Ceritasilat Novel Online

Hikmah Pedang Hijau 3

Eps 3 Hikmah Pedang Hijau - Gu Long

Baca online Hikmah Pedang Hijau - Gu Long

Cersil Hikmah Pedang Hijau - Gu Long.

"Oh, rupanya saudara Hoan Soh! Tunggu sebentar, akan kulepaskan tali pengikat tubuhmu." -Seraya berkata ia hampiri Hoan Soh dan melepaskan tali yang meringkus tubuh orang itu. Agaknya orang itu tak menyangka kalau Tian Pek akan menyentuh tubuhnya, ingin menghindarpun sudah tak keburu. Muka orang itu jadi merah, teringat selama hidupnya yang senantiasa tinggi hati dan angkuh, tak tersangka sekarang diperlakukan sekehendak orang tanpa bisa melawan, hatinya sakit seperti di-iris2, air matapun lantas bercucuran. Tentu Tian Pek tak tahu perasaan orang, selesai melepaskan tali pengikat, ketika dilihatnya orang malah mengucurkan air mata, ia lantas menghiburnya.

"Hoan-heng, kenapa kau kesal hanya karena terikat sedikit saja7 Anggaplah kejadian ini sebagai pengalaman."

Kemudian iapun menceritakan pengalaman sendiri tentang penderitaannya serta penghinaan yang pernah dialaminya selama ini.

Mendengar ceritanya, Hoan Soh sangat terharu, iapun berterima kasih atas simpati oraug, tanpa terasa timbul kesan baiknya terhadap diri Tian Pek.

Setelah tali belenggunya terlepas, ternyata Hoan Soh belum juga mampu bergerak, Tian Pek baru tahu kalau jalan darahnya tertutuk, ia hendak meng-urut Hiat-to yang tertutuk itu, namun bagaimana pun juga Hoan Soh menolak bantuan tersebut.

Meski merasa heran.

apalagi dilihatnya air muka pemuda itu berubah menjadi merah, tapi Tian Pek adalah pemuda yang masih polos dan bersih, tak pernah terpikir olehnya akan hal2 lain.

Karena bantuannya selalu ditolak, akhirnya ia gunakan "Leng gong hut hiat" (Membebaskan jalan darah dengan kebutan dari jauh) untuk membebaskan jalan darah Hoan Soh yang tertutuk.

Kepandaian sakti ini baru berhasil dipelajari oleh Tian Pek dari kitab pusaka So-kut siau hun-thian hut-pit-kip, ia hanya melakukan gerakan seperti apa yang tercatat dalam kitab itu, ia tak menyangka kalau kepandaian tersebut mempunyai daya guna sehebat ini.

Diam2 Hoan Soh terperanjat, ia tak menyangka dalam penjara ini terdapat seorang jago persilatan yang berilmu silat tinggi.

Pada saat itu, tiba2 cahaya api berkilau di luar jendela, menyusul terdengar suara bentakan serta suara bentrokan senjata yang ramai berkumandang semakin dekat ...

Mereka tertegun, belum lagi sempat berpikir, terdengar suara benda berat jatuh ke lantai di luar penjara, agaknya ada orang roboh tertutuk.

Menyusul mana pintu penjara dibuka orang dan sesosok bayangan muncul di depan pintu.

"Cepat lari!"

Orang itu berseru.

Sekilas pandang Tian Pek mengenali orang sebagai paman Lui yang berambut awut2an.

Sebelum pemuda itu sempat berbicara, paman Lui telah lari kembali ke sana.

Tanpa pikir Tian Pek tarik tangan Hoan Soh dan lari keluar penjara.

"Heyo kabur!"

Serunya.

Dengan cepat mereka kabur keluar penjara, sementara cahaya api telah men-jilat2 ruang serambi sekitar penjara, sinar golok dan bayangan pedang berkelebat di udara, puluhan orang sedang terlibat dalam pertarungan yang sengit di sana.

Suara bentrokan senjata, bentakan menggelegar memecahkan kesunyiao malam, pertarungan berlangsung dengan sengitnya.

Korban sudah banyak yang berjatuhan, suara rintihan dan jerit kesakitan berkumandang silih berganti, kutungan badan dan ceceran darah membuat suasana amat mengerikan.

Tian Pek celingukan kesana kemari berusaha mencari jejak paman Lui, namun tak nampak lagi bayangan orang tua itu.

Hoan Soh sendiri kelihatan gelisah, sebab ia lihat orang dari pihaknya sudah banyak jatuh korban, sambil bertempur sembari mundur, tampaknya keadaan mereka sudah payah sekali.

Sebaliknya orang2 Pah-to-san-ceng makin lama semakin gagah berani.

terutama seorang Tosu buta, ilmu pukulannya sangat dahsyat dan sukar dilawan.

Hoan Soh tak kenal siapa Tosu buta itu.

Dilihatnya Tosu itu dikerubut tiga orang yaitu kedua saudara Kim dari Penggu-san serta kakak kedua-nya Tui-hong-kiam ( pedang pengejar angin ) Hoan Kiat, namun Tosu buta itu masih dapat bertempur dengan gagah berani, pedang ketiga orang ternyata tak mampu mendekati si Tosu buta, sebaliknya mereka malah tercecar oleh pukulan si Tosu yang dahsyat.

Suatu ketika, tiba2 Tui hong-kiam Hoan Kiat mengeluarkan jurus serangan yang ampuh Ki-hong-can-ceng-cu (Angin puyuh menyapu rumput kering), sekaligus ia menusuk tiga Hiat-to.

yaitu Sam-kiat, Hong wan serta Sin-tong di punggung Tosu buta itu.

Pada waktu itu si Tosu buta sedang mencengkeram muka Lotoa keluarga Kim dengan jarinya yang terpentang lebar, sedang tabasan telapak tangan kanannya membacok Kim-loji.

Kedua saudara keluarga Kim itu segera merasakan daya tekanan yang maha dahsyat menyerang tubuh mereka.

Dalam keadaan demikian, uatuk menghindar sudah tak sempat lagi, tampaknya mereka segera akan roboh ditangan Tosu buta itu.

Untung serangan Tui-hong-kiam tiba tepat pada saat yang gawat itu, ujung pedang secepat kilat mengancam tiga Hiat-to di punggung Tosu buta itu.

Meskipun matanya buta, namun Tosu itu cukup tangguh, punggungnya se-olah2 mempunyai mata cadangan, ketika ujung pedang Tui-hong-kiam hampir "mencium"

Punggungnya. tiba2 ia putar badan sambil bergeser. Dengan gerakan tersebut tusukan Tui-hong-kiam jadi meleset.

"Kena!"

Hardik Tosu buta itu sambil mendelik, secepat kilat ia tabas tubuh Tui-hong-kiam Hoan-kiat.

Pada serangan tadi Tui hong-kiam telah mengerahkan segenap kekuatannya, menurut perkiraannya serangan tersebut pasti akan bersarang telak di punggung musuh.

Siapa tahu Tosu buta itu mahir mendengar angin membedakan arah, ketajaman pendengarannya melebihi ketajaman matanya, bukan saja serangan maut Hoan Kiat berhasil dihindarkan, malahan menghadiahkan pula sebuah pukulan maut.

Terkesiap Tui hong kiam Hoan kiat, padahal tubuhnya masih terapung di udara, jelas tak mungkin berpindah keduduknn lagi, keluhnya di dalam hati.

"Mati aku!"

Keadaan amat gawat. tampaknya Tui-hong kiam bakal mampus di bawah pukulan lawan, mendadak sesosok bayangan melesat tiba dan menangkis serangan ampuh si Tosu dengan keras lawan keras.

"Bluk!"

Benturan keras menggelegar, jiwa Hoan Kiat dapat diselamatkan.

Tui-hong-kiam buru2 melayang turun ke tanah.

dan menyingkir jauh2.

Karena adu pukulan dahsyat tadi, tubuh penolong itupun mencelat sejauh dua tombak, setelah berjumpalitan di udara, ia baru hinggap ke bawah, itupun harus mundur sempoyongan lagi keberapa langkah.

Tian Pek dapat mengikuti semua kejadian itu dengan jelas, iapun melihat orang yang berhasil menolong jiwa Tui-hong-kiam Hoan Kiat tak lain tak bukan adalah Hoan Soh yang tadi berdiri di sampingnya.

Setelah lolos dari kematian, rasa kaget dan ngeri masih terbayang di wajah Hoan Kiat, pcluh dingin membasahi badan, sambil silangkan pedang di depan dada ia berdiri tertegun.

Hoan Soh sendiri merasa lengannya jadi kesemutan, darah bergolak di dalam dadanya, meekipun tak sampai roboh terjungkal, darah hampir menyembur keluar dari tenggorokannya, sinar matanya pudar, mukanya yang tampan menjadi pucat.

"Hahaha, anak hebat!"

Teriak si Tosu buta sambil tertawa keras. 'Berapa banyak komplotan kalian? Hayo maju semua! Akan Toya antar kalian ke surga."

Di mulut ia bicara, tangannya juga tidak menganggur, telapak tangan kirinya kembali didorong ke muka melancarkan satu pukulan yang dahsyat ke arah kedua Kim bersaudara serta Hoan Kiat, sementara tangan kanannya diangkat tinggi2, ketika bergoyang tulangnya berbunyi gemerutuk, telapak tangan itu segera berubah semu hijau, lalu dengan gerakan menabok ia hantam batok kepala Hoan Soh.

Rupanya Tosu buta itu penasaran dan marah karena Hoan Soh mengalangi serangannya tadi, maka sekarang ia hendak mencabut nyawanya, pukulan ini dilancarkan dengan sepenuh tenaga.

Hoan Soh terperanjat, ia lihat angin pukulan yang dilancarkan Tosu buta itu ibarat gulungan ombak samudera, uutuk menghindar jelas tak mungkin lagi, terpaksa sambil mengertak gigi Hoan Soh kerahkan segenap tenaga untuk menangkis hantaman lawan dengan gerakan Pak-ong-ki teng (Raja lalim mengangkat wajan).

Pukulan dahsyat yang mengincar kedua Kim bersaudara dan Hoan Kiat tadi membuat mereka ngeri, ketiga orang cepat melompat mundur ke belakang.

Sewaktu menangkis serangan pertama tadi Hoan Soh telah menderita luka dalam yang cukup parah, dalam keadaan begini mana sanggup ia terima serangan kedua yang maha dahsyat ini?

Sekuatnya ia menangkis pula, segera dirasakan daya tekanan maha dahsyat mendadak menekan tubuhnya, kontan ia merasakan pandangannya menjadi gelap, darah segar tertumpah, tubuhpun roboh terkapar.

"Tahan! Lihat serangan!"

Bentak Tian Pek sambil menerjang maju.

Dengan cepat ia tonjok dada Tosu buta itu.

Merasakan datangnya serangan dari depan, Tosu buta itu menjadi murka, napsu membunuh menyelimuti wajahnya.

Ia paling benci terhadap segala macam main kerubut dan main sergap, sebab matanya menjadi buta justeru akibat dikerubut dan disergap oleh musuh yang berjumlah banyak.

Setelah menjadi buta ia tidak putus asa, dengan tekad yang teguh ia memperdalam ilmu silatnya semakin tinggi.

Tiga puluh tahun lamanya ia mengasingkan diri di gunung yang sepi, ketika kepandaian silatnya sudah berhasil mencapai apa yang dinamakan menggunakan telinga menggantikan mata, ia baru terjun kembali ke dunia persilatan, tentu saja ilmu silatnya kini entah berapa kali lipat lebih tangguh daripada tiga puluh tahun yang lalu.

Waktu ia terjun lagi ke dunia persilatan, suasana Kangouw sudah banyak mengalami perubahan, musuh yang pernah mengerubutnya sudah banyak yang mati, sisanya telah dibunuh pula olehnva, dalam keadaan terluntang-lantung tanpa tujuan akhirnya ia diserap masuk ke Pah to-san-ceng dan jadilah salah satu di antara sepuluh jago tertangguh di bawah pimpinan Ti seng jiu Buvung Ham.

Malam ini Pah-to-san-ceng diserbu musuh, untuk membalas budi kebaikan yang diterima dari Buyung-cengcu selama ini, Biau-bok Tojin atau si Tosu buta bertempur mati2an dengan ilmu silatnya yang tinggi, hanya beberapa gebrak saja banyak musuh yang dibinasakan olehnya.

Melihat ketangguhan lawan, Tui-hong-kiam Hoan Kiat yang berkedudukan nomor dua di antara urutan Hoan-bun-sam-kiat ( tiga orang gagah dari keluarga Hoan ) segera menghadapi musuhnya, tapi ia memang bukan tandingan Biau-bok Tojin, hanya beberapa gebrakan saja ia sudah terdesak.

Melihat majikan mudanya terdesak, kedua Kim bcrsauda dari Peng-gu-san segera ikut mengerubut.

Justeru kerubutan inilah menimbulkan dendam si Tojin buta, ia melancarkan pukulan maut "Hek-sat-ciang"

Yang terkenal, setelah ketiga orang itu melompat mundur, mendadak sasaran pukulannya beralih pada Hoan Soh.

Dalam keadaan payah, mana Hoan Soh mampu menahan pukulan itu?

Seketika matanya menjadi gelap dan muntah darah terus terkapar di tanah.

Si Tosu buta itu masih penasaran, dia menghantam pula, bila pukulan ini kena pada sasarannya, mustahil badan Hoan Soh tidak hancur lebur.

Syukurlah Tian Pek cepat bertindak, sambil membentak ia menerjang maju menyambut pukulan itu, meski tidak pakai jurus serangan, tetapi tenaga murni yang dimilikinya telah dikerahkan sepenuhnya.

"Blang!"

Benturan keras menggeletar pukulan Tian Pek dan si Tosu buta yang sama2 tangguhnya saling membentur.

pancaran angin keras tersebar keempat penjuru, batu dan pasir beterbangan, suasana sungguh sangat mengerikan.

Tergentar pukulan Hek-sat-ciang yang ampuh, beruntun Tian Pek menyurut mundur lima enam langkah, pandangannya menjadi gelap, telinganya mendengung, diam2 ia mengakui betapa lihaynya pukulan lawan.

Ia tidak tahu bahwa berkat ilmu dari "Thian-hud pit-kip"

Yang dilatihnya itulah dia mampu menahan serangan si Tosu, andainya peristiwa ini terjadi sebelum ia berlatih ilmu itu, jangankan melawan mungkin sedari tadi jiwanya sudah melayang.

Si Tosu buta itupun tersentak mundur dengan sempoyongan, jubah yang dikenakan menggelembung, diam2 ia merasa terperanjat.

"Sungguh kuat tenaga pukulannya, rasanya mengandung daya pukulan dari kalangan Budha, entah siapakah orang ini? Belum pernah kujumpai manusia setangguh ini!"

Demikian pikir Biau bok Tojin.

Di tengah bentakan Tui-hong-kiam serta kedua Kim bersaudara dari Peng-gu-san serentak mereka menyergap maju pula, tiga pedang sekaligus menusuk tubuh si Tosu.

Akibat getaran tenaga pukulan si Tosu buta, Tian Pek merasa kepalanya pening, sesaat lamanya ia baru pulih kembali, segera dilihatnya Hoan Soh terkapar ditanah dengan muka pucat seperti mayat, darah merembes di ujung bibirnya.

Lalu dilihatnya Tui-hong-kiam serta kedua Kim bersaudara sedang bertempur pula.

Tian Pek tidak ingin terlibat dalam pertempuran lagi, segera ia merangkul tubuh Hoan Soh dan dibawa kabur ke tempat gelap.

"Keparat! Jangan kabur!"

Terdengar bentakan nyaring menggema di udara.

Berbareng sesosok bayangan meluncur tiba, sewaktu masih di udara, telapak tangannya terus melepaskan satu pukulan dahsyat.

Posisi Tian Pek tidak menguntungkan karana dia membawa seorang, ia merasakan dahsyatnya ancaman, ia tak berani menyambut secara gegabah, cepat ia meluncur kembali ke bawah.

Gesit sekali gerak tubuh pendatang itu, sambil menyerang dari jauh secepat terbang iapun melayang tiba di atas kepala Tian Pek, jari tangannya seperti cakar, dengan gaya In-liong-hian-jiau (Naga sakti unjuk cakar dan balik awan ), ia mencengkeram kepala Tian Pek.

Cepat sekali serangan itu, jarak lingkupnya juga cukup luas, kemanapun musuhnya mau kabur, pasti tak dapat lolos dari ancaman tersebut.

Dalam keadaan begini tak mungkin bagi Tian Pek untuk berkelit, mau menangkis juga tiada tenaga yang cukup, apalagi dia tak ingin Hoan Soh yang ada dalam rangkulannya itu terluka oleh serangan musuh.

Sedikit dia ragu, desiran angin tajam sudah menyambar tiba, rasa sakit menyengat kulit kepala dan tenaga dahsyat menekan.

"Celaka....."

Keluh Tian Pek di dalam hati-Syukurlah pada saat terakhir sesosok bayangan kembali meluncur tiba, gerak tubuh orang ini jauh lebih cepat, setelah meluncur tiba dan berputar setengah lingkaran di udara, lalu mcnerjang bayangan orang yang sedang menyerang Tian Pek itu.

"Bluk!"

Benturan nyaring terjadi, dengan cepat kedua sosok bayangan itu melayang tuiun ke samping.

Bayangan orang pertama yang melancarkan serangan maut itu kiranya si kakek botak adanya, sedang bayangan yang muncul kemudian bukan lain adalah paman Lui yang berambut awut2an.

Dengan muka hijau pucat si kakek botak melototi paman Lui, teriaknya kemudian.

"Lui Ceng-wan! Kau 'pagar makan tanaman"

Bukan bantu rekan sejawat malahan membantu orang luar?"

"Suma Keng! Kau jangan ngaco belo. kau anggap aku orang she Lui ini manusia rendah begitu?"

Bentak paman Lui dengan murka.

Tian Pek terkesiap, baru sekarang ia tahu kakek botak itu adalah Tui-hun-leng (genta pengejar sukma) Suma Keng yang tersohor dua puluhan tahun yang lalu.

Dahulu Tui-hun-leng Suma Keng adalah seorang iblis kenamaan di Wilayah barat-laut, bersama Tok kka-hui-mo (kaki tunggal iblis terbang) Li Ki disebut sebagai Say-gwa-siang-jan (dua manusia cacat dan luar perbatasan).

Bukan saja ilmu silatnya sangat tinggi, hatipun keji, tindak tanduknya aneh sekali, bila seseorang sampai terikat sengketa dengan dia, sebelum dia berhasil membinasakan lawannya, persoalan takkan disudahi.

Karena wataknya yang aneh itu, kebanyakan jago silat baik dari kalangan putih maupun dari golongan hitam sama jeri kepadanya, memandang kedua orang itu sebagai ular berbisa, binatang beracun, siapapun tak berani cari sctori pada mereka.

Entah mengapa, ternyata tokoh sakti yang berwatak aneh inipun dapat ditarik oleh Buyung-cengcu untuk mengabdi kepadanya.

Begitulah Tui-hun leng Suma Keng telah ber-seru dengan suara ketus.

"Kalau kau bukan 'pagar makan tanaman', kenapa kau alangi aku membekuk buronan dari perkampungan kita ini?"

"Mungkin Suma-heng salah lihat orang. pemuda ini adalah seorang angkatan muda kerabatku, masa dia jadi buronan?"

"Hehehe, aku dan Cengcu sendiri yang membekuk bangsat itu dan menjebloskannya ke penjara, masa bisa salah lihat?"

Teriak Suma Keng sambil tertawa dingin.

"Lui Ceng-wan, kulihat kau ini memang 'pagar makan tanaman', tak tahu balas budi ...."

"Tutup mulutmu!"

Bentak paman Lui dengan gusar.

"Andaikan aku Lui Ceng-wan betul2 'pagar makan tanaman', apa sangkut pautnya dengan kau? Berdasar apa kau setan botak ini berani urus diriku?"

Tui hun-leug Suma Keng paling benci katau orang mencemoohkan dia sebagai setan botak, mendengar makian tersebut, mukanya menjadi beringas, dengan sinar mata garang ia berteriak lantang "Lui gila, orang kira mungkin jeri kepadamu, tapi aku Suma Keng tak nanti gentar padamu.

Hm, jangan kau kira iimu pukulanmu Jit-cap ji-hok-thian-hud-ciang (tujuh puluh dua jalan pukulan Budha langit) tiada tandingannya dikolong langit ini, padahal bagiku tidak lebih hanya permainan anak kecil saja."

"Bagus. kalau kau tidak percaya, hayo majulah! Kita buktikan saja siapa lebih unggul!"

Tantang paman Lui sambil pasang kuda2.

Jilid 06 . Penyerbuan Keluarga Hoan ke Pah-to-san-ceng 'Baik! Akan kucoba sampai di mana kehebatan ilmu pukulan orang gila seperti kau ini!"

Bentak Tui hun-leng sambil merentangkan tangan -tunggalnya, secepat kilat ia hantam dada paman Lui.

Angin pukulan menderu, udara serasa sesak, sungguh mengejutkan daya pukulannya.

Paman Lui tetap tersenyum, ia berdiri tegak kukuh bagaikan bukit, walaupun serangan musuh amat dahsyat, akan tetapi ia seperti tidak menghiraukannya.

Pukulan Tui-hun-!eng tampaknya segera akan bersarang di dada paman Lui, tapi pada detik terakhir itulah mendadak pikulan telapak tangan berubah menjadi cengkeraman.

Segara ia hendak mencengkeram bagian mematikan di perut paman Lui.

Tian Pek ikut tegang melihat kelihaian serangan tersebut, ia tak menduga hanya dengan satu tangan ternyata Thi-hun-leng Sum Keng mampu melancarkan serangan yang beraneka ragam dalam waktu sekejap.

Tapi paman Lui tetap berdiri tegak, ia sama sekali tak gugup oleh ancaman maut tersebut.

Ia tunggu begitu cengkeraman lawan mendekat dadanya, mendadak ia bergerak, begitu cepatnya sampai Tian Pek tidak dapat mengikuti dengan jelas.

Dia merasakan pandangannya jadi kabur dan tahu2 paman Lui telah lolos dari cengkeraman musuh, berbareng itu pula telapak tangan kanan paman Lui bagaikan golok membacok jalan darah "Hong-hu-hiat"

Di belakang kepala kakek botak itu, sedang kaki kirinya mendepak Wi sui-hiat bagian perut, satu jurus dua gerakan, cepat dan lihainya luar biasanya.

Paman Lui bertarung dengan tangkas, serangan dibalas dengan serangan lebih hebat, pukulan dan tendangan digunakan sekaligus.

Tian Pek amat tertarik, ia mengikuti pertarungan itu dengan cermat.

Dalam pada itu si kakek botak sempat melompat jauh ke samping, ia berhasil lolos dari Suatu pukulan paman Lui yang maha dahsyat, ia menjadi murka, matanya merah membara dan mukanya menyeringai seram.

Tanpa bicara, kembali si kakek botak menerjang maju.

Pertarungan sengit segera berkobar pula, dua orang itu sebentar bergebrak sebentar berpisah, semuanya dilakukan dengan gerak cepat dan jurus serangan ampuh.

Tian Pek sampai kabur pandangannya menyaksikan pertarungan itu, iapun kegirangan hingga niatnya menolong orang judi terlupakan.

Matanya terbelalak, mulutnya melongo, tanpa berkedip dia ikuti semua jurus pertarungan yang dikeluarkan kedua orang itu.

Pepatah bilang.

