulan yang dilontarkan itu paling sedikit berkekuatan ribuan kati, apalagi pukulan Ang seh hiat-heng ciang yang kuat, panas dan beracun, jangankan manusia yang terdiri dari darah daging, sekalipun batu padas juga akan hancur, pohon besar juga akan tumbang bila terlanggar tenaga pukulannya.
Sudah beratus orang jago yang pernah ditemuinya semenjak ia terjun ke dunia persilatan.
tap1 belum pernah ia temui seorang pemuda ingusan tak dikenal yang kosen dan ulet, bukan saja pukulan dahsyatnya gagal merobohkannya, malahan dapat menandinginya dengan sama kuat, tentu saja jago tua ini terkesima heran dan kaget.
Tapi setelah diamatinya dengan seksama, ia baru menemukan ada kelainan pada anak muda itu, mukanya kelihatan merah membara seperti terbakar, sinar matanya pudar, meski tetap melototinya, namun sinarnya sudah buram.
Tahulah Hiat ciang-hwe-liong bahwa anak muda itu telah terluka isi perutnya oleh pukulan hawa panasnya yang dahsyat dan kini berada dalam keadaan tak sadar.
Sebabnya ia tidak roboh mungkin karena tenaga pantulan yang membalik dari dinding di belakang anak muda itu sehingga tubuhnya tertahan untuk sementara.
Karena pikiran itu, dia lantas menegur.
"He, anak muda, bagaimana rasanya ketiga pukulanku ini?"
Tian Pek tetap diam saja, tidak menjawab juga tidak bergerak.
"Hahaha!"
Hiat-ciang-hwe-liong terbahak-bahak dengan bangganya.
"kukira kau tak mampu lagi menjawab pertanyaanku bukan? Hahaha, dan kenapa kau tidak rebah saja?"
Sambil mengejek, secepat kilat ia menubruk maju dan langsung menutuk Bi-sim-hiat di tubuh anak muda itu.
Ada dua maksud tujuan tindakannya ini.
Pertama, jika Tian Pek sudah mati, maka mayatnya harus dirobohkan sehingga ia dapat memerintahkan anak buahnya untuk membereskan jenazahnya.
Kedua, kalau Tian Pek tidak mati dan hanya terluka parah, maka tutukan ini akan mengirim anak muda itu ke akhirat.
Perlu diketahui, Hiat-ciang-hwe-liong Yau Peng-gun adalah jago silat yang tersohor kekejamannya, belum pernah ia ampuni jiwa musuhnya, bila terjadi pertarungan, maka ia pasti akan membunuh lawannya.
Sebab ia mempunyai prinsip hidup yang aneh, baginya kalau berbaik hati kepada musuh berarti bertindak kejam terhadap diri sendiri, bila membabat rumput tidak se-akar2nya, angin musim semi berembus dan rumput itu akan tumbuh kembali.
Dengan prinsip hidupnya inilah ia tak mau berbuat baik hati kepada lawan hingga mendatangkan bencana bagi dirinya di kemudian hari.
Tampaknya jika tutukan maut itu kena sasarannya niscaya Tian Pek akan mati konyol.
"Setan tua, kau berani?'' tiba2 suara bentakan nyaring menggelegar di udara. Berbareng bentakan tersebut, sejalur bayangan hitam meluncur tiba dan menyabat jalan darah Im-tok-hiat di lengan kanan Hiat-ciang-hwe-liong. Ilmu silat kakek itu memang hebat, meskipun menghadapi sergapan dia tidak menjadi gugup, tubuhnya yang sedang menerjang ke depan mendadak melejit ke udara, kemudian dengan gerak In-li-hoan (jumpalitan di tengah awan) dia mengerem gerak tubuhnya yang sedang meluncur itu dan melayang kembali ke tempat semula.
"Tarr! Aduuh! Bluk!"
Serentetan suara nyaring terdengar serta berkelebatnya bayangan orang, tahu2 seorang nooa cantik berpakaian sutera halus sudah berdiri tegak di tengah2 antara Tian Pek dan si kakek.
Kiranya suara "Tarr!"
Tadi adalah bunyi cambuk kulit sepanjang tiga depa yang dilemparkan anak dara itu untuk menyerang pergelangan tangan kanan Hiat-ciang-hwe-liong dan menolong Tian Pek, tapi tiba2 kakek itu melejit di udara dengan gerakan yang indab, maka cambuk tersebut menyambar ke sana dan menyerempct telinga Hwesio gemuk tadi.
Tiat-pay Hwesio ini bertenaga raksasa, tapi sayang dia adalah manusia kasar dan dungu, waktu itu ia sedang mengikuti jalannya pertarungan, ketika telinganya secara tiba2 terasa sakit, cepat dia meraba dan betapa kaget dan marahnya setelah mengetahui daun telinganya terkupas sebagian dan berlepotan darah, kontan dia menjerit.
"Aduh!' Sedangkan suara "Bluk!' yang terakhir adalah suara benturan ujung cambuk yang menancap dinding tembok, cambuk itu menembusi dinding yang keras itu hingga tiga-empat inci dalamnya, dapat dibayangkan betapa dahsyatnya tenaga dalam yang dimiliki penyambit cambuk itu. Apalagi setelah semua orang tahu kalau penyergap itu adalah seorang dara muda yang cantik jelita, hampir sebagian besar jago persilatan yang hadir itu sama terbelalak lebar matanya. Pudahal cambuk adalah kenda yang lemas, tapi disambitkan oleh anak dara itu cambuk menjadi lurus dan keras bagaikan anak panah, bukan saja telah melukai seorang jago lihay, malahan terus menembus dinding tembok yang keras sedalam empat lima inci, bila seseorang tidak memiliki tenaga dalam yang sempurna, tak mungkin bisa melakukannya-Nona itu berusia enam-belasan, mukanya cantik dengan mata yang jeli, hidung mancung serta bibir yang kecil mungil menawan, giginya putih bersih, rambutnya disanggul model keraton, di balik kecantikannya tersembunyi keagungan. terutama sekali sifat ke-kanak2annya yang jelas masih kelihatan diwajahnya sehingga anak dara itu kelihatan polos, lincah dan menawan hati. Betapa gusarnya Hiat-ciang-hwe-liong setelah mengetahui yang datang hanya seorang anak dara yang cantik, tapi ia sendiri telah dibikin kalang kabut, bahkan seorang anak buahnya juga dilukai. Dengan gusar ia lantas membentak.
"Budak liar darimana? Berani kau campur urusan pribadiku? Hm, kautahu tidak aku ini Hiat-ciang-hwe-liong ... ?"
"Jangan temberang kakek muka merah!' jawab si gadis dengan bertolak pinggang sambil menuding hidung lawannya.
"Coba jawab dulu pertanyaanku. Kau sudah tua bangka, masakah kau tidak pegang janji, bicaramu tidak ditaati?"
"Hm, budak liar. rupanya kau tak pernah mendapat didikan!"
Teriak Hiat-ciang-hwe-liong.
"berani kau bicara tak sopan dihadapanku? Kalau kau tidak tahu adat jangan salahkan aku bila kuhajar kau."
"Huh, tua bangka sialan yang tak bisa dipercaya omongannya? Jangankan kau tak mampu menghajar diriku, suatu pukulanku saja kukira belum tentu kau sanggup menerimanya, asal kau mampu menyambut pukulan nonamu, enam propinsi di utara dan selatan sungai boleh kau jelajahi dengan bebas, tanggung takkan ada orang yang berani mengganggu dirimu ...
"Tutup mulut.... !"
Bentak Hiat-ciang-hwe-liong semakin gusar, rupanya ia merasa ucapan gadis itu persis menirukan nada ucapannya terhadap Tian Pek tadi, dia menggosok telapak tangan dan siap menerjang maju.
"Budak kurang ajar, kau berani melukai telinga Hudya, hayo bayar kerugian kepadaku dengan jiwamu,"
Demikian terdengar bentakan mcnggelegar.
Berbareng itu, Tiat-pay Hwesio lantas putar tameng baja yang beratus kati beratnya itu terus menghantam batok kepala si nona.
Nona itu tersenyum simpul, ia tetap berdiri santai di tempat semula, bukan saja tidak menaruh perhatian pada serangan dahsyat lempengan baja itu, bahkan melirikpun tidak.
Ketika lempengan baja itu sudah dekat batok kepalanya, mendadak ia merendahkan tubuhnya, kemudian entah memakai gerakan apa, tahu2 ia sudah menerobos keluar dari bawah, menyusul tubuhnya melejit ke atas, dengan gerak Yan-cu-hoan-sin (burung Walet putar badan) ia berjumpalitan di udara terus melayang turun dan tepat berdiri tegak di atas lempengan baja lawan.
"Hei, Hwesio dogol,"
Ejeknya sambil tertawa cekikikan "kutahu kau memang tak becus berkelahi, rupanya kau kehabisan senjata, maka kau bongkar daun pintu kuilmu untuk digunakan sebagai senjata!"
Tiat-pay Hwesio ber-kaok2 gusar, lempengan bajanva diputar kencang bagaikan baling2, maksudnya bendak melemparkan tubuh gadis itu agar jatuh.
Siapa sangka bukan saja anak dara itu tidak terlempar, sebaliknya dia malahan main loncat, menari dan berjingkrak di atas lempengan baja itu dengan riang gembira Sambil berloncatan kian kemari, ia tertawa ngikik tiada hentinya.
"Hihihi, sungguh menyenang-kan, sungguh menyenangkan ... !"
Sunguh tontonan yang menarik, seorang Hwesio gede mcmutar lempengan baja sebesar daun pintu bagaikan baling2 dan seorang gadis cantik berloncatan kian kemari di atasnya sambil cckikikan, bila orang tak tahu duduknya persoalan pasti akan menganggap di sini sedang berlangsung permainan akrobatik-Pada waktu itu, bukan saja kawanan jago yang dibawa Hiat-ciang hwe liong telab berkumpul, malahan rakyat jelata juga berkerumun untuk menonton keramaian meski tadi mereka sudah kabur ter-birit2 ketika terjadi pertarungan sengit tadi.
Sekalipun Tiat pay Hwesio adalah seorang manusia kasar dan blo'on, lambat laun ia dibikin kheki juga setelah setengah harian tak sanggup merontokkan gadis itu dari atas lempengan bajanya, akhirnya ia tahu sekali pun cara itu dilanjutkan sampai pagi juga belum tentu bisa bikin jatuh nona itu Maka akhirnya ia putar lempengan baja tersebut dengan tangan sebelah, sementara tangan yang lain langsung menyodok ke selangkangan anak dara itu sambil memaki.
"Neneknya, jangan kauanggap Hudya mudah dipermainkan! Hayo turun!"
Bagi seorang gadis, serangan macam itu di-anggap sebagai suatu serangan kotor dan rendah.
merah padam selembar wajah si nona, kali ini ia tak dapat tertawa lagi.
Dengan gerak Thio Hui-pian be (Thio Hui merosot ke bawah kuda), gadis itu angkat kaki sebelahnya untuk menghindari tonjokan maut lawan, kemudian mengerahkan tenaga ia tekan lempengan baja tadi.
lalu melayang turun ke sana.
Sungguh menarik kejadian selanjutnya, karena tenaga tekanan kaki si nona, Tiat-pay Hwesio tak sunggup menahan lempengan baja sendiri yang berat, apalagi lempengan baja itu hanya dipegang dengan satu tangan, begitu terlepas dari pegangan langsung saja lempengan baja itu menjatuhi kaki sendiri.
Lempengan baja itu memang berat, jatuhnya karena tekanan anak dara tadi, walaupun kaki Hwesio itu terlindung oleh sepatu, tak urung juga kesepuluh jari kakinya hancur tertindih senjata sendiri.
Itulah yang dinamakan senjata makan tuan, sambil menungging Hwesio dogol itu ber-kaok2 ke-sakitan.
Sementara itu dengan tenangnya nona cantik itu sudah berdiri di depan Hiat-ciang hwe liong, ujarnya sambil membetulkan rambutnya yang kusut.
"Eeh, kakek tua muka merah, tentunya kaupun orang yang punya nama dan berkedudukan baik di dunia persilatan, masa sebagai seorang tokoh kenamaan kau tidak pegang janji?"
Lagak angkuh dan rasa gusar Hiat-ciang-hwe-liong tadi kini sudah lenyap tak berbekas, sebaliknya dia lantas tersenyum sebisanya dengan sikap ramah dan menghormat.
Sekarang ia tak berani pandang enteng anak dara itu lagi, terutama sekali setelah menyaksikan gerak tubuh Ni-gong-huan-ing (melintas di angkasa dengan bayangan semu) yang dipraktekkan si gadis waktu mempermainkan Tiat-pay Hwesio, karena ia kenal gerak tubuh ini adalah suatu kepandaian rahasia yang tak pernah diwariskan kepada orang luar dari suatu keluarga persilatan yang besar.
Tidaklah mungkin gadis ini bisa menguasai gerak tubuh sakti itu tanpa mempunyai hubungan yang erat dengan keluarga persilatan besar yang dimaksud itu, betapa besarnya pengaruh keluarga persilatan itu, jangankan Hiat-ciang hwe-liong sendiri, sekalipun An-lok Kongcu juga belum tentu berani cari gara2 pada keluarga itu.
"Nona!"
Ucapnya kemudian.
"cukup kiranya kalau engkau mengetahui bahwa aku mempunyai nama dan kedudukan lumayan di dunia persilatan-Coba jelaskan, perkataan apa yang telab kuucapkan dan kauanggap tidak pegang janji?"
Hiat-ciang hwe-liong memang jago kawakan yang licik, sekalipun dia ada maksud untuk mengalah kepada gadis itu, akan tetapi pembicaraannya tetap angkuh demi menjaga gengsi.
"Hm!"
Anak dara itu mendengus.
"kakek keriputan, tak perlu kau tempeli mukamu sendiri dengan emas, kaupun tak usah berlagak pilon! Sebelum pertarungan dimulai tadi, bukankah kau telah berjanji akan mengaku kalah bila Tian-siauhiap sanggup menerima tiga pukulanmu?"
Hiat-ciang-hwe-liong ter-bahak2.
"Hahaha! Rupanya nona sudah mengikuti semua pembicaraanku dengan engkoh cilik ini. Baik, baiklah! Kalau nona sudah mengatakan begitu, akan kulepaskan engkoh cilik ini pergi dari sini!"
"Nah, begitu baru pantas, kalau sudah berani buka suara maka sepantasnya berani pegang janji. Hayo suruh orang2mu menyingkir!"
Habis berkata gadis itu lantas bersiul nyaring, seekor kuda berwarna merah yang tinggi besar muncul dari belakang kerumunan orang banyak, setibanya di sisi gadis itu dengan kepalanya kuda itu meng-usap2 badan majikannya dengan mesra sekali.
Melenggonglah berpuluh lelaki yang menyaksikan kejadian itu, meski tidak sedikit di antaranya yang tergolong lelaki bangor dan tergiur oleh kecantikan anak dara itu, namun tak seorangpun yang berani mencari penyakit, apalagi setelah menyaksikan pemimpin mereka, Hiat-cianghwe-liong juga segan kepada si nona.
Dalam hati orang2 itu menjadi dongkol demi mslihat sikap kuda merah itu begitu mesranya dengan si nona, memangnya manusia kalah daripada kuda, demikian gerutu mereka.
Dengan kasih sayang gadis itu membelai bulu suri kudanya, kemudian dengan sekali berkelebat ia sudah berada di kaki tembok sana untuk mencabut cambuknya, entah bagaimana caranya tahu2 ia sudah melayang kembali ke tempat semula, semua gerak-geriknya dilakukan amat cepat, suatu bukti entah betapa sempurnanya Ginkang yang dimilikiaya.
Setelah mengambil kembali pecutnya, nona itu menarik kudanya ke samping Tian Pek.
Waktu itu Tian Pek masih berdiri kaku di tempat semula dengan muka merah membara.
"Engkoh Pek, engkau teriuka?"
Ucap dara itu dengan lembut dan sedih melihat keadaan anak muda itu. Tian Pek tetap diam saja.
"Engkoh Pek, parahkah lukamu? Mengapa kau tidak menjawab?"
Kembali gadis itu berbisik.
Tian Pek tetap bungkam dan tidak bergetak, biji matanya juga tak berputar sama sekali.
Betapa sedih anak dara itu menyaksikan keadaan Tian Pek, matanya jadi merah dan hampir meneteskan air mata.
Akhirnya dengan gemas ia berkata.
"Hm, pasti kakek sialan ini yang melukai kau. Baik! Akan kubalaskan dendammu nanti pada kakek sialan ini setelah kubawa kau pulang dulu kerumah untuk merawat lukamu."
Dengan mata melotot ia melirik sekejap ke arah Hiat-ciang-hwe-liong, lalu loncat ke atas kudanya, ia tarik Tian Pek ke atas pelana.
Dengan tangan sebelah memeluk tubuh anak muda itu, si nona cemplak kudanya dan siap berlalu.
"He, nona, tunggu sebentar!"
Tiba2 Hiat-ciang-hwe-liong maju selangkah ke depan sambil berseru.
"Ada apa?"
Tanya si nona dengan muka tak senang, alis matanya bekernyit "Memangnya kau menyesal dan ingkar janji? Tua bangka celaka!"
Hiat-ciang-hwe-liong menyengir, ucapnya.
"Nona,jangan kau sebut aku tua bangka celaka segala, sedikitnya kau harus meghormati aku dan jangan berbuat kurang sopan terbadap orang yang lebih tua daripadamu bukan?"
"Sudah, tak usah banyak bicara, apa lagi yang hendak kaukatakan?"
Tukas gadis itu tak sabar.
"Budak cilik yang tak tahu diri, jangan kelewat batas sikap angkuhmu!"
Teriak Giok-bin-lo-cia dengan marah, segera ia hendak melabrak si nona.
"Anak Hui, jangan turut campur!"
Cepat Hiat-ciang-hwe-liong mcncegah. Lalu katanya pula kepada anak dara itu.
"Nona, kctahinlah bahwa aku mengalah kepadamu lantaran mengingat orang tua-mu kalau engkau tak suka banyak bicara, akupun tak akan banyak omong, pemuda she Tian ini sudah tcrkena pukulan Ang-seh hiat-heng-ciang yang beracun, jika dalam tiga hari tidak memperoleh obat penawarnya, maka dia akan mati dengan tubun hangus. Nah. karena aku mau berbuat baik, untuk membuktikan maksud baikku, akan kuberikan sebutir obat penawar, asal pemuda itu sudah minum obatku dan beristirahat selama beberapa hari, maka lukanya akan sembuh dengan sendirinya!"
Sambil berkata is keluarkan sebuah botol kecil dan mengambil sebutir pil warna hijau, lalu di selentikkan ke arah gadis itu.
Sambil tersenyum nona itu menjepit obat tersebut dengan kedua jarinya.
Pil itu kecil sekali bentuknya tapi diselentikkan Hiat-ciang-hwe-liong dengan tenaga yang keras pil yang kecil itu meluncur secepat kilat, tapi anak dara itu sanggup menjepitnya dengan tepat dan jitu dengan dua jari, untuk itu bukan saja dia harus tajam dalam penglihatan, tenaga dalam serta gerak japitannya juga harus tepat dan sempurna pula.
Sekarang Hiat-ciang-hwe-liong baru benar2 kagum atas kelihayan si nona, sambil menghela napas ia berpeling ke arah muridnya, mau-tak-mau Song Siau-hui merasa kalah dan menunduk malu.
Gudis itu mengamati pil itu sekejap, lalu ia berkata.
"Cara bagaimana kutahu obat ini benar2 obat penawar? Seandainya kau beri sebutir obat racun kepadaku ... ?"
Bicara sesungguhnya, Hiat-ciang-hwe-liong memang bukan sungguh2 hendak menolong jiwa Tian Pek, yang benar ia berbuat begitu karena takut pada pengaruh keluarga si gadis yang besar dan kuat itu.
Ia menduga pasti ada hubungan yang luar biasa antara gadis itu dengan Tian Pek, terutama sikap mesra yang diperlihatkan anak dara itu.
Ia maklum, bila Tian Pek sumpai mati di tangannya.
niscaya anak dara itu akan menuntut balas padanya.
Karena itulah dia lantas putar haluan mengikuti arah angin, ia sengaja menolong anak muda itu agar di kemudian hari gadis itu tak mencari perkara lagi padanya, Siapa tahu, bukan rasa terima kasih yang didapat, ia malah dicurigai sengaja memberi obat racun, keruan ia mendongkol, segera ia menjengek;
"Nona, kalau aku tidak bermaksud menolong jiwanya, biarpun tidak kuberi obat racun juga dia tetap akan mampus."
"Oh, kalau begitu aku mesti berterima kasih kepadamu, begitukah kakek sialan?"
Kata gadis itu sambil cekikikan.
Sekarang ia percaya obat yang diberi Hiat-ciang-hwe-liong itu adalah obat penawar, maka tanpa menunggu jawaban orang lagi ia lantas mencemplak ke atas kudanya dan pergi dari situ.
Dalam sekejap mata bayangannya sudah lenyap di balik kegelapan sana, betapa mendongkol-nya Hiat-ciang-hwe-liong menyaksikan tingkah laku nona itu, terutama sebutan "kakek sialan"
Yang terakhir itu ....Udara cerah, sang surya memancarkan sinar emasnya yang cerlang cemerlang.
Seekor kuda merah yang tinggi besar sedang berlari kencang di jalan raya.
Penunggang kuda itu adalah seorang gsdis cantik jelita serta merangkul seorang pemuda tampan yang berada dalam keadaaan tak sadar.
Banyak orang memandang heran pada penunggang kuda itu.
Betapa tidak?
Seorang gadis cantik merangkul seorang pemuda di siang hari bolong.
sudah tentu kejadian ini sangat menarik perhatian.
Untungnya kuda itu berlari dengan cepatnya, hanya sekilas pandang saja kuda itu sudah lewat jauh ke sana meninggalkan debu yang beterbangan memenuhi angkasa.
Sambil membedal kudanya kencang2, berulang kali anak dara itu meuundukkan kepalanya memandang pemuda yang berada dalam pelukannya dengan rasa kuatir dan kasih sayangnya.
Bila dalam keadaan sadar pemuda itu menyaksikan kemesraan dan rasa kuatir yang ditunjukkan si gadis cantik ini kepadanya, niscaya dia akan merasa dirinya orang yang paling bahagia di dunia.
Sayang pemuda itu pingsan, sepanjang perjalanan ia tak dapat menikmati kehangatan serta kemesraan yang ditunjukkan gadis itu, malahan mukanya semakin merah membara, napasnya makin memburu, dadanya turun naik makin keras dan jiwanya sudah berada ditepi jurang kematian.
Cemas dan gelisah anak dara itu menyaksikan keadaan pemuda itu yang semakin payah, ia dapat merasakan suhu badannya yang kian meninggi, ia merasa se-akan2 sedang memeluk segumpal bara.
