Eps 5 Sebilah Pedang Mustika - Liang Ie Shen
Baca online Sebilah Pedang Mustika - Liang Ie Shen
Cersil Sebilah Pedang Mustika - Liang Ie Shen.
"So So!..."ia memanggil lagi, Tapi ia tidak dapat meneruskannya. So So menutupi mukanya, dia menjerit hebat, lantas dia berlari, pergi. Hanya meninggalkan suara tangisannya yang ter-gerung, yang masih terdengar... Soat Bwee berdiri menjublak, tenaganya seperti habis, Sekarang mengertilah dia akan segala apa yang terjadi, Hanya Hian Ki yang masih bingung, yang masih gelap, Tapi ia ingat akan So So, maka iapun lari tanpa memikir lagi, menyusul! Ia telah melompati tembok pekarangan, tanpa ibunya dapat mencegah dirinya, sebab ibunya saat itu tak dapat lagi menggerakan kakinya... Pada saat bersamaan, terdengar pula jeritannya Bu Yang, dan tubuhnya terus roboh, dari mulutnya terdengar keluhan.
"Inilah dosaku...Inilah dosaku..."
Suaranya itu makin lama makin lemah.
Soat Bwee merasakan tubuhnya beku, ia memaksa membuka kedua matanya, Ia pun memaksa untuk bergerak, menghampiri suami itu, Ia tidak berani memikir, ia tidak berani membuka suara juga..
"Biarkan mereka pergi..."
Kata pula Bu Yang.
"biar mereka pergi..Aku minta kau bakar rumah ini, lantas kau bawa pulang abuku ke Kanglam...Aku tidak mau dikubur ditempat yang melukakan hati ini..."
Sampai disitu, suaranya tak lagi terdengar nyata, Sebenarnya dia masih dapat bertahan hidup lagi tiga hari, tetapi pukulan bathin yang diterimanya hebat sekali, dan dia tak kuat menahannya, Maka itu, jago pedang nomor satu dikolong langit ini, saat itu juga telah berpulang kedunia lain, matanya tertutup rapat tak melihat lagi...
Itulah berpisah mati, bercerai hidup selama duapuluh tahun, dan sekarang, berpisah untuk se-lama2nya, tak bakal bertemu lagi....Maka Soat Bwee tidak tahu ia menyintai atau ia membenci, ia seperti lagi bermimpi..Suaminya, puteranya...
Suaminya, puteranya...Kemana mereka pergi...Hatinya sangat kusut, sangat pepat, menangis pun tidak ada air matanya, Ia merasa lebih celaka, lebih sakit hati, daripada saat ia dijoroki Bu Yang kedalam gelombang sungai Tiangkang itu...Hebat sangat pukulan ini, maka iapun menjerit, tubuhnya roboh disamping tubuh Bu Yang....Digunung Holan-san masih ada dua orang lagi, yang sangat sakit hatinya, Mereka adalah In So So dan Tan Hian Ki, Hampir So So tidak dapat bertahan, tetapi ia berlari terus, ia lari untuk menyingkir dari Hian Ki, Ia telah tahu segala....Diantara angin yang ber-tiup2, terdengarlah jeritannya Hian Ki, jeritan yang keluar dari tersayatnya hati.
"So So, So So! Kau tunggu aku! So So, meskipun kau tidak sudi memperdulikan aku lagi, kau haruslah mengucapkan sepatah kata..."
Tapi So So tidak mau berhenti lari, tidak mau dia berpaling, Diantara mereka hanyalah sang angin yang menjadi pesuruh mereka, untuk menyampaikan jeritan Hian Ki itu dan tangisannya So-So....Hati Hian Ki sangat kalut, samar2 ia merasakan duduknya persoalan, tapi ia penasaran, ia ingin mengetahui dengan jelas, Ia melihat bulan begitu indah, ia seperti mendengar pula nyanyian So-So tinggi diatas gunung, tapi malam ini, alam itu sama seperti sediakala, Hanya So So yang lenyap....Hian Ki mengejar terus, se-kuat2nya, Makin lama, terpisahnya ia dengan So So semakin dekat.
"So So,"
Ia berkata.
"kau mengatakan, didunia ini hanya akulah orang yang terdekat denganmu, yang paling rapat, bahwa selanjutnya, tak perduli diujung langit, didasar lautan, kau hendak mengikuti aku, supaya kita tetap selalu bersama....Tapi, So So, sekarang... kau... kenapakah?... ."
"Tidak, tidak, Hian Ki, tidak dapat!"
Demikian suara si nona.
"kau tidak tahu, Hian Ki!..."