"Bisa menyaksikan jago lihai bertempur, lebih untung daripada berguru selama tiga tahun". Tian Pek sangat mendambakan ilmu silat yang tinggi untuk membalas dendam Kematian ayahnya, sayang selama ini tak pernah bertemu dengan guru yang pandai, ilmu silat yang sempat dipelajari-pun tak lebih cuma silat kampungan yang kasar, untuk menjagoi dunia persilatan tentu saja masih terpaut jauh sekali Untung paman Lui menyekap nya di dalam gua batu itu, bahkan memberinya kitab paling sakti di kolong langit itu, walaupun cuma meraba-2 dalam kegelapan toh akhirnya kepandaian tersebut berhasil dikuasainya. Sekalipun tenaga dalam yang dia miliki sekarang sudah mencapai tingkatan tinggi, apalagi telah digembleng pula oleh suara seruling maut dan pukulan dahsyat Leng hong Kongcu yang tak kenal ampun, tapi sayang ia belum tahu cara bagai mana menggunakan ilmunya. Kini terpampang kesempatan yang sangat baik baginya untuk menikmati pertarungan antara dua tokoh silat sakti, tentu saja dia terkesima dan lupa daratan, setiap gerak tipu kedua jago sakti itu benar benar membuatnya keranjingan. Baik paman Lui maupun Tui hun leng Suma Keng sama tergolong jago lihai dari dunia Kangouw, tenaga dalam mereka sempurna dan Kungfunya tinggi, walaupun mereka sama2 dihargai di Pah to-sanceng, tapi dalam hati masing2 saling tidak mau kalah. Hanya semasa damai saja mereka bisa rukun dan berteman, dikala pertengkaran tak bisa dihindari lagi, maka merekapun saling menyerang tanpa kenal ampun. Untung saja jumlah musuh yang menyerang ke perkampungan malam ini banvak jumlahnya, apalagi sang Cengcu dan bawahannya sama turun ke gelanggang sana sehingga tak ada yang menaruh perhatian pada pertarungan dua jago tua ini. Pertarungan bertambah seru, baik paman Lui maupun Tui hun leng Suma Keng sama2 mengeluarkan seluruh kepandaiannya, pertarungan berjalan cepat dan ganas, hanya dalam sekejap berpuluh gebrakan sudah dilewatkan. Tian Pek terkesima sambil memondong Hoan Soh yang tak sadar, suasana gempar di sebelah sana seakan2 tak terdengar olehnya, iapun lupa dirinya masih berada di tempat yang berbahaya.

"Besar amat nyalimu! Tidak lekas lari, tunggu apalagi di sini?!' demikian Tian Pek mendengar bentakan tertahan mengiang di tepi telinganya, lalu ujung baju seperti ditarik orang Tian Pek kaget dan cepat berpaling, dia lihat bayangan seseorang lagi kabur ke tempat kegelapan. Baru Tian Pek ingat kalau dirinya masih berada dalam sarang naga dan gua harimau, apalagi Hoan Soh yang pingsan masih berada dalam pelukannya, cepat dia kabur mengikuti bayangan kecil tadi. Bayangan itu sangat apal dengan jalan2 di dalam perkampungan ini, jalan yang di tempuh rata2 adalah jalan yang remang2 dan sepi. Cepat dan gesit gerak tubuhnya, hanya sebentar saja bayangan itu membawa anak muda itu keluar dari perkampungan menuju hutan lebat di depan sana. Mata Tian Pek yang kini awas dalam kegelapan itu segera dapat mengenali bayangan di depan seperti Wan-ji yang masih ke-kanak2an itu Sekarang bayangan orang itu sudah berhenti di atas bukit kecil, di tengah embusan angin malam, rambutnya yang panjang tertiup angin, siapa lagi dia kalau bukan Tian Wanji.

"Eeh, siapa itu yang kau pondong?"

Tanya si nona dengan mata terbelalak.

"O, dia adalah teman baruku, namanya Hoan Soh"

Jawab Tian Pek terus terang.

"Nona, kau ..."

"He, dia she Hoan? Dia pasti salah seorang musuh keluargaku, coba kulihat siapa dia?"

Sambil berkata ia lantas melompat maju dan mencengkeram muka Hoan Soh.

Kaget Tian Pek, dia mengira Wan-ji hendak menyerang Hoan Soh, cepat ia menyingkir ke samping menghindarkan tubrukan itu.

Meski Hoan Soh belum lama dikenalnya, na mun ia merasa cocok setelah ber-cakap2 dalam penjara, sudah tentu ia tak membenarkan temannya dilukai orang Tian Pek menghindar dengan cepat, tapi Wan-ji bertindak lebih cepat lagi.

sekali sambar, tahu2 ikat kepala Hoan Soh kena diraihnya hingga terlepas.

"Haah.....!"

Jerit Tian Pek kaget.

Wan-ji juga berseru terkejut, dia lantas mencibir dan mendengus gusar "Huh, rupanya seorang gadis, pantas kau membelanya mati2an.

Cemburu adalah sifat pembawaan setiap perempuan, apalagi yang memondong gadis itu adalah kekasihnya, tentu saja hati Wan ji panas sekali Rupanya sewaktu ikat kepala Hoan Soh tersambar lepas tadi, maka tampaklah rambutnya yang hitam panjang, ternyata dia adalah seorang gadis yang menyamar jadi lelaki.

"Aku....aku benar2 tidak tahu, aku ti..tidak tahu kalau dia seorang gadis....."

Seru Tian Pek gelagapan.

"Huh, tak perlu berlagak pilon!"

Ejek Wan ji mukanya masam dan bibirnva tetap mencibir.

Dasar perempuan, makin besar cintanya pada seorang lelaki, makin besar pula rasa cemburunya, apalagi kalau dia anggap kekasihnya berlagak bodoh.

tentu saja makin panas hatinya Walaupun Wan-ji masih polos, namun ia tetap perempuan yang punya rasa cemburu, kesan selama berkumpul waktu Tian Pek sakit sudah membekas dalam hatinya, diam2 ia mencintai pemuda itu, kini melihat seorang gadis lain berada dalam pelukan pemuda itu, tentu saja timbul rasa syiriknya.

"Huh, tadinya tak tahu, tapi sekarang kan sudah tahu kalau dia adalah perempuan?"

Serunya lagi dengan tak senang hati.

Dengan perkataan ini jelas dia suruh Tian Pek menurunkan Hoan Soh dari pondongannya.

Dasar Tian Pek adalah pemuda lugu yang tak tahu perasaan anak dara, ia tak bisa menangkap maksud orang, ia melirik sekejap Hoan Soh yang masih pingsan, kemudian memandang pula sekitar tempat itu, lalu bergumam.

"Lukanya teramat parah, aku harus menyembuhkan dulu lukanya."

Seraya berkata, tanpa menyelami lagi bagaimana perasaan Wan-ji, dia lantas membawa Hoan Soh ke dalam gua.

Rupanya waktu itu mereka berada di depan gua di mana ia pernah disekap paman Lui selama beberapa hari.

Tindakan Tian Pek ini makin menjengkelkan Wan-ji, sungguh ia tak mengira anak muda itu akan membawa seorang gadis ke dalam gua.

"Kau.....?"

Teriaknya dengan tercengang, ingin menghalangi, tapi lantas teringat sesuatu, sejenak dia berdiri tertegun, akhirnya dengan mendongkol dia meninggalkan anak muda itu berduaan dengan gadis lain.

Cepat nian gerak tubuhnya, hanya sekejap saja bayangan tubuhnya sudah lenyap di balik hutan sana.

Tian Pek tidak memperhatikan perubahan air muka Wan-ji dan Kepergiannya, yang diperhatikan olehnya sekarang hanyalah keadaan luka Hoan Soh.

Setelah membawanya masuk ke gua, ia baringkan gadis itu dipembaringan batu yang pernah digunakannya, kemudian pernapasannya diperiksa, ia merasa napas gadis itu sangat lemah sehingga boleh dibilang tak jauh dari liang kubur.

Dalam keadaan begini, Tian Pek tidak memikirkan soal pembatasan antara laki2 dan perempuan lagi, sesungguhnya iapun tak sempat berpikir sampai ke situ, menolong orang lebih penting.

Isi perut gadis itu sudah terguncang oleh pukulan sakti si kakek botak, sekarang Tian Pek ber usaha menggeser kembali isi perutnya ke tempat semula, semua jalan darah penting' di tubuh anak dara itu diurut dengan seksama.

Soh-kut-siau-hu memang ilmu yang tiada ta ranya, dalam waktu singkat saja Hoan Soh mulai merintih dan tersadar kembali dari pingsannya.

Tian Pek sendiri karena baru pertama kali ini menolong orang, banyak tenaganya yang terkuras hingga keadaannya sangat lelah.

Hoan Soh menarik napas panjang, ia membuka mata terasa suasana amat gelap, tiada sesuatu yang tertampak, ia tidak tahu di mana ia berada sekarang Lapat-lapat ia masih ingat bagaimana ia dilukai pukulan seorang Tosu buta, lalu pemuda yang senasib dalam penjara telah menolongnya dari ancaman maut, bagaimana selanjutnya ia tak tahu lagi karena keburu jatuh pingsan......

Di mana aku berada sekarang?

ingatan ini terlintas dalam benaknya.

"Aneh, siapa yang membawaku ke sini?"

Ia coba bergerak sedikit, ia merasa dada dan lambungnya tidak sakit sekalipun baru saja terluka siapa yang menyembuhkan lukanya itu?

Pelbagai pertanyaan berkecamuk dalam benaknya, apalagi di dalam gua yang gelap gulita, hampir saja gadis itu mengira dirinya sedang bermimpi.

Ketika meraba rambutnya yang terurai, gadis itu baru teringat bagaimana dirinya menyusup ke perkampungan Pah-io-san ceng bersama tiga kakak lelakinya untuk balas dendam bagi kematian ibunya, bagaimana ia menyaru sebagai lelaki dan bagaimana mereka berangkat di luar tahu ayahnya.

"Jika lukaku sudah baik, apa yang kutunggu lagi?"

Kembali ia berpikir.

"Kalau sekarang tidak kabur, bukan mustahil urusan bisa runyam nanti?"

Ia coba memandang sekitar tempat itu, meski Tian Pek yang ada di sampingnya tidak terlihat olehnya, tapi setitik cahaya ditemuinya di mulut gua sana.

Rupanya Tian Pek sedang bersemadi mengikuti pelajaran kitab pusaka itu, waktu itu hawa murni nya sedang berputar kembali kepusar hingga sama sekali tidak mengeluarkan suara, sampai suara napaspun tak kedengaran, tak heran kalau Hoan Soh tidak tahu hadirnya anak muda itu.

Pada saat Hoan Soh hendak keluar gua, waktu itu pula Tian Pek menyelesaikan latihannya, dia lantas menegur;

"Hoan heng......eh, salah, nona Hoan, engkau hendak ke mana?"

Hoan Soh terperanjat, agaknya dia tak men duga bahwa di dalam gua yang gelap itu masih ada orang lain, bukannya berhenti, dara itu malah cepat melayang keluar gua.

Maklum, seorang anak perawan mendadak mengetahui dirinya berada dalam gua yang gelap, dan tiba2 mendengar suara lelaki, tentu saja dia jadi panik dan sedapatnya ingin menghindarkan segala kemungkinan.

Tian Pek yang polos tentu saja tak berpikir sampai ke situ, dia cuma menguatirkan keadaan Hoan Soh dan kuatir kalau gadis itu ketemu musuh lagi setiba di luar gua.

padahal lukanya baru saja sembuh, maka tanpa berpikir anak muda itu segera menyusul keluar.

Angin berembus sepoi, bintang dan bulan sudah lenyap dari angkasa, ufuk sebelah timur sudah mulai memutih, sebentar lagi fajar akan menyingsing Ketika Tian Pek melompat keluar, Hoan Soh belum pergi jauh, dia berdiri di atas bukit dengan gaya yang menggiurkan, sekalipun pakaiannya adalah dandanan orang lelaki, namun semakin menambah kegagahannya di antara keayuannya "O, kiranya Tian-heng yang menyelamatkan aku!"

Seru Hoan Soh dingin.

"banyak terima kasih atas bantuanmu"

Dengan gaya wajar tanpa kikuk sedikitnya, dan lantas menjura kepada anak muda itu.

"Tak usah banyak adat!"

Cepat Tian Pek balas memberi hormat "Luka nona ... .nona Hoan baru sembuh? Sebaiknya jangan banyak bergerak"

"Jangan kuatir, aku sudah sehat kembali!"

Dengan ketus Hoan Soh menjawab, lalu melangkah pergi.

"Eeh ..nona, tunggu sebentar!"

Tiba2 Tian Pek mengejar dari belakang.

"Memangnya kenapa?"

Dengan marah Hoan Soh berpaling.

"Apa Tian-heng mengharapkan imbalan diriku karena engkau telah sembuhkan lukaku?"

Sungguh kata2 yang tajam dan menusuk perasaan, Tian Pek menjadi heran apa sebabnya sikap si nona mendadak berubah sedingin ini. Pikirnya.

"Aku toh tidak menyalahi kau, kenapa kau bersikap ketus padaku? Apakah aku salah karena telah menolong kau ... .?"

Selagi anak muda itu masih melengak, tiga sosok bayangan orang mendadak muncul dari sudut hutan sana.

Sungguh cepat gerak tubuh mereka, hanya sekejap tahu2 sudah tiba di depan Tian Pek, mereka mengenakan baju ringkas warna Jingga, tiga bilah pedang serentak mengancam di dada anak muda itu, bukan saja cepat dalam gerakan, ancaman itupun datang di luar dugaan, sebelum Tian Pek sempat berpikir sesuatu dia sudah terkepung dan terancam pedang ketiga orang pendatang itu.

Mereka berusia antara dua puluh sampai tiga puluhan tahun, muka tampan dan sorot matanya terang, dengan pandangan tajam serta nafsu membunuh yang tebal ketiga orang itu mengawasi Tian Pek lekat2.

ketiga orang pemuda ini tak dikenal Tien Pek, hanya pemuda yang berada di tengah yang pernah dijumpainya, yaitu orang yang bertempur melawan Tosu buta semalam, dari sini bisa ditebak kalau ketiga orang ini bukan orang dari Pah to-san-ceng.

"Toako."

Cepat Hoan Soh berseru.

"dia bukan antek Pah to-san ceng.."

"Anak muda, siapa gurumu? Kau berasal dari mana? Dan apa sebabnya kau melarikan adikku?"

Serentetan pertanyaan diajukan oleh lelaki yang pa ling tua usianya di antara ketiga pemuda itu.

"Lekas kau mengaku terus terang agar tidak menjadi setan penasaran Betapa mendongkol Tian Pek mendengar tegur itu, ia telah mengorbankan hawa murninya untuk menolong orang, bukan terima kasih yang diperoleh, malahan orang menggertaknya secara kasar. Dasar Tian Pek juga pemuda angkuh dan tinggi hati, tentu saja ia tak sudi tunduk di bawah ancaman orang, ia semakin membandel, seolah2 ancaman tersebut sama sekali tak diketahui olehnya, Ketiga pemuda berpakaian ringkas itu saling melirik dengan sinar mata menghina, mereka hanya mendengus dan tiada yang sudi buka suara. Anggota yang termuda berwatak paling berangasan, ia tak tahan menyaksikan keangkuhan Tian Pek, dengan gusar ia berteriak. 'Toako, coba lihat pakaian yang dikenakan bocah ini, sudah terang dia ini kaki tangan musuh, kita bereskan saja dia secepatnya, buat apa banyak omong?"' Mulut bicara, tanganpun segera bergerak, ujung pedangnya langsung menusuk ke dada Tian Pek. Tian Pek memang mengenakan mantel hitam yang melambangkan perkampungan Pah-io-san-ceng yaitu pemberian seorang anggota pengawal lawan sewaktu dia dipergoki berada. dalam keadaan polos tempo hari. Sementara itu ujung pedang musuh telah menyambar tiba dengan kecepatan luar biasa, sedetik kemudian pedang itu telah merobek dada baju anak muda itu. Merasa dadanya sakit, segera Tian Pek melakukan serangan balasan, telapak tangannya menghantam batang pedang lawan sekuatnya. Robeklah mantel hitam yang dipakai Tian Pek tersambar ujung pedang musuh, untung tidak sampai melukai otot tulangnya, darah bercucuran dari lukanya, tapi pedang lawan juga tergetar ke samping Pendekar muda itu tak menyangka kalau lawan yang masih muda belia itu memiliki tenaga dalam sekuat ini, ia merasa telapak tangan sendiri kesemutan dan sakit, hampir saja pedang terlepas dari genggamannya.

"He, hebat juga kau, rasakan pedangku ini!' teriak pendekar muda itu dengan penasaran. Diiringi bentakan, pedangnya berputar satu lingkaran dengan kilatan cahaya emas, dengan jurus Poat-cau-heng-eoa (membabat rumput mencari ular), dia babat pinggang lawan. Tian Pek mengegos ke samping, berbareng itu telapak tangannya direnggangkan, dengan gerakkan Poat-in-hian-jit (menyingkap awan tampak sang surya ), dia balas mebalas dada lawan. Kedua pemuda lain sama sekali sak menyangka kalau ilmu silat Tian Pek sedemikian tangguh, sekalipun dikerubuti tiga orang bersenjata tetap dapat balas menyerang. Sementara itu pemuda pertama tadi telah melancarkan kembali sebuah babatan kilat ke arah pinggang Tian Pek, merasakan berbahayanya serangan itu, cepat Tian Pek bertindak, tangan kiri dan tangan kanan serentak menolak ke depan, dengan angin pukulannya memaksa senjata lawan terguncang ke samping, menyusul sebuah tendangan kilat dilepaskan mengarah perut musuh. Terpaksa pemuda itu melompat mundur untuk menghindari tendangan musuh, sebelum ia sambung dengan serangan balasan, tiba2 Tian Pek juga melompat mundur, serunya dengan lantang.

"Percuma aku layani manusia tak tahu diri macam kalian Hm, hanya pandai main kerubut, selamat tinggali" -Tanpa menunggu jawaban, segera Tian Pek hendak melayang pergi. Tiga pendekar muda itu adalah jago pedang tersohor di sekitar daerah Tinkang, orang Kangouw menyebut mereka sebagai Hoan-si-sam-kiat ( tiga orang gagah keluarga Hoan ). Malam ini mereka membawa anak buahnya menyatroni Pah-to-san-ceng, meskipun perkampungan yang amat disegani orang itu berhasil mereka obrak-abrik, akan tetapi tiada keuntungan apapun yang berhasil mereka dapatkan. Dari dua puluh tiga orang jago yang dibawa mereka, kini tinggal mereka bertiga yang masih hidup, selebihnya sudah dibunuh habis oleh pihak lawan. menyadari bahaya yang mengancam mereka, dengan hati yang berat merekapun undurkan diri dari perkampungan musuh. Mereka tidak langsung mengundurkan diri dan pulang kandang, sebab Tui -hong -kiam Hdn Kiat sempat menyaksikan adik perempuan mereka dilarikan seorang pemuda tatkala ia bergebrak melawan si Tosu buta, kejadian ini segera dilaporkan kepada Toako dan Samtenya yang bernama Coh-citig kian (pedang tik kenal ampun) Hoan Cun serta Mo in-kiam (pedang gumpalan awan) Hoan Ing. Karena menguatirkan keselamatan adik perempuannya, merekapun masih berkeliaran di bukit sebelah belakang perkampungan untuk melakukan pencarian. Kebetulan mereka melihat seorang anak muda benda bersama adik perempuannya, maka dengan cepat mereka bermaksud merobohkan Tian Pek. Mereka tak menduga ilmu silat Tian Pek sedemikian lihainya, bukan saja usaha mereka gagal malahan pihak lawan sempat lolos dari situ. Pada mulanya keluarga Hoan dan keluarga Buyung berteman akrab, tapi dalam suatu pertikaian urusan perempuan hubungan menjadi retak, waktu itu banyak berita sensasi tersiar diluaran, karena malunya Hoan hujin (nyonya Hoan) melakukan bunuh diri hingga mengakibatkan permusuhan di antara kedua keluarga. Hoan-toaya ada maksud mengesampingkan persoalan itu daripada menerbitkan hal2 yang tak diinginkan, ia ambil keputusan untuk melupakan sakit hati itu. Maksudnya memang baik, yaitu agar urusan jadi selesai dan mereka pun bisa hidup dengan damai. Sayang putra-putrinya tak dapat melupakan kematian sang ibu, setiap saat mereka merencanakan pembalasan dendam. Kebetulan karena ada urusan penting Hoan-toaya berangkat ke selatan, kesempatan yang baik ini segera dimanfaatkan oleh keempat putera-puterinya untuk melakukan balas dendam kesumat. Mereka pimpin jago2 perkampungannya dan menyergap perkampungan Pah-to sam-ceng di tengah malam buta, sayang mereka salah menaksirkan kekuatan musuh, bukan saja sakit hati tak terbaiat, kekuatan yang mereka bawapun kocar kacir tak keruan, Ketika mereka jumpai Tian Pek mengenakan mantel dengan lambang Pah to sang-ceng, segera anak muda itu hendak dibunuhnya, tapi dugaan merekapun meleset, Tian Pek yang dianggap enteng ternyata memiliki ilmu silat yang tinggi. Betapa penasarannya ketiga orang itu melihat Tian Pek hendak kabur, serentak mereka membentak sambil memburu, ketika masih berada di udara, tiga bilah pedang diiringi kilatan cahaya tajam langsung mengurung tubuh Tian Pek dari tiga arah.Setelah mempelajari isi kitab Thian-hud-pit-kip, ilmu silat Tian Pek mengalami kemajuan yang pesat, tenaga dalamnya amat tinggi, cuma sayang ia tak pernah memperoleh petunjuk dari guru pandai, selain itu pengalaman tempur juga belum banyak, maka ilmu sakti yang dilatihnya tak dapat di man-faatkan dengan leluasa. Baru saja ia meloncat ke udara, bayangan pedang disertai kilatan cahaya tajam lantas mengurung sekujur badannya.

"Tahan dulu, para kakak . .. ."

Syukurlah segera terdengar seruan nyaring.

Mendengar seruan Hoan Soh itu, ketiga jago keluarga Hoan itu merendek sebentar di udara.

Tian Pek sendiri sudah nekat, pada waktu itu juga ia melepaskan serangan balasan dengan jurus Hong-ta-ku-ho (hembusan angin merontokan bunga teratai) serta Pah-in-lam-sau (macan tutul sembunyi di bukit selatan), serangan hebat dan dahsyat, sekaligus ia menyerang tiga jurus.

Ketiga jago keluarga Hoan amat terperanjat, mimpi pun mereka tak menyangka serangan anak muda yang tak menarik ini bisa sedemikian hebat nya, cepat mereka putar pedang untuk melindungi dada, berbareng menyusut mundur beberapa langkah ke belakang, namun mereka masih tetap mengepung Tian Pek di tengah.

"Anak muda, hebat juga ilmu silatmu,"

Seru si "pedang tak kenal ampun"

Hoan Cun dengan dahi berkerut. Mo-in kiam Hoan Ing mendengus. ia tuding Tian Pek dengan ujung pedangnya, serunya;

"Hm, sekalipun bebat kepandainmu, itu tidak berarti kau bisa kabur dari kepungan kami dengan begitu saja Hayolah, bersiap2lah untuk menyambut kematianmu!"

"Engkoh bertiga, jangan salah paham, kanan jangan menuduh orang tanpa dasar"

Seru Hoan Soh-ing cepat "Dia.....Tian-siauhiap adalah tuan penolongku, dialah yang membantu aku lolos dari penjara, dia ..dia pula yang telah menyembuhkan luka.....luka yang kuderita!"

Hoan Soh sebenarnya bernama Hoan Soh-ing, ketika saling menyebut nama dalam penjara, dara itu baru sempat menyebut Hoan Soh sehingga Tian Pek mengira "pemuda"

Itu bernama Hoan Soh.

Biasanya dia gagah berani sepeti lelaki, lagak lagunya juga terbuka dan tidak malu2 seperti anak gadis umumnya.

Tapi entah mengapa sekarang ia bicara dengan rada kikuk3.

Dengan pandangan tak percaya ketiga kakaknya memandang sekejap pada adiknya dengan ragu, seperti percaya dan juga seperti tidak percaya.

"Apakah betul keteranganmu?"

Hoan Cun bertanya dengan sangsi.

"Pedang tak kenal ampun"

Tersohor karena kesadisannya, ketika pertanyaan tersebut diajukan, sorot matanya memandang wajah Tian Pek sehingga membuat orang jadi tak tahu siapa yang ditanya, Tian Pek atau adik perempuan?