Akhirnya ia tak dapat menahan perasaan kuatirnya, lari kudanya diperlambat dan akhirnya ber~benti.
"Apa yang mesti kulakukan sekarang?"
Pikirnva dengan gelisah.
"jelas tak mungkin kubawa pulang ke rumah. tapi di tengah jalan yang begini sunyi ke mana aku mesti mencari tabib untuk menyembuhkan sakit engkoh Pek?'' Setelah ter-mangu2 sejenak, gadis itu berpikir lebih jauh.
"Aku memang bodoh. jika kubekal beberapa biji Toa hoan-wan dari rumah, pasti aku tak perlu repot2 melakukan perjalanan cepat "
Teringat pada obat Toa-hoa-wan milik keluarganya. tiba2 gadis itu teringat pula akan obat penawar pemberian si kakek muka merah itu.
"Kenapa aku melupakan obat penawar pemberian kakek itu?"
Kembali ia berpikir.
"kenapa tidak kuminumkan dulu obat ini kepada engkoh Pek untuk menolong jiwanya lebih dulu ......?"
Berpikir sampai di sini, ia coba mengawasi sekitar tempat ini, maksudnya mau mencari rumah penduduk untuk minta air putih bagi engkoh Tian.
Tapi lempat itu jauh dari keramaian dan tiada rumah penduduk, yang terbentang sejauh mata memandang hanya rumput serta ladang belaka.
Ia melihat sebuah bukit kurang lebih lima-enam li di sebelah kiri sana, gadis yang cerdik ini segera membedal kudanya menuju ke arah bukit kecil itu.
Walaupun dia tak berpengalaman dan jarang keluar rumah, namun otaknya memang encer, ia pikir di atas bukit yang tinggi itu tentu bisa memandang ke seluruh peujuru dengan lebih leluasa?
Kuda merah yang ditunggangi anak dara itu adalah seekor kuda jempolan yang disebut Ci hua liu (kuda cepat berbulu merah) sekalipun mendaki bukit yang tinggi tetap t;dak menjadi alangan baginya, hanya sekejap saja lima-enam li sudah di tempuhnya.
Berdiri di puncak bukit itu, si nona dapat memandang keadaan sekitar situ dengan lebih leluasa.
Dilihatnya jauh di belakang bukit sana suatu lembah yang permai dengan pepobonan yang rindang, sebuah bangunan mengintip di balik pepohonan itu, meskipun masih bclasan li jauhnya, akan tetapi kecuali bangunan itu tidak nampak lagi ada rumah penduduk yang lain.
Apa boleh buat, terpaksa ia membedal kudanya menuruni bukit itu dan menuju ke arah bangunan tersebut.
Kuda Ci-hoa-liu memang kuda jempolan.
bukan saja dapat berlari cepat di tanah yang datar, sekalipun lari mendaki bukit atau menelusuri lereng-pun kecepatannya tak berkurang, sekejap kemudian ia sudab membawa kedua orang itu sampai di depan rumah tadi.
Gadis itu menurunkan pemuda yang belum sadar itu, tapi setelah mendekati rumah itu ia jadi melenggong.
Bangunan itu aneh sekali bentuknya, atap ber-bentuk bundar warna merah.
dinding pckarangan terbuat dari batu putih, daun pintu juga berwarna putih, pada ambang pintu warns putih tertulis tiga huruf besar.
"Si-jin ki" (rumab kediaman orang mati). Bangunan tersebut memang aneh sekali, bukan saja dibangun membelakangi bukit, bentuk bangunannya mirip kuil tapi bukan kuil. seperti kuburan tapi bukan kuburan, untuk sesaat gadis itu menjadi serba susah dan ragu2 apakah harus masuk ke sana atau tidak? Ilmu silat si nona memang tinggi, tapi ia jarang berkelana di dunia persilatan, tentu saja tak pernah menjumpai pula bangunan seaneh ini, makanya untuk beberapa waktu gadis itu cuma berdiri tertegun. Betapa cerdiknya ia menjadi bingung juga menghadapi bangunan aneh ini. Tak mungkin di dunia ini ada tempat seaneh ini, siapa yang mau memberi nama "Sin-jin-ki"
Untuk rumahnya?
Sekalipun tempat itu adalah kuburan juga tak akan ditulis dengan kata2 begitu.
Tapi kenyataan terbentang di depan mata, mau tak-mau si gadis harus mempercayai kejadian aneh ini.
Selagi gadis itu berdiri tertegun, tiba2 pemuda yang berada dalam pelukannya gemetar keras, alisnya terkerut rapat, tampaknya sedang menahan pcnderitaan yang sangat hebat.
Gadis itu tersadar dari lamunannya, ia pikir menolong orang lebih penting daripada memikirkan urusan lain, peduli amat penghuninya orang hidup atau orang mati, paling penting masuk dulu dan urusan belakang.
Begitulah kalau seorang gadis sudah jatuh cinta, kekuatan cinta membuatnva bersedia untuk berkorban apapun juga, sekalipun gadis itu adalah seorang puteri jago kenamaan yang selalu dimanja oleh orang tuanya, tapi dorongan cinta membuat dia melupakan se-gala2nya, lupa akan marabahaya yang mungkin akan mengancam jiwanya.
Tanpa berpikir panjang ia lantas menerobos ke dalam bangunan aneh yang bernama "kediaman orang mati"
Itu. Ia membiarkan kudanya makan rumput di kaki bukit dengan bebas, sambil menggigit bibir ia pondong Tian Pek yang tak sadar itu dan mendekati pintu, serunya dengan suara lantang.
"Adakah orang di dalam?"
Dia ulangi teriakan tersebut sarnpai beberapa kali, suaranya berkumandang jauh, namun tiada seorangpun yang menjawab.
Akhirnya ia memberanikan diri dan mendepak daun pintu warna putih itu yang segera terbuka.
Dibalik pintu adalah sebuah halaman kecil bunga beraneka warna tumbuh dengan segarnya dalam halaman itu, suasana hening sepi, keheningan yang menimbulkan rasa seram.
Sebuah jalan setapak beralas batu putih membentang lurus ke depan menghubungkan rumah berloteng kecil berwarna merah tadi, pintu loteng tertutup rapat se-olah2 menyimpan teka teki yang mistenus di dalamnya.
Jangankan seorang nona cilik berusia enam-tujuh belassn yang tak pernah keluar rumah, sekalipun seorang jago kawakan yang berpengalaman luaspun akan bergidik berada di tempat begini.
Tapi nona itu sama sekali tak gentar, sambil memondong Tian Pek yang tak sadarkan diri, selangkah demi selangkah ia menghampiri bangunan loteng yang serba misterius itu.
Pintu loteng itupun terbuat dari kayu putih pintunya tertutup rapat, di atas pintu ada tulisan pula yang berbunyi.
"KEDIAMAN ORANG MATI, ORANG HIDUP DILARANG MASUK".
"Hei, orang mati! Ada orang hidup datang ber-kunjung!"
Teriak nona itu.
"Yaok Yaook kuk kuk !"
Bunyi burung aneh menggema memecah kesunyian, seekor burung terbang melintasi atap loteng dan melayang ke belakang bukit.
Hampir saja gadis itu menjerit kaget, jantung berdebar keras, selang sesaat belum nampak juga bayangan orang.
akhirnya gadis itu mendepak pelahan pintu loteng.
Pintu itu tidak terkunci dan segera terpentang lebar, di balik pintu adalah sebuah ruang kecil yang longgar.
Perabot dalam ruangan itu amat sederhana, tapi lantainya bersih sekali.
tidak perlu ditanya lagi, semua ini pastilah hasil pekerjaan si "orang mati"
Itu.
Gadis itu tambah waspada, matanya terbelalak dan siap menghadapi segala kemungkinan.
Tepat di tengah ruangan ada sebuah meja panjang yang juga terbuat dari kayu putih, dua buah kursi terletak di kedua sisi meja.
Tampaknya baik pintu, jendela serta bahan bangunan lain yang ada disini semua terbuat dari sejenis kayu yang sama, tidak dicat atau dipelitur sehingga terciptalah semacam bau yang khas, bau itu mengingatkan orang pada bau yang terdapat di toko peti mati, Sekali lagi gadis itu memeriksa setiap sudut ruangan dengan seksama, setelah yakin di sekitar sana tak ada yang mencurigakan, baru ia membaringkan Tian Pek di atas kursi, sebab tangannya mulai terasa kesemutan dan pegal.
Setelah menaruh pemuda itu di atas kursi, nona itu mengembus napas lega, pikirnya.
"Tempat ini dinamakan kediaman orang mati, kenapa tidak terlihat seorang matipun?"
Kembali dia awasi sekeliling ruangan itu.
kebetulan angin berembus mengibarkan kain tirai di dinding bagian tengah, tampaklah dibalik kain tirai terdapat sebuah ruangan lagi dan entah apa isi ruangan itu?
Karena itu rasa ingin tahu, si nona memberanikan diri mendekati tempat itu dan menyingkap tirai tadi, maka tampaklah sebuah meja sembahyang teratur rapi di sana, di atas meja sembahyang berdiri sebuah papan kecil yang juga terbuat dari kayu putih, empat sisinya diukir secara indah, sedang di tengah papan kecil itu terukir beberapa patah kata.
"Tempat abu Injin Pek lek-kiam Tian-tayhiap, Tian In-thian!"
Hampir saja nona itu berseru kaget, dia masih ingat ketika engkoh Tian dirawat di rumahnya tempo hari, tiba2 paman Lui meloncat masuk ke dalam kamar ketika anak muda itu sedang bercerita asal usulnya, waktu itu paman Lui mencengkeram tangan engkoh Tian sambil bertanya.
"Apa hubunganmu dengan Tian In thian ....?"
Dan kini di kediaman orang mati muncul pula meja abu Tian In thian, jangan2 antara engkoh Tian dengan Tian In-thian memang mempunyai hubungan yang erat?
Kiranya tak perlu dijelaskan lagi siapa anak dara ini, ialah Tian Wan-ji adanya!
Rupanya gadis ini diam2 jatuh cinta pada Tian Pek, setelah kembali ke kamarnya akibat dibuat mendongkol karena Tian Pek bersikap mesra terhadap Hoan Soh-ing, kemudian ia dengar Tian Pek telah mengejar Sin-liu-liat-tan Tan Can-li, ia menjadi kuatir, maka diam2 ia kabur dan rumahnya dengan membawa Ci-hoa liu, kuda merah mestika miiik ayahnya.
Walaupun dia berasal dari keluarga cendekia dan sejak kecil disayang orang tuanya dan memiliki ilmu silat yang tinggi, tapi belum pernah melakukan perjalanan di dunia Karigouw, selain itu iapun tak tahu ke mana perginya Tian Pek, untunglah secara kebetulan ia berhasil menemukan Tian Pek di kota Hin-liong-tin.
Waktu itu dia sedang bersantap di atas loteng, sedang Tian Pek di bawah, maka kedua orang tidak saling bertemu.
Setelah terjadi ribut2 barulah Wan-ji melongok ke bawah.
Betapa gembiranya nona itu setelah mengetahui salah seorang di antaranya adalah Tian Pek, ia lihat betapa gagahnya anak muda itu menghadapi kerubutan belasan orang dengan pedang hijaunya.
Karena tak ingin mengganggu orang yang berkelahi, gadis itu tidak lantas unjuk diri, baru setelah Tian Pek terluka karena beradu kekuatan dengan Hiat-ciang-hwe liong dan kakek itu hendak mencelakai jiwa anak muda itu, cepat ia turun tangan menyelamatkan Tian Pek dengan menyambitkan cambuk kudanya.
Dan kini tanpa disengaja pula sampailah mereka di Si-jin-ki, sempat pula menyaksikan meja abu Tian In-thian, ia makin yakin kalau antara Tian Pek dengan Tian In-thian pasti mempunyai hubungan yang erat, sudah tentu hal ini membuatnya prihatin.
Boleh dibilang gadis itu sudah lupa maksudnya hendak mencari air untuk minum obat engkoh Tian, perhatiannya kini tercurahkan pada meja abu itu.
Meja abu itu sangat bersih, ada sesajian buah2-an dan bunga yang teratur dengan rapi di atas meja, hiolo dengan sisa abu dupa terletak di tengah meja ini menandakan kalau selalu ada orang bersembahyang di situ secara teratur.
Di depan meja abu sana terdapat sebuah jalan samping yang luasnya lima kaki, di samping kiri-kanan jalan serambi itu terdapat kamar tidur, pintu kamar terbuat pula dari kayu putih.
Pada pintu kamar sebelah kiri tertempel secarik kertas putih yang bertuliskan.
"Hoat-si jin", sedang-kan di pintu kamar sebelab kanan tertempel kertas dengan tulisan "Si-hoat-jin". Selain itu, di samping kanan-kiri pintu masing2 tertempel pula sebuah "Lian"
Dengan kertas warna putih, lian itu bcrtuliskan.
"Utang budi tak dapat membalas, lebih baik mati daripada hidup". Sedang Lian yang lain bertulisan.
"Punya dendam tidak menuntut balas, malu untuk hidup". Selanjutnya tepat di atas pintu tertulis kata2 yaisg berbunyi.
"Membslas dendam dan membayar budi". Sekarang Wan-ji dapat meraba duduknya persoalan, jelas 'SI-JIN-KI" (kediaman orang mati) bukanlah dihuni oleh orang mati sungguh2 melainkan orang hidup yang berutang budi kepada Tian-taybiap, karena tak mampu membalaskan dendam bagi kematian Tian tayhiap, mereka lantas menganggap diri sendiri sebagai orang yang sudah mati. Ia menjadi heran macam apakah manusia yang bernama Hoat-si-jin (orang mati hidup) dan Si hoat-jin (orang hidup mati) itu? Dia mendekati kamar sebelah kiri dan mendorong pintu hingga terbuka, ia lihat isi ruangan itu sederhana sekali, kecuali sebuab meja dan sebuah kursi tiada perabot lain, juga tidak nampak pembaringan sebagai layaknya sebuah kamar tidur, hanya di sudut ruangan sana ada sebuah peti mati. Peti mati itu juga terbuat dari kayu putih dan tertutup rapat sekali, lama Wan-ji mengamati ruangan tersebut, karena tak menemukan sesuatu akhirnya gadis itu mengundurkan diri dan masuk ke kamar sebelah kanan. Apa yang dilihat di kamar kanan ini sama sekali tak berbeda dengan keadaan di kamar sebelah kiri, kecuali sebuah meja dan kursi, juga cuma terdapat sebuab peti mati. Mau-tak-mau mengkirik juga Wan-ji, jantung-nya berdebar keras, Bangunan sebesar ini sama sekali tiada penghuninya dan di dalam kamar kecuali dua peti mati besar tidak nampak benda lain, ditambah pula gedung itu dinamakan "kediamun orang mati", suatu nama yang menimbulkan rasa ngeri bagi yang mendengarkan, tidaklah heran kalau gadis cilik itu jadi ketakutan. Sampai sekian lamanya ia berdiri ter-mangu2 di depan kamar itu, ia tak tahu apa yang harus dilakukannya? "Dukk"'!"
Mendadak "terdengar suara keras di luar ruangan, Wan-ji terperanjat dan hampir saja menjerit, cepat telapak tangan kiri siap melindungi dada, sementara telapak tangan kanan siap menghadapi serangan musuh, cepat ia melayang keluar kamar itu.
Ia libat Tian Pek sudah terjungkal dari kursi dan terkapar di lantai, tanpa berpikir Wan-ji melayang ke sarnping anak muda itu dan memeriksanya Dilihatnya muka Tian Pek tetap merah membara, napasnya kini semakin lemah hingga hampir tak terdengar, dahinya berkerut dan darah meleleh keluar dan ujung bibirnya.
Wan-ji amat terperanjat, cepat ia periksa tubuh anak muda itu, tapi tidak menemukan sesuatu tanda luka baru, anak dara itu baru menyadari akan keteledoran sendiri.
Tentulah anak muda itu terguling dari kursinya sewaktu ia melakukan penggeledahan ke dalam kamar tadi, diam2 ia memaki ketidak becusan sendiri urusan yang penting tidak dibereskan dulu, sebalik-nya mengurusi hal tetek bengek.
Cepat ia angkat anak muda itu ke atas kursi, kemudian ia keluarkan pil bijau pemberian kakek muka merah itu, karena tidak menemukan air matang akhirnya gadis itu mengunyah obat tersebut di mulutnya sendiri, kemudian dengan bibir menempel bibir, pelahan ia meloloh obat yang telah hancur itu ke mulut Tian Pek.
Maklum, usia Wan-ji masih amat muda, hatinya masih suci bersih dan pengetahuannya mengenai hubungan antara lelaki dan perempuan masih sangat minim, ia tak tahu kalau perbuatan mesra itu pantang dilakukan oleh anak dara seperti dia melainkan hanya suami-istri yang boleh berbuat begitu.
Selain itu, karena dia terlalu mencintai Tian Pek, dalam keadaan terpaksa tanpa pikir ia meloloh anak muda itu dengan obat yang telah bercampur dengan air liurnya.
Malahan dia kuatir engkoh Tian tercintanya tak dapit menelan hancuran obat itu karena masih pingsan, maka dengan mengerahkan hawa murninya, dia lantas menguruti dada anak muda itu.
Ketika tangannya meraba dada Tian Pek, mendadak Wan-ji merasa seperti menyentuh sebuah benda.
gadis itu heran, benda apa yang berada di dalam baju pemuda itu?
Karena rasa ingin tahu dirabanya dada Tian Pek dan mengeluarkan benda itu, kiranya benda itu adalah se
Jilid kitab yang bersampul warna-warni. Melihat kitab yaag indah itu Wan ji tertawa geli, pikirnya.
"Engkoh Tian masih seperti anak kecil saja, sudah jejaka masih suka baca buku komik begini?"
Tanpa sengaja Wan ji membalik2 halaman kitab itu. Tapi apa yang dia lihat? Ternyata gambar gadis bugil melulu dengan pose yang menggiurkan.
"Ah, brengsek kau!"
Wan ji menggerutu dengan muka merah karena jengah, ia lupa bahwa Tian Pek belum lagi ssdar, segera ia lemparkan buku itu ke atas dada Tian Pek.
"Bluk."
Buku itu terjatuh ke lantai. Pada saat itulah mendadak terdengar seorang membentak.
"Siapa yang berani memasuki kediaman orang mati!?"
Berbareng dengan bentakan tersebut, sesosok bayangan menerjang masuk ke dalam ruangan dengan cepat luar biasa.
Belum lagi Wan-ji sempat membalik tubuh, tahu2 segulung angin pukulan yang dahsyat menerjang tiba dari belakang.
Wan-ji kuatir pukulan dahsyat itu melukai Tian Pek yang pingsan, ia tidak menghindar atau berkelit, dengan gerakan To coan-im-yang (memutar balik im dan yang), sambil berputar kedua telapak tangan terus di dorong ke depan untuk menyambut ancaman tadi.
"Ah, rupanya Siau-in-kong (tuan penolong kecil)!"
Seru penyerang itu.
Tatkala Wan-ji putar badan, orang itu sempat melihat wajah Tian Pek dengan jelas, maka ia berseru kaget dan lekas2 hendak menarik kembali pukulannya.
Tapi sayang agak terlambat-"Blang"!"
Benturan keras terjadi, Wan-ji merasakan sekujur badannya bergetar keras, lengannya kaku kesemutan.
"Hebat benar tenaga pukulan orang ini!"
Pikir Wan-ji dengan terperanjat.
Pendatang adalah dua orang aneh yang berpakaian belacu putih dengan ikat pinggang tali rami, mukanya pucat menyeramkan tanpa emosi dan kaku seperti orang mati, mereka berdiri di kiri kanan depan Wan ji, gerak gerik mereka persis seperti mayat hidup.
Kedua orang aneh itu memancarkan sorot mata yang tajam, mereka mengamati mulai dari Wan-ji, lalu beralih ke wajah Tian Pek, kemudian dari wajah Tian Pek beralih kembali pada wajah si nona-Wan-ji kuatir kalau kedua orang aneh itu bermaksud jahat terhadap Tian Pek, maka walaupun tahu ilmu silat sendiri bukan tandingan lawan, tapi demi melindungi keselamatan pemuda itu diam2 dia kerahkan tenaga dalamnya dan siap siaga.
Gadis itu sudah bertekad bila kedua orang aneh itu menunjukkan suatu gerakan yang tidak menguntungkan Tian Pek, maka dia akan melakukan serangan balasan dengan segenap kekuatannya.
"Aih, cukup parah luka yang diderita Siau-in-kong!"
Terdengar manusia aneh yang berdiri di sebelah kiri itu berseru, entah ditujukan kepada siapa perkataannya itu? "Oleh karena itulah kita tak boleh mati!"
Sambung manusia aneh yang berada di sebelah kanan-"Hidup kita di dunia ini masih banyak gunanya "
Diam2 Wan-ji merasa heran, kedua orang aneh itu seperti sedang bicara sendiri, akan tetapi sinar matanya tertuju kepada dirinya dan engkoh Tian, sungguh aneh dan apa maksudnya?
"Perempuan cilik, apakah kau yang meiukai Siau-inkong?"
Tiba2 orang aneh sebelah kiri menegur dengan bengis. Wan-ji balas bertanvac "Siapa kalian? Untuk apa aku melukai engkoh Tian . .. ? "Ciat!"
Mendadak manusia aneh yang sebelah kanan membentak keras terus melayang ke atas-tangan kirinya dikebaskan menyingkirkan Wan-ji, sementara tubuhnya langsung mnnubruk Tian Pek yang masih tak sadar.
"He, apa yang hendak kau lakukan?"
Teriak Wan ji kuatir, ia takut orang aneh itu meiukai pujaan hatinya Sambil membentak, tangan kanannya menangkis lengan manusia aneh itu dengan gerak Lek poat-cian-kun (menyingkirkan rintangan sekuatnya).
Karena kuatir, serangan tersebut dilancarkan Wan ji dengan mengerahkan segenap tenaganya, jangankan lengan manusia, sekalipun baja juga akan bengkok.
Tapi msnghadapi tenaga pukulan Wan-ji yang dahsyat itu, manusia aneh itu seperti tidak menggubris atau memandang sekejappun, ia tetap melayang ke depan Tian Pek.
"Plok!"
Dengan telak pukulan Wan-ji itu mengenai lengan kiri manusia aneh itu, ia merasa telapak tangan sendiri se-akan2 menghantam baja yang sangat kuat, separoh badan sendiri menjadi kesemutan, tanganpun sakit luar biasa, ia tergetar mundur lima-enam langkah.
Dalam pada itu manusia aneh tadi sudah menubruk tiba di depan Tian Pek, telapak tangannya yang besar dan berbulu segera direntangkan lebar2 terus menekan ulu hati anak muda itu.