So So berlari terus, ia lari semakin kencang, Ia mendaki, mendaki keatas hingga hampir sampai dipuncak... Se-konyong2 ada suara panggilan, nyaring.
"Saudara Hian Ki! Saudara Hian Ki!"
Hian Ki segera menoleh, ia melihat Siangkoan Thian Ya, Karena ia berpaling, lari Hian Ki tertahan, maka So So telah terpisah lagi dari dirinya beberapa puluh tombak.
"Saudara Thian Ya, lain kali saja kita bertemu lagi!"
Menjawab Hian Ki. Akan tetapi Thian Ya lari mendatangainya, napasnya tersengal2, dia seperti kehabisan napasnya "Saudara Hian Ki..."
Katanya.
"Tat Mo Kiampouw itu milikmu! Kungo-kiam milikmu juga!"
Hian Ki heran.
"Apa?"
Dia tanya, Tapi dirinya berlari terus, bagaikan terbang, tanpa menoleh.
"Eh, eh, perlahan sedikit!"
Thian Ya men-jerit2.
"Kau dengar aku!..."
Hian Ki tidak menghiraukannya, dia melompat ketempat yang tinggi, Disana dipuncak gunung, terlihat baju So So berkibar2, tubuhnya ber-goyang2...
.Pemuda itu menjerit keras, tubuhnya melesat dengan gerakan "Yancu coanin," (Burung walet-menembus mega), Ia mencelat beberapa tombak, kearah puncak gunung.
Sia-sia Siangkoan Thian Ya mengejar, apalagi dia telah terlalu letih, hingga dia tak tampak lagi tubuh Hian Ki sahabatnya itu, Tetapi dia tetap masih men-jerit2.
"Saudara Hian Ki, bukankah kakek luarmu bernama Tan Teng Hong? Tat Mo Kiampouw itu dicuri Bouw Tok It! Kungo-Kiam milik isterinya In Bu Yang yang pertama! Semua itu harus menjadi milikmu... ."
Siangkoan Thian Ya hanya mengingat baik2 kata2 gurunya Pit Leng Hong, Guru itu mengatakan, kitab ilmu pedang harus dikembalikan kepada anaknya Tan Teng Hong, Dia tidak tahu bahwa Tan Soat Bwee masih hidup didalam dunia ini, dia hanya ingat Tan Teng Hong itu kakek luarnya Hian Ki, Dia wataknya kasar tetapi dia jujur, dia tidak memikir hubungannya antara Hian Ki dan So So, dia melainkan ingat pesan gurunya yang mesti diwujudkan, maka dia lari menyusul Hian Ki, untuk menyampaikan kata2 itu....Se-konyong2 terdengar suara nyaring.
"Ser!"
Bagaikan guntur disiang bolong! Lalu Hian Ki mengerti segala persoalannya Mendadak So So mengayunkan tangannya, melemparkan Kungo-kiam, suaranya terdengar bergetar.
"Hian Ki, Hian Ki, kau...kau sudah mengerti bukan? Jangan kau dekati aku!..."
Saat itu Hian Ki seperti kehilangan semangatnya, tetapi ia lari terus, ia bagaikan tak dapat mengendalikan dirinya, Ia tak tahu, So So itu hendak menyingkir darinya atau Nona itu terpeleset, mendadak tubuh So So itu terjatuh kebawah gunung, kedalam jurang yang ribuan tombak dalamnya!
Angin gunung men-deru2, diantara lembah2 terdengar jeritannya Hian Ki ber-ulang2, jeritannya bagaikan kalap, Bersamaan juga terdengar suara sambutan Siangkoan Thian Ya yang menjerit pula.
"Telah terjadi apakah?"
Tapi ia tidak memperoleh jawaban. Disekitar gunung masih terdengar jeritannya Hian Ki;
"So So! So So!"
Bagaikan orang kalap, Hian Ki terus mencari keseluruh penjuru, Tentu saja, dia tidak dapat menemukan si Nona.
Juga Siangkoan Thian Ya, ia tidak tahu kemana harus menyusul Hian Ki!
Jauh disana terlihat api ber-kobar2 besar, angin gunung men-deru2, dilain bagian, masih juga terdengar jeritannya Tan-Hian Ki.
Dan rumahnya In Bu Yang, rumah itu telah menjadi abu, menjadi puing!
Maka segala2nya, Cinta dan Kebencian, segala dosa, semuanya hanyut terbawa air....TAMAT.
Kisah selanjutnya "PENG CONG HIAP ENG" ( DUA MUSUH TURUNAN )
Baca Juga: Pendekar Panji Sakti 2
Baca Juga: Neraka Hitam 3