Padahal pertolongan yang diberikan Tian Pek hanya atas dorongan rasa simpatik dan kasihan, ia tak menyangka perbuatannya malah mendatangkan begitu banyak peristiwa yang ruwet, karena penasaran dan mendongkol ia cuma mendengus saja dengan menahan perasaannya.

"O, Toako! Apakah kaukira adikmu berbohong?"

Tanya Hoan Soh ing dengan rawan.

Ketiga jago pedang keluarga Hoan masih menatap tajam Tian Pek tanpa berkedip, tapi mau-tak-mau mereka mesti percaya pada apa yang dikatakan adiknya itu, malahan Hoan Cun menyesal karena sikapnya yang terlalu banyak curiga mungkin akan menyinggung perasaan halus adik perempuannya.

"Pedang tak kenal ampun"

Hoan Cun berwatak kaku dan aneh, tapi dia amat sayang terhadap adik perempuannya, apalagi setelah mendengar suara adiknya yang rawan itu.

"Kalau memang betul begitu, aku pun takkan banyak bicara lagi, biarkan dia pergi!"

Katanya kemudian sambil tarik pedangnya. Kedua saudaranya sudah tentu tak berani banyak bicara, mereka pun tarik kembali senjatanya dan menyingkir.

"Hayo kita pergi!"

Seru Hoan Cun kemudian. Tanpa pamit berangkatlah keempat orang itu meninggalkan Tian Pek yang berdiri melongo sendirian. Kembali timbul perasannya yang menyesali hidupnya ini.

"Ai, nasibku memang jelek, semua yang kujumpai selalu orang2 yang sukar diajak bicara, maksudku menolong orang, siapa tahu malah mendatangkan kedongkolan melulu, sungguh sebal."

Memandangi bayangan Hoan Soh-ing yang menjauh, tiba2 anak muda itu merasa berat hati ditinggal pergi, ia berdiri tertegun sampai lama sekali tetap tak tahu apa yang harus dilakukannya.

"Mau lari? Hm, tidak gampang kawan!"

Tiba2 didengarnya di hutan sana ada orang mendengus.

"Memangnya kalian anggap perkampungan Pah to san-ceng adalah rumah kalian sendiri? Mau datang lantas datang, mau pergi lantas pergi? Hm, jangan mimpi di siang hari bolong ..."

Dingin ucapan tersebut, berbareng dengan perkataan itu lantas muncul belasan orang dari balik hutan yang lebat, beberapa orang itu berpakaian ringkas semua, senjata terhunus dan tampangnya garang, hanya sejenak empat bersaudara dari keluarga Hoan yang pergi belum jauh itu sudah terjebak dalam kepungan mereka.

Sekilas rasa kaget terbayang di wajah keempat orang itu, mereka segera berhenti dan lintangkan pedangnya di depan dada, kemudian mereka mengurung Hoan Soh-ing di tengah, tampaknya ketiga pemuda itu rela berkorban asal adik perempuannya selamat.

Tersirap darah Tian Pek demi mengetahui siapa yang muncul itu.

Orang yang berjalan paling depan berbadan tinggi besar dengan pakaian sutera yang mentereng, mukanya merah, hidung besar dan mata bersinar tajam, orang itu tak lain adalah ketua Pah to-san ceng, Buyung Ham.

Sebenarnya Tian Pek tidak kenal jago lihai she Buyung ini, tapi pakaian yang dikenakan orang itu tidak berbeda dengan cabikan kain yang ditinggalkan mendiang ayahnya, maka timbul suatu perasaan aneh di dalam hatinya, Sudah tentu Tian Pek tak berani menuduh Tiseng jiu Buyung Ham sebagai pembunuh ayahnya, tapi ia yakin dari orang inilah jejak pembunuh itu akan diketahui.

Sementara Tian Pek termenung, di sana Ti-seng jiu Buyung Ham telah membentak keras;

"Bocah bernyali besar, mengapa tidak cepat lemparkan pedangmu dan menyerah? Hm, jangan kalian anggap Pah-to-san-ceng adalah tempat umum yang boleh dikunjungi setiap orang. Hayo cepat menyerah! Memangnya kalian hendak menunggu sampai aku turun tangan sendiri?"

"Bangsat tua, tak perlu berlagak!"

Teriak Hoan Cun dengan gusar.

"Jangan kau kira dengan jumlah kalian yang lebih banyak maka kami lantas jeri, ketahuilah tiga jago keluarga Hoan tidak kenal apa artinya takut!"

Ti-seng-jiu tertawa tergelak mendengar perkataan itu, sahutnya.

"Bocah yang tak tahu diri. ke-matian sudah di ambang pintu, masih berani berkaok2 dan omong besar? Bila tahu diri lekas menyerah, mengingat hubunganku dengan ayah kalian mungkin akan kuberi jalan hidup, tapi kalau kalian tetap membandel.....hm, Siau-koh-san ini akan menjadi liang kubur kalian."

Empat bersaudara dari keluarga Hoan menyadari apa yang diucapkan Ti-seng-jiu bukan gertak sambal belaka, apa yang telah dikatakannya tentu akan dilaksanakan, apalagi memandang tampangnya yang bengis penuh nafsu membunuh, bulu roma mereka jadi berdiri.

Dilihat pula di belakang Buyung Ham berdiri sepuluh tokoh Pah-to-san-ceug serta berpuluh jago lainnya, semuanya melototi mereka, jelas urutan sangat gawat, bukan mustahil jiwa mereka akan melayang di sini Tapi rasa jeri hanya sebentar terlintas di dalam hati mereka, ketika terbayang kembali Kematian ibu mereka yang dibikin malu oleh Buyung Ham, seketika darah bergolak, rasa takut mati seketika tersapu lenyap.

"Bangsat tua!"

Jerit Hoan Cun dengan penuh kebencian "Bila mampu boleh coba kau tangkap tuan muda."

Ti-seng-jiu mendongkol, ia tidak bicara lagi.

ia segera memberi tanda kepada anak buahnya yang berada di belakang, lima enam orang di antaranya segera menerjang ke depan.

Kesepuluh tokoh besar Pah-to-san-ceng rata2 adalah jago kelas satu di dunia persilatan, mereka berilmu tinggi dan berpengalaman luas, menurut anggapan mereka tak mungkin ada orang berani mengganggu keamanan perkampungan tersebut dengan hadirnya mereka di sana, siapa tabu dugaan mereka meleset, bukan saja ada yang berani menyerbu perkampungan Pah-to-san-ceng, malahan kawanan penyerbu itu pun berani membakar perkampungan itu, peristiwa ini dianggap sebagai suatu penghinaan bagi mereka, sejak tadi hati mereka sudah panas, maka begitu sang majikan memberi tanda, serentak mereka menyerbu ke depan.

Sudah tentu mereka pantang main kerubut.

Gin-siau-toh-hun Ciang Su-peng mendahului menjura kepada rekan2nya dan berkata.

"Saudara sekalian, izinkanlah kakakmu yang sudah tua ini untuk bertarung pada babak pertama, tentunya kalian tidak merasa keberatan bukan?" -Dia lantas keluarkan seruling peraknya dan siap tempur. 'Eh, Ciang-heng"

Tiba2 Si Tosu buta tampil ke depan sambil tertawa.

"ilmu seruling pembetot sukmamu sudah tersohor di seluruh kolong langit ini, apa gurunya Ciang-heng bersusah payah pula turun gelanggang? Untuk menghadapi beberapa orang kawanan tikus itu kurasa lebih baik serahkan saja kepadaku si buta yang reyot ini."

Tapi sebelum Tosu buta itu turun tangan, si kakek botak menyela pula dari samping.

"To-heng tak usah membuang tenaga percuma, serahkan saja babak pertama ini kepadaku!"

Kakek botak itu adalah Tui-hui; leng Suma Keng, habis berkata dia lantas melepaskan suatu pukulan dahsyat dengan jurus Heng-sau-cian-kun (menyapu habis selaksa prajurit).

Hoan Soh-ing bertindak cekatan, dia melancarkan hantaman balasan lewat samping Tui-hong-kiam Hoan Kiat sementara Tui-hong-kiam sendiri putar pedang hingga menciptakan selapis dinding pertahanan untuk membendung angin pukulan lawan yang maha dahsyat itu.

Berbareng itu Coh ceng kiam Hoan Cun dan Mo-in kiam Hom Ing meluncur ke depan, pedang mereka ibarat ular sakti keluar dari gua, satu dari kiri dan yang lain dari kanan langsung menyergap kedua sisi Tui hun-leng Suma Keng.

Kerja sama keempat orang bersaudara ini amat bagus dan sangat rapat, kontan pukulan gencar Tui-hun-leng dapat dibendung.

Rupanya kerja sama yang sangat lihai ini merupakan ilmu barisan pedang Kun-goan-sam cay kiam-tin keluarga Hoan yang maha dahsyat, setiap hari keempat kakak beradik itu saling berlatih dengan rajinnya, tak heran kalau permainan barisan pedang mereka sangat cepat dan juga berdaya tekan kuat.

Tui-hun-leng sendiri terhitung jago kenamaan di wilayah barat laut, ilmu silatnya tinggi, tabiatnya keji tak kenal ampun, bersama To-kah-hui mo (iblis terbang berkaki tunggal) Kaki mereka disebut Say gwa siang jan (sepasang manusia cacat dari luar perbatasan .

Sekarang ia hendak pamerkan kelihaiannya di hadapan Ti-seng-jtu Buyung Ham, maka sekali serang dia lantas lepaskan pukulan dahsyat, ia pikir empat pemuda yang masih ingusan itu tentu akan terpukul roboh, tak terduga kerja sama ilmu pedang keempat orang itu amat rapat, ia jadi kecelik dan rada kelabakan malah dikerubuti lawan.

Begitu merasakan tibanya dua tusukan pedang dari samping, Tui-hun-leng menyadari gelagat jelek, untung pengalamannya amat luas, begitu merasa keadaan tidak menguntungkan, cepat ia melompat mundur.

Tidak kepalang gusar Tui-hun-leng Suma Keng, mendadak ia mengeluarkan sebuah genta tembaga berwarna kuning.

Genta kuning itu sama sekali tidak istimewa bentuknya persis seperti genta yang biasanya digunakan tukang obat kelilingan, hanya saja bentuknya lebih besar.

Ketika genta tadi dibunyikan hingga menerbitkan suara kelintang-kelinting yang nyaring, maka terasalah suatu kekuatan gaib memancar keluar dari balik suara tersebut, suaranya serasa memekakkan telinga dan mengilukan, membikin hati orang berdebar dan darah tersirap.

Kawanan jago persilatan lainnya cepat mundur ke belakang, rupanya mereka pun berusaha menghindari pengaruh suara genta, dari sini dapat diketahui bahwa genta kecil ini pasti luar biasa, apalagi Suma Keng barjuluk Tui huu leng (Genta pengejar sukma) tentu julukan ini bukanlah omong kosong belaka.

Air muka tiga pendekar pedang keluarga Hoan berubah hebat begitu melihat genta tembaga yang dikeluarkan musuhnya, segera mereka teringat pada seseorang tokoh yang amat lihai.

Dalam pada itu Suma Keng telah membunyikan genta mautnya berulang kali, suaranya nyaring ibarat setan pembetot sukma, berbareng itu pula secepat kilat ia menubruk musuhnya Betapa terperanjatnya ketiga pendekar pedang muda itu, cepat mereka gunakan gerakan Sam-seng cay hui (tiga bintang di dalam satu tempat) untuk menahan serangan musuh.

Tiga pedang bergabung menjadi satu garis, getaran ujung senjata seketika menimbulkan tiga kuntum bunga warna perak menyongsong sambaran Tui hun-leng.

Hoan Soh ing tidak tahu kelihaian musuh, pada waktu yang sama ketika tiga pedang kakaknya menyerang dia pun melepaskan dua pukulan gencar dengan jurus Kiam-lim giok tiap (kupu kemala hutan pedang) untuk mengimbangi Sam-cay-kiam-tin ketiga kakaknya.

Telapak tangannya yang putih bersih bagaikan kemala, seperti sepasang kupu2 putih berkelebat kian kemari terus mengancam jalan darah penting di sekitar ulu hati musuh.

Suma Keng menjadi gemas, ia bersuit nyaring bagaikan sambaran kilat cepatnya "genta pengejar sukma"

Bergetar menciptakan serangkaian cahaya keemasan yang menyilaukan mata disertai suara kelintang kelinting nyaring.

"Ting! Ting! Tingl"

Ditengah suara kelintingau yang memekak telinga, terjadilah benturan keras hingga mengakibatkan letupan api.

Ketiga pedang Hoan si sam-kiat kontan tergetar ke samping, ketiga orang itu juga terhuyung mundur lima-enam langkah ke belakang, untung tidak cidera, walau begitu air muka merekapun menjadi pucat, sinar matanya pudar.

Tui hun leng tidak berhenti sampai di situ saja, belum lagi kaki menginjak kembali ke tanah ia terus menubruk ke arah Hoan Soh-ing, genta mautnya diguncang hingga menimbulkan suara dentingan yang memekak telinga.

Tenaga serangan Hoan Soh ing seketika lenyap, ia merasa suara genta musuh memekak telinga dan membikin jantung berdebar, kosentrasinya buyaar, ia tak mampu menghimpun tenaga lagi untuk melakukan perlawanan.

Dalam pada itu gulungan cahaya kuning telah menerjang tiba dengan cepatnya, sinar itu menyilaukan dan suara genta membisingkan sehingga lawan menjadi bingung, badan jadi lemas, kepala pusing, Hoan Soh tidak tahan, ia menjerit dan roboh terjengkang.

Genta maut Suma Keng.

memang luar biasa lihaynya, dengan jurus, Ci Hun To Pok (hilangkan sukma mencabut nyawa ), bukan saja berhasil menjebol pertahanan Kun goan-sam cay-kiam-tin, malahan Hoan Soh-ing akan dicelakainya 'Tahan!"

Mendadak suara bentakan nyaring .menggelegar di udara, menyusul sebuah pukulan dahsyat menggulung tiba.

Cepat Suma Keng melompat mundur, tahu-tahu seorang pemuda sederhana berada di depannya.

Pemuda ini ialah Tian Pek.

Rupanya irama genta maut Suma Keng telah menyadarkan kembali anak muda ini dari lamunannya, ketika ia lihat Hoan Soh in terancam bahaya, ia sangat terkejut, bagamianapun gadis itu adalah gadis pujaannya, sejak perkenalan pertama ia sudah merasa suka kepada nona ini.

Sudah tentu ia tak tinggal diam melihat gadis itu terancam bahaya, dalam keadaan demikian ia telah melupakan segala tindakan kasar yang baru diterimanya dari ketiga kakak si nona, apa yang terpikir olehnya sekarang adalah bagaimana caranya menolong gadis itu dari bahaya maut.

Tanpa pikir panjang lagi ia lantas membentak, sambil melayang ke udara, pukulan dahsyat segera dilancarkan.

Semula Suma Keng mengira dia disergap oleh seorang tokoh silat yang lihay, begitu mengetahui siapa orangnya ia menjadi gusar dan kaget, rupanya yang menyerang ini adalah pemuda yang menyebabkan salah paham antara dia dan si Lui gila itu.

Dengan gusar ia lantas membentak.

"Bocah keparat! Katanya kau ini kerabat Lui Ceng-wan, kenapa berulang kali kau memusuhi perkampungan ini? Apakah kau sudah bosan hidup?"

Tian Pek bukan anak bodoh, dari nada pembicaraan lawan in tahu Suma Keng bermaksud menfitnah paman Lui di depan umum.

Sebagai pemuda jujur, tentu saja ia tak dapat menyangkal bahwa dia tak kenal paman Lui.

apalagi banyak budi yang diterimanya dari paman itu, untuk mengakui punya hubungan dengan paman Lui, ia pun menyadari betapa sulitnya posisi paman Lui di Pah-to-sanceng, karena itu untuk beberapa saat ia cuma bisa berdiri mematung dengan mata terbelalak seputah katapun tak mampu bicara.

Dalam pada itu, ketiga pendekar muda keluarga Hoan telah berhasil menguasai kembali perasaannya yang kaget, mereku jadi malu bercampur menyesal setelah mengetahui kembali Tian Pek yang menyelamatkan jiwa adik perempuannya.

Hoan Soh-ing berdiri dengan tertegun, ia memandang Tian Pek dengan muka merah dan entah apa ysng harus dikatakannya.

Ti-seng-jiu Buyung Ham mengerut dahi dengan wajah muram .

''Sahabat cilik, ilmu-silatmu sungguh hebat!"

Demikian Gin-siau-toh huh Cian Su-peng tampil ke depan sambil berseru.

"Bolehkah kutahu siapa namamu? Berasal dari perguruan mana?"

Gin-siau-toh hun menyadari akan hebatnya ilmu silat anak muda itu, sebab ia pernah menjajal kemampuannya dengan ilmu seruling lm-mo-toh-hun-siuu-hoat tempo hari, tidak sembarang orang mampu tahan serangan suara serulingnya jika tidak memiliki tenaga dalam yang sempurna, maka dia ingin tahu asal usul lawan muda ini.

Sebelum Tian Pek menjawab, tiba2 seorang berteriak.

'"Ciang-heng, apa gunanya banyak omong, bekuk saja bangsat cilik ini, masakah nanti dia tidak mengaku terus terang?'' Cepat sekali gerak tubuh orang itu, ibarat segulung asap hitam tahu2 menyambar tiba, selagi masih mengapung di udara, kelima jari tangannya bagaikan cakar elang terus mencengkram Keng ci-biat di lengan kanan Tian Pek.

Anak muda itu merasakan pandangannya menjadi gelap, serangan belum sampai, namun desir angin yang berembus serasa menyayat badan, ia sadar kalau musuh ini sangat lihay, ia tak berani menyambut secara kekerasan, cepat ia mengegos sambil balas menahan dengan tangan kirinya.

Orang itu bergelak tertawa, serunya.

"Robohlah kau!"

Sambil berputar di udara tiba2 orang itu menubruk maju, tangan kirinya segera mencengkeram pergelangan tangan Tian Pek.

Aneh gerak serangan orang itu, cepat Tian Pek tarik kembali serangannya.sambil melompat mundur, untung dia bertindak cepat, hampir saja tangan kena dicengkeram musuh.

Sekalipun begitu, tak urung pergelangan tangan -kirinya terserempet oleh serangan mutub, rasa sakit pedas menyayat badan, tulangnya seperti mau patah, separo badannya se-akan2 lumpuh.

Anak muda itu terperanjat, ia lihat lawan itu adalah kakek berkaki buntung satu dan bercambang, mukanya bengis sekali.

Kakek bengis iui tak lain adalah Tok kah hui mo Li Ki, rekan Suma Keng yang sama2 dipanggil sebagai "Sepasang manusia cacat dari luar perbatasan".

Orang ini bukan saja ganas dalam perbuatan, banyak pula akal busuknya yang keji.

Ketika dilihatnya Tui-hun-leng yang lihay sekali gebrak sampai terpental oleh Tian Pek, ia jadi melengak juga, tapi sebigai orang yang cerdik segera diketahui olehnya pemuda yang lihay ini hanya sempurna dalam tenaga dalam, sedang gerak serangan yang ampuh boleh dibilang sama sekali belum paham.

Segera ia mendapat akal, ia hendek menggunakan kesempatan yang baik ini untuk membekuk lawan dengan ilmu Siam-tian-tui-hong-kim-na-jiu (ilmu cengkeraman kilat pemburu angin yang maha dahsyat).

Maka pada waktu Gin-siau-'oh-hun bertanya jawab dengan Tian Pek, segera ia membentak dan secepat kilat meluncur ke depan terus menyerang Keng ci-hiat Tian Pek dengau jurus Kim-pah-loh-jiau (macan tutul emas unjukkan cakar).

Tapi Tian Pek sempat menghindar dan melancarkan terangau balasan yang cukup dahsyat.

Tok-kah-hui-mo tak mau adu keras, ia melayang ke atas.

tiba2 tangan kirinya melancarkan pukulan lagi dengan gerakan Hun-wan-liat-hau (menyayat monyet membunuh harimau).

Menurut perkiraan iblis berkaki tunggal ini.

ke dua serangan berantai yang dilepaskan itu cukup untuk merobohkan musuhnya, Siapa tahu ia salah terka, pemuda yang tampaknya Iamban dalam gerakan ini ternyata memiliki kegesitan yang luar biasa, sekali mengegos tahu2 semua ancamannya berhasil dipunahkan.

Tok-kah-hui-mo semakin kalap, ia meraung dan secara beruntun melancarkan lagi serangan berantai dengan jurus Cia-kwan-tuim-go.in (potong urat tutuk perut), Toan-C'u-csy-meh (memotong otot memutuskan nadi) serta Oh-kui-ho-hun (setan lapar menerkam sukma).

Jangan kira iblis tua ini cuma berkaki satu, kenyataannya kegesitan maupun kecepatan geraknya sangat luar biasa, kalau tidak, tak mungkin orang menyebut "iblis terbang berkaki tunggal"

Kepadanya.

Salah satu ilmu yang paling diandalkan iblis kaki satu ini adalah Kim-na-jiu (ilmu cengkeram) yang diberi nama "sambaran kilat pemburu angin", kecepatannya ibarat embusan angin atau sambaran kilat, luar biasa dahsyatnya dan sukar untuk menghindarnya.

Tapi perkiraannya kembali meleset, pemuda yang dianggap pasti akan dirobohkan ini ternyata sanggup menghindarkan semua serangannya dengan mudah.

Diam2 semua orang merasa heran, mereka sempat menyaksikan anak muda itu berdiri tenang, ke tika serangan berantai yang dilancarkan Tok-kah-hui mo itu tiba, semuanya dapat dihindari, jelas pemuda itu tidak menggunakan gerakan yang aneh, tapi ke nyataanya ia dapat lolos dari ancaman, inilah yang membuat mereka tercengang.

Sikap pemuda itu ibaratnya seorang guru yang sedang memberi pelajaran silat kepada muridnya, sudah tentu sebagai guru dia tak perlu kuatir serangan muridnya akan bersarang di tubuh sendiri sebab semua jurus telah apal di luar kepala, dia hanya mengamati perakan muridnya apa benar utau keliru.

Melihat gelagatnya, ilmu silat pemuda ini seakan2 jauh lebih hebat daripada Tok-kah-hui-mo Li Ki yang sudah tersohor selama puluhan tahun di dunia persilatan.

Tentu saja Tok-kah-hui-mo terlebih kaget, sambil melepaskan serangan berantai (dalam hati ia berpikir.

"Sialan, aku benar2 ketemu setan, masa ilmu cengkeraman-mautku gagal membekuk anak ingusan begini? Sungguh tidak masuk diakal Wah, kalau aku gagal membekuk keparat ini, ke mana akan kutaruh wajahku ini?"

Takut nama baiknya ternoda, Tok-kah-hui-mo semakin gencar menyerang, ia menggunakan serangan yang paling keji dan mematikan.

Padahal cara Tian Pek menghindari setiap se rangan itu dilakukan di bawah sadarnya, dalam hati sama sekali tidak tahu di mana letak kehebatannya.

Sudah tentu semua itu lantaran ilmu Thian-hud-pit-kip yang telah dikuasainya sehingga tenaga dalamnya mengalami kemajuan pesat, mata makin awas dan pendengaran makin tajam Sekalipun begitu, Tian Pek lupa melancarkan serangan balasan, dia hanya berkelit, menghindar dan berputar mengikuti gerak serangan musuh, sedang mata terbelalak mengawasi dan menyelami se tiap gerak serangan Tok-kah-hui-mo yang ganas dan ampuh.

Tian Pek memang bukan anak bodoh, ia dapat memanfaatkan kesempatan yang baik ini untuk kepentingan sendiri, jangan dianggap dia hanya berkelit dan menghindar terus, kenyataan secara diam2 ia sedang belajar gerakan sakti musuhnya.

Sudah tentu Tok-kah-hui-mo tak menyangka kalau ilmu silatnya yang paling diandalkan itu sudah disadap oieh Tian Pek secara diam2, ia menyerang terlebih gencar dan hanya sekejap dua tiga puluh jurus sudah dilancarkan.

Kawanan jago persilatan yang hadir disekitar gelanggang itu, rata2 adalah tokoh kawakan yang sudah berpengalaman, meski begitu belum pernah mereka saksikan pertarungan seaneh ini.