Betapa kaget dan kuatir Wan ji, ia berteriak.
"Siluman tua, kalau kau berani menyentub engkoh Tian, nonamu akan beradu jiwa dengan kau!"
Sambil membentak, kedua tangan lantas didorong ke depan dengan jurus Wi-ing-jut kok (burung kenari keluar sarang), dia menghantam dengan sekuat tenaganya.
"Nona cilik jangan sembrono .... !"
Bentak manusia aneh yang lain, sebelah tangannya terus bergerak dan membuat Wan-ji teralang oleh selapis dinding tenaga pukulan yang tak kelihatan, kontan tubuh nona itu terpental balik dan "blang", puuggungnya membentur dinding dengan keras.
Wan-ji merasakan padangannya menjadi gclap, hampir saja ia jatuh tak sadarkan diri, cepat dia himpun hawa murninya dan mengatur pernapasan.
Ketika ia membuka matanya kembali, terlihat telapak tangan manusia aneh yang pertama tadi sudah ditempelkan di jalan darah Mia-bun-hiat di tubuh Tian Pek.
Mia bun-hiat merupakan jalan darah kematian di tubuh manusia, apabila orang aneh itu memencet tempat penting tersebut, niscaya Tian Pek akan mati konyol.
Wan-ji menjadi kuatir bercampur panik, tanpa terasa air matanya jatuh bercucuran.
Tapi setelah diperhatikan dengan lebih seksama, legalah gadis itu, rupanya orang aneh itu tidak bermaksud mencelakai Tian Pek melainkan sedang menggunakan tenaga dalamnya untuk mengurut jalan darabnya.
Selang sejenak, warna merah membara yang menghiasi wajah Tian Pek tadi sudah jauh berkurang, malahan pelahan sedang membuka matanya.
"Busyet! aku malah mengira dia akan mencelakai jiwa engkoh Tian,"
Demikian pikir Wan-ji, dia lantas bersandar di dinding dan menggunakan kesempatan itu untuk mengatur pernapasannya.
Orang aneh yang kedua juga telah menghampiri Tian Pek, tiba2 ia tertegun, sorot matanya tertuju pada kitab berwarna-warni yang tergeletak di bawah kaki anak muda itu.
Cepat dipungutnya kitab tersebut, setelah dipandang sekejap ia menjerit kaget.
"Hah! Soh kut-siau-hun-thian-hud-pit-kip! Kak .... coba lihat "
Sambil berseru kaget ia memandang ke arah-kakaknya, tapi ketika dilihatnya orang aneh itu sedang mengurut jalan darah Tian Pek dengan sepenuh tenaga, malahan uap tipis mengepul keluar dari ubun2nya, kata2 yang akan diutarakan cepat ditelan kembali.
Tapi pada wajahnya yang kaku dingin itu jelas kelihatan emosinya yang sukar ditahan, sinar matanya berkilat, sampai kedua tangan yang memegang kitab itupun gemetar.
Wan-ji yang sedang atur pernapasan sambil bersandar dinding juga terperanjat ketika didengarnya orang aneh itu meneriakkan nama "Soh-hun-siau-kut-thian hud-pit-kip"", ia pernah mcndengar nama kitab itu waktu ayahnya bercakap2 dengan para jago anak buahnya.
Da tahu kitab tersebut merupakan hasil karya Ciah-gan-long-kun, seorang tokoh aneh yang hidup dua ratus tahun yang lalu, kitab itu terkenal sebagai kitab paling aneh di kolong langit ini, barang siapa berhasil mendapatkan kitab tersebut dan mempelajari isinya, maka ilmu silatnya akan merajai dunia Kangonw.
Tapi sekarang Wan-ji jadi sangsi, masakah begini isi kitab yang dikatakan kitab sakti luar biasa itu?
Masakah gambar perempuan bugil dengan pose yang merangsang itu merupakan rahasia pelajaran ilmu silat yang maha hebat?
Sambil berpikir nona itupun nengawasi gerak-gerik manusia aneh itu.
Dengan tangan gemetar orang itu sedang mem-balik2 halaman kitab, makin jauh ia membaca kitab itu, air mukanya semakin aneh, sebentar berkerut kening, kemudian bibirnya mencibir, lalu sinar matanya mencorong terang, lain saat mukanya yang pucat seperti mayat berubah juga dan bersemu ke-merah2an.
Sejenak kemudian sekujur tubuhnya mulai gemetar keras, agaknya orang aneh itupun tak mampu mcnguasai gejolak perasaannya, akhirnya dia pejamkan matanya .
, Di pihak lain, kabut tipis yang menguap dari ubun2 manusia aneh yang sedang mengobati Tian Pek itu kian lama kian bertambah tebal.
akhirnya kabut bergerombol di atas ubun2nya dan menciptakan tiga kuntum cendawan putih, dipandang dari kejauhan ketiga gumpalan kabut tersebut mirip tiga kuntum bunga teratai putih.
Wan-ji makin terbelalak matanya, sebentar ia memandang manusia aneh yang sedang membaca Soh hun siau kut pit-kip, lain saat ia memandang orang aneh yang sedang mengobati Tian Pek, ia terperanjat menyaksikan menggumpalnya uap di atas kepala orang itu menjadi tiga kuntum bunga teratai putih yang aneh itu, dia tahu inilah tandanya seorang mempunyai tenaga dalam yang ssmpurna, inilah ilmu Lwekang yang disebut Sam-hoa-cip-teng (tiga bunga menghimpun di atas kepala).
Tiba2 ia merasa ada sorot mata yang tajam sedang menatap padanya, cepat ia berpaling, tam-paklah manusia aneh yang membaca Soh-kut-siau-hun thian-hud pit-kip tadi sedang memandangnya dengan sikap yang aneh, padahal mata orang itu telah dipejamkan untuk mengatasi gejolak perasaannya, tapi kini telah membuka mata pula.
Muka orang itu sudah bcrubah menjadi merah membara, sekujur badannya gernetar keras, dengan melotot orang itu mengawasi dada serta bagian perutnya, bahkan selangkah demi selangkah menghampirinya.
Wan-ji masih polos dan belum tahu urusan, mimpipun ia tak menyangka bahwa tanda itu menunjukkan seorang lelaki yang sedang terangsang napsu berahinya dan ingin mencari sasaran pelampiasan napsunya, dia mengira orang itu sudah gila dan hendak membunuhnya.
Manusia aneh itu sebenarnva terhitung seorang tokoh kosen yang mempunyai tenaga dalam yang serpurna, baik ilmu silat yang sudah terlatih puluhan tahun maupun kekuatan batinnya boleh di katakan sudah tergolong top, siapa tahu iapun tak sanggup mempertahankan diri oleh daya rangsangan yang dibacanya dari kitab Soh-hun-siau-kut tersebut, kekuatan batin yang diyakinkan selama puluhan tahun tidak mampu lagi membendung rangsangan napsu berahi yang berkobar dengan dahsyatnva apalagi melihat lawan jenis berada di depannya, rangsangan napsu semakin bergelora dengan hebat.
Ia menjadi lupa daratan, lupa akan nama baik serta kedudukannya sendiri, lupa kalau di situ masih hadir saudaranya dan puteta tuan penolongnya.
Kini napsu berahi yang membara telah menguasai seluruh jalan pikirannya, bagaikan harimau lapar yang menemukan anak domba, dengan buas ia menerkam mangsanya.
Wan-ji menjerit kaget, cepat dia himpun Lwe-kangnya pada kedua telapak tangan, dengan jurus Pi-bun-sia-kek (tutup pintu menolak tamu), ia hantam dada manusia aneh yang sudah kalap itu.
"Bluk!"
Manusia aneh itu sama sekali tidak menghindar ataupun berkelit, dengan telak pukulan dahsyat si nona mengenai sasarannya.
Pukulan Wan-ji ini sedikitnya berkekuatan beberapa ratus kati, sekalipun batu karang yang keraspun akan terhajar hancur bila terlanggar pukulannya.
Tak tersangka manusia aneh itu hanya bergeliat sedikit, ia tetap menerjang ke depan, kedua tangan terpentang terus menubruk si nona.
Wan-ji tak mampu berkelit lagi, tubuhnya dirangkul dengan kencangnya, begitu erat hingga seperti jepitan besi, daya tekan di dadanya membuatnya hampir tak dapat bernapas, saking cemas karena tidak sanggup melawan lagi, akhirnya ia jatuh pingsan.
Manusia aneh yang dirangsang oleh napsu berahi semakin kalap, sesudah berhasil memeluk mangsanya, ia mulai menarik pakaian Wan-ji sambil mengeluarkan dengusan napas yang kehausan, haus akan pelampisan napsu.
Dalam waktu singkat pakaian yang dikenakan anak dara itu sudah terkoyak oleh jari tangannya yang kuat bagaikan cakar baja, tubuh Wan-ji mulai telanjang, anggota badannya yang terlarangpun ter-bentang di depan mata.
Sementara itu dengus napas manusia aneh itu semakin memburu, mukanya makin merah membara dan beringas mengerikan, tampaknya Wan-ji sukar terhindar dari nasib buruk, sebentar lagi kesuciannya pasti akan ternoda oleh orang itu.
Untunglah pada saat gawat itu terdengar orang membentak, secepat kilat manusia aneh yang sedang menyembuhkan luka Tian Pek itu menerjang tiba, secepat kilat ia tutuk Cing-cu-hiat di punggung rekannya.
Kontan manusia aneh yang merangkul Wan ji itu roboh terkulai.
Tidak sampai di situ saja, serentak orang itu menutuk pula jalan darah Tiang jian-hiat, Leng tay-hiat serta Seng-bun-hiat, tiga Hiat-to panting di tubuh saudaranya, habis itu ia mengangkatnya ke kamnr tidur sebelah kiri dan melemparkannya ke dalam peti mati di situ.
Kemudian dengan gerak cepat iapun membawa Wan-ji ke kamar lain dan dimasukkan ke dalam peti mati yang serupa.
Sehabis menyingkirkan kedua orang itu barulah dia pungut kitab Thian-hud-pit kip tadi serta di-simpan dalam bajunya, kini keadain se-akan2 tak pernah terjadi sesuatu apapun, lalu dia melanjutkan mengurut jalan darah penting di badan Tian Pek.
Sejenak kemudian, pelahan anak muda itu siuman kembali.
Begitu membuka matanya, pertama yang terlihat oleh Tian Pek adalah manusia aneh seperti setan iblis ini, seketika ia melenggong.
"Tian-siauhiap, masih kenal padaku?"
Orang aneh itu lantas menegur.
Segera Tian Pek teringat kembali pada kedua orang manusia aneh yang pernah dijumpainya di hutan siong sana serta gagal membunuh diri dengan membenturkan kepala pada pohon itu.
"Bagaimana caranya aku bisa sampai di sini?"
Tanyanya kemudian dengan bingung.
"Dan dimana rekanmu itu?"
Manusia aneh itu menggeleng, jawabnya "Rekanku sedang keluar dan belum pulang, mengenai bagaimana caranya kau bisa sampai di sini, hal ini harus ditanyakan kepada dirimu sendiri!"
"Bertanya kepada diriku sendiri?"
Tian Pek menjadi bingung pula.
Lapat2 dia masih ingat bagaimana dirinya beradu pukulan dengan seorang kakek muka merah di suatu kota, kemudian ia tak sadarkan diri karena tak kuat menahan hawa panas yang menyengat tubuhnya.
Mengapa sekarang dirinya bisa berada di kamar manusia aneh ini?
Jilid-09.
Tiba2 timbul pikirannya, cepat ia bertanya "Apakah Locianpwe yang menolong diriku?"
"Akupun tidak tahu siapa yang telah menolong kau, tapi memang akulah yang membantu menyadarkan kau. Tian-siauhiap, coba ceritakan kemana saja setelah kita berpisah tempo hari?"
Tian Pek lantas menceritakan semua pengalamannya semenjak berpisah dengan kedua orang itu. Habis mendengar penuturan itu, manusia aneh tadi menghela napas, ucapnya.
"Ai...rupanya takdir menghendaki demikian, aku gagal membunuh diri sehingga sekarang malah bisa menyumbangkan sedikit tenagaku bagi keturunan In-jin!"
Pe|ahan ia bangkit dan mengajak Tian Pek kedepan meja abu Tian In-thian, kata-katanya kemudian.
"Tuan penolong kami yang kumaksudkan ialah ayahmu sendiri!"
Memandang meja abu ayahnya, tanpa terasa air mata Tian Pek bercucuran, ia berlutut dan menyembah beberapa kali.
Ketika itulah semua penderitaan lahir batin yang dideritanya selama ini terbayang kembali, tak kuasa lagi anak muda itu menangis tersedu-sedan.
Watak Tian Pek memang keras, belasan tahun hidup terluntang-lantung seatangkara, sudah banyak penderitaan dan siksaan yang dialaminya, tapi belum pernah dia meneteskan air mata atau mengerutkan dahi.
Tapi sekarang berhadapan dengan meja abu ayahnya, ia tak dapat membendung rasa sedihnya yang selama ini mengganjal dalam hatinya.
Apalagi bila terbayang kegagalannya selama ini untuk mencari tahu musuh besar ayahnya, bukan saja dendam belum dapat dituntut, siapa pembunuhnya pun tak tahu, kesedihan ini membuat ia tak mampu menahan diri lagi dan menangislah dia ter-gerung2.
Tiba2 manusia aneh itupun ikut menangis sambil memukuli dada sendiri, rupanya iapun terbayang pada penderitaan sendiri dan usahanya yang sia2 mencari pembunuh tuan penolongnya.
Setengah barian lamanya kedua orang itu menangis, akhirnya manusia aneh itu menengadah dan bersuit panjang se-olah2 hendak melimpahkan segenap rasa sedih yang dideritanya selama ini.
Sambil mengusap air mata katanya dengan lantang.
"Air mata seorang Enghiong tak akan menetes dengan percuma, Siau-in-kong! Jangan menangis lagi, ada beberapa patah kata hendak kubicarakan denganmu!"
Sesudah menangis, rasa sedih Tian Pek yang bertumpuk selama ini jauh berkurang, mendengar perkataan itu, ia berhenti menangis, ia berbangkit dan berkata.
"Locianpwe jangan sungkan2 padaku, bila ingin mengatakan sesuatu, silakan bicara saja."
Hoat-si-jin (orang hidup mati) menghela napas sedih, ucapnya.
"Ai, bila dibicarakan sungguh memalukan sekali, terlalu besar budi yang kami peroleh dari In-jin, begitu besar budi kebaikan tersebut sehingga sulit rasanya untuk membalasnya. Sungguh tak tersangka setelah kematian Inkong, bukan saja kami tak dapat balaskan dendamnya, malah siapakah pembunuhnya juga sama sekali tidak tahu, lalu apakah kami punya muka untuk tetap hidup di dunia ini? Waktu itu sebenarnya kami hendak bunuh diri dan menyusul In-kong ke alam baka, tapi kami pikir perlu juga mencari tahu siada pembunuh In-kong serta membalaskan dendamnya, maka kami terima hidup menderita sampai sekarang, kami bersumpah akan merabalaskan dendam kematian In-kong, sebelum berhasil kami takkan berhenti berusaha!"
Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan.
"Sejak itu, kami menghapuskan nama kami yang asli dan menggunakan nama Hoat-si-jin serta Si-hoat-jin, sehari dendam In-koog belum terbalas, sehari pula kami tak akan menggunakan nama asli kami. Tapi pembunuh In-kong memang terlampau keji dan licik, gerak-geriknya amat rahasia dan cermat sekali, setelah melakukan penyelidikan yang seksama, akhirnya kami hanya tahu bahwa pembunuh Inkong ada enam orang banyaknya dan keenam orang ini merupakan tokoh kenamaan di dunia persilatan sekarang."
Sampai disini Hoat-si-jin berhenti pula dan mengembus napas panjang. Tergetar hati Tian Pek mendengar nama musuh yang hampir disebutkan itu. dengan tubuh gemetar dan suara serak ia berseru.
"'Lanjutkan ceritamu Locianpwe, lanjutkan ... ."
Hoat-si-jin tarik napas panjang dan menggeleng.
"Ai, keenam tokoh silat itupun mempunyai nama serta kedudukan yang terhormat di dunia persilatan, bahkan mereka adalah saudara angkat ayahmU, Orang persilatan menyebut mereka sebagai Tionggoan. jit-hiap (tujuh pendekar besar dari daratan Tionggoan) Sungguh tak tersangka lantaran satu partai harta karun yang berada didasar telaga Tong-ting-ouw, mereka lantas berkomplot dan membunuh ayahmu...."
"Locianpwe! Lanjutkan ceritamu, siapakah mereka? Siapa nama mereka semua?"
Seru Tian Pek dengan tak sabar.
"Di antara keenam orang itu, kecuali seorang di antaranya jauh di luar lautan dan tidak diketahui jejaknya, sisanya yang lima orang rata2 adalah tokoh kenamaan di dunia persilatan dewasa ini Oh, Thian! Kenapa orang baik tidak diberkahi, sebaliknya orang jahat malang melintang dengan leluasa." ?"
"Locianpwe, cepat katakan, siapakah mereka? Siapa nama mereka?"
Desak Tian Pek.
Anak muda ini tak dapat menahan sabar lagi, apalagi setelah dilihatnya Hoat-si-jin hanya berkeluh kesah belaka tanpa menyebutkan nama pembunuh ayahnya.
Akhirnya dengan mata melotot Hoat-si-jin menjawab.
"Orang pertama adalah Pah-ong-pian (Cambuk raja ganas) dari kota Tin-kang, Hoan Hui! Sedangkan empat orang lainnya adalah orang tua Bu-lim su-kongcu (empat kongcu dari dunia persilatan) yang tersohor itu."
"Apa? Bu-lim-su-kongcu!"
Teriak Tian Pek dengan terbelalak, ia cengkeram lengan Hoat-si-jin kencang2 dengan mata merah membara, sambil melototi manusia aneh itu ia menegas.
"Jadi pembunuh ayahku juga termasuk Bu-lim su-kongcu?"
Dengan keren Hoat-si-jin mengangguk.
"Benar Pembunuh ayahmu adalah ayah Bu-lim-su-kongcu...?"' "Jadi antara lain adalah ayah Lenghong Kongcu. Ti seng-jiu Buyung Ham?"
Teriak Tian Pek. Hoat-si-jin mengangguk.
"Dan ayah An-lok Kongcu, Kun-goan-ci (telapak tangan sapu jagat) In Tiong-liong?"
Kembali Hoat si-jin mengangguk tanpa ber suara.
"Ayah Toanhong Kongcu, Kun-goan-ci (jarj sakti) Sugong Cing dan ayah Siang-ling Kongcu. Cing-tu-sin (malaikat labah2 hijau) Kim Kiu?"
Dengan wajah serius kembali Hoat si-jin mengangguk, setelah Tian Pek selesai berkata dia menambahkan.
"Masih ada seorang lagi, dia telah jauh mengasingkan diri keluar lautan, sampai kini jejaknya tak ketahuan, orang itu adalah Gin-san-cu (kipas perak) Liu Ciong bo!"
"Ooo!...."
Tiba2 Tian Pek berteriak terus roboh tak sadarkan diri.
Cepat Hoat-si-jin menyambar badan si arak muda dan salurkan hawa murninya lewat jalan darah Mia-bun-hiat dipunggungnya, selang sesaat Tian Pek baru sadar kembali dari pingsannya.
Dengan air mata bercucuran dan sedih katanya.
"O, Locianpwe, tampaknya sakit hati ayahku sukar untuk dituntut balas, apa yang mesti kulakukan?"
"Ai...!"
Hoat-si-jin menghela napas panjang.
"Siau-inkong! Jangankan engkau kamipun jadi putus asa dan menyesal setelah mengetahui nama2 pembunuh itu, kami sadar tiada harapan kami untuk balas dendam bagi kematian In-kong, karena putus asa maka kami ambil keputusan untuk bunuh diri dengan menumbukkan kepala pada pohon!"
Sampai disini. Hoat si-jin pandang sekejap anak muda ini, diam2 ia menghela napas, pikirnya.
"Persoalan ini jelas sukar diselesaikan karena menyangkut kelima orang tokoh silat yang paling top di dunia persilatan jaman ini, bukan saja kekayaan yang mereka miliki ber-limpah2, merekapun mengumpulkan jago persilatan se-banyak2nya di kolong langit jangankan hendak bermusuhan dengan mereka berlima sekaligus, untuk memusuhi salah satu diantaranya saja sukar, kami berdua yang selamanya tak kenal takut saja mesti berpikir dua kali sebelum bertindak, apalagi Siau-inkong hanya seorang muda yang sebatang kara, mana kau mampu menandingi kelihayan lima tokoh tersebut? Mana mungkin dendam ayahmu bisa dituntut balas?"
Sekalipun demikian, Hoat si-jin tak tega mengutarakan isi hatinya itu, dia kuatir Tian Pek mengalami pukulan batin yang lebih hebat lagi, terpaksa dia berkata pula.
Siau-inkong, engkau tak usah berputus asa, bukankah pepatah bilang 'di dunia ini tiada soal yang sukar, asalkan kita punya tekad besar'.
Maka bila engkau berani berusaha dan siap menhadapi segala aral melintang, pada suatu hari akhirnya sakit hati In-kong pasti berhasil dituntut balas."
Semangat Tian Pek bangkit kembali sehabis mendengar perkataan itu, dia berpikir.
"Benar juga ucapan Locianpwe ini, kenapa aku mesti patah semangat? Tidak selayaknya seorang laki2 sejati takut menghadapi kesukaran, asal kulatih ilmu silatku dengan tekun hingga kepandaian yang kumiiiki memperoleh kemajuan pesat, masa tidak mampu kubunuh musuh ayah satu persatu? Sekalipun nanti harus berusaha mati2an, tetap harus kulaksanakan juga agar setiap orang persilatan menpetahui ayahku masih mempunyai seorang keturunan seperti diriku ini."
Berpikir sampai disini, satu ingatan cepat timbul dalam benak anak muda itu, tiba2 ia berlutut di depan Hoat-si-jin dan berkata dengan serius.
"Terima kasih atas nasihat Cianpwe sehingga pikiran Wanpwe yang cupat bisa terbuka kembali, bagaimanapun Locienpwe adalah sahabat karib mendiang ayahku? Terimalah Wanpwe sebagai muridmu, asal Wanpwe berhasil mempelajari ilmu silat yang tinggi, suatu hari aku pasti akan berhasil balaskan dendam ayah ..."
Gugup Hoat-si-jin melihat Tian Pek berlutut padanya, karena tak sempat membangunkan anak muda itu, cepat ia sendiripun berlutut, sahutnya.
"Siau-in-kong, lekas bangkit berdiri, kalau engkau berbuat demikian, bukankah sama artinya bikin repot aku saja?"