Tanpa disadari, semua orang alihkan perhatiannya ke tengah gelanggang seakan2 sedang menonton keramaian sehingga lupa kalau pertarungan yang sedang berlangsung sebenarnya adalah pertarungan yang menentukan mati hidup.

Sementara itu Tui-hun-leng yang licik sedang putar otak untuk mencari akal guna menjebak lawannya, ia merasa kehilangan muka karena serangan anak muda tadi dapat memaksa dia melompat mundur.

Walau begitu, tapun tak sudi mengerubuti Tian Pek bersama Tok-kah-hui-mo, karena perbuatan demikian hanya akan turunkan gengsi dan merosotkan bobot kedudukan mereka berdua.

Tiba2 sorot matanya tertuju ke arab keempat muda-muda keluarga Hoan yang sedang mengikuti jalannya pertarungan dengan mata terbelalak dan tercengang itu, satu pikiran cepat melintas dalam benaknya.

Pikirnya.

"Bukankah kesempatan baik terbentang di depan mata? Kenapa tidak kubereskan dulu keempat bocah itu, habis itu baru kubereskan bocah tolol itu?"

Sambil tertawa dingin selangkah demi selangkah ia menghampiri keempat bersaudara keluarga Hoan itu, bentaknya.

"Empat ekor tikus kecil, apa kalian anggap tempat ini panggung sandiwara? Hayo serahkan nyawa kalian....!"

Dentingan suara genta maut yang keras dan memekakkan telinga menyadarkan Hoan Cun ber tiga, dengan terkejut mereka berpaling, dilihatnya Tui hun leng sedang maju menghampiri, cepat mereka lintangkan pedangnya dan menyurut mundur Hoan Soh ing masih terus mengikuti jalannya pertarungan di tengah gelanggang se-akan2 kehadiran Suma Keng sama sekali tidak terasa olehnya.

Genta maut itu terus berbunyi, mendadak Suma Keng membentak keras, dia melakukan gerakan se akan2 hendak menerjang maju.

Tiga pendekar pedang dari keluarga Hoan terkejut, mereka mundur lagi selangkah ke belakang.

Tupi Suma Keng tidak melakukan serangan, rupanya dia cuma menggertak belaka, ketika dili hatnya ketiga orang itu ketakutan setengah mati, ia jadi senang dan tertawa terbahak2.

Malu dan marah ketiga pendekar muda keluarga Hoan itu karena merasa dipermainkan orang, mereka saling pandang sekejap, pada waktu musuh masih tertawa senang itulah pedang mereka menyerang bersama, sekaligus mengancam jalan darah Sian ki-hiat di tenggorokan., Sam-yang-hiat di dada serta K i -hay-hiat di lambung iblis tua itu.

Ilmu pedang ketiga orang itu adalah serangkaian ilmu pedang Tui hong kiam hoat yang ampuh, kepandaian tersebut mengutamakan kecepatan dalam gerakan serta kerja sama yang rapat, maka Sam-ca-y kiam tin mereka cukup disegani orang dan jarang ada tandingannya.

"Kurang ajar, kalian sudah bosan hidup?"

Bentak Suma Keng. Sambil mengegos dan sedikit mendak ke bawah, dia hindarkan diri dari ancaman pedang yaug datang dari depan, menyusul mana genta Tui hun-li'iig dia tangkiskan serangan lain.

"Tring!"' dengan sempoyongan Tui-hong kiam Hoan Kiat tergetar mundur lima-enem langkah, untung tak sampai terjungkal, kendatipun begitu tangannya terasa panas kesemutan, hampir saja pedangnya terlepas dari genggaman. Suma Keng tertawa, genta maut diguncang lebih kencang dan menimbulkan irama sadis yang memekak telinga, dengan jurus Ceng leng-keng-liong (getaran genta mengejutkan naga) dia memburu ke depan dan langsung menghantam kepala Tui-hong kiam. Serangan gencar itu tak mungkin bisa dihindari oleh Hoan Kiat, sedangkan kedua orang saudaranya jauh tertinggal di belakang, tampaknya jago kedua keuarga Hoan itu akan mati di tangan lawan . .Untung Hoan Soh-ing berpaling tepat pada waktunya, ketika dilihatnya maut mengincar Jiko-nya, ia menjerit kaget sambil melompat maju, ke dua telapak tangannya langsung menahas ke tubuh musuh, Bersamaan itu pula, Hoan Cun seria Hoan Ing juga membentak keras, pedang mereka menyergap terentak ke depan, yang satu menusuk iga kiri sedang yang hia menusuk punggung Suma Keng. Mendadak genta Suma Keng menekan ke bawah, Hoan Kiat bersuara tertahan, dia masih sempat mendak ke bawah untuk menghindar, namun tidak urung ia merasakan pundak kanan se akan2 kejatuhan martil seberat ribuan kati, sakitnya tidak kepalang, kontan ia terguling hingga jauh ke sana. Selesai menghajar Tui-hong-kiam, Suma Keng tarik kembali gentanya dan menangkis kedua pedang yang menyergap tiba dari belakang.

"Tring, Tring ... !"

Getaran keras mengguncang pergi kedua pedang lawan.

Bukan saja sergapan mereka gagal, Hoan Cun dau Hoan Ing sampai tergetar mundur dengaa sempoyongan.

Suma Keng memang lihay, setelah melukai Hoan Kiat dan menghindari sergapan Hoan Cun dan Hoan Ing iapun sempat putar badan dan menghindarkan pukulan Hoan Soh-ing yang dahsyat.

Ia bergolak tertawa, telapak tangannya segera mencengkeram dada Hoan Soh-ing.

Kepandaian Hoan Soh ing paling lemah, kalau ketiga kakaknya tak mampu mengimbangi keganasan Tui-hun leng, apalagi cuma dia sendiri.

Ketika serangannya mengenai tempat kosong, tahu2 suara genta yang memekak telinga berdentang di sisi telinganya, sebelum ia bertindak sesuatu, cengkeraman musuh telah tiba di depan dada.

Pucat wajahnya, gadis itu menjerit kaget dan tak tahu apa yang harus dilakukan.

"Hei, kunyuk she Suma! Kau berani mengganas terhadap seorang anak dara? Cepat hentikan perbuatanmu itu!"

Tiba2 bentakan nyaring menggema dari kejauhan, walaupun suara itu tidak terlampau keras, namun setiap katanya kedengaran dengan jelas.

Suma Keng terperanjat, cepat ia tarik kembali, serangannya dan berpaling.

Sebelum mengetahui siapa yang bersuara itu tiba2 sesosok tubuh yang tinggi besar menerjang tiba di depannya, cepat Suma Keng menahan dengan genta mautnya.

Ketika orang itu dapat berdiri, ia baru tahu orang ini adalah kawan sendiri, yakni Tok-kah-hui mo Li Ki Tok-kah-hui-mo yang kosen itu berada dalam keadaan payah, muka pucat, bibir terkatup rapat, tampaknya menderita luka dalam yang cukup parah, kejadian ini sangat membingungkan Suma Keng sehingga untuk sesaat ia berdiri dengan melenggong.

!Aa, masa rekanku ini dipukul keok oleh pemuda ingusan itu?"

Pikir Suma Keng dengan heran betapapun ia tak perciya dengan keajaiban demikian.

Cepat ia pandang pemuda itu, dilihatnya Tian Pek berdiri dengan mata terbelalak, sinar matanya mencorong terang.

Suma Keng terperanjat, sekarang ia baru percaya tenaga dalam yang dimiliki anak muda itu sudah mencapai puncaknya, sebab hanya orang memiliki Lwekang tinggi saja yang mempunyai sinar mata setajam itu.

Kendatipun demikian, ia tak percaya kalau Tok-kah-hui-mo Li Ki yang kosen, telah dikalahkan oleh pemuda itu.

Sebenarnya apa yang terjadi?

Kiranya Tian Pek kian lama kian tertarik oleh kesaktian serta keampuhan serangan Tok-kah-hui-mo hingga ia lupa melancarkan serangan balasan sebaliknya hanya mengawasi saja setiap serangan musuh.

Dalam keadaan begitu, teatu saja Tok-kah-hui-mo tak mengira kalau pihak musuh lagi menyadap kepandaian silatnya, dia merasa cara bertempur Tian Pek belum pernah dialaminya selama puluhan tahun mi.

Makhluk tua itu berpengalaman luas, ia menjadi heran dan curiga mengapa setiap serangan selalu dipat dihindarkan lawan.

Lama kelamaan, akhirnya diketahui juga, rupanya pihak musuh sedang menyadap ilmu silatnya tanpa disadarinya, tentu saja kejadian ini membangkitkan marahnya.

"Kurangajarl"

Pikirnya.

"rupanya kau sedang menyadap ilmu silatku, sialan! Memangnya aku nenek moyangmu? Tampaknya kalau tidak kuberi hajaran setimpal kepadanya, aku bakal menderita ke rugian besar!"

Karena penasaran bercampur mendongkol, Tok-kah-hui-mo Li Ki segera menghantam muka anak muda itu dengan jurus Kay-bun-kian-sau (buka pintu memandang bukit), suatu jurus serangan jarak dekat yang lihay.

Cepat Tian Pek berkelit ke samping sehingga mukanya tak sampai termakan oleh serangan iblis tua itu.

Walau begitu, tajam juga angin pukulan itu, Tian Pek merasa pipi rada sakit, ia tertegun dan tak menduga kalau serangan tersebut hanya pancingan belaka.

Baru saja Tian Pek mengegos ke samping, iblis tua itu putar badan secepat kilat, segera ia menjotos Ciang-ki-hiat di sisi telinga kiri Tian Pek, Cepat dan ganas sekali serangan ini, hampir saja Tian Pek tak mampu menghindar, sedapat nya ia merida k ke bawah.

"Hahaha .... robohlah kau sekarang ...."

Seru Tok-kah-hui-mo sambil bergelak, berbareng telapak tangannya membacok ke dada Tiau Pek.

Bukan saja Tok-kah-hui-mo sendiri yakin serangan itu akan mengenai sasaranunyu, kawanan jago lainpun percaya anak muda itu tak bakal lolos dari maut.

Tian Pek sendiripun lerkesiap, baru saja ia menunduk, desiran angin tajam menyambar lewat di atas kepalanya, menyusul pukulan yang dahsyat juga menggulung ke arah dadanya.

Cepat Tian Pek merangkap telapak tangannya ke depan dada, kali ini dia menangkis dengan jurus Hud-co-jamsian (Budha suci memberi hormat) suatu geraksn dari Thian-hud-ciang yang tangguh.

"Duk!"

Benturan keras terjadi, Tian Pek berdiri dengan badan bergetar keras, sebaliknya Tok-kah hui-mo terpental sejauh enam-tujuh langkah ke belakang.

Lantaran iblis tua itu cuma berkaki satu, wataknya juga tidak mau pakai tongkat, kalau berjalan hanya main loncat saja, maka getaran pukulan Tian Pek ini membuatnya ter-huyung2 sampai di depan Suma Keng, kalau tidak dipegang rekannya ini pasti dia terguling ke tanah.

Tok-kah-hui-mo menjadi malu, apalagi peristiwa ini berlangsung di depan sang Cengcu dari Pah-to-san-ceng, ia menjadi kalap, dengan menggeram gusar ia hendak menerjang pula.

Cepat Tui-hun-leng Suma Keng merintangi rekannya, lalu alihkan pandangnya ke arah hutan di depan sana, mukanya yang semula diliputi rasa penasaran kini berubah jadi pucat dan penuh rasa kejut dan takut.

Tanpa terasa Tok-kah-hui-mo ikut memandang ke sana, maka tertampaklah seorang tukang loak kelilingan dengan menunggang keledai muncul dari hutan sana.

Tukang loak itu sudah tua, rambut maupun alis matanya sudah putih, jenggot kambingnya juga putih perak, tampaknya umurnya sudah delapan sembilan puluh tahunan, badan knrus kecil dan mukanya penuh keriput, tapi sorot matanya mencorong terang menggidikkan orang.

Dia memakai baju dan celana satin putih, sepatu kain dan kaos kaki warna putih pula, rambutnya yang telah beruban diikat dengan benang merah sehingga menjadi kuncir kecil.

Dengan tenangnya kakek itu duduk di atas keledai kecil, beberapa tumpuk kain termuat di belakang punggung binatang itu, sambil ayun cambuk ia manghalau keledainya agar berlari lebih cepat.

Tapi keledai itu tak mau maju ke, depan,-malahan menyepak dan munbur ke belakang, mungkin takut pada orang yang berkerumun di atas bukit hingga tak berani maju ke depan.

Melihat keledainya tak mau maju, kakek itu tampak gelisah, ia membentak dan menyabat dengan cambuknya.

Keledai kecil itu letap membangkang, malahan berpekik keras, meski badanya cuma lebih besar sedikit daripada anjing, tapi suaranya keras menggema.

"Binatang sialan!"

Tukang loak itu raenggerutus "kenapa tak mau jalan? Memangnya takut di situ banyak orang.?"

Ia cambuki keledai itu, lalu menggerutu pula.

"Keledai busuk, kakek masih ada urusan penting, tahu? Jika kau tidak lekas lari mungkin urusan bisa runyam!"

Munculnya kakek tukang loak ini membuat muka kedua manusia cacat, yaitu Suma Keng dan Li Ki menjadi pucat dan berkeringat dingin, diam2 Suma Keng berpikir.

"Tak aneh kalau aku merasa suara orang itu sudah kukenal, ternyata memang dia ini orangnya! Wah, aku benar2 lagi sial, kenapa bisa bertemu dengan dia di sini. Tok-kah-hui-mo tak kalah kagetnya, malahan boleh dibilang jauh melebihi Tui-hun-leng, iapun sedang berpikir.

"Habislah riwayatku sekali ini, aku pasti akan dibuat lebih kehilangan muka . Bukan saja sepasang manusia cacat dari luar perbatasan ini dibikin ketakutan, malahan air muka belasan jago lihay dari Pah-to-san-ceng serta Ti-seng-jiu sendiripun berubah hebat. Ti-seng-jiu Buyung Ham adalah tokoh keluarga persilatan terkemuka di dunia persilatan dengan anak buah beratus orang, disegani dan dihormati, walau begitu air mukanya juga menunjuk rasa jeri pada tukang loak tua ini, hal ini boleh dibilang kejadian aneh. Tian Pek segera berpikir.

"Entah siapa kakek ini? Rasanya sudah beberapa kali kubertemu dengan dia di tengah jalan semenjak aku mengawal barang tempo hari, jelas pekerjaannya bukan cuma menjual kain, siapa tahu kalau diapun tokoh silat yang lihay? Kalau tidak, tak mungkin ia selalu muncul di tempat yang banyak jago silatnya .."

Selagi Tian Pek keheranan, tiba2 keledai kecil yang ditumpangi kakek itu kabnr ke depan dengan kencangnya, arah yang dituju tak lain adalah tempat berkerumunnya para jago Pak to san ceng.

Kakek tukang loak itu tampak panik, dengan kelabakan berteriak keras; 'Waduh, saudara sekalian, teman sekampung, bantulah aku!

Wah, celaka....keledaiku kaget dan kesetanan!

O tolong...aku bisa terbanting ke tanah.

Wah, celaka..habislah riwayatku......"

Begitulah kakek itu kerepotan seolah2 benar2 akan terjatuh dari punggung keledai.

Cepat sekali lari keledai itu, bagaikan terbang saja binatang itu membedal dan menerjang kerumunan orang banyak Tak seorangpun yang berani mengalangi larinya keledai itu, malahan mereka pada menyingkir jauh2

"Aduh, kenapa tidak memberi pertolongan?"

Kembali kakek itu berteriak kaget.

"Apa kalian mau menyaksikan kakek terbanting mampus? Tolong. ..-kenapa hati kalian begitu kejam. O.....hati kalian memang busuk, kejam......."

Tiba2 ia menjerit kaget lagi, badannya yang duduk di atas punggung keledai merosot ke bawah dan tampaknya ia bakal terlempar jatuh ke tanah.

Segera Ti-seng-jiu Buyung Ham maju ke depan, ia memberi hormat dan menyapa dengan sikap munduk2.

"Bukankah engkau orang tua ini Sin-lu tiat tau (keledai sakti peluru baja) Tang locianpwe? Wan-pwe Buyung Ham menyampaikan salam hormat padamu!"

Setelah disapa, kakek itu mendadak tertawa cekikikan, aneh juga, bukan saja keledai kecil itu lantas berhenti, malahan berhentinya persis di depan Ti-seng-jiu, si kakek masih duduk tenang di atas keledai, se-akan2 tak pernah terjadi sesuatu peristiwa apapun.

Mendengar ucapan Buyung Ham tadi, air muka para hadirin seketikapun berubah hebat.

Waktu kakek tukang loak ini muncul tidi, yang terkesiap hanya tokoh2 yang tua saja, sedangkan yang lebih muda tetap bersikap tenang, sebab mereka tak kenal siapakah kakek ini.

Lain halnya sekarang, setelah Buyung cengcu menyapa, muka semua orang lantas tahu kalau kakek itu tak lain adalah Sin-lutiat-tau Tang Cian-li yang sudah tersohor sejak lima puluh tahun yang lalu, kontan suasana menjadi sepi, semua orang tak berani bersuara.

Asal-usul tokoh lihay ini jarang diketahui umum, orang hanya tahu jago tua ini bukan saja lihay ilmu silatnya, kecerdikannya juga luar biasa.

Konon lengan kiri Suma Keng dan kaki kanan Li Ki adalah dikutungi Sin lu-tiat-tan Tang Cian-ll.

Satelah peristiwa tersebut, Tui-hun-leng Suma Keng serta Tok-kah-hui-mo Li Ki pulang dan melaporkan musibah yang menimpa mereka kepada gurunya masing2 Tentu saja dalam laporan tersebut mereka merahasiakan perbuatan ganas yang mereka lakukan, mereka hanya mengisahkan bagaimana anggota badan mereka dikutungi Sin-lu-tist-tan dan bagaimana pula musnh menghina nama guru mereka, tentu pula di sana-sini diberi tambahan bumbu, hal ini mengakibatkan guru mereka judi murka dan segera masuk ke Tionggoan untuk melakukan pembalasan dendam.

Guru kedua manusia cacat itu terhitung jago kelas atas pada jaman itu, tapi mereka sadar akan kekuatan sendiri masih belum mampu merobohkan Sin-lu-tiat tan.

Karena itulah mereka lantas mengundang pentolan iblis dari kalangan hitam untuk bersama2 menghadapi tokoh lihay itu, jumlah mereka mencapai belasan orang banyaknya.

Merekapun membuat tantangan kepada Sin-lu tiat-tan untuk beradu kekuatan di puncak Tay-heng san pada hari Tiong yang.

Pertandingan yang berlangsung di puncak Ki-ko-hong itu merupakan pertempuran paling besar bagi dunia persilatan waktu itu, hampir seluruh umat persilatan dari delapan penjuru dunia sama berkumpul di atas gunung itu.

Sin-lutiat-tan ternyata sangat lihay, dalam per tarungan itu bukan saja kedua guru dari Tui-hun-leng dan Tok-kah-hui-mo berhasil dirobohkan, malahan jago lihay dari kalangan Hek-to yang hadirpun mati atau terluka parah oleh ketiga biji peluru sakti dan ke-64 jurus pukulan Ki-heng-ciang si kakek penunggang keledai, yang lebih hebat lagi ternyata tak seorangpun di antara lawannya yang mampu bertahan sampai sepuluh gebrakan.

Sejak peristiwa itu, nama besar Sin-lu-tiat-tan makin menggetarkan Kangouw tapi sejak itu pula jejaknya lenyap tak berbekas.

Sungguh tak nyana Sin-lu-tiat-tan Tang Cian-h yang maha lihay itu kini muncul kembali di hutan sini, tidak heran kalau semua orang dibikin kaget Begitulah si kakek tukang loak itu sedang tertawa ter-bahak2, dia melirik sekitarnya, lalu berkala kepada Ti-seng-jiu.

"Wah, kau ,salah lihat, jangan kira aku menunggang keledai maka kau lantas anggap aku adalah si keledai sakti. Kalian sebut aku peluru baja? Hahaha, yang benar aku cuma peluru tahu, aku paling takut melihat orang berkelahi ......hihihi, jangan begitu ah!"

Perlahan ia jalankan keledainya menghampiri keempat bersaudara keluarga Hoan, waktu itu Hoan Can, Hoan Ing dan Hoan Soh-ing sedang sibuk menolong Hoan Kiat yang teriuka oleh pukulan Tui-hun-leng.

Mo-in-kiani Hoan Ing memapah tubuh saudara nya yang luka, Hoan Cun mengurut jalan darah penting disekitar badannya, sedangkan Hoan Soh-ing memberi minum obat mujarab Kakek aneh itu melihat sekejap ke arah Hoan Kiat, kemudian omelnya.

"Coba lihat, mengerikan tidak kalau suka berkelahi, untung kalau cuma ter-luka, jika mampus apa tidak konyol?"

Lalu ia pandang Suma Keng dan Li Ki, tegurnya lagi.

"Hayo mengaku, siapa yang melukai bocah ini?"

Pucat wajah kedua manusia cacat itu.

mereka ketakutan setengah mati sampai badanpun menggigil, mereka tak berani bohong, tapi juga takut untuk mengaku, yang dapat dilakukan kedua orang itu hanya saling pandang dengan inenyengir.

Dalam pada itu sorot mata si kakek lantas beralih ke arah Tian Pek, tiba2 ia tertawa lebar.

Tiau Pek tak tahu kenapa kakek tukang loak ini tertawa padanya, sebab tiap kali mereka berjumpa di tengah jalan, kakek itu selalu tertawa lebar padanya.

"Eh, engkoh cilik!"

Tiba2 kekek itu menegur.

"agaknya kita memang ada jodoh, ke mana pun kita selalu bertemu!"

"Memang kejadian yang sangat kebetulan!"

Ja wab Tian Pek sambil tersenyum.

"ke mana kupergi, di sitn pula Losianseng juga berada!"

Kakek itu tertawa, ia turun dari keledainya dan menghampiri tiga bersaudara keluarga Hoan, tiba2 ia tuding bahu kanan Hoan Kiat dan berkata.

"Bahu kanan ini terluka persis pada jalan darah Peng-houg-hiatnya, kalau tidak cepat diobati, bisa jadi tubuhnya akan Poau sui (mati setengah bagian)."

Waktu itu Hoan Cun sedang kepayahan dan keringat membasahi tubuhnya, dia sudah berusaha untuk membebaskan jalan darah adiknya yang tertutuk, namun usahanya selalu gagal, ini membuatnya gelisah dan panik.

Mendadak kakek itu menuding dengan jari tangannya, Hoan Cun berdekatan dengan kakek itu.

ia merasakan angin dingin mendesir lewat di sisi tubuhnya, ini membuatnya terkejut.

Untung pemuda itu tidak bertindak gegebah, sebab segera ingat kepandaian itu sangat mirip de ngan ilmu Leng-gong-hut-hia.

(membebaskan jalan darah lewat kebasan dari jauh) yang jarang terlihat.

Tiba2 Hoan Kiat bersin sekali lalu sadar kembali dari pingsannya.

Baru sekarang Hoan Cun bergirang, pikirnya.

"Wah, untung aku tidak bertindak gegabah, kalau tidak, entah bagaimana jadinya?"

Di samping itu iapun sangat kagum atas ilmu sakti si kakek, setengah harian dia berusaha membebaskan jalan darah adiknya, namun usahanya sia2, tak tahunya kakek tua itu cuma sekali tuding, lalu semuanya jadi beres.

Setelah kakek itu turun dari keledainya tadi, Tian Pek jadi tertegun, ia lihat sebilah pedang ter gantung di pelana keledai itu, karena tadi tertutup oleh kaki si kakek, maka ia tidak melihatnya, sekarang setelah kakek itu turun dari keledainya pedang itupun tertampak jelas.

Hati tergetar seketika.

Pedang itu tidak asing lagi baginva, sarung kulit ikan hiu dengan kemala hijau melapisi gagang pe dang, bukankah pedang itu adalah Pedang Hijau pusaka warisan ayahnya yaug dibawa kabur orang ketika sedang dilihat An-lok Kongcu tempo hari.

Tian Pek tak dapat menguasai emosinya lagi, terutama karena pedang itu penting sekali artinya baginya, tanpa pikir ia lantas melompat ke sana dan menyambar pedang itu.

"Losianseng. pedang ini kan milikku ....?"

Berbareng iapun berteriak.

Gerak tubuh Tian Pek sangat cepat, tapi kakek itu ternyata lebih cepat, sebelum anak muda itu mencapai sasarannya, kakek tadi sudah lompat kembali ke atas punggung keledainya sambil berseru.

"Eeeh, engkoh cilik, apaan kau ini? Kenapa kau hendak rampas pedang-pusakaku?"

"Hm,"

Tian Pek menjengek, bentaknya marah.

"pedang mi jelas milikku, sepanjang jalan kau selalu mengikuti jejakku, rupanya kau memang ingin merampas pedang iui. Sekarang setelah kau mendapatkan, kau malah sengaja dipamerkan di hadapanku?"

Sambil berteriak marah Tian Pek terus menge jar, namun kakek itu tidak tinggal diam.

dia mem-bedal keledainya dan kabur dari situ.

Kali ini Tian Pek bertindak lebih cekatan, dia kuatir ketinggalan lagi, dengan ilmu Pat-poh-kan sian (delapan langkah mengejar tonggeret) ia melayang ke atas dan mendadak melontarkan pukulan dahsyat ke punggung kakek.

"Aduh mak, tolong!"

Kakek itu menjerit panik, tubuhnya tampak bergerak ke sana kemari macam orang ketakutan dan akan terperosot. Tapi pukulan Tian Pek ternyata mengenai tempat kosong.

"Tolong, tolong!"

Kakek itu menjerit.

"Eng koh cilik ini mata gelap setelah melihat barang pusaka. Wah, tolonglah aku engkoh cilik ini mau rebut barangku! He, begitu banyak orang berkumpul di situ, kenapa tak seorangpun yang mau membantu aku?"

"Hei, kakek, tidak perlu kau pura2 dungu dan berlagak edan!"

Bentak Tian Pek dengan mendongkol, sambil mengejar ia lepaskan dua kali pukulan berantai. Lalu ia mendamperat.

"Bila kau tidak tanggalkan pedang pusaka itu, sampai ke ujung langitpun Siauya akau mengejar terus!"

"Aduh! Tolong .... tolong....."

Tanpa berpaling lagi kakek itu kabur secepat terbang.

Betapa penasarannya Tian Pek meayaksikan tingkah laku kakek itu, beberapa kali ia melancar kan serangan, tapi selalu mengenai tempat kosong, tiap kali kakek itu goyangkan badannya ke sana ke mari dengan lagak orang panik.

Ketika Tian Pek menghajar pantat keledai itu, tapi juga tidak mendatangkan hasil, sebab keledai itupun ber-jingkrak2 sehingga pukulannya luput.

Dalam waktu singkat dua orang dan seekor keledai itu sudah berada puluhan tombak jauhnya dari tempat semula, sebentar lagi mereka akan lenyap di balik hutan sana.

Beberapa jago Pah-to-san-ceng bermaksud me-ngejar anak muda itu, tapi Ti-seng-jiu lantas menghalangi niat mereka itu.

Hanya sekejap saja Tian Pek dan kakek itu sudah makin jauh meninggalkan terapat itu, akhirnya bayangan merekapun lenyap di balik pepohonan......Empat lima puluh li sudah Tian Pek melakukan pengejaran di belakang kakek itu, tapi mendadak ia kehilangan jejak kakek itu di balik hutan lebat sana.

Jilid 07 .

Manusia Mati Hidup dan Hidup Mati Anehnya, walaupun kakek bersama keledainya hilang tak berbekas, akan tetapi pedang pusaka hijau itu kelihatan tergantung di atas sebuah dahan pohon siong yang tinggi.

Hampir saja Tian Pek tidak percaya pada pandangan sendiri, masa barang yang telah hilang dan dikejar setengah mati, tahu2 tergantung di atas pohon dengan begitu saja.

Tapi kenyataan memang begitu, pedang yang dibawa lari itu jelas2 berada di atas pohon.

Tian Pek masih juga sangsi, ia kucek-kucek matanya dan menengadah lagi, ternyata pedang mestika itu memang benar2 tergantung di dahan pohon.

Pedang itu tergantung pada ketinggian kurang lebih empat tombak dari permukaan tanah, keadaan ini persis seperti kejadian tempo hari di mana Hui It-tong juga menggantungkan kantong-kosongnya di pucuk pohon yang tinggi, malahan sekarang pedang, tergantung terlebih tinggi.

Tapi Tian Pek sama sekali tidak berpikir, begitu melihat pedang tcrgantung di dahan, dia segera meloncat ke atas.

Dengan gaya "capung hinggsp di tiang", ia jumpalitan di udara kemudian ia sambar gagang pedang tersebut, lalu melayang turun kembali ke permukaan tanah.

"Gerakan yang indah!"

Mendadak seoraug memuji dari belakang.

Terperanjat Tian Pek mendengar suara itu, ia sama sekali tidak menaruh perhatian atas kehebatan Ginkangoya sendiri, yang diperhatikan hanyalah pedang mestika itu, tak heran kalau kehadiran orang itu tidak diketahuinya.

Sudah dua kali pedang mestika itu dirampas orang, pengaaman pahit membuat anak muda ini bertindak lebih waspada, dia kuatir pedang yang baru saja diperoleb kembali akan dirampas orang lagi, maka begitu mencapai permukaan tanah dia lantas melolos pedang itu.

"Cring", diiringi dentingan nyaring, cahaya hijau terpancar, begitu pedang itu tercabut keluar, dia memutar pedangoya ke belakang dengan gerak Ya cian-pat-hong (pertempuran malam di delapan penjuru), setelah membentuk satu lingkaran baru pemuda itu megawasi sekitarnya dengan seksama. Tapi apa yang kemudian terlihat olehnya hampir saja membuat anak muda itu terkesiap, bulu romanya pada berdiri. Kiranya dua orang manusia yang berdiri di belakang Tian Pek ini adalah makhluk aneh yang bermuka pucat seperti mayat, mereka mengenakan baju kain belacu warna putih dengan ikat pinggang tali rami, rambutnya panjang terurai, mukanya kaku tanpa emosi. Kemunculan mereka sama sekali tidak menimbulkan suara, se-akan2 arwah gentayangan, tidak cuma begitu saja, dari tubuh kedua orang makhluk aneh itupun menyiarkan hawa seram dan membuat orang jadi ngeri dan takut. Sekalipun tatkala mana sang surya mencorong terang di langit, tak urung Tian Pek merasa seram juga. Yang lebih aneh lagi, muka kedua manusia ini ibarat pinang dibelah dua, boleh dibilang sama sekali tak ada bedanya, bentuk pakaian yang mereka kenakan juga sama, bila mereka muncul satu persatu tentu orang tak bisa menebak mana si A dan mana si B. Sementara Tian Pek masih berdiri terkesima, salah seorang dari manusia aneh itu menyangir seram, mimik wajahnya sangat mengerikan, dikala tertawa kulit pipinya sama sekali tak bergoyang hingga yang kelihatan hanyalah dua baris giginya yang putih.

"Hayo bawa kemari!"

Seru manusia aneh itu sambil menjulurkan tangannya ke depan.

Tian Pek mundur selangkah dan melintangkan pedang di depan dada, kali ini ia sudah bulatkan tekad, betapapun juga pedang mestika itu tak boleh direbut orang lagi, sekalipun untuk itu dia harud mengorbankan jiwanya.

"Aku tidak kenal dengan kalian berdua, apa yang kalian minta?"

Seru Tian Pek.

"Aku tidak mengerti apa maksud ucapanmu!" 'Hehehe ..hihihi....!"

Kedua makhluk aneh itu tertawa aneh, seram suara tertawanya hingga membuat siapa saja ysmg mendengar jadi bergidik-Sesaat kemudian, salah seorang aneh itu menjawab.

"Pertama, serahkan pedang itu! Kedua, serahkan jiwamu. Untuk sederhanakan pekerjaan kami, lebih baik serahkan dulu pedangmu, dengan demikian jika kau mati nanti kami tak perlu bersusah payah untuk berjongkok menjemput pedang."

Hawa amarah membakar dada Tian Pek, alis matanya bekernyit dan mukanya merah padam karena emosi, perkataan orang dirasakannya terlalu latah, masa dirinya diremehkan secara begini?

Sungguh anak muda itu sangat mendongkol tanpa menghiraukan mati-hidupnya lagi ia tertawa-katanya.

"Sombong amat perkataan kalian berdua. Jangan dikira aku Tian Pek jeri pada mu? Hm, sebutkan dulu siapa nama kalian, selamanva aku tak pernah membunuh manusia tak bernama!"

Mendengar nama anak muda itu, mereka berdua saling berpandangan, air mukanya yang kaku sedikit berubah, kemudian hampir berbareng mereka berkata.

"O. kau juga she Tian? Tidak bohong?"

"Sialan, memangnya aku suka memakai she orang lain?"

Tian Pek membatin di dalam hati. Ia lantas mendengus, dengan angkuh menjawab.

"Mungkin kalian berdua sering memalsukan nama orang lain, makanya sekarang mcncurigai orang lainpun menggunakan nama palsu."

Rupanya perkataan itu sangat menusuk perasaan kedua makhluk aneh ini. satu diantaranya segera memperkenalkan diri.

"Aku adalah Hoat-si-jin (orang mati hidup)!"

"Dan aku Si-hoat-jin (orang hidup mati)!"

Sambung yang lain dengan cepat. Kemudian hampir secara bersama kedua orang itu melanjutkan kata2nya.

"Kami berdua memang tak punya nama yang_asli, tapi bila nama julukan kami sudah disebut, maka tiba pula saat ajalmu."

Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, mereka terus menerjang maju, telapak tangan dan cakar yang dahsyat segera menyambar kepala Tian Pek.

Tian Pek terperanjat, cepat ia putar pedangnya melakukan perlawanan, untuk mendesak mundur terjangan kedua orang aneh itu terpak&a dia harus melancarkan lima enam jurus serangan dengan gencar.

Akhir2 ini sudah banyak jurus serangan ampuh yang dilihat Tian Pek dari berbagai jago kosen, namun belum pernah ia jumpai serangan yang aneh dan sakti seperti sekarang.

Serangan yang dilancarkan kedua orang itu tampaknya lambat, tapi ternyata cepat luar biasa, sewaktu bergerak telapak tangan kelihatan lambat, tapi sampai setengah jalan segera tubuh lawan di-cecar dengan serangan gencar.

Sebaliknya serangan itu bisa secepat kilat, tetapi sewaktu tiba di depan musuh, mendadak berubah lagi menjadi lambat sekali.

Lambat atau cepatnya serangan mereka, Tian Pek tetap kewalahan, dia harus menggunakan tiga sampai lima jurus untuk bisa memunahkan ancaman yang datang, karena itulah baru dua-tiga gebrakan pertarungan itu berlangsung, Tian Pek sudah dibikin kalang kabut dan terdesak hebat.

Ketenangan yang dimiliki anak muda itu kini jadi lenyap, ia tak dapat melayani musuhnya seperti waktu berlangsungnya pertarungan melawan Tok kah-hui-mo, iapun tak dapat menyadap jurus serangan lawan sebab serangan yang dipakai kedua lawan-tidak teratur.

Bahwasanya ilmu silat yang dipelajari Tian Pek memang campur-aduk, ia pernah melatih ilmu silat-nya sendiri selama belasan tahun dengan tekun, tapi tiada guru pandai yang memberi petunjuk, karenanya jurus serangan yang dipelajari waktu itupun beraneka ragam dan cuma iimu silat kembangan belaka.

Kemudian ia belajar Sim hoat (tenaga dalam) menurut catatan dalam kitab Thian-hud-pit-kip, tenaga dalamnya memang mendapat kemajuan pesat, matanya makin tajam dan pendengarannya hebat, bahkan boleh dikatakan mendekati puncak kesempurnaan, tapi sayang dia kurang praktek dan tidak tahu cara penggunaannya.

Sesudah beruntun melakukan pertarungan sengit melawan beberapa jago lihay, hasil dari penyadapan tersebut dapatlah ia menggunakan beberapa jurus serangan.

Tapi sekarang Tian Pek menghadapi kedua orang aneh yang kosen jelas dia masih ketinggalan jauh sekali.

Belasan gebrakan baru lewat, Tian Pek lantas tercecar, setiap kali pedangnya bermaksnd mengancam tubuh musuh, setiap kali pula ia harus menarik kembali serangannya karena terdesak oleh angin pukulan musuh yang ampuh.

Lambat laun Tian Pek mulai kewalahan, ia tambah terperanjat melihat kelihayan lawan, dalam waktu singkat dia merasa bayangan putih memenuhi sekitarnya, serangan musuh se-olah2 datang dari segenap penjuru, ini membuat matanya jadi ber-kunang2 dan kepala mulai pusing tujuh keliling.

Baik eepat atau lambat, serangan itu membawa desiran angin tajam, angin pukulan itu dingin merasuk tulang.

di manapun dia berpaling di situ terdapat bavangan putih.

Tian Pek merasa disekitarnya dipenuhi bayangan musuh, makin lama bayangan itu makin banyak, hanya sekejap mata kemudian seluruh gelanggang telah dipenuhi bayangan musuh.

Tian Pek bukan orang bodoh, tentu saja dia paham darimana munculnya begitu banyak bayangan musuh, ia pun tahu bayangan itu hanya suatu tipuan belaka karena kecepatan gerak lawan, lama2 ia tak mampu lagi membedakan bayangan mana yang asli dan mana yang tipuan.

Hanya satu hal yang dapat dikerjakan olehnya ketika itu, yakni memutar pedang sedemikian rupa sebingga serangan musuh tak mampu menembus pertahanannya.

Ilmu pedang Sam-cay-kiam-hoat yang dipahami Tian Pek adalah ilmu pedang yang sangat umum, tapi di bawah permainan Tian Pek sekarang menjadi hebat luar biasa, hal ini pertama disebabkan karena pedang yang dipakainya adalah pedang mestika, kedua karena tenaga dalam yang dimilikinya sudah memperoleh kemajuan yang pesat.

Oleh sebab itulah ilmu pedang Sam-cay-kiam-hoat yang sebenarnya amat sederhana, dalam permainan anak muda itu menjadi hebat sekali, sinar tajam tampak menggulung kesana-kemari ibarat ombak di tengah samudra.

hawa pedang yang dingin berembus menimbulkan suara mendengung bagaikan guntur menggelegar.

Betapapun dua orang manusia aneh itu jadi terperanjat, ilmu silat yang diyakinkan mereka adalah suatu ilmu pukulan yang dinamakan Tay-kek-ciang-gi-li hun-ciang (pukulan dua unsur pembetot nyawa), bukan saja hebat dalam serangan juga ampuh dalam kekuatan, jarang sekali orang bisa bertahan sebanyak sepulah gebrakan dengan mereka, tapi kenyataannya sekarang, bukan saja Tian Pek mampu bertahan sampai puluhan gebrakan, malahan untuk merobohkannya juga sukar rasanya.

Hanya sekejap lima enam gebrakan kembali telah lewat.

"Orang mati bidup"

Masih bisa bersabar, sejurus demi sejurus dia menyerang terus secara gencar. Sebaliknya "orang hidup mati"

Yang berangasan, lama2 menjadi habis sabarnya, ketika dilihatnya Tian Pek masih bertahan secara rapat dan meyakinkan, ia bersuit nyaring, tiba2 dengan jurus Im-yang gi-liok (jalan berbeda antara dunia dan akhirat) telapak tangan kirinya membabat ke depan, menyusul telapak tangan kanan membacok bagaikan kampak ke atas kepala musuh, dalam sekejap lima tempat jalan darah penting anak nmda itu sudah terkurung oleh bayangan pukulannya.

Serangan itu sungguh ampuh, kontan Tian Pek merasakan kepalanya pusing dan matanya berkunang-kunang, ia tak bisa membedakan lagi dar1 mana munculnya serangan ampuh kedua lawannya.

Dalam keadaan demikian terpaksa dia mengembangkan permainan pedangnya sedemikian rupa hingga jangankan angin pukulan, hujanpun mungkin tak akan menembus pertahanannya itu, kini ia lebih mementingkan keselamatan sendiri daripada melukai musuh, ia tidak memusingkan lagi serangan musuh yang gencar dan dahsyat itu.

Keadaan anak muda ini sekarang ibaratnya orang buta menunggang kuda, sekalipun kudanya sudah berada di tepi jurang, namun dia masih tidak menyadari akan bahaya yang sedang menanti.

Mendadak "orang msti hidup"

Melihat sesuatu untaian yang tergantung di gagang pedang mestika itu, hatinya tergetar, seperti tidak sengaja dia menarik tubuh rekannya kebelakang hingga serangan maut yang sebenarnya hampir bersarang di tubuh anak muda itu mengenai tempat kosong.

Selagi si "orang hidup mati"

Akan umbar rasa gusarnya, tahu2 si "orang mati hidup"

Dengan cepat meraih benda yang tergantung di gagang pedang tadi, menyusul ia lantas melompat mundur. Tentu saja "orang hidup mati"

Tak tahu apa maksud rekannya, tapi ketika dilihatnya "orang mati hidup"

Melompat mundur dari gelanggang, meski dengan hati tak senang terpaksa iapun ikut melayang mundur dari situ.

Dengan mundurnya kedua orang itu, Tian Pek merasa daya tekanan yang mengurungnya lantas berkurang, akhirnya bayangan putih yang memenuhi sekitar gelanggangpun lenyap tak berbekas, dia tarik kembali pedangnya lalu berdiri dengan pedang melintang di depan dada.

Dalam pada itu kantong kecil yang dirampas kedua orang aneh itu sudah dibuka.

mereka ambil keluar secomot rambut manusia, lalu saling pandang sekejap kemudian rambut itu disodorkan ke depan Tian Pek sambil membentak.

"Apakah ini?"

Ttntu saja Tian Pek tahu gumpalan rambut itu adalah barang tinggalan ayahnya, ia menjadi murka, dengan mata melotot dia melangkah muju seraya membentak.

"Kembalikan kepadaku! Darimana kalian msndapatkan benda ini?"

Kedua orang aneh itu tertegun, mereka tak menyangka secara tiba2 anak muda itu bisa ber-ubah segalak itu, sambil mencibir mereka lantas buang gumpalan rambut itu ke arah Tian Pek.

"Huh, memangnya benda mestika apa, ambil kembali!"

Jengek kedua orang itu. Lalu dari bungkusan itu mereka keluarkan pula seutas tali serat, mereka saling pandang lagi sekejap, tanpa bicara mereka berseru ke arah Tian Pek dan bertanya dengan sangsi.

"Dan benda apa pula ini?"

"Tak usah banyak bicara, hayo kembalikan padaku!"

Teriak Tian Pek lagi dengan penasaran. Rupanya anak muda itu tak menyangka kalau bungkusan tersebut di peroleh "orang mati hidup"

Dari gagang pedangnya. dia cuma heran darimana kedua itu bisa mendapatkan barang peninggalan ayahnya itu, sebab dia masih ingat barang2 itu dulu dicecerkan di sepanjang jaian oleh Hui It-tong.

"Jangan kalian bongkar isi kantong itu!"

Kembali anak muda itu berteriak.

"Semua itu milikku!"

Kalau ucapan itu digubris masih mendingan bukannya menuruti permintaannya, kedua orang itu malahan makin cepat membongkar isi kantong itu, sehabis melempar seutas serat tadi, mereka melemparkan pula sebiji gotri baja dan sebiji kancing tembaga, semuanya dilemparkan kembali kepada Tian Pek.

Akhirnya kedua orang aneh itu ambil keluar sebiji mata uang tembaga dari kantong itu, tiba2 seperti kena dipagut ular berbisa mereka melonjak kaget sambil meraung seperti orang kalap dan me-narik2 rambut sendiri.

Kedua orang itu benar2 seperti orang gila, menjerit dengan histeris, banyak rambut mereka yang rontok dan beterbangan di udara.

Sekali ini giliran Tian Pek yang terkejut, sudah tentu ia tak tahu apa sebabnya secara tiba2 kedua orang aneh itu menjadi gila.

Sesudah menjambak, mereka mulai memukuli dada sendiri, setelah itu menghajar pula kepala sendiri dengan keras, teriakan sedih menggema dari mulut kedua orang itu bagaikan lolongan serigala di tengah malam, kemudian mereka saling berpelukan.

kepala mereka saling diadu dengan kerasnya sampai berbunyi.

"Duuk-duuk", sekalipun sangat keras benturan itu, namun mereka tidak merasakan sakit. Tian Pek berdiri melongo, kebinguugan oleh tingkah laku orang yang aneh itu, ia tak tahu sebab musababnya dan apa yang mesti dilakukannya. Mendadak kedua orang aneh itu mendekatinya, yang satu pegang lengan kirinya dan yang lain pegang lengan kanannya. Tian Pek tidak menduga sama sekali, pula gerakan kedua orang aneh itu memang cepat luar biasa, tahu2 ia sudah terpegang kencang oleh mereka. Sungguh luar biasa kaget anak muda itu, ia merasa tulangnya amat sakit seperti mau patah, tapi dia tetap membungkam, bertahan sekuatnya.

"Hayo jawab, apakah pedang ini Pedang Hijau Bu-ceng-pek-kiam?"

Teriak si "orang mati hidup"

Yang berada di sebelah kanan dengan nada pedih.

"Lepaskan aku!"

Bukan menjawab, Tian Pek malahan berteriak marah.

"Apakah kau keturunan Tian In Thian. Tian tayhiap?"

Kembali "orang hidup mati"

Yang ada di sebelah kiri menjerit dengan suara pilu. Meskipun sedih dihati, Tian Pek tetap membungkam. Tiba2 kedua orang itu lepaskan cengkeramannya dan serentak memberi hormat kepada Tian Pek.

"O Thian memang punya mata, akhirnya kutemukan juga keturunan In jin (tuan penolong)!"

Jerit "orang hidup mati"

Dengan berduka.

"O Thian tak punya mata, dendam kesumat Injin tetap tenggelam di lautan!"

Sambut si "orang hidup mati'"

Tak kalah sedihnya.

"Kemana kami mencari pembunuh terkutuk itu?' "Tidak!"

Tiba2 si "orang mati hidup"

Mendorong "orang hidup mati"

Sambil memperlihatkan mata uang tembaga itu, serunya.

"Saudaraku, coba lihat apakah ini?"

"Orang hidup mati"

Memandang sekejap benda itu kemudian menangis ter-gerung2, suaranya memilukan membuat orang ikut iba hati. Selang sesaat kemudian.

"orang hidup mati"

Berkeluh dengan sedihnya.

"Karena kematian Injin yang tidak jelas dan untuk menyelidiki jejak pembunuhnya terpaksa kita hidup menderita lahir batin, kalau tak dapat membalas budi, lebih baik mati daripada hidup. Karena itu kita mengasingkan diri dan mengganti nama jadi Hoat-si jin dan Si-hoat jin. tapi kini setelah melihat benda ini... ."

Sambil menuding mata uang tembaga di tangan si "orang mati hidup", kembali "orang hidup mati"

Melanjutkan kata2nya dengan air mata bercucuran.

"Sekarang kita sudah tahu siapa pembunuhnya, sayang kita tak mampu balaskan dendam bagi Injin, coba kemana mesti ditaruh muka kita ini?"

"Benar, saudaraku,"

Keluh "orang mati hidup"

Pula sambil menangis.

"kita kehilangan muka, apalagi artinya hidup kita ini, lebih baik mati saja....!"

Kedua orang aneh itu lantas saling rangkul dan meng-gerung2, suaranya memilukan hati ....

Tian Pek berdiri tercengang, tak tersangka olehnya manusia aneh yang lihay bagaikan sukma gentayangan itu ternyata memiliki perasaan yang hangat dan simpati, bahkan meuurut pembicaraan mereka jelas kedua orang ini adalah sahabat karib mendiang ayahnya.