Tian Pek mengira Hoat-si-jin tak mau menerimanya sebagai murid, ia semakin ngotot tak mau bangun, akhirnya manusia aneh itu menarik anak muda itu dan didudukan keatas kursi.
lalu ia berkata dengan serius.
"Bukannya aku menolak permintaanmu dan tak sudi memberi pelajaran silat kepadamu, tapi kenyataan dibalik persoalan ini sebenarnya terselip alasan lain yang jauh lebih penting, pada hakikatnya ilmu silat yang kumiliki cuma dapat digunakan menghadapi kaum keroco kelas kambing, kalau dibandingkan dengan jago2 lihay, terus terang saja masih bukan tandingannya, karena itulah walaupun kuajarkan seluruh ilmu silat yang kumiliki kepadamu juga percuma, apalagi peraturan persilatan mengenai pengangkatan guru sangat ketat sekali, bila kau angkat aku menjadi guru, maka dikemudian hari sulitlah jika kau ingin belajar silat pada orang lain, bukankah itu berarti akulah vang merusak masa depan Siau-in-kong? Kedua, kami berdua tak lain hanya pelayan Tian-tayhiap, atau tegasnya Siau-in -kong adalah majikan muda kami, masa pelayan bisa menjadi guru sang majikan? Kan lucu ..."
Tian Pek pikir benar juga perkataan Hoat-si-jin ini, terpaksa ia diam saja. terlihatlah rasa kecewa pada wajah anak muda ini. Melihat kekecewaan anak muda itu, Hoat-si-jin segera berkata pula.
"Kenapa Siau-in-kong mesti putus asa? Bukankah engkau membawa kitab ilmu silat yang jauh lebih hebat daripada guru kenamaan manapun juga?"
Ucapan tersebut menyadarkan Tian Pek dari lamunannya, ia lantas teringat kepada kitab Thian-hud-pit-kip, cepat ia meraba bajunya, tapi kosong, kitab itu telah hilang, keruan mukanya berubah pucat karena terperanjat.
Pelahan Hoat-si-jin mengeluarkan kitab Thian-hud-pit-kip itu dari sakunya dan bertanya.
"Siau-in-kong, darimana kau dapatkan kitab paling aneh dikolong langit ini?"
"O, seorang bernama paman Lui yang menghadiahkannya kepadaku!"
Sahut Tian Pek dengan lega melihat kitab pusaka itu ternyata tidak hilang.
Sambil bicara, Hoat-si-jin mem-balik2 halaman kitab itu dan melihat isinya, tapi baru satu-dua halaman dilihatnya, cepat ia pejamkan mata sambil mengatur pernapasan, Sesaat kemudian dia baru buka mata seraya berkata.
"O, sungguh lihay! Kitab ini mudah membawa orang kejalan yang sesat....Siau in-kong, engkau mssih muda dan berdarah panas, aku jadi ingin tahu bagaimana caramu mempelajari isi kitab ini."
"Wanpwe merabanya dengan tangan di tempat gelap!"
Jawab Tian Pek dengan berterus terang.
Hoat si-jin tidak percaya, cepat dia pejamkan mata dan coba meraba kitab tersebut dengan tangannya, hanya sebentar saja dia lantas mengetahui duduknya perkara, tanpa terasa napsu ingin memiliki kitab tersebut terlintas pada wajahnya.
Hal ini tak dapat menyalahkan Hoat-si-jin.
Maklumlah kitab Soh-kut-siau-bun-thian-hud-pit-kip adalah kitab pusaka yang di-idam2kan setiap umat persilatan di kolong langit ini, sejak dua ratus tahun berselang entah sudah berapa banyak jago yang mati karena berebut kitab tersebut.
pengakuan Tian Pek atas rahasia kitab itu tentu saja menimbulkan curiga Hoat si-jin.
Untung Hoat-si-jin bukan seorang yang tamak, ia lebih mengutamakan rasa setia kawan daripada napsu untuk memiliki kitab tersebut bagi kepentingan pribadi, meskipun kitab pusaka itu dipegangnya beberapa saat dengan kencang dan terjadilah pertentangan batin yang hebat, tapi akhirnya budi yang luhur menangkan napsu tamaknya.
Dia menghela napas punjang, ia mengembalikan kitab pusaka itu kepada Tian Pek, pesannya dengan prihatin.
"Siau-in-kong, ketahuilah kitab ini adalah kitab pusaka yang diincar oleh setiap umat persilatan di kolong langit ini, jika engkau tidak hati2 menyimpan kitab ini sehingga rahasianya diketabui orang niscaya Celakalah jiwamu, engkau harus ingat, lebih banyak manusia yang berjiwa tamak dan bermoral rendah daripada orang2 yang berjiwa besar. Karena itu rahasia ini harus kau simpan baik2 jangan sampai kitab pusaka ini mengakibatkan jiwa sendiripun ikut jadi korban!"
Tian Pek bukan orang bodoh, tentu saja dia dapat menyaksikan pula mimik wajah orang yang aneh dan ingin memiliki itu, apalagi setelah mendengar dan melihatnya, diam2 ia berkeringat dingin dan bersyukur.
Hoat-si-jin lantas menyerahkan kembali kitab itu ketangan Tian Pek, setelah hening sebentar kembali ia bertanya.
"Macam apakah manusia yang kau sebut paman Lui itu? Sungguh besar jiwanya."
Tian Pek segera menjalaskan air muka serta bentuk tubuh paman Lui.
"O! Rupanya Lui Ceng-wan!"
Seru Hoat-si-jin dengan cepat setelah mendengar penjelasan tersebut.
"Locianpwe kenal dia?"
Tanya Tian Pek.
"Tentu saja kenal?"
Sahut Hoat-si-jin dengan wajah berseri.
"Dia adalah sahabat paling karib mendiang ayahmu, seringkali kami ikut beliau melakukan perjalanan di dunia Kangouw"
"Lalu siapakah Locianpwc sendiri?"
Sela Tian Pek tiba2.
"Apakah Wanpwe boleh tahu nama besarmu agar tidak sia2 pertemuan kita ini."
Hoat-si-jin tampak muram, sesaat kemudian baru berkata sambil menghela napas panjang.
"Untuk hal ini, maafkanlah Siau-in-kong, aku tak dapat memenuhi permintaanmu sebab kami bersaudara pernah bersumpah sebelum sakit hati In-kong terbalas, maka selamanya kami takkan pakai nama asli lagi, bila perlu boleh panggil kami dengan sebutan Hoat-si-jin dan Si-hoat-jin saja."
Tentu saja Tian Pek tak mau memaksa orang untuk menyebutkan namanya. Sejenak kemudian baru ia tanya pula.
"Locianpwe, darimana kalian tahu tentang nama para pembunuh ayahku ..."
Belum habis anak muda itu berkata, Hoat-si-jin lantas memotong.
"Tentang ini, engkau boleh tanya saja kepada Sin-lu-tiat-tan (keledai sakti peiuru baja) Tang-locianpwe, Bukan engkau saja, kami berdua pada mulanya juga tidak percaya setelah mendengar kabar itu, tapi akhirnya Tang-locianpwe muncul dan memberi kesaksian. Kemudian, dua hari yang lalu kamipun berhasil menemui Siau-in-kong itu kami temukan Cing-hu-piau, yaitu mata uang tembaga tersebut .., ."
Ia berhenti sejenak untuk ganti napas lalu melanjutkan.
"Engkau tahu apa arti mata uang itu? Itulah senjata rahasia khas milik Cing-hu-sin Kim Kiu. Sejak itulah sekalipun kami tidak percaya terpaksa harus mempercayainya juga, sebab bukti sudah kami lihat sendiri."
"Sin-lu-tiat-tan!"
Gumam Tian Pek.
"Apakah yang dimassudkan Tang-locianpwe itu adalah seorang kakek pedagang kelontong kelilingan yang menuggang keledai?"
"Benar, itulah orangnya!"
Seru Hoat-si-jin. Tiba2 ia seperti teringat pada sesuatu yang penting, segera ia berseru pula.
"Sin-lu-tiat-tan Tang-locianpwe adalah sesepuh dunia persilatan yang berilmu tinggi, umurnya mungkin sudah melebihi seratus tahun, ilmu silatnya amat tinggi, terutama ketiga biji peluru baja serta ke-64 jurus pukulan Ki-beng-tui-hong-ciang adalah Kungfu yang sukar dicari bandingannya dikolong langit ini, jika Siau in-kong ingin cari guru pandai, kenapa tidak mencari orang tua itu dan belajar silat padanya?"
Tian Pek jadi girang mendengar keterangan tersebut, dengan muka berseri ia bertanya.
"Apakah Locianpwe tahu orang tua kosen itu berdiam dimana?"
"Jejak orang tua itu sukar dicari sebab tak menentu tempatnya, namun sering dia mengasingkan diri disekitar duabelas gua bukit karang Yan-cu-ki yang terletak di lepi sungai dipinggir kota Lam-keng, bila Siau-in-kong berhasrat mencari beliau, pergi saja ke situ, kemungkinan besar engkau dapat menemuinya."
Tanpa membuang waktu lagi Tian Pek lantas melompat bangun, ia memberi hormat kepada manusia aneh itu dan ucapnya.
"Kalau memang begitu, Wanpwe mohon diri sekarang juga, pertolongan dan budi yang telah Cianpwe berikan padaku tak akan kulupakan untuk selamanya... ."
Habis bicara ia terus melayang keluar ruangan itu, hanya sebentar saja tubuhnya sudah berada jauh diluar gedung Si-jin-ki....
"Siau-in-kong ....!"
Teriak Hoat si-jin dari belakang, maksudnya hendak memberitahu bahwa seorang teman gadisnya masih tertinggal disitu, tapi tatkala teringat pada hal2 yang tidak enak.
ia tidak jadi berseru lagi.
Sementara itu Tian Pek sudah turun dari bukit itu, perjalanan dilakukan sangat cepat.
Setelah keluar dari pintu Si-jin-ki, anak muda itu tak berpaling lagi, dikaki bukit ia lihat seekor kuda merah bagus dan gagah sedang makan rumput disana, Tian Pek mengira kuda itu milik Hoat-si-jin.
Ia lupa orang yang mempunyai tampang aneh itu masakah memiliki kuda tunganggan sebagus itu?
Setelah menentukan arah, berangkatlah Tian Pek menuju ke Lam-keng, ia melakukan perjalanan cepat, kalau lapar ia mengisi perut ala kadarnya, untuk menghemat waktu seringkali hanya memetik buah-buahan yang ada di tepi jalan untuk menangsal perut.
kadangkala iapun membidik beberapa ekor burung dan dipanggang, karena itu beberapa hari kemudian ia sudah tiba di kota Lam-keng.
Pakaian yang dikenakannya waktu itu masih tetap baju dengan simbol sulaman macan tutul, lambang khas perkampungan Pah-to-san-ceng, hanya saja pakaian tersebut sudah robek dan dekil, ditambah pula mukanya penuh debu, rambutnya kusut dan bau keringat, tapi menyandang pedang pusaka dengan sarung berlapis emas, dandanan semacam ini tentu saja sangat menarik perhatian orang sepanjang jalan.
Tapi ia tak ambil pusing semua itu, perjalanan dilakukan tanpa melirik ke kanan-kiri, hanya ada satu tujuan baginya, yakni cepat tiba di "dua belas gua bukit karang".
Lam-keng atau Nanking adalah sebuah ibu kota kerajaan dijaman dulu, banyak tempat terkenal tersebar di seputar kota ini.
Kota ini juga disebut dengan nama Kim-leng.
Diluar pintu barat kota terdapat sebuah telaga Bok-ciu-oh.
Di utara kota ada pantai Yan-cu-ki.
Sebelah timur kota di kaki bukit Ciong-san ada makam raja dinasti Beng-hau-leng dan telaga Hian-bu-oh.
Dalam kota terdapat Pak-kek-kok dan bukit Cing-liang-san, semuanya berpemandangan indah, megah dan mempesona siapa saja yang berkunjung.
Waktu itu tengah musim gugur, namun hawa panas masih menyengat kota Lam-keng yang tersohor sebagai kota terpanas, dalam cuaca begitu banyaklah penduduk kota yang berpariwisata dan cari angin ketepi sungai sebelah utara kota yang dikenal sebagai Yan-cu-ki.
Yan-cu-ki menjulang tinggi di tepi sungai, batu karang itu bentuknya persis seperti burung walet, megah dan indah dipandang.
di dekatnya ada dua belas buah gua karang yang tersebar diseputarnya dan merupakan tempat yang ideal sebagai tempat tetirah untuk menghindari sengatan sinar matahari.
Banyak kedai minum, rumah makan tersebar diisekitar "dua belas gua karang"
Itu, tidak sedikit laki perempuan duduk santai disana sambil mengobrol dan menikmati pemandangan alam yang indah.
Di kala itulah seorang pemuda sedang berjalan menyusur tepi sungai.
Ia mengenakan mantel warna hitam, meski bahannya mahal, namun di sana sini sudah robek, sepatunya penuh debu, tubuhnya basah oleh air keringat, siapapun akan tahu bahwa orang ini baru saja melakukan perjalanan jauh.
Sebilah pedang mestika terpanggul dipunggungnya, pemuda itu berjalan dengan kepala tertunduk.
alis terkernyit, rupa-rupanya ada sesuatu yang sedang dipikirkan olehnya, bukan saja tidak tertarik oleh keindahan alam yang terbentang didepan mata.
iapun tak pernah menengok ke arah orang2 yang sedang mengobrol santai disana.
Selagi pemuda itu berjalan dengan kepala tertunduk, tiba2 sebutir batu kecil meluncur datang dan "plok"
Tepat menghantam belakang kepala anak muda tadi.
Pemuda itu melonjak kaget, cepat ia berpaling, tapi tak diketahui olehnya siapa yang menimbuk kepalanya dengan batu.
sebab orang2 yang berada di situ sama tertawa geli memandanginya.
Aneh datangnya batu itu, sekalipun tak sampai melukainya, tapi sakit juga pemuda itu.
Tidak aneh bila orang yang ditimpuk batu dari belakang adalah seorang manusia biasa, tapi anak muda ini berkepadaian tinggi, sekalipun belum mencapai tingkatan yang luar biasa, akan tetapi tenaga dalamnya dan ketajaman mata serta pendengarannya sudah lain dari pada yang lain, tak mungkin timpukan seorang jago silat biasa mampu melakukannya.
Tapi sekarang terbukti ia kena timpuk, tak perlu ditanya lagi sang penimpuk pastilah seorang ahli ilmu senjata rahasia, Kalau mahir menimpukkan senjata rahasia berarti pula ilmu silat yang dimiliki orang itu pasti jauh lebih lihay lagi, karena itu rasa kaget pemuda itu jauh lebih hebat daripada rasa sakitnya.
Dengan mata jelalatan anak muda itu mengawasi seputarnya, ia lihat orang2 yang disana sedang memandangnya sambil tertawa, namun tak diketahuinya siapakah si pembuat gara2 itu.
Dengan perasaan apa boleh buat pemuda itu meraba kepalanya yang benjut besar, namun tidak sampai keluar darah, sekalipun begitu cukup membuat hatinya mendongkol.
Diluar dugaan, baru saja ia berpaling.
"plok!"
Kembali sebutir batu hinggap telak di kepalanya.
Kali ini tenaga sambitan tersebut jauh lebih keras daripada tadi, pemuda itu sampai meloncat setinggi dua-tiga kaki karena kesakitan, cepat ia berpaling dengan mata melotot gusar, mukanya merah padara karena menahan emosi yang meluap.
Gelak tertawa orang banyak terdengar pula.
Tapi sekali ini pemuda itu dapat mengetahui siapa si pembuat gara2 itu.
Ternyata mereka adalah dua orang bocah cilik.
seorang anak laki2 dan seorang anak perempuan.
Yang laki2 berusia tujuh-delapan tahunan, sedang yang perempuan berusia enam-tujuh tahunan, wajah mereka tampan dan cantik, baju mereka indah.
Kedua anak itu berdiri dibelakang sebuah pot bunga, tangan mereka disembunyikan dibelakang punggung, sedang dalam pot bunga itu tertumpuklah biji batu persis seperti apa yang dipakai untuk menimpuk kepala pemuda tadi, melihat kekonyolan pemuda itu, mata mereka yang kecil terbelalak, bibnnya terkancing rapat, agaknya sedang menahan geli sehingga tidak sampai mengeluarkan suara tertawa.
Tidak jauh dari kedua anak itu terdapat sebuah gardu yang megah, sebuah meja bulat dengan taplak warna putih berada di tengah gardu itu, be-buahan yang segar serta beberapa cangkir minuman segar tersedia di atas meja.
Beberapa orang laki perempuan dengan dandanan yang perlente duduk mengitari meja bulat itu, wajah mereka segar, pelipis menonjol dan mata bersinar tajam, sekilas pandang siapapun akan tahu bahwa mereka pasti memiliki ilmu silat yang tinggi, Di antara sekian orang2, itu yang paling menyolok adalah pemuda yang duduk di kursi utama, dia berwajah tampan dengan kulit badan yang putih halus, umurnya antara dua puluhan dan memakai baju sutera warna putih, sikapnya gagah, agung dan berwibawa.
Di sisi pemuda itu duduk seorang gadis cantik, usianya masih muda, tapi kelembutan serta keagungannya menunjukkan ia adalah keturunan orang yang berkedudukan tinggi.
Waktu itu sambil tersenyum si gadis lagi memandang sekejap pemuda linglung yang konyol itu, kemudian dengan gusar ia mendekiki kedua anak kecil tadi, agaknya ia hendak menegur kenakalan kedua bocah tersebut.
Betapa gusar dan mendongkolnya pemuda itu setelah kepalanya disambit batu dan ditertawakan orang banyak tapi ingatan lain cepat terlintas dalam benaknya.
"Ai, buat apa aku mesti ribut dengan knak keci!?"
Karena itu rasa gusarnya lantas jauh berkurang, ia hanya menegur.
"Hei, kawan kecil, jangan kalian sambit orang tanpa alasan, untung akulah yang kau sambit, coba kalau orang yang berangasan, tentu kalian takkan diampuni begitu saja ...."
Anak laki2 itu mengerling, lalu dengan tersenyum nakal ia balik bertanya.
"Wah, kalau begitu engkau bukan orang berangasan kan?"
Anak perempuan yang berada di sisinya tertawa cekikikan, tapi segera ia merasa rikuh untuk tertawa, maka cepat ia berpaling ke arah sungai.
Saat itulah dilihatnya seekor kura2 besar sedang merangkak naik dari tepi sungai, timbul sifat kekanakan yang suka usil, dia lantas menjentikkan sebiji batu dan dengan telak menghnjar kepala kura-kura tadi sehingga badannya terbalik.
Kalau kura2 terbalik dengan kaki di atas, sekalipun meronta bagimanapun juga sukar untuk bangun lagi.
"Hihi, lihat Koko. aku dapat menyambit kepala kura2 itu dengan tepat!"
Teriak si anak perempuan sambil berkeplok kegirangan.
"Lan-lan, jangan nakal ... ."
Pemuda tampan maupun gadis cantik di dalam gardu tadi segera menghardik.
Belum habis suara bentakan kedua orang itu.
tahu2 anak laki2 itupun menimpuk pula kepala kura2 itu dengan gerakan yang sama.
Berat dan cepat serangan tersebut, kura2 yang terbalik itu kontan mencelat ke dalam sungai.
Sorak-sorai dan gelak tertawa menggema disekitar gardu, semua orang tertawa geli menyaksikan peristiwa yang kocak itu.
"Apanya yang aneh?"
Seru anak laki2 itu.
"Lihatlah, kan aku juga bisa menimpuk kepala kura2 itu dengan jitu! Kembali gelak tertawa menggema terlebih keras. Sekalipun perkataan itu diucapkan oleh bocah yang tak tahu urusan, namun perkataan itu seperti mempunyaj arti ganda, ditambah lagi orang2 di sekitar situ sama bergelak tertawa, maka merah padamlah wajah anak muda tadi. Matanya lantas melotot, segera dia hendak mengumbar rasa marahnya, tapi lantas terpikir buat apa berurusan dengan anak kecil yang tak tahu urusan. Akhirnya ia menghela napas, pikirnya.
"Ai, dasar lagi sial! Penderitaan macam apapun sudah kualami, kenapa aku musti ribut dengan bocah cilik ... .?"
Berpikir begini, dengan kepala tertunduk cepat ia berlalu dari situ. Belum jauh anak muda itu melangkah pergi tiba2 terdengar seorang mengejek dengan suara yang serak.
"He, Lo-ji, tadi kau bilang seorang lelaki sejati lebih baik kehilangan kepala, lebih suka mandi darah daripada hidup dihina. Tapi coba lihat sekarang agaknya di dunia ini lebih banyak kura2 yang suka menyembunyikan kepala dari pada manusia berjiwa besar sudah dihina, kentut saya tidak berani."
Kata2 itu diucapkan dengan suara yang besar seperti suara bandot sehingga semua orang dapat mendengar dengan jelas.
Pemuda itu berada tidak jauh dengan si pembicara, tentu saja semua perkataannya dapat didengar olehnya.
Segera ia berpaling, dilihatnya dua orang kakek dan seorang anak kecil duduk mencari angin di bawah pohon di tepi sungai, mereka sedang mengawasi si anak muda dengan sorot mata menghina.
Umur kakek2 itu sudah amat lanjut, tapi wajah mereka sangat istimewa.
Yang satu berambut merah dengan kulit badan hitam kasar, hanya pada lekukan antara mata dan hidung saja berkulit agak putih bersih, matanya kecil, bulat dan memancarkan cahaya tajam, punggungnya rada bongkok hingga sepintas pandang seperti kunyuk.
Di depan kakek seperti kunyuk itu berduduk kakek lainnya, meskipun tampangnya tidak menjolok, tapi badannya yang kecil kurus serta topi dan mantel tebal yang dikenakannya cukup mengherankan siapapun yang memandangnya.
Coba pikir, udara waktu itu panas bagaikan dibakar, orang lain berusaha mengenakan pakaian setipis dan seminim mungkin, tapi kakek itu justru mengenakan mantel yang tebal.
Kakek kurus kecil yang memakai mantel tebal itu sedang mengawasi anak muda tadi dengan dahi berkerut, sambil menggerakkan kumisnya yang kecil dari hidungnya yang merah besar, ia menggeleng kepala sambil menyahut ucapan temannya tadi.
"Ehm. memang benar perkataanmu!" -Cara bicaranya dengan lagak seorang guru kampungan. Gusar dan mendongkol juga pemuda linglung tadi sebelum ia sempat berbuat apa2 tiba2 kakek kurus kecil ini menggapai padanya.
"Kemari, coba kemari!"
"Losianieng panggil aku?"
Tanya pemuda itu pura2 tak mengerti dengan menahan perasaannya.
"Huh, dasar bebal,"
Maki si guru kampungan sambil menarik muka.
"Kalau bukan dirimu, memangnya aku memanggil anjing?"
Gelak tertawa riuh kembali menggema. Betapapun sabar si anak muda akhirnya juga tak tahan, dengan gusar ia berseru.
"Losiansing. tampaknya engkau seperti orang sekolahan, tapi kenapa engkau bermulut kotor? Kalau tidak mengingat usiamu sudah lanjut, hmm ... ."
Sekalipun tidak jelas apa yang hendak dilakukan, namun dapat pula diketahui dari suara jengekannya.
Tak terduga kakek berambut merah segera bergelak tertawa sesudah mendengar ucapannya itu.
dengan suaranya yang serak ia berseru.
"Hahaha... Bun-loji, sepanjang hari kau selalu mengoceh isi kitab yang kau baca, tapi sekarang bocah itu mengatakan kau orang sekolahan yang bermulut kotor, hahaha ..."
Kontan si kakek kurus kecil melotot gusar ia pandang pemuda itu dengan marah, hardiknya.
"Kurangajar! Kau benar2 anak yang tak bisa dididik secara baik2, kusuruh kau kemari, kau tak mau, tapi malahan berani mencaci-maki padaku. Hm, benar2 kurangajar!" -Habis berkata segera ia berlagak hendak berdiri.
"Guru, tunggu sebentar!"
Anak kecil yang berduduk didepan kedua orang kakek itu segera berbangkit.
"Biarlah Tecu yang memikul tugas ini, membunuh ayam kenapa mesti pakai golok pejagal kerbau? Untuk memberi pelajaran kepada keparat ini tak perlu engkau repot2 turun tangan sendiri, biar Tecu yang hajar adat padanya."
Dengan pelahan kakek itu mengangguk dan duduk kembali.
Sementara itu bocah tadi sudah merosot turun dari kursinya kemudian lompat kedepan pemuda tadi.
Kiranya bocah itu berbadan pendek, cebol, badannya yang istimewa cebolnya itu sewaktu duduk dikursi hampir boleh dibilang kakinya tidak menempel tanah, karena itu untuk turun dari kursinya dia harus melorot lebih dulu ke bawah.
Si cebol ini tingginya tak sampai tiga kaki, tapi kepalanya amat besar melebihi ukuran kepala manusia biasa, pada kepala dan wajahnya yang besar itu terdapat mata dan hidung yang kecil, ingus meleleh dari lubang hidungnya, kakinya amat pendek gemuk, rupanya kotor dan buruk.
Gelak tertawa orang banyak menggeletar pula.
mentertawakan bentuk tubuh si cebol yang aneh dan lucu itu.
Tapi si cebol tidak ambil pusing, dengan lagak tuan besar ia menghampiri anak muda itu, setelah berdiri di depannya, ia tuding pemuda itu sambil berseru.
"Hei, kunyuk! Berani kau mencaci-maki guruku, sekarang kalau kau mau menyembah padaku, maka tuan kecil akan mintakan ampun bagimu, mungkin tuan besar Suhu mau mengampuni dirimu, tapi kalau tidak, hm, jangankan Suhu akan marah2, bahkan tuan kecil juga tak akan mengampuni dirimu!"
Lagak si cebol itu benar2 amat kocak, ditambah pula sebutan tuan besar dan tuan kecil segala diiringi ingus yang meleleh terus diusap dengan lengan bajunya, maka gelak tertawa geli orang banyak kembali bergemuruh.
Anak muda itu benar2 menjadi gusar, apalagi setelah dilihatnya si cebol yang lebih mirip setan daripada manusia ini mencaci maki padanya, untuk sesaat ia sampai tak mampu ber-kata2 saking mendongkolnya.
"Eh, bocah, kenapa kau diam saja? Memangnya ingin digebuk?"
Teriak si cebol dengan mata melotot.
Pemuda itu hanya tertawa dingin saja, ia tidak bicara juga tidak turun tangan.
Sesungguhnya ia tak sudi bertempur melawan si cebol, sebab kalau menangpun tidak ada yang bisa dibanggakan olehnya, malahan mungkin orang lain akau menonton perkelahian mereka ibarat nonton komidi kera di tepi jalan, bukankah pamornya bisa merosot malah?
Lain lagi dengan jalan pikiran si cebol, ketika dilihatnya si anak muda tetap membungkam, dikiranya orang tak pandang sebelah mata padanya, ia menjadi gusar.
Tiba2 ia melompat maju sambil putar tangan kiri hendak mencengkeram dada pemuda itu, lihay sekali cengkeraman si cebol ini, gerakan yang dipakai adalah Toa-kim-na-jiu-hoat yang hebat, bukan saja cepat, gayanya juga aneh dan tidak lebih lemah dari pada jagoan kelas satu.
Betapa terkejut anak muda itu menghadapi serangan lihay itu, dia tak manyangka kalau sicebol yang kocak dan aneh bentuknya itu memiliki ilmu silat yang luar biasa.
Ia tak berani gegabah, melihat ancaman sudah berada didepan mata, cepat ia bergeser, kemudian dia balas mencengkeram pergelangan tangan si cebol dengan jurus Toan-Un-cay-meh (memotong otot memutus nadi), suatu gerakan yang ampuh juga dari ilmu Toa-kim-na-jiu-hoat pula.
"Serangnn bagus!"
Teriak si cebol dengan suara melengking sambil berputar tangan kanannya menurun ke samping untuk menghindari cengkeraman lawan, menyusul ia lantas mencengkeram pula perut musuh.
Berbareng itu tangan kirinya seperti garpu menusuk tenggorokan anak muda itu.
Setelah menyaksikan serangan gencar dan lihay si cebol.
pemuda itu tak berani pandang enteng lawannya lagi, kelima jari tangan kanannya balik mengunci pergelangan kiri si cebol yang sedang mengancam tenggorokannya itu dengan gerakan Kim-si-cian-wan (serat emas membelenggu pergelangan) berbareng pula tangan kirinya memotong Keng-liang-hiat pada lengan kanan si cebol.
Sambil berpekik si cebol menghindar kesamping, pertarungan makin lama semakin cepat, semua yang digunakan adalah Kim-na-jiu-hoat yang lihay.
Sekejap kemudian belasan jurus sudah berlangsung.
Perlu diketahui, tempat minum ditepi sungai Yan cu-ki biasanya memang banyak terdapat tokoh persilatan yang berilmu tinggi, semula mereka mengira pertarungan antara pemuda melawan si cebol itu tidak lebih cuma pertarungan kaum gelandangan, maka mereka tidak menaruh perhatian.
Tapi setelah pertarungan berlangsung lebih jauh.
semua orang terbelalak matanya, sekarang mereka baru bisa merasakan betapa serunya pertarungan itu.
Sebagian besar tamu yang berkumpul disitu hanya jago silat biasa saja, melihat pertarungan berjalan sangat seru, kebanyakan mereka hanya ingin menonton keramaian belaka.
Tapi ada pu]a di antaranya yang berkepandaian tinggi, mereka justeru sangat memperhatikan jurus serangan yang digunakan kedua orang itu.
Di antara sekian banyak orang, kedua kakek aneh serta pemuda pemudi perlente itulah yang paling menaruh perhatian.
Siapakah kedua orang kakek itu?
Mereka tak lain adalah Kanglam ji-ki (dua manusia aneh dari wilayah Kanglam) yang disegani baik tokoh kalangan putih maupun jago golongan hitam di seputar selatan sungai Tiang-kang.
Kakek berambut merah, berkulit hitam pekat dan bermuka seperti kunyuk itu adalah Lotoa atau tertua Kanglam-ji ki, orang menyebutnya sebagai Jik-hoat Lojin (kakek berambut merah), Siang Ki-ok.
Sedangkan kakek kurus kecil yang berhidung merah dan bermantel tebal itu adalah Loji (kedua) yang bernama Bun Ceng-ki, orang Kangouw menjuluki dia sebagai Kui-kok-im-soh (kakek pertapa dari lembah setan).
Sudah puluhan tahun lamanya mereka tersohor di dunia persilatan, baik Lwekang Gwakang atau-pun Ginkang telah mencapai puncak kesempurnaan yang tiada taranya, cuma tabiat mereka aneh dan jarang bergaul dengan orang lain.
Sepanjang tahun mereka hidup mengasingkan diri di Kui-kok, di mana letak lembah tersebut tak seorangpun yang tahu, sebab tak pernah ada yang berani berkunjung ke sana, orang hanya tahu kira2 lembah tersebut terletak di Gan-tang-san.
Sekalipun jarang muncul di depan umum, tapi setiap kali mereka muncul di dunia persilatan tentu akan digemparkan oleh kejadian2 yang luar biasa.
Si cebol jelek yang sedang bertempur melawan anak muda itu adalah satu2nya murid kesayangan mereka berdua.
bocah itu ditemukan mereka di tepi jalan sewaktu masih bayi.
Kanglam ji-ki biasanya tak suka bergaul dengan orang lain, entah apa sebabnya timbul pikiran bajik mereka dan memelihara bayi itu sampai dewasa, bahkan ajarkan pula ilmu silat.
Lantaran badannya cebol dan bentuknya aneh, karena asal usul bayi itu tak diketahui pula maka mereka memberi nama Sam-cun-teng (palu tiga dim) kepada si cebol ini dan memberi pula julukan Siau-siang-bun (si pembawa celaka) kepadanya.
Jangan mengira Sam-cun-teng berbentuk manusia bukan manusia, seperti setan tapi bukan setan, kenyataan ia telah mendapat ajaran langsung ilmu silat Kanglam-ji-ki, sekalipun belum bisa dikatakan tiada tandingannya di kolong langit ini, tapi paling tidak ia sudah tergolong jago kelas satu di dunia persilatan.
Tapi sekarang anak muda tadi sanggup menandingi Sam-cun-teng dengan seimbang, tentu Kanglam-ji-ki jadi sangat heran.
Mata kedua kakek itu terbelalak lebar, mereka ikuti semua gerakan dan jurus yang dipakai anak muda itu, ketika diiihatnya Kim-na-jiu-hoat yang digunakan ternyata sangat mirip dengan To-liong-cap-pwe-jiu (delapan belas gerakan sakti pembunuh naga) yang diajarkan Kui-kok-in-siu.
kepada Sam-cun-teng, mereka tambah tercengang dan melongo.
Adapun pemuda perlente yang duduk dalam gardu di sebelah lain juga bukan orang sembarangan, dia termasuk salah satu di antara Bu-lim-su kongcu yang tersohor, ia bukan lain adalah Siang-lin Kongcu Kim Cay-hoan, Kongcu yang tersohor karena simpatiknya memupuk persahabatan dengan tiap umat persilatan.
Siang-lin Kongcu turun temurun berdiam di kota Lamkeng, dia putera hartawan terkenal, ilmu silatnya tinggi sebab sejak kecil mendapat didikan orang kosen, be-ratus2 jago persilatan yang selalu ngendon dirumahnya dan tidak sedikit jago kelas satu, maka pemuda ini terhitung salah seorang yang paling berpengaruh di Lam-keng ini.
Gadis cantik yang duduk disamping Siang-lin Kongcu adalah adik kandungnya, bernama Kim Cay-hong, karena sekuntum bunga bwe selalu menghiasi sanggulnya dan lagi mukanya cantik jelita bak bidadari, maka orang memberi julukan Bwe-ing-sian (dewi bayangan bunga bwe) kepadanya-Hari ini udara sangat panas, Siang-lin Kongcu kakak beradik dengan membawa beberapa orang "tukang pukul"
Berserta dua keponakan mereka yang bernama Beng-beng dan Lan-lan juga pesiar ke pantai Yan-cu-ki ini.
Tak terduga disini mereka berjumpa dengan Kanglam-ji-ki serta si cebol Sam-cun-teng.
Sesungguhnya kemunculan Kanglam ji-ki beserta murid cebolnya ini memang sengaja hendak mencari perkara pada Siang-lin Kongcu.
Kebetulan mereka menemukan Siang-lin Kongcu disini, maka berulang kali kedua mahkluk aneh ini mencemooh, menyindir dan mengejek, tapi setiap kali tidak dilayani oleh Siang-lin Kongcu, ia tak ingin bertengkar dengan orang yang belum diketahui asal-usulnya, bahkan beberapa kali iapun mengalangi tukang pukulnya yang sudah tak tahan dan ingin melabrak kedua kakek itu.
Kanglam-ji-ki sangat jarang keluar dari lembahnya, dengan sendirinya tidak tahu pula pengaruh serta kekuatan Siang-lin Kongcu, kemunculan mereka untuk mencari perkara juga disebabkan hasutan manusia rendah yang ingin mencari keuntungan bagi diri sendiri.
Ketika dilihatnya Siang-lin Kongcu sama sekali tidak menghiraukan olok2 dan ejekan mereka, tentu saja kedua kakek itu menjadi kikuk sendiri, maka untuk beberapa waktu lamanya kedua pihak sama2 tidak bertindak apa2.
Tatkala itulah kebetulan lewat pemuda yang berjalan dengan kepala tertunduk, mungkin karena sedang gundah pikirannya, tanpa sengaja anak muda itu telah menginjak mati seekor jengkerik milik Lan-lan yang terlepas.
"Hei! Awas!...."
Teriak Lan-lan dengan kuatir, tapi jengkeriknya sudah mati terinjak, maka gadis cilik itu lantas ber-teriak2 pula.
"Hei, kau injak mati jengkerikku, hayo ganti!"
Akan tetapi pemuda itu seperti orang linglung dan melanjutkan langkahnya dengan kepala tertunduk.
Meski Lan-lan baru enam-tujuh tahun, tapi dasar ilmu silatnya sudah cukup tangguh.
Dengan mendongkol anak perempuan itu lantas pungut sebiji batu dan disentil kebelakang pemuda itu dengan ilmu Tan-ci-gin-wan (sentilan jari peluru perak).
Dalam keadaan pikiran kalut dan berada di tempat yang ramai begitu, tentu saja anak muda itu tak menyangka kalau dirinya bakal dikerjai orang, dan selentikan Tan-ci-gin-wan Lan-lan sangat jitu, sekalipun tenaganya masih kurang, tapi batu kecil itu tepat mampir di kepalanya.
Tatkala pemuda itu berpaling dengan marah, anak perempuan itu jadi takut dan tak berani ber suara.
Waktu pemuda itu berlalu karena tidak menemukan si penyambit, Lan-lan menjulurkan lidahnya kepada Beng-beng sambil tertawa.
Juluran lidah tersebut diterima Beng-beng sebagai suatu tantangan untuk adu kepandaian, maka anak lelaki inipun mengamhil sebutir batu dan sekali lagi menyambit batok kepala pemuda itu.
Kanglam-ji-ki melihat kejadian itu sebagai kesempatan baik untuk mencari gara2, cepat Kui-kok-in-soh Bun Ceng-ki menggapai si pemuda dengan maksud hendak menghasut anak muda itu untuk bikin perhitungan dengan Siang-lin Kongcu.
Bila sampni terjadi pertarungan, maka merekapun akan menggunakan alasan tersebut untuk cari perkara pada Siang-lin Kongcu.
Siapa tahu apa yang diharapkan tidak tercapai, malahan Kanglam-ji-ki bentrok sendiri dengan pemuda tersebut dan terjadi pertarungan Sam-cun-teng dengan pemuda itu.
Kanglam ji-ki baru menyadari kalau mereka telah salah melihat.
sebab pemuda tersebut ternyata memiliki ilmu silat yang sangat tinggi.
Kalau Kanglam-ji-ki kaget maka Siang-lin Kongcu kakak beradik jauh lebih terperanjat.
Ia pikir bukan saja ada orang berani mencari onar di wilayah kekuatannya, bahkan pemuda itu memiliki ilmu silat yang sangat tinggi dan berita ini sama sekali tak diketahui oleh anak buahnya, belum pernah terjadi peristiwa demikian selama ini.
Tidaklah heran kalau Siang-lin Kongcu kakak beradik maupun semua tukang pukulnya jadi terperanjat dan terbelalak mengikuti pertarungan itu.
Pertarungan itu berlangsung cepat, dalam sekejap saja belasan jurus sudah lewat tanpa terasa.
Jangan mengira si cebol itu berbadan pendek dan berkaki cekak, tapi kalau sudah bergerak lincah dan gesitnya tidak kepalang, baik melejit, melompat, mengegos, semuanya dilakukan dengan cepat.
ditambah pula permainan To-liong-cap-pwe-jiu yang tepat dan mantap, setiap serangannya sangat aneh dan lihay serta di luar dugaan.
Tapi si anak muda tidak kalah tangkasnya, setiap jurus pukulannya menimbulkan angin pukulan yang men-deru2, jelas Lwekang pemuda itu jauh melebihi si cebol.
Walaupun demikian, bicara soal kelincahan dan kegesitan, dia masih tertinggal jauh, justeru karena adanya selisih inilah maka sekalipun anak muda itu lebih sempurna dalam hal tenaga, toh kedudukan tetap berimbang dan untuk sesaat sukarlah menentukan siapa lebih unggul dan siapa yang asor.
Kembali pertarungan berlangsung amat seru, lama2 pemuda itu ketetar juga oleh aneka macam pukulan si cebol.
Suatu ketika, Sam-cun-teng loncat ke udara dan menyerang dengan jurus In-liong-sam-hian (naga tiga kali muncul dari mega), tangan kiri melancarkun cengkeraman kilat mengancam batok kepala anak muda itu, sementara telapak tangan kanan berputar setengah lingkaran terus menghajar jalan darah Sam-yang-hiat pada dadanya.
Dalam keadaan begini bila pemuda itu menangkis pakai jurus Heng-in-toan-hong (awan melintang memotong puncak), dengan enteng niscaya serangan maut biasa dipatahkan.
Dasar pemuda itu memang belum apal pada permainan ilmu pukulan, ketika menghadapi ancaman tersebut.
sekalipun badan sudah menghindar, namun kaki tidak ikut bergeser, maka kendatipun cengkeraman lawan ke arah batok kepalanya dapat dihindarkan ia tak mampu mematahkan pukulan yang diarahkan pada dadanya.
Sam-cun-ceng dijuluki orang sebagai Siau-siang-bun (si pembawa celaka), dari situ bisa diketahui bahwa hatinya memang kejam dan caranya turun tangan ganas.
Ia merasa malu setelah bertarung sekian lama belum juga berhasil merobohkan lawan, maka begitu memperoleh kesempatan baik untuk menghajar musuh, dengan cepat tenaga dalamnya dua kali lipat diperhebat, segenap tenaga murni yang ada di dalam tubuh segera dihimpun pada telapak tangan kanannya.
"Kena!"' bentaknya, Hembusan angin pukulan yang keras langsung menghantam dada anak muda itu. Jika pukulan ini sampai bersarang di dada musuh, andaikan anak muda itu tidak mampus sedikitnya jupa akan terluka parah.
"Haya!"
Banyak orang menjerit kaget, terutama Kim Cay-hong, si gadis cantik yang berada di sisi Siang-lin Kongcu.
sekilas rasa gegetun terlintas pada Wajahnya, ia merasa sayang dan tak tega menyaksikan anak muda itu menemui ajalnya, tapi iapun merasa tidak enak untuk memberikan pertolongan.
Pada saat gawat itulah se-konyong2 anak muda itu membentak.
"Haitt! .. .."
"Blang!"
Terdengar benturan keras.
Tatkala semua orang menyangka serangan itu tak mungkin bisa dihindari anak muda tersebut, ternyata secara cepat dan gesit anak muda itu mampu menarik dadanya sambil melepaskan pula pukulan keras yang tak kalah mantapnya sehingga terjadi adu pukulan.
Si cebol yang kate dan kecil tak mampu menahan benturan keras itu, kontan badannya mencelat ke udara seperti layang2 putus, kemudian melayang ke belakang dan kebetulan meluncur ke tempat dimana Kanglam ji-ki sedang berduduk.
Berubah air muka Kanglam-ji-ki menghadapi kejadian itu, Ang-hoat Lojin Siang Ki-ok cepat menyambar tubuh si cebol dan menurunkaunya ke atas kursi.
"Suhu, jangan kuatir! Aku tidak terluka -ama sekali ...."
Teriak si cebol dengan suara penasaran, cepat ia bangkit dari kursinya dan hendak menerjang maju lagi.
Sam cun-teng memang hebat, bukan saja dia kebal dipukul, bahkan sama sekali tidak menunjukkan tanda terluka atau jeri sesudah dihajar sampai mencelat oleh pemuda itu, orang2 sama heran dan tercengang.
Sebelum si cebol sempat bertindak lagi, Kui-kok-im-soh (kakek pertapa dari lembah setan) telah bangkit berdiri, dengan langkah lebar ia menghampiri anak muda itu.
"Hei, anak murid siapa namamu? Kau murid siapa?"
Bentaknya dengan bengis.
"Aku Tian Pek, tentang perguruan, maaf, tak dapat kuberitahu!"
Sahut pemuda itu dengan angkuh-Kui-kok-in-soh termenung dan berpikir sebentar, tapi ia merasa tak pernah mendengar seorang jago yang bernama Tian Pek, maka sambil menggeleng kepala ia berguraam.
"Aneh, sungguh aneh kau tak sanggup menyebut perguruanmu, kenapa Kim-na-jiu-hoat yang kau pakai mirip dengan ilmu cengkeraman yang kuciptakan? Darimana kau curi belajar ilmu kepandaian itu?"
Tian Pek sendiri memang merasa tercengang sewaktu melihat gerak serangan yang digunakan si cebol tadi seperti sudah dikenalnya, cuma saja waktu itu ia tak dapat berpikir banyak.
Sekarang demi mendengar pertanyaan orang barulah dia ingat Kim-na-jiu yang digunakan Sam-cun-teng memang mirip ilmu cengkeraman yang dimainkan oleh Tok kok-hui-mo Li Ki.
Karena pikiran ini, ia mengira si cebol dan si kakek kurus ini pasti berasal dari satu perguruan dengan Tok-kah-hui-mo.
"Losiansiang, engkau kenal dengan seorang yang cacat kaki?"
Tanyanya kemudian. Air muka Kui-kok-in-soh seketika berubah hebat, lagaknya yang angkuh seketika berubah menjadi jeri, kikuk dan tidak tenteram, dengan suara rada parau ia berseru.
"Jadi...jadi kau adalah...mu...muridnya?"
Sementara itu si kakek rambut merah sudah memburu maju pula ke sisi rekannya, dengan bingung dia pegang bahu Kui-kok-in-soh sambil berbisik.
"Jadi anak muda ini adalah ahli warisnya.... Tapi...masa....masa dia masih hidup di dunia ini?"
Diam2 Tian Pek merasa heran atas sikap kedua orang tua ini, dia tak habis mengerti kenapa kedua orang tua yang semula tampaknya keren dan garang mendadak berubah menjadi ketakutan dan tegang seperti tikus ketemu kucing, ia pikir mungkin di balik urusan ini tersimpan rahasia lain?