Rasa benci, dendam dan dongkol yang semula menyelimuti hatinya kini tersapu lenyap, sebaliknya malah timbul suatu perasaan aneh, perasaan akrab terhadap sanak keluarga sendiri.

Melihat mereka menangis sedih, serta merta Tian Pek menghiburnya dengan suara lembut.

"Kalian tak usah bersedih. Sekalipun sekarang kita tak bisa membalas dendam, toh kesempatan di masa mendatang masih amat panjang. Kalian tentu pernah mendengar pepatah kuno yang mengatakan. Balas dendam bagi seorang kuncu, sepuluh tahun juga belum terhitung lambat. Asalkan kalian punya tekad yang bulat, maka aku Tian Pek dan juga arwah ayah di alam baka pun akan berterima kasih kepada kalian!"

Seandainya Tian Pek tidak menghibur, mungkin kedua orang aneh itu cuma menangis saja, sekarang mendadak mereka malah ber-teriak2 dengan air mata bercucuran.

"O ... .' kami malu terhadap sababat lama..kami malu terhadap sahabat lama ....!"

Sembari berteriak kalap, si "orang mati hidup"

Lari mendekati sebatang pobon yang cukup besar, kemudian membenturkan kepalanya pada batang pohon tersebut sekerasnya.

Rupanya saking berdukauya dia hendak bunuh diri dengan membenturkan kepalanya pada pobon.

Tian Pek menjadi kelabakan, dia ingm mencegah perbuatan nekat orang itu, tapi di sebelah sini si "Manusia hidup mati"

Yang sedang menangis tiba2 juga menghampiri pohon yang lain terus menumbukkan kepalanya.

"Kraak! Kraak!"

Bukan mereka yang roboh karena benturan itu, sebaliknya pohon besar dan kuat itulah yang tertumbuk patah jadi dua bagian, daun berguguran, pasir beterbangan, tumbanglah pohon itu.

Sungguh lucu, kedua manusia aneh itu gagal membunuh diri, sebaliknya pohon yang diseruduknya malahan tumbang berantakan.

Diam2 Tian Pek menjulurkan lidahnya karena kagum bercampur kaget, bukan sembarangan orang dapat berbuat demikian jika mereka tidak mempunyai tenaga ribuan kati.

Kedua manusia aneh itu semakin penasaran, melihat maksud mereka untuk membunuh diri tidak berhasil, mereka lantas menumbuk-numbukkan lagi kepalanya pada pohon yang lain.

Gempuran keras menggelegar di sana-sini, suaranya memekak telinga, setiap kali mereka menumbuk batang pohon, maka pohon besar itupun tumbang, hanya sekejap saja sudah berpuluh batang pohon berserakan di tanah, keadaan jadi porak-poranda dan mendatangkan rasa ngeri bagi yang melihat.

Untung di sekitar tempat itu tak ada orang lewat, kalau tidak pasti mereka akan mengira di tempat itu baru terjadi gempa hebat, makanya pohon raksasa itu sama bertumbangan.

Lambat laun kedua manusia aneh itu mulai sadar, tak mungkin mereka bisa menghabisi jiwa sendiri dengan menumbukkan kepala pada batang pohon, akhirnya sambil menangis ter-gerung2 mereka kabur tinggalkan tempat itu.

Cepat nian gerak tubuh kedua orang aneh itu, hanya sekejap saja mereka sudah lenyap, hanya ter-dengar suara tangisan mereka yang memilukan hati menggema di angkasa.

Tian Pek berdiri ter-mangu2 mengawasi berlalunya kedua orang itu.

Sama sekali tak terduga bahwa kedua orang aneh itu sangat perasa dan besar emosinya....

Tian Pek menghela napas, pikirnya.

"Dari pembicaraan mereka, tampaknya kedua orang itu tahu siapa pembunuh ayabku, tapi kenapa mereka bilang tak sanggup membalaskan dendam kematian ayah .,..?"

Mendadak teringat akan sesuatu, anak muda itu membanting kaki dan berseru dengan gegetun.

"Ai, aku memang tolol, kenapa tidak kutanyakan kepada mereka siapakah orangnya ....?"

"He, bocah, kau lupa tanya siapa?"

Tiba2 seseorang menanggapi dari belakang.

"Memangnya kau sudah sinting, masa bicara sendirian di sini?"

Cepat Tian Pek berpaling, ia lihat orang itu tak lain adalah Lak jiu-tong-sin (tangan keji berhati bocah) Hui It-tong.

Terkesiap hati anak muda itu, dahinya langsung berkerut.

ia tahu orang tua ini paling susah dilayani sebab dia tak kenal aturan baik dalam pembicaraan maupun dalam perbuatan.

Sementara itu Hui It tong sedang tertawa ter-bahak2 tampaknya dia sangat senang, sambil picingkan mata dia menggoda.

"Eh, bocsh cilik, kenapa kau unjuk muka tak senang, kau tidak suka berjumpa dengan aku si orang tua?"

Tian Pek tidak menggubrisnya. Kembali orang tua itu berseloroh.

"Tapi kita justeru bertemu lagi, tampaknya kita memang ada jodoh, hibihi.... Coba lihat, bukankah kita bertemu lagi di tempat yang sama dulu?"

Tian Pek tertegun.

ia jadi teringat kembali bahwa hutan ini memang tempat di mana ia berjumpa dengan Yan in ngo-pak-thian yang mau membegal barang kawalannya dahulu.

Tempatnya masih seperti sediakala, tapi selama lebih sebulan ini entah sudah berapa banyak pengalaman aneh yang ditemuinya.

'Hihihi ..

..!"

Kembali Hui It-tong tertawa.

"kalau memang kita ada jodoh, nah, serahkan saja padaku!"

"Ini dia, penyakitnya kumat lagi!"

Demikian pikir Tian Pek di dalam hati, cepat dia mundur selangkah sambil menyengir.

"Locianpwe!"

Ucapnya.

"belum cukupkah engkau menggoda diriku? barangku sudah kau cerai-beraikan di tanah, sekarang kau datang menggoda lagi. Katakanlah! Apa yang kau kehendaki? Aku sudah tak punya barang apa2 lagi"

"Hihihi.. jangan kuatir nak, aku tak bakal mengincar barang rongsokanmu itu, kali ini aku minta yang lain saja"

Sambil cekikikan Hui It-tong menunjuk pedang pusaka di tangan anak muda itu. Lalu menyambung.

"Coba, pedang itu saja berikan kepadaku?"

Tian Pek naik darah, ia pikir.

"Keparat, memangnya aku Tian Pek boleh diperlakukan sesukamu."

Dengan mata melotot ia lantas berkata.

"Locianpwe, tentunya kau tahu pameo yang mengatakan. Senjata merupakan nyawa kedua bagi orang yang belajar silat. Apakah engkau tidak merasa permintaanmu itu kelewat batas"

Seketika air muka si kakek berhati bocah itu berubah, ia membentak.

"Kurang ajar, tak usah banyak bicara, jawab saja, mau kau serahkan atau tidak?"

Tian Pek tertawa dingin.

"Kalau tidak, lantas kau mau apa?"

Tantangnya dengan angkuh.

Hawa napsu membunuh terlintas di wajah Hui It-tong.

Tian Pek mengira orang akan rebut pedangnya, cepat iapun menghimpun tenaga dan bersiap siaga.

Tidak terduga setelah mengerling sekejap ke sana, tiba2 air muka kakek itu berubah menjadi lembut, dia memandang batang pohon yang berserakan itu.

lalu sambil menuding batang pohon itu ia bertanya.

"Bocah, apa yang terjadi di sini? Mengapa pepohonan itu pada tumbang begini?"

Tian Peng sangat mendongkol, ia merasa di permainkan orang, setengah harian dia merasa tegang tak tahunya orang itu malah bertanya secara santai, ingatan lain cepat melintas dalam benaknya.

"Kenapa aku mesti melayani orang tua ini dan buang waktu percuma?"

Maka cepat dia menjawab.

"Kalau Cianpwe tertarik pada kejadian ini, silakan tetap tinggal d1 sini dan selidikilah sendiri, maaf aku tak bisa menemani lebih lama, aku harus pergi karena ada urusan penting lainnya, selamat tinggal..... !"

Seiesai bicara, anak muda itu lantas angkat kaki.

"Eh, bocah, kau ingin kabur begitu saja?"

Terdengar suara jengekan, tahu2 Hui It-tong mengadang lagi di depannya.

"Lebih baik jangan main2 denganku, kalau masih nekat, hm, itu namanya cari penyakit sendiri!"

"Baik, kalau Ciaupwe ingin main kekerasan, hayo seranglab, akan kuhadapi sekarang,"

Teriak Tian Pek ketus. Hui It tong mendengus, lalu memandang lawannya dengan sikap menghina.

"Anak muda, apa kau bilang? Kau menantang aku untuk main kekerasan? Baik, kau memang bernyali!"

Tian Pek tak gentar. dia busungkan dada dan menjawab.

"Kalau Locianpwe tidak keberatan, silakan beri petunjuk beberapa jurus kepadaku!"

Hui It tong tidak menanggapi, biji matanya mengerling liar dengan mimik yang sukar diraba.

Tian Pek tahu Lak-ji-tong-sim Hui It-tong ini meski kelihatan angin2an, tapi hatinya sangat keji dan banyak tipu akalnya, ia kuatir oring mendadak menyerangnya maka diam2 ia bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Lak-jiu-tong-sim memang aneh orangnya.

dikala ketegangan sudah mencapai puncaknya dan pertaruanan segera akan berlangsung, tiba2 ia kendurkan kembali sikap tegangnya, dia berpaling dan mengamati sesuatu di sana, se-olah2 dia telah lupa pada Tian Pek yang menantangnya bertempur barusan.

Segera ia melangkah kesana sambil bergumam-"Aneh.

sungguh aneh, siapa yang menulis di atas tanah ini?"

Sikap si kakek yang sebentar keras dan sebentar lunak itu membuat Tian Pek juga sebentar tegang dan sebentar kendur, anak muda itu menjadi serba runyam.

Tian Pek tidak lagi gubris apa yang membuat heran Hui It-tong, sambil menjinjing pedang dia terus berlalu keluar hutan dengan langkah lebar.

Diam2 Tian Pek sudah ambil keputusan apabila Hui It-tong berani mengalangi jalan perginya lagi, maka dia akan lancarkan tusukan maut ke dada lawan andaikan dada kakek itu harus ditembus ujung pedang juga ia takkan menyesal.

Di luar dugaan meski tahu kepergian anak muda itu, ternyata si kakek tidak bagi mengalanginya.

Malahan terdengar ia sedang membaca tulisan yang tertera di atas tanah, cuma tulisan itu dibaca dengan ter-putus2 hingga sukar dirangkai menjadi suatu kalimat yang utuh.

"Pembunuh.. ayah. , . , berdiam ...Kimleng . .kekuasaannya..kolong langit..jangan bertindak gegabah..... Lu..Tan.."

Demikian terdengar Hui It tong sedang membaca tulisan itu. Sampai berepa kali tulisan itu dibaca ulang. tapi tetap kabur artinya, lama2 kakek itu jadi jengkel dan mencak-mencak gusar.

"Sialan, tulisan apa ini ....tak keruan seperti kentut anjing ..kunyuk !"

Tian Pek terkesiap mendengar ocehan itu pikirnya.

"Ai, bukankah tulisan itu ditulis oleh si kakek penunggang keledai? Dia tentu bsrmaksud memberi petunjuk kepadaku tentang jejak pembunuh ayahku?"

Cepat anak muda itu putar balik dan lari menghampiri Hui It-tong, tapi sayang, kedatangannya terlambat sejenak.

sambil mencaci maki kalang kabut kakek itu telah menghapus tulisan di tanah itu dengan telapak kakinya.

"Locianpwe, jangan kau hapus tulisan itu!'' pinta Tian Pek dengan gelisah sambil memburu ke sana. Tapi Hui It-tong telah menghapus semua tulisan tadi rata dengan tanah, kemudian dengan mata mendelik ia tatap anak muda itu.

"Anak muda, kau mau apa?"

Teriaknya dengan marah.

"Apakah kau yang tinggalkan tulisan ini? Sungguh tak becus kau menulis, kalau dilihat kau sudah dewasa, tak tahunya baru belajar menulis sekarang ini makanya tulisan di tanah tadi sukar dibaca, corat-coret seperti cakar ayam!"

Tian Pek tak berminat melayani ocehan orang, cepat dia periksa permukaan tanah, tapi tulisan di situ sudah lenyap. Sungguh tidak kepalang menyesal Tian Pek, sambil banting kaki ia berseru.

"Ai, Locianpwe, kenapa kau selalu memusuhi aku? Apa kau tidak merasa perbuatanmu itu kebangetan...."

Lak jiu-tong-sim berkeplok senang karena melihat anak muda itu menggerutu kalang kabut. Dongkol sekali Tian Pek. dia menghela napas dan berpikir.

"Kenapa aku mesti layani si tua gila ini? Lebih baik cepat kutinggalkan tempat ini. Ai, tampaknya kakek penunggang keledai itu memang berhasrat membantu aku, kalau tidak, tak nanti ia tinggalkan pedangku dan meninggalkan tulisan, sayang tulisannya sudah dihapus si tua gila itu. Tapi meski begitu, dari apa yang dibaca si gila tadi, dari kata Kim-leng agaknya pembunuh ayahku berdiam di kota Lam-keng, apa salahnya kalau kukunjungi kota tersebut sekalian mencari berita? Siapa tahu kalau aku akan temukan sesuatu petunjuk yang penting artinya, Berpikir sampai di sini, dia lantas putar badan dan hendak berltalu. Tak terduga, Lak-jiu-tong-sim Hui It-tong kembali mengadang pula jalan perginya.

"Hei, bocah busuk, mau ke mana kau?"

Teriaknya dengan marah.

"Pedang itu kan belum kau tinggalkan? Memangnya kau anggap gampang untuk kabur dari sini?"

Hati Tian Pek menjadi panas, dia tak mau banyak bicara lagi, begitu orang itu mengadang, dengan jurus Kiam-ci-thian-larn (pedang menunjuk langit selatan ), langsung dia menusuk jalan darah Bi-sim-hiat di dahi kakek she Hui itu.

"Bagus!!"

Teriak Hui It-tong.

Ia mengegos ke samping untuk menghindarkan ujung pedang anak muda itu, kemudian ia mendesak maju ke depan, tangan kiri menjulur untuk mencengkeraram urat nadi tangan kanan Tian Pek, gerakan yang dipakai adalah ilmu "merampas senjata dengan bertangan kosong,"

Tidak sampai di situ saja.

berbareng tangan kanannya membabat dada kiri si anak muda.

Lak-jiu-tong-sim memang lihay, nama-besarnya bukan omong kosong belaka, meski baru satu gebrakan, jurus serangan yang dipakai ternyata tangguh dan sukar diraba ke mana arahnya.

Terperanjat Tian Pek, tak disangkanya kalau ilmu tangan kosong Hui It-tong sanggup digunakan untuk melayani serangan pedangnya malah orang tua itu terus mendesak.

Tian Pek jadi panik, sebab serangannya sudah dilancarkan setengah jalan, untuk ditarik kembali jelas tak mungkin, padahal ancaman musuh telah di depan mata.

Cepat pcrgelangan tangan kanannya ditekan ke bawah, menyusul ia mengipatkan tangannya ke samping.

Serangan tepat memang bisa dihindarkan, namun terserempet juga pergelangan tangannya dan sakitnya tidak kepalang, separoh badannya kesemutan dan hampir saja pedangnya terlepas dari genggaman.

Untung cengkeraman musuh tak kena telak namun pukulan lain yang dilancarkan Hui It-tog mengarah dadanya telah tiba pula, kali ini Tian Pek tak bisa berkelit lagi.

Dalam keadaan kepepet, mau-tak-mau Tian Pek menangkis dengan tangan kirinya.

"plak", benturan keras terjadi, kedua orang sama2 tergetar mundur beberapa langkah. Walaupun pertarungan berlangsung dari jarak dekat dan keduanya tidak memakai tenaga penuh. akan tetapi siapapnn tidak memperoleh sesuatu keuntungan. Bagi Tian Pek kejadian yang berlangsung barusan tidak terasa seberapa hebat, tapi bagi Lak-jiu-iong-sim yang angkuh, ia tercengang melihat anak muda itu sanggup menerima serangannya dengan keras-lawan-keras, iapun heran karena pemuda yang diketahui lemah pada sebulan yang lalu tahu-tahu muncul kembali dengan kekuatan yang luar biasa, kejadian ini dianggapnya sebagai sesuatu yang tidak masuk akal.

"Bocah keparat, engkau memang hebat, tak ku-sangka kau masih punya ilmu simpanan!"

Teriak Hui It-tong dengan mata melotot dan alis bekernyit.

"Sambut lagi pukulan ini!"

Habis ucapannya telapak tangannya lantas menyodok ke depan dengan mengerahkan delapan bagian tenaga saktinya.

Nama besar Lak-jiu-tong-sim memang bukan nama kosong, angin pukulan yang terpancar dari telapak tangannya sangat mengejutkan.

Tian Pek semakin yakin pada kekuatan sendiri setelah berhasil mengimbangi kekuatan lawan dalam bentrokan pertama tadi, tatkala dilihatnya Hui It tong menyerang lagi dengen dahsyat, cepat ia pindahkan pedang ke tangan kiri, lalu dengan telapak tangan kanan dia sambut pukulan lawan dengan keras lawan keras.

"Blang!!"

Benturan dahsyat tak dapat dicegah lagi, debu pasir beterbangan.

suasana terasa mengerikan sekali.

Kali ini Tian Pek cuma merasakan tubuhnya bergetar keras, sedang badan sama sekali tak bergeser dari tempat semula.

Sebaliknya Lak-jiu-tong-sim Hui It-tong beruntun tergetar mundur lima-enam langkah dengan sempoyongan, habis itu baru bisa berdiri tegak.

Betapa kejut Hui It-tong menyaksikan kedahsyatan tenaga anak muda itu, sudah belasan tahun dia mengembara di dunia persilatan tanpa tandingan, siapa tahu kali ini dia mesti menelan pil pahit di tangan seorang pemuda ingusan, bukan saja pukulannya tak mempan, malahan ia sendiri yang kena tergetar ke belakang, kalau tidak mengalaminya sendiri munkin sampai matipun dia tak percaya.

Bukankah satu bulan yang lalu merekapun bertemu di sini?

Ia masih ingat ilmu silat pemuda itu biasa2 saja kalau tak mau dikatakan rendah sekali tapi apa yang terjadi sekarang?

Bukan saja ilmu silat-nya jadi lihay, malahan Lwekangnya mendadak menjadi kuat berpuluh kali lipat.

Watak Hui It-tong memang tinggi hati dan suka meremehkan orang lain, bahwa dia sampai tergetar mundur oleh seorang pemuda ingusan, bila berita ini tersiar, maka nananya pasti akan runtuh habis2an.

Terbayang hal itu, Hui It-tong marah bercampur kaget, matanya melotot, rambut yang putih pada berdiri seperti landak, nyata tenaga dalamnya memang luar biasa.

"Hehe boleh juga kau, sambut pula pukulanku ini!"

Teriaknya dengan gusar.

Kali ini dia tidak langsung menerjang, tapi maju beberapa langkah ke depan dan pasang kuda2nya, setelah itu dia pejamkan mata dan meluruskan tangan ke muka sambil menyalurkan tenaga dalamnya, lalu telapak tangan ditarik kembali pelahan dan disilangkan di depan dada.

Dengan gerakan itu, hawa murninya menyebar ke seluruh tubuhnya, otot dagingnya mengeras dan membesar, sementara ruas tulangnya gemertuk keras, tampangnya beringas.

Keadaan kakek itu ibarat seekor ayam jago yang siap diadu, semua tenaganya terhimpun, lalu dengan mata melotot dia berputar pelahan mencari kesempatan untuk menubruk.

Diam2 Tian Pek terkejut.

ia menyadari betapa gawatnya keadaan.

"Tampaknya tua bangka ini sudah nekat sehingga siap melakukan pertarungan dengan sepenuh tenaga,"

Demikian pikirnya.

"Apa salahnya kalau akupun manfaatkan kesempatan ini untuk mengukur sampai dimanakah tarap tenaga dalam yang kumiliki?"

Pedang mestikanya lantas dimasukkan ke dalam sarungnya di punggung, kemudian setelah pasang kuda2 dan memusatkan tenaga, pelahan ilmu sakti "Thian hud-sinkang"

Di kerahkan sepenuhnya. Dalam pada itu Hui It-tong sudah selesai mempersiapkan diri, dia membuka matanya, sinar mata yang tajam segera menyorot dengan seramnya.

"Anak muda, sudah siap kau?"

Tegur Hui It-tong dengan tertawa demi melihat anak muda itu sedang menghimpun tenaga.

"Locianpwe tak perlu sungkan, silakan turun tangan!"

Jawab Tian Pek.

Baru habis ucapannya, secepat kilat Hui It-tong melepaskan pukulannya yang dahsyat.

Hui It-tong memang licik, ia sengaja mengajak bicara anak muda itu hingga hawa murni yang terhimpun jadi buyar, pada kesempatan itu pukulan dahsyat lantas dilontarkan.

Tian Pek terkejut, cepat ia tutup mulut dan menggunakan sisa kekuatan yang masih tertinggal untuk menyambut datangnya serangan.

"Blang", benturan dahsyat tak dapat dihindarkan, benturan hebat, Tian Pek merasakan telinganya mendengung keras, matanya ber-kunang2 dan dadanya jadi sesak, hampir saja ia tak sanggup berdiri tegak. Malahan daya tekanan lawan yang maha kuat masih terus mengalir tiba tiada habisnya bagaikan arus sungai Tiangkang yang tak ter-putus2. Tian Pek menyadari keadaan yang berbahaya itu, bila dia tidak bertahan sekuatnya, niscaya jiwanya akan amblas. Tian Pek memang pemuda yang ulet, segera ia pusatkan tenaga dan memantek kakinya di atas tanah, secepatnya tenaga yang masih ada dihimpun pada kedua tangan, sambil mengertak gigi dia bertahan sekuat tenaga. Pada mulanya Lak jiu tong-sim memang pandang enteng musuhnya, malah boleh dibilang Tian Pek tak dipandang sebelah mata olehnya, tapi setelah terjadi dua kali adu kekerasan, pikiran itu segera berubah, dia menyadari akan kemampuan yang di-miliki lawannya dan tak berani pandang enteng lagi. Maka untuk ketiga kalinya mereka beradu pukulan, ia bertindak licik, terlebih dahulu dipancing-nya Tian Pek bersuara sehingga hawa murninya buyar, setelah itu dia nenyerang dengan sekuat tenaga, ia pikir serangan ini pasti berhasil membunuh anak muda itu atau paling sedikit melukainya, dengan begitu nama baiknya dapat dipertahankan. Maka segenap Lwekangnya yang dilatihnya selama puluhan tahun sekaligus dilontarkan, katika dilihatnya Tian Pek sambut serangan itu dengan kekerasan, diam2 ia bergirang di dalam hati.

"Bocah keparat, mampus kau kali ini,"

Demikian ia membatin.

Siapa tahu tenaga pukulan Tian Pek mendadak terpancar tiba pula dan bahkan balas mendesaknya.

Hui It-tong terperanjat, cepat ia pusatkan kembali pikirannya.

sisa kekuatan yang belum terpakai buru2 dikerahkan pula pada telapak tangannya.

Tian Pek tidak mau kalah, makin besar pihak lawan menekan, semakin keras pula anak muda itu memberikan perlawanannya.

Suatu pertarungan adu tenaga dalampun ber-langsung dengan serunya, kedua pihak sama2 bertahan dengan gigih, siapapun tak mau menyerah kalah dengan begitu saja, Jarak kedua orang itu cuma lima kaki.

kuda2 mereka setengah berjongkok dengan tangan lurus ke depan, empat telapak tangan saling menempel, bila orang yang tak tahu duduknya perkara mungkin akan mengira kedua orang itu sedang bermain sesuatu.

Tapi jika orang menghampiri tempat kejadian itu, maka terlihatlah betapa tegangnya wajah kedua orang itu.