Sudah tentu anak muda ini tak dapat menganggap dirinya sebagai murid si iblis berkaki satu itu, maka dengan tegas ia berseru.
"Kalian jangan kuatir, aku tidak nanti mempunyai guru begitu..."
"Dan aku si orang tua juga tak nanti punya murid macam begitu!"
Sambung seseorang secara mendadak dari kejauhan.
Baru dua orang murid yang kuterima selama hidupku dan kedua kakiku sudah harus menjadi korban, kalau kuterima murid lagi.
memangnya aku mesti korbankan pula batok kepalaku?"
Cepat Tian Pek berpaling ke arah datangnya suara itu, seorang kakek yang tak berkaki sedang berayun datang dari tepi sungai sana, kedua kakinya buntung sebatas paha ke bawah, tapi disambung dengan dua potong kayu untuk menahan anggota badan, lalu memakai dua tongkat penyangga bahu sehingga cara berjalannya bukannya melangkah tapi berayun.
Waktu Tian Pek berpaling lagi ke arah Kanglam-ji-ki, kedua orang tua itu ternyata sudah lenyap eatah ke mana.
Tampaknya begitu melihat kemunculan kakek yang buntung ini, Kanglam-ji-ki lantas ngacir ter-birit2, begitu pula Sam-cun-teng juga ikut kabur.
"Murid murtad, kemana kalian mau lari?"
Bentak kakek cacat itu dengan gusar.
"Sudah tiga-empat puluh tahun kucari kalian, setelah berjumpa hari ini, masa kalian mau kabur lagi?"
Sepasang tongkat penyangga badannya segera ditutulkan ke permukaan tanah, lalu badannya terayun ke depan dan begitu seterusnya.
Meski kedua kakinya buntung, tapi cara jalan berayunnya ternyata secepat terbang, segera ia mengejar ke sana.
Tian Pek berpaling ke arah pergi kakek itu, arah tersebut tak lain adalah jalan gunung yang ber-liku2 menuju Giam-san-cap-ji-tong (dua belas gua bukit karang), ia lihat tiga titik hitam sedang kabur menuju ke tengah hutan lebat di atas bukit sana, tak perlu ditanya lagi ketiga orang itu pasti Kanglam ji-ki serta Sam cun-teng alias si cebol?
Tian Pek ter-mangu2 bingung, sungguh tak terduga di tempat pesiar Yan cu-ki ini akan mengalami kejadian begitu.
Lebih dulu terjadi pertarungan melawan Sam-cun-teng tanpa sebab, kemudian menyaksikan Kanglam-ji-ki dan si cebol lari ter-birit2 demi melihat datangnya kakek buntung, semua ini membuatnya bingung.
Setelah termenung sebentar, lalu iapun bergerak menuju dua belas gua bukit karang sana.
Belum jauh Tian Pek berjalan, tiba2 pandangannya kabur, sesosok bayangan mendadak menghadang di depannya, Si pengadang adalah seorang laki2 kekar berusia tiga-puluhan dan tidak dikenalnya, maka ia jadi melenggong keheranan.
Laki2 itu lantas berkata dengan suara nyaring.
"Sahabat. jangan pergi dulu! Kongcu-ya kami ingin bicara denganmu!"
"Maaf saudara, aku tak punya waktu,"
Tolak Tian Pek cepat.
Semenjak dia tahu bahwa musuh besar pembunuh ayah adalah orang tua Bulim-su-kongcu, pandangannya terhadap Kongcu2 itu sudah jauh berubah, ia menjadi benci dan muak.
Maka setelah berhenti sebentar, iapun menambahkan dengan dahi berkerut.
"Dan lagi aku pun tidak kenal dengan Kongcu kalian?"
Dia menghindari pengadangan laki2 itu dan melanjutkan perjalanannya. Agak mendoogkol laki2 itu, dia mendengus dan sekali lagi mengadang di depan Tian Pek.
"Hei. sahabat, kuanjurkan agar menuruti saja perkataanku"
Ancamnya dengan mata melotot.
"Untung Kongcu-ya kami mau mengundang dirimu. padahal biasanya sekalipun kau menyembah sehari semalam belum tentu beliau sudi menemui kau."
Gusar Tian Pek karena jalan perginya berulang kali dihadang, habis kesabarannya, sebelum laki2 itu menyelesaikan ucapannya ia lantas menukas dengan suara keras.
"Hehe, sungguh lucu. sekalipun Kongcu-ya kalian adalah raja atau pentolan di tempat ini, kalau aku tidak mau bertemu, dia mau apa?"
Laki2 itupun naik darah demi mendengar jawaban ketus lawan, apalagi nama sang majikan ikut di-olok2, ia menjadi marah.
"Mau atau tidak mau kau harus menemui beliau!"
Bentaknya sambil melangkah maju, tangan terjulur hendak mencengkeram dada Tian Pek dengan gerakan Tam-li-gi-cu (mencomot dagu merampas mutiara).
Melihat serangan yang cukup lihay ini.
tahulah Tian Pek ilmu silat laki2 itu tidak lemah.
Anak muda itu tidak berkelit dia benar2 gemas maka ketika serangan musuh tiba, cepat tangan kiri menangkis sedangkan telapak tangan kanan menyodok dada lawan dengan gerakan Pok-hou-kim-liong (Membelenggu harimau membekuk naga).
, Taktik serangan dibalas dengan serangan macam begini jarang di jumpai didunia persilatan, jarang ada orang yang mau melakukan pertarungan dengan keras lawan keras begitu, tentu saja kejadian ini sama sekali di luar dugaan laki2 itu, bahkan Siang-lin Kongcu kakak beradik serta anak buahnya yang lain ikut terkesiap.
Cepat serangan kedua orang itu sebelum Siang-lin Kongcu sempat mencegah pertarungan itu.
"blang"
Pukulan keras telah bersarang teluk di dada laki2 itu, badannya mencelat ke udara dan muntah darah.
"bruk", jatuh terkapar dan tak berkutik lagi, tampaknya lebih banyak mampusnya daripada hidup. Suasana menjadi gempar dan gaduh, apalagi jatuh korban sampai tewas, banyak orang yang segera tinggalkan tempat ini. Di tengah kegaduhan dan orang sama lari simpang siur itu tiba2 terdengar bentakan keras, sesosok bayangan melayang ke tengah gelanggang, sebelum kakinya mencapai permukaan tanah serangan dahsyat lantas dilancarkan, ibarat seekor burung rajawali yang mengincar mangsanya, kesepuluh jari tangan yang terpentang terus mencengkeram batok kepala Tian Pek. Serangan ini sungguh cepat dan dahsyat, biar pun Tian Pek ingin menghindar juga tidak sempat lagi. terpaksa ia angkat kedua tangannya menyambut serangan itu.
"Blang!"
Kembali terjadi benturan keras, Tian Pek merasa lengannya seperti dihantam oleh palu besar, dada terasa sesak, darah bergolak hebat, matanya ber-kunang2, dengan sempoyongan dia terdorong mundur sejauh lima-enam langkah, akhirnya tak tahan lagi dan itu jatuh terduduk.
Lihay sekali penyerang itu, setelah berhasil merobohkan Tian Pek, dia menukik kebawah dan kembali kedua tangan menghantam pula ke dada Tian Pek sebelum anak muda itu sempat berbangkit.
Betapa kejinya penyerang itu terbukti dari pukulan terakhir yang dilancarkan itu, rupanya dia memang bermaksud membinasakan Tian Pek untuk balas dendam bagi anak buahnya yang mati konyol, maka pukulan ini dilontarkan dengan segenap tenaganya.
Tian Pek terperanjat, ingin menghindar juga tidak sempat lagi, dalam keadaan begini dia cuma bisa menanti kematian saja dan tiada jalan lain.
Untung pada detik terakhir tiba2 terdengar suara bentakan.
"Pa-heng, tunggu sebentar ...."
Cepat orang itu menahan pukulannya, maka Tian Pek lantas melompat bangun dan menyingkir kesamping sana.
Ia lihat penyerang itu adalah seorang kakek kurus kecil bermuka hitam, pakai baju hitam bercahaya, kedua telapak tangannya tersilang di depan dada, jari kelingking kedua tangannya memakai gelang baja, ujung gelang lainnya terikat pada ujung baju lehernya, dengan sorot mata tajam bagaikan sembilu ia sedang menatap Tian-Pek tanpa berkedip.
Tian Pek tercengang, seingatnya belum pernah dia kenal kakek ini, terutama dandanannya yang sangat aneh ini rasanya juga tak pernah dengar dari cerita orang lain, Dilihatnya orang yang mencegah serangan si kakek tak lain adalah Siang-lin Kongcu yang agung itu.
Sementara itu Siang-lin Kongcu telah melangkah maju dan berkata kepada si kakek baju hitam.
"Saudara Thian-ho, maksudku bukan suruh berkelahi melainkan ingin bersahabat dengan saudara ini."
Lalu dengan tersenyum ia berpaling ke arah Tian Pek dan berkata.
"Sungguh hebat Kungfu yang saudara miliki. Aku Kim Cay-hoan, tinggal di Lam-keng, bila tidak keberatan sudilah kirinya saudara tinggal beberapa hari di rumah kami?!"
Belum sempat Tian Pek menjawab, kakek kurus tadi menyela dengan mendongkol.
"Kongcu, memangnya anak buah kita akan dibiarkan mati sia2.?"
Sambil berkata kedua telapak tangannya direntangkan kesamping lalu dirangkap kembali menjadi satu, sorot mata yang tajam menatap Tian Pek tanpa berkedip rupanya dia sudah bersiap pula untuk menerjang anak muda itu.
Siang-lin Kongcu tersenyum, dia mengadang di depan kakek kurus itu seraya berseru.
"Tiada percekcokan yang menggunakan kata manis, tiada pertarungan yang tak diakhiri dengan jatuh korban. Kejadian begini sudah jamak bagi kaum persilatan kita, kalau sudah terjadi begini kenapa kita mesti ribut? Kalau tak mampu melawan dan mengakibatkan kematian diri sendiri, itu tandanya kepandaian sendiri tak becus, masa kita mesti salahkan lawannya?"
Setelah merandek sejenak, lalu dia menambahkan.
"Kematian Liang Peng memang kehilangan besar bagi kita, akan kubelikan sebuah peti mati yang paling bagus baginya dan mengadakan upacara besar bagi penguburannya, selain itu akan kuhadiahkan pula sejumlah barang berharga bagi ahli warisnya, semua ini kurasa sudah cukup untuk menunjukkan rasa terima kasihku kepadanya!"
Sampai disini dia lantas berpaling sambil berseru.
"Liang Giok, kemarilah!"
Seorang laki2 kekar mengiakan dan muncul dari belakang gardu, air mukanya diliputi kesedihan, setelah melotot sekejap pada Tian Pek dengan penuh rasa benci, dia lantas menjura kepada majikannya.
"Ada petunjuk apa, Kongcu-ya?"
Dia bertanya.
"Ambil tiga ribu tahil perak pada kasir sebagai biaya penguburan kakakmu ....!"
Kata Siang-lin Kongcu lebih jauh.
"Terima kasih Kongcu-ya!"
Setelah memberi hormat, Liang Giok membawa jenasah kakaknya dan berlalu dari situ, sebelum berangkat sekali lagi dia melototi Tian Pek dengan pandangan penuh dendam.
Timbul rasa menyesal dalam hati Tian Pek setelah terjadinya peristiwa tadi, terutama setelah menyaksikan pancaran sinar mata kebencian yang mencorong dari mata laki2 itu, dia menyesal pukulan yang dilancarkannya itu terlalu keras dan mengakibatkan kematian Liang Peng.
Diam2 iapun merasa kagum pada sikap "Kongcu-ya"
Yang palente itu.
Tiga ribu tahil perak bukan suatu jumlah yang kecil apalagi didengarnya orang mengaku she Kim, dia menduga orang ini pasti Siang-lin Kongcu, sebab orang ini memang tersohor sebagai Kongcu yang simpatik dan berjiwa sosial.
"Huh! Lagaknya saja hebat"
Pikir Tian Pek "Paling2 hanya mengandalkan beberapa tahil perak untuk membeli simpatik orang agar orang lain rela jual nyawa baginya ... !"
Setelah diberi muka dihadapan orang banyak?
kakek kurus tadipun buyarkan himpunan tenaga murninya, rasa marahnya juga reda, kedua tangan pun diturunkan kembali ke bawah.
Kepada Tian Pek dia tetap mendengus seraya berkata.
"Hm, untung Kongcu-ya melerai, kalau tidak sejak tadi kau tentu sudah mampus!"
"Ah, belum tentu ... ."
Jengek Tian Pek.
Rasa gusar yang sudah mereda kembali menyala lagi, kakek kurus itu melotot pula ..Tapi Siang-lin Kongku cepat menengahi pula sebelum Tian Pek sempat menanggapi, ia menukas sambil tertawa.
"Hahaha, betapa besar persoalannya. kalau sudah lewat juga harus dianggap sudah selesai! Saudara, boleh kutahu siapa nama besarmu?"
Tian Pek tidak lantas menjawab, tiba2 terpikir olehnya.
"Ayah Siang-lin Kongcu adalah pembunuh ayahku, cepat atau lambat aku bakal membuat perhitungan dengan bapaknya! Baik juga pada kesempatan ini kuperkenalkan namaku didepan umum agar orang persilatan tahu bahwasanya keluarga Tian bukan keluarga kintal dan keluarga Tian masih ada keturunan yang sanggup menuntut balas bagi orang tuanya."
Berpikir sampai di sini, dia lantas menjawab.
"Aku bernama Tian Pek! Dan kalau dugaanku tidak keliru, mungkin anda ini Siang-lin Kongcu yang tersohor di kolong langit ini!?"
"Terima kasih atas pujianmu!"
Kata Siang-lin Kongcu sambil tertawa, tertawa yang agung dan berwibawa.
"Sianglin memang suka punya tamu orang gagah seperti kau, jika Tian-siauhiap tak keberatan sudilah kiranya mampir beberapa hari di rumahku, Siang-lin pasti akan berusaha menjadi tuan rumah yang baik!"
Tian Pek ingin menolak undangan orang, tapi sebelum ia sempat bicara, tiba2 pandangannya terbeliak, tahu2 Kim Cay-hong, adik perempuan Siang-lin Kongcu yang cantik jelita itu telah mendekati kakaknya dan berdiri di belakangnya, sorot matanya yang bening menatap Tian Pek tanpa berkedip.
ini membuat jantung anak muda itu berdebar, Kim Cay-hong memang cantik luar biasa dan sukar dilukiskan dengan kata2, lebih2 perangainya yang halus, sedikitpun tidak ada sikap angkuh atau tinggi hati, membuat setiap orang merasa senang, terpesona dan kagum.
Oleh karena kecantikannya yang luar biasa ini, maka dia tersohor sebagai perempuan cantik nomor satu di seluruh wilayah Kanglam.
Tian Pek sendiri adalah pemuda yang sederhana, polos berhati suci bersih dan tidak punya ingatan jahat apapun, sekalipun beberapa hari belakangan ini ia sudah berkenalan dengan beberapa orang gadis jelita, akan tetapi Buyung Hong, Tian Wan-ji serta Hoan Soh~ing tetap tak dapat dibandingkan dengan Kim Cay-hong.
Terkesima juga Tian Pek setelah beradu pandang dengan si nona, jantungnya berdebar keras dan mukanya terasa panas, dalam hati diam2 ia memuji.
"Ehm, benar2 gadis yang cantik... ."
Melihat anak muda itu membungkam, Siang-lin Kongcu mengira Tian Pek telah menerima undangannya, maka dia lantas perintahkan orang2nya untuk siapkan kuda.
"Silakan!"
Kata Siang lin Kongcu seraya menjura.
Dalam keadaan demikian, tak mungkin bagi Tian Pek untuk menolak, terpaksa dia naik ke atas kuda dan menurut saja ke mana akan dibawa pergi....Sepanjang jalan Siang-lin Kongcu mendampingi terus di samping Tian Pek, ia bicara ini itu dengan akrabnya.
begitu terbuka, jujur dan simpatik sikap pemuda itu hingga Tian Pek merasa kagum pula.
Kim Cay-hong sendiripun meninggalkan tandunya dan ikut menunggang seekor kuda putih di sisi Siang-lin Kongcu.
sepanjang jalan ia sering melirik ke arah Tian Pek, sekalipun tak sepatah katapun yang diucapkan.
tapi kerlingan matanya membuat Tian Pek hampir2 lupa daratan.
"Ai, betapa cakap mereka berdua, entah bagaimana jadinya andaikan pada suatu hari kelak kudatang mencari balas terhadap ayah mereka? Tegakah aku bertindak dan bermusuhan dengan mereka?"
Dengan pikiran yang kusut, Tian Pek tidak memperhatikan jalan yang dilaluinya dan tahu2 sampailah mereka di depan sebuah bangunan yang besar dan megah.
Gedung ini sangat megah arca singa berdiri dengan angkernya di samping pintu gerbang, undak-undakan batu yang terbuat dari marmer menghubungkan pelataran dengan lantai depan gedung itu.
Pada setiap undak-undakan berdirilah dua orang pengawal berpakaian perang lengkap dengan pedang dan tombak terhunus, dari pelataran sampai ke pintu gerbang berjajar penjaga yang berjumlah lima-enam puluh orang banyaknya.
"Sungguh luar biasa!"
Pikir Tian Pek.
"sungguh tak nyana tempat tinggal seorang tokoh persilatan semewah dan semegah ini, rasanya sekalipun istana raja atau pangeran juga cuma begini saja...."
Setibanya di depan gedung itu, semua orang turun dari kuda, Siang-lin Kongcu memang tuan rumah yang ramah dan simpatik, dengan hangat digandengnya tangan Tian Pek dan diajak naik ke undak-undakan batu itu Di mana pemuda itu berlalu, kawanan pengawal bersenjata tombak di kiri-kanan undak-undakan sama memberi hormat.
Diam2 Tian Pek menyesal, dia berpikir.
"Sebutan Sianglin paling simpatik dalam pergaulan memang bukan nama kosong balaka. ini terkukti dari sikap hangatnya terhadap seorang pemuda gelandangan sepertiku ini, padahal dia sendiri hidup terhormat seperti seorang pangeran . .."
Setelah menaiki undak2an batu.
tibalah mereka di depan pintu gerbang, pada sisi kanan pintu tergantung pelbagai pigura besar dengan kata2 pujian, di antaranya yang paling menyolok adalah papan yang tergantung di atas pintu gerbang.
Papan itu dicat merah dengan huruf2 emas besar yang berbunyi.
"BU-LIM-TE-IT-KEH" (Keluarga nomor satu di dunia persilatan).
"Huh! Besar amat nada mereka!"
Demikian pikir Tian Pek.
Sepanjang jalan setelah memasuki gedung tersebut, anak muda itu dibikin kagum oleh keindahan bangunannya, Akhirnya Siang-lin Kongcu membawanya menuju sebuah ruang besar.
Sementara itu suasana telah gelap, lampu telah dipasang dalam ruangan, di bawah cahaya lampu yang terang benderang tampaklah betapa megah dan mewahnya ruangan tersebut.
"Tian-beng, tentunya kau belum bersantap bukan?"
Tanya Siang-lin Kongcu sambil tertawa.
"Siaute sebagai tuan rumah sudah sepantasnya mengundang Tian-heng untuk makan bersama, harap engkau jangan sungkan2!"
Sebelum Tian Pek menjawab, dia lantas perintahkan anak buahnya untuk siapkan perjamuan.
"Koko, kau ini ...Kim Cay-hong yang sejak tadi membungkam saja tiba2 buka suara, biji matanya yang bening dan indah mengerling sekejap kakaknya, lalu memandang Tian Pek pula.
"Coba Koko lihat, kan Teng-siauhiap belum... ."
Siang-lin Kongcu bukan orang bodoh. tentu saja ia dapat mengetahui maksud hati adiknya, dia bergelak tertawa, katanva;
"Hahaha, kalau adik tidak mengingatkan, hampir saja aku lupa ... ." -segera dia berpaling dan berseru lantang.
"Pelayan..."
Dari belakang pintu angin lantas muncul empat orang dayang cilik berbaju hijau, dengan lemah gemulai mereka menghampiri Siang-lin Kongcu dan memberi hormat.
"Kongcu-ya, ada perintah apa...?"
Tanya mereka hampir berbareng.
"Layani tamu agung untuk mandi dan tukar pakaian!"
Perintah Siang-lin Kongcu. Keempat dayang cilik itu mengiakan, mereka terus menghampiri Tian Pek dan berkata.
"Tamu agung, silahkan ikut hamba.....!" -Habis berkata mereka lantas menduhului berjalan ke depan. Tian Pek agak ragu2, tapi setelah melihat badannya yang kotor, diapun tidak sungkan2 lagi, segera ia ikut ke sana. Setelah melewati beberapa jalan serambi yang indah, akhirnya sampailah mereka di depan sebuah pintu kaca yang amat besar, ketika pintu itu dibuka beradalah mereka di dalam sebuah kamar mandi yang megah, lux kalau menurut istilah kini. Di tengah ruangan membujur sebuah bak mandi sepanjang dua tombak lebih, air dalam bak itu bening sekali, di tengah bak berdiri sebuah patung kemala putih seorang gadis setengah telanjang, pada bahu patung gadis itu membawa sebuah pancuran yang mirip pot bunga, air yang jernih dan bersih terpancar keluar dari pot tersebut. Begitu berada di dalam ruangan itu tanpa disuruh keempat dayang cilik itu lantas membuka pakaian mereka. Keruan Tian Pek terperanjat, cepat ia menegor.
"Hei, apakah kalian mau ikut mandi?"
Sungguh di luar dugaan Tian Pek, keempat gadis cilik ternyata melepaskan semua pakaian yang dikenakan dihadapan seorang pemuda asing dalam sebuah kamar mandi yang tertutup.
Keempat dara cantik itu tetap tersenyum dan sibuk melepaskan busana mereka, dalam sekejap saja tampaklah tubuh mereka yang putih mulus, dada yang menggiurkan dan pantat yang padat.
Kecuali secarik kain cawat yang masih menutupi bagian tertentu serta kutang yang tipis, keempat dayang itu hampir berada dalam keadaan telanjang bulat.
Tian Pek berdiri terbelalak dan melongo menghadapi pemandangan menggetar sukma ini, sampai setengah harian ia tak mampu mengucapkan sepatah katapun.
Keempat dayang itu tetap tenang saja seperti tidak terjadi sesuatu yang luar biasa, dengan cekatan mereka lantas siapkan handuk serta alat mandi lainnya.
Tian Pek masih berdiri dengan terkesima, ke empat dayang itu tersenyum melihat anak muda itu hanya diam saja, sinar mata mereka yang genit itu se-akan2 sedang bertanya.
"Kalau mau mandi, kenapa tidak membuka pakaian?"
Rasa malu dimiliki oleh setiap orang.
apa lagi seorang laki2 muda harus lepas pakaian di depan empat gadis yang masih asing baginya, kecuali orang sinting mungkin tiada orang lain yang berani berbuat demikian.
Tian Pek memang pernah merobek pakaian sendiri hingga telanjaag di hadapan seorang gadis, akan tetapi kejadian itu berlangsung karena pengaruh irama suling pembetot sukma Ciang Su-peng, perbuatannya dilakukannya di bawah sadarnya, karenanya peristiwa itu tak bisa dimasukkan dalam hitungan.
Jilid-10.
Lain keadaannya dengan sekarang, pemuda itu berada dalam keadaan sadar, pikirannya seratus persen segar waras, sekalipun dia dapat menangkap maksud kerlingan mata keempat dayang itu, namun untuk sesaat dia tak mempunyai keberanian untuk melepaskan pakaian sendiri.
Pada saat itulah tiba2 di luar ruangan itu menggema suara langkah orang, menyusul seorang berseru dengan suara merdu.
"Perjamuan telah di siapkan di ruangan depan, selesai bersihkan badan tamu agung dipersilakan untuk menghadiri perjamuan!"
"Hihihi ... dia...dia belum lagi membuka pakaiannya ... ."
Seru keempat dayang itu sambil tertawa cekikikan.
"Ah, masa? Sudah sekian lama kalian tidak melayani ...."
Berkata sampai disini, orang di luar itu tiba2 mendorong pintu dau melangkah masuk, Ketika dilihatnya Tian Pek masih berdiri terkesima dengan pakaian lengkap, sambil tertawa ia lantas mengomel.
"Ah, kalian berempat memang keterlaluan, bukannya membukakan pakaian tamu, kalian malahan ter-buru2 melepaskan pakaian sendiri, makin lama kalian memang semakin tak becus bekerja . Yang masuk ini juga seorang dayang muda, tapi kalau dibandingkan keempat dayang cilik tadi usianya lebih tua sedikit. bukan saja pakaiannya lebih indah dandanan pun lebih terpelihara, dari sini bisa diketahui kalau kedudukannya pasti jauh lebih tinggi dibandingkan keempat dayang cilik itu. Sambil mengomel, dayang itu lantas menghampiri Tian Pek dan hendak membuka pakaian anak muda itu. Keruan Tian Pek tercengang, untuk sesaat ia menjadi bingung dan tak tahu apa yang mesti dilakukan. Sementara tangan gadis itu sudah hampir menempel dadanya, Tian Pek terkejut, cepat dia berusaha mengelak kesamping. Tapi gadis itu ternyata tidak lemah dan juga cerdik, agaknya sebelum melakukan gerakan tersebut ia telah memperhitungkan ke arah mana anak muda itu mungkin akan menghindar, maka baru saja Tian Pek berkelit ke samping, cepat ia menghadang di depan anak muda itu, sementara jari jemari yang lentik langsung menyambar leher baju dan membuka kancing pakaian Tian Pek.
"Hihihi, mungkin tuan tamu baru pertama kali ini berkunjung kemari!"
Kata dayang itu sambil tertawa cekikikan.
"Makanya engkau tidak terbiasa dengan pelayanan kami, maaf jika kami bekerja bagimu!"
Sambil bicara dayang itu, tidak berhenti bekerja setelah sebuah kancing baju Tian Pek dapat dilepaskan, dengan suatu gerakan yang manis dan lincah dia putar badan untuk melepaskan pakaian yang dikenakan anak muda itu.
Pakaian yang dikenakan Tian Pek ini adalah mantel hitam perkampungan Pah-to-san-ceng yang berlambangkan seekor macan tutul, mantel tersebut cuma mempunyai sebuah kancing pada bagian pinggang maka begitu ditarik oleh dayang itu, sebagian baju yang dikenakan itupun tersingkap.
Terperanjat Tian Pek menghadapi kejadian itu, tak terduga seorang dayang dari keluarga Kim saja memiliki Kungfu yang begini tangguh, Sementara itu dayang tadi telah menarik pakaian Tian Pek kemudian putar ke belakang, andaikata pemuda itu bermaksud mencelakai dayang ini, maka pekerjaan tersebut bisa dilakukan dengan mudah sekali.
Tentu saja Tian Pek tak ingin berbuat demikian, sekarang dia adalah tamu, biarpun sudah diketahui Kim Kiu, ayah Siang-lin Kongcu adalah musuhnya, tapi sebelum terjadi pertikaian ia tak sudi melukai seorang dayang lebih dahulu.
Oleh karena pertimbangan inilah, walaupun perbuatan davang itu membikin Tian Pek merasa malu sehingga mukanya berubah merah padam, namun ia tidak berusaha untuk melepaskan tangan dayang itu, hanya dengan gelagapan ia berkata.
"Nona, lebih baik kalian keluar saja dari sini, biarlah aku mandi sendiri saja.
"Plok!"
Belum habis dia berkata, tiba2 se
Jilid kitab berwarna warni terjatuh dari dalam baju anak muda itu.
"Ha, buku bacaan apa itu?"
Seru dayang tadi dengan mata melirik.
"wah, tampaknya menarik sekali, coba kulihat, apa isinya!"
Sanmbil berkata dayang itu terus hendak menjemput kitab itu.
Kaget Tian Pek, ia tahu Thian-hud-pit-kip itu harus dirahasiakan, apalagi sekarang ia justeru berada di sarang pembunuh ayahnya, disini banyak berdiam jago lihay dari dunia persilatan, bila kitab itu dilihat orang tentu akan dijadikan sasaran perebutan.
Karena itu, dalam gugupnya cepat dia mendorong tubuh anak dara itu dengan kuat.
Lantara tak terduga dayang itu menjerit kaget dan "plung"
Ia tercebur ke dalam bak mandi.
Air muncrat, seketika dayang itu basah kuyup, cepat dia merangkak naik dari dalam bak sambil menyemburkan air.
Dalam pada itu Tian Pek telah ambil dan simpan kembali kitabnya, sesudah itu barulah dia memandang ke arah si dayang yang tercebur ke dalam bak mandi itu dengan sorot mata menyesal.
Keempat dayang cilik tadi bergelak tertawa, mereka berkeplok tangan sambil mengikik, saking gelinya sampai menungging dengan memegang perut.
"Empat setan cilik, apa yang kalian tertawakan?"
Teriak dayang tadi dengan mendongkol, kemudian ia melirik sekejap kearah Tian Pek, dia melampiaskan kemarahannya kepada keempat dayang cilik itu.
"Setan cilik, hayo cepat tarik aku keluar dari sini, cepat ganti dengan air baru dan layani tamu se-baik2nya!"
Agaknya keempat dayang cilik itu sangat jeri terhadap dayang yang tercebur ke dalam bak itu, mereka segera berhenti tertawa dan menarik dayang itu ke atas, lalu menguras air dalam bak dan mengisinya dengan air yang baru.
Sebelum selesai mereka mengisi bak mandi lagi, tiba2 dayang tadi berkata.
"Tamu ini adalah tamu agung Kongcuya kita, rasanya kurang hormat kalau kita bersihkan badannya dengan Lan-giok-teng; pancurkan Un-hiang-sui (air hangat) saja agar tamu kita ini bisa mandi dengan lebih nikmat!"
Tercengang keempat dayang cilik itu, mereka seperti mau mengucapkan sesuatu, tapi setelah menyaksikan air muka pemimpin mereka yang kereng, mereka tak berani membantah dan segera tundukkan kepala.
Seorang lantas membuka kran air yang ada disamping kiri aana, air bersihpun segera mengalir keluar dari pot bunga yang dibawa patung gadis telanjang tadi dengan derasnya.
hanya sebentar saja air dalam bak mandi lantas penuh kembali.
Tian Pek sama sekali tidak memperhatikan tingkah laku dayang2 itu, dia hanya memperhatikan tubuh dayang yang basah kuyup hingga tampak lekukan tubuhnya yang indah dan berisi itu.
Bentuk tubuh dayang itu memang cukup cantik, hanya keadaannya mengenaskan sekali, Tian Pek tidak tega, ia minta maaf.
"Nona, harap suka maafkan kekasaranku tadi, terus terang aku tidak sengaja berbuat begitu terhadapmu, soalnya kitab itu tidak pantas kau lihat, karenanya kuharap nona bisa memaklumi keadaanku!"
"Ah, tak apalah, tugas dari kami harus melayani segala kebutuhan tuan2, jika pelayanan kurang memadahi, mau dipukul atau dimaki terserah kepada tuan2, nasib kami sendiri yang kurang beruntung, hingga sejak dilahirkan sudah ditakdirkan menjadi budak orang!"
Ucapan tersebut diutarakan dengan nada dingin, bahkan tajam sekali. Tian Pek merasa bersalah, maka dengan sungguh-sungguh ia berkata.
"Sejak kecil aku sudah terbiasa hidup sengsara dan telantar, tidak biasa bagiku segala sesuatunya dilayani orang, maka kuharap kalian keluar saja, biar kumandi sendiri."
Dayang itu ragu2 sejenak.. akhirnya dia menjawab.
"Kalau tuan tamu menghendaki demikian, baiklah kami turut perintah saja, mungkin tuan tamu merasa pelayanan kami kurang baik dan kami diperintahkan keluar, terpaksa kami keluar dari sini."
Kepada keempat dayang yang sudah telanjang dan masih berdiri tertegun, ia menambahkan.
"Hayo kenakan pakaian, mari kita pergi!"
Keempat dayang cilik itu tak berari membangkang perintah, cepat mereka kenakan pakaiannya dan mengurndurkan diri. Sesaat meninggalkan ruangan itu, kembali dayang tadi berpesan.
"Cepatan dikit tuan tamu bersihkan badan, Kongcu-ya kami sudah menunggu di ruang perjamuan!"
Sebelum Tian Pek menjawab, ia lantas menyelinap keluar kamar mandi itu.
Pintu ruangan menutup kembali secara otomatis, setelah bayangan kelima dayang itu lenyap dari pandangan, Tian Pek menggeleng kepala.
Ia tidak merasa benci atau sakit hati karena ucapan si dayang yang kasar tadi, sebaliknya ia menaruh simpatik padanya, sama2 manusia, mengapa ada yang hidup mewah dan berkuasa, tapi ada pula yang hidup sengsara dan harus menjadi budak?
Sungguh tidak adil.
Cepat2 Tian Pek bersihkan badannya, ia tidak mengenakan pakaian baru yang disediakan keluarga Kim, tapi masih tetap mengenakan pakaian rombeng itu.
Keluar dari kamar mandi.
dilihatnya keempat dayang cilik itu masih menanti di depan pintu.
Maka iapun mengikuti keempat dayang itu menuju ke ruang perjamuan.
Jauh dari ruangan perjamuan itu, lapat2 ia sempat mendengar pembicaraan serta gelak tertawa kawanan jago yang hadir di ruangan itu, sebagian besar mereka sedang membicarakan dirinya-Terdengar seorang berkata dengan suara lantang.
"Sepintas lalu, anak muda itu tidak nampak sesuatu keistimewaannya, tak nyana ilmu silatnya lumayan juga, sampai2 Kun-kang-liong Liang Peng tak tahan suatu pukulannya!"
"Benar! Ilmu silatnya memang luar biasa"
Sambung yang lain.
"dan lagi gaya silatnya beraneka ragam, entah bagaimana cara melatihnya? Padahal usianya masih sangat muda."
Terasa bangga juga Tian Pek mendengar orang sedang memuji dirinya. Tapi segera terdengar pula seorang berseru dengan suara lantang.
"Kalian tak perlu mengibul dan me-muji2 kehebatannya, bukankah dia juga tidak mampu menahan sekali pukul Tiat-ih-hui-peng (rajawali sakti bersayap baja) Pa-jiya ... ."
Sementara itu Tian Pek sudah melangkah masuk ke dalam ruang perjamuan, puluhan pasang mata orang segera teralih ke arahnya.
Semua orang terbeliak dan merasa pangling, sebab ketika datang pemuda itu berambut kusut dan muka kotor, tapi sekarang pemuda ini menjadi begitu gagah dan tampan sekali, sungguh seorang pemuda tampan yang jarang ada bandingannya.
Sekalipun dia masih mengenakan mantel hitam yang rombeng, namun tidak mengurangi kegantengan dan kegagahan anak muda ini.
Pembicaraan para jago segera terputus oleh kegagahan Tian Pek yang mempesona ini, semua terbungkam dan terbelalak lebar mengawasi Tian Pek.
Kanglam-te-it-bi-jin Kim Cay-hong pun mengawasi anak muda itu dengan kesima, terpancar sinar aneh dari sorot matanya.
Dalam pada itu Siang-lin Kongcu telah berbangkit menyambut kedatangan tamunya, setelah persilakan tamunya duduk, lalu iapun memperkenalkan tamu lain yang hadir.
Meja perjamuan diatur dengan model tapal kuda, kawanan jago yang ikut hadir dalam perjamuan berjumlah belasan orang banyaknya, semuanya bersinar mata tajam dan bersikap kereng, jelas terdiri dari tokoh2 piliban.
Terdengar Siang-lin Kongcu memperkenalkan satu persatu sambil menunjuk orangnya.
"Saudara ini adalah Tiat-pi-to-liong (Naga bungkuk berpunggung baja) Kongsun Coh, Kongsun-cinnpwe!"
Kakek itu berbadan bungkuk, bermata tajam dan berkening tinggi, jelas seorang jago silat kelas tinggi. Cepat Tian Pek memberi hormat.
"O, Kongsun-ciapwe, sudah lama kukagumi nama anda!"
Ucapnya.
"Hahaha. engkoh cilik tak perlu sungkan2!"
Sahut Tiat-pi-to-liong sambil bergelak tertawa, suara-nya nyaring membuat seluruh ruangan se-olah2 ber-getar keras.
"Dan yang ini adalah Tiat-ih-hui-peng (rajawali sakti bersayap baja) Pa Thian-ho, Pa-cianpwe!"
Ketika memperkenalkan jago tua ini, Siang-lim Kongcu sengaja memperberat nada suaranya. Setelah berhenti sebentar, ia menambahkan lagi.
"Hahaha, tadi Tian-heng sudah berjumpa dengan Pa-locianpwe bukan? Itulah yang dinamakan tidak berkelahi tidak saling mengenal, semoga selanjutnya kalian berdua dapat bergaul lebih akrab!"
Merah padam wajah Tian Pek setelah mendengar perkataan itu, ia merasa gusar karena perkataan tersebut dirasakannya sebagai suatu penghinaan, suatu cemoohan, tapi anak muda ini berusaha untuk menahan diri, mengendalikan emosinya agar jangan sampai meledak.
"Wahai Tian Pek! Hanya seorang tukang pukul saja engkau tak mampu mengatasinya, bagaimana mungkin kau mampu menuntut balas terhadap majikannya ..?"
Demikian di dalam hati ia mengomeli dirinya sendiri.
Karena pergolakan emosinya Tian Pek sama sekali tidak memperhatikan lagi orang yang diperkenalkan Siang-lin Kongcu kepadanya, sekalipun jago2 itu semuanya jago kelas satu dan terkenal di dunia persilatan.
Untuk sesaat anak muda itu jadi lupa daratan, dia hanya berdiri termangu dengan darah bergolak dalam rongga dadanya, sopan santun dalam pesta perkenalanpun terlupakan olehnya.
Tiba2 terdengar orang mendengus di sisi sana.
suaranya tidak keras, namun nadanya dingin mengejek.
Menyusul seorang lantas berseru dengan ketus.
"Huh! Bukan saja tidak punya kepandaian sejati, juga tak tahu sopan santun dunia persilatan, begitu saja berani menduduki kursi utama. Hmm! Benar2 manusia tak tahu diri!"
Meja perjamuan ini berbentuk tapal kuda, Siang-lin Kongcu duduk pada kursi utama persis di tengah2 yang melengkung itu, Kim Cay-hong duduk di sebelah kursinya dan kursi kosong di sebelah kanan disediakan bagi Tian Pek, sementara tokoh2 lain duduk pada kursi samping kanan-kiri, dari sini dapat diketahui bahwa kedudukan yang disediakan bagi Tian Pek itu lebih terhormat Biasanya kawanan jago silat yang diundang keluarga Kim selalu ditempatkan pada kedudukan yang utama oleh Siang-lin Kongcu sebagai tanda bahwa ia sangat menghormati tamunya ini.
Akan tetapi jago silat kawakan yang sudah berpengalaman biasanya menolak kalau dipersilakan duduk pada kursi utama, sebaliknya selalu mohon diberi kursi baru pada urutan yang terakhir, hal ini melambangkan dia menaruh hormat kepada rekan-rekan lainnya yang masuk lebih dulu.
Tian Pek masih muda dan sama sekali tidak paham tata adat tersebut, begitu masuk dia terus digandeng Kim-kongcu don diajak menempati kursi kehormatan utama itu, menyusul lantas diperkenalkan kepada tokoh2 lainnya dan yang terakhir membuat anak muda itu jadi kikuk ketika diperkenalkan kepada Pa Thian-ho sehingga lupa pada adat yang sepele itu.
Sebenarnya Tian Pek tidak perlu malu lantaran dikalahkan Tiat-ih-hui-peng, jago persilatan manapun takkan memandang rendah kekalahannya itu.
sebab bagaimanapun juga dalam pandangan kawanan jago itu Tian Pek tak lebih hanya seorang muda yang baru muncul di dunia persilatan.
Sebaliknya Tiat-ih-hui-peng Pa Thian-ho adalah tokoh persilatan yang sudah puluhan tahun merajai dunia Kangouw, dia memiliki Kungfu yang luar biasa, terutama baju pusaka Thiat-ih-po-ih yang dipakainya bila dikembangkan bisa melayang terbang diangkasa bagaikan burung, ini merupakan senjata penyergap musuh yang sukar dilawan.
Kebanyakan orang sudah merasa kagum atas kehebatan Tian Pek ketika ia sanggup menerima pukulan Pa Thian-ho tanpa terluka ditepi sungai Yan-cu-ki, jadi sebenarnya tiada orang yang berani mentertawakan dia.
Sayang Tian Pek tak dapat berpikir sampai kesitu, dia anggap kejadian itu sangat memalukan, diam2 ia sangat mendongkol.
Ketika mendengar suara jengekan tadi, barulah Tian Pek tersadar dari rasa malu dan dongkolnya.
Cepat ia berpaling, kiranya orang yang menyindir dirinya itu tak lain adalah seorang pemuda tampan berbaju hitam.
Usia pemuda tampan ini baru dua puluhan, mukanya putih bersih, alis panjang dan bibir merah, matapun jeli.
Bukan saja wajahnya tampan, ilmu silatnya pasti juga lihay, ini terbukti dari posisi duduknya diantara jago2 lainnya.
Kiranya pemuda baju hitam ini adalah murid kesayangan Cing-hu-cin Kim Kiu, namanya Beng Ji-peng, sejak kecil hingga dewasa ia berdiam di-tengah2 keluarga Kim dan amat disayang Oleh Kim Kiu melebihi rasa sayangnya terhadap putera sendiri, yaitu Kim Lin.
oleh karena itu segenap ilmu silatnya telah diajarkan kepadanya.
Tidaklah heran kalau ilmu silatnya amat lihay kendatipun usianya masih sangat muda, terutama dalam hal senjata rahasia Cing-hu-kim-ci-piau, senjata rahasia mata uang yang paling diandalkan Cing-hu-lin, boleh dibilang sudah dikuasainya dengan sempurna.
Kecuali dalam hal Lwekang saja masih belum sempurna, Beng Ji-peng sudah merupakan jago muda yang disegani, untuk itu orang persilatan telah memberi julukan Giok-bin-siau-cing-hu (kecapung hijau kecil bermuka kemala) kepadanya!
Usia Giok-bin-siau-cing-hu ini hampir sebaya dengan kakak beradik Kim Lin atau Kim Cay-hoan dan Kim Cayhong, dengan Siang-lin Kongcu ia lebih kecil dua tahun dan setahun lebih tua daripada Cay-hong.
Sejak kecil mereka hidup bersama hingga dewasa, hubungnn mereka seperti saudara sekandung.
Setelah usia mereka meningkat dan sudah mengerti urusan kehidupan manusia, diam2 Beng Ji-peng menaruh hati terhadap Kim Cay-hong dan menganggap Kim Cayhong sebagai kekasihnya.
Kim Cay-hong juga bersikap baik padanya, se-hari2 dia biasa memanggil engkoh Peng padanya tapi Giok-bin-siau-cing-hu tidak puas sampai disitu saja, sebab ia merasa kebaikan anak dara itu hanya terbatas pada hubuugan persaudaraan belaka, ini tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya, yaitu kasih mesra orang muda.
Sebagai puteri kesayangan Cing-hu-sin, sejak kecil Kim Cay-hong sudah terbiasa dimanja, apa yang diinginkan anak dara itu tak pernah dialangi oleh siapapun, apalagi sikapnya suka bergaul dan berteman dengan siapapun, terutama terhadap kaum mudanya, semua ini seringkali menimbulkan rasa cemburu bagi Giok-bin-siau-cing-hu.
Hari ini kehadiran Tian Pek ternyata sangat menarik perhatian si nona, sekalipun Kim Cay-hong tak pernah bicara dengan anak muda itu, akan tetapi sinar matanya selalu memandang tak berkedip terhadap Tian Pek, bahkan sinar matanya jauh berbeda daripada biasanya, hal ini menyebabkan Giok-bin-siau-cing-hu tambah kuatir.
Semenjak dalam perjalanan pulang dan setelah berada di rumah, Giok-bin-siau-cing-hu mengawasi terus tingkah-laku gadis itu, diam2 ia merasakan firasat yang tidak enak, sikap istimewa yang ditunjukkan Kim Cay-hong lain daripada yang lain, ia jadi kuatir kalau gadis pujaannya sampai direbut oleh anak muda yang linglung itu.
Apalagi didengarnya orang sama memuji kehebatan Tian Pek, dia lantas nyelutuk dengan rasa tak senang.
"Huh, bagaimanapun dia kan tak mampu menahan pukulan Pa-jiya!?"
Dan kini, dilihatnya Tian Pek sama sekali tidak menolak sebagai lazimnya jago2 silat lain bila dipersilakan duduk di kursi utama, dia lantas manfaatkan kesempatan itu untuk ber-olok2 pula, tujuannya ingin membikin malu pemuda itu, di samping itu iapun hendak menggunakan kesempatan ini untuk menantang Tian Pek untuk berduel, ia yakin dengan sebilah pedang dan sekantong Cing-hu-kim-ci-piau pasti dapat mengusir atau membinasakan Tian Pek, menghilangkan duri didalam daging ini.
Tian Pek sendiri sejak mula sudah mendongkol dan ditahannya sebisanya, sekarang di-olok2 pula, seketika meledaklah emosinya.
Segera ia menjura kepada para hadirin, kemudian berkata.
"Bukan kehendakku sendiri datang kesini, jika kedatanganku tidak diterima saudara sekalian dengan baik. maka biarlah kumohon diri sekarang juga!"
Sambil berbangkit dari tempat duduknya, ia siap meninggalkan ruang perjamuan. Cepat Siang-lin Kongcu maju menghanginya, katanya sambil tersenyum.
"Ah, Tian-heng, harap jangan berpikir demikian, masa kami tak suka akan kedatanganmu? Coba lihatlah, perjamuan sudah disiapkan, bagaimanapun juga harap engkau suka minum barang tiga cawan arak lebih dulu, dengan demikian sekadar terpenuhilah kewajibanku sebagai tuan rumah."
Diam2 Tian Pek menghela napas, pikirnya.
"Orang persilatan sama mengatakan bahwa Siang-lin Kongcu paling simpatik dalam memupuk persahabatan, ucapan ini memang sedikitpun tak salah, dilihat dari kehalusan budinya serta keramah tamahannya memang semua itu muncul dari lubuk hatinya yang bersih, dia tak mungkin adalah seorang licik yang suka menjebak orang."
Dalam hati berpikir demikian, diluar segera jawabnya.
"Maksud baik Kim-heng kuterima didalam hati saja! Bicara sesungguhnya, aku memang masih ada urusan penting yang harus dikerjakan, biarlah lain hari saja aku akan berkunjung pula ke sini."
Selesai berkata dia lantas berbangkit dan melangkah keluar ruangan.
Bahwasanya keluarga Kim berani memakai nama "Keluarga nomor satu di Kanglam", sudah tentu caranya menjamu tamu memang lain daripada yang lain, baik hidangannya maupun araknya, semuanya kelas satu dan pilihan.
Tapi biarpun perut Tiak Pek sangat lapar, seleranya sekarang sudah lenyap dan tetap erkeras hendak pergi.
Mendadak Beng Ji-peng berdiri dan menjengek.
"Hm, mau pergi boleh pergi, uutuk apa berlagak disini, memangnya keluarga Kim kekurangan tamu agung semacam kau?!"
"Suheng! Apa-apaan kau ini? Koko berusaha menahan tamu, sebaliknya kau malah mengusir tamu,"
Tegur Kim Cay-hong dengan kurang senang-Siang-lin Kongcu pun melotot sekejap ke arah Beng Ji-peng. lalu dengan sungguh2 ia menarik tangan Tian Pek seraya berkata.
"Tian-heng, harap engkau jangan gusar atau tersinggung. Suteku ini memang berangasan tabiatnya, atas kelancangan dan kekasarannya harap engkau sudi memberi maaf, Silakan duduk Tian-heng, sekalipun engkau masih ada urusan penting rasanya tak ada salahnya kalau minum secawan dua cawan arak lebih dahulu, masa cuma permintaanku yang kecilpun tidak kau kabulkan? Itu namanya Tian-heng memandang rendah Siang-lin!"
Tapi sekali Tian Pek menyatakan mau pergi, sukar lagi ditahan, meski beberapa tokoh angkatan tua ikut menahannya, namun dia tetap tidak mau.
"Hei, orang muda jangan maju mundur tak menentu, ambillah keputusan yang tegas!"
Seru Tiat-pi-to liong tiba2, dia terkenal setan arak, maka ia menjadi tidak sabar dan ingin lekas makan minum.
"Memangnya kau kuatir arak ini beracun? Maka kau tak berani meminumnya?"
Manjur sekali perkataan ini, panas hati Tian Pek, cepat ia menjawab.
"Baik, karena ucapan Kongsun-cianpwe ini. mau-tak-mau aku Tian Pek harus minum tiga cawan dan tak akan lebih, setelah itu aku akan segera angkat kaki dan sini, akan kubuktikan Tian Pek bukan pemuda yang bernyali tikus dan takut mati!"
Habis berkata dia lantas mengangkat cawan araknya dan kepada hadirin dia berseru.
"Cianpwe sekalian, marilah minum secawan sebagai tanda hormatku kepada para Cianpwe!"
Sekali tenggak dia mendahului menghabiskan isi cawan tersebut.
"Eh, masa kau juga anggap aku sebagai Cianpwe?"
Goda Kim Cay-hong sambil tertawa cekikikan, iapun menghabiskan secawan arak.
Begitu arak masuk perut, seketika Tian Pek merasa perutnya panas seperti dibakar, se-olah2 ada cairan baja mendidih dituang ke dalam perutnya, ia pikir jangan2 di dalam arak benar2 ada racunnya.
Tapi segera terpikir pula hal ini tak mungkin terjadi, sedangkan Siang-lin Kongcu belum mengetahui asal-usulnya yang sebenarnya, tiada alasan baginya untuk mencelakainya, selain itu sebagai salah satu di antara Bulim-su-kongcu tidaklah mungkin ia melakukan perbuatan serendah itu dihadapan tokoh persilatan sebanyak ini.
Karena pikiran ini, nmaka ditengah seruan para hadirin yang sedang menghabiskan isi cawan masing2 segera ia angkat cawan kedua sambil berseru pula.
"Aku Tian Pek terlalu muda dan kurang pengetahuan, jika tadi aku salah bicara atau salah bertindak, maka cawan yang kedua ini anggaplah sebagai penghormatanku bagi kawan2 persilatan yang seangkatan."
"Nah, beginilah seharusnya!"
Kim Cay-hong menanggapi pula sambil tertawa manis, alangkah menggiurkan kerlingan matanya yang menggetar kalbu.
Tian Pek pura2 tidak tahu, sekali tenggak dia menghabiskan pula isi cawan yang kedua itu.
Giok-bin-siau-cing-hu Beng Ji-peng makin panas hatinya, sungguh ia ingin merogoh kantong senjata rahasia dan menghajar saingan cintanya itu hingga mampus.
Tian Pek tidak menyangka bahwa senyum dan kerlingan Kim Cay-hong itu telah mendatangkan kesulitan baginya.
Tatkala isi cawan kedua masuk perutnya, Tian Pek makin terperanjat, ia merasa isi perut seperti dibakar, semacam hawa panas terus mengalir dari perut menuju kebagian bawah dan menimbulkan rangsangan napsu berahi .
Tian Pek yakin Siang-lin Kongcu tak nanti mengerjainya di depan orang banyak, maka iapun tidak memikirkan munculnya hawa panas itu, malahan dia mengira gejala itu timbul lantaran dia minum arak dalam keadaan perut kosong.
Tapi Kim Cay-hong yang teliti telah melihat gelagat yang tidak beres itu.
Sebagai tuan rumah, dia tahu sampai dimana kadar alkohol yang terkandung dalam arak Li-ji-hong yang disuguhkan itu?
jangankan seorang pemuda gagah seperti Tian Pek, sekalipun anak dara yang tak biasa minum arakpun dua tiga cawan takkan mendatangkan pengaruh apa2 baginya.
Tapi sekarang, kenyataan membuktikan lain, baru dua cawan arak ditenggak Tian Pek, mukanya berubah menjadi merah membara, bahkan matanya memancarkan cahaya yang aneh, tubuhnya juga sempoyongan, memangnya apa gerangan yang terjadi?
Baru saja gadis itu bersuara heran dan belum sempat menanyakan sebab musababnya, Tian Pek telah angkat cawannya dan minum habis isi cawan yang ketiga kalinya itu.
"Arak bagus, arak enak ...,.!"
Seru anak muda itu.
Ia merasa sekujur badan semakin panas bagaikan dibakar, begitu tinggi suhu badannya hingga dia setengah tak sadar, diam2 ia merasakan gelagat tidak baik, mendadak perutnya terasa sakit keras, segera ia tahu telah dikerjai orang.
Ia tak menyangka Siang-lin Kongcu yang berkedudukan begitu terhormat di dunia persilatan ternyata sudi melakukan tindakan yang begini rendah dan kotor.
Terbayang bilamana ia terjatuh ke tangan musuh, akibatnya pasti sukar terbayangkan, dia mati tak menjadi soal, tapi keturunan keluarga Tian akan ikut musnah dan dendam kesumat kematian ayahnya pun tak bisa terbalas lagi.
Dengan marah dan kecewa dia lantas berseru.
"Arak bagus ... arak keluarga Kim yang sangat bagus ... cukup tiga cawan ....hahaha ...tiga cawan mampu merantas usus... ."
Berbicara sampai disini, ia sempoyongun lalu roboh tak sadarkan diri .
.., o-0O0-o o-0O0-o Entah selang berapa lama, ketika ia menemukan dirinya berbaring disebuah tempat tidur yang sangat indah.
Baik seprai, selimut, maupun kelambu semuanya terbuat dari bahan yang mahal, sekalipun kalah tenangnya jika dibandingkan dengan kamar tidur Leng-hong Kongcu dari keluarga Buyung namun dalam hal kemewahan boleh dibilang jauh melebihinya.
Setelah sadar dari pingsannya, Tian Pek merasakan tenggorokannya kering dan haus sekali, perutnya tetap serasa dibakar.
ia mengeluh pelahan.
"Oh air...air ..."
Seorang anak laki2 yang cakap dan seorang anak perempuan yang cantik berdiri di depan pembaringan, mereka tak lain adalah Beng-beng dan Lan-lan, melihat Tian Pek sudah sadar dari pingsannya, dengan wajah berseri cepat mereka lari keluar seraya berteriak.
"Bibi...bibi, dia sudah sadar kembali!"
Suara merdu mengiakan, seorang nona cantik lantas masuk ke ruangan itu, dia bukan lain adalah Kanglam-te-it-bi-jin Kim Cay-hong.
Hari ini dia cuma mengenakan baju sutera yang tipis dengan rambut digelung di atas kepala, ia tidak memakai perhiasan apa2, mukanya juga tidak memakai bedak, walaupun begitu sedikitpun tidak mengurangi kecantikannya.
Setiba didalam ruangan, ia menghampiri sisi pembaringan, dilihatnya Tian Pek betul sudah sadar kembali, matanya yang jeli memancarkan sinar berkilau, lesung pipitnya kelihatan nyata dan sekulum senyum menghiasi bibirnya.
Tian Pek adalah pemuda jujur dan polos, jarang ia tertarik oleh kecantikan dara ayu seperti apapun, tapi sekarang tak urung jantungnya berdebar keras.
"Tian siauhiap!"
Terdengar Kim Cay-hong menegur sambil tertawa, suaranya merdu bagaikan kicauan burung.
"kau sudah sadar?.' Siau-hong! Cepat ambilkan air teh?"
Waktu itu Tian Pek memang merasa haus sekali, belum sempat ia mengucapkan sesuatu, agaknya Kim Cay-hong telah mengetahui apa yang diharapkan anak muda itu, maka diperintahnya orang mengambilkan air teh.
Tirai lantas tersingkap dan seorang dayang berbaju putih muncul sambil membawa secangkir air teh.
Sekilas pandang Tian Pek kenal dayang itu sebagai dayang yang mau jemput kitab Soh-kut-siau-bun-pit-kip yang terjatuh dan kemudian terdorong masuk kedalam bak mandi itu.
Tapi ia tidak berpikir lagi, segera ia menghabiskan isi cangkir itu, tapi rasanya masih haus, dengan lidahnya ia menjilat sekitar bibirnya yang kering.
Tertawa geli Kim Cay-hong menyaksikan tingkah laku anak muda itu, katanya.
"Tentu kau sangat haus."
Dia berkata pula kepada dayang baju putih.
"Siau-hong, ambilkan secangkir lagi!"
Bukan saja cantik wajahnya, gadis ini juga cerdik, apa yang dipikirkan orang lain sebelum diutarakan ia telah dapat menebaknya.
Tapi sebelum Siau-hong melangkah keluar, Beng-beng dan Lan-lan telah muncul dari luar dengan membawa sebuah teko porselen yang indah sambil berseru.
"Ini air tehnya sudah datang...air tehnya sudah datang!"
Cepat Siau-hong maju menyambut teko itu, omelnya.
"Ai, jalan pelan2, kalau tekonya yang pecah tidak menjadi soal, bila kaki kalian tersiram air panas, bisa susah!"
"Enci Hong, jangan menghina orang!"
Sahut Beng-beng dengan penasaran.
"Sekalipun tekonya kulemparkan kepadamu juga airnya takkan tumpah keluar?"
Teko itu benar2 terus dilemparkan ke depan, keruan Siau-hong menjerit kaget, jika sambitan senjata rahasia dia dapat menghindar, tapi teko ini adalah benda hadiah Sri Baginda, kalau pecah, tentu akan didamperat majikan tua.
Untung Kim Cay-hong bertindak cepat, ketika diiihatnya Siau-hong kelabakan, dengan tersenyum omelnya.
"Beng-beng? Kau memang nakal sekali!"
Tangannva segera diayun ke depan, teko yang sedang meluncur itu tiba2 tertolak ke atas oleh angin pukulannya, ketika teko itu meluncur kembali ke bawah, dengan sigap Siau-hong menyambar pegangan teko tadi.
Air panas dalam teko memang tak sampai berhamburan, meski demikian Siau-hong sudah dibuat terperanjat hingga berkeringat dingin.
Tian Pek berbaring di pembaringan dan dapat mengikuti semua kejadian itu dengan jelas, diam2 ia menyesal, kalau seorang gadis dan anak kecil juga memiliki ilmu silat selihay itu, apa lagi bapaknya?
Siau-hong lantas tuang air teh ke cangkir dengan tangan masih terasa lemas dan agak gemetar.
Pada saat itulah tirai tersingkap dan empat dayang cilik baju hijau melangkah masuk.
Salah seorang di antaranya segera berlutut di depan Kim Cay-hong sambil berkata.
"Lapor Sio-cia, Kongcu telah tiba!"
"Cepat amat beritanya!"
Omel si nona. Baru selesai perkataannya, Siang-lin tCongcu telah melangkah masuk diiringi Tiat-pi-to-hong serta Tiat-ih-huipeng.
"Tian-heng, engkau telah sadar?"
Sapa Sianglin Kongcu sambil mendekati pembaringan, sikapnya sangat simpatik.
Tapi Tian Pek tidak menggubris, malahan ia melengos ke arah lain.
Siang-lin Kongcu tidak memusingkan sikap angkuh Tian Pek itu, malahan dengan suara yang hangat ia berkata lagi.
"Ketahuilah Tian-heng, engkau telah salah merendam dirimu dengan air dingin Han-Cwan-sui, hawa yang dingin menyumbat jalan darahmu, kemudian engkau minum tiga cawan arak, peredaran darahmu makin bergolak hingga akhirnya jatuh pingsan, tapi kejadian ini tidak terlalu menguatirkan, sekalipun badanmu untuk sementara menjadi lemas, untung saja kami punya obat penawar yang mujarab, tak sampai tiga hari engkau akan pulih kembali seperti sediakala ... ."
Siang-lin Kongcu hendak melanjutkan lagi, tapi dengan nada dingin Tian Pek menyela.
"Hm, masa begitu kebetulan!"
"Dingin sekali ucapan anak muda itu, nadanya amat tajam dan menusuk perasaan, melengak juga Siang-lin Kongcu yang terkenal ramah tamah dan sabar.
Tapi segera ia tahu pikiran orang, katanya pula dengan tertawa.
"Bisa kumaklumi kalau Tian-heng bercuriga, apalagi setelah Tiat-pi-to-liong bergurau, tentulah Tian-heng menganggap kami benar2 telah mencampuri arak itu dengan racun, jangankan Tian-heng, bahkan aku sendiripun bingung oleh kejadian ini, kemudian barulah kudengar laporan Siau-hong yang mengatakan Tian-heng tidak biasa dimandikan orang dan buka sendiri kran air di dalam kamar mandi itu, maka aku lantas menduga Tian-heng telah salah membuka kran, air hangat yang seharusnya dipakai telah salah memakai air dingin."
Selesai berkata, Siang-lin Kongcu tertawa ter-bahak2, berulang kali dia minta maaf pula. Tiat-pi-to-liong ikut ter-bahak2, katanya.
"Ha-haha, dengan peristiwa ini, kamipun dapat menyaksikan sampai dimana keberanian engkoh cilik, sungguh perbuatan yang mengagumkan."
Kakek bungkuk ini termasuk jago persilatan terkemuka, gelak tertawanya yang nyaring menggetar seluruh ruangan, berulang kali dia acungkan jempolnya memuji kejantanan Tian Pek.
Tiat-ih-hui-peng juga ikut berkata.
"Kukira lebih baik jangan kau pikir yang bukan2, ketahuilah Siang-lin Kongcu adalah ksatria muda yang berjiwa luhur. simpatiknya maupun keramah-tamahannya sudah tersohor di seantero jagat, sekalipun dia sakit hati padamu juga tak nanti meracuni kau, maka semua ini hanya terjadi secara kebetulan saja, bagaimanapun juga engkau harus mempercayainya!"
Perlu diketahui, Tiat-pi-to-liong serta Tiat-ih-hui-peng sama2 disebut Kim-hu-siang-tiat-wi (dua pengawal baja dari istana keluarga Kim), kedudukan mereka dalam keluarga Kim sangat tinggi, nama besar mereka di dunia persilatanpun sangat terhormat, dengan derajat mereka itu tentu saja mereka takkan bicara bohong.
Sekalipun demikian Tian Pek yang keras kepala tetap tidak percaya.
"Memang aku Tian Pek tak biasa dilayani orang,"
Demikian katanya.
"tapi air dalam bak mandi itu bukan aku sendiri yang mengisinya, tentu saja aku mempercayai apa yang diucapkan Cianpwe berdua, selain itu akupun percaya bahwa Kim-kongcu adalah seorang laki2 sejati yang tak suka mencelakai orang dengan cara yang licik, setelah aku pikirkan kembali, kurasa kejadian ini mungkin hanya kebetulan saja, bisa jadi aku masuk angin dan tiba2 pingsan, atau mungkin aku tak kuat minum arak sehingga baru tiga cawan sudah mabuk?"
Perkataan Tian Pek itu tidak menuduh siapaa, tapi setiap orang dapat menangkap maksud ucapannya itu.
Siang-lin Kongcu termasuk tokoh persilatan yang berkedudukan tinggi, sudah tentu ia tak tahan mendengar sindiran Tian Pek yang tajam itu.
Jangankan Siang-lin Kongcu, Kim Cay-hong juga melengak setelah mendengar perkataan itu, lebih2 kedua kakek "pengawal baja"
Itu, mereka menjadi gusar dan segera hendak bertindak.
Tapi Siang-lin Kongcu tetap tenang2 saja, dia tidak marah oleh sindiran Tian Pek.
ia lantas berpaling dan berkata kepada Siau-hong, si dayang berbaju putih, katanya dengan dingin.
'"Membohongi majikan, melayani tamu dengan angkuh, tahukah berapa besar kesalahan yang kau lakukan?
Hm, perbuatan semacam itu tak dapat diampuni, apakah perlu kukatakan pula?"
Berubah hebat air muka Siau-hong demi mendengar perkataan itu, dia tertegun sejenak lalu tanpa mengucapkan sepatah katapun dia mengundurkan diri dan ruangan itu.
"Blang!"
Dari luar segera terdengar suara benturan keras, lalu suara benda berat terjatuh, kemudian suasanapun hening kembali.
Dari suara tersebut Tian Pek dapat menduga apa yang telah terjadi, betapa terperanjatnya anak muda itu, ia berpikir.
"Masa beberapa patah kata Siang-lin Kongcu tadi sudah cukup membuat dayang itu membuuuh diri? Ah, tak kusangka begini keras peraturan rumah tangga keluarga Kim ..."
Bagi pandangan Tian Pek, peristiwa itu dianggapnya sebagai suatu kejadian yang amat menggetarkan hati, tapi bagi anggota keluarga Kim kejadian itu sama sekali bukan apa2, se-akan2 tak pernah terjadi sesuatu, malahan air muka beberapa orang itu tetap tenang.
Sesaat kemudian, Siang-lin Kongcu berdiri dan berkata.
"Beristirahatlah baik2, tiga hari lagi kutanggung Tian-heng akan sehat kembali seperti sediakala!"
Habis bicara tanpa berpaling lagi ia berlalu dari situ dengan membawa Kim-hu-siang-tiat-wi serta keempat dayang cilik itu.
Sementara itu Beng-beng dan Lan-lan entah sudah kemana perginya, mungkin bermain di luar-Dengan begitu, dalam ruangan hanya tinggal Kim Cayhong dan Tian Pek berdua saja.
Memandangi anak muda itu, dengan rawan Cay-hong berkata "Kutahu tindakan kakakku ini akan dianggap suatu penghormatan besar bagi orang lain, tapi bagi dirimu mungkin kebalikannya, tentunya kau merasa tidak senang dengan peristiwa itu?"
"Aku tak tahu apa yang kau masudkan, coba terangkan?"
Sahut anak muda itu.
Ia sudah telanjur dendam pada keluarga Kim, setelah menyaksikan peristiwa tadi, ia tambah benci dan muak, sekalipun menghadapi Kanglam-te-it-bi-jin atau perempuan tercantik di Kanglam, sikapnya tetap ketus.
Kim Cay-hong tidak menghiraukan keketusan anak muda itu, dengan suara halus ia berkata.
"Engkau harus mengerti, Siau-hong bukanlah seorang dayang biasa, dia adalah pembantu rumah tangga kami yang mempunyai kedudukan tinggi, tapi sekarang hanya disebabkan dia salah melayani tamunya, kakak telah menghadiahkan kematian baginya, andaikata kejadian ini berlangsung dihadapan jago persilatan yang lain, maka mereka pasti akan merasa terharu dan amat berterima kasih, mereka pasti akan berbakti mati2an kepada keluarga kami. Sedang kau, kau sama sekali berbeda... ."
Kim Cay-hong hendak melanjutkan kata2nya, tapi Tian Pek lantas tertawa dingin dan memotong.
"Aku tidak sekejam itu, memancing rasa terima kasih orang dengan korbankan jiwa orang lain. Jika menginginkan aku berbakti kepadanya dengan mengorbankan nyawa orang, hal ini malah menimbulkan rasa benciku."
"Itulah sebabnya kenapa kukatakan kau berbeda dengan orang lain!"
Seru Kim Cay-hong.
"Cuma didalam peristiwa ini engkohku tiada maksud membeli simpatimu, dia bertindak demikian berdasarkan kebijaksanaan dan keadilan."
"Hmm!"
Tian Pek mendengus.
Kim Cay-hong adalah gadis yang cerdik, berhadapan dengan dia, tanpa bicarapun dia dapat membaca isi hati orang, dan cukup dengan pandangannya orangpun akan tahu apa yang dia harap agar dikerjakan.
Karenanya dengusan Tian Pek telah mengejutkan dia, ditatapnya anak muda itu dengan tercengang, kemudian ujarnya lagi.
Baca Juga: Kembalinya Sang Pendekar Rajawali 9
Baca Juga: Pedang Ular Emas 8