Yang tua berdiri dengan mata melotot, rambut sama berdiri seperti duri landak dan otot daging sama ber-kerut2.

Sebaliknya yang muda berdiri dengan muka merah dan mata melotot, bibir terkatup rapat dan dengusan napas amat berat.

Tentu saja bagi jago silat yang berpengalaman segera akan tahu bahwa mereka sedang saling adu tenaga dalam, suatu pertarungan yang paling berbahaya di dunia persilatan.

Dalam keadaan mengadu tenaga dalam begitu tiada soal untung2an lagi, apabila salah satu pihak kehabisan tenaga celakalah dia, bisa binasa seketika.

Tapi kalau tenaga mereka seimbang, maka kedua pihak akan saling bertahan hingga tenaga masing2 sama terkuras habis.

waktu itulah kedua pihak akan ambruk dan sama2 terluka parah.

Karena bahaya dan risiko yang harus di hadapi, maka jarang ada jago persilatan yang mau adu tenaga dalam jika hal ini tidak terpaksa, Begitulah, tidak lama kemudian uap putih sudah mulai mengepul keluar dari ubun kedua orang itu, dalam waktu singkat uap putih itu menggumpal jadi kabut tebal, keadaan mereka semakin payah, sepatu yang mereka kenakan mulai merekah dan pecah, sementara kakinya terbenam satu-dua inci ke dalam tanah, Secara akal, sepantasnya Tian Pek yang masih muda belia tak mungkin bisa menandingi kelihayan Hui It tong yang sudah berlatih empat lima puluh tahunan lamanya sudah pasti Lwekang yang dimilikinya telan mendekati puncak kesempurnaan.

Apa mau dikata Tian Pek telah mempelajari Sim-hoat yang tercantum dalam Soh-hun-siau-kut-thian-hud pit-kip, suatu kitab ilmu silat paling aneh di kolong langit ini, kitab ciptaan Ciah-gan long-kun, seorang jago silat luar biasa.

Bukan begitu saja, malahan dari gemblengan irama seruling Im-mo-toa-hoat dari Ciang Su-peng serta gebukan Leng-hong Kongcu telah mengakibatkan dua urat penting dalam tubuhnya berhasil ditembusi.

Kesemuanya itu membuat tenaga dalam Tian Pek melampui batas kemampuan seorang pemuda seusia dia, bukan saja dalam sebulan terakhir ini dia bertambah kosen.

tenaga dalam yang dia miliki-pun mencapai taraf latihan enam-puluhan tahun.

Oleh sebab itulah, meski berbeda menyolok dalam usia, dalam kenyataan tenaga dalam yang dimiliki kedua orang itu tidak jauh berbeda.

Pada permulaan terjadi bentrokan tadi, keadaan Tian Pek memang sangat payah, bahkan boleh dibilang hampir saja mati konyol hal itu disebabkan karena siasat busuk Hui It tiong, tapi setelah hawa murni beredar kembali dalam pusarnya, ia merasa daya tekanan kakek itu kian berkurang, sementara hawa murni miliknya mengalir makin deras, hatinya jadi tenang dan makin bersemangat melakukan perlawanan.

Lambat-laun kedudukannya bertambah kuat, dan kini dia telah menambah kekuatannya dua bagian lebih besar, seketika itu juga tenaga tekanan dari Hui-It-tong dapat ditolak balik, Bagi Hui It tong sendiri, ia memang menang posisi ketika serangan pertama dilancarkan tadi, namun lambat laun ia merasa tenaga tekanannya makin terdesak kembali, iapun tak menyangka anak muda itu sanggup mempertahankan diri dalam keadaan gawat.

Tidak lama kemudian.

suasana amat sunyi dalam hutan itu, sang surya telah mendoyong ke barat, angin berembus sepoi2, dalam keheningan hanya kicauan burung yang terdengar nun di pucuk pohon.

Siapa tahu di balik kesunyian ini tersembunyi suatu pertarungan sengit, pertarungan yang mempertaruhkan jiwa.

Setelah posisi Tian Pek bertambah kuat, ia mulai tenang, dalam kesunyian itulah terlintas satu ingatan dalam benaknya.

Teringat olehnya akan dua kata sandi yang tercantum dalam kitab Thian-hud-pit-kip.

kata2 itu berbunyi "Kosong tapi tidak kosong, lemah sebetulnya bukan lemah".

Kata sandi itu jelas menerangkan tcntang suatu taktik ilmu Lwekang, suatu taktik mengenai daya hisap".

Diam2 Tian Psk berpikir.

"Aku harus segera berangkatke kota Lam-keng untuk selidiki pembunuh ayahku, kenapa aku buang2 waktu percuma di sini?"

Begitu timbul pikiran ini, dia lantas tarik napas panjang dan memakai taktik mengisap untuk melepaskan diri dari godaan kakek sialan itu.

Dasar masih muda dan berdarah panas, Tian Pek tidak mempertimbangkan lagi apakah cara itu akan membahayakan diri sendiri atau tidak, begitu berpikir dia lantas bertindak, Hawa murni yang sedang dikerahkan itu cepat ditarik kembali, tapi serentak iapun merasakan tenaga dalam Hui It-tong membanjir ke tubuhnya ibarat tanggul yang dadal, begitu dahsyat dan kuatnya tenaga itu hingga membuat anak muda itu amat terkejut.

Betapa girangnya Hui It-tong, begitu merasa tenaga tekanan musuhnya lenyap, dia mengira Tian Pek sudah tak sanggup melawan lagi, dia lantas membentak keras.

"Roboh"

Kata telanjutnya tak sempat dilanjutkan sebab mendadak dia merasa tenaga Tian Pek menggetar balik, seketika Hui It-toug merasakan daya tckanan yang dahsyat, ia merasa pandangan matanya jadi gelap.

telinga mendengung dan pertahanannya runtuh.

Terdengar jeritan mengerikan, Hui It-tong mencelat jauh dan terkapar tak bsrkutik lagi.

Rupanya dikala Tian Pek merasa gelagat tidak menguntungkan sesudah ia memakai taktik "meng-isap dari Lwekangnya, cepat ia ubah menjadi taktik "memantul", yang di dalam pelajaran disebut "Yang nyata adalah kenyataan, yang-kau adalah kekuatan,"

Taktik yang tercantum dalam kitab "Thian-hud-pit-kip"

Ini memang sangat dahsyat, begitu termakan tenaga pantulan tersebut, langsung saja Lak-jiu-tong-sim mencelat ke belakang.

Untuk sejenak anak muda itu berdiri sambil atur pernapasan, ketika dilihatnya Hui It-tong tidak bangkit berdiri, dia menghampiri kakek itu.

Sungguh sukar dipercaya bahwa Lak-jiu-tong-sim yang perkasa kini terkapar dalam keadaan mengenaskan, darah mengalir keluar dari lubang hidung, mulut, mata dan telinganya, jago lihay itu sudah menemui ajalnya secara konyol.

Baru pertama kali ini Tian Pek membunuh orang sakti, meskipun sudah lama ia berkelana, akan tetapi di masa lalu ia tak berkekuatan apa2, tentu saja tak mampu mencelakai jiwa orang.

Melihat darah yang mengalir serta mata si kakek yang melotot penasaran, diam2 anak muda itu bergidik sendiri.

Timbul rasa menyesal dalam hati kecilnya, berdiri di depan jenazah Hui It-tong diam2 Tian Pek berdoa.

"Locianpwe, kalau engkau tidak selalu mencari gara2 padaku, tak nanti kucelakai jiwamu, itupun kulakukan tidak sengaja. Ai, aku tak menduga kalau tenaga pukulanku tadi dapat menewaskan kau, benstirahatlah dengan tenang di alam baka dan maafkanlah perbuatanku ini . Menyusul anak muida itu berpikir lebih jauh 'Aku sudah salah mencelakai jiwanya, sepantasnya kukubur jenasahnya. Ai, kalau sampai dimakan serigala atau elang, hatiku pasti akan bertambah menyesal ..."

Maka dicabutnya pedang mestikanya dan menggali sebuah liang kubur di hutan itu.

Belum sempat dia masukkan jenasah Hui lt-tong ke dalam liang kubur, tiba2 dari luar hutan melayang datang tiga sosok bayangan, cepat sekali gerak tubuh mereka ibaratnya anak panah yang terlepas dari busurnya.

"Bagus, bagus sekali perbuatanmu!"

Segera seorang laki2 barmata besar menegur.

"Setelah membunuh orang di siang hari bolong, rupanya kau-hendak lenyapkan bukti. Hehehe, anak muda, jangan harap kau bisa cuci tangan dari tanggung-jawab ini!"

Tian Pek melengak, sebelum ia sempat berkata, laki2 lain yang bermuka kereng segera menambahkan sambi tertawa seram.

"Hehehe. sahabat, kau berasal dari garis mana? Masa kau akan mengangkangi sendiri hasil pendapatanmu?"

"Betul!"

Sambung lelaki ketiga yang bermuka pucat.

"siapa yang melihat, siapa dapat bagian. Yang besar mendapat emas, yang kecil mendapat perak, masa kami tidak diberi bagian?"

Tian Pek dapat menangkap arti kata istilah2 golongon hitam yang diucapkan beberapa orang itu sekalipun belum beberapa lama ia berkelana di dunia persilatan.

Betapa dongkol perasaan Tian Pek ketika mendengar ketiga orang itu menganggap dia sebagai pembegal yang baru mendapat hasil begalan.

Segera ia menjawab dengan kata2 rahasia yang setengah mentah.

"O, rupanya kalian bertiga berasal dari satu garis, sayang sasarannya tak tepat dan di sini tak ada apa2 yang bisa dibagi, ketahuilah yang mati adaleh seorang rekanku yang sakit di tengah jalan, karena jauh dari kota maka aku ber-maksud menguhurnya di sini!"

Rupanya ketiga orang itu kurang percaya, mereka menghampiri untuk memeriksa sendiri Demi melihat keadaan kematian Hui It-tong, tentu saja orang2 itu tidak percaya. Si muka pucat kembali menegur.

"'Sahabat, jangan main bohong di depan rekan sendiri, masa temanmu ini mati karena sakit?"

Tian Pek ingin msmberi penjelasan, tapi sebelum buka suara, laki2 bermuka pucat itu lantas menjerit kaget.

"He, bukankah yang mati ini Lak-jiu-tong-sim Hui locianpwe?"

Kedua orang lain terbelalak, mereka mengamati lagi jenasah itu, setelah yakin korban itu adalah Lak-jiu-tong-sim Hui It-tong, cepat mereka menyurut mundur dan melolos senjata masing2.

Dengan golok terhunus, ketiga orang itu mengurung Tian Pek di tengah.

"Hei bocah, hayo ngaku! Kenapa kau bunuh Hui-locianpwe?"

Bentak laki2 bermata besar dengan melotot.

"Lotoa, buat apa banyak bertanya?"

Sambung kedua orang temannya.

"Hajar saja keparat itu sampai mampus! Kita harus membalaskan dendam kematian Hui-locianpwe!"

Dengan garang mereka terus menerjang dan membacok.

"Eeh eeh, nanti dulu, nanti dulu "

Seru Tian Pek.

"Secara tidak sengaja kucelakai jiwa Hui-locianpwe, kami sedang bertanding. tak tahunya aku salah turun tangan hingga terjadi kecelakaan ini"

"Huh, omong kosong!"

Bentak laki2 bermuka pucat dengan seram.

"Sekalipun kau membantah sampai lidahmu putus juga aku tak percaya. Huh, memangnya kau bisa menandingi Hui-locianpwe jika bertempur secara terbuka? Pasti kau pakai tipu muslihat untuk menyergap Hui-locianpwe!"

"Keparat, tak usah banyak omong, serahkan jiwamu!"

Teriak laki2 yang lain dengan marah.

Secepat kilat ia menerkam ke depan, golok langsung membacok kepala Tian Pek.

Dengan cekatan anak muda itu mengegos ke samping, kedua orang yang berada di sisi kiri-kanannya segera juga bertindak, golok merekapun menabas iga dan punggung Tian Pek dengan suatu gerakan serentak.

Cepat Tian Pek putar badan dan balas menyerang, ia hindarkan bacokan dari belakang itu, pukulan dahsyatnya membuat golok yang mengancam iganya tersingkir ke samping.

Gagal dalam serangan pertama, ketiga orang itu serentak menerjang maju pula.

Hebat juga serangan golok ketiga orang itu, Tian Pek merasa sukar untuk memberi penjelasan, cepat ia melompat ke atas, kesempatan mana digunakan mencabut pedang mestika yang terselip di punggung-Seketika terdengar suara mendenging, cahaya hijau menyilaukau mata terpancar di angkasa, begitu pedang lolos dari sarungnya, anak muda itu terus membabat dengan gerakan Heng sau-jian kun ( menyapu bersih beribu perajurit ).

"Traang! Traaang!"

Benturan nyaring terjadi, mana mungkin golok lawan mampu menahan ketajaman Pedang Hijau yang luar biasa?

Tak ampun lagi dua bilah golok terpapas kutung.

Tiga orang itu menjerit kaget dan cepat melompat mundur, mereka mengawasi anak muda itu dengan sorot mata heran.

Setelah kejadian tersebut, mereka tak berani lagi pandang enteng lawannya, terutama sekali senjata mestika yang amat tajam itu.

Mendadak kedua orang yang goloknya tertabas kutung meraung sambil menyambitkan kutungan golok kearah Tian Pek.

"Criiit! Crnit!"

Dengan membawa desiran angin tajam, kutungan golok itu meluncur ke muka serta dada anak muda itu.

Serangan itu cukup keras, Tian Pek tak berani menangkap kutungan golok itu, cepat dia merendahkan tubuh ke bawah, dengan gerak Pek-lon oh po (burung kuntul menyambar ombak) dia hindarkan sambitan itu.

Baru saja Tian Pek mendak ke bawah, laki2 ketiga segera mengunakan kesempatan itu, ia angkat goloknya dan membacok Tian Pek dengan gerakan Hian-niau-hua-seh (burung merah menyapu pasir).

Ketiga orang itu memang sangat ulet, sekali-pun sudah kalah mereka tak mau menyerah begitu saja, hal ini tak terduga oleb Tian Pek.

Ketika ia melihat bacokan datang lagi, dengan ujung pedang Tian Pek menutul permukaan tanah, lalu ia melayang ke atas dan sebelah kakinya sempat mendepak pinggang orang itu, kontan orang itu mengerang kesakitan dan mencelat jauh ke sana, lama sekali dia baru sanggup berdiri kembali.

Dengan kekalahan yang mengenaskan ini, pucatlah muka ketiga orang itu, tampaknya mereka kuatir kalau2 anak muda itu menerjang maju lagi dan membinasakan mereka.

Selangkah demi selangkah mereka mundur ke belakang, tapi tak seorangpun yang berani mendahului kabur dari situ, kemudian setelah yakin Tian Pek tidak bermaksud mengejar dan membunuh mereka, barulah laki2 bermuka pucat itu berseru dengau garang di luar tapi takut di dalam.

"Kawan, kalau engkau memang jantan, hayo sebutkan namamu!"

Diam2 bergembira Tian Pek setelah menyadari ilmu silatnya memperoleh kemajuan yang pesat, dia bangga dan berbesar hati. Mendengar pertanyaan lawan segera ia menyahut.

"Aku Tian Pek! Apa yang hendak kalian lakukan lagi?"

"Hm, jangan kau jumawa dulu,"

Seru laki2 kekar tadi dengan mendongkol.

"Hari ini kami bertiga memang kalah di tanganmu, tapi lihat saja nanti! Tunggulah pembalasan kami .." -Habis berkata mereka terus berlalu dengan penasaran. Memandangi kepergian ketiga orang itu, Tian Pek tertawa geli, pikirnya.

"Sekarang tibalah saatnya bagiku untuk melampiaskan penderitaan yang pernah kualami di masa lalu ...."

Setelah mengubur jenazah Hui It-tong, dia melanjutkan perjalanannya mcnuju ke kota Lam-keng.

Ketika malam tiba ia berada di sebuah kota besar, Tian Pek tak tahu kota apakah ini, yang jelas lampu di dalam kota terang benderang, banyak orang berlalu lalang di jalan, ramai benar kota ini.

Dengan perut lapar Tian Pek masuk ke dalam kota dan celingukan ke sana kemari mencari hotel, maksudnya hendak menangsal perut lalu beristirahat, besok perjalanan baru akan dilanjutkan lagi.

Sepanjang jalan dia celingukan ke sana kemari, mencari rumah makan, ia tak menyangka kalau banyak lelaki kekar berpakaian ringkas cekak juga sedang memperhatikan gerak-geriknya.

Entah berapa jauh dia sudah berjalan, akhir ia lihat sebuah rumah makan yang memakai merek "Kim eng ciu lau" (rumah makan berkumpulnya orang gagah), tulisan papan merek itu berwarna emas, ruangan atas maupun ruangan bawah terang benderang bermandikan cahaya, banyak tamu yang berlalu lalang di sana, bau harum arak dan masakan yang lezat teruar sampai jauh, tak tahan anak muda itu, ia menelan liur dan menghampiri rumah makan itu.

Baru melangkah masuk pintu depan, seorang laki2 berpakaian ringkas memapak kedatangannya dan mengadang di depan anak muda itu, tegurnya.

"Kau hendak bersantap atau ingin menginap?"

Meskipun sangsi karena tampang orang itu tidak mirip dengan pelayan, namun Tian Pek menjawab juga dengan jujur.

"Aku hendak mengisi perut dan juga hendak menginap."

Dengan seksama orang itu mengamati anak muda kita dari atas sampai ke bawah, kemudian sahutnya dengan dingin.

"Maaf saudara, rumah makan kami sudah penuh dan tidak terima tamu lagi, silakan mencari rumah penginapan yang lain saja!"

Beberapa pelayan tampak berdiri jauh di dekat meja kasir sana dengan muka takut2, mereka tak berani menghampiri anak muda ini melainkan cuma memandang saja dari kejauhan.

Walaupun curiga, Tian Pek tidak mau rewel.

jika orang bilang kamar penuh, tentu saja dia harus percaya, terpaksa ia mengundurkan diri dari sana.

Siapa tahu, kejadisn serupa tidak cuma dialami di satu tempat saja, secara beruntun ia memasuki lima-enam buah restoran merangkap penginapan tapi apa yang dialami tidak jauh berbeda, semua rumah makan itu dijaga orang yang berpakaian ringkas cekak dan menolak kehadirannya.

Akhirnya sampailah pemuda itu di rumah makan yang terakhir, tempat itu letaknya di ujung kota, suasana di situ remang2 tidak seterang tempat2 tadi, ke depan lagi jelas tiada rumah penduduk pula, sekarang kecurigaan dalam hati Tian Pek makin menjadi.

ia rada dongkol, pikirnya.

"Masa kedatanganku ini sedemikian kebetulan, semua rumah makan dan penginapan yang ada di kota ini penuh? Jelas di balik hal ini ada yang tidak beres. Aku harus menyelidikinya dengan seksama!"

Dengan penasaran anak muda itu menghampiri rumah makan yang terakhir.

Kali ini ia bertindak lebih cerdik, bukan langsung memasuki rumah makan itu sebaliknya dia mengintip dulu lewat jendela, dilihatnya ruang yang luas hanya dua tiga meja yang berisi tamu, selebih-nya dalam keadaan kosong, setelah yakin penglihatannya tak keliru, barulah dia masuk ke sana.

Tapi baru dia melangkah masuk, seorang laki2 berpakaian ringkas segera mengadangnya.

"Sahabat, mau apa kau kemari?"

Tegurnya dengan lantang. Tiba2 timbul akalnya, ia lantas menjawab.

"Aku mencari orang!"

Ia tahu kalau mengatakan hendak makan atau menginap dia pasti dilarang masuk, maka dia menggunakan alasan lain untuk membohongi orang.

Tapi orang itu tidsk melepaskan dia masuk begitu saja dan tetap mengadang di depan anak muda itu "Siapa yang kau can?"

Kembali ia menegur.

"Ah, masa aku harus laporkan juga siapa yang kucari?"

Kata Tian Pek dengan lagak bingung.

"Hehe, memangnya kenapa?"

Kata laki2 itu sambil tertawa dingin.

"kaiau kau ingin cari orang, sebutkan dulu namanya dan aku akan panggilkan orang itu keluar ke sini, pokoknya kau tak boleh sembarangan masuk."

"Peraturan apa ini?"

Pikir Tian Pek, tapi sekarang ia sudah tahu, rupanya orang2 itu memang sengaja hendak mencari perkara. Maka iapun berlagak blo'on dan menyahut.

"Aku mencari pelayan rumah makan ini!"

Kali ini orang itulah yang tertegun, rupanya ia tak menyangka. Tian Pek akan menjawab begini-Tapi sepera orang itu menyadari telah dipermainkan Tian Pek, dengan mata melotot kembali ia membentak.

"Mau apa kau cari pelayan?"

"Mau apa lagi?"

Jawab Tian Pek "tentu saja mau pesan makanan dan mau menginap!"

Laki2 berpakaian ringkas itu tertawa dingin "Hehehe, sahabat, terus terang kuberitahu padamu, tak ada makanan bagimu di sini, juga tak ada tempat tidur bagimu untuk menginap, kulihat iebih baik kau pindah saja ke tempat lain!"

Dasar perutnya sudah keruyukan, Tian Pek menjadi gusar, segera iapun balas menjengek.

"Kenapa aku mesti cari tempat lain? Aku bayar makanan yang kumakan, kubayar juga tempat penginapan yang kupakai, kenapa kau ikut campur urusan pribadiku?' Sehabis berkata, tanpa menggubris lagi dia masuk ke dalam dengan mcngitari laki2 yang mengadangnva ini.

"Hei,"

Bentak orang itu dengan marah.

"sudah kukatakan tak boleh masuk kalau kau memaksa berarti kau cari penyakit sendiri!"

Dengan suatu gerakan kasar, bagaikan burung elang menyambar kelinci, dia terus cengkeram bahu Tian Pek.

Tapi Tian Pek mana bisa disentuh lagi, dengan mudah saja ia berkelit ke samping.

Orang itu makin penasaran, kembali tangan kanannya diayun menghajar dada anak muda itu.

Cepat sekal gerak serangan itu dan keras pula pukulannya.

Tian Pek menunggu ketika kepala musuh hampir menyentuh dadanya, mendadak tangan kirinya berputar keatas dan mencengkeram pergelangan tangan lawan, kemudian sekali betot ia lemparkan tubuh orang.

"Enyah kau keluar!"

Bentaknya. Kontan orang itu menggelinding keluar ruangan itu. Cepat orang itu merangkak bangun, sambil menuding Tian Pek ia mencaci maki kalang kabut.

"Anak jadah, jika berani kau jangan lari! Tunggu saja di sini" -Dengan terbirit2 dia terus ngacir dari situ. Tian Pek tertawa hambar, ia melangkah masuk ke dalam ruangan, lalu mencari tempat duduk di ujung ruangan sana. Suasana dalam rumah makan amat sepi tak ada yang buka suara. malahan tamu yang sedang bersantap sama memandang Tian Pek dengan ter-belalak, sedangkan pelayannya berdiri jauh di sudut ruangan dengan takut2. Melihat pelayan tidak meladeni dirinya. Tian Pek berteriak keras.

"He, bawakan arak dan daharan!"

Para pelayan dan kasir berpandangan sekejap, akhirnya salah seorang di antaranya dengan takut2 menghampiri Tian Pek seraya memohon "Tuan silahkan pindah ke tempat lain saja, rumah makan kami benar2 tak berani melayani kehendak tuan, hamba mohon sudilah tuan pergi dari sini."

"Kalian tak usah kuatir!"

Kata Tian Pek.

"hidangkan saja makanan dan arak! Kalau ada yang berani mencari perkara, akan kuhadapi dia, tanggung kalian tak akan memikul akibatnya!"

"Tuan, betul juga katamu!"

Sahut si pelayan sambil menyengir.

"tapi kalau kami layani engkau bersantap di sini, maka selanjutnya jangan harap rumah makan ini bisa dibuka lagi."

"Apa kerjanya bangsat tadi? Kenapa kalian takut kepadanya? Apa hukum negara tidak berlaku di sini?"

Tanya Tian Pek.

"Hukum negara memang ada, tapi pernahkah tuan mendengar istilah An-lok hong lin (An-lok yang romantis)?"

Tian Pek terkesiap segera ia paham persoalan yang sebenarnya, pikirnya.

"Tak heran kalau orang2 di sini pada ketakutan, rupanya keparat tadi adalah anak buah An-lok Kongcu!"

Menyusul ia lantas berpikir lebih jauh.

"Sebulan yang lalu aku berjumpa dengan An-lok Kongcu, kalau melihat gerak-gerik dan tingkah lakunya jelas dia sangat gagah dan berbudi, masa anak buahnya berani berbuat se-wenang2 dan bikin onar di sini? Apakah An-lok Kongcu tak pernah mengurusi anak buahnya?"

Berpikir sampai di sini, segera ia berkata.

"Ana kaumaksudkan An-lok Kongcu? Jadi An-lok Kongcu berdiam di kota ini?"

Mendengar Tian Pek langsung menyebut nama An-lok Kongcu, pelayan itu cepat memberi hormst sambil menjawab.

"Alangkah baiknya bila tuan kenal Kongcu, meski An-lok Kongcu tidak berdiam di sini, tapi sebagian besar kota ini adalah milik Kongcu, beliau yang memberi makan, pakaian serta tempat berteduh bagi kami rakyat kecil di sini, siapa yang tidak menghormati beliau ....

"Diam2 Tian Pek berpikir.

"Kalau begitu kawanan orang berpakaian ringkas tadi pasti berbuat keonaran di sini dengan membonceng nama besar An-lok Kongcu, sayang An-lok Kongcu tidak tinggal di sini. sekalipun ada persoalan juga tidak bisa dibicarakan, biarpun kukatakan kukenal An-lok Kongcu tentu juga mereka tak percaya. Agaknya malam ini aku bisa kelaparan."

Tiba2 ia melihat di dapur sana tersedia ayam panggang, bebek, daging babi dan sebagainya, segera ia berkata.

"Kalau memang begitu, akupun tak akan menyusahkan kalian, bungkuskan saja daging babi dan bakpao, akan kumakan nanti di tengah jalan!"

Kembali pelayan itu tertawa getir, dengan serba salah dia cuma membungkuk2 berulang kali. Lambat laun habis juga kesabaran Tian Pek, dia melotot, dengan suara keras ia membentak.

"Sungguh keterlaluan, cepat siapkan makanan itu bagiku! Kalau tidak, hm, aku tak mau sungkan2 lagi..."

"Kalau tidak sungkan, lantas apa yang akan kau lakukan?"

Tiba2 seorang menanggapi dari belakang, menyusul mana lampu dalam ruangan itu hampir tersirap.

Ketika lampu terang kembali, tampaklah dalam ruangan telah bertambah dua orang laki2 berpakaian ringkas, Mereka adalah seorang tua dan seorang muda, yang tua berusia enam puluhan, rambut beruban pendek seperti duri landak, mukanya merah bercahaya, alis tebal dan mata besar bersinar tajam, memakai jubah satin warna hijau pupus, sebuah senjata aneh berbentuk telapak tangan terselip di punggungnya, tali sutera dan gelang baja pada senjata itu gemerlapan menambah keangkeran orang tua ini.

Sedang yang muda berusia dua puluhan, mukanya tampan dan perawakan kekar, sayang agak pucat dan lagaknya tengik, iapun memakai baju ringkas ketat, pedang melintang di punggungnya dia mengawasi Tian Pek dengan pandangan menghina.

Kemunculan kedua orang ini mengakibatkan suasana dalam rumah makan menjadi kalut, dengan muka pucat pelayan kelihatan gemetar, sementara para tamu yang sedang bersantap juga cepat2 bangkit dan pergi.

Per-lahan2 Tian Pek berdiri, sebelum dia buka suara, kakek bermuka merah itu menegur.

"Kau ini yang menyergap dan membunuh Lak jiu-tong sim Hui-it-tong?"

Sungguh lantang suara kakek ini, begitu keras sampai msndengung dan membikin anak telinga orang terasa sakit.

Tian Pek sangat mendongkol, kematian Hui It-tong akibat beradu tenaga dalam dengannya, tapi orang justeru menuduh dia membunuh lawannya dengan cara licik.

Sambil tertawa getir sahutnya.

"Kejadian itu hanya kesalah-pahaman belaka, masalah ini akan kujelaskan setelah bertemu dengan Kongcu kalian, kebetulan kukenal An-lok Kongcu ....

" 'Huh! Omong kosong!"

Dengus pemuda angkuh itu.

"Tak mungkin An-lok Kongcu punya kenalan seorang Bu-beng-siau cut (perajurit tak bernama) macam kau. Lebih baik tutup mulut dan bayar jiwamu bagi kematian Hui-locianpwe!"

Sambil bicara ia terus menerkam lawan, lima jari tangannya terpentang lebar langsung mencengkeram urat nadi pergelangan tangan kanan Tian Pek-Serangan itu cukup lihay, Tian Pek tak berani gegabah, cepat dia bergeser sambil putar badan dengan mudah ia hindarkan ancaman pemuda jumawa itu.

Melihat serangannya gagal, dari cengkeraman pemuda jumawa itu ganti serangannya menjadi pukulan telapak tangan, mengikuti perputaran tubuh lawan, dia menusuk iga Tian Pek dengan gerakan Kim-ca-jiu (tusukan tangan emas), berbareng itu juga dia maju selangkah dan memotong jalan darah Cian-keng-hiat di bahu lawan dengan telapak tangan kanannya.

Satu serangan dengan dua gerakan ini bukan saja dilakukan dengan cepat dan menimbulkan deru angin keras, dari sini dapat pula diketahui kehebatan tenaga dalam yang dimiliki pemuda itu.

Bila peristiwa ini berlangsung pada dua bulan yang lalu tentu Tian Pek sudah kecundang, tapi Tian Pek sekarang bukan Tian Pek yang dulu, ketika merasakan datangnya serangan maut, cepat dia menyambut dengan kedua telapak tangannya.

"Duk! Duuk!"

Berbareng dengan benturan itu, tahu2 pergelangan tangan pemuda jumawa itu malah kena dicengkeram oleh Tian Pek.

Sedikit Tian Pek mengerahkan tenaga cengkeramannya, seketika keringat membasahi jidat pemuda jumawa itu, mukanya berubah menjadi pucat seperti mayat, saking sakitnya hampir saja ia menjerit.

Jurus aneh yang barusan digunakan oleh Tian Pek bernama Ciau-tau-siang-soh (membelenggu tangan dengan jitu), suatu jurus ampuh hasil sadapannya dari Tok-kah-hui-mo, mimpipun tak pcrnah disangka olehnya kalau hasil sadapannya ternyata sangat bermanfaat, bukan saja berhasil lolos dari serangan maut musuh, malahan lawan kena dibekuk olehnya.

Cengkeraman itu persis menjepit persendian tulang pergelangan pemuda jumawa itu, bisa dibayangkan betapa menderitanya pemuda jumawa itu, dalam keadaan demikian ia merasa tangannya kesakitan dan kaku, seluruh badanpun tak bisa berkutik.

Tian Pek tiada maksud mencelakai jiwa tawanannya, dia bermaksud melepaskan tawanannya setelah memberi peringatan seperlunya.

Siapa tahu sebelum ia bicara, tiba2 dari belakang menggulung datang angin pukulan yang keras.

"Lepaskan!"

Terdengar si kakek muka merah membentak.

Sudah tentu Tian Pek tahu dirinya sendiri sedang diserang si kakek muka merah, cepat ia lepaskan cengkeramannya pada pergelangan tangan lawan dan dengan suatu gerakan enteng ia melayang jauh ke samping sana.

"Duuk!"

Tak sempat si kakek muka merah menarik kembali pukulannya yang dahsyat, sedangkan Tian Pek berkelit tepat pada waktunya, tanpa ampun lagi pukulan dahsyat itu menghajar pada dada pemuda jumawa itu dengan telak.

Pemuda itu mencelat dan menumbuk dinding.

Terkapar pemuda yang jumawa itu dengan bermandikan darah dan tak berkutik lagi, tampaknya lebih banyak mampus daripada hidupnya "Ada pembunuhan"

Segera ada orang menjerit, suasana rumah makan itu menjadi kacau balau, para tamu dan pelayan pada lari ter-birit2 dengan ketakutan.

Betapa gusarnya kakek muka merah itu, pukulannya tidak mengenai musuh, sebaliknya malahan membinasakan muridnya sendiri, dengan muka beringas, mata melotot dan mulut menyeringai, sekali lagi ia terjang Tian Pek.

Tian Pek sendiri tak menduga kalau kelitannya tadi akan mengakibatkan kematian pemuda jumawa tersebut, cepat ia berkelit pula ke samping tatkala pukulan gencar dan dahsyat si kakek muka merah itu menyambar tiba.

Kakek muka merah itu semakin kalap, ketika Tian Pek berkelit ke samping, bagaikan harimau gila dia meraung keras, kemudian menghajar lagi pinggang anak muda itu dengan tabasan telapak tangannya.

Ruangan itu tidak terlalu luas dan lagi dipenuhi dengan meja kursi, sementara pukulan yang dilancarkan kakek itu sangat cepat dan juga keras, dalam keadaan begini tak mungkin bagi Tian Pek untuk berkelit terus menerus, terpaksa ia harus menyambut serangan dahsyat itu dengan keras lawan keras.

"Duuk! Blang!"

Akibat benturan keras pukulan yang dahsyat, seketika meja kursi tergetar roboh, mangkuk piring berantakan memenuhi lantai Hampir semua pelayan rumah makan dan tetamu sudah menyingkir jauh atau lari kcluar ruangan itu, sekalipun mereka lari dengan cepat, tapi ada pula beberapa orang di antaranya yang tersambar oleh angin pukulan atau pecahan mangkuk-piring hingga terluka, jerit panik dan teriakan kesakitan membuat suanana tambah kacau-balau tak keruan.

Sungguh dahsyat tenaga pukulan yang dipancarkan kakek muka merah itu, Tian Pek merasakan telapak tangannya jadi panas dan kesemutan, mata-nya berkunang, diam2 ia terkejut oleh kedahsyatan tenaga pukulan musuh.

Tiba2 dilihatnya pula rambut si kakek sama menegak dan mata melotot, biji matanya se-akan2 meloncat keluar, kedua telapak tangan yang diluruskan ke depan berubah menjadi merah membara, dengan wajah menyeramkan ia menubruk pula ke depan.

Jilid 08 .

Pukulan darah pasir merah Menyaksikan telapak tangan yang merah itu, tiba2 Tian Pek teringat akan sejenis pukulan beracun yang bernama Ang-seh-hiat-heng-ciang (pukulan darah pasir merah), konon barang siapa terkena pukulan beracun itu, maka badannya akan terasa panas bagai dibakar, isi perutnya akan menjadi hangus dan mati konyol.

Ilmu ini hanya di dengar saja dan baru sekarang disaksikan dahsyatnya pukulan tersebut, dan hawa pjnas yang dirasakan dari benturan tadi, diam2 Tian Pek merasa ngeri juga akan akibatnya.

Tiba2 terbayang akan bantuan yang pernah diberikan An-lok Kongcu kepadanya, bagaimanapun ia pernah berutang budi kepada orang, kalau sampa1 timbul kesalahan pahamannya dengam anak buah orang, bila berjumpa lagi kelak pasti akan terasa tidak enak.

Maka ia pikir tidak perlu melayani orang ini dan lebih baik tinggal pergi saja?

Kalau ada urusan toh lain kali masih bisa dibicarakan secara baik2.

Selagi Tian Pek berpikir begitu, pukulan Ang-seh-hiat-beng-ciang yang maha dahsyat si kakek telah menggulung tiba pula dengan hebatnya.

Dalam keadaan terancam terpaksa Tian Pek menangkis, kemudian dengan meminjam tenaga pukulan orang dia terus melayang ke sana sambil berseru.

"Maaf sahabat, aku tak dapat menemani lebih lama!" -Dengan cepat ia menerobos keluar jendela.

"Mm kabur kemana?"

Bentak si kakek muka merah sambil mengejar.

"Lihat serangan!"

Mendada dari depan menyambar tiba tiga titik cahaya langsung menyerang muka Tian Pek selagi anak muda itu masih mengapung di udara.

Tian Pek cepat berjumpalitan di udara dengan gerakan in-li-huan (berjumpalitan di awan) sehingga tubuhnya mengapung lebih tinggi ke atas, maka terdengarlah suara "Crett Crett Crett!", tiga batang "paku penembus tulang"

Menancap di belandar jendela, untung anak muda itu berkelit cepat, kalau tidak tubuhnya pasti sudah tertembus oleh serangan maut itu.

Setelab melayang turun ke bawah, Tian Pek menengadah, tapi ia menjadi terkejut, tahu2 angin keras menyambar tiba menindih kepalanya bagai gugur gunung dahsyatnya.

Tian Pek terkejut, ia tak tahu benda apa yang menyambar tiba itu, cepat dengan gerak Su-liang-poat-ciin-kin ( empat tahil menyampuk seribu kati ), ujung pedangnya meraih ke atas untuk menyampuk.

Tapi "wuut", tahu2 benda besar itu melayang di atas kepalanya, waktu ia menoleh, ternyata seorang Hwesio gemuk dengan membawa sebuab tameng baja yang amat besar seperti sebuah daun pintu.

Hwesio gemuk itu berperawakan tinggi besar, mukanya penuh bercambang, kepalanya gundul kelimis dengan delapan titik bekas diselomot dengan mata melotot sedang memandangnya dengan tercengang.

Tiba2 anak muda itu teringat akan seseorang, menurut berita dalam dunia persilatan katanya dalam Kangouw terdapat seorang Hwesio bertenaga raksasa yang bernama Tiat-pay Hwesio ( paderi lempengan baja ), senjatanya adalah sebuah lempengan baja seperti tameng ribuan kati yang besarnya seperti daun pintu, tubrukan serta sambaran lempengan bajanya itu jarang bisa dihadapi orang, pantas kalau Hwwsio lempengan baja jadi kaget melihat Tian Pek mampu menyambut serangan dahsyat itu dengan ujung pedangnya.

Sementara itu seiuruh jalan raya sudah dikerumuni berpuluh orang jago persilatan, rumah makan itu tcrkepung rapat dan tak mungkin bisa lolos dengan mudah.

Tian Pek jadi rada bingung, pada saat itulah mendadak dua titik cahaya tajam menyambar ke Tay yang hiat di pelipis anak muda itu.

Cepat Tian Pek rendahkan tubuhnya ke bawah, itu pedang mestikanya dengan jurus Ki hwe liau thian (angkat obor membakar langit) dia sambut kedua titik sinar itu.

"Cring! Cring"

Terdengar dering nyaring pelahan, kiranya dua bandul Li hai ca-liu-seng-cui (bandul berantai) yang menyambar tiba terpapas kutung oleh pedang hijau Tian Pek dan mencelat jauh ke sana.

Tapi segera terdengar bentakan gusar beberapa orang, cahaya tajam kembali menyambar tiba, dua pedang dan sebilah golok berbareng menusuk dan membacok arak muda itu.

Tian Pek putar badan mengikuti gerak pedang, setelah menciptakan sinar hijau berkilauan, pedang mestikanya menabas ketiga senjata musuh.

Rupanya orang itu mengetahui sampai di mana kelihayan pedang mestika itu, cepat mereka tarik serangan dan melompat mundur.

"Wutt!"

Kembali segulung angin pukulan yang kuat menghantam tubuh anak muda itu.

Tian Pek sedang putar pedangnya, maka tak sempat ditarik kenbali, terpaksa dia angkat telapak tangan kiri dan langsung memapak datangnya pukulan itu.

"Plak!"

Benturan keras terjadi.

Tian Pek hanya bergetar sedikit, sebaliknya kakek yang melakukan sergapan tersebut terhajar mundur dengan sempoyongan, ia memandang Tian Pek dengan kaget dan heran.

Kakek ini adalab jago yang tersohor namanya di wilayah Lu-lam karena telapak tangannya yang ampuh laksana baja, orang persilatan menjuluki dia sebagai Tiat ciang (pukulan telapak tangan baja), Lu Lak-sun, llmu pukulan andalannya disebut Tiat-seh ciang (pukulan pasir besi) tiga puluh tahun sudab dia mendalami pukulan sakti itu, dalam anggapannya di kolong langit jarang ada orang yang mampu menahan pukulan mautnya itu.

Ketika ia lihat Tian Pek yang masih muda secara beruntun dapat menangkan lima orang lawan, dia mengira kehebatan anak muda itu hanya karena mengandalkan ketajaman pedang, tenaga dalamnya pasti belum kuat.

Ketika ia lihat Tian Pek sedang menyerang, kesempatan itu dia gunakan uotuk melancarkan sebuah pukulan dahsyat.

Siapa tahu dugaannya ternyata meleset, bukan saja Tian Pek sanggup menahan pukulan dahsyatnya dengan tangan kiri, malahan dia sendirilah yang tergetar mundur beberapa langkah, keruan ia kaget dan keheranan.

Msnurut perkiraannya, dengan usia Tian Pek yang masih muda ini, sekalipun semenjak masih berada dalam rahim ibunya ia sudah belajar juga tenaganya takkan melebihi dirinya, tapi fakta membuktikan lain, tentu saja si Telapak Tangan Baja terkejut.

Tian Pek merasa perutnya semakin lapar, belum sempat makan sudah dikerubut, akhirnya ia menjadi gusar juga, dengan sorot mata yang tajam ditatapnya belasan jago silat itu dengan Pedang Hijau bergetar.

Sebenarnya anak muda itu belum menyerang, tapi jago2 yang mengepungnya itu menyangka Tian Pek akan menyerang mereka, buru2 mereka pada mundur lebih dulu dengan rata jeri Tian Pek tertawa geli, tak disangkanya musuh yang kelihatannya garang ternyata bernyali kecil.

Tertawa anak muda itu menyadarkan jago itu dari sikapnya yang memalukan.

Dengan muka merah beberapa orang di antaranya segera membentak, dengan garang terus menerjang, sinar golok, pedang dan senjata lain sama menyambar ke tubuh Tian Pek.

Dalam keadaan gawat, cepat Tian Pek gunakan Hong-cam keng-cau (angin payuh membabat rumput kering) pedang mestika berputar membentuk dinding cahaya hijau yang menyilaukan mata, segera terdengar suara "crang-cring"

Beberapa kali, senjata beberapa orang di antaranya tertabas kutung dan sama berteriak kaget sambil melompat mundur.

Hanya dua kali Tian Pek menyaksikan Tui-hong-kiam Hui Kiat menggunakan jurus Ki-hong-keng-cau tatkala terjadi pertarungan sengit di perkampungan Pah-to-sanceng, akan tetapi ia sudah dapat menyadapnya dengan baik sekalipun belum sempurna benar, tetapi gayanya dan jurus itu sudah hampir mirip, Tian Pek sendiri tidak menyangka jurus serangan ini akan demikian hebatnya.

Berhasil dengan jurus pertama, selagi anak muda itu siap melancarkan serangan kedua, mendadak terdengar seorang membentak.

"Berhenti!" -Suaranya keras nyaring memekak telinga. Tian Pek brrpaling, ia libat si kakek muka merah tadi sedang melangkah keluar dari pintu rumah makan, seorang pemuda tampan mengikuti dibelakangnya. Setelah berhadapan, kakek itu menuding Tian Pek dan menegur.

"Kau anak murid siapa? Apa hubunganmu dengan Hoan-toaya dari Tin-kang? Hendaklah lekas bieara terus terang agar tidak terjadi salah paham."

"Aku tidak kenal Hoan-toaya dari Tin-kang, juga tak pernah berjumpa dengan orang itu!"

Jawab Tian Pek.

"Mengenai perguruan, maaf, aku tak dapat menjelaskan!"

Sebagai pemuda jujur yang tak biasa berbohong serta tak kenal akan liku2 kelicikan orang persilatan apa yang terpikir oleh Tian Pek langsung diutarakan tanpa tedeng aling2.

Memang ia gemar belajar silat, tapi dia tidak pernah angkat guru kepada siapapun, kepandaiannya sekarang adalah hasil penyadapannya dari ilmu silat orang lain, sudah tentu ia sendiri tak tahu siapa gurunya.

Mendengar keterangan tersebut, si kakek muka merah tertawa ter-bahak2, seruuya.

"Bocah yang takabur, kau tahu siapa aku?"

"Maaf, aku tak kenal Lo... anda,"

Mestinya Tian Pek hendak membahasai kakek itu sebagai Locanpwe, tapi melihat sikap orang yang memandang hina kepadanya, mendadak ia berganti nada, nada yang tidak sungkan2 lagi.

"Anak kecil yang tak tahu diri, baru saja muncul lagaknya sudah takabur,"

Seru pula kakek itu lagi dengan tertawa.

"Hm, aku tidak percaya bahwa Lak-jiu-tong-sim bisa mampus ditanganmu. Nih, banyak bicara juga tiada gunanya, sekarang aku hanya akan menguji kau dengan tiga kali pukulanku, kalau kau mampu mempertahankan diri, maka kau bebas bergerak di wilayah Kangsoh dan Shoatang sini. Nah, anak muda, kau setuju?!"

Tian Pek tidak kenal siapa kakek muka merah ini, padahal kakek ini adalab teorang jago kosen yang aniat iersohor di propinsi2 Kangsoh dan Shoatang.

Hiat-ciang-hwi-liong ( naga api pukulan bcr-darab ) Yau Peng-gun.

Bukan saja ilmu pukulan Ang-seh-hiat-heng-ciang andalannya sudah mencapai tingkatan sempurna bahkan macam2 senjata rahasia mes unya juga tiada tandirgan di dunia Kangouw, lebih2 senjata aodal-nmnya, yaitu senjata aneh berbentuk telapak tangan manusia, cuma ukurannya lebih besar dan terbuat dari baja uiurni Besar manfaat senjata berbentuk aneh ini, selain untuk menutuk jalan darah, dapat juga dipakai merebut senjata lawan, selain itu ujung jari tengah senjata mesin sunggub sangat lihay, apabila tombol rahasianya dipencet, maka senjata rahasia itu akan menyergap musuh secara telak.

Senjata aneh yang serba guna ini diberinya bernama Sian-jin-ciang (telapak tangan sang dewa), selama malang melintang disekitar propinsi Kangsoh dan Shoatang belum pernah menemukan tandingan.

lambat-laun ia menjadi angkuh dan suka pandang rendah orang lain.

Sebagai seoraag jagoan yang tak terkalahkan ia jarang mau tunduk kepada orang, entah bagaimana kemudian, tahu2 dia diserap oleh An-lok Kong-cu dan ditempatkan di kota Hin-liong-tin ini sebagai pos perlindungan perkampungan In-bong-san-ceng yang terletak di kota Soh ciu, dimana An-lok Kong-cu sendiri bertempat tinggal.

Hari ini dia mendapat laporan bahwa Lak jiu tong-sim Hui It-tong telah terbunuh oleh seorang pemuda berpedang di hutan utara kota, sudah tentu ia tidak percaya atas laporan tersebut.

Babwa Hui It-tong bisa dibunuh orang.

apalagi oleb seorang pemuda ingusan, berita ini tentu saja sangat meragukan, Lak-jiu-tong-sim juga seorang Jago andalan An lok Kongcu, ilmu silatnya luar biasa lihaynya, kakek muka merah sendiripun tak berani mengatakan ilmu silatnya lebih unggul daripada Hui It tong.

tapi tokoh lihay itu bisa mati di tangan seorang pemuda?

Sebab itulah dengan setengah percaya setengah tidak cepat ia memerintahkah anak buahnya untuk mengikuti gerak-gerik anak muda itu, sementara dia kirim pula seorang khusus melaporkan kejadian ini kepada An-lok Kongcu di Sohciu.

Kemudian ia mendapatkan laporan pula bahwa pemuda bersenjata pedang itu sudah tiba di Hin-liong-tin.

Baca Juga: Kembalinya Sang Pendekar Rajawali 3

Baca Juga: Imbauan Pendekar 